BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Respon Beberapa Varietas Entres Mangga (MANGIFERA indica l.) Pada Perbedaan Waktu Defoliasi Terhadap Pertumbuhan Bibit Secara Grafting

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang
Mangga merupakan jenis buah tropis yang digemari oleh masyarakat di dunia dan menjadi komoditas perdagangan antar negara. Publitas mangga dikenal sebagai The Best Loved-Tropical , mendampingi popularitas durian sebagai King of Fruit. Komoditas hortikultura, khususnya buah-buahan salah satunya buah mangga mempunyai prospek baik bila dikembangkan secara intensif dan dalam skala agribisnis. Dari tahun ke tahun permintaan buah tropis didalam dan luar negeri semakin meningkat, baik dalam bentuk segar maupun olahan.
Keadaan produksi ataupun produktifitas, dan kualitas mangga Indonesia masih rendah, padahal kita mempunyai koleksi plasma nutfah terbesar No. 2 didunia setelah India. Kebun koleksi tersebut terletak di kebun percobaan daerah Cukorgondang Pasuruan. Penyebabnya antara lain adalah bentuk kultur budidaya yang bersifat tanaman pekarangan varietas atau kultivar aneka ragam, bibit kurang bermutu, dan pemeliharaan kurang intensif. (Rukmana, 1997).
Disamping itu jika diamati laju perkembangan mangga, maka dijumpai kasus yang perlu memperoleh perhatian, yaitu sejak tahun 1995 hingga 1997, produksi mangga Indonesia meningkat, tetapi ekspor pada tahun yang sama mengalami penurunan tajam. Pada tahun 1997 produksi mangga Indonesia mencapai 1.206.050 ton (11,20% dari total produksi buah nasional) sementara ekspor mangga hanya sebesar 74,995 ton (0,048% dari total ekspor buah nasional). Di lain pihak impor buah-buahan dalam tahun yang sama justru mengalami peningkatan (Anonim, 1998). Hal tersebut menunjuk¬¬kan bahwa peran mangga dalam ekspor buah secara nasional makin turun. Hal ini disebabkan oleh kualitas mangga Indonesia tidak mampu bersaing di pasar global, atau konsumen jenuh dengan varietas yang ada, yaitu Arumanis atau Gadung. Dengan demikian preferensi konsumen sedang berubah. Untuk itu perlu menawarkan varietas alternatif, agar segmen pasar yang jenuh tersebut bergerak kembali.
Pada beberapa tahun mendatang diramalkan warna merah akan mendominasi beberapa aspek kehidupan masyarakat, tidak kecuali penampilan buah. Untuk itu penyediaan varietas unggul mangga diarahkan untuk memenuhi perubahan selera konsumen yang mulai menyukai warna buah merah untuk buah segar seperti mangga varietas Irwin, Haden, Kensington Aplle. Di¬samping varietas-varietas untuk memenuhi kebutuhan produk olahan sebagai diversifikasi produk mangga selaras dengan perkembangan industri olahan yang berkembang pesat. Industrialisasi ternyata juga menumbuhkan industri baru skala rumah tangga dan skala perusahaan besar. Industri rumah tangga manisan atau asinan, juice, puree, jamu, kripik dan tepung sedang tumbuh di beberapa pusat-pusat produksi mangga, yang semuanya membutuhkan bahan baku yang sesuai dengan kegunaan-nya.
Walaupun demikian varietas unggul buah mangga yang telah dilepas (dirintis) resmi oleh Menteri Pertanian nasional dengan Surat Keputusan nomor 890 /Kpts/TP.240/11/1984, yaitu, varietas Arumanis-143, Manalagi-69, Golek-31 masih menjadi primadona bagi konsumen buah mangga di beberapa negara seperti Singapura, Eropa barat, USA, dan negara timur tengah. Sehingga harus juga terus dikembangkan kualitas dan kuantitasnya, dengan mencari alternatif cara perbanyakan bibit mangga yang paling efektif. Dalam usaha penyediaan bibit yang baik, banyak digunakan batang bawah terutama varietas madu. Selain batang bawah, batang atas juga perlu diperhatikan sehingga nantinya akan diperoleh tanaman mangga yang sesuai dengan selera konsumen. Dari beberapa cara perbanyakan tanaman mangga yang paling mudah dan banyak dilakukan orang sekarang ini adalah okulasi dan grafting.
Defoliasi adalah suatu cara yang umum dilakukan dalam hal ini melakukan perompesan dalam batang atas adalah daun-daun pada calon batang atas dibuang helai yang paling ujung atau memangkas seluruh daun dengan atau tanpa meninggalkan dua helai digunting dan disisakan seperempat bagian. Menurut Sudarto (2000), perlakuan defoliasi pada cabang entres dapat mendukung persentase sambung jadi dan mempercepat tumbuhnya tunas atas. Hal ini disebabkan karena ada kaitannya dengan kandungan asimilat yang terakumulasi pada cabang entres yang dirompes. Dimana akumulasi hasil asimilat dapat merangsang pembelahan, pembesaran dan deferensiasi sel, yang kemudian mendorong proses pertautan antara batang atas dan batang bawah. Sehingga unsur hara, mineral, dan air dapat berjalan dengan lancar dari batang bawah ke batang atas.

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh beberapa macam varietas entres mangga (Mangifera Indica L.) dan perbedaan waktu defoliasi entres terhadap pertumbuhan bibit secara grafting.

1.3 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa macam varietas entres mangga (Mangifera Indica L.) dan perbedaan waktu defoliasi entres terhadap pertumbuhan bibit secara grafting.

1.4 Hipotesa
1. Terjadi interaksi antara beberapa macam varietas entres mangga (Mangifera indica L.) dan waktu defoliasi entres terhadap pertumbuhan bibit secara grafting.
2. Beberapa macam varietas entres mangga ( Mangifera indica L.) berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit secara grafting.
3. Perbedaan waktu dofoliasi entres mangga (Mangifera indica L.) berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit secara grafting.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Taksonomi dan Morfologi
Buah mangga yang bisa dijual-belikan di pasaran pada umumnya adalah buah mangga Arummanis, Manalagi, Gadung, dan lainnya. Ditinjau dari sistematika, tanaman mangga dapat digolongkan sebagai berikut :
Devisio : Spermatophyta (tumbuhan berbiji).
Kelas : Angiospermae (berbiji tertutup).
Sub Kelas : Dicotyledoneae (berkeping dua).
Ordo : Sapindale
Famili (keluarga) : Anacardiaceae.
Genus : Mangifera.
Species : Mangifera Indica L. ( Rukmana, 1997).
Mangga (Mangifera indica L.) termasuk famili Anacardiacea, terdiri dari 64 generasi. Di samping mangga, beberapa tanaman lain yang segenerasi dengan mangga adalah Anacardium occidentale (jambu mete), Spodias mangifera (hot plum, amra), Bouea macrophylla Griff. (gandaria) dan Pisticia vere L. (pistachio).(Tjitrosoepomo,2003).
Genus Mangifera L. terdiri dari 62 spesies yang berupa pepohonan daun selang-seling, berpetiole lengkap dan coriaceous (Singh, 1969). Mukherjee (1985) menyajikan hanya 41 spesies Mangifera L. yang terdapat di Asia Tenggara, sedangkan spesies selebihnya-sekurangnya mungkin sinonim. Bunga-bunganya kecil, berangkai dalam satu malai yang muncul sempurna yang terdapat pada pohon yang sama. Buahnya termasuk kelompok fleshy drupe dan berserat. Biji kompak dilapisi oleh kulit dalam seperti kertas dan kulit luar yang berserabut.
Di samping Mangifera indica L. 15 spesies lainya dari genus Mangifera L. dapat dimakan dan beberapa diantaranya enak dimakan, tetapi kualitas buahnya tidak sebaik buah mangga (Mangifera indica L.). Meskipun begitu tetap bermanfaat sebagai batang bawah.
Jumlah kromosom Mangifera L., M. syvatica Roxb., M. coloneura kunz, M. zenglanica Hook. F., dan M.odorata griff yang dilaporkan oleh Mukherjee (1950) adalah 2n = 40. singh (1969) manyajikan 2n = 20 dalam seedling M. indica yang poliembrioni. Dari sejumlah kromosom ini terdiri dari 11 tipe yang terdapat dalam M. indica dan M.sylvatica. spesies dan varietas M.indica dapat dibedakan dari satu dengan lainya berdasarkan perbedaan satu atau lebih diantara 11 tipe kromosom tersebut (Mukherjee, 1950). Berdasarkan ukurannya, dari 20 kromosom bivalen dalam varietas-varietas mangga adalah besar. Hal ini menunjukkan adanya kontrol genotipe melalui ukuran kromosom, dan merupakan sebuah fenomena yang dapat dikaitkan dengan hibridisasi dan mutasi gen. Tentu kejadian secara sitologis tersebut menunjukkan bahwa mangga adalah alloploid, dan mungkin sebagian besar amphidiploid. Dengan demikian hibridasi inter-varietas secara alami sangat penting untuk memperoleh varietas baru. (Purnomo. 1990).
Menurut Rukmana (1999), Kerabat dekat suku mangga-manggaan cukup banyak diantaranya adalah kemang (Mangifera casei Jack ex Wall), batang atau embacang atau limu (M.foitida Lour). Tanaman mangga memiliki pohon yang tingginya mencapai 10 m – 30 m atau lebih dan umurnya dapat mencapai puluhan tahun. Batang tubuh tegak, kokoh, berkayu, dan berkulit agak tebal dan warnanya abu-abu kecoklatan, pecah-pecah serta mengandung cairan semacam damar. Percabangannya banyak yang tumbuh ke segala arah hingga tampak rimbun.
Daun tubuh tunggal pada ranting, letaknya berseling-seling dan bertangkai panjang. Bentuk daun panjang-lonjong dengan bagian ujung meruncing. Permukaan sebelah bawah berwarna hijau-muda. Bunga tersusun dalam rangkaian bunga (malai) tiap-tiap malai bunga dalam jumlah sangat banyak, yakni sekitar 1000-6000 kuntum, namun bunga yang berkembang menjadi buah sekitar 1%. Rendahnya prosentase bunga yang menjadi buah disebabkan oleh banyak faktor diantaranya adalah, jumlah bunga jantan permalai amat banyak sekitar 90%, namun sel telur yang normal sangat rendah antara 5 %-10 %. Disamping itu, bunga jantan letaknya pada pangkal malai, sedangkan bunga sempurna dibagian ujung malai. Kedua kemampuan tumbuh tepung sari sangat rendah, yakni sekitar 1%-12% tidak sempurna (abnormal) hingga tidak mampu membuahi sel telur. Ketiga tidak terjadi penyerbukan akibat banyak turun hujan atau tidak ada lebah penyerbuk. (Rebin, 1999).
Buah mangga disebut buah batu dan memiliki bentuk beraneka ragam, antara lain bulat, bulat-pendek dengan ujung pipih, dan bulat panjang agak pipih. Susunan tubuh buah terdiri dari beberapa lapisan, yaitu: tangkai, pangkal buah, kulit buah, daging buah, serabut, biji, lukukan, paruh, pucuk buah.( Rukmana,1997).

2.2 Jenis dan Varietas Mangga Unggul
Diseluruh dunia banyak jenis mangga, karena penyebaran tanaman hampir mencakup seluruh benua. Dikawasan ASEAN saja terdapat lebih dari 500 varietas asli maupun introduksi. Meskipun demikian untuk tujuan komersial, berbagai Negara hanya memilih jenis atau varietas tertentu untuk dikembangkan secara intensif. (Kusumo dan Tjiptosuhardjo, 1970).
Di Indonesia dikenal 3 jenis (golongan) mangga yang tersebar luas diberbagai wilayah nusantara, antara lain terdiri dari mangga Arummanis, Manalagi dan Golek.
Plasma nutfah mangga di Indonesia cukup banyak. Sejak tahun 1941 sampai sekarang ragam jenis atau varietas mangga dikoleksikan di kebun percobaan Cukorgondang, Pasuruan.
Pengembangan mangga varietas unggul dibeberapa negara dirancang sesuai dengan permintaan pasar (konsumen). Baik konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Filipina mengembangkan mangga untuk sasaran ekspor dengan memilih varietas atau kultivar Carabao dan Pico. Sementara untuk pasaran dalam negeri memilih varietas Pahutan, Dudul, Senora, dan Binoboy.
Di Thailand varietas mangga unggul yang dikembangkan secara komersial antara lain adalah Okyong, Nam Dokmai, Thong Dam, Nang Klangwan Chok’anam, Pinsendeang, Keo Cuk, dan Read. Varietas unggul lainnya untuk konsumen dalam negeri adalah Khieo Sawoei, Pimsenman, Selaya, dan Sampi.(Rismunandar,1990).
Di Malasyia terdapat lebih dari 110 klon Mangga, namun baru 5 klon (Varietas) yang dipilih untuk dikembangkan penanamannya secara komersial. Kelima varietas tersebut adalah Took Boon, Arumanis, Kuala Selangor, Golek, dan Maha 65. Dua varietas yang juga dianjurkan adalah Malgova dan Apple Mango.
Di Indonesia dikenal beberapa varietas mangga seperti Arumanis, Golek, Manalagi, Madu, Cengir, Gendong, Dodol, dan lain lain. Berdasarkan dengan surat keputusan Menteri Pertanian, telah ditetapkan (dilepas) 3 varietas unggul yaitu: Golek 31, Manalagi 69, dan Arumanis 143. produksi rata-rata ketiga varietas unggul tersebut adalah 52,3 Kg/pohon, 36,5 kg/pohon, 54,7 kg/pohon.(Rismunandar,1990).

2.3 Syarat Tumbuh Tanaman Mangga
2.3.1 Keadaan Iklim
Tanaman Mangga dapat tumbuh dan berproduksi di daerah tropik maupun sub-tropik. Di daerah tropik Indonesia mangga tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl namun paling optimal pada ketinggian 300 m dpl dan iklimnya kering. Unsur penting bagi tanaman mangga adalah curah hujan, suhu (temperatur), dan angin. Tanaman mangga membutuhkan pergantian musim kemarau dan hujan yang nyata. Yakni sedikitnya 4-6 bulan kering, dan curah hujan 1000 mm/tahun atau kurang dari 60 mmm/bulan atau selama jangka waktu musim kering mempengaruhi fase repoduktif. Pembungaan mangga membutuhkan bulan kering selama 3-5 bulan karena keluarnya bunga mangga terjadi 1,5 – 2 bulan sesudah awal musim kering. Sedangkan pembuahan membutuhkan minimal 1 bulan kering setelah pembungaan.(Rukmana, 1997).
Suhu udara yang ideal adalah antara 270-340 C dan tidak ada angin kencang atau angin panas. Disamping itu, untuk mendapatkan produksi yang optimal, tanaman mangga membutuhkan penyinaran antara 50%-80%.
Di daerah yang tipe iklimnya basah, mangga sedikit sekali berbuah dan rasanya cenderung masam, serta tanaman mudah terserang penyakit mati pucuk oleh cendawan Gloeosporium mangifera.Curah hujan yang tinggi atau angin kencang pada pembungaan atau pembuahan dapat menyebabkan gugurnya bunga atau buah.
Mangga pada umumnya cocok ditanam di daerah yang beriklim kering, namun beberapa jenis atau varietas dapat beradaptasi di daerah yang beriklim basah. Mangga Kemang, Gedong, Cengkir banyak ditanam di daerah Cirebon dan Idramayu yang iklimnya basah.
Mangga varietas unggul seperti Arumanis 143, Manalagi 69, dan Golek 31 tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah yang beriklim kering. Daerah-daerah yang mempunyai kondisi iklim kering terdapat di wilayah Indonesia bagian timur, seperti Sulawesi Tenggara, Lombok, Sumbawa, Kupang, dan lain lain. (Kusumo dan Tjiptosuhardjo. 1970).

2.3.2 Temperatur
Menurut Rukmana (1997), Temperatur untuk pertumbuhan optimimum tanaman mangga lebih kurang 24-270C. Pada suhu tersebut pertumbuhan vegetatif dan hasilnya juga sangat baik. Baik temperatur yang rendah, bagi tanaman mangga muda (umur 5 tahun) akan banyak menderita kerusakan. Namun ada beberapa jenis tanaman mangga yang masih tahan terhadap suhu rendah, tetapi tidak berproduksi dengan baik. Menurut pengamatan temperatur tanaman mangga masih dapat hidup adalah lebih kurang 4-100 C, tetapi temperatur yang baik untuk pertumbuhan dan produksi.
Pada musim kemarau, jika temperatur mencapai lebih dari 450 C dan disertai angin kencang, dapat mengakibatkan luka bakar matahari pada buah. Untuk mengatasi hal ini, di tepi perkebunan mangga yang sering ditiup angin kencang harus diberi tanaman yang lebih tinggi dari pada pohon mangga, supaya dapat mematahkan kecepatan angin, misalnya ditanami sengon laut.
Pada temperatur kira-kira 450 C dengan kelembaban 15 persen ditempat yang terlidung, daun-daun dan buah yang masih kecil akan terpengaruh sebagian buah yang masih kecil akan rontok, sedangkan yang masih berkembang akan menjadi buah yang tidak berbiji. Pada temperatur maksimum lebih dari 440 C, tanaman mangga masih dapat hidup, tetapi hasilnya tidak begitu baik.

2.3.3 Curah Hujan
Keadaan volume curah hujan akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman mangga dan proses produksi dan pembentukan bunga dan buah. Kalau pada musim bunga dan masa berbuah mulai masak tidak ada hujan, tanaman akan tumbuh dengan baik dan proses produksi akan berlangsung dengan baik pula. Sebaliknya, apabila waktu musim bunga, banyak turun hujan, berawan dan banyak kabut, proses pembentukan bunga akan terganggu. Disamping itu, keadaan tersebut akan merangsang timbulnya hama penyakit yang penyebarannya cepat sekali.
Jadi pada prinsipnya curah hujan hanya diperlukan pada tidak musim bunga, yaitu pada masa pertumbuhan vegetatif untuk memacu pertumbuhan cabang, ranting, serta tunas-tunas baru. Jumlah curah hujan tidak begitu penting pada waktu musim bunga, tetapi kalau ternyata masih juga turun hujan sedikit justru baik untuk pertumbuhan bunga, sebab akam menciptakan suasana udara sejuk, tetapi tidak lembab. (Marhijanto dan Wibowo. 1994).
Prosentase pembagian curah hujan setiap tahun sangat penting pengaruhnya terhadap proses pembungaan. Sebab masa primordial bunga akan terjadi setelah musim hujan, sekurang-kurangnya setiap tahun kira-kira 10.000 mm, dan musim kering lebih kurang 4-6 bulan dengan curah hujan rata-rata 60 mm/bulan. Jika dalam jangka waktu yang lama tidak ada hujan, maka areal pertanaman dapat dibantu dengan pengairan. Sebab kalau kondisi kadar air tanah terlalu kering, bunga mangga dapat menjadi layu dan akhirnya kering.
Beberapa pengaruh curah hujan yang kurang menguntungkan pada musim bunga adalah:
a). Air hujan akan mencuci butir-butir tepung sari, dan akhirnya tepungsari tersebut jatuh bersama air hujan.
b). Hujan yang terlalu lebat biasa menyebabkan luka pada permukaan tubuh bunga, dan bahkan dapat merontokkan bunga.
c). Volume curah hujan yang tinggi mengakibatkan udara menjadi lembab, sehingga menimbulkan serangan cendawan atau wereng mangga yang lebih hebat, akhirnya banyak bunga maupun buah yang rontok, dan panen pun gagal.
d). Selama hari-hari hujan, serangga penyerbuk tinggal diam, praktis mereka tidak melakukan penyerbukan karena tidak dapat terbang.
e). Banyak embun dan kabut dapat menggagalkan pemanenan, karena peristiwa ini juga mengakibatkan banyak bunga dan buah yang rontok seperti pada waktu musim hujan.

2.3.4. Ketinggian Tempat
Tanaman mangga dapat tumbuh sampai ketinggian tempat lebih kurang 1.300 m dpl. Akan tetapi didaerah yang tinggi. Produksinya tidak begitu banyak, dan kualitasnya pun tidak baik. Jika kita ingin mengusahakan tanaman mangga yang produksinya optimal, sebaiknya ditanam pada suatu areal yang memiliki ketinggian maksimal 500 m dpl. (Rukmana. 1997).
Masa berbunga tanaman mangga juga dipengaruhi oleh ketinggian tempat dari permukaan laut. Karena negara Indonesia didaerah tropis pada posisi 110 LU atau 60 LS. Maka setiap kenaikan kira-kira 130 m, ditempat pohon mangga itu ditanam, masa pembungaan tanaman tersebut akan tertunda selam 4 hari.

2.3.5 Keadaan Tanah
Tanaman mangga mempunyai daya penyesuaian tinggi terhadap berbagai jenis tanah. Di pantai utara Kraton dan Bangil (Jawa Timur) yang tanahnya berbelah-belah, termasuk jenis tanah sangat berat (Grumosol), tanaman mangga dapat tumbuh baik. Untuk jenis tanah grumasol perlu dilakukan penutupan dengan mulsa jerami atau pemberian kompos dalam jumlah banyak untuk menahan penguapan.
Pertumbuhan dan produksi mangga yang optimal membutuhkan jenis berpasir, lempung, atau agak liat. Keadaan tanah yang ideal untuk tanaman mangga adalah subur, gembur, banyak mengandung banyak bahan organik, drainasenya baik, dan pH optimum antara 5,5-6,0. Jenis tanah Aluvial seperti di Probolingga (Jawa Timur) mempunyai pengaruh baik terhadap kualitas buah.
Tanaman mangga toleran terhadap kekeringan, namun untuk menjamin pertumbuhan dan produksi membutuhkan keadaan air tanah yang memadai. Air tanah yang ideal adalah tidak lebih dari 50 cm dari permukaan tanah. Apabila tidak ada sumber air, pengadaan air dapat dilakukan dengan cara menampung air hujan dalam bak-bak penampung. Selama masa pembesaran buah tanaman mangga amat diperlukan air, terutama pada musim kemarau. (Pracaya. 1990).

2.4 Pengertian Varietas Unggul
Varietas atau kultivar unggul adalah sekumpulan individu tanaman yang dibedakan oleh setiap sifat (morfologi, fisiologi, sitologi, kimia) yang nyata untuk maksud usaha pertanian dan bila diproduksi kembali akan menunjukkan sifat unggul yang dapat dibedakan dari yang lain, Varietas unggul meliputi :
a. Sifat Genetik
Sifat genetik merupakan penampilan varietas murni atau tertentu yang menunjukkan identitas genetik dari tanaman induknya mulai benih penjenis, benih dasar, benih pokok dan benih sebar.
b. Sifat Fisiologik
Sifat ini menampilkan kemampuan daya hidup varietas serta bebas dari hama dan penyakit.
c. Sifat Fisik
Sifat fisik merupakan penampilan varietas secara prima bila dilihat secara fisik seperti ukuran varietas.
Keunggulan sifat kadang-kadang dinyatakan pada salah satu komponen hasil atau hasil akhir, kadang-kadang juga pada mutu atau kandungan zat gizi maupun hanya pada kegenjahan atau ketahanannya pada suatu hama penyakit atau kekeringan. Secara total keistimewaan suatu varietas unggul tentu pada daya produksinya disuatu daerah tertentu (Rukmana, 1999).

2.5 Morfologi Beberapa Jenis Mangga
2.5.1 Arumanis –143
Mangga arumanis memiliki pohon yang tidak begitu besar dengan ukuran diameter 120-130 cm. Mangga ini memiliki tinggi berkisar 900 cm. Mangga ini memiliki daun yang sangat lebat berbentuk lonjong, panjang dan ujungnya runcing. Panjang daun mencapai 22 cm- 24 cm lebarnya berkisar antara 5,5 cm – 7 cm.
Bunganya majemuk dan mempunyai panjang 43 cm – 45 cm lebarnya berkisar antara 5,5 cm – 45 cm, dengan bentuk bunga kerucut. Setelah berbunga, tidak selang beberapa lama berubah menjadi buah. Buah yang telah tua berwarna hijau tua dan dilapisi dengan lilin, sehingga warnanya menjadi hijau kelabu. Jika dimasak, pangkal buahnya akan kering dan pada pada pangkal tangkai buah akan meyebar warna merah sampai bagian tengahnya.

2.5.2 Golek – 31
Pohon berukuran sedang, berdiameter antara 120-130 cm, miliki cabang banyak. Pada cabang tersebut terdapat ranting yang merupakan kekuatan untuk menggantung buah.
Daun mangga golek berbentuk lonjong, pada bagian pangkalnya meruncing sehingga berbentuk seperti mata tombak. Panjangnya berkisar antara 23 cm – 24,5 cm, dengan lebar 6 cm.
Mangga ini berbunga majemuk, artinya bunganya banyak dan berkumpul dalam suatu tangkai sehingga kelihatan bergerombol. Tidak semua bunga dapat menjadi buah, karena diantara bunga tersebut tidak memiliki putik yang dapat diserbuki juga disebabkan oleh daya hidup pada tepung sari pada bunga tersebut mulai berkurang .
Buahnya yang masih muda berwarna hijau muda, rasanya tidak terlalu masam. Sesudah masak, sebagian kulitnya mulai dari pangkal tangkai berwarna kuning, sedangkan sebagian lain berwarna kuning kehijauan. Kulitnya dilapisi dengan lilin tipis sehingga tampak bintik-bintik kelenjar yang berwarna putih kehijauan, jika sudah tua warnanya akan berubah putih kecoklatan.

2.5.3 Manalagi – 69
Pohon mangga manalagi hampir sama dengan pohon golek dan arumanis, besarnya berdiameter 120 cm dengan ketinggian 800 cm. Cabang dan rantingnya tidak teralu banyak (boleh dikatakan kurang).
Daun mangga manalagi berbentuk lonjong dengan ujung yang runcing, dibagian pangkal tangkai daun berbentu agak bulat. Panjang daun mangga ini berkisar antara 23 cm-25 cm dan lebar sampai 7,5 cm, permukaan daun agak bergelombang.
Bunga mangga manalagi mempunyai bunga majemuk (berbunga banyak) dan bergerombol dalam satu tangkai. Sebagian tidak bisa menjadi buah karena sebagian ada yang tidak memiliki putik yang bisa dibuahi. Bunga manalagi berwarna kuning dengan tangkai hijau muda sedikit kemerahan dan berbentuk kerucut.
Buah yang masih muda berwarna hijau, jika sudah tua warna berubah menjadi hijau tua dan agak kelabu, buah yang sudah tua akan berlapis lilin sehingga tampak hijau keputihan, bila pangkal buah akan berwarna kekuningan tetapi pada ujung masih berwarna hijau.

2.5.4 Keitt
Mangga ini berasal dari filipina, pohon mangga keitt memiliki tinggi sekitar 6,20 m dengan diameter batang 49 cm batang bawah dan 47 cm batang atas, warna batang coklat dan kulit batang kehitaman licin. Cabang dan rantingnya jarang dengan bentuk tajuk piramida tumpul.
Daun mangga keitt berbentuk lonjong dengan pucuk daun berbentuk lancip. Panjang daun 20,5 cm dan lebarnya berkisar 7,1 cm. Warna pupus cenderung kekuningan dan panjang pupus berkisar 17,3 cm.
Bunga mangga keitt tersusun teratur dalam satu tangkai. Panjang malai sekitar 31 cm dan lebar sekitar 17 cm. Bentuk malai seperti piramida lancip dengan warna malai berwarna merah. Bunga mangga ini berwarna merah kekuningan diikuti porsi bunga permalai 78 sempurna dan 309 jantan.
Berat buah mangga keitt , yaitu 650gr/buah. Ukuran buah relatif besar dengan panjang 14 cm dan lebar 24 cm dan lingkar 24 cm. Bentuk pucuk buah ini sedikit berlekuk dan mempunyai paruh. Kulit buahnya tebal, halus berbintik dan jarang warna putih. Jika sudah masak warna daging buah pada pangkal merah kekuningan dan pucuk buah hijau. Aromanya sedang, rasanya segar, selain itu buah ini mempunyai kadar vitamin c 8,9 mg/100 gr buah. (Rebin, et al. 1998).
2.5.5 Haden
Mangga jenis ini merupakan hasil introduksi dari USDA. Besar pohon relatif besar sekitar 133 cm batang dan 107 cm batang atas. Mangga ini cabang dan ranting yang jarang dan menyebar dengan bentuk tajuk seperti piramida tumpul (bulat). Warna kulit batang coklat kehitaman kekuningan dan kulit batang berwarna coklat kehitaman.
Daun mangga haden berbentuk sempit dengan ujungnya lancip dan dasar daun runcing. Ukuran daun berkisar 18, 2 cm panjang dan 15,2 cm lebar. Warna pupus daun coklat tua dengan panjang pupus 21,3 cm.
Bentuk Bunga pada mangga haden teratur dengan ukuran malai bunga, yaitu panjang malai sekitar 32 cm dan lebar malai sekitar 19 cm, dan bentuk malai bunga seperti piramida lancip. Bunga buah ini berwarna kuning, malai berwarna kuning dan warna tangkai malai merah kehijauan. Selain itu porsi bunga buah haden ini adalah 50 betina dan 50 jantan.
Berat buah berkisar 365 gr/buah, dengan ukuran bauh 9 x 7x 6,5 cm. Bentuk buah ini bulat dengan pangkal berbentuk rata dan pucuk buah bulat. Ketika sudah masak daging buah berwarna kuning dan aromanya agak harum, selain itu mangga ini kadar air 66ml/100gr buah dengan kadar gula 15,52 % (Rebin, et al. 1998).

2.5.6 Irwin
Mangga ini berasal dari Australia, ukuran pohonnya relatif kecil yaitu, mempunyai ketinggian mencapi 9 m, diameter pohon sekitar 8 cm. Percabangan mangga Irwin terkategori sedang dengan bentuk tajuk piramida lancip. Sedangkan warna batang mangga ini adalah coklat.
Bentuk daun mangga Irwin bebentuk sempit, dengan permukaan berombak, pucuk daun lancip, dasar daun lancip. Ukuran daun meliputi; panjang daun 25 cm dan lebar 5 cm. Warna daun muda hijau muda dan warna daun tua hijau tua.
Bunga pada mangga ini tersusun teratur , berbunga 3-4 kali pada lokasi di Solok, Sumatera Barat. Ukuran malai yaitu; panjang malai sekitar 43 cm dan lebar sekitar 26 cm dengan bentuk malai seperti piramida lancip. Sedangkan warna bunga mangga Irwin adalah merah,merah keunguan dan warna malai bunga merah kekuningan.
Berat buah sekitar 368,75 gram/ buah. Ukuran buah relatif besar dengan panjang 43 cm, lebar 26 cm. Bentuk pangkal buah rata dan berlekuk, betuk pucuk buah datar, lekukan pucuk buah datar, paruh sedikit jelas. Daging buahnya tebal sekita 2,5 cm dengan tekster lunak. Jika sudah masak daging buahnya berwarna kuning berserat kasar, dan panjang. (Rebin, et al. 1998).

2.6 Perbanyakan Tanaman Mangga
Tanaman mangga dapat diperbanyak atau dikembangkan dengan beberapa cara, cara pertama adalah seksual (generatif) dengan biji, dimana biji ada yang monoembrional dan yang polyembrional. Sedangkan cara kedua adalah secara aseksual (vegetatif), hal ini dapat dilakukan baik melalui grafting, cangkok maupun rundukan. Cara ketiga adalah pengembangan cara vegetatif dan cara generatif (Harjadi, 1985).

2.6.1 Perbanyakan secara Generatif
Penanaman mangga yang paling mudah adalah dengan cara menanam biji, kebanyakan pohon-pohon mangga yang berumur sampai berpuluh-puluh tahun, pohonnya menjadi sangat besar dan kuat, bibitnya berasal dari biji. Pohon mangga yang dari biji mempunyai akar tunggang yang kuat dan menjalar ke segala arah sampai puluhan meter panjangnya (Gardner, 1989).
Semua biji pelok yang dipersiapkan sebagai benih harus dipilih dari buah yang benar-benar sudah masak. Usaha pembibitan dengan menggunakan biji masih tetap diperlukan dan masih banyak dirasakan manfaatnya terutama untuk kepentingan bibit okulasi dan grafting, sebagai batang bawah (Winarno,dkk 1990).
Beberapa keuntungan perkembangbiakan mangga secara generatif antara lain:
a. Kondisi tanaman dari biji biasanya perakarannya relatif lebih kuat, sehat dan berumur panjang.
b. Perlakuan mudah dan murah
c. Dapat diperoleh varietas baru yang baik
d. Pada biji poliembrionik dapat menghasilkan tanaman yang sama dengan sifat induknya.
Beberapa kelemahan pengembangbiakan mangga secara generatif antara lain:
a. Tidak cepat berbuah
b. Varietas baru yang muncul belum tentu mempunyai sifat yang baik seperti induknya.
c. Untuk mengetahui kualitasnya membutuhkan waktu yang cukup lama, dengan juga dengan ketahanannya terhadap penyakit. (Danoesastro, 1984).

2.6.2 Perbanyakan Secara Vegetatif
Pengembangbiakan cara vegetatif ini merupakan cara perbanyakan tanaman mangga tanpa melaui proses seksual (askesual) dimana perbanyakan dilakukan dengan jalan menggunakan bagian tanaman tersebut. Perbanyakan vegetatif ini terdiri dari bagian batang, daun dan akar (Sasmita, 1985).
Perbanyakan vegetatif adalah penggabungan antara dua jenis tanaman, yang satu bertindak sebagai penerima yang disebut batang atas “entres” dan yang lain bertindak sebagai pendukung (donor) yang disebut sebagai batang bawah. Oleh karena itu tanaman harus mampu menjalani hidup bersama tanpa menimbulkan yang tidak diinginkan bahkan mampu meningkatkan kekekaran dan produktifitas dan kualitas hasil batang atas. untuk maksud tersebut maka batang bawah tersebut harus mempunyai sifat:
1. Kompatebel dengan entresnya.
2. Resistensi terhadap penyakit batang
3. Mempunyai sistem perakaran yang luas dan kuat
4. Tahan terhadap lingkungan yang menekan.
Perbanyakan vegetatif ini mempunyai kelebihan antara lain :
1. Pada umumnya tanaman mempunyai sifat yang sama dengan pohon induknya, misalnya: buah besar dan manis, tahan hama dan penyakit.
2. Tanaman cepat berbunga dan berbuah,walaupun pohonnya masih pendek.
3. Tanaman masih dapat tumbuh dengan baik pada tempat yang permukaan air tanahnya dangkal, karena tidak mempunyai akar tunggang.
Disisi lain cara perbanyakan ini juga meiliki kelemahan antara lain:
1. Tidak hanya sifat yang baik saja yang diturunkan oleh induknya, tetapi sifat jeleknya juga diturunkan.
2. Perakaran tidak dalam sehingga pada kondisi angin kencang akan mudah roboh, dan pada musim kemarau panjang tidak tahan pada kekeringan.
3. Sukar untuk memperoleh banyak tanaman dari atau pohon induk sekaligus (Rochiman, 1983).

2.6.3 Perbanyakan Mangga Secara Grafting
Grafting adalah teknik menyatukan pucuk yang berfungsi sebagai calon batang atas dengan calon batang bawah, sehingga dapat diperoleh batang baru yang memiliki sifat-sifat unggul. Keunggulan dari grafting yaitu lebih mudah dan lebih cepat dalam pengerjaannya (sederhana), tingkat keberhasilannya cukup tinggi, banyak digunakan buah kombinasi yang berumur 6-12 bulan atau pada tanaman induk yang diremajakan. Tujuan teknik ini yaitu untuk mendapatkan bibit tanaman buah yang unggul, memperbaiki bagian-bagian tanaman yang rusak atau terserang hama dan penyakit, membantu proses pertumbuhan tanaman dan memperoleh tanaman buah kombinasi (Anonymous, 1990).

2.6.3.1 Syarat Batang Atas dan Bawah
Untuk memperoleh hasil (tanaman) sambungan yang baik diperlukan batang bawah yang cocok dan serasi. Menurut Marhijanto dan Wibowo (1994) tanaman yang baik untuk batang atas harus mempunya sifat sebagai berikut, yaitu: Cabang dari pohon yang kuat, normal pertumbuhannya dan bebas dari serangan hama dan penyakit. Mempunyai bentuk percabangan yang lurus, dimana diameter batang atas harus disesuaikan dengan batang bawah sekitar paling besar 1 cm. Cabang yang diambil berasal dari pohon yang yang mempunyai sifat unggul seperti buahnya lebat, tahan penyakit dan hama, rasa dan aroma buah enak. Dan yang terakhir adalah adanya kemampuan untuk menyesuaikan diri antara batang atas dengan batang bawah sehingga sambungan kompatibel (cocok).
Menurut Rismunandar (1990), Sedangkan syarat tanaman yang akan dijadikan batang bawah harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut; batang bawah yang baik mempunyai kemampuan daya adaptasi yang tinggi. Mempunyai perakaran dan batang yang kuat dan tahan terhadap serangan hama sehingga akan mengokohkan daya topang pohon yang kuat ketika sudah dewasa. Dan yang terakhir mempunyai kecepatan tumbuh sesuai dengan batang atas yang digunakan, sehingga diharapkan batang bawah ini mampu hidup bersama dengan batang atas.

2.6.3.2 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Grafting
2.6.3.2.1 Faktor Tanaman
Kesehatan batang bawah yang akan digunakan sebagai bahan perbanyakan perlu diperhatikan. Pada batang bawah yang kurang sehat, proses pembentukan kambium pada bagian yang dilukai sering terhambat. Keadaan ini akan sangat mempengaruhi keberhasilan penyambungan (Sugiyanto, 1995). Pendapat ini didukung oleh Garner dan Chaudri (1976) yang mengemukakan bahwa batang bawah berpengaruh kuat dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga pemilihan tanaman yang digunakan sebagai batang bawah sama pentingnya dengan pemilihan varietas yang akan digunakan sebagai batang atas.
Berhasilnya pertemuan entres dan batang bawah bukanlah jaminan adanya kompatibilitas pada tanaman hasil sambungan. Sering terjadi perubahan pada entres maupun pada tanaman hasil sambungan, misalnya pembengkakan pada sambungan, pertumbuhan entres yang abnormal atau penyimpanan pertumbuhan lainnya, dimana keadaan ini disebut inkompatibel. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan struktur antara batang atas dan batang bawah atau ketidakserasian bentuk potongan pada sambungan (Rochiman dan Harjadi, 1973). Sedangkan batang yang mampu menyokong pertautan dengan baik dan serasi disebut kompatibel (Winarno, 1990).

2.6.3.2.2 Faktor Pelaksanaan
Faktor pelaksanaan memegang peranan penting dalam penyambungan. Menurut Rochiman dan Harjadi (1973) kecepatan penyambungan merupakan pencegahan terbaik terhadap infeksi penyakit. Pemotongan yang bergelombang dan tidak sama pada permukaan masing-masing batang yang disambungkan tidak akan memberikan hasil yang memuaskan ( Hartman dan Kester, 1976).
Kehalusan bentuk sayatan dari suatu bagian dengan bagian lain sangat penting untuk mendapatkan kesesuaian posisi persentuhan kambium. Ukuran batang bawah dengan batang atas hampir sama sangat diharapkan agar persentuhan kambium sangat banyak terjadi. Apabila batang atas lebih kecil dari batang bawah, maka salah satu sisi kambium harus cepat. Cara penyambungan suatu tanaman keberhasilannya lebih banyak dibandingkan dengan metode lain. Disamping itu ketrampilan dan keahlian dalam pelaksanaan penyambungan maupun penempelan serta ketajaman alat-alat yang digunakan juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pekerjaan tersebut (Sugiyanto, 1995;Winarno, 1990).

2.6.3.2.3 Faktor Lingkungan
Cahaya matahari sangat kuat akan berpengaruh terutama pada saat pelaksanaan penyambungan. Oleh karena itu penyambungan dilakukan pada waktu pagi hari atau sore hari. Penyambungan sebaiknya dilakukan pada musim kemarau. Selain untuk menghindari kebusukan, curah hujan pada musim kemarau batang sedang aktif mengalami pertumbuhan serta entres yang tersedia cukup masak (Sugiyanto, 1995)

2.7 Defoliasi (Perompesan Daun)
Menurut Widianto (1988) dalam Sudarto (2000), Cara yang umum dilakukan dalam hal ini perompesan dalam batang atas adalah daun-daun pada calon batang atas dibuang helai yang paling ujung daun yang tinggi dua helai digunting dan disisakan ¼ bagian.
Usaha untuk mengetahui sejauh mana efesiensi hasil suatu tanaman tergantung pada aktifitas organ pengguna yaitu dengan perompesan sebagian daun atau menghilangkan sebagian pengguna. Organ pengguna yang dimaksud adalah pengguna fotosintat misalnya: titik tumbuh, bunga, buah, akar. Sedangkan penghasil bagian tanaman, atau organ yang menghasilkan fotosintat misalnya daun yang membuka penuh, seludang daun, namun sebagian besar fotosintat dihasilkan oleh daun dan digunakan oleh organ tanaman yang aktif tumbuh. Widianto (1988).
Pertumbuhan daun selalu cenderung mengalami perubahan subtansi yang mengarah terjadinya absisi. Perompesan daun (defoliasi) telah membuang asimilat, juga meniadakan hormon pertumbuhan tunas yang biasanya ditranslokasikan dari daun, sehingga dapat mempertinggi sambungan jadi dan mepercepat pembentukan tunas (Widianto,1988).
Menurut Sudarto (2000), bahwa defoliasi mempunyai pengaruh pada peubah panjang tunas yang terjadi pada 98 hari setelah grafting dan menunjukkan perbedaan yang sangat nyata, secara terpisah perlakuan entres yang didefoliasi dengan cara membuang daun dan menyisakan 2-3 helai daun terbukti dapat meningkatkan panjang tunas. Hal ini diduga karena hormon penghambat pertumbuhan tunas yang biasanya ditranslokasikan dari daun semakin berkurang, seiring dengan dengan pengurangan cabang entres sehingga proses penyatuan sambungan dapat terjadi dengan baik.
Perlakuan defoliasi cabang entres dapat mendukung prosentase sambung jadi. Hal ini disebabkan karena ada kaitannya dengan kandungan asimilat yang terakumulasi pada cabang entres yang dirompes. Akumulasi asimilat dapat merangsang pembelahan, pembesaran dan deferensiasi sel, yang kemudian mendorong proses pertautan antara batang atas dan bawah, sehingga melancarkan unsur hara dan air dari batang bawah kebatang atas (Lukman, 2004).
Sedangkan menurut Lukman (2004), pada tanaman jambu mete pengaruh lama waktu defoliasi sebelum penyambungan pada tiga stadium entres terhadap keberhasilan penyambungan menunjukkan keberhasilan yang cukup tinggi, diatas 54,4 % yaitu dengan defoliasi pada 3 dan 6 hari. Entres yang sedang aktif dapat digunakan sebagai entres dengan perlakuan defoliasi. Tunas akan keluar dari tunas yang berada diketiak daun disamping batang pucuk. Perlakuan defoliasi pada tunas tidur menunjukan keberhasilan lebih tinggi dibanding pada tunas aktif dan entres tanpa pucuk, yaitu 89,3% dengan defoliasi 3 HSS dan 77,1% dengan defoliasi 6 HSS. Hadad dan Koernati (1996) melaporkan, bahwa tingkat keberhasilan penyambungan pada umur 60 HSP cukup representatif. Munculnya tunas-tunas baru menunjukkan bahwa hasil sambungan kompatibel.
Perontokan daun sebelum penyambungan pada ketiga stadium entres menunjukkan tingkat keberhasilan lebih tinggi, mencapai 54,4-89,3% dibanding dengan tanpa defoliasi (13,7- 31,3%). Hal ini akan menunjukkan bahwa perontokan daun sebelum penyambungan berpengaruh positif dalam penyembuhan luka.
Alvin et al. (1972) melaporkan semakin banyak daun yang dipangkas semain banyak senyawa absicic acid (ABA) yang hilang sehingga meningkatkan nisbah sitokinin dengan ABA. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sitokinin berperan pada pemacuan pertunasan. Hal ini menunjukkan bahwa waktu defoliasi antara 3-6 HSS dapat mengimbangi proses penyembuhan dan menstimulir hasil metabolisme untuk mendorong munculnya tunas atau pucuk baru.
Penggunaan stadium entres dengan defoliasi kelihatannya berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman, lingkar batang, jumlah daun. Perlakuan stadium entres dengan defoliasi menunjukkan pertumbuhan tanaman yang lebih tinggi dengan diameter batang yang lebih besar serta jumlah daun lebih banyak dibanding dengan tanpa defoliasi (Alvin,1972).

2.8 Proses Pertautan Sambungan
Proses pembentukan pertautan sambungan dapat disamakan dengan penyembuhan luka, apabila pangkal sebuah tanaman dibelah, maka jaringan yang luka tersebut akan sembuh dengan jika luka tersebut diikat dengan kuat. Keberhasilan penyambungan suatu tanaman tergantung pada terbentuknya pertautan sambungan itu, dimana sebagian besar disebabkan oleh adanya hubungan kambium yang rapat dari kedua batang yang disambungkan (Ashari, 1995).
Ashari (1995), mengemukakan bahwa pertautan antara btang atas dengan batang bawah melalui beberapa tahapan. Apabila dua jenis tanaman disambung maka pada daerah potongan dari masing-masing tanaman tersebut tumbuh sel-sel meristematis. Agar proses pertautan tersebut dapat berlanjut, kegiatan sel/jaringan meristem antara daerah potongan harus terjadi kontak untuk saling menjalin secara sempurna. Hal ini hanya mungkin apabila kedua jenis tanaman cocok (kompaibel) dan irisan luka rata, serta pengikatan sambungan tidak terlalu lemah dan tidak terlalu kuat, sehingga terjadi kerusakan/kematian jaringan.
Adnance dan Brison (1976), menjelaskan adanya pengikat yang erat akan menahan bagian sambungan untuk tidak bergerak, sehingga kalus yang terbentuk akan semakin jalin-menjalin dan terpadu dengan kuat. Jalinan kalus yang kuat semakin menguatkan pertautan sambungan yang terbentuk.
Lebih lanjut Hartman dan Khester (1975) mengemukakan proses fotosiologis didalam peristiwa penyembuhan luka adalah sebagai berikut:
• Setelah dilakukan penyembuhan antara batang bawah (stock), batang atas (scion), maka tahap pertama di daerah kambium.
• Pada tahap kedua, sel-sel parenkim berkembang sehingga terjadi penggabungan antara batang bawah dengan batang atas.
• Pada tahap ketiga, terjadi deferensiasi pada sel-sel kambium baru dan terjadi penggabungan antara dua kambium (lama) dari batang bawah dan atas.
Setelah tahap pertama sampai tahap ketiga selesai, maka tebentuklah jaringan vaskuler baru (xylem, dan floem) sebagai saluran untuk menyalurkan air dan zat-zat makanan antara batang bawah dan atas (Abidin,1987).
Menurut Ashari (1995), dalam proses penyambungan ada beberapa hal yang harus ketahui adalah sebagai berikut:

a). Polaritas
Dalam melakukan sambung atau okulasi, hal penting yang harus diperhatikan adalah polaritas bagian batang atas dan batang bawah. Untuk batang atas, bagian dasar entres atau mata tempel harus harus disambungkan dengan bagian atas batang bawah. Dalam hal okulasi, berarti mata tunas harus menghadap keatas. Bila runtutan atau posisi terbalik, maka sambungan tidak akan berhasil baik, karena fungsi xilem sebagai penghantar hara dari tanah maupun fungsi floem yang mengantar asimilat dari daun terbalik arahnya. Tetapi sebaliknya, apabila entres disambungkan pada akar tanaman, maka posisinya menjadi terbalik, yaitu bagian dasar entres harus disambungkan pada bagian dasar akar karena ujung akar sifatnya geotropik (Lukman, 2004).
b). Kompatibilitas
Pengertian kompatibilitas adalah kemampuan dua jenis tanaman yang disambung untuk tumbuh menjadi satu tanaman baru. Kebalikan kejadian ini adalah inkopitibilitas.
Bahan tanaman yang disambungkan akan menghasilkan persentase kompatibilitas tinggi apabila tinggi tanaman tersebut masih dalam satu spesies atau satu klon. Bahkan ada kalanya berbeda spesies pun dapat berhasil disambung asalkan masih dalam satu famili, tentu saja hal ini bergantung pada jenis tanaman masing-masing. Pada tanaman mangga dan jeruk terlihat kompatibilitas yang tinggi, misalnya jeruk roug lemon disambungkan dengan jeruk siem besar jeruk nipis dan sebagainya. Dengan halnya dengan mangga ; mangga madu memberikan keberhasilan tinggi bila disambung dengan batang atas jenis golek, lalijiwo dan sebagainya (Lukman, 2004).
Inkompatibilitas antar jenis tanaman yang disambung mulai terlihat pada beberapa tahapan, mulai sejak gagalnya sambungan hingga matinya tanaman sambungan secara perlahan. Adapun kriteria inkompatibilitas menurut Hartman dan Kester (1978) sebagai berikut:
1. Tingkat keberhasilan sambungan rendah.
2. Pada tanaman yang sudah berhasil tumbuh, terlihat daunnya menguning, rontok dan mati tunas.
3. Mati muda pada bibit sambungan.
4. Terdapat perbedaan laju tumbuh antara batang bawah dengan batang atas .
5. Terjadinya pertumbuhan yang berlebihan baik batang bawah ataupun batang atas (Hartman dan Kester, 1978).

III. METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Pebruari sampai dengan bulan April 2006, di kebun percobaan Pohjentrek Pasuruan. Ketinggian tempat 4 m dpl, dengan jenis tanah latosol kompleks, tipe iklim D Smith Ferguson, curah hujan per tahun 1332 mm dengan 96 hari hujan, suhu rata-rata 27o C dan kelembaban nisbih 65%.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah pisau okulasi, gunting stek, kamera, alat tulis dan peralatan lain yang mendukung dalam pelaksanaan.
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah entres varietas Irwin, Haden, Kengsinton apple, Arumanis 143, Golek 31, Manalagi 69. Tanaman mangga, batang bawah varietas madu 225, pupuk kandang kambing, tanah, pasir, polibag, plastik pembungkus.

3.3 Metode
Pelaksanaan penelitian ini menggunakan percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial, 2 faktor dengan 3 kali ulangan. Dimana macam varietas sebagai faktor I, dan perbedaan waktu defoliasi sebagai faktor II.
Faktor I adalah varietas entres (V) yang terdiri dari 6 level :
V1 : entres mangga varietas Heiden
V2 : entres mangga varietas Irwin
V3 : entres mangga varietas Kensintong Apple
V4 : entres mangga varietas Arumanis-143
V5: entres mangga varietas Golek-31
V6 : entres mangga varietas Manalagi-69
Faktor II adalah waktu defoliasi (D) yang terdiri dari 3 level:
D1: 0 hari sebelum sambung
D2: 6 hari sebelum sambung
D3: 12 hari sebelum sambung
Dari kedua faktor tersebut didapat 18 kombinasi perlakuan. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan diwakili oleh 3 sampel. Sehingga seluruh populasi berjumlan 162 tanaman. Seperti pada Tabel 1 dibawah ini :
Perlakuan Defoliasi 0 Hari Sebelum Sambung Defoliasi 6 Hari Sebelum Sambung Defoliasi 12 Hari SebelumSambung
Entres V. Haden V1D1 V1D2 V1D3
Entres V. Irwin V2D1 V2D3 V2D3
Entres V.Kengsinton Apple V3D1 V3D2 V3D3
Entres V. Arumanis-143 V4D1 V4D2 V4D3
Entres V. Golek V5D1 V5D2 V5D3
Entres V. Manalagi V6D1 V6D2 V6D3

3.4 Pelaksanaan Percobaan
3.4.1 Persiapan Media
Persiapan dimulai dengan mengemburkan tanah, kemudian dicampur dengan pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1 . kemudian media yang sudah dicampur itu dimasukkkan kedalam polybag yang bagian dasar berlubang, ukuran tinggi 20 cm dan diameter 12,5 cm.
3.4.2 Penyediaan Batang Bawah
Batang bawah yang digunakan adalah varietas madu-225 yang telah ditanam dipolibag yang berumur kurang lebih 4 bulan, batang bawah yang digunakan tersebut mempunyai diameter batang 0,5-0,7 cm.
3.4.3 Penyediaan Batang Atas
Penyediaan batang atas yang diguanakan adalah sebagai entres dari varietas mangga Haden, Irwin, Kensinton Apple, Arumanis-143, Golek-31, Manalagi-69. Batang atas dipilih dari ranting yang baik, diameter batang disesuaikan dengan batang, bentuknya lurus panjang sekitar 15 cm.
3.4.4 Defoliasi (perompesan daun)
Perompesan dilakukan dengan cara membuang seluruh daun pada cabang yang akan dijadikan batang atas. Saat perompesan dilakukan berdasarkan waktu: yaitu 0 hari sebelum sambung, 6 hari sebelum sambung, 12 hari sebelum sambung.

3.4.5 Pelaksanaan Penyambungan
Batang bawah yang ada dipolybag akan disambung bila sudah mencapai sebesar pensil. Cara penyabungan menggunakan model sambung celah, pelaksanaan penyambungan dilakukan setelah entres didefoliasi sesuai dengan perlakuan yang yang ada. Pengikatan penyambungan menggunakan kantong plastik es yang lentur dengan cara dimulai dari bawah keatas kemudian sisa plastik ditutupkan pada entres, tujuan untuk menjaga kelembababan bibit hasil sambungan.
3.4.6 Pemeliharaan Bibit Sambungan
Selama pembibitan pemeliharaan sambungan agar diperoleh keberhasilan yang baik, maka dilakukan pemeliharaan sebagai berikut:
3.4.7 Pemberian Air
Untuk memenuhi kebutuhan air dalam pertumbuhan, penyiraman dilakukan dua hari sekali pada pagi hari. Banyak air yang diberikan dalam jumlah yang cukup, artinya pemberian tersebut tidak sampai tergenang. Alat yang digunakan adalah gembor.
3.4.8 Pemupukan
Pemupukan awal berupa pupuk N dan P diberikan setelah bibit berumur satu bulan setelah sambung dengan kandungan nitrogen lebih tinggi. Dosis pupuk 15 gram P perpolibag, caranya dengan dibenamkan sedalam 10 cm dalam polibag.
3.4.9 Pengendalian Hama Penyakit
Apabila ada tanda-tanda terserang penyakit, dikendalikan dengan menggunakan Decise dengan dosis 2 cc/liter dan untuk pengendalain serangga digunakan insektisida dursban yang diberikan dengan konsntrasi 2 cc/liter air. Dan waktu pemberian dilakukan pada umumya 14 HSS sedang pemberantasan berikutnya tergantung serangan atau bila terjadi serangan hama dana penyakit.

3.5 Alur Pelaksanaan Percobaan

3.6 Pengamatan
Dalam penelitian tidak semua diamati tetapi pengamatan dapat dilakukan hanya dengan pengambilan beberapa sampel (contoh) yang mewakili.
Pengamatan dilakukan secara non destruktif setiap 6 hari sampai 58 HSP, kecuali untuk saat pecah mata tunas dilakukan 2 hari sekali. Pengamatan terhadap keberhasilan bibit mangga hasil grafting ini dilakukan dengan mengamati parameter:
1. Saat Muncul Tunas
Saat pecah tunas dihitung dari munculnya bakal daun yang ditandai apabila seludang daun telah lepas.
2. Persentase Sambung Jadi
Pengukuran keberhasilan grafting dimulai dari masuknya batang atas ke batang bawah setelah 3 minggu dari penyambungan, dihitung dengan rumus :
P = Jumlah entres yang tumbuh x 100%
Jumlah sample tanaman

3. Panjang tunas
Pengukuran dimulai dasar tunas sampai titik tumbuh dilakukan 10 hari sekali
5. Diameter tunas
Pengukuran dilakukan diatas sambungan kurang lebih dua cm, waktu pelaksaan 12 hari setelah sambung dengan menggunakan jangka sorong.
4. Luas Daun
Luas daun dengan mengukur panjang dan lebar daun maksimum kemudian dikalikan dengan faktor koreksi dikalikan jumlah daun pertanaman.
LD = P xL xF k x n
Dimana :
LD : Luas daun L : Lebar daun
P : Panjang daun Fk : Faktor koreksi
n : Jumlah daun pertanaman

3.6 Analisa Data

Data penelitian akan dianalisa dengan menggunakan RAK Faktorial untuk mencari interaksi antara perbedaan waktu defoliasi entres dengan beberapa macam varietas terhadap pertumbuhan bibit mangga. Jika uji F pada analisis ragam menunjukkan pengaruh yang nyata, maka pengujian selanjutnya menggunakan uji jarak duncan (Duncan Multiple Range Test) 5 %.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Saat Muncul Tunas
Berdasarkan hasil analisis ragam menunjukkan adanya interaksi yang sangat nyata antara macam varietas dan perlakuan defoliasi entres terhadap peubah saat muncul tunas.(Lampiran 1).
Rerata saat muncul tunas pada pengaruh interaksi antara macam varietas dan perlakuan defoliasi entres disajikan pada tabel.1
Tabel 1 Rerata saat muncul tunas pada pengaruh interaksi antara perlakuan macam varietas dan defoliasi entres.
Perlakuan Saat muncul tunas
( HSS)
Heiden dengan defoliasi 0 hss (V1D1)
Heiden dengan defoliasi 6 hss (V1D2)
Heiden dengan defoliasi 12 hss (V1D3)
Irwin dengan defoliasi 0 hss (V2D1)
Irwin dengan defoliasi 6 hss (V2D2)
Irwin dengan defoliasi 12 hss (V2D3)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 0 hss (V3D1)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 6 hss (V3D2)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 12 hss (V3D3)
Arumanis-143 dengan defoliasi 0 hss (V4D1)
Arumanis-143 dengan defoliasi 6 hss (V4D2)
Arumanis-143 dengan defoliasi 12 hss (V4D3)
Golek dengan defoliasi 0 hss (V5D1)
Golek dengan defoliasi 6 hss (V5D2)
Golek dengan defoliasi 12 hss (V5D3)
Manalagi dengan defoliasi 0 hss (V6D1)
Manalagi dengan defoliasi 6 hss (V6D2)
Manalagi dengan defoliasi 12 hss (V6D3)
6,63abcde
9,53e
15,20f
4,33a
4,53ab
5,06abc
20,00g
4,73ab
21,00g
8,83cde
10,53e
7,20abcde
4.14a
9,10de
4,20a
5,50abcd
8,30bcde
6,63abcde
Keterangan:
angka-angka yang di yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung

Pada tabel diatas nampak bahwa perlakuan varietas kengsinton apple yang didefoliasi 12 hari sebelum sambung menunjukkan perbedaan yang nyata dibandingkan semua kombinasi perlakuan yang ada, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan varietas kengsinton apple yang didefoliasi saat sambung. Sedangkan varietas golek yang didefoliasi saat sambung menghasilkan saat muncul paling cepat tetapi tidak berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan yang lain. Saat awal muncul tunas umur 4 HSS disajikan pada gambar.1

Gambar.1 Saat awal muncul tunas umur 4 HSS

4.1.2 Persentase Sambung Jadi
Berdasarkan analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi yang nyata antara perlakuan macam varietas dan perbedaan waktu defoliasi entres terhadap persentase sambung jadi. Akan tetapi jika dilihat secara terpisah perlakuan varietas menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi perlakuan waktu defoliasi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase sambung jadi. (Lampiran 2 dan 3).
Rerata persentase keberhasilan sambung pada perlakuan macam varietas disajikan dalam tabel 2

Tabel.2 Rerata persentase sambung jadi pada pengaruh perlakuan macam varietas entres.
Perlakuan Persentase sambung jadi (%) umur ( HSS)
16 23 30 37 44 51 58
Macam Varietas (V) :
Heiden (V1)
Irwin (V2)
Kengsinton.A (V3)
Arumanis-143 (V4)
Golek (V5)
Manalagi (V6)
33,37ab
59,30bc
44,47ab
85,20c
25,94a
55,7bc

44,50a
66,67ab
63,00ab
96,30c
51,90ab
77,78ab
55,60a
74,10ab
77,80ab
96,30b
70,40ab
70,40ab
63,00a
85,30ab
88,90ab
100,00b
62,98a
88,90ab
55,60a
96,30c
88,90bc
100,00c
70,40bc
88,90bc

55,60a
96,30c
88,90bc
100,00c
70,40ab
88,90bc
59,30a
88,90bc
88,90bc
100,00c
66,68ab
88,90bc

Defoliasi (D)
Defoliasi 0 hss (D1)
Defoliasi 6 hss (D2)
Defoliasi 12 hss ( D3)

42,62a
57,42a
51,88a

64,85a
75,95a
59,29a

72,25a
85,20a
64,85

79,65a
85,19a
79,65a

83,35a
87,05a
79,65a

83,35a
87,05a
79,65a

81,50a
85,19a
79,65a
Keterangan:
angka-angka yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung

Pada tabel 2 di atas terlihat bahwa perlakuan varietas Arumanis-143 menunjukkan persentase hidup lebih tinggi dan berbeda nyata dibanding dengan varietas Heiden pada semua umur pengamatan, tetapi tidak berbeda nyata dengan varietas Irwin, Kengsinton Apple, Arumanis-143, Golek, dan Manalagi. Hasil persentase sambung jadi varietas Arumanis-143 umur 58 HSS disajikan pada gambar.2

Gambar.2 Hasil persentase sambung jadi Arumanis-143 umur 58 HSS

4.1.3 Panjang Tunas
Kombinasi perlakuan macam varietas dan perbedaan waktu defoliasi entres memberikan pengaruh sangat nyata terhadap peubah pajang tunas pada umur pengamatan 51 dan 58 HSS. (Lampiran 5.b dan 5.c). Perlakuan macam varietas berpengaruh nyata pada umur pengamatan 16, 23, 30 37 dan 44 HSS. Akan tetapi perlakuan defoliasi entres tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap peubah panjang tunas pada semua umur pengamatan.(Lampiran 5 dan 6)
Rerata panjang tunas pada interaksi antara macam varietas dan waktu defoliasi entres disajikan tabel.
Tabel 3 Rerata panjang tunas pada pengaruh interaksi antara macam varietas dan waktu defoliasi entres.
Perlakuan Panjang Tunas (cm) umur HSS
51 58

Heiden dengan defoliasi 0 hss (V1D1)
Heiden dengan defoliasi 6 hss (V1D2)
Heiden dengan defoliasi 12 hss (V1D3)
Irwin dengan defoliasi 0 hss (V2D1)
Irwin dengan defoliasi 6 hss (V2D2)
Irwin dengan defoliasi 12 hss (V2D3)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 0 hss (V3D1)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 6 hss (V3D2)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 12 hss (V3D3)
Arumanis-143 dengan defoliasi 0 hss (V4D1)
Arumanis-143 dengan defoliasi 6 hss (V4D2)
Arumanis-143 dengan defoliasi 12 hss (V4D3)
Golek dengan defoliasi 0 hss (V5D1)
Golek dengan defoliasi 6 hss (V5D2)
Golek dengan defoliasi 12 hss (V5D3)
Manalagi dengan defoliasi 0 hss (V6D1)
Manalagi dengan defoliasi 6 hss (V6D2)
Manalagi dengan defoliasi 12 hss (V6D3)
4,043a
6,23a
6,06a
4,00a
10,58a
6,76a
6,86a
6,10a
6,43a
8,73a
8,06a
6,00a
9,30a
23,10b
9,00a
6,00a
10,86a
24,00b
6,16a
8,16ab
13,66c
7,40ab
14,03c
7,63ab
7,10ab
7,03ab
8,10ab
10,33b
9,33ab
14,10c
15,00c
24,03d
10,10b
7,06ab
14,40c
24,36d
Ket: angka-angka yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung

Pada tabel. 3 nampak varietas Manalagi dan waktu defoliasi 12 hss menghasilkan panjang tunas yang lebih panjang dan berbeda nyata dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lain pada umur 51 dan 58, tetapi tetapi tidak berbeda nyata dibandingkan varietas Golek dengan defoliasi 6 hss. Panjang tunas varietas Manalagi dengan 12 hss umur 58 HSS disajikan pada gambar. 3

Gambar.3 Panjang tunas manalagi dengan defoliasi 12 hss umur 58 HSS
Rerata panjang tunas pada pengaruh perlakuan macam varietas disajikan dalam tabel.4

Tabel 4 Rerata panjang tunas pada pengaruh perlakuan macam varietas entres.
Perlakuan Panjang tunas (cm) umur ( HSS)
16 23 30 37 44
Macam Varietas (V):
Haiden (V1)
Irwin (V2)
Kengsinton.A (V3)
Arumanis-143 (V4)
Golek (V5)
Manalagi (V6)
0,38a
2,61c
1,02bc
4,58d
0,83a
2,45bc
1,56a
3,27a
1,53a
6,67c
3,37bc
4,05c
2,11a
4,46a
2,62a
6,33b
4,49ab
3,80a
2,85a
6,95bc
4,03a
8,58c
6,17bc
7,58c
3,42a
7,62bcd
5,39ab
9,25d
6,22ab
8,44cd
Defoliasi (D)
Defoliasi 0 hss (D1)
Defoliasi 6 hss (D2)
Defoliasi 12 hss (D3)
1,83a
2,16a
1,85a
2,73a
4,09a
3,41a
3,28a
5,02a
3,57a
5,83a
6,32a
5,85a
6,76a
6,66a
6,76a
Keterangan:
angka-angka yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung
Pada tabel 4 di atas terlihat bahwa varietas Arumanis-143 menunjukkan panjang tunas lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Heiden pada pengamatan 16 dan 44 HSS, tetapi tidak berbeda nyata dengan vareitas Manalagi, dan Irwin.

4.1.4 Diameter Tunas
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara macam perlakuan varietas dan defoliasi terhadap peubah diameter tunas. Namun jika dilihat secara terpisah perlakuan macam varietas berpengaruh sangat nyata pada semua umur kecuali pada umur 44, 51 dan 58 HSS, sedangkan pada perlakuan waktu defoliasi tidak berpengaruh nyata pada semua umur pengamatan.
(Lampiran 6 dan 7).
Rerata diameter tunas pada pengaruh perlakuan macam varietas disajikan dalam tabel.5
Tabel 5 Rerata diameter tunas pada pengaruh perlakuan macam varietas entres.
Perlakuan Diameter Tunas (mm) umur ( HSS)
16 23 30 37 44
Macam Varietas (V):
Heiden (V1)
Irwin (V2)
Kengsinton.A (V3)
Arumanis-143 (V4)
Golek (V5)
Manalagi (V6)
1.24a
2.87bc
2.88ab
3.84c
1.44a
3.84c
1.84a
3.88b
3.22b
5.28c
3.14b
4.40bc
1.96a
3.48b
3.22b
5.41c
3.17ab
4.52bc
2.31a
4.71b
4.71b
6.06b
4.34b
5.27b
2.83a
5.506b
4.65b
7.15c
4.80b
5.80b
Defoliasi (D)
Defoliasi 0 hss (D1)
Defoliasi 6 hss (D2)
Defoliasi 12 hss (D3)
2.56a
2.58a
2.30a
3.91a
3.45a
3.32a
3.97a
3.51a
3.40a
4.80a
4.73a
4.00a
5.39a
5.32a
4.66a
Keterangan:
angka-angka yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung
Tabel. 4 di atas terlihat bahwa perlakuan varietas Arumanis-143 pada umur pengamatan 44 HSS menunjukkan diameter tunas lebih besar dan berbeda nyata dibanding semua perlakuan macam varietas, sedangkan varietas Heiden pada umur pengamatan 37 dan 44 HSS menunjukkan diameter terendah dibandingkan semua perlakuan yang ada. Diameter tunas umur 44 HSS disajikan pada gambar.4

Gambar.4 Diameter tunas pada umur 44 HSS
4.1.5 Luas Daun
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara perlakuan macam varietas dan waktu defoliasi entres terhadap peubah luas daun. Akan tetapi secara terpisah perlakuan macam varietas memberikan pengaruh yang nyata pada umur pengamatan 23, 30, 37, 44, 51, dan 58 HSS. Sedangkan perlakuan defoliasi entres tidak berpengaruh nyata terhadap peubah panjang tunas pada semua umur pengamatan.(Lampiran 8 dan 9).
Rerata luas daun pada perlakuan macam varietas disajikan dalam tabel.7
Tabel 7 Rerata luas daun pada pengaruh perlakuan macam varietas entres.
Perlakuan Luas Daun (cm2) umur ( HSS)
23 30 37 44 51 58
Macam Varietas (V):
V1=Haiden (V1)
V2=Irwin (V2)
V3=Kengsinton.A (V3)
V4=Arumanis-143 (V4)
V5=Golek (V5)
V6=Manalagi (V6)
20.29a
25.62ab
24.27ab
33.53bc
36.96c
32.50bc
23.88a
28.99ab
27.67ab
36.76bc
40.66c
36.84bc
23.88a
28.99ab
27.67ab
36.76bc
40.66c
36.84bc
23.88a
28.99ab
27.67ab
36.76bc
40.66c
36.84bc
24.74a
29.77ab
28.31ab
37.55bc
41.31c
37.35bc
26.75a
32.23ab
30.62ab
39.98bc
43.42c
39.50bc
Defoliasi (D)
Defoliasi 0 hss (D1)
Defoliasi 6 hss (D2)
Defoliasi 12 hss (D3)
28.53a
29.12a
28.53a
32.49a
32.56a
32.35a
32.49a
32.55a
32.35a
32.49a
32.55a
32.35a
33.16a
33.33a
33.02a
35.30a
35.51a
35.30a

Keterangan:
angka-angka yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung

Tabel 6 diatas terlihat bahwa varietas Golek menghasilkan luas daun lebih besar dan berbeda nyata dibandingkan dengan vaietas Heiden pada semua umur pengamatan, tetapi tidak berbeda nyata dengan varietas Manalagi dan Arumanis-143 sejak umur pengamatan 16-58 HSS. Hasil luas daun varietas Manalagi umur 58 HSS disajikan pada gambar.5

Gambar.5 Luas daun manalagi saat umur 58 HSS

4.1 Pembahasan
4.2.1 Saat Muncul Tunas
Hasil analisis ragam yang dicobakan menunjukkan pengaruh yang sangat nyata pada peubah saat muncul tunas. Varietas golek yang didefoliasi saat sambung menghasilkan saat muncul paling cepat tetapi tidak berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan yang lain.
Dalam hal ini karena hasil sambungan pada varietas golek yang didefoliasi saat sambung lebih cepat membentuk sel-sel fungsional, sehingga terjadi pertautan antara batang atas dengan batang bawah yang lebih sempurna. Menurut Suseno (1968) mengemukakan bahwa defoliasi daun pada batang atas dimaksudkan untuk memecahkan dormansi tunas-tunas yang terdapat pada batang. Hal ini didukung Sudarto (2000), bahwa perlakuan defoliasi pada cabang entres dapat mendukung persentase sambung jadi dan mempercepat tumbuhnya tunas atas. Hal ini disebabkan karena ada kaitannya dengan kandungan asimilat yang terakumulasi pada cabang entres yang dirompes. Dimana akumulasi hasil asimilat dapat merangsang pembelahan, pembesaran dan deferensiasi sel, yang kemudian mendorong proses pertautan antara batang atas dan batang bawah. Sehingga unsur hara, mineral, dan air dapat berjalan dengan lancar dari batang bawah ke batang atas.
Sedangkan varietas kengsinton apple dengan defoliasi 12 hari sebelum sambung menghasilkan saat muncul tunas terlama dan berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan yang lain. Hal ini di duga waktu defoliasi entres yang terlampau lama yaitu 12 hss menyebabkan fotosintat yang tersimpan pada entres dirombak sehinga entres tersebut muncul tunas sebelum disambung. Menurut Ashari (1995), bahwa tunas atau entres yang baik untuk sambung adalah entres dalam keadaan dorman atau segera akan tumbuh.

4.2.2 Persentase Sambung Jadi
Varietas Arumanis-143 menunjukkan persentase hidup lebih tinggi dan berbeda nyata dibanding dengan varietas Heiden pada semua umur pengamatan. Hal ini diduga varietas menunjukkan kesiapan tumbuh saat itu didukung oleh keadaan entres dan batang bawah serta translokasi bahan organik dari batang bawah keentres maupun faktor lingkungan.
Menurut Hartman dan Kester (1976) keberhasilan sambungan disebabkan adanya hubungan sel-sel fungsional pada daerah sambungan yang terbentuk sehinga dapat mengalirkan air serta nutrisi dari kedua batang secara sempurna.
Sedangkan pada perlakuan defoliasi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase sambung jadi pada semua umur pengamatan. Hal ini diduga rentang waktu defoliasi entres terlampau lama, sehingga hal ini menyebabkan fotosintat yang tersimpan pada entres telah terpakai semua pada saat muncul tunas.
Menurut Supriyanto (1995) bahwa faktor-faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan sambung diantaranya adalah temperatur, kelembaban dan keadaan O2 disekitar bidang pertautan, dimana ketiga faktor inilah secara langsung berperan dalam proses pertautan antara batang atas dengan batang bawah.

4.2.2 Panjang Tunas
Varietas Manalagi dan waktu defoliasi 12 hss menghasilkan panjang tunas yang lebih panjang dan berbeda nyata dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lain pada umur 51 dan 58, tetapi tetapi tidak berbeda nyata dibandingkan varietas Golek dengan defoliasi 6 hss, hal ini diduga dipengaruhi oleh cepatnya pertautan dan tingkat kompatibilitas antara batang atas (varietas Manalagi) dan batang bawah (varietas Madu-22) yang tinggi, sehingga aliran nutrisi berjalan dengan lancar serta memudahkan aktifitas meristem apikal dapat berlangsung dengan baik dan perkembangan tunas segera terjadi. Menurut Garner dan Chaundri (1976) dalam Ifdlali (2002) mengemukakan bahwa batang atas berpengaruh kuat dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Sedangkan Wattimena (1987) yang mengemukakan bahwa tinggi tanaman sangat dipengaruhi oleh aktifitas auksin, suatu phytohormon yang berpengaruh didalam inisiasi dan pemajangan sel pucuk tanaman. Hali ini didukung oleh Abidin (1985) yang mengemukakan bahwa auksin dapat meningkatkan permeabilitas sel terhadap air, meningkatkan sintesa protein, dan pengembangan dinding sel.
Menurut Lakitan (1996) mekanisme pemanjangan batang diawali dengan sel-sel meristem batang mula-mula membesar secara radial dan setelah itu terjadi dideferensiasi. Selanjutnya terbentuk prokambium, kemudian xilem dan floem. Diferensiasi ini berlansung secara akropetal, mulai dari sel-sel yang lebih tua. Setelah dideferensiasi terjadi, sel-sel ini kemudian membesar secara longitudinal, sehingga mengakibatkan pemanjangan batang.
4.2.4 Diameter Tunas
Varietas Arumanis-143 pada umur pengamatan 44 HSS menunjukkan diameter tunas lebih besar dan berbeda nyata dibanding semua perlakuan macam varietas. Diduga varietas Arumanis-143 pada umur tersebut sudah terjadi persentuhan kambium antara batang bawah dan batang atas, yang ditandai dengan bertambahnya ukuran diameter tunas. Dan kedua sambungan memiliki kedudukan yang mantap sehingga memudahkan pertautan antara batang bawah dan batang atas. Dijelaskan oleh Rochman dan Harjadi (1973), bahwa keberhasilan sambungan dipengaruhi oleh berbagai hal, disamping batang bawah dan batang atas sendiri juga dipengaruhi oleh hubungan sel-sel fungsional pada daerah tempelan.

4.2.5 Luas Daun
Daun merupakan bagian tanaman yang berpengaruh penting terhadap fotosintesisis, dimana laju fotosintesis persatuan luas tanaman di tentukan oleh luas daun. Varietas Golek menghasilkan luas daun lebih besar dan berbeda nyata dibandingkan dengan vaietas Heiden pada semua umur pengamatan. Hal ini diduga sambungan yang telah terbentuk dengan baik, sehingga akan mempercepat transpor nutrisi, dimana nutrisi tersebut akan diubah menjadi energi dalam fotosintesis dan energi inilah yang digunakan untuk pembelahan sel-sel meristem daun sehingga luas daun menjadi meningkat. Selain energi, fotosintesis juga menghasilkan fotosintat yang kemungkinan juga ditranslokasikan untuk pelebaran luas daun. Pembagian asimilat atau fotosintat sangat penting pada masa pertumbuhan vegetatif maupun reproduksi. Pembagian selama fase vegetatif akan menentukan luas daun terakhir (Garner, F.B, Perce.Rager, 1985).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Terjadi interaksi antara macam varietas entres pada perbedaan waktu defoliasi terhadap saat muncul tunas dan panjang tunas.
2. Varietas golek dengan defoliasi saat sambung menghasilkan saat muncul tunas paling cepat yaitu 4,14 HSS. Sedangkan pada varietas manalagi dengan defoliasi 12 hari sebelum sambung menghasilkan panjang tunas lebih tinggi dibanding dengan kombinasi perlakuan lain pada umur 51 dan 58 HSS, yaitu 24 – 24,36 cm.
3. Varietas arumanis-143 menunjukkan persentase sambung jadi yang tertinggi, diameter yang lebih besar, dan diameter tunas yang lebih besar.
4. Perbedaan waktu defoliasi tidak memberikan pengaruh pada persentase sambung jadi, diameter tunas dan luas daun.

5.2 Saran
Perlu dikaji lebih lanjut pertumbuhan bibit mangga hasil defoliasi sehingga didapatkan hasil bibit yang berkualitas.

Iklan

07/29/2009 Posted by | Ekologi Tumbuhan | 9 Komentar

“Sukosari Calistung Center”, Pusat Pengentasan Buta Aksara di Pedesaan Kabupaten Malang

1. Judul Program
“Sukosari Calistung Center”, Pusat Pengentasan Buta Aksara di Pedesaan Kabupaten Malang

B. Latar Belakang Masalah

Menurut Biro Pusat Statistik (BPS), buta aksara di Idonesia tahun 2005 usia 15 tahun ke atas terdapat 14.595.088 orang. Jumlah buta huruf di Jawa Timur masih tergolong besar yaitu 833.005 orang (Data Base Line Survey, 2005). Pada tahun 2006 angka tersebut tidak mengalami perubahan berarti buta aksara masih sebesar 8,07 persen dari sekitar dua ratus juta penduduk (Antara, 24/07/2007). Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi tertinggi angka buta aksara yaitu 30 persen dari total penduduknya (Antara, 02/03/2007).
Angka tersebut menunjukkan masih tingginya buta aksara di Indonesia terutama di Jawa Timur. Dari jumlah tersebut, sebagian besar tinggal di pedesaan. Umumnya mereka adalah petani kecil, buruh, nelayan, penduduk miskin yang tingkat pendapatan atau penghasilan rendah. Mereka tertinggal di bidang pengetahuan, teknologi, keterampilan, serta sikap mental pembaharuan dan pembangunan. Dikarenakan rendahnya pengetahuan, akhirnya mereka tertinggal dalam memperoleh akses informasi dan komunikasi yang penting untuk membuka cakrawala kehidupan dunia (Budiyanto, 2007). Hal ini menyebabkan posisi tawar mereka pada pergaulan ekonomi dan sosial menjadi sangat rendah. Dengan kata lain penduduk buta aksara belum dapat memberikan kontribusinya secara optimal terhadap berbagai proses pembangunan sosial dan ekonomi (Depdiknas, 2007).
Berdasarkan Rencana Aksi Pendidikan Untuk Semua (PUS) Propinsi Jawa Timur 2004-2008, daerah dengan Prioritas Tertinggi adalah daerah yang tingkat buta aksaranya di atas 10.000. Salah satu dari daerah Prioritas Tertinggi adalah Kabupaten Malang (Data Base Line Survey, 2005; Budiyanto, 2007).
Permasalahan di atas perlu segera dipecahkan guna mendukung kemajuan bangsa. Instruksi Presiden Nomor 5 tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara (GNP-PWB/PBA) diantaranya berisi pernyataan bahwa pemberantasan buta aksara dilakukan dengan mengerahkan seluruh kekuatan, mulai dari presiden, menteri terkait, gubernur, wali kota/bupati, camat, sampai kepala desa. Sedangkan pendekatan horizontal dilakukan dengan melibatkan berbagai komponen atau ormas (Su, 2007; Edrie, 2007). Oleh karena itu, sudah saatnya semua stakeholders seperti perguruan tinggi (dosen dan mahasiswa), PKK, Kowani, Muslimat NU, Fatayat NU, Aisyiah, organisasi kepemudaan dan swasta (Kurniawan, 2005; Ali, 2007).
Untuk mengatasi permasalahan buta huruf ini, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional telah mengeluarkan program Calistung (kependekan dari membaca, menulis dan menghitung). Program tersebut perlu segera diterapkan oleh semua stakeholder seperti yang telah diuraikan di atas. Mahasiswa dengan ilmu dan pengalaman yang ada memiliki peran strategis terkait dengan pengentasan buta aksara ini. Menurut Budiyanto (2007) mahasiswa merupakan Agent of Community Enpowerment, harus terlibat dalam pemecahan masalah pembangunan daerah dan nasional untuk kesejahteraan masyarakat dan harus mendapatkan pengalaman empirik untuk mengelola pemecahan masalah pembangunan daerah dan nasional untuk kesejahteraan masyarakat. Mahasiswa juga merupakan aset bangsa sehingga dituntut untuk aspiratif, akomodatif, responsif, dan reaktif menjadi problem solver terhadap permasalahan pembangunan.
Berangkat dari data, fakta, wacana serta amanat di atas maka disusunlah proposal PKMM ini. Pemilihan Dusun (dukuh) Sukosari dengan alasan bahwa dusun ini merupakan dusun paling tertinggal di Desa Pandansari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Sesuai dengan laporan KKN-T 28 Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2007 dan data arsip desa tahun 2007, penduduk usia 15 tahun ke atas yang buta huruf mencapai 975 orang dari jumlah total penduduk 6327 orang atau 2.017 KK.
Program dinamakan Sukosari Calistung Center dengan asumsi agar pengentasan buta huruf ini terpusat dan terstruktur. Hal ini dimungkinkan karena nantinya banyak pihak yang terlibat. Selain dari tim PKMM diharapkan pula peran serta masyarakat setempat, guru-guru sekolah dan tenaga terdidik setempat, aparat desa, organisasi masyarakat, dan tokoh masyarakat.
C. Perumusan masalah
Dari latar belakang di atas dapat dikemukakan permasalahan yaitu:
1. Apakah program calistung mampu mengatasi problematika buta aksara di Dusun Sukosari Desa Pandansari Kecamatan Poncokusomo Kabupaten Malang?
2. Seberapa besar pengaruh atau sumbangan program calistung terhadap permasalahan buta aksara?

D. Tujuan Program
Tujuan program ini adalah:
1. Mengetahui apakah calistung mampu mengatasi problematika buta aksara di Dusun Sukosari Desa Pandansari Kecamatan Poncokusomo Kabupaten Malang.
2. Mengetahui besarnya pengaruh atau sumbangan program calistung terhadap permasalahan buta aksara.

E. Luaran Yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dengan adanya program ini adalah kemampuan membaca, menulis dan menghitung masyarakat sasaran. Kemampuan tersebut berupa:
1. Warga belajar (100%) mampu membaca kalimat yang disusun minimal tujuh kata dengan lancar
2. Warga belajar (100%) mampu menulis kalimat yang disusun minimal tujuh kata dengan lancar
3. Warga belajar (100%) mampu menggunakan operasi matematika (+, -, x, dan 🙂 dengan hasil akhir 100 atau lebih dengan lancar
Setiap warga belajar yang memenuhi kriteria tersebut akan mendapatkan SUKMA-1 (Surat Keterangan Melek Aksara) Tingkat Dasar. Luaran lain yang diharapkan berupa adanya sarana membaca desa atau perpustakaan desa untuk mencegah warga belajar mengalami buta huruf kembali.

F. Kegunaan Program
Program ini memiliki berbagai kegunaan diantaranya:
1. Bagi Warga Belajar
– Kemampuan membaca, menulis, dan menghitung warga belajar akan meningkatkan mutu sumber daya manusia, mengurangi kebodohan yang merupakan pintu gerbang kemiskinan.
– Kemampuan membaca akan meningkatkan taraf hidup, sosial, budaya dan ekonomi.
– Kemampuan membaca akan mempermudah akses dan pemahaman bidang pengetahuan, teknologi, informasi, keterampilan, serta sikap mental pembaharuan dan pembangunan.
2. Bagi Pemerintah (Desa sampai pusat)
– Titik tolak minimalisasi angka kebodohan dan kemiskinan yang mendorong kemajuan daerah dan bangsa
– Meningkatkan harkat dan nilai hidup masyarakat
– Memberi daya tambah positif terhadap Human Development Index (HDI).
– Mendorong dan mendukung terwujudnya rencana pengurangan angka buta huruf sampai 5% pada tahun 2009.
3. Bagi Tim PKMM
– Merupakan manisfestasi tanggung jawab sebagai Agent of Community Enpowerment dan aset bangsa.
– Menjadi pengalaman nyata dan literatur hidup yang akan memberi nilai tambah setelah tamat kuliah.
– Menumbuhkan jiwa kreatif dan membangun kepekaan sosial terhadap realitas dan kompleksitas permasalahan bangsa.
– Membangun kekompakan dan sekaligus relasi baik sesama tim ataupun dengan warga sasaran (warga belajar).

G. Gambaran Umum Masyarakat Sasaran
G.1 Gambaran Umum Desa Pandansari
1. Keadaan Geografis Desa Pandansari
Desa Pandansari adalah salah satu desa di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Jarak dari desa ke Kecamatan Poncokusumo adalah 7 km dan 28 km dari dari ibukota Kabupaten Malang. Desa Pandansari terletak pada ketinggian 850 mdpl. Luas desa mencapai 935.214 Ha, peruntukan ladang dan kebun (kebun apel) 794.430 Ha, sawah irigasi 4 Ha, pemukiman/perumahan 360.800 Ha, hutan lindung 19.500 Ha dan perbukitan/pegunungan 951 Ha.

2. Keadaan Demografis Desa
2.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
No Uraian Keterangan
1 Laki-laki 3.421 Orang
2 Perempuan 3.206 Orang
3 Kepala keluarga 2.017 KK
Sumber: Arsip Desa Pandansari2006 dan Laporan KKN-T 28 UMM tahun 2007

2.2 Potensi Desa dan Mata Pencaharian Penduduk
Desa Pandansari merupakan suatu desa yang terletak di kaki pegunungan Bromo dan Semeru sehingga desa ini mempunyai karakteristik pegunungan. Lahan-lahan yang ada cenderung pada pola terasering. Suhu relatif rendah sehingga tanaman yangh cenderung dibudidayakan adalah buah-buahan dan sayur-sayuran.
Mata pencaharian sebagian besar penduduk Desa Pandansari berasal dari sektor Pertanian baik sebagai petani pengarap lahan pertanian (komplangan) maupun buruh tani. Sedangkan mata pencaharian lainnya sebagai peternak, pedagang, dan tukang. Struktur mata pencaharian penduduk Desa Pandansari tahun 2006 secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah.
Tabel 2. Struktur Mata Pencaharian Penduduk
No Keterangan Jumlah
1. Petani 848 Orang
2. Pekerja disektor jasa/ perdagangan 32 Orang
3. Pekerja disektor industri – Orang
Sumber: Arsip Desa Pandansari2006 dan Laporan KKN-T 28 UMM tahun 2007
2.3 Tingkat Pendidikan Penduduk
Sumber daya manusia pada masyarakat cenderung rendah. Mayoritas masyarakat hanya tamat SD/MI. Penduduk tidak tamat SD/MI dan penduduk usia 10 tahun ke atas yang buta huruf sangat tinggi. Tingkat pendidikan penduduk Desa Pandansari tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3. Tingkat Pendidikan Penduduk
No Keterangan Jumlah
1. Penduduk Usia 10 th ke atas yang buta huruf 975 Orang
2. Penduduk tidak Tamat SD/MI 1821 Orang
3. Penduduk Tamat SD /MI 3021 Orang
4. Penduduk Tamat SLTP/MTs 662 Orang
5. Penduduk Tamat SLTA/MA 105 Orang
6. Penduduk yang Tamat D-1 – Orang
7. Penduduk yang Tamat D-2 6 Orang
8. Penduduk yang Tamat D-3 – Orang
9. Penduduk yang Tamat S-1 17 Orang
10. Penduduk yang Tamat S-2 – Orang
11. Penduduk yang Tamat S-3 – Orang
Sumber: Arsip Desa Pandansari2006 dan Laporan KKN-T 28 UMM tahun 2007

2.4 Keadaan Budaya Desa
Penduduk Desa Pandansari dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa Tengger dan Jawa. Hubungan kemasyarakatan antara warga desa umumnya bercorak masyarakat paguyuban yang saling bergotong royong, ramah tamah dan masih memiliki hubungan kekerabatan erat antara satu dengan yang lain. Keadaan seperti ini dapat terlihat dari hubungan keseharian warga.

2.5 Keadaan Keagamaan
Warga Desa Pandansari semuanya beragama Islam sehingga dikenal sangat religius. Ada dua organisasi keagamaan yang terdapat di Desa Pandansari, yaitu NU dan Muhammadiyah. Kegiatan mengaji dipusatkan di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Keadaan TPA masih sangat sederhana dan fasilitas kurang memadai. Pengajian warga yang termasuk dalam kelompok Fatayat dan IPNU dilakukan satu sampai empat kali dalam satu minggu. Sarana peribadatan yang terdapat di Desa Pandansari yaitu masjid 4 buah dan musholla 18 buah.
G.2 Gambaran Warga Belajar
Warga belajar yang menjadi prioritas adalah usia 15 – 44 tahun yang buta aksara. Namun tidak menutup kemungkinan jika terjadi hal diluar perkiraan maka sasaran yang berusia di atas 45 tahun dapat direkrut menjadi warga belajar. Kriteria lain warga belajar adalah sosial ekonomi rendah dan pendapatan rendah.

H. Metode Pelaksanaan Program
Pelaksanaan program ini terdiri dari beberapa tahap yaitu:

Gambar 1. Tahap Pelaksanaan Program

a. Tahap Persiapan
Tahap persiapan atau pendahuluan ini terdiri dari:
– Persiapan tim pelaksana berupa pemantapan kemampuan Tim PKMM dan terutama tutor desa (Bahan Pelatihan Tutor Terlampir).
– Penggandaan modul pembelajaran, soal evaluasi, borang administrasi pembelajaran buta aksara dan CD bahan pembelajaran buta aksara.
– Persiapan sarana dan prasarana yang akan dijadikan pusat kegiatan atau Sukosari Calistung Center. Dalam hal ini bertempat di Sekolah Dasar Islam Al-Hidayah Sukosari
– Pendataan dan konfirmasi peserta (warga belajar), calon tenaga pelatih di luar Tim PKMM (tenaga yang berasal dari Desa Pandansari yang sebelumnya dikoordinir oleh kepala desa dan perangkatnya serta pihak Sekolah Dasar Islam Al-Hidayah Sukosari.
– Penandatangan surat perjanjian kesediaan mengikuti program sampai tuntas oleh peserta (warga belajar) dan kesediaan menjadi tutor desa oleh tenaga tutor desa. Tutor desa (3-5 orang dengan latar belakang guru SDI Al-Hidayah Sukosari, tokoh masyarakat, atau orang yang telah direkomendasikan oleh SDI Al-Hidayah Sukosari dan Kepala Desa Pandansari)
– Persiapan fasilitas lain berupa kokart/tanda pengenal, alat tulis, sertifikat (yang akan diberikan kepada peserta) serta poster dan spanduk untuk publikasi.

b. Tahap Pelatihan atau Pembelajaran
– Pelatihan akan dilakukan selama dua hari yaitu pada hari Sabtu dan Minggu. Pelatihan atau pembelajaran diberikan kepada warga belajar (jumlah 30 orang) dan dilakukan oleh tutor (tutor Tim PKMM dan tutor desa).
– Peserta (warga belajar) dapat pula mengkonsultasikan segala permasalahan yang dihadapi terkait dengan buta aksara dan program yang dilakukan di luar hari tersebut. Warga belajar akan dilayani oleh panitia desa atau tutor desa yang ada di Sukosari Calistung Center
– Dalam pelatihan ini peserta (warga belajar) akan diberikan berbagai materi yang telah direkomendasikan dalam pemberantasan buta huruf yang tentunya disesuaikan dengan kondisi setempat (Contoh Modul dan Kurikulum terlampir).

c. Tahap Ujian
– Ujian dilakukan setelah semua materi pembelajaran dilakukan atau jika tutor telah menganggap bahwa warga belajar telah siap dan layak mengikuti ujian. Waktu yang ditargetkan atau direncanakan yaitu minggu ke-7 dan ke-8 pertemuan pembelajaran (Contoh Soal Ujian Terlampir).
– Ujian dilakukan sebagai syarat mendapatkan SUKMA-1 (Surat Keterangan Melek Aksara) Tingkat Dasar.
– Untuk menjamin mutu dan kualitas, maka pada saat ujian akan dipantau oleh Diknas Kabupaten atau Diknas Cabang Poncokusumo, Aparat Desa, beberapa organisasi mahasiswa, pemantau dari Universitas Muhammadiyah Malang dan pihak lain yang dianggap perlu. Akan dibuat pula berita acara ujian (Lembar Terlampir).
– Setelah ujian dilakukan, sebagai bentuk rangsangan akan dipilih beberapa warga belajar berprestasi.

d. Supervisi (Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Program)
– Monitoring dilakukan secara terus-menerus oleh Tim Sukosari Calistung Center
– Evaluasi dilakukan setiap kali pertemuan serta setelah ujian dilakukan
– Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian target yang direncanakan dan untuk pengambilan langkah-langkah selanjutnya. Target yang dimaksudkan adalah antusiasme warga belajar dalam mengikuti pembelajaran, peningkatan kemampuan warga belajar, dukungan dari pihak desa dan masyarakat, keterlibatan tutor desa dan kerjasama tim.
– Untukk menjamin mutu dan profesionalitas maka akan dilakukan evaluasi dan monitoring oleh supervisor. Komponen monitoring dan evalusi terlampir.

e. Tahap Pengembangan
– Pengembangan dimaksudkan agar terjadi kesinambungan program meskipun PKMM telah selesai
– Pada tahapan ini akan dirintis berdirinya pusat membaca desa atau perpustakaan desa yang bertempat di SD Islam Al-Hidayah. Sarana dan prasarana yang ada adalah ruangan, buku bacaan, majalah, koran, bahan bacaan lain dan sumber informasi lainnya, poster-poster/tempelan dinding, buku administrasi peminjaman, data jenis dan jumlah bahan bacaan, meja dan kursi untuk membaca, rak/lemari buku, tenaga pelaksana/pengelola perpustakaan. Sarana dan prasarana lain yang dianggap perlu akan dilengkapi dan disesuikan pada saat pelaksaan program.
– Dengan adanya perpustakaan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan warga belajar, mencegah warga belajar agar tidak buta aksara kembali, sekaligus dapat digunakan sebagai sumber bacaan oleh siswa SD setempat.
– Akan dijajaki pula kerjasama pengembangan dengan berbagai donatur dan sponsor, penerbit buku, toko buku, instansi dan perseoranga.
– Tim PKMM juga akan memberikan rekomendasi kepada beberapa universitas penyelenggara KKN termasuk Universitas Muhammadiyah Malang. Ini dimaksudkan agar mahasiswa KKN dapat mengembangkan atau melaanjutkan program tersebut.
– Khusus untuk tutor desa akan dilakukan refresh (penyegaran) guna meningkatkan mutu dan kualitas mereka. Hal ini sangat penting karena merekalah yang nantinya akan bersentuhan langsung setelah program berakhir.

I. Jadwal Kegiatan Program

No Nama Kegiatan Bulan ke-1 Bulan ke-2 Bulan ke-3
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Persiapan
– Persiapan Tim
– Pelatihan Tutor Desa
X
X

X
2 Pelatihan atau proses pembelajaran X X X X X X X X
3 Ujian X X
4 Pendampingan X X X X X X X X X X
5 Supervisi X X X X X X X X X X
6 Pengembangan X X X X X
7 Laporan Akhir X X

J. Nama dan Biodata Ketua Serta Anggota
a. Biodata Ketua Pelaksana
Nama Lengkap : Husamah
NIM : 04330058
Alamat : Jl. Notojoyo No. 53 Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu
b. Anggota Kelompok
1. Nama Lengkap : Yanur Setyaningrum
NIM : 04330037
Alamat : Jl. Notojoyo No. 189A Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

2. Nama Lengkap : Andik Nurdianto
NIM : 05330060
Alamat : Jl. Notojoyo No. 227 Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

3. Nama Lengkap : Herwan Jaya
NIM : 07330046
Alamat : Jl. Notojoyo No. 53 Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

4 Nama Lengkap : Sukma Maholla Yunitasari Putri
NIM : 04330045
Alamat : Jl. Telaga Al-Kautsar Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

K. Biodata Dosen Pembimbing
Nama Lengkap dan gelar : Dra. Iin Hindun, M.Kes
Golongan Pangkat dan NIP : Penata Tk I/III.d/131.930.145
Jabatan Fungsional : Lektor Kepala
Jabatan Struktural : Dosen
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian : Pendidikan Biologi
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

L. Biaya
No Jenis Banyaknya Jumlah
1. Bahan Habis Pakai
a. Kertas
b. Tinta
c. CD blank
@Rp.30.000×2
@Rp.30000×2
@Rp.2500×5
Rp. 60.000
Rp. 60.000
Rp. 10.000
2 Peralatan penunjang
a. Alat Tulis
– Kapur Tulis
– Ballpoin/pulpen
– Pensil
– Penghapus
– Buku Tulis
– Penggaris Kayu
– Penggaris plastik
– Penghapus papan tulis
– Boardmarker

b. Penggandaan Modul dan borang administrasi
c. Penggandaan soal ujian
d. White board
e. Tanda pengenal
f.Pembuatan stempel dan bantalannya
g. Map arsip
h.Stapless dan isinya
i. Kaos ”Berantas Buta aksara”
j. Sertifikat
k.Peralatan unjuk kerja

@Rp.5000×4
@Rp.1500×50
@Rp.1000×50
@Rp. 500×50
@Rp.1500×50
@Rp. 5000×2
@Rp. 1500×50
@Rp. 10.000×2
@Rp. 5.000x 10

@10.000×50

@2000×40
@Rp.100.000×1
@Rp. 1500×50

@Rp.1000×10
@Rp.10.000×2
@Rp. 15.000×30
@Rp. 1500×50

Rp. 20.000 Rp. 75.000
Rp. 50.000 Rp. 25.000
Rp. 75.000 Rp. 10.000
Rp. 75.000
Rp. 20.000
Rp. 50.000

Rp.500.000

Rp. 40.000
Rp.100.000
Rp. 75.000

Rp. 60.000
Rp. 10.000
Rp. 20.000
Rp.450.000
Rp. 75.000
Rp. 70.000
3. Perjalanan
a. Tim PKMM
b. Dosen Pembimbing
c. Tutor Desa dan Pemantau
@Rp. 60.000X5
@ Rp.100.000×1
@Rp. 30.000×10
Rp.300.000
Rp.200.000
Rp.300.000
4. Lain-lain
a. Konsumsi
– Tim PKMM
– Tutor Desa dan Pemantau
– Dosen Pembimbing
– Peserta Pelatihan
b. Dokumentasi
– Cetak foto Digital
– Video Kegiatan
c. Spanduk dan publikasi Rp. 200.000
d. Supervisi Rp. 200.000;
e. Pendampingan
f. Pengembangan
– Perintisan Perpustakaan Desa
1. Buku Baru
2. Buku Bekas
3. Majalah Baru
4. Majalah bekas
5. Koran
6. Bahan Bacaan lain
g. Laporan akhir

@Rp.100.000×5
@Rp. 20.000×10
@Rp. 100.000×1
@Rp. 10.000×30

@Rp.1000×100
@Rp.200.000×1
@Rp. 70.000×3

@Rp.25.000×20
@Rp.10.000×40
@Rp. 6.000×10
@Rp.1000×100

Rp.500.000
Rp.200.000
Rp.100.000
Rp.300.000

Rp.100.000
Rp.200.000
Rp.210.000
Rp.150.000
Rp.150.000

Rp.500.000
Rp.400.000
Rp. 60.000
Rp.100.000
Rp. 50.000
Rp. 50.000
Rp.200.000
Total Biaya Rp. 6.000.000

07/27/2009 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar

METODE PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS BERBASIS FLASH

A. JUDUL
METODE PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS BERBASIS FLASH

B. LATAR BELAKANG
Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang telah dipakai oleh banyak negara di dunia terutama Indonesia. Tak dapat dipungkiri lagi jika bahasa Inggris menjadi bahasa yang wajib dipelajari oleh masyarakat, terutama kalangan pelajar, baik dari jenjang TK hingga Perguruan Tinggi. Bahkan, tidak sedikit warga Indonesia melanjutkan kuliah ke luar negeri untuk memperdalam. Jika misalnya kita membeli produk-produk elektronik, rata-rata pada halaman awal atau kedua selalu menggunakan bahasa Inggris. Ini pertanda bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa asing yang penting dan wajib dikuasai.
Zaman sekarang ini, banyak lembaga pendidikan dari mulai SD hingga Perguruan Tinggi mengadakan lomba yang berhubungan dengan bahasa asing, yang salah satunya adalah Inggris. Misalnya, lomba debat, pidato, menulis, menyanyi, membaca puisi, dan lain sebagainya. Mengingat bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang wajib dipelajari oleh masyarakat, terutama kalangan pelajar, maka tidak salah dan tak heran jika setiap lembaga pendidikan menekankan pengajaran bahasa asing tersebut. Bahkan ada juga lembaga pendidikan yang menyertakan bahasa kedua selain bahasa Inggris.
Tetapi, masih banyak masyarakat di Indonesia khususnya Malang, merasa bahwa bahasa asing ini cukup sulit untuk dipelajari. Padahal, bahasa Inggris tidak sesulit yang diduga. Karena, bahasa asing yang dikenal paling sulit adalah Mandarin. Biasanya, kesulitan yang sering dialami oleh seorang siswa adalah pemahaman vocabulary (kosakata) dan grammar (tata bahasa). Sering dari mereka menemui vocab asing yang mungkin belum pernah diketahui sebelumnya, terutama pada bacaan. Begitu juga dengan grammar yang berupa tenses (waktu). Kadang kala, mereka “terjebak” dalam mengerjakan soal yang terdapat tenses. Hal inilah yang kadang juga bisa membuat seorang siswa enggan mempelajarinya. Dampak positif yang diterima siswa jika menguasai bahasa asing ini dalam arti mereka punya prestasi yang besar, mereka akan mudah “dicari” oleh perusahaan, baik lokal maupun asing, mengingat bahasa Inggris dibutuhkan setiap perusahaan. Selain dapat bekerja di perusahaan, siswa atau mahasiswa juga bisa menjadi seorang dosen atau guru bahasa Inggris setelah mereka lulus kuliah, penterjemah professional, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, hal ini tidak menutup kemungkinan akan laku kerasnya media pembelajaran bahasa Inggris selain buku dan kamus dan juga lembaga non-formal (kursus). Beberapa media yang tersedia di pasaran adalah dengan menggunakan media Flash. Meski media tersebut sudah ada, penulis ingin menawarkan jasa yang mungkin berbeda dengan yang sudah ada. Sebenarnya, Power Point juga dapat digunakan untuk metode pembelajaran bahasa Inggris, tetapi tidak seinteraktif Flash. Karena Flash merupakan program yang diperuntukkan untuk merancang dan membuat animasi, sedangkan PowerPoint hanya menyediakan animasi yang berupa teks, dan fiturnya pun terbatas.

Perbandingan media pembelajaran dengan menggunakan
PowerPoint dan Macromedia Flash MX
Microsoft PowerPoint Macromedia Flash MX
• Program yang hanya diperuntukkan untuk membuat presentasi dengan system slideshow
• Kurangnya fasilitas untuk merancang dan membuat animasi (tulisan maupun gambar)
• Tidak ada bahasa pemrograman untuk membuat animasi
• Kurang interaktif • Program khusus untuk membuat animasi
• Banyak fasilitas yang tersedia untuk membuat animasi
• Terdapat bahasa pemrograman untuk menggerakkan teks atau gambar sehingga terlihat lebih interaktif

Tetapi, meskipun media pembelajaran telah disediakan, jika siswa yang bersangkutan tetap enggan atau tidak tertarik untuk mempelajarinya, tentu hal itu tidak berefek apa-apa pada siswa tersebut. Jadi, bukan hanya media saja yang dapat membantu, tetapi juga kesungguhan dalam mempelajari bahasa Inggris. Jika ditinjau lebih dalam, dalam hal stuktural tata bahasa Inggris, terdapat lebih dari tiga materi grammar. Misalnya, tenses sendiri berjumlah enam belas, tapi yang dipakai hanya dua atau paling banyak tiga. Diantaranya adalah Past Tense (Waktu Lampau), Present Tense (Waktu Sekarang), dan Future Tenses (Waktu Akan Datang). Untuk future tense dapat dijadikan atau dimasukkan ke dalam present tense.
Dan sebenarnya mereka tidak perlu menghafal. Mereka hanya cukup memahami, karena metode belajar dengan menghafal sangatlah beda dengan memahami. Menghafal belum tentu memahami. Permasalahan lainnya adalah, siswa atau mahasiswa yang mempelajari bahasa Inggris tidak atau jarang mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, speaking, writing, reading dan listening. Empat kebiasaan tersebut haruslah dilakukan agar “data” atau ilmu yang mereka terima tidak mudah hilang. Karena ada pepatah yang mengatakan “bisa karena biasa”.
Oleh karena itu, ironis jika seorang siswa mempelajari bahasa Inggris setiap hari tapi jarang mempraktekkan.biasanya siswa tidak atau jarang mempraktikkan karena dua factor. Yang pertama, siswa tersebut malu kepada teman-temannya. Yang kedua, mereka khawatir keliru dalam penggunaan vocab dan grammar. Jika hal ini masih dilakukan, tentu sangat disayangkan. Padahal usia siswa SMA masih memiliki potensi dan kapasitas yang besar untuk menerima dan mengembangkan ilmu yang mereka terima.

C. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana agar siswa SMA tertarik dalam mempelajari Bahasa Inggris?
2. Bagaimana agar siswa SMA dapat memahami dan menguasai Bahasa Inggris dengan lebih baik ?

D. TUJUAN PROGRAM
1. Agar siswa SMA tertarik dalam mempelajari Bahasa Inggris (dengan media software animasi).
2. Agar siswa SMA dapat memahami dan menguasai Bahasa Inggris dengan lebih baik (dengan media software animasi).

E. KEGUNAAN PROGRAM
Dari program ini diharapkan siswa dapat:
1. Menambah wawasan siswa SMA tentang seluk beluk Bahasa Inggris secara teori.
2. Membantu siswa SMA dalam mengasah kemampuan berbahasa Inggris dengan lebih baik secara praktek

F. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan dalam program ini adalah tersediannya sumber daya manusia yang kompeten dalam bidang Bahasa Inggris dengan memanfaatkan program Macromedia Flash MX.

G. METODE PELAKSANAAN PROGRAM
Dalam pelaksanaan program ini, pelaksana program akan melakukan pelatihan terhadap obyek pelatihan dengan materi-materi sebagai berikut:

Materi : I Komponen Bahasa Inggris
Secara umum, komponen yang terkandung bahasa Inggris ada tiga, yaitu Grammar (Tata Bahasa), Reading (Bacaan), dan Writing (menulis). Grammar dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu Tenses (Waktu yang digunakan dalam kalimat), Time (Waktu/Jam), Passive Voice (Kalimat pasif), Preposition (Preposisi), dan Relative Clause (Klausa relatif), Introducing and Greeting People (Memperkenalkan dan Menyambut Orang), Asking and Giving Direction (Meminta dan memberi petunjuk jalan).
1. Grammar (Tata Bahasa)
Bagian kedua dari komponen bahasa Inggris adalah tata bahasa. Tata bahasa merupakan penunjang dari kosakata. Keberadaan dan fungsinya cukup penting. Fungsi dari tata bahasa adalah untuk membuat suatu kalimat menjadi lebih terstruktur rapi dan tidak membingungkan orang lain yang membaca dan mendengar. Dalam bahasa Inggris ada lebih dari tiga tata bahasa, diantaranya yaitu Tenses (Waktu), Passive Voice (Kalimat Pasif), Direct Indirect (Kalimat Langsung dan Tak Langsung), Reading (Bacaan), dan Writing (Menulis).
1.1. Tenses
Tense adalah cara bahasa menyatakan waktu pada saat kejadian yang dinyatakan oleh kalimat sedang berlangsung. Tenses seluruhnya berjumlah 16 tense, dibawah ini adalah tabel ringkasan tense yang sering digunakan.
Tense Positif/Negatif/Pertanyaan Kegunaan
Simple Present (Sekarang Sederhana) Positif : he speaks (dia berbicara)
Negative: he does not speak (dia tidak berbicara)
Pertanyaan: does he speak? (apakah dia berbicara) • Kejadian pada saat ini yang hanya terjadi sekali, tidak pernah, atau beberapa kali
• Fakta
• Kejadian yang berlangsung setelah kejadian lain
• Jadwal
Present Progressive
(Sekarang Berlangsung) Positif : he is speaking (dia sedang berbicara)
Negative : he is not speaking (dia tidak sedang berbicara)
Pertanyaan: is he speaking? (apakah dia sedang berbicara?) • Kejadian berlangsung saat berbicara
• Kejadian hanya untuk periode waktu yang terbatas
• Kejadian diatur untuk akan datang
Simple Past
(Lampau Sederhana) Positif : he spoke (dia berbicara)
Negative : he did not speak? (dia tidak berbicara)
Pertanyaan : did he speak? (apakah dia berbicara?) • Kejadian masa lampau sekali, tidak pernah, atau beberapa kali
• Kejadian yang terjadi setelah kejadian yang lain
• Kejadian di tengah-tengah kejadian lain
Past Progressive
(Berlangsung Lampau) Positif : he was speaking (dia sedang berbicara)
Negative : he was not speaking (dia tidak berbicara)
Pertanyaan : was he speaking? (apakah dia berbicara?) • Kejadian yang berlangsung pada waktu tertentu di masa lampau
• Kejadian yang terjadi di waktu yang sama
• Kejadian masa lampau yang disela oleh kejadian lain
Present Perfect Simple
(Sempurna Sekarang
Sederhana) Positif : he has spoken (dia telah berbicara)
Negative : he has not spoken (dia belum berbi cara)
Pertanyaan : has he spoken? (sudahkah dia berbicara?) • Memberikan penekanan pada hasil
• Kejadian yang masih berlangsung
• Kejadian yang baru saja berhenti
Present Perfect Progressive
(Berlangsung Sempurna
Sekarang) Positif : he has been speaking (dia telah sedang berbicara)
Negative: he has not been speaking
Pertanyaan: has he been speaking? • Memberikan penekanan pada durasi
• Kejadian yang baru-baru saja berhenti atau masih berlangsung
• Kejadian yang selesai tapi hasilnya berpengaruh
Past Perfect Simple
(Sempurna Lampau
Sederhana) Positif : he had spoken
Negative: he had not spoken
Pertanyaan : had he spoken? • Kejadian dimulai pada waktu tertentu pada waktu lampau
• Kadang bisa dirubah dengan Past Perfect Progresif
• Memberikan penekanan hanya pada waktu (bukan durasi)
Past Perfect Progressive
(Berlangsung Sempurna
Lampau) Positif : he had been speaking
Negative: he had not been speaking
Pertanyaan: had he been speaking? • Kejadian sebelum waktu tertentu di waktu lampau
• Kadang bisa dirubah dengan Past Perfect Simple
• Memberikan penekanan pada durasi kejadian
Future Simple
(Akan Datang Sederhana) Positif : he will speak?
Negative: he will not speak
Pertanyaan : will he speak? • Kejadian akan datang yang tidak bisa dipengaruhi
• Keputusan yang terjadi secara spontan
Sumber: http://www.ego4u.com
Dari tabel diatas, kiranya cukup jelas penjelasan tentang tenses beserta penggunannya. Namun, jika siswa yang bersangkutan masih merasa kebingungan untuk dapat membedakan antara tenses yang hampir sama. Misalnya Simple Past dengan Simple Present, dan lain sebagainya.
Berikut penulis sertakan kembali tabel perbedaan tenses yang hampir sama.
 Simple Present – Present Progressive
Simple Present Present Progressive
• Action in the present taking place once, never or several times
• Kejadian pada saat ini yang hanya terjadi sekali, tidak pernah, atau beberapa kali • Action in the present that is going on in the moment of speaking
• Kejadian berlangsung saat berbicara
• Facts, states that are generally known to be true
• Fakta, menyatakan bahwa secara umum diketahui benar • Action in the present taking place only for a limited period of time
• Kejadian hanya untuk periode waktu yang terbatas
• Actions in the present taking place one after another
• Kejadian yang berlangsung setelah kejadian lainnya • Actions in the present taking place at the same time
• Kejadian pada waktu yang sama
• Action set by a time table or schedule
• Kejadian diatur oleh waktu atau jadwal • Action already arranged for the near future
• Kejadian diatur untuk waktu yang akan datang

 Simple Present – Present Perfect Progressive

Simple Present Present Perfect Progressive
• Action in the present taking place once, never or several times
• Kejadian pada saat ini yang terjadi sekali, tidak pernah, atau beberapa kali • Action that started in the past and is still going on
• Kejadian dimulai di waktu lampau dan masih berlangsung
• Puts emphasis on how often the action takes place
• Memberikan penekankan seberapa sering kejadian dilakukan • Puts emphasis on how long the action has been going on
• Memberi penekanan berapa lama kejadian telah sedang berlangsung

 Present Perfect Simple – Present Perfect Progressive
Present Perfect Simple Present Perfect Progressive
• Puts emphasis on the result
• Memberikan penekanan pada hasil • Puts emphasis on the duration or course of an action
• Memberikan penekanan pada durasi kejadian
• Action from past to present
• Kejadian dari lampau ke sekarang
• Action is finished, but influences the present
• Kejadian selesai, tapi berpengaruh sampai sekarang
 Simple Past – Past Progressive
Simple Past Past Progressive
• Action in the past taking place once, never or several times
• Kejadian di waktu lampau, sekali, tidak pernah atau beberapa kali. • Action in the past whose course / duration is to be emphasised
• Kejadian masa lampau yang durasinya ditekankan
• Actions in the past taking place one after the other
• Kejadian di waktu lampau setelah kejadian yang lain • Actions in the past taking place at the same time
• Kejadian masa lampau yang dilakukan pada waktu yang sama
• Action in the past taking place in the middle of another action
• Kejadian di waktu lampau di tengah kejadian lain • Action in the past starting before another action and continuing after it
• Kejadian di waktu lampau dimulai sebelum kejadian lain dan berlanjut sesudahnya

 Simple Past – Present Perfect
Simple Past Present Perfect
• Action in the past taking place once, never or several times
• Kejadian di waktu lampau, sekali, tidak pernah atau beberapa kali • Action that stopped recently or is still going on
• Kejadian yang baru-baru berhenti atau masih berlangsung
• Actions in the past taking place one after the other
• Kejadian waktu lampau setelah kejadian yang lain • Finished action that has an influence on the present
• Kejadian selesai yang mempunyai pengaruh pada masa sekarang
• Action in the past taking place in the middle of another action
• Kejadian masa lampau di tengah kejadian lain • Action that has taken place once, never or several times before the moment of speaking
• Kejadian yang telah dilakukan sekali, tidak pernah, atau beberapa kali sebelum berbicara

 Simple Past – Past Perfect
Simple Past Past Perfect
• Action in the past taking place once, never or several times
• Kejadian di waktu lampau sekali, tidak pernah atau beberapa kali • Action taking place before a certain time in the past
• Kejadian dilakukan sebelum waktu tertentu di masa lampau
• Actions in the past taking place one after the other
• Kejadian waktu lampau setelah kejadian yang lain • Sometimes interchangeable with past perfect progressive
• Kadang dapat dirubah dengan past perfect progressive
• Action in the past taking place in the middle of another action
• Kejadian masa lampau di tengah kejadian lain • Puts emphasis only on the fact (not the duration or course of the action)
• Memberikan penekanan hanya pada fakta (bukan durasi kejadian)

1.2. Time (Waktu/Jam)
Ada dua cara umum untuk mengatakan waktu
 Formal tapi lebih mudah :
1. Mengatakan jam dulu kemudian menit
Contoh : 7:45 – seven forty-five (tujuh:empat lima)
2. Untuk menit 01 sampai 09, Anda bisa melafalkan ‘0’ sebagai oh.
Contoh : 11:06 – eleven (oh) six (sebelas:kosong enam)
 Cara yang lebih populer
2. Mengatakan menit dulu kemudian jam. Gunakan past dan yang dulu dijadikan patokan jam untuk menit 01 sampai 30. Gunakan to dan jam yang akan dating untuk menit 31 sampai 59.
Contoh : 7.15 – fifteen minutes past seven (tujuh. lewat lima belas)
Contoh: 7.45 – fifteen minutes to eight (tujuh. lewat empat lima)
Kemungkinan lain mengatakan ’15 minutes past’ is: a quarter past (lebih seperempat/lima belas menit)
Kemungkinan lain mengatakan ’15 minutes to’ is: a quarter to (kurang seperempat/kurang lima belas menit)
Kemungkinan lain mengatakan ’30 minutes past’ is: half past (kurang 30 menit)
-Contoh: 5:30 – half past five
Gambar Keterangan Waktu

Catatan
Gunakan o’clock hanya pada jam penuh/tepat
Contoh: 7:00 – seven o’clock (tapi 7:10 – ten past seven)
Dalam bahasa Inggris, dua belas jam digunakan. Jadwal biasanya menggunakan dua puluh empat jam. Dalam pembicaraan bahasa Inggris, dua puluh empat jam hanya digunakan dalam pengumuman resmi, tapi tidak di pembicaraan biasa.
Contoh : 17:20 – twenty past five (tujuh belas:lewat dua puluh)
Untuk waktu sekitar tengah malam atau tengah hari, Anda bisa menggunakan ekspresi tengah malam/tengah hari daripada angka 12.
Contoh: 00:00 – midnight
Contoh: 12:00 – midday or noon
Untuk membuat jelas(dimana memerlukan) apakah yang Anda maksud sebuah waktu sebelum pukul 12 tepat siang atau sesudahnya, Anda bisa menggunakan pagi hari, siang hari, sore hari, dan malam hari. Gunakan pagi hari sebelum pukul 12 siang tepat, sesudah pukul 12 siang tepat gunakan sore hari. Ketika merubah dari siang ke sore, dari sore ke malam dan dari malam ke pagi tergantung pada pengertian waktu Anda.
To make clear (where necessary) whether you mean a time before 12 o’clock noon or after, you can use in the morning, in the afternoon, in the evening, at night. Use in the morning before 12 o’clock noon, after 12 o’clock noon use in the afternoon. When to change from afternoon to evening, from evening to night and from night to morning depends on your sense of time.
Contoh: 3:15 – a quarter past three in the morning OR a quarter past three at night (tiga:lewatseperempat pagi ATAU tiga:lebih seperempat malam)
Ekspresi yang lebih formal untuk mengindikasi apakah sebuah waktu sebelum siang atau sesudah adalah a.m. (ante meridiem, sebelum siang) dan p.m. (post meridiem, sesudah siang). Gunakan ekspresi ini hanya dengan cara formal untuk mengatakan waktu.
Contoh: 3:15 – three fifteen a.m.
Itu tidak biasa untuk menggunakan a.m. dan p.m. dengan past/to.
Contoh: 3:15 – fifteen minutes past three OR a quarter past three (tiga:lewat lima belas ATAU tiga:lewat seperempat)
American English
Selain past, Amerika sering menggunakan after.
Contoh: 06:10 – ten past/after six
Tapi: dalam ekspresi waktu dengan half past, itu tidak biasa untuk memindahkan kembali past oleh after.
Selain to, Amerika sering menggunakan before, of atau till.
Contoh: 05:50 – ten to/before/of/till six
1.3. Passive Voice
Passive voice digunakan ketika fokus pada perbuatan. Itu tidak penting atau tidak diketahui, bagaimanapun, siapa atau apa sedang menampilkan perbuatan.
Contoh: My bike was stolen. (Sepedaku dicuri)
Dalam kalimat diatas, fokus pada fakta bahwa “sepedaku dicuri”. Saya tidak tahu, bagaimanapun, siapa melakukannya pada waktu lampau. Kadang sebuah pernyataan dalam passive lebih sopan daripada active voice. Contohnya sebagai berikut
Contoh: A mistake was made.
Dalam kasus ini, penulis fokus pada fakta bahwa kesalahan dibuat, tapi penulis tidak menyalahkan siapapun. (Contoh: Anda telah membuat kesalahan)
 Bentuk Passive
Subject + bentuk terbatas to be + Past Participle
Contoh: A letter was written. (Sebuah surat ditulis)
Ketika menulis kembali kalimat dalam passive voice, catat hal-hal berikut:
• Obyek kalimat aktif menjadi subyek kalimat passive
• Bentuk terbatas dari kata kerja dirubah (to be + past participle)
• Subyek dari kalimat aktif menjadi obyek kalimat pasif (atau diturunkan)
 Contoh Passive
Tense Subject Verb Object
Simple Present Active: Rita Writes (menulis) a letter. (sebuah surat)
Passive: A letter (Sebuah surat) is written (ditulis) by Rita. (oleh Rita)
Simple Past Active: Rita Wrote a letter.
Passive: A letter was written (ditulis) by Rita.
Present Perfect Active: Rita has written (telah menulis) a letter.
Passive: A letter has been written (telah ditulis) by Rita.
Future Active: Rita will write (akan menulis) a letter.
Passive: A letter will be written (akan ditulis) by Rita.
Modal Active: Rita can write (dapat menulis) a letter.
Passive: A letter can be written (dapat ditulis) by Rita.
 Contoh:
Tense Subject Verb Object
Present Progressive Active: Rita is writing (Sedang menulis) a letter.
Passive: A letter is being written (sedang ditulis) by Rita.
Past Progressive Active: Rita was writing a letter.
Passive: A letter was being written (sedang ditulis) by Rita.
Past Perfect Active: Rita had written (telah menulis) a letter.
Passive: A letter had been written (telah ditulis) by Rita.
Future II Active: Rita will have written a letter.
Passive: A letter will have been written by Rita.
Conditional I
(Kondisional) Active: Rita would write a letter.
Passive: A letter would be written by Rita.
Conditional II Active: Rita would have written a letter.
Passive: A letter would have been written by Rita.

 Kalimat Pasif dengan Dua Obyek
Menulis kembali sebuah kalimat aktif dengan dua obyek dalam kalimat pasif artinya bahwa salah satu obyek-obyek menjadi subyek, satu yang lainnya sebuah obyek. Yang mana obyek mentransformasikan kedalam subyek tergantung pada apa yang Anda mau letakkan.
Subject Verb Object 1 Object 2
Active: Rita Wrote (menulis) a letter (surat) to me. (kepadaku)
Passive: A letter (surat) was written (ditulis) to me (kepadaku) by Rita. (oleh Rita)
Passive: I was written (ditulisi) a letter (surat) by Rita.

Sebagaimana yang Anda lihat dalam contoh, menambahkan by Rita tidak bersuara sangat indah. Itulah mengapa biasanya diturunkan.
As you can see in the examples, adding by Rita does not sound very elegant. That’s why it is usually dropped.

 Passive Personal dan Impersonal
Personal Passive dengan sederhana berarti bahwa obyek dari kalimat aktif menjadi subyek dari kalimat pasif. Jadi setiap kata kerja yang membutuhkan sebuah obyek (kata kerja transitif) bisa membentuk sebuah personal passive.
Contoh: They build houses. – Houses are built. (Mereka membangun rumah-rumah – Rumah-rumah dibangun)
Kata kerja tanpa obyek ( kata kerja intransitif) secara normal tidak bisa membentuk kalimat pasif personal (sebagai tidak adanya obyek yang bisa menjadi subyek dari kalimat pasif). Jika Anda mau menggunakan kata kerja intransitif dalam passive voice, Anda butuh sebuah konstruksiimpersonal-oleh karena itu passive ini disebut Impersonal Passive.
Contoh: he says – it is said (Dia mengatakan-itu dikatakan)

1.4. Preposisi
Preposisi adalah kata-kata pendek (on, in, to) yang biasanya berdiri di depan kata benda (kadang juga di depan kata kerja gerunds)
Tabel berikut berisi aturan-aturan untuk beberapa dari sebagian besar preposisi yang sering digunakan dalam bahasa Inggris:
 Preposisi – Waktu
English Penggunaan Contoh
• on • days of the week (hari dalam Minggu) • on Monday (pada hari Minggu)
• in • months / seasons (bulanan/musiman)
• time of day (waktu hari)
• year (tahun)
• after a certain period of time (when?) (setelah periode waktu tertentu) (kapan?) • in August / in winter (di bulan Agustus/musim dingin)
• in the morning (di pagi hari)
• in 2006 (di 2006)
• in an hour (dalam satu jam)
• at • for night (untuk malam)
• for weekend (untuk akhir pekan)
• a certain point of time (when?) (batas waktu tertentu) (kapan?) • at night (pada malam hari)
• at the weekend (pada akhir pekan)
• at half past nine (pada jam setengah sembilan)
• since • from a certain point of time (past till now) (dari batas waktu tertentu) (lampau sampai sekarang) • since 1980 (sejak 1980)
• for • over a certain period of time (past till now) (melebihi batasan waktu tertentu) (lampau sampai sekarang) • for 2 years (selama 2 tahun)
• ago • a certain time in the past (waktu tertentu lampau) • 2 years ago (dua tahun yang lalu)
• before • earlier than a certain point of time (lebih awal daripada waktu tertentu) • before 2004 (sebelum 2004)
• to • telling the time (memberitahu waktu) • ten to six (5:50) (jam lima menuju jam 6)
• past • telling the time (memberitahu waktu) • ten past six (6:10) (jam enam lebih 10)
• to / till / until • marking the beginning and end of a period of time (menandai awal dan akhir periode waktu) • from Monday to/till Friday (dari Senin ke/sampai Jum’at)
• till / until • in the sense of how long something is going to last (dalam pertimbangan dari berapa lama sesuatu berlangsung ke akhir) • He is on holiday until Friday. (dia dalam liburan sampai Jum’at).
• by • in the sense of at the latest (dalam pertimbangan pada paling akhir)
• up to a certain time (sampai waktu tertentu) • I will be back by 6 o’clock. (Saya akan kembali pada jam 6 tepat).
• By 11 o’clock, I had read five pages. (pada jam sebelas tepat, saya telah membaca lima lembar)

 Preposisi – Tempat (Posisi dan Petunjuk)
English Penggunaan Contoh
• in • room, building, street, town, country
• (ruang, bangunan, jalan, kota, negara)
• book, paper etc.
• (buku, kertas)
• car, taxi (mobil, taksi)
• picture, world (gambar, dunia) • in the kitchen, in London (di dapur, di London)
• in the book (di buku)
• in the car, in a taxi (di mobil)
• in the picture, in the world (di gambar)
• at • meaning next to, by an object (berarti sebelah, oleh sebuah obyek)
• for table (untuk meja)
• for events (untuk peristiwa)
• place where you are to do something typical (watch a film, study, work) (tempat dimana Anda melakukan sesuatu dengan khas) (melihat film) • at the door, at the station (di pintu, di stasiun)
• at the table (di meja)
• at a concert, at the party (di konser, di pesta)
• at the cinema, at school, at work (di bioskop, di sekolah)
• on • attached (dilampirkan)
• for a place with a river (untuk sebuah tempat dengan sungai)
• being on a surface (sedang dalam permukaan)
• for a certain side (left, right) (untuk bagian tertentu) (kanan,kiri)
• for a floor in a house (untuk lantai dalam rumah)
• for public transport (untuk transportasi masyarakat).
• for television, radio (untuk TV) • the picture on the wall (gambar di tembok)
• London lies on the Thames. (London terbentang di Thames)
• on the table (di meja)
• on the left (di kiri)
• on the first floor (di lantai pertama)
• on the bus, on a plane (di bus)
• on TV, on the radio (di TV)
• by, next to, beside • left or right of somebody or something (kiri atau kanan dari seseorang atau sesuatu) • Jane is standing by / next to / beside the car. (Jane sedang berdiri pada / sebelah / disamping mobil)
• under • on the ground, lower than (or covered by) something else (pada tanah, lebih rendah daripada (atau atau ditutupi oleh) sesuatu yang lain) • the bag is under the table (tas di bawah meja)
• below • lower than something else but above ground (lebih rendah daripada sesuatu tapi diatas tanah) • the fish are below the surface (ikan dibawah permukaan)
• over • covered by something else (ditutupi oleh sesuatu yang lain)
• meaning more than (berarti lebih daripada)
• getting to the other side (also across) (mendapat ke lain bagian (juga seberang)
• overcoming an obstacle (menguasai halangan) • put a jacket over your shirt (letakkan jaket di atas bajumu)
• over 16 years of age (diatas 16 tahun)
• walk over the bridge (berjalan diatas jembatan)
• climb over the wall (memanjat diatas tembok)
• above • higher than something else, but not directly over it (lebih tinggi dari sesuatu yang lain, tapi tidak dengan langsung melebihinya) • a path above the lake (jalan kecil diatas danau)
• across • getting to the other side (also over) (mendapat ke lain sisi (juga seberang) )
• getting to the other side (mendapat ke bagian lain) • walk across the bridge (jalan menyeberangi jembatan)
• swim across the lake (berenang menyeberang danau)
• through • something with limits on top, bottom and the sides (sesuatu dengan batas pada atas, tengah dan bagian-bagian) • drive through the tunnel (mengendarai melalui terowongan)
• to • movement to person or building (pergerakan ke orang atau bangunan)
• movement to a place or country (pergerakan ke sebuah tenpat atau negara)
• for bed (untuk tempat tidur) • go to the cinema (pergi ke bioskop)
• go to London / Ireland (pergi ke London)
• go to bed (pergi tidur)
• into • enter a room / a building (masuk ruang/bangunan) • go into the kitchen / the house (pergi kedalam dapur)
• towards • movement in the direction of something (but not directly to it) (pergerakan dalam petunjuk dari sesuatu (tapi tidak secara langsung ke hal itu) ) • go 5 steps towards the house (pergi 5 langkah menuju rumah)
• onto • movement to the top of something (pergerakan ke atas dari sesuatu) • jump onto the table (loncat ke meja)
• from • in the sense of where from (dalam pertimbangan darimana) • a flower from the garden (bunga dari kebun)

 Preposisi Lain Yang Penting
English Penggunaan Contoh
• from • who gave it (siapa yang memberinya) • a present from Jane (hadiah dari Jane)
• of • who/what does it belong to (kepunyaan apa/siapa)
• what does it show (apakah itu menunjukkan) • a page of the book (halaman dari buku)
• the picture of a palace (gambar istana)
• by • who made it (siapa yang membuatnya) • a book by Mark Twain (buku oleh Mark Twain)
• on • walking or riding on horseback (sedang berjalan atau mengendarai di belakang kuda)
• entering a public transport vehicle (masuk kendaraan transportasi umum) • on foot, on horseback (pada kaki, pada belakang kuda)
• get on the bus (naik bus)
• in • entering a car / Taxi (masuk mobil) • get in the car (masuk mobil)
• off • leaving a public transport vehicle (meninggalkan kendaraan umum) • get off the train (turun dari kereta)
• out of • leaving a car / Taxi (meninggalkan mobil) • get out of the taxi (keluar dari taxi)
• by • rise or fall of something (muncul atau turun dari sesuatu)
• travelling (other than walking or horseriding) (perjalanan (selain daripada berjalan atau mengendarai kuda) • prices have risen by 10 percent (harga-harga telah naik pada 10 persen)
• by car, by bus (oleh mobil)
• at • for age (untuk usia) • she learned Russian at 45 (dia (perempuan) belajar bahasa Rusia pada usia 45 tahun)
• about • for topics, meaning what about (untuk topik, arti tentang apa) • we were talking about you (kami sedang membicarakan tentangmu)
1.5. Relative Clauses
Kita menggunakan klausa-klausa untuk memberikan informasi tambahan tentang sesuatu tanpa memulai kalimat lain. Dengan mengkombinasikan kalimat-kalimat dengan relatif klausa, teks Anda menjadi lebih lancar dan Anda dapat menghindari pengulangan kata-kata tertentu.
Contoh: Bayangkan, seorang gadis sedang berbicara kepada Tom. Anda mau tahu siapa dia (gadis) dan bertanya teman apakah dia (Tom) mengetahuinya (si gadis). Anda bisa mengatakan:
Contoh: -A girl is talking to Tom. Do you know the girl?.
-Seorang gadis sedang berbicara kepada Tom. Apakah kamu tahu gadis itu?
Suara itu agak sukar, bukan?. Itu akan lebih mudah dengan klausa relatif: Anda meletakkan kedua potong informasi kedalam satu kalimat. Mulai dengan hal yang paling penting – Anda mau tahu siapa gadis itu.
-Do you know the girl … (Apakah Anda tahu gadis…)
Sebagaimana temanmu tidak tahu gadis mana yang sedang Anda bicarakan, Anda butuh meletakkan informasi tambahan – the girl is talking to Tom (gadis yang sedang berbicara kepada Tom). Gunakan “the girl” hanya di bagian pertama dari kalimat, di bagian kedua, pindahkan itu kembali (gadis) dengan relatif pronoun (untuk orang, gunakan “who”). Jadi kalimat akhirnya adalah: Do you know the girl who is talking to Tom?. (Tahukah Anda siapa gadis yang berbicara kepada Tom?).
 Tabel Relative Pronouns:
relative pronoun Penggunaan Contoh
who • Subject or object pronoun for people
• Subyek atau obyek kata ganti untuk orang • I told you about the woman who lives next door.
• Saya diberitahu Anda tentang perempuan yang tinggal disamping pintu
which • Subject or object pronoun for animals and things
• Subyek atau obyek kata ganti untuk hewan dan benda • Do you see the cat which is lying on the roof?
• Apakah Anda melihat kucing yang sedang berbaring di atap?
which • Referring to a whole sentence
• Menghubungkan ke seluruh kalimat • He couldn’t read which surprised me.
• Dia tidak membaca yang mengejutkanku
whose • Possession for people animals and things
• Milik untuk hewan dan benda • Do you know the boy whose mother is a nurse?
• Apakah Anda tahu laki-laki yang ibunya perawat?
whom • Object pronoun for people, especially in non-defining relative clauses (in defining relative clauses we colloquially prefer who)
• Obyek kata ganti untuk orang, khusunya dalam klausa relatif tak tentu (dalam menggambarkan klausa relatif kita yang menghubungkan dengan bahasa sehari-hari lebih suka who • I was invited by the professor whom I met at the conference.
• Saya diundang oleh profesor yang saya temui di konferensi.
that • Subject or object pronoun for people, animals and things in defining relative clauses (who or which are also possible)
• Subyek atau obyek kata ganti untuk orang, hewan dan benda dalam klausa relatif (who atau which juga mungkin) • I don’t like the table that stands in the kitchen.
• Saya tidak suka meja yang berdiri in dapur.

2. Reading
2.1. Main Idea (Ide Utama)
Paragraf adalah kumpulan kalimat yang mengembangkan suatu main idea (ide utama). Kalimat yang menerangkan tentang ide utama tersebut disebut dengan topic sentence (kalimat topik).
Topic sentence biasanya terdapat pada awal atau akhir paragraf. Topic sentence jarang berada di tengah paragraf.
Jika ditulis dengan benar, setiap paragraf hanya menjelaskan tentang satu subjek yang di sebut dengan topic noun.
Pada paragraf terdapat juga kumpulan kata benda yang mengembangkan atau mendukung ide utama. Kata benda ini adalah supporting nouns.
Contoh paragraf:
The hippo is a large water and land animal. It lives in Africa. Except for elephant, the hippo is the heaviest of all land animals. A large hippo may weigh as much as three automobiles. We wouldn’t want a hippo to step on our toes!
Pada paragraf diatas kata “hippo” adalah topic noun karena paragraf tersebut menggambarkan tenteng hewan tersebut.
Kalimat pertama pada paragraf di atas “ the hippo is a large water and land animal” adalah topic sentence (kalimat topik) karena di dalam kalimat tersebut mengandung pemikiran yang berkisar pada topic noun. Kalimat-kalimat selanjutnya hanyalah pendukung untuk topic sentence. Dengan kata lain main idea dapat ditemukan dengan cara berikut:
1. memilih kalimat yang merupakan topic sentence (kalimat topik)
2. membaca setiap kalimat dan juga topic sentence kemudian bandingkan. Kalimat lain selain
topic sentence hanyalah kalimat pendukung.
The hippo is a large water and land animal (topic sentence)
1. it lives in Africa
2. except for the elephant, the hippo is the heaviest of all land animals.
3. a large hippo may wigh as much as three automobiles
4. we wouldn’t want a hippo to step on our toes!
Kalimat nomor 1 mendukung kalimat pertama dengan menjelaskan tentang habitat hewan tersebut.
Kalimat nomor 2 menjelaskan lebih lanjut kata “large” pada kalimat pertama.
Kalimat nomor 3 menjelaskan maksud dari kata “ heavy” pada kalimat 2 dengan cara memberikan informasi yang lebih khusus.
Kalimat 4 menekankan pada berat kuda nil tersebut dengan memberikan pengandaiian.
Hasil analisis menunjukkan bahwa 4 mendukung 3; 3 mendukung 2; sedangkan 2 mendukung 1. Dengan demikian 1,2,3, dan 4 adalah kalimat pendukung bagi topic sentence.
3. Writing
Dalam writing biasanya sering terjadi kesalahan tanda baca. Walaupun hal ini tidak terlalu menonjol, tapi bisa menyebabkan kesalahan fatal (misalnya jika siswa mengikuti ujian writing). Berikut beberapa penjelasan tentang penggunaan tanda baca.
3.1. Koma dengan angka
Gunakan koma untuk memisahkan ribuan dan jutaan dalam gabungan angka.
Contoh: 3,460,759
Jangan gunakan koma dalam desimal
Contoh: $3.49
Gunakan koma sebelum tahun jika tanggal diberikan sebagai berikut: bulan, hari, dan tahun.
Contoh: April 16, 2003
Jangan gunakan koma jika hanya dua elemen dari tanggal diberikan (bulan dan tahun).
Contoh: I was born in May 1972.

3.2. Koma dengan salam
Gunakan koma jika kalimat mulai dengan alamat kepada seseorang
Contoh: Greg, can I talk to you for a second?
Gunakan koma dengan salam dalam surat pribadi.
Contoh: Dear Francis,
Jangan gunakan koma dengan salam dalam surat bisnis. Gunakan titik dua dalam Inggris Amerika dan tidak ada tanda baca Inggris Britania.
Example:
BE (British English) – Dear Mr Jefferson
AE (American English) – Dear Mr. Jefferson:
Sesudah ucapan, koma opsional.
Example:
Sincerely,
Sincerely
H. JADWAL PELAKSANAAN PROGRAM
No Bulan Kegiatan Bulan ke-1 Bulan ke-2
I II III IV I II III IV
1 Persiapan penelitian √
2 Penelitian lapangan √
3 Analisa data √
4 Seminar Hasil penelitian √
5 Penulisan laporan akhir √

I. BIODATA KETUA DAN ANGGOTA

1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Fuad Hussein
b. NIM : 06360151
c. Fakultas/Jurusan : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP)/
Pendidikan Bahasa Inggris
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan : 12 jam/minggu
2. Anggota
a. Nama Lengkap : Ikhwanuddin Dallas
b. NIM : 06360130
c. Fakultas/Jurusan : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP)/
Pendidikan Bahasa Inggris
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan : 10 jam/minggu
3. Anggota
a. Nama Lengkap : Ratih Wulan Pinandu
b. NIM : 05360089
c. Fakultas/Jurusan : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP)/
Pendidikan Bahasa Inggris
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan : 10 jam/minggu
4. Anggota
a. Nama Lengkap : Dwi Hastani Setyaningsih
b. NIM : 06360123
c. Fakultas/Jurusan : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP)/
Pendidikan Bahasa Inggris
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan : 10 jam/minggu

J. BIODATA PENDAMPING
a. Nama Lengkap : Thathit Manon Andini, M.Hum
b. NIP : 104.9109.0244
c. Jabatan : Dosen
d. Fakultas/Jurusan : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP)/
Pendidikan Bahasa Inggris
e. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
f. Keahlian : Literatur
g. Waktu Kegiatan : 6 jam/minggu

K. BIAYA PELAKSANAAN KEGIATAN
Adapun Besar biaya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan program ini adalah sebesar Rp. 2.987.500,-
No. Kebutuhan Satuan Volume (Rp) Harga (Rp)
1 Peralatan penunjang
 Sewa komputer

 Sewa alat peraga LCD

 Block note

 Makalah

 CD
1 unit x 3 kali pertemuan

1 unit x 3 kali pertemuan

25 buah

25 ekseplar/ materi x 6 kali pertemuan
25 buah
20.000

100.000

50.000

2.000

25 x 2000
60.000

100.000

150.000

50.000

50.000
Rp. 410.000
2 Akomodasi
 Transportasi

 Konsumsi

 Dokumentasi
– Survei pelaksana program

25 orang x 10 kali pertemuan

1 rool film cuci cetak

50.000

@ 10.000 x 25 x 10

65.000

50.0000

2.250.000

52.500

Rp 2.352.500
4 Lain-lain
 Penyusunan, penggandaan dan pengiriman hasil PKM
 Pengeluaran tak terduga
5 eksemplar


20.000


100.000

100.000

200.000
Total : Rp. 2.987.500,-

DAFTAR PUSTAKA

http://www.ego4u.com diakses tanggal 27 September
Rusli, Ratna Sajekti, dkk, “ Buku Materi Pokok Reading”, Karunika, Jakarta,1997

07/27/2009 Posted by | Contoh PKM | 9 Komentar

Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini (TK Al- Masyithoh) Tegal Gondo-Malang.

A. Judul Program

Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini (TK Al- Masyithoh) Tegal Gondo-Malang.

B. Latar Belakang Masalah

TK Al Masyithoh merupakan TK yang terletak di desa Tegal Gondo kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Desa tegalgondo memiliki luas area sekitar 150 Ha. TK Al- Masyithoh ini berdiri sejak tahun 1999, dengan jumlah siswa sekitar 100 siswa. Sebagian besar siswa berasal dari daerah setempat yang pada umumnya orangtua bermata pencaharian sebagai petani, walaupun ada beberapa yang bermata pencaharian sebagai PNS, dan wiraswasta.
Kondisi yang memprihatinkan ini menuntut perhatian masyarakat dari segala lapisan, baik itu pemerintah, masyarakat umum, industri, maupun perguruan tinggi. Perhatian inipun tidak memandang usia, tua-muda, anak-anak, orang dewasa, maupun orang tua semuanya memiliki andil dalam menumbuh-kembangkan sikap responsif anak.
Dalam Haditono, S. R, 2004 Penelitian Riksen-Walraven (1977: 1978) pada 100 orang anak Belanda berasal dari kelas sosial-ekonomi yang rendah menunjukkan betapa pentingnya stimulasi yang tepat diberikan selama periode tahun pertama. Dalam penelitian tersebut diadakan stimulasi terhadap 2 aspek perkembangan masa awal.
Konvensi Hak Anak yang menaungi setiap anak berusia 18 tahun kebawah memiliki empat tema utama dalam hak anak, dua diantaranya adalah Survival dan Development. Tentang survival dan development, dikemukakan bahwa anak mendapat hak untuk tumbuh dalam lingkungan yang sehat (ECOTON, 2001). Termasuk di dalamnya lingkungan sosial dimana anak tersebut tumbuh dan berkembang.
Dalam kelompok teori lingkungan termasuk teori belajar dan teori sosialisasi yang bersifat sosiologis. Kedua macam teori itu sebetulnya sama karena prinsip sosialisasi itu merupakan suatu bentuk belajar sosial. Hal ini juga berlaku bagi enkulturasi, yaitu memperolehnya tingkah laku kebudayaan sendiri, yang banyak ditulis oleh ahli antropologi budaya. ( Haditono, S R, 2004).
NLP merupakan pola pikir yang menitikberatkan pada bagaimana menjadikan manusia efektif. Karena itulah maka sejak awal (dan sampai saat ini tentunya) NLP banyak mempelajari mereka yang excellent dalam bidangnya masing-masing yang berlandaskan pada The Pillars of NLP dan NLP Presuppositions.
a. The Pillars of NLP
Ini adalah 6 prinsip dasar yang menjadi landasan utama jika Anda dan saya ingin mempelajari NLP secara utuh, yaitu:
1. Diri sendiri. Diri kita sendiri adalah bagian yang paling penting dari setiap proses intervensi dalam NLP, sebab NLP baru menjadi berguna jika kita gunakan secara utuh. Selayaknya sebuah pisau dapat digunakan untuk memasak atau melukai orang lain, baik atau buruknya efek yang ditimbulkan oleh NLP juga amat ditentukan oleh diri kita sendiri sebagai pelaku praktik NLP. Begitupun tingkat kesuksesan kita dalam menggunakan NLP juga amat tergantung dari seberapa ahli kita dalam menguasai setiap detilnya. Semakin kongruen kita, semakin sukses lah kita. Kongruen disini adalah ketika tujuan, keyakinan, dan nilai-nilai yang kita miliki sejalan dengan perilaku dan ucapan yang kita lakukan.
2. Presuppositions. Presuposisi adalah prinsip dasar dari NLP yang digunakan untuk mengembangkan dan mengaplikasikan teknik-teknik NLP. Ia adalah taken for granted, yang membedakan NLP dibanding yang lain.
3. Rapport. Rapport adalah hubungan yang berkualitas yang dihasilkan dari rasa saling percaya. Anda baru bisa mendapatkan rapport hanya jika Anda sudah bisa memahami dan mengerti cara orang lain melihat dunia dari sudut pandang mereka. Dengan kata lain, rapport adalah seperti kita berbicara dengan bahasa orang lain. Ketika kita sudah memiliki rapport, orang yang kita ajak bicara akan merasa dihargai dan seketika menjadi lebih responsif. Sekalipun dapat dibangun secara instan, dalam jangka panjang rapport membutuhkan rasa saling percaya yang tinggi.
4. Outcome. Kunci utama untuk menguasai keterampilan dasar dari NLP adalah memahami secara rinci apa yang Anda inginkan dan mampu membantu orang lain untuk juga memahami secara rinci apa yang mereka inginkan. Keterampilan NLP selalu didasarkan pada fokus untuk memikirkan hasil yang kita inginkan, sehingga kita selalu mengambil tindakan yang berorientasi pada tujuan. Pola pikir hasil ini dibagi menjadi 3 yaitu:
 Memahami kondisi saat ini
 Memahami kondisi yang kita inginkan
 Merencakana strategi untuk mencapainya
5. Feedback. Sekali kita memahami apa yang kita inginkan, kita harus selalu menaruh perhatian terhadap hasil yang sudah kita capai sejauh ini, sehingga kita selalu tahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Inilah yang dinamakan dengan feedback. Kita harus terus memperhatikan secara jeli berbagai informasi yang kita dapat melalui apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan.
6. Flexibility. Ketika Anda tahu apa yang Anda inginkan dan apa yang Anda dapat sejauh ini, ketika itu pula lah Anda harus memiliki cukup banyak strategi untuk mencapainya. Satu cara tidak bekerja, segera gunakan cara lain. NLP selalu mendorong tiap orang untuk senantiasa fokus pada tujuan dan fleksibel dalam menggunakan berbagai macam cara untuk mencapainya.

b. NLP Presuppositions
Presuposisi adalah prinsip utama, filosofi dasar, dan belief dari NLP. Prinsip-prinsip ini memang bukanlah sesuatu yang universal, karenanya kita tidak harus benar-benar meyakini kesemuanya. Ia disebut sebagai presuposisi karena kita memang dengan sengaja meyakininya sebagai sesuatu yang benar dan bertindak berdasarkan itu. Pada dasarnya, presuposisi sebenarnya adalah kumpulan dari suatu set prinsip etika kehidupan.
1. People respond to their experience, not to reality itself. Kita tidak pernah tahu pasti apa yang disebut dengan realita. Indra, keyakinan, dan pengalaman masa lalu kita memang memberikan sebuah peta sebagai gambaran bagaimana seharusnya kita bertindak, namun yang namanya peta tidak pernah sama persis dengan daerah yang digambarkannya. Kita tidak pernah tahu daerah aslinya, maka bagi kita peta itu adalah daerah aslinya (the map is the teritory). Beberapa jenis peta memang cukup baik dalam menggambarkan keadaan aslinya, karenanya kita bisa berlayar dalam hidup dengan aman. Namun peta yang salah tentu akan mengakibatkan kita tersasar ke daerah yang salah pula. NLP adalah seni untuk mengubah peta ini sehingga kita memiliki kebebasan yang lebih besar untuk menentukan arah hidup kita.
2. Having a choice is better than not having a choice. Selalu mencari sebuah peta yang bisa memberikan Anda pilihan paling banyak dan selalu mengambil tindakan yang memungkinkan Anda untuk memiliki lebih banyak pilihan. Semakin banyak pilihan yang Anda miliki, semakin Anda memiliki kebebasan, dan semakin besar pula pengaruh yang Anda miliki.
3. People make the best choice they can at the time. Setiap orang selalu berusaha untuk membuat pilihan yang terbaik yang mereka bisa, sesuai dengan peta yang mereka miliki. Pilihan tersebut bisa jadi buruk dan merusak, namun bagi diri mereka sendiri, ini adalah langkah terbaik yang bisa mereka ambil. Beri mereka pilihan yang lebih baik, maka mereka dengan mudah menerimanya. Lebih jauh, beri mereka peta yang mampu menyediakan lebih banyak pilihan yang lebih baik.
4. People work perfectly. Tidak ada seorang pun yang benar-benar melakukan hal yang salah. Kita semua menjalankan strategi yang kita punya dengan sempurna. Kalau pun ternyata hasilnya tidak sempurna, maka strategi itulah yang barangkali memang tidak efektif. Cari tahu strategi Anda dan orang lain, sehingga Anda bisa menyesuaikan strategi yang Anda miliki agar lebih efektif.
5. All sctions have a purpose. Perilaku kita bukanlah sesuatu yang acak, sebab kita selalu berusaha untuk mencapai sesuatu dari perilaku yang kita munculkan, sekalipun kita tidak selalu sadar akan hal itu.
6. Every behavior has a positive intention. Semua tindakan yang kita ambil setidaknya memiliki 1 tujuan—untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan yang menguntungkan bagi kita. NLP memisahkan intensi yang ada di balik setiap perilaku dari perilaku itu sendiri. Kita tidak dapat menilai seseorang dari perilaku mereka, sebab ketika mereka memiliki pilihan perilaku yang lebih baik dan tetap bisa memenuhi intensi positif mereka, mereka pasti akan mengambilnya.
7. Pikiran bawah sadar menyeimbangkan pikiran sadar. Pikiran bawah sadar adalah semua hal yang tidak muncul di pikiran sadar pada suatu waktu tertentu. Ia mengandung semua sumber daya yang kita butuhkan untuk hidup dalam keseimbangan.
8. The meaning of the communication is not what you intend, but also the response you get. Respon tersebut bisa jadi bukanlah sesuatu yang Anda inginkan, namun tidak pernah ada kegalalan dalam komunikasi, ia hanyalah umpan balik agar Anda menyesuaikan cara komunikasi Anda.
9. We already have all the resources we need or we can create them. Tidak ada yang namanya unresourceful people, yang ada hanyalah unresourceful state of mind.
10. Mind and body form a system, keduanya adalah ekspresi yang berbeda dari seseorang yang sama. Pikiran dan tubuh saling berinteraksi dan mempengarusi satu sama lain. Mustahil kita bisa membuat perubahan pada salah satunya tanpa mengakibatkan perubahan pada yang lain. Ketika kita berpikir dengan cara yang berbeda, tubuh kita akan berubah. Ketika kita bertindak dengan cara yang berbeda, pikiran kita pun akan berubah.
11. We process all information through our senses. Mengembangkan indra yang Anda miliki agar kesemuanya lebih peka terhadap berbagai informasi yang muncul akan membuat Anda lebih jelas dalam berpikir.
12. Modelling successful performance leads to excellence. Jika ada seseorang yang bisa melakukan sesuatu dengan sempurna, maka ia bisa kita model untuk kemudian kita ajarkan kepada orang lain. Dengan demikian, setiap orang bisa mempelajari untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dengan cara mereka sendiri. Anda tidak akan menjadi kloning dari orang yang Anda model, Anda hanya belajar dari mereka.
Hasil survei pendahuluan yang dilakukan oleh tim pengusul menunjukkan bahwa pentingnya NLP(Neuro Linguistic Programming) masih belum dimiliki oleh anak-anak di desa Kebonagung. Hal ini menunjukkan bahwa perlu usaha untuk menstimulasi tingkat responsibilitas anak. Oleh karena itulah maka program ”Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini di Desa Tegal gondo Malang” sangat perlu dilakukan. Program ini menitikberatkan pada perubahan pola pikir anak mengenai masalah yang dihadapi.
C. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka lingkup permasalahan yang ingin dipecahkan adalah bagaimanakah Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam mengoptimalkan tingkat responsibilitas anak usia dini (TK Al-Masyithoh) Tegalgondo Malang?

D. Tujuan Program
1. Mengoptimalkan sejak dini daya responsibilitas anak termasuk dalam lingkungan sosial.
2. Mengimplementasikan pemahaman, pengetahuan yang diperoleh pada
lingkungan kehidupan sehari-hari.
3. Menumbuhkan jiwa dan pemahaman yang kritis tentang permasalahan dalam konteks kehidupan anak.

E. Luaran Yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan adalah jasa. Yang mana, dengan adanya program aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam meningkatkan responsibilitas anak usia dini di desa Tegal gondo Malang adalah adanya perubahan pola pikir yang responsive yang akan menjadi modal awal untuk memahami kondisi dan strategi untuk mencapai kualitas hidup.

F. Kegunaan Program
a. Menjadi modal awal untuk memahami kondisi dan strategi untuk mencapai kualitas hidup.
b. Kegiatan anak lebih mengarah kepada hal-hal yang positif.

G. Gambaran Umum Masyarakat Sasaran
G.1. Gambaran Umum Masyarakat Malang
G.1.1 Kelompok etnis
Penduduk asli Malang dikenal sangat religius, dinamis, pekerja keras, fleksibel dan sangat bangga dengan identitas mereka sebagai Arema (Arek Malang). Penduduk asli ini berasal dari suku Jawa, Madura, dan beberapa keturunan Arab dan Cina.
G. 1.2 Agama
Islam adalah agama mayoritas yang dianut penduduk Malang, diikuti dengan Kristen Protestan, Katolik, Buddha dan Hindu. Kehidupan masyarakat beragama di Malang sangat harmonis dan semua lapisan saling bekerja sama membangun kota Malang. Di sini juga banyak tempat-tempat peribadahan seperti mesjid, gereja, dan kelenteng, juga institusi pendidikan agama seperti pesantren dan seminari yang cukup populer di Indonesia.
G.1.3 Kebudayaan
Kelompok etnis dan budaya yang kaya di Malang telah memberikan pengaruh baik kepada budaya tradisional, seperti munculnya Tari Topeng yang sangat terkenal dengan gabungan beberapa unsur kebudayaan Jawa Tengah (Solo, Yogyakarta), wilayah Tenggara Jawa (Ponorogo, Tulungagung, Blitar), dan Blambangan (Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi). Sayangnya tarian ini telah banyak dimodifikasi menjadi bentuk tarian modern akhir-akhir ini.
G.1.4 Bahasa
Bahasa utama yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Tapi penduduk asli seringkali menggunakan bahasa Jawa, dengan dialek campuran Jawa Timur dan Madura untuk percakapan sehari-hari. Diantara anak muda Malang, dikenal sebuah bentuk bahasa lain yang mereka sebut “boso walikan” dimana mereka mengucapkan kata secara terbalik. Orang Malang dikenal berbicara langsung tanpa basa-basi seperti umumnya orang Jawa. Ini mewakili karakter masyarakatnya yang tegas dan langsung menuju sasaran.
G.1.5 Penduduk
Kebanyakan penduduk kedua kecamatan ini adalah pedagang, pekerja dan pelajar (mahasiswa) dari luar kota, yang sewaktu-waktu bisa kembali ke daerah asalnya. Pedagang dan pekerja biasanya datang dari sekitar Malang, sementara pelajar (mahasiswa) umumnya datang dari daerah lain seperti Bali, Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara, Maluku, Madura, Sulawesi dan Papua.

G.2 Gambaran Umum Masyarakat

Desa Tegalgondo Kecamatan Karang ploso, terletak di wilayah Kabupaten Malang. Sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Hal ini juga di dukung dengan bayaknya area sawah. Dengan demikian pendapatan masyarakat bersumber dari jumlah hasil panennya. Walau ada penduduk yang bermata pencaharian sebagai PNS dan wiraswsta. bidang pertanian di Malang masih memegang peranan cukup strategis. (Anonymous, 2005).

Hasil pengamatan Tim PKMM menunjukkan bahwa masyarakat di desa Tegalgondo belum memiliki kesadaran akan pentingnya perhatian terhadap anak mengenai responsibilitas anak usia dini dalam menghadapi permasalahan. Kebanyakan orang tua masih sibuk dengan urusan pekerjaan, sehingga waktu untuk anak –pun banyak tersita. Kebutuhan anak akan perhatian dari orang tua pun menjadi sangat kurang. Ketika anak mendapat masalah, anak akan cenderung menyimpan sendiri permasalahannya. Dan menyebabkan rendahnya responsibility terhadap permasalahan yang dihadapi ataupun dengan lingkungan sekitarnya.
G. 3. Gambaran Umum Anak-anak yang Menjadi Sasaran Program
Anak-anak yang menjadi sasaran program Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini (TK Al-Masyithoh) Tegal gondo Malang usia (4-5 th).
Berangkat dari berbagai permasalahan tersebut diatas, anak yang tinggal di desa tegal gondo, dengan kurangnya perhatian yang diberikan orang tua terhadap anak ternyata berdampak pada pola pikir anak.

H. Metode Pelaksanaan Program
Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini di Desa Tegalgondo Malang
terdiri dari beberapa tahap:
H.1 Tahap Persiapan
Tahap persiapan atau pendahuluan ini terdiri dari:
– Persiapan tim pelaksana (berupa pemantapan kemampuan teori maupun praktek)
– Persiapan materi yang akan disampaikan kepada peserta pelatihan.
– Persiapan fasilitas yang akan diberikan kepada peserta berupa, kokart/tanda pengenal, stiker, sertifikat, kaos serta poster untuk publikasi.
– Pendataan dan konfirmasi peserta, pemateri atau tenaga pelatih di luar Tim PKMM (yaitu dari Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang dan HMJ Biologi FKIP-UMM yang telah menyatakan kesediaannya menyukseskan program ini.
H.2 Tahap Pelatihan
– Pelatihan akan dilakukan selama satu kali dalam satu minggu.
– Dalam pelatihan ini peserta akan diberikan berbagai materi yaitu menyangkut pentingnya Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia, penerapan The Pillars of NLP dan NLP Presuppositions. Pelatihan dilakukan melalui dua bentuk:
a. Outbond (diluar ruangan, lingkungan sekolah )
b. Di dalam ruangan yaitu (untuk penyampaian materi dokumenter tentang, , gambar).
– Peran aktif, partisipasi, kerjasama dan sosialisasi antar peserta menjadi perhatian utama
H.2 Tahap Pendampingan
– Pendampingan dilakukan setelah peserta mengikuti kegiatan pelatihan berlangsung selama dua setengah bulan
– Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini di Desa Tegal gondo Malang berupa pelatihan tentang NLP serta penerapannya, Penyelesaikan masalah, serta sharing dan permainan. (Kegiatan ini di bawah pantauan dan bimbingan Tim PKMM)
H.3 Tahap Monitoring dan Evaluasi
– Monitoring dilakukan secara terus-menerus oleh Tim PKMM selama kegiatan pelatihan NLP berlangsung. Evaluasi dilakukan setiap kali pertemuan dan laporan serta setelah masa pendamping selama dua setengan bulan berakhir.
– Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian target yang direncanakan dan untuk pengambilan langkah-langkah selanjutnya.
H.4 Tahap Pengembangan
– Pada tahapan ini diharapkan kemungkinan penambahan anggota komunitas serta kemungkinan kerjasama dengan berbagai pihak yang mendukung kegiatan ini.

Berbagai tahapan diatas dapat digambarkan secara lebih singkat sebagai berikut:

I. Jadwal Kegiatan Program

No Kegiatan Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Persiapan X X
2 Pelatihan X
3 Pendampingan X X X X X X X X X X
4 Monitoring Evaluasi X X X X X X X X X X X
5 Pengembangan X X
6 Laporan akhir X

J. Nama dan Biodata Ketua Serta Anggota
a. Biodata Ketua Pelaksana
Nama Lengkap : Faridha Khaira Hasniy
NIM : 04330043
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu
b. Anggota Kelompok
1. Nama Lengkap : Yanur Setyaningrum
NIM : 04330037
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

2. Nama Lengkap : Siswati
NIM : 04330048
Alamat : Jl. Tirto Utomo No. Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu
3. Nama Lengkap : Sholihah
NIM : 04330057
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

4. Nama Lengkap : Dewi Oktaviana
NIM : 04330049
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

K. Biodata Dosen Pembimbing
Nama Lengkap dan gelar : Dra. Sri Wahyuni, M.Kes.
Golongan Pangkat dan NIP : III C/ Penata dan
Jabatan Fungsional : Lektor
Jabatan Struktural : Dosen
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian : Anatomi Fisiologi Manusia
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

L. Biaya

1. Bahan habis pakai
a. Kertas @Rp.30.000×2 Rp. 60.000;
b.Tinta Print @rp.30000×2 Rp. 60.000;
c. CD dan Disket Rp. 20.000;
2. Peralatan penunjang PKM
a. Film dokumenter lingkungan, foto-foto, gambar Rp.140.000;
b Stiker @1000×40 Rp.300.000;
c. Kokart/tanda pengenal @1000×40 Rp. 40.000;
d. Kaos @20.000×30 Rp.600.000;
e. Sertifikat 2000×30 Rp. 60.000;
3. Transportasi
a. Tim PKMM @ 5.000,- x 6×10 Rp. 250.000;;
4. Lain-lain
a. Konsumsi selama program
– Tim PKMM @ 5.000,- x 3x5x10 Rp. 750.000;
-Pemateri/Pelatih/undangan @10.000x3x6 orang Rp. 180.000;
b. Dokumentasi Rp. 200.000;
c. Spanduk dan publikasi Rp. 280.000;
d. Evaluasi dan Monitoring Program Rp. 300.000;
e. Pengembangan program Rp. 200.000;
f. Laporan akhir Rp. 280.000;
g. Sewa peralatan pengamatan lingkungan dan outbond Rp. 600.000; +
Total Biaya Rp. 6.000.000,-

07/27/2009 Posted by | Contoh PKM | 2 Komentar

POLIPLOIDISASI TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DENGAN PERLAKUAN MUTAGEN COLCHICINE

1) Judul Program
POLIPLOIDISASI TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DENGAN PERLAKUAN MUTAGEN COLCHICINE

2) Latar Belakang Masalah
Upaya memanfaatkan sumber energi terbarukan merupakan bagian penting dalam program deversifikasi energi sebagai akibat semakin menipisnya cadangan energi dan semakin meningkatnya kebutuhan bahan bakar. Hal tersebut harus dilakukan karena kebutuhan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi terus mengalami peningkatan sehingga dalam beberapa tahun akan terjadi kelangkaan minyak bumi.
Biodiesel memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya penghematan ataupun sebagai subtitusi dari minyak diesel. Biodiesel yang merupakan minyak nabati yang diperoleh dari tumbuhan memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan sumber energi lainnya. Keunggulan dan kelebihan biodisel antara lain (1) Merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik (free sulphur, smoke number rendah) sesuai dengan isu-isu global, (2) Cetane number lebih tinggi (>60) sehingga efisiensi pembakaran lebih baik, (3) Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin, (4) Biodegradable (dapat terurai), (5) Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat diperbarui, (6) Meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi secara lokal (BPTP, 2006).
Pemanfaatan minyak Jarak (Jatropha curcas L.) sebagai bahan bio-diesel merupakan alternatif untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan bahan bakar. Minyak jarak pagar selain merupakan sumber minyak terbarukan (reneweble fuels) juga termasuk non edible oil sehingga tidak bersaing dengan kebutuhan konsumsi manusia seperti pada minyak kelapa sawit, minyak jagung dan minyak nabati lainnya. Secara agronomis tanaman jarak pagar sesuai dengan agroklimat di Indonesia bahkan pada kondisi kering dan pada lahan marginal. Akan tetapi masih ada permasalahan yang dihadapi, yaitu belum adanya varietas unggul yang dilepas secara komersial (Puslitbang Perkebunan, 2006).
Sebenarnya di Indonesia ditemukan banyak keragaman plasma nutfah jarak pagar, namun variasi tersebut diduga hanya disebabkan oleh perbedaan wilayah yang melahirkan ekotipe-ekotipe tertentu. Eksplorasi pendahuluan yang dilakukan oleh Puslitbang Perkebunan di Sumatera Barat, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan ditemukan variasi antara lain: (1) kulit batang: keperak-perakan, hijau kecoklatan, (2) warna daun: hijau muda, hijau tua, (3) pucuk dan tangkai daun: kemerahan, kehijauan, (4) bentuk buah: agak elips, bulat, (4) jumlah biji per kapsul: 1-4. Kontribusi perbedaan morfologi di atas terhadap produktivitas dan kandungan minyak tentu ada, hanya belum diketahui besarnya. Tingkat ploidi yang sama (2n=22) diduga tidak akan menghambat persilangan antar spesies dalam upaya perbaikan varietas jarak pagar (Hasnam, 2006).
Penelitian di bidang pemuliaan tanaman jarak pagar di Indonesia sampai saat ini masih dalam taraf awal dan masih mengandalkan metode pemuliaan konvensional yang banyak bergantung pada fenotipe tanaman yang mudah diamati secara kasat mata (Mardjono et al., 2006). Pengembangan tanaman jarak pagar melalui mutasi dengan memanfaatkan teknologi nuklir dengan irradiasi sinar gamma telah berhasil dilakukan (Dwimahyani, 2006), meskipun informasi pelepasan varietas unggul jarak pagar hasil mutasi tersebut belum diperoleh.
Alternatif metode mutasi lain yang bisa dilakukan adalah mutasi menggunakan senyawa kimia, misalnya colchicine. Efek yang ditimbulkan melalui mutasi dengan colchicine adalah terjadinya penggandaan kromosom atau poliploidisasi. Diharapkan melalui proses poliploidisasi tersebut dapat diperoleh peningkatan keragaman genetik sekaligus usaha untuk mendapatkan peningkatan potensi hasil minyak tanaman jarak pagar.

3) Perumusan Masalah
Penerapan mutasi secara kimia untuk mendorong terjadinya poliploidisasi pada tanaman jarak pagar lokal Indonesia belum ditemukan laporannya. Karena itu, penerapan mutasi kimia menggunakan senyawa colchicine untuk mengembangkan tanaman jarak pagar poliploid diharapkan dapat diperoleh keragaman genetik baru dari tanaman jarak pagar terutama yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis-jenis tanaman jarak pagar yang sudah ada.
Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1). Seberapa besar keberhasilan terjadinya poliploidisasi pada tanaman jarak pagar melalui perlakuan penetesan larutan colchicine pada konsentrasi yang berbeda?
2). Takaran larutan colchicine pada konsentrasi berapakah yang lebih efektif dalam mendorong terjadinya poliploid pada tanaman jarak pagar?

4) Tujuan Program
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengkaji keberhasilan terjadinya poliploidisasi pada tanaman jarak pagar melalui perlakuan penetesan larutan colchicine pada konsentrasi yang berbeda, (2) menentukan takaran konsentrasi colchicine yang lebih efektif dalam mendorong terjadinya poliploid pada tanaman jarak pagar.

5) Luaran Yang Diharapkan
Luaran hasil penelitian yang diharapkan adalah (1) diperolehnya jenis baru dari tanaman jarak pagar khususnya dengan ploidi yang berbeda dari sebelumnya; (2) diperolehnya informasi konsentrasi yang efektif bagi terbentuknya poliploid pada tanaman jarak pagar.

6) Kegunaan Program
Kegunaan dari penelitian ini adalah (1) dapat membantu meningkatkan keragaman genetik tanaman jarak pagar yang sangat bermanfaat untuk program pemuliaan tanaman; (2) dapat memberikan informasi teknik mutasi khususnya duplikasi kromosom atau perubahan ploidi pada tanaman jarak pagar.

7) Tinjauan Pustaka
Tanaman jarak (Jatropha curcas L.) termasuk famili Euphorbiacae. Genus Jatropha memiliki 175 spesies, dan dari jumlah tersebut lima spesies ada di Indonesia, yaitu Jatropha curcas L dan Jatropha gossypiifolia yang sudah digunakan sebagai tanaman obat. Jatropha integerrima Jacq, Jatropha multifida dan Jatropha podagrica Hook digunakan sebagai tanaman hias. Jatropha curcas L. menarik minat para ilmuwan karena sifat minyaknya yang dapat digunakan untuk substitusi minyak diesel atau solar (Puslitbang Perkebunan, 2006). Kandungan minyak pada biji jarak pagar berkisar antara 25–30%, 30-40%, 30-45%, 40-58% berat kering dan bahkan ada menyatakan yang mencapai 66,4% (Adebowale dan Adedire, 2006; Hariyadi, 2005; Lele, 2005; Pambudi, 2006, Puslitbang Perkebunan, 2006).
Indonesia memiliki keragaman plasma nutfah jarak pagar yang cukup tinggi, namun variasi tersebut mungkin hanya disebabkan oleh perbedaan wilayah yang melahirkan ekotipe-ekotipe tertentu. Eksplorasi pendahuluan yang dilakukan oleh Puslitbang Perkebunan di Sumatera Barat, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan ditemukan variasi antara lain: (1) kulit batang: keperak-perakan, hijau kecoklatan, (2) warna daun: hijau muda, hijau tua, (3) pucuk dan tangkai daun: kemerahan, kehijauan, (4) bentuk buah: agak elips, bulat, (4) jumlah biji per kapsul: 1-4. Kontribusi perbedaan morfologi di atas terhadap produktivitas dan kandungan minyak tentu ada, hanya belum diketahui besarnya. Tingkat ploidi yang sama (2n=22) diduga tidak akan menghambat persilangan antar spesies dalam upaya perbaikan varietas jarak pagar (Hasnam, 2006).
Penelitian di bidang pemuliaan tanaman jarak pagar di Indonesia sampai saat ini masih dalam taraf awal dan masih mengandalkan metode pemuliaan konvensional yang banyak bergantung pada fenotipe tanaman yang mudah diamati secara kasat mata. Penelitian di BALITTAS telah berhasil mengidentifikasi beberapa genotipa dari NTT, NTB, Jatim, Jateng dan Lampung, namun hasil panen yang diperoleh masih rendah yaitu berkisar antara 154,90-315,63 kg/ha karena tanaman belum berumur satu tahun (Mardjono et al., 2006). Kajian berikutnya diperoleh informasi 7 aksesi jarak pagar yang memiliki harapan produktivitas tinggi, yaitu HS-49 (1097.50 kg/ha), SP-16 (977.50 kg/ha), SP-38 (912.50 kg/ha), SP-8 (656.07 kg/ha), SM-33 (622.50 kg/ha), SP-34 (578.33 kg/ha), dan SM-35 (500 kg/ha) (Sudarmo et al., 2007). Sampai sekarang belum ada varietas unggul maupun klon jarak pagar yang dilepas ke petani (Anonymous, 2005; Sudarmo et al., 2007; Media Kita, 2006), sehingga sumber benih masih mengandalkan pengumpulan dari petani di berbagai daerah (Hariyadi, 2005). Pengembangan tanaman jarak pagar melalui mutasi dengan memanfaatkan teknologi nuklir telah berhasil dilakukan (Dwimahyani, 2006), meskipun informasi pelepasan varietas unggul jarak pagar hasil mutasi tersebut belum diperoleh.
Alternatif metode mutasi lain yang bisa dilakukan adalah mutasi menggunakan senyawa kimia, misalnya colchicine. Efek yang ditimbulkan melalui mutasi dengan colchicine adalah terjadinya penggandaan kromosom atau poliploidisasi.
Autotetraploid secara alami dihasilkan melalui kejadian duplikasi secara spontan dari genom 2x menjadi 4x. Secara artifisial autotetraploid diperoleh melalui perlakuan mutasi mengunakan colchicine. Tanaman autotetraploid dapat menguntungkan secara komersial karena pada tanaman tersebut terjadi peningkatan jumlah kromosom yang mengakibatkan pertambahan ukuran sel, ukuran bunga, buah, stomata dan bagian-bagian tanaman lainnya. Hal tersebut disebabkan terjadinya kenaikan produk dari aktifitas gen (protein atau RNA) yang proposional dengan kenaikan jumlah gen dalam sel (Anthony et al., 2000).
Organisme poliploid umumnya lebih besar dibandingkan dengan organisme diploid, tetapi tidak normalnya proses berpasangan dari kromosom homolog pada saat meiosis menyebabkan beberapa organisme poliploid menjadi steril (Anthony et al., 2000). Namun demikian, persilangan antara dua spesieas yang berbeda yang diikuti dengan penggandaan kromosom melalui perlakuan mutasi dengan colchicine menghasilkan hibrida poliploid yang fertil (Anthony et al., 2000).

Variasi pada tanaman poliploid juga meningkat akibat peristiwa nondisjunction (segregasi yang tidak normal dari kromosom pada saat meiosis atau mitosis). Variasi juga dapat ditimbulkan oleh ketidakseimbangan gen atau tidak sempurnanya kromosom (Anthony et al., 2000). Peningkatan tersebut juga terjadi karena autotetraploid mempunyai dua kali lipat salinan gen per lokus dibandingkan pada populasi diploid maupun allotetraploid (Brown dan Young, 2000).
Poliploidi buatan tersebut merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan hasil minyak esensial maupun metabolit sekunder berbagai jenis tanaman (Tsevtkov Raev, 2006). Pengembangan tanaman melalui poliploidisasi dapat meningkatkan laju pertumbuhan 30%-40% per musim diikuti dengan peningkatan hasil tanaman yang diperoleh (Biopact, 2007).
Autotetraploid buatan yang diperoleh melalui perlakuan mutasi dengan colchicine merupakan salah satu upaya meningkatkan produksi minyak esensiel tanaman vetiver (2n=20). Jenis tetraploid yang diperoleh memiliki vigor yang lebih baik, perakaran lebih panjang dan lebih tebal. Produksi panen yang dihasilkan dari tanaman tetraploid juga lebih unggul dibandingkan dengan jenis tetua diploidnya dan tanaman kontrol (pembanding). Secara ekonomis hasil tanaman tetraploid mempunyai potensi produksi minyak 62,5% lebih tinggi dibanding tetua diploidnya dan 39,2% lebih tinggi dibanding kontrol. Peningkatan hasil tersebut juga berkaitan dengan peningkatan senyawa metabolisme sekunder (Lavania, 1988). Induksi poliploid tanaman lavender menghasilkan minyak 3-5 kali lebih banyak dan diikuti dengan peningkatan kualitas minyak yang dihasilkan dibanding diploid (Urwin, Horsnell, dan Moon, 2005).
Peningkatan ploidi dapat diketahui dengan adanya peningkatan ukuran stomata daun tanaman yang telah diperlakukan. Poliploidi yang dihasilkan juga dapat dideteksi melalui tingkatan DNA dengan flow-cytometry. Hasil deteksi DNA tersebut sama dengan hitungan jumlah kromosom sel ujung akar (Mi-Seon Kim et al., 2003).
Metode lain yang juga sering digunakan untuk membedakan ciri-ciri suatu individu secara molekuler adalah studi isozim, restriction fragment length polymorphism (RFLP), random amplified polymorphism DNA (RAPD), dan simple sequence repeat (SSR). Penerapan suatu metode harus diketahui terlebih dahulu optimasinya. Kemampuan membedakan genotip individu di dalam species maupun beberapa genotip secara tepat sangat diperlukan dalam program pemuliaan tanaman. Karakter morfologi dan fenotip telah banyak dipergunakan, namun sifat kuantitatif umumnya dikendalikan banyak gen dan sangat dipengaruhi lingkungan sehingga perbedaan antar species berkerabat dekat seringkali sulit diamati. Kebanyakan karakter sulit dianalisis karena tidak memiliki sistem pengendalian genetik yang sederhana. Penggunaan penanda molekuler seperti alozim, RFLP dan RAPD dapat dimanfaatkan untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut. Pemakaian marka molekuler berdasarkan pola pita DNA telah banyak digunakan untuk menyusun kekerabatan beberapa individu dalam spesies maupun kekerabatan antar spesies. Penggunaan kekerabatan dapat dijadikan rujukan dalam pemuliaan persilangan untuk mendapatkan keragaman yang tinggi dari hasil persilangan. Penggunaan marka DNA dapat membantu pelaksanaan pemilihan tetua persilangan yang memiliki perbedaan tinggi secara genetik (Correa, 1999). Perkembangan teknik PCR dalam bidang biologi molekuler terjadi dengan cepat setelah ditemukan teknik pelipat gandaan bagian genom tanaman pada beberapa lokus yang berbeda menggunakan primer arbitrari, yang dikenal dengan Random Amplified Polymorphic DNA (Welsh dan McClelland 1990). Pola pita DNA yang dihasilkan pada teknik RAPD sangat konsisten bagi kebanyakan primer dan teknik ini telah digunakan pada berbagai tanaman seperti padi, jagung, kopi serta pada tanaman anggrek (Orozco-Castillo et al. 1994 ; Hoon-Lim et al. 1999).
Salah satu keuntungan analisis keragaman menggunakan teknik molekuler yang memanfaatkan teknologi PCR adalah kuantitas DNA yang diperlukan hanya sedikit. Selain itu, dalam teknik RAPD tingkat kemurnian DNA yang dibutuhkan tidak perlu terlalu tinggi, atau dengan kata lain teknik ini toleran terhadap tingkat kemurnian DNA yang beragam. Penerapanan metode RAPD telah berhasil digunakan untuk membedakan keragaman genetik secara molekuler tanaman anggrek Phalaenopsis yang telah dimutasikan dengan memberikan perlakuan berbagai konsentrasi colchicine (Zainudin, 2007). Penelitian awal terkait dengan analisis molekuler keragaman genetik tanaman jarak pagar telah diperoleh informasi tentang prosedur isolasi DNA menggunakan Sodium Dudocyl Sulfate yang menghasilkan DNA genom jarak pagar dengan kualitas cukup baik dan sesuai untuk proses amplifikasi melalui proses PCR (Zainudin dan Maftuchah 2006), serta rangkaian suhu optimal serta beberapa primer yang sesuai dalam proses amplifikasi DNA jarak pagar lokal Lamongan dan Karangtengah (Maftuchah dan Zainudin, 2006). Pemakaian beberapa primer RAPD yang berukuran 10 basa telah terbukti menghasilkan sidik jari DNA RAPD tanaman jarak pagar dengan tingkat polimorfisme tinggi dengan jumlah 4 sampai 12 pita DNA (Maftuchah, 2006).

8) Metode Pelaksanaan Program
Penelitian ini akan dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Kebun Koleksi Plasma Nutfah Tanaman Jarak pagar BALITTAS yang berlokasi di Karangploso dan Asembagus-Situbondo. Analisis molekuler dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler Pusbang Biotek UMM.
Waktu pelaksanaan penelitian direncanakan selama 5 (lima) bulan. Bahan tanam awal yang akan ditanam berupa benih jarak pagar yang diperoleh dari Kebun Koleksi Plasma Nutfah Tanaman Jarak pagar BALITTAS yang berlokasi di Karangploso dan Asembagus-Situbondo.
Metode penelitian yang akan diterapkan untuk penelitian di lahan adalah percobaan lapang menggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Perlakuan yang diujikan terdiri dari dua faktor:
Faktor I: Jenis Tanaman Jarak Pagar
J1 : Lokal Asembagus
J2 : Lokal Kediri
Faktor II: Penetesan Titik Tumbuh Kecambah dengan Beberapa Konsentrasi Colchicine
K0 : Tanpa penetesan larutan colchicine
K1 : Penetesan larutan colchicine 0,1%
K2 : Penetesan larutan colchicine 0,3%
K3 : Penetesan larutan colchicine 0,5%
Berdasarkan kedua faktor tersebut diperoleh 8 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang sebanyak 3 kali.
Kombinasi perlakuan yang diperoleh adalah:
J1K0 = Jarak pagar lokal Asembagus tanpa penetesan colchicine
J1K1 = Jarak pagar lokal Asembagus dengan penetesan larutan colchicine 0,1%
J1K2 = Jarak pagar lokal Asembagus dengan penetesan larutan colchicine 0,3%
J1K3 = Jarak pagar lokal Asembagus dengan penetesan larutan colchicine 0,5%
J2K0 = Jarak pagar lokal Kediri tanpa penetesan colchicine
J2K1 = Jarak pagar lokal Kediri dengan penetesan larutan colchicine 0,1%
J2K2 = Jarak pagar lokal Kediri dengan penetesan larutan colchicine 0,3%
J2K3 = Jarak pagar lokal Kediri dengan penetesan larutan colchicine 0,5%

Tahap penelitian yang akan dilakukan meliputi:
(1) Penyiapan Benih Hasil Penyerbukan Sendiri (Selfing)
Tahap kegiatan ini diawali dengan penentuan pohon jarak pagar yang dipilih untuk materi penelitian dilanjutkan dengan penutupan bunga menggunakan kantong kain kasa agar terjadi penyerbukan sendiri (selfing) dari masing-masing pohon terpilih. Pohon yang terpilih dipemelihara sampai saat panen buah yaitu kulit buahnya sudah berwarna kuning kecoklatan serta diperoleh benih untuk disemaikan pada tahap berikutnya.

(2) Produksi Bibit Generasi M1 Hasil Perlakuan Colchicine
Kegiatan tersebut diawali dengan penyemaian benih hasil panenan sebelumnya yang telah dikeringkan tidak langsung di bawah terik matahari. Penyemaian dilakukan pada polibag ukuran 2 kg yang berisi media campuran tanah dan pupuk kandang 1:1. Selama menunggu tumbuhnya benih tersebut dilakukan penyiapan larutan colchicine dengan cara menimbang serbuk/kristal colchicine masing-masing 0,1 g (100 mg); 0,3 g (300 mg); dan 0,5 g (500 mg) untuk masing-masing perlakuan konsentrasi 0,1%; 0,3% dan 0,5%; kemudian ditambah alkohol 90% sebanyak 10 tetes sampai larut dan ditambah aquades sampai volume 100 ml. Benih yang sudah berkecambah sebanyak sepuluh kecambah untuk tiap kombinasi perlakuan ditetesi larutan colchicine pada titik tumbuh kecambah yang tumbuh dan membuka kotiledonnya. Penetesan larutan colchicine dilakukan selama 8 kali pada pagi hari (05.30 wib) dan sore hari (17.00 wib) selama empat hari berturut-turut.
(3) Analisis dan Evaluasi Morfologi Bibit, Pertumbuhan Vegetatif bibit dan Anatomi Jaringan Daun Jarak Pagar Generasi M1
Kegiatan tersebut dilakukan setelah bibit tanaman jarak pagar hasil perlakuan penetesan larutan colchicine telah menumbuhkan minimal lima helai daun sejati.
Pengamatan morfologi meliputi: 1) kejadian pigmentasi (warna batang, warna daun, warna tulang daun), 2) bentuk daun, 3) persentase jumlah bibit yang tumbuh dibandingkan total benih ditanam, 4) tinggi bibit, diukur mulai permukaan tanah hingga titik tumbuh tertinggi, 5) diameter pangkal batang, diukur menggunakan jangka sorong.
Pengamatan anatomi jaringan daun bibit tanaman jarak pagar (generasi M1) tiap perlakuan dengan cara membuat preparat sayatan daun bagian bawah untuk mengamati ukuran stomata menggunakan mikroskop yang dilengkapi mikrometer. Stomata yang teramati dipotret untuk menunjukkan perbandingan kenampakan stomata dari tanaman kontrol dengan tanaman yang sudah diperlakukan dengan colchicine.

(4) Analisis Pola Sidik Jari DNA Berdasarkan Penciri RAPD Bibit Tanaman Generasi M1,
Analisis ini dilakukan terhadap daun muda bibit tanaman jarak pagar hasil perlakuan yang sudah tumbuh (generasi M1) yang mengindikasikan terjadinya poliploidi yaitu ukuran stomatanya lebih besar dari daun tanaman kontrol. Proses analisis molekuler tersebur terdiri dari:
a) Isolasi DNA Genom Bibit Tanaman Jarak Pagar Generasi M1
DNA genom tanaman jarak pagar diisolasi dari daun muda bibit tanaman jarak pagar generasi M1. Prosedur isolasi dan purifikasi DNA genom dari daun tanaman jarak pagar dilaksanakan berdasarkan metode Sambrook (1989) yang telah dimodifikasi dengan menggunakan buffer ekstraksi sodium dudocyl sulfate (Zainudin dan Maftuchah, 2006). DNA hasil isolasi yang telah dimurnikan, dihitung konsentrasinya dengan spektrofotometer. DNA dilarutkan dengan TE dan disimpan dalam suhu 40C. DNA genom tanaman jarak pagar hasil isolasi DNA selanjutnya dideteksi melalui proses elektroforesis pada 1% gel agarosa dengan voltase 100 V dengan waktu running selama 1 jam diteruskan dengan dilakukan pemotretan gell dengan polaroid. DNA genom tersebut telah siap dipergunakan sebagai cetakan (template) dalam reaksi Polimerase Chain Reaction.
b) Proses PCR DNA Genom Bibit Tanaman Jarak Pagar Generasi M1
DNA genom tanaman jarak pagar dipergunakan sebagai cetakan (template). Primer yang dipergunakan dalam reaksi PCR ini adalah sepuluh primer RAPD yang masing-masing berukuran sepuluh basa (Maftuchah dan Zainudin, 2006). Volume total reaksi PCR yang dipergunakan adalah sebanyak 25 l, terdiri dari campuran larutan yang terdiri dari DNA taq polimerase dan 10x buffer Taq Polimerase (100 mM Tris-Cl, pH 8.3; 500 mM KCl; 15 mM MgCl2; 0.01 % gelatin); dNTP’S mix (dGTP, dATP, dTTP dan dCTP) (Pharmacia); dH2O dan 30 ηg DNA cetakan. Kondisi untuk reaksi PCR dirancang sesuai dengan hasil penelitian pendahuluan yang telah dilakukan: pre denaturasi 94oC (2 menit), suhu Denaturasi 94oC (1 menit), Annealing 37oC (1 menit) dan perpajangan 72oC (2 menit) (Maftuchah dan Zainudin, 2006). Siklus reaksi PCR diulang sebanyak 40 kali.
c) Visualisasi Hasil PCR
Hasil amplifikasi DNA genom tanaman jarak pada proses PCR dideteksi dengan Elektroforesis Gel Poliakrilamid yang dilanjutkan dengan pewarnaan perak (silver staining). Pola pita inilah yang digunakan untuk deteksi polimorfisme alel DNA RAPD. Fragmen DNA produk PCR dideteksi dari pola pita yang berbeda hasil elektroforesis setelah diwarnai mengggunakan metode pewarnaan perak (silver staining) menurut petunjuk Guillemet and Lewis (Tegelström, 1986), yang telah dimodifikasi. Metode ini cukup efektif dalam mengurangi back ground dan meningkatkan sensitivitas.
d) Deteksi Alel-alel RAPD Tanaman Jarak Pagar Generasi M1
Analisis sidik jari DNA–RAPD dilaksanakan berdasarkan jumlah, frekuensi dan distribusi alel-alel DNA berdasarkan penanda RAPD. Fragmen dideteksi dari pola pita DNA yang berbeda hasil elektroforesis gel agarose dari produk PCR. Penentuan posisi pita DNA dilakukan secara manual (Leung et al., 1993). Beberapa hal yang dilakukan untuk memudahkan pengamatan: 1) Seluruh pita DNA dengan laju migrasi yang sama diasumsikan sebagai lokus yang homologus, 2) Masing-masing pita DNA ditandai (dapat menggunakan tinta berwarna), tiap tanda mewakili satu posisi pita DNA tertentu, yang dilakukan dengan menempelkan plastik transparan pada foto gel, 3) Bila jalur DNA yang dibandingkan terpisah satu sama lain, maka dapat digunakan bantuan alat (misal mistar) untuk membantu menentukan posisi pita DNA, 4) Data profil DNA merupakan data alel yang teramati dengan ketentuan ada dan tidaknya pita DNA berdasarkan ukuran produk PCR pada satu posisi yang sama dari beberapa individu yang dibandingkan.
Pita yang muncul pada gel diasumsikan sebagai alel RAPD. Keragaman alel RAPD ditentukan dari perbedaan migrasi alel pada gel dari masing-masing individu sampel. Berdasarkan ada atau tidaknya pita RAPD, profil pita diterjemahkan ke dalam data biner, untuk penyusunan matriks data biner yang diturunkan menjadi matriks kemiripan genetika (Nei dan Li, 1979). Analisis pengelompokan dan pembuatan dendogram dilakukan menggunakan metode Unweighted Pair-Group Method With Arithmetic (UPGMA) melalui program Numerical Taxonomy and Multivariate System (NTSYS) versi 1,8. Derajad ketelitian data UPGMA dianalisis dengan analisis bootstrap menggunakan program WinBoot. Berdasarkan informasi tersebut diharapkan dapat diperoleh pula informasi spesifik untuk tanaman jarak yang telah diberi perlakuan colchicine.

9) Jadwal Kegiatan Program

Bulan Ke…
No. KEGIATAN 1 2 3 4 5
1. Pemilihan, Penyiapan, pemeliharan pohon induk untuk proses selfing
2. Proses Penyerbukan Sendiri (Selfing)
3. Pemeliharaan buah dan penanganan benih
4. Penyemaian benih hasil selfing
5. Penyiapan dan perlakuan colchicine pada kecambah
6. Pemeliharaan bibit dan tanaman generasi M1
7. Analisis morfologi, pertumbuhan bibit dan anatomi jaringan daun jarak pagar generasi M1
8. Isolasi DNA genom, Reaksi PCR, Deteksi alel-alel RAPD tanaman jarak pagar generasi M1
9. Analisis data dan penulisan laporan

10) Nama dan Biodata Ketua serta Anggota Kelompok
1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Estherina Noventhi Subandi
b. NIM : 04710006
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/Agronomi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Alamat Rumah : Jln. WR Supratman Gang I No.43 RT 01 RW 01 Tulungagung 66212, Telp. O355-328005 / HP. 085233049828
g. Alamat Malang : Perum Landungsari Asri Blok C-79 Malang, Telp. 0341-462354
h. E-mail : Alvent@yahoo.com
i. Pengalaman Organisasi : 1. BEMFA Bidang Pendidikan dan Penalaran
2. HMI (Anggota)

2. Anggota Pelaksana I
a. Nama Lengkap : Denny Prasetyo
b. NIM : 05710004
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/Agronomi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Alamat Rumah : Jl. Abadi RT 01 RW 08 Kedungwaru-Ngelgok-Blitar 66181 JATIM
g. Alamat Malang : Jl. Tirto Utomo VI No. 27 Landungsari Malang-JATIM, HP. 085649721722
h. Pengalaman Organisasi : 1. BEMFA (Anggota Bidang Ke-Islaman)
2. FKI Al-Huda (Sekretaris Umum)

3. Anggota Pelaksana II
a. Nama Lengkap : Ari Kusuma Wardani
b. NIM : 06710038
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/Agronomi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Alamat Rumah : Desa Kerkep Kecamatan Gurah Kab. Kediri, Telp. 0354-546203
g. Alamat Malang : Jl. Tirto Utomo VI No. 9 Landungsari-Malang-JATIM, Telp. 0341-468682, HP. 085645283301
h. Pengalaman Organisasi : 1. HMJ Agronomi (anggota)
2. Tapak Suci (Kabid. Kesejahtera-an)

11) Nama dan Biodata Dosen Pendamping
1. Nama Lengkap : Ir. Agus Zainudin,MP.
2. NIP : 105.9109.0238
3. Golongan Pangkat dan : IIIc / Penata
4. Jabatan Fungsional : Lektor
5. Jabatan Struktural : –
6. Fakultas/Program Studi : Pertanian / Agronomi
7. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
8. Bidang Keahlian : Pemuliaan Mutasi Tanaman
9. Waktu untuk kegiatan : 8 jam/minggu

12) Biaya
No. Kebutuhan Penelitian Besar Biaya (Rp)
1. Bahan habis pakai
a. Benih tanaman jarak pagar 1 kg 50.000.00
b. Media tanam, pupuk, pestisida 150.000.00
c. Colchicine 250 mg, alkohol, aquades 750.000.00
d. Proses Isolasi DNA genom 1.000.000.00
e. Proses PCR RAPD 2.100.000.00
2. Peralatan penunjang PKM
a. Sewa sarana-prasarana laboratorium 650.000.00
b. Sewa sarana-prasarana kebun koleksi 250.000.00
3. Perjalanan (Malang-Asembagus 4 kali, Malang-Karangploso 4 kali) 700.000.00
4. Lain-lain (Dokumentasi, Analisis data, pelaporan) 350.000.00
JUMLAH 6.000.000.00

13) Daftar Pustaka
Anthony J.F., Griffiths, Jeffrey H. Miller, David T. Suzuki, Richard C. Lewontin, William M. Gelbart, 2000, An Introduction to Genetic Analysis, W.H.Freeman and Company, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ books/bv.fcgi?call=bv.View.ShowSection&rid=iga.section.3058
Biopact. 2007. Polyploid technology brings high yield energy crops. http://biopact.com/2007/03/polyploid-technology-brings-high-yield. html

BPPT. 2006. Biodisel. http://ec.bppt.go.id/biodiesel/index.htm

Brown, A.H.D., dan Young, A.G., 2000, Genetic Diversity In Tetraploid Populations Of The Endangered Daisy Rutidosis Leptorrhynchoides And Implications For Its Conservation, Journal Heredity, August Edition 2000, Vol. 85, No. 2, Pages 122-129, http://www.nature.com/hdy/journal/v85/ n2/full/ 6887420a.html

Correa, R. X.,Ricardo V. A., Fabio G. F. Cosme D. C., Maurilio A. M., dan Everaldo G. B., 1999. Genetic Distance in Soybean Based on RAPD Markers. (On line), http://www.scielo.br/scielo.php diakses 22 April 2004

Dwimahyani, I. 2006. Pemanfaatan Teknologi Nuklir Dalam Pengembangan Tanaman Jarak (Jatropha curcas L.) Sebagai Bahan Biodesesel / Budi Daya Tanaman Jarak (Jatropha curcas L.) Sebagai Tanaman Lorong di Lahan Bermasalah http://www.batan.go.id/mediakita/current/ mediakita.php

Hariyadi. 2005. Budidaya Tanaman jarak (Jatropha curcas L.) sebagai sumber bahan alternatif biofuel. Lokakarya prospektif sumberdaya lokal bioenergi. KNRT-Puspiptek Serpong. Jakarta 14-15 September 2007
Hasnam. 2006. Variasi Jatropha curcas L. Infotek Jarak Pagar. Volume 1, No. 2, Februari 2006. http://perkebunan.litbang.deptan.go.id /index. Php? Option=com_content&task=view&id=38&Itemid=7

Lavania. U.C. 1988. Enhanced productivity of the essential oil in the artificial autopolyploid of vetiver (Vetiveria zizanioides L. Nash). Euphytica Volume 38, Number 3 / July, 1988. http://www.springerlink.com/content/k11123l97567khj5/

Maftuchah dan Zainudin, A. 2006. Optimasi proses Polimerase Chain Reaction DNA genom tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). Jurnal Tropika.
Maftuchah. 2006. Analisis molekuler tiga aksesi jarak pagar (Jatropha curcas L) berdasarkan penanda Random Amplified Polymorphic DNA Program Penelitian Dasar Keilmuan. DPP-Universitas Muhammadiyah Malang
Mardjono, R., Sudarmo, H., dan Sudarmadji. 2006. Uji Daya Hasil Beberapa Genotipa Terpilih Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Prosiding Lokakarya II Status Teknologi Tanaman Jarak Pagar Jatropha curcas L. Bogor 29 Nopember 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Media Kita. 2006. Membuat minyak bio-diesel dari jarak pagar. http://www.batan.go.id/mediakita/current/mediakita.php
Mi-Seon Kim, Jae-Yeong, Kim, Jong-Seon Eun, 2003, Chromosome Doubling of a Cymbidium Hybrid with Colchicine Treatment in Meristem Culture, National Horticultural Research Institute, R. D. A., Suwon 440-310, Korea Dept. of Horticultural Science, Chonbuk National Univ., Chonju 560-756, Korea http://www.biolo.aichi-edu.ac.jp/NIOC2003poster/10KoreaCym.pdf

Orozco-Castillo C, Chalmers KJ, Waugh R, and Powell W. 1994. Detection of genetic diversity and selective gene introgression in coffee sing RAPD markers. Theor Appl Genet 87:934-940.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 2006. Infotek Jarak Pagar Volume 1, Nomor 2, Februari 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Sudarmo, H., Heliyanto, B., Suwarso, dan Sudarmadji. 2007. Aksesi potensial jarak pagar (Jatropha curcas L.). Prosiding Lokakarya II: Status Teknologi Tanaman Jarak Pagar di Bogor, 29 Nopember 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Tsevtkov-Raev, R., R. Jordanov, V. Zheljazkov. Induced Polyploidy In Lavender. 2006. International Society for Horticultural Science. ISHS Acta Horticulturae 426: International Symposium on Medicinal and Aromatic Plants. http://www.actahort.org/members/showpdf? booknrarnr=426_61
Urwin N, Horsnell, J and Moon T. 2005. Improvement of Lavender by Manipulation of Chromosome number. Lavender Bag, 23:5-1. http://www.rirdc.gov.au/comp04/eoi1.html
Welsh J and McCleland M. 1990. Fingerprinting genomes using PCR with arbitrary primers. Nucleic Acids Res. 18:7213-7218
Zainudin A. dan Maftuchah. 2006. Pengembangan metode isolasi DNA genom pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). GAMMA Jurnal Ilmu Eksakta Volume 2 Nomor 1: 20-32

14) Lampiran

1. Daftar Riwayat Hidup Ketua Pelaksana

Nama : Estherina Noventhi. Subandi
Alamat : Jln. Wr Supratman Gang I No. 43 RT/RW 1/1 Tulungagung 66212
Tempat Tanggal Lahir : Tulungagung 21 November 1985
Pendidikan:
1. SDN Kampung Dalem 02 Tulungagung Tahun 1992-1998
2. SLTPN 01 Tulungagung Tahun 1998-2001
3. SMUN Kedungwaru 01 Tahun 2001- 2004
Pengalaman Organisasi:
1. HMJ Agronomi ( Anggota)
2. BEMFA (Anggota Bidang Pendidikan Dan Penalaran)
3. HMI ( Anggota )

2. Daftar Riwayat Hidup Anggota Pelaksana I

Nama : Denny Prasetyo
Alamat : Jln. Jl. Abadi RT 01 RW 08 Kedungwaru-Nglegok-Blitar 66181 Jatim
Tempat Tanggal Lahir : Blitar 04 Agustus 1986
Pendidikan:
1. SDN Kemloko 01 Tahun 1993- 1999
2. SLTPN 01 Legok Tahun 1999- 2002
3. SMUN 01 Garum Tahun 2002- 2005
Pengalaman Organisasi:
1. BEMFA ( Anggota Bidang Ke-Islaman)
2. FKI Al-Huda ( Sekretaris Umum)

3. Daftar Riwayat Hidup Anggota Pelaksana I

Nama : Ari Kusuma Wardani
Alamat : Desa Kerkep Kecamatan Gurah Kab. Kediri, Telp. 0354-546203
Tempat Tanggal Lahir : Kediri, 06 Januari 1988
Pendidikan:
1. SDN Kerkep Tahun 1994- 2000
2. SLTPN 01 Gurah Tahun 2000- 2003
3. SMUN 01 Plosoklaten Tahun 2003- 2006
Pengalaman Organisasi:
1. HMJ Agronomi ( Anggota)
2. Tapak Suci ( Kabid. Kesejahteraan)

4. Daftar Riwayat Hidup Dosen Pendamping

Nama Lengkap : Agus Zainudin
Gelar Kesarjanaan : Ir. MP.
Jenis Kelamin : Laki-laki
NIP-UMM : 10591090238
Unit Kerja : Fakultas Pertanian – Univ. Muhammadiyah Malang.
Bidang Keahlian : Pemuliaan dan Genetika Tanaman
Pendidikan Akhir : Pasca Sarjana S-2 Program Studi Agronomi Program Pascasarjana UGM Yogyakarta tahun 2003
Alokasi Waktu : 8 jam / minggu
Lembaga : Universitas Muhammadiyah Malang
Jl. Raya Tlogomas 246 Malang – 65144
Telp. 0341-464318 / 464319 (Ext. 165)
Faximile. 0341-460782 / HP : 08123317247
e-mail: agusz@umm.ac.id / agszain@yahoo.com

A. Riwayat Pendidikan (dari sarjana muda / yang sederajat)
No Universitas/Institut dan Lokasi Gelar Tahun Selesai Bidang Studi
1. Fakultas Pertanian
Univ. Brawijaya , Malang Insinyur 1988 Budidaya Pertanian
2. Program Pascasarjana
Univ. Gadjah Mada,
Yogyakarta Magister
Pertanian 2003 Ilmu Tanaman

B. Pengalaman Kerja
No Institusi / Program Jabatan Periode Kerja
1. Dosen Luar biasa UMM Staff Pengajar 1989 – 1990

2. Dosen Tetap UMM Staff Pengajar 1991– sekarang
3. Lab. Komputer Pertanian Sekretaris 1992 – 1994
4. Pusat Pengembangan Bioteknologi (Pusbang Bioteknologi) UMM Staff Peneliti 1995 – sekarang
5. Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Sekretaris 1994 – 1997
6. Badan Pengembangan SDM UMM Sekretaris 2000 – 2003
7. Kebun Percobaan Faperta UMM Kepala Tahun 2003-2005
8 Lembaga Penelitian (Lemlit), Universitas Muhammadiyah Malang Manager Mutu 2005 – sekarang

C. Pengalaman Penelitian
No Judul Tahun Sumber Dana
1. Analisis molekuler tanaman mangga lokal dengan penciri Random Amplified Polymorphic DNA 2007 PDM DIKTI-Depdiknan
2. PCR-RAPD PLB Tanaman Anggrek Phalaenopsis sp. Hasil Perlakuan Penetesan Mutagen Kimia Colchicine 2006 DPP UMM
3. Produktifitas Tiga Varietas Hibrida Jagung Manis
( Zea Mays Sacharata Sturt. ) Pada Perlakuan Beberapa Dosis Pupuk Kascing 2005 DPP UMM
4. Respon Tiga Varietas Jagung Manis (Zea mays sacharata Sturt.) terhadap Pemberian Pupuk Organik 2004 DPP UMM
5. Kajian Potensi Hasil Buah Apel Batu Pada Sistem Pertanian Organik Dan An-Organik 2004 DPP UMM
6. Respon Beberapa Varietas Tanaman Paprika (Capsicum Annuum Var. Grossum L.) terhadap Pemberian Pupuk Organik pada Sistem Modifikasi Organic Greenhouse 2003 PDM DIKTI – Depdikbud
7. Induksi Mutagenik Beberapa Varietas Semangka dengan Perlakuan Kolkisin 2003 DPP UMM
8. Kajian Kuantitas dan Kualitas Hasil Beberapa Varietas Padi Sawah dengan Perlakuan Inokulasi Anabaena Azollae dan Pemberian Campuran Pupuk Kandang 2002 DPP UMM
9. Dekomposisi An-aerob Beberapa Limbah Organik dengan Inokulasi Campuran Mikroba Pengurai dan Uji Penerapan Komposnya pada Beberapa Varietas Tomat 2002 DPP UMM
10. Efektifitas Inokulasi Mikroba Tanah terhadap Dekomposisi Beberapa Limbah Organik serta Pengaruh Komposnya terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat 2001 PDM DIKTI-Depdikbud
11. Respon Beberapa Varietas Padi Sawah terhadap Pemberian Pupuk Organik dan Pupuk Hayati 2000 DPP UMM
12. Dekomposisi Kotoran Sapi dengan Inokulasi Campuran Mikroba Tanah dan Penggunaan Komposnya pada Tanaman Bawang 1999 DPP UMM
13. Pengaruh Inokulasi Berbagai Jenis Mikroba Tanah pada Dekomposisi Kotoran Sapi dan Pengujiaannya pada Tanaman Bawang Merah 1998 PDM DIKTI
14. Pengaruh Konsentrasi Nitrogen Terhadap Produksi Protein Mikroalga Anabaena azollae 1997 DPP UMM
15. Asosiasi Azolla-Anabaena sebagai Sumber Nitrogen Alami dan Pemanfaatannya sebagai Bahan Baku Protein 1997 PDM DIKTI
16. Pengaruh Pemberian Kompos Azolla sp. terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi IR64 1996 DPP UMM
17. Pengaruh Dosis Beberapa jenis Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Varietas Tanaman Semangka 1995 DPP UMM
18. Perlakuan Mutasi dengan Perlakuan Colchicine pada Beberapa Varietas Semangka 1994 DPP UMM

D. Daftar Karya Ilmiah / Publikasi Ilmiah
No Judul Publikasi, Tahun, Media / Jurnal
1. Zainudin, A. dan Maftuchah. 2006. Pengembangan metode isolasi DNA genom pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). GAMMA Jurnal Ilmu Eksakta 2(1) : 20-32
2. Zainudin, A. 2006. Optimasi Proses PCR-RAPD Pada PLB Tanaman Anggrek Oncidium sp. Hasil Perlakuan Penetesan Mutagen Kimia Colchicine. GAMMA Jurnal Ilmu Eksakta 1 (2) : 91-103
3. Maftuchah, A. Zainudin, J.B. Sulistiyanto and A.H. Kaswari. 1999. In Vitro Culture of Artemisia (Artemisia vulgaris L.) Through Callus Induction. Proceedings The International Biotechnology Conference. Jakarta.
4. Maftuchah, A. Winaya, A. Zainudin. 1999. Pengujian Berbagai Komposisi Media Selektif Terhadap Daya Tumbuh Sel Mikroalga Anabaena azollae. Prosiding Seminar Nasional PIT-PERMI, Padang
5. Maftuchah, A. Winaya, A. Zainudin. 1999. Kadar Nitrogen dan Kandungan Protein Mikroalga Anabaena azollae Pada Berbagai Konsentrasi Cobalt dalam Medium Bebas Nitrogen. Prosiding Seminar Nasional PIT-PERMI, Padang.
6. Maftuchah, A. Winaya, A. Zainudin. 1999. Pengaruh Tingkat Kemasaman Media Kultur Terhadap Biomassa dan Kandungan Protein Mikroalga Anabaena azollae. Prosiding Seminar Nasional PIT-PERMI, Padang
7. Zainudin, A. 1996. Pembentukan Semangka Poliploid dengan Perlakuan Mutasi Kimia Menggunakan Senyawa Kolkisin, Tropika II (2): 27-38

Malang, 29 September 2007

Ir. Agus Zainudin, MP.

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 2 Komentar

Pemanfaatan Ekstrak Pigmen Bunga Kana Merah (Canna coccinea Mill.) Sebagai Tablet Effervescent

A. JUDUL PROGRAM :
Pemanfaatan Ekstrak Pigmen Bunga Kana Merah (Canna coccinea Mill.) Sebagai Tablet Effervescent

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Di Indonesia tanaman kana (Canna coccinea Mill.) merupakan salah satu tanaman hias yang potensial. Tanaman ini memiliki warna bunga yang sangat beragam mulai dari merah tua, merah muda kuning, sampai dengan kombinasi dari warna-warna tersebut, karena keindahannya tersebut, maka tanaman kana mulai dipergunakan sebagai ornamen taman kota, dan sebagai tanaman hias dalam pot. Terlebih akhir-akhir ini di beberapa kota termasuk Kota Batu dilakukan penanaman bunga kana (“kananisasi”) di sepanjang jalan raya. Beragamnya warna bunga kana mengindikasikan bahwa bunga tersebut mengandung pigmen alami (antosianin, antosantin) yang dapat digunakan sebagai zat pewarna alami alternatif maupun sebagai antioksidan alami.
Pigmen bunga kana merah memiliki kandungan senyawa Flavonoid, tepatnya antosianin. Antosianin merupakan jenis dari flavonoid yang penting untuk diperhatikan sebab mempunyai beberapa respon positif bagi tubuh. Antosianin dan beberapa flavonoid lainnya banyak dikabarkan akhir-akhir ini bermanfaat didunia kesehatan seperti fungsinya sebagai antikarsinogen, antiinflamasi, antihepatoksik, antibakterial, antiviral, antialergenik, antitrombotik, dan sebagai perlindungan akibat kerusakan yang disebabkan oleh radiasi sinar UV dan sebagai antioksidan (Holton 1995; Macdougall 2002).
Antioksidan merupakan zat yang anti terhadap zat lain yang bekerja sebagai oksidan. Adanya antioksidan alami maupun sintetik dalam makanan dapat menghambat oksidasi lipida, mencegah kerusakan, perubahan dan degradasi komponen organik dalam bahan pangan sehingga dapat memperpanjang waktu simpan. Antioksidan alami dapat diperoleh dari ekstrak bagian tanaman rempah-rempah atau tanaman obat-obatan seperti akar, batang, daun, bunga, dan biji.
Biasanya kebanyakan orang mengenal tanaman ini sebagai tanaman hias belaka. Hanya sedikit orang yang mengetahui khasiat tanaman kana (Canna coccinea Mill.), walaupun demikian cara mereka memafaatkannya masih sangat tradisional dan jauh dari kesan yang praktis. Di zaman modern semacam ini banyak orang yang menuntut semuanya serba praktis dan instan termasuk masalah kesehatan pada diri mereka. Cara yang praktis dan instan tersebut sangat diminati masyarakat karena sebagian besar masyarakat memiliki mobilitas kehidupan yang sangat tinggi. Sehingga di sini peneliti mencoba untuk menginstankan bunga kana (Canna coccinea Mill.) menjadi salah satu produk effervescent agar lebih praktis dan mudah untuk dikonsumsi. Dengan bantuan tekhnologi yang semakin canggih diharapkan program ini dapat terealisasikan, serta dapat diharapkan pula effervescent Bunga kana instan ini lebih memudahkan masyarakat dalam mengkonsumsinya.
Berkembangnya obat-obat fitoterapi dan semakin berkembangnya perusahaan obat tradisional di Indonesia menunjukkan bahwa, penduduk Indonesia makin menyadari pentingnya gerakan back to nature dan mengetahui efek samping dari penggunaan bahan kimia baik dalam makanan maupun obat-obatan. Apalagi mengetahui bahwa kekayaan hayati negeri kita banyak yang memiliki khasiat dan fungsi sebagai sumber pangan dan menunjang vitalitas tubuh, serta dapat mencegah dan mengobati suatu penyakit, diantaranya adalah tanaman Kana Merah. Oleh karena manfaat bunga kana begitu besar bagi kesehatan untuk itulah peneliti membuat tablet Effervescent dari bunga kana merah.

C. PERUMUSAN MASALAH
Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam pembuatan tablet effervescent dari ekstrak pigmen bunga kana adalah sebagai berikut :
1. Jenis pelarut apakah yang efektif digunakan untuk mengekstrak pigmen bunga kana merah ?
2. Bagaimana pengaruh prosentase filler ( bahan pengisi) terhadap kualitas tepung pigmen yang dihasilkan ?
3. Bagaimana pengaruh prosentase penggunaan Na-bikarbonat terhadap kualitas tablet effervescent dari ekstrak bunga kana merah ?

D. TUJUAN PROGRAM
Tujuan Khusus yang ingin dicapai pada penelitian ini, antara lain :
1. Mengetahui cara metode yang tepat dalam melakukan ekstraksi pigmen bunga kana merah, khususnya jenis pelarut yang digunakan..
2. Mengetahui pengaruh prosentase filler (bahan pengisi) terhadap kualitas tepung pigmen bunga kana merah.
3. Mengetahui pengaruh prosentase penggunaan Na-bikarbonat terhadap kualitas tablet effervescent dari ekstrak bunga kana merah.
4. Menghasilkan produk tablet effervescent dari ekstrak pigmen bunga kana merah, agar
meningkat daya gunanya untuk masyarakat.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat diketahui metode ekstraksi yang tepat untuk memperoleh pigmen bunga kana merah secara maksimal, terutama jenis pelarut dan prosentase filler yang digunakan, untuk kemudian dapat dioptimalkan fungsinya sebagai bahan baku tablet efferevescent karena mengandung senyawa bioaktif yang dapat meningkatkan vitalitas atau menyehatkan masyarakat. Hasil penelitian akan dipublikasikan dalam bentuk artikel ilmiah.

F. KEGUNAAN PROGRAM
Adapun kegunaan yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah :
1. Aspek akademik : Menerapkan salah satu mata kuliah dari Jurusan Teknologi Hasil Pertanian bidang studi Analisa Pangan ( Hasil Pertanian) dan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian.
2. Aspek ekonomi : Dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dengan peningkatan budidaya tanaman (khususnya bunga Kana Merah) sebagai sumber bahan baku obat yang alami. Dan dapat menyediakan, menyerap lapangan kerja baru, dengan merintis terbentuknya usaha industrialisasi secara berkala dengan berbasis ekosistem atau kekayaan hayati lokal.
3. Upaya pengembangan tanaman kana (Canna coccinea Mill.) dengan pengolahan yang lebih bermafaat bagi masyarakat.

G. TINJAUAN PUSTAKA
G.1. Bunga Kana dan Potensinya
Tanaman kana (Canna coccinea Mill.) banyak dikenal dengan nama lili kana, kembang tasbih, panah india, ganyong hutan, puspa mjindra, ganyong wono, ganyong alas, dan ganyong leuweung. Organ utama tanaman kana terdiri dari akar (rimpang), batang semu, daun, bunga, buah, dan biji. Perakaran tanaman kana disebut rimpang (geragih), batangnya mengandung air (herbaceous) dan terbentuk dari pelepah-pelepah daun yang saling menutupi satu sama lain sehingga disebut “batang palsu”.
Daun tersusun dalam tangkai pendek dan tumbuh berselang-seling, berbentuk oval dengan ujung runcing. Permukaan daun bagian atas berwarna hijau, tembaga gelap atau keungu-unguan, sedangkan permukaan bagian bawah tertutup lapisan putih seperti bedak. Kuntum bunga berbentuk mirip corong, terdiri dari tiga sampai lima helai mahkota bunga yang berukuran kecil sampai besar tergantung jenisnya. Warna mahkota bervariasi, antara lain kuning cerah, kuning tua, merah muda, merah tua, jingga, kuning berbintik-bintik coklat atau kombinasi dari warna-warna tersebut (Rukmana, 1997).
Umbi bunga tasbih mengandung pati (tepung halus) serta banyak zat lain, yaitu enam substansi phenol, dua terpene, dan empat coumarin. Selain zat-zat tersebut, zat lain yang juga terdapat di dalamnya adalah glukosa, lemak, alkaloid, dan getah (Anonim, 2005).
Tanaman bunga kana, mudah tumbuh di sekitar halaman kita, jadi sebenarnya bisa dimanfaatkan. Terlebih akhir-akhir ini di beberapa kota termasuk Kota Batu dilakukan penanaman bunga kana (“kananisasi”) di sepanjang jalan raya. Padahal mahkota bunga yang beraneka warna berpotensi mengandung pigmen antosianin. Pada tahun 2002 hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak pigmen bunga kana merah tua terbukti mengandung antosianin berjenis pelargonidin glikosida, dengan kadar gula yang lebih banyak daripada bunga pacar air, yaitu sebesar 3,2%. Juga dapat menyumbangkan warna makanan-minuman (sari buah, susu fermentasi, jelly/agar-agar) meskipun hanya ditambahkan sebanyak 1-3%, tanpa menggunakan pewarna sintetis sama sekali. Karena sifatnya yang larut dalam air ini, maka pigmen antosianin dan antosantin relatif mudah dan berpeluang besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alamiah.
Yang lebih menggembirakan lagi adalah setelah diuji daya lindungnya terhadap komponen gizi yang mudah mengalami oksidasi, seperti vitamin C ) pada sari buah) dan lemak (pada susu fermentasi). Kandungan lemak pada susu fermentasi/yoghurt dapat dipertahankan 86,7%nya ( dengan kadar 0,117%, tanpa pigmen 0,087 %) setelah disimpan 6 hari pada suhu dingin maupun suhu kamar. Bahkan pigmen pekat yang telah disimpan selama 60 hari (suhu dingin/ cold storage) terbukti masih bagus menyumbangkan warna merah pada kue tradisional (apem, bolu kukus dan bikang).
Berdasarkan hasil uji organoleptik atau sensorik, penggunaan ekstrak bunga kana merah ini lebih sesuai digunakan untuk bahan pewarna alami produk minuman, misalnya sirup, sari buah dan yoghurt. Disamping rasanya yang sesuai, yaitu menyumbangkan warna dan rasa manis sedikit asam, juga penggunaan asam sitrat pada waktu ekstraksinya membantu menjadi bahan pengawet dan fungsi antioksidannya juga bersifat sinergis dengan pigmen antosianin ( Susanto, 1998; Rahardjo, 2004)
G.2. Pigmen Antosianin
G.2.1 Sifat Fisik Antosianin
Antosianin adalah kelompok pigmen yang berwarna merah sampai biru yang tersebar dalam tanaman. Pada dasarnya, antosianin terdapat dalam sel epidermal dari buah, akar, dan daun pada buah tua dan masak (Eskin, 1979 dalam Abbas 2003). Pada beberapa buah-buahan dan sayuran serta bunga memperlihatkan warna-warna yang menarik yang mereka miliki termasuk komponen warna yang bersifat larut dalam air dan terdapat dalam cairan sel tumbuhan (Fennema, 1976).
Menurut De Man (1997), pigmen antosianin terdapat dalam cairan sel tumbuhan, senyawa ini berbentuk glikosida dan menjadi penyebab warna merah, biru, dan violet yang banyak terdapat pada buah dan sayur. Antosianin berwarna kuat dan namanya diambil dari nama bunga. Sebagian besar, antosianin mengalami perubahan selama penyimpanan dan pengolahan. Beberapa studi mengatakan bahwa warna kuning, orange atau merah yang disebabkan oleh pigmen karotenoid ini terdapat dalam jumlah kecil (0,005-0,008% berat bahan segar) bersama-sama klorofil. Disamping itu, karotenoid terdapat pada jaringan yang tidak hijau sebagai kristal-kristal kecil dalam sitoplasma atau dalam membran yang membatasi kromoplas. Karotenoid yang terdapat pada bagian selain kloroplas dalam hal tertentu dapat terakumulasi sampai kurang lebih 0,1% berat bahan segar (Tranggono, 1990).
Berbeda dengan apa yang dikemukakan Macheix et.al (1990); Geissman (1969) bahwa antosianin ditampakkan oleh panjang gelombang dari absorbansi maksimal spektrum pada 500-550 nm dan pada spektrum ultraviolet 280 nm. Masing-masing jenis antosianin memiliki absorbansi maksimal seperti pada panjang gelombang jenis pelargonidin 520 nm (merah tua atau merah hati), sianidin 535 nm merah tua, dan delphidin 546 nm (biru lembayung muda). Intensitas warna dipengaruhi oleh kedaan pigmen dan yang paling berpengaruh adalah konsentrasi, pH dan suhu, sedangkan lainnya adalah cara penghancuran pigmen. Jenis antosianin ditentukan oleh harga Rf (retrogradation factor) pada fase gerak (mobil) yang nilainya dapat dilihat pada Tabel 1. berikut

Tabel 1. Harga Rf Antosianin dengan Beberapa Fase gerak/mobil
Jenis antosianin Rf (x100) dalam
BAA BuHCl 1% HCl
a. Monoglikosida
– Pelargonidin 3-glukosida
– Sianidin 3-glukosida
– Malvidin 3-glukosida
b. Diglikosida
– Pelargonidin 3,5 diglukosida
– Peonidin 3,5 diglukosida
– Delvidin 3,5 diglukosida
c. Triglikosida
– Sianidin3ramnosildiglukosida
d. Diglukosida terasilasi
– Pelargonidin 3 (p-umarilgluko-sida) 5-glukosida
44
38
38

31
31
15

25

40
38
25
15

14
10
3

8

46
14
7
6

23
8
8

36

61
Sumber : Harborne (1987).

G.2.2 Sifat Kimia Antosianin
Antosianin merupakan jenis dari flavonoid yang penting untuk diperhatikan sebab mempunyai beberapa respon positif bagi tubuh. Antosianin dan beberapa flavonoid lainnya banyak dikabarkan akhir-akhir ini bermanfaat didunia kesehatan seperti fungsinya sebagai antikarsinogen, antiinflamasi, antihepatoksik, antibakterial, antiviral, antialergenik, antitrombotik, dan sebagai perlindungan akibat kerusakan yang disebabkan oleh radiasi sinar UV dan sebagai antioksidan (Holton 1995; Macdougall 2002). Antosianin merupakan glukosida yang sebagian besar penyebab warna pada bunga merah dan biru, sedangkan antosianidin merupakan suatu tipe garam flavilium yang bukan merupakan gula dari glukosida. Warna tertentu yang diberikan oleh suatu antosianin, sebagian bergantung pada pH bunga. Warna biru bunga cornflower (bunga biru yang tumbuh di ladang gandum) dan warna merah bunga mawar disebabkan oleh antosianin yang sama, yakni sianin. Dalam sekuntum mawar merah, sianin berada dalam bentuk fenol. Dalam cornflower biru, sianin berada dalam bentuk anionnya dengan hilangnya sebuah proton dari salah satu gugus fenolnya. Dalam hal ini, sianin serupa dengan indikator asam basa (Fessenden,1982).
Frekuensi antosianin ketika bercampur, dikatakan oleh Fennema (1976), bahwa sebagain komponen campuran akan mengalami penambahan warna, misalnya kandungan anggur biru tidak hanya glikosida dari delfinidin tapi syringidin yang merupakan dimethyl eter dari delphinidin.
Menurut Winarno (2002), antosianin dan antoxantin tergolong pigmen yang tergolong senyawa flavonoid yang pada umumnya larut dalam air. Flavonoid mengandung dua cincin benzena yang dihubungkan oleh tiga atom karbon. Ketiga karbon tersebut dirapatkan oleh sebuah atom oksigen sehingga terbentuk cincin diantara dua cincin benzena. Struktur antosinin secara umum dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Struktur antosianin secara umum (Winarno, 2002)

Seluruh senyawa antosianin merupakan senyawa turunan dari kation flavilum. Banyak senyawa yang ditemukan, akan tetapi hanya enam yang memegang peranan penting dalam bahan pangan yaitu pelargonidin, sianidin, delfidin, pelargonidin, petunidin dan malvidin. Pigmen antosianin terdiri dari glikogen (antosianidin) yang teresterifikasi oleh satu atau lebih gula (Francis, 1985; Markakis, 1982).
Antosianidin pada umumnya ada enam. Antosianidin ini adalah aglikon antosianin yang terbentuk apabila antosianin dihidrolisis dengan asam. Antosianidin yang paling umum pada saat ini adalah sianidin yang berwarna merah lembayung. Warna jingga disebabkan oleh pelargonidin yang gugus hidroksilnya kurang satu dibanding sianidin, sedangkan warna merah senduduk, lembayung dan biru umumnya disebabkan oleh delfidin yang gugus hidroksilnya lebih satu dibandingkan dengan sianidin (Harborne, 1987).
Gross (1987), menyatakan bahwa lima puluh antosianin yang berbeda ditemukan dalam buah-buahan yang umum, aglikonnya diwakili oleh enam antosianidin umum seperti pelargonidin, sianidin, delfinidin, peonidin, pentunidin dan malvidin. Sianidin terdapat sebanyak 55%, peonidin dan delfinidin masing-masing sebanyak 12%, pelargonidin dan malvidin masing masing sebanyak 8% dan petunidin 6%. Strukturnya dapat dilihat pada Gambar 2.
Secara kimia, semua antosianin merupakan turunan suatu aromatik tunggal yaitu sianidin dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil atau dengan metilasi atau glikosilase (Harborne, 1987).

Pelargonidin Sianidin Delfinidin

Peonidin Petunidin Malvidin
Gambar 2. Struktur Kimia Pelargonidin, Sianidin, Depfidin, Peonidin, Petunidin dan Malvidin (Francis, 1985 and Markakis, 1982).
G. 3. Ekstraksi Pigmen
Proses ekstraksi adalah proses pengeluaran sesuatu dari campuran zat, dengan jalan ditambahkan bahan ekstraksi tepat pada waktunya. Hanya zat yang diekstrak yang dapat larut dalam bahan ekstraksi. Dalam proses ekstraksi terjadi peralihan dari fase yang satu ke fase yang lain, yang diperoleh dengan jalan penambahan penambahan bahan pelarut (solvent) (Wanto dan Romli, 1977).
Ekstraksi juga dapat diartikan sebagai proses pemisahan zat dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Berdasarkan bentuk campuran yang diekstrak, ekstraksi dibedakan menjadi dua macam, yaitu ekstraksi padat-cair: campuran yang diekstrak berbentuk padat, dan ekstraksi cair-cair: cairan yang diekstrak berbentuk cair. Ekatraksi berbentuk padat-cair paling sering digunakan untuk mengisolasi zat yang terkandung dalam bahan alami. Sifat-sifat seperti kepolaran, larutan bahan alami yang diisolasi berperan penting terhadap sempurnanya proses ekstraksi. Di samping pemilihan pelarut dan pengaturan suhu (Vogel, 1978).
Antosianin adalah senyawa polar yang lebih mudah diekstrak dalam suasana asam. Hasil penelitian Lestario, dkk (2005), menunjukkan bahwa ekstrak buah duwet dengan pelarut metanol-HCL 1% menghasilkan ekstrak dengan kadar antosianin tertinggi, diikuti oleh pelarut air, aseton-air (7:3), dan aseton.
Ekstraksi pigmen antosianin dari bahan nabati umumnya menggunakan pelarut HCl dalam metanol. Untuk kepentingan penelitian pangan, menurut Francis (1982), HCl dengan konsentarsi 1 % dalam larutan pengekstrak sudah mencukupi jika proses ekstraksi dilakukan selama 24 jam pada suhu 4oC. Penelitian Viguera et al. (1996), dalam mengekstrak bubur buah yang mengandung antosianin menggunakan pelarut metanol : asam asetat : air ( 25 : 1 : 24) selama 20 menit pada temperatur ruang.

G.4. Tablet Effervescent
Dasar formula minuman bubuk dan tablet efferfescent adalah reaksi antara senyawa asam (asidulan) dengan karbonat atau bikarbonat menghasilkan karbondioksida. Bila tablet dimasukkan ke dalam air, maka akan terjadi reaksi kimia secara spontan antara asam dan natrium membentuk garam natrium, CO2, serta air (Pulungan, Suprayogi dan Yudha., 2004)
Formula garam effervescent resmi yang ada unsur pembentuk effervescent terdiri dari 53% sodium bikarbonat, 28% asam tartrat dan 19% asam sitrat. Reaksi antara asam sitrat dengan sodium bikarbonat pada produk effervescent dapat dilihat pada berikut ini:
H3C6H5H2O + 3NaHCO3 Na3C6H5O7 + 4H2O + 3CO2
Asam sitrat Na bikarbonat Na sitrat air karbondioksida
Gambar 1. Reaksi antara asam sitrat dengan sodium bikarbonat (Ansel, 1989)
Tablet effervescent dapat dibuat dengan tanpa melibatkan cairan, dinamakan sebagai precompression atau prapengempaan. Proses ini terdiri dari pengeringan, pencampuran bahan-bahan tambahan, pengempaan serbuk atau granula sampai terbentuk tablet effervescent yang memiliki kemampuan menahan sifat-sifat effervescent. Kemudian segera dikemas dengan alumunium foil (Burlinso, 1968). Tablet effervescent yang ada di pasaran umumnya dikemas dalam kemasan tubedan alumunium foil dengan berat setiap tablet sekitar 5 gram
Keuntungan tablet effervescent adalah kemungkinan penyiapan larutan dalam waktu seketika. Selain itu tablet effervescent mempunyai kemampuan menghasilkan gas karbondioksida yang memberikan rasa seperti pada air soda. Adanya gas tersebut akan dapat menutupi beberapa rasa obat tertentu yang tidak diinginkan serta memperoleh proses pelarutan tanpa melibatkan proses pengadukan secara manual. Sedangkan kerugian tablet effervescent adalah kesukaran untuk menghasilkan produk yang stabil terhadap kelembaban udara. Bahkan selama reaksi berlangsung, air yang dibebaskan dari bikarbonat menyebabkan autokatalis dari reaksi (Lachman et al., 1986). Hal ini terutama dipengaruhi oleh unsur-unsur pembentuk effervescent yang terdiri dari sodium bikarbonat dan asam organik seperti asam sitrat sehinggga menghasilkan garam natrium, karbondioksida serta air (Ansel, 1989).
Tabel 2. Analisa Kimia dari Tablet effervescent Calcium-D-Redoxon (CDR)
Kekerasan Tablet 38 kg/cm2
Kadar Air 0.993 %
Viskositas 9.4
pH 6.8
Kecepatan Larut 0.028
Sumber : Data Hasil Analisa Kimia pada Laboratorium Kimia, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang (2007)

G.5. Pengeringan
Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas. Biasanya kandungan air dari bahan tersebut dikurangai sampai suatu batas tertentu agar mikroba tidak dapat tumbuh lagi didalamnya (Winarno, dkk, 1980).
Pengeringan merupakan salah satu cara pengawetan pangan yang paling tua. Cara ini merupakan suatu proses yang ditiru dari alam. Untuk pengeringan bahan pangan terdapat berbagai tipe pengering yang digunakan. Pada umumnyapemilihan tipe pengering ditentukan oleh jenis komoditi yang akan dikeringkan, bentuk air yang dikehendak, faktor ekonomi dan kondisi operasional.
Bahan pangan dapat dikeringkan didalam udara, dalam uap lewat panas, dalam panas, dalam gas inert, dan aplikasi panas langsung. Paa umumnya udara digunakan sebagai medium pengering, sebab jumlahnya cukup banyak. Mudah digunakan dan pemanasan yang berlebihan terhadap bahan pangan kedalam bahan pangan tidak ada suatu sistem pengambilan air yang diperlukan terhadap udara, seperti yang diperlukan dengan gas-gas lain. Pengeringan dapat dilakukan dengan berangsur-angsur, dan adanya kecenderungan menjadi gosong dan berubah warna selalu terkendali (Desrosier, 1988).
Faktor- faktor utama yang mempengaruhi kecepatan pengeringan dari suatu bahan pangan adalah; sifat fisik dan kimia dari produk (bentuk, ukuran, komposisi, kadar air), pengaturan geometris produk sehubungan dengan permukaan alat atau media perantara pemindahan panas (suhu, kelembaban dan kecepatan udara), karakteristik alat pengering (efensiasi pemindahan panas) (Buckle, et. All., 1987).

G.6. Bahan Penstabil
G.6.1 Sukrosa
Sukrosa mempunyai sifat sedikit higroskopis dan mudah larut dalam air. Semakin tinggi suhu, kelarutannya semakin besar. Menurut Tranggono (1990) satu gram sukrosa dapat larut dalam 0,5 ml air pada suhu kamar atau 0,2 ml dalam air mendidih, dalam 170 ml alkohol atau 100 ml metanol. Kristal sukrosa bersifat stabil diudara terbuka dan dalam keadaan yang langsung berhubungan dengan udara dapat menyerap uap air sebanyak 1% dari total berat dan akan dilepaskan kembali apabila dipanaskan pada suhu 90˚C (Sudarmadji, 1982).
Rumus struktur sukrosa dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 3. Rumus Struktur Sukrosa (Fennema, 1996).
Sukrosa merupakan salah satu jenis bahan penyalut tablet. Bahan ini dapat digunakan untuk melapisi tablet dengan tujuan untuk melindungi terhadap peruraian obat dengan oksigen atmosfer atau kelembaban, untuk membungkus rasa dan bau dari zat obat, atau untuk tujuan estetik (Ansel, 1989).

G.7. Bahan Pengisi
G.7.1 Maltodekstrin
Maltodekstrin (C6H12O5)nH2O memiliki berat molekul rata-rata kurang lebih 1800 untuk DE 10. Berat molekul ini jauh lebih kecil dari pati alami yang memiliki berat molekul sekitar 2 juta (Jacson dan Lee 1991). Menurut Hui (1992), maltodekstrin dapat digunakan pada makanan karena memiliki sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat yang dimiliki maltodekstrin antara lain maltodekstrin mengalami proses dispersi yang cepat, memiliki daya larut yang tinggi, mampu membentuk film, memiliki sifat higroskopis yang rendah, mampu membentuk body, sifat browning rendah, mampu menghambat kristalisasi dan memiliki daya ikat yang kuat.

G.8. Bahan Tambahan
G. 8. 1. Asam Sitrat
Asam sitrat adalah asidulan yang sering digunakan untuk makanan dan minuman karena dapat memberikan kombinasi sifat yang diinginkan selain karena tersedia dalam jumlah yang besar dengan harga yang murah. Asidulan dapat berfungsi sebagai pemberi rasa asam, penegas rasa dan mengontrol PH (Hui, 1992). Asidulan yang dapat berfungsi sebagai pemberi rasa asam, penegas rasa dan warna, pengawet serta dapat digunakan untuk menyelubungi after taste yang tidak disukai (Winarno, 2004).
Rumus struktur asam sitrat dapat dilihat pada gambar berikut:

COOH

CH2

HO C COOH

CH2

COOH
Gambar 4 . Struktur Bangun Asam Sitrat (Tjokroadikoesoemo, 1986).

Menurut Marthawindholz (1983), kristal monohidrat akan kehilangan air kristalnya dalam udara kering atau dipanaskan pada suhu 40 – 50˚C. Menurut Maga and Tu (1995) asam sitrat digunakan sebagai asidulan utama dalam minuman berkarbonasi juga minuman bubuk yang memberikan rasa jeruk yang tajam. Menurut Reynold (1989) asam sitrat yang digunakan dalam effervescent umumnya yang dalam bentuk monohidrat. Morhle (1989) menambahkan bahwa asam sitrat sering dipergunakan sebagai memberi asam dalam pembuatan serbuk atau tablet effervescent karena memiliki kelarutan yang tinggi dalam air dingin, mudah didapatkan dalam bentuk granula atau serbuk. Kelemahan asam sitrat adalah sifatnya yang sangat higroskopis sehingga memerlukan perhatian yang cukup dalam penyimpanannya.

G. 8. 2. Sodium Bikarbonat
Sodium bikarbonat (NaHCO3) merupakan serbuk kristal berwarna putih yang memiliki warna asin dan mampu menghasilkan karbondioksida. Sodium bikarbonat memiliki berat molekul 84,01g (tiap gramnya mengandung 11,9 mmol sodium), sodium bikarbonat anhidrat terkonvensi pada suhu 250˚C – 300˚C. Pada RH diatas 85% akan cepat menyerap air dari lingkungannya dan menyebabkan dekomposisi dengan hilangnya karbondioksida (Reynolds, 1989). Menurut Hui (1991), bahwa sodium bikarbonat juga dapat mengalami dekomposisi karena adanya panas yaitu pada suhu lebih tinggi dari 120˚C.
Berdasarkan Morhle (1989), senyawa karbonat yang banyak digunakan dalam formulasi effervescent adalah garam karbonat kering karena kemampuannya menghasilkan karbondioksida. Garam karbonat tersebut antara lain Na-bikarbonat (NaHCO3) dipilih sebagai senyawa penghasil karbondioksida dalam sistem effervescent karena harganya murah dan bersifat larut sempurna dalam air. Ansel (1989) menambahkan bahwa natrium bikarbonat bersifat non-higroskopis dan tersedia secara komersial mulai dari bentuk bubuk sampai bentuk granular dan mampu menghasilkan 52% karbondioksida.
Sodium bikarbonat sering juga disebut sebagai soda kue. Ada dua macam soda kue yaitu soda kue dengan aktifitas cepat (aktifitas tinggi) dan soda kue dengan aktifitas lambat (aktifitas ganda). Perbedaan keduanya adalah pada mudah tidaknya komponen asam atau pembentuk asam, larut pada air dingin (Winarno, 2004).

H. METODE PENELITIAN
H.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Agustus s/d Desember 2008, di Laboratorium Analisa Pangan dan Laboratorium Rekayasa Pangan Tekhnologi Hasil Pertanian jurusan Tekhnologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.

H.2. Alat dan Bahan Penelitian
H.2.1 Alat
Peralatan yang diperlukan dalam pembuatan tablet effervescent adalah kain saring, gelas ukur, sarung tangan karet, timbangan, blender kering, loyang, pengering vakum, ayakan 60 mesh, cetakan tablet (terdiri : landasan dari baja berlapis chrom stainless steel (ukuran panjang = 9 cm, lebar = 7 cm), cincin/ring dari logam stainless steel (ukuran diameter dalam = 2,7 cm, tingggi =2 cm), dan as penumpuk dari baja berlapis chrom stainless steel dengan (ukuran panjang = 10 cm, diameter luar = 2,6 cm) Sedangkan peralatan untuk analisa adalah gelas kimia, gelas ukur, erlenmeyer, beaker glass, pipet gongok, pH meter (pH315i/SET merek: wtw), color reader (CR-10 Konika Minolta) hardness tester (Kiya Seisakusho,Ltd Tokyo).

H.2.2 Bahan
Bahan utama yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah Bunga kana merah diperoleh dari petani bunga yang berada di Batu . Bahan-bahan tambahan lain yaitu Aguades, Isopropanol, Etanol, asam sitrat, sodium bikarbonat, sukrosa, dektrosa monohidrat. dan maltodekstrin.
H.3. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua tepung pigmen dan tablet effervescent yang dihasilkan dari kombinasi perlakuan yang dicobakan. Sampel dalam penelitian ini adalah tablet effervescent dan minuman yang dihasilkan.
H.4. Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahapan. Tahap penelitian awal meliputi tahapan ekstraksi dengan beragam jenis pelarut, guna mengetahui metode ekstraksi yang menghasilkan pigmen yang berkualitas. Kemudian penelitian berikutnya adalah memproses ekstrak pigmen terbaik menjadi tepung pigmen dan selanjutnya dibentuk menjadi tablet effervescent.
Pelaksanaan penelitian tahap pertama dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) sederhana, yaitu menggunakan faktor perlakuan adalah jenis pelarut.
Faktor I : jenis pelarut yang digunakan ekstraksi pigmen bunga kana merah
P 1 : Aquades dan asam sitrat ( 9 : 1)
P 2 : Isopropanol : aquades : asam sitrat ( 4 : 5 : 1)
P 3 : Etanol : aquades : asam sitrat ( 4 : 5 : 1)
Sehingga terdapat tiga (3) perlakuan yang akan diulang sebanyak tiga (3) kali
Pengamatan dilakukan terhadap kualitas pigmen yang dihasilkan meliputi, jenis pigmen, nilai pH, absorbansi pigmen ( filtrat, konsentrat) (Spektrofotometer UV) (Jenie, dkk, 1997), intensitas warna ( Lab)( Colour reader) (Fabre, et al, 1993), kadar dan rendemen pigmen. Kemudian setelah diketahui kualitas pigmen yang terbaik ( menggunakan analisis statistik), maka akan dilanjutkan pada tajhap penelitian kedua.
Penelitian tahap kedua disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok secara faktorial, dengan faktor yang masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali.

Perlakuan :
Faktor I. Prosentase filler yang digunakan pada saat penepungan pigmen
F1 = 20 %
F2 = 30 % (dekstrin)
Faktor II. Prosentase Na-bikarbonat yang digunakan pada pembentukan tablet effervescent.
N1 = 20 %
N2 = 25 %
N3 = 30 %
Sehingga diperoleh 6 kombinasi perlakuan, dan akan diulang sebanyak 3 kali.
Pengamatan terhadap kualitas tepung, meliputi pengukuran rendemen, nilai pH, nilai Lab ( intensitas warna) ( Colour reader) (Fabre, et al, 1993). Kemudian setelah menjadi tablet effervescent, dilakukan pengamatan terhadap nilai pH, tingkat kekerasan, kadar air, viskositas dan kecepatan larut ( setelah dimasukkan kedalam air) serta organolpetik ( tingkat kesukaan konsumen) terhadap kenampakan, aroma dan rasa .

H.5. Pengumpulan Data
Teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut :
a. Pengamatan data dilakukan terhadap kualitas pigmen bunga kana merah yang dihasilkan, meliputi nilai pH, absorbansi pigmen, intensitas warna (Lab), kadar, rendemen pigmen.
b. Pengamatan data dilakukan terhadap tepung pigmen, meliputi : nilai pH,
absorbansi pigmen, nilai Lab (intensitas warna)
c. Pengamatan terhadap tablet effervescent meliputi tingkat kekerasan . tekstur, daya larut, pH, intensitas warna (Lab), viskositas, organoleptik (tingkat kesukaan konsumen terhadap kenampakan, aroma dan rasa )

H.6. PENGUKURAN PENGAMATAN
H.6. 1. Penemuan Intensitas Warna (Fabre et al., 1993)
Warna sampel hasil ekstraksi ditentukan dengan alat ACS Datacolor Chroma Sensor 3, yang mngukur spectrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat warna seperti L, a dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan system tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-); axis b menunjukkan intensitas warna
kuning (+) atau biru (-).

H.6.2. Penentuan kadar air
Cara Pemanasan
a) Menimbang contoh sebanyak 2 g dalam botol timbang yang telah diketahui beratnya.
b) Kemudian mengeringkan dalam oven pada suhu 1000 C selama 5 jam. Kemudian mendinginkan dalam eksikator dan menimbang. Memanaskan lagi dalam oven selama 30 menit, mendinginkan dalam eksikator dan menimbang; mengulang perlakuan ini sampai tercapai berat konstan (selisih penimbangan berturut-turut kurang dari 0,2 mg).
c) Pengurangan berat merupakan banyaknya air dalam bahan (Sudarmadji, dkk, 1997).
Kadar Air = x 100%
H.6.3. Penentuan pH
Menentukan pH dilakukan dengan pH meter yang dilakukan dengan cara
a) Menghidupkan pH meter. Mengkalibrasi elektroda dengan larutan buffer pH 4 dan membersihkan dengan aquades. Kemudian mengkalibrasi lagi elektroda pada larutan buffer pH 7 dan bilas dengan aquades.
b) Siapkan larutan sampel yang akan diuji pada wadah. Mencelupkan alat pendeteksi (elektroda) kedalam larutan yang akan diuji kemudian membaca hasilnya (Apriyanto dkk, 1998).

H.6.4. Penentuan Absorbansi Pigmen
Menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang tertentu (400-600 nm). Cara kerjanya : siapkan larutan sampel dan larutan blangko dalam kuvet/tabung, kemudian kuvet-kuvet tersebut dimasukkan secara bersama supaya alat tera. Dengan menggunakan panjang gelombang tertentu akan diperoleh nilai absorbansi larutan sampel yang maksimal. Jika larutan standar juga disediakan, maka dengan membandingkan nilai absorbansinya dengan larutan sampel, maka akan dapat diketahui juga kadar antosianinnya dalam larutan sampel.

H.6.5. Penentuan Rendemen (Hanum, 2000)
Perhitungan rendemen berdasarkan berat/volume input dan output yang dihasilkan proses ekstraksi (ekstrak atau konsentrat), dengan rumusan :
Rendemen (%) = konsentrasi antosianin x fp x volume ekstrak x 100 %
Berat bunga pacar air
Dimana : fp = faktor pengenceran (Hanum, 2000)

H.6.6. Pembuatan Tablet Effervescent Ekstrak Pigmen Bunga K ana Merah
Ekstrak kering pigmen bunga kana yang telah diperoleh kemudian dibuat menjadi tablet effervescent dengan cara sebagai berikut:
1. Dicampurkan ekstrak kering bunga kana dengan asam sitrat. Dihomogenisasi dan penggerusan dengan mortal.
2. Dikeringkan pada suhu 60oC selama 1 jam
3. Dicampurkan sodium bikarbonat dan sukrosa dengan cara digerus menggunakan mortal sampai bahan tercampur merata. .
4. Dilakukan penggranulasian kering dengan cara campuran diatas dicetak sebesar tiga kali lipat dari tablet kemudian didiamkan selama 30 menit dan selanjutnya dihancurkan menjadi bentuk granula diatas ayakan 40 mesh dengan alu sehingga didapatkan granula inti 40 mesh
5. Pengepresan menjadi bentuk tablet dengan tebal ±0,5 cm, diameter ±2,5cm, dan bobot ±5 gram.
6. Dikemas tablet effervescent mangkudu dengan aluminium foil.
7. Dianalisa sifat fisik, kimia, dan organoleptik.
Diagram alir proses pembuatan ekstrak kering mengkudu serta proses pembuatan tablet effervescent dapat dilihat pada Gambar. 5 dan 6.

H.6.7. Analisa
Analisa yang dilakukan baik untuk tablet effervescent bunga kana merah (Canna coccinea Mill.) meliputi analisa fisik, kimia, dan organoleptik. Analisa fisik antara lain viskositas, kekerasan tablet, kecepatan larut, dan warna. Sedangkan analisa kimia yang dilakukan adalah kadar air, dan pH. Analisa organoleptik meliputi analisa kesukaan terhadap: kesukaan bentuk tablet, kenampakan minuman, aroma minuman, dan rasa minuman.
1) Analisa Fisik
Analisa fisik yang dilakukan pada tablet effervescent meliputi, warna, kecepatan larut, viskositas minuman dan kekerasan tablet.

a. Warna (Yuwono dan Susanto, 1998)
Warna tablet diukur dengan dengan alat ACS Datacolor Chroma Sensor 3 yang mengukur spektrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat seperti L, a, dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan sistem tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-), axis b menunjukkan intensitas warna kuning (+) atau biru (-). Peneraan warna dilakukan menggunakan kuvet yang pada masing-masing sisinya dirtutup dengan warna putih.

b. Kecepatan Larut (Yuwono dan Susanto, 1998)
Kecepatan larut tablet effervescent dilakuan dengan cara melarutkan tablet dalam 200 ml air. Waktu yang diperlukan tablet untuk larut sampai habis dicatat, kemudian kecepatan larut tablet dihitung dengan rumus berikut:

Kecepatan larut = berat tablet (g)
Waktu larut (detik)

c. Viskositas Metode Pipet Volum (Yuwono dan Susanto, 1998)
Viskositas minuman effervescent diukur menggunakan metode pipet volum, karena viskositas minuman effervescent sangat rendah. Caranya adalah dengan memasukkan larutan tablet ke dalam pipet gondok 25 ml, kemudian bagian atas pipet ditutup dengan jari. Larutan kemudian dialirkan dengan cara membuka penutup, kemudian waktu yang digunakan sampai larutan keluar dari pipet dicatat. Waktu ini kemudian digunakan untuk mengukur viskositas larutan dengan ketetapan:
Viskositas (cps) = 0,8901 x 10223,3 x (waktu larut (dt)/997,1)
4,37
d Kekerasan Tablet Effervescent Bunga Kana (Canna coccinea Mill.) (Yuwono dan Susanto, 1998)
a). Pengukuran kekerasan bahan dilakukan dengan Hardness Tester berdasarkan gaya per satuan luas (kg/cm2) yang dibutuhkan untuk memecahkan tablet. Semakin keras maka semakin besar gaya yang dibutuhkan.
b). Meletakkan sampel pada penumpu Hardness Tester, kemudian memutar perlahan untuk menaikkan landasan sampai menyentuh landasan bagian atas, tapi jarum tetap menunjuk di angka nol.
c). Memutar pegangan perlahan-lahan sampai sampel patah, bersamaan itu jarum penunjuk gaya kembali ke nol.
d). Angka terakhir jarum penunjuk adalah gaya yang dibutuhkan untuk mematahkan sampel.

2) Analisa kimia
Analisa Kimia pada tablet effervescent meliputi:
a. Penentuan pH Tablet dan larutan (Sudarmadji, 1982)
Mula-mula dilakukan standarisasi pH meter, yaitu dengan menyalakan dan membiarkan pH meter beberapa saat agar stabil. Elektroda dibersihkan dengan tissue kemudian dimasukkan dalam larutan buffer dan pengukuran pH dilakukan. Pengaturan standarisasi pH meter disesuaikan dengan pH larutan buffer.
Sampel dimasukkan dalam beaker glass. Elektroda dibilas dengan aquades dan dikeringkan dengan kertas tissue. Elektroda dicelupkan kedalam larutan sampel dan pengukuran pH dilakukan. Elektroda dibiarkan tercelup beberapa saat sampai diperoleh pembacaan angka yang stabil dan pencatatan pH sampel.

b. Penentuan Intensitas Warna Minuman (Yuwono dan Susanto, 1998)
Warna sampel hasil ekstraksi ditentukan dengan alat ACS Data Color Chroma Sensor 3 yang mengukur spektrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat seperti L, a, dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan sistem tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-), axis b menunjukkan intensitas warna kuning (+) atau biru (-). Peneraan warna dilakukan menggunakan kuvet yang pada masing-masing sisinya dirtutup dengan warna putih.

3) Kadar Air
Kadar air tablet diukur menggunakan metode oven kering. Caranya adalah sebagai berikut:
a. Menimbang 2 gram sampel dan dimasukkan ke dalam cawan, dan dinyatakan sebagai berat awal.
b. Mengoven sampel pada suhu 100 – 110ºC selama ± 5 jam.
c. Menimbang sampel yang sudah kering dan dinyatakan sebagai berat akhir.
d. Menghitung kadar air pada tablet dengan rumus sebagai berikut:
% kadar air = berat awal-berat akhir x 100%
Berat sampel

c. Uji Organoleptik (Soekarto, 1985)
Uji yang dilakukan terhadap tablet dan larutan tablet minuman effervescent bunga kana (Canna coccinea Mill.) dilakukan secara panel test menggunakan uji sensoris kerelaan. Daftar pertanyaan diajukan menurut cara Hedonic Scale Scoring. Hasilnya dinyatakan dalam angka, yaitu 7 (sangat menyukai), 6 (menyukai), 5 (agak menyukai), 3 (agak tidak menyukai), 2 (tidak menyukai), 1 (sangat tidak menyukai).

H.6.8. Penentuan Perlakuan Terbaik (De Garmo, Sullivan dan Canada, 1984)
Pemilihan perlakuan terbaik ditentukan dengan menggunakan metode indeks efektivitas dan perlakuan dengan perhitungan sebagai berikut:
1. Memberikan bobot nilai pada masing-masing parameter mutu dengan nilai relative dari 0 hingga 1. Bobot nilai yang diberikan tergantung dari kepentingan masing-masing parameter yang hasilnya diperoleh sebagai akibat perlakuan.
2. Menentukan bobot normal variable. Yaitu bobot variable dibagi bobot total.
3. Menghitung Nilai Efektifitas (NE) dengan rumus:
Nilai Efektifitas = Nilai perlakuan – nilai terjelek
Nilai terbaik – nilai terjelek
4. Menjumlahkan nilai hasil (NH) dari semua variable perlakuan terbaik dipilih dari perlakuan dengan nilai tertinggi.

Pencucian

Penghancuran

Air Penyaringan Ampas

Filtrat

Dekstrin : 20 %, 30 %

Pencampuran

Pengeringan
(60o selama 6-8 jam)

Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Gambar 5. Diagram Alir Pembuatan Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Homogenisasi

Pengeringan (60oC, ± selama 1-2 jam)

– Sodium bikarbonat
20 %, 25%, 30%
– Sukrosa

Penggranulasian Kering

Granula Inti 40 mesh

Pencetakan Tablet

Tablet effervescent Bunga Kana Merah

Gambar 6. Diagram Alir Pembuatan Tablet Effervescent Bunga Kana Merah

I. JADWAL KEGIATAN
I.1. Rencana Kegiatan
Rencana kegiatan keseluruhan memerlukan waktu kurang lebih 5 bulan. Dilaksanakan di Laboratorium Analisa Pangan dan Rekayasa Pangan Tekhnologi Hasil Pertanian Jurusan Tekhnologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, bersama anggota dan dosen pembimbing.

I.2. Jadwal Pelaksanaan

No Kegiatan Bulan Ke-1 Bulan Ke-2 Bulan Ke-3 Bulan Ke-4 Bulan Ke-5
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan √
2. Perizinan √
3. Survey lokasi √ √
4 Penyusunan proposal √ √
5. Penelitian pendahuluan √ √
6. Persiapan alat √ √
7. Pembelian bahan baku √ √
8. Proses pembuatan produk √ √ √ √ √
9. Analisa kimia dan fisik √ √ √ √ √ √
10. Pengolahan data √ √
11. Penyusunan laporan akhir √ √
12. Seminar √ √
13. Penggandaan proposal √ √

J. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK
1. Ketua pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Husni Thamrin
b. NIM : 05730010
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• TK Nurul Iman Bekasi lulus tahun 1991
• SD Negeri Narogong Indah Bekasi lulus tahun 1997.
• SMP Negeri 16 Bekasi lulus tahun 2000
• SMU Pangeran Jayakarta lulus tahun 2003
Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

2. Anggota
a. Nama Lengkap : Ika Ratna Austin
b. NIM : 05730001
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 10 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• TK Dharma Wanita lulus tahun 1992
• SD Negeri Pagerngumbuk 1 Wonoayu lulus tahun 1999.
• SMP Negeri 1 Krian lulus tahun 2002.
• SMU Negeri 3 Sidoarjo lulus tahun 2005.
• Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

3. Anggota
a. Nama Lengkap : Eka Rini Wibisono
b. NIM : 06730019
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 10 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• SD Muhammadiyah 08 Dau Malang lulus tahun 2000
• SLTP Negeri 8 Malang lulus tahun 2003
• SMA Negeri 3 Malang lulus tahun 2006
• Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

K. Biodata Dosen Pendamping
1. Nama : Ir. Elfi Anis Saati,MP
2. NIP-UMM : 131944789
3. Tempat/tanggal lahir : Pasuruan, Jawa Timur, 21 Juni 1966
4. Jenis kelamin : Perempuan
5. Pangkat/Golongan : Pembina / IV-a
6. Jurusan/Fakultas : Teknologi Hasil Pertanian
7. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
8. Alamat rumah : Perum.Muara Sarana Indah F 11, Jetis,Desa
Mulyoagung, Kec. Dau- Malang, Telp. (0341)
461472
9. Waktu Kegiatan PKM : 6 jam/minggu
10. Riwayat Pendidikan : 1. Strata 1 Jurusan Gizi Masyarakat
&Sumberdaya Keluarga (GMSK) IPB,
Bogor, lulus tahun 1989.
2. Strata 2 Program Studi THP Pasca Sarjana
Universitas Brawijaya, Malang,lulus tahun 2002.
11. Pengalaman Pekerjaan : – Dosen Jurusan THP Faperta UMM, tahun 1991
hingga sekarang.
– Sekretaris Jurusan THP Faperta UMM, tahun
2001 – 2002
– Ketua Jurusan THP Faperta UMM, tahun 2002
hingga sekarang (2007)
12. Pengalaman Penelitian dan Publikasi :

Publikasi :
1.Ekstraksi dan Identifikasi Pigmen Antosianin Bunga Pacar Air (Proseding).
Disampaikan pada Seminar Nasional PATPI. 30-31 Juli 2002.
2.Potensi Bunga Pacar air Sebagai Pawarna Alami pada Produk Minuman.
TROPIKA Vol. 10, No.2, Majalah Ilmiah Terakrediatsi Fakultas Pertanian,
Universitas Muhammadiyah Malang ( Juli 2002).
3. Karakterisasi Pigmen Antosianin dari Bunga Pacar Air (Impatien balsamina
Linn).TROPIKA. Vol. 12, No.1, Majalah Ilmiah Terakreditasi Fakultas
Pertanian,Universitas Muhammadiyah Malang ( Januari 2004).
4. Bunga Mawar sebagai Pewarna Alami. Surya dan Kompas, 13 Oktober 2004.
5. Penggalian Potensi Bunga Kana sebagai pewarna Alami alternatif (Kajian
Stabilitas dan Efektivitas Bentuk Pigmen serta Aplikasinya pada Produk
Pangan). Proseding.Disampaikan pada Seminar Nasional dan Konggres PATPI
17-18 Desember 2004 di Jakarta.
6. Pengaruh Tingkat Kesegaran Bunga Mawar Merah (Rosa damascena Mill)
terhadap Kualitas Zat Warna dan Daya Antioksidasinya pada Minuman.
Proseding. Disampaikan pada Seminar Nasional dan Konggres PATPI 17-18
Desember 2004 ( sebagai makalah POSTER) di Jakarta.
7. Pemanfaatan Kekayaan Hayati/Bunga lokal (mawar, kana dan pacar air)
sebagai Zat pewarna dan Antioksidan alami pada Makanan. Proseding.
Disampaikan pada Seminar Kimia Nasional 3 Pebruari 2005 di Universitas
Surabaya (Unesa).

Penelitian :
1. Pengaruh Pupuk Organik terhadap Kualitas Semangka dan Selera Konsumen (1998 )
2. Pengaruh Konsentrasi Garam dan Medianya terhadap Kualitas Telur Asin ( 1999 )
3. Pengaruh Beberapa Penelitian Pendahuluan terhadap Kualitas Susu
Kedelai (2000)
4. Pemanfaatan Lidah Buaya Sebagai Minuman : Kajian Pengaruh Suhu
dan Essence Jeruk terhadap Kualitas Sari Lidah Buaya (Aloe vera)
(2002)
5. Studi Pengetahuan dan Perilaku Keamanan Pangan Jajanan Murid
Sekolah di SD Muhammadiyah 08 Malang (2001)
6. Pemanfaatan Bunga Mawar (Rosa sp.) Sortiran Sebagai Pewarna Alami (2002)
7. Pemanfaatan Bunga Kana sebagai Zat Pewarna Alami Alternatif ( 2003)
8. Pemanfaatan Pigmen Bunga Mawar Rontok sebagai Pewarna Alami pada Makanan Jajanan (2004).
9. Uji Efektivitas Ekstrak Pigmen Bunga Mawar Sortiran sebagai Zat Pewarna Alami Alternatif pada Produk Minuman (2005). Dosen Muda-DIKTI.

13. Pengalaman Pengabdian :

1. Pelatihan Pembuatan Susu Kedelai di Desa Tumpak Rejo kecamatan Kalipare Kabupaten Malang (2001)
2. Pelatihan Pembuatan Keripik Talas dengan Aneka Rasa di Desa Kalipare Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang (2001)
3. Pelatihan Pembuatan Kecap Air Kelapa di Dusun Kedungmonggo Desa KarangPandan Kecamatan Pakisaji kabupaten Malang (2002).
4. Pelatihan Penanganan Pasca Panen Tanaman Obat dengan Topik Metode Pengawetan, pengeringan dan pengemasan, di Pondok Pesantren annuqayah (KSM/Kelompok Swadaya Masyarakat lengkong) Guluk-guluk Sumenep Madura (2002).
5. Pelatihan Pembuatan Lidah buaya intans dan STMJ pada mahasiswa peserta KKN Universitas Muhammadiyah Malang (2003).
6. Sosialisasi Pemanfaatan Kekayaan Hayati/Bunga lokal (mawar, kana dan
pacar air) sebagai Zat pewarna dan Antioksidan alami pada Makanan,
Kosmetik dan Kerajinan Lain, di SMA Negeri 3 Lumajang dan di SMA
Negeri Bangil Pasuruan, tahun 2005

L. RENCANA ANGGARAN BIAYA
Alokasi Jumlah Harga Jumlah
1. Honor Dosen Pendamping
2. Bahan dan alat habis pakai
* Bunga Kana Merah
* Aquades
*Asam Sitrat
* Sodium bikarbonat 20%, 25 %, 30%
* Maltodekstrin
* Sukrosa
* Kertas whatnan no 41/42
* Petroleum eter
* Isopropanol
* Etanol
Sub total
3. Alat habis pakai
* Timbangan Analitik
* Penyaring Vakum tipe VWR Scientific
Scientific
* Blender
* Rotary evaporator Vacum
* Spektrofotometer UV-vis merk shimadju
* Cetakan Tablet
* pH meter/CG 832 School Gerale
* trimulus Colorimeter/color Reade CR-10
* Oven
Sub total
4. Perjalanan dan konsumsi :
Pelaksana (3) orang
Pendamping (1 orang)
Sub total
5. Analisa Kimia
* Kadar air
* Kadar gula
Sub total
6. Lain-lain
Publikasi hasil penelitian
Dokumentasi
Laporan, fotocopy, penjilidan, pengiriman
Sewa lab dan pemeliharaan alat pemakaian
Pemakaian telpon, fax, internet
Tinta printer, kertas
Sub total

60 tangkai
20 lt
200 g
1 Kg
1 Kg
1 Kg
20 lbr
250 ml
500 ml
500 ml

1 buah
36 Jam @ 5.000

10 hari @ 10.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000

3 orang @50.000x 5 bln
5 bln @ 50.000

2 roll film + cuci cetak
10 expl
5 bln @ 40.000

B/W, warna 3 rim Rp. 1.000.000,-

Rp. 120.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 200.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,- +
Rp. 1.020.000,-

Rp. 70.000,-
Rp. 180.000,-

Rp. 100.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,- +
Rp. 1.430.000,-

Rp. 750.000,-
Rp. 250.000,- +
Rp. 1.000.000,-

Rp. 200.000,-
Rp. 300.000,- +
Rp. 500.000,-

Rp. 200.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 200.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 200.000,- +
Rp. 1.050.000,-
Total Rp. 6.000.000,-
Total Dana Yang diperlukan Untuk Penelitian ini sebesar Rp. 6.000.000,-

M. Daftar Pustaka

Anonim. 2005. Bunga Tasbih. http//ipteknet.com
Anonim, 2006. Gelembung Gas Effervescent. Kompas. 7 September 2006.

Ansel, H.1989. Pangantar Bentuk-Bentuk Sediaan Farmasi Edisi ke-4. UI
press. Jakarta.

Buckle, K. A. Edwards, G. H Fleet and M. Wotton. 1987. Ilmu Pangan.
Diterjemahkan oleh Purnomo, A. Adiono. UI-Press. Jakarta.

De Man, J. M. 1989. Principle of Food Chemistry (terjemahan Kosasih).
Van Norstand Reinhold. A Division of Wadswort., Inc., New York.

Eskin, N. A. M., 1979. Plant Pigments, Flavors and Tekstures. The
Chemistry and Biochemistry of Selected Compounds. Academic
Press. London.

Fennema, O. R. 1996. Food Chemistry. Marcel Dekker, inc. New York.

Fessenden and Fessenden. 1982. Kimia Organik edisi ketiga. Erlangga.Jakarta
Francis, F. J. 1982. Analysis of Anthosianin. Di dalam Markakis, P., (ed). Anthocyanin as Food Colour. Academic Press. New York.
___________. 1985. Analysis of Anthosianin. Di dalam Fennema, O.R. Principle of Food Science. Marcell Dekker Inc., New York.

Giese, J. 1996. Antioxidants: Tool Food Preventing Lipid Oxidation. Antioxidants are Critical in Preserving Lipid-Containing Food from Rancidity ang Extending Shelf life. J. Food Tech. 50 (11): 73-810.

Gross, J. 1987. Pigment in Fruits. Academic Press. London.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fetokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Penerbit Institut Teknologi Bandung. Bandung.
Hidayat, Nur; dan Dania, W.A.P., 2005. Minuman Berkarbonasi dari Buah Segar. Trubus Agrisarana, Surabaya.

Hui, Y. H. 1992. Encyclopedia of Food Scince and Technology Vol. I. Jhon Wiley and Sons, Inc. New York.

Jacson, L., and K. Lee. 1991. Microeacapsulation and Food Industry. Lebenson-Wiss-U-Technol. 24:289-297.

Marthawindholz, E. 1983. An Encyclopedia of Chemical, Drugs, and Biologicals The Merck Indeks. 10 th Ed. Merck and Co, Inc. New York

Markakis, P., 1982. Anthocyanins as Food Additive. Di dalam Markakis,P. (ed). Anthocyanins as Food Colors. Academic Press, New York.

Morhle, R. 1989. Effervescent Tablets. Dalam Nugroho, S. 1999. Penambaan Komponen Berprotein Pada Minuman Serbuk Effervescent. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.

Pohan, H.G dan Antara, N.T., 2001. Pengaruh Penambahan Madu dan Asam Sitrat Terhadap Karakteristik Minuman Fungsional Dari Sari Buah Mengkudu. Forum Komunikasi Industri Hasil Pengolahan (no 4):11-20.

Pulungan, M.Hindun., Suprayogi danBeni Yudha. 2004. Membuat Effervescent Tanaman Obat. Trubus Agrisarana. Surabaya.

Rukmana, R.H. 1997. Bunga Kana. Kanisius. Yogyakarta.
Sa’ati E.A. 2005. Optimalisasi Fungsi Ekstraksi Bunga Kana (Canna coccinea Mill) Sebagai Zat Pewarna Dan Antioksidan Alami Melalui Metode Isolasi Dan Karakteristik Pigmen. Program Penelitian Fundamental Lemlit UMM. Malang.

Tjokroadikoesoemo, P.S.,1986. HFS dan Industri Ubi Kayu Lainnya. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Tranggono. 1990. Kimia, Nutrisi dan Makanan. PAU Pangan dan Gizi. UGM-Press. Yogyakarta.

Vogel, A.I. 1978. Texbook of Practical Organic Chemistry. Revised by Furnies, B.S. fourth Edition. New York.

Wanto dan M. Romli. 1977. Alat-alat Industri Kimia I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Winarno, F.G. dan Fardiaz, S., 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Pt. Gramedia, Jakarta.
Winarno, F.G., 1993. Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
—————-., 2002. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Winarno, F. G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 6 Komentar

Pengaruh penggunaan tapiokal aloevera

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan (kerusakan Lesi kulit permukaan tubuh). Jenis lesi (luka) : klasifikasi (pembagian) lesi berdasarkan kedalaman dan etiologinya, yaitu :
1. Luka lecet : luka yang yang disebabkan karena adanya eksvoliatif jaringan superfisial kulit.
2. Luka bakar : luka bakar grade II A yaitu luka yang mengenai epidermis dan lapisan atas dari corium. Elemen-elemen epithelial yaitu dinding dari kelenjar keringat, lemak, folikel rambut masih banyak. Karenanya penyembuhan (epitelialisasi) akan mudah dalam 1 – 2 minggu, tanpa terbentuk sikatriks.
Di lihat dari kedalaman lukanya, kedua jenis luka di atas merupakan jenis luka superfisial yang bisa di terapi secara topikal.
Penggunaan topikal Aloe vera membantu kecepatan penyembuhan luka bakar derajat II A dan luka lecet, juga mengobati luka pada kulit, beberapa jenis dermatitits, psoriasis, alergi tumbuhan, bisul dan masalah dermatologis lainnya. Penyembuhan dimungkinkan karena Aloe vera mengandung senyawa antiinflamasi, termasuk glikoprotein, salisilat, dan senyawa lain yang merangsang pertumbuhan kulit dan jaringan konektif. (Hafiz, 2003)
Aloe vera merupakan jenis tumbuhan yang mempunyai penyebaran geografis luas. Hampir 350 persen dari jenis Aloe vera tersebar di seluruh penjuru dunia. Aloe vera banyak tumbuh di tempat yang beriklim panas seperti Indonesia. Cara menanamnya juga tidak terlalu sulit, dan untuk merawatnya juga tidak terlalu banyak syarat. Dalam perkembangannya, Aloe vera banyak dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, kosmetik, industri makanan dan minuman. Aloe vera mengandung sumber gizi dan antioksidan yang bagus dalam memperbaiki metabolisme tubuh.
Selain itu, kandungan vitamin C, E, dan zinc-nyz juga berguna bagi penyembuhan luka. Zat-zat ini juga memiliki efek antifungal dan antibakterial untuk mencegah infeksi pada luka. Sebagai nilai tambah, Aloe vera dapat melembapkan kulit, meredakan nyeri pada lesi, serta merangsang pertumbuhan sel-sel kulit.(Hafiz,2003)
Kandungan vitamin dan mineralnya yang tinggi menjadikan sebagai bahan favorit dalam industri kosmetik, terutama sebagai emolien, penyegar, dan pelembap kulit. Jika digunakan secara teratur, Aloe vera mempercepat luruhnya sel-sel kulit mati dan memperbaharui pertumbuhan sel-sel kulit yang baru. Berkat fungsi bakerisidanya, Aloe vera juga mujarab untuk kulit berjerawat, tidak hanya menyembuhkan tetapi juga meregenerasi kulit. (Hafiz,2003)
Melihat kenyataan bahwa Aloe vera mudah di budidayakan di Indonesia dan telah ada penelitian yang membuktikan bahwa Aloe vera dapat mempercepat penyembuhan luka bakar dan luka lecet, maka kami ingin melakukan penelitian lanjutan mengenai pengaruh penggunaan Aloe vera secara topikal pada luka bakar derajat II A dan luka lecet terhadap kecepatan penyembuhan luka. Untuk mengetahui frekuensi yang efektif untuk meningkatkan kecepatan penyembuhan luka.

1.2 Rumusan Masalah
Adakah pengaruh penggunaan topikal aloevera pada luka bakar grade II A dan luka lecet terhadap kecepatan penyembuhan luka?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Menilai efek penggunaan topikal Aloe vera pada penyembuhan luka bakar grade II A dan luka lecet.

1.3.2 Tujuan Khusus
• Mengetahui kecepatan pengaruh penyembuhan luka bakar grade IIA dan luka lecet pada pemberian topikal aloevera.
– 1-2 kali sehari
– 3-4 kali sehari
– > 4 kali sehari

1.4 Manfaat Penelitian
a. Memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya tenaga medis mengenai hubungan antara tingkat (frekuensi) penggunaan topikal Aloe vera pada luka bakar dan luka superfisial terhadap waktu penyembuhan luka dan ada-tidaknya bekas luka.
b. Sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat, khususnya tenaga medis dalam pemilihan atau pemberian terapi penyembuhan luka bakar dan luka superfisial.
c. Sebagai dasar penelitian lanjutan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Kulit
Kulit terdiri dari dua lapisan, yaitu epidermis dan dermis. Epidermis, yang merupakan lapisan terluar, dan aksesorisnya (rambut, kuku, kelenjar sebasea, dan kelenjar keringat) berasal dari lapisan ectoderm embrio. Dermis berasal dari mesoderm. (
Gambar 1. Anatomi kulit
a. Epidermis
Epidermis merupakan epitel pipih (squamose) berlapis, dengan beberapa lapisan yang terlihat jelas. Epidermis terdiri dari epithel squamouse complex cornifikasi. Yang terdapat 4 macam sel yaitu:
• Keratinosit
Sel utama yang merupakan hasil pembelahan sel pada lapisan epidermis yang paling dalam stratum basale (lapisan basal), tumbuh terus kearah permukaan kulit, dan sewaktu bergerak keatas keratinosit mengalami proses yang disebut diferensiasi terminal untuk membentuk sel-sel lapisan permukaan (stratum korneum).

• Melanosit: terdapat pada stratum basale, folikel rambut, jaringan ikat dermis.
Ciri-ciri : – Sel bulat banyak cabang yang disebut dendrite
– Inti bulat, kecil
– Sitoplasma ada melanosom → malanosit → ke sel-sel keratinosit → pigmentasi kulit
 Sel langhans
Lokasi : epitel berlapis pipih pada kulit (stratum spinosum), oesofagus, vagina
Sel : bulat banyak cabang, sitoplasma jernih
Fungsi : imunologi (Ag permukaan)
 Sel Merkel
Lokasi : stratum germinativum kulit tebal
Ciri khas : inti tidak teratur, banyak desmosom
Fungsi : reseptor mekanis.
Lapisan epidermis terdiri dari :
a. Stratum basale: lapisan dengan sel-sel bentuk kubis atau silinder, sering melakukan mitosis untuk pembaharuan epitel setiap 15-30 kali. Hubungan epitel dengan jaringan ikat di bawahnya disebut Hemidesmosom, dengan epitel lain disebut Desmosom.
b. Stratum spinosum: beberapa lapis sel polygonal dengan banyak tonjolan atau spina. Hubungan antar sel disebut desmosom. 1 dan 2 disebut stratum Malphigi.
c. Stratum Granulosum: terdiri dari beberapa lapis sel, dengan bentukan pipih, sejajar di permukaan. Sitoplasma ada butir-butir keratohyalin
d. Stratum Lusidum: dengan lapisan jernih/ homogeny, sel gepeng tidak ada inti atau mati. Struktur sel hilang sehingga menjadi homogeny.
e. Stratum corneum: sel-sel sudah mati, dengan bentukan pipih, menyatu membentuk lapisan tanduk. (Gembong, 1989)
f. Dermis
Dermis merupakan lapisan dibawah epidermis dengan tebal 0,5-3 mm.Ada 2 lapisan pada dermis yaitu stratum papillare dan stratum reticulare. Dermis juga terdapat chromatophori (pigmen dari melanosit) dan M. arector pili berfungsi agar rambut lebih tegak.
a. Stratum papillare: lebih superficial dengan tonjolan-tonjolan yang terdiri dari sabut-sabut kolagen dan elastic seta retikulare. Terdapat akhiran saraf yang disebut nervous papil dan pembuluh darah yang disebut vascular papil.
b. Stratum reticularis: lebih profunda terdiri dari serabut-serabut kolagen dan retikulare dan lebih banyak elastic pada permukaan untuk elastisitas kulit dan lipatan kulit (garis langer). Pada telapak tangan dan kaki membentuk sidik jari. (Gembong, 1989)
Pada kulit terdapat rambut yang berupa benang keratin yang hampir tumbuh di seluruh tubuh yang berasal dari invaginasi epidermis dimana warna dan ukurannya tergantung dari ras, usia, sex, dan lokasi. Struktur rambut antara lain :
– Medula terdiri dari 2-3 lapisan sel kuboid dengan pigmen.
– Kortex beberapa lapisan sel pipih, dengan keratin dan pigmen
– Kutikula lebih superficial ada kornifikasi, tidak ada inti dan sel jernih.
(Gembong, 1989)
Bagian-bagian dari rambut antara lain rambut bebas atau batang rambut, akar rambut atau folikel rambut. Yang didekatnya ada M.arector pili dan kelenjar lemak, juga terdapat bulbus dan papil. Struktur pada rambut dari dalam keluar yaitu medulla, kortex, kutikula, inner rooth sheat: lapisan Huxley dan lapisan Henle, outher rooth sheat, glassy membrane, dan connective tissue sheath. Pada kulit juga terdapat kelenjar-kelenjar yaitu:
1. Kelenjar sebacea/kelenjar lemak : bentuk compound acinar, kelenjar holokrin dan berfungsi meminyaki rambut

2. Kelenjar sudorifera/keringat: dengan bentuk simple coiled tubular dan kelenjar merokrin. Ada juga kelenjar keringat yang apokrin terdapat di axilla dan di papilla mammae (kelenjar montgomerry). (Gembong, 1989)

2.2 Lesi (Luka)
2.2.1 Pengertian atau Definisi Lesi
Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan (kerusakan kulit permukaan tubuh). Jenis luka dapat dibedakan berdasarkan beberapa kategori. Misalnya berdasarkan penyebabnya.
2.2.2 Macam-macam Lesi dan Karateristiknya Masing-Masing
– Secara umum luka dapat di bagi menjadi dua, yaitu luka terbuka dan luka tertutup.
Kebanyakan luka adalah yang terbuka, yaitu dari kulit yang rusak keluar darah dan cairan tubuh lainnya. Di sinilah kuman bisa masuk sehingga bisa menimbulkan infeksi. (Wikipedia, 2007)
Pada luka tertutup, darah keluar dari sistem sirkulasi tetapi tidak keluar dari tubuh sehingga disebut luka dalam. Sifat rudapaksa yang menyebabkan luka menentukan jenis dari luka dan tindakan untuk mengatasinya. Namun apapun jenis cederanya, kita harus selalu menjaga kebersihan secara cermat dan melindungi diri terhadap infeksi. (Wikipedia, 2007)
Sedangkan berdasarkan kategori ini, ada beberapa jenis luka, yaitu:
– ekskoriasi (luka lecet atau gores),
– vulnus scisum (luka sayat atau luka iris),
– vulnus laceratum (luka robek yaitu luka dengan tepi yang tidak beraturan),
– vulnus punctum (luka tusuk),
– vulnus morsum (luka karena gigitan binatang), dan
– combutio (luka bakar).
(Wikipedia, 2007)

2.2.2.1 Luka Bakar
Definisi
Luka bakar adalah suatu trauma yang dapat disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan-jaringan yang lebih dalan. Kulit atau jaringan tubuh yang terbakar akan menjadi jaringan nekrotik. (Settle, 1996)

Klasifikasi
1. Berdasarkan dalamnya luka bakar .
Tingkat I : hanya mengenai epidermis

Tingkat II : dibagi lagi
a. Superfisial; mengenai epidermis dan lapisan atas dari corium. Elemen-elemen epitelial yaitu dinding dari kelenjar keringat, lemak, folikel rambut masih banyak. Karenanya penyembuhan (epitelialisasi) akan mudah dalam 1 – 2 minggu, tanpa terbentuk sikatriks.
b. Dalam; sisa-sisa jaringan epitelial tinggal sedikit, penyembuhan lebih lama 3 – 4 minggu dan disertai pembentukan parut hipertropi

Tingkat III : mengenai seluruh tebalnya kulit, tidak ada lagi sisa elemen epithelial. Luka bakar yang lebih dalam dari kulit pun seperti subcutan, tulang disebut juga tingkat III.

2. Berdasarkan luasnya luka bakar
Wallace membagi tubuh atas bagian – bagian 9% atau kelipatan dari 9 yang terkenal dengan nama “Rule of Nine” atau ‘Rule of Wallace”.
Kepala dan Leher 9%
Lengan masing-masing 9% 18%
Badan depan 18%
Badan belakang 18% 36%
Tungkai masing-masing 18% 36%
Genetalia / perineum 1%
Jumlah 100%
3. Berat Ringannya Luka Bakar
Amerika College of Surgeon membaginya dalam :
1. Parah – critical
a. Tingkat II 30 % atau lebih
b. Tingkat III 10% atau lebih
c. Tingkat III pada tangan, kaki, muka
d. Dengan adanya komplikasi pernafasan, jantung, fracture, soft tissue yang luas.

2. Sedang – moderate
a. Tingkat II 15 – 30%
b. Tingkat III 5 – 10%

3. Ringan – minor
a. Tingkat II kurang 15%
b. Tingkat III kurang 5%
(Settle, 1996)
Gambar

Gambar 2. Luka bakar dangkal (superfisial) Pada daerah badan dan lengan kanan, luka bakar jenis ini biasanya memucat dengan penekanan

Gambar 3. Luka bakar superficial partial thickness. Memucat dengan penekanan, biasanya berkeringat.

Gambar.4. Luka bakar deep partial thickness. Permukaan putih, tidak memucat dengan penekanan

Gambar 5. Luka bakar full thickness. Tidak terasa sakit, gambaran putih atau keabu-abuan.
Prosedur Penanganan Luka Bakar
Prosedur Lengkap IRD :
1. Panggil dokter jaga yang bertugas di unit luka bakar.
2. Lakukan penanganan seperti menangani kasus gawat darurat pada umumnya, yaitu resusitasi sesuai urutan A, B, C.
3. Penderita dengan kriteria ringan diijinkan dirawat di poliklinik (MRS). Sedang yang lain tidak, terkait dengan ancaman shock yang mungkin timbul dan kerusakan yang hebat. Orang-orang tua lebih rentan (fragil) terhadap luka bakar, dewasa muda dengan 30% luka relatif mudah diatasi, sedang luka itu pada orang tua sudah amat parah. Hal ini diantaranya karena sudah terjadi perubahan-perubahan seperti arteriosclerosis, kerusakan jantung, ginjal, dan otak. Begitu juga anak-anak yang amat peka dengan kehilangan cairan.
4. Untuk penderita yang poliklinis (tidak perlu MRS) penderita dilakukan perawatan secara tertutup di IRD dengan :
a. Cuci luka dengan savlon. Kalau luka luas dan kotor dicuci dengan air kran/NaCl 0,9% dulu baru dibilas dengan savlon 1 : 30 (savlon : air steril)
b. Cream silver sulfadiazine atau tulle
c. Diberi antibiotic atas indikasi dan penderita bisa dipulangkan
5. Penderita yang perlu MRS setelah mengisi status IRD, sambil melakukan resusitasi penderita langsung dibawa ke Burn Unit
6. Dipasang IV line, karakter urine. Untuk kasus yang berat (luka bakar > 40%) dipasang CPV dan O2.
7. Cairan :
– Orang dewasa > 20% ) pada tingkat II & III harus diberikan cairan.
– Anak-anak > 15% )
Cairan yang dipilih : Ringer laktat berdasarkan rumus Baxter
– pada dewasa → 4 cc/kg BB/%/24 jam
– pada anak-anak → 2 cc/kg BB/% + kebutuhan cairan basal dengan perbandingan kristaloid : koloid = 17 : 3 (menurut Monerief)
½ nya diberikan 8 jam pertama
½ nya diberikan 16 jam berikutnya
Dalam hal ini semua yang paling penting ialah observasi produksi urine setiap jam.
Bila urine BHT > lidah buaya umur 4 tahun> alfa-tokoferol.Lidah buaya umur 3 tahun menunjukkan aktvitas penangkapan terhadap radikal bebas paling kuat (72,19 persen) dibandingkan BHT (70,52 persen) dan alfa-tokoferol (65,20 persen). (Saada et al., 2003).
Unsur-unsur yang ditemukan pada daun lidah buaya menunjukkan adanya hubungan yang saling sinergis dalam mempertahankan integritas status antioksidan dalam tubuh. Pengujian dengan menggunakan tikus irradiasi yang diberi filtrat jus daun lidah buaya sebanyak 0,25 ml/kg berat badan/hari, selama 5 hari sebelum irradiasi dan 10 hari setelah irradiasi, menunjukkan adanya perbaikan yang nyata terhadap aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD) dan katalase pada organ paru-paru, ginjal, dan jantung. (Saada et al., 2003).
SOD dan katalase merupakan enzim dan sekaligus antioksidan intraseluler yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit. . (Dep.Kes, 2007)
c. Penyembuh Penyakit Kulit
Gel lidah buaya memiliki aktivitas sebagai antibakteri, antijamur, meningkatkan aliran darah ke daerah yang terluka, dan menstimulasi fibroblast, yaitu sel-sel kulit yang bertanggung jawab untuk penyembuhan luka. Publikasi pada American Podiatric Medical Association menunjukkan bahwa pemberian gel aloe pada hewan percobaan, baik dengan cara diminum maupun dioleskan pada permukaan kulit, dapat mempercepat penyembuhan luka. (Dep.Kes, 2007)
Pemberian gel aloe secara oral (diminum) sebanyak 100 mg/kilogram berat badan selama dua bulan dapat mengurangi ukuran luka sebanyak 62 persen, dibandingkan 51 persen pada kelompok kontrolnya (tanpa pemberian gel). Pengolesan krim yang mengandung 25 persen gel aloe pada permukaan luka selama enam hari dapat mengurangi ukunan luka sebesar 51 persen dibandingkan 33 persen pada kelompok kontrolnya. . (Dep.Kes, 2007)
Publikasi pada Journal of Dermatolagic Surgery and Oncology juga menunjukkan bahwa aloe dapat mempercepat penyembuhan pasca operasi. Gel aloe juga dapat digunakan untuk campuran krim facial penyembuhanjerawat. Campuran krim facial dengan gel aloe dapat menyembuhkan jerawat, 72 jam lebih cepat dibandingkan kelompok tanpa aloe. (Dep.Kes, 2007)
Aloe juga dapat digunakan untuk mencegah kerusakan kulit akibat sinar X. Penelitian di Hoshi University Jepang menunjukkan, aloe mengandung senyawa antioksidan yang mampu menyingkirkan radikal bebas akibat radiasi, serta melindungi dua komponen penyembuh luka yang secara alami ada di dalam tubuh, yaitu superoksida dismutase (enzim antioksidan) dan glutation (asam amino yang menstimulasi sistem kekebalan). . (Dep.Kes, 2007)
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pemberian 0,5 persen ekstrak aloe ke dalam krim campuran minyak dan mineral dapat menyembuhkan penyakit psoriasis (sejenis penyakit kulit). (Dep.Kes, 2007)
d. Obat, Makanan, Minuman
Pemanfaatan lidah buaya semakin lama semakin berkembang. Mula-mula lidah buaya hanya dikenal sebagai obat luar, dengan berbagai kegunaan. Di antaranya sebagai penyubur rambut, penyembuh luka (luka bakar/tersiram air panas), obat bisul, jerawat/noda hitam, pelembab alami, antiperadangan, antipenuaan, serta tabir surya alami. (Dep.Kes, 2007)
Daun lidah buaya juga dapat diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman, berupa sejenis jeli, minuman segar sejenis jus, nata de aloe, dawet, dodol, selai, dan lain-lain. Makanan dan minuman hasil olahan lidah buaya sangat berpotensi sebagai makanan/minuman kesehatan. Hal tersebut disebabkan oleh kombinasi kandungan zat gizi dan nongizi yang memiliki khasiat untuk mendongkrak kesehatan. (Dep.Kes, 2007)
Kegunaan lidah buaya sebagai makanan/minuman antara lain berkhasiat untuk: cacingan, susah kencing, susah buang air besar (sembelit), batuk, radang tenggorokan, hepatoprotektor (pelindung hati), imunomodulator (pembangkit sistem kekebalan), diabetes melitus, penurun kolesterol, dan penyakit jantung koroner. (Dep.Kes, 2007)
Menurut beberapa penelitian, yang paling baik digunakan untuk pengobatan adalah jenis Aloevera barbadensis Miller. Lidah buaya jenis tersebut mengandung 75 zat yang dibutuhkan oleh tubuh. . (Dep.Kes, 2007)
Mengingat demikian besar manfaat lidah buaya bagi kesehatan, tidak ada salahnya kita memasukkan produk olahannya ke dalam pola makan sehari-hari. (Dep.Kes, 2007)

BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep

Narasi:
Aloe vera digunakan secara topikal pada luka bakar derajat IIA dan luka lecet. Karena Aloe vera dapat meningkatkan kelembapan kulit, sedangkan pada kaeadaan lembap kulit mengadakan epitelialisasi dengan cepat, dan enzim protease lebih mudah menyingkirkan jaringan nekrosis. Sehingga luka akan lebih cepat sembuh.

3.2 Hipotesis
Ada pengaruh penggunaan topikal Aloe vera pada luka bakar derajat II A dan luka lecet terhadap kecepatan penyembuhan luka.

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan design ”The Posttest Only Control Group Design”. Adapun skema desainnya sebagai berikut.

Keterangan :
Kelompok P1: diberikan aloevera secara topikal 1-2 kali sehari
Kelompok P2: diberikan aloever secara topikal 3-4 kali sehari
Kelompok P3: diberikan aloevera secara topikal > 4 kali sehari
Kelompok X : kontrol normal
O= Observasi

4.2 Populasi, Sampel dan Sampling
Populasi diambil dari tikus varian winstar, dengan penyamaan ciri subyek sebagai berikut :
1. Jenis kelamin jantan
2. Tikus dewasa dengan umur antara 10-11 minggu
3. Berat tikus antara 300-500 gram
Penentuan jumlah sampel setiap kelompok menggunakan rumus sebagai berikut :
(t-1)(r-1) ≥ 14
dengan t (treatment) sebanyak 4, maka didapatkan r (ulangan) ≥ 6.
Tikus-tikus tersebut dibagi dalam 8 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor tikus,yaitu :
• Kelompok X : kontrol normal (tikus dengan luka bakar derajat II A yang sudah di rekayasa, tanpa di beri Aloe vera)
Kelompok P1: tikus dengan luka bakar derajat II A (rekayasa) + di beri Aloe vera 1-2 kali sehari
Kelompok P2: tikus dengan luka bakar derajat II A (rekayasa) + di beri Aloe vera 3-4 kali sehari
Kelompok P3: tikus dengan luka bakar derajat II A (rekayasa) + di beri Aloe vera >4 kali sehari
• Kelompok X : kontrol normal (tikus dengan luka lecet yang sudah di rekayasa, tanpa di beri Aloe vera)
Kelompok P1: tikus dengan luka lecet (rekayasa) + di beri Aloe vera 1-2 kali sehari
Kelompok P2: tikus dengan luka lecet (rekayasa) + di beri Aloe vera 3-4 kali sehari
Kelompok P3: tikus dengan luka lecet (rekayasa) + di beri Aloe vera >4 kali sehari
Maka untuk 8 kelompok percobaan diperlukan 48 ekor Rattus novergicus.

4.3 Tempat dan Waktu Penelitian
4.3.1 Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Terpadu Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang.
4.3.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama Empat bulan

4.4 Variabel dan Definisi Operasional
4.4.1 Variabel Tergantung
Luka bakar tingkat IIA dan luka lecet
4.4.2 Variabel Bebas
Aloevera
4.4.3 Definisi Operasional
(luka) : Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan (kerusakan Lesi kulit permukaan tubuh).
a. Jenis lesi (luka) : klasifikasi (pembagian) lesi berdasarkan kedalaman dan etiologinya, yaitu :
3. Luka lecet : luka yang yang disebabkan karena adanya eksvoliatif jaringan superfisial kulit.
4. Luka bakar : luka bakar grade II A yaitu luka superfisial; mengenai epidermis dan lapisan atas dari corium. Elemen-elemen epithelial yaitu dinding dari kelenjar keringat, lemak, folikel rambut masih banyak. Karenanya penyembuhan (epitelialisasi) akan mudah dalam 1 – 2 minggu, tanpa terbentuk sikatriks.
Lidah buaya (Aloe vera) : merupakan tanaman family Liliaceae yang daging (gel-nya) digunakan secara topikal (perlakuan) pada proses penyembuhan luka. Pada penelitian ini lidah buaya yang digunakan adalah varian Barbadensis miller.
 Frekuensi penggunaan : frekuensi penggunaan lidah buaya terhadap luka bakar dan luka superfisial secara topikal, yaitu :
a. P1 = 1-2 x sehari
b. P2 = 3-4 x sehari
c. P3 = > 4 x sehari
 Kecepatan penyembuhan : lama hari luka tertutup epithel seluruhnya, yaitu :

4.5 Prosedur Penelitian (Tekhnik Pengumpulan Data)
Mengumpulkan tikus dan membatasi tikus yang akan diteliti yaitu tikus jantan dengan usia 10-11 minggu dan berat badan 300-500 gram. Kemudian tikus dibius dimasukkan ke dalam kotak yang berisi kapas yang telah dicelup ke dalam ether, lalu bulunya dicukur dengan ukuran 3×3 cm2. Setelah itu tikus diberi perlakuan dengan membuat luka pada kulit tikus berupa luka lecet dan luka bakar derajat II A.
Luka lecet dibuat dengan menggunakan amplas kertas dengan ketebalan 0,5 mm dan dilakukan dengan cara mengusapkan amplas yang permukaannya kasar pada kulit tikus yang sudah dicukur bulunya. Ukuran luka yaitu 1×1 cm 2.
Luka bakar derajat II A dilakukan dengan cara menempelkan paku usuk dengan diameter kepala 1 cm selama 2-3 detik. Dimana sebelumnya paku tersebut sudah direbus dengan suhu 100°C selama 5 menit. Paku direbus menggunakan bunsen Ukuran luka yaitu 1×1 cm 2.
.Setelah 1 jam, luka pada Rattus novergicus dioleskan getah Aloe vera yang telah sebelumnya diiris setebal 2 cm.Perlakuan diberikan dengan rincian sebagai berikut: Kelompok X : kontrol normal Kelompok. P1: diberikan Aloe vera secara topikal 1-2 kali sehari. Kelompok P2: diberikan Aloe vera secara topikal 3-4 kali sehari. Kelompok P3: diberikan Aloe vera secara topikal > 4 kali sehari.
Pemberian Aloe vera diulang secara kontinyu sampai luka sembuh (epitelialisasi sempurna) dan waktu penyembuhan pada masing-masing tikus dicatat.
4.6 Metode Analisa Data
Agar hipotesis dapat diuji , maka dilakukan analisa statistik dengan menggunakan independent t-test, One Way ANOVA.

4.7 Jadwal Kegiatan Program
Pada dasarnya penelitian ini efektif dilaksanakan dalam jangka waktu 4 bulan dengan rincian kegiatan sebagai berikut :
Jenis Kegiatan Bulan I Bulan II Bulan III Bulan IV
Minggu Minggu Minggu Minggu
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Persiapan
Pelaksanaan Kegiatan
Penyusunan Laporan
Presentasi Hasil Penelitian

DAFTAR PUSTAKA
Anto.2007.Luka Bakar.available from http/www. Asiamaya.com.URL.acces at google.com.
Arikunto, Suharsimi.2002.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.Jakarta : Rineka Cipta.Halaman108-109.
Sudjana.2002.Metoda Statistika.Bandung: Tarsito.(Hal.299-302)
Fenlon. 2007. Critical Care&Pain. London : British Journal of Anasthesi.(Hal.50-75)
Hafiz, Ida.2003. Aloe vera untuk Penampilan. Jakarta : Healthylife. Edisi 10/11. Halaman 36.
Rofieq, Ainur.2006. Penelitian Eksperimen. Malang : Jurnal Metodologi Penelitian
Rofieq, Ainur.2006. Konsep Dasar Statistika. Malang : Jurnal Metodologi Penelitian
Rofieq, Ainur.2006. Aplikasi Statistika dalam Penelitian Kesehatan. Malang : Jurnal Metodologi Penelitian
Sabiston, David C.1994. Buku Teks Ilmu Bedah. Jakarta : Binarupa Aksara. Halaman 76-99.
Settle. 1996. Principles and Practice Burn Management. New York : JAD.Halaman 98-109.
Sulisetiono.2006.Statistika.Malang: Universitas Negeri Malang. Halaman 12, 118.
Suwati, Irma. 2006. Proposal Penelitian. Malang: Jurnal Metodologi Penelitian
Suwati, Irma. 2006. Tehnik dan Prosedur Penelitian. Malang: Jurnal Metodologi Penelitian
Tjitrosoepomo, Gembong. 1989.Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.Halaman 7-75.
Unknown.2007.Panduan Mencari Jodoh.available from http://www.myjodoh.net. URL. acces at http://www.google.com.
Unknown.2007. Manfaat Lidah Buaya. available from http://www.DepKes. co.id. URL. acces at http://www.google.com.
BIODATA KETUA PELAKSANA PKM PENELITIAN

Nama Lengkap : RESTU PAMUJINING TYAS
Tempat Tanggal Lahir : Sumedang, 30 Oktober 1987
Suku Bangsa : Sunda
NIM : 05020029
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat Asal : Jl. Raya Ciherang RT 03 / RW 02, Sumedang.

PENDIDIKAN
1. 1993 – 1999 : SDN Sukaraja 1 Sumedang
2. 1999 – 2002 : SLTP Negeri 1 Sumedang
3. 2002 – 2005 : SMA Negeri 1 Sumedang
4. 2005 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

BIODATA ANGGOTA PELAKSANA PKM PENELITIAN

1. Nama Lengkap : WIFAQ THALIB
Tempat Tanggal Lahir : Pamekasan, 29 Juli 1987
Suku Bangsa : Madura
NIM : 05020017
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat Asal : Jl. Wijaya Kusuma Atas No.3 Malang

PENDIDIKAN
a. 1993 – 1999 : SDN 2 Barkot
b. 1999 – 2002 : SLTP Negeri 2 Pamekasan
c. 2002 – 2005 : SMA Negeri 1 Pamekasan
d. 2005 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

2. Nama Lengkap : HOTIMAH
Tempat Tanggal Lahir : Pontianak, 27 September 1988
Suku Bangsa : Madura
NIM : 05020043
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Bendungan Sutami Gg 2A No.51 Malang

PENDIDIKAN
a. 1993 – 1999 : SDN 1 Pontianak
b. 1999 – 2002 : SLTP Negeri 1 Putusibau
c. 2002 – 2005 : SMA Negeri 1 Putusibau
d. 2005 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

3. Nama Lengkap : SESANTI
Tempat Tanggal Lahir : Lamongan, 8 Nopember 1986
Suku Bangsa : Jawa
NIM : 05020037
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Bendungan Sutami Gg 1 Malang

PENDIDIKAN
a. 1993 – 1999 : SDN II Karanggeneng Lamongan
b. 1999 – 2002 : MTs Assalaam Solo
c. 2002 – 2005 : SMA Negeri I Lamongan
d. 2005 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

4. Nama Lengkap : CHURIN INFI AFIDATINA
Tempat Tanggal Lahir : Sidoarjo, 15 Maret 1989
Suku Bangsa : JAWA
NIM : 06020081
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat Asal : Jl. Bader 1 Bendomungal-Bangil, Pasuruan

PENDIDIKAN
e. 1994 – 2000 : MI Al-Fatah Kedung Pandan
f. 2000 – 2003 : SMP Negeri 2 Bangil
g. 2003 – 2006 : SMA Negeri 4 Pasuruan
h. 2006 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

BIODATA DOSEN PENDAMPING PKM PENELITIAN

Nama dan Gelar : Ruby Riana Asparini, dr., Sp.BP.
Tanggal Lahir/Jenis Kelamin : Jakarta, 16 September 1968 / Perempuan
Alamat Rumah : Perumahan Belimbing Indah Blok A6 No.11
Fakultas/Jurusan : Kedokteran
Perguruan Tinggi :Universitas Muhammadiyah Malang
Riwayat Pendidikan :
 Ijasah Sekolah Dasar : tahun 1981
 Ijasah SMP : tahun 1984
 Ijasah SMA : tahun 1987
 Ijasah Dokter : tahun 1993 Universitas Airlangga
 Microsurgery course : 2004

Riwayat Pelatihan :
1. Microtia Referat DJ Forum Ilmiah Sabtu JBPI
2. Van der Woude:case series Case report MSNJBPI
3. Tahapan penanganan CLP Text Book reading Forum Ilmiah Sabtu22-03-2003
4. Skin Coverage in Acute Trauma Hand Textbook reading Forum Ilmiah Sabtu19-04-2003
5. Facial FlapsTextbook reading Forum Ilmiah Sabtu07-06-2003
6. The Fate of Dorsal Metacarpal ArteryJournal Reading Forum Selasa08-07-2003
7. Electrical Burns Textbook reading Forum Ilmiah Sabtu09-08-2003
8. Burn Management-General ManagementTextbook Reading Forum Selasa09-09-2003
9. Heparin in the Treatment in Burn Jounal reading Forum Ilmiah Sabtu08-11-2003
10. Congenital Hand DeformityTextbook reading Forum Selasa24-11-2003
11. Burn Treated with and without Heparin Journal reading Forum Selasa02-12-2003
12. Craniofacial Dysostosis Syndrome Textbook reading Forum Selasa09-02-2004
13. Anatomy of the Eyelids& ptosis Textbook reading Forum Selasa30-03-2004
14. Paired Abdominal Flap: case series Case report ISD Forum Ilmiah Sabtu PIT PERAPI Medan20-05-2004 Hand Course Jakarta20-08-2004
15. Tendon Transfer Textbook reading Forum Selasa 10-08-2004
16. Deepithelized Fasciocutaneous FlapsJournal Reading Forum Selasa07-09-2004
17. Experience with the seven flap-plasty for the contracture release Journal Reading Forum Selasa09-11-2004
18. Treatment of a neck burn contracture with a super-thin occipito-cervico-dorsal flap Journal reading Forum Selasa12-04-2005
19. Blow Out fractureText book reading Forum Sabtu11-06-2005
20. Finger Tip Injury Text book reading Forum Sabtu15-10-2005
21. Tendon Injury Text book reading Forum Sabtu19-11-2005
22. Rhinoplasty Text book reading Forum Sabtu22-10-2005
23. Blepharoplasty Text book reading Forum Sabtu21-01-2006
24. Universal Dermal Mastopexy Journal reading Forum Selasa14-03-2006
25. Double eyelids blepharoplastyJournal readingForum Selasa04-04-2006
26. The “Anterior-Only” Approach to Neck Rejuvenation- An Alternative to Face Lift SurgeryJournal readingForum Selasa02-05-2006

Riwayat Pekerjaan :
 Klinik Pusura 1994
 Rumah Sakit Bayangkara 1994
 Rumah Sakit Gatoel 1995
 PTT Puskesmas Bugul Pasuruan 1996-1999
 Staf Bedah PPD UMM 2007-sekarang
Riwayat Penelitian :
1. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar Proposal DP, Prof Indri Safitri Forum Sabtu 17-09-2005
2. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar Presentasi PenelitianDP, Prof Indri Safitri MABI Makasar 06-07-2006
3. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar Presentasi PenelitianDP, Prof Indri Safitri Medical Research Unit 19-08-2006
4. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Dan Epitelialisasi Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar KARYA AKHIR DP, Prof Indri Safitri Forum Jumat 08-09-2006
5. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar Presentasi Penelitian DP, Prof Indri Safitri PIT PERAPI Bali 23-05-2006

Rencana Anggaran

Agar terlaksananya Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian yang kami laksanakan membutuhkan dana dari DIKTI, dengan rincian sebagai berikut :

Penyusunan Proposal
a. Rental Komputer Rp. 200.000
b. Foto Copy Rp. 100.000
c. Penjilidan Rp. 100.000
d. Penggandaan Proposal Rp. 100.000
e. Flash Disk Rp. 300.000

Alat dan Bahan
a. Tikus varian Winstar Rp. 1.000.000
b. Scalpel Rp. 200.000
c. Kandang Tikus Rp. 1.000.000
d. Penggaris Rp. 50.000
e. Bunsen Api Rp. 500.000
f. Makanan tikus Rp. 500.000
g. Lidah Buaya (Aloe vera) Rp. 100.000

Analisa Data
a. Biro Analisa Statistik Rp. 500.000

Akomodasi
a. Transportasi Rp. 200.000
b. Konsumsi Pelaksana 5 Orang Rp. 300.000
c. Dokumentasi Rp. 100.000

Penyusunan Laporan
a. Rental Komputer Rp. 250.000
b. Foto Copy Rp. 100.000
c. Penjilidan Rp. 100.000
d. Penggandaan Laporan Rp. 100.000

Total Biaya Pelaksanaan Rp. 5.700.000

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar

SCORING COUNTER UNTUK PERTANDINGAN TAE KWON DO

Judul Program
SCORING COUNTER UNTUK PERTANDINGAN TAEKWONDO

b. Latar Belakang
Perkembangan teknologi pada era global seperti saat ini dapat kita rasakan kemajuannya yang semakin pesat. Kemajuan dari teknologi ini akibat dari banyaknya kebutuhan manusia yang menuntut efektifitas penggunaannya. Dengan semakin banyaknya kebutuhan manusia ini akan membutuhkan pemikiran-pemikiran baru untuk dapat mewujudkan segala kebutuhan-kebutuhan tersebut yang mencakup segala bidang.
Taekwondo merupakan olahraga beladiri modern yang mampu berkembang pesat di dunia. Olahraga ini merupakan salah satu cabang olahraga resmi yang dipertandingkan di ajang Olimpiade. Di Indonesia perkembangan olahraga ini ditandai dengan banyaknya momen-momen kejuaraan yang diadakan dari tingkat daerah hingga nasional seperti Pekan Olahraga Nasional. Keikutsertaan dan kemampuan Indonesia dalam bersaing di ajang-ajang internasional juga merupakan salah satu tanda bahwa taekwondo di Indonesia berkembang dengan pesat.
Pertandingan taekwondo dipimpin oleh seorang wasit dan empat juri yang bertugas memberikan nilai kepada atlet yang mendapat poin. Posisi juri-juri ini berada di pojok-pojok arena dengan menggunakan kertas penilaian yang akan dikumpulkan kepada wasit setiap akhir ronde. Kertas penilaian ini diberikan wasit di meja juri untuk dihitung dan kemudian diberikan kepada scorring board untuk ditampilkan di papan nilai. Cara manual ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan score pertandingan tidak dapat dilihat secara langsung selama pertandingan berjalan sehingga banyak menimbulkan kecurangan-kecurangan ketika perhitungan dilakukan.
Perkembangan selanjutnya dibutuhkan alat yang dapat membantu wasit dalam memberi penilaian. Rancangan alat ini akan disesuaikan dengan sistem penilaian yang berlaku. Input nilai akan dibuat sesuai dengan kebutuhan penilaian. Input yang digunakan berupa joystick dengan memanfaatkan empat tombol atau switch. Empat switch tersebut dibagi 2 bagian untuk sudut merah dan biru juga untuk poin 1 dan 2. Joystick ini terhubung dengan rangkaian buffer kemudian PPI 8255 melalui pararel port. Nilai yang dapat ditampilkan akan ditentukan dengan jumlah switch yang ditekan, minimal 3 dari 4 wasit yang menekan tombol. Alat ini sudah banyak digunakan dalam pertandingan-pertandingan tingkat internasional maupun nasional. Di wilayah Jawa Timur yang notabene merupakan salah satu wilayah yang mampu menghasilkan atlet-atlet nasional telah sering mengadakan turnamen-turnamen baik di tingkat cabang maupun daerah. Namun dalam mengadakan kejuaraan belum pernah sekalipun diwilayah Jawa Timur ini yang sudah menggunakan alat scorring untuk membantu juri dalam memberikan penilaian. Dan juga tidak menutup kemungkinan sering terjadinya kecirangan-kecurangan yang dapat merugikan atlet. Harapan selanjutnya alat ini daat digunakan dalam setiap kejuaraan-kejuaraan di wilayah Jawa Timur pada umumnya dan wilayah cabang Malang pada khususnya.

c. Perumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana cara merancang dan membuat software scoring dengan pemrograman delphi ?
2. Bagaimana penginisialisasian PPI 8255 pada pemrograman Delphi?
3. Bagaimana interfacing menggunakan PPI 8255 yang menghubungkan hardware dan software?

d. Tujuan Program
Tujuan masalah pada program yang direncanakan mengacu pada permasalahan yang ada yaitu pembuatan alat scorring secara komputerisasi untuk juri yang digunakan dalam pertandingan cabang olahraga taekwondo sehingga mempermudah dan mempercepat perhitungan dengan nilai yang lebih valid.
e. Luaran yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dari program ini adalah dengan mematenkan alat yang telah dibuat sesuai dengan model desain dan dimanfaatkan untuk jasa penyewaan alat pada setiap ajang kejuaraan di wilayah Malang khususnya dan Jawa Timur umumnya

f. Kegunaan Program
Kegunaan dari teknologi ini dapat membantu penghitungan nilai dalam pertandingan TaeKwonDo secara cepat dan akurat di wilayah Malang khususnya dan daerah Jawa Timur umumnya.

g. Tinjauan Pustaka
g.1. Taekwondo
Taekwondo adalah olahraga beladiri modern yang berakar pada bela diri tradisional Korea. Taekwondo mempunyai banyak kelebihan, tidak hanya mengajarkan aspek fisik semata, seperti keahlian dalam bertarung, melainkan juga sangat menekankan disiplin mental. Dengan demikian Taekwondo akan membentuk sikap mental yang kuat dan etika yang baik bagi orang yang secara sungguh-sungguh mempelajarinya dengan benar. Taekwondo mengandung aspek filosofi yang mendalam sehingga dengan mempelajari Taekwondo, pikiran, jiwa, dan raga kita secara menyeluruh akan ditumbuhkan dan dikembangkan. (Yoyok S.,2000:1)
Pertandingan taekwondo pada masa sekarang dipimpin oleh seorang wasit dan dinilai oleh 4 orang juri yang duduk di setiap ujung arena dan berlangsung selama 3 ronde. Nilai yang diberikan dibagi dua macam yaitu ‘1’ dan ‘2’. Nilai ‘1’ diberikan ketika salah satu petarung menendang body protector lawannya, sedangkan nilai ‘2’ diberikan ketika tendangan mengenai kepala lawannya. Nilai akan muncul ketika minimal 3 dari 4 juri menekan switch nilainya. Nilai pelanggaran dibagi dua macam yaitu pelanggaran ringan yang bernilai ‘1’ dan pelanggaran berat yang bernilai ‘2’. Nilai untuk pelanggaran ditugaskan oleh scoring boarder atau operator. Nilai akhir merupakan penjumlahan seluruh nilai yang didapat dikurangi nilai pelanggaran. Untuk hasil nilai yang tertinggi maka akan menjadi pemenang. Apabila terjadi seri, maka akan diadakan ronde tambahan yang pemenangnya ditentukan dari yang mendapat nilai terlebih dahulu atau yang disebut ronde shudden death. Dalam ronde ini setiap petarung harus berusaha mendapat nilai terlebih dulu dari juri.
g.2. Pemrograman Delphi
Delphi merupakan bahasa pemrograman berbasis visual yang dibuat oleh perusahaan pengembang perangkat lunak yang sangat terkenal yaitu Borland. Delphi merupakan bahasa pemrograman yang cukup canggih dan mempunyai banyak fasilitas antara lain untuk pengolah angka, database, internet, grafik dan animasi serta aplikasi windows. Kemampuan Delphi secara umum adalah menyediakan fasilitas-fasilitas dengan komponen-komponen dalam bentuk object visual yang memungkinkan pemrogram membuat aplikasi sesuai dengan keinginannya dengan tampilan yang menarik dan kemampuan yang canggih. Bahasa yang digunakan dalam pemrograman delphi adalah bahasa pemrograman Pascal. Bentuk dari bahasa pemrograman ini tidak berupa komponen atau objek visual, melainkan kumpulan teks yang disusun dalam bentuk tertentu berdasarkan aturan atau kaidah tertentu dan mempunyai arti tertentu. Gabungan dari objek dan bahasa pemrograman ini disebut bahasa pemrograman berorientasi objek atau Object Oriented Programing. (Pranata, Antony, 2002:1)
a. IDE (Integrated Development Environment) Delphi
IDE adalah sebuah lingkungan dimana sebuah tools yang diperlukan untuk desain, menjalankan dan mengetes sebuah aplikasi disajikan dan terhubung dengan baik sehingga memudahkan pengembangan program. Pada Delphi IDE terdiri dari Menu Bars, Toolbars, Form Designer, Component Palette, Object Inspector, Code Editor dan Object Treeview. Integrasi ini memberikan kemudahan dalam mengembangkan aplikasi yang kompleks.

b. Organisasi File
Organisasi file adalah bagian Delphi yang mengolah file-file yang digunakan, baik file-file sistem pada Delphi maupun file-file aplikasi yang dibuat. File-file tersebut saling berhubungan di dalam Delphi saat membangun sebuah aplikasi.
c. Project
Project adalah suatu file yang memuat informasi tentang sekumpulan form, unit dan bebrapa hal yang lain dalam program aplikasi. File utama project disimpan dalam file berekstensi .dpr (delphi project). Pada saat dijalankan, file project inilah yang selalu dikompilasi menjadi file yang dapat dijalankan, yaitu file yang berekstensi .exe.
d. Unit
Unit adalah kumpulan kode program yang disebut dengan modul yang tersimpan dalam satu file unit (.pas). Setiap kali dibuat satu form maka secara otomatis dibuat juga satu unit. Unit yang berhubungan dengan form ini biasanya digunakan untuk mengatur dan mengendalikan segala sesuatu yang berhubungan dengan form dan berinteraksi dengan komponen lain.
e. Komponen-komponen File
Komponen-komponen file merupakan suatu komponen yang terdapat pada file-file yang ada pada Delphi. Beberapa komponen yang menjadi bagian dari suatu file Delphi adalah Program, Properties, Event dan Method. (Madcoms, 2003:8)
g.3. PPI (Programmable Peripheral Interface) 8255
PPI merupakan chip I/O yang memiliki 3 buah port masukan dan keluaran, masing-masing port tersebut diberi nama port A, port B, port C. Ketiga port tersebut dibagi menjadi dua grup yaitu grup A yang terdiri dari port A dan port C tinggi ( Port C Upper ) bit 4 sampai bit 7 dan grup B yang terdiri dari port C rendah ( port C lower )bit 0 sampai bit 3. Tiap-tiap grup tersebut diatur oleh rangkaian kontrol yang dirancang untuk pemakaian masing-masing aplikasi. (Supriadi, Muhammad, 2005:7)

g.4. Pararel Port
Kanal pararel port adalah kanal yang tersedia pada komputer dan yang banyak sekali dipakai. Port ini sabggup melakukan pentransferan data hampir 9-bit atau 12-bit pada satu saat yang sama, sehingga hanya membutuhkan rangkaian eksternal yang minim untuk mengimplementasikan ke berbagai aplikasi. Komposisi dari port terdiri atas 4 buah jalur kontrol, 5 buah jalur status dan 8 buah jalur data. Port ini umumnya banyak dijumpai pada bagian belakang komputer menggunakan konektor jenis DB-25 betina. (Supriadi, Muhammad, 2005:15)

h. Metode Pelaksanaan Program
Metode yang digunakan dalam pembuatan alat ini adalah sebagai berikut:
1. Kajian Literatur
Bentuk pencarian data yang dilakukan dengan mempelajari literatur yang berhubungan dengan obyek yang diteliti.
2. Interview / Konsultasi
Bentuk Pengambilan data yang dilakukan dengan cara konsultasi dan wawancara dengan pihak yang terkait terhadap obyek yang diteliti.
3. Perancangan tiap blok.
a. Blok Diagram

Gambar 1. Blok Diagram Alat Scorring untuk wasit dalam pertandingan Taekwondo

Keterangan :
1. Input 1 – 4 : Menggunakan Push Button masing-masing 4
tombol.
2. PPI 8255 : Sebagai interfacing dan kontrol input
3. DB-25 : conector ke PC (Personal Computer)
b. Variabel
Nilai yang diberikan dibagi dua tingkat, nilai ‘1’ diberikan ketika tendangan salah satu atlit mengenai body protector yang dikenakan lawan sedangkan nilai ‘2’ diberikan ketika tendangan salah satu atlit mengenai kepala lawan. Untuk pelanggaran dibagi menjadi dua tingkat, pelanggaran ringan bernilai ‘1’ untuk setiap dua kali pelanggaran. Pelanggaran berat bernilai ‘1’. Nilai akhir adalah jumlah dari nilai yang didapat dikurangi jumlah pelanggaran.
4. Perealisasian blok-blok yang telah disusun.
a. Cara kerja
Alat scorring ini menggunakan 4 blok input yang masing-masing terdiri dari 4 push button. Input dari push button membutuhkan 16 bit, sehingga dibutuhkan banyak port input yang dalam hal ini menggunakan PPI 8255 sebagai interfacing kemudian dihubungkan ke DB-25 pada komputer untuk diproses melalui pemrograman delphi. Blok Input 1 – 4 sebanyak 16 bit akan mengirimkan data secara bergantian dalam delay waktu tertentu ke PC melalui port pararel DB-25. prosedur rancangan program ini dapat dilihat pada flow chart dibawah ini.

Gambar 2. Flow Chart Program Scoring
b. Penggunaan
Alat ini akan bekerja selama pertandingan berlangsung yaitu 2 menit dalam 3 ronde. Dalam setiap ronde terdapat 4 juri yang yang bertugas memberikan nilai kepada atlit. Dalam setiap pemberian nilai setiap juri (minimal 3 juri) harus menekan push button dalam waktu hampir bersamaan atau dalam batas delay waktu yang telah ditentukan. Apabila diluar delay waktu maka nilai dianggap kosong.
5. Pengujian dan Analisa
a. Pengujian dilakukan dengan menggunakan 4 orang wasit selama 3 menit sesuai dengan lamanya pertandingan taekwondo dalam 1 ronde.
b. Menganalisa perfomance alat scoring tersebut dengan cara uji coba dan menyimpulkan hasilnya.

h. Jadwal Kegiatan Program
Tabel jadwal Kegiatan Program

j. Nama dan Biodata Ketua Serta Anggota Kelompok
1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Khaerudin.
b. NIM : 04530037
c. Fakultas/Program Studi : Teknik/Elektronika
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu

2. Anggota Pelaksana
a. Nama Lengkap : Dedy Herfanda F.Y.
b. NIM : 03530079
c. Fakultas/Program Studi : Teknik/Elektronika
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 8 jam/minggu
3. Anggota Pelaksana
a. Nama Lengkap : Diah Puspitaningrum
b. NIM : 06530052
c. Fakultas/Program Studi : Teknik/Elektronika
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 8 jam/minggu
4. Anggota Pelaksana
a. Nama Lengkap : Ibkhar Fitra Ramadhan
b. NIM : 02530068
c. Fakultas/Program Studi : Teknik/Elektronika
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 8 jam/minggu

k. Nama dan Biodata Dosen Pembimbing
1. Nama Lengkap dan Gelar : Ir. Nur Alif Mardiyah, M.T
2. Golongan Pangkat dan NIP : III B/ 108.9203.0257
3. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
4. Jabatan Struktural : Kepala Laboratorium Elektronika
5. Fakultas/Program Studi : Teknik/Elektronika
6. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
7. Bidang Keahlian : Elektronika
8. Waktu untuk kegiatan PKM : 3 jam/minggu

l. Biaya
1. Bahan:
• Sewa seperangkat komputer : Rp 1.500.000,00
• PPI 8255 5 buah @ 150.000,00 : Rp 750.000,00
• Joystick 4 buah @ 20.000,00 : Rp 80.000,00
• Perangkat rangkaian buffer
a. IC 74LS245 5 buah @ Rp10.000,00 : Rp 50.000,00
b. PCB board : Rp 40.000,00
c. Kabel jumper : Rp 10.000,00
d. Box : Rp 100.000,00
• Perangkat catu daya : Rp 150.000,00
• Sewa perangkat alat pengujian : Rp 500.000,00
2. Peralatan Penunjang PKM:
• Administrasi surat ijin survei : Rp 200.000,00
3. Pengujian
• Pengujian alat : Rp 200.000,00
• Pengujian simulasi pertandingan
a. Sewa ruang : Rp 100.000,00
b. Sewa peralatan : Rp 200.000,00
c. Honor 5 orang wasit @ Rp 150.000,00 : Rp 750.000,00
d. Honor 4 orang atlit @ Rp 100.000,00 : Rp 400.000,00
e. Honor 10 orang kru @ Rp 50.000,00 : Rp 500.000,00
f. Konsumsi 24 orang @ Rp 5.000,00 : Rp 120.000,00
4. Laporan :
• Pembuatan laporan : Rp 250.000.00
5. Perjalanan:
• Transportasi : Rp 100.000.00
Total Biaya Rp 6.000.000.00

m. Daftar Pustaka

1. Jamaludin Malik, Jaja. Tip dan Trik Unik Delphi. Yogyakarta: Andi; 2005.

2. Madcoms. Pemograman Borland Delphi 7 ( Jilid Kedua). Yogyakarta: Penerbit Andi; 2003.

3. Pranata, Antony. Pemograman Borland Delphi 6 (Edisi Keempat). Yogyakarta: Andi; 2002.

4. Supriadi, Muhammad. Pemrograman IC PPI 8255 Menggunakan Delphi. Yogyakarta: Andi; 2005.

h. Wahana Komputer. Pemograman Borland Delphi 7. Yogyakarta: Andi; 2003.

07/12/2009 Posted by | Contoh PKM | 8 Komentar

PENERAPAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) PADA SISWA KELAS III IPA SMA MUHAMMADIYAH 2 & 3 BATU MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN Nata De Apple DAN CUKA APEL (Upaya Memahamkan Pelajaran Biologi Bab Bioteknologi)

A. JUDUL : PENERAPAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) PADA SISWA KELAS III IPA SMU MUHAMMADIYAH 2 & 3 BATU MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN Nata de Apple DAN Cuka Apel (Upaya pemahaman daan penerapan pelajaran Bologi Bab Bioteknologi)

B. LATAR BELAKANG
Saat ini, pembelajaran biologi SMA kelas III IPA khususnya marteri bioteknologi di sekolah umumnya tidak mengacu pada penyiapan siswa untuk memiliki pengetahuan dasar dan keterampilan yng dibutuhkan. Kebanyakan guru masih menggunaan pendekatan expository, dimana guru cenderung memberikan onformasi yang berupa teorri, generalisasi, hokum atau dalil-dalil beserta bukti-bukti yang mendukung. Guru membantu siswa memahami pelajaran hanya dengan mreview informasi yang adsa pada buku teks. Begitu juga seperti yang terjadi pada SMA 2 & 3 Batu selama ini.
SMA Muhammadiyah 2 & 3 Batu merupakan salah satu sekklah menengah di kecamatan Bumiaji kota Batu, dan lokasinya dekat dengan perkebunan apel. Dari hasil pengamatan observasi penulis, di SMA Muhammadiyah 2 & 3 Batu mata pelajaran Bilogi hanya diajar oleh seorang guru , mulai dari kelas I sampai kelas III. Tentunya hal ini membuat jadual untuk guru tersebut sabgat padat (jam mengajarnya bertambah). Yang mana SMA Muhammadiyah 2 kelas III IPA terdiri dari 75 orang siswa yang terbagi menjadi 2 kelas. Sedangkan di SMA muhammadiyah 3 kels III IPA berjumlaag 69 siswa yang terbagi menjadi2 kelas juga.
Dari hasil wawancara dengan salah satu guru Bilogi di SMA 2 & 3 Batu, selama ini maeri bioteknolog hanya diberikan kepada siswa dengan memberikan knsep-konsep tentang Bioteknilogi. Siswa diberikan penjelasan serta diberikan tugas utuk mencari contoh penerapan bioteknologi tanpa melbatkan siswa secara langsung dalam proses penerapan bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari, yang nantinya dapat menjadi bekal bagi siswa setelah lulus dari SMA. Hal ini berimbas pada motivasi belajar siswa yang menurun teritama saat ujuan tengah semsster (UTS). Hal ini dikarenakan siswa merasa belum memahami maeri khususnya bioteknologi, yang hanya diberikan secara teoritis saja, tanpa ada pengalaman belajar penerapanya dalam dunia nyata.
Fasilitas yang diberikan kepoada siswa pada kedua SMA Muhammadiyah tersebut, terutama laboratorium Biologi untuk menunjaanga kegiatan praktikum biologi juga belum ersedia dalam satu ruangan tersendiri, akn tetapi masih bercampur dfengan kegiatan praktikum kimia, dan fisika. Sehingga dalam penyampaian matri biologi banyak yang hanya diberikan secara teorits saja tanpa adanya praktikum atau pengalamam belajar yang diberikan oleh guru, hal ini terjadi karena keterbatasan sarana dan prasarana untuk keegiatan praktikum di sekolahan tersebut.
Padahal dalam pembelajaran bologi itu sendiri yang diukur bukan hanya pemahaman konsep tetapi juga keterampilan saiuns yang harus dimiliki oleh siswa, sehingga siswa pun dituntut untuk mmenerapkan pembeljran dalam kehidupan sehari-hari. Unuk itu dalam pembelajaran biologi perlu diterapkannya pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) yang merupakan gabungan dari pendekatan konsep, keterampilan proses, CBSA, inkuiri, dan diskoveri, serta pendekatan lingkungan ((Susilo, 1999).
Pendekatan Sain Teknologi Masyarakat (STM) adalah pegajaran sains yang tidak hanya menekankan pada konsep-konsep sains saja, tetapi juga menekankan pada peranan sain dan teknologi didalam berbagai kehidupan masyarakat dean menumbuhkn rasa tanggungjawab sosial siswa terhadap dampak sains dan teknologi yang terjadi di masyarakat (Hadiat, 1993).
Masalah-masalah atau isu-isu yang terjadi dilingkungan sekolah terutama dalam bidang bioteknologi selami ini tidak pernah disentuh atu diperhatikan oleh guru ataupun siswa sendiri, karena dalam proses belajar dan mengajar biologi selama ini masih mengggunakan pendekatan penguasaan konsep, sehingga dalam menyampaikan pembelajaran guru terfokus pada buku teks yang telah tersedia. Padahal dalam pembeljaran bioteknologi penerapan sain dan teknologi masyarakatb (STM) pada siswa sangat penting sekali, misalnya seperti melalui penerapan pembuatan Nata De Apple dan cuka Apel, yang mana pengetahuan tentang penerapan bioteknologi kepada sswa ini dapat menjadi bekal bagi siswa untuk menghadapi kehidupan yang akan datang atau setelah lulus darri SMA. Salian itu juga dapat memicu kreatifitas siswa untuk menerapkan teknologi sebagai pemecahan masalah yang terdapat d daerah sekitar sekolah ataupun tempat tinggalnya, sebagaimana SMA Muhammadiyah 2 & 3 batu yang dapat memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat di kota Batu, yaitu buah apel sendiri.

C. RUMUSAN MASALAH
1. Siswa kelas III SMA Muhammadiyah Batu kesulitan dalam memahami materri Bioteknologi.
2. Bagaimanakah respon siswa kelas III IPA SMAaa Muhammadiyah 2 & 3 Batu terhadap penerapan sains teknologi masyarakat melalui pembuatan nata de Apple dan cuka apel dalam memahami dfan mengaplikasikan materi bioteknologi?
3. Bagaimanakah prestasi belajar SMA kelas III IPAa SMA Muhammadiyah 2 & 3 Batu khususnya materi Bioteknologi melalui pembuatan nata de apple dan nata cuka apel?
4. Penerapan Sains Teknologi Masyarakat yang diberikan hanya pelatihan pembuatan produk dalam bidang biuoteknologi pangan.

D. TUJUAN PROGRAM
1. Memahamkan siswa kelas III IPA SMA Muhammadiyah 2 & 3 Batu tentang penerapan bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari melalui pelatihan pembuatan Nata de Apple dan cuka Apel sesuai dengan potensi daerah yang terdapat disekitar sekolah.
2. Memicu kreatifitas siswa untuk menangani permasalahan yang terdapat disekitar sekolah, khususnya dalam penerapan bidang bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari malalui pelatihan pembuatan nata de Appple dan cuka Apel.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Dari hasil program PKMT, luaran yang diharapkan adalah:
1. Dihasilkannya desain pembelajaran materi bioteknologi melalui penerapan sains Teknologi Masyarakat dengan memberikan pelatihan pembuatan nata de Apple dan Cuka Apel.
2. Dihasilkannya teknologi tepat guna untuk menyelaesaikan permasalahan yang terdapat dalam kehidupsan sehari-hari sebagai penerapan pembelajaran Bioteknologi khususnya Bioteknologi bdang pangan (Nata de Apple dan Cuka apel).

F. KEGUNAAN PROGRAM
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi khalayak sasaran antara lain:
1. Dari segi IPTEK
a. Menambah wawasan bagi siswa tentang penerapan Bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bioteknonologi dalam bidang pangan melalui penerapan sains teknologi masyarakat dengan memberikan platihan pembuatan nata de apple dan cuka apel.
b. Menambah hasanah keilmuan tentang penerapan sains teknologi masyarakat kususnyan di bidang Bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari.
2. Dari segi Ekonomi: bias menambah pendapatan siswa ketika diaplikasikan di luar sekolah

G. TINJAUAN PUSTAKA
G. 1 Hakekat Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengjar merupakan proses inti dari pendidikan formal di sekolah, di dalamnya terjad nteraksi antara beberapa komponen pengajaran. Secara umum belajar dpat diartikan sebagai proses perubahan, akibat interaksi antara indidvidu dengan lingkungan. Hal ini mencakup pengetahuan, pemahaman, keterapmilan sikap dan sebagainya. Sedangkan pengertian mengajar adala segala uppaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bag siswa untuk terjadinya proses blajar mengajar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang tel;ah dirumuskan (Ali, 2002).
Belajar itu terjadi dalam keidupan sehari-hari, tidak hanya di sekolah saja, dan belajar itu dapat dilakukan setiap orang, mulai dari anaka-anak sampai dengan orang dewasa. Robert M. Gagne di dalam Ali (2002), mengemukakan untyuk dapat memilih cara belajar yang tepat, guru harus mengenal berbagai tipe belajar, antara lain:
1. Belajar konsep (Conscept learning)
Konsep merupakan symbol berpikir, hal in diperoleh dar hasil membuat saran terhadap fakta atau realita dan hubungan antara berbagai fakta.
2. Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Seseorang dapat menyelesaikan masalah yang sederhana melalui melaluin kebiasaan maupun instink seperti halnya binatang, akan tetapi dalam situasi yang sangat sulit, cara it tidak mungln lagi digunakan. Maka dapat ditempuh langkah-langkah cara belajar ilmiah dalam pemecahan masalah.

G. 2 Hakekat Pendidikan Biologi
Pendidikan biologi menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung. Karena itu, siswa perlu untuk mngembangkan sejumlah keterampilan proses supaya mampu untu menjelajahi danb memaami alam sektar. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati dengan seluruh indera, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara benar dengan selalu mempertimbangkan kaselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, menggolongkan, menafsirkan data dan mengkomunikasikan hasil temuan secara beragam, menggali dan memilih informasi secara faktualyang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari (Depdiknas, 2002).
Bekerja secara ilmiah tidak sekedar menumpulkan fakta, membangun teori , atau proses mental dan keterampilan manipulatif. Sains merupakan cara-cara untuk memahami gejala alam yang teruus berkembang. Sains merupakan produk keingnan manusia untuk berimajinasi dan berkreasi. Keadaan manusia dan makhluk lainya di alam sangant dipengaruhi oleh perilku manusi (Depdiknas, 2002).
Depdiknas (2002), dalam kurikulum berbnasis kompetensi (KBK) mengemukakan bahwa fungsi dan tujuan mata pelajaran biologi adalah:
 Fungsi dan tujuan
• Menanamlan keyakinan terhadap tuhan Yang Maha Esa
• Mengembangkan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah
• Mempersiapkan sswa menjadi warga negara yang melek sains dan teknologi.
 Tujuan Pembelajran biologi adala agar siswa:
• Mengenal berbagai macam gejala alam, konsep dan keterkaitannya satu sama lain.
• Mengembangkan keterapilan proses.
• Menerapkn konsep-konsep Biologi dalam kehidupan sehari-hari.
• Meyadari keteraturan alam untuk mengagungan kebesaran dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

G. 3 Pendekatan sains teknologi Masyarakat (STM)
Penggunaan pendekatan sains teknologi dan masyarakat (STM) di sekolah dapat mendorong siswa untuk dapat berpartisipasi langsung dan proaktf dalam upaya pemecahan isu-isu atau masalah yang diadapi serta menyadari implikasi social dan manfaat sains dalam kehidupan nyata sehari-hari, melalui pendekatan Sains teknologi masyarakat (STM), para guru sains di sekolah dapat mendorong terbentknya nilai-nilai dan kesadaran akan tanggung jawab pribadi dan social pada peserta didik sebagai warga negara da warga masyarakat.
Hal tersebut diatas akan tumbuh pada diri siswa apabila siswa mengerti gejala sains yang dipelajari di sekolah dengan peranannya di dalam keidupan nyata. Oleh karena itu alas an yang mendukung diterapkanya pendekatan Sains Teknologi dan masyarakat (STM) adalah terdapatnya suau teori belajar yang menitik beratkan pada pentingnya pengalaman siswa serta penbgetahuan yang telah dimlikinya (Depdiknas, 2002).
Penerapan pendekatan sains Teknologi dan masyarakat (STM) dalam pembeljaran biasanya digunakan dengan bantuan buku petunjuk atau yang disebut dengan perangkat unit sains teknologi. Perangkat tersebut dapat dibuat oleh guru itu sendiri atau meggunakan perangkat yng sudah ada yaitu, menerapkan teknlogi sederhana dalam membantu siswa utnuk memahami maeri pelajaran (Susanto, 1990).
G.4 Pembuatan Nata dan Cuka Apel Sebagai Upaya Penerapan STM
G.4.1 Tinjauan Nata
Nata berasal dari bahasa latin “Natae” yang berarti mengapung-apung. Alaban (1962) dalam Damayanti (2002) mendefinisikan nata sebagai suatu lapisan yang berbentuk padat pada permukaan medium yang mengandung gula. Produk nata tersebut dapat berasal dari bahan-bahan seperti air kelapa, sari nanas, sari jeruk, sari pisang, dan tomat.
Nata merupakan suatu bahan makanan hasil fermentasi oleh bakteri (Acetobacter xylinum) yang kaya akan selulosa, bersifat kenyal, transparan dan rasanya menyerupai kolang kaling. Nata merupakan selulosa bakteri yang terbentuk akibat aktifitas bakteri. Selulosa ini merupakna produk bakteri untuk membentuk slime (menyerupai kapsul) yang pada akhirnya bakteri tersebut terjebak dalam masa fibrilar selulosa tersebut (Budiyanto, 2000).
G.4.2 Pembuatan Nata
Teknik pembuatan nata secara umum dimulai dari penyiapan medium fermentasi sampai dengan pengolahan nata. Medium fermentasi dibuat dalam bentuk cair, sehingga jika bahan calon medium fermentasi berupa zat padat maka harus dihancurkan dan dibuat larutan. Medium fermentasi tersebut kemudian disaring untuk menghilangkan kotoran-kotoran kasarnya dan kemudian direbus pada suhu 80-100oC selama 10-15 menit sambil diaduk. Selama perebusan dilakukan penambahan gula pasir 10%, asam asetat glasial (98%) sampai dengan pH medium mencapai 4-5, amonium sulfat (NH2)2SO4 0,6%, kalium bihidrogenophospat (K2HPO4) 0,5%, magnesium sulfat (MgSO4) 0,02%, pepton atau yeast 0,25%. Setelah medium dingin dilakukan penyaringan yang kedua. Selanjutnya medium fermentasi tersebut diletakkan dalam tempat fermentasi. Kemudian diinokulasi dengan starter dengan konsentrasi 10-15% dan diperam selama 2-4 minggu. Setelah pemeraman selesai maka dilakukan pemanenan dan dicuci bersih dan dilakukan pemotongan sesuai dengan selera, netralisasi rasa asam pada nata dilakukan dengan merendam dalam air, kemudian dimasak dalam larutan gula (50%) (Masitoh, 2005).
G.4.3 Tinjauan Tentang Cuka Apel
Cuka atau (Vinegar) berasal dari istilah bahasa Perancis “Vinaigre” yang berarti “anggur asam” (Plezar dan Chan, 1988).
Cuka apel adalah produk fermentasi asam asetat dari sari buah apel. Produk ini merupakan suatu larutan cuka dalam air yang mengandung cita rasa, zat warna dan substansi yang terekstrak, asam buah, ester-ester, garam-garam organik dari buah, yang berbeda-beda sesuai dengan asalnya (Desrosier, 1988).
Menurut Ranken and Kill (1993), cuka apel adalah produk yang dihasilkan dari dua proses fermentasi berturut-turut, yaitu fermentasi alkohol yang merubah gula menjadi alkohol dan fermentasi asetat oleh mikroorganisme kelompok Acetobacter, merubah alkohol menjadi asam asetat.
Buah Biji-Bijian

Umbi-umbian enzim
(C6H10O5)n H2O asam x C6H12O6 + y C12H22O11
Pati glukosa maltosa
Mono-Disakarida
Fermentasi alkohol

C6H12O6 khamir
Glukosa/ 2C2H5OH + 2CO2
Fruktosa anaerobik etil alkhol karbondioksida
Etil Alkohol

Acetifikasi (oksidasi Etanol)

bakteri
C2H5OH + O2 CH3COOH + H2O
Etanol udara cuka air

Cuka Apel
Gambar 1. Skema Proses Cuka Apel
H. METODE PELAKSANAAN
Secara garis besar kegiatan ini meliputi tiga tahap yaitu 1) Tahap pengenalan dan pelatihan (training) pembuatan produk Nata dan cuka, 2) Tahap praktek (demonstrasi) pembuatan Nata dan cuka, 3) Tahap Evaluasi.
Berikut deskripsi dari tiga tahap pelaksanaan program ini:
H.1 Tahap persiapan
Tahap ini meliputi persiapan alat dan bahan. Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan:
Alat yang digunakan:
 Panci
 Kompor gas
 Nampan plastik
 Kertas Koran
 Gelas ukur
 Bunsen
Bahan yang digunakana:
 Buah apel
 Starter nata
 Starter Saccaromyces cereviseae
 Starter Acetobacter acetii
 Gula pasir
 Garam inggris
 Dan bahan pendukung pembuatan nata dan cuka

H.2 Tahap praktek atau demo pembuatan nata dan cuka
Tahap ini mengenalkan siswa/peserta bagaimana cara membuat nata dan cuka yang langsung dilaksanakan di sekolah (tempat yang ditentukan).
Adapun langkah pelaksanaan secara umum:
 cara pembuatan nata dengan bahan baku apel sub grade, meliputi: a) cara menyiapkan bahan baku cair, b) cara memasak dan mencampur bahan-bahan pembuat nata, c) cara inokulasi starter (pemberian bibit nata), d) penyimpanan dan perawatan pembuatan nata.
 Cara pembuatan cuka dengan cara bahan baku apel sub grade, meliputi: a) cara penyiapan bahan baku cair, b) cara inokulasi starter Saccaromyces cereviseae (fermentasi alkohol), c) cara inokulasi starter Acetobacter acetii (fermentasi asam cuka)

H.3 Tahap evaluasi
Tahap ini bertujuan untuk mengetahui hasil training/pelatihan nata dan cuka (panen hasil) dan mengetahui respon siswa mengenai manfaat pelatihan ini. Adapun langkah pelaksanaan secara umum:
 Panen hasil pembuatan nata dan cuka.
 Cara pengolahan nata dan cuka.
 Penyebaran angket, mengenai tanggapan siswa akan manfaat kegiatan ini untuk menjadi bahan evaluasi.
Table 1. Ringkasan Metode Pelaksanaan
Kegiatan Metode Alat dan bahan/media
Tahap persiapan:
 Perijinan
 Persiapan alat dan bahan
survey

Training pembuatan nata dan cuka:
 Penjelasan mengenai STM
 Aplikasi STM oleh siswa di dalam masyarakat
 Penjelasan mengenai nata dan cuka, manfaat dan cara membuatnya. Ceramah dan Tanya jawab Makalah, Slide Proyektor dan Poster
praktek pembuatan produk nata dan cuka dengan bahan baku apel praktek langsung (demonstrasi), Tanya jawab Alat dan bahan yang dibutuhkan pembutan nata dan cuka
Panen hasil dan Evaluasi:
 Cara mengolah produk nata dan cuka.
 Tanggapan siswa mengenai manfaat kegiatan ini Quisioner dan Tanya jawab Angket terstruktur

I. JADUAL KEGIATAN
No Kegiatan Bulan I Bulan II
I II III IV I II III IV
1 Tahap persiapan:
a. Sosialisasi program kegiatan
b. Penyiapan alat dan bahan
x
x

x
2 Tahap pelaksanaan:
a. Training/pelatihan:
 Pemberian materi
 Diskusi (Tanya jawab)
b. Praktek langsung
x
x
x
x
3 Tahab monitoring/Pendamping x x x x
4 Evaluasi kegiatan x x x x
5 Penyusunan laporan akhir x x x

J. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA
1. Ketua Pelaksana
a. Nama Lengkap : Moh. Iriyanto
b. NIM : 04330004
c. Fakultas/Program studi : KIP/Pendidikan Biologi
d. Preguruan Tinggi : UniversitasMuhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 jam/Minggu
2. Anggota Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Ulfa Yahya
b. NIM : 04330029
c. Fakultas/Program studi : KIP/Pendidikan Biologi
d. Preguruan Tinggi : UniversitasMuhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 jam/Minggu
3. Anggota Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Ahmad Zayyadi
b. NIM : 04330012
c. Fakultas/Program studi : KIP/Pendidikan Biologi
d. Preguruan Tinggi : UniversitasMuhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 jam/Minggu
4. Anggota Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Retno Arys k
b. NIM : 04330009
c. Fakultas/Program studi : KIP/Pendidikan Biologi
d. Preguruan Tinggi : UniversitasMuhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 jam/Minggu
5. Anggota Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Qurrotu Aini
b. NIM : 07330072
c. Fakultas/Program studi : KIP/Pendidikan Biologi
d. Preguruan Tinggi : UniversitasMuhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 jam/Minggu
K. NAMA DAN BIDATA DOSEN PENDAMPING
a. Nama lengkap dan gelar : Drs. Nur Widodo, M.Kes
b. Pangkat dan Golongan / NIP :Ketua Jurusan Biologi dan IV/131.953.393
c. Jabatan Struktural : Ketua Jurusan Biologi
d. Fakultas / Program studi : FKIP / Pendidikan Biologi
e. Perguruan Tinggi : Univrsitas Muhammadiyah Malang
f. Bidang Keahlian : Kesehatan
g. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 Jam / Minggu
L. BIAYA
1. Bahan Habis Pakai
No Bahan/alat Satuan Jumlah Harga(Rp) Total(Rp)
1 Starter Nata buah 30 Rp 25.000 Rp 750.000
2 Buah Apel kg 50 Rp 5.000 Rp 250.000
3 Starter cuka (A. asetii) buah 20 Rp 25.000 Rp 500.000
4 Saccaromyces sp. ampul 5 Rp 75.000 Rp 375.000
5 Gula kg 20 Rp 6.000 Rp 120.000
6 NPK kg 2 Rp 20.000 Rp 40.000
7 Garam Inggris kg 2 Rp 5.000 Rp 10.000
Jumlah Rp2.045.000
2. Peralatan Penunjang PKM
No Bahan/alat Satuan Jumlah Harga(Rp) Total(Rp)
1 Sewa aerator buah 5 Rp 15.000 Rp 75.000
2 Beli botol kaca buah 100 Rp 1.500 Rp 150.000
3 Sewa kompor gas buah 3 Rp100.000 Rp 300.000
4 Sewa panic buah 6 Rp 50.000 Rp 300.000
5 Selang meter 10 Rp 5.000 Rp 50.000
6 Gas elpiji buah 3 Rp 70.000 Rp 210.000
7 Sewa gelas ukur buah 10 Rp 2.000 Rp 20.000
Jumlah Rp1.105.000
3. Perjalanan

No Kegiatan Tujuan Jumlah Total
1 Analisis Situasi SMA. muhammadiyah 3 x 2 pp x Rp. 25.000 Rp. 150.000
2 Perjalanan Kegiatan Penelitian SMA. Muhammadiyah 3 x 10 pp x Rp. 25.000 Rp. 750.000
Jumlah Rp. 900.000

Lain-Lain

1. Perlengkapan
No Bahan Satuan Jumlah Harga Total
1 Kertas HVS Pak 5 Rp. 15.000 Rp. 50.000
2 Poster Buah 1 Rp. 120.000 Rp. 120.000
3 Buku tulis Buah 6 Rp. 5.000 Rp. 30.000
4 Tinta + print Buah 1 Rp. 200.000 Rp. 200.000
5 Flas Dish Buah 1 Rp. 100.000 Rp. 100.000
Jumlah Rp. 500.000

2. Dokumentasi
No alat jumlah Harga total
1 Sewa komputer 1 Rp. 200.000 Rp. 200.000
2 Sewa kamera 1 Rp. 100.000 Rp. 200.000
3 Sewa Handycame 1 Rp. 200.000 Rp. 200.000
4 Dokumentasi 2 rol Rp. 25.000 Rp. 50.000
5 Cuci cetak foto 2 rol @ 36 Rp. 1000 Rp. 100.000
6 Laporan 8 Rp. 25.000 Rp. 200.000
jumlah Rp. 950.000

3. Konsumsi

No Kebutuhan jumlah
1 Konsumsi pelaksana Rp 500.000,-
jumlah Rp 500.000,-

• Total biaya yang dibutuhkan dalam kegiatan ini Rp 6.000.000,- (Enam juta rupiah)

M. DAFTAR PUSTAKA

Ali Mohammad. 2002.Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Penerbit PT. Sinar Baru Algesindo office,Bandung .(hal. 124-125)

Budiyanto, A,K. 2000. Mikrobiologi Terapan. UMM Press.Malang. (hal. 202-203)

Damayanti R.P.2002. Pembuatan Nata Sari Buah Pepaya (Carica papaya L) Tinjauan Dari pHAwal Dan Konsentrasi Sukrosa.Skripsi.Jurusan Teknik Hasil Pertanian.Fakultas Teknologi Pertanian.Universitas Brawijaya. Malang. (hal. 23)

Depdiknas. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran biologi untuk SMTA. Departemen Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembanga Pusat Kurikulum, Jakarta. (hal. 24-26 )

Desrosier, N.W. 1988 Teknologi Pengawetan Pangan. Edisi Ketiga.Universitas Indonesia. Jakarta (hal. 123-125)

Hadiat. 1993. Pendidikan Sains, Teknologidan Masyarakatdi Indonesia, P3G IPA, Bandung (hal. 48-50)

Masitoh, S. 2005 Analisa Nata dari Berbagai Bahan Baku dengan Penambahan Gula Kelapa. Skipsi. Jurusan Biologi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Malang. (hal. 36)

Pelczar, M.J dan Chan, E.C.S. 1988. Dasar –Dasar Mikrobiologi. Jilid 2.Diterjemahkan oleh Ratna Sri Hadioetomo, dkk. Universitas Indonesia Press. Jakarta. (hal. 69-72)

Ranken, M.D and Kill,R.C. 1993. Food Industries Manual. Blackie Academic & Professional. London. (hal. 341-342)

Susilo Herawati. 1999. Dasar –Dasar Pendidikan MIPA, Penerbit Universitas Negeri Malang, Malang (hal. 31-33)

07/12/2009 Posted by | Contoh PKM | 2 Komentar

Pengaruh Filtrat Daun Cengkeh (Syzygium Aromaticum) Terhadap Kelulushidupan Ikan Gurami (Osphronemus Gourami) Yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas Hydrophilla.

A. JUDUL : Pengaruh Filtrat Daun Cengkeh (Syzygium Aromaticum)
Terhadap Kelulushidupan Ikan Gurami (Osphronemus
Gourami) Yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas Hydrophilla.

B . Latar belakang
Dalam kurun 5 tahun terakhir, konsumsi ikan nasional melonjak hingga lebih dari 1,2 juta ton. Tahun (2004-2005) persentase kenaikan nilai impor perikanan nasional menduduki angka 12,51% berada jauh di bawah nilai rata-rata ekspor perikanan yang hanya sebesar 1,6%. Saat ini, nilai konsumsi ikan nasional telah mencapai kisaran 26 kg/kapita/tahun, untuk penduduk global nilai konsumsi ikan sudah mencapai 19 kg/kapita/tahun dan presentase kenaikan konsumsi ikan mencapai angka (1,8% per tahun), maka tak dimungkiri 8 tahun ke depan akan terjadi peningkatan kebutuhan ikan dan produk perikanan sebesar 50 juta ton (http://www.walhi.or.id/kampanye/pela/070328_krisis_ikan_li/).
Gurami (Osphronemus gourami) adalah ikan air tawar yang paling banyak menghuni rawa-rawa, danau, atau daerah yang perairannya tenang. Sebagai ikan hasil budi daya, gurami banyak di pilih petani karena mampu berbiak secara alami dan mudah dalam perberian pakan. Dari aspek bisnis keuntungan yang biasa di dapat adalah harga jualnya cukup tinggi dan relatif stabil.
Di dalam memelihara gurami tidak bisa terlepas dari resiko serangan hama dan penyakit. Hama dan penyakit pada ikan umumnya terjadi setelah ikan mengalami gangguan non-parasiter. Gangguan non-parasiter, umumnya menjadi penyebab primer antara lain kerusakan fisik, kurang gizi, berkurangnya mutu air dan sanitasi lingkungan yang buruk (Jangkaru, Z. 2004).
Akan tetapi keberadaan hama seperti ikan liar, kura-kura, biawak, ular dan burung pada dasarnya tidak terlalu serius. Masalah paling di takuti petani gurami adalah serangan penyakit yang bisa berakibat fatal, yakni matinya gurami dalam jumlah besar. Penyakit yang paling banyak menyerang gurami adalah bakteri Aeromonas dan Pseudomonas, serta parasit Argulus, Ichthyophythyrius dan Saprolegnia (Tim Redaksi Agromedia Pustaka 2003).
Anmi, L. (2007) menyatakan bahwa Pada tahun 1980-1981, bakteri Aeromonas hydrophilla menyerang hampir semua komoditas perikanan di Indonesia, khususnya di Jawa Barat bahkan menjadi wabah mematikan pada ikan air tawar. Sehubungan dengan hal itu Taukhid. (2006) menambahkan bahwa tahun 2002 di Blitar dan Yogjakarta juga terjadi serangan sporadis pada ikan air tawar yang salah satunya di sebabkan oleh Aeromonas hydrophilla sehingga menyebabkan kerugian ekonomi ratusan juta rupiah.
Menurut Jangkaru, Z. (2004) bakteri Aeromonas hydrophilla, adalah Jenis bakteri yang bersifat patogen dan dapat menyebabkan sistemik serta mengakibatkan kematian secara masal. Bakteri ini berbentuk batang pendek berukuran 2-3 mikro dan bersifat gram negatif. Bakteri ini menginfeksi luka dan menyebabkan kematian 80-100% setelah satu minggu ikan gurami terinfeksi. Kematian ikan gurami yang sulit diatasi umumnya ketika larva berumur 2-3 minggu.
Bakteri Aeromonas hydrophilla ini seringkali mewabah di Asia Tenggara sampai sekarang. Penularannya sangat cepat melalui perantara air, kontak bagian tubuh ikan atau peralatan tercemar. Untuk saat ini penanggulangan hama dan penyakit pada gurami yang banyak di lakukan adalah melalui sanitasi air dan kolam, desinfeksi peralatan dan ikan serta vaksinasi. Sementara pengobatannya dapat di lakukan dengan menggunakan bahan kimia dan antibiotik melalui perendaman dalam pakan dan injeksi (Jangkaru, Z. 2004).
Dalam menggunakan antibiotik atau pengobatan secara kimiawi seperti Tetracyline, Malachite green, Oxytetra cyline,dll. Maka kepekaan bakteri terhadap obat yang dipilih harus diketahui, sebab kesalahan dalam pengobatan selain merusak lingkungan perairan juga membuat beberapa jenis penyakit menjadi kebal terhadap pengobatan serta ikan-ikan budidaya mudah mengalami kematian (Ghufran.M.2004).
Anonymous. (2006) dalam Astutik, S. (2007) dinyatakan bahwa Indonesia merupakan satu-satunya negara konsumen dan sekaligus produsen cengkeh terbesar didunia. Minyak cengkeh mengandung minyak atsiri dengan jumlah yang relatif besar dibandingkan dengan tanaman sumber minyak atsiri lainnya. tanaman cengkih mempunyai banyak kandungan kimia yang bersifat sebagai antimikroba diantaranya tannin, flavonid dan eugenol.

C. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dibuat rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Adakah pengaruh filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap kelulushidupan ikan gurami (Osphronemus gourami) yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophilla?
2. Konsentrasi filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) berapakah yang paling baik pengaruhnya untuk kelulushidupan ikan gurami (Osphronemus gourami) yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophilla?
D. Tujuan Program
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengaruh filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap
kelulushidupan ikan gurami (Osphronemus gourami) yang terinfeksi
bacteri Aeromonas hydrophilla.
2. Mengetahui konsentrasi filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) yang
terbaik untuk kelulushidupan ikan gurami (Osphronemus gourami) yang
terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophilla.
E. Tujuan Program
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat digunakan sebagai sumber informasi awal bahwa filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) dapat digunakan sebagai obat untuk membunuh bakteri Aeromonas hydrophilla yang menginfeksi ikan gurami (Osphronemus gourami).
2. Diketahuinya konsentrasi yang terbaik dalam penggunaan filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) sebagai obat untuk membunuh bakteri Aeromonas hydrophilla yang menginfeksi ikan gurami (Osphronemus gourami).
3. Dapat digunakan sarana informasi dalam menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan penelitian ini.
F. Luaran Yang Diharapkan
Dari hasil penelitian tentang pengaruh filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap kelulushidupan ikan gurami (Osphronemus gourami) yang terinfeksi bakteri (Aeromonas hydrophilla) dapat diperoleh saran sebagai berikut:
Bagi Dinas Perikanan dalam pengobatan ikan yang terserang bakteri Areomonas hydrophilla sebaiknya mengunakan filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) karena tidak banyak menimbulkan efek samping. Dan apabila telah teridentifikasi bahwa ikan terserang bakteri Aeromonas hydrophilla sebaiknya dilakukan sesegera mungkin untuk mengobatinya.

G. Kegunaan Program
1. Dapat digunakan sebagai sumber informasi awal bahwa filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) dapat digunakan sebagai obat untuk membunuh bakteri Aeromonas hydrophilla yang menginfeksi ikan gurami (Osphronemus gourami).
2. Upaya pengembangan budidaya ikan gurami menjadi lebih optimal, sehingga lebih bermafaat bagi peternak ikan.
H. Tinjauan Pustaka
H.1. Morfologi Ikan Gurami
Bentuk ikan gurami sangat khas. Tubuhnya pipih dan agak panjang. Bagian dahi gurami dewasa terdapat tonjolan mirip cula. Tonjolan itu tidak di temukan pada gurami anakan atau gurami muda. Pada gurami anakan terdapat ciri khas berupa garis-garis hitam yang melintang di tubuhnya. Rata-rata ikan gurami memiliki mulut yang kecil dengan bibir bagian bawah terlihat sedikit lebih panjang di bandingkan bibir atas.
Sisik gurami berukuran besar dan bagian tepinya tidak rata. Ketika muda, warna punggung gurami biru kehitaman, sementara itu bagian perutnya berwarna putih.Warna tersebut berubah ketika gurami semakin dewasa, bagian punggungnya berubah menjadi kecoklatan, dan bagian perutnya menjadi keperakan. Sirip perut gurami mengalami modifikasi bentuk menjadi sepasang benang yang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba.
Selain sirip perut terdapat juga sirip punggung dan sirip dubur yang panjangnya mencapai pangkal ekor. Panjang gurami dewasa dapat mencapai 65 cm dan berat 10 kg. Secara alami pertumbuhan paling pesat terjadi saat mencapai umur 3-5 tahun (Tim Redaksi Agromedia Pustaka. 2001).
Menurut Adnan, M. dkk (2002) perbedaan induk jantan dan induk betina ikan gurami (Osphronemus gouramy ) adalah seperti berikut :
Tabel 1: Perbedaan Induk Jantan Dan Induk Betina Ikan Gurami.
INDUK JANTAN INDUK BETINA
Dahi menonjol
Sirip halus
Dagu berwarna kuning
Jika di taruh ekornya melengkung ke atas
Jika kelaminnya di pencet perlahan, akan keluar cairan putih seperti susu Dahi datar
Sirip kurang halus
Dagu berwarna kuning kecoklatan
Jika di taruh, ekornya bergerak-gerak
Jika kelaminnya di pencet perlahan, tidak akan keluar cairan apapun.
Sumber: Adnan, M. dkk. (2002)
H.2. Habitat Ikan Gurami
Habitat asli gurami adalah rawa di dataran rendah. Salah satu faktor yang membedakan dataran rendah dengan dataran tinggi adalah suhu dan mutu airnya. Suhu di tadaran rendah lebih panas di bandingkan di dataran tinggi. Berkaitan dengan suhu, gurami akan tumbuh sangat baik dalam air dan suhu antara 25oC-28oC.Gurami sangat peka terhadap suhu rendah sehingga jika di pelihara dalam air dengan suhu kurang dari 15 oC ikan ini tidak akan berkembang baik.
Kepekaan gurami terhadap suhu rendah sebetulnya dapat di tanggulangi, misalnya dengan memperdalam badan air sehingga terjadi kestabilan suhu. Sementara itu gurami masih dapat hidup dan berkembang baik secara optimal di perairan dengan ketinggian 800 m di atas permukaan air laut (Jangkaru, Z. 2004).
Jika dilihat dari kualitas air yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan gurami maka air kolam harus mengandung cukup mineral dan unsur hara lain yang dibutuhkan. Dan bila dikaitkan dengan kadar oksigen terlarut sebernarnya tidak terlalu berpengaruh terhadap kehidupan gurami. Hal ini disebabkan gurami memiliki labirin yang berfungsi mengambil udara. Derajat keasaman (pH) air yang ideal untuk pertumbuhan gurami adalah 6,5-7,0 (Prihartono. 2004).
Berbagai badan air di dataran rendah, seperti rawa, situ, waduk, danau, lebak, kolong, kolam pekarangan, kolam tadah hujan, sungai mata, embung, dan lebung merupakan lahan pemeliharaan gurami yang potensial. Wadah pemeliharaan yang di gunakan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi lahan pemaliharaan. Sebagai contoh di perairan waduk, situ, dan kolong dapat di pergunakan wadah pemeliharaan yang berupa keramba jaring apung dan sangkar (Jangkaru, Z. 2004).
H.3. Reproduksi Ikan Gurami
Ikan Gurami merupakan salah satu ikan air tawar yang banyak dijumpai disungai, rawa, telaga, dan kolam berair tawar. Ikan ini pertumbuhannya tergolong sangat lambat, kematangan kelamin milai terjadi pada usia sekitar dua tahun. Masa pemijahan gurami tidak terikat waktu. Pemijahan dapat dilakukan kapan saja bila induk telah siap memijah. Namun, gurami memiliki masa produksi yang tinggi di musim kemarau (Prihartono. 2004).
Secara alami, ikan gurami memiliki masa bertelur selama tiga bulan sekali. Namun, dalam setahun, gurami hanya bertelur sebanyak tiga kali, tiga bulan sisanya (biasanya saat musim hujan) ikan gurami tidak bertelur. Berbeda dengan ikan air tawar lainnya yang umumnya berbiak pada permulaan musim penghujan, di alam bebas gurami akan berbiak sepanjang musim kemarau.
Saat air agak surut dan suhu air agak meningkat, mulailah kawanan gurami beramai-ramai memijah.induk jantan akan membangun sarang yang berbahan baku rumput-rumputan dan dahan-dahan kecil di pinggiran tempat hidupnya yang tersembunyi di antara rumput-rumputan dan tanaman air (Adnan, M. Dkk. 2002).
Ketika perkawinan terjadi, induk jantan akan membuat sarang yang bahan bakunya berupa rumput-rumputan atau dahan-dahan kecil di pinggiran kolam. Sarang tersebut di letakkan tersembunyi di sekitar tumbuhan air. Setelah terjadi pemijahan, induk betina akan menghasilkan telur rata-rata sebanyak 500-3.000 butir. Setelah satu bulan kemudian telur-telur tersebut menetas menjadi larva (Jangkaru, Z. 2004)
I. Bakteri Aeromonas hydrophilla
I.1. Morfologi Bakteri Aeromonas hydrophilla
Ghufran H. (2004) dinyatakan bahwa bakteri Aeromonas hydrophilla umumnya hidup di air tawar yang mengandung bahan organik tinggi. Ciri bakteri Aeromonas hydrophilla adalah bentuknya seperti batang, ukurannya1-4,4 x 0,4-1 mikro,bersifat gram negatif, fakultatif aerobik (dapat hidup tanpa oksigen), tidak berspora, bersifat motil (bergerak aktif) karena mempunyai flagel (Monotrichous flagella) yang keluar dari salah satu kutubnya, senang hidup lingkungan bersuhu 15 oC-30 oC dengan pH antara 5,5-9,0.
Dan menurut sumber lain bentuk bakteri ini seperti batang dengan cambuk yang terletak di ujung batang, dan cambuk ini digunakan untuk bergerak. Ukurannya 7–0,8 x 1–1,5 mikron (http://www.pustakatani.org/InfoTeknologi /tabi d/66/ctl/ArticleView/mid/389/articleId/205/HamadanPenyakitIkanLele.aspx).
I.2. Habitat dan Penyebaran Bakteri Aeromonas hydrophilla
Menurut Tim Agromedia Pustaka (2003) bakteri Aeromonas hidropilla mudah di jumpai pada musim kemarau dan penghujan, terutama dikolam-kolam yang tercemar bahan Organik. Dan menurut Bullock et al (1989) dalam Safi’i (2006) bakteri Aeromonas hydrophilla lebih banyak menyerang ikan di daerah tropis dan daerah sub tropis di bandingkan dengan daerah yang dingin.
Di daerah tropis dan sub tropis penyakit haemorhagic septicaemia pada umumnya muncul pada musim panas.atau kemarau di mana pada saat itu kandungan bahan organiknya sangat tinggi. Bakteri ini dapat di temukan selain pada luka yang terinfeksi juga dapat di temukan pula di hati dan ginjal gurami. Bakteri ini akan kehilangan sifat Patogenitasnya bila berada di dalam usus (Jangkaru, Z. 2004).
I.3. Metabolisme dan Perkembiakan Bakteri Aeromonas hydrophilla
Bacteri Aeromonas hydrophilla termasuk jenis bakteri fakultatif anaerobik, yaitu bakteri yang hidup dengan atau tanpa adanya oksigen. Bakteri fakultatif anaerob akan tumbuh tersebar di seluruh medium jika diinokulasikan dalam medium cair (Dwijosaputro, D. 1998). Bakteri ini akan tumbuh maksimal pada kisaran suhu 38 0C sampai 41 0C, sedangkan pertumbuhan minimalnya pada suhu 00C sampai 50C. Bakteri Aeromonas hydrophilla tumbuh dengan baik pada kisaran PH 5,5 sampai 9,0.
Menurut Afriyanto (1992) dinyatakan bahwa pembiakan bakteri Aeromonas hydrophilla secara aseksual yaitu berkembangbiak dengan memanjangkan sel diikuti dengan pembelahan inti yang di sebut pembelahan biner. Waktu pembelahan sel satu menjadi dua sel memerlukan waktu kurang lebih 10 menit.
Menginfeksi ikan gurami dan menyebabkan kematian pada ikan gurami dewasa. Hal ini di tandai dengan terdapat luka pada tubuh ikan di sertai pendaraan pada organ yang terinfeksi. Ghufran, M (2004) menyatakan bahwa bakeri Aeromonas hydrophilla biasanya menyerang ikan memalui permukaan tubuh yang luka.
Kataba (1885) dalam Safi’i (2006) dinyatakan bahwa bakteri Aeromonas hydrophilla umunya menyebabkan infeksi pada seluru tubuh ikan di sertai dengan pendarahan pada organ dalam tubuh ikan. Bakteri ini dapat menyebar secara cepat pada populasi yang padat penebaran tinggi yang bisa mengakibatkan kematian benih sampai 90 %. Anonymous (1994) dalam Rochani (2000) yang menyatakan bahwa kepadatan bakteri minimum untuk mengeinfeksi ikan gurami adalah 105 sel/ml, sedangkan menurut Austin (1996) dalam Irianto (2004) dikatakan bahwa pada kepadatan 109 sel/ml dapat menyebabkan kematian pada katak.
Penyakit yang di sebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophilla bersifat oportunis yaitu mampu berkembang menjadi lebih ganas pada keadaan kandungan oksigen yang rendah, suhu yang tinggi, akumulasi bahan organik dan sisa–sisa metabolisme ikan-ikan kepadatan tinggi sangat menunjang penyebaran bakteri. infeksi oleh bakeri Aeromonas hydrophilla biasanya terjadi memalui permukaan tubuh yang luka, saluran pencernaan makanan ataupun melalui lubang insang. Kemudian akan masuk ke dalam pembuluh darah dan menyebar pada organ dalam lainnya yang menyebabkan pendaraan dan disertai dengan keracunan karena darah keluar dari pembuluh darah (Ghufran, M. 2004).
Penularan bakteri Aeromonas hydrophilla dapat berlangsung memalui air, kontak badan dengan peralatan yang telah tercemar atau karena pemindahan ikan yang telah terserang Aeromonas hydrophilla dari satu ke tempat ke tempat yang lain. Dan menurut sumber yang lain Aeromonas hydrophilla biasanya merupakan penyerang kedua setelah ikan terinfeksi pasasit lain atau jika ikan menderita stres (Jangkaru, Z. 2004).
Menurut Daelami (2002) Ikan yang terserang bakteri Aeromonas hydrophilla secara morfologi maupun fisiologi menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut : (a) Warna tubuhnya berubah menjadi gelap; (b) Kulit kesat karena kehilangan banyak lendir diikuti oleh pendarahan; (c) Kemampuan ikan berenang sangat lemah, nafasnya megap-megap, sering timbul di permukaan; (d) Dan bila kebetulan menyerang organ dalam biasanya ginjal dan limfanya membengkak. Kadang terjadi pendarahan pada ginjal, limfa, juga pada hati.
Dan menurut Afriyanto (1992) selain tanda–tanda diatas juga terdapat tanda-tanda sebagai berikut : (a) Kulit kasar dan timbul pendarahan yang selanjutnya akan menjadi borok; (b) Kemampuan berenang menurun dan megap-megap di permukaan air karena insangnya rusak sehingga sulit untuk bernafas; (c) Seluru sirip rusak dan insang menjadi berwarna keputih-putihan; (d) Mata rusak dan agak menonjol.
J. Struktur Umum Cengkeh (Syzygium aromaticum)
J.1. Morfologi Cengkeh.
Pohon cengkeh merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan tinggi 10-20 m, mempunyai daun berbentuk lonjong yang berbunga pada pucuk-pucuknya. Tangkai buah pada awalnya berwarna hijau, dan berwarna merah jika bunga sudah mekar (http://id.wi kipedia.org/wiki/Cengkeh).
Cengkeh termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki batang pohon besar dan berkayu keras, tingginya dapat mencapai 20 -30 meter dan daunnya mempunyai ciri khas yang mudah dibedakan dengan daun tanaman lainya. Bentuk daun dari tanaman cengkeh adalah bulat panjang dengan ujung runcing, tebal, kuat, kenyal dan licin. Pada umunya daun yang masih muda berwarna kuning kehijau-hijauan bercampur dengan warna kemerah-merahan dan mengkilat sedangkan pada bagian bawah beerwarna hijau suram. Untuk daun yang tua berwarna hijau pekat. Daun tunggal, duduk daunya saling berhadap-hadapan. Pada simpul-simpul ketiak daun cabang pertama tumbuh tunas-tunas yang menjadi cabang kedua, begitu pula selanjutnya sehingga tumbuh ranting-ranting. Pada ranting-ranting tersebut tumbuh bunga (AAK, 1991).
Dan menurut sumber lain dinyatakan bahwa tumbuhan cengkeh: 1) Pada umumnya dipenuhi oleh ranting-ranting kecil yang mudah patah; 2) Mahkota atau juga lazim disebut tajuk pohon cengkeh berbentuk kerucut; 3) Daun cengkeh berwarna hijau berbentuk bulat telur memanjang dengan bagian ujung dan panggkalnya menyudut, rata-rata mempunyai ukuran lebar berkisar 2-3 cm dan panjang daun tanpa tangkai berkisar 7,5 -12,5 cm; 4) Bunga dan buah cengkeh akan muncul pada ujung ranting daun dengan tangkai pendek serta bertandan; 5) Pada saat masih muda bunga cengkeh berwarna keungu-unguan, kemudian berubah menjadi kuning kehijau-hijauan dan berubah lagi menjadi merah muda apabila sudah tua (http://sehat.suaramerdeka. Com/index.php?id=26).
J.2. Kandungan Daun Cengkeh
Anonymous (2006) dalam Astutik, S. (2007) dinyatakan bahwa tanaman cengkeh mempunyai banyak kandungan kimia yang bersifat sebagai antimikroba, baik pada bagian batang, bunga dan daun. Daun mengandung saponin, flavonoida dan tanin, di samping minyak atsiri yang bermanfaat sebagai bahan antimikroba, karena didalamnya terdapat bahan aktif yang dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan mikroba dan secara alami sudah terbukti. Daun cengkeh mengandung zat-zat minyak atsiri (eugenol, asetileugenol, kariofilen, furfurol, metil-amilketon, vanilin) kariofilin, gom, serat, dan zat lemak.
Anonymous (2006) dalam Susilowati (2007) dinyatakan bahwa Kandungan eugenol pada tumbuhan cengkeh terutama pada daunya mencapai 88.500 ppm – 90.000 ppm. Sementara Anonymous (2006) dalam Nindarti (2006) menambahkan bahwa daun memiliki kandungan yang sama dengan kuncup bunga cuma bedanya pada daun cengkeh kandungan eugenolnya cukup rendah.
Kuncup bunga cengkeh mengandung minyak atsiri 15-20 %, eugenol 85-95 %, sedikit eugenol asetat, B-kariofilena, B-kariofilena oksida, B-humulena, B-humulena epoksida, kuersetin, turunan-turunan kemferol, zat-zat tannin, asam-asam fenolik karboksilat (seperti asam galat, asam prokatekuat, dsb), sedikit sterol dan sterol glikosida, furfural, metil amil keton, dan vanillin (http://www.republika
co.id/suplemen /cetak_detail.asp?id=&id=120 811& kat _id=105&kat_id1= 150 &kat_id2=187).
Kandungan utama daun cengkeh adalah eugenol (dominan hingga 89 %), eugenil acetate, methyil n-hepthyl alcohol, benzyl alcohol, methyl salicilate, methyl n-amil carbinol, terpene caryo-phyllene.(www.mukhlason.com.atsiri.htm). Sementara itu Agusta (2000) menyatakan bahwa pada umumnya minyak cengkeh terdiri dari campuran persenyawaan kimia antara lain mengandung senyawa eugenol 75 – 90% dan eugenol asetat 10 -15%.
J.3. Manfaat Cengkeh
Secara tradisional masyarakat sudah mengenal cengkeh sebagi tanaman yang bisa digunalan untuk menyenbuhkan berbagai macam penyakit. Cengkeh telah banyak di gunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional anatara lain untuk sakit gigi, bau mulut, mual, nyari haid, batuk rejam, demam akibat malaria, lemah syahwat, menghitamkan alis, masuk angin dan beri-beri (Rosidah. 2000).
Cengkeh banyak di tanam di Indonesia, khususnya Kepulauan Maluku (Tidore, Ternate, Mutir), dan Jawa Timur. Minyak cengkeh memiliki khasiat sebagai peluruh gas-gas dalam perut/kentut, (karminatif) karena jika gas-gas seperti itu terkumpul dalam perut, maka perut terasa kembung.
Selain itu, minyak ini memiliki khasiat sebagai stomakik, yang memperbaiki fungsi lambung dalam mencerna makanan sehingga pencernaan akan menjadi lebih baik.
Di samping itu, cengkeh dapat digunakan sebagai bumbu, baik dalam bentuknya yang utuh atau sebagai bubuk. Terutama di Indonesia, cengkeh digunakan sebagai bahan rokok kretek. Cengkeh juga digunakan sebagai bahan dupa di Tiongkok dan Jepang. Minyak cengkeh digunakan untuk aromaterapi dan juga untuk mengobati sakit gigi (http://id.wikipedia.org/wiki/Cengkeh).
Sementara menurut sumber lain dinyatakan bahwa minyak daun cengkeh dapat digunakan sebagai obat gosok (param), obat sakit gigi, penghangat badan, anti nyamuk, obat luka dan antiseptik yang sangat manjur untuk berbagai jenis luka, seperti luka bakar, luka berdarah dan luka bernanah (baru maupun lama), untuk industri farmasi, industri makanan, fragrance, dan aromatherapi (http://ww w.mukhlason.com.atsiri.htm).
J.4. Aktivitas Anti Bakteri Cengkeh
Anonymous (2006) menyatakan bahwa tanaman cengkih mempunyai banyak kandungan kimia yang bersifat sebagai antimikroba baik pada bagian batang, bunga dan daunnya. Daun cengkeh mengandung saponin, flavonoida dan tanin di samping minyak atsiri. Dari kandungan daun cengkeh yang mempunyai kemampuan sebagai antibakteri adalah tanin dan flavonoid.
Menurut Pudjaatmaka dan Qodratillah (1999) tanin merupakan kelompok senyawa nabati yang bersifat asam, aromatik, dan memberikan rasa kesat. Tanin mengendapkan alkaloid, merkuri klorida dan logam berat. Robinson (1991) menambahkan bahwa tanin merupakan kandungan yang bersifat fenol mempunyai rasa sepat dan mempunyai kemampuan menyamak kulit serta berwarna coklat kekuning-kuningan.
Robinson (1995) menyatakan bahwa tanin mempunyai ciri-ciri yang sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua gugus hidroksil. Anonymous (2007) menambahkan bahwa Tannin adalah senyawa phenolic yang larut dalam air. Dengan berat molekul antara 500 – 3000 bisa mengendapkan protein dari larutan.
Flavonoid adalah group paling besar dari fenol yang terjadi secara alami, lebih dari 2000 persenyawaan kini telah diketahui ± 500 yang terbentuk di alam dalam keadaan bebas. Menurut Robinson (1995), golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan senyawa C6-C3-C6, artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzene tersubstitusi) disambungkan oleh rantai alifatik tiga karbon.
Kardinan (2005) menyatakan bahwa minyak cengkih mengandung beberapa komponen, tetapi kandungan yang paling penting adalah eugenol. Dalam sektor pertanian, eugenol dapat diberfungsi sebagai antiserangga, fungisida, bakterisida, sampai nematisida.
Ginting (1992) dalam Susilowati (2007) menyatakan bahwa eugenol adalah salah satu senyawa yang potensial karena mempunyai beberapa gugus fungsi yang dapat ditransformasikan menjadi senyawa lain dengan aktivitas fisiologi yang lebih baik. Eugenol termasuk senyawa alam yang menarik karena mengandung beberapa gugus fungsional yaitu alil, fenol dan eter.
Naim (2004) menyatakan bahwa komponen fenol meliputi chavikol, eugenol, karvakol, sineol, tanin, cavibetol, borneol dan flavonoida. Senyawa fenol cenderung mudah larut dalam air karena umumya berikatan dengan gula sebagai glikosida, dan biasanya terdapat dalam vakuola sel dan kelarutannya dalam air akan bertambah jika gugus hidroksil makin banyak. Golongan fenol dicirikan oleh adanya cincin aromatik dengan satu atau gugus hidroksil.
Volk &Wheller (1988) dalam Astutik, S. (2007) dinyatakan bahwa fenol dalam konsentrasi (0,1- 2%) mampu merusak membran sitoplasma yang menyebabkan bocornya metabolik penting dan disamping itu menginaktifkan sejumlah enzim bakteri, apabila di gunakan dalam konsentrasi tinggi fenol bekerja dengan merusak membran sitoplasma secara total dan mengendapkan protein. Fenol menyerang lapis batas sel total dan merusak semipermiabilitas membran sitoplasma yang terdiri dari lipida dan protein yang tersusun berlapis-lapis.
Menurut Waluyo (2005) fenol (asam karbol) pada konsentrasi yang rendah (2- 4%) daya bunuh di sebabkan karena fenol mempresipitasikan protein secara aktif sehingga sunsunan protein menjadi berubah tidak sesuai dengan kebutuhan sel, selain itu juga merusak membran sel dengan cara menurunkan tegangan permukaannya. Hal ini menyebabkan terjadinya osmosis dan sel akan mengalami lisis.
Anonymous (2003) dalam Astutik (2006) dinyatakan bahwa mekanisme sebenarnya dari penghambatan oleh seluruh senyawa fenol adalah dengan cara merusak membran plasma, menyebabkan enzim inaktif, dan denaturasi protein. Rusaknya dinding sel pada bakteri secara otomatis dapat mempengaruhi membran sitoplasma yang sebagian besar tersusun atas protein dan fosfolipid.
Jawetz (1982) dalam Sukowati (2006) dinyatakan bahwa senyawa fenol tumbuhan cepat sekali membentuk komplek dengan protein sehingga mengakibatkan kerja enzim menjadi terhambat protein pada membran sel akan mengalami koagulasi dan denaturasi, dalam keadaan demikian protein menjadi tidak berfungsi lagi mengakibatkan sifat permeabilitas membran sel sitoplasma tidak berfungsi, sehingga transport zat ke dalam dan keluar sel mengalami gangguan, bila hal itu terjadi maka akan menghambat pertumbuhan bahkan kematian sel.
Kabata (1985) dalam Saputri (2002) dinyatakan bahwa obat yang larut dalam air dapat diserap dengan baik oleh kulit, insang dan organ lain. Hal ini sangat efektif dalam pengobatan melalui perendaman karena bagian yang terinfeksi dapat menyerap dengan baik.
K. Metode Penelitian
K.1. Jenis Penelitian
Berdasarkan sifat masalahnya, penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian true eksperimen melaui pendekatan The Posttest Only Control Group Design yaitu diasumsikan bahwa setiap unit populasi adalah homogen yang berarti semua karakteristik antar unit populasi adalah sama, maka pengukuran awal tidak dilakukan oleh karena dianggap sama semua kelompok karena berasal dari satu populasi yang sama.
Menurut Rofieq. A. (2006). penelitian eksperimen sejati adalah penelitian yang menguji hubungan sebab (Cause) dan akibat (Effect) dalam sistem tertutup atau kondisi terkendali.
K.2. Waktu dan Tempat Penelitian
K.2.1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 21 hari terhitung mulai tanggal 6 Agustus sampai 27 Agustus tahun 2009.
K.2.2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakasanakan di Laboratorium Balai Induk Udang Galah. (BIUG). Jl.Raya. Jogosari No.1 Pandaan.
K.3. Populasi dan Sampel Penelitian
K.3.1. Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan atau himpunan obyek dengan ciri yang sama (Rofieq, A. 2006) Adapun populasi pada penelitian ini adalah benih ikan gurami (Osphronemus gourami) yang ada di Laboratorium Balai Induk Udang Galah. (BIUG). Jl.Raya. Jogosari No.1 Pandaan. yang berumur dua bulan dengan ukuran panjang 3 – 5 cm.
K.3.2. Sampel Penelitian
Sampel adalah himpunan bagian atau sebagian dari suatu populasi. Rofieq, A. (2006) Sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah 300 ekor benih ikan gurami (Osphronemus gourami.) yang ada di Laboratorium Balai Induk Udang Galah. (BIUG). Jl.Raya. Jogosari No.1 Pandaan. yang berumur dua bulan dengan ukuran panjang tubuh 3 – 5 cm.
K.4. Rancangan Percobaan
Rancangan Percobaan yang digunakan adalah berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dalam penelitian ini sekelompok subyek yang ambil dari populasi tertentu di kelompokkan secara random (acak) dengan 6 perlakuan 5 kali ulangan, Sehingga jumlah sampel yang di amati adalah sebanyak 30 buah.
Tabel 3.1: Denah penelitian sebagai berikut :
C4 A1 A4 B5 C1
F3 D2 A5 E4 B1
F1 E1 E2 B2 C2
B3 D3 A2 C3 F2
C5 D1 B4 A3 F4
F5 D5 E5 E3 D4
KETERANGAN :
A1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0 % ulangan 1
A2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0 % ulangan 2
A3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0 % ulangan 3
A4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0 % ulangan 4
A5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0 % ulangan 5
B1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0,5 % ulangan 1
B2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0,5 % ulangan 2
B3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0,5 % ulangan 3
B4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0,5 % ulangan 4
B5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0,5 % ulangan 5
C1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 1,5 % ulangan 1
C2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 1,5 % ulangan 2
C3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 1,5 % ulangan 3
C4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 1,5 % ulangan 4
C5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 1,5 % ulangan 5
D1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 2,5 % ulangan 1
D2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 2,5 % ulangan 2
D3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 2,5 % ulangan 3
D4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 2,5 % ulangan 4
D5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 2,5 % ulangan 5
E1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 3,5 % ulangan 1
E2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 3,5 % ulangan 2
E3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 3,5 % ulangan 3
E4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 3,5 % ulangan 4
E5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 3,5 % ulangan 5
F1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 4.5 % ulangan 1
F2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 4.5 % ulangan 2
F3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 4.5 % ulangan 3
F4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 4.5 % ulangan 4
F5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 4.5 % ulangan 5
K.5. Alat yang digunakan adalah
Akuarium (ukuran 30 x 20 cm sebanyak 30 buah), Akuarium (ukuran 60 x 30 cm sebanyak 1 buah ), Bak plastik (sebanyak 25 buah), Aerator dan perlengkapannya , Timbangan , Haemocytometer, Jaring, Blender, Saringan, Gelas ukur, Pipet, Erlenmeyer, Ph meter, DO meter, Tabung reaksi, Petridish (untuk perkembangbiakan bakteri), Autoclave
K.6. Bahan yang digunakan adalah
Benih ikan gurami (Osphronemus gourami) yang berumur dua bulan dengan ukuran panjang tubuh 3 – 5 cm yang didapat dari Laboratorium Balai Induk Udang Galah. (BIUG). Jl.Raya. Jogosari No.1 Pandaan.
Biakan murni Aeromonas hydrophila , Daun cengkeh (Syzygium aromaticum), Aquadest, Pakan ikan (pelet)
K.7. Tahap Pengamatan.
Pengamatan tingkat kelulushidupan benih ikan umur dua bulan yang diteliti di lakukan satu hari setelah perlakuan penginfeksian selama satu minggu. Benih ikan dinyatakan mati apabila mengendap di dasar dan tidak memberikan respon apabila di sentuh. Dan menurut Effendi (1993) menyatakan bahwa untuk menghitung tingkat kelulushidupan benih ikan mas dapat mengunakan rumus :
SR = Nt / No x 100%
Dimana :
SR : Persen kelulushidupan ikan
Nt : Jumlah ikan yang hidup pada akhir penelitian
No : Jumlah ikan yang hidup pada awal penelitian

K.9. Tahap analisis data
Analisis data yang digunakan, pertama di uji dahulu dengan uji normalitas untuk mengetahui data berdistribusi normal, kemudian di uji dengan uji homogenitas untuk mengetahui varian datanya, di analisis lanjut dengan mengunakan anava satu arah dengan asumsi jika Fhit > Ftab maka ada pengaruh dan selanjutnya di uji wilayah berganda Duncan’s, untuk mengetahui perlakuan yang terbaik.
L. JADUAL KEGIATAN
No Kegiatan Bulan Ke-1 Bulan Ke-2 Bulan Ke-3 Bulan Ke-4 BulanKe-5
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan √
2. Perizinan √
3. Survey lokasi √ √
4 Penyusunan proposal √ √
5. Penelitian pendahuluan √ √
6. Persiapan alat √ √
7. Pembelian bahan baku √ √
8. Proses pembuatan filtrat √ √ √ √ √
9. Pengamatan kelulushidupan ikan √ √ √ √ √ √
10. Pengolahan data √ √
11. Penyusunan laporan akhir √ √
12. Seminar √ √
13. Penggandaan proposal √ √

07/11/2009 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar