BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Anemia megaloblastik

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anemia berarti kekurangan sel darah merah, yang dapat disebabkan oleh hilangnya darah yang terlalu cepat atau karena terlalu lambatnya produksi sel darah merah. Pada anemia berat, viskositas darah dapat turun hingga 1,5 kali air, normalnya sekitar tiga kali air. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsentrasi sel darah merah mempengaruhi viskositas darah. Hal ini mengurangi tahanan

terhadap aliran darah dalam pembuluh perifer, sehingga jumlah darah yang mengalir melalui jaringan dan kemudian kembali lagi menuju ke jantung menjadi jauh lebih normal.

Bila penderita anemia mulai berkuat, jantung tidak mampu memompa jumlah darah lebih banyak daripada jumlah yang dipompa sebelumnya. Akibatnya selama keadaan anemia ini berkuat, dimana terjadi peningkatan kebutuhan jaringan akan oksigen, dapat timbul hipoksia jaringan yang serius dan sering terjadi gagal jantung yang akut.

Seseorang dikatakan anemia jika hematokritnya (persen eritrosit dalam darah) kurang dari 40. Adapun hematokrit normal adalah sekitar 40-60. Penderita anemia berat bisa tanpa gejala, tetapi penderita anemia ringan bisa sangat lemah. Hal ini dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu cepat timbulnya anemia, derajat anemia, umur penderita dan kurva disosiasi oksigen hemoglobin.

Gejalanya antara lain sesak napas, lemah, mengantuk, palpitasi dan sakit kepala. Pada orang tua dapat ditemukan gejala penyakit jantung dan kebingungan. Melihat seriusnya akibat yang ditimbulkan oleh anemia, maka perlu diketahui berbagai hal tentang anemia. Salah satunya adalah klasifikasi anemia. Anemia dapat dibedakan berdasarkan morfologi dan sebab atau etiologinya. Klasifikasi morfologi berdasarkan bentuk dari eritrosit yang mengalami kelainan, sedangkan berdasarkan etiologi ditinjau penyebab terjadinya anemia.

1.2 Rumusan masalah

Apa penyebab penyakit anemia megaloblastik dan bagaimana cara penanganan akibat penyakit anemia itu sendiri?

1.3 Tujuan

a. Utuk mengetahui definisi penyakit anemia megaloblastik

b. Untuk mengetahui penyebab penyakit anemia megaloblastik

c. Untuk mengetahui cara pengobatan penyakit anemia megaloblastik

d. Untuk mengetahui klasifikasi penyakit anemia megaloblastik itu sendiri

BAB II

DATA ANALISA

2.1 Klasifikasi Penyakit Anemia Megaloblastik

Anemia dapat juga diklasifikasikan menurut etiologinya. Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat. Penyebab utama yang dipikirkan adalah

(1) meningkatnya kehilangan sel darah merah dan

(2) penurunan atau gangguan pembentukan sel.

Meningkatnya kehilangan sel darah merah dapat disebabkan oleh perdarahan atau oleh penghancuran sel. Perdarahan dapat disebabkan oleh trauma atau tukak, atau akibat pardarahan kronik karena polip pada kolon, penyakit-penyakit keganasan, hemoriod atau menstruasi. Penghancuran sel darah merah dalam sirkulasi, dikenal dengan nama hemolisis, terjadi bila gangguan pada sel darah merah itu sendiri yang memperpendek

Hidupnya atau karena perubahan lingkungan yang mengakibatkan penghancuran sel darah merah. Keadaan dimana sel darah merah itu sendiri terganggu adalah:

1. hemoglobinopati, yaitu hemoglobin abnormal yang diturunkan, misal nya anemia sel sabit

2. gangguan sintetis globin misalnya talasemia

3. gangguan membran sel darah merah misalnya sferositosis herediter

4.defisiensi enzim misalnya defisiensi G6PD (glukosa 6-fosfat dehidrogenase).

Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik faktor (aneia rnis st gastrektomi) infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan, agen kemoterapeutik, infeksi cacing pita, makan ikan segar yang terinfeksi, pecandu alkohol.

Sintesis DNA terganggu

Gangguan maturasi inti sel darah merah

Megaloblas (eritroblas yang besar)

Eritrosit immatur dan hipofungsi

2.2 Deskripsi dan Gambar Penyakit Anemia Megaloblastik

Menurut (hoffbrand, pettit & moss 2005), anemia bersifat makrostik (MCV >95 fl dan sering mencapai 120-140 fl pada kasus berat) dan makrosit tersebut biasanya berbentuk oval. Perhitungan retikulosit memperlihatkan hasil yang rendah, dan jumlah leukosit serta trombosit total mungkin turun sedikit, khususnya pada pasien anemia berat. Suatu proporsi netrofil memperlihatkan adanya hipersegmentasi inti (dengan enam atau lebih lobus). Sumsum tulang biasanya hiperselular, dan eritroblas berukuran besar serta menujukan kegagalan pematangan inti dengan inti yang mempertahankan pola kromatin berlubang-lubang, halus dan berbercak, tetapi hemoglobinisasinya normal. Adanya metamielosit raksasa dan berbentuk abnormal adalah khas pada penyakit ini.

Bilirubin indirek, hidroksibutirat, dan laktat dehidrogenase (LDH) serum smeuanya meningkat akibat pemecahan sum-sum tulang.
Folat serum dan folat eritrosit rendah pada anemia megaloblastik yang disebakan oleh defisiensi folat. Pada defisiensi B12, folat serum cenderung meningkat, tetapi folat eritrosit menurun. Walaupun demikian, tanpa adanya defisiensi  B12, folat eritrosit adalah petunjuk folat dalam jaringan yang lebih akurat dibandingkan dengan folat serum (hoffbrand, pettit & moss 2005). Menurut (Soenarto 2001), kadar serum normal dari asam folat berkisar antara 6-20 ng/ml; nilai sama atau dibawah 4 ng/ml secara umum dipertimbangkan untuk diagnostik dari deefisiensi folat.

Iklan

05/21/2011 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

”KASUS YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMECAHAN DILEMA ETIK”

Pemecahan Dilema Etik dalam Kasus Penderitaan Klien dan Euthanasia Pasif

KASUS :

Seorang wanita berumur 50 tahun menderita penyakit kanker payudara terminal dengan metastase yang telah resisten terhadap tindakan kemoterapi dan radiasi. Wanita tersebut mengalami nyeri tulang yang hebat dimana sudah tidak dapat lagi diatasi dengan pemberian dosis morphin intravena. Hal itu ditunjukkan dengan adanya rintihan ketika istirahat dan nyeri bertambah hebat saat wanita itu mengubah posisinya. Walapun klien tampak bisa tidur namun ia sering meminta diberikan obat analgesik, dan keluarganya pun meminta untuk dilakukan penambahan dosis pemberian obat analgesik. Saat dilakukan diskusi perawat disimpulkan bahwa penambahan obat analgesik dapat mempercepat kematian klien.

Kasus di atas merupakan salah satu contoh masalah dilema etik (ethical dilemma). Dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada alternatif yang memuaskan atau suatu situasi dimana alternatif yang memuaskan dan tidak memuaskan sebanding. Dalam dilema etik tidak ada yang benar atau salah. Untuk membuat keputusan yang etis, seseorang harus tergantung pada pemikiran yang rasional dan bukan emosional. Kerangkan pemecahan dilema etik banyak diutarakan dan pada dasarnya menggunakan kerangka proses keperawatan / pemecahan masalah secara ilmiah (Thompson & Thompson, 1985).

Kozier et. al (2004) menjelaskan kerangka pemecahan dilema etik sebagai berikut :

  1. Mengembangkan data dasar

  2. Mengidentifikasi konflik

  3. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut

  4. Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat

  5. Mendefinisikan kewajiban perawat

  6. Membuat keputusan

PEMECAHAN KASUS DILEMA ETIK
1. Mengembangkan data dasar :

a. Orang yang terlibat : Klien, keluarga klien, dokter, dan perawat
b.Tindakan yang diusulkan : tidak menuruti keinginan klien untuk memberikan penambahan dosis morphin.
c.Maksud dari tindakan tersebut : agar tidak membahayakan diri klien
d.Konsekuensi tindakan yang diusulkan, bila tidak diberikan penambahan dosis morphin, klien dan keluarganya menyalahkan perawat dan apabila keluarga klien kecewa terhadap pelayanan di bangsal mereka bisa menuntut ke rumah sakit.

2. Mengidentifikasi konflik akibat situasi tersebut :
Penderitaan klien dengan kanker payudara yang sudah mengalami metastase mengeluh nyeri yang tidak berkurang dengan dosis morphin yang telah ditetapkan. Klien meminta penambahan dosis pemberian morphin untuk mengurangi keluhan nyerinya. Keluarga mendukung keinginan klien agar terbebas dari keluhan nyeri. Konflik yang terjadi adalah :
a.Penambahan dosis pemberian morphin dapat mempercepat kematian klien.
b.Tidak memenuhi keinginan klien terkait dengan pelanggaran hak klien.

3.Tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan konsekuensi tindakan tersebut

a. Tidak menuruti keinginan pasien tentang penambahan dosis obat pengurang nyeri.
Konsekuensi :
1)Tidak mempercepat kematian klien
2)Keluhan nyeri pada klien akan tetap berlangsung
3)Pelanggaran terhadap hak pasien untuk menentukan nasibnya sendiri
4)Keluarga dan pasien cemas dengan situasi tersebut
b. Tidak menuruti keinginan klien, dan perawat membantu untuk manajemen nyeri.
Konsekuensi :
1)Tidak mempercepat kematian pasien
2)Klien dibawa pada kondisi untuk beradaptasi pada nyerinya (meningkatkan ambang nyeri)
3)Keinginan klien untuk menentukan nasibnya sendiri tidak terpenuhi
c. Menuruti keinginan klien untuk menambah dosis morphin namun tidak sering dan apabila diperlukan. Artinya penambahan diberikan kadang-kadang pada saat tertentu misalnya pada malam hari agar klien bisa tidur cukup.

Konsekuensi :
1) Risiko mempercepat kematian klien sedikit dapat dikurangi
2) Klien pada saat tertentu bisa merasakan terbebas dari nyeri sehingga ia dapat cukup beristirahat.
3) Hak klien sebagian dapat terpenuhi.
4) Kecemasan pada klien dan keluarganya dapat sedikit dikurangi.

4. Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat :
Pada kasus di atas dokter adalah pihak yang membuat keputusan, karena dokterlah yang secara legal dapat memberikan ijin penambahan dosis morphin. Namun hal ini perlu didiskusikan dengan klien dan keluarganya mengenai efek samping yang dapat ditimbulkan dari penambahan dosis tersebut. Perawat membantu klien dan keluarga klien dalam membuat keputusan bagi dirinya. Perawat selalu mendampingi pasien dan terlibat langsung dalam asuhan keperawatan yang dapat mengobservasi mengenai respon nyeri, kontrol emosi dan mekanisme koping klien, mengajarkan manajemen nyeri, sistem dukungan dari keluarga, dan lain-lain.

5. Mendefinisikan kewajiban perawat
a.Memfasilitasi klien dalam manajemen nyeri
b.Membantu proses adaptasi klien terhadap nyeri / meningkatkan ambang nyeri
c.Mengoptimalkan sistem dukungan
d.Membantu klien untuk menemukan mekanisme koping yang adaptif terhadap masalah yang sedang dihadapi
e.Membantu klien untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan keyakinannya

6. Membuat keputusan
Dalam kasus di atas terdapat dua tindakan yang memiliki risiko dan konsekuensi masing-masing terhadap klien. Perawat dan dokter perlu mempertimbangkan pendekatan yang paling menguntungkan / paling tepat untuk klien. Namun upaya alternatif tindakan lain perlu dilakukan terlebih dahulu misalnya manajemen nyeri (relaksasi, pengalihan perhatian, atau meditasi) dan kemudian dievaluasi efektifitasnya. Apabila terbukti efektif diteruskan namun apabila alternatif tindakan tidak efektif maka keputusan yang sudah ditetapkan antara petugas kesehatan dan klien/ keluarganya akan dilaksanakan.

DISKUSI :

Suatu intervensi medis yang bertujuan untuk mengurangi penderitaan klien namun dapat mengakibatkan kematian klien atau membantu pasien bunuh diri disebut sebagai euthanasia aktif. Di Indonesia hal ini tidak dibenarkan menurut undang-undang, karena tujuan dari euthanasia aktif adalah mempermudah kematian klien. Sedangkan euthanasia pasif bertujuan untuk mengurangi rasa sakit dan penderitaan klien namun membiarkannya dapat berdampak pada kondisi klien yang lebih berat bahkan memiliki konsekuensi untuk mempercepat kematian klien. Walaupun sebagian besar nyeri pada kanker dapat ditatalaksanakan oleh petugas kesehatan profesional yang telah dilatih dengan manajemen nyeri, namun hal tersebut tidak dapat membantu sepenuhnya pada penderitaan klien tertentu. Upaya untuk mengurangi penderitaan nyeri klien mungkin akan mempercepat kematiannya, namun tujuan utama dari tindakan adalah untuk mengurangi nyeri dan penderitaan klien.

PRINSIP LEGAL DAN ETIK :

  1. Euthanasia (Yunani : kematian yang baik) dapat diklasifikasikan menjadi aktif atau pasif. Euthanasia aktif merupakan tindakan yang disengaja untuk menyebabkan kematian seseorang. Euthanasia pasif merupakan tindakan mengurangi ketetapan dosis pengobatan, penghilangan pengobatan sama sekali atau tindakan pendukung kehidupan lainnya yang dapat mempercepat kematian seseorang. Batas kedua tindakan tersebut kabur bahkan seringkali merupakan yang tidak relevan.

  2. Menurut teori mengenai tindakan yang mengakibatkan dua efek yang berbeda, diperbolehkan untuk menaikkan derajat/dosis pengobatan untuk mengurangi penderitaan nyeri klien sekalipun hal tersebut memiliki efek sekunder untuk mempercepat kematiannya.

  3. Prinsip kemanfaatan (beneficence) dan tidak merugikan orang lain (non maleficence) dapat dipertimbangkan dalam kasus ini. Mengurangi rasa nyeri klien merupakan tindakan yang bermanfaat, namun peningkatan dosis yang mempercepat kematian klien dapat dipandang sebagai tindakan yang berbahaya. Tidak melakukan tindakan adekuat untuk mengurangi rasa nyeri yang dapat membahayakan klien, dan tidak mempercepat kematian klien merupakan tindakan yang tepat (doing good).

DAFTAR PUSTAKA:

  • Kozier B., Erb G., Berman A., & Snyder S.J, (2004), Fundamentals of Nursing Concepts, Process and Practice 7th Ed., New Jersey: Pearson Education Line

  • Taylor C., Lilies C., & Lemone P. (1997), Fundamentals of Nursing, Philadelphia : Lippincott

05/21/2011 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Teknologi Rekayasa Chitosan ++ sebagai Pengawet dan Peningkat Kadar Protein pada Tahu

  1. A.      JUDUL PROGRAM

Teknologi Rekayasa Chitosan ++ sebagai Pengawet dan Peningkat Kadar Protein pada Tahu

 

  1. B.       LATAR BELAKANG MASALAH

Potensi perairan di Indonesia kaya dengan berbagai jenis invertebrata misalnya udang. Udang merupakan bahan makanan yang mengandung protein (21%), lemak (0,2%), vitamin A dan B1, dan mengandung mineral seperti  zat kapur dan fosfor.  Udang dapat diolah dengan beberapa cara seperti udang beku, udang kering, udang kaleng, dan lain-lain (Goligo, 2009).

Sebagai penghasil udang dengan nilai ekspor yang tinggi Jawa Timur memproduksi udang beku sebesar 47.807,788 ton atau setara dengan US$ 368.644.445,41 pada tahun 2005 (Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur, 2005). Dari proses pembekuan, 40% dari berat udang menjadi limbah (bagian kulit dan kepala) (Rekso, 2001). Di Indonesia udang mengalami proses “cold storage” yaitu bagian kepala, ekor, dan kulit dibuang sebagai limbah.

Limbah udang ini dapat mencemari lingkungan di sekitar pabrik sehingga perlu dimanfaatkan. Selama ini kulit udang hanya dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kerupuk, terasi, dan suplemen bahan makanan ternak. Padahal 20-30% limbah tersebut mengandung senyawa chitin yang dapat diubah menjadi chitosan (Haryani dkk, 2007).

           Chitin dalam cangkang udang, terdapat sebagai mukopoli sakarida yang berikatan dengan garam-garam anorganik, terutama kalsium karbonat (CaCO3), protein dan lipida termasuk pigmen-pigmen. Oleh karena itu untuk memperoleh chitin dari cangkang udang melibatkan proses-proses pemisahan protein (deproteinasi) dan pemisahan mineral (demineralisasi), sedangkan untuk mendapatkan chitosan dilanjutkan dengan proses deasetilasi. Chitosan sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan pengawet makanan, karena chitosan memiliki polikation bermuatan positif sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroba (Wardaniati, 2009) dan mampu berikatan dengan senyawa-senyawa yang bermuatan negatif seperti protein, polisakarida, asam nukleat, logam berat dan lain-lain (Murtini dkk, 2008). Selain itu, molekul chitosan memiliki gugus N yang mampu membentuk senyawa amino yang merupakan komponen pembentukan protein (Irianto dkk, 2009)  dan memiliki atom H pada gugus amina yang memudahkan chitosan berinteraksi dengan air melalui ikatan hidrogen (Rochima, 2009).

           Menurut Hardjito (2006) pada prinsipnya untuk mengawetkan makanan  membutuhkan  chitosan dengan konsentrasi 1,5 % (dalam 1 liter air dibutuhkan 15 gram chitosan) sedangkan aplikasi chitosan sebagai bahan pengawet dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pencampuran dan perendaman pada bahan pangan. Salah satu penelitian tentang aplikasi chitosan dengan cara perendaman yaitu penelitian yang telah dilakukan oleh Hardjito (2006) dan hasilnya menunjukkan bahwa tahu yang telah diberi chitosan dengan konsentrasi 1,5% mempunyai rasa, bau, tekstur yang hampir sama dengan tahu tanpa pemberian chitosan, dan tahu mampu bertahan selama tiga hari yaitu cukup dicelup (dip) selama 5-10 menit dalam larutan chitosan lalu dipindah ke rendaman air biasa saat pengangkutan.

Menurut Standar Industri Indonesia (1992) tahu merupakan suatu produk berupa padatan lunak yang dibuat melalui proses pengolahan kedelai (Glycine sp) dengan cara pengendapan proteinnya dengan atau tanpa penambahan bahan lain yang diijinkan (Farida, 2002).  Suciati (2003) menyatakan bahwa tahu sebagai salah satu produk olahan patut dikembangkan untuk mengatasi masalah kekurangan protein bagi masyarakat luas. Hal ini ditunjang oleh harga tahu itu sendiri yang relatif murah dan terjangkau.

Tahu merupakan suatu produk yang terbuat dari hasil penggumpalan protein kedelai. Dalam perdagangan dikenal dua jenis tahu, yaitu tahu biasa dan tahu Cina. Pada pembuatan tahu Cina, kedelai direbus terlebih dahulu sebelum direndam dan biasanya mempunyai ukuran lebih besar (Koswara, 1992).

Tahu telah menjadi daging tiruan di Cina sejak 2000 tahun yang lalu. Kini sudah menyebar di seluruh penjuru dunia dan menjadi semakin populer. Hal ini terjadi karena meningkatnya tuntutan pilihan pangan, yang menginginkan makanan segar, sehat dan tidak terlalu memberatkan lambung, berkalori rendah, protein tinggi, sedikit manis yang memudahkan penggunaan dalam berbagai hidangan (Winarno, 1993). Standar Industri Indonesia (1992) menyatakan bahwa yang disebut tahu adalah suatu produk makanan berupa padatan lunak yang dibuat melalui proses pengolahan kedelai (Glycine sp) dengan cara pengendapan proteinnya dengan atau tanpa penambahan bahan lain yang diijinkan (Farida, 2002).

Tahu yang diproduksi di Kota Batu pada saat ini proses pengolahannya masih dilakukan secara tradisional. Sehingga daya simpan tahu yang diproduksi memiliki tingkat keawetan yang cukup rendah. Berdasarkan observasi yang dilakukan terhadap mitra PKMT, tingkat keawetan tahu yang diproduksi hanya bertahan sekitar 2 hari setelah diproduksi padahal permintaan konsumen tahu di Kota Batu cukup tinggi. Oleh karena itu perlu adanya suatu teknologi rekayasa tepat guna dalam hal pengawetan tahu, yaitu dengan menggunakan chitosan dari kulit udang. Selain dapat mengawetkan tahu, chitosan dari kulit udang dapat meningkatkan kadar protein tahu dan dapat mengurangi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah kulit udang sehingga teknologi rekayasa ini diberi nama “Chitosan ++”

  1. C.      RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang kami angkat adalah:

  1.     1.     Apakah pemberian chitosan kulit udang  memberikan pengaruh sebagai bahan pengawet tanpa merusak kualitas produk tahu yang diproduksi unit usaha kecil di Kota Batu?
  2.     2.     Apakah pemberian chitosan kulit udang  memberikan pengaruh sebagai bahan peningkat kadar protein tahu yang diproduksi unit usaha kecil di Kota Batu?
  3.     3.     Bagaimanakah mekanisme Chitosan ++ dalam proses pengawetan produk tahu?
  4.     4.     Bagaimanakah aplikasi teknologi rekayasa Chitosan ++ sebagai pengawet alami yang berbahan dasar kulit udang?
  1. D.      TUJUAN

Teknologi dilakukan bertujuan untuk:

  1.     1.     Mengetahui pemberian chitosan kulit udang dalam memberikan pengaruh sebagai bahan pengawet tanpa merusak kualitas produk tahu yang diproduksi unit usaha kecil di Kota Batu
  2.     2.     Mengetahui pemberian chitosan kulit udang dalam memberikan pengaruh sebagai bahan peningkat kadar protein tahu.
  3.     3.     Mengetahui mekanisme Chitosan ++  dalam proses pengawetan produk tahu.
  4.     4.     Mengetahui aplikasi teknologi rekayasa Chitosan ++ sebagai pengawet alami yang berbahan dasar kulit udang.

E.  LUARAN YANG DIHARAPKAN                                             

  1. Menghasilkan produk teknologi rekayasa Chitosan ++ sebagai pengawet alami pada tahu yang dapat meningkatkan kualitas produk tahu dari segi gizi ataupun organoleptik.
  2. Hak paten produk pengawet alami  Chitosan ++ yang berbahan dasar limbah kulit udang.
  1. F.       KEGUNAAN  

Kegunaan yang diharapkan dari teknologi ini adalah:

  1. Secara Praktis
    1. Memberikan solusi kepada masyarakat mengenai pengolahan limbah khususnya limbah kulit udang dengan memanfaatkannya sebagai bahan pengawet alami produk tahu.
    2. Memberikan informasi dan pelatihan bagi unit masyarakat usaha kecil pembuat tahu tentang bahan pengawet tahu secara alami.
  2.  Secara Teoritis
    1. Memberikan penguatan konsep mata kuliah invertebrata sebagai bentuk penerapan dalam bidang teknologi terapan.
    2. Sebagai model terapan teori dasar-dasar ilmu gizi yang diaplikasikan dalam bentuk pengawet alami pada tahu.

G.  TINJAUAN PUSTAKA

G.1 Kulit Udang

Knorr et al (1988) menyatakan bahwa cangkang kulit udang yang keras mengandung 34,9 % protein, 27,6 % mineral kalsium karbonat (CaCO3), 18,1 % chitin dan 19,4 % komponen lain seperti zat terlarut, lemak dan protein. Kulit udang juga mengandung karoten astaksantin 0,02 % (Harini, 2003).

Kulit udang terdiri atas empat lapisan, yaitu : epikutikula, eksokutikula, endokutikula dan epidermis. Tebal tipisnya kutikula bervariasi, bergantung pada lokasinya, di daerah kepala tebalnya 75 mikron dan daerah lunak di bagian pangkal kaki hanya 5 mikron. Kutikula terdiri dari 38,7% zat anorganik yang mengandung 98,5% kalsium. Pada waktu moulting chitin dan protein dari kulit yang lama lebih dulu diserap dan bahan anorganiknya tidak diserap. Sebelum moulting epikutikula dan eksokutikula terbentuk dan terpisah dengan kutikula yang lama, kemudian segera setelah terjadi moulting kalsium perlahan-lahan tertimbun ke dalam eksokutikula dan dalam waktu 5 jam penimbunan tersebut menjadi sempurna. Pertukaran kalsium antara cairan tubuh dengan air laut berjalan melalui insang, kira-kira 90% Ca diserap dan 79% dikeluarkan (Darmono, 1993).

G.2 Chitin dan Chitosan

Kata ”kitin” berasal dari bahasa Yunani, yaitu ”chiton”, yang berarti baju rantai besi. Kitin pertama kali diteliti oleh Bracanot pada tahun 1811 dalam residu ekstrak jamur yang dinamakan ”fugine”. Pada tahun 1823, Odier mengisolasi suatu zat dari kutikula serangga jenis elytra dan mengusulkan nama ”chitin” (Firdaus dkk, 2009). Pada umumnya chitin di alam tidak berada dalam keadaan bebas, akan tetapi berikatan dengan protein, mineral, dan berbagai macam pigmen.

Walaupun chitin tersebar di alam, tetapi sumber utama yang digunakan untuk pengembangan lebih lanjut adalah jenis udang-udangan (crustaceae) yang dipanen secara komersial. Limbah udang sebenarnya bukan merupakan sumber yang kaya akan chitin, namun limbah ini mudah didapat dan tersedia dalam jumlah besar sebagai limbah hasil dari pembuatan udang (Mudhzz, 2010).

Chitin (C8H13NO5)n merupakan polisakarida terbesar kedua setelah selulosa dan mempunyai rumus kimia poli (2-asetamida-2-dioksi-β-D-Glukosa) dengan ikatan β-glikosidik (1,4) yang menghubungkan antar unit ulangnya. Chitin tidak mudah larut dalam air, sehingga penggunaannya terbatas. Namun dengan modifikasi struktur kimiawinya maka akan diperoleh senyawa turunan chitin yang mempunyai sifat kimia yang lebih baik (Srijanto dan Imam, 2009). Salah satu turunan chitin adalah chitosan (C6H11O4N)n suatu polisakarida linier dengan komposisi glukosamin. Chitosan mempunyai rumus kimia poli (2-amino2-dioksi-β-D-Glukosa) dan dapat dihasilkan dengan proses hidrolisis chitin menggunakan basa kuat (Srijanto dan Imam, 2009). Chitosan berbentuk serpihan putih kekuningan, tidak berbau dan tidak berasa. Kadar chitin dalam berat udang, berkisar antara 60-70 % dan bila diproses menjadi chitosan menghasilkan yield 15-20 % (Wardaniati, 2009).

Menurut Hardjito (2009) chitosan mempunyai bentuk mirip dengan selulosa, dan bedanya terletak pada gugus rantai C-2 dimana gugus hidroksi (OH) pada C-2 digantikan oleh gugus amina (NH2). Proses utama dalam pembuatan chitosan, meliputi penghilangan protein dan kandungan mineral melalui proses kimiawi yang disebut deproteinasi dan demineralisasi yang masing-masing dilakukan dengan menggunakan larutan basa dan asam. Selanjutnya, chitosan diperoleh melalui proses deasetilasi dengan cara memanaskan dalam larutan basa (Mudhzz, 2010). Karakteristik fisiko-kimia chitosan berwarna putih dan berbentuk kristal, chitosan mempunyai sifat biodegradabel yaitu mudah terurai secara  hayati, tidak beracun, dapat larut dalam larutan asam organik encer, tetapi tidak larut dalam air, larutan alkali pada PH di atas 6,5 dan pelarut organik lainnya. Pelarut chitosan yang baik adalah asam asetat (Mahmiah, 2005).

Menurut Harini (2003) molekul chitosan bersifat lebih kompak dibandingkan dengan polisakarida lainnya apabila berada dalam larutan asam encer dengan kekuatan ionik rendah. Hal ini mungkin disebabkan oleh densitas muatan yang tinggi. Di dalam larutan berionik tinggi atau bila ke dalam larutan ditambahkan urea, ikatan hidrogen dan gaya elektrostatik pada molekul chitosan terganggu, konformasinya menjadi bentuk acak (random coil). Sifat fleksibel molekul ini menjadikannya dapat membentuk baik konformasi kompak maupun memanjang (polisakarida lain umumnya berbentuk memanjang).

Adanya gugus fungsi hidroksil primer dan sekunder mengakibatkan chitosan mempunyai kereaktifan kimia yang tinggi. Gugus fungsi yang terdapat pada chitosan memungkinkan juga untuk modifikasi kimia yang beraneka ragam termasuk reaksi-reaksi dengan zat perantara ikatan silang, kelebihan ini dapat memungkinkannya chitosan digunakan sebagai bahan campuran bioplastik, yaitu plastik yang dapat terdegradasi dan tidak mencemari lingkungan.

Jika sebagian besar gugus asetil pada chitin disubsitusikan oleh hidrogen menjadi gugus amino dengan penambahan basa konsentrasi tinggi. NaOH 50% dapat digunakan untuk deasetilasi chitin dari limbah kulit udang, maka hasilnya dinamakan chitosan atau chitin terdeasetilasi. Chitosan sendiri bukan merupakan senyawa tunggal, tetapi merupakan kelompok yang terdeasetilasi sebagian dengan derajat deasetilasi beragam.

Chitosan dapat diperoleh dengan mengkonversi chitin, sedangkan chitin sendiri dapat diperoleh dari kulit udang. Produksi kitin biasanya dilakukan dalam tiga tahap yaitu: tahap demineralisasi, penghilangan mineral; tahap deproteinasi, penghilangan protein; dan tahap depigmentasi, pemutihan. Sedangkan chitosan diperoleh dengan deasetilasi chitin yang didapat dengan larutan basa konsentrasi tinggi. Deproteinasi menggunakan natrium hidroksida lebih sering digunakan, karena lebih mudah dan efektif. Pada pemisahan protein menggunakan natrium hidroksida, protein diekstraksi sebagai natrium proteinat yang larut.

Pembuatan chitosan dilakukan dengan cara penghilangan gugus asetil (-COCH3) pada gugusan asetil amino chitin menjadi gugus amino bebas chitosan dengan menggunakan larutan basa. Chitin mempunyai struktur kristal yang panjang dengan ikatan kuat antara ion nitrogen dan gugus karboksil, sehingga pada proses deasetilasi digunakan larutan natrium hidroksida konsentrasi 40-50% dan suhu yang tinggi (100-150oC) untuk mendapatkan chitosan dari chitin.

Reaksi pembentukan chitosan dari chitin merupakan reaksi hidrolisa suatu amida oleh basa. Chitin bertindak sebagai amida dan NaOH sebagai basanya. Mula-mula terjadi reaksi adisi, dimana gugus OH- masuk ke dalam gugus NHCOCH3 kemudian terjadi eliminasi gugus CH3COO- sehingga dihasilkan suatu amida yaitu chitosan.

O

CH2OH

CH2OH

O

Chitosan

Chitin

 

Gambar 1. Reaksi pembentukan chitosan dari chitin

(Sumber : Wardaniati, 2009)

Spesifikasi chitin dan chitosan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 1. Spesifikasi (standart mutu) chitin dan chitosan

Spesifikasi

Deskripsi

Air 2-10% pada kondisi normal laboratorium
Nitrogen 6-7% dalam chitin, 7-8,4% dalam chitosan
Derajat deasetilasi < 10% untuk chitin, >70% untuk chitosan
Abu < 1,0%

Sumber : Muzzarelli (1985) dalam Handayani (2004)

Chitosan sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan antimikroba, karena mengandung enzim lysosim, gugus aminopolysacharida, polikation bermuatan positif yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba dan efisiensi daya hambat chitosan terhadap bakteri tergantung dari konsentrasi pelarutan chitosan. kemampuan dalam hal menekan pertumbuhan bakteri disebabkan chitosan memiliki polikation bermuatan positif yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba (Wardaniati, 2009), dan mampu berikatan dengan senyawa-senyawa yang bermuatan negative seperti protein, polisakarida, asam nukleat, logam berat dan lain-lain (Murtini dkk, 2008).  Selain itu, molekul chitosan memiliki gugus N yang mampu membentuk senyawa amino yang merupakan komponen pembentukan protein (Irianto dkk, 2009) dan memiliki atom H pada gugus amina yang memudahkan chitosan berinteraksi dengan air melalui ikatan hidrogen dan memiliki sifat hidrofobik (Rochima, 2009). Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan-IPB (2006) menyatakan bahwa chitosan tidak dapat dicerna tanpa adanya enzim chitonase, oleh karena itu penggunaan chitosan harus dilarutkan dahulu dalam larutan asam asetat 2 %. Hasil akhir larutan tersebut mempunyai PH 5-6.

Menurut Hardjito (2009) chitosan memiliki beberapa manfaat  sebagai berikut :

1. Penggunaan chitosan pada produk pangan dapat menghindarkan konsumen dari kemungkinan terjangkit penyakit typhus, karena chitosan dapat menghambat pertumbuhan berbagai mikroba patogen penyebab penyakit typhus seperti Salmonella enterica, S. enterica var. Paratyphi-A dan S. enterica var. Paratyphi-B. Chitosan juga dapat menghambat perbanyakan sel kanker lambung manusia dan meningkatkan daya tahan tubuh. Chitosan telah mendapatkan persetujuan dari BPOM No.HK.00.05.52.6581 untuk digunakan dalam produk pangan. Di Amerika chitosan telah mendapat pengesahan sebagai produk GRAS (Generally Recognised As Safe) oleh FDA.

2. Chitosan dapat menjerat lemak (fat absorber) dan mengeluarkannya bersama kotoran karena chitosan sebagai serat tidak dapat dicerna oleh tubuh, sehingga penggunaan chitosan akan mengurangi resiko terkena kolesterol tinggi

3. Berfungsi sebagai pelembab, antioksidan, tabir surya pada produk  kosmetik.

 

 

 

G.3 Protein

Menurut Suhardjo dan Clara (1992) protein berasal dari bahasa Yunani (Greek). “Primary, holding first place” yang berarti menduduki tempat yang terutama.  Protein terbentuk dari unsur-unsur organik yang hampir sama dengan karbohidrat dan lemak yatu terdiri dari unsur karbon, hidrogen,  oksigen dan mineral yaitu fosfor, sulfur dan zat besi. Molekul protein tersusun dari satuan-satuan dasar kimia yaitu asam amino. Dalam molekul protein, asam-asam amino ini saling berhubung-hubungan dengan suatu ikatan yang disebut ikatan peptida (-CONH-). Satu molekul protein terdiri dari 12 sampai 18 macam asam amino dan dapat mencapai ratusan asam amino.

Kebutuhan badan manusia untuk mempertahankan dan memperbaiki tenunan yang sudah tua terus berlangsung selama hidup. Protein dalam jaringan tubuh kita tidak statis, atau tetap. Artinya, sel-sel jaringan tersebut dipecah dan diganti dengan protein baru yang disintesis dari asam amino yang berasal dari makanan dan tenunan dalam tubuh. Apabila seseorang baru saja menjadi donor darah, mengalami menstruasi yang berlebihan, pendarahan yang hebat, kebakaran kulit, TBC kronis, dan sebagainya, maka keperluan proteinnya akan sangat tinggi (Winarno, 1993).

Protein sendiri mempunyai banyak sekali fungsi di dalam tubuh kita. Pada dasarnya protein menunjang keberadaan setiap sel tubuh, proses kekebalan tubuh, sumber energi, pembentukan dan perbaikan sel dan jaringan, sebagai sintesis hormon, enzim, antibodi, pengatur keseimbangan kadar asam basa dalam sel. Menurut Budianto (2001) protein berfungsi sebagai media perambatan impuls syaraf, alat pengangkut dan alat penyimpan, pengatur pergerakan.

Semua enzim adalah protein yang bertindak sebagai katalis dalam pencernaan dan metabolisme. Beberapa hormon, khususnya tiroksin, adrenalin, dan insulin yang diproduksi oleh kelenjar-kelenjar hormon pada umumnya terdiri atas protein. Hormon tersebut berfungsi mengatur dan mengkoordinasi keaktifan badan. Antibodi adalah senyawa yang membantu kemampuan badan untuk melawan infeksi, yaitu masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh (Winarno, 1993). Setiap orang dewasa harus sedikitnya mengkonsumsi 1 g protein per kg berat tubuhnya. Kebutuhan akan protein bertambah pada perempuan yang mengandung dan atlet-atlet. Sumber protein dapat diperoleh dari : dagingikantelursusu, tumbuhan berbiji, suku polong-polongan, kentang.

Menurut Anonymous (2009) kekurangan protein bisa berakibat fatal antara lain:

  1. Kerontokan rambut (rambut terdiri dari 97-100% dari protein – keratin)
  2. Kwasiorkor, penyakit kekurangan protein. Biasanya pada anak-anak kecil yang menderitanya, dapat dilihat dari yang namanya busung lapar, yang disebabkan oleh filtrasi air di dalam pembuluh darah sehingga menimbulkan odem. Simptom yang lain dapat dikenali adalah: hipotonus, gangguan pertumbuhan, hati lemak. Kekurangan yang terus menerus menyebabkan marasmus dan berkibat kematian.

Kelebihan protein dianggap tidak membahayakan. Banyak orang mengkonsumsi lebih dari 200 gr protein per hari tanpa mengalami sakit. Akan tetapi, beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa konsumsi protein yang terlalu tinggi dapat berpengaruh tidak baik. Kelebihan protein dalam makanan yang dikonsumsi dirusak dan sebagian besar nitrogennya dikeluarkan dalam bentuk urea. Beban yang harus dikerjakan dalam menyaring dan membuang hasil metabolisme oleh ginjal, meningkat bila konsumsi protein meningkat (Winarno, 1993).

G.4 Tahu

Tahu merupakan suatu produk yang terbuat dari hasil penggumpalan protein kedelai. Dalam perdagangan dikenal dua jenis tahu, yaitu tahu biasa dan tahu Cina. Pada pembuatan tahu Cina, kedelai direbus terlebih dahulu sebelum direndam dan biasanya mempunyai ukuran lebih besar (Koswara, 1992). Tahu dikenal masyarakat sebagai makanan sehari-hari yang umumnya sangat digemari serta mempunyai daya cerna yang tinggi. Keuntungan lain pada pembuatan tahu adalah berkurangnya senyawa anti tripsin (tripsin inhibitor) yang terbuang bersama whey dan rusak selama pemanasan. Disamping itu adanya proses pemanasan dapat menghilangkan bau langu kedelai (Koswara, 1992). Tahu sebagai salah satu produk olahan patut dikembangkan untuk mengatasi masalah kekurangan protein bagi masyarakat luas. Hal ini ditunjang oleh harga tahu itu sendiri yang relatif murah dan terjangkau. Tahu mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi terutama kandungan proteinnya. Komposisi nilai gizi pada 100 gr tahu segar dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini:

Tabel.2. Komposisi Nilai Gizi pada 100 gr Tahu Segar

Komposisi

Jumlah

Energi 63 kal
Air 86,7 g
Protein 7,9 g
Lemak 4,1 g
Karbohidrat 0,4 g
Serat 0,1 g
Abu 0,9 g
Kalsium 150 mg
Besi 0,2 mg
Vitamin B1 0,04 mg
Vitamin B2 0,02 mg
Niacin 0,4 mg

(Sumber : Direktorat Gizi Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam Suciati, 2003).

Tahu termasuk bahan makanan yang berkadar air tinggi. Besarnya kadar air dipengaruhi oleh bahan penggumpal yang dipakai pada saat pembuatan tahu. Bahan penggumpal asam menghasilkan tahu dengan kadar air lebih tinggi dibanding garam kalsium. Bila dibandingkan dengan kandungan airnya, jumlah protein tahu tidak terlalu tinggi, hal ini disebabkan oleh kadar airnya yang sangat tinggi. Makanan-makanan yang berkadar air tinggi umumnya kandungan protein agak rendah. Selain air, protein juga merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme pembusuk yang menyebabkan bahan mempunyai daya awet rendah. Pengeringan dapat menaikkan daya awet, tetapi menyebabkan bahan berubah sifat dan penggunaannya yaitu tidak dapat digunakan sebagaimana dalam bentuk segar, tetapi dikonsumsi sebagai kripik tahu (Fazani, 2009).

Pada dasarnya proses pembuatan tahu terdiri dari dua bagian, yaitu pembuatan susu kedelai dan penggumpalan proteinnya. Zat yang dapat digunakan sebagai  penggumpal (koogulan)  adalah jeruk nipis, cuka, larutan asam laktat, larutan CaCI2 atau CaSO4. Beberapa faktor yang mempengaruhi rendaman protein dan mutu tahu adalah : cara penggilingan atau ekstraksi, pemilihan bahan baku, bahan penggumpal dan keadaan sanitasi proses pengolahan pada umumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi secara panas menghasilkan rendaman lebih banyak.

  1. H.      METODE PENDEKATAN

Adapun tahapan-tahapan pelaksanaan program ini terdiri atas:

  1. Tahap Persiapan

Pada tahap ini kami akan melakukan koordinasi baik koordinasi intern kelompok maupun koordinasi dengan mitra kami (Pengusaha tahu). Selain itu kami akan melakukan uji pendahuluan dengan menggunakan pengawet alami Chitosan ++  berbagai dosis untuk mendapatkan dosis terbaik dalam proses pengawetan. Kemudian dilakukan pula uji kadar protein untuk mengetahui peningkatan kadar protein pada tahu yang sudah ditambahkan teknologi rekayasa Chitosan ++. Semua uji dilakukan di Laboratorium Kimia Universitas Muhammadiyah Malang.

  1. Tahap Produksi Chitosan ++

Setelah memperoleh dosis terbaik serta pengaruh Chitosan ++ pada protein tahu  kami melakukan salah satu pelaksanaan program yaitu tahap produksi yang dimulai dengan:

  1. Mempersiapkan alat dan bahan

Alat-alat

1)      Statif

2)      Klem

3)      Magnetic stirrer

4)      Thermometer

5)      Pemanas listrik

6)      Oven

7)      Timbangan analitik

8)      Blender

9)      Pisau

10)  Alat-alat gelas

Bahan-bahan

1)      Aquades

2)      NaOH

3)       HCl

4)      Asam asetat

5)      Tahu

6)      H2SO4

7)      Br

8)      Bahan untuk analisa kadar protein

9)      Kulit udang Vannamei.

  1. Proses pembuatan Chitosan ++

Chitosan ++

 

  1. Tahap Pengaplikasian

Setelah pematangan koordinasi, persiapan telah tercapai dan tahap pembuatan Chitosan ++ telah dilakukan, kami akan mengaplikasikan teknologi rekayasa Chitosan ++ pada mitra kerja kami yaitu pengusaha tahu di Kota Batu. Dalam proses pengaplikasian ini dilakukan pendampingan cara pengunaan Chitosan ++. Adapun cara penggunaan teknologi rekayasa ini yaitu:

  1. Melarutkan Chitosan ++ kedalam larutan asam asetat encer (1 %)
  2. Menuangkan larutan Chitosan ++  tersebut ke dalam suatu wadah
  3. Memasukkan tahu kedalam larutan Chitosan ++  dan direndam selama 15 menit.
  1. Tahap Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dilakukan setiap kali produksi yang bertujuan untuk melihat kualitas tahu pada setiap pembelian yang meliputi daya minat konsumen terhadap tahu. Sedangkan pada tahap evaluasi bertujuan untuk mengetahui hasil dari proses penerapan teknologi rekayasa Chitosan ++  yang  dilakukan pada setiap minggunya. Dari hasil evaluasi nantinya dapat diketahui apakah teknologi ini sudah benar-benar berjalan sesuai dengan tujuan program atau masih belum. Jika dari hasil evaluasi belum sesuai dengan tujuan maka kami akan terus melakukan perbaikan sampai teknologi rekayasa Chitosan ++ dapat teraplikasikan pada mitra dengan hasil yang baik.

I.   JADWAL KEGIATAN PENELITIAN

Jenis Kegiatan

Bulan I

Bulan II

Bulan III

Minggu

Minggu

Minggu

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

Persiapan

  1. Koordinasi intern dan mitra
  2. Uji Coba Chitosan

x

x

Pelaksanaan Kegiatan

  1. Pembuatan Chitosan
  2. Pengaplikasian
  3. Organoleptik
  4. Monitoring dan Pendampingan

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

Evaluasi x x x x x X
Penyusunan Laporan x
Seminar Hasil x

 

 

 

J.  RANCANGAN BIAYA

1. Biaya bahan habis pakai

a. Kedelai @Rp 50.000 x 10 kg                                       Rp. 500.000

b. Kulit Udang @Rp 100.000 x 2 kg                               Rp. 200.000

c. NaOH 1 kg                                                                    Rp. 200.000

d. HCL 1 liter                                                                   Rp. 250.000

e. CH3COOH 1 liter                                                         Rp. 150.000

2. Biaya alat habis pakai

a. Masker wajah 1 kotak                                                   Rp. 250.000

b. Sarung tangan 1 kotak                                                  Rp. 150.000

c. Kertas saring Whatman 1 pak                                       Rp. 200.000

3. Peralatan penunjang PKM

a. Alat-alat pembuatan Chitosan                                       Rp. 800.000

b. Kertas, alat tulis, printer                                                Rp. 350.000

4. Transport @Rp. 100.000,- x 4 orang                                  Rp. 400.000

5. Organoleptik                                                                       Rp. 600.000

6. Koordinasi dengan mitra                                                    Rp. 650.000

7. Monitoring/Pendampingan  @Rp. 50.000 x 7 x 4 orang    Rp. 1.400.000

8. Lain-lain

a. Dokumentasi                                                                 Rp. 450.000

b. Poster                                                                            Rp. 350.000

c. Seminar Hasil                                                                Rp. 500.000

d. Evaluasi program                                                          Rp. 525.000

e. Sewa Laboratorium                                                       Rp. 800.000

f. Sewa Alat Laboratorium                                               Rp. 400.000

g. Laporan akhir                                                                Rp. 200.000

Total Biaya                                                                      Rp 9.325.000

 

 

 

 

K. DAFTAR PUSTAKA

Budianto, M.A.K. 2001. Dasar-dasar Ilmu Gizi. Malang : UMM Press.

Darmono. 1993. Budidaya Udang Penaeus. Jakarta : Kanisius.

Dinas Kelautan dan Kelautan Jatim. 2005. Laporan Statistik Perikanan Jawa Timur Tahun 2005. Surabaya : DKP.

Farida, M. 2002. Pengaruh Penggunaan Whey sebagai Media Perendaman terhadap Daya Simpan Tahu yang Dikemas (Kajian Lama Penundaan Whey dan Lama Pemanasan Tahu). Skripsi Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Hasil Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.

Firdaus U.A, Khoriyah, Wahyudi, Alziyah N.A.K. 2009. Pemanfaatan CaCO3 dalam Kulit Udang sebagai Absorben Limbah Logam Berat pada Perairan. Makalah Jurusan Kimia Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang.

Goligo, I .2009. Subsektor Perikanan. Makasar : Bone.

Handayani, T. 2004. Pengaruh Habitat Hidup Udang dan Urutan Tahapan Proses Ekstraksi Terhadap Kualitas Chitin dan Chitosan dari Kulit Udang serta Pemanfaatannya sebagai Bahan Koogulasi Pada Sari buah Tomat. Skripsi program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.

Hardjito, L. 2006. Chitosan Lebih Awet dan Aman (online), (http://www.mail-archive.com/majelismuda@yahoogroups.com/msg00980 html. Diakses 8 Oktober 2010).

Harini, N .2003. Proses Pembuatan Chitin-Chitosan (Kajian Berdasarkan Bagian-Bagian Tubuh Kulit Udang (Penaeus vannamei) dan Perlakuan fisik). Laporan Grand Research Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.

Haryani, K dan Budiyati. 2007. Khitosan dari Kulit Udang untuk Mengadsorbsi Logam Krom (Cr6+) dan Tembaga (Cu) (online), Vol. 11 No.2 (http://eprints.undip.ac.id/2175/1/Artikel_Kristinah_UNDIP_7.pdf. Diakses 8 Oktober 2010).

Koswara, S. 1992. Teknologi Pengolahan Kedelai. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Mahmiah. 2005. Pemanfaatan Limbah Kulit Udang Sebagai Bahan Dasar Isolasi Chitin dan Chitosan. Jurnal Perikanan, No.2 Vol.1 Februari 2005 Hal.71-75

Mudzz. 2010. Chitosan (online), (http://mudhzz.wordpress.com/chitosan/. Diakses 6 Oktober  2010).

Murtini, J.T, Dwiyitno dan Yusma. 2008. Penurunan Kandungan Kolesterol pada Cumi-cumi dengan Kitosan Larut Asam dan Pengepresan. Prosiding Seminar Nasional Tahunan V Hasil Kelautan Tahun 2008. Jakarta.

Rekso, G.T. 2001. Pemanfaatan Limbah Perikanan. Jakarta : Puslitbang Teknologi Isotop dan Radiasi (P3TIR), Badan Teknologi Nasional.

Rochima, E. 2009. Karakterisasi Kitin dan Kitosan Asal Limbah Rajungan Cirebon Jawa Barat (online), (erochima@yahoo.com. Diakses 6 Oktober 2010).

Suciati, W. 2003. Analisis Nilai Tambah dan Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi pada Agroindustri Tahu Skala Kecil dan Skala Rumah Tangga (Studi Kasus pada Agroindustri Tahu di Desa Gedog Wetan Turen Kabupaten Malang). Skripsi Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.

Suhardjo dan Clara M.K. 1992. Prinsip-prinsip Ilmu Gizi. Yogyakarta : Kanisius.

Wardaniati, R.A dan Sugiyani S. 2009. Pembuatan Chitosan dari Kulit Udang dan Aplikasinya untuk Pengawetan Bakso. Makalah Penelitian, (online), (http://eprints.undip.ac.id/1718/1/makalah_penelitian_fix.pdf , diakses, 8 Oktober 2010).

Winarno, F.G. 1993. Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Winarno, F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

05/10/2011 Posted by | Contoh PKM | 7 Komentar

Potensi “DAJAMBI” Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) sebagai Bahan Kontrasepsi Alami pada Pria

  1. A.    JUDUL

Potensi “DAJAMBI” Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) sebagai Bahan Kontrasepsi Alami pada Pria

 

  1. B.     LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia setelah RRC, India dan Amerika Serikat laju pertumbuhan penduduk Indonesia memang cukup tinggi, yakni 2,6 juta jiwa per tahun. Tahun 2009 jumlah penduduk Indonesia ada sekitar 230,6 juta jiwa. Pada 2006 rata-rata angka kelahiran mencapai 2,6 anak per wanita subur. Angka tersebut tidak berubah pada 2007, sedangkan laju pertumbuhan penduduk rata-rata masih 2,6 juta jiwa per tahun. Jika tidak dilakukan tindakan pengendalian, 11 tahun lagi atau pada 2020 diperkirakan penduduk Indonesia akan mencapai 261 juta manusia.  (Purnomo, 2004).

Dalam menekan dan mengendalikan jumlah penduduk, maka pemerintah telah menggalakkan program keluarga berencana (KB) bagi pasangan suami istri usia subur. Selanjutnya untuk mensukseskan program tersebut diperlukan peran serta aktif dari suami istri tersebut. Pada saat ini, individu yang ikut serta dalam melaksanakan program KB mayoritas adalah para istri. Keikutsertaan para suami dalam melaksanakan KB masih sangat rendah yaitu sekitar 6% dari seluruh program KB. Rendahnya keikutsertaan  suami dalam program KB disebabkan masih terbatasnya pilihan kontrasepsi untuk suami atau kontrasepsi suami yang ada masih belum memberikan hasil yang memuaskan (Moeleok, 1990).

Suami merupakan fokus baru untuk program KB yang selama ini belum banyak diperhatikan. Sampai sekarang kontrasepsi untuk suami yang dianggap sudah mantap adalah kondom dan vasektomi. Namun penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi menimbulkan keluhan psikologik, sedangkan vasektomi walaupun merupakan kontrasepsi yang dapat diandalkan, seringkali menimbulkan efek samping yang permanen (irreversible), berupa kegagalan rekanalisasi. Apabila faktor akseptor yang menggunakan kontrasepsi tersebut ingin punya anak kembali, maka seringkali sulit dapat dilakukan rekanalisasi kembali. Alternatif lain dalam metode kontrasepsi untuk suami yaitu penggunaan hormon seperti dilakukan pada istri, tetapi cara ini pada suami dianggap belum memuaskan dan masih terus dilakukan penelitian kembali (Arsyad, 1988).

Badan kesehatan dunia (WHO) telah membentuk suatu kelompok kerja (POKJA) untuk mencari dan mengembangkan metode pengaturan kesuburan suami. Mandat yang diberikan kepada pokja tersebut adalah mengembangkan metode pengaturan kesuburan yang aman, efektif dan dapat diterima, serta memonitor keamanan dan keefektivitasannya. Salah satu strategi penelitian yang dilakukan oleh pokja WHO adalah mengembangkan kontrasepsi melalui bahan atau zat dari tumbuh-tumbuhan yang diduga mempunyai bahan aktif yang bersifat antifertilitas (Yurnadi dkk, 2001). Dalam mencari obat alternatif untuk kontrasepsi suami, sebaiknya tidak hanya terbatas pada kontrasepsi hormonal, tetapi juga pada tanaman yang diperkirakan mengandung zat antifertilitas. Berdasarkan kenyataan tersebut, salah satu alternatif yang digunakan dalam masyarakat adalah dengan pemberian daun jambu biji (Psidium guajava L.)  yang memberikan efek antifertilitas (Mursito, 2000).

Jambu biji ( Psidium guajava L.) merupakan tanaman yang termasuk famili Myrtaceae yang banyak tumbuh di Indonesia. Jambu biji adalah salah satu tumbuhan yang sudah lama dimanfaatkan oleh masyarakat, namun pemanfaatannya hanya sebatas pada buahnya untuk keperluan konsumsi karena mengandung vitamin C yang sangat tinggi, tetapi pemanfaatan daunnya hanya sebagian kecil saja yaitu sebagai obat anti diare, disentri, radang usus dan gangguan pencernaan karena mempunyai kandungan zat tanin sebagai astringent dan anti mikroba.

Selain berbagai kegunaan di atas daun jambu biji diduga memiliki zat aktif golongan steroid yang mempunyai daya spermicide. Bahan kimia yang terkandung dalam daun jambu biji diantaranya adalah Beta-sitosterol, alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, eugenol, minyak atsiri dan berbagai senyawa lainya (Albana dkk, 1999).

Khasiat dari zat aktif yang terdapat dalam daun jambu biji seperti alkaloid, mempunyai fungsi menekan sekresi hormon reproduksi yang diperlukan untuk berlangsungnya proses spermatogenesis, minyak atsiri bekerja pada proses transportasi sperma yaitu dapat menggumpalkan sperma sehingga menurunkan motilitas dan daya hidup sperma, begitu juga dengan tanin fungsinya hampir sama dengan minyak atsiri yaitu dapat menggumpalkan semen. Sedangkan flavonoid dapat menghambat enzim aromatase yaitu enzim yang berfungsi mengkatalis konversi androgen menjadi estrogen yang akan meningkatkan hormon testosteron, yang mana tingginya konsentrasi hormon testosteron akan berumpan balik ke hipofisis yaitu tidak melepaskan FSH (Follicle Stimulating Hormon) dan LH (Luteinizing Hormon). Golongan steroid (Beta-sitosterol) yang merupakan derivat dari steroid merupakan prekursor dan hormon estrogen juga dapat menurunkan sekresi FSH dan pada sejumlah keadaan tertentu juga dapat menghambat LH (Wienarno & Sundari 1997). Duke (2003) menyatakan bahwa Beta-sitosterol yang terdapat dalam daun jambu biji berfungsi sebagai anti fertilitas, disamping itu Beta-sitosterol juga mempengaruhi spermycide (Duke’s, 2004).

Proses normal spermatogenesis diatur oleh sistem hormon FSH, LH dan testosteron. Jika sekesi FSH dan LH rendah maka proses spermatogenesis akan terganggu dan menyebabkan jumlah spermatozoa di bawah normal (Adimunca & Sutyarso, 1997).

Selain itu Susetyorini dari hasil penelitiannya dalam Bestari edisi 188 menyatakan bahwa alkaloid, flavonoid, tanin dan minyak atsiri dapat merusak beberapa oganel penyusun sel target yaitu sel sertoli, sel spermatogonium, sel spermatosit, dan sel spermatid.

Dari 74 tanaman yang tercatat secara empiris telah digunakan oleh masyarakat diberbagai daerah untuk obat anti fertilitas tradisional 18 diantaranya telah dilakukan uji anti spermatogenesisnya dan terbukti semua mempunyai sifat menghambat proses spermatgenesis. Apabila dikaitkan dengan senyawa aktif dari tanaman-tanaman ini tenyata banyak diantaranya mengandung zat alkaloid, tiavonoid, steroid, tanin dan minyak atsiri, yang mana semua zat-zat tersebut juga terkandung dalam daun jambu biji sehingga perlu dilakukan penelitian apakah senyawa-senyawa aktif yang terkandung dalam daun jambu biji tersebut juga mempunyai khasiat yang sama terhadap anti spermatogenesis sehingga dapat dijadikan alternatif sebagai obat anti fertilitas pada pria, dimana syarat dari obat anti fertilitas pria adalah memiliki daya hambat terhadap proses spermatogenesis, maturasi sperma, dan transportasi sperma (Sundari & Adimunca,1997).

Studi tentang khasiat zat aktif golongan steroid yang berasal dari jambu biji  (Psidium guajava L.) sebagai antifertilitas sudah mulai dikembangkan, namun di Indonesia belum banyak dipublikasikan. Oleh karena itu, peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian mengenai penggunaan zat aktif golongan steroid yang berasal dari daun jambu biji biji  (Psidium guajava L.) sebagai bahan kontrasepsi alami bagi pria.

  1. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut:

  1. Apakah daun jambu biji (Psidium guajava L.) berpotensi  sebagai bahan kontrasepsi alami bagi pria?
  2.  Bagaimana mekanisme daun jambu biji (Psidium guajava L.) sebagai bahan kontrasepsi alami bagi pria?
  1. TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah:

  1. Mengetahui potensi daun jambu biji (Psidium guajava L.) sebagai bahan kontrasepsi alami bagi pria.
  2. Mengetahui mekanisme daun jambu biji (Psidium guajava L.) sebagai bahan kontrasepsi alami bagi pria.
  1. LUARAN YANG DIHARAPKAN
  1. Menghasilkan artikel penelitian yang dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam memilih kontrasepsi alami bagi pria.
  2. Hak paten kontrasepsi alami bagi pria yang berbahan dasar dari daun jambu biji (Psidium guajava L.).
  1. MANFAAT

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:

  1. Secara Teoritis
    1. Memberikan penguatan konsep mata kuliah embriologi sebagai bentuk penerapan dalam bidang penelitian.
    2. Sebagai model terapan teori-teori  reproduksi yang diaplikasikan dalam bentuk kontrasepsi alami bagi pria.
    3. Secara Praktis
      1. Memberikan solusi kepada masyarakat khususnya kaum pria mengenai kontrasepsi alami yang berbahan dasar  daun jambu biji (Psidium guajava L.).
      2. Memberikan informasi kepada masyarakat serta dinas kesehatan bahwa daun jambu biji (Psidium guajava L.) berpotensi sebagai kontrasepsi alami bagi pria.
  1. TINJAUAN PUSTAKA

G.1 Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.)  

Daun jambu biji (Psidium guajava L.)  berbau aromatik dan rasanya sepat. Daunnya merupakan daun tunggal yang  berwarna hijau keabuan, helai-helai daun berbentuk jorong sampai bulat memanjang, ujung daunnya meruncing sedangkan pangkal daunnya juga meruncing tetapi ada pula yang membulat, daun berukuran panjang  antara 6cm sampai 15cm dan lebar antara 3cm sampai 7,5cm sedangkan tangkainya kurang lebih 1cm. Daun berambut penutup pendek, tampak berbintik-bintik yang sesungguhnya merupakan rongga-rongga lisigen, warnanya gelap namun bila dalam keadaan terendam air menjadi tembus cahaya (Karta Sapoetra,1992).

Menurut pendapat Ris munandar (1989) daun, kulit batang, akar dan buah muda pada daun jambu biji mengandung zat psidi tanin sedangkan khusus daun jambu biji mengandung minyak atsiri, eugenol dan damar disamping zat-zat mineral lain yang banyak terdapat didalam buah.

Daun jambu biji mempunyai zat aktif diantaranya adalah minyak atsiri, alkaloid, flavonoid, tanin, dan pektin. Selain itu tanin juga dapat menyerap racun dan menggumpalkan protein. Dalam penelitian terhadap daun kering jambu biji yang digiling halus diketahui kandungan taninnya sampai 17,4%. Makin halus serbuk daunnya, makin tinggi kandungan taninnya, senyawa itu bekerja sebagai astrengent yaitu melapisi mukosa usus, khususnya usus besar (Winarno 1997).

Bagian daun (folium) mempunyai sifat khas manis, kelat dan menetralkan juga mempunyai kandungan kimia zat samak, minyak atsiri, tri terpenoid, leuko sianidin, kuersetin, asam arjunolat resin, dan minyak lemak (Anonymous, 2000).

Sedangkan menurut (Duke, 2004) tanaman jambu biji (Psidium guajava L.)  khususnya bagian daun mengandung berbagai zat aktif diantaranya adalah amritoside, aromadendren, avicularin, beta-sitosterol, calcium-oxalat, caryopphyllen-oxide, catechol-tannins, crataegolic acid, EO, guajiverin,  guaijaverin, guavin-a,b,c,d, guajivolic-acid, nerolidiol, oleanolic-acid, psidiolic-acid, quercetin, sugar, ursolic-acid, xantophyll, gallo catechin,ellagic-acid, fat, genticid-acid,  hyperocid, leucocyanidine, hyperocide, aslinic-acid.

Daun jambu biji (Psidium guajava L.) mengandung berbagai senyawa kimia  aktif diantaranya saponin, flavonoid, tri terpenoid, minyak atsiri (Menurut Ma’at & Albana), tanin, beta sitosterol dan senyawa-senyawa lainnya (Duke, 2004).

Berbagai zat yang terdapat dalam daun jambu biji seperti flavonoid menurut literatur dapat menghambat enzim aromatase yaitu enzim yang berfungsi mengkatalis konfersi androgen menjadi estrogen yang akan meningkatkan konsentrasi testosteron. Tingginya konsentrasi testosteron akan berumpan balik negatif ke hipofisis  yaitu tidak melepaskan FSH atau LH.

Golongan alkaloid dapat menekan sekresi hormon reproduksi yang diperlukan untuk berlangsungnya proses spermatogenesis. Golongan terpen dan minyak atsiri bekerja bukan pada proses spermatogenesisnya tetapi pada proses transportasi sperma yaitu dapat menggumpalkan sperma sehingga menurunkan motilitas dan daya hidup sperma, akibatnya sperma tidak dapat mencapai sel telur dan pembuahan dapat tercegah. Tanin kerjanya hampir sama dengan terpen yaitu dapat menggumpalkan semen. Sedangkan golongan steroid yang merupakan prekursor dan hormon estrogen yang salah satu kerjanya menurunkan sekresi FSH ,dan pada sejumlah keadaan tertentu  akan menghambat LH (Winarno & Sundari 1999).

Proses normal spermatogenesis diatur oleh sistem hormon (FSH, LH dan testosteron), yang pengendaliannya melalui poros hipotalamus-hipofisis-testis. FSH mempengaruhi sel sertoli dan sel spermatogenik untuk metabolisme normal; sel sertoli dibawah pengaruh FSH mensintesis protein pengikat androgen (ABP) yang berfungsi untuk mengikat testosteron, untuk selanjutnya digunakan dalam proses pembelahan dan pematangan spermatogonia menjadi spermatozoa. Adapun LH penting dalam mempengaruhi sel leydig memproduksi testosteron. Jika sekresi FSH ditekan oleh hipofisis maka konsentrasi FSH menjadi rendah dan akibatnya spermatogenesis dapat terganggu dan jumlah spermatozoa dibawah normal (Adimunca & Sutyarso 1997).

Secara normal FSH sangat diperlukan dalam proses spermatogenesis dan LH diperlukan untuk merangsang produksi testosteron. Jika FSH produksinya dihambat oleh steroid dalam hal ini adalah beta-sitosterol maka akan mengganggu spermatogenesis dan pada sejumlah keadaan tertentu galongan steroid juga dapat menghambat produksi LH (reaksi umpan balik)  sehingga spermatogenesis dapat terganggu.

G.2 Kontrasepsi Pria

Suami merupakan fokus baru untuk program KB yang belum mendapat perhatian. Keikutsertaan para suami dalam melaksanakan KB masih sangat rendah yaitu sekitar 6% dari seluruh program KB. Kontrasepsi untuk suami yang dianggap sudah mantap sampai saat ini  adalah kondom dan vasektomi. Namun penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi menimbulkan keluhan psikologik, sedangkan vasektomi walaupun kontrasepsi yang diandalkan, seringkali menimbulkan efek samping berupa kegagalan rekanalisasi. Rekanalisasi adalah pembukaan kembali pembuluh darah yang tersumbat (Anonymous, 2010). Apabila faktor akseptor yang menggunakan kontrasepsi tersebut ingin punya anak, maka seringkali sulit dapat dilakukan rekanalisasi kembali. Alternatif lain dalam metode kontrasepsi untuk suami yaitu penggunaan hormon seperti dilakukan pada istri, cara ini bisa menjadi alternatif bagi pria Indonesia, namun untuk bisa disebarluaskan kontrasepsi ini harus nyaman dan aman bagi pemakainya. (Winarso, 2003).

Penggunaan alat kontrasepsi di kalangan pria belum membudaya seperti halnya pada kaum perempuan, namun pemerintah berusaha keras untuk meningkatkan kesetaraan ini agar populasi penduduk Indonesia dapat kembali ditekan (Anonymous, 2006). Kontrasepsi pria sendiri ada bermacam-macam diantaranya adalah :

1.  Kontrasepsi Sterilisasi, yaitu pencegahan kehamilan dengan mengikat testis pada pria (vasektomi). Proses sterilisasi ini harus dilakukan oleh ginekolog (dokter kandungan). Efektif bila memang ingin melakukan pencegahan kehamilan secara permanen, misalnya karena faktor usia.

2. Kontrasepsi Teknik yaitu Coitus Interruptus  (senggama terputus) dimana ejakulasi dilakukan di luar vagina. Efektivitasnya 75-80%. Faktor kegagalan biasanya terjadi karena ada sperma yang sudah keluar sebelum ejakulasi, orgasme berulang atau terlambat menarik penis keluar.

3.  Kontrasepsi Mekanik

a. Kondom: Efektif 75-80%. Terbuat dari latex yang berfungsi sebagai pemblokir / barrier sperma. Kegagalan pada umumnya karena kondom tidak dipasang sejak permulaan senggama atau terlambat menarik penis setelah ejakulasi sehingga kondom terlepas dan cairan sperma tumpah di dalam vagina. Kekurangan metode ini: mudah robek bila tergores kuku atau benda tajam lain, membutuhkan waktu untuk pemasangan, mengurangi sensasi seksual

b. Spermatisida: bahan kimia aktif untuk ‘membunuh’ sperma, berbentuk cairan, krim atau tisu vagina yang harus dimasukkan ke dalam vagina 5 menit sebelum senggama. Efektivitasnya 70%. Sayangnya bisa menyebabkan reaksi alergi. Kegagalan sering terjadi karena waktu larut yang belum cukup, jumlah spermatisida yang digunakan terlalu sedikit atau vagina sudah dibilas dalam waktu < 6 jam setelah senggama (Anonymous, 2009).

G.3 Testis

Testis merupakan organ kelamin laki-laki tempat spermatozoa dan hormon laki-laki dibentuk. Testis menghasilkan hormon testosteron dan bekerja sebagai kelenjar endokrin. Hormon testosteron ini berfungsi untuk menentukan sifat-sifat kajantanan.

Contoh: Tumbuhnya jenggot dan jakun, suara yang membesar serta bentuk badan yang besar dan kuat.

Fungsi testis terdiri dari:

  1. Membentuk gamet-gamet baru yaitu spermatozoa, dilakukan di tubulus seminiferus.
  2. Menghasilkan hormon testosteron, dilakukan oleh sel interestial.

Kelenjar testis bentuknya seperti telur yang banyaknya 2 buah yang menghasilkan sel mani atau sperma. Dikirim melalui saluran yang terdapat dibelakang buah pelir dan melewati sebelah dalam, disebelah belakang saluran ini terdapat duktus deferens. Kelenjar testis menghasilkan hormon Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Lutenizing Hormone (LH). Disamping itu testis dapat menghasilkan hormon testosteron. Hormon testosteron ini disekresikan oleh testis, sebagian besar berkaitan dengan protein plasma. Beredar dalam darah 15-30 menit, kemudian disekresi.

Testosteron dihasilkan pada anak berusia 11-14 tahun. Pembentukan ini meningkat dengan cepat pada permulaan pubertas dan berlangsung  hampir seluruh kehidupan, berkurangnya kecepatan produksi setelah pria berumur 40 tahun. Pada umur 80 tahun pria menghasilkan testosteron lebih kurang 1/5 dari nilai puncak, sedangkan testosteron akan memuncak sekresinya oleh beberapa kelenjar sebasea yang pada wajah dapat menimbulkan jerawat yaitu merupakan gambaran yang paling sering pada pubertas.

H. METODE PENELITIAN

H.1 Populasi dan Sampel

Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah tikus putih jantan (Rattus norwegicus) dengan karakteristik mata warna merah jernih dan kulit bersih, umur 2,5-3 bulan dengan berat badan 250-300gr strain Wistar yang diperoleh dari UNAIR Surabaya.

Sampel

Sampel diambil dari populasi tikus putih (Rattus norvegicus) jantan sebagai hewan coba. Dalam penelitian ini terdapat 5 macam perlakuan, dimana untuk mendapatkan banyaknya ulangan pada masing-masing perlakuan ditentikan berdasarkan rumus (Hanafiah, 1993) yaitu:

(t-1)  (r-1) ³15

(5-1) (r-1) ³15

4 (r-1) ³15

r-1 ³ 3,75

r ³ 4,75  maka r ³ 5

Dimana:

t           : Treatment (perlakuan)

r           : Replikasi (ulangan)

Dari rumusan tersebut diperoleh jumlah hewan coba untuk masing-masing perlakuan adalah lebih besar sama dengan 5 (lima). Dalam penelitian ini digunakan 5 ekor hewan coba untuk masing-masing perlakuan karena dimungkinkan sangat kecil tikus putih mengalami kematian.

 

H.2 Variabel Penelitian

  1. Variabel Bebas

Pada penelitian ini variabel bebasnya adalah filtrat daun jambu biji (Psidium guajava L.).

  1. Variabel Terikat

Dalam penelitian  ini yang menjadi variabel terikatnya adalah jumlah sel spermatozoa penampang melintang  testis tikus putih jantan (Rattus norwegicus).

H.3 Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah Eksperimen Sungguhan (True Experiment Research) karena dalam penelitian ini telah memenuhi tiga prinsip yaitu randomisasi, replikasi, dan adanya perlakuan kontrol atau pembanding. Menurut Rofieq (2002) eksperimen sungguhan merupakan suatu penelitian yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan                                                                                                          sebab akibat dengan cara mengenakan satu atau lebih kelompok eksperimental dan membandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan itu.

Desain eksperimental sungguhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah “The Postest-Only Control Group Design” yaitu didalam populasi setiap unit dari populasi adalah homogen yang artinya semua karakteristik antar unit populasi adalah sama maka tidak dilakukan pengukuran awal, semua kelompok perlakuan dianggap sama karena berasal dari satu populasi yang sama sehingga pengukuan variabel hanya dilakukan  pada akhir penelitian (post test) saja, tanpa ada pengukuran awal (pretest) tetapi hanya dilakukan “Control by Design” yaitu dengan menghomogenkan sampel penelitian. Rancangan ini dapat digambarkan:

O2

P1

K                O1

O3

P2

R

O4

O5

P3

P4

Keterangan:

R          = Randomisasi

K          = Kontrol atau banding

P1        = Perlakuan dosis dekok daun jambu biji  4gr

P2        = Perlakuan dosis dekok daun jambu biji  6gr

P3        = Perlakuan dosis dekok daun jambu biji  8gr

P4        = Perlakuan dosis dekok daun jambu biji  10gr

O1-O5  = Hasil penelitian

H.4 Analisa Data

Data Hasil Penelitian dianalisis dengan menggunakan Uji Chi-square karena data penelitian merupakan data diskrit dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Merumuskan Hipotesis nihil(Ho)
  2. Menentukan frekwensi ekspektasi (Ei)
  3. Menghitung X2 hitung dengan rumus:

c2 = å ( Oi – Ei )

Ei

Dimana:

c2 = Chi-kuadrat

Oi= Frekwensi yang diperoleh

Ei= Frekwensi yang diharapkan

H.5 Instrumen Pelaksanaan

Alat

Pembuatan dekok daun jambu biji:

–         Timbangan analitik (0,001 g)

–         Alat pemanas

–         Erlenmeyer 125 ml

–         Kertas saring Whatman 40

–         Labu ukur 100 ml

–         Corong kaca

–         Pengaduk (spatula)

Pembedahan dan pembuatan preparat testis

–         Seperangkat alat secsic seperti: pisau, gunting, jarum pentul, pinset,  skalpel, dan bak lilin

–         Gelas arloji

–         Botol flakon

–         Pipet tetes

–         Mikrotom

–         Oven

–         Jarum ose

–         Kaca benda dan kaca penutup

–         Mikroskop

–         Alat foto dan film Fuji

Bahan

Pembuatan dekok daun jambu biji

–         Daun jambu biji

–         Aquadest

Pengambilan testis

–         Kloroform untuk membius

–         Kapas

–         NaCl

–         Formalin 10%

–         Alumunium foil

Pembuatan preparat histologi testis

–         Testis tikus putih jantan

–         Alkohol 30%, 50%, 70%, 80%, 100%.

–         Xylol

–         Aquadest

–         Putih telur

–         Parafin

–         Enthellan

–         Pewarna H-E (Hematoxylin dan Eosin)

Cara Kerja

Proses adaptasi

Tikus putih jantan dimasukkan kedalam kandang plastik yang telah diberi sekam padi sebagai alas, dan di aklimatisasikan selama 2 minggu sebelum diberi perlakuan. Tikus putih jantan diberi makan (BR1) masing-masing 5 gr/ ekor setiap hari, sedangkan untuk minuman tikus putih jantan menghisap minuman aquadest yang sudah disediakan didalam botol.

Membuat Dekok Daun  Jambu Biji (Psidium guajava L.)

Cara membuat dekok:

–         Menimbang 1 kg bahan (daun jambu biji)

–         Mencuci bahan dengan air mengalir

–         Memotong  bahan (daun jambu biji) hingga kecil-kecil dan memasukkan kedalam erlenmeyer

–         Menambahkan aquadest kedalam bahan tersebut dengan perbandingan 1:1. Semisal jumlah bahan adalah 1000 gr maka ditambahkan aquadest sebanyak 1000 ml atau penambahan aquadest sampai bahan tersebut terendam.

–         Bahan dipanaskan dengan menggunakan api kecil sampai mendidih kemudian diaduk terus menerus sampai volume air berkurang sepertiga sampai separuh bagian kemudian disaring

–         Jika volume larutan masih melebihi volume yang seharusnya (1000 ml) maka dilakukan pemanasan selanjutnya hingga volume menjadi 1000 ml

–         Jika volume larutan kurang dari volume yang seharusnya (1000 ml) maka dilakukan penambahan dengan aquadest sampai volume menjadi 1000 ml. Dengan proses ini maka didapatkan dekok dengan konsentrasi 100%.

Pengambilan Testis dan pembuatan preparat

Fiksasi

–         Membius tikus dengan kloroform dan kapas kemudian menutup dengan alumunium foil

–         Membedah tikus mulai dari bagian bawah abdomen lalu mengambil organ testisnya

Pencucian

–         Mencuci dengan garam fisiologis (Nacl)

–         Memasukkan kedalam botol flakon dan memfiksasi dengan larutan fiksatif  formalin 50% selama 24 jam

–         Membuang larutan fiksatif formalin

Dehidrasi

–         Mendehidrasi dengan alkohol 50% selama 30 menit

–         Mendehidrasi dengan alkohol 70% selama 30 menit

–         Mendehidrasi dengan alkohol 80% selama 30 menit

–         Mendehidrasi dengan alkohol 100% selama 30 menit

–         Mendehidrasi dengan alkohol 100% selama 30 menit

Clering atau Penjernihan

–         Menetesi dengan alkohol : Xylol = 3:1 selama 30 menit

–         Menetesi dengan alkohol : Xylol = 1:1 selama 30 menit

–         Menetesi dengan alkohol : Xylol = 1:3 selama 30 menit

–         Menetesi dengan xylol murni 1 selama 30 menit

–         Menetesi dengan xylol murni 2 selama 30 menit

Inviltrasi

–         Menetesi xylol : parafin =1:9 selama 24 jam (diletakkan dalam oven suhu 60oC )

–         Mengganti dengan parafin murni selama 1 jam dalam oven suhu 60oC

Embeding (penanaman)

–         Parafin cair diletakkan kedalam cetakan berbentuk botol flakon (dibuat dari alumunium foil dalam bentuk botol flakon), kemudian testis dimasukkan kedalamnya dan posisi diatur sebaik mungkin, kemudian didinginkan hingga parafin membeku.

Trimming atau Pengeblokan Parafin

–         Testis dalam cetakan parafin dikepris menjadi potongan yang rapi agar mudah diiris dengan mikrotom.

Pemotongan

–         Testis dalam cetakan parafin dipotong dengan mikrotom ukuran 6 mikron

Mounting I

–         Sayatan hasil pemotongan dengan mikrotom diletakkan pada beaker glass kemudian potongan tersebut dimasukkan kedalam Water bath pada suhu 50oC sehingga parafin memapar, kemudian diletakkan pada gelas objek yang sudah diberi bahan perekat (campuran asam cuka albumin dan air) dan dikeringkan.

Deparafinisasi

–         Menetesi Xylol : alkohol = 3:1 selama 3 menit

–         Menetesi Xylol : alkohol = 1:1 selama 3 menit

–         Menetesi Xylol : alkohol = 1:3 selama 3 menit

Pewarnaan

–         Proses pewarnaan Hematoxylin 30 menit, cuci dengan air mengalir selama 5-10 menit, bilas dengan aquadest 2 kali masing-masing 3-5 detik.

–         Mewarnai dengan larutan 0,1 Eosin kemudian cuci dengan air mengalir selama 5 detik.

Dehidrasi

–         Mendehidasi dengan alkohol 50, 70, 90, absolud masing-masing selama 3 menit

–         Mendehidrasi dengan xylol I selama 3 menit

Mounting II

–         Xylol murni II selama 3 menit

–         Merekatkan dalam Canada balsam atau Enthellen dengan kaca penutup, kemudian dikeringkan

  1. I.                   JADWAL KEGIATAN

No

Jadwal Kegiatan

Bulan 1

Bulan 2

Bulan 3

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1.

Persiapan alat

X

2.

Pengumpulan bahan

X

3.

Proses adaptasi tikus

X

4

Pelaksanaan penelitian

X

X

X

X

6.

Pembuatan sediaan histologis

X

7.

Analisa data

X

8.

Penyusunan laporan

X

X

9.

Presentasi hasil penelitian

X

J. RANCANGAN BIAYA

  1. Biaya bahan habis pakai

a. Daun Jambu Biji                                                         Rp. 30.000

b. Tikus @Rp. 50.000 x 30                                            Rp. 1.500.000

  1. Peralatan Penunjang PKM

a. Alat-alat untuk pembuatan preparat histologi            Rp. 1.000.000

b. Kertas, Tinta, alat Tulis                                              Rp. 470.000

c. Perawatan Tikus                                                         Rp. 400.000

d. Makanan Tikus                                                          Rp. 465.000

  1. Transport @Rp. 200.000,- x 4 orang                          Rp. 800.000
  2. Komunikasi @Rp. 100.000,- x 4 orang                      Rp. 400.000
  3. Analisis preparat histologis                                         Rp. 650.000
  4. Lain-lain

a. Dokumentasi                                                              Rp. 400.000

b. Poster                                                                         Rp. 400.000

c. Seminar Hasil                                                             Rp. 700.000

d. Evaluasi program                                                        Rp. 448.000

e. Sewa Laboratorium                                                     Rp. 700.000

f. Sewa Alat (Bedah, dan Alat Perawatan Tikus)          Rp. 500.000

g. Laporan akhir                                                              Rp. 400.000

Total Biaya                                                                      Rp 9.263.000

 

K. DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2000. Parameter Standart Umum Ekstrak Tumbuhan Obat Cetakan Pertama, Penerbit Departemen Kesehatan RI Diirektorat Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan Direktorat Pengawasan Obat Tradisional, Jakarta.

Darmansyah, 1995. Dasar-dasar Toksikologi Hubungan Antara Hewan Coba Dengan Manusia- Farmakologi Dan Terapi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Ganong, W.F, 1999. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 17, Penerbit Buku Kedoktean EGC, Jakarta.

Ginson John, 1995. Anatomi Dan Fisiologi Modern Untuk Perawat, Penerbit

Gunarso W, 1969. Mikroteknik, Penerbit IPB, Bogor.

Gunawan & Soelaiman, 1979. Spermatozoa Normal (Dalam Buku Spermatologi), Penerbit Perkumpulan Andrologi Indonesia, Surabaya.

Guyton A.C, 1987. Fisiologi Manusia Dan Mekanisme Penyakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Guyton & Hall, 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi Sembilan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Hadi S, 2001. Statistik Jilid 2, Penerbit ANDI, Yogyakarta.

Hanafiah KA, 1993. Rancangan Percobaan Teori & Aplikasi edisi revisi, Penerbit Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang.

Hardianto B, 1993. Pedoman Praktis Budidaya Tanaman Jambu (jambu mete, jambu air, jambu biji), Penerbit PD Mahkota, Jakata.

Kartasapoetra G, 1992. Budidaya Tanaman Berhasiat Obat, Penerbit Rineke Cipta, Jakata.

Koolman & Rohm, 2001. Biokimia Atlas Berwarna Dan Teks, Penerbit Hipokrates, Jakarta.

Lesson & Paparo, 1995. Buku Ajar Histologi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Rismunandar, 1989. Tanaman Jambu Biji, Penerbit Sinar Baru, Bandung. Salisbury & Ross, 1999. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2, Penerbit ITB, Bandung.

Sundari D.danWinarno.W, 1997. Informasi Tanaman Obat Untuk Kontrasepsi Tradisional, Penerbit  Cermin Dunia Kedokteran No.120, Jakarta.

Surachman, 1978. Analisa Sperma 100 Pasangan Suami Istri Infertil Dari Karyawan Pertamina Dan Penduduk Di Daerah Pertamina Wilayah IV Balikpapan, Penerbit Perkumpulan Andrologi Indonesia, Surabaya.

Yatim W, 1994. Reproduksi dan Embryologi Untuk Mahasiswa Biologi Dan Kedokteran, Penerbit TARSITO, Bandung.

 

 

 

 

05/10/2011 Posted by | Contoh PKM | 2 Komentar