BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

METODE TUTOR SEBAYA

2.1 Metode Diskusi Kelompok
Metode diskusi kelompok merupakan interaksi antar siswa dengan siswa atau siswa dengan guru untuk menganalisis, memecahkan masalah, menggali atau memperdebatkan topik permasalahan tertentu (Yamin, 2007:159). Metode diskusi ini
digunakan oleh guru, pelatih atau struktur jika : 1) Menyediakan bahan, topik, atau masalah yang akan didiskusikan. 2) Menugaskan siswa untuk menjelaskan, menganalisis dan meringkas. 3) Melatih siswa dalam menghargai pendapat orang lain. 4) Menyebutkan pokok-pokok yang akan dibahas. Metode diskusi kelompok memiliki kelebihan sebagai berikut (Djamarah, 2005:157-158).
1) Anggota kelompok memiliki sumber yang lebih banyak daripada individu.
2) Anggota kelompok sering diberi masukan dan motivasi dari anggota yang lain.
3) Anggota kelompok dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik.
4) Partisipasi diskusi akan meningkatkan saling pengertian antar individu dalam satu kelompok dan kelompok lain.

Metode diskusi kelompok juga memiliki keterbatasan.
1) Menyita waktu lama dan jumlah siswa harus sedikit.
2) Diskusi kelompok dapat menekan pendirian.
3) Mempersyaratkan siswa memiliki latar belakang yang cukup tentang topik atau masalah yang didiskusikan.

Setiawati (2009: 7) diskusi kelompok dapat dirumuskan menjadi dua unsur yaitu: berpikir dan bersama. Berpikir adalah tindakan yang paling wajar bagi setiap manusia, namun paling sulit pelaksanaannya dengan baik. Berkhayal atau melamun juga merupakan cara berpikir, akan tetapi cara berpikir yang tidak produktif, sikap relistislah yang dapat menghasilkan pemikiran produktif karena sikap ini yang menyebabkan manusia mengarahkan pemikirannya kepada kenyataan hidup, yang mendorongnya untuk bertanya kepada dirinya sendiri, yang mendorong orang bergabung dalam berpikir adalah usaha untuk mengetahui realistis setidaknya pemikirannya sendiri apabila dikaji dengan pengalaman sesamanya. Bergabung dalam berpikir berarti saling tukar – menukar pandangan, saling memperbandingkan dua jenis pandangan, saling memperbandingkan dua jenis rangkaian pengalaman yang berbeda dalam rangka usaha bersama untuk mencapai realita, dengan demikian
pemikiran bersama mempunyai kemampuan kreatif, dalam pengertian yang realistis.

2.2 Diskusi Kelompok Tutor Sebaya
Tutor sebaya merupakan sekelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahan pelajaran, dan memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya. Seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk oleh guru, untuk membantu guru dalam melakukan bimbingan
terhadap kawan sekelas. Dengan sistem pembelajaran menggunakan tutor sebaya, akan membantu siswa yang belum mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ), atau kurang cepat menerima pelajaran dari guru (Herianto dkk., 2010:2)

Tutor sebaya dikenal dengan pembelajaran teman sebaya atau pemberian pembelajaran antar siswa atau peserta didik. Hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri, dan kemudian membantu peserta didik lain, yang kurang mampu. Hal ini merupakan strategi untuk mendukung
pengajaran, sesama peserta didik didalam kelas. Strategi ini menempatkan seluruh tanggung jawab pengajaran kepada seluruh anggota kelas ( Setiawati, 2009: 9)Pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa, sumber belajar tidak hanya dari guru melainkan dari teman sekelas yang nilai KKMnya lebih tinggi. Bantuan belajar oleh teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan, bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami, selain itu dengan teman sebaya tidak ada rasa malu untuk mengungkapkan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Tutor berfungsi sebagai pelaksana mengajar yang cara mengajarnya telah disiapkan secara khusus dan terperinci. Untuk menimbulkan suasana kompetitif, setiap kelompok harus terus dipacu untuk menjadi kelompok yang terbaik. Peran tutor sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan kelompok dalam mempelajari materi ajar yang
disajikan melalui metode diskusi kelompok tutor sebaya (Herianto dkk., 2010:2-3)Menurut Surya dikutif (Soeprodjo dkk., 2008:295) Metode tutor sebaya merupakan metode yang dilakukan dengan cara memperdayakan kemampuan siswa
yang memiliki daya serap tinggi, siswa tersebut mengajarkan materi atau latihan kepada teman-temannya yang belum paham. Pemakaian tutor dari teman mereka memungkinkan siswa tidak merasa enggan untuk bertanya, dengan adanya tutor dapat memberikan keringanan pada guru dalam memberikan contoh soal atau latihan. Peran
guru adalah mengawasi kelancaran pelaksanaan metode ini dengan memberi pengarahan dan lain-lain. Dalam memilih tutor sebaya hendaknya diperhatikan segi kemampuan dalam penguasaan materi dan kemampuan dalam membantu orang lain.

Ini berarti bahwa tutor adalah murid yang tergolong baik dalam prestasi. Ada beberapa keuntungan metode tutor sebaya antara lain, 1 ) adanya suasana hubungan lebih akrab antara murid dengan tutor, 2 ) bersifat efisien, 3 ) bagi tutor merupakan pengayaan dan, 4 ) dapat meningkatkan rasa tanggung jawab. Namun demikian ada kekurangannya yaitu guru harus tahu siswa yang mempunyai pemahaman lebih, pengawasan tutor harus dilakukan dengan baik dan proses tutoring akan terhambat manakala siswa yang ditutori merasa rendah diri. Pemasalahan dalam metode ini antara lain apabila di dalam kelas tidak ada yang mampu dan bersedia menjadi tutor sebaya.

Tutor sebaya menurut Djamarah dan Zain dikutif (Azimatul dan Rosijono, 2010:30) adalah pembelajaran yang terpusat pada siswa, dalam hal ini siswa belajar dari siswa lain yang memiliki status umur, kematangan/harga diri yang tidak jauh berbeda dari dirinya sendiri. Sehingga anak tidak merasa begitu terpaksa untuk
menerima ide-ide dan sikap dari ―gurunya‖ yang tidak lain adalah teman sebayanya itu sendiri dari kedua pengertian di atas dapat diambil simpulan bahwa pembelajaran tutor sebaya merupakan pembelajaran yang melibatkan siswa sekelas yang memiliki kemampuan dan kriteria sebagai tutor untuk membimbing teman lainnya yang mengalami kesulitan dalam memahami penjelasan dari gurunya. Tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk atau ditugaskan untuk membantu siswa dalam mengalami kesulitan belajar. Tutor tersebut diambil dari kelompok siswa
yang memiliki prestasi yang lebih tinggi daripada siswa-siswa lainnya dan memiliki kemampuan menjelaskan kembali pemahaman yang dimiliki.Menurut Gintings dikutif (Amizatul dan Rusijono, 2010:30) penjelasan mengenai tahapan-tahapan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran tutor sebaya. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
1) langkah perencanaan, guru mempelajari bahan ajar dengan seksama dan mengedentifikasi bagian-bagian yang sulit dari isi bahan ajar kemudian menyusun strategi untuk membantu siswa menghadapi kesulitan agar bisa mempelajari bagianyang sulit.
2) langkah persiapan, guru menyiapkan bahan ajar tambahan seperti variasi, contoh-contoh penyelesaian soal atau LKS.
3) langkah pelaksanaan, guru mengidentifikasi siswa yang menghadapi kesulitan dalam memahami bahan ajar yang
diberikan dan sulit dipahami dan melaksanakan tutorial dengan menggunakan bahan dan langkah-langkah yang telah disiapkan.
4) langkah evaluasi, guru melakukan tanya jawab untuk meyakinkan bahwa siswa tersebut telah mengatasi kesulitan belajarnya dan memahami materi yang sedang dipelajari dan memberikan tugas mandiri.

2.3 Kriteria Tutor Sebaya
Seorang tutor hendaknya memiliki kriteria yaitu, memiliki kemampuan akademik di atas Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) siswa satu kelas, mampu menjalin kerja sama dengan sesama siswa, memiliki motivasi tinggi untuk meraih prestasi akademik yang baik, memiliki sifat toleransi dan tenggang rasa dengan sesama, memiliki motivasi tinggi untuk menjadikan kelompok diskusinya sebagai yang terbaik, bersikap rendah hati, pemberani, dan bertanggung jawab, suka membantu sesamanya yang mengalami kesulitan. Tutor atau ketua kelompok memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut yaitu, 1) memberikan tutorial
kepada anggota terhadap materi ajar yang sedang dipelajari, 2) mengkoordinir proses diskusi agar berlangsung kreatif dan dinamis, 3) menyampaikan permasalahan kepada guru pembimbing apabila ada materi ajar yang belum dikuasai, 4) menyusun jadwal diskusi bersama anggota kelompok, baik pada saat tatap muka di kelas maupun di luar kelas, secara rutin dalam memecahkan masalah yang dihadapi, 5) melaporkan perkembangan akademis kelompoknya kepada guru pembimbing pada setiap materi yang dipelajari, peran guru dalam metode diskusi kelompok terbimbing dengan tutor sebaya hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing terbatas. Artinya guru hanya melakukan intervensi ketika betul – betul diperlukan oleh siswa (Setiawati, 2009:11)

09/13/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , , | 4 Komentar

Metode Pembelajaran GI (Group Investigation)

Dasar-dasar model Group Investigation dirancang oleh Herbert Thelen, selanjutnya diperluas dan diperbaiki oleh Sharan dan teman-temannya dari Universitas Tel Aviv. Metode GI ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam seleksi topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Dalam menggunakan metode GI umumnya kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan anggota 5 sampai 6 orang siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai sub topik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan (Arends, 1997: 120-121).
Investigasi kelompok adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif, guru dan siswa bekerja sama membangun pembelajaran. Proses dalam perencanaan bersama didasarkan pada pengalaman masing-masing siswa, kapasitas, dan kebutuhan. Siswa aktif berpartisipasi dalam semua aspek, membuat keputusan untuk menetapkan arah tujuan yang mereka kerjakan. Dalam hal ini kelompok merupakan wahana sosial yang tepat untuk proses ini. Perencanaan kelompok merupakan salah satu metode untuk menjamin keterlibatan siswa secara maksimal.
Metode investigasi kelompok adalah perpaduan sosial dan kemahiran berkomunikasi dengan intelektual pembelajaran dalam menganalisis dan mensintesis. Investigasi kelompok tidak dapat diimplementasikan dalam lingkungan pendidikan yang tidak ada dukungan dialog dari setiap anggota atau mengabaikan dimensi afektif-sosial dalam pembelajaran kelas (Suhaida Abdul Kadir, 2002: 67).
Dalam model ini terdapat 3 konsep utama, yaitu:
a. Penelitian (inquiry) yaitu proses perangsangan siswa dengan menghidupkan suatu masalah. Dalam proses ini siswa merasa dirinya perlu memberikan reaksi terhadap masalah yang dianggap perlu untuk diselesaikan. Masalah ini didapat dari siswa sendiri atau diberikan oleh guru.
b. Pengetahuan yaitu pengalaman yang tidak dibawa sejak lahir namun diperoleh siswa melalui pengalaman baik secara langsung maupun tidak langsung.
c. Dinamika kelompok, menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok individu yang saling berinteraksi mengenai sesuatu yang sengaja dilihat atau dikaji bersama dengan berbagai ide dan pendapat serta saling tukar-menukar pengalaman dan saling berargumentasi.
Spencer Kagan (1985: 72) mengemukakan bahwa metode GI memiliki enam tahapan kegiatan seperti berikut:
a) Mengidentifikasikan topik dan pembentukan kelompok
Tingkatan ini menekankan pada permasalahan, siswa meneliti, mengajukan topik dan saran. Peranan ini dimulai dengan setiap siswa diberikan modul yang berisikan kisi-kisi; dari langkah ini diharapkan siswa mampu menebak topik apa yang akan disampaikan kemudian siswa yang memiliki topik yang sama dikelompokkan menjadi satu kelompok dalam penyelidikan nanti. Dalam hal ini peran dari guru adalah membatasi jumlah kelompok serta membantu mengumpulkan informasi dan memudahkan pengaturan.
b) Merencanakan tugas belajar
Pada tahap ini anggota kelompok menentukan subtopik yang akan diinvestigasi dengan cara mengisi lembar kerja yang telah tersedia serta mengumpulkan sumber untuk memecahkan masalah yang tengah diinvestigasi. Setiap siswa menyumbangkan kontribusinya terhadap investigasi kelompok kecil. Kemudian setiap kelompok memberikan kontribusi kepada penelitian untuk seluruh kelas.
c) Menjalankan investigasi
Siswa secara individual atau berpasangan mengumpulkan informasi, menganalisa dan mengevaluasi serta menarik kesimpulan. Setiap anggota kelompok memberikan kontribusi satu dari bagian penting yang lain untuk mendiskusikan pekerjaannya bengan mengadakan saling tukar menukar informasi dan mengumpulkan ide-ide tersebut untuk menjadi suatu kesimpulan.
d) Menyiapkan Laporan Akhir
Pada tahap ini merupakan tingkat pengorganisasian dengan mengintegrasikan semua bagian menjadi keseluruhan dan merencanakan sebuah presentasi di depan kelas. Setiap kelompok telah menunjuk salah satu anggota untuk mempresentasikan tentang laporan hasil penyelidikannya yang kemudian setiap anggotanya mendengarkan. Peran guru di sini sebagai penasehat, membantu memastikan setiap anggota kelompok ikut andil di dalamnya.
e) Mempresentasikan hasil akhir
Setiap kelompok telah siap memberikan hasil akhir di depan kelas dengan berbagai macam bentuk presentasi. Diharapkan dari penyajian presentasi yang beraneka macam tersebut, kelompok lain dapat aktif mengevaluasi kejelasan dari laporan setiap kelompok dengan melakukan tanya jawab.
f) Mengevaluasi
Pada tahap ini siswa memberikan tanggapan dari masing-masing topik dari pengalaman afektif mereka. Sedangkan guru dan siswa yang lain berkolaborasi mengevaluasi proses belajar sehingga semua siswa diharapkan menguasai semua subtopik yang disajikan.
Menurut Bruce Joyce, Marsha Weil dan Emily Calhoun (2000: 51) dalam model Group Investigation ini guru hanya berperan sebagai konselor, konsultan dan pemberi kritik yang bersahabat. Di dalam metode ini seyogyanya guru membimbing dan mencerminkan kelompok melalui tiga tahap:
1) Tahap pemecahan masalah
2) Tahap pengelolaan kelas
3) Tahap pemaknaan secara perorangan

09/04/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | 2 Komentar