BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Model Pembelajaran Tipe TAI (Team Assisted Individualization)

TAI termasuk dalam pembelajaran kooperatif. Dalam model pembelajaran TAI, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil (4 sampai 5 siswa) yang heterogen dan selanjutnya diikuti dengan pemberian bantuan secara individu bagi siswa yang memerlukannya. Sebelum dibentuk kelompok, siswa diajarkan bagaimana bekerja sama dalam suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar yang baik, dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain
untuk bekerja sama, menghargai pendapat teman lain, dan sebagainya.

Masing-masing anggota dalam kelompok memiliki tugas yang setara. Karena pada pembelajaran kooperatif keberhasilan kelompok sangat diperhatikan, maka siswa yang pandai ikut bertanggung jawab membantu temannya yang lemah dalam kelompoknya. Dengan demikian, siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya, sedangkan siswa yang lemah akan terbantu dalam memahami permasalahan yang diselesaikan dalam kelompok tersebut (Suyitno, 2002:9).

Model pembelajaran TAI memiliki delapan komponen (Suyitno, 2002:9). Kedelapan komponen tersebut adalah sebagai berikut :
1. teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 sampai 6 siswa,
2. placement test, yakni pemberian pretest kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu,
3. student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya,
4. team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan secara individual kepada siswa yang membutuhkannya,
5. team scores and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas,
6. teaching group, yakni pemberian materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok,
7. facts test, yaitu pelaksanaan tes-tes kecil bardasarkan fakta yang diperoleh siswa,
8. whole class units, yaitu pemberian materi oleh guru kembali di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.

Unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam Team Assisted Individualization (Robert E. Slavin: 1995) adalah sebagai berikut.
a. Team (kelompok)
Peserta didik dikelompokkan dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4 sampai 5 orang peserta didik dengan kemampuan yang berbeda.

b. Tes Penempatan
Peserta didik diberi pre tes di awal pertemuan, kemudian peserta didik ditempatkan sesuai dengan nilai yang didapatkan dalam tes, sehingga didapatkan anggota yang heterogen (memiliki kemampuan berbeda) dalam kelompok.

c. Langkah-langkah Pembelajaran.
1) Diawali dengan pengenalan konsep oleh guru dalam mengajar secara kelompok (diskusi singkat) dan memberikan langkah
langkah cara menyelesaikan masalah atau soal.
2) Pemberian tes keterampilan yang terdiri dari 10 soal.
3) Pemberian tes formatif yang terdiri dari dua paket soal, tes formatif A dan tes formatif B, masing-masing terdiri dari 8 soal.
4) Pemberian tes keseluruhan yang terdiri dari 10 soal.
5) Pembahasan untuk tes keterampilan, tes formatif, dan tes keseluruhan.

d. Belajar Kelompok
Berdasarkan tes penempatan, guru mengajarkan pelajaran pertama,kemudian peserta didik bekerja pada kelompok mereka masing masing. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1) Peserta didik berpasangan atau bertiga dengan anggota kelompok mereka.
2) Peserta didik diberi Lembar Kerja Siswa (LKS) pembelajaran yang disiapkan guru untuk diskusi sebagai pemahaman konsep materi yang akan dipelajari. Peserta didik diberi kesempatan bertanya pada teman sekelompok atau guru untuk minta bantuan jika mengalami kesulitan. Selanjutnya dimulai dengan tes pertama yaitu tes keterampilan.
3) Masing-masing peserta didik dengan kemampuannya sendiri mengerjakan 3 soal tes keterampilan yang pertama, bila sudah selesai, peserta didik boleh melanjutkan 3 soal berikutnya. Begitu sudah selesai baru melanjutkan 4 soal terakhir. Peserta didik yang mengalami kesulitan bisa meminta bantuan pada teman sekelompoknya sebelum meminta bantuan guru.
4) Apabila sudah bisa menyelesaikan soal tes keterampilan dengan benar, peserta didik bisa melanjutkan mengerjakan tes formatif A yang terdiri dari 8 soal. Dalam tes ini peserta didik juga bekerja sendiri-sendiri dulu sampai selesai. Jika peserta didik dapat mengerjakan 6 soal dengan benar, maka peserta didik tersebut bisa mengambil soal tes keseluruhan. Jika peserta didik tidak bisamenjawab 6 soal dengan benar, guru merespon dan menampung semua masalah yang dimiliki peserta didik. Guru boleh menyuruh peserta didik untuk bekerja kembali pada nomor-nomor soal tes
keterampilan dan kemudian mengambil soal tes formatif B, yaitu 8 soal kedua yang isi dan tingkat kesulitannya sebanding dengan tes formatif A. Selanjutnya peserta didik boleh melanjutkan ke tes keseluruhan. Peserta didik tidak boleh mengambil soal tes keseluruhan sebelum dia bisa menyelesaikan tes formatif dengan kelompoknya.
5) Peserta didik kemudian mengikuti tes keseluruhan. Tes ini merupakan tes terakhir dalam model pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization (TAI), yang terdiri dari 10 soal. Di sini peserta didik juga bekerja secara individu dulu sampai selesai. Setelah selesai baru bisa berdiskusi dengan kelompoknya. Setelah tes keseluruhan ini selesai kemudian dilakukan pembahasan dan penilaian bersama antara guru dan peserta didik.
6) Penilaian kelompok
Pada akhir pertemuan, guru menghitung nilai dari masing-masing kelompok. Nilai ini berdasarkan pada jumlah rata-rata dari anggota masing-masing kelompok dan ketelitian dari tes keseluruhan. Kriteria pemberian predikat berdasarkan kemampuan kelompok. Kelompok dengan kemampuan bagus diberi predikat Super Team, kelompok dengan kemampuan
sedang diberi predikat Great Team, kelompok dengan kemampuan kurang diberi predikat Good Team. Pemberian
predikat ini bertujuan untuk memotivasi dan member semangat kepada masing-masing kelompokagar pada pada pembelajaran
selanjutnya mau berusaha untuk melakukan yang lebih baik lagi.
7) Mengajar kelompok
Setiap pertemuan guru mengajar 10 sampai 15 menit untuk dua atau tiga kelompok yang mempunyai nilai yang sama. Guru
menggunakan konsep belajar yang diprogramkan atau direncanakan sebelumnya. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan konsep utama pada peserta didik. Pembelajaran dibuat untuk membantu peserta didik agar mengerti dan memahami hubungan antara matematika yang mereka pelajari dengan masalah kehidupan nyata. Ketika guru sedang mengajar dalam suatu kelompok, peserta didik lain melanjutkan bekerja dalam kelompok mereka sendiri dengan kemampuan individu masing-masing.

Adapun keuntungan pembelajaran tipe TAI adalah :
1. siswa yang lemah dapat terbantu dalam menyelesaikan masalahnya;
2. siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya;
3. adanya tanggung jawab dalam kelompok dalam menyelesaikan permasalahannya;
4. siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok.

Sedangkan kelemahan pembelajaran tipe TAI adalah :
1. tidak ada persaingan antar kelompok;
2. siswa yang lemah dimungkinkan menggantungkan pada siswa yang pandai.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

05/20/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , , , | 1 Komentar

MINAT

a. Pengertian Minat
Minat adalah suatu keadaan dimana seseorang mempunyai
perhatian terhadap sesuatu dan disertai keinginan untuk mengetahui
dan mempelajari maupun membuktikan lebih lanjut Bimo Walgito
(1981: 38). Dalam belajar diperlukan suatu pemusatan perhatian agar
apa yang dipelajari dapat dipahami. Sehingga siswa dapat melakukan
sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan. Terjadilah suatu
perubahan kelakuan. Perubahan kelakuan ini meliputi seluruh pribadi
siswa; baik kognitip, psikomotor maupun afektif.
W. S Winkel mengatakan bahwa minat adalah kecenderungan
yang agak menetap untuk merasa tertarik pada bidang-bidang tertentu
dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu (1983 : 38),
sedangkan menurut Witherington (1985 : 38) minat adalah kesadaran
seseorang terhadap suatu objek, seseorang, suatu soal atau situasi
tertentu yang mengadung sangkut paut dengan dirinya atau dipandang
sebagai sesuatu yang sadar.
Faktor-faktor yang mendasari minat menurut Crow&Crow
yang diterjemahkan oleh Z. Kasijan (1984 : 4) yaitu faktor dorongan
dari dalam, faktor dorongan yang bersifat sosial dan faktor yang
berhubungan dengan emosional. Faktor dari dalam dapat berupa
kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani dan kejiwaan.
Timbulnya minat dari diri seseorang juga dapat didorong oleh adanya
motivasi sosial yaitu mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari
lingkungan masyarakat dimana seseorang berada sedangkan faktor
emosional memperlihatkan ukuran intensitas seseorang dalam
menanam perhatian terhadap suatu kegiatan atau obyek tertentu.
Sedangkan menurut Sumadi Suryabrata (2002:68) definisi minat
adalah “Suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau
aktivitas tanpa ada yang menyuruh”. Minat pada dasarnya adalah
penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu hal
diluar dirinya. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut semakin
besar minatnya.
Minat dapat diartikan sebagai “Kecenderungan yang tinggi
terhadap sesuatu, tertarik, perhatian, gairah dan keinginan”. Pendapat
lain tentang pengertian minat yaitu yang diungkapkan oleh T. Albertus
yang diterjemahkan Sardiman A.M, minat adalah “Kesadaran
seseorang bahwa suatu obyek, seseorang, suatu soal maupun situasi
yang mengandung sangkut paut dengan dirinya” (2006:32).
Menurut Hilgard yang dikutip oleh Slameto (2003:57) minat
adalah “Kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan
mengenang beberapa kegiatan”. Kegiatan yang diminati seseorang
diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang.
Sedangkan menurut Holland yang dikutip oleh Djaali (2007:122)
mengatakan bahwa “Minat adalah kecenderungan hati yang tinggi
terhadap sesuatu”.
Oleh karena itu minat merupakan aspek psikis yang dimiliki
seseorang yang menimbulkan rasa suka atau tertarik terhadap sesuatu
dan mampu mempengaruhi tindakan orang tersebut. Minat mempunyai
hubungan yang erat dengan dorongan dalam diri individu yang
kemudian menimbulkan keinginan untuk berpartisipasi atau terlibat
pada suatu yang diminatinya. Seseorang yang berminat pada suatu
obyek maka akan cenderung merasa senang bila berkecimpung di
dalam obyek tersebut sehingga cenderung akan memperhatikan
perhatian yang besar terhadap obyek. Perhatian yang diberikan tersebut
dapat diwujudkan dengan rasa ingin tahu dan mempelajari obyek
tersebut.
Untuk meningkatkan minat, maka proses pembelajaran dapat
dilakukan dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami apa
yang ada di lingkungan secara berkelompok. Di dalam kelompok
tersebut terjadi suatu interaksi antar siswa yang juga dapat
menumbuhkan minat terhadap kegiatan tersebut.
b. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Minat
Minat pada seseorang akan suatu obyek atau hal tertentu tidak
akan muncul dengan sendirinya secara tiba-tiba dalam diri individu.
Minat dapat timbul pada diri seseorang melalui proses. Dengan adanya
perhatian dan interaksi dengan lingkungan maka minat tersebut dapat
berkembang. Banyak faktor yang mempengaruhi minat seseorang akan
hal tertentu.
Miflen, FJ & Miflen FC, (2003:114) mengemukakan ada dua
faktor yang mempengaruhi minat belajar peserta didik, yaitu :
1. Faktor dari dalam yaitu sifat pembawaan
2. Faktor dari luar, diantaranya adalah keluarga, sekolah dan
masyarakat atau lingkungan.
Menurut Crow and Crow yang dikutip (Dimyati Mahmud,
2001:56) yang menyebutkan bahwa ada tiga faktor yang mendasari
timbulnya minat seseorang yaitu :
1. Faktor dorongan yang berasal dari dalam. Kebutuhan ini dapat
berupa kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani dan kejiwaan.
2. Faktor motif sosial. Timbulnya minat dari seseorang dapat didorong
dari motif sosial yaitu kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan
dan lingkungan dimana mereka berada.
3. Faktor emosional. Faktor ini merupakan ukuran intensitas seseorang
dalam menaruh perhatian terhadap sesuatu kegiatan atau obyek
tertentu.
Menurut Johanes yang dikutip oleh Bimo Walgito (1999:35),
menyatakan bahwa “Minat dapat digolongkan menjadi dua, yaitu
minat intrinsik dan ektrinsik. Minat intrinsik adalah minat yang
timbulnya dari dalam individu sendiri tanpa pengaruh dari luar. Minat
ekstrinsik adalah minat yang timbul karena pengaruh dari luar”.
Berdasarkan pendapat ini maka minat intrinsik dapat timbul karena
pengaruh sikap. Persepsi, prestasi belajar, bakat, jenis kelamin dan
termasuk juga harapan bekerja. Sedangkan minat ekstrinsik dapat
timbul karena pengaruh latar belakang status sosial ekonomi orang tua,
minat orang tua, informasi, lingkungan dan sebagainya.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

05/20/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , , , | Tinggalkan komentar

Keterampilan Bertanya

Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermuladari ‘bertanya’. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis Contextual Teaching and Learning(CTL). Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam pelaksanaaan pembelajaran.

Siswa dalam mengajukan pertanyaan didorong rasa ingin tahu. Setiap pertanyaan merupakan saat yang berguna, karena saat ini akan memusatkan seluruh perhatian untuk memahami sesuatuyang baru. Setiap pertanyaan yang diutarakan menunjukan bahwa siswa menyadari adanya suatu masalah. Siswa merasa kekurangan pengetahuan seputar materi yang diajarkan oleh guru. Guru harus mampu merangsang minat siswa bertanya serta mampu merespon setiap pertanyaan dengan baik.Adapun
keterampilan bertanya yang harus dimiliki siswa ketika bertanya yaitu frekuensi pertanyaan selama proses pembelajaran, substansi pertanyaan, bahasa, suara, dan kesopanan. Seorang siswa yang dibiasakan untuk bertanya maka siswa tersebut akan memiliki keterampilan bertanya yang baik.

Bertanya berarti berpikir, karena setiap pertanyaanyang terungkap tanpa disadari berdasarkan pemikiran. Mel Silberman(2009: 144) Beberapa strategi untuk menggugah rasa ingin tahu siswa yaitu :

a. Belajar memulai dengan sebuah pertanyaan (Learning starts with a Question).
Pola belajar dengan merangsang siswa untuk bertanyatentang materi mereka, tanpa penjelasan dari guru terlebih dahulu.
b. Bertanya yang telah ditanamkan
Teknik ini memungkinkan guru untuk memberikan informasi sebagai jawaban atas pertanyaan yang telah diberikan kepadasiswa yang sudah ditentukan. Hal ini mengesankan pada siswa lain bahwa guru mengerjakan satu sesi tanya jawab.
c. Peran pemutaran pertanyaan (Role reversal Qustion)
Teknik ini merupakan kebalikan dari yang biasanya dilakukan guru. Biasanya guru meminta siswa untuk bertanya selama pertanyaan berlangsung. Pada teknik ini gurulah yang akan melontarkan pertanyaan dan siswa yang mencoba menjawab.

Proses belajar-mengajar, pada saat itu guru terkadang mengajukan pertanyaan yang pada hakekatnya bukan untuk memperoleh jawaban dari siswa, tetapi karena maksud-maksud tertentu. Dalam hal seperti ini, guru perlu mengajukan pertanyaan tambahan yang akan mengarahkan proses berpikir siswa kearah persoalan yang sebenarnya, dan atau pertanyaan
yang akan mendorong siswa untuk lebih mendalami persoalan yang dimaksud, akhirnya jawabannya menjadi lengkap. Misalnya guru mengajukan pertanyaan “mengapa pada kondisi gelap kita tidak bisa melihat?”, oleh sebab itu perlunya teknik dalam mengajukan pertanyaan. Teknik pertanyaan (S.L. La Sulo, 1984: 19) sebagai berikut :
1. Pertanyaan hendaknya ditunjukan kepada seluruh siswa dalam kelas,
sehingga perlu diperhitungkan :
a. Suara cukup keras untuk didengar seluruh siswa ; hendaknya dihindari suara yang lemah, tetapi tidak terlalu keras.
b. Pertanyaan diajukan dengan ucapan yang jelas dan tidak terlalu cepat.
2. Setelah pertanyaan diajukan, siswa diberi waktu untuk menangkap makna pertanyaan dan mencari jawabannya, setelah itu ditunjuk seorang siswa untuk mengemukakan jawabannya.
3. Menggilirkan kesempatan untuk menjawab sedemikian rupa, sehingga merata keseluruh kelas agar semua siswa mendapat kesempatan yang sama.
4. Jangan mengulangi pertanyaan, agar siswa terbiasa utuk selalu memusatkan perhatiannya; hal ini dapat pula menumpuk kebiasaan siswa untuk menjadi pendengar yang baik. Disamping itu, pertanyaan yang diulang dengan redaksional yang lain akan membingungkan siswa yang telah mulai menyusun jawabannya. Demikian pula: jangan mengulangi jawaban siswa.
5. Agar memberi reaksi positif terhadap jawaban siswa yang tepat. Guru harus dapat mengarahkan siswa untuk membetulkan/menyempurnakan jawabannya.
6. Agar mendorong partisipasi siswa dalam memberi kesempatan kepada siswa yang kurang spontan atau pemalu.
7. Sedapat mungkin kalimat pertanyaan jangan terlalu panjang yang
mungkin akan menyulitkan siswa untuk menangkapnya. 8. Biasakanlah memberikan pertanyaan mengarahkan dan atau menggalikepada siswa yang memberikan jawaban yang salah/tidak sempurna. Apabila siswa tidak dapat menjawab, berikanlah pertanyaan lain yang berhubungan dengan pertanyaan yang pertama tetapi lebih mudah, dan
apabila pertanyaan yang kedua telah dapat dijawab dengan benar, kembalilah kepada pertanyaan semula.
9. Sebaliknya bagi siswa yang dengan tepat menjawab pertanyaan
pertama, dapat dilanjutkan dengan pertanyaan yang kedua yang lebih
tinggi tingkatannya, hal ini akan memperluas wawasan dan
mempertajam analisis siswa terhadap masalah yang dihadapinya.
10. Jangan anda menjawab sendiri pertanyaan yang anda ajukan, kecuali pada pertanyaan teoritis, meskipun tidak seorangpunsiswa yang dapat menjawabnya degan no. 8.
11. Berikanlah kesempatan untuk menjawab satu pertanyaan pada beberapa orang siswa.
12. Hindari pertanyaan yang :
a. Mengandung sugesti,
b. Hanya menuntut jawaban “ya” atau “tidak”.
c. Pertanyaan yang kompleks, yang meminta berbagai halsekali jawab.
13. Pertanyaan siswa yang diajukan kepada guru sedapat mungkin dipantulkan kembali kepada siswa lainnya untuk dijawab, apabila tak seorangpun yang dapat menjawabnya, barulah guru yang menjawabnya. Dan apabila guru tidak siap untuk menjawabnya, sebaiknya dikatakan terus terang, dan pada kesempatan berikutnya
barulah pertanyaan itu dijawabnya. 14. Gunakan teknik penguatan (reinforcement) dengan bijaksana dan baik
dengan verbal (ya, betul, baik sekali…) maupun dengan nonverbal
(ekspresi wajah, anggukan kepala, berjalan mendekati…) kadang-kadang reaksi non verbal lebih berpengaruh dari pada reaksi verbal.

Guru dalam mengajukan pertanyaan memerlukan beberapa teknik, hal ini juga terjadi pada siswa ketika siswa mengajukan pertanyaan ada teknik-teknik tertentu. Teknik-teknik siswa dalam mengajukan pertanyaan antara lain:
1) Substansi pertanyaan Pertanyaan yang diajukan oleh siswa sesuai denganmateri yang
sedang dipelajari dan jawabannya sedapat mungkin tidak terlalu singkat.
2) Frekuensi pertanyaan dalam 1 jam pelajaran Siswa yang tergolong aktif dalam bertanya dalam 1 jam pelajaran
siswa tersebut mengajukan pertanyaan lebih dari enam pertanyaan.
3) Bahasa
Bahasa yang digunakan ketika siswa mengajukan pertanyaan menggunakan bahasa resmi yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan (EYD) dan intonasi baik.
4) Suara
Volume suara ketika siswa mengajukan pertanyaan hendaknya dapat terdengar oleh seluruh siswa.
5) Kesopanan
Kesopanan pada saat mengajukan pertanyaan hendaknyamenggunakan tutur kata yang baik dan serius.

05/14/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | 1 Komentar

JURNAL BELAJAR METODOLOGI PENELITIAN BIOLOGI (Jumat, 2 Oktober 2009)

Pendahuluan
Akhirnya saya bertemu lagi dengan Bapak Drs Ainur Rofieq, M.Kes setelah kemarin semester 4 kami bertemu dalam mata pelajaran Statistika Lanjut dan Biologi Sel kali ini dalam semester 5 kami bertemu lagi dalam mata kuliah berbeda yang tentunya tidak kalah menantang yaitu Metodologi Penelitian Biologi.
Pada hari ini Jumat 2 Oktober 2009 merupakan pertemuan pertama dalam mata kuliah metodologi pendidikan Biologi. Seperti biasa di awal-awal pembukaan mata kuliah ini pak Rofieq memulai dengan salam kemudian beliau mengucapkan Minal Aidin Wal Fa’idin mumpung sekarang masih terasa sisa-sisa bau hari raya Idul Fitri 1430 H kamipun kemudian serentak membalasnya dengan sama-sama pak karena kita sebagai mahasiswa dan dosen pasti pernah punya salah.
Di awal-awal perkuliahan ini seperti biasa yang dilakukan oleh para dosen pak Rofieq pun pada pendahuluan perkuliahan menjelaskan mengenai RKBM mata pelajaran Metodologi Penelitian Biologi yang akan dipelajari oleh para mahasiswa, di dalam RKBM yang ditayangkan di layar melalui LCD saya melihat beberapa bab dan pokok bahasan yang harus kita lalui kelihatannya agak berat sih tapi kalau sudah kita jalani menurut saya tidak ada hal yang sulit dalam menjelaskan RKBM ini pak Rofieq menekankan bahwa pelajaran Metodologi Penelitian Biologi ini lebih menekankan pada hafalan terhadap materi so kita harus sering-sering membaca itu pesan beliau sebuah kegiatan yang susah-susah gampang untuk aku jalani.
Selain menjelaskan tentang RKBM yang akan ditempuh oleh mahasiswa selama 1 semester tak lupa pak rofieq pun menjelaskan tugas yang harus dilaksanakan. Tugas ini cukup unik karena kita harus memodifikasi jurnal ke dalam bentuk proposal jurnalnya pun tak main-main karena jurnalnya bahasa inggris sebuah bahasa yang tidak terlalu aku pahami. Pak rofieq pun tak lupa memberikan ancang-ancang aspek apa saja yang harus ada dalam proposal tersebut diantaranya adalah judul, latar belakang, rumusan masalah, teknik penelitian, studi pustaka, jenis penelitian, jenis dan definisi dan masih beberapa hal lainnya yang tidak sempat aku catat karena terlalu kagum akan tugas yang diberikan hingga aku terlambat mencatatnya. Dalam wejangannya pak rofieq member semangat kita untuk mengerjakan tugas ini dan menurut saya jika kita terbiasa mengerjakan PKM kita tidak usah kaget dengan tugas ini malah seharusnya kita menganggapnya sebuah tantangan.
Di akhir pendahuluan meskipun sempat agak lupa pak rofieq menjelaskan mengenai tugas membuat jurnal belajar yang harus dikerjakan oleh para mahasiswa dan dikumpulkan seminggu sekali, mendengar tugas ini saya seperti terbngun dari ngantuk berat yang dari tadi menghantui saya karena mau tidak mau meskipun dengan mata yang tunggal 5 watt saya harus mencatat setiap perkataan dan mutiara ilmu yang diucapkan oleh pak rofieq.

Content (Isi)
Pada pertemuan pertama ini sesuai dengan RKBM pak Rofieq menjelaskan tentang bab pengertian dan peranan penelitian. Materi yang diajarkan pada bab ini adalah membedakan pengetahuan (kebenaran) ilmiah dan tidak ilmiah. Dalam penjelasannya meskipun saya memperhatikan dengan mata yang selalu digangu oleh ngantuk, pak rofieq berbicara bahwa semua manusia pasti mempunyai hasrat ingin tahu dan hasrat ingin tahu itulah yang mendorong manusia untuk mencari jawaban dari setiap apa yang akan, telah dan sedang mereka hadapi.
Dalam proses mencari jawaban inilah orang akan dihadapkan pada beberapa macam jalan untuk menggapainya diantaranya adalah. Menggunakan mitos, orang yang menggunakan mitos dalam mencari jawaban lebih didominasi oleh perasaan dalam mencari jawaban. Kemudian filsafat, filsafat lebih didominasi oleh penalaran dan indra dari manusia. Seni, orang yang menggunakan seni lebih didominasi oleh perasaan dan indra, pada bagian ini pak rofieq memberikan contoh mencari kebenaran dengan seni yaitu ketika beliau berada di Bali. Ketika berada di Bali tepatnya di lobi hotel yang beliau tempai bertepatan dengan diadakannya pameran lukisan, kebetulan beliau menemukan keanehan ketika melihat seorang lelaki tua menangis ketika memandangi sebuah lukisa, pak rofieq pun penasaran dengan apa gambar yang ada di lukisan tersebut ketika pria tadi telah pergi pak Rofieq pun melihat lukisan itu ternyata lukisan itu adalah lukisan telanjang dari seorang wanita, beliau pun bertanya-tanya kenapa orang tadi bias menangis melihat lukisan ini, beliau akhirnya mendapatkan jawaban dari salah seorang Room Boy yang ada di situ bahwa ternyata wanita yang ada di lukisan itu adalah anak dari bapak yang menangis tadi yang belum lama meninggal dunia. Inilah contoh manusia yang mencari jawaban dengan menggunakan seni yang dia miliki.
Selanjutnya adalah manusia yang menggunakan agama yang didonminasi oleh wahyu dan penalaran dan yang terakhir adalah dengan menggunakan ilmu yang didominasi oleh penalaran dan indra. Kesemua jalan atau metode ini akan menghasilkan pengetahuan atau kebenaran namun kata pak rofieq kebenaran ini masih dibagi lagi menjadi 2 yaitu kebenaran yang bersifat ilmiah ataukah kebenaran yang bersifat non ilmiah.
Jika pengetahuan ilmiah yang ia ingin dapatkan maka ia menggunakan ilmu, sedangkan yang lainnya seperti mitos, filsafat, agama dan seni tergolong pengetahuan non ilmiah. Penjelasan yang cukup banyak namun diselingi dengan cerita pengalaman dari bapak Rofieq membuat siang hari yang terasa ingin sekali tidur kembali semangat tapi kadang-kadang ketika pak Rofieq menjelaskn materi saya masih terasa ngantuk saja.
Selanjutnya dalam penjelasan dari pak Rofieq membagi lagi contoh pendekatan secara non ilmiah diantaranya adalh common sensen, prasangka, intuisi, kebetulan, trial and error, pendapat otoritas. Sedangkan pendekatan secara metode ilmiah mempunyai ciri empiric, logis, sistematik, dan verivikatif. Seperti itulah beberapa inti dari penjelasan yang disampaikan oleh pak Rofieq mungkin masih ada beberapa yang tertinggal dan tidak saya catat biasa factor terbesarnya mungkin karena mengantuk kan suasananya lagi siang bolong. Tapi inilah garis besar dari materi yang disampaikan oleh pak rofieq pada pertemuan pertama kali ini.
Refleksi
Dari pembahasan yang telah disampaikan oleh pak Rofieq saya dapat mengambil benang merah bahwa ternyata dalam kehidupan suhari-hari kita selalu diwarnai dengan pengetahuan atau pendekatan secara ilmiah dan non ilmiah, disadari atau tidak disadari dalam menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi pengetahuan ilmiah dan non ilmiah pasti akan selalu kita gunakan dalam memecahkan setiap masalah yang kita hadapi. Ternyata mta kuliah ini benar-benar mata kuliah yang sangat aplikatif bagi kehidupan sehari-hari, jadi tidak sabar saya aka ada mutiara ilmu apa lagi ya yang akan dibagikan oleh pa Rofieq dalam pertamuan berikutnya.

05/09/2013 Posted by | Metodologi Penelitian Biologi | 2 Komentar

SEJARAH PEMBUKUAN HADIS

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hampir semua orang Islam sepakat akan pentingnya peranan hadis dalam berbagai disiplin keilmuan Islam seperti tafsir, fiqh, teologi,  akhlaq dan lain sebagainya. Sebab secara struktural hadis merupakan sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an, dan secara fungsional hadis dapat berfungsi sebagai penjelas (baya>n) terhadap ayat-ayat yang mujmal atau global.   Hal itu dikuatkan dengan berbagai pernyataan yang gamblang dalam al-Qur’an itu sendiri yang menunjukkan pentingnya merujuk kepada hadis Nabi, misalnya Q.S> al-Ahzab  [33]: 21,  36, al-Hasyr [59]:  7.

Akan tetapi ternyata secara historis,  perjalanan hadis tidak sama dengan perjalanan al-Qur’an. Jika al-Qur’an sejak awalnya sudah diadakan pencatatan secara resmi oleh para pencatat wahyu atas petunjuk dari Nabi, dan tidak ada tenggang waktu antara turunnya wahyu dengan penulisannya, maka tidak demikian halnya dengan hadis Nabi. Jika, al-Qur’an secara normatif telah ada garansi dari Allah, dan tidak ada keraguan akan otentisitasnya, maka  tidak demikian halnya dengan Hadis Nabi, yang mendapatkan perlakuan berbeda dari al-Qur’an. Bahkan dalam kitab kitab hadis, terdapat adanya pelarangan penulisan hadis. Hal itu tentunya mempunyai impliksi-implikasi tersendiri bagi transformasi hadis, terutam pada zaman Nabi.

Berita tentang prilaku Nabi Muhammad (sabda, perbuatan, sikap ) didapat dari seorang sahabat atau lebih yang kebetulan hadir atau menyaksikan saat itu, berita itu kemudian disampaikan kepada sahabat yang lain yang kebetulan sedang tidak hadir atau tidak menyaksikan. Kemudian berita itu disampaikan kepada murid-muridnya yang disebut tabi’in (satu generasi dibawah sahabat) . Berita itu kemudian disampaikan lagi ke murid-murid dari generasi selanjutnya lagi yaitu para tabi’ut tabi’in dan seterusnya hingga sampai kepada pembuku hadist (mudawwin).Pada masa Sang Nabi masih hidup, Hadits belum ditulis dan berada dalam benak atau hapalan para sahabat. Para sahabat belum merasa ada urgensi untuk melakukan penulisan mengingat Nabi masih mudah dihubungi untuk dimintai keterangan-keterangan tentang segala sesuatu.

Diantara sahabat tidak semua bergaulnya dengan Nabi. Ada yang sering menyertai, ada yang beberapa kali saja bertemu Nabi. Oleh sebab itu Al Hadits yang dimiliki sahabat itu tidak selalu sama banyaknya ataupun macamnya. Demikian pula ketelitiannya. Namun demikian diantara para sahabat itu sering bertukar berita (Hadist) sehingga prilaku Nabi Muhammad banyak yang diteladani, ditaati dan diamalkan sahabat bahkan umat Islam pada umumnya pada waktu Nabi Muhammad masih hidup.Dengan demikian pelaksanaan Al Hadist dikalangan umat Islam saat itu selalu berada dalam kendali dan pengawasan Nabi Muhammad baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karenanya para sahabat tidak mudah berbuat kesalahan yang berlarut-larut. Al Hadist yang telah diamalkan/ditaati oleh umat Islam dimasa Nabi Muhammad hidup ini oleh ahli Hadist disebut sebagai Sunnah Muttaba’ah Ma’rufah. Itulah setinggi-tinggi kekuatan kebenaran Al Hadist.

1.2.  Rumusan Masalah

  • Bagaimana Proses transformasi hadits dari rasulullh kepada sahabat
    • Bagaimana sejarah pembukuan Hadits
    • Bagaimana kritik tentang sejarah pembukuan

1.3.  Tujuan Pembahasa

ü  Agar kita hkususnya sebagai mahasiswa mengerti tentang sejarah pembukuan al hadis

ü  Agar mahasiswa dapat mengerti proses pembukuan hadits

ü  Supaya mahasiswa mengetahui proses transformasi hadits dari rasulullah kepada sahabat

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Transformasi Hadis Dari rasulullah Kepada Sahabat

Sejarah hadsis memulai periodisasi sejarah perkembangan hadis pada saat awal kenabian itu juga,  walaupun informasi yang dimuat adalah informasi-informasi sebelumnya. Sehingga yang dimaksud dengan masa Nabi adalah masa diturunkannya al-Qur’an dari Allah SWT dan masa disampaikannya hadis oleh Nabi SAW.

Bagaimana suasana keilmuan di awal Islam, mungkin inilah pijakan pertama yang harus dilihat untuk mengetahui perjalanan hadis pada masa Nabi. Sejarah menginformasikan bahwa pada awal Islam tersebut sudah ada kebiasaan tulis menulis. Hal ini ditunjukkan oleh adanya penulisan wahyu dan berbagai bentuk tulis menulis untuk keperluan administrasi negara. Setelah hijrah serta kondisi negara sudah stabil terbukalah orientasi umat Islam untuk mempelajari al-Qur’an dan ilmu pengetahuan lainnya, melalui tradisi membaca dan menulis. Bahkan perang Badar mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan kemampuan baca tulis saat itu, karena para tawanan perang akan mendapatkan kebebasan dari Nabi, bila mau mengajar sepuluh anak Madinah untuk membaca dan menulis.

Kemudian berkembanglah kajian-kajian ilmu dan menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam. Ini dibuktikan dengan ditemukannya berbagai tempat-tempat pertemuan dan tempat kajian yang muncul di akhir abad pertama, yang menunjukkan akan adanya kebangkitan ilmiah.  Perkembangan ilmiah tersebut bersamaan dengan usaha-usaha Nabi SAW dalam menyebarkan sunnah, diantaranya dengan cara:

  • Mendirikan sekolah di Madinah segera setelah kedatangannya di sana dan setelah itu mengirimkan guru dan khatib ke berbagai wilayah luar Madinah.
  • Ø Memberikan perintah misalnya, “Sampaikanlah pengetahuan dariku walaupun hanya satu ayat”. Tekanan yang sama dapat dilihat dalam pidatonya dalam haji Wada’, “Yang hadir di sini hendaklah menyampaikan amanat ini kepada yang tidak hadir”.

Di samping itu, Rasulullah  juga menyuruh kepada delegasi yang datang ke Madinah untuk mengajari kaumnya setelah kembali ke daerahnya. Selain itu, beliau juga memberikan rangsangan kepada pengajar dan penuntut ilmu misalnya: ganjaran untuk penuntut ilmu dan pengajar serta ancaman pada orang yang menolak terlibat dalam proses pendidikan.

Dari data historis ini dapat dilihat bahwa pada awal Islam memang kemampuan baca tulis umat Islam masih rendah. Oleh karenanya hal ini juga menjadi fokus perjuangan Nabi SAW  untuk mencerdaskan kehidupan umatnya. Dan berkat upaya-upaya yang dirintis oleh beliau, pada periode-periode berikutnya umat Islam memperoleh kemajuan yang cukup signifikan. Hal ini tentu saja sedikit banyak juga mempunyai implikasi terhadap perjalanan transformasi hadis pada masa itu, yaitu bagaimana mereka melestarikan ajaran-ajaran Nabi SAW yang notabenya merupakan tafsir  praktis terhadap al-Qur’an, melalui seluruh aspek kehidupannya.

Di samping itu,  Rasul Ja’fariyan dalam penelitiannya menemukan bahwa tradisi penulisan hadis di kalangan Syi’ah mendahului fatwa tentang penulisan hadis yang diberikan oleh para Imam belakangan kepada para sahabat mereka. Penulisan hadis merupakan tradisi yang telah dimulai pada masa Nabi dan dikokohkan oleh Ali.   Misalnya, Muhammad Ibn Muslim, seorang sahabat Imam al-Baqir, berkata: “Abu Ja’far membacakan kepada saya “Kitab al-Fara’id} yang didektekan oleh Nabi,  dan ditulis oleh Ali ra.

Namun demikian, hal ini  tidak berarti hadis Nabi  telah terhimpun secara keseluruhan dalam catatan para sahabat tersebut. Karena hadis tidak dilakukan pencatatan (secara resmi) sebagaimana al-Qur’an, sehingga sahabat sebagai individu tidak mungkin mampu menjadi wakil dalam merekam seluruh aspek kehidupan Nabi SAW. Dengan kata lain, oleh karena hadis itu meliputi segala ucapan, tindakan, pembiaran (taqrir), keadaan, kebiasaan dan hal ihwal Nabi Muhammad.  maka yang demikian ini tidak selalu terjadi di hadapan orang banyak.

Dari keterangan di atas tampak bahwa tradisi penulisan hadis sebenarnya sudah ada sejak masa Nabi saw. Namun ada kemungkinan bahwa sebagian hadis yang belum tercatat saat itu,  dan baru dicatat masa sesudahnya lewat hafalan-hafalan penghafal hadis. Bahkan ada kemungkinan juga ada aspek-aspek kehidupan Nabi yang tidak bisa direkam sampai saat ini. Dengan demikian fase ini merupakan fase dimana penulisan hadis belum menjadi praktek yang merata.

Hadis pada masa Nabi memang belum diupayakan penghimpunannya dan tidak ditulis secara resmi sebagaimana al-Qur’an pada masa Nabi SAW. Hal ini tentu ada sebab-sebab yang melatarbelakannginya. Paling tidak ada beberapa faktor mengapa hadis Nabi waktu itu tidak secara resmi ditulis, Pertama,  masa itu tradisi keilmuan (baca tulis) belum menjadi praktek yang merata dan masih dalam tahap diupayakan perkembangannya.

Lalu bagaimana bentuk transformasi hadis pada zaman Nabi ?  Syuhudi Ismail dalam bukunya Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, menyimpulkan bahwa bentuk transformasi hadis antara lain melalui

ü  lisan di muka orang banyak yang terdiri dari kaum laki-laki

ü   pengajian  rutin di kalangan laki-laki

ü  pengajian khusus yang diadakan di kalangan kaum perempuan, setelah mereka memintanya dan lain sebagainya .

Hadis Pada Masa Rasulullah SAW

Hadis atau sunah adalah sumber hukum Islam yang kedua yang merupakan landasan dan pedoman dalam kehidupan umat Islam setelah Al Qur’an, Karena itu perhatian kepada hadis yang diterima dari Muhammad SAW dilakukan dengan cara memahami dan menyampaikannya kepada orang yang belum mengetahuinya. Perhatian semacam ini sudah ada sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup. Namun pada saat itu para perawi hadis sangat berhati-hati dalam menerima maupun meriwayatkan hadis dan menjaga kemurniannya. Pada zaman Rasulullah para sahabatlah yang meriwayatkan hadis yang pertama. Para sahabat adalah penerima hadis langsung dari Muhammad SAW baik yang sifatnya pelajaran maupun jawaban atas masalah yang dihadapi. Pada masa ini para sahabat umumnya tidak melakukan penulisan terhadap hadis yang diterima. Kalaupun ada, jumlahnya sangat tidak berarti. Hal ini di sebabkan antara lain;

a. Khawatir tulisan hadis itu bercampur dengan tulisan .Al-Qur’un.

b. Menghindarkan umat menyandarkan ajaran Islam kepada hadis saja.

c. Khawatir dalam meriwayatkan hadis salah, dan tidak sesuai dengan yang disampaikan

Nabi Muhammad SAW.

Meskipun demikian, hadits Nabi saw tetap dihafal dan diriwayatkan oleh para Shahabat ra , karena Nabi saw bersabda

:
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ     مِنْهُ وَ رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ
“Semoga Alloh menjadikan putih cemerlang seseorang yang mendengar sebuah hadits dari kami, kemudian menghafalkan dan menyampaikannya karena mungkin saja terjadi orang membawa ilmu kepada orang yang lebih faham darinya, dan mungkin terjadi orang yang membawa ilmu tidak faham tentang ilmunya itu.( HSR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, danAl-Hakim )
Hadis pada masa Khutafaur Rasyidin

Setelah Rasulullah SAW wafat para sahabat mulai menebarkan hadis kepada kaum muslimin melalui tabligh.Nabi Muhammad SAW bersadba; yang Artinya;

Sampaikanlah dari padaku, walaupun hanya satu ayat.’

Di samping itu Rasulullah berpesan kepada para sahabat agar berhati-hati dan memeriksa suatu kebenaran hadis yang hendak disampaikan kepada kaum muslimin. Ketika itu para sahabat tidak lagi berdiam hanya di Madinah. Tetapi meyebar ke kota-kota lain. Pada masa Abu Bakar dan Umar, hadis belum meluas kepada masyarakat. Karena para sahabat lebih mengutamakan mengembangkan A1 Qur’an

Ada dua cara meriwayatkan hadis pada masa sahabat:

a. Dengan lafal aslinya, sesuai dengan yang dilafalkan oleh Nabi Muhammad SAW.

b. Dengan maknanya, bukan lafalnya karena mereka tidak hafal lafalnya.

Cara yang kedua ini rnenimbulkan bermacam-macam lafal (matan), tetapi maksud dan isinya tetap sama. Hal ini mmbuka kesempatan kepada sahabat-sahabat yang dekat dengan Rasulullah SAW untuk mengembangkan hadis, walaupun mereka tersebar ke kota-kota lain.

Masa pembukuan hadis pada masa Umar bin Abdul Aziz

Ide pembukuan hadis pertama-tama dicetuskan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz pada awal abad ke 2 hijriyah. Sebagai Khalifah pada masa itu beliau memandang perlu untuk membukukan hadis. Karena ia meyadari bahwa para perawi hadis makin lama semakin banyak yang meninggal. Apabil hadis-hadis tersebut tidak dibukukan maka di khawatirkan akan lenyap dari permukaan bumi. Di samping itu, timbulnya berbagai golongan yang bertikai daIam persoalan kekhalifahan menyebabkan adanya kelompok yang membuat hadis palsu untuk memperkuat pendapatnya. Sebagai penulis hadis yang pertama dan terkenal pada saat itu ialah Abu Bakar Muhammad ibnu MusIimin Ibnu Syihab Az Zuhry.

Pentingnya pembukuan hadis tersebut mengundang para ulama untuk ikut serta berperan dalam meneliti dan menyeleksi dengan cermatl kebenaran hadis-hadis. Dan penulisan hadis pada abad II H ini belum ada pemisahan antara hadis Nabi dengan ucapan sahabat maupun fatwa ulama. Kitab yang terkenal pada masa itu ialalah Al Muwatta karya imam Malik.

Pada abad III H, penulisan dilakukan dengan mulai memisahkan antara hadis, ucapan rnaupun fatwa bahkan ada pula yang memisahkan antara hadis shahih dan bukan shahih. Pada abad IV H, yang merupakan akhir penulisan hadis, kebanyakan bukti hadis itu hanya merupakan penjelasan ringkas dan pengelompokan hadis-hadis sebelumnya.

Sejarah Penulisan Hadits

Hadits Nabi saw memang belum ditulis secara umum pada zaman Nabi saw masih hidup, karena ketika itu Al-Qur’an masih dalam proses diturunkan dan diurutkan. Bahkan Nabi saw melarang masyarakat umum dari menulis hadits, sebagaimana sabdanya :
لا تَكْتُبُوْا عَنِّيْ وَ مَنْ كَتَبَ عَنِّيْ غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَ حَدِّثُوْا عَنِّيْ وَ لا حَرَجَ

وَ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Janganlah kalian menulis sesuatu pun dariku, barangsiapa yang telah menulis dariku selain Al-Qur’an hendaklah dia menghapusnya, dan beritakanlah hadits dariku, yang demikian tidak berdosa, namun barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah dia mengambil tempat duduknya dari api neraka.” ( HR. Muslim )

Walaupun demikian, Nabi saw memberikan izin kepada orang-orang tertentu untuk menulis hadits yang diyakini tidak akan terjadi tercampurnya tulisan Al-Qur’an dengan tulisan hadits pada mereka. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat :
فَقَامَ أَبُو شَاهٍ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ : اكْتُبُوْا لِي يَا رَسُولَ اللَّهِ

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : اكْتُبُوْا لأَبِيْ شَاهٍ
“Berdirilah Abu Syah, yakni seorang laki-laki dari penduduk Yaman, dia berkata : “Tuliskan untukku, wahai Rosullulloh !” Maka Rosululloh saw bersabda : “Tuliskan untuk Abu Syah !” ( HR. Al-Bukhori dan Abu Dawud )

Demikianlah usaha penulisan hadis pada masa khaIifah Umar bin Abdui Aziz yang selanjutnya disempurnakan oleh utama dari masa dan ke masa dan mencapai puncaknya pada akhir abad IV H.

Masa penggalian hadis

Setelah Nabi Muhammad wafat (tahun 11 H / 632 M) pada awalnya tidak menimbulkan masalah mengenai Al Hadits karena sahabat besar masih cukup jumlahnya dan seakan-akan menggantikan peran Nabi sebagai tempat bertanya saat timbul masalah yang memerlukan pemecahan, baik mengenai Al Hadist ataupun Al Quran. Dan diantara mereka masih sering bertemu untuk berbagai keperluan.

Sejak Kekhalifahan Umar bin Khaththab (tahun 13 – 23 H atau 634 – 644 M) wilayah dakwah Islamiyah dan daulah Islamiyah mulai meluas hingga ke Jazirah Arab, maka mulailah timbul masalah-masalah baru khususnya pada daerah-daerah baru sehingga makin banyak jumlah dan macam masalah yang memerlukan pemecahannya. Meski para sahabat tempat tinggalnya mulai tersebar dan jumlahnya mulai berkurang, namun kebutuhan untuk memecahkan berbagai masalah baru tersebut terus mendorong para sahabat makin saling bertemu bertukar Al Hadist.

Kemudian para sahabat kecil mulai mengambil alih tugas penggalian Al Hadits dari sumbernya ialah para sahabat besar. Kehadiran seorang sahabat besar selalu menjadi pusat perhatian para sahabat kecil terutama para tabi’in. Meski memerlukan perjalanan jauh tidak segan-segan para tabi’in ini berusaha menemui seorang sahabat yang memiliki Al Hadist yang sangat diperlukannya. Maka para tabi’in mulai banyak memiliki Al Hadist yang diterima atau digalinya dari sumbernya yaitu para sahabat. Meski begitu, sekaligus sebagai catatan pada masa itu adalah Al Hadist belum ditulis apalagi dibukukan.

Masa penghimpunan al hadis

Musibah besar menimpa umat Islam pada masa awal Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Musibah itu berupa permusuhan diantara sebagian umat Islam yang meminta korban jiwa dan harta yang tidak sedikit. Pihak-pihak yang bermusuhan itu semula hanya memperebutkan kedudukan kekhalifahan kemudian bergeser kepada bidang Syari’at dan Aqidah dengan membuat Al Hadist Maudlu’ (palsu) yang jumlah dan macamnya tidak tanggung-tanggung guna mengesahkan atau membenarkan dan menguatkan keinginan / perjuangan mereka yang saling bermusuhan itu. Untungnya mereka tidak mungkin memalsukan Al Quran, karena selain sudah didiwankan (dibukukan) tidak sedikit yang telah hafal. Hanya saja mereka yang bermusuhan itu memberikan tafsir-tafsir Al Quran belaka untuk memenuhi keinginan atau pahamnya.

Keadaan menjadi semakin memprihatinkan dengan terbunuhnya Khalifah Husain bin Ali bin Abi Thalib di Karbala (tahun 61 H / 681 M). Para sahabat kecil yang masih hidup dan terutama para tabi’in mengingat kondisi demikian itu lantas mengambil sikap tidak mau lagi menerima Al Hadist baru, yaitu yang sebelumnya tidak mereka miliki. Kalaupun menerima, para shabat kecil dan tabi’in ini sangat berhat-hati sekali. Diteliti dengan secermat-cermatnya mengenai siapa yang menjadi sumber dan siapa yang membawakannya. Sebab mereka ini tahu benar siapa-siapa yang melibatkan diri atau terlibat dalam persengketaan dan permusuhan masa itu. Mereka tahu benar keadaan pribadi-pribadi sumber / pemberita Al Hadist. Misal apakah seorang yang pelupa atau tidak, masih kanak-kanak atau telah udzur, benar atau tidaknya sumber dan pemberitaan suatu Al Hadist dan sebagainya. Pengetahuan yang demikian itu diwariskan kepada murid-muridnya ialah para tabi’ut tabi’in.

Umar bin Abdul Aziz seorang khalifah dari Bani Umayah (tahun 99 – 101 H / 717 – 720 M) termasuk angkatan tabi’in yang memiliki jasa yang besar dalam penghimpunan Al Hadist. Para kepala daerah diperintahkannya untuk menghimpun Al Hadist dari para tabi’in yang terkenal memiliki banyak Al Hadist. Seorang tabi’in yang terkemuka saat itu yakni Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah bin Syihab Az Zuhri (tahun 51 – 124 H / 671 – 742 M) diperintahkan untuk melaksanakan tugas tersebut. Untuk itu beliau Az Zuhri menggunakan semboyannya yang terkenal yaitu al isnaadu minad diin, lau lal isnadu la qaala man syaa-a maa syaa-a (artinya : Sanad itu bagian dari agama, sekiranya tidak ada sanad maka berkatalah siapa saja tentang apa saja)

2.2 Masa pendiwanan dan penyusunan al hadis

Usaha pendiwanan (yaitu pembukuan, pelakunya ialah pembuku Al Hadits disebut pendiwan) dan penyusunan Al Hadits dilaksanakan pada masa abad ke 3 H. Langkah utama dalam masa ini diawali dengan pengelompokan Al Hadits. Pengelompokan dilakukan dengan memisahkan mana Al Hadits yang marfu’, mauquf dan maqtu’. Al Hadits marfu’ ialah Al Hadits yang berisi perilaku Nabi Muhammad, Al Hadits mauquf ialah Al Hadits yang berisi perilaku sahabat dan Al Hadits maqthu’ ialah Al Hadits yang berisi perilaku tabi’in. Pengelompokan tersebut diantaranya dilakukan oleh :

ü  Ahmad bin Hambal

ü  ‘Abdullan bin Musa Al ‘Abasi Al Kufi

ü  Musaddad Al Bashri

ü  Nu’am bin Hammad Al Khuza’i

ü  ‘Utsman bin Abi Syu’bah

Yang paling mendapat perhatian paling besar dari ulama-ulama sesudahnya adalah Musnadul Kabir karya Ahmad bin Hambal (164-241 H / 780855 M) yang berisi 40.000 Al Hadits, 10.000 diantaranya berulang-ulang. Menurut ahlinya sekiranya Musnadul Kabir ini tetap sebanyak yang disusun Ahmad sendiri maka tidak ada hadist yang mardud (tertolak). Mengingat musnad ini selanjutnya ditambah-tambah oleh anak Ahmad sendiri yang bernama ‘Abdullah dan Abu Bakr Qathi’i sehingga tidak sedikit termuat dengan yang dla’if dan 4 hadist maudlu’.

Adapun pendiwanan Al Hadits dilaksanakan dengan penelitian sanad dan rawi-rawinya. Ulama terkenal yang mempelopori usaha ini adalah :

Ishaq bin Rahawaih bin Mukhlad Al Handhali At Tamimi Al Marwazi (161-238 H / 780855 M)

Ia adalah salah satu guru Ahmad bin Hambal, Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, An Nasai.Usaha Ishaq ini selain dilanjutkan juga ditingkatkan oleh Bukhari, kemudian diteruskan oleh muridnya yaitu Muslim. Akhirnya ulama-ulama sesudahnya meneruskan usaha tersebut sehingga pendiwanan kitab Al Hadits terwujud dalam kitab Al Jami’ush Shahih Bukhari, Al Jamush Shahih Muslim As Sunan Ibnu Majah dan seterusnya sebagaimana terdapat dalamdaftar kitab masa abad 3 hijriyah.

Yang perlu menjadi catatan pada masa ini (abad 3 H) ialah telah diusahakannya untuk memisahkan Al Hadits yang shahih dari Al Hadits yang tidak shahih sehingga tersusun 3 macam Al Hadits, yaitu :

  1. Kitab Shahih – (Shahih BukhariShahih Muslim) – berisi Al Hadits yang shahih saja
  2. Kitab Sunan – (Ibnu Majah, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai, Ad Damiri) – menurut sebagian ulama selain Sunan Ibnu Majah berisi Al Hadit shahih dan Al Hadits dla’if yang tidak munkar.
  3. Kitab Musnad – (Abu Ya’la, Al Hmaidi, Ali Madaini, Al Bazar, Baqi bin Mukhlad, Ibnu Rahawaih) – berisi berbagai macam Al Hadits tanpa penelitian dan penyaringan. Oleh seab itu hanya berguna bagi para ahli Al Hadits untuk bahan perbandingan.

Apa yang telah dilakukan oleh para ahli Al Hadits abad 3 Hijriyah tidak banyak yang mengeluarkan atau menggali Al Hadits dari sumbernya seperti halnya ahli Al Hadits pada adab 2 Hijriyah. Ahli Al Hadits abad 3 umumnya melakukan tashhih (koreksi atau verifikasi) saja atas Al Hadits yang telah ada disamping juga menghafalkannya. Sedangkan pada masa abad 4 hijriyah dapat dikatakan masa penyelesaian pembinaan Al Hadist. Sedangkan abad 5 hijriyah dan seterusnya adalah masa memperbaiki susunan kitab Al Hadits,menghimpun yang terserakan dan memudahkan mempelajarinya

2.3       Kritik Tentang sejarah Pembukuan Hadits

Demikian salah satu hadis yang menyatakan pelarangan penulisan hadis. Apabila ditinjau dari hadis ini, maka dapat diprediksikan bagaimana implikasinya terhadap penulisan dan pembukuan hadis. Ulama kontemporer seperti Muhammad Syharur, misalnya memaknai larangan hadis tersebut sebagai suatu isyarat bahwa   hadis itu sebenarnya hanyalah merupakan ijtihad Nabi yang syarat dengan situasi sosio-kultural dimana Nabi hidup. Hadis Nabi lebih  merupakan marhalah ta>ri>khiyah, dimana Nabi sangat dipengaruhi oleh situasi sosio-budaya Arab waktu itu, sehingga tidak terlalu penting untuk dibukukan.

Namun demikian, disamping ada hadis yang melarang menulisan hadis sebagaimana dikutip di atas, dalam bagian yang lain ada juga hadis-hadis yang menunjukkan kebolehan menulis hadis. Diantaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu> Hurairah yang artinya sebagai berikut:

Terhadap dua riwayat yang tampak saling bertentangan tersebut, para ulama berbeda pendapat dalam memahaminya. Sebagian menganggap bahwa larangan itu mutlak, tetapi  sebagian ulama yang lain berusaha mengkompromikannya dengan mengembalikan persoalan tersebut kepada empat pendapat:

  • Sebagian ulama menganggap bahwa hadis Abi Said Al-Hudri tersebut Mauquf, maka tidak patut untuk dijadikan alasan, untuk melarang penulisan hadis
  • Larangan penulisan hadis berlaku hanya pada masa awal-awal  Islam, karena dikhawatirkan bercampur dengan al-Qur’an.
  • Dengan adanya larangan penulisan hadis tersebut pada hakekatnya Nabi mempercayai kemampuan para sahabat untuk menghafalkannya, dan Nabi khawatir seseorang akan bergantung pada tulisan, sedang pemberian izin Nabi untuk menulis hadisnya,   pada hakekatnya merupakan isyarat bahwa Nabi tidak percaya kepada orang seperti Abi Syah,  dapat menghafalkannya dengan baik.
  • Larangan  itu bersifat umum, tetapi secara khusus diizinkan kepada orang-orang yang bisa baca tulis dengan baik, tidak salah dalam tulisannya, seperti pada Abdullah bin Umar.

Meskipun para ulama mempunyai perbedaan pendapat tentang boleh tidaknya penulisan hadis ini, namun nyatanya para sahabat tetap memelihara dan melestarikan hadis Nabi. Hal ini dibuktikan dengan adanya hadis Nabi yang mengatakan: “Riwayatkanlah dari saya. Barang siapa sengaja berbohong atas nama saya maka tempatnya di neraka”. Sehingga apabila menulis hadis menjadi praktek yang dilarang, maka untuk mengantisipasi terjadinya ketidakotentikan hadis ini Nabi juga memberikan peringatan atau ancaman neraka tersebut

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Walaupun diakui hafalan merupakan salah satu tradisi yang dijunjung tinggi dalam pemeliharaan dan pengembangan pengetahuan, dan konon orang-orang Arab terkenal mempunyai kekuatan hafalan yang tinggi,  bahkan para penghafal masih banyak yang beranggapan bahwa penulisan hadis tidak diperkenankan, namun ternyata tradisi penulisan hadis sudah dilakukan sejak zaman Nabi.

Tradisi tulis hadis memang sudah ada sejak masa Nabi, tapi bukan berarti semua hadis Nabi sudah dibukukan sejak zaman Nabi tersebut. Hal ini bisa kita lihat dari tidak dibukukannya hadis secara resmi saat itu, sedang sahabat yang menulis hadis itu lebih didorong oleh keinginan dirinya sendiri. Padahal koordinasi antara sahabat untuk merekam seluruh aspek kehidupan Nabi tidak ditemukan tanda-tandanya.

Nabi SAW hidup di tengah-tengah masyarakat dan sahabatnya. Mereka selalu bertemu dan berinteraksi dengan beliau secara bebas. Menurut T.M.Hasbi Ash Shiddieqy, bahwa tidak ada ketentuan protokol yang menghalangi mereka bergaul dengan beliau. Yang tidak dibenarkan, hanyalah mereka langsung masuk ke rumah Nabi, di kala beliau tak ada di rumah, dan berbicara dengan para istri Nabi, tanpa hijab. Nabi bergaul dengan mereka di rumah, di mesjid, di pasar, di jalan, di dalam safar dan di dalam hadlar.

Seluruh perbuatan Nabi, demikian juga ucapan dan tutur kata Nabi menjadi tumpuan perhatian para sahabat. Segala gerak-gerik Nabi menjadi contoh dan pedoman hidup mereka. Para sahabat sangat memperhatikan perilaku Nabi dan sangat memerlukan untuk mengetahui segala apa yang disabdakan Nabi. Mereka tentu meyakini, bahwa mereka diperintahkan mengikuti dan menaati apa-apa yang diperintahkan Nabi.

3.2. Saran

Tentunya penulis dalam hal ini menyarankan kepada pembanya agar supaya mempelajari dan menelaah makalah ini Sebagai referensi dalam belajar .Sebagai penulis makalah ini tentunya dalam penulisan masih banyak kesalahan dalam penulisan dan lain sebagaai penulis saya menyarankan kepada para pembaca agar memberikan kritik dan dan saran untuk terbentuknya makalah yang lebih baik .

05/09/2013 Posted by | Uncategorized | 2 Komentar

PENGARUH BERBAGAI MACAM DOSIS EKSTRAK TANAMAN PULE (ALSTONIA SCHOLARIS) PADA GLUKOSA TIKUS YANG MENDERITA DM

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pule disebut Alstonia scholaris R Br, termasuk ke dalam famili tumbuhan Apocynaceae. Tanaman ini dikenal dengan naman daerah pule, lame, polay, hanjalutung, kayu skala, rita atau lita-lita. Pulai (Alstonia sp) merupakan tumbuhan asli Indonesia dan penyebarannya cukup luas di Indonesia.  Pulai tumbuh  mulai dari ketinggian 10 – 1250 m dpl dengan variasi tapak yang beragam baik pada areal rawa, gambut, pasang surut maupun daerah kering (Martawidjaja, 1981).

Pulai (Alstonia spp.) merupakan salah satu jenis tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Jenis ini termasuk indigenous species dan cepat tumbuh (fast growing species), serta mempunyai sebaran hampir di seluruh wilayah Indonesia (Soerianegara dan Lemmens, 1994). Pulai sangat prospektif untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman karena kegunaan kayu pulai cukup banyak dan saat ini permintaannya cukup tinggi. Kegunaan kayu pulai antara lain untuk pembuatan peti, korek api, hak sepatu, kerajinan seperti wayang golek dan topeng, cetakan beton, pensil slate, dan pulp (Samingan, 1980 dan Martawijaya et al., 1981). Beberapa industri yang menggunakan bahan baku kayu pulai adalah industri pensil slate di Sumatera Selatan, industri kerajinan topeng di Yogyakarta, dan industri kerajinan ukiran di Bali.

Kulit batang pule (Alstonia scholaris R.Br.) merupakan tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Indonesia. Dari studi pustaka, kulit batang pule berkhasiat sebagai penurun demam, meningkatkan selera makan, mengobati radang ginjal, obat kencing manis, obat malaria, obat tekanan darah tinggi dan obat cacing

Tumbuhan ini kaya dengan kandungan kimia, yang sudah diketahui antara lain: Kulit batang: saponin, flavonoida dan polifenol. Alkaloid : ditamine (C18H19NO3), ditaine (echititamine), echi-kaoetchine. Zat pahit : echeretine, echicherine. Selain itu, dalam farmakologi Cina dan pengobatan tradisional lain disebutkan bahwa tanaman ini memiliki sifat; pahit, anti piretik, anti malaria, anti demam,anti hipertensi/ anti andenergik, melancarkan saluran darah.

Diabetes Mellitus adalah penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah (hiperglikemi) dan kadar gula yang tinggi pula dalam air seni (glukosuria). Penyakit Diabetes Mellitus biasanya herediter (menurun) dan merupakan penyakit metabolik sebagai akibat dari tubuh yang kekurangan insulin efektif yang merubah gula darah menjadi gula otot (glikogen).

WHO telah mendefenisikan 3 jenis diabetes: Diabetes Tipe 1, biasanya tediagnosa sejak usia kanak-kanak.is usually diagnosed in childhood. Tubuh penderita hanya sedikit menghasilkan insulin atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan insulin, oleh karena itu untuk bertahan hidup penderita harus mendapat suntikan insulin setiap harinya. Tanpa pengaturan harian, kondisi darurat dapat terjadi.

Diabetes Tipe 2, lebih umum ditemui daripada type 1 dan mencapai 90% atau lebih dari seluruhj kasus diabetes. Biasanya terjadi di usia dewasa. Pada tipe-2 ini, pankreas tidak cukup membuat insulin untuk menjaga level gula darah tetap normal, seringkasili disebabkan tubuh tidak merespin dengan baik terhadap insulin tersebut.Kebanyakan orang tidak menyadari telah menderita dibetes tipe-2, walaupun keadaannya sudah menjadi sangat serius. Diabetess type 2 sudha menjadi umum dialami didunia maupun di Indonesia, dan angkanya terus bertambah akibat gaya hidup yang tidak sehat, kegemukan dan malas berolahraga, dan Gestational diabetes, adalah kondisi gula darah yang tinggi yang terjadi pada masa kehamilan, terjadi pada orang yang tidak menderita diabetes. Umunnya akan kembali normal setelah masa kehamilan.

Banyak faktor resiko diabetes, termasuk diantaranya: Ayah atau Ibu, saudara laki-laki atau perempuan yang menderita diabetes (faktor keturunan), Kegemukan, Usia diatas 45 tahun, Gestational diabetes atau melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 Kg, Tekanan darah tinggi, Angka Triglycerid (salah satu jenis molekuk lemak) yang tinggi, Level kolesterol yang tinggi, Gaya hidup modern yang cenderung banyak mengkonsumsi makanan instan. Perokok, dan Stress.

Diabetes Melitus menempati urutan ke-4 dalam ranking pembunuh manusia. Kongres Federasi Diabetes International tahun 2003 menyebutkan bahwa sekitar 194 Juta orang di dunia menderita penyakit ini. Di Indonesia sendiri tercatat 2,5 juta orang dan diperkirakan akan terus bertambah. Berdasarkan pola pertambahan penduduk , diperkirakan pada tahun 2020 nanti akan ada sejumlah 178 juta penduduk berusia diatas 20 tahun dan dengan asumsi prevalensi DM sebesar 4 % akan didapatkan 7 juta pasien DM. Sedangkan menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes. Namun, pada tahun 2006

diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 persen yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30 persen yang datang berobat teratur.

Berdasarkan latar belakang diatas maka diharapakan tanaman pule akan dapat digunakan dan dijadikan alternative oleh masyarakat untuk pengobatan penyakit diabetes mellitus yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

Apakah dengan menggunakan ekstrak kulit batang tanaman pule dapat menurunkan kadar glukosa pada hewan percobaan tikus?

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui apakah dengan menggunakan ekstrak kulit batang pule dapat menurunkan kadar glukosa pada hewan percobaan tikus.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini memberikan beberapa manfaat diantaranya untuk masyarakat adalah: memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai tanaman pule yang dapat digunakan dalam mengobati Diabetes Melitus, dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat terutama penderita Diabetes Melitus untuk mengobati penyakitnya.

Sedangkan manfaat bagi peneliti sendiri adalah dapat mempelajari lebih dalam mengenai tanaman pule untuk pengobatan Diabetes Melitus sehingga lebih memperkaya pengetahuan peneliti terhadap berbagai macam penelitian yang nantinya dapat diaplikasikan kepada masyarakat.

1.5 Batasan Penelitian

Batasan penelitian kali ini adalah tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah pule (Alstonia scholaris) terutama pada bagian kulit batang, dan penyakit yang diteliti pada percobaan kali ini adalah diabetes melitus.

1.6 Definisi Istilah

Ekstrak adalah sediaan sari pekat tumbuhan atau hewan yang diperoleh dengan cara melepaskan zat aktif dari masing-masing bahan (Zainal, 2007).

Diabetes mellitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup (Agus, 2005).

BAB II

STUDI PUSTAKA

2.1 Tanaman Pule

2.1.1 Klasifikasi

Divisio             : Magnoliophyta

Class                : Magnoliopsida

Ordo                : Gentianales

Famili              : Apocynaceae

Genus              : Alstonia

Spesies            : Alstonia scholaris (Chevalier, 2000)

2.1.2 Morfologi

Ciri-ciri umum dari Alstonia scholaris adalah pohon mencapai 40 m, daun berkarang 3-8, tulang daun banyak. Perbungaan terminalis atau pada ketiak daun yang terletak di bagian ujung cabang, memiliki ibu tangkai bunga, percabangan utamanya memayung. Bunga umumnya putih atau putih kehijauan, kecil. Buah berupa bumbung, berpasangan (Hendrian, 1999).

Dari hasil pengamatan lapang didapatkan data bahwa daun tersusun melingkar atau berkarang 5-7 helaian, berbentuk lonjong, panjang tangkai daun 1,5-3 cm. sedangkan batang pohon yang sudah tua beralur sangat jelas dengan sayatan berwarna krem dan mengeluarkan banyak getah berwarna putih. Diamaer batang ± 16 cm. perbungaan terminalis, panjang tangkai perbungaan 7-13 cm, bunga tergolong bunga banci, berbilangan 5, panjang bunga lebih dari 1 cm, berwarna putih, krem atau hijau, kelopak berbagi, daun mahkota berlekatan membentuk buluh yang relative panjang, bakal buah menumpang, dikelilingi cakram. Buah berupa bumbung berpasangan 20-50 cm. biji bersayap/berambut, lembaga besar, dan lurus (Tjitrosoepomo, 2002).

2.1.3 Daerah Persebaran dan Habitat

Menurut valkenberg dan Bunyapraphatsara (2002), persebaran Alstonia scholaris cukup luas, antara lain di Sri Langka, Indo-China, kawasan malesia, Australia hingga kepulauan pasifik. Toleran terhada berbagai-macam tanah dan habitat, dijumpai sebagai tanaman kecil yang tumbuh di atas karang atau bagian tajuk dari hutan primer dan  sekunder.  Banyak dijumpai di dataran rendah/pesisir dengan curah hujan tahunan 10003800 mm. Juga dijumpai pada ketinggian diatas 1000 m dpl.  Salah satu sifat adalah dapat tumbuh di atas tanah dangkalTidak tumbuhy pada sebaran alami yang suhunya kurang dari 8ºC, yang menunjukkan jenis ini tidak tahan udara dingin.

Di alam, jenis-jenis Alstonia umumnya tumbuh di daerah terbuka, bersemak, atau hutan campuran, pada ketinggian 50-1.500 m dpl (Hendrian dan Hadiah, 1999). Di tempat alaminya, Alstonia scholaris dapat tumbuh di atas tanah dangkal dan tidak dapat tumbuh pada tempat denga  temperatur udara kurang dari 80 C. banyak dijumpai di daratan rendah dan pesisir dengan curah hujan tahunan 1.000 – 3.800 mm. Namun dapat dijumpai pula di daerah dengan mencapai ketinggian 1.000 m dpl. Tanaman ini toleran terhadap berbagai macam tanah dan habitat. Dapat dijumpai pula sebagai tanaman kecil yang tumbuh di atas karang atau bagian tajuk dari hutan primer dan sekunder (Anonim, 2001).

Menurut Hendrian dan Hadiah (1999), Alstonia scholaris dapat ditemukan pada daerah dengan ketinggian tempat antara 500 sampai dengan 1000 meter di atas permukaan laut. Sedangkan menurut Heyne (1987) Alstonia scholaris tumbuh tersebar di seluruh nusantara, di Jawa umumnya tumbuh pada ketinggian di bawah 900 m dpl.

2.1.4 Pemanfaatan

Selain itu, Alstonia scholaris bermanfaat sebagai tanaman obat tradisional. Kulit kayunya digunakan sebagai obat demam, malaria, sakit perut, batuk dan disentri. Kandungan kimia yang terdapat pada Alstonia scholaris diantaranya ekitamina dan alstonamina (Valkenberg dan Bunyapraphatsara, 2002). Kayunya yang tidak awet, hanya memungkinkan untuk konstruksi ringan di dalam ruangan atau untuk pulp dan kertas. Juga digunakan sebagai bahan-bahan kerajinan, misalnya patung dan topeng serta papan tulis sekolah. Di Sri Langka banyak digunakan sebagai kayu bakar dan dikelola dengan daur pendek (6-8 Tahun), tetapi tidak terlalu baik jika digunakan sebagai arang.

Di dalam kehidupan masyarakat Hndu Bali, kayu pule ini banyak dimanfaatkan untuk digunakan sebagai bahan kerajinan patung dan topeng serta sebagai salah satu piranti upacara. Selain kayunya, daun juga digunakan dalam upacara Pitra Yadnya sebagai salah satu komponen yang diramu dalam sesajen/banten, yang berupa jejangan urap (Sayuran).

2.2 Diabetes Melitus

2.2.1 Pengertian

Diabetes mellitus (DM) berasal dari kata Yunani diabaínein, yang berarti “tembus” atau “pancuran air”, dan dari kata Latin mellitus yang berarti “rasa manis”.Di Indonesia (dan negara berbahasa Melayu) lebih dikenal sebagai kencing manis. Diabetes Mellitus adalah penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah (hiperglisemia) yang terus-menerus dan bervariasi, terutama setelah makan. Sumber lain menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan diabetes mellitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron.

Semua jenis diabetes mellitus memiliki gejala yang mirip dan komplikasi pada tingkat lanjut. Hiperglisemia sendiri dapat menyebabkan dehidrasi dan ketoasidosis. Komplikasi jangka lama termasuk penyakit kardiovaskular (risiko ganda), kegagalan kronis ginjal (penyebab utama dialisis), kerusakan retina yang dapat menyebabkan kebutaan, serta kerusakan saraf yang dapat menyebabkan impotensi dan gangren dengan risiko amputasi. Komplikasi yang lebih serius lebih umum bila kontrol kadar gula darah buruk.

Diabetes melitus sering disebut sebagai the great imitator, karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan, gejalanya sangat bervariasi. Diabetes melitus jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan timbulnya komplikasi pada berbagai organ tubuh seperti mata, ginjal, jantung, pembuluh darah kaki, syaraf, dan lain-lain. Penderita diabetes melitus dapat mengalami beberapa komplikasi bersama-sama atau terdapat satu masalah yang mendominasi, yang meliputi kelainan vaskuler, retinopati, nefropati diabetik, neuropati diabetik dan ulkus kaki diabetik.

2.2.2 Macam-macam Diabetes Melitus

Menurut WHO secara umum Diabetes Mellitus dibagi menjadi 3 Macam yaitu:

a. Diabetes Melitus Tipe 1

Diabetes mellitus tipe 1 dulu disebut insulin-dependent diabetes (IDDM, “diabetes yang bergantung pada insulin”), atau diabetes anak-anak, dicirikan dengan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Sampai saat ini diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah. Diet dan olah raga tidak bisa menyembuhkan ataupun mencegah diabetes tipe 1. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umumnya normal pada penderita diabetes tipe ini, terutama pada tahap awal.

Penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta pada diabetes tipe 1 adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh.

Saat ini, diabetes tipe 1 hanya dapat diobati dengan menggunakan insulin, dengan pengawasan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor pengujian darah. Pengobatan dasar diabetes tipe 1, bahkan untuk tahap paling awal sekalipun, adalah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketosis dan diabetic ketoacidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan kematian. Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olahraga). Terlepas dari pemberian injeksi pada umumnya, juga dimungkinkan pemberian insulin melalui pump, yang memungkinkan untuk pemberian masukan insulin 24 jam sehari pada tingkat dosis yang telah ditentukan, juga dimungkinkan pemberian dosis (a bolus) dari insulin yang dibutuhkan pada saat makan. Serta dimungkinkan juga untuk pemberian masukan insulin melalui “inhaled powder”.

Perawatan diabetes tipe 1 harus berlanjut terus. Perawatan tidak akan mempengaruhi aktivitas-aktivitas normal apabila kesadaran yang cukup, perawatan yang tepat, dan kedisiplinan dalam pemeriksaan dan pengobatan dijalankan. Tingkat Glukosa rata-rata untuk pasien diabetes tipe 1 harus sedekat mungkin ke angka normal (80-120 mg/dl, 4-6 mmol/l). Beberapa dokter menyarankan sampai ke 140-150 mg/dl (7-7.5 mmol/l) untuk mereka yang bermasalah dengan angka yang lebih rendah. seperti “frequent hypoglycemic events”. Angka di atas 200 mg/dl (10 mmol/l) seringkali diikuti dengan rasa tidak nyaman dan buang air kecil yang terlalu sering sehingga menyebabkan dehidrasi. Angka di atas 300 mg/dl (15 mmol/l) biasanya membutuhkan perawatan secepatnya dan dapat mengarah ke ketoasidosis. Tingkat glukosa darah yang rendah, yang disebut hypoglycemia, dapat menyebabkan kejang atau seringnya kehilangan kesadaran.

b. Diabetes Melitus Tipe 2

Diabetes mellitus tipe 2 dulu disebut non-insulin-dependent diabetes mellitus (NIDDM, “diabetes yang tidak bergantung pada insulin”) — terjadi karena kombinasi dari “kecacatan dalam produksi insulin” dan “resistensi terhadap insulin” atau “berkurangnya sensitifitas terhadap insulin”(adanya defek respon jaringan terhadap insulin)yang melibatkan reseptor insulin di membran sel. Pada tahap awal abnormalitas yang paling utama adalah berkurangnya sensitifitas terhadap insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah. Pada tahap ini, hiperglikemia dapat diatas dengan berbagai cara dan Obat Anti Diabetes yang dapat meningkatkan sensitifitas terhadap insulin atau mengurangi produksi glukosa dari hepar, namun semakin parah penyakit, sekresi insulinpun semakin berkurang, dan terapi dengan insulin kadang dibutuhkan. Ada beberapa teori yang menyebutkan penyebab pasti dan mekanisme terjadinya resistensi ini, namun obesitas sentral (fat concentrated around the waist in relation to abdominal organs, not it seems, subcutaneous fat) diketahui sebagai faktor predisposisi terjadinya resistensi terhadap insulin, mungkin dalam kaitan dengan pengeluaran dari adipokines ( nya suatu kelompok hormon) itu merusak toleransi glukosa. abdominal gemuk Adalah terutama aktip hormonally. Kegendutan ditemukan di kira-kira 90% dari pasien dunia dikembangkan mendiagnose dengan jenis 2 kencing manis. Lain faktor boleh meliputi mengeram dan sejarah keluarga, walaupun di dekade yang ter]akhir [itu] telah terus meningkat mulai untuk mempengaruhi anak remaja dan anak-anak.

Diabetes tipe 2 boleh pergi tak ketahuan bertahun-tahun dalam suatu pasien [sebelum/di depan] hasil diagnosa [sebagai/ketika] gejala yang kelihatan adalah secara khas lembut atau yang tidak ada,, tanpa ketoacidotic, dan dapat sporadis.. Bagaimanapun, kesulitan yang menjengkelkan dapat diakibatkan oleh jenis tak ketahuan 2 kencing manis, termasuk kegagalan yang berkenaan dengan ginjal, penyakit yang vaskuler ( termasuk penyakit nadi/jalan utama serangan jantung), visi merusakkan, dan lain lain

Diabetes Tipe 2 biasanya, awalnya, diobati dengan cara perubahan aktivitas fisik (biasanya peningkatan), diet (umumnya pengurangan asupan karbohidrat), dan lewat pengurangan berat badan. Ini dapat memugar kembali kepekaan hormon insulin, bahkan ketika kerugian berat/beban adalah rendah hati,, sebagai contoh, di sekitar 5 kg ( 10 sampai 15 lb), paling terutama ketika itu ada di deposito abdominal yang gemuk. Langkah yang berikutnya, jika perlu,, perawatan dengan lisan antidiabetic drugs. Sebagai/Ketika/Sebab] produksi hormon insulin adalah pengobatan pada awalnya tak terhalang, lisan ( sering yang digunakan di kombinasi) kaleng tetap digunakan untuk meningkatkan produksi hormon insulin ( e.g., sulfonylureas) dan mengatur pelepasan/release yang tidak sesuai tentang glukosa oleh hati ( dan menipis pembalasan hormon insulin sampai taraf tertentu ( e.g., metformin), dan pada hakekatnya menipis pembalasan hormon insulin ( e.g., thiazolidinediones). Jika ini gagal, ilmu pengobatan hormon insulin akan jadilah diperlukan untuk memelihara normal atau dekat tingkatan glukosa yang normal. Suatu cara hidup yang tertib tentang cek glukosa darah direkomendasikan dalam banyak kasus, paling terutama sekali dan perlu ketika mengambil kebanyakan pengobatan.

c. Gestational Diabetes Melitus

Gestational diabetes mellitus (GDM) melibatkan kombinasi dari kemampuan reaksi dan pengeluaran hormon insulin yang tidak cukup, menirukan jenis 2 kencing manis di beberapa pengakuan. Terjadi selama kehamilan dan dapat sembuh setelah melahirkan. GDM mungkin dapat merusak kesehatan janin atau ibu, dan sekitar 20–50% dari wanita penderita GDM bertahan hidup.

GDM terjadi di sekitar 2–5% dari semua kehamilan. GDM bersifat temporer dan secara penuh bisa perlakukan tetapi, tidak diperlakukan, boleh menyebabkan permasalahan dengan kehamilan, termasuk macrosomia (kelahiran yang tinggi menimbang), janin mengalami kecacatan dan menderita penyakit jantung sejak lahir. Penderita memerlukan pengawasan secara medis sepanjang kehamilan.

Resiko Fetal/Neonatal yang dihubungkan dengan GDM meliputi keanehan sejak lahir seperti berhubungan dengan jantung, sistem nerves yang pusat, dan [sebagai/ketika/sebab] bentuk cacad otot. Yang ditingkatkan hormon insulin hal-hal janin boleh menghalangi sindrom kesusahan dan produksi surfactant penyebab hal-hal janin yang berhubung pernapasan. Hyperbilirubinemia boleh diakibatkan oleh pembinasaan sel darah yang merah. Di kasus yang menjengkelkan, perinatal kematian boleh terjadi, paling umum sebagai hasil kelimpahan placental yang lemah/miskin dalam kaitan dengan perusakan/pelemahan yang vaskuler. Induksi/Pelantikan mungkin ditandai dengan dikurangi placental fungsi. Bagian Cesarean mungkin dilakukan jika ditandai kesusahan hal-hal janin atau suatu ditingkatkan risiko dari luka-luka/kerugian dihubungkan dengan macrosomia, seperti bahu dystocia.

2.2.3 Penyebab Diabetes Melitus

Penyebab utama diabetes di era globalisasi adalah adanya perubahan gaya hidup (pola makan yang tidak seimbang, kurang aktivitas fisik). Selain itu, adanya stress, kelainan genetika, usia yang semakin lama semakin tua dapat pula menjadi salah satu faktor penyebab timbulnya penyakit diabetes. Penyakit ini dapat dicegah dengan merubah pola makan yang seimbang (hindari makanan yang banyak mengandung protein, lemak, gula, dan garam), melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari (berenang, bersepeda, jogging, jalan cepat), serta rajin memeriksakan kadar gula urine setiap tahun (Sinaga, 2003).

Agar lebih memahami diabetes, sangat penting untuk terlebih dahulu memahami proses normal dari metabolisme makanan. Beberapa hal yang terjadi ketika makanan dicerna:

  • Gula atau yang disebut glukosa masuk kedalam aliran darah. Glokosa merupakan sumber bahan bakar utama bagi tubuh.
  • Organ tubuh yang disebut pankreas memproduksi insulin. Peranan dari insulin adalah mengangkut glukosa dari darah menuju otot, lemak, dan sel-sel hati, diamana kana digunakan sebagai bahan bakar.

Penderita diabetes memiliki kadar gula darah yang tinggi. Ini disebabkan karena pankreas tidak dapat memproduksi insulin ataupun otot, lemak dan sel-sel hati tidak merespon insulin secara normal. Ataupun kedua-duanya.

Sebuah analogi yang cukup pas menggambarkan hal ini disampaikan oleh Mistra dalam bukunya 3 Jurus Melawan Diabetes Mellitus. Mistra menganalogikan hormon insulin sebagai sopir angkutam umum sebuah kota. Jika para supir angkutan kota mogok massal, orang-orang akan berkumpul ditepi jalan menanti jasa angkutan. Orang-orang (calon penumpang) ini diibaratkan sebagai gula dalam darah. Jika hormoninsulin tidak ada atau sedikit jumlahnya maka gula yang ada dalam drah tidak dapat terangkut sehingga menyebar diseluruh pembuluh darah.

Secara umum, asupan gula dalam darah disimpan dalam hati. Di sini diolah menjadi glikogen. Jika tubuh memerlukan, hati akan mengeluarkan dan mengolah kembali menjadi glukosa. Bagi orang normail, sebanyak apapun konsumsi gula tidak mengganggu organ tubuh. Namun, tidak demikian bagi diabetesi. Jika buang air kecil, airnya agak kental dan terasa manis. Ini dikarenakan banyaknya gula yang berada dalam darah. Gula tersebut dibersihkan dan dikumpulkan dalam kandung kemih oleh ginjal.

Selain itu, Menurut banyak ahli beberapa faktor yang sering dianggap penyebab yaitu:
a.Faktor genetik

Riwayat keluarga dengan diabetes : Pincus dan White berpendapat perbandingan keluarga yang menderita diabetes mellitus dengan kesehatan keluarga sehat, ternyata angka kesakitan keluarga yang menderita diabetes mellitus mencapai 8, 33 % dan 5, 33 % bila dibandingkan dengan keluarga sehat yang memperlihatkan angka hanya1, 96 %.

b.Faktor non genetik

1.)Infeksi
Virus dianggap sebagai “trigger” pada mereka yang sudah mempunyai predisposisi genetic terhadap diabetes mellitus.

2.)Nutrisi
a.)Obesitas dianggap menyebabkan resistensi terhadap insulin.

b.)Malnutrisi protein

c.)Alkohol, dianggap menambah resiko terjadinya pankreatitis.

3.)Stres
Stres berupa pembedahan, infark miokard, luka bakar dan emosi biasanya menyebabkan hyperglikemia sementara.

4.)Hormonal Sindrom cushing karena konsentrasi hidrokortison dalam darah tinggi, akromegali karena jumlah somatotropin meninggi, feokromositoma karena konsentrasi glukagon dalam darah tinggi, feokromositoma karena kadar katekolamin meningkat

2.2.4 Gejala Diabetes Melitus

Tiga serangkai yang klasik tentang gejala kencing manis adalah polyuria (banyak kencing), polydipsia (banyak minum) dan polyphagia (banyak makan). Gejala ini boleh kembang;kan sungguh puasa diset dicetak 1, terutama sekali di anak-anak ( bulan atau minggu) tetapi mungkin sulit dipisahkan atau dengan sepenuhnya absen & & mdash; seperti halnya mengembang;kan jauh lebih pelan-pelan & mdash; diset dicetak 2. Diset dicetak 1 [di/ke] sana boleh juga jadilah kerugian berat/beban ( di samping normal atau yang ditingkatkan makan) dan kelelahan yang tidak dapat diperkecil lagi. Gejala ini boleh juga menjelma diset dicetak 2 kencing manis di pasien kencing manis siapa adalah dengan kurang baik dikendalikan. Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan sampai ke urine. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri).

Akibat poliuri maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polidipsi). Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polifagi).

Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual dan berkurangnya ketahanan selama melakukan olah raga. Penderita diabetes yang kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi. Karena kekurangan insulin yang berat, maka sebelum menjalani pengobatan penderita diabetes tipe I hampir selalu mengalami penurunan berat badan. Sebagian besar penderita diabetes tipe II tidak mengalami penurunan berat badan.

Pada penderita diabetes tipe I, gejalanya timbul secara tiba-tiba dan bisa berkembang dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut dengan ketoasidosis diabetikum. Kadar gula di dalam darah adalah tinggi tetapi karena sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, maka sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain. Sel lemak dipecah dan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosis). Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan sering kencing, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernafasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Bau nafas penderita tercium seperti bau aseton. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam.

Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita diabetes tipe I bisa mengalami ketoasidosis jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stres akibat infeksi, kecelakaan atau penyakit yang serius.

Penderita diabetes tipe II bisa tidak menunjukkan gejala selama beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah gejala yang berupa sering kencing dan haus. Jarang terjadi ketoasidosis. Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat stres-misalnya infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang disebut koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik.

2.2.5 Patofisiologi Diabetes Melitus

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelainan yang heterogenik dengan karakter utama hiperglikemia kronis. Meskipun pola pewarisannya belum jelas, faktor genetik dikatakan memiliki peran yang kuat dalam munculnya DM ini. Faktor genetik ini akan berinteraksi dengan faktor lingkungan seperti gaya hidup, diet, rendahnya aktivitas fisik, obesitas dan tingginya kadar asam lemak bebas. Pada DM terjadi defek sekresi insulin, resistensi insulin di perifer dan gangguan regulasi produksi glukosa oleh hepar.

Penyakit diabetes membuat gangguan/komplikasi melalui kerusakan pada pembuluh darah di seluruh tubuh, disebut angiopati diabetik. Penyakit ini berjalan kronis dan terbagi dua yaitu gangguan pada pembuluh darah besar (makrovaskular) disebut makroangiopati, dan pada pembuluh darah halus (mikrovaskular) disebut mikroangiopati. Bila yang terkena pembuluh darah di otak timbul stroke, bila pada mata terjadi kebutaan, pada jantung penyakit jantung koroner yang dapat berakibat serangan jantung/infark jantung, pada ginjal menjadi penyakit ginjal kronik sampai gagal ginjal tahap akhir sehingga harus cuci darah atau transplantasi. Bila pada kaki timbul luka yang sukar sembuh sampai menjadi busuk (gangren). Selain itu bila saraf yang terkena timbul neuropati diabetik, sehingga ada bagian yang tidak berasa apa-apa/mati rasa, sekalipun tertusuk jarum /paku atau terkena benda panas.

Kelainan tungkai bawah karena diabetes disebabkan adanya gangguan pembuluh darah, gangguan saraf, dan adanya infeksi. Pada gangguan pembuluh darah, kaki bisa terasa sakit, jika diraba terasa dingin, jika ada luka sukar sembuh karena aliran darah ke bagian tersebut sudah berkurang. Pemeriksaan nadi pada kaki sukar diraba, kulit tampak pucat atau kebiru-biruan, kemudian pada akhirnya dapat menjadi gangren/jaringan busuk, kemudian terinfeksi dan kuman tumbuh subur, hal ini akan membahayakan pasien karena infeksi bisa menjalar ke seluruh tubuh (sepsis). Bila terjadi gangguan saraf, disebut neuropati diabetik dapat timbul gangguan rasa (sensorik) baal, kurang berasa sampai mati rasa. Selain itu gangguan motorik, timbul kelemahan otot, otot mengecil, kram otot, mudah lelah. Kaki yang tidak berasa akan berbahaya karena bila menginjak benda tajam tidak akan dirasa padahal telah timbul luka, ditambah dengan mudahnya terjadi infeksi. Kalau sudah gangren, kaki harus dipotong di atas bagian yang membusuk tersebut. Gangren diabetik merupakan dampak jangka lama arteriosclerosis dan emboli trombus kecil. Angiopati diabetik hampir selalu juga mengakibatkan neuropati perifer. Neuropati diabetik ini berupa gangguan motorik, sensorik dan autonom yang masing-masing memegang peranan pada terjadinya luka kaki. Paralisis otot kaki menyebabkan terjadinya perubahan keseimbangan di sendi kaki, perubahan cara berjalan, dan akan menimbulkan titik tekan baru pada telapak kaki sehingga terjadi kalus pada tempat itu.

Gangguan sensorik menyebabkan mati rasa setempat dan hilangnya perlindungan terhadap trauma sehingga penderita mengalami cedera tanpa disadari. Akibatnya, kalus dapat berubah menjadi ulkus yang bila disertai dengan infeksi berkembang menjadi selulitis dan berakhir dengan gangren.

Gangguan saraf autonom mengakibatkan hilangnya sekresi kulit sehingga kulit kering dan mudah mengalami luka yang sukar sembuh. Infeksi dan luka ini sukar sembuh dan mudah mengalami nekrosis akibat dari tiga faktor. Faktor pertama adalah angiopati arteriol yang menyebabkan perfusi jaringan kaki kurang baik sehingga mekanisme radang jadi tidak efektif. Faktor kedua adalah lingkungan gula darah yang subur untuk perkembangan bakteri patogen. Faktor ketiga terbukanya pintas arteri-vena di subkutis, aliran nutrien akan memintas tempat infeksi di kulit.

2.2.6 Pengobatan Diabetes Melitus

Regulasi glukosa darah merupakan kunci dalam pencegahan komplikasi dan perkembangan penyakit diabetes. Pengaturan istirahat, makan(diet) dan olah raga perupakan terapi pokok dalam pengelolaan DM di samping pemberian obat berkhasiat menurunkan glukosa darah (hipoglikemik) (Hendromartono,2004).

Obat-obat Anti Diabetes, disingkat OAD, mengalami perkembangan yang cukup pesat. Saat ini dapat dijumpai OAD yang praktis, hanya diminum sekali sehari, dan selain menurunkan kadar gula darah juga menjaga kesehatan sel Beta Pankreas, meningkatkan fungsi sel-sel Beta Langerhans di Pankreas, mencegah resistensi, ini yang penting. Namun OAD yang lama juga masih tetap dipakai karena pertimbangan harga. Yang harus diketahui: agar angiopati diabetik tidak mudah timbul, hindarkan terjadinya NSH (Nocturnal Symptompless Hypoglycemia). NSH bisa timbul bila OAD golongan tertentu diberikan pada sore atau malam hari, sehingga pada malamnya timbul NSH. NSH ini akan merangsang sekresi katekolamin, kortisol, growth hormon, dan glukagon yang semuanya mempercepat terjadinya angiopati diabetik. Karena itu, apabila memberikan OAD golongan tertentu, misalnya golongan glibenklamid, berikanlah pada pagi dan siang hari, jangan pagi dan sore hari.

Karena kejenuhan, biasanya penderita DM suka berganti-ganti metode pengobatan. Bermacam-macam terapi alternatif ditempuh. Teman bilang ini dituruti, saudara bilang ke sana maka dia pun ke sana, baik pengobatan modern maupun pengobatan alternaif yang bermacam ragamnya. kadang-kadang satu macam pengobatan belum menampakkan hasilnya, sudah berpindah lagi.Ini yang harus diperhatikan, apa pun pengobatan yang ditempuh, tetap harus rajin mengukur kadar gula darahnya, untuk bisa melihat kemajuan pengobatannya. Minimal sebulan sekali. Saat ini sudah banyak alat pengukur gula darah, jika bisa memliki sendiri juga baik. Sekali-sekali memeriksakan juga kadar HbA1c. Namun tetap diperlukan nasehat dari dokter untuk pemilihan, pemantauan dan analisa terapi yang dijalani.

Prinsip pengobatan dalam diabetes mellitus diantaranya adalah:

1). Antidiabetes suntikan / insulin

Insulin harus digunakan pada keadaan ketoasidosis atau koma hiperosmolar nonketotik. Pada keadaan penyakit akut, infeksi dan strees, keadaan diabetes akan sangat tidak terkendali sehingga harus digunakan insulin. Pada DMTTI (Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin) kadang-kadang terjadi hiperglikemia selama operasi anesthesia sehingga harus juga dipakai insulin. Diabetes Melitus Tergantung Insulin (DMTI) merupakan indikasi klasik penggunaan insulin. Insulin juga harus diberikan pada wanita hamil dan bila pengobatan dengan obat hipoglikemik oral mengalami kegagalan (Anonim, 1996). Hal yang harus diperhatikan dalam melakukan evaluasi pengobatan dengan insulin adalah dengan cara apa insulin itu diberikan. Menurut lama kerja insulin dibagi menjadi 4, yaitu insulin kerja singkat, insulin kerja menengah, insulin kerja panjang, dan insulin ifasik (kombinasi insulin kerja cepat dan menengah). Insulin kerja singkat dapat diberikan secara intravena, intramuskular, atau subkutan dan tidak tergantung pada pH bahan pelarut. Insulin kerja menengah atau panjang tidak dapat diberikan secara intravena karena bahaya emboli. Insulin kerja singkat dapat ditambahkan dalam cairan infus seperti asam amino, glukosa dan elektrolit serta sebaiknya tidak diberikan bersama darah atau serum karena mengandung hidrosilat atau enzim yang dapat merusak insulin. Absorbsi yang paling cepat terjadi pada dinding abdomen, paling lambat di paha, sedang di lengan dan daerah gluteus di antaranya. Tempat yang dianjurkan adalah rotasi di daerah dinding abdomen (Anonim, 1996).

2). Obat hipoglikemik oral

Berdasarkan cara kerjanya, obat hipoglikemik oral (OHO) dibagi menjadi 2 golongan :

a). Pemicu sekresi insulin

(1). Sulfonilurea

Mekanisme kerja obat golongan sulfonilurea adalah menstimulasi pelepasan insulin yang tersimpan (stored insulin), menurunkan ambang sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa (Anonim,1996). Obat golongan ini merupakan pilihan untuk pasien diabetes dewasa baru dengan berat badan normal dan kurang serta tidak pernah mengalami ketoasidosis sebelumnya. Sulfonilurea sebaiknya tidak diberikan pada penyakit hati, ginjal, dan tiroid (Soegondo, dkk., 2005). Obat golongan ini antara lain khlorpropamid, glibenklamid, gliklasid, glikuidon, glipisid, glimepirid.

(2). Glinid

Glinid merupakan obat generasi baru yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea dengan meningkatkan sekresi insulin fase pertama. Contoh obat golongan ini adalah repaglinid dan nateglinid.

b). Penambah sensitifitas terhadap insulin

(1). Biguanid

Biguanid tidak merangsang sekresi insulin dan menurunkan kadar glukosa darah sampai normal (euglikemia) serta tidak pernah menyebabkan hipoglikemia. Efek samping yang sering terjadi adalah nausea, muntah-muntah, kadang-kadang diare, oleh karena itu, lebih baik diberikan kepada pasien yang gemuk, sebab tidak merangsang sekresi insulin, yang seperti diketahui mempunyai efek anabolit. Sebenarnya obat ini baik sekali bila diiingat sifatnya yang hanya merupakan euglicemic agent, jadi tidak terdapat bahaya terjadinya hipoglikemia. Tetapi sayang sekali obat golongan ini seringkali menyebabkan asidosis laktat, terutama dengan preparat Fenformin dan Buformin, sehingga kedua preparat ini tidak dipasarkan lagi. Contoh obat golongan ini adalah metformin (Soegondo,dkk., 2005).

(2). Thiazolindin / glitazon

Thiazolindion berikatan pada peroxisome proliferator activated receptor gamma (PPARg) suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak. Contoh obat golongan ini adalah pioglitazon dan rosiglitazon (Soegondo, dkk., 2005).

c). Penghambatan alfa glukosidase / acarbose

Cara kerja obat golongan ini adalah berdasarkan persaingan inhibisi enzim glukosidase di mukosa deudenum, sehingga reaksi penguraian di-/polisakarida menjadi monosakarida dihambat. Dengan demikian glukosa dilepas lebih lambat dan absorbsinya di dalam darah juga kurang cepat, lebih rendah dan merata sehingga memuncaknya kadar gula darah bisa dihindari (Tjay dan Rahardja, 2002). Efek samping obat ini adalah perut kurang enak, lebih banyak flatus dan kadangkadang diare, yang akan berkurang setelah pengobatan lebih lama. Obat ini hanya mempengaruhi kadar glukosa darah pada waktu makan dan tidak mempengaruhi kadar glukosa darah setelah itu. Bila diminum bersama-sama obat golongan sulfonilurea (atau dengan insulin) dapat terjadi hipoglikemia yang hanya dapat diatasi dengan glukosa murni, jadi tidak dapat diatasi dengan pemberian gula pasir (Soegondo,dkk., 2005).

2.3 Flavonoid

Senyawa Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, dan biru dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan.

Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana dua cincin benzene (C6) terikat pada suatu rantai propana (C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6, susunan ini menghasilkan tiga jenis struktur senyawa flavonoida yaitu:

  1. Flavonoida atau 1,3-diarilpropana
  1. Isoflavonoida atau 1,2-diarilpropana
  1. Neoflavonoida atau 1,1-diarilpropana

Istilah flavonoida diberikan untuk senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kata flavon, yaitu nama salah satu jenis flavonoida yang terbesar jumlahnya pada tumbuhan. Senyawa-senyawa flavon ini mempunyai kerangka 2-fenilkroman, dimana posisi orto dari cincin A dan atom karbon yang terikat pada cincin B dari 1,3-diarilpropana dihubungkan oleh jembatan oksigen sehingga membentuk cincin heterosiklik yang baru (Cincin C).

Senyawa-senyawa flavonoida terdiri dari beberapa jenis tergantung pada tingkat oksidasi dari rantai propana dari sistem 1,3-diarilpropana. Flavon, flavonol dan antosianidin adalah jenis yang banyak ditemukan dialam sehingga sehingga sering disebut sebagai flavonoida utama. Banyaknya senyawa flavonoida ini disebabkan oleh berbagai tingkat hidroksilasi, alkoksilaksi, atau glikosilasi dari struktur tersebut.

Dalam hal penurunan kadar glukosa darah menurut Ivorra, M.D dalam buku “A Review of Natural Product and Plants as Potensial Antidiabetic,” senyawa aktif alkoloid dan flavonoid memiliki aktivitas hipoglikemik atau penurun kadar glukosa darah.

2.4 Efek Aloksan Terhadap Kadar Glukosa Darah

Aloksan (2,4,5,6-tetraoxypyrimidine; 2,4,5,6-pyrimidinetetrone) adalah suatu substansi yang secara struktural merupakan derivate perimidin sederhana. Aloksan telah digunakan secara luas untuk menginduksi diabetes pada hewan percobaan. Substansi diabetogenik ini secara selektif bekerja pada sel pankreas yang bertanggung jawab untuk memproduksi insulin. Aloksan dalam darah berikatan dengan GLUT-2 (pengangkut glukosa) yang memfasilitasi masuknya aloksan ke dalam sitoplasma sel pankreas. Di dalam sel, aloksan menimbulkan depolarisasi berlebih pada mitokondria sebagai akibat pemasukan ion Ca2+ yang diikuti dengan penggunaan energi berlebih sehingga terjadi kekurangan energi dalam sel. Dua mekanisme ini mengakibatkan kerusakan baik dalam jumlah sel maupun massa sel pankreas sehingga terjadi penurunan pelepasan insulin yang mengakibatkan terjadinya hiperglikemi.

Beberapa teori lain menerangkan bahwa aloksan dapat membangkitkan reactive oxygen species (ROS) melalui siklus reaksi yang hasil reduksinya berupa dialuric acid. Dialuric acid ini akan mengalami siklus redoks dan membentuk radikal superoksida. Kemudian radikal ini akan mengalami dismutasi menjadi hidrogen peroksida dan pada tahap akhir mengalami reaksi katalisasi besi membentuk radikal hidroksil. Radikal hidroksil inilah yang menyebabkan kerusakan pada sel pankreas sehingga terjadilah insulin dependent diabetes mellitus atau disebut juga alloxan diabetes pada hewan percobaan. Diabetes tipe ini memiliki karakteristik yang serupa dengan diabetes tipe I pada manusia. Oleh karena itu, pemberian aloksan merupakan salah satu cara untuk menghasilkan kondisi diabetik eksperimental (hiperglikemik) pada hewan percobaan.

2.5 Kerangka Konsep

Kadar Glukosa Darah
Ekstrak Kulit Batang Pule

2.6 Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah dan uraian teoritik pada studi pustaka dan kerangka konseptual dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

Pemberian Ekstrak kulit batang pule (Alstonia scholaris) dapat menurunkan kadar glukosa darah pada hewan percobaan.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan antara tanggal 7-15 Mei 2010, tempat penelitian ini adalah di Laboratorium Kimia Universitas Muhammadiyah Malang.

3.2 Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis Penelitian: Penelitian Eksperimen

Rancangan Penelitian: Rancangan acak dengan desain penelitian Post Test Randomized Control Design.

3.3 Populasi dan Teknik Sampling

  • Populasi: Tikus putih yang diperoleh dari Laboratorium Kimia Universitas Muhammadiyah Malang.
  • Teknik Sampling: Random Sampling.
  • Sampel: 4 buah tikus putih.

3.4 Jenis dan Definisi Operasional Variabel

  • Jenis Variabel

Variabel bebas: Konsentrasi ekstrak pule, dosis ekstrak 490 mg/kg bb

Variabel tergantung: Kadar glukosa darah pada tikus yang menderita diabetes

Variabel kontrol: Umur, jenis pakan, ukuran kandang.

  • Definisi Operasional Variabel

Konsentrasi ekstrak pule: Adalah jumlah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dari tanaman pule menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan.

Kadar Glukosa darah pada tikus: adalah banyaknya glukosa yang terkandung dalam 1L atau 1 dL darah tikus wistar yang diperiksa secara kuantitatif.

Umur: umur adalah perhitungan yang dimulai dari awal dilahirkanya tikus hingga pada saat akan dilakukan percobaan, pada percoban ini umur tikus dibuat seragam dengan umur ± 3 bulan.

Jenis pakan: jenis pakan adalah jenis makanan yang akan diberikan pada tikus selama masa percobaan.

Ukuran kandang: ukuran kandang adalah jumlah panjang dan lebar tempat yang akan digunakan sebagai tempat pemeliharaan tikus.

3.5 Pelaksanaan Penelitian

A. Persiapan Penelitian

1. Penentuan Dosis ekstrak 490 mg/kg/bb dan 590 mg/kg/bb adalah dosis pada mencit yang memberikan efek farmakologi (Kumolosasi, 1999).

2. Memilih hewan uji (tikus putih ) sejumlah 4 ekor, umur 2 bulan, berat badan awal 183 – 262 gram.

3. Menyiapkan kandang tikus putih lengkap dengan tempat pakan dan minum.

4. Membuat ekstrak kulit batang pule

B. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 4 ekor tikus putih. Tikus tersebut dibagi kedalam 3 kelompok, 2 ekor tikus sebagai kontrol dan 2 ekor tikus sebagai uji atau perlakuan. Masing-masing kelompok akan diperlakukan sebagai berikut:

  1. Kontrol

R                II. Diberi Ekstrak Pule 490 mg/kg/bb

III. Diberi Ekstrak Pule 590 mg/kg/bb

Keterangan:

R           : Random

I            : Tikus tidak diinduksi aloksan

II         : Tikus diinduksi aloksan yang diberi ekstrak kulit batang pule 490 mg/kg/bb

III        : Tikus diinduksi aloksan yang diberi ekstrak kulit batang pule 590 mg/kg/bb

Tikus putih dibagi kedalam tiga kelompok secara random. Kemudian dua kelompok selain kelompok kontrol diinduksi dengan aloksan. Dua kelompok ini kemudian diberi perlakuan ekstrak batang pule yang berbeda.

C. Teknik Pengumpulan Data

Pemeriksaan kadar glukosa dilakukan secara kuantitatif dengan metode GODPAP. Glukosa ditentukan setelah oksidasi enzimatis dengan adanya glucose oxidase. Hidrogen peroksida yang terbentuk bereaksi dengan adanya peroksidase dengan phenol serta 4-aminophenazone menjadi zat warna quinoneimine berwarna merah violet. Pengukuran kadar glukosa dilakukan dengan spektrofotometri. Ada tiga jenis tabung yang harus disiapkan yaitu, tabung sampel, berisi sampel/serum yang dicampur dengan reagen glucose liquicolor dengan perbandingan 1:100; tabung standar, berisi larutan standar yang dicampur dengan reagen glucose liquicolor dengan perbandingan 1:100; dan tabung blanko, berisi larutan reagen saja. Kemudian mengukur absorbansi standar (d Astd) dan sampel (d Asp) terhadap blanko reagen dengan alat spektrofotometer pada gelombang 500 nm.

Kalkulasi dilakukan dengan rumus:

Keterangan :

C (mg/dl) : Kadar glukosa dalam satuan (mg/dl)

C (mmol/dl) : Kadar glukosa dalam satuan (mmol/L)

dAsp : Nilai absorbansi sampel

dAstd : Nilai absorbansi standar

Hasil tiap kelompok dibandingkan setelah data semua tikus wistar terkumpul.

3.6 Teknik Analisa Data

Untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak Pule dengan berbagai dosis terhadap kadar Glokosa darah tikus putih, dilakukan Analisis Varians (ANAVA) satu jalan dengan taraf kepercayaan 5 % (Sudjana, 1988).

Keterangan:

db        : Derajat kebebasan

JK        : Jumlah kuadrat

KT       : Kuadrat tengah

F          : Nilai frekuensi

T(1-1/2a) : Treatment

r           : Replikasi/ulangan

Selanjutnya untuk dapat menolak atau menerima hipotesis, maka Fhitung yang telah diketahui harus dikonsultasikan dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel, sehingga kesimpulan yang dapat diambil adalah:

  1. Bila Fh > Ft= signifikan maka Ho ditolak, Ha diterima
  2. Bila Fh < Ft= tidak signifikan maka Ho diterima, Ha ditolak.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Pada percobaan ini dilakukan pengukuran kadar glukosa pada hari ke 7. Penentuan hari dihitung sejak pemberian aloksan pertama kali. Jadi, hari ke-1 adalah hari pertama pemberian aloksan. Pada hari ke 8 perlakuan, kadar glukosa darah hewan coba sudah menunjukkan kenaikan yang berarti, hal ini dapat dilihat di table 1 dimana ketika tikus diuji dengan menggunakan glukotes sudah menunjukan nilai glukosa darah 127 dan 129 mg/dl. Hal ini menunjukan bahwa tikus telah terkena Diabetes Melitus dapat dilihat dari nilai glukosa darh tikus yang apa pada Glukotest kemudian dikali dengan angka 1,5 sehingga didapatkan hasil bahwa darah tikus sudah masuk kategori diabetes mellitus. Oleh sebab itu pemberian bahan uji dilakukan sejak hari ke -9 sampai dengan hari ke-15.

TABEL 1

Jenis Tikus Nilai Glucotest X 1,5
Tikus 1 127 mg/dl 190.5 mg/dl
Tikus 2 129 mg/dl 193.5 mg/dl
Tikus 3 129 mg/dl 193.5 mg/dl
Tikus 4 127 mg/dl 190.5 mg/dl

Setelah diberi perlakuan ekstrak selama 1 minggu dengan dosis 490 mg/kg bb dan 590 mg/kg bb, kemudian tikus kembali dianalisa menggunakan metode GODPAP, sehingga didapatkan hasil sebagai berikut:

  • Untuk tikus 1 perlakuan 590 kg/bb didapatkan hasil nilai spektrofotometri tikus 1 adalah 0,19 kemudian dimasukan ke rumus untuk mencari kadar glukosa darah sehiingga didapatkan hasil nilai kadar glukosa darah adalah 66,20 mg/dl
  • Untuk tikus 2 perlakuan 490 kg/bb didapatkan hasil nilai spektrofotometri tikus adalah 0,24 kemudian dimasukan rumus untuk mencari kadar glukosa darah sehingga didapatkan hasil nilainya adalah 83,62 mg/dl
  • Untuk tikus 3 perlakuan 490 kg/bb didapatkan hasil nilai spektrofotometri tikus adalah 0,20 kemudian dimasukan rumus untuk mencari kadar glukosa darah sehingga didapatkan hasil nilainya adalah 101,04 mg/dl

Dari nilai di atas dapat diketahui bahwa setelah diberi perlakuan selama 1 minggu kadar glukosa darah telah kembali normal.

4.2 Pembahasan

Berdasarkan stadar WHO mengenai kadar glukosa darah normal orang yang berpuasa adalah antara 180-120 mg/dl maka dapat diketahui bahwa tikus yang kami beri percobaan semua kadar glukosanya telah kembali dalam keadaan normal.

Berdasar studi literature dan hasil praktikum diketahui bahwa zat pada kulit batang pule yang sangat berperan dalam penurunan kadar glukosa darah adalah senyawa alkaloid dan flavovnoid. Menurut Ivorra, M.D dalam buku “A Review of Natural Product and Plants as Potensial Antidiabetic,” senyawa aktif alkoloid dan flavonoid memiliki aktivitas hipoglikemik atau penurun kadar glukosa darah, selain itu Flavonoid berperan dalam meningkatkan glikogenesis sehingga tidak terjadi penimbunan glukosa dalam darah..

Selain itu zat lainnya yang berperan dalam penurunan kadar glukosa pada darah yang berasal dari kulit batang pule adalah tannin. Mekanisme kerja Tanin adalah berfungsi sebagai astringent atau pengelat yang dapat mengkerutkan membran epitel usus halus sehingga mengurangi penyerapan sari makanan akibatnya menghambat asupan glukosa & laju peningkatan glukosa darah tidak terlalu tinggi.

Selain itu juga kandungan triterpenoid sangat berperan dalam penurunan kadar glukosa darah mekanisme kerja dari zat ini adalah mempercepat keluarnya glukosa dari sirkulasi, dengan cara mempercepat peredaran darah yang erat kaitannya dengan kerja jantung dan dengan cara mempercepat filtrasi dan ekskresi ginjal sehingga produksi urin meningkat jadi sebagai diuretika. Karena laju ekskresi glukosa melalui ginjal meningkat, ini akan menyebabkan kadar glukosa dalam darah menurun.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil studi literature dan pengujian maka dapat dihasilkan kesimpulan sebagai berikut:

  • Setelah diberi perlakuan selama 1 minggu dengan dosis 490 mg/kg bb dan 590 mg/kg bb didapatkan hasil bahwa semua kadar glukosa darah pada tikus telah normal seperti yang ada pada standar WHO dimana kadar glukosa darah pada tikus untuk tikus 1 66,20 mg/dl, tikus 2 83,62 mg/dl, dan tikus 3 sebesar 101,04 mg/dl.
  • Senyawa aktif yang terdapat pada kulit batang pule dan sangat berperan dalam penurunan kadar glukosa darah adalah Flavonoid, alkaloid, tannin, dan triterpenoid.
  • Ektrak kulit bantang pule dapat menurunkan kadar glukosa pada darah.

5.2 Saran

  • Untuk para peneliti atau mahasiswa agar lebih mendalami lagi penelitian mengenai tanaman pule ini sehingga didapatkan hasil penelitian yang benar-benar akurat dan nantinya dapat diaplikasikan pada  masyarakat
  • Untuk masyarakat agar dapat menggunakan kulit batang pule sebagai alternatif dalam pengobatan melawan diabetes mellitus.
  • Untuk pemerintah agar lebih memperhatikan potensi tanaman obat yang ada di Indonesia lebih digalakkan lagi demu kesehatan masyarakat

DAFTAR PUSTAKA

Asmaliyah, Burhan Ismail dan Teguh Hardi TW. 2004. Beberapa Serangga Hama Pada Tanaman Pulai Gading. Prosiding Ekspopse Terpadu Hasil Penelitian, Badan Litbang Kehutanan. Departemen Kehutanan. Yogyakarta.

Chevalier, A. 2000. Natural Health: Encyclopedia of Herbal Medicine, A. Dorling Book: New York.

Dwidjoseputro. 1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Doran JC, Turnbull JW, 1997. Australian trees and shrubs: Species for land rehabilitation and farm planting in the tropics. ACIAR Monograph No. 24. 384 pp. Holmes CH, 1954. Seed germination and seedling studies of timber trees of Ceylon. Ceylon Forester, 1(3):3-51.

Isbandi D. 1983. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Kasahara, S., and Hemmi, S., “Medical Herb Index Indonesia, PT. Eisai Indonesia, Jakarta, 34-35, 222 – 223 (1986).

Kumolosasi., E., Elin Yulinah S., Komar Ruslan W., Andreanus A.S., Sundani Nurono., “Pembuatan Sediaan Fitofarmaka Terhadap Penyakit Toksoplasmosis, Disebabkan oleh Toxoplasma gondii yang Efektif dan Aman”, Laporan Penelitian Hibah Bersaing VII, ITB, th 1999.

Martawijaya, A., I. Kartasujana, K. Kadir, dan S.A. Prawira. 1981. Atlas Kayu Indonesia. Jilid I. Balai Penelitian Hasil Hutan. Bogor.

Pratiwi. 2000. Potensi dan Prospek Pengembangan Pohon Pulai untuk Hutan Tanaman. Buletin Kehutanan dan Perkebunan 1(1) : 1-9.

Soerianegara I, Lemmens RHMJ, eds., 1993. Plant Resources of South-East Asia No. 5(1). Timber trees: major commercial timbers. Wageningen, Netherlands: Pudoc Scientific Publishers. Also published by Prosea Foundation, Bogor, Indonesia.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

05/09/2013 Posted by | Fitofarmaka | Tinggalkan komentar

Model Pembelajaran GASING/FISITARU

Model Pembelajaran Fisitaru disetting dalam bentuk pembelajaran yang diawali dengan sebuah masalahdengan menggunakan instruktur sebagai pelatihan metakognitif dan diakhiri dengan penyajian dan analisis kerja siswa (Yohanes Surya, 2008).

Model pembelajaran Fisitaru berlandaskan pada psikologi kognitif, sehingga fokus pengajaran tidak begitu banyak pada apa yang sedang dilakukan siswa, melainkan kepada apa yang sedang mereka pikirkan pada saat mereka melakukan kegiatan itu. Pada model pembelajaran Gasing berbasis masalah peran guru lebih berperan sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa belajar berpikir dan memecahkan masalah mereka sendiri. Belajar berbasis masalah menemukan akar intelektualnya pada penelitian John Dewey (Ibrahim, 2000). Pedagogi Jhon Dewey menganjurkan guru untuk mendorong siswa terlibat dalam proyek atau tugas yang berorientasi masalah dan membentu mereka menyelidiki masalah-masalah tersebut. Pembelajaran yang berdayaguna atau berpusat pada masalah digerakkan oleh keinginan bawaan siswa untuk menyelidiki secara pribadi situasi yang bermakna merupakan hubungan masalah dengan psikologi Dewey.

Selain Dewey, ahli psikologi Eropa Jean Piaget tokoh pengembang konsep konstruktivisme telah memberikan dukungannya. Pandangan konstruktivisme- kognitif yang didasari atas teori Piaget menyatakan bahwa siswa dalam segala usianya secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuannya sendiri (Ibrahim, 2000).

Adaptasi struktur pembelajaran model Gasing berbasis masalahdalam kelas-kelas sains dilakukan dengan menjamin penerapan beberapa komponen penting dari sains. Empat penerapan esensial dari pembelajaran model Gasing berbasis masalah adalah seperti diurutkan dalam Yohanes Surya (2008) adalah:
1) Orientasi siswa pada masalah
Pada saat mulai pembelajaran, guru menyampaikan tujuan pembelajaran secara jelas, menumbuhkan sikap positif terhadap pelajaran. Guru menyampaikan bahwa perlu adanya elaborasi tentang hal-hal sebagai berikut:
– Tujuan utama dari pembelajaran adalah tidak untuk mempelajari sejumlah informasi baru, namun lebih kepada bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadikan pebelajar yang mandiri.
– Permasalahan yang diselidiki tidak memiliki jawabanmutlak ”benar”. Sebuah penyelesaian yang kompleks memiliki banyak penyelesaian yang terkadang bertentangan.
– Selama tahap penyelidikan dalam pembelajaran, siswadidorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi dengan bimbingan guru.
– Pada tahap analisis dan penyelesaian masalah siswa didorong untuk menyampaikan idenya secara terbuka.
Guru perlu menyajikan masalah dengan hati-hati dengan prosedur yang jelas untuk melibatkan siswa dalam identifikasi. Hal penting di sini adalah orientasi kepada situasi masalah menentukan tahap untuk penyelidikan selanjutnya. Oleh karena itu pada tahap ini presentasi harus menarik minat siswa dan menimbulkan rasa ingin tahu.

2) Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Pembelajaran model Gasing berbasis masalahmembutuhkan keterampilan kolaborasi diantara siswa menurut mereka untuk menyelidiki masalah secara bersama. Oleh karena itu mereka juga membutuhkan bantuan untuk merencanakan penyelidikan dan tugas-tugas belajarnya.
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar kooperatif juga berlaku untuk mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok pembelajaran berbasis masalah. Intinya di sini adalah guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikantugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang akan dipecahkan.

3) Membantu penyelidikan siswa
Pada tahap ini guru mendorong siswa untuk mengumpulkan data-data atau melaksanakan eksperimen sampai mereka betul-betul memahami dimensi dari masalah tersebut. Tujuannya agar siswamengumpulkan cukup informasi untuk membangun ide mereka sendiri. Siswa akan membutuhkan untuk diajarkan bagaimana menjadi penyelidik yang aktif dan bagaimana menggunakan metode yang sesuai untuk masalah yang sedang dipelajari.
Setelah siswa mengumpulkan cukup data mereka akanmulai menawarkan penjelasan dalam bentuk hipotesis, penjelasan dan pemecahan. Selama tahap ini guru mendorong semua ide dan menerima sepenuhnya ide tersebut.

4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Pada tahap ini guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan hasil karya yang akan disajikan. Masing-masing kelompok menyajikan hasil pemecahan masalah yang diperoleh dalam suatu diskusi. Penyajian hasil karya ini dapat berupa laporan, poster maupun media-media yang lain.

5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Tahap akhir ini meliputi aktivitas yang dimaksudkanuntuk membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi prosesberpikir mereka sendiri dan disamping itu juga mengevaluasi keterampilan penyelidikan =dan keterampilan intelektual yang telah mereka gunakan.
Selanjutnya beberapa ciri penting pembelajaran model fisitaru sebagai berikut (Yohanes Surya, 2008).

1. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran dirancang untuk dapat merangsang dan melibatkan pebelajar dalam pola pemecahan masalah. Kondisi ini akan dapat mengembangkan keahlian belajar dalam bidangnya secara langsung dalam mengidentifikasi permasalahan. Dalam konteks belajar kognitif sejumlah tujuan yang terkait adalah belajar langsung dan mandiri, pengetahuan dan pemecahan masalah. Sehingga untuk mencapai keberhasilan, para pebelajar harus mengembangkan keahlian belajar dan mampu mengembangkan strategi dalam mengidentifikasidan menemukan permasalahan belajar, evaluasi dan juga belajar dari berbagai sumber yang relevan.

2. Keberlanjutan masalah
Dalam hal ini ada dua hal yang harus terpenuhi. Pertama, harus dapat memunculkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang relevan dengan content domainyang dibahas. Kedua, permasalahan hendaknya riil sehingga memungkinkan terjadinya kesamaan pandang antarsiswa. Ada tiga alasan kenapa permasalahan harus nyata (realistik). (1) Siswa terkadang terbuka untuk meneliti semua dimensi daripermasalahan sehingga dapat mengalami kesulitan dalam menciptakan suatu permasalahan yang luas dengan informasi yang sesuai. (2) Permasalahan nyata cenderung untuk lebih melibatkan siswa terhadap suatu konteks tentang kesamaan dengan permasalahan. (3) Siswa segera ingin tahu hasil akhir dari penyelesaian masalahnya.

3. Adanya presentasi permasalahan
Pelajar dilibatkan dalam mempresentasikan permasalahan sehingga mereka merasa memiliki permasalahan tersebut. Ada dua hal pokok dalam mempresentasikan permasalahan. Pertama, jika siswa dilibatkan dalam pemecahan masalah yang autentik, maka mereka harus memiliki permasalahan tersebut. Kedua, adalah bahwa data yang ditampilkan dalam presentasi permasalahan tidak menyoroti faktor-faktor utama dalam masalah tersebut, namun dapat ditampilkan sebagai dasar pertanyaan sehingga tidak menampilkan informasi kunci.

4. Peran guru sebagai tutor dan fasilitator
Dalam hal ini peran guru sebagai fasilitator adalahmengembangkan kreativitas berpikir siswa dalam bentuk keahlian dalam pemecahan masalah dan membantu siswa untuk menjadi mandiri. Kemampuan dari tutor sebagai fasilitator keterampilan mengajar kelompok kecil dam proses pembelajaran merupakan penentu utama dari kualitas dan keberhasilan. Setiap metode pendidikan bertujuan: (1) Mengembangkan kreativitas pada siswa dan keahlian berpendapat. (2) Membantu mereka untuk menjadi mandiri. Sedangkan tutorial adalah suatu penggunaan keahlian yang menitikberatkan masalah dasar belajar langsung mandiri.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

05/08/2013 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN MANUSIA

A. Masa Balita
Pada bab sebelumnya kamu sudah mempelajari pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan dan hewan. Coba kamu sebutkan definisi dari perkembangan! Secara harfiah, perkembangan diartikan sebagai proses menuju kedewasaan. Pertumbuhan dan perkem-bangan manusia terjadi secara bertahap, yaitu balita, anak-anak, remaja, dewasa, dan manula. Balita merupakan kependekan dari anak usia di bawah lima tahun. Masa balita merupakan tahap pertumbuhan anak mulai dari bayi sampai usia 5 tahun.
Pernahkah kamu mengamati adikmu yang masih bayi? Bayi yang semula hanya bisa tidur kemudian dapat melakukan gerakan tengkurap, merang-kak, merambat, dan berjalan hingga berlari. Hal tersebut seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya, yaitu semakin besar dan semakin kuatnya anggota-anggota tubuh. Perkembangan pada balita juga ditunjukkan dengan kemampuan berbicaranya, dari hanya mampu mengucapkan satu kata, dua kata, hingga lancar berbicara.
2013-05-02_011905

B. Masa Anak-anak

Tahapan berikutnya setelah masa balita adalah masa anak-anak, yaitu usia 6 tahun hingga 10 tahun. Pada masa anak-anak, pertumbuhan fisik dan mental mulai meningkat. Pertumbuhan meliputi tinggi badan, berat badan disertai perkembangan koordinasi otot-otot, dan kemampuan mental. Ciri-ciri masa anak-anak ditunjukkan pada tabel berikut.

2013-05-02_012226

Kemampuan menulis, membaca, dan beralasan telah berkembang pada masa anak-anak. Anak pada masa ini telah dapat membedakan tindakan baik dan buruk.

C. Masa Remaja

Masa remajaatau masa puber, merupakan masa penghubung antara masa anak-anak dengan dewasa. Pertumbuhan dan perkembangan pada masa remaja sangat pesat, baik fisik maupun psikologis. Perkembangan yang pesat ini berlangsung pada usia 11–16 tahun pada laki-laki dan 10–15 tahun pada perempuan. Anak perempuan lebih cepat dewasa dibandingkan anak laki-laki.

Pada masa pubertas mulai ada rasa tertarik terhadap lawan jenisnya. Pesatnya perkembangan pada masa puber dipengaruhi oleh hormon seksual. Organ-organ reproduksi pada masa puber telah mulai berfungsi. Salah satu ciri masa pubertas adalah mulai terjadinya menstruasi pada perempuan. Adapun pada laki-laki mulai mampu menghasilkan sperma. Ciri-ciri perubahan tubuh pada masa remaja dapat dibedakan menjadi ciri kelamin primer dan ciri kelamin sekunder.

1. Ciri-ciri kelamin primer
a. Mulai berfungsinya organ reproduksi
Organ reproduksi pada laki-laki (testis) mulai berfungsi menghasilkan hormon testosteron. Testosteron berfungsi merangsang testis untuk menghasilkan sperma. Organ reproduksi pada perempuan (ovarium) mulai memproduksi hormon estrogendan progesteron. Hormon ini memengaruhi perkem-bangan organ reproduksi perempuan. Selain itu, juga memengaruhi ovulasi, yaitu pematangan sel telur dan pelepasan sel telur dari ovarium.
b. Laki-laki mengalami mimpi basah dan perempuan mengalami menstruasi

Seiring dengan produksi sperma yang meningkat, pada anak laki-laki terjadi mimpi basah. Mimpi basah pertama dapat dijadikan tanda
bahwa seorang laki-laki telah akil balig. Organ reproduksi yang telah aktif pada anak perempuan ditandai dengan terjadinya menstruasi. Ketika memasuki masa pubertas, indung telur (ovarium) pada perempuan mulai aktif dan mampu menghasilkan sel telur (ovum).
2. Ciri-ciri kelamin sekunder
Ciri-ciri kelamin sekunder berupa perubahan fisik, terjadi pada laki-laki dan perempuan. Ciri-ciri kelamin sekunder pada perempuan, antara lain payudara tumbuh membesar, tumbuhnya rambut di ketiak dan di sekitar alat kelamin, serta membesarnya panggul. Ciri-ciri kelamin sekunder anak laki-laki adalah tumbuhnya kumis dan jambang, tumbuhnya rambut di ketiak dan di sekitar alat kelamin, serta dada menjadi lebih bidang. Agar lebih mudah memahami perbedaan perkembangan ciri-ciri kelamin sekunder anak laki-laki dan perempuan, perhatikan tabel berikut ini!

2013-05-02_012758

Perkembangan fisik pada masa remaja paling pesat di antara tahap-tahap perkembangan manusia. Selain perubahan-perubahan fisik, remaja juga mengalami perubahan secara psikologis. Perkembangan jiwa pada masa remaja juga semakin mantap. Pada akhir masa remaja, jiwanya sudah tidak mudah terpengaruh serta sudah mampu memilih dan menyeleksi. Remaja juga mulai belajar bertanggung jawab pada dirinya,= keluarga, dan lingkungan. Remaja mulai sadar akan dirinya sendiri dan tidak mau diperlakukan seperti anak-anak lagi.

D. Masa Dewasa

Tubuh manusia mencapai puncak pertumbuhan dan perkembangan sempurna pada usia kurang lebih 20 tahun. Pada masa tersebut otot-otot dan otak telah mencapai kekuatan maksimal. Perkembangan cara berpikir telah matang. Demikian juga emosinya. Organ reproduksi pada masa dewasa telah berkembang dengan sempurna.

E. Masa Tua (Manula)

Ketika manusia memasuki usia 40 sampai 50 tahun mulai terjadi banyak perubahan pada tubuh. Pada masa tua organ-organ tubuh mengalami penurunan fungsi karena proses penuaan. Penurunan fungsi organ tubuh antara lain persendian menjadi kaku, tulang menjadi lemah, lensa mata mengeras, dan kulit kehilangan elastisitasnya. Selain itu, juga terjadi pengurangan kepekaan alat indera,
baik pendengaran, penglihatan, maupun peraba. Orang yang sudah tua lebih=cepat letih, reaksinya semakin lamban, dan daya tahan terhadap penyakit semakin lemah. Meskipun demikian, perubahan ini terjadi sangat lambat sehingga orang tidak menyadarinya selama bertahun-tahun

 

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

05/01/2013 Posted by | ANFISMAN | 3 Komentar