BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

POLA TANAM TUMPANGSARI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam bercocok tanam, terdapat beberapa pola tanam agar efisien dan memudahkan kita dalam penggunaan lahan, dan untuk menata ulang kalender penanaman. Pola tanam sendiri ada tiga macam, yaitu : monokultur, polikultur (tumpangsari), dan rotasi tanaman. Ketiga pola tanam tersebut memiliki nilai plus dan minus tersendiri. Pola tanam memiliki arti penting dalam sistem produksi tanaman. Dengan pola tanam ini berarti memanfaatkan dan memadukan berbagai komponen yang tersedia (agroklimat, tanah, tanaman, hama dan penyakit, keteknikan dan sosial ekonomi). Pola tanam di daerah tropis seperti di Indonesia, biasanya disusun selama 1 tahun dengan memperhatikan curah hujan (terutama pada daerah/lahan yang sepenuhnya tergantung dari hujan. Maka pemilihan jenis/varietas yang ditanampun perlu disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun curah hujan.
Tumpangsari merupakan suatu usaha menanam beberapa jenis tanaman pada lahan dalam waktu yang sama, yang diatur sedemikian rupa dalam barisan-barisan tanaman. Penanaman dengan cara ini bisa dilakukan pada dua atau lebih jenis tanaman yang relatif seumur, misalnya jagung dan kacang tanah atau bisa juga pada beberapa jenis tanaman yang umurnya berbeda-beda. Untuk dapat melaksanakan pola tanam tumpangsari secara baik perlu diperhatikan beberapa faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh diantaranya ketersediaan air, kesuburan tanah, sinar matahari dan hama penyakit. Penentuan jenis tanaman yang akan ditumpangsarikan dan saat penanaman sebaiknya disesuaikan dengan ketersediaan air yang ada selama pertumbuhan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari persaingan (penyerapan hara dan air) pada suatu petak lahan antar tanaman. Pada pola tanam tumpangsari sebaiknya dipilih dan dikombinasikan antara tanaman yang mempunyai perakaran yang relatif dalam dan tanaman yang mempunyai perakaran relatif dangkal.

1.2 Tujuan
 Mengetahui dan memahami macam-macam pola tanaman
 Mengetahui dan memahami pola tanam berdasarkan kondisi lahan
 Mengetahui dan memahami penetapan awal musim pada tumpang sari
 Mengetahui contoh-contoh pola tanam
 Mengetahui keuntungan dan kelemahan pola tanam tumpangsari

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pola Tanam
Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan adalah sebagai berikut:
1. Tumpang sari (Intercropping), melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.
2. Tumpang gilir (Multiple Cropping), dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kacang tanah, ubi kayu.
3. Tanaman Bersisipan (Relay Cropping): pola tanam dengan cara menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.
4. Tanaman Campuran (Mixed Cropping): penanaman terdiri atas beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.

2.2 Pola Tanam Rotasi
Pola tanam rotasi merupakan pola tanam yang dikembangkan dengan cara mengganti setiap musim tanaman budidaya yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian.

2.3 Teknik Pola Tanam Pergiliran Tanaman Pada Pertanian
1. Polikultur (Tumpangsari)
Polikultur (disebut Juga tumpangsari) adalah penanaman dua tanaman secara bersama-sama atau dengan interval waktu yang singkat, pada sebidang lahan yang sama. Tumpangsari merupakan sistem penanaman tanaman secara barisan di antara tanaman semusim dengan tanaman tahunan. Tumpangsari ditujukan untuk memanfaatkan lingkungan (hara, air dan sinar matahari) sebaik-baiknya agar diperoleh produksi maksimum.
Sistem tumpangsari dapat diatur berdasarkan:
– Sifat-sifat perakaran
– Waktu penanaman
Tujuan dari pada tanaman tumpangsari adalah:
– Memanfaatkan tempat-tempat yang kosong
– Menghemat pengolahan tanah
– Memanfaatkan kelebihan pupuk yang diberikan kepada tanaman utamanya
– Menambah penghasilan tiap kesatuan luas tanah
– Memberikan penghasilan sebelum tanaman utama menghasilkan.
Pengukuran sifat-sifat perakaran sangat perlu untuk menghindarkan persaingan unsur hara, air yang berasal dari dalam tanah. Sistem perakaran yang dalam ditumpangsarikan dengan tanaman yang berakal dangkal. Tanaman monokotil yang pada umumnya mempunyai sistem perakaran yang dangkal, karena berasal dari akar seminal dan akar buku. Sedangkan tanaman dikotil pada umumnya mempunyai sistem perakaran dalam, karena memiliki akar tunggang. Dalam pengaturan tumpang sari tanaman monokotil dengan tanaman dikotil dapat dilakukan kalau dipandang dari sifat perakarannya, misalnya tumpang sari jagung dengan jeruk manis. Jeruk manis dapat tumbuh dengan baik, sedangkan tanaman jagung tumbuh subur tanpa mengganggu kehidupan jeruk manis.
Pengaturan tumpang sari harus diingat bahwa tanaman selalu mengadakan kompetisi dengan tanaman semusim yang dapat saling menguntungkan, misalnya antara kacang-kacangan dengan jagung. Jagung menghendaki nitrogen tinggi, sementara kacang-kacangan, karena kacangan dapat memfiksasi nitrogen dari udara bebas.

2. Pergiliran Tanaman (Rotasi Tanaman)
Rotasi atau pergiliran tanaman ialah pengaturan susunan urutan-urutan pertanaman yang sistematis pada suatu tempat tertentu. Lamanya rotasi itu biasanya antara dua sampai lima tahun. Apabila rotasinya dilakukan dalam waktu satu tahun, biasanya disebut tanaman pengisi (succession cropping). Sebagai contoh rotasi, misalnya ialah kentang-kubis-pupuk hijau-kentang.
Tujuan dari pada rotasi ini adalah:
– Memperbaiki struktur dan kesuburan tanah.
– Memberantas nematoda-nematoda jahat dan penyakit yang dapat hidup lama di dalam tanah, yang sulit diberantas dengan cara lain.
– Menambah penghasilan tiap kesatuan luas tanah.
– Merotasi tanaman budidaya.
– Menjaga kesuburan lahan atau memperbaiki tekstur tanah.
– Menghindari peledakan hama atau penyakit tanaman.
– Penyesuaian lahan dengan setiap musimnya.
– Cara pergiliran tanaman pada pertanian organik tidak dilaksanakan pada seluruh satuan luas yang bersamaan, melainkan perbaris atau bedengan dan saling berdekatan.
Pemilihan jenis tanaman rotasi adalah penting sekali. Kesalahan penggunaan jenis tanaman rotasi dapat menurunkan hasil tanaman berikutnya, yang tidak mustahil malah merupakan tanaman inang (host plant) bagi penyakit-penyakit yang justru akan diberantas. Sebagai contoh dapat dikemukakan, bahwa hasil tanaman kubis akan rendah apabila ditanam sesudah kedelai, akan tetapi dapat tinggi sesudah jagung, padahal kedelai bersifat menyuburkan tanah.
Tetapi sebaliknya tanaman selada, tomat, dan bawang merah, hasilnya akan rendah apabila ditanam sesudah jagung. Tanah-tanah yang mengandung nematoda tidak boleh ditanami Tephrosiaa sp, karena bersifat sebagai tanaman inang. Tanamilah dengan jenis-jenis pupuk hijau lainnya.

2.4 Pola Tanam Berdasarkan Kondisi Lahan
1. Lahan Kering (tegalan)
Di lahan kering, palawija dapat ditanam secara monokultur atau tumpangsari. Ada dua alternatif pelaksanaannya. Alternatif pertama, awal musim hujan, lahan dapat ditanami palawija berumur pendek sebanyak satu kali. Penanaman dilakukan secara monokultur atau tumpangsari dengan saat tanam yang bersamaan. Saat akhir atau pertengahan musim hujan, lahan dapat ditanami palawija berumur pendek atau berumur panjang sebanyak satu kali tanam. Pelaksanaannya dilakukan secara monokultur atau tumpangsari dengan waktu tanam yang bersamaan. Alternatif kedua, pada awal musim hujan, lahan ditanami jagung. Kurang lebih 3 sampai 4 minggu sebelum panen, singkong ditanami di antara tanaman jagung.

2. Lahan Sawah Tadah Hujan
Di lahan tadah hujan, palawija bisa ditanam secara monokultur atau tumpangsari. Ada dua alternatif untuk pelaksanaannya. Alternatif pertama, pada awal musim hujan sampai pertengahan musim huajn, lahan ditanami padi sebanyak satu kali. Pada akhir atau pertengahan musim hujan, lahan ditanami palawija secara monokultur sebanyak satu kali. Sedangkan alternatif kedua pada awal musim hujan, lahan ditanami padi sebanyak satu kali. Pada akhir atau pertengahan musim hujan sampai musim kemarau lahan dapat ditanami palawija secara tumpangsari. Tumpangsari dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah tumpangsari dua tanaman berumur pendek. Misalnya, jagung dengan kacang kedelai, kacang tanah atau kacang hijau. Pada metode ini waktu tanam dilakukan bersamaan. Demikian pula waktu panennya. Karena terdapat tanaman lain, maka jarak tanam jagung harus lebih lebar. Cara kedua dilakukan antara dua tanaman dengan umur berbeda. Misalnya, ubi kayu dengan kacang tanah, kedelai atau kacang hijau. Metode ini waktu tanamnya bersamaan. Ketika tanaman yang berumur pendek sudah dipanen, singkong masih dibiarkan tumbuh sampai saatnya panen. Dengan cara ini, jarak tanam singkong harus lebih lebar.

3. Lahan Sawah Beririgasi
Di lahan sawah, palawija umumnya ditanami secara monokultur dengan pola tanam sebagai berikut. Pada awal musim hujan sampai akhir musim hujan, lahan ditanami padi sebanyak dua kali tanam. Pada musim kemarau, lahan dapat ditanami palawija berumur pendek sebanyak satu kali.
Kerugian pola lahan sawah beririgasi tanam ini adalah
– Pola pergiliran tanaman pada setiap daerah berbeda sebab masing masing daerah mempunyai kondisi iklim, tanah dan kecocokan tanaman untuk pergiliran yang berbeda pula sehingga tidak bisa di samaratakan.

4. Lahan Rawa Pasang Surut
Sebelum ditanam palawija, lahan rawa harus diolah dengan sistem sarjan. Pada sistem ini, sebagian lahan ditinggikan untuk ditanami palawija atau tanaman lain yang tidak tahan genangan air. Bagian yang lebih tinggi ini disebut guludan. Bagian yang lain, dibuat lebih rendah untuk ditanami padi. Bagian yang rendah ini disebut tabukan. Perbandingan luas tabukan dan guludan pasang tertinggi. Bagian guludan tidak boleh dilampaui air. Sementara itu, permukaan tanah tidak lebih rendah dari lapisan pirit. Lapisan ini merupakan akumulasi bahan-bahan beracun, sehingga bila terangkat ke permukaan akan sangat mengganggu pertumbuhan tanaman.
Di lahan rawa, palawija juga ditanami secara monokultur atau tumpang sari. Aturannya sebagai berikut. Di lahan di bagian tabukan, ditanami padi dua kali setahun. Sedangkan di bagian guludan pada awal dan akhir musim hujan ditanami palawija berumur pendek (jagung dan kacang-kacangan). Atau, pada awal musim hujan ditanami palawija berumur pendek dan akhir musim hujan ditanami singkong.

2.5 Penetapan Awal Musim
Awal musim ditentukan jika curah hujan dalam satu dekade dan tiap dekade berikutnya lebih besar dari 50 mm untuk musim hujan sedangkan untuk musim kemarau kurang dari 50 mm. Lebih mudahnya dalam tiga dekade harus lebih besar dari 150 mm untuk musim hujan dan kurang dari 150 mm untuk musim kemarau. Dari data curah hujan pada tabel ceraca air yang disesuaikan dengan kriteria diatas maka awal musim hujan jatuh pada bulan nopember dekade pertama. Penetapan ini dikarenakan curah hujan pada bulan nopember dekade pertama dan dua dekade berikutnya masing-masing melebihi kriteia diatas 50 mm yaitu berturut-turut 56.31 mm, 61.81 mm, dan 74.31 mm sedangkan curah hujan sebelumnya masih rendah yaitu 45.37 mm. Penetapan awal musim kemarau jatuh pada bulan april dekade pertama. Penetapan ini dikarenakan curah hujan pada bulan april dekade pertama dan dua dekade sesudahnya masing-masing sesuai kriteia yaitu berturut-turut 42.14 mm, 37.64 mm, dan 28.64 mm sedangkan curah hujan sebelumnya masih tinggi yaitu 60.86 mm.

2.6 Contoh Pola Tanam
Pola tanam dapat disusun sesuai kebutuhan petani. Pemilihan jenis tanaman budidaya umumnya disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Diketahuinya ketersediaan air disuatu daerah dengan adanya neraca air maka penentuan pola
tanam dalam satu tahun dapat diatur sehingga lahan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Penentuan pola tanam sangat dipengaruhi ketersediaan air. Maka dari itu, ketika waktu defisit air penentuan pola tanam akan berbeda jika air dapat ditambahkan ataupun tidak dapat diberikan penambahan air. Berikut akan diberikan lima contoh model pola tanam:

1. Padi – Padi – Padi
Jika air saat terjadi defisit dapat disediakan maka dapat dilakukan penanaman padi sepanjang tahun. Namun jika air sulit tersedia ketika defisit air maka masih memungkinkan dilakukan penanaman padi sepanjang tahun namun dengan beberapa kriteria. Jika dalam satu tahun akan ditanam padi sebanyak tiga kali maka varietas padi yang digunakan adalah varietas genjah agar umurnya lebih pendek sehingga saat surplus air dapat dimanfaatkan penanaman hingga panen. Awal bulan nopember merupakan awal musim hujan namun pada dekade pertama masih terjadi defisit air. Maka penanaman padi kesatu dapat mulai. Jika persiapan hingga panen memerlukan waktu empat bulan maka saat penanaman padi kedua yaitu pada bulan maret masih terdapat air namun bulan april hingga juni terjadi defisit air. Maka varietas padi yang ditanam mengunakan padi lahan kering. Penanaman padi ketiga pada bulan juli jika tetap tidak dapat diusahakan pengairan maka padi yang ditanam menggunakan varietas lahan kering.

2. Padi – Padi – Palawija
Penanaman dengan pola tanam padi-padi-palawija dapat dimulai dengan penanaman padi pertama saat awal musim yaitu awal nopember. Persiapan dimulai bulan oktober sehingga pada awal musim penanaman telah siap. Pada bulan pebruari penanaman padi kedua dapat dilaksanakan sehingga pada waktu defisit air yaitu pada bulan juni hingga oktober dapat digunakan untuk penanaman palawija dan pengolahan tanah.

3. Padi – Padi – Bero
Untuk memperbaiki keadaan tanah maka disamping dilakukan penanaman dapat juga dilakukan pemberoan. Jika padi ditanam dua kali seperti pola tanam padi-padi-palawija maka waktu penanaman palawija dapat digunakan untuk pemberoan dan pengolahan tanah. Waktu penanaman padi dapat disamakan dengan pola tersebut.

4. Padi – Palawija – Bero
Menurut rekomendasi Oldeman, pola tanam yang sesuai untuk tipe iklim ini yaitu hanya mungkin satu kali padi atau satu kali palawija setahun tergantung pada adanya persediaan air irigasi. Pola tanam ini sesuai dengan rekomendasi Oldeman maka penanaman padi dapat dilakukan saat terjadi surplus air yaitu pada bulan nopember hingga maret. Dengan waktu lima bulan ini maka pertumbuhan padi dapat dioptimalkan. Sedangkan penanaman palawija ini dapat disesuaikan dengan jenis palawija dengan kebutuhannya terhadapa air. Jika palawija yang ditanam tidak terlalu tahan kekeringan maka penanamannya dapat dilakukan bulan maret disesuaikan saat surplus air sehingga waktu untuk penanaman padi lebih dimajukan dan sisanya untuk palawija. Jika palawija yang ditanam tahan terhadap kekeringan maka penanamannya dapat dilakukan bulan april kemudian dilakukamn pemberoan.

Padi – Padi
Jika penanaman padi akan dilaksanakan dua kali dalam satu tahun tanpa kegiatan lagi. Maka penanaman padi pertama dilakuka saat surplus air yaitu bulan nopember hingga maret. Sedangkan penanaman padi kedua dapat digunakan padi lahan kering yang ditanam setelah padi kedua. Varietas padi dapat menggunakan varietas berumur panjang karena dalam satu tahun hanya dilakukan dua kali penanaman.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Keuntungan Pola Tanam Tumpangsari
Keuntungan pola tanam tumpang sari inter cropping antara lain:
• Efisiensi tenaga lebih mudah dicapai karena persiapan tanam, pengerjaan tanah, pemeliharaan, pemupukan dan pemungutannya lebih mudah dimekanisir
• Banyaknya tanaman per hektar mudah diawasi dengan mengatur jarak diantara dan didalam barisan
• Menghsilkan produksi lebih banyak untuk di jual ke pasar
• Perhatian lebih dapat di curahkan untuk tiap jenis tanaman sehingga tanaman yang ditanam dapat dicocokkan dengan iklim, kesuburan dan tekstur tanah
• Resiko kegagalan panen berkurang bila di bandingkan dengan monokultur
• Kemungkinan merupakan bentuk yang memberikan produksi tertinggi karena penggunaan tanah dan sinar matahari lebih efisien
• Banyak kombinasi jenis-jenis tanaman dapat menciptakan stabilitas biologis terhadap serangan hama dan penyakit.

3.2 Kelemahan Pola Tanam Tumpangsari
Kelemahan pola tanam tumpang sari inter cropping antara lain:
• Persaingan dalam hal unsur hara
Dalam pola tanam tumpangsari, akan terjadi persaingan dalam menyerap unsur hara antar tanaman yang ditanam. Sebab, setiap tanaman memiliki jumlah kebutuhan unsur hara yang berbeda-beda, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa salah satu tanaman akan mengalami defisiensi unsur hara akibat kkalah bersaing dengan tanaman yang lainnya.
• Pemilihan komoditas
Diperlukan wawasan yang luas untuk memilih tanaman sela sebagai pendamping dari tanaman utama, karena tidak semua jenis tanaman cocok ditanam berdampingan. Kecocokan tanaman-tanaman yang akan ditumpangsarikan dapat diukur dari kebutuhan unsur haranya, drainase, naungan, penyinaran, suhu, kebutuhan air, dll.
• Permintaan Pasar
Pada pola tanam tumpangsari, tidak selalu tanaman yang menjadi tanaman sela, memiliki permintaan yang tinggi. Sedangkan, untuk memilih tanaman sela yang cocok ditumpangsarikan dengan tanaman utama, merupakan usaha yang tidak mudah karena diperlukan wawasan yang lebih luaslagi. Maka dari itu, diperlukan strategi pemasaran yang tepat agar hasil dari tanaman sela tersebut dapat mendatangkan keuntungan pula bagi petani.
• Memerlukan tambahan biaya dan perlakuan
Untuk dapat melaksanakan pola tanam tumpangsari secara baik perlu diperhatikan beberapa faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh di antaranya ketersediaan air, kesuburan tanah, sinar matahari dan hama penyakit.
Penentuan jenis tanaman yang akan ditumpangsari dan saat penanaman sebaiknya disesuaikan dengan ketersediaan air yang ada selama pertumbuhan. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh pertumbuhan dan produksi secara optimal.
Kesuburan tanah mutlak diperlukan, hal ini dimaksudkan untuk menghindar persiangan (penyerapan hara dan air) pada satu petak lahan antar tanaman.
Pada pola tanam tumpangsari sebaiknya dipilih dan dikombinasikan antara tanaman yang mempunyai perakaran relatif dalam dan tanaman yang
mempunyai perakaran relatif dangkal.
Sebaran sinar matahari penting, hal ini bertujuan untuk menghindari persiangan antar tanaman yang ditumpangsarikan dalam hal mendapatkan sinar matahari, perlu diperhatikan tinggi dan luas antar tajuk tanaman yang ditumpangsarikan. Tinggi dan lebar tajuk antar tanaman yang ditumpangsarikan akan berpengaruh terhadap penerimaan cahaya matahari, lebih lanjut akan mempengaruhi hasil sintesa (glukosa) dan muara terakhir akan berpengaruh terhadap hasil secara keseluruhan.
Antisipasi adanya hama penyakit tidak lain adalah untuk mengurangi resiko serangan hama maupun penyakit pada pola tanam tumpangsari. Sebaiknya ditanam tanam-tanaman yang mempunyai hama maupun penyakit berbeda, atau tidak menjadi inang dari hama maupun penyakit tanaman lain yang ditumpangsarikan.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
• Teknik pergiliran tanaman ada dua macam, yaitu polikultur (tumpangsari) dan pergiliran tanaman (rotasi tanaman). Polikultur (disebut Juga tumpangsari) adalah penanaman dua tanaman secara bersama-sama atau dengan interval waktu yang singkat, pada sebidang lahan yang sama. Tumpangsari merupakan sistem penanaman tanaman secara barisan di antara tanaman semusim dengan tanaman tahunan. Tumpangsari ditujukan untuk memanfaatkan lingkungan (hara, air dan sinar matahari) sebaik-baiknya agar diperoleh produksi maksimum. Keuntungan pola tanam tumpang antara lain : efisiensi tenaga lebih mudah dicapai karena persiapan tanam, pengerjaan tanah, pemeliharaan, pemupukan dan pemungutannya lebih mudah dimekanisir; banyaknya tanaman per hektar mudah diawasi dengan mengatur jarak diantara dan didalam barisan; menghsilkan produksi lebih banyak untuk di jual ke pasar; perhatian lebih dapat di curahkan untuk tiap jenis tanaman sehingga tanaman yang ditanam dapat dicocokkan dengan iklim, kesuburan dan tekstur tanah; resiko kegagalan panen berkurang bila di bandingkan dengan monokultur; kemungkinan merupakan bentuk yang memberikan produksi tertinggi karena penggunaan tanah dan sinar matahari lebih efisien; banyak kombinasi jenis-jenis tanaman dapat menciptakan stabilitas biologis terhadap serangan hama dan penyakit. Sedangkan kelemahan dalam pola tanama tumpangsari, antara lain :Persaingan dalam hal unsur hara; sulit dalam memilih komoditas yang cocok dijadikan sebagai tanaman sela; sulit dalam menyesuaikan atara tanaman sela dengan permintaan pasar; memerlukan tambahan biaya dan perlakuan.

Iklan

04/14/2014 Posted by | BTT | , | Tinggalkan komentar

Davallia denticulate

davallia_denticulata_23Klasifikasi :

Devisi : Pterydophyta

Klas : Filicinae

Ordo : Davalliales

Family : Polypodiceae

Genus : Davallia

Spesies : Davallia denticulata

Ciri-ciri :

  • Daun berbentuk segitiga 60 – 100 kali 40 – 70, seperti kulit, menyirip rangkap, tangkai 15 – 60 cm, anak daun bulat telur memanjang, beringgit, bergerigi dengan urat-urat yang bebas.

  • Tangkai berwarna coklat gelap mengkilap

  • Bila tumbuhan ini masi muda rimpangnya ditutupi sisik-sisik padat

  • Bentuk entalnya segitiga, menyirip ganda tiga atau empat

  • Helaian daun berbentuk segitiga dan tepi yang bergerigi serta daun yang kaku.

  • Indusia terdapat pada lekuk-lekuk sepasang tepi daun, menyerupai setengah lingkaran

Gambaran umum

Termasuk jenis paku yang umumnya menumpang pada tumbuhan lain. Meskipun demikian tidak berarti tumbuhnya hanya menumpang saja. Paku ini dapat pula tumbuh pada tanah-tanah cadas, karang atau batu-batu. Biasanya banyak dijumpai tumbuh pada batang jenis palem. Tumbuh bersama-sama dengan paku cecerenean, paku sarang burung atau jenis-jenis paku lainnya.

Rimpangnya kuat, berdaging kuat, berdaging dan agak menjalar. Bila tumbuhan ini masih muda, rimpang-rimpangnya ditutupi oleh sisik-sisik yang padat, warnanya coklat terang. Entalnya berjumbai, panjangnya sampai 1m. Bentuk ental tersebut segitiga, menyirip ganda tiga atau empat. Tangkainya bewarna coklat gelap, mengkilat. Helaian daunnya berbentuk segitiga dengan tepi yang berringgit. Daun-daun ini kaku dan kuat. Permukaan daunnya licin mengkilat, sehingga mudah sekali terlihat dengan jelas. Indusia berbentuk hampir menyerupai setengah lingkaran. Panjang dan lebarnya ± 1 mm. Perbanyakan melalui rimpang. Secara seksual spora dapat digunakan untuk memperbanyak diri.

Penyebaran meliputi Asia tropika, Polinesia dan Australia. Tumbuh pada dataran rendah terutama pada daerah-daerah disekitar pantai. Bentuknya cukup menarik sebagai tanaman hias. Dapat ditanam ditempat-tempat yang terlindung maupun tempat-tempat yang terbuka. Pernah dilaporkan bahwa paku tertutup mengandung asam hidrosianik.

01/30/2009 Posted by | BTT | 4 Komentar

Asplenium belangeri

  1. Klasifikasi:
  • Regnum : Plantae
  • Devisio : Polypodiopsida
  • Sub kelas : Hymenophyllidae
  • Ordo : Aspidiales
  • Famili : Aspleniaceae
  • Genus : Asplenium
  • Spesies : Asplenium belangeri

  1. Habitat:

Paku tamaga (Asplenium belangeri) tumbuh liar dan belum pernah dibudidayakan. Mempunyai bentuk yang menarik. Selain itu, pertumbuhannya cepat dan tidak memerlukan perawatan khusus. Tumbuhnya terbatas pada tempat-tempat berhawa sejuk. Kemungkinan dikembangkan sebagai tanaman hias di pegunungan cukup besar. Asplenium belangeri merupakan salah satu paku yang cukup menarik dan banyak dijumpai pada daerah dataran tinggi. Di jawa barat mudah dijumpai di sekitar gunung Gede, Pangrango dan gunung salak misalnya. Tumbuhnya bersama-sama jenis paku yang lain pada tebing-tebing atau di tepi-tepi aliran sungai dan selokan yang tempatnya agak terlindung. Tanah yang berbatu-batu atau tanah cadas yang ditutupi oleh lumut adalah tempat yang dia sukai. Orang-orang Sunda menyebutnya paku tamaga atau paku beunyeur.

  1. Deskripsi.

Perawakannya kecil, rumpunnya agak banyak. Rimpangnya pendek dan tumbuhnya tegak. Tangkai daum bagian atas beralur. Kadang-kadang kadang-kadang terdapat bulu. Entalnya berwarna hijau yang panjangnya antara 15-30 cm. dan lebarnya 4-8 cm. terdapat 18-20 cm pasang daun yang letaknya mendatar. Helaian daun yang letaknya paling bawah ukurannya lebih besar. Semakin ke atas daun tersebut semakin mengecil. Ukuran yang besar mencapai 0.5-1 cm. helaian anak daun pertama bercabang dua. Daunnya agak berdaging dan warnanya agak hijau pucat. Sori terdapat dekat pangkal lekukan anak daun. Sori-sori itu bergeromboldan warnanya cokelat terang.

01/30/2009 Posted by | BTT | 1 Komentar

JAMBU AIR

1.SEJARAH SINGKATjambu-air

Jambu air berasal dari daerah Indo Cina dan Indonesia, tersebar ke Malaysia dan pulau-pulau di Pasifik. Selama ini masih terkonsentrasi sebagai tanaman pekarangan untuk konsumsi keluarga. Buah Jambu air tidak hanya sekedar manis menyegarkan, tetapi memiliki keragaman dalam penampilan.
Jambu air (Eugenia aquea Burm) dikategorikan salah satu jenis buah-buahan potensial yang belum banyak disentuh pembudidayannya untuk tujuan komersial.
Sifatnya yang mudah busuk menjadi masalah penting yang perlu dipecahkan. Buahnya dapat dikatakan tidak berkulit, sehingga rusak fisik sedikit saja pada buah akan mempercepat busuk buah.

2.JENIS TANAMAN

Sistematika tanaman jambu air adalah sebagai berikut:

Kingdom: Plantarum

Sub Kingdom: Kormophyta

Super Divisio: Kormophyta biji

Divisio: Spermatophyta

Sub Divisio: Angiospermae

Classis: Dycotyledoneae

Ordo: Myrtales

Familia: Myrtaceae

Genus: Syzygium

Species: Eugenia aquea

Selain itu juga terdapat 2 jenis jambu air yang banyak ditanam, tetapi keduanya tidak begitu menyolok perbedaannya. Ke dua jenis tersebut adalah Syzygium quaeum (jambu air kecil) dan Syzygium samarangense (jambu air besar).
Varietas jambu air besar yakni: jambu Semarang, Madura, Lilin (super manis), Apel dan Cincalo (merah dan hijau/putih) dan Jenis-jenis jambu air lainnya adalah: Camplong (Bangkalan), Kancing, Mawar (jambu Keraton), Sukaluyu, Baron, Kaget, Rujak, Neem, Lonceng (super lebat), dan Manalagi (tanpa biji). Sedangkan varietas yang paling komersil adalah Cincalo dan Semarang, yang masing-masing terdiri dari 2 macam (merah dan putih).

3.MANFAAT TANAMAN

Pada umumnya jambu air dimakan segar, tetapi dapat juga dibuat puree, sirop, jeli, jam/berbentuk awetan lainnya. Selain sebagai “buah meja” jambu air juga telah menjadi santapan canggih dengan dibuat salada dan fruit coctail. Kandungan kimia yang penting dari jambu air adalah gula dan vitamin C.
Buah jambu air masak yang manis rasanya, selain disajikan sebagai buah meja juga untuk rujak dan asinan. Kadang-kadang kulit batangnya dapat digunakan sebagai obat.

4.SENTRA PENANAMAN

Menurut data statistik dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Jawa Barat, Kabupaten Karawang, Tangerang, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Cirebon, Subang dan Bekasi termasuk 10 besar sentra penanaman pohon jambu.
Jambu air Cincalo merah banyak terdapat di Karawang dan terkenal dengan jambu Bolang yang bila matang benar berwarna merah tua kebiruan dengan rasa manisasam segar sedangkan Jambu air Semarang (merah dan putih) banyak terdapat di Indramayu.

5.SYARAT TUMBUH

5.1.Iklim

1.Angin sangat berperan dalam pembudidayaan jambu air. Angin berfungsi dalam membantu penyerbukan pada bunga.

2.Tanaman jambu air akan tumbuh baik di daerah yang curah hujannya rendah/kering sekitar 500-3.000 mm/tahun dan musim kemarau lebih dari 4 bulan. Dengan kondisi tersebut, maka jambu air akan memberikan kualitas buah yang baik dengan rasa lebih manis.

3.Cahaya matahari berpengaruh terhadap kualitas buah yang akan dihasilkan. Intensitas cahaya matahari yang ideal dalam pertumbuhan jambu air adalah 40-80 %.

4.Suhu yang cocok untuk pertumbuhan tanaman jambu air adalah 18-28 derajat C.

5.Kelembaban udara antara 50-80 %.

5.2.Media Tanam

1.Tanah yang cocok bagi tanaman jambu air adalah tanah subur, gembur, banyak mengandung bahan organik.

2.Derajat keasaman tanah (pH) yang cocok sebagai media tanam jambu air adalah 5,5-7,5.

3.Kedalaman kandungan air yang ideal untuk tempat budidaya jambu air adalah 0- 50 cm; 50-150 cm dan 150-200 cm.

4.Tanaman jambu air sangat cocok tumbuh pada tanah datar.

5.3.Ketinggian Tempat
Tanaman jambu air mempunyai daya adaptasi yang cukup besar di lingkungan tropis dari dataran rendah sampai tinggi yang mencapai 1.000 m dpl.

01/30/2009 Posted by | BTT | 6 Komentar

Phymatosorus scolopendria

Phymatosorus scolopendriaIni adalah salah satu jenis paku yang dapat ditemukan di dataran rendah dinding tua, dan di dasar pohon, membentuk koloni yang besar. daun paku ini mempunyai ukuran yang variabel di (dalam) ukuran, tenunan dan banyaknya daun. Yang breada diketeduhan tumbuh dengan gemuk, sedang secara langsung terkena cahaya matahari tumbuh dengan kasar dan kaku. pembedaan helaian tipis juga variabel dan beberapa mungkin punya daun palem tunggal.

Akar : merambat dengan warna coklat gelap di bagian tepi, epilitik.

Batang : straw-coloured; bersendi di rhizome dan timbul pada interval pendek/singkat dari itu, panjangnya ± 40 cm

Helaian : pinnatifid dan variabel dalam jumlah cuping, dengan berujung, warna daun hijau terang, panjang 50 cm dan lebar 40 cm lebar/luas; masing-masing cuping panjang 15 cm dengan lebar 4 cm, permukaannya tidak ada rambut dan pembuluh darah.

sori: besar [membulatkan/ mengelilingi], di (dalam) dua baris sepanjang pembuluh darah yang utama dari tiap lobe, sporangia jeruk terang ketika dewasa.

spora: monolete, ellipsoidal, permukaan secara dangkal.

01/30/2009 Posted by | BTT | 3 Komentar

Catharanthus roseus

Tumbuhan Spermatophyta

Catharanthus roseus

1.    Klasifikasi.
Regnum        : Plantae
Divisi        : Spermatophyta
Anak divisi    : Angiospermae
Kelas        : Dicotyledoneae
Anak kelas        : Sympetalae
Ordo        : Confortae
Famili        : Apocynaceae
Genus        : Catharanthus
Spesies        : Catharanthus roseus

II. Sinonim.
Lochnera rosea, Reich. Vinca rosea, Linn. Ammoallis rosea, Small.

III. Nama Lokal.
Perwinkle (Inggris), Chang Chun Hua (Cina); Keminting Cina, Rumput Jalang (Malaysia); Tapak Dara (Indonesia), Kembang Sari Cina (Jawa); Kembang Tembaga Beureum (Sunda);
Nama Melayu: Kemunting Cina, Rumput Jalang, Tapak Dara, Kembang Sari Cina, Ros Pantai
Nama Lain: Rose Periwinkle, Old-Maid, Madagascar Periwinkle, Periwinkle

IV. Uraian.
Tapakdara (Catharanthus roseus) banyak dipelihara sebagai tanaman hias. Tapakdara sering dibedakan menurut jenis bunganya, yaitu putih dan merah. Tumbuhan semak tegak yang dapat mencapai ketinggian batang sampai 100 cm ini, sebenarnya merupakan tumbuhan liar yang biasa tumbuh subur di padang atau dipedesaan beriklim tropis. Tumbuhan ini berasal dari Amerika Tengah, umumnya ditanam sebagai tanaman hias. Tapak dara bisa tumbuh di tempat terbuka atau terlindung pada bermacam-macam iklim, ditemukan dari dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl.
Ciri-ciri tumbuhan ini : Terna atau semak, menahun, tumbuh tegak, tinggi mencapai 120 cm, banyak bercabang. Batang bulat, bagian pangkal berkayu, berambut halus, warnanya merah tengguli. Daun tunggal, agak tebal, bertangkai pendek, berhadapan bersilang. Helai daun elips, ujung runcng, pangkal meruncing, tepi rata, pertulangan menyirip, kedua permukaan daun mengkilap dan berambut halus. Perbungaan majemuk, keluar dari ujung tangkai dan ketiak daun dengan 5 helai mahkota bunga berbentuk terompet, warnanya ada yang putih, merah muda atau putih dengan bercak merah di tengahnya. Buahnya buah bumbung berbulu, menggantung, berisi banyak biji berwarna hitam. Perbanyakan dengan biji, setek batang atau akar.

VI. Kandungan Kimia:
Herba mengandung lebih dari 70 macam alkaloid, termasuk 28 biindole alkaloid. Komponen antikanker, yaitu alkaloid seperti vincaleukoblastine (vinblastin = VLB), leurosidin dan katarantin, Alkalod yang berkhasiat hipoglikemik (menurunkan kadar gula darah) antara lain leurosin, katarantin, lochneri, tetrahidroalstonin, vindolin dan vindolinin. Sedangkan akar tapak dara mengandung alkaloid, saponin, flafonoid dan tanin.

VII. Efek Farmakologis.
Senyawa aktif vinblastin dan vinkristin berkhasiat antikanker pada leukemia, ehrlich ascitic liver carsinoma dan walker carcinoma. Juga menghentikan pembelahan sel (mitos) kanker pada tingkat metafase dan menghambat sintetis purin, DNA dan RNA. Vimblastin terutama untuk penyakit hodgki”s dan chorioepithelioma, juga efektif pada kanker payudara, indung telur (ovarium), testis dan nephroblastoma. Vinkristin lebih efektif pada leukemia granulostik dan limfositik akut, terutama pada leukemia limfositik dan mielositik akut pada anak-anak. Keduanya menyebabkan penekanan ringan pada sumsum tulang (penyebab turunnya jumlah sel darah putih dan trombosit).
Pemberian rebusan daun tapak dara (bunga putih) 10%, 20%, 30% dan 40% dengan dosis 5 ml/kg bb pada kelinci dapat menurunkan kadar gula darah masing-nasing sebesar 46,61%, 49,25%, 51,62% dan 58,66% dibandingkan dengan tolbutamid (Norma, Jurusan Farmasi FMIPA UNHAS, 1985)
Pemberian rebusan daun tapak dara (bunga merah) per oral pada tikus putih jantan, efek hipoglikemik didapat dari rebusan berkadar 15% pada menit ke 210, 240 dan 270. Rebusan berkadar 30%, efek hipoglikemik pada menit ke 240 dan 270. Potensi relatif rebusan daun tapak dara yang berbunga merah kurang lebih 1/2 dari potensi relatif tolbutamid terhadap air. Efek tersebut sangat lemah bila dibandingkan dengan tolbutamid (Suyanto, FK UGM 1992)
Vincristine (m.w 824.97)
Vinblastine

Bahan Lain:  Catharanthine, leurosine, norharman, lochnerine, tetrahydroalstonine, vindoline, vindolinine, akuammine, vincamine, vinleurosin dan vinrosidin

VIII. Kesan Keracunan.
Kesan keracunan ditunjukkan dengan simptom seperti demam, loya dan muntah-muntah dalam tempoh 24 jam. Simptom-simptom lain ialah neuropathies, kehilangan refleksi tendon, halusinasi,koma, sawan dan kematian.

IX. Penyakit yang dapat Diobati.
Herba berkhasiat mengatasi:
·    Tekanan darah Tinggi (hipertensi)
·    Kencing Manis (diabetes mellitus)
·    Kencing sedikit (oliguria)
·    Hepatitis
·    Perdarahan akibat turunnya jumlah trombosit (primary thrombocytopenic purpua)
·    MAlaria
·    Sukar buang air besar (sembelit)
·    Kanker: penyakit Hodgkin”s, chorionic epithelioma, leukimia limfositik akut, leukimia monostik akut, limfosarkoma an retikum sel sarkoma.
Akar berkhasiat mengatasi:
Ø    haid yang tidak teratur

Pemanfaatan:
1. Diabetes mellitus (sakit gula/kencing manis)
a. Bahan: 10 – 16 lembar daun tapakdara
Cara membuat: direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih hingga
tinggal 1 gelas
Cara menggunakan: setelah dingin diminum, diulangi sampai
sembuh.
b. Bahan: 35 – 45 gram daun tapakdara kering, adas pulawaras
Cara membuat: bahan tersebut direbus dengan 3 gelas air sampai
mendidih hingga tinggal 1 gelas
Cara menggunakan: setelah dingin diminum, diulangi sampai
sembuh.
c. Bahan: 3 lembar daun tapakdara, 15 kuntum bunga tapakdara
Cara membuat: direbus dengan 4 gelas air sampai mendidih hingga
tinggal 1,5 gelas
Cara menggunakan: diminum pagi dan sore setelah makan.
2. Hipertensi (tekanan darah tinggi)
a. Bahan: 15 – 20 gram daun tapakdara kering, 10 gram bunga krisan
Cara membuat: direbus dengan 2,5 gelas air sampai mendidih dan
disaring.
Cara menggunakan: diminum tiap sore.
b. Bahan: 7 lembar daun atau bunga tapakdara
Cara membuat: diseduh dengan 1 gelas air dan dibiarkan beberapa
saat dan disaring
Cara menggunakan: diminum menjelang tidur.
3. Leukimia
Bahan: 20-25 gram daun tapakdara kering, adas pulawaras.
Cara membuat: direbus dengan 1 liter air dan disaring.
Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.
4. Asma dan bronkhitis
Bahan: 1 potong bonggol akar tapakdara
Cara membuat: direbus dengan 5 gelas air.
Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.
5. Demam
Bahan: 1 genggam (12 -20 gram) daun tapakdara, 3 potong batang
dan akar tapakdara
Cara membuat: direbus dengan 4 gelas air sampai mendidih hingga
tinggal 1,5 gelas.
Cara menggunakan: diminum pagi dan sore ditambah gula kelapa.
6. Radang Perut dan disentri
Bahan: 15 – 30 gram daun tapakdara kering
Cara membuat: direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih.
Cara menggunakan: diminum pagi dan sore dan ditambah dengan
gula kelapa.

7. Kurang darah
Bahan: 4 putik bunga tapakdara putih.
Cara membuat: direndam dengan 1 gelas air, kemudian ditaruh di luar
rumah semalam.
Cara menggunakan: diminum pagi hari dan dilakukan secara teratur.
8. Tangan gemetar
Bahan: 4 – 7 lembar daun tapakdara
Cara membuat: diseduh dengan 1 gelas air panas dan disaring.
Cara menggunakan: diminum biasa.
9. Gondong, bengkak, bisul dan borok
Bahan: 1 genggam daun tapakdara
Cara membuat: ditumbuk halus.
Cara menggunakan: ditempelkan pada luka bakar.
10. Luka bakar
Bahan: beberapa daun tapak dara, 0,5 genggam beras.
Cara membuat: direndam dengan air, kemudian ditumbuk
bersama-sama sampai halus.
Cara menggunakan: ditempelkan pada luka bakar.
11. Luka baru
Bahan: 2 – 5 lembar daun tapakdara
Cara membuat: dikunyah sampai lembut.
Cara menggunakan: ditempelkan pada luka baru.

01/30/2009 Posted by | BTT | 1 Komentar

Anacardium occidentale

I. Klasifikasi:

Regnum : Plantae

Devisi : Spermatophyta

Anak devisi : Angiospermae

Kelas : Monochlamydeae (Apetales)

Anak kelas : Dialypetalae

Ordo : Sapindales

Familia : Anarcadiaceae

Genus : Anarcadium

Spesies : Anarcadium occidentale

II. Nama Lokal :

Cashew (Inggris), Jambu Moyet, Jamu mente (Indonesia); Jambu mete (Jawa), Jambu mede (Sunda), Gaju (Lampung);

III. Habitat :

Tanaman ini berasaI dari pegunungan di benua Amerika yang beriklim tropis (Brasila). Kini Tanaman terdapat di daerah tropis, terutama di Asia Selatan seperti India, Burma, Filipina, Semenanjung Melayu dan Indonesia.

IV. Deskripsi

Kandungan Buah geluk jambu mede mentah berisi biji dan kulit biji yang tipis sekali, kedua bagian ini berturut-turut sebanyak 20-30% dan 23% dari berat biji kator; 70-75% sisanya adalah cangkangnya. Berat buah geluk mentah 4-8 g, tetapi kadang-kadang mencapai 15 g.

Bijinya berisi 21% protein dan 35-45% minyak. Minyaknya rnengandung 60-74% asam oleat dan 20-28% asam linoleat. CNSL( Cashew Nut Shell Liquid) berisi 90% asarn anakardat (anacardic acid) dan 10% -kardol (cardyl).

Sari buah-semu jambu mede banyak mengandung riboflavin (vitamin B2), asam askorbat (vit. C), dan kalsium.

Pohon jambu mede selalu hijau, tingginya mencapai ukuran 12 m, memiliki tajuk yang berbentuk kubah melebar. Perdaunannya mernbentuk kanopi pinggiran yang tipis, dipenuhi oleh perbungaan yang mencuat keluar. Akar tunggangnya lebih dari 3 m dalamnya, dan tetap langgeng; akar lateralnya memencar sampai di batas proyeksi tajuknya, dengan akar-akar penyerap hara menancap sedalam 6 m. Batangnya bercabang-cabang dengan batang bebas cabang setinggi 0,5-1,5 m. Daundaunnya berselang-seling, bundar telur sungsang sampai bundar telur sungsang-jorong, ukurannya mencapai 20 cm x 15 cm, menjangat, jika masih muda berwarna merah kecoklatan, kemudian men)adi hijau tua berkilap, tak berbulu, dengan tulang utama dan tulang daun yang menanjol; tangkai daunnya 1-2 cm panjangnya, membengkak di pangkalnya, memipih di permukaan atasnya.

Perbungaannya mengendur di ujung, menggantung, berbentuk malai berbunga banyak, panjang perbungaan itu mencapai 25 cm, berisi bunga jantan yang harum dan bunga-bunga herrnafrodit; daun kelopaknya 5 helai, berbentuk lanset sampai bundar telur-jorong, (4-15) mm x (1-2) mm, berbulu balig (pubescent); daun mahkotanya 5 helai juga, berbentuk lanset memanjang, (7-13) mm x (1-1,5) mm; melipat keluar, waktu bunga mekar berwarna keputih-putihan, kemudian berubah menjadi merah-agak merah jambu; benang sarinya 10 helai; bunga jantannya memiliki 7-9 helai benang sari yang panjangnya 4 mm dan 1-3 helai yang panjangnya 6-10 mm; bunga-bunganya yang hermafrodit biasanya memiliki 9 benang sari pendek dan 1 benang sari panjang; benang sari yang panjang menghasilkan serbuk sari yang fertil; tangkai putiknya sederhana, panjangnya 12 mm, tertancap pada daun mahkota dan tingginya sarna dengan benang sari.

Buahnya adalah buah geluk yang berbentuk ginjal, kira-kira 3 cm x 1,2 cm, rnemiliki perikarp yang coklat kelabu, rnengandung resin yang dapat mengeras; tangkai buah geluk ini saaigat mernbesar dan membengkak, membentuk bualY semu yang menyerupai buah, bentuknya seperti buah avokad, ukurannya (10-20) cm x (4-8) cm, berkilap, merah sampai kuning, lembut dan berair.

Bijinya berbentuk ginjal, berkulit biji berwarna coklat kernerah-rnerahan, memiliki dua keping biji yang besar tetapi embrionya kecii. Inti bijinya, yang tertinggal setelah kulit biji dikupas, itulah yang disebut biji jambu mede dalam perdagangan.

V. Komposisi :

Kandungan kimia : Jambu monyet (Anacardium occidentale) antara lain mengandung senyawa kimia seperti tanim, anacardic acid dan cardol, yang bermanfaat sebagai antibakteri dan antiseptik. Selain itu daun jambu monyet yang masih muda juga mempunyai komposisi kandungan kimia seperti vitamin A sebesar 2689 SI per 100 gram, vitamin C sebesar 65 gram per 100 gram, kalori 73 gram per 100 gram, protein 4,6 gram per 100 gram, lemak 0,5 gram per 100 gram, hidrat arang 16,3 gram per 100 gram, kalsium 33 miligram per 100 gram, fosfor 64 miligram per 100 gram, besi 8,9 miligram dan air 78 gram per 100 gram.

VII. Penyakit Yang Dapat Diobati :

1. Diabetes mellitus

Bahan: 2 potong kulit batang jambu monyet dan adas pulawaras secukupnya.

Cara Membuat: Kedua bahan tersebut direbus bersama dengan 2 liter air sampai mendidih, kemudian disaring untuk diambil airnya.

Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.

  1. Disentri

Bahan: 1 genggam daun jambu monyet dan 1 potong kulit batang jambu monyet.

Cara Membuat: Kedua bahan tersebut direbus bersama dengan 1 1/2 liter air sampai mendidih, kemudian disaring untuk diambil airnya.

Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.

  1. Radang mulut

Bahan: 1 genggam daun jambu monyet dan 1 potong kulit batang jambu monyet.

Cara Membuat: Kedua bahan tersebut direbus bersama dengan 1 liter air sampai mendidih, kemudian disaring untuk diambil airnya.

Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.

Disamping itu kandungan tannin dapat menyebabkan gatal-gatal pada kulit. Tanaman ini juga mengandung minyak berwarna kuning muda yang rasanya manis (minyak acayu), terdiri atas 4O-50% kardol (tannin beracun) dan asam anakardia. Minyak ini menyebabkan kulit terbakar atau menggelembung. KuIit buahnya juga mengandung gliserid-gliserid. asam-asam linolein, palmitin, stearin dan lignoserin, serta sitosterin.

Kayunya mengandung katechin dan pada seluruh bagian tumbuh-tumbuhan menghasilkan asam gallus. Daunnya dapat dipakai sebagai obat Iuar untuk mengobati penyakit kulit (misaInya pemphigus neonatorum) dan luka bakar. Air perasan kulit buah yang berminyak bisa dipakai sebagai obat luar untuk mengobati borok dan kutil yang menahun pada kulit.Tetapi kita harus berhati-hati terhadap reaksi yang mengandung racun akibat cara pengobatan tua itu.

Akarnya dipakai sebagai obat mencret dan kulitnya sebagai obat kumur (terhadap seriawan) dan obat jerawat. Beberapa obat resen adalah:

1.Tinktur (campuran alkohol) dari kulit buah digunakan sebagai obat cacing.

2. Minyak kulit buah sebagai cardolum vesicans (menyebabkan gelembung di atas kulit)

3. Ekstrak campuran air teIah dipaten sebagai obat pelawan tekanan darah tinggi.

Bagian yang beracun:Tempurung atau kulit luar pada biji.

Bahan aktif:  Asid anakardik,  Cardol, Anakardol

Asid anakardik

Bahan lain: bilobol, metal kardanol, cardanol

VI. Pemanfaatan :

Jambu mede dibudidayakan untuk dimanfaatkan buah geluknya (nuts) Buahnya di makan sebagai pencuci mulut dan biji sebagai  kekacang makanan ringan. Di mana-mana jambu mede merupakan makanan yang lezat.Bungkil yang tertinggal setelah proses ekstraksi digunakan sebagai pakan.

Di Brazil, Mozambik, dan Indonesia, jambu mede juga penting; bijinya dimakan segar atau dicampur dalam rujak buah, serta semacam minuman dibuat dari sari buahnya. Anggur jambu mede (sari buah yang agak terfermentasi) dinikmati pada masa panen dan dapat didestilasi untuk dijadikan minuman berkandungan alkohol tinggi. Hasil sampingannya berupa kulit biji dan cangkangnya. Kulit bijinya digunakan sebagai pakan unggas. CNSL = cashew nut shell liquid) dipakai dalam industri dan digunakan sebagai bahan pengawet, misalnya untuk mengawetkan peralatan kayu dan jala penangkap ikan.

Ampas cangkangnya seringkali digunakan sebagai bahan bakar di pabrik ekstraksi CNSL. Kayu jambu mede digunakan untuk kayu bakar atau untuk kayu perkakas berkualitas rendah. Kulit batangnya mengandung tanin. Pohon yang dilukai akan mengeluarkan semacam gom yang dapat digunakan untuk perekat (untuk kayu kusen, kayu lapis, penjilidan buku), mungkin kurang-lebih disebabkan oleh adanya sifat insektisida. Daun dan pucuk muda dimakan mentah atau direbus. Semua bagian pohonnya juga dapat dimanfaatkan dalam ramuan obat tradisional, terutama untuk menyembuhkan sakit kulit, sebagai pembersih mulut dan sebagai pencahar (purgatives).

01/30/2009 Posted by | BTT | 2 Komentar