BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Hakekat Keterampilan Proses

Pengertian keterampilan proses adalah seluruh keterampilan atau kejadian serta tindakan dalam proses belajar mengajar yang akan diciptakan kondisi cara belajar siswa aktif .
Pendekatan keterampilan proses pada dasarnya menekankankeaktifan siswa dalam proses belajar. Keterampilan proses merupakan pendekatan belajar mengajar yang mengarah pada pengembangan mental,fisik, sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri individu. Setiap individu pada dasarnya memiliki keterampilan atau kemampuan fisik dan mental meskipun dalam wujud potensi maupun kemampuan yang belum nampak secara jelas.
Keterampilan-keterampilan yang dimiliki siswa dapat dikembangkan dalam kegiatan laboratorium, yakni melalui kegiatan percobaan fisika atau eksperimen. Dalam kegiatan eksperimen terdapat beberapa proses mentalyang berhubungan dengan sains yang disebut keterampilan sains. Collette dan Ghiappetta mengungkapkan :
“……some of mental process associated with science and, in particular with laboratory work are often reffered to as science process skill. The skill include observing, classifiying, using space/time relation, using numbers, measuring, inferring, predicting, defining operationally, formulating models, controlling variaels, intrepreting data, and eksperiment”.
Adapun kegiatan-kegiatan atau keterampilan-keterampilan yang mampu menciptakan kondisi belajar siswa aktif atau keterampilan proses antara lain : Observasi (pengamatan), perhitungan, pengukuran, klasifikasi, hubungan ruang/waktu, pembuatan hipotesis, perencanaan penelitian, pengendalian variabel, interpretasi data, kesimpulan sementara, peramalan, penerapan (aplikasi), komunikasi.
Kegiatan observasi (pengamatan) adalah memilah-milahkan yang penting dari yang kurang penting atau yang tidak penting. Pendekatannya biasa memanfaatkan indera untuk melihat, mendengar, mengecap dan mencium. Contohnya : siswa melihat skala-skala pada berbagai alat ukur panjang, suhu dll.
Kegiatan perhitungan dapat dilakukan dengan membuat tabel, grafik, dan histogram. Kegiatan ini dilakukan atau dilatih dengan melalui pelajaran IPA dan IPA. Kegiatan pengukuran pada dasarnya adalah membandingkan dua besaran. Pendekatannya dapat dilakukan dengan membandingkan suatu benda dengan benda yang lain.
Kegiatan klasifikasi adalah kegiatan untuk mengenal perbedaan dan persamaan antara benda-benda. Pendekatannya dapat dilakukan dengan mengklasifikasikan sesuatu menurut cirinya, tujuannya dan kepentingannya. Kegiatan mengenai hubungan ruang dan waktu pendekatannya dapat dilakukan dengan mengenal bentuk seperti lingkaran, persegi empat, kubus dan sebagainya ; pengenalan arah; membuat urutan kejadian; menggunakan unit waktu.
Kegiatan pembuatan hipotesis adalah pembuatan suatu pemikiran yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengalaman tertentu. Pendekatannya dapat dilakukan dengan memberi latihan pada siswa menyusun hipotesis sewaktu melakukan percobaan.
Kegiatan eksperiman adalah kegiatan menguji atau mengetes melalui penyelidikan praktis. Kegiatan pengendalian variabel adalah pengendalian pada faktor yang berpengaruh pada percobaan. Pendekatannya dapat dilakukan dengan melatih siswa mengontrol dan memperlakukan variabel. Kegiatan interpretasi data ini dapat dilakukan melalui observasi, penglihatan, pengukuran dan penelitian sederhana kemudian dicatat atau disajikan dalam bentuk tabel ataupun grafik. Sedangkan kegiatan pembuatan kesimpulan sementara dilakukan pertama-tama mengumpulkan data, lalu menyusun kesimpulan sementara berdasarkan informasi yang dimiliki pada waktu tertentu.
Kegiatan penerapan dilakukan dengan cara menjelaskan peristiwa baru dengan menggunakan konsep yang telah dimiliki, sedangkan kegiatan komunikasi pendekatannya dapat dilakukan dengan membuat tabel, diagram, grafik, histogram dan sebagainya.
Proses belajar mengajar yang bermakna adalah proses yang melibatkan berbagai aktivitas siswa. Oleh karena itu guru harus berupaya untuk mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar. Adapun upaya yang dilakukan oleh guru ada bermacam-macam antara lain : melalui diskusi, melalui karya wisata, melalui percobaan (eksperimen), melalui demonstrasi dan sebagainya.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN

Ingin kaos bertema PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN?, bosan dengan kaos yang ada?, ingin mengedukasi keluarga atau murid dengan pembelajaran. HANYA KAMI SATU-SATUNYA DI INDONESIA PERTAMA KALI KAOS BERTEMA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN COCOK DIPAKAI UNTUK SEMUA KALANGAN DAN MEMBERI KESAN EDUKASI DAN PEMBELAJARAN DALAM SETIAP PEMAKAIAANYA

Jangan lupa kunjungi web kami di http://os-kaos.com/ untuk melihat berbagai koleksi kaos pendidikan dan pembelajaran dari kami like juga FP kami di https://www.facebook.com/oskaos1745

Fast Respon CP : 081938633462 dan 082331864747 PIN BB: 7BD178A5 WA: 081615875217

ee9f2fe2-288a-4081-829e-cac8538debd6wallpaper

02/25/2014 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | Tinggalkan komentar

E-BOOK EKSPERIMENT DALAM BIOLOGY (KUMPULAN PENELITIAN SEDERHANA UNTUK SISWA)

Mata pelajaran Biologi yang tergabung dalam IPA Terpadu pada jenjang pendidikan SMP, merupakan mata pelajaran yang menarik, disukai siswa sekaligus menantang. Meskipun tergolong ilmu pasti, namun mata pelajaran Biologi memiliki keunikan tersendiri. Ciri khas dari setiap mata pelajaran biologi adalah diperlukannya eksperimen serta pemahaman yang mendalam pada setiap bab yang dipelajari karena langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, berbeda dengan mata pelajaran ilmu pasti lainnya yang lebih menjurus ke arah berhitung.

Buku EKSPERIMENT BIOLOGI PADA SEKOLAH ini berisi berbagai macam eksperimen atau penelitian yang pantas, mudah, dan sesuai untuk dilaksanakan selama pembelajaran di sekolah baik itu oleh guru maupun oleh murid. Puluhan contoh eksperimen dalam buku ini telah sesuai dengan SILABUS dan RPP SMP dan SMA, sehingga setiap eksperimen berkaitan langsung dengan materi pada setiap pembelajaran siswa. Dengan bahan, materi dan gaya bahasa yang mudah dimengerti buku ini akan memandu siswa dan guru untuk lebih mendalami setiap materi dalam pelajaran BIOLOGI

eboo

Judul: EKSPERIMENT DALAM BIOLOGY (KUMPULAN PENELITIAN SEDERHANA UNTUK SISWA)

Penulis: Pak Zaif

Harga: 50.000

Oke jika berminat hubungi Pak zaif HP: 081938633462, harga buku ini Hanya Rp 50.000

01/25/2014 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , | 2 Komentar

METODE PEMBELAJARAN MIND MAPPING

1. Definisi Mind Mapping
Barbara Prashing mengemukakan Mind Mappingdipopulerkan oleh Tony Buzan pada tahun 1970-an, aslinya diciptakan oleh Gelb. Michael Gelb dalam Buzan (2007:179-181): Mind Mapping dapat diartikan sistem revolusioner dalam perencanaan dan pembuatan catatan yang telah mengubah hidup jutaan orang di seluruh dunia. Pembuatan Mind Mapping didasarkan
pada cara kerja alamiah otak dan mampu menyalakan percikanpercikan kreatifitas dalam otak karena melibatkan kedua belahan otak kita.

Menurut Porter & Hernacki (2008:152-159) : Mind Mappingjuga dapat disebut dengan peta pemikiran. Mind Mapping juga merupakan metode mencatat secara menyeluruh dalam satu halaman. Mind Mapping menggunakan pengingatpengingat visual dan sensorik dalam suatu pola dari ide-ide yang berkaitan. Peta pikiran atau Mind Mapping pada dasarnya menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk kesan pada otak.

Metode Mind Mapping adalah metode baru untuk mencatat yang bekerjanya disesuaikan dengan bekerjanya dua belah otak (otak kiri dan otak kanan). Metode ini mengajarkan untuk mencatat tidak hanya menggunakan gambar atau warna. Tony Buzan mengemukakan “your brain is like a sleeping giant,hal itu disebabkan 99% kehebatan otak manusia belum dimanfaatkan secara optimal.”

2014-01-24_020153

Mind Mapping adalah cara mencatat yang kreatif, efektif dan secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran Mind Mapping juga merupakan peta rute yang memudahkan ingatan dan memungkinkan untuk menyusun fakta dan pikiran, dengan demikian cara kerja alami otak dilibatkan sejak awal. Ini berarti mengingat informasi akan lebih mudah dan lebih bisa diandalkan daripada menggunakan teknik mencatat tradisional. Selain itu Mind Mapping adalah sistem penyimpanan, penarikan data dan akses yang luar biasa untuk perpustakaan raksasa dalam otak manusia yang menajubkan.

Mind Mapping bertujuan membuat materi pelajaran terpola secara visual dan grafis yang akhirnya dapat membantu merekam, memperkuat, dan mengingat kembali informasi yang telah dipelajari. Mind Mapping adalah satu teknik mencatat yang mengembangkan gaya belajar visual.

Mind Mapping memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat di dalam diri seseorang.Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak maka akan memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Adanya kombinasi warna, simbol, bentuk dan sebagainya
memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima.

Mind Mapping yang dibuat oleh siswa dapat bervariasi pada setiap materi. Hal ini disebabkan karena berbedanya emosi dan perasaan yang terdapat dalam diri siswa setiapsaat. Suasana menyenangkan yang diperoleh siswa ketika berada di ruang kelas pada saat proses belajar akan mempengaruhi penciptaan peta pikiran. Dengan demikian, guru diharapkan dapat menciptakan suasana yang dapat mendukung kondisi belajar siswa terutama dalam proses pembuatan Mind Mapping. Proses belajar yang dialami seseorang sangat bergantung kepada lingkungan tempat belajar. Jika lingkungan belajar dapat memberikan sugesti positif, maka akan baik dampaknya bagi prosesdan hasil belajar,sebaliknya jika lingkungan tersebut memberikan sugesti negatif maka akan buruk dampaknya bagi proses dan hasil belajar.

2. Kegunaan Mind Mapping
Menurut Michael Michalko dalam Buzan (2009:6), metode Mind Mapping dapat dimanfaatkan atau berguna untuk berbagai bidang termasuk bidang pendidikan. Kegunaan metode Mind Mapping dalam bidang pendidikan, khususnya pada Sekolah Menengah Pertama kelas VIII antara lain:
a. Memberi pandangan menyeluruh pokok masalah.
b. Memungkinkan kita merencanakan rute atau kerangka pemikiran suatu karangan.
c. Mengumpulkan sejumlah besar data disuatu tempat.
d. Mendorong pemecahan masalah dengan kreatif.
Selain itu menurut Buzan(2009:54-130) metode Mind Mapping dapat bermanfaat untuk :
1) Merangsang bekerjanya otak kiridan kanan secara sinergis.
2) Membebaskan diri dari seluruh jeratan aturan ketika mengawali belajar.
3) Membantu seseorang mengalirkan diri tanpa hambatan.
4) Membuat rencana atau kerangka cerita.
5) Mengembangkan sebuah ide.
6) Membuat perencanaan sasaran pribadi.
7) Memulai usaha baru.
8) Meringkas isi sebuah buku.
9) Fleksibel.
10) Dapat memusatkan perhatian.
11) Meningkatkan pemahaman.
12) Menyenangkan dan mudah diingat.
3. Cara Membuat Mind Mapping
Buzan (2009:14), sarana dan prasarana untuk membuat Mind Mapping adalah :
a. Kertas kosong tak bergaris.
b. Pena dan pensil warna.
c. Otak.
d. Imajinasi
Buzan (2009:15-16), membuat Mind Mappingmembutuhkan
imajinasi atau pemikiran, adapun cara pembuatan Mind Mappingadalah:
1) Mulailah dari tengah kertas kosong.
2) Gunakan gambar (simbol) untuk ide utama.
3) Gunakan berbagai warna.
4) Hubungan cabang-cabang utama ke gambar pusat.
5) Buatlah garis hubung yang melengkung.
6) Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis.
7) Gunakan gambar.

Dalam membuat Mind Mapping juga diperlukan keberanian dan kreativitas yang tinggi. Variasi dengan huruf capital, warna, garis bawah atau simbol-simbol yang menggambarkan poin atau gagasan utama. Menghidupkan Mind Mapping yang telah dibuat akan lebih mengesankan. Membuat Mind Mapping yang terdapat didalam (http://astutimin.wordpress.com/20/09/11/26/meningkatkan-hasil-belajar-dan-kreativitas
siswa-melalui-pembelajaran-berbasis-peta-pikiran-mind-mapping/) Tony Buzan telah menyusun sejumlah aturan yang harus diikuti agar Mind Mapping yang dibuat dapat memberikan manfaat yang optimal. Berikut adalah ringkasan dari Law of MM:
a) Kertas: polos dengan ukuran minimal A4 dan paling baik adalah ukuran A3 dengan orientasi horizontal (Landscape). Central Topic diletakkan ditengah-tengah kertas dan sedapat mungkin berupa Image dengan minimal 3 warna.
b) Garis: lebih tebal untuk BOIs dan selanjutnya semakin jauh dari pusat garis akan semakin tipis. Garis harus melengkung (tidak boleh garis lurus) dengan panjang yang sama dengan panjang kata atau imageyang ada di atasnya. Seluruh garis harus tersambung ke pusat.
c) Kata: menggunakan kata kunci saja dan hanya satu kata untuk satu garis. Harus selalu menggunakan huruf cetak supaya lebih jelas dengan besar huruf yang semakin mengecil untuk cabang yang semakin jauh dari pusat.
d) Image:gunakan sebanyak mungkin gambar, kode, simbol, grafik, table dan ritme karena lebih menarik serta mudah untuk diingat dan dipahami. Kalau memungkinkan gunakan Image yang 3 Dimensi agar lebih menarik lagi.
e) Warna: gunakan minimal 3 warna dan lebih baik 5 – 6 warna. Warna berbeda untuk setiap BOIs dan warna cabang harus mengikuti warna BOIs.
f) Struktur:menggunakan struktur radian dengan sentral topic
terletak di tengah-tengah kertas dan selanjutnya cabangcabangnya menyebar ke segala arah. BOIs umumnya terdiri dari 2 – 7 buah yang disusun sesuai dengan arah jarum jam dimulai dari arah jam 1.

2014-01-24_023811

Aplikasi Mind Mappingdalam Pembelajaran Dalam tahap aplikasi, terdapat empat langkah yang harus dilakukan proses pembelajaran berbasis Mind Mapping, yaitu:
a) Overview: Tinjauan Menyeluruh terhadap suatu topik pada saat proses pembelajaran baru dimulai. Hal ini bertujuan untuk memberi gambaran umum kepada siswa tentang topik yang akan dipelajari. Khusus untuk pertemuan pertama pada setiap awal Semester, Overview dapat diisi dengan kegiatan untuk membuat Master Mind Map® yang merupakan rangkuman dari seluruh topik yang akan diajarkan selamasatu Semester yang biasanya sudah ada dalam Silabus. Dengan demikian, sejak awal siswa sudah mengetahui topik apa saja yang akan dipelajarinya sehingga membuka peluang bagi siswa yang aktif untuk mempelajarinya lebih dahulu di rumah atau di perpustakaan.
b) Preview: Tinjauan Awal merupakan lanjutan dari Overview sehingga gambaran umum yang diberikan setingkat lebih detail daripada Overviewdan dapat berupa penjabaran lebih lanjut dari Silabus. Dengan demikian, siswa diharapkan telah memiliki pengetahuan awal yang cukup mengenai sub-topik dari bahan sebelum pembahasan yang lebih detail dimulai. Khusus untuk bahan yang sangat sederhana, langkah Previewdapat dilewati sehingga langsung masuk ke langkah Inview.
c) Inview:Tinjauan Mendalam yang merupakan inti dari suatu proses pembelajaran, di mana suatu topik akan dibahas secara detail, terperinci dan mendalam. Selama Inviewini, siswa diharapkan dapat mencatat informasi, konsep atau rumus penting beserta grafik, daftar atau diagram untuk membantu siswa dalam memahami dan menguasai bahan yang diajarkan.
d) Review: Tinjauan Ulang dilakukan menjelang berakhirnya jam pelajaran dan berupa ringkasan dari bahan yang telah diajarkan serta ditekankan pada informasi, konsep atau rumus penting yang harus diingat atau dikuasai oleh siswa. Hal ini akan dapat membantu siswa untuk fokus dalam mempelajari-ulang seluruh bahan yang diajarkan di sekolah pada saat di rumah. Review dapat juga dilakukan saat pelajaran akan dimulai pada pertemuan berikutnya untuk membantu siswa mengingatkan kembali bahan yang telah diajarkan pada pertemuan sebelumnya.

4. Indikator Mind Mapping
Menurut Tony Buzan (2009:6), indikator Mind Mapping sebagai berikut :
a. merencanakan,
b. berkomunikasi,
c. menjadi lebih kreatif,
d. menyelesaikan masalah,
e. memusatkan perhatian,
f. menyusun dan menjelaskan pikiran-pikiran,
g. mengingat dengan lebih baik
h. belajar lebih cepat dan efisien, dan
i. melatih “gambar keseluruhan”

5. Kelebihan dan Kelemahan

a. Kelebihan metode Mind Mapping dalam (http://mahmmudin.wordpress.com/2009/12/01/pembelajaran-berbasis-peta-pikiran-mindmapping/) sebagai berikut:
1) Dapat mengemukakan pendapat secara bebas.
2) Dapat bekerjasama dengan teman lainnya
3) Catatan lebih padat dan jelas
4) Lebih mudah mencari catatan jika diperlukan.
5) Catatan lebih terfokus pada inti materi
6) Mudah melihat gambaran keseluruhan
7) Membantu Otak untuk : mengatur, mengingat, membandingkan dan membuat hubungan
8) Memudahkan penambahan informasi baru
9) Pengkajian ulang bisa lebih cepat
10) Setiap peta bersifat unik

b. Kelemahan pembelajaran metode Mind mapping:
1) Hanya siswa yang aktif yang terlibat.
2) Tidak sepenuhnya murid yang belajar
3) Mind map siswa bervariasi sehingga guru akan kewalahan memeriksa mind map siswa.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN

Ingin kaos bertema PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN?, bosan dengan kaos yang ada?, ingin mengedukasi keluarga atau murid dengan pembelajaran. HANYA KAMI SATU-SATUNYA DI INDONESIA PERTAMA KALI KAOS BERTEMA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN COCOK DIPAKAI UNTUK SEMUA KALANGAN DAN MEMBERI KESAN EDUKASI DAN PEMBELAJARAN DALAM SETIAP PEMAKAIAANYA

Jangan lupa kunjungi web kami di http://os-kaos.com/ untuk melihat berbagai koleksi kaos pendidikan dan pembelajaran dari kami like juga FP kami di https://www.facebook.com/oskaos1745

Fast Respon CP : 081938633462 dan 082331864747 PIN BB: 7BD178A5 WA: 081615875217

ee9f2fe2-288a-4081-829e-cac8538debd6wallpaper

01/23/2014 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , | Tinggalkan komentar

METODE TUTOR SEBAYA

2.1 Metode Diskusi Kelompok
Metode diskusi kelompok merupakan interaksi antar siswa dengan siswa atau siswa dengan guru untuk menganalisis, memecahkan masalah, menggali atau memperdebatkan topik permasalahan tertentu (Yamin, 2007:159). Metode diskusi ini
digunakan oleh guru, pelatih atau struktur jika : 1) Menyediakan bahan, topik, atau masalah yang akan didiskusikan. 2) Menugaskan siswa untuk menjelaskan, menganalisis dan meringkas. 3) Melatih siswa dalam menghargai pendapat orang lain. 4) Menyebutkan pokok-pokok yang akan dibahas. Metode diskusi kelompok memiliki kelebihan sebagai berikut (Djamarah, 2005:157-158).
1) Anggota kelompok memiliki sumber yang lebih banyak daripada individu.
2) Anggota kelompok sering diberi masukan dan motivasi dari anggota yang lain.
3) Anggota kelompok dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik.
4) Partisipasi diskusi akan meningkatkan saling pengertian antar individu dalam satu kelompok dan kelompok lain.

Metode diskusi kelompok juga memiliki keterbatasan.
1) Menyita waktu lama dan jumlah siswa harus sedikit.
2) Diskusi kelompok dapat menekan pendirian.
3) Mempersyaratkan siswa memiliki latar belakang yang cukup tentang topik atau masalah yang didiskusikan.

Setiawati (2009: 7) diskusi kelompok dapat dirumuskan menjadi dua unsur yaitu: berpikir dan bersama. Berpikir adalah tindakan yang paling wajar bagi setiap manusia, namun paling sulit pelaksanaannya dengan baik. Berkhayal atau melamun juga merupakan cara berpikir, akan tetapi cara berpikir yang tidak produktif, sikap relistislah yang dapat menghasilkan pemikiran produktif karena sikap ini yang menyebabkan manusia mengarahkan pemikirannya kepada kenyataan hidup, yang mendorongnya untuk bertanya kepada dirinya sendiri, yang mendorong orang bergabung dalam berpikir adalah usaha untuk mengetahui realistis setidaknya pemikirannya sendiri apabila dikaji dengan pengalaman sesamanya. Bergabung dalam berpikir berarti saling tukar – menukar pandangan, saling memperbandingkan dua jenis pandangan, saling memperbandingkan dua jenis rangkaian pengalaman yang berbeda dalam rangka usaha bersama untuk mencapai realita, dengan demikian
pemikiran bersama mempunyai kemampuan kreatif, dalam pengertian yang realistis.

2.2 Diskusi Kelompok Tutor Sebaya
Tutor sebaya merupakan sekelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahan pelajaran, dan memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya. Seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk oleh guru, untuk membantu guru dalam melakukan bimbingan
terhadap kawan sekelas. Dengan sistem pembelajaran menggunakan tutor sebaya, akan membantu siswa yang belum mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ), atau kurang cepat menerima pelajaran dari guru (Herianto dkk., 2010:2)

Tutor sebaya dikenal dengan pembelajaran teman sebaya atau pemberian pembelajaran antar siswa atau peserta didik. Hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri, dan kemudian membantu peserta didik lain, yang kurang mampu. Hal ini merupakan strategi untuk mendukung
pengajaran, sesama peserta didik didalam kelas. Strategi ini menempatkan seluruh tanggung jawab pengajaran kepada seluruh anggota kelas ( Setiawati, 2009: 9)Pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa, sumber belajar tidak hanya dari guru melainkan dari teman sekelas yang nilai KKMnya lebih tinggi. Bantuan belajar oleh teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan, bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami, selain itu dengan teman sebaya tidak ada rasa malu untuk mengungkapkan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Tutor berfungsi sebagai pelaksana mengajar yang cara mengajarnya telah disiapkan secara khusus dan terperinci. Untuk menimbulkan suasana kompetitif, setiap kelompok harus terus dipacu untuk menjadi kelompok yang terbaik. Peran tutor sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan kelompok dalam mempelajari materi ajar yang
disajikan melalui metode diskusi kelompok tutor sebaya (Herianto dkk., 2010:2-3)Menurut Surya dikutif (Soeprodjo dkk., 2008:295) Metode tutor sebaya merupakan metode yang dilakukan dengan cara memperdayakan kemampuan siswa
yang memiliki daya serap tinggi, siswa tersebut mengajarkan materi atau latihan kepada teman-temannya yang belum paham. Pemakaian tutor dari teman mereka memungkinkan siswa tidak merasa enggan untuk bertanya, dengan adanya tutor dapat memberikan keringanan pada guru dalam memberikan contoh soal atau latihan. Peran
guru adalah mengawasi kelancaran pelaksanaan metode ini dengan memberi pengarahan dan lain-lain. Dalam memilih tutor sebaya hendaknya diperhatikan segi kemampuan dalam penguasaan materi dan kemampuan dalam membantu orang lain.

Ini berarti bahwa tutor adalah murid yang tergolong baik dalam prestasi. Ada beberapa keuntungan metode tutor sebaya antara lain, 1 ) adanya suasana hubungan lebih akrab antara murid dengan tutor, 2 ) bersifat efisien, 3 ) bagi tutor merupakan pengayaan dan, 4 ) dapat meningkatkan rasa tanggung jawab. Namun demikian ada kekurangannya yaitu guru harus tahu siswa yang mempunyai pemahaman lebih, pengawasan tutor harus dilakukan dengan baik dan proses tutoring akan terhambat manakala siswa yang ditutori merasa rendah diri. Pemasalahan dalam metode ini antara lain apabila di dalam kelas tidak ada yang mampu dan bersedia menjadi tutor sebaya.

Tutor sebaya menurut Djamarah dan Zain dikutif (Azimatul dan Rosijono, 2010:30) adalah pembelajaran yang terpusat pada siswa, dalam hal ini siswa belajar dari siswa lain yang memiliki status umur, kematangan/harga diri yang tidak jauh berbeda dari dirinya sendiri. Sehingga anak tidak merasa begitu terpaksa untuk
menerima ide-ide dan sikap dari ―gurunya‖ yang tidak lain adalah teman sebayanya itu sendiri dari kedua pengertian di atas dapat diambil simpulan bahwa pembelajaran tutor sebaya merupakan pembelajaran yang melibatkan siswa sekelas yang memiliki kemampuan dan kriteria sebagai tutor untuk membimbing teman lainnya yang mengalami kesulitan dalam memahami penjelasan dari gurunya. Tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk atau ditugaskan untuk membantu siswa dalam mengalami kesulitan belajar. Tutor tersebut diambil dari kelompok siswa
yang memiliki prestasi yang lebih tinggi daripada siswa-siswa lainnya dan memiliki kemampuan menjelaskan kembali pemahaman yang dimiliki.Menurut Gintings dikutif (Amizatul dan Rusijono, 2010:30) penjelasan mengenai tahapan-tahapan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran tutor sebaya. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
1) langkah perencanaan, guru mempelajari bahan ajar dengan seksama dan mengedentifikasi bagian-bagian yang sulit dari isi bahan ajar kemudian menyusun strategi untuk membantu siswa menghadapi kesulitan agar bisa mempelajari bagianyang sulit.
2) langkah persiapan, guru menyiapkan bahan ajar tambahan seperti variasi, contoh-contoh penyelesaian soal atau LKS.
3) langkah pelaksanaan, guru mengidentifikasi siswa yang menghadapi kesulitan dalam memahami bahan ajar yang
diberikan dan sulit dipahami dan melaksanakan tutorial dengan menggunakan bahan dan langkah-langkah yang telah disiapkan.
4) langkah evaluasi, guru melakukan tanya jawab untuk meyakinkan bahwa siswa tersebut telah mengatasi kesulitan belajarnya dan memahami materi yang sedang dipelajari dan memberikan tugas mandiri.

2.3 Kriteria Tutor Sebaya
Seorang tutor hendaknya memiliki kriteria yaitu, memiliki kemampuan akademik di atas Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) siswa satu kelas, mampu menjalin kerja sama dengan sesama siswa, memiliki motivasi tinggi untuk meraih prestasi akademik yang baik, memiliki sifat toleransi dan tenggang rasa dengan sesama, memiliki motivasi tinggi untuk menjadikan kelompok diskusinya sebagai yang terbaik, bersikap rendah hati, pemberani, dan bertanggung jawab, suka membantu sesamanya yang mengalami kesulitan. Tutor atau ketua kelompok memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut yaitu, 1) memberikan tutorial
kepada anggota terhadap materi ajar yang sedang dipelajari, 2) mengkoordinir proses diskusi agar berlangsung kreatif dan dinamis, 3) menyampaikan permasalahan kepada guru pembimbing apabila ada materi ajar yang belum dikuasai, 4) menyusun jadwal diskusi bersama anggota kelompok, baik pada saat tatap muka di kelas maupun di luar kelas, secara rutin dalam memecahkan masalah yang dihadapi, 5) melaporkan perkembangan akademis kelompoknya kepada guru pembimbing pada setiap materi yang dipelajari, peran guru dalam metode diskusi kelompok terbimbing dengan tutor sebaya hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing terbatas. Artinya guru hanya melakukan intervensi ketika betul – betul diperlukan oleh siswa (Setiawati, 2009:11)

09/13/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , , | 2 Komentar

Metode Pembelajaran GI (Group Investigation)

Dasar-dasar model Group Investigation dirancang oleh Herbert Thelen, selanjutnya diperluas dan diperbaiki oleh Sharan dan teman-temannya dari Universitas Tel Aviv. Metode GI ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam seleksi topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Dalam menggunakan metode GI umumnya kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan anggota 5 sampai 6 orang siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai sub topik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan (Arends, 1997: 120-121).
Investigasi kelompok adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif, guru dan siswa bekerja sama membangun pembelajaran. Proses dalam perencanaan bersama didasarkan pada pengalaman masing-masing siswa, kapasitas, dan kebutuhan. Siswa aktif berpartisipasi dalam semua aspek, membuat keputusan untuk menetapkan arah tujuan yang mereka kerjakan. Dalam hal ini kelompok merupakan wahana sosial yang tepat untuk proses ini. Perencanaan kelompok merupakan salah satu metode untuk menjamin keterlibatan siswa secara maksimal.
Metode investigasi kelompok adalah perpaduan sosial dan kemahiran berkomunikasi dengan intelektual pembelajaran dalam menganalisis dan mensintesis. Investigasi kelompok tidak dapat diimplementasikan dalam lingkungan pendidikan yang tidak ada dukungan dialog dari setiap anggota atau mengabaikan dimensi afektif-sosial dalam pembelajaran kelas (Suhaida Abdul Kadir, 2002: 67).
Dalam model ini terdapat 3 konsep utama, yaitu:
a. Penelitian (inquiry) yaitu proses perangsangan siswa dengan menghidupkan suatu masalah. Dalam proses ini siswa merasa dirinya perlu memberikan reaksi terhadap masalah yang dianggap perlu untuk diselesaikan. Masalah ini didapat dari siswa sendiri atau diberikan oleh guru.
b. Pengetahuan yaitu pengalaman yang tidak dibawa sejak lahir namun diperoleh siswa melalui pengalaman baik secara langsung maupun tidak langsung.
c. Dinamika kelompok, menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok individu yang saling berinteraksi mengenai sesuatu yang sengaja dilihat atau dikaji bersama dengan berbagai ide dan pendapat serta saling tukar-menukar pengalaman dan saling berargumentasi.
Spencer Kagan (1985: 72) mengemukakan bahwa metode GI memiliki enam tahapan kegiatan seperti berikut:
a) Mengidentifikasikan topik dan pembentukan kelompok
Tingkatan ini menekankan pada permasalahan, siswa meneliti, mengajukan topik dan saran. Peranan ini dimulai dengan setiap siswa diberikan modul yang berisikan kisi-kisi; dari langkah ini diharapkan siswa mampu menebak topik apa yang akan disampaikan kemudian siswa yang memiliki topik yang sama dikelompokkan menjadi satu kelompok dalam penyelidikan nanti. Dalam hal ini peran dari guru adalah membatasi jumlah kelompok serta membantu mengumpulkan informasi dan memudahkan pengaturan.
b) Merencanakan tugas belajar
Pada tahap ini anggota kelompok menentukan subtopik yang akan diinvestigasi dengan cara mengisi lembar kerja yang telah tersedia serta mengumpulkan sumber untuk memecahkan masalah yang tengah diinvestigasi. Setiap siswa menyumbangkan kontribusinya terhadap investigasi kelompok kecil. Kemudian setiap kelompok memberikan kontribusi kepada penelitian untuk seluruh kelas.
c) Menjalankan investigasi
Siswa secara individual atau berpasangan mengumpulkan informasi, menganalisa dan mengevaluasi serta menarik kesimpulan. Setiap anggota kelompok memberikan kontribusi satu dari bagian penting yang lain untuk mendiskusikan pekerjaannya bengan mengadakan saling tukar menukar informasi dan mengumpulkan ide-ide tersebut untuk menjadi suatu kesimpulan.
d) Menyiapkan Laporan Akhir
Pada tahap ini merupakan tingkat pengorganisasian dengan mengintegrasikan semua bagian menjadi keseluruhan dan merencanakan sebuah presentasi di depan kelas. Setiap kelompok telah menunjuk salah satu anggota untuk mempresentasikan tentang laporan hasil penyelidikannya yang kemudian setiap anggotanya mendengarkan. Peran guru di sini sebagai penasehat, membantu memastikan setiap anggota kelompok ikut andil di dalamnya.
e) Mempresentasikan hasil akhir
Setiap kelompok telah siap memberikan hasil akhir di depan kelas dengan berbagai macam bentuk presentasi. Diharapkan dari penyajian presentasi yang beraneka macam tersebut, kelompok lain dapat aktif mengevaluasi kejelasan dari laporan setiap kelompok dengan melakukan tanya jawab.
f) Mengevaluasi
Pada tahap ini siswa memberikan tanggapan dari masing-masing topik dari pengalaman afektif mereka. Sedangkan guru dan siswa yang lain berkolaborasi mengevaluasi proses belajar sehingga semua siswa diharapkan menguasai semua subtopik yang disajikan.
Menurut Bruce Joyce, Marsha Weil dan Emily Calhoun (2000: 51) dalam model Group Investigation ini guru hanya berperan sebagai konselor, konsultan dan pemberi kritik yang bersahabat. Di dalam metode ini seyogyanya guru membimbing dan mencerminkan kelompok melalui tiga tahap:
1) Tahap pemecahan masalah
2) Tahap pengelolaan kelas
3) Tahap pemaknaan secara perorangan

09/04/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | 2 Komentar

“RANAH PENGETAHUAN MENURUT BLOOM”

RANAH PENGETAHUAN MENURUT BLOOM

Pada tahun 1956 Benyamin Bloom menyampaikan gagasannya berupa taksonomi tujuan pendidikan dengan menyajikannya dalam bentuk hirarki. Tujuan penyajian ke dalam bentuk system klasifikasi hirarki ini dimaksudkan untuk mengkategorisasi hasil perubahan pada diri siswa sebagai hasil buah pembelajaran. Bloom dalam taksonominya, yang selanjutnya disebut Taksonomi Bloom. Bloom dan Krathwohl menggunakan 4 prinsip-prinsip dasar dalam merumuskan taksonomi, antara lain:
1. Prinsip metodologi
Perbedaan yang besar telah merefleksi kepada cara-cara guru dalam mengajar
2. Prinsip psikologis
Taksonomi hendaknya konsisten fenomena kejiwaan yang ada sekarang
3. Prinsip Logis
Taksonomi hendaknya dikembangkan secara logis dan konsisten
4. Prinsip tujuan
Tingkatan-tingkatan tujuan tidak selaras dengan tingkatan-tingkatan nilai-nilai.
Taksonomi Bloom merupakan hasil kelompok penilai di Universitas yang terdiri dari B.S Bloom Editor M.D Engelhart, E Frust, W.H. Hill dan D.R Krathwohl, yang kemudian di dukung oleh Ralp W. Tyler. Bloom merumuskan tujuan-tujuan pendidikan pada 3 tingkatan :
1. Kategori tingkah laku yang masih verbal
2. Perluasan kategori menjadi sederetan tujuan
3. Tingkah laku konkrit yang terdiri dari tugas-tugas dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai ujian dan butir-butir soal.
Pada awalnya Bloom mengklasifikan tujuan kognitif dalam enam level, yaitu pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), aplikasi (apply), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation) dalam satu dimensi, maka Anderson dan Kratwohl merevisinya menjadi dua dimensi, yaitu proses dan isi/jenis.
Pada dimensi proses, terdiri atas mengingat (remember), memahami (understand), menerapkan (apply), menganalisis (analyze), menilai (evaluate), dan berkreasi (create). Sedangkan pada dimensi isinya terdiri atas pengetahuan faktual (factual knowlwdge), pengetahuan konseptual (conceptual knowledge), pengetahuan prosedural (procedural knowledge), dan pengetahuan metakognisi (metacognitive knowledge).

Struktur dari original taksonomi Bloom (sebelum di revisi)
a. Ranah Kognitif
Tujuan kognitif atau Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktifitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai jenjang yang tertinggi.yang meliputi 6 tingkatan:
1. Pengetahuan (Knowledge), yang disebut C1
Menekan pada proses mental dalam mengingat dan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. Informasi yang dimaksud berkaitan dengan simbol-simbol matematika, terminologi dan peristilahan, fakta-fakta, keterampilan dan prinsip-prinsip
Contoh: Sebutkan contoh-contoh dari bilangan rasional dan irrasional
2. Pemahaman (Comprehension), yang disebut C2
Tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. Dalam tingkatan ini siswa diharapkan mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya dengan ide-ide lain dengan segala implikasinya.
Contoh : Jelaskan pengertian dari bilangan rasional dan irrasional
3. Penerapan (Aplication), yang disebut C3
Kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasikan pemahaman mereka berkenaan dengan sebuah abstraksi matematika melalui penggunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk itu.
Contoh: Tentukan nilai dari = ………
4. Analisis (Analysis), yang disebut C4
Kemampuan untuk memilah sebuah informasi ke dalam komponen-komponen sedemikan hingga hirarki dan keterkaitan anta ride dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas.
Contoh : Jumlah siswa SMK A 1400 orang, terdiri dari jurusan akuntansi, bisnis manajemen, perkantoran dan broadcasting. Bila jurusan akuntasi 200 orang, bisnis manajemen 250 orang, perkantoran 450 orang dan sisanya broadcasting, maka persentase jumlah siswa jurusan broadcasting adalah ….
5. Sintesis (Synthesis) , yang disebut C5
Kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik dan system. Dalam matematika, sintesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur matematika yang lain dan berbeda dari yang sebelumnya. Contoh : memformulakan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur-struktur matematika.
Contoh : Manakah dari bilangan-bilangan berikut ini yang merupakan bilangan irrasional
a. 2 c. e.
b. 0, 524389 d. 0,123123123
6. Evaluasi (Evaluation), yang disebut C6
Kegiatan membuat penilaian berkenaan dengan nilai sebuah ide, kreasi, cara, atau metode. Evaluasi dapat memandu seseorang untuk mendapatkan pengetahuan baru, pemahaman yang lebih baik, penerapan baru dan cara baru yang unik dalam analisis atau sisntesis.
Contoh : Jelaskan jenis-jenis himpunan bilangan asli beserta contohnya
Keenam jenjang berpikir yang terdapat pada ranah kognitif menurut taksonomi Bloom jika diurutkansecara hirarki adalah sebagaimana terlukis pada gambar I

2013-07-13_105230

Keenam jenjang berpikir pada ranah kognitif ini bersifat kontinum dan overlap (tumpang tindih), dimana ranah yang lebih tinggi meliputi semua ranah yang ada dibawahnya. Overlap diantara 6 jenjang berpikir itu akan lebih jelas pada gambar II

2013-07-13_105555

Keterangan: (1) Pengetahuan adalah jenjang berpikir paling dasar. (2) Pemahaman, mencakup pengetahuan (3) Aplikasi atau penerapan, mencakup pemahaman dan pengetahuan. (4) Analisis, mencakup aplikasi, pemahaman dan pengetahuan. (5) Sintesis, meliputi juga analisis, aplikasi, pemahaman dan pengetahuan, (6) Evaluasi, meliputi sintesis, analisis, aplikasi, pemahaman dan pengetahuan.
b. Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berhubungan dengan sikap dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa, sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya. Bila seseorang memiliki penguasaan kognitif yang tinggi, ciri-ciri belajar efektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Misalnya; perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan hubungan sosial. Ada beberapa kategori dalam ranah afektif sebagai hasil belajar; (a) Receiving/ attending/ menerima/ memperhatikan. (b) Responding/ menanggapi. (c) Valuing/ penilaian. (d) Organization/ Organisasi. (e) Characterization by a value or value complex/ karakteristik nilai atau internalisasi nilai.
Receiving/ attending/ menerima/ memperhatikan adalah semacam kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain. Dalam tipe ini termasuk kesadaran, keinginan untuk menerima stimulus, control dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar. Receiving juga diartikan sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek. Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima nilai-nilai yang diajarkan kepada mereka dan mereka mempunyai kemauan menggabungkan diri ke dalam nilai itu atau mengidentifikasi diri dengan nilai itu.
Responding/ menanggapi adalah suatu sikap yang menunjukkan adanya partisipasi aktif atau kemampuan menanggapi, kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengikutsertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya dengan salah satu cara. Hal ini mencakup ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang kepada dirinya. Valuing/ penilaian, menilai atau menghargai artinya memeberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau objek, sehingga apabila kegiatan itu idak dikerjakan kan memebrikan suatu penyesalan. Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran peserta didik tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena baik atau buruk.
Organization/ Organisasi yakni pengembangan dari nilai ke dalam suatu sistem organisasi, termasuk hubungan suatu nilai dengan nilai yang lain, pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. Yang termasuk kedalam organisasi ialah konsep tentang nilai, organisasi sistem nilai dan lain-lain. Characterization by a value or value complex/ karakteristik nilai atau internalisasi nilai adalah keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalam hierarki nilai.
Bentuk-bentuk aktivitas dalam pembelajaran matematika
1) Menerima: Siswa menanyakan perbandingan perbandingan senilai dan perbandingan berbalik nilai.
2) Menanggapi: Siswa mengerjakan soal yang diberikan guru tentang perbandingan senilai.
3) Menilai: Siswa melengkapi jawaban temannya yang di tampilkan di depan kelas.
4) Mengelola: Siswa dapat mengubah bilangan persen ke bentuk decimal.
5) Menghayati: Siswa melengkapi catatan matematikanya serta membuat tugas yang diberikan guru.
c. Ranah Psikomotor
Ranah Psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skiil) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Adapun kategori dalam ranah psikomotor; (a) Peniruan, (b) Manipulasi, (c) Pengalamiahan, (d) Artikulasi.
Struktur dari taksonomi Bloom (setelah di revisi)
A. Struktur dari dimensi proses kognitif.
1. Mengingat
Dapat mengingat kembali pengetahuan yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama
2. Mengerti
Membangun makna dari pesan-pesan instruksional, termasuk lisan, tulisan,
dan grafik komunikasi, termasuk di dalamnya:
a. Interpreting (menerjemahkan)
b. Exemplifying (Mencontohkan)
c. Classifying ( Mengklasifikasikan)
d. Summarizing (Meringkas)
e. Inferring (Menyimpulkan)
f. Comparing Membandingkan)
g. Explaining (Menjelaskan)
3. Menerapkan
Melaksanakan atau menggunakan prosedur dalam suatu situasi tertentu
4. Menganalisis
Kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian yang satu dengan yang lainnya.
5. Mengevaluasi
Kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap situasi, nilai atau ide atau mampu melakukan penilaian berdasarkan kriteria dan standar
6. Berkreasi
Kemampuan menyusun unsur-unsur untuk membentuk suatu keseluruhan koheren atau fungsional, mereorganisasi unsur ke dalam pola atau struktur baru, termasuk didalamnya:
a. Generating (hipotesa)
b. Planning (Perencanaan)
c. Producing ( Penghasil)
Kata Operasional dari dimensi proses taksonomi Bloom
• Mengingat – Mengenali, daftar, menjelaskan, mengidentifikasi, mengambil, penamaan, mencari, menemukan
• Memahami – meringkas, menyimpulkan, parafrase, mengklasifikasi, membandingkan, menjelaskan, mencontohkan
• Menerapkan – Menerapkan, melaksanakan, menggunakan, melaksanakan
• Menganalisis – Membandingkan, mengorganisir, dekonstruksi, menghubungkan, menguraikan, menemukan, penataan, mengintegrasikan
• Mengevaluasi – Memeriksa, hypothesising, mengkritisi, percobaan, penilaian, pengujian, Mendeteksi, Monitoring
• Menciptakan – merancang, membangun, perencanaan, menghasilkan, menciptakan, merancang, membuat

2013-07-13_110134

B. Struktur dari dimensi Isi/Jenis
Jika isi adalah subjek-materi yang spesifik maka akan memerlukan banyak taksonomi karena ada materi (misalnya, satu untuk ilmu pengetahuan, satu untuk sejarah, dll). Kemudian, jika isi dianggap ada di luar siswa, maka timbul permasalahan bagaimana untuk mendapatkan isi dalam siswa. Ketika isi di dalam siswa, itu menjadi pengetahuan yang dimiliki oleh siswa. Transformasi ini pengetahuan diperoleh melalui proses-proses kognitif yang digunakan oleh siswa. Sehingga dibedakan atas 4 jenis pengetahuan
1. Pengetahuan faktual (Factual Knowledge)
Yaitu elemen dasar dimana siswa harus tahu akan berkenalan dengan disiplin atau memecahkan masalah di dalamnya. Termasuk di dalamnya pengetahuan terminologi dan pengetahuan tentang rincian spesifik dan unsur.
2. Pengetahuan konseptual (Conceptual Knowledge)
Yaitu hubungan antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar yang memungkinkan mereka untuk berfungsi bersama-sama. Diantaranya: Pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori, pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan generalisasi, Pengetahuan tentang teori, model, dan struktur.
3. Pengetahuan Prosedural (Procedural Knowledge)
Yaitu bagaimana melakukan sesuatu atau penyelidikan, dan kriteria untuk menggunakan keterampilan, teknik, dan metode.
Diantaranya: Pengetahuan tentang subyek-keterampilan khusus, pengetahuan subjek-teknik khusus dan metode, pengetahuan kriteria untuk menentukan ketika untuk menggunakan prosedur yang tepat.
4. Pengetahuan metakognitif (Metacognitive Knowledge)
Yaitu pengetahuan kognisi secara umum serta kesadaran dan pengetahuan tentang kognisi sendiri. Diantaranya: Pengetahuan strategis, pengetahuan tentang tugas-tugas kognitif, termasuk sesuai kontekstual dan kondisi pengetahuan, Pengetahuan diri

07/12/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | 1 Komentar

Model Pembelajaran Tipe TAI (Team Assisted Individualization)

TAI termasuk dalam pembelajaran kooperatif. Dalam model pembelajaran TAI, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil (4 sampai 5 siswa) yang heterogen dan selanjutnya diikuti dengan pemberian bantuan secara individu bagi siswa yang memerlukannya. Sebelum dibentuk kelompok, siswa diajarkan bagaimana bekerja sama dalam suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar yang baik, dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain
untuk bekerja sama, menghargai pendapat teman lain, dan sebagainya.

Masing-masing anggota dalam kelompok memiliki tugas yang setara. Karena pada pembelajaran kooperatif keberhasilan kelompok sangat diperhatikan, maka siswa yang pandai ikut bertanggung jawab membantu temannya yang lemah dalam kelompoknya. Dengan demikian, siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya, sedangkan siswa yang lemah akan terbantu dalam memahami permasalahan yang diselesaikan dalam kelompok tersebut (Suyitno, 2002:9).

Model pembelajaran TAI memiliki delapan komponen (Suyitno, 2002:9). Kedelapan komponen tersebut adalah sebagai berikut :
1. teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 sampai 6 siswa,
2. placement test, yakni pemberian pretest kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu,
3. student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya,
4. team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan secara individual kepada siswa yang membutuhkannya,
5. team scores and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas,
6. teaching group, yakni pemberian materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok,
7. facts test, yaitu pelaksanaan tes-tes kecil bardasarkan fakta yang diperoleh siswa,
8. whole class units, yaitu pemberian materi oleh guru kembali di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.

Unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam Team Assisted Individualization (Robert E. Slavin: 1995) adalah sebagai berikut.
a. Team (kelompok)
Peserta didik dikelompokkan dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4 sampai 5 orang peserta didik dengan kemampuan yang berbeda.

b. Tes Penempatan
Peserta didik diberi pre tes di awal pertemuan, kemudian peserta didik ditempatkan sesuai dengan nilai yang didapatkan dalam tes, sehingga didapatkan anggota yang heterogen (memiliki kemampuan berbeda) dalam kelompok.

c. Langkah-langkah Pembelajaran.
1) Diawali dengan pengenalan konsep oleh guru dalam mengajar secara kelompok (diskusi singkat) dan memberikan langkah
langkah cara menyelesaikan masalah atau soal.
2) Pemberian tes keterampilan yang terdiri dari 10 soal.
3) Pemberian tes formatif yang terdiri dari dua paket soal, tes formatif A dan tes formatif B, masing-masing terdiri dari 8 soal.
4) Pemberian tes keseluruhan yang terdiri dari 10 soal.
5) Pembahasan untuk tes keterampilan, tes formatif, dan tes keseluruhan.

d. Belajar Kelompok
Berdasarkan tes penempatan, guru mengajarkan pelajaran pertama,kemudian peserta didik bekerja pada kelompok mereka masing masing. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1) Peserta didik berpasangan atau bertiga dengan anggota kelompok mereka.
2) Peserta didik diberi Lembar Kerja Siswa (LKS) pembelajaran yang disiapkan guru untuk diskusi sebagai pemahaman konsep materi yang akan dipelajari. Peserta didik diberi kesempatan bertanya pada teman sekelompok atau guru untuk minta bantuan jika mengalami kesulitan. Selanjutnya dimulai dengan tes pertama yaitu tes keterampilan.
3) Masing-masing peserta didik dengan kemampuannya sendiri mengerjakan 3 soal tes keterampilan yang pertama, bila sudah selesai, peserta didik boleh melanjutkan 3 soal berikutnya. Begitu sudah selesai baru melanjutkan 4 soal terakhir. Peserta didik yang mengalami kesulitan bisa meminta bantuan pada teman sekelompoknya sebelum meminta bantuan guru.
4) Apabila sudah bisa menyelesaikan soal tes keterampilan dengan benar, peserta didik bisa melanjutkan mengerjakan tes formatif A yang terdiri dari 8 soal. Dalam tes ini peserta didik juga bekerja sendiri-sendiri dulu sampai selesai. Jika peserta didik dapat mengerjakan 6 soal dengan benar, maka peserta didik tersebut bisa mengambil soal tes keseluruhan. Jika peserta didik tidak bisamenjawab 6 soal dengan benar, guru merespon dan menampung semua masalah yang dimiliki peserta didik. Guru boleh menyuruh peserta didik untuk bekerja kembali pada nomor-nomor soal tes
keterampilan dan kemudian mengambil soal tes formatif B, yaitu 8 soal kedua yang isi dan tingkat kesulitannya sebanding dengan tes formatif A. Selanjutnya peserta didik boleh melanjutkan ke tes keseluruhan. Peserta didik tidak boleh mengambil soal tes keseluruhan sebelum dia bisa menyelesaikan tes formatif dengan kelompoknya.
5) Peserta didik kemudian mengikuti tes keseluruhan. Tes ini merupakan tes terakhir dalam model pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization (TAI), yang terdiri dari 10 soal. Di sini peserta didik juga bekerja secara individu dulu sampai selesai. Setelah selesai baru bisa berdiskusi dengan kelompoknya. Setelah tes keseluruhan ini selesai kemudian dilakukan pembahasan dan penilaian bersama antara guru dan peserta didik.
6) Penilaian kelompok
Pada akhir pertemuan, guru menghitung nilai dari masing-masing kelompok. Nilai ini berdasarkan pada jumlah rata-rata dari anggota masing-masing kelompok dan ketelitian dari tes keseluruhan. Kriteria pemberian predikat berdasarkan kemampuan kelompok. Kelompok dengan kemampuan bagus diberi predikat Super Team, kelompok dengan kemampuan
sedang diberi predikat Great Team, kelompok dengan kemampuan kurang diberi predikat Good Team. Pemberian
predikat ini bertujuan untuk memotivasi dan member semangat kepada masing-masing kelompokagar pada pada pembelajaran
selanjutnya mau berusaha untuk melakukan yang lebih baik lagi.
7) Mengajar kelompok
Setiap pertemuan guru mengajar 10 sampai 15 menit untuk dua atau tiga kelompok yang mempunyai nilai yang sama. Guru
menggunakan konsep belajar yang diprogramkan atau direncanakan sebelumnya. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan konsep utama pada peserta didik. Pembelajaran dibuat untuk membantu peserta didik agar mengerti dan memahami hubungan antara matematika yang mereka pelajari dengan masalah kehidupan nyata. Ketika guru sedang mengajar dalam suatu kelompok, peserta didik lain melanjutkan bekerja dalam kelompok mereka sendiri dengan kemampuan individu masing-masing.

Adapun keuntungan pembelajaran tipe TAI adalah :
1. siswa yang lemah dapat terbantu dalam menyelesaikan masalahnya;
2. siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya;
3. adanya tanggung jawab dalam kelompok dalam menyelesaikan permasalahannya;
4. siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok.

Sedangkan kelemahan pembelajaran tipe TAI adalah :
1. tidak ada persaingan antar kelompok;
2. siswa yang lemah dimungkinkan menggantungkan pada siswa yang pandai.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

05/20/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , , , | 1 Komentar

MINAT

a. Pengertian Minat
Minat adalah suatu keadaan dimana seseorang mempunyai
perhatian terhadap sesuatu dan disertai keinginan untuk mengetahui
dan mempelajari maupun membuktikan lebih lanjut Bimo Walgito
(1981: 38). Dalam belajar diperlukan suatu pemusatan perhatian agar
apa yang dipelajari dapat dipahami. Sehingga siswa dapat melakukan
sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan. Terjadilah suatu
perubahan kelakuan. Perubahan kelakuan ini meliputi seluruh pribadi
siswa; baik kognitip, psikomotor maupun afektif.
W. S Winkel mengatakan bahwa minat adalah kecenderungan
yang agak menetap untuk merasa tertarik pada bidang-bidang tertentu
dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu (1983 : 38),
sedangkan menurut Witherington (1985 : 38) minat adalah kesadaran
seseorang terhadap suatu objek, seseorang, suatu soal atau situasi
tertentu yang mengadung sangkut paut dengan dirinya atau dipandang
sebagai sesuatu yang sadar.
Faktor-faktor yang mendasari minat menurut Crow&Crow
yang diterjemahkan oleh Z. Kasijan (1984 : 4) yaitu faktor dorongan
dari dalam, faktor dorongan yang bersifat sosial dan faktor yang
berhubungan dengan emosional. Faktor dari dalam dapat berupa
kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani dan kejiwaan.
Timbulnya minat dari diri seseorang juga dapat didorong oleh adanya
motivasi sosial yaitu mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari
lingkungan masyarakat dimana seseorang berada sedangkan faktor
emosional memperlihatkan ukuran intensitas seseorang dalam
menanam perhatian terhadap suatu kegiatan atau obyek tertentu.
Sedangkan menurut Sumadi Suryabrata (2002:68) definisi minat
adalah “Suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau
aktivitas tanpa ada yang menyuruh”. Minat pada dasarnya adalah
penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu hal
diluar dirinya. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut semakin
besar minatnya.
Minat dapat diartikan sebagai “Kecenderungan yang tinggi
terhadap sesuatu, tertarik, perhatian, gairah dan keinginan”. Pendapat
lain tentang pengertian minat yaitu yang diungkapkan oleh T. Albertus
yang diterjemahkan Sardiman A.M, minat adalah “Kesadaran
seseorang bahwa suatu obyek, seseorang, suatu soal maupun situasi
yang mengandung sangkut paut dengan dirinya” (2006:32).
Menurut Hilgard yang dikutip oleh Slameto (2003:57) minat
adalah “Kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan
mengenang beberapa kegiatan”. Kegiatan yang diminati seseorang
diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang.
Sedangkan menurut Holland yang dikutip oleh Djaali (2007:122)
mengatakan bahwa “Minat adalah kecenderungan hati yang tinggi
terhadap sesuatu”.
Oleh karena itu minat merupakan aspek psikis yang dimiliki
seseorang yang menimbulkan rasa suka atau tertarik terhadap sesuatu
dan mampu mempengaruhi tindakan orang tersebut. Minat mempunyai
hubungan yang erat dengan dorongan dalam diri individu yang
kemudian menimbulkan keinginan untuk berpartisipasi atau terlibat
pada suatu yang diminatinya. Seseorang yang berminat pada suatu
obyek maka akan cenderung merasa senang bila berkecimpung di
dalam obyek tersebut sehingga cenderung akan memperhatikan
perhatian yang besar terhadap obyek. Perhatian yang diberikan tersebut
dapat diwujudkan dengan rasa ingin tahu dan mempelajari obyek
tersebut.
Untuk meningkatkan minat, maka proses pembelajaran dapat
dilakukan dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami apa
yang ada di lingkungan secara berkelompok. Di dalam kelompok
tersebut terjadi suatu interaksi antar siswa yang juga dapat
menumbuhkan minat terhadap kegiatan tersebut.
b. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Minat
Minat pada seseorang akan suatu obyek atau hal tertentu tidak
akan muncul dengan sendirinya secara tiba-tiba dalam diri individu.
Minat dapat timbul pada diri seseorang melalui proses. Dengan adanya
perhatian dan interaksi dengan lingkungan maka minat tersebut dapat
berkembang. Banyak faktor yang mempengaruhi minat seseorang akan
hal tertentu.
Miflen, FJ & Miflen FC, (2003:114) mengemukakan ada dua
faktor yang mempengaruhi minat belajar peserta didik, yaitu :
1. Faktor dari dalam yaitu sifat pembawaan
2. Faktor dari luar, diantaranya adalah keluarga, sekolah dan
masyarakat atau lingkungan.
Menurut Crow and Crow yang dikutip (Dimyati Mahmud,
2001:56) yang menyebutkan bahwa ada tiga faktor yang mendasari
timbulnya minat seseorang yaitu :
1. Faktor dorongan yang berasal dari dalam. Kebutuhan ini dapat
berupa kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani dan kejiwaan.
2. Faktor motif sosial. Timbulnya minat dari seseorang dapat didorong
dari motif sosial yaitu kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan
dan lingkungan dimana mereka berada.
3. Faktor emosional. Faktor ini merupakan ukuran intensitas seseorang
dalam menaruh perhatian terhadap sesuatu kegiatan atau obyek
tertentu.
Menurut Johanes yang dikutip oleh Bimo Walgito (1999:35),
menyatakan bahwa “Minat dapat digolongkan menjadi dua, yaitu
minat intrinsik dan ektrinsik. Minat intrinsik adalah minat yang
timbulnya dari dalam individu sendiri tanpa pengaruh dari luar. Minat
ekstrinsik adalah minat yang timbul karena pengaruh dari luar”.
Berdasarkan pendapat ini maka minat intrinsik dapat timbul karena
pengaruh sikap. Persepsi, prestasi belajar, bakat, jenis kelamin dan
termasuk juga harapan bekerja. Sedangkan minat ekstrinsik dapat
timbul karena pengaruh latar belakang status sosial ekonomi orang tua,
minat orang tua, informasi, lingkungan dan sebagainya.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

05/20/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , , , | Tinggalkan komentar

Keterampilan Bertanya

Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermuladari ‘bertanya’. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis Contextual Teaching and Learning(CTL). Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam pelaksanaaan pembelajaran.

Siswa dalam mengajukan pertanyaan didorong rasa ingin tahu. Setiap pertanyaan merupakan saat yang berguna, karena saat ini akan memusatkan seluruh perhatian untuk memahami sesuatuyang baru. Setiap pertanyaan yang diutarakan menunjukan bahwa siswa menyadari adanya suatu masalah. Siswa merasa kekurangan pengetahuan seputar materi yang diajarkan oleh guru. Guru harus mampu merangsang minat siswa bertanya serta mampu merespon setiap pertanyaan dengan baik.Adapun
keterampilan bertanya yang harus dimiliki siswa ketika bertanya yaitu frekuensi pertanyaan selama proses pembelajaran, substansi pertanyaan, bahasa, suara, dan kesopanan. Seorang siswa yang dibiasakan untuk bertanya maka siswa tersebut akan memiliki keterampilan bertanya yang baik.

Bertanya berarti berpikir, karena setiap pertanyaanyang terungkap tanpa disadari berdasarkan pemikiran. Mel Silberman(2009: 144) Beberapa strategi untuk menggugah rasa ingin tahu siswa yaitu :

a. Belajar memulai dengan sebuah pertanyaan (Learning starts with a Question).
Pola belajar dengan merangsang siswa untuk bertanyatentang materi mereka, tanpa penjelasan dari guru terlebih dahulu.
b. Bertanya yang telah ditanamkan
Teknik ini memungkinkan guru untuk memberikan informasi sebagai jawaban atas pertanyaan yang telah diberikan kepadasiswa yang sudah ditentukan. Hal ini mengesankan pada siswa lain bahwa guru mengerjakan satu sesi tanya jawab.
c. Peran pemutaran pertanyaan (Role reversal Qustion)
Teknik ini merupakan kebalikan dari yang biasanya dilakukan guru. Biasanya guru meminta siswa untuk bertanya selama pertanyaan berlangsung. Pada teknik ini gurulah yang akan melontarkan pertanyaan dan siswa yang mencoba menjawab.

Proses belajar-mengajar, pada saat itu guru terkadang mengajukan pertanyaan yang pada hakekatnya bukan untuk memperoleh jawaban dari siswa, tetapi karena maksud-maksud tertentu. Dalam hal seperti ini, guru perlu mengajukan pertanyaan tambahan yang akan mengarahkan proses berpikir siswa kearah persoalan yang sebenarnya, dan atau pertanyaan
yang akan mendorong siswa untuk lebih mendalami persoalan yang dimaksud, akhirnya jawabannya menjadi lengkap. Misalnya guru mengajukan pertanyaan “mengapa pada kondisi gelap kita tidak bisa melihat?”, oleh sebab itu perlunya teknik dalam mengajukan pertanyaan. Teknik pertanyaan (S.L. La Sulo, 1984: 19) sebagai berikut :
1. Pertanyaan hendaknya ditunjukan kepada seluruh siswa dalam kelas,
sehingga perlu diperhitungkan :
a. Suara cukup keras untuk didengar seluruh siswa ; hendaknya dihindari suara yang lemah, tetapi tidak terlalu keras.
b. Pertanyaan diajukan dengan ucapan yang jelas dan tidak terlalu cepat.
2. Setelah pertanyaan diajukan, siswa diberi waktu untuk menangkap makna pertanyaan dan mencari jawabannya, setelah itu ditunjuk seorang siswa untuk mengemukakan jawabannya.
3. Menggilirkan kesempatan untuk menjawab sedemikian rupa, sehingga merata keseluruh kelas agar semua siswa mendapat kesempatan yang sama.
4. Jangan mengulangi pertanyaan, agar siswa terbiasa utuk selalu memusatkan perhatiannya; hal ini dapat pula menumpuk kebiasaan siswa untuk menjadi pendengar yang baik. Disamping itu, pertanyaan yang diulang dengan redaksional yang lain akan membingungkan siswa yang telah mulai menyusun jawabannya. Demikian pula: jangan mengulangi jawaban siswa.
5. Agar memberi reaksi positif terhadap jawaban siswa yang tepat. Guru harus dapat mengarahkan siswa untuk membetulkan/menyempurnakan jawabannya.
6. Agar mendorong partisipasi siswa dalam memberi kesempatan kepada siswa yang kurang spontan atau pemalu.
7. Sedapat mungkin kalimat pertanyaan jangan terlalu panjang yang
mungkin akan menyulitkan siswa untuk menangkapnya. 8. Biasakanlah memberikan pertanyaan mengarahkan dan atau menggalikepada siswa yang memberikan jawaban yang salah/tidak sempurna. Apabila siswa tidak dapat menjawab, berikanlah pertanyaan lain yang berhubungan dengan pertanyaan yang pertama tetapi lebih mudah, dan
apabila pertanyaan yang kedua telah dapat dijawab dengan benar, kembalilah kepada pertanyaan semula.
9. Sebaliknya bagi siswa yang dengan tepat menjawab pertanyaan
pertama, dapat dilanjutkan dengan pertanyaan yang kedua yang lebih
tinggi tingkatannya, hal ini akan memperluas wawasan dan
mempertajam analisis siswa terhadap masalah yang dihadapinya.
10. Jangan anda menjawab sendiri pertanyaan yang anda ajukan, kecuali pada pertanyaan teoritis, meskipun tidak seorangpunsiswa yang dapat menjawabnya degan no. 8.
11. Berikanlah kesempatan untuk menjawab satu pertanyaan pada beberapa orang siswa.
12. Hindari pertanyaan yang :
a. Mengandung sugesti,
b. Hanya menuntut jawaban “ya” atau “tidak”.
c. Pertanyaan yang kompleks, yang meminta berbagai halsekali jawab.
13. Pertanyaan siswa yang diajukan kepada guru sedapat mungkin dipantulkan kembali kepada siswa lainnya untuk dijawab, apabila tak seorangpun yang dapat menjawabnya, barulah guru yang menjawabnya. Dan apabila guru tidak siap untuk menjawabnya, sebaiknya dikatakan terus terang, dan pada kesempatan berikutnya
barulah pertanyaan itu dijawabnya. 14. Gunakan teknik penguatan (reinforcement) dengan bijaksana dan baik
dengan verbal (ya, betul, baik sekali…) maupun dengan nonverbal
(ekspresi wajah, anggukan kepala, berjalan mendekati…) kadang-kadang reaksi non verbal lebih berpengaruh dari pada reaksi verbal.

Guru dalam mengajukan pertanyaan memerlukan beberapa teknik, hal ini juga terjadi pada siswa ketika siswa mengajukan pertanyaan ada teknik-teknik tertentu. Teknik-teknik siswa dalam mengajukan pertanyaan antara lain:
1) Substansi pertanyaan Pertanyaan yang diajukan oleh siswa sesuai denganmateri yang
sedang dipelajari dan jawabannya sedapat mungkin tidak terlalu singkat.
2) Frekuensi pertanyaan dalam 1 jam pelajaran Siswa yang tergolong aktif dalam bertanya dalam 1 jam pelajaran
siswa tersebut mengajukan pertanyaan lebih dari enam pertanyaan.
3) Bahasa
Bahasa yang digunakan ketika siswa mengajukan pertanyaan menggunakan bahasa resmi yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan (EYD) dan intonasi baik.
4) Suara
Volume suara ketika siswa mengajukan pertanyaan hendaknya dapat terdengar oleh seluruh siswa.
5) Kesopanan
Kesopanan pada saat mengajukan pertanyaan hendaknyamenggunakan tutur kata yang baik dan serius.

05/14/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | 1 Komentar

Media Realia

1. Definisi Media

            Kata media berasal dari bahasa latin ‘medius’ yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’, atau ‘pengantar’[1]. Menurut Bovee yang dikutip Ena (2001), media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan[2]. Selain itu beberapa ahli mengemukakan bahwa media dalam proses pembelajaran cenderung diartikan alat-alat grafis, fotografis atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.

Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. Telah banyak pakar dan juga organisasi (lembaga) yang mendefinisikan media ini, beberapa definisi tentang media pembelajaran ini adalah sebagai berikut: media pembelajaran atau media pendidikan adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk media pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah dan sebagainya, ahli lain menyampaikan bahwa media adalah teknologi pembawa pesan yang dapat  dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara, NEA, mengemukakan media merupakan sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio visual, termasuk teknologi perangkat kerasnya. B berpendapat media adalah alat bantu untuk memberikan perangsang bagi peserta didik supaya terjadi proses belajar. Lain lagi dengan yang menyatakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan peserta didik untuk belajar[3].

Dari berbagai pendapat di atas, jelaslah bahwa pada dasarnya semua pendapat tersebut memosisikan media sebagai suatu alat atau sejenisnya yang dapat dipergunakan sebagai pembawa pesan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Pesan yang dimaksud adalah materi pelajaran. Keberadaan media dimaksudkan agar pesan dapat lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh peserta didik. Bila media adalah sumber belajar, secara luas dapat diartikan bahwa manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan dapat disebut sebagai media.

Untuk lebih mengkongkritkan penyajian pesan, sekitar pertengahan abad 20 mulai digunakan alat audio sehingga lahirlah istilah alat bantu audiovisual. Usaha tersebut terus berlanjut. Edgar Dale mengklasifikasikan sepuluh tingkat pengalaman belajar dari yang paling konkret sampai dengan yang paling abstrak. Klasifikasi ini dikenal dengan nama kerucut pengalaman Dale.

Pada akhir tahun 1950-an teori komunikasi mulai masuk memengaruhi penggunaan alat bantu audiovisual dalam kegiatan pembelajaran. Menurut teori ini ada tiga komponen penting dalam proses penyampaian pesan yaitu sumber pesan, media penyalur pesan, dan penerima pesan. Sejak saat itu alat bantu audiovisual tidak lagi hanya dipandang sebagai alat bantu guru saja, tetapi juga sebagai alat penyalur pesan. Hanya saja faktor peserta didik yang menjadi komponen utama dalam proses belajar belum mendapat perhatian. Baru pada tahun 1950 – 1965 orang mulai memerhatikan peserta didik sebagai komponen yang penting dalam proses pembelajaran. Teori tingkah laku ajaran Skinner mulai memengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Teori ini mendorong orang untuk lebih memerhatikan peserta didik dalam proses pembelajaran.

Pada tahun 1965 – 1970 pendekatan sistem mulai menampakkan pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran. Pendekatan sistem ini mendorong penggunaan media sebagai bagian yang integral dalam program pembelajaran.

Setiap program pembelajaran hendaknya direncanakan secara sistematis dengan memusatkan perhatian pada peserta didik dan berdasarkan kebutuhan serta karakteristiknya. Media tidak lagi dipandang sebagai alat bantu guru, tetapi juga diberi wewenang membawa pesan.Oleh karena itu, media haruslah dipilih dan dikembangkan secara sistematis dan digunakan secara integral dalam proses pembelajaran. Demikianlah, apabila kita mendengar kata media saat ini, maka istilah ini hendaknya ditafsirkan dalam pengertiannya yang terakhir, meliputi mulai dari alat bantu guru hingga pembawa pesan dari kurikulum.

                                                                                                                   

2. Pengertian media dalam Matematika

            Mathematics has been called the queen of the sciences (matematika disebut ratu ilmu pengetahuan) . Matematika adalah salah satu ilmu yang sangat penting dalam kehidupan kita karena merupakan ilmu yang sangat mendasar. The most quoted statement here is that of Bertrand Russel : mathematics may be defined as the subject in which we never know what we are talking about, nor whether what we say is true(pernyataan yang paling banyak dikutip oleh Bertrand Russel: matematika bisa didefinisikan sebagai subyek dimana kita tidak pernah tahu apa yang kita bicarakan maupun kita tidak pernah tau apa yang kita bicarakan itu benar). Sehingga diperlukan wawasan yang sangat luas dan mendalam untuk mengetahui hakekat matematika. Kita harus mengerti tentang isi, pendekatan pemahaman, dan pola pikir yang digunakan dalam matematika, serta peran matematika itu sendiri.

            Menurut James matematika adalah ilmu tentang logika, mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang saling berhubungan satu sama lain yang terbagi dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, serta geometri[4].

            Sedangkan berpendapat bahwa matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam[5].

            Adapun beberapa definisi/pengertian matematika adalah sebagai berikut:

1) Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan teroganisir secara sistematik.

2) Matematika adalah pengetahuan bilangan dan kalkulasi.

3) Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.

4) Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan

masalah tentang ruang dan bentuk.

5) Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.

6) Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat[6].

            Dari penjelasan tentang definisi matematika, maka dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika yang mempelajari struktur dan pola daribentuk, susunan, dan besaran yang saling berhubungan satu sama lain yang terbagi dalam aljabar, analisis, dan geometri serta tersusun secara hierarkis, sistematis, dan teratur untuk membantu manusia memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.

            Belajar matematika sangat terkait dengan berpikir matematis. Berpikir matematis menurut Dienes berkenaan dengan penyeleksian himpunan-himpunan unsur matematika, dan himpunan-himpunan ini menjadi unsur-unsur dari himpunan-himpunan baru yang lebih rumit dan seterusnya. Belajar matematika haruslah bertahap, dimulai dari yang dasar sesuai dengan hakekat matematika bahwa matematika adalah ilmu yang mempelajari benda pikiran yang masih bersifat abstrak. Sehingga dalam pembelajaran matematika siswa harus diajarkan secara perlahan dimulai dari yang konkret kemudian yang bersifat abstrak[7].

Media pembelajaran matematika adalah sarana dalam menyajikan, mempelajari, memahami, dan memmpermudah dalam mempelajari matematika. Matematika bersifat abstrak, bagi siswa SD berfikir secara abstrak mungkin hal yang sulit. Oleh karena itu, diperlukan alat yang dapat membantu siswa membayangkan hal yang bersifat abstrak melalui benda konkret. Media pembelajaran matematika bisa berupa alat peraga/model, lembar kerja siswa, tayangan, software, dan sebagainya. Media pembelajaran tidak selalu berbentuk alat peraga. Papan tulis bisa menjadi media pembelajaran utama untuk menjelaskan beberapa pokok bahasan.

Agar media pembelajaran menjadi efektif dan efisien serta dapat digunakan dalam jangka panjang, dibutuhkan beberapa pertimbangan dalam membuatnya yaitu sebagai berikut:

  • local material (bahan-bahan mudah didapat)
  • proses pembuatan hendaknya menggunakan alat yang tepat agar hasilnya akurat
  • mudah untuk dibuat oleh sendiri
  • efisien dalam menggunakan bahan
  • terdapat petunjuk penggunaan
  • mudah digunakan, baik oleh siswa, guru dan orang lain yang membutuhkan
  • dapat membantu memahami materi
  • tidak berbahaya
  • tampilannya menarik
  • tahan lama
  • bernilai jual

3. Tujuan Media

Dalam proses pembelajaran, media memiliki tujuan sebagai pembawa informasi dari sumber (guru) menuju penerima (siswa). Sedangkan metode adalah prosedur untuk membantu siswa dalam menerima danmengolah informasi guna mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan media dalam proses pembelajaran ditunjukkan pada Gambar

Gambar Tujuan Media dalam Pembelajaran

Media pengajaran merupakan salah satu komponen pengajaran yang dapat mengefektifkan interaksi guru dan siswa serta siswadengan lingkungannya. Maka dari itu mediaa merupakan hal yang penting yang dapat membantu dalam proses pengajaran.

Dalam situs http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/12/media-pembelajaran/media memiliki beberapa tujuan, diantaranya:

1.  media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik.

2.  media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas.

3.  media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.

4.  media menghasilkan keseragaman pengamatan.

5.  media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.

6.  media membangkitkan keinginan dan minat baru.

7.  media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.

8.  media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak[8] .

Sejalan dengan penjelasan di atas mengenai tujuan media pembelajaran adalah membuat proses pembelajaran berjalan lebih menarik, membantu penyampaian pengajar kepada pembelajar lebih mudah.

Dalam hal lain, media pembelajaran memiliki tujuan yang berbeda-beda sesuai dengan kegunaan pembelajaran. Tujuan dari media tersebut akan terasa apabila diletakkan pada posisi yang tepat. Penggunaan media pembelajaran sebagai alat bantu tidak boleh sembarangan, seorang pengajar harus memperhatikan dan mempertimbangkan apakah media yang akan digunakan sesuai dengan tujuan pengajaran atau tidak.

Beberapa tujuan media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu:

1)  Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat

menumbuhkan motivasi belajar.

2)  Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran.

3)  Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata  komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh  guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru

mengajar pada setiap jam pelajaran.

4)  Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya

mendengarkan uraian guru, mendemontrasikan, memerankan dan  lain-lain[9].

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan media pembelajaran adalah untuk membantu proses pembelajaran dan meningkatkan motivasi belajar siswa.

Levi dan Lentz mengemukakan bahwa terdapat empat tujuan media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu:

1)  Fungsi atensi; yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan  dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.

2)  Fungsi afektif; yaitu media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar atau membaca teks yang bergambar.

3)  Fungsi kognitif; artinya lambang visual atau gambarakan memperlancar pencapaian tujuan yang terkandung dalam gambar.

4)  Fungsi kompensatoris; yaitu media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan dengan secara verbal[10].

Dari uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwaperanan atau kedudukan media pembelajaran merupakan komponen metode mengajar sebagai salah satu upaya untuk menghubungkan prosesinteraksi guru dengan siswa dan siswa dengan lingkungan belajarnya. Dengan demikian, maka fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu  dalam proses pembelajaran, yakni menunjang penggunaan metode mengajar yang digunakan oleh guru. Oleh karena itu, penggunaan media dalam  proses pembelajaran sangat dianjurkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

 

4.  Manfaat Media

Secara umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Tetapi secara lebih khusus beberapa manfaat media yang lebih rinci Kemp dan Dayton misalnya mengidentifikasi beberapa manfaat media dalam pembelajaran, yaitu:

1)  Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan.

Setiap guru mungkin mempunyai penafsiran yang  berbeda-beda terhadap suatu konsep materi pelajaran tertentu. Dengan bantuan media, penafsiran yang beragam tersebut dapat dihindari sehingga dapat disampaikan kepada siswa secara seragam.

2)  Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik.

Dengan berbagai potensi yang dimilikinya, media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi.

3)  Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif.

Media dapat membantu guru dan siswa melakukan komunikasi dua arah secara aktif selama proses pembelajaran.

4)  Efisiensi dalam waktu dan tenaga.

Dengan media, tujuan pembelajaran akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin.

5)  Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa

Penggunaan media bukan hanya membuat proses pembelajaran lebih efisien, tetapi juga membantu siswa menyerap materi belajar lebih mendalam dan utuh.

6)  Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Media pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara lebih leluasa, kapanpun dan dimanapun, tanpa tergantung pada keberadaan seorang guru.

7)  Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan

proses belajar.

Dengan media, proses pembelajaran  menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.

8)  Merubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif[11].

Dengan memanfaatkan media secara baik, seorang guru bukan lagi menjadi satu-satunya sumber belajar bagi siswa.

Selain beberapa manfaat media yang telah dikemukakan di atas, masih banyak manfaat praktis lainnya. Manfaat praktis media pembelajaran antara lain dijelaskan sebagai berikut.

  Media pembelajaran dapat  membuat materi pelajaran yang abstrak menjadi lebih konkrit.

  Media juga dapat mengatasi kendala keterbatasan ruang dan waktu.

  Media dapat membantu mengatasi keterbatasan indera manusia.

  Media juga dapat menyajikan obyek pelajaran berupa benda atau peristiwa langka dan berbahaya ke dalam kelas.

  Informasi pelajaran yang disajikan dengan media yang tepat akan memberikan kesan mendalam dan lebih lama tersimpan pada diri siswa.

Meskipun media banyak ragamnya, namun kenyataannya tidak banyak jenis media yang bisa  digunakan oleh guru di sekolah. Beberapa media yang paling akrab dan hampir semua sekolah memanfaatkannya adalah media cetak (buku) dan papan tulis. Selain itu banyak sekolah yang telah memanfaatkan jenis media lain  seperti gambar, model, dan Overhead Proyektor (OHP) dan obyek-obyek nyata. Sedangkan media lainnya seperti kaset audio, video, VCD, slide (film bingkai), program pembelajaran komputer masih jarang digunakan meskipun sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar guru. Meskipun demikian, sebagai seorang guru alangkah baiknya kita mengenal beberapa jenis media pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar mendorong kita untuk mengadakan dan memanfaatkan media tersebut dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

 

5.  Karakteristik Media Realia dalam Matematika

            media realia adalah benda nyata yang digunakan sebagai bahan atau sumber belajar. Pemanfaatan media realia tidak harus dihadirkan secara nyata dalam ruang kelas, melainkan dapat juga dengan cara mengajak siswa melihat langsung (observasi) benda nyata tersebut ke lokasinya[12].

            Realia dapat digunakan dalam kegiatan belajar dalam bentuk sebagaimana adanya, tidak perlu dimodifikasi, tidak ada pengubahan kecuali dipindahkan dari kondisi lingkungan aslinya. Ciri media realia yang  asli adalah benda yang masih dalam keadaan utuh, dapat dioperasikan, hidup, dalam ukuran yang sebenarnya, dan dapat dikenali sebagai wujud aslinya. Media realia sangat bermanfaat terutama bagi siswa yang tidak memiliki pengalaman  terhadap benda tertentu.

            Misalnya untuk mempelajari binatang langka, siswa diajak melihat badak yang ada di kebun binatang. Selain observasi dalam kondisi aslinya, penggunaan media realia juga dapat dimodifikasi. Modifikasi media realia bisa berupa: potongan benda (cutaways), benda contoh (specimen), dan pameran (exhibid). Cara potongan (cutaways)  adalah benda sebenarnya tidak digunakan secara utuh atau menyeluruh, tetapi hanya diambil sebagian saja yangdianggap penting dan dapat mewakili aslinya. Misalnya binatang langka hanya diambil bagian kepalanya saja.

            Benda contoh (specimen) adalah benda asli tanpa dikurangi sedikitpun. Yang dipakai sebagai contoh untuk mewakili karakter darisebuah benda dalam jenis atau kelompok tertentu. Misalnya beberapa ekor ikanhias dari jenis tertentu, yang dimasukkan dalam sebuah toples berisi air untuk diamati di dalam kelas. Pameran (exhibit) menampilkan benda benda tertentu yang dirancang seolah olah berada dalam lingkungan atau situasi aslinya. Misalnya senjata senjata kuno yang masih asli ditata dan dipajang seolah olah mengambarkan situasi perang pada jaman dulu.

            Dalam memhami karakteristik media realia dalam pembelajaaran matematika, harus juga dipahami mengenai makna dari pembelajaran matematika tersebut Pembelajaran matematika merupakan upaya penataan lingkungan agar proses belajar atau pembentukan pengetahuan dan pemahaman matematika oleh siswa berkembang secara optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan[13] .

            Menurut Erman Suherman, fungsi mata pelajaran matematika sebagai berikut:

a) Alat

            Siswa diberi pengalaman menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan suatu informasi misalnya melalui persamaan-persamaan, atau tabel-tabel dalam model-model matematika yang merupakan penyederhanaan dari soal-soal cerita atau soal-soal uraian matematika lainnya. Bilaseorang siswa dapat melakukan perhitungan tetapi tidak tahu alasannya, maka tentu ada yang salah dalam pembelajarannya atau ada sesuatu yang belum dipahami.

b) Pola Pikir

            Belajar matematika bagi para siswa, juga merupakan pembentukan pola pikir dan pemahaman suatu pengertian maupun penalaran dalam suatu hubungan di antara pengertian-pengertian itu. Di dalam proses penalaran siswa, dikembangkan pola pikir induktif maupun deduktif. Namun semuanya harus disesuaikan dengan perkembangan kemampuan siswa, sehingga pada akhirnya akan sangat membantu kelancaran proses pembelajaran matematika di sekolah.

c) Ilmu Pengetahuan

            Fungsi matematika sebagai ilmu pengetahuan, dan tentunya pengajaran matematika di sekolah harus diwarnai oleh fungsi yang ketiga ini. Guru harus mampu menunjukkan betapa matematika selalu mencari kebenaran, dan bersedia meralat kebenaran yang sementara diterima, bila ditemukan kesempatan untuk mencoba mengembangkan penemuan-penemuan sepanjang mengikuti pola pikir yang sah[14].

            Beberapa jenis media yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Masing-masing media tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan, namun dalam kegiatan belajar mengajar dikelas guru dapat menggabungkan beberapa media dengan tujuan agar penggunaan media dapat saling melengkapi satu sama lain dan dapat menutupikelemahan-kelemahan salah satu media. Oleh sebab itu, hendaknya perhatikan kriteria media yang akan digunakan di kelas. Sudjana dan Rivai menyatakan bahwa:

            “Penggunaan media sangat bergantung kepada tujuan pengajaran, bahan pengajaran, kemudahan memperoleh media yang diperlukan serta kemampuan guru dalam menggunakannya dalam kegiatan belajar mengajar dikelas”[15].

            Secara umum, Wibawa menjelaskan faktor- faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih media atau kriteria pemilihan media dalam matematika adalah:

1)  Tujuan, artinya ketika guru memilih media yang akan digunakan berdasarkan tujuan yang telah dirancang sebelumnya. Jika tujuannya membuat anak memahami konsep bilangan, maka guru dapat mempergunakan papan flanel angka, menyediakan beberapa bentuk angka dan menggunakan benda-benda pada saat mempelajari konsep bilangan.

2)  Karakteristik Siswa, penyediaan media juga berhubungan dengan jumlah anak, dimana lokasi belajarnya dan bagaimana gaya belajaranak di kelas. Dengan begitu, guru dapat menyediakan media sesuai dengan  jumlah anak agar semua anak mendapat kesempatan yang sama untuk mempergunakan media secara optimal.

3)  Karakteristik Media, guru harus mengetahui karakteristik media yang hubungannya dengan keunggulan dan kelemahan media tersebut. Misalnya

guru tidak mempergunakan media foto untuk mengajarkan gerakan, alangkah lebih baik apabila guru menggunakan media video.

4)  Alokasi Waktu, guru harus merencanakan berapa lama  anak mempergunakan media tersebut dan juga guru harus memperhatikan bagaimana cara merapikan kembali media tersebut. Hal ini berhubungan dengan  keefisienan media tersebut.

5)  Ketersediaan, sebelum guru mempergunakan televisi di kelas, guru harus

memperhatikan ketersediaan alat-alat pendukung televisi tersebut. Seperti ketersediaan stop kontak, aliran listrik dan sebagainya.

6)  Efektivitas, berhungan dengan apakah penggunaan media tersebut efektif

dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

7)  Kompatibilitas, media yang akan digunakan harus bersifat praktis, luwes dan tahan lama agar dapat digunakan diwaktu-waktu selanjutnya. Kemudian dalam penggunaanya tidak merepotkan guru dan anak sehingga mudah digunakan.

8)  Biaya, hal ini terkait dengan perawatan media yang  digunakan. Apakah

pemeliharaannya mudah atau memakan biaya yang sangat mahal.

            Berdasarkan beberapa penjelasan tentang kriteria  pemilihan media secara umum, dapat dilihat bahwa kriteria penggunaan mediasecara umum dipertimbangkan pada saat memilih media realia. Wibawa  mengungkapkan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh guru sebelum menggunakan media realia sebagai media pengajaran,  yaitu (1) karena benda nyata itu banyak macamnya, mulai dari benda-benda hidup sampai benda-benda mati, maka perlu dipertanyakan benda-benda atau makhluk hidup apakah yang mungkin dapat dimanfaatkan di kelas secara efisien,(2) bagaimanakah caranya agar benda-benda itu sesuai dengan pola belajar mengajar di kelas, (3) darimana kita memperoleh benda-benda itu.

            Selain itu, untuk penggunaan media pembelajaran agar lebih efektif, Heinich mengajukan model ASSURE. Model ini dicetuskan oleh Heinich  et.al

sejak tahun 1980-an dan terus dikembangkan oleh Smaldino et.al hingga sekarang model ini merupakan singkatan yang terdiri atas istilah [16].

            Model ASSURE merupakan akronim dari  analyze learner, state objective, select methods, media and materials, require learner participant and evaluate and revise. Adapun penjabaran dari ASSURE tersebut yaitu:

a)  Analyze learner (menganalisis peserta didik). Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru harus mengetahui karakteristik atau siapa yang akan kita ajarkan agar metode dan bahan ajar yang kita gunakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Yang perlu dianalisa dari  peserta didik adalah : karakteristik umum, kompetensi prasyarat baik pengetahuan, keterampilan, maupun tentang topik pembelajaran dan gaya belajarnya.

b)  State objective (merumuskan tujuan pembelajaran). Langkah selanjutnya ialah menuliskan tujuan pembelajaran secara spesifik. Tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu agar proses pembelajaran lebih terarah.Tujuan pembelajaran dapat diperoleh dari silabus, buku teks, dari kurikulum utama atau dikembangkan oleh guru.

c)  Select methods,  media and materials(memilih metode, media dan bahan ajar). Agar proses pembelajaran dapat lebih efektif maka guru harus bisa memilih metode, media dan bahan ajar yang tepat sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan tujuan yang hendak dicapai. Disini kecermatan dalam memilih sangat dibutuhkan agar proses pembelajaran tidak sia-sia dan mendaapat hasil yang maksimal. Ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam memilih yaitu : memilih bahan pembelajaran yang sesuai, memodifikasi bahan  pembelajaran yang ada, merancang bahan pembelajaran baru.

d)  Utilize Media and Materials(memanfaatkan media dan bahan ajar). Guru dituntut untuk mampu memanfaatkan media dan bahan ajar seefektif dan semaksimal mungkin. Setelah memodifikasi atau mendesain bahan pembelajaran tahap selanjutnya ialah membuat perencanaan penggunaan bahan pembelajaran tersebut dalam mengimplementasikan metode yang digunakan.

e)  Require learner participant(mengembangkan peran peserta didik). Guru sebagai pengajar dituntut untuk lebih terampil sebagai upaya untuk mengembangkan peran peserta didik agar lebih aktif dalam kegiatan KBM atau dalam penggunaan bahan pembelajaran dapat dilakukandengan melibatkan pembelajaran.

f)  evaluate and revise  (menilai dan memperbaiki). Setelah melakukan KBM maka hal yang perlu dilakukan adalah memberikan penilaian untuk mengukur tingkat pemahaman atas materi yang baru saja diberikan dan setelah itu menilai seluruh komponen yuang ada dalam KBM tadi untuk mengetahui sejauh mana keefektivan dan dapat dijadika masukan bagi perbaikan penyelenggaraan KBM selanjutnya

            Apabila telah mengetahui kriteria dalam penggunaan  media, ada baiknya mempertimbangkan dengan matang sebelum penggunaan media di kelas. Beberapa penjelasan di atas dapat menjadi pertimbangan guru pada saat sebelum mempergunakan media dan dapat dijadikan acuan guru pada saat memilih media realia yang akan digunakan di kelas. Maka hendaknya pemanfaatan media realia sebagai media pengajaran dan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas proses belajar mengajar akan semakin efektif.


[1] Azhar, Arsyad (2002). Media pembelajaran.Jakarta: rajawali Press.p.1.

[2] Ena, Ouda Teda. 2001. Membuat Media Pembelajaran Interaktif dengan Piranti  Lunak Presentasi. Yogyakarta: Indonesian Language and Culture Intensive Ciurse Universiatas Sanata Dharma.

[3] Rachmad, Antonius. 2005. Pengantar Multimedia. Yogyakarta: Fakultas Teknik

Informatika Universitas Kristen Duta Wacana.p.5.

[4] Erman, Suherman. (2003).  Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung:

Universitas Pendidikan Indonesia.p.16

[5] Erman, Suherman. (2003).  Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.p.17

[6] Soedjadi, R. 2000.  Kiat Pendidikan Matematika Di Indonesia. Jakarta: Direktorat

Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.p.11

[7] Herman Hudojo. (2003). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: Universitas Negeri Malang..p.73

[8] http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/12/media-pembelajaran/media. diakses tanggal 2 april 2013

[9] Sudjana dan Rivai.2009. Media pengajaran. Bandung:Sinar Baru.p.2

[10] Azhar, Arsyad (2010). Media pembelajaran.Jakarta: rajawali Press.p.16

[11] Aristo rahadi, 2003. Media Pembelajaran. Direktorat Tenaga kependidikan Direktorat Jendral Pendidikan dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.p.15

[12] Indriana, D. 2011. Ragam Alat Baantu Media Pengajaran. Mengenal, Merancang,  dan Mempraktikannya. Jogjakarta: DIVA Press.p.15.

[13] Esti Wuryastuti. (2008). Upaya Meningkatkan Kemandirian Belajar Matematika Siswa SMP N 1 Minggir Melalui Penerapan Problem Based Learning. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

[14] Erman, Suherman. (2003).  Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.p.56-57

[15] Sudjana dan Rivai.2009. Media pengajaran. Bandung:Sinar Baru.p.2

[16] Anita Lie. (2002). Cooperative Learning. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.p.2

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG D

IBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN BUKU

Dijual E-Book EXCELLENT BIOLOGY FOR SMP  Harga hanya Rp 20.000 (dua puluh ribu rupiah) info dan pemesanan hubungi pak zaif  HP: 081938633462,E-Mail: Zaifbio@gmail.com

2013-04-25_215950

SINOPSIS BUKU

EXCELLENT BIOLOGY FOR SMP

OLEH: HUZAIFAH HAMID S.Pd

            Mata pelajaran Biologi yang tergabung dalam IPA Terpadu pada jenjang pendidikan SMP, merupakan mata pelajaran yang menarik, disukai siswa sekaligus menantang. Meskipun tergolong ilmu pasti, namun mata pelajaran Biologi memiliki keunikan tersendiri. Ciri khas dari setiap mata pelajaran biologi adalah diperlukannya hafalan serta pemahaman yang mendalam pada setiap bab yang dipelajari karena langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, berbeda dengan mata pelajaran ilmu pasti lainnya yang lebih menjurus kea rah berhitung.

Buku EXCELLENT BIOLOGY FOR SMP ini berisi rangkuman pelajaran Biologi kelas VII, VIII, dan IX. Setiap bab yang disajikan dalam buku ini berisi intisari hal-hal yang esensial dan paling penting untuk dipelajari dari setiap bab dalam pelajaran Biologi SMP. Tidak hanya berisi rangkuman pelajaran buku ini juga dilengkapi dengan beberapa contoh gambar yang menunjang penjelasan materi pada setiap bab, sehingga diharapkan siswa menjadi lebih tertarik dan paham. Selain itu hal baru dan berbeda dari buku lainnya adalah pada buku ini terdapat rubrik Temukan. Rubrik ini berisi ajakan untuk membuka website berkaitan dengan materi yang dipelajari. Diharapkan rubrik ini akan mendorong siswa untuk membiasakan diri memperkaya wawasan dan pengetahuan dari berbagai sumber.

IKLAN BUKU

Dijual E-Book CARA MUDAH MEMBUAT MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS ICT(PANDUAN PEMBUATAN BLOG, DAN VIDEO UNTUK PEMBELAJARAN) harga hanya Rp 20.ooo (Dua puluh ribu rupiah) info dan pemesanan hubungi pak zaif  HP: 081938633462,E-Mail: Zaifbio@gmail.com

2013-04-24_222353

SINOPSIS BUKU

CARA MUDAH MEMBUAT MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS ICT

(PANDUAN PEMBUATAN BLOG, DAN VIDEO UNTUK PEMBELAJARAN)

 

Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong pembelajar untuk melakukan praktik-praktik dengan benar.

Ada beberapa media pembelajaran berbasis ICT yang saat ini ramai dibicarakan yaitu Blog dan Video. Blog adalah catatan pribadi seseorang di internet. berisi informasi yang sering di update dan kronologis. Blog memberikan sebuah peluang agar kegiatan belajar lebih menarik dan interaktif. Selain itu, di dalam sebuah blog terdapat fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung potensi setiap pelajar dalam mengembangkan materi pelajarannya seperti adanya video, gambar, hingga Link (jaringan) ke berbagai sumber pembelajaran.  Sedangkan video itu berkenaan dengan apa yang dapat dilihat, utamanya adalah gambar hidup (bergerak; motion), proses perekamannya, dan penayangannya yang tentunya melibatkan teknologi, menurut munadi video adalah teknologi pemprosesan sinyal elektronik meliputi gambar gerak dan suara.

Buku ini akan menjelaskan secara detail dan mudah mengenai cara pembuatan kedua media pembelajaran diatas yaitu pembuatan Blog dan video, tidak hanya panduan yang diberikan di dalam buku ini juga dilengkapi dengan gambar dari setiap proses pembuatan video dan blog sehingga memudahkan pengguna untuk menirunya, selain itu juga di awal pembahasan buku ini pembaca akan diberi definisi, manfaat dan berbagai tinjauan pustaka mengenai video dan blog, jadi jika ingin menjadi guru yang lebih kreatif dan tidak ketinggalan jaman jangan lupa baca buku ini

\

04/28/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , , | 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 742 pengikut lainnya.