BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

FOTOSINTESIS

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      Latar Belakang

Fotosintesis merupakan proses utama yang dilakukan oeleh tumbuhan. Sesuai dengan fungsinya yaitu mengolah bahan makanan menjadi energi. Tanpa adanya energy, semua makhluk hidup tidak dapat melakukan aktivitas. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa fotosintesis merupakan proses vital yang wajib terjadi pada tumbuhan.

Selain itu, hasil dari proses fotosintesis juga dimanfaatkan oleh makhluk hidup lain untuk menimbulkan energi pula. Sehingga, fotosintesis merupakan proses yang penting untuk dipelajari.

  1. B.   Tujuan
  2. Mengetahui proses-proses yang terjadi pada peristiwa fotosintesis.
  3. Mempelajari reaksi-reaksi yang terjadi peda proses fotosintesis.

  1. C.   Rumusan Masalah
    1. Apakah yang dimaksud dengan fotosintesis?
    2. Percobaan apa saja yang berhubungan dengan fotosintesis?
    3. Bagaimana proses fotosintesis?
    4. Faktor – faftor apa saja yang mempengaruhi fotosintesis?
    5. Apakah peran cahaya dalam fotosintesis

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.   Pengertian

Fotosintesis : Peristiwa penyusunan zat organik (gula)  dari zat anorganik          (CO2 dan H2O) dengan pertolongan energi cahaya.  Karena bahan baku yang digunakan adalah CO2 (zat karbon) maka fotosintesis dapat pula disebut asimiliasi karbon. Proses pembuatan makanan pada tumbuhan hijau dapat terjadi dengan bantuan:

  • sinar matahari,
  • air,
  • garam mineral yang diserap,
  • karbondioksida dari udara diubah menjadi zat makanan.

  1. B.      Percobaan yang Berhubungan dengan Fotosintesis
  2. Ingenhousz

Orang pertama yang melakukan penelitian adalah Jan Ingenhousz. Ia memasukkan Hydrilla verticillata dalam bejana yang berisi air. Bejana ditutup dengan corang terbalik dan diatasnya diberi tabung reaksi yang diisi air sampai penuh. Bejana tersebut diletakkan di terik matahari, kemudian muncul gelembung udara dari tumbuhan itu. Gelembung idara tersebut menandakan adanya gas yaitu oksigen. Ingenhousz menyimpulkan bahwa fotosintesis menghasilkan oksigen.

  1. T.W Engelmann

Ia melakukan percobaan dengan menggunakan alga spirogyra. Hanya kloroplas yang terkena cahaya yang mengeluarkan oksigen. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya bakteri yang berkerumun di bagian kloroplas yang terkana cahaya. Sehingga disimpulkan bahwa:

  1. Fotosintesis dilakukan oleh kloroplas
  2. Kloroplas hanya berfotosintesis jika terkena cahaya.
  3. J.V. Sachs

Ia membuktikan bahwa fotosintesis menghasilkan amilum. Caranya, daun dibungkus kertas timah dan dibiarkan terkena cahaya matahari sejak pagi hingga sore. Kemudian daun tersebut direbus untuk mematikan sel-selnya. Kemudian daun tersebut dimasukkan dalam alcohol agar klorofilnya larut dan daun menjadi pucat. Kemudian ditetesi dengan iodine, sehingga bagian yang pucat tetap pucat sedangkan yang tidak tertutup berwarna biru kehitaman. Warna tersebut menandakan bahwa di daun terdapat amilum.

  1. Robert Hill

Hill membuktikan bahwa energi cahaya untuk memecah air (fotolisis), disebut reaksi terang yang terjadi di grana.

  1. Blackman

Blacman membuktikan bahwa reduksi karbon dioksida oleh H2 tanpa keterlibatan langsung dari cahaya, disebut reaksi gelap yang terjadi di stroma.

  1. C.            Proses Fotosintesis

Fotosintesis merupakan proses menggabungkan CO2, H2O menjadi gula dengan menggunakan energi cahaya dengan menggunakan organel yang disebut kloroplas.

Proses fotosintesis dibagi menjadi dua reaksi yaitu :

  1. Reaksi Terang

Reaksi terang merupakan langkah-langkah mengubah energy matahari menjadi energy kimia. Cahaya yang diserap oleh klorofil menggerakkan transport electron dan hydrogen dari air ke penerima ( aseptor ) yang disebut NADP+ yang berfungsi sebagai pembawa electron dalam respirasi seluler. Reaksi terang menggunakan tenaga matahari untuk mereduksi NADPmenjadi NADPH dengan cara menambahkan sepasang electron bersama dengan nucleus hydrogen atau H+. Reaksi terang juga menghasilkan ATP dengan memeberi tenaga bagi penambahan gugus fosfat yang pada ADP, proses ini disebut fotofosforilasi.

Reaksi terang terjadi di grana, persisnya di membran tilakoid. Reaksi terang menggunakan 2 fotosistem yang berhubungan. Fotosistem I menyerap cahaya dengan panjang gelombang 700 nm maka disebut P700, berfungsi untuk menghasilkan NADPH. Fotosistem II menyerap cahaya dengan panjang gelombang 680 nm maka disebut P680, berfungsi untuk membuat potensial oksidasi cukup tinggi sehingga bisa memecah air. Bila bekerja bersama, 2 fotosistem ini melakukan proses fotofosforilasi non-siklik yang menghasilkan ATP dan NADPH. Fotosistem I mentransfer elektron ke NADP+ untuk membentuk NADPH. Kehilangan elektron digantikan oleh elektron dari fotosistem II. Fotosistem II dengan potensial oksidasinya yang tinggi dapat memecah air untuk menggantikan elektron yang ditransfer ke fotosistem I. Kedua fotosistem ini dihubungkan oleh kompleks pembawa elektron yang disebut sitokrom/komplek b6-f. Kompleks ini menggunakan energi dari pemindahan elektron untuk memindahakan proton dan mengaktifkan gradien proton yang digunakan oleh enzim ATP sintase.

Saat pusat reaksi Fotosistem II menyerap foton, elektron tereksitasi pada molekul klorofil P680, yang mentransfer elektron ini ke akseptor elektron. P680 teroksidasi melepaskan elektron dari kulit terluar atom Mg. Atom Mg yang teroksidasi dengan bantuan enzim pemecah air, melepaskan elektron dari atom oksigen dari 2 molekul air. Proses ini membuat P680 menyerap 4 foton untuk melengkapi oksidasi 2 molekul air dan mengahsilkan 1 oksigen. Elektron yang tereksitasi dibawa oleh plastoquinon dan kemudian diterima oleh kompleks b6-f. Kehadiran elektron menyebabkan kompleks memompa proton ke celah tilakoid, kemudian elektron dibawa oleh plastosianin ke fotosistem I.

Pusat reaksi fotosistem I menyerap foton maka elektronnya tereksitasi. ”Lobang” yang ditinggal elektron segera ditempatin olek elektron dari Fotosistem II, sedangkan elektron yang tereksitasi tersebut ditanggap oleh ferredoxin. Ferredoxin tereduksi membawa elektron dengan potensial yang tinggi kemudian ditangkap oleh NADP+ untuk membentuk NADPH.Reaksi ini dikatalisasi oleh enzim NADPH reduktase. Enzim ATP sintase menggunakan gradien proton yang tercipta saat tranpor elektron untuk mensintesis ATP dari ADP + Pi.

  1. Reaksi Gelap

Reaksi gelap adalah reaksi pembentukan gula dari CO2 yang terjadi di stroma. Berbeda dengan reaksi terang, reaksi gelap atau reaksi tidak bergantung cahaya bisa terjadi pada saat siang dan malam, namun pada siang hari laju reaksi gelap tentu lebih rendah dari laju reaksi terang.

Reaksi gelap dimulai dengan pengikatan atau fiksasi 6 molekul CO2 ke 6 molekuk gula 5 karbon yaitu ribulosa 1,5 bifosfat, dikatalisis oleh enzim ribulosa bifosfat karboksilase/oksigenase(rubisco) yang kemudian membentuk 6 molekul gula 6 karbon. Molekul 6 karbon ini tidak stabil maka pecah menjadi 12 molekul 3 karbon yaitu 3 fosfogliserat. 3 fosfogliserat kemudian difosforilasi oleh 12 ATP membentuk 1,3 bifosfogliserat. 1,3 bifosfogliserat difosforilasi lagi oleh 12 NADPH membentuk 12 molekul gliseradehida 3 fosfat/PGAL. 2 PGAL digunakan untuk membentuk 1 molekul glukosa atau jenis gula lainnya, sedangkan 10 molekul lainnya difosforilasi oleh 6 ATP untuk kembali membentuk 6 molekul Ribulosa 1,5 bifosfat. Proses pengikatan CO2 ke RuBP disebut fiksasi, proses pemecahan molekul 6 karbon menjadi molekul 3 karbon disebut reduksi dan proses pembentukan kembali RuBP dari PGAL disebut regenerasi.
Fotosintesis ini disebut mekanisme C3, karena molekul yang pertama kali terbentuk setelah fiksasi karbon adalah molekul berkarbon 3. Kebanyakan tumbuhan menggunakan fotosintesis C3 disebut tumbuhan C3.

Untuk beberapa tumbuhan, mereka terpaksa melakukan fotosintesis dengan cara yang sedikit berbeda karena kondisi lingkungan. RuBP, alih-alih mengikat CO2, justru mengikat O2 sehingga berubah menjadi glikolat dan terurai. Proses ini disebut fotorespirasi. Saat fiksasi karbon, CO2 dan O2 berkompetisi untuk berikatan dengan RuBP. Pada kondisi normal bersuhu 25 C, 20% fiksasi karbon untuk fotosintesis hilang karena fotorespirasi. Kemungkinan makin meningkat saat kondisi panas, kering dan stomata menutup di siang hari untuk menyimpan air. Kondisi ini menyebabkan CO2 tidak bisa masuk dan O2 tidak bisa keluar sehingga terjadi fotorespirasi. Untuk menanggulangi hal tersebut, maka tanaman mengikatkan CO2 ke fosfoenolpiruvat(PEP), dikatalisis oleh PEP karboksilase dan membentuk senyawa 4 karbon, biasanya oksaloasetat. Mekanisme ini disebut mekanisme C4. Pengikatan ini terjadi disel mesofil. Oksaloasetat kemudian berubah menhadi malat yang memasuki sel seludang dan disanalah malat melepaskan CO2 untuk memulai siklus Calvin. Mala berubah menjadi piruvat yang keluar menuju sel mesofil, berubah menjadi PEP untuk berikatan lagi dengan CO2.

Reaksi Fotosintesis secara Umum

  1. D.      Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Fotosintesis
    1. a.           Intensitas cahaya
      Laju fotosintesis maksimum ketika banyak cahaya.
    2. b.           Konsentrasi karbon dioksida
      Semakin banyak karbon dioksida di udara, makin banyak jumlah bahan yang dapt digunakan tumbuhan untuk melangsungkan fotosintesis.
    3. c.            Suhu
      Enzim-enzim yang bekerja dalam proses fotosintesis hanya dapat bekerja pada suhu optimalnya. Umumnya laju fotosintensis meningkat seiring dengan meningkatnya suhu hingga batas toleransi enzim.

      1. d.           Kadar air
        Kekurangan air atau kekeringan menyebabkan stomata menutup, menghambat penyerapan karbon dioksida sehingga mengurangi laju fotosintesis.
      2. e.            Kadar fotosintat (hasil fotosintesis)
        Jika kadar fotosintat seperti karbohidrat berkurang, laju fotosintesis akan naik. Bila kadar fotosintat bertambah atau bahkan sampai jenuh, laju fotosintesis akan berkurang.
      3. f.             Tahap pertumbuhan
        Penelitian menunjukkan bahwa laju fotosintesis jauh lebih tinggi pada tumbuhan yang sedang berkecambah ketimbang tumbuhan dewasa. Hal ini mungkin dikarenakan tumbuhan berkecambah memerlukan lebih banyak energi dan makanan untuk tumbuh.

  1. E.         Cahaya yang Berperan dalam Fotosintesis

  1. F.    Fotosistem

  • Kumpulan pigmen dan protein yang berasosiasi dengan membran tilakoid yang memanen energi dari elektron yang tereksitasi
  • Energi yang ditangkap ditransfer antara molekul fotosistem sampai mencapai molekul klorofil pada pusat reaksi
  • Pada pusat reaksi terdapat 2 molekul
    • Klorofil  a
    • Akseptor elektron primer
    • Pusat reaksi klorofil dioksidasi dengan hilangnya elektron melalui reduksi akseptor elektron primer
    • Terdapat fotosistem I dan  II

  1. G.     Aliran Elektron
    1. Terdapat dua rute jalur elektron yang tersimpan pada akseptor elektron primer
    2. Kedua jalur
  • Dimulai dengan penangkapan energi foton
  • Menggunakan rantai transport elektron dengan sitokrom untuk kemiosmosis
  1. Aliran elektron nonsiklik
  • Menggunakan fotosistem II dan I
  • Elektron dari fotosistem II dihilangkan dan diganti oleh elektron yang didonasikan oleh air
  • Mensintesis ATP dan NADPH
  • Donasi elektron mengkonversi air O2 dan 2H+

  1. Aliran elektron siklik
  • Hanya menggunakan fotosistem I
  • Elektron dari fotosistem I di-recycle

  1. Mensintesis ATP

  1. H.     Tanaman CAM dan C4
    1. Tanaman C4

Tanaman C4 meminimalkan keperluan fotorespirasi dengan cara menggabungkan CO2 ke dalam senyawa empat karbon di sel mesofil

  1. Tanaman CAM

Membuka stomatanya pada malam hari, menggabungkan CO2 ke dalam asam organik

Selama siang hari, stomata tertutup

–     CO2 dilepaskan dari asam organik untuk digunakan dalam siklus Calvin

  • Anatomi daun C4 dan jalur C4

  • Ø Jalur CAM mirip dengan jalur C4

BAB III

PENUTUP

  1. A.      Kesimpulan
    1. Fotosintesis : Peristiwa penyusunan zat organik (gula)  dari zat anorganik                (CO2 dan H2O) dengan pertolongan energi cahaya
    2. Percobaan yang berkaitan dengan fotosintesis:

ü  Ingenhousz

ü  T.W Engelmann

ü  J.V. Sachs

ü  Robert Hill

ü  Blackman

  1. Proses fotosintesis terdiri dari dua reaksi, yaitu reaksi gelap dan reaksi terang.
  2. Faktor yang mempengaruhi fotosintesis:

ü    Intensitas cahaya

ü    Konsentrasi karbon dioksida

ü    Suhu

ü    Kadar air

ü    Kadar fotosintat (hasil fotosintesis)

ü    Tahap pertumbuhan

  1. Peranan cahaya dalam fotosintesis adalah sebagai sumber energy ( foton ).

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

10/28/2011 Posted by | Fisiologi Tumbuhan | Tinggalkan komentar

Teknologi Text-Mining untuk Pengembangan Ilmu Biologi sebagai Ilmu Interdisipliner di Masa Depan

Marselina Tando, NIM 13506100

Program Studi Teknik Informatika

Sekolah Teknik Elektro dan Informatika

Institut Teknologi Bandung

Jln. Ganesha no. 10 Bandung 40132

Indonesia

email: se_tan_303@yahoo.co.id, if16100@students.if.itb.ac.id

 


Abstrak Pesatnya pertumbuhan repositori data teks menyulitkan orang-orang untuk mengakses informasi yang dibutuhkan dengan cara yang nyaman dan efektif. Permasalahan ini muncul sebagai dampak banyaknya informasi yang terintegrasi dalam teks yang kurang terstruktur. Akibatnya, komputer tidak dapat melakukan interpretasi dengan mudah. Dalam makalah ini, disajikan ulasan mengenai teknik text-mining dalam peranannya untuk menjawab kebutuhan masa depan dalam hal penyediaan informasi yang bermanfaat dan mudah diakses oleh khalayak umum. Sebagai contoh bidang aplikasi, dibahas mengenai ilmu biologi, sebagai salah satu ilmu interdisipliner yang memilki tingkat kompleksitas cukup tinggi dan tengah mengalami perkembangan pesat pada dekade ini. Contoh aplikasi langsung yang dibahas adalah mengenai pembuatan hipotesis dan pembuatan sistem ekstraksi informasi dan penjawaban query biologi. Pengembangan lebih lanjut dari konsep ini dapat diterapkan pada bidang keilmuan lainnya.

Kata Kunci: text-mining, ekstraksi informasi, ontologi, ekstraksi relasi, data mining,

 

1. PENDAHULUAN

 Era informasi telah mengakibatkan usaha penyimpanan data elektronik dalam jumlah yang sangat besar menjadi sulit untuk dilakukan. Perkembangan teknologi yang memungkinkan penemuan, pengembangan, dan pertukaran informasi dalam waktu yang cepat menimbulkan permasalahan yang sama pada repositori data : berlebihnya beban data yang harus disimpan. Hal ini juga menjadi masalah tersendiri bagi pengguna informasi, yaitu sulitnya untuk menemukan informasi yang benar-benar berguna dalam waktu yang singkat dan cara yang nyaman [3].

Biologi merupakan salah satu ilmu pengetahuan interdisipliner yang mengalami perkembangan pesat. Literatur, data, dan informasi yang berkaitan dengan biologi beserta cabang-cabangnya, seperti biosistem, biomedik, biologi molekular, dan bioinformatika, mengalami pertumbuhan secara kuantitas dengan persentase sekitar 10% setiap tahunnya. Bidang dengan kompleksitas tinggi ini menjadi salah satu area riset urtama dalam kurun waktu dua dekade terakhir [1].

Text mining menjadi kunci penting untuk menjawab permasalahan di masa depan mengenai pengaksesan informasi yang bermanfaat dengan jumlah data yang terus mengalami peningkatan. Sebagai contoh aplikasi, akan diulas mengenai pembuatan hipotesis dan sistem ektraksi informasi serta penjawaban query biologi [2].

                Dalam makalah ini, diterapkan sistematika sebagai berikut. Bagian pertama akan membahas pendahuluan, yaitu mengenai latar belakang dan sistematika penulisan makalah. Selanjutnya, akan dibahas mengenai penelitian terkait yang telah dilakukan sebelumnya. Di bagian berikutnya, akan dijelaskan mengenai tahap-tahap yang digunakan dalam text mining. Pada bagian keempat, akan dibahas mengenai aplikasi text mining dalam biologi sebagai ilmi interdisipliner. Sebagai penutup, akan disajikan kesimpulan dan arah pengembangan di masa depan yang diperoleh dari review makalah.

2. PENELITIAN TERKAIT

Dalam bagian ini dipaparkan mengenai penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Pada bagian 2.1 dibahas mengenai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya terkait dengan identifikasi entitas biologi, sedangkan pada bagian 2.2 dibahas mengenai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya terkait dengan ekstraksi relasi biologis. Kedua penelitian tersebut memiliki peran penting dalam menyiapkan data setengah-jadi yang kemudian akan diolah lebih lanjut dengan teknik text mining untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.

2.1 Penelitian Terkait Identifikasi Entitas Biologi

Ekstraksi informasi dari suatu dokumen biologi sangat tergantung pada identifikasi entitas biologi dalam dokumen itu sendiri. Pada awalnya, proses identifikasi entitas dan pemberian tag masing-masing dilakukan secara manual. Namun, dengan perkembangan literatur teks dan data yang sangat pesat, tidak memungkinkan lagi untuk melakukannya secara manual. Beberapa pendekatan yang telah dilakukan dapat diklasifikasikan sebagai berikut [2].

(i)                   Pendekatan rule-based

Pendekatan ini menggunakan karakteristik morfolojik dan informasi Part-Of-Speech serta kata kunci untuk memberikan tag pada sebuah nama.

(ii)                 Pendekatan dictionary-based

Pendekatan ini melakukan identifikasi terhadap nama gen atau protein dengan melakukan pencocokkan terhadap entry dalam kamus, baru kemudian memberikan tag  tertentu.

(iii)                Pendekatan machine-learning-based

Teknik machine-learning  seperti Hidden Markov Model, Naive Bayes, dan Support Vector Machine telah berhasil diaplikasikan untuk membantu identifikasi nama entitas protein atau gen.

(iv)               Analisis statistik

Analisis statistik dilakukan untuk melakukan clustering terhadap abstrak dan melakukan identifikasi kata kunci yang terdapat dalam abstrak. Identifikasi term dan metode klasifikasi berdasarkan pembelajaran statistik ini secara umum dapat menangani tipe pengetahuan baru melakukan representasi dengan lebih efektif daripada pendekatan dengan rule-based dan dictionary-based.

(v)                 Pendekatan hibrid

Pendekatan hibrid memadukan pendekatan rule-based dan dictionary-based untuk identifikasi gen atau protein yang terdiri dari banyak kata. Walaupun hasil yang dicapai dengan metode ini cukup memuaskan, namun permasalahan sinonim tak spesifik belum dapat ditangani sepenuhnya.

2.2. Penelitian Terkait Ekstraksi Relasi Biologi

Meskipun identifikasi entitas dari teks telah cukup membantu untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, namun inferensi terhadap isi dokumen membutuhkan lebih dari sekedar identifikasi entitas. Konteks dari entitas dalam sebuah dokumen dapat diturunkan dari analisis relasi antar-entitas dalam dokumen. Penelitian mengenai relasi ini sangat membantu dalam penerapan sistem ekstraksi informasi dan penjawaban query biologi yang akan dibahas lebih lanjut pada bagian selanjutnya. Beberapa pendekatan yang telah digunakan untuk melakukan ekstraksi relasi antraa lain sebagai berikut [2].

(i)                   Pendekatan co-occurence-based

Dengan pendekatan ini, setelah entitas biologi diekstrak dari dokumen, relasi diantaranya kemudian diturunkan dengan asumsi bahwa 2 entitas dalam kalimat atau abstrak yang sama dinyatakan berhubungan. Negasi dalam teks tidak diperhitungkan.

(ii)                 Pendekatan linguistic-based

Pendekatan ini umumnya menggunakan teknik shallow parsing untuk mengetahui lokasi kata kerja atau kata benda dalam suatu dokumen. Rule dikembangkan secara spesifik untuk mengekstrak kata-kata latar dari term yang didefinisikan sebelumnya dan memformatnya sebagai relasi.

(iii)                Pendekatan campuran

Pendekatan campuran ini dapat berupa mekanisme unsupervised learning untuk melakukan ektraksi relasi dari konsep ilmu tertentu. Sebagai contoh, dilakukan ekstraksi relasi antara konsep dalam biologi molekular dari abstrak jurnal MEDLINE yang merupakan bagian dari corpus GENIA [2]. Untuk tiap kalimat yang mengandung 2 entitas biologi, graf berarah dibuat untuk menunjukkan ketergantungan antara kedua entiti tersebut berdasarkan analisis linguistik. Meskipun akan terdapat banyak graf berarah dari ekstraksi awal corpus, hanya beberapa graf signifikan saja yang akan diidentifikasikan sebagai relasi biologi.

3. TAHAP-TAHAP DALAM TEXT-MINING

Jika proses data mining melakukan penemuan pengetahuan dari data yang sifatnya terstruktur, maka text mining menemukan dan melakukan ekstraksi pengetahuan dari data yang tidak terstruktur. Text mining melibatkan 3 aktivitas utama : (i) temu-balik informasi, yang mengumpulkan teks-teks yang relevan dengan kebutuhan, (ii) ekstraksi informasi, yang mengidentifikasi dan mengekstrak beberapa tipe spesifik dari informasi yang dicari, dan (iii) data mining, yang menemukan asosiasi antara potongan-potongan informasi yang diekstrak dari beberapa teks berbeda [1].

3.1    Tahap Temu-Balik Informasi

Tahap temu-balik informasi merupakan aktivitas untuk menemukan dokumen yang dapat menjawab kebutuhan informasi dengan menggunakan bantuan indeks. Hampir seluruh komputer pada saat ini menggunakan sistem temu-balik informasi secara frekuentif, seperti mesin pencari GoogleTM. Para pengguna yang memanfaatkan jasa mesin pencari ini harus menghadapi permasalahan yang sama : membaca dokumen yang sangat banyak untuk kemudian menemukan fakta yang dan menentukan apakah infornasi yang dibutuhkan terdapat di dalamnya.

Selain mesin pencari untuk tujuan yang tidak spesifik, telah banyak pula terdapat perangkat temu-balik informasi yang telah didesain secara spesifik untuk melakukan query terhadap basis data penerbit jurnal-jurnal yang berkaitan dengan ilmu tertentu. Beberapa contohnya antara lain sebagai berikut Textpresso, Query Chem, iHOP, dan PubMatrix [1].

3.2 Tahap Ekstraksi Informasi

Untuk melakukan identifikasi dan tabulasi dari fakta yang berada pada dokumen dalam kuantitas sangat besar, ekstraksi informasi merupakan teknologi yang sangat relevan untuk menjawab kebutuhan tersebut. Tujuan akhir dari aplikasi teknologi ini adalah untuk melakukan ekstraksi informasi dari teks tanpa mensyaratkan end-user perlu membaca  teks. Ekstraksi informasi dapat digunakan untuk mendukung layanan temu-balik fakta atau sebagai tahapan dalam melakukan text mining berbasiskan teks konseptual.

Gambar 2 Pemrosesan teks tak terstruktur menjadi teks terstruktur dengan teknik text mining

Term merupakan kunci untuk melakukan spesialisasi berdasarkan bidang ilmu karena merupakan penanda entitas biologi dalam dokumen. Sayangnya, penamaan entitas biologi ini tergolong cukup rumit dikarenakan ketidakakuratan dan inkonsistensi [1]. Variansi dari sebuah term harus dapat diidentifikasi, diindeks, dihubungkan, dan dipetakan ke basis data dan ontologi biologi yang sangat banyak. Ontologi sendiri merupakan konsep yang memegang peranan penting dalam text miningkarena konsep ini menyediakan interpretasi semantik terhadap teks serta membatasi interpretasi yang mungkin dari entitas biologi (Gambar 1) [4].

Penamaan entitas biologi merupakan tahap pertama dari ekstraksi informasi (Gambar 2). Tahapan ini bergantung pada pengenalan term secara otomatis, yang mengekstrak term dari koleksi dokumen dan memberikan label sebuah term tertentu. Mayoritas dari pendekatan yang dilakukan dalam konteks biologi adalah melakukan integrasi antara identifikasi dan klasifikasi term dalam satu tahap. Beberapa pendekatan tel2ah dibahas secara singkat pada bagian penelitian terkait, yaitu pendekatan rule-based, dictionary-based, dan machine-learning-based.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah dilakukan identifikasi entitas biologi, teks kemudian dibagi-bagi menjadi token, untuk mengidentifikasi batas-batas dari kata dan kalimat, yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian tag

(part-of-speech tagging). Pemberian tag ini merupakan aktivitas memberikan label seperti noun untuk kata benda, verb untuk kata kerja, dan adjective untuk kata sifat pada term dalam dokumen. Analisis sintaks kemudian dilakukan untuk menentukan potongan tekstual dari sebuah kalimat (Gambar 3).

Gambar 3 Part-of-Speech Tagging

3.3 Tahap Data Mining

Tahap data mining digunakan untuk menemukan asosiasi yang tidak ditemukan sebelumnya dari antara fakta-fakta yang telah diekstrak oleh tahapan sebelumnya. Tahap ini merupakan tahapan yang membungkus integrasi antara text mining dan data mining. Kebanyakan teknik data mining yang diterapkan pada biologi menggunakan asumsi bahwa data yang ada merupakan data biologi yang telah terstruktur dengan baik, tidak seperti data tekstual tak terstruktur yang digunakan dalam teknik text mining. Data tekstual tak terstruktur yang telah digunakan untuk meningkatkan performansi hasil PSI-BLAST (position spesific iterated BLAST), dan pencarian homolog sekuensial telah berhasil mengintegrasikan text mining dengan data mining untuk keperluan klasifikasi fungsional berbasis sekuens dari protein dengan menggunakan metode supervised machine-learning. Akan tetapi, karena cluster tersebut masih relatif sedikit yang melalui tahap validasi, text mining masih digunakan sebagai satu tahapan maju dari clustering ekspresi gen dan menginterpretasikan cluster tersebut melalui asosiasi dengan literatur dari penerbit.

 

4. TEXT-MINING DALAM BIOLOGI SEBAGAI ILMU INTERDISIPLINER

 

4.1 TEXT MINING DALAM PEMBUATAN HIPOTESIS

Biologi merupakan salah satu contoh bidang ilmu yang menunjukkan pergeseran kecenderungan pengetahuan sains dari cara berpikir yang digerakkan oleh hipotesis ke arah cara berpikir terintegrasi yang bersifat holistik, yaitu memadukan hipotesis dengan data. Data mengenai ilmu pengetahuan interdisiplin seperti biologi dapat ditemui dalam bentuk yang sangat beragam, seperti data terstruktur yang berasal dari basis data, data eksperimen, atau bahkan data tak terstruktur yang berasal dari teks bebas. Jumlah data tekstual yang bersifat tak terstruktur mengalami peningkatan yang sangat pesat hingga sangat sulit untuk menemukan pengetahuan dan membuat hipotesis sains tanpa penggunaan teknologi akstraksi pengetahuan, yang sangat bertumpu pada teknik data mining.

Dalam disiplin ilmu dengan data yang melimpah namun kurang berisi dalam hal hipotesis di dalamnya (seperti data gen fungsional dan biomedik), metode sains deduktif sulit untuk dipertahankan karena tidak dapat memberikan perkembangan terakhir dari ilmu pengetahuan tertentu dengan cepat. Untuk itu, pada saat ini penemuan pengetahuan dengan metode induksi yang digerakkan oleh data mengalami perkembangan yang pesat. Ciri khas metode ini adalah rapid mining kandidat hipotesis dari literatur-literatur, yang kemudian diuji dan divalidasi secara subsekuens dengan data eksperimen yang tersedia [1].

Dengan metode tersebut dapat dibuat koneksi antara beberapa argumen yang nampak terpisah dan tidak memilki korelasi apapun. Beberapa koneksi dari jurnal-jurnal dan informasi penerbit MEDLINE yang dibuat dengan metode ini antara lain sebagai berikut: (i) keterhubungan antara penyakit migraine dan defisiensi magnesium, yang telah divalidasi secara subsekuens melalui eksperimen, (ii) keterhubungan antara indomethacin dan gangguan Alzheimer, (iii) serta keterhubungan antara Curcuma longa dan gangguan retina. Dengan menggunakan teknik yang sama pula dan dengan berdasar kepada bukti literatur, dapat diberikan saran mengenai pemberian thalidomide untuk penanganan beberapa penyakit, seperti hepatitis C kronis dan gangguan pankreas akut [1].

Pembuatan hipotesis dengan text mining dilakukan berdasarkan fakta bahwa kemungkinan adanya keterhubungan atau asosiasi antara entitas atau fakta yang terpisah satu sama lain dapat terjadi. Kemungkinan-kemungkinan ini dimunculkan dan dipadukan dengan data-data yang ada, sehingga dapat menghasilkan informasi yang berguna.

4.2 TEXT MINING DALAM SISTEM EKSTRAKSI INFORMASI DAN PENJAWABAN QUERY BIOLOGI

Untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai sistem ekstraksi informasi biologi ini, dibahas secara spesifik mengenai salah satu contohnya, yaitu BIEQA : Biological Information Extraction and Query Answering. BIEQA secara khusus dirancang untuk menerima teks atau dokumen biologi yang telah diberikan tag secara ontologis sebagai input dan melakukan ekstraksi dari informasi tersebut mengenai relasi yang menghubungkan dua konsep biologi dalam teks tersebut. Relasi hasil ekstraksi digunakan untuk membantu pengguna melakukan ekstraksi informasi dari dokumen teks dengan cara yang lebih efisien. Sistem ini dibuat khusus dengan menggunakan corpus ontologi GENIA dan bersifat spesifik untuk jurnal-jurnal yang ada dalam basis data penerbit MEDLINE.

Beberapa aspek unik dari BIEQA antara lain sebagai berikut.

(i)   Sistem menggunakan pendekatan yang mengintegrasikan pemrosesan bahasa alami dan teknik pencocokan pola untuk memperoleh seluruh relasi biologi yang terdapat dalam sebuah corpus. Sistem telah dirancang untuk bekerja dengan koleksi abstrak di mana entitas biologinya telah diberi tag sesuai dengan konsep ontologinya, bersama dengan ontologi yang menjadi input. Hal ini menginisiasi pattern mining dengan rangkaian konsep ontologi untuk mengekstrak relasi biologi di dalamnya.

(ii) Relasi biner yang telah diekstrak kemudian direpresentasikan dalam bentuk triplet berurut <Ci, R, Cj>, di mana Ci dan Cj merupakan konsep biologi dan R merupakan relasi biologi yang diperoleh dari corpus. Seluruh relasi diasosiasikan dengan nilai keanggotaan fuzzy, berdasarkan frekuensi relatif kemunculan relasi. Seluruh relasi didefinisikan pada level konseptual untuk memudahkan deskripsinya.

(iii)              Seluruh informasi relevan, seperti nama entitas biologi dan kategori biologisnya, serta  relasi biologi dan kemunculannya, seluruhnya dikumpulkan dalam sebuah basis data pengetahuan yang terstruktur. Basis pengetahuan ini kemudian diindeks berdasarkan relasi, entitas, dan konsepnya dengan menggunakan mekanisme indeks novel.

Secara umum, sistem yang dibahas memiliki 5 modul utama yang memilki peranan masing-masing yang terintegrasi dalam sistem [2].

(i)           Ekstraktor Entitas

Modul ini menerima masukan berupa abstrak makalah biologi yang telah mengandung tag dan mengekstrak nama entitas dari teks. Karena entitas dapat saja diselipkan dalam tag tunggal maupun ganda, maka diperlukan desain rule untuk melakukan pre-proses dan kemudian mengekstrak entitas biologi dari dokumen teks yang telah diberi tag.

(i)             Meta Language (ML) Tag Filter dan POS Tagger

Modul ini berfungsi untuk menyaring tag-tag ML dari dokumen input. Dokumen yang telah disaring kemudian dianalisa dengan bantuan POS (Part-of-Speech) Tagger untuk mengubah tiap kalimat ke dalam bentuk semi-terstruktur berbasiskan konsep.

(ii)           Biological Relation Extractor

Modul ini menggunakan rekord semi-terstruktur yang dihasilkan dari modul sebelumnya melalui kolaborasi dengan ontologi yang telah didefinisikan sebelumnya, untuk pertama-tama mengekstrak seluruh komponen informasi dan seluruh triplet relasi biologi (Ci, R, Cj).

(iii)                            Knowledge Base Manager

Modul ini menyimpan koleksi abstrak untuk melakukan ekstraksi informasi yang lebih efisian dari waktu ke waktu. Di dalamnya terdapat parser dokumen yang menyimpan lokasi terdapatnya relasi biologi dalam koleksi untuk membuat basis data yang telah terindeks menurut entitas, konsep, dan relasi.

(iv) Pemroses Query

Modul pemrosesan query menyediakan antar-muka query intelijen yang memungkinkan pengguna untuk membuat formulasi query pada tingkat spesifikasi yang berbeda-beda. Query yang dimasukkan oleh pengguna dapat mengandung informasi yang sederhana hingga kompleks, dapat meliputi pertanyaan mengenai eksistensi nama entitas tertentu hingga eksistensi sepasang entiitas atau konsep yang dihubungkan oleh relasi biologi tertentu.

 

 

5. KESIMPULAN

Teknologi text mining dapat diaplikasikan dalam berbagai area ilmu pengetahuan, termasuk biologi sebagai ilmu interdisipliner. Beberapa pengembangan text-mining dalam bidang biologi antara lain pembuatan hipotesis/kesimpulan secara induktif serta pembuatan sistem ekstraksi informasi biologi untuk identifikasi relasi dan akses literatur yang relevan.

Beberapa arah pengembangan text-mining untuk menjadi teknologi masa depan yang dapat membantu perkembangan ilmu pengetahuan antara lain sebagai berikut [1].

i)              i)    Tersedianya jurnal atau literatur dalam format full-text akan memberikan signifikansi yang cukup besar dalam performansi text-mining, mengingat masih banyaknya abstrak yang kekurangan informasi relevan di dalamnya.

ii)                      ii)   Integrasi text mining dengan data mining akan merintis pengembangan aplikasi yang lebih luas dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan teori maupun terapan, seperti pencarian similaritas struktur kimiawi atau integrasi rekam medis dengan data gen dan bukti dari literatur untuk kepentingan aplikasi farmasi. Dengan memadukan aplikasi dengan konsep sistem tersebar, maka akan memberikan lebih banyak manfaat kepada masyarakat.

iii)   Pengembangan konsep text-mining  juga dapat dimanfaatkan dalam pembuatan model berdasarkan litaratur yang ada. Pembuatan model ini dapat diawali dengan perancangan model kualitatif atau struktural, yang biasanya diturunkan dari rangkaian gen dan kemudian dapat diintegrasikan dengan bukti yang diturunkan dari literatur melalui konsep text-mining.

Eksplorasi dan eksploitasi teknik data mining masih berada pada tahap awal pengembangan, namun telah mencapai kemajuan yang cukup pesat. Teknik ini diharapkan dapat menjadi alat yang dapat diandalkan oleh para ahli ilmu pengetahuan di masa depan untuk dapat melakukan ekstraksi informasi pengetahuan intersisipliner dengan lebih efektif dan efisien, yang pada akhirnya akan membawa kemajuan yang lebih pesat pada perkembangan ilmu pengetahuan secara keseluruhan.

 

 

DAFTAR REFERENSI

[1] Ananiaduo, Sophia. et al. (2006) Text mining and its appplications in systems biology.

[2] Abulaish, M. and Dey, Lipika. (2006) Biological relation extraction and query answering from MEDLINE abstracts using ontology-based text mining.

[3] Cohen, Aaron M. and Hersh, William R. (2004) A survey of current work in biomedical text mining.

[4] Spasic, Irene. et al. (2005) Text mining and ontologies in biomedicine : Making sense of raw text.

10/28/2011 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

PHYLUM ARTHROPODA

BAB I

CIRI-CIRI UMUM

 

  1. Ciri-ciri Umum Phylum Arthropoda

Arthropoda berasal dari kata arthron yang berarti ruas, dan podos yang berarti kaki. Jadi Arthropoda dapat diartikan hewan yang kakinya beruas-ruas. Merupakan hewan kelompok terbesar dalam arti jumlah species maupun penyebarannya. Hampir 90% dari seluruh jenis hewan yang diketahui orang adalah Arthropoda.

Arthropoda diklasifikasikan menjadi 4 kelas, yaitu:

a)      Crustacea atau Udang-udangan

b)      Insecta atau serangga (Hexapoda)

c)      Myriapoda atau lipan (kaki seribu)

d)     Arachnida atau labah-labah

Adapun ciri-ciri umum dari Arthropoda antara lain adalah sebagai berikut:

1)      Tubuh beruas-ruas yang terbagi atas kepala (caput), dada (thoraks), dan badan belakang (abdomen). Beberapa diantaranya ada yang memiliki kepala dan dada yang bersatu (cephalothoraks).

2)      Bentuk tubuh simetris bilateral

3)      Rangka luar keras tersusun atas zat kitin

4)      Sifat hidup ada yang parasit, heterotropik, dan hidup secara bebas

5)      System peredaran darah terbuka (system lakuner) dan alat peredarannya berupa jantung dan pembuluh-pembuluh darah terbuka

6)      Alat pernapasan berupa trakea, insang, dan paru-paru yang merupakan lembaran (paru-paru buku)

7)      Alat pencernaan makanan lengkap terdiri atas mulut, kerongkongan usus, dan anus

8)      Sistem reproduksi terpisah, artinya ada hewan jantan dan ada hewan betina. Reproduksi terjadi secara seksual dan aseksual (partenogenesis dan paedogenesis)

9)      System saraf berupa tangga tali dan alat peraba berupa antena

10)  Hidupnya di darat, air tawar dan laut.

BAB II

KLASIFIKASI PHYLUM ARTHROPODA

 

  1. A.       Crustacea atau Udang-udangan

a)        Ciri-ciri Crustacea

1)    Pada kepalanya terdapat lima pasang alat gerak sebagai berikut:

  • Tiga pasang rahang yaitu, satu pasang Mandi Bula, satu pasang maksila petama, dan satu pasang maksila kedua.
  • Dua pasang antena dengan alat-alat tambahan disekitarya yang bersifat tipikal biramus (bercabang dua)

2)   Peredaran darahnya terbuka dan tidak memiliki pembuluh darah kapilar

3)   Sebagian besar anggotanya bernafas dengan insang, tetapi hewan yang ukuran tubuhnya kecil bernapas dengan seluruh permukaan tubuhnya

4)   Hewan ini dapat dibedakan antara hewan jantan dan hewan betina

5)   Kakinya terdapat hampir di seluruh permukaan tubuhnya

6)    Kepalanya terbentuk sebagai persatuan segmen.

b)       Klasifikasi / Sistematika

Kelas insecta terbagi atas 2 subkelas yaitu:

1)      Subkelas Malacostrata(udang tingkat tinggi) yang memiliki ciri-ciri sebagai brikut:

  • Tubuhya terdiri atas cephalothoraks
  • Cara perkembangbiakannya dengan telur hasil pembuahan yang menetas menjadi larva yang disebut Nauplius
  • Bernafasnya dengan insang berbentuk bulu-bulu halus
  • Hewan ini tidak berwarna.
  1. Klasifikasi Malacostrata

Subkelas Malacostrata dibagi menjadi 3 ordo sebagai berikut:

v  Ordo Isopoda

  • Pada umumnya hidup di laut, tetapi ada pula yang hidup di air tawar dan darat
  • Ada beberapa diantaranya yang menggerek kayu

v  Ordo Stomatopoda

  • Hidupnya di laut
  • Anggotanya terdiri atas crustacea yang bentuk tubuhnya seperti belalang sembah
  • Di belakang kepalanya terdapat karapaks yang merupakan rangka luar
  • Warna tubuhnya menyolok

v  Ordo Decapoda

  • Anggotanya meliputi udang, kepiting, dan ketam
  • Tiga pasang anggota gerak paling depan pada thoraksnya berubah fungsi menjadi rahang
  • Lima pasang anggota gerak lainnya pada thoraks menjadi kaki sehinga disebut hewan berkaki sepuluh
  • Kepala dan thoraksnya menjadi satu yang dilindungi oleh kaparaks.

Contoh :

  • Cabarus sp (udang air tawar)
  • Panulirus sp (udang laut lobster)
  • Penacus sp (udang windu / udang air payau)

2)      Subkelas Entomostraca (udang tingkat rendah) yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Merupakan mikroorganisme
  • Hidupnya sebagai plankton yang dapat bergerak bebas
  • Ø Hewan ini tidak memiliki insang sehingga bernafas dengan seluruh permukaan tubuhnya.

b)   Klasifikasi Entomostraca

Subkelas Entomostraca dibagi menjadi beberapa ordo sebagai berikut:

v Ordo Branciopoda

  •     Tubuhnya sangat kecil dan hidupnya di air tawar
  •     Pada umumnya bertubuh pucat dan transparan.

Contoh:

  • Daphnia Pulex (kutu air)
  • Lepidurus
  • Notostraca

 

  • Estheria
  • Conthrostraca

v Ordo Ostracoda

  •     Hidupnya di air laut dan air tawar
  •     Beberapa jenis diantaranya hidup sebagai plankton

v  Ordo Copepoda

  •     Merupakan ordo terbesar di Enromostraca
  •     Hidupnya di air laut, tawar dan hidup sebagai plankton

v  Ordo Cirripedia

  •     Hidupnya di laut
  •     Pada umumnya hidupnya melekat pada suatu tempat

c)      System Organ Crustacea

v   System pernapasannya berupa insang kecuali yang bertubuh sangat kecil dengan seluruh permukaan tubuh

v   System pencernaan terdiri atas 3 bagian yaitu: tembolok untuk menampung makanan, lambung otot (ampela), dan lambung kelenjar.

v    Sistem reproduksinya diesis (berkelamin satu). Pembuahan terjadi secara eksternal. Telur menetas menjadi larva yang sangat kecil, berkaki tiga pasang dan bersilia.

d)     Habitat

Hewan ini sebagian besar hidup di air yaitu danau, laut, dan sungai. Di laut hewan ini hidup mulai dari pantai hingga laut dalam. Namun ada juga yang hidup di air tawar dan di darat.

e)      Peranan Crustacea bagi kehidupan manusia

Berbagai Crustacea menguntungkan bagi manusia dalam beberapa bidang seperti berikut ini:

  • Sebagai bahan makanan yang berprotein tinggi, misalnya udang, lobster, dan kepiting.
  • Bidang Ekologi; Entomostraca yang berperan sebagai zooplankton menjadi sumber makanan misalnya anggota Branchiopoda, Ostracoda, dan Copepoda.

Selain menguntugkan, ada beberapa Crustacea yang merugikan antara lain:

  • Merusak lambung kapal (perahu), misalnya anggota Isopoda.
  • Parasit pada ikan, kura-kura, dan sebagainya misalnya anggota Cirripedia dan Copepoda.
  • Merusak pematang sawah atau saluran irigasi, misalnya ketam.

 

  1. B.     Insecta atau Serangga

Anggotanya sangat besar dan bervariasi sehingga dipelajari dalam cabang ilmu biologi tersendiri yang disebut Entomologi (entomos = serangga, logos = ilmu), yaitu ilmu yang mempelajari tentang serangga.

a)      Ciri-ciri Insecta

1)      Sebagian anggotanya hidup di darat dan sebagian kecil saja yang hidup di air tawar. Jarang sekali hewan ini yang hidup di dalam air laut.

2)      Ukuran tubuhnya bervariasi, ada yang bersifat mikroskopis sampai ada yang beberapa sentimeter panjangnya.

3)      Tubuhnya terdiri atas caput (kepala), thoraks (dada), dan abdomen (perut).

4)      Pada kepalanya terdapat:

  • Ø Sepasang mata faset (mata majemuk) tetapi ada yang bermata tunggal
  • Ø Sepasang antena sebagai alat peraba
  • Ø Empat pasang alat mulut dan mempunyai empat bentuk mulut, yaitu:

Alat mulut menggigit pada semut

Alat mulut menggigit dan menjilat pada lebah

Alat mulut mengisap pada kupu-kupu

Alat mulut menusuk dan mengisap pada nyamuk

5)      Thoraks (dada) terbagi atas 3 segmen, yaitu:

  • Prothoraks (bagian depan), terdapat sepasang kaki jalan dan kadang-kadang ada sepasang sayap
  • Mesothoraks (bagian tengah), terdapat sepasang kaki jalan dan kadang-kadang ada sepasang sayap
  • Metathoraks (bagian belakang), terdapat sepasang kaki jalan.

6)      Pada abdomennya biasanya terdapat 6-11 segmen, dan satu ataupun dua sayap.

7)      Alat pencenaan makanannya terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung depan, lambung otot, lambung kelenjar, usus, usus akhir, dan anus. Penghancuran makanan terjadi dalam lambung otot.

8)      Pada serangga betina terdapat ovipositor yang berguna untuk menyimpan telur.

9)      Pada segmen pertama dari abomennya memiliki membran hympanum untuk mendengar

10)  Hewan ini tidak mempunyai zat warna merah, tetapi ada sel darah dan pembuluh darah.

11)  System saraf tangga tali

12)  Hewan ini mengalami metamorfosis (perubahan bentuk tubuh menuju kedewasaan) sebagai berikut:

  • Metamorfosis sempurna

Telur         larva         kepompong (pupa)      imago (dewasa).

Contoh:  kupu-kupu, lalat, dan tawon.

  • Metamorfosis tidak sempurna

Telur         larva         nimfa          imago

Contoh:  jangkrik, lipas, dan belalang.

  • Tidak mengalami metamorfosis

Telur         imago (dewasa)

Contoh: Lepisma (kutu buku)

b)      Klasifikasi / Sistematika

Kelas Insecta dibagi menjadi 2 subkelas sebagai berikut:

1)      Subkelas Apterygota yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Tubuh berwarna perak dan tidak memiliki sayap
  • Tidak mengalami metamorfosis
  • Thoraks dan abdomen tidak memiliki batas yang jelas.
  1. Klasifikasi Apterygota

Subkelas kelas Apterygota dibagi menjadi 2 ordo sebagai berikut:

v  Thysaruna, yaitu Apterygota yang memiliki antena panjang.

Contoh:

  • Lepisma Saccharina(kutu buku)
    • Mempunyai kemampuan merusak buku dan pakaian yang dikanji
    • Menghasilkan enzim selulosa yang berguna untuk mengubah selulosa menjadi gula sederhana.

v  Collembola

  • Hidup di tanah terutama di hutan yang lembab
  • Antenanya berbuku-buku
  • Abdomen belakang berbentuk seperti garpu dan berfungsi untuk meloncat.

2)      Subkelas Pterygota

Pterygota dibedakan antara Exopterygota dan Endopterygota.

v Exopterygota, memiliki sayap yang merupakan tonjolan luar dari dinding tubuh dan metamorfosisnya tidak sempurna.

v Endopterygota, sayapnya berkembang dari penonjolan ke dalam dari dalam dinding dan metamorfosisnya tidak sempurna.

Subkelas Pterygota dibagi menjadi 10 ordo sebagai berikut:

v  Ordo Archiptera atau Isoptera (bersayap asli)

  •    Termasuk Exopterygota
  •    Mempunyai dua pasang sayap yang tipis dan berukuran sama
  •    Metamorfosisnya tidak sempurna
  •    Mempunyai alat mulut menggigit.

Contoh:

  • Aeshna (capung) dan Reticulitermis(anai-anai)
    • Rayap membentuk susunan masyarakat (polimorfisme), yaitu raja, ratu, prajurit (tentara), dan pekerja (tidak bersayap)
    • Rayap prajurit dan pekerja mandul
    • Di dalam usus rayap terdapat flagellata yang mencerna selulosa.

v  Ordo Neuroptera (bersayap jala)

  •   Termasuk Endopterygota
  •   Mempunyai dua pasang sayap tipis seperti selaput dan pembuluh serupa jalan
  •   Metamorfosisnya sempurna
  •   Mempunyai alat mulut menggigit.

Contoh:  Myrmeleon frontalis (undur-undur)

v  Ordo Orthoptera (bersayap lurus)

  •   Termasuk Exopterygota
  •   Mempunyai bagian sayap yang bagian depannya tebal dan bagian belakangnya tipis
  •   Metamorfosisnya tidak sempurna
  •   Mempunyai alat mulut menggigit

Contoh:

  •   Blatta orientalis (kecoak)
  •   Manthis religiosa (belalang sembah)
  •   Gyrlius domestica (jangkrik)
  •   Gyrllotalpa hirsute (anjing tanah)
  •   Branchytrupes (gangsir)

v  Ordo Rinchota

Ordo Rinchota dibagi menjadi dua familia sebagai berikut:

Hemiptera

  • Termasuk Exopterygota
  • Memiliki dua pasang sayap, sayap depannya seperti kulit dan sayap belakangnya seperti selaput tipis
  • Mempunyai mulut menusuk dan mengisap
  • Metamorfosisnya tidak sempurna

Contoh:

  • Podops vermiculata (walang colelat)
  • Leptopcorisa acuta (wlang sangit)
  • Cymex rotundatus (kutu busuk)

Homoptera

  •  Termasuk Expterygota
  • Memiliki dua pasang sayap yang keduanya merupakan selaput
  • Pada waktu istirahat sayap dilipat
  • Metamorfosisnya tidak sempurna

Contoh:

  • Nilaparvata lugegens (wereng)
  • Pediculus capitis (kutu kepala)
  • Aphis medicaginis (kutu daun)
  • Coccidae (kutu perisai)

v  Ordo Coleoptera

  • Termasuk Endopterygota
  • Mempunyai dua pasang sayap, sayap depan disebut elytra yang tebal dan mengilap karena zat tanduk
  • Sayap belakangnya tipis berupa selaput

Contoh:

  •   Chrysochrosa fulminans (samber lilen)
  •   Coccinella sp. (kepik emas)
  •   Orhyctes rhinoceros (kumbang tanduk)
  •   Hydrous picicornis (kepik)
  •   Xylotropes gideon (kumbang kelapa)
  •   Calandra oryzae (kumbang beras)
  •   Lampryris (kunang-kunang)

v  Ordo Hymenoptera (bersayap selaput)

  •   Termasuk Endopterygota
  •   Mempunyai dua pasang sayap yang tidak sama
  •   Mempunyai alat mulut menggigit dan menjilat

Contoh:

  •   Apis indica (lebah madu)

Ada yang hidup menyendiri dan ada yang hidup berkelompok serta susunan masyakat lebah , yaitu:

Lebah pekerja yang bertugas membuat sarang, mengumpulkan madu, serat mengurus telur dan larva.

Lebah tentara

Lebah jantan

Lebah ratu

  •   Oechophylla smaragdina (semut rangrang)
  •   Delichoderus bituberculatus (semut hitam)

v  Ordo Diptera (bersayap dua)

  •   Termasuk Endopterygota
  •   Mempunyai dua pasang sayap tipis
  •   Metamorfosisnya sempurna

Contoh:

  •   Culex sp.
  •   Aedes aegepty
  •   Anopheles dudlowi
  •   Glossina morsitans (lalat tse-tse)
  •   Drosophila melanogaster (lalat buah)
  •   Anopheles sundaicus (vector penyakit malaria)
  •   Musca domestica (lalat rumah)
  •   Mansonia sp.

v  Ordo Siphonoptera

  •   Termasuk Endopterygota
  •   Tidak bersayap dan bermata tunggal
  •   Metamorfosisnya sempurna
  •   Mempunyai alat mulut menusuk dan mengisap

Contoh:

  •   Ctenocephalus cannis (kutu anjing)
  •   Ctenocephalus felis (kutu kucing)
  •   Pulex irritan (pinjal manusia)
  •   Xenopsylla cheopsis (kutu tikus)

v  Ordo Lepidoptera

  •   Termasuk Endopterygota
  •   Mempunyai alat mulut mengisap
  •   Metamorfosisnya sempurna
  •   Mempunyai dua pasang sayap tipis beraneka ragam warna

Contoh:

  •   Acharonitra lachesis (kupu-kupu tengkorak)
  •   Bombyx mori (ngengat sutera)
  •   Attacus atlas (kupu-kupu gajah)
  •   Cricula trifenestrata (kupu-kupu kenari)
  •   Hyblaea puera (kupu-kupu ulat jati)

 

 

 

c)      System Organ Insecta

v    System pernapasan pada serangga disebut system trakea. Pernapasan sistem trakea terdiri atas pembuluh-pembuluh yang bercabang-cabang ke seluruh tubuh dan bermuara pada stigma atau spirakel. Udara pernapasan keluar dan masuk ke dalam tubuh Insecta melalui stigma. Stigma merupakan lubang yang terdapat di sepanjang sisi kiri dan kanan tubuh.

v    System pencernaannya dimulai dari mulut yang terdiri atas bibir atas dan bawah, rahang serta gigi. Dari mulut makanan masuk ke kerongkongan lalu ke tembolok. Dari tembolok makanan yang telah disimpan beberapa waktu masuk ke empedal yang berdinding gigi kitin. Selanjutnya makanan masuk ke lambung. Pada lambung terdapat enam pasang kelenjar pencernaan yang menghasilkan enzim. Makanan yang telah dicerna menjadi sari-sari makanan diserap oleh usus dan diedarkan keseluruh tubuh oleh hemolimfa. Sisa pencernaan sementara disimpan di rectum berupa feses. Selanjutnya, dikeluarkan melalui anus.

v    System reproduksinya, kadang-kadang mengalami parthenogenesis maupun paedogenesis. Partenogenesis adalah perkembangan embrio tanpa dibuahi oleh spermatozoid, misalnya lebah. Sedangkan paedogenesis adalah parthenogenesis yang berlangsung di tubuh larva.

d)     Habitat

Hewan ini sebagian besar hidup di darat dan sebagian kecil saja yang hidup di air tawar. Namun, jarang sekali hewan ini yang hidup di air laut.

e)      Peranan Insecta Bagi Kehidupan Manusia

Beberapa peranan Insecta yang menguntungkan, antara lain:

v    Untuk dimakan, misalnya laron, gangsir, dan larva lebah (tempayak = gana); serangga ini dapat diperoleh secara musiman.

v    Untuk obat-obatan tradisional, misalnya madu (Apis dorsata, Apis indica, Apis melifera)

v    Untuk bahan pakaian sutera, misalnya kepompong Bombyx mori

v    Membantu proses penyerbukan berbagai macam tumbuhan (kupu-kupu, kumbang dan lebah)

v    Di bidang Ekologi, Insecta merupakan rantai makanan yang sangat penting dari berbagai konsumen

v    Berbagai Insecta tanah berperan sebagai “traktor alami”.

 

 

Beberapa peranan Insecta yang merugikan antara lain:

v   Sebagai penular berbagai macam penyakit sepeti tifus, kolera dan disentri yang disebabkan oleh lalat dan kecoa

v   Hama putih pada berbagai tanaman, misalnya oleh Pseudococcus cintri, Aspidiotus perniciosus (dari ordo Rhynchota)

v   Parasit pada manusia (mengisap darah), misalnya nyamuk, kutu kepala dan kutu busuk

v   Hama padi misalnya wereng dan walang sangit

v   Merusak tanaman budidaya, misalnya belalang, kumbang kelapa, sexava, dan berbagai jenis ulat

v   Merusak bahan makanan yang disimpan (tepung, kedelai) oleh berbagai Coloeoptera, misalnya kepik.

  1. C.    Myriapoda atau Kelabang

a)      Ciri-ciri Myriopoda

1)   Tubuh terdiri atas kepala (chepalo) dan perut (abdomen) tanpa dada (thoraks)

2)   Dibagian kepala terdapat satu pasang antena sebagai alat peraba dan sepasang mata tunggal (ocellus)

3)   Penambahan jumlah segmen terjadi pada setiap pergantian kulit

4)   Alat gerak pada kelompok hewan chilopoda adalah satu pasang kaki di setiap segmen perut kaki, sedangkan pada Diplopoda terdapat dua pasang kaki pada tiap segmen perut, kecuali segmen terakhirnya.

b)      Klasifikasi / Sistematika

Myriapoda terdiri atas 2 subkelas, yaitu:

1)   Subkelas Chilopoda yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Ø Mencakup berbagai macam lipan (kelabang) yang memiliki panjang hingga 26 cm
  • Ø Chilopoda memangsa hewan kecil dengan cara melumpuhkannya dengan gigi yang beracun.

2)   Subkelas Diplopoda yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Ø Mencakup berbagai macam lengkibang (luing)
  • Ø Diplopoda hidup di tempat-tempat lembab dan gelap
  • Ø Makanan hewan ini berupa sayur-mayur, vegetasi yang sudah mati atau lumut.

 

c)      Habitat

Hewan ini banyak dijumpai di daerah tropis dengan habitat di darat. Terutama di tempat yang banyak mengandung sampah, misalnya di kebun dan di bawah batu-batuan.

d)     System Organ Myriapoda

v  System pernapasannya berupa satu pasang trakea berspirakel yang terletak di kanan kiri setiap ruas, kecuali pada Diplopoda terdapat dua pasang di tiap ruasnya.

v  System pencernaan, saluran pencernaanya lengkap dan mempunyai kelenjar ludah. Chilopoda bersifat karnivor dengan gigi beracun pada segmen I, sedangkan Diplopoda bersifat herbivor, pemakan sampah atau daun-daunan.

v  System reproduksi secara seksual, yaitu dengan pertemuan ovum dan sperma (fertilasi internal). Myriapoda ada yang vivipar dan ada yang ovipar.

e)      Peranan Myriapoda Bagi Kehidupan Manusia

Myriapoda dapat dikatakan tidak memberi keuntungan bagi kehidupan manusia. Bahkan ada beberapa yang dianggap mengganggu meski tidak membahayakan. Namun, Myriapoda ternyata mempunyai andil dalam memecah bahan-bahan organik atau serasah untuk membentuk humus.

 

  1. D.    Arachnida atau Labah-labah

a)      Ciri-ciri Arachnida

1)   Pada umumnya hidup di darat, tetapi ada juga yang hidup dalam air

2)   Ukuran tubuhnya mikroskopis sampai beberapa sentimeter panjangnya

3)   Tubuhnya terdiri atas chepalothoraks dan abdomen serta tidak mempunyai antena

4)   Jumlah matanya bervariasi dan biasanya mempunyai delapan mata sederhana

5)   Pada bagian depan chepalothoraksnya terdapat mulut yang mempunyai enam pasang alat tambahan, yaitu:

  • Sepasang pedipalpus (seperti kaki yang berakhir pada cakar) untuk memegang mangsanya
  • Sepasang kelisera (berupa gunting dan capit) untuk melumpuhkan musuhnya
  • Empat pasang kaki untuk berjalan.

6)   Bernafas dengan paru-paru buku atau trakea atau dengan kedua-duanya

7)   Ada beberapa Arachnida yang tidak memiliki alat penapasan khusus.

b)      Klasifikasi / Sistematika

Arachnida terdiri atas 3 ordo, yaitu:

1)    Scorpionida

  • Ø Mencakup segala macam kala, seperti kalajengking, kala buku dan kala labah-labah
  • Ø Pedipalpusnya berbentuk seperti capit besar, sedangkan kelisera-keliseranya kecil.

2)      Arachnoida

  • Ø Mencakup segala macam labah-labah
  • Ø Setiap labah-labah paling tidak membuat tiga macam benang untuk fungsi yang berlainan.

3)      Acarina

  • Ø Tubuhnya tidak berbuku-buku
  • Ø Mencakup caplak dan tungau

c)      Habitat

Pada umumnya Arachnida hidup di darat. Namun, ada juga yang hidup dalam air.

d)     System Organ Arachnida

v  System pernapasan berupa paru-paru yang terletak di daerah perut depan.

v  Sistem pencernaan dimulai dari mulut, perut, usus halus, usus besar, kantung, feses dan anus. Alat pencernaan dilengkapi dengan lima pasang usus buntu yang terletak di bagian depan dan hati di bagian abdomen.

v  System reproduksi, terjadi secara seksual, yaitu dengan persatuan ovum dan sperma yang terjadi di dalam tubuh betinanya (fertilasi internal). Hewan jantan dan hewan betina terpisah (diesis). Ada ovipar, ovovivipar, dan vivipar.

 

e)      Peranan Arachnida Bagi Kehidupan Manusia

Arachnida bermanfaat untuk pengendalian populasi serangga, terutama serangga hama. Namun, hewan-hewan Arachnida lebih banyak merugikan manusia, terutama hewan-hewan Acarina, yaitu:

v  Sarcoptes scabei, menyebabkan gatal atau kudis pada manusia

v  Prosoptes equi, menyebabkan kudis pada ternak domba, kelinci, dan kuda

v  Otodectes cynotis, (tungau kudis telinga) menyerang anjing dan kucing

v  Dermacentor variabilis sebagai vektor demam Rocky Mountain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hadisusanto, Suwarno. 2005. Biologi Kelas X. Jilid Ib SMA. Jakarta: Sunda Kelapa Pustaka.

Maryati, Sri. 2004. Buku Penuntun Biologi SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.

10/27/2011 Posted by | Fisiologi Hewan | 5 Komentar

TEKNOLOGI PERTANIAN di ERA BIOTEKNOLOGI

BAB I

PENDAHULUAN

 

 1.1 LATAR BELAKANG

Tempe merupakan salah satu makanan yang sering di konsumsi oleh masyarakat. Tempe merupakan salah satu produk olahan berbasis bioteknologi. Bioteknologi merupakan bidang ilmu yang vital dan berhubungan dengan tekhnologi pertanian. Metode ini sebenarnya telah di lakukan sejak jaman dahulu, tetapi hal ini belum disadari  oleh masyarakat umum.

Perkembangan bioteknologi pada saat ini sudah semakin maju dan berkembang. Hal tersebut di tandai dengan semakin banyaknya produk bioteknologi di pasaran, diantaranya seperti yoghurt, kefir, dan lain sebagainya. Dengan semakin membanjirnya produk tersebut, maka pengetahuan tentang bioteknologi semakin diperlukan.

1.2 TUJUAN

Makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan pembaca mengenai bioteknologi. Dengan adanya makalah ini, diharapkan pembaca dapat lebih memahami peranan bioteknologi dalam kehidupan, terutama dalam bidang teknologi pertanian.

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Bioteknologi dan Peranannya

Bioteknologi merupakan aplikasi untuk bidang industri yang dibuat dalam teknik dan instrumen dari penelitian biologis yang bertujuan untuk meningkatkan kegunaan tumbuhan dan hewan mikroorganisme untuk penggunaan yang spesifik (Encyclopedia Britannica, 2006).

Dari pengertian diatas terdapat beberapa poin penting pada bioteknologi, yaitu :

  • Aplikasi untuk industri.
  • Pendayagunaan penelitian biologis untuk mengembangkan makhluk hidup yang ada.
  • Penggunaan yang spesifik.

Bioteknologi akan menghasilkan luaran yang disebut GMO ( Genetically Modified Organism ) yang berguna untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Menurut WHO, fungsi dari GMO adalah sebagai berikut:

  • Meningkatkan produktivitas pangan

Dengan adanya GMO maka produksi pangan seperti kecap dan yoghurt bisa berlangsung terus. Produktivitas pangan bisa berlanjut.

  • Meningkatkan nilai nutrisi pangan

GMO dapat meningkatkan nilai nutrisi pangan Lactobacillus acidophilus karena mampu menambahkan nutrisi pada pangan yang dijadikan substrat hidupnya. Mikroba non pathogen antara lain   Lactobacillus  bulgaricus,  Streptococcus thermophillus, dan mikroba yang tergolong probiotik yaitu  dan Bifidobacterium  mampu memproduksi asam asetat  dan beberapa asam amino serta vitamin-vitamin yang diproduksi oleh mikroba, dan  merupakan prekursor pembentukan hemoglobin Asam asetat  dan beberapa asam amino  serta   vitamin-vitamin   yang   diproduksi  oleh   mikroba, adalah  merupakan  precursor pembentukan hemoglobin (Adriani, diakses tanggal 16 Mei 2010).

  • Meningkatkan kesehatan manusia (konsumen)

Meningkatnya nilai nutrisi pada makanan/minuman, dapat meningkatkan kesehatan konsumennya. Seperti yang telah djelaskan pada poin sebelumnya bahwa dengan GMO nutrisi pangan bisa meningkat sehingga kesehatan konsumen bisa meningkat.

  • Mengurangi penggunaan bahan kimia pada pertanian

Dengan adanya GMO , produsen dapat beralih dari zat kimia dalam produksinya. Dengan itu , efek dari zat kimia juga dapat dikurangi.

  • Meningkatkan pendapatan petani

GMO bisa menumbuhkan potensi untuk berdirinya industri yang menggunakan GMO. Dengan berdirinya industri-industri tersebut maka bahan segar pertanian dibutuhkan. Dibandingkan bila bahan segar tersebut dijual biasa saja (dijual segar) dengan dijual untuk industri tersebut maka keuntungan petani akan lebih besar bila bahan segar tersebut dijual untuk industri yang menggunakan GMO. Dengan demikian secara tidak langsung GMO berperan dalam meningkatkan pendapatan petani.

  • Mempertahankan keberlangsungan dan ketahanan pangan.

GMO (Genetically Modified Organisms) sebagai contoh adalah bakteri Lactobacillus bulgaricus bisa melakukan proses metabolisme secara terus menerus tanpa lelah. Hal tersebut bisa menjadi keuntungan bagi produsen dimana produsen bisa melakukan proses produksi pangan tanpa berhenti. Dengan adanya proses produksi yang bisa terus menerus maka keberlangsungan pangan bisa terjamin. Contoh lainnya adalah penggunaan bakteri yang telah direkayasa dengan jalan rekombinan DNA. DNA virus berisi zat pestisida alami disisipkan pada bakteri tertentu, kemudian bakteri tersebut dibiakkan dalam tanaman padi (misalnya) sehingga padi tersebut bisa menghasilkan pestisida sendiri. Dengan terjaminnya pangan-pangan diatas karena peran GMO maka keberlangsungan dan ketahanan pangan bisa terjadi.

2.2 Permasalahan Pertanian di Indonesia dan Peranan Teknologi Pertanian

Permasalahan pertanian di Indonesia, dikelompokkan menjadi 4 permasalahan menurut penulis. Berikut adalah permasalahan-permasalahan yang ada:

  • Minimnya Infrastruktur yang ada.
  • Kurangnya pemberdayaan petani.
  • Perkembangan posisi tawar petani yang kecil.
  • Hasil pertanian yang tidak diolah dan langsung dijual.

Indonesia Expanding Horizons menyatakan beberapa poin yang perlu diperhatikan, yaitu:

1.      Fokus dalam pendapatan para petani; titik berat di padi tidak lagi dapat menjamin segi pendapatan petani maupun program keamanan pangan;

2.      Peningkatan produktifitas adalah kunci dalam peningkatan pendapatan petani, oleh karena itu pembangunan ulang riset dan sistem tambahan menjadi sangat menentukan;

3.      Dana  diperlukan,  dan  dapat  diperoleh  dari  usaha  sementara  untuk memenuhi kebutuhan kredit para petani melalui skema kredit yang dibiayai oleh APBN;

4.      Pertanian yang telah memiliki sistem irigasi sangat penting, dan harus dipandang sebagai aktifitas antar sektor. Pemerintah perlu memastikan integritas  infrastruktur  dengan  keterlibatan  pengguna  irigasi  secara lebih  intensif,  dan  meningkatkan  efisiensi  penggunaan  air  untuk mencapai panen yang lebih optimal hingga setiap tetes air;

5.      Fokus dari peran regulasi dari Departemen Pertanian perlu ditata ulang. Kualitas  input  yang  rendah  mempengaruhi  produktifitas  petani; karantina  diperlukan  untuk  melindungi  kepentingan  petani  dari penyakit  dari  luar  namun  pada  saat  yang  bersamaan  juga  tidak membatasi masuknya bahan baku impor; dan standar produk secara terus  menerus  ditingkatkan  di  dalam  rantai  pembelian  oleh  sector swasta, bukan oleh pemerintah.

Solusi diatas merupakan solusi umum untuk semua permasalahan. Namun untuk permasalahan yang disebutkan penulis, maka solusinya bisa ditemukann dengan penerapan teknologi pertanian (untuk poin1, 3 dan 4).

Teknologi pertanian merupakan teknologi yang digunakan untuk menangani masalah pertanian baik pada waktu pra panen maupun pasca panen. Pada pra panen bisa digolongkan penyediaan alat-alat pertanian yang cukup, sedangkan pasca panen berperan dalam pengolahan dan penanganan hasil-hasil pertanian agar tetap segar dan kualitasnya tetap terjaga.

Pada pembahasan kali ini penulis fokus terhadap permasalahan pasca panen dengan biteknologi. Di era bioteknologi seperti saat ini maka penanganan pasca panen (Teknologi Pertanian)  lebih ditekankan pada penggunaan bioteknologi. Contohnya adalah tomat yang diperlambat pemasakannya seperti yang ada di Amerika Serikat, seperti yang dinyatakan oleh WHO. Contoh lainnya yaitu pengalihan produk segar pertanian menjadi produk lain yang lebih bermutu seperti kedelai hitam menjadi kecap dengan menggunakan bantuan dari Aspergillus wentii atau susu menjadi yoghurt dengan bantuan dari Lactobacillus bulgaricus.

2.3 Teknologi Pertanian di Era Bioteknologi

Dengan berkembangnya bioteknologi, teknologi pertanian makin sering menggunakan bioteknologi untuk memudahkan konsumennya. Seperti diantaranya adalah produksi yoghurt sehingga konsumen yang menderita lactose intolerance tidak perlu lagi meminum lactacid, seperti yang dinyatakan oleh Prayogo pada tahun 2010.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Luaran dari bioteknologi merupakan GMO (Genetically Modified Organisms) yang bisa membantu peningkatan produktivitas pertanian.
  2.  Teknologi pertanian yang berhubungan dengan bioteknologi lebih mengarah pada pengolahan pasca panen agar kualitas dan daya tahan bahan segar meningkat.
  3. Teknologi pertanian pada era bioteknologi berperan untuk memudahkan kehidupan konsumen.

 

 

 

3.2   Saran

Sebaiknya pembelajaran mengenai bioteknologi lebih digalakkan lagi agar pengetahuan mengenai bioteknologi dan penerapannya lebih baik lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Adriani, Lovita. Komposisi dan Imbangan Bakteri Pada Pembuatan  Yoghurt Terhadap Nilai

          Hematologik Mencit.http://www.pustaka.unpad.ac.id. Diakses tanggal 16 Mei 2010.

 

Assad, Mariana.2007. Biotechnology: A Reader’s Guide to Selected Sources. Bibliotheca

Alexandrina.

Food Safety Department World Health Organization.2005.Modern food biotechnology, human

          health and development an evidence-based study. Department of Food Safety, Zoonoses

and Foodborne Diseases.

 

Indonesia Expanding Horizons.Prioritas Masalah Pertanian di Indonesia.

http://siteresources.worldbank.org. Diakses tanggal 16 Mei 2010.

 

Prayogo, Yissa L.2010.Lactose Intolerance.http://yissaprayogo.wordpress.com. Diakses tanggal

16 Mei 2010.

10/27/2011 Posted by | Bioteknologi | 2 Komentar