BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

“AEMA” SEBUAH PEMBUKTIAN PERAN NYATA MAHASISWA DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI BANGSA

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kondisi ekonomi dalam negeri pada tahun 2009 hingga 2010 merupakan kondisi yang cukup kritis. Pasalnya, perlambatan ekonomi global saat ini baru akan terasa dalam dua atau tiga kuartal mendatang (BPS, 2009). Tanda-tanda perekonomian mulai mengalami penurunan adalah ditahun 1997 dimana pada masa itulah awal terjadinya krisis. Saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar pada level 4,7 persen, sangat rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang 7,8 persen

Kondisi perekonomian Indonesia pada 2010 diperkirakan belum akan terlepas dari krisis global, bahkan diperkirakan semakin berat jika dibandingkan dengan tahun ini. Menurut pengamat ekonomi Martin Panggabean di Jakarta, Selasa kondisi tersebut disebabkan oleh belum membaiknya perekonomian global, semakin mahalnya mencari dana dari pasar, serta pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Ia mengatakan, pemerintah seharusnya tidak hanya membahas soal suku bunga. Namun juga harus mengantisipasi bagaimana ekspansi kredit, menanggulani PHK dan bagaimana pertumbuhan ekonomi 2010. Martin mencontohkan kondisi di Amerika Serikat. Probabilitas terjadinya depresi di AS meningkat antara 20%-30% sehingga pertumbuhan ekonomi negara adidaya itu akan minus 5% sampai 7%.

Selain itu, pada tahun 2004, kemiskinan telah kembali ke angka semula sebelum terjadinya krisis ekonomi, tetapi naik kembali di tahun 2005-2006. Beberapa tahun belakangan ini laju penurunan angka kemiskinan di Indonesia telah melambat. Diperkirakan 42 persen rakyat Indonesia hidup dengan PPP (purchasing power parity) antara AS$1-2 per hari. Angka penduduk sangat miskin (didefinisikan dengan PPP kurang dari AS$1 per hari) cukup rendah meskipun sesudah dibandingkan dengan standar negara-negara tetangga, yaitu 7,4 persen. Tetapi, jumlah penduduk yang berpendapatan PPP kurang dari AS$2 per hari adalah sebanyak 49 persen (UNDP, 2009).
Meskipun sekarang ini, Indonesia telah melampaui batasan untuk menjadi negara dengan pendapatan menengah, populasi dengan pendapatan kurang dari AS$2 per hari lebih kurang sama dengan negara-negara dengan pendapatan rendah seperti Vietnam. Oleh karena itu kemiskinan di Indonesia memiliki karakteristik yang sangat unik karena tingginya jumlah penduduk ’hampir miskin’. Keadaan ini juga dapat dilihat dari tingginya tingkat kerentanan untuk ’menjadi miskin’ (keluar masuknya penduduk dari dan dalam kemiskinan diakibatkan guncangan-guncangan yang ada).

Dengan demikian akan banyak terjadi PHK, termasuk di Indonesia. Hal-hal seperti ini yang perlu diantisipasi oleh pemerintah. Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2010 hanya 1% hingga 2%, tingkat PHK semakin banyak, katanya. Pada tahun ini, ujarnya, Indonesia bisa sedikit optimistis karena pertumbuhan ekonomi ada pada angka 4% hingga 4,5%. Tetapi, masalah globalnya, di negara-negara maju itu tidak ada tanda-tanda krisis akan berakhir pada 2009. Namun, ujarnya, bila terjadi resesi berkepanjangan diikuti dengan deflasi, harga-harga aset dan harga komoditas dampaknya sudah pasti membesar pada 2010 (BPS, 2009).

Hal ini menyebabkan angka pengangguran di Indonesia pada 2010 diperkirakan masih akan berada di kisaran 10 persen. Target pertumbuhan ekonomi yang hanya sebesar 5,5 persen dinilai tidak cukup untuk menyerap tenaga kerja di usia produktif, padahal seharusnya Indonesia membutuhkan petumbuhan setidaknya 7,3 persen per tahun untuk mengurangi angka pengangguran. Pertumbuhan itu bisa dicapai kalau laju inflasi berkisar 4 hingga 6 persen. Suku bunga Indonesia pun setidaknya berada di angka 5-7 persen dan nilai tukar rupiah Rp 9.500-Rp 10.500 per USD. (juan/kmp). Secara nyata, angka pengangguran terbuka di Indonesia per Agustus 2008 mencapai 9,39 juta jiwa atau 8,39 persen dari total angkatan kerja. Angka pengangguran turun dibandingkan posisi Februari 2008 sebesar 9,43 juta jiwa(8,46 persen). Badan Pusat Statistik melakukan survei tenaga kerja setiap Februari dan Agustus setiap tahunnya (BPS, 2009).
Sesuai survei, Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Arizal Ahnaf di Jakarta, menjelaskan, pengangguran terbuka didominasi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan sebesar 17,26 persen dari jumlah penganggur. Kemudian disusul lulusan Sekolah Menengah Atas (14,31 persen), lulusan universitas 12,59 persen, diploma 11,21 persen, baru lulusan SMP 9,39 persen dan SD ke bawah 4,57 persen. Arizal melanjutkan, jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor informal masih mendominasi angkatan kerja nasional. Survei menunjukkan, per Agustus terdapat 71,35 juta jiwa pekerja yang bekerja di sektor informal, dari total 102,55 juta jiwa angkatan kerja. Sekadar perbandingan, pada 2005, jumlah pengangguran mencapai 11,9 juta orang. Kemudian, turun menjadi sekitar 10,9 juta orang pada 2006. Penyebab naiknya jumlah pengangguran ini, ungkap Erman, karena ada angkatan kerja baru dari lulusan pendidikan sekitar 2,3 juta orang. Selebihnya adalah pengangguran yang disebabkan oleh beruntunnya bencana alam beberapa waktu belakangan (BPS, 2009).

Menurut Budiyanto (2007) mahasiswa merupakan Agent of Community Enpowerment, harus terlibat dalam pemecahan masalah pembangunan daerah dan nasional untuk kesejahteraan masyarakat dan harus mendapatkan pengalaman empirik untuk mengelola pemecahan masalah pembangunan daerah dan nasional untuk kesejahteraan masyarakat. Mahasiswa juga merupakan aset bangsa sehingga dituntut untuk aspiratif, akomodatif, responsif, dan reaktif menjadi problem solver terhadap permasalahan pembangunan. Selain itu, mahasiswa sebagai Agent Of Change sepatutnya  memiliki semangat bekerja dan cita-cita tinggi untuk sukses dalam berbisnis seperti para pengusaha bahkan lebih. Di era globalisasi ini, mahasiswa lebih dituntut agar mampu mengembangkan potensinya sehingga memiliki daya saing tinggi dalam masyarakat sebagai bentuk pengabdian ketika berada di dunia masyarakat yang lebih kompleks daripada di kampus.

Oleh Karena itu, mahasiswa harus melaksanakan AEMA sebagai bukti eksistensi yang menunjukan bahwa mahasiswa mempunyai peran yang sangat tinggi dalam pembangunan ekonomi bangsa. AEMA merupakan peran-peran yang dilakukan oleh mahasiswa dalam membangun ekonomi bangsa yaitu sebagai aktor, edukator, motivator, dan akselerator yang kesemuanya bertujuan dalam membangun ekonomi bangsa dan menunjukan arti penting mahasiswa bagi bangsa.

Rumusan Masalah

Bagaimanakah “AEMA” dapat digunakan oleh mahasiswa dalam upaya membangun ekonomi bangsa?

Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui apakah “AEMA” dapat digunakan oleh mahasiswa dalam upaya membangun ekonomi bangsa?

PEMBAHASAN

Tantangan Mahasiswa Dalam dan Usaha Memajukan Ekonomi Bangsa

Pembangunan mahasiswa mempunyai peran strategis dalam mendukung peningkatan ekonomi Indonesia yang berkualitas. mahasiswa merupakan generasi penerus, penanggung jawab dan pelaku pembangunan masa depan. Kekuatan bangsa di masa mendatang tercermin dari kualitas sumber daya mahasiswa saat ini. Untuk itu, mahasiswa harus disiapkan dan diberdayakan agar mampu memiliki kualitas dan keunggulan daya saing guna menghadapi tuntutan, kebutuhan, serta tantangan dan persaingan di era global terutama dalam bidang ekonomi. Permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pembangunan ekonomi adalah :

  1. Masih rendahnya akses dan kesempatan mahasiswa untuk memperoleh pendidikan;
  2. Masih rendahnya tingkat partisipasi angkatan kerja mahasiswa;
  3. Belum serasinya kebijakan kepemudaan di tingkat nasional dan daerah;
  4. Rendahnya kemampuan kewirausahaan di kalangan mahasiswa;
  5. Tingginya tingkat pengangguran terbuka mahasiswa;
  6. Maraknya masalah-masalah sosial di kalangan mahasiswa, seperti kriminalitas, premanisme, NAPZA, dan HIV/AIDS;
  7. Masih rendahnya pembinaan dan perhatian terhadap pemuda dan Organisasi Kemasyarakatan dan Pemuda (OKP).

Semangat perjuangan sebenarnya sudah menjadi bagian penting dari mahasiswa Indonesia sejak dulu. Dari sanalah semangat kepemudaan harus dipupuk dan dipertahankan. Semangat kemahasiswaan seharusnya tak boleh hilang diterjang sebagai godaan dan tantangan. Seharusnya semakin banyak tantangan, maka semangat kemahasiswaan itu semakin membaja, semakin kuat dan semakin terlatih. Tantangan besar sesungguhnya yang dihadapi para mahasiswa dewasa ini adalah menghadapi globalisasi beserta dampak dan pengaruhnya yang terbilang luar biasa.

Mahasiswa sekarang lebih bangga jika dapat berperilaku kebarat-baratan, mulai dari gaya pakaian, makanan, bahkan sikap dan pandangan hidup. Stereotype gaya hidup hura-hura itu ditunjukkan secara gamblang lewat stasiun televisi mulai dari gaya sinetron dengan pendekatan serba hedonis, hingga acara kontes menyanyi seperti Indonesian Idol atau AFI (Akademi Fantasi Indosiar). mahasiswa sekarang lebih semangat memacu diri lewat “jalan pintas” menjadi penyanyi terkenal, artis lalu banyak penggemar dan kaya lewat profesi yang serba gemerlap. Cuma segelintir mahasiswa negeri ini yang lebih keras berupaya dalam hal prestasi dengan kegemilangan pengetahuan, penelitian, atau memeras otak dan keringat dari intelegensinya sehingga kelak bias membangun ekonomi bangsa. Kebanyakan mahasiswa justru ternina bobo oleh angan-angan kosong yang ditawarkan sistem kapitalisme, tanpa menyadari bahwa “perjuangan” mereka di jalur serba hedonis, hanya bisa dikategorikan dan menjadi sebuah perjudian atau harapan fatamorgana (Syaefudin, 2003).

Kesadaran kolektif untuk menjadikan peran mahasiswa dalam pembangunan ekonomi di tengah masyrakat lebih konkret lagi, perlu adanya kesadaran kolektif para pemuda pada perjuangan yang sesungguhnya. Mahasiswa perlu diberikan stimulant besar untuk dapat kembali ke jalan kebenaran, mempertahankan semangat perjuangan dan kepemudaan. Hal yang perlu pertama kali disikapi adalah tujuan ideal yang akan dicapai oleh para mahasiswa itu, bukan hanya sekedar tujuan antara “perjuangan” para mahasiswa dalam kontes menyanyi, mungkin dapat dikatakan sebagai upaya untuk dapat mencari eksistensi diri. Namun perlu diingat bahwa “perjuangan” itu hanya sekilas, menjadi eufora sesaat, tanpa ada makna yang lebih luas secara sosial dan bagi kemanusiaan. Mahasiswa perlu mendefinisikan kembali tujuan dan visi hidupnya secara kolektif. Dari sini kemudian akan ada kesadaran kolektif untuk melanjutkan peran yang diwariskan para mahasiswa sebelumnya. Sebab, hanya dengan semangat, kolektivitas, dan tekad yang kuat, bangsa ini dapat kembali berjaya dan bangkit dari keterpurukan. Jika dilihat berbagai catatan dan berbagai predikat yang disandang Indonesia, maka anak yang baru lahir pun mungkin akan malu menjadi orang Indonesia. Bahkan ada buku yang berjudul seperti itu: Aku Malu Menjadi Orang Indonesia. Berbagai “rekor” memang ditorehkan negeri ini, dengan label buruk. Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia saat ini berada pada peringkat ke-109 dari 174 negara di dunia. Sementara itu, Singapura, Malaysia, Brunei, dan Thailand masing-masing berada pada peringkat ke-41 sampai 44. Posisi negeri ini bahkan di bawah Vietnam yang baru bangkit dari perang dengan Amerika. Jika diamati pula indeks pembangunan manusia Indonesia, maka akan dilihat fakta yang terus menurun dalam lima tahun belakangan ini. Pada tahun 1995, Indonesia menduduki peringkat ke 104 dunia, jauh di atas Vietnam yang saat itu berada di peringkat 120 dunia. Ironisnya, dalam tahun 2005 ini peringkat Indonesia merosot ke urutan 110 dunia sedangkan Vietnam naik menjadi peringkat 108 dunia. Utang luar negeri yang ditanggung Indonesia kini mencapai Rp 1.300 triliun lebih yang bila dibagi rata untuk seluruh penduduk Indonesia, mencapai rupiah 6,5 juta perorang. Transperancy Internasional yang bermarkas di Berlin pun mengumumkan peringkat indeks korupsi tahun 2005, dan Indonesia menempati ranking ke 137 dari 159 negara di dunia. “Luar Biasa”.

Indonesia mungkin dapat menjadi negara yang memaluka dalam berbagai hal, hingga saat ini. Namun ini tentu tak boleh dibiarkan berlarut. Bagaimanapun, harga diri bangsa sudah eksis dan didengungkan dari awal. Berkaca pada pepatah melayu lama, sekali layar terkembang, pantang surut kebelakang. Maka tentunya perlu dibentuk kesadaran kolektif terhadap bangsa ini mengenai eksistensi, kemandirian dan harga diri bangsa. Itu sebenarnya harus dimulai dari mahasiswa seperti halnya kemerdekaan bangsa, kebangkitan bangsa sejak kelahiran Boedi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928 dan proklamasi kemerdekaan yang semuanya digerakkan oleh motor utama para pemuda dan mahasiswa. Tentunya diperlukan pemuda-pemuda yang tangguh, bukan para pemuda yang cengeng, atau bermental hedonis. Maka, “cita-cita ideal Bung Karno” mahasiswa pemuda tangguh Indonesia akan benar-benar mampu mengguncang dunia, bukan hanya sekedar orasi dan lips service semata (Adi, 2002).

“AEMA” Sebagai Bukti Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Ekonomi Bangsa

Mahasiswa Sebagai Aktor

Artinya, mahasiswa semestinya menjadi pionir-pionir dalam praktik ekonomi bangsa. Misalnya menjadi calon entrepreneur muda yang tangguh di kalangan mahasiswa yang mampu membangun usaha mandiri dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Dengan bekal kemampuan berwirausaha, di saat lulus nanti mahasiswa akan siap untuk terjun menghadapi dunia bisnis. Bukan hanya semasa mahasiswa, selepas kuliah nanti peran sebagai pionir semestinya tetap dilakukan Dengan adanya pionir-pionir ini yang seiring dengan waktu diharapkan semakin banyak, masyarakat yang dapat disejahterakan dan ikut secara langsung berperan bagi ekonomi bangsa. Dalam mengembangkan perannya sebagai actor dalam memajukan ekonomi bangsa, mahasiswa harus mengasah berbagai kemampuan yang dimilikinya, diantaranya adalah:

Mengasah Kemampuan Reflektif
Dalam mengembangkan perannya, mahasiswa Indonesia perlu mengasah kemampuan reflektif dan kebiasaan bertindak efektif. Perubahan pada ekonomi bangsa hanya dapat dilakukan karena adanya agenda refleksi (reflection) dan aksi (action) secara sekaligus. Daya refleksi kita bangun berdasarkan bacaan baik dalam arti fisik melalui buku, bacaan virtual melalui dukungan teknologi informasi maupun bacaan kehidupan melalui pergaulan dan pengalaman di tengah masyarakat. Makin luas dan mendalam sumber-sumber bacaan dan daya serap informasi yang kita terima, makin luas dan mendalam pula daya refleksi yang berhasil kita asah. Karena itu, faktor pendidikan dan pembelajaran menjadi sangat penting untuk ditekuni oleh setiap mahasiswa, terutama mahasiswa-mahasiswa masa kini (Masykur, 2001).
Membangun Kebiasaan Bertindak
Di samping kemampuan reflektif, mahasiswa Indonesia juga perlu melatih diri dengan kebiasaan untuk bertindak, mempunyai agenda aksi, dan benar-benar bekerja dalam arti yang nyata. Kemajuan ekonomi bangsa kita tidak hanya tergantung kepada wacana, ‘public discourse’, tetapi juga agenda aksi yang nyata. Jangan hanya bersikap “NATO”, “Never Action, Talking Only” seperti kebiasaan banyak kaum intelektual. Mahasiswa masa kini perlu membiasakan diri untuk lebih banyak bekerja dan bertindak secara efektif memajukan ekonomi bangsa daripada hanya berwacana tanpa implementasi yang nyata.
Melatih Kemampuan Kerja Teknis
Hal lain yang juga perlu dikembangkan menjadi kebiasaan di kalangan mahasiswa kita ialah kemampuan untuk bekerja teknis, detil atau rinci. “The devil is in the detail”, bukan semata-mata dalam tataran konseptual yang bersifat umum dan sangat abstrak. Dalam suasana ekonomi yang membuka luas ruang kebebasan dewasa ini, gairah berwiraswasta atau menjadi pengusaha di kalangan mahasiswa sangat bergejolak. Namun, dalam wacana perekonomian bangsa, biasanya berkembang luas kebiasaan untuk berpikir dalam konsep-konsep yang sangat umum dan abstrak. Akan tetapi, semua konsep-konsep yang bersifat umum dan abstrak itu baru bermakna dalam arti yang sebenarnya, jika ia dioperasionalkan dalam bentuk-bentuk kegiatan yang rinci (Alma, 2001).
Sebaiknya, mahasiswa Indonesia, untuk berperan produktif di masa depan, hendaklah melengkapi diri dengan kemampuan yang bersifat teknis dan mendetil agar dapat menjamin benar-benar terjadinya perbaikan dalam kehidupan bangsa dan negara kita ke depan.

Pemerintah pun  tidak tinggal diam untuk mendorong peran mahasiswa untuk memajukan ekonomi bangsa. Salah satunya adalah, dalam rangka untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan dan meningkatkan aktivitas kewirausahaan agar para lulusan perguruan tinggi lebih menjadi pencipta lapangan kerja dari pada pencari kerja, maka diperlukan suatu usaha nyata. Departemen Pendidikan Nasional telah mengembangkan berbagai kebijakan dan program untuk mendukung terciptanya lulusan perguruan tinggi yang lebih siap bekerja dan menciptakan pekerjaan. Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Cooperative Education (Co-op) telah banyak menghasilkan alumni yang terbukti lebih kompetitif di dunia kerja, dan hasil-hasil karya invosi mahasiswa melalui PKM potensial untuk ditindaklanjuti secara komersial menjadi sebuah embrio bisnis berbasis Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (Ipteks). Kebijakan dan program penguatan kelembagaan yang mendorong peningkatan aktivitas berwirausaha dan percepatan pertumbuhan wirausaha–wirausaha baru dengan basis IPTEKS sangat diperlukan.

Selain itu, dengan latar belakang tersebut di atas, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mengembangkan sebuah Program Mahasiswa Wirausaha (Student Entrepreneur Program) yang merupakan kelanjutan dari program-program sebelumnya (PKM, Co-op, KKU,…) untuk menjembatani para mahasiswa memasuki dunia bisnis rill melalui fasilitasi start-up bussines. Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), sebagai bagian dari strategi pendidikan di Perguruan Tinggi, dimaksudkan untuk memfasilitasi para mahasiswa yang mempunyai minat dan bakat kewirausahaan untuk memulai berwirausaha dengan basis ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang sedang dipelajarinya. Fasilitas yang diberikan meliputi pendidikan dan pelatihan kewirausahaan magang, penyusunan rencana bisnis, dukungan permodalan dan pendampingan usaha. Program ini diharapkan mampu mendukung visi-misi pemerintah dalam mewujudkan kemandirian bangsa melalui penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan UKM.

Mahasiswa Sebagai Edukator

Sebagai kelompok masyarakat terdidik, mahasiswa secara relatif lebih cepat memahami dan memiliki akses ke khasanah wacana ekonomi bangsa dan memahami lebih dalam permasalah yang ada pada perekonomian bangsa ketimbang kelompok masyarakat lain. Karenanya, mahasiswa harus mampu  mengedukasi masyarakat agar pemahamannya tentang ekonomi bangsa bisa meningkat hingga praktik untuk meningkatkan ekonomi bangsa di tengah masyarakat juga semakin berkembang. Tapi harus disadari, untuk bisa menjadi pionir dan mengedukasi masyarakat tentu diperlukan kesediaan mahasiswa untuk terus menerus mengkaji permasalahan ekonomi yang terjadi pada bangsa Indonesia (Gilbert, 2006).

Sebagai contoh, pertumbuhan ekonomi suatu negara pada dasarnya tidak terlepas dari meningkatnya jumlah penduduk yang berjiwa wirausaha (entrepreneur). Kurangnya jumlah masyarakat yang memiliki jiwa wirausaha di Indonesia, antara lain disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang kewirausahaan, etos kerja yang kurang menghargai kerja keras, cepat puas dengan hasil kerja dan pengaruh penjajahan yang terlalu lama serta kondisi ekonomi yang belum membaik. Tahun 2008 lebih dari 10 juta orang tidak memiliki pekerjaan.

Berdasarkan data BPS (Biro Pusat Statistik), tercatat angka kemiskinan 15,4 persen, artinya 10.3 juta jiwa dari jumlah penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Dalam hal ini, sikap mental yang baik dalam mendukung pembangunan, khususnya pertumbuhan perekonomian, perlu ditanamkan pada diri individu masing-masing masyarakat. Sesuai yang dikemukakan oleh Charles Scrciber (Buchori Alma, 2001:15) berdasarkan hasil penelitian bahwa keberhasilan seseorang ditentukan oleh pendidikan formal hanya sebesar 15 % dan selebihnya (85 %) ditentukan oleh sikap mental atau kepribadian.

Selain itu, saat ini pengangguran tak hanya berstatus lulusan SD sampai SMA saja, tetapi banyak juga sarjana. Perusahaan semakin selektif menerima karyawan baru sementara tingkat persaingan semakin tinggi. Tidak ada jaminan seorang sarjana mudah memperoleh pekerjaan. Sebagai seorang mahasiswa yang ingin mengembangkan jiwa wirausaha (entrepreneur student). harus mampu belajar merubah sikap mental yang kurang baik dan perlu dimulai dengan kesadaran dan kemauan untuk mempelajari ilmu kewirausahaan, kemudian menghayati dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Suparlan, 1984). Disinilah peran mahasiswa edukator sangat diperlukan dalam pengembangan ekonomi bangsa.

Mahasiswa Sebagai Motivator

Pembangunan ekonomi bangsa terutama di daerah-daerah sering menimbulkan rasa putus asa bagi masyarakat, terutama masyarakat yang gagal dalam berusaha untuk meningkatkan taraf kehidupannya. Disinilah diperlukan motivasi terus menerus, terutama dari para mahasiswa untuk tidak mudah putus asa dalam membangun ekonomi bangsa yang dimulai dari masyarakat kecil dahulu, seperti dalam melakukan usaha-usaha kecil seperti UKM. Bila mahasiswa yang katanya cenderung idealistik saja putus asa dalam membangun kemandirian ekonomi bangsa, apa lagi masyarakat yang cenderung lebih pragmatis (Mc Celland, 1987).

Sebagai generasi intelektual dan sebagai motivator, mahasiswa diharapkan dapat berperan untuk mendorong pembangunan perkenomian di pedesaan. Terutama, dengan disiplin ilmu yang dimiliki selama kuliah di perguruan tinggi, mampu menjadi modal memotivasi masyarakat agar bekerja keras membangun desa. mahasiswa merupakan motivator dan fasilitator pembangunan karena ilmu yang dimiliki, harus diterapkan dalam kehidupan dalam masyarakat di desa. Mengingat mahasiswa adalah generasi penerus bangsa yang mempunyai kualitas baik, maka dituntut untuk selalu bersikap kritis dalam proses pembangunan ekonomi bangsa (Wacik, 2006).

Sebelum menjadi seorang motivator, pemahaman kewirausahaan juga harus dimiliki oleh mahasiswa karena mahasiswa sebagai penerus bangsa diharapkan mampu menjadi tulang punggung negara. Sehingga dengan hasil pendidikan yang dikuasainya mampu menciptakan lapangan kerja dan memotivasi masyarakat untuk megikuti jejaknya, bukan menambah jumlah pengangguran setelah ia lulus dari sebuah perguruan tinggi dan diharapkan mampu bekerja dengan baik, dilihat dari segi ilmu maupun teknis lapangan. Jadi, sebisa mungkin seorang mahasiswa dituntut untuk berpikir secara kreatif terhadap peluang bisnis yang ada di masyarakat dan berani mencoba untuk memulai usaha. Jangan bersikap apatis, karena sulit mencari pekerjaan setelah melamar ke mana- mana dan hasilnya selalu nihil. Mereka lupa bahwa sebenarnya  bekerja tidak hanya di perusahaan ataupun menjadi pegawai negeri, salah satunya menjadi seorang wirausaha dan mampu membuat wirausaha-wirausaha baru.

Jadi, yang harus dilakukan mahasiswa sebelum banar-benar terjun kepada masyarakat terutama menjadi motivator adalah memiliki sejumlah kriteria, antara lain: kemampuan (ability), kapasitas (capacity), keahlian/kecakapan (skill) dalam berkomunikasi, memotivasi, dan yang lainnya adalah; pengetahuan/wawasan (knowledge); pengalaman (experience); kemampuan mengembangkan pengaruh (influence); kemampuan menggalang solidaritas (Solidarity maker); serta kemampuan memecahkan masalah (decision making) (Haris, 2001).

Memiliki integritas (integrity), yakni memiliki kepribadian yang utuh/berwibawa (kharisma); bijaksana (wisdom); bersikap empatik; memiliki prinsip-prinsip yang utama dalam hidupnya; menjadi panutan (kelompok referensi utama); serta, mampu mengutamakan kepentingan lebih besar, ketimbang kepentingan kecil dan sempit (negarawan). Di atas semua itu, seorang pemimpin harus totalitas dalam mengerahkan segenap potensi yang ada pada dirinya untuk kemajuan organisasi (prinsip totality) lebih jauh dalam membangun daerah dengan potensi SDM dan SDA yang ada.

Mahasiswa Sebagai Akselerator

Mahasiswa tidak boleh puas sekadar  melihat sebagian wajah ekonomi bangsa. Harus ada upaya terus menerus dengan  mendorong percepatan (akselerasi) penerapan dan kesadaran membangun ekonomi bangsa hingga betul-betul terwujud di tengah masyarakat.

Mahasiswa Indonesia harus berani melakukan otokritik, sekaligus membenahi diri, meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya, dan siap berkiprah di tengah-tengah masyarakat, mewarnai di berbagai lini kehidupan bangsa. Bangsa ini membutuhkan peran dan sumbangsih kalangan mahasiswa secara nyata, sehingga tentu sesungguhnya tugas dan peran mahasiswa tidaklah ringan. Mahasiswa Indonesia diharapkan mampu mengambil setiap peluang yang ada dan memanfaatkannya secara baik, demi kemajuan bangsa. Masa depan bangsa ini terletak di tangan mahasiswa karena mahasiswa adalah Agen Peubah (Agent of Change) dan Agen Analisis (Agent of Analysis), yang senantiasa memprakarsai perubahan-perubahan untuk kemaslahatan dan menganalisis problematika bangsa salah satunya dalam bidang ekonomi.

Konteks Peran Pemuda dalam Memanifestasikan Perubahan Bangsa, pemuda hendaknya tidak lagi hanya terpaku pada persoalan-persoalan lokal dan nasional, tetapi tanpa menyadari konteks internasional. Ajakan John Nesbit perlu dilakukan: yaitu “Think Globally, Act Locally” bahwa walaupun kita bertindak lokal (nasioanal), tetapi cara berpikirnya adalah global. Bahwa pemuda hidup di dalam komunitas internasional, yang sedkit banyak akan membawa pengaruh bagi dinamika aneka kehidupan lokal dan nasional (Remi, 2002).

Sebagai akselerator, banyak orang mengatakannya sebagai agent perubahan, memiliki ide-ide cemerlang dan kapasitas intelektual, pembangun peradaban, hingga kata-kata lainnya yang menunjukan kepahlawanan mahasiswa. Disebutlah mahasiswa sebagai pengawal kemerdekaan republik Indonesia tahun 45, meruntuhkan rezim orde lama tahun 65, hingga melahirkan reformasi dan meruntuhkan rezim orde baru tahun 98. Semua itu, pada dasarnya adalah sebuah atribut yang melekat pada mahasiswa. Sama halnya dengan kata mahasiswa itu sendiri yang hanyalah berarti sebuah atribut dalam difrensiasi sosial yang terjadi di masyarakat. Mahasiswa pada dasarnya sama dengan kata pedagang, petani, atau pemulung sampah (Firdaus, 2004).

Sebagai agen akselerator transformasi. Mahasiswa, adalah kelompok usia produktif yang memiliki potensi yang sama untuk mendapatkan status sosial ekonomi yang relatif mapan dan akan masuk ke dalam kelas menengah. Padahal, peran elit ( the rulling class ) dan kelas menengah ( middle class) sangat siginifikan dalam menggerakkan dan mengarahkan perubahan sosial, sebagai salah satu pilar pembangunan. Dan, The Rulling Class ini dibentuk dari kelas menengah, yang terdiri dari kelompok-kelompok strategis dari kalangan intelektual, pengusaha, birokrat dan militer. Dengan kenyataan di atas, maka ada agenda strategis, dalam rangka memelopori akselerasi pembangunan ekonomi bangsa. Yaitu dengan mengelola dengan baik dan profesional seluruh insitusi mahasiswa, sebagai sarana perekrutan mahasiswa-mahasiswa potensial Indonesia dalam usia produktif.
Dengan kesiapan para mahasiswa maka, akselerasi pembangunan dapat dimaksimalkan. Harapan ini tentulah bukan sebuah khayalan. Sejarah Indonesia sendiri telah menghasilkan individu seperti ini, contohnya, M. Natsir. Percepatan pembangunan harus dimulai dengan perubahan mental dan cara berfikir. Walaupun pemerintahan saat ini sudah on the track, tapi jalannya masih lambat. Dengan kematangan mental dan perbedaan cara berfikir yang segar, the next rulling class siap membantu dan mempercepat pembangunan ekonomi negeri.

Mahasiswa memang menjadi komunitas yang unik di mana dalam catatan sejarah perubahan selalu menjadi garda terdepan dan motor penggerak perubahan. Mahasiswa di kenal dengan jiwa patriotnya serta pengorbanan yang tulus tanpa pamrih. Oleh karena itu dalam hal pembanguna ekonomi bangsa mahasiswa telah dan akan selalu menjadi garda terdepan dalam pembangunan ekonomi bangsa.

Mahasiswa Kunci Pembangunan Ekonomi Bangsa

Mahasiswa sebagai ujung tombak yang menjelma menjadi sebuah amunisi dari maju mundurnya sebuah bangsa harus senantiasa siap untuk selalu berkiprah dan memberikan sumbangsihnya untuk kemajuan Negara kita. Sebagai mana yang telah diharapkan oleh proklamator tanah negeri ini. Dengan harapan mudah-mudahan semua mahasiswa dan generasi penerus harapan bangsa, dapat menjelma menjadi Bil Gates-Bil Gates masa depan, yang senantiasa menjadi motor pergerakkan kemajuan bangsa.

Untuk itulah, maka kita wajib bekerja keras membangun bangsa agar kita dapat memiliki kebanggaan dan percaya diri. Kalau bangsa kita lemah, miskin, dan terbelakang, maka bangsa kita akan menjadi bangsa yang diremehkan oleh bangsa-bangsa lain. Pada akhirnya, kita ingin menegaskan kembali bahwa faham dan semangat kebangsaan masih tetap relevan dengan kehidupan kita sekarang. Namun, kita harus memberikan makna baru kepada faham dan semangat kebangsaan kita. Kalau dulu, faham dan semangat itu kita jadikan landasan untuk mengusir penjajah, sekarang harus kita jadikan sebagai landasan untuk membangun bangsa, agar kita menjadi bangsa yang maju, terhormat, dan bermartabat. Kalau dulu, pahlawan adalah yang gugur di medan pertempuran, kini pahlawan adalah yang mampu membawa rakyat menuju kesejahteraan yang hakiki. Kita semua tentu berharap para mahasiswa berada kembali di garis depan dalam menaklukkan dan memanfaatkan tantangan global

PENUTUP

Kesimpulan

AEMA, merupakan sebuah bentuk nyata yang dapat diberikan oleh mahasiswa dalam upaya membangun ekonomi bangsa yang terdiri dari peran sebagai aktor yang artinya, mahasiswa semestinya menjadi pionir-pionir dalam praktik ekonomi bangsa. Sebagai edukator mahasiswa harus mampu  mengedukasi masyarakat agar pemahamannya tentang ekonomi bangsa bisa meningkat hingga praktik untuk meningkatkan ekonomi bangsa di tengah masyarakat juga semakin berkembang. Sebagai motivator mahasiswa harus member motivasi terus menerus, pada masyarakat untuk tidak mudah putus asa dalam membangun ekonomi bangsa yang dimulai dari masyarakat kecil dahulu, seperti dalam melakukan usaha-usaha kecil seperti UKM. Dan, sebagai akselerator mahasiswa tidak boleh puas sekadar  melihat sebagian wajah ekonomi bangsa. Harus ada upaya terus menerus dengan  mendorong percepatan (akselerasi) penerapan dan kesadaran membangun ekonomi bangsa hingga betul-betul terwujud di tengah masyarakat.

Saran

Untuk mahasiswa, kesadara melakukan “AEMA” harus diaplikasikan langsung pada masyarakat, agar benar-benar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyaraat. Untu pemerintah agar semua usaha mahasiswa seperti melakukan AEMA untuk memajukan ekonomi bangsa, harus diberikan apresiasi yang lebih seperti dalam hal bantuan dana atau dalam berbagai hal yang mendukung pelaksanaan peran AEMA yang dilakukan oleh mahasiswa.

Iklan

08/25/2010 Posted by | CONTOH LKTM | 2 Komentar

Strategi Pembangunan KB berbasis masyarakat sebagai upaya pembangunan keluarga berencana di Jawa Timur

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ancaman baby booming di tanah air kini semakin nyata. Berdasar data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), jika tahun ini program keluarga berencana stagnan, penduduk Indonesia diprediksi pada tahun  2015, penduduk Indonesia akan mencapai 255 juta jiwa (Pemkab Malang.go.id, 2009). Berdasarkan hasil Sensus Penduduk Tahun 2000, jumlah penduduk Jawa Timur mencapai angka 34.508.611 jiwa. Jumlah ini menempatkan Jawa Timur sebagai propinsi kedua setelah Jawa Barat dalam hal jumlah penduduk terbanyak. Dengan kepadatan penduduk mencapai 761 jiwa/km2, di atas ratarata nasional yang sebesar 109 jiwa/km2 menjadikan wilayah ini termasuk wilayah padat, meski tidak sepadat DKI Jakarta (12.635 jiwa/km2), Jawa Barat (1.033 jiwa/km2),Jawa Tengah (959 jiwa/km2) dan DIY Yogyakarta (980 jiwa/km2) (East Java Mapping, 2004). Berdasarkan hasil Susenas 2006, jumlah rumahtangga di Jawa Timur tahun 2006 ada sebanyak 10.490.640 dengan jumlah penduduk 37.478.737 jiwa. Dengan demikian rata-rata banyaknya penduduk per rumahtangga  sebesar 3,57 orang. Dengan luas wilayah Jawa Timur sekitar 46.428 kilometer persegi, maka tingkat kepadatan penduduk Jawa Timur sebesar 807 jiwa per kilometer persegi (BPS Jatim, 2009).

Secara umum, laju pertumbuhan penduduk di Jawa Timur, termasuk Pacitan, masih bisa dikendalikan. Meskipun sekarang ini, program keluarga berencana nasional cenderung kurang tergarap dengan baik. Pun, di sejumlah kabupaten di Jatim, persentase pasangan usia subur menunjukkan angka yang cukup tinggi. Namun pertumbuhan penduduk justru menurun hingga kisaran 0,84 persen. Hanya, besarnya jumlah warga berusia 15 tahun hingga 35 tahun (usia subur), menjadi peluang terjadinya ledakan penduduk (Jawa Pos, 13 Mei 2009).

Ada kecenderungan, saat ini perkembangan KB stagnan. Penyebabnya adalah kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap program KB. Padahal, program KB menjadi tugas pemerintah daerah. Penduduk Indonesia akan mencapai 255 juta pada tahun 2015, apabila jumlah peserta KB tidak bertambah. Terjadinya stagnasi program KB dalam lima tahun terakhir ini, mengakibatkan pertambahan jumlah penduduk Indonesia sekitar tiga juta setiap tahun. Dengan pertambahan ini, maka pada tahun 2008 penduduk Indonesia sudah mencapai 236,4 juta jiwa (BKKBN, 2009).

Menghadapi era globalisasi, dimana persaingan semakin ketat, mau tidak mau kita harus menciptakan manusia Indonesia yang kualitasnya tinggi. Dengan pertambahan jumlah penduduk yang tidak terkendali, kita tidak akan bisa meningkatkan kualitas manusia Indonesia, karena terbatasnya dana dan fasilitas yang tersedia. Jumlah penduduk yang besar membuat pemerintah tidak mampu mencukupi seluruh kebutuhan masyarakat. Di berbagai daerah masih kita temukan anak-anak yang kekurangan gizi. Begitu juga dengan sektor-sektor lainnya, sehingga sulit menciptakan manusia Indonesia yang berkualitas (Portal Indonesia, 2009).

Menurut Bank Dunia (2003), penyebab dasar kemiskinan adalah: (1) kegagalan kepemilikan terutama tanah dan modal; (2) terbatasnya ketersediaan bahan kebutuhan dasar, sarana dan prasarana; (3) kebijakan pembangunan yang bias perkotaan dan bias sektor; (4) adanya perbedaan kesempatan di antara anggota masyarakat dan sistem yang kurang mendukung; (5) adanya perbedaan sumber daya manusia dan perbedaan antara sektor ekonomi (ekonomi tradisional versus ekonomi modern); (6) rendahnya produktivitas dan tingkat pembentukan modal dalam masyarakat; (7) budaya hidup yang dikaitkan dengan kemampuan seseorang mengelola sumber daya alam dan lingkunganya; (8) tidak adanya tata pemerintahan yang bersih dan baik (good governance); (9) pengelolaan sumber daya alam yang berlebihan dan tidak berwawasan lingkungan.

Berdasarkan hasil pendataan Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin Jawa Timur pada bulan Mei 2006 sebanyak 7,456 juta orang. Sementara dari hasil pendataan pada bulan Maret 2007 diperoleh perkiraan jumlah penduduk miskin Jawa Timur sebanyak 7,138 juta orang yang terdiri dari 2.565.700 orang di wilayah perkotaan dan 4.572.000 orang di wilayah pedesaan. pada Maret 2008, jumlah penduduk miskin di Jatim tercatat 6,651 juta jiwa. Sementara pada periode yang sama 2009 turun menjadi 6,02 juta jiwa. selama Maret 2008-Maret 2009, Garis Kemiskinan (GK) mengalami kenaikan sebesar 11,36, dari Rp169.112 per kapita per bulan menjadi Rp188.317 per kapita per bulan akibat tingginya inflasi yang sedang terjadi, dengan komposisi GK makanan Rp138.442 dan GK nonmakanan sebesar Rp49.874.

Berdasarkan kenyataan dan fakta-fakta diatas maka dapat diketahui bahwa peran keluarga berencana sangat penting untuk provinsi Jawa Timur yang memiliki jumlah penduduk secara umum dan jumlah penduduk miskin yang sangat tinggi, sehingga diperlukan langkah-langkah bersama untuk mensukseskan program keluarga berencana di provinsi Jawa Timur.

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui seberapa penting peran keluarga berencana bagi Jawa Timur dan memberikan solusi bagi Jawa Timur mengenai kegiatan keluarga berencana agar lebih efektif dan berguna bagi Jawa Timur.

1.3 Batasan Penulisan

Batasan masalah yang digunakan dalam penulisan adalah sebagai berikut:

  • Penulisan Ini hanya dibatasi pada manfaat keluarga berencana di Jawa Timur
  • Objek dalam penulisan ini hanyalah KB di Jawa Timur

BAB II

TELAAH PUSTAKA

2.1 Keluarga Berencana

KB adalah singkatan dari Keluarga Berencana. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), maksud daripada ini adalah: “Gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Dengan kata lain KB adalah perencanaan jumlah keluarga. Pembatasan bisa dilakukan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran seperti kondom, spiral, IUD dan sebagainya. Jumlah anak dalam sebuah keluarga yang dianggap ideal adalah dua. Gerakan ini mulai dicanangkan pada tahun akhir 1970’an (Wikipedia, 2009).

Sejak dicanangkan dan digalakan secara nasional oleh Presiden RI Ke-2 Soeharto pada tahun 1970, hingga kini Program Keluarga Berencana (KB) masih dipahami secara sempit oleh masyarakat sehingga tujuan akhir KB yaitu membentuk keluarga bahagia dan sejahtera belum benar-benar terwujud. Cita-cita luhur KB ini tersandung paradigma keliru tentang KB. Secara awam, masyarakat memahami KB sebagai program pemerintah untuk mengendalikan laju pertumbuhan pendudukan melalui perencanaan kelahiran dan jumlah anak sehingga masyarakat merasa telah turut menyukseskan program KB tatkala ia telah berhasil menjarangkan kehamilan dan membatasi jumlah anak paling banyak 2. Pemahaman yang keliru inilah yang menyebabkan keberhasilan KB hingga sekarang belum mampu membentuk keluarga yang benar-benar bahagia dan sejahtera. KB juga belum (jika tak mau dikatakan tidak) berhasil membentuk generasi yang berkualitas. Atau dengan kata lain program KB secara kuantitas telah berhasil menekan laju pertumbuhan jumlah peduduk namun secara kualitas tidak mampu mengangkat harkat dan martabat keluarga di Indonesia. Angka pengangguran pada usia produktif dan jumlah anak putus sekolah dari tahun ke tahun terus meningkat (Iqbal, 2009).

Jawa Timur

Jawa Timur adalah sebuah provinsi di bagian timur Pulau Jawa, Indonesia. Ibukotanya adalah Surabaya. Luas wilayahnya 47.922 km², dan jumlah penduduknya 37.070.731 jiwa (2005). Jawa Timur merupakan provinsi terluas diantara 6 provinsi di Pulau Jawa, dan memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di Indonesia setelah Jawa Barat. Jawa Timur berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Selat Bali di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Provinsi Jawa Tengah di barat. Wilayah Jawa Timur juga meliputi Pulau Madura, Pulau Bawean, Pulau Kangean serta sejumlah pulau-pulau kecil di Laut Jawa dan Samudera Hindia(Pulau Sempu dan Nusabarung). Jawa Timur dikenal sebagai pusat Kawasan Timur Indonesia, dan memiliki signifikansi perekonomian yang cukup tinggi, yakni berkontribusi 14,85% terhadap Produk Domestik Bruto nasional. Jumlah penduduk Jawa Timur pada tahun 2005 adalah 37.070.731 jiwa, dengan kepadatan 774 jiwa/km2. Kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Kabupaten Malang, sedang kota dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Kota Surabaya. Laju pertumbuhan penduduk adalah 0,59% per tahun (2004) (Wikipedia, 2009).

Berdasarkan hasil pendataan Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin Jawa Timur pada bulan Mei 2006 sebanyak 7,456 juta orang. Sementara dari hasil pendataan pada bulan Maret 2007 diperoleh perkiraan jumlah penduduk miskin Jawa Timur sebanyak 7,138 juta orang yang terdiri dari 2.565.700 orang di wilayah perkotaan dan 4.572.000 orang di wilayah pedesaan. Dengan demikian selama sepuluh bulan terakhir terjadi penurunan jumlah penduduk miskin Jawa Timur sebanyak 318.000 orang atau dengan kata lain persentase penduduk miskin berkurang 1% poin dari, 19,94% pada Mei 2006 menjadi 18,93 % pada bulan Maret 2007. Penurunan tersebut sebagai hasil atau dampak dari berbagai program pengentasan kemiskinan serta peningkatan kegiatan ekonomi Jawa Timur secara umum (Anonymous, 2008).

2.2 Permasalahan di Jawa Timur

Ada berbagai permasalahan KB di Jawa Timur diantaranya adalah:

  1. 1. Masih tingginya laju pertumbuhan dan jumlah penduduk

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk Tahun 2000, jumlah penduduk Jawa Timur mencapai angka 34.508.611 jiwa. Jumlah ini menempatkan Jawa Timur sebagai propinsi kedua setelah Jawa Barat dalam hal jumlah penduduk terbanyak. Dengan kepadatan penduduk mencapai 761 jiwa/km2, di atas ratarata nasional yang sebesar 109 jiwa/km2 menjadikan wilayah ini termasuk wilayah padat, meski tidak sepadat DKI Jakarta (12.635 jiwa/km2), Jawa Barat (1.033 jiwa/km2),Jawa Tengah (959 jiwa/km2) dan DIY Yogyakarta (980 jiwa/km2) (East Java Mapping, 2004). Berdasarkan hasil Susenas 2006, jumlah rumahtangga di Jawa Timur tahun 2006 ada sebanyak 10.490.640 dengan jumlah penduduk 37.478.737 jiwa. Dengan demikian rata-rata banyaknya penduduk per rumahtangga  sebesar 3,57 orang. Dengan luas wilayah Jawa Timur sekitar 46.428 kilometer persegi, maka tingkat kepadatan penduduk Jawa Timur sebesar 807 jiwa per kilometer persegi (BPS Jatim, 2009).

Ada tiga wilayah di Jawa Timur yang kepadatan penduduknya mencapai ratarata 7.108 jiwa/km2, yaitu Kota Malang, Kota Mojokerto dan Kota Surabaya. Tingginya kepadatan di ketiga wilayah ini tidak lepas dari tingginya tingkat urbanisasi di ketiga wilayah tersebut. Untuk wilayah-wilayah dengan karakteristik demikian membutuhkan perhatian yang serius baik dari segi penyediaan infrastruktur maupun penataan mobilitas penduduknya. Rata – rata tingkat kepadatan di kabupaten/kota di Jawa Timur mencapai 1.734 jiwa/km2 (BPS Jatim, 2009).

2. Masih tingginya tingkat kelahiran penduduk

Faktor utama yang mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk adalah tingkat kelahiran. Salah satu faktor penyebabnya yaitu masih belum maksimalnya fungsi program Kelurga Berencana (KB) (Anonymous, 2009).

Persentase penduduk usia muda (0-14 tahun) cenderung mengalami penurunan dari sensus ke sensus, dari 41,17% pada Sensus. Penduduk 1971 menjadi 25,51% pada Sensus Penduduk Tahun 2000. Penurunan ini sedikit banyak mengindikasikan keberhasilan program Keluarga Berencana yang dicanangkan pemerintah. Meski mengalami penurunan yang cukup signifikan, bila kita bandingkan dengan Singapura, jumlah penduduk usia muda di Jawa Timur masih lebih tinggi, dimana di Singapura pada tahun 2000 komposisi penduduk usia muda hanya mencapai 16,5% dari total penduduk. Rendahnya minat pasangan muda di Singapora untuk memiliki anak ini membuat pemerintah Singapura mengeluarkan kebijakan pemberian tunjangan bagi pasangan yang hendak memiliki anak [Berita http://www.egov.gov.sg]. Fenomena ini tentunya berbeda dengan propinsi Jawa Timur yang memiliki penduduk usia muda relatif tinggi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah propinsi Jawa Timur untuk lebih serius mempersiapkan generasi muda ini menjadi generasi yang tumbuh lebih sehat, cerdas dan berpotensi (Indra, 2007).

Selain itu, angka Dependency Ratio Jawa Timur juga turut berubah. Jumlah penduduk usia muda cenderung mengalami penurunan dari sensus ke sensus (BPS Jatim, 2009). Penurunan ini menyebabkan turunnya angka Dependency Ratio Jawa Timur dalam kurun waktu tersebut. Sementara itu, jumlah penduduk usia produktif dan usia tua cenderung meningkat, sebagai akibat pergeseran penduduk dari usia muda ke usia produktif dan dari usia produktif ke usia tua. Dependency Ratio penduduk Jawa Timur pada tahun 2000 mencapai 0,70. Angka ini turun bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dimana pada tahun 1990 sebesar 0,87; tahun 1980 sebesar 1,03 dan tahun 1971 sebesar 1,11. Turunnya angka Dependency Ratio ini berarti jumlah beban tanggungan yang harus dipikul per penduduk usia produktif semakin sedikit. Bisa diartikan bila pada tahun 1971 seorang penduduk usia produktif harus mampu menanggung 1,11 orang penduduk yang lain, pada tahun 2000 seorang penduduk usia produktif hanya menanggung kurang dari 1 orang penduduk yang lain (0,70). Dependency ratio menyatakan rasio perbandingan antara kelompok penduduk usia tidak produktif (usia 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) terhadap kelompok penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun). Rasio ini menyatakan seberapa berat beban tanggungan yang harus dipikul oleh jumlah penduduk usia produktif. Rumus Dependency Ratio adalah jumlah penduduk usia (0-14 tahun) dan usia (65 tahun ke atas) dibagi dengan jumlah penduduk usia 15 – 64 tahun (BPS, 2009).

  1. 3. Masih lemahnya ekonomi dan ketahanan keluarga

Berdasarkan hasil pendataan Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin Jawa Timur pada bulan Mei 2006 sebanyak 7,456 juta orang. Sementara dari hasil pendataan pada bulan Maret 2007 diperoleh perkiraan jumlah penduduk miskin Jawa Timur sebanyak 7,138 juta orang yang terdiri dari 2.565.700 orang di wilayah perkotaan dan 4.572.000 orang di wilayah pedesaan. Dengan demikian selama sepuluh bulan terakhir terjadi penurunan jumlah penduduk miskin Jawa Timur sebanyak 318.000 orang atau dengan kata lain persentase penduduk miskin berkurang 1% poin dari, 19,94% pada Mei 2006 menjadi 18,93 % pada bulan Maret 2007. Penurunan tersebut sebagai hasil atau dampak dari berbagai program pengentasan kemiskinan serta peningkatan kegiatan ekonomi Jawa Timur secara umum (BPS, 2009).

Kondisi lemahnya ekonomi keluarga mempengaruhi daya beli termasuk kemampuan membeli alat dan obat kontrasepsi (Wirawan, 2008). Keluarga miskin pada umumnya mempunyai anggota keluarga cukup banyak. Kemiskinan menjadikan mereka relatif tidak memiliki akses dan bersifat pasif dalam berpartisipasi untuk meningkatkan kualitas diri dan keluarganya. Pada gilirannya, kemiskinan akan semakin memperburuk keadaan sosial ekonomi keluarga miskin tersebut. Demikian pula, tingkat partisipasi masyarakat terhadap pembinaan ketahanan keluarga, terutama pembinaan tumbuh-kembang anak, masih lemah. Hal di atas akan menghambat pembentukan keluarga kecil yang berkualitas (Gayuh, 2008).

4. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran pasangan usia subur dan remaja tentang hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi

Pengetahuan remaja di Jawa Timur tentang kesehatan reproduksi ternyata masih sangat rendah. Menurut data Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan, 83,7 persen remaja kurang memahami kesehatan reproduksi. Hanya 3,6 persen yang tahu pentingnya kesehatan reproduksi ketidaktahuan remaja tentang kesehatan reproduksi itulah yang diduga memicu tingginya angka aborsi di Jatim. Penelitian yang sama menemukan bahwa 15 persen responden pernah berhubungan seks (bersetubuh). Sementara, 17 persen responden pernah melakukan aksi ”meraba-raba” saat berpacaran. Hasil lain, 30 persen responden pernah berciuman bibir dan berpelukan (Jawa Pos, 09 Mei 2009).

Menurut Is 2009, jumlah aborsi di Jawa Timur meningkat, sekarang ini saja sudah 70% dari Usia pasangan subur melalukan aborsi. Sebagian besar mereka, tergolong masyarakat dengan kategori miskin dan hanya mempunyai keterbatasan pendidikan. Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat, orang tua, maupun remaja belum memahami hak-hak dan kesehatan reproduksi remaja (Ritya, 2009). Pemahaman dan kesadaran tentang hak dan kesehatan reproduksi remaja masih rendah dan tidak tepat. Masyarakat dan keluarga masih enggan untuk membicarakan masalah reproduksi secara terbuka dalam keluarga. Para anak dan remaja lebih merasa nyaman mendiskusikannya secara terbuka dengan sesama teman (Indra, 2007). Pemahaman nilai-nilai adat, budaya, dan agama yang menganggap pembahasan kesehatan reproduksi sebagai hal yang tabu justru lebih popular. Pendidikan kesehatan reproduksi remaja melalui jalur sekolah belum sepenuhnya berhasil (Astiti, 1994). Semua ini mengakibatkan banyaknya remaja yang kurang memahami atau mempunyai pandangan yang tidak tepat tentang masalah kesehatan reproduksi. Pemahaman yang tidak benar tentang hak-hak dan kesehatan reproduksi ini menyebabkan banyaknya remaja yang berperilaku menyimpang tanpa menyadari akibatnya terhadap kesehatan reproduksi mereka (Wirawan, 2008).

5. Rendahnya partisipasi pria dalam ber-KB

. Pencapaian kesertaan KB pria Propinsi Jawa Timur dapat dikatakan masih sangat rendah, khususnya pada masyarakat pedesaan. Rendahnya kesertaan KB pria dalam pelaksanaan program KB dan Kesehatan Reproduksi (KR) harus segera diatasi, mengingat pria merupakan penentu proses reproduksi itu sendiri. Pria merupakan partner reproduksi dan seksual, pria terlibat langsung dalam fertilitas dan kebanyakan pria adalah penanggung jawab sosial ekonomi keluarga (Hariastuti, 2008). Menurut Hariastuti, 2008  penyebab rendahnya partisipasi pria dalam ber-KB di Jawa Timur disebabkan beberapa hal diantaranya kebijakan dari tingkat yang lebih atas belum dapat sepenuhnya diterapkan di lapangan karena kondisi sarana dan prasarana yang kurang mendukung, misalnya keterbatasan kemampuan petugas pelayanan maupun tidak terpenuhinya standar pelayanan yang berkualitas. Hal lain perlu mendapat sorotan serius yaitu pola-pola kerja dengan paradigma lama program KB yang mengacu pada pencapaian target melalui penerapan ancaman, serta pandangan skeptis terhadap kemampuan masyarakat untuk mengadopsi informasi program. Pendekatan seperti ini akhirnya menyebabkan petugas di lini lapangan tidak memiliki cukup motivasi untuk menerapkan metode KIE, KIP/konseling sebagai perwujudan penghargaan terhadap hak-hak reproduksi. Selain itu, Akses terhadap pelayanan salah satu unsur pokok yang sangat erat hubungannya dengan kepuasan individu dan keberhasilan pencapaian program (BKKBN, 2009). Analisa hasil penelitian yang telah dilaksanakan, menunjukan bahwa alat kontrasepsi pria yang selama ini ada cukup terjangkau baik dari segi biaya maupun ketersediaannya. Meskipun demikian dibeberapa tempat sarana pelayanan KB pria masih sulit ditemukan karena kendala geografis yang tidak mendukung. Keterkaitan antara akses terhadap sarana pelayanan dengan kesertaan KB pria berdasarkan hasil temuan penelitian ini terbukti sangat kuat. Koefisien korelasi sebesar 0,283 dengan taraf signifikansi 0,004 menunjukkan keeratan hubungan antara kedua faktor tersebut. Selain itu, yang perlu mendapatkan perhatian lebih berdasar penelitian ini adalah perlunya pengembangan sarana pelayanan khusus pria dengan pertimbangan kebutuhan pria akan sarana pelayanan yang terjamin keamanan, kerahasiaan serta persepsi tentang minimnya permasalahan kesehatan yang muncul paska pelayanan kontrasepsi bagi pria (Ritya, 2009). Berdasarkan temuan dilapangan komplikasi paska pelayanan yang dialami pria terutama terjadi karena kurangnya kualitas pelayanan terutama pada unsur kompetensi petugas pelayanan (Winarni, 2005).

6. Masih kurang maksimalnya akses dan kualitas pelayanan KB

Saat ini di Jawa Timur belum semua fasilitas pelayanan kesehatan primer dapat melayani KB dan kesehatan reproduksi. Di samping hal tersebut, masih banyak pasangan usia subur yang menggunakan kontrasepsi yang kurang efektif dan efisien untuk jangka panjang (Soekarno, 2009).

Salah satu contoh kurang maksimalnya akses dan kualitas pelayanan KB adalah di Kabupaten Jember yang kehilangan sedikitnya seratus petugas penyuluh keluarga berencana, atau sekitar 36 persen dari jumlah yang ada pada tahun 2008. Hilangnya sejumlah petugas tersebut merupakan konsekuensi dari perubahan struktur kelembagaan dan adanya petugas yang pensiun atau meninggal. Padahal, penyuluh lapangan KB dan penyuluh KB (PLKB dan PLB) merupakan ujung tombak keberhasilan program keluarga berencana. Pasalnya, dalam tugasnya mereka dibekali pendidikan dan pelatihan khusus (Winarni, 2005). Kondisi ini semakin diperkuat dengan pasca otonomi daerah, para penyuluh lapangan berstatus sarjana dialihkan oleh pemerintah daerah untuk pembangunan sektor lain, sehingga terjadi kekurangan tenaga PLKB/PKB (Wirawan, 2008).

2.3 Pola Kebijakan KB berbasis masyarakat di Jawa Timur

Arah kebijakan dalam rangka meningkatkan pembangunan kependudukan dan keluarga berencana dijabarkan dalam program-program pembangunan sebagai berikut:

1. Program Pengembangan Kebijakan Kependudukan

Program ini bertujuan untuk menyeserasikan kebijakan kependudukan yang berkelanjutan.

Kegiatan pokoknya adalah :

a. Pengembangan kebijakan dan program pembangunan yang berwawasan kependudukan meliputi aspek kuantitas, kualitas, dan mobilitas;

b. Pengintegrasian faktor kependudukan ke dalam pembangunan sektor lainnya.

2. Program Penataan Administrasi Kependudukan

Program ini bertujuan untuk menata administrasi kependudukan dalam upaya mendorong terakomodasinya hak-hak penduduk, tertib administrasi penduduk, tersedianya data dan informasi penduduk yang akurat dan terpadu.

Kegiatan pokoknya adalah :

a. Penyempurnaan sistem pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, dan pengelolaan informasi kependudukan melalui Sistem Administrasi Kependudukan (SAK);

b. Penataan kelembagaan administrasi kependudukan yang berkelanjutan;

c. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam bidang administrasi informasi kependudukan.

3. Program Pengembangan Keluarga Berencana

Program ini bertujuan untuk memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi yang berkualitas.

Kegiatan pokoknya adalah :

a. Pengembangan kebijakan tentang pelayanan KB, komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) peran serta masyarakat dalam KB dan kesehatan reproduksi;

b. Peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi;

c. Peningkatan penggunaan kontrasepsi yang efektif dan efisien;

d. Penyediaan alat, obat dan cara kontrasepsi dengan memprioritaskan keluarga miskin serta kelompok rentan lainnya; dan

e. Penyelenggaraan promosi dan pemenuhan hak-hak dan kesehatan reproduksi.

4. Program Kesehatan Reproduksi Remaja

Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, sikap dan perilaku positif remaja tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi.

Kegiatan pokoknya adalah :

a. Pengembangan kebijakan pelayanan kesehatan reproduksi remaja;

b. Penyelenggaraan promosi kesehatan reproduksi remaja, pemahaman dan pencegahan HIV/AIDS dan bahaya NAPZA;

c. Penguatan dukungan dan partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan program kesehatan reproduksi remaja yang mandiri.

5. Program Penguatan Pelembagaan Keluarga Kecil Berkualitas

Program ini bertujuan untuk membina kemandirian dan sekaligus meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan KB dan kesehatan reproduksi.

Kegiatan pokoknya adalah :

a. Peningkatan kemampuan tenaga lapangan dan kemandirian kelembagaan KB yang berbasis masyarakat;

b. Pengelolaan data dan informasi keluarga berbasis data mikro.

BAB III

METODE PENULISAN

3.1 Sumber Data

Data dan fakta yang berhubungan dengan pembahasan tema ini didapatkan dengan tahapan-tahapan pengumpulan data dengan cara pembacaan kritis terhadap ragam literatur yang berhubungan dengan tema pembahasan.

Data yang digunakan adalah data dengan kriteria telah dipublikasikan kepada masyarakat melalui literatur yang diterbitkan, surat kabar, buletin, jurnal upun internet. Dengan demikian penulis mengelompokan atau menyeleksi data dan informasi berdasarkan ktegori dan relevansi untuk selanjutnya dianalisis dan disimpulkan.

3.2 Analisis Data

Dalam penulisan ini teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998), analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.

Untuk menganalisa data dan informasi yang didapat, digunakan analisis isi (content analysis).  Analisis isi adalah suatu teknik yang sistematik untuk menganalisis makna pesan dan cara mengungkapkan pesan. Analisis isi selalu melibatkan kegiatan menghubungkan atau membandingkan penemuan berupa kriteria atau teori. Langkah yang dilakukan dalam menganalisis data pada penelitian ini menggunakan interaktive model dari Miles dan Huberman (Miles dan Huberman, 1994). Model ini terdiri dari 4 komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan atau reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan dan pengujian atau verifikasi kesimpulan.

BAB IV

ANALISIS DAN SINTESIS

4.1 Analisis

Berdasarkan pustaka yang telah dikumpulkan didapatkan data bahwa pelu adanya upaya untuk membangkitkan pembangunan KB di Jatim (Winarni, 2005). Pemicu harus diadakanya upaya atau langkah-langkah startegis untuk meninkatkan pembangunan KB di Jawa Timur adalah masih tingginya jumlah penduduk di Jawa Timur dimana berdasarkan hasil Susenas 2006, jumlah rumahtangga di Jawa Timur tahun 2006 ada sebanyak 10.490.640 dengan jumlah penduduk 37.478.737 jiwa. Dengan demikian rata-rata banyaknya penduduk per rumahtangga  sebesar 3,57 orang. Dengan luas wilayah Jawa Timur sekitar 46.428 kilometer persegi, maka tingkat kepadatan penduduk Jawa Timur sebesar 807 jiwa per kilometer persegi (BPS Jatim, 2009). Selain  itu, masih rendahnya tingkat ekonomi masyarakat di Jawa Timur dimana berdasarkan hasil pendataan Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin Jawa Timur pada bulan Mei 2006 sebanyak 7,456 juta orang. Sementara dari hasil pendataan pada bulan Maret 2007 diperoleh perkiraan jumlah penduduk miskin Jawa Timur sebanyak 7,138 juta orang yang terdiri dari 2.565.700 orang di wilayah perkotaan dan 4.572.000 orang di wilayah pedesaan. Dengan demikian selama sepuluh bulan terakhir terjadi penurunan jumlah penduduk miskin Jawa Timur sebanyak 318.000 orang atau dengan kata lain persentase penduduk miskin berkurang 1% poin dari, 19,94% pada Mei 2006 menjadi 18,93 % pada bulan Maret 2007.

Dengan demikian perlu dilakukan upaya atau langkah-langkah strategis untuk meningkatkan pembangunajn KB di Jawa Timur agar tidak terjadi ledakan penduduk dan angka kemiskina yang semakin tinggi di jawa timur melalui strategi pembangunan KB berbasis masyarakat di Jawa Timur.

4.2 Sintesis

4.2.1 Pola Kebijakan KB berbasis masyarakat

Pola kebijakan Kb yang berbasis masyarakat adalah pola peningkatan KB yang didasarkan pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat (Anonymous, 2009). Pola ini harus dilakukan dengan dukungan dan partisipasi sepenuhnya dari masyarakat karena subjek dalam pola ini adalah masyarakat sehingga dituntut peran serta masyarakat dalam pola ini. Langkah-langkah dalam pola kebijakan KB berbasis masyarakat diantaranya adalah Program Pengembangan Kebijakan Kependudukan, Program Penguatan Pelembagaan Keluarga Kecil, Program Kesehatan Reproduksi Remaja, Program Pengembangan Keluarga Berencana, dan Program Penataan Administrasi Kependudukan

4.2. 2 Program Pengembangan Kebijakan Kependudukan

Program ini bertujuan untuk menyeserasikan kebijakan kependudukan yang berkelanjutan. Kegiatan pokoknya adalah :

a. Pengembangan kebijakan dan program pembangunan yang berwawasan kependudukan meliputi aspek kuantitas, kualitas, dan mobilitas;

b. Pengintegrasian faktor kependudukan ke dalam pembangunan sektor lainnya.

4.2.3 Program Penguatan Pelembagaan Keluarga Kecil

Keluarga merupakan tonggak utama untuk kemajuan masyarakat (Suyono, 2006). Oleh karena itu pelembagaan keluarga kecil mutlak diperlukan untuk meningkatkan upaya pembangunan KB (Mariyah, 1989). Program ini bertujuan untuk menata administrasi kependudukan dalam upaya mendorong terakomodasinya hak-hak penduduk, tertib administrasi penduduk, tersedianya data dan informasi penduduk yang akurat dan terpadu.  Kegiatan pokoknya adalah :

a. Penyempurnaan sistem pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, dan pengelolaan informasi kependudukan melalui Sistem Administrasi Kependudukan (SAK);

b. Penataan kelembagaan administrasi kependudukan yang berkelanjutan;

c. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam bidang administrasi informasi kependudukan.

4.2.4 Program Kesehatan Reproduksi Remaja

Pengetahuan remaja di Jawa Timur tentang kesehatan reproduksi ternyata masih sangat rendah. Menurut data Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan, 83,7 persen remaja kurang memahami kesehatan reproduksi. Hanya 3,6 persen yang tahu pentingnya kesehatan reproduksi ketidaktahuan remaja tentang kesehatan reproduksi itulah yang diduga memicu tingginya angka aborsi di Jatim. Oleh karena itu Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, sikap dan perilaku positif remaja tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi. Kegiatan pokoknya adalah :

a. Pengembangan kebijakan pelayanan kesehatan reproduksi remaja;

b. Penyelenggaraan promosi kesehatan reproduksi remaja, pemahaman dan pencegahan HIV/AIDS dan bahaya NAPZA;

c. Penguatan dukungan dan partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan program kesehatan reproduksi remaja yang mandiri.

4.2.5 Program Pengembangan Keluarga Berencana

KB adalah singkatan dari Keluarga Berencana. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), maksud daripada ini adalah: “Gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Dengan kata lain KB adalah perencanaan jumlah keluarga. Program ini bertujuan untuk memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi yang berkualitas. Kegiatan pokoknya adalah :

a. Pengembangan kebijakan tentang pelayanan KB, komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) peran serta masyarakat dalam KB dan kesehatan reproduksi;

b. Peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi;

c. Peningkatan penggunaan kontrasepsi yang efektif dan efisien;

d. Penyediaan alat, obat dan cara kontrasepsi dengan memprioritaskan keluarga miskin serta kelompok rentan lainnya; dan

e. Penyelenggaraan promosi dan pemenuhan hak-hak dan kesehatan reproduksi.

4.2.6 Program Penataan Administrasi Kependudukan

Program ini bertujuan untuk menata administrasi kependudukan dalam upaya mendorong terakomodasinya hak-hak penduduk, tertib administrasi penduduk, tersedianya data dan informasi penduduk yang akurat dan terpadu. Kegiatan pokoknya adalah :

a. Penyempurnaan sistem pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, dan pengelolaan informasi kependudukan melalui Sistem Administrasi Kependudukan (SAK);

b. Penataan kelembagaan administrasi kependudukan yang berkelanjutan;

c. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam bidang administrasi informasi kependudukan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

v     KB sangat penting bagi pembangunan di Jawa Timur

v     Alasan mengapa KB sangat penting di Jawa Timur diantaranya adalah: Masih tingginya laju pertumbuhan dan jumlah penduduk, . Masih kurang maksimalnya akses dan kualitas pelayanan KB, Rendahnya partisipasi pria dalam ber-KB, Kurangnya pengetahuan dan kesadaran pasangan usia subur dan remaja tentang hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi, Masih lemahnya ekonomi dan ketahanan keluarga, dan Masih tingginya tingkat kelahiran penduduk.

v     Pola Kebijakan KB berbasis masyarakat yang dapat dilakukandi Jawa Timur diantaranya adalah: Program Penguatan Pelembagaan Keluarga Kecil Berkualitas, Program Kesehatan Reproduksi Remaja, Program Pengembangan Keluarga Berencana, Program Penataan Administrasi Kependudukan, Program Pengembangan Kebijakan Kependudukan

4.2 Saran

v     Pemerintah, terutama Pemprov Jawa Timur agar lebih meningkatkan kegiatan KB sebagai antisipasi adanya ledakan penduduk

v     Masyarakat diharapkan lebih rajin untuk ikut serta dalam program KB, agar bisa menciptakan keluarga yang sejahtera.

v     Pola kebijakan KB yang dapat dilakukan pemerintah harus selalu berbasiskan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Astiti,Tjok Istri Putra. 1994. Pengaruh Hukum Adat dan Program Keluarga Berencana Terhadap Nilai Anak Laki-Laki dan Perempuan pada Masyarakat yang Sedang Berubah.. Disertasi Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Mariyah, Emiliana.1989. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Kontrasepsi pada Masyarakat Jawa Timur. Tesis Program Pascasarjana S2 Gadjah Mada.

Sriudayani,Ida Ayu. 2003. Peran Perempuan Dalam pengambilan Keputusan di Dalam Keluarga Untuk Bidang KB-KR.Jakarta: Lembaga Puslitbang Ks-PKP BKKBN, http://www.pikas.bkkbn.go.id/ditfor/research detail.php, diakses pada tanggal 1 Juli 2009.

Winarni Endah.2005. Partisipasi Pria Dalam ber-KB ( Sumber data : SDKI 2002-2003); Jakarta, Lembaga Puslitbang KB-KR BKKBN, http://www.pikas.bkkbn.go.id/ditfor/researchdetail.php, diakses tanggal 1 Juli 2009.

Gayuh, Putranto. Telaah Geologi dan Kemiskinan Jawa Timur. (Online). http://gayuhputranto.wordpress.com/tag/buku/. Diakses Tanggal 2 Juli 2009.

Anonymous, 2009. KB Wujudkan Keluarga Berkualitas. (Online). Diakses Tanggal 1 Juli 2009. http://www.gadjahmada.edu/index.php?page=rilis&artikel=2156. Diakses Tanggal 1 Juli 2009.

Ritya, Gilberto. 2009. KB Aktif Belum Capai 70 Persen dari Total Pasangan Usia Subur (Online). http://hierobokilia.blogspot.com/2009/04/kb-aktif-belum-capai-70-persen-dari.html. Diakses Tanggal 1 Juli 2009.

Wikipedia. 2009. Keluarga berencana. (Online). http://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga_Berencana. Diakses Tanggal 2 Juli 2009.

Wikipedia. 2009. Jawa Timur. (Online). http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur. Diakses Tanggal 2 Juli 2009.

Wirawan, 2008. Jember Kehilangan 100 Penyuluh KB. (Online). http://www.beritajatim.com/tag.php?tag=kb. Diakses Tanggal 1 Juli 2009.

BPS Jatim. 2009. Data Kependudukan Jawa Timur. (Online). www.bps.jatim.go.id. Diakses Tanggal 1 Juli 2009.

Jawa Pos. 13 Mei 2009. Ancam Ledakan Jumlah Penduduk

Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rinek

BKKBN. 2009. Problematika KB. (Online). http://www.bkkbn.go.id.artikel//23455/566.php. Diakses Tanggal 1 Juli 2009.

Soekarno, Rahardi. 2009. Gubernur Belum Puas Program KB Jatim. (Online). http://www.beritajatim.com/tag.php?tag=KB%20Gubernur%20Jatim. Diakses Tanggal 1 Juli 2009.

Anonymous. 2009. Tayangan Kb Di Tv Lokal, Upaya Mendongkrak Peserta Kb. (Online). http://www.bkkbn.go.id/Webs/DetailBerita.aspx?MyID=6817. Diakses Tanggal 1 Juli 2009.

BPS Jatim. 2009. Kependudukan. (Online). www.bps_jatim.go.id.kependudukan.99099///.53637. Diakses Tanggal 1 Juli 2009

Lampiran

BIODATA PENULIS

Nama                                : Huzaifah Hamid

Nim                                   : 07330075

T.T Lahir                          : Lokayong, 17 Agustus 1989

Jenis Kelamin                  : Laki-laki

Alamat                            : Jl. Tlogomas Barat no 48 Malang

HP                                     : 081334238462

Riwayat Pendidikan        :

  1. SDN Jepara I No 90 Surabaya lulus tahun 2001
  2. SMP Muhammadiyah 11 Surabaya lulus tahun 2004
  3. SMA Negeri 8 Surabaya lulus tahun 2007
  4. S1 Jurusan Pendidikan Biologi FKIP-UMM- Sekarang

Aktivitas Nonakademik:

1. Ketua Umum HMJ Biologi UMM 2008 – 2009

2.  Anggota UKM FDI UMM 2008 – Sekarang

08/25/2010 Posted by | CONTOH LKTM | 1 Komentar

Belajar dan Pembelajaran

BBEELLAAJJAARR DDAANN PPEEMMBBEELLAAJJAARRAAN

BBEELLAAJJAARR ::

Belajar merupakan suatu kegiatan yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Sejak lahir manusia telah melakukan kegiatan belajar untuk memenuhi kebutuhan sekaligus mengembangkan dirinya. Oleh karena itu belajar sebagai suatu kegiatan telah dikenal dan bahkan sadar atau tidak telah dilakukan oleh manusia. Namun pengertian yang lengkap atau memenuhi keinginan semua orang, sampai sekarang boleh dikatakan belum ada. Hal ini tidak berarti kita tidak perlu dan tidak dapat memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan Belajar.

Para ahli telah mencoba menjelaskan pegertian belajar dengan mengemukakan berbagai rumusan atau definisi menurut sudut pandang masing – masing. Baik bentuk rumusan, maupun aspek – aspek yang ditekankan dalam belajar, berbeda antar ahli yang satu dengan yang lain. Namun demikian, satu hal yang perlu dikemukakan bahwa Pengertian Belajar dapat dibedakan menjadi 2 pengertian, yaitu : Pengertian Belajar Secara Populer (Umum) dan Pengertian Belajar Secara Khusus.

Pegertaian Belajar scr. Populer adalah pengertian belajar secara umum, tanpa mengacu kepada suatu aliran psikologi tertentu. (David R. Shaffer ; N.L.Gage ; W.S.Winkel ; etc)

Pengertian Belajar scr. Khusus adalah pengertian belajar yang sudah diwarnai atau dipengaruhi oleh suatu aliran psikologi tertentu. (Psikologi Behavioristik ; Psikologi Kognitif ; Psikologi Humanistik ; Psikologi Gestalt)

PEMBELAJARAN :

Kegiatan pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar. Penggunaan istilah pembelajaran sebagai pengganti Mengajar relative baru. Penggunaan istilah ini mempunyai dasar yang kuat, yang menyangkut perubahan filosofi pendidikan yang lebih manusiawi. Dimana dalam istilah ini terasa ada pengakuan terhadap kemampuan mahasiswa untuk belajar, dan kemampuan ini akan terwujud apabila dibantu dan dibimbing oleh guru.

Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dan tugas guru adalah mengkoordinasikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai usaha sadar pendidik untuk membantu peserta didik agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Disini pendidik berperan sebagai fasilitator yang menyediakan fasilitas dan menciptakan situasi yang mendukung peningkatan kemampuan belajar peserta didik.

Dalam perkembangannya, metode pembelajaran ini banyak mengalami perubahan dengan berbagai macam dari yang tradisional hingga yang muthakir. Metode pembelajaran muthakir yang berkembang saat ini diantaranya adalah “Metode Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences” (Dr. Howard Gardner,1983) dan “Sistem Pembelajaran Kontekstual (CTL= Contextual Teaching and Learning”, Elaine B. Johnson). Kedua metode tersebut dirasakan sangat sesuai dengan prinsip pembelajaran modern, dimana pada kedua metode tersebut berorientasi pada kemampuan dan keunikan peserta didik yang mempunyai potensi kondrati yang dibawa sejak lahir dan memerlukan bimbingan dalam pengembangannya. Kedua metode ini sama – sama didasari oleh pengakuan terhadap keunikan manusia, yang masing – masing mempunyai kemampuan yang berbeda – beda.

RAAGGAAMM PPEENNDDEEKKAATTAANN BBEELLAAJJAARR

PPeennddeekkaattaann BBeellaajjaarr yygg RReepprreesseennttaattiiff

BBanyak pendekatan belajar yang dapat anda ajarkan kepada mahasiswa untuk mempelajari bidang studi atau materi pelajaran yang sedang mereka tekuni dari yang paling klasik sampai yang paling modern, diantaranya :

11.. PPeennddeekkaattaann HHuukkuumm JJoosstt

• Perumpamaan pendekatan belajar dengan cara bertahap (mencicil/sedikit demi sedikit).

• Menurut Reber (1988), salah satu asumsi pendting yang mendasari Hukum Jost (Jost’s Law) adalah Siswa lebih sering mempraktikkan materi pelajaran akan lebih mudah memanggil kembali memori – memori lama yang berhubungan dengan materi yang akan ditekuni.

Contoh :

Belajar dengan kiat 5 x 3 adalah lebih baik daripada 3 x 5 walaupun perkalian kedua kelipatan tersebut adalah sama.

Maksudnya : Mempelajari suatu materi dengan alokasi waktu 3 jam perhari selama 5 hari akan lebih efektif daripada mempelajari materi tersebut dengan alokasi waktu 5 jam sehari tetapi hanya selama 3 hari.

22.. PPeennddeekkaattaann BBaallllaarrdd && CCllaanncchhyy

• Menurut Ballard & Clanchy (1990), pendekatan belajar mahasiswa pada umumnya dipengaruhi oleh sikap terhadap ilmu pengetahuan (Attitude to Knowledge), yang terdiri atas :

a) Sikap Conserving (Melestarikan apa yang sudah ada)

Siswa / mahasiswa yang bersikap Conserving pada umumnya menggunakan pendekatan belajar Reproduktif (bersifat menghasilkan kembali fakta dan informasi).

b) Sikap Extending (Memperluas) Siswa / mahasiswa yang bersikap Extending biasaya menggunakan pendekatan Analitis (berdasarkan pemilihan & interpretasi fakta dan informasi) dan pendekatan Spekulatif (berdasarkan pemikiran mendalam) yang bukan saja bertujuan menyerap pengetahuan tetapi juga mengembangkannya.

• Perbandingan Pendekatan menurut Ballard dan Clanchy

RRAAGGAAMM PPEENNDDEEKKAATTAANN BBEELLAAJJAARR DDAANN CCIIRRII KKHHAASSNNYYAA
REPRODUKTIF ANALITIS SPEKULATIF
STRATEGI

􀂾 Menghafal

􀂾 Meniru

􀂾 Menjelaskan

􀂾 Meringkas

􀂾 Berpikir kritis

􀂾 Mempertanyakan

􀂾 Menimbang

􀂾 Berargumen

􀂾 Sengaja mencari kemungkinan dan penjelasan baru.

􀂾 Berspikulasi dan membuat hipotesis

PERTANYAAN

􀂙 Apa ….?

􀂙 Mengapa ….. ?

􀂙 Bagaimana …?

􀂙 Apa benar ….?

􀂙 Apa penting ..?

􀂙 Bagaimana kalau…………. ?

TUJUAN

Pembenaran / Penyebutan kembali

Pembentukan kembali materi kedalam pola baru / berbeda.

Menciptakan pengetahuan baru.

33.. PPeennddeekkaattaann BBiiggggss

• Menurut hasil penelitian Biggs (1991), pendekatan belajar siswa/mahasiswa dapat dikelompokkan ke dalam 3 Prototipe ( Bentuk Dasar ), yaitu :

a) Pendekatan Surface (Permukaan / Bersifat Lahiriah) Mau belajar karena dorongan dari luar (ekstrinsik), misalnya : takut tidak lulus yang menyebabkan dia malu. Sehingga gaya belajarnya santai, asal hafal dan tidak mementingkan pemahaman yang mendalam.

b) Pendekatan Deep (Mendalam) Mempelajari materi karena memang tertarik dan merasa membutuhkannya (instrinsik). Oleh karena itu gaya belajarnya serius dan berusaha mendalami materi secara mendalam serta memikirkan cara mengaplikasikannya. Bagi siswa seperti ini, lulus dengan nilai baik adalah penting, tetapi yang lebih penting adalah memiliki pengetahuan yang cukup banyak dan bermanfaat bagi kehidupannya.

c) Pendekatan Achieving (Pencapaian Prestasi Tinggi)

Dilandasi oleh motif ekstrinsik yang berciri khusus yang disebut Ego-Enhancement yaitu : ambisi pribadi yang besar dalam meningkatkan prestasi keakuan dirinya dengan cara meraih indeks prestasi setinggi – tingginya.

Memiliki keterampilan belajar (Study Skills) dalam arti : sangat cerdik dan efisien dalam mengatur waktu, ruang kerja dan penelaahan isi materi.

Berkompetisi dengan teman – teman dalam meraih nilai tertinggi adalah penting, sehingga sangat disiplin, rapid an sistematis serta berencana maju ke depan (plans ahead).

Table perbandingan prototipe pendekatan belajar menurut Biggs :

PENDEKATAN BELAJAR MOTIF & CIRI STRATEGI
Surface Approach

􀂙 Ekstrinsik

􀂙 Dengan ciri : menghindari kegagalan tetapi tidak belajar keras.

􀂙 Memusatkan pada rincian – rincian materi dan mereproduksi secara persis.

Deep Approach

􀂙 Instrinsik

􀂙 Dengan ciri : berusaha memuaskan keingintahuannya terhadap isi materi.

􀂙 Memaksimalkan pemahaman dengan berpikir, banyak membaca dan diskusi.

Achieving Approach

􀂙 Ego-Enhancement

􀂙 Dengan ciri : bersaing untuk meraih nilai prestasi tertinggi.

􀂙 Mengoptimalkan pengaturan waktu dan usaha (Study Skills)

METODE BELAJAR SQ3R

Suatu Metode Memahami Teks/Bacaan

Metode ini dikembangkan oleh Francis P. Robinson di Universitas Negeri Ohio Amerika Serikat, yang bersifat praktis dan dapat diaplikasikan dalam berbagai pendekatan belajar. SQ3R merupakan singkatan dari langkah – langkah mempelajari teks yang meliputi :

1. SSUURRVVEEYY :

Memeriksa atau meneliti atau mengindentifikasi seluruh teks dalam bacaan.

22.. QQUUEESSTTIIOONN ::

Menyusun daftar pertanyaan yang relevan dengan teks yang dipelajari.

33.. RREEAADD ::

Membaca teks secara aktif untuk mencari jawaban atas pertayaan – pertanyaan yang telah disusun.

44.. RREECCIITTEE ::

Menghafal setiap jawaban yang telah ditemukan.

55.. RREEVVIIEEWW ::

Meninjau ulang seluruh jawaban atas pertanyaan yang tersusun.

PPEERRUUMMUUSSAANN TTUUJJUUAANN PPEEMMBBEELLAAJJAARRAANN && KKAAIITTAANNNNYYAA DDEENNGGAANN TTAAKKSSOONNOOMMII HHAASSIILL BBEELLAAJJAARR..

HHasil belajar yang dicapai oleh mahasiswa sangat erat kaitannya dengan rumusan tujuan pembelajaran yang direncanakan oleh guru sebalumnya. Hal ini dipengaruhi pula oleh kemampuan guru sebagai perancang (designer) belajar – mengajar. Untuk itu guru dituntut untuk menguasai Klasifikasi Tujuan Pendidikan ( Taxonomy of Educational Objectives ). Tujuan pembelajaran pada umumnya dikelompokkan ke dalam 3 kategori, yaitu :

1. Domain Kognitif,

Mencakup tujuan yang berhubungan dengan ingatan (recall), pengetahuan, dan kemampuan intelektual.

2. Domain Afektif,

Mencakup tujuan – tujuan yang berhubungan dengan perubahan – perubahan sikap, nilai, perasaan dan minat.

3. Domain Psikomotor.

Mencakup tujuan – tujuan yang berhubungan dengan manipulasi dan kemampuan gerak (motor).

AA.. KKllaassiiffiikkaassii TTuujjuuaann KKooggnniittiiff ((BBlloooomm,,11995566)) ::

Domain Kognitif terdiri atas 6 bagian sebagai berikut :

1. Ingatan (recall) / Pengetahuan

Mengacu kepada kemampuan mengenal atau mengingat materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori – teori yang sukar.

Yang penting adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar.

2. Pemahaman

Mengacu kepada kemampuan memahami makna materi. Aspek ini satu tingkat diatas pengetahuan dan merupakan tingkat berpikir yang rendah.

3. Penerapan Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan atau prinsip.

4. Analisis

Mengacu kepada kemampuan menguraikan materi kedalam komponen – komponen atau factor penyebabnya dan mampu memahami hubungan diantara bagian yang satu dengan yang lainnya, sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti.

5. Sintesis

Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponen – komponen, sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru.

6. Evaluasi

Mengacu kepada kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai – nilai materi untuk tujuan tertentu. Evaluasi merupakan tingkat berpikir yang tinggi.

BB.. KKllaassiiffiikkaassii TTuujjuuaann AAffeekkttiiff ((KKrraatthhwwoohhll,, 11996644)) ::

Terbagi dalam 5 kategori, yakni :

1. Penerimaan

Mengacu pada kesukarelaan dan kemampuan memperhatikan dan memberikan respons terhadap stimulasi yang tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar yang terendah dalam domain afektif.

2. Pemberian Respons

Dalam hal ini, mahasiswa mulai terlibat secara aktif, menjadi peserta dan tertarik.

3. Penilaian

Mengacu pada nilai – nilai pribadi yang ditandai dengan reaksi – reaksi seperti menerima, menolak atau tidak menghiraukan. Hal ini dapat terlihat dalam sikap dan apresiasi.

4. Pengorganisasian Mengacu kepada penyatuan nilai. Sikap – sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik – konflik internal dan akhirnya membentuk suatu system nilai internal mahasiswa yang tercermin dalam perilakunya.

5. Karakterisasi

Mengacu pada karakter dan gaya hidup seseorang. Tujuan dalam kategori ini ada hubungannya dengan ketentuan pribadi, social dan emosi mahasiswa.

CC.. KKllaassiiffiikkaassii TTuujjuuaann PPssiikkoommoottoorr ((DDaavvee,, 11997700)) ::

Terbagi dalam 5 kategori sebagai berikut :

1. Peniruan

Terjadi ketika mahasiswa mengamati suatu gerakan. Mahasiswa mulai memberi respons serupa dengan yang diamatai. Mengurangi koordinasi dan control otot – otot syaraf. Peniruan ini pada umumnya dalam bentuk global dan belum sempurna.

2. Manipulasi

Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan – gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini, mahasiswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk – petunjuk dan tidak hanya meniru tingkah laku saja.

3. Ketetapan

Memerlukan kecermatan, proporsi dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Respons – respons lebih terkoreksi dan kesalahan – kesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum.

4. Artikulasi

Menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan mencapai yang diharapkan atau terbentuk konsistensi internal diantara gerakan – gerakan yang berbeda.

5. Pengalamiahan

Menuntut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotor.

08/25/2010 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | 2 Komentar

ANALISIS PENGADAAN AKTIVA TETAP ANTARA LEASING DENGAN PEMBIAYAAN KREDIT BANK

A. JUDUL PROGRAM

Analisis Investasi Aktiva Tetap Antara Leasing Dengan Pembelian Kredit

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Penelitian ini merupakan studi kasus pada Perusahaan Rokok Sumber Djaya, Wajak, Malang dengan judul ?Analisis Investasi Aktiva Tetap Antara Leasing dengan Pembiayaan Kredit Bank?. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan membandingkan alternative pembiayaan mana yang lebih menguntungkan dalam pengadaan aktiva tetap antara leasing dengan pembiayaan kredit bank yang akan diterapkan oleh Perusahaan Rokok Sumber Djaya.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode analisis sebagai berikut: Analisis produktivitas usaha, yaitu untuk mengetahui seberapa jauh jumlah kapasitas perusahaan dapat memenuhi permintaan. Analisis ini terdiri dari analisis penggunaan kapasitas, analisis least square dan analisis selisih. Analisis yang kedua adalah dengan membandingkan antara proyeksi laba bersih dari kedua alternative serta membandingkan beban dari keua alternative. Analisis yang terakhir adalah analisis kelayakan investasi, yaitu dengan mengukur COC,CCOC, NPV, IRR dan NBCR.

Hasil evaluasi yang telah dilakukan penulis terhadap perusahaan adalah permintaan perusahaan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Namun, perusahaan belum bisa memenuhi permintaan tersebut karena terbatasnya kapasitas produksi saat ini. Hal ini sangat merugikan perusahaan apabila perusahaan tidak menambah kapasitas produksinya. Salah satu usaha adalah dengan melakukan pembelian mesin produksi. Untuk membiayai pengadaan mesin produksi rokok terdapat dua alternative pilihan yaitu dengan melakukan leasing dan pembiayaan kredit bank.

Dari hasil proyeksi laba/rugi tahun yang akan datang, laba diperoleh perusahaan untuk alternative leasing pada tahun pertama Rp.2.730.424.518 tahun kedua Rp.2.720.080.303 dan tahun ketiga Rp.2.720.271.679 sedangkan laba bersih alternative pembiayaan kredit bank untuk tahun pertama sebesar Rp.2,796,666,293 tahun kedua Rp.2,805,921,991 dan tahun ketiga Rp.2,828,188,216. Cash In Flow perusahaan untuk alternative leasing pada tahun pertama Rp. 2,848,861,018 tahun kedua Rp. 2,838,516,803 dan tahun ketiga Rp.2,838,708,179 sedangakan Cash In Flow untuk alternative pembiayaan kredit bank pada tahun pertama Rp3,015,102,793 tahun kedua Rp. 3,024,358,491 dan tahun ketiga Rp. 3,046,624,716. Analisis yang terakhir adalah analisis kelayakan dengan mengukur NPV leasing sebesar Rp. 2.880.656.355 dan kredit bank Rp. 3.327.361.303, IRR leasing 50,54%dan IRR kredit bank 56,01% PP leasing 16,77 bulan dan PP kredit bank 15,82 bulan serta NBCR leasing 172,42% dan kredit bank 183,65%

Berdasarkan analisis diatas, alternative pembiayaan yang paling menguntungkan adalah  kredit bank untuk pengadaan mesin produksinya sehingga perusahaan dapat memenuhi permintaan pasar.

Semangat good governance akhir-akhir ini meningkat seiring dengan meningkatnya semangat reformasi di Indonesia. Meningkatnya good governance di Indonesia dipicu oleh keterpurukan ekonomi nasional yang melanda Indonesia dan beberapa negara tetangga, namun Negara-negara tetangga yang terkena krisis dapat pulih dengan cepat dibandingkan dengan Indonesi. Lambatnya pemulihan keterpurukan ekonomi Indonesia disebabkan oleh pemerintah orde baru yang mengabaikan penerapan good governance pada sistem pemerintahannya (Soelendro,2000).

RSD sebagai salah satu organisasi sektor publik dalam pengelolaannya juga harus dilakukan dengan transparansi dan akuntabilitas publik. Namun demikian, pengelolaan RSD belum sesuai dengan harapan masyarakat. Masyarakat belum mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal dari RSD serta transparansi dan akuntabilitas publik masih rendah. Kondisi ini terjadi karena belum diimplementasikannya good governance secara optimal. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilaksanakan oleh Boz Allen, bahwa Indonesia merupakan negara yang pelaksanaan Good Corporate governance-nya paling rendah.

Kondisi ini baik secara langsung maupun tidak langsung berimbas pada paradigma Rumah Sakit Swasta sebagai salah satu organisasi sektor publik yang berorintasi pada profit oriented, dan kini harus merubah orientasinya dengan memadukan service public oriented dan profit oriented.

Layaknya sebuah unit usaha bisnis, rumah sakit merupakan suatu lembaga yang diorganisir dan dijalankan agar kelangsungan hidup serta perkembangannya dapat terpelihara dengan baik. Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang merupakan salah satu rumah sakit swasta yang menjalankan fungsinya untuk melayani kesehatan masyarakat untuk wilayah Malang dan sekitarnya. Seiring dengan meningkatnya tuntutan masyarakat mengenai kebutuhan akan jasa dan pelayanan yang berkualitas, maka hal ini merupakan tantangan bagi pihak manajemen rumah sakit untuk tetap eksis dalam kegiatan operasionalnya. Berdasarkan keadaan tersebut maka perusahaan diharapkan selalu mengadakan penilaian atas kinerja yang telah dicapai baik yang bersifat financial maupun non financial, sehingga dapat dijadikan bahan evaluasi dalam pencapaian tujuan perusahaan secara maksimal.

Penelitian Prasetyono dkk (2007), mengenai Analisis Kinerja Rumah Sakit Daerah Pendekatan Balanced Scoecard Berdasarkan Komitmen Organisasi, Pengendalian Intern Dan Penerapan Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (Survei Pada Rumah Sakit Daerah di Jawa Timur). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa, Hubungan variabel komitmen organisasi dan pengendalian intern sebesar 0,629 good corporate governance sebesar 0,684 dalam kategori hubungan yang kuat, Terdapat korelasi yang signifikan antara komitmen organisasi dan pengendalian intern terhadap good corporate governance dengan skore yang sedang (0,488), Komitmen organisasi, pengendalian intern dan good corporate governance secara simultan variabel berpengaruh secara siginifikan terhadap kinerja RSD. Besarnya pengaruh secara simultan dalam kategorii sedang (42,3 %), Secara parsial komitmen organisasi, pengendalian intern dan good corporate governance berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap kinerja RSD.

Hasil penelitian Alexander dan Weiner (1998) dalam Pratolo (2006), tentang adopsi model corporate governance pada organisasi non profit, ditemukan bahwa, Kinerja organisasi secara positif berhubungan dengan adopsi model corporate governance oleh rumah sakit non profit, Ukuran organisasi secara positif berhubungan dengan adopsi model corporate governance oleh rumah sakit non profit, Kompetensi di pasar rumah sakit berhubungan secara negatif dengan adopsi model corporate governance oleh rumah sakit non profit, Banyak sumber daya di pasar rumah sakit berhubungan secara positif dengan adopsi model corporate governance oleh rumah sakit non profit, Rumah sakit non profit yang menjadi anggota asosiasi cenderung lebih mengadopsi model corporate governance, Rumah sakit non profit yang terstruktur secara corporate cenderung mengadopsi model corporate governance, Rumah sakit non profit pemerintah cenderung kurang mengadopsi model corporate governance dibandingkan rumah sakit non profit non pemerintah

Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan penerapan good corporate governance dengan Prinsip-prinsip good corporate governance menurut OEDC (1998) dalam FCGI (2002: 1), yang meliputi keadilan (fairness), transparansi (transparancy), akuntabilitas (accountability), dan responsibilitas (responsibility) melalui pendekatan balanced scorecard yang yang mencakup empat perspektif yaitu, (keuangan, customers, proses bisnis intern serta pembelajaran dan pertumbuhan), sebagai tolak ukur kinerja Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang. Dari penelitian ini kita dapat mengukur kinerja dari RS aisiyah Malang setalah diterapkannya good corporate governace. Kegunaan penelitian bagi organisasi/rumah Sakit Islam Aisyiyah yaitu diharapkan dapat memberikan sesuatu pandangan teoritis dan taktis dalam hal pengukuran kinerja yang didasarkan pada strategi perusahaan melalui pendekatan balanced scorecard.

C. RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana penerapan metode leasing dalam perolehan aktiva tetap?
  2. Bagaimana penerapan metode pembelian kredit dalam perolehan aktiva tetap?
  3. Metode mana yang paling tepat digunakan perusahaan x untuk memperoleh untuk memperoleh aktiva tetap?
  4. Asumsi apa yang mendasari masing-masing metode agar penerapannya sesuai kondisi dalam peningkatan profitabilitas?

D. TUJUAN PROGRAM

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alternatif pembelian yang paling menguntungkan antara leasing dengan pembelian melalui kredit bank, ditinjau dari dampak atau pengaruh biaya yang dapat dikurangkan untuk masing-masing pilihan transaksi aktiva tetap terhadap pajak penghasilan yang dapat dihemat oleh perusahaan. Rancangan penelitian yang digunakan berupa studi kasus deskriptif dengan 2 dua jenis data yaitu data kualitatif dan data kuantitatif.

Data berasal dari sumber yang asli atau disebut data primer. Sumber data digolongkan menjadi sumber informasi internal dari dalam perusahaan dan eksternal dari luar perusahaan. Alat yang digunakan untuk memperoleh data adalah daftar pertanyaan pedoman wawancara, sedangkan metode pengumpulan datanya adalah metode survei yaitu melalui interview atau wawancara secara langsung.

Perusahaan merupakan unit analisis dalam penelitian ini. Data dianalisis dengan menggunakan logika penjodohan pola.

Penelitian ini membuktikan bahwa alternatif pembelian melalui sewa guna usaha dengan hak opsi finance lease merupakan alternatif yang paling menguntungkan karena penghematan pajak yang diperoleh perusahaan untuk altematif ini lebih besar dibandingkan altematif pembelian melalui kredit bank. Dengan demikian akan lebih menguntungkan bagi perusahaan jika memilih alternatif pembelian melalui sewa guna usaha dengan hak opsi finance lease sebagai dasar pengambilan keputusan dalam memperoleh aktiva tetap.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan good corporate governance di RS Aisyiyah Malang dengan Prinsip-prinsip good corporate governance yang menurut OEDC (1998) dalam FCGI (2002: 1) yaitu, keadilan (fairness), transparansi (transparancy), akuntabilitas (accountability), dan responsibilitas (responsibility) melalui pendekatan balanced scorecard yang yang mencakup empat perspektif yaitu, (keuangan, customers, proses bisnis internal serta pembelajaran dan pertumbuhan), sebagai tolak ukur kinerja Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang.

Hal ini dilakukan untuk membuktikan keadilan (fairness), transparansi (transparancy), akuntabilitas (accountability), dan responsibilitas (responsibility) Yang selama ini diabaikan beberapa RS di Indonesia karena banyak instansi sektor publik  di Indonesia yang hanya berorientasi kepada profit oriented dan mengesampingkan service public oriented.

Penelitian ini menggunakan pendekatan balanced scorecard agar dapat memberikan manfaat kepada organisasi seperti, Menjelaskan visi organisasi, Menyelaraskan organisasi untuk mencapai visi organisasi, Mengintegrasikan perencanaan strategis dan alokasi sumber daya, Meningkatkan efektivitas manajemen dengan menyediakan informasi yang tepat untuk mengarahkan perubahan.

Informasi yang diberikan melalui pendekatan balanced scorecard ini meliputi aspek keuangan dan juga aspek non-keuangan. Kedua aspek ini dapat digunakan untuk mengukur kinerja karyawan yang ada di RS Aisyiyah Malang. Selain itu balanced scorecard dapat membantu manajer untuk mengukur secara komperhensif bagaimana organisasi mencapai kemajuan lewat sasaran-sasaran strategisnya.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN

Peneltian yang berudul “Analisis Investasi Aktiva Tetap Antara Leasing Dengan Pembelian Kredit ini diharapkan dapat menambah referensi ilmiah untuk penelitian selanjutnya.

F. KEGUNAAN PROGRAM

1. Aspek Ekonomi

Kegunaan program ini bagi masyarakat adalah untuk menambah pengetahuan masyarakat tentang berbagai alternatif yang paling menguntungkan  bagi perusahaan  dalam rangka  pengadaan aktiva tetap. Dengan kita mengetahui alternatif yang pantas digunakan maka perusahaan dapat meminimalkan beban operasi perusahaan, sehingga akan meningkatkan profit perusahaan.

2. Aspek Iptek

kegunaan program ini bagi organisasi atau RS Aisyiyah Malang adalah untuk mendeskripsikan tentang bagaimana penerapan good corporate governance terhadap kinerja dari RS Aisyiyah Malang yang diukur melalui pendekatan balanced scorecard yang meliputi perspektif keuangan, customers, proses bisnis intern serta pembelajaran dan pertumbuhan.

G. TINJAUAN PUSTAKA

1. Penelitian Terdahulu

Penelitian Prasetyono dkk (2007), mengenai Analisis Kinerja Rumah Sakit Daerah Pendekatan Balanced Scoecard Berdasarkan Komitmen Organisasi, Pengendalian Intern Dan Penerapan Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (Survei Pada Rumah Sakit Daerah di Jawa Timur). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa, Hubungan variabel komitmen organisasi dan pengendalian intern sebesar 0,629 good corporate governance sebesar 0,684 dalam kategori hubungan yang kuat, Terdapat korelasi yang signifikan antara komitmen organisasi dan pengendalian intern terhadap good corporate governance dengan skore yang sedang (0,488), Komitmen organisasi, pengendalian intern dan good corporate governance secara simultan variabel berpengaruh secara siginifikan terhadap kinerja RSD. Besarnya pengaruh secara simultan dalam kategorii sedang (42,3 %), Secara parsial komitmen organisasi, pengendalian intern dan good corporate governance berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap kinerja RSD.

Hasil penelitian Alexander dan Weiner (1998) dalam Pratolo (2006), tentang adopsi model corporate governance pada organisasi non profit, ditemukan bahwa, Kinerja organisasi secara positif berhubungan dengan adopsi model corporate governance oleh rumah sakit non profit, Ukuran organisasi secara positif berhubungan dengan adopsi model corporate governance oleh rumah sakit non profit, Kompetensi di pasar rumah sakit berhubungan secara negatif dengan adopsi model corporate governance oleh rumah sakit non profit, Banyak sumber daya di pasar rumah sakit berhubungan secara positif dengan adopsi model corporate governance oleh rumah sakit non profit, Rumah sakit non profit yang menjadi anggota asosiasi cenderung lebih mengadopsi model corporate governance, Rumah sakit non profit yang terstruktur secara corporate cenderung mengadopsi model corporate governance, Rumah sakit non profit pemerintah cenderung kurang mengadopsi model corporate governance dibandingkan rumah sakit non profit non pemerintah

2. Kajian Pustaka

  1. a. Good Corporate Governance

United National Development Program (UNDP), mendifinisikan governance sebagai “the exercise of political, economic, and administrative authority to manage a national’s affair at all levels”, sedangkan World Bank lebih menekankan pada cara pemerintah mengelola sumber daya sosial dan ekonomi untuk kepentingan pembangunan masyarakat (Mardiasmo, 2004: 17). The Indonesia Institute for Corporate Governance (IICG) juga mendifinisikan Corporate Governance sebagai suatu proses dan struktur yang diterapkan dalam menjalankan perusahaan dengan tujuan utama meningkatkan nilai-nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap mempertahankan kepentingan stakeholder yang lain.

Pengertian Corporate Governance (Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara, Nomor : KEP-117/M-MBU/2002), adalah:

“suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organisasi BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang sahan dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perudangan dan nilai-nilai etika”.

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa corporate governance adalah suatu sistem yang mengatur bagaimana suatu perusahaan atau organisasi dijalankan (operasi) dan dikontrol atau sebagai tata kelola perusahaan (organisasi). Sistem ini mengatur secara jelas dan tegas hak dan kewajiban pihak-pihak yang terkait dalam perusahaan.

Prinsip-prinsip good corporate governance menurut OEDC (1998) dalam FCGI (2002: 1), meliputi keadilan (fairness), transparansi (transparancy), akuntabilitas (accountability), dan responsibilitas (responsibility).

  1. b. Kinerja

Kinerja Menurut Atkinson, dkk (1995: 51) sistem penilaian kinerja sebaiknya mengandung indikator kinerja yaitu (1) memperhatikan setiap aktivitas organisasi dan menekankan pada perspektif pelanggan, (2) menilai setiap aktivitas dengan menggunakan alat ukur kinerja yang mengesahkan pelanggan, (3) memperhatikan semua aspek aktivitas kinerja secara komprehensif yang mempengaruhi pelanggan, dan (4) menyediakan informasi berupa umpan balik untuk membantu anggota organisasi mengenai permasalahan dan peluang untuk melakukan perbaikan.

Menurut Hansen dan Mowen (1997: 396) penilaian kinerja perusahaan adalah:

“Activity performance measures exist both financial and non financial forms. These measures are designed to assess how well an activity was performed and the result achieved. They are also designed to reveal if constant improvement is being realized. Measures of activity performance centre on three major dimension: (1) efficiency, (2) quality, and (3) time.

  1. c. Balanced scorecard (BSC)

Menurut Kaplan dan Norton (1996:16), Balanced scorecard adalah suatu kerangka kerja baru untuk mengintegrasikan berbagai ukuran yang diturunkan dari strategi pemasaran. Sedangkan Mulyadi dan Setyawan (2000:222), Balanced scorecard adalah sekumpulan ukuran kerja yang mencakup empat perspektif: keuangan, customers, proses bisnis intern serta pembelajaran dan pertumbuhan. Balanced scorecard berarti bahwa dalam pengukuran kinerja  harus terdapat keseimbangan (balance) antara ukuran keuangan dan ukuran non keuangan (ukuran operasional).

  1. H. METODE PENELITIAN
    1. 1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan pada Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang, dengan alamat Jl. Sulawesi No. 16 Malang.

  1. 2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuatitatif, dimana penulis mencoba mengungkapkan masalah atau fakta yang ada dengan didukung oleh data yang berbentuk angka. Penelitian ini mendeskripsikan tentang 3 hal yaitu, 1) Bagaimana penerapan Good Corporate governance di RS Islam Aisyiyah, 2) Bagaimana kinerja RS Islam Aisyiyah  dengan pendekatan balanced scorecard, 3) Bagaimana Pengaruh Penerapan Good Corporate governance terhadap kinerja RS Islam Aisyiyah Malang.

  1. 3. Definisi Operasional Variabel
    1. a. Variabel Independen : Penerapan Good Corporate Governance

Corporate Governance adalah suatu sistem yang mengatur bagaimana suatu perusahaan atau organisasi dijalankan (operasi) dan dikontrol atau sebagai tata kelola perusahaan (organisasi). Sistem ini mengatur secara jelas dan tegas hak dan kewajiban pihak-pihak yang terkait dalam perusahaan.

Prinsip prinsip Good Corporate Governance menurut OEDC (1998) dalam FCGI (2002: 1), meliputi keadilan (fairness), transparansi (transparancy), akuntabilitas (accountability), dan responsibilitas (responsibility).

  1. b. Variabel Dependen : Kinerja RS Aisyiyah Malang

Kinerja Menurut Atkinson, dkk (1995: 51) sistem penilaian kinerja sebaiknya mengandung indikator kinerja yaitu (1) memperhatikan setiap aktivitas organisasi dan menekankan pada perspektif pelanggan, (2) menilai setiap aktivitas dengan menggunakan alat ukur kinerja yang mengesahkan pelanggan, (3) memperhatikan semua aspek aktivitas kinerja secara komprehensif yang mempengaruhi pelanggan, dan (4) menyediakan informasi berupa umpan balik untuk membantu anggota organisasi mengenai permasalahan dan peluang untuk melakukan perbaikan.

Sedangkan Menurut Hansen dan Mowen (1997: 396) penilaian kinerja perusahaan adalah: ukuran kemampuan aktivitas yang terdiri dari aspek keuangan dan aspek non-keuangan. Ukuran ini dirancang untuk menilai seberapa baik aktivitas yang telah dilakukan serta hasil yang dicapainya. Tercapainya suatu aktivitas dapat diukur melalui 3 aspek yaitu, efisiensi, kualitas dan waktu.

4.  Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah data primer dan juga data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara yang dilakukakan kepada beberapa pasien dan juga staf ahli di RS Aisyiyah Malang. Sedangkan data sekunder berupa Dokumentasi  yang meliputi laporan keuangan tahunan dan daftar absensi pegawai dan daftar kepegawaian.

5.  Teknik Analisis Data

Tahapan pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut:

  1. a. Pengumpulan data

Data yang diperoleh berupa Laporan keuangan serta hasil dari wawancara di RS aisyiyah malang, Di masukakan kedalam sebuah tabulasi data yang menggunakan aplikasi Microsoft excel untuk memudahkan menganalisis data.

  1. b. Pengolahan data

Data yang didapat diolah mengunakan pendekaan balanced scorecard untuk menilai kinerja dari RS aisyiyah Malang.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian berdasarkan pada model pengukuran kinerja secara komprehensif, yaitu balanced scorecard:

1)      Perspektif keuangan

  1. Return on investment (ROI)
  1. Return on equity (ROE)

2)      Perspektif pelanggan

  1. Number of Complain

Number of Complain = x 100%

  1. Customer Acquisition

Customer Acquisition = x 100%

  1. BOR (Bed Occupancy Rate), adalah prosentase pamakaian tempat tidur pada satu satuan waktu tertentu.

BOR = x 100%

3) Perspektif bisnis internal

a. Quality of Place

Pada metoda ini pengukurannya dengan membandingkan antara kapasitas normal jumlah produksi yang seharusnya dapat memenuhi permintaan pasien dengan kapasitas sesungguhnya yang dimiliki rumah sakit.

  1. b. Inovation

Pada variabel ini pengukurannya dengan membandingkan antara rencana rehabilitasi fasilitas-fasilitas pada rumah sakit dengan realita (terlaksana atau tidak) rehabilitasi fisik tersebut.

4)      Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.

  1. a. Training

b. Absenteeism

Absenteeism = x 100%

  1. c. Interpretasi hasil

Hasil pengolahan data diinterpretasikan serta dilakukan analisis.

  1. I. JADWAL KEGIATAN
Kegiatan Bulan Ke-
1 2 3 4
1. Tahap Persiapan
– Studi Pendahuluan dan Survey  Lapangan

– Perizinan

– Penyusunan Instrumen

XXX
XX
X
2. Tahap Perolehan Data
– Pengumpulan Data Penelitian

– Pengolahan Data

XXX
XX
3. Tahap Analisis Data
– Analisis Data dan interpretasi hasil X XXX
– Perumusan dan Hasil Kesimpulan XX
4. Tahap Pelaporan
– Penyusunan laporan penelitian

– Seminar hasil penelitian

X XX
XX
– Publikasi penelitian XX

  1. J. RANCANGAN BIAYA

Biaya-Biaya Penelitian
  1. 1. Biaya Habis Pakai

a)      XXXXXXXXXX

b)      XXXXXXXXXX

c)      XXXXXXXXXX

Jumlah

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

  1. 2. Peralatan Penunjang Penelitian

d)      XXXXXXXXXX

e)      XXXXXXXXXX

f)        XXXXXXXXXX

g)      XXXXXXXXXX

h)      XXXXXXXXXX

i)        XXXXXXXXXX

Jumlah

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

  1. 3. Perjalanan

a)      Tahap Studi Pendahuluan dan perijinan:

XXXXXXXXX

XXXXXXXXX

b)      Tahap Pengumpulan Data:

XXXXXXXXX

Jumlah

Rp. XXXXX

Rp. XXXXX

Rp. XXXXX

Rp. XXXXX

4. Biaya lain-lain

a)      XXXXX

b)      XXXXXX

c)      XXXXXX

d)      XXXXXX

Jumlah

Rp. XXXXX

Rp.    XXXX

Rp.    XXXX

Rp. XXXX

Rp. XXXXX

Total Biaya Penelitian Rp. XXXXX

  1. K. Daftar Pustaka

Amanda, Irwan. 2009 ”Penerapan Balanced Scorecard Sebagai Tolok Ukur Penilaian Kinerja Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang”. Skripsi Universitas Muhammadiyah Malang. Tidak Dipublikasikan.

Atkinson, Anthony A, dkk. 1995. Management Accounting. Second Edition. Prentice Hill. Richard D Irwin, Inc. Pillipines.

FCGI (Forum For Corporate Governance In Indonesia). 2002. Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) The Essence of Good Corporate Governance : Konsep dan Implementasi Perusahaan Publik dan Korporasi Indonesia. Yayasan Pendidikan pasar Modal Indonesia & Synergy Communication. Jakarta.

Kaplan dan Norton, 1996, Balanced Scorecard, Penerbit PT. Erlangga: Jakarta

Kaplan, Robert & Norton. David P.1996. Translating Strategy Into Action The Balance Scorecard. Harvard Business School. Boston. Kaplan, Robert & Norton. David P.1996. Translating Strategy Into Action The Balance Scorecard. Harvard Business School. Boston.

Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta, Andi.

Prasetyono dkk (2007), “Analisis Kinerja Rumah Sakit Daerah Pendekatan Balanced Scoecard Berdasarkan Komitmen Organisasi, Pengendalian Intern Dan Penerapan Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (Survei Pada Rumah Sakit Daerah di Jawa Timur)”Unviersitas Trunojoyo

Sekaran, Uma. 2006. Metodologi Penelitian untuk Bisnis. Jakarta, Salemba Empat.

Ulum, Ihyaul. 2004. Akuntansi Sektor Publik. Malang, UMM Press.

Warsini, 2003. Penerapan Balanced Scorecard Dalam Rangka Menilai Kinerja Manajemen (Studi Kasus Hotel Purnama Kota Batu), Skripsi Universitas Muhammadiyah Malang. Tidak Dipublikasikan.

  1. L. LAMPIRAN

NAMA DAN BIODATA PENULIS

  1. Nama                             : Fajar Ardianur Ramli

Tempat, Tanggal lahir       : Balikpapan,10 September 1989

Alamat                            : Perum. Taman Embong Anyar 2 Blok M. No.9

Malang

No. Telpon/HP                : 085233224465

NIM                               : 07.620.253

Riwayat Pendidikan         : SDN 006 Balikpapan (1995-2001)

SMPN 3 Balikpapan (2001-2004)

SMAN 2 Balikpapan (2004-2007)

Universitas Muhammadiyah Malang (2007-sekarang)

  1. Nama                             :  Ferli Vian

Tempat Tanggal Lahir   :  Malang, 8 Januari 1990

Alamat                            :  Jl. Raya Kedok 141 Turen

No Telp/Hp                     :  08563533469

NIM                               :  08.620.326

Riwayat Pendidikan         :  SD Tamansiswa Turen (1996-2002)

SMPN 2 Ngawi (2002-2005)

SMAN 2 Ngawi (2005-2008)

Universitas Muhammadiyah Malang (2008-sekarang)

  1. Nama                             :  Emy Setyafani

Tempat Tanggal Lahir   :  Jakarta, 5 Juli 1990

Alamat                            :  Jl. Mayjend Pandjaitan 84E Klojen

No Telp/Hp                     :  085649533269

NIM                               :  09.620.090

Riwayat Pendidikan         :  SDIT Al-Irsyad Purwokerto (1995-2001)

SMPN 1 Kebomas-Gresik (2001-2004)

MA Mambaus Sholihin Suci Gresik (2004-2005)

SMAN Muhammadiyah Madiun (2005-2008)

Universitas Muhammadiyah Malang (2008-sekarang)

NAMA DAN BIODATA DOSEN PENDAMPING

Riwayat

Hidup

N a m a                         : IHYAUL ULUM MD.

Tempat, Tanggal Lahir : Lamongan, 02 Juli 1976

Jenis Kelamin                 : Laki – laki

A g a m a                       : I S L A M

Alamat Rumah               : Jl. Raya Apel 42 Sumbersekar, Dau, Malang

Telephon (0341) 7097377 – HP: 0812.331.7606

E-mail: ulum@umm.ac.id.

Alamat Kantor               : Jl. Raya TlogoMas No. 246 Malang 65145             Tel.(0341)464318Psw. 217; Fax.(0341)460782

E-mail: mas_ulum@yahoo.com

Pangkat/Golongan          :  Lektor/III-b

NIPUMM/NIP              : 107.0302.0382

Fakultas/Jurusan            : Ekonomi/Akuntansi

Pendidikan

Formal

Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi UMM; 1996-2000

Madrasah Aliyah (MA), Paciran, Lamongan, Jatim; 1992-1995

Madrasah Tsanawiyah (MTs), Paciran, Lamongan, Jatim; 1989-1992

Madrasah Ibtidaiyah (MI), Paciran, Lamongan, Jatim; 1984-1989

Pendidikan

Informal

Pelatihan Pra Jabatan Calon Dosen UMM, BP-SDM UMM; 9-11 Januari 2004

Pelatihan Keterampilan Dasar-Dasar Instruksional (PEKERTI), BP-SDM UMM; 19-25 Agustus 2002

Kursus Singkat “Filsafat Untuk Pencerahan Intelektual”, Pusat Studi Islam Dan Filsafat (PSIF) UMM, 15-18 Juli 2002

Pelatihan Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling Untuk Dosen Wali, UPT Bimbingan dan Konseling UMM; 2 Juli 2002

Pembekalan Kemampuan Dasar Mengajar Bagi Dosen Kontrak, BP-SDM UMM; 14-15 Pebruari 2001

Intermediate Training (LK II) HMI Cabang Bogor; 1998

Diklat Dasar Jurnalistik, Universitas Brawijaya Malang; 10-13 Oktober 1997

Senior Course Lembaga Pengelola Latihan HMI Cab. Malang; 1997

Basic Training (LK I) HMI Komisariat Ekonomi UMM; 1996

Pendidikan Komputer Aplikasi Bisnis Modern, Concordia CC Surabaya; September-Desember 1995

Pengalaman Penelitian Harmonisasi Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan No. 01 tentang Penyajian Laporan Keuangan dengan International Public Sector Standards No. 1 tentang Presentation of Financial Statement” Dibiayai oleh DPP UMM; Semester Ganjil 2005-2006

Analisis Hubungan Peringkat Daya Tarik Investasi dengan PAD dan Pajak Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia” Dibiayai oleh DPP UMM; Semester Genap 2004-2005

Analisis atas Dana Perimbangan dan Pengaruhnya terhadap Belanja Daerah Provinsi di Indonesia” Dibiayai oleh DPP UMM; Semester Ganjil 2004-2005

Analisis atas Dana Alokasi Umum (DAU) dan Pengaruhnya terhadap Belanja Rutin dan Belanja Pembangunan Kabupaten/Kota di Jawa Timur” Dibiayai oleh DPP UMM; Semester Genap 2003-2004

Studi Eksplorasi Tentang Kesiapan Akuntan Publik di Jawa Timur Berkaitan Dengan Penugasan Audit Laporan Keuangan Pemerintah Daerah” Penelitian Dosen Muda, 2004.

Studi Eksplorasi Tentang Kesiapan Akuntan Publik di Malang Berkaitan Dengan Penugasan Audit Laporan Keuangan Pemerintah Daerah” Dibiayai oleh DPP UMM; Semester Genap 2002-2003

Studi Komparasi atas IPSA 51.01, UU Politik tahun 1999, dan Draf RUU Politik tahun 2002”, Dibiayai oleh DPP UMM; Semester Ganjil 2002-2003

Telaah Kritis Terhadap UU Audit Parpol dan IPSA 51.01 Sehubungan Dengan Pelaksanaan Audit Dana Kampanye Pemilu 1999”, Skripsi di Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi UMM; September 1999 s.d. Januari 2000

Buku & Diktat “Intellectual Capital; Konsep dan Kajian Empiris”, Graha Ilmu, 2009.

“Audit Sektor Publik, Sebuah Pengantar”, Bumi Aksara, 2009

“Akuntansi Sektor Publik (edisi revisi)”, UMM-Press, Malang, 2008

Akuntansi Sektor Publik (Sebuah Pengantar)”, UMM Press, Malang, 2004

Akuntansi Sektor Publik (Diktat)”, Cahaya Press Malang, 2002

Menyoal Pembersihan PKL”, Dalam “Malang Kota Dalam Sorotan” – Bunga Rampai, Wahyu Hidayat Riyanto (Editor), PSKL UMM, UMM Press, 1999

Artikel

Jurnal Ilmiah

‘Intellectual Capital Performance Sektor Perbankan di Indonesia’. Jurnal Akuntansi dan Keuangan (Universitas Petra Surabaya).Edisi Februari2009.

Intellectual capital dan kinerja keuangan perusahaan; sebuah analisis dengan pendekatan partial least squares. Proceeding Simposium Nasional Akuntansi (SNA) XI Pontianak. 2008.

E-Government Accessibility Analysis of Local Government in East Java and its determinant (co-author). Proceeding Konferensi Penelitian Akuntansi dan Keuangan Sektor Publik I, Surabaya. 2007.

“Analisis Hubungan Peringkat Daya Tarik Investasi dengan PAD Kabupaten/Kota di Indonesia”, Jurnal Akuntansi dan Keuangan Sektor Publik (JAKSP),  Volume 06 No. 2, Agustus 2005. ISSN: 1411 – 5921

“Analisis atas Dana Perimbangan dan Pengaruhnya terhadap Belanja Daerah Provinsi di Indonesia”, Jurnal “Humanity” Lemlit UMM, ISSN: 0216-8995, Vol 1/No 1 September 2005

Memahasiswakan Mahasiswa”, Jurnal Bestari UMM, Edisi Khusus, 2005.

Peranan IAI Dalam Mewujudkan Good Governance; Sebuah Kajian Atas Tuntutan Profesionalisme Akuntan Dalam Pelaksanaan Audit Laporan Keuangan Partai Politik”, Jurnal Akuntansi dan Keuangan “BALANCE”, ISSN: 1693-3796, Volume 1/No. 2/April-September 2004

Tauhid Ekonomi; Melawan Arus Kapitalisme Global”:, Jurnal Bestari UMM, No. 34, Tahun XV, 2002

Konstruksi Nilai-Nilai Normatif Akuntansi Islam sebagai Jawaban atas Reduksi Nilai-Nilai Kemanusiaan Akuntansi Konvensional (Study Literatur Konsep Going Concern)” – bersama Bestari Dwi Handayani. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis MEDIAEKONOMI, Edisi 19, Tahun XII, Juni 2002. ISSN: 0854 – 2651

Antisipasi Korupsi, Kolusi, Dan Nepotisme Di Pemerintah Daerah Melalui Penegasan Akuntabilitas Publik”, Jurnal Ekonomi Dan Bisnis MEDIA EKONOMI, Edisi 17, Tahun XI, Juni 2001. ISSN: 0854 – 2651

Pengalaman LKTI Bank Syari’ah Dalam Kerangka Tauhid Ekonomi; Pilar Alternatif Untuk Memajukan Sektor Riil, Lomba Karya Tulis Bank Syari’ah, diselenggarakan oleh BNI Syari’ah, 17 Mei 2003

Peranan IAI Dalam Mewujudkan Good Governance; Sebuah Kajian Atas Tuntutan

Profesionalisme Akuntan Dalam Pelaksanaan Audit Laporan Keuangan Partai Politik, Lomba Karya Tulis Ilmiah Dalam Rangka Konggres IX IAI, 20 Juli 2002

Peluang Pasar (Domestik) Menuju Persaingan Bisnis Global, Seiring Dengan Refungsionalisasi Militer, Lomba Karya Tulis Manajemen Diselenggarakan Oleh HMJ Manajemen Fakultas Ekonomi UMM, 20 Oktober 1999

Restrukturisasi Perbankan Sebagai Pilar Utama Pembenahan Sektor Moneter, Lomba Karya Ilmiah Ekonomi Mahasiswa Indonesia, Diselenggarakan Oleh SEMA Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 15 Maret 1999

Pengalaman Profesional Tim audit Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) P2KP wilayah Malang dan Pasuruan, Januari 2005

Tim kompilasi laporan keuangan PT. Talles Malang, Maret – Mei 2005

Tim audit laporan keuangan SMK Muhammadiyah Malang, Nopember-Desember 2004

Demikian curriculum vitae ini saya buat dengan jujur dan sebenar-benarnya serta dapat saya pertanggungjawabkan.

Malang, 10 Mei 2010

Hormat Saya,

Ihyaul Ulum MD., SE., M.Si.

08/20/2010 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar