BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR (DKB)

BAB VI :

DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR (DKB)

 

 

 

A.                                       Kedudukan Diagnostik Kesulitan Belajar dalam Belajar :

menemukan kesulitan belajar siswa dan menentukan kemungkinan cara mengatasinya dengan memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan kegiatan belajar.

 

Faktor-Faktor Intern Yang Berpengaruh Pada Proses Belajar  :

  1. Sikap terhadap belajar
  2. Motivasi belajar
  3. Konsentrasi belajar
  4. Mengolah bahan belajar
  5. Menyimpan perolehan hasil belajar
  6. Menggali hasil belajar yang tersimpan
  7. Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil kerja
  8. Rasa percaya diri siswa
  9. Inteligensi dan keberhasilan belajar
  10. Kebiasaan belajar
  11. Cita-cita siswa.

 

Faktor-Faktor Ekstern Yang Berpengaruh Pada Aktivitas Belajar:  

  1. Guru sebagai pembina siswa belajar
  2. Prasarana dan sarana pembelajaran
  3. Kebijakan penilaian
  4. Lingkungan sosial siswa di sekolah
  5. Kurikulum sekolah.

(Dimyati dan Mudjiono, 1994 : 237 – 241)

 

Bila Siswa Tidak Memenuhi Kriteria Persyaratan Ketuntasan Materi Yang Ditetapkan  ] Kegiatan Diagnosis Ditujukan Kepada:

  1. Bakat
  2. Ketekunan dan tingkat usaha menguasai bahan yang dipelajarinya
  3. Waktu
  4. Kualitas pengajaran
  5. Kemampuan pemahaman  siswa
  6. Tingkat kesulitan

(Buku II Modul Diagnostik Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial,

Depdikbud Universitas Terbuka , 1984/1985 : 9)

 

B.     Pengertian Kesulitan Belajar

 

Prayitno (1995/1996:1-2) :

suatu kondisi dalam proses belajar mengajar yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar yang optimal.

Hambatan-hambatan tersebut mungkin dirasakan atau mungkin tidak dirasakan oleh siswa yang bersangkutan.

Jenis hambatan ini dapat bersifat psikologis, sosiologis dan fisiologis dalam keseluruhan proses belajar mengajar.

Alan O. Ross (1974 : 98) :

A learning difficulty represente a discrepancy between a chill’s estimated academic potential and his actual level of academic performance”.

 

Istilah :

Learning disorder (kekacauan belajar) :

keadaan di mana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan.

 

Learning disabilities (ketidakmampuan belajar) :

gejala dimana anak tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasilbelajar yangdicapai berada di bawah potensi intelektualnya.

 

Learning disfunction :

gejala dimana proses belajar tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya anak tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat indra, atau gangguan-gangguan psikologis lainnya.

 

Underachiever :

tingkat potensi intelektual yang tergolong diatas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.

 

Slow learner (lambat belajar) :

lambat dalam proses belajarnya, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan sekelompok anak lain yang memiliki taraf intelektual yang sama.

 

 

 

Manifestasi Gejala Kesulitan Belajar :

 

  1. Hasil belajar di bawah rata-rata nilai kelompok / potensinya.
  2. Hasil tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan
  3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar
  4. Sikap-sikap yang kurang wajar

Misal : acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.

  1. Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan

Misal : membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan PR, mengganggu di dalam atau di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, mengasingkan diri, tersisihkan, tidak mau bekerja sama, dsb.

 

  1. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar

Misal : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu.

 

 

Kegagalan Belajar :

 

  1. Bila dalam batas waktu tertentu siswa tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan (mastery level), minimal dalam pelajaran tertentu seperti yang telah ditetapkan oleh orang dewasa atau guru (criterion referenced).

 

  1. Siswa tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuannya, inteligensi, bakat), padahal ia diramalkan (predicted) akan dapat mengerjakannya atau mencapai prestasi tersebut.

 

  1. Siswa tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial, sesuai dengan pola organismiknya (his organismic pattern) pada fase perkembangan tertentu seperti yang berlaku bagi kelompok sosial dan usia yang bersangkutan (norm referenced).

 

  1. Siswa tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat (prerequisiti) bagi kelanjutan (continuity) pada tingkat pelajaran berikutnya.

 

Burton (1952 : 622 – 624)

C.                                        Prosedur dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar (DKB)

1                                                                             2                       Identifikasi     ——————————————>         Identifikasi

Kasus                                                                               Masalah

 

 

 

6

5                                                 4                                         3

Rekomendasi      <———-        Progosis         <———     Identifikasi

Referal                                                                         Faktor Penyebab

 

 

6

6                                                                           Pengulangan              Remedial     —————————————–>         Pengayaan

Pengukuhan

Percepatan

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LANGKAH-LANGKAH DKB

 

1. Identifikasi Kasus:

]menentukan siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar

 

Cara :

  1. Menandai siswa dengan membandingkan posisi atau kedudukan prestasi siswa dengan prestasi kelompok / kriteria tingkat keberhasilan yang telah ditetapkan.
  2. Teknik :

(1)  Meneliti nilai hasil ujian semester yang tercantum dalam laporan hasil belajar (buku leger) kemudian membandingkannya dengan nilai rata-rata kelompok / kriteria yang telah ditentukan.

(2)  Observasi

 

2. Identifikasi Masalah :

]menentukan atau melokalisasikan pada bidang studi apa dan pada aspek mana siswa tersebut mengalami kesulitan

 

Pada tahap ini kerjasama antara petugas bimbingan dan konseling, wali kelas, guru bidang studi akan sangat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajarnya.

 

Cara dan alat yang dapat digunakan, antara lain:

 

  1. Cara langsung

1.     Tes diagnostik bidang studi

2.     Hasil ujian siswa sebagai bahan untuk dianalisis

3.     Memeriksa buku catatan atau pekerjaan siswa

 

  1. Bekerjasama dengan orang tua atau pihak lain dgn cara :

1.      Menggunakan tes diagnostik yang sudah standar

2.      Wawancara khusus oleh ahli yang berwewenang dalam bidang ini.

3.      Observasi

4.      Wawancara : guru pembimbing, wali kelas, orangtua teman

 

 

  1. Identifikasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar

 

a. Faktor internal, yaitu faktor-faktor yang berasal dalam diri siswa itu sendiri. Hal ini antara lain, disebabkan oleh:

(1)   Kelemahan fisik, pancaindera, syaraf, cacat, sakit, dan sebagainya.

(2)   Kelemahan mental: faktor kecerdasan, seperti inteligensi dan bakat yang dapat diketahui dengan tes psikologis.

(3)   Gangguan-gangguan yang bersifat emosional.

(4)   Sikap kebiasaan yang salah dalam mempelajari materi pelajaran.

(5)   Belum memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar yang dibutuhkan untuk memahami materi pelajaran lebih lanjut.

 

b. Faktor eksternal, yaitu  faktor yang berasal dari luar diri siswa, sebagai penyebab kesulitan belajar, antara lain:

(3)        Situasi  atau proses belajar mengajar yang tidak merangsang siswa untuk aktif antisipatif (kurang memungkinkan siswa untuk belajar secara aktif “student active learning”).

(4)        Sifat kurikulum yang kurang fleksibel.

(5)        Beban studi yang terlampau berat.

(6)        Metode mengajar yang kurang menarik

(7)        Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar

(8)        Situasi rumah yang kurang kondusif untuk belajar.

 

  1. Prognosis/Diagnosis

Pada langkah ini, dapat menyimpulkan tentang:

  1. Apakah siswa masih dapat ditolong untuk dapat mengatasi kesulitan belajarnya atau tidak ?
  2. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami siswa tersebut ?
  3. Kapan dan di mana pertolongan itu dapat diberikan ?
  4. Siapa yang dapat memberikan pertolongan ?
  5. Bagaimana caranya agar siswa dapat ditolong secara efektif ?
  6. Siapa sajakah yang perlu dilibatkan atau disertakan dalam membantu siswa tersebut, dan apakah peranan atau sumbangan yang dapat diberikan masing-masing pihak dalam menolong siswa tersebut ?

 

  1. Referal

Pada langkah ini, menyusun suatu rencana atau alternatif bantuan yang akan dilaksanakan. Rencana ini hendaknya mencakup:

  1. Cara-cara yang harus ditempuh untuk menyembuhkan kesulitan belajar yang dialami siswa yang bersangkutan.
  2. Menjaga agar kesulitan yang serupa jangan sampai terulang lagi.

Pengajaran Remedial

suatu proses kegiatan pelaksanaan program belajar mengajar khusus bersifat individual, diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar, yang bersifat mengoreksi (menyembuhkan) siswa yang mengalami gangguan belajar tersebut sehingga dapat mengikuti proses belajar mengajar secara klasikal kembali untuk mencapai prestasi optimal.

 

Prosedur Pengajaran Remedial

Dalam pelaksanaannya, pengajaran remedial mengikuti prosedur, sebagai berikut:

 

  1. Langkah pertama: Penelaahan Kembali Kasus

Guru menelaah kembali secara lebih dalam tentang siswa yang akan diberi bantuan. Dari DKB, guru menelaah lebih jauh untuk memperoleh gambaran definitif tentang siswa yang dihadapi, permasalahannya, kelemahannya, letak kelemahan, penyebab utama kelemahan, berat ringannya kelemahan, apakah perlu bantuan ahli lain, merencanakan waktu dan siapa yang melaksanakan.

 

  1. Langkah kedua: Alternatif Tindakan

Alternatif tindakan disesuaikan dengan karakteristik kesulitan siswa. Alternatif pilihan tindakan  bagi kasus yang mendapatkan kesulitan di dalam belajar, maka langsung saja melakukan remedial, dan jika ditemukan kasus yang memiliki kesulitan belajar dan memiliki masalah di luar itu, seperti masalah sosial psikologis dan sebagainya, maka sebelum diremedial kasus harus mendapatkan layanan konseling, layanan psikologis dan atau layanan psikoterapis terlebih dahulu.

 

  1. Langkah ketiga: Evaluasi Pengajaran Remedial

Pada akhir pengajaran remedial perlu dilakukan evaluasi, seberapa pengajaran remedial tersebut meningkatkan prestasi belajar. Tujuannya untuk mencapai tingkat kebehasilan 75% menguasai bahan. Jika belum berhasil, kemudian dilakukan diagnosis kembali, prognosis dan pengajaran remedial berikutnya; demikian seterusnya sampai beberapa siklus hingga tercapai tingkat keberhasilan tersebut.

Alternatif tindakan (langkah 2)  dapat berupa:

 

  1. Mengulang bahan yang telah diberikan dan diberi petunjuk-petunjuk:

(1)   Memahami istilah-istilah kunci/pokok yang ada dalam TIK.

(2)   Memberi tanda bagian-bagian penting yang merupakan kelemahan siswa.

(3)   Membuat pertanyaan-pertanyaan untuk mengarahkan siswa.

(4)   Memberi dorongan dan semangat belajar.

(5)   Menyediakan bahan-bahan lain untuk mempermudah.

(6)   Mendiskusikan kesulitan-kesulitan siswa.

 

  1. Memberi kegiatan lain yang setara dengan kegiatan belajar mengajar yang sudah ditempuh. Disini dimaksudkan untuk memperkaya bahan yang telah diberikan kepada siswa, misalnya:

(1)  Kegiatan apa yang harus dikerjakan siswa.

(2)  Bahan apa yang dapat menunjang kegiatan yang sedang dilakukan.

(3)  Bagian mana yang harus mendapat penekanan.

(4)  Pertanyaan diajukan untuk memusatkan pada inti masalah.

(5)  Cara yang baik untuk menguasai bahan.

 

  1. Tindakan yang berupa referal

Jika kesulitan belajar disebabkan oleh faktor sosial, pribadi, psikologis yang di luar jangkauan guru, maka guru melakukan alih tangan kepada ahli lain, misalnya: konselor, psikolog, terapis, psikiater, sosiolog, dan sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pendekatan dan Metode Pengajaran Remedial

 

Ada tiga pendekatan pengajaran remedial, yaitu:

 

  1. Pendekatan Pencegahan (preventive approach)

Sebelum proses belajar mengajar dimulai guru seharusnya berusaha dengan berbagai cara untuk mengetahui kondisi awal para siswa, dan memprediksi beberapa siswa yang mungkin akan mengalami kesulitan. Dengan demikian, guru dapat mencegah kesulitan berkembang secara berlarut-larut dengan menggunakan multi media, multi metode, alat peraga yang lengkap dan gaya mengajar yang menarik dalam proses belajar mengajar.

 

  1. Pendekatan Penyembuhan (curative approach)

Pendekatan ini diberikan terhadap siswa yang nyata-nyata telah mengalami kesulitan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Gejalanya, prestasi belajar sangat rendah dibandingkan dengan kriteria, misalnya 75% penguasaan bahan.

 

  1. Pendekatan Perkembangan (developmental approach)

Guru dituntut senantiasa mengikuti perkembangan siswa secara sistematis. Caranya, guru secara terus menerus memonitor kegiatan siswa selama proses belajar mengajar. Setiap menemui hambatan, segera dipecahkan bersama siswa secara terus menerus.

 

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN

Ingin kaos bertema BELAJAR, PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN?, bosan dengan kaos yang ada?, ingin mengedukasi keluarga atau murid dengan pembelajaran. HANYA KAMI SATU-SATUNYA DI INDONESIA PERTAMA KALI KAOS BERTEMA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN COCOK DIPAKAI UNTUK SEMUA KALANGAN DAN MEMBERI KESAN EDUKASI DAN PEMBELAJARAN DALAM SETIAP PEMAKAIAANYA

Jangan lupa kunjungi web kami di http://os-kaos.com/ untuk melihat berbagai koleksi kaos pendidikan dan pembelajaran dari kami like juga FP kami di https://www.facebook.com/Kaospembelajaran?ref=hl

Fast Respon CP : 081938633462 dan 082331864747  WA: 081615875217

KAOS BELAJAR

Iklan

05/27/2014 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , | 1 Komentar

GENETIKA MIKROORGANISME

 

1)  PENDAHULUAN

GENOM

v  seluruh gen yang ada pada sel atau virus

v  prokariot biasanya mempunyai satu kumpulan gen (haploid) sebaliknya mikroba eukariot biasanya mempunyai dua kumpulan gen (diploid)

GENOTIP

v  kumpulan gen spesifik suatu organisme

FENOTIP

v  koleksi karakteristik suatu organisme yang dapat diamati

 

2)  DNA SEBAGAI MATERI GENETIK

a)       GRIFFITH (1928) mendemonstrasikan fenomena transformasi: bakteri nonvirulent dapat menjadi virulen ketika hidup, bakteri nonvirulent ketika dicampur dengan bakteri virulen yang mati

b)       AVERY, MacLEOD, AND McCARTY (1944) mendemonstrasikan bahwa yang mendasari transforming (materi yang bertanggung jawab dalam transformasi virulensi pada percobaan Griffithís) adalah DNA

c)       HERSHEY AND CHASE (1952) menunjukkan bahwa untuk bakteriofag T2, hanya DNA yang dibutuhkan untuk kemampuan infeksi; oleh karena itu, mereka membuktikan bahwa DNA adalah materi genetic

 

3)  STRUKTUR ASAM NUKLEAT

a)       STRUKTUR DNA

i.            DNA dibentuk dari nukleosida purin dan pirimidin yang mengandung gula 2′-deoxyribose dan digabung oleh jembatan fosfodiester

ii.            DNA biasanya double helix yang terdiri dari dua rantai nukleotida berpilin mengelilingi satu sama lainnya

iii.            adenine (A) purine pada salah satu untai DNA selalu berpasangan dengan thymine (T) pyrimidine pada untai yang lain, sementara guanine (G) purine selalu dipasangkan dengan cytosine (C) pyrimidine; jadi, dua untai dikatakan komplementer

iv.            Dua untai tidak diposisikan secara langsung berlawanan satu dengan lainnya; oleh karena itu, lekukan major dan lekukan kecil minor dibentuk olwh kerangka double helix

v.            Dua rantai polynucleotida antiparallel (yaitu, kerangaka gula fosfat mereka diorientasikan secara langsung berlawanan)

b)       STRUKTUR RNA

i.            RNA berbeda dengan DNA dalam hal komposisi gula ribosa yaitu 2′-deoxyribose

ii.            RNA berbeda dengan DNA dalam hal kandungan pyrimidine uracil (U) sebagai pengganti thymine

iii.            RNA berbeda dengan DNA dalam hal biasanya mengandung untai tunggal yang dapat berpilin dibaliknya, daripada untai ganda yang berpilin mengelilingi satu dengan lainnya

iv.            Tiga macam perbedaan nyata RNA: ribosomal (rRNA), transfer (tRNA), dan messenger (mRNA); mereka berbeda satu dengan lainnya dalam hal fungsinya, sisi sintesis pada sel eucaryotic , dan strukturnya

 

c)       ORGANISASI DNA PADA SEL

i.            Pada procaryotes, DNA ada sebagai sirkular tertutup, molekul supercoiled bergabung dengan protein dasar (seperti histon)

ii.            Pada eucaryotes, DNA lebih terorganisasi; ini bergabung dengan potein dasar (histon) dan terpilin kedalam unit yang berulang-ulang dikenal sebagai nukleosom

 

4)  REPLIKASI DNA

a)       POLA SINTESIS DNA

i.            Replikasi DNA adalah semiconservative: masing-masing untai DNA dibentuk, namun dua untai terpisah satu dengan lainnya dan bertindak sebagai template untuk produksi untai lainnya (berdasarkan aturan pasangan basa yang sudah diterangkan didepan)

ii.            Garpu Replikasi adalah daerah pada molekul DNA dimana terjadinya untai terpisah dan sintesis DNA baru

iii.            Replikon terdiri dari replikasi asli dan DNA yang direplikasi sebagai unit dari yang aslinya

iv.            Kromosom bakteri biasanya replikon tunggal

v.            Molekul kecil DNA sirkuler tertutup, seperti plasmid dan beberapa gen virus, bereplikasi melalui mekanisme putaran lingkaran

vi.            Molekul besar DNA linier eukariot menggunakan multiple replikon untuk replikasi yang efisien relatif molekul besar dalam masa waktu yang memungkinkan

b)       MECHANISME REPLIKASI DNA –YANG DIAMATI DI E. coli

i.            Protein DnaA mengikat pada sumber replikasi

ii.            Helicases membuka dua untai DNA dan seperti yang mereka lakukan topoisomerases (misalnya, DNA gyrase) mengurangi tekanan yang disebabkan oleh proses pembukaan untai

iii.            Single-stranded DNA binding proteins (SSBs) menjaga untai tunggal berpisah

iv.            Primases mensintesis molekul kecil RNA (kira-kira 10 nucleotida) yang akan berperan sebagai primer pada sintesis DNA

v.            DNA polymerase III mensintesis untai komplemen DNA berdasarkan aturan pasangan basa; pada satu untai (the leading strand), synthesis secara terus menerus, sementara pada untai lainnya (the lagging strand), fragmen-fragmen berseri dihasilkan melalui sintesis tidak terus menerus; komplek multiprotein disebut replisom mengatur semua proses ini

vi.            DNA polymerase I memindahkan primer dan mengisi celah-celah yang dihasilkan dari delesi RNA

vii.            DNA ligase bergabung dengan fragmen DNA untuk membentuk untai komplit DNA

viii.            Replikasi DNA replication sangat komplek; sedikitnya 30 protein dibutuhkan untuk replikasi kromosom E. Coli

ix.            Kecepatan sintesis DNA adalah 750 hingga 1,000 pasang basa per detik pada procaryotes, dan 50 hingga 100 pasang basa per detik pada eucaryotes

5)  KODE GENETIK

a)       UNTUK GEN PENGKODE POLYPEPTIDE, SEQUENCE BASA DNA DAPAT DISAMAKAN DENGAN SEQUENCE ASAM AMINO POLYPEPTIDE (COLINEARITY)

b)       PENYUSUNAN KODE GENETIK

i.            Setiap kodon yang spesifik bagian asam amino harus berupa tiga basa panjang untuk setiap 20 asam amino memiliki sedikitnya satu kodon;

ii.            Jadi kode genetik terdiri dari 64 kodon

c)       ORGANISASI KODE

i.            DEGENERACY – banyak asam amino dikode oleh lebih dari satu kodon

ii.            KODON SENSE – 61 codons spesifik asam amino

iii.            KODON STOP (NONSENSE) – tiga kodon (UGA, UAG, UAA) yang bukan asam amino spesifik, dan digunakan pada translasi (sintesis protein) signal terminasi

iv.            WOBBLE – menggambarkan bagaimana bebasnya basa berpasangan antikodon tRNA menjadi kodon mRNA; wobble mengeliminasi kebutuhan unique tRNA untuk setiap kodon karena dua posisi pertama cukup untuk menyusunikatan hidrogen antara mRNA dan aminoacyl-tRNAs

6)  STRUKTUR GEN

a)       GEN:

SEQUENCE LINEAR DARI NUCLEOTIDA YANG ADA DALAM GEN MOLEKUL ASAM AMINO, DAN TELAH DIPERBAIKI POIN AWAL DAN AKHIRNYA

  1. Mengkode polypeptida, tRNA, atau rRNA
  2. Memiliki elemen pengontrol (seperti, promoters) yang mengatur ekpresi gen; dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari gen itu sendiri, atau dapat dipertimbangkan sebagai sequence pengatur terpisah
  3. Dengan beberapa pengecualian, gen tidak overlapping
  4. Segment yang mengkode polipeptida tunggal juga disebut cistron
  5. Pada procaryotes-informasi berkode biasanya kontinyu meskipun beberapa gen bakteri diinterupsi; pada eucaryotes-kebanyakan gen memiliki sequences berkode (exons) yang diinterupsi oleh sequences tidak berkode (introns)

b)       GEN YANG MENGKODE PROTEIN

                                 i.            TEMPLATE STRAND – satu untai yang mengandung informasi berkode dan mengatur sintesis RNA

                               ii.            PROMOTER – sequence dari basa yang biasanya terletak di upstream dari daerah berkode; sebagai sisi yang dikenal/diikatan oleh RNA polymerase

SISI PENGENALAN  – sisi dari assosiasi inisial dengan RNA polymerase (35 basa upstream dari sisi inisiasi transcripsi)

SISI PENGIKAT (PRIBNOW BOX) – sequence yang menyukai pembukaan DNA sebelum transkripsi mulai (kira-kira 10 basa upstream dari sisi insiasi transkripsi)

CONSENSUS SEQUENCES – idealnya sequences basa ditemukan paling sering ketika membandingkan sequences dari bacteri yang berbeda

                             iii.            LEADER SEQUENCE

q  sequence terekam yang tidak diterjemahkan;

q  Mengandung consensus sequence yang dikenal sebagai sequence Shine-Dalgarno, yang bertindak sebagai sisi pengenalan untuk ribosom

                             iv.            DAERAH BERKODE

q  sequence yang segera memulai downstream dari leader sequence;

q  dimulai dengan sequence template 3’TAC5′, dimana menyebabkan terbentuk codon 5’AUG3‘ mRNA, kodon pertama yang ditranslasikan (pada bakteri spesifik N-formylmethionine, methionine pada archaea dan eucaryotes)

                               v.            DAERAH TRAILER

Daerah yang tidak diterjemahkan berlokasi secara langsung didownstream sekuen terminator translasi dan sebelum terminator transkripsi

                             vi.            SISI REGULATOR

Sisi dimana protein regulator pengenal DNA mengikat stimulus lain atau menghambat ekspresi gen

c)       GENE YANG MENGKODE tRNA DAN rRNA

                                 i.            GEN tRNA 

q  promoters, pemimpin, daerah berkode, dan daerah trailer ditemukan;

q   daerah tidak berkode dipindahkan setelah transkripsi;

q  Lebih dari satu tRNA dapat dibentuk dari transkripsi tunggal;

q  tRNAs dipisahkan oleh daerah spacer tidak berkode, yang dipindahkan setelah transkripsi

                               ii.            GEN rRNA

q  Memiliki promoters, leaders, daerah berkode dan daerah trailer;

q  Semua molekul rRNA digambarkan sebagai transkripsi tunggal besar yang dipotong setelah transkripsi, menghasilkan produk akhir rRNA

 

Struktur DNA, Replikasi, Transkripsi, dan Translasi

  1. Struktur DNA

q  Dua untai DNA saling melilit (double helix) dan dihubungkan oleh ikatan hidrogen di antara basa nitrogen didasarkan atas aturan pemasangan basa:

v  Sitosin-Guanin dihubungkan oleh tiga ikatan hidrogen (C   G)

v  Timin-Adenin dihubungkan oleh dua ikatan hidrogen (A   T)

q  Pemasangan basa dua untai DNA di atas disebut komplemen

q  Dua untai DNA adalah antiparalel satu satu sama lain, karena orientasi (polaritas) dua untai DNA saling berlawanan.

  1. Replikasi DNA

Pola replikasi

  1. Replikasi DNA, disebut juga sintesis DNA, adalah semikonservatif: masing-masing untai induk digunakan sebagai templat pembentukan untai baru sesuai aturan pemasangan basa
  2. Replikasi DNA dimulai pada tempat-tempat khusus yang disebut pangkal replikasi (origin of replication, ori)
  3. Kromosom prokariot hanya mempunyai satu ori, sedangkan kromosom eukariot mempunyai beberapa ori
  4. Setiap untai DNA baru disintesis melalui dua mekanisme:
    1. Sintesis kontinyu oleh DNA polimerase III dengan arah 5’ ke 3’ menghasilkan Leading strand
    2. Sintesis diskontinyu oleh DNA polimerase III dengan arah 5’ ke 3’ menghasilkan fragmen pendek (± 1000 nukleotida) yang disebut fragmen Okazaki pada Lagging strand

 

 

Pola replikasi

Protein yang berperan dalam replikasi dan mekanisme replikasi

Tipe RNA dan Fungsinya:

  1. mRNA: Messenger RNA,  membawa informasi untuk sintesis protein
  2. rRNA:  Ribosomal RNA, membentuk bagian ribosom.
  3. tRNA: Transfer RNA, membawa asam amino ke ribosom

Tahap-tahap Transcription

  1. RNA polimerase mengikat urutan DNA yang disebut promotor.
  2. RNA polymerase mensintesis RNA diarahkan oleh satu untai DNA cetakan
  3. DNA cetakan yang telah ditranskripsi dipilin kembali
  4. Sintesis RNA berakhir ketika RNA polimerase mencapai urutan DNA yang disebut terminator.
  5. Molekul RNA baru dan RNA polimerase terlepas dari DNA cetakan
  1. Translasi

q  mRNA digunakan untuk membuat protein.

q  mRNA dibaca pada kodon atau nucleotide triplets.

q  Kode Genetic:

Ada 64 kemungkinan kodon, 20 asam amino.

AUG:  Start codon (Methionine)

UAA, UGA, UAG:  Stop codons

q  Translasi terjadi di ribosom, yang  tersusun dari dua subunit (besar dan kecil).

q  Molekul tRNA memiliki anticodon, yang mengenali kodon.  Mereka membawa asam amino spesifik pada pertumbuhan rantai protein

Langkah-langkah Translasi

  1. Start codon (AUG) mengikat pada tRNA dengan methionine.
  2. Elongasi/ pemanjangan:  Subsequent asam amino ditambahkan dengan mentranslasi satu kodon saat itu juga.
  3. Ribosomes menyerang asam amino supaya rantai protein tumbuh dengan formasi ikatan peptida.
  4. Terminasi:  Ketika stop codon tercapai, translasi berhenti, dan kompleks ribosome-mRNA berpisah

Inisiasi pada Start Codon

Selama Elongasi satu Asam Amino ditambahkan saat itu juga

Elongasi:  Ribosom mendekati mRNA, membaca satu kodon saat itu juga

Terminasi: satu Stop Codon tercapai, komplek tidak berkumpul

  1. GEN: EKSPRESI DAN REGULASI
  1. TRANSKRIPSI – sintesis RNA di bawah arahan DNA
    1. Produk RNA komplementer dengan template DNA
    2. Nukleotida adenin pada template DNA mengatur penggabungan nukleotida uracil di RNA; sebaliknya, aturan pasangan basa sama seperti pada replikasi DNA
    3. Tiga tipe RNA diproduksi melalui transkripsi

q  mRNA membawa pesan yang mengatur sintesis protein

q  tRNA membawa asam amino selama sintesis protein

q  Molekul rRNA adalah komponen ribosom

  1. TRANSKRIPSI DI PROCARYOTES
    1. mRNA Procaryotic dapat mengkode satu polypeptida (monogenic) atau banyak polypeptides (polygenic); pada penambahan ke daerah berkode, molekul mRNA molecules dapat memiliki daerah yang tidak diterjemahkan

q  Sekuens pemimpin terdiri dari 25 hingga 150 basa pada akhir 5′ mRNA, dan mendahului kodon inisiasi

q  Daerah Spacer memisahkan segmen-segmen yang mengkode polipeptida individu pada mRNAs polikgenik

q  Daerah Trailer ditemukan pada akhir 3′ mRNA setelah kodon terminasi terakhir

  1. RNA polymerase (enzim subunit besar multi) bertanggung jawab pada sintesis RNA

q  Inti enzim (subunit a2,b, b’) mengkatalisis sintesis RNA

q  Subunit sigma (faktor sigma) tidak katalitik, namun membantu inti enzim mengikat DNA pada sisi yang cocok

  1. Promoter adalah daerah pada DNA dimana RNA polymerase terikat pada saat inisiasi transkripsi; sequences dipusatkan pada 35 dan 10 pasangan basa sebelum titik pemula transkripsi penting pada pengaturan RNA polymerase ke promotor
  2. Terminator adalah daerah pada DNA dimana sinyal terminasi dari proses transkripsi
  • TRANSKRIPSI DI EUCARYOTES
    1. Ada tiga RNA polymerases utama
  • q  RNA polymerase II-mengkatalisis sintesis mRNA; ini membutuhkan beberapa faktor inisiasi dan pengenalan promoter yang memiliki beberapa elemen penting (daripada hanya dua seperti yang terlihat pada procaryotes)

    q  RNA polymerase I-mengkatalisis sintesis rRNA (5.8S, 18S, dan 28S)

    q  RNA polymerase III-mengkatalisis tRNA dan sintesis 5S rRNA

    1. Transkripsi menghasilkan prekusor RNA monogenik besar (heterogeneous nuclear RNA; hnRNA) yang harus diproses melalui modifikasi posttranscriptional untuk memproduksi mRNA

    q  Asam Adenylic ditambahkan pada akhr 3′ untuk memproduksi sekuen polyA kira-kira panjangnya 200 nukleotida (ekor polyA)

    q  7-methylguanosine ditambahkan pada akhir 5′ melalui sambungan tri-phosphate linkage (tudung 5′)

    q  Dua modifikasi ini dipercaya untuk melindungi mRNA dari digesti eksonukleus

    1. Gen Eucaryotic dirobek atau disisipi sedemikian rupa sekuen diekspresikan (exons) dipisahkan dari satu dengan lainnya melalui sekuen terhalang (introns); introns diwakilkan pada transkripsi primer namun kemudian dipindahkan melalui proses disebut pemecahan RNA; beberapa pemecahan dikatalisis sendiri oleh molekul RNA disebut ribozim; gen tersisipi telah ditemukan pada cyanobacteria dan archaea, namun tidak pada procaryotes

    2)  TRANSLASI (SINTESIS PROTEIN)

    1. Translasi-sintesa rantai polipeptida diatur oleh sekuen nukleotida pada molekul mRNA
      1. Ribosom-Sisi translasi
      2. Polyribosome-komplek mRNA dengan beberapa ribosom
    1. Transfer RNA dan aktivasi asam amino
      1. Tahap pertama sintesis protein adalah penyerangan asam amino pada molekul tRNA (dikatalisis oleh aminoacyl-tRNA synthetase); proses ini berhubungan seperti aktivasi asam amino
      2. Setiap tRNA memiliki akseptor terakhir dan hanya dapat membawa asam amino spesifik; ini juga memiliki triplet antikodon yang komplementer dengan triplet kodon mRNA
      3. Ribosom-organella komplek dibangun dari beberapa molekul rRNA dan banyak polipeptida; memiliki dua subunits (pada prokariot: 50S dan 30S)
    2. Ribosom-organela komplek dibangun dari beberapa molekul rRNA dan banyak polipeptida; memiliki dua subunits (pada prokariot: 50S dan 30S)
    3. Inisiasi sintesis protein
      1. fMet-tRNA (pada bakteri, Met-tRNA pada archaea dan eukariot) mengikat subunit kecil ribosom; mereka mengikat mRNA pada kodon inisiator khusus (AUG); kemudian subunit besar ribosome mengikat
      2. Tiga protein faktor inisiator juga dibutuhkan pada (eukariot membutuhkan lebih banyak faktor inisiator)
    4. Elongasi rantai polipeptida
      1. Elongasi melibatkan penambahan sekuen asam amino untuk pertumbuhan rantai polipeptida; beberapa faktor perpanjangan polipeptida dibutuhkan untuk proses ini
      2. Ribosom memiliki tiga sisi untuk pengikatan molekul tRNA: sisi peptidyl (sisi P), sisi aminoacyl (sisi A), dan sisi exit (sisi E)
      3. Setiap asam amino baru diposisikan pada sisi A oleh tRNA ini, dimana memiliki antikodon yang komplementer dengan kodon molekul mRNA
      4. Enzim ribosomal peptidyl transferase mengkatalisis pembentukan ikatan peptida antara asam amino berdekatan; 23S rRNA adalah komponen utama dari enzim ini
      5. Setelah setiap asam amino ditambahkan pada rantai, translokasi terjadi dan dengan cara memindahkan ribosom pada posisi kodon selanjutnya pada sisi A
    5. Terminasi sintesis protein
      1. Berlangsung saat salah satu dari tiga kodon spesial ada (UAA, UAG, atau UGA)
      2. Tiga polipeptida melepaskan faktor pembantu dalam pengenalan kodon-kodon tersebut
      3. Ribosom menghidrolisis ikatan antara protein komplit dan tRNA akhir, dan protein dilepaskan dari ribosom, yang kemudian dipisahkan menjadi dua komponen subunit
    6. Sintesis Protein boros, menggunakan lima energi ikatan tinggi untuk menambahkan satu asam amino pada rantai
    7. Pelipatan Protein dan pengawal molekuler
      1. Pengawal Molekuler-protein penolong khusus yang membantu polipeptida baru dalam pelipatan menjadi bentuk yang tepat; telah banyak diidentifikasi dan mereka termasuk protein kejut panas dan protein tertekan; pada penambahan untuk membantu lipatan polipeptida, pengawal penting dalam transport atau protein melalui membran
      2. Penyesuaian Protein adalah fungsi langsung sekuen asam amino; protein memiliki pelipatan sendiri, secara struktural daerah bebas disebut domain
    8. Pemecahan Protein-sebelum pelipatan, bagian polipeptida dipindahkan; seperti pemecahan memindahkan sekuen campur tangan (inteins) dari sekuen (exteins) yang tetap dalam produk akhir

    3)  REGULASI SINTESIS mRNA

    1. Regulasi sintesis mRNA (dan dengan cara demikian sintesis enzim) menyediakan mekanisme regulasi masa lama yang sangat efektif dalam menghemat energi dan bahan dasar dan memelihara keseimbangan protein sel dalam merespon perubahan besar kondisi lingkungan; ini komplemen namun sedikit cepat daripada regulasi aktivitas enzim
    2. Induksi dan represi
      1. Sintesis enzim melibatkan jalur katabolik yang dapat diinduksi, dan substrat inisial dari jalur (atau beberapa turunannya) biasanya merupakan induser; induksi meningkatkan jumlah mRNA yang mengkode enzim
      2. Sintesis enzim melibatkan jalur anabolik adalah represibel dan produk akhir dari jalur biasanya bertindak sebagai korepresor; represi menurunkan jumlah mRNA yang mengkode enzim
    3. Kontrol Negatif
      1. Kecepatan sintesis mRNA dikontrol oleh protein represor, yang terikat pada sisi DNA yang disebut operator
      2. Pada sistem yang dapat diinduksi, protein represor aktif hingga loncatan ke induser (pengikatan induser menginaktifkan represor) dimana pada sistem represibel, represor tidak aktif hingga loncatan ke korepresor (pengikatan korepresor mengaktifkan represor)
      3. Pada bakteri, satu set gen struktural dikontrol oleh operator partikular dan promoter yang disebut operon
      4. Operon laktosa adalah contoh unggul regulasi negatif; pengikatan represor lac ke operator lac selain dapat menghambat pengikatan RNA polimerase atau mengeblok perpindahan RNA polimerase
    4. Kontrol Positif
      1. Kontrol Positif terjadi ketika operon dapat berfungsi hanya saat ada faktor pengontrol
      2. Operon lactosa diregulasi melalui protein aktifator katabolit/catabolite activator protein (CAP); aktivitas CAP diregulasi oleh cAMP; cAMP mengaktifkan CAP jadi ini mengikat sisi khusus DNA, menstimulasi transkripsi

    4)  ATENTUASI

    1. Ada dua titik penentuan untuk regulasi transkripsi dari jalur anabolik: inisiasi dan kontinuasi transkripsi; attenuasi mengatur kontinuasi transkripsi
    2. Pada sistem dimana transkripsi dan translasi rapat dipasangankan, peran ribosom pada daerah pemimpin mRNA dapat mengontrol kontinuasi transkripsi
      1. Jika ribosom secara aktif menerjemahkan daerah pemimpin (attenuator), yang terdiri dari beberapa kodon untuk produk asam amino dari operon, terminator transkripsi terbentuk dan transkripsi tidak akan diteruskan
      2. Jika ribosom  memperlambat selama translasi daerah pemimpin karena penyerangan tepat aminoacyl-tRNA tidak ada, terminator tidak terbentuk dan transkripsi tidak akan diteruskan

    5)  SISTEM REGULASI GLOBAL

    1. Ringkasan
      1. Sistem Regulasi Global-sistem yang mempengaruhi banyak gen dan jalur-jalur secara simultan, memperbolehkan untuk kedua regulasi bebas operon sama baiknya dengan kooperasi operon.
      2. Regulasi Global dapat didukung dengan beberapa mekanisme, termasuk penggunaan protein single regulastor (repressor atau activator) untuk meregulasi beberapa operon, penggunaan faktor sigma yang berbeda, dan penggunaan regulator nonprotein
      3. Regulon-kumpulan gen atau operon yang dikontrol oleh protein regulator biasa
    2. Represi Katabolit
      1. Pertumbuhan Diauxic-pola pertumbuhan biphasic yang terlihat ketika bakteri tumbuh pada dua gula yang berbeda (misalnya, glukosa dan laktosa)
      2. Pada E. coli, adanya glukosa (karbon yang disuka dan sumber energi) menyebabkan turunnya tingkat cAMP levels, menyebabkan deaktifnya CAP (regulator positif beberapa jalur katabolik, termasuk laktosa operon); deaktivasi CAP menyebabkan bakteri lebih memilih mengunakan glukosa daripada gula lain ketika keduanya ada di lingkungan
    3. Regulasi oleh faktor sigma dan kontrol sporulasi
      1. Bakteri memproduksi sejumlah faktor sigma; masing-masing memungkinkan RNA polymerase untuk mengenali dan mengikat promotor spesifik
      2. Perubahan faktor sigma dapat menyebabkan RNA polymerase merubah ekspresi gen
      3. Ini telah didemonstrasikan pada sejumlah sistem termasuk respon kecutan panas di E. coli dan sporulasi pada B. subtilis
    4. Regulasi oleh antisense RNA dan kontrol protein porin-RNA antisense komplementer dengan molekul RNA dan secara spesifik mengikat pada ini, dengan demikian menghalangi replikasi DNA, sintesis mRNA, atau translasi, bergantung pada alamiah target RNA

    6)  DUA-KOMPONEN SISTEM FOSFORILASI

    Sistem transduksi signal yang menggunakan transfer grup phosphoryl untuk mengkontrol transkripsi gen dan aktivitas protein

    1. Pada sistem regulasi sporulasi, transfer secara sekuen grup phosphoryl dari kinase sensor untuk regulator transkripsi, melalui dua protein lain, memperbolehkan bakteri merespon kondisi lingkungan
    2. Kemotaxis-pada sistem ini, attractants (atau repellants) dideteksi oleh protein kemotaksis, mengatur transfer grup phosphoryl ke protein yang meregulasi arah rotasi flagela bakteri

    7)  PENGENDALIAN SIKLUS SEL

    1. Sekuen lengkap peristiwa perpanjangan dari pembentukan sel baru hingga pembelahan berikutnya disebut siklus sel: ini membutuhkan koordinasi ketat replikasi DNA dan pembelahan sel
    2. Muncul menjadi kontrol terpisah dalam siklus sel, yang satu sensitif pada massa sel dan lainnya peka pada panjang sel
    3. Pada E. coli, regulasi replikasi DNA melibatkan protein DnaA, yang mengikat pada origin replikasi untuk replikasi inisiasi
    4. Inisiasi pembentukan septa membutuhkan terminasi replikasi DNA dan pencapaian panjang yang diharapkan; bagaimana ini terjadi tidak diketahui
    5. Pada pertumbuhan cepat kultur bakteri, inisiasi rentetan replikasi DNA dapat berlangsung sebelum rangkaian replikasi selesai

     

    IKLAN

    CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

    Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

    IKLAN

    Ingin kaos bertema BELAJAR, PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN?, bosan dengan kaos yang ada?, ingin mengedukasi keluarga atau murid dengan pembelajaran. HANYA KAMI SATU-SATUNYA DI INDONESIA PERTAMA KALI KAOS BERTEMA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN COCOK DIPAKAI UNTUK SEMUA KALANGAN DAN MEMBERI KESAN EDUKASI DAN PEMBELAJARAN DALAM SETIAP PEMAKAIAANYA

    Jangan lupa kunjungi web kami di http://os-kaos.com/ untuk melihat berbagai koleksi kaos pendidikan dan pembelajaran dari kami like juga FP kami di https://www.facebook.com/Kaospembelajaran?ref=hl

    Fast Respon CP : 081938633462 dan 082331864747  WA: 081615875217

     

    KAOS BELAJAR

    05/27/2014 Posted by | Genetika Dasar | , , , | Tinggalkan komentar