BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

LAPORAN PRAKTEK MAGANG DI KELAPA SAWIT

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kelapa sawit (Elais guineensis Jack) merupakan sumber minyak nabati yang sangat penting disamping beberapa minyak nabati lain, seperti kelapa dalam, kacang-kacangan dan biji-bijian lain. Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an (Adlin U. Lubis 1992 ). Pembukaan perkebunan kelapa sawit terus meluas seiring dengan meningkatnya permintaan minyak nabati di berbagai belahan dunia.

            Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk beragam kegunaan karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik (Sastrosayono Selardi, 2003) .

            Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah daging buah yang banyak menghasilkan minyak sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai keturunannya. Kelebihan minyak sawit adalah harga yang murah, rendah kolestrol dan memiliki kandungan karoten tinggi.

Dalam konteks pembangunan dan pengembangan pertanian, dirasakan betapa perlunya tenaga-tenaga yang lebih spesifik, lebih berperan dan profesional serta terampil dalam menangani bidangnya masing-masing dengan karakter kepemimpinan dan mental yang baik.

Upaya-upaya pemerintah dalam menanggapi masalah tersebut maka dibentuk suatu lembaga pendidikan tinggi yang lebih berorientasi pada keterampilan praktis yang ditunjang dengan teori yaitu Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, yang diharapkan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pembangunan pertanian di Indonesia. Fakultas Pertanian diharapkan mempunyai andil yang besar untuk membentuk tenaga-tenaga Ahli Madya yang siap pakai dalam bidangnya. Dengan hadirnya Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan (BTP) diharapkan mampu meningkatkan kualitas serta kuantitas hasil pertanian melalui penerapan ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku perkuliahan.

Mengingat peranannya, maka sistem perkuliahan di Fakultas Pertanian menyangkut kurikulum yang diterapkan dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan pertanian di indonesia. Kegiatan praktek dan teori tentang ilmu-ilmu pertanian yang diberikan secara tersusun dengan cakupan dan ruang lingkup yang lebih tinggi berupa teori yang diberikan sejalan dengan pelaksanaan praktek yang dilakukan. Mengetahui dan memahami keadaan atau kondisi pertanian yang sebenarnya baik ditinjau dari teknis budidaya, pengolahan hasil serta sistem manajemennya, maka kegiatan Magang (Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa) dianggap perlu karena dengan demikian akan menambah wawasan dan ilmu pengetahuan khususnya di bidang pertanian.

Pelaksanaan magang ini agar para mahasiswa mendapatkan pengalaman serta kemampuan, keterampilan di lapangan, membentuk jiwa kepemimpinan, serta melatih untuk berjiwa wiraswasta dan mempermudah untuk mendapatkan lapangan pekerjaan.

B. Tujuan Magang

1. Tujuan umum

  1. Mendewasakan  cara berpikir dan meningkatkan daya nalar mahasiswa.
  2. Melatih mahasiswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh mahasiswa dibangku kuliah.
  3. Studi banding antara teori yang didapat dibangku kuliah dengan pelaksanaannya secara teknis dilapangan.

2. Tujuan Khusus

            Diharapkan setelah melaksanakan kegiatan magang ini, mahasiswa dapat mengetahui dan memahami keadaan serta permasalahan yang ada dilapangan khususnya permasalahan yang ada di PT. Prakasa Tani Sejati Kecamatan Sungai Laur Kabupaten Ketapang, serta mencoba memecahkan permasalahan tersebut.

C. Metode Pendekatan

            Dalam melaksanakan kegiatan magang ini digunakan beberapa metode, pendekatan yaitu :

  1. Metode Observasi

Mahasiswa terjun langsung kelapangan untuk mengamati serta melihat keadaan yang sebenarnya terjadi di lapangan dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan dilapangan.

  1. Metode Wawancara

Mahasiswa melakukan dialog dan bertanya langsung dengan pihak terkait yang ada dilapangan serta orang-orang orang yang terlibat langsung dalam pelaksanaan dilapangan dan bertanggung jawab terhadap semua masalah teknis dilapangan.

  1. Studi Pustaka

Penulis menggunakan berbagai literatur yang bisa memperkuat isi tulisan seperti, buku, jurnal dan berbagai literatur lain yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan tentang budidaya  kelapa sawit.

  1. Dokumentasi

Selama melaksanakan kegiatan dilapangan mahasiswa menggunakan foto atau gambar untuk memperkuat isi laporan yang akan disusun.

D. Identifikasi masalah

            Upaya dalam meningkatkan hasil produksi kelapa sawit di PT. Prakasa Tani Sejati Kecamatan Sungai Laur Kabupaten Ketapang tidak terlepas dari masalah yang dihadapi dilapangan. Masalah-masalah yang biasa dihadapi adalah sebagai berikut :

  1. Perencanaan ataupun manajemen kebun yang kurang tepat seperti perencanaan pembukaan lahan yang lambat sehingga mempersulit kegiatan pemindahan dan penanaman bibit kelapangan.
  2. Bibit yang belum bisa ditanam kelapangan menyebabkan timbulnya permasalahan baru yaitu membengkaknya biaya atau anggaran perawatan.
  3. Banyaknya tanaman di pembibitan menimbulkan berbagai hama penyakit yang menyerang tanaman dan sangat sulit untuk dikendalikan karena anggaran pemeliharaan yang terbatas.

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI MAGANG

 

A. Gambaran Umum Kecamatan Sungai Laur Kabupaten Ketapang

1. Letak dan Luas Wilayah

            Secara geografis, kecamatan Sungai Laur terletak pada 1° LS-109° BT. Luas wilayah secara keseluruhan 1.650,70 km dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

a)      Sebelah Timur, berbatasan dengan Kecamatan Sandai

b)      Sebelah Barat, berbatasan degan Kecamatan Simpang

c)      Sebelah Utara, berbatasan dengan Kabuaten Sanggau.

d)     Sebelah Selatan, berbatasan dengan Kecamatan Sandai.

            Ibu kota Kecamatan Sungai Laur adalah Aur Kuning dan merupakan salah satu kecamatan yang berada di pedalaman wilayah administratif  Kabupaten Ketapang. Kecamatan Sungai Laur terdiri dari 6 desa dan 8 dusun, desa-desa tersebut adalah Desa Riam Bunut, Desa Sampurna, Desa Sepotong, Desa Bengaras, Desa Sukaramai dan Desa Tanjung Beringin.

Tabel 1. Luas wilayah desa-desa dikecamatan sei Laur

No

Desa

Luas (km²)

Persentase (%)

1

Riam Bunut

419,50

25,41

2

Bengaras

186,00

11,27

3

Sempurna

263,90

15,99

4

Suka ramai

148,80

9,01

5

Sepotong

400,90

24,29

6

Tanjung Beringin

231,60

14,03

Jumlah

1.60,70

100

      Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

2. Topografi Wilayah

            Kondisi topografi Wilayah Kecamatan Sungai Laur terdiri dari dataran, daerah bergelombang dan daerah berbukit yang berada pada ketinggian < 390 meter dpl. Pembagian wilayah berdasarkan topografi adalah sebagai berikut;

  1. Daerah dataran sampai berombak 30%
  2. Daerah berombak sampai berbukit 70%

3. Keadaan Iklim

            Iklim diwilayah kecamatan Sungai Laur pada umumnya sama dengan kecamatan lainnya yang ada diwilayah Kabupaten Ketapang yaitu beriklim tropis yang masih dipengaruhi oleh musim kering. Suhu udara rata-rata harian mencapai 24° C-30° C degan kelembaban rata-rata 30%. Curah hujan rata-rata pertahun adalah 114 hari hujan dan umumnya musim hujan terjadi antara bulan oktober sampai april. Curah hujan pada bulan mei sampai agustus agak rendah. Kondisi iklim diwilayah kecamatan Sungai Laur sangat dipengaruhi oleh kondisi wilayah yang pada dasarnya merupakan daerah dataran tinggi yang berbukit-bukit.

4. Keadaan Tanah

            Umumnya jenis tanah yang paling dominan diwilayah Kecamatan Sungai Laur adalah jenis tanah podsolik yang ditandai dengan warna merah kuning bercampur pasir dan berbatu. Jenis tanah ini dimanfaatkan penduduk setempat sebagai lahan pertanian serta pemukiman. Adapun komposisi penggunaan lahan oleh masyarakat Sungai Laur adalah sebagai berikut :

  1. Sawah             : 1.329 Ha
  2. Pekarangan      : 1. 636,49 Ha
  3. Ladang            : 5. 959,90 Ha
  4. Hutan             : 118.318,10 Ha
  5. Kebun                         : 8.878,70 Ha
  6. Lain-lain          : 28.947,81 Ha

Tabel 2. Pemanfaatan Lahan Kecamatan Sei Laur untuk perkebunan

No

Desa

Luas Lahan (ha)

Jumlah (ha)

Kelapa sawit

Kopi

Cengkeh

1

Riam Bunut

460

4.0

1.215,5

1.679,5

2

Bengaras

464

834,0

1.298,0

3

Sempurna

960

2.0

374,4

1.336,4

4

Sukaramai

2.0

1.161,0

1.163,0

5

Sepotong

6.0

1.206,0

1.212,0

6

Tanjung Beringin

8.5

877,56

886,0

  Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

Dari pemanfaatan lahan tersebut dapat kita ketahui jenis dan ragam hasil yang  diproduksi, seperti pada tabel berikut :

Tabel 3. Jenis hasil produksi

No Desa Produksi Hasil Perkebunan (ton/ha) Jumlah (ton/ha)
Kelapa Sawit Kopi Cengkeh
1 Riam Bunut 8.280 2,8 482,20 8.765,00
2 Bengaras 8.052 333,60 8.385,60
3 Sempurna 14.400 1,4 449,28 14.850,68
4 Sukaramai 9,0 465,60 474,60
5 Sepotong 8,5 482,60 491,10
6 Tanjung Beringin 3,0 351,00 354,00

Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

5. Keadaan Penduduk

            Jumlah penduduk Sungai Laur sebesar 12.094 jiwa terdiri dari penduduk laki-laki 6.158 jiwa, perempuan 5.936 jiwa yang terangkum dalam 2.922 kelompok keluarga. Jumlah ini apabila dibandingkan dengan luas wilayah kecamatan sungai Laur, maka kepadatan penduduk mencapai 8 jiwa /km².

Tabel 4. Penyebaran penduduk

No

Desa

Luas (km²)

Penduduk

Kepadatan Penduduk (Jiwa/km²)

KK

Jiwa

1

Riam Bunut

419,50

521

2.101

5

2

Bengaras

186,00

439

1.686

9

3

Sempurna

263,90

471

1.887

7

4

Sukaramai

148,80

459

1.885

13

5

Sepotong

400,90

543

2.247

6

6

Tanjung Beringin

231,60

485

2.261

10

Jumlah

1.650,70

2922

12.094

   Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

            Apabila dilihat dari komposisi penduduk menurut usia yang masih produktif dan yang tidak produktif, maka akan diperoleh angka sebagaimana terlihat pada tabel berikut :

Tabel 5. Komposisi penduduk menurut umur

No

Produktif

Non Produktif

Usia

Jiwa

Usia

Jiwa

1

15-21

2.348

0-14

4561

2

22-50

5077

>50

   98

Jumlah

7.425

 

4.669

%

61,39%

38,61%

              Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

            Pada tabel  5 menunjukkan bahwa penduduk usia produktif sebanyak 7.425 jiwa ( 61,39%) sedangkan penduduk yang nonproduktif berjumlah 4.669 jiwa ( 38,61%). Sebagian besar penduduk usia kerja di Kecamatan Sungai Laur memiliki mata pencarian pada sub sektor pertanian tanaman pangan, perkebunan karet, peternakan serta jasa dengan tingkat produktifitas yang masih relatif rendah serta sarana dan prasarana pertanian yang masih sangat sederhana.

 

 

B. Keadaan Umum PT. Prakasa Tani Sejati

1. Sejarah singkat berdirinya perusahaan

            PT Prakasa Tani Sejati berdiri pada tahun 1991 yang merupakan Perkebunan Besar Swasta Nasional (PBSN) Bumi Raya Utama Group (BRUG) sebagai perusahaan inti yang menjalankan usaha perkebunan kelapa sawit.

            Pembangunan kebun dimulai pada tahun 1992 dengan penanaman pertama pada bulan maret 1993. berdasarkan kebijakan pemerintah, pembangunan perkebunan diarahkan untuk menjadikan pelengkap yang mampu mewadahi perkembangan kewiraswastaan petani perkebunan kearah usaha yang rasional.

            Ada 2 pola perkebunan yang diterapkan  di PT Prakasa Tani Sejati, yaitu pola perkebunan Inti dan Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA). Perbedaan antara kedua pola ini adalah pada kebun KKPA pengelolaan perkebunan dilakukan oleh anggota KKPA dengan bimbingan perusahaan, sedangkan kebun Inti dikelola sepenuhnya oleh perusahaan.

            Dari luas izin areal 20.000 ha direncanakan seluas 20% (4000 ha) untuk kebun plasma bagi masyarakat sekitar perkebunan melalui program KKPA. Tahun  2003-2009 telah dilakukan konversi terhadap  1.072  kk  dengan luasan masing-masing kk 2 ha. Masyarakat penerima kebun plasma adalah masyarakat yang telah berdomisili sekitar Sungai Daka 142 kk, Sempurna 245 kk, Bayur Rempangi 239 kk, Merumbuk 154 kk dan Randau 242 kk. Tenaga kerja yang bekerja diperusahaan diambil dari masyarakat setempat sesuai dengan Peraturan Daerah yang mengatur bahwa perusahaan wajib menerima karyawan dari masyarakat setempat sekurang-kurangnya 35 % dari jumlah keseluruhan karyawan atau tenaga kerja. Akan tetapi, sumber daya manusia masyarakat setempat masih belum memenuhi target dan kriteria yang diperlukan di perusahaan. Oleh karenanya, tenaga kerja masih didatangkan dari daerah lain dengan sistem kontrak demi memenuhi dan menjalankan roda perusahaan.

            Karyawan kontrak dipimpin oleh seorang kepala rombongan yang bertanggung jawab langsung kepada perusahaan dan karyawan. Jumlah tenaga kerja tetap di PT Prakasa Tani Sejati sampai bulan desember 2009 ini secara keseluruhan berjumlah 1.888 orang dan ditambah dengan karyawan tidak tetap beberapa orang.

            Tingkat pendidikan karyawan SD 318 orang, SMP 540 orang, SMA 973 orang, Diploma 19 Orang dan Strata (1) 38 orang. PT Prakasa Tani Sejati dibagi kedalam beberapa Estate dan setiap Estate membawahi beberapa divisi. Masing-masing Estate diimpin oleh seorang Estate Manager. Dalam pelaksanaan kegiatan operasionalnya PT Prakasa Tani Sejati bekerjasama dengan beberapa kontraktor.

Bidang pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor meliputi sarana pengangkutan buah, pembukaan lahan, pengankutan pupuk dan lain-lain.

Pelaksanaan pemupukan dilakukan setelah perusahaan mendapatkan rekomendasi pemupukan dari Badan Peneliti Kelapa Sawit (BPKS) Medan. Untuk pengadaan pupuk perusahaan mendatangkan pupuk dari berbagai sumber yang disalurkan melalui Bumi Raya Utama Group yang ada di Indonesia maupun Malaysia. Di PT Prakasa Tani Sejati, produk yang dihasilkan masih berupa kernel dan CPO.untuk proses selanjutnya perusahaan menjualnya pada pihak lain. PT Prakasa Tani Sejati memiliki satu Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) yang terletak di Estate Central dengan kapasitas 40 ton TBS per jam. Untuk pengolahan limbah perusahaan sudah memiliki pengolahan limbah tersendiri yang sesuai dengan AMDAL yang ramah lingkungan. Apalagi dalam waktu dekat ini akan dibangun pabrik yang khusus mengelola tandan kosong yang akan dibuat menjadi bahan utama pembuatan pupuk. Pembangunan pabrik tankos sudah berjalan dan sampai saat ini pembangunan masih terus dilanjutkan untuk sesegera mungkin diselesaikan dan difungsikan sebagaimana mestinya.

2. Visi dan Misi Perusahaan

a. Visi

            Perusahaan berdasarkan Prestasi dunia.

b. Misi

            Kami ingin menjadi yang terbaik dalam setiap bisnis dan berkomitmen untuk memuaskan pelanggan-pelanggan serta para karyawan, pemegang saham dan masyarakat dengan menjaga investasi dalam jangka panjang yang sangat menguntungkan. Bagi para pemegang saham, dalam visi dan sikap dan tingkah laku beretika , sistem dan gaya manajemen yang terbaik, pengembalian dana misi kami akan memasukkan nilai-nilai seperti kerjasama secara menyeluruh, kesatuan dan kerja tim.

3. Struktur Organisasi Perusahaan

            Perusahaan perkebunan PT Prakasa Tani Sejati dipimpin oleh seorang Regional Controller (RC) yang bertugas sebagai Decission Maker kebijakan pengelolaan dan pengembangan perkebunan. Dalam melaksanakan tugasnya, RC dibantu oleh seorang Deputi Perkebunan yang tugasnya adalah perpanjangan tangan dari RC sekaligus mengatur pengelolaan kebun untuk meningkatkan produktivitasnya, akan tetapi masih ada tugas lain yaitu menangani masalah-masalah non teknis seperti masalah pembebasan lahan , KKPA, aparat Pemerintah dan masyarakat sekitar perkebunan. Selain itu, RC juga membawahi Senior Assisten Manager Humas, Estate Support and Development, Kepala Tata Usaha (KTU), Kepala Divisi PLKP dan Kepala Divisi Accounting Finnance.

Kegiatan operasional lapangan pada tiap-tiap wilayah kebun dipimin oleh seorang Estate Manager (EM) yang membawahi beberapa kepala divisi kebun. Setiap kepala divisi kebun dalam melaksanakan kegiatannya dibantu oleh kepala bagian (Kabag) yang tugasnya menangani dan memimpin petugas pengawas lapangan pada tiap-tiap blok. Fungsi pengawas adalah mengawasi, mengatur dan mengarahkan para karyawan kebun tentang kegiatan-kegiatan dilapangan serta memberikan masukan kepada atasan mengenai situasi yang terjadi dilapangan terutama yang berhubungan dengan teknis dan kinerja para karyawan.

4. Sarana dan Prasarana Perusahaan

Usaha  memperlancar seluruh kegiatan di perkebunan, diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, sarana tersebut bisa seperti rumah pegawai manajemen, kantor dan fasilitas kerja, tempat ibadah, sekolah, rumah pegawai borongan dan harian serta beberapa kendaraan yang bisa memfasilitasi para pegawai dan karyawan guna meningkatkan efektivitas kerja seperti yang dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 7. Sarana dan prasarana

No

Jenis Bangunan

Jumlah/Unit

Kondisi

(1)

(2)

(3)

(4)

A

Kantor Central

  1. Kantor kebun
  2. Kantor Pabrik
  3. Kantor PLKP Kebun
  4. Kantor PLKP Pabrik
  5. Kantor Koperasi (KUD)
  6. Kantor Koperasi Karyawan
  7. Work Shop Kebun
  8. Gudang BBM Kebun
  9. Wartel
  10. Taman Kanak-kanak
  11. Klinik

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

B

Perumahan Central

  1. Mess GM
  2. Mess Regional Controller
  3. Mess Mill Manager
  4. Mess Staf C, D dan E
  5. Barak Karyawan 6 pintu/Unit
  6. Masjid
  7. Gereja
  8. Klinik

1

1

1

3

4

1

1

1

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

C

Bangunan divisi I

  1. Kantor Divisi
  2. Koperasi
  3. Gudang Pupuk
  4. Masjid/Surau
  5. Mess Kabag
  6. Mess Karyawan Borongan
  7. Mes Keluarga
  8. Camp Div I

1

1

1

1

3

39

39

1

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Rusak 4

Baik

Baik

D

Bangunan Divisi II

  1. Kantor Divisi
  2. Gudang Pupuk I, II dan III
  3. Gudang Permanen
  4. Masjid
  5. Mess Kabag
  6. Mess Karyawan
  7. Jembatan Komposit Belian Beton

1

3

1

1

3

44

4

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

(1)

(2)

(3)

(4)

E

Bangunan Divisi III

  1. Kantor Divisi
  2. Gudang Pupuk
  3. Mess Staf
  4. Bangunan Copel
  5. Barak Karyawan
  6. WC Karyawan
  7. Rumah Mesin

8. Jembatan Komposit

 

1

1

1

1

16

1

1

3

 

 

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

F

Bangunan divisi IV

  1. Kantor Divisi
  2. Gudang Pupuk
  3. Mess Staf
  4. Bangunan Copel
  5. Barak Karyawan
  6. WC Karyawan
  7. Rumah Mesin

8.   Jembatan Komposit  Beton

 

1

1

1

6

1

2

1

1

 

 

1

1

1

6

1

2

1

1

G

Bangunan Divisi V dan VI

  1. Kantor Mess
  2. Dapur Umum
  3. Barak Karyawan
  4. Rumah Kabag
  5. Camp karyawan
  6. Rumah Mesin
  7. Wc Karyawan

 

1

1

1

2

3

1

1

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

H

Mess Tamu Matan

1

Baik

 Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

Tabel 8. Sarana Alat Berat dan Kendaraan

No

Jenis kendaraan/Alat berat

Jumlah/Unit

Kondisi

A

Kendaraan

  1. Truck
    1. Dump Truck Nissan
    2. Dump Truck Dyna Rino
    3. Truck Hino Tronton
  2. Mobil Daihatsu
    1. Taft F.70
    2. Taft F.69
    3. Taft Rocky
    4. Ranger
    5. Pick Up
  3. Farm Tractor
    1. John Deere
    2. Ford
  4. Sepeda Motor
    1. Honda Win 100
    2. Honda Mega pro

 

2

1

1

1

1

1

1

2

4

12

19

15

Rusak

Rusak

Baik

Rusak

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

B

Alat Berat

  1. Bulldozer
  1. Bulldozer Komatsu
  2. Bulldozer Caterpillar
  • Exavator Komatsu
  • 3. Motor Grader

    1. Motor Grader Komatsu
    2. Motor Grader Caterpillar

    4. Wheel Loader

    5. Backhoe Loader Cartepillar

     

     

     

    1

    2

    1

    1

    1

    1

    2

    Baik

    Rusak

    Baik

    Rusak

    Baik

    Baik

    Rusak

    Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

    BAB III

    PELAKSANAAN MAGANG

    A. Waktu dan Tempat Magang

                Pelaksanaan magang diselenggarakan selama 2 bulan dimulai dari hari selasa 27 oktober sampai hari selasa 29 desember 2009 yang berlokasi diperusahaan perkebunan kelapa sawit PT Prakasa Tani Sejati, kecamatan Sungai Laur kabupaten Ketapang Kalimantan Barat.

    B. Pelaporan dilokasi Magang

                Tujuan pelaporan adalah agar pihak Perusahaan yaitu PT Prakarsa Tani Sejati dapat mengetahui kehadiran mahasiswa yang akan melaksanakan kegiatan magang dilapangan sehingga kedua belah pihak dapat dengan mudah berkoordinasi tentang kegiatan yang akan dilaksanakan dikemudian hari.

    C. Penyusunan Program dan Jadwal Kegiatan

                Penyusunan program dan jadwal kegiatan lapangan dilakukan secara bersama-sama antara mahasiswa dengan Estate Manager dan kepala Divisi. Jadwal kegiatan disesuaikan dengan kondisi dilapangan sehingga tidak mengganggu kelancaran kerja Perusahaan.

    D. Kegiatan dilapangan

                Kegiatan dilapangan dibimbing langsung oleh pembimbing teknis lapangan,   seperti kepala divisi dan kepala bagian lapangan. Kegiatan dilapangan terdiri dari beberapa kegiatan utama, yaitu :

     

     1. Kegiatan di Areal Pembibitan

                Diareal Pembibitan penulis terjun langsung kelapangan untuk melihat, mempelajari dan menguasai berbagai hal yang berkaitan dengan tekhik pembibitan dan pemeliharaan serta perawatannya.

                  Magang di Pembibitan dibagi menjadi 2 lokasi kegiatan yaitu di areal Prenursery dan Mainursery.

    Kegiatan di Areal Prenursery meliputi :

    1. Penyiapan Lahan Pembibitan

    Persiapan lahan pembibitan dilakukan dengan Buldozer untuk meratakan area agar mempermudah pembuatan bedengan. Tanah permukaan didorong kepinggir dan akar-akar serta kayu tunggul dicabut dan dibuang agar lahan bersih serta terhindar dari berbagai bahan yang menyebabkan sumber penyakit.

    1. Persiapan Media tanam

    Langkah awal persiapan media tanam adalah dengan membuat bedengan. Bedengan terbuat dari kayu papan yang berukuran lebar 10 cm dan panjang 10 m dengan ketebalan papan 2 cm. bedengan dibuat dengan bentu kotak persegi panjang  dengan lebar bedengan 1 m dan panjang 10 serta jarak antar bedengan 60 cm. Pembuatan bedengan bertujuan agar poly bag tersusun rapi, tidak roboh dan yang terpenting adalah untuk mempermudah pemeliharaan dan penyensusan. Dari kegiatan penyensusan bedengan, akan diketahui berapa jumlah kebutuhan kecambah yang akan didatangkan dari Balai Penelitian Kelapa Sawit berdasarkan jumlah bedengan dan jumlah rata-rata poly bag dalam bedengan. Sehingga, tidak akan terjadi kekurangan kecambah ketika kegiatan penanaman dimulai. Contoh, jika jumlah bedengan keseluruhan adalah 60 bedengan dan rata-rata jumlah poly bag per bedengan 1200 poly bag, maka dapat kita ketahui bahwa jumlah kecambah yang diperlukan adalah sebanyak 72000 kecambah. Selain itu, penyensusan bedengan dilakukan untuk menentukan jenis perawatan dan anggaran pemeliharaannya.

    Langkah selanjutnya dari kegiatan persiapan media tanam adalah pengisian poly bag. Poly bag untuk untuk media kecambah di areal prenursery berukuran 6×9 cm. Tanah yang digunakan adalah tanah top soil, yaitu tanah permukaan yang memiliki banyak kandungan unsur hara. Pada saat pengisian tanah kedalam poly bag, tanah harus diguncang dan ditekan agar mempunyai kepadatan yang optimal. Poly bag disusun rapi dalam bedengan, kemudian disiram dengan air. Jenis instalasi penyiraman yang digunakan di areal prenursery adalah jaringan vipa water pam yang dipancarkan dengan selang sumi diantara jalur bedengan dengan kekuatan mesin robin.

    Media yang telah terisi tanah disiram selama beberapa hari dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan debit tanah yang telah dimasukkan kedalam poly bag, jika debit tanah menurun maka akan segera dilakukan toping atau pembumbunan. Toping adalah pengisian kembali poly bag dengan tanah setelah diketahui debit tanah dalam poly bag menurun akibat curahan air hujan ataupun penyiraman. Toping bertujuan untuk menjaga tingkat kepadatan tanah dalam poly bag agar tetap optimal sehingga ketika penanaman kecambah berlangsung dipastikan tidak ada lagi poly bag yang kosong dan berongga di bagian dalam.

    1. Pembuatan Naungan dan Pagar

    Pembuatan naungan dilakukan setelah semua kegiatan di media tanam terselesaikan, baik itu pembuatan bedengan, pengisian serta penyusunan poly bag dan pemasangan instalasi penyiraman. Tujuan pembuatan naungan pada areal prenursary adalah untuk menjaga tingkat kelembaban media tanam, menekan pertumbuhan gulma, mengurangi tingkat penurunan kualitas unsur hara pada media akibat terik sinar matahari langsung dan melindungi media dari curah hujan secara langsung dan berlebih yang bisa menyebabkan tanah dalam poly bag terlalu mengeras dan padat. Naungan terbuat dari pelepah tanaman kelapa sawit yang disusun rapi diatas para-para bambu bulat dengan tiang kayu yang kokoh sebagai penyangga. Tinggi naungan 2 m dari permukaan tanah, hal ini bertujuan untuk menjaga suhu, kelembaban dan udara yang bergerak dalam area prenursery tetap stabil.

    Pelepah yang digunakan sebagai bahan naungan harus berasal dari tanaman yang sehat dan terhindar dari penyakit seperti jamur ataupun virus yang bisa menular pada bibit. Adapun tujuan pembuatan pagar adalah agar lahan, media dan tanaman  terjaga dari gangguan atau serangan hama seperti tikus, landak, babi hutan dan lain-lain. Pagar terbuat dari kawat ram yang dipasang mengelilingi seluruh lahan pembibitan di areal prenursary.

    1. Penanaman Kecambah

    Penanaman kecambah dilakukan setelah media tanam dipastikan selesai dan siap tanam serta naungan dan instalasi penyiraman telah terpasang. Kecambah yang ditanam berasal dari Marihat yang merupakan Pusat Pengembangan Kelapa Sawit (PPKS) di Medan Sumatera Utara. Kecambah berasal dari varietas Tenera, yaitu persilangan antara Dura dan Fisifera. Jenis ini telah lama dibudidayakan di PT Prakasa Tani Sejati base camp Sungai Laur karena memiliki beberapa keunggulan, antara lain memiliki daya tumbuh yang baik, memiliki buah dan kandungan minyak yang berkualitas, serta tahan terhadap kondisi yang ekstrim baik saat kemarau maupun ketika curah hujan tinggi dimana pada saat itu intensitas genangan pada tanaman sawit yang masih muda dan berada dilahan dengan topografi rendah kerap kali terjadi dengan waktu yang cukup lama.

    Penanaman kecambah harus sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan, baik dari waktu maupun metode penanaman. Kecambah harus segera ditanam 2×24 jam dari mulai pengiriman sampai tiba di areal prenursary dengan perlakuan yang baik seperti pengiriman melalui pesawat, disimpan diruangan ber AC dan dijemput dengan mobil bak tertutup. Kecambah kelapa sawit memiliki volume pertumbuhan radikula dan plumula  yang sangat cepat, sehingga akan berdampak kerusakan jika jadwal penanaman tidak sesuai dengan jadwal pengiriman.

    Plumula kecambah berwarna putih sedangkan radikulanya berwarna coklat dan tumpul. Oleh karena itu, kegiatan penanaman harus diawasi agar tidak terjadi kesalahan dalam cara penanaman. Kedalaman lubang pada media poly bag ± 2 cm, posisi plumula yang berwarna putih berada diatas sedangkan radikula yang berwarna coklat berada dibawah. Lubang yang telah ditanam ditutup dengan tanah yang gembur agar plumula tumbuh tanpa hambatan. Jika tanah penutup keras dan berbatu maka proses pertumbuhan akan terhambat dan biasanya tanaman akan tumbuh membengkok.

    1. Pemasangan Klerat

    Pemasangan klerat dilakukan satu hari sebelum penanaman kecambah dan dipasang satu pada setiap bedengan serta setiap sudut areal prenursery. Klerat adalah Rodentisida kontak yang diperuntukkan bagi hama pengerat, seperti tikus dan landak.

    1. Penyiraman

    Penyiraman dilakukan setelah semua media telah tertanam oleh kecambah. Penyiraman dilakukan dengan intensitas rendah, hal ini dilakukan agar air bisa menyerap sempurna kedalam poly bag tanpa merusak permukaan media sehingga kecambah tetap pada keadaan semula. Instalasi penyiraman menggunakan tenaga mesin robin dengan vipa water pam dan dipancarkan melalui selang sumi yang berada pada setiap jalur bedengan. Penyiraman berikutnya dilakukan dengan intensitas meningkat tergantung pada tingkat pertumbuhan kecambah dan keadaan cuaca.

    1. Toping

    Seperti dijelaskan sebelumnya, toping adalah pengisian kembali tanah kedalam poly bag setelah debit tanah dalam poly bag menurun akibat penyiraman ataupun curahan air hujan. Toping seringkali dilakukan pada setiap kegiatan di areal prenursery dengan tujuan yang berbeda. Toping kali ini bertujuan  agar akar pada tanaman yang baru tumbuh di areal prenursery tidak terganggu baik oleh sinar matahari ataupun mahluk hidup lainnya. Karena akar tanaman yang baru tumbuh sangat rentan terhadap kerusakan. Akar yang terbuka juga dapat mengundang perhatian hama tanaman seperti tikus, landak dan babi. Oleh karena itu perlu dilakukan toping ulang agar tanaman tetap tumbuh dengan baik. Kegiatan toping pada tanaman yang baru tumbuh juga sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan vegetatif akar.

    1. Pengendalian Gulma

    Pegendalian gulma pada areal prenursery dilakukan secara manual, yaitu Weeding bag dan Weeding antar bag. Weeding bag adalah mencabut atau membersihkan gulma yang tumbuh didalam poly bag. Kegiatan ini dilakukan secara teliti dan hati-hati karena gulma tumbuh disekitar media dan tanaman yang masih sangat rentan sehingga dikhawatirkan media rusak dan akar tanaman terganggu atau bahkan tercabut. Weeding bag dilakukan secara bertahap tergantung dari intensitas dan volume pertumbuhan gulma. Weeding bag harus dilakukan sebelum pertumbuhan gulma mencapai ambang batas, yaitu volume pertumbuhan gulma melebihi atau hampir sama dengan volume pertumbuhan tanaman. Karena, gulma dewasa bisa mempengaruhi aktivitas penyerapan unsur hara pada tanaman sehingga pertumbuhan tanaman akan terhambat. Adapun Weeding antar bag adalah mencabut dan membersihkan gulma yang tumbuh diantara sela-sela poly bag dan bedengan. Weeding bag dilakukan dengan cara mengangkat poly bag Satu-persatu dan membersihkan gulma yang tumbuh pada areal bedengan kemudian meletakkan kembali poly bag pada tempat semula. Pengendalian gulma dengan menggunakan Herbisida tidak dilakukan pada areal prenursery, karena dikhawatirkan dampak buruk yang akan terjadi pada tanaman yang masih sangat rentan terhadap bahan aktif herbisida yang bisa menyebabkan kerusakan atau kamatian. Weeding bag dan weeding antar bag dilakukan oleh pekerja harian khusus pemeliharaan.

    1. Pemupukan

    Pemupukan pada tanaman diareal prenursery dilakukan setelah satu minggu tanaman tumbuh. Pupuk yang digunakan adalah jenis NPK yellow yang diaplikasikan dengan dua cara berbeda, yaitu disemprot dan disiramkan (Ekstra Polya). Dosis dan konsentrasi yang dianjurkan untuk penyemprotan adalah 5 kg NPK yellow diekstraksi kedalam 10 liter air yang merupakan bahan campuran untuk 10 tanki pom. Setiap satu tanki pom yang memiliki kapasitas 20 liter air dicampur dengan 1 liter ekstrak NPK yellow untuk setiap 200 batang tanaman. Untuk penyiraman dilakukan dengan cara yang sama tetapi dengan konsentrasi dan dosis yang berbeda yaitu 5 kg NPK yellow diekstraksi kedalam 5 liter air untuk kemudian dicampurkan dengan 100 liter air dan diaplikaskan dengan cara disiram untuk setiap 100 batang tanaman. Pemupukan ekstra polya sangat efektif untuk diaplikasikan diareal prenursery karena dianggap mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya :

    – Pupuk dapat langsung diserap tanaman melalui pori-pori daun (stomata) dan akar.

    –  Tanaman selalu dalam keadaan  segar karena pemupukan dilakukan dengan   penyemprotan dan penyiraman.

    –  Menghindari kemungkinan terjadinya kematian pada tanaman akibat percikan pupuk jika pupuk diaplikasikan dengan cara ditabur.

    1. Pembukaan Naungan

    Pembukaan naungan dilakukan setelah tanaman berumur 2 minggu dan dilakukan secara bertahap agar tanaman bisa beradaptasi dengan cahaya matahari. Tahapan pertama adalah 50% dan tahapan kedua adalah pembukaan total, yaitu 100%. Adapun tujuan dari pembukaan naungan adalah :

    –          Agar tanaman mampu beradaptasi dengan lingkungan

    –          Mencegah terjadinya etiolasi atau pertumbuhan memanjang akibat kurangnya penyinaran matahari

    –          Mencegah terjadinya serangan penyakit seperti virus dan jamur.

    1. Penyemprotan Pestisida

    Penyemprotan insektisida dilakukan hanya jika terjadi serangan hama serangga. Penyemprotan fungisida biasa dilakukan setiap 2 minggu untuk mencegah timbulnya jamur pada tanaman. Insektisida yang digunakan jika terjadi serangan hama serangga adalah jenis Bassa, dan fungisida yang digunakan untuk mencegah timbulnya jamur adalah jenis Dithane yang memiliki kandungan tiram dan sangat bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.

    1. Sensus atau Sortir Bibit

    Penyortiran dilakukan untuk mencegah adanya bibit abnormal yang ikut tertanam diarea mainnursery. ciri-ciri bibit yang abnormal adalah, tunas yang memuntir, daun lalang (tegak dan kecil), daun menggulung, collante (daun seperti pita), daun keriting dan daun yang berbentuk mangkuk.

    Kegiatan di areal Mainnursery terdiri dari beberapa jenis kegiatan sebagai berikut :

    1. Persiapan lahan

    Persiapan lahan terdiri dari beberapa kegiatan, seperti membersihkan lahan dengan buldozer untuk meratakan areal dari kayu-kayuan dan tunggul-tunggul yang tersisa, pemancangan, pembuatan jalan pemeliharaan dan pemasangan instalasi penyiraman .

    1. Pengisian Poly bag

    Poly bag untuk tanaman di mainnursery berukuran 40×50 cm lebih besar dari ukuran tanaman di prenursary dengan ketebalan 0,12 mm, karenanya pengisian memakan waktu yang cukup lama dan dipersiapkan jauh-jauh hari agar penyelesaiannya bersamaan dengan berakhirnya masa usia tanaman di areal prenursery. Tanah yang digunakan adalah tanah top soil yang memiliki banyak kandungan hara. Poly bag yang telah diisi kemudian diletakkan dan disusun berdasarkan pancang yang telah tersedia dengan jarak 90×90 cm segitiga sama sisi dengan kapasitas perhektar 14.200 bibit.

    1. Penanaman

    Kegiatan penanaman di mainnursery  dilakukan setelah tanaman mencapai usia maksimal. Dilakukan pengawasan ketat agar proses penanaman berjalan dengan baik, penanaman dilakukan dengan cara merobek poly bag dengan silet setelah membuat lubang tanam pada poly bag mainursary tanpa harus memotong bagian akar sedikitpun.

    1. Penyiraman

    Penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore selama dua jam. Penyiraman dihentikan jika terjadi curah hujan dengan intensitas yang tinggi.

    1. Pemupukan

    Pemupukan dilakukan dengan rotasi 2x selama 1 bulan dengan dosis dan jenis pupuk yang telah direkomendasikan. Jenis pupuk yang digunakan adalah NPK Blue dan NPK Yellow. Berikut adalah tabel pemupukan yang telah direkomendasikan.

    Tabel 9. Pemupukan

    Umur Bibit

    Dosis Pupuk (g/Bibit)

    Cara Aplikasi

    Jenis Pupuk

    3-4 Bulan

    7

    Ditabur

    NPK Yellow

    5-6 Bulan

    14

    Ditabur

    NPK Blue

    7-8 Bulan

    21

    Ditabur

    NPK Blue

    > 8 Bulan

    28

    Ditabur

    NPK Blue

     Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

    1. Pengendalian Gulma

    Pengendalian gulma pada tanaman diareal pembibitan mainursary dilakukan dengan cara manual dan kimia. Pengendalian gulma dengan cara manual terdiri dari weeding bag dan weeding antar bag. Weeding antar bag adalah memberantas gulma dengan cara mencabut dan membersihkan gulma diantara jalur-jalur poly bag ( luar), sedangkan  weeding bag adalah membersihkan gulma yang berada pada poly bag tanaman. Rotasi pengendalian 2-3 kali/bulan.

    Pengendalian gulma cara kimia dilakukan dengan aplikasi herbisida pratumbuh 1 kali dan purna tumbuh 2 kali dengan rotasi 3 bulan. Penyemprotan herbida purna tumbuh memakai parakuat sedangkan untuk herbisida pratumbuh dianjurkan memakai linuron. Penyemprotan dilakukan dengan sprayer gendong (knapsack sprayer) dengan posisi semprotan vertical (kebawah) dengan posisi lebih rendah dari permukaan tanah poly bag untuk menghindari percikan larutan herbisida.

    1. Toping

          Sama halnya dengan tanaman yang berada diareal prenursery, tanaman yang berada di areal mainnursery juga dilakukan toping untuk menjaga debit tanah dalam poly bag agar tetap stabil dan pertumbuhan akar bisa terjaga. Toping dilakukan dengan tanah yang gembur dan banyak mengandung unsur hara.

    1. Pemangkasan

    Kegiatan pemangkasan hanya dilakukan pada bibit yang berumur diatas 10 bulan. Pemangkasan befungsi untuk menjaga agar tanaman yang berada diareal pembibitan mainursary tetap terjaga kelembabannya dan tidak menjadi sumber atau sarang hama dan penyakit yang bisa menular pada tanaman yang masih muda. Selain itu untuk mempermudah kegiatan perawatan seperti pemupukan dan pengendalian gulma serta menghindari robohnya tanaman dari hembusan angin dan terpaan hujan. Pemangkaan dilakukan dengan cara memotong setiap ujung pelepah berbentuk piramida, hal ini untuk menjaga agar pertumbuhan pelepah bisa normal kembali. Alat yang digunakan adalah pisau stainless dan hanya dilakukan apabila pertumbuhan pelepah melampaui batas yang ditentukan

    1. Pengikatan Pelepah

    Pengikatan bibit dilakukan oleh tenaga kerja borongan sebelum bibit diangkut kelapangan. Manfaat dari pengikatan bibit adalah, agar mempermudah pengangkutan, mempermudah penanaman, agar tajuk terpelihara dengan baik dan menghindari kerusakan tanaman akibat terjadi gesekan ataupun penumpukan bibit dalam angkutan.

    1. Sortir Bibit (Thinning Out)

    Penyortiran bibit dilakukan pada saat akan diangkut kelapangan, adapun cirri-ciri bibit yang abnormal adalah, permukaan daun yang kasar (bibit banci), anak daun tersusun jarang, tidak memiliki anak daun (juvenile), permukaan tajuk yang rata dan bibit yang kerdil.

    2. Kegiatan Diareal Pembukaan Lahan

                Areal pengembangan merupakan pusat kegiatan dan perencanaan perluasan  areal perkebunan. Diareal pengembangan mahasiswa terjun langsung untuk melihat, memahami dan menguasai proses pembukaan lahan (Land Clearing). Selain itu kegiatan yang diikuti adalah pemeliharaan tanaman muda dilapangan seperti konsolidasi pohon kelapa sawit. Kegiatan yang dilakukan selama berada diareal pengambangan diantaranya :

    1. Pengaturan Rumpukan

    Pengaturan rumpukan dilakukan setelah kegiatan penumbangan pohon dan telah ditentukan titik tanam agar tidak mengganggu kegiatan pemancangan dan penanaman kelapa sawit.

    1. Pembuatan Teras

    Teras kontur dibuat dengan Buldozer dengan lebar teras 4 m dengan kemiringan 10-15º. Pembuatan teras ini membutuhkan biaya yang besar, tetapi mempunyai keuntungan diantaranya konservasi tanah, konservasi air mencegah dan mengurangi erosi pupuk, memberikan kemudahan operasional dilapangan, meningkatkan hasil TBS dan brondolan dan mengurangi biaya perawatan jalan.

    1. Rencana Pembuatan Jalan

    alan penghubung utama dan jalan primer dibuat dengan Buldozer. Top soil digusur membentuk badan jalan sesuai dengan profil jalan yang sudah ditentukan. Profil jalan berbentuk cembung dan kanan kiri jalan dibuat parit dengan jarak 1,5-2 meter dari badan jalan. Tinggi tanah timbunan setelah dipadatkan minimal 80 cm dari permukaan tanah yang akan dibuat jalan dengan lebar 5-6 meter.

    1. Pembuatan Saluran air (Drainase)

    Jaringan drainase harus dibangun selama tahap pembangunan kebun kelapa sawit ditanam. Pembuatan saluran drainase sebaiknya dimulai dari bawah atau dari hilir ke hulu, serta keadaan parit harus diatur sedemikian rupa sehingga semua air dar parit satu atau parit yang lain dapat mengalir kesungai dengan baik. Kecepatan airan air pada saluran drainase cukup baik jika salutan tersebut memiliki kemiringan 1 : 5000- 1 : 3000 dengan rotasi pekerjaan 6 bulan sekali. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan saluran drainase adalah :

    –        Semak-semak yang menutupi parit harus dibersihkan

    –        Tanah galian dibuang keatas dan disebar serata mungkin dan diguakan sebagai badan jalan.

    –        Tanah yang ada dalam parit dinaikan keatas.

    –        Saluran drainase dan pinggiran sungai yang terbuka perlu diperkuat dengan jaringan-jaringan yang diisi dengan batu.

    1. Kegiatan Pemancangan

    Kegiatan pemancangan adalah suatu kegiatan untuk menentukan titik tanam yang menggunakan alat kompas  dan kawat seling agar barisan sawit lurus dan berbentuk segitiga sama sisi dengan jarak minimal 7,6 meter. Apabila posisi panjang dekat parit atau jalan maka panjang tersebut dianggap pancang Bantu, selanjutnya pancang tanam digeser dalam barisan sebagai berikut :

    1)      Jarak minimal dari parit primer/sungai : 5 meter

    2)      Jarak minimal dari parit sekunder/tersier : 3 meter

    3)      Jarak minimal dari pinggir jalan : 3 meter

    4)      Jarak minimal dari tunggul kayu : 3 meter

    1. Penanaman Tanaman Penutup Tanah (Leguminosa Cover Crop)

    Penanaman LCC diareal lahan baru boleh dengan sistem larikan atau dicangkul dengan jarak 1×1 meter. Fungsi dari penanaman LCC adalah untuk menjaga kelambaban tanah, mengurangi pertumbuhan gulma, menambah bahan organik tanah dan mencegah erosi.

    1. Penanaman Kelapa Sawit

    Kegiatan yang perlu diperhatikan dalam penanaman kelapa sawit adalah :

    1)      Bibit yang ditanam adalah bibit yang terseleksi (bibit produktif).

    2)      Tidak boleh merusak pelepah dan tidak boleh merusak akar pada waktu membuka poly bag.

    3)      Bibit ditanam pada pajang yang ada dengan ukuran lubang tanam 60 x 60 x 60 cm.

    4)      Sebelum tanam, masukkan pupuk rock phosphate (RP) dalam ubang dan ditaburkan diatas tanah galian lubang. Bibit ditanam sebatas leher bibit, tidak boleh terlalu dalam atau terlalu dangkal.

    3. Kegiatan diareal Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)

                Kegiatan praktek yang dilakukan diareal TBM diantaranya konsolidasi, penyisipan, garuk piring, pembuatan tapak kuda, penanaman kacangan (Leguminosa cover crop), pemupukan, pengendalian hama penyakit serta pemeliharaan jalan, parit dan drainase.

    1. Konsolidasi

    Kegiatan yang dilakukan untuk merehabilitasi tanaman yang baru ditanam. Kesalahan tanam biasanya disebabkan oleh penanaman yang terburu-buru dan kurangnya pengawasan sehingga mengakibatkan kerusakan tanaman, kelambatan atau kelainan pertumbuhan bibit yang ditanam.

    Kegiatan konsolidasi antara lain adalah menginventarisasi tanaman yang mati, abnormal, tumbang dan terserang hama penyakit serta menegakkan pohon yang tumbang dengan cara menimbun tanah disekitar pangkal batang dan dipadatkan sehingga tanaman tegak kembali. Konsolidasi pokok ini dilakukan pada umur TBM I dan TBM III jika terlambat sulit untuk diperbaiki karena batang tanaman sudah besar.

    1. Penyisipan

    Penyisipan dilakukan untuk menggantikan tanaman yang mati, sakit atau kerdil sehingga diperoleh tanaman yang tumbuh sehat dan seragam. Kegiatan ini dilakukan berdasarkan hasil inventarisasi pada areal TBM tanaman yang perlu disisip pada masa TBM I sampai III setiap satu bulan sekali, dan setelah TBM III penyisipan cukup dilakukan setiap satu tahun sekali.

    1. Garuk Piring

    Kegiatan ini dilakukan dengan membersihkan gulma yang terdapat disekitar tanaman kelapa sawit gulma digaruk dengan menggunakan cangkul, dengan radius 1 meter dari pangkal batang.piringan harus bebas dari gulma untuk menghindari persaingan dalam penyerapan unsur hara antara gulma dengan tanaman kelapa sawit. Rotasi garuk piringan ini dilakukan setiap satu bulan sekali.

    1. Teras Individu atau Tapak Kuda

    Pembuatan tapak kuda tepat pada pancang tanaman mula-mula tanah dibebeskan dari humus, tunggul dan kayu-kayuan. Tanah galian disusun untuk tanah baigan yang ditimbun, sedangkan tanah yang agak miring dicangkul dan diratakan denga sudut kemiringan 10°-15° kemudian dibuat benteng kecil dipinggir tanah timbunan tersebut.

    apak kuda dibuat pada bagian permukaan tanah yang memiliki kecuraman atau kemiringan yang tinggi. Adapun tujuan dibiatnya tapak kuda adalah apabila pada saat pemupukan unsur hara tidak langsung tercuci tetapi tetap berada dalam piringan atau tapak kuda tersebut. Tapak kuda dibuat pada areal TBM I ( tanaman ulang). Pemeliharaan pada tahap awal diperlukan pemeriksaan yang teratur untuk memperbaiki tapak kuda yang rusak, dan rehabilitasi selanjutnya dilakukan setiap satu tahun sekali.

    1. Penanaman Tanaman Penutup Tanah

    Penanaman tanaman penutup tanah (Leguminora cover crop), sangat baik untuk mengurangi erosi permukaan tanah, memperbaiki aerasi, menjaga kelembaban tanah dan menambah bahan organik serta cadangan unsur hara. Akar tanaman kacangan dapat memfiksasi nitrogen dan juga dapat mencegah pertumbuhan gulma. Jika tanaman telah menutupi areal dengan sempurna maka akan menghemat biaya penyiangan gulma dan tanaman kelapa sawit dapat terhindar dari serangan hama kumbang oryctes.

    Tanaman LCC (Leguminora cover crop) yang digunakan adalah jenis CP ( Centrocema pubescent) dan PJ ( Pueraria javanica), jenis ini dpakai karena sifatnya dapat bertahan hidup lebih lama dibandingkan dengan jenis yang lain. Sistem yang digunakan dalam penanaman kacangan ini adalah dengan cara penugalan dengan perbandingan 5 : 5 : 1. Setiap satu gawangan dibuat dua jalur tanam dengan jarak 1 m dari tanaman kelapa sawit dengan jumlah kacangan yang diperlukan adalah 5 kg/ha.

    1. Pemupukan

    Kegiatan pemupukan pada areal TBM sangatlah penting untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik dan kokoh serta persiapan aktivitas pertumbuhan. Pengaruh pemupukan terhadap produksi bersifat jangka panjang dan baru akan terlihat setelah 2 sampai 3 tahun kedepan. Jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk majemuk NPKM, yang diberikan dengan sistem tabur.

    1. Pengendalian Hama

    Hama yang sering dijumpai menyerang tanaman kelapa sawit belum menghasilkan ini adalah ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS) yang bersifat permanen seterti ulat api (limacodidae) dan ulat kantong (psychidae).

    Usaha mengetahui tingkat serangan hama, dilakukan sistem pengamatan dini (Early Warning System) sehingga dapat diketahui apakah seranga hama dibawah tingkat kritis dan jika telah berada diatas batas kritis maka dapat diambil tindakan pengendalian.

    Tujuan dari pengendalian hama adalah untuk menurunkan populasi hama sehingga tidak merugikan secara ekonomi dan tidak melampaui batas kritis keseimbangan alam. Serangan UPDKS mengakibatkan kelapa sawit kehilangan daun, secara signifikan akan mengganggu pertumbuhan tanaman kelapa sawit.

    alah satu tindakan yang diambil untuk pengendalian hama ulat kantong dan ulat api dikebun adalah dengan cara hand picking, yaitu pengutipan ulat denga memeriksa setiap tanaman, jika terdapat ulat maka ulat-ulat tersebut dikumpulkan kemudian dimusnahkan. Jumlah ulat pada setiap tanaman di catat untuk mengetahui tingkat serangan.

    1. Pemeliharaan Jalan dan Parit Drainase

    Jalan diperkebunan kelapa sawit sangat diperlukan sejak pembukaan lahan hingga tanaman menghasilkan. Jalan merupakan sarana penghubung untuk pengangkutan Tandan Buah Segar (TBS), pupuk serta untuk kegiatan lain. Jalan di buat dengan daya dukung  tertentu sehingga dapat dilalui setiap waktu oleh kendaraan. Sarana jalan tersebut harus dikelola dan dipelihara dengan baik sehingga semua kegiatan perusahaan dapat berjalan dengan lancar. Jalan diklasifkasikan menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan kelas, ukuran, ketahanan dan fungsi serta kapasitasnya masing-masing. Berikut adalah tabel klasifikasi jalan PT. Prakarsa Tani Sejati base camp Sungai Laur yang akan dijadikan sarana pengangkutan dan berbagai aktivitas pemeliharaan tanaman di areal TBM dan TM.

    Tabel 10. Klasifikasi Jalan

    Kelas Jalan

    Bahu dan Badan Jalan (m)

    Kaki Lima (m)

    Jalan Parit Ketanaman (m)

    DM 3 (m)

    Jalan Primer (utama)

    Jalan Sekunder  ( produksi)

    Jalan Tersier (koleksi)

    Jalan Kuarter (pinggir)

    8-10

    5-6

    4-5

    4-5

    1,5

    1

    1

    3

    3

    3

    12

    10

    8

      Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

    Jalan primer (main road) adalah jalan yang menghubungkan divisi dengan divisi emplasment keluar dari lingkungan kebun. Jalan sekunder (secondary road) merupakan jalan penghubung dengan areal produksi dan berfungsi  sebagai jalan pengumpulan hasil, umumnya arah utara sampai dengan selatan. Jalan  tersier (tertiary road) merupakan jalan didalam areal produksi/ blok yang berfungsi sebagai tempat pengumpulan hasil, dengan arah timur- barat. Jalan line (koridor road) adalah jalan pinggir kebun sebagai batas areal tanaman dan juga sebagai jalan kontrol.

    Pemeliharaan jalan dilakukan secara manual tetapi diusahakan menggunakan alat grader dan compactor. Permukaan jalan diusahakan cembung sehingga pada saat hujan turun air tidak menggenang, pemeliharaan jalan dilakukan setiap enam bulan sekali, sementara parit drainase dibangun untuk mengeluarkan kelebihan air agar areal tanamn kelapa sawit tidak tergenang dengan cara mengangkat/ menggali tanah yang menutup parit. Pada areal TBM parit dibuat dengan lebar 1 m dengan kedalaman 1,5 meter. Pembuatan parit ini menggunakan tenaga borongan dengan target 100 m/hk.

    Kegiatan-kegiatan pemeliharaan TBM diatas pada saat praktek magang ini sudah dilaksanakan. Adapun kegiatan yang belum dilakukan adalah penunasan (tunas pasir) dan kastrasi. Karena tanaman pada masa TBM I belum membentuk bunga dan buah.

    4. Kegiatan di Areal Tanaman Menghasilkan ( TM )

    Kegiatan di areal TM dilaksanakan selama 1 minggu yaitu pada tanggal  23  Oktober – 10 Desember 2009. tempat kegiatan di areal TM difokuskan di areal kebun TM divisi III Wilayah Central. Jenis kegiatan di areal TM meliputi kegiatan sebagai berikut :

    1. Cabut Anak Kayu

    Kegiatan mencabut anak kayu / gulma di sekitar tanaman kelapa sawit, pasal pikul dan TPH, tujuan dari kegiatan ini untuk mencegah terjadinya persaingan dalam mengambil unsur hara di dalam tanah.

    1. Garuk Piringan

    Kegiatan membuang gulma atau sisa brondolan yang tertinggal di piringan, dengan menggunakan alat cangkul yang berbentuk seperti tangan manusia, piringan berfungsi sebagai tempat penyebaran pupuk, serta tempat jatuhnya brondolan, dan mempermudah pengangkutan buah ke TPH.

    1. Pemupukan

    emupukan pada tanaman kelapa sawit membutuhkan biaya yang cukup besar yaitu sekitar 40% – 60% dari total pemeliharaan. Oleh karena itu, agar tercapai hasil pemupukan yang optimal maka pupuk yang digunakan harus sesuai dengan rekomendasi yang telah ditetapkan.

    Jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk majemuk NPK Mg, dengan rotasi pemupukan dibagi menjadi 3 periode dalam waktu 1 tahun. Agar pupuk yang diberikan unsur hanya dapat diserap oleh tanaman secara maksimal maka perlu diperhatikan pengaplikasiannya sesuai dengan pengertian 4 tepat yaitu :

    –          Tepat Jenis                              :    Pupuk yang diberikan sesuai unsur hara yang diperlukan oleh tanaman.

    –          Tepat Dosis                             :    Jumlah pupuk yang diberikan sesuai dengan kebutuhan tanaman.

    –          Tepat Waktu dan Frekuensi    :    Pelaksanaan pemupukan harus sesuai jadwal yang telah ditetapkan

    –          Tepat Cara                               :    Penempatan pupuk harus sesuai dengan ketentuan sehingga penyerapan unsur hara akan maksimal.

    Ada dua cara aplikasi pupuk yaitu sistem pocket (benam) dan sistem tebar. Sistem benam dengan membuat 3 (tiga) lubang pada piringan dengan jarak 21 cm dari pangkal batang tanaman  kelapa sawit, dosis pupuk sebanyak 3 kg/pohon kemudian dibagi dan dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibuat dan setelah itu lubang ditutup kembali. Sistem tebar cukup hanya dengan menebarkan pupuk di dalam piringan pokok.

    Menentukan jenis pupuk yang akan diberikan pada tanaman kelapa sawit menghasilkan dengan melakukan penelitian seperti analisa daun, analisa tanah dengan memperhatikan kondisi alam yang dilakukan oleh dengan dosis pada setiap blok dan pemakaian pupuk sesuai dengan hasil dari analisa tanah dan daun.

    1. Kegiatan Pemotongan Pelepah Kelapa Sawit

    Kegiatan ini adalah memangkas pelepah tanaman kelapa sawit yang menaungi daerah jalan. Tujuannya supaya jalan tidak terlindungi oleh cabang-cabang kelapa sawit, sehingga cahaya matahari dapat menembus langsung ke bagian badan jalan, dan pada musim hujan kelembaban tanah cepat diatasi.

    1. Pembuatan Rorak

    Rorak dibuat untuk menampung limpahan air dari jalan dalam kebun dan daerah miring, sehingga partikel tanah yang dihasilkan dari proses erosi dapat ditampung dalam rorak. Fungsinya meningkatkan cadangan air tanah jika terjadi kemarau atau curah hujan rendah. Pembuatan rorak bisa juga disebut usaha konservasi tanah dan air.

    1. Penunasan

    Penunasan merupakan kegiatan memangkas pelepah yang tidak aktif  lagi untuk fotosintesis. Selain itu juga untuk menjaga keseimbangan fisiologi tanaman dan sanitasi serta mempermudah pemanenan. Alat yang digunakan adalah egrek sedangkan kapak digunakan untuk memotong pelepah yang telah dipangkas. Dalam penunasan perlu diperhatikan jumlah pelepah yang harus ditinggalkan di setiap pohon, guna terpeliharanya jumlah kanopi pelepah yang sangat berpengaruh terhadap kegiatan fotosintesis pada tanaman, sebagaimana tabel berikut :

    Tabel 11. Klasifikasi Jumlah pelepah yang tersisa pada penunasan

    No

    Umur Tanaman

    Jumlah Pelepah / Pohon

    Pusingan

    1

    < 5 tahun

    57 – 64

    6 bulan sekali

    2

    5 – 10 tahun

    49 – 56

    6 bulan sekali

    3

    > 10 tahun

    42 – 48

    6 bulan sekali

            Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

    Pelepah dipotong mepet dengan membentuk tapak kuda keluar. Pelepah yang telah dipangkas, dipotong menjadi 2 – 3 bagian dan disusun di gawangan mati sejajar dengan pasar pikul. Pada daerah miring pelepah disusun searah dengan kontur sehingga berfungsi sebagai penahan erosi.

    1. Aplikasi Pengendalian Hama Tikus Dengan Klerat

    Kegiatan ini tujuannya untuk meminimalkan serangan hama tikus diperkebunan bukan membasmi hama tikus, cara yang digunakan dengan menggunakan rodentisida yang bermerek dagang klerat (campuran lilin, ika, beras busuk, dan warfarin/racun). Teknis pemasangan klerat, memasang klerat harus perjaringan agar memudahkan pengontrolan pekerjaan karyawan, tiap-tiap satu pohon diletakkan di pangkal batang pohon satu biji karet.

    1. Aplikasi Tankos

    Aplikasi tandan kosong dilakukan pada areal datarang tinggi, bukit, atau teras dan disusun melingkar pada piringan pohon sebanyak tujuh lingkaran dan tankos jangan menyentuh batang kelapa sawit (kurang lebih 30 cm dari batang) dengan tujuan agar gulam tidak dapat tumbuh dan menambah bahan organik tanah.

    1. Herbisida Piringan

    Pengendalian gulma di sekitar piringan tanaman kelapa sawit yang menggunakan paraquat ( gromoxon 50 cc dan Ally 2,5 gr dalam satu liter air). Kegiatan di areal TM ini dibimbing langsung oleh Kepala Estate Manager, Kepala Devisi dan Kepala Bagian Lapangan masing-masing divisi yaitu Divisi III A.

    5. Kegiatan Panen

    Panen adalah merupakan suatu kegiatan memotong tandan buah yang matang dan mengutip brondolan kemudian selanjutnya di kumpul ke tempat pengumpulan jasil (TPH).

                Syarat-syarat  buah sawit siap dipanen harus sesuai dengan kriteria matang panen. Tanaman kelapa sawit dianggap telah dapat menghasilkan pada kira-kira tahun ke-3 sampai ke-8 setelah di tanam, sedangkan buah kelapa sawit biasanya sudah dianggap matang kira-kira 6 bulan setelah penyerbukan. Proses pemasakan tandan sawit mula-mula dapat dilihat dari perubahan warna, adapun perubahan warnanya adalah: mula-mula hijau oleh karena zat klorofil kemudian berubah menjadi merah atau orange oleh karena pengaruh zat warna betacaroten setelah warna ini terakhir tercapai, maka minyak sawit yang terkandung dalam daging buah telah mencapai maksimalnya dan buah sawit akan lepas dari tangkai tandanya dan disebut membrondol. Sudah merupakan kelaziman bahwa kriteria kematangan buah dinyatakan jumlah brondolan yang sudah jatuh. Buah yang telah matang akan terlepas dari tandannya (membrondol) kondisi ini merupakan tanda kematangan buah. Semakin buah yang banyak membrondol berati buah semakin matang.

    Sebelum kegiatan pemanen dilakukan terlebih dahulu mempersiapkan semua peralatan yang di gunakan. Alat yang di gunakan dalam pemanenan buah sawit adalah sebagai berikut:

    Tabel 12. Alat-alat Panen

    Umur

    (Tahun)

    Tanaman

    Menghasilkan

    Tinggi Batang

    (m)

    Alat Panen

    3-4

    5-8

    >8

    1

    2

    3

    0-2

    2-4

    5-12

    Dodos

    Dodos

    Egrek

     

      Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

    Sebelum kegiatan pemanenan di lakukan pihak perusahaan PT Prakarsa Tani Sejati Kecamatan Sungai Laur mengutuskan pengawas dan kerani untuk mengadakan sensus buah dengan tujuan, untuk mengetahui jumlah buah yang layak atau tidak layaknya yang di panen. Selain itu juga, sensus buah bertujuan untuk mempermudah perhitungan dalam satu blok/jaringan.

    Umur tanaman kelapa sawit menghasilkan di kebun PT Prakarsa Tani Sejati Kecamatan Sungai Laur saat ini telah mencapai 16 tahun dan tingginya mencapai 8–12 m maka alat yang di gunakan adalah egrek sebagai alat untuk alat pemanen. Sistem panen yang di gunakan adalah ancak giring dan ancak tetap. Kedua system ini masing-masin mempunyai kelebihan dan kekurangan yaitu ancak giring keuntunganya, pekerjaan relatif ringan dan kerugiannya adalah adanya pekerjaan kurang tanggung  jawab dari si pemanen yang tidak terjangkau sehingga pohon-pohon sawit  tidak di panen karena mengejar target. Keuntungan dari ancak tetap adalah mudah dalam pengontrolan jika ada TBS yang tidak di panen. Kerugiannya pekerjaan relatif lambat, pekerjaan cukup berat karena satu orang menanggung sejumlah jaringan panen masing-masing.

    Kegiatan pemanenan buah sawit, harus selalu sesuai dengan rotasi (pusingan). Rotasi (pusingan) yang di maksud, adalah pergiliran waktu panen. Waktu yang di perlukan di antaranya panen terakhir sampai panen berikutnya pada tempat yang sama. Rotasi (pusingan) tergantung pada cepatnya matang buah. Pada panen permulaan biasanya 15 hari, kemudian 10 hari dan terakhir 7 hari. Dalam hal pusingan, digunakan simbol panen  5⁄7 yang berarti dalam satu minggu hanyadilakukan panen sebanyak 5 kali, sedangkan sisawaktu 2 hari difokuskan pada kegiatan pemeliharaan pelepah. Cara panen yang biasa di lakukan di PT Prakarsa Tani Sejati Kecamatan Sungai Laur sesuai dengan umur dan ketinggian tanaman. Jika ketinggian pohon mencapai 8-12m  maka pemanenan di lakukan dengan menggunakkan alat seperti egrek sedangkan untuk usia tanaman yang berumur 3-5 tahun cukupmenggunakan dodos.

    Cara pemanenan buah sawit adalah dengan memotong pelepah yang menyangga buah yang telah matang. Setelah buah jatuh ke tanah, dilakukan pengangkutan dan membuang pelepah keareal gawang mati. Gawang mati adalah tempat penumpukan pelepah atau sampah. Setelah pemanenan selesai dalam satu jalur, maka buah yang di panen di angkut menggunakan keranjang, gancu, dan arko, untuk membawa buah ke tempat pengumpulan hasil (TPH), setelah buah terangkat semua, di lakukan pemotongan tangkai buah yang panjang supaya tidak ada lagi greeding atau pemotongan timbangan TBS ketika sampai dipabrik.

    Tenaga kerja pemanen di PT. Prakarsa Tani Sejati Kecamatan Sungai Laur terdirir dari pemanen TBS dan pengutipan brondolan. Pemanen TBS terdiri dari dua tenaga kerja yaitu pemanen TBS khusus untuk TBS umum, sedangkan yang mengutip brondolan hanya mengutip brondolan saja. Tujuannya adalah untuk mempermudah dalam pemanenan TBS dan brondolan tidak tertinggal di lapangan (di piringan) . buah yang di simpan di TPH di beri tanda atau nomor pemanen sehingga mudah dalam perhitungan dan pengecekan ulang jika terjadi kesalahan dalam pengecekan buah.

    Tandan buah yang telah di panen secepat mungkin di angkut ke pabrik kelapa sawit (PKS) guna untuk di lakukan pengolahan selanjutnya. Buah yang telah di panen harus segera di angkut dan tidak boleh di inapkan (restan) di kebun karena dapat menyebabkan meningkatnya asam bebas (ALB) dalam minyak, sehingga mutu lemak menjadi lemah. Oleh karena itu semakin cepat TBS  di angkut dan di olah maka semakin baik mutu minyak yang di hasilkan.

    Tabel 13. Kriteria Kematangan Panen

    Fraksi

    istilah

    Criteria

    00

    Mentah sekali Brondolan o%

    0

    Mentah Brondolan 1-12,5%

    (buah luar membrondolan)

    1

    Kurang matang Brondolan 12,5-25%

    (permukaan luar membrondol)

    2

    Matang I Brondolan 25-50%

    (permukaan luar membrondol)

    3

    Matang II Brondolan 50-75%

    (permukaan luar membrondol)

    4

    Lewat matang Brondolan 75-100%

    (permukaan luar membrondol)

    Sumber, PT Prakarsa Tani Sejati 2009

    Berdasarkan table penggolongan kematang buah yang siap di panen adalah fraksi 1,2, dan 3. Fraksi ini di tetapkan karena fraksi ini memiliki mutu minyak yang baik dengan tingkat minyak ekstrasi yang optimal.

    5. Kegiatan Di Parik Kelapa Sawit (PKS)

                Kegiatan yang di lakukan di pabrik pengolahan kelapa sawit itu di antaranya adalah :

    1. Stasiun jembatan timbang

    Tandan buah yang  telah di panen di angkut ke pabrik  minyak kelapa  sawit(PMKS) untuk di olah kemudian di timbang terlebih dahulu di jembatan penimbangan agar di ketahui berapa berat jenjang rata-rata(BJR)pertandan yang di angkut ke pabrik.Di stasiun jembatan penimbangan ini aktifitas yang dilakukanantra lain:

    1)       Penimbangan tandan buah segar (TBS)

    2)       Penimbangan tandan kosong (TANKOS)

    3)       Penimbangan crude palm oil (CPO)

    4)       Penimbangan kernel

    Tabel 14. Pengolahan Fraksi TBS Yang Di Terima Di Pabrik

    Fraksi

    00

    0

    I

    II

    III

    IV

    V

    % Tandan

    0

    0

    23

    35

    30

    10

    2

          Sumber, PT Prakarsa Tani Sejati 2009

    Penimbangan di lakukan dua tahap,untuk tandan buah segar di timbang bersamaan dengan kendaraan yang mengangkutnya, setelah itu buah di masukan ke loding ramp dan kendaraan ditimbang kembali.

    1. Stasiun Loding ramp

    Tempat  ini merupakan untuk menampung tandan buah kelapa sawit dari kebun sebelum dilakukan pemprosesan di pabrik.

    1. Perebusan ( sterilizer)

    Tandan buah segar yang  telang ditimbang dimasukan kedalam lori melewati  stadium Loading Ramp sebelum dimasukan kelori perebusan. Setelah buah masuk ke lori kemudian dimasukan kedalam sterilizer dengan kapasitas tiap lori adalah 3-4 ton. Proses perebusan ini dimaksudkan bertujuan;

    1)                  Agar buah mudah dilepaskan tandannya

    2)                  Membunuh enzim penstimulir pembentukan asam lemak bebas, agar daging buah menjadi lunak

    3)                  Memudahkan  terlepasnya inti dari cangkangnya ( shell ),

    4)                  Menambah kelembaban didalam daging buah sehingga minyak lebih mudah dikeluarkan (dipisahkan), dan

    5)                  Mengkoagulasi protein sehingga proses pemurnian minyak lebih mudah.

    Proses ini berlangsung selama 90-100 menit dengan menggunakan uap air yang berkekuatan 2,8-3,5 bar. Tandan buah yang sudah direbus dimasukan dalam treasure dengan menggunakan Holisting Crane.

    1. Perontokan buah dari tandan

    Setelah kegiatan di perebusan tersebut, pada treasure ( alat untuk memisahkan buah dari tandan )buah yang masih melekat dari tandannya akan dipisahkan dengan menggunakan prinsip bantingan sehingga buah tersebut lepas. Buah yang telah terlepas diangkut dengan menggunakan stasiun Kompeyor menuju ke Ketel pengaduan atau mesin pelumat (Digester).

    1. Pengolahan minyak dari daging buah

    Buah yang diangkut ke digester dimaksudkan agar buah tersebut terlepas dari bijinya. Dalam proses ini digunakan uap air yang temperaturnya selalu dijaga agar stabil. Setelah proses pengadukan selesai kemudian  dimasukan kedalam alat pengepresan ( Scewpress ) agar minyak keluar dari cangkang dan sabut. Untuk proses pengepresan diperlukan tambahan panas antara 10-15%, sehingga akan diperolah minyak kasar dan ampas serta biji.

    Sebelum minyak kasar ditampung pada Crude Palm Oil Tank, harus dilakuakan pemisahan kandungan selain dari minyak sawit  pada santrap yang kemudian dilakukan penyaringan ( Vibrating Screen). Ampas dan biji yang mengandung minyak(Oil Sludge) dikirim kepemisahan ampas dan biji ( Depericarper ). Dalam prose penyaringan kasar perlu ditamabahkan air panas untuk melancarkan penyaringan minyak kasar. Minyak kasar kemudian dipompakan kedalam Decenter guna memisahkan Solid dan Liquide. Fase yang berupa minyak dan masa jenis ringan ditampung di Continous Setiling Tank, minyak dialirkan ke Oil Tank, fase berat yang terdiri dari air dan padatan terlarut ditampung kedalam Sludge Tank.

    1. Proses pemisahan minyak

    Minyak dari Oil Tank dialirkan  kedalam Oil Purifer untuk memisahkan kotoran atau solid yang mengandung kadar air. Selanjutnya minyak dialirkan ke vakum Drier untuk memisahkan air sampai pada batas standar. Melalui sarvo Balance minyak sawit dipompakan ketengki timbun ( Oil Storange Tank ).

    1. Proses pengolahan inti sawit

    Ampas kelapa yang terdiri dari bijikelapa dan sabut  dimasukan ke Depericarper melalui Cake Brake Conveyor. Ditempat ini ampas  dipanaskan dengan uap air agar kandungan air dapat diperkecil, sehingga  press cuke terurai dan memudahkan proses pemisahan sabut dan biji. Pemisahan ini terjadi akibat dari perbedaan berat dan gaya isap Blower. Hasil dari pengepresan berupa biji (nui) dan serat (fiber) didistribusikan dengan Cake Breaker Conveyor ( CBC ) untuk memisahkan biji dan serat dengan system hisapan Blower. Fiber  yang terhisap akan masuk ke Fibrecycone melalui air lock dan jatuh kedalam Conveyor untuk didistribusikan ke stasiun Boiler sebagai bahan bakar.

    Biji yang tidak terhisap oleh Blower  masuk dan di polis di Depericaper ( polising drum ) untuk memisahkan kotoran dan sisa fibre yang masih melekat dan tercampur pada biji. Pada Depericarver ini terdapat lubang untuk meloloskan biji yang akan diolah lebih lanjut, sedangkan yang tidak terpolis akan keluar melalui kisi-kisi pada ujung drum. Selanjutnya biji akan lolos di Depericarver melalui We Nut Elevator dimasukan ke dalam Nut Grading Drum untuk disortirr berdasarkan ukurannya (kecilo, sedang dan besar). Sebelum bijindi pecahkan dengan Ripple mill, sebelumnya biji di tampung di 3 (tiga) buah  Nut silo dengan masing-masing ukuranya.Agar biji  tidak sekaligus masuk ke Rippler Mill, maka kecepatan tumpahnya biji kedalam Rippler Mill harus di atur, dan apa bila tidak di atur maka Rippler Mill akan mengalami trip (ketidak mampuan satunalat untuk menjalankan fungsinya).

    Persortiran berdasarkan ukuran ini dimaksudkan agar ukuran biji disesuaikan dengan spesifikasi Rippler Mill agar dapat dipecahkan. Setelah biji dipecahkan, maka kernel dengan cangkang melalui Crakced Mixture Conveyor dan elevator di distribusikan ke Fractional Sunction Blower 1 (fractional colum 1) untuk di pisahkan antara kernel dan shell dengan menggunakan system hisapan blower, menuju air lock untuk ditanpung didalam shell hopper dan selanjutnya dengan Conveyor di distribusikan ke stasiun boiler sebagai bahan bakar.

    Proses pemisahan Kernel dan cangkang di lakukan 2 kali dengan menggunakan Fraktional Sunction Blower II (fractional colum II) dan selanjutnya dilakukan proses yang sama dengan fractional coloum I, dan pada pemisahan dengan fractional coloum ini tidak semua cangkang yang terpisah maka di lakukan proses selanjutnya yaitu Clay Bath. Pada Clay Bath ini kernel dan cangkang dipisahkan berdasarkan perbedaan berat jenis dengan menggunakan media berupa larutan kaolin (calium carbonat), untuk mempermudah pemisahan cangkang dan kernel (berdasarkan berat jenis), dengan larutan ini maka kernel akan mengapung sedangkan cangkang (shell) mengendap ke bawah, selanjutnya dipisahkan. Kernel langsung di distribusikan ke dalam kernel silo dengan temperatur yang berperiasi (tiga tingkat an suhu), atas 60-°C, tengah 70-80%°C dan bawah 50-60%°C.

    Setelah ditampung dalam Kernel silo maka Kernel di distribusikan dengan dorongan angin (fam) menuju ball Silo atau penimbunan akhir. Sedangkan shello yang berasal dari Fraktion Coloum I,Fraktion coloum II dan Claybath yang ditanpung dalam shell hopper selanjutnya juga akan di distribusikan ke stasiun boyler dengan menggunakan conveyor.

    6. Kegiatan di Kantor

                Selain memahami dan menguasai kegiatan dilapangan, mahasiswa juga diarahkan pada kegiatan kantor sebagai pedoman dan pembelajaran administrasi serta manajemen kebun yang dibagi menjadi dua kegiatan, yaitu :

    1. Kegiatan dikantor Divisi III PT. Prakarsa Tani Sejati

    Kegiatan ini meliputi latihan administrasi kantor, pengumpulan data dan literatur yang diperlukan untuk menyusun laporan praktek kerja lapangan dan kegiatan pendalaman materi serta pelaksanaan ujian tertulis. Kegiatan ini dibimbing oleh kepala bagian administrasi kantor, bahan materi yang diberikan meliputi materi yang terkait langsung dilapangan.

    1. Kegiatan dikantor Kebun Central PT. Prakarsa Tani Sejati

    Kegiatan ini meliputi pemberian materi mengenai budidaya tanaman kelapa sawit, akutansi dan manajemen kebun. Kegiatan ini berkaitan langsung dengan perusahaan perkebunan PT. PT. Prakarsa Tani Sejati.

    BAB IV

    PEMBAHASAN

    A. Perencanaan dan Manajemen Pembibitan yang Kurang Tepat

                Perkebunan kelapa sawit merupakan jenis usaha jangka panjang. Kelapa sawit ditanam saat ini baru akan dipanen hasilnya beberapa tahun kemudian. Oleh karena itu, aspek-aspek manajemen dan teknik budidaya merupakan kunci keberhasilan utama dalam pengembangan kelapa sawit guna mewujudkan visi dan misi perusahaan.

                Pembibitan adalah salah satu kegiatan utama yang memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas dan produktivitas tanaman. Jika kegiatan pembibitan berjalan dengan baik, maka kegiatan berikutnya akan berjalan dengan baik pula. Namun jika kegiatan di pembibitan mengalami masalah, maka masalah itu akan berdampak buruk bagi kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit selanjutnya. Akan tetapi dalam pelaksanaanya dilapangan masih dijumpai beberapa masalah yang bisa berdampak buruk bagi keberlangsungan perusahaan itu sendiri, yaitu :

    1. Terlambatnya pembukaan lahan diareal pengembangan

    Terhambatnya pembukaan areal penanaman yang dilakasanakan oleh pengembang menyebabkan bibit yang berada diareal tanaman pembibitan tidak bisa didistribusikan dengan baik kelapangan yang akhirnya menyebabkan masalah baru diareal pembibitan. Masalah- masalah yang timbul tersebut diantaranya adalah :

    1. Serangan Penyakit

    Serangan hama penyakit diakibatkan oleh tingginya tingkat kelembaban diareal pembibitan karena jarak atau kerapatan tanam yang tidak sesuai dengan umur tanaman. Sehingga penyakit mudah menginfeksi baik pada batang ataupun daun yang terlalu rimbun. Jenis penyakit yang umumnya ditemukan seperti,

    • Ø  Drechslera halodes

    Mula-mula timbul pada pupus atau daun pertama yang baru saja membuka, terbentuk becak kecil hijau pucat, lalu menjadi hijau jernih yang dikelilingi halo lebar berwarna hijau kekuningan dan tidak berbatas tegas. Ditengah bercak dapat dilihat satu titik berwarna coklat. Bercak-bercak ini dapat bersatu dengan bentuk tidak teratur, berwarna hitam kelabu.

    • Helminthosporium
      Cendawan ini menunjukkan gejala-gejala yang berbeda. Kadang-kadang menghasilkan bercak kecil, berwarna coklat, tidak disertai dengan klorosis, dan bercak tidak membesar. Bagaimanapun dia dapat juga menyebabkan bercak memanjang.
    • Botryodiplodia
      Bercak daun dimulai dari ujung daun. Becak-becak kecil dan transparan dan mudah dimonitor dengan penembusan sinar matahari. Bagian tengah dari bercak menjadi kelabu atau coklat gelap kertas dengan banyak titik hitam. mewakili tubuh buah (picnidia) dari jamur tersebut.

    Usaha menekan terjadinya intensitas serangan yang lebih berat akibat semua penyakit tersebut,  perlu diambil langkah-langkah pengendalian semakimal mungkin dengan cara melakukan pengguntingan atau pemotongan bagian tanaman yang terkena penyakit, mengisolasi atau memusnahkan tanaman yang terkena penyakit, serta memisahkan areal tanaman prenursary dan mainursary dengan jarak yang berjauhan serta penjarangan atau penambahan luas areal mainnursary.  Adapun langkah-langkah yang telah dilakukan oleh pihak perusahaan adalah melakukan penyemprotan dengan fungisida Dithane dan Daconil 0.2% ( 2 gr / liter air) dan fungisida Banlate 0.2% ( 2 gr / liter air).

    Ketiga fungisida diatas dipakai secara bergantian dengan interval satu minggu pada daun tanaman selama satu bulan. Jika serangan yang terjadi pada daun muda atau daun yang belum membuka  sudah menurun, maka interval penyemprotan dapat diturunkan menjadi 10 hari sekali. Pemberian fungisida harus dihentikan jika daun tombak atau daun yang baru membuka sudah bebas dari pathogen-patogen. Keberhasilan pelaksanaan pengendalian penyakit ini biasanya tergantung dari intensitas serangan atau daur penyakit yang menjangkit tanaman. 

     

    1. Serangan Hama

    Tanaman yang telah berumur lebih dari 12 bulan lebih rentan terkena serangan hama dikarenakan susahnya pengawasan dan pengontrolan terhadap area tanaman akibat populasi dan jarak tanam yang tidak sesuai dengan usia tanaman. Hama yang biasanya menyerang tanaman diareal pembibitan yaitu :

    1)      Tikus

    Tikus biasanya menyerang tanaman pada malam hari, biasanya tikus lebih menyukai tanaman yang masih berada diareal prenursary dengan cara memakan dan merusak biji bagian bawah anak bibit kelapa sawit yang baru tumbuh, keberadaan tikus diareal mainursary biasanya untuk menambah populasi mereka dengan membuat sarang dan berkembang biak diantara tanaman yang rimbun dan bersemak. Hal ini perrlu mendapat perhatian yang serius, karena jika populasi mereka semakin banyak maka intensitas serangan akan semakin meningkat. Cara mengendalikan hama tikus yaitu dengan cara manual yaitu membersihkan areal pembibitan dari gulma dan melakukan pemangkasan pada pelepah yang terlalu rimbun. Adapun cara selanjutnya adalah dengan memasang rodentisida jenis klerat pada setiap sudut areal pembibitan.

    2)      Landak

    Landak biasanya menyerang bagian bawah tanaman yang masih muda yaitu dengan cara memakan umbut tanaman. Cara pengendalian sama halnya seperti pengendalian hama tikus yaitu dengan memasang rodentisida jenis klerat.

    3)      Babi

    Selain memakan umbut tanaman, babi juga merusak tanaman dengan cara merusak dan merobohkan batang tanaman. Pengendalian hama babi dilakukan dengan menangkap dan memasang penjebak serta membunuhnya. Cara lainnya adalah dengan cara memasang pagar kawat yang mengelilingi areal pembibitan.

    1. Etiolasi

    Etiolasi diakibatkan oleh rapatnya populasi tanaman sehingga mengurangi intenitas penyinaran matahari pada tanaman. Tanaman tumbuh memanjang tetapi memiliki perakaran yang pendek. Tanaman yang mengalami etiolasi sudah tidak mungkin ditanam dilapangan karena akan mengalami tingkat stress yang sangat tinggi akibat perubahan suhu yang dratis.

    1. Bertambahnya anggaran perawatan

    Kegiatan pemeliharaan di areal pembibitan tidak terlepas dari peran dan fungsi karyawan tenaga borongan maupun karyawan tenaga harian. Jenis-jenis perawatan yang dilakukan diareal pembibitan khususnya areal mainursary adalah pengendalian gulma, tarik kacangan, pemangkaan, pemupukan dan penyiraman. Perawatan terhadap tanaman yang mengalami keterlambatan penditribusian kelapangan tetap dilaksanakan sebagaimana biasanya. Hal ini untuk menekan terjadinya kerugian perusahaan akibat kegagalan target penanaman.

    Salah satu yang menjadikan alasan kuat terhambatnya pembukaan lahan untuk areal penanaman adalah kurangnya alat-alat berat yang dimiliki perusahaan ataupun kerusakan yang cenderung terjadi pada alat berat ketika melaksanakan kegiatan pengembangan lahan perkebunan.

    2. Keadaan Alam atau cuaca 

                Keadaan alam atau cuaca juga merupakan faktor penghambat pendistribusian bibit keareal penanaman, iklim dilokasi perkebunan PT. Prakarsa Tani Sejati termasuk iklim tropis. Hal ini ditandai dengan tingginya curah hujan pertahun pada lokasi tersebut, yaitu rata-rata 3200 mm/th. Pembagian hujan setiap bulannya >150 mm perbulan. Jumlah hari hujan rata- rata perbulan 16 hari. Umumnya musim hujan terjadi pada bulan oktober-april. Bulan dengan curah hujan yang sedikit terjadi pada bulan mei-septermber.

    1. Curah hujan tinggi

    Curah hujan yang tinggi bisa mengakibatkan areal yang akan ditanami mengalami penggenangan air, sehingga akan menyulitkan penggalian lubang tanam sehingga proses penanaman terhambat dan bibit yang akan didistribusikan kelapangan tertahan diarea pembibitan . Lahan yang mengalami penggenangan air adalah lahan yang memiliki topografi rendah seperti rawa-rawa yang berada dibawah lereng dan bukit. Tanaman yang ditanam diareal bertopografi rendah harus memperhatikan tingkat curah hujan didaerah tersebut. Tanaman yang yang baru dipindahkan kelahan akan mengalami kematian jika intensitas genangan bertahan atau bahkan meningkat sehingga menyebabkan pembusukan pada akar tanaman.

    1. Kekeringan

    Perencanaan pembibitan yang tidak tepat juga bisa mengakibatkan jadwal penanaman yang tidak sesuai dengan kondisi iklim dan cuaca seperti kekeringan. Kegiatan penanaman kelapa sawit biasanya dilakukan pada awal musim hujan atau akan berakhirnya musim kemarau. Jika usia bibit telah berakhir diareal pembibitan sedangkan musim sedang mengalami kemarau maka pendistribusian bibit kelapangan akan tertunda sementara kegiatan pemeliharaan diareal pembibitan akan terus berjalan.

    3. Kerusakan Jalan

                Kerusakan jalan juga merupakan salah satu masalah yang dapat menghambat kegiatan penyaluran bibit kelapangan, adapun penyebab kerusakan jalan adalah akibat keadaan cuaca yang estrim seperti hujan yang menyebabkan material jalan terbawa arus air dan mengalami pengikisan, kurangnya pemeliharaan dan terlambatnya perbaikan akibat rusaknya alat berat. Cara  mengatasi kerusakan jalan yang dapat mengganggu kegiatan pendistribusian bibit kelapangan antara lain :

    1. Melakukan pemeliharaan ringan seperti penimbunan jalan yang berlubang, perataan dan pengerasan pada tempat-tempat tertentu.
    2. Melakukan pembuatan jalan alternatif selama jalan utama dalam perbaikan atau masih dalam pemeliharaan.

    4. Kegiatan Pemeliharaan yang Kurang Tepat Di areal Pemibitan

                Kegiatan pemeliharaan tanaman muda di areal pembibitan terdiri dari berbagai jenis kegiatan, seperti pengendalian hama penyakit, pengendalian gulma, pemupukan, penyiraman, pembumbunan (toping) dan pengawasan serta penjagaan areal pembibitan. Kegiatan tersebut terbagi menjadi dua item pekerjaan menurut tempat pelaksanaannya yaitu kegiatan pemeliharaan diareal prenursary dan kegiatan pemeiharaan diareal mainursary.  Perbedaannya adalah cara atau penerapannya di kedua areal tersebut.

    Pemeliharaan tanaman kelapa sawit diareal pembibitan  merupakan kunci utama keberhasilah budidaya tanaman kelapa sawit diareal TBM dan TM. Oleh karena itu, pemeliharaan harus dilakukan secara intensif dengan menajemen dan pengawasan yang tepat. Pengawasan kerja, teknik atau cara pemeliharaan, suplai biaya, tenaga kerja, ketersediaan bahan dan alat yang mendukung dan memenuhi standar serta kriteria yang telah ditentukan. Fakta dilapangan masih ditemukannya praktek atau cara pemeliharaan yang tidak sesuai dengan apa yang ditentukan, seperti :

    1. Aplikasi Pupuk

    Masih adanya kegiatan pemupukan pada waktu yang tidak tepat yaitu diatas jam 10- jam 3 siang oleh pekerja harian. Hal ini sangat tidak efisien karena pupuk yang diterapkan akan mengalami penguapan oleh sinar matahari dan sedikit sekali unsur hara yang bisa diserap tanaman sehingga bisa menyebabkan terjadinya gejala kekurangan unsur hara pada tanaman. Ciri-ciri tanaman yang mengalami gejala kekurangan unsur hara adalah, daun agak kekuning-kuningan akibat kekurangan nitrogen, diameter batang kecil dan dan pertumbuhan lama akibat kekurangan Phosfor, defisiensi kalium (Kcl) pada tanaman muda memang agak sulit dikenali akan tetapi terkadang terjadi gejala bintik- bintik hitam diantara ruas daun.

    Selain itu masih ada pupuk yang digunakan sudah mengalami perubahan bentuk karena  pupuk yang akan diaplikasikan ditumpuk diareal lapangan terbuka dan hanya ditutup oleh terpal. Akibatnya pupuk yang diaplikasikan telah mencair dan mengalami penurunan kualitas hara seperti Nitrogen (N), Phospor (P) dan Kalium (Kcl).

    Cara pemupukan yang efektif untuk tanaman berusia diatas tiga bulan adalah dengan menaburkan pupuk mengelilingi batang tanaman, waktu yang baik untuk kegiatan pemupukan adalah pagi hari dan perlu dilakukan penyiraman pada sore harinya dengan intensitas rendah.

    1. Penyemprotan herbisida

    Herbisida merupakan senyawa kimia yang mampu menekan pertumbuhan gulma di areal pembibitan. Menurut aplikasinya, herbisida terbagi menjadi dua yaitu herbisida pratumbuh (preemergence herbicide) dan herbisida purna tumbuh (postemergence herbicide). Cara yang kedua digunakan pada areal pembibitan di mainursary dan jenis yang dipakai adalah adalah gramoxon dengan bahan aktif Paraquat diklorida yang merupakan herbisida bersifat kontak, non selektif dengan daya kerja yang cukup cepat (Syngenta, 2002). Oleh karena itu penggunaan herbisida ini harus dilakukan dengan alat semprot yang selektif seperti pompa gendong yang dilengkapi knap- sack sprayer CP-15 dengan nozel hijau agar pancaran air merata kebawah. Fakta dilapangan berbeda jauh dengan apa yang telah direkomendasikan, yaitu masih adanya penggunaan alat semprot dengan menggunakan nozel bulat dan penggunaan herbisida tanpa dosis dan konsentrasi. Hal ini sangat membahayakan tanaman, terbukti masih adanya tanaman yang mati akibat terkena percikan dan hembusan herbisida atau tanaman yang mengalami keterlambatan pertumbuhan karena mengalami kerusakan pada daun.

    Tabel 15.

    Srandar Alat Semprot yang digunakan di areal Pembibitan

    Pengaturan

    Knapsack

    CDA

    Tipe Nozzle AN 1.0 Herbi blue
    Tekanan Rendah n/a
    Ketinggian 0,4 0,4
    Lebar 1 1,2
    Kecepatan Alir 1,2/detik 1,7 ml/detik
    Kecepatan Berjalan 1 m/detik 1 m/detik

    1. Pembumbunan ( toping)

    Pembumbunan dilakukan untuk menambah kembali debit tanah yang menurun didalam poly bag tanaman. Tanah yang digunakan adalah tanah top soil yang masih banyak mengandung humus untuk menambah kesuburan tanaman. Akan tetapi pemberian tanah yang terlalu banyak pada poly bag tanaman menyebabkan masalah baru yaitu sulitnya melakukan kegiatan pemupukan. Akibatnya pupuk yang diaplikasikan pada tanaman tidak merata dan terbuang sia-sia.

    1. Penyiraman

    Penyiraman tanaman diareal pembibitan dilakukan pada pagi dan sore hari dengan lama 2 jam setiap penyiraman. Instalasi yang digunakan adalah mesin robin dengan vipa water pam yang dilengkapi sprinkler sebagai penyiram. Air yang digunakan berasal dari sungai dan penyiraman tergantung kepada kapasitas dan debit air sungai tersebut.

    Tabel 16. Kebutuhan air menurut umur bibit

    No

    Umur Bibit (Bulan)

    Kebutuhan air/hari

    1

    0-2

    0,6 lt

    2

    2-4

    0,7 lt

    3

    4-6

    1,0 lt

    4

    >6

    1,5 lt

    Musim kemarau adalah kendala terbesar bagi pemeliharaan tanaman di areal pembibitan debit air yang sangat menurun menyulitkan kegiatan penyiraman sehingga waktu dan intensitas penyiraman dikurangi dan mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat. Menampung adalah solusi terbaik untuk menjaga cadangan air untuk kegiatan penyiraman, akan tetapi hanya kecil sekali yang bisa terlaksana berhubung anggaran yang diperlukan tidaklah sedikit.

    B. Manajemen Sumberdaya Manusia yang masih Rendah dan Kinerja Karyawan yang Kurang Efektif.

     

    1. Manajemen Sumber daya Manusia yang Masih Rendah

    Manajemen Sumber daya Manusia adalah suatu proses menangani berbagai masalah pada ruang lingkup karyawan, pegawai, buruh, manajer dan tenaga kerja lainnya untuk dapat menunjang aktivitas perusahaan demi mencapai tujuan yang telah ditentukan

    Manajemen Sumber Daya Manusia diperlukan untuk meningkatkan efektivitas sumber daya manusia dalam perusahaan. Tujuannya adalah memberikan kepada perusahaa satuan kerja yang efektif. Untuk mencapai tujuan ini, manajemen personalia akan menunjukkan bagaimana seharusnya perusahaan mendapatkan, mengembangkan, menggunakan, mengevaluasi, dan memelihara karyawan dalam jumlah (kuantitas) dan tipe (kualitas) yang tepat.

    Tenaga kerja yang bekerja pada perusahaan harus menguasai pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya. Untuk itu diperlukan suatu pembekalan agar tenaga kerja yang ada dapat lebih menguasai dan ahli di bidangnya masing-masing serta meningkatkan kinerja yang ada. Struktur organisasi di areal pengembangan khususnya pada areal pembibitan terdiri dari :

    a)      Estate manager yang merancang, menangani, melakukan perencanaan teknis dilapangan, membuat dan menganalisa laporan-laporan yang meliputi anggaran pembiayaan diareal pembibitan dan bertanggung jawab terhadap Regional controller.

    b)      Kepala divisi yang bertugas mengawasi, melaksanakan dan memberikan laporan-laporan tentang kegiatan  yang telah direncanakan kepada estate manager.

    c)      Kepala bagian lapangan yang mengontrol aktivitas langsung dilapangan, memberikan laporan kepada kepala divisi dan memberikan arahan kepada pengawas lapangan tentang kegiatan teknis dilapangan.

    d)     Pengawas Lapangan  yang bertugas mengawasi semua kegiatan yang dilakukan oleh para pekerja harian lepas atau pekerja borongan dan membuat laporan mengenai kegiatan para pekerja dilapangan.

    e)      Pekerja harian lepas dan borongan yang berasal dari daerah setempat maupun yang berasal dari luar daerah yang dipekerjakan melalui system kontrak.

    UU RI No. 18 tahun 2004, pasal 4 menyebutkan bahwa perkebunan memiliki fungsi ekonomi, yaitu :

    1)      Peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat

    2)                              Penguatan struktur ekonomi wilayah dan nasional

    3)                              Membuat lapangan pekerjaan bagi masyarakat  setempat

    Menurut perda No. 19 tahun 2009 yang mengatur dan memberikan izin pembukaan lahan sawit yang berada dikabupaten ketapang, tercantum pasal yang mewajibkan bagi setiap perusahaan sawit untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat sekurang-kurangnya 35% dari semua jumlah karyawan perusahaan.

    Hal ini tentu saja menjadi tantangan berat bagi perusahaan karena tidak semua masyarakat yang melamar diperusahaan memenuhi syarat dan ketentuan yang diinginkan sedangkan masyarakat sangat berharap besar dapat ikut berpartisipasi dan bekerja di perkebunan yang ada diwilayah mereka dengan jabatan dan posisi yang strategis. Demi keberlangsungan kegiatan perusahaan, hal ini masih bisa ditolerir walaupun sebenarnya tidak memenuhi kriteria secara manajemen. Oleh karenanya, perusahaan harus menerima konsekwensinya seperti rendahnya kualitas hasil produksi akibat kurangnya pengetahuan dan manajemen perencanaan pemeliharaan tanaman yang kerap kali terjadi kekeliruan.

    Bidang pengembangan yang terdiri dari pembibitan dan pembukaan lahan memerlukan orang-orang yang memiliki basic ilmu pengetahuan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan pertanian khususnya perkebunan. Sayangnya, dari sekian jumlah karyawan hanya beberapa orang saja yang memenuhi kriteria tersebut sehingga kesalahan teknis dilapangan masih sering ditemukan, seperti kesalahan waktu pemupukan yang seharusnya dilakukan pada pagi hari  tetapi masih dilakukan pada siang hari tanpa adanya teguran dari kepala divisi, kepala bagian lapangan dan para pengawas.

    Training atau pelatihan dan pengkaderan pada karyawan setingkat kepala divisi, kepala bagian lapangan dan pengawas harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di perusahaan, tetapi sayangnya hal ini tidak pernah dilakukan oleh pihak perusahaan dengan alasan dana dan anggaran yang tidak memadai.

    1. Kinerja Karyawan yang Kurang Efektif.

    PT Prakarsa Tani Sejati yang berada jauh dan terisolir menyebabkan tumbuh suburnya kesenjangan sosial antara pekerja buruh dengan pihak manajemen perusahaan. Hubungan kerja yang cenderung eksploitatif menyebabkan etos kerja para karyawan kontrak semakin memburuk. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap kelancaran perusahaan dalam melakukan kegiatan dilapangan seperti kegiatan diareal pembibitan, Pengembangan lahan dan kegiatan teknis lainnya.

    Selain itu, pihak perusahaan masih  mempekerjakan BHL selama lebih dari 3 bulan berturut pada pekerjaan yang sama tanpa ada peningkatan status buruh (pengangkatan golongan). Pengangkatan golongan hanya berlaku bagi pihak manajemen perusahaan dan beberapa orang pengawas lapangan atau mandor saja. Pada beberapa kasus sering terjadi konflik, dimana buruh BHL menuntut kenaikan status dan kalau tidak dipenuhi mereka melakukan mogok kerja. Hal ini menyebabkan kegiatan pemeliharaan diareal pembibitan menjadi terhambat dan tanaman tidak terpelihara dengan baik. Jikalau mereka melakukan pekerjaan maka pekerjaan itu tidak dilakukan secara maksimal karena tidak dilakukan sepenuh hati. Dampaknya aka berujung kepada kegiatan pemeliharaan tanaman dipembibitan yang tidak baik dan sangat merugikan pihak perusahaan itu sendiri.

    BAB V

    PENUTUP

     

    A. Kesimpulan

    1. Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman komoditi yang mempunyai priorotas utama untuk dikembangkan di kalimantan barat, karena memiliki potensi yang sangat besar mengingat ketersediaan lahan masih cukup luas dan kondisi lingkungan di Kalimantan Barat yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman kelapa sawit.
    2. Kurangnya manajemen perencanaan awal menyebabkan semua kegiatan yang berlangsung diareal pembibitan dan pembukaan lahan tidak berjalan secara seimbang sehingga terjadi penumpukan bibit diarea pembibitan
    3. Kegiatan pelaksanaan pembibitan tanaman kelapa sawit di perusahaan PT. Prakarsa Tani Sejati Kecamatan Sungai Laur tidak terlepas dari hambatan-hambatan atau masalah yang harus dihadapi, misalnya manajemen pembibitan yang kurang baik, masih banyaknya jumlah bibit yang tidak bisa didistribusilan keareal penanaman, pemupukan yang tidak tepat waktu, jenis dan cara, banyaknya tanaman yang terserang hama penyakit dan anggaran pemeliharaan yang meningkat.
    4. Salah satu permasalahan yang dihadapi perusahaan PT. Prakarsa Tani Sejati dalam pengelolaan pembibitan adalah kegiatan pemeliharaan dimana dalam hal ini perusahaan harus memprogramkan kegiatan penjarangan pada tanaman yang tidak terdistribusikan ke areal penanaman untuk mengurangi intensitas kerugian akibat serangan hama dan penyakit.
    5. Banyaknya Tenaga kerja PT. Prakarsa Tani Sejati belum memenuhi standar atau kemampuan dalam memanajemen kebun terutama pada bidang teknis budidaya mengakibatkan menurunnya produksi yang dihasilkan.

    B. Saran

    1. Mengingat kurangnya perencanaan (planning) dan manajemen dalam pelaksanaan kegiatan pembibitan tanaman kelapa sawit, sebaiknya aspek-aspek yang berkaitan dengam permasalahan yang terjadi di lapangan perlu mendapat perhatian dan prioritas utama dengan melakukan evaluasi yang mengarah pada peningkatan mutu kerja.
    2. Kegiatan penjarangan sebaiknya cepat dilakukan  sedini mungkin pada areal pembibitan mengingat umur tanaman yang terus bertambah dan dikhawatirkan akan memberikan dampak buruk yaitu semakin menurunnya kualitas bibit yang akan ditanam dilapangan sehingga menyebabkan kesulitan  kegiatan pemeliharaan berikutnya.
    3. Diharapkan  perusahaan lebih perduli terhadap kesejahteraan karyawan guna meningkatkan mutu dan etos kerja mereka sehingga akan berdampak baik terhadap perkembangan perusahaan.

    06/17/2011 Posted by | Uncategorized | 11 Komentar

    LAPORAN MAGANG TANAMAN KRISAN

    I. PENDAHULUAN

     

    1.1. Latar Belakang

                Tanaman hias merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai prospek agribisnis yang cukup besar di Indonesia. Salah satu dari tanaman hias tersebut adalah tanaman krisan. Krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) termasuk salah satu jenis tanaman hias yang banyak digemari oleh masyarakat karena mempunyai warna, ukuran, dan bentuk bunga menarik, serta tanaman krisan dapat bertaan kurang lebi 14 hari. Krisan termasuk jenis bunga potong penting dunia, karena macam jenisnya beraneka ragam. Krisan memiliki 55 varietas yang ada d seluruh dunia.

                Seiring dengan terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat maka permintaan akan tanaman hias, khususna bunga potong juga mengalami peningkatan. Bunga potong krisan merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan prospek yang cukup baik. Bunga krisan (Chrysanthemum morifolium ramat). merupakan salah satu spesiaes yang sangat populer dan tumbuh sebagai penghias tanaman dan sebagai bunga pot atau bunga potong. Menurut Wijayakusuma (2000), krisan dapat juga dimanfaatkan sebagai tanaman obat dan tanaman penghasil racun serangga alami.

                Permintaan konsumen terhadap bunga krisan (Chrysanthemum morifolium ramat)  yang terus meningkat, telah memacu para petani dan pengusaha bunga hias terutama krisan terus meningkatkan produksinya. Hal ini dilihat dari penjualan bunga krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) di Pasar Rawa Belong, mulai dari 2007 sampai 2009 yaitu 399,25, 412,68 dan 422,50 (dalam juta tangkai). Permintaan tersebut ternyata tidak hanya tertuju pada kuantitas saja, melainkan juga jenis dan kualitas bunga. Kendala petani krisan dalam sistem produksi krisan yaitu kurang tersedianya bibit bermutu, rendahnya daya adaptasi varietas introduksi terhadap kodisi lingkungan fisik indonesia serta keterbatasan penggetahuan tentang teknik budidaya. Upaya peningkatan produksi krisan dalam negeri perlu dilakukan melalui penanganan yang memadai, supaya dimasa mendatang tanaman krisan ini diharapkan mampu menjadi komoditas andalan nasional sebagai penghasil devisa negara. Upaya tersebut perlu didukung dengan perbaikan sistem usaha yang menguntungkan dari pemerintah, sehingga petani termotivasi untuk melestarikan usaha tanaman krisan.

                Selain itu kendala penanaman tanaman krisan di Indonesia dibutuhkan modifikasi-modifikasi lingkungan agar tanaman dapat tumbuh, mulai dari green house, menambakan sinar dari lampu, hingga suhu lingkungan. Teknik kultur invitro merupakan metode perbanyakan tanaman dengan mengisolasi bagian tanaman serta menumbuhkanya dalam kondisi aseptik. Sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman dengan jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat, serta memiliki kualitas, tumbuh degan tempo yang reatif cepat di bandingankan dengan konvensional. Menyediakan bibit yang berkualitas serta memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit.

    1.2. Identifikasi Masalah

    1. Bagaimana perkembangan regenerasi tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) dalam kultur in vitro.

    2.    Bagaimana proses kultur in vitro pada tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat).

    3.    Bagaimana pengaruh media dalam meregerasi tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) pada kultur in vitro.

    1.3. Tujuan

                Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam pelakdanaan PKL adalah:

    1. Untuk mengetahui perkembangan regerasi tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) dalam kultur in vitro.

    2.  Untuk mengetahui proses kultur in vitro pada tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat).

    3. Untuk mengetahui pengaruh media dalam meregenerasi tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) pada kultur in vitro.

    II DASAR TEORI

     

    2.1. Tanaman Krisan

                Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicum (kuning), C. Morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, dan tahun 797 bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East. Tanaman krisan dari Cina dan Jepang menyebar ke kawasan Eropa dan Perancis tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan di Inggris. Jenis atau varietas krisan modern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial (Rukmana dan Mulyana, 1997).

    Di beberapa negara tanaman krisan memiliki arti yang beraneka ragam, di Jepang, Korea dan Cina bunga krisan putih menunjukkkan bunga duka cita. Di Eropa seperti Italia, Perancis, Polandia, Spanyol dan Kroasia, krisan merupakan simbol kematian dan hanya digunakan untuk pengkuburan. Di Amerika Serikat bunga krisan diguanakan untuk menunjukkan kebahagiaan dan semangat. Pada beberapa negara krisan menunjukkan kasih sayang, seperti di Australia krisan digunakan ketika “hari ibu”. Serta yang paling menarik tanaman krisan disebut juga bunga November.

    2.2. Klasifikasi  Tanaman Krisan

    Kingdom      : Plantae
    Divisi            : Spermatophyta
    Subdivisi       : Angiosperms
    Order            : Asterales
    Family           : Asteraceae
    Tribe             : Anthemideae
    Genus           : Chrysanthemum
    Type spesies : Chrysanthemum indicum L
    Spesies          : Chrysanthemum morifolium ramat

    (W ijayakusuma, 2000)

    2.3. Morfologi Tanaman Krisan

                Tanaman krisan merupakan tanaman semusim (anual) yang berkisar 9-12 hari tergantun varietas dan lingkungan tempat menanamnya. Tanaman krisan dapat dipertahankan hingga beberapa tahun bila dikehendaki, tetapi bunga yang dihasilkan biasanya jauh menurun kualitasnya (Hasyim dan rexa, 1995). Menurut Rukmana (1997), tanaman krisan tumbuh menyemak setinggi 30-200 cm, sistem perakarannya serabut yang keluar dari batang utama. Akar menyebar kesegala arah pada radius dan kedalaman 50-70 cm atau lebih. Batang tanaman krisan tumbuh agak tegak dengan percabangan yang agak jarang, berstruktur lunak, dan berwarna hijau tetapi bila dibiarkan tumbuh terus, batang berubah menjadi keras (berkayu) dan berwarna hijau kecoklatan, serta berdiameter batang sekitar 0,5 cm.

                Bunga krisan tumbuh tegak pada ujung tanaman dan tersusun dalam tangkai berukuran pendek sampai panjang, serta termasuk bunga lengkap. Bunga krisan merupakan bunga majemuk yag terdiri atas bunga pita dan bunga tabung. Pada bunga pita terdapat bunga betina (pistil), sedangkan bunga tabung terdiri atas bunga jantan dan bunga betina (biseksual) dan biasanya fertil (kofranek, 1980).

    2.4. Syarat-Syarat Tumbuh

    2.4.1. Iklim

                   Tanaman krisan membutuhkan air yang memadai, tetapi tidak tahan terpaan air hujan. Oleh karena itu untuk daerah untuk cucah hujan tinggi penanaman dilakukan di dalam green house. Suhu toleran untuk tanaman krisan adalah 17­­­­0-300C, untuk daerah tropis seperti di Indonesia cocok menggunakan suhu 200-260C. Kelembaban yang dibutuhkan untuk tanaman krisan sangat tinggi ketika pembentukan akar, pada stek kelembabannya 90%-95%. Kemudian tanaman muda sampai tua kelembabannya 70%-80%, dengan sirkulasi udara yang memadai. Kadar CO2 di udara sekitar 3000 ppm, sedangkan kadar CO2 yang ideal untuk fotosintesis adalah 600-900 ppm. Untuk pembungaan membutuhkan lebih lama cahaya, dimana dapat menambah cahaya menggunakan bantuan TL dan lampu pijar. Penambahan penyinaran yang paling baik ketika tengah malam yaitu jam 22.30-01.00 dengan lampu 150 watt untuk 9 m2, dan lampu di pasang menggantung 1,5 m dari tanah. Periode pemasangan lampu dilakukan pada vegetativ (2-8 minggu) untuk merangsang pembentukkan bunga (Lukito, 1998).

    2.4.2. Media tanam dan ketinggian tempat

                   Untuk pertumbuhan tanaman yang optimum dibutuhkan media yang ideal, di mana tekstur media harus liat berpasir, subur, gembur dan memiliki drainase yang baik, serta tidak mengandung hama dan penyakit. Derajat keasaman media yang baik untuk petumbuhan tanaman adalah 5,5-6,7. Kemudian untuk ketinggian ideal untuk pertumbuhan tanaman sekitar 700-1200 m dpl (Rukmana dan Mulyana, 1997).

    2.5 Budidaya

    2.5.1.  Pembibitan

                   Bibit diperoleh dari tanaman indukan yang sehat, kualitas prima, daya tumbuh yang kuat, serta bebas dari hama dan penyakit. Pembibitan dilakukan secara vegatatif, yaitu dengan anakan, stek pucuk dan kultur in viro.

    2.5.1.1. Bibit asal anakan

                     Diperoleh dari tanaman yang sudah tua, yang biasanya anakan muncul d dekat akar atau bagian batang bawah.

    2.5.1.2. Bibit asal stek puncuk

                     Yaitu dengan menententukan tanaman yang sehat dan cukup umur, memilih tunas pucuk yang tumbuh sehat. Dengan diameter pangkal 3-5 mm, panjang 5 cm, mempunyai 3 helai daun dewasa berwarna hijau terang, potong pucuk tersebut. Kemudian langsung disemaikan atau disimpan dalam ruangan dingin bersuhu udara 4 derajat C, dengan kelembaban 30 % agar tetap tahan segar selama 3-4 minggu. Cara penyimpanan stek adalah dibungkus dengan beberapa lapis kertas tisu, kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik rata-rata 50 stek.

    2.5.1.3. Bibit asal kultur in vitro

                     Yaitu menetukan mata tunas atau eksplan dan diambil dengan pisau silet, stelisasi mata tunas dengan sublimat 0,04 % (HgCL) selama 10 menit, kemudian bilas dengan air suling steril. mepenanaman dalam medium MS berbentuk padat. Hasil penelitian lanjutanperbanyakan tanaman krisan secara kultur jaringan:

    1. Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 1,5 mg kinetin/liter, paling baik untuk pertumbuhan tunas dan akar eksplan. Pertunasan terjadi pada umur 29 hari, sedangkan perakaran 26 hari.

    2. Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5 BAP/liter, kalus bertunas waktu 26 hari, tetapi medium tidak merangsang pemunculan akar.

    3. Medium MS padat ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-0.2 mg kinetin/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-2,0 BAP/liter pada eksplan varietas Sandra untuk membentuk akar pada umur 21-31 hari. Penyiapan bibit pada skala komersial dilakukan dengan dua tahap yaitu:

    a. Stok tanaman induk : Fungsinya untuk memproduksi bagian vegetatif sebanyak mungkin sebagai bahan tanaman Ditanam di areal khusus terpisah dari areal budidaya. Jumlah stok tanaman induk disesuaikan dengan kebutuhan bibit yang telah

    direncanakan. Tiap tanaman induk menghasilkan 10 stek per bulan, dan selama 4-6 bulan dipelihara memproduksi sekitar 40-60 stek pucuk. Pemeliharaan kondisi lingkungan berhari panjang dengan penambahan cahaya 4 jam/hari mulai 23.30–03.00 lampu pencahayaan dapat dipilih Growlux SL 18 Philip.

    b. Perbanyakan vegetatif tanaman induk.

    1. Pemangkasan pucuk yaitu, dilakukan pada umur 2 minggu setelah bibit ditanam, dengan cara memangkas atau membuang pucuk yang sedang tumbuh sepanjang 0,5-

    1 cm.

    2. Penumbuhan cabang primer. Perlakuan pinching dapat merangsang pertumbuhan tunas ketiak sebanyak 2-4 tunas. Tunas ketiak daun dibiarkan tumbuh sepanjang

    15-20 cm atau disebut cabang primer.

    3. Penumbuhan cabang sekunder. Pada tiap ujung primer dilakukan pemangkasan pucuk sepanjang 0,5-1 cm, pelihara tiap cabang sekunder hingga tumbuh

    sepanjang 10-15 cm.

    2.5.2. Pengolahan media tanam

                   Pengolahan menggunakan cangkul, tanah dicangkul sedalam 30 cm, kemudian dikering anginkan selama 15 hari. Setelah itu digeemburkan kedua kalinya dengan dibersihkan gulmanya, lalu di bentuk bedengan dengan lebar 1-1,2 m, tinggi 20-30 cm, dengan panjang sesuai lahan yang ada, serta jarak antar bedengan yaitu 30-49 cm. Jika tanah mempunyai pH dibawah 5,5, maka diperlukan pengapuran menggunakan kapur pertanian seperti dolomit, zeagro atau kalsit. Kebutuhan kapur sesuai kadar pH yang ada dalam tanah, untuk pH 5 = 5,02 ton/ha, pH 5,2 = 4,08 ton/ha, pH 5,3 = 3,60 ton/ha, pH 5,4 = 3,12 ton/ha. Pengapuran dilakukan dengan cara disebar merata pada permukaan bedengan.

    2.6. Hama dan Penyakit

    2.6.1. Hama

    a. Ulat tanah (Agrotis ipsilon)

    o Gejala: memakan dan memotong ujung batang tanaman muda, sehingga pucuk dan tangkai terkulai.

    o Pengendalian: mencari dan mengumpulkan ulat pada senja hari dan semprot dengan insektisida.

    b. Thrips (Thrips tabacci)

    o Gejala: pucuk dan tunas-tunas samping berwarna keperak-perakan atau kekuning-kuningan seperti perunggu, terutama pada permukaan bawah daun.

    o Pengendalian: mengatur waktu tanam yang baik, memasang perangkap berupa lembar kertas kuning yang mengandung perekat, misalnya IATP buatan Taiwan.

    c. Tungau merah (Tetranycus sp)

    o Gejala: daun yang terserang berwarna kuning kecoklat-coklatan, terpelintir, menebal, dan bercak-bercak kuning sampai coklat.

    o Pengendalian: memotong bagian tanaman yang terserang berat dan dibakar dan penyemprotan pestisida.

    d. Penggerek daun (Liriomyza sp) :

    o Gejala: daun menggulung seperti terowongan kecil, berwarna putih keabuabuan yang mengelilingi permukaan daun.

    o Pengendalian: memotong daun yang terserang, penggiliran tanaman, dengan aplikasi insektisida.

    2.6.2. Penyakit

    1. Karat/Rust

    o Penyebab: jamur Puccinia sp. karat hitam disebakan oleh cendawan Pchrysantemi, karat putih disebabkan oleh P horiana P.Henn.

    o Gejala: pada sisi bawah daun terdapat bintil-bintil coklat/hitam dan terjadi lekukan-lekukan mendalam yang berwarna pucat pada permukaan daun bagian atas. Bila serangan hebat meyebabkan terhambatnya pertumbuhan bunga.

    o Pengendalian: menanam bibit yang tahan hama dan penyakit, perompesan daun yang sakit, memperlebar jarak tanam dan penyemprotan insektisida.

    2. Tepung oidium

    o Penyebab: jamur Oidium chrysatheemi.

    o Gejala: permukaan daun tertutup dengan lapisan tepung putih. Pada serangan hebat daun pucat dan mengering.

    o Pengendalian: memotong/memangkas daun tanaman yang sakit dan penyemprotan fungisida.

    3. Virus kerdil dan mozaik

    o Penyebab: virus kerdil krisan, Chrysanhenumum stunt Virus dan Virus Mozaoik Lunak Krisan (Chrysanthemum Mild Mosaic Virus).

    o Gejala: tanaman tumbuhnya kerdil, tidak membentuk tunas samping, berbunga lebih awal daripada tanaman sehat, warna bunganya menjadi pucat.

    o Penyakit kerdil ditularkan oleh alat-alat pertanian yang tercemar penyakit dan pekerja kebun.

    o Virus mosaik menyebabkan daun belang hijau dan kuning, kadang-kadang bergaris-garis.

    o Pengendalian: menggunakan bibit bebas virus, mencabut tanaman yang sakit, menggunakan alat-alat pertanian yang bersih dan penyemprotan insektisida untuk pengendalian vektor virus.

    2.7. Metode Kultur

                Kultur jaringan tanaman terdiri dari sejumlah teknik untuk menumbuhkan organ, jaringan dan sel tanaman. Jaringan dapat dikulturkan pada agar padat atau dalm medium hara cair. Kultur biasanya dimulai dengan menanamkan satu iris jaringan steril pada medium hara yang dipadatkan dengan agar. Dalam waktu 2-3 minggu akan terbentuk kalus. Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan kalus dan kultur suspensi sel amat beragam, dan terutama bergantung pada jaringan eksplan dan komposisi medium kultur. Baik kultur kalus maupun kultur suspensi sel dapat diperoleh dari berbagai spesies. Kemudahan memulai kultur bergantung pada jenis tanaman dan asal jaringan (wetter and constabel, 1991).

    2.8. Media

                Kegiatan kultur jaringan sangat ditentukan dan tergantung oleh pilihan media yang digunakan. Dalam kultur jaringan menekankan lingkungan yang cocok agar eksplan dapat tumbuh dan berkembang. Lingkungan yang cocok, sebagian akan terpenuhi bila media yang akan dipilih mempertimbangan apa-apa yang diperlukan oleh tanaman. Secara umum kebutuhan nutrisi kebanyakan tanaman sama, tetapi secara khusus hal tersebut berbeda (Soeryowinoto dan Soeryowinoto, 1984).

    2.8.1. Garam organik

                   Garam anorganik yang diperlukan eksplan dalam kultur jaringan sama halnya dengan garam-garam organik yang diperlukan tanaman yang tumbuh normal di lingkungan alaminya. Beberapa garam organik yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah takaran banyak (milimole) dan dikenal sebagai unsur makro adalah N, K, S (anion) P, Ca, dan Mg (kation). Sedangkan unsur esensial yang kebutuhannya dalam takaran sedikit (mikromolar) dan disebut unsur mikro adalah Fe, Mn, Zn, B, Cu dan Mo (santoso dan nursandi, 2004).

    2.8.2. Sumber karbon dan energi

    Sumber karbon yang dianggap standar adalah sukrosa atau glukosa. Sukrosa umumnya digunakan pada kosentrasi 2-3 %, kebanyakan media mengandung miositol. Zat ini sesungguhnya bukan sesuatu yang mutlak harus ditambahkan, tetapi penambahan pada media kira-kira 100 mg/liter dapat meningkatkan pertumbuhan sel (santoso dan nursandi, 2004).

    2.8.3. Vitamin

    Tanaman normal melakukan sintetis vitamin untuk pertumbuhan dan perkembangan. Ketika sel-sel tumbuhan tinggi tumbuh didalam kultur, beberapa vitamin tidak terpennuhi atau jumlahnya kurang. Dalam penggunaan vitamin adalah kadar yang seharusnya ditambhakan ke dalam media adalah sangat randah, berkisar 0,1-0,5 mg/liter (wetter and constabel, 1991).

    2.8.4. Hormon tanaman

    Sitokinin dan auksin merupakan dua kelompok hormon tanaman yang sangat penting dan diperlukan dalam aktivitas kultur jaringan. Kedua hormon tersebut diperlukan untuk mendorong terjadinya pembelahan sel dan pembentukan  kalus. Tidak hanya sitokinin dan auksin yang digunakan, namun ada abcisic acid (santoso dan nursandi, 2004).

    2.8.5. N-Organik

    N-organik diperlukan untuk pada saat inisiasi kalus terjadi, atau digunakan untuk mempertahankan kultur kalus atau suspensi. Sumber-sumber dari n-organik adalah asam amino, glutamin, asparagin, dan adenin. Namun sumber n-organik tidak terlalu dianggap (santoso dan nursandi, 2004).

    III. METODE PELAKSANAAN

     

    3.1. Tempat

    Praktek kerja lapang (PKL) dilakasanakan di PT Inggu Laut Abadi laboratorium molekuler, dan ditempatkan pada laboratorium kultur in vitro. PT Inggu Laut Abadi terletak di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur kilometer 17 jalan raya Bumi Aji-Sumber Brantas, yang berkedudukan di Desa Sumber Agung, Kecamatan Bumi Aji. Tempat ini berada pada ketinggian ± 1400 m dpl dengan luas lahan 3,5 hektar. Waktu pelaksanaan PKL dimulai pada tanggal 24 Januari 2011 sampai dengan 26 Februari 2011.

    3.2. Bahan dan Alat

    3.2.1. Alat

                   Alat yang digunakan dalam praktek kerja lapang menggunakan beberapa alat, diantaranya laminar air flow, autoklaf, oven, pisau klinis, tang, cawan petri, labu kultur, sumbat, pipet, serta lemari pendingin.

    3.2.2. Bahan

                   Bahan pada praktek kerja lapang menggunakan  beberapa bahan, diantaranya aquades, garam mineral dan senyawa organik, n-organik, dan agar.

    3.3. Pengumpulan Data

                Pengumpalan data yang berhubungan dengan regenerasi tanaman padi indica krisan pada kultur in vitro yaitu:

    1. Melakukan survey lapang di laboratorium kultur in vitro PT Inggu Laut Abadi
    2.  wawancara dengan pembimbing lapang dan staf pekerja/ karyawan.
    3. Melihat dokumen atau data yang berhubungan dengan regerasi tanaman krisan di kultur in vitro.

    3.4. Pengolahan Data

                Pada pengolahan data yang dilakukan dalam pelaksanaan PKL ini hanya menggunakan analisa deskriptif. Analisa deskriptif dimaksudkan untuk memberi gambaran tentang regenerasi tanaman krisan pada kultur in vitro.

    3.5. Pengamatan

                Pengamatan yang dilakukan yaitu mengamati perkembangan planlet yang sudah di pindah ketiap media yang sudah disiapkan. Mengamati perkembangan akar serta tunas yang muncul serta mengamati kontaminasi yang terjadi pada proses regenerasi tanaman krisan. selain itu mengamati proses pembuatan media, sterilisasi hingga inkubasi.

    IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1. Hasil

    4.1.2. Gambaran Umum Lokasi

    PT Inggu Laut Abadi merupakan perusahaan perseroan yang didirikan pada tanggal 10 Mei 2002, ini berdasarkan akta yang di terbitkan oleh Ny. Hartati Marsono, SH. Kemudian diperkuat di Pengaadilan negeri no.38605/tertanggal 27 mei 2002. Bentuk badan hukum Inggu Laut Abadi adalah Perseroan Terbatas (PT) yang memiliki surat ijin usaha perdagangan 0305/09-02/PB/V/2002. Pendiri dari perusahaan ini adalah keluarga besar Solo-Indroko, nama Inggu laut merupakan nama tanaman hias yaitu Lantana camara sp atau yang lebih kita kenal dengan nama “Tembelek”. Tembelek di Jawa Barat lebih dikenal dengan nama inggu laut, tanaman ini dapat ditemui di pinggir laut hingga daerah dataran tinggi. Tanaman tembelek merupakan tanaman yang dapat hidup di segala tempat, dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Inggu Laut digunakan sebagai nama, agar tanaman krisan dapat tumbuh dimana saja dari dataran rendah hingga tinggi seperti tanaman Lantana camara sp.

    Perusahaan ini pertama kali didirikan di Cipanas, Jawa Barat, yaitu mengambil alih dari usaha kecil yang mengalami kebangkrutan. Kebun Cipanas mulai beroperasi pada 1 Juli 2002,  pada lahan seluas 3600 m2. Budidaya tanaman krisan di PT. Inggu Laut Abadi dilakukan secara kultur in vitro, yang meliputi pengadaan tanaman hasil kultur dalam botol, bibit stek akar dan bunga potong krisan yang dihasilkan yaitu krisan standart dan krisan spray. Pemasaran bunga disalurkan ke Jakarta yaitu Pasar Bunga Rawa Belong, kemudian pada awal bulan Juni 2003 perusahaan mulai memperluas pemasaran ke Surabaya dan Bali. Untuk mempermudah dan meningkatkan produksi maka pada bulan Agustus 2003 di buka kebun baru yang terletak di Sumber Brantas, Kota Batu, dengan luas 1,6 hektar. Sistem organisasi PT Inggu Laut Abadi dikepalai oleh seorang Direktur Utam. Direktur wilayah Batu dibantu oleh Kepala Laboratorium dan Kepala Kebun, sedangkan Direktur Wilayah Cipanasdibantu Oleh Kepala Kebun.

    Untuk meningkatkan efisiensi kerja, maka perusahaan membagi dua kegiatan produksi besar pada setiap kebun, untuk kebun Batu ditentukan sebagai pusat kegiatan pangadaan bibit, budidaya tanaman hias dan pelatihan tenaga kerja. Sedangkan kebun Cipanas dikhususkan hanya pada kegiatan pusat budidaya tanaman hias baik bunga potong ataupun bunga pot. Hal ini diharapkan setiap kebun dapat berkonsentrasi dalam menjalankan tugasnya serta kairnya menghasilkan produk yang unggul.

                PT. Inggu Laut Abadi terletak di Jalan Sumber Brantas, Desa Junggo,  Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, dengan ketinggian 1400 m dpl dengan suhu 200-230. Jenis tanahnya yaitu lempung berpasir, dengan topografi berbukit. Di sana  dilengkapi dengan fasilitas 26 mess, 27 green house (20 untuk pengadaan tanaman induk krisan, 2 untuk pembibitan krisan, 4 untuk tanaman gerbra, 1untuk tanaman anyelir), 1 aula, 1 gudang + rapat, 1 perpustakaan, 1 laboratorium kultur jaringan, 3 mobil, 2 motor, 1 motor tosa, alat pemupukan, dan dilahan terbuka ditanami mawar, song of india, philodendron, ruskus, lither leave, dan hortensia.

    PT. Inggu Laut Abadi memiliki karyawan yang berjumlah 27 orang dari berbagai latar belakang pendidikan yang berbeda (Tabel 1)

    Tingkat Pendidikan

    Jumlah Pegawai (orang)

    S2

    1

    S1

    3

    D3

    2

    D1

    S2

    SMK

    S1

    SMP

    D3

    SD

    1

    Jumlah

    27

    Tabel 1. Latar Belakang Pendidikan Karyawan PT. Inggu Laut Abadi

    4.1.2. Komoditas Tanaman yang Dibudidayakan

     Terdapat beberapa komoditas yang dibudidayakan di PT Inggu Laut, yaitu :

    1. Pembibitan bunga krisan yang dijual kepada petani dalam bentuk bibit yang sudah berakar dan siap tanam. Semua varietas dibibitkan dan dijual, untuk bibit siap jual yaitu tanaman yang sudah berakar atau berumur 14 hari setelah ditanam dalam sekam bakar.

    2. Bunga krisan potong dengan berbagai varietas.

    3. komoditas sampingan seperti bunga Mawar, Leather leaf, Song of India, Ruskus, Lily, Gerbera, Anyelir, Anthurium bunga, Philodendron, dll.

    Seperti perusahaan bunga potong lainnya yang terus meningkatkan produksinya sesuai permintaan pasar, saat ini perusahaan sedang meningkatkan produksinya dalam hal kualitas dan kuantitas.

    4.1.3. Sarana dan Prasarana pada Kultur In Vitro

    Perbanyakan tanaman secara kultur in vitro pada umumnya di lakukan di laboratorium. Laboratorium merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan suatu penelitian ataupun perbanyakan tanaman dengan teknik kultur in vitro. Keberadaan suatu laboratorium dengan ruangan dan peralatan yang cukup memadai sangat membantu terlaksananya suatu kegiatan. Biasanya penataan ruang-ruang, peralatan serta bahan dalam laboratorium disesuaikan dengan langkah-langkah prosedur kultur in vitro. Beberapa ruangan yang digunakan di laboratorium kultur in vitro PT Inggu Laut Abadi antara lain :

    a. Ruang persiapan

    Ruang ini digunakan untuk mempersiapkan bahan tanaman serta media kultur yang akan digunakan dalam kultur jaringan. Serta dilengkapi tempan menyimpan unsur mikro dan bahan media lain seperti air kelapa, yaitu lemari es.

    b. Ruang penimbangan dan penyimpanan bahan

    runag ini berfungdi sebagai tempat menimbang dan menyiapkan semua bahan-bahan kimia yang dibutukan dalam pembuatan media kultur in vitro. Bahan-bahan yang tersimpan diruangan ini adalah unsur-unsur hara makro, unsur-unsur hara mikro, Fe EDTA, hormon, sukrosa, vitamin, dan agar-agar. Timbangan yang digunakan adalah timbangan mikro biasa, sehingga dalam menimbang terdapat persyaratan-persyaratan. Diantaranya harus bebas dari getaran seperti arus angin, getaran dari mesin, dan getaran lainnya, karena akan mempengaruhi asil penimbangan. Ruangan ini juga dilengkapi rak-rak untuk menyimpan bahan-bahan kimia, ruangan ini dijaga sedikit gelap dan tetap sejuk.

    c. Ruang tanam (transfer)

    Dalam melakukan kultur jaringan hal yang diperlukakan dalam ruang tanam adalah aseptik, karena dalam ruangan ini dilakukan sterilisasi, isolasi dan penanaman eksplan pada media tanam. Ruangan ini dilengkapi berbagai alat, diantaranya : Laminar Air Flow Cabinet yang merupakan sarana mutlak dalam kultur jaringan, rak untuk menaruh media dan hasil tanam, alat-alat kerja tanam (bunsen, penjepit, pisau bedah, gunting, dll), meja, dan kursi.

     Gambar 1. Ruang tanam (transfer)

    d. Ruang Inkubasi

    ruangan ini merupakan  ruang untuk meletakkan botol-botol kultur jaringan untuk induksi atau inkubasi. Botol-botol kultur jaringan diletakkan di rak-rak bertingkat denngan panjang 150-200 cm, lebar 40-60 cm dan tinggi 200-300 cm. Kemudian jarak antar tingkat rak kurang lebih 60 cm, setiap tingkat dari masing-masing rak dilengkapi lampu neon 40 watt yang jaraknya 40-60 cm dari permukaan botol kultur jaringan. Ruangan ini juga dilengkapi oleh AC (Air Conditioner) dengan termperatur berkisar antara 160-250 C dengan kelembaban 50-60%.

    e. Green House

    Green house di PT Inggu Laut Abadi adalah rumah plastik yang digunakan untuk pembibitan, pembuatan bibit, tempat mother stock, sebagai eksplan, serta digunakan untuk pembungaan. Green house ini dibuat sedemikian rupa sehingga terbebas dari hama dan penyakit.

    4.1.4. Pembuatan Media

    Media yang digunakan untuk perbanyakan tanaman krisam melalui kultur jaringan menggunakan formula yang digunakan perusahaan Murashige dan Skoog (MS) dengan konsentrasi  MS ( lihat tabel 2). Pembuatan media 2 liter  MS padat diawali dengan menimbang semua unsur makro yaitu 3,3 g NH­4NO3; 3,8 g KNO3; 0,88 g CaCl2.2H2O; 0,74 g MgSO4.7H2O; 0,34 g KH3PO; 0,2 g Mio-Inositol; dan 60 g Gula Pasir. Kemudian bahan-bahan tersebut dimasukkan kedalam teko ukur bervolume ± 2 liter yang telah berisi sedikit aquades, lalu digoyang-goyangkan agar bercampur secara homogen. Selanjutnya larutan tersebut di tambah berbagai macam stok (lihat tabel 3), diantaranya ; 2 ml stok A, 20 ml stok B, 2 ml stok C, 2 ml stok D dan 2 ml stok E. Kemudian larutan tersebut dimasukkandalam teko yang berisi bahan makro lalu di campur dan volumenya di jadikan menjadi 2 liter.

    Larutan tersebut diaduk hingga menjadi homogen lalu diukur pHnya dengan menggunakan kertas lakmus atau pH meter, dan jangan lupa menambahkan arang aktif (NORIT) kedalam media serta agar-agar. Agar-agar yang digunakan adalah agar-agar yang mudah di peroleh ditoko klontong (Warung Kecil), dengan harga yang relatif lebih murah. pH yang ideal untuk media kultur jaringan adalah 5,8-5,9, media yang memiliki pH diatas 5,8-5,9 maka perlu ditambah HCl, begitu juga sebaliknya jika pHnya dibawah 5,8-5,9 maka media tadi ditambah NaOH. Kemudian campuran media tadi dimasukkan kedalam panci lalu dipanaskan diatas kompor gas dengan api sedang, diaduk terus hingga mendidih. Setelah mendidih kompor dimatikan lalu di masukkan kedalam botol kultur yang telah steril sebanyak ± 20 ml. Kemudian botol yang berisi larutan media langsung ditutup menggunakan plastik lalu diikat menggunakan karet. Setelah selesai mengisi botol berisi larutan media disterilisasi ulang menggunakan autoclave.

     

     

    Tabel 2. Komposisi Media MS
    Komposisi Media Pembuatan Media (liter)
    1 2 3
    Kimia Makro MS
    NH­4NO3 1,65 3,3 4,95
    KNO3 1,9 3,8 5,7
    CaCl2.2H2O 0,44 0,88 1,32
    MgSO4.7H2O 0,37 0,74 1,11
    KH3PO4 0,17 0,34 0,51
    Gula Pasir 30 60 90
    Kimia Mikro MS
    MnSO4.4H2O 0,0446 0,0892 0,1338
    ZnSO4.7H2O 0,0172 0,0344 0,0516
    H3BO3 0,0124 0,0248 0,0372
    KI 0,00166 0,00332 0,00498
    CuSO4.5H2O 0,00005 0,0001 0.00015
    NaMoO4.2H2O 0,0005 0,001 0,0015
    CoCl2.4H2O 0,00005 0,0001 0,00015
    FeSO4.7H2O 0,0054 0,0108 0,0162
    NaEDTA.2H2O 0,0746 0,1492 0,2238
    Vitamin
    Myo-Inositol 0,1 0,2 0,3
    Thiamine HCl 0,0001 0,0002 0,0003
    Nikotinik Acid 0,0005 0,001 0,0015
    Pyridoksin HCl 0,0005 0,001 0,0015
    Glycine 0,002 0,004 0,006
    Ket : Satuan dalam gram

     

     

     

    Tabel 3. Komposisi Stok

    Stok

    Komposisi

    A

    0,0005 g NaMoO4.2H2O; 0,0124 g H3BO3; 0,00005 g CoCl2.4H2O; 0,0172 g ZnSO4.7H2O; dan 0,00005 g CuSO4.5H2O.

    B

    0,0446 g MnSO4.4H2O dan 0,1 g Myo-Inositol

    C

    0,00166 g KI

    D

    0,0001 g Thiamine HCl; 0,0005 g Nikotinik Acid; 0,0005 g Pyridoksin HCl; dan 0,002 g Glycine

    E

    0,0054 g FeSO4.7H2O dan 0,746 g NaEDTA.2H2O

    4.1.5. Sterilisasi

    Sterilisasi merupakan hal yang wajib dilakukan dalam kultur in vitro, ini adalah penentuan keberhasilan kultur in vitro. Kegagalan dalam kultur in vitro disebabkan terkontaminasi bahan eksplan, media, alat-alat kultur, lingkungan kerja dan kecerobohan dalam pelaksanaan. Sterilisasi perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya kontaminasi.

    a. Sterilisasi alat dan botol kultur

    Botol-botol yang akan digunakan sebelumnya dicuci terlebih dahulu, pencucian dilakukan dengan merendam terlebih dahulu dengan  cup deterjen dan 1 tutup botol pemutih (lihat gambar 2). Perendaman berfungsi untuk mengilangkan noda dan kotoran-kotoran yang keras, agar menjadi mudah untuk di bersihkan. Perendaman dilakukakn selama 24 jam, lalu di bersihkan menggunakan busa atau sikat dan dibilas menggunakan air mengalir. Setelah dibilas botol ditaruh dinampan besar berukuran 60×40 cm, lalu dijemur dibawah sinar matahari hingga kering. Kemudian botol sebelum dimasuki media disterilkan terlebih dahulu menggunakan autoclave, terlebih dahulu botol ditutup menggunakan plastik dan diikat menggunakan karet. Kemudian botol-botol dimasukkan kedalam autoclave, selain itu alat-alat kultur seperti gunting, scalpel, pinset dan petridist serta erlenmeyer juga disterilisasi. Alat-alat tersebut disterilisasi dalam keadaan terbungkus kertas.

    b

    a

    Gambar 2. Perendaman botol kultur : a. Botol yang direndam; b. Tempat perendaman.

    Botol dan alat-alat kultur disterilisasi dengan dipanaskan di atas api hingga jarum petunjuk tekanan kearah angka 15 psi pada suhu 1300 C selama 30 menit, perhitungan menit pertama ketika suhu mencapai 1300 C atau pada tekanannya menunjukkan 15 psi. Keseimbangan dijaga, setelah 30 menit kompor dimatikan lalu tunggu jarum pada autoclave menunjukkan diantara 0-10, lalu dibuka penguncinya. Ketika membuka pengunci jangan sampai dingin karena akan sulit untuk membukanya, sehingga ketika hangat itu yang idela untuk membuka penguncinya. Botol dikeluarkan dari autoclave lalu ditaruh diruang isolasi, dan alat-alat ditaruh diruang laminar. Pembungkus ala-alat kultur tidak perlu dibuka dan dibiarkan tertutup untuk menjaga tidak terjadi kontaminasi dan steril selama dalam ruang (tempat penyimpanan).

    b. Sterilisasi media

    media kultur yang telah siap untuk dimasukkan dalam botol yang telah disteril, kemudian dimasukan dalam botol ± 20 ml lalu ditutup menggunakan plastik dan diikat dengan karet. Media tersebut lalu disetrilisasi mengunakan autoclave pada tekanan 15 psi dan suhu 1300 C selama 30 menit, setelah disterilisasi botol-botol kultur yang berisi media di simpan diruang penyimpanan media lalu disusun dirak-rak yang telah ada. Media tersebut didiamkan selama 3 hari mengetahui terjadi kontaminasi atau tidak.

    c. Sterilisasi ruang kerja

    ruang kerja sebelum digunakan terlebih dahulu disterilkan menggunakan formalin, caranya di semprotkan 2-3 kali dengan arah acak, lalu didiamkan semalam atau hingga bau formalin hilang. Setelah formalin hilang lalu membersihkan laminar air flow cabinet dengan menggunakan alkohol 70% diratakan menggunakan lap tissue (Canebo), lalu UV dinyalakan dan ruang dikosongkan selama 1 jam. UV dimatika lampu biasa dan blower dinyalakan, kemudian alat-alat, media, dan planlet yang akan digunakan dimasukkan kedalam LAFC yang terlebih dahulu dilap menggunakan spirtus sebagai pengganti alkohol. Setelah kegiatan tanam selesai laminar air flow cabinet dibersihkan kembali menggunakan alkohol 70%.

    4.1.6. Sub Kultur

    Sub kultur merupakan kegiatan pemindahan dan pemotongan planlet dari media yang lama ke media yang baru setelah satu kali masa umur. Tujuan sub kultur merupakan memelihara pertumbuhan dan perkembangan planlet serta perbanyakan planlet lebih lanjut. Keberhasilan dalam sub kultur terlihat dari banyaknya botol yang terkontaminasi (lihat tabel 4). Kontaminasi yang biasanya menyerang planlet dan media dalam botol adalah jamur dan bakteri (gambar 7). Kontaminasi dapat diatasi dengan memperhatikan planlet yang akan digunakan, jeli melihat media, serta yang paling penting yaitu sterilisasi peralatan yang akan digunakan.

    Tabel 4. Presentase Keberhasilan Tahap Sub Kultur

    Varietas

    Jumlah botol

    Keberhasilan

    %

    Tanam

    Tidak Terkontaminasi

    Kontaminasi

    Monalisa Dark

    12

    9

    3

    75

    Stroika

    8

    8

    0

    100

    Yellow Fiji

    10

    0

    10

    0

    Kegiatan sub kultur di mulai dengan mengeluarkan botol dan planlet dari ruang inkubasi dan dibawa ke ruang tanam, planlet yang digunakan adalah planlet yang tidak terkontaminasi. Planlet yang akan ditanaman berasal dari berbagai macam varietas tanaman krisan (lihat tabel 5), pertama planlet diambil menggunakan pinset lalu dipotong menggunakan gunting. Hal ini berfungsi untuk memisahkan dari akar, lalu diletakkan dalam petridisk. Kemudian planlet di potong-potong ± 1 cm dan tiap tunas terdapat minimal 1 daun dan memiliki tunas aksilar. Potongan tersebut kemudian ditanam dalam media dengan jumlah per botol 5-7 tanaman, selanjutnya botol di tutup rapat menggunakan plastik wrap film dan diikat menggunakan karet kemudian diberi label dengan spidol. Setelah selesai botol dipindah ke ruang ruang penyimpanan atau ruang inkubasi. Satu botol yang berisi 5 planlet dapat disubkultur menjadi 6-8 botol subkultur yang berisi 5 planlet.

    No.

    Varietas

    No.

    Varietas

    1

    Kermit

    18

    Puma Kuning

    2

    Stallion

    19

    New Red

    3

    Salem Total

    20

    Boris Putih

    4

    Yellow Fiji

    21

    Boris Kuning

    5

    White Fiji

    22

    M-2000

    6

    Monalisa Pink

    23

    Rhino

    7

    Evergreen

    24

    Yoko Ono

    8

    Shamrock

    25

    Town Talk

    9

    Sheena Select

    26

    Jaguar Purple

    10

    Reagen Kuning

    27

    Jaguar red

    11

    Reagen Pink

    28

    Euro Putih

    12

    Reagen Putih

    29

    Stroika

    13

    Ungu Total

    30

    Monalisa Putih

    14

    Ellen

    31

    Monalisa Dark

    15

    Cat Eyes

    32

    Snow White

    16

    Euro Kunig

    33

    Tiger

    17

    Puma Putih

    34

    Remix Ungu

                a.                                             b.                                             c.

    Gambar 3. Subkultur dan alat : a. Subkultur; b.rak media; c.alat kerja kultur in vitro

    Kegiatan penanaman planlet dilakukan dalam laminar air flow cabinet (Gambar 3). Alat dan bahan diletakkan dalam LAFC, antara lain : petridish yang digunakan sebagai wadah potongan planlet, bunsen sebagai pembakar alat agar steril da bebas dari bakteri maupun jamur, botol yang berisi media, gunting, scalpel, dan pinset yang diletakkan dalam botol media yang berisi alkohol 70%, fungsi dari alkohol sebagai pensteril alat agar bebas dari bakteri dan jamur, plastik wrap film yang digunakan sebagai penutup botol yang telah berisi planlet, dan botol yang berisi planlet sebagai sumber eksplan. Dimana semua alat dan bahan tersebut terlebih dahulu disterilkan menggunakan spirtus (sebagai pengganti alkohol) dengan cara dilapkan secara merata, sebulum akhirnya dimasukkan kedalam laminar air flow cabinet. Di dalam ruang inkubasi terdapat rak penyimpanan botol eksplan dengan pencahayaan lampu TL 40 Watt dan diberi AC dengan suhu 210C (Gambar 4). Banyak lampu disesuaikan dengan luasnya rak, dimana botol-botol planlet tersebut dapat tersinari dengan baik.

     Gambar 4. Ruang inkubasi

    4.1.7. Aklimatisasi

    Aklimatisasi adalah masa yang kritis dalam kultur in vitro, karena planlet menunjukkan sifat yang kurang baik jika langsung hidup dilapang. Menururt sosilowati (1998), ada beberapa ekspresi tanaman jika planlet ditanam langsung ke lapang, diantarnya :

    1. Sel-sel palisade daun hanya terbentuk dalam jumlah sedikit.

    2. Stomata sering kali tidak berfungsi.

    3. Lapisan lilin tidak berkembang dengan baik.

    4. Jaringan pembuluh dari akar kepucuk kurang berkembang.

    Planlet jika langsung ditaruh dilapang, sangat peka terhadap transpirasi, serangan mikroba-mikroba dan cahaya yang intesitasnya tinggi. Oleh sebab itu perlu penanganan khusus dalam aklimatisasi planlet tanaman krisan. aklimatisasi yang dilakuan di PT Inggu Laut Abadi terdapat 2 metode aklimatisasi, yaitu metode cutting dan metode langsung.

    a. Metode Cutting

    proses yang dilakukan dalam metode cutting, aklimatisasi tanaman krisannya tidank menggunakan akar dari planlet. Metode ini sangat cocok digunakan jika aklimatisasi terlambat dilakukan, sehingga tanaman dalam botol terlalu tinggi. Selain itu tanaman dalam botol terkontaminasi, sehingga perlu ada penyelamatan tanaman. Planlet dipilih yang akan diaklimatisasi, lalu dibuka tutupnya kemudian di gunting tanaman kira-kira 2 ruas dari akar. Lalu diletakkan dalam rooten F, hal ini berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar didaerah potongan. Kemudian hasil tadi ditanamn dalam nampang yang berisi media arang sekam yang telah disiram dengan fungisida (Gambar 5). Tanaman siap pindah kelapang ketika umur 4-6 minggu.

                            a.                                                         b.

    Gambar 5. Aklimatisasi : a. Penclupan dalam rooten F dan b. penanaman dalam media arang sekam.

    b. Metode Langsung

    aklimatisasi metode langsung yaitu planlet ditanam beserta akarnya. Pertama planlet dikeluarkan dari dalam botol beserta medianya. Akar planlet dicuci sampai bersih menggunakan air bersih, dicuci sampai bersih. Kemudian akar dicelupkan dalam rooten F, setalah itu di tanam dalam media arang sekam. Tanaman aklimatisasi diletakkan dalam ruang khusus untuk aklimatisasi (Gambar 6).

    Gambar 6. Tempat penumbuhan aklimatisasi.

                a.                                             c.                                 d.

    Gambar 7. Kontaminasi : a. Bakteri; b. Bakteri ; c. Jamur

    4.2. Pembahasan dan Alternatif Pemecahan

    Dalam pembuatan media menggunakan air kelapa karena berbagai pertimbangan, memanfaatkan limbah organik serta mempertimbangkan dari segi ekonomisnya. Sebelumnya perusahaan menggunakan NAA sebagai ZPT media kultur. Air kelapa sebagai pengganti auksin tersebut. Penggunaan air kelapa dikarenakan pada air kelapa terdapat berbagai macam ZPT, seperti auksin dan sitokinin serta berbagai unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh dalam kultur in vitro.

    Air kelapa kelapa mengandung komponen aktif, misalnya mio-inositol, leukoantosianin, dan sitokinin. Penambahan air kelapa dan mio-inositol dalam medium Murashige dan skoog yang mengandung 3 mn dan 2,4-D akan merangsang pembentukkan kalus saccharum. Sedangkan jaringan korteks dan parengkim daun akan mudah tumbuh dalam medium yang diperkaya vitamin, air kelapa dan ekstra yeast (Thorpe, 1981). Di dalam air kelapa terkandung Diphenil urea yang mempunyai aktivitas seperti sitokinin, yaitu mempunyai aktifitas pembelahan sel. Sebab, air kelapa adalah endosperm cair yang terbentuk setelah terjadi pembuahan atau pelebuaran diri antara inti sperma dengan inti sel telur (Hendaryono dan ari, 2006). Fitohormon yang terkandung dalam air kelapa adalah sitokinin dan auksin, menurut Matatula (2003), menyatakan bahwa air kelapa terdeteksi mengandung sitokinin 5,8 mg/l dan auksin 0,07 mg/l dalam kelapa tua. Jika menambahkan 50% air kelapa ke media berarti sebanyak 2,9 mg/l sitokinin dan 0,035 mg/l auksin ditambahkan ke media. Dengan substitusi media MS dengan air kelapa 50% dapat meningkatkan berat basah tunas dan akar tanaman. Sitokinin berperan dalam memacu pembentangan sel, pembesaran dan pembelahan sel, poliferasi kalus, pembentukkan tunas, menghambat pembentukkan akar dan mendorong pembentukkan klorofil pada kalus (Untung dan Fatimah, 2004). Selain itu, sitokinin dapat mengatur fisiologis tumbuhan, hal ini disebabkan oleh hormon yang mempengaruhi asam nukleat sehingga langsung mempengaruhi sitesis protein dan mengatur aktivitas enzim (Hendaryono, dkk, 2002). Sedangkan auksi berperan dalam menginduksi terjadinya kalus, mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas, pembelahan sel, diferensiasi trkhea, dominasi apikal, pembentukkan akar baru, pembentukan tunas, mendorong proses embriogenesis dan auksin juga dapat mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman kalus (Untung dan Fatimah, 2004).

    Sukrosa di PT Inggu Laut Abadi tidak digunakan, sebagai pengganti yaitu gula pasir biasa yang banyak ada dipasaran. Sukrosa tidak digunakan karena harganya lebih mahal dibandingan dengan gula pasir yang lebih murah, penggunaannya tetap yaitu 30 g/liter. Sukrosa merupakan sumber karbohidrat dalam kultur in vitro, konsentrasi normal dalam media yaitu 2-3 % (Hendaryono, dkk, 2002). Menurut Hendaryono, dkk (2002), penggunaan sukrosa di atas kadar 3% menyebabkan terjadinya penebalan dinding sel. Media kultur yang terdapat di Inggu Laut berwarna hitam, ini karena penambahan tablet arang aktif (karbon) dengan dosis 1 tablet/liter (berat tablet 125 mg). Pemberian arang aktif bertujuan untuk membunuh bakteri yang tumbuh didalam media, mengingat karbon biasanya digunakan oleh manusia untuk mengobati yang terserang diare. Selain itu karbon juga digunakan untuk menggelapkan media, sebab akar akan cepat tumbuh dan memanjang pada media gelap dari pada bening. Pengaruh arang aktif umumnya diarahkan untuk beberapa hal, diantaranya: penyerapan zat pengatur tumbuh, penyerapan senyawa penghambat dan menggelapkan media (Muslim, 2009). Menurut Abidin (1994), konsentrasi arang aktif yang ditambahkan ke dalam media kultur umumnya ± 0,5-3%. Bahan pemadat yang digunakan adalah agar-agar berwarna putih dengan dosis 7 mg/liter (1 bungkus), agar-agar diperoleh ditoko-toko kecil dengan harga relatif murah. Konsentrasi yang digunakan dalam media kultur adalah 0,5-1%, bahan lain yang pernah coba digunakan yaitu gelatin dengan konsentrasi 10%, methosel dan algiat tetapi penanganannya sulit serta harganya mahal dan agarose dengan konsentrasi 0,35-0,7% (Hendaryono, dkk, 2002). Menurut Mansyur (2007), agar yang menghasilkan gel yang bening serta cocok untuk mendeteksi terjadinya kontaminasi adalah agar sintetik phytagel dan gelrite, agar ini banyak digunakan untuk kultur in vitro.

    Pada kultur jaringan sterilisasi merupakan hal yang sangat penting, untuk menekan terjadinya kontaminasi serta semua media, bahan dan alat harus sama steril (Santoso dan Fatimah, 2004). Alat-alat seperti botol, scalpel, gunting, pinset dan petidris  harus disterilkan dengan autoklaf. Menurut Suryowinoto (1994), sterilisasi autoklaf dilakukan pada tekanan 1,5 atm hingga suhu mencapai 1210C selama 20-30 menit. Botol-botol yang sudah terisi medium setelah ditutup dengan plastik tahan panas serta di ikat dengan karet, kemudian disterilisasi. Dengan skala kegiatan yang semakin besar, pengelolaan alat gelas perlu mendapat perhatian yang lebih terutama berkaitan dengan proses pembersihan dan penyimpanan. Kegiatan pembersihan alat gelas yanng kotor perlu mendapatkan penanganan serius, karena bila tidak segara ditangani dapat menjadi agen kontaminasi untuk koleksi atau alat-alat lain yang steril (Untung daan Fatimah, 2004). sterilisasi Ruangan juga disterilkan dengan menyemprotkan formalin 10% sebanyak 3 semprot disebarang sudut, lalu didiamkan selama semalam baru digunakan. Tempat transfer (LAFC) juga harus disterilkan dengan alkohol 70%, caranya dengan menggunakan hand sprayer lalu di lap. LAFC selain disterilkan dengan alkohol juga disterilkan dengan ultaviolet (UV) selama 1 jam sebelum digunakan, ini berfungsi untuk menghilangkan bakteri atau jamur.

    Regenerasi atau subkultur yang dilakukan di PT Inggu Laut Abadi, hampir tiap hari tergantung dengan jumlah krisan botol didalam. Eksplan yang digunakan adalah potongan dari batang planlet yang memiliki mata tunas, dengan satu helai daun pada setiap potongannya. Rata-rata dari satu planlet dihasilkan 5-12 eksplan yang

    06/17/2011 Posted by | Uncategorized | 7 Komentar

    Anemia megaloblastik

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Anemia berarti kekurangan sel darah merah, yang dapat disebabkan oleh hilangnya darah yang terlalu cepat atau karena terlalu lambatnya produksi sel darah merah. Pada anemia berat, viskositas darah dapat turun hingga 1,5 kali air, normalnya sekitar tiga kali air. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsentrasi sel darah merah mempengaruhi viskositas darah. Hal ini mengurangi tahanan

    terhadap aliran darah dalam pembuluh perifer, sehingga jumlah darah yang mengalir melalui jaringan dan kemudian kembali lagi menuju ke jantung menjadi jauh lebih normal.

    Bila penderita anemia mulai berkuat, jantung tidak mampu memompa jumlah darah lebih banyak daripada jumlah yang dipompa sebelumnya. Akibatnya selama keadaan anemia ini berkuat, dimana terjadi peningkatan kebutuhan jaringan akan oksigen, dapat timbul hipoksia jaringan yang serius dan sering terjadi gagal jantung yang akut.

    Seseorang dikatakan anemia jika hematokritnya (persen eritrosit dalam darah) kurang dari 40. Adapun hematokrit normal adalah sekitar 40-60. Penderita anemia berat bisa tanpa gejala, tetapi penderita anemia ringan bisa sangat lemah. Hal ini dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu cepat timbulnya anemia, derajat anemia, umur penderita dan kurva disosiasi oksigen hemoglobin.

    Gejalanya antara lain sesak napas, lemah, mengantuk, palpitasi dan sakit kepala. Pada orang tua dapat ditemukan gejala penyakit jantung dan kebingungan. Melihat seriusnya akibat yang ditimbulkan oleh anemia, maka perlu diketahui berbagai hal tentang anemia. Salah satunya adalah klasifikasi anemia. Anemia dapat dibedakan berdasarkan morfologi dan sebab atau etiologinya. Klasifikasi morfologi berdasarkan bentuk dari eritrosit yang mengalami kelainan, sedangkan berdasarkan etiologi ditinjau penyebab terjadinya anemia.

    1.2 Rumusan masalah

    Apa penyebab penyakit anemia megaloblastik dan bagaimana cara penanganan akibat penyakit anemia itu sendiri?

    1.3 Tujuan

    a. Utuk mengetahui definisi penyakit anemia megaloblastik

    b. Untuk mengetahui penyebab penyakit anemia megaloblastik

    c. Untuk mengetahui cara pengobatan penyakit anemia megaloblastik

    d. Untuk mengetahui klasifikasi penyakit anemia megaloblastik itu sendiri

    BAB II

    DATA ANALISA

    2.1 Klasifikasi Penyakit Anemia Megaloblastik

    Anemia dapat juga diklasifikasikan menurut etiologinya. Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat. Penyebab utama yang dipikirkan adalah

    (1) meningkatnya kehilangan sel darah merah dan

    (2) penurunan atau gangguan pembentukan sel.

    Meningkatnya kehilangan sel darah merah dapat disebabkan oleh perdarahan atau oleh penghancuran sel. Perdarahan dapat disebabkan oleh trauma atau tukak, atau akibat pardarahan kronik karena polip pada kolon, penyakit-penyakit keganasan, hemoriod atau menstruasi. Penghancuran sel darah merah dalam sirkulasi, dikenal dengan nama hemolisis, terjadi bila gangguan pada sel darah merah itu sendiri yang memperpendek

    Hidupnya atau karena perubahan lingkungan yang mengakibatkan penghancuran sel darah merah. Keadaan dimana sel darah merah itu sendiri terganggu adalah:

    1. hemoglobinopati, yaitu hemoglobin abnormal yang diturunkan, misal nya anemia sel sabit

    2. gangguan sintetis globin misalnya talasemia

    3. gangguan membran sel darah merah misalnya sferositosis herediter

    4.defisiensi enzim misalnya defisiensi G6PD (glukosa 6-fosfat dehidrogenase).

    Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik faktor (aneia rnis st gastrektomi) infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan, agen kemoterapeutik, infeksi cacing pita, makan ikan segar yang terinfeksi, pecandu alkohol.

    Sintesis DNA terganggu

    Gangguan maturasi inti sel darah merah

    Megaloblas (eritroblas yang besar)

    Eritrosit immatur dan hipofungsi

    2.2 Deskripsi dan Gambar Penyakit Anemia Megaloblastik

    Menurut (hoffbrand, pettit & moss 2005), anemia bersifat makrostik (MCV >95 fl dan sering mencapai 120-140 fl pada kasus berat) dan makrosit tersebut biasanya berbentuk oval. Perhitungan retikulosit memperlihatkan hasil yang rendah, dan jumlah leukosit serta trombosit total mungkin turun sedikit, khususnya pada pasien anemia berat. Suatu proporsi netrofil memperlihatkan adanya hipersegmentasi inti (dengan enam atau lebih lobus). Sumsum tulang biasanya hiperselular, dan eritroblas berukuran besar serta menujukan kegagalan pematangan inti dengan inti yang mempertahankan pola kromatin berlubang-lubang, halus dan berbercak, tetapi hemoglobinisasinya normal. Adanya metamielosit raksasa dan berbentuk abnormal adalah khas pada penyakit ini.

    Bilirubin indirek, hidroksibutirat, dan laktat dehidrogenase (LDH) serum smeuanya meningkat akibat pemecahan sum-sum tulang.
    Folat serum dan folat eritrosit rendah pada anemia megaloblastik yang disebakan oleh defisiensi folat. Pada defisiensi B12, folat serum cenderung meningkat, tetapi folat eritrosit menurun. Walaupun demikian, tanpa adanya defisiensi  B12, folat eritrosit adalah petunjuk folat dalam jaringan yang lebih akurat dibandingkan dengan folat serum (hoffbrand, pettit & moss 2005). Menurut (Soenarto 2001), kadar serum normal dari asam folat berkisar antara 6-20 ng/ml; nilai sama atau dibawah 4 ng/ml secara umum dipertimbangkan untuk diagnostik dari deefisiensi folat.

    05/21/2011 Posted by | Uncategorized | Meninggalkan komentar

    ”KASUS YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMECAHAN DILEMA ETIK”

    Pemecahan Dilema Etik dalam Kasus Penderitaan Klien dan Euthanasia Pasif

    KASUS :

    Seorang wanita berumur 50 tahun menderita penyakit kanker payudara terminal dengan metastase yang telah resisten terhadap tindakan kemoterapi dan radiasi. Wanita tersebut mengalami nyeri tulang yang hebat dimana sudah tidak dapat lagi diatasi dengan pemberian dosis morphin intravena. Hal itu ditunjukkan dengan adanya rintihan ketika istirahat dan nyeri bertambah hebat saat wanita itu mengubah posisinya. Walapun klien tampak bisa tidur namun ia sering meminta diberikan obat analgesik, dan keluarganya pun meminta untuk dilakukan penambahan dosis pemberian obat analgesik. Saat dilakukan diskusi perawat disimpulkan bahwa penambahan obat analgesik dapat mempercepat kematian klien.

    Kasus di atas merupakan salah satu contoh masalah dilema etik (ethical dilemma). Dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada alternatif yang memuaskan atau suatu situasi dimana alternatif yang memuaskan dan tidak memuaskan sebanding. Dalam dilema etik tidak ada yang benar atau salah. Untuk membuat keputusan yang etis, seseorang harus tergantung pada pemikiran yang rasional dan bukan emosional. Kerangkan pemecahan dilema etik banyak diutarakan dan pada dasarnya menggunakan kerangka proses keperawatan / pemecahan masalah secara ilmiah (Thompson & Thompson, 1985).

    Kozier et. al (2004) menjelaskan kerangka pemecahan dilema etik sebagai berikut :

    1. Mengembangkan data dasar

    2. Mengidentifikasi konflik

    3. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut

    4. Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat

    5. Mendefinisikan kewajiban perawat

    6. Membuat keputusan

    PEMECAHAN KASUS DILEMA ETIK
    1. Mengembangkan data dasar :

    a. Orang yang terlibat : Klien, keluarga klien, dokter, dan perawat
    b.Tindakan yang diusulkan : tidak menuruti keinginan klien untuk memberikan penambahan dosis morphin.
    c.Maksud dari tindakan tersebut : agar tidak membahayakan diri klien
    d.Konsekuensi tindakan yang diusulkan, bila tidak diberikan penambahan dosis morphin, klien dan keluarganya menyalahkan perawat dan apabila keluarga klien kecewa terhadap pelayanan di bangsal mereka bisa menuntut ke rumah sakit.

    2. Mengidentifikasi konflik akibat situasi tersebut :
    Penderitaan klien dengan kanker payudara yang sudah mengalami metastase mengeluh nyeri yang tidak berkurang dengan dosis morphin yang telah ditetapkan. Klien meminta penambahan dosis pemberian morphin untuk mengurangi keluhan nyerinya. Keluarga mendukung keinginan klien agar terbebas dari keluhan nyeri. Konflik yang terjadi adalah :
    a.Penambahan dosis pemberian morphin dapat mempercepat kematian klien.
    b.Tidak memenuhi keinginan klien terkait dengan pelanggaran hak klien.

    3.Tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan konsekuensi tindakan tersebut

    a. Tidak menuruti keinginan pasien tentang penambahan dosis obat pengurang nyeri.
    Konsekuensi :
    1)Tidak mempercepat kematian klien
    2)Keluhan nyeri pada klien akan tetap berlangsung
    3)Pelanggaran terhadap hak pasien untuk menentukan nasibnya sendiri
    4)Keluarga dan pasien cemas dengan situasi tersebut
    b. Tidak menuruti keinginan klien, dan perawat membantu untuk manajemen nyeri.
    Konsekuensi :
    1)Tidak mempercepat kematian pasien
    2)Klien dibawa pada kondisi untuk beradaptasi pada nyerinya (meningkatkan ambang nyeri)
    3)Keinginan klien untuk menentukan nasibnya sendiri tidak terpenuhi
    c. Menuruti keinginan klien untuk menambah dosis morphin namun tidak sering dan apabila diperlukan. Artinya penambahan diberikan kadang-kadang pada saat tertentu misalnya pada malam hari agar klien bisa tidur cukup.

    Konsekuensi :
    1) Risiko mempercepat kematian klien sedikit dapat dikurangi
    2) Klien pada saat tertentu bisa merasakan terbebas dari nyeri sehingga ia dapat cukup beristirahat.
    3) Hak klien sebagian dapat terpenuhi.
    4) Kecemasan pada klien dan keluarganya dapat sedikit dikurangi.

    4. Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat :
    Pada kasus di atas dokter adalah pihak yang membuat keputusan, karena dokterlah yang secara legal dapat memberikan ijin penambahan dosis morphin. Namun hal ini perlu didiskusikan dengan klien dan keluarganya mengenai efek samping yang dapat ditimbulkan dari penambahan dosis tersebut. Perawat membantu klien dan keluarga klien dalam membuat keputusan bagi dirinya. Perawat selalu mendampingi pasien dan terlibat langsung dalam asuhan keperawatan yang dapat mengobservasi mengenai respon nyeri, kontrol emosi dan mekanisme koping klien, mengajarkan manajemen nyeri, sistem dukungan dari keluarga, dan lain-lain.

    5. Mendefinisikan kewajiban perawat
    a.Memfasilitasi klien dalam manajemen nyeri
    b.Membantu proses adaptasi klien terhadap nyeri / meningkatkan ambang nyeri
    c.Mengoptimalkan sistem dukungan
    d.Membantu klien untuk menemukan mekanisme koping yang adaptif terhadap masalah yang sedang dihadapi
    e.Membantu klien untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan keyakinannya

    6. Membuat keputusan
    Dalam kasus di atas terdapat dua tindakan yang memiliki risiko dan konsekuensi masing-masing terhadap klien. Perawat dan dokter perlu mempertimbangkan pendekatan yang paling menguntungkan / paling tepat untuk klien. Namun upaya alternatif tindakan lain perlu dilakukan terlebih dahulu misalnya manajemen nyeri (relaksasi, pengalihan perhatian, atau meditasi) dan kemudian dievaluasi efektifitasnya. Apabila terbukti efektif diteruskan namun apabila alternatif tindakan tidak efektif maka keputusan yang sudah ditetapkan antara petugas kesehatan dan klien/ keluarganya akan dilaksanakan.

    DISKUSI :

    Suatu intervensi medis yang bertujuan untuk mengurangi penderitaan klien namun dapat mengakibatkan kematian klien atau membantu pasien bunuh diri disebut sebagai euthanasia aktif. Di Indonesia hal ini tidak dibenarkan menurut undang-undang, karena tujuan dari euthanasia aktif adalah mempermudah kematian klien. Sedangkan euthanasia pasif bertujuan untuk mengurangi rasa sakit dan penderitaan klien namun membiarkannya dapat berdampak pada kondisi klien yang lebih berat bahkan memiliki konsekuensi untuk mempercepat kematian klien. Walaupun sebagian besar nyeri pada kanker dapat ditatalaksanakan oleh petugas kesehatan profesional yang telah dilatih dengan manajemen nyeri, namun hal tersebut tidak dapat membantu sepenuhnya pada penderitaan klien tertentu. Upaya untuk mengurangi penderitaan nyeri klien mungkin akan mempercepat kematiannya, namun tujuan utama dari tindakan adalah untuk mengurangi nyeri dan penderitaan klien.

    PRINSIP LEGAL DAN ETIK :

    1. Euthanasia (Yunani : kematian yang baik) dapat diklasifikasikan menjadi aktif atau pasif. Euthanasia aktif merupakan tindakan yang disengaja untuk menyebabkan kematian seseorang. Euthanasia pasif merupakan tindakan mengurangi ketetapan dosis pengobatan, penghilangan pengobatan sama sekali atau tindakan pendukung kehidupan lainnya yang dapat mempercepat kematian seseorang. Batas kedua tindakan tersebut kabur bahkan seringkali merupakan yang tidak relevan.

    2. Menurut teori mengenai tindakan yang mengakibatkan dua efek yang berbeda, diperbolehkan untuk menaikkan derajat/dosis pengobatan untuk mengurangi penderitaan nyeri klien sekalipun hal tersebut memiliki efek sekunder untuk mempercepat kematiannya.

    3. Prinsip kemanfaatan (beneficence) dan tidak merugikan orang lain (non maleficence) dapat dipertimbangkan dalam kasus ini. Mengurangi rasa nyeri klien merupakan tindakan yang bermanfaat, namun peningkatan dosis yang mempercepat kematian klien dapat dipandang sebagai tindakan yang berbahaya. Tidak melakukan tindakan adekuat untuk mengurangi rasa nyeri yang dapat membahayakan klien, dan tidak mempercepat kematian klien merupakan tindakan yang tepat (doing good).

    DAFTAR PUSTAKA:

    • Kozier B., Erb G., Berman A., & Snyder S.J, (2004), Fundamentals of Nursing Concepts, Process and Practice 7th Ed., New Jersey: Pearson Education Line

    • Taylor C., Lilies C., & Lemone P. (1997), Fundamentals of Nursing, Philadelphia : Lippincott

    05/21/2011 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

    Teknologi Rekayasa Chitosan ++ sebagai Pengawet dan Peningkat Kadar Protein pada Tahu

    1. A.      JUDUL PROGRAM

    Teknologi Rekayasa Chitosan ++ sebagai Pengawet dan Peningkat Kadar Protein pada Tahu

     

    1. B.       LATAR BELAKANG MASALAH

    Potensi perairan di Indonesia kaya dengan berbagai jenis invertebrata misalnya udang. Udang merupakan bahan makanan yang mengandung protein (21%), lemak (0,2%), vitamin A dan B1, dan mengandung mineral seperti  zat kapur dan fosfor.  Udang dapat diolah dengan beberapa cara seperti udang beku, udang kering, udang kaleng, dan lain-lain (Goligo, 2009).

    Sebagai penghasil udang dengan nilai ekspor yang tinggi Jawa Timur memproduksi udang beku sebesar 47.807,788 ton atau setara dengan US$ 368.644.445,41 pada tahun 2005 (Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur, 2005). Dari proses pembekuan, 40% dari berat udang menjadi limbah (bagian kulit dan kepala) (Rekso, 2001). Di Indonesia udang mengalami proses “cold storage” yaitu bagian kepala, ekor, dan kulit dibuang sebagai limbah.

    Limbah udang ini dapat mencemari lingkungan di sekitar pabrik sehingga perlu dimanfaatkan. Selama ini kulit udang hanya dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kerupuk, terasi, dan suplemen bahan makanan ternak. Padahal 20-30% limbah tersebut mengandung senyawa chitin yang dapat diubah menjadi chitosan (Haryani dkk, 2007).

               Chitin dalam cangkang udang, terdapat sebagai mukopoli sakarida yang berikatan dengan garam-garam anorganik, terutama kalsium karbonat (CaCO3), protein dan lipida termasuk pigmen-pigmen. Oleh karena itu untuk memperoleh chitin dari cangkang udang melibatkan proses-proses pemisahan protein (deproteinasi) dan pemisahan mineral (demineralisasi), sedangkan untuk mendapatkan chitosan dilanjutkan dengan proses deasetilasi. Chitosan sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan pengawet makanan, karena chitosan memiliki polikation bermuatan positif sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroba (Wardaniati, 2009) dan mampu berikatan dengan senyawa-senyawa yang bermuatan negatif seperti protein, polisakarida, asam nukleat, logam berat dan lain-lain (Murtini dkk, 2008). Selain itu, molekul chitosan memiliki gugus N yang mampu membentuk senyawa amino yang merupakan komponen pembentukan protein (Irianto dkk, 2009)  dan memiliki atom H pada gugus amina yang memudahkan chitosan berinteraksi dengan air melalui ikatan hidrogen (Rochima, 2009).

               Menurut Hardjito (2006) pada prinsipnya untuk mengawetkan makanan  membutuhkan  chitosan dengan konsentrasi 1,5 % (dalam 1 liter air dibutuhkan 15 gram chitosan) sedangkan aplikasi chitosan sebagai bahan pengawet dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pencampuran dan perendaman pada bahan pangan. Salah satu penelitian tentang aplikasi chitosan dengan cara perendaman yaitu penelitian yang telah dilakukan oleh Hardjito (2006) dan hasilnya menunjukkan bahwa tahu yang telah diberi chitosan dengan konsentrasi 1,5% mempunyai rasa, bau, tekstur yang hampir sama dengan tahu tanpa pemberian chitosan, dan tahu mampu bertahan selama tiga hari yaitu cukup dicelup (dip) selama 5-10 menit dalam larutan chitosan lalu dipindah ke rendaman air biasa saat pengangkutan.

    Menurut Standar Industri Indonesia (1992) tahu merupakan suatu produk berupa padatan lunak yang dibuat melalui proses pengolahan kedelai (Glycine sp) dengan cara pengendapan proteinnya dengan atau tanpa penambahan bahan lain yang diijinkan (Farida, 2002).  Suciati (2003) menyatakan bahwa tahu sebagai salah satu produk olahan patut dikembangkan untuk mengatasi masalah kekurangan protein bagi masyarakat luas. Hal ini ditunjang oleh harga tahu itu sendiri yang relatif murah dan terjangkau.

    Tahu merupakan suatu produk yang terbuat dari hasil penggumpalan protein kedelai. Dalam perdagangan dikenal dua jenis tahu, yaitu tahu biasa dan tahu Cina. Pada pembuatan tahu Cina, kedelai direbus terlebih dahulu sebelum direndam dan biasanya mempunyai ukuran lebih besar (Koswara, 1992).

    Tahu telah menjadi daging tiruan di Cina sejak 2000 tahun yang lalu. Kini sudah menyebar di seluruh penjuru dunia dan menjadi semakin populer. Hal ini terjadi karena meningkatnya tuntutan pilihan pangan, yang menginginkan makanan segar, sehat dan tidak terlalu memberatkan lambung, berkalori rendah, protein tinggi, sedikit manis yang memudahkan penggunaan dalam berbagai hidangan (Winarno, 1993). Standar Industri Indonesia (1992) menyatakan bahwa yang disebut tahu adalah suatu produk makanan berupa padatan lunak yang dibuat melalui proses pengolahan kedelai (Glycine sp) dengan cara pengendapan proteinnya dengan atau tanpa penambahan bahan lain yang diijinkan (Farida, 2002).

    Tahu yang diproduksi di Kota Batu pada saat ini proses pengolahannya masih dilakukan secara tradisional. Sehingga daya simpan tahu yang diproduksi memiliki tingkat keawetan yang cukup rendah. Berdasarkan observasi yang dilakukan terhadap mitra PKMT, tingkat keawetan tahu yang diproduksi hanya bertahan sekitar 2 hari setelah diproduksi padahal permintaan konsumen tahu di Kota Batu cukup tinggi. Oleh karena itu perlu adanya suatu teknologi rekayasa tepat guna dalam hal pengawetan tahu, yaitu dengan menggunakan chitosan dari kulit udang. Selain dapat mengawetkan tahu, chitosan dari kulit udang dapat meningkatkan kadar protein tahu dan dapat mengurangi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah kulit udang sehingga teknologi rekayasa ini diberi nama “Chitosan ++”

    1. C.      RUMUSAN MASALAH

    Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang kami angkat adalah:

    1.     1.     Apakah pemberian chitosan kulit udang  memberikan pengaruh sebagai bahan pengawet tanpa merusak kualitas produk tahu yang diproduksi unit usaha kecil di Kota Batu?
    2.     2.     Apakah pemberian chitosan kulit udang  memberikan pengaruh sebagai bahan peningkat kadar protein tahu yang diproduksi unit usaha kecil di Kota Batu?
    3.     3.     Bagaimanakah mekanisme Chitosan ++ dalam proses pengawetan produk tahu?
    4.     4.     Bagaimanakah aplikasi teknologi rekayasa Chitosan ++ sebagai pengawet alami yang berbahan dasar kulit udang?
    1. D.      TUJUAN

    Teknologi dilakukan bertujuan untuk:

    1.     1.     Mengetahui pemberian chitosan kulit udang dalam memberikan pengaruh sebagai bahan pengawet tanpa merusak kualitas produk tahu yang diproduksi unit usaha kecil di Kota Batu
    2.     2.     Mengetahui pemberian chitosan kulit udang dalam memberikan pengaruh sebagai bahan peningkat kadar protein tahu.
    3.     3.     Mengetahui mekanisme Chitosan ++  dalam proses pengawetan produk tahu.
    4.     4.     Mengetahui aplikasi teknologi rekayasa Chitosan ++ sebagai pengawet alami yang berbahan dasar kulit udang.

    E.  LUARAN YANG DIHARAPKAN                                             

    1. Menghasilkan produk teknologi rekayasa Chitosan ++ sebagai pengawet alami pada tahu yang dapat meningkatkan kualitas produk tahu dari segi gizi ataupun organoleptik.
    2. Hak paten produk pengawet alami  Chitosan ++ yang berbahan dasar limbah kulit udang.
    1. F.       KEGUNAAN  

    Kegunaan yang diharapkan dari teknologi ini adalah:

    1. Secara Praktis
      1. Memberikan solusi kepada masyarakat mengenai pengolahan limbah khususnya limbah kulit udang dengan memanfaatkannya sebagai bahan pengawet alami produk tahu.
      2. Memberikan informasi dan pelatihan bagi unit masyarakat usaha kecil pembuat tahu tentang bahan pengawet tahu secara alami.
    2.  Secara Teoritis
      1. Memberikan penguatan konsep mata kuliah invertebrata sebagai bentuk penerapan dalam bidang teknologi terapan.
      2. Sebagai model terapan teori dasar-dasar ilmu gizi yang diaplikasikan dalam bentuk pengawet alami pada tahu.

    G.  TINJAUAN PUSTAKA

    G.1 Kulit Udang

    Knorr et al (1988) menyatakan bahwa cangkang kulit udang yang keras mengandung 34,9 % protein, 27,6 % mineral kalsium karbonat (CaCO3), 18,1 % chitin dan 19,4 % komponen lain seperti zat terlarut, lemak dan protein. Kulit udang juga mengandung karoten astaksantin 0,02 % (Harini, 2003).

    Kulit udang terdiri atas empat lapisan, yaitu : epikutikula, eksokutikula, endokutikula dan epidermis. Tebal tipisnya kutikula bervariasi, bergantung pada lokasinya, di daerah kepala tebalnya 75 mikron dan daerah lunak di bagian pangkal kaki hanya 5 mikron. Kutikula terdiri dari 38,7% zat anorganik yang mengandung 98,5% kalsium. Pada waktu moulting chitin dan protein dari kulit yang lama lebih dulu diserap dan bahan anorganiknya tidak diserap. Sebelum moulting epikutikula dan eksokutikula terbentuk dan terpisah dengan kutikula yang lama, kemudian segera setelah terjadi moulting kalsium perlahan-lahan tertimbun ke dalam eksokutikula dan dalam waktu 5 jam penimbunan tersebut menjadi sempurna. Pertukaran kalsium antara cairan tubuh dengan air laut berjalan melalui insang, kira-kira 90% Ca diserap dan 79% dikeluarkan (Darmono, 1993).

    G.2 Chitin dan Chitosan

    Kata ”kitin” berasal dari bahasa Yunani, yaitu ”chiton”, yang berarti baju rantai besi. Kitin pertama kali diteliti oleh Bracanot pada tahun 1811 dalam residu ekstrak jamur yang dinamakan ”fugine”. Pada tahun 1823, Odier mengisolasi suatu zat dari kutikula serangga jenis elytra dan mengusulkan nama ”chitin” (Firdaus dkk, 2009). Pada umumnya chitin di alam tidak berada dalam keadaan bebas, akan tetapi berikatan dengan protein, mineral, dan berbagai macam pigmen.

    Walaupun chitin tersebar di alam, tetapi sumber utama yang digunakan untuk pengembangan lebih lanjut adalah jenis udang-udangan (crustaceae) yang dipanen secara komersial. Limbah udang sebenarnya bukan merupakan sumber yang kaya akan chitin, namun limbah ini mudah didapat dan tersedia dalam jumlah besar sebagai limbah hasil dari pembuatan udang (Mudhzz, 2010).

    Chitin (C8H13NO5)n merupakan polisakarida terbesar kedua setelah selulosa dan mempunyai rumus kimia poli (2-asetamida-2-dioksi-β-D-Glukosa) dengan ikatan β-glikosidik (1,4) yang menghubungkan antar unit ulangnya. Chitin tidak mudah larut dalam air, sehingga penggunaannya terbatas. Namun dengan modifikasi struktur kimiawinya maka akan diperoleh senyawa turunan chitin yang mempunyai sifat kimia yang lebih baik (Srijanto dan Imam, 2009). Salah satu turunan chitin adalah chitosan (C6H11O4N)n suatu polisakarida linier dengan komposisi glukosamin. Chitosan mempunyai rumus kimia poli (2-amino2-dioksi-β-D-Glukosa) dan dapat dihasilkan dengan proses hidrolisis chitin menggunakan basa kuat (Srijanto dan Imam, 2009). Chitosan berbentuk serpihan putih kekuningan, tidak berbau dan tidak berasa. Kadar chitin dalam berat udang, berkisar antara 60-70 % dan bila diproses menjadi chitosan menghasilkan yield 15-20 % (Wardaniati, 2009).

    Menurut Hardjito (2009) chitosan mempunyai bentuk mirip dengan selulosa, dan bedanya terletak pada gugus rantai C-2 dimana gugus hidroksi (OH) pada C-2 digantikan oleh gugus amina (NH2). Proses utama dalam pembuatan chitosan, meliputi penghilangan protein dan kandungan mineral melalui proses kimiawi yang disebut deproteinasi dan demineralisasi yang masing-masing dilakukan dengan menggunakan larutan basa dan asam. Selanjutnya, chitosan diperoleh melalui proses deasetilasi dengan cara memanaskan dalam larutan basa (Mudhzz, 2010). Karakteristik fisiko-kimia chitosan berwarna putih dan berbentuk kristal, chitosan mempunyai sifat biodegradabel yaitu mudah terurai secara  hayati, tidak beracun, dapat larut dalam larutan asam organik encer, tetapi tidak larut dalam air, larutan alkali pada PH di atas 6,5 dan pelarut organik lainnya. Pelarut chitosan yang baik adalah asam asetat (Mahmiah, 2005).

    Menurut Harini (2003) molekul chitosan bersifat lebih kompak dibandingkan dengan polisakarida lainnya apabila berada dalam larutan asam encer dengan kekuatan ionik rendah. Hal ini mungkin disebabkan oleh densitas muatan yang tinggi. Di dalam larutan berionik tinggi atau bila ke dalam larutan ditambahkan urea, ikatan hidrogen dan gaya elektrostatik pada molekul chitosan terganggu, konformasinya menjadi bentuk acak (random coil). Sifat fleksibel molekul ini menjadikannya dapat membentuk baik konformasi kompak maupun memanjang (polisakarida lain umumnya berbentuk memanjang).

    Adanya gugus fungsi hidroksil primer dan sekunder mengakibatkan chitosan mempunyai kereaktifan kimia yang tinggi. Gugus fungsi yang terdapat pada chitosan memungkinkan juga untuk modifikasi kimia yang beraneka ragam termasuk reaksi-reaksi dengan zat perantara ikatan silang, kelebihan ini dapat memungkinkannya chitosan digunakan sebagai bahan campuran bioplastik, yaitu plastik yang dapat terdegradasi dan tidak mencemari lingkungan.

    Jika sebagian besar gugus asetil pada chitin disubsitusikan oleh hidrogen menjadi gugus amino dengan penambahan basa konsentrasi tinggi. NaOH 50% dapat digunakan untuk deasetilasi chitin dari limbah kulit udang, maka hasilnya dinamakan chitosan atau chitin terdeasetilasi. Chitosan sendiri bukan merupakan senyawa tunggal, tetapi merupakan kelompok yang terdeasetilasi sebagian dengan derajat deasetilasi beragam.

    Chitosan dapat diperoleh dengan mengkonversi chitin, sedangkan chitin sendiri dapat diperoleh dari kulit udang. Produksi kitin biasanya dilakukan dalam tiga tahap yaitu: tahap demineralisasi, penghilangan mineral; tahap deproteinasi, penghilangan protein; dan tahap depigmentasi, pemutihan. Sedangkan chitosan diperoleh dengan deasetilasi chitin yang didapat dengan larutan basa konsentrasi tinggi. Deproteinasi menggunakan natrium hidroksida lebih sering digunakan, karena lebih mudah dan efektif. Pada pemisahan protein menggunakan natrium hidroksida, protein diekstraksi sebagai natrium proteinat yang larut.

    Pembuatan chitosan dilakukan dengan cara penghilangan gugus asetil (-COCH3) pada gugusan asetil amino chitin menjadi gugus amino bebas chitosan dengan menggunakan larutan basa. Chitin mempunyai struktur kristal yang panjang dengan ikatan kuat antara ion nitrogen dan gugus karboksil, sehingga pada proses deasetilasi digunakan larutan natrium hidroksida konsentrasi 40-50% dan suhu yang tinggi (100-150oC) untuk mendapatkan chitosan dari chitin.

    Reaksi pembentukan chitosan dari chitin merupakan reaksi hidrolisa suatu amida oleh basa. Chitin bertindak sebagai amida dan NaOH sebagai basanya. Mula-mula terjadi reaksi adisi, dimana gugus OH- masuk ke dalam gugus NHCOCH3 kemudian terjadi eliminasi gugus CH3COO- sehingga dihasilkan suatu amida yaitu chitosan.

    O

    CH2OH

    CH2OH

    O

    Chitosan

    Chitin

     

    Gambar 1. Reaksi pembentukan chitosan dari chitin

    (Sumber : Wardaniati, 2009)

    Spesifikasi chitin dan chitosan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

    Tabel 1. Spesifikasi (standart mutu) chitin dan chitosan

    Spesifikasi

    Deskripsi

    Air 2-10% pada kondisi normal laboratorium
    Nitrogen 6-7% dalam chitin, 7-8,4% dalam chitosan
    Derajat deasetilasi < 10% untuk chitin, >70% untuk chitosan
    Abu < 1,0%

    Sumber : Muzzarelli (1985) dalam Handayani (2004)

    Chitosan sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan antimikroba, karena mengandung enzim lysosim, gugus aminopolysacharida, polikation bermuatan positif yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba dan efisiensi daya hambat chitosan terhadap bakteri tergantung dari konsentrasi pelarutan chitosan. kemampuan dalam hal menekan pertumbuhan bakteri disebabkan chitosan memiliki polikation bermuatan positif yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba (Wardaniati, 2009), dan mampu berikatan dengan senyawa-senyawa yang bermuatan negative seperti protein, polisakarida, asam nukleat, logam berat dan lain-lain (Murtini dkk, 2008).  Selain itu, molekul chitosan memiliki gugus N yang mampu membentuk senyawa amino yang merupakan komponen pembentukan protein (Irianto dkk, 2009) dan memiliki atom H pada gugus amina yang memudahkan chitosan berinteraksi dengan air melalui ikatan hidrogen dan memiliki sifat hidrofobik (Rochima, 2009). Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan-IPB (2006) menyatakan bahwa chitosan tidak dapat dicerna tanpa adanya enzim chitonase, oleh karena itu penggunaan chitosan harus dilarutkan dahulu dalam larutan asam asetat 2 %. Hasil akhir larutan tersebut mempunyai PH 5-6.

    Menurut Hardjito (2009) chitosan memiliki beberapa manfaat  sebagai berikut :

    1. Penggunaan chitosan pada produk pangan dapat menghindarkan konsumen dari kemungkinan terjangkit penyakit typhus, karena chitosan dapat menghambat pertumbuhan berbagai mikroba patogen penyebab penyakit typhus seperti Salmonella enterica, S. enterica var. Paratyphi-A dan S. enterica var. Paratyphi-B. Chitosan juga dapat menghambat perbanyakan sel kanker lambung manusia dan meningkatkan daya tahan tubuh. Chitosan telah mendapatkan persetujuan dari BPOM No.HK.00.05.52.6581 untuk digunakan dalam produk pangan. Di Amerika chitosan telah mendapat pengesahan sebagai produk GRAS (Generally Recognised As Safe) oleh FDA.

    2. Chitosan dapat menjerat lemak (fat absorber) dan mengeluarkannya bersama kotoran karena chitosan sebagai serat tidak dapat dicerna oleh tubuh, sehingga penggunaan chitosan akan mengurangi resiko terkena kolesterol tinggi

    3. Berfungsi sebagai pelembab, antioksidan, tabir surya pada produk  kosmetik.

     

     

     

    G.3 Protein

    Menurut Suhardjo dan Clara (1992) protein berasal dari bahasa Yunani (Greek). “Primary, holding first place” yang berarti menduduki tempat yang terutama.  Protein terbentuk dari unsur-unsur organik yang hampir sama dengan karbohidrat dan lemak yatu terdiri dari unsur karbon, hidrogen,  oksigen dan mineral yaitu fosfor, sulfur dan zat besi. Molekul protein tersusun dari satuan-satuan dasar kimia yaitu asam amino. Dalam molekul protein, asam-asam amino ini saling berhubung-hubungan dengan suatu ikatan yang disebut ikatan peptida (-CONH-). Satu molekul protein terdiri dari 12 sampai 18 macam asam amino dan dapat mencapai ratusan asam amino.

    Kebutuhan badan manusia untuk mempertahankan dan memperbaiki tenunan yang sudah tua terus berlangsung selama hidup. Protein dalam jaringan tubuh kita tidak statis, atau tetap. Artinya, sel-sel jaringan tersebut dipecah dan diganti dengan protein baru yang disintesis dari asam amino yang berasal dari makanan dan tenunan dalam tubuh. Apabila seseorang baru saja menjadi donor darah, mengalami menstruasi yang berlebihan, pendarahan yang hebat, kebakaran kulit, TBC kronis, dan sebagainya, maka keperluan proteinnya akan sangat tinggi (Winarno, 1993).

    Protein sendiri mempunyai banyak sekali fungsi di dalam tubuh kita. Pada dasarnya protein menunjang keberadaan setiap sel tubuh, proses kekebalan tubuh, sumber energi, pembentukan dan perbaikan sel dan jaringan, sebagai sintesis hormon, enzim, antibodi, pengatur keseimbangan kadar asam basa dalam sel. Menurut Budianto (2001) protein berfungsi sebagai media perambatan impuls syaraf, alat pengangkut dan alat penyimpan, pengatur pergerakan.

    Semua enzim adalah protein yang bertindak sebagai katalis dalam pencernaan dan metabolisme. Beberapa hormon, khususnya tiroksin, adrenalin, dan insulin yang diproduksi oleh kelenjar-kelenjar hormon pada umumnya terdiri atas protein. Hormon tersebut berfungsi mengatur dan mengkoordinasi keaktifan badan. Antibodi adalah senyawa yang membantu kemampuan badan untuk melawan infeksi, yaitu masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh (Winarno, 1993). Setiap orang dewasa harus sedikitnya mengkonsumsi 1 g protein per kg berat tubuhnya. Kebutuhan akan protein bertambah pada perempuan yang mengandung dan atlet-atlet. Sumber protein dapat diperoleh dari : dagingikantelursusu, tumbuhan berbiji, suku polong-polongan, kentang.

    Menurut Anonymous (2009) kekurangan protein bisa berakibat fatal antara lain:

    1. Kerontokan rambut (rambut terdiri dari 97-100% dari protein – keratin)
    2. Kwasiorkor, penyakit kekurangan protein. Biasanya pada anak-anak kecil yang menderitanya, dapat dilihat dari yang namanya busung lapar, yang disebabkan oleh filtrasi air di dalam pembuluh darah sehingga menimbulkan odem. Simptom yang lain dapat dikenali adalah: hipotonus, gangguan pertumbuhan, hati lemak. Kekurangan yang terus menerus menyebabkan marasmus dan berkibat kematian.

    Kelebihan protein dianggap tidak membahayakan. Banyak orang mengkonsumsi lebih dari 200 gr protein per hari tanpa mengalami sakit. Akan tetapi, beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa konsumsi protein yang terlalu tinggi dapat berpengaruh tidak baik. Kelebihan protein dalam makanan yang dikonsumsi dirusak dan sebagian besar nitrogennya dikeluarkan dalam bentuk urea. Beban yang harus dikerjakan dalam menyaring dan membuang hasil metabolisme oleh ginjal, meningkat bila konsumsi protein meningkat (Winarno, 1993).

    G.4 Tahu

    Tahu merupakan suatu produk yang terbuat dari hasil penggumpalan protein kedelai. Dalam perdagangan dikenal dua jenis tahu, yaitu tahu biasa dan tahu Cina. Pada pembuatan tahu Cina, kedelai direbus terlebih dahulu sebelum direndam dan biasanya mempunyai ukuran lebih besar (Koswara, 1992). Tahu dikenal masyarakat sebagai makanan sehari-hari yang umumnya sangat digemari serta mempunyai daya cerna yang tinggi. Keuntungan lain pada pembuatan tahu adalah berkurangnya senyawa anti tripsin (tripsin inhibitor) yang terbuang bersama whey dan rusak selama pemanasan. Disamping itu adanya proses pemanasan dapat menghilangkan bau langu kedelai (Koswara, 1992). Tahu sebagai salah satu produk olahan patut dikembangkan untuk mengatasi masalah kekurangan protein bagi masyarakat luas. Hal ini ditunjang oleh harga tahu itu sendiri yang relatif murah dan terjangkau. Tahu mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi terutama kandungan proteinnya. Komposisi nilai gizi pada 100 gr tahu segar dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini:

    Tabel.2. Komposisi Nilai Gizi pada 100 gr Tahu Segar

    Komposisi

    Jumlah

    Energi 63 kal
    Air 86,7 g
    Protein 7,9 g
    Lemak 4,1 g
    Karbohidrat 0,4 g
    Serat 0,1 g
    Abu 0,9 g
    Kalsium 150 mg
    Besi 0,2 mg
    Vitamin B1 0,04 mg
    Vitamin B2 0,02 mg
    Niacin 0,4 mg

    (Sumber : Direktorat Gizi Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam Suciati, 2003).

    Tahu termasuk bahan makanan yang berkadar air tinggi. Besarnya kadar air dipengaruhi oleh bahan penggumpal yang dipakai pada saat pembuatan tahu. Bahan penggumpal asam menghasilkan tahu dengan kadar air lebih tinggi dibanding garam kalsium. Bila dibandingkan dengan kandungan airnya, jumlah protein tahu tidak terlalu tinggi, hal ini disebabkan oleh kadar airnya yang sangat tinggi. Makanan-makanan yang berkadar air tinggi umumnya kandungan protein agak rendah. Selain air, protein juga merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme pembusuk yang menyebabkan bahan mempunyai daya awet rendah. Pengeringan dapat menaikkan daya awet, tetapi menyebabkan bahan berubah sifat dan penggunaannya yaitu tidak dapat digunakan sebagaimana dalam bentuk segar, tetapi dikonsumsi sebagai kripik tahu (Fazani, 2009).

    Pada dasarnya proses pembuatan tahu terdiri dari dua bagian, yaitu pembuatan susu kedelai dan penggumpalan proteinnya. Zat yang dapat digunakan sebagai  penggumpal (koogulan)  adalah jeruk nipis, cuka, larutan asam laktat, larutan CaCI2 atau CaSO4. Beberapa faktor yang mempengaruhi rendaman protein dan mutu tahu adalah : cara penggilingan atau ekstraksi, pemilihan bahan baku, bahan penggumpal dan keadaan sanitasi proses pengolahan pada umumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi secara panas menghasilkan rendaman lebih banyak.

    1. H.      METODE PENDEKATAN

    Adapun tahapan-tahapan pelaksanaan program ini terdiri atas:

    1. Tahap Persiapan

    Pada tahap ini kami akan melakukan koordinasi baik koordinasi intern kelompok maupun koordinasi dengan mitra kami (Pengusaha tahu). Selain itu kami akan melakukan uji pendahuluan dengan menggunakan pengawet alami Chitosan ++  berbagai dosis untuk mendapatkan dosis terbaik dalam proses pengawetan. Kemudian dilakukan pula uji kadar protein untuk mengetahui peningkatan kadar protein pada tahu yang sudah ditambahkan teknologi rekayasa Chitosan ++. Semua uji dilakukan di Laboratorium Kimia Universitas Muhammadiyah Malang.

    1. Tahap Produksi Chitosan ++

    Setelah memperoleh dosis terbaik serta pengaruh Chitosan ++ pada protein tahu  kami melakukan salah satu pelaksanaan program yaitu tahap produksi yang dimulai dengan:

    1. Mempersiapkan alat dan bahan

    Alat-alat

    1)      Statif

    2)      Klem

    3)      Magnetic stirrer

    4)      Thermometer

    5)      Pemanas listrik

    6)      Oven

    7)      Timbangan analitik

    8)      Blender

    9)      Pisau

    10)  Alat-alat gelas

    Bahan-bahan

    1)      Aquades

    2)      NaOH

    3)       HCl

    4)      Asam asetat

    5)      Tahu

    6)      H2SO4

    7)      Br

    8)      Bahan untuk analisa kadar protein

    9)      Kulit udang Vannamei.

    1. Proses pembuatan Chitosan ++

    Chitosan ++

     

    1. Tahap Pengaplikasian

    Setelah pematangan koordinasi, persiapan telah tercapai dan tahap pembuatan Chitosan ++ telah dilakukan, kami akan mengaplikasikan teknologi rekayasa Chitosan ++ pada mitra kerja kami yaitu pengusaha tahu di Kota Batu. Dalam proses pengaplikasian ini dilakukan pendampingan cara pengunaan Chitosan ++. Adapun cara penggunaan teknologi rekayasa ini yaitu:

    1. Melarutkan Chitosan ++ kedalam larutan asam asetat encer (1 %)
    2. Menuangkan larutan Chitosan ++  tersebut ke dalam suatu wadah
    3. Memasukkan tahu kedalam larutan Chitosan ++  dan direndam selama 15 menit.
    1. Tahap Monitoring dan Evaluasi

    Monitoring dilakukan setiap kali produksi yang bertujuan untuk melihat kualitas tahu pada setiap pembelian yang meliputi daya minat konsumen terhadap tahu. Sedangkan pada tahap evaluasi bertujuan untuk mengetahui hasil dari proses penerapan teknologi rekayasa Chitosan ++  yang  dilakukan pada setiap minggunya. Dari hasil evaluasi nantinya dapat diketahui apakah teknologi ini sudah benar-benar berjalan sesuai dengan tujuan program atau masih belum. Jika dari hasil evaluasi belum sesuai dengan tujuan maka kami akan terus melakukan perbaikan sampai teknologi rekayasa Chitosan ++ dapat teraplikasikan pada mitra dengan hasil yang baik.

    I.   JADWAL KEGIATAN PENELITIAN

    Jenis Kegiatan

    Bulan I

    Bulan II

    Bulan III

    Minggu

    Minggu

    Minggu

    1

    2

    3

    4

    1

    2

    3

    4

    1

    2

    3

    4

    Persiapan

    1. Koordinasi intern dan mitra
    2. Uji Coba Chitosan

    x

    x

    Pelaksanaan Kegiatan

    1. Pembuatan Chitosan
    2. Pengaplikasian
    3. Organoleptik
    4. Monitoring dan Pendampingan

    x

    x

    x

    x

    x

    x

    x

    x

    x

    x

    x

    x

    x

    x

    x

    x

    Evaluasi x x x x x X
    Penyusunan Laporan x
    Seminar Hasil x

     

     

     

    J.  RANCANGAN BIAYA

    1. Biaya bahan habis pakai

    a. Kedelai @Rp 50.000 x 10 kg                                       Rp. 500.000

    b. Kulit Udang @Rp 100.000 x 2 kg                               Rp. 200.000

    c. NaOH 1 kg                                                                    Rp. 200.000

    d. HCL 1 liter                                                                   Rp. 250.000

    e. CH3COOH 1 liter                                                         Rp. 150.000

    2. Biaya alat habis pakai

    a. Masker wajah 1 kotak                                                   Rp. 250.000

    b. Sarung tangan 1 kotak                                                  Rp. 150.000

    c. Kertas saring Whatman 1 pak                                       Rp. 200.000

    3. Peralatan penunjang PKM

    a. Alat-alat pembuatan Chitosan                                       Rp. 800.000

    b. Kertas, alat tulis, printer                                                Rp. 350.000

    4. Transport @Rp. 100.000,- x 4 orang                                  Rp. 400.000

    5. Organoleptik                                                                       Rp. 600.000

    6. Koordinasi dengan mitra                                                    Rp. 650.000

    7. Monitoring/Pendampingan  @Rp. 50.000 x 7 x 4 orang    Rp. 1.400.000

    8. Lain-lain

    a. Dokumentasi                                                                 Rp. 450.000

    b. Poster                                                                            Rp. 350.000

    c. Seminar Hasil                                                                Rp. 500.000

    d. Evaluasi program                                                          Rp. 525.000

    e. Sewa Laboratorium                                                       Rp. 800.000

    f. Sewa Alat Laboratorium                                               Rp. 400.000

    g. Laporan akhir                                                                Rp. 200.000

    Total Biaya                                                                      Rp 9.325.000

     

     

     

     

    K. DAFTAR PUSTAKA

    Budianto, M.A.K. 2001. Dasar-dasar Ilmu Gizi. Malang : UMM Press.

    Darmono. 1993. Budidaya Udang Penaeus. Jakarta : Kanisius.

    Dinas Kelautan dan Kelautan Jatim. 2005. Laporan Statistik Perikanan Jawa Timur Tahun 2005. Surabaya : DKP.

    Farida, M. 2002. Pengaruh Penggunaan Whey sebagai Media Perendaman terhadap Daya Simpan Tahu yang Dikemas (Kajian Lama Penundaan Whey dan Lama Pemanasan Tahu). Skripsi Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Hasil Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.

    Firdaus U.A, Khoriyah, Wahyudi, Alziyah N.A.K. 2009. Pemanfaatan CaCO3 dalam Kulit Udang sebagai Absorben Limbah Logam Berat pada Perairan. Makalah Jurusan Kimia Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang.

    Goligo, I .2009. Subsektor Perikanan. Makasar : Bone.

    Handayani, T. 2004. Pengaruh Habitat Hidup Udang dan Urutan Tahapan Proses Ekstraksi Terhadap Kualitas Chitin dan Chitosan dari Kulit Udang serta Pemanfaatannya sebagai Bahan Koogulasi Pada Sari buah Tomat. Skripsi program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.

    Hardjito, L. 2006. Chitosan Lebih Awet dan Aman (online), (http://www.mail-archive.com/majelismuda@yahoogroups.com/msg00980 html. Diakses 8 Oktober 2010).

    Harini, N .2003. Proses Pembuatan Chitin-Chitosan (Kajian Berdasarkan Bagian-Bagian Tubuh Kulit Udang (Penaeus vannamei) dan Perlakuan fisik). Laporan Grand Research Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.

    Haryani, K dan Budiyati. 2007. Khitosan dari Kulit Udang untuk Mengadsorbsi Logam Krom (Cr6+) dan Tembaga (Cu) (online), Vol. 11 No.2 (http://eprints.undip.ac.id/2175/1/Artikel_Kristinah_UNDIP_7.pdf. Diakses 8 Oktober 2010).

    Koswara, S. 1992. Teknologi Pengolahan Kedelai. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

    Mahmiah. 2005. Pemanfaatan Limbah Kulit Udang Sebagai Bahan Dasar Isolasi Chitin dan Chitosan. Jurnal Perikanan, No.2 Vol.1 Februari 2005 Hal.71-75

    Mudzz. 2010. Chitosan (online), (http://mudhzz.wordpress.com/chitosan/. Diakses 6 Oktober  2010).

    Murtini, J.T, Dwiyitno dan Yusma. 2008. Penurunan Kandungan Kolesterol pada Cumi-cumi dengan Kitosan Larut Asam dan Pengepresan. Prosiding Seminar Nasional Tahunan V Hasil Kelautan Tahun 2008. Jakarta.

    Rekso, G.T. 2001. Pemanfaatan Limbah Perikanan. Jakarta : Puslitbang Teknologi Isotop dan Radiasi (P3TIR), Badan Teknologi Nasional.

    Rochima, E. 2009. Karakterisasi Kitin dan Kitosan Asal Limbah Rajungan Cirebon Jawa Barat (online), (erochima@yahoo.com. Diakses 6 Oktober 2010).

    Suciati, W. 2003. Analisis Nilai Tambah dan Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi pada Agroindustri Tahu Skala Kecil dan Skala Rumah Tangga (Studi Kasus pada Agroindustri Tahu di Desa Gedog Wetan Turen Kabupaten Malang). Skripsi Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.

    Suhardjo dan Clara M.K. 1992. Prinsip-prinsip Ilmu Gizi. Yogyakarta : Kanisius.

    Wardaniati, R.A dan Sugiyani S. 2009. Pembuatan Chitosan dari Kulit Udang dan Aplikasinya untuk Pengawetan Bakso. Makalah Penelitian, (online), (http://eprints.undip.ac.id/1718/1/makalah_penelitian_fix.pdf , diakses, 8 Oktober 2010).

    Winarno, F.G. 1993. Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

    Winarno, F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

    05/10/2011 Posted by | Contoh PKM | 7 Komentar

    Potensi “DAJAMBI” Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) sebagai Bahan Kontrasepsi Alami pada Pria

    1. A.    JUDUL

    Potensi “DAJAMBI” Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) sebagai Bahan Kontrasepsi Alami pada Pria

     

    1. B.     LATAR BELAKANG

    Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia setelah RRC, India dan Amerika Serikat laju pertumbuhan penduduk Indonesia memang cukup tinggi, yakni 2,6 juta jiwa per tahun. Tahun 2009 jumlah penduduk Indonesia ada sekitar 230,6 juta jiwa. Pada 2006 rata-rata angka kelahiran mencapai 2,6 anak per wanita subur. Angka tersebut tidak berubah pada 2007, sedangkan laju pertumbuhan penduduk rata-rata masih 2,6 juta jiwa per tahun. Jika tidak dilakukan tindakan pengendalian, 11 tahun lagi atau pada 2020 diperkirakan penduduk Indonesia akan mencapai 261 juta manusia.  (Purnomo, 2004).

    Dalam menekan dan mengendalikan jumlah penduduk, maka pemerintah telah menggalakkan program keluarga berencana (KB) bagi pasangan suami istri usia subur. Selanjutnya untuk mensukseskan program tersebut diperlukan peran serta aktif dari suami istri tersebut. Pada saat ini, individu yang ikut serta dalam melaksanakan program KB mayoritas adalah para istri. Keikutsertaan para suami dalam melaksanakan KB masih sangat rendah yaitu sekitar 6% dari seluruh program KB. Rendahnya keikutsertaan  suami dalam program KB disebabkan masih terbatasnya pilihan kontrasepsi untuk suami atau kontrasepsi suami yang ada masih belum memberikan hasil yang memuaskan (Moeleok, 1990).

    Suami merupakan fokus baru untuk program KB yang selama ini belum banyak diperhatikan. Sampai sekarang kontrasepsi untuk suami yang dianggap sudah mantap adalah kondom dan vasektomi. Namun penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi menimbulkan keluhan psikologik, sedangkan vasektomi walaupun merupakan kontrasepsi yang dapat diandalkan, seringkali menimbulkan efek samping yang permanen (irreversible), berupa kegagalan rekanalisasi. Apabila faktor akseptor yang menggunakan kontrasepsi tersebut ingin punya anak kembali, maka seringkali sulit dapat dilakukan rekanalisasi kembali. Alternatif lain dalam metode kontrasepsi untuk suami yaitu penggunaan hormon seperti dilakukan pada istri, tetapi cara ini pada suami dianggap belum memuaskan dan masih terus dilakukan penelitian kembali (Arsyad, 1988).

    Badan kesehatan dunia (WHO) telah membentuk suatu kelompok kerja (POKJA) untuk mencari dan mengembangkan metode pengaturan kesuburan suami. Mandat yang diberikan kepada pokja tersebut adalah mengembangkan metode pengaturan kesuburan yang aman, efektif dan dapat diterima, serta memonitor keamanan dan keefektivitasannya. Salah satu strategi penelitian yang dilakukan oleh pokja WHO adalah mengembangkan kontrasepsi melalui bahan atau zat dari tumbuh-tumbuhan yang diduga mempunyai bahan aktif yang bersifat antifertilitas (Yurnadi dkk, 2001). Dalam mencari obat alternatif untuk kontrasepsi suami, sebaiknya tidak hanya terbatas pada kontrasepsi hormonal, tetapi juga pada tanaman yang diperkirakan mengandung zat antifertilitas. Berdasarkan kenyataan tersebut, salah satu alternatif yang digunakan dalam masyarakat adalah dengan pemberian daun jambu biji (Psidium guajava L.)  yang memberikan efek antifertilitas (Mursito, 2000).

    Jambu biji ( Psidium guajava L.) merupakan tanaman yang termasuk famili Myrtaceae yang banyak tumbuh di Indonesia. Jambu biji adalah salah satu tumbuhan yang sudah lama dimanfaatkan oleh masyarakat, namun pemanfaatannya hanya sebatas pada buahnya untuk keperluan konsumsi karena mengandung vitamin C yang sangat tinggi, tetapi pemanfaatan daunnya hanya sebagian kecil saja yaitu sebagai obat anti diare, disentri, radang usus dan gangguan pencernaan karena mempunyai kandungan zat tanin sebagai astringent dan anti mikroba.

    Selain berbagai kegunaan di atas daun jambu biji diduga memiliki zat aktif golongan steroid yang mempunyai daya spermicide. Bahan kimia yang terkandung dalam daun jambu biji diantaranya adalah Beta-sitosterol, alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, eugenol, minyak atsiri dan berbagai senyawa lainya (Albana dkk, 1999).

    Khasiat dari zat aktif yang terdapat dalam daun jambu biji seperti alkaloid, mempunyai fungsi menekan sekresi hormon reproduksi yang diperlukan untuk berlangsungnya proses spermatogenesis, minyak atsiri bekerja pada proses transportasi sperma yaitu dapat menggumpalkan sperma sehingga menurunkan motilitas dan daya hidup sperma, begitu juga dengan tanin fungsinya hampir sama dengan minyak atsiri yaitu dapat menggumpalkan semen. Sedangkan flavonoid dapat menghambat enzim aromatase yaitu enzim yang berfungsi mengkatalis konversi androgen menjadi estrogen yang akan meningkatkan hormon testosteron, yang mana tingginya konsentrasi hormon testosteron akan berumpan balik ke hipofisis yaitu tidak melepaskan FSH (Follicle Stimulating Hormon) dan LH (Luteinizing Hormon). Golongan steroid (Beta-sitosterol) yang merupakan derivat dari steroid merupakan prekursor dan hormon estrogen juga dapat menurunkan sekresi FSH dan pada sejumlah keadaan tertentu juga dapat menghambat LH (Wienarno & Sundari 1997). Duke (2003) menyatakan bahwa Beta-sitosterol yang terdapat dalam daun jambu biji berfungsi sebagai anti fertilitas, disamping itu Beta-sitosterol juga mempengaruhi spermycide (Duke’s, 2004).

    Proses normal spermatogenesis diatur oleh sistem hormon FSH, LH dan testosteron. Jika sekesi FSH dan LH rendah maka proses spermatogenesis akan terganggu dan menyebabkan jumlah spermatozoa di bawah normal (Adimunca & Sutyarso, 1997).

    Selain itu Susetyorini dari hasil penelitiannya dalam Bestari edisi 188 menyatakan bahwa alkaloid, flavonoid, tanin dan minyak atsiri dapat merusak beberapa oganel penyusun sel target yaitu sel sertoli, sel spermatogonium, sel spermatosit, dan sel spermatid.

    Dari 74 tanaman yang tercatat secara empiris telah digunakan oleh masyarakat diberbagai daerah untuk obat anti fertilitas tradisional 18 diantaranya telah dilakukan uji anti spermatogenesisnya dan terbukti semua mempunyai sifat menghambat proses spermatgenesis. Apabila dikaitkan dengan senyawa aktif dari tanaman-tanaman ini tenyata banyak diantaranya mengandung zat alkaloid, tiavonoid, steroid, tanin dan minyak atsiri, yang mana semua zat-zat tersebut juga terkandung dalam daun jambu biji sehingga perlu dilakukan penelitian apakah senyawa-senyawa aktif yang terkandung dalam daun jambu biji tersebut juga mempunyai khasiat yang sama terhadap anti spermatogenesis sehingga dapat dijadikan alternatif sebagai obat anti fertilitas pada pria, dimana syarat dari obat anti fertilitas pria adalah memiliki daya hambat terhadap proses spermatogenesis, maturasi sperma, dan transportasi sperma (Sundari & Adimunca,1997).

    Studi tentang khasiat zat aktif golongan steroid yang berasal dari jambu biji  (Psidium guajava L.) sebagai antifertilitas sudah mulai dikembangkan, namun di Indonesia belum banyak dipublikasikan. Oleh karena itu, peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian mengenai penggunaan zat aktif golongan steroid yang berasal dari daun jambu biji biji  (Psidium guajava L.) sebagai bahan kontrasepsi alami bagi pria.

    1. RUMUSAN MASALAH

    Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut:

    1. Apakah daun jambu biji (Psidium guajava L.) berpotensi  sebagai bahan kontrasepsi alami bagi pria?
    2.  Bagaimana mekanisme daun jambu biji (Psidium guajava L.) sebagai bahan kontrasepsi alami bagi pria?
    1. TUJUAN PENELITIAN

    Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah:

    1. Mengetahui potensi daun jambu biji (Psidium guajava L.) sebagai bahan kontrasepsi alami bagi pria.
    2. Mengetahui mekanisme daun jambu biji (Psidium guajava L.) sebagai bahan kontrasepsi alami bagi pria.
    1. LUARAN YANG DIHARAPKAN
    1. Menghasilkan artikel penelitian yang dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam memilih kontrasepsi alami bagi pria.
    2. Hak paten kontrasepsi alami bagi pria yang berbahan dasar dari daun jambu biji (Psidium guajava L.).
    1. MANFAAT

    Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:

    1. Secara Teoritis
      1. Memberikan penguatan konsep mata kuliah embriologi sebagai bentuk penerapan dalam bidang penelitian.
      2. Sebagai model terapan teori-teori  reproduksi yang diaplikasikan dalam bentuk kontrasepsi alami bagi pria.
      3. Secara Praktis
        1. Memberikan solusi kepada masyarakat khususnya kaum pria mengenai kontrasepsi alami yang berbahan dasar  daun jambu biji (Psidium guajava L.).
        2. Memberikan informasi kepada masyarakat serta dinas kesehatan bahwa daun jambu biji (Psidium guajava L.) berpotensi sebagai kontrasepsi alami bagi pria.
    1. TINJAUAN PUSTAKA

    G.1 Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.)  

    Daun jambu biji (Psidium guajava L.)  berbau aromatik dan rasanya sepat. Daunnya merupakan daun tunggal yang  berwarna hijau keabuan, helai-helai daun berbentuk jorong sampai bulat memanjang, ujung daunnya meruncing sedangkan pangkal daunnya juga meruncing tetapi ada pula yang membulat, daun berukuran panjang  antara 6cm sampai 15cm dan lebar antara 3cm sampai 7,5cm sedangkan tangkainya kurang lebih 1cm. Daun berambut penutup pendek, tampak berbintik-bintik yang sesungguhnya merupakan rongga-rongga lisigen, warnanya gelap namun bila dalam keadaan terendam air menjadi tembus cahaya (Karta Sapoetra,1992).

    Menurut pendapat Ris munandar (1989) daun, kulit batang, akar dan buah muda pada daun jambu biji mengandung zat psidi tanin sedangkan khusus daun jambu biji mengandung minyak atsiri, eugenol dan damar disamping zat-zat mineral lain yang banyak terdapat didalam buah.

    Daun jambu biji mempunyai zat aktif diantaranya adalah minyak atsiri, alkaloid, flavonoid, tanin, dan pektin. Selain itu tanin juga dapat menyerap racun dan menggumpalkan protein. Dalam penelitian terhadap daun kering jambu biji yang digiling halus diketahui kandungan taninnya sampai 17,4%. Makin halus serbuk daunnya, makin tinggi kandungan taninnya, senyawa itu bekerja sebagai astrengent yaitu melapisi mukosa usus, khususnya usus besar (Winarno 1997).

    Bagian daun (folium) mempunyai sifat khas manis, kelat dan menetralkan juga mempunyai kandungan kimia zat samak, minyak atsiri, tri terpenoid, leuko sianidin, kuersetin, asam arjunolat resin, dan minyak lemak (Anonymous, 2000).

    Sedangkan menurut (Duke, 2004) tanaman jambu biji (Psidium guajava L.)  khususnya bagian daun mengandung berbagai zat aktif diantaranya adalah amritoside, aromadendren, avicularin, beta-sitosterol, calcium-oxalat, caryopphyllen-oxide, catechol-tannins, crataegolic acid, EO, guajiverin,  guaijaverin, guavin-a,b,c,d, guajivolic-acid, nerolidiol, oleanolic-acid, psidiolic-acid, quercetin, sugar, ursolic-acid, xantophyll, gallo catechin,ellagic-acid, fat, genticid-acid,  hyperocid, leucocyanidine, hyperocide, aslinic-acid.

    Daun jambu biji (Psidium guajava L.) mengandung berbagai senyawa kimia  aktif diantaranya saponin, flavonoid, tri terpenoid, minyak atsiri (Menurut Ma’at & Albana), tanin, beta sitosterol dan senyawa-senyawa lainnya (Duke, 2004).

    Berbagai zat yang terdapat dalam daun jambu biji seperti flavonoid menurut literatur dapat menghambat enzim aromatase yaitu enzim yang berfungsi mengkatalis konfersi androgen menjadi estrogen yang akan meningkatkan konsentrasi testosteron. Tingginya konsentrasi testosteron akan berumpan balik negatif ke hipofisis  yaitu tidak melepaskan FSH atau LH.

    Golongan alkaloid dapat menekan sekresi hormon reproduksi yang diperlukan untuk berlangsungnya proses spermatogenesis. Golongan terpen dan minyak atsiri bekerja bukan pada proses spermatogenesisnya tetapi pada proses transportasi sperma yaitu dapat menggumpalkan sperma sehingga menurunkan motilitas dan daya hidup sperma, akibatnya sperma tidak dapat mencapai sel telur dan pembuahan dapat tercegah. Tanin kerjanya hampir sama dengan terpen yaitu dapat menggumpalkan semen. Sedangkan golongan steroid yang merupakan prekursor dan hormon estrogen yang salah satu kerjanya menurunkan sekresi FSH ,dan pada sejumlah keadaan tertentu  akan menghambat LH (Winarno & Sundari 1999).

    Proses normal spermatogenesis diatur oleh sistem hormon (FSH, LH dan testosteron), yang pengendaliannya melalui poros hipotalamus-hipofisis-testis. FSH mempengaruhi sel sertoli dan sel spermatogenik untuk metabolisme normal; sel sertoli dibawah pengaruh FSH mensintesis protein pengikat androgen (ABP) yang berfungsi untuk mengikat testosteron, untuk selanjutnya digunakan dalam proses pembelahan dan pematangan spermatogonia menjadi spermatozoa. Adapun LH penting dalam mempengaruhi sel leydig memproduksi testosteron. Jika sekresi FSH ditekan oleh hipofisis maka konsentrasi FSH menjadi rendah dan akibatnya spermatogenesis dapat terganggu dan jumlah spermatozoa dibawah normal (Adimunca & Sutyarso 1997).

    Secara normal FSH sangat diperlukan dalam proses spermatogenesis dan LH diperlukan untuk merangsang produksi testosteron. Jika FSH produksinya dihambat oleh steroid dalam hal ini adalah beta-sitosterol maka akan mengganggu spermatogenesis dan pada sejumlah keadaan tertentu galongan steroid juga dapat menghambat produksi LH (reaksi umpan balik)  sehingga spermatogenesis dapat terganggu.

    G.2 Kontrasepsi Pria

    Suami merupakan fokus baru untuk program KB yang belum mendapat perhatian. Keikutsertaan para suami dalam melaksanakan KB masih sangat rendah yaitu sekitar 6% dari seluruh program KB. Kontrasepsi untuk suami yang dianggap sudah mantap sampai saat ini  adalah kondom dan vasektomi. Namun penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi menimbulkan keluhan psikologik, sedangkan vasektomi walaupun kontrasepsi yang diandalkan, seringkali menimbulkan efek samping berupa kegagalan rekanalisasi. Rekanalisasi adalah pembukaan kembali pembuluh darah yang tersumbat (Anonymous, 2010). Apabila faktor akseptor yang menggunakan kontrasepsi tersebut ingin punya anak, maka seringkali sulit dapat dilakukan rekanalisasi kembali. Alternatif lain dalam metode kontrasepsi untuk suami yaitu penggunaan hormon seperti dilakukan pada istri, cara ini bisa menjadi alternatif bagi pria Indonesia, namun untuk bisa disebarluaskan kontrasepsi ini harus nyaman dan aman bagi pemakainya. (Winarso, 2003).

    Penggunaan alat kontrasepsi di kalangan pria belum membudaya seperti halnya pada kaum perempuan, namun pemerintah berusaha keras untuk meningkatkan kesetaraan ini agar populasi penduduk Indonesia dapat kembali ditekan (Anonymous, 2006). Kontrasepsi pria sendiri ada bermacam-macam diantaranya adalah :

    1.  Kontrasepsi Sterilisasi, yaitu pencegahan kehamilan dengan mengikat testis pada pria (vasektomi). Proses sterilisasi ini harus dilakukan oleh ginekolog (dokter kandungan). Efektif bila memang ingin melakukan pencegahan kehamilan secara permanen, misalnya karena faktor usia.

    2. Kontrasepsi Teknik yaitu Coitus Interruptus  (senggama terputus) dimana ejakulasi dilakukan di luar vagina. Efektivitasnya 75-80%. Faktor kegagalan biasanya terjadi karena ada sperma yang sudah keluar sebelum ejakulasi, orgasme berulang atau terlambat menarik penis keluar.

    3.  Kontrasepsi Mekanik

    a. Kondom: Efektif 75-80%. Terbuat dari latex yang berfungsi sebagai pemblokir / barrier sperma. Kegagalan pada umumnya karena kondom tidak dipasang sejak permulaan senggama atau terlambat menarik penis setelah ejakulasi sehingga kondom terlepas dan cairan sperma tumpah di dalam vagina. Kekurangan metode ini: mudah robek bila tergores kuku atau benda tajam lain, membutuhkan waktu untuk pemasangan, mengurangi sensasi seksual

    b. Spermatisida: bahan kimia aktif untuk ‘membunuh’ sperma, berbentuk cairan, krim atau tisu vagina yang harus dimasukkan ke dalam vagina 5 menit sebelum senggama. Efektivitasnya 70%. Sayangnya bisa menyebabkan reaksi alergi. Kegagalan sering terjadi karena waktu larut yang belum cukup, jumlah spermatisida yang digunakan terlalu sedikit atau vagina sudah dibilas dalam waktu < 6 jam setelah senggama (Anonymous, 2009).

    G.3 Testis

    Testis merupakan organ kelamin laki-laki tempat spermatozoa dan hormon laki-laki dibentuk. Testis menghasilkan hormon testosteron dan bekerja sebagai kelenjar endokrin. Hormon testosteron ini berfungsi untuk menentukan sifat-sifat kajantanan.

    Contoh: Tumbuhnya jenggot dan jakun, suara yang membesar serta bentuk badan yang besar dan kuat.

    Fungsi testis terdiri dari:

    1. Membentuk gamet-gamet baru yaitu spermatozoa, dilakukan di tubulus seminiferus.
    2. Menghasilkan hormon testosteron, dilakukan oleh sel interestial.

    Kelenjar testis bentuknya seperti telur yang banyaknya 2 buah yang menghasilkan sel mani atau sperma. Dikirim melalui saluran yang terdapat dibelakang buah pelir dan melewati sebelah dalam, disebelah belakang saluran ini terdapat duktus deferens. Kelenjar testis menghasilkan hormon Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Lutenizing Hormone (LH). Disamping itu testis dapat menghasilkan hormon testosteron. Hormon testosteron ini disekresikan oleh testis, sebagian besar berkaitan dengan protein plasma. Beredar dalam darah 15-30 menit, kemudian disekresi.

    Testosteron dihasilkan pada anak berusia 11-14 tahun. Pembentukan ini meningkat dengan cepat pada permulaan pubertas dan berlangsung  hampir seluruh kehidupan, berkurangnya kecepatan produksi setelah pria berumur 40 tahun. Pada umur 80 tahun pria menghasilkan testosteron lebih kurang 1/5 dari nilai puncak, sedangkan testosteron akan memuncak sekresinya oleh beberapa kelenjar sebasea yang pada wajah dapat menimbulkan jerawat yaitu merupakan gambaran yang paling sering pada pubertas.

    H. METODE PENELITIAN

    H.1 Populasi dan Sampel

    Populasi

    Populasi dalam penelitian ini adalah tikus putih jantan (Rattus norwegicus) dengan karakteristik mata warna merah jernih dan kulit bersih, umur 2,5-3 bulan dengan berat badan 250-300gr strain Wistar yang diperoleh dari UNAIR Surabaya.

    Sampel

    Sampel diambil dari populasi tikus putih (Rattus norvegicus) jantan sebagai hewan coba. Dalam penelitian ini terdapat 5 macam perlakuan, dimana untuk mendapatkan banyaknya ulangan pada masing-masing perlakuan ditentikan berdasarkan rumus (Hanafiah, 1993) yaitu:

    (t-1)  (r-1) ³15

    (5-1) (r-1) ³15

    4 (r-1) ³15

    r-1 ³ 3,75

    r ³ 4,75  maka r ³ 5

    Dimana:

    t           : Treatment (perlakuan)

    r           : Replikasi (ulangan)

    Dari rumusan tersebut diperoleh jumlah hewan coba untuk masing-masing perlakuan adalah lebih besar sama dengan 5 (lima). Dalam penelitian ini digunakan 5 ekor hewan coba untuk masing-masing perlakuan karena dimungkinkan sangat kecil tikus putih mengalami kematian.

     

    H.2 Variabel Penelitian

    1. Variabel Bebas

    Pada penelitian ini variabel bebasnya adalah filtrat daun jambu biji (Psidium guajava L.).

    1. Variabel Terikat

    Dalam penelitian  ini yang menjadi variabel terikatnya adalah jumlah sel spermatozoa penampang melintang  testis tikus putih jantan (Rattus norwegicus).

    H.3 Jenis Penelitian

    Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah Eksperimen Sungguhan (True Experiment Research) karena dalam penelitian ini telah memenuhi tiga prinsip yaitu randomisasi, replikasi, dan adanya perlakuan kontrol atau pembanding. Menurut Rofieq (2002) eksperimen sungguhan merupakan suatu penelitian yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan                                                                                                          sebab akibat dengan cara mengenakan satu atau lebih kelompok eksperimental dan membandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan itu.

    Desain eksperimental sungguhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah “The Postest-Only Control Group Design” yaitu didalam populasi setiap unit dari populasi adalah homogen yang artinya semua karakteristik antar unit populasi adalah sama maka tidak dilakukan pengukuran awal, semua kelompok perlakuan dianggap sama karena berasal dari satu populasi yang sama sehingga pengukuan variabel hanya dilakukan  pada akhir penelitian (post test) saja, tanpa ada pengukuran awal (pretest) tetapi hanya dilakukan “Control by Design” yaitu dengan menghomogenkan sampel penelitian. Rancangan ini dapat digambarkan:

    O2

    P1

    K                O1

    O3

    P2

    R

    O4

    O5

    P3

    P4

    Keterangan:

    R          = Randomisasi

    K          = Kontrol atau banding

    P1        = Perlakuan dosis dekok daun jambu biji  4gr

    P2        = Perlakuan dosis dekok daun jambu biji  6gr

    P3        = Perlakuan dosis dekok daun jambu biji  8gr

    P4        = Perlakuan dosis dekok daun jambu biji  10gr

    O1-O5  = Hasil penelitian

    H.4 Analisa Data

    Data Hasil Penelitian dianalisis dengan menggunakan Uji Chi-square karena data penelitian merupakan data diskrit dengan langkah-langkah sebagai berikut:

    1. Merumuskan Hipotesis nihil(Ho)
    2. Menentukan frekwensi ekspektasi (Ei)
    3. Menghitung X2 hitung dengan rumus:

    c2 = å ( Oi – Ei )

    Ei

    Dimana:

    c2 = Chi-kuadrat

    Oi= Frekwensi yang diperoleh

    Ei= Frekwensi yang diharapkan

    H.5 Instrumen Pelaksanaan

    Alat

    Pembuatan dekok daun jambu biji:

    –         Timbangan analitik (0,001 g)

    –         Alat pemanas

    –         Erlenmeyer 125 ml

    –         Kertas saring Whatman 40

    –         Labu ukur 100 ml

    –         Corong kaca

    –         Pengaduk (spatula)

    Pembedahan dan pembuatan preparat testis

    –         Seperangkat alat secsic seperti: pisau, gunting, jarum pentul, pinset,  skalpel, dan bak lilin

    –         Gelas arloji

    –         Botol flakon

    –         Pipet tetes

    –         Mikrotom

    –         Oven

    –         Jarum ose

    –         Kaca benda dan kaca penutup

    –         Mikroskop

    –         Alat foto dan film Fuji

    Bahan

    Pembuatan dekok daun jambu biji

    –         Daun jambu biji

    –         Aquadest

    Pengambilan testis

    –         Kloroform untuk membius

    –         Kapas

    –         NaCl

    –         Formalin 10%

    –         Alumunium foil

    Pembuatan preparat histologi testis

    –         Testis tikus putih jantan

    –         Alkohol 30%, 50%, 70%, 80%, 100%.

    –         Xylol

    –         Aquadest

    –         Putih telur

    –         Parafin

    –         Enthellan

    –         Pewarna H-E (Hematoxylin dan Eosin)

    Cara Kerja

    Proses adaptasi

    Tikus putih jantan dimasukkan kedalam kandang plastik yang telah diberi sekam padi sebagai alas, dan di aklimatisasikan selama 2 minggu sebelum diberi perlakuan. Tikus putih jantan diberi makan (BR1) masing-masing 5 gr/ ekor setiap hari, sedangkan untuk minuman tikus putih jantan menghisap minuman aquadest yang sudah disediakan didalam botol.

    Membuat Dekok Daun  Jambu Biji (Psidium guajava L.)

    Cara membuat dekok:

    –         Menimbang 1 kg bahan (daun jambu biji)

    –         Mencuci bahan dengan air mengalir

    –         Memotong  bahan (daun jambu biji) hingga kecil-kecil dan memasukkan kedalam erlenmeyer

    –         Menambahkan aquadest kedalam bahan tersebut dengan perbandingan 1:1. Semisal jumlah bahan adalah 1000 gr maka ditambahkan aquadest sebanyak 1000 ml atau penambahan aquadest sampai bahan tersebut terendam.

    –         Bahan dipanaskan dengan menggunakan api kecil sampai mendidih kemudian diaduk terus menerus sampai volume air berkurang sepertiga sampai separuh bagian kemudian disaring

    –         Jika volume larutan masih melebihi volume yang seharusnya (1000 ml) maka dilakukan pemanasan selanjutnya hingga volume menjadi 1000 ml

    –         Jika volume larutan kurang dari volume yang seharusnya (1000 ml) maka dilakukan penambahan dengan aquadest sampai volume menjadi 1000 ml. Dengan proses ini maka didapatkan dekok dengan konsentrasi 100%.

    Pengambilan Testis dan pembuatan preparat

    Fiksasi

    –         Membius tikus dengan kloroform dan kapas kemudian menutup dengan alumunium foil

    –         Membedah tikus mulai dari bagian bawah abdomen lalu mengambil organ testisnya

    Pencucian

    –         Mencuci dengan garam fisiologis (Nacl)

    –         Memasukkan kedalam botol flakon dan memfiksasi dengan larutan fiksatif  formalin 50% selama 24 jam

    –         Membuang larutan fiksatif formalin

    Dehidrasi

    –         Mendehidrasi dengan alkohol 50% selama 30 menit

    –         Mendehidrasi dengan alkohol 70% selama 30 menit

    –         Mendehidrasi dengan alkohol 80% selama 30 menit

    –         Mendehidrasi dengan alkohol 100% selama 30 menit

    –         Mendehidrasi dengan alkohol 100% selama 30 menit

    Clering atau Penjernihan

    –         Menetesi dengan alkohol : Xylol = 3:1 selama 30 menit

    –         Menetesi dengan alkohol : Xylol = 1:1 selama 30 menit

    –         Menetesi dengan alkohol : Xylol = 1:3 selama 30 menit

    –         Menetesi dengan xylol murni 1 selama 30 menit

    –         Menetesi dengan xylol murni 2 selama 30 menit

    Inviltrasi

    –         Menetesi xylol : parafin =1:9 selama 24 jam (diletakkan dalam oven suhu 60oC )

    –         Mengganti dengan parafin murni selama 1 jam dalam oven suhu 60oC

    Embeding (penanaman)

    –         Parafin cair diletakkan kedalam cetakan berbentuk botol flakon (dibuat dari alumunium foil dalam bentuk botol flakon), kemudian testis dimasukkan kedalamnya dan posisi diatur sebaik mungkin, kemudian didinginkan hingga parafin membeku.

    Trimming atau Pengeblokan Parafin

    –         Testis dalam cetakan parafin dikepris menjadi potongan yang rapi agar mudah diiris dengan mikrotom.

    Pemotongan

    –         Testis dalam cetakan parafin dipotong dengan mikrotom ukuran 6 mikron

    Mounting I

    –         Sayatan hasil pemotongan dengan mikrotom diletakkan pada beaker glass kemudian potongan tersebut dimasukkan kedalam Water bath pada suhu 50oC sehingga parafin memapar, kemudian diletakkan pada gelas objek yang sudah diberi bahan perekat (campuran asam cuka albumin dan air) dan dikeringkan.

    Deparafinisasi

    –         Menetesi Xylol : alkohol = 3:1 selama 3 menit

    –         Menetesi Xylol : alkohol = 1:1 selama 3 menit

    –         Menetesi Xylol : alkohol = 1:3 selama 3 menit

    Pewarnaan

    –         Proses pewarnaan Hematoxylin 30 menit, cuci dengan air mengalir selama 5-10 menit, bilas dengan aquadest 2 kali masing-masing 3-5 detik.

    –         Mewarnai dengan larutan 0,1 Eosin kemudian cuci dengan air mengalir selama 5 detik.

    Dehidrasi

    –         Mendehidasi dengan alkohol 50, 70, 90, absolud masing-masing selama 3 menit

    –         Mendehidrasi dengan xylol I selama 3 menit

    Mounting II

    –         Xylol murni II selama 3 menit

    –         Merekatkan dalam Canada balsam atau Enthellen dengan kaca penutup, kemudian dikeringkan

    1. I.                   JADWAL KEGIATAN

    No

    Jadwal Kegiatan

    Bulan 1

    Bulan 2

    Bulan 3

    1

    2

    3

    4

    1

    2

    3

    4

    1

    2

    3

    4

    1.

    Persiapan alat

    X

    2.

    Pengumpulan bahan

    X

    3.

    Proses adaptasi tikus

    X

    4

    Pelaksanaan penelitian

    X

    X

    X

    X

    6.

    Pembuatan sediaan histologis

    X

    7.

    Analisa data

    X

    8.

    Penyusunan laporan

    X

    X

    9.

    Presentasi hasil penelitian

    X

    J. RANCANGAN BIAYA

    1. Biaya bahan habis pakai

    a. Daun Jambu Biji                                                         Rp. 30.000

    b. Tikus @Rp. 50.000 x 30                                            Rp. 1.500.000

    1. Peralatan Penunjang PKM

    a. Alat-alat untuk pembuatan preparat histologi            Rp. 1.000.000

    b. Kertas, Tinta, alat Tulis                                              Rp. 470.000

    c. Perawatan Tikus                                                         Rp. 400.000

    d. Makanan Tikus                                                          Rp. 465.000

    1. Transport @Rp. 200.000,- x 4 orang                          Rp. 800.000
    2. Komunikasi @Rp. 100.000,- x 4 orang                      Rp. 400.000
    3. Analisis preparat histologis                                         Rp. 650.000
    4. Lain-lain

    a. Dokumentasi                                                              Rp. 400.000

    b. Poster                                                                         Rp. 400.000

    c. Seminar Hasil                                                             Rp. 700.000

    d. Evaluasi program                                                        Rp. 448.000

    e. Sewa Laboratorium                                                     Rp. 700.000

    f. Sewa Alat (Bedah, dan Alat Perawatan Tikus)          Rp. 500.000

    g. Laporan akhir                                                              Rp. 400.000

    Total Biaya                                                                      Rp 9.263.000

     

    K. DAFTAR PUSTAKA

    Anonymous, 2000. Parameter Standart Umum Ekstrak Tumbuhan Obat Cetakan Pertama, Penerbit Departemen Kesehatan RI Diirektorat Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan Direktorat Pengawasan Obat Tradisional, Jakarta.

    Darmansyah, 1995. Dasar-dasar Toksikologi Hubungan Antara Hewan Coba Dengan Manusia- Farmakologi Dan Terapi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

    Ganong, W.F, 1999. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 17, Penerbit Buku Kedoktean EGC, Jakarta.

    Ginson John, 1995. Anatomi Dan Fisiologi Modern Untuk Perawat, Penerbit

    Gunarso W, 1969. Mikroteknik, Penerbit IPB, Bogor.

    Gunawan & Soelaiman, 1979. Spermatozoa Normal (Dalam Buku Spermatologi), Penerbit Perkumpulan Andrologi Indonesia, Surabaya.

    Guyton A.C, 1987. Fisiologi Manusia Dan Mekanisme Penyakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

    Guyton & Hall, 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi Sembilan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

    Hadi S, 2001. Statistik Jilid 2, Penerbit ANDI, Yogyakarta.

    Hanafiah KA, 1993. Rancangan Percobaan Teori & Aplikasi edisi revisi, Penerbit Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang.

    Hardianto B, 1993. Pedoman Praktis Budidaya Tanaman Jambu (jambu mete, jambu air, jambu biji), Penerbit PD Mahkota, Jakata.

    Kartasapoetra G, 1992. Budidaya Tanaman Berhasiat Obat, Penerbit Rineke Cipta, Jakata.

    Koolman & Rohm, 2001. Biokimia Atlas Berwarna Dan Teks, Penerbit Hipokrates, Jakarta.

    Lesson & Paparo, 1995. Buku Ajar Histologi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

    Rismunandar, 1989. Tanaman Jambu Biji, Penerbit Sinar Baru, Bandung. Salisbury & Ross, 1999. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2, Penerbit ITB, Bandung.

    Sundari D.danWinarno.W, 1997. Informasi Tanaman Obat Untuk Kontrasepsi Tradisional, Penerbit  Cermin Dunia Kedokteran No.120, Jakarta.

    Surachman, 1978. Analisa Sperma 100 Pasangan Suami Istri Infertil Dari Karyawan Pertamina Dan Penduduk Di Daerah Pertamina Wilayah IV Balikpapan, Penerbit Perkumpulan Andrologi Indonesia, Surabaya.

    Yatim W, 1994. Reproduksi dan Embryologi Untuk Mahasiswa Biologi Dan Kedokteran, Penerbit TARSITO, Bandung.

     

     

     

     

    05/10/2011 Posted by | Contoh PKM | 2 Komentar

    NILAI ENERGI BAHAN MAKANAN

    Dasar-dasar pengertian beberapa istilah.

    • Calorie (cal = satuan kalori kecil) dalam ilmu makanan ternak adalah jumlah panas yng dibutuhkan untuk meningkatkan temperatur 1 gram air dari 14,5 ºC menjadi 15,5 ºC.
    • K.cal = kilo calori ialah 1000 kalori kecil.
    • Megacal = 1000 k.cal = 1 juta kalori kecil.
    • Grosss energy (GE) : adalah jumlah panas dalam kalori yang dihasilkan apabila substansi makanan dioksider secara menyeluruh sehingga menghasilkan CO2, H2O dan gas-gas lain di dalam bomb kalorimeter.
    • Energy bruto (GEi) : berat kering makanan yang dikonsomsikan kali GE dari makan persatuan berat bahan kering.
    • Energy faeces / Feacal energy (FE) : adalah gross energy dari faeces.  Ini terdiri dari energy zat-zat yang tidak dapat dicerna dan fraksi metabolis dari faeces.

    FE = berat kering dari faeces kail GE faeces per unit berat kering faeces.

    • Urinary energy (UE) : adalah gross energy dari urine.  Termasuk didalamnya energy dari non oxidized portion dari makanan yang diabsorbsi dan energy yang terdapat dalam urine.
    • Gaseons Products of Digestion (GPD) : adalah energy dari gas-gas yang mudah terbakar yang dihasilkan di dalam trachus digestivus dengan jalan fermentasi dari ransum.  Sebagian besar gas tersebut berbentuk gas methane.
    • Metabolyzable Energy (ME) : adalah energi yang terhimpun  dalam zat-zat yang dapat dicerna dikurangi dengan energi yang ada dalam urine (UE) dan energi dalam gas-gas (GPD) juga disebut Energi Tersedia atau Available Energy.
    • Heat Incerment (HI) disebut pula Energy Thermis : ialah energi yang digunakan untuk pengunyahan dan proses pencernaan makanan.
    • Net Energy (NE).  NE=ME-HI.  Adalah energi yang digunakan untuk hidup pokok (Nem) dan untuk berproduksi (Nep).

    PENGUKURAN NILAI NUTRISI

    Nilai nutrisi biasanya dibatasi untuk penentuan-penentuan energi dan protein ; mineral dan vitamin diperhatikan secara terpisah.

    Nilai energi dari bahan makanan dapat dinyatakan dengan cara yang berbeda-beda.  Pernyataan mengenai nilai energi bisa didapatkan secara langsung dengan penelitian atau dihitung dengan menggunakan faktor-faktor yang dimilikinya.  Perlu diketahui bahwa faktor-faktor ini bagi peneliti yang berbeda mempunyai nilai yang berbeda, jadi faktor-faktor tersebut hanya merupakan rata-rata saja.

    Nilai Energi

    Gross Energy. Gross Energy didefinisikan sebagai energi yang dinyatakan dalam panas bila suatu zat dioksider secara sempurna menjadi CO2 dan air.  Tentu saja CO2 dan air ini masih mengandung energi, akan tetapi dianggap mempunyai tingkat nol karena hewan sudah tidak bisa memecah zat-zat melebihi CO2 dan air. Gross Energy diukur dengan alat bomb calorymeter.  Apabila N dan S terdapat dalam senyawa disamping karbon, H dan O (C, H dan O), unsur-unsur tersebut akan timbul sebagai oksida nitrogen dan sulfur pada waktu senyawa itu dioksider dalam bomb calorymeter.

    Nilai-nilai tertentu dari Gross Energy dapat dilihat dalam tabel 5.  Nilai-nilai tersebut dan nilai-nilai lainnya apabila dirata-ratakan menurut 3 kelompok makanan utama memberikan suatu gambaran yang dapat dilihat dalam tabel 6 kolom 2 dan 3.

     

     

     

    Tabel 5.  Panas pemabkaran, atau nilai graoss energy (Maynard, L. A. Animal Nutrition, Mc Graw Hill, 2nd Ed, 1947 Copyright, 1983, 1947).

    Senyawa Panas pembakaran (Kcal/gr)
    Glucose 3,76
    Sucrose 3,96
    Gula 4,23
    Lemak mentega 9,21
    Lemak 9,48
    Lemak biji-bijian 9,33
    Casein 5,86
    Elastin 5,96
    Gliadin 5,74

     

    Tabel 6.  Rata-rata panas pembakaran dengan berbagai koreksi yang digunakan untuk memberikan nilai-nilai fisiologi.  Imbangan dari nilai-nilai akhir yang telah dibetulkan dengan mengambil karbohidrat sebagai satuan.  (Berdasarkan Wood, T. B. Animal Nutrition, University Tutorial Press, 1924).

    Nilai energi

    Senyawa

    Panas pemabkaran disesuaikan Ratio berdi laboratorium dengan kehilangan dengan kehil. Dasarkan seb. Absorbsi. Kolom 7.

      Kcal/g Kcal/lb Kcal/g Kcal/lb Kcal/g Kcal/lb  
    Karbohidrat 4,10 1.861 3,76 1.77 3,76 1.77 1,00
    Protein 5,80 2.633 5,80 2.633 4,70 2.133 1,25
    Lemak 9,30 4.222 8,80 4.000 8,80 4.000 2,34

    Dapat dilihat bahwa lemak lebih kaya akan energi daripada karbohidrat maupun protein.

    Energy dapat dicerna. Bila gross energy dari faeces dikurangkan dari gross energy makanan, kedua nilai tersebut didapatkan dengan alat bomb calorimeter, dan faeces tersebut didapatkan pada keadaan experiment yang terkontrol, perbedaan tersebut merupakan energi dapat dicerna.

    Jadi : Gross energy makan – gross energy faeces = energy dapat dicerna. (D.E).

    Dengan perkataan lain energi dapat dicerna merupakan kandungan energi dari bagian makanan itu yang nampaknya dapat dicerna dan diabsorbsi.  Nilai ini merupakan suatu petunjuk yang baik untuk menilai nutrisi daripada gross energy.

    Walaupun demikian gas-gas sisa terutama methan dapat dihasilkan dan dilepaskan akan tetapi dihitung sebagai telah dicerna dan absorbsi.  Kehilangan-kehilangan seperti itu dapat diabaiakan pada hewan non ruminansia, tetapi pada ruminan perlu dibetulkan dari kehilangan energi tambahan itu sebagai methan untuk mendapatkan nilai energi dapat dicerna yang benar.

    Biasanya diadakan pembentukan koefisien daya cerna dengan mengadakan perhitungan terhadap produk excretory yang benar, dan tidak mengadakan pembetulan dari kehilangan yang ditimbulkan karena methan, tetapi bukan dengan kesalahan-kesalahan yang yang berhubungan dengan excretory yang sebenarnya.  Hal ini sudah semestinya karena pada penelitian-penelitian energi produk excretory yang sebenarnya merupakan suatu kehilangan yang harus diperhatikan.  Pembetulan terhadap methan di dalam mempelajari energi merupakan suatu pembetulan yang besar dari pada dalam hal memelajari daya cerna.

    Jadi      :

    Gross energy makanan – (gross energy faeces + gross energy methan) = energi dapat dicerna yang sebenarnya.

    Persamaan ini dapat disempurnakan dengan mengalikan gross energy methan dengan faktor 1,8.  Hal ini sehubungan dengan kehilangan panas tambahan oleh fermentasi pada waktu methan itu dihasilkan.

    Perlu juga dicatat bahwa produksi methan ini dapat dihitung dari persamaan-perasamaan yang berdasarkan pada daya cerna energi atau daya cerna karbohidrat ransum tersebut.

    Untuk mendapatkan nilai-nilai energi yang dapat dicerna dengan perhitungan-perhitungan memerlukan penelitian yang mana makanan . faeces dan gas-gas sisa (methan) dikumpulkan dan diambil sample-nya dan dihitung gross energynya.  Akan tetapi suatu cara lain untuk mendapatkan hasil yang serupa terdapat juga, bila penggunaannya dibuat dari data banyak percobaan daya cerna yang telah dilakukan terhadap kelas makanan yang dipelajari dan terhadap kelompok hewan yang diberi makan.  Rata-rata gross energy karbohidrat diketahui adalah 4,1 kcal/g dan bial perhitungan dilakukan untuk fermentasi nilai rata-rata ini menurun menjadi 3,76 karena methan yang dibentuk selama fermentasi membawa beberapa energy kimia dari karbohidrat.  Pembetulan ini tidak bisa digunakan untuk kehilangan yang lebih lanjut dalam panas fermentasi dan lebih lanjut hal ini tidak perlu pada non ruminan, karena methan yang dihasilkan sedikit sekali.  Lemak mempunyai nilai 9,3, tetapi ini merupakan lemak murni, sedangkan dalam bahan makanan alam lemak yang terdapat di dalamnya bukanlah lemak murni akan tetapi ekstrak eter.  Untuk menghitung ini lemak diturunkan dari 9,3 menjadi 8,8 kcal/g (Tabel 6 kolom 4 dan 5).  Pada tahap ini protein tidak memrlukan pembetulan (lihat dibawah).

    Jadi dengan menggunakan faktor-faktor kolom 5 tabel 6 dan mengalikan bahan-bahan makanan dapat dicerna itu dengan faktor-faktor ini dadapatkan nilai energi dapat dicerna (contoh – I),

    Contoh – I. Perhitungan energi dapat dicerna, TDN, ME, dan gross digestible energy.

    Dengan menggunakan bungkil kacang sebagai contoh yang mengandung :

    42,0 % protein kasar dapat dicerna, 6,8 % extrak eter dd., 19,7 % BETN dd, 0,5 % S.K. dd.

    A.    Energi dapat dicerna per 100 lb.

    Dikalikan dengan faktor-faktor yang dimiliki :

    Protein kasar dapat dicerna                             42,0 x 2.633 = 110.586 kcal
    Extrak eter dapat dicerna                                  6,8 x 4.000 =   27.200 kcal

    BETN dapat dicerna                                       19,7 x 1.707 =   33.627 kcal

    S.K dapat dicerna                                             0,5 x 1.707 =        854 kcal

    172.267 kcal

    Energi dapat dicerna itu (bukan gross digestible energy) adalah 172.267 kcal / lb. Nilai ini adalah energi yang dapat dicerna yang sebenarnya karena disesuaikan dengan kehilangan methan tetapi tidak disesuaikan dengan kehilangan panas fermentasi methan.

    B.     TDN per 100 lb.

    Untuk menimbang nilai extrak eter karena kandungan energinya yang tinggi, pertama-tama dikalikan dengan faktor 2,25.

    Jadi extrak eter dapat dicerna  6,8 x 2,25 = 15,3.

    Kemudian :

    Protein kasar dapt dicerna                  42,0 lb.

    Extrak eter dapat dicerna                    15,3 lb.  (tertimbang).

    BETN dapat dicerna                           19,7 lb.

    S.K. dapat dicerna                  0,5 lb.

    77,5 lb TDN

    C.   Energi metabolis per 100 lb.

    Dikalikan dengan faktor-faktor yang dimiliki.

    Protein kasardapat dicerna                       42,0 x 2.123 =  89.586 kcal

    Extrak eter dapat dicerna                           6,8 x 4.000 =  27.200 kcal

    BETN dapat dicerna                                19,7 x 1.707 =  33.627 kcal

    S.K. dapat dicerna                                     0,5 x 1.707 =       854 kcal

    151.267 kcal

    Jadi energi metabolis = 151.267 kcal / lb.

    Ini adalah energi dapat dicerna dikurangi yang hilang dari urine.

     

    D.    Gross digestible energy (dinyatakan sebagai pati) per 100 lb.

    Dikalikan dengan faktor-faktor yang dimiliki.

    Protein kasar dapat dicerna                       42,0 x 1,25 = 52,50 lb.

    Extrak eter dapat dicerna                            6,8 x 2,34 = 15,91 lb.

    BETN dapat dicerna                                 19,7 x 1,00 = 19,70 lb.

    S.K. dapat dicerna                                                  0,5 x 1,00 =   0,50 lb.

    88,61 lb.

    Jadi gross digestable energynya adalah 88,61 lb. Per 100 lb.

    Ini berarti bahwa 88,61 lb. Pati akan menghasilkan energi pada tubuh itu sebanyak yang dihasilkan oleh 100 lb. bahan makanan itu.

    Sekarang 1 lb. pati menghasilkan 1.707 kcal energi pada tubuh itu, jadi kandungan energi dari 88,61 lb. pati adalah : 88,61 x 1.707 = 151.257 kcal.

    Jadi gross digestible energy (dinyatakan sebagai pati) merupakan cara lain untuk menyatakan ME, dan tidak sama dengan energi dapat dicerna (DE).

    Sekarang ini lebih banyak digunakan suatu sistim yang berdasarkan pendapat yang sama, adalah menggunakan suatu nilai yang dikenal sebagai TDN. Dalam hal ini, dianggap bahwa lemak mempunyai 2,25 kali energi lebih banyak dari karbohidrat maupun protein.  Oleh karena itu, nilai lemak dapat dicerna dikalikan dengan 2,25 sebelum menambahkan nilai itu pada bahan-bahan dapat dicerna lainnya (contoh I B).

    Cara ini seperti juga yang lainnya, menganggap bahwa energi dapat dicerna dari berbagai ransum digunakan secara sama pada semua tingkat pemberian makan dan untuk semua tujuan produksi.  Hal ini tidak benar.  Dikatakan bahwa hal tersebut benar untuk ransum yang seimbang, akan tetapi sulit untuk mendefinisikan ransum semacam itu. Lepas dari masalah tersebut perlu diketahui bahwa sistim TDN telah diperkenalkan ke negara ini, baru-baru ini dalam bulletin kementrian pertanian no. 48;:  Rationspor Livestock, sebagai suatu cara penghitungan pemberian makan pada babi perlu diketahui bahwa ini mempunyai hubungan yang erat dengan ME.

    Energi metabolis.  Energi dapat dicerna yang sebenarnya, terdapat dalam senyawa-senyawa kimia yang mana melalui tubuh hewan itu dengan cara absorbsi, akan tetapi energi ini tidak semuanya digunakan oleh hewan itu, karena ada yang dalam urine. Ini adalah gross energy urine dan dapat dihitung dengan alat bomb calorimeter juga. Apabila ini diperhitungkan maka sisanya merupakan ME.

    Jadi :

    Energi dapat dicerna yang sebenarnya gross energy urine = ME.

    Atau

    Gross energy G.E. makanan – (gross energy F.E faeces + gross CPD energy methan  + gross energi urine) + M.E.

    M.E. yang disesuaikan dengan panas fermentasi, didapatkan apabila nilai gross energy methan dikalikan dengan faktor 1,8.

    Nilai ME dapat dihitung dengan menentukan gross energy makanan dan excreta padat, cair dan gas, dengan menggunakan bomb calorymeter: tetapi harus dilakukan penelitian yang lengkap. Masih ada cara lain dalam mengadakan perhitungan itu.  Telah dapat dilihat bahwa nilai-nilai energi untuk karbohidrat dan lemak dapat disesuaikan untuk memberikan nilai energi fisiologis yang agak rendah daripada nilai laboratoris.

    Nilai protein dapat disesuaikan juga dengan mengadakan perhitungan bagian energi kimia dari protein itu yang terlapas dari tubuh dalam bentuk urea; penyesuaian ini menurun dari 5,8 menjadi 4,7 kcal / g protein (tabel 6 kolom 6 dan 7).  Walaupun demikian perlu diingat bahwa ada beberapa perbedaan pendapat tentang nilai 5,8 itu, peneliti-peneliti lain lebih senang menggunakan nilai 5,7 dan lebih jauh penurunan sebesar 1,1 tersebut tidak diterima oleh semua peneliti-peneliti dan biar bagaimanapun akan mengubah klas-klas ternak yang berbeda.

    Dengan memakai nilai-nilai faktor fisiologi (tabel 6, kolom 7), dan dengan mengalikan unsur-unsur pencernakan dari bahan makanan oleh faktor-faktornya yang layak, didapatkan ME yang dihitung (misal I C).

    Belum lama ini telah dibuktikan oleh Carpenter dan Clegg bahwa untuk ransum ayam ME boleh dihitung dari hasil analisa kimia.

    Jadi :

    ME (kcal per kg) = 38 [(persen protein kasar) + 2,25 (persen esktrak eter) + 1,1 (persen pati) + (persen gula)] + 53.

     

     

     

    Bahan makanan dengan demikian dapat dievaluasi atas dasar ME, yang secara luas digunakan sebagai ukuran energi dari isi makanan dalam ranmsum ayam.  Blaxter juga menganjurkan basis ini dalam hubungan lain.  Adalah penting juga untuk mengenal lagi bahwa ME tidak menggambarkan dengan sesungguhnya faedah sesuatu makanan terhadap hewan, pula bukan sesuatu yang tetap, oleh karena telah dibuktikan bahwa pada makanan yang penuh ME nya lebih rendah daripada dalam makanan yang kurang.  Meskipun demikian sebelum memikirkan akan suatu pemurnian lebih lanjut, hal-hal yang ada hubungannya dengan ME harus diperhatikan.

    Pertama, jika ME makanan dipengaruhi oleh endapan protein, akan lebih berharga daripada jika  dipengaruhi oleh produksi panas karena oksidasi, oleh karena yang pertama tidak menghasilkan pengurangan urea dalam urine sedangkan yang terakhir ini kehilangan urea dalam urine.  Meskipun demikian akan terdapat kesalahan-kesalahan hanya jika memakai faktor-faktor standart, tidak demikian jika ME diukur dengan langsung.  Tentunya faktor 5,8 bisa memindahkan 4,7 jika endapan protein diindahkan asalkan dijamin penggunaannya 100%.

    Kedua, telah dibuktikan bahwa untuk ransum yang dicampur timbul hubungan antara energi metabolis dengan jumlah zat-zat makanan yang dapat dicerna.  Nilai-nilai yang biasa digunakan :

    1 1b.  seluruh makanan yang dicerna mengandung 1,616 kcal. ME.

    Ketiga, hal yang ketiga ini ada kaitannya dengan waktu-waktu yang tertentu yang bisa menimbulkan sesuatu salah pengertian.

    Jika nilai-nilai untuk unsur-unsur pencernaan dari bahan makan dikalikan dengan faktor-faktor yang layak yang tercantum dalam tabel 6 kolom 8 (perimbangan pokok) kemudian dijumlah, akan didapat suatu angka yang menunjukkan gross energy dapat dicerna dimana dapat diwujudkan sebagai pati.  Nilai ini sungguh-sungguh mewujudkan idea bahwa jumlah pati yang dapat dicerna dengan baik akan menghasilkan jumlah energi badan yang sama sebagai bahan makanan yang dibicarakan dan jelas ini adalah perwujudan ME yang diberikan.  Maka apabila nilai gross energy bisa dicerna bisa ditambah dengan adanya faktor-faktor dari energi yang berada dalam pati kemudian nilai dari energi yang bisa dimetabolisir dalam kcal bisa diperoleh.  (contoh I D).

    Jadi hal-hal yang tidak menguntungkan bagi gross energi bisa dicerna adalah bahwa itu adalah suatu nilai energi bisa dicerna melainkan energi yang bisa dimetabolisir, selanjutnya ini telah ditunjukkan sebagai daya tahan strarch equivalent dan akan sama saja tidak menguntungkan bila daya tahan tersebut masih menyebabkan kebingungan dalam hubungannya terhadap produksi dari Kellner yaitu strarch equivalent, strarch equivalent biasa akan dibicarakan kemudian.

    Penggunaan istilah gross energy dapat dicerna dan daya tahan strarch equivalent sekarang harus kita kesampingkan dahulu.

    Net Energy (NE) bila makanan telah dimakan selalu ada penambahan panas tubuh.  Kenaikan ini berasal dari masticasi dan penambahan gerakan intestinal, fermentasi dalam retikulorumen, rangsangan terhadap sekresi cairan pencernaan dan sebuah rangsangan langsung terhadap metabolisme.  Jumlah dari semua efek ini diukur dalam panas yang dihasilkan, yang dinyatakan dalam spesifik dynamic efect (S.D.A) atau tyhermic energy.  Pertambahan produksi panas per unit dari makanan ekstra dapat juga disebut panas tambahan (heat increament).  Bila nilai untuk thermic energy dikurangkan dengan energy metabolis maka perbedaanya merupakan net energy.

    Metabolis energy – thermic energy = net energy

    (M.E.)                     (H.I.)                (N.E.)

    net energy dapat digunakan untuk tiga dasar keperluan.  Pertama, dipandangan sebagai simpanan energi untuk melakukan fungsi pokok, seperti mempertahankan organ-organ tubuh dari posisinya, menggerakkan internal organ dan bahkan untuk mencukupi keperluan energi untuk berdiri.  Pada akhirnya semua energi ini dinyatakan sebagai panas.

    Kedua, dapat digunakan untuk menghasilkan gerakan eksternal, misalnya beraknya binatang itu dari tempat ke tempat lain, atau menggerakkan pedati dengan sebaik-baiknya.  Pertama dan kedua disebut Net Energy for Maintenance (NEm).

    Ketiga, Net Energy dapat disimpan sebagai energi kimia dalam tubuh, misalnya lemak yang menempel pada binatang itu.  Simpanan energi ini dapat digunakan hewan itu kemudian bila diperlukan.  Demikian juga simpanan energi kimia dapat berbentuk telur atau susu.  Disebut Net Energy for Production (NEp) atau NE gain.  Dalam sesuatu hal ini akan bisa hilang pada ternak tertentu, tetapi mungkin digunakan oleh manusia atau hewan itu sebagai sumber energi keturunannya.  Dalam proses produksi, termasuk kerja maka Net Energy akan ditunjukkan oleh nilai energi dari hasilnya dan sisa dari metabolis energi akan berbentuk panas.

    Net energy dari makanan sangat berguna baik untuk daya tahan ataupu n produksi.  Dan untuk langkah selanjutnya kita akan mengukurnya.

    Adalah mungkin dalam pengukuran gross energy dengan menggunakan keseimbangan energi, energi dapat dicerna, metabolis energi dan produksi panas.  Akan tetapi bila kita mengetahui bahwa binatang itu tidak beraktifitas nilai net energy dinyatakan dengan energy yang disimpan dalam tubuh ditambah dengan energy yang digunakan untuk melakukan fungsi pokok, yang mana akan dinyatakan sebagai panas.  Maka hal ini dapat dilihat bahwa keseimbangan energy dari tipe yang umum tidak dapat digunakan untuk memperoleh suatu angka dari net energy, sebab dia terdiri dari simpanan energy ditambah dengan bagian dari produksi panas yang tidak diketahui, yang mana berasal dari kenaikan energy untuk melakukan fungsi vital ditambah dengan thermic energy.

    Armsby, seorang yang menciptakan konsep dari net energy, menyelesaikan kesukaran-kesukaran dengan mengemukakan dua macam percobaan tentang keseimbangan energy dengan menggunakan dua macam standart makanan yang berbeda dan dari rasio yang sama yang masing-masing dibawah pengawasan.  Kemudian dengan cara yang bermacam-macam dia bisa menghitung nilai net energy dengan menyamakan penambahan makanan terhadap akibat penyimpanan dalam jaringan-jaringan (contoh II).

    Contoh II.

    Perhitungan nilai net energy dari data-data percobaan (Armsby H.P, Animal Nutrition thn 1917, Macmillan Co.)

    Bila lembu yang dikebiri diberi makan dengan rumput kering pada dua level yang masing-masing dibawah pengawasan dan dikerjakan pula pengukuran terhadap energy serta produksi panasnya.

    Rumput kering tadi mengandung 935 kcal dari meabolis energy per lbs.

    Percobaan Rumput kering dalam lb. Metabolis energy yang diperoleh Panas yang diproduksi Energy yang hilang dari tubuh
        Kcal Kcal Kcal
    1 6.17 5,768 8,064 2,296
    2 10.21 9,544 9,812 268
    Perbedaan 4.04 3,776 1,748 2,028
    Perbedaan

    per lb.

    1.00 935 433 502

     

    Maka 1 lb. rumput kering mengandung 935 kcal metabolis energy yang mana dari 433 kcal hilang sebagai panas.  Pertambahan dari produksi panas dengan bertambahnya konsumsi makanan biasanya dinyatakan sebagai panas tambahan (increament).  Sisa 502 kcal memperkecil hilangnya energy dari tubuh dengan kata lain, 1 lb. rumput kering dengan ransum dibawah standart pemeliharaan akan menurunkan pengrusakan jaringan-jaringan tubuh oleh sejumlah energy yang setara dengan 502 kcal. energy ini adalah energy rumput kering.

    Percobaan ini dilakukan dalam usaha penggemukan lembu-lembu kebiri dan perhitungan nilai Net Energy oleh Armsby didasarkan atas data dari Kellner.  Dengan cara ini maka nilai Net Energy dapat diperoleh, tetapi dengan suatu anggapan bahwa nilai NE adalah konstan pada semua tingkat nutrisi atau dengan kata lain ada hubungan langsung antara NE dan GE.  Pendapat ini sekarang dinyatakan tidak tepat.  NE berkurang dengan bertambahnya nilai dari tingkat nutirisi (sebagian, tidak menyeluruh), berkat adanya pengurangan ME.

    NE pada level pemberian makanan yang tetap akan berbeda pula untuk tipe produksi yang berbeda.  Sebagai contoh, dari 1000 Kcal ME, 693 Kcal NE dapat diperoleh dari susu, tetapi hanya 575 Kcal yang untuk penggemukan disebabkan nilai-nilai yang berbeda dari thermic energy (H.I.) yang berhubungan dengan proses tersebut.  Selanjutnya nilai NE untuk pemeliharaan tidak sama dengan NE untuk penggemukan.

    Niali NE secara teoritis adalah cara yang paling benar dalam penilain nilai nutrisi, sebab telah diperhiutngkan segala bentuk penyusutan energy dalam proses metabolisme.  Meskipun demikian penggunaannya didalam praktek tidak begitu cocok.

    –          Angka Manfaat (AM)

    Adalah angak prosentase yang didapat dari

    Sebagai penutup dari bab ini, dibawah ini akan dituliskan bagan terjadinya Net Energy.

    Energy makanan (G.E.)

    — FE

    Digestible Energy (DE)

    –UE

    –GPD

    Metaboliza ble Energy (ME)

    –HI

    NET ENERGY (NE)

     

    NEm (untuk pokok hidup)                  Nep (untuk produksi).

     

     

     

     

    11/15/2010 Posted by | Dasar-Dasar Ilmu Gizi | 4 Komentar

    MAKANAN KAYA NUTRISI DAN PENCEGAH PENYAKIT

    PEPATAH Barat mengatakan, You are what you eat. Pepatah lama ini hingga kini masih relevan. Simak saja, sudah banyak contoh akibat pola makan yang salah mengakibatkan penyakit darah tinggi, penyakit jantung, asam urat, dan kolesterol.

    Semua penyakit tersebut disebabkan mengonsumsi makanan yang mengandung kadar lemak berlebihan. Oleh karena itu, telitilah memilih makanan. Berikut ini berbagai makanan mengandung nutrisi tinggi yang baik untuk kesehatan kita dan bisa menolak datangnya penyakit.

    Apel

    Buah ini sangat populer dan universal. Manfaat apel antara lain mencegah kolestrol, mengurangi gejala akibat salah cerna, dan mencegah kelebihan lemak. Mengonsumsi dua buah apel setiap hari bisa mengurangi nyeri karena radang sendi, rematik, dan gout (kelainan pada metabolisme uric acid hingga menimbulkan nyeri di persendian).

    Apricot

    Buah yang satu ini kaya dengan beta karoten, bermanfaat untuk menyembuhkan infeksi dan menghaluskan kulit.

    Avokad

    Mereka yang suka mengonsumsi avokad (alpukat), teruskanlah kebiasaan ini karena buah ini kaya dengan vitamin A,B,C, dan E. Buah ini mengandung potasium yang bermanfaat untuk menetralisasi pencernaan yang jelek. Avokad mengandung monounsaturated fat atau lemak yang secara kimiawi demikian kuat sehingga mampu menyerap hidrogen tambahan, tetapi tidak sebanyak lemak tak jenuh jamak atau polyunsaturated fat. Avokad juga memproduksi banyak kolagen karena bermanfaat untuk membuat kulit mulus dan tampak awet muda. Buah ini juga baik untuk sistem sirkulasi dan berguna untuk menambah kesuburan.

    Anggur

    Buah ini paling cepat diserap pencernaan selain rasanya yang manis dan lezat. Oleh karena itu, anggur adalah buah utama yang disediakan di bangsal-bangsal pasien rumah sakit di negeri Barat. Anggur bermanfaat meringankan radang sendi, rematik, dan kelelahan.

    Pisang

    Sumber potasium, seng, zat besi, asam folic, kalsium, vitamin B6, dan serat bermanfaat untuk melancarkan sistem pencernaan dan menstruasi. Atlet yang membutuhkan suplai potasium secara instan dianjurkan mengonsumsi pisang.

    Cranberry

    Buah ini kaya vitamin C, zat besi, potasium, dan beta karoten. Jumlah zat besi dalam buah ini sangat baik untuk melengkapi program diet vegetarian. Sementara itu, jusnya bermanfaat untuk membasmi bakteri dan efektif untuk mengobati infeksi saluran kencing dan cystitis (radang kandung kemih).

    Kentang

    Mengandung banyak serat, vitamin B, mineral, dan vitamin C. Kentang yang paling baik untuk dikonsumsi adalah yang direbus atau dipanggang. Karena kaya nutrisi — khususnya potasium dan serat — kentang baik untuk kesehatan kulit.

    Brokoli

    Sayur berwarna hijau gelap ini sumber beta karoten, zat besi, dan serat sehingga bermanfaat untuk menyembuhkan anemia dan mereka yang sering merasa kelelahan. Brokoli juga dikenal sebagai antikanker bila dikonsumsi bersama blumkol, lobak, kol, spring green, turnip (lobak cina), dan brusell spout.

    Bawang putih

    Dalam dunia masak-memasak, bawang putih selalu diikutsertakan. Boleh dikatakan, setiap hidangan lezat adalah berkat andil bumbu bawang putih.

    Selain melezatkan dan mengharumkan masakan, bawang putih sejak dulu dikenal sebagai salah satu ramuan obat yang manjur dan digunakan oleh para tabib semasa kekuasaan para dinasti di Cina sampai kekaisaran di Eropa.

    Bawang putih yang berbau menyengat ini bisa mencegah penyakit jantung, tekanan darah tinggi, mencegah penggumpalan darah, penyebab serangan jantung, memerangi berbagai infeksi, gangguan perut, dan pencegahan kanker. Karena kemanjurannya, bawang putih dijuluki King of Healing Plants.

    Minyak zaitun

    Mengandung vitamin E, monounsaturated , asam lemak yang bermanfaat untuk mencegah kolesterol, menstimulasi kinerja empedu karena membantu mencernakan lemak. Minyak zaitun yang dalam pemasaran internasional disebut olive oil ini merupakan ramuan utama dalam masakan masyarakat di negara-negara Mediterania. Oleh karena itu, tak heran bila penduduk Mediterania jarang yang berpenyakit jantung.

    Bawang

    Bumbu dapur sehari-hari ini melindungi dan mengatur sistem sirkulasi, antibiotik yang kuat, membantu penyembuhan gangguan di dada dan perut, infeksi saluran kencing, radang sendi, rematik, gout, dan mengikis lemak dalam darah.

    Yoghurt

    Cairan kental berwarna putih ini bermanfaat untuk mengobati gangguan perut, seperti sembelit dan diare. Kandungan vitamin B dan kalsiumnya cocok bagi mereka yang alergi terhadap susu.

    Susu dan keju

    Kaya kalsium sehingga baik untuk kesehatan, tetapi buruk bagi penderita sinusitis dan mereka yang alergi susu. Bagi penderita migrain, tidak dianjurkan mengonsumsi keju, begitu pula susu skim, dan semi-skim termasuk pada anak balita.

    Pasta

    Makanan — seperti pizza — yang bukan berasal dari tanah air kita ini sudah menjadi jajanan bergengsi di kota-kota besar. Nah, apakah makanan asal negeri Italia ini mengandung nutrisi? Asal tidak disertai lemak dan saus, pasta lumayan bernutrisi, mengandung serat, mineral, dan vitamin B.

    1. Meniran

    Tanaman ini secara tradisional dipercaya bisa menyembuhkan penyakit antara lain radang dan batu ginjal, susah buang air kecil, disentri, sakit ayan, hepatitis, serta rematik. Zat kimia tanaman mi yang sudah diketahul antara lain filantin, hipofilantin, kalium, damar, dan tannin.

    Penelitian terbaru tentang meniran mengungkapkan bahwa tanaman ini bisa membantu mencegah berbagai macam infeksi virus dan bakteri serta mendorong sistem kekebalan tubuh. Tanaman ini sudah diteliti dan diproduksi menjadi tablet peningkat daya tahan tubuh. Produknya telah diuji preklinis dan kilnis selama tiga tahun.

    Dr. Zakiudin Munasir, Sp.AK, ahil pediatrik imunologi dari Bagian Anak RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, telah melakukan penelitian dan membuktikan bahwa ekstrak meniran membantu meningkatkan kecepatan penurunan demam pada pasien anak penderita infeksi saluran pernapasan atas.

    Cara pemanfaatan:

    Cara ini disarankan oleh Dr. Suprapto Ma’at dari Universitas Airlangga yang juga ikut menguji ekstrak tanaman meniran dalam upaya meningkatkan daya tahan tubuh. Ambil satu genggam daun meniran yang terdiri dari akar, batang, dan daun. Tumbuk sampai halus. Kemudian rebus bersama dua gelas air bersih. Tunggu sampai menjadi setengah gelas. Minum sekali setiap hari.

    2. Jinten Hitam

    Selain meniran, jinten hitam juga bisa dipakai sebagai cara alami untuk meningkatkan daya tahan tubuh. “Orang Arab sudah secara turun-temurun memanfaatkan jinten hitam untuk meningkatkan daya tahan tubuh,” kata Dr. Suprapto. Berbeda dengan meniran, tanaman ini belum teruji secara klinis.

    Cara pemanfaatan:

    Siapkan satu sendok makan munjung jintan hitam. Gerus sampai kulitnya menjadi pecah. Setelah itu rebus dengan dua gelas air. Tunggu sampai air rebusan tersebut tersisa menjadi setengah gelas. Minum setiap hari agar daya tahan tubuh meningkat.

    3. Mengkudu

    Buah yang juga dikenal dengan nama pace atau noni ini telah lama dikenal sebagai obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Hingga kini, penelitian terhadap buah buruk rupa ini terus dilakukan secara intensif.

    Penelitian oleh Dr. Paul Heinike pada awal abad 20 mengungkapkan bahwa tanaman ini mengandung enzim proxeronase dan alkaloid proxeronine. Kedua zat ini akan membentuk zat aktif bernama xeronine di dalam tubuh. Zat ini akan dibawa aliran darah menuju sel-sel tubuh. Hasilnya, sel-sel itu akan lebih aktif, sehat, dan terjadi perbaikan-perbaikan struktur maupun fungsi.

    Cara pemanfaatan:

    Endah Lasmadiwati, ahli tanaman obat dari Taman Sringanis, Bogor, menganjurkan resep berikut untuk menikmati buah mengkudu. Siapkan dua buah mengkudu yang sudah tua. Cuci bersih kemudian simpan selama dua hari sampat benyek. Setelah itu remas-remas dalam dua gelas air. Saring dan sisihkan. Sementara itu, siapkan satu jari kunyit dan dua jari jahe. Bakar dan memarkan. Ambil satu jari kayu manis dan sereh serta tujuh buab kapulaga dan cengkeh. Bahan-bahan tersebut direbus dalam dua gelas air. Tunggu sampal mendidih dan berbau harum. Campurkan air rebusan bahan tersebut dengan buah rnengkudu yang telah disaring. Tambahkan sedikit garam dan gula jawa secukupnya.

    4. Lidah Buaya

    Dr. Suprapto menyarankan konsumsi lidah buaya supaya tubuh lebih fit dan segar. Tanaman ini juga bermanfaat untuk menjaga stamina orang yang sudab tua dan mudah sakit. Endah juga mengungkapkan bahwa lidah buaya bermanfaat untuk meringankan penyakit batuk dan bronkitis.

    Cara pemantaatan:

    Siapkan setengah telapak tangan lidah buaya. Cuci bersih dan dikupas. Tambahkan tigaperempat gelas air. Blender air bersama gel lidah buaya tersebut. Tambahkan madu secukupnya.

    5. Apel

    Buah ini mengandung vitamin C yang merupakan antioksidan dan berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh. Konowalchuck J. pada tahun 1978 mempublikasikan artikel berjudul “Antiviral Effect of Apple Beverages”. Ia menyebutkan bahwa sari buah apel sangat baik diminum untuk melawan berbagai serangan infeksi virus. Menurut buku “Natural Remedies”, dosis apel yang bisa melindungi tubuh dari virus adalah tiga kali sehari satu buah atau segelas jus apel.

    6. Pepaya

    Buah tropis ini merupakan sumber betakaroten yang baik, sehingga mampu mencegah kerusakan sel yang disebabkan oleh zat radikal bebas. Setengah buah pepaya ukuran sedang sehari mampu memenuhi kebutuhan vitamin C harian seorang manusia dewasa. Tidak hanya itu, pepaya juga mengandung sedikit kalsium dan besi. Buah ini amat dianjurkan untuk orang sakit dan lanjut usia karena dagingnya mudah dikunyah dan ditelan.

    7. Stroberi

    Buah ini mengandung vitamin C paling tinggi di antara semua beri dan kebanyakan buah. Secara tradisional, stroberi dipakai untuk membersihkan sistem pencernaan makanan. Buah ini juga berguna membantu penyerapan zat besi dari sayur mayur yang dikonsumsi.

    8. Jambu Batu

    Buah jambu batu seberat 90 gram, menurut buku “Foods that Harm Foods that Heal”, ternyata mengandung vitamin C lima kali lebih banyak dibandingkan dengan jeruk. Buah jambu biji seberat itu bila dikonsumsi setiap hari mampu memenuhi kebutuhan vitamin harian orang dewasa, sehingga bisa menjaga kesehatan dan kebugaran.

    9. Jeruk

    Vitamin C sering diidentikkan dengan buah jeruk. Buah ini memang mengandung vitamin C yang bermanfaat untuk menjaga pertahanan tubuh dari infeksi bakteri dan virus. Kandungan antioksidan dalam jeruk mampu mencegah kerusakan karena zat radikal bebas. Antioksidan ini terdapat dalam membran di antara segmen daging buahnya. Untuk memperoleh manfaat optimum dari buah ini, sebaiknya makan buah segar daripada minum jusnya.

    11/15/2010 Posted by | Dasar-Dasar Ilmu Gizi | 4 Komentar

    EKOSISTEM

    Ekosistem merupakan suatu interaksi yang kompleks dan memiliki penyusun yang beragam. Di bumi ada bermacam-macam ekosistem.

    1. Susunan Ekosistem
    Dilihat dari susunan dan fungsinya, suatu ekosistem tersusun atas komponen sebagai berikut.

    a. Komponen autotrof
    (Auto = sendiri dan trophikos = menyediakan makan).
    Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen, contohnya tumbuh-tumbuhan hijau.

    b. Komponen heterotrof
    (Heteros
    = berbeda, trophikos = makanan).
    Heterotrof merupakan organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.

    c. Bahan tak hidup (abiotik)
    Bahan tak hidup yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari. Bahan tak hidup merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup.

    d. Pengurai (dekomposer)
    Pengurai adalah organisme heterotrof yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati (bahan organik kompleks). Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Termasuk pengurai ini adalah bakteri dan jamur.

    2. Macam-macam Ekosistem
    Secara garis besar ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air Laut.

    a. Ekosistem darat
    Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat dibedakan menjadi beberapa bioma, yaitu sebagai berikut.

    1. Bioma gurun
    Beberapa Bioma gurun terdapat di daerah tropika (sepanjang garis balik) yang berbatasan dengan padang rumput.

    Ciri-ciri bioma gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun). Suhu slang hari tinggi (bisa mendapai 45°C) sehingga penguapan juga tinggi, sedangkan malam hari suhu sangat rendah (bisa mencapai 0°C). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar. Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di gurun dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air. Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, ular, kadal, katak, dan kalajengking.

    2. Bioma padang rumput
    Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciri-cirinya adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun dan hujan turun tidak teratur. Porositas (peresapan air) tinggi dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan. Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular

    3. Bioma Hutan Basah
    Bioma Hutan Basah terdapat di daerah tropika dan subtropik.
    Ciri-cirinya adalah, curah hujan 200-225 cm per tahun. Species pepohonan relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinngi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi). Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro (iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme). Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari. Variasi suhu dan kelembapan tinggi/besar; suhu sepanjang hari sekitar 25°C. Dalam hutan basah tropika sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan), kaktus, dan anggrek sebagai epifit. Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.

    4. Bioma hutan gugur
    Bioma hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang,
    Ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun. Terdapat di daerah yang mengalami empat musim (dingin, semi, panas, dan gugur). Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat. Hewannya antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung pelatuk, dan rakoon (sebangsa luwak).

    5. Bioma taiga
    Bioma taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik. Ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dap sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali. Hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.

    6. Bioma tundra
    Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah Sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.

    Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang datang pada musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya muscox, rusa kutub, beruang kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.

    b. Ekosistem Air Tawar
    Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.
    Adaptasi organisme air tawar adalah sebagai berikut.

    Adaptasi tumbuhan
    Tumbuhan yang hidup di air tawar biasanya bersel satu dan dinding selnya kuat seperti beberapa alga biru dan alga hijau. Air masuk ke dalam sel hingga maksimum dan akan berhenti sendiri. Tumbuhan tingkat tinggi, seperti teratai (Nymphaea gigantea), mempunyai akar jangkar (akar sulur). Hewan dan tumbuhan rendah yang hidup di habitat air, tekanan osmosisnya sama dengan tekanan osmosis lingkungan atau isotonis.

    Adaptasi hewan
    Ekosistem air tawar dihuni oleh nekton. Nekton merupakan hewan yang bergerak aktif dengan menggunakan otot yang kuat. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem air tawar, misalnya ikan, dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis melakukan osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang, dan pencernaan.

    Habitat air tawar merupakan perantara habitat laut dan habitat darat. Penggolongan organisme dalam air dapat berdasarkan aliran energi dan kebiasaan hidup.

    1. Berdasarkan aliran energi, organisme dibagi menjadi autotrof (tumbuhan), dan fagotrof (makrokonsumen), yaitu karnivora predator, parasit, dan saprotrof atau organisme yang hidup pada substrat sisa-sisa organisme.

    2. Berdasarkan kebiasaan hidup, organisme dibedakan sebagai berikut.
    a. Plankton;
    terdiri alas fitoplankton dan zooplankton;
    biasanya melayang-layang (bergerak pasif) mengikuti gerak aliran air.
    b. Nekton;
    hewan yang aktif berenang dalam air, misalnya ikan.
    c. Neuston;
    organisme yang mengapung atau berenang di permukaan air atau
    bertempat pada permukaan air, misalnya serangga air.
    d. Perifiton; merupakan tumbuhan atau hewan yang melekat/bergantung
    pada tumbuhan atau benda lain, misalnya keong.
    e. Bentos; hewan dan tumbuhan yang hidup di dasar atau hidup pada
    endapan. Bentos dapat sessil (melekat) atau bergerak bebas,
    misalnya cacing dan remis. Lihat Gambar.

    Ekosistem air tawar digolongkan menjadi air tenang dan air mengalir. Termasuk ekosistem air tenang adalah danau dan rawa, termasuk ekosistem air mengalir adalah sungai.

    1. Danau
    Danau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi.

     

    Gbr. Berbagai Organisme Air Tawar
    Berdasarkan Cara Hidupnya

    Di danau terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi cahaya matahari. Daerah yang dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak tertembus cahaya matahari disebut daerah afotik. Di danau juga terdapat daerah perubahan temperatur yang drastis atau termoklin. Termoklin memisahkan daerah yang hangat di atas dengan daerah dingin di dasar.

    Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi. Berdasarkan hal tersebut danau dibagi menjadi 4 daerah sebagai berikut.

    a) Daerah litoral
    Daerah ini merupakan daerah dangkal. Cahaya matahari menembus dengan optimal. Air yang hangat berdekatan dengan tepi. Tumbuhannya merupakan tumbuhan air yang berakar dan daunnya ada yang mencuat ke atas permukaan air.

    Komunitas organisme sangat beragam termasuk jenis-jenis ganggang yang melekat (khususnya diatom), berbagai siput dan remis, serangga, krustacea, ikan, amfibi, reptilia air dan semi air seperti kura-kura dan ular, itik dan angsa, dan beberapa mamalia yang sering mencari makan di danau.

    b. Daerah limnetik
    Daerah ini merupakan daerah air bebas yang jauh dari tepi dan masih
    dapat ditembus sinar matahari. Daerah ini dihuni oleh berbagai
    fitoplankton, termasuk ganggang dan sianobakteri. Ganggang
    berfotosintesis dan bereproduksi dengan kecepatan tinggi selama
    musim panas dan musim semi.

    Zooplankton yang sebagian besar termasuk Rotifera dan udang-
    udangan kecil memangsa fitoplankton. Zooplankton dimakan oleh ikan-
    ikan kecil. Ikan kecil dimangsa oleh ikan yang lebih besar, kemudian
    ikan besar dimangsa ular, kura-kura, dan burung pemakan ikan.

    c. Daerah profundal
    Daerah ini merupakan daerah yang dalam, yaitu daerah afotik danau.
    Mikroba dan organisme lain menggunakan oksigen untuk respirasi
    seluler setelah mendekomposisi detritus yang jatuh dari daerah
    limnetik. Daerah ini dihuni oleh cacing dan mikroba.

    d. Daerah bentik
    Daerah ini merupakan daerah dasar danau tempat terdapatnya bentos
    dan sisa-sisa organisme mati.

     

    Gbr. Empat Daerah Utama Pada Danau Air Tawar

    Danau juga dapat dikelompokkan berdasarkan produksi materi organik-nya, yaitu sebagai berikut :

    a. Danau Oligotropik
    Oligotropik merupakan sebutan untuk danau yang dalam dan
    kekurangan makanan, karena fitoplankton di daerah limnetik tidak
    produktif. Ciricirinya, airnya jernih sekali, dihuni oleh sedikit organisme,
    dan di dasar air banyak terdapat oksigen sepanjang tahun.

    b. Danau Eutropik
    Eutropik merupakan sebutan untuk danau yang dangkal dan kaya akan
    kandungan makanan, karena fitoplankton sangat produktif. Ciri-cirinya
    adalah airnya keruh, terdapat bermacam-macam organisme, dan
    oksigen terdapat di daerah profundal.

    Danau oligotrofik dapat berkembang menjadi danau eutrofik akibat adanya materi-materi organik yang masuk dan endapan. Perubahan ini juga dapat dipercepat oleh aktivitas manusia, misalnya dari sisa-sisa pupuk buatan pertanian dan timbunan sampah kota yang memperkaya danau dengan buangan sejumlah nitrogen dan fosfor. Akibatnya terjadi peledakan populasi ganggang atau blooming, sehingga terjadi produksi detritus yang berlebihan yang akhirnya menghabiskan suplai oksigen di danau tersebut.

    Pengkayaan danau seperti ini disebut “eutrofikasi”. Eutrofikasi membuat air tidak dapat digunakan lagi dan mengurangi nilai keindahan danau.

    2. Sungai
    Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah. Air sungai dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang.

    Komunitas yang berada di sungai berbeda dengan danau. Air sungai yang mengalir deras tidak mendukung keberadaan komunitas plankton untuk berdiam diri, karena akan terbawa arus. Sebagai gantinya terjadi fotosintesis dari ganggang yang melekat dan tanaman berakar, sehingga dapat mendukung rantai makanan.

    Komposisi komunitas hewan juga berbeda antara sungai, anak sungai, dan hilir. Di anak sungai sering dijumpai Man air tawar. Di hilir sering dijumpai ikan kucing dan gurame. Beberapa sungai besar dihuni oleh berbagai kura-kura dan ular. Khusus sungai di daerah tropis, dihuni oleh buaya dan lumba-lumba.

    Organisme sungai dapat bertahan tidak terbawa arus karena mengalami adaptasi evolusioner. Misalnya bertubuh tipis dorsoventral dan dapat melekat pada batu.

    Beberapa jenis serangga yang hidup di sisi-sisi hilir menghuni habitat kecil yang bebas dari pusaran air.

    c. Ekosistem air laut

    Ekosistem air laut dibedakan atas lautan, pantai, estuari, dan terumbu karang.

    1. Laut
    Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25°C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut daerah termoklin.

    Di daerah dingin, suhu air laut merata sehingga air dapat bercampur, maka daerah permukaan laut tetap subur dan banyak plankton serta ikan. Gerakan air dari pantai ke tengah menyebabkan air bagian atas turun ke bawah dan sebaliknya, sehingga memungkinkan terbentuknya rantai makanan yang berlangsung balk. Habitat laut dapat dibedakan berdasarkan kedalamannya dan wilayah permukaannya secara horizontal.

    1. Menurut kedalamannya, ekosistem air laut dibagi sebagai berikut.
    a. Litoral merupakan daerah yang berbatasan dengan darat.
    b. Neretik merupakan daerah yang masih dapat ditembus cahaya
    matahari sampai bagian dasar dalamnya ± 300 meter.
    c. Batial merupakan daerah yang dalamnya berkisar antara 200-2500 m
    d. Abisal merupakan daerah yang lebih jauh dan lebih dalam dari
    pantai (1.500-10.000 m).

    2. Menurut wilayah permukaannya secara horizontal, berturut-turut dari
    tepi laut semakin ke tengah, laut dibedakan sebagai berikut.
    a. Epipelagik merupakan daerah antara permukaan dengan kedalaman
    air sekitar 200 m.
    b. Mesopelagik merupakan daerah dibawah epipelagik dengan kedalam
    an 200-1000 m. Hewannya misalnya ikan hiu.
    c. Batiopelagik merupakan daerah lereng benua dengan kedalaman
    200-2.500 m. Hewan yang hidup di daerah ini misalnya gurita.
    d. Abisalpelagik merupakan daerah dengan kedalaman mencapai
    4.000m; tidak terdapat tumbuhan tetapi hewan masih ada. Sinar
    matahari tidak mampu menembus daerah ini.
    e. Hadal pelagik merupakan bagian laut terdalam (dasar). Kedalaman
    lebih dari 6.000 m. Di bagian ini biasanya terdapat lele laut dan
    ikan Taut yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai produsen di
    tempat ini adalah bakteri yang bersimbiosis dengan karang
    tertentu.

    Di laut, hewan dan tumbuhan tingkat rendah memiliki tekanan osmosis sel yang hampir sama dengan tekanan osmosis air laut. Hewan tingkat tinggi beradaptasi dengan cara banyak minum air, pengeluaran urin sedikit, dan pengeluaran air dengan cara osmosis melalui insang. Garam yang berlebihan diekskresikan melalui insang secara aktif.

    2. Ekosistem pantai
    Ekosistem pantai letaknya berbatasan dengan ekosistem darat, laut, dan daerah pasang surut.

    Ekosistem pantai dipengaruhi oleh siklus harian pasang surut laut. Organisme yang hidup di pantai memiliki adaptasi struktural sehingga dapat melekat erat di substrat keras.

    Daerah paling atas pantai hanya terendam saat pasang naik tinggi. Daerah ini dihuni oleh beberapa jenis ganggang, moluska, dan remis yang menjadi konsumsi bagi kepiting dan burung pantai.

    Daerah tengah pantai terendam saat pasang tinggi dan pasang rendah. Daerah ini dihuni oleh ganggang, porifera, anemon laut, remis dan kerang, siput herbivora dan karnivora, kepiting, landak laut, bintang laut, dan ikan-ikan kecil.

    Daerah pantai terdalam terendam saat air pasang maupun surut. Daerah ini dihuni oleh beragam invertebrata dan ikan serta rumput laut.

    Komunitas tumbuhan berturut-turut dari daerah pasang surut ke arah darat dibedakan sebagai berikut.

    1. Formasi pes caprae
    Dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuh di gundukan pasir adalah tumbuhan Ipomoea pes caprae yang tahan terhadap hempasan gelombang dan angin; tumbuhan ini menjalar dan berdaun tebal. Tumbuhan lainnya adalah Spinifex littorius (rumput angin), Vigna, Euphorbia atoto, dan Canaualia martina. Lebih ke arah darat lagi ditumbuhi Crinum asiaticum (bakung), Pandanus tectorius (pandan), dan Scaeuola Fruescens (babakoan).

    2. Formasi baringtonia
    Daerah ini didominasi tumbuhan baringtonia, termasuk di dalamnya Wedelia, Thespesia, Terminalia, Guettarda, dan Erythrina.

    Bila tanah di daerah pasang surut berlumpur, maka kawasan ini berupa hutan bakau yang memiliki akar napas. Akar napas merupakan adaptasi tumbuhan di daerah berlumpur yang kurang oksigen. Selain berfungsi untuk mengambil oksigen, akar ini juga dapat digunakan sebagai penahan dari pasang surut gelombang. Yang termasuk tumbuhan di hutan bakau antara lain Nypa, Acathus, Rhizophora, dan Cerbera.

    Jika tanah pasang surut tidak terlalu basah, pohon yang sering tumbuh adalah: Heriticra, Lumnitzera, Acgicras, dan Cylocarpus.

    3. Estuari
    Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut. Estuari sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam.

    Salinitas air berubah secara bertahap mulai dari daerah air tawar ke laut. Salinitas ini juga dipengaruhi oleh siklus harian dengan pasang surut aimya. Nutrien dari sungai memperkaya estuari.

    Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang, dan fitoplankton. Komunitas hewannya antara lain berbagai cacing, kerang, kepiting, dan ikan. Bahkan ada beberapa invertebrata laut dan ikan laut yang menjadikan estuari sebagai tempat kawin atau bermigrasi untuk menuju habitat air tawar. Estuari juga merupakan tempat mencari makan bagi vertebrata semi air, yaitu unggas air.

    4. Terumbu karang
    Di laut tropis, pada daerah neritik, terdapat suatu komunitas yang khusus yang terdiri dari karang batu dan organisme-organisme lainnya. Komunitas ini disebut terumbu karang. Daerah komunitas ini masih dapat ditembus cahaya matahari sehingga fotosintesis dapat berlangsung.

    Terumbu karang didominasi oleh karang (koral) yang merupakan kelompok Cnidaria yang mensekresikan kalsium karbonat. Rangka dari kalsium karbonat ini bermacammacam bentuknya dan menyusun substrat tempat hidup karang lain dan ganggang.

    Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis dan sisa organik lain. Berbagai invertebrata, mikro organisme, dan ikan, hidup di antara karang dan ganggang. Herbivora seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan ikan karnivora.

     

    11/14/2010 Posted by | Pengetahuan Lingkungan | 1 Komentar

    FAKTOR LINGKUNGAN YANG MEMPENGARUHI MIKROBA

    OLEH: DR.H.M.AGUS KRISNO BUDIYANTO,M.KES

    DOSEN PENDIDIKAN BIOLOGI UMM

    Tiap-tiap makhluk hidup itu keselamatannya sangat tergantung kepada keadaan sekitarnya, terlebih-lebih mikro organisme. Makhlukmakhluk halus ini tidak dapat menguasai faktor-faktor luar sepenuhnya, sehingga hidupnya sama sekali tergantung kepada keadaan sekelilingnya. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri ialah dengan menyesuaikan diri (adaptasi) kepada pengaruh faktor-faktor luar. Penyesuaian diri dapat terjadi secara cepat serta bersifat sementara waktu, akan tetapi dapat pula perubahan itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat-sifat fisiologi yang turun menurun. Kehidupan bakteri tidak hanya di pengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Misal, bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam media tempat ia tumbuh. Bakteri dapat pula mengubah pH dari medium tempat ia hidup, perubahan ini di sebut perubahan secara kimia.
    Adapun faktor-faktor lingkungan dapat di bagi atas faktor-faktor biotik dan faktor-faktor abiotik. Faktor-faktor biotik terdiri atas mahluk-mahluk hidup, sedang faktor-faktor abiotik terdiri dari faktor-faktor alam (fisika) dan faktorfaktor kimia.
    5.1 Faktor-Faktor Abiotik.
    Faktor abiotik adalah faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan yang bersifat fisika dan kimia. Di antara faktor-faktor yang perlu di perhatikan ialah suhu, pH, tekanan osmose, pengeringan, sinar gelombang pendek, tegangan muka dan daya oligodinamik.
    1. Suhu
    Masing-masing mikrobia memerlukan suhu tertentu untuk hidupnya. Suhu pertumbuhan suatu mikrobia dapat di bedakan dalam suhu minimum, optimum dan maksimum. Berdasarkan atas perbedaan suhu pertumbuhannya dapat di bedakan mikrobia yang psikhrofil, mesofil, dan termofil. Untuk tujuan tertentu suatu mikrobia perlu di tentukan titik kematian termal (thermal death point) dan waktu kematian termal (thermal death time)- nya.
    Daya tahan terhadap suhu itu tidak sama bagi tiap-tiap spesies. Ada spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam cairan medium pada suhu 60°C, sebaliknya ,bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan Clostridium itu tetap hidup setelah di panasi dengan uap 100°C atau lebih selama kira-kira setengah jam. Untuk sterilisali, maka syaratnya untuk membunuh setiap spesies untuk membunuh setiap spesies bakteri ialah pemanasan selama 15 menit dengan tekanan 15 pound serta suhu 121°C di dalam autoklaf.
    Dalam cara menentukan daya tahan panas suatu spesies perlu di perhatikan syarat-syarat sebagai berikut:
    1. Berapa tinggi suhu.
    2. Berapa lama spesies itu berada di dalam suhu tersebut.
    3. Apakah pemanasan bakteri itu di lakukan di dalam keadaan kering ataukah di dalam keadaan basah.
    4. Beberapa pH dari medium tempat bakteri itu di panasi.
    5. Sifat-sifat lain dari medium tempat bakteri itu di panasi.
    Mengenai pengaruh basah dan kering ini dapat diterangkan sebagai berikut. Di dalam keadaan basah, maka protein dari bakteri lebih cepat menggumpal daripada di dalam keadaan kering, pada temperartur yang sama. Berdasarkan ini, maka sterilisasi barang-barang gelas di dalam oven kering itu memerlukan suhu yang lebih tinggi daripada 121° C dan waktu yang lebih lama daripada 15 menit. Sedikit perubahan pH menju ke asam atau ke basa itu sangat berpengaruh kepada pemanasan. Berhubung dengan ini, maka buah-buahan yang masam itu lebih mudah disterilisasikan daripada sayur-sayur atau daging.
    Untuk menentukan suhu maut bagi bakteri orang mengambil pedoman sebagai berikut: Suhu maut (Thermal Death Point) ialah suhu yang serendahrendahnya yang dapat membunuh bakteri yang berada di dalam standard medium selama 10 menit. Ketentuan ini mencakup kelima syarat-syarat tersebut diatas. Perlu diperhatikan kiranya, bahwa tidak semua individu dari suatu spesies itu mati bersama-sama pada suatu suhu tertentu. Biasanya, individu yang satu lebih tahan daripada individu yang lain terhadap suatupemanasan, sehingga tepat jugalah bila kita katakana adanya angka kematian pada suatu suhu (Thermal Death Rate). Sebaliknya jika suatu standard suhu sudah ditentukan seperti pada perusahaan pengawetan makanan atau dalam perusahaan susu, maka lamanya pemanasan merupakan faktor yang berbeda-beda bagi tiap-tiap   dapatlah kita adakan penentuan waktu maut (Thermal Death Rate). Biasanya standard suhu itu diatas titik didih dan pemanasan setinggi ini perlu bagi pemusnahan bakteri yang berspora. Umumnya bakteri lebih tahan suhu rendah daripada suhu tinggi. Hanya beberapa spesies neiseria mati karena pendinginan sampai 0° C dalam kedaan basah. Bakteri patogen yang bias hidup di dalam tubuh hewan atau manusia dapat bertahan sampai beberapa bulan pada suhu titik beku.
    Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh kepada spora, karena spora sangat sedikit mengandung air. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh bakteri daripada kalau pembekuan itu di dalam buih, buih tidak membeku sekeras air beku. Bahwa pembekuan air itu menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri mudahlah dimaklumi, tentang efek yang lain misalnya secara kimia, kita belum tahu. Pembekuan secara perlahan-lahan dalam suhu -16°C ( es campur garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secara mendadak dalam udara beku (-190° C ). Juga pembekuan secara terputus-putus ternyata lebih efektif dari pada pembekuan secara terusmenerus. Sebagai contoh, piaraan basil tipus mati setelah dibekukan putus – putus dalam waktu 2 jam, sedang piaraan itu dapat bertahan beberapa minggu dalam keadaan beku terus-menerus.
    Mengenai pengaruh suhu terhadap kegiatan fisiologi, maka seperti halnya dengan mahluk-mahluk lain, mikrooganisme pun dapat bertahan di dalam suatu batas-batas suhu tertentu. Batas-batas itu ialah suhu minimum dan suhu maksimum, sedang suhu yang paling baik bagi kegiatan hidup itu disebut suhu optimum. Berdasarkan itu adalah tiga golongan bakteri, yaitu:
    Bakteri termofil (politermik), yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada suhu setinggi 55° sampai 65°C, meskipun bakteri ini juga dapat berbiak pada suhu lebih rendah atau lebih tinggi daripada itu, yaitu dengan batas-batas 40°C sampai 80°C. Golongan ini terutama terdapat didalam sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bersuhu lebih tinggi dari 55°C.

    Bakteri mesofil (mesotermik), yaitu bakteri yang hidup baik di antara 5° dan 60°C, sedang suhu optimumnya ialah antara 25° sampai 40°C, minimum 15°C dan maksimum di sekitar 55°C. Umumnya hidup di dalam alat pencernaan, kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada suhu 40°C atau lebih.
    Bakteri psikrofil (oligotermik), yaitu bakteri yang dapat hidup di antara 0° sampai 30°C, sedang suhu optimumnya antara 10° sampai 20°C. Kebanyakan dari golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin baik di daratan ataupun di lautan.
    Pada tahun 1967 di Yellowstone Park di temukan bakteri yang hidup dalam air yang panasnya 93 – 94 °C dan pada tahun 1969 berapa spesies lagi di tempat yang sama yang juga sangat termofil. Spesies-spesies itu di tabiskan menjadi Thermus aquaticus, Bacillus caldolyticus, dan Bacillus caldotenax. Dalam praktek, batas-batas antara golongan-golongan itu sukar di tentukan, juga di antara beberapa individu di dalam satu golongan pun batas-batas suhu optimum itu sangat berbeda-beda. Bakteri termofil agak
    menyulitkan pekerjaan pasteurisasi, karena pemanasan pada pasteurisasi itu hanya sekitar 70 ° C saja, sedang pada suhu setinggi itu spora-spora tidak mati. Spora bakteri termofil juga merepotkan perusahaan pengawetan makanan. Selama bahan makanan di dalam kaleng itu di simpan pada suhu yang rendah, spora-spora tidak akan tumbuh menjadi bakteri. Akan tetapi, jika suhu sampai naik sedikit, besarlah bahaya akan rusaknya makanan itu sebagai akibat dari pertumbuhan spora-spora tersebut.
    Sebaliknya, bakteri psikrofil dapat mengganggu makanan yang di simpan terlalu lama di dalam lemari es. Golongan bakteri yang dapat hidup pada bata-batas suhu yang sempit, misalnya, Conococcus itu hanya dapat hidup subur antara 30 ° dan 40 ° C, jadi batas antara minimum dan maksimum tidak terlampau besar, maka bakteri semacam itu kita sebut stenotermik. Sebaliknya Escherichia coli tumbuh baik antara 8 °C sampai 46 °C, jadi beda antara minimum dan maksimum suhu di sini ada lebih besar daripada yang di sebut di atas, maka Escherichia coli itu termasuk golongan bakteri yang kita sebut euritermik. Pada umumnya dapat di pastikan, bahwa suhu optimum itu lebih mendekati suhu maksimum daripada suhu minimum.Hal ini nyata benar bagi Gonococcus dan Escherichia coli, keduanya mempunyai optimum suhu 37 °C. Bakteri yang dipiara di bawah
    suhu minimum atau sedikit di atas suhu maksimum itu tidak segera mati, melainkan berada di dalam keadaan “tidur” (dormancy).
    Suhu berpengaruh terhadap kinerja reaksi dalam mikroorganisme. Kecepatan reaksi kimia merupakan fungsi langsung daripada suhu dan mengikuti hubungan yang dikemukakan semula oleh Arrhenius :
    Log10 V =    − ΔH*    + C
    2.303RT

    v ialah kecepatan reaksi, ΔH* ialah energi aktivitas pada reaksi, R ialah konstante gas, T ialah suhu dalam derajat Kelvin. Karena itu, kecepatan reaksi kimia sebagai fungsi T ¯¹ menghasilkan garis lurus dengan lereng negatif (Gambar 10.6). Gambar 10.7 menunjukkan kecepatan tumbuh E. coli yang dapat disamakan dengan fungsi T ¯¹. Kurvenya linear hanya pada bagian kisaran suhu untuk tumbuh. Sebab kecepatan tumbuh dengan tibatiba sangat menurun pada batas atas dan bawah kisaran suhu. Kecepatan tumbuh pada suhu tinggi yang menurun tiba-tiba disebabkan oleh denaturasi panas protein dan mungkin pula denaturasi struktur sel seperti membran. Pada suhu maksimum untuk tumbuh maka reaksi yang merusak menjadi sangat besar. Suhu itu biasanya hanya berapa derajat lebih tinggi daripada suhu untuk kecepatan tumbuh maksimal, yang dinamakan suhu optimum.

    Gambar 5.3 Hubungan antara kecepatan reaksi kimiawi dan suhu menurut rumus arrthenius
    Dari pengaruh suhu pada kecepatan reaksi kimia, dapat diramalkan bahwa semua bakteri dapat melanjutkan tumbuhnya (meskipun dengan kecepatan yang makin lama makin lebih rendah) selama suhu diturunkan sampai sistem itu membeku. Akan tetapi, kebanyakan bakteri berhenti tumbuh pada suhu (suhu minimum untuk tumbuh ) jauh di atas titik beku air. Setiap mikroorganisme mempunyai suhu yang tepat untuk pertumbuhan, tetapi di bawah suhu ini pertumbuhan tidak terjadi betapa pun lamanya masa
    inkubasi.
    Nilai suhu kardinal menurut angka (minimum, optimum, dan maksimum) dan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan, sangat beragam pada bakteri. Beberapa bakteri yang diisolasi dari sumber air panas dapat tumbuh pada suhu setinggi 95°C; yang diisolasi dari lingkungan dingin, dapat tumbuh sampai suhu serendah –10°C jika konsentrasi solut yang tinggi mencegah mediumnya menjadi beku. Berdasarkan kisaran suhu untuk tumbuh, bakteri seringkali dibagi atas tiga golongan besar: termofil, yang tumbuh pada suhu tinggi (diatas 55°C); mesofil, yang tumbuh baik antara 20°C sampai 45°C dan psikrofil, yang tumbuh baik pada 0°C.
    Seperti juga dalam sistem klasifikasi biologis yang kerap kali benar, terminologi ini menunjukan perbedaan yang lebih jelas di antara tipe-tipe daripada yang di jumpai di alam. Klasifikasi reaksi suhu tiga pihak tidak memperhitungkan seluruh variasi di antara bakteri berkenaan dengan adanya perluasan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan. Perbedaan dalam kisaran suhu di antara termofil kadang-kadang dinyatakan dengan istilah stenotermofil (organisme yang tidak dapat tumbuh di bawah 37 °C),
    dan euritermofil (organisme yang dapat tumbuh di bawah 37 °C). psikrofil yang masih dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut psikrofil fakultatif; dan yang tidak dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut psikrofil obligat.
    Garis dengan satu tanda panah menunjukkan batas suhu tumbuh untuk paling sedikit satu galur spesies itu terdapat variasi di antara bermacam galur beberapa spesies. Tanda dengan dua panah menunjukkan bahwa pada batas suhu sebenarnya terletak di antara tanda panah tersebut. Garis dengan titik-titik menunjukkan bahwa pertumbuhan minimum belum ditentukan. Data yang menggambarkan kisaran suhu tumbuh berbagai macam bakteri menunjukkan sifat termofil, mesofil, dan psikrofil yang agak berubah-ubah.
    Kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan itu berubah-ubah seperti halnya suhu-suhu maksimum dan minimum. Kisaran suhu beberapa bakteri kurang dari 10°C, sedangkan untuk lainnya dapat sampai 50°C.
    Faktor yang menentukan batas suhu untuk tumbuh telah disingkapkan oleh dua macam penelitian; perbandingan antara sifat organisme dengan kisaran suhu yang sangat berbeda; dan analisis sifat mutan yang peka terhadap suhu, kisaran suhunya menjadi lebih sempit oleh perubahan satu mutan. Ada dua macam mutan yang peka terhadap suhu; mutan peka panas, dengan suhu tumbuh maksimum yang menurun ; dan mutan peka dingin, dengan suhu tumbuh minimum yang menaik.
    Studi mengenai kinetika denaturasi panas pada enzim dan struktur sel yang berprotein (misalnya flagelum, ribosom) menunjukkan bahwa banyak protein khusus pada bakteri termofil lebih tahan panas daripada protein homolognya dari bakteri mesofil. Mungkin pula untuk mengira-ngirakan ketahanan panas menyeluruh protein sel yang dapat larut, dengan mengukur kecepatan protein di dalam ekstrak bakteri menjadi tidak larut karena denaturasi panas pada beberapa suhu yang berbeda. Percobaan seperti ini (Tabel 10.6). Dengan jelas menunjukkan bahwa pada hakekatnya semua protein bakteri termofilik setelah perlakuan panas tetap pada tingkat asalnya yang sebenarnya menghilangkan semua protein mesofil yang sekelompok. Karena itu adaptasi mikroorganisme termofilik terhadap suhu di sekitarnya hanya dapat dicapai dengan perubahan mutasional yang mempengaruhi struktur utama kebanyakan (jika tidak semua) protein sel tersebut. Meskipun adaptasi evalusionar yang menghasilkan termofil agaknya melibatkan ,mutasi yang meningkatkan ketahanan panas proteinnya , namun kebanyakan mutasi yang berpengaruh pada struktur utama suatu protein khusus ( misalnya enzin) mengurangi ketahanan panas protein tersebut, walaupun banyak di antara mutasi ini mungkin berpengaruh sedikit atau tidak sama sekali pada sifat-sifat katalitik. Akibatnya, dengan tidak adanya seleksi tandingan oleh tantangan panas, maka suhu maksimum untuk pertumbuhan mikroorganisme apa pun harus menurun secara berangsur-angsur sebagai akibat mutasi acak yang berpengaruh pada struktur pertama proteinnya. Kesimpulan ini ditunjang oleh pengamatan bahwa bakteri psikrofilik yangdiisolasi dari air antartik mengandung sejumlah besar protein yang luar biasa labilnya terhadap panas.
    Pada suhu rendah, semua protein mengalami sedikit perubahan bentuk, yang dianggap berasal dari melemahnya ikatan hidrofobik yang memegang peran penting dalam penentuan struktur tartier (berdimensi tiga). Semua tipe ikatan lain pada protein menjadi lebih kuat bila suhu diturunkan. Pentingnya bentuk yang tepat untuk fungsi sebenarnya protein alosterik dan untuk perakitan sendiri protein ribosomal menjadi kedua kelas protein ini teramat peka terhadap inaktivasi dingin. Oleh karen aitu, tidaklah mengherankan bahwa mutasi yang menaikkan suhu minimum untuk pertumbuhan biasanya terjadi di dalam gen yang menyandikan protein-protein ini.
    Susunan lipid pada hampir semua organisme, baik prokariota maupun eukariota, berubah-ubah menurut suhu tumbuh. Bila suhu turun, kandungan relatif asam lemak tidak jenuh didalam lipid selular meningkat. Ilustrasi kejadian ini pada E. coli tampak pada perubahan dalam susunan lemak ini adalah komponen penting daripada adaptasi suhu pada bakteri. Titik cair lipid berhubungan langsung dengan asam lemak jenuh. Akibatnya, derajat kejenuhan asam lemak pada lipid membran menentukan derajat keadaan cairnya pada suhu tertentu. Karena fungsi membran bergantung pada keadaan cair komponen lipid, dapatlah dipahami bahwa pertumbuhan pada suhu rendah haruslah diikuti dengan penambahan derajat ketidakjenuhan asam lemak.
    2. pH
    Mikrobia dapat tumbuh baik pada daerah pH tertentu, misalnya untuk bakteri pada pH 6,5 – 7,5; khamir pada pH 4,0 – 4,5 sedangkan jamur dan aktinomisetes pada daerah pH yang luas. Setiap mikrobia mempunyai pH minimum, optimum dan maksimum untuk pertumbuhanya. Berdasarkan atas perbedaan daerah pH untuk pertumbuhanya dapat dibedakan mikrobia yang asidofil, mesofil ( neutrofil ) dan alkalofil. Untuk menahan perubahan dalam medium sering ditambahkan larutan bufer. pH optimum pertumbuhan bagi kebanyakan bakteri antara 6,5 dan 7,5. Namun beberapa spesies dapat tumbuh dalam keaadaan sangat masam atau sangat alkalin, bila bakteri di kuitivasi di dalam suatu medium yang mula-mula disesuaikan pHnya misal 7 maka mungkin pH ini akan berubah sebagai akibat adanya senyawasenyawa asam atau basa yang dihasilkan selama pertumbuhannya. Pergesaran pH ini dapat sedemikian besar sehingga mengahambat pertumbuhan seterusnya organisme itu. Pergeseran pH dapat dapat dicegah dengan menggunakan larutan penyangga dalam medium, larutan penyangga adalah senyawa atau pasangan senyawa yang dapat menahan perubahan pH.
    Istilah pH pada suatu symbol untuk derajat keasaman atau alkanitas suatu larutan; pH=log (1/[H+]) dengan [H+] sebagai konsentrasi ion hydrogen. pH air suling ialah 7,0 (netral); cuka 2,25; sari tomat, 4,2; susu, 6,6; natrium bikarbonat (0,1N), 8,4; susu magnesia, 10,5.

    Tabel 5.7 Indikator Asam – Basa

    NAMA             INTERVAL pH     PK INDIKATOR     WARNA
    ASAM – BASA
    Biru timol        8,0 – 9,6        1,7            Merah – kuning
    Biru brom fenol    3,0 – 4,6        4,1            Kuning – biru
    Merah metal        4,4 – 6,2        5,0            Merah – kuning
    Biru brom timo    l    6,0 – 7,6        7,1            Kuning – biru
    Merah feno        6,8 – 8,4        7,8            Kuning – merah
    Merah kresol        7,0 – 8,8        8,2            Kuning – merah
    Fenolftalein        8,2 – 9,8        9,6        Tak berwarna -merah muda

    Tabel 5.8 pH minimum, optimum, dan maksimum untuk pertumbuhan beberapa spesies bakteri

    Bakteri             KISARAN pH UNTUK PERTUMBUHAN
    Batas bawah     Optimum     Batas atas
    Thiobacillus            0,5        2,0-3,5        6,0
    Thiooxidans            4,0-4,5        5,4-6,3        7,0-8,0
    Acetobacter aceti        4,2        7,0-7,5        9,3
    Staphylococcus aureus    5,5        7,0-7,5        8,5
    Azotobacter spp        6,0        6,8        7,0
    Clhorobium limicola        6,0        7,5 – 7,8    9,5
    Thermos aquaticus
    Atas dasar daerah-daerah pH bagi kehidupan mikroorganisme dibedakan menjadi 3 golongan besar yaitu:
    Mikroorganisme yang asidofilik, yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 2,0-5,0
    Mikroorganisme yang mesofilik (neutrofilik), yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 5,5-8,0
    Mikroorganisme yang alkalifilik, yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8,4-9,5
    Suhu, lingkungan, gas dan pH adalah faktor-faktor fisik utama yang harus dipertimbangkan di dalam penyediaan kondisi optimum bagi pertumbuhan kebanyakan spesies bakteri. Beberapa kelompok bakteri mempunyai persyaratan tambahan. Sebagai contoh, organisme fotoautotrofik (fotosintetik) harus diberi sumber pencahayaan, karena cahaya adalah sumber energinya. Pertumbuhan bakteri dapat dipengaruhi oleh keadaan tekanan osmotik (tenaga atau tegangan yang terhimpun ketika air berdifusi melalui suatu membran) atau tekanan hidrostatik (tegangan zat alir). Bakteri tertentu, yang disebut bakteri halofilik dan dijumpai di air asin, wadah berisi garam, makanan yang diasin, air laut, dan danau air asin, hanya tumbuh bila mediumnya mengandung konsentrasi garam yang tinggi. Air laut mengandung 3,5 persen natrium klorida; di danau air asin, konsentrasi natrium kloridanya dapat mencapai 25 persen. Mikroorganisme yang membutuhkan NaCl untuk pertumbuhannya di sebut halofil obligat – mereka tidak akan tumbuh kecuali bila konsentrasi garamnya tinggi, yang dapat tumbuh dalam larutan natrium kloride tetapi tidak mensyaratkannya disebut halofil fakultatif – mereka tumbuh dalam lingkungan berkonsentrasi garam tinggi atau rendah. Ini menunjukkan adanya tanggapan terhadap tekanan osmotik. Telah diisolasi bakteri dari parit-parit terdalam dilautan yang tekanan hidrostatiknya mencapai ukuran ton meter persegi.

    Tabel 5.9 Kondisi-kondisi fisik yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri

    Kondisi Fisik                 Tipe Bakteri             Kondisi Biakan
    (Kelompok Psikologis)        (Inkubasi
    Suhu (kisaran            Psikrofil                0 – 30°c
    pertumbuhan) :        Mesofil                    25 – 40°c
    minimum dan            Termofil :
    maksimum;            Termofil                25 – 55°c
    optimumnya pada        Fakultatif (bebas pilih)
    suatu titik didalam        Termofil obligat            45 – 75°c
    kisaran bergantung ada
    spesies            Aerob                    Hanya tumbuh bila
    ada oksigen bebas
    Anaerob                Hanya tumbuh
    Persyaratan akan gas                            tanpa oksigen
    Anaerob fakultatif            bebas
    Tumbuh baik tanpa
    Mikroaerofil                oksigen bebas
    Tumbuh bila ada
    oksigen bebas
    dalam jumlah
    sedikit
    Kebanyakan bakteri
    berkaitan dengan
    kehidupan hewan dan            pH optimum 6,5 –
    Keasaman atau         tumbuhan                7,5
    alkanitas (pH)            Beberapa spesies eksotik
    pH minimum 0,5;
    Fotosintetik (autotrof dan         pH maksimum 9,5

    heterotrof)
    Cahaya                                sumber cahaya
    Halofil (halofil obligat)
    Salinitasi                    konsentrasi garam
    yang tinggi, 10 –15% NaCl

    3. Kelembaban
    Mikroorganisme mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya untuk pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi diatas 85°C, sedangkan untuk jamur dan aktinomises diperlukan kelembaban yang rendah dibawah 80°C. Kadar air bebas didalam lautan (aw) merupakan nilai perbandingan antara tekanan uap air larutan dengan tekanan uap air murni, atau 1/100 dari kelembaban relatif. Nilai aw untuk bakteri pada umumnya terletak diantara 0,90 – 0,999 sedangkan untuk bakteri halofilik mendekati 0,75. Banyak mikroorganisme yang tahan hidup didalam keadaan kering untuk waktu yang lama seperti dalam bentuk spora, konidia, arthrospora, klamidospora dan kista. Seperti halnya dalam pembekuan, proses pengeringan protoplasma, menyebabkan kegiatan metaobolisme terhenti. Pengeringan secara perlahan-lahan menyebabkan perusakan sel akibat pengaruh tekanan osmosa dan pengaruh lainnya dengan naiknya kadar zat terlarut.
    4. Tekanan osmosis
    Pada umumnya mikrobia terhambat pertumbuhannya di dalam larutan yang hipertonis. Karena sel-sel mikrobia dapat mengalami plasmolisa. Didalam larutan yang hipotonis sel mengalami plasmoptisa yang dapat di ikuti pecahnya sel. Beberapa mikrobia dapat menyesuaikan diri terhadap tekanan osmose yang tinggi; tergantung pada larutanya dapat dibedakan jasad osmofil dan halofil atau halodurik. Medium yang paling cocok bagi kehidupan bakteri ialah medium yang isotonik terhadap isi sel bakteri. Jika bakteri di tempatkan di dalam suatu larutan yang hipertonik terhadap isi sel, maka bakteri akan mengalami plasmolisis. Larutan garam atau larutan gula yang agak pekat mudah benar menyebabkan terjadinya plasmolisis ini. Sebaliknya, bakteri yang ditempatkan di dalam air suling akan kemasukan air sehingga dapat menyebabkan pecahnya bakteri, dengan kata lain, bakteri dapat mengalami plasmoptisis. Berdasarkan inilah maka pembuatan suspense bakteri dengan menggunakan air murni itu tidak kena, yang digunakan seharusnyalah medium cair.
    Jika perubahan nilai osmosis larutan medium tidak terjadi sekonyongkonyong, akan tetapi perlahan-lahan sebagai akibat dari penguapan air, maka bakteri dapat menyesuaikan diri, sehingga tidak terjadi plasmolisis secara mendadak.
    6. Senyawa toksik
    Ion-ion logam berat seperti Hg, Ag, Cu, Au, Zn, Li, dan Pb. Walaupun pada kadar sangat rendah akan bersifat toksis terhadap mikroorganisme karena ion-ion logam berat dapat bereaksi dengan gugusan senyawa sel. Daya bunuh logam berat pada kadar rendah disebut daya ologodinamik. Anion seperti sulfat tartratklorida, nitrat dan benzoat mempengaruhi kegiatan fisiologi mikroorganisme. Karena adanya perbedaan sifat fisiologi yang besar pada masing-masing mikroorganisme maka sifat meracun dari anion tadi juga berbeda-beda. Sifat meracun alakali juga berbeda-beda, tergantung pada jenis logamnya. Ada beberapa senyawa asam organik seperti asam benzoat, asetat dan sorbet dapat digunakan sebagai zat pengawet didalam industry bahan makanan. Sifat meracun ini bukan disebabkan karena nilai pH, tetapi merupakan akibat langsung dari molekul asam organik tersebut terhadap gugusan didalam sel.
    7. Tegangan Muka
    Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaannya akan menyerupai membran yang elastis, sehingga dapat mempengaruhi kehidupan mikroorganisme. Protoplasma mikroorganisme terdapat didalam sel yang dilindungi dinding sel. Dengan adanya perubahan bahan pada tegangan muka dinding sel, akan mempengaruhi permukaan protoplasma, yang akibatnya dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perubahan bentuk morfologinya. Bakteri yang hidup didalam alat pencernaan dapat berkembangbiak didalam medium yang mempunyai tegangan permukaan relatif rendah. Tetapi kebanyakan lebih menyukai tegangan permukaan yang relatif tinggi.
    8. Tekanan Hodrostatik dan Mekanik
    Beberapa jenis mikroorganisme dapat hidup didalam samudra pasifik dengan tekanan lebih dari 1208 kg tiap cm persegi, dan kelompok ini disebut barofilik. Selain itu tekanan yang tinggi akan menyebabkan meningkatnya beberapa reaksi kimia, sedang tekanan diatas 7500 kg tiap cm persegi dapat menyebabkan denaturasi protein. Perubahan-perubahan ini mempengaruhi proses biologi sel jasad hidup.
    9. Kebasahan dan kekeringan
    Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah, bahkan dapat hidup di dalam air. Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur; hal ini di sebabkan karena kurangnya udara bagi mereka. Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. Banyak bakteri menemui ajalnya, jika kena udara kering. Meningococcus, yaitu bakteri yang menyebabkan meningitis, itu mati dalam waktu kurang daripada satu jam, jika digesekkan di atas kaca obyek. Sebaliknya,spora-spora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan kering.
    Pada proses pengeringan, air akan menguap dari protoplasma. Sehingga kegiatan metabolisme berhenti. Pengeringan dapat juga merusak protoplasma dan mematikan sel. Tetapi ada mikrobia yang dapat tahan dalam keadaan kering, misalnya mikrobia yang membentuk spora dan dalam bentuk kista. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya bakteri karena kekeringan itu ialah:
    Bakteri yang ada dalam medium susu, gula, daging kering dapat bertahan lebih lama daripada di dalam gesekan pada kaca obyek. Demikian pula efek kekeringan kurang terasa, apabila bakteri berada di dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering.
    Pengeringan di dalam terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada pengeringan di dalam gelap.
    Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada pengeringan pada suhu titik-beku.
    Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi nitrogen. Oksidasi agaknya merupakan faktor-maut.
    10. Sinar gelombang pendek
    Sinar-sinar yang mempunyai panjang gelombang pendek (misalnya sinar, sinar Ultra violet, sinar gama), mempunyai daya penetrasi yang cukup besar terhadap mikribia. Sinar-sinar tersebut dapat menyebabkan kematian. Perubahan genetik (mutasi) atau penghambatan pertumbuhan mikrobia. Sinar-sinar tersebut banyak digunakan di dalam praktek sterilisasi dan pengawetan bahan makanan. Kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis, bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya. Sinar
    yang nampak oleh mata kita, yaitu yang bergelombang antara 390 m μ sampai 760 m μ, tidak begitu berbahaya; yang berbahaya ialah sinar yang lebih pendek gelombangnya, yaitu yang bergelombang antara 240 m μ sampai 300 m μ. Lampu air rasa banyak memancarkan sinar bergelombang pendek ini. Lebih dekat, pengaruhnya lebih buruk. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali, bakteri bahkan dapat mati seketika, sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang terganggu. Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultra-ungu. Sinar ultra-ungu biasa dipakai untuk mensterilkan udara, air, plasma darah dan bermacam-macam bahan lainya. Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau virus itu mudah sekali ketutupan benda-benda kecil, sehingga dapat terhindar dari pengaruh penyinaran. Alangkah baiknya, jika kertas-kertas pembungkus makanan, ruang-ruang penyimpan daging, ruang-ruang pertemuan, gedunggedung bioskop dan sebagainya pada waktu-waktu tertentu dibersihkan dengan penyinaran ultra-ungu. Sinar X dan sinar radium yang bergelombang lebih pendek daripada sinar ultra-ungu juga dapat membunuh mikroorganisme, akan tetapi memerlukan lebih banyak dosis daripada sinar ultra-ungu. Bakteri yang disinari dengan sinar X kerap kali mengalami mutasi. Aliran listrik tidak nampak berbahaya bagi kehidupan bakteri. Jika ada bakteri yang mati karenanya, hal ini di sebabkan oleh panas atau oleh zat-zat yang timbul di dalam medium sebagai akibat daripada arus listrik, seperti ozon dan klor (chlor).
    11. Tegangan muka
    Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan itu menyerupai membran yang elastik. Demikian juga permukaan cairan yang menyelubungi sel mikrobia. Tekanan dari membran cairan ini di teruskan ke dalam protoplasma sel melalui dinding sel dan membran sitoplasma, Sehingga dapat mempengaruhi kehidupan mikrobia. Kebanyakan bakteri lebih menyukai tegangan muka yang relatif tinggi. Tetapi adapula yang hidup pada tegangan muka yang relatif rendah. Misalnya bakteri-bakteri yang hidup dalam saluran pencernaan. Sabun mengurangi ketegangan permukaan, dan oleh karena itu dapat menyebabkan hancurnya bakteri. Diplococcus pneumoniae sangat peka terhadap sabun. Empedu juga mempunyai khasiat seperti sabun; hanya bakteri yang hidup di dalam usus mempunyai daya tahan terhadap empedu. Bolehlah dikatakan pada umumnya, bahwa bakteri yang Gram negatif lebih tahan terhadap pengurangan (depresi) tegangan permukaan daripada bakteri yang Gram positif.
    12. Daya oligodinamik
    Ion-ion logam berat seperti Hg++ , Cu++ , Ag++ dan Pb++ pada kadar yang sangat rendah bersifat toksis terhadap mikrobia. Karena ion-ion tersebut dapat bereaksi dengan bagian-bagian penting dalam sel. Daya bunuh logam-logam berat pada kadar yang sangat rendah ini di sebut daya oligodinamik. Garam dari beberapa logam berat seperti air rasa dan perak dalam jumlah yang kecil saja dapat membunuh bakteri, daya mana di sebut oligodinamik. Hal ini mudah sekali di pertunjukkan dengan suatu eksperimen. Sayang benar garam dari logam berat itu mudah merusak kulit, makan alatalat yang terbuat dari logam, dan lagipula mahal harganya. Meskipun demikian, orang masih biasa menggunakan merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom, metafen atau mertiolat. Persenyawaan air rasa yang organic dapat pula dipergunakan untuk membersihkan biji-bijian supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur. Nitrat perak 1 sampai 2% banyak digunakan untuk menetesi selaput lender, misalnya pada mata bayi yang baru lahir untuk mencegah gonorhoea. Banyak juga orang yang mempergunakan persenyawaan perak dan protein. Garam tembaga jarang dipakai sebagai bakterisida, akan tetapi banyak digunakan untuk menyemprot tanamantanaman mematikan tumbuhan ganggang dikolam-kolam renang.
    13. Desinfektan
    Pada umumnya bakteri muda itu kurang daya-tahannya terhadap desinfektan daripada bakteri yang tua. Pekat encernya konsentrasi, lama berada dibawah pengaruh desinfektan, merupakan faktor-faktor yang masuk pertimbangan pula. Kenaikan suhu menambah daya desinfektan. Selanjutnya, medium dapat juga menawar daya desinfektan. Susu, plasma darah, dan zat-zat lain yang serupa protein sering melindungi bakteri terhadap pengaruh desinfektan tertentu. Dalam menggunakan desinfektan haruslah diperhatikan hal-hal tersebut dibawah ini. Apakah suatu desinfektan tidak meracuni suatu jaringan, apakah ia tidak menyebabkan rasa sakit, apakah ia tidak memakan logam, apakah ia dapat diminum, apakah ia stabil, bagaimanakah baunya, bagaimanakah warnanya, apakah ia mudah dihilangkan dari pakaian apabla desinfektan tersebut sampai kena pakaian, dan apakah ia murah harganya. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan orang sulit untuk menilai suatu desinfektan. Zat-zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri dapat dibagi atas garam-garam logam, fenol dan senyawa-senyawa lain yang sejenis, formaldehida, alcohol, yodium, klor dan persenyawaan klor, zat warna, detergen, sulfonamide, dan anti biotik.
    a. Fenol Dan Senyawa-Senyawa Lain Yang Sejenis
    Larutan fenol 2 sampai 4% berguna bagi desinfektan. Kresol atau kreolin lebih baik khasiatnya daripada fenol. Lisol ialah desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol; lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-desinfektan yang lain. Karbol ialah lain untuk fenol. Seringkali orang mencampurkan bau-bauan yang sedap, sehingga desinfektan menjadi menarik.
    b. Formaldehida (CH2O)
    Suatu larutan formaldehida 40% biasa disebut formalin. Desinfektan ini banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri, virus, dan jamur. Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia, akan tetapi banyak digunakan untuk merendam bahanbahan laboratorium, alat-alat seperti gunting, sisir dan lain-lainnya pada ahli kecantikan.
    c. Alkohol
    Etanol murni itu kurang daya bunuhnya terhadap bakteri. Jika dicampur dengan air murni, efeknya lebih baik. Alcohol 50 sampai 70% banyak digunakan sebagai desinfektan.
    d. Yodium

    Yodium-tinktur, yaitu yodium yang dilarutkan dalam alcohol, banyak digunakan orang untuk mendesinfeksikan luka-luka kecil. Larutan 2 sampai 5% biasa dipakai. Kulit dapat terbakar karenanya , oleh sebab itu untuk luka-luka yang agak lebar tidak digunakan yodium-tinktur.
    e. Klor Dan Senyawa Klor
    Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. Persenyawaan klor dengan kapur atau natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum.
    f. Zat Warna
    Beberapa macam zat warna dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Pada umumnya bakteri gram positif iktu lebih peka terhadap pengaruh zat warna daripada bakteri gram negative. Hijau berlian, hijau malakit, fuchsin basa, kristal ungu sering dicampurkan kepada medium untuk mencegah pertumbuhanbakteri gram positif. Kristal ungu juga dipakai untuk mendesinfeksikan luka-luka pada kulit. Dalam penggunaan zat warna perlu diperhatikan supaya warna itu tidak sampai kena pakaian.
    g. Obat Pencuci (Detergen)
    Sabun biasa itu tidak banyak khasiatnya sebagai obat pembunuh bakteri, tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (detergen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. Detergen bukan saja merupakan bakteriostatik, melainkan juga merupakan bakterisida. Terutama bakteri yang gram positif itu peka sekali terhadapnya. Sejak 1935 banyak dipakai garam amonium yang mengandung empat bagian. Persenyawaan ini terdiri atas garam dari suatu basa yang kuat dengan komponen-komponen. Garam ini banyak sekali digunakan untuk sterilisasi alat-alat bedah, digunakan pula sebagai antiseptik dalam pembedahan dan persalinan, karena zat ini tidak merusak jaringan, lagipula tidak menyebabkan sakit. Sebagai larutan yang encer pun zat ini dapat membunuh bangsa jamur, dapat pula beberapa genus bakteri Gram positif maupun Gram negatif. Agaknya alkil-dimentil bensil-amonium klorida makin lama makin banyak dipakai sebagai pencuci alat-alat makan minum di restoran-restoran. Zat ini pada konsentrasi yang biasa dipakai tidak berbau dan tidak berasa apa-apa.
    h. Sulfonamida
    Sejak 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan lagi pula tidak merusak jaringan manusia. Terutama bangsa kokus seperti Streptococcus yang menggangu tenggorokan, Pneumococcus, Gonococcus, dan Meningococcus sangat peka terhadap sulfonamida. Penggunaan obat-obat ini, jika tidak aturan akan menimbulkan gejalagejala alergi, lagi pula obat-obatan ini dapat menimbulkan golongan bakteri menjadi kebal terhadapnya. Khasiat sulfonamida itu terganggu oleh asam-p-aminobenzoat. Asam-p-aminobenzoat memegang peranan sebagai pembantu enzim-enzim pernapasan, dalam hal itu dapat terjadi persaingan antara sulfanilamide dan asam-paminobenzoat. Sering terjadi, bahwa bakteri yang diambil dari darah atau cairan tubuh orang yang habis diobati dengan sulfanilamide itu tidak dapat dipiara di dalam medium biasa. Baru setelah dibubuhkan sedikit asam-p-aminobenzoat ke dalam medium tersebut, bakteri dapat tumbuh biasa.
    .

    Gambar 5.5 Rumus bangun sulfonamide dan asam-p-aminobenzoat

    i. Antibiotik
    Menurut Waksman, antibiotik ialah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme, dan zat-zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. Antibiotik yang pertama dikenal ialah pinisilin, yaitu suatu zat yang dihasilkan oleh jamur Pinicillium. Pinisilin di temukan oleh Fleming dalam tahun 1929, namun baru sejak 1943 antibiotik ini banyak digunakan sebagai pembunuh bakteri. Selama Perang Dunia Kedua dan sesudahnya bermacam-macam antibiotik diketemukan, dan pada dewasa ini jumlahnya ratusan.
    Genus Streptomyces menghasilkan streptomisin, aureomisin, kloromisetin, teramisin, eritromisin, magnamisin yang masing-masing mempunyai khasiat yang berlainan. Akhir-akhir ini orang telah dapat membuat kloromisetin secara sintetik, obat-obatan ini terkenal sebagai kloramfenikol. Diharapkan antibiotik-antibiotik yang lain pun dapat dibuat secara sintetik pula.
    Ada yang kita kenal beberapa antibiotik yang dapat dihasilkan oleh golongan jamur, melainkan oleh golongan bakteri sendiri, misalnya tirotrisin dihasilkan oleh Bacillus brevis, basitrasin oleh Bacillus subtilis, polimiksin oleh Bacillus polymyxa.Antibiotik yang efektif bagi banyak spesies bakteri, baik kokus, basil, maupun spiril, dikatakan mempunyai spektrum luas. Sebaliknya, suatu antibiotik yang hanya efektif untuk spesies tertentu, disebut antibiotik yang spektrumnya sempit. Pinisilin hanya efektif untuk membrantas terutama jenis kokus, oleh karena itu pinisilin dikatakan mempunyai spektrum yang sempit. Tetrasiklin efektif bagi kokus, basil dan jenis spiril tertentu, oleh karena itu tetrasiklin dikatakan mempunyai spektrum luas. Sebelum suatu antibiotik digunakan untuk keperluan pengobatan, maka perlulah terlebih dahulu antibiotik itu diuji efeknya terhadap spesies bakteri tertentu. Pada medium agar-agar yang telah disebari spesies bakteri tertentu diletakkan beberapa kepingan kertas yang masing-masing mengandung antibiotik yang diuji dalam kontrentasi yang tertentu. Jika sesudah 24 jam kemudian tidak nampak pertumbuhan bakteri sekitar bahwa bakteri itu tercekik pertumbuhannya oleh antibiotik yang terkandung dalam kepingan kertas. Besar kecilnya daerah kosong sekitar kepingan kertas itu sesuai dengan konsentrasi antibiotik yang terkandung didalamnya.
    Sesuai dengan keperluan, maka suatu antibiotik dapat diberikan kepada seorang pasien dengan jalan penelanan atau penyuntikan. Penyuntikan dapat dilakukan intra vena (dalam pembuluh darah balik) atau intra muscular (dalam daging).
    a. daerah pertumbuhanbakteri

    b. kepingan kertas yangmengandung antibioticdalam konsentasitertentu.
    c. daerah kosong
    a. daerah pertumbuhanbakteri
    b. kepingan kertas yangmengandung antibioticdalam konsentasitertentu.
    c. daerah kosong
    Gambar 5.6 Pengaruh antibiotic terhadap pertumbuhan bakteri, M adalah agar-agar lempengan yang disebari bakteri
    j. Garam – Garam Logam
    Garam dari beberapa logam berat seperti air raksa dan perak dalam jumlah yang kecil saja dapat menumbuhnkan bakteri, daya mana disebut oligodinamik. Hal ini mudah sekali dipertunjukkan dengan suatu eksperimen.
    Sayang benar garam dari logam berat itu mudah merusak kulit, maka alat–alat yang terbuat dari logam, dan lagi pula mahal harganya. Meskipun demikian orang masih bisa menggunakan merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom, metafen atau mertiolat.
    Persenyawaan air rasa yang organik dapat pula dipergunakan untuk membersihkan biji – bijian supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur. Nitrat perak 1 sampai 2% banyak digunakan untuk menetesi selaput lendir, misalnya pada mata bayi yang baru lahir untuk mencegah gonorhoea. Banyak juga orang mempergunakan persenyawaan perak dengan protein. Garam tembaga jarang dipakai sebagai bakterisida, akan tetapi banyak digunakan untuk menyemprot tanaman dan untuk mematikan tumbuhan ganggang di kolam–kolam renang.
    Cara Menilai Khasiat Desinfektan
    Untuk mengetahui kekuatan masing-masing desinfektan, orang perlu mempunyai suatu ukuran pokok. Adapun zat yang dipakai ialah fenol. Mikroorganisme yang dipakai sebagai penguji khasiat desinfektan ialah Salmo nella typhosa, kadang-kadang digunakan juga Micrococcus aureus. Desinfektan yang akan diuji itu di encerkan menurut perbandingan tertentu. Misal, kita membuat 2 larutan fenol, yang satu (1:90) dan yang lain (1:100). Di samping itu kita membuat beberapa larutan suatu desinfektan A yang akan kita banding khasiatnya dengan khasiat fenol. Katakan, larutan desinfektan A itu (1:300), (1:350), (1:400), (1:450). Dari tiap-tiap larutan kita ambil 5 ml untuk kita masukkan dalam tabung steril banyaknya tabung sesuai dengan banyaknya larutan fenol dan desinfektan A. kita memerlukan 3 perangkat dalam pengujian ini, yaitu 12 tabung untuk desinfektan 0,5 ml inokulum Salmonella typhosa yang masih muda. Setelah 5 menit berada di dalam larutan, maka diambillah satu kolong inokulum untuk digesekkan pada agar-agar lempengan, dan piaraan ini kemudian disimpan dalam suhu 37 °C. Setelah berselang 48 jam piaraan dapat diperiksa tentang ada tidaknya koloni-koloni Salmonella. Jika tak ada pertumbuhan, hal ini berarti bahwa bakteri telah mati ketika diambil dari tabung yang berisi larutan desinfektan. Hal semacam ini dikerjakan pula dengan perangkat kedua, dimana Salmonella dibiarkan berada dalam larutan selama 10 menit. Di dalam perangkat yang ketiga bakteri dibiarkan selama 15 menit berada dalam desinfektan.
    5.2 Faktor-Faktor Biotik
    Faktor-faktor biotik ialah faktor-faktor yang disebabkan jasad (mikrobia)
    atau kegiatannya yang dapat mempengaruhi kegiatan (pertumbuhan) jasad atau mikrobia lain. Faktor-faktor tersebut antara lain ialah adanya asosiasi atau kehidupan bersama diantara jasad. Asosiasi dapat dalam bentuk komensalisme, mutualisme, parasitisme, simbiose, sinergisme, antibiose dan sintropisme.
    Komensalisme
    Merupakan asosiasi yang sangat renggang, dimana salah satu jenis mendapatkan keuntungan sedang lainnya tidak mendapat keuntungan atau kerugian.
    Mutualisme
    Merupakan bentuk assosiasi dimana masing-masing jenis mendapat keuntungan. Sering simbiosis dipakai untuk menyatakan bentuk assosiasi yang mutualistik, tetapi sekarang orang lebih banyak menggunakan istilah mutualisme. Sebagai contoh mutualisme antara bakteri Rhizobium dengan polong-polongan.

    Parasitisme
    Merupakan bentuk assosiasi diantara parasit dengan jasad inang. Jasad parasit yang obligat dapat merusak jasad inang dan pada akhirnya memusnahkan. Keadaan ini akan dapat pula memusnahkan (melenyapkan) parasitnya sendiri, karena jasad inang sebagai sumber kehidupannya.
    Simbiosis
    Simbiosis ialah asosiasi antara dua atau lebih jasad (mikrobia) di mana satu jenis (spesies) di antara jasad yang berasosiasi tersebut mendapat keuntungan, Sedangkan jasad yang lain mungkin mengalami kerugian atau tidak, tergantung pada macamnya simbiose. Simbiose dapat dibedakan tiga macam, ialah komensalisme, mutualisme, dan
    parasitisme.
    Sinergisme
    Sinergisme ialah suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu kemampuan untuk melakukan perubahan kimia tertentu dalam suatu subtrat atau medium. Tanpa sinergisme masing-masing mikkrobatidak mampu melakukan perubahan tersebut.
    Antibiosis
    Antibiosis disebut juga antagonisme atau amensalisme ialah suatu bentuk asosiasi antara jasat (mikkroba) yang menyebabkan salah satu pihak dalam asosiasi tersebut terbunuh. tErhambat pertumbuhannya atau mengalami gangguan-gangguan yang lain. Contohnya adanya pembentukan toksindan sat-sat antibiotika oleh salah satu mikroorganisme pada suatu asosiasi.
    Sintropisme
    Sintropisme disebut juga nutrisi bersama atau mutualnutrition ialah bentuk asosiasi yang lebih komplek . sebab biasanya terdiri atas berjenis-jenis mikroorganisme yang satu dengan yang lainnyaakan saling menstimulasi kegiatan {pertumbuhan}-nya misalnya mikrobia jenis pertama akan menguraikan suatu subtrad yang hasilnya dapat digunakan dan di uraikan oleh mikrobia jenis kedua dan yang hasil hasilnya dapat digunakan oleh mikrobia jenis ketiga dan seterusnya yang hasil hasilnya akhirnya dapat menstimulasi kegiatan mikrobia jenis pertama.
    5.3 Fungi Dan Lingkungannya
    Christensen (1957) membagi fungi dalam 3 golongan berdasar keadaan lingkungan perkembangannya yaitu: 1) fungi lapangan (field fungi), 2) fungi penyimpanan (storage fungi) dan 3) fungi perusakan lanjutan (advanced decay fungi). Golongan 3) merupakan bagian sementara, sedang 2 bagian terdahulu khusus padakomoditas biji-bijian. (Bothast, 1978). Fungi lapangan menyerang bijian yang sedang dan masak penuh dengan kandungan air paling sedikit 20% atau keseimbangan lembab relatif (Rh) 90 – 100%; fungi penyimpanan menyerang bijian yang tersimpan setelah panen dengan kandungan air sekitar 13 – 20 % atau keseimbangan lembab relative (Rh) 70 – 90% (Bothast, 1978).
    Contoh fungi lapangan adalah alternaria, Fusarium, Helminthosporium dan Cladosporium (Uraguci dan yamazaki, 1978). Juga termasuk pula Curvularia, Stemphylium, Epicoccum dan Nigospora yang umumnya menyerang dekat atau saat panen (Bothast, 1978). Menurut Christensen dan Kauftmann (1969) dilaporkan lebih dari 150 spesies fungi telah diisolasi dari bagian biji tanaman. Fungi yang dominan pada suatu komoditas tergantung atas macam tanaman, wilayah atau lokasi geografis dan keadaan iklim. Alternaria, umumnya banyak terdapat pada biji sayuran atau biji serealia, namun tidak hanya terbatas pada biji serealia. Cladosporium umumnya pada biji serelia dalam kondisi basah selama panennya, dan pada tempat
    penyimpanan fungi ini hamper tidak terdapat. Helminthosporium banyak didapat pada jenis padi, barley, dan obat khususnya bila terjadi cuaca lembab sebelum panen. Fusarium banyak terdapat pada serealia yang baru dipanen. Pada barley, gandum, dan jagung dikenal sebagai bentuk “kudis” biji-biji yangdemikian dapat mendatangkan kercunan pada hewan maupun manusia(Uraguchi dan Yamazaki, 1978). Beberapa spesies tertentu penicillium kadang-kadang dimasukkan dalam fungi lapangan (Mislivec dan Tuite, 1970).
    Fungi penyimpanan juga terdiri dari beberapa spesies antara lain Penicillium, Aspergillus dan Sporendomena dan kadang-kadang beberapa jenis khamir (Uraguchi dan Yamazaki, 1978). Penicillium dan Aspergillus merupakan fungi yang diketahui ada dimana-mana dan hamper terdapat disetiap wilayah. Kebanyakan fungi penyimpanan terdiri dari dari 5 atau 6 golongan Apergillus dan baru kemudian dan beberapa spesies Penicillium sampai terjadi kerusakan lebih lanjut (Christensen dan Kaufmann, 1974). Wallace (1973)menyebutkan 26 spesies Aspergillus dan 66 spesies Penicillium yang dapat diisolasi pada produk simpanan. Selain Aspergillus dan Penicillium dikategorikan pula dalam fungi penyimpanan adalah Absidia, Mucor, Rhizopus, Chaetomium, Scopulariopis, Paecylomices, dan Neurospora. Ibasidia, Mucor dan Rhizopus pada umumnya ada hubungannya dengan kerusakan pada kondisi lembab, karena mereka menghendaki suatu lembab relatif (Rh) minimum 88% untuk pertumbuhannya, mereka bukanlah fungi pemula kerusakan bahan dalam penyimpanan (Wallace, 1973). Kekecualian adalah Aspergillus flavus yang dapat menyerang bahan dilapangan (meski termasuk fungi penyimpanan) demikian pula Fusarium akan dapat melanjutkan kerusakan bahan bijian dalam gudang (meski termasuk fungi lapangan) bila kandungan air bahan cukup tinggi (Lillehoj dkk,1975;1976; Caldwell dan Tuite, 1974).
    Terdapat beberapa faktor pokok yang akan mempengaruhi perkembangan fungi pada bahan pangan yang disimpan, antara lain: 1) Kandungan air bijian yang disimpan, 2) suhu ruang penyimpanan, 3)periode penyimpanan, 4) derajat awal penyerangan oleh fungi sebelum sampai tempat penyimpanan, 5) banyknya benda-benda asing (bukan bahan sejenisnya) dan 6) terdapatnya aktivitas serangga dan kutu dalam ruang simpan (Uraguchidan Yamazaki, 1978). Faktor-faktor seperti disebutkan diatas ditujukan pada bahan dimana fungi tumbuh, maka untuk pertumbuhan fungi endiri memerlukan faktor fisik-khemis antara lain 1) suhu, 2) aktivitasair (water activity), 3) tekanan osmosis, 4) pH, 5) potensial oksidasi-reduksi
    (Eskin dkk, 1975). Suhu dan aktivitas air sangatlah penting dan perlu mendapat perhatian, disamping faktor lainnya. Lihatlah dua table dibawah ini. Fungi pada umumnya akan dapat berkembang baik pada aw sekitar 0,65- 0,80, sedangkan golongan fungi hidrofil diinginkan aw mencapai 0,89. Dalam kaitannya dengan kelembaban relatif (Rh) yang dapat diukur dari sekeliling bahan maka umumnya diharapkan kelembaban relatif sekitar 70-80%.
    Setiap jenis fungi selain adalah batasan-batasan normal, mempunyai kekhususan diantara spesies dan lainnya seperti terlihat pada beberapa table kelembaban relatif, suhu dan lainnya. Dibawah ini diberikan gambaran Rh ruang penyimpanan dan suhu untuk pertumbuhan beberapa fungi penyimpanan yang penting.
    Kelembaban relatif minimum untuk perkecambahan fungi umumnya adalah 75% pada suhu biasa, dalam keadaan iniuntuk setiap bahan bijian akan berbeda kandungan airnya sesuai komposisi (Pomeranz, 1974). Keseimbangan lembab relatif bijian lebih penting daripada kandungan air guna mengendalikan kerusakan fungi dalam ruang penyimpanan, meskipun keduanya mempunyai hubungan erat. Pertumbuhan fungi berkaitan dengan kenaikan suhu yang dipengaruhi berbagai faktor antara laininaktivitas thermal enzim, kehilangan substrat, mengecilnya oksigen dan kandungan air atau akumulasi CO2 menjadi terbatas. Hubungan antara bagian-bagian tersebut sangat kompleks maka kondisi minimum, optimum dan maksimum
    sebagaimana tercantum dalam tabel diatas adalah perkiraan (Christensen dan Kaufmann, 1974)

    11/08/2010 Posted by | MIKROBIOLOGI | 4 Komentar

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 680 pengikut lainnya.