BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Penampungan Barang Bekas Sebagai Usaha Mandiri Mahasiswa Di Lingkungan Sekitar Kampus UMM

1. JUDUL PROGRAM
Penampungan Barang Bekas Sebagai Usaha Mandiri Mahasiswa Di Lingkungan Sekitar Kampus UMM

2. LATAR BELAKANG MASALAH
Seiring perkembangan zaman semakin banyak kebutuhan yang diperlukan manusia untuk bisa terus eksis. Kehidupan manusia yang terus berkembang akan selalu diikuti dengan pemenuhan segala kebutuhannya. Mulai dari tempat tinggal (rumah), sandang (pakaian), dan pangan (makanan). Ke tiga kebutuhan pokok tersebut akan selalu dipenuhi manusia dalam rangka agar terus bisa beraktivitas.
Selain ke tiga kebutuhan pokok yang harus dipenuhi tersebut, manusia juga mempunyai kebutuhan sekunder yang dapat terpenuhi jika kebutuhan primer telah terpenuhi. Kebutuhan sekunder tersebut sebenarnya tidak harus dipenuhi, tetapi manusia selalu berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan sekunder tersebut dengan segala cara. Manusia selalu marasa perlu untuk memenuhi segala kebutuhan sekunder tersebut. Bila sudah punya rumah, selanjutnya pasti merasa perlu interior beserta perabotannya. Jika semuanya telah terpenuhi, maka manusia berkeinginan untuk menambah perabotan yang lebih bagus lagi dan seterusnya.
Semakin majunya teknologi tentu saja hal itu diikuti dengan semakin banyaknya kebutuhan yang diperlukan manusia untuk menjalankan aktifitas sehari-harinya. Sudah barang tentu manusia akan membeli barang-barang (peralatan) yang diperlukan untuk kehidupan sehari-harinya seperti, peralatan memasak, membeli koran, pakaiannya, dan material logam yang digunakan untuk jaga-jaga. Dan tentu itu semuanya akan menjadi sebuah barang yang masa pakaiya ada batasnya atau istilahnya nanti barang itu akan menjadi sebuah barang bekas bila tak terpakai lagi.
Melihat fenomena yang ada, penulis/pengusul mencoba untuk membuat peluang usaha yang dikembang ditengah aktivitas kuliah. Usaha yang akan dijalankan tak menjadi masalah bagi mahasiswa untuk melakukannya sebagai kegiatan yang positif dan berguna sebagai bekal ke depannya untuk bisa bersaing dengan yang lainnya. Penulis mencoba mendirikan sebuah usaha sampingannya yaitu, dengan mendirikan sebuah penampungan barang bekas yang ditujukan bagi masyarakat sekitar kampus UMM, tak terkecuali mahasiswa UMM tentunya.
Melihat kecenderungan masyarakat sekitar kampus UMM yang memiliki perabotan rumah tangga dan peralatan pendukungnya, maka sudah pasti itu bisa dijadikan sebagai sebuah potensi yang perlu digali. Aktivitas masyarakat sekitar kampus UMM yang memiliki kehidupan dinamis akan menjadikannya untuk terus membeli barang-barang kebutuhannya yang selalu meningkat. Tentunya barang-barang yang telah dibeli itu mempunyai masa pakai yang nantinya akan menjadi sebuah barang bekas jika tidak dipakai lagi.
Selain itu, mahasiswa UMM yang tinggal di kontrakan atau kost pasti mempunyai perabotan yang dibutuhkan saat kehidupan sehari-harinya. Jika mereka sudah lulus, maka barang-barang tersebut pasti akan ditinggal di tempat kostnya dan akan menjadi barang tak terpakai dan dibiarkan seperti sebuah sampah. Barang-barang tersebut pasti sebenarnya masih mempunyai nilai pakai, hanya saja biasanya pemiliknya ogah untuk membawa barang-barang tersebut. Apalagi jika mahasiswa tersebut berasal dari luar jawa seperti Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, dan lainnya, pasti mereka malas untuk membawa banyak barang untuk perjalanan jarak jauh.
Tingkat kesejahteraan masyarakat sekitar kampus UMM yang relatif hidup sejahtera dan memiliki tingkat ekonomi yang cukup, membuat mereka selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan sekundernya secara terus menerus. Ditambah lagi, gaya hidup masyarakat kampus yang konsumtif menjadikannya sebuah peluang untuk ditindaklanjuti menjadi sebuah usaha untuk menampung barang-barang bekas.
Suatu permasalahan akan muncul bila setiap masyarakat memiliki barang-barang bekas yang sudah tak terpakai lagi, misalnya, barang-barang yang sudah tidak dipakai akan menjadi sampah bila dibiarkan menumpuk. Problem tersebut biasanya terjadi bila barang itu sudah tergantikan dengan yang baru dan masa pakainya yang sudah melewati batas. Penulis berusaha untuk mencari solusi dengan cara membuat suatu tempat penampungan barang bekas, sehingga masyarakat yang mempunyai masalah dengan tumpukan barang bekas dapat mengatasinya dengan menjual barang tersebut pada penulis.
Yang mendasari penulis untuk membuat sebuah usaha penampungan barang bekas dikarenakan melihat realita yang terjadi di lingkungan masyarakat sekitar kampus UMM. Mereka kadang-kadang kebingungan dengan barang bekasnya dan perabotan lain yang tak terpakai, namun itu masih bisa dimanfaatkan atau diolah ulang. Seandainya masyarakat tahu barangnya masih memiliki nilai jual dan masih bermanfaat, maka tak mungkin mereka membuangnya secara percuma dan hanya menjadi sampah saja.
Perabotan dan barang bekas yang tak terpakai pemiliknya oleh penulis dianggap sebagai sebuah peluang usaha untuk dilirik, karena memiliki potensi yang luar biasa besar bila dikembangkan secara serius dan mendalam. Daripada dibuang percuma dan mengotori lingkungan sekitarnya, seyogyanya masyarakat pasti akan lebih senang bila ada tempat usaha yang mau menampung barang bekas tersebut. Di samping mereka mendapatkan uang ganti rugi juga tak perlu lagi repot mencari tempat sampah.
Penulis lebih tertarik untuk mengembangkan usaha penampungan barang bekas ini dengan berbagai alasan dan pertimbangan yang direncanakan secara matang, di antaranya, (1) memberdayakan ekonomi masyarakat, (2) memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menjual barang bekasnya daripada dibuang disembarang tempat, (3) mengurangi pencemaran dan ikut menjaga kebersihan lingkungan, (4) membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat, (5) sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa untuk lebih mengenal dunia kewirausahaan, dan (6) dapat dijadikan sebagai gantungan hidup yang menggiurkan karena usaha secara matematika memiliki tingkat keuntungan yang relatif besar dan resikonya kecil.

3. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana bentuk usaha penampungan barang bekas yang akan dirancang?
2. Bagaimana teknik pelaksanaan usaha yang dijalankan?
3. Bagaimana perhitungan hasil usahanya penampungan barang bekas?
4. TUJUAN PROGRAM
1. Mengadakan usaha penampungan barang bekas yang pertama di lingkungan kampus UMM
2. Menciptakan sebuah media pembelajaran kewirausahaan baru bagi mahasiswa, sehingga menjadikan mahasiswa mandiri dalam hal finansial, serta mengurangi ketergantungan pada orang tua.
3. Membantu mahasiswa dan masyarakat di lingkungan sekitar kampus UMM dalam rangka memanfaatkan barang-barang bekas yang tak terpakai lagi, serta dapat di komersilkan.

5. LUARAN YANG DIHARAPAKAN
Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahan (PKMK) yang dibuat tim penulis ini diharapkan mendapatkan sebuah tempat (counter) khusus yang nantinya akan dijadikan sebagai basis penampungan barang bekas. Adanya sebuah tempat yang representatif dan strategis yang diperuntukan bagi kelangsungan usaha ini akan dapat menjadi tolok ukur kesuksesan usaha ini ke depannya. Apabila tempat yang tersedia sangat ‘mumpuni’, maka usaha yang dirintis ini akan dapat eksis dan berkembang pesat, serta banyak calon konsumen yang menjual barangnya ke tempat ini. Dari kegiatan ini, akan dilihat apakah usaha ini akan mampu bersaing dengan usaha lain yang memiliki konsep hampir sama. Namun, karena usaha yang ada ini merupakan yang pertama kali dan konsep yang diusung agak berbeda dengan penampungan barang bekas umumnya yang sudah ada, maka usaha ini pantas dan layak untuk diadakan dan dikembangkan. Karena usaha ini dapat memberikan keuntungan bagi ke dua belah pihak (pembeli dan konsumen),

6. KEGUNAAN PROGRAM
6.1. Aspek Ekonomi
Masyarakat sekitar kampus UMM dapat terbantu dengan adanya kehadiran usaha baru ini. Mereka dapat menjual barang-barang bekas miliknya yang sudah tak terpakai dengan menukarkannya pada usaha penampungan barang bekas ini. Tentu usaha yang kita dirikan ini akan memberikan harga yang layak dan bersaing sebagai kompensasi barang bekas yang dijual konsumen. Dengan begitu diharapkan orang tersebut di kemudian hari orang akan kembali menjual barangnya di usaha penampungan yang penulis jalankan.

6.2. Aspek Ketenagakerjaan
Banyaknya waktu luang yang terbuang sia-sia pada mahasiswa sungguh lah sebuah fenomena yang membuat miris. Menyadari kondisi tersebut, penulis merasa perlu untuk memberikan sumbangsih yang nyata bagi kebaikan mahasiswa agar dapat belajar di luar perkuliahannya. Dengan berdirinya usaha penampungan barang bekas, maka bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran mahasiswa yang ingin praktek langsung bagaimana rasanya dunia kerja itu sesungguhnya.
Bagi penulis sendiri pembuatan usaha tersebut bisa dijadikan sebagai sarana pemberdayaan pemuda pengangguran yang nantinya akan direkrut kerja sebagai tenaga kontrak yang diperbantukan. Kondisi itu akan dapat meningkat bila nantinya usaha ini direspon masyarakat dan berkembang sesuai harapan penulis.

7. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
Mahasiswa adalah orang yang cenderung konsumtif dan sering kali membeli sesuatu dan membelanjakan uangnya tuk beli barang yang diinginkannya. Mereka juga biasanya banyak mempunyai barang yang telah dimilikinya, tapi sudah tak terpakai kembali, contohnya kertas fotokopian yang sudah menumpuk.
Banyaknya kertas yang banyak dan tak terpakai tersebut membuat kertas tersebut banyak dibuang dan dibiarkan tergeletak sia-sia karena banyak mahasiswa yang tak tahu kalau tumpukan kertas tersebut kalau dijual memiliki nilai ekonomi tersendiri. Meskipun aspek ekonominya tak seberapa besar, namun bila itu terjadi pada hampir kebanyakan mahasiswa dan diakumulatifkan betapa besarnya potensi yang ada. Belum lagi, ditambah dengan keberadaan masyarakat umum yang tentu juga memiliki perabotan lain yang bisa dijual ke penampungan.
Banyaknya mahasiswa UMM dari luar kota yang saat kuliah di sini banyak sekali yang membeli perabotan untuk dipakai di kost atau kontrakannya. Tentu saja barang peralatan tersebut ada masa pakainya. Bila sudah lulus mereka tak akan membawanya pulang karena merepotkan dan kalau pun dibuang dan dibiarkan saja, itu sungguh disayangkan.
Jika sebelumnya mereka (mahasiswa) selalu membuang barang-barang bekasnya yang sudah tak diperlukan lagi ke tempat sampah atau membiarkannya tergeletak tak karuan. Dengan berdirinya usaha penampungan barang bekas ini, mereka tak perlu lagi membuang perabotannya secara percuma, melainkan bisa dijual ke tempat usaha barang bekas ini.
Dengan demikian, mahasiswa tak perlu lagi memusingkan barang bekasnya tersebut, Di samping itu, bila ada tempat penampungan barang bekas, maka mahasiswa tak perlu bingung, karena dengan membawanya ke penampungan mereka malahan mendapatkan materi. Tempat usaha penampungan sendiri rencananya bertempat di kontrakan penulis.
Input dari barang bekas ini adalah pendapatan yang diterima dari penjualan barang-barang yang tak terpakai lagi (bekas). Barang tersebut dipisahkan sesuai dengan jenisnya, seperti kertas, kardus, botol, dan material logam lainnya. Setelah dipisahkan, barang tersebut di timbang beratnya sesuai dengan spesifikasinya. Dari hasil penimbangan, maka itulah yang dijadikan sebagai patokan penulis untuk memberikan uang pada konsumen. Namun, sebelumnya penulis sudah membuat daftar harga dari tiap jenis barang yang dijual konsumen pada usaha yang penulis buat. Di bawah ini adalah daftar tabel harga beli yang ditetapkan penulis.
Asumsi keuntungan usaha yang di dapatkan
Nama barang Harga beli dari konsumen Harga jual ke pabrik Keuntungan
Besi Rp. 1500/kg Rp. 2000/kg Rp. 500/kg
Botol beling Rp. 200/biji Rp. 300/biji Rp. 100/biji
Botol plastik Rp. 1700/kg Rp. 2000/kg Rp. 300/kg
Kardus Rp. 1000/kg Rp. 1400/kg Rp. 400/kg
Kertas Rp. 900/kg Rp. 1200/kg Rp. 300/kg
Tabel 1

Misal, ada konsumen yang menjual perkakas yang terbuat dari besi yang sudah karatan. Sesuai dengan yang tercantum di daftar harga barang, besai tersebut perkilonya dihargai Rp 1.500. Apabila besi tadi ditimbang beratnya 10 kg, maka penulis tinggal memberikan harga sesuai dengan berat timbangan dikalikan dengan harga yang tertera, 10 x 1.500 = Rp 15.000. Uang itulah yang didapatkan konsumen tersebut dari hasil penjualannya pada penampungan yang penulis dirikan.
Tiap bulan sekali penulis akan didatangi pengusaha penampungan barang bekas skala besar untuk mengangkut barang yang ada di penampungan yang penulis dirikan. Sebelumnya penulis memang telah bekerjasama dan menjalin link dengan pengusaha skala besar tersebut untuk mengambil barang bekas yang penulis tampung. Karena hanya dengan cara tersebut, usaha yang penulis dirikan bisa terus eksis dan berkembang. Jika tak dilakukan, uang yang ada tak bisa berputar dan penulis akan kesulitan dalam pembiayaan.
Di samping itu, dari transaksi bulanan tersebut usaha yang penulis dirikan akan mendapatkan keuntungan yang besar dari penampungan besar tersebut. Seperti tercantum dalam daftar harga yang ada di atas, terdapat selisih harga yang cukup besar antara pembelian dari konsumen dengan penjualan pada penampungan besar tersebut. Dari kegiatan itulah, penulis dapat menggerakkan ekonomi usaha penampungan barang bekas mandiri ini.
Contoh sederhananya, dengan asumsi apabila usaha yang penulis dirikan selama sebulan membeli dari konsumen sebanyak 300 kg kertas, maka penulis mengeluarkan biaya untuk membayar konsumen tersebut sebanyak Rp 270.000. Dengan menjual lagi pada penampungan besar, kertas dari penulis dihargai sekilonya Rp 1.200, maka uang yang didapatkan penulis sebesar Rp 360.000. Keuntungan kasarnya yang penulis dapatkan adalah sebesar Rp 90.000.
Belum lagi bila mengikutkan hitungan besi (logam) yang dijual konsumen pada penampungan yang penulis buat. Umpama tiap bulannya usaha penampungan tersebut menerima sekitar 350 kg rongsokan besi, tentu uang yang harus dibayarkan pada konsumen sebesar Rp 525.000. Jumlah tersebut didapatkan dari hasil total berat barang yang diterima penampungan dengan dikalikan harga beli dari konsumen yang tarifnya Rp 1.500 per kilonya.
Sementara itu, jumlah berat rongsokan besi yang 350 kg tersebut oleh penulis dijual lagi penampungan yang lebih besar. Di penampungan yang berskala besar, besi tiap kilonya dihargai Rp 2.000. Jadi penulis akan mendapatkan jumlah uang sebanyak Rp 700.000 dari hasil penjualannya, sehingga laba kotor yang didapatkan penulis sebanyak Rp 175.000 per bulannya.
Sebuah keuntungan yang menurut penulis sangat besar dan menguntungkan sehingga layak untuk diseriusi. Belum lagi bila kita berbicara barang yang lainnya, dimana keuntungan yang didapatkan bisa lebih besar daripada ilustrasi di atas. Karena itu baru memasukkan dua item barang saja, padahal secara umum di penampungan tersebut ada lima barang bekas yang diterima dari konsumen.
Dengan menggunakan perhitungan skala terkecil dan minimum, diasumsikan tiga jenis barang lain yang belum dihitung tadi perbulannya menerima keuntungan kotor tiap itemnya sebanyak Rp 50.000. Itu di dapat dari hasil perhitungan penampungan yang membayar konsumen sebanyak Rp 250.000. Dan hasil penjualannya kembali mendapatkan uang sebesar Rp 350.000. Dari hasil tersebut didapatlah keuntungan sebanyak Rp 100.000 per bulannya dari ke tiga item tersebut.
Mengapa ke tiga item tersebut menggunakan asumsi keuntungan lebih sedikit disbanding dua item di atas? Sebab sudah jelas, ke dua barang yang diuraikan di atas tersebut paling banyak dijumpai dan kemungkinan besar masyarakat banyak yang menjualnya ke penampungan. Sementara ke tiga item barang yang menggunakan asumsi keuntungan kecil, disebabkan tiga item barang tersebut kemungkinan yang didapatkan penampungan dari masyarakat juga lebih kecil jumlahnya. Sehingga wajar bila perhitungan yang dibuat juga mengikuti asas hukum dagang permintaan dan penawaran.
Dari asumsi yang dibuat penulis tersebut, maka keuntungan yang didapatkan dari usaha penampungan barang bekas tersebut adalah berjumlah Rp 365.000 per bulannya. Itu memang masih keuntungan kotornya dan belum dipotong pengeluaran lainnya.
Dalam kesehariannya, usaha yang penulis dirikan ini mempekerjakan 1 orang tenaga kontrak yang per bulannya dibayar sebanyak Rp 200.000. Pembayaran yang dikeluarkan untuk menggaji pekerja tersebut sudah sesuai dan layak untuk diberikan. Karena pekerjaannya yang tak terlalu berat (cuma mengangkat dan menimbang barang), juga disebabkan dalam seharinya usaha ini cuma buka lima jam, antara pukul 08.00-13.00 WIB dan seminggunya cuma buka enam hari saja. Hari minggunya libur atau tutup. Sehingga di luar jam tersebut, pekerja kontrakan tersebut dapat nyambi bekerja di lain tempat.
Di atas jam 13.00 WIB, giliran dari tim penulis yang jaga dan sekaligus merangkap sebagai pekerja di penampungan tersebut. Dipilihnya jam satu siang dikarenakan jam segitu kuliah sudah selesai, serta penulis dapat mencurahkan sepenuhnya tenaganya untuk mengabdikan dirinya di penampungan ini. Penulis sendiri tiap harinya meluangkan waktunya sekitar dua jam tiga puluh menit (dua setengah jam) untuk mensukseskan program tersebut. Sehingga pukul 15.30 WIB, penampungan tersebut ditutup.
Dengan modal awalnya yang berjumlah Rp 1.100.000, dan pendapatan usaha yang didapat per bulannya mencapai Rp 1.4100.000, serta pengeluaran usahanya sebanyak Rp 1.045.000, maka keuntungan bruto yang didapatkan adalah Rp 365.000 per bulannya. Dengan dipotong pembayaran uang pegawai kontrak sejumlah Rp 200.000, keuntungannya tinggal Rp 165.000. Jumlah terakhir tersebut adalah keuntungan bersihnya, karena pengeluaran lain yang tak terduga sudah dimasukkan dianggaran lain yang sudah dibuat penulis.
Apabila per bulannya keuntungan netto yang diraup dari penampungan barang bekas ini sebanyak Rp 165.000, dan dengan modal awal yang disediakan khusus untuk membiayai usaha ini sebanyak Rp 1.100.000, maka modal akan kembali di bulan ke tujuh. Jadi Break Event Point (BEP) yang diperoleh penulis akan didapatkan pada bulan ke tujuh sejak usaha ini pertama kali dibuka. Tentu saja kondisi itu tercapai bila keadaannya sesuai dengan asumsi yang diilustrasikan penulis seperti contoh di atas, serta tak ada kondisi luar biasa yang dapat mengganggu jalannya usaha ini. Bila kondisinya normal saja, kemungkinan usaha ini akan berkembang dan balik modal sesuai dengan yang diuraikan oleh penulis.
Output dari pembuatan tempat penampungan barang bekas adalah penulis mendapatkan sebuah keuntungan bisnis dari adanya kegiatan tersebut, serta dapat melatih jiwa kewirausahaan pada tim penulis. Penulis juga memberikan keuntungan bagi masyarakat yang menjual barangnya yang tak terpakai ke penampungan, serta mereka juga mendapatkan uang dari penulis (sebagai pemilik penampungan) atas barang yang mereka jual.
Bila kondisi tersebut terjadi, diharapkan mahasiswa dapat meninggalkan tempat kos atau kontrakannya dengan bersih tanpa menyisakan barang yang tak terpakai. Selain itu, mereka bisa mendapatkan tambahan finansial berupa uang dan dapat balik ke daerahnya dengan perasaan tenang, serta kebersihan juga akan terjaga karena barang bekas sudah tak tergeletak disembarangan tempat.
Kegiatan penampungan barang bekas ini oleh penulis akan diinformasikan dan dipublikasikan dengan cara penyebaran pamflet dan leaflet kepada masyarakat dan mahasiswa di sekitar kampus UMM. Juga tak ketinggalan di setiap fakultas dan lembaga intra yang ada di universitas bisa dibidik dan dijadikan sebagai pemakai jasa usaha ini. Mereka bisa dijadikan sebagai konsumen yang potensial untuk ‘dipelihara’ keberadaannya karena potensinya yang besar untuk menjual barang bekasnya pada usaha yang penulis dirikan.

8. METODE PELAKSANAAN PROGRAM
a. Melakukan pendekatan secara personal, persuasif, dan terorganisir pada mahasiswa, masyarakat sekitar lingkungan kampus, dan pihak berwenang kampus yang dijadikan sebagai calon konsumen pengguna jasa yang kita tawarkan yaitu penampungan barang bekas.
b. Mempromosikan usaha penampungan barang bekas mandiri ini, sebagai sebuah solusi adanya tempat penampungan atas barang yang tak terpakai oleh calon konsumen. Serta memberikan kesempatan pada konsumen untuk melihat proses pelaksanaan usaha penampungan ini.
c. Usaha penampungan ini akan menjual lagi barang bekas yang di dapat dari konsumen tersebut pada penampungan skala besar.
Konsumen

Usaha Penampungan Mandiri

Penampungan Skala Besar

9. JADWAL PELAKSANAAN PROGRAM
Jadwal Kegiatan Program
Kegiatan Bulan ke
1 2 3 4
1. Persiapan
■ Perijinan √
■ Penentuan tempat usaha √
■ Persiapan alat-alat pendukung usaha √
■ Publikasi dan promosi √
2. Pelaksanaan
■ Penyaringan dan penetapan pemakai jasa √
■ Pemberian kupon tanda transaksi √ √ √ √
■ Peningkatan pelayanan √ √ √
■ Pengembangan tempat usaha √
■ Evaluasi hasil usaha √ √
3. Kegiatan Usaha
■ Pembukuan hasil usaha √ √ √
■ Evaluasi sistem usaha √ √
■ Pemberdayaan dan peningkatan usaha √ √
Tabel 2

10. BIODATA KETUA DAN ANGGOTA KELOMPOK
Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama : Erik Purnama Putra
b. NIM : 05810139
c. Fakultas : Psikologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Brigif Linud 18 Kemantren Jabung, Malang
f. Nomor Handphone : 085649773675
g. Waktu untuk PKM : 15 jam/minggu

Anggota Pelaksana Kegiatan
a. Nama : Dewi Pratiwi
b. NIM : 05810214
c. Fakultas : Psikologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Perum. Landungsari Asri No. A-15, Malang
f. Nomor Handphone : 081334314882
g. Waktu untuk PKM : 15 jam/minggu

a. Nama : Puteriani Aulia
b. NIM : 06810064
c. Fakultas : Psikologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jl. Raya Tlogomas Gg. 15C No.12, Malang
f. Nomor Handphone : 085234943930
g. Waktu untuk PKM : 15 jam/minggu

11. NAMA DAN BIODATA DOSEN PENDAMPING
a. Nama : M. Shohib
b. NIP-UMM : 109 0303 0387
c. Golongan Pangkat : III A
d. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
e. Jabatan Struktural : Pembantu Dekan III Fakultas Psikologi UMM
f. Fakultas : Psikologi
g. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
g. Waktu untuk PKM : 15 jam/minggu

12. RENCANA PEMBIAYAAN
Estimasi dana kegiatan usaha
No Jenis Kegiatan Anggaran
A. Pra Kegiatan
1 Perijinan Rp. 100.000
2 Persiapan tempat usaha Rp. 100.000
3 Persiapan alat dan material penunjang usaha Rp. 200.000
4 Persiapan pembuatan media promosi Rp. 300.000
5 Pengenalan usaha pertama pada konsumen Rp. 200.000
B. Pelaksanaan
1 Modal usaha Rp 1.100.000
2 Pembelian timbangan dan peralatan pendukung usaha Rp. 1.100.000
3 Administrasi Rp. 300.000
4 Uang lelah penjaga (lembur) Rp. 600.000
4 Listrik Rp. 200.000
6 Biaya komunikasi (beli pulsa) Rp. 200.000
7 Akomodasi Rp. 100.000
C. Laporan
1 Penyusunan pertanggungjawaban laporan Rp. 250.000
2 Penggandaan laporan Rp. 200.000
Jumlah Rp 5.950.000
Tabel 3

13. LAMPIRAN
13.1 Analisis SWOT Usaha Penampungan Barang Bekas di Sekitar Kampus
13.1.1 Keunggulan (Strenghten)
Pembuatan usaha penampungan barang bekas ini sangatlah potensial untuk dikembangkan dan diseriusi. Melihat potensi besar yang belum tergali dan belum banyaknya usaha sejenis yang berdiri merupakan sebuah peluang untuk ditindaklanjuti apakah usaha ini akan mampu bertahan dan berkembang pesat. Kehidupan masyarakat sekitar kampus yang beragam dan memiliki ekonomi yang relatif mampu adalah salah satu faktor penunjang usaha ini bisa eksis.
Saat ini, masyarakat sekitar kampus hampir selalu mempunyai barang atau perabotan bekas yang memang tak terpakai lagi. Kebanyakan oleh mereka, barang tersebut dibuang begitu saja atau ditumpuk sampai banyak, kemudian biar diambil pemulung karena mereka malas untuk membuangnya langsung.
Penulis disini memahami realita tersebut dengan memberikan sebuah lontaran ide dan solusi kreatif untuk mengatasinya. Pembuatan usaha penampungan barang bekas adalah jawaban tepat dari permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat sekitar kampus UMM.
Pengembangan usaha ini sangatlah mudah dan tak memperlukan sebuah ketrampilan khusus untuk menjalankannya. Hampir semua mahasiswa dapat menggunakan jasa yang penulis tawarkan karena harga yang kita berikan mampu bersaing dan belum ada saingannya di sekitar kampus.
Begitu juga masyarakat yang tentu dapat menjual barang bekas dan peabotan sisanya yang tak terpakai ke tempat kita. Tawaran jasa yang diberikan di usaha penampungan barang bekas meliputi, (1) penjualan kertas, koran, kardus, dan semacamnya yang diterima dari masyarakat (2) menerima besi bekas atau logam dan sejenisnya, (3) membeli botol minuman bekas segala macam dari masyarakat dengan harga yang berbeda tergantung keunikannya.

13.1.2 Kelemahan (Weakness)
Usaha yang penulis usulkan ini membutuhkan tempat yang representatif untuk dijadikan basis usahanya. Bila penulis memaksakan menyewa counter untuk dijadikan sebagai tempat, maka biaya yang harus dikeluarkan besar dan hampir semua modal akan tersedot ke sumber ini.
Tenaga SDM untuk menjalankan usaha penampungan ini yang diharapkan dari mahasiswa sendiri sulit untuk diharapkan karena usaha ini sifatnya rendahan dan tak semua orang mau melakukannya, tak terkecuali mahasiswa. Tak dipungkiri, mahasiswa akan merasakan gengsi bila terlibat dalam usha ini.
Untuk menyiasatinya, penulis mencoba alternatif lain dengan mengontrak tenaga dari luar bila dari mahasiswanya sendiri merasa keberatan dan tak ada respon untuk ikut bergabung menjalankan usaha ini. Namun, itu semua akan terkendala pada biaya yang ada karena tenaga kontrak juga akan menghabiskan anggaran yang begitu banyak.

13.1.3 Kesempatan (Oppurtunity)
Dengan modal usaha yang ada, penulis tak bisa menargetkan untung yang melimpah dan balik modal seketika, tetapi melihat belum adanya persaingan usaha yang sejenis, maka keuntungan itu akan terus mengalir bila masyarakat memakai jasa usaha ini. Pasar yang sudah ada dan belum tergarapnya potensi secara maksimal menjadi sebuah kesempatan yang besar bagi penulis untuk mengembangkan usaha penampungan barang bekas ini.

13.1.4 Tantangan Dan Ancaman (Treaten)
Berkaitan dengan usaha penampungan barang bekas ini, penulis merasakan ada masalah pada networking dikarenakan masih baru dan belum semua masyarakat mengerti usaha yang dirintis ini. Akan tetapi, hambatan tersebut bisa diatasi dengan mengadakan media promosi berupa pamflet agar masyarakat tahu usaha penampungan barang bekas ini. Namun pembuatan pamflet juga memerlukan dana sehingga akan menjadi kendala lagi. Ditambah dengan promosi dari mulut ke mulut diharapkan dapat membantu mempromosikan usaha ini.

13.2 Gambaran Usaha Penampungan Barang Bekas Mandiri
Penampungan barang bekas ini memang sudah ada di tiap-tiap wilayah, tapi usaha yang dilakukan penulis lebih melihat pada masyarakat sekitar kampus yang memiliki tingkat konsumerisme tinggi dalam pembelian barang-barang. Daerah yang penulis pilih adalah daerah sekitar kampus UMM yang masyarakatnya mayoritas dihuni mahasiswa yang tinggalnya dengan sistem kontrak atau kost.
Melihat realita mahasiswa yang merupakan konsumen buku dan kertas-kertas seperti fotocopian, maka hal tersebut bisa menjadi peluang pasar bagi pendirian usaha penampungan barang bekas. Selain barang dari mahasiswa, masih ada juga barang bekas dari masyarakat penghuni asli daerah sini yang tentu saja memiliki perabotan yang tak kalah banyaknya dengan mahasiswa. Di samping itu, penulis juga menyorot keberadaan tiap fakultas dan lembaga intra yang ada di kampus UMM untuk dijaring dan dijadikan pemakai jasa penampungan barang bekas.
Usaha penampungannya sendiri adalah dengan membuat sebuah counter khusus yang dijadikan sebagai tempat penampungan barang bekas yang dijual konsumen pada pengusul program. Konsumen yang datang untuk menjual barangnya ditimbang dahulu berapa berat barangnya dan melihat spesifikasinya barang yang dijual tersebut. Antara konsumen dengan pengusul sendiri sama-sama tahu berat barang yang ditimbang agar menghindari kecurangan.
Setelah ditimbang berat barangnya, pengusul memberikan uang kompensasi pada konsumen tersebut dengan mengalikan berat barang tersebut dengan harga yang tertera pada list harga yang telah ditetapkan dan dibuat pengusul. Contoh, konsumen menjual barang berupa kertas koran sebanyak 10 kg (sudah ditimbang), kemudian pengusul melihat harga kertas tersebut yang perkilonya Rp 900. Dengan kondisi tersebut, pengusul akan membayar konsumen tersebut sebesar Rp 9.000. Begitu seterusnya usaha ini akan dijalankan sebagaimana mestinya.
Tentu dengan berdirinya usaha penampungan mandiri ini akan menguntungkan ke dua belah pihak. (1) konsumen akan untung dengan mendapatkan uang dari hasil penjualannya, (2) pengusul program juga mendapatkan hasil yang menggembirakan bila banyak konsumen yang menjual barangnya pada usaha ini, karena barang tersebut dijual lagi pada penampung besar. Dari penjualan tersebut pengusul mendapatkan keuntungan materi yang cukup besar bila barang yang dijual juga banyak, dan (3) barang bekas yang tak terpakai dan sedianya akan dibuang, ternyata memiliki nilai ekonomi tinggi.

07/07/2009 Posted by | Contoh PKM | 3 Komentar

“ROSELLA-C” SIRUP KELOPAK BUNGA ROSELLA BERVITAMIN C

A. JUDUL PROGRAM
“ROSELLA-C” SIRUP KELOPAK BUNGA ROSELLA BERVITAMIN C

B. LATAR BELAKANG
Saat ini, di pasaran banyak beredar jenis minuman yang telah diolah dengan berbagai cara dengan tujuan memberikan variasi dalam menu sehari-hari. Beberapa diantaranya seringkali diberi pewarna untuk menarik konsumen agar mereka membelinya. Salah satu alternatif untuk membuat minuman yang bervitamin tetapi tidak berbahaya bagi tubuh manusia adalah dengan memanfaatkan bahan-bahan alami seperti kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) sebagai bahan baku pembuatan minuman.
Salah satu produk konsumtif yang sedang trend dan punya prospek bisnis bagus di tengah krisis ekonomi adalah pembuatan minuman sehat yang terjangkau, misalnya sirup. Dilihat dari proses teknologinya, pembuatan jenis minuman ini masih dapat dikerjakan di dalam laboratorium kampus dan industri rumah tangga (home industri). Di pasaran sudah banyak beredar minuman sehat dalam bentuk cair, serbuk, padat, atau campuran dalam berbagai merek. Namun, harganya relatif mahal dan kurang memperhatikan kesehatan
Selama ini tumbuhan Rosella dikenal sebagai salah satu penghasil serat bermutu, yang bisa dimanfaatkan adalah daun, buah dan bunganya. Sampai saat ini Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) dimanfaatkan kelopak bunganya sebagai bahan pembuatan teh. Saat ini masyarakat Indonesia mulai mengembangkan kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) menjadi minuman teh yang sehat dan sambutan konsumen dengan adanya teh dari kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) tersebut cukup memuaskan.
Dengan adanya teh dari kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L), maka kemungkinan dibuatnya jenis minuman lain dengan bahan baku kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) semakin besar. Dalam hal ini sirup dapat dijadikan alternative sebagai minuman sehat selain teh Ini dikarenakan sirup dengan bahan kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) banyak mengandung vitamin C. Sirup kelopak bunga Rosella juga tidak membahayakan tubuh manusia karena tidak menggunakan bahan pewarna sintetis.
Sirup dari kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) mempunyai proses produksi yang tidak rumit. Walaupun produk minuman dari bahan kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) seperti teh sudah membanjiri pasar, karakteristik konsumen Indonesia yang ingin mencoba minuman menyehatkan dengan bahan dasar yang sama tetapi dalam bentuk yang berbeda seperti sirup memberikan peluang yang menjanjikan. Keistimewaan sirup Rosella, selain mengandung kandungan vitamin cukup tinggi, rasanya pun enak. Daya jual sirup dengan bahan baku kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) di Indonesia dipastikan cukup tinggi karena sirup ini sangat menyehatkan bagi orang yang meminumnya serta tidak membahayakan kesehatan manusia. Oleh karena itu berdasarkan uraian diatas maka program ini dilakukan untuk mengetahui alternatif produksi pembuatan sirup dengan bahan baku alami. Kegiatan program ini berjudul “Rosella-C” Sirup Kelopak Bunga Rosella Bervitamin C.

C. RUMUSAN MASALAH
• Bagaimanakah pembuatan sirup bervitamin C dari kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L)?
• Bagaimana bentuk usaha minuman sirup kelopak bunga rosella yang dapat dikembangkan di kota Malang?
• Bagaimana pelaksanaan dari usaha minuman sirup kelopak bunga Rosella?
• Bagaimana teknik monitoring yang dijalankan unutk memperlancar usaha ini?
• Bagaimanakah pengembangan usaha minuman sirup kelopak bunga Rosella untuk selanjutnya?

D. TUJUAN PROGRAM
Program ini bertujuan untuk
• Terciptanya wahana wirausaha dan ketrampilan bagi mahasisawa FKIP pada umumnya dan khususnya mahasiswa program studi Pendidikan Biologi untuk menghasilkan produk yang berbasis bidang produksi minuman sehat yaitu berupa sirup kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L)
• Bahwa peluang profesi lulusan FKIP hanya dalam profesi guru di sekolah ataupun perguruan tinggi. Tetapi lebih luas lagi mereka dapat menghasilkan produk komersial yang berkualitas berupa minuman menyehatkan yang sangat diperlukan untuk kesehatan masyarakat dan sekaligus sebagai menambah diversifikasi jenis minuman sehat alami.
• Memberikan pengalaman praktis mengelola usaha dibidang produk minuman sehat sehingga mereka memiliki pengalaman manajemen mulai dari proses awal sampai pemasaran produk.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Dari kegiatan ini diharapkan dapat menambah variasi minuman sehat yang ada dalam masyarakat. Selain itu dapat dijadikan alternative minuman sehat karena Rosella-C kaya akan vitamin C dan yang penting mampu bersaing dengan produk-produk minuman bervitamin yang lain.

F. KEGUNAAN PROGRAM
• Aspek ekonomi: pemanfaatan kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) sebagai bahan buatan PKMK dapat menambah diversifikasi jenis minuman sehat di pasaran sehingga masyarakat memilki alternatif dengan menyesuaikan kemampuan.
• Aspek akademik: 1) Memberikan kesempatan kepada mahasiswa FKIP UMM mengaplikasikan kegiatan kuliah untuk di angkat kedalam kegiatan kewirausahaan, 2) Menerapkan mata kuliah dari Jurusan Pendidikan Biologi bidang studi kewirausahaan, pengolahan pangan, dan ilmu gizi.
• Aspek ketenagakerjaan: memberikan alternatif lapangan pekerjaan kepada para mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi.

G. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
Pada saat ini di pasaran banyak beredar jenis minuman yang menawarkan beberapa rasa dengan berbagai variasi. Kebanyakan minuman yang beredar adalah minuman yang mengandung zat pewarna dan pemanis. Hal ini menimbulkan keprihatinan karena bahan-bahan aditif tersebut dapat merusak kesehatan manusia. Akan tetapi, saat ini telah banyak muncul minuman yang memanfaatkan bahan-bahan alami misalnya dari bagian-bagian tumbuhan untuk dimanfaatkan sebagai minuman yang menyehatkan. Kota malang yang akan dijadikan sebagai tempat produksi merupakan lokasi yang bisa dijadikan tempat pemasaran dari sirup berbahan baku kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L). Selain itu juga, Malang sebagai lokasi produksi sekaligus pemasaran merupakan daerah yang cocok untuk pengembangan Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L). Pemanfaatan kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) sebagai sirup diharapkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat dalam hal pemenuhan minuman menyehatkan. Kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat menggambarkan tuntutan dasar yang harus dipenuhi. Hal ini menyebabkan para pengusaha minuman bersaing untuk menarik konsumen dengan menawarkan berbagai jenis minuman menyehatkan. Akan tetapi, tidak sedikit diantara mereka yang menggunakan bahan-bahan sintetis hanya untuk menarik keuntungan (profit) semata. Oleh karena itu dengan adanya “Rosella-C” Sirup Kelopak Bunga Rosella Bervitamin C diharapkan bisa menjadi alternative minuman yang menyehatkan dan tidak berbahaya bagi kesehatan manusia.
Keadaan umum masyarakat terhadap sirup
Pengobatan alternatif dewasa ini sedang digemari masyarakat. Karena pengobatan ini tidak membutuhkan biaya yang sangat mahal dan tidak menimbulkan efek samping jika dibandingkan dengan menkonsumsi obat-obatan kimia yang banyak beredar dimasyarakat. Seruan dunia kesehatan “back to nature” begitu keras terdengar karena dinilai aman untuk dikonsumsi. Hal ini menyebabkan pengobatan alternatif dan obat-obatan yang berasal dari bahan alam mudah kita jumpai. Salah satunya adalah sirup dengan menggunakan bahan baku kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) yang banyak mengandung vitamin C. Minuman ini dipercaya dapat mengobati beberapa penyakit dan dapat menjaga ketahanan tubuh karena bahan yang digunakan merupakan bahan yang banyak mengandung vitamin C.
Rencana usaha pembuatan sirup dengan bahan baku bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) mempunyai peluang usaha yang bagus untuk dikembangkan lebih jauh. Analisis usaha pembuatan sirup ini meliputi beberapa hal yaitu :
• Produk
Produk sirup dari bahan baku bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) merupakan jenis penemuan maju yaitu menciptakan produk baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Produk ini diperkirakan akan memperoleh sambutan bagus di masyarakat dengan berdasarkan pada produk lain dengan bahan baku yang sama tetapi bentuk yang berbeda yaitu teh. Selain itu juga, produk ini bisa dinikmati oleh masyarakat karena menyehatkan dan tidak mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan. Dinamakan “ROSELLA-C” karena sirup ini terbuat dari kelopak bunga Rosella yang banyak mengandung vitamin C.
• Promosi
Kegiatan promosi yang dapat dilakukan untuk mengenalkan produk sirup dengan bahan baku bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu :
o Promosi melalui surat kabar yaitu mengenalkan produk dengan menerbitkannya dalam surat kabar sehingga dikenal oleh masyarakat luas.
o Promosi melalui media elektronik yaitu mengenalkan produk dengan menggunakan media elektronik melalui iklan.
• Harga
Produk sirup dengan bahan baku bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) akan ditawarkan kepada masyarakat selaku konsumen dengan harga yang mudah dijangkau oleh masyarakat yaitu Rp. 9.000,-. Hal ini disebabkan karena bahan-bahan yang diperlukan untuk pembuatan sirup ini berbahan alami yang dapat diperoleh di alam.
• Tempat
Lokasi produksi pembuatan sirup dengan bahan baku bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) dipusatkan di Kota Malang sebagai tempat pengembangan bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L). Sedangkan untuk saluran distribusinya dilakukan di daerah Malang dan sekitarnya.
Strategi pengembangan usaha
Strategi pengembangan usaha sirup dari kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) antara lain dapat ditempuh dengan cara:
• Ada upaya sosialisasi pengembangan dan cara pembuatan sirup kelopak bunga Rosella kepada masyarakat petani bunga Rosella khususnya dan petani secara umumnya. Hal ini dimungkinkan karena proses pembuatan sirup yang mudah dan tidak memerlukan biaya yang mahal.
• Mempromosikan produk dalam bentuk multimedia dan mediamasa agar dapat di akses oleh berbagai pihak.
• Untuk meningkatkan daya tawar petani, diperlukan kelembagaan kelompok petani dalam bentuk formal. Pembentukan kelompok hendaknya dilakukan dengan cara-cara yang lebih demokratis, dilandasi atas kepentingan dan persepsi yang sama diantara petani.
• Berupaya mencari peluang ekspor karena selama ini peluang ekspor sirup belum dilakukan oleh siapapun. Peranan pemerintah daerah maupun pusat dapat memfasilitasinya dengan memberikan kesempatan kepada pengusaha untuk mengikuti pameran-pameran nasional, regional maupun internasional.

Tabel 1. Analisis Usaha Sirup Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L)

A. Investasi
No. Bahan-bahan Jumlah Satuan Total
1.

2. Bahan-bahan:
a. Kelopak bunga Rosella
b. Gula Pasir
Peralatan:
a. Kemasan
b. Labeling
5 Kg

10 Kg

100 botol
100
Rp. 15.000

Rp. 7.000

Rp. . 1.000
Rp. 1.000
Rp. 75.000

Rp. 70.000

Rp. 100.000
Rp. 100.000
Total Biaya Rp. 345.000
B. Biaya Produksi
1.
2. Transport
Komunikasi Rp. 200.000
Rp. 200.000
Total biaya Rp. 400.000
C. Penerimaan
a. Sirup Rosella botol besar 100 botol
@ Rp. 9.000
Rp. 900.000

Jumlah Rp. 900.000
D. Keuntungan C – (A+B)
900.000 – (365.000+400.000)
Rp. 155.000

R O I (Return Of Investment) = Laba Usaha x 100%
Modal Produksi

= Rp. 155.000 x 100 % = 20,3 %
Rp. 765.000

Setelah melakukan pembuatan sirup dari kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) diharapkan tingkat kehidupan masyarakat kota Malang akan meningkat.

H. METODE PELAKSANAAN PROGRAM
Program ini diorientasikan pada studi kelayakan akan usaha pemanfaatan kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) sebagai sirup (minuman bervitamin C), apakah akan menghasilkan produk yang bernilai ekonomis tanpa mengabaikan faktor keamanan pangan dan sekaligus beberapa potensi pengembangan bisnis ini dijadikan kewirausahaan bagi masyarakat luas. Teknis pelaksanaan program adalah lebih menekankan akan diversifikasi atau modifikasi bahan baku dengan bahan penunjang terkait proporsi bahan untuk menghasilkan produk yang berkualitas.
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan Sirup kelopak bunga Rosella antara lain:
Alat:
Alat yang digunakan dalam pelaksanaan pembuatan sirup kelopak bunga Rosella ini adalah:

1. Gelas ukur
2. Erlenmeyer
3. Kompor gas
4. Blender
5. Corong
6. Kain Saring
7. Panci email
8. Botol dan tutup botol yang telah steril
9. Autoclave
10. Baskom

Bahan:
Bahan yang digunakan dalam pelaksanaan pembuatan sirup dari kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) ini adalah:

1. Kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L)
2. Gula pasir
3. Asam sitrat
4. Natrium Benzoat
5. Garam dapur
6. Air

Metode pengolahan
Bagian tumbuhan Rosella (Hibiscus rosa sabdariffa L) yang digunakan sebagai bahan pembuatan sirup adalah kelopak bunganya. Adapun teknik pembuatan sirup dengan bahan baku kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) adalah :
• Melepaskan kelopak bunga Rosella dari tangkainya
• Memotong kelopak bunga Rosella tersebut
• Menghaluskan (memblender) potongan kelopak bunga Rosella sampai halus
• Menambahkan air, asam sitrat, natrium benzoat, gula pasir dan garam dapur.
• Mengaduk bahan-bahan tersebut sampai rata hingga semua bahan tercampurkan.
• Memanaskan bahan-bahan yang telah tercampurkan hingga mendidih dan mengental.
• Menyaring hasilnya ke dalam baskom dan memasukkan ke dalam botol.
• Jika terdapat endapan, maka dapat digunakan sebagai selai.
• Melakukan proses packing (pengemasan) dan labeling.

Bagan Teknik Pembuatan Sirup “ROSELLA-C”

Kelopak bunga

Memotong kelopak bunga

Memblender bahan

Menambahkan air, asam sitrat, natrium benzoate, gula dan garam

Menyaring Mendidihkan hingga agak pekat

Memasukkan ke dalam Menyaring
botol dan menutup rapat

Merebus botol dalam air mendidih Memasukkan hasil ke dalam botol
(mensterilkan) selama ±30 menit

I. JADWAL KEGIATAN PROGRAM
Tabel 2. Jadwal Kegiatan Program
Kegiatan Bulan Ke-
1 2 3 4 5
1. Persiapan
 Perijinan X
 Persiapan dan Penetapan lokasi usaha X
 Persiapan alat dan bahan usaha Xx
 Promosi dan strategi pengadaan usaha Xxx
 Evaluasi tahap pertama X
2. Pelaksanaan
 Penjaringan konsumen X xxxx
 Pelayanan dan pemasaran xxx Xx
 Pengembangan usaha dan investasi Xxx Xx
 Evaluasi tahap kedua X
3. Kegiatan Bimbingan
 Pelaporan kegiatan usaha xxx
 Monitoring dengan evaluasi pelaksanaan usaha X
 Pengembangan usaha berdasarkan hasil monitoring Xxx

J. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA
1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Dwi Utariningsih
b. NIM : 06330029
c. Fakultas/Program Studi : K.I.P/Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Untuk Kegiatan PKM : 8 jam/Minggu
3. Anggota Pelaksana I
a. Nama Lengkap : Rita Novita Wijayanthi
b. NIM : 06330037
c. Fakultas/Program Studi : K.I.P/Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Untuk Kegiatan PKM : 8 jam/Minggu
3. Anggota Pelaksana II
a. Nama Lengkap : Siti Rahmatullaili
b. NIM : 05330058
c. Fakultas/Program Studi : K.I.P/Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Untuk Kegiatan PKM : 8 jam/Minggu

K. BIODATA DOSEN PENDAMPING
a. Nama Lengkap dan gelar : DR.H.Moch.Agus Krisno B,M.Kes.
b. Golongan Pangkat dan NIP : III/d, Penata Tk I, 104.8909.0118
c. Jabatan Fungsional : Lektor
d. Jabatan Struktural : –
e. Fakultas / Program Studi : FKIP/Pendidikan Biologi
f. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
g. Bidang Keahlian : Biologi
h. Waktu Untuk Kegiatan PKM : 8 jam /minggu

12. RENCANA PEMBIAYAAN
Tabel 3. Estimasi Dana Kegiatan
No Jenis Kegiatan Anggaran
A. Pra Kegiatan
1 Perijinan Rp. 200.000,00
2 Persiapan lokasi dan Sewa Laboratorium Rp. 400.000,00
3 Persiapan Alat dan Bahan Rp. 250.000,00
4 Promosi/publikasi Rp. 700.000,00
5 Pengadaan proposal Rp. 200.000,00
B. Pelaksanaan
1 Kelopak Bunga Rosella (5 kg) @ Rp. 15.000,-
Gula Pasir (10 kg)@ 7.000,-
Minyak gas LPG
Kompor Gas
Peralatan
Labelling (100buah) @ Rp. 1.000,-
Pengemasan (100 botol) @ Rp.1.000 Rp. 75.000,00
Rp. 70.000,00
Rp. 350.000,00
Rp. 600.000,00
Rp. 300.000,00
Rp. 100.000,00
Rp. 100.000,00
2 Transportasi (5 bulan) Rp. 200.000,00
3 Telepon (5 bulan) Rp. 200.000,00
4 Dokumentasi (5 bulan) Rp. 600.000,00
5 Administrasi dan managemen Rp. 500.000,00
C. Laporan
1 Penyusunan Laporan Rp. 300.000,00
2 Penggandaan laporan Rp. 200.000,00
3 Laporan akhir Rp. 350.000,00
Jumlah Rp. 5.065.000,00

M. LAMPIRAN
1. Daftar riwayat hidup ketua dan anggota kelompok
2. Surat pernyataan kesediaan bekerjasama dari pengusaha kecil
3. Denah detail lokasi pengusaha kecil atau mitra kerja

07/07/2009 Posted by | Contoh PKM | 9 Komentar

PENGEMBANGAN RUMAH LOAK SEBAGAI ALTERNATIF PENYEDIAAN KEBUTUHAN MAHASISWA DAN MASYARAKAT SEKITAR KAMPUS UMM

1. JUDUL PROGRAM
Pengembangan Rumah Loak sebagai Alternatif Penyediaan Kebutuhan Mahasiswa dan Masyarakat Sekitar Kampus UMM

2. LATAR BELAKANG MASALAH
Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu universitas besar di Indonesia, memiliki banyak mahasiswa yang berasal dari berbagai penjuru daerah di nusantara. Fenomena ini dapat dijadikan sebagai peluang untuk berwirausaha. Biasanya, hampir seluruh mahasiswa yang berasal dari luar daerah yang baru masuk ke Malang tidak pernah membawa barang yang termasuk dalam kategori besar dan berat dari daerah asalnya. Misalnya seperti meja, kursi, lemari, rak buku, dan lain-lain. Mereka hanya akan membeli barang-barang tersebut di Malang. Permasalahan muncul ketika mahasiswa-mahasiswa ini telah selesai kuliah dan berniat kembali ke daerahnya masing-masing. Pertanyaan yang mucul adalah akan dikemanakan barang-barang tersebut.
Berdasarkan wawancara informal yang dilakukan oleh penulis terhadap beberapa mahasiswa luar daerah di UMM, terdapat tiga pilihan yang menjadi pertimbangan. Pertama, barang-barang tersebut akan dibawa pulang dengan konsekuensi biaya angkut yang mahal dan tingkat kerepotan yang tinggi. Dengan kata lain, tindakan ini merupakan tindakan yang tidak efektif dan efisien. Pilihan yang kedua adalah mewariskan barang-barang tersebut kepada adik kost. Namun jika dihitung untung dan ruginya, tindakan ini merupakan tindakan yang kurang pas bagi hampir sebagian besar mahasiswa. Hal ini disebabkan barang-barang tersebut masih memiliki nilai ekonomis atau masih layak pakai, bahkan masih memiliki kualitas yang sama dengan barang yang ada di toko/pasar. Pilihan yang ketiga adalah dengan menjual kembali barang-barang tersebut dengan harga yang lebih miring. Permasalahan yang muncul pada pilihan ketiga ini adalah kemana harus menjual barang-barang tersebut. Hal ini disebabkan karena di sekitar kampus UMM, bahkan kampus- jual beli barang bekas layak pakai ini.
Lulusnya mahasiswa lama tentu saja diiringi dengan masuknya mahasiswa baru. Pada masa awal perkuliahan ini, biasanya biaya perkuliahan sangat tinggi. Mahasiswa diharuskan untuk membayar SPP, DPP, pengadaan buku, dan lain-lain. Padahal, mahasiswa baru juga harus memenuhi kebutuhan hidup nya, baik itu berupa biaya tempat tinggal maupun biaya pengadaan perabotan kamar. Fenomena ini tentu dapat dijadikan sebagai peluang berwirausaha, yaitu dengan menyediakan usaha rumah loak di sekitar kampus. Dengan adanya rumah loak ini, mahasiswa lama dapat terbantu dalam menjual barang-barang nya. Bagi mahasiswa baru, usaha rumah loak ini akan sangat membantu dalam mengurangi biaya yang sangat tinggi di awal perkuliahan. Mahasiswa baru dapat memenuhi kebutuhan hidupnya berupa perabot maupun barang elektronik dengan lebih mudah, cepat, dan harga yang lebih miring. Sedangkan bagi masyarakat, usaha ini dapat dijadikan sebagai lapangan pekerjaan.
Pada dasarnya, jual beli barang bekas sudah menjadi bisnis yang menarik di luar negeri. Di Indonesia usaha ini baru dirintis oleh sebagian kecil orang, padahal prospek nya cukup cerah, apalagi jika berada di lingkungan kampus dimana mayoritas mahasiswa lebih berfikir ekonomis, yaitu ingin mendapatkan barang berkualitas bagus dengan harga yang murah. Bertolak dari pemikiran tersebutlah, penulis menilai perlunya keberadaan rumah loak sebagai alternatif penyediaan kebutuhan mahasiswa dan masyarakat sekitar kampus UMM.

3. RUMUSAN MASALAH
a. Bagaimana desain usaha rumah loak yang akan dirancang?
b. Bagaimana sistem usaha yang akan dijalankan?
c. Bagaimana perhitungan hasil usaha nya di lingkungan sekitar kampus UMM?
d. Bagaimana kemungkinan resiko yang akan ditanggung dari usaha ini?
e. Bagaimana bentuk evaluasi pelaksanaannya?

4. TUJUAN PROGRAM
a. Mengembangkan usaha rumah loak di lingkungan sekitar kampus UMM.
b. Membantu mahasiswa lama yang telah lulus untuk menjual barang bekasnya.
c. Membantu mahasiswa baru untuk mendapatkan barang murah dengan kualitas yang masih bagus.
d. Menciptakan lapangan tenaga kerja bagi masyarakat menengah ke bawah sekitar kampus UMM.

5. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Program Kreativitas Mahasiswa ini, diharapkan mampu mengatasi dan membantu mahasiswa baru serta masyarakat umum untuk menyediakan barang-barang bekas yang layak pakai, seperti rak buku, almari, kipas angin, rice cooker, kaca cermin, serta alat-alat yang lain. Selanjutnya usaha ini diharapkan mampu bersaing dengan usaha-usaha lain yang sejenis.

6. KEGUNAAN PROGRAM
6.1 Aspek Ekonomi
Mahasiswa tentu akan sangat terbantu dengan adanya usaha ini. Bagi mahasiswa lama maupun mahasiswa yang telah lulus, mereka tidak perlu lagi bingung mau diapakan barang-barang yang dimiliki. Mereka dapat menjual barang-barang nya tersebut melalui rumah loak ini dengan harga yang pantas. Bagi mahasiswa baru, usaha rumah loak ini dapat membantu mereka memperoleh barang dengan harga yang murah namun masih memiliki kualitas yang bagus/layak pakai.
6.2 Aspek Ketenagakerjaan
Usaha rumah loak ini akan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar kampus UMM, khususnya masyarakat golongan menengah ke bawah yang masih belum memiliki pekerjaan. Penulis yakin, usaha ini memiliki prosfek yang cerah sehingga kemungkinan untuk membuka cabang di lingkungan sekitar kampus di Kota Malang sangat besar. Dengan demikian, lapangan kerja baru akan semakin bertambah dan jumlah pengangguran akan semakin berkurang.
6.3 Aspek Sosial
Keberadaan rumah loak ini diharapkan mampu mengatasi masalah sosial yang ada disekitar kampus seperti mengurangi angka pengangguran yang semakin hari semakin meningkat yang disebabkan oleh semakin sempitnya lapangan pekerjaan. Bagi mahasiswa keberadaan rumah loak ini mampu menjembatani kepentingan antara mahasiswa yang telah lulus dengan mahasiswa baru yang membutuhkan barang bekas yang masih layak pakai.

7. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
Usaha loak yang umumnya ada saat ini biasanya ditemukan di lorong jembatan atau lorong pasar yang apak, panas, dan berdebu seperti pasar loak Taman Puring atau Jatinegara di Jakarta. Sedangkan usaha rumah loak yang akan dibangun ini merupakan kebalikan dari usaha loak yang ada pada umumnya. Tempat yang disediakan akan disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa, yaitu di dekat kampus dan dibuat senyaman mungkin. Barang bekas yang dijual merupakan barang-barang keperluan mahasiswa dengan harga yang terjangkau oleh kantong mahasiswa.
Sistem yang diterapkan dalam usaha ini adalah sistem titip jual, dimana mahasiswa yang ingin menjual barang menitipkan dulu di rumah loak ini. Apabila barang telah terjual, maka akan dipotong komisi sebesar 20% dari harga jual barang. Apabila dalam jangka waktu 3 bulan barang belum laku terjual, maka penitip dikenakan biaya sebesar Rp 4.000,00 sebagai biaya sewa tempat. Usaha ini juga menyediakan jasa angkut barang dengan biaya Rp 2.000,00 untuk jarak maksimal 500 m, dan berlaku kelipatannya.
Di UMM, pelaksanaan wisuda setiap tahunnya diadakan dalam 3 periode. Diasumsikan dalam satu tahun tersebut mahasiswa yang lulus berjumlah 3000 orang dengan jumlah mahasiswa yang berasal dari luar daerah sebesar 1500 orang. Jika 1000 mahasiswa saja akan menitip barangnya dengan nilai nominal Rp 20.000,00 di rumah loak dan laku dalam jangka waktu 3 bulan, maka komisi yang akan diperoleh sebesar Rp 4.000.000,00 (1000 orang x Rp 20.000 x 20%). Padahal komisi tersebut belum ditambahkan dengan biaya angkut dan nominal harga barang di atas Rp 20.000,00.
Dari gambaran di atas maka dapat dilihat bahwa usaha ini sangat memiliki prospek yang cerah, di samping untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa, usaha ini juga merupakan usaha yang baru sehingga kemungkinan untuk berkembang sangat besar. Selain itu, resiko yang ditanggung dari usaha ini hanya sedikit karena barang-barang yang dijual didapatkan dengan sistem titip jual. Artinya kalaupun barang tidak laku, maka hanya mengalami rugi tempat karena tidak bisa ditempati barang lain.

8. METODE PELAKSANAAN PROGRAM
a. Melakukan pendekatan personal terhadap mahasiswa luar daerah di UMM (teknik mulut ke mulut). Teknik ini merupakan salah satu jenis promosi yang sangat manjur karena akan cepat tersebar di kalangan mahasiswa.
b. Menyebarkan brosur di kost-kostan sekitar kampus UMM.
c. Melakukan pembinaan terhadap mahasiswa yang memiliki ketertarikan dengan usaha yang sejenis.

9. JADWAL KEGIATAN PROGRAM
Kegiatan Bulan ke-
1 2 3 4 5
1. Persiapan
a. Perijinan x
b. Persiapan dan penetapan lokasi x
c. Persiapan alat dan bahan usaha x x
d. Promosi dan pengadaan usaha x x x
e. Evaluasi tahap pertama x
2. Pelaksanaan
a. Penjaringan konsumen x x x
b. Pelayanan jasa x x x x x x X x
c. Evaluasi tahap kedua x
3. Kegiatan Bimbingan
a. Pelaporan kegiatan usaha x x x
b. Monitoring dengan evaluasi
pelaksanaan usaha x
c. Pengembangan usaha berdasarkan hasil monitoring x x x
10. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK
Ketua Pelaksana Kegiatan
Nama : Dewi Syahrina
NIM : 04620005
Fakultas/Jurusan : Ekonomi/Akuntansi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Alamat Rumah : Perum. Bukit Cemara Tujuh Blok. B No.1
No. Telp/Hp : 081931888021
Waktu untuk PKM : 9 jam

Anggota Pelaksana
1. Nama : Ali Yusuf
NIM : 04620289
Fakultas/Jurusan : Ekonomi/Akuntansi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Alamat Rumah : Jl. Tirto Utomo Gg.VI No.16, Dau, Malang
No. Telp/Hp : 081334010414
Waktu untuk PKM : 9 jam

2. Nama : Randy Prima Herlambang
NIM : 04620138
Fakultas/Jurusan : Ekonomi/Akuntansi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Alamat Rumah : Jln. Pabrik Es Kasri, Dsn. Besongol, Ds. Sumberejo, Kec. Pandaan, Kab Pasuruan
No. Telp/Hp : 085649505396
Waktu untuk PKM : 9 jam

3. Nama : Desy Ayu Pirmasari
NIM : 04620006
Fakultas/Jurusan : Ekonomi/Akuntansi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Alamat Rumah : Jl. Tlogo Mas 15 C No. 10 C
No. Telp/Hp : 081348078571
Waktu untuk PKM : 9 jam

4. Nama : Umar Hadi Triyoso
NIM : 03620253
Fakultas/Jurusan : Ekonomi/Akuntansi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Alamat Rumah : Perum Embong Anyar II Blok C 15
No. Telp/Hp : 08124903242
Waktu untuk PKM : 9 jam

11. NAMA DAN BIODATA DOSEN PENDAMPING
Nama Lengkap : Susenohaji, SE, M.Si
NIP : 107.9911.0347
Golongan Pangkat : IIIA/ Penata Muda
Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
Jabatan Struktural : Kepala Laboratorium Akuntansi
Fakultas/Jurusan : Ekonomi/ Akuntansi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian :Kewirausahaan Masyarakat, Manajemen, dan Akuntansi Sektor Publik
Waktu untuk Kegiatan : 5 jam

12. RENCANA PEMBIAYAAN

No. Jenis Kegiatan Anggaran
A Pra Kegiatan
1 Perizinan Rp 100.000,00
2 Persiapan Lokasi (Sewa tempat 4 bulan) Rp 1.400.000,00
3 Persiapan Alat dan Bahan Rp 1.000.000,00
4 Promosi/Publikasi Rp 300.000,00
5 Pengadaan Proposal dan Seminar Rp 200.000,00
B Pelaksanaan
1 Sewa Mobil Pick Up (4 bulan) Rp 500.000,00
2 Bensin untuk Pick Up Rp 400.000,00
3 Listrik, Air, dan Telpon (4 bulan) Rp 500.000,00
4 Administrasi dan Management Rp 150.000,00
5 Upah Karyawan 2 orang (4 bulan) Rp 800.000,00
C Laporan
1 Penyusunan Laporan Rp 200.000,00
2 Penggandaan Laporan Rp 150.000,00
3 Seminar Rp 300.000,00
Jumlah Rp 6.000.000,00

07/07/2009 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar

Warung “AKTIVIS” sebagai peluang Usaha mahasiswa

A. Latar Belakang

Fenomena “nyangkruk” dan “ngopi” bagi masyarakat bukan menjadi suatu hal yang asing lagi untuk disaksikan dilingkungan sekitar kita. Terlebih bagi para akademisi yang menuntut ilmu di perguruan tinggi atau yang lebih dikenal dengan sebutan mahasiswa. Warung kopi seolah menjadi kampus alternatif bagi para mahasiswa. Dengan segelas kopi seharga dua batang rokok, mahasiswa bisa duduk berjam-jam untuk membicarakan apa saja yang tidak dibatasi oleh dimensi waktu dan ruang kuliah. Mulai dari perhelatan politik kampus, membedah kebijakan universitas yang dipandang tidak berpihak pada mahasiswa, hingga pada persoalan politik-kenegaraan yang sedang menghangat.
Berbeda pada saat diperkuliahan, di Warung Kopi para mahasiswa tidak perlu takut mengeluarkan gagasannya, sebab di warung kopi kebebasan berbicara benar-benar dilindungi. Ancaman nilai, Drop Out, tidak akan mampu menghentikan cangkru’an di warung-warung kopi. Mahasiswa terus melakukan diskusi, pagi, siang, sore, dan bahkan, hingga larut malam, para mahasiswa silih berganti datang ke warung kopi.
Mahasiswa yang biasanya tergabung dalam suatu organisasi yang memiliki satu visi dan misi yang sama biasanya duduk bersama sesuai dengan kelompoknya, para aktivis organisasi ekstra kemahasiswaan duduk menurut organisasinya masing-masing, aktivis lembaga intra semacam HMJ, BEM atau Senat selalu duduk bersama teman seprofesinya, demikian pula pada mahasiswa pecinta alam dan aktivis sanggar. Bahkan tidak ketinggalan turut meramaikan ritual warung kopi adalah vokalis ternama band-band kampus dengan gitaris dan drumernya yang selalu menenteng drum stick kemana-mana.
Namun dalam realita yang sesungguhnya, dari sekian banyak organisasi tersebut sebenarnya terdapat suatu perbedaan idealisme antar organisasi yang menyebabkan adanya persaingan. Persaingan yang sehat akan berdampak positif bagi perkembangan organisasi tersebut. Namun jika persaingan yang terjadi adalah persaingan yang tidak sehat, maka pada titik tertentu bisa berimbas pada terjadinya konflik antar organisasi dan hal tersebut adalah yang sangat disayangkan jika konflik tersebut berujung pada sebuah pertikaian.
Melihat budaya yang menjamur pada mahasiswa aktivis tersebut yang gemar melakukan kegiatannya diwarung kopi mulai dari ngobrol biasa dan diskusi ringan hingga pada rapat organisasi dan bedah buku maka kami berinisiatif untuk membuat suatu “Warung Kopi Aktivis” yang memiliki kekhususan dibanding warung kopi yang lainnya sekaligus mampu sebagai tempat islah antar organisasi.

B. Rumusan Masalah
Pembuatan Warung Kopi Aktifis sebagai peluang usaha Mahasiswa

C. Tujuan Kegiatan
Tujuan utama dari pengadaan warung aktivis ini adalah :
– Melatih jiwa kewirausahaan mahasiswa
– Memberi pemasukan pendapatan bagi mahasiswa
– Melatih jiwa kepemimpinan mahasiswa
Bagi Konsumen
– Sebagai sarana bagi mahasiswa aktivis dan umum untuk bersosialisasi secara positif
– Tempat pengembangan wacana pendidikan dan pemikiran Civitas Akademika dan Khalayak umum
– Sebagai sarana pemersatu (islah) antar organisasi yang berselisih haluan
– Sebagai sarana informasi transformasi antar masyarakat dan mahasiswa

D. Luaran yang di harapkan
Usaha Warung ini selain diharapkan sebagai wirausaha yang menjanjikan juga diharapkan mampu memberi wadah positif bagi mahasiswa aktivis dan umum, selain sebagai tempat pengembangan wacana dan keilmuan bagi mahasiswa, warung aktifis ini diharapkan juga dapat menjadi tempat islah antar organisasi untuk dapat menyatukan semangat menuju pembangunan bangsa yang berkesinambungan.

E. Kegunaan Program
Usaha Warung aktivis ini merupakan ajang bagi para mahasiswa untuk mempraktekkan teori yang selama ini telah di dapatkan dalam perkuliahan. Dapat dikatakan juga sebagai praktek kerja langsung. Pembukaan Warung aktifis ini juga memberikan manfaat kepada mahasiswa umum dan masyarakat yaitu menyediakan sarana dan tempat untuk bersosialisasi dengan relasi mereka.

F. Gambaran Umum Rencana Usaha
Dalam usaha warung “aktifis” ini merupakan sebuah ide yang muncul dengan melihat fenomena pada mahasiswa terutama mahasiswa aktifis yang gemar melakukan aktifitas sosial organisasi diwarung kopi. Aktifitas mahasiswa tersebut meliputi interaksi sosial secara umum seperti hanya sekedar berkumpul, bercanda, aktifitas diskusi ringan mengenai suatu permasalahan sosial atau organisasi, rapat internal organisasi hingga pada kegiatan bedah buku yang dikemas secara sederhana diwarung kopi.
Usaha warung Aktifis ini merupakan usaha dengan modal, tenaga kerja dan fasilitas yang berkapasitas sedang. Bertempat didaerah yang strategis bagi mahasiswa aktivis, mudah dijangkau karena tidak jauh dari kampus. Dalam usaha ini produk yang dihasilkan adalah minuman dan makanan dengan harga yang sesuai dengan kantong mahasiswa. Untuk minuman dalam hal ini adalah kopi, teh, susu, dan minuman dalam kemasan. Untuk penjualan kopi terdapat kekhususan, dimana terdapat berbagai macam kopi tradisional yang telah dikenal oleh masyarakat memiliki cita rasa yang khas. diantaranya :
1. Kopi Gresik
2. Kopi Bali
3. Kopi Blitar
4. Kopi Riau
5. Kopi Madura
Untuk menu makanan, dipilih makanan ringan sebagai teman minum kopi. Hal ini disesuaikan dengan konsep dasar bahwa Kafe ini bukan warung makan tetapi sejenis Warung kopi. Menu makanan ringan yang disajikan antara lain:
1. Ketan
2. Gorengan
3. Mie Instan
4. Roti bakar dengan berbagai rasa.
Karena usaha ini merupakan usaha yang berkapasitas sedang, maka Perlengkapan yang dibutuhkan juga sederhana. Peralatan yang digunakan dalam usaha ini meliputi dispenser, galon air, kompor, alat penggorengan, alat pemanggang roti, gelas piring dan lain lain. Sedangkan personel dalam bisnis ini meliputi 5 orang tenaga kerja yang diantaranya merangkap sebagai divisi pemasaran, operasional, dan keuangan. Karena personel sedapat mungkin diambil dari kalangan mahasiswa kelompok sendiri yang telah berpengalaman dan memilki keahlian dan penguasaan terhadap bidangnya masing-masing. Namun tidak menutup kemungkinan jika pada kondisi selanjutnya terdapat kekurangan personel, maka akan ditambahkan lagi jumla personel dari kalangan mahasiswa aktifis juga.
Dalam Usaha ini terdapat kekhususan yang membedakan warung ini dengan kafe atau warung kopi yang lain, yaitu terdapatnya kegiatan-kegiatan yang mendukung pada pengembangan wacana dan intelektual mahasiwa, diantaranya:
– Adanya bedah buku dengan mengundang penulisnya langsung dalam waktu sebulan sekali
– Diskusi sosial tentang fenomena sosial yang sedang hangat terjadi dengan mengundang pemateri yang ahli dibidangnya
– Dialog akademik dengan tokoh-tokoh pendidikan atau mahasiswa antar kampus
– Adanya pemutaran film-film dan diskusi dalam satu kali dalam seminggu
– Pengadaan koran tiap hari
– Pemutaran lagu-lagu pergerakan (umum), lagu-lagu perjuangan indonesia dan lagu-lagu hiburan.

G. Metode Pelaksanaan Program
I. Tahap Persiapan
Pada tahapan ini meliputi ;
a. Pengkondisian team
b. Pembagian job description dan job specification pada masing-masing anggota team dan anggota perbantuan. Termasuk disini adalah pada team khusus yang bertugas pada persiapan kegiatan khusus di warung aktifis.
c. Persiapan segala keperluan termasuk bahan jual dan perlengkapan dapur
d. Pengkondisian tempat dan penataan fisik
e. Pengkondisian mesin dan peralatan

II. Tahap Publikasi dan Pemasaran
Publikasi dan pemasaran dilakukan melalui :
a. Media Brosur
b. Metode Personal Selling
c. Melalui Hubungan Kemasyarakatan

III. Tahap Pelaksanaan Program dan Evaluasi
Pelaksanaan program dilakukan secara terorganisir dan melakukan evaluasi harian dan mingguan guna melakukan analisis baik dari factor internal team maupun analisis kompetitor yang kemungkinan muncul. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya mengevaluasi guna mempertahankan keunggulan bersaing dengan menonjolkan kelebihan-kelebihan yang menjadikan warung aktifis ini berbeda dengan warung yang lain.

H. Jadwal Kegiatan

Tahap Jenis kegiatan Rincian kegiatan
I PERSIAPAN Pengkondisian Team
Pembagian job description dan job specification pada masing-masing anggota team dan anggota perbantuan

Persiapan segala keperluan termasuk bahan jual dan perlengkapan dapur
Pengkondisian tempat dan penataan fisik
Pengkondisian mesin dan peralatan
II Publikasi dan Pemasaran Pembuatan media brosur di berbagai kampus dan kesekretariatan organisasi, sosialisasi warung aktifis pada mahasiswa secara person to person melalui anggota team yang juga anggota suatu organisasi
III Pelaksanaan Program dan Evaluasi Pelaksanaan Program sekaligus melakukan evaluasi, analisis kompetitor dan rencana tindak lanjut pada tiap minggunya untuk peyelenggaraan kegiatan-kegiatan khusus yang dilakukan di warung aktifis.
Keterangan

– Pada tiap tahapan dilakukan secara terorganisir, bekerja secara individual sesuai dengan job des dan job spec masing-masing namun tetap kolektif untuk kemajuan bersama.
– Pada tahapan I dan II memerlukan waktu satu minggu (7 Hari), selanjutnya dilakukan pelaksanaan program
– Pada tahapan pelaksanaan program, tidak menutup kemungkinan untuk dadakan perubahan sesuai dengan kondisi yang dihadapi pada saat pelaksanaan program.

Jadwal Pelaksanaan

No Bulan ke
1 2 3 4
01 Persiapan Pengkondisian tim X
Pembagian job des dan Job Spec X
Persiapan keperluan perlengkapan X
Pengkondisian tempat X
02 Publikasi Publikasi X X X X
03 Pelaksanaan X X X
04 Evaluasi X X X

I. Nama dan Biodata Ketua dan Anggota

Ketua Kelompok
Nama : Devi Marlian Suciati
TTL : Bandung, 29 September 1986
NIM : 04810005
Fakultas : Psikologi
Alamat di Malang : Perum Landung Sari Asri Blog G No. 31 Malang.
Alamat Asli : Jl. Pinus no 6 Tangkerang Utara, Pekanbaru Riau
No telp/HP : 081334415592

Riwayat Pendidikan :
o SD 016 Sekip, Pekanbaru Riau
o SLTP N10 Pekanbaru Riau
o SMU N8 Pekanbaru Riau

Riwayat Organisasi :
– OSIS SLTP 10 periode 1998-1999
– Ikatan Mahasiswa Riau

Anggota Kelompok
Nama : Herlina Kurnia Astuti
TTL : Gresik, 29 Agustus 1986
NIM : 04810094
Fakultas : Psikologi
Alamat di Malang : Tlogomas Gg. 15B No. 03 Malang.
Alamat Asli : Jl. Rambe No. 69 Gumeno Manyar Gresik
No telp/HP : 081803881521
Email : lyna_re@yahoo.com

Riwayat Pendidikan :
o MI Nurul Ulum Gumeno Gresik
o SLTP YP Sunan Dalem Gumeno Gresik
o SMU N 1 Cerme Gresik
o Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang
Riwayat Organisasi :
 OSIS SLTP (1998-1999)
 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Muhammadiyah Malang
 Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’
 Sekretaris Umum Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Psikologi (2005-2006)
 Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Psikologi UMM (2006-2007)

Aktifitas non Akademik
 Peserta Sekolah Masyarakat Sipil (SMS) kota Malang yang diselenggarakan oleh yayasan Averroes Malang
 Pendamping Pelatihan Pengembangan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK) Universitas Muhammadiyah Malang

Nama : M. Khairul Muannam
TTL : Blitar, 09 September 1987
NIM : 05120006
Fakultas : Agama Islam/ Syariah
Alamat di Malang :.Jl Tirto Utomo Gg 8 no 159 b
Alamat Asli : Sidorejo Ponggok Blitar
No telp/HP : 0813345279

Riwayat Pendidikan :
o MIN Sidorejo Blitar
o MTSN 1 Sidorejo Blitar
o MA Maarif Udan Awu
o Fakultas Agama Islam UMM
Riwayat Organisasi :
 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Muhammadiyah Malang
 Seekretaris Umum Anak Cabang Ponggook Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’
 Ketua Bidang Minat Bakat Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Agama Islam (2005-2006)
 Staf Mentri dalam negri BEM UMM (2007-2008)

Nama : Abdul Karim Abraham
TTL : Blitar, 09 September 1987
NIM : 06260083
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Alamat di Malang :.Jl Tirto Utomo Gg 8 no 159 B
Alamat Asli : Singaraja Bali
No telp/HP : 0813345279
Riwayat Pendidikan :
o SDN 6 Pejakatan
o SMP Ibrahimi Situbondo
o MA Nurul Hikam Situbondo
o Fakultas Ilmu Sosial Universitas Muhammadiyah Malang
Riwayat Organisasi :
 Ikatan Santri Salafiyah Syafiiyah IKSASS BALI
 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Muhammadiyah Malang
 Sekretaris Mentri departemen sosial dan ekonomi BEM UMM (2007-2008)
J. Nama dan Biodata Dosen Pendamping

Nama : Siti Maimunah, S. Psi
Tempat/Tgl lahir : Malang, 20 Mei 1977
Alamat
a. Rumah : Jl. Candi III E/ 147
Telp : 081.2330.6297
b. Kantor : Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.
Jl. Tlogomas 246 Malang
Telp: 0341-464318 Psw.170

Riwayat Pendidikan :
1. Program S2 : Magister Sumber Daya Manusia
2. Program S1 : Psikologi

Riwayat Pekerjaan :
– Dosen Kopertis Wilayah VII/ Jawa Timur

Penelitian / Karya tulis :
– Perbedaan perilaku lekat anak antara ibu yang bekerja dan yang tidak bekerja
– Hubungan antara IQ, EQ, & SQ dengan gaya kepemimpinan
– Kecemasan ibu hamil menjelang persalinan pertama

K. Anggaran Biaya

No Jenis Pengeluaran Rincian jumlah
1 Sewa Tempat Rp. 3.000.000
2 Perlengkapan Tempat
Karpet plastik 25 meter Rp. 13.000 Rp. 325.000
Wearles 1 buah Rp. 125.000
Meja mini 35 buah Rp. 10.000 Rp. 350.000
3 Perlengkapan dapur
Kompor biasa, kompor Gas
dan elpiji 1 buah
Rp. 450.000
Dispenser 2 buah Rp. 75.000 Rp.150.000
galon air 2 buah Rp. 25.000 Rp. 50.000
Alat penggorengan 2 buah Rp. 20.000 Rp. 40.000
Alat pemanggang roti 1 buah Rp. 50.000 Rp. 50.000
Panci 2 buah Rp. 15.000 Rp. 30.000
Gelas 30 buah Rp. 2000 Rp. 60.000
Cangkir kopi 50 buah Rp. 2000 Rp.100.000
Piring plastik 50 buah Rp. 1500 Rp. 75.000
Mangkok 50 buah Rp. 2000 Rp.100.000
3 Belanja awal bahan
Kopi Gresik 2 Kg Rp. 35.000 Rp. 70.000
Kopi Blitar 1 Kg Rp. 35.000 Rp. 35.000
Kopi Bali 1 Kg Rp. 40.000 Rp. 40.000
Kopi Madura 1 Kg Rp. 40.000 Rp. 40.000
Kopi Riau 1 Kg Rp. 50.000 Rp. 50.000
Kopi nescafe 20 bks Rp. 700 Rp. 14.000
Kopi capucino 12 bks Rp. 800 Rp. 9.600
Susu 2 kaleng Rp. 7000 Rp. 14.000
Teh 2 bks Rp. 2500 Rp. 5.000
Roti tawar 3 dus Rp. 7000 Rp. 21.000
Pisang Rp. 10.000
Mie instan 2 dus Rp. 25.000 Rp. 50.000
Ketan 1 Kg Rp. 15.000 Rp. 15.000
4 Publikasi
Pamflet 1 Rim .
Rp. 200.000
5 Lain-lain
Minyak goreng 5 Kg Rp. 7000 Rp. 35.000
Gas elpiji 1 buah Rp. 60.000000 Rp. 60.000
Sabun cuci 1 buah Rp. 4300
Serbet 35 buah Rp. 1000 Rp. 35.000
Taplak meja plastik 40 buah Rp. 1500 Rp. 60.000
Tempat tissue 7 buah Rp. 2500 Rp. 17.500
Langganan koran
(kompas & jawa pos) 1 bulan Rp. 50.000 Rp. 100.000
Buku bacaan Rp. 100.000
Fee pemateri Rp. 100.000
Jumlah Pengeluaran Rp. 6.000.000

L. Lampiran
Lampiran 1
1. Perencanaan Kegiatan
1. Proses produksi
Usaha ini melayani konsumen sesuai dengan pesanan yang masuk. Sebelumnya kami sudah menyediakan daftar menu yaitu segala macam sajian yang kami tawarkan dimana kami juga menyertakan rincian harganya. Dari situ, konsumen dapat lansung memilih dan memesan sesuai selera dan sesuai dengan keadaan kantong.
2. Penataan fisik
Tata letak yang kami tawarkan didasarkan pemikiran bahwa penjualan yang terjadi bervariasi tergantung sejauh mana produk dapat menarik perhatian konsumen. Oleh sebab itu, kami mencoba untuk menampilkan produk yang kami miliki dalam bentuk display,karena semakin banyak display dapat dipastikan bahwa konsumen akan tertarik
3. Mesin dan Perlatan
Peralatan yang kami gunakan meliputi:
1. dipenser
2. galon air mineral
3. kompor
4. alat-alat penggorengan
5. gelas
6. piring dan lain-lain

2. Rencana Pemasaran
Harga
Sesuai dengan target pasar yang ingin dicapai,maka harga yang diberikan disesuaikan dengan keadaan kantog para konsumen, artinya murah, meriah tetapi tetap mengutamakan kualitas. Adapun daftar menu dan rincian harganya adalah sebagai berikut:
a. Aneka Minuman
1. Aneka Kopi Spesial
– Kopi Gresik Rp. 1700
– Kopi Bali Rp. 1700
– Kopi Blitar Rp. 1700
– Kopi Riau Rp. 1700
– Kopi Madura Rp. 1700
– Kopi Hitam Rp. 1500
2. Aneka Teh
– Teh Tawar Rp. 700
– Teh Manis Rp. 1000
– Teh Hijau Rp. 1200
– Teh Jahe Rp. 1200

3. Aneka Susu
– Susu putih Rp. 1700
– Susu Coklat Rp. 1700
4. Lain-lain
– STMJ Rp. 3500
– Teh Susu Rp. 2200
– Kopi Jahe Rp. 1700

b. Aneka Makanan
1. Roti Bakar aneka Rasa Rp. 2500
2. Pisang Bakar Rp. 1500
3. Aneka Mie
– Mie Kuah Rp. 2300
– Mie Goreng Rp. 2300
– Mie Goreng Spesial Rp. 3000
4. Aneka Gorengan
– Pisang Goreng Rp. 250
– Roti Goreng Rp. 250
– Molen Rp. 100
– Tempe& Tahu Goreng petis Rp. 250

3. Perencanaan Produksi
a. Proses produksi
Bisnis ini melayani konsumen sesuai dengan pesanan yang masuk. Sebelumnya kami sudah menyediakan daftar menu yaitu segala macam sajian yang kami tawarkan diman kami juga menyertakan rincian harganya. Dari situ, konsumen dapat lansung memilih dan memesan sesuai selera dan keadaan kantong.
b. Penataan fisik
Tata letak yang kami tawarkan didasarkan pemikiran bahwa penjualan yang terjadi bervariasi tergantung sejauh mana produk dapat menarik perhatian konsumen. Oleh sebab itu, kami mencioba untuk menampilkan produk yang kami miliki dalam bentuk display,karena semakin banyak display dapat dipastikan bahwa konsumen akan tertarik
c. Rencana pemasaran
1. Harga
Sesuai dengan target pasar yang ingin dicapai,maka harga yang diberikan disesuaikan dengan keadaan kantog para konsumen, artinya murah, meriah tetapi tetap mengutamakan kualitas.
2. Ramalan produk
Proyeksi penjualan dan harga jual pada bulan pertama akan mendapatkan keuntungan
Dengan prediksi bahwa pada tiap harinya akan terdapat minimal 60 pengunjung., maka pada satu bulan terdapat 1800 pengunjung.

Berikut ini adalah Kertas Kerja dalam melakukan perhitungan keuangan dan ekonomi:

Proyeksi penjualan dan harga jual kopi biasa
Bulan Kuantitas(gelas) Hrg jual/gelas Total
1 300 Rp. 1.500 Rp. 450.000
2 300 Rp. 1.500 Rp. 450.000
3 300 Rp. 1.500 Rp. 450.000
4 300 Rp. 1.500 Rp. 450.000

Proyeksi penjualan dan harga jual kopi “khas”
Bulan Kuantitas(gelas) Hrg jual/gelas Total
1 400 Rp. 1.700 Rp. 680.000
2 400 Rp. 1.700 Rp. 680.000
3 400 Rp. 1.700 Rp. 680.000
4 400 Rp. 1.700 Rp. 680.000

Proyeksi dan harga jual mie instant
Bulan Kuantitas Hrg jual Total
1 600 Rp. 2.300 Rp. 1.380.000
2 600 Rp. 2.300 Rp. 1.380.000
3 600 Rp. 2.300 Rp. 1.380.000
4 600 Rp. 2.300 Rp. 1.380.000

Proyeksi dan harga jual Roti bakar
Bulan Kuantitas Hrg jual Total
1 50 Rp. 2.500 Rp. 125.000
2 50 Rp. 2.500 Rp. 125.000
3 50 Rp. 2.500 Rp. 125.000
4 50 Rp. 2.500 Rp. 125.000

Proyeksi dan harga jual Gorengan
Bulan Kuantitas Hrg jual Total
1 1500 Rp. 250 Rp. 375.000
2 1500 Rp. 250 Rp. 375.000
3 1500 Rp. 250 Rp. 375.000
4 1500 Rp. 250 Rp. 375.000

Dari perhitungan proyeksi tersebut, pendapatan kotor pada bulan pertama adalah Rp.3.010.000. jika di kalkulasikan selama 4 bulan maka pendapatan yang akan diperoleh adalah Rp 12.040.000.

3. Rencana Pengorganisasian

Oleh karena skala dalam usaha ini tergolong sedang, maka sistem pengorganisasian dilakukan dengan sederhana. Struktur organisasi yang ada dalam warung adalah sebagai berikut :

Pembagian tugas masing – masing bagian, terdiri sebagai berikut:

1. Pemimpin warung
Pengambilan keputusan utama dalam Warung
2. Divisi pemasaran
Membuat strategi pemasaran dan promosi serta bertanggung jawab terhadap pelaksanaan rencana pemasaran dan promosi.
3. Divisi operasional
Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan operasional Dejavu, termasuk didalamnya peralatan dan perlengkapan operasional,serta menu.
4. Divisi keuangan
Bertugas membuat sistem dan laporan keuangan serta melakukan pencatatan terhadap aliran kas masuk dan keluar.

Pada proses pelaksanaannya, semua pihak juga turut membantu pelaksanaan proses operasional. Jika pada perkembangan selanjutnya dirasa terdapat kekurangan tenaga kerja, maka kami akan mencari tenaga kerja tambahan.

07/07/2009 Posted by | Contoh PKM | Meninggalkan komentar

USAHA TOKO BUSANA MUSLIMAH

1. JUDUL PROGRAM
Usaha Toko Busana Muslimah sebagai Sarana untuk memenuhi Kebutuhan di Lingkungan Sekitar Kampus UMM.

2. LATAR BELAKANG MASALAH
Sejalan dengan perkembangan jaman yang semakin maju dan berpengaruh besar pada perkembangan mode atau fashion saat ini. Kami disini hadir untuk membantu para mahasiswa untuk memenuhi keinginannya akan mode yang selalu berubah-ubah dan juga karena masyarakat yang cenderung konsumtif terhadap mode. Karena permintaan pasar yang cukup tinggi akan busana muslimah dan di daerah sekitar kampus masih kurang adanya toko baju muslim, maka kami terinspirasi untuk membuat usaha ini. Kami akan membuka sebuah toko baju yang kami khususkan untuk pakaian muslim saja,baik yang model dinamis dan elegan.
Kami akan memasarkan produk kami ini untuk kalangan mahasiswa dan masyarakat sekitar karena kebanyakan dari mereka telah terpengaruh oleh perkembangan mode. Disini para konsumen dapat menemukan model-model terbaru. Selain pakaian kami juga akan meyediakan asesoris untuk pelengkap pakaian tersebut. Kami juga akan melayani pesanan baju dari pelanggan sesuai dengan model yang dia inginkan. Disini kami akan mendesain sendiri pakaian dan asesoris yang kami produksi.
Di sini kami juga menawarkan barang dengan harga yang relatif murah yang dapat dijangkau oleh kalangan mahasiswa dan kalangan kelas menengah. Sehingga itu dapat menjadi daya tarik bagi konsumen.

3. RUMUSAN MASALAH
1. Strategi apa saja yang akan digunakan?
2. Bagaimana pelaksanaan usaha ini?

4. TUJUAN PROGRAM
Setiap usaha yang didirikan pastilah mempunyai tujuan, begitu pula dengan usaha ini. Usaha ini bertujuan untuk (1) dapat menyediakan kebutuhan konsumen di sekitar lingkungan kampus, (2) dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru.

5. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Usaha ini diharapkan agar dapat memenuhi keinginan konsumen dan juga agar mahasiswa dapat belajar untuk bekerja di bidang ini sekaligus dapat mempraktekkan ilmu yang sudah didapat. Kami disini juga mengharapkan mendapat keuntungan yang cukup tinggi dari usaha ini. Selain itu, usaha ini juga dapt menjadi lapangan pekerjaan yang baru. Dari usaha ini dapat dilihat bahwa usaha yang kami dirikan dapat bersaing dengan usaha sejenis lainya, sehingga dapat disimpulkan bahwa usaha ini pantas untuk dikembangkan.

6. KEGUNAAN PROGRAM
Aspek Ekonomi
Dengan adanya usaha ini, maka masyarakat sekitar kampus atau konsumen akan dapat terbantu. Mereka dapat dengan segera mendapatkan barang yang mereka inginkan tanpa harus pergi ke pusat kota, selain itu harga yang kami tawarkan juga dapat dijangkau oleh kalangan mahasiswa dan kalangan masyarakat kelas menengah.

7. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
Universitas muhammadiyah malang berlatar belakang keislaman sehingga banyak mahasiswa yang lebih banyak menmgenakan baju muslimah. Sehingga kami memutuskan untuk membangun usaha ini. Agar kebutuhan mahasiswa akan baju muslimah dapat terpenuhi dengan mudah.
Sehingga usaha ini sangat cocok untuk dikembangkan di lingkungan kampus karena permintaan pasar akan baju muslimah
Karena adanya permintaan pasar yang tinggi terhadap baju muslimah maka kami mendirikan usaha ini. Dalam usaha ini kami menetapkan harga yang cukup terjangkau dengan tetap memperhatikan kualitas produk. Usaha ini bisa digunakan sebagai pekerjaan sampingan.

8. METODE PELAKSANAAN PROGRAM
 Melakukan pendekatan terhadap para konsumen di sekitar kampus , dalam hal ini adalah masyarakat dan mahasiswa.
 Mempromosikan usaha ini dengan cara menyebarkan brosur ke masyarakat sekitar.
 Melakukan kerjasama dengan usaha lain yang sejenis.

9. JADWAL KEGIATAN PROGRAM
Kegiatan Bulan ke-
1 2 3 4 5
1. Pelaksaana
 Perijinan x
 Persiapan dan penetapan lokasi usaha x
 Persiapan alat dan bahan usaha xx
 Promosi dan strategi pengadaan usaha xxx
 Evaluasi tahap pertama x
2. Pelaksanaan
 Penjaringan konsumen x xxxx
 Pelayanan jasa dan pemasaran xxx xx
 Pengembangan usaha dan investasi xx
 Evaluasi tahap kedua x

10. NAMA DAN ANGGOTA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK
Ketua pelaksana kegiatan
a. Nama : Baiq Wahyuni Febriani
b. NIM : 04620273
c. Fakultas/ jurusan : Ekonomi/ Akuntansi
d. Perguruan tinggi :Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jln. Krakatau no. 4 Gunung Sari, Lombok Barat

Anggota
a. Nama : Esti Hayu Sasanti
b. NIM : 04620277
c. Fakultas/ jurusan : Ekonomi/ Akuntansi
d. Perguruan tinggi :Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jln. Gajah Mada no. 15 Tulungagung

a. Nama : Wina Puspitosari
b. NIM : 04620299
c. Fakultas/ jurusan : Ekonomi/ Akuntansi
d. Perguruan tinggi :Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jln. Kembang Turi 6A Malang

a. Nama : Fitrin Dwi Nur Fadila
b. NIM : 04620302
c. Fakultas/ jurusan : Ekonomi/ Akuntansi
d. Perguruan tinggi :Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jln. Dringu 197 Probolinggo

a. Nama : Elis Astriani
b. NIM : 06620005
c. Fakultas/ jurusan : Ekonomi/ Akuntansi
d. Perguruan tinggi :Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jln. Tuntang II no. 73

11. NAMA DAN BIODATA DOSEN PENDAMPING
a. Nama : Achmad Syaiful Hidayat, SE.
b. NIP : 107 0203 0381
c. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
d. Fakultas/ Program Studi : Ekonomi/ Akuntansi
e. Perguruan tinggi :Universitas Muhammadiyah Malang
f. Alamat Rumah : Jln. Tlogomas Gg. 2 No. 49 A Malang

12. RENCANA PEMBIAYAAN
Estimasi dana kegiatan
No. Jenis Kegiatan Anggaran
A. Pra Kegiatan
1. Perijinan Rp. 80.000,-
2. Persiapan lokasi Rp. 100.000,-
3. Persiapan alat dan bahan Rp. 100.000,-
4. Promosi Rp. 150.000,-
5. Pengadaan proposal Rp. 200.000,-
B. Pelaksanaan
1. Transportasi Rp. 150.000,-
2. Telepon (4 bulan) Rp. 250.000,-
3. Listrik (4 bulan) Rp. 250.000,-
4. Administrasi dan manajemen Rp. 100.000,-
5. Komputer Rp. 3.500.000,-
C. Laporan
1. Penyusunan Laporan Rp. 200.000,-
2. Pengadaan Laporan Rp. 150.000,-
3. Seminar Rp. 200.000,-
Jumlah Rp. 5.430.000,-

Perkiraan pendapatan dan pengeluaran selama 3 tahun
a. Tahun Pertama
Pendapatan per hari :
– Penjualan barang ( Rp. 300.000
– Pendapatan per bulan
30 x Rp. 300.000 Rp. 9.000.000
PPN 10 % Rp. 900.000
Jumlah Rp. 8.100.000

Pendapatan per bulan sesudah sharing
 50% x Rp. 2.000.000 Rp. 1.000.000
 40% x Rp. 4.000.000 Rp. 1.600.000
 22,5% x Rp. 2.100.000 Rp. 472.500
Jumlah Rp. 3.072.500
Pendapatan 1 tahun : 12 x Rp. 3.072.500 = Rp. 36.870.000
Biaya operasional per bulan
 Gaji pegawai Rp. 2.100.000
 Rekening air, listrik& telepon Rp. 200.000
 Biaya alat tulis dan peralatan toko Rp. 100.000
Jumlah Rp. 2.500.000
Biaya operasional per tahun
12 x Rp. 2.500.000 = Rp. 30.000.000
Pendapatan bersih dalam tahun ke-1:Rp.36.870.000 – Rp. 30.000.000
: Rp. 6.870.000
b. Tahun Kedua
Pendapatan per hari :
– Penjualan barang Rp. 400.000
– Pendapatan per bulan
30 x Rp. 400.000 Rp. 12.000.000
PPN 10 % Rp. 1.200.000
Jumlah Rp. 10.800.000
Pendapatan per bulan sesudah sharing
 50% x Rp. 2.000.000 Rp. 1.000.000
 40% x Rp. 4.000.000 Rp. 1.600.000
 22,5% x Rp. 4.800.000 Rp. 1.080.000
Jumlah Rp. 3.680.000
Pendapatan 1 tahun : 12 x Rp. 3.680.000 = Rp. 44.160.000
Biaya operasional per bulan
 Gaji pegawai Rp. 2.100.000
 Rekening air, listrik& telepon Rp. 200.000
 Biaya alat tulis dan peralatan kantor Rp. 100.000
 Lain-lain Rp. 100.000
Jumlah Rp. 2.500.000
Biaya operasional per tahun
12 x Rp. 2.500.000 = Rp. 30.000.000
Pendapatan bersih dalam tahun ke-2:Rp.44.160.000 – Rp. 30.000.000
: Rp. 14.160.000
c. Tahun Ketiga
Pendapatan per hari :
– Penjualan barang Rp. 450.000
– Pendapatan per bulan
30 x Rp. 450.000 Rp. 13.500.000
PPN 10 % Rp. 1.350.000
Jumlah Rp. 12.150.000
Pendapatan per bulan sesudah sharing
 50% x Rp. 3.000.000 Rp. 1.500.000
 40% x Rp. 6.000.000 Rp. 2.400.000
 22,5% x Rp. 3.150.000 Rp. 708.750
Jumlah Rp. 4.608.750
Pendapatan 1 tahun : 12 x Rp. 4.608.750 = Rp. 55.305.000
Biaya operasional per bulan
 Gaji pegawai Rp. 2.100.000
 Rekening air, listrik& telepon Rp. 200.000
 Biaya alat tulis dan peralatan kantor Rp. 100.000
 Lain-lain Rp. 100.000
Jumlah Rp. 2.500.000
Biaya operasional per tahun
12 x Rp. 2.500.000 = Rp. 30.000.000
Pendapatan bersih dalam tahun ke-3:Rp.55.305.000 – Rp. 30.000.000
: Rp. 25.305.000

Perhitungan rugi laba

Tahun Pendapatan/sharing (Rp) Pengeluaran (Rp) Keuntungan (Rp)
I 36.870.000 30.000.000 6.870.000
II 44.160.000 30.000.000 14.160.000
III 55.305.000 30.000.000 25.305.000
Jumlah 136.335.000 90.000.000 46.335.000

Break Even Point (BEP)
– Pendapatan bersih selama 3 tahun Rp. 46.335.000
– Biaya investasi Rp. 12.000.000
Jadi keuntungan selama 3 tahun Rp. 46.335.000
– Pendapatan rata-rata per tahun : Rp. 46.335.000 / 3 tahun
: Rp. 15.445.000
Perkiraan modal kembali :
Rp. 14.500.000 / Rp. 15.445.000 x 12 bulan
= 11 bulan
Jadi dengan demikian jika perusahaan dengan cara profesional menjalankan usahanya, maka dalam kurun waktu 11 bulan akan dapat diterima kembali atau balik modal.

Kesimpulan
Berdasarkan analisis usaha yang telah diuraikan di atas maka usaha yang kami usulkan ini layak untuk di kembangkan dan mempunyai prospek yang bagus kedepannya. Karena dapat mengembalikan modal usaha awal dalam waktu yang relatif singkat. Dan selain bisa balik modal dalam waktu singkat, usaha ini juga bisa mendapatkan untung yang lumayan besar.

07/07/2009 Posted by | Contoh PKM | 3 Komentar

Usaha Makanan Diet Terapi Diabetes Mellitus Berbasis Potensi Flora Lokal

A. JUDUL PROGRAM
Usaha Makanan Diet Terapi Diabetes Mellitus Berbasis Potensi Flora Lokal

B. LATAR BELAKANG
Penyakit diabetes mellitus saat ini hampir merambah seluruh dunia, tidak hanya Negara-negara maju saja yang terserang dengan penyakit ini, akan tetapi negara-negara berkembang pun sekarang nampaknya sudah mulai memiliki probilitas terserang penyakit ini, menurut data organisasi kesehatan dunia (WHO), Indonesia menempati urutan keenam dunia sebagai Negara dengan jumlah penderiat DM terbanyak setelah India, china, Uni Soviyet, Jepang dan Brasil. Tercatat pada tahun 1995 jumlah penderita DM di Indonesia mencapai 5 juta, Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes. Namun, pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 % yang sadar mengidapnya dan diantara mereka baru sekitar 30 % yang datang berobat teratur, Sangat disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang lebih sering disebut penyakit gula atau kencing manis. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejala yang terjadi pada dirinya.( Soegondo, Sidartawan. 2006.www. Medicastore.com).
Mahalnya harga obat diabetes mellitus yang diproduksi di pabrik dan beredar di pasaran nampaknya cukup berdampak pada daya beli masyarakat yang kurang terlebih lagi bagi masyarakat yang terkategori dalam masyarakat menengah kebawah, sehingga hal ini menyebabkan penderita enggan membeli obat dan pada akhirnya dapat menyebabkan penyakit diabetes mellitus yang dideritanya semakin parah bahkan bisa menimbulkan kematian. Pengetahuan tentang diet terapi diabetes dan pola makan penderita diabetes mellitus yang kurang dapat juga menyebabkan akbiat yang berbahaya bagi penderita sendiri. Berikut kami paparkan daftar harga beberapa obat diabetes mellitus yang dijual dipasaran.
Tabel 1
Daftar Harga Obat Diabetes Mellitus di Pasaran
No Nama Obat Harga/Pack
1 Humalog Rp. 747.500,-
2 Starlix Rp. 516.696,-
3 Nature’s plus sugar control Rp. 235.000,-
4 Avandia Rp. 309.546,-
5 Raja Papua Rp. 195.000,-
6 Glucovance Rp. 159.390,-
7 Actos Rp. 131.054,-
8 Glamorol Rp. 120.975
9 Glyzid Rp. 81.323,-
10 Glufor Rp. 75.900,-
Sumber : http://www.medicastore.com tanggal 27 September 2007
Berangkat dari hal di atas, maka kami dapat berfikir bahwa ada peluang yang besar untuk membuka usaha untuk memanfaatkan flora lokal dalam diet terapi diabetes mellitus. Disamping harga yang lebih terjangkau oleh masyarakat, flora lokal juga mudah untuk didapatkan dan lebih aman untuk dikonsumsi.
Penggunaan flora atau tumbuhan yang potensial untuk terapi pada diabetes ini nampaknya dapat menjadi altrenatif yang cukup efektif dan terjangkau oleh para penderita diabetes mellitus. Di Indonesia cukup banyak tumbuhan yang berpotensi untuk dijadikan makanan yang dapat membantu dalam mengatasai penyakit diabetes mellitus ini. Akan tetapi nampaknya hal ini kurang di sadari oleh para penderita itu sendiri.
Atas dasar pemikiran tersebut, kami melihat adanya potensi yang cukup besar secara ekonomi jika tumbuhan-tumbuhan tersebut dapat diolah menjadi suatu menu makanan yang tidak hanya mempunyai cita rasa yang nikmat akan tetapi juga memiliki khasiat yang mujarab untuk prevensi penyakit diabetes mellitus. Berbekal pengetahuan yang kami peroleh dari perkuliaahan di jurusan Pendidikan Biologi UMM, kami mencoba menyusun dan memproduksi menu makanan yang berbasis flora lokal yang potensial untuk diet terapi penyakit tersebut. Malang Raya dengan karakteristik tanah dan keadaan alamnya yang sangat cocok ditumbuhi oleh tanaman menjadi keuntungan tersendiri bagi kami dalam memperoleh bahan baku.
Alasan kami memilih flora sebagai menu makanan untuk diet terapi diabetes mellitus ini adalah karena :
 Relatif lebih aman dibandingkan dengan bahan-bahan dari hewan.
 Alami, artinya tanpa bahan aditif dari bahan kimia.
 Mudah diperoleh dan relatif lebih murah.
Menurut penelitian medis beberapa jenis flora memiliki zat yang dapat menurunkan kadar gula darah seperti allyl propil disulphide dalam bawang merah, charantin pada paria, asam fitat pada tempe kedelai, bawang putih yang mengandung sugar regulation factor dan selenium. Pada sirih mengandung aktif alkoloid dan flavonoid memilki aktivitas hiploglikiemik.
Disamping hal-hal tersebut diatas, sebagai mahasiswa yang harus siap untuk menyongsong masa depan, maka kami berasumsi bahwa kami tidak bisa hanya mengandalkan ijazah atau gelar yang diperoleh, akan tetapi ketrampilan atau softskill juga harus dipupuk sejak dini, salah satunya adalah dengan berwirausaha.
Berdasarkan data Biro Administrasi Akademik (BAA), para lulusan tersebut tidak semua segera terserap dalam lapangan pekerjaan. Hanya sekitar 35 % lulusan mendapat pekerjaan sesuai dengan profesinya dan kurang dari satu tahun. Sebagian besar harus menunggu selama 1-2 tahun atau lebih baru mendapat pekerjaan sesuai dengan profesinya. Kesulitan mencari kerja sesuai dengan profesi itu, tentu akan semakin berat dihadapi oleh para lulusan dari fakultas-fakultas tertentu, seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang mencetak tenaga-tenaga kependidikan. Fakultas ini di UMM setiap tahun meluluskan ± 345 mahasiswa ternyata hanya 28,5% yang terserap sebagai tenaga guru di lembaga pendidikan. Penyebabnya selain menyempitnya lapangan pekerjaan sebagai guru juga adanya lulusan non kependidikan yang menyeberang menjadi guru padahal mereka tidak punya akta mengajar.
Dari segi kurikulum akademis, program ini merupakan pengembangan dari Ilmu Gizi yang berbobot 3 sks serta ilmu Pengobatan Tradisional Indonesia yang berbobot 4 sks. Sehingga cukup potensial apabila mahasiswa Pendidikan Biologi untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu tersebut sebagai alternatif untuk berkarya yang didasarkan pada pengetahuan yang secara kurikuler pernah dipelajari diperkuliahan.
Dari latar belakang tersebutlah maka kami yakin bahwa dengan kegiatan ini akan mewujudkan minimal 3 aspek, yaitu : 1) memberikan pengalaman berwirausaha kepada mahasiswa sehingga mahasiswa dapat tidak selalu bergantung pada orang tua dan bisa mandiri, 2) Mengaktualisasikan Tri Dharma perguruan tinggi yang salah satunya yaitu pengabdian, 3) Pengembangan ilmu yang telah dipelajari
Dari penjabaran diatas, didapat suatu bagan konsep tentang kegiatan ini, yaitu :

Bagan 1. Peta Konsep Kegiatan

C. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana menu makanan untuk diet terapi diabetes mellitus yang berbasis potensi flora lokal?
2. Bagaimana bentuk usaha pengadaan menu makanan diet terapi diabetes mellitus yang akan dirancang?
3. Bagaimana teknis manajemen dan pemasaran usaha yang dijalankan?
4. Bagaimana monitoring dan evaluasi pasca pelaksanaan dan pemasaran?
D. TUJUAN PROGRAM
Tujuan program ini adalah untuk mengolah bahan-bahan makanan dan flora lokal yang potensial untuk diet terapi diabetes mellitus yang kemudian dijadikan produk yang berupa 1). Makanan pokok (makanan yang dikonsumsi setiap hari dalam 3 waktu), 2). Makanan ringan, 3). Minuman (juice) dengan mengacu pada menu yang disusun berdasarkan kultur dan potensi flora lokal yang dikemas dengan sistem packaging dan labelling. Adapun dikemasan akan disertakan : jenis produk, nama produk, bahan, manfaat, tempat produksi, waktu (tanggal, bulan dan tahun) pembuatan dan kadaluarsa serta variasi berupa slogan produk. Produk ini akan dipromosikan dan dipasarkan di sekitar kampus Universitas Muhammadiyah Malang sebagai awal merintis usaha ini yang selanjutnya dapat dikembangkan sesuai dengan hasil evaluasi. Harapannya lebih lanjut terdapat sebuah kios makanan khusus menu diet terapi diabetes mellitus. Adapun variasi menu akan dijabarkan pada poin G pada proposal ini yaitu tentang Gambaran Umum Usaha
Adapun tujuan lain dari kegiatan ini yaitu untuk memberikan pengalaman berwirausaha berbasis pengetahuan yang diperoleh diperkuliahan reguler dengan harapan mengperoleh penghasilan sehingga mahasiswa tidak hanya bergantung kepada orang tua.
E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan adalah produk makanan pokok, minuman serta makanan ringan dengan kemasan dan labelling yang menarik yangnantinya akan dipromosikan dan dipasarkan di masyarakat sekitar kampus UMM. Berikut salah satu contoh rencana kemasan dan labelling yang akan dilakukan dalam usaha ini :

Gambar 1
Contoh Kemasan dan Labelling Produk
Keterangan Gambar :
a : jenis produk, maksudnya apakah produk ini berupa
makanan pokok, ringan atau minuman
b : nama (merek dagang) produk
c : gambar, bisa berupa gambar bahan atau gambar lainnya
yang digunakan untuk menarik perhatian konsumen.
d : slogan produk, misalnya ”Sehat Dan Lebih Bermanfaat”
e : informasi bahan yang digunakan
f : manfaat produk
g : tempat usaha/produksi
h : waktu pembuatan dan kadaluarsa
Program kreativitas mahasiswa kewirausahaan ini diharapakan bisa menumbuhkan jiwa berwirausaha bagi mahasiswa agar bisa lebih mandiri dalam hal finansial dan membekali pengalaman atau softskill agar setelah lulus kuliah tidak hanya mencari lapangan pekerjaan akan tetapi bisa membuka lapangan pekerjaan. Selain dari pada itu kegiatan diharapkan dapat menghasilkan alternatif pencegahan dan pengobatan penyakit diabetes mellitus dengan cara mengkonsumsi menu makanan berbasis flora lokal yang berpotensi untuk diet terapi bagi penderita diabetes mellitus. Harapan selanjutnya adalah muncul kios atau warung yang khusus menjual manu diet terapi diabetes mellitus, agar penyakit ini tidak semakin mewabah dan pola hidup dan makan masyarakat tertata.
Dari kegiatan ini akan dapat dilihat bahwa usaha ini mampu menyedot animo masyarakat karena dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh, maka diet untuk diabetes mellitus lebih ekonomis dan efisien.

F. KEGUNAAN PROGRAM
1. Aspek Ekonomi
Dari segi ekonomi kegiatan ini akan tercipta institusi enterpreneur mahasiswa, selain itu melalui kegiatan ini akan memperkaya pengobatan atau terapi diabetes mellitus, sehingga masyarakat dapat memilih terapi sesuai dengan kemampuannya. program ini dapat membantu para penderita diabetes mellitus dalam melakukan upaya prevensi dan pengobatan efisien serta praktis. Dibandingkan dengan penggunaan obat yang beredar dipasaran yang dikelola dari bahan kima dan melalui proses pabrik yang rumit dan membutuhkan biaya yang besar memproduksinya, maka dengan mengelola potensi flora lokal kita dapat meminimalisir biaya produksi yang besar.
2. Aspek Akademik
Dari segi akademis kegiatan ini akan : 1) Memberikan kesempatan kepada mahasiswa FKIP UMM mengaplikasikan kegiatan kuliah untuk di angkat kedalam kegiatan kewirausahaan, 2) Menerapkan mata kuliah dari Jurusan Pendidikan Biologi bidang studi kewirausahaan, pengobatan tradisional Indonesia, dan ilmu gizi.
3. Aspek Kesehatan
Dari aspek kesehatan kecenderungan masyarakat untuk beralih pengobatan yang diolah secara kimiawi ke bentuk pengobatan yang alami yang tentunya lebih aman dan hampir tanpa efek samping. Dengan mengkonsumsi tumbuhan oba yang diolah menjadi menu makanan yang berpotensi untuk pencegahan dan pengobatan diabetes mellitus, maka akan diperoleh manfaat yang lebih baik.

G. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
Penyakit diabetes mellitus yang semakin mewabah sekarang ini, nampaknya akan lebih pesat lagi perkembangannya apabila tidak ada kesadaran dari penderita untuk merubah pola makan dan hidup. Disamping itu daya beli masyrakat atau penderita diabetes mellitus terhadap obat-obatan kimia yang dijual di pasaran tergolong rendah, hal ini disebabkan mahalnya harga obat-obatan tersebut (seperti pada tabel 1).
Malang Raya beriklim sejuk sangat cocok untuk pertumbuhan beberapa flora yang berpotensi untul diet terapi pada diabetes mellitus, sehingga tidak salah jika kami memproyeksikan kegiatan ini kedalam suatu bentuk usaha. Dengan bahan baku flora lokal diharapkan akan memudahkan dalam memperolehnya sehingga harga jual akan relatif lebih murah dan terjangkau oleh penderita. Meskipun beberapa jenis flora tidak dapat langsung dikonsumsi tanpa disertai atau digabungkan dengan bahan makanan yang lain, akan tetapi hal tersebut tidak mengurangi manfaat dan khasiatnya secara signifikan. Berikut kami sertakan harga beberapa flora lokal yang berpotensi untuk diet terapi diabetes mellitus :

Tabel 2
Daftar Harga Flora Potensial Diet Terapi Diabetes Mellitus
No Nama Flora Harga/Kg
1 Bawang Merah Rp. 5.000,-
2 Buncis Rp. 1.500,-
3 Apel Rp. 3.500,-
4 Pare Rp. 2.000,-
5 Bawang Putih Rp. 4.000,-
6 Appokat Rp. 15.000,-
7 Pepaya Rp. 2.000,-
8 Jambu Rp. 2.000,-
9 Belimbing Rp. 3.000,-
10 Kedelai Rp. 4.500,-
11 Bayam Rp. 1.500
12 Dandang Gendis Rp. 1.000,-
13 Teh Rp. 2.000,-
14 Terong Ungu Rp. 1.500,-
15 Salam (daun) Rp. 2.000,-
Diolah dari interview dengan petani dan penjual di Pasar Tradisional Blimbing serta sumber dari situs Pemkot Batu, Pemkot Malang dan Pemkab Malang pert tanggal 11-28 September 2007.

Dari data diatas, maka dapat diketahui dengan harga yang murah dapat diperoleh berbagai variasi bahan makanan untuk diet terapi dan dapat dikonsumsi berkali-kali sesuai dengan kebutuhan. Dilihat dari segi kultur konsumsi atau pola makan masyarakat di Malang Raya diketahui bahwa sebagian masyrakat memiliki kegemaran mengkonsumsi daging (ayam, sapi, kambing,dll) serta makanan yang tinggi karbohidrat dalam takaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan kalorinya. Begitu halnya dengan para penderita diabetes mellitus yang cuek dan acuh terhadap makanan yang dikonsumsi, apakah makanan yang dikonsumsi dapat membahayakan bagi kesehatan atau membantu pencegahan penyakit.
Berawal dari hal-hal tersebut maka kegiatan ini akan memproduksi makanan untuk diet terapi diabetes mellitus dengan basis potensi flora lokal sebagai bahan bakunya. Setelah melakukan penyususnan menu dan proses pengolahan menu, maka akan diuji kandungan gizi dan keamanan bahan makanan tersebut untuk dikonsumsi oleh penderita.
Kemudian akan dilakukan uji organoleptik untuk mengetahui sifat-sifat makanan yang diolah bisa meliputi rasa, tekstur, aroma dll. Kemudian akan di uji untuk dikonsumsi oleh penderita, apakah melalui test kadar glukosa penderita, apakah kadar glukosanya terkendali atau tidak. Dari serangkaian uji tersebut kemudian dilakukan reformulasi produk atau menu makanan agar memperoleh makanan yang tepat untuk diet terapi pada penyakit ini. Hal ini dilakukan agar kepuasan akan dialami oleh para konsumen pemakai produk yang kami produksi. Setelah menu makanan direformulasi, maka menu tersebut diolah menjadi suatu produk makanan.
Selanjutnya produk yang sudah jadi akan disajikan baik secara langsung ataupun di packaging atau dikemas agar lebih menarik. Selanjutnya dilakukan program promosi dan pemasaran produk. Berikutnya akan dilakukan monitoring dan evaluasi untuk pengembangan usaha. Hal ini sangat urgen bagi survivenya suatu usaha.
Adapun gambaran susunan menu yang akan diolah dan diusahakan akan memperhatikan kultur umum masyarakat di Malang Raya, standart pemenuhan kebutuhan gizi yang dihitung dengan rumus BMR dari Harris-Benedict kemudian dipadukan dengan flora lokal yang ada.
Berdasarkan hasil observasi masyarakat di sekitar kampus Universitas Muhammadiyah Malang, didapatkan hasil bahwa rata-rata penderita diabetes mellitus adalah orang dewasa dengan berat badan ± 67 Kg dan tinggi badan 168 cm, berusia antar 40 tahun keatas dengan pekerjaan pegawai kantor atau instansi swasta. Dengan kebutuhan kalori adalah berkisar antara 2500-3000 kalori. Angka tersebut dapat dihitung dengan rumus berikut :

Dengan demikian susunan menu yang digunakan adalah sebagai berikut :
Makan pagi
(6.30 WIB) Makan Siang
(12.30 WIB) Makan Malam
(18.30 WIB)
Beras (nasi) 130 gr Beras (nasi) 170 gr Beras (nasi) 150 gr
Daging sapi 25 gr Daging Ayam 50 gr Telur ayam 75 gr
Kedelai 25 gr Terong 100 gr Pare 50 gr
Bayam 100 gr Buncis 25 gr Dandang Gendis 25 gr
Teh 10 gr Jus Apel 50 gr Jus Alpukat 50 gr

Menu diatas merupakan susunan menu contoh yang dapat berubah-ubah dengan variasi yang tetap mengacu pada kultur, flora lokal dan kebutuhan kalori penderita. Disamping usaha makanan pokok, usaha yang akan kami lakukan adalah makanan ringan misalnya keripik dan krupuk, penyediaan fresh fruits dan juga minuman jus yang dapat diolah dari perpaduan flora-flora yang ada. Karena pada penderita diabetes mellitus camilan dan buah atau flora lain yang berpotensi untuk mencegah semakin berkembangnya penyakit itu diperlukan untuk memperlancar terapi diabetes mellitus.
Dari perbandingan harga obat yang sudah diberedar di pasaran (tabel 1) dan harga beberapa flora yang potensial sebagai menu makanan diet diabetes mellitus, serta penyusunan menu makanan diatas dan juga biaya produksi, maka dapat di analisa keuntungan yang diperoleh perkilogram bahan yang digunakan .

Tabel 4
Analisa Usaha Makanan Diet Terapi Diabetes Mellitus dengan Berbasis Potensi Flora Lokal Per Satu Kali Proses Produksi
A. Bahan Habis Pakai (berdasarkan menu yang telah disusun)
Bahan-bahan Jumlah Satuan Total
a. Beras
b. Daging sapi
c. Daging ayam
d. Telur
e. Kedelai
f. Bayam
g. Teh
h. Terong
i. Buncis
j. Pare
k. Dandang gendis
l. Appokat
m. Apel
n. Bahan habis pakai lainnya
o. Kemasan
p. Labeling 1 Kg
1 Kg
1 Kg
1 Kg
1 Kg
1 Kg
1 Kg
1 Kg
1 Kg
1 Kg
1 Kg
1 Kg
1 Kg

30
30

Rp. 1.000,-
Rp. 500,- Rp. 4.500,-
Rp. 40.000,-
Rp. 15.000,-
Rp. 6.000,-
Rp. 4.500,-
Rp. 1.500,-
Rp. 2.000,-
Rp. 2.000,-
Rp. 1.500,-
Rp. 2.000,-
Rp. 1.000,-
Rp. 15.000,-
Rp. 3.500,-
Rp. 20.000,-

Rp. 30.000,-
Rp. 15.000,-

Total Biaya Habis Pakai Rp. 163.000,-
Biaya Peralatan
Nama Alat Jumlah Satuan Total
Kompor
Penggorengan
Blender
Rice cooker
Penyajian
1 unit
1 set
1 unit
1 unit
1 set
Rp. 15.000,-
Rp. 30.000,-
Rp. 75.000,-
Rp 300.000,-
Rp. 50.000,-

Total Biaya Peralatan Rp. 470.000,-
B. Biaya Produksi
1.
2. Pengolahan bahan
Listrik Rp. 25.000
Rp. 25.000
Total Biaya Produksi Rp. 50.000
Total Keseluruhan Pengeluaran Rp. 764.000
C. Penerimaan
Makanan diet terapi Diabetes mellitus berbasis flora lokal 30 porsi
Rp. 10.000
Rp. 300.000

Jumlah Rp. 300.000
D. Keuntungan
Karena metode analisa yang digunakan adalah dengan biaya per produksi, maka faktor yang dihitung adalah bahan habis pakai dan biaya produksi, sedangkan untuk peralatan produksi tidak ditambahkan secara keseluruhan, hanya ditambahkan nilai penyusustan peralatan sebesar 0.25 %.
Jadi secara matematis keuntungan dihitung dengan formula :
Penerimaan – biaya bahan habis pakai – biaya produksi – (0.25% X biaya peralatan) = laba
Sehingga dari angka diatas didapatkan nilai =
300.000 – 163.000 – 50.000 – (0.25 X 470.000) =
87.000 – (1175) = 85.825
Jadi keuntungan yang didapat per produksi adalah Rp. 85.825
Sehingga R O I (Return Of Investment) = Laba Usaha x 100%
Modal Produksi
= Rp. 85.825 x 100 % =40.07%
Rp. 214.175
Modal usaha didapat dari penjumlahan biaya habis pakai, biaya produksi dan biaya penyusutan alat sebesar 0.25 %.

Jika dalam sekali produksi saja dapat menghasilkan keuntungan yang prosentasinya hampir 50% dari modal usaha, maka usaha ini cukup bisa di andalkan untuk menunjang perekonomian mahasiswa.

H. METODE PELAKSANAAN PROGRAM
Untuk melaksanakan kegiatan ini maka perlu metode yang tepat dan sistematis agar dicapai hasil yang maksimal. Adapun metode yang kami formulasikan adalah sebagai berikut :
Bagan 2. Diagram Alur Metode Pelaksanaa Kegiatan

Dari bagan diatas dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Penyusunan bahan sosialisasi : yaitu penyusunan konsep bagaimana isi, cara dan tempat serta hal-hal lain yang dapat digunakan untuk menarik mahasiswa untuk bergabung dengan tim produksi.
b. Pelaksanaan sosialisasi : konsep yang telah disusun tadi kemudian dilaksanakan dengan memasang pamflet atau menyebar selebaran di kawasan kampus III Universitas Muhammadiyah Malang dengan harapan ada mahasiswa yang mendaftarkan diri untuk bergabung dengan tim produksi.
c. Rekruitment tim produksi : dari para pendaftar tersebut selanjutnya diadakan rekruitmen melalui seleksi yang dilakukan oleh tim PKMK dengan bantuan dosen pembimbing PKMK
d. Pelatihan produksi : setelah terseleksi orang-orang yang menjadi bagian tim produksi, selanjutnya diadakan pelatihan untuk membekali tim produksi tentang kegiatan ini.
e. Penyusunan menu : penyusunan menu dilakukan oleh TIM PKMK dengan arahan dosen pembimbing dan bantuan teknis tim produksi, ini merupakan tahap awal untuk memproduksi makanan diet terapi diabetes mellitus.
f. Pengolahan menu tahap I : setelah menu tersusun maka langkah selanjutnya yaitu pengolahan menu menjadi makanan pokok, ringan atau minuman (juice), pada tahap ini dinamakan pengolahan tahap I karena pada tahapan ini produk belum teruji, sehingga jika langsung dipasarkan maka hasilnya bisa kurang optimal.
g. Uji ketahanan, keamanan pangan dan gizi : uji ini dilakukan dengan harapan dapat memperoleh produk yang benar-benar aman dikomsumsi dan dapat diambil manfaatnya dalam segi gizi, sehingga konsumen tidak ragu untuk menggunakan produk ini.
h. Uji organoleptik : uji ini dilakukan guna memetakan bagaimana selera konsumen pada produk makanan ini, apakah sudah cukup baik, artinya cukup apresiasif dengan produk kami, uji ini dilakukan dengan bentuan beberapa koresponden secara acak.
i. Uji efektivitas produk : uji ini dilakukan dengan harapan bahwa produk yang dihasilakn benar-benar mempunyai daya untuk mencegah dan mengatasi diabetes mellitus, sehingga produk ini dapat digunakan sebagai diet terapi. Uji ini dilakukan dengan bantuan penderita diabetes mellitus yang telah mengkonsumsi produk kemudian di lakukan tes gula darah.
j. Reformulasi menu : dari serentetan tes yang sudah dilakukan, TIM PKMK selanjutnya melakukan evaluasi terhadap produk yang kemudian dianalisa kemungkina apa yang masih kurang dan perlu diperbaiaki guna memperoleh suatu produk yang berkualitas. Yang kemudian dilakukan penyususnan menu.
k. Pengolahan menu tahap II : dari hasil reformulasi menu selanjutnya dilakukan pengolahan menu yang telah disusun.
l. Packaging & labelling : setelah produk sudah dihasilkan, maka selanjutnya dilakukan packaging dan labelling (contoh packaging dan labelling telah dijabarkan pada poin E yaitu Luaran yang diharapkan)
m. Promosi dan pemasaran : setelah poduk sudah dikemas sedemikian rup, maka langkah selanjutnya adalah pemasarang yang sebelumnya dilakukan pengenalan atau promosi. Promosi dilakukan melalui media massa (radio, surat kabar) dan juga melalui selebaran dan spanduk. Pemasaran untuk tahap awal dilakukan di kampus III UMM dengan sasaran para penderita di sekitar kampus.
n. Monitoring dan evaluasi : setelah proses pemasaran berjala, maka sebagai enterprenuer, maka hal yang harus dilakukan adalah pengawasan terhadap distribusi produk dan selanjutnya dilakukan evaluasi tentunya dengan arahan dosen pembimbing program. Hal ini penting sebagai pedoman apakah perlu untuk mengembangkan sayap sirkulasi produk ke khalayak umum.
o. Pengembangan usaha lebih lanjut : dari hasil monitoring dan evaluasi, maka dapat diambil keputusan tentang tindak lanjut apa yang harus dilakukan. Apabila selam pross evaluasi program ini dianggap baik, maka kegiatan ini dapat dilanjutkan dan dikembangkan lebih jauh lagi.
Dengan metode inilah diharapkan program ini mampu manjadi tempat belajar, berkarya dan berusaha bagi para mahasiswa dalam mengembangkan ilmu dan keahlian yang dimiliki guna menjadi bekal ketika sudah lulus
I. JADWAL KEGIATAN PROGRAM
Tabel 3
Jadwal Kegiatan Program
Kegiatan Bulan ke
I II III IV V
1. Persiapan
a. Perijinan 
b. Persipan dan penetapan lokasi 
c. Persiapan alat dan bahan 
2. Pelaksanaan
a. Pengumuman 
b. Perekrutan anggota 
c. Pelatihan 
d. Penyusunan menu 
e. Pengolahan tahap I 
f. Uji ketahanan, keamanan dan gizi 
g. Uji organoleptik 
h. Uji efektifitas produk 
i. Reformulasi menu makanan 
j. Pengolahan tahap II 
k. Penyajian dan packing 
l. Promosi dan pemasaran 
3. Pembimbingan
a. Pelaporan kegiatan usaha 
b. Monitoring 
c. Evaluasi 
d. Pengembangan usaha 

J. NAMA DAN BIODATA KETUA DAN ANGGOTA KELOMPOK
Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama : Amar Ma’ruf
b. NIM : 05330028
c. Fakultas/Program Studi : K.I.P/ Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Pagendingan RT 01 RW 01 Kanugrahan
Maduran Lamongan
f. No Telp/HP : 085646308508
g. Waktu Untuk PKM : 9 jam/minggu

Anggota Pelaksana

a. Nama : Ifan Prasetya Yuda
b. NIM : 06330011
c. Fakultas/Program Studi : K.I.P/ Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammdaiyah Malang
e. Alamat Rumah : PERUM PEPABRI, BTN Tegal Badeng
Timur, Blok D No. 13, Kecamatan
Negara, Kabupaten Jembrana-Bali
f. No Telp/HP : 085664081363 / 08990377065
g. Waktu Untuk PKM : 9 jam/minggu

a. Nama : Zaqia Nur Fajarini
b. NIM : 06330036
c. Fakultas/Program Studi : K.I.P/ Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammdaiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jl. Panti Asuhan Yatim No. 17, Gedeg-
Mojokerto
f. No Telp/HP : 08563404717 / 08990353776
g. Waktu Untuk PKM : 9 jam/minggu
K. Nama dan Biodata Dosen Pendamping
A. Nama Lengkap dan gelar : DR.H.Moch.Agus Krisno B,M.Kes.
B. Golongan Pangkat dan NIP : III/d, Penata Tk I, 104.8909.0118
C. Jabatan Fungsional : Lektor
D. Jabatan Struktural : –
E. Fakultas / Program Studi : FKIP/Pendidikan Biologi
F. Perguruan Tinggi :Universitas Muhammadiyah Malang
G. Bidang Keahlian : Mikrobiologi dan Ilmu Gizi
H. Waktu Untuk Kegiatan PKM : 9 jam /minggu

L. Anggaran Biaya
Adapun rancangan biaya pada kegiatan PKMK adalah sebagai berikut :
Tabel 3
Rincian Anggaran Biaya
Kegiatan Anggaran (Rp) Jumlah (Rp)
1. Bahan habis pakai dan alat pendukung
a. Pengadaan bahan baku
b. Pengadaan bahan pendukung
c. ATK
d. Bahan packaging
e. Biaya sosialisasi
f. Biaya promosi
 Pamflet
 Spanduk
 Radio
 Surat kabar
1.000.000,-
200.000,-
80.000,-
350.000,-
50.000,-

100.000,-
185.000,-
100.000,-
150.000,-

2.215.000,-
2. Transportasi
a. Pencarian bahan
b. Transportasi promosi dan pemasaran 250.000,-
700.000,-

950.000,-
3. Pelaksanaan Produksi
a. Pengolahan bahan
b. Uji ketahanan , keamanan dan gizi
c. Uji Organoleptik
d. Labeling dan packaging
e. Pelatihan produksi
450.000,-
200.000,-
275.000,-
300.000,-
250.000,-

1.475.000
4. Peralatan Produksi
a. Kompor
b. Rice cooker
c. Penggorengan
d. Blender
e. Peralatan penyajian
15.000,-
30.000,-
75.000,-
300.000,-
50.000,-

470.000
5. Lain-lain
Dokumentasi
Penyusunan laporan
Penggadaan laporan
Penggunaan telepon dan internet
Evaluasi
Monitoring
Penggunaan listrik

125.000,-
125.000,-
100.000,-
100.000,-
125.000,-
150.000,-
165.000,-

890.000
Jumlah 6.000.000,-

L. Lampiran
1. Analisa Usaha dengan Metode SWOT
Dengan metode SWOT usaha ini dapat didapatkan suatu gambaran bahwa usaha ini memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan. Akan tetapi kelemahan itu nantinya akan bisa diatasi dengan beberpa strategi-strategi. Adapun gambaran analisa SWOT tersebut tergambar sebagai berikut :
Strenghten (Keunggulan) Weakness (Kelemahan)
 Terapi yang dikemas dalam bentuk makanan lebih menarik dan terkesan tidak menjadi “obat” sehingga secara psikologis penderita labih nyaman dari pada mengkonsumsi obat yang diolah dengan proses kimia.
 Alami tanpa bahan additive yang berbahaya
 Labih praktis dan ekonomis
 Labih aman daripada penggunaan bahan makanan hewani.  Produk yang kurang dapat bertahan dalam waktu yang lama karena tanpa zat additive yang berfungsi sebagai pengawet.
 Segmentasi konsumen yang terkesan fokus kepada penderita diabetes membuat produk ini dapat kurang dikenal oleh orang yang tidak menderita diabetes mellitus

Oppurtunity (Kesempatan) Threaten (Ancaman)
 Penderita diabetes mellitus semakin banyak
 Fakta bahwa obat diabetes sangat mahal sehingga banyak yang enggan membeli obat diabetes yang telah beredar.
 Banyaknya flora lokal yang berpotensi sebagai bahan untuk diet terapi
 Banyaknya flora lokal yang terdapat di daerah Malang Raya.
 Bahan Baku mudah di dapat dan murah.  Keragu-raguan konsumen terhadap produk olahan dari flora dengan tanpa bantuan olahan pabrik.
 Kultur pola makan di masyarakat yang belum tertata untuk diet terapi diabetes mellitus

07/07/2009 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar

Usaha kucing hias “Cat Corner”

I. JUDUL PROGRAM
Usaha kucing hias “Cat Corner”

II. LATAR BELAKANG MASALAH
Kemampuan dan kemauan untuk membuka usaha bukan hanya didominasi kalangan suasta, mahasiswa selayaknya juga memiliki etos kerja sebaik para pengusaha atau bahkan lebih.
Di era sekarang, bukan zamanya mahasiswa melulu kuliah. Berbagai aktifitas diluar kegiatan sebagai praktik perkuliahan terbukti bisa mendukung penguasaan materi kuliah bahkan bisa menghasilkan pendapatan yang menjanjikan. Hobi mahasiswa yang tersalurkan dengan baik, bisa menciptakan sebuah lapangan pekerjaan. Salah satu diantara hobi tersebut adalah jual beli kucing hias.
Keinginan para mahasiswa penggemar kucing hias untuk dapat memiliki dan memeliharanya semakin besar. Bila dulu hanya suka melihat atau memperhatikanya, kini mereka ingin untuk membeli dan merawatnya,serta menjadikanya sebagai hiburan tersendiri yang menggemaskan karena kelucuanya. Walaupun sangat sibuk, umumnya mahasiswa dan masyarakat penggemar kucing hias masih memiliki waktu ubtuk merawat kucing kesayanganya disela-sela aktivitasnya sehari-hari.
Mahasiswa putrid di UMM cukup banyak, dan kebanyakan suka dengan kucing hias. Hal ini tidak berlaku pada mahasiswa putrid saja, mahasiswa putra pun banyak yang menyukai kucing hias, sehingga bisa dikatakan sebagai penggemar.
Jika diasumsikan atau kami prediksi terjual 6 samapi 8 ekor kucing hias tiap bulan, dalam hal ini jenis Persia dan Angora, maka keuntungan yang didapatkan sebesar Rp. 3.420.000,- sampai Rp. 4.650.000,- untuk jenis Persia. Sedangkan untuk jenis Angora sebesar Rp. 1.245.000,- sampai Rp. 1.660.000,-.
Harga yang relative lebih murah daripada tempat lain yang sejenis untuk kucing hias sekelas Persia dan Angora, bisa menjadi daya tarik penggemar kucing hias. Harga pasaran di tempat lain untuk jenis Angora dan Persia umur 2 bulanan masing-masing Rp. 400.000,- dan Rp. 900.000,- per ekor. Sedangkan di tempat kami “Cat Corner”, masing-masing Rp. 300.000,- dan Rp. 750.000,- per ekor. Secara umum harga tersebut sudah terhitung murah di pasaran. Hal ini karena kami ingin lebih memperkenalkan hobi terhadap kucing hias kepada para mahasiswa serta masyarakat pada umumnya. Sehingga semakin banyak kalangan penggemar kucing hias yang dapat menyalurkan hobinya.
Kecintaan mahasiswa dan masyarakat pada umumnya terhadap kucing hias yang tinggi itulah menginspirasi penulis untuk membuat usaha pet shop dengan nama “Cat Corner”. Berbekal kegemaran untuk memelihara kucing hias yang dimiliki beberapa anggota kelompok kami, penulis merasa yakin usaha ini sangat menjanjikan bagi mahasiswa. Sebelumnya salah satu anggota kelompok kami mempunyai pengalaman bahwa kucing hias miliknya, pernah ditawar oleh rekan dari orang tuanya yang kebetulan berkunjung kerumah, hal itu karena menurut orang tersebut kucing itu sangat bagus bahkan penampilanya pun lebih menarik daripada kucing hias miliknya yang harganya lebih mahal.
Memang kalau kita terlanjur cinta terhadap kucing hias, berapapun jumlah kucing yang telah kita miliki pastilah akan merasa kurang puas jika melihat kucing sejenis yang memiliki karakter dan tampilan yang berbeda. Sehingga bisa dikatakan kalau kucing hias selalu menarik hati peminatnya, bahkan tidak sedikit penggemar yang menomor duakan harga untuk mendapatkan kucing tersebut.
Penulis lebih tertarik untuk memilih usaha ini karena ada beberapa pertimbangan, diantaranya, (1) kucing jenis ini masih belum banyak yang memelihara padahal penggemarnya sangat banyak, (2) pengelolaan bisnis yang tidak terlalu rumit, (3) bisa dilakukan sebagai pekerjaan sampingan, (4) peluang bisnis yang masih terbuka, (5) keuntungan yang relatif besar.

III. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana Bentuk Usaha Cat Corner yang akan dirancang?
2. Bagaimana teknis pelaksanaan usaha yang dijalankan ?
3. Bagaimana perhitungan hasil usahanya di lingkungan sekitar kampus UMM?
4. Bagaimana Bentuk Evaluasi Pelaksanaanya?

IV. TUJUAN PROGRAM
Setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia dengan kesadaran pastilah memiliki tujuan, begitu pula dengan pengajuan proposal ini. Diharapkan setelah proposal ini disetujui, penulis bisa, (1) Mempermudah para mahasiswa untuk menyalurkan hobinya akan kucing ras, (2) Serta dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi mahasiswa sehingga mengurangi ketergantungan kepada orang tua.
V. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Program kreativitas mahasiswa kewirausahaan ini, diharapkan bisa mewujudkan rancangan usaha yang kami rencanakan sehingga usaha ini bisa berjalan, usaha ini mampu bersaing dengan usaha sejenis di tempat lain sehingga dapat disimpulkan bahwa usaha kucing hias “cat corner” ini pantas untuk dikembangkan.

VI. KEGUNAAN PROGRAM
Para mahasiswa khususnya yang mempunyai hobi memelihara kucing hias akan menyalurkan hobinya dengan budget yang relatif lebih terjangkau jika dibandingkan dengan harga kucing hias di tempat lain.

Perbandingan Cat Corner dengan tempat lain
Pertimbangan Cat Corner Tempat Lain
Persia Angora Persia Angora
Harga Anakan Rp 750.000,- Rp 300.000,- Rp. 900.000,- Rp. 400.000,-
Kualitas Kesehatan Lebih Terjamin Sulit Dipastikan
Tabel 1

VII. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
Mahasiswa kampus diasumsikan sebagai konsumen kucing hias yang mempunyai potensi yang cukup besar. Hal ini dapat kami ketahui dari survey yang kami lakukan, bila sebelumnya para mahasiswa hanya terpaku pikirannya di pasar hewan seperti Splendid, Jatim Park ataupun mungkin di Pet Shop yang lain yang menawarkan harga yang relative tinggi, maka dengan adanya Cat Corner ini hal semacam itu tidak terjadi lagi sehingga dapat dijangkau kantong mahasiswa pecinta kucing hias.
Input Cat Corner adalah 2 ekor indukan kucing betina yang siap kawin terdiri dari Jenis yaitu Persia dan Angora.
Output Cat Corner adalah anakan kucing yang mana setelah berumur kurang lebih 2 bulan anakan tersebut siap untuk dijual. Adapun proses perkawinannya dilakukan dengan system kawin sewa (dilakukan kerjasama dengan rekanan). Sistem kawin tersebut dengan rincian untuk jenis Persia terkena biaya sebesar Rp 500.000,- sedangkan untuk Anggora terkena biaya sebesar Rp 150.000,- .

Dalam menghitung rincian biaya ini kami mengasumsikan bahwa setiap induk akan menghasilkan 4 ekor anak, dengan biaya makan selama 2 bulan sebesar Rp. 40.000,- per ekor dan biaya perawatan selama 2 bulan sebesar Rp. 15.000,- per ekor, jadi kita mengestimasi harga pokok kucing sbb :

a. Persia sebesar = Rp 180.000,-
Dengan rincian :
Ongkos Kawin =Rp. 500.000 = Rp. 125.000,-
4
Biaya Makan (2kg) Pelet = Rp. 40.000,-
Biaya Perawatan = Rp. 15.000,-

Total Rp. 180.000,

b. Angora sebesar = Rp 92.500,-
Dengan rincian :
Ongkos Kawin = Rp. 150.000 = Rp. 37.500,-
4
Biaya Makan (2kg) Pelet = Rp. 40.000,-
Biaya Perawatan = Rp. 15.000,-

Total Rp. 92.500,-

Dari perhitungan diatas kami dapat mengasumsikan laba satu induk kucing dalam setiap periode kawin, sebagai berikut :
a. Persia
Harga Jual Per Ekor (2 bulan) =Rp. 750.000,-
Harga Pokok Per Ekor =(Rp. 180.000,-)
Laba Per Ekor = Rp. 570.000,-

b. Angora
Harga Jual Per Ekor (2 bulan) = Rp. 300.000,-
Harga Pokok Per Ekor = (Rp. 92.500,-)
Laba Per Ekor = Rp. 207.500,-
Usaha ini cocok untuk dikembangkan karena kucing jenis ini banyak peminatnya, selain daripada itu harga dari kucing jenis ini bergerak pada kisaran relative terjangkau oleh para peminatnya jika didapatkan di Cat Corner.

VIII. METODE PELAKSANAAN
1. Melakukan pendekatan secara personal terhadap mahasiswa yang memiliki hobi memelihara kucing hias.
2. Melakukan penawaran kepada para penghobi kucing hias.
3. Mendirikan outlet kecil di sekitar kampus.

IX. Jadwal Program Kegiatan
kegiatan Bulan ke
1 2 3 4
• Pemilihan tempat x
• Pemnbuatan kandang xx
• Penyediaan indukan kucing xx
• Proses pemeliharaan xxxx xxxx xxxx

X. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK
Ketua Pelaksanaan Kegiatan:
a. Nama : Ahmad Ishadi Muzakky
b. NIM : 04620217
c. Fakultas/Program Studi : FE/Akuntansi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jl. Kertoraharjo 133, Dolopo Madiun
f. Nomor Handphone : 081807105017
g. Waktu untuk PKM : 10 jam/minggu

Anggota Pelaksana :
a. Nama : Rezha Aditya Pradana
b. NIM : 04620215
c. Fakultas/Program Studi : FE/Akuntansi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jl. Asem Payung no. 437 Kec.Dolopo, Madiun
f. Nomor Handphone : 085649146632
g. Waktu untuk PKM : 8 jam/minggu

a. Nama : Guntur Bowo Laksono
b. NIM : 04620220
c. Fakultas/Program Studi : FE/Akuntansi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jl. KH Abu Mansyur Gg I, No.26B, Kedungwaru,
Tulungagung
f. Nomor Handphone : 085235596161
g. Waktu untuk PKM : 8 jam/minggu

a. Nama : M. Agus Mustofa
b. NIM : 04620252
c. Fakultas/Program Studi : FE/Akuntansi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jl. Bantaran Indah A 16B Malang
f. Nomor Handphone : 085646311711
g. Waktu untuk PKM : 8 jam/minggu

a. Nama : Rita Karina Hassanoesi
b. NIM : 05620047
c. Fakultas/Program Studi : FE/Akuntansi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jl. Kalpataru Blok E8 Jombang
f. Nomor Handphone : 081334886614
g. Waktu untuk PKM : 8 jam/minggu

XI. NAMA DAN BIODATA DOSEN PEMBIMBING
a. Nama lengkap dan Gelar : Drs. Setu Setyawan MM.
b. Golongan Pangkat dan NIP : Penata Tk I / IIID
c. Jabatan Fungsional : Sektor Kepala IV A
d. Jabatan Struktural : Pembantu Dekan III FE
e. Fakultas / Program Studi : Ekonomi / Akuntansi
f. Bidang Keahlian : Perpajakan dan Sektor Publik
g. Wakltu untuk Kegiatan Penelitian : 6 jam/minggu

XII. LAMPIRAN
Analisis SWOT Usaha Cat Corner di lingkungan kampus UMM

a. Strenghten (Kelebihan)
1. Jumlah peminat besar.
2. Tempat Usaha di sekitar kampus dinilai sangat strategis karena letak Cat Corner dilalui mahasiswa ketika berangkat maupun pulang kuliah.
3. Jenis usaha ini tidak rumit dan mudah dijalankan.
b. Weakness (Kelemahan)
1. Usaha ini memerlukan modal besar terutama untuk mendapatkan indukan kucing.
2. Biaya kawin sewa yang seharusnya dapat dieliminasi untuk mengurangi harga pokok kucing anakan yang menjadi output usaha ini.
3. Tempat usaha yang belum permanent karena keterbatasab modal.
c. Opportunity (Peluang)
Dengan pertimbangan modal yang terbatas, dimungkinkan akan menghasailkan laba yang relatif besar. Sehingga dirasa lebih mudah untuk melakukan ekspansi usahanya.
d. Threaten (tantangan/ancaman)
Selama ini usaha sejenis memiliki modal yang relatif besar sehingga dirasa lebih mudah untuk melakukan ekspansi usahanya.

XIII. GAMBARAN PRODUK
Anakan kucing yang kita tawarkan adalah anakan kucing yang kisaran umurnya kurang lebih 2 bulan. Hal ini sangat jarang ditemukan pada tempat-tempat lain.

XIV. RINCIAN DANA
No. Jenis Biaya Besarnya Biaya (Rp)
1. Harga indukan betina siap kawin
a. Persia
b. Anggora
RP. 2.400.000,-
Rp. 900.000,-
2. Biaya Kawin
a. Persia
b. Anggora
Rp. 500.000,-
Rp. 150.000,-
3. Kandang
a. Buatan Sendiri (1X1,5m)
b. Khusus @ 150.000 (2buah)
Rp. 100.000,-
Rp. 300.000,-
4. Pakan 4 Sak (8 anak dan 2 induk) @ Rp. 140.000
Rp. 560.000,-
5. Vitamin ( 8 anak dan 2 induk) Rp. 240.000,-
6. Shampo 10 buah ( 2 induk selama 5 bulan) Rp. 250.000,-
7. Transportasi (2 Sepeda Motor) Rp. 320.000,-
8. Sewa Tempat Rp. 280.000,-
Total Rp. 6.000.000,-
Tabel 2

07/07/2009 Posted by | Contoh PKM | 7 Komentar

RAYAP SEBAGAI SUMBER PROTEIN (IKHTIAR KEMBALI KE ALAM UNTUK PENGENTASAN GIZI BURUK)

ABSTRAK
RAYAP SEBAGAI SUMBER PROTEIN
(IKHTIAR KEMBALI KE ALAM UNTUK PENGENTASAN GIZI BURUK)
Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualtias, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat dan kesehatan yang prima disamping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekurangan gizi dapat merusak bangsa.
Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat akan potensi rayap sebagai penghasil protein yang dapat membantu mengentaskan gizi buruk dan membantu menambah penghasilan masyarakat dengan ccara membudidayakan rayap.
Penulisan karya ilmiah ini menggunakan teknik analisa data, analisa deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998:25), analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Sedangkan Reduksi data dalam karya tulis ini dilakukan dalam bentuk pemilihan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan literature atau intisari literature.
Berdasarkan dari data dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa rayap dapat digunakan sebagai panganan alternative yang mempunyai protein yang tinggi untuk membantu mengurangi gizi buruk selain itu dengan membudidayakan rayap dapat memberi lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Kata Kunci: Rayap, gizi buruk, Budidaya

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM.
Pada saat ini, sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat, umumnya disebut kekurangan gizi (Atmarita, 2008). Kejadian kekurangan gizi sering terluputkan dari penglihatan atau pengamatan biasa, akan tetapi secara perlahan berdampak pada tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, angka kematian balita, serta rendahnya umur harapan hidup.
Di Indonesia gizi buruk ini melanda 27 persen balita atau mencapai 175 ribu penderita di seluruh indonesia(Tjuk, 2008). Untuk mengatasi hal ini pemerintah melakukan berbagai macam cara diantaranya dengan melakukan SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi) yang melakukan pemetaan daerah rawan pangan. Selain itu, pemerintah akan mengaktifkan kembali peran Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dalam mengontrol berat badan balita, karena orang yang aktif adalah ibu balita, bukan petugas Posyandu setempat (Eko, 2008).
Penyebab kekurangan gizi pada masyarakat ini adalah kurangnya makanan yang cukup mengandung hidrat arang, lemak, protein serta vitamin dan mineral yang sering menjadi masalah adalah protein. Berkat protein, tubuh manusia bisa tumbuh dan terpelihara. Protein akan membentuk sel-sel dan jaringan baru tubuh dan memelihara pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh yang aus. Protein juga membantu pengaturan asam basa di dalam tubuh, serta membentuk hormon dan enzim yang kemudian berperan dalam berbagai proses kimia tubuh. Protein juga bisa menjadi bahan bahan untuk energi bila keperluan tubuh akan hidrat arang dan lemak tidak terpenuhi. Kekurangan protein akan membuat tubuh mudah merasa lelah, tekanan darah turun, dan daya tahan terhadap infeksi menurun. Pada anak-anak, selain mudah terserang penyakit kwasiorkor, juga pertumbuhan dan tingkat kecerdasannya akan terganggu.
Namun, hal ini sulit diterapkan dalam masyarakat karena selain harganya mahal dan juga banyak orang tidak tahu seberapa banyak protein yang dibutuhkan serta apa saja sumber-sumbernya.. Oleh karena itu dibutuhkan sumber alternatif gizi yang mudah, murah, dan banyak terdapat di masyarakat.
Rayap sebagai salah satu alternatif sumber protein banyak tersedia di masyarakat dan harganya murah. Namun banyak masyarakat hanya kenal rayap sebagai hewan perusak. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan makannya yang sangat cepat. Makanan rayap adalah selulosa baik berbentuk arsip kantor, buku, perabotan, kayu bagian konsruksi, sampah, dan tunggak. Kayu-kayu yang tertimbun di bawah fondasi bangunan (ini merupakan bahan sarang yang baik karena kelak mereka dimungkinkan untuk “naik”), kayu sisa cetakan beton yang tidak dikeluarkan dari konstruksi, dan lain-lain.
Perubahan iklim ditengarai juga ikut mempercepat perkembangan rayap yang pada akhirnya memperparah kerusakan bangunan maupun peralatan manusia yang terbuat dari kayu. Berdasarkan penelitian dua tahun terakhir, misalnya, 55 persen bangunan di Jakarta sudah rusak oleh rayap, sementara di Semarang 41 persen, dan Surabaya 36 persen. Kerugian finansial yang harus ditanggung secara nasional diperkirakan mencapai 3,73 juta dollar AS (Dodi, 2008). Jadi, untuk menghindar dari serangan rayap jelas perlu dihindarkan obyek-obyek makanan rayap ini, kecuali bila bahan kayu memang diperlukan maka perlu perlakuan perlindungan seperti perlakuan tanah dengan insektisida (soil treatment), pengawetan kayu (wood preservation). Atau biarkan saja sampai rayap menyerang kemudian rayapnya kita serang – tapi kerugian besar tak terhindarkan dan pengendalian rayap akan sangat sulit (sifat kritobiotik !).
Pemanfaatan rayap sebagai sumber protein tinggi dapat dilakukan mulai dari makanan yang sifatnya sederhana, seperti membuat aneka panganan, seperti rempeyek rayap, hingga mengolahnya menjadi permen. Bahkan, rayap sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan tambahan untuk pakan ayam. Mengingat jumlahnya yang besar di tanah air, tidak sulit menemukan rayap di sekitar tempat tinggal masyarakat.
Berangkat dari wacana dan peluang tersebut maka perlu adanya, budidaya atau pemanfaatan rayap sebagai upaya untuk mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh serangan rayap yang mencapai 3,73 juta dollar AS. Selain itu, dengan membudidayakan rayap juga bermanfaat untuk mengurangi angka kemiskinan dan jumlah pengganguran yang ada di Indonesia karena, akan membuka peluang bagi masyarakat untuk menambah penghasilan sampingan bagi mereka.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu
1.Bagaimanakah potensi rayap sebagai alternative pengentas gizi buruk ?
2.Bagaimanakah potensi budidaya rayap untuk meningkatkan pendapatan masyarakat?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat akan potensi rayap sebagai penghasil protein yang dapat membantu mengentaskan gizi buruk dan membantu menambah penghasilan masyarakat dengan ccara membudidayakan rayap.
1.4 Manfaat penulisan
Berdasarkan latar belakang rumusan masalah dan tujuan di atas maka manfaat yang diharapkan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah:
a. Masyarakat dapat memanfaatkan potensi rayap yang begitu besar terdapat di sekitar lingkungan masyarakat.
b. Mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran pada masyarakat karena, dengan membudidayakan rayap berarti dapat menciptakan lapangan kerja yang baru

BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1 GIZI BURUK
Beragam masalah malnutrisi banyak ditemukan pada anak-anak. Dari kurang gizi hingga busung lapar. Secara umum kurang gizi adalah salah satu istilah dari penyakit malnutrisi energi-protein(MEP), yaitu penyakit yang diakibatkan kekurangan energi dan protein. Bergantung pada derajat kekurangan energi-protein yang terjadi, maka manifestasi penyakitnya pun berbeda-beda. MEP ringan sering diistilahkan dengan kurang gizi. Sedangkan marasmus, kwashiorkor (sering juga diistilahkan dengan busung lapar atau HO), dan marasmik-kwashiorkor digolongkan sebagai MEP berat.
Tabel1. Data penderita gizi kurang dan buruk di Indonesia dari tahun 1989-2004 (Susenas):
Tahun Jumlah Penduduk Jumlah Balita Gizi Kurang dan Buruk Jumlah Balita Gizi Buruk
1989 177.614.965 7.986.279 1.324.769
1992 185.323.456 7.910.346 1.607.866
1995 95.860.899 6.803.816 2.490.567
1998 206.398.340 6.090.815 2.169.247
1999 209.910.821 5.256.587 1.617.258
2000 203.456.005 4.415.158 1.348.181
2001 206.070.000 4.733.028 1.142.455
2002 208.749.460 5.014.028 1.469.596
2004 211.567.577 5.119.935 1.528.676
Sumber: www. depkes.go.id

Tabel 2. Data terbaru tahun 2007 di Indonesia diketahui bahwa:
Kota Gizi Buruk
Jawa Tengah 15.980
Cilacap 120
Sampang 59
Tangerang 2.895
Trenggalek 500
Sumber: http://www.tribunkaltim.com
Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa penderita gizi buruk di Indonesia masih besar. Secara umum penyakit gizi buruk dibagi menjadi beberapa macam yaitu:
2.1.1 KURANG GIZI
Penyakit ini paling banyak menyerang anak balita, terutama di negara-negara berkembang. Gejala kurang gizi ringan relatif tidak jelas, hanya terlihat bahwa berat badan anak tersebut lebih rendah dibanding anak seusianya. Rata-rata berat badannya hanya sekitar 60-80% dari berat ideal. Adapun ciri-ciri klinis yang biasa menyertainya antara lain :
1). Kenaikan berat badan berkurang, terhenti, atau bahkan menurun.
2). Ukuran lingkaran lengan atas menurun.
3). Maturasi tulang terlambat
4). Rasio berat terhadap tinggi, normal atau cenderung menurun.
5). Tebal lipat kulit normal atau semakin berkurang.

2.1.2 MARASMUS
Anak-anak penderita marasmus secara fisik mudah dikenali. Meski masih anak-anak,
wajahnya terlihat tua, sangat kurus karena kehilangan sebagian lemak dan otot-ototnya. Penderita marasmus berat akan menunjukkan perubahan mental, bahkan hilang kesadaran. Dalam stadium yang lebih ringan, anak umumnya jadi lebih cengeng dan gampang menangis karena selalu merasa lapar. Ada pun ciri-ciri lainnya adalah:
1). Berat badannya kurang dari 60% berat anak normal seusianya
2). Kulit terlihat kering, dingin dan mengendur.
3). Beberapa di antaranya memiliki rambut yang mudah rontok
4). Tulang-tulang terlihat jelas menonjol.
5). Sering menderita diare atau konstipasi
6). Tekanan darah cenderung rendah dibanding anak normal, dengan kadar hemoglobin yang juga lebih rendah dari semestinya.
2.1.3 KWASHIORKOR
Kwashiorkor sering juga diistilahkan sebagai busung lapar atau HO. Penampilan anak-anak penderita HO umumnya sangat khas, terutama bagian perut yang menonjol. Berat badannya jauh di bawah berat normal. Edema stadium berat maupun ringan biasanya menyertai penderita ini. Beberapa ciri lain yang menyertai di antaranya :
1). Perubahan mental menyolok. Banyak menangis, bahkan pada stadium lanjut anak terlihat sangat pasif.
2). Penderita nampak lemah dan ingin selalu terbaring.
3). Diare dengan feses cair yang banyak mengandung asam laktat karena berkurangnya produksi lactase dan enzim penting lainnya.
4). Kelainan kulit yang khas, dimulai dengan titik merah menyerupai petechia ( pendarahan kecil yang timbul sebagia titik berwarna merah keunguan, pada kulit maupun selaput lender, Red.), yang lambat laun kemudian menghitam. Setelah mengelupas, terlihat kemerahan dengan batas menghitam. Kelainan ini biasanya dijumpai di kulit sekitar punggung, pantat, dan sebagainya.
5). Pembesaran hati, bahkan saat rebahan, pembesaran ini dapat diraba dari luar tubuh, terasa licin dan kenyal
2.1.4 MARASMIK- KWASHIORKOR
Penyakit ini merupakan gabungan dari marasmus dan kwashiorkor dengan gabungan gejala yang menyertai:
1). Berat badan penderita hanya berkisar di angka 60% dari berat normal. Gejala khas kedua penyakit tersebut nampak jelas, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit dan sebagainya.
2). Tubuh mengandung lebih banyak cairan, karena berkurangnya lemak dan otot.
3). Kalium dalam tubuh menurun drastic sehingga menyebabkan gangguan metabolic seperti gangguan pada ginjal dan pancreas.
4). Mineral lain dalam tubuh pun mengalami gangguan, seperti meningkatnya kadar natrium dan fosfor inorgonik serta menurunya kadar magnesium
2.1.5 GAGAL TUMBUH
Selain malnutrisi energi-protein di atas, ada juga gangguan pertumbuhan yang diistilahkan dengan gagal tumbuh. Gagal tumbuh adalah bayi/anak dengan pertumbuhan fisik kurang secara bermakna disbanding anak sebayanya. Untuk mudahnya, pertumbuhan anak tersebut ada di bawah kurva pertumbuhan normal. Tanda-tanda lainnya adalah :
1). Kegagalan mencapai tinggi dan berat badan ideal
2). Hilangnya lemak di bawah kulit secara signifikan
3). Berkurangnya massa otot
4). Dermatitis
5). Infeksi berualang
2.1.6 FAKTOR PENYEBAB
Secara umum masalah malnutrisi energi-protein (MEP) disebabkan beberapa factor yang paling dominant adalah tanggung jawab negara terhadap rakyatnya karena bagaimanapun MEP tidak akan terjadi bila kesejahteraan rakyat terpenuhi. Berikut faktor-faktor penyebab terjadinya gizi buruk:
1). Faktor sosial, yang dimaksud disini adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi bagi pertumuhan anak. Sehingga banyak balita yang diberi makan “sekedarnya” atau asal kenyang padahal miskin gizi.
2). Kemiskinan, hal ini sering dituding sebagai biang keladi munculnya penyakit ini di Negara-negara berkembang. Rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan kebutuhan paling mendasar, yaitu pangan pun seringkali tak bisa terpenuhi.
3). Laju pertambahan penduduk yang tidak seimbang dengan bertambahnya ketersediaan bahan pangan akan menyebabkan krisis pangan. Ini pun menjadi penyebab munculnya penyakit MEP.
4). Infeksi, tak dapat dipungkiri memang ada hubungan erat antara infeksi dengan malnutrisi. Infeksi sekecil apa pun berpengagruh pada tubuh. Sedangkan kondisi malnutrisi akan semakin memperlemah daya tahan tubuh yang pada giliran berikutnya akan mempermudah masuknya beragam penyakit.
Tindakan pencegahan otomatis sudah dilakukan bila factor-faktor penyebabnya dapat dihindari. Misalnya ketersediaan pangan yang tercukupi, daya beli masyarakat untuk dapat membeli bahan pangan, serta pentingnya sosialisasi makanan bergizi terutama bagi balita.
2.1.7 LANGKAH PENGOBATAN
Pengobatan pada penderita MEP tentu saja harus disesuaikan dengan tingkatannya. Penderita kurang gizi stadium ringan, contohnya, diatasi dengan perbaikan gizi. Dalam sehari anak-anak ini harus mendapat masukan protein sekitar 2-3 gram atau setara dengan 100-150 Kkal. Sedangkan pengobatan MEP berat cenderung lebih kompleks karena masing-masing penyakit yang menyertai harus diobati satu per satu. Penderita pun sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk mendapat perhatian medis secara penuh. Sejalan dengan pengobatan penyakit penyerta maupun infeksinya, status gizi anak tersebut terus diperbaiki hingga sembuh.
Secara umum pentingnya gizi dan penyebab terjadinya kekurangan gizi dapat dilihat pada bagan berikut:
Bagan 1. Gizi menurut daur kehidupan

Bagan 2. Penyebab kurang gizi

2.2 PROTEIN
Gizi yang cukup yang dapat menjamin kesehatan optimal Dalam hidup protein memegang peranan yang penting. Proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim, suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalis. Di samping itu, hemoglobin dalam butir-butir darah merah atau eritrosit yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru keseluruh bagian tubu, adalah satu jenis protein. Demikian pula zat-zat yang berperan untuk melawan bakteri penyakit atau yang disebut antigen, juga suatu protein. Kita memperoleh protein dari makanan yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Protein yang berasal dari tumbuhan disebut protein nabati, sedangkan yang berasal dari hewan disebut protein hewani. Beberapa sumber protein adalah daging, telur, susu, beras, kacang, kedelai, gandum, jagung, dan buah-buahan.
Protein membentuk sebahagian besar struktur di dalam sel termasuklah sebagai enzim dan pigmen respiratori. Protein dibentuk dari percantuman unit asas yang dikenali sebagai asid amino. Protein boleh dibahagikan kepada dua jenis yaitu protein fibrous yang banyak bergantung kepada struktur sekunder dinama bentuk protein ini boleh diulang. Manakala bentuk kedua ialah protein globular (enzim dan antibodi) yang banyak bergantung kepada interaksi struktur bebas yang terdapat 20 jenis asid amino yang digunakan untuk membentuk rantaian polipeptida (protein) Fungsi, bentuk, ukuran dan jenis protein akan ditentukan oleh jenis, bilangan dan taburan asam amino yang terdapat di dalam struktur tersebut. Penamaan beberapa asam amino dinamakan tindakbalas kondensasi dengan dicirikan berlakunya pembentukan ikatan peptida dan pembentukan molekul air. Penamaan ini akan menghasilkan rantai peptida yang lebih dikenali sebagai polipeptida dengan mempunyai dua ujung rantai yang berbeda sifatnya. Di ujung yang mempunyai kumpulan amino dikenali sebagai terminal N (amino) dan ujung yang mempunyai kumpulan karboksil dikenal sebagai terminal N. penyambungan rantai asam amino ini memerlukan tenaga yang tinggi dan ketepatan urutan asam amino dalam rantai ini pula tergantung pada koordinasi di antara mRNA dan tRNA.
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh sesudah air. Seperlima bagian tubuh protein, separuhnya ada di dalam otot, seperlima di dalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluh didalam kulit, dan selebihnya didalam jaringan lain, dan cairan tubuh. Semua enzim, berbagai hormon, pengangkut zat-zat gizi dan darah, matriks intra seluler dan sebagainya adalah protein. Disamping itu asam amino yang membentuk protein bertindak sebagai prekursor sebagian besar koenzim, hormon, asam nukleat, dan molekul-molekul yang essensial untuk kehidupan. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantika oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.
Protein yang dibentuk dengan hanya menggunakan satu polipeptida dinamakan sebagai protein monomerik dan yang dibentuk oleh beberapa polipeptida contohnya hemoglobin pula dikenali sebagai protein multimerik. Protein (akar kata protos dari bahasa Yunani yang berarti “yang paling utama”) adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus. Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut (heterotrof).
Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipida, dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan oleh Jons Jakob Berzelius pada tahun 1838. Biosintesis protein alami sama dengan ekspresi genetik. Kode genetik yang dibawa DNA ditranskripsi menjadi RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi translasi yang dilakukan ribosoma. Sampai tahap ini, protein masih “mentah”, hanya tersusun dari asam amino proteinogenik. Melalui mekanisme pascatranslasi, terbentuklah protein yang memiliki fungsi penuh secara biologi.
Dalam kehidupan protein memegang peranan yang penting, proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim yang berfungsi sebagai biokatalis. Disamping itu hemoglobin dalam butir-butir darah merah atau eritrosit yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru keseluruh bagian tubuh, adalah salah satu jenis protein. Demikian pula zat-zat yang berperan untuk melawan bakteri penyakit atau disebut antigen, juga suatu protein.
2.2.1 Zat Protein
Protein dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari dapat berasal dari hewani maupun nabati. Protein yang berasal dari hewani seperti daging, ikan, ayam, telur, susu, dan lain-lain disebut protein hewani, sedangkan protein yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti kacang-kacangan, tempe, dan tahu disebut protein nabati. Dahulu, protein hewani dianggap berkualitas lebih tinggi daripada menu seimbang protein nabati, karena mengandung asam-asam amino yang lebih komplit. Tetapi hasil penelitian akhir-akhir ini membuktikan bahwa kualitas protein nabati dapat setinggi kulaitas protein hewani, asalkan makanan sehari-hari beraneka ragam. Dengan susunan hidangan yang beragam atau sering pula disebut sebagai, maka kekurangan asam amino dari bahan makanan yang satu, dapat ditutupi oleh kelebihan asam-asam amino dari bahan makanan lainnya. Jadi dengan hidangan: ada nasi atau penggantinya, lauk-pauk, sayur-sayuran, dan buah-buahan, apalagi bila ditambah susu, maka susunan hidangan adalah sehat. Bukan saja jumlah atau kualitas zat-zat gizi yang kita butuhkan tercukupi, tetapi juga kualitas zat-zat gizi yang kita konsumsi bermutu tinggi.
Protein dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan, pembentukan otot, pembentukan sel-sel darah merah, pertahanan tubuh terhadap penyakit, enzim dan hormon, dan sintesa jaringan-jaringan badan lainnya. Protein dicerna menjadi asam-asam amino, yang kemudian dibentuk protein tubuh di dalam otot dan jaringan lain. Protein dapat berfungsi sebagai sumber energi apabila karbohidrat yang dikonsumsi tidak mencukupi seperti pada waktu berdiet ketat atau pada waktu latihan fisik intensif. Sebaiknya, kurang lebih 15% dari total kalori yang dikonsumsi berasal dari protein.
2.2.2Sintesis Protein
Tumbuh-tumbuhan dan hewan dapat mensintesis protein, yaitu tumbuh-tumbuhan dari nitrogen yang tersedia ditanah, sedangkan hewan dari asam amino yang diperoleh dari makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Hewan dapat mensintesis beberapa macam asam amino dari nitrogen yang berasal dari makanan. Sintesis protein meliputi pembentukan rantai panjang asam amino yang dinamakan rantai peptide. Ikatan kimia yang mengaitkan dua asam amino satu sama lain dinamkan ikatam peptide. Ikatan ini terjadi karena satu hydrogen (H) dari gugus amino suatu asam amino bersatu dengan hidroksil (OH) dari gugus karboksil asam amino yang lain. Proses ini menghasilkan satu molekul air, sedangkan CO dan NH yang tersisa akan menbentuk ikatan peptide. Sebaliknya ikatan peptide ini dapat dipecah menjadi asam amino, oleh asam atau enzim pencerna dengan penambahan satu molekul air. Proses ini dinamakan hidrolisis.
Hasil akhir pencernaan protein terutama berupa asam amino dan ini segera diabsorpsi dalm waktu lima belas menit setelah makan. Absorpsi terutama terjadi dalam usus halus berupa empat sistem absorpsi aktif yang membutuhkan energi, yaitu masing-masing untuk asam amino netral, asam amino asam dan basa, serta untuk prolin dan hidroksiprolin. Absorpsi ini menggunakan mekanisme transpor natriun seperti halnya pada absorpsi glukosa. Asam amino yang diabsorpsi memasuki sirkulasi darah melalui vena porta dan dibawa ke hati. Sebagian asam amino digunakan oleh hati, dan sebagian lagi melalui sirkulasi darah dibawa ke sel-sel jaringan.
Kadang-kadang protein yang belum dicerna dapat memasuki mukosa usus halus dan muncul dalam darah. Hal ini sering terjadi pada protein susu dan protein telur yang dapat menimbulkan gejala alergi (immunological sensitive protein). Sebagian besar asam amino telah diabsorpsi pada saat asam amino sampai diujung usus halus. Hanya 1 % proein yang dimakan ditemukan dalam feses. Protein endogen yang berasal dari sekresi saluran cerna dan sel-sel yang rusak juga dicerna dan diabsorpsi. Ribuan protein yang terdapat dalam tubuh manusia melakukan berbagai fungsi yang begitu banyak ubtuk dituliskan. Fungsi ini menyangkut pekerkjaan sebagai pembawa vitamin, oksigen dan karbondioksida plus peranan structural, kinetic, katalitik serta pembentukan sinya
2.3 RAYAP
Rayap dalam biologi adalah sekelompok hewan dalam salah satu ordo Isoptera dari kelas Artropoda. Ordo Isoptera beranggotakan sekitar 2.000 spesies dan di Indonesia telah tercatat kurang lebih 200 jenis (spesies). Nama lain dari rayap adalah anai-anai, semut putih, rangas dan laron (khusus individu bersayap), dan alates. Sampai saat ini para ahli hama telah menemukan kira- kira 2000 jenis rayap yang tersebar di seluruh dunia, sedangkan di Indonesia sendiri telah ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap ( Nandika dan Tambunan, 1989).
Beberapa sifat yang penting untuk diperhatikan dalam kehidupan rayap adalah sifat : (1)Trophalaxis, yaitu sifat rayap untuk berkumpul saling menjilat serta mengadakan pertukaran bahan makanan; (2) Cryptobiotic, yaitu sifat rayap untuk menjauhi cahaya. (3) Kanibalisme, yaitu sifat rayap untuk memakan individu sejenis yang lemah atau sakit.; dan (4) Sifat Necrophagy, yaitu sifat rayap untuk memakan bangkai sesamanya.
Koloni rayap dapat terbentuk melalui beberapa cara, yaitu : (1) pembentukan koloni oleh kasta reproduktif primer (laron); (2) Pembentukan koloni dengan cara isolasi; dan (3). Pembentukan koloni dengan cara migrasi.
Selulosa adalah makanan utama rayap, oleh karena itu kayu dan jaringan tanaman lainnya merupakan sasaran utama serangga rayap. Walaupun makanan utama rayap adalah selulosa, tetapi rayap tidak dapat hidup dan tumbuh normal bila hanya tersedia selulosa murni. Para ahli menyimpulkan bahwa rayap hidup dan tumbuh bila tersedia makanan yang mengandung gula, protein, garam dan vitamin A,B, dan E karena zat- zat tersebut sangat penting dalam kehidupannya. Dari perilaku makan yang demikian rayap termasuk golongan makhluk hidup perombak bahan mati yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan dalam ekosistem.
2.3.1 Sebaran dan Makanan
Rayap pada dasarnya adalah serangga daerah tropika dan subtropika. Namun sebarannya kini cenderung meluas ke daerah sedang (temperate ) dengan batas-batas 50o LU dan LS. Di daerah tropika rayap ditemukan mulai dari pantai sampai ketinggian 3000 m di atas permukaan laut. Makanan utamanya adalah kayu atau bahan yang terutama terdiri atas selulosa. Dari perilaku makan yang demikian kita menarik kesimpulan bahwa rayap termasuk golongan makhluk hidup perombak bahan mati yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan dalam ekosistem kita. Mereka merupakan konsumen primer dalam rantai makanan yang berperan dalam kelangsungan siklus beberapa unsur penting seperti karbon dan nitrogen. Tapi masalahnya adalah manusia juga merupakan konsumen primer yang memerlukan hasil-hasil tanaman bukan saja untuk makanannya tetapi juga untuk membuat rumah dan bangunan-bangunan lain yang diperlukannya. Di sinilah letak permasalahannya, sehingga manusia bersaing dengan rayap. Semula agak mengherankan para pakar bahwa rayap mampu makan (menyerap) selulosa karena manusia sendiri tidak mampu mencernakan selulosa (bagian berkayu dari sayuran yang kita makan, akan dikeluarkan lagi !), sedangkan rayap mampu melumatkan dan menyerapnya sehingga sebagian besar ekskremen hanya tinggal lignin saja. Keadaan menjadi jelas setelah ditemukan berbagai protozoa flagellata dalam usus bagian belakang dari berbagai jenis rayap (terutama rayap tingkat rendah: Mastotermitidae, Kalotermitidae dan Rhinotermitidae), yang ternyata berperan sebagi simbion untuk melumatkan selulosa sehingga rayap mampu mencernakan dan menyerap selulosa. Bagi yang tak memiliki protozoa seperti famili Termitidae, bukan protozoa yang berperan tetapi bakteria — dan bahkan pada beberapa jenis rayap seperti Macrotermes , Odontotermes dan Microtermes memerlukan bantuan jamur perombak kayu yang dipelihara di “kebun jamur” dalam sarangnya.
Semua rayap makan kayu dan bahan berselulosa, tetapi perilaku makan (feeding behavior ) jenis-jenis rayap bermacam-macam. Hampir semua jenis kayu potensial untuk dimakan rayap. Memang ada yang relatif awet seperti bagian teras dari kayu jati tetapi kayu jati kini semakin langka. Untuk mencapai kayu bahan bangunan yang terpasang rayap dapat “keluar” dari sarangnya melalui terowongan-terowongan atau liang-liang kembara yang dibuatnya. Bagi rayap subteran (bersarang dalam tanah tetapi dapat mencari makan sampai jauh di atas tanah), keadaan lembab mutlak diperlukan. Hal ini menerangkan mengapa kadang-kadang dalam satu malam saja rayap Macrotermes dan Odontoterme s telah mampu menginvasi lemari buku di rumah atau di kantor jika fondasi bangunan tidak dilindungi. Sebaliknya, rayap kayu kering (Cryptotermes) tidak memerlukan air (lembab) dan tidak berhubungan dengan tanah. Juga tidak membentuk terowongan-terowongan panjang untuk menyerang obyeknya. Mereka bersarang dalam kayu, makan kayu dan jika perlu menghabiskannya sehingga hanya lapisan luar kayu yang tersisa, dan jika di tekan dengan jari serupa menekan kotak kertas saja. Ada pula rayap yang makan kayu yang masih hidup dan bersarang di dahan atau batang pohon, seperti Neotermes tectonae yang menimbulkan kerusakan (pembengkakan atau gembol) yang dapat menyebabkan kematian pohon jati. Penggolongan menurut habitat atau perilaku bersarang.
Berdasarkan lokasi sarang utama atau tempat tinggalnya, rayap perusak kayu dapat digolongkan dalam tipe-tipe berikut :
1. Rayap pohon, yaitu jenis-jenis rayap yang menyerang pohon yang masih hidup, bersarang dalam pohon dan tak berhubungan dengan tanah. Contoh yang khas dari rayap ini adalah Neotermes tectonae (famili Kalotermitidae), hama pohon jati.
2. Rayap kayu lembab, menyerang kayu mati dan lembab, bersarang dalam kayu, tak berhubungan dengan tanah. Contoh : Jenis-jenis rayap dari genus Glyptotermes (Glyptotermes spp., famili Kalotermitidae).
3. Rayap kayu kering, seperti Cryptotermes spp. (famili Kalo-termitidae), hidup dalam kayu mati yang telah kering. Hama ini umum terdapat di rumah-rumah dan perabot-perabot seperti meja, kursi dsb. Tanda serangannya adalah terdapatnya butir-butir ekskremen kecil berwarna kecoklatan yang sering berjatuhan di lantai atau di sekitar kayu yang diserang. Rayap ini juga tidak berhubungan dengan tanah, karena habitatnya kering.
4. Rayap subteran, yang umumnya hidup di dalam tanah yang mengandung banyak bahan kayu yang telah mati atau membusuk, tunggak pohon baik yang telah mati maupun masih hidup. Di Indonesia rayap subteran yang paling banyak merusak adalah jenis-jenis dari famili Rhinotermitidae. Terutama dari genus Coptoterme s (Coptotermes spp.) dan Schedorhinotermes. Perilaku rayap ini mirip rayap tanah seperti Macr¬otermes namun perbedaan utama adalah kemampuan Coptotermes untuk bersarang di dalam kayu yang diserangnya, walaupun tidak ada hubungan dengan tanah, asal saja sarang tersebut sekali-sekali memperoleh lembab, misalnya tetesan air hujan dari atap bangunan yang bocor. Coptotermes pernah diamati menyerang bagian-bagian kayu dari kapal minyak yang melayani pelayaran Palembang-Jakarta. Coptotermes curvignathus Holmgren sering kali diamati menyerang pohon Pinus merkusii dan banyak meyebabkan kerugian pada bangunan.
5. Rayap tanah. Jenis-jenis rayap tanah di Indonesia adalah dari famili Termitidae. Mereka bersarang dalam tanah terutama dekat pada bahan organik yang mengandung selulosa seperti kayu, serasah dan humus. Contoh-contoh Termitidae yang paling umum menyerang bangunan adalah Macrotermes spp. (terutama M. gilvus) Odontotermes spp. dan Microtermes spp. Jenis-jenis rayap ini sangat ganas, dapat menyerang obyek-obyek berjarak sampai 200 meter dari sarangnya. Untuk mencapai kayu sasarannya mereka bahkan dapat menembus tembok yang tebalnya beberapa cm, dengan bantuan enzim yang dikeluarkan dari mulutnya. Macrotermes dan Odontotermes merupakan rayap subteran yang sangat umum menyerang bangunan di Jakarta dan sekitarnya.
Taksonomi atau penggolongan jenis-jenis rayap merupakan salah satu misteri dunia insekta karena tingginya tingkat kemiripan antar jenis rayap dalam masing-masing famili. Kiranya kita tak perlu sangat memusingkan jenis-jenis (spesies) rayap ini. Hal yang penting adalah dapat mengenal tipe-tipe seperti telah disebut di muka. Pada umumnya rayap yang terdapat dalam satu kategori memiliki kemiripan dalam hampir semua segi perilakunya, sehingga metoda pengendalianyapun dapat disamakan.
Dapat dikatakan bahwa terdapat tiga famili rayap perusak kayu (yang dianggap sebagai hama), yaitu famili Kalotermitidae, Rhinotermitidae dan Termitidae. Kalotermitidae diwakili oleh Neotermes tectonae (hama pohon jati) dan Cryptotermes spp. (rayap kayu kering); Rhinotermitidae oleh Coptotermes spp dan Schedorhinotermes, sedangkan Termitidae oleh Macrotermes spp., Odontotermes spp. dan Microtermes spp.). Masih banyak jenis-jenis rayap yang juga penting tetapi agak jarang dijumpai menyerang bangunan. Misalnya jenis-jenis Nasutitermes (famili Termitidae), yang pada dahi prajuritnya terdapat “tusuk” (seperti hidung: nasus, nasute), dan mampu melumpuhkan lawannya bukan dengan menusuknya tetapi meyemprotkan cairan pelumpuh berwarna putih, melalui saluran dalam “tusuk”nya. 2.3.2 Rayap Sebagai Sumber Protein
Bagi kelompok masyarakat tertentu, terutama di Afrika dan beberapa kelompok di Asia, konsumsi larva dan serangga dewasa ternyata memberikan sumbangan zart gizi yang sangat berarti. Di Eropa dan Amerika, perburuan serangga untuk dimakan ternyata juga dilakukan, tetapi tujuannya sebagian besar adalah untuk gaya hidup. Banyak orang di negara-negara maju tersebut menyukai gaya hidup di alam bebas atau alam liar termasuk cara mendapatkan makanannya. Bagi mereka, serangga merupakan makanan favorit yang sering diburu. Aneka buku dan ribuan resep serta situs-situs di internet tentang mengolah serangga sebagai bahan makanan telah dibuat dan dikembangkan oleh kelompok masyarakat tersebut. Sebagian besar serangga kaya akan protein (40-60 persen) dan lemak (10-15 persen). Serangga dewasa kadang-kadang membutuhkan penghilangan kulit kerasnya sebelum dapat digoreng atau disangrai. Larva serangga baik dalam bentuk serangga muda maupun ulat (sering disebut caterpillar) dapat langsung dimasak, atau ditambahkan ke dalam saus atau rebusan makanan (daging dan sayur/buah). Komposisi gizi beberapa jenis serangga yang digunakan sebagai bahan pangan dapat dilihat pada

Tabel 3. Data gizi macam-macam serangga:
Jenis Serangga Energi Protein Lemak Karbohidrat Serat
Semut
• Mentah
• Kering
3.0

10.1
9.5

1.3
Kumbang 192 27.1 3.7 11.2 6.4
Larva
• Mentah
86
10.6
2.7
4.2
2.8
Jangkrik
• Mentah
117
13.7
5.3
2.9
2.9
Rayap
• Mentah
• Kering
356
656
20.4
35.7
28.0
54.3
4.2
3.5
2.7
Sumber:www.ebookpangan.com/ARTIKEL/SERANGGA%20

BAB III
METODOLOGI PENULISAN
3.1 Sumber Data
Data dan fakta yang berhubungan untuk pembahasan tema ini berasal dan tahapan-tahapan pengumpulan data dengan pembacaan secara kritis terhadap ragam literatur (Library research) yang berhubungan dengan tema pembahasan.
Data potensi rayap yang ditampilkan dalam karya tulis ini dapat berupa angka atau pesan. Untuk angka, data yang dipakai adalah data dengan kriteria telah dipublikasikan kepada masyarakat, melalui literatur yang digunakan berupa buku, surat kabar, buletin, jurnal, majalah maupun internet. Dengan demikian penulis mengelompakkan atau menyeleksi data dan informasi tersebut berdasarkan kategori atau relevansi dan kemudian selanjutnya ke tahapan analisis dan pengambilan kesimpulan
3.2 Analisis Data
Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998:25), analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.
Untuk menganalisa data yang berupa pesan maka digunakan cara analisis isi (content analysis). Analisis ini menghubungkan penemuan berupa kriteria atau teori. Analisis yang dilakukan pada analisis isi karya tulis ini menggunakan interactive model (Miles dan Huberman, 1994). Model ini terdiri dari empat komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaa atau reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan data pengujian atau verifikasi kesimpulan.
3.3 Reduksi Data
Reduksi data dalam karya tulis ini dilakukan dalam bentuk pemilihan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan literature atau intisari literature. Reduksi data berlangsung secara terus menerus selama penulisan karya tulis ini dibuat hingga sampai karya tulis ini berakhir lengkap tersusun. Reduksi data dilakukan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengkoordinasi data dengan cara sedemikian sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan dapat diverifikasi.
3.4 Penyajian Data
Sekumpulan informasi disusun sehingga memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan melihat penyajian-penyajian data penulis dapat memahami apa yang seharusnya terjadi dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

BAB IV
ISI
4.1 PEMBAHASAN
4.1.1 Penyebaran Rayap di Indonesia
Rayap dalam biologi adalah sekelompok hewan dalam salah satu ordo Isoptera dari kelas Artropoda. Ordo Isoptera beranggotakan sekitar 2.000 spesies dan di Indonesia telah tercatat kurang lebih 200 jenis (spesies). Nama lain dari rayap adalah anai-anai, semut putih, rangas dan laron (khusus individu bersayap), dan alates. Sampai saat ini para ahli hama telah menemukan kira- kira 2000 jenis rayap yang tersebar di seluruh dunia, sedangkan di Indonesia sendiri telah ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap ( Nandika dan Tambunan, 1989).
Di Indonesia sampai dengan tahun 1970 sudah ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap dari berbagai genus ( Tarumingkeng, 1971). Menurut Roonwal dan Maiti (1976) dalam Tambunan dan Nandika (1989) jenis-jenis rayap banyak dijumpai di daerah tropika seperti di Indonesia adalah sebagai berikut :
Famili Kalotermitidae
1.Genus : Neotermes Holmgren
Jenis : N. dalbergia Kalshoven
N.tectonae
2. Genus : Cryptotermes Banks
Jenis : C.cynocephalus Light
C. domesticus Haviland
C. dudleyi Banks

Penyebaran rayap berhubungan dengan suhu dan curah hujan sehingga sebagian besar jenis rayap terdapat di dataran rendah tropika dan hanya sebagaian kecil ditemukan di dataran tinggi . Namun demikian, rayap menyebar tidak hanya di daerah- daerah tropika tapi juga mencakup sebagian besar negara-negara sub tropika
4.1.2 Kandungan Gizi Rayap
Rayap sebagai alternative sumber gizi mempunyai banyak kandungan gizi seperti yang tertera dalam table di bawah ini:
Data gizi macam-macam serangga:
Jenis Serangga Energi Protein Lemak Karbohidrat Serat
Semut
• Mentah
• Kering
3.0

10.1
9.5

1.3
Kumbang 192 27.1 3.7 11.2 6.4
Larva
• Mentah
86
10.6
2.7
4.2
2.8
Jangkrik
• Mentah
117
13.7
5.3
2.9
2.9
Rayap
• Mentah
• Kering
356
656
20.4
35.7
28.0
54.3
4.2
3.5
2.7

Dari data ini diketahui bahwa dari berbagai perbandingan macam jenis serangga, rayap memiliki kandungan gizi yang tinggi terutama pada protein yang dimilikinya apalagi jika rayap itu berada dalam keadaan kering yaitu sebesar 35,7.
4.1.3 Budidaya Rayap Sebagai Pengentas Gizi Buruk dan Kemiskinan
Pemanfaatan rayap sebagai sumber protein dapat dilakukan mulai dari makanan yang sifatnya sederhana, seperti rempeyek hingga permen.
Rayap sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan tambahan untuk pakan ayam. Mengingat jumlahnya yang besar di Tanah Air, tidak sulit menemukan rayap di sekitar tempat tinggal warga. Jika perlu, rayap juga diternakkan, rayap sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan tambahan untuk pakan ayam. Di daerah tropis, rayap terdapat dimana-mana dalam jumlah yang banyak. Mereka dengan mudah dapat dikumpulkan dari sarang rayap atau dengan cara memancing mereka menggunakan lampu pada malam hari, biasanya setelah hujan. Pada saat keluar sarang, rayap yang masih bersayap akan tertarik pada cahaya lampu atau api dan terbangdisekitar sumber sinar tersebut. Hawa panas disekitar sumber cahaya menyebabkan sayap rayap terlepas sehingga tubuhnya jatuh ke bawah. Rayap yang sudah tidak bersayap ini sangat mudah untuk ditangkap dan dikumpulkan.
Ratu rayap ternyata mempunyai rasa yang enak, panjangnya dapat mencapai 10-12 cm. Mereka tidak keluar dari sarangnya, tetapi tetap berada ditempat ruangan khusus tempat mengeluarkan ribuan telur tiap hari. Jika gundukan tanah sarang rayap dihancurkan, ratu rayap dapat ditangkap dan dimasak dengan cara disangrai (digoreng tanpa minyak). Rayap yang masih bersayap dapat digoreng kering dalam panci karena mereka kaya akan minyak. Selama penggorengan, sayapnya akan lepas dan dapat dipisahkan dengan hembusan angin. Kemudian diberi garam dan dimakan sebagai snack. Di Afrika Barat, rayap digoreng dalam minyak sawit, sedangkan di Malawi dan Zimbabwe rayap dipanaskan sebentar, dikeringkan dan kemudian dijual.
Melihat potensi diatas seharusnya masyarakat berani untuk mengembangkan budidaya rayap sebagai altenartif matapencaharian mereka, apalagi melihat data penduduk miskin di Indonesia.

Tabel 5. Jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 1990-2004
Tahun Penduduk Miskin
1990 15.1
1993 13.7
1996 11.3
1999 23.43
2002 18.2
2003 17.42
2004 16.66
Jumlah Penduduk Miskin (juta jiwa) %
Sumber:www.undp.or.id/pubs/imdg2005/BI/tujuan
Dari data ini diketahui bahwa jumlah penduduk miskin dan lapangan kerja di Indonesia semakin menipis, oleh karena itu diperlukan alternative dan rayap merupakan jawaban yang tepat karena sumber daya alam ini tersedia dan mudah didapatkan di masyaraka
4.2 SARAN
Berdasarkan dari data dan pembahasan di atas maka dapat disarankan bahwa:
1. Masyarakat diharapkan agar membudidayakan rayap sebagai alternative panganan yang bergizi sehingga dapat mengurangi kerusakan akibat rayap selain itu juga dapat menambah penghasilan masyarakat
2. Masyarakat diharapkan untuk mulai mengkonsumsi rayap sebagai alternative sumber protein
3. Pemerintah diharapkan giat untuk melakukan sosialisasi budidaya rayap sebagai alternatif sebagai panganan yang bergizi sehingga dapat mengurangi jumlah penderita gizi buruk.

4.3 KESIMPULAN
Berdasarkan dari data dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa rayap dapat digunakan sebagai panganan alternative yang mempunyai protein yang tinggi untuk membantu mengurangi gizi buruk selain itu dengan membudidayakan rayap dapat memberi lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Anna Poedjiadi. Dasar-Dasar Biokimia. UI-Press. Jakarta. 1994
BPS. Konsumsi Kalori dan protein Penduduk Indonesia dan propinsi 1999. Jakarta: Biro Pusat Statistik, 2000.
Direktorat Gizi. Depkes RI. Nutrition in Indonesia: Problem, Strategy and Programs. Jakarta: Direktorat Gizi, Depkes RI 1995.
FAO. Energi and protein Requirements. Report of joint FAO/WHO/UN expert consultation. Geneva: WHO Series 724, 1985
Sunita Almatsier. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia. Jakarta. 2005
Ahreus, Richard A., “Nutrition for Health”, Belmont, California, Wadworth, 1970
Femina, 18 Mei 1999, Jakarta
Frankle, Reva T. & Yavokick Owen Ainta, Delivering Service, St. Louis, Mosby, 1978
… ,”Nutrition needs and asessment of normal growth”, New York Raven, 1985
Nandika, Dodi dan B. Tambunan. 1990. Deteriorasi Kayu oleh Faktor Biologis. Fakultas Kehutanan IPB.
Natawiria, Djatnika. 1986. Peranan Rayap dalam Ekosistem Hutan. Prosiding Seminar Nasional Ancaman Terhadap Hutan Tanaman Industri, 20 Desember 1986. FMIPA-UI dan Dephut. p. 168 – 177.
Tarumingkeng, Rudy C. 1971. Biologi dan Pengenalan Rayap Perusak Kayu Indonesia. Lap. L.P.H. No. 138. 28 p.

07/07/2009 Posted by | CONTOH LKTM | Meninggalkan komentar

RECOVERY KONSERVASI DAN REHABILITASI TUMBUHAN SEBAGAI STRATEGI MITIGASI GLOBAL WARMING

ABSTRAK
RECOVERY KONSERVASI DAN REHABILITASI TUMBUHAN
SEBAGAI STRATEGI MITIGASI GLOBAL WARMING

Pada saat ini bumi menghadapi pemanasan yang cepat. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin banyak mengandung gas-gas rumah kaca ini, atmosfer semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari Matahari yang dipancarkan ke Bumi.
Jika pada tahun 1990 emisi CO2 bumi sebesar 1,34 milyar ton, maka hingga tahun 1997 saja angkanya sudah 1,47 milyar ton. Emisi buang gas pembakaran bahan bakar fosil 30 negara maju, yang berpenduduk sekitar 20 persen penduduk dunia menyumbang dua pertiga emisi gas rumah kaca ini. Sedangkan 80 persen lainnya yang merupakan penduduk negara berkembang menyumbang sepertiga emisi CO2 (Angkasa, 2002).
Salah satu penyebab pemanasan global akumulasi karbondioksida di dunia adalah akibat kerusakan hutan. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Angka kerusakan hutan semakin tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Di tahun 1950-1985, angka kerusakan mencapai 32,9 juta Ha atau 942 ribu hektare per tahun atau 2,616 ribu hektare per hari. Tahun 1985-1993 jumlah hutan yang hilang mencapai 45,6 juta hektare per tahun, hingga tahun 2004 jumlah kerusakan mencapai 59,17 juta Ha dengan lahan kritis di luar kawasan hutan sebesar 41,47 juta Ha. (Jawa Pos, 5/6/2007).
Untuk mencegah semakin bertambahnya gas-gas rumah kaca tersebu Usaha yang dapat dilakukan adalah dengan penanaman sebanyak mungkin pohon, selama ini program penghijauan telah banyak dilakukan namun belum menampakkan keberhasilan. Hal itu disebabkan program penghijauan yang dilakukan selama ini masih mengalami banyak kekurangan. Kekurangan yang teridentifikasi adalah: Pertama: pemilihan waktu yang tidak tepat. Biasanya penghijauan dilakukan pada bulan Pebruari setelah bencana banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana. Padahal musim hujan hampir berakhir, dengan demikian setelah hujan berakhir tumbuhan mati kekeringan. Kedua: pemilihan tumbuhan tidak memperhatikan kondisi iklim (ketinggian dan suhu) setempat. Hal tersebut dapat dilihat dari jenis tumbuhan sumbangan masyarakat tanpa sebuah kriteria. Ketiga: kegiatan sangat bersifat ceremonial dan kolosal namun tidak ada jaminan keberlanjutan, sehingga setelah penanaman tidak pernah ada monitoring (Wahyu. Prihanta, 2006)
Dalam rangka mitigasi global warming, perlu dilakukan recovery pola konsrvasi dan rehabilitasi tumbuhan yang aplikatif sehingga mudah untuk dilaksanakan dan memiliki efek langsung pada penurunan suhu bumi.
Recovery yang dilakukan adalah perbaikan sisten konservasi dan rehabilitasi tumbuhan meliputi konservasi tumbuhan, perbaikan sistem reboisasi dan konservasi satwa pelestari tumbuhan.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada saat ini, bumi menghadapi pemanasan yang cepat, penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam; yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin banyak mengandung gas-gas rumah kaca ini, atmosfer semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi.
Energi yang menerangi bumi datang dari matahari, sebagian besar energi yang membanjiri planet kita ini adalah radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas dan menghangatkan bumi. Permukaan bumi, akan memantulkan kembali sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar; walaupun sebagian tetap terperangkap di atmosfer bumi. Gas-gas tertentu di atmosfer termasuk uap air, karbondioksida, dan metana, menjadi perangkap radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca sehingga gas-gas ini dikenal sebagai gas rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Jika pada tahun 1990 emisi CO2 bumi sebesar 1,34 milyar ton, maka hingga tahun 1997 saja angkanya sudah 1,47 milyar ton. Emisi buang gas pembakaran bahan bakar fosil 30 negara maju, yang berpenduduk sekitar 20 persen penduduk dunia menyumbang dua pertiga emisi gas rumah kaca ini. Sedangkan 80 persen lainnya yang merupakan penduduk negara berkembang menyumbang sepertiga emisi CO2 (Angkasa, 2002).
Semakin meningkatnya suhu permukaan bumi akan berdampak terjadinya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.
Para ilmuwan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Dari hasil tersebut ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbonnya di tempat lain, cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya.
Salah satu penyebab akumulasi karbondioksida di dunia adalah akibat kerusakan hutan. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Angka kerusakan hutan semakin tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Di tahun 1950-1985, angka kerusakan mencapai 32,9 juta Ha atau 942 ribu hektare per tahun atau 2,616 ribu hektare per hari. Tahun 1985-1993 jumlah hutan yang hilang mencapai 45,6 juta hektare per tahun, hingga tahun 2004 jumlah kerusakan mencapai 59,17 juta Ha dengan lahan kritis di luar kawasan hutan sebesar 41,47 juta Ha. (Jawa Pos, 5/6/2007).
Usaha yang dapat dilakukan adalah dengan penanaman sebanyak mungkin pohon, selama ini program penghijauan telah banyak dilakukan namun belum menampakkan keberhasilan. Hal itu disebabkan program penghijauan yang dilakukan selama ini masih mengalami banyak kekurangan. Kekurangan yang teridentifikasi adalah: Pertama: pemilihan waktu yang tidak tepat. Biasanya penghijauan dilakukan pada bulan Pebruari setelah bencana banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana. Padahal musim hujan hampir berakhir, dengan demikian setelah hujan berakhir tumbuhan mati kekeringan. Kedua: pemilihan tumbuhan tidak memperhatikan kondisi iklim (ketinggian dan suhu) setempat. Hal tersebut dapat dilihat dari jenis tumbuhan sumbangan masyarakat tanpa sebuah kriteria. Ketiga: kegiatan sangat bersifat ceremonial dan kolosal namun tidak ada jaminan keberlanjutan, sehingga setelah penanaman tidak pernah ada monitoring (Wahyu. Prihanta, 2006)
Dalam rangka mitigasi global warming, harus dicari pola baru (recovery) rehabilitasi lingkungan yang aplikatif sehingga mudah untuk dilaksanakan dan memiliki efek langsung pada penurunan suhu bumi.

1.2 Rumusan Masalah
Global warming telah dirasakan pengaruhnya pada seluruh permukaan bumi, pengaruh utama peningkatan suhu global berpengaruh pada perubahan iklim yang berakibat pada bencana alam, penyakit, bidang pertanian dan bidang-bidang lain. Untuk itu perlu dicari solusi untuk mengatasinya. Salah satu cara efektif untuk mengatasi global warming adalah dengan mengurangi jumlah gas efek rumah kaca terutama karbon dioksida di atmosfer.
Permasalah yang dihadapi saat ini telah terjadi deforestri besar-besaran disisi lain proses rehabilitasi dan konservasi tumbuhan yang saat ini dilakukan masih memiliki banyak kekurangan. Kekurangan tersebut antara lain tidak tepat musim, tidak tepat jenis dengan klimatologi dan tidak ada keberlanjutan. Disamping itu aspek konservasi menyeluruh tidak diperhatikan. Dengan demikian perlu dicari dilakukan (recovery) mencari pola baru konservasi dan rehabilitasi tumbuhan dalam rangka mitigasi global warming?

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah memberikan masukan kepada instansi terkait dan masyarakat tentang pola baru konservasi dan rehabilitasi tumbuhan dalam rangka mitigasi global warming.

1.4 Manfaat Penulisan
Penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:
a. Membentuk kesadaran masyarakat terhadap global warming, dalam dampak global warming dan mitigasi global warming;
b. Dapat digunakan sebagai masukan untuk perbaikan (recovery) strategi konservasi dan rehabilitasi tumbuhan dalam rangka mitigasi global warming.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Global Warming
Pemanasan global (global warming) dapat didefinisikan sebagai naiknya suhu permukaan bumi menjadi lebih panas selama beberapa kurun waktu yang disebabkan karena meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di lapisan atmosfer. Pada dasarnya fenomena pemanasan dipermukaan bumi sebenarnya merupakan gejala sistem alam yang normal untuk menghangatkan planet bumi sehingga suhu bumi tidak menjadi dingin bahkan membeku seperti pada jaman es yang pernah terjadi 15.000 tahun lalu.
Namun proses alam yang normal tersebut telah menjadi ancaman bagi keberlangsungan kehidupan di planet ini karena konsentrasi gas rumah kaca yang menyelimuti lapisan atmosfer telah melebihi daya dukung (carrying capacity) konsentrasi gas-gas yang terkandung di lapisan atmosfer tersebut. Terjadinya peningkatan suhu bumi ini awal mulanya dikemukanan oleh Arrhenius pada tahun 1896 bahwa telah terjadi peningkatan suhu dipermukaan bumi sehingga kehidupan di panet bumi akan terhindar dari zaman es dikemudian hari. Selanjutnya National Research Council sejak tahun 1958–1980 telah melakukan pemantauan secara langsung di Gunung Mauna Loa di Hawaii yang bertujuan untuk mengetahui kadar CO2 yang menyelimuti lapisan atmosfer. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan kadar CO2 dilapisan atmosfer yang signifikan selama 22 tahun pemantauan. di Gunung Mauna Loa di Lokasi pemantauan ini dipilih secara langsung. Pemantauan itu dilakukan sejak manusia memasuki proses industri. Pada masa ini manusia mulai melakukan pembakaran batu bara, minyak dan gas bumi untuk menghasilkan bahan bakar dan listrik. Proses pembakaran energi dari Bumi ini ternyata menghasilkan gas buangan berupa gas rumah kaca (Langit selatan,2008)

2.2 Gas –Gas Penyebab Efek Rumah kaca (GRK)
2.2.1 Sumber Gas Rumah Kaca
Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktifitas manusia. Gas rumah kaca yang paling banyak adalah uap air yang mencapai atmosfer akibat penguapan air dari laut, danau dan sungai. Karbondioksida adalah gas terbanyak kedua. Ia timbul dari berbagai proses alami seperti: letusan vulkanik; pernafasan hewan dan manusia (yang menghirup oksigen dan menghembuskan karbondioksida); dan pembakaran material organic (seperti tumbuhan) (Wikipedia,27 Maret 2008).
GRK dapat dihasilkan baik secara alamiah maupun dari hasil kegiatan manusia. Sebagian besar penyebab terjadi perubahan komposisi GRK di atmosfer adalah gas-gas buang yang teremisikan keangkasa sebagai “hasil sampingan” dari aktifitas manusia untuk membangun dalam memenuhi kebutuhan hidupnya selama ini. Dimulai sejak manusia menemukan teknologi industri pada abad 18 revolusi industri 1970-an, banyak menggunakan bahan bakar primer seperti minyak bumi, gas maupun batubara untuk menghasilkan energi yang diperlukan. Energi dapat diperoleh, kalau minyak itu dibakar lebih dahulu, dari proses pembakaran tersebut keluarlah gas-gas rumah kaca.
Aktifitas-aktifitas yang menghasilkan GRK adalah perindustrian, penyediaan energi listrik, dan transportasi. Sedangkan dari peristiwa secara alam juga menghasilkan/ mengeluarkan GRK seperti dari letusan gunung berapi, rawa-rawa, kebakaran hutan, peternakan hingga kita bernafaspun mengeluarkan GRK. Komposisi dan konsentrasi gas rumah kaca yang berada di lapisan atmosfer akan sangat bergantung dari gas-gas emisi yang dihasilkan berbagai kegiatan manusia dalam merekayasa sistem tatanan ekologi di planet ini. United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC) mengklasifikasi enam jenis gas yang dapat menyerap radiasi matahari di lapisan atmosfer yaitu Karbondioksida (CO2), Dinitroksida (NO2), Metana (CH4), Sulfurheksaflorida (SF6), Perfluorokarbon (PFCs) dan hidrofluorokarbon (HFCs).
Gas karbondioksida, dinitro oksida dan metana terutama dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil di sektor energi, transportasi dan industri. Gas metana juga dihasilkan dari kegiatan pertanian dan peternakan. Sementara untuk 3 jenis GRK yang terakhir, sulfurheksaflorida, perflorokarbon dan hidroflorokarbon dihasilkan dari industri pendingin dan penggunaan aerosol.

2.2.2 Sumber Emisi GRK
Meningkatnya jumlah emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer disebabkan oleh kegiatan manusia di berbagai sektor, antara lain:
1. Energi
Pemanfaatan bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, batubara, dan gas, secara berlebihan dalam berbagai kegiatan merupakan penyebab utama dilepaskannya emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Pembangkitan listrik, penggunaan alat-alat elektronik seperti AC, TV, komputer, penggunaan kendaraan bermotor dan kegiatan industri merupakan contoh kegiatan manusia yang meningkatkan emisi GRK di atmosfer.
Walaupun sama-sama menghasilkan emisi GRK, minyak bumi, batubara dan gas bumi menghasilkan tingkat emisi yang berbeda-beda untuk jenis kegiatan yang sama. Contohnya, untuk menghasilkan energi sebesar 1 kWh, pembangkit listrik yang menggunakan batubara mengemisikan sekitar 940 gram CO2. Sementara pembangkit listrik yang menggunakan minyak bumi dan gas alam menghasilkan emisi GRK sekitar 798 dan 581 gram C02.
Dari contoh di atas terlihat bahwa di antara ketiga jenis bahan bakar fosil, batubara menghasilkan emisi CO2 paling tinggi. Di Indonesia, sektor energi menempati urutan kedua sebagai sumber GRK yaitu sekitar 25% dari total emisi. Sementara dari sisi pemanfaatan energi di Indonesia, sektor industri merupakan sektor pengemisi GRK terbesar, diikuti oleh sektor transportasi.
2. Kehutanan
Salah satu fungsi hutan adalah sebagai penyerap emisi GRK, biasa disebut carbon sink. Hutan bekerja untuk menyerap dan mengubah karbondioksida (CO2), salah satu jenis GRK, menjadi oksigen (O2) untuk kebutuhan mahluk hidup. Oleh karena itu kegiatan pengrusakan hutan, penebangan hutan, perubahan kawasan hutan menjadi bukan hutan, menyebabkan lepasnya sejumlah emisi GRK yang sebelumnya disimpan di dalam pohon.
Seharusnya dengan luasnya kawasan hutan di Indonesia, sekitar 144 juta ha (tahun 2002), maka emisi GRK yang dapat diserap jumlahnya cukup banyak. Namun dengan laju kerusakan hutan sekitar 2,2 juta ha per tahun, tak heran jika sector kehutanan merupakan penyumbang emisi GRK terbesar di Indonesia. Menurut The First National Communication yang berisi inventarisasi GRK di berbagai Negara, sekitar 64% dari total emisi GRK di Indonesia dihasilkan dari sektor kehutanan.
3. Pertanian dan Peternakan
Sektor pertanian dan peternakan juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan emisi GRK di atmosfer. Dari sektor pertanian, emisi GRK dihasilkan dari sawah yang tergenang, pemanfaatan pupuk, pembakaran padang sabana, dan pembusukan sisa-sia pertanian. Sektor pertanian menurut The First National Communication secara umum menghasilkan emisi GRK hanya sekitar 8%. Namun sektor ini menghasilkan emisi gas metana tertinggi dibandingkan sektor lainnya.
Sementara dari sektor peternakan, emisi GRK berupa gas metana (CH4) dilepaskan dari kotoran ternak yang membusuk. Sesungguhnya untuk mengurangi emisi GRK dari sector ini, kotoran ternak dapat diolah untuk menjadi biogas, bahan bakar yang ramah lingkungan.
4. Sampah
Manusia dalam setiap kegiatannya hampir selalu menghasilkan sampah. Sampah sendiri turut menghasilkan emisi GRK berupa gas metana (CH4). Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metana. Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, diperkirakan pada tahun 2020 sampah yang dihasilkan per hari sekitar 500 juta kg/ hari atau 190 ribu ton/ tahun. Ini berarti pada tahun 2020 Indonesia akan mengemisikan gas metana ke atmosfer sebesar 9500 ton. Sampah kota perlu dikelola secara benar, agar laju perubahan iklim bisa diperlambat.

2.3 Pemanasan Global dan Perubahan Iklim
2.3.1 Sistem Iklim
Secara umum iklim di definisikan sebagai pola cuaca pada suatu tempat di permukaan bumi yang terjadi selama bertahun-tahun. Untuk mengetahui kondisi iklim suatu tempat, menurut ukuran internasional diperlukan nilai rata-rata parameternya selama kurang lebih 30- 100 tahun (inter contenial). Sementara cuaca adalah merupakan kondisi harian suhu, curah hujan, tekanan udara dan angin.
Iklim muncul akibat dari pemerataan energi bumi yang tidak tetap dengan adanya perputaran/revolusi bumi mengelilingi matahari selama kurang lebih 365 hari serta rotasi bumi selama 24 jam. Hal tersebut menyebabkan radiasi matahari yang diterima berubah tergantung lokasi dan posisi geografi suatu daerah. Daerah yang berada di posisi sekitar 23,5 Lintang Utara – 23,5 Lintang Selatan, merupakan daerah tropis yang konsentrasi energi suryanya surplus dari radiasi matahari yang diterima setiap tahunnya.

2.3.2 Proses Terjadinya Perubahan Iklim
Secara alamiah panas matahari yang masuk ke bumi, sebagian akan diserap oleh permukaan bumi, sementara sebagian lagi akan dipantulkan kembali ke luar angkasa. Adanya lapisan gas (gas rumah kaca) yang berada di atmosfer menyebabkan terhambatnya panas matahari yang hendak dipantulkan ke luar angkasa menembus atmosfer. Peristiwa terperangkapnya panas matahari di permukaan bumi ini dikenal dengan istilah efek rumah kaca.
Sejak revolusi industri tahun pertengahan abad ke-18, kegiatan manusia yang menggunakan bahan bakar fosil (minyak, gas dan batubara) seperti pembangkitan tenaga listrik, kegiatan industri, penggunaan alat-alat elektronik, dan penggunaan kendaraan bermotor, pada akhirnya akan melepaskan sejumlah emisi gas rumah kaca ke atmosfer.
Hal ini berakibat pada meningkatnya jumlah gas rumah kaca yang berada di atmosfer yang kemudian menyebabkan meningkatnya panas matahari yang terperangkap di atmosfer. Peristiwa ini pada akhirnya menyebabkan meningkatnya suhu di permukaan bumi, yang umum disebut pemanasan global.
Pemanasan global kemudian pada prosesnya menyebabkan terjadinya perubahan seperti meningkatnya suhu air laut, yang menyebabkan meningkatnya penguapan di udara, serta berubahnya pola curah hujan dan tekanan udara. Perubahan-perubahan ini pada akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan iklim.
Berdasarkan penelitian para ahli, perubahan iklim diketahui akan menimbulkan dampak-dampak yang merugikan bagi kehidupan umat manusia. Kekeringan, gagal panen, krisis pangan dan air bersih, hujan badai, banjir dan tanah longsor, serta wabah penyakit tropis merupakan beberapa dampak akibat perubahan iklim. Secara umum iklim di definisikan sebagai pola cuaca pada suatu tempat di permukaan bumi yang terjadi selama bertahun-tahun. Untuk mengetahui kondisi iklim suatu tempat, menurut ukuran internasional diperlukan nilai rata-rata parameternya selama kurang lebih 30- 100 tahun (inter contenial). Sementara cuaca adalah merupakan kondisi harian suhu, curah hujan, tekanan udara dan angin.
Iklim muncul akibat dari pemerataan energi bumi yang tidak tetap dengan adanya perputaran/revolusi bumi mengelilingi matahari selama kurang lebih 365 hari serta rotasi bumi selama 24 jam. Hal tersebut menyebabkan radiasi matahari yang diterima berubah tergantung lokasi dan posisi geografi suatu daerah. Daerah yang berada di posisi sekitar 23,5 Lintang Utara – 23,5 Lintang Selatan, merupakan daerah tropis yang konsentrasi energi suryanya surplus dari radiasi matahari yang diterima setiap tahunnya.

2.3.3 Keterkaitan Efek Rumah Kaca, Pemanasan Global dan Perubahan
Iklim
Keterkaitan antara efek rumah kaca, pemanasan global dan perubahan iklim secara sederhana dijelaskan sebagai berikut sinar matahari yang tidak terserap permukaan bumi akan dipantulkan kembali dari permukaan bumi ke angkasa. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, sinar tampak adalah gelombang pendek, setelah dipantulkan kembali berubah menjadi gelombang panjang yang berupa energi panas (sinar inframerah), yang kita rasakan. Namun sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus kembali atau lolos keluar ke angkasa, karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu komposisinya (komposisinya berlebihan). Akibatnya energi panas yang seharusnya lepas keangkasa (stratosfer) menjadi terpancar kembali ke permukaan bumi (troposfer) atau adanya energi panas tambahan kembali lagi ke bumi dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga lebih dari dari kondisi normal, inilah efek rumah kaca berlebihan karena komposisi lapisan gas rumah kaca di atmosfer terganggu, akibatnya memicu naiknya suhu rata-rata dipermukaan bumi maka terjadilah pemanasan global. Karena suhu adalah salah satu parameter dari iklim dengan begitu berpengaruh pada iklim bumi, terjadilah perubahan iklim secara global.

2.3.4 Skenario Terjadinya Perubahan Iklim Global
Skenario yang paling nyata dari pengaruh meningkatnya suhu udara adalah akan mengakibatkan meningkatnya suhu tanah, sebagai konsekuensinya permukaan tanah akan lebih cepat panas daripada lautan. Dengan meningkatnya suhu permukaan tanah tersebut, maka mengakibatkan mencairnya es di wilayah kutub. Apabila hal ini terjadi, maka air laut diprediksi akan meningkat rata-rata 6 cm/dekade pada abad yang akan datang pada kisaran 3-10 cm/dekade. Mencairnya lapisan es di kutub utara tersebut, selain dapat meningkatnya permukaan laut tersebut, juga dapat merubah iklim global, sehingga sering terjadi badai. Pada saat terjadinya badai inilah, terutama badai Holocene transgression, permukaan air laut meningkat secara maksimal, yaitu sebesar 20 cm/dekade.
Berdasarkan skenario tersebut diprediksi bahwa suhu permukaan lautan tropis akan meningkat antara 1-3oC. Akan tetapi skenario ini masih banyak pertentangan, namun paling tidak suhu stabilnya diperlukan antara 30-31oC. Intensitas dan frekuensi perubahan yang ektrim secara nyata mempengaruhi tehadap perubahan ekologi terumbu karang paling tidak ada dua kejadian yang mempengaruhi tersebut:1) peningkatan curah hujan terutama pada saat badai besar, 2) terjadinya kemungkinan perubahan frekuensi penyebaran badai tropis.

2.4 Dampak Global Warming Terhadap Kehidupan
Perubahan iklim dalam prosesnya terjadi secara perlahan sehingga dampaknya tidak langsung dirasakan saat ini, namun akan sangat terasa bagi generasi mendatang. Beberapa dampak yang akan terjadi akibat perubahan iklim:
1. mencairnya es di kutub
2. meningkatnya permukaan air laut
3. pergeseran musim
Dampak perubahan iklim bagi Indonesia antara lain:
1. kenaikan temperatur dan berubahnya musim
2. naiknya permukaan air laut
3. dampak perubahan iklim terhadap sektor perikanan
4. dampak perubahan iklim terhadap sektor kehutanan
5. dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian
6. dampak perubahan iklim terhadap kesehatan
Menurut Pratiwi Sudarmono (2007), Pemanasan global dapat menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Dengan adanya perubahan iklim berubah pula pola hujan, pola tanam, sirkulasi air dan sebagainya. Bila berbagai perubahan tersebut tidak disertai dengan kemampuan adaptasi manusia dan mahluk hidup lainnya. Maka akan mempengaruhi munculnya berbagai penyakit. Sebagai contoh, perubahan iklim akan dapat menyebabkan masa inkubasi nyamuk malariadan demam berdarah menjadi pendek. Sehingga nyamuk malaria dan demam berdarah bisa berkembang dengan cepat

2.5 Mitigasi Global Warming
Mitigasi global warming adalah proses pengendalian dari akibat yang ditimbulkan global warming. Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbonnya di tempat lain, cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya (Wahyu Prihanta, 2007).
Pelaksanaan rehabilitasi lingkungan yang dilakukan selama ini tidak menunjukkan keberhasilan yang signifikan. Hal ini disebabkan kegiatan tersebut memiliki beberapa kekurangan, selama ini program penghijauan telah banyak dilakukan namun belum menampakkan keberhasilan. Hal tersebut disebabkan program penghijauan yang dilakukan selama ini masih mengalami banyak kekurangan. Kekurangan yang teridentifikasi adalah: Pertama: pemilihan waktu yang tidak tepat. Biasanya penghijauan dilakukan pada bulan Pebruari setelah bencana banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana. Padahal musim hujan hampir berakhir, dengan demikian setelah hujan berakhir tumbuhan mati kekeringan. Kedua: pemilihan tumbuhan tidak memperhatikan kondisi iklim (ketinggian dan suhu) setempat. Hal tersebut dapat dilihat dari jenis tumbuhan sumbangan masyarakat tanpa sebuah kriteria. Ketiga: kegiatan sangat bersifat ceremonial dan kolosal namun tidak ada jaminan keberlanjutan, sehingga setelah penanaman tidak pernah ada monitoring (Wahyu. Prihanta, 2006).
Lebih lanjut dalam rangka rehabilitasi lingkungan tidak hanya dilakukan dengan penanaman pohon namun juga harus dilakukan konservasi dari tumbuhan yang ada dan perlu mengkaitkan dengan komponen ekologi lainnnya. Alam terbangun dalam sebuah sistem yang sangat komplek, selalu ada kaitan antara komponen-komponen sistem di alam ini. Demikian juga keberadaan tumbuhan, sangat berkaitan dengan komponen lain yaitu hewan. Hewan terutama burung memiliki peran yang sangat besar pada keberadaan tumbuhan melalui perannya dalam membantu penyerbukan dan juga penyebaran biji (Wahyu Prihanta, 2007).

BAB III
METODE PENULISAN

3.1 Sumber Data
Data dan fakta yang berhubungan untuk pembahasan tema ini berasal dan tahapan-tahapan pengumpulan data dengan pembacaan secara kritis terhadap ragam literatur (Library research) yang berhubungan dengan tema pembahasan.
Data kerusakan lingkungan yang ditampilkan dalam karya tulis ini dapat berupa angka atau pesan. Untuk angka, data yang dipakai adalah data dengan kriteria telah dipublikasikan kepada masyarakat, melalui literatur yang digunakan berupa buku, surat kabar, buletin, jurnal, majalah maupun internet. Dengan demikian penulis mengelompakkan atau menyeleksi data dan informasi tersebut berdasarkan kategori atau relevansi dan kemudian selanjutnya ke tahapan analisis dan pengambilan kesimpulan. Namun demikian, untuk mendukung dan memperkaya gagasan dalam karya tulis ini, dilakukan wawancara dan observasi dengan narasumber yang kompeten dibidangnya Kepala Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan Universitas Muhammadiyah Malang (PSLK-UMM) Drs. Wahyu Prihanta, M.Kes.

3.2 Analisis Data
Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998:25), analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.
Untuk menganalisa data yang berupa pesan maka digunakan cara analisis isi (content analysis). Analisis ini menghubungkan penemuan berupa kriteria atau teori. Analisis yang dilakukan pada analisis isi karya tulis ini menggunakan interactive model (Miles dan Huberman, 1994). Model ini terdiri dari empat komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan atau reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan data pengujian atau verifikasi kesimpulan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pembahasan
4.1.1 Peranan Pohon dalam Mitigasi Global Warming
Gas Rumah Kaca terbesar adalah karbondioksida, dimana karbon dioksida dihasilkan sebagai hasil proses alamiah dalam proses respirasi dan juga dari berbagai aktifitas manusia non respirasi. Karbondioksida memiliki peranan menyerap panas sehingga penumpukan dalam jumlah besar akan berakibat meningkatnya suhu bumi.
Karbondioksida dapat berkurang karena terserap oleh lautan dan diserap tanaman untuk digunakan dalam proses fotosintesis. Fotosintesis memecah karbondioksida dan melepaskan oksigen ke atmosfer serta mengambil atom karbonnya (Wikipedia, 2008).
Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbonnya di tempat lain, cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya (Wahyu Prihanta, 2007).
Mekanisme penyerapan karbondioksida adalah melalui proses fotosintesis, dimana karbondioksida diserap oleh tumbuhan dari udara dan bereaksi dengan air membentuk karbohidrat. (Dwijo seputro, 1994). Secara kimiawi proses tersebut digambarkan sebagai berikut. CO2 + H2O C6H12O6, proses tersebut dibantu dengan sinar matahari dan terjadi pda klorofil daun. Dengan mekanisme ini maka secara alamiah pohon memiliki kemampuan mengurangi karbon dioksida di udara.
4.1.2 Strategi Mengoptimalkan Peranan Pohon dalam Mitigasi Global
Warming
4.1.2.1 Konservasi Tumbuhan
Secara alamiah tumbuh-tumbuhan memiliki peran yang sangat besar alam mengurangi karbondioksida di atmosfir yang berarti mampu mengurangi panas bumi. Namun ironisnya, keberdaan tumbuhan dimuka bumi mengalami penurunan jumlah yang signifikan, disisi lain emisi gas rumah kaca makin meningkat akibat berbagai kegiatan yang menggunakan bahan bakar fosil.
Hutan memiliki peran yang sangat tinggi dalam penyerapan karbondioksida, namun kerusakan hutan saat ini semakin meningkat. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Angka kerusakan hutan semakin tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Di tahun 1950-1985, angka kerusakan mencapai 32,9 juta Ha atau 942 ribu hektare per tahun atau 2,616 ribu hektare per hari. Tahun 1985-1993 jumlah hutan yang hilang mencapai 45,6 juta hektare per tahun, hingga tahun 2004 jumlah kerusakan mencapai 59,17 juta Ha dengan lahan kritis di luar kawasan hutan sebesar 41,47 juta Ha. (Jawa Pos, 5/6/2007).
Selain kerusakan hutan, hilangnya tumbuh-tumbuhan terjadi di kawasan non hutan. Wahyu Prihanta sebagai Ketua Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan Universitas Muhammadiyah Malang dalam wawancara ekslusif menyebutkan salah satu contoh kerusakan tumbuhan yang tidak banyak disadarai namun memiliki peran penting dalam mitigasi global warming adalah kerusakan tanaman tepi jalan, dimana tanaman tepi jalan memiliki peran dalam penyerapan gas yang dihasilkan oleh kegiatan transportasi yang makin meningkat (2007). Perusakan tanaman tepi jalan dari jenis Asam Jawa yang telah berumur 200 tahun banyak ditebang di Situbondo (Surya, 4/2-2001), pembangunan jalan di Lumajang (RCTI, 9/2-2001) dan di Jombang (TEB, 2001). Dalam satu minggu 30 pohon mati diracun di Kota Malang, jika seminggu sebelumnya 90 pohon yang di racun, pada hari senin 2/4-2007 jumlahnya meningkat menjadi 120 pohon (Data Dinas Pertamanan Malang).
Dalam bulan April di Jalur Batu – Malang sepanjang 10 km, 2 pohon trembesi dalam kondisi sehat di tebang, 2 pohon trembesi lain dibakar pangkalnya (Data Tim Ekspedisi Biokonservasi seperti yang dilaporkan ke Kapolwil, 15 Maret 2007 dalam Wahyu Prihanta, 2007). Hilangnya tumbuhan juga terjadi akibat alih fungsi lahan untuk berbagai kegiatan manusia sebagai contoh pertanian, perumahan maupun industri.
Berdasarkan fakta di atas, mitigasi global warming dapat dilakukan dengan meningkatkan penyerapan karbondioksida oleh tumbuhan. Menambah jumlah tumbuhan menjadi kurang efektif jika disisi lain perusakan tumbuhan terus dilakukan. Untuk itu selain menanam kegiatan konservasi tumbuhan perlu ditingkatkan.

4.1.2.2 Recovery Sistem Rehabilitasi Tumbuhan
Hilangnya tumbuhan akibat berbagai aktifitas manusia dan bencana alam dapat diperbaiki dengan rehabilitasi atau yang sering disebut dengan reboisasi. Namun dalam pelaksanaannya, reboisasi saat ini belum mendapatkan hasil yang maksimal, recovery perlu dilakukan dalam kegiatan ini. Hal ini disebabkan karena pelaksanaannya masih memiliki beberapa kekurangan.
Kekurangan yang teridentifikasi adalah: Pertama: pemilihan waktu yang tidak tepat. Biasanya penghijauan dilakukan pada bulan Pebruari setelah bencana banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana. Padahal musim hujan hampir berakhir, dengan demikian setelah hujan berakhir tumbuhan mati kekeringan. Kedua: pemilihan tumbuhan tidak memperhatikan kondisi iklim (ketinggian dan suhu) setempat. Hal tersebut dapat dilihat dari jenis tumbuhan sumbangan masyarakat tanpa sebuah kriteria. Ketiga: kegiatan sangat bersifat ceremonial dan kolosal namun tidak ada jaminan keberlanjutan, sehingga setelah penanaman tidak pernah ada monitoring (Wahyu. Prihanta, 2006).
Daerah tropika terkhusus Indonesia memiliki putaran musim yang relatif stabil, dimana memiliki dua musim yaitu penghujan dan kemarau. Kegiatan rahabilitai yang dilakukan saat ini sering tidak sesuai dengan musim yaitu awal musim hujan sekitar bulan Nopember sampai dengan Januari. Sehingga banyak tumbuhan mati akibat tidak cocok secara klimatologi sehingga ketersediaan air yang sangat dibutuhkan tumbuhan krang terpenuhi. Sebagai contoh program rehabilitasi tumbuhan di Kota Malang yang dengan program Malang Ijo Royo-Royo (MIRR) tahun 1 dan ke 2 dilaksanakan pada bulan Juli dimana merupakan bulan terkering sepanjang tahun (Radar malang, 15 Juli 2004). Demikian juga rehabilitasi lingkungan di Kota Batu dilaksanakan pada bulan Pebruari 2003, pada saat akhir musim hujan.
Selain itu hal tersebut di atas pemilihan tumbuhan tidak sesuai dengan klimatologi yang dipersyaratkan tumbuhan. Tumbuhan rambutan dan mangga digunakan alam program Malang Ijo Royo (radar Malang, 15/6/2004), secara klimatologi kedua jenis tumbuhan tersebut sesuai hidup pada dataran rendah (0-200 dpl) (Stenis, 1987). Sedangkan Kota Malang merupakan daerah dataran tinggai (sekitar 450 dpl). Setiap tumbuhan memiliki syarat tumbuh dalam ketinggian daerah tertentu (dpl), sehingga dikenal dengan nama tumbuhan dataran rendah dan dataran tinggi. Hal ini disebabkan ketinggian tempat mempengaruhi klimatologi dan klimatologi sangat mempengaruhi kehidupan tumbuhan (Stenis, 1987; Pulonin, 1994).
Program penanaman tumbuhanpun tidak disertai dengan program perawatan. Sebaiknya program penanaman harus disertai program perawatan untuk tanaman yang berumur kurang dari tiga tahun setelah penanaman (Departemen Kehutanan, 2007).
Berdasarkan hal tersebut pelaksanaan rehabilitasi tumbuhan untuk mitigasi global warming perlu diperbaiki

4.1.2.3 Konservasi Menyeluruh pada Satwa Penyebar Tumbuhan
Alam tercipta dalam keterkaitan dan keseimbangan yang sempurna, berbagai komponen kehidupan keberadaannya saling menunjang. Selama ini banyak satwa yang berperan dalam membantu penyebaran biji-biji tumbuhan sehingga secara automatis membantu menumbuhkan berbagai jenis tumbuhan yang secara ekologi sesuai. Banyak jenis burung yang memakan buah dan menyebarkan bijinya bersama feces di tempat yang sangat jauh dari pohon induknya (Jones and Luchsinger, 1987; Pulonin, 1994).
Penyebaran biji atau alat reproduksi lain yang dibantu satwa memiliki banyak keuntungan, burung mampu menyebarkan biji di daerah yang tak terjangkau oleh manusia, selain itu daerah edar harian burung relatif pada ekologi sistem ekologi di mana tumbuhan berada sehingga secara klimatologi akan banyak kesesuaian.
Mempertimbangkan hal tersebut maka rehabilitasi tumbuhan dalam rangka mitigasi global warming akan memberikan hasil yang sempurna jika disertai dengan kegiatan konservasi berbagai jenis burung yang memiliki manfaat dalam penyebaran alat reproduksi tumbuhan. Mengingat saat ini banyak penangkapan jenis-jenis burung tersebut dengan berbagai alasan. Jika kegiatan ini di biarkan berlanjut, akan menyebabkan kepunahan burung yang sangat berperan dalam pelestarian tumbuhan baik sebagai mediator polinasi (penyerbukan) maupun mediator dispersal (penyebaran) tumbuhan.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan dari kegiatan recovery konservasi dan rehabilitas lingkungan dalam rangka mitigasi global warming:
1. Global Warming merupakan permasalahan seluruh dunia yang bisa di antisipasi dengan 2 hal yaitu pengurangan produk emisi dan pengurangan gas rumah kaca dengan memperbanyak tumbuhan.
2. Strategi memperbanyak tumbuhan tidak hanya menanam tetapi juga perlu mengkonservasi yang telah ada. Selain itu pada penanaman pohon perlu perbaikan tidak sekedar menanam tapi juga harus dilakukan perawatan dan juga harus sesuai dengan musim tanam dan pemilihan jenis harus sesuai dengan klimatologi.
3. Dalam rangka konservasi tumbuhan harus memperhatikan pula peranan satwa-satwa pelestari tumbuhan sebab secara ekologi satwa pelestari tumbuhan memiliki peran yang besar dalam penyebaran tumbuhan.

5.2 Saran
Berdasarkan uraian di atas, disarankan:
1. Global warming merupakan permasalahan dunia sehingga perlu perhatian, kesadaran dan tindakan semua pihak;
2. Salah satu cara mitigasi golbal warming adalah menyerap karbondioksida di atmosfer dengan mengkonservasi dan menanam sebanyak mungkin tumbuhan. Kegiatan tersebut harus dilakukan secara menyeluruh, sehingga segera harus dilakukan konservasi tumbuhan, perbaikan sistem rehabilitasi dan mengkonservasi satwa pelestari tumbuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Animous, (On-line) global-warming-apa-dan-mengapa Diakses pada tanggal 27 maret 2008 dari http://langitselatan.com/2008/02/09/global-warming-apa-dan-mengapa.htl

Anonimus, Gas rumah kaca Diakses dari
http://id.wikipedia.org/wiki/Gas_rumah_kaca. tanggal 27 Maret 2008

Departemen Kehutanan, 2007, Panduan Kegiatan Aksi Penanaman Serentak Indonesia dan Pekan Pemeliharaan Pohon Menyongsong Pertemuan Internasional Tentang Perubhan Iklim Global Di Bali, Desember 2007. Departemen Kehutanan, 2007.

Dwijo Seputro, 1994, Fisiologi Tumbuhan, PT Gramedia. Jakarta.

Jones and Luchsinger, 1987. Plant Systematics, McGraw Hill, Singapore

Kenneth D. Johnson, 1984. Biology An Introduction, The Benyamin/Cummings
Publishing Company, Inc, Menlo Park

Nicholas Polunin, 1994, Pengantar Geografi Tumbuhan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Pratiwi Sudarmono, 2007. Pengaruh Pemanasan Global pada Kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia, Makalah Seminar Ancaman Pemanasan Global dan Perubahan Iklim, 15 Nopember 2007.

Radar Malang, 15 Juli 2004. Malang Ijo Royo-Royo.

Van Stenis CGGJ, 1987, Flora Edisi 4, Pradnya Paramita, Jakarta

Wahyu Prihanta, 2007, Strategi Pusat Studi Lingkngan dan Kependududkan Universitas Muhammadiyah Malang dalam Rangka Perang Menyeluruh Terhadap Global Warming, Seminar Nasional BKPSL

Wahyu Prihanta, 2007. Strategi Perlindungan Tanaman Tepi Jalan untuk Penyelamatan Lingkungan Menyeluruh, Sosialisasi Kebijakan Lingkungan Hidup Tahun 2007, DKLH Kota Batu.

Wahyu Prihanta, 2006. Rehabilitasi Lingkungan Integratif dan Kontinu, Seminar Regional, Pusal Studi Lingkungan dan Kependudukan Universitas Muhammadiyah Malang, Mei 2007.

07/07/2009 Posted by | CONTOH LKTM | Meninggalkan komentar

Contoh Pembelajaran PAKEM Biologi

Mata Pelajaran : Biologi
Standart Kopetensi :Memahami Manfaat Keanekaragaman Hayati
Kompetensi Dasar :Mengkomunikasikan keanekaragaman hayati Indonesia,dan usaha pelestarian serta pemanfaatan Sumber Daya Alam
Kelas : X Semester 2
Waktu : 2X45 menit
Indikator :1. Dengan berdiskusi kelompok siswa dapat menjelaskan keragaman hayati, usaha pelestarian serta pemanfatan sumber daya alam suatu kawasan di Indonesia
2. Dengan menunjukan pada peta, menuliskan pada kertas karton lalu mempresentasikanya siswa dapat menunjukan kenekaragaman hayati yang ada di kawasan-kawasan di Indonesia berdasarkan biografinya
3. Dengan adanya presentasi pada masing-masing kelompok siswa dapat membedakan keanekaragaman hayati pada sutu kawasan dengan kawasan lain di Indonesia.
4. Dengan melihat film siswa dapat menentukan keanekaragaman hayati, usaha pelestarian serta pemanfaatan sumber daya alam pada berbagai kawasn di Indonesai

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Ø Kegitan Awal
1. Ketua kelas memimpin doa secara bersama-sama
2. Guru mengecek atau mengabsen kehadiran siswa
3. Guru memberikan penjelasan tentang materi yang akan di pelajari pada pertemuan kali ini
4. Guru memberikan rifresing atau penyegaran serta agar siswa berkonsentrasi dalam menerima pelajaran dengan memberikan sedikit permainan yaitu dengen cara ketika guru bilang ”berdiri” maka siswa duduk dan sebaliknya Guru berkat ” duduk ” maka siswa berdiri dan seterusnya.
5. Guru memberikan pertanyaan tentang keanekaragaman hayati untuk mengetahui seberapa besar penetahuan siswa tentang keaneragaman hayati.
Ø Kegiatan Inti
1. Guru membagi siswa menjadi 5 Kelompok, tiap kelompok diberikan satu wilayah di Indonesia yaitu: Kelompok 1 Pulau Sumatra, Kelompok 2 Pulau Jawa, Kelompok 3 Pulau Kalimantan, Kelompok 4 Papua dan Kelopok 5 Pulau Nusa Tenggara.
2. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk mempelajari tentang Keanekaragamn Hayati berdasarkan Penyebaranya (Biografinya) baik pada Persebaran Hewan maupun Persebaran Tumbuhan, berdasarkan Ekosistem Perairan Baik pada Ekosistem air tawar maupun ekosistem air laut serta usaha dan pemanfaatan sumber daya alamnya,( selama 20 menit).
3. Guru meminta hasil dari diskusi ditulis pada selembar kertas kertas karton yang telah dipersiapkan, serta menunjukan lokasi wilyahnya pada peta Indonesia.
4. Guru meminta perwakilan pada masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok, kemudian kelompok yang lain boleh bertanya, atau memberikan tambahan.
5. Setelah semua kelompok selesai presentasi, guru memberikan sedikit penyegaran dengan mengajak siswa bermain sebentar seperti pada awal.
6. Guru meminta siswa kembali duduk pada tempat duduk masing-masing, kemudian memutarkan film tentang keanekaragaman hayati di indonesia.

Ø Kegiatan Akhir
1. Guru memberikan pertanyaan tentang keaneka ragaman hayati apa saja,serta usaha untuk melestarikanya dan pemanfatan sumber daya alam yag terdapat pada film
2. Guru memberikan penguatan siswa tentang materi keanekaragaman hayati,usaha pelestarian serta pemanfatan sumber daya alam.
3. Guru menyimpulkan konsep dari pelajaran yang baru diperoleh.
4. Guru melakukan evaluasi untuk mengetahui kemampuan siswa menguasai meteri pembelajaran yang baru saja diperoleh.
5. Guru menyampaikan Pesan Moral yang terkait dengan pelajaran kepada siswa
6. Guru memberikan tugas untuk mempelajari tentang keanekaragam hayati khas indonesia yang akan di bahas pda pertemuan mendatang.
7. Guru meminta ketua kelas untuk memimpin doa secara bersama-sama

07/06/2009 Posted by | SBM | Meninggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 680 pengikut lainnya.