Model Pembelajaran Tipe TAI (Team Assisted Individualization)
TAI termasuk dalam pembelajaran kooperatif. Dalam model pembelajaran TAI, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil (4 sampai 5 siswa) yang heterogen dan selanjutnya diikuti dengan pemberian bantuan secara individu bagi siswa yang memerlukannya. Sebelum dibentuk kelompok, siswa diajarkan bagaimana bekerja sama dalam suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar yang baik, dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain
untuk bekerja sama, menghargai pendapat teman lain, dan sebagainya.
Masing-masing anggota dalam kelompok memiliki tugas yang setara. Karena pada pembelajaran kooperatif keberhasilan kelompok sangat diperhatikan, maka siswa yang pandai ikut bertanggung jawab membantu temannya yang lemah dalam kelompoknya. Dengan demikian, siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya, sedangkan siswa yang lemah akan terbantu dalam memahami permasalahan yang diselesaikan dalam kelompok tersebut (Suyitno, 2002:9).
Model pembelajaran TAI memiliki delapan komponen (Suyitno, 2002:9). Kedelapan komponen tersebut adalah sebagai berikut :
1. teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 sampai 6 siswa,
2. placement test, yakni pemberian pretest kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu,
3. student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya,
4. team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan secara individual kepada siswa yang membutuhkannya,
5. team scores and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas,
6. teaching group, yakni pemberian materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok,
7. facts test, yaitu pelaksanaan tes-tes kecil bardasarkan fakta yang diperoleh siswa,
8. whole class units, yaitu pemberian materi oleh guru kembali di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.
Unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam Team Assisted Individualization (Robert E. Slavin: 1995) adalah sebagai berikut.
a. Team (kelompok)
Peserta didik dikelompokkan dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4 sampai 5 orang peserta didik dengan kemampuan yang berbeda.
b. Tes Penempatan
Peserta didik diberi pre tes di awal pertemuan, kemudian peserta didik ditempatkan sesuai dengan nilai yang didapatkan dalam tes, sehingga didapatkan anggota yang heterogen (memiliki kemampuan berbeda) dalam kelompok.
c. Langkah-langkah Pembelajaran.
1) Diawali dengan pengenalan konsep oleh guru dalam mengajar secara kelompok (diskusi singkat) dan memberikan langkah
langkah cara menyelesaikan masalah atau soal.
2) Pemberian tes keterampilan yang terdiri dari 10 soal.
3) Pemberian tes formatif yang terdiri dari dua paket soal, tes formatif A dan tes formatif B, masing-masing terdiri dari 8 soal.
4) Pemberian tes keseluruhan yang terdiri dari 10 soal.
5) Pembahasan untuk tes keterampilan, tes formatif, dan tes keseluruhan.
d. Belajar Kelompok
Berdasarkan tes penempatan, guru mengajarkan pelajaran pertama,kemudian peserta didik bekerja pada kelompok mereka masing masing. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1) Peserta didik berpasangan atau bertiga dengan anggota kelompok mereka.
2) Peserta didik diberi Lembar Kerja Siswa (LKS) pembelajaran yang disiapkan guru untuk diskusi sebagai pemahaman konsep materi yang akan dipelajari. Peserta didik diberi kesempatan bertanya pada teman sekelompok atau guru untuk minta bantuan jika mengalami kesulitan. Selanjutnya dimulai dengan tes pertama yaitu tes keterampilan.
3) Masing-masing peserta didik dengan kemampuannya sendiri mengerjakan 3 soal tes keterampilan yang pertama, bila sudah selesai, peserta didik boleh melanjutkan 3 soal berikutnya. Begitu sudah selesai baru melanjutkan 4 soal terakhir. Peserta didik yang mengalami kesulitan bisa meminta bantuan pada teman sekelompoknya sebelum meminta bantuan guru.
4) Apabila sudah bisa menyelesaikan soal tes keterampilan dengan benar, peserta didik bisa melanjutkan mengerjakan tes formatif A yang terdiri dari 8 soal. Dalam tes ini peserta didik juga bekerja sendiri-sendiri dulu sampai selesai. Jika peserta didik dapat mengerjakan 6 soal dengan benar, maka peserta didik tersebut bisa mengambil soal tes keseluruhan. Jika peserta didik tidak bisamenjawab 6 soal dengan benar, guru merespon dan menampung semua masalah yang dimiliki peserta didik. Guru boleh menyuruh peserta didik untuk bekerja kembali pada nomor-nomor soal tes
keterampilan dan kemudian mengambil soal tes formatif B, yaitu 8 soal kedua yang isi dan tingkat kesulitannya sebanding dengan tes formatif A. Selanjutnya peserta didik boleh melanjutkan ke tes keseluruhan. Peserta didik tidak boleh mengambil soal tes keseluruhan sebelum dia bisa menyelesaikan tes formatif dengan kelompoknya.
5) Peserta didik kemudian mengikuti tes keseluruhan. Tes ini merupakan tes terakhir dalam model pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization (TAI), yang terdiri dari 10 soal. Di sini peserta didik juga bekerja secara individu dulu sampai selesai. Setelah selesai baru bisa berdiskusi dengan kelompoknya. Setelah tes keseluruhan ini selesai kemudian dilakukan pembahasan dan penilaian bersama antara guru dan peserta didik.
6) Penilaian kelompok
Pada akhir pertemuan, guru menghitung nilai dari masing-masing kelompok. Nilai ini berdasarkan pada jumlah rata-rata dari anggota masing-masing kelompok dan ketelitian dari tes keseluruhan. Kriteria pemberian predikat berdasarkan kemampuan kelompok. Kelompok dengan kemampuan bagus diberi predikat Super Team, kelompok dengan kemampuan
sedang diberi predikat Great Team, kelompok dengan kemampuan kurang diberi predikat Good Team. Pemberian
predikat ini bertujuan untuk memotivasi dan member semangat kepada masing-masing kelompokagar pada pada pembelajaran
selanjutnya mau berusaha untuk melakukan yang lebih baik lagi.
7) Mengajar kelompok
Setiap pertemuan guru mengajar 10 sampai 15 menit untuk dua atau tiga kelompok yang mempunyai nilai yang sama. Guru
menggunakan konsep belajar yang diprogramkan atau direncanakan sebelumnya. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan konsep utama pada peserta didik. Pembelajaran dibuat untuk membantu peserta didik agar mengerti dan memahami hubungan antara matematika yang mereka pelajari dengan masalah kehidupan nyata. Ketika guru sedang mengajar dalam suatu kelompok, peserta didik lain melanjutkan bekerja dalam kelompok mereka sendiri dengan kemampuan individu masing-masing.
Adapun keuntungan pembelajaran tipe TAI adalah :
1. siswa yang lemah dapat terbantu dalam menyelesaikan masalahnya;
2. siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya;
3. adanya tanggung jawab dalam kelompok dalam menyelesaikan permasalahannya;
4. siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok.
Sedangkan kelemahan pembelajaran tipe TAI adalah :
1. tidak ada persaingan antar kelompok;
2. siswa yang lemah dimungkinkan menggantungkan pada siswa yang pandai.
MINAT
a. Pengertian Minat
Minat adalah suatu keadaan dimana seseorang mempunyai
perhatian terhadap sesuatu dan disertai keinginan untuk mengetahui
dan mempelajari maupun membuktikan lebih lanjut Bimo Walgito
(1981: 38). Dalam belajar diperlukan suatu pemusatan perhatian agar
apa yang dipelajari dapat dipahami. Sehingga siswa dapat melakukan
sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan. Terjadilah suatu
perubahan kelakuan. Perubahan kelakuan ini meliputi seluruh pribadi
siswa; baik kognitip, psikomotor maupun afektif.
W. S Winkel mengatakan bahwa minat adalah kecenderungan
yang agak menetap untuk merasa tertarik pada bidang-bidang tertentu
dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu (1983 : 38),
sedangkan menurut Witherington (1985 : 38) minat adalah kesadaran
seseorang terhadap suatu objek, seseorang, suatu soal atau situasi
tertentu yang mengadung sangkut paut dengan dirinya atau dipandang
sebagai sesuatu yang sadar.
Faktor-faktor yang mendasari minat menurut Crow&Crow
yang diterjemahkan oleh Z. Kasijan (1984 : 4) yaitu faktor dorongan
dari dalam, faktor dorongan yang bersifat sosial dan faktor yang
berhubungan dengan emosional. Faktor dari dalam dapat berupa
kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani dan kejiwaan.
Timbulnya minat dari diri seseorang juga dapat didorong oleh adanya
motivasi sosial yaitu mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari
lingkungan masyarakat dimana seseorang berada sedangkan faktor
emosional memperlihatkan ukuran intensitas seseorang dalam
menanam perhatian terhadap suatu kegiatan atau obyek tertentu.
Sedangkan menurut Sumadi Suryabrata (2002:68) definisi minat
adalah “Suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau
aktivitas tanpa ada yang menyuruh”. Minat pada dasarnya adalah
penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu hal
diluar dirinya. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut semakin
besar minatnya.
Minat dapat diartikan sebagai “Kecenderungan yang tinggi
terhadap sesuatu, tertarik, perhatian, gairah dan keinginan”. Pendapat
lain tentang pengertian minat yaitu yang diungkapkan oleh T. Albertus
yang diterjemahkan Sardiman A.M, minat adalah “Kesadaran
seseorang bahwa suatu obyek, seseorang, suatu soal maupun situasi
yang mengandung sangkut paut dengan dirinya” (2006:32).
Menurut Hilgard yang dikutip oleh Slameto (2003:57) minat
adalah “Kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan
mengenang beberapa kegiatan”. Kegiatan yang diminati seseorang
diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang.
Sedangkan menurut Holland yang dikutip oleh Djaali (2007:122)
mengatakan bahwa “Minat adalah kecenderungan hati yang tinggi
terhadap sesuatu”.
Oleh karena itu minat merupakan aspek psikis yang dimiliki
seseorang yang menimbulkan rasa suka atau tertarik terhadap sesuatu
dan mampu mempengaruhi tindakan orang tersebut. Minat mempunyai
hubungan yang erat dengan dorongan dalam diri individu yang
kemudian menimbulkan keinginan untuk berpartisipasi atau terlibat
pada suatu yang diminatinya. Seseorang yang berminat pada suatu
obyek maka akan cenderung merasa senang bila berkecimpung di
dalam obyek tersebut sehingga cenderung akan memperhatikan
perhatian yang besar terhadap obyek. Perhatian yang diberikan tersebut
dapat diwujudkan dengan rasa ingin tahu dan mempelajari obyek
tersebut.
Untuk meningkatkan minat, maka proses pembelajaran dapat
dilakukan dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami apa
yang ada di lingkungan secara berkelompok. Di dalam kelompok
tersebut terjadi suatu interaksi antar siswa yang juga dapat
menumbuhkan minat terhadap kegiatan tersebut.
b. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Minat
Minat pada seseorang akan suatu obyek atau hal tertentu tidak
akan muncul dengan sendirinya secara tiba-tiba dalam diri individu.
Minat dapat timbul pada diri seseorang melalui proses. Dengan adanya
perhatian dan interaksi dengan lingkungan maka minat tersebut dapat
berkembang. Banyak faktor yang mempengaruhi minat seseorang akan
hal tertentu.
Miflen, FJ & Miflen FC, (2003:114) mengemukakan ada dua
faktor yang mempengaruhi minat belajar peserta didik, yaitu :
1. Faktor dari dalam yaitu sifat pembawaan
2. Faktor dari luar, diantaranya adalah keluarga, sekolah dan
masyarakat atau lingkungan.
Menurut Crow and Crow yang dikutip (Dimyati Mahmud,
2001:56) yang menyebutkan bahwa ada tiga faktor yang mendasari
timbulnya minat seseorang yaitu :
1. Faktor dorongan yang berasal dari dalam. Kebutuhan ini dapat
berupa kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani dan kejiwaan.
2. Faktor motif sosial. Timbulnya minat dari seseorang dapat didorong
dari motif sosial yaitu kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan
dan lingkungan dimana mereka berada.
3. Faktor emosional. Faktor ini merupakan ukuran intensitas seseorang
dalam menaruh perhatian terhadap sesuatu kegiatan atau obyek
tertentu.
Menurut Johanes yang dikutip oleh Bimo Walgito (1999:35),
menyatakan bahwa “Minat dapat digolongkan menjadi dua, yaitu
minat intrinsik dan ektrinsik. Minat intrinsik adalah minat yang
timbulnya dari dalam individu sendiri tanpa pengaruh dari luar. Minat
ekstrinsik adalah minat yang timbul karena pengaruh dari luar”.
Berdasarkan pendapat ini maka minat intrinsik dapat timbul karena
pengaruh sikap. Persepsi, prestasi belajar, bakat, jenis kelamin dan
termasuk juga harapan bekerja. Sedangkan minat ekstrinsik dapat
timbul karena pengaruh latar belakang status sosial ekonomi orang tua,
minat orang tua, informasi, lingkungan dan sebagainya.
Keterampilan Bertanya
Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermuladari ‘bertanya’. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis Contextual Teaching and Learning(CTL). Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam pelaksanaaan pembelajaran.
Siswa dalam mengajukan pertanyaan didorong rasa ingin tahu. Setiap pertanyaan merupakan saat yang berguna, karena saat ini akan memusatkan seluruh perhatian untuk memahami sesuatuyang baru. Setiap pertanyaan yang diutarakan menunjukan bahwa siswa menyadari adanya suatu masalah. Siswa merasa kekurangan pengetahuan seputar materi yang diajarkan oleh guru. Guru harus mampu merangsang minat siswa bertanya serta mampu merespon setiap pertanyaan dengan baik.Adapun
keterampilan bertanya yang harus dimiliki siswa ketika bertanya yaitu frekuensi pertanyaan selama proses pembelajaran, substansi pertanyaan, bahasa, suara, dan kesopanan. Seorang siswa yang dibiasakan untuk bertanya maka siswa tersebut akan memiliki keterampilan bertanya yang baik.
Bertanya berarti berpikir, karena setiap pertanyaanyang terungkap tanpa disadari berdasarkan pemikiran. Mel Silberman(2009: 144) Beberapa strategi untuk menggugah rasa ingin tahu siswa yaitu :
a. Belajar memulai dengan sebuah pertanyaan (Learning starts with a Question).
Pola belajar dengan merangsang siswa untuk bertanyatentang materi mereka, tanpa penjelasan dari guru terlebih dahulu.
b. Bertanya yang telah ditanamkan
Teknik ini memungkinkan guru untuk memberikan informasi sebagai jawaban atas pertanyaan yang telah diberikan kepadasiswa yang sudah ditentukan. Hal ini mengesankan pada siswa lain bahwa guru mengerjakan satu sesi tanya jawab.
c. Peran pemutaran pertanyaan (Role reversal Qustion)
Teknik ini merupakan kebalikan dari yang biasanya dilakukan guru. Biasanya guru meminta siswa untuk bertanya selama pertanyaan berlangsung. Pada teknik ini gurulah yang akan melontarkan pertanyaan dan siswa yang mencoba menjawab.
Proses belajar-mengajar, pada saat itu guru terkadang mengajukan pertanyaan yang pada hakekatnya bukan untuk memperoleh jawaban dari siswa, tetapi karena maksud-maksud tertentu. Dalam hal seperti ini, guru perlu mengajukan pertanyaan tambahan yang akan mengarahkan proses berpikir siswa kearah persoalan yang sebenarnya, dan atau pertanyaan
yang akan mendorong siswa untuk lebih mendalami persoalan yang dimaksud, akhirnya jawabannya menjadi lengkap. Misalnya guru mengajukan pertanyaan “mengapa pada kondisi gelap kita tidak bisa melihat?”, oleh sebab itu perlunya teknik dalam mengajukan pertanyaan. Teknik pertanyaan (S.L. La Sulo, 1984: 19) sebagai berikut :
1. Pertanyaan hendaknya ditunjukan kepada seluruh siswa dalam kelas,
sehingga perlu diperhitungkan :
a. Suara cukup keras untuk didengar seluruh siswa ; hendaknya dihindari suara yang lemah, tetapi tidak terlalu keras.
b. Pertanyaan diajukan dengan ucapan yang jelas dan tidak terlalu cepat.
2. Setelah pertanyaan diajukan, siswa diberi waktu untuk menangkap makna pertanyaan dan mencari jawabannya, setelah itu ditunjuk seorang siswa untuk mengemukakan jawabannya.
3. Menggilirkan kesempatan untuk menjawab sedemikian rupa, sehingga merata keseluruh kelas agar semua siswa mendapat kesempatan yang sama.
4. Jangan mengulangi pertanyaan, agar siswa terbiasa utuk selalu memusatkan perhatiannya; hal ini dapat pula menumpuk kebiasaan siswa untuk menjadi pendengar yang baik. Disamping itu, pertanyaan yang diulang dengan redaksional yang lain akan membingungkan siswa yang telah mulai menyusun jawabannya. Demikian pula: jangan mengulangi jawaban siswa.
5. Agar memberi reaksi positif terhadap jawaban siswa yang tepat. Guru harus dapat mengarahkan siswa untuk membetulkan/menyempurnakan jawabannya.
6. Agar mendorong partisipasi siswa dalam memberi kesempatan kepada siswa yang kurang spontan atau pemalu.
7. Sedapat mungkin kalimat pertanyaan jangan terlalu panjang yang
mungkin akan menyulitkan siswa untuk menangkapnya. 8. Biasakanlah memberikan pertanyaan mengarahkan dan atau menggalikepada siswa yang memberikan jawaban yang salah/tidak sempurna. Apabila siswa tidak dapat menjawab, berikanlah pertanyaan lain yang berhubungan dengan pertanyaan yang pertama tetapi lebih mudah, dan
apabila pertanyaan yang kedua telah dapat dijawab dengan benar, kembalilah kepada pertanyaan semula.
9. Sebaliknya bagi siswa yang dengan tepat menjawab pertanyaan
pertama, dapat dilanjutkan dengan pertanyaan yang kedua yang lebih
tinggi tingkatannya, hal ini akan memperluas wawasan dan
mempertajam analisis siswa terhadap masalah yang dihadapinya.
10. Jangan anda menjawab sendiri pertanyaan yang anda ajukan, kecuali pada pertanyaan teoritis, meskipun tidak seorangpunsiswa yang dapat menjawabnya degan no. 8.
11. Berikanlah kesempatan untuk menjawab satu pertanyaan pada beberapa orang siswa.
12. Hindari pertanyaan yang :
a. Mengandung sugesti,
b. Hanya menuntut jawaban “ya” atau “tidak”.
c. Pertanyaan yang kompleks, yang meminta berbagai halsekali jawab.
13. Pertanyaan siswa yang diajukan kepada guru sedapat mungkin dipantulkan kembali kepada siswa lainnya untuk dijawab, apabila tak seorangpun yang dapat menjawabnya, barulah guru yang menjawabnya. Dan apabila guru tidak siap untuk menjawabnya, sebaiknya dikatakan terus terang, dan pada kesempatan berikutnya
barulah pertanyaan itu dijawabnya. 14. Gunakan teknik penguatan (reinforcement) dengan bijaksana dan baik
dengan verbal (ya, betul, baik sekali…) maupun dengan nonverbal
(ekspresi wajah, anggukan kepala, berjalan mendekati…) kadang-kadang reaksi non verbal lebih berpengaruh dari pada reaksi verbal.
Guru dalam mengajukan pertanyaan memerlukan beberapa teknik, hal ini juga terjadi pada siswa ketika siswa mengajukan pertanyaan ada teknik-teknik tertentu. Teknik-teknik siswa dalam mengajukan pertanyaan antara lain:
1) Substansi pertanyaan Pertanyaan yang diajukan oleh siswa sesuai denganmateri yang
sedang dipelajari dan jawabannya sedapat mungkin tidak terlalu singkat.
2) Frekuensi pertanyaan dalam 1 jam pelajaran Siswa yang tergolong aktif dalam bertanya dalam 1 jam pelajaran
siswa tersebut mengajukan pertanyaan lebih dari enam pertanyaan.
3) Bahasa
Bahasa yang digunakan ketika siswa mengajukan pertanyaan menggunakan bahasa resmi yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan (EYD) dan intonasi baik.
4) Suara
Volume suara ketika siswa mengajukan pertanyaan hendaknya dapat terdengar oleh seluruh siswa.
5) Kesopanan
Kesopanan pada saat mengajukan pertanyaan hendaknyamenggunakan tutur kata yang baik dan serius.
Media Realia
1. Definisi Media
Kata media berasal dari bahasa latin ‘medius’ yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’, atau ‘pengantar’[1]. Menurut Bovee yang dikutip Ena (2001), media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan[2]. Selain itu beberapa ahli mengemukakan bahwa media dalam proses pembelajaran cenderung diartikan alat-alat grafis, fotografis atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. Telah banyak pakar dan juga organisasi (lembaga) yang mendefinisikan media ini, beberapa definisi tentang media pembelajaran ini adalah sebagai berikut: media pembelajaran atau media pendidikan adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk media pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah dan sebagainya, ahli lain menyampaikan bahwa media adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara, NEA, mengemukakan media merupakan sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio visual, termasuk teknologi perangkat kerasnya. B berpendapat media adalah alat bantu untuk memberikan perangsang bagi peserta didik supaya terjadi proses belajar. Lain lagi dengan yang menyatakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan peserta didik untuk belajar[3].
Dari berbagai pendapat di atas, jelaslah bahwa pada dasarnya semua pendapat tersebut memosisikan media sebagai suatu alat atau sejenisnya yang dapat dipergunakan sebagai pembawa pesan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Pesan yang dimaksud adalah materi pelajaran. Keberadaan media dimaksudkan agar pesan dapat lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh peserta didik. Bila media adalah sumber belajar, secara luas dapat diartikan bahwa manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan dapat disebut sebagai media.
Untuk lebih mengkongkritkan penyajian pesan, sekitar pertengahan abad 20 mulai digunakan alat audio sehingga lahirlah istilah alat bantu audiovisual. Usaha tersebut terus berlanjut. Edgar Dale mengklasifikasikan sepuluh tingkat pengalaman belajar dari yang paling konkret sampai dengan yang paling abstrak. Klasifikasi ini dikenal dengan nama kerucut pengalaman Dale.
Pada akhir tahun 1950-an teori komunikasi mulai masuk memengaruhi penggunaan alat bantu audiovisual dalam kegiatan pembelajaran. Menurut teori ini ada tiga komponen penting dalam proses penyampaian pesan yaitu sumber pesan, media penyalur pesan, dan penerima pesan. Sejak saat itu alat bantu audiovisual tidak lagi hanya dipandang sebagai alat bantu guru saja, tetapi juga sebagai alat penyalur pesan. Hanya saja faktor peserta didik yang menjadi komponen utama dalam proses belajar belum mendapat perhatian. Baru pada tahun 1950 – 1965 orang mulai memerhatikan peserta didik sebagai komponen yang penting dalam proses pembelajaran. Teori tingkah laku ajaran Skinner mulai memengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Teori ini mendorong orang untuk lebih memerhatikan peserta didik dalam proses pembelajaran.
Pada tahun 1965 – 1970 pendekatan sistem mulai menampakkan pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran. Pendekatan sistem ini mendorong penggunaan media sebagai bagian yang integral dalam program pembelajaran.
Setiap program pembelajaran hendaknya direncanakan secara sistematis dengan memusatkan perhatian pada peserta didik dan berdasarkan kebutuhan serta karakteristiknya. Media tidak lagi dipandang sebagai alat bantu guru, tetapi juga diberi wewenang membawa pesan.Oleh karena itu, media haruslah dipilih dan dikembangkan secara sistematis dan digunakan secara integral dalam proses pembelajaran. Demikianlah, apabila kita mendengar kata media saat ini, maka istilah ini hendaknya ditafsirkan dalam pengertiannya yang terakhir, meliputi mulai dari alat bantu guru hingga pembawa pesan dari kurikulum.
2. Pengertian media dalam Matematika
Mathematics has been called the queen of the sciences (matematika disebut ratu ilmu pengetahuan) . Matematika adalah salah satu ilmu yang sangat penting dalam kehidupan kita karena merupakan ilmu yang sangat mendasar. The most quoted statement here is that of Bertrand Russel : mathematics may be defined as the subject in which we never know what we are talking about, nor whether what we say is true(pernyataan yang paling banyak dikutip oleh Bertrand Russel: matematika bisa didefinisikan sebagai subyek dimana kita tidak pernah tahu apa yang kita bicarakan maupun kita tidak pernah tau apa yang kita bicarakan itu benar). Sehingga diperlukan wawasan yang sangat luas dan mendalam untuk mengetahui hakekat matematika. Kita harus mengerti tentang isi, pendekatan pemahaman, dan pola pikir yang digunakan dalam matematika, serta peran matematika itu sendiri.
Menurut James matematika adalah ilmu tentang logika, mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang saling berhubungan satu sama lain yang terbagi dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, serta geometri[4].
Sedangkan berpendapat bahwa matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam[5].
Adapun beberapa definisi/pengertian matematika adalah sebagai berikut:
1) Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan teroganisir secara sistematik.
2) Matematika adalah pengetahuan bilangan dan kalkulasi.
3) Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.
4) Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan
masalah tentang ruang dan bentuk.
5) Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.
6) Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat[6].
Dari penjelasan tentang definisi matematika, maka dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika yang mempelajari struktur dan pola daribentuk, susunan, dan besaran yang saling berhubungan satu sama lain yang terbagi dalam aljabar, analisis, dan geometri serta tersusun secara hierarkis, sistematis, dan teratur untuk membantu manusia memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.
Belajar matematika sangat terkait dengan berpikir matematis. Berpikir matematis menurut Dienes berkenaan dengan penyeleksian himpunan-himpunan unsur matematika, dan himpunan-himpunan ini menjadi unsur-unsur dari himpunan-himpunan baru yang lebih rumit dan seterusnya. Belajar matematika haruslah bertahap, dimulai dari yang dasar sesuai dengan hakekat matematika bahwa matematika adalah ilmu yang mempelajari benda pikiran yang masih bersifat abstrak. Sehingga dalam pembelajaran matematika siswa harus diajarkan secara perlahan dimulai dari yang konkret kemudian yang bersifat abstrak[7].
Media pembelajaran matematika adalah sarana dalam menyajikan, mempelajari, memahami, dan memmpermudah dalam mempelajari matematika. Matematika bersifat abstrak, bagi siswa SD berfikir secara abstrak mungkin hal yang sulit. Oleh karena itu, diperlukan alat yang dapat membantu siswa membayangkan hal yang bersifat abstrak melalui benda konkret. Media pembelajaran matematika bisa berupa alat peraga/model, lembar kerja siswa, tayangan, software, dan sebagainya. Media pembelajaran tidak selalu berbentuk alat peraga. Papan tulis bisa menjadi media pembelajaran utama untuk menjelaskan beberapa pokok bahasan.
Agar media pembelajaran menjadi efektif dan efisien serta dapat digunakan dalam jangka panjang, dibutuhkan beberapa pertimbangan dalam membuatnya yaitu sebagai berikut:
- local material (bahan-bahan mudah didapat)
- proses pembuatan hendaknya menggunakan alat yang tepat agar hasilnya akurat
- mudah untuk dibuat oleh sendiri
- efisien dalam menggunakan bahan
- terdapat petunjuk penggunaan
- mudah digunakan, baik oleh siswa, guru dan orang lain yang membutuhkan
- dapat membantu memahami materi
- tidak berbahaya
- tampilannya menarik
- tahan lama
- bernilai jual
3. Tujuan Media
Dalam proses pembelajaran, media memiliki tujuan sebagai pembawa informasi dari sumber (guru) menuju penerima (siswa). Sedangkan metode adalah prosedur untuk membantu siswa dalam menerima danmengolah informasi guna mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan media dalam proses pembelajaran ditunjukkan pada Gambar
Gambar Tujuan Media dalam Pembelajaran
Media pengajaran merupakan salah satu komponen pengajaran yang dapat mengefektifkan interaksi guru dan siswa serta siswadengan lingkungannya. Maka dari itu mediaa merupakan hal yang penting yang dapat membantu dalam proses pengajaran.
Dalam situs http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/12/media-pembelajaran/media memiliki beberapa tujuan, diantaranya:
1. media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik.
2. media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas.
3. media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
4. media menghasilkan keseragaman pengamatan.
5. media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
6. media membangkitkan keinginan dan minat baru.
7. media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
8. media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak[8] .
Sejalan dengan penjelasan di atas mengenai tujuan media pembelajaran adalah membuat proses pembelajaran berjalan lebih menarik, membantu penyampaian pengajar kepada pembelajar lebih mudah.
Dalam hal lain, media pembelajaran memiliki tujuan yang berbeda-beda sesuai dengan kegunaan pembelajaran. Tujuan dari media tersebut akan terasa apabila diletakkan pada posisi yang tepat. Penggunaan media pembelajaran sebagai alat bantu tidak boleh sembarangan, seorang pengajar harus memperhatikan dan mempertimbangkan apakah media yang akan digunakan sesuai dengan tujuan pengajaran atau tidak.
Beberapa tujuan media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu:
1) Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar.
2) Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran.
3) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru
mengajar pada setiap jam pelajaran.
4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya
mendengarkan uraian guru, mendemontrasikan, memerankan dan lain-lain[9].
Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan media pembelajaran adalah untuk membantu proses pembelajaran dan meningkatkan motivasi belajar siswa.
Levi dan Lentz mengemukakan bahwa terdapat empat tujuan media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu:
1) Fungsi atensi; yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.
2) Fungsi afektif; yaitu media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar atau membaca teks yang bergambar.
3) Fungsi kognitif; artinya lambang visual atau gambarakan memperlancar pencapaian tujuan yang terkandung dalam gambar.
4) Fungsi kompensatoris; yaitu media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan dengan secara verbal[10].
Dari uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwaperanan atau kedudukan media pembelajaran merupakan komponen metode mengajar sebagai salah satu upaya untuk menghubungkan prosesinteraksi guru dengan siswa dan siswa dengan lingkungan belajarnya. Dengan demikian, maka fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, yakni menunjang penggunaan metode mengajar yang digunakan oleh guru. Oleh karena itu, penggunaan media dalam proses pembelajaran sangat dianjurkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
4. Manfaat Media
Secara umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Tetapi secara lebih khusus beberapa manfaat media yang lebih rinci Kemp dan Dayton misalnya mengidentifikasi beberapa manfaat media dalam pembelajaran, yaitu:
1) Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan.
Setiap guru mungkin mempunyai penafsiran yang berbeda-beda terhadap suatu konsep materi pelajaran tertentu. Dengan bantuan media, penafsiran yang beragam tersebut dapat dihindari sehingga dapat disampaikan kepada siswa secara seragam.
2) Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik.
Dengan berbagai potensi yang dimilikinya, media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi.
3) Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif.
Media dapat membantu guru dan siswa melakukan komunikasi dua arah secara aktif selama proses pembelajaran.
4) Efisiensi dalam waktu dan tenaga.
Dengan media, tujuan pembelajaran akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin.
5) Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
Penggunaan media bukan hanya membuat proses pembelajaran lebih efisien, tetapi juga membantu siswa menyerap materi belajar lebih mendalam dan utuh.
6) Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.
Media pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara lebih leluasa, kapanpun dan dimanapun, tanpa tergantung pada keberadaan seorang guru.
7) Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan
proses belajar.
Dengan media, proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.
8) Merubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif[11].
Dengan memanfaatkan media secara baik, seorang guru bukan lagi menjadi satu-satunya sumber belajar bagi siswa.
Selain beberapa manfaat media yang telah dikemukakan di atas, masih banyak manfaat praktis lainnya. Manfaat praktis media pembelajaran antara lain dijelaskan sebagai berikut.
Media pembelajaran dapat membuat materi pelajaran yang abstrak menjadi lebih konkrit.
Media juga dapat mengatasi kendala keterbatasan ruang dan waktu.
Media dapat membantu mengatasi keterbatasan indera manusia.
Media juga dapat menyajikan obyek pelajaran berupa benda atau peristiwa langka dan berbahaya ke dalam kelas.
Informasi pelajaran yang disajikan dengan media yang tepat akan memberikan kesan mendalam dan lebih lama tersimpan pada diri siswa.
Meskipun media banyak ragamnya, namun kenyataannya tidak banyak jenis media yang bisa digunakan oleh guru di sekolah. Beberapa media yang paling akrab dan hampir semua sekolah memanfaatkannya adalah media cetak (buku) dan papan tulis. Selain itu banyak sekolah yang telah memanfaatkan jenis media lain seperti gambar, model, dan Overhead Proyektor (OHP) dan obyek-obyek nyata. Sedangkan media lainnya seperti kaset audio, video, VCD, slide (film bingkai), program pembelajaran komputer masih jarang digunakan meskipun sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar guru. Meskipun demikian, sebagai seorang guru alangkah baiknya kita mengenal beberapa jenis media pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar mendorong kita untuk mengadakan dan memanfaatkan media tersebut dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
5. Karakteristik Media Realia dalam Matematika
media realia adalah benda nyata yang digunakan sebagai bahan atau sumber belajar. Pemanfaatan media realia tidak harus dihadirkan secara nyata dalam ruang kelas, melainkan dapat juga dengan cara mengajak siswa melihat langsung (observasi) benda nyata tersebut ke lokasinya[12].
Realia dapat digunakan dalam kegiatan belajar dalam bentuk sebagaimana adanya, tidak perlu dimodifikasi, tidak ada pengubahan kecuali dipindahkan dari kondisi lingkungan aslinya. Ciri media realia yang asli adalah benda yang masih dalam keadaan utuh, dapat dioperasikan, hidup, dalam ukuran yang sebenarnya, dan dapat dikenali sebagai wujud aslinya. Media realia sangat bermanfaat terutama bagi siswa yang tidak memiliki pengalaman terhadap benda tertentu.
Misalnya untuk mempelajari binatang langka, siswa diajak melihat badak yang ada di kebun binatang. Selain observasi dalam kondisi aslinya, penggunaan media realia juga dapat dimodifikasi. Modifikasi media realia bisa berupa: potongan benda (cutaways), benda contoh (specimen), dan pameran (exhibid). Cara potongan (cutaways) adalah benda sebenarnya tidak digunakan secara utuh atau menyeluruh, tetapi hanya diambil sebagian saja yangdianggap penting dan dapat mewakili aslinya. Misalnya binatang langka hanya diambil bagian kepalanya saja.
Benda contoh (specimen) adalah benda asli tanpa dikurangi sedikitpun. Yang dipakai sebagai contoh untuk mewakili karakter darisebuah benda dalam jenis atau kelompok tertentu. Misalnya beberapa ekor ikanhias dari jenis tertentu, yang dimasukkan dalam sebuah toples berisi air untuk diamati di dalam kelas. Pameran (exhibit) menampilkan benda benda tertentu yang dirancang seolah olah berada dalam lingkungan atau situasi aslinya. Misalnya senjata senjata kuno yang masih asli ditata dan dipajang seolah olah mengambarkan situasi perang pada jaman dulu.
Dalam memhami karakteristik media realia dalam pembelajaaran matematika, harus juga dipahami mengenai makna dari pembelajaran matematika tersebut Pembelajaran matematika merupakan upaya penataan lingkungan agar proses belajar atau pembentukan pengetahuan dan pemahaman matematika oleh siswa berkembang secara optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan[13] .
Menurut Erman Suherman, fungsi mata pelajaran matematika sebagai berikut:
a) Alat
Siswa diberi pengalaman menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan suatu informasi misalnya melalui persamaan-persamaan, atau tabel-tabel dalam model-model matematika yang merupakan penyederhanaan dari soal-soal cerita atau soal-soal uraian matematika lainnya. Bilaseorang siswa dapat melakukan perhitungan tetapi tidak tahu alasannya, maka tentu ada yang salah dalam pembelajarannya atau ada sesuatu yang belum dipahami.
b) Pola Pikir
Belajar matematika bagi para siswa, juga merupakan pembentukan pola pikir dan pemahaman suatu pengertian maupun penalaran dalam suatu hubungan di antara pengertian-pengertian itu. Di dalam proses penalaran siswa, dikembangkan pola pikir induktif maupun deduktif. Namun semuanya harus disesuaikan dengan perkembangan kemampuan siswa, sehingga pada akhirnya akan sangat membantu kelancaran proses pembelajaran matematika di sekolah.
c) Ilmu Pengetahuan
Fungsi matematika sebagai ilmu pengetahuan, dan tentunya pengajaran matematika di sekolah harus diwarnai oleh fungsi yang ketiga ini. Guru harus mampu menunjukkan betapa matematika selalu mencari kebenaran, dan bersedia meralat kebenaran yang sementara diterima, bila ditemukan kesempatan untuk mencoba mengembangkan penemuan-penemuan sepanjang mengikuti pola pikir yang sah[14].
Beberapa jenis media yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Masing-masing media tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan, namun dalam kegiatan belajar mengajar dikelas guru dapat menggabungkan beberapa media dengan tujuan agar penggunaan media dapat saling melengkapi satu sama lain dan dapat menutupikelemahan-kelemahan salah satu media. Oleh sebab itu, hendaknya perhatikan kriteria media yang akan digunakan di kelas. Sudjana dan Rivai menyatakan bahwa:
“Penggunaan media sangat bergantung kepada tujuan pengajaran, bahan pengajaran, kemudahan memperoleh media yang diperlukan serta kemampuan guru dalam menggunakannya dalam kegiatan belajar mengajar dikelas”[15].
Secara umum, Wibawa menjelaskan faktor- faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih media atau kriteria pemilihan media dalam matematika adalah:
1) Tujuan, artinya ketika guru memilih media yang akan digunakan berdasarkan tujuan yang telah dirancang sebelumnya. Jika tujuannya membuat anak memahami konsep bilangan, maka guru dapat mempergunakan papan flanel angka, menyediakan beberapa bentuk angka dan menggunakan benda-benda pada saat mempelajari konsep bilangan.
2) Karakteristik Siswa, penyediaan media juga berhubungan dengan jumlah anak, dimana lokasi belajarnya dan bagaimana gaya belajaranak di kelas. Dengan begitu, guru dapat menyediakan media sesuai dengan jumlah anak agar semua anak mendapat kesempatan yang sama untuk mempergunakan media secara optimal.
3) Karakteristik Media, guru harus mengetahui karakteristik media yang hubungannya dengan keunggulan dan kelemahan media tersebut. Misalnya
guru tidak mempergunakan media foto untuk mengajarkan gerakan, alangkah lebih baik apabila guru menggunakan media video.
4) Alokasi Waktu, guru harus merencanakan berapa lama anak mempergunakan media tersebut dan juga guru harus memperhatikan bagaimana cara merapikan kembali media tersebut. Hal ini berhubungan dengan keefisienan media tersebut.
5) Ketersediaan, sebelum guru mempergunakan televisi di kelas, guru harus
memperhatikan ketersediaan alat-alat pendukung televisi tersebut. Seperti ketersediaan stop kontak, aliran listrik dan sebagainya.
6) Efektivitas, berhungan dengan apakah penggunaan media tersebut efektif
dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
7) Kompatibilitas, media yang akan digunakan harus bersifat praktis, luwes dan tahan lama agar dapat digunakan diwaktu-waktu selanjutnya. Kemudian dalam penggunaanya tidak merepotkan guru dan anak sehingga mudah digunakan.
8) Biaya, hal ini terkait dengan perawatan media yang digunakan. Apakah
pemeliharaannya mudah atau memakan biaya yang sangat mahal.
Berdasarkan beberapa penjelasan tentang kriteria pemilihan media secara umum, dapat dilihat bahwa kriteria penggunaan mediasecara umum dipertimbangkan pada saat memilih media realia. Wibawa mengungkapkan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh guru sebelum menggunakan media realia sebagai media pengajaran, yaitu (1) karena benda nyata itu banyak macamnya, mulai dari benda-benda hidup sampai benda-benda mati, maka perlu dipertanyakan benda-benda atau makhluk hidup apakah yang mungkin dapat dimanfaatkan di kelas secara efisien,(2) bagaimanakah caranya agar benda-benda itu sesuai dengan pola belajar mengajar di kelas, (3) darimana kita memperoleh benda-benda itu.
Selain itu, untuk penggunaan media pembelajaran agar lebih efektif, Heinich mengajukan model ASSURE. Model ini dicetuskan oleh Heinich et.al
sejak tahun 1980-an dan terus dikembangkan oleh Smaldino et.al hingga sekarang model ini merupakan singkatan yang terdiri atas istilah [16].
Model ASSURE merupakan akronim dari analyze learner, state objective, select methods, media and materials, require learner participant and evaluate and revise. Adapun penjabaran dari ASSURE tersebut yaitu:
a) Analyze learner (menganalisis peserta didik). Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru harus mengetahui karakteristik atau siapa yang akan kita ajarkan agar metode dan bahan ajar yang kita gunakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Yang perlu dianalisa dari peserta didik adalah : karakteristik umum, kompetensi prasyarat baik pengetahuan, keterampilan, maupun tentang topik pembelajaran dan gaya belajarnya.
b) State objective (merumuskan tujuan pembelajaran). Langkah selanjutnya ialah menuliskan tujuan pembelajaran secara spesifik. Tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu agar proses pembelajaran lebih terarah.Tujuan pembelajaran dapat diperoleh dari silabus, buku teks, dari kurikulum utama atau dikembangkan oleh guru.
c) Select methods, media and materials(memilih metode, media dan bahan ajar). Agar proses pembelajaran dapat lebih efektif maka guru harus bisa memilih metode, media dan bahan ajar yang tepat sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan tujuan yang hendak dicapai. Disini kecermatan dalam memilih sangat dibutuhkan agar proses pembelajaran tidak sia-sia dan mendaapat hasil yang maksimal. Ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam memilih yaitu : memilih bahan pembelajaran yang sesuai, memodifikasi bahan pembelajaran yang ada, merancang bahan pembelajaran baru.
d) Utilize Media and Materials(memanfaatkan media dan bahan ajar). Guru dituntut untuk mampu memanfaatkan media dan bahan ajar seefektif dan semaksimal mungkin. Setelah memodifikasi atau mendesain bahan pembelajaran tahap selanjutnya ialah membuat perencanaan penggunaan bahan pembelajaran tersebut dalam mengimplementasikan metode yang digunakan.
e) Require learner participant(mengembangkan peran peserta didik). Guru sebagai pengajar dituntut untuk lebih terampil sebagai upaya untuk mengembangkan peran peserta didik agar lebih aktif dalam kegiatan KBM atau dalam penggunaan bahan pembelajaran dapat dilakukandengan melibatkan pembelajaran.
f) evaluate and revise (menilai dan memperbaiki). Setelah melakukan KBM maka hal yang perlu dilakukan adalah memberikan penilaian untuk mengukur tingkat pemahaman atas materi yang baru saja diberikan dan setelah itu menilai seluruh komponen yuang ada dalam KBM tadi untuk mengetahui sejauh mana keefektivan dan dapat dijadika masukan bagi perbaikan penyelenggaraan KBM selanjutnya
Apabila telah mengetahui kriteria dalam penggunaan media, ada baiknya mempertimbangkan dengan matang sebelum penggunaan media di kelas. Beberapa penjelasan di atas dapat menjadi pertimbangan guru pada saat sebelum mempergunakan media dan dapat dijadikan acuan guru pada saat memilih media realia yang akan digunakan di kelas. Maka hendaknya pemanfaatan media realia sebagai media pengajaran dan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas proses belajar mengajar akan semakin efektif.
[1] Azhar, Arsyad (2002). Media pembelajaran.Jakarta: rajawali Press.p.1.
[2] Ena, Ouda Teda. 2001. Membuat Media Pembelajaran Interaktif dengan Piranti Lunak Presentasi. Yogyakarta: Indonesian Language and Culture Intensive Ciurse Universiatas Sanata Dharma.
[3] Rachmad, Antonius. 2005. Pengantar Multimedia. Yogyakarta: Fakultas Teknik
Informatika Universitas Kristen Duta Wacana.p.5.
[4] Erman, Suherman. (2003). Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia.p.16
[5] Erman, Suherman. (2003). Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.p.17
[6] Soedjadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika Di Indonesia. Jakarta: Direktorat
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.p.11
[7] Herman Hudojo. (2003). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: Universitas Negeri Malang..p.73
[8] http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/12/media-pembelajaran/media. diakses tanggal 2 april 2013
[9] Sudjana dan Rivai.2009. Media pengajaran. Bandung:Sinar Baru.p.2
[10] Azhar, Arsyad (2010). Media pembelajaran.Jakarta: rajawali Press.p.16
[11] Aristo rahadi, 2003. Media Pembelajaran. Direktorat Tenaga kependidikan Direktorat Jendral Pendidikan dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.p.15
[12] Indriana, D. 2011. Ragam Alat Baantu Media Pengajaran. Mengenal, Merancang, dan Mempraktikannya. Jogjakarta: DIVA Press.p.15.
[13] Esti Wuryastuti. (2008). Upaya Meningkatkan Kemandirian Belajar Matematika Siswa SMP N 1 Minggir Melalui Penerapan Problem Based Learning. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
[14] Erman, Suherman. (2003). Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.p.56-57
[15] Sudjana dan Rivai.2009. Media pengajaran. Bandung:Sinar Baru.p.2
[16] Anita Lie. (2002). Cooperative Learning. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.p.2
IKLAN
CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))
Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG D
IBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF
IKLAN BUKU
Dijual E-Book EXCELLENT BIOLOGY FOR SMP Harga hanya Rp 20.000 (dua puluh ribu rupiah) info dan pemesanan hubungi pak zaif HP: 081938633462,E-Mail: Zaifbio@gmail.com
SINOPSIS BUKU
EXCELLENT BIOLOGY FOR SMP
OLEH: HUZAIFAH HAMID S.Pd
Mata pelajaran Biologi yang tergabung dalam IPA Terpadu pada jenjang pendidikan SMP, merupakan mata pelajaran yang menarik, disukai siswa sekaligus menantang. Meskipun tergolong ilmu pasti, namun mata pelajaran Biologi memiliki keunikan tersendiri. Ciri khas dari setiap mata pelajaran biologi adalah diperlukannya hafalan serta pemahaman yang mendalam pada setiap bab yang dipelajari karena langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, berbeda dengan mata pelajaran ilmu pasti lainnya yang lebih menjurus kea rah berhitung.
Buku EXCELLENT BIOLOGY FOR SMP ini berisi rangkuman pelajaran Biologi kelas VII, VIII, dan IX. Setiap bab yang disajikan dalam buku ini berisi intisari hal-hal yang esensial dan paling penting untuk dipelajari dari setiap bab dalam pelajaran Biologi SMP. Tidak hanya berisi rangkuman pelajaran buku ini juga dilengkapi dengan beberapa contoh gambar yang menunjang penjelasan materi pada setiap bab, sehingga diharapkan siswa menjadi lebih tertarik dan paham. Selain itu hal baru dan berbeda dari buku lainnya adalah pada buku ini terdapat rubrik Temukan. Rubrik ini berisi ajakan untuk membuka website berkaitan dengan materi yang dipelajari. Diharapkan rubrik ini akan mendorong siswa untuk membiasakan diri memperkaya wawasan dan pengetahuan dari berbagai sumber.
IKLAN BUKU
Dijual E-Book CARA MUDAH MEMBUAT MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS ICT(PANDUAN PEMBUATAN BLOG, DAN VIDEO UNTUK PEMBELAJARAN) harga hanya Rp 20.ooo (Dua puluh ribu rupiah) info dan pemesanan hubungi pak zaif HP: 081938633462,E-Mail: Zaifbio@gmail.com
SINOPSIS BUKU
CARA MUDAH MEMBUAT MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS ICT
(PANDUAN PEMBUATAN BLOG, DAN VIDEO UNTUK PEMBELAJARAN)
Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong pembelajar untuk melakukan praktik-praktik dengan benar.
Ada beberapa media pembelajaran berbasis ICT yang saat ini ramai dibicarakan yaitu Blog dan Video. Blog adalah catatan pribadi seseorang di internet. berisi informasi yang sering di update dan kronologis. Blog memberikan sebuah peluang agar kegiatan belajar lebih menarik dan interaktif. Selain itu, di dalam sebuah blog terdapat fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung potensi setiap pelajar dalam mengembangkan materi pelajarannya seperti adanya video, gambar, hingga Link (jaringan) ke berbagai sumber pembelajaran. Sedangkan video itu berkenaan dengan apa yang dapat dilihat, utamanya adalah gambar hidup (bergerak; motion), proses perekamannya, dan penayangannya yang tentunya melibatkan teknologi, menurut munadi video adalah teknologi pemprosesan sinyal elektronik meliputi gambar gerak dan suara.
Buku ini akan menjelaskan secara detail dan mudah mengenai cara pembuatan kedua media pembelajaran diatas yaitu pembuatan Blog dan video, tidak hanya panduan yang diberikan di dalam buku ini juga dilengkapi dengan gambar dari setiap proses pembuatan video dan blog sehingga memudahkan pengguna untuk menirunya, selain itu juga di awal pembahasan buku ini pembaca akan diberi definisi, manfaat dan berbagai tinjauan pustaka mengenai video dan blog, jadi jika ingin menjadi guru yang lebih kreatif dan tidak ketinggalan jaman jangan lupa baca buku ini
\
Kemandirian Belajar
1. Pengertian Kemandirian Belajar
Belajar mandiri bukan berarti belajar sendiri. Seringkali orang menyalahartikan belajar mandiri sebagai belajar sendiri. Bab II Undang undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Ikapi,2003: 15) yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab. Jelaslah bahwa kata mandiri telah muncul sebagai salah satu tujuan pendidikan nasional kita. Karena itu penanganannya memerlukan perhatian khusus semua guru, apalagi tidak ada mata pelajaran khusus tentang kemandirian.
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kemandirian adalah keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain[1].
Pengertian belajar mandiri adalah sebagai berikut: [2]
1) Setiap individu berusaha meningkatkan tanggung jawab untuk mengambil berbagai keputusan.
2) Belajar mandiri dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada setiap orang dan situasi pembelajaran.
3) Belajar mandiri bukan berarti memisahkan diri dengan orang lain.
4) Dengan belajar mandiri, siswa dapat mentransferkan hasil belajarnya yang berupa pengetahuan dan keterampilan ke dalam situasi yang lain.
5) Siswa yang melakukan belajar mandiri dapat melibatkan berbagai sumber daya dan aktivitas, seperti: membaca sendiri, belajar kelompok, latihan-latihan, dialog elektronik, dan kegiatan korespondensi.
6) Peran efektif guru dalam belajar mandiri masih dimungkinkan, seperti dialog dengan siswa, pencarian sumber, mengevaluasi hasil, dan memberi gagasan-gagasan kreatif.
7) Beberapa institusi pendidikan sedang mengembangkan belajar mandiri menjadi program yang lebih terbuka (seperti Universitas Terbuka) sebagai alternatif pembelajaran yang bersifat individual dan program-program inovatif lainnya.
Dari pengertian belajar mandiri menurut Hiemstra di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah perilaku siswa dalam mewujudkan kehendak atau keinginannya secara nyata dengan tidak bergantung pada orang lain, dalam hal ini adalah siswa tersebut mampu melakukan belajar sendiri, dapat menentukan cara belajar yang efektif, mampu melaksanakan tugas-tugas belajar dengan baik dan mampu untuk melakukan aktivitas belajar secara mandiri.
Kegiatan-kegiatan yang perlu diakomodasikan dalam pelatihan belajar mandiri adalah sebagai berikut:
a) Adanya kompetensi-kompetensi yang ditetapkan sendiri oleh siswa untuk menuju pencapaian tujuan-tujuan akhir yang ditetapkan oleh program pelatihan untuk setiap mata pelajaran.
b) Adanya proses pembelajaran yang ditetapkan sendiri oleh siswa.
c) Adanya input belajar yang ditetapkan dan dicari sendiri. Kegiatan-kegiatan itu dijalankan oleh siswa, dengan ataupun tanpa bimbingan guru.
d) Adanya kegiatan evaluasi diri (self evaluation) yang dilakukan oleh siswa sendiri.
e) Adanya kegiatan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dijalani siswa.
f) Adanya past experience reviewatau review terhadap pengalaman-pengalaman yang telah dimiliki siswa.
g) Adanya upaya untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa.
h) Adanya kegiatan belajar aktif.[3]
Berdasarkan uraian tentang kegiatan-kegiatan dalam pelatihan belajar menurut Haris Mudjiman di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa siswa yang memiliki kemandirian belajar adalah siswa yang mampu menetapkan kompetensi-kompetensi belajarnya sendiri, mampu mencari input belajar sendiri, dan melakukan kegiatan evaluasi diri serta refleksi terhadap proses pembelajaran yang dijalani siswa.
2. Aspek-aspek Kemandirian Belajar
Dalam keseharian siswa sering dihadapkan pada permasalahan yang menuntut siswa untuk mandiri dan menghasilkan suatu keputusan yang baik. Song and Hill (2007: 31-32) menyebutkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu :
1) Personal Attributes
Personal attributes merupakan aspek yang berkenaan dengan motivasi dari pebelajar, penggunaan sumber belajar, dan strategi belajar. Motivasi belajar merupakan keinginan yang terdapat pada diri seseorang yang merangsang pebelajar untuk melakukan kegiatan belajar. Ciri-ciri motivasi antara lain: (a) tanggung jawab (mereka yang memiliki motivasi belajar merasa bertanggung jawab atas tugas yang dikerjakannya dan tidak meninggalkan tugasnya sebelum berhasil menyelesaikannya), (b) tekun terhadap tugas (berkonsentrasi untuk menyelesaikan tugas dan tidak mudah menyerah), (c) waktu penyelesaian tugas (berusaha menyelesaikan setiap tugas dengan waktu secepat dan seefisien mungkin), (d) menetapkan tujuan yang realitas (mampu menetapkan tujuan realistis sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, mampu berkonsentrasi terhadap setiap langkah untuk mencapai tujuan dan mengevaluasi setiap kemajuan yang telah dicapai.
Dalam belajar, sumber belajar yang digunakan siswa tidak terbatas, asalkan sesuai dengan materi yang dipelajari dan dapat menambah pengetahuan siswa. Sedangkan yang dimaksud dengan strategi belajar di siniadalah segala usaha yang dilakukan siswa untuk menguasai materi yang sedang dipelajari, termasuk usaha yang dilakukan apabila siswa tersebut mengalami kesulitan.
2) Processes
Processes merupakan aspek yang berkenaan dengan otonomi proses pembelajaran yang dilakukan oleh pebelajar meliputi perencanaan, monitoring, serta evaluasi pembelajaran. Kegiatan perencanaan meliputi: (a) mengelola waktu secara efektif (pembuatan jadwal belajar, menyusun kalender studi untuk menulis atau menandai tanggal-tanggal penting dalam studi, tanggal penyerahan tugas makalah, tugas PR, dan tanggal penting lainnya, mempersiapkan buku, alat tulis, dan peralatan belajar lain), (b) menentukan prioritas dan manata diri (mencari tahu mana yang paling penting dilakukan terlebih dahulu dan kapan mesti dilakukan).
3) Learning Context
Fokus dari learning context adalah faktor lingkungan dan bagaimana faktor tersebut mempengaruhi tingkat kemandirian pebelajar. Ada beberapa faktordalam konteks pembelajaran yang dapat mempengaruhi pengalaman mandiri pebelajar antara lain, structure dan nature of task.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemandirian belajar siswa merupakan suatu bentuk belajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan tujuan belajar, perencanaan belajar, sumber-sumber belajar, mengevaluasi belajar, dan menentukan kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhannya sendiri. Aspek yang menunjukkan kemandirian belajar siswa dalam penelitian ini, yaitu personal attributes, processes, dan learning context. Dalam pembelajaran matematika, kemandirian belajar dapat dilakukan dalam kegiatan berdiskusi.Semakin besar peran aktif siswa dalam berbagai kegiatan tersebut, mengindikasikan bahwa siswa tersebut memiliki kemandirian belajar yang tinggi.
[1] Departemen Pendidukan Nasional. (2006). Panduan Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan ( KTSP ) SD/MI. Jakarta : Depdiknas.
[2] Hiemstra. (1994). “Self Directed Learning”. [Online]. Tersedia: http://www.nwrel.org/
planning/report/self directed learning/index.php. [02 April 2013].P. 1
[3] Mujiman, Haris ( 2006 ). Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.p. 20-21
IKLAN
CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))
Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF
IKLAN BUKU
Dijual E-Book EXCELLENT BIOLOGY FOR SMP Harga hanya Rp 20.000 (dua puluh ribu rupiah) info dan pemesanan hubungi pak zaif HP: 081938633462,E-Mail: Zaifbio@gmail.com
SINOPSIS BUKU
EXCELLENT BIOLOGY FOR SMP
OLEH: HUZAIFAH HAMID S.Pd
Mata pelajaran Biologi yang tergabung dalam IPA Terpadu pada jenjang pendidikan SMP, merupakan mata pelajaran yang menarik, disukai siswa sekaligus menantang. Meskipun tergolong ilmu pasti, namun mata pelajaran Biologi memiliki keunikan tersendiri. Ciri khas dari setiap mata pelajaran biologi adalah diperlukannya hafalan serta pemahaman yang mendalam pada setiap bab yang dipelajari karena langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, berbeda dengan mata pelajaran ilmu pasti lainnya yang lebih menjurus kea rah berhitung.
Buku EXCELLENT BIOLOGY FOR SMP ini berisi rangkuman pelajaran Biologi kelas VII, VIII, dan IX. Setiap bab yang disajikan dalam buku ini berisi intisari hal-hal yang esensial dan paling penting untuk dipelajari dari setiap bab dalam pelajaran Biologi SMP. Tidak hanya berisi rangkuman pelajaran buku ini juga dilengkapi dengan beberapa contoh gambar yang menunjang penjelasan materi pada setiap bab, sehingga diharapkan siswa menjadi lebih tertarik dan paham. Selain itu hal baru dan berbeda dari buku lainnya adalah pada buku ini terdapat rubrik Temukan. Rubrik ini berisi ajakan untuk membuka website berkaitan dengan materi yang dipelajari. Diharapkan rubrik ini akan mendorong siswa untuk membiasakan diri memperkaya wawasan dan pengetahuan dari berbagai sumber.
IKLAN BUKU
Dijual E-Book CARA MUDAH MEMBUAT MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS ICT(PANDUAN PEMBUATAN BLOG, DAN VIDEO UNTUK PEMBELAJARAN) harga hanya Rp 20.ooo (Dua puluh ribu rupiah) info dan pemesanan hubungi pak zaif HP: 081938633462,E-Mail: Zaifbio@gmail.com
SINOPSIS BUKU
CARA MUDAH MEMBUAT MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS ICT
(PANDUAN PEMBUATAN BLOG, DAN VIDEO UNTUK PEMBELAJARAN)
Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong pembelajar untuk melakukan praktik-praktik dengan benar.
Ada beberapa media pembelajaran berbasis ICT yang saat ini ramai dibicarakan yaitu Blog dan Video. Blog adalah catatan pribadi seseorang di internet. berisi informasi yang sering di update dan kronologis. Blog memberikan sebuah peluang agar kegiatan belajar lebih menarik dan interaktif. Selain itu, di dalam sebuah blog terdapat fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung potensi setiap pelajar dalam mengembangkan materi pelajarannya seperti adanya video, gambar, hingga Link (jaringan) ke berbagai sumber pembelajaran. Sedangkan video itu berkenaan dengan apa yang dapat dilihat, utamanya adalah gambar hidup (bergerak; motion), proses perekamannya, dan penayangannya yang tentunya melibatkan teknologi, menurut munadi video adalah teknologi pemprosesan sinyal elektronik meliputi gambar gerak dan suara.
Buku ini akan menjelaskan secara detail dan mudah mengenai cara pembuatan kedua media pembelajaran diatas yaitu pembuatan Blog dan video, tidak hanya panduan yang diberikan di dalam buku ini juga dilengkapi dengan gambar dari setiap proses pembuatan video dan blog sehingga memudahkan pengguna untuk menirunya, selain itu juga di awal pembahasan buku ini pembaca akan diberi definisi, manfaat dan berbagai tinjauan pustaka mengenai video dan blog, jadi jika ingin menjadi guru yang lebih kreatif dan tidak ketinggalan jaman jangan lupa baca buku ini
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Picture to Picture
Salah satu model pembelajaran kooperatif yang mejadi bahan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) adalah model picture to picture. Pembelajaran dengan menggunakan model ini menitikberatkan kepada gambarsebagai media penanaman sutu konsep tertentu. Gambar-gambar yang disajikan atau diberikan menjadifactor utama dalam proses pembelajaran karena siswa akan belajar memahami suatu konsep atau fakta dengan cara mendeskripsikan dan menceritakan gambaryang diberikan berdasarkan ide/gagasannya. Dalam proses pembelajarannya penggunaan media gambar dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif, kreatif dan menemukan sendiri dengan bantuan guru materi yang dipelajari.
Media gambar menurut Riyanto (1990) merupakan salah satu jenis bahasa yang memungkinkan terjadinya komunikasi, yang diekspresikan lewat tanda dan simbol. Media gambar merupakan salah satu jenis bahasa yangmemungkinkan terjadinya komunikasi, yang diekspresikan lewat tanda dan simbol.
Jenis jenis media gambar menurut menurut Riyanto (1990) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.Foto dokumentasi; menyangkut dokumen yang berhubungan dengan nilai sejarah.
2.Foto aktual; gambar atau problem aktual ini menggambarkan kejadian kejadian atau problem aktual.
3.Gambar atau foto reklame; gambar ini bertujuan untuk mempengaruhi manusia dengan tujuan komersial. Gambar ini terdapat dalam surat kabar, majalah-majalah, buku-buku, poster-poster. Gambar ini dapatdigunakan sebagai media pendidikan dalam pelajaran ekonomi, pengetahuan sosial,bahasa dan lain-lain.
4.Gambar atau foto simbolik; jenis ini terutama dalam bentuk simbol yang mengungkapkan pesan tertentu, misalnya gambar ular yang sedang makan kelinci merupakan simbol yang mengungkapkan suatu kehidupan manusia yang mendalam.
Sudjana dan Rivai (2002) mengungkapkan beberapa kelebihan pembelajaran dengan mengunakan media gambar sebagai berikut:
a. konkrit, lebih realistis dan menunjukkan pokok masalah atau pesan yang akan
dikomunikasikan bila dibandingkan media verbal.
b. dapat mengatasi batasan ruang dan waktu
c. dapat mengatasi keterbatasan indera
d. dapat memperjelas suatu masalah yang kompleks
e. murah harganya dan mudah diperoleh.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model picture to picture mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan model yang lainnya yaitu :
1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa
2. Melatih berpikir logis dan sistematis.
3. Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar.
4. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.
5. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya
Sedangkan Koyok dan Zurkarimen dikutip Moh Uzer Usman (1992), berpendapat bahwa kelemahan media gambar adalah gambar hanya menekankan persepsi indera mata dan gambar yang terlalu kecilkurang efektif dalam kegiatan pengajaran. Begitu pula dengan Riyanto (1990), memberikan beberapa kelemahan dari penggunaan media gambar sebagi berikut:
(1) tafsiran orang yang melihat gambar akan berbeda akan terjadi ketidak samaan dalam penafsiran gambar,
(2) gambar hanya menampilkan persepsi indera mata,
(3) gambar hanya disajikan dalam ukuran kecil mengakibatkan kurang efektif untuk proses pengajaran.
Langkah-langkah pembelajaran dengan model picture to picture adalah sebagai berikut :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
Langkah pertama ini sangat penting disampaikan kepada siswa agar mereka dapat mengukur sejauh mana materi yang harusdikuasainya. Di samping itu guru juga harus menyampaikan indikator-indikator ketercapaian kompetensi dasar, dengan tujuan agar siswa dapat mencapai kriteria ketuntasan mninimal yang ditetapkan
2. Guru menyajikan materi sebagai pengantar pembelajaran Penyajian materi sebagai pengantar merupakan hal yang sangat penting diberikan oleh guru dengan tujuan mengarahkan siswaagar mencapai tujuan yang ditetapkan . Dalam penyampaiannya , guru haruslah kreatif mencari cara dan teknik yang baik agar siswa termotivasi untuk belajar lebih dalam tentang materi yang akan dipelajari
3. Guru menunjukkan gambar atau memperlihatkan gambar yang berhubungan dengan materi Dalam langkah ini, guru memperlihatkan beberapa gambar yang yang berhubungan dengan materi yang akan diajarkan dan menanyakan kepada siswa tentang nama, ciri-ciri benda yang ditunjukkan .
4. Guru memberikan kumpulan gambar kepada siswa dalam kelompok. Dalam langkah ini guru haruslah dapat melakukan inovasi agar gambar yang menjadi media untuk model pembelajaran ini dapat menarik dan memotivasi siswa untuk memahami suatu konsep yang diajarkan
4. Siswa mengamati gambar- gambar dan mengklasifikasi ciri-ciri. Pada langkah ini, siswa dalam kelompok mengamati gambar-gambar yang diberikan guru. Siswa melakukan diskusi kelompok untuk menentukan nama, ciri-ciri benda yang diamati. Hasil diskusi kelompok dicatat dalam catatan khusus , dipandu dengan lembaran kerja siswa yang dibuat guru
5. Siswa mengemukan pendapat/mempresentasikan alasan pemikiran. Siswa dilatih untuk mengemukan alasan pemikiran atau pendapat tentang hasil diskusi kelompoknya dengan cara melaporkan hasilnya di depan kelas. Dalam lngkah ini peran guru sangatlah penting sebagai fasilitator dan motivator adar siswa bernai mengemukan pendaptnya. Biasanya siswa pada kelas rendah tidak berani untuk berbicara kecuali dituntun dan dimotivasi oleh gurunya.
6. Guru bersama sama dengan siswa melakukan diskusi kelas tentang hasil pemikiran dari tiap kelompok. Guru dapat meotivasi dan mengajak siswa untuk berdiskusi, bertanya kepada teman yang melaporkan pekerjaannya di depan kelas. Pekerjaan ini sangat sulit dilakukan, sehingga guru harus berinovasi agar siswa mau bertanya dan menjawab pertanyaan gdari temannya maupun dari guru. Guru bisa membantu dengan memberikan kalimat yang belum lengkap sehingga siswa bisa melanjutkan apa yang akan disampaikan.
7. Penarikan kesimpulan pembelajaran bersama-sama. Langkah terakhir pada pembelajaran dengan model picture to picture adalah guru mengajak siswa untuk dapat bersama-sama menyimpulkan materi yang dipelajari dengan kata-kjata dan bahasasendiri. Pada langkah ini , guru harus sering melakukan penekanan-penekanan pada hal yang ingin dicapai dengan meminta siswa lain mengulangi, dan menuliskan kembali konsep-konsep yang ingin dicapaisesuai dengan indikator yang harapkan.
IKLAN
CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))
Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF
Evaluasi
1. Pengertian Evaluasi
Tujuan umum untuk mengevaluasi haruslah jelas. Untuk menentukan strategi evaluasi yang cocok, seorang peneliti harus mengetahui mengapa evaluasi dilaksanakan (Brinkerhoff, 1983:16). Apakah evaluasi akan digunakan untuk menemukan permasalahan, memecahkan permasalahan, menyediakan informasi yang sedang berlangsung, atau memutuskan keberhasilan program? Alasan umum untuk mengevaluasi akan membantu evaluator menentukan strategi untuk melahirkan pertanyaan-pertanyaan evaluasi secara khusus. “The first step in thutilization-focused approach to evaluation is identification and organization of relevant decision makers for information users of the evaluation” (Patton, 1978: 61).
Untuk memutuskan tujuan suatu evaluasi, seorang evaluator membuat keputusan mengenai evaluasi tersebut. “Most evaluation studies arise from the interest in oversight” (Levine, 1981:134). Sementara ada tujuan yang dikesampingkan atau terpusat secara umum untuk dimanfaatkan dengan evaluasi, evaluator akan menemukan bahwa audienceyang berbeda akan memiliki alasan berbeda pula untuk menginginkan evaluasi yang sama. Maka dari itu, audience bermaksud akan menggunakan hasil tersebut dengan berbeda pula (Brinkerhoff,1983: 16).
Stufflebeam (1985: 3) menyatakan ‘’The standard definition of evaluation is as follows: Evaluation is the systematic assessment of the worth or merit of some object’’. Stufflebeam (1985: 174) juga menyatakan, “a process evaluation is an ongoing check on the implementation of a plan”. Demikian pula Gronlund (1971: 6) mengemukakan definisi tentang evaluasi sebagai berikut. Evaluasi dapat dikemukakan sebagai suatu proses sistematis dari menentukan tingkat capaian tujuan bahan pelajaran yang diterima oleh siswa. Gronlund (1981: 36) juga mengemukan kembali bahwa evaluasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang sistematis untuk mengumpulkan dan menginterpretasikan informasi tentang pencapaian pemebelajaran guna menentukan nilai. Selanjutnya Lynch (1996:2) mendefinisikan “evaluation is defined here as the systematic attempt to gather information in order to make judgements or decisions”. Nunan (1992: 13) membandingkan bahwa evaluasi lebih luas dalam konsep daripada penilaian. Demikian pula Baumgartner & Jackson (1995: 154) mengemukakan, “Evaluation often follows measurement, taking the form of judgement about the quality of a performance”. Ghani, Hari, & Suyanto (2006: 70) mengemukakan bahwa istilah ‘evaluasi’ sering membingungkan penggunaannya terutama dalam pembelajaran.
Kadang-kadang ‘evaluasi’ disamakan dengan ‘pengukuran’ atau juga digunakan untuk menggantikan istilah ‘pengujian.” Ketika guru menyelenggarakan tes hasil belajar, mereka mungkin mengatakan: ‘menguji prestasi’, ‘mengukur prestasi’, atau mengevaluasi prestasi.’ Selanjutnya, dalam kasus lain istilah evaluasi juga diartikan sebagai metode penelitian yang tidak tergantung pada pengukuran. Sebenarnya, istilah evaluasi mengandung dua pengertian, yakni evaluasi sebagai deskripsi kualitatif dari perilaku siswa dan sebagai deskripsi kuantitatif dari hasil pengukuran (misalnya: skor tes). Untuk jelasnya arti istilah tes, pengukuran, dan
evaluasi dapat diperbandingkan sebagai berikut:
(a) Tes adalah suatu instrumen atau prosedur sistematis untuk mengukur contoh perilaku siswa;
(b) Pengukuran adalah suatu proses perolehan deskripsi numerik dari ciri khusus penguasaan siswa; dan
(c) Evaluasi adalah proses sistematis dari pengumpulan, analisis, dan penafsiran informasi guna menentukan sejauh mana siswa mencapai tujuan pembelajaran.
Jadi evaluasi lebih komprehensif dan mencakup pengukuran, sedangkan pengujian hanyalah merupakan salah satu bagian dari pengukuran. Istilah pengukuran hanya terbatas pada deskripsi kuantitatif dari perilaku siswa. Hasil pengukuran hanya selalu berbentuk angka (misalnya: siswa A menjawab benar 30 butir dari 50 butir pertanyaan), dan tidak mencakup deskripsi kualitatif(misalnya: siswa B mendapat nilai paling jelek). Disisi lain, evaluasi dapat mencakup deskripsi kuantitatif (pengukuran) dan deskripsi kualitatif (bukan pengukuran) dari perilaku siswa. Selanjutnya, evaluasi selalu mencakup pertimbangan nilai (value judgement) atas hasil yang diperoleh (misalnya: siswa C mencapai kemajuan yang berarti dalam pelajaran tertentu).
Selanjutnya Anderson & Ball (Ghani, Hari, & Suyanto, 2006:71) mengemukakan bahwa evaluasi adalah proses yang menentukan sampai sejauh mana tujuan pendidikan dapat dicapai. Menurut Cronbach (Ghani, Hari, & Suyanto, 2006: 71) evaluasi adalah menyediakan informasi untuk pembuatan keputusan. Sehubungan dengan pembelajaran, evaluasi yang dimaksud adalah suatu proses pengumpulan data untuk menentukan manfaat, nilai, kekuatan, dan kelemahan pembelajaran yang ditujukan untuk merevisi pembelajaran guna meningkatkan daya tarik dan efektifitasnya. Dalam proses pembelajaran dikenal adanya evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif dilaksanakan selama berlangsungnya suatu program pembelajaran yang bertujuan untuk perbaikan dan peningkatan program, sedangkan evaluasi sumatif dilaksanakan pada akhir pelaksanaan suatu program pembelajaran yang bertujuan untuk pengambilan keputusan akhir (biasanya dilakukan setelah berakhirnya pembelajaran suatu materi tertentu). Philips (1991: 62) juga mengemukan,”evaluation is a sytematic process with several important parts”. Demikian pula Worthen & Sanders (2002:129) mengemukakan “Evaluation is the process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives”. Hubungan antara pengukuran dan evaluasi dapat dilihat dari penjelasan Gronlund (1971: 6) sebagai berikut: Evaluasi = Deskripsi kuantitatif dari siswa (pengukuran) + Penetapan nilai (value Judgement), Evaluasi = Deskripsi kualitatif dari siswa (bukan pengukuran) + Penetapan nilai (value Judgement). Weiss (1972: 6) mengungkapkan bahwa evaluasi adalah pembandingan “what is” dengan “what should be”. Walaupun peneliti sendiri tetap tidak bias dan objektif, peneliti terfokus pada fenomena yang mendemonstrasikan apakah program tersebut menerima tujuan yang diinginkannya. Secara sederhana Azwar (2004: 7) mengemukakan karakteristik evaluasi adalah: “(1) Merupakan perbandingan anatara hasil ukur dengan suatu norma atau suatu kriteria; (2) Hasilnya bersifat kualitatif; dan (3) Hasilnya dinyatakan secara evaluatif”.
Para evaluator memerlukan berbagai keahlian supaya lebih efektif dalam mengevaluasi. Selain itu mereka seharusnya menjadi ahli analisisyang baik sehingga tidak salah tafsir makna yang terkandung di dalam penomena yang menjadi data. Mereka seharusnya juga memiliki keahlian pemasaran. Mereka harus mengkomunikasikan nilai evaluasi kepada pengambil kebijakan dan para manager yang mungkin tidak menyadari keuntungan dari bantuan evaluasi yang sistematis. Dengan demikian para pengambil kebijakan dan manager akan mendapatkan manfaat dari evaluasi sehingga mereka akan menemukan jalan keluar dari permasalahan yang mereka hadapi. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Wholey, Harty, & Newcomer (1994: 591) sebagai berikut.
Evaluators need a variety of skills to be effective. They should be good analysts. They should be gifted at listening. Evaluators should also possess marketing skills. They must communicate the value of evaluation to policy-makers and managers who may not appriciate the benefits to be derived from systematic evaluation efforts.
Jadi komponen yang perlu dipertimbangkan dalam sistem evaluasi menurut Stronge (2006: 82) adalah:
(a) Pernyataan tujuan; (b) Kriteria kinerja; (c) Rating scaleyang mendefinisikan standar kinerja; (d) Deskripsi prosedur yang digunakan untuk mengumpulkan informasi pada kinerja; dan (e) Alat meringkas informasi yang formal pada kinerja, seperti suatu ringkasan evaluasi.
Sebagai contoh komponen proses pembelajaran yang perlu dievaluasi dikemukakan oleh Ghani, Hari, & Suyanto (2006: 74) adalah:
(a) Apakah strategi yang digunakan telah terbukti efektif?; (b) Apakah media pembelajaran yang ada telah dimanfaatkan secara optimal?; (c) Apakah cara mengajar telah berhasil membantu mengajar secara optimal? ; dan (d) Apakah cara belajarnya efektif?
Contoh komponen outputyang perlu dievaluasi adalah bagaimana prestasi peserta didik? Evaluasi ini sebaiknya terpisah dari objek evaluasi lainya. Evaluasi terhadap outputpembelajaran adalah evaluasi hasil belajar siswa.
2. Evaluasi Program
Evaluasi program adalah proses menentukan kualitas suatu programsecara sistematis dan bagaimana program tersebut dapat ditingkatkan (Sanders & Sullins, 2006: 1). Racangan untuk suatu evaluasi didukung oleh (1) seperangkat pengukuran kinerja program secara kuantitatif atau kualitatif (2)seperangkat analisis yang digunakan pengukuran untuk menjawab pertanyaan kunci tentang kinerja program. Evaluasi dirancang termasuk cara untuk menggambarkan sumber program, aktivitas program, dan outcomesprogram sebanding dengan metode untuk mengestimasi pengaruh aktivitas program, yaitu, perbedaan antara outcomesprogram dan outcomesyang telah terjadi tanpa program (Wholey, Harty, Newcomer, 1994: 11).
Evaluasi program termasuklah pengukuran kinerja program—sumber biaya, aktivitas program, dan outcomesprogram—dan pengujian asumsi sementara yang berhubungan dengan tiga elemen ini. Satu kontribusi potensial penting dari evaluasi program adalah kegunaanya oleh pengambil kebijakan, manager, dan staf untuk mengubah sumber, aktivitas, atau tujuan programuntuk meningkatkan kinerja program. Bagaimanapun juga, evaluasi mengandung lebih banyak seni daripada ilmu pengetahuan. Rencana setiap dukungan evaluasi membutuhkan keputusan pekerjaan yang sulit sebagai evaluatormencoba untuk mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab. Evaluator harus mengimbangi yang dapat dilakukan dan biaya desain dengan keuntungan hasil evaluasi dalam meningkatkan kinerja program atau mengkomunikasikan nilai aktivitas program kepada pengambil kebijakan atau masyarakat umum(Wholey, Harty, & Newcomer, 1994: 15).
Para ahli evaluasi seperti Alex Astin & Bob Panos (Madaus, Scriven & Stufflebeam, 1986: 293) mengatakan bahwa tujuan prinsip evaluasi adalah untuk menghasilkan informasi yang dapat memandu keputusan mengenai adopsi atau modifikasi program pendidikan. Evaluasi diharapkan untuk menyelesaikan berbagai tujuan:
(a) Mendokumentasikan kejadian; (b) Mencatat perubahan siswa; (c) Mendeteksi daya kelembagaan; (d) Menempatkan kesalahan bagi permasalahan; (e) Membantu membuat keputusan administratif; (f) Memfasilitasi aksiperbaikan; dan (g) Meningkatkan pemehaman kita terhadap pembelajaran.
Masing-masing tujuan ini berhubungan secara langsung atau tidak pada nilai suatu program dan mungkin suatu tujuan legitimasi untuk studi evaluasi tertentu. Hal ini sangatlah penting untuk disadari bahwa masing-masing tujuan membutuhkan data yang terpisah: semua tujuan tidak dapat disajikan dengan pengumpulan data tunggal.
Perencanaan untuk melaksanakan evaluasi program secara individu dan perencanaan terorganisasi bagi produksi dan kegunaan adalah dua hal yang berbeda. Pertama termasuk proses penemuan fakta yang terkenal, bagipertanyaan bijak yang diberikan, kesesuaian metode untuk jawabannya. Hal ini termasuklah keahlian merancang studi, membangun perbandingan, mengembangkan pengukuran pada data yang akan dikumpulkan, menyelidiki sumber data potensial, dan menggambarkan teknik analisis yang digunakan. Suatu proses perencanaanbiasanya diikuti jalur penelitian tradisional dan terfokus pada aspek teknik (yaitu, metodologi dan statistik) bukti kelengkapan pada pandangan kebijakan.
Perencanaan untuk keberhasilan unit evaluasi program, bagaimanapun juga—termasuk perjalanan singkat menjadi wilayah sedikit terkenal dan dipikirkan suatu aktivitas politik yang penting yang hanya teknik terpisah secara alami. Seperti semua perencanaan, perencanaan memiliki suatu tujuan: membuat perbedaan kualitas kebijakan pemerintah dan program pemerintah dengan mengimformasikan keputusan pengambil kebijakan melalui temuan evaluasi program. Walaupun tujuan ini adalah tanpa kesalahan dan dikenal, tujuan ini juga tidak cukup jelas. Perencana memerlukan tujuan yang lebih khusus untuk menyentuh kenyataan lebih mendalam.
a. Definisi Program
Sebuah program didefinisikan sebagai seperangkat sumber dan aktivitas yang menuju satu tujuan umum atau lebih. Termasuklah kedua sumber dan aktivitas dalam definisi ini terfokus pada perhatian perilaku yang diinginkan dari program staf dan pada sumber lainnya perlu untuk memberikan layanan program. Dalam praktiknya, “program” adalah dua tipe yang cukup berbeda, dengan implikasi yang berbeda bagi proses evaluasi: sejumlah program dan program yang ditargetkan secara khusus dengan baik. Sejumlah program sering terjadi di dalam sistem pemerintahan dan bagian sistem pemerintahan ketika istilah “program” adalah sutu klasifikasi pendanaan untuk aktivitas yang diorientasikan sekitar suatu tujuan global. Aktivitas khusus dilakukan dengan lokal cenderung secara terpisah dari yang lain. Evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program (Arikunto, 1999: 290). Evaluasi program untuk sejumlah program sering terfokus pada peserta monitoring dan aktivitas, kemudian pengukuran outcomes, dengan sedikit tekanan pada metode untuk mencapai kesepakatan dari kenyataan apakah program tersebut menyebabkan outcomes (Wholey, Harty, & Newcomer, 1994: 41).
Pada dasarnya evaluasi terhadap suatu program dapat dilaksanakan secara mandiri oleh pengelola program, atau dilaksanakan oleh pihak luar. Evaluasi yang dilakukan secara mandiri oleh pengelola program atau sering dikenal dengan evaluasi internal, lebih berfungsi sebagai pembinaan dan untuk evaluasi diri. Desentralisasi pendidikan berdasarkan atas kerelaan pengembangan dan administrasi pusat untuk mengizinkan sekolah untuk membuat keputusan sendiri. Sekolah berbasis manajeman telah menjadi administratif (Brown, 1990: 129). Caldwell & Spinks (1992: 4) mengemukakan, “a self-managing school is a school in a system of education where there has been significant and consistent decentralisation to the school level of authority to make decisions related to the allocation of resorces”. Karena itu sekolah penting untuk mengevaluasi dirinya sendiri sebagai pembinaan. Evaluasi yang dilakukan oleh pihak luar lebih berfungsi sebagai pengawasan dan menjamin akuntabilitas program yang dilaksanakan oleh sekolah tersebut (Depdiknas, 2005: 5-7). Evaluasi internal dan eksternal dapat diuraikan berikut ini.
1) Evaluasi Internal
Sanders & Sullins (2006: 9) mengemukakan bahwa suatu evaluasi internal, yang diadakan secara internal oleh staf yang bekerja pada program tersebut, biasanya berkembang secara alami. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan feedback pada aspek program yang tinjauan dan kemungkinan revisi sedang berlangsung. Apa yang berjalan dengan baik dan apa yang tidak? Apakah perlu perbaikan? Apakah perlu perbaikan di pertengahan keberlangsungan program tersebut? Evaluasi pada umumnya tidak dimaksudkan untuk pihak luar; bagaimanapun, evaluasi dapat berbagi dengan pihak luar sebagai cara demonstrasi bahwa staf sekolah menerapkan peraturan aktif dalam mengevaluasi dan meningkatkan sekolah mereka sendiri.
Sebagaimana evaluasi juga disarankan untuk memiliki seorang peninjau evaluasi program formatif dari luar, disebut meta evaluasi, dengan evaluator eksternal yang independen untuk memperhatikan penyimpangan evaluator internal. Evaluasi internal dilaksanakan sendiri oleh pelaksana program di berbagai tingkatan sebagai berikut:
(a) Di tingkat pusat; (b) Penanggungjawab evaluasi adalah Satkerpusat, yang dalam pelaksanannya dibantu oleh seksi evaluasi dan penyelesaian masalah tingkat pusat; (c) Di tingkat propinsi; (d) Penanggung jawab evaluasi adalah Satker pusat, yang dalam pelaksanannya dibantu oleh Seksi evaluasi dan penyelesaian masalah tingkat propinsi; dan (e) Di tingkat kabupaten/kota.
Penanggung jawab evaluasi adalah Satker pusat, yang dalam pelaksanannya dibantu oleh Seksi evaluasi dan penyelesaian masalah tingkat Kabupaten/Kota. Walaupun dalam pelaksanaannya pengelola program dapat bekerja sama dengan pihak luar dalam proses pengumpulan datanya, namun segal tanggung jawab terhadap pelaksanaan dan hasil evaluasi sepenuhnya ada pada pengelola program di setiap tingkatan. Pelaksanaan kerjasama ini dapat dilakukan dalam hal:
(a) Melakukan seleksi indikator dan penetapan fokus evaluasi; (b) Mengumpulkan dan mengelola data; (c) Menjadi tim evaluasi atau personel site visit;(d) Menggunakan data yang telah dikumpulkan oleh lembaga lain (Badan Pengawas Sekolah atau sumber yang lain); dan (e)Melakukan evaluasi dan memberikan evaluasi.
Fungsi evaluasi diri, pengelola program dapat melakukan evaluasi pada akhir program ini untuk melengkapi informasi yang akan digunakan sebagai bahan analisis dan penyususnan laporan akhir program. Di dalam bahasa Inggris, Ria-Dickins & Germaine (1998: 82) menyatakan,”Investigations by teachers, whether as classroom evaluation or action research, cannot contribute to the profession and discipline of applied linguistics while living by another, less rigorous set of principles.”
2) Evaluasi Eksternal
Tipe evaluasi lainnya, evaluasi eksternal, diselenggarakan oleh staf yang di luar pelaksana program (Sanders & Sullins, 2006: 9). Evaluasi biasanya dimotivasi oleh pertanyaan-pertanyaan dari luar dan memerlukan respon yang akurat terhadap pertanyaan yang diajukan pihak luar. Evaluasi eksternal adalah sumatif: keputusan tentang penggantian, pemeriksaan, penghargaan, atau keputusan akuntabilitas adalah hasil akhir.
Karena tekanan pada akuntabilitas dalam evaluasi program sumatif, evaluator eksternal lebih efektif karena independen dan kemampuan mereka untuk melangkah kembali mengambil pandangan objektif pada gambaran besar, yang mungkin termasuk lebih dari memperhatikan sekolah atau wilayah sekolah. Komunitas, daerah bagian, dan persoalan pemerintah menjadi berperan dalam evaluasi sumatif. Evaluator eksternal sering berperan sebgai pembina evaluasi yang profesional.
Pelaksanaan evaluasi dapat dilakukan juga dengan pihak lain. Hal tersebut penting dilakukan agar transparansi, objektivitas, dan akuntabilitas dapat benar-benar terjaga. Evaluasi eksternal ini dapat dilakukan oleh berbagai pihak seperti:
(a) Tim evaluasi independen: perguruan tinggi, DPRD, Bapeda, dan BIN pendidikan atau tim independen khusus yang ditunjuk oleh pemerintah;
(b) Unsur masyarakat dari unsur dewan pendidikan, LSM, BMPS, maupun organisasi masyarakat/kependidikan lainnya; (c) Instansi pengawasan: BPK, BPKP, inspektorat jendral, dan Bawasda propinsi dan kabupaten/kota; dan (d) Unit-unit pengaduan masyarakat yang terdapat di sekolah, kabupaten/kota, propinsi dan pusat.
3. Evaluasi Pembelajaran
Secara umum, ada dua macam evaluasi yang kita kenal, yakni evaluasi hasil belajar dan evaluasi proses pembelajaran (Ghani, Hari, & Suyanto, 2006:72). Evaluasi hasil pembelajaran disebut juga evaluasi substantif, atau populer dengan sebutan tes dan pengukuran hasil belajar. Sedang evaluasi proses pembelajaran, yang oleh beberapa ahli, ada pula yang menyebutnya sebagai evaluasi diagnostik atau juga evaluasi menajerial.
Ada tiga menfaat evaluasi proses pembelajaran menurut Ghani, Hari, & Suyanto (2006: 72) yaitu memahami sesuatu, membuat keputusan, dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Seorang pendidik membutuhkan berbagai informasi tentang sesuatu agar proses pembelajaran yang akan dilakukan berjalan optimal. Contoh: Seorang pendidik membutuhkan informasi tentang calon anak didik yang akan diajarnya, agar ia mampu menentukan entry behavioryang dimiliki peserta didik atau hal-hal lain secara tepat. Pertanyaan-pertanyaan evaluasi yang relevan diajukan, antara lain apakah peserta didik sudah cukup menguasai beberapa pelajaran atau pokok bahasan yang menjadi persyaratan pelajaran yang saya ajarkan ini?; Berapa banyak peserta didik yang memiliki cukup fasilitas yang disyaratkan oleh pelajaran ini?; Bagaimana tingkat motivasi peserta didik dalam mengikuti pelajaran?; Mengapa mereka mengambil pelajaran ini, dan bukan yang lain?; dll. Tidak hanya itu, pendidik perlu juga melakukan evaluasi terhadap keberadaan saranah dan prasaranah yang dibutuhkan. Contoh pertanyaan evaluasi yang diajukan antara lain, apakah bahan-bahan yang akan dipakai dalam paraktik laboraturium telah tersedia dalam jumlah yang cukup?; apakah ukuran ruang kelas sebanding dengan jumlah peserta didik yang mengambil pelajaran tersebut? Apakah pendidik akan bertahan dengan kondisi pembelajaran yang acak-acakan dan tidak terkontrol sampai dengan akhir pelajaran?; dll. Yang penting diperhatikan adalah pendidik hendaknya memahami dirinya sendiri. Misalnya, apakah ada hal-hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan diri pendidik?; Apakah proses pembelajaran berikutnya akan sama dengan pembelajaran yang sudah dilakukan selama beberapa tahun terakhir? Apakah persiapan pembelajaran sudah cukup memadai?; dan lain-lain. Yang sering terjadi, seorang pendidik melakukan evaluasi proses pembelajaran hanya setelah proses secara keseluruhan itu selesai. Namun, yang perlu diperhatikan adalah, dalam mengevaluasi proses pembelajaran, maksudnya \adalah untuk memperbaiki proses pembelajaran itu sendiri, agar selanjutnya menjadi lebih baik. Seyogyanya evaluasi jenis ini dilakukan dalam kurun waktu 1/3 dari waktu tatap muka dan 2/3 waktu pelaksanaan pembelajaran, misalnya 1/3 dari 16 tatap muka dan 2/3 dari 16 tatap muka. Namun jika dilakukan pada akhir pelajaran, hal ini tidak ada salahnya dan bahkan dianjurkan dilakukan untuk kepentingan peningkatan kualitas pembelajaran di masa berikutnya. Contoh pertanyaan yang bisa diajukan pendidik adalah: bagaimana pendapat peserta didik terhadap pembelajaran selama satu periode tertentu? Apakah pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah dibuat di awal pembelajaran? Jika ada perubahan, apakah bentuk perubahan itu dan mengapa berubah?; Apakah pendidik atau tim dalam proses pembelajaran ini telah bekerja dengan baik dan kompak?
Semua jawaban terhadap pertanyaan di atas dapat digunakan sebagai masukan untuk membuat keputusan misalnya, apakah pendidik dan timnya yang sekarang ini perlu diperbaiki formasinya?; apakah strategi pembelajaran yang selama ini dipakai perlu diganti dengan yang lain?; apakah carapendidik mengajar perlu diubah? Dan lain-lain.
Sebagian atau seluruh hasil evaluasi proses pembelajaran tersebut, biasanya digunakan sebagai bahan renungan evaluasi untuk memperbaiki pembelajaran. Pertanyaan yang perlu dipertimbangkan misalnya, mengapa hanya ada 25% peserta didik yang tidak lulus? Apa penyebabnya?; sebagian besar peserta didik mengatakan bahwa saya sangat menguasai materi. Tetapi, sebagian besar dari mereka juga mengatakan bahwa cara mengajar saya kurang sistematik. Benarkah kesimpulan ini? Jika benar, bagian mana yang tidak sistematik?; ada peserta didik yang mengatakan bahwa saya tidak menggunakan media pembelajaran dengan baik. Apa yang perlu saya lakukan untuk memperbaiki keadaan ini? Dan lain-lain.
Menurut Ghani, Hari, & Suyanto (2006: 74) proses pembelajaran mencakup 3 komponen, yaitu input,proses, dan output. Contoh komponen input yang perlu dievaluasi adalah bagaimana entry behavioryang dimiliki peserta didik?; apakah bahan pelajaran cukup relevan dan up-to-date?; apakah ruang kelas cukup memadai?; Apakah bahan-bahan, alat-alat, media pengajaran telah tersedia?; Apakah semua anggota guru telah memehami tugas dan kewajiban mereka?; apakah GBPP perlu direvisi? Strategi yang manakah yang paling cocok?; dan lain-lain.
Contoh komponen proses yang perlu dievaluasi adalah apakah strategi yang digunakan telah terbukti efektif?; Apakah media pembelajaran yang ada telah dimanfaatkan secara optimal?; Apakah cara mengajar telah berhasil membantu mengajar secara optimal?; Apakah cara belajarnya efektif?; dan lain-lain. Contoh komponen outputyang perlu dievaluasi adalah bagaimana prestasi peserta didik?
Evaluasi ini sebaiknya terpisah dari objek evaluasi lainya. Evaluasi terhadap outputpembelajaran adalah evaluasi hasil belajar siswa. Evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses pengumpulan data untuk menentukan manfaat, nilai, kekuatan, dan kelemahan pembelajaran yang ditujukan untuk merevisi pembelajaran guna meningkatkan daya tarik dan efektivitasnya.
Dalam proses pembelajaran dikenal adanya evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif dilaksanakan selama berlangsungnya suatu program pembelajaran yang bertujuan untuk perbaikan dan peningkatan program, sedangkan evaluasi sumatif dilaksanakan pada akhir pelaksanaan suatu program pembelajaran yang bertujuan untuk pengambilan keputusan.
Sumber Belajar
1. Pengertian sumber belajar.
Pengajaran merupakan suatu prosessistematis yang meliputi banyak komponen salah satunya adalah sumber belajar. Segala dayayang dapat digunakan untuk kepentingan proses/ aktivitas pengajaran baik secaralangsung maupun tidak langsung diluar diri peserta didik (lingkungan) yang melengkapi diri mereka pada saat pengajaran berlangsung tersebut sumber belajar. Sumber belajar menurut Ahmad Rohani dan Abu Ajmadi mempunyai pengertian segala daya yang dapat dipergunakan untuk kepentingan atau aktivitas pengajaran baiksecara langsung maupun tidak langsung, diluar diri peserta didik (lingkungan) yang melengkapi diri mereka pada saat pengajaran berlangsung.
Sumber belajar digunakan sebesar-besarnya untuk meningkatkan proses belajar, termasuk di dalamnya bahan, alat, teknik, setting, materi pelajaran dan personil. Untuk memilih sumber belajar yang sesuai, maka dalam belajar kimia diperlukan pengkajian terhadap sumber belajar tersebut.
Dengan menggunakan sumber belajar yang diorganisasi dengan baik, maka akan diperoleh permasalahan, pemecahan, pengalaman dan keterampilan karena pada hakekatnya sumber belajar adalah segala sesuatu yang mendukung dan membantu berlangsungnya proses belajar-mengajar. Menurut Arif I. Sadiman, sumber belajar adalah yang ada diluar diri seseorang (peserta didik) dan yang memungkinkan memudahkan terjadinya proses belajar.
Edgar Dale menyatakan bahwa sumber belajar adalah pengalaman-pengalaman yang pada dasarnya sangat luas, yakni seluas kehidupan yang mencakup segala sesuatu yang dapat dialami, yang dapat menimbulkan peristiwa belajar.Maksudnya adanya perubahan tingkah laku ke arah yang lebih sempurna sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.
Menurut Asosiasi teknologi komponen pendidikan (AECT), sumber belajar adalah semua sumber (baik berupa data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberikan fasilitas (kemudahan) belajar bagi siswa. Sumber belajar itu meliputi pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan lingkungan.
2. Klasifikasi Sumber Belajar (AECT).
AECT (Association For Education Communication and Technology) mengklasifikasikan sumber belajar menjadi 6, yaitu :
1. Pesan (Message), yaitu informasi yang ditransmisikan (diteruskan) oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta, arti dan data.
2. Orang (People), yaitu manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah, dan penyaji pesan.
3. Bahan (Material), yaitu perangkat lunak yangmengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat ataupun oleh dirinya sendiri.
4. Alat (Devices), yaitu perangkat keras yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan dalam bahan. 5. Teknik (Techniques), yaitu prosedur atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan bahan, peralatan, orang dan lingkungan untuk menyampaikan pesan.
6. Lingkungan (Setting), yaitu situasi sekitar dimana pesan disampaikan, baik lingkungan fisik maupun non fisik. Pesan : dalam sistem persekolahan, maka pesan ini berupa seluruh mata pelajaran yang disampaikan kepada siswa.Ditinjau dari tipe atau asal usulnya, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Sumber belajar yang dirancang (learning recources by design) yaitu sumber belajar yang memang sengaja dibuat untuk tujuan pembelajaran. Sumber belajar semacam ini sering disebut bahan pembelajaran. Contoh buku pelajaran modul, program audio, program slide suara, transparansi.
b. Sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan (learning recources by utilization) yaitu sumber belajar yang tidaksecara khusus dirancang untuk keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan, dipilih dan dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran. Contohnya pejabat pemerintah, waduk, museum, film, sawah, terminal, surat kabar, siaran TV, dan lain-lain.
3. Ciri-ciri Sumber Belajar.
Secara garis besar sumber belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Sumber belajar harus mampu memberikankekuatan dalam proses belajar-mengajar sehingga tujuan intruksional dapat tercapai secara maksimal.
b. Sumber belajar harus mempunyai nilai-nilai intruksional edukatif yaitu dapat mengubah dan membawa perubahan yang sempurna terhadap tingkah laku sesuai tujuan yang ada.
c. Dengan adanya klasifikasi sumber belajar, maka sumber belajar yang dimanfaatkan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Tak terorganisasi dan tak sistematis baik dalam bentuk maupun isi.
2. Tidak mempunyai tujuan intruksional yang eksplisit.
3. Hanya dipergunakan menurut keadaan dan tujuan tertentu secara insidental.
4. Dapat dipergunakan untuk berbagai tujuan intruksional.
d. Sumber belajar yang dirancang mempunyai ciri-ciri yang spesifik sesuai dengan tersedianya media.
4. Manfaat Sumber Belajar.
Pengalaman sains dapat diperoleh dengan mengambil segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitar berupa objek studibaik benda hidup maupun benda tak hidup, sehingga siswa dapat mempelajari melalui indranya. Oleh karena itu, obyek atau gejala-gejala kimia yang terdapat di sekitar kita dapat kita manfaatkan sebagai sumber belajar kimia. Manfaat sumberbelajar tersebut antara lain
1. Memberi pengalaman belajar secara langsung dan konkret kepada peserta didik.
2. Dapat menyajikan sesuatu yang tidakmungkin diadakan, dikunjungi ataupun dilihat secara langsung dan kongkret.
3. Dapat menambah dan memperluas cakrawala kajian yang ada di dalam kelas.
4. Dapat memberi informasi yang akurat dan terbaru.
5. Dapat membantu memecahkan masalah pendidikan baik dalam lingkup mikro maupun makro.
6. Dapat memberi motivasi yang positif, apabila diatur dan direncanakan pemanfaatannya secara tepat.
7. Dapat merangsang untuk berfikir, bersikap dan berkembang lebih lanjut.
b. Sumber Belajar Pendidikan Kimia
Suatu penelitian dapat digunakan sebagai sumber belajar meliputi 2 hal pokok, yaitu proses dan hasil penelitian. Proses dan hasil penelitian dapat dijadikan pertimbangan guru dalam menyusun materi dan kegiatan belajar-mengajar. Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memanfaatkan sumber belajar agar proses belajar-mengajar dapat berjalan dan berlangsung efektif yaitu :
1. Kejelasan potensi,
2. Kesesuaian dengan tujuan belajar,
3. Kejelasan sasaran,
4. Kejelasan informasi yang ingin diungkap,
5. Kejelasan eksplorasinya. Pemanfaatan hasil dan proses penelitian kimia sebagai sumber belajar di SMA/ MA dapat dilakukan dengan praktikum di laboratorium adalah sebagai berikut:
a. Mengembangkan ketrampilan pengamatan, manipulasi, instrumentasi dan preparatif,
b. Memperoleh pengetahuan kimia,
c. Mengenal ketelitian dan ketertiban kerja laboratorium,
d. Merekam secara cermat dan mengkombinasikan hasil secara jelas,
e. Mengembangkan tanggung jawab perorangan dan realitas dalam pelaksanaan eksperimen,
f. Merencanakan dan melaksanakan kerja laboratorium dengan menggunakan sumber-sumber laboratorium secara efektif.
Serangkaian kegiatan-kegiatan di laboratorium dilakukan untuk mencapai tujuan pengajaran laboratorium. Kegiatan khusus yang biasanya dilakukan siswa dalam kerja laboratorium meliputi :
a. Merencanakan eksperimendan menyusun hipotesis,
b. Merakit bahan dan peralatan,
c. Melakukan pengamatan terhadap gejala-gejala alamiah,
d. Melakukan pengamatan terhadap sesuatu proses yang terjadi dalam laboratorium yang tertutup,
e. Mengumpulkan dan mencatat data,
f. Melakukan modifikasi peralatan,
g. Melakukan pembacaan pada alat-alat pengukur, h. Mengkalibrasi peralatan,
i. Menghubungkan bahan dengan grafik,
j. Menarik kesimpulan dari data,
k. Membuat laporan eksperimen,
l. Memberikan penjelasan tentang eksperimen yang dilakukan,
m. Mengindentifikasikan permasalahan untuk studi lanjutan,
n. Melepas, membersihkan, menyimpan dan memperbaiki peralatan.
Siswa akan dapat mempelajari kimia dengan kegiatan praktikum melalui
pengamatan secara langsung terhadap gejala-gejala maupun proses-proses kimia. Praktikum dapat pula melatih berpikir secara ilmiah, dapat menambah serta mengembangkan sikap ilmiah, dapat menemukan dan memecahkan berbagai masalah baru melalui metode ilmiah. Metode ilmiah dalam pendidikan IPA membudayakan sikap ilmiah kepada anak didik antara lain bergairah, ingin tahu, disertai cermat dalam mengambil dan mengukur, terbuka, objektif, jujur, dan skeptis, taat asas, kritis dan runtut dalam berpikir, tekun, ulet dan penuh tanggung jawab.
c. Proses Belajar-Mengajar Kimia
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku karena adanya pengalaman, sedangkan pengalaman merupakan interaksi siswa dengan lingkungan, baik lingkungan fisik seperti buku pelajaran, alat pelajaran, fasilitas laboratorium dan sebagainya maupun lingkungan sosial seperti guru, siswa lain, tutor, pembimbing dilaboratorium, nara sumber, dan sebagainya. Menurut Tabrani Rusran, belajar merupakan proses perubahan tingkah laku berkat pengalaman dan latihan.
Ini berarti bahwa tujuan suatu kegiatan belajar ialah mencapai perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut aspek pengetahuan, keterampilan, maupun aspek sikap. Menurut Nasution yang dikutib oleh Muhibbin Syah, mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisir atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar mengajar.
Lingkungan dalam pengertian disini tidak hanya ruang kelas (ruang belajar) tetapi juga meliputi guru, alat peraga, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya yang relevan dengan kegiatan belajar siswa. Dari pengertian-pengertian di atas, kita ketahui bahwa belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Belajar menunjuk kepada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai yang menerima pelajaran (peserta didik), sedang mengajar menunjuk kepada apa yang harus dilakukan oleh seorang guru yang menjadi pengajar. Jadi, mengajar merupakan proses interaksi antara guru dan peserta didik pada saat proses pengajaran. Ilmu kimia merupakan ilmu yang dekat dengan kehidupan, oleh karena itu dalam pembelajarannya harus selalu dihubungkan dengan kehidupan dan aplikasinya, sehingga siswa merasa bahwa ilmu tersebut penting dan dibutuhkan dalam kehidupannya. Lebih lanjut lagi I Made Sukarna menjelaskan bahwa pada proses belajar-mengajar kimia, siswa tidak hanya disuguhi konsep-konsep yang merupakan hasil metode ilmiah tetapi harus diarahkan untuk melakukan proses sehingga mempunyai keterampilan atau sikap seperti yang dimiliki oleh para ilmuwan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan.
Kegiatan pembelajaran ilmu kimia lebih diarahkan kepada kegiatanyang mendorong siswa untuk belajar lebih aktif, baik secara fisik, sosial, maupun psikis dalam memahami konsep, yaitu dengan pendekatan keterampilan proses. Pendekatan keterampilan proses menurut Conny Semiawan merupakan pendekatan dalam proses pembelajaranyang menekankan pada pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya.
Pendekatan keterampilan proses akan mendorong siswa untuk aktif dalam belajar-mengajar. Dengan keaktifan seperti itu baik secara intelektual maupun emosional siswa ikut terlibat dalam proses mendapatkan ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan yang didapat akan lebih dihargai oleh siswa karena ia ikut turut berperan dalam mendapatkannya.
Dalam melaksanakan proses belajar-mengajar kimia, guru dituntut kreatifitasnya dalam memilih metode mengajar, menyeleksi materi pelajaran, mengembangkan minat dan kemampuan serta keterampilan siswa, menggunakan fasilitas belajar secara tepat serta menggunakan sumber belajar yang sesuai sehingga tujuan proses belajar-mengajar yang telah ditentukan akan dapat tercapai dengan baik. Lebih lanjut lagi Conny Semiawan mengungkapkan bahwa dalam kegiatan belajar-mengajar tugas guru tidak hanya memberikan pengetahuan, melainkan menyiapkan situasi yang dapat menggiring siswa atau anak didik untuk aktif bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen serta dapat menemukan fakta dan konsep sendiri. Hal ini sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Oleh karenaitu penerapan pendekatan konsep yang diinginkan oleh KTSP merupakan hal yang tepat dilaksanakan dalam menunjang proses belajar-mengajar kimia.
IKLAN
CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))
Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF
Konsep Genogram
1. Sejarah Genogram
Genogram pertama kali diperkenalkan oleh Murray Bowen pada tahun
1950 sebagai alat yang digunakan dalam terapi keluarga (Peluso, 2003: 287).
Bowen meyakini bahwa proses keluarga dapat mengungkap persoalan emosional
individu yang belum terpecahkan.
Kemudian pengunaan genogram diperluas oleh banyak peneliti, di
antaranya: Okiishi (1985) , Halevy (1988), Hardy andLaszloffy (1995), Dunn and
Levitt (2000), Malott andMagnuson (2004), dan Peluso (2006).
Okiishi (Supriatna, 2009: 61), mengembangkan genogram sebagai alat
bantu di dalam wawancara konseling karier. Dalam wawancara genogram dapat
dianalisis berbagai aspek yang berkaitan dengan pengenalan diri dan lingkungan,
khususnya dunia kerja. Hal-hal yang dapat dianalisantara lain mengenai: (a) isi
pengamatan diri konseli; (b) pemahaman lingkungan dan dunia kerja; (c) proses
pembuatan keputusan; (d) model-model pola hidup; dan (e) model-model
okupasional.
Halevy (1988), menggunakan genogram pada pelatihankonseling lintas-budaya untuk memfasilitasi para siswa dalam memahami dirinya. Malott and
Magnuson (2004), menggunakan genogram untuk mengeksplorasi perkembangan
karier konseli, dan Dunn andLevitt (2000), menggunakan genogram untuk
17
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
mengungkap kolaborasi yang saling menguntungkan di antara anggota keluarga
(Lim, 2008: 35).
Secara klinis, penggunaan genogram terkadang hanya terbatas pada data-data tentang informasi konisi/keadaan yang dialami keluarga seperti: tanggal
lahir, status pernikahan/perceraian, dan kematian selama prosedur penilaian awal
berlangsung. Namun, lebih luas genogram dapat digunakan untuk mengungkap:
(a) reaksi dari setiap anggota keluarga terhadap peristiwa penting yang terjadi
dalam keluarga; (b) gambaran dari berbagai persepsitentang pola-pola hubungan
dalam keluarga; dan (c) informasi yang lebih luas dalam konteks sosial.
(Magnuson dan Shaw, 2003: 46).
2. Pengertian
Genogram memiliki pengertian secara etimologis dan konseptual. Secara
etimologis, genogram berarti silsilah, yaitu gambarasal-usul keluarga konseli
sebanyak tiga generasi (Supriatna dan Ilfiandra, 2006: 11). Secara konseptual,
genogram diartikan beragam oleh para ahli. Adapunbeberapa ahli tersebut,yaitu
sebagai berikut.
Menurut McGoldrick andGerson (Kerka, 2000), genogram merupakan
suatu pola untuk menggambar pohon keluarga yang menyimpan informasi tentang
anggota dan hubungan diantara keluarga sepanjang tiga generasi (online).
Menurut Peluso (2003: 287), genogram merupakan alatyang tepat untuk
memahami pengaruh asal-usul keluarga konseli. Selain itu, genogram juga
18
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
berfungsi untuk memberikan feedbackkepada konseli tentang dinamika
keluarganya.
Genogram yang dikembangkan Okiishi (Supriatna, 2009: 61), merupakan
alat yang dipersiapkan untuk membantu konselor-konseli ketika wawancara karier
berlangsung. Penggunaan genogram dalam proses konseling karier tersebut
ditempuh melalui tiga tahapan, yakni: (1) membentukgenogram; (2)
mengidentifikasi pekerjaan-pekerjaan yang ditunjukkan dalam genogram; dan (3)
mengeksplorasi individu-individu yang dinyatakan dalam genogram, dengan
memberikan catatan mengenai model-model peranan itu.
Berdasarkan pemaparan dari beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan
bahwa genogram adalah suatu model grafis yang menyimpan informasi tentang
anggota keluarga dan hubungan di antara mereka sepanjang tiga generasi.
3. Konstruk Genogram
Pada konstruk genogram terdapat sejumlah bentuk khusus/simbol yang
digunakan untuk menunjukkan posisi individu dan anggota keluarga serta
hubungan yang terjadi di antara mereka sepanjang tiga generasi. Posisi bentuk
tersebut secara khusus disebut dengan peta struktur(Mcgoldrick, et. al., 1999:
20).
Peta struktur tersusun dari beberapa simbol yang berbentuk kotak,
lingkaran, dan garis-garis. Adapun penjelasan darisimbol tersebut, yakni sebagai
berikut.
19
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Kotak menunjukkan pria, dan lingkaran wanita (Gambar 2.1). Untuk
membedakan penunjuk orang atau identified patient(IP) yang dijadikan konseli
dalam konstruk genogram, pada kotak atau lingkaran (tergantung gender konseli)
digunakan garis rangkap. Bagi anggota keluarga yang sudah meninggal diberi
tanda X di dalam kotak/lingkaran. Selain itu, terdapat garis yang menghubungkan
antar anggota dalam keluarga. Garis ini menunjukkan bahwa terdapat ikatan
biologis dan ipar di antara mereka. Dua orang yangtelah menikah ditunjukkan
dengan garis yang menurun/kebawah dan membentang kekiri atau kanan, dengan
posisi suami di sebelah kiri dan istri di sebelah kanan. Garis pernikahan akan
berubah jika terjadi perceraian (divorced) yaitu dengan menambahkan dua garis
yang memotong garis pernikahan.
Gambar 2.1
Contoh Genogram
20
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Gambar 2.2
Penjelasan Bentuk-Bentuk yang Digunakan dalam Genogram
Terdapat bentuk lain yang digunakan untuk menunjukkan anggota
keluarga dengan kondisi berbeda, seperti: kembar (twins), anak adopsi (adopted),
anak angkat (fraternal), dan wanita hamil (pregnancy). Adapun bentuk-bentuk
tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.3
Bentuk untuk Anak angkat, adopsi, kembar,
dan wanita hamil
Fraternal twins adopted pregnancy
21
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
B. Penggunaan Genogram dalam Konseling
1. Keragamanan
Pada konseling, genogram dapat dijadikan alat intervensi yang beragam.
Keragaman ini disesuaikan dengan kondisi konseli yang ditangani. Menurut
Magnuson dan Shaw (2003: 47-51), terdapat beberapa kegunaan genogram dalam
menangani permasalahan-permasalahan konseli, di antaranya meliputi
penggunaan genogram untuk: (a) Pra-nikah, (b) remaja, (c) karier, (d) hubungan
seksualitas dan permasalahan yang berkaitan dengannya, (e) menjelaskan secara
lengkap tentang dinamika gender, (f) menghilangkan kebiasaan mengkonsumsi
alkohol.
Adapun penjelasan dari setiap penggunaan genogram tersebut, yakni
sebagai berikut.
a. Genogram Pra-nikah
Menurut Wood dan Stroup (Magnuson dan Shaw, 2003: 47), penggunaan
genogram dalam konseling pra-nikah berfungsi untuk mengungkap secara lebih
luas mengenai silsilah keluarga dari pasangan, sehingga satu sama lain dapat
saling memahami dan mengidentifikasi tentang tradisi dominan, pola hubungan,
peran-peran gender, nilai-nilai, garis kekuatan dankewibaan, pengekspresian
emosi, strategi penyelesaian masalah, dan gaya pengambilan keputusan yang
terdapat dalam keluarga dari pasangan.
Dengan mengikutsertakan asal-usul keluarga dalam konseling pra-nikah,
pasangan yang dilanda masalah akan memperoleh petunjuk yang lebih spesifik
dalam menemukan solusi penyelesaiannya.
22
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
b. Genogram pada remaja
Nims (Magnuson and Shaw, 2003: 50), menggunakan genogram sebagai
alat konseling kelompok pada remaja untuk membangunidentitas ego melalui
proses penyamaan self-differentiationdengan resolusi tugas perkembangan.
Pada proses penyamaan Self-Differentiation, Nims memperkenalkan
prinsip-prinsip sistematik yang berhubungan dengan complexitykeluarga,
kedekatan dan jarak, peran keluarga, urutan kelahiran, dan potensi yang
mempengaruhi pengalaman keluarga.
c. Genogram dalam konseling karier
Penggunaan genogram dalam konseling karier mulai dipopulerkan oleh
Rae Wiemers Okiishi (Supriatna dan Ilfiandra, 2006:11), dalam tulisannya yang
berjudulThe Genogram as a Tool in Career Counseling dimuat dalam Journal of
Counselling and Development, Volume 66. Secara etimologis, genogram berarti
silsilah, yaitu gambar asal-usul keluarga konseli sebanyak tiga generasi.
Penggunaan teknik genogram dilandasi oleh asumsi bahwa ada pengaruh dari
orang lain yang berarti (significant other) terhadap individu dalam identifikasi
perencanaan dan pemilihan karier. Konselor atau pembimbing berupaya
mengidentifikasi orang yang berarti bagi diri konseli.
Pada dasarnya penggunaan genogram ini lebih merupakan teknik awal
untuk memasuki konseling karier, oleh karena itu pelaksanaannya pun bersifat
individual. Namun tidak menutup kemungkinan, wawancara genogram dapat
dipandang sebagai proses konseling karier manakala dalam wawancara tersebut
23
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
konselor (pembimbing) menerapkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik konseling
yang terfokus pada pemecahan masalah karier konseli(Supriatna dan Ilfiandra,
2006).
Lebih jauh Sueyoshi, et. al.(2001: 656) menyatakan bahwa genogram
sangat berguna dan efektif dalam wawancara konseling karier dengan berbagai
konseli yang memiliki keragaman budaya. Terdapat beberapa alasan yang
melatarbelakangi pendapat Sueyoshi, et. al. tersebut, yaitu genogram: (1)
menggambarkan pengaruh keluarga dan orangtua oleh karena itu tidak
menganggap bahwa keputusan karier dan gaya hidup hanya berorientasi pada
seorang individu saja; (2) dapat dilihat (visual) dan kurang mengandalkan
komunikasi verbal; (3) menunjukkan informasi secaraterstruktur dan terorganisir,
serta memberikan konseli sesuatu yang “konkrit” tentang informasi yang ada
dalam keluarga; dan (4) dapat berpotensi membuka perkembangan identitas
individu secara akulturasi dan rasial/minoritas.
Pada konseling karier, genogram ditujukan untuk memaparkan suatu
metode yang membantu konseli dalam wawancara yang bersuasana
menyenangkan, sehingga konseli dapat mengungkapkan dirinya dan beroleh
informasi yang memadai serta terorganisasi tentang aspirasi karier dan latar
belakang silsilah keluarganya sepanjang tiga generasi (Supriatna, 2009: 61).
Dalam wawancara genogram dapat dianalisis beberapa aspek yang
berkaitan dengan pengenalan diri dan lingkungan,khususnya dunia kerja. Hal-hal
yang dapat di analisis antara lain mengenai: (a) isi pengamatan diri konseli; (b)
pemahaman lingkungan atau dunia kerja; (c) proses pembuatan keputusan; (d)
24
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
model-model pola hidup; (e) model-model okupasional. Atas dasar analisis
tersebut, konselor dapat membantu konseli dalam membuat perencanaan karier di
masa depannya (Supriatna, 2009: 63).
Penerapan teknik genogram ditempuh dalam tiga tahap, yaitu: (1)
konstruksi genogram, (2) identifikasi jabatan, dan (3) eksplorasi konseli.
d. Genogram untuk mengungkap hubungan seksualitas dan
permasalahan yang berkaitan dengannya
Hof dan Berman (Magnuson dan Shaw, 2003: 47), menyatukan prinsip-prinsip yang ada dalam terapi seks dan keluarga untuk digunakan dalam sexual
genogram. Hal ini bertujuan untuk menguji keberadaan disfungsi seks pada
intergenerational keluarga yang kompleks.
e. Genogram untuk menjelaskan secara lengkap tentang dinamika
gender
White dan Tyson-Rawson (Magnuson and Shaw, 2003: 48), mengungkap
peran gender melalui genogram, secara spesifik pengungkapan tersebut disebut
dengan “gendergram”. Gendergram menjelaskan secara lengkap tentang etiologi
dasar dari gender.
Asumsi dari penggunaan genogram dalam mengungkap peran gender
(gendergram), yaitu sebagai berikut: (a) peristiwa yang salingberkaitan selama
masa kanak-kanak dan dewasa; (b) hubungan yang signifikan selama tingkat
25
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
kehidupan individu yang berbeda-beda; (c) peran, tema, dan pola-pola yang
muncul dalam keluarga.
f. Genogram untuk Menghilangkan Kebiasaan MengkonsumsiAlkohol
Synol (Magnuson and Shaw, 2003: 48), menganjurkan agar genogram
digunakan untuk membantu pasangan yang memiliki anggota keluarga seorang
alkoholik, sehingga mereka dapat mengetahui silsilah keluarga yang memiliki
permasalahan serupa. Namun yang ditekankan pada penggunaan genogram dalam
permasalahan ini bukanlah pada peminumnya melainkanpada sistem yang ada
dalam keluarga. Dengan melihat sistem tersebut, konseli dapat dibantu untuk
melakukan perubahan pada sistem yang ada dalam keluarganya sehingga pada
turunan berikutnya tidak akan terdapat anggota keluarga seorang alkoholik lagi.
2. Ilustrasi
Genogram dapat dilakukan secara individual maupun
berkelompok/klasikal. Berikut akan dipaparkan ilustrasi mengenai penggunaan
genogram secara individual oleh Sueyoshi, et. al. (2000: 662-668), terhadap dua
mahasiswa yang berada di salah satu universitas di New York, dan secara
klasikal/kelompok oleh Gibson terhadap para siswa di sekolah menengah.
a. Penggunaan Genogram Secara Individual
Ilustrasi penggunaan genogram sebagai alat konseling karier oleh
Sueyoshi, et. al. (2000: 662-668), terhadap dua mahasiswa dari salah satu
Universitas yang ada di New York. Kedua mahasiswa tersebut adalah Mike
26
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
seorang warga Amerika keturunan Cina dan Dave seorang warga Amerika
keturunan Albania
1) Kasus Mike
Mike adalah seorang pria berumur 22 tahun dan wargaAmerika keturunan
Cina. Dia juga merupakan mahasiswa dari salah satuuniversitas di New York.
Di universitas tersebut dia berkonsultasi pada seorang konselor yang juga warga
Amerika keturunan Jepang. Pada pembicaraanya dengan konselor dia
mengatakan bahwa saat ini tujuannya adalah memperoleh gelar maskapai dalam
ilmu teknik mesin dan kemudian memperoleh gelar sarjana muda pada ilmu
tersebut.
Berikut adalah percakapan antara Mike dengan konselor pada pertemuan
berikutnya.
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Terakhir kita bertemu, kamu berkata bahwa kamu ingin
meneruskan karier dalam bidang teknik mesin. Kamu
nampaknya yakin bahwa hal tersebut adalah apa yang ingin
kamu lakukan, tapi mengapa tidak kita gunakan beberapa
waktu hari ini untuk mengeksplorasi betapa teknik mesin
tersebut sangat menarik bagi kamu? Genogram merupakan
sebuah grafik yang menunjukkan sejarah keluarga. Ini dapat
digunakan untuk menjajaki berbagai karier, hubungan,
pengaruh, dan harapan-harapan yang ada dalam keluarga.
Maukah kamu mencoba genogram?
Ok
Baiklah, mari kita mulai dengan dirimu dan saudara-saudaramu. Kamu anak ke berapa dan dari berapa
bersaudara?
Baik, saya anak tertua. Saya memiliki dua adik perempuan di
bawah saya dan satu adik laki-laki yang paling kecil.
Dalam genogram kita menggunakan lingkaran untuk
menunjukkan seorang wanita dalam keluarga dan kotakuntuk
menunjukkan pria. Jadi, saya akan menempatkan kamu
sebagai kotak dan dengan diikuti dua lingkaran yang
menunjukkan kedua adik perempuanmu dan terakhir kotak
sebagai adik laki-lakimu, kemudian diurutkan dari yang tertua
27
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
hingga termuda. (gambar mike dan ketiga saudaranya
ditempatkan di halaman bawah sebuah kertas, mereka
berempat berada pada garis horizontal yang sama) apa adik-adikmu segera masuk sekolah? (karena adik-adiknya lebih
muda daripada Mike, maka perlu ditanyakan sekolahnya)
Ya, adik saya yang pertama kuliah di jurusan hospitality
management, adik saya yang kedua masih duduk di bangku
SMA, dan adik saya yang terakhir masih duduk di bangku
SMP.
Apakah adik-adikmu memiliki beberapa keinginan khusus
atau saat ini mereka berpikir tentang karier? (perlu diketahui
tentang ketertarikan saudara kandung terhadap karier
tertentu walaupun mereka masih muda)
Belum.
Ok, sekarang kita akan menuju pada kedua orangtuamu. Kita
mulai dengan ibumu. Dia anak ke berapa dari berapa
bersaudara? (gambar ibu, ayah, dan saudara-saudaranya
berada di atas Mike dan ketiga saudaranya pada bidang
horizontal yang sama)
Ibuku anak kedua dari tujuh bersaudara, lima perempuan dan
dua laki-laki.
Ok. Kita mulai dengan kakak perempuan ibumu. Apa yang
dia lakukan?
Dia pemilik salah satu toko di Panama.
Ok, seorang pemilik toko yang tinggal di Panama. Saya akan
menuliskan informasi ini di bawah lingkarannya. Selanjutnya
yang kedua? Apa yang dia lakukan dan di mana dia tinggal?
(pertanyaan tentang tempat tinggal diperlukan untuk
mengetahui posisi saudara ibunya yang mungkin tinggal di
luar United States atau Cina)
Yang kedua adalah ibuku dan dia tinggal di United Sates
(U.S.). dia seorang penjahit pakaian, tapi kadang-kadang suka
membantu bisnis ayah.
Ok, jadi ibumu seorang penjahit wanita atau orang yang
menjahit (membantu konseli sampai pada ketepatan dalam
memberikan gelar suatu pekerjaan) saya juga akan mencatat
bahwa dia membantu bisnis ayahmu. Apa bisnis ayahmu?
Ayahku pemilik toko dan restoran di Mexico. Dia tinggal
bersama kami tapi bepergian terus di antara dua tempat
(Panama, New York, Mexico… dari sini dapat terlihat bahwa
keluarganya terbentang secara geograpis)
Di Mexico? Ok, saya akan mencatatnya di sini, tapi kita akan
kembali pada ayahmu nanti. Selanjutnya siapa setelah ibumu?
Seorang adik perempuan di Panama yang memiliki sebuah
toko. Berikutnya adik laki-laki yang memiliki gas station dan
restoran di Mexico. Berikutnya adik perempuan yangtinggal
28
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
di Panama, tapi saya tidak yakin apa yang dia lakukan.
Berikutnya adik perempuan yang tinggal di U.S. danbekerja
di pabrik, dan terakhir, seorang adik laki-laki di Mexico yang
memiliki sebuah hotel dan restoran.
Ini sangat menarik. Dengan pengecualian kedua bibimu,
seorang pekerja pabrik, dan seorang bibi yang kamu tidak
yakin dengan apa yang dia lakukan, keluarga dari ibumu
adalah seorang pembisnis. (penting untuk menunjukkan
berbagai kesamaan dan pola yang ada dalam keluarga).
Ya, memang begitu. (Mike mulai menggambarkan pekerjaan
ayahnya sebaik pekerjaan saudara-saudara dari pihak
ayahnya, yang memiliki kesamaan sebagai seorang pemilik
atau yang membantu bisnis keluarga)
Bagaimana menurutmu hal ini dapat mempengaruhi
keputusanmu untuk mengejar karier dalam bidang teknik
mesin?
Sebenarnya, hal ini tidak berpengaruh. Saya tidak mendukung
atau berkecil hati dari membantu bisnis ayah. Sayahanya
tidak tertarik dengan bisnis. Sejak kecil, saya selalu tertarik
pada mesin, elektronik, dan komputer. Orangtua saya selalu
menekan anak-anaknya untuk melakukan yang terbaik di
sekolah, tetapi mereka tidak mengatakan apa-apa tentang
karier kami.
Jadi, mereka mendukung keputusan kariermu, apa pun
kemungkinannya?
Ya.
Itu bagus. Tradisi orang-orang asia terjadi lagi tentang anak
pertama dan harus menjaga pekerjaan keluarga atau suatu
perkerjaan yang dipilih oleh orangtua. Apakah ini sama bagi
saudaramu? (pertanyaan menantang dan membuka tingkat
penyesuaian orangtua- yaitu, Westernized, traditional Asian)
Ya. Mereka dapat melakukan apa yang mereka inginkanjuga.
Jadi, orangtuamu sangat terbuka dan Americanized.
Ya.
Kembali ke genogram, bagaimana dengan kakek-nenekmu?
Di mana mereka, dan apa yang mereka lakukan?
di Cina. Kakek-nenek dari ibuku adalah seorang petani.
Sekarang mereka tinggal di Mexico dengan salah satu
keluarga. Kakek dari ayah merupakan seorang pemilik toko,
dan nenek seorang ibu rumah tangga. Tetapi dia telah
meninggal, dan nenek sekarang tinggal di Panama dengan
salah satu keluarga.
Jadi, dari keseluruhan informasi yang ada dalam genogram
kita dapat melihat pola bisnis keluarga, yang sebenarnya
dimulai dari generasi kakekmu. Apakah kamu mengetahui
informasi tentang kakek-nenek moyangmu?
29
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Tidak, saya tidak tahu apapun tentang mereka. (kebanyakan
orang dapat kembali pada tiga generasi sebelumnya, tetapi
mungkin akan kesulitan menuju ke sana).
Kelihatannya keluargamu sekarang kebanyakan berada di
Panama atau Mexico. Hanya ayah dan salah satu bibimu yang
tinggal di U.S. mengapa ini bisa terjadi?
Keluarga saya pada mulanya ada di Panama juga. Saya besar
dan tumbuh di sana selama sepuluh tahun. Kemudian kami
pindah ke U.S. dan ayah saya memindahkan bisnisnya ke
Mexico. Mengenai keluarga saya yang lain, mereka
memutuskan untuk imigrasi ke Panama atau Mexico setelah
ayah dan paman saya mendapatkan kesuksessan di kedua
tempat tersebut.
Apa ada alasan khusus mengapa Panama dan mexico?
Mereka hanya berpikir hal ini akan memudahkan mereka
mendapatkan kesuksesan di sana.
Jadi, setiap orang memulainya dari generasi orangtuamu. Dan
orangtuamu merupakan generasi pertama para imigram cina?
Ya, saya kira anda bisa mengatakan itu. Tetapi sebenarnya
saya melihat diri saya sebagai orang spanyol bukan orang cina
atau amerika. Walaupun saya lahir di Cina dan tinggal di
U.S., saya besar dan tumbuh di Panama, jadi saya merasa
sangat dekat dengan budaya di sana daripada budaya Amerika
atau Cina.
Hal itu bisa dimengerti. Tapi kedengarannya kamu lebih
triculturural. (pernyataan ini dapat membantu konseli
mengakui dan memeluk tiga budaya)
Tricultural, seperti tiga budaya? Panggilan yang cukup
menarik. Saya suka.
Selanjutnya, konselor mengeksplorasi tiga budaya yang ada pada Mike
yakni Panama-Cina-Amerika yang diidentifikasi terhadap dirinya, meliputi
identitas visible (Asian Chinese) versus invisible(Panamian), dengan kata lain
dapat diartikan sebagai bagaimana “yang lain” menetapkan Mike dengan Mike
menetapkan dirinya sendiri atau “harapan” untuk menetapkan dirinya. Konselor
menempatkan hubungan antara identitas dan bahasa (merasa lebih seperti orang
Panama ketika berbicara bahasa Spanyol), aspek-aspek situasi yang ada pada
bahasa dan identitas (bahasa Inggris di sekolah, bahasa Cina di rumah, bahasa
30
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Spanyol ketika bersama teman), dan hubungan antara identitas dan agama
(orangtua Mike beragama Buddha dan Shinto, sedangkan Mike Kristen, yakni
agama yang konsisten dengan budaya hispanic). Selanjutnya diskusi tentang
sejarah pendidikan keluarga. Tingkat pendidikan tertinggi di keluarga Mike
adalah SMA dan pertama kali dimulai pada generasi orangtuanya, pada generasi
Mike (dirinya, adiknya, dan sepupunya) menjadi generasi pertama yang masuk
bangku kuliah.
Gambar genogram dari hasil wawancara konselor dengan Mike disajikan
pada gambar 2.4. berikut.
Pemilik
toko dan
Kakek
Pemilik toko
Nenek
Ibu RT Sekarang
ada di Panama
Kakek
Petani sekarang
ada di mexico
Nenek
Petani/ibu RT
sekarang ada di
mexico
31
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
2) Kasus Dave
Mainland China
Keterangan :
Wanita
Pria
Meninggal
H.L.E : High Level of
Education
Gambar 2.4
Genogram keluarga Mike
32
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Dave adalah seorang pria berumur 19 tahun dan wargaAmerika keturunan
Albania. Dia juga merupakan mahasiswa di universitas yang sama dengan Mike.
Dia ditunjuk untuk mempertimbangkan akademiknya danmelakukan konseling
pribadi. Dave telah bertemu konselor beberapa minggu dan pada pertemuan
tersebut dia terkesan kurang yakin dengan jurusan yang dimasukinya dan juga
mengenai tujuan kariernya.
Berikut adalah percakapan antara Mike dengan konselor pada pertemuan
berikutnya.
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Beberapa waktu lalu ketika kita bertemu, kamu memiliki
ketidakpastian dalam tujuan karier atau ketertarikan terhadap
itu. Maukah kamu mencoba sebuah latihan yang di dalamnya
dapat mengeksplorasi sejarah karier keluarga. Mungkin keragu-raguanmu itu berhubungan dengan hal ini. Ini juga dapat
membantu saya dalam memahami bagaimana kamu
memandang dunia pekerjaan. Pada latihan ini kita perlu
membentuk suatu genogram. Tahukah apa genogram?
Tidak, apa genogram?
Genogram serupa dengan pohon keluarga, di mana kita
memetakan keluargamu, baik itu keluarga inti maupunyang
lebih luas, dan juga karier mereka. (menginformasikan pada
konseli tentang perlunya membentuk genogram).
Ya, saya tahu pohon keluarga, tapi saya belum pernah
membuatnya.
Maukah kamu membuat genogram bersama-sama?
Baiklah.
Ok, kita mulai dengan kakek-nenekmu, atau keluarga terjauh
yang dapat kamu ingat dari pihak ibumu. Mereka aslimana, dan
apa yang mereka lakukan?
Sejauh ini saya hanya tahu mengenai kakek-nenek. Nenek saya
orang jerman, dia imigrasi ke U.S. Kakek saya orangamerika,
tapi saya tidak ingat apa yang dia lakukan. Saya hanya tahu
kalau kakek seorang alkoholik dan meninggal karena kanker
paru-paru. Dan saya pun tahu kalau dia punya istritapi bukan
nenekku.
Maksudmu nenekmu itu merupakan istri kedua atau kekasih
kakekmu? (penting untuk mengklarifikasi hubungan yang ada
dalam keluarga, menyimpan peristiwa penting secara
emosional dalam pikiran dapat menimbulkan daya tahan atau
33
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
reaksi yang kuat. Beberapa tingkat kepercayaan dan
pemahaman, seperti keterbukaan di antara Dave dan konselor,
mungkin juga dibutuhkan ketika menanyakan pertanyaan-pertanyaan langsung atau pribadi).
Mungkin. Mereka pasangan yang aneh.
Tahukah kamu apa yang nenekmu lakukan?
Tidak. Saya tidak tahu. Saya hanya tahu kalau sekarang dia
bekerja di toko bahan makanan. Apakah semua orang benar-benar tahu tentang bahan itu? Saya tidak pernah memikirkan
hal ini sebelumnya. Pada kenyataanya saya tahu kakek saya
tidak ada apa-apanya.
Baik, terdapat beberapa yang kamu ketahui dan tidaktentang
keluargamu. Tidak ada orang yang harus mengetahui
semuanya, tetapi sedikit apapun informasi yang kamuberikan
akan sangat membantu. (menormalkan pengalaman dan
membiarkan konseli mengetahui bahwa dia tidak perlu
mengetahui semua tentang keluarganya) disamping itu, kamu
dapat kembali dan merubah atau memilih celahnya nanti. Saya
akan memberikan salinan genogram ini padamu nanti, jadi
kamu tidak perlu mengingat atau merekamnya sekarang.
(genogram sebagai sebuah “hadiah” yang nyata dari konselor
pada konseli) bagaimana dengan kakek-nenek dari pihak ayah?
Mereka berdua berasal dari Albania dan berimigrasi ke U.S.
Kakek saya bekerja di restoran, dan dia memiliki banyak uang
di Albania, tapi tidak ada di U.S. Nenek saya seorang ibu
rumah tangga. Termasuk ayah saya, mereka memiliki enam
anak. Saya harap saya dapat mengetahui lebih jauh tentang
budaya Albania yang ada pada diri saya, tapi saya tidak tahu.
Saya bahkan tidak menggunakan bahasanya. Dan sangat sulit
bagi saya untuk mencari lebih jauh tentang budaya Albania
karena kakek-nenek telah meninggal. Hanya nenek dari pihak
ibu yang masih hidup. Terdapat ayah saya, adik perempuan
dan laki-lakinya.
Ya, siapa mereka dan apa yang mereka lakukan?
Ayah saya adalah anak pertama dari enam bersaudara.Dia
adalah seorang desainer tetapi sekarang sudah tidakmampu
lagi. Kemudian adik laki-lakinya seorang mekanis kapal
terbang, tadinya dia tentara, sekarang bekerja untuk pemerintah
pusat. Berikutnya adik laki-laki yang berada di rumah sakit
jiwa dan saya hanya melihat dia sekali. Tidak ada orang yang
membicarakan tentang dirinya, hal ini seperti rahasia besar.
Selanjutnya terdapat tiga bibi yang menjadi ibu rumah tangga,
walaupun satu bibi bekerja sebagai seorang pustakawan dan
yang lainnya penjual eceran paruh waktu.
Baru-baru ini kamu mengatakan tertarik pada psikologi dan
mungkin akan berkarier pada ranah tersebut. Menurutmu
34
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
apakah dengan memiliki paman di rumah sakit jiwa maka perlu
ada sesuatu yang perlu dilakukan dengan hal tersebut? (catatan
sejarah pekerjaan/pengangguran dan masalah psikologi juga
medis dalam keluarga dapat digunakan untuk bertanyatentang
kemungkinan hubungannya).
Tidak, saya meragukannya.
Ok. Bagaimana tentang paman ipar, suami bibimu? (penting
menanyakan tentang keluarga yang tidak sedarah)
Salah satu dari mereka adalah kepala sekolah, satunya tidak
banyak diceritakan, dan yang satu lagi saya tidak tahu.
Genogram ini menjadi lambat, apakah kita hampir selesai?
Ya, kita hampir selesai. Saya memiliki sedikit pertanyaan
tentang keluarga dari pihak ibumu, dirimu dan saudara-saudaramu. Adakah sesuatu yang membuatmu kurang jelas
atau terganggu tentang hal ini, atau ada sesuatu yang ingin
kamu ungkapkan? (bertanya dan mengklarifikasi apa yang
benar-benar diperhatikan konseli: perasaan ketika latihan
genogram berlangsung atau harapan konseli untuk
mendiskusikan hal lain).
Tidak, saya akan melanjutkan genogram ini kalau memang
sebentar lagi. Saya hanya tidak tahu ini akan kemana.
Itu wajar. Saya tahu mungkin sekarang tidak jelas,tapi saat kita
mengetahui keseluruhannya hal ini akan berguna. Saya berjanji
akan memenuhi dan menjawab apa pun pertanyaanmu nanti.
(diketahuinya proses tersebut dapat memunculkan keambiguan
tetapi semuanya akan diklarifikasi nanti). Ok, bisakah kita
memproses genogram ini?
Ya.
Dapatkah kamu memberitahu saya tentang keluarga dari pihak
ibumu.
Ya, di pihak ibu saya, terdapat ibu saya dan kedua paman saya.
Ibu saya adalah ibu rumah tangga tapi sekarang dia bekerja di
toko bahan makanan. Adiknya yang satu memiliki penyakit
leukemia dan cacat, dan adik satunya lagi adalah seorang
pekerja fisik.
Adakah sepupu atau orang di luar keluarga yang sangat
mempengaruhimu? (penting untuk menanyakan tentang orang
yang berpengaruh terhadap konseli- seperti guru, teman,
tetangga, pendeta).
Tidak, tidak juga. Maksud saya, semua sepupu saya masih
kecil, tapi saya punya pasangan dan dua kakak laki-laki, D and
A, yang sangat saya kagumi dan hormati. Tidak pura-pura
seperti orang lain. Mereka tidak perduli dengan pikiran orang
lain dan melakukan apa yang mereka inginkan. Dan pacar saya
Susan dia sangat pintar, mahasiswa pekerja keras yang kuliah di
universitas lain.
35
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Ada lagi orang lain, atau seseorang yang lebih tua darimu dan
yang kau anggap sebagai panutan?
Tidak, aku tidak bisa memikirkan orang lain.
Terakhir kita akan menuju padamu dan saudara-saudaramu.
Kamu anak ke berapa dari berapa bersaudara?
Saya anak kedua dari enam bersaudara.
Kita mulai dengan kakakmu, apakah dia perempuan atau laki-laki, dan apa yang dia lakukan?
Dia perempuan dan dia bekerja sebagai resepsionis di fitness
club.
Kemudian dirimu…
Ya, berikutnya saya, dan sekarang saya di sini. Kemudian ada
dua adik laki-laki setelah saya, D dan A. kemudiansatu adik
perempuan, E, dan satu adik laki-laki, D. mereka semua masih
sekolah, tetapi hanya saya yang duduk di bangku kuliah.
Apakah mereka tahu apa yang mereka inginkan atau lakukan di
masa depan?
Adik saya D, dia ingin menjadi seorang ahli mekanik. Dia
selalu tahu dia ingin menjadi seorang mekanik, itulah yang dia
tanamkan dari sekarang. Saya juga berharap dapat seperti itu.
Jadi, impian karier seperti apa yang kamu miliki saat masih
kecil?
Suatu waktu saya ingin menjadi pilot pesawat tempur. Tapi juga
saya ingin menjadi pembalap mobil, seorang detektif, dan juga
arkeolog. Tetapi itu semua hanya pemikiran fantasianak kecil.
Apakah saya menjadi salah satu di antaranya? Tidak.Bahkan
ayah saya ingin menjadi pilot, tetapi ayahnya tidak
mengijinkan.
Jadi, mungkin bukan berarti tidak ada keinginan tetapi tidak ada
dukungan.
Mungkin, saya sangat bingung, saya bahkan tidak tahu apa yang
harus saya lakukan besok.
Ini bukanlah proses yang mudah, dan ini akan memakan
beberapa waktu sebelum kamu menemukan apa yang benar-benar ingin kamu lakukan. Yang terpenting adalah kamu
memulai perjalanannya sekarang. Lihat genogrammu, adakah
keluarga atau karier mereka yang sesuai dengan dirimu?
Tidak ada di antara mereka yang dapat dikatakan “karier” atau
karier yang menarik perhatian saya.
Itu merupakan salah satu cara untuk memandangnya. Hal ini
terlihat bahwa kamu benar-benar tidak memiliki seseorang yang
dekat atau jauh dari pihak keluarga yang sesuai dengan karier
yang kamu inginkan, apakah itu panutan, dukungan, atau hanya
pencerahan pada karier yang berbeda. Ini akan menjelaskan
mengapa kamu tidak bisa memutuskan jurusan yang akan kamu
ambil dan juga tujuan kariermu. (membantu memvalidkan dan
36
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Dave :
melengkapi kepastian konseli terhadap ketiadaan panutan,
dukungan, pencerahan pada karier). Tidak semua orang
memerlukan panutan dan dukungan tetapi hal ini akanmenjadi
sulit tanpa itu semua. Beruntung, kamu memiliki teman-teman
yang baik dan saudara laki-laki yang dapat diajak bertukar
pikiran. Saya pikir ini akan membantu kita pada pertemuan
berikutnya untuk mengeksplorasi berbagai karier yang
membuatmu tertarik saat masih kecil dan lihat apa yang
membuat hal tersebut menarik perhatianmu dan kemungkinan
di antaranya yang dapat kamu capai. Dan jika kamu mau, saya
akan mengatur jadwal untukmu mengisi careers interest
inventory, yang dapat mengukur ketertarikan terhadap salah
satu jenis pekerjaan dan lingkungan pekerjaan yang berbeda,
dan kita dapat melihat apa yang muncul dari sana. Bagaimana
menurutmu?
Saya bisa melakukannya.
Gambar genogram dari hasil wawancara konselor dengan Dave disajikan
pada gambar 2.5. berikut.
? ?
Nenek
Dari Jerman
imigrasi ke
Menikah?
?
Kakek
Warga
amerika
Nenek
Orang
Albania
Kakek
Orang Albania
imigrasi ke
37
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
b. Penggunaan Genogram Secara Klasikal/Kelompok
Keterangan :
Wanita
Pria
Meninggal
Gambar 2.5
Genogram Dave
38
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Penggunaan genogram secara klasikal dilakukan oleh Gibson (2005),
terhadap para siswa yang berada di sekolah menengah. Hal ini dikarenakan pada
saat sekolah menengah, siswa mulai terlibat pada penilaian yang lebih formal
terhadap minat, dan bakat yang mereka miliki (online).
Pada penggunaan genogram secara klasikal, guru ataukonselor perlu
memberikan penjelasan tentang bentuk-bentuk dan garis-garis yang akan
digunakan. Instruksi yang diberikan dapat seperti berikut ini.
Hari ini, setiap orang akan menggambarkan secara visual tentang keluarga
masing-masing. Gambar ini disebut genogram (memberikan contoh
gambar genogram). Pada genogram, kotak menunjukkanseorang pria
dalam keluarga, dan lingkaran menunjukkan seorang wanita, dan terdapat
garis yang menunjukkan tipe-tipe hubungan di antarasatu anggota dengan
anggota keluarga yang lainnya. Pertama-tama, kita akan mengambarkan
posisi kalian dan adik/kakak kalian pada genogram. Dimulai dengan
menempatkan anak pertama pada halaman kiri bawah. Kemudian
dilanjutkan dengan anak ke dua dan seterusnya, darikiri ke kanan (tertua
ke termuda).
Setelah pemberian instruksi tersebut, selanjutnya konselor atau guru
menunjukkan cara membuat genogram.
Selanjutnya, gambarkan dan tempatkan ayahmu juga kakak/adiknya pada
halaman kiri bawah di atasmu dan kakak/adikmu.
Ingat, posisikan mereka dari kiri ke kanan, dari yang tertua ke termuda.
Kamu akan melakukan hal yang serupa pada ibumu dan kakak/adiknya.
Perubahan instruksi dapat terjadi pada siswa yang single-parentatau
berada di tempat penampungan atau juga yang tinggaldengan wali. Maksud dari
penggunaan genogram ini adalah untuk menguji hubungan yang ada dalam
pekerjaan dan keputusan pendidikan.
Selain itu, lebih luas lagi penugasan ini dapat mendorong siswa untuk
bertanya pada orangtuanya tentang “mengapa” orangtuanya memilih suatu
39
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
pendidikan atau karier tertentu, “apa” yang mempengaruhi keputusan mereka
tersebut, dan “kapan” mereka membuat keputusan itu.
Untuk mendukung pemahaman siswa mengenai dunia pekerjaan dan
pendidikan konselor atau guru perlu memberikan materi tambahan mengenai hal
tersebut agar siswa mampu mengeksplorasi sejarah pendidikan dan pekerjaan
yang ada dalam keluarga mereka, misalnya dengan memberikan informasi tentang
alamat website, buku-buku, atau hal lainnya yang berkaitan denganpekerjaan dan
pendidikan.
C. Tahapan Genogram dalam Konseling Karier
Menurut Gibson (2005), terdapat empat tahapan yang harus ditempuh
dalam membentuk genogram, di antaranya: (1) konselor memberikan penjelasan
kepada siswa tentang cara membuat genogram. Pada tahap ini konselor juga
menjelaskan tentang bentuk dan garis yang digunakandalam genogram dan
selanjutnya konselor memberikan tugas rumah kepada siswa berupa beberapa
pertanyaan terkait dengan tipe-tipe pekerjaan, hobi, pendidikan dan alasan
pemilihan karier yang ditujukan pada anggota keluarga mereka; (2) Siswa diminta
untuk bertanya kepada orangtuanya tentang alasan “mengapa” orangtuanya
memilih pendidikan dan jenjang karier tertentu, faktor “apa” yang mempengaruhi
keputusan mereka, “siapa” yang mempengaruhi keputusan mereka, dan “kapan”
mereka membuat keputusan; (3) konselor sekolah membantu siswa
mengeksplorasi sejarah pendidikan dan pekerjaan keluarga mereka. Pada tahap
ini konselor juga memberikan informasi karier kepada siswa terkait pendidikan
40
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
dan pekerjaan yang ada dalam keluarga mereka melalui berbagai media yang ada
seperti pemberian alamat situs web, dan buku; dan (4) konselor dapat melakukan
proses perluasan genogram karier secara individual maupun kelompok kecil
dengan siswa (online).
Okiishi (Supriatna, 2009: 64), dalam wawancara konseling kariernya
dengan menggunakan genogram, menunjukkan bahwa terdapat tiga tahapan yang
harus ditempuh dalam pembentukkan genogram, yaitu: (1) konstruksi genogram;
(2) identifikasi jabatan; dan (3) eksplorasi konseli.
1. Konstruksi genogram
Proses ini merupakan tahap pertama untuk memetakan/membuat gambar
silsilah atau asal-usul keluarga konseli sebanyak tiga generasi, yaitu generasi
konseli, generasi orangtua konseli dan generasi kakek nenek konseli. Seluruh
angota keluarga dari ketiga generasi yang diketahuioleh konseli dibuat
gambarnya; konselor membuat gambar tersebut bersama-sama dengan konseli.
Gambar tersebut hendaknya memberi penjelasan hal-hal penting berkenaan
dengan silsilah dari ketiga generasi konseli, dengan mencantumkan tanda atau
simbol tertentu yang dapat dipahami oleh guru pembimbing dan konseli
(Supriatna dan Ilfiandra, 2006: 11-12).
2. Identifikasi jabatan
41
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Pada tahap ini guru pembimbing bersama konseli berupaya menelusuri
bidang-bidang pekerjaan/jabatan yang ada pada anggota keluarga dari tiga
generasi itu, termasuk usaha yang ditempuh untuk memperoleh pekerjaan/jabatan,
tingkat keberhasilan, dan konsekuensinya dalam segala aspek kehidupan yang
bersangkutan (Supriatna dan Ilfiandra, 2006: 12).
3. Eksplorasi konseli
Tahap ini memfokuskan kajian terhadap diri konseli agar memperoleh
pemahaman diri dan lingkungan serta dapat merencanakan kariernya. Oleh karena
itu, hal-hal yang perlu dianalisis selama wawancaragenogram adalah: (1) isi
pengamatan diri konseli; (2) pemahaman lingkungan/dunia kerja; (3) proses
pembuatan keputusan; model-model pola hidup; dan (5) model-model
okupasional. Sedangkan yang perlu didiskusikan olehguru pembimbing dengan
siswa adalah: (1) keberhasilan-keberhasilan anggotakeluarga; (2) mobilitas
anggota keluarga; (3) pengelolaan waktu; dan (4) integritas diri (Supriatna dan
Ilfiandra, 2006: 12).
Sejalan dengan pendapat di atas, Surya (1988: 52) menyatakan bahwa
terdapat sedikitnya tiga tahapan penggunaan genogram dalam konseling karier,
yakni (1) tahapan pertama adalah konselor membentukgenogram berdasarkan
informasi dan arahan dari konseli, (2) konselor bersama konseli mencatat
pekerjaan-pekerjaan individu-individu tertentu yangditunjukan dalam genogram,
(3) konselor bersama konseli mengeksplorasi individu-individu yang dinyatakan
42
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
dalam genogram, dengan memberikan catatan mengenai model-model peranan
itu.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga tahapan yang
harus dilalui dalam membentuk genogram, yakni (1) konstruksi genogram; (2)
identifikasi pendidikan dan pekerjaan; dan (3) eksplorasi konseli.
Motivasi Belajar
Ada beberapa hal terkait dengan motivasi belajar yang akan diuraikan pada bagian berikut ini:
2.2.1 Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi belajar pada dasarnya merupakan bagian dari motivasi secara umum. Dalam kegiatan belajar mengajar dikenal adanya motivasi belajar yaitu motivasi yang ada dalam dunia pendidikan atau motivasi yang dimiliki peserta didik (siswa).
Sardiman (2006) mengemukakan bahwa “motif” dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitas tertentu demi mencapai tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata “motif” maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila keinginan untuk mencapai kebutuhan sangat kuat. Selain itu, menurut Dimyati dan Mudjiono (2006) motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Nasution ( dalam Rohani, 2004) menyatakan motivasi peserta didik (siswa) adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga siswa mau melakukan apa yang dapat dilakukannya.
Menurut Winkel (2005) “Motivasi belajar ialah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan. Motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah atau semangat dalam belajar, sehingga siswa yang bermotivasi kuat memiliki energi banyak untuk melakukan kegiatan belajar”.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa motivasi belajar adalah suatu penggerak yang timbul dari kekuatan mental diri peserta didik maupun dari penciptaan kondisi belajar sedemikian rupa untuk mencapai tujuan-tujuan belajar itu sendiri.
2.2.2 Fungsi Motivasi dalam Belajar
Motivasi belajar dianggap penting di dalam proses belajar dan pembelajaran dilihat dari segi fungsi dan nilainya atau manfaatnya. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi belajar mendorong timbulnya tingkah laku dan mempengaruhi serta mengubah tingkah laku siswa. Menurut Sardiman (2001) mengemukakan tiga fungsi motivasi yaitu:
1) Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan.
Tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2) Motivasi berfungsi sebagai pengarah.
Artinya motivasi mengarahkan perubahan untuk mencapai yang diinginkan. Dengan demikian, motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3) Motivasi berfungsi sebagai penggerak.
Artinya mengerakkan tingkah laku seseorang. Selain itu, motivasi belajar berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi.
2.2.3 Jenis-jenis Motivasi
Secara umum, motivasi dibedakan menjadi dua jenis yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik.
1) Motivasi Instrinsik
Hamalik (2004) berpendapat bahwa motivasi instrinsik adalah motivasi yang tercakup dalam situasi belajar yang bersumber dari kebutuhan dan tujuan-tujuan siswa sendiri. Sedangkan menurut Sardiman (2006) motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif dan berfungsi tidak perlu dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Dengan kata lain, individu terdorong untuk bertingkah laku ke arah tujuan tetentu tanpa adanya faktor pendorong dari luar. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas dapat dikatakan bahwa motivasi instrinsik adalah motivasi yang tercakup dalam situasi belajar yang bersumber dari kebutuhan dan tujuan-tujuan siswa sendiri atau dengan kata lain motivasi instrinsik tudak memerlukan rangsangan dari luar tetapi berasal dari diri siswa.
Siswa yang termotivasi secara instrinsik dapat terlihat dari kegiatannya yang tekun dalam mengerjakan tugas-tugas belajar karena bituh dan ingin mencapai tujuan belajar yang sebenarnya. Dengan kata lain, motivasi instrinsik dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukan adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan itu sendiri (Sardiman, 2001). Siswa yang memiliki motivasi instrinsik menunjukkan keterlibatan dan aktivitas yang tinggi dalam belajar.
Motivasi dalam diri merupakan keinginan dasar yang mendorong individu mencapai berbagai pemenuhan segala kebutuhan diri sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan dasar siswa, guru memanfaatkan dorongan keingintahuan siswa yang bersifat alamiah dengan jalan menyajikan materi yang cocok dan bermakna bagi siswa. Menurut Usman (2005) motivasi instrinsik timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari orang lain tetapi atas kemauan sendiri.
Pada dasarnya siswa belajar didorong oleh keinginan sendiri maka siswa secara mandiri dapat menentukan tujuan yang dapat dicapainya dan aktivitas-aktivitasnya yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan belajar. seseorang mempunyai motivasi instrinsik karena didorong rasa ingin tahu, mencapai tujuan menambah pengetahuan. Dengan kata lain, motivasi instrinsik bersumber pada kebutuhan yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Motivasi instrinsik muncul dari kesadaran diri sendiri, bukan karena ingin mendapat pujian atau ganjaran.
Guru dapat menggunakan beberapa strategi dalam pembelajaran agar siswa termotivasi secara instrinsik, yaitu:
- Mengaitkan tujuan belajar dengan tujuan siswa sehingga tujuan belajar menjadi tujuan siswa atau sama dengan tujuan siswa.
- Memberi kebebasan kepada siswa untuk memperluas kegiatan dan materi belajar selama masih dalam batas-batas daerah belajar yang pokok.
- Memberikan waktu ekstra yang cukup banyak bagi siswa untuk mengembangkan tugas-tugas mereka dan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang ada di sekolah.
- Kadang kala memberikan penghargaan atas pekerjaan siswa.
- Meminta siswa-siswanya untuk menjelaskan dan membacakan tugas-tugas yang mereka buat, kalau mereka ingin melakukannya. Hal ini perlu dilakukan terutama sekali terhadap tugas yang bukan merupakan tugas pokok yang harus dikerjakan oleh siswa, kalau tugas dikerjakan dengan baik.
2) Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik berbeda dari motivasi instrinsik karena dalam motivasi ini keinginan siswa untuk belajar sangat dipengaruhi oleh adanya dorongan atau rangsangan dari luar. Dorongan dari luar tersebut dapat berupa pujian, celaan, hadiah, hukuman dan teguran dari guru. Menurut Sardiman (2006) motivasi ekstrinsik adalah “motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya rangsangan atau dorongan dari luar”. Bagian yang terpenting dari motivasi ini bukanlah tujuan belajar untuk mengetahui sesuatu tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik, sehingga mendapatkan hadiah.
Motivasi instrinsik juga diperlukan dalam kegiatan belajar karena tidak semua siswa memiliki motivasi yang kuat dari dalam dirinya untuk belajar. Guru sangat berperan dalam rangka menumbuhkan motivasi ekstrinsik. Pemberian motivasi ekstrinsik harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa, karena jika siswa diberikan motivasi ekstrinsik secara berlebihan maka motivasi instrinsik yang sudah ada dalam diri siswa akan hilang. Motivasi ekstrinsik dapat membangkitkan motivasi instrinsik, sehingga motivasi ekstrinsik sangat diperlukan dalam pembelajaran.
Dimyanti (2006) mengemukakan bahwa motivasi ekstrinsik dapat berubah menjadi motivasi instrinsik jika siswa menyadari pentingnya belajar. Motivasi ekstrinsik juga sangat diperlukan oleh siswa dalam pembelajaran karena adanya kemungkianan perubahan keadaan siswa dan juga faktor lain seperti kurang meneriknya proses belajar mengajar bagi siswa. Motivasi ekstrinsik dan instrinsik harus saling menambah dan memperkuat sehingga individu dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2.2.4 Cara Membangkitkan Motivasi Belajar
Upaya-upaya peningkatan motivasi belajar siswa dilakukan oleh guru dengan menggunakan berbagai cara. Pemilihan cara membangkitkan motivasi belajar siswa harus disesuaikan dengan karakteristik siswa dan juga mata pelajaran yang sedang diajarkan oleh guru. Siswa yang mempunyai motivasi belajar dan berprestasi instrinsik yang kuat berbeda penenganannya dengan siswa yang bermotivasi belajar dan berprestasi ekstrinsiknya yang kuat. Di sisi lain faktor-faktor terjadinya penurunan motivasi belajar dan berprestasi juga turut menentukan pemilihan upaya yang akan dilakukan.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh guru membangkitkan motivasi belajar siswa, baik motivasi instrinsik maupun ekstrinsik antara lain dengan cara:
- Memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi.
- Adanya persaingan atau kompetisi di dalam kelas.
- Pemberian hadiah atau pujian terhadap siswa-siswa yang memiliki prestasi baik dan memberikan hukuman kepada siswa yang prestasinya mengalami penurunan.
- Adanya pemberitahuan tentang kemujan belajar siswa.
Dengan mengetahui hasil pekerjaan maka siswa akan terdorong untuk lebih giat belajar, apabila jika hasil yang diperoleh menunjukkan kemajuan.
- Ego involvement.
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimenya sebagai tantangan.
- Pemberian ulangan.
Guru harus memberitahukan terlebih dahulu jika akan diadakan ulangan karena siswa akan lebih giat belajar jika mengetahui akan ada ulangan.
- Adanya hasrat untuk belajar.
Hasrat untuk belajar berarti kemauan yang timbul pada diri anak didik untuk belajar, sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
- Minat.
Minat merupakan alat pokok dalam rangka memotivasi siswa. Cara yang bisa diambil oleh guru untuk membangkitkan minat belajar siswa menurut Sardiman (2006) adalah membangkitkan adanya kebutuhan, menghubungkan materi dengan keadaan sebenarnya, serta menggunakan berbagai metode mengajar.
- Tujuan yang diakui.
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, merupakan alat motivasi yang sangat penting. Semua cara tersebut bisa adopsi oleh guru untuk menambah motivasi siswa agar meningkatkan hasil belajarnya.
IKLAN
CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))
Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF





