BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

JASA PEMBUATAN MAKALAH

 

JASA PEMBUATAN MAKALAH. anda seorang mahasiswa atau guru atau siapapun yang saat ini sedang dilanda resah dan kebingungan karena tugas kuliah atau tugas individual yang menumpuk?. Memang tugas kuliah dan individual apalagi jika itu banyak dan menumpuk akan sangat membuat anda stress dan bingung jika saat ini andasedang kuliah. Apalagi jika anda sedang kuliah sambil bekerja, anda akan semakin tidak memiliki waktu untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut.

Salah satu tugas kuliah yang sering diberikan oleh para dosen adalah membuat MAKALAH. makalah adalah tugas kuliah yang meminta anda untuk menganalisa permasalahan-permasalah berdasarkan mata kuliah yang sedang anda ambil sekarang. Makalah yang bagus harus memiliki data dan literasi yang mencukupi dan kemudian tidak hanya itu saja anda juga diwajibkan untuk mengolahnya sedemikian rupa sehingga mulai dari judul sampai kesimpulan memiliki tata urut yang apik, singkronisasi dan menarik untuk dibacanya.

Jika anda mempunyai permasalahan yang seperti saya sebutkan diatas yaitu kesulitan dalam membuat MAKALAH entah itu MAKALAH PENDIDIKAN, MAKALAH BIOLOGI, MAKALAH BAHASA INDONESIA, MAKALAH MATEMATIKA, MAKALAH PPKN, MAKALAH FISIKA, MAKALAH KIMIA, MAKALAH GEOGRAFI, MAKALAH HUKUM, MAKALAH SOSIAL, MAKALAH PERTANIAN, MAKALAH KELAUTAN, MAKALAH KOMUNIKASI, MAKALAH PERS, MAKALAH AGAMA ISLAM, MAKALAH AGAMA, MAKALAH KEHUTANA, MAKALAH PERIKANAN, dan berbagai MAKALAH lainnya,kini jangan khawatir  CV ZAIFBIO ILMIAH, sebagai lembaga terdepan penyedia jasa di bidang PENDIDIKAN dan PEMBELAJARAN, siap untuk mengatasi dan membantu kesulitan pembuatan makalah yang sedang anda alami.

Jika ingin menggunakan jasa kami dalam JASA PEMBUATAN MAKALAH. silahkan langsung hubungi Pak Zaif di nomer HP 081938633462 atau lewat email di zaifbio@gmail.com

 

07/18/2014 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

JUAL PERANGKAT PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013

JUAL PERANGKAT PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013. KURIKULUM 2013 menuntut guru untuk semakin kreatif dalam melaksanakan pembelajaran yang bermutu, bermanfaat dan menyanangkan bagi semua siswa tanpa terkecuali.

Seperti kita ketahui KURIKULUM 2013 akan serentak digunakan di seluruh sekolah di Indonesia mulai tahun ajaran 2014/2015, sehingga secara tidak langsung semua guru sudah dan dituntut untuk memahami semua PERANGKAT PEMBELAJARAN yang diwajibkan ada untuk KURIKULUM 2013

Perangkat-perangkat pembelajaran yang sangat penting dan wajib ada untuk kurikulum 2013 diantaranya adalah, RPP (RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN), SILABUS, ANALISA KD/KI, INSTRUMEN PENILAIAN, PROTA (PROGRAM TAHUNAN). PROMES (PROGRAM SEMESTER). Dan beberapa PERANGKAT PEMBELAJARAN lainnya

Dengan keterbatasan waktu yang dimiliki tak semua guru mampu dan sanggup untuk mengerjakan PERANGKAT PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013 ini. oleh karena itu CV ZAIFBIO ILMIAH siap memberikan solusi kepada semua bapak dan ibu guru yaitu menyediakan alias JUAL PERANGKAT PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013 LENGKAP.

PERANGKAT PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013 yang dijual diantaranya adalah, RPP (RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN), SILABUS, ANALISA KD/KI, INSTRUMEN PENILAIAN, PROTA (PROGRAM TAHUNAN). PROMES (PROGRAM SEMESTER) dan beberapa PERANGKAT PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013 lainnya tergantung mata pelajaran.

PERANGKAT PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013 TERBARU, tersedia untuk seluruh mata pelajaran dan semua jenjang kelas mulai dari dasar hinggan sekolah menengah atas. Sehingga dengan adanya PERANGKAT PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013 ini diharapkan guru tidak kesulitan dan tidak perlu repot-repot untuk membuat sendiri.

Oke, jika berminat untuk mendapatkan PERANGKAT PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013 ini silahkan hubungi pak zaif di nomer HP: 081938633462 atau lewat email di: zaifbio@gmail.com, terima kasih atas perhatiannya

 

JUAL PERANGKAT PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013

JUAL PERANGKAT PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013

07/16/2014 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Pengaruh Metode Pembelajaran Jigsaw Terhadap Keterampilan Hubungan Interpersonal dan Kerjasama Kelompok pada Mahasiswa Fakultas Psikologi UGM

Belajar Iklan Di Facebook 468x60

Oleh: Asmadi Alsa
ABSTRAK
Metode pembelajaran kooperatif berdampak bukan saja pada ranah akademik, tapi juga pada keterampilan hubungan interpersonal dan kerjasama kelompok. Penelitian ini bertujuan menguji dampak salah satu metode pembelajaran kooperatif, yaitu metode jigsaw, terhadap keterampilan hubungan interpersonal dan kerjasama kelompok pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Metode penelitian yang dipilih adalah eksperimen dengan menggunakan rancangan one group pre and posttest design. Sebanyak 63 mahasiswa yang mengambil mata kuliah Psikologi Pendidikan (Kelas B) pada semester genap Tahun Ajaran 2008/2009 menjadi responden penelitian. Pada minggu terakhir sebelum dilaksanakan ujian tengah semester, mereka diukur keterampilan hubungan interpersonal dan kerjasama kelompoknya dengan skala. Memasuki masa perkuliahan setelah ujian tengah semester, selama tujuh minggu (tujuh kali pertemuan), mereka diajar dengan metode pembelajaran jigsaw dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan (Kelas B). Pada akhir semester mereka diukur lagi keterampilan hubungan interpersonal dan kerjasama kelompoknya dengan skala yang sama.
Perangkat skor keterampilan hubungan interpersonal dan kerja sama kelompok yang diperoleh responden sebelum dan setelah pembelajaran dibandingkan, dan diuji perbedaannya dengan paired samples t test. Hasilnya menunjukkan, dengan membandingkan skor pretes dan postes variabel keterampilan hubungan interpersonal, diperoleh nilai t sebesar -1,748 dengan p = 0,043 (p<0,05). Ini berarti bahwa metode pembelajaran Jigsaw secara signifikan mampu meningkatkan keterampilan hubungan interpersonal mahasiswa. Hasil analisis terhadap variabel kerjasama kelompok dengan membandingkan skor pretes dan postes, diperoleh nilai t sebesar -3,50 dengan p = 0,001 (p<0,01). Ini berati bahwa metode pembelajaran Jigsaw secara sangat signifikan mampu meningkatkan keterampilan kerjasama kelompok mahasiswa.

(Key words: metode jigsaw, keterampilan hubungan interpersonal, kerjasama kelompok)

Tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi siswa dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotorik. Untuk mengembangkan level kompetensi yang berbeda (baik dalam domain kognitif, afektif, maupun psikomotorik) diperlukan metode pembelajaran yang berbeda; misalnya metode ceramah lebih pas untuk mengembangkan knowledge, dan kurang pas untuk mengembangkan kemampuan analisis. Demikian juga untuk mengembangkan domain yang berbeda diperlukan metode pembelajaran yang berbeda pula; metode diskusi kurang pas untuk mengembangkan domain psikomotorik, tapi akan menjadi pas kalau dipakai untuk mengembangkan domain kognitif. Metode role play lebih cocok untuk mengembangkan domain afektif daripada domain kognitif.
Universitas Gadjah Mada mensosialisasikan dan selanjutnya menyelenggarakan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student centered learning) sejak tahun 2006. Implementasinya di level fakultas, termasuk di Fakultas Psikologi, masih variatif tergantung pada dosen pengampu matakuliah dan karakteristik mata kuliah. Berdasar pengamatan, beberapa dosen secara bertahap berusaha mengubah cara pembelajarannya yang dipakai selama ini, menuju ke arah pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa, paling tidak hal ini tampak dalam hal pemberian kesempatan yang lebih luas kepada mahasiswa untuk lebih berperan secara aktif dalam berbagai aktivitas belajar, misalnya diskusi kelompok, pemberian tugas, survei lapangan, dan presentasi-presentasi yang dilakukan oleh mahasiswa.
Pembelajaran dengan pendekatan student centered memiliki banyak metode. Salah satu yang sudah nampak diterapkan oleh dosen Fakultas Psikologi UGM adalah metode jigsaw, walaupun belum sepenuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji teori, yang menyebutkan bahwa metode pembelajaran jigsaw memiliki keunggulan dalam mengembangkan keterampilan hubungan interpersonal dan kerjasama kelompok pada mahasiswa.
Istilah instructional methods dan teaching methods memiliki arti yang sama yaitu metode pembalajaran. Metode pembelajaran menguraikan tentang aktivitas-aktivitas yang diorientasikan pada tujuan belajar dan cara penyampaian informasi dari guru ke siswa. Salah satu pengelompokan metode pembelajaran adalah pengelompokan berdasar pendekatan teacher-centered dan student- centered. Metode pembelajaran yang berpusat pada siswa (students center) antara lain metode belajar kooperatif (cooperative learning). Belajar kooperatif merupakan suatu metode pembelajaran dalam bentuk kelompok kecil. Siswa belajar dalam kelompok yang masing-masing anggotanya memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Jumlah anggota kelompok antara empat sampai enam siswa yang bekerjasama antara yang satu dengan yang lain dalam kegiatan belajar. Kelompok biasanya diberi rewards sesuai dengan seberapa banyak setiap anggota kelompok telah belajar (Slavin, 1991).
Belajar kooperatif secara teoretik dipandang mampu mengembangkan bukan saja capaian akademik, tapi juga capaian non-akademik seperti hubungan interpersonal dan kerjasama kelompok. Menurut Arends (2007) belajar kooperatif dikembangkan untuk mencapai paling sedikit tiga tujuan penting; yaitu prestasi akademik, toleransi dan penerimaan terhadap keanekaragaman, serta pengembangan keterampilan sosial. Marning dan Lucking (1991) mengatakan bahwa belajar kooperatif selain memberikan kontribusi secara positif terhadap prestasi akademik, juga meningkatkan keterampilan sosial dan self-esteem siswa.
Salah satu bentuk belajar kooperatif adalah metode jigsaw, yang dalam penelitian ini, akan diuji dampaknya terhadap keterampilan hubungan interpersonal dan kerjasama kelompok. Pada pembelajaran dengan metode jigsaw, siswa belajar dalam kelompok yang anggotanya berkemampuan heterogin dan masing-masing siswa bertanggungjawab atas satu bagian dari materi (Arends, 2007). Topik pembelajaran ditentukan oleh guru, sedangkan tugas siswa adalah mempelajari dan mendiskusikan berbagai materi di kelompok ahli, selanjutnya saling berbagi (sharing) berbagai materi di kelompok asal.
Menurut Aronson (www.jigsaw.org), langkah-langkah pembelajaran metode jigsaw adalah sebagai berikut: (1) Menempatkan siswa dalam kelompok, yang masing-masing kelompok beranggotakan antara 5 – 6 orang; (2) Menugaskan seorang siswa dari setiap kelompok sebagai pemimpin; (3) Membagi materi pelajaran menjadi 5 – 6 bagian; (4) Menugaskan setiap siswa untuk mempelajari satu bagian materi; (5) Memberi waktu kepada siswa untuk mempelajari materi yang menjadi bagiannya paling tidak dua kali agar ia menjadi familier dengan materinya; (6) Membentuk “kelompok-kelompok ahli”, yang anggotanya adalah seorang siswa dari masing-masing kelompok asal. Mereka bergabung menjadi satu kelompok (ahli) untuk mempelajari satu bagian materi yang sama. Guru memberikan waktu pada masing-masing kelompok ahli untuk mendiskusikan poin-poin penting dari materi bagian mereka sebagai pedoman presentasi yang akan mereka lakukan di kelompok asal; (7) Meminta masing-masing siswa untuk kembali ke kelompok asal mereka; (8) Meminta masing-masing siswa untuk mempresentasikan materi bagiannya di kelompok asal. Guru mendorong anggota kelompok yang lain untuk mengajukan pertanyaan yang bertujuan untuk klarifikasi; (9) Guru mengobservasi proses diskusi dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Jika kelompok mengalami hambatan (misalnya ada yang mendominasi atau mengganggu) guru melakukan intervensi; (10) Di akhir sesi berikan kuis berkaitan materi sehingga siswa dengan segera dapat menyadari bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah aktivitas yang sia-sia.
Metode jigsaw pertamakali dikenalkan pada guru-guru SD dan SMP pada akhir tahun 1970an sebagai metode pembelajaran yang dapat menghasilkan capaian akademik dan social-emotional (Resor, 2008; Steiner, Stromwall, Brzuzy, dan Gerdes, 1999). Pembelajaran dengan menggunakan metode jigsaw memberikan kesempatan pada siswa mengembangkan banyak kemampuan-kemampuan kerjasama yang dibutuhkan (Taylor, http://wikis.lib.ncsu.edu/index. php/Jigsaw)
Penelitian Sharan (dikutip Arends, 2007) menunjukkan bahwa belajar kooperatif menghasilkan lebih banyak perilaku kooperatif, verbal maupun nonverbal, dibandingkan pembelajaran konvensional. Penelitian eksperimen yang dilakukan Siregar (2009) pada mahasiswa Prodi Bimbingan Konseling FKIP UAD Yogyakarta semester ketiga Tahun Ajaran 2008/2009 menemukan bahwa metode belajar Think-Pair-Share, salah satu metode belajar kooperatif, mampu mengembangkan self-efficacy mahasiswa. Metode belajar Think-Pair-Share, seperti halnya metode jigsaw, merupakan metode belajar kelompok kecil terstruktur.
Aronson, dkk (Marning dan Lucking, 1991) dari penelitiannya menyimpulkan bahwa siswa yang diajar dengan metode jigsaw menjadi lebih menyukai teman-temannya dalam satu kelompok belajar dibanding dengan kesukaan mereka terhadap teman-temannya satu kelas yang bukan anggota kelompok belajarnya. Dengan belajar kooperatif mereka saling menghargai dan saling peduli satu sama lain, sehingga mampu meningkatkan hubungan interpersonal di antara mereka.
Chun-Yen dan Song-Ling (1999) meneliti pengaruh metode jigsaw terhadap kinerja akademik dan non-akademik pada siswa sekolah menengah yang mengikuti matapelajaran Ilmu Alam. Satu dari dua kelompok siswa yang penempatannya dilakukan secara random, diajar dengan metode jigsaw (kelompok eksperimen) dan kelompok lainnya diajar dengan metode tradisional (kelompok kontrol). Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok eksperimen memiliki kinerja akademik yang lebih tinggi, berkurang prasangka dan prejudice nya, dan meningkat hubungan sosialnya dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Gillies dan Ashman (1998) meneliti perilaku dan interaksi sosial siswa saat belajar matapelajaran ilmu pengetahuan sosial. Sebanyak 212 siswa kelas 1 SD dan 184 siswa kelas 3 SD berpartisipasi dalam penelitian. Mereka dibagi menjadi kelompok-kelompok melalui stratified random assignment; setiap kelompok terdiri dari empat siswa, yang masing-masing kelompok beranggotakan satu siswa berkemampuan tinggi, dua siswa berkemampuan moderat, dan satu siswa berkemampuan rendah. Kelompok-kelompok tersebut secara acak dimasukkan dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen selama enam minggu belajar dalam kelompok kecil terstruktur, sedangkan kelompok kontrol selama periode waktu yang sama belajar dalam kelompok kecil tidak terstruktur. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa dalam kelompok kecil terstruktur secara konsiten lebih kooperatif dan lebih banyak memberi atau menerima bantuan dari anggota kelompoknya dibandingkan dengan siswa dalam kelompok kontrol.
Gillies (2003), meneliti siswa SMP yang belajar memecahkan problem, mengerjakan tugas-tugas dalam pelajaran matematika, ilmu alam dan bahasa inggris dalam kelompok kecil terstruktur dan tidak terstruktur. Sebanyak 220 siswa kelas 8 berpartisipasi dalam penelitian, yang dilaksanakan dalam 3 termin. Siswa bekerja dalam kelompok yang masing-masing terdiri dari empat siswa, laki-laki dan perempuan dengan kemampuan yang heterogin di dalam kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar dalam kelompok terstruktur lebih kooperatif dan lebih banyak saling memberikan bantuan antara yang satu dengan yang lain ketika belajar bersama dalam kelompok dibandingkan dengan siswa dalam kelompok yang tidak terstruktur. Selain itu, juga ditemukan bahwa siswa yang belajar dalam kelompok terstruktur memiliki persepsi yang kuat bahwa belajar dalam kelompok kecil sangat menyenangkan dan memungkinkan mereka memperoleh kesempatan untuk belajar bersama secara berkualitas.
Penelitian Resor (2008) menemukan beberapa komentar dari siswa yang diajar dengan metode jigsaw. Sebagian besar komentar mereka adalah bahwa metode pembelajaran jigsaw membuat pelajaran menjadi lebih menarik dan meningkatkan kemampuan berfikir secara mendalam dan kemampuan melakukan analisis kritis. Seorang siswa mengatakan metode jigsaw menyenangkan (fun) dan memberi pencerahan karena membawa pada hal-hal yang terang yang tak pernah terfikirkan.
Berdasar hasil-hasil penelitian tentang dampak metode belajar kooperatif, khususnya metode jigsaw seperti diuraikan di atas, maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah: Metode jigsaw yang dipakai dalam pembelajaran Psikologi Pendidikan, mampu mengembangkan keterampilan hubungan interpersonal dan kerjasama kelompok pada mahasiswa Fakultas Psikologi UGM.

Software Apotek MedStore 468x60

METODE
Subjek penelitian adalah 63 mahasiswa Fakultas Psikologi UGM yang mengikuti matakuliah Psikologi Pendidikan (Kelas B) pada semester genap Tahun Ajaran 2008/2009. Variabel dalam penelitian ini ada tiga, yaitu (1) metode pembelajaran, yaitu metode pembelajaran jigsaw (2) keterampilan hubungan interpersonal (interpersonal skills), yaitu kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain, dan (3) kerjasama kelompok (working together), yaitu belajar bersama dalam kelompok untuk mencapai tujuan yang sama, yaitu memahami materi pelajaran.
Metode yang dipakai untuk mengumpulkan data adalah Skala Keterampilan Hubungan Interpersonal dan Skala Kerjasama Kelompok, yang keduanya disusun sendiri oleh peneliti. Rancangan penelitiannya adalah eksperimen dengan menggunakan one group pretest and posttest design. Prosedur penelitiannya adalah sebagai berikut: (1) Sebelum diberi perlakuan, yaitu pembelajaran dengan metode jigsaw, 63 responden diukur keterampilan hubungan interpersonal dan kerjasama kelompoknya, (2) menerapkan pembelajaran dengan metode jigsaw sebanyak tujuh kali pertemuan, dan (3) mengukur kembali keterampilan hubungan interpersonal dan kerjasama kelompok 63 responden dengan menggunakan skala yang sama, (4) skor variabel keterampilan hubungan interpersonal dan variabel kerjasama kelompok yang diperoleh dari dua kali pengukuran tersebut dibandingkan dan diuji perbedaannya. Metode analisis data yang digunakan adalah paired samples t test.
Menyusun skala
Skala Hubungan Interpersonal disusun berdasar aspek keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan; yang masing-masing aspek diwakili oleh lima aitem. Skala Kerjasama Kelompok disusun berdasar aspek penerimaan orang lain terhadap diri, penerimaan diri terhadap orang lain, kepedulian terhadap anggota kelompok, komunikasi, dan koordinasi; yang masing-masing aspek diwakili oleh lima aitem.
Uji coba skala
Uji coba skala dilaksanakan pada minggu terakhir perkuliahan sebelum pelaksanaan ujian tengah semester, dengan responden sebanyak 49 mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan Tahun 2006/2007. Hasil uji coba terhadap Skala Hubungan Interpersonal diperoleh empat aitem aspek keterbukaan, dua aitem aspek empati, tiga aitem aspek sikap mendukung, tiga aitem aspek sikap positif, dan dua aitem aspek kesetaraan, memiliki daya beda yang memadai (kisaran koefisien korelasi aitem-total terkoreksi antara 0,227 sampai dengan 0,549). Skala Hubungan Interpersonal dengan 14 aitem tersebut memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,763, yang diestimasi melalui pendekatan Alpha Cronbach.
Hasil uji coba terhadap Skala Kerjasama Kelompok diperoleh tiga aitem aspek penerimaan orang lain terhadap diri, empat aitem aspek penerimaan diri terhadap orang lain, empat aitem aspek kepedulian terhadap anggota kelompok, dua aitem aspek komunikasi, dan empat aitem aspek koordinasi, memiliki daya beda memadai (kisaran koefisien korelasi aitem-total terkoreksi antara 0,214 sampai dengan 0,574). Skala Kerjasama Kelompok dengan 17 aitem tersebut memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,770, yang diestimasi melalui pendekatan Alpha Cronbach.
Pelaksanaan Penelitian
Langkah-langkah penelitian adalah sebagai berikut: Langkah pertama, mengukur keterampilan hubungan interpersonal dan kerjasama kelompok 63 responden sesaat sebelum mereka menempuh ujian tengah semester matakuliah Psikologi Pendidikan. Langkah kedua, pada pertemuan (kuliah) pertama setelah UTS, membagi 60 dari 63 responden berdasar nomer urut daftar presensi menjadi enam kelompok (selanjutnya disebut kelompok asal: kelompok A, B, C, D, E, dan F), yang masing-masing terdiri dari 10 mahasiswa (catatan: tiga mahasiswa sisanya diberi kebebasan untuk memilih kelompok tetapi tidak diperkenankan pindah ke kelompok lainnya sampai perkuliahan selesai pada akhir semester). Langkah ketiga, masing-masing dua anggota dari keenam kelompok asal diberi tugas menjadi anggota kelompok ahli. Dua anggota dari masing-masing kelompok asal (A1, A2, B1, B2, C1, C2, D1, D2, E1, E2, F1, dan F2) diberi handout materi Teori Belajar Classical Conditioning untuk dipelajari selama seminggu (disebut anggota kelompok ahli Classical Conditioning); dua anggota yang lain (A3, A4, C3, C4, D3, D4, E3, E4, F3, dan F4) diberi handout materi Teori Belajar Koneksionisme untuk dipelajari selama seminggu (disebut anggota kelompok ahli Koneksionisme); dua anggota yang lain lagi (A5, A6, B5, B6, C5, C6, D5, D6, E5, E6, F5, F6) diberi handout materi Teori Belajar Operant Conditioning untuk dipelajari selama seminggu (disebut anggota kelompok ahli Operant Conditioning); dua anggota yang lain lagi diberi handout materi Teori Belajar Social Learning untuk dipelajari selama seminggu (disebut anggota kelompok ahli Social Learning); dua anggota yang lain lagi (A7, A8, B7, B8, C7, C8, D7, D8, E7, E8, F7, dan F8) diberi handout materi Teori Belajar Expository Teaching untuk dipelajari selama seminggu (disebut anggota kelompok ahli Expository Teaching); dua anggota yang lain lagi (A9, A10, B9, B10, C9, C10, D9, D10, E9, E10, F9, dan F10) diberi handout materi Teori Belajar Discovery Learning untuk dipelajari selama seminggu (disebut anggota kelompok ahli Discovery Learning). Jadi secara keseluruhan terdapat lima kelompok ahli yang masing-masing kelompok ahli terdiri dari dua belas anggota yang berasal dari enam kelompok asal. Selanjutnya, pada langkah keempat, masing-masing dari enam kelompok ahli mendiskusikan materi yang sudah ditetapkan sebelumnya pada langkah ketiga. Langkah kelima, setelah selesai diskusi dalam kelompok ahli, masing-masing anggota kembali ke kelompok asal. Langkah keenam, secara bergantian masing-masing anggota kelompok ahli mempresentasikan materi bagiannya yang sudah mereka diskusikan di kelompok ahli, di kelompok asal. Langkah ketujuh, dosen memberikan evaluasi dan masukan atas hasil belajar mahasiswa yang diperoleh dari hasil diskusi dan sharing di antara mereka.
Prosedur pembelajaran seperti diuraikan di atas dilaksanakan selama tujuh kali pertemuan dengan materi yang berbeda. Pada hari terakhir kuliah (pertemuan ketujuh) 63 responden diukur lagi keterampilan hubungan interpersonal dan kerjasama kelompoknya dengan skala yang sama.
Selain diukur keterampilan hubungan interpersonal dan kerjasama kelompoknya, setiap responden juga diminta untuk memberikan penilaian dengan menyebutkan dua keunggulan dan dua kelemahan penggunaan pembelajaran jigsaw yang sudah mereka alami selama tujuh kali pertemuan. Tujuannya adalah untuk memperoleh data tambahan dalam rangka elaborasi kualitatif atas hasil analisis data kuantitatif.

Tutorial Adwords 468x60

HASIL
Perangkat skor dari kedua variabel yang diperoleh subjek sebelum dan setelah eksperimen dibandingkan dan diuji perbedaannya. Metode analisis data yang digunakan adalah paired samples t test. Hasil analisis terhadap variabel keterampilan hubungan interpersonal dengan membandingkan skor pretes dan postes, diperoleh nilai t sebesar -1,748 dengan p = 0,043 (p<0,05; one-tailed). Hasil tersebut menunjukkan bahwa metode pembelajaran jigsaw secara signifikan mampu meningkatkan keterampilan hubungan interpersonal. Hasil analisis terhadap variabel kerjasama kelompok dengan membandingkan skor pretes dan postes, diperoleh nilai t sebesar -3,50 dengan p = 0,001 (p<0,01). Hasil tersebut menunjukkan bahwa metode pembelajaran jigsaw secara sangat signifikan mampu meningkatkan kerjasama kelompok.
Selain temuan yang dikemukakan di atas, ditemukan juga hasil penilaian yang diberikan responden tentang keunggulan dan kelemahan penggunaan metode pembelajaran jigsaw yang mereka rasakan setelah mengikuti pembelajaran dengan metode tersebut selama tujuh kali pertemuan. Keunggulan metode jigsaw menurut penilaian responden disajikan pada tabel 1.

Tabel 1: Keunggulan metode pembelajaran jigsaw menurut responden
No Keuntungan Metode Jigsaw berdasar persepsi mahasiswa f %
1 Mahasiswa tidak takut bertanya dan sharing dalam diskusi 25 23,36
2 Dapat memahami materi lebih cepat dan efektif 21 19,63
3 Mahasiswa lebih aktif 19 17,76
4 Materi yang diperoleh lebih banyak 12 11,21
5 Kelompok presenter lebih menguasai topik yang didiskusikan 10 9,35
6 Tidak membosankan 9 8,41
7 Meningkatkan motivasi 3 2,80
8 Materi lebih banyak yang diingat 2 1,87
9 Mampu memahami kelebihan dan kelemahan teman dalam kelompok 2 1,87
10 Memiliki persepsi yang sama dalam satu kelompok 1 0,935
11 Belajar secara mandiri 1 0,935
12 Belajar mengajari teman sebaya 1 0,935
13 Meningkatkan kemampuan berfikir kritis 1 0,935
J u m l a h j a w a b a n 107 100

Kelemahan metode jigsaw menurut penilaian responden setelah mereka mengikuti pembelajaran dengan metode tersebut selama tujuh kali pertemuan disajikan pada tabel 2.

Tabel 2: Kelemahan metode pembelajaran jigsaw menurut responden
No Kelemahan Metode Jigsaw berdasar persepsi mahasiswa f %
1 Kurangnya pemahaman presenter dalam menyampaikan materi 16 16,33
2 Banyak waktu terbuang karena mahasiswa ngobrol dalam diskusi 16 16,33
3 Tidak semua mahasiswa aktif 15 15,31
4 Sering menimbulkan persepsi yang salah terhadap suatu teori 9 9,18
5 Jika seorang anggota kelompok tidak datang akan merugikan seluruh anggota kelompok 8 8,16
6 Waktu kurang untuk diskusi 7 7,14
7 Mudah lupa karena terlalu banyak materi 6 6,12
8 Kurangnya penjelasan dari dosen 6 6,12
9 Mahasiswa kurang memperoleh penjelasan yang tuntas dari presenter 4 4,08
10 Materi yang disampaikan tidak mencakup seluruh materi yang penting 4 4,08
11 Bosan 3 3,06
12 Perbedaan pendapat diantara mahasiswa 2 2,04
13 Kurang menimbulkan rasa kompetisi 1 1,02
14 Tugas dosen jadi lebih mudah 1 1,02
J u m l a h j a w a b a n 98 100

Social Injection 468x60

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasar analisis data seperti diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan keterampilan hubungan interpersonal dan kerjasama kelompok pada mahasiswa Fakultas Psikologi UGM. Hasil ini memperkuat teori dan hasil penelitian-penelitian terdahulu, bahwa metode pembelajaran kooperatif jigsaw dapat meningkatkan keterampilan sosial. Temuan-temuan penelitian yang dilakukan oleh banyak peneliti, antara lain oleh David Johnson, Roger Johnson, dan Robert Slavin, menunjukkan bahwa metode pembelajaran jigsaw meningkatkan prestasi belajar siswa pada semua jenjang kelas, pada semua matapelajaran, dan pada semua tipe pelajar. Banyak hasil yang telah didokumentasikan, meliputi peningkatan self-esteem, hubungan kelompok, komunikasi, hubungan interpersonal, sikap terhadap sekolah, dan penerimaan serta kemampuan terhadap kerjasama dengan orang lain. Hasil yang positif tersebut meliputi pembelajaran pada matapelajaran biologi, kimia, geologi, statistika, sosiologi, dan psikologi (Resor, 2008; Steiner, Stromwall, Brzuzy, dan Gerdes, 1999).
Hasil lain penelitian ini adalah yang berkaitan dengan proses pembelajaran, yaitu bagaimana mahasiswa memberikan penilaian terhadap pelaksanaan metode jigsaw. Tiga keunggulan utama penggunaan metode jigsaw menurut penilaian mahasiswa adalah: (1) mahasiswa tidak ragu-ragu untuk menyatakan pendapat dan bertanya dalam diskusi (23,36%), (2) mahasiswa dapat memahami materi dengan lebih cepat (19,63%), dan (3) mahasiswa lebih aktif dalam belajar (17,76%). Penilaian butir 1 dan butir 3 yang diberikan mahasiswa menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode jigsaw dapat melibatkan mahasiswa lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran dibandingkan sebelumnya. Keaktifan dalam belajar, baik mental, emosi, dan sosial, akan membuat belajar menjadi lebih efektif dan bermakna daripada belajar secara pasif menerima informasi. Penilaian butir 2 menunjukkan bahwa dengan belajar bersama melalui diskusi dan saling sharing secara aktif dengan anggota kelompok, mahasiswa lebih cepat dapat memahami materi yang sedang dipelajari. Ini merupakan proses yang masuk akal karena informasi atau konsep yang belum dipahami oleh seorang mahasiswa, akan segera bisa memperoleh jawaban atau klarifikasi dalam diskusi kelompok; berbeda kalau mahasiswa diceramahi dalam pembelajaran yang belum tentu ia mengajukan pertanyaan spontan atau bersikap kritis dalam menerima pelajaran.
Tiga kelemahan utama metode jigsaw menurut penilaian mahasiswa adalah: (1) presenter belum sepenuhnya memahami materi yang disampaikan (16,33%), (2) banyak mahasiswa yang saling ngobrol ketika proses diskusi berlangsung (16,33%), dan (3) tidak semua mahasiswa aktif (15,31%). Penilaian butir 1 yang diberikan mahasiswa, menunjukkan bahwa mahasiswa belum menyadari atau belum sepenuhnya siap menerima tanggungjawab, bahwa mereka semua pada materi tertentu akan berposisi sebagai tim ahli dalam kelompok asalnya, yang banyak diharapkan oleh teman satu kelompok asalnya untuk memberikan penjelasan yang lengkap tentang materi yang menjadi “keahliannya”. Kemungkinan lain adalah bahwa dalam diskusi kelompok ahli sebenarnya masih ada permasalahan-permasalahan atau konsep-konsep yang belum dipahami sepenuhnya, tetapi belum terklarifikasi. Penilaian butir 2 dan butir 3 yang diberikan mahasiswa menunjukkan bahwa dosen perlu meningkatkan monitoring ke setiap kelompok, baik kelompok ahli maupun kelompok asal, secara merata.
Kendala yang dihadapi peneliti pada penelitian ini terletak pada proses pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh kelas yang besar, yaitu sebanyak 63 mahasiswa, padahal idealnya maksimal 30 mahasiswa. Pembelajaran dengan metode jigsaw dengan kelas besar ini menyebabkan: (1) pemantauan tidak dapat dilaksanakan secara optimal karena harus dilakukan secara simultan pada kegiatan diskusi di lima kelompok ahli, dan selanjutnya di enam kelompok asal; (2) Kapasitas ruangan yang kurang luas menyebabkan pelaksanakan diskusi menjadi kurang kondusif. Suara diskusi di kelompok ahli A bisa mengganggu aktivitas diskusi di kelompok ahli yang lain; (3) Setiap kelompok ahli terdiri dari 12 mahasiswa (idealnya enam) dan setiap kelompok asal terdiri dari 10 mahasiswa (idealnya lima) membuat diskusi kelompok tidak efektif, karena ada “peluang” bagi mahasiswa yang duduk berdekatan untuk ngobrol di luar materi.
Kendala lain yang dihadapi peneliti adalah dalam menyiapkan materi untuk tujuh kali pertemuan, yang setiap materi harus dlakukan breakdown menjadi lima bagian untuk lima kelompok ahli sebagai bahan diskusi. Ada materi yang terlalu “kecil” untuk dibagi menjadi lima sub-materi. Pengatasan yang peneliti lakukan adalah dengan menambah sub-materi dari materi (atau topik) yang lain.

DAFTAR PUSTAKA
Arends, R.I. (2007). Learning to Teach. Diterjemahkan oleh Helly Prayitno
Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto (2008). Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

Chun-Yen Chang & Song-Ling Mao (1999). The Effects on
Students’Cognitive Achievement When Using the Cooperative Learning Method in Earth Science Classroom. School Science and Mathematics, Volume 99. (Diakses dari Questia Media America. Inc. http://www.questia.com)

Gillies, R.M. & Ashman, A.F. (1998). Behavior and Interactions of Children in
Cooperative Group in Lower and Middle Elementary Grades. Journal of Educational Psychology, Vol. 90, No. 4, pp.746-757.

Gillies, R.M. (2003). The Behaviors, Interactions, and Participations of Junior
High School Students During Small-Group Learning. Journal of Educational Psychology, Vol. 95, No. 1, pp. 137-147.

Marning, M. L. & Lucking, R. (1991). The What, Why and How of Cooperative
Learning. Social Studies, Volume 82. (Diakses dari Questia
Media America. Inc. http://www.questia.com)

Resor, C. (2008). Encouraging Students to Read the Text: The Jigsaw
Method. Teaching History: A Journal of Methods, Volume 33. (Diakses dari Questia Media America. Inc. http://www.questia.com)

Siregar, LYS. (2009). Pengaruh Metode Belajar Kooperatif Terhadap Efikasi
Diri. Skripsi (Tidak diterbitkan). Program Magister Psikologi Fakultas Psikologi UGM.

Slavin, R.E. (1991). Educational Psychology. Englewoods Cliffs, New Jersey:
Prentice Hall International Limited.

Steiner, S., Stromwall, L.K., Brzuzy, S. & Gerdes, K. (1999). Using
Cooperative Learning Strategies in Social Work Education. Journal of Social Work Education, Volume 35. (Diakses dari Questia Media America. Inc. http://www.questia.com)

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN

Ingin kaos bertema BELAJAR, PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN?, bosan dengan kaos yang ada?, ingin mengedukasi keluarga atau murid dengan pembelajaran. HANYA KAMI SATU-SATUNYA DI INDONESIA PERTAMA KALI KAOS BERTEMA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN COCOK DIPAKAI UNTUK SEMUA KALANGAN DAN MEMBERI KESAN EDUKASI DAN PEMBELAJARAN DALAM SETIAP PEMAKAIAANYA

like juga FP kami di https://www.facebook.com/Kaospembelajaran?ref=hl untuk melihat berbagai kolkesi kaos belajar kami

Fast Respon CP : 081938633462 dan 082331864747 WA: 081615875217

KAOS BELAJAR

07/11/2014 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Instrumen Penilaian Hasil Belajar

Belajar Iklan Di Facebook 468x60

A. Instrumen Penilaian Hasil Belajar
a. Penilaian Sikap

LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP
PENILAIAN OBSERVASI

Satuan Pendidikan : SMA Negeri 7 Bandung
Mata Pelajaran : Fisika (Peminatan)
Kelas/Semester : X-MIA/2
Tahun Pelajaran : 2013/2014
Waktu Pengamatan : Pada saat Pelaksanaan pembelajaran.
Kompetensi Dasar : 2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin
tahu; objektif; jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati;
bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif
dan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari
sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan
percobaan dan berdiskusi.

Indikator : 1. Tanggung jawab 4. Obyektif
2. Memiliki rasa ingin tahu 5. Teliti
3. Jujur 6. Cermat
Rubrik:
Indikator sikap tanggung jawab dalam pembelajaran (dasa darma pramuka nomor 9 ) :
1. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam pembelajaran
2. Cukup jika menunjukkan ada sedikit usaha ambil bagian dalam pembelajaran tetapi belum ajeg/konsisten
3. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha ambil bagian dalam pembelajaran tetapi belum ajeg/konsisten
4. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian dalam menyelesaikan tugas kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten
Indikator sikap memiliki rasa ingin tahu dalam kegiatan kelompok.( dasa darma pramuka no.6)
1. Kurang baik jika sama sekali tidak berusaha untuk memiliki sikap rasa ingin tahu dalam kegiatan kelompok.
2. Cukup jika menunjukkan ada sedikit usaha untuk memiliki sikap rasa ingin tahu dalam kegiatan kelompok tetapi masih belum ajeg/konsisten.
3. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk memiliki sikap rasa ingin tahu dalam kegiatan kelompok tetapi masih belum ajeg/konsisten.
4. Sangat baik jika menunjukkan adanya usaha untuk memiliki sikap rasa ingin tahu dalam kegiatan kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten.

Indikator sikap jujur terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. (sku no.1 dan dasa darma pramuka no.1 dan no.9)
1. Kurang baik jika sama sekali tidak bersikap jujur terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
2. Cukup jika menunjukkan ada sedikit usaha untuk bersikap jujur terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masuih belum ajeg/konsisten
3. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap jujur terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masuih belum ajeg/konsisten.
4. Sangat baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap jujur terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif secara terus menerus dan ajeg/konsisten.
Indikator sikap obyektif terhadap proses pembelajara. (dasa darma pramuka no.9 dan sku no.14)
1. Kurang baik jika sama sekali tidak bersikap obyektif selama proses pembelajaran.
2. Cukup jika menunjukkan ada sedikit usaha untuk bersikap obyektif selama proses pembelajaran tetapi masih belum ajeg/konsisten
3. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap obyektif selama proses pembelajaran tetapi masih belum ajeg/konsisten.
4. Sangat baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap obyektif selama proses pembelajaran secara terus menerus dan ajeg/konsisten.
Indikator sikap teliti terhadap proses pembelajaran. (dasa darma pramuka no.8 dan sku no. 2 dan no. 3 )
1. Kurang baik jika sama sekali tidak bersikap teliti selama proses pembelajaran.
2. Cukup jika menunjukkan ada sedikit usaha untuk bersikap teliti selama proses pembelajaran tetapi masih belum ajeg/konsisten
3. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap teliti selama proses pembelajaran tetapi masih belum ajeg/konsisten.
4. Sangat baik jika menunjukkan ada usaha untuk bersikap teliti selama proses pembelajaran secara terus menerus dan ajeg/konsisten.
Indikator sikap cermat dalam menyampaikan gagasan/ide/pendapat. (dasa darma pramuka no.7 dan sku no. 2, 3, 7 dan 14 )
1. Kurang baik jika sama sekali tidak cermat dalam mengemukakan pendapatnya saat diskusi (diam saja)
2. Cukup jika menunjukkan ada sedikit sikap cermat dalam mengemukakan pendapatnya tetapi masih belum ajeg/konsisten (hanya menyampaikan lewat kawannya supaya gagasannya tersampaikan)
3. Baik jika menunjukkan sudah ada sikap cermat dalam mengemukakan pendapatnya tetapi masih belum ajeg/konsisten.
4. Sangat baik jika menunjukkan sudah cermat dalam mengemukakan pendapatnyasecara terus menerus dan ajeg/konsisten.(mampu mengemukakan pendapatnya)

 

LEMBAR PENILAIAN SIKAP

PENILAIAN DIRI

 

Satuan Pendidikan   :  SMANegeri 7 Bandung

Mata Pelajaran         : Fisika (Peminatan)

Kelas/Semester        :  X-MIA/2

Tahun Pelajaran       :  2013/2014

Kompetensi Dasar    : 2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin

tahu; objektif; jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati;

bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif

dan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari

sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan

percobaan dan berdiskusi.

Indikator:

  1. Memiliki motivasi internal selama proses pembelajaran (dasa darma pramuka no. 1, 2, 3 dan 6)
  2. Menunjukan tanggungjawab dalam menyelesaikan tugas kelompok (dasa darma prmuka no. 9)
  3. Menunjukkan sikap jujur dalam menerapkan aturan (dasa darma pramuka no.1 dan no.  9 serta sku no.1)
  4. Menunjukkan sikap teliti dalam menyelesaikan tugas individu maupun kelompok. (dasa darma pramuka no. 7 dan 8 serta sku no. 2 dan no.3)
  5. Menunjukkan  sikap kritis dalam mengemukakan gagasan, bertanya, atau menyajikan hasil diskusi. (sku no. 2, 3 , 7 dan 14)
  6. Menunjukkan sikap obyektif terhadap perbedaan pendapat/cara dalam menyelesaikan masalah. ( dasa darma 3, 4, 6, 7 dan 8 )

 

PENILAIAN DIRI
Nama                : …………………………….……………
Kelompok         : …………………………………………,
Untuk pertanyaan 1 sampai dengan 6, tulis masing-masing huruf sesuai dengan pendapatmu!
 
  • A = Selalu
 
  • B = Sering
 
  • C = Jarang
 
  • D = Tidak pernah
1   saya memiliki motivasi dalam diri saya sendiri selama proses pembelajaran
2 Saya bertanggungjawab dalam menyelesaikan tugas kelompok
3   Saya menunjukkan jujur dalam menerapkan aturan
 

4

Saya menunjukkan sikap teliti dalam menyelesaikan tugas individu maupun kelompok
 

5

6

  Saya menunjukkan sikap kritis dalam mengemukakan gagasan, bertanya, atau menyajikan hasil diskusi

Menunjukkan sikap obyektif terhadap perbedaan pendapat/cara dalam menyelesaikan masalah

Selama kegiatan pembelajaran, tugas apa yang kamu lakukan?
 

 

Pedoman Penskoran:

 
Skor 4, jika A = Selalu            Skor 2, jika C = Jarang  
Skor 3, jika B = Sering            Skor 1, jika D = Tidak pernah  

Skor Perolehan  =

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR PENILAIAN SIKAP

PENILAIAN ANTAR PESERTA DIDIK

 

Satuan Pendidikan  : SMANegeri 7 Bandung

Mata Pelajaran        : Fisika (Peminatan)

Kelas/Semester       : X-MIA/2

Kompetensi Dasar: 2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin

tahu; objektif; jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati;

bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif

dan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari

sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan

percobaan dan berdiskusi.

Indikator:

  1. Tidak mencontek (jujur) hasil kerja teman ketika mengerjakan tugas individu materi elastisitas bahan dan gaya pegas. (dasa darma pramuka no.1 dan no.  9 serta sku no.1)
  2. Teliti dalam menyelesaikan masalah terkait materi elatisitas bahan dan gaya pegas. (dasa darma pramuka no. 7 dan 8 serta sku no. 2 dan no.3)
  3. Menunjukkan sikap kritis dalam diskusi kelompok maupun klasikal. (sku no. 2, 3 , 7 dan 14)
  4. Menunjukkan sikap kreatif dalam menyelesaikan tugas individu maupun kelompok terkait materi elastisitas bahan dan gaya pegas. (dasa darma pramuka no. 7)
  5. Menunjukan sikap beratngungjawab dalam menyelesaikan tugas individu maupun kelompok terkait materi elastisitas bahan dan gaya pegas. (dasa darma pramuka no.9)

Instrumen :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR PENILAIAN SIKAP

PENILAIAN JURNAL

 

Satuan Pendidikan    : SMANegeri7 Bandung

Mata Pelajaran           : Fisika (Peminatan)

Kelas/Semester         : X-MIA/2

 

Kompetensi Dasar   : 2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin

tahu; objektif; jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati;

bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif

dan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari

sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan

percobaan dan berdiskusi.

 

Indikator:

  1. Menunjukkan sikap tanggungjawab dengan orang lain(dasa darma pramuka no.9)
  2. Menunjukkan sikap jujur (dasa darma pramuka no.1, 9, 10 dan sku no.1)
  3. Menunjukkan sikap terbuka dalam perbedaan (dasa darma pramuka no.4 serta sku no.3 dan 4)

 

Jangka Waktu Pengamatan :

 

Format Jurnal

 

 

 

 

 

LEMBAR PENILAIAN PENGETAHUAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tes Tulis (Bentuk Uraian)

Satuan Pendidikan    :   SMANegeri 7 Bandung

Mata Pelajaran           :   Fisika (Peminatan)

Kelas/Semester         :   X-MIA/2

Kompetensi dasar       :

3.6   Menganalisis sifat elastisitas bahan dalam kehidupan sehari hari

Indikator                   :

3.6.1    Menjelaskan karakteristik benda elastis dan tidak elastis

3.6.2   Menentukan tegangan, regangan, dan modulus elastisitas

 

Soal

 

 

 

 

 

No Kunci Jawaban Skor
 

 

 

 

 

 

Elastisitas adalah sifat benda yang cenderung mengembalikan keadaan ke bentuk semula setelah mengalami perubahan bentuk karena pengaruh gaya (tekanan atau tarikan) dari luar. Benda-benda yang memiliki elastisitas atau bersifat elastis, seperti karet gelang, pegas, dan pelat logam disebut benda elastis.

 

Adapun benda-benda yang tidak memiliki elastisitas(tidak kembali ke bentuk awalnya) disebut benda plastis.

Contoh benda plastis adalah tanah liat dan plastisin (lilin mainan).

Ketika diberi gaya, suatu benda akan mengalami deformasi, yaitu perubahan ukuran atau bentuk. Karena mendapat gaya, molekul-molekul benda akan bereaksi dan memberikan gaya untuk menghambat deformasi. Gaya yang diberikan kepada benda dinamakan gaya luar, sedangkan gaya reaksi oleh molekul-molekul dinamakan gaya dalam. Ketika gaya luar dihilangkan, gaya dalam cenderung untuk mengembalikan bentuk dan ukuran benda ke keadaan semula.

  25

 

 

 

 

 

25

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   2.  

10

 

 

10

 

10

 

20

   
Skor maksimum 100

 

 

LEMBAR PENILAIAN PENGETAHUAN

TES LISAN

 

Satuan Pendidikan    : SMANegeri7 Bandung

Mata Pelajaran          :  Fisika (Peminatan)

Kelas/Semester        : X-MIA/2

 

A. Kompetensi Dasar :

3

3.6 Menganalisis sifat elastisitas bahan dalam kehidupan sehari hari.

 

B. Indikator :

3.6.3   Menentukan konstanta pegas melalui percobaan Hukum Hooke.

3.6.4  Menyimpulkan hasil percobaan Hukum Hooke.

3

3.3

C. Rubrik Penilaian Tes Lisan

 

DAFTAR ALTERNATIF PERTANYAAN :

 

KRITERIA YANG DINILAI/

ALTERNATIF PERTANYAAN

SKOR MAKSIMAL
 

 

A

  • Menentukan konstanta pegas melalui percobaan hukum Hooke
  • Menghitung konstanta pegas bila pegas dirangkai seri dan paralel

5

5

 

 

 

 

B

  • Menyimpulkan hasil percobaan hukum Hooke
  • Menyimpulkan bunyi hukum Hooke
 

5

10

 

 

SKOR MAKSIMAL 25

 

 

PEDOMAN PENSKORAN

 

KRITERIA YANG DINILAI/

ALTERNATIF PERTANYAAN

SKOR MAKSIMAL
Siswa dapat  menyimpulkan  dengan benar dan lengkap bunyi hukum Hooke yang berkaitan dengan  hasil percobaan. 4
Siswa dapat  menyimpulkan dengan benar  bunyi hukum Hooke yang berkaitan dengan hasil percobaan, tapi kurang lengkap. 3
Siswa dapat menyimpulkan dengan benar  bunyi hukum Hooke yang berkaitan dengan hasil percobaan, tapi salah sebagian besar. 2
Siswa tidak dapat menyimpulkan dengan benar bunyi hukum Hooke yang berkaitan dengan hasil percobaan 1

 

 

 

 

 

 

 

Format Penilaian dengan Tes Lisan

 

NO Nama Siswa Bahan Elastis Gaya Pegas Skor Total Nilai
P1 P2 P3 P1 P2 P3
1 Ani                
2 Adi                
3                

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR PENILAIAN KETERAMPILAN

PENILAIAN PROJEK

 

 

Satuan Pendidikan         : SMANegeri7 Bandung

Mata Pelajaran               : Fisika (Peminatan)

Kelas/Semester             : X-MIA/2

Kompetensi dasar            :

4.6   Mengolah dan menganalisis hasil percobaan tentang sifat elastisitas suatu bahan

Indikato:

1.6.1    Melakukan percobaan Hukum Hooke

1.6.2    Mengolah dan menyajikan data percobaan hukum Hooke

1.6.3    Menyajikan hasil percobaan hukum Hooke

 

Materi     :Percobaan hukum Hooke

 

Tugas

 

 

 

 

 

 

 

 

Rubrik Penilaian

 

Kriteria Kelompok
4 3 2 1
1 Kesesuaian dengan percobaan hukum Hooke        
2 Ketepatan memilih bahan elasstisitas (pegas)        
3 Kreativitas        
4 Ketepatan waktu pengumpulan tugas        
5 Kerapihan hasil        
Jumlahskor  

         

Keterangan:4 = sangat baik, 3 = baik, 2 = cukup baik, 1 = kurang baik

Nilai Perolehan =x 100

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR PENILAIAN KETERAMPILAN

PENILAIAN PORTOFOLIO

 

SatuanPendidikan    :  SMANegeri7 Bandung

Mata Pelajaran         :  Fisika  (Peminatan)

Kelas/Semester       :  X-MIA/2

 

Kompetensi dasar :

4.6   Mengolah dan menganalisis hasil percobaan tentang sifat elastisitas suatu bahan

 

Indikator          :

1.6.4    Melakukan percobaan susunan seri dan paralel pegas

1.6.5    Mengolah dan menyajikan data percobaansusunan seri dan paralel pegas

1.6.6    Menyajikan hasil percobaansusunan seri dan paralel pegas

 

 

Jenis Portofolio         :   

Individual dengan input dan bantuan kelompok kooperatif (terdiri dari 3 orang)

 

 

Tujuan Portofolio      :   

Memantau perkembangan kemampuan, keterampilan, dan komunikasi

 

Tugas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rubrik Penilaian

Nama siswa:  …………………………………………………

Kelas           : ………………………………………………….

 

No Kategori Skor Alasan
1 1. Apakahportofoliolengkap dan sesuaidenganrencana?    
2 2. Apakahlembarisian yang dibuatsesuai?    
3 3. Apakahterdapaturaiantentangprosedurpengukuran/pengamatan yang dilakukan?    
4 Apakahisianhasilpengukuran/pengamatandilakukan secara benar?    
Apakah data dan fakta yang disajikanakurat?    
Apakahinterpretasi dan kesimpulan yang dibuat logis?    
Apakahtulisan disajikan secara menarik?    
Apakahbahasa yang digunakanuntukmenginterpretasikanlugas, sederhana, runtut dan sesuaidengankaidah EYD?    
Jumlah    

 

Kriteria:

5 = sangatbaik, 4 = baik, 3 = cukup, 2 = kurang,  dan 1 = sangatkurang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran

  1. Lembar Observasi dan kinerja presentasi

 

LEMBAR PENGAMATAN OBSERVASI

DAN KINERJA PRESENTASI

 

Mata Pelajaran: Fisika

Kelas/Program  :  X/MIA

Kompetensi       : KD 3.6 dan 4.6

Kelas                :  …………………..

 

No Nama Peserta didik Observasi Kinerja Presentasi Jml

Skor

NilaI
Akt tgjwb Kerjsm Prnsrt Visual Isi
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Abdul Syukur 4 4 3 4 3 3 21  
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                   

 

Keterangan pengisian skor

  1. Sangat tinggi
  2. Tinggi
  3. Cukup tinggi
  4. Kurang
    1. Pretes/postes

Pretes/Postes Pertama

  1. Berilah tanda ceklist pada kolom Benar atau Salah
No Pernyataan Benar Salah
Dalam keadaan apa pun benda elastis pasti kembali ke bentuk semula    
Karet selalu bersifat elastis    
Batang kayu selalu bersifat plastis    
Satuan stress identik dengan Pascal    
Kekuatan pegas dinyatakan dengan konstanta pegas    
Menurut Hooke makin besar gaya pegas, makin besar pertambahan panjangnya    

 

  1. Jawablah petanyaan berikut ini

 

  1. Sebuah pegas mula-mula panjangnya 20,0 cm, ditarik dengan gaya 2,1 N panjangnya menjadi 23,0 cm. Berapa besar konstanta pegas? Berapa besar gaya pegas saat panjang pegas yang ditarik menjadi 25,0 cm?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

  1. Contoh Tes Uraian

 

  1. A sign (m = 200 kg) hangs from the end of vertical steel girder with cross-sectional area of 0.5 cm2 and 50 cm of length. The additional of length is 2.5 cm in this situation
    1. What is the strain and stress on the girder?
    2. Calculate the modulus Young!

 

  1. Perhatikan data percobaan berikut

Perhatikan data percobaan tentang pegas yang diberi beban (g = 10 m.s-2).

Exp Mass (gram) Panjang pegas (cm)
1) 50 32.0
2) 100 34.5
3) 250 42.0
4) x 45.0
  1. Berapa konstanta pegas (k)!
  2. Perkirakan nila x pada percobaan ke 4!

 

  1. Sebuah pegas mula-mula panjangnya 27,0 cm. Ketika diberi beban 100 gram panjang pegas menjadi 29,5 cm. Berapa panjang pegas jika masa beban yang digantungkan 170 gram?

 

 

 

  1. Lembar Kerja Praktik

Timbang seluruh massa beban gantung kombinasi berikut dengan pengaitnya (Mo)

  1. Susun alat seperti gambar
  2. Baca skala yang ditunjukan mistar pada bagian bawah beban pada posisi awal (Lo)
  3. Ambil satu beban dan catat massanya (m), kemudian baca skala pada mistar (L)
  4. Lakukan percobaan dengan terus menerus mengambil masa beban. Lakukan pengukuran dengan cermat dan teliti. Kemudian masukan data percobaan ke dalam tabel berikut ini

Data Percobaan

Mo = …………….. kilogram

Lo = ……………..meter

 

Perc Ke Total masa yang diambil

(m)

Bacaan Mistar

(L)

0  
0,02  
   
   
   

 

  1. Buatlah grafik dengan m sebagai sumbu x dan L sebagai sumbu y
  2. Jawablah pertanyaan berikut ini
    1. Tuliskan persamaan grafik yang terbentuk
    2. Hitung gradiennya
    3. Amati data percobaan, kemudian hitung besar konstanta pegas (k)
    4. Tentukan titik potong sumbu X (Xo) dan titik potong sumbu Y (Yo)
    5. Jika sebuah tetapan Q = grad x k, hitunglah nilai tetapan Q!

Catatan:

Kontrol ketelitian dan kejujuran data adalah: grafik berbentuk turun, gradien negatif dan nilai Q mendekati nilai percepatan gravitasi.

  1. Buatlah laporan praktik dengan struktur seperti berikut. Gunakan laptop/komputer atau kalkulator (scientific calculator) untuk mendapatkan grafik dan persamaan garis yang akurat. Kirim laporan melalui email : sakimmpd@yahoo.com

Struktur laporan adalah sebagai berikut

  1. Judul
  2. Tujuan
  3. Landasan teori
  4. Alat dan bahan (sertakan dengan gambar atau foto)
  5. Langkah kerja
  6. Data percobaan
  7. Jawaban pertanyaan
  8. Kesimpulan
  9. Referensi

FORMAT PENILAIAN LAPORAN PRAKTIKUM

(PORTOFOLIO)

 

Mata Pelajaran      : Fisika

Kelas/Peminatan   : X/MIA-1

Materi Pokok                   : Elastisitas dan Gaya Pegas

 

No Nama Peserta didik Aspek Penilaian Skor rata-rata Nilai
Visual Ketelitian Kejujuran Penyajian Data Bentuk Regresi Jawaban Pertanyaan
Abdul Syukur 3 4 4 3 3 3 3,33 83
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 

 

 

 

 

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN

Ingin kaos bertema BELAJAR, PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN?, bosan dengan kaos yang ada?, ingin mengedukasi keluarga atau murid dengan pembelajaran. HANYA KAMI SATU-SATUNYA DI INDONESIA PERTAMA KALI KAOS BERTEMA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN COCOK DIPAKAI UNTUK SEMUA KALANGAN DAN MEMBERI KESAN EDUKASI DAN PEMBELAJARAN DALAM SETIAP PEMAKAIAANYA

like juga FP kami di https://www.facebook.com/Kaospembelajaran?ref=hl untuk melihat berbagai kolkesi kaos belajar kami

Fast Respon CP : 081938633462 dan 082331864747 WA: 081615875217

KAOS BELAJAR

07/10/2014 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Pendekatan Discoveri (Discovery Approach)

1. Pendekatan Discoveri (Discovery Approach)

a. Pengertian Pendekatan Discoveri (Discovery Approach)

Pendekatan (approach) lebih menekankan pada strategi dalam perencanaan. Dalam suatu pendekatan didalamnya digunakan beberapa metode. Sedangkan dalam discovery approach ini, yang sering dipakai adalah metode eksperimen untuk mencapai suatu tujuan
pembelajaran.8

Menurut Sund discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Yang dimaksudkan dengan proses mental tersebut antara lain ialah: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dalam teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan
memberikan intruksi.9
Pendekatan discoveri atau discovery approach adalah pendekatan yang dipopulerkan pertama kali oleh Jerome Bruner. Pendekatan penemuan (discovery approach) sama dengan pendekatan

inquiry (inquiry approach), tetapi menurut Dettrick, G.W. (2001) kedua pendekatan tersebut berbeda. Konsep dibelakang pendekatan penemuan adalah bahwa motivasi siswa untuk belajar sains akan meningkat apabila ia mempunyai pengalaman seperti yang dialami para peneliti ketika menemukan suatu temuan ilmiah. Agar siswa dapat menemukan sendiri ia harus melakukan proses mental seperti
mengamati, klasifikasi, mengukur, meramalkan, dan menyimpulkan.10

Pendekatan discovery merupakan pendekatan mengajar yang memerlukan proses mental, seperti mengamati, mengukur, menggolongkan, menduga, menjelaskan, dan mengambil kesimpulan. Pada kegiatan discovery guru hanya memberikan masalah dan siswa disuruh memecahkan masalah melalui percobaan. Keterampilan mental yang dituntut lebih tinggi dari pada discovery antara lain: merancang dan melakukan percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, dan
mengambil kesimpulan.11

Ada juga beberapa ahli pendidikan yang memandang bahwa pendekatan discoveri adalah suatu strategi dimana guru mengijinkan agar siswa melakukan penemuan sendiri informasi dalam suasana tradisional.12
Sebagian para ahli ada juga yang berpendapat, discovery

merupakan suatu proses mental dimana anak atau individu mengasimilasikan konsep dan prinsip-prinsip. Discovery terjadi
apabila siswa terlibat secara aktif dalam menggunakan proses

mentalnya agar memperoleh pengalaman, sehingga memungkinkan untuk menemukan konsep atau prinsip.13
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendekatan discovery adalah suatu pendekatan yang dimana siswa dituntut untuk melakukan penemuan sendiri suatu masalah dengan memerlukan proses mental, seperti mengamati, mengukur, menggolongkan, menduga, menjelaskan, dan mengambil kesimpulan.

b. Kelebihan Pendekatan Discoveri (Discovery Approach).

Pendekatan Discoveri memiliki beberapa keuntungan, yaitu: 1) pengetahuan yang diperoleh dapat bertahan lebih lama dalam ingatan, atau lebih mudah diingat, dibandingkan dengan cara-cara lain, 2) dapat meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir, karena mereka harus menganalisis dan memanipulasi informasi untuk memecahkan permasalahan, 3) dapat membangkitkan keingintahuan siswa, memotivasi siswa untuk bekerja terus sampai mereka menemukan jawabannya.
Pendekatan discovery (discovery approach) sebagai sebuah teori belajar yang dapat didefinisikan sebagai belajar, yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan untuk mengorganisasikan sendiri. Sebagaimana pendapat
Bruner, bahwa: “Discovery learning can be defined as the learning

c. Implementasi Discovery Approach

Apabila dalam suatu proses pembelajaran digunakan pendekatan penemuan, berarti dalam kegiatan belajar mengajar siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri fakta dan konsep tentang fenomena ilmiah. Penemuan tidak terbatas pada menemukan sesuatu yang benar-benar baru. Pada umumnya materi yang akan dipelajari sudah ditentukan oleh guru, demikian pula situasi yang menunjang proses pemahaman tersebut. Siswa akan melakukan kegiatan secara langsung berhubungan dengan hal yang ditemukan.
Dengan pendekatan penemuan ini dibedakan menjadi penemuan terpimpin (guided discovery) dan penemuan terpimpin yang kurang terstruktur (less structured guided discovery), dan penemuan bebas (free discovery).
Pada penemuan terbimbing guru mengemukakan masalah, memberi pengarahan mengenai pemecahan, dan membimbing siswa dalam hal mencatat data. Sebagai contoh dalam proses memahami struktur tubuh serangga, guru menyiapkan kaca pembesar dan sejenis kumbang. Siswa diminta mengamati kumbang dengan menggunakan
kaca pembesar tersebut. Setelah beberapa lama mengamati, siswa

diminta melaporkan kesimpulan dan hasil pengamatannya. Jika ditemukan perbedaan kesimpulan antara beberapa kelompok, dilakukan diskusi bersama untuk membahas permasalahan tersebut. Siswa diberi kesempatan untuk mengulangi pengamatan secara lebih teliti sehingga pada akhirnya dapat dicapai kesepakatan mengenai penemuan mereka.
Pada penemuan terpimpin yang kurang terstruktur guru mengemukakan masalah, siswa diminta mengamati, mengeksploitasi dan melakukan kegiatan untuk memecahkan masalah.
Sedangkan pada penemuan bebas, dari memunculkan masalah sampai pemecahan masalahnya dilakukan sendiri oleh siswa. Penemuan bebas ini pada umumnya diarahkan bagi siswa yang lebih tua usianya dan lebih berpengalaman.15
Ada lima tahapan yang harus ditempuh dalam melaksanakan

pendekatan discovery (penemuan) yakni : (1) perumusan masalah untuk dipecahkan siswa. (2) menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis. (3) siswa mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan/hipotesis. (4) menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi, dan (5) mengaplikasikan kesimpulan/generalisasi dalam situasi baru.16

 

IKLAN

JASA PEMBUATAN RPP KURIKULUM 2013

JASA PEMBUATAN RPP KURIKULUM 2013, seperti kita ketahui pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya mempraktikan kurikulum 2013 untuk digunakan di seluruh sekolah di INDONESIA. diharapkan kedepannya semua guru dan siswa akan sepenuhnya menggunakan kurikulum 2013 ini.

permasalahannya tidak semua guru mampu dan punya waktu membuat perangkat pembelajaran untuk kurikulum 2013 ini, terutama dalam hal pembuatan RPP, dimana seperti kita ketahui RPP adalah jantung dari pembelajaran itu sendiri.

oleh karena dan mengingat hal tersebut maka CV ZAIFBIO ILMIAH membuka JASA PEMBUATAN RPP KURIKULUM 2013 untuk semua mata pelajaran dan smua jenjang pendidikan mulai dari SD< SMP<SMA. untuk anda para guru dan pelaku pendidikan yang kesulitan membuat rpp kurikulum 2013 serahkan saja ke kami pembuatannya, proses pembuatannya diusahakan secepat mungkin dan yang paling penting hasilnya BERKUALITAS

jika berminat untuk pemesanan hubungi pak ZAIF di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com

 

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN

Ingin kaos bertema BELAJAR, PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN?, bosan dengan kaos yang ada?, ingin mengedukasi keluarga atau murid dengan pembelajaran. HANYA KAMI SATU-SATUNYA DI INDONESIA PERTAMA KALI KAOS BERTEMA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN COCOK DIPAKAI UNTUK SEMUA KALANGAN DAN MEMBERI KESAN EDUKASI DAN PEMBELAJARAN DALAM SETIAP PEMAKAIAANYA

 like juga FP kami di https://www.facebook.com/Kaospembelajaran?ref=hl untuk melihat berbagai kolkesi kaos belajar kami

Fast Respon CP : 081938633462 dan 082331864747  WA: 081615875217

 

KAOS BELAJAR

06/13/2014 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | Tinggalkan komentar

JASA PEMBUATAN RPP KURIKULUM 2013

JASA PEMBUATAN RPP KURIKULUM 2013, seperti kita ketahui pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya mempraktikan kurikulum 2013 untuk digunakan di seluruh sekolah di INDONESIA. diharapkan kedepannya semua guru dan siswa akan sepenuhnya menggunakan kurikulum 2013 ini.

permasalahannya tidak semua guru mampu dan punya waktu membuat perangkat pembelajaran untuk kurikulum 2013 ini, terutama dalam hal pembuatan RPP, dimana seperti kita ketahui RPP adalah jantung dari pembelajaran itu sendiri.

oleh karena dan mengingat hal tersebut maka CV ZAIFBIO ILMIAH membuka JASA PEMBUATAN RPP KURIKULUM 2013 untuk semua mata pelajaran dan smua jenjang pendidikan mulai dari SD< SMP<SMA. untuk anda para guru dan pelaku pendidikan yang kesulitan membuat rpp kurikulum 2013 serahkan saja ke kami pembuatannya, proses pembuatannya diusahakan secepat mungkin dan yang paling penting hasilnya BERKUALITAS

jika berminat untuk pemesanan hubungi pak ZAIF di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com

JASA PEMBUATAN RPP KURIKULUM 2013

JASA PEMBUATAN RPP KURIKULUM 2013

 

 

Belajar Iklan Di Facebook 728x90

06/12/2014 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , | 1 Komentar

DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR (DKB)

BAB VI :

DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR (DKB)

 

 

 

A.                                       Kedudukan Diagnostik Kesulitan Belajar dalam Belajar :

menemukan kesulitan belajar siswa dan menentukan kemungkinan cara mengatasinya dengan memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan kegiatan belajar.

 

Faktor-Faktor Intern Yang Berpengaruh Pada Proses Belajar  :

  1. Sikap terhadap belajar
  2. Motivasi belajar
  3. Konsentrasi belajar
  4. Mengolah bahan belajar
  5. Menyimpan perolehan hasil belajar
  6. Menggali hasil belajar yang tersimpan
  7. Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil kerja
  8. Rasa percaya diri siswa
  9. Inteligensi dan keberhasilan belajar
  10. Kebiasaan belajar
  11. Cita-cita siswa.

 

Faktor-Faktor Ekstern Yang Berpengaruh Pada Aktivitas Belajar:  

  1. Guru sebagai pembina siswa belajar
  2. Prasarana dan sarana pembelajaran
  3. Kebijakan penilaian
  4. Lingkungan sosial siswa di sekolah
  5. Kurikulum sekolah.

(Dimyati dan Mudjiono, 1994 : 237 – 241)

 

Bila Siswa Tidak Memenuhi Kriteria Persyaratan Ketuntasan Materi Yang Ditetapkan  ] Kegiatan Diagnosis Ditujukan Kepada:

  1. Bakat
  2. Ketekunan dan tingkat usaha menguasai bahan yang dipelajarinya
  3. Waktu
  4. Kualitas pengajaran
  5. Kemampuan pemahaman  siswa
  6. Tingkat kesulitan

(Buku II Modul Diagnostik Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial,

Depdikbud Universitas Terbuka , 1984/1985 : 9)

 

B.     Pengertian Kesulitan Belajar

 

Prayitno (1995/1996:1-2) :

suatu kondisi dalam proses belajar mengajar yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar yang optimal.

Hambatan-hambatan tersebut mungkin dirasakan atau mungkin tidak dirasakan oleh siswa yang bersangkutan.

Jenis hambatan ini dapat bersifat psikologis, sosiologis dan fisiologis dalam keseluruhan proses belajar mengajar.

Alan O. Ross (1974 : 98) :

A learning difficulty represente a discrepancy between a chill’s estimated academic potential and his actual level of academic performance”.

 

Istilah :

Learning disorder (kekacauan belajar) :

keadaan di mana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan.

 

Learning disabilities (ketidakmampuan belajar) :

gejala dimana anak tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasilbelajar yangdicapai berada di bawah potensi intelektualnya.

 

Learning disfunction :

gejala dimana proses belajar tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya anak tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat indra, atau gangguan-gangguan psikologis lainnya.

 

Underachiever :

tingkat potensi intelektual yang tergolong diatas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.

 

Slow learner (lambat belajar) :

lambat dalam proses belajarnya, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan sekelompok anak lain yang memiliki taraf intelektual yang sama.

 

 

 

Manifestasi Gejala Kesulitan Belajar :

 

  1. Hasil belajar di bawah rata-rata nilai kelompok / potensinya.
  2. Hasil tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan
  3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar
  4. Sikap-sikap yang kurang wajar

Misal : acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.

  1. Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan

Misal : membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan PR, mengganggu di dalam atau di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, mengasingkan diri, tersisihkan, tidak mau bekerja sama, dsb.

 

  1. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar

Misal : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu.

 

 

Kegagalan Belajar :

 

  1. Bila dalam batas waktu tertentu siswa tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan (mastery level), minimal dalam pelajaran tertentu seperti yang telah ditetapkan oleh orang dewasa atau guru (criterion referenced).

 

  1. Siswa tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuannya, inteligensi, bakat), padahal ia diramalkan (predicted) akan dapat mengerjakannya atau mencapai prestasi tersebut.

 

  1. Siswa tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial, sesuai dengan pola organismiknya (his organismic pattern) pada fase perkembangan tertentu seperti yang berlaku bagi kelompok sosial dan usia yang bersangkutan (norm referenced).

 

  1. Siswa tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat (prerequisiti) bagi kelanjutan (continuity) pada tingkat pelajaran berikutnya.

 

Burton (1952 : 622 – 624)

C.                                        Prosedur dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar (DKB)

1                                                                             2                       Identifikasi     ——————————————>         Identifikasi

Kasus                                                                               Masalah

 

 

 

6

5                                                 4                                         3

Rekomendasi      <———-        Progosis         <———     Identifikasi

Referal                                                                         Faktor Penyebab

 

 

6

6                                                                           Pengulangan              Remedial     —————————————–>         Pengayaan

Pengukuhan

Percepatan

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LANGKAH-LANGKAH DKB

 

1. Identifikasi Kasus:

]menentukan siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar

 

Cara :

  1. Menandai siswa dengan membandingkan posisi atau kedudukan prestasi siswa dengan prestasi kelompok / kriteria tingkat keberhasilan yang telah ditetapkan.
  2. Teknik :

(1)  Meneliti nilai hasil ujian semester yang tercantum dalam laporan hasil belajar (buku leger) kemudian membandingkannya dengan nilai rata-rata kelompok / kriteria yang telah ditentukan.

(2)  Observasi

 

2. Identifikasi Masalah :

]menentukan atau melokalisasikan pada bidang studi apa dan pada aspek mana siswa tersebut mengalami kesulitan

 

Pada tahap ini kerjasama antara petugas bimbingan dan konseling, wali kelas, guru bidang studi akan sangat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajarnya.

 

Cara dan alat yang dapat digunakan, antara lain:

 

  1. Cara langsung

1.     Tes diagnostik bidang studi

2.     Hasil ujian siswa sebagai bahan untuk dianalisis

3.     Memeriksa buku catatan atau pekerjaan siswa

 

  1. Bekerjasama dengan orang tua atau pihak lain dgn cara :

1.      Menggunakan tes diagnostik yang sudah standar

2.      Wawancara khusus oleh ahli yang berwewenang dalam bidang ini.

3.      Observasi

4.      Wawancara : guru pembimbing, wali kelas, orangtua teman

 

 

  1. Identifikasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar

 

a. Faktor internal, yaitu faktor-faktor yang berasal dalam diri siswa itu sendiri. Hal ini antara lain, disebabkan oleh:

(1)   Kelemahan fisik, pancaindera, syaraf, cacat, sakit, dan sebagainya.

(2)   Kelemahan mental: faktor kecerdasan, seperti inteligensi dan bakat yang dapat diketahui dengan tes psikologis.

(3)   Gangguan-gangguan yang bersifat emosional.

(4)   Sikap kebiasaan yang salah dalam mempelajari materi pelajaran.

(5)   Belum memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar yang dibutuhkan untuk memahami materi pelajaran lebih lanjut.

 

b. Faktor eksternal, yaitu  faktor yang berasal dari luar diri siswa, sebagai penyebab kesulitan belajar, antara lain:

(3)        Situasi  atau proses belajar mengajar yang tidak merangsang siswa untuk aktif antisipatif (kurang memungkinkan siswa untuk belajar secara aktif “student active learning”).

(4)        Sifat kurikulum yang kurang fleksibel.

(5)        Beban studi yang terlampau berat.

(6)        Metode mengajar yang kurang menarik

(7)        Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar

(8)        Situasi rumah yang kurang kondusif untuk belajar.

 

  1. Prognosis/Diagnosis

Pada langkah ini, dapat menyimpulkan tentang:

  1. Apakah siswa masih dapat ditolong untuk dapat mengatasi kesulitan belajarnya atau tidak ?
  2. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami siswa tersebut ?
  3. Kapan dan di mana pertolongan itu dapat diberikan ?
  4. Siapa yang dapat memberikan pertolongan ?
  5. Bagaimana caranya agar siswa dapat ditolong secara efektif ?
  6. Siapa sajakah yang perlu dilibatkan atau disertakan dalam membantu siswa tersebut, dan apakah peranan atau sumbangan yang dapat diberikan masing-masing pihak dalam menolong siswa tersebut ?

 

  1. Referal

Pada langkah ini, menyusun suatu rencana atau alternatif bantuan yang akan dilaksanakan. Rencana ini hendaknya mencakup:

  1. Cara-cara yang harus ditempuh untuk menyembuhkan kesulitan belajar yang dialami siswa yang bersangkutan.
  2. Menjaga agar kesulitan yang serupa jangan sampai terulang lagi.

Pengajaran Remedial

suatu proses kegiatan pelaksanaan program belajar mengajar khusus bersifat individual, diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar, yang bersifat mengoreksi (menyembuhkan) siswa yang mengalami gangguan belajar tersebut sehingga dapat mengikuti proses belajar mengajar secara klasikal kembali untuk mencapai prestasi optimal.

 

Prosedur Pengajaran Remedial

Dalam pelaksanaannya, pengajaran remedial mengikuti prosedur, sebagai berikut:

 

  1. Langkah pertama: Penelaahan Kembali Kasus

Guru menelaah kembali secara lebih dalam tentang siswa yang akan diberi bantuan. Dari DKB, guru menelaah lebih jauh untuk memperoleh gambaran definitif tentang siswa yang dihadapi, permasalahannya, kelemahannya, letak kelemahan, penyebab utama kelemahan, berat ringannya kelemahan, apakah perlu bantuan ahli lain, merencanakan waktu dan siapa yang melaksanakan.

 

  1. Langkah kedua: Alternatif Tindakan

Alternatif tindakan disesuaikan dengan karakteristik kesulitan siswa. Alternatif pilihan tindakan  bagi kasus yang mendapatkan kesulitan di dalam belajar, maka langsung saja melakukan remedial, dan jika ditemukan kasus yang memiliki kesulitan belajar dan memiliki masalah di luar itu, seperti masalah sosial psikologis dan sebagainya, maka sebelum diremedial kasus harus mendapatkan layanan konseling, layanan psikologis dan atau layanan psikoterapis terlebih dahulu.

 

  1. Langkah ketiga: Evaluasi Pengajaran Remedial

Pada akhir pengajaran remedial perlu dilakukan evaluasi, seberapa pengajaran remedial tersebut meningkatkan prestasi belajar. Tujuannya untuk mencapai tingkat kebehasilan 75% menguasai bahan. Jika belum berhasil, kemudian dilakukan diagnosis kembali, prognosis dan pengajaran remedial berikutnya; demikian seterusnya sampai beberapa siklus hingga tercapai tingkat keberhasilan tersebut.

Alternatif tindakan (langkah 2)  dapat berupa:

 

  1. Mengulang bahan yang telah diberikan dan diberi petunjuk-petunjuk:

(1)   Memahami istilah-istilah kunci/pokok yang ada dalam TIK.

(2)   Memberi tanda bagian-bagian penting yang merupakan kelemahan siswa.

(3)   Membuat pertanyaan-pertanyaan untuk mengarahkan siswa.

(4)   Memberi dorongan dan semangat belajar.

(5)   Menyediakan bahan-bahan lain untuk mempermudah.

(6)   Mendiskusikan kesulitan-kesulitan siswa.

 

  1. Memberi kegiatan lain yang setara dengan kegiatan belajar mengajar yang sudah ditempuh. Disini dimaksudkan untuk memperkaya bahan yang telah diberikan kepada siswa, misalnya:

(1)  Kegiatan apa yang harus dikerjakan siswa.

(2)  Bahan apa yang dapat menunjang kegiatan yang sedang dilakukan.

(3)  Bagian mana yang harus mendapat penekanan.

(4)  Pertanyaan diajukan untuk memusatkan pada inti masalah.

(5)  Cara yang baik untuk menguasai bahan.

 

  1. Tindakan yang berupa referal

Jika kesulitan belajar disebabkan oleh faktor sosial, pribadi, psikologis yang di luar jangkauan guru, maka guru melakukan alih tangan kepada ahli lain, misalnya: konselor, psikolog, terapis, psikiater, sosiolog, dan sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pendekatan dan Metode Pengajaran Remedial

 

Ada tiga pendekatan pengajaran remedial, yaitu:

 

  1. Pendekatan Pencegahan (preventive approach)

Sebelum proses belajar mengajar dimulai guru seharusnya berusaha dengan berbagai cara untuk mengetahui kondisi awal para siswa, dan memprediksi beberapa siswa yang mungkin akan mengalami kesulitan. Dengan demikian, guru dapat mencegah kesulitan berkembang secara berlarut-larut dengan menggunakan multi media, multi metode, alat peraga yang lengkap dan gaya mengajar yang menarik dalam proses belajar mengajar.

 

  1. Pendekatan Penyembuhan (curative approach)

Pendekatan ini diberikan terhadap siswa yang nyata-nyata telah mengalami kesulitan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Gejalanya, prestasi belajar sangat rendah dibandingkan dengan kriteria, misalnya 75% penguasaan bahan.

 

  1. Pendekatan Perkembangan (developmental approach)

Guru dituntut senantiasa mengikuti perkembangan siswa secara sistematis. Caranya, guru secara terus menerus memonitor kegiatan siswa selama proses belajar mengajar. Setiap menemui hambatan, segera dipecahkan bersama siswa secara terus menerus.

 

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN

Ingin kaos bertema BELAJAR, PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN?, bosan dengan kaos yang ada?, ingin mengedukasi keluarga atau murid dengan pembelajaran. HANYA KAMI SATU-SATUNYA DI INDONESIA PERTAMA KALI KAOS BERTEMA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN COCOK DIPAKAI UNTUK SEMUA KALANGAN DAN MEMBERI KESAN EDUKASI DAN PEMBELAJARAN DALAM SETIAP PEMAKAIAANYA

Jangan lupa kunjungi web kami di http://os-kaos.com/ untuk melihat berbagai koleksi kaos pendidikan dan pembelajaran dari kami like juga FP kami di https://www.facebook.com/Kaospembelajaran?ref=hl

Fast Respon CP : 081938633462 dan 082331864747  WA: 081615875217

KAOS BELAJAR

05/27/2014 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , | 1 Komentar

Hakekat Keterampilan Proses

Pengertian keterampilan proses adalah seluruh keterampilan atau kejadian serta tindakan dalam proses belajar mengajar yang akan diciptakan kondisi cara belajar siswa aktif .
Pendekatan keterampilan proses pada dasarnya menekankankeaktifan siswa dalam proses belajar. Keterampilan proses merupakan pendekatan belajar mengajar yang mengarah pada pengembangan mental,fisik, sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri individu. Setiap individu pada dasarnya memiliki keterampilan atau kemampuan fisik dan mental meskipun dalam wujud potensi maupun kemampuan yang belum nampak secara jelas.
Keterampilan-keterampilan yang dimiliki siswa dapat dikembangkan dalam kegiatan laboratorium, yakni melalui kegiatan percobaan fisika atau eksperimen. Dalam kegiatan eksperimen terdapat beberapa proses mentalyang berhubungan dengan sains yang disebut keterampilan sains. Collette dan Ghiappetta mengungkapkan :
“……some of mental process associated with science and, in particular with laboratory work are often reffered to as science process skill. The skill include observing, classifiying, using space/time relation, using numbers, measuring, inferring, predicting, defining operationally, formulating models, controlling variaels, intrepreting data, and eksperiment”.
Adapun kegiatan-kegiatan atau keterampilan-keterampilan yang mampu menciptakan kondisi belajar siswa aktif atau keterampilan proses antara lain : Observasi (pengamatan), perhitungan, pengukuran, klasifikasi, hubungan ruang/waktu, pembuatan hipotesis, perencanaan penelitian, pengendalian variabel, interpretasi data, kesimpulan sementara, peramalan, penerapan (aplikasi), komunikasi.
Kegiatan observasi (pengamatan) adalah memilah-milahkan yang penting dari yang kurang penting atau yang tidak penting. Pendekatannya biasa memanfaatkan indera untuk melihat, mendengar, mengecap dan mencium. Contohnya : siswa melihat skala-skala pada berbagai alat ukur panjang, suhu dll.
Kegiatan perhitungan dapat dilakukan dengan membuat tabel, grafik, dan histogram. Kegiatan ini dilakukan atau dilatih dengan melalui pelajaran IPA dan IPA. Kegiatan pengukuran pada dasarnya adalah membandingkan dua besaran. Pendekatannya dapat dilakukan dengan membandingkan suatu benda dengan benda yang lain.
Kegiatan klasifikasi adalah kegiatan untuk mengenal perbedaan dan persamaan antara benda-benda. Pendekatannya dapat dilakukan dengan mengklasifikasikan sesuatu menurut cirinya, tujuannya dan kepentingannya. Kegiatan mengenai hubungan ruang dan waktu pendekatannya dapat dilakukan dengan mengenal bentuk seperti lingkaran, persegi empat, kubus dan sebagainya ; pengenalan arah; membuat urutan kejadian; menggunakan unit waktu.
Kegiatan pembuatan hipotesis adalah pembuatan suatu pemikiran yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengalaman tertentu. Pendekatannya dapat dilakukan dengan memberi latihan pada siswa menyusun hipotesis sewaktu melakukan percobaan.
Kegiatan eksperiman adalah kegiatan menguji atau mengetes melalui penyelidikan praktis. Kegiatan pengendalian variabel adalah pengendalian pada faktor yang berpengaruh pada percobaan. Pendekatannya dapat dilakukan dengan melatih siswa mengontrol dan memperlakukan variabel. Kegiatan interpretasi data ini dapat dilakukan melalui observasi, penglihatan, pengukuran dan penelitian sederhana kemudian dicatat atau disajikan dalam bentuk tabel ataupun grafik. Sedangkan kegiatan pembuatan kesimpulan sementara dilakukan pertama-tama mengumpulkan data, lalu menyusun kesimpulan sementara berdasarkan informasi yang dimiliki pada waktu tertentu.
Kegiatan penerapan dilakukan dengan cara menjelaskan peristiwa baru dengan menggunakan konsep yang telah dimiliki, sedangkan kegiatan komunikasi pendekatannya dapat dilakukan dengan membuat tabel, diagram, grafik, histogram dan sebagainya.
Proses belajar mengajar yang bermakna adalah proses yang melibatkan berbagai aktivitas siswa. Oleh karena itu guru harus berupaya untuk mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar. Adapun upaya yang dilakukan oleh guru ada bermacam-macam antara lain : melalui diskusi, melalui karya wisata, melalui percobaan (eksperimen), melalui demonstrasi dan sebagainya.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN

Ingin kaos bertema PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN?, bosan dengan kaos yang ada?, ingin mengedukasi keluarga atau murid dengan pembelajaran. HANYA KAMI SATU-SATUNYA DI INDONESIA PERTAMA KALI KAOS BERTEMA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN COCOK DIPAKAI UNTUK SEMUA KALANGAN DAN MEMBERI KESAN EDUKASI DAN PEMBELAJARAN DALAM SETIAP PEMAKAIAANYA

Jangan lupa kunjungi web kami di http://os-kaos.com/ untuk melihat berbagai koleksi kaos pendidikan dan pembelajaran dari kami like juga FP kami di https://www.facebook.com/oskaos1745

Fast Respon CP : 081938633462 dan 082331864747 PIN BB: 7BD178A5 WA: 081615875217

ee9f2fe2-288a-4081-829e-cac8538debd6wallpaper

02/25/2014 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | Tinggalkan komentar

E-BOOK EKSPERIMENT DALAM BIOLOGY (KUMPULAN PENELITIAN SEDERHANA UNTUK SISWA)

Mata pelajaran Biologi yang tergabung dalam IPA Terpadu pada jenjang pendidikan SMP, merupakan mata pelajaran yang menarik, disukai siswa sekaligus menantang. Meskipun tergolong ilmu pasti, namun mata pelajaran Biologi memiliki keunikan tersendiri. Ciri khas dari setiap mata pelajaran biologi adalah diperlukannya eksperimen serta pemahaman yang mendalam pada setiap bab yang dipelajari karena langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, berbeda dengan mata pelajaran ilmu pasti lainnya yang lebih menjurus ke arah berhitung.

Buku EKSPERIMENT BIOLOGI PADA SEKOLAH ini berisi berbagai macam eksperimen atau penelitian yang pantas, mudah, dan sesuai untuk dilaksanakan selama pembelajaran di sekolah baik itu oleh guru maupun oleh murid. Puluhan contoh eksperimen dalam buku ini telah sesuai dengan SILABUS dan RPP SMP dan SMA, sehingga setiap eksperimen berkaitan langsung dengan materi pada setiap pembelajaran siswa. Dengan bahan, materi dan gaya bahasa yang mudah dimengerti buku ini akan memandu siswa dan guru untuk lebih mendalami setiap materi dalam pelajaran BIOLOGI

eboo

Judul: EKSPERIMENT DALAM BIOLOGY (KUMPULAN PENELITIAN SEDERHANA UNTUK SISWA)

Penulis: Pak Zaif

Harga: 50.000

Oke jika berminat hubungi Pak zaif HP: 081938633462, harga buku ini Hanya Rp 50.000

01/25/2014 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , | 2 Komentar

METODE PEMBELAJARAN MIND MAPPING

1. Definisi Mind Mapping
Barbara Prashing mengemukakan Mind Mappingdipopulerkan oleh Tony Buzan pada tahun 1970-an, aslinya diciptakan oleh Gelb. Michael Gelb dalam Buzan (2007:179-181): Mind Mapping dapat diartikan sistem revolusioner dalam perencanaan dan pembuatan catatan yang telah mengubah hidup jutaan orang di seluruh dunia. Pembuatan Mind Mapping didasarkan
pada cara kerja alamiah otak dan mampu menyalakan percikanpercikan kreatifitas dalam otak karena melibatkan kedua belahan otak kita.

Menurut Porter & Hernacki (2008:152-159) : Mind Mappingjuga dapat disebut dengan peta pemikiran. Mind Mapping juga merupakan metode mencatat secara menyeluruh dalam satu halaman. Mind Mapping menggunakan pengingatpengingat visual dan sensorik dalam suatu pola dari ide-ide yang berkaitan. Peta pikiran atau Mind Mapping pada dasarnya menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk kesan pada otak.

Metode Mind Mapping adalah metode baru untuk mencatat yang bekerjanya disesuaikan dengan bekerjanya dua belah otak (otak kiri dan otak kanan). Metode ini mengajarkan untuk mencatat tidak hanya menggunakan gambar atau warna. Tony Buzan mengemukakan “your brain is like a sleeping giant,hal itu disebabkan 99% kehebatan otak manusia belum dimanfaatkan secara optimal.”

2014-01-24_020153

Mind Mapping adalah cara mencatat yang kreatif, efektif dan secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran Mind Mapping juga merupakan peta rute yang memudahkan ingatan dan memungkinkan untuk menyusun fakta dan pikiran, dengan demikian cara kerja alami otak dilibatkan sejak awal. Ini berarti mengingat informasi akan lebih mudah dan lebih bisa diandalkan daripada menggunakan teknik mencatat tradisional. Selain itu Mind Mapping adalah sistem penyimpanan, penarikan data dan akses yang luar biasa untuk perpustakaan raksasa dalam otak manusia yang menajubkan.

Mind Mapping bertujuan membuat materi pelajaran terpola secara visual dan grafis yang akhirnya dapat membantu merekam, memperkuat, dan mengingat kembali informasi yang telah dipelajari. Mind Mapping adalah satu teknik mencatat yang mengembangkan gaya belajar visual.

Mind Mapping memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat di dalam diri seseorang.Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak maka akan memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Adanya kombinasi warna, simbol, bentuk dan sebagainya
memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima.

Mind Mapping yang dibuat oleh siswa dapat bervariasi pada setiap materi. Hal ini disebabkan karena berbedanya emosi dan perasaan yang terdapat dalam diri siswa setiapsaat. Suasana menyenangkan yang diperoleh siswa ketika berada di ruang kelas pada saat proses belajar akan mempengaruhi penciptaan peta pikiran. Dengan demikian, guru diharapkan dapat menciptakan suasana yang dapat mendukung kondisi belajar siswa terutama dalam proses pembuatan Mind Mapping. Proses belajar yang dialami seseorang sangat bergantung kepada lingkungan tempat belajar. Jika lingkungan belajar dapat memberikan sugesti positif, maka akan baik dampaknya bagi prosesdan hasil belajar,sebaliknya jika lingkungan tersebut memberikan sugesti negatif maka akan buruk dampaknya bagi proses dan hasil belajar.

2. Kegunaan Mind Mapping
Menurut Michael Michalko dalam Buzan (2009:6), metode Mind Mapping dapat dimanfaatkan atau berguna untuk berbagai bidang termasuk bidang pendidikan. Kegunaan metode Mind Mapping dalam bidang pendidikan, khususnya pada Sekolah Menengah Pertama kelas VIII antara lain:
a. Memberi pandangan menyeluruh pokok masalah.
b. Memungkinkan kita merencanakan rute atau kerangka pemikiran suatu karangan.
c. Mengumpulkan sejumlah besar data disuatu tempat.
d. Mendorong pemecahan masalah dengan kreatif.
Selain itu menurut Buzan(2009:54-130) metode Mind Mapping dapat bermanfaat untuk :
1) Merangsang bekerjanya otak kiridan kanan secara sinergis.
2) Membebaskan diri dari seluruh jeratan aturan ketika mengawali belajar.
3) Membantu seseorang mengalirkan diri tanpa hambatan.
4) Membuat rencana atau kerangka cerita.
5) Mengembangkan sebuah ide.
6) Membuat perencanaan sasaran pribadi.
7) Memulai usaha baru.
8) Meringkas isi sebuah buku.
9) Fleksibel.
10) Dapat memusatkan perhatian.
11) Meningkatkan pemahaman.
12) Menyenangkan dan mudah diingat.
3. Cara Membuat Mind Mapping
Buzan (2009:14), sarana dan prasarana untuk membuat Mind Mapping adalah :
a. Kertas kosong tak bergaris.
b. Pena dan pensil warna.
c. Otak.
d. Imajinasi
Buzan (2009:15-16), membuat Mind Mappingmembutuhkan
imajinasi atau pemikiran, adapun cara pembuatan Mind Mappingadalah:
1) Mulailah dari tengah kertas kosong.
2) Gunakan gambar (simbol) untuk ide utama.
3) Gunakan berbagai warna.
4) Hubungan cabang-cabang utama ke gambar pusat.
5) Buatlah garis hubung yang melengkung.
6) Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis.
7) Gunakan gambar.

Dalam membuat Mind Mapping juga diperlukan keberanian dan kreativitas yang tinggi. Variasi dengan huruf capital, warna, garis bawah atau simbol-simbol yang menggambarkan poin atau gagasan utama. Menghidupkan Mind Mapping yang telah dibuat akan lebih mengesankan. Membuat Mind Mapping yang terdapat didalam (http://astutimin.wordpress.com/20/09/11/26/meningkatkan-hasil-belajar-dan-kreativitas
siswa-melalui-pembelajaran-berbasis-peta-pikiran-mind-mapping/) Tony Buzan telah menyusun sejumlah aturan yang harus diikuti agar Mind Mapping yang dibuat dapat memberikan manfaat yang optimal. Berikut adalah ringkasan dari Law of MM:
a) Kertas: polos dengan ukuran minimal A4 dan paling baik adalah ukuran A3 dengan orientasi horizontal (Landscape). Central Topic diletakkan ditengah-tengah kertas dan sedapat mungkin berupa Image dengan minimal 3 warna.
b) Garis: lebih tebal untuk BOIs dan selanjutnya semakin jauh dari pusat garis akan semakin tipis. Garis harus melengkung (tidak boleh garis lurus) dengan panjang yang sama dengan panjang kata atau imageyang ada di atasnya. Seluruh garis harus tersambung ke pusat.
c) Kata: menggunakan kata kunci saja dan hanya satu kata untuk satu garis. Harus selalu menggunakan huruf cetak supaya lebih jelas dengan besar huruf yang semakin mengecil untuk cabang yang semakin jauh dari pusat.
d) Image:gunakan sebanyak mungkin gambar, kode, simbol, grafik, table dan ritme karena lebih menarik serta mudah untuk diingat dan dipahami. Kalau memungkinkan gunakan Image yang 3 Dimensi agar lebih menarik lagi.
e) Warna: gunakan minimal 3 warna dan lebih baik 5 – 6 warna. Warna berbeda untuk setiap BOIs dan warna cabang harus mengikuti warna BOIs.
f) Struktur:menggunakan struktur radian dengan sentral topic
terletak di tengah-tengah kertas dan selanjutnya cabangcabangnya menyebar ke segala arah. BOIs umumnya terdiri dari 2 – 7 buah yang disusun sesuai dengan arah jarum jam dimulai dari arah jam 1.

2014-01-24_023811

Aplikasi Mind Mappingdalam Pembelajaran Dalam tahap aplikasi, terdapat empat langkah yang harus dilakukan proses pembelajaran berbasis Mind Mapping, yaitu:
a) Overview: Tinjauan Menyeluruh terhadap suatu topik pada saat proses pembelajaran baru dimulai. Hal ini bertujuan untuk memberi gambaran umum kepada siswa tentang topik yang akan dipelajari. Khusus untuk pertemuan pertama pada setiap awal Semester, Overview dapat diisi dengan kegiatan untuk membuat Master Mind Map® yang merupakan rangkuman dari seluruh topik yang akan diajarkan selamasatu Semester yang biasanya sudah ada dalam Silabus. Dengan demikian, sejak awal siswa sudah mengetahui topik apa saja yang akan dipelajarinya sehingga membuka peluang bagi siswa yang aktif untuk mempelajarinya lebih dahulu di rumah atau di perpustakaan.
b) Preview: Tinjauan Awal merupakan lanjutan dari Overview sehingga gambaran umum yang diberikan setingkat lebih detail daripada Overviewdan dapat berupa penjabaran lebih lanjut dari Silabus. Dengan demikian, siswa diharapkan telah memiliki pengetahuan awal yang cukup mengenai sub-topik dari bahan sebelum pembahasan yang lebih detail dimulai. Khusus untuk bahan yang sangat sederhana, langkah Previewdapat dilewati sehingga langsung masuk ke langkah Inview.
c) Inview:Tinjauan Mendalam yang merupakan inti dari suatu proses pembelajaran, di mana suatu topik akan dibahas secara detail, terperinci dan mendalam. Selama Inviewini, siswa diharapkan dapat mencatat informasi, konsep atau rumus penting beserta grafik, daftar atau diagram untuk membantu siswa dalam memahami dan menguasai bahan yang diajarkan.
d) Review: Tinjauan Ulang dilakukan menjelang berakhirnya jam pelajaran dan berupa ringkasan dari bahan yang telah diajarkan serta ditekankan pada informasi, konsep atau rumus penting yang harus diingat atau dikuasai oleh siswa. Hal ini akan dapat membantu siswa untuk fokus dalam mempelajari-ulang seluruh bahan yang diajarkan di sekolah pada saat di rumah. Review dapat juga dilakukan saat pelajaran akan dimulai pada pertemuan berikutnya untuk membantu siswa mengingatkan kembali bahan yang telah diajarkan pada pertemuan sebelumnya.

4. Indikator Mind Mapping
Menurut Tony Buzan (2009:6), indikator Mind Mapping sebagai berikut :
a. merencanakan,
b. berkomunikasi,
c. menjadi lebih kreatif,
d. menyelesaikan masalah,
e. memusatkan perhatian,
f. menyusun dan menjelaskan pikiran-pikiran,
g. mengingat dengan lebih baik
h. belajar lebih cepat dan efisien, dan
i. melatih “gambar keseluruhan”

5. Kelebihan dan Kelemahan

a. Kelebihan metode Mind Mapping dalam (http://mahmmudin.wordpress.com/2009/12/01/pembelajaran-berbasis-peta-pikiran-mindmapping/) sebagai berikut:
1) Dapat mengemukakan pendapat secara bebas.
2) Dapat bekerjasama dengan teman lainnya
3) Catatan lebih padat dan jelas
4) Lebih mudah mencari catatan jika diperlukan.
5) Catatan lebih terfokus pada inti materi
6) Mudah melihat gambaran keseluruhan
7) Membantu Otak untuk : mengatur, mengingat, membandingkan dan membuat hubungan
8) Memudahkan penambahan informasi baru
9) Pengkajian ulang bisa lebih cepat
10) Setiap peta bersifat unik

b. Kelemahan pembelajaran metode Mind mapping:
1) Hanya siswa yang aktif yang terlibat.
2) Tidak sepenuhnya murid yang belajar
3) Mind map siswa bervariasi sehingga guru akan kewalahan memeriksa mind map siswa.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN

Ingin kaos bertema PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN?, bosan dengan kaos yang ada?, ingin mengedukasi keluarga atau murid dengan pembelajaran. HANYA KAMI SATU-SATUNYA DI INDONESIA PERTAMA KALI KAOS BERTEMA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN COCOK DIPAKAI UNTUK SEMUA KALANGAN DAN MEMBERI KESAN EDUKASI DAN PEMBELAJARAN DALAM SETIAP PEMAKAIAANYA

Jangan lupa kunjungi web kami di http://os-kaos.com/ untuk melihat berbagai koleksi kaos pendidikan dan pembelajaran dari kami like juga FP kami di https://www.facebook.com/oskaos1745

Fast Respon CP : 081938633462 dan 082331864747 PIN BB: 7BD178A5 WA: 081615875217

ee9f2fe2-288a-4081-829e-cac8538debd6wallpaper

01/23/2014 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 914 pengikut lainnya.