BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

PENINGKATAN KESHALEHAN SOSIAL DALAM MEWUJUDKAN STABILITAS KETAHANAN PANGAN

PENINGKATAN KESHALEHAN SOSIAL DALAM MEWUJUDKAN STABILITAS KETAHANAN PANGAN

Mardianto Dawim1, Slamet Riyanto2, Aulia Rahmawati2

1Jurusan Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

2Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Malang

ABSTRAK

Pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi merupakan faktor penting dalam usaha pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya guna meningkatkan daya saing bangsa. Namun, usaha ini terhambat sejalan dengan meluasnya krisis pangan yang berakibat pada munculnya kasus kurang gizi dan gizi buruk di berbagai daerah.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dalam menjaga stabilitas ketahanan pangan. Namun, upaya yang dilakukan pemerintah masih kurang optimal unuk menjaga stabilitas ketahanan pangan. Faktanya masih terdapat kasus kurang gizi di berbagai daerah.

Menurut UU No.7/1996, Ketahanan Pangan adalah :”Kondisi di mana terjadinya kecukupan penyediaan pangan bagi rumah tangga yang diukur dari ketercukupan pangan dalam hal jumlah dan kualitas dan juga adanya jaminan atas keamanan (safety), distribusi yang merata dan kemampuan membeli” (Lassa, 2005).

Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu tindakan sadar pada lingkungan sekitarnya sebagai wujud dari keshalehan sosial.

Penulisan karya ilmiah ini menggunakan teknik analisa data, analisa deskriptif kualitatif. Analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.

Swasembada pangan tidak sama dengan ketahanan pangan. Konsep ketahanan pangan mengacu pada pengertian adanya ketersediaan, akses dan konsumsi pangan. Terjadinya ketidaktahanan pangan disebabkan oleh kurangnya kesadaran bertetangga dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga aplikasi dari keshalehan sosial sangat diperlukan dalam mewujudkan stabilitas ketahanan pangan.

Beberapa upaya yang dilakukan dalam meningkatkan keshalehan sosial antara lain: pelaksanaan pola hidup sederhana, meningkatkan fungsi lembaga nonformal di masyarakat serta mengoptimalkan kinerja pemerintah dalam meningkatkan keshalehan sosial.

Kata kunci : kurang gizi dan gizi buruk, ketahanan pangan, keshalehan sosial

PENDAHULUAN

Pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi merupakan faktor penting dalam usaha pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya guna meningkatkan daya saing bangsa. Namun, usaha ini terhambat sejalan dengan meluasnya krisis pangan yang berakibat pada munculnya kasus kurang gizi dan gizi buruk di berbagai daerah.

Masalah kurang gizi dan gizi buruk yang terjadi pada saat waktu dan daerah tertentu akan menimbulkan masalah pembangunan bangsa di masa yang akan datang, karena terjadinya generation loss (Budiyanto, 2002).

Masalah krisis pangan yang berakibat pada munculya kasus kurang gizi dan gizi buruk ini dipicu oleh keterbatasan kemampuan daya beli masyarakat terhadap bahan pangan seiring dengan melonjaknya harga  berbagai macam kebutuhan pokok (Una, 2008).

Untuk mengatasi masalah kurang gizi dan gizi buruk, perlu dilakukan penjagaan terhadap stabilitas ketahanan pangan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 tentang pangan dinyatakan bahwa Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutu, aman, merata, dan terjangkau.

Hal yang dilakukan pemerintah dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan diantaranya dengan melakukan SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi), mengaktifkan kembali peran Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dalam mengontrol berat badan balita, karena orang yang aktif  adalah ibu balita, bukan petugas Posyandu setempat. Selain itu pemerintah juga melakukan operasi pasar, program Raskin serta impor dari luar negeri.

Namun, upaya yang dilakukan pemerintah masih kurang optimal. Hal ini dapat diketahui dengan adanya kasus-kasus kurang gizi dan gizi buruk di sebagian daerah. Dapat diketahui pula bahwa di sekitar penderita kasus kurang gizi dan gizi buruk terdapat masyarakat yang kecukupan gizi (Budiyanto, 2002).

Untuk mengatasi masalah kurang gizi dan gizi buruk juga diperlukan peran serta masyarakat sekitar yang merupakan wujud dari keshalehan sosial dalam kehidupan bermasyarakat untuk menjaga kestabilan ketahanan pangan. Hal ini sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR Muslim).

Konsep Ketahanan Pangan

Konsep ketahanan pangan mengacu pada pengertian adanya kemampuan mengakses pangan secara cukup untuk mempertahankan kehidupan yang aktif dan sehat. Ketahanan pangan merupakan konsep yang multidimensi meliputi mata rantai sistem pangan dan gizi, mulai dari produksi, distribusi, konsumsi, dan status gizi. Secara ringkas ketahanan pangan sebenarnya hanya menyangkut tiga hal penting, yaitu ketersediaan, akses, dan konsumsi pangan (Khomsan, 2008).

Definisi Formal ketahanan pangan :

  1. World Food Conference 1974, UN 1975: Ketahanan Pangan adalah “ketersediaan pangan dunia yang cukup dalam segala waktu … untuk menjaga keberlanjutan konsumsi pangan … dan menyeimbangkan fluktuasi produksi dan harga”.
  2. FAO 1992: Ketahanan Pangan adalah “situasi di mana semua orang dalam segala waktu memiliki kecukupan jumlah atas pangan yang aman (safe) dan bergizi demi kehidupan yang sehat dan aktif.
  3. World Bank 1996: Ketahanan Pangan adalah: “akses oleh semua orang pada segala waktu atas pangan yang cukup untuk kehidupan yang sehat dan aktif.
  4. Indonesia – UU No.7/1996: Ketahanan Pangan adalah :”Kondisi di mana terjadinya kecukupan penyediaan pangan bagi rumah tangga yang diukur dari ketercukupan pangan dalam hal jumlah dan kualitas dan juga adanya jaminan atas keamanan (safety), distribusi yang merata dan kemampuan membeli” (Lassa, 2005).

Tinjauan Pangan dan Gizi

Pangan merupakan bahan-bahan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk mencukupi kebutuhan energi atau juga sumber gizi bagi tubuh. Kebutuhan pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling asasi (Budiyanto, 2002).

Gizi merupakan zat-zat yang diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi, mempunyai nilai yang sangat penting (tergantung dari macam-macam bahan makanannya) untuk :

  1. memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan, terutama bagi mereka yang masih dalam masa pertumbuhan;
  2. memperoleh energi guna melakukan kegiatan fisik sehari-hari.

Gizi buruk atau kurang gizi merupakan keadaan tidak sehat yang timbul karena tidak cukup makan dengan demikian konsumsi energi dan protein kurang selama jangka waktu tertentu (Budiyanto, 2002).

Keadaan Masyarakat Indonesia

Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alamnya mempunyai 49,5 juta jiwa penduduk yang tergolong miskin. Jumlah penduduk miskin tersebut terdiri dari 17,6 juta jiwa di perkotaan dan 31,9 juta jiwa di pedesaan. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat banyaknya dibanding angka tahun 1996 (sebelum krisis ekonomi) yang hanya mencatat jumlah penduduk miskin sebanyak 7,2 juta jiwa di perkotaan dan 15,3 juta jiwa pedesaan. Akibat krisis jumlah penduduk miskin diperkirakan makin bertambah.

Kondisi pangan lokal maupun nasional sedang terkena dampak perubahan iklim dan pemanasan global (global warming). Setelah terjadinya perubahan iklim dan global warming, kemandirian pangan pun menjadi isu global. Bahkan, petani di berbagai belahan dunia kini sedang menuntut adanya kemandirian pangan. Berbeda dengan konsep ketahanan pangan (food security), kini konsep kemandirian pangan (food sovereignty) lebih relevan untuk dikedepankan. Soalnya, paradigma kemandirian pangan bisa mengatasi berbagai kelemahan kebijakan ketahanan pangan yang selama ini lebih bersandar pada pemenuhan pangan secara modern melalui penerapan agrobisnis, perdagangan bebas dan privatisasi sumber-sumber produktif (Martaja, 2008).

Beberapa contoh kasus yang terjadi di Indonesia antara lain :

  1. Menurut Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Departemen Pertanian Tjuk Eko Haribasuki, Sebanyak 2,5 dari total penduduk Indonesia dalam kondisi rawan pangan. Artinya, ada sekitar 5 juta rakyat negara agraris ini yang makan kurang dari dua kali sehari (Anonymous, 2008).
  2. Daeng Basse (35 tahun), warga Makassar, meninggal dunia bersama bayi yang dikandungnya dan satu orang anaknya yang lain, Bahir (7 tahun) Jumat (29/2/2008) setelah tiga hari kelaparan (Sudarmawan, 2008).
  3. Sebanyak 17.835 balita di Kabupaten Ciamis diketahui masih kekurangan gizi. Rinciannya, ditemukan sebanyak 435 balita berstatus gizi buruk dan 17.400 balita lainnya gizi kurang. Sementara itu, balita berstatus gizi lebih mencapai 7.000 orang (Anonymous, 2008).

Konsep Keshalehan Sosial

Bertetangga adalah bagian kehidupan manusia yang hampir tidak bisa ditolak. Sebab manusia memang tidak semata-mata makhluk individu, tapi juga merupakan makhluk sosial. Faktanya, seseorang memang tidak bisa hidup sendirian. Mereka satu sama lain harus selalu bermitra dalam mencapai kebaikan bersama.

Menurut Imam Syafi’i, yang dimaksud dengan tetangga adalah 40 rumah di samping kiri, kanan, depan, dan belakang. Mau tidak mau, setiap hari kita berjumpa dengan mereka. Baik hanya sekadar melempar senyum, lambaian tangan, salam, atau malah ngobrol diantara pagar rumah. Islam sangat memperhatikan masalah adab-adab bertetangga.

Masyarakat yang memiliki keshalehan sosial akan membutuhkan kebutuhan fisiologis/ dasar, kebutuhkan akan rasa aman dan tentram, kebutuhan untuk dicintai dan disayangi, kebutuhan untuk dihargai dan yang terakhir kebutuhan untuk aktualisasi diri. Keempat kebutuhan yang disebutkan di awal, lebih mengarah kepada kebutuhan duniawi. Tetapi kebutuhan terakhir yaitu kebutuhan untuk aktualisasi diri lebih mengarah kepada kebutuhan ruhani (Perdana, 2007).

Keshalehan sosial dapat diukur dengan parameter orang yang bersangkutan berbuat amal shaleh dan proyek kebaikan lainnya. Karena iman dan amal menjadi mata rantai yang harus sinergis, oleh karena itu keduanya tampil menjadi unsur indikator dalam suatu perubahan sosial (Nasir, 2008).

METODE PENELITIAN

Data dan fakta yang berhubungan untuk pembahasan tema ini berasal dan tahapan-tahapan pengumpulan data dengan pembacaan secara kritis terhadap ragam literatur (Library research) yang berhubungan dengan tema pembahasan. Data yang ditampilkan dalam karya tulis ini dapat berupa angka atau pesan. Untuk angka, data yang dipakai adalah data dengan kriteria telah dipublikasikan kepada masyarakat,  melalui literatur yang digunakan berupa buku, surat kabar, buletin, maupun internet. Dengan demikian penulis mengelompakkan atau menyeleksi data dan informasi tersebut  berdasarkan kategori atau relevansi dan kemudian selanjutnya ke tahapan analisis dan pengambilan kesimpulan.

Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. Analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.

HASIL

Dalam penelitian ini, yang membahas tentang peningkatan keshalehan sosial dalam mewujudkan stabilitas ketahanan pangan diketahui bahwa:

  1. Swasembada pangan tidak sama dengan ketahanan pangan.
  2. Kurangnya peran aktif masyarakat dalam kehidupan bertetangga.
  3. Ketahanan pangan adalah tanggung jawab bersama
  4. Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam meningkatkan keshalehan sosial demi mewujudkan stabilitas ketahanan pangan.

PEMBAHASAN

Swasembada Pangan Tidak Sama Dengan Ketahanan Pangan

Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Pada masa pemerintahan Orde Baru sempat mengganti orientasi kebijakan pangan dari swasembada beras ke swasembada pangan secara umum pada Repelita III dan Repelita IV. Hasilnya sempat dirasakan pada tahun 1984 di mana Indonesia mencapai level swasembada pangan.

Selama empat tahun kepemimpinan Megawati (2000-2004), kebijakan-kebijakan swasembada pangan terus dilakukan. Statement Megawati yang terkenal adalah “Tidak ada pilihan lain kecuali Swasembada”. Fakta menunjukan bahwa produksi pangan Indonesia tahun 2004 mampu memberikan hasil yang menggembirakan (lihat Food Outlook FAO April 2004), tapi disayangkan bahwa Indonesia tidak mampu mencapai ketahanan pangan yang memadai. Peristiwa kelaparan dan malnutrisi di berbagai tempat di Indonesia adalah bukti bahwa Indonesia tidak mampu mencapai ketahanan pangan yang memadai tersebut.

Sebagai perbandingan kita ambil contoh negara tetangga kita Malaysia. Malaysia mendefinisikan ulang ketahahanan pangannya sebagai swasembada 60% pangan nasional. Sisanya, 40% didapatkan dari import pangan. Malaysia kini memiliki tingkat ketahanan pangan yang kokoh. Ini memberikan ilustrasi yang jelas bahwa ketahanan pangan dan swasembada adalah dua hal yang berbeda.

Kurangnya Peran Aktif Masyarakat dalam Kehidupan Bertetangga

Munculnya kasus-kasus kurang gizi dan gizi buruk yang terjadi di sebagian daerah dapat disebabkan oleh kurangnya perhatian masyarakat sekitar terhadap kehidupan tetangganya. Banyak kasus-kasus kurang gizi dan gizi buruk terjadi di sekitar warga yang memiliki kecukupan gizi.

Sebagai contoh yang sangat menghawatirkan adalah kasus gizi buruk pada balita. Sebanyak 17.835 balita di Kabupaten Ciamis diketahui masih kekurangan gizi. Rinciannya, ditemukan sebanyak 435 balita berstatus gizi buruk dan 17.400 balita lainnya gizi kurang.

Jika balita gizi buruk ini dibiarkan, akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Bahkan, hal itu akan menjadi ancaman hilangnya sebuah generasi. Mereka ini juga sangat rentan terhadap penyakit. Oleh karena itu, penanganan masalah balita kekurangan gizi haruslah mendapat perhatian serius.

Ketahanan Pangan adalah Tanggung Jawab Bersama

Mengingat persoalan ketahanan pangan di Indonesia memiliki implikasi yang sangat luas maka perlu segera mendapatkan perhatian yang lebih serius. Terciptanya sistem ketahanan yang ideal memerlukan keterlibatan berbagai institusi untuk menjamin keamanan pangan, mulai dari hulu hingga ke hilir (from farm to fork), mulai dari proses pemanenan, distribusi, pengolahan, hingga di meja konsumen. Terciptanya kondisi ketahanan pangan yang ideal adalah tanggung jawab bersama.

Saat inilah peran aktif masyarakat sangat dituntut dalam rangka membantu pemerintah menciptakan ketahanan pangan. Peran aktif masyarakat merupakan wujud dari sikap keshalehan sosial dalam kehidupan bermasyarakat (bertetangga). Sebagaimana yang telah diperintahkan Allah, “Bertolong-tolonganlah kamu dalam berbuat kebaikan dan takwa dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah sangat berat siksa-Nya.” (QS Al-Maidah [5]: 2)

Bertetangga adalah bagian kehidupan manusia yang hampir tidak bisa ditolak. Sebab manusia memang tidak semata-mata makhluk individu, tapi juga merupakan makhluk sosial. Faktanya, seseorang memang tidak bisa hidup sendirian. Mereka satu sama lain harus selalu bermitra dalam mencapai kebaikan bersama.

Kesadaran dan perhatian kepada sesama anggota masyarakat dalam hal ini sangat dituntut. Masyarakat dapat menjadi agen awal dalam mencegah munculnya kasus-kasus yang berkaitan dengan pangan. Untuk itu diperlukan adanya sikap harmonis dalam bertetangga sehingga muncul kesadaran dan perhatian sesama anggota masyarakat.

Menurut Imam Syafi’i, yang dimaksud dengan tetangga adalah 40 rumah di samping kiri, kanan, depan, dan belakang. Mau tidak mau, setiap hari kita berjumpa dengan mereka. Baik hanya sekadar melempar senyum, lambaian tangan, salam, atau malah ngobrol di antara pagar rumah. Islam sangat memperhatikan masalah adab-adab bertetangga.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah mengingatkan Fatimah dengan keras agar segera memberikan tetangga mereka apa yang menjadi hak-hak mereka. Kisahnya berawal ketika Rasulullah SAW pulang dari bepergian. Beberapa meter menjelang rumahnya, Rasulullah SAW mencium aroma gulai kambing yang terbit dari rumah beliau. Rasul segera bergegas menuju ke rumahnya dan menemui Fatimah yang ternyata memang sedang memasak gulai kambing. Spontan Rasulullah SAW memerintahkan putri tercinta beliau untuk memperbanyak kuah gulai yang sedang dimasaknya.

Dari kisah di atas bisa kita ambil kesimpulan bahwa ini merupakan salah satu bentuk kepedulian sosial yang diperintahkan Islam kepada kita. Islam memerintahkan kepada kita untuk senantiasa mempertajam sense of social kita. Dari sini bisa dipahami, betapa Islam mengajarkan kita untuk senantiasa membiasakan diri merasakan kesenangan dan kesulitan bersama dengan masyarakat kita.

Artinya Islam sangat melarang kita hidup egois, serakah, dan individualistik. Penghormatan kepada tetangga sesungguhnya merupakan bagian dari aktualisasi keimanan kita kepada Allah Azza wa Jalla dan Hari Akhir, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR Muslim).

Dengan begitu seseorang tidak dikatakan beriman kepada Allah dan Hari Akhir, jika dia menyia-nyiakan tetangganya. Jika dia tidak menyantuni kebutuhan tetangganya. Termasuk menyia-nyiakan tetangga tentunya adalah, bila dia tidak pernah mengunjungi tetangga dan menanyakan keadaan mereka. Dengan demikian bergaul dengan tetangga, mengetahui tentang keadaan ekonomi mereka, serta mendakwahi mereka termasuk hak-hak tetangga yang harus kita tunaikan.

Dalam sebuah Hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Hak tetangga ialah, bila dia sakit, kamu kunjungi. Bila wafat, kamu mengantarkan jenazahnya. Bila dia membutuhkan uang, maka kamu pinjami. Dan bila mengalami kesukaran/kemiskinan, maka jangan dibeberkan, aib-aibnya kamu tutup-tutupi dan rahasiakan. Bila dia memperoleh kebaikan, maka kita turut bersuka cita dan mengucapkan selamat kepadanya. Dan bila menghadapi musibah, kamu datang untuk menyampaikan rasa duka. Jangan sengaja meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya, lalu menutup jalan udaranya (kelancaran angin baginya). Dan janganlah kamu mengganggunya dengan bau masakan, kecuali kamu menciduknya dan memberikan kepadanya.”

Keharmonisan hubungan bertetangga bukan hanya bisa menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan aman, tapi juga menciptakan benteng yang kokoh bagi anak-anak kita dari segala bentuk kejahatan yang datang dari luar maupun dari dalam. Tetangga bisa menebarkan rahmat dan kasih-sayang. Tetapi sebaliknya, tetangga bisa juga menebarkan kemalangan dan malapetaka bagi lingkungannya. Dengan diikutsertakannya masyarakat diharapkan ketahanan pangan dapat terwujud serta kasus-kasus kekurangan gizi di daerah dapat ditekan.

Strategi Meningkatkan Keshalehan Sosial dalam Upaya Mewujudkan    Stabilitas Ketahanan Pangan

Beberapa wujud keshalehan sosial dalam upaya menciptakan stabilitas ketahanan pangan diantaranya:

  1. Pelaksanaan pola hidup sederhana

Pola hidup sederhana akan menurunkan kesenjangan sosial dalam masyarakat, karena dengan adanya sikap tersebut akan muncul rasa saling merasakan antar sesama. Sehingga, setiap individu akan sadar dan peka terhadap lingkungannya.

b.   Meningkatkan fungsi lembaga nonformal di masyarakat

Lembaga nonformal yang ada di masyarakat seperti majlis ta`lim, PKK, karang taruna, dan remaja masjid memiliki peran sangat penting dalam meningkatkan keshalehan sosial.

Dalam lembaga nonformal tersebut terdapat satu keinginan bersama untuk mencapai tujuan bersama dalam hidup bermasyarakat. Hal ini dapat tercermin dengan tidak adanya kesenjangan sosial serta meningkatnya peran serta masyarakat dalam menanggapi dan menyelesaikan masalah yang terjadi dalam masyarakat.

c.   Mengoptimalkan peran serta pemerintah dalam meningkatkan keshalehan sosial di masyarakat

Pemerintah diharapkan memberikan pembinaan, penyuluhan serta pengawasan melalui seluruh instansi dari tingkat pusat hingga tingkat Rukun Tetangga dalam peningkatan kesadaran bertetangga, bermasyarakat dan bertetangga, misalnya Dinas Kesehatan melalui Puskesmas dan Posyandu.

KESIMPULAN

Dari hasil pengumpulan, pengamatan dan analisa data diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

  1. Swasembada pangan tidak sama dengan ketahanan pangan. Konsep ketahanan pangan mengacu pada pengertian adanya kemampuan mengakses pangan secara cukup untuk mempertahankan kehidupan yang aktif dan sehat. Sedangkan, swasembada pangan adalah kemampuan dari suatu negara dalam menjaga ketersediaan pangan untuk mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri.
  2. Terjadinya ketidaktahanan pangan disebabkan oleh kurangnya kesadaran bertetangga dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga wujud dari keshalehan sosial diperlukan untuk mewujudkan stabilitas ketahanan pangan.
  3. Untuk mewujudkan stabilitas ketahanan pangan dapat dilakukan dengan meningkatkan nilai keshalehan sosial sebagai wujud kepedulian individu terhadap masyarakat sekitar. Keharmonisan hubungan bertetangga bisa menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, aman dan menjadi lahan amal shaleh serta menciptakan proteksi awal dalam mencegah kerawanan pangan.
  4. Beberapa upaya yang dilakukan dalam meningkatkan keshalehan sosial antara lain: pelaksanaan pola hidup sederhana, meningkatkan fungsi lembaga nonformal di masyarakat serta mengoptimalkan kinerja pemerintah dalam meningkatkan keshalehan sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto, MAK. 2002. Dasar-Dasar Ilmu Gizi. Malang. UMM Press.

Anonymous. 2008. Ketahanan Pangan dan Kemajuan Bangsa. Retreived March 22, 2008 from http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/fokus/artikel_ cetak.php?aid=22721

Anonymous. 2008. Konsep Ketahanan Pangan Rumah Tangga. Retreived March 22, 2008 from http://www.damandiri.or.id/file /wahidipbtinjauan.pdf.

Anonymous. 2008. Menjaga Keharmonisan Bertetangga. Retreived March 22 2008 from http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid

Khomsan, Ali. 2008. Impor Beras, Ketahanan Pangan, dan Kemiskinan Petani. Retreived March 23, 2008. from http://www.unisosdem.org/ article_detail.php?aid

Lassa, Jonatan. Politik Ketahanan Pangan Indonesia 1950-2005. Retreived            March 22, 2008 from http://www.zef.de/

Martaja. 2008. Urgensi Membangun Kemandirian Pangan. Rtreived March 22,     2008 from http://www.suarakarya-online.com/news.htm

Nasir, Muhammad. 2008. Islam dan Solidaritas Sosial. Retreived March 24, 2008 from http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/11/islam-dan solidaritas sosial.html

Perdana, Arif. 2007. Keshalehan Individual dan Keshalehan Sosial. Retreived March 24, 2008 from http://arifperdana.wordpress.com/2007/11/24/keshalehan-individual-dan keshalehan-sosial/

Sudarmawan. 2008. 243 Warga Magetan Terserang Gizi Buruk. Retreived March 22, 2008 from http://www.kompas.com/read.php?

Una. 2008. Inflasi Tinggi Masih Mengancam. Retreived March 22, 2008 from            http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id

BIODATA KETUA DAN ANGGOTA KELOMPOK

Ketua Kelompok

a. Nama Lengkap              : Mardianto Dawim

b. Tempat Tanggal Lahir   : Rawa Bening, 07 Juni 1988

c. Agama                           : Islam

d. Alamat                          : Jalan Wahidin Desa Perintis Rimbo Bujang,                       TEBO, Jambi.

e. No HP                           : 085267795700

f. Riwat Pendidikan Formal

NO JENJANG NAMA INSTITUSI TAHUN
1. SD/MI SDN 246 Rimbo Bujang 1994-2000
2. SMP/MTs SMPN 01 Rimbo Bujang 2000-2003
3. SMAN SMAN 02 TEBO 2003-2006
4. S1 Universitas Muhammadiyah Malang 2006-sekarang

g. Pengalaman Organisasi

NO ORGANISASI TAHUN
1. Reporter Majalah “DIDAKTIK” Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM. 2006-sekarang
2. Ketua Bidang Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah “IMM” Raushan Fikr UMM. 2007-sekarang
3. Staff Komisi B Advokasi Senat Mahasiswa Universitas (SEM_U) UMM. 2008-sekarang
4. Asissten Laboratorium Kimia UMM. 2008-sekarang

Anggota Kelompok

1. a. Nama Lengkap                : Slamet Riyanto

b. Tempat Tanggal Lahir   : Lamongan, 24 Oktober 1987

c. Agama                           : Islam

d. Alamat                          : Jalan Pondok RT. 01 RW. 05 Paciran Lamongan

e. No HP                           : 085746000292

f. Riwat Pendidikan Formal

NO JENJANG NAMA INSTITUSI TAHUN
1. SD/MI MIM Pondok Modern Muhammadiyah 1994-2000
2. SMP/MTs MTs Muhammadiyah 01 2000-2003
3. SMAN SMAN 01 Paciran 2003-2006
4. S1 Universitas Muhammadiyah Malang 2006-sekarang
  1. a. Nama Lengkap  : Aulia Rahmawati

b. NIM                        : 05360144

c. Agama                     : Islam

d. Alamat Rumah        : Jln. Tirto Utomo Gg. VII No. 1

e. Nomor HP               : 085259369333

f. Riwat Pendidikan Formal

NO JENJANG NAMA INSTITUSI TAHUN
1. SD/MI SDN Mriyunan Gresik 1992-1998
2. SMP/MTs ITTC Gontor for Girls 1998-2001
3. SMAN ITTC Gontor for Girls 2001-2004
4. S1 Universitas Muhammadiyah Malang 2005-sekarang

BIODATA DOSEN PEMBIMBING

  1. Nama Lengkap                  : Dr. Nurul Mahmudati, Dra, M. Kes.
  2. 4. Jabatan                              : Lektor
  3. 5. Fakultas/ Prodi                  : FKIP/ Pendidikan Biologi
  4. 6. Bidang Kealian                 : Fisiologi Manusia
  5. 7. Pendidikan Formal            :                                                           Tahun Lulus
2.      NIP                                   : 131.930.149
3.      Gol/Pangkat                      : III-C/ Penata
  • SD                   : MIM Wonogiri                                  1976
  • SMP                : SMPN I Giritontro Wonogiri            1980
  • SMA                : SMAN I Wonogiri                            1983
  • S1                    : IKIP Yogyakarta                              1990
  • S2                    : UNAIR Surabaya                             1999
  • S3                    : UNAIR Surabaya                             2008
  1. 8. Penelitian
No Judul Penelitian Tahun
1.

2.

Studi Tentang Daya Laruk Kalsium dalam Kristal Kalsium Oksalat pada Nephrolid Kapsul

Perspektif Guru Bidang Studi Biologi Madrasah Aliyah di Jawa Timur

2001

2002

  1. 9. Buku yang Ditulis
No Judul Tahun
1.

2.

3.

4.

Diktat Anatomi Fisiologi Manusia

Diktat Kimia Anorganik

Anatomi Fisiologi Manusia

Kimia Anorganik

2002-2003

2002-2003

2003-2004

2004-2005

01/26/2010 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar

KORELASI ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP PEMILAHAN SAMPAH KERING DAN BASAH DI DESA PENDEM KECAMATAN JUNREJO KOTA BATU

KORELASI ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP PEMILAHAN SAMPAH KERING DAN BASAH DI DESA PENDEM KECAMATAN JUNREJO KOTA BATU

Slamet Riyanto1, Mardianto Dawim2, Aulia Rahmawati1

1Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

2Jurusan Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Malang

ABSTRAK

Sampah merupakan bahan yang terbuang atau dibuang dari hasil aktifitas manusia maupun proses alam yang masih belum memiliki nilai ekonomi. Berdasarkan sumbernya, sampah dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu sampah domestik dan sampah non domestik. Sampah domestik memberikan kontribusi yang besar terhadap jumlah sampah yang masuk ke TPA. Penghasil sampah domestik terbesar adalah rumah tangga, yang terdiri dari sampah kering dan sampah basah. Dampak pencampuran antara sampah kering dan basah sanngat berbahaya. Sementara itu, DKP masih memberlakukan metode Open Dumping, oleh karena itu teknik pengelolaan sampah yang efektif, ramah lingkungan dan kesehatan perlu digali mengingat peningkatan jumlah sampah berbanding lurus dengan peningkatan jumlah penduduk. Salah satu alternative pengelolaan sampah yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan pemilahan sampah, tetapi pemilahan sampah merupakan perilaku yang baru dalam masyarakat oleh karena itu studi pengetahuan dan sikap masyarakat perlu dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengambarkan pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pengelolaan sampah, setra mencari hubungan antara pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pengelolaan sampah.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif, populasinya adalah ibu rumah tangga yang bermukim di Desa Pendem Kecamatan Junrejo Kota Batu. Sistem pengambilan sampelnya menggunakan teknik random sampling (96 responden). Penelitian ini bertujuan mengambarkan pengetahuan dan sikap masyarakat Desa Pendem terhadap pengelolaan sampah, dalam hal ini pemilahan sampah kering dan basah. Selain itu juga akan dicari seberapa besaran hubungan antara pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pemilahan sampah.

Dari hasil penelitian, diketahui bahwa pada umumnya pengetahuan masyarakat sebagian besar baik (28,13%), tetapi nilai sikap pengelolaan sampah sebagian besar masyarakat memiliki sikap tidak baik (33,33%). Korelasi antara pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pemilahan sampah memiliki hubungan linier positif, dan hubungan yang terjadi kurang erat atau rendah tetapi masih dianggap signifikan (r = 0,353; p<0,05). Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dan sikap tetapi hubungannya tidak erat, dalam hal ini berlaku asumsi bahwa orang yang memiliki pengetahuan tinggi terhadap pemilahan sampah belum tentu melakukan pemilahan sampah, begitupula sebaliknya.

Kata kunci : pengetahuan, sikap, pengelolaan sampah.

PENDAHULUAN

Sampah adalah bahan yang terbuang atau dibuang dari hasil aktifitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomi (E. Colink, 1996). Jumlah sampah yang terus meningkat di TPA selama ini kiranya dapat kita tinjau dari sistem pengelolaan sampah. Adapun macam pengelolaan sampah ada banyak sekali, diantaranya dengan dibakar, digunakan untuk kompos, makanan ternak, bahan bakar, dihanyutkan kesungai, ataupun dipendam. Bila dicermati, sebenarnya pengelolaan sampah saat ini belum menyelesaikan masalah secara  optimal. Pengelolaan sampah yang dilakukan oleh masyarakat hanya bertujuan untuk mengurangi jumlah timbunan sampah tanpa memperhatikan aspek lingkungan dan kesehatan.

Sedangkan pengelolaan sampah yang dilakukan oleh Dinas Kebersihan selama ini hanya dalam konteks pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat lain yang kemudian akan menimbulkan dampak bagi lingkungan dan kesehatan di sekitar TPA berada yang didukung pula dengan perilaku masyarakat yang masih mencampur antara sampah kering dan sampah basah.

Di Desa Pendem Kecamatan Junrejo Kota Batu, jenis sampah yang dihasilkan sebagian besar adalah sampah rumah tangga yang terdiri dari sisa sayuran, makanan, plastik, botol dan sisa-sisa kemasan. Pengelolaan sampah oleh masyarakat setempat yaitu: dengan dibakar, pemendaman,  dibuang ke sungai dan dibuang ke tempat pembuangan yang dikelola oleh Dinas Kebersihan Kota Batu.

Masyarakat Desa Pendem saat ini masih belum melaksanakan pemisahan antara sampah kering dan sampah basah, hal ini dimungkinkan masyarakat masih belum memiliki pengetahuan tentang pengelolaan sampah yang efektif, ramah lingkungan dan memberikan nilai tambah pada sampah itu sendiri. Dalam kaitannya dengan pengelolaan sampah rumah tangga, pengetahuan tentang pengelolaan sampah akan berpengaruh terhadap pembentukan sikap pengelolaan sampah pula.

Pengertian Pengetahuan

Menurut bahasa pengetahuan adalah hasil tahu diri manusia yang bukan sekedar menjawab pertanyaan what melainkan akan menjawab why dan how (Notoadmodjo, 1993). Menurut istilah, Bloom dalam Subiyanto (1988) menyatakan bahwa pengetahuan adalah hasil belajar kognitif yang mencakup hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Sedangkan tingkat pengetahuan seseorang dapat diperoleh dari hasil belajar terhadap suatu hal baik dari buku, alam sekitar, orang lain atau pengalaman pribadi.

Pengertian Sikap

Menurut para ahli, banyak batasan tentang sikap berdasarkan sudut pandang yang berbeda begitupula dengan definisinya. Louis Thustone pada tahun 1931 ia berkata secara sederhana mengenai sikap yaitu perasaan menyukai atau menolak suatu obyek psikologi.

Pengertian Sampah

Menurut kamus istilah lingkungan hidup, sampah mempunyai definisi sebagai bahan yang tidak mempunyai nilai, bahan yang tidak berharga untuk maksud biasa, pemakaian bahan rusak, barang yang cacat dalam pembikinan manufaktur, materi berkelebihan, atau bahan yang ditolak.

Jenis Sampah

Sampah jika ditinjau dari segi jenisnya diantaranya yaitu:

  1. Sampah yang dapat membusuk atau sampah basah (garbage). Garbage adalah sampah yang mudah membusuk karena aktifitas mikroorganisme pembusuk.
  2. Sampah yang tidak membusuk atau sampah kering (refuse). Sampah jenis ini tidak dapat didegradasikan oleh mikroorganisme, dan penanganannya membutuhkan teknik yang khusus. Contoh sampah jenis ini adalah ketas, plastik, dan kaca,
  3. Sampah yang berupa debu atau abu. Sampah jenis ini biasanya hasil dari proses pembakaran. Ukuran sampah ini relatif kecil yaitu kurang dari 10 mikron dan dapat memasuki saluran pernafasan.
  4. Sampah yang berbahaya terhadap kesehatan Sampah jenis ini sering disebut sampah B3, dikatakan berbahaya karena berdasarkan jumlahnya atau konsentrasinya atau karena sifat kimiawi atau fisika atau mikrobanya dapat:
    1. Meningkatkan mortalitas dan mobilitas secara bermakna atau menyebabkan penyakit yang tidak reversibel ataupun sakit berat tidak dapat pulih ataupun reversibel atau yang dapat pulih.
    2. Berpotensi menimbulkan bahaya pada saat ini maupun dimasa yang akan datang terhadap kesehatan atau lingkungan apabila tidak diolah, ditransport, disimpan dan dibuang dengan baik. Sampah yang masuk dalam tipe ini tergolong sampah yang beresiko menimbulkan keracunan baik manusia maupun fauna dan flora di lingkungan tersebut, Slamet (1994).

Sedangkan Hadiwiyono, (1983) mengelompokkan sampah berdasarkan dua karakteristik, yaitu:

1)      Kimia

  1. Organik

Sampah yang mengandung senyawa organik atau sampah yang tersusun dari umsur karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan pospor.

  1. Anorganik

Sampah yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme, jika bisapun membutuhkan waktu yang sangat lama.

2)      Fisika

  1. Sampah basah (garbage)

Garbage tersusun dari sisa-sisa bahan-bahan organik yang mudah lapuk dan membusuk.

  1. Sampah kering (rubbish)

Sampah kering dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu jenis logam seperti besi, seng,aluminium dan jenis non logam seperti kertas dan kayu.

  1. Sampah lembut

Sampah lembut memiliki ciri khusus yaitu berupa partikel-partikel kecil yang ringan dan mudah terbawa oleh angin.

  1. Sampah besar (bulkywaste)

Sampah jenis ini memiliki ukuran yang relatif lebih besar, contohnya sampah bekas mesin kendaraan.

  1. Sampah berbahaya (hazardous waste)

Sampah jenis ini terdiri dari :

-          Sampah patogen (biasanya sampah jenis ini berasal dari kegiatan medis)

-          Sampah beracun (contoh sampah sisa pestisida, isektisida, obat-obatan, sterofom)

-          Sampah ledakan, misiu, sisa bom dan lain-lain

-          Sampah radioaktif dan bahan-bahan nuklir.

Sumber Sampah

Berdasarkan sumbernya, Wibowo. Arianto dan Djajawinata. T. Darwin, (2007) membagi sampah menjadi dua kelompok yaitu:

  1. Sampah domestik

Adalah sampah yang dihasilkan oleh kegiatan manusia secara langsung, contohnya sampah rumah tangga, pasar, sekolah dan sebagainya.

  1. Sampah non domestik

Adalah sampah yang dihasilkan oleh kegiatan manusia secara tidak langsung, contohnya sampah pabrik, industri dan pertanian.

Sifat Sampah

Berdasarkan sifat pokoknya, sampah dibagi menjadi dua yaitu :

  1. Degradabel yaitu sampah yang mudah diuraikan oleh jasad hidup atau mikroorganisme.
  2. Non degradabel adalah sampah secara alami sukar diuraikan.

Pengelolaan Sampah

Tehnik-teknik yang dapat digunakan untuk menajemen pengelolaan sampah adalah sebagai berikut:

  1. Penumpukan

Dengan metode ini, sebenarnya sampah tidak dimusnahkan secara langsung, namun dibiarkan membusuk menjadi bahan organik.

  1. Pengkomposan

Cara pengkomposan merupakan cara sederhana dan dapat menghasilkan pupuk yang mempunyai nilai ekonomi. Sampah biologis, basah atau organik dapat dijadikan kompos dengan cara menimbun sampah tersebut di tanah untuk jangka waktu tertentu hingga membusuk.

  1. Pembakaran

Metode ini dapat dilakuakn hanya untuk sampah yang dapat dibakar habis.

  1. Sanitary Landfill

Metode ini hampir sama dengan penumpukan, tetapi cekungan yang telah penuh terisi sampah ditutupi tanah, namun cara ini memerlukan areal khusus yang sangat luas.

  1. Pangan dan Makanan Ternak

Sampah yang berupa buah-buahan dan sayur-sayuran yang belum sepenuhnya rusak dapat dijadikan makanan ternak atau binatang lain yang dikembangbiakkan.

  1. Landfill

Jenis pengelolaan sampah ini adalah membuang dan menumpuk sampah di tanah yang rendah pada area yang terbuka.

  1. Pulverisation

Pulverisation adalah metode pembuangan sampah langsung ke laut lepas setelah dihancurkan menjadi potongan-potongan kecil.

  1. Open dumping

Open dumping adalah teknik atau metode pengelolaan sampah yang dilakukan di TPA hanya dengan menumpuk sampah dihamparan tanah yang luas dan selanjutnya tidak dilakukan pengelolaan khusus.

  1. Incineration / Incinerator

Metode incineration adalah pembakaran sampah baik dengan cara sederhana maupun modern secara masal. Teknologi ini memungkinkan hasil energi pembakaran diubah menjadi energi listrik.

Profil Desa Pendem

Wilayah yang dijadikan obyek dalam penelitian ini adalah Desa Pendem Kecamatan Junrejo Kota Batu. Desa Pendem terletak di daerah pemerintahan kota Batu, tepatnya di Kecamatan Junrejo. Untuk mengetahui lebih banyak mengenai lokasi penelitian ini, berikut akan peneliti paparkan mengenai luas dan batasan wilayah Desa Pendem, komposisi penduduk Desa Pendem.

Luas dan Batasan Wilayah Desa Pendem

Sumber: Data Demografi Desa Pendem Kecamatan Junrejo

Komposisi Pendudukan Desa Pendem

Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Sumber: Data Demografi Desa Pendem Kecamatan Junrejo

METODE PENDEKATAN

Jenis penelitian yang dipergunakan adalah studi kasus, dimana penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga atau gejala tertentu. Langkah yang digunakan adalah survey lapangan dengan wawancara langsung. Data yang digunakan adalah perpaduan data primer dan sekunder, namun mayoritas adalah data primer yang kami dapat dari wawancara langsung dan data yang didapatkan kemudian dibuktikan dengan penyebaran angket. Dalam penelitian, model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kualitalif.

HASIL

Dalam penelitian ini, membahas tentang pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kecenderungan memilah sampah kering dan basah.

Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir

NO PENDIDIKAN TERAKHIR Σ %
1. SD 20 20,83%
2. SMP 30 31,25%
3. SMA 31 32,29%
4. PT 15 15,63%
JUMLAH 96 100%

Sumber: Data Olahan Penelitian

Perilaku Pemilahan Sampah

PERILAKU KESEHARIAN PEMILAHAN SAMPAH Σ %
Selalu 15 15,63%
Sering 7 7,29%
Kadang-kadang 10 10,42%
Tidak pernah 64 66,67%
Jumlah 96 100%

Sumber: Data Olahan Penelitian

PEMBAHASAN

Tingkat pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan sampah dibutuhkan untuk mengukur sejauh mana pemahaman masyarakat berkaitan pengelolaan sampah, terutama dalam hal melakukan pemilahan sampah. Hasil yang diperoleh ini jika dihubungkan dengan proses atau tingkatan pendidikan dan hasil belajar sangatlah berkaitan. Dimana tingkat pendidikan masyarakat sebagian besar berpendidikan setingkat SMA (32,29%), dan tingkat pengetahuan masyarakat Desa Pendem sebagian besar ada pada level sangat baik (28,13%). Hubungan antara tingkat pengetahuan dan pendidikan sesuai dengan pernyataan Dani, S (1997) yang menyatakan bahwa dasar pembentuk pengetahuan adalah pengalaman, dan jika pengalaman, dan jika pengalaman disusun secara sistematis akan menjadikan ilmu. Pengetahuan pada hakikatnya terdiri dari sejumlah faktor dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Tingkat pendidikan dan pengetahuan tidak dapat dijadikan patokan untuk seseorang yang memiliki pengetahuan tinggi, sebab pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman diri sendiri atau orang lain, baik diperoleh secara tradisional atau cara modern.

Sikap adalah perasaan menyukai atau menolak obyek psikologi (Louis Thuston). Dalam hal pengelolaan sampah, pendeskripsian atau pengambaran tentang sikap diperlukan untuk mengetahui sejauh mana potensi yang akan diperoleh jika suatu obyek akan diberlakukan.

Distribusi Sikap Responden terhadap Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

PERILAKU KESEHARIAN PEMILAHAN SAMPAH Σ %
Tidak baik 32 33,33%
Kurang baik 17 17,71%
Cukup baik 15 15,63%
Baik 17 17,71%
Sangat Baik 15 15,63%
Jumlah 96 100%

Sumber: Data Olahan Penelitian

Hasil tabulasi data diatas mengambarkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki sikap pengelolaan sampah dalam hal ini adalah pemilahan sampah masih rendah, dimana diperoleh jumlah tertinggi untuk sikap yang tidak baik sebanyak 32 responden (33,33%). Sikap terjadi atas dasar kesadaran yang melandasi aksi atau perbuatan seseorang secara sadar. Begitupula dengan sikap masyarakat terhadap pemilahan sampah sebagai suatu kesadaran yang memiliki tiga dimensi waktu. Tiga dimensi waktu itu adalah masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Dari tiga dimensi waktu yang mempengaruhi pola sikap masyarakat dapat disimpulkan bahwa pola sikap seseorang dibentuk dan disusun oleh sejumlah proses perjalanan yang telal lalu.

Dimensi waktu yang mempengaruhi sikap masyarakat Desa Pendem dalam sikapnya mengelola sampah, dipengaruhi oleh interaksi sosial pula. Disini berlaku asumsi bahwa antara perilaku masyarakat yang satu dengan yang lain akan saling mempengaruhi, artinya sebenarnya ada sebagian masyarakat memiliki pengetahuan tentang pengelolaan sampah dan melakukan pemilahan sampah, tetapi karena lingkungan tempat masyarakat tinggal tersebut tidak mendukung maka perilaku pemilahan sampah tidak lagi dilakukan. Beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, media masa, institusi atau lembaga pendidikan atau lembaga agama serta faktor emosi individu tersebut.

Hasil uji statistik antara pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga dengan menggunakan uji statistik produk momen menunjukkan adanya hubungan yang rendah antara pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga (r = 0,353; p<0,05).

Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Masyarakat terhadap Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

Pada grafik di atas terlihat adanya hubungan linier positif antara pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pengelolaan sampah, disini hubungan yang terjadi kurang erat atau rendah tetapi dianggap masih signifikan (r = 0,353; p<0,05). Hasil analisis pada grafik 1 sesuai dengan pendapat Azwar (2001) dan Notoatmojo (1983) dalam bukunya masing-masing menyatakan bahwa sikap seseorang terhadap obyek dalam hal ini pemilahan sampah yang berhubungan dengan pengetahuan dan sikap merupakan perasaan mendukung atau tidak mendukung terhadap obyek tersebut. Sehingga dapat diasumsikan bahwa responden dengan skor pengetahuan yang lebih tinggi belum tentu memiliki sikap yang baik terhadap pengelolaan sampah atau pemilahan sampah yang tinggi pula.

Hubungan antara pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga yang dalam hal ini adalah pemilahan sampah, secara statistik tidak bermakna atau ada hubungannya tetapi kurang erat. Meskipun demikian hal tersebut tidak dapat dibenarkan seratus persen karena banyaknya keterbatasan peneliti terutama dalam penelitian sikap secara psychobehaviour, sehingga diperlukan lagi penelitian-penelitian lebih lanjut mengenai pengetahuan dan sikap yang berhubungan dengan pengelolaan sampah.

Nilai korelasi antara pengetahuan dan sikap masyarakat dalam mengelola sampah yang kurang erat atau rendah tetapi masih diangap signifikan (r = 0,353; p<0,05). Dari pernyataan tersebut dapatlah kita ketahui bahwa perilaku memilah sampah tidak berhubungan dengan tingkat pendidikan, dan pengetahuan atau pemahaman. Akan tetapi, terdapat perbedaan pendapat mengenai tingkat kesulitan memilah sampah pada responden yang memilah sampah dan tidak memilah sampah. Bagi responden yang belum memilah sampah, tingkat kesulitan adalah sebuah persepsi yang cenderung negatif. Persepsi seseorang dapat diubah dengan pengadaan penyuluhan ataupun pemberian pengetahun terhadap suatu obyek permasalahan.

KESIMPULAN

Dari hasil pengumpulan, pengamatan dan tabulasi data diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pada umumnya pengetahuan masyarakat Desa Pendem terhadap pengelolaan sampah rumah tangga bervariasi.
  2. Sikap masyarakat Desa Pendem terhadap pengelolaan sampah rumah tangga sebagian besar memiliki sikap yang tidak baik sebanyak 33,33%, selebihnya memiliki sikap kurang baik sebanyak 17,71%, cukup baik sebanyak 15,63%, baik 17,71% dan sangat baik sebanyak 15,63%.
  3. Ada hubungan linier positif antara pengetahuan dan sikap masyarakat Desa Pendem terhadap pengelolaan sampah, dan hubungan yang terjadi kurang erat atau rendah tetapi masih dianggap signifikan. Jadi dapat diartikan bahwa seseorang yang memiliki pengetahuan tinggi terhadap pengelolaan sampah rumah tangga belum tentu memiliki sikap yang baik terhadap pengelolaan sampah rumah tangga, begitupula sebaliknya.

Peningkatan sikap masyarakat terhadap pemilahan sampah kering dan basah dapat dilakukan dengan cara:

  1. Pemerintah Desa Pendem seyogyanya lebih memperhatikan potensi pemanfaatan sampah rumah tangga, dan menyediakan sarana dan prasarana bagi pemilahan sampah tingkat desa sebagai sumbangsih meminimalisasi penumpukan sampah di TPA dan TPS serta mengurangi pencemaran lingkungan akibat sampah.
  2. Penyuluhan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Batu sangat dibutuhkan oleh masyarakat, mengingat masalah sampah adalah masalah bersama dan sumber sampah adalah masyarakat.
  3. Masyarakat lebih proaktif dalam mempelajari dan melakukan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, serta tidak membebankan pengelolaan sampah sepenuhnya pada DKP Kota Batu.
  4. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut tentang pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kecenderungan pemilahan sampah yang berhubungan dengan faktor-faktor luar dari sikap masyarakat itu sendiri untuk mengubah perilaku masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Suharsimin. 2001. Sikap Manusia Teori dan Pengukuran. Bina Cipta. Yogyakarta.

E. Coling. 1986. Istilah Lingkungan Untuk Manajemen.

Hadiwiyono. 1983. Penerangan dan Pemanfaatan Sampah. Idayu. Jakarta.

Notoatmodjo, S. 1983. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Rineka Cipta. Jakarta.

Slamet, J.S. 1994. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.

Subiyanto. 1988. Evaluasi Pendidikan dan Pengetahuan Alam. DEKDIKBUD

Wibowo Ananta dan Djajawinata. T.D. Penanganan Sampah Perkotaan Terpadu. www.google.com

BIODATA KETUA DAN ANGGOTA KELOMPOK

Ketua Kelompok

a. Nama Lengkap              : Slamet Riyanto

b. Tempat Tanggal Lahir   : Lamongan, 24 Oktober 1987

c. Agama                           : Islam

d. Alamat                          : Jalan Pondok RT. 01 RW. 05 Paciran Lamongan

e. No HP                           : 085746000292

f. Riwat Pendidikan Formal

NO JENJANG NAMA INSTITUSI TAHUN
1. SD/MI MIM Pondok Modern Muhammadiyah 1994-2000
2. SMP/MTs MTs Muhammadiyah 01 2000-2003
3. SMAN SMAN 01 Paciran 2003-2006
4. S1 Universitas Muhammadiyah Malang 2006-sekarang

Anggota Kelompok

  1. a. Nama Lengkap              : Mardianto Dawim

b. Tempat Tanggal Lahir   : Rawa Bening, 07 Juni 1988

c. Agama                           : Islam

d. Alamat                          : Jalan Wahidin Desa Perintis Rimbo Bujang,                       TEBO, Jambi.

e. No HP                           : 085267795700

f. Riwat Pendidikan Formal

NO JENJANG NAMA INSTITUSI TAHUN
1. SD/MI SDN 246 Rimbo Bujang 1994-2000
2. SMP/MTs SMPN 01 Rimbo Bujang 2000-2003
3. SMAN SMAN 02 TEBO 2003-2006
4. S1 Universitas Muhammadiyah Malang 2006-sekarang
  1. a. Nama Lengkap  : Aulia Rahmawati

b. NIM                        : 05360144

c. Agama                     : Islam

d. Alamat Rumah        : Jln. Tirto Utomo Gg. VII No. 1

e. Nomor hand phone : 085259369333

f. Riwat Pendidikan Formal

NO JENJANG NAMA INSTITUSI TAHUN
1. SD/MI SDN Mriyunan Gresik 1992-1998
2. SMP/MTs ITTC Gontor for Girls 1998-2001
3. SMAN ITTC Gontor for Girls 2001-2004
4. S1 Universitas Muhammadiyah Malang 2005-sekarang

BIODATA DOSEN PEMBIMBING

  1. Nama Lengkap                  : Dra. Thathit Manon Andini, M. Hum.
  2. 5. Pangkat                             : Lektor
  3. 7. Fakultas/ Prodi                  : FKIP/ Pendidikan Bahasa Inggris
  4. 8. Pendidikan Formal            :                                                           Tahun Lulus
2.      Jenis Kelamin                    :  Perempuan
3.      Alamat                              : Jl.Tlogo Indah IA No. 9 Malang 65144
4.      Gol/Pangkat                      : III-C/ Penata Muda Tk. I
6.      NIP-UMM                                    : 104.9109.0244
  • SD                   : SDN Kuwik I                                   1976
  • SMP                : SMPN I Pare                                    1980
  • SMA                : SMAN II Kediri                               1983
  • S1                    : Universitas Negeri Jember (UNEJ)   1990
  • S2                    : Universitas Sebelas Maret (UNS)     2005
  1. 9. Pengalaman Menjabat
No Jabatan Tahun
1.

2

3

Sekretaris Jurusan Bahasa Inggris -FKIP-UMM

Ketua Jurusan Bahasa Inggris – FKIP – UMM

Pembantu Dekan III – FKIP – UMM

1995 – 1998

1998 – 2001

2005 – Sekarang

10. Penelitian

No Judul Penelitian Tahun
1.

2.

3.

4.

Langkah – Langkah dalam Penerjemahan yang Dilakukan Oleh Para Penerjemah di Malang.

A Study on Linguistic Difficulties in Translating Text Into Indonesian Faced by Students of English Department, Faculty of Teacher Training and Education, University of Muhammadiyah Malang.

Grammatical Problems Encountered by Students in Translating English into Indonesian.

Grammatical Problems Encountered by Students in Translating English Text into Indonesian and Indonesian Text into English.

2005

2005

2006

2007

01/25/2010 Posted by | Contoh PKM | 2 Komentar

PENINGKATAN POTENSIAL KINERJA ORGANISASI KEPEMUDAAN BERORIENTASI ORGANISASI PELAYANAN KEMANUSIAAN PENYELENGGARA USAHA KESEJAHTERAAN SOSIAL DALAM PENDAMPINGAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN STABILITAS KETAHANAN PANGAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi merupakan faktor penting dalam usaha pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya guna meningkatkan daya saing bangsa. Namun, usaha ini terhambat sejalan dengan meluasnya krisis pangan yang berakibat pada munculnya kasus kurang gizi dan gizi buruk di berbagai daerah.

Masalah kurang gizi dan gizi buruk yang terjadi pada saat waktu dan daerah tertentu akan menimbulkan masalah pembangunan bangsa di masa yang akan datang, karena terjadinya generation loss (Budiyanto, 2002).

Pada tahun 2004, kasus gizi kurang dan gizi buruk sebanyak 5,1 juta, kemudian pada tahun 2005 turun menjadi 4,42 juta, tahun 2006 turun menjadi 4,2 juta ( 944.246 diantaranya kasus gizi buruk ) dan tahun 2007 turun lagi menjadi 4,1 juta ( 755.397 diantaranya kasus gizi buruk ). Menurut data Dinas Kesehatan di Surabaya selama tahun 2007, dari total 11.401 bayi yang diperiksa, terdapat 10.071 bayi yang mengalami kekurangan energi protein (Anonymous, 2008).

Masalah krisis pangan yang berakibat pada munculya kasus kurang gizi dan gizi buruk ini dipicu oleh keterbatasan kemampuan daya beli masyarakat terhadap bahan pangan seiring dengan melonjaknya harga  berbagai macam kebutuhan pokok. Faktor kemiskinan memang sering menimbulkan kasus gizi buruk sebab tekanan ekonomi membuat kuantitas dan kualitas ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga menjadi rendah (Una, 2008).

Untuk mengatasi masalah kurang gizi dan gizi buruk, perlu dilakukan penjagaan terhadap stabilitas ketahanan pangan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 tentang pangan dinyatakan bahwa Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutu, aman, merata, dan terjangkau.

Hal yang dilakukan pemerintah dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan diantaranya dengan melakukan SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi), mengaktifkan kembali peran Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dalam mengontrol berat badan balita, karena orang yang aktif  adalah ibu balita, bukan petugas Posyandu setempat. Selain itu, pemerintah juga melakukan operasi pasar, program Raskin serta impor dari luar negeri.

Namun, upaya yang dilakukan pemerintah masih kurang optimal. Hal ini dapat diketahui dengan adanya kasus-kasus kurang gizi dan gizi buruk di sebagian daerah. Dapat diketahui pula bahwa di sekitar penderita kasus kurang gizi dan gizi buruk terdapat masyarakat yang kecukupan gizi (Budiyanto, 2002).

Untuk mengatasi masalah kurang gizi dan gizi buruk juga diperlukan peran serta masyarakat sekitar yang merupakan wujud dari keshalehan sosial dalam kehidupan bermasyarakat untuk menjaga kestabilan ketahanan pangan. Hal ini sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR Muslim).

Peran serta masyarakat tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai cara. Salah satunya dengan meningkatkan kinerja organisasi kepemudaan sebagai lembaga non formal di masyarakat yang selama ini kurang termanfaatkan. Padahal tanpa disadari, organisasi kepemudaan yang terdapat di masyarakat adalah lembaga yang bersinggungan langsung dengan masyarakat sekitar dan memiliki peran yang sangat strategis bagi tercapainya harapan-harapan di masyarakat.

Oleh kerena itu, berdasarkan permasalan di atas, maka kami membuat Proposal Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM-GT) dengan judul ‘’ Peningkatan Potensial Kinerja Organisasi Kepemudaan Berorientasi Organisasi Pelayanan Kemanusiaan Penyelenggara Usaha Kesejahteraan Sosial Dalam Pendampingan dan Pemberdayaan Masyarakat Sebagai Upaya Peningkatan Stabilitas Ketahanan Pangan ‘’.

1.2. Tujuan

Tujuan dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah :

  • Untuk mengetahui strategi yang dapat diterapkan dalam organisasi kepemudaan dalam menjaga dan menciptakan stabilitas ketahanan pangan.
  • Untuk mengetahui peran serta masyarakat dalam menjaga dan menciptakan stabilitas ketahanan pangan terutama dalam pemberdayaan oganisasi kepemudaan di masyarakat.

1.3. Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat memberikan solusi bagi individu, masyarakat dan pemerintah dalam upaya menjaga stabilitas ketahanan pangan bangsa, serta meningkatkan kepekaan sosial di masyarakat dalam menanggapi kasus-kasus rawan pangan terutama pada peran serta organisasi kepemudaan di masyarakat.

BAB II

TELAAH PUSTAKA

2.1. Konsep Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan merupakan salah satu isu strategis dalam konteks pembangunan negara sebagai negara berkembang, karena memiliki fungsi ganda yaitu: (a) salah satu sasaran utama pembangunan, dan (b) salah satu instrumen utama pembangunan ekonomi (Simatupang, 1999).

Konsep ketahanan pangan mengacu pada pengertian adanya kemampuan mengakses pangan secara cukup untuk mempertahankan kehidupan yang aktif dan sehat. Ketahanan pangan merupakan konsep yang multidimensi meliputi mata rantai sistem pangan dan gizi, mulai dari produksi, distribusi, konsumsi, dan status gizi. Secara ringkas ketahanan pangan sebenarnya hanya menyangkut tiga hal penting, yaitu ketersediaan, akses, dan konsumsi pangan (Khomsan, 2008).

Definisi Formal ketahanan pangan :

  1. World Food Conference 1974, UN 1975: Ketahanan Pangan adalah “ketersediaan pangan dunia yang cukup dalam segala waktu … untuk menjaga keberlanjutan konsumsi pangan … dan menyeimbangkan fluktuasi produksi dan harga”.
  2. FAO 1992: Ketahanan Pangan adalah “situasi di mana semua orang dalam segala waktu memiliki kecukupan jumlah atas pangan yang aman (safe) dan bergizi demi kehidupan yang sehat dan aktif.
  3. World Bank 1996: Ketahanan Pangan adalah: “akses oleh semua orang pada segala waktu atas pangan yang cukup untuk kehidupan yang sehat dan aktif.
  4. Indonesia – UU No.7/1996: Ketahanan Pangan adalah :”Kondisi di mana terjadinya kecukupan penyediaan pangan bagi rumah tangga yang diukur dari ketercukupan pangan dalam hal jumlah dan kualitas dan juga adanya jaminan atas keamanan (safety), distribusi yang merata dan kemampuan membeli” (Lassa, 2005).

2.2. Keadaan Masyarakat Indonesia

Kondisi ketiadaan akses terhadap komoditas pangan yang menyebabkan rawan pangan. Naik turunnya jumlah masyarakat yang tergolong rawan pangan biasanya mengikuti naik turunnya jumlah orang miskin di Indonesia. Masih banyaknya penduduk miskin yang rentan terhadap rawan pangan (diolah dari data BPS) yaitu tahun 2006 jumlah penduduk miskin mencapai 39,3 juta (17,75 %) dan penduduk yang sangat rawan pangan sekitar 10,04 juta (4,52 %), sedangkan di tahun 2007 jumlah penduduk miskin 37,17 juta (16,58 %) dan penduduk yang sangat rawan pangan sekitar 5,71 juta (2,55 %) (Anonymous, 2008).

Kondisi pangan lokal maupun nasional sedang terkena dampak perubahan iklim dan pemanasan global (global warming). Setelah terjadinya perubahan iklim dan global warming, kemandirian pangan pun menjadi isu global. Bahkan, petani di berbagai belahan dunia kini sedang menuntut adanya kemandirian pangan. Berbeda dengan konsep ketahanan pangan (food security), kini konsep kemandirian pangan (food sovereignty) lebih relevan untuk dikedepankan. Soalnya, paradigma kemandirian pangan bisa mengatasi berbagai kelemahan kebijakan ketahanan pangan yang selama ini lebih bersandar pada pemenuhan pangan secara modern melalui penerapan agrobisnis, perdagangan bebas dan privatisasi sumber-sumber produktif (Martaja, 2008).

Beberapa contoh kasus yang terjadi di Indonesia antara lain :

  1. Menurut Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Departemen Pertanian Tjuk Eko Haribasuki, Sebanyak 2,5 dari total penduduk Indonesia dalam kondisi rawan pangan. Artinya, ada sekitar 5 juta rakyat negara agraris ini yang makan kurang dari dua kali sehari (Anonymous, 2008).
  2. Daeng Basse (35 tahun), warga Makassar, meninggal dunia bersama bayi yang dikandungnya dan satu orang anaknya yang lain, Bahir (7 tahun) Jumat (29/2/2008) setelah tiga hari kelaparan (Sudarmawan, 2008).
  3. Sebanyak 17.835 balita di Kabupaten Ciamis diketahui masih kekurangan gizi. Rinciannya, ditemukan sebanyak 435 balita berstatus gizi buruk dan 17.400 balita lainnya gizi kurang. Sementara itu, balita berstatus gizi lebih mencapai 7.000 orang (Anonymous, 2008).

Program beras untuk rakyat miskin (raskin) ataupun minyak goreng murah dinilai tidak efektif dan tidak merata untuk menjangkau rakyat miskin. Lebih tepat kiranya kalau pemerintah berupaya meningkatkan daya beli masyarakat sehingga dapat menjangkau harga-harga sembilan bahan pokok (sembako) yang kian melambung.

Penilaian tersebut tentu bukan berdasarkan survei atau riset dengan tingkat kesalahan sekian persen,tetapi sekadar pernyataan rakyat kecil yang mulai bingung dengan naiknya harga pangan dan komoditas lain. Pemerintah sudah menyadari bahwa kehidupan rakyat kini semakin sulit. Namun, sepertinya belum tampak adanya langkah konkret untuk menghentikan laju kenaikan harga-harga. Ada yang mengibaratkan keadaan saat ini mirip dengan situasi tahun 1960-an.

2.3. Konsep Organisasi Kepemudaan Di Masyarakat dan Bertetangga

Organisasi kepemudaan adalah lembaga non formal yang tumbuh dan eksis dalam masyarakat antara lain ikatan remaja masjid, kelompok pemuda (karang taruna) dan sebagainya (Warastuti, 2006).

Bertetangga adalah bagian kehidupan manusia yang hampir tidak bisa ditolak. Sebab manusia memang tidak semata-mata makhluk individu, tapi juga merupakan makhluk sosial. Faktanya, seseorang memang tidak bisa hidup sendirian. Mereka satu sama lain harus selalu bermitra dalam mencapai kebaikan bersama (Perdana, 2007).

Menurut Imam Syafi’i, yang dimaksud dengan tetangga adalah 40 rumah di samping kiri, kanan, depan, dan belakang. Mau tidak mau, setiap hari kita berjumpa dengan mereka. Baik hanya sekadar melempar senyum, lambaian tangan, salam, atau malah ngobrol diantara pagar rumah. Islam sangat memperhatikan masalah adab-adab bertetangga.

BAB III

METODE PENULISAN

3.1  Sumber Data

Data dan fakta yang berhubungan untuk pembahasan tema ini berasal dan tahapan-tahapan pengumpulan data dengan pembacaan secara kritis terhadap ragam literatur (Library research) yang berhubungan dengan tema pembahasan.

Data yang ditampilkan dalam karya tulis ini dapat berupa angka atau pesan. Untuk angka, data yang dipakai adalah data dengan kriteria telah dipublikasikan kepada masyarakat,  melalui literatur yang digunakan berupa buku, surat kabar, buletin, maupun internet. Dengan demikian penulis mengelompakkan atau menyeleksi data dan informasi tersebut  berdasarkan kategori atau relevansi dan kemudian selanjutnya ke tahapan analisis dan pengambilan kesimpulan.

3.2 Analisis Data

Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. Analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.

Untuk menganalisa data yang berupa pesan maka digunakan cara analisis isi (content analysis). Analisis ini  menghubungkan penemuan berupa kriteria atau teori. Analisis yang dilakukan pada analisis isi karya tulis ini menggunakan interactive model. Model ini terdiri dari empat komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan atau reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan data pengujian atau verifikasi kesimpulan.

3.3 Reduksi Data

Reduksi data dalam karya tulis ini dilakukan dalam bentuk pemilihan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan literatur atau intisari literatur. Reduksi data berlangsung secara terus menerus selama penulisan karya tulis ini dibuat hingga sampai karya tulis ini berakhir lengkap tersusun. Reduksi data dilakukan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengkoordinasi data dengan cara sedemikian sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan dapat diverifikasi.

3.4 Penyajian Data

Sekumpulan informasi disusun sehingga memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan melihat penyajian-penyajian data penulis dapat memahami apa yang seharusnya terjadi dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

BAB IV

ANALISIS DAN SINTESIS

4.1 Swasembada Pangan Tidak Sama Dengan Ketahanan Pangan

Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Pada masa pemerintahan Orde Baru sempat mengganti orientasi kebijakan pangan dari swasembada beras ke swasembada pangan secara umum pada Repelita III dan Repelita IV. Hasilnya sempat dirasakan pada tahun 1984 di mana Indonesia mencapai level swasembada pangan.

Selama empat tahun kepemimpinan Megawati (2000-2004), kebijakan-kebijakan swasembada pangan terus dilakukan. Statement Megawati yang terkenal adalah “Tidak ada pilihan lain kecuali Swasembada”. Fakta menunjukan bahwa produksi pangan Indonesia tahun 2004 mampu memberikan hasil yang menggembirakan (lihat Food Outlook FAO April 2004), tapi disayangkan bahwa Indonesia tidak mampu mencapai ketahanan pangan yang memadai. Peristiwa kelaparan dan malnutrisi di berbagai tempat di Indonesia adalah bukti bahwa Indonesia tidak mampu mencapai ketahanan pangan yang memadai tersebut.

Sebagai perbandingan kita ambil contoh negara tetangga kita Malaysia. Malaysia mendefinisikan ulang ketahahanan pangannya sebagai swasembada 60% pangan nasional. Sisanya, 40% didapatkan dari import pangan. Malaysia kini memiliki tingkat ketahanan pangan yang kokoh. Ini memberikan ilustrasi yang jelas bahwa ketahanan pangan dan swasembada adalah dua hal yang berbeda.

Selama ini pemerintah telah berupaya dalam menciptakan ketahanan pangan dengan berbagai program. Beberapa yang kita kenal selama ini seperti, operasi pasar (OP), beras untuk rakyat miskin (RASKIN), Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan program lainnya. Hingga saat ini tidak banyak perubahan yang tampak dari hasil pelaksanaan program-program tersebut.

4.2  Ketahanan Pangan adalah Tanggung Jawab Bersama

Mengingat persoalan ketahanan pangan di Indonesia memiliki implikasi yang sangat luas maka perlu segera mendapatkan perhatian yang lebih serius. Terciptanya sistem ketahanan yang ideal memerlukan keterlibatan berbagai institusi untuk menjamin keamanan pangan, mulai dari hulu hingga ke hilir (from farm to fork), mulai dari proses pemanenan, distribusi, pengolahan, hingga di meja konsumen. Terciptanya kondisi ketahanan pangan yang ideal adalah tanggung jawab bersama.

Yang menjadi keprihatinan, sampai saat ini kita masih belum memiliki program ketahanan pangan nasional yang tertata dengan baik. Masih banyak yang harus dilakukan untuk menjawab berbagai persoalan seperti: keterbatasan kemampuan daya beli masyarakat terhadap bahan pangan seiring dengan melonjaknya harga  berbagai macam kebutuhan pokok, minimnya pemahaman masalah gizi dan akses pangan.

Sebagaimana yang telah diperintahkan Allah “Bertolong-tolonganlah kamu dalam berbuat kebaikan dan takwa dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah sangat berat siksa-Nya.” (QS Al-Maidah [5]: 2)

Bertetangga adalah bagian kehidupan manusia yang hampir tidak bisa ditolak. Sebab manusia memang tidak semata-mata makhluk individu, tapi juga merupakan makhluk sosial. Faktanya, seseorang memang tidak bisa hidup sendirian. Mereka satu sama lain harus selalu bermitra dalam mencapai kebaikan bersama. Masyarakat dapat menjadi agen awal dalam mencegah munculnya kasus-kasus yang berkaitan dengan pangan. Untuk itu diperlukan adanya sikap harmonis dalam bertetangga sehingga muncul kesadaran dan perhatian sesama anggota masyarakat.

Dengan diikutsertakannya masyarakat diharapkan ketahanan pangan dapat terwujud serta kasus-kasus kekurangan gizi di daerah dapat ditekan.

4.3 Peningkatan Potensial Kinerja Organisasi Kepemudaan Dalam Upaya Mewujudkan Stabilitas Ketahanan Pangan

Melalui bimbingan dan pendampingan dari organisasi kepemudaan diharapkan sumberdaya manusia potensial dari kalangan fakir miskin dapat diwujudkan menjadi SDM yang aktual dan potensi ekonomi desa/ kelurahan dapat menjadi sumber pendapatan asli daerah. Program Pendampingan oleh organisasi kepemudaan dimaksudkan untuk menjembatani pemerataan tenaga sosial (volunteer) yang bertugas mendampingi pemberdayaan fakir miskin diseluruh desa/ kelurahan di Indonesia, dalam rangka ikut memecahkan masalah kemiskinan di tanah air. Sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai adalah mendampingi dan memberdayakan kelompok-kelompok usaha masyarakat fakir miskin dalam peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan, sekaligus dalam kerangka menggerakkan potensi desa dalam mengatasi masalah-masalah krisis ekonomi, khususnya pangan.

Tugas utama organisasi kepemudaan dalam pendampingan pemberdayaan fakir miskin adalah membantu digerakkannya roda-roda ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat fakir miskin, dengan basis utama memanfaatkan sumberdaya alam dan sosial yang tersedia dilingkungan mereka masing-masing.

Organisasi kepemudaan adalah organisasi sosial wadah pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggungjawab sosial dari, oleh, dan untuk masyarakat terutama generasi muda di desa/ kelurahan atau komunitas adat sederajat yang bergerak dibidang usaha kesejahteraan sosial. Sebagai social institution yang menjadi sumberdaya sosial paling potensial di masyarakatnya, organisasi kepemudaan diorientasikan untuk menjadi organisasi pelayanan kemanusiaan penyelenggara usaha kesejahteraan sosial yang memiliki pendekatan dan standar pada pendekatan pekerjaan sosial yang memadai, karena organisasi kepemudaan adalah juga volunteer.

Organisasi kepemudaan tidak melupakan tanggung jawabnya bahwa kelak mereka harus produktif secara ekonomi untuk mendukung kehidupannya. Kegiatan ekonomi produktif yang dilaksanakan oleh organisasi kepemudaan umumnya bertujuan untuk membuka peluang kerja bagi anggotanya sehingga kegiatan tersebut menjadi cikal bakal terbukanya kesempatan bekerja yang lebih luas.

Organisasi kepemudaan yang tumbuh dan eksis dalam masyarakat antara lain ikatan remaja masjid, kelompok pemuda (karang taruna) dan sebagainya adalah wadah yang selama ini belum tersentuh secara maksimal dalam pemerdayaan anggota dan kinerjanya yang tanpa disadari memiliki peran cukup penting dalam kemajuan suatu daerah.

Sumberdaya yang sangat potensial dalam akselerasi pembangunan dengan tingkat kesejahteraan yang meningkat adalah kelembagaan sosial yang berdaya, memiliki pengetahuan dan pemahaman, berpikir kritis, dan memiliki solusi bagi setiap permasalahan masyarakatnya. Bagaimanapun dan berapapun banyaknya kekayaan alam dan jumlah penduduk yang tersedia, jika kualitas manusia dan kelembagaan sosialnya kurang, maka menjadi sesuatu yang tidak bermanfaat. Sedangkan modal dan teknologi akan tergantung pada cara manusia membuat keterkaitan dan keserasiannya dengan faktor tenaga manusia itu sendiri.

Dengan pendampingan yang diberikan organisasi kepemudaan, diharapkan dapat memotivasi penduduk miskin di desa/ kelurahan untuk mau meningkatkan produksi dan pendapatannya menjadi lebih baik. Organisasi kepemudaan dituntut untuk melayani dan memotivasi masyarakat miskin di desa/ kelurahan untuk menjadi warga belajar agar dapat berkembang guna meningkatkan martabat dan mutu kehidupan mereka. Organisasi kepemudaan sebagai perintis dan penggerak pembangunan di desa/ kelurahan dapat membentuk dirinya sebagai pendamping.

Salahsatu bentuk usaha ekonomi produktif yang sering dijalankan adalah program KUBE (Kelompok Usaha Bersama). Program ini dijalankan secara berkelompok dengan beranggotakan 10 sampai 20 orang per kelompok. Beberapa jenis kegiatan yang dapat dilakukan organisasi kepemudaan diantaranya:

  1. Produksi : Kerajinan, Konveksi, Olahan Pangan, Alat Perabotan.
  2. Perdagangan : Hasil Bumi, produk olahan, barang-barang konsumen.
  3. Jasa : Perbengkelan, salon, pembayaran kolektif, sablon.
  4. Simpan Pinjam : Kelompok usaha, koperasi, arisan, iuran remaja.
  5. Peternakan : Peternakan unggas, ikan, hewan peliharaan.
  6. Pertanian : Tanaman pangan, palawija, tanaman hias, pembibitan.

BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

  1. Swasembada pangan tidak sama dengan ketahanan pangan. Konsep ketahanan pangan mengacu pada pengertian adanya kemampuan mengakses pangan secara cukup untuk mempertahankan kehidupan yang aktif dan sehat. Sedangkan swasembada pangan adalah kemampuan dari suatu negara dalam menjaga ketersediaan pangan untuk mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri.
  2. Mengingat persoalan ketahanan pangan di Indonesia memiliki implikasi yang sangat luas maka perlu segera mendapatkan perhatian yang lebih serius maka terciptanya kondisi ketahanan pangan yang ideal adalah tanggung jawab bersama.
  3. Program Pendampingan oleh organisasi kepemudaan dimaksudkan untuk menjembatani pemerataan tenaga sosial (volunteer) yang bertugas mendampingi pemberdayaan fakir miskin diseluruh desa/ kelurahan di Indonesia, dalam rangka ikut memecahkan masalah kemiskinan di tanah air.
  4. Dengan diikutsertakannya masyarakat terutama organisasi kepemudaan dalam peningkatan mutu kehidupan masyarakat, diharapkan ketahanan pangan dapat terwujud serta kasus-kasus kekurangan gizi di daerah dapat ditekan.

5.2. Saran

Sesuai fungsinya sebagai penyelenggara usaha kesejahteraan sosial, organisasi kepemudaan yang eksis di desa/ kelurahan berperan penting dalam pemberdayaan dan pengembangan masyarakatnya. Peran pentingnya terutama ditujukan dalam mengadvokasi kelompok masyarakat yang kurang beruntung seperti fakir miskin.

Karena itu pendampingan yang dilakukan organisasi kepemudaan bagi pemberdayaan fakir miskin menjadi lebih penting, karena organisasi kepemudaan adalah komponen masyarakat yang lebih mengetahui kondisi obyektif lingkungan masyarakatnya. Selain itu, organisasi kepemudaan adalah banteng awal dalam menghadapi kasus-kasus rawan pangan di masyarakat.

Pemberdayaan organisasi kepemudaan harus terus ditingkatkan dengan dukungan semua pihak, seperti pemerintah melalui kementrian usaha kecil dan menengah, kementrian pemuda dan olahraga, kementrian pemberdayaan perempuan, kementrian ekonomi, bahkan pengusaha yang juga memiliki peranan dalam peningkatan mutu msyarakat disekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto, MAK. 2002. Dasar-Dasar Ilmu Gizi. Malang. UMM Press.

Simatupang, P.  1999. Kebijaksanaan Produksi dan Penyediaan Pangan      dalam Rangka Pemantapan Sistem Ketahanan Pangan pada Masa            Pemulihan Perekonomian Nasional.  Bahan diskusi “Round Table”            Kebijakan Pangan dan Gizi di Masa Mendatang.  Kantor Menpangan dan Holtikultura, 23 Juni 1999,  Jakarta.

Ali Khomsan. 2008. Mimpi Gizi Murah. http://opinibebas.epajak.org/search/kesejahteraan+masyarakat/page/13/ (22 Maret 2008).

Anonymous. 2008. Penguatan Strategi Ketahanan Pangan Nasional. http://cidesonline.org/content/view/213/65/lang,id/ (22 Maret 2008).

Anonymous. 2008. Ketahanan Pangan dan Kemajuan Bangsa. http://www.prakarsarakyat.org/artikel/fokus/artikel_cetak. php?aid=22721 (22 Maret 2008).

Anonymous. 2008. Konsep Ketahanan Pangan Rumah Tangga. http://www.damandiri.or.id/file /wahidipbtinjauan.pdf. (22 Maret 2008).

Anonymous. 2008. Menjaga Keharmonisan Bertetangga. http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid (22 Maret 2008).

Ikhwan, Mohammed. 2008. Pangan Tergantung Kebijakan?. http://indoprogress.blogspot.com/2008/02/pangan-            tergantung-kebijakan.html (22 Maret 2008).

Khomsan, Ali. 2008. Impor Beras, Ketahanan Pangan, dan Kemiskinan Petani. http://www.unisosdem.org/ article_detail.php?aid (22 Maret 2008).

Lassa, Jonatan. Politik Ketahanan Pangan Indonesia 1950-2005. http://www.zef.de/ (22 Maret 2008).

Martaja. 2008. Urgensi Membangun Kemandirian Pangan. http://www.suarakarya-online.com/news.htm (22 Maret 2008).

Martinah. 2005. Meluasnya Fenomena Gizi Buruk. http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp? (22 Maret 2008).

Nasir, Muhammad. 2008. Islam dan Solidaritas Sosial http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/11/islam-dan-solidaritas sosial.html (22 Maret 2008).

Perdana, Arif. 2007. Keshalehan Individual dan Keshalehan Sosial. http://arifperdana.wordpress.com/2007/11/24/keshalehan-individual-dan keshalehan-sosial/ (22 Maret 2008).

Sudarmawan. 2008. 243 Warga Magetan Terserang Gizi Buruk. http://www.kompas.com/read.php? (22 Maret 2008).

Una. 2008. Inflasi Tinggi Masih Mengancam. http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id (22 Maret 2008).

Warastuti. 2006. Peran Lembaga Sosial dalam Pengentasan Kemiskinan. http://groups.yahoo.com/group/lingkungan/message/28206 (22 Maret 2008).

DAFTAR RIWAYAT HIDUP KETUA DAN ANGGOTA KELOMPOK

Ketua Kelompok

a. Nama Lengkap              : Mardianto Dawim

b. Tempat Tanggal Lahir   : Rawa Bening, 07 Juni 1988

c. Agama                           : Islam

d. Alamat                          : Jalan Wahidin Desa Perintis Rimbo Bujang,                       TEBO, Jambi.

e. No HP                           : 085267795700

f. Riwat Pendidikan Formal

NO JENJANG NAMA INSTITUSI TAHUN
1. SD/MI SDN 246 Rimbo Bujang 1994-2000
2. SMP/MTs SMPN 01 Rimbo Bujang 2000-2003
3. SMAN SMAN 02 TEBO 2003-2006
4. S1 Universitas Muhammadiyah Malang 2006-sekarang

g. Pengalaman Organisasi

NO ORGANISASI TAHUN
1. Reporter Majalah “DIDAKTIK” Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM. 2006-sekarang
2. Ketua Bidang Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah “IMM” Raushan Fikr UMM. 2008-sekarang
3. Staff Komisi B Advokasi Senat Mahasiswa Universitas (SEM_U) UMM. 2008-sekarang
4. Asisten Laboratorium Kimia UMM. 2008-sekarang

h. Karya-Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat

NO Judul Karya-Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat TAHUN
1. Peningkatan Keshalehan Sosial Dalam Mewujudkan Stabilitas Ketahanan Pangan (LKTM).

2007

2. Teknik Persidangan (Diklat IMM Raushan Fikr FKIP UMM) 2007
3. Mewujudkan Semangat dan Progresifitas Demokratisasi Mahasiswa Dengan Wawasan Legislasi Transformatif Serta Aktualisasi Advokasi (Diklat Legislatif Senat Mahasiswa Univrsitas Muhammadiyah Malang).

2008

4. Korelasi Antara Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Terhadap Pemilahan Sampah Kering dan Basah Di Desa Pendem Kecamatan Junrejo Kota Batu (PKMAI).

2008

Anggota Kelompok

1. a. Nama Lengkap                : Slamet Riyanto

b. Tempat Tanggal Lahir   : Lamongan, 24 Oktober 1987

c. Agama                           : Islam

d. Alamat                          : Jalan Pondok RT. 01 RW. 05 Paciran Lamongan

e. No HP                           : 085746000292

f. Riwat Pendidikan Formal

NO JENJANG NAMA INSTITUSI TAHUN
1. SD/MI MIM Pondok Modern Muhammadiyah 1994-2000
2. SMP/MTs MTs Muhammadiyah 01 2000-2003
3. SMAN SMAN 01 Paciran 2003-2006
4. S1 Universitas Muhammadiyah Malang 2006-sekarang

g. Pengalaman Organisasi

NO ORGANISASI TAHUN
1. Ikatan Remaja Muhammadiyah 2002-2003
2. Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris (Coordinator Reasoning Department) 2007-sekarang

h. Karya-Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat

NO Judul Karya-Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat TAHUN
1. Korelasi Antara Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Terhadap Pemilahan Sampah Kering dan Basah Di Desa Pendem Kecamatan Junrejo Kota Batu (PKMAI).

2008

BIODATA DOSEN PEMBIMBING

  1. Nama Lengkap                  : Dr. Nurul Mahmudati, Dra, M. Kes.
  2. 4. Fakultas/ Prodi                  : FKIP/ Pendidikan Biologi
  3. 5. Bidang Kealian                 : Fisiologi Manusia
  4. 6. Pendidikan Formal            :                                                           Tahun Lulus
2.      NIP                                   : 131.930.149
3.      Gol/Pangkat/Jabatan         : III-C/ Penata/ Lektor
  • SD                   : MIM Wonogiri                                  1976
  • SMP                : SMPN I Giritontro Wonogiri            1980
  • SMA                : SMAN I Wonogiri                            1983
  • S1                    : IKIP Yogyakarta                              1990
  • S2                    : UNAIR Surabaya                             1999
  • S3                    : UNAIR Surabaya                             2008
  1. 7. Penelitian
No Judul Penelitian Tahun
1.

2.

Studi Tentang Daya Laruk Kalsium dalam Kristal Kalsium Oksalat pada Nephrolid Kapsul

Perspektif Guru Bidang Studi Biologi Madrasah Aliyah di Jawa Timur

2001

2002

01/25/2010 Posted by | Contoh PKM | 3 Komentar

PEMANFAATAN BIJI NANGKA MENJADI “PIBINA” SEBAGAI UPAYA DIVERSIFIKASI PANGAN.

  1. A. Judul Program

PEMANFAATAN BIJI NANGKA MENJADI “PIBINA” SEBAGAI UPAYA DIVERSIFIKASI PANGAN.

  1. B. Latar Belakang

Malang merupakan kota wisata yang dikenal dengan pusat oleh-oleh berbagai macam olahan kripik buah-buahan salah satunya adalah kripik nangka. Dalam proses pembuatan kripik nangka yang diperlukan hanya daging buah nangkanya saja, sedangkan biji tidak dimanfaatkan dengan optimal atau menjadi limbah, biasanya pemilik pabrik membuang atau menanam kembali biji nangka tersebut dilahannya

Limbah buah nangka yang berupa biji menurut data Direktorat gizi, Depkes (2009), biji nangka masih mempunyai kandungan gizi tinggi yaitu: setiap 100 gram biji nangka terdapat, zat besi 200 mg, vitamin B1 0,20mg,  kalori 165 kal, protein 4,2 gram, lemak 0,1 mg, karbohidrat 36,7 mg, kalsium 33,0 mg, fospor 1,0 mg, vitamin C 10 mg,  Air 56,7 gram. Oleh karena itu kami ingin memanfaatkan limbah biji nangka untuk pembuatan olahan yang merupakan diversivikasi pangan.

Untuk mengatasi limbah biji nangka tersebut atau mengurangi limbah biji nangka, kita dapat memanfaatkannya menjadi bahan baku pembuatan aneka macam makanan yang mempunyai kandungan gizi yang cukup banyak. Sehingga limbah biji nangka yang tadinya belum dimanfaatkan dapat diubah menjadi produk yang bernilai ekonomis.

Berdasarkan kondisi bahwa banyaknya limbah biji nangka yang tidak dimanfaatkan secara optimal padahal masih bernilai gizi, muncullah ide untuk membuat kue pia yang kemudian kami menamainya “PIBINA”, yaitu limbah biji nangka yang kami olah menjadi tepung  dan dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan kue pia, dimana cara pengolahan produk ini dimulai dari buah nangka yang di ambil bijinya lalu dicuci bersih dan di rebus hingga matang untuk membuang getahnya dan dipotong tipis-tipis lalu dikeringkan dan digiling, lalu jadilah tepung nangka, untuk mendapatkan tepung yang halus maka tepung yang sudah digiling tadi  harus diayak terlebih dahulu agar terpisah dari serat-serat yang masih kasar. Cara pembuatan PIBINA, untuk kulitnya sebagai berikut: Mencampurkan 500 g tepung biji nangka , gula halus, air, mentega, garam hingga membentuk adonan yang dapat dipulung, pulung adonan sebesar bola bekel dan disisihkan. Mencampurkan 250 g tepung biji nangka dan minyak goreng hingga rata, gilas adonan yang telah dipulung, tuangkan beberapa sendok campuran tepung dan minyak, gulung, lalu digilas kembali hingga setebal 105 cm.  untuk isi PIBINA digunakan daging buah nangka matang yang dipotong kecil-kecil kemudian dicampur dengan gula halus, vanilli dan garam secukupnya. Setelah itu bagian isi dimasukkan kedalam adonan kulit pia kemudian diatur dalam loyang  lalu bagian atas pia diolesi dengan kuning telur, panggang dalam oven  hingga 180 derajat selama 30 menit. Setelah matang angkat lalu dinginkan. Proses selanjutnya adalah pengemasan yang dilakukan secara higienis, dan mengunakan sarung tangan pada saat pengemasan, kemudian pia dimasukkan kedalam kotak  mika yang ditutup rapat. Dalam proses pembuatan “PIBINA” tidak menggunakan bahan pengawet jadi aman dan sehat untuk dikomsumsi. “PIBINA” berbentuk bulat dan mempunyai rasa serta aroma nangka yang khas.

Diversifikasi pangan menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan ketahanan pangan. Diversifikasi konsumsi pangan  tidak hanya sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada gandum atau tepung terigu tetapi juga  upaya peningkatan perbaikan gizi untuk mendapatkan manusia yang berkualitas dan mampu berdaya saing dalam percaturan globalisasi.  Upaya diversifikasi pangan sebetulnya sudah dilakukan oleh pemerintah sejak awal tahuan 50-an. Namun sampai sekarang upaya tersebut masih sulit terwujud. Belajar dari pengalaman, Kebijakan diversifikasi pangan kedepan harus mengacu pada aturan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah  nomor 68 tentang Ketahanan Pangan, yaitu dengan memperhatikan sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal serta ditetapkan oleh Menteri atau kepala Lembaga pemerintah Non Departemen yang bertanggung jawab sesuai dengan tugas dan kewenangannya masing-masing.  Ini berarti  keberhasilan diversifikasi pangan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah (Amin, 2007).

Berangkat dari wacana dan peluang tersebut maka disusunlah proposal PKMK ini. Pemilihan biji nangka sebagai komoditas untuk dijadikan usaha dalam bentuk Pia, pia ini selain juga karena kandungan zat besi dan vitamin B1 yang tinggi, pemanfaatan biji nangka ini juga dimaksudkan sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku tepung terigu.

Usaha ini dinamakan”PIBINA” yang merupakan padanan dari kata Pia yang berasal dari biji nangka, usaha ini diharapkan mampu menumbuhkan jiwa wirausaha bagi mahasiswa. Sebagai alternatif pengganti ketergantungan akan bahan baku terigu dan juga menciptakan lapangan kerja yang baru bagi masyarakat.

  1. C. Perumusan Masalah

Dari latar belakang di atas dapat dikemukakan permasalahan yaitu:

  1. Apakah limbah biji nangka bisa dimanfaatkan sebagai diversifikasi salah satu olahan pangan?
  2. Bagaimana cara inovasi dari diversifikasi pangan yang berasal dari olahan biji nangka ?
  3. Bagaimana mengembangkan wirausaha diversivikasi pangan dengan pemanfaatan limbah biji nangka yang masih belum dimanfaatkan  ?
  1. D. Tujuan program

Tujuan program ini adalah :

  1. Memanfaatkan limbah biji nangka yang masih memiliki kandungan zat besi dan vitamin B1 yang tinggi.
  2. Inovasi pengolahan divesifikasi pangan berbahan baku limbah biji nangka  menjadi “PIBINA”.
  3. Alternatife wirausaha dibidang pangan dengan pemanfaatan limbah bji nangka yang memiliki kandungan gizi tinggi.
  4. E. Luaran yang Diharapkan

Luaran yang diharapkan dari adanya usaha “PIBINA” ini adalah:

  1. Produk diversivikasi pangan
  2. Kewirausahaan pangan dengan memanfaatkan limbah dari pengolah biji nangka menjadi “PIBINA”
  1. F. Kegunaan Program

Usaha ini memiliki berbagai macam kegunaan diantaranya :

  1. 1. Aspek ekonomis membuka peluang wirausaha baru.
    1. Dapat memberikan alternative panganan yang bergizi tinggi dan variasi baru kepada masyarakat.
    2. Dapat memberikan peluang kewirausahaan baru.
    3. 2. Aspek akademi

Mengaplikasikan teori-teori pengolahan pangan dan ilmu gizi kedalam kegiatan kewirausahan dibidang pangan.

  1. 3. Aspek ketenagakerjaan

Membuka lapangan dibidang kewirausahaan diversifikasi pangan dengan memanfaatkan limbah biji nangka.

  1. G. Gambaran Umum Rencana Usaha

Membuka peluang kewirausahaan diversivikasi pangan dengan memanfaatkan limbah biji nangka menjadi “PIBINA” yaitu pia biji nangka.

G .1 Gambaran umum kondisi masyarakat

Kurangnya lapangan kerja di Indonesia salah satunya di sebabkan oleh kurang variatifnya jenis usaha yang ada di Malang, oleh karena itu diharapkan dengan adanya “PIBINA” ini dapat menciptakan kreasi baru dan memperkaya jenis jajanan di Indonesia sehingga dapat membuka lapangan usaha baru yang diharapkan diterima baik oleh masyarakat luas. Biji nangka mempunyai kandungan zat besi dan vitamin B1 yang lebih tinggi di banding dengan beras giling, jagung segar, singkong (Lihat Tabel 1).

G.2. Gambaran Umum Biji Nangka

Jenis Penyebaran

Nangka adalah nama jenis pohon, termasuk ke dalam suku Maraceae, yang memiliki nama ilmiah Artocarpus Heteropyllus. Pohon ini adalah salah satu jenis buah yang paling banyak ditanam di daerah tropis. Buah ini cukup terkenal di seluruh dunia, apalagi di pedesaan. Dalam bahasa inggris, nangka dikenal sebagai jack fruit. Tanaman ini berasal dari India bagian selatan yang kemudian menyebar ke daerah tropis lainnya, termasuk Indonesia. Di Indonesia pohon nangka dapat tumbuh hampir di setiap daerah. Biji berbentuk bulat lonjong sampai jorong agak gepeng, panjang 2-4 cm, berturut-turut tertutup oleh kulit biji yang tipis coklat seperti kulit, endokarp yang liat keras keputihan, dan eksokarp yang lunak. Keping bijinya tidak setangkup.

Untuk mendapatkan biji nangka tidaklah sulit karena pohon nangka hampir tumbuh di setiap daerah dan merupakan tumbuhan tahunan. Selain itu karena beton merupakan limbah dari buah nangka yang masih jarang dimanfaatkan masyarakat, maka untuk mendapatkannya relatif mudah dan dengan harga yang murah.

Potensi Biji nangka

Biji nangka ternyata tidak selalu harus dianggap limbah dan dibuang begitu saja. Selama ini biji nangka dimanfaatkan hanya dengan merebus dan memakannya. Namun biji itu ternyata bisa dibuat menjadi tepung yang kemudian diolah lagi menjadi aneka panganan bergizi tinggi.

Kandungan karbohidrat biji nangka, memang lebih rendah dibanding beras. Kandungan karbohidrat 100 gr beras sebesar 78,9 gr. Jika dibandingkan, maka 2 kg nangka sebanding dengan 1 kg beras, meski begitu biji nangka dapat di manfaatkan sebagai alternative bahan pangan yang cukup bergizi karena masih adany kandungan zat lain yang lebih tinggi di banding makanan penghasil karbohidarat lainnya seperti zat besi dan vitamin B1 (Lihat Tabel 1).

Jika dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman yang umum dipakai sebagai penghasil karbohidrat maka biji nangka tersebut termasuk memiliki kadar bahan kimia yang relative potensial. Kandungan kimia biji nangka jika dibandingkan dengan beberapa tanaman sumber karbohidrat seperti beras gili, jagung rebus, dan singkong.

Table 1. komposisi kimia biji nangka dan sumber karbohidrat lain per 100 gram    bahan makan yang dapat di makan

Komposisi

Biji nangka

Beras giling

Jagung segar

Singkong

Kalori (kal)

165,0

360,0

140,0

146,0

Protein (gram)

4,2

6,8

4,7

1,2

Lemak (Gram)

0,1

0,7

1,3

0,3

Karbohidra (gr)

36,7

78,9

33,1

34,7

Kalsium (mg)

33,0

6,0

6,0

33,0

Besi (mg)

200,0

140,0

118,0

40,0

Fospor (mg)

1,0

0,8

0,7

0,7

Vitamin B1 (mg)

0,20

0,12

0,12

0,06

Vitamin C (mg)

10,0

0,0

8,0

30,0

Air (%)

56,7

13,0

60,0

62,5

Dari table di atas kandungan karbohidrat biji nangka tertinggi kedua di banding beras giling namun kandungan zat besi dan vitamin B1 pada biji nangka merupakan yang tertinggi dibanding makanan sumber karbohidrat lainnya.

Tabel 2. Komposisi Gizi per 100 gram nangka muda, nangka masak, dan biji nangka

Komponen gizi Nangka Muda Nangka Masak Biji Nangka
Energi (kkal)

51

106

165

Protein (g)

2,0

1,2

4,2

Lemak (g)

0,4

0,3

0,1

Karbohidrat (g)

11,3

27,6

36,7

Kalsium (mg)

45

20

33

Fosfor (mg)

29

19

200

Besi (mg)

0,5

0,9

1,0

Vitamin A (SI)

25

330

0

Vitamin B1 (mg)

0,07

0,07

0,20

Vitamin C (mg)

9

7

10

Air (g)

85,4

70

57,7

Sumber: Direktorat gizi, Depkes (2009)

Pada Tabel 2 dapat dilihat kandungan gizi pada biji nanka lebih tinggi dibandingkan dengan daging nangka muda dan matang namun pada biji nangka tidak terdapat vitamin A.

Melihat fakta-fakta diatas maka, disusunlah proposal untuk memanfaatkan biji nangka menjadi alternative pengganti tepung terigu yang berbentuk Pia.

Analisis usaha “PIBINA” ini meliputi beberapa hal, yaitu:

  1. 1. Produk

Produk “PIBINA” ( Pia Biji Nangka) ini terbuat dari bahan dasar biji nangka yang akan diolah menjadi tepung kemudian dimanfaatkan untuk bahan dasar pembuatan kue pia. Produk ini diperkirakan akan memperoleh sambutan bagus di masyarakat sekitar kampus, bahkan kota malang secara umum karena bahan yang unik dan belum pernah ada di pasaran. Selain itu juga produk ini  nikmat, enak dan tentunya yang paling penting kaya akan zat besi (mg) dan vitamin B1.

Bagan 1. Diagram alur pembuatan “PIBINA

Buah nangka

Di potong kecil

Di kukus

dikupas

Di campur gula halus, vanili dan garam

“PIBINA”

Tepung (Diolah menjadi kulit pia)

  1. 2. Harga

Produk “PIBINA” dengan bahan baku biji nangka ini akan ditawarkan kepada masyarakat di sekitar kampus UMM dan masyarakat kota Malang secara umumnya selaku konsumen dengan harga mudah dijangkau .oleh masyarakat dibandingkan dengan harga dari produk yang hampir sejenis. Hal ini disebabkan karena bahan-bahan yang diperlukan untuk produksi “PIBINA” berbahan dasar alami yang mudah didapatkan.

  1. 3. Tempat

Lokasi produksi pembuatan “PIBINA” dengan bahan baku biji nangka yang dipusatkan di kota Malang, yaitu berada di jalan TlogoMas Gang 15 C NO.18.

  1. 4. Pemasaran

Produk ini akan dipasarkan dengan cara menyebarkan  dilingkungan sekitar kampus meliputi kantin kampus, kopma, dan kopkar UMM, toko-toko disekitar kampus, serta nantinya diharapkan menembus mall-mall di kota Malang.

  1. 5. Promosi

Kegiatan promosi yang dapat dilakukan untuk mengenalkan produk“PIBINA ” dengan bahan baku biji nngka ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu :

  1. Promosi melalui brosur atau pamflet yang berisi tentang produk “PIBINA” dengan cara disebarkan dilingkunagn sekitar kampus sehingga dikenal oleh masyarakat sekitar kampus tersebut
  2. Promosi melalui media surat kabar yaitu mengenalkan produk dengan menerbitkannya dalam surat kabar kampus, bahkan juga surat kabar regional khususnya, sehingga dikenal oleh masyarakat luas.
  3. Promosi melalui media elektronik, yaitu mengenalkan produk dengan menggunakan media elektronik melalui radio kampus UMM FM, ataupun TV lokal yang ada di Malang dan sekitarnya misalnya seperti Malang TV, Batu TV, ATV, melalui SMS dan juga internet melalui blok khusus. Materi yang akan disampaikan dalam iklan melalui media elektronik meliputi kandungan vitamin B1 dan zat besi, dan keunikan dari produk ini yang menggunakan bahan dasar biji nangka.

Strategi  Pengembangan Usaha

Strategi  Pengembanga Usaha “PIBINA”  (Pia Biji Nangka) dari bahan baku biji nangka antara lain dapat ditempuh dengan cara:

  1. Produksi “PIBINA”  diharapkan ke depannya memiliki berbagai macam rasa dan bentuk sehingga produk ini akan lebih menarik. Selain itu kandungan gizinya selain zat besi dan vitamin B1 lebih ditingkatkan agar kandungan gizi dari produk “PIBINA”  ini lebih seimbang. Kedepannya produksi “PIBINA”  akan ditingkatkan teknologi yang lebih canggih dan modern, sanitasi, higienitas, alat, dan bahan.
  2. Produksi “PIBINA”  ini kedepannya akan ditingkatkan masalah prefarensi konsumen, dimana produk ini akan diberi tambahan suplemen, yang meliputi warna, ras, dan tekstrur untuk meningkatkan kesukaan konsumen.
  3. Lokasi produk “PIBINA”  ini diharapkan akan semakin meluas seiring dengan angka penjualan yang semakin meningkat sehingga membutuhkan tempat produksi yang luas dan jumlah tenaga kerja yang besar.

Promosi yang dilakukan kedepannya akan menjangkau surat kabar dan media elektronik yang bertaraf Nasional agar produk lebih dikenal oleh masyarakat.

Table 3. Analisis Usaha PIBINA

  1. Investasi

No

Bahan- bahan

Jumlah

Satuan (kg)

Total

1.

2.

Bahan –bahan

a)      Nangka

b)      Tepung Biji Nangka

c)      Minyak Nabati

d)     Gula halus

e)      Mentega

f)       Garam

g)      Telur

Labeling dan packaging

Tas + sablon

1     kg

20   kg

1     kg

10   kg

4    kg

0,1 kg

1    kg

500 bungkus

100 biji

Rp 50.000,00

Rp 8000,00

Rp 11.000,00

Rp 8500,00

Rp 24.000,00

Rp 5000,00

Rp 15.000,00

Rp 1.000,00

Rp 3.000,00

Rp    50.000,00

Rp  160.000,00

Rp   11.000,00

RP   85.000,00

Rp  96..000,00

Rp      5000,00

Rp    15.000,00

Rp. 500.000,00

Rp  300.000,00

Total biaya Rp.1246.000,00

B . Biaya Promosi dan Pemasaran

1

2

3

Transportasi 3orang  X  Rp 150.000,00 (5 bulan)

Komunikasi 5 orang X  Rp. 25.000,00 (5 bulan )

Promosi (brosur, , dimedia cetak , internet, TV, dan Radio)

Rp  450.000,00

Rp   125.000,00

Rp    600.000,00

Total  biaya Rp. 1.175.000,00

C . perkiraan pemasaran

PIBINA : 500 Bungkus/240 gr @ Rp 6000,00 Rp 3.000.000,00
Jumlah
Rp 3.000.000,00
D .perkiraan keuntungan yang didapat C – (A+B)

3.000.000-(1.246.000,00+ 875.000 )

Rp     879.000,00

R O T (Return Of Investment)   = X 100%

= % = 41,44 %

CARA PENGOLAHAN PRODUK PIBINA

Bahan:

a)      Daging nangka                        = 1    kg

b)      Tepung Biji Nangka                = 20  kg

c)      Minyak goreng                        = 1    kg

d)     Gula halus                               = 10  kg

e)      Mentega                                  =  4   kg

f)       Garam                                     = 0,1 kg

g)      Telur                                        = 1    kg

Alat :

-   Kompor gas                1 buah

-   Oven gas                     1 tabung

-   Mixer                          1 buah

-   Baskom                       5 buah

-   Cetakan                       1 buah

-    Loyang                        10 buah

-    Kuas                            2 buah

-   Ayakan                         2 buah

Cara kerja  :

Teknik pembuatan PIBINA (Pia Biji Nangka) adalah sebagai berikut:

1)      Buah nangka diambil bijinya kemudian bijinya dicuci bersih dan direbus hingga matang, dipotong tipis-tipis lalu dikeringkan dan dihaluskan dengan blender jadilah tepung nagka.

2)      Pembuatan PIBINA untuk kulitnya mencampurkan 20 kg tepung biji nangka, gula halus, air, mentega, garam hingga membentuk adaonan yang dapat dipulung, sehingga membentuk adonan sebesar bola bekel dan sisihkan.

3)      Mencampurkan tepung biji nangka dan minyak goring hingga rata, gilas adonan yang telah dipulung,

4)      Menuangkan beberapa sendok campuran tepung dan minyak, gulung, gilas hingga setebal 105 cm.

5)      Potong buah nangka  kecil-kecil untuk isinya yang dicampur dengan gula halus dan garam secukupnya.

6)      Memasukkan isi nangka kedalam adonan kulit pia kemudaian diatur dalam Loyang lalu diolesi bagian atas dengan kuning telur, panggang dalam oven hingga 180 °C selama 30 menit.

7)      Setelah matang angkat lalu dinginkan dan dilalukan pengemasan.

  1. H. JADWAL KEGIATAN PROGRAM

Tabel 2. Jadwal Kegiatan Program

Kegiatan

Bulan Ke-

1

2

3

4

5

1. Persiapan
ü  Persiapan dan Penetapan lokasi usaha x

ü  Persiapan alat dan bahan usaha xx

ü  Promosi dan strategi pengadaan usaha xxx

ü  Evaluasi tahap pertama x

2. Pelaksanaan
ü  Penjaringan konsumen

x

xxxx

ü  Pelayanan dan pemasaran

xxx

xx

ü  Pengembangan usaha dan investasi

xxx

xx

ü  Evaluasi tahap kedua

x

3. Kegiatan Bimbingan
ü  Pelaporan kegiatan usaha

xxx

ü  Monitoring dengan evaluasi pelaksanaan usaha

x
ü  Pengembangan usaha berdasarkan hasil monitoring

xxx

H. METODE PELAKSANAAN PROGRAM

Untuk melaksanakan kegiatan ini maka perlu metode yang tepat dan sistematis agar dicapai hasil yang maksimal. Adapun metode yang kami formulasikan adalah sebagai berikut:

  1. Pelatihan Produksi dilakukan untuk menghasilkan produk yang bermutu.
  2. Uji Ketahanan Pangan: Setiap PIBINA (Pia Biji Nangka) yang sudah jadi akan dilihat kelayakan konsumsi dan kesesuaian, serta kesepakatan hasil. Setelah disorting, akan di beri label khusus sebagai upaya profesionalisme. Di dalam label berisi: nama produk, manfaat, kandungan gizi, masa kadaluarsa, tempat produksi, dan tahun pembuatan.
  3. Pengemasan: Produk dikemas dengan rapat dan aman sehingga tidak terkontaminasi dengan udara luar, serta dimaksudkan agar produk dapat bertahan lama. Selain itu pengemasan akan dilakukan semenarik mungkin, agar konsumen dapat lebih tertarik dengan produk.
  4. Pemasaran: Sasaran pasar adalah masyarakat, mahasiswa, dan pelajar sekolah terutama yang berada di Kota Malang. Namun, sasaran awal adalah mahasiswa dan masyarakat di sekitar kampus UMM.
  5. Promosi baik di media cetak (koran dan majalah) maupun media elektronik (Internet dan televisi) bertujuan untuk memperkenalkan produk yang baru kepada masyarakat agar dapat mengetahui segala sesuatu tentang produk yang ditawarkan.

Pembuatan “PIBINA “ Produks I

Uji diversifikasi limbah biji nangka (PIBINA)

promosi

Packing

Pemasaran

Bagan 2. Diagram Alur Metode Pelaksanaan  Kegiatan

I. RENCANA PEMBIAYAAN

Tabel 3. Estimasi Dana Kegiatan

No

Jenis Kegiatan

Anggaran

A. Pra Kegiatan

1

Perijinan Rp.  200.000,00

2

Persiapan lokasi Rp.  200.000,00

3

Persiapan Alat dan Bahan Rp.  200.000,00

4

Promosi/publikasi Rp.  600.000,00

5

Pengadaan proposal Rp.  250.000,00
B. Pelaksanaan

1

Bahan Habis Pakai

Nangka 1 kg x Rp 50.000,00

Tepung Biji Nangka 20 kg  x Rp 8.000,00

Minyak Nabati 1 kg x Rp 11.000,00

Gula halus 10 kg x Rp 8.500

Mentega 4 kg x 24.000,00

Garam 0,1 kg x Rp 5000,00

Telur   Rp 15.000,00

Labeling 250 lembar x Rp. 1.000,00

Packaging 250 bungkus x Rp. 1.500,00

Tas+sablon 50 biji x Rp. 3.000,00

Gas LPG 1 tabung x Rp. 75.000,00

Oven gas 1 buah

Mixer

Ayakan 2 buah x Rp.5.000

Basom 5 buah  x Rp. 14.000

Kuas 2 buah x Rp. 2.250,00

Loyang 10 buah x Rp. 15.000

Rp    50.000,00

Rp. 160.000,00

Rp.     11.000,00

Rp.     85.000,00

Rp.   120.000,00

Rp.       5000,00

Rp.    15.000,00

Rp.   250.000,00

Rp.   325.000,00

Rp.   150.000,00

Rp.     75.000,00

Rp.   550.000,00

Rp.   300.000,00

Rp.      10.000,00

Rp.     70.000,00

Rp.       4.500,00

Rp.   150.000,00

2

Transportasi (5 bulan) Rp.    200.000,00

3

Komunikasi (5 bulan) Rp.      80.000,00

4

Dokumentasi (5 bulan) Rp.     600.000,00

5

Promosi Rp.     250.000,00
6 Administrasi dan managemen Rp      350.000,00
C. Laporan

1

Penyusunan laporan Rp.     350.000,00

2

Penggandaan laporan Rp.     300.000,00

Jumlah

Rp.  5.335.500,00

10/09/2009 Posted by | Contoh PKM | 11 Komentar

PENGGUNAAN “PASTA KEMANGI (Ocymum basilicum)” DALAM UPAYA MENANGGULANGI DEMAM BERDARAH (DBD) DI DAERAH ENDEMIK

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sampai saat ini penyakit DBD ini belum ditemukan vaksinnya, sehingga tindakan yang paling efektif untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk ini adalah dengan meningkatkan kebersihan lingkungan kita dengan cara 3M, yaitu menguras tempat penampungan air dengan menyikat bagian dalam dan harus dikuras paling sedikit seminggu sekali, menutup rapat-rapat tempat penampungan air dan menimbun dalam tanah barang-barang bekas atau sampah yang dapat menampung air hujan (Setyaningrum, E. 2007).
Penyebaran penyakit DBD terkait dengan perilaku masyarakat yang sangat erat hubungannya dengan kebiasaan hidup bersih dan kesadaran keluarga terhadap bahaya DBD.Tingginya angka kesakitan penyakit ini sebenarnya oleh karena perilaku kita sendiri. Faktor lainnya yaitu masih kurangnya pengetahuan, sikap, dan tindakan keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan. Lingkungan yang cocok untuk tempat perkembang biakan dari nyamuk aedes aegepty adalah ditempat-tempat penampungan air bersih dan tenang seperti drum, tempayan, bak mandi, WC, ember, vas bunga, dan kaleng-kaleng bekas yang dapat menampung air hujan, juga baju yang bergantungan.
Daun Kemangi memiliki bau yang sangat tajam sehingga jika tercium agak lama akan mengakibatkan mual dan pening. Bau daun ini juga dapat mengusir nyamuk dan serangga (Tjitrosoepomo, 1994).
Menurut tim peneliti dari Center for New Crops and Plant Products, Purdue University, AS, daun kemangi terbukti ampuh untuk menyembuhkan sakit kepala, pilek, diare, sembelit, cacingan, dan gangguan ginjal. Mereka mengemukakan keampuhan pengobatan menggunakan daun kemangi, yaitu dapat mengatasi sakit maag, perut kembung, masuk angin, kejang-kejang, dan badan lesu. Selain itu, aroma kemangi dapat menolak gigitan nyamuk.
Berdasarkan fenomena di atas maka penulis mencoba menyusun gagasan tertulis mengenai cara efektif untuk menanggulangi wabah Demam berdarah (DBD), dengan judul “Penggunaan “Pasta Kemangi (Ocymum basilicum)” dalam Upaya Menanggulangi Demam Berdarah di Daerah Endemik” yang sampai saat ini belum ditemukan cara penanganan yang efektif.
1.2 Perumusan Masalah
1. Dapatkah pasta kemangi (Ocymum basilicum) digunakan sebagai bahan penanganan Demam Berdarah (DBD)?
2. Bagaimanakah cara efektif menanggulangi wabah Demam Berdarah di daerah Endemik ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui penggunaan pasta kemangi (Ocymum basilicum) sebagai bahan penanganan demam berdarah (DBD).
2. Untuk mengetagui cara efektif menanggulangi wabah Demam Berdarah di daerah Endemik.
1.4 Manfaat
Berdasarkan paparan diatas dimulai dari latar belakang, rumusan masalah dan tujuan, maka manfaat yang diharapkan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah :
a. Bagi masyarakat umum, penulisan karya ilmiah ini dapat dijadikan bacaan kesehatan untuk menanggulangi wabah demam berdarah yang disebabkan salah satunya oleh nyamuk Aedes aegepty yang saat ini menjadi topik utama masalah kesehatan tubuh dan lingkungan. Selain itu dapat membantu masyarakat dalam memperoleh pengetahuan tentang penyakit DBD, salah satunya melalui pemakaian pasta kemangi (Ocymum basilicum).
b. Bagi pemerintah, informasi ini dapat membantu dalam program penyuluhan kesehatan masyarakat secara merata dan banyak diterima masyarakat menengah kebawah.
c. Bagi dunia keilmuan, penulisan karya ilmiah ini dapat memberikan sumbangan pemikiran berupa kajian-kajian literature yang kemudian dapat pula dugunakan sebagai upaya kesehatan masyarakat luas.
1.5 Uraian Singkat
Herba kemangi (Ocymum basilicum) memiliki bau bau yang sangat tajam sehingga jika tercium agak lama akan mengakibatkan mual dan pusing. Bau daun ini juga dapat mengusir nyamuk dan Serangga.
Dengan adanya hal tersebut, di zaman yang serba mahal ini, penulis menemukan solusi baru yang lebih aman, mudah dan murah serta tidak memerlukan waktu lama untuk proses pembuatan dan alat mahal seperti pembuatan ekstrak sehingga cara ini lebih efektif digunakan oleh masyarakat kalangan manapun serta dapat membantu pihak terkait terutama masalah pengeluaran biaya untuk penanganan Demam Berdarah yang saat ini memakan banyak dana. Dengan pemanfaatan tanaman herba Kemangi (Ocymum basilicum) sebagai pasta, kulit akan terhindar dari efek samping sebab tidak mengandung senyawa kimia berbahaya serta dapat memperkecil pengeluaran dan mempersingkat waktu pembuatan. Dengan penerapan teknologi sederhana tersebut kulit akan terhindar dari sengatan nyamuk terutama penyebab Demam Berdarah.

BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum Kemangi (Ocymum basilicum)
2.2.1 Biologi Tanaman
2.2.1.1 Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Lamiales
Famili : Lamiaceae
Genus : Ocymum
Spesies :Ocymum basilicum (Steenis, 2003).
2.1.1.2Morfologi
Terna yang menegak, tinggi hingga 1,10 m, batang coklat tua, tangkai daun coklat muda dan daun-daun hijau tua. Daunnya berasa manis dan agak tajam (Tjitrosoepomo, 1994).
2.1.2 Budidaya
Kemangi tidak menuntut syarat tumbuh yang rumit. Dapat dikatakan semua wilayah di Indonesia bisa ditanami kemangi. Yang jelas tanahnya bersifat asam. Kemangi juga toleran terhadap cuaca panas maupun dingin. Perbedaan iklim ini hanya mengakibatkan penampilan tanacnan sedikit berbeda. Kemangi yang ditanam di daerah dingin daunnya lebih lebar dan lebih hijau. Sedang kemangi di daerah panas daunnya kecil, tipis, dan berwama hijau pucat.
Benih Kemangi diperbanyak dengan bijinya. Biji diperoleh dari buah kemangi yang masak di batang. Ciri biji yang tua ialah berwama – hitam dan
kering. Biji kemangi harus disemai terlebih dahulu sebelum ditanam. (Anonimous, 2009).
2.1.3 Distribusi dan Habitat
Tanaman ini ditemukan di seluruh pulau Jawa dari daratan rendah hingga kurang lebih 450 m di atas permukaan laut, bahkan dibudidayakan hingga 1100 m. Selain di P. Jawa, jenis ini telah ditanam hampir di seluruh Nusantara. Tumbuh pada tepi-tepi jalan dan tepi-tepi ladang, pada sawah-sawah kering dan dalam hutan-hutan jati seringkali disemaikan di kebun-kebun dan pekarangan rumah. (Anonimous, 2009).
2.1.4 Manfaat
Daun selasih memiliki bau yang sangat tajam sehingga jika tercium agak lama akan mengakibatkan mual dan pening. Bau daun ini juga dapat mengusir nyamuk dan serangga (Tjitrosoepomo, 1994).
Dalam farmakologi Cina disebut tumbuhan ini memiliki sifat: rasa agak manis, dingin, harum, dan menyegarkan, menghilangkan bau badan, dan bau mulut. Efek zat aktif : 1,8 sineol (seluruh tanaman), anestesi, membantu mengatasi ejakulasi dini, anti kholinesterase, perangsang aktifitas syarafpusat, melebarkan pembuluh darah kapiler (merangsang ereksi), penguat hepar. Anethol (seluruh tanaman); merangsang hormon estrogen, merangsang faktor kekebalan tubuh, merangsang ASI. Apigenin (seluruhtanaman); melebarkan pembuluh darah, mencegah pengentalan darah, melancarkansirkulasi, menekan syaraf pusat, ralaksasi otot polos. Arginine (daun), memperkuat daya tahan hidup sperma, mencegah kemandulan, menurunkan gula darah, antihepatitis, diuretik. Asam aspartat (daun); merangsang syaraf, analeptik. Boron (seluruh tanaman); merangsang keluarnya hormon androgen dan hormon estrogen serta mencegah pengeroposan tulang (Anonimous, 2009).
2.1.5 Kandungan Kimia
Tumbuhan ini kaya dengan berbagai kandungan kimia yang sudah diketahui, a. l: Minyak atsiri: Osimena, farnesena, sineol, felandrena, sedrena, bergamotena, amorfena, burnesena, kadinena, kopaena, kubebena, pinena, ter pinena, santalena, sitral, dan kariofilena.
Senyawa lain : Anetol, apigenin, asam askorbat, asam kafeat, eskuletin,eriodiktiol, eskulin, estragol, faenesol, histidin, magnesium, rutin, tanin, ß-carotene, ß-sitosterol.
2.2 Tinjauan Umum Demam Berdarah
2.2.1 Pengertian
DBD adalah salah satu penyakit yang tidak ada obat maupun vaksinnya. Pengobatannya hanya suportif berupa tirah baring dan pemberian cairan intravena. Oleh karena itu, tindakan pencegahan dengan memberantas sarang nyamuk dan membunuh larva serta nyamuk dewasa terus digalakkan.
2.2.2 Manifestasi Klinis
Infeksi virus dengue mengakibatkan manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari asimtomatik, penyakit paling ringan (mild undifferentiated febrile illness), demam dengue , demam berdarah dengue, sampai sindrom syok dengue. Masa inkubasi dengue antara 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari.
Secara klinis biasanya ditandai dengan demam tinggi, fenomena perdarahan, hepatomegali, dan kegagalan sirkulasi. Demam dengue pada bayi dan anak berupa demam ringan disertai timbulnya ruam makulopapular. Pada anak besar dan dewasa dikenal sindrom trias dengue berupa demam tinggi mendadak, nyeri pada anggota badan (kepala, bola mata, punggung, dan sendi), dan timbul ruam makulopapular. Tanda lain menyerupai demam dengue yaitu anoreksia, muntah, dan nyeri kepala (Dep.Kes. RI, 1992).
2.2.3 Diagnosis
Diagnosis DBD biasa dilakukan secara klinis:
1. Demam akut, yang tetap tinggi selama 2-7 hari, kemudian turun secara lisis.
2. Pembesaran hati dan nyeri tekan tanpa ikterus.
3. Dengan/tanpa syok. Syok yang terjadi pada saat demam biasanya mempunyai prognosis yang buruk.
4. Kenaikan nilai Ht/hemokonsentrasi, yaitu sedikitnya 20%.
5. Adanya ruam-ruam pada kulit.
6. Leukopenia
Derajat Beratnya DBD secara klinis dibagi menjadi 4 derajat yaitu:
1. Derajat I:
Demam disertai gejala-gejala umum yang tidak khas dan manifestasi perdarahan spontan satu-satunya adalah uji tourniquet positif.
2. Derajat II:
Gejala-gejala derajat I, disertai gejala-gejala perdarahan kulit spontan atau manifestasi perdarahan yang lebih berat.
3. Derajat III:
Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menyempit (< 20 mmHg), hipotensi, sianosis disekitar mulut, kulit dingin dan lembab, gelisah.
4. Derajat IV:
Syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur (Setyaningrum, 2005)
2.2.4 Usaha-usaha Pemecahan Masalah yang Telah Dilakukan
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memerintahkan para Dokter untuk berkoordinasi dengan aparat kesehatan setempat untuk kasus-kasus DBD yang sedang diobati. Tetapi, hal tersebut juga disampaikan kepada masyarakat agar berperan aktif melakukan tindakan pencegahan dan berperilaku hidup bersih dan sehat dengan senantiasa melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan dan segera melapor ke RT/RW setempat apabila terdapat warga di daerahnya yang menderita DBD (Lamppost, 2009)
Hingga kini belum ditemukan obat dan vaksin pencegah DBD. Seluruh rumah sakit (RS) harus segera memberikan pertolongan secepatnya kepada korban DBD tanpa harus meminta uang muka dulu dan penderita dari keluarga miskin, maka biaya pengobatan akan diganti pemerintah. Sementara itu Depkes telah mengeluarkan anggaran Rp10 miliar untuk program pemberantasan sarang nyamuk selama 2004 yang digunakan untuk penyuluhan dan pembelian insekstisida untuk pengasapan sarang nyamuk di sejumlah daerah (Anonimous, 2009)
2.3 Penelitian Terkait Demam Berdarah dan Insektisida Alami
Berdasarkan studi terdahulu oleh Hamon & Mouchet dalam Bulletin WHO 1967, memang sudah dipaparkan bahwa spesies Culex quinquesfasciatus adalah spesies nyamuk yang paling cepat resisten terhadap insektisida daripada spesies nyamuk lain. Selain itu, WHO 1996 melaporkan, di banyak negara nyamuk Culex telah resisten terhadap insektisida golongan organofosfat, karbamat, dan piretroid.
Lima dkk dalam Am J Trop Med Hyg 2003 juga mengemukakan adanya tanda-tanda resistensi larva dan nyamuk dewasa Aedes aegypti terhadap beberapa jenis insektisida. Sampel nyamuk diambil dari 10 kotamadya yang terletak di Rio de Janeiro dan Espirito Santo, Brazil. Dari 10 kotamadya tersebut, larva Aedes aegypti dari delapan kotamadya sudah menunjukkan resistensi terhadap temefos (0,012 mg/L), dimana tingkat mortalitasnya hanya 74% sampai 23,5.
Sathantriphop S dkk meneliti kerentanan nyamuk Culex quinquefasciatus dan Aedes aegypti terhadap beberapa kelompok besar insektisida yaitu DDT, fenitrothion, malathion, deltamethrin, dan permethrin. Setelah dipapari selama 1jam (kecuali 4 jam untuk DDT), nyamuk Culex (nyamuk yang paling sering ditemukan di rumah-rumah) menunjukkan resistensi yang tinggi terhadap DDT 4%, deltamethrin 0,05%, fenitrothion 1%, dan permethrin 0,75% dengan persentase kematian berturut-turut adalah 0%, 11%, 21,2%, dan 10,1%.
Menurut tim peneliti dari Center for New Crops and Plant Products, Purdue University, AS, daun kemangi terbukti ampuh untuk pengobatan sakit maag, perut kembung, masuk angin, kejang-kejang, dan badan lesu. Selain itu, aroma kemangi dapat menolak gigitan nyamuk. Sejak zaman dahulu, kemangi disuling untuk diambil sari minyak atsirinya.
2.4 Hubungan Herba Kemangi (Ocymum basilicum) dengan Demam Berdarah
Herba Kemangi (Ocymum basilicum) dikenal memiliki zat aktif berupa alkaloid yang dapat mematikan jentik nyamuk.
Alternatif dari alam ini sudah sering digunakan. Penelitian tentang insektisida alamiah dalam upaya mengendalikan serangga, khususnya pada stadium jentik, pertama kali dirintis oleh Campbell dan Sulivan tahun1933. Selanjutnya berturut-turut Harzel tahun 1948; Amongkas dan Reaves tahun 1970; Pirayat Suparvann, Roy Sifagus, dan Fred W.K (1974) di University of Kentucky, Lexington telah menghasilkan penelitian bahwa ekstrak daun kemangi (Olium basikicum) pada dosis 100 ppm (bagian per sejuta) dapat menghambat pertumbuhan jentik Aedes aegypty (Anonimous, 2008).

BAB III
METODE PENULISAN
3.1 Sumber Data Deskriptif
Pada periode Januari 2007, terjadi 4.862 kasus DBD di 14 provinsi di Indonesia di antaranya 75 mengakibatkan kematian. Bisa disebut menurun dibanding Januari 2006, di mana dilaporkan terjadi 18.941 kasus DBD di 33 provinsi dan 192 di antaranya meninggal (Widianto, 2007).
Namun, jika dilihat secara total kasus DBD sepanjang tahun, trennya terus meningkat. Dalam lima tahun terakhir misalnya, angka peningkatanya jelas, yakni kasusnya 79.462 meninggal 957 tahun 2004, 95.000 dan meninggal 1.350 (2005), 113.640 dan meninggal 1.184 (2006) dan terakhir 140.000 kasus dengan 1.380 meninggal tahun 2007 (Budianto, 2007).
Kasus demam berdarah dengue (DBD) setiap tahun di Indonesia terus meningkat dan bahkan dikhawatirkan makin merajalela dengan pemanasan global. Pusat Informasi Departemen Kesehatan mencatat, jumlah kasus DBD di Indonesia pada bulan Januari 2008 mencapai 8.765 kasus dengan 68 korban meninggal, bahkan hingga awal Februari kasusnya telah mencapai 9.092 dengan 70 korban meninggal (Widianto, 2006).
3.2 Metode Pengumpulan data
3.2.1 Dokumentasi
Tercantum dalam lampiran 1.
3.2.2 Wawancara
Dalam mengumpulkan data, selain menggunakan observasi dan dokumentasi juga digunakan wawancara agar data yang diperoleh lebih akurat. Wawancara ditujukan pada Dinas kesehatan, puskesmas, dan beberapa masyarakat yang terkena wabah tersebut di daerah Endemik.
3.2.3 Observasi
Untuk mendukung gagasan tertulis ini, penulis melakukan observasi di daerah endemis Malang. Hasil observasi yang didapat berupa, kasus demam berdarah yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Obserevasi ini dilakukan pada tanggal 3 dan 4 Januari 2009.

BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS
4.1 Analisis Masalah
Jumlah korban yang tewas dari wabah demam berdarah di Indonesia telah meningkat menjadi 224 orang. Sejak permulaan tahun, virus itu telah menyerang lebih dari 11 ribu 720 orang. Departemen kesehatan menyebut wabah demam berdarah itu “luar biasa” karena jumlah yang terserang lebih dari duakali lipat selama waktu yang sama tahun lalu. Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah mengatakan, kasus demam berdarah telah bertambah setiap tahun diseluruh Asia Tenggara. Demam berdarah tertutama adalah penyakit tropis, dan disebarkan oleh nyamuk.
Hingga kini belum ditemukan obat dan vaksin pencegah DBD. Seluruh rumah sakit (RS) harus segera memberikan pertolongan secepatnya kepada korban DBD tanpa harus meminta uang muka dulu dan penderita dari keluarga miskin, maka biaya pengobatan akan diganti pemerintah. Sementara itu Depkes telah mengeluarkan anggaran Rp10 miliar untuk program pemberantasan sarang nyamuk selama 2004 yang digunakan untuk penyuluhan dan pembelian insekstisida untuk pengasapan sarang nyamuk di sejumlah daerah.
Pada bulan Maret 2005 masih ada daerah berstatus kejadian luar biasa. Sampai Mei di seluruh Indonesia tercatat 28.224 kasus; dengan jumlah kematian 348 orang. Hingga awal Oktober 2005, kasus DBD di 33 provinsi mencapai 50.196 kasus, dengan 701 di antaranya meninggal (case fatality rate 1,4 persen). Daerah terpaan DBD terbesar: DKI Jakarta (14.200 kasus). Kasus kematian tertinggi: Jawa Barat (147 orang). Data itu menunjukkan peningkatan hampir dua kali lipat dari Mei hingga awal Oktober. Banyaknya kasus DBD ini seiring dengan datangnya musim hujan yang menyebabkan banyaknya genangan air.
Mantan Kepala Subdirektorat Arbovirosis Departemen Kesehatan, Rita Kusriastuti memperkirakan jumlah penderita demam berdarah meningkat seiring perubahan iklim global terjadi dan membuat sejumlah tempat menjadi lebih hangat. Dia juga menyatakan, data penderita DBD, bisa lebih besar dari perkiraan, apalagi bisa jadi ada korban yang tidak tercatat.
Menurut Rum Istriati, Kasudin Kesmas Jakarta Pusat, ketika dihubungi, dua orang korban meninggal merupakan warga Bungur, Kecamatan Kemayoran, dan satu orang lagi merupakan warga Petamburan. Korban meninggal diduga akibat telat diagnosa dan telat penanganan hingga akhirnya mereka meninggal dunia.
Dalam Kompas, 2005 dijelaskan bahwa kurangnya koordinasi yang bagus antara masyarakat dan pihak kesehatan terkait sehingga terjadi peningkatan korban DBD dari tahun ke tahun dalam skala besar. Bahkan pemerintah telah mengeluarkan anggaran dengan jumlah besar tetapi hasilnya belum bisa dirasakan oleh masyarakat secara merata. Akibatnya pembangunan nasional di Indonesia belum bisa tercapai secara seimbang.
4.2 Sintesis Masalah
Hingga kini belum ditemukan obat dan vaksin pencegah DBD. Seluruh rumah sakit (RS) harus segera memberikan pertolongan secepatnya kepada korban DBD tanpa harus meminta uang muka dulu dan penderita dari keluarga miskin, maka biaya pengobatan akan diganti pemerintah. Sementara itu Depkes telah mengeluarkan anggaran Rp10 miliar untuk program pemberantasan sarang nyamuk.
Berdasarkan fenomena di atas maka penulis membuat alternatif baru untuk mengatasi wabah demam berdarah yang lebih murah dan mudah karena dapat dijangkau semua kalangan, aman karena tidak mengandung senyawa kimia berbahaya serta tidak memerlukan waktu lama dan alat mahal untuk pengolahan seperti pembuatan ekstrak. Solusi tersebut adalah dengan memanfaatkan tanaman kemangi yang telah dibuat pasta, kemudian pasta tersebut dioleskan pada permukaan kulit agar kulit tidak tergigit oleh nyamuk terutama nyamuk penyebab demam berdarah (DBD). Dengan menerapkan teknologi sederhana tersebut maka akan membantu upaya pemerintah dan pihak kesehatan terkait dalam menanggulangi wabah Demam Berdarah. Cara tersebut lebih efektif untuk menanggulangi wabah Demam Berdarah (DBD) yang saat ini kasusnya mengalami peningkatan dalam skala besar dari tahun ke tahun.
Adapun pembuatan pasta kemangi, sebagai berikut:

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dengan adanya hal tersebut, di zaman yang serba mahal ini, penulis menemukan solusi baru yang lebih aman, mudah dan murah serta tidak memerlukan waktu lama untuk proses pembuatan dan alat mahal seperti pembuatan ekstrak sehingga cara ini lebih efektif digunakan oleh masyarakat kalangan manapun serta dapat membantu pihak terkait terutama masalah pengeluaran biaya untuk penanganan Demam Berdarah yang saat ini memakan banyak dana. Dengan pemanfaatan tanaman herba Kemangi (Ocymum basilicum) sebagai pasta, kulit akan terhindar dari efek samping sebab tidak mengandung senyawa kimia berbahaya serta dapat memperkecil pengeluaran dan mempersingkat waktu pembuatan. Dengan penerapan teknologi sederhana tersebut kulit akan terhindar dari sengatan nyamuk terutama penyebab Demam Berdarah.
5.2 Saran
Disarankan bagi:
1. Masyarakat dan pihak terkait untuk menggunakan alternatif ini karena cara tersebut diketahui lebih efektif dan lebih terjangkau.
2. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan bagi para calon peneliti selanjutnya agar dapat menemukan alternatif baru untuk menanggulangi wabah demam berdarah.

 

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit????

Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan???
Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek?????

Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah?????

Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462

INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA

TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES

PAK ZAIF

 

07/31/2009 Posted by | Contoh PKM | 17 Komentar

“Sukosari Calistung Center”, Pusat Pengentasan Buta Aksara di Pedesaan Kabupaten Malang

1. Judul Program
“Sukosari Calistung Center”, Pusat Pengentasan Buta Aksara di Pedesaan Kabupaten Malang

B. Latar Belakang Masalah

Menurut Biro Pusat Statistik (BPS), buta aksara di Idonesia tahun 2005 usia 15 tahun ke atas terdapat 14.595.088 orang. Jumlah buta huruf di Jawa Timur masih tergolong besar yaitu 833.005 orang (Data Base Line Survey, 2005). Pada tahun 2006 angka tersebut tidak mengalami perubahan berarti buta aksara masih sebesar 8,07 persen dari sekitar dua ratus juta penduduk (Antara, 24/07/2007). Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi tertinggi angka buta aksara yaitu 30 persen dari total penduduknya (Antara, 02/03/2007).
Angka tersebut menunjukkan masih tingginya buta aksara di Indonesia terutama di Jawa Timur. Dari jumlah tersebut, sebagian besar tinggal di pedesaan. Umumnya mereka adalah petani kecil, buruh, nelayan, penduduk miskin yang tingkat pendapatan atau penghasilan rendah. Mereka tertinggal di bidang pengetahuan, teknologi, keterampilan, serta sikap mental pembaharuan dan pembangunan. Dikarenakan rendahnya pengetahuan, akhirnya mereka tertinggal dalam memperoleh akses informasi dan komunikasi yang penting untuk membuka cakrawala kehidupan dunia (Budiyanto, 2007). Hal ini menyebabkan posisi tawar mereka pada pergaulan ekonomi dan sosial menjadi sangat rendah. Dengan kata lain penduduk buta aksara belum dapat memberikan kontribusinya secara optimal terhadap berbagai proses pembangunan sosial dan ekonomi (Depdiknas, 2007).
Berdasarkan Rencana Aksi Pendidikan Untuk Semua (PUS) Propinsi Jawa Timur 2004-2008, daerah dengan Prioritas Tertinggi adalah daerah yang tingkat buta aksaranya di atas 10.000. Salah satu dari daerah Prioritas Tertinggi adalah Kabupaten Malang (Data Base Line Survey, 2005; Budiyanto, 2007).
Permasalahan di atas perlu segera dipecahkan guna mendukung kemajuan bangsa. Instruksi Presiden Nomor 5 tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara (GNP-PWB/PBA) diantaranya berisi pernyataan bahwa pemberantasan buta aksara dilakukan dengan mengerahkan seluruh kekuatan, mulai dari presiden, menteri terkait, gubernur, wali kota/bupati, camat, sampai kepala desa. Sedangkan pendekatan horizontal dilakukan dengan melibatkan berbagai komponen atau ormas (Su, 2007; Edrie, 2007). Oleh karena itu, sudah saatnya semua stakeholders seperti perguruan tinggi (dosen dan mahasiswa), PKK, Kowani, Muslimat NU, Fatayat NU, Aisyiah, organisasi kepemudaan dan swasta (Kurniawan, 2005; Ali, 2007).
Untuk mengatasi permasalahan buta huruf ini, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional telah mengeluarkan program Calistung (kependekan dari membaca, menulis dan menghitung). Program tersebut perlu segera diterapkan oleh semua stakeholder seperti yang telah diuraikan di atas. Mahasiswa dengan ilmu dan pengalaman yang ada memiliki peran strategis terkait dengan pengentasan buta aksara ini. Menurut Budiyanto (2007) mahasiswa merupakan Agent of Community Enpowerment, harus terlibat dalam pemecahan masalah pembangunan daerah dan nasional untuk kesejahteraan masyarakat dan harus mendapatkan pengalaman empirik untuk mengelola pemecahan masalah pembangunan daerah dan nasional untuk kesejahteraan masyarakat. Mahasiswa juga merupakan aset bangsa sehingga dituntut untuk aspiratif, akomodatif, responsif, dan reaktif menjadi problem solver terhadap permasalahan pembangunan.
Berangkat dari data, fakta, wacana serta amanat di atas maka disusunlah proposal PKMM ini. Pemilihan Dusun (dukuh) Sukosari dengan alasan bahwa dusun ini merupakan dusun paling tertinggal di Desa Pandansari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Sesuai dengan laporan KKN-T 28 Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2007 dan data arsip desa tahun 2007, penduduk usia 15 tahun ke atas yang buta huruf mencapai 975 orang dari jumlah total penduduk 6327 orang atau 2.017 KK.
Program dinamakan Sukosari Calistung Center dengan asumsi agar pengentasan buta huruf ini terpusat dan terstruktur. Hal ini dimungkinkan karena nantinya banyak pihak yang terlibat. Selain dari tim PKMM diharapkan pula peran serta masyarakat setempat, guru-guru sekolah dan tenaga terdidik setempat, aparat desa, organisasi masyarakat, dan tokoh masyarakat.
C. Perumusan masalah
Dari latar belakang di atas dapat dikemukakan permasalahan yaitu:
1. Apakah program calistung mampu mengatasi problematika buta aksara di Dusun Sukosari Desa Pandansari Kecamatan Poncokusomo Kabupaten Malang?
2. Seberapa besar pengaruh atau sumbangan program calistung terhadap permasalahan buta aksara?

D. Tujuan Program
Tujuan program ini adalah:
1. Mengetahui apakah calistung mampu mengatasi problematika buta aksara di Dusun Sukosari Desa Pandansari Kecamatan Poncokusomo Kabupaten Malang.
2. Mengetahui besarnya pengaruh atau sumbangan program calistung terhadap permasalahan buta aksara.

E. Luaran Yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dengan adanya program ini adalah kemampuan membaca, menulis dan menghitung masyarakat sasaran. Kemampuan tersebut berupa:
1. Warga belajar (100%) mampu membaca kalimat yang disusun minimal tujuh kata dengan lancar
2. Warga belajar (100%) mampu menulis kalimat yang disusun minimal tujuh kata dengan lancar
3. Warga belajar (100%) mampu menggunakan operasi matematika (+, -, x, dan :) dengan hasil akhir 100 atau lebih dengan lancar
Setiap warga belajar yang memenuhi kriteria tersebut akan mendapatkan SUKMA-1 (Surat Keterangan Melek Aksara) Tingkat Dasar. Luaran lain yang diharapkan berupa adanya sarana membaca desa atau perpustakaan desa untuk mencegah warga belajar mengalami buta huruf kembali.

F. Kegunaan Program
Program ini memiliki berbagai kegunaan diantaranya:
1. Bagi Warga Belajar
- Kemampuan membaca, menulis, dan menghitung warga belajar akan meningkatkan mutu sumber daya manusia, mengurangi kebodohan yang merupakan pintu gerbang kemiskinan.
- Kemampuan membaca akan meningkatkan taraf hidup, sosial, budaya dan ekonomi.
- Kemampuan membaca akan mempermudah akses dan pemahaman bidang pengetahuan, teknologi, informasi, keterampilan, serta sikap mental pembaharuan dan pembangunan.
2. Bagi Pemerintah (Desa sampai pusat)
- Titik tolak minimalisasi angka kebodohan dan kemiskinan yang mendorong kemajuan daerah dan bangsa
- Meningkatkan harkat dan nilai hidup masyarakat
- Memberi daya tambah positif terhadap Human Development Index (HDI).
- Mendorong dan mendukung terwujudnya rencana pengurangan angka buta huruf sampai 5% pada tahun 2009.
3. Bagi Tim PKMM
- Merupakan manisfestasi tanggung jawab sebagai Agent of Community Enpowerment dan aset bangsa.
- Menjadi pengalaman nyata dan literatur hidup yang akan memberi nilai tambah setelah tamat kuliah.
- Menumbuhkan jiwa kreatif dan membangun kepekaan sosial terhadap realitas dan kompleksitas permasalahan bangsa.
- Membangun kekompakan dan sekaligus relasi baik sesama tim ataupun dengan warga sasaran (warga belajar).

G. Gambaran Umum Masyarakat Sasaran
G.1 Gambaran Umum Desa Pandansari
1. Keadaan Geografis Desa Pandansari
Desa Pandansari adalah salah satu desa di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Jarak dari desa ke Kecamatan Poncokusumo adalah 7 km dan 28 km dari dari ibukota Kabupaten Malang. Desa Pandansari terletak pada ketinggian 850 mdpl. Luas desa mencapai 935.214 Ha, peruntukan ladang dan kebun (kebun apel) 794.430 Ha, sawah irigasi 4 Ha, pemukiman/perumahan 360.800 Ha, hutan lindung 19.500 Ha dan perbukitan/pegunungan 951 Ha.

2. Keadaan Demografis Desa
2.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
No Uraian Keterangan
1 Laki-laki 3.421 Orang
2 Perempuan 3.206 Orang
3 Kepala keluarga 2.017 KK
Sumber: Arsip Desa Pandansari2006 dan Laporan KKN-T 28 UMM tahun 2007

2.2 Potensi Desa dan Mata Pencaharian Penduduk
Desa Pandansari merupakan suatu desa yang terletak di kaki pegunungan Bromo dan Semeru sehingga desa ini mempunyai karakteristik pegunungan. Lahan-lahan yang ada cenderung pada pola terasering. Suhu relatif rendah sehingga tanaman yangh cenderung dibudidayakan adalah buah-buahan dan sayur-sayuran.
Mata pencaharian sebagian besar penduduk Desa Pandansari berasal dari sektor Pertanian baik sebagai petani pengarap lahan pertanian (komplangan) maupun buruh tani. Sedangkan mata pencaharian lainnya sebagai peternak, pedagang, dan tukang. Struktur mata pencaharian penduduk Desa Pandansari tahun 2006 secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah.
Tabel 2. Struktur Mata Pencaharian Penduduk
No Keterangan Jumlah
1. Petani 848 Orang
2. Pekerja disektor jasa/ perdagangan 32 Orang
3. Pekerja disektor industri - Orang
Sumber: Arsip Desa Pandansari2006 dan Laporan KKN-T 28 UMM tahun 2007
2.3 Tingkat Pendidikan Penduduk
Sumber daya manusia pada masyarakat cenderung rendah. Mayoritas masyarakat hanya tamat SD/MI. Penduduk tidak tamat SD/MI dan penduduk usia 10 tahun ke atas yang buta huruf sangat tinggi. Tingkat pendidikan penduduk Desa Pandansari tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3. Tingkat Pendidikan Penduduk
No Keterangan Jumlah
1. Penduduk Usia 10 th ke atas yang buta huruf 975 Orang
2. Penduduk tidak Tamat SD/MI 1821 Orang
3. Penduduk Tamat SD /MI 3021 Orang
4. Penduduk Tamat SLTP/MTs 662 Orang
5. Penduduk Tamat SLTA/MA 105 Orang
6. Penduduk yang Tamat D-1 - Orang
7. Penduduk yang Tamat D-2 6 Orang
8. Penduduk yang Tamat D-3 - Orang
9. Penduduk yang Tamat S-1 17 Orang
10. Penduduk yang Tamat S-2 - Orang
11. Penduduk yang Tamat S-3 - Orang
Sumber: Arsip Desa Pandansari2006 dan Laporan KKN-T 28 UMM tahun 2007

2.4 Keadaan Budaya Desa
Penduduk Desa Pandansari dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa Tengger dan Jawa. Hubungan kemasyarakatan antara warga desa umumnya bercorak masyarakat paguyuban yang saling bergotong royong, ramah tamah dan masih memiliki hubungan kekerabatan erat antara satu dengan yang lain. Keadaan seperti ini dapat terlihat dari hubungan keseharian warga.

2.5 Keadaan Keagamaan
Warga Desa Pandansari semuanya beragama Islam sehingga dikenal sangat religius. Ada dua organisasi keagamaan yang terdapat di Desa Pandansari, yaitu NU dan Muhammadiyah. Kegiatan mengaji dipusatkan di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Keadaan TPA masih sangat sederhana dan fasilitas kurang memadai. Pengajian warga yang termasuk dalam kelompok Fatayat dan IPNU dilakukan satu sampai empat kali dalam satu minggu. Sarana peribadatan yang terdapat di Desa Pandansari yaitu masjid 4 buah dan musholla 18 buah.
G.2 Gambaran Warga Belajar
Warga belajar yang menjadi prioritas adalah usia 15 – 44 tahun yang buta aksara. Namun tidak menutup kemungkinan jika terjadi hal diluar perkiraan maka sasaran yang berusia di atas 45 tahun dapat direkrut menjadi warga belajar. Kriteria lain warga belajar adalah sosial ekonomi rendah dan pendapatan rendah.

H. Metode Pelaksanaan Program
Pelaksanaan program ini terdiri dari beberapa tahap yaitu:

Gambar 1. Tahap Pelaksanaan Program

a. Tahap Persiapan
Tahap persiapan atau pendahuluan ini terdiri dari:
- Persiapan tim pelaksana berupa pemantapan kemampuan Tim PKMM dan terutama tutor desa (Bahan Pelatihan Tutor Terlampir).
- Penggandaan modul pembelajaran, soal evaluasi, borang administrasi pembelajaran buta aksara dan CD bahan pembelajaran buta aksara.
- Persiapan sarana dan prasarana yang akan dijadikan pusat kegiatan atau Sukosari Calistung Center. Dalam hal ini bertempat di Sekolah Dasar Islam Al-Hidayah Sukosari
- Pendataan dan konfirmasi peserta (warga belajar), calon tenaga pelatih di luar Tim PKMM (tenaga yang berasal dari Desa Pandansari yang sebelumnya dikoordinir oleh kepala desa dan perangkatnya serta pihak Sekolah Dasar Islam Al-Hidayah Sukosari.
- Penandatangan surat perjanjian kesediaan mengikuti program sampai tuntas oleh peserta (warga belajar) dan kesediaan menjadi tutor desa oleh tenaga tutor desa. Tutor desa (3-5 orang dengan latar belakang guru SDI Al-Hidayah Sukosari, tokoh masyarakat, atau orang yang telah direkomendasikan oleh SDI Al-Hidayah Sukosari dan Kepala Desa Pandansari)
- Persiapan fasilitas lain berupa kokart/tanda pengenal, alat tulis, sertifikat (yang akan diberikan kepada peserta) serta poster dan spanduk untuk publikasi.

b. Tahap Pelatihan atau Pembelajaran
- Pelatihan akan dilakukan selama dua hari yaitu pada hari Sabtu dan Minggu. Pelatihan atau pembelajaran diberikan kepada warga belajar (jumlah 30 orang) dan dilakukan oleh tutor (tutor Tim PKMM dan tutor desa).
- Peserta (warga belajar) dapat pula mengkonsultasikan segala permasalahan yang dihadapi terkait dengan buta aksara dan program yang dilakukan di luar hari tersebut. Warga belajar akan dilayani oleh panitia desa atau tutor desa yang ada di Sukosari Calistung Center
- Dalam pelatihan ini peserta (warga belajar) akan diberikan berbagai materi yang telah direkomendasikan dalam pemberantasan buta huruf yang tentunya disesuaikan dengan kondisi setempat (Contoh Modul dan Kurikulum terlampir).

c. Tahap Ujian
- Ujian dilakukan setelah semua materi pembelajaran dilakukan atau jika tutor telah menganggap bahwa warga belajar telah siap dan layak mengikuti ujian. Waktu yang ditargetkan atau direncanakan yaitu minggu ke-7 dan ke-8 pertemuan pembelajaran (Contoh Soal Ujian Terlampir).
- Ujian dilakukan sebagai syarat mendapatkan SUKMA-1 (Surat Keterangan Melek Aksara) Tingkat Dasar.
- Untuk menjamin mutu dan kualitas, maka pada saat ujian akan dipantau oleh Diknas Kabupaten atau Diknas Cabang Poncokusumo, Aparat Desa, beberapa organisasi mahasiswa, pemantau dari Universitas Muhammadiyah Malang dan pihak lain yang dianggap perlu. Akan dibuat pula berita acara ujian (Lembar Terlampir).
- Setelah ujian dilakukan, sebagai bentuk rangsangan akan dipilih beberapa warga belajar berprestasi.

d. Supervisi (Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Program)
- Monitoring dilakukan secara terus-menerus oleh Tim Sukosari Calistung Center
- Evaluasi dilakukan setiap kali pertemuan serta setelah ujian dilakukan
- Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian target yang direncanakan dan untuk pengambilan langkah-langkah selanjutnya. Target yang dimaksudkan adalah antusiasme warga belajar dalam mengikuti pembelajaran, peningkatan kemampuan warga belajar, dukungan dari pihak desa dan masyarakat, keterlibatan tutor desa dan kerjasama tim.
- Untukk menjamin mutu dan profesionalitas maka akan dilakukan evaluasi dan monitoring oleh supervisor. Komponen monitoring dan evalusi terlampir.

e. Tahap Pengembangan
- Pengembangan dimaksudkan agar terjadi kesinambungan program meskipun PKMM telah selesai
- Pada tahapan ini akan dirintis berdirinya pusat membaca desa atau perpustakaan desa yang bertempat di SD Islam Al-Hidayah. Sarana dan prasarana yang ada adalah ruangan, buku bacaan, majalah, koran, bahan bacaan lain dan sumber informasi lainnya, poster-poster/tempelan dinding, buku administrasi peminjaman, data jenis dan jumlah bahan bacaan, meja dan kursi untuk membaca, rak/lemari buku, tenaga pelaksana/pengelola perpustakaan. Sarana dan prasarana lain yang dianggap perlu akan dilengkapi dan disesuikan pada saat pelaksaan program.
- Dengan adanya perpustakaan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan warga belajar, mencegah warga belajar agar tidak buta aksara kembali, sekaligus dapat digunakan sebagai sumber bacaan oleh siswa SD setempat.
- Akan dijajaki pula kerjasama pengembangan dengan berbagai donatur dan sponsor, penerbit buku, toko buku, instansi dan perseoranga.
- Tim PKMM juga akan memberikan rekomendasi kepada beberapa universitas penyelenggara KKN termasuk Universitas Muhammadiyah Malang. Ini dimaksudkan agar mahasiswa KKN dapat mengembangkan atau melaanjutkan program tersebut.
- Khusus untuk tutor desa akan dilakukan refresh (penyegaran) guna meningkatkan mutu dan kualitas mereka. Hal ini sangat penting karena merekalah yang nantinya akan bersentuhan langsung setelah program berakhir.

I. Jadwal Kegiatan Program

No Nama Kegiatan Bulan ke-1 Bulan ke-2 Bulan ke-3
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Persiapan
- Persiapan Tim
- Pelatihan Tutor Desa
X
X

X
2 Pelatihan atau proses pembelajaran X X X X X X X X
3 Ujian X X
4 Pendampingan X X X X X X X X X X
5 Supervisi X X X X X X X X X X
6 Pengembangan X X X X X
7 Laporan Akhir X X

J. Nama dan Biodata Ketua Serta Anggota
a. Biodata Ketua Pelaksana
Nama Lengkap : Husamah
NIM : 04330058
Alamat : Jl. Notojoyo No. 53 Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu
b. Anggota Kelompok
1. Nama Lengkap : Yanur Setyaningrum
NIM : 04330037
Alamat : Jl. Notojoyo No. 189A Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

2. Nama Lengkap : Andik Nurdianto
NIM : 05330060
Alamat : Jl. Notojoyo No. 227 Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

3. Nama Lengkap : Herwan Jaya
NIM : 07330046
Alamat : Jl. Notojoyo No. 53 Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

4 Nama Lengkap : Sukma Maholla Yunitasari Putri
NIM : 04330045
Alamat : Jl. Telaga Al-Kautsar Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

K. Biodata Dosen Pembimbing
Nama Lengkap dan gelar : Dra. Iin Hindun, M.Kes
Golongan Pangkat dan NIP : Penata Tk I/III.d/131.930.145
Jabatan Fungsional : Lektor Kepala
Jabatan Struktural : Dosen
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian : Pendidikan Biologi
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

L. Biaya
No Jenis Banyaknya Jumlah
1. Bahan Habis Pakai
a. Kertas
b. Tinta
c. CD blank
@Rp.30.000×2
@Rp.30000×2
@Rp.2500×5
Rp. 60.000
Rp. 60.000
Rp. 10.000
2 Peralatan penunjang
a. Alat Tulis
– Kapur Tulis
– Ballpoin/pulpen
– Pensil
– Penghapus
– Buku Tulis
– Penggaris Kayu
– Penggaris plastik
– Penghapus papan tulis
– Boardmarker

b. Penggandaan Modul dan borang administrasi
c. Penggandaan soal ujian
d. White board
e. Tanda pengenal
f.Pembuatan stempel dan bantalannya
g. Map arsip
h.Stapless dan isinya
i. Kaos ”Berantas Buta aksara”
j. Sertifikat
k.Peralatan unjuk kerja

@Rp.5000×4
@Rp.1500×50
@Rp.1000×50
@Rp. 500×50
@Rp.1500×50
@Rp. 5000×2
@Rp. 1500×50
@Rp. 10.000×2
@Rp. 5.000x 10

@10.000×50

@2000×40
@Rp.100.000×1
@Rp. 1500×50

@Rp.1000×10
@Rp.10.000×2
@Rp. 15.000×30
@Rp. 1500×50

Rp. 20.000 Rp. 75.000
Rp. 50.000 Rp. 25.000
Rp. 75.000 Rp. 10.000
Rp. 75.000
Rp. 20.000
Rp. 50.000

Rp.500.000

Rp. 40.000
Rp.100.000
Rp. 75.000

Rp. 60.000
Rp. 10.000
Rp. 20.000
Rp.450.000
Rp. 75.000
Rp. 70.000
3. Perjalanan
a. Tim PKMM
b. Dosen Pembimbing
c. Tutor Desa dan Pemantau
@Rp. 60.000X5
@ Rp.100.000×1
@Rp. 30.000×10
Rp.300.000
Rp.200.000
Rp.300.000
4. Lain-lain
a. Konsumsi
– Tim PKMM
– Tutor Desa dan Pemantau
– Dosen Pembimbing
– Peserta Pelatihan
b. Dokumentasi
– Cetak foto Digital
– Video Kegiatan
c. Spanduk dan publikasi Rp. 200.000
d. Supervisi Rp. 200.000;
e. Pendampingan
f. Pengembangan
– Perintisan Perpustakaan Desa
1. Buku Baru
2. Buku Bekas
3. Majalah Baru
4. Majalah bekas
5. Koran
6. Bahan Bacaan lain
g. Laporan akhir

@Rp.100.000×5
@Rp. 20.000×10
@Rp. 100.000×1
@Rp. 10.000×30

@Rp.1000×100
@Rp.200.000×1
@Rp. 70.000×3

@Rp.25.000×20
@Rp.10.000×40
@Rp. 6.000×10
@Rp.1000×100

Rp.500.000
Rp.200.000
Rp.100.000
Rp.300.000

Rp.100.000
Rp.200.000
Rp.210.000
Rp.150.000
Rp.150.000

Rp.500.000
Rp.400.000
Rp. 60.000
Rp.100.000
Rp. 50.000
Rp. 50.000
Rp.200.000
Total Biaya Rp. 6.000.000

07/27/2009 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar

METODE PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS BERBASIS FLASH

A. JUDUL
METODE PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS BERBASIS FLASH

B. LATAR BELAKANG
Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang telah dipakai oleh banyak negara di dunia terutama Indonesia. Tak dapat dipungkiri lagi jika bahasa Inggris menjadi bahasa yang wajib dipelajari oleh masyarakat, terutama kalangan pelajar, baik dari jenjang TK hingga Perguruan Tinggi. Bahkan, tidak sedikit warga Indonesia melanjutkan kuliah ke luar negeri untuk memperdalam. Jika misalnya kita membeli produk-produk elektronik, rata-rata pada halaman awal atau kedua selalu menggunakan bahasa Inggris. Ini pertanda bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa asing yang penting dan wajib dikuasai.
Zaman sekarang ini, banyak lembaga pendidikan dari mulai SD hingga Perguruan Tinggi mengadakan lomba yang berhubungan dengan bahasa asing, yang salah satunya adalah Inggris. Misalnya, lomba debat, pidato, menulis, menyanyi, membaca puisi, dan lain sebagainya. Mengingat bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang wajib dipelajari oleh masyarakat, terutama kalangan pelajar, maka tidak salah dan tak heran jika setiap lembaga pendidikan menekankan pengajaran bahasa asing tersebut. Bahkan ada juga lembaga pendidikan yang menyertakan bahasa kedua selain bahasa Inggris.
Tetapi, masih banyak masyarakat di Indonesia khususnya Malang, merasa bahwa bahasa asing ini cukup sulit untuk dipelajari. Padahal, bahasa Inggris tidak sesulit yang diduga. Karena, bahasa asing yang dikenal paling sulit adalah Mandarin. Biasanya, kesulitan yang sering dialami oleh seorang siswa adalah pemahaman vocabulary (kosakata) dan grammar (tata bahasa). Sering dari mereka menemui vocab asing yang mungkin belum pernah diketahui sebelumnya, terutama pada bacaan. Begitu juga dengan grammar yang berupa tenses (waktu). Kadang kala, mereka “terjebak” dalam mengerjakan soal yang terdapat tenses. Hal inilah yang kadang juga bisa membuat seorang siswa enggan mempelajarinya. Dampak positif yang diterima siswa jika menguasai bahasa asing ini dalam arti mereka punya prestasi yang besar, mereka akan mudah “dicari” oleh perusahaan, baik lokal maupun asing, mengingat bahasa Inggris dibutuhkan setiap perusahaan. Selain dapat bekerja di perusahaan, siswa atau mahasiswa juga bisa menjadi seorang dosen atau guru bahasa Inggris setelah mereka lulus kuliah, penterjemah professional, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, hal ini tidak menutup kemungkinan akan laku kerasnya media pembelajaran bahasa Inggris selain buku dan kamus dan juga lembaga non-formal (kursus). Beberapa media yang tersedia di pasaran adalah dengan menggunakan media Flash. Meski media tersebut sudah ada, penulis ingin menawarkan jasa yang mungkin berbeda dengan yang sudah ada. Sebenarnya, Power Point juga dapat digunakan untuk metode pembelajaran bahasa Inggris, tetapi tidak seinteraktif Flash. Karena Flash merupakan program yang diperuntukkan untuk merancang dan membuat animasi, sedangkan PowerPoint hanya menyediakan animasi yang berupa teks, dan fiturnya pun terbatas.

Perbandingan media pembelajaran dengan menggunakan
PowerPoint dan Macromedia Flash MX
Microsoft PowerPoint Macromedia Flash MX
• Program yang hanya diperuntukkan untuk membuat presentasi dengan system slideshow
• Kurangnya fasilitas untuk merancang dan membuat animasi (tulisan maupun gambar)
• Tidak ada bahasa pemrograman untuk membuat animasi
• Kurang interaktif • Program khusus untuk membuat animasi
• Banyak fasilitas yang tersedia untuk membuat animasi
• Terdapat bahasa pemrograman untuk menggerakkan teks atau gambar sehingga terlihat lebih interaktif

Tetapi, meskipun media pembelajaran telah disediakan, jika siswa yang bersangkutan tetap enggan atau tidak tertarik untuk mempelajarinya, tentu hal itu tidak berefek apa-apa pada siswa tersebut. Jadi, bukan hanya media saja yang dapat membantu, tetapi juga kesungguhan dalam mempelajari bahasa Inggris. Jika ditinjau lebih dalam, dalam hal stuktural tata bahasa Inggris, terdapat lebih dari tiga materi grammar. Misalnya, tenses sendiri berjumlah enam belas, tapi yang dipakai hanya dua atau paling banyak tiga. Diantaranya adalah Past Tense (Waktu Lampau), Present Tense (Waktu Sekarang), dan Future Tenses (Waktu Akan Datang). Untuk future tense dapat dijadikan atau dimasukkan ke dalam present tense.
Dan sebenarnya mereka tidak perlu menghafal. Mereka hanya cukup memahami, karena metode belajar dengan menghafal sangatlah beda dengan memahami. Menghafal belum tentu memahami. Permasalahan lainnya adalah, siswa atau mahasiswa yang mempelajari bahasa Inggris tidak atau jarang mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, speaking, writing, reading dan listening. Empat kebiasaan tersebut haruslah dilakukan agar “data” atau ilmu yang mereka terima tidak mudah hilang. Karena ada pepatah yang mengatakan “bisa karena biasa”.
Oleh karena itu, ironis jika seorang siswa mempelajari bahasa Inggris setiap hari tapi jarang mempraktekkan.biasanya siswa tidak atau jarang mempraktikkan karena dua factor. Yang pertama, siswa tersebut malu kepada teman-temannya. Yang kedua, mereka khawatir keliru dalam penggunaan vocab dan grammar. Jika hal ini masih dilakukan, tentu sangat disayangkan. Padahal usia siswa SMA masih memiliki potensi dan kapasitas yang besar untuk menerima dan mengembangkan ilmu yang mereka terima.

C. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana agar siswa SMA tertarik dalam mempelajari Bahasa Inggris?
2. Bagaimana agar siswa SMA dapat memahami dan menguasai Bahasa Inggris dengan lebih baik ?

D. TUJUAN PROGRAM
1. Agar siswa SMA tertarik dalam mempelajari Bahasa Inggris (dengan media software animasi).
2. Agar siswa SMA dapat memahami dan menguasai Bahasa Inggris dengan lebih baik (dengan media software animasi).

E. KEGUNAAN PROGRAM
Dari program ini diharapkan siswa dapat:
1. Menambah wawasan siswa SMA tentang seluk beluk Bahasa Inggris secara teori.
2. Membantu siswa SMA dalam mengasah kemampuan berbahasa Inggris dengan lebih baik secara praktek

F. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan dalam program ini adalah tersediannya sumber daya manusia yang kompeten dalam bidang Bahasa Inggris dengan memanfaatkan program Macromedia Flash MX.

G. METODE PELAKSANAAN PROGRAM
Dalam pelaksanaan program ini, pelaksana program akan melakukan pelatihan terhadap obyek pelatihan dengan materi-materi sebagai berikut:

Materi : I Komponen Bahasa Inggris
Secara umum, komponen yang terkandung bahasa Inggris ada tiga, yaitu Grammar (Tata Bahasa), Reading (Bacaan), dan Writing (menulis). Grammar dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu Tenses (Waktu yang digunakan dalam kalimat), Time (Waktu/Jam), Passive Voice (Kalimat pasif), Preposition (Preposisi), dan Relative Clause (Klausa relatif), Introducing and Greeting People (Memperkenalkan dan Menyambut Orang), Asking and Giving Direction (Meminta dan memberi petunjuk jalan).
1. Grammar (Tata Bahasa)
Bagian kedua dari komponen bahasa Inggris adalah tata bahasa. Tata bahasa merupakan penunjang dari kosakata. Keberadaan dan fungsinya cukup penting. Fungsi dari tata bahasa adalah untuk membuat suatu kalimat menjadi lebih terstruktur rapi dan tidak membingungkan orang lain yang membaca dan mendengar. Dalam bahasa Inggris ada lebih dari tiga tata bahasa, diantaranya yaitu Tenses (Waktu), Passive Voice (Kalimat Pasif), Direct Indirect (Kalimat Langsung dan Tak Langsung), Reading (Bacaan), dan Writing (Menulis).
1.1. Tenses
Tense adalah cara bahasa menyatakan waktu pada saat kejadian yang dinyatakan oleh kalimat sedang berlangsung. Tenses seluruhnya berjumlah 16 tense, dibawah ini adalah tabel ringkasan tense yang sering digunakan.
Tense Positif/Negatif/Pertanyaan Kegunaan
Simple Present (Sekarang Sederhana) Positif : he speaks (dia berbicara)
Negative: he does not speak (dia tidak berbicara)
Pertanyaan: does he speak? (apakah dia berbicara) • Kejadian pada saat ini yang hanya terjadi sekali, tidak pernah, atau beberapa kali
• Fakta
• Kejadian yang berlangsung setelah kejadian lain
• Jadwal
Present Progressive
(Sekarang Berlangsung) Positif : he is speaking (dia sedang berbicara)
Negative : he is not speaking (dia tidak sedang berbicara)
Pertanyaan: is he speaking? (apakah dia sedang berbicara?) • Kejadian berlangsung saat berbicara
• Kejadian hanya untuk periode waktu yang terbatas
• Kejadian diatur untuk akan datang
Simple Past
(Lampau Sederhana) Positif : he spoke (dia berbicara)
Negative : he did not speak? (dia tidak berbicara)
Pertanyaan : did he speak? (apakah dia berbicara?) • Kejadian masa lampau sekali, tidak pernah, atau beberapa kali
• Kejadian yang terjadi setelah kejadian yang lain
• Kejadian di tengah-tengah kejadian lain
Past Progressive
(Berlangsung Lampau) Positif : he was speaking (dia sedang berbicara)
Negative : he was not speaking (dia tidak berbicara)
Pertanyaan : was he speaking? (apakah dia berbicara?) • Kejadian yang berlangsung pada waktu tertentu di masa lampau
• Kejadian yang terjadi di waktu yang sama
• Kejadian masa lampau yang disela oleh kejadian lain
Present Perfect Simple
(Sempurna Sekarang
Sederhana) Positif : he has spoken (dia telah berbicara)
Negative : he has not spoken (dia belum berbi cara)
Pertanyaan : has he spoken? (sudahkah dia berbicara?) • Memberikan penekanan pada hasil
• Kejadian yang masih berlangsung
• Kejadian yang baru saja berhenti
Present Perfect Progressive
(Berlangsung Sempurna
Sekarang) Positif : he has been speaking (dia telah sedang berbicara)
Negative: he has not been speaking
Pertanyaan: has he been speaking? • Memberikan penekanan pada durasi
• Kejadian yang baru-baru saja berhenti atau masih berlangsung
• Kejadian yang selesai tapi hasilnya berpengaruh
Past Perfect Simple
(Sempurna Lampau
Sederhana) Positif : he had spoken
Negative: he had not spoken
Pertanyaan : had he spoken? • Kejadian dimulai pada waktu tertentu pada waktu lampau
• Kadang bisa dirubah dengan Past Perfect Progresif
• Memberikan penekanan hanya pada waktu (bukan durasi)
Past Perfect Progressive
(Berlangsung Sempurna
Lampau) Positif : he had been speaking
Negative: he had not been speaking
Pertanyaan: had he been speaking? • Kejadian sebelum waktu tertentu di waktu lampau
• Kadang bisa dirubah dengan Past Perfect Simple
• Memberikan penekanan pada durasi kejadian
Future Simple
(Akan Datang Sederhana) Positif : he will speak?
Negative: he will not speak
Pertanyaan : will he speak? • Kejadian akan datang yang tidak bisa dipengaruhi
• Keputusan yang terjadi secara spontan
Sumber: http://www.ego4u.com
Dari tabel diatas, kiranya cukup jelas penjelasan tentang tenses beserta penggunannya. Namun, jika siswa yang bersangkutan masih merasa kebingungan untuk dapat membedakan antara tenses yang hampir sama. Misalnya Simple Past dengan Simple Present, dan lain sebagainya.
Berikut penulis sertakan kembali tabel perbedaan tenses yang hampir sama.
 Simple Present – Present Progressive
Simple Present Present Progressive
• Action in the present taking place once, never or several times
• Kejadian pada saat ini yang hanya terjadi sekali, tidak pernah, atau beberapa kali • Action in the present that is going on in the moment of speaking
• Kejadian berlangsung saat berbicara
• Facts, states that are generally known to be true
• Fakta, menyatakan bahwa secara umum diketahui benar • Action in the present taking place only for a limited period of time
• Kejadian hanya untuk periode waktu yang terbatas
• Actions in the present taking place one after another
• Kejadian yang berlangsung setelah kejadian lainnya • Actions in the present taking place at the same time
• Kejadian pada waktu yang sama
• Action set by a time table or schedule
• Kejadian diatur oleh waktu atau jadwal • Action already arranged for the near future
• Kejadian diatur untuk waktu yang akan datang

 Simple Present – Present Perfect Progressive

Simple Present Present Perfect Progressive
• Action in the present taking place once, never or several times
• Kejadian pada saat ini yang terjadi sekali, tidak pernah, atau beberapa kali • Action that started in the past and is still going on
• Kejadian dimulai di waktu lampau dan masih berlangsung
• Puts emphasis on how often the action takes place
• Memberikan penekankan seberapa sering kejadian dilakukan • Puts emphasis on how long the action has been going on
• Memberi penekanan berapa lama kejadian telah sedang berlangsung

 Present Perfect Simple – Present Perfect Progressive
Present Perfect Simple Present Perfect Progressive
• Puts emphasis on the result
• Memberikan penekanan pada hasil • Puts emphasis on the duration or course of an action
• Memberikan penekanan pada durasi kejadian
• Action from past to present
• Kejadian dari lampau ke sekarang
• Action is finished, but influences the present
• Kejadian selesai, tapi berpengaruh sampai sekarang
 Simple Past – Past Progressive
Simple Past Past Progressive
• Action in the past taking place once, never or several times
• Kejadian di waktu lampau, sekali, tidak pernah atau beberapa kali. • Action in the past whose course / duration is to be emphasised
• Kejadian masa lampau yang durasinya ditekankan
• Actions in the past taking place one after the other
• Kejadian di waktu lampau setelah kejadian yang lain • Actions in the past taking place at the same time
• Kejadian masa lampau yang dilakukan pada waktu yang sama
• Action in the past taking place in the middle of another action
• Kejadian di waktu lampau di tengah kejadian lain • Action in the past starting before another action and continuing after it
• Kejadian di waktu lampau dimulai sebelum kejadian lain dan berlanjut sesudahnya

 Simple Past – Present Perfect
Simple Past Present Perfect
• Action in the past taking place once, never or several times
• Kejadian di waktu lampau, sekali, tidak pernah atau beberapa kali • Action that stopped recently or is still going on
• Kejadian yang baru-baru berhenti atau masih berlangsung
• Actions in the past taking place one after the other
• Kejadian waktu lampau setelah kejadian yang lain • Finished action that has an influence on the present
• Kejadian selesai yang mempunyai pengaruh pada masa sekarang
• Action in the past taking place in the middle of another action
• Kejadian masa lampau di tengah kejadian lain • Action that has taken place once, never or several times before the moment of speaking
• Kejadian yang telah dilakukan sekali, tidak pernah, atau beberapa kali sebelum berbicara

 Simple Past – Past Perfect
Simple Past Past Perfect
• Action in the past taking place once, never or several times
• Kejadian di waktu lampau sekali, tidak pernah atau beberapa kali • Action taking place before a certain time in the past
• Kejadian dilakukan sebelum waktu tertentu di masa lampau
• Actions in the past taking place one after the other
• Kejadian waktu lampau setelah kejadian yang lain • Sometimes interchangeable with past perfect progressive
• Kadang dapat dirubah dengan past perfect progressive
• Action in the past taking place in the middle of another action
• Kejadian masa lampau di tengah kejadian lain • Puts emphasis only on the fact (not the duration or course of the action)
• Memberikan penekanan hanya pada fakta (bukan durasi kejadian)

1.2. Time (Waktu/Jam)
Ada dua cara umum untuk mengatakan waktu
 Formal tapi lebih mudah :
1. Mengatakan jam dulu kemudian menit
Contoh : 7:45 – seven forty-five (tujuh:empat lima)
2. Untuk menit 01 sampai 09, Anda bisa melafalkan ‘0’ sebagai oh.
Contoh : 11:06 – eleven (oh) six (sebelas:kosong enam)
 Cara yang lebih populer
2. Mengatakan menit dulu kemudian jam. Gunakan past dan yang dulu dijadikan patokan jam untuk menit 01 sampai 30. Gunakan to dan jam yang akan dating untuk menit 31 sampai 59.
Contoh : 7.15 – fifteen minutes past seven (tujuh. lewat lima belas)
Contoh: 7.45 – fifteen minutes to eight (tujuh. lewat empat lima)
Kemungkinan lain mengatakan ’15 minutes past’ is: a quarter past (lebih seperempat/lima belas menit)
Kemungkinan lain mengatakan ’15 minutes to’ is: a quarter to (kurang seperempat/kurang lima belas menit)
Kemungkinan lain mengatakan ’30 minutes past’ is: half past (kurang 30 menit)
-Contoh: 5:30 – half past five
Gambar Keterangan Waktu

Catatan
Gunakan o’clock hanya pada jam penuh/tepat
Contoh: 7:00 – seven o’clock (tapi 7:10 – ten past seven)
Dalam bahasa Inggris, dua belas jam digunakan. Jadwal biasanya menggunakan dua puluh empat jam. Dalam pembicaraan bahasa Inggris, dua puluh empat jam hanya digunakan dalam pengumuman resmi, tapi tidak di pembicaraan biasa.
Contoh : 17:20 – twenty past five (tujuh belas:lewat dua puluh)
Untuk waktu sekitar tengah malam atau tengah hari, Anda bisa menggunakan ekspresi tengah malam/tengah hari daripada angka 12.
Contoh: 00:00 – midnight
Contoh: 12:00 – midday or noon
Untuk membuat jelas(dimana memerlukan) apakah yang Anda maksud sebuah waktu sebelum pukul 12 tepat siang atau sesudahnya, Anda bisa menggunakan pagi hari, siang hari, sore hari, dan malam hari. Gunakan pagi hari sebelum pukul 12 siang tepat, sesudah pukul 12 siang tepat gunakan sore hari. Ketika merubah dari siang ke sore, dari sore ke malam dan dari malam ke pagi tergantung pada pengertian waktu Anda.
To make clear (where necessary) whether you mean a time before 12 o’clock noon or after, you can use in the morning, in the afternoon, in the evening, at night. Use in the morning before 12 o’clock noon, after 12 o’clock noon use in the afternoon. When to change from afternoon to evening, from evening to night and from night to morning depends on your sense of time.
Contoh: 3:15 – a quarter past three in the morning OR a quarter past three at night (tiga:lewatseperempat pagi ATAU tiga:lebih seperempat malam)
Ekspresi yang lebih formal untuk mengindikasi apakah sebuah waktu sebelum siang atau sesudah adalah a.m. (ante meridiem, sebelum siang) dan p.m. (post meridiem, sesudah siang). Gunakan ekspresi ini hanya dengan cara formal untuk mengatakan waktu.
Contoh: 3:15 – three fifteen a.m.
Itu tidak biasa untuk menggunakan a.m. dan p.m. dengan past/to.
Contoh: 3:15 – fifteen minutes past three OR a quarter past three (tiga:lewat lima belas ATAU tiga:lewat seperempat)
American English
Selain past, Amerika sering menggunakan after.
Contoh: 06:10 – ten past/after six
Tapi: dalam ekspresi waktu dengan half past, itu tidak biasa untuk memindahkan kembali past oleh after.
Selain to, Amerika sering menggunakan before, of atau till.
Contoh: 05:50 – ten to/before/of/till six
1.3. Passive Voice
Passive voice digunakan ketika fokus pada perbuatan. Itu tidak penting atau tidak diketahui, bagaimanapun, siapa atau apa sedang menampilkan perbuatan.
Contoh: My bike was stolen. (Sepedaku dicuri)
Dalam kalimat diatas, fokus pada fakta bahwa “sepedaku dicuri”. Saya tidak tahu, bagaimanapun, siapa melakukannya pada waktu lampau. Kadang sebuah pernyataan dalam passive lebih sopan daripada active voice. Contohnya sebagai berikut
Contoh: A mistake was made.
Dalam kasus ini, penulis fokus pada fakta bahwa kesalahan dibuat, tapi penulis tidak menyalahkan siapapun. (Contoh: Anda telah membuat kesalahan)
 Bentuk Passive
Subject + bentuk terbatas to be + Past Participle
Contoh: A letter was written. (Sebuah surat ditulis)
Ketika menulis kembali kalimat dalam passive voice, catat hal-hal berikut:
• Obyek kalimat aktif menjadi subyek kalimat passive
• Bentuk terbatas dari kata kerja dirubah (to be + past participle)
• Subyek dari kalimat aktif menjadi obyek kalimat pasif (atau diturunkan)
 Contoh Passive
Tense Subject Verb Object
Simple Present Active: Rita Writes (menulis) a letter. (sebuah surat)
Passive: A letter (Sebuah surat) is written (ditulis) by Rita. (oleh Rita)
Simple Past Active: Rita Wrote a letter.
Passive: A letter was written (ditulis) by Rita.
Present Perfect Active: Rita has written (telah menulis) a letter.
Passive: A letter has been written (telah ditulis) by Rita.
Future Active: Rita will write (akan menulis) a letter.
Passive: A letter will be written (akan ditulis) by Rita.
Modal Active: Rita can write (dapat menulis) a letter.
Passive: A letter can be written (dapat ditulis) by Rita.
 Contoh:
Tense Subject Verb Object
Present Progressive Active: Rita is writing (Sedang menulis) a letter.
Passive: A letter is being written (sedang ditulis) by Rita.
Past Progressive Active: Rita was writing a letter.
Passive: A letter was being written (sedang ditulis) by Rita.
Past Perfect Active: Rita had written (telah menulis) a letter.
Passive: A letter had been written (telah ditulis) by Rita.
Future II Active: Rita will have written a letter.
Passive: A letter will have been written by Rita.
Conditional I
(Kondisional) Active: Rita would write a letter.
Passive: A letter would be written by Rita.
Conditional II Active: Rita would have written a letter.
Passive: A letter would have been written by Rita.

 Kalimat Pasif dengan Dua Obyek
Menulis kembali sebuah kalimat aktif dengan dua obyek dalam kalimat pasif artinya bahwa salah satu obyek-obyek menjadi subyek, satu yang lainnya sebuah obyek. Yang mana obyek mentransformasikan kedalam subyek tergantung pada apa yang Anda mau letakkan.
Subject Verb Object 1 Object 2
Active: Rita Wrote (menulis) a letter (surat) to me. (kepadaku)
Passive: A letter (surat) was written (ditulis) to me (kepadaku) by Rita. (oleh Rita)
Passive: I was written (ditulisi) a letter (surat) by Rita.

Sebagaimana yang Anda lihat dalam contoh, menambahkan by Rita tidak bersuara sangat indah. Itulah mengapa biasanya diturunkan.
As you can see in the examples, adding by Rita does not sound very elegant. That’s why it is usually dropped.

 Passive Personal dan Impersonal
Personal Passive dengan sederhana berarti bahwa obyek dari kalimat aktif menjadi subyek dari kalimat pasif. Jadi setiap kata kerja yang membutuhkan sebuah obyek (kata kerja transitif) bisa membentuk sebuah personal passive.
Contoh: They build houses. – Houses are built. (Mereka membangun rumah-rumah – Rumah-rumah dibangun)
Kata kerja tanpa obyek ( kata kerja intransitif) secara normal tidak bisa membentuk kalimat pasif personal (sebagai tidak adanya obyek yang bisa menjadi subyek dari kalimat pasif). Jika Anda mau menggunakan kata kerja intransitif dalam passive voice, Anda butuh sebuah konstruksiimpersonal-oleh karena itu passive ini disebut Impersonal Passive.
Contoh: he says – it is said (Dia mengatakan-itu dikatakan)

1.4. Preposisi
Preposisi adalah kata-kata pendek (on, in, to) yang biasanya berdiri di depan kata benda (kadang juga di depan kata kerja gerunds)
Tabel berikut berisi aturan-aturan untuk beberapa dari sebagian besar preposisi yang sering digunakan dalam bahasa Inggris:
 Preposisi – Waktu
English Penggunaan Contoh
• on • days of the week (hari dalam Minggu) • on Monday (pada hari Minggu)
• in • months / seasons (bulanan/musiman)
• time of day (waktu hari)
• year (tahun)
• after a certain period of time (when?) (setelah periode waktu tertentu) (kapan?) • in August / in winter (di bulan Agustus/musim dingin)
• in the morning (di pagi hari)
• in 2006 (di 2006)
• in an hour (dalam satu jam)
• at • for night (untuk malam)
• for weekend (untuk akhir pekan)
• a certain point of time (when?) (batas waktu tertentu) (kapan?) • at night (pada malam hari)
• at the weekend (pada akhir pekan)
• at half past nine (pada jam setengah sembilan)
• since • from a certain point of time (past till now) (dari batas waktu tertentu) (lampau sampai sekarang) • since 1980 (sejak 1980)
• for • over a certain period of time (past till now) (melebihi batasan waktu tertentu) (lampau sampai sekarang) • for 2 years (selama 2 tahun)
• ago • a certain time in the past (waktu tertentu lampau) • 2 years ago (dua tahun yang lalu)
• before • earlier than a certain point of time (lebih awal daripada waktu tertentu) • before 2004 (sebelum 2004)
• to • telling the time (memberitahu waktu) • ten to six (5:50) (jam lima menuju jam 6)
• past • telling the time (memberitahu waktu) • ten past six (6:10) (jam enam lebih 10)
• to / till / until • marking the beginning and end of a period of time (menandai awal dan akhir periode waktu) • from Monday to/till Friday (dari Senin ke/sampai Jum’at)
• till / until • in the sense of how long something is going to last (dalam pertimbangan dari berapa lama sesuatu berlangsung ke akhir) • He is on holiday until Friday. (dia dalam liburan sampai Jum’at).
• by • in the sense of at the latest (dalam pertimbangan pada paling akhir)
• up to a certain time (sampai waktu tertentu) • I will be back by 6 o’clock. (Saya akan kembali pada jam 6 tepat).
• By 11 o’clock, I had read five pages. (pada jam sebelas tepat, saya telah membaca lima lembar)

 Preposisi – Tempat (Posisi dan Petunjuk)
English Penggunaan Contoh
• in • room, building, street, town, country
• (ruang, bangunan, jalan, kota, negara)
• book, paper etc.
• (buku, kertas)
• car, taxi (mobil, taksi)
• picture, world (gambar, dunia) • in the kitchen, in London (di dapur, di London)
• in the book (di buku)
• in the car, in a taxi (di mobil)
• in the picture, in the world (di gambar)
• at • meaning next to, by an object (berarti sebelah, oleh sebuah obyek)
• for table (untuk meja)
• for events (untuk peristiwa)
• place where you are to do something typical (watch a film, study, work) (tempat dimana Anda melakukan sesuatu dengan khas) (melihat film) • at the door, at the station (di pintu, di stasiun)
• at the table (di meja)
• at a concert, at the party (di konser, di pesta)
• at the cinema, at school, at work (di bioskop, di sekolah)
• on • attached (dilampirkan)
• for a place with a river (untuk sebuah tempat dengan sungai)
• being on a surface (sedang dalam permukaan)
• for a certain side (left, right) (untuk bagian tertentu) (kanan,kiri)
• for a floor in a house (untuk lantai dalam rumah)
• for public transport (untuk transportasi masyarakat).
• for television, radio (untuk TV) • the picture on the wall (gambar di tembok)
• London lies on the Thames. (London terbentang di Thames)
• on the table (di meja)
• on the left (di kiri)
• on the first floor (di lantai pertama)
• on the bus, on a plane (di bus)
• on TV, on the radio (di TV)
• by, next to, beside • left or right of somebody or something (kiri atau kanan dari seseorang atau sesuatu) • Jane is standing by / next to / beside the car. (Jane sedang berdiri pada / sebelah / disamping mobil)
• under • on the ground, lower than (or covered by) something else (pada tanah, lebih rendah daripada (atau atau ditutupi oleh) sesuatu yang lain) • the bag is under the table (tas di bawah meja)
• below • lower than something else but above ground (lebih rendah daripada sesuatu tapi diatas tanah) • the fish are below the surface (ikan dibawah permukaan)
• over • covered by something else (ditutupi oleh sesuatu yang lain)
• meaning more than (berarti lebih daripada)
• getting to the other side (also across) (mendapat ke lain bagian (juga seberang)
• overcoming an obstacle (menguasai halangan) • put a jacket over your shirt (letakkan jaket di atas bajumu)
• over 16 years of age (diatas 16 tahun)
• walk over the bridge (berjalan diatas jembatan)
• climb over the wall (memanjat diatas tembok)
• above • higher than something else, but not directly over it (lebih tinggi dari sesuatu yang lain, tapi tidak dengan langsung melebihinya) • a path above the lake (jalan kecil diatas danau)
• across • getting to the other side (also over) (mendapat ke lain sisi (juga seberang) )
• getting to the other side (mendapat ke bagian lain) • walk across the bridge (jalan menyeberangi jembatan)
• swim across the lake (berenang menyeberang danau)
• through • something with limits on top, bottom and the sides (sesuatu dengan batas pada atas, tengah dan bagian-bagian) • drive through the tunnel (mengendarai melalui terowongan)
• to • movement to person or building (pergerakan ke orang atau bangunan)
• movement to a place or country (pergerakan ke sebuah tenpat atau negara)
• for bed (untuk tempat tidur) • go to the cinema (pergi ke bioskop)
• go to London / Ireland (pergi ke London)
• go to bed (pergi tidur)
• into • enter a room / a building (masuk ruang/bangunan) • go into the kitchen / the house (pergi kedalam dapur)
• towards • movement in the direction of something (but not directly to it) (pergerakan dalam petunjuk dari sesuatu (tapi tidak secara langsung ke hal itu) ) • go 5 steps towards the house (pergi 5 langkah menuju rumah)
• onto • movement to the top of something (pergerakan ke atas dari sesuatu) • jump onto the table (loncat ke meja)
• from • in the sense of where from (dalam pertimbangan darimana) • a flower from the garden (bunga dari kebun)

 Preposisi Lain Yang Penting
English Penggunaan Contoh
• from • who gave it (siapa yang memberinya) • a present from Jane (hadiah dari Jane)
• of • who/what does it belong to (kepunyaan apa/siapa)
• what does it show (apakah itu menunjukkan) • a page of the book (halaman dari buku)
• the picture of a palace (gambar istana)
• by • who made it (siapa yang membuatnya) • a book by Mark Twain (buku oleh Mark Twain)
• on • walking or riding on horseback (sedang berjalan atau mengendarai di belakang kuda)
• entering a public transport vehicle (masuk kendaraan transportasi umum) • on foot, on horseback (pada kaki, pada belakang kuda)
• get on the bus (naik bus)
• in • entering a car / Taxi (masuk mobil) • get in the car (masuk mobil)
• off • leaving a public transport vehicle (meninggalkan kendaraan umum) • get off the train (turun dari kereta)
• out of • leaving a car / Taxi (meninggalkan mobil) • get out of the taxi (keluar dari taxi)
• by • rise or fall of something (muncul atau turun dari sesuatu)
• travelling (other than walking or horseriding) (perjalanan (selain daripada berjalan atau mengendarai kuda) • prices have risen by 10 percent (harga-harga telah naik pada 10 persen)
• by car, by bus (oleh mobil)
• at • for age (untuk usia) • she learned Russian at 45 (dia (perempuan) belajar bahasa Rusia pada usia 45 tahun)
• about • for topics, meaning what about (untuk topik, arti tentang apa) • we were talking about you (kami sedang membicarakan tentangmu)
1.5. Relative Clauses
Kita menggunakan klausa-klausa untuk memberikan informasi tambahan tentang sesuatu tanpa memulai kalimat lain. Dengan mengkombinasikan kalimat-kalimat dengan relatif klausa, teks Anda menjadi lebih lancar dan Anda dapat menghindari pengulangan kata-kata tertentu.
Contoh: Bayangkan, seorang gadis sedang berbicara kepada Tom. Anda mau tahu siapa dia (gadis) dan bertanya teman apakah dia (Tom) mengetahuinya (si gadis). Anda bisa mengatakan:
Contoh: -A girl is talking to Tom. Do you know the girl?.
-Seorang gadis sedang berbicara kepada Tom. Apakah kamu tahu gadis itu?
Suara itu agak sukar, bukan?. Itu akan lebih mudah dengan klausa relatif: Anda meletakkan kedua potong informasi kedalam satu kalimat. Mulai dengan hal yang paling penting – Anda mau tahu siapa gadis itu.
-Do you know the girl … (Apakah Anda tahu gadis…)
Sebagaimana temanmu tidak tahu gadis mana yang sedang Anda bicarakan, Anda butuh meletakkan informasi tambahan – the girl is talking to Tom (gadis yang sedang berbicara kepada Tom). Gunakan “the girl” hanya di bagian pertama dari kalimat, di bagian kedua, pindahkan itu kembali (gadis) dengan relatif pronoun (untuk orang, gunakan “who”). Jadi kalimat akhirnya adalah: Do you know the girl who is talking to Tom?. (Tahukah Anda siapa gadis yang berbicara kepada Tom?).
 Tabel Relative Pronouns:
relative pronoun Penggunaan Contoh
who • Subject or object pronoun for people
• Subyek atau obyek kata ganti untuk orang • I told you about the woman who lives next door.
• Saya diberitahu Anda tentang perempuan yang tinggal disamping pintu
which • Subject or object pronoun for animals and things
• Subyek atau obyek kata ganti untuk hewan dan benda • Do you see the cat which is lying on the roof?
• Apakah Anda melihat kucing yang sedang berbaring di atap?
which • Referring to a whole sentence
• Menghubungkan ke seluruh kalimat • He couldn’t read which surprised me.
• Dia tidak membaca yang mengejutkanku
whose • Possession for people animals and things
• Milik untuk hewan dan benda • Do you know the boy whose mother is a nurse?
• Apakah Anda tahu laki-laki yang ibunya perawat?
whom • Object pronoun for people, especially in non-defining relative clauses (in defining relative clauses we colloquially prefer who)
• Obyek kata ganti untuk orang, khusunya dalam klausa relatif tak tentu (dalam menggambarkan klausa relatif kita yang menghubungkan dengan bahasa sehari-hari lebih suka who • I was invited by the professor whom I met at the conference.
• Saya diundang oleh profesor yang saya temui di konferensi.
that • Subject or object pronoun for people, animals and things in defining relative clauses (who or which are also possible)
• Subyek atau obyek kata ganti untuk orang, hewan dan benda dalam klausa relatif (who atau which juga mungkin) • I don’t like the table that stands in the kitchen.
• Saya tidak suka meja yang berdiri in dapur.

2. Reading
2.1. Main Idea (Ide Utama)
Paragraf adalah kumpulan kalimat yang mengembangkan suatu main idea (ide utama). Kalimat yang menerangkan tentang ide utama tersebut disebut dengan topic sentence (kalimat topik).
Topic sentence biasanya terdapat pada awal atau akhir paragraf. Topic sentence jarang berada di tengah paragraf.
Jika ditulis dengan benar, setiap paragraf hanya menjelaskan tentang satu subjek yang di sebut dengan topic noun.
Pada paragraf terdapat juga kumpulan kata benda yang mengembangkan atau mendukung ide utama. Kata benda ini adalah supporting nouns.
Contoh paragraf:
The hippo is a large water and land animal. It lives in Africa. Except for elephant, the hippo is the heaviest of all land animals. A large hippo may weigh as much as three automobiles. We wouldn’t want a hippo to step on our toes!
Pada paragraf diatas kata “hippo” adalah topic noun karena paragraf tersebut menggambarkan tenteng hewan tersebut.
Kalimat pertama pada paragraf di atas “ the hippo is a large water and land animal” adalah topic sentence (kalimat topik) karena di dalam kalimat tersebut mengandung pemikiran yang berkisar pada topic noun. Kalimat-kalimat selanjutnya hanyalah pendukung untuk topic sentence. Dengan kata lain main idea dapat ditemukan dengan cara berikut:
1. memilih kalimat yang merupakan topic sentence (kalimat topik)
2. membaca setiap kalimat dan juga topic sentence kemudian bandingkan. Kalimat lain selain
topic sentence hanyalah kalimat pendukung.
The hippo is a large water and land animal (topic sentence)
1. it lives in Africa
2. except for the elephant, the hippo is the heaviest of all land animals.
3. a large hippo may wigh as much as three automobiles
4. we wouldn’t want a hippo to step on our toes!
Kalimat nomor 1 mendukung kalimat pertama dengan menjelaskan tentang habitat hewan tersebut.
Kalimat nomor 2 menjelaskan lebih lanjut kata “large” pada kalimat pertama.
Kalimat nomor 3 menjelaskan maksud dari kata “ heavy” pada kalimat 2 dengan cara memberikan informasi yang lebih khusus.
Kalimat 4 menekankan pada berat kuda nil tersebut dengan memberikan pengandaiian.
Hasil analisis menunjukkan bahwa 4 mendukung 3; 3 mendukung 2; sedangkan 2 mendukung 1. Dengan demikian 1,2,3, dan 4 adalah kalimat pendukung bagi topic sentence.
3. Writing
Dalam writing biasanya sering terjadi kesalahan tanda baca. Walaupun hal ini tidak terlalu menonjol, tapi bisa menyebabkan kesalahan fatal (misalnya jika siswa mengikuti ujian writing). Berikut beberapa penjelasan tentang penggunaan tanda baca.
3.1. Koma dengan angka
Gunakan koma untuk memisahkan ribuan dan jutaan dalam gabungan angka.
Contoh: 3,460,759
Jangan gunakan koma dalam desimal
Contoh: $3.49
Gunakan koma sebelum tahun jika tanggal diberikan sebagai berikut: bulan, hari, dan tahun.
Contoh: April 16, 2003
Jangan gunakan koma jika hanya dua elemen dari tanggal diberikan (bulan dan tahun).
Contoh: I was born in May 1972.

3.2. Koma dengan salam
Gunakan koma jika kalimat mulai dengan alamat kepada seseorang
Contoh: Greg, can I talk to you for a second?
Gunakan koma dengan salam dalam surat pribadi.
Contoh: Dear Francis,
Jangan gunakan koma dengan salam dalam surat bisnis. Gunakan titik dua dalam Inggris Amerika dan tidak ada tanda baca Inggris Britania.
Example:
BE (British English) – Dear Mr Jefferson
AE (American English) – Dear Mr. Jefferson:
Sesudah ucapan, koma opsional.
Example:
Sincerely,
Sincerely
H. JADWAL PELAKSANAAN PROGRAM
No Bulan Kegiatan Bulan ke-1 Bulan ke-2
I II III IV I II III IV
1 Persiapan penelitian √
2 Penelitian lapangan √
3 Analisa data √
4 Seminar Hasil penelitian √
5 Penulisan laporan akhir √

I. BIODATA KETUA DAN ANGGOTA

1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Fuad Hussein
b. NIM : 06360151
c. Fakultas/Jurusan : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP)/
Pendidikan Bahasa Inggris
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan : 12 jam/minggu
2. Anggota
a. Nama Lengkap : Ikhwanuddin Dallas
b. NIM : 06360130
c. Fakultas/Jurusan : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP)/
Pendidikan Bahasa Inggris
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan : 10 jam/minggu
3. Anggota
a. Nama Lengkap : Ratih Wulan Pinandu
b. NIM : 05360089
c. Fakultas/Jurusan : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP)/
Pendidikan Bahasa Inggris
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan : 10 jam/minggu
4. Anggota
a. Nama Lengkap : Dwi Hastani Setyaningsih
b. NIM : 06360123
c. Fakultas/Jurusan : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP)/
Pendidikan Bahasa Inggris
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan : 10 jam/minggu

J. BIODATA PENDAMPING
a. Nama Lengkap : Thathit Manon Andini, M.Hum
b. NIP : 104.9109.0244
c. Jabatan : Dosen
d. Fakultas/Jurusan : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP)/
Pendidikan Bahasa Inggris
e. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
f. Keahlian : Literatur
g. Waktu Kegiatan : 6 jam/minggu

K. BIAYA PELAKSANAAN KEGIATAN
Adapun Besar biaya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan program ini adalah sebesar Rp. 2.987.500,-
No. Kebutuhan Satuan Volume (Rp) Harga (Rp)
1 Peralatan penunjang
 Sewa komputer

 Sewa alat peraga LCD

 Block note

 Makalah

 CD
1 unit x 3 kali pertemuan

1 unit x 3 kali pertemuan

25 buah

25 ekseplar/ materi x 6 kali pertemuan
25 buah
20.000

100.000

50.000

2.000

25 x 2000
60.000

100.000

150.000

50.000

50.000
Rp. 410.000
2 Akomodasi
 Transportasi

 Konsumsi

 Dokumentasi
- Survei pelaksana program

25 orang x 10 kali pertemuan

1 rool film cuci cetak

50.000

@ 10.000 x 25 x 10

65.000

50.0000

2.250.000

52.500

Rp 2.352.500
4 Lain-lain
 Penyusunan, penggandaan dan pengiriman hasil PKM
 Pengeluaran tak terduga
5 eksemplar

-
20.000

-
100.000

100.000

200.000
Total : Rp. 2.987.500,-

DAFTAR PUSTAKA

http://www.ego4u.com diakses tanggal 27 September
Rusli, Ratna Sajekti, dkk, “ Buku Materi Pokok Reading”, Karunika, Jakarta,1997

07/27/2009 Posted by | Contoh PKM | 9 Komentar

Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini (TK Al- Masyithoh) Tegal Gondo-Malang.

A. Judul Program

Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini (TK Al- Masyithoh) Tegal Gondo-Malang.

B. Latar Belakang Masalah

TK Al Masyithoh merupakan TK yang terletak di desa Tegal Gondo kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Desa tegalgondo memiliki luas area sekitar 150 Ha. TK Al- Masyithoh ini berdiri sejak tahun 1999, dengan jumlah siswa sekitar 100 siswa. Sebagian besar siswa berasal dari daerah setempat yang pada umumnya orangtua bermata pencaharian sebagai petani, walaupun ada beberapa yang bermata pencaharian sebagai PNS, dan wiraswasta.
Kondisi yang memprihatinkan ini menuntut perhatian masyarakat dari segala lapisan, baik itu pemerintah, masyarakat umum, industri, maupun perguruan tinggi. Perhatian inipun tidak memandang usia, tua-muda, anak-anak, orang dewasa, maupun orang tua semuanya memiliki andil dalam menumbuh-kembangkan sikap responsif anak.
Dalam Haditono, S. R, 2004 Penelitian Riksen-Walraven (1977: 1978) pada 100 orang anak Belanda berasal dari kelas sosial-ekonomi yang rendah menunjukkan betapa pentingnya stimulasi yang tepat diberikan selama periode tahun pertama. Dalam penelitian tersebut diadakan stimulasi terhadap 2 aspek perkembangan masa awal.
Konvensi Hak Anak yang menaungi setiap anak berusia 18 tahun kebawah memiliki empat tema utama dalam hak anak, dua diantaranya adalah Survival dan Development. Tentang survival dan development, dikemukakan bahwa anak mendapat hak untuk tumbuh dalam lingkungan yang sehat (ECOTON, 2001). Termasuk di dalamnya lingkungan sosial dimana anak tersebut tumbuh dan berkembang.
Dalam kelompok teori lingkungan termasuk teori belajar dan teori sosialisasi yang bersifat sosiologis. Kedua macam teori itu sebetulnya sama karena prinsip sosialisasi itu merupakan suatu bentuk belajar sosial. Hal ini juga berlaku bagi enkulturasi, yaitu memperolehnya tingkah laku kebudayaan sendiri, yang banyak ditulis oleh ahli antropologi budaya. ( Haditono, S R, 2004).
NLP merupakan pola pikir yang menitikberatkan pada bagaimana menjadikan manusia efektif. Karena itulah maka sejak awal (dan sampai saat ini tentunya) NLP banyak mempelajari mereka yang excellent dalam bidangnya masing-masing yang berlandaskan pada The Pillars of NLP dan NLP Presuppositions.
a. The Pillars of NLP
Ini adalah 6 prinsip dasar yang menjadi landasan utama jika Anda dan saya ingin mempelajari NLP secara utuh, yaitu:
1. Diri sendiri. Diri kita sendiri adalah bagian yang paling penting dari setiap proses intervensi dalam NLP, sebab NLP baru menjadi berguna jika kita gunakan secara utuh. Selayaknya sebuah pisau dapat digunakan untuk memasak atau melukai orang lain, baik atau buruknya efek yang ditimbulkan oleh NLP juga amat ditentukan oleh diri kita sendiri sebagai pelaku praktik NLP. Begitupun tingkat kesuksesan kita dalam menggunakan NLP juga amat tergantung dari seberapa ahli kita dalam menguasai setiap detilnya. Semakin kongruen kita, semakin sukses lah kita. Kongruen disini adalah ketika tujuan, keyakinan, dan nilai-nilai yang kita miliki sejalan dengan perilaku dan ucapan yang kita lakukan.
2. Presuppositions. Presuposisi adalah prinsip dasar dari NLP yang digunakan untuk mengembangkan dan mengaplikasikan teknik-teknik NLP. Ia adalah taken for granted, yang membedakan NLP dibanding yang lain.
3. Rapport. Rapport adalah hubungan yang berkualitas yang dihasilkan dari rasa saling percaya. Anda baru bisa mendapatkan rapport hanya jika Anda sudah bisa memahami dan mengerti cara orang lain melihat dunia dari sudut pandang mereka. Dengan kata lain, rapport adalah seperti kita berbicara dengan bahasa orang lain. Ketika kita sudah memiliki rapport, orang yang kita ajak bicara akan merasa dihargai dan seketika menjadi lebih responsif. Sekalipun dapat dibangun secara instan, dalam jangka panjang rapport membutuhkan rasa saling percaya yang tinggi.
4. Outcome. Kunci utama untuk menguasai keterampilan dasar dari NLP adalah memahami secara rinci apa yang Anda inginkan dan mampu membantu orang lain untuk juga memahami secara rinci apa yang mereka inginkan. Keterampilan NLP selalu didasarkan pada fokus untuk memikirkan hasil yang kita inginkan, sehingga kita selalu mengambil tindakan yang berorientasi pada tujuan. Pola pikir hasil ini dibagi menjadi 3 yaitu:
 Memahami kondisi saat ini
 Memahami kondisi yang kita inginkan
 Merencakana strategi untuk mencapainya
5. Feedback. Sekali kita memahami apa yang kita inginkan, kita harus selalu menaruh perhatian terhadap hasil yang sudah kita capai sejauh ini, sehingga kita selalu tahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Inilah yang dinamakan dengan feedback. Kita harus terus memperhatikan secara jeli berbagai informasi yang kita dapat melalui apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan.
6. Flexibility. Ketika Anda tahu apa yang Anda inginkan dan apa yang Anda dapat sejauh ini, ketika itu pula lah Anda harus memiliki cukup banyak strategi untuk mencapainya. Satu cara tidak bekerja, segera gunakan cara lain. NLP selalu mendorong tiap orang untuk senantiasa fokus pada tujuan dan fleksibel dalam menggunakan berbagai macam cara untuk mencapainya.

b. NLP Presuppositions
Presuposisi adalah prinsip utama, filosofi dasar, dan belief dari NLP. Prinsip-prinsip ini memang bukanlah sesuatu yang universal, karenanya kita tidak harus benar-benar meyakini kesemuanya. Ia disebut sebagai presuposisi karena kita memang dengan sengaja meyakininya sebagai sesuatu yang benar dan bertindak berdasarkan itu. Pada dasarnya, presuposisi sebenarnya adalah kumpulan dari suatu set prinsip etika kehidupan.
1. People respond to their experience, not to reality itself. Kita tidak pernah tahu pasti apa yang disebut dengan realita. Indra, keyakinan, dan pengalaman masa lalu kita memang memberikan sebuah peta sebagai gambaran bagaimana seharusnya kita bertindak, namun yang namanya peta tidak pernah sama persis dengan daerah yang digambarkannya. Kita tidak pernah tahu daerah aslinya, maka bagi kita peta itu adalah daerah aslinya (the map is the teritory). Beberapa jenis peta memang cukup baik dalam menggambarkan keadaan aslinya, karenanya kita bisa berlayar dalam hidup dengan aman. Namun peta yang salah tentu akan mengakibatkan kita tersasar ke daerah yang salah pula. NLP adalah seni untuk mengubah peta ini sehingga kita memiliki kebebasan yang lebih besar untuk menentukan arah hidup kita.
2. Having a choice is better than not having a choice. Selalu mencari sebuah peta yang bisa memberikan Anda pilihan paling banyak dan selalu mengambil tindakan yang memungkinkan Anda untuk memiliki lebih banyak pilihan. Semakin banyak pilihan yang Anda miliki, semakin Anda memiliki kebebasan, dan semakin besar pula pengaruh yang Anda miliki.
3. People make the best choice they can at the time. Setiap orang selalu berusaha untuk membuat pilihan yang terbaik yang mereka bisa, sesuai dengan peta yang mereka miliki. Pilihan tersebut bisa jadi buruk dan merusak, namun bagi diri mereka sendiri, ini adalah langkah terbaik yang bisa mereka ambil. Beri mereka pilihan yang lebih baik, maka mereka dengan mudah menerimanya. Lebih jauh, beri mereka peta yang mampu menyediakan lebih banyak pilihan yang lebih baik.
4. People work perfectly. Tidak ada seorang pun yang benar-benar melakukan hal yang salah. Kita semua menjalankan strategi yang kita punya dengan sempurna. Kalau pun ternyata hasilnya tidak sempurna, maka strategi itulah yang barangkali memang tidak efektif. Cari tahu strategi Anda dan orang lain, sehingga Anda bisa menyesuaikan strategi yang Anda miliki agar lebih efektif.
5. All sctions have a purpose. Perilaku kita bukanlah sesuatu yang acak, sebab kita selalu berusaha untuk mencapai sesuatu dari perilaku yang kita munculkan, sekalipun kita tidak selalu sadar akan hal itu.
6. Every behavior has a positive intention. Semua tindakan yang kita ambil setidaknya memiliki 1 tujuan—untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan yang menguntungkan bagi kita. NLP memisahkan intensi yang ada di balik setiap perilaku dari perilaku itu sendiri. Kita tidak dapat menilai seseorang dari perilaku mereka, sebab ketika mereka memiliki pilihan perilaku yang lebih baik dan tetap bisa memenuhi intensi positif mereka, mereka pasti akan mengambilnya.
7. Pikiran bawah sadar menyeimbangkan pikiran sadar. Pikiran bawah sadar adalah semua hal yang tidak muncul di pikiran sadar pada suatu waktu tertentu. Ia mengandung semua sumber daya yang kita butuhkan untuk hidup dalam keseimbangan.
8. The meaning of the communication is not what you intend, but also the response you get. Respon tersebut bisa jadi bukanlah sesuatu yang Anda inginkan, namun tidak pernah ada kegalalan dalam komunikasi, ia hanyalah umpan balik agar Anda menyesuaikan cara komunikasi Anda.
9. We already have all the resources we need or we can create them. Tidak ada yang namanya unresourceful people, yang ada hanyalah unresourceful state of mind.
10. Mind and body form a system, keduanya adalah ekspresi yang berbeda dari seseorang yang sama. Pikiran dan tubuh saling berinteraksi dan mempengarusi satu sama lain. Mustahil kita bisa membuat perubahan pada salah satunya tanpa mengakibatkan perubahan pada yang lain. Ketika kita berpikir dengan cara yang berbeda, tubuh kita akan berubah. Ketika kita bertindak dengan cara yang berbeda, pikiran kita pun akan berubah.
11. We process all information through our senses. Mengembangkan indra yang Anda miliki agar kesemuanya lebih peka terhadap berbagai informasi yang muncul akan membuat Anda lebih jelas dalam berpikir.
12. Modelling successful performance leads to excellence. Jika ada seseorang yang bisa melakukan sesuatu dengan sempurna, maka ia bisa kita model untuk kemudian kita ajarkan kepada orang lain. Dengan demikian, setiap orang bisa mempelajari untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dengan cara mereka sendiri. Anda tidak akan menjadi kloning dari orang yang Anda model, Anda hanya belajar dari mereka.
Hasil survei pendahuluan yang dilakukan oleh tim pengusul menunjukkan bahwa pentingnya NLP(Neuro Linguistic Programming) masih belum dimiliki oleh anak-anak di desa Kebonagung. Hal ini menunjukkan bahwa perlu usaha untuk menstimulasi tingkat responsibilitas anak. Oleh karena itulah maka program ”Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini di Desa Tegal gondo Malang” sangat perlu dilakukan. Program ini menitikberatkan pada perubahan pola pikir anak mengenai masalah yang dihadapi.
C. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka lingkup permasalahan yang ingin dipecahkan adalah bagaimanakah Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam mengoptimalkan tingkat responsibilitas anak usia dini (TK Al-Masyithoh) Tegalgondo Malang?

D. Tujuan Program
1. Mengoptimalkan sejak dini daya responsibilitas anak termasuk dalam lingkungan sosial.
2. Mengimplementasikan pemahaman, pengetahuan yang diperoleh pada
lingkungan kehidupan sehari-hari.
3. Menumbuhkan jiwa dan pemahaman yang kritis tentang permasalahan dalam konteks kehidupan anak.

E. Luaran Yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan adalah jasa. Yang mana, dengan adanya program aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam meningkatkan responsibilitas anak usia dini di desa Tegal gondo Malang adalah adanya perubahan pola pikir yang responsive yang akan menjadi modal awal untuk memahami kondisi dan strategi untuk mencapai kualitas hidup.

F. Kegunaan Program
a. Menjadi modal awal untuk memahami kondisi dan strategi untuk mencapai kualitas hidup.
b. Kegiatan anak lebih mengarah kepada hal-hal yang positif.

G. Gambaran Umum Masyarakat Sasaran
G.1. Gambaran Umum Masyarakat Malang
G.1.1 Kelompok etnis
Penduduk asli Malang dikenal sangat religius, dinamis, pekerja keras, fleksibel dan sangat bangga dengan identitas mereka sebagai Arema (Arek Malang). Penduduk asli ini berasal dari suku Jawa, Madura, dan beberapa keturunan Arab dan Cina.
G. 1.2 Agama
Islam adalah agama mayoritas yang dianut penduduk Malang, diikuti dengan Kristen Protestan, Katolik, Buddha dan Hindu. Kehidupan masyarakat beragama di Malang sangat harmonis dan semua lapisan saling bekerja sama membangun kota Malang. Di sini juga banyak tempat-tempat peribadahan seperti mesjid, gereja, dan kelenteng, juga institusi pendidikan agama seperti pesantren dan seminari yang cukup populer di Indonesia.
G.1.3 Kebudayaan
Kelompok etnis dan budaya yang kaya di Malang telah memberikan pengaruh baik kepada budaya tradisional, seperti munculnya Tari Topeng yang sangat terkenal dengan gabungan beberapa unsur kebudayaan Jawa Tengah (Solo, Yogyakarta), wilayah Tenggara Jawa (Ponorogo, Tulungagung, Blitar), dan Blambangan (Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi). Sayangnya tarian ini telah banyak dimodifikasi menjadi bentuk tarian modern akhir-akhir ini.
G.1.4 Bahasa
Bahasa utama yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Tapi penduduk asli seringkali menggunakan bahasa Jawa, dengan dialek campuran Jawa Timur dan Madura untuk percakapan sehari-hari. Diantara anak muda Malang, dikenal sebuah bentuk bahasa lain yang mereka sebut “boso walikan” dimana mereka mengucapkan kata secara terbalik. Orang Malang dikenal berbicara langsung tanpa basa-basi seperti umumnya orang Jawa. Ini mewakili karakter masyarakatnya yang tegas dan langsung menuju sasaran.
G.1.5 Penduduk
Kebanyakan penduduk kedua kecamatan ini adalah pedagang, pekerja dan pelajar (mahasiswa) dari luar kota, yang sewaktu-waktu bisa kembali ke daerah asalnya. Pedagang dan pekerja biasanya datang dari sekitar Malang, sementara pelajar (mahasiswa) umumnya datang dari daerah lain seperti Bali, Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara, Maluku, Madura, Sulawesi dan Papua.

G.2 Gambaran Umum Masyarakat

Desa Tegalgondo Kecamatan Karang ploso, terletak di wilayah Kabupaten Malang. Sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Hal ini juga di dukung dengan bayaknya area sawah. Dengan demikian pendapatan masyarakat bersumber dari jumlah hasil panennya. Walau ada penduduk yang bermata pencaharian sebagai PNS dan wiraswsta. bidang pertanian di Malang masih memegang peranan cukup strategis. (Anonymous, 2005).

Hasil pengamatan Tim PKMM menunjukkan bahwa masyarakat di desa Tegalgondo belum memiliki kesadaran akan pentingnya perhatian terhadap anak mengenai responsibilitas anak usia dini dalam menghadapi permasalahan. Kebanyakan orang tua masih sibuk dengan urusan pekerjaan, sehingga waktu untuk anak –pun banyak tersita. Kebutuhan anak akan perhatian dari orang tua pun menjadi sangat kurang. Ketika anak mendapat masalah, anak akan cenderung menyimpan sendiri permasalahannya. Dan menyebabkan rendahnya responsibility terhadap permasalahan yang dihadapi ataupun dengan lingkungan sekitarnya.
G. 3. Gambaran Umum Anak-anak yang Menjadi Sasaran Program
Anak-anak yang menjadi sasaran program Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini (TK Al-Masyithoh) Tegal gondo Malang usia (4-5 th).
Berangkat dari berbagai permasalahan tersebut diatas, anak yang tinggal di desa tegal gondo, dengan kurangnya perhatian yang diberikan orang tua terhadap anak ternyata berdampak pada pola pikir anak.

H. Metode Pelaksanaan Program
Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini di Desa Tegalgondo Malang
terdiri dari beberapa tahap:
H.1 Tahap Persiapan
Tahap persiapan atau pendahuluan ini terdiri dari:
- Persiapan tim pelaksana (berupa pemantapan kemampuan teori maupun praktek)
- Persiapan materi yang akan disampaikan kepada peserta pelatihan.
- Persiapan fasilitas yang akan diberikan kepada peserta berupa, kokart/tanda pengenal, stiker, sertifikat, kaos serta poster untuk publikasi.
- Pendataan dan konfirmasi peserta, pemateri atau tenaga pelatih di luar Tim PKMM (yaitu dari Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang dan HMJ Biologi FKIP-UMM yang telah menyatakan kesediaannya menyukseskan program ini.
H.2 Tahap Pelatihan
- Pelatihan akan dilakukan selama satu kali dalam satu minggu.
- Dalam pelatihan ini peserta akan diberikan berbagai materi yaitu menyangkut pentingnya Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia, penerapan The Pillars of NLP dan NLP Presuppositions. Pelatihan dilakukan melalui dua bentuk:
a. Outbond (diluar ruangan, lingkungan sekolah )
b. Di dalam ruangan yaitu (untuk penyampaian materi dokumenter tentang, , gambar).
- Peran aktif, partisipasi, kerjasama dan sosialisasi antar peserta menjadi perhatian utama
H.2 Tahap Pendampingan
- Pendampingan dilakukan setelah peserta mengikuti kegiatan pelatihan berlangsung selama dua setengah bulan
- Aplikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini di Desa Tegal gondo Malang berupa pelatihan tentang NLP serta penerapannya, Penyelesaikan masalah, serta sharing dan permainan. (Kegiatan ini di bawah pantauan dan bimbingan Tim PKMM)
H.3 Tahap Monitoring dan Evaluasi
- Monitoring dilakukan secara terus-menerus oleh Tim PKMM selama kegiatan pelatihan NLP berlangsung. Evaluasi dilakukan setiap kali pertemuan dan laporan serta setelah masa pendamping selama dua setengan bulan berakhir.
- Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian target yang direncanakan dan untuk pengambilan langkah-langkah selanjutnya.
H.4 Tahap Pengembangan
- Pada tahapan ini diharapkan kemungkinan penambahan anggota komunitas serta kemungkinan kerjasama dengan berbagai pihak yang mendukung kegiatan ini.
-
Berbagai tahapan diatas dapat digambarkan secara lebih singkat sebagai berikut:

I. Jadwal Kegiatan Program

No Kegiatan Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Persiapan X X
2 Pelatihan X
3 Pendampingan X X X X X X X X X X
4 Monitoring Evaluasi X X X X X X X X X X X
5 Pengembangan X X
6 Laporan akhir X

J. Nama dan Biodata Ketua Serta Anggota
a. Biodata Ketua Pelaksana
Nama Lengkap : Faridha Khaira Hasniy
NIM : 04330043
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu
b. Anggota Kelompok
1. Nama Lengkap : Yanur Setyaningrum
NIM : 04330037
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

2. Nama Lengkap : Siswati
NIM : 04330048
Alamat : Jl. Tirto Utomo No. Malang
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu
3. Nama Lengkap : Sholihah
NIM : 04330057
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

4. Nama Lengkap : Dewi Oktaviana
NIM : 04330049
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

K. Biodata Dosen Pembimbing
Nama Lengkap dan gelar : Dra. Sri Wahyuni, M.Kes.
Golongan Pangkat dan NIP : III C/ Penata dan
Jabatan Fungsional : Lektor
Jabatan Struktural : Dosen
Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian : Anatomi Fisiologi Manusia
Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 minggu

L. Biaya

1. Bahan habis pakai
a. Kertas @Rp.30.000×2 Rp. 60.000;
b.Tinta Print @rp.30000×2 Rp. 60.000;
c. CD dan Disket Rp. 20.000;
2. Peralatan penunjang PKM
a. Film dokumenter lingkungan, foto-foto, gambar Rp.140.000;
b Stiker @1000×40 Rp.300.000;
c. Kokart/tanda pengenal @1000×40 Rp. 40.000;
d. Kaos @20.000×30 Rp.600.000;
e. Sertifikat 2000×30 Rp. 60.000;
3. Transportasi
a. Tim PKMM @ 5.000,- x 6×10 Rp. 250.000;;
4. Lain-lain
a. Konsumsi selama program
- Tim PKMM @ 5.000,- x 3x5x10 Rp. 750.000;
-Pemateri/Pelatih/undangan @10.000x3x6 orang Rp. 180.000;
b. Dokumentasi Rp. 200.000;
c. Spanduk dan publikasi Rp. 280.000;
d. Evaluasi dan Monitoring Program Rp. 300.000;
e. Pengembangan program Rp. 200.000;
f. Laporan akhir Rp. 280.000;
g. Sewa peralatan pengamatan lingkungan dan outbond Rp. 600.000; +
Total Biaya Rp. 6.000.000,-

07/27/2009 Posted by | Contoh PKM | Tinggalkan komentar

POLIPLOIDISASI TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DENGAN PERLAKUAN MUTAGEN COLCHICINE

1) Judul Program
POLIPLOIDISASI TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DENGAN PERLAKUAN MUTAGEN COLCHICINE

2) Latar Belakang Masalah
Upaya memanfaatkan sumber energi terbarukan merupakan bagian penting dalam program deversifikasi energi sebagai akibat semakin menipisnya cadangan energi dan semakin meningkatnya kebutuhan bahan bakar. Hal tersebut harus dilakukan karena kebutuhan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi terus mengalami peningkatan sehingga dalam beberapa tahun akan terjadi kelangkaan minyak bumi.
Biodiesel memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya penghematan ataupun sebagai subtitusi dari minyak diesel. Biodiesel yang merupakan minyak nabati yang diperoleh dari tumbuhan memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan sumber energi lainnya. Keunggulan dan kelebihan biodisel antara lain (1) Merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik (free sulphur, smoke number rendah) sesuai dengan isu-isu global, (2) Cetane number lebih tinggi (>60) sehingga efisiensi pembakaran lebih baik, (3) Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin, (4) Biodegradable (dapat terurai), (5) Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat diperbarui, (6) Meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi secara lokal (BPTP, 2006).
Pemanfaatan minyak Jarak (Jatropha curcas L.) sebagai bahan bio-diesel merupakan alternatif untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan bahan bakar. Minyak jarak pagar selain merupakan sumber minyak terbarukan (reneweble fuels) juga termasuk non edible oil sehingga tidak bersaing dengan kebutuhan konsumsi manusia seperti pada minyak kelapa sawit, minyak jagung dan minyak nabati lainnya. Secara agronomis tanaman jarak pagar sesuai dengan agroklimat di Indonesia bahkan pada kondisi kering dan pada lahan marginal. Akan tetapi masih ada permasalahan yang dihadapi, yaitu belum adanya varietas unggul yang dilepas secara komersial (Puslitbang Perkebunan, 2006).
Sebenarnya di Indonesia ditemukan banyak keragaman plasma nutfah jarak pagar, namun variasi tersebut diduga hanya disebabkan oleh perbedaan wilayah yang melahirkan ekotipe-ekotipe tertentu. Eksplorasi pendahuluan yang dilakukan oleh Puslitbang Perkebunan di Sumatera Barat, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan ditemukan variasi antara lain: (1) kulit batang: keperak-perakan, hijau kecoklatan, (2) warna daun: hijau muda, hijau tua, (3) pucuk dan tangkai daun: kemerahan, kehijauan, (4) bentuk buah: agak elips, bulat, (4) jumlah biji per kapsul: 1-4. Kontribusi perbedaan morfologi di atas terhadap produktivitas dan kandungan minyak tentu ada, hanya belum diketahui besarnya. Tingkat ploidi yang sama (2n=22) diduga tidak akan menghambat persilangan antar spesies dalam upaya perbaikan varietas jarak pagar (Hasnam, 2006).
Penelitian di bidang pemuliaan tanaman jarak pagar di Indonesia sampai saat ini masih dalam taraf awal dan masih mengandalkan metode pemuliaan konvensional yang banyak bergantung pada fenotipe tanaman yang mudah diamati secara kasat mata (Mardjono et al., 2006). Pengembangan tanaman jarak pagar melalui mutasi dengan memanfaatkan teknologi nuklir dengan irradiasi sinar gamma telah berhasil dilakukan (Dwimahyani, 2006), meskipun informasi pelepasan varietas unggul jarak pagar hasil mutasi tersebut belum diperoleh.
Alternatif metode mutasi lain yang bisa dilakukan adalah mutasi menggunakan senyawa kimia, misalnya colchicine. Efek yang ditimbulkan melalui mutasi dengan colchicine adalah terjadinya penggandaan kromosom atau poliploidisasi. Diharapkan melalui proses poliploidisasi tersebut dapat diperoleh peningkatan keragaman genetik sekaligus usaha untuk mendapatkan peningkatan potensi hasil minyak tanaman jarak pagar.

3) Perumusan Masalah
Penerapan mutasi secara kimia untuk mendorong terjadinya poliploidisasi pada tanaman jarak pagar lokal Indonesia belum ditemukan laporannya. Karena itu, penerapan mutasi kimia menggunakan senyawa colchicine untuk mengembangkan tanaman jarak pagar poliploid diharapkan dapat diperoleh keragaman genetik baru dari tanaman jarak pagar terutama yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis-jenis tanaman jarak pagar yang sudah ada.
Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1). Seberapa besar keberhasilan terjadinya poliploidisasi pada tanaman jarak pagar melalui perlakuan penetesan larutan colchicine pada konsentrasi yang berbeda?
2). Takaran larutan colchicine pada konsentrasi berapakah yang lebih efektif dalam mendorong terjadinya poliploid pada tanaman jarak pagar?

4) Tujuan Program
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengkaji keberhasilan terjadinya poliploidisasi pada tanaman jarak pagar melalui perlakuan penetesan larutan colchicine pada konsentrasi yang berbeda, (2) menentukan takaran konsentrasi colchicine yang lebih efektif dalam mendorong terjadinya poliploid pada tanaman jarak pagar.

5) Luaran Yang Diharapkan
Luaran hasil penelitian yang diharapkan adalah (1) diperolehnya jenis baru dari tanaman jarak pagar khususnya dengan ploidi yang berbeda dari sebelumnya; (2) diperolehnya informasi konsentrasi yang efektif bagi terbentuknya poliploid pada tanaman jarak pagar.

6) Kegunaan Program
Kegunaan dari penelitian ini adalah (1) dapat membantu meningkatkan keragaman genetik tanaman jarak pagar yang sangat bermanfaat untuk program pemuliaan tanaman; (2) dapat memberikan informasi teknik mutasi khususnya duplikasi kromosom atau perubahan ploidi pada tanaman jarak pagar.

7) Tinjauan Pustaka
Tanaman jarak (Jatropha curcas L.) termasuk famili Euphorbiacae. Genus Jatropha memiliki 175 spesies, dan dari jumlah tersebut lima spesies ada di Indonesia, yaitu Jatropha curcas L dan Jatropha gossypiifolia yang sudah digunakan sebagai tanaman obat. Jatropha integerrima Jacq, Jatropha multifida dan Jatropha podagrica Hook digunakan sebagai tanaman hias. Jatropha curcas L. menarik minat para ilmuwan karena sifat minyaknya yang dapat digunakan untuk substitusi minyak diesel atau solar (Puslitbang Perkebunan, 2006). Kandungan minyak pada biji jarak pagar berkisar antara 25–30%, 30-40%, 30-45%, 40-58% berat kering dan bahkan ada menyatakan yang mencapai 66,4% (Adebowale dan Adedire, 2006; Hariyadi, 2005; Lele, 2005; Pambudi, 2006, Puslitbang Perkebunan, 2006).
Indonesia memiliki keragaman plasma nutfah jarak pagar yang cukup tinggi, namun variasi tersebut mungkin hanya disebabkan oleh perbedaan wilayah yang melahirkan ekotipe-ekotipe tertentu. Eksplorasi pendahuluan yang dilakukan oleh Puslitbang Perkebunan di Sumatera Barat, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan ditemukan variasi antara lain: (1) kulit batang: keperak-perakan, hijau kecoklatan, (2) warna daun: hijau muda, hijau tua, (3) pucuk dan tangkai daun: kemerahan, kehijauan, (4) bentuk buah: agak elips, bulat, (4) jumlah biji per kapsul: 1-4. Kontribusi perbedaan morfologi di atas terhadap produktivitas dan kandungan minyak tentu ada, hanya belum diketahui besarnya. Tingkat ploidi yang sama (2n=22) diduga tidak akan menghambat persilangan antar spesies dalam upaya perbaikan varietas jarak pagar (Hasnam, 2006).
Penelitian di bidang pemuliaan tanaman jarak pagar di Indonesia sampai saat ini masih dalam taraf awal dan masih mengandalkan metode pemuliaan konvensional yang banyak bergantung pada fenotipe tanaman yang mudah diamati secara kasat mata. Penelitian di BALITTAS telah berhasil mengidentifikasi beberapa genotipa dari NTT, NTB, Jatim, Jateng dan Lampung, namun hasil panen yang diperoleh masih rendah yaitu berkisar antara 154,90-315,63 kg/ha karena tanaman belum berumur satu tahun (Mardjono et al., 2006). Kajian berikutnya diperoleh informasi 7 aksesi jarak pagar yang memiliki harapan produktivitas tinggi, yaitu HS-49 (1097.50 kg/ha), SP-16 (977.50 kg/ha), SP-38 (912.50 kg/ha), SP-8 (656.07 kg/ha), SM-33 (622.50 kg/ha), SP-34 (578.33 kg/ha), dan SM-35 (500 kg/ha) (Sudarmo et al., 2007). Sampai sekarang belum ada varietas unggul maupun klon jarak pagar yang dilepas ke petani (Anonymous, 2005; Sudarmo et al., 2007; Media Kita, 2006), sehingga sumber benih masih mengandalkan pengumpulan dari petani di berbagai daerah (Hariyadi, 2005). Pengembangan tanaman jarak pagar melalui mutasi dengan memanfaatkan teknologi nuklir telah berhasil dilakukan (Dwimahyani, 2006), meskipun informasi pelepasan varietas unggul jarak pagar hasil mutasi tersebut belum diperoleh.
Alternatif metode mutasi lain yang bisa dilakukan adalah mutasi menggunakan senyawa kimia, misalnya colchicine. Efek yang ditimbulkan melalui mutasi dengan colchicine adalah terjadinya penggandaan kromosom atau poliploidisasi.
Autotetraploid secara alami dihasilkan melalui kejadian duplikasi secara spontan dari genom 2x menjadi 4x. Secara artifisial autotetraploid diperoleh melalui perlakuan mutasi mengunakan colchicine. Tanaman autotetraploid dapat menguntungkan secara komersial karena pada tanaman tersebut terjadi peningkatan jumlah kromosom yang mengakibatkan pertambahan ukuran sel, ukuran bunga, buah, stomata dan bagian-bagian tanaman lainnya. Hal tersebut disebabkan terjadinya kenaikan produk dari aktifitas gen (protein atau RNA) yang proposional dengan kenaikan jumlah gen dalam sel (Anthony et al., 2000).
Organisme poliploid umumnya lebih besar dibandingkan dengan organisme diploid, tetapi tidak normalnya proses berpasangan dari kromosom homolog pada saat meiosis menyebabkan beberapa organisme poliploid menjadi steril (Anthony et al., 2000). Namun demikian, persilangan antara dua spesieas yang berbeda yang diikuti dengan penggandaan kromosom melalui perlakuan mutasi dengan colchicine menghasilkan hibrida poliploid yang fertil (Anthony et al., 2000).

Variasi pada tanaman poliploid juga meningkat akibat peristiwa nondisjunction (segregasi yang tidak normal dari kromosom pada saat meiosis atau mitosis). Variasi juga dapat ditimbulkan oleh ketidakseimbangan gen atau tidak sempurnanya kromosom (Anthony et al., 2000). Peningkatan tersebut juga terjadi karena autotetraploid mempunyai dua kali lipat salinan gen per lokus dibandingkan pada populasi diploid maupun allotetraploid (Brown dan Young, 2000).
Poliploidi buatan tersebut merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan hasil minyak esensial maupun metabolit sekunder berbagai jenis tanaman (Tsevtkov Raev, 2006). Pengembangan tanaman melalui poliploidisasi dapat meningkatkan laju pertumbuhan 30%-40% per musim diikuti dengan peningkatan hasil tanaman yang diperoleh (Biopact, 2007).
Autotetraploid buatan yang diperoleh melalui perlakuan mutasi dengan colchicine merupakan salah satu upaya meningkatkan produksi minyak esensiel tanaman vetiver (2n=20). Jenis tetraploid yang diperoleh memiliki vigor yang lebih baik, perakaran lebih panjang dan lebih tebal. Produksi panen yang dihasilkan dari tanaman tetraploid juga lebih unggul dibandingkan dengan jenis tetua diploidnya dan tanaman kontrol (pembanding). Secara ekonomis hasil tanaman tetraploid mempunyai potensi produksi minyak 62,5% lebih tinggi dibanding tetua diploidnya dan 39,2% lebih tinggi dibanding kontrol. Peningkatan hasil tersebut juga berkaitan dengan peningkatan senyawa metabolisme sekunder (Lavania, 1988). Induksi poliploid tanaman lavender menghasilkan minyak 3-5 kali lebih banyak dan diikuti dengan peningkatan kualitas minyak yang dihasilkan dibanding diploid (Urwin, Horsnell, dan Moon, 2005).
Peningkatan ploidi dapat diketahui dengan adanya peningkatan ukuran stomata daun tanaman yang telah diperlakukan. Poliploidi yang dihasilkan juga dapat dideteksi melalui tingkatan DNA dengan flow-cytometry. Hasil deteksi DNA tersebut sama dengan hitungan jumlah kromosom sel ujung akar (Mi-Seon Kim et al., 2003).
Metode lain yang juga sering digunakan untuk membedakan ciri-ciri suatu individu secara molekuler adalah studi isozim, restriction fragment length polymorphism (RFLP), random amplified polymorphism DNA (RAPD), dan simple sequence repeat (SSR). Penerapan suatu metode harus diketahui terlebih dahulu optimasinya. Kemampuan membedakan genotip individu di dalam species maupun beberapa genotip secara tepat sangat diperlukan dalam program pemuliaan tanaman. Karakter morfologi dan fenotip telah banyak dipergunakan, namun sifat kuantitatif umumnya dikendalikan banyak gen dan sangat dipengaruhi lingkungan sehingga perbedaan antar species berkerabat dekat seringkali sulit diamati. Kebanyakan karakter sulit dianalisis karena tidak memiliki sistem pengendalian genetik yang sederhana. Penggunaan penanda molekuler seperti alozim, RFLP dan RAPD dapat dimanfaatkan untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut. Pemakaian marka molekuler berdasarkan pola pita DNA telah banyak digunakan untuk menyusun kekerabatan beberapa individu dalam spesies maupun kekerabatan antar spesies. Penggunaan kekerabatan dapat dijadikan rujukan dalam pemuliaan persilangan untuk mendapatkan keragaman yang tinggi dari hasil persilangan. Penggunaan marka DNA dapat membantu pelaksanaan pemilihan tetua persilangan yang memiliki perbedaan tinggi secara genetik (Correa, 1999). Perkembangan teknik PCR dalam bidang biologi molekuler terjadi dengan cepat setelah ditemukan teknik pelipat gandaan bagian genom tanaman pada beberapa lokus yang berbeda menggunakan primer arbitrari, yang dikenal dengan Random Amplified Polymorphic DNA (Welsh dan McClelland 1990). Pola pita DNA yang dihasilkan pada teknik RAPD sangat konsisten bagi kebanyakan primer dan teknik ini telah digunakan pada berbagai tanaman seperti padi, jagung, kopi serta pada tanaman anggrek (Orozco-Castillo et al. 1994 ; Hoon-Lim et al. 1999).
Salah satu keuntungan analisis keragaman menggunakan teknik molekuler yang memanfaatkan teknologi PCR adalah kuantitas DNA yang diperlukan hanya sedikit. Selain itu, dalam teknik RAPD tingkat kemurnian DNA yang dibutuhkan tidak perlu terlalu tinggi, atau dengan kata lain teknik ini toleran terhadap tingkat kemurnian DNA yang beragam. Penerapanan metode RAPD telah berhasil digunakan untuk membedakan keragaman genetik secara molekuler tanaman anggrek Phalaenopsis yang telah dimutasikan dengan memberikan perlakuan berbagai konsentrasi colchicine (Zainudin, 2007). Penelitian awal terkait dengan analisis molekuler keragaman genetik tanaman jarak pagar telah diperoleh informasi tentang prosedur isolasi DNA menggunakan Sodium Dudocyl Sulfate yang menghasilkan DNA genom jarak pagar dengan kualitas cukup baik dan sesuai untuk proses amplifikasi melalui proses PCR (Zainudin dan Maftuchah 2006), serta rangkaian suhu optimal serta beberapa primer yang sesuai dalam proses amplifikasi DNA jarak pagar lokal Lamongan dan Karangtengah (Maftuchah dan Zainudin, 2006). Pemakaian beberapa primer RAPD yang berukuran 10 basa telah terbukti menghasilkan sidik jari DNA RAPD tanaman jarak pagar dengan tingkat polimorfisme tinggi dengan jumlah 4 sampai 12 pita DNA (Maftuchah, 2006).

8) Metode Pelaksanaan Program
Penelitian ini akan dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Kebun Koleksi Plasma Nutfah Tanaman Jarak pagar BALITTAS yang berlokasi di Karangploso dan Asembagus-Situbondo. Analisis molekuler dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler Pusbang Biotek UMM.
Waktu pelaksanaan penelitian direncanakan selama 5 (lima) bulan. Bahan tanam awal yang akan ditanam berupa benih jarak pagar yang diperoleh dari Kebun Koleksi Plasma Nutfah Tanaman Jarak pagar BALITTAS yang berlokasi di Karangploso dan Asembagus-Situbondo.
Metode penelitian yang akan diterapkan untuk penelitian di lahan adalah percobaan lapang menggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Perlakuan yang diujikan terdiri dari dua faktor:
Faktor I: Jenis Tanaman Jarak Pagar
J1 : Lokal Asembagus
J2 : Lokal Kediri
Faktor II: Penetesan Titik Tumbuh Kecambah dengan Beberapa Konsentrasi Colchicine
K0 : Tanpa penetesan larutan colchicine
K1 : Penetesan larutan colchicine 0,1%
K2 : Penetesan larutan colchicine 0,3%
K3 : Penetesan larutan colchicine 0,5%
Berdasarkan kedua faktor tersebut diperoleh 8 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang sebanyak 3 kali.
Kombinasi perlakuan yang diperoleh adalah:
J1K0 = Jarak pagar lokal Asembagus tanpa penetesan colchicine
J1K1 = Jarak pagar lokal Asembagus dengan penetesan larutan colchicine 0,1%
J1K2 = Jarak pagar lokal Asembagus dengan penetesan larutan colchicine 0,3%
J1K3 = Jarak pagar lokal Asembagus dengan penetesan larutan colchicine 0,5%
J2K0 = Jarak pagar lokal Kediri tanpa penetesan colchicine
J2K1 = Jarak pagar lokal Kediri dengan penetesan larutan colchicine 0,1%
J2K2 = Jarak pagar lokal Kediri dengan penetesan larutan colchicine 0,3%
J2K3 = Jarak pagar lokal Kediri dengan penetesan larutan colchicine 0,5%

Tahap penelitian yang akan dilakukan meliputi:
(1) Penyiapan Benih Hasil Penyerbukan Sendiri (Selfing)
Tahap kegiatan ini diawali dengan penentuan pohon jarak pagar yang dipilih untuk materi penelitian dilanjutkan dengan penutupan bunga menggunakan kantong kain kasa agar terjadi penyerbukan sendiri (selfing) dari masing-masing pohon terpilih. Pohon yang terpilih dipemelihara sampai saat panen buah yaitu kulit buahnya sudah berwarna kuning kecoklatan serta diperoleh benih untuk disemaikan pada tahap berikutnya.

(2) Produksi Bibit Generasi M1 Hasil Perlakuan Colchicine
Kegiatan tersebut diawali dengan penyemaian benih hasil panenan sebelumnya yang telah dikeringkan tidak langsung di bawah terik matahari. Penyemaian dilakukan pada polibag ukuran 2 kg yang berisi media campuran tanah dan pupuk kandang 1:1. Selama menunggu tumbuhnya benih tersebut dilakukan penyiapan larutan colchicine dengan cara menimbang serbuk/kristal colchicine masing-masing 0,1 g (100 mg); 0,3 g (300 mg); dan 0,5 g (500 mg) untuk masing-masing perlakuan konsentrasi 0,1%; 0,3% dan 0,5%; kemudian ditambah alkohol 90% sebanyak 10 tetes sampai larut dan ditambah aquades sampai volume 100 ml. Benih yang sudah berkecambah sebanyak sepuluh kecambah untuk tiap kombinasi perlakuan ditetesi larutan colchicine pada titik tumbuh kecambah yang tumbuh dan membuka kotiledonnya. Penetesan larutan colchicine dilakukan selama 8 kali pada pagi hari (05.30 wib) dan sore hari (17.00 wib) selama empat hari berturut-turut.
(3) Analisis dan Evaluasi Morfologi Bibit, Pertumbuhan Vegetatif bibit dan Anatomi Jaringan Daun Jarak Pagar Generasi M1
Kegiatan tersebut dilakukan setelah bibit tanaman jarak pagar hasil perlakuan penetesan larutan colchicine telah menumbuhkan minimal lima helai daun sejati.
Pengamatan morfologi meliputi: 1) kejadian pigmentasi (warna batang, warna daun, warna tulang daun), 2) bentuk daun, 3) persentase jumlah bibit yang tumbuh dibandingkan total benih ditanam, 4) tinggi bibit, diukur mulai permukaan tanah hingga titik tumbuh tertinggi, 5) diameter pangkal batang, diukur menggunakan jangka sorong.
Pengamatan anatomi jaringan daun bibit tanaman jarak pagar (generasi M1) tiap perlakuan dengan cara membuat preparat sayatan daun bagian bawah untuk mengamati ukuran stomata menggunakan mikroskop yang dilengkapi mikrometer. Stomata yang teramati dipotret untuk menunjukkan perbandingan kenampakan stomata dari tanaman kontrol dengan tanaman yang sudah diperlakukan dengan colchicine.

(4) Analisis Pola Sidik Jari DNA Berdasarkan Penciri RAPD Bibit Tanaman Generasi M1,
Analisis ini dilakukan terhadap daun muda bibit tanaman jarak pagar hasil perlakuan yang sudah tumbuh (generasi M1) yang mengindikasikan terjadinya poliploidi yaitu ukuran stomatanya lebih besar dari daun tanaman kontrol. Proses analisis molekuler tersebur terdiri dari:
a) Isolasi DNA Genom Bibit Tanaman Jarak Pagar Generasi M1
DNA genom tanaman jarak pagar diisolasi dari daun muda bibit tanaman jarak pagar generasi M1. Prosedur isolasi dan purifikasi DNA genom dari daun tanaman jarak pagar dilaksanakan berdasarkan metode Sambrook (1989) yang telah dimodifikasi dengan menggunakan buffer ekstraksi sodium dudocyl sulfate (Zainudin dan Maftuchah, 2006). DNA hasil isolasi yang telah dimurnikan, dihitung konsentrasinya dengan spektrofotometer. DNA dilarutkan dengan TE dan disimpan dalam suhu 40C. DNA genom tanaman jarak pagar hasil isolasi DNA selanjutnya dideteksi melalui proses elektroforesis pada 1% gel agarosa dengan voltase 100 V dengan waktu running selama 1 jam diteruskan dengan dilakukan pemotretan gell dengan polaroid. DNA genom tersebut telah siap dipergunakan sebagai cetakan (template) dalam reaksi Polimerase Chain Reaction.
b) Proses PCR DNA Genom Bibit Tanaman Jarak Pagar Generasi M1
DNA genom tanaman jarak pagar dipergunakan sebagai cetakan (template). Primer yang dipergunakan dalam reaksi PCR ini adalah sepuluh primer RAPD yang masing-masing berukuran sepuluh basa (Maftuchah dan Zainudin, 2006). Volume total reaksi PCR yang dipergunakan adalah sebanyak 25 l, terdiri dari campuran larutan yang terdiri dari DNA taq polimerase dan 10x buffer Taq Polimerase (100 mM Tris-Cl, pH 8.3; 500 mM KCl; 15 mM MgCl2; 0.01 % gelatin); dNTP’S mix (dGTP, dATP, dTTP dan dCTP) (Pharmacia); dH2O dan 30 ηg DNA cetakan. Kondisi untuk reaksi PCR dirancang sesuai dengan hasil penelitian pendahuluan yang telah dilakukan: pre denaturasi 94oC (2 menit), suhu Denaturasi 94oC (1 menit), Annealing 37oC (1 menit) dan perpajangan 72oC (2 menit) (Maftuchah dan Zainudin, 2006). Siklus reaksi PCR diulang sebanyak 40 kali.
c) Visualisasi Hasil PCR
Hasil amplifikasi DNA genom tanaman jarak pada proses PCR dideteksi dengan Elektroforesis Gel Poliakrilamid yang dilanjutkan dengan pewarnaan perak (silver staining). Pola pita inilah yang digunakan untuk deteksi polimorfisme alel DNA RAPD. Fragmen DNA produk PCR dideteksi dari pola pita yang berbeda hasil elektroforesis setelah diwarnai mengggunakan metode pewarnaan perak (silver staining) menurut petunjuk Guillemet and Lewis (Tegelström, 1986), yang telah dimodifikasi. Metode ini cukup efektif dalam mengurangi back ground dan meningkatkan sensitivitas.
d) Deteksi Alel-alel RAPD Tanaman Jarak Pagar Generasi M1
Analisis sidik jari DNA–RAPD dilaksanakan berdasarkan jumlah, frekuensi dan distribusi alel-alel DNA berdasarkan penanda RAPD. Fragmen dideteksi dari pola pita DNA yang berbeda hasil elektroforesis gel agarose dari produk PCR. Penentuan posisi pita DNA dilakukan secara manual (Leung et al., 1993). Beberapa hal yang dilakukan untuk memudahkan pengamatan: 1) Seluruh pita DNA dengan laju migrasi yang sama diasumsikan sebagai lokus yang homologus, 2) Masing-masing pita DNA ditandai (dapat menggunakan tinta berwarna), tiap tanda mewakili satu posisi pita DNA tertentu, yang dilakukan dengan menempelkan plastik transparan pada foto gel, 3) Bila jalur DNA yang dibandingkan terpisah satu sama lain, maka dapat digunakan bantuan alat (misal mistar) untuk membantu menentukan posisi pita DNA, 4) Data profil DNA merupakan data alel yang teramati dengan ketentuan ada dan tidaknya pita DNA berdasarkan ukuran produk PCR pada satu posisi yang sama dari beberapa individu yang dibandingkan.
Pita yang muncul pada gel diasumsikan sebagai alel RAPD. Keragaman alel RAPD ditentukan dari perbedaan migrasi alel pada gel dari masing-masing individu sampel. Berdasarkan ada atau tidaknya pita RAPD, profil pita diterjemahkan ke dalam data biner, untuk penyusunan matriks data biner yang diturunkan menjadi matriks kemiripan genetika (Nei dan Li, 1979). Analisis pengelompokan dan pembuatan dendogram dilakukan menggunakan metode Unweighted Pair-Group Method With Arithmetic (UPGMA) melalui program Numerical Taxonomy and Multivariate System (NTSYS) versi 1,8. Derajad ketelitian data UPGMA dianalisis dengan analisis bootstrap menggunakan program WinBoot. Berdasarkan informasi tersebut diharapkan dapat diperoleh pula informasi spesifik untuk tanaman jarak yang telah diberi perlakuan colchicine.

9) Jadwal Kegiatan Program

Bulan Ke…
No. KEGIATAN 1 2 3 4 5
1. Pemilihan, Penyiapan, pemeliharan pohon induk untuk proses selfing
2. Proses Penyerbukan Sendiri (Selfing)
3. Pemeliharaan buah dan penanganan benih
4. Penyemaian benih hasil selfing
5. Penyiapan dan perlakuan colchicine pada kecambah
6. Pemeliharaan bibit dan tanaman generasi M1
7. Analisis morfologi, pertumbuhan bibit dan anatomi jaringan daun jarak pagar generasi M1
8. Isolasi DNA genom, Reaksi PCR, Deteksi alel-alel RAPD tanaman jarak pagar generasi M1
9. Analisis data dan penulisan laporan

10) Nama dan Biodata Ketua serta Anggota Kelompok
1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Estherina Noventhi Subandi
b. NIM : 04710006
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/Agronomi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Alamat Rumah : Jln. WR Supratman Gang I No.43 RT 01 RW 01 Tulungagung 66212, Telp. O355-328005 / HP. 085233049828
g. Alamat Malang : Perum Landungsari Asri Blok C-79 Malang, Telp. 0341-462354
h. E-mail : Alvent@yahoo.com
i. Pengalaman Organisasi : 1. BEMFA Bidang Pendidikan dan Penalaran
2. HMI (Anggota)

2. Anggota Pelaksana I
a. Nama Lengkap : Denny Prasetyo
b. NIM : 05710004
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/Agronomi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Alamat Rumah : Jl. Abadi RT 01 RW 08 Kedungwaru-Ngelgok-Blitar 66181 JATIM
g. Alamat Malang : Jl. Tirto Utomo VI No. 27 Landungsari Malang-JATIM, HP. 085649721722
h. Pengalaman Organisasi : 1. BEMFA (Anggota Bidang Ke-Islaman)
2. FKI Al-Huda (Sekretaris Umum)

3. Anggota Pelaksana II
a. Nama Lengkap : Ari Kusuma Wardani
b. NIM : 06710038
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/Agronomi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Alamat Rumah : Desa Kerkep Kecamatan Gurah Kab. Kediri, Telp. 0354-546203
g. Alamat Malang : Jl. Tirto Utomo VI No. 9 Landungsari-Malang-JATIM, Telp. 0341-468682, HP. 085645283301
h. Pengalaman Organisasi : 1. HMJ Agronomi (anggota)
2. Tapak Suci (Kabid. Kesejahtera-an)

11) Nama dan Biodata Dosen Pendamping
1. Nama Lengkap : Ir. Agus Zainudin,MP.
2. NIP : 105.9109.0238
3. Golongan Pangkat dan : IIIc / Penata
4. Jabatan Fungsional : Lektor
5. Jabatan Struktural : -
6. Fakultas/Program Studi : Pertanian / Agronomi
7. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
8. Bidang Keahlian : Pemuliaan Mutasi Tanaman
9. Waktu untuk kegiatan : 8 jam/minggu

12) Biaya
No. Kebutuhan Penelitian Besar Biaya (Rp)
1. Bahan habis pakai
a. Benih tanaman jarak pagar 1 kg 50.000.00
b. Media tanam, pupuk, pestisida 150.000.00
c. Colchicine 250 mg, alkohol, aquades 750.000.00
d. Proses Isolasi DNA genom 1.000.000.00
e. Proses PCR RAPD 2.100.000.00
2. Peralatan penunjang PKM
a. Sewa sarana-prasarana laboratorium 650.000.00
b. Sewa sarana-prasarana kebun koleksi 250.000.00
3. Perjalanan (Malang-Asembagus 4 kali, Malang-Karangploso 4 kali) 700.000.00
4. Lain-lain (Dokumentasi, Analisis data, pelaporan) 350.000.00
JUMLAH 6.000.000.00

13) Daftar Pustaka
Anthony J.F., Griffiths, Jeffrey H. Miller, David T. Suzuki, Richard C. Lewontin, William M. Gelbart, 2000, An Introduction to Genetic Analysis, W.H.Freeman and Company, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ books/bv.fcgi?call=bv.View.ShowSection&rid=iga.section.3058
Biopact. 2007. Polyploid technology brings high yield energy crops. http://biopact.com/2007/03/polyploid-technology-brings-high-yield. html

BPPT. 2006. Biodisel. http://ec.bppt.go.id/biodiesel/index.htm

Brown, A.H.D., dan Young, A.G., 2000, Genetic Diversity In Tetraploid Populations Of The Endangered Daisy Rutidosis Leptorrhynchoides And Implications For Its Conservation, Journal Heredity, August Edition 2000, Vol. 85, No. 2, Pages 122-129, http://www.nature.com/hdy/journal/v85/ n2/full/ 6887420a.html

Correa, R. X.,Ricardo V. A., Fabio G. F. Cosme D. C., Maurilio A. M., dan Everaldo G. B., 1999. Genetic Distance in Soybean Based on RAPD Markers. (On line), http://www.scielo.br/scielo.php diakses 22 April 2004

Dwimahyani, I. 2006. Pemanfaatan Teknologi Nuklir Dalam Pengembangan Tanaman Jarak (Jatropha curcas L.) Sebagai Bahan Biodesesel / Budi Daya Tanaman Jarak (Jatropha curcas L.) Sebagai Tanaman Lorong di Lahan Bermasalah http://www.batan.go.id/mediakita/current/ mediakita.php

Hariyadi. 2005. Budidaya Tanaman jarak (Jatropha curcas L.) sebagai sumber bahan alternatif biofuel. Lokakarya prospektif sumberdaya lokal bioenergi. KNRT-Puspiptek Serpong. Jakarta 14-15 September 2007
Hasnam. 2006. Variasi Jatropha curcas L. Infotek Jarak Pagar. Volume 1, No. 2, Februari 2006. http://perkebunan.litbang.deptan.go.id /index. Php? Option=com_content&task=view&id=38&Itemid=7

Lavania. U.C. 1988. Enhanced productivity of the essential oil in the artificial autopolyploid of vetiver (Vetiveria zizanioides L. Nash). Euphytica Volume 38, Number 3 / July, 1988. http://www.springerlink.com/content/k11123l97567khj5/

Maftuchah dan Zainudin, A. 2006. Optimasi proses Polimerase Chain Reaction DNA genom tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). Jurnal Tropika.
Maftuchah. 2006. Analisis molekuler tiga aksesi jarak pagar (Jatropha curcas L) berdasarkan penanda Random Amplified Polymorphic DNA Program Penelitian Dasar Keilmuan. DPP-Universitas Muhammadiyah Malang
Mardjono, R., Sudarmo, H., dan Sudarmadji. 2006. Uji Daya Hasil Beberapa Genotipa Terpilih Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Prosiding Lokakarya II Status Teknologi Tanaman Jarak Pagar Jatropha curcas L. Bogor 29 Nopember 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Media Kita. 2006. Membuat minyak bio-diesel dari jarak pagar. http://www.batan.go.id/mediakita/current/mediakita.php
Mi-Seon Kim, Jae-Yeong, Kim, Jong-Seon Eun, 2003, Chromosome Doubling of a Cymbidium Hybrid with Colchicine Treatment in Meristem Culture, National Horticultural Research Institute, R. D. A., Suwon 440-310, Korea Dept. of Horticultural Science, Chonbuk National Univ., Chonju 560-756, Korea http://www.biolo.aichi-edu.ac.jp/NIOC2003poster/10KoreaCym.pdf

Orozco-Castillo C, Chalmers KJ, Waugh R, and Powell W. 1994. Detection of genetic diversity and selective gene introgression in coffee sing RAPD markers. Theor Appl Genet 87:934-940.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 2006. Infotek Jarak Pagar Volume 1, Nomor 2, Februari 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Sudarmo, H., Heliyanto, B., Suwarso, dan Sudarmadji. 2007. Aksesi potensial jarak pagar (Jatropha curcas L.). Prosiding Lokakarya II: Status Teknologi Tanaman Jarak Pagar di Bogor, 29 Nopember 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Tsevtkov-Raev, R., R. Jordanov, V. Zheljazkov. Induced Polyploidy In Lavender. 2006. International Society for Horticultural Science. ISHS Acta Horticulturae 426: International Symposium on Medicinal and Aromatic Plants. http://www.actahort.org/members/showpdf? booknrarnr=426_61
Urwin N, Horsnell, J and Moon T. 2005. Improvement of Lavender by Manipulation of Chromosome number. Lavender Bag, 23:5-1. http://www.rirdc.gov.au/comp04/eoi1.html
Welsh J and McCleland M. 1990. Fingerprinting genomes using PCR with arbitrary primers. Nucleic Acids Res. 18:7213-7218
Zainudin A. dan Maftuchah. 2006. Pengembangan metode isolasi DNA genom pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). GAMMA Jurnal Ilmu Eksakta Volume 2 Nomor 1: 20-32

14) Lampiran

1. Daftar Riwayat Hidup Ketua Pelaksana

Nama : Estherina Noventhi. Subandi
Alamat : Jln. Wr Supratman Gang I No. 43 RT/RW 1/1 Tulungagung 66212
Tempat Tanggal Lahir : Tulungagung 21 November 1985
Pendidikan:
1. SDN Kampung Dalem 02 Tulungagung Tahun 1992-1998
2. SLTPN 01 Tulungagung Tahun 1998-2001
3. SMUN Kedungwaru 01 Tahun 2001- 2004
Pengalaman Organisasi:
1. HMJ Agronomi ( Anggota)
2. BEMFA (Anggota Bidang Pendidikan Dan Penalaran)
3. HMI ( Anggota )

2. Daftar Riwayat Hidup Anggota Pelaksana I

Nama : Denny Prasetyo
Alamat : Jln. Jl. Abadi RT 01 RW 08 Kedungwaru-Nglegok-Blitar 66181 Jatim
Tempat Tanggal Lahir : Blitar 04 Agustus 1986
Pendidikan:
1. SDN Kemloko 01 Tahun 1993- 1999
2. SLTPN 01 Legok Tahun 1999- 2002
3. SMUN 01 Garum Tahun 2002- 2005
Pengalaman Organisasi:
1. BEMFA ( Anggota Bidang Ke-Islaman)
2. FKI Al-Huda ( Sekretaris Umum)

3. Daftar Riwayat Hidup Anggota Pelaksana I

Nama : Ari Kusuma Wardani
Alamat : Desa Kerkep Kecamatan Gurah Kab. Kediri, Telp. 0354-546203
Tempat Tanggal Lahir : Kediri, 06 Januari 1988
Pendidikan:
1. SDN Kerkep Tahun 1994- 2000
2. SLTPN 01 Gurah Tahun 2000- 2003
3. SMUN 01 Plosoklaten Tahun 2003- 2006
Pengalaman Organisasi:
1. HMJ Agronomi ( Anggota)
2. Tapak Suci ( Kabid. Kesejahteraan)

4. Daftar Riwayat Hidup Dosen Pendamping

Nama Lengkap : Agus Zainudin
Gelar Kesarjanaan : Ir. MP.
Jenis Kelamin : Laki-laki
NIP-UMM : 10591090238
Unit Kerja : Fakultas Pertanian – Univ. Muhammadiyah Malang.
Bidang Keahlian : Pemuliaan dan Genetika Tanaman
Pendidikan Akhir : Pasca Sarjana S-2 Program Studi Agronomi Program Pascasarjana UGM Yogyakarta tahun 2003
Alokasi Waktu : 8 jam / minggu
Lembaga : Universitas Muhammadiyah Malang
Jl. Raya Tlogomas 246 Malang – 65144
Telp. 0341-464318 / 464319 (Ext. 165)
Faximile. 0341-460782 / HP : 08123317247
e-mail: agusz@umm.ac.id / agszain@yahoo.com

A. Riwayat Pendidikan (dari sarjana muda / yang sederajat)
No Universitas/Institut dan Lokasi Gelar Tahun Selesai Bidang Studi
1. Fakultas Pertanian
Univ. Brawijaya , Malang Insinyur 1988 Budidaya Pertanian
2. Program Pascasarjana
Univ. Gadjah Mada,
Yogyakarta Magister
Pertanian 2003 Ilmu Tanaman

B. Pengalaman Kerja
No Institusi / Program Jabatan Periode Kerja
1. Dosen Luar biasa UMM Staff Pengajar 1989 – 1990

2. Dosen Tetap UMM Staff Pengajar 1991– sekarang
3. Lab. Komputer Pertanian Sekretaris 1992 – 1994
4. Pusat Pengembangan Bioteknologi (Pusbang Bioteknologi) UMM Staff Peneliti 1995 – sekarang
5. Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Sekretaris 1994 – 1997
6. Badan Pengembangan SDM UMM Sekretaris 2000 – 2003
7. Kebun Percobaan Faperta UMM Kepala Tahun 2003-2005
8 Lembaga Penelitian (Lemlit), Universitas Muhammadiyah Malang Manager Mutu 2005 – sekarang

C. Pengalaman Penelitian
No Judul Tahun Sumber Dana
1. Analisis molekuler tanaman mangga lokal dengan penciri Random Amplified Polymorphic DNA 2007 PDM DIKTI-Depdiknan
2. PCR-RAPD PLB Tanaman Anggrek Phalaenopsis sp. Hasil Perlakuan Penetesan Mutagen Kimia Colchicine 2006 DPP UMM
3. Produktifitas Tiga Varietas Hibrida Jagung Manis
( Zea Mays Sacharata Sturt. ) Pada Perlakuan Beberapa Dosis Pupuk Kascing 2005 DPP UMM
4. Respon Tiga Varietas Jagung Manis (Zea mays sacharata Sturt.) terhadap Pemberian Pupuk Organik 2004 DPP UMM
5. Kajian Potensi Hasil Buah Apel Batu Pada Sistem Pertanian Organik Dan An-Organik 2004 DPP UMM
6. Respon Beberapa Varietas Tanaman Paprika (Capsicum Annuum Var. Grossum L.) terhadap Pemberian Pupuk Organik pada Sistem Modifikasi Organic Greenhouse 2003 PDM DIKTI – Depdikbud
7. Induksi Mutagenik Beberapa Varietas Semangka dengan Perlakuan Kolkisin 2003 DPP UMM
8. Kajian Kuantitas dan Kualitas Hasil Beberapa Varietas Padi Sawah dengan Perlakuan Inokulasi Anabaena Azollae dan Pemberian Campuran Pupuk Kandang 2002 DPP UMM
9. Dekomposisi An-aerob Beberapa Limbah Organik dengan Inokulasi Campuran Mikroba Pengurai dan Uji Penerapan Komposnya pada Beberapa Varietas Tomat 2002 DPP UMM
10. Efektifitas Inokulasi Mikroba Tanah terhadap Dekomposisi Beberapa Limbah Organik serta Pengaruh Komposnya terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat 2001 PDM DIKTI-Depdikbud
11. Respon Beberapa Varietas Padi Sawah terhadap Pemberian Pupuk Organik dan Pupuk Hayati 2000 DPP UMM
12. Dekomposisi Kotoran Sapi dengan Inokulasi Campuran Mikroba Tanah dan Penggunaan Komposnya pada Tanaman Bawang 1999 DPP UMM
13. Pengaruh Inokulasi Berbagai Jenis Mikroba Tanah pada Dekomposisi Kotoran Sapi dan Pengujiaannya pada Tanaman Bawang Merah 1998 PDM DIKTI
14. Pengaruh Konsentrasi Nitrogen Terhadap Produksi Protein Mikroalga Anabaena azollae 1997 DPP UMM
15. Asosiasi Azolla-Anabaena sebagai Sumber Nitrogen Alami dan Pemanfaatannya sebagai Bahan Baku Protein 1997 PDM DIKTI
16. Pengaruh Pemberian Kompos Azolla sp. terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi IR64 1996 DPP UMM
17. Pengaruh Dosis Beberapa jenis Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Varietas Tanaman Semangka 1995 DPP UMM
18. Perlakuan Mutasi dengan Perlakuan Colchicine pada Beberapa Varietas Semangka 1994 DPP UMM

D. Daftar Karya Ilmiah / Publikasi Ilmiah
No Judul Publikasi, Tahun, Media / Jurnal
1. Zainudin, A. dan Maftuchah. 2006. Pengembangan metode isolasi DNA genom pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). GAMMA Jurnal Ilmu Eksakta 2(1) : 20-32
2. Zainudin, A. 2006. Optimasi Proses PCR-RAPD Pada PLB Tanaman Anggrek Oncidium sp. Hasil Perlakuan Penetesan Mutagen Kimia Colchicine. GAMMA Jurnal Ilmu Eksakta 1 (2) : 91-103
3. Maftuchah, A. Zainudin, J.B. Sulistiyanto and A.H. Kaswari. 1999. In Vitro Culture of Artemisia (Artemisia vulgaris L.) Through Callus Induction. Proceedings The International Biotechnology Conference. Jakarta.
4. Maftuchah, A. Winaya, A. Zainudin. 1999. Pengujian Berbagai Komposisi Media Selektif Terhadap Daya Tumbuh Sel Mikroalga Anabaena azollae. Prosiding Seminar Nasional PIT-PERMI, Padang
5. Maftuchah, A. Winaya, A. Zainudin. 1999. Kadar Nitrogen dan Kandungan Protein Mikroalga Anabaena azollae Pada Berbagai Konsentrasi Cobalt dalam Medium Bebas Nitrogen. Prosiding Seminar Nasional PIT-PERMI, Padang.
6. Maftuchah, A. Winaya, A. Zainudin. 1999. Pengaruh Tingkat Kemasaman Media Kultur Terhadap Biomassa dan Kandungan Protein Mikroalga Anabaena azollae. Prosiding Seminar Nasional PIT-PERMI, Padang
7. Zainudin, A. 1996. Pembentukan Semangka Poliploid dengan Perlakuan Mutasi Kimia Menggunakan Senyawa Kolkisin, Tropika II (2): 27-38

Malang, 29 September 2007

Ir. Agus Zainudin, MP.

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar

Pemanfaatan Ekstrak Pigmen Bunga Kana Merah (Canna coccinea Mill.) Sebagai Tablet Effervescent

A. JUDUL PROGRAM :
Pemanfaatan Ekstrak Pigmen Bunga Kana Merah (Canna coccinea Mill.) Sebagai Tablet Effervescent

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Di Indonesia tanaman kana (Canna coccinea Mill.) merupakan salah satu tanaman hias yang potensial. Tanaman ini memiliki warna bunga yang sangat beragam mulai dari merah tua, merah muda kuning, sampai dengan kombinasi dari warna-warna tersebut, karena keindahannya tersebut, maka tanaman kana mulai dipergunakan sebagai ornamen taman kota, dan sebagai tanaman hias dalam pot. Terlebih akhir-akhir ini di beberapa kota termasuk Kota Batu dilakukan penanaman bunga kana (“kananisasi”) di sepanjang jalan raya. Beragamnya warna bunga kana mengindikasikan bahwa bunga tersebut mengandung pigmen alami (antosianin, antosantin) yang dapat digunakan sebagai zat pewarna alami alternatif maupun sebagai antioksidan alami.
Pigmen bunga kana merah memiliki kandungan senyawa Flavonoid, tepatnya antosianin. Antosianin merupakan jenis dari flavonoid yang penting untuk diperhatikan sebab mempunyai beberapa respon positif bagi tubuh. Antosianin dan beberapa flavonoid lainnya banyak dikabarkan akhir-akhir ini bermanfaat didunia kesehatan seperti fungsinya sebagai antikarsinogen, antiinflamasi, antihepatoksik, antibakterial, antiviral, antialergenik, antitrombotik, dan sebagai perlindungan akibat kerusakan yang disebabkan oleh radiasi sinar UV dan sebagai antioksidan (Holton 1995; Macdougall 2002).
Antioksidan merupakan zat yang anti terhadap zat lain yang bekerja sebagai oksidan. Adanya antioksidan alami maupun sintetik dalam makanan dapat menghambat oksidasi lipida, mencegah kerusakan, perubahan dan degradasi komponen organik dalam bahan pangan sehingga dapat memperpanjang waktu simpan. Antioksidan alami dapat diperoleh dari ekstrak bagian tanaman rempah-rempah atau tanaman obat-obatan seperti akar, batang, daun, bunga, dan biji.
Biasanya kebanyakan orang mengenal tanaman ini sebagai tanaman hias belaka. Hanya sedikit orang yang mengetahui khasiat tanaman kana (Canna coccinea Mill.), walaupun demikian cara mereka memafaatkannya masih sangat tradisional dan jauh dari kesan yang praktis. Di zaman modern semacam ini banyak orang yang menuntut semuanya serba praktis dan instan termasuk masalah kesehatan pada diri mereka. Cara yang praktis dan instan tersebut sangat diminati masyarakat karena sebagian besar masyarakat memiliki mobilitas kehidupan yang sangat tinggi. Sehingga di sini peneliti mencoba untuk menginstankan bunga kana (Canna coccinea Mill.) menjadi salah satu produk effervescent agar lebih praktis dan mudah untuk dikonsumsi. Dengan bantuan tekhnologi yang semakin canggih diharapkan program ini dapat terealisasikan, serta dapat diharapkan pula effervescent Bunga kana instan ini lebih memudahkan masyarakat dalam mengkonsumsinya.
Berkembangnya obat-obat fitoterapi dan semakin berkembangnya perusahaan obat tradisional di Indonesia menunjukkan bahwa, penduduk Indonesia makin menyadari pentingnya gerakan back to nature dan mengetahui efek samping dari penggunaan bahan kimia baik dalam makanan maupun obat-obatan. Apalagi mengetahui bahwa kekayaan hayati negeri kita banyak yang memiliki khasiat dan fungsi sebagai sumber pangan dan menunjang vitalitas tubuh, serta dapat mencegah dan mengobati suatu penyakit, diantaranya adalah tanaman Kana Merah. Oleh karena manfaat bunga kana begitu besar bagi kesehatan untuk itulah peneliti membuat tablet Effervescent dari bunga kana merah.

C. PERUMUSAN MASALAH
Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam pembuatan tablet effervescent dari ekstrak pigmen bunga kana adalah sebagai berikut :
1. Jenis pelarut apakah yang efektif digunakan untuk mengekstrak pigmen bunga kana merah ?
2. Bagaimana pengaruh prosentase filler ( bahan pengisi) terhadap kualitas tepung pigmen yang dihasilkan ?
3. Bagaimana pengaruh prosentase penggunaan Na-bikarbonat terhadap kualitas tablet effervescent dari ekstrak bunga kana merah ?

D. TUJUAN PROGRAM
Tujuan Khusus yang ingin dicapai pada penelitian ini, antara lain :
1. Mengetahui cara metode yang tepat dalam melakukan ekstraksi pigmen bunga kana merah, khususnya jenis pelarut yang digunakan..
2. Mengetahui pengaruh prosentase filler (bahan pengisi) terhadap kualitas tepung pigmen bunga kana merah.
3. Mengetahui pengaruh prosentase penggunaan Na-bikarbonat terhadap kualitas tablet effervescent dari ekstrak bunga kana merah.
4. Menghasilkan produk tablet effervescent dari ekstrak pigmen bunga kana merah, agar
meningkat daya gunanya untuk masyarakat.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat diketahui metode ekstraksi yang tepat untuk memperoleh pigmen bunga kana merah secara maksimal, terutama jenis pelarut dan prosentase filler yang digunakan, untuk kemudian dapat dioptimalkan fungsinya sebagai bahan baku tablet efferevescent karena mengandung senyawa bioaktif yang dapat meningkatkan vitalitas atau menyehatkan masyarakat. Hasil penelitian akan dipublikasikan dalam bentuk artikel ilmiah.

F. KEGUNAAN PROGRAM
Adapun kegunaan yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah :
1. Aspek akademik : Menerapkan salah satu mata kuliah dari Jurusan Teknologi Hasil Pertanian bidang studi Analisa Pangan ( Hasil Pertanian) dan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian.
2. Aspek ekonomi : Dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dengan peningkatan budidaya tanaman (khususnya bunga Kana Merah) sebagai sumber bahan baku obat yang alami. Dan dapat menyediakan, menyerap lapangan kerja baru, dengan merintis terbentuknya usaha industrialisasi secara berkala dengan berbasis ekosistem atau kekayaan hayati lokal.
3. Upaya pengembangan tanaman kana (Canna coccinea Mill.) dengan pengolahan yang lebih bermafaat bagi masyarakat.

G. TINJAUAN PUSTAKA
G.1. Bunga Kana dan Potensinya
Tanaman kana (Canna coccinea Mill.) banyak dikenal dengan nama lili kana, kembang tasbih, panah india, ganyong hutan, puspa mjindra, ganyong wono, ganyong alas, dan ganyong leuweung. Organ utama tanaman kana terdiri dari akar (rimpang), batang semu, daun, bunga, buah, dan biji. Perakaran tanaman kana disebut rimpang (geragih), batangnya mengandung air (herbaceous) dan terbentuk dari pelepah-pelepah daun yang saling menutupi satu sama lain sehingga disebut “batang palsu”.
Daun tersusun dalam tangkai pendek dan tumbuh berselang-seling, berbentuk oval dengan ujung runcing. Permukaan daun bagian atas berwarna hijau, tembaga gelap atau keungu-unguan, sedangkan permukaan bagian bawah tertutup lapisan putih seperti bedak. Kuntum bunga berbentuk mirip corong, terdiri dari tiga sampai lima helai mahkota bunga yang berukuran kecil sampai besar tergantung jenisnya. Warna mahkota bervariasi, antara lain kuning cerah, kuning tua, merah muda, merah tua, jingga, kuning berbintik-bintik coklat atau kombinasi dari warna-warna tersebut (Rukmana, 1997).
Umbi bunga tasbih mengandung pati (tepung halus) serta banyak zat lain, yaitu enam substansi phenol, dua terpene, dan empat coumarin. Selain zat-zat tersebut, zat lain yang juga terdapat di dalamnya adalah glukosa, lemak, alkaloid, dan getah (Anonim, 2005).
Tanaman bunga kana, mudah tumbuh di sekitar halaman kita, jadi sebenarnya bisa dimanfaatkan. Terlebih akhir-akhir ini di beberapa kota termasuk Kota Batu dilakukan penanaman bunga kana (“kananisasi”) di sepanjang jalan raya. Padahal mahkota bunga yang beraneka warna berpotensi mengandung pigmen antosianin. Pada tahun 2002 hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak pigmen bunga kana merah tua terbukti mengandung antosianin berjenis pelargonidin glikosida, dengan kadar gula yang lebih banyak daripada bunga pacar air, yaitu sebesar 3,2%. Juga dapat menyumbangkan warna makanan-minuman (sari buah, susu fermentasi, jelly/agar-agar) meskipun hanya ditambahkan sebanyak 1-3%, tanpa menggunakan pewarna sintetis sama sekali. Karena sifatnya yang larut dalam air ini, maka pigmen antosianin dan antosantin relatif mudah dan berpeluang besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alamiah.
Yang lebih menggembirakan lagi adalah setelah diuji daya lindungnya terhadap komponen gizi yang mudah mengalami oksidasi, seperti vitamin C ) pada sari buah) dan lemak (pada susu fermentasi). Kandungan lemak pada susu fermentasi/yoghurt dapat dipertahankan 86,7%nya ( dengan kadar 0,117%, tanpa pigmen 0,087 %) setelah disimpan 6 hari pada suhu dingin maupun suhu kamar. Bahkan pigmen pekat yang telah disimpan selama 60 hari (suhu dingin/ cold storage) terbukti masih bagus menyumbangkan warna merah pada kue tradisional (apem, bolu kukus dan bikang).
Berdasarkan hasil uji organoleptik atau sensorik, penggunaan ekstrak bunga kana merah ini lebih sesuai digunakan untuk bahan pewarna alami produk minuman, misalnya sirup, sari buah dan yoghurt. Disamping rasanya yang sesuai, yaitu menyumbangkan warna dan rasa manis sedikit asam, juga penggunaan asam sitrat pada waktu ekstraksinya membantu menjadi bahan pengawet dan fungsi antioksidannya juga bersifat sinergis dengan pigmen antosianin ( Susanto, 1998; Rahardjo, 2004)
G.2. Pigmen Antosianin
G.2.1 Sifat Fisik Antosianin
Antosianin adalah kelompok pigmen yang berwarna merah sampai biru yang tersebar dalam tanaman. Pada dasarnya, antosianin terdapat dalam sel epidermal dari buah, akar, dan daun pada buah tua dan masak (Eskin, 1979 dalam Abbas 2003). Pada beberapa buah-buahan dan sayuran serta bunga memperlihatkan warna-warna yang menarik yang mereka miliki termasuk komponen warna yang bersifat larut dalam air dan terdapat dalam cairan sel tumbuhan (Fennema, 1976).
Menurut De Man (1997), pigmen antosianin terdapat dalam cairan sel tumbuhan, senyawa ini berbentuk glikosida dan menjadi penyebab warna merah, biru, dan violet yang banyak terdapat pada buah dan sayur. Antosianin berwarna kuat dan namanya diambil dari nama bunga. Sebagian besar, antosianin mengalami perubahan selama penyimpanan dan pengolahan. Beberapa studi mengatakan bahwa warna kuning, orange atau merah yang disebabkan oleh pigmen karotenoid ini terdapat dalam jumlah kecil (0,005-0,008% berat bahan segar) bersama-sama klorofil. Disamping itu, karotenoid terdapat pada jaringan yang tidak hijau sebagai kristal-kristal kecil dalam sitoplasma atau dalam membran yang membatasi kromoplas. Karotenoid yang terdapat pada bagian selain kloroplas dalam hal tertentu dapat terakumulasi sampai kurang lebih 0,1% berat bahan segar (Tranggono, 1990).
Berbeda dengan apa yang dikemukakan Macheix et.al (1990); Geissman (1969) bahwa antosianin ditampakkan oleh panjang gelombang dari absorbansi maksimal spektrum pada 500-550 nm dan pada spektrum ultraviolet 280 nm. Masing-masing jenis antosianin memiliki absorbansi maksimal seperti pada panjang gelombang jenis pelargonidin 520 nm (merah tua atau merah hati), sianidin 535 nm merah tua, dan delphidin 546 nm (biru lembayung muda). Intensitas warna dipengaruhi oleh kedaan pigmen dan yang paling berpengaruh adalah konsentrasi, pH dan suhu, sedangkan lainnya adalah cara penghancuran pigmen. Jenis antosianin ditentukan oleh harga Rf (retrogradation factor) pada fase gerak (mobil) yang nilainya dapat dilihat pada Tabel 1. berikut

Tabel 1. Harga Rf Antosianin dengan Beberapa Fase gerak/mobil
Jenis antosianin Rf (x100) dalam
BAA BuHCl 1% HCl
a. Monoglikosida
- Pelargonidin 3-glukosida
- Sianidin 3-glukosida
- Malvidin 3-glukosida
b. Diglikosida
- Pelargonidin 3,5 diglukosida
- Peonidin 3,5 diglukosida
- Delvidin 3,5 diglukosida
c. Triglikosida
- Sianidin3ramnosildiglukosida
d. Diglukosida terasilasi
- Pelargonidin 3 (p-umarilgluko-sida) 5-glukosida
44
38
38

31
31
15

25

40
38
25
15

14
10
3

8

46
14
7
6

23
8
8

36

61
Sumber : Harborne (1987).

G.2.2 Sifat Kimia Antosianin
Antosianin merupakan jenis dari flavonoid yang penting untuk diperhatikan sebab mempunyai beberapa respon positif bagi tubuh. Antosianin dan beberapa flavonoid lainnya banyak dikabarkan akhir-akhir ini bermanfaat didunia kesehatan seperti fungsinya sebagai antikarsinogen, antiinflamasi, antihepatoksik, antibakterial, antiviral, antialergenik, antitrombotik, dan sebagai perlindungan akibat kerusakan yang disebabkan oleh radiasi sinar UV dan sebagai antioksidan (Holton 1995; Macdougall 2002). Antosianin merupakan glukosida yang sebagian besar penyebab warna pada bunga merah dan biru, sedangkan antosianidin merupakan suatu tipe garam flavilium yang bukan merupakan gula dari glukosida. Warna tertentu yang diberikan oleh suatu antosianin, sebagian bergantung pada pH bunga. Warna biru bunga cornflower (bunga biru yang tumbuh di ladang gandum) dan warna merah bunga mawar disebabkan oleh antosianin yang sama, yakni sianin. Dalam sekuntum mawar merah, sianin berada dalam bentuk fenol. Dalam cornflower biru, sianin berada dalam bentuk anionnya dengan hilangnya sebuah proton dari salah satu gugus fenolnya. Dalam hal ini, sianin serupa dengan indikator asam basa (Fessenden,1982).
Frekuensi antosianin ketika bercampur, dikatakan oleh Fennema (1976), bahwa sebagain komponen campuran akan mengalami penambahan warna, misalnya kandungan anggur biru tidak hanya glikosida dari delfinidin tapi syringidin yang merupakan dimethyl eter dari delphinidin.
Menurut Winarno (2002), antosianin dan antoxantin tergolong pigmen yang tergolong senyawa flavonoid yang pada umumnya larut dalam air. Flavonoid mengandung dua cincin benzena yang dihubungkan oleh tiga atom karbon. Ketiga karbon tersebut dirapatkan oleh sebuah atom oksigen sehingga terbentuk cincin diantara dua cincin benzena. Struktur antosinin secara umum dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Struktur antosianin secara umum (Winarno, 2002)

Seluruh senyawa antosianin merupakan senyawa turunan dari kation flavilum. Banyak senyawa yang ditemukan, akan tetapi hanya enam yang memegang peranan penting dalam bahan pangan yaitu pelargonidin, sianidin, delfidin, pelargonidin, petunidin dan malvidin. Pigmen antosianin terdiri dari glikogen (antosianidin) yang teresterifikasi oleh satu atau lebih gula (Francis, 1985; Markakis, 1982).
Antosianidin pada umumnya ada enam. Antosianidin ini adalah aglikon antosianin yang terbentuk apabila antosianin dihidrolisis dengan asam. Antosianidin yang paling umum pada saat ini adalah sianidin yang berwarna merah lembayung. Warna jingga disebabkan oleh pelargonidin yang gugus hidroksilnya kurang satu dibanding sianidin, sedangkan warna merah senduduk, lembayung dan biru umumnya disebabkan oleh delfidin yang gugus hidroksilnya lebih satu dibandingkan dengan sianidin (Harborne, 1987).
Gross (1987), menyatakan bahwa lima puluh antosianin yang berbeda ditemukan dalam buah-buahan yang umum, aglikonnya diwakili oleh enam antosianidin umum seperti pelargonidin, sianidin, delfinidin, peonidin, pentunidin dan malvidin. Sianidin terdapat sebanyak 55%, peonidin dan delfinidin masing-masing sebanyak 12%, pelargonidin dan malvidin masing masing sebanyak 8% dan petunidin 6%. Strukturnya dapat dilihat pada Gambar 2.
Secara kimia, semua antosianin merupakan turunan suatu aromatik tunggal yaitu sianidin dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil atau dengan metilasi atau glikosilase (Harborne, 1987).

Pelargonidin Sianidin Delfinidin

Peonidin Petunidin Malvidin
Gambar 2. Struktur Kimia Pelargonidin, Sianidin, Depfidin, Peonidin, Petunidin dan Malvidin (Francis, 1985 and Markakis, 1982).
G. 3. Ekstraksi Pigmen
Proses ekstraksi adalah proses pengeluaran sesuatu dari campuran zat, dengan jalan ditambahkan bahan ekstraksi tepat pada waktunya. Hanya zat yang diekstrak yang dapat larut dalam bahan ekstraksi. Dalam proses ekstraksi terjadi peralihan dari fase yang satu ke fase yang lain, yang diperoleh dengan jalan penambahan penambahan bahan pelarut (solvent) (Wanto dan Romli, 1977).
Ekstraksi juga dapat diartikan sebagai proses pemisahan zat dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Berdasarkan bentuk campuran yang diekstrak, ekstraksi dibedakan menjadi dua macam, yaitu ekstraksi padat-cair: campuran yang diekstrak berbentuk padat, dan ekstraksi cair-cair: cairan yang diekstrak berbentuk cair. Ekatraksi berbentuk padat-cair paling sering digunakan untuk mengisolasi zat yang terkandung dalam bahan alami. Sifat-sifat seperti kepolaran, larutan bahan alami yang diisolasi berperan penting terhadap sempurnanya proses ekstraksi. Di samping pemilihan pelarut dan pengaturan suhu (Vogel, 1978).
Antosianin adalah senyawa polar yang lebih mudah diekstrak dalam suasana asam. Hasil penelitian Lestario, dkk (2005), menunjukkan bahwa ekstrak buah duwet dengan pelarut metanol-HCL 1% menghasilkan ekstrak dengan kadar antosianin tertinggi, diikuti oleh pelarut air, aseton-air (7:3), dan aseton.
Ekstraksi pigmen antosianin dari bahan nabati umumnya menggunakan pelarut HCl dalam metanol. Untuk kepentingan penelitian pangan, menurut Francis (1982), HCl dengan konsentarsi 1 % dalam larutan pengekstrak sudah mencukupi jika proses ekstraksi dilakukan selama 24 jam pada suhu 4oC. Penelitian Viguera et al. (1996), dalam mengekstrak bubur buah yang mengandung antosianin menggunakan pelarut metanol : asam asetat : air ( 25 : 1 : 24) selama 20 menit pada temperatur ruang.

G.4. Tablet Effervescent
Dasar formula minuman bubuk dan tablet efferfescent adalah reaksi antara senyawa asam (asidulan) dengan karbonat atau bikarbonat menghasilkan karbondioksida. Bila tablet dimasukkan ke dalam air, maka akan terjadi reaksi kimia secara spontan antara asam dan natrium membentuk garam natrium, CO2, serta air (Pulungan, Suprayogi dan Yudha., 2004)
Formula garam effervescent resmi yang ada unsur pembentuk effervescent terdiri dari 53% sodium bikarbonat, 28% asam tartrat dan 19% asam sitrat. Reaksi antara asam sitrat dengan sodium bikarbonat pada produk effervescent dapat dilihat pada berikut ini:
H3C6H5H2O + 3NaHCO3 Na3C6H5O7 + 4H2O + 3CO2
Asam sitrat Na bikarbonat Na sitrat air karbondioksida
Gambar 1. Reaksi antara asam sitrat dengan sodium bikarbonat (Ansel, 1989)
Tablet effervescent dapat dibuat dengan tanpa melibatkan cairan, dinamakan sebagai precompression atau prapengempaan. Proses ini terdiri dari pengeringan, pencampuran bahan-bahan tambahan, pengempaan serbuk atau granula sampai terbentuk tablet effervescent yang memiliki kemampuan menahan sifat-sifat effervescent. Kemudian segera dikemas dengan alumunium foil (Burlinso, 1968). Tablet effervescent yang ada di pasaran umumnya dikemas dalam kemasan tubedan alumunium foil dengan berat setiap tablet sekitar 5 gram
Keuntungan tablet effervescent adalah kemungkinan penyiapan larutan dalam waktu seketika. Selain itu tablet effervescent mempunyai kemampuan menghasilkan gas karbondioksida yang memberikan rasa seperti pada air soda. Adanya gas tersebut akan dapat menutupi beberapa rasa obat tertentu yang tidak diinginkan serta memperoleh proses pelarutan tanpa melibatkan proses pengadukan secara manual. Sedangkan kerugian tablet effervescent adalah kesukaran untuk menghasilkan produk yang stabil terhadap kelembaban udara. Bahkan selama reaksi berlangsung, air yang dibebaskan dari bikarbonat menyebabkan autokatalis dari reaksi (Lachman et al., 1986). Hal ini terutama dipengaruhi oleh unsur-unsur pembentuk effervescent yang terdiri dari sodium bikarbonat dan asam organik seperti asam sitrat sehinggga menghasilkan garam natrium, karbondioksida serta air (Ansel, 1989).
Tabel 2. Analisa Kimia dari Tablet effervescent Calcium-D-Redoxon (CDR)
Kekerasan Tablet 38 kg/cm2
Kadar Air 0.993 %
Viskositas 9.4
pH 6.8
Kecepatan Larut 0.028
Sumber : Data Hasil Analisa Kimia pada Laboratorium Kimia, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang (2007)

G.5. Pengeringan
Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas. Biasanya kandungan air dari bahan tersebut dikurangai sampai suatu batas tertentu agar mikroba tidak dapat tumbuh lagi didalamnya (Winarno, dkk, 1980).
Pengeringan merupakan salah satu cara pengawetan pangan yang paling tua. Cara ini merupakan suatu proses yang ditiru dari alam. Untuk pengeringan bahan pangan terdapat berbagai tipe pengering yang digunakan. Pada umumnyapemilihan tipe pengering ditentukan oleh jenis komoditi yang akan dikeringkan, bentuk air yang dikehendak, faktor ekonomi dan kondisi operasional.
Bahan pangan dapat dikeringkan didalam udara, dalam uap lewat panas, dalam panas, dalam gas inert, dan aplikasi panas langsung. Paa umumnya udara digunakan sebagai medium pengering, sebab jumlahnya cukup banyak. Mudah digunakan dan pemanasan yang berlebihan terhadap bahan pangan kedalam bahan pangan tidak ada suatu sistem pengambilan air yang diperlukan terhadap udara, seperti yang diperlukan dengan gas-gas lain. Pengeringan dapat dilakukan dengan berangsur-angsur, dan adanya kecenderungan menjadi gosong dan berubah warna selalu terkendali (Desrosier, 1988).
Faktor- faktor utama yang mempengaruhi kecepatan pengeringan dari suatu bahan pangan adalah; sifat fisik dan kimia dari produk (bentuk, ukuran, komposisi, kadar air), pengaturan geometris produk sehubungan dengan permukaan alat atau media perantara pemindahan panas (suhu, kelembaban dan kecepatan udara), karakteristik alat pengering (efensiasi pemindahan panas) (Buckle, et. All., 1987).

G.6. Bahan Penstabil
G.6.1 Sukrosa
Sukrosa mempunyai sifat sedikit higroskopis dan mudah larut dalam air. Semakin tinggi suhu, kelarutannya semakin besar. Menurut Tranggono (1990) satu gram sukrosa dapat larut dalam 0,5 ml air pada suhu kamar atau 0,2 ml dalam air mendidih, dalam 170 ml alkohol atau 100 ml metanol. Kristal sukrosa bersifat stabil diudara terbuka dan dalam keadaan yang langsung berhubungan dengan udara dapat menyerap uap air sebanyak 1% dari total berat dan akan dilepaskan kembali apabila dipanaskan pada suhu 90˚C (Sudarmadji, 1982).
Rumus struktur sukrosa dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 3. Rumus Struktur Sukrosa (Fennema, 1996).
Sukrosa merupakan salah satu jenis bahan penyalut tablet. Bahan ini dapat digunakan untuk melapisi tablet dengan tujuan untuk melindungi terhadap peruraian obat dengan oksigen atmosfer atau kelembaban, untuk membungkus rasa dan bau dari zat obat, atau untuk tujuan estetik (Ansel, 1989).

G.7. Bahan Pengisi
G.7.1 Maltodekstrin
Maltodekstrin (C6H12O5)nH2O memiliki berat molekul rata-rata kurang lebih 1800 untuk DE 10. Berat molekul ini jauh lebih kecil dari pati alami yang memiliki berat molekul sekitar 2 juta (Jacson dan Lee 1991). Menurut Hui (1992), maltodekstrin dapat digunakan pada makanan karena memiliki sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat yang dimiliki maltodekstrin antara lain maltodekstrin mengalami proses dispersi yang cepat, memiliki daya larut yang tinggi, mampu membentuk film, memiliki sifat higroskopis yang rendah, mampu membentuk body, sifat browning rendah, mampu menghambat kristalisasi dan memiliki daya ikat yang kuat.

G.8. Bahan Tambahan
G. 8. 1. Asam Sitrat
Asam sitrat adalah asidulan yang sering digunakan untuk makanan dan minuman karena dapat memberikan kombinasi sifat yang diinginkan selain karena tersedia dalam jumlah yang besar dengan harga yang murah. Asidulan dapat berfungsi sebagai pemberi rasa asam, penegas rasa dan mengontrol PH (Hui, 1992). Asidulan yang dapat berfungsi sebagai pemberi rasa asam, penegas rasa dan warna, pengawet serta dapat digunakan untuk menyelubungi after taste yang tidak disukai (Winarno, 2004).
Rumus struktur asam sitrat dapat dilihat pada gambar berikut:

COOH

CH2

HO C COOH

CH2

COOH
Gambar 4 . Struktur Bangun Asam Sitrat (Tjokroadikoesoemo, 1986).

Menurut Marthawindholz (1983), kristal monohidrat akan kehilangan air kristalnya dalam udara kering atau dipanaskan pada suhu 40 – 50˚C. Menurut Maga and Tu (1995) asam sitrat digunakan sebagai asidulan utama dalam minuman berkarbonasi juga minuman bubuk yang memberikan rasa jeruk yang tajam. Menurut Reynold (1989) asam sitrat yang digunakan dalam effervescent umumnya yang dalam bentuk monohidrat. Morhle (1989) menambahkan bahwa asam sitrat sering dipergunakan sebagai memberi asam dalam pembuatan serbuk atau tablet effervescent karena memiliki kelarutan yang tinggi dalam air dingin, mudah didapatkan dalam bentuk granula atau serbuk. Kelemahan asam sitrat adalah sifatnya yang sangat higroskopis sehingga memerlukan perhatian yang cukup dalam penyimpanannya.

G. 8. 2. Sodium Bikarbonat
Sodium bikarbonat (NaHCO3) merupakan serbuk kristal berwarna putih yang memiliki warna asin dan mampu menghasilkan karbondioksida. Sodium bikarbonat memiliki berat molekul 84,01g (tiap gramnya mengandung 11,9 mmol sodium), sodium bikarbonat anhidrat terkonvensi pada suhu 250˚C – 300˚C. Pada RH diatas 85% akan cepat menyerap air dari lingkungannya dan menyebabkan dekomposisi dengan hilangnya karbondioksida (Reynolds, 1989). Menurut Hui (1991), bahwa sodium bikarbonat juga dapat mengalami dekomposisi karena adanya panas yaitu pada suhu lebih tinggi dari 120˚C.
Berdasarkan Morhle (1989), senyawa karbonat yang banyak digunakan dalam formulasi effervescent adalah garam karbonat kering karena kemampuannya menghasilkan karbondioksida. Garam karbonat tersebut antara lain Na-bikarbonat (NaHCO3) dipilih sebagai senyawa penghasil karbondioksida dalam sistem effervescent karena harganya murah dan bersifat larut sempurna dalam air. Ansel (1989) menambahkan bahwa natrium bikarbonat bersifat non-higroskopis dan tersedia secara komersial mulai dari bentuk bubuk sampai bentuk granular dan mampu menghasilkan 52% karbondioksida.
Sodium bikarbonat sering juga disebut sebagai soda kue. Ada dua macam soda kue yaitu soda kue dengan aktifitas cepat (aktifitas tinggi) dan soda kue dengan aktifitas lambat (aktifitas ganda). Perbedaan keduanya adalah pada mudah tidaknya komponen asam atau pembentuk asam, larut pada air dingin (Winarno, 2004).

H. METODE PENELITIAN
H.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Agustus s/d Desember 2008, di Laboratorium Analisa Pangan dan Laboratorium Rekayasa Pangan Tekhnologi Hasil Pertanian jurusan Tekhnologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.

H.2. Alat dan Bahan Penelitian
H.2.1 Alat
Peralatan yang diperlukan dalam pembuatan tablet effervescent adalah kain saring, gelas ukur, sarung tangan karet, timbangan, blender kering, loyang, pengering vakum, ayakan 60 mesh, cetakan tablet (terdiri : landasan dari baja berlapis chrom stainless steel (ukuran panjang = 9 cm, lebar = 7 cm), cincin/ring dari logam stainless steel (ukuran diameter dalam = 2,7 cm, tingggi =2 cm), dan as penumpuk dari baja berlapis chrom stainless steel dengan (ukuran panjang = 10 cm, diameter luar = 2,6 cm) Sedangkan peralatan untuk analisa adalah gelas kimia, gelas ukur, erlenmeyer, beaker glass, pipet gongok, pH meter (pH315i/SET merek: wtw), color reader (CR-10 Konika Minolta) hardness tester (Kiya Seisakusho,Ltd Tokyo).

H.2.2 Bahan
Bahan utama yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah Bunga kana merah diperoleh dari petani bunga yang berada di Batu . Bahan-bahan tambahan lain yaitu Aguades, Isopropanol, Etanol, asam sitrat, sodium bikarbonat, sukrosa, dektrosa monohidrat. dan maltodekstrin.
H.3. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua tepung pigmen dan tablet effervescent yang dihasilkan dari kombinasi perlakuan yang dicobakan. Sampel dalam penelitian ini adalah tablet effervescent dan minuman yang dihasilkan.
H.4. Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahapan. Tahap penelitian awal meliputi tahapan ekstraksi dengan beragam jenis pelarut, guna mengetahui metode ekstraksi yang menghasilkan pigmen yang berkualitas. Kemudian penelitian berikutnya adalah memproses ekstrak pigmen terbaik menjadi tepung pigmen dan selanjutnya dibentuk menjadi tablet effervescent.
Pelaksanaan penelitian tahap pertama dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) sederhana, yaitu menggunakan faktor perlakuan adalah jenis pelarut.
Faktor I : jenis pelarut yang digunakan ekstraksi pigmen bunga kana merah
P 1 : Aquades dan asam sitrat ( 9 : 1)
P 2 : Isopropanol : aquades : asam sitrat ( 4 : 5 : 1)
P 3 : Etanol : aquades : asam sitrat ( 4 : 5 : 1)
Sehingga terdapat tiga (3) perlakuan yang akan diulang sebanyak tiga (3) kali
Pengamatan dilakukan terhadap kualitas pigmen yang dihasilkan meliputi, jenis pigmen, nilai pH, absorbansi pigmen ( filtrat, konsentrat) (Spektrofotometer UV) (Jenie, dkk, 1997), intensitas warna ( Lab)( Colour reader) (Fabre, et al, 1993), kadar dan rendemen pigmen. Kemudian setelah diketahui kualitas pigmen yang terbaik ( menggunakan analisis statistik), maka akan dilanjutkan pada tajhap penelitian kedua.
Penelitian tahap kedua disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok secara faktorial, dengan faktor yang masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali.

Perlakuan :
Faktor I. Prosentase filler yang digunakan pada saat penepungan pigmen
F1 = 20 %
F2 = 30 % (dekstrin)
Faktor II. Prosentase Na-bikarbonat yang digunakan pada pembentukan tablet effervescent.
N1 = 20 %
N2 = 25 %
N3 = 30 %
Sehingga diperoleh 6 kombinasi perlakuan, dan akan diulang sebanyak 3 kali.
Pengamatan terhadap kualitas tepung, meliputi pengukuran rendemen, nilai pH, nilai Lab ( intensitas warna) ( Colour reader) (Fabre, et al, 1993). Kemudian setelah menjadi tablet effervescent, dilakukan pengamatan terhadap nilai pH, tingkat kekerasan, kadar air, viskositas dan kecepatan larut ( setelah dimasukkan kedalam air) serta organolpetik ( tingkat kesukaan konsumen) terhadap kenampakan, aroma dan rasa .

H.5. Pengumpulan Data
Teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut :
a. Pengamatan data dilakukan terhadap kualitas pigmen bunga kana merah yang dihasilkan, meliputi nilai pH, absorbansi pigmen, intensitas warna (Lab), kadar, rendemen pigmen.
b. Pengamatan data dilakukan terhadap tepung pigmen, meliputi : nilai pH,
absorbansi pigmen, nilai Lab (intensitas warna)
c. Pengamatan terhadap tablet effervescent meliputi tingkat kekerasan . tekstur, daya larut, pH, intensitas warna (Lab), viskositas, organoleptik (tingkat kesukaan konsumen terhadap kenampakan, aroma dan rasa )

H.6. PENGUKURAN PENGAMATAN
H.6. 1. Penemuan Intensitas Warna (Fabre et al., 1993)
Warna sampel hasil ekstraksi ditentukan dengan alat ACS Datacolor Chroma Sensor 3, yang mngukur spectrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat warna seperti L, a dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan system tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-); axis b menunjukkan intensitas warna
kuning (+) atau biru (-).

H.6.2. Penentuan kadar air
Cara Pemanasan
a) Menimbang contoh sebanyak 2 g dalam botol timbang yang telah diketahui beratnya.
b) Kemudian mengeringkan dalam oven pada suhu 1000 C selama 5 jam. Kemudian mendinginkan dalam eksikator dan menimbang. Memanaskan lagi dalam oven selama 30 menit, mendinginkan dalam eksikator dan menimbang; mengulang perlakuan ini sampai tercapai berat konstan (selisih penimbangan berturut-turut kurang dari 0,2 mg).
c) Pengurangan berat merupakan banyaknya air dalam bahan (Sudarmadji, dkk, 1997).
Kadar Air = x 100%
H.6.3. Penentuan pH
Menentukan pH dilakukan dengan pH meter yang dilakukan dengan cara
a) Menghidupkan pH meter. Mengkalibrasi elektroda dengan larutan buffer pH 4 dan membersihkan dengan aquades. Kemudian mengkalibrasi lagi elektroda pada larutan buffer pH 7 dan bilas dengan aquades.
b) Siapkan larutan sampel yang akan diuji pada wadah. Mencelupkan alat pendeteksi (elektroda) kedalam larutan yang akan diuji kemudian membaca hasilnya (Apriyanto dkk, 1998).

H.6.4. Penentuan Absorbansi Pigmen
Menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang tertentu (400-600 nm). Cara kerjanya : siapkan larutan sampel dan larutan blangko dalam kuvet/tabung, kemudian kuvet-kuvet tersebut dimasukkan secara bersama supaya alat tera. Dengan menggunakan panjang gelombang tertentu akan diperoleh nilai absorbansi larutan sampel yang maksimal. Jika larutan standar juga disediakan, maka dengan membandingkan nilai absorbansinya dengan larutan sampel, maka akan dapat diketahui juga kadar antosianinnya dalam larutan sampel.

H.6.5. Penentuan Rendemen (Hanum, 2000)
Perhitungan rendemen berdasarkan berat/volume input dan output yang dihasilkan proses ekstraksi (ekstrak atau konsentrat), dengan rumusan :
Rendemen (%) = konsentrasi antosianin x fp x volume ekstrak x 100 %
Berat bunga pacar air
Dimana : fp = faktor pengenceran (Hanum, 2000)

H.6.6. Pembuatan Tablet Effervescent Ekstrak Pigmen Bunga K ana Merah
Ekstrak kering pigmen bunga kana yang telah diperoleh kemudian dibuat menjadi tablet effervescent dengan cara sebagai berikut:
1. Dicampurkan ekstrak kering bunga kana dengan asam sitrat. Dihomogenisasi dan penggerusan dengan mortal.
2. Dikeringkan pada suhu 60oC selama 1 jam
3. Dicampurkan sodium bikarbonat dan sukrosa dengan cara digerus menggunakan mortal sampai bahan tercampur merata. .
4. Dilakukan penggranulasian kering dengan cara campuran diatas dicetak sebesar tiga kali lipat dari tablet kemudian didiamkan selama 30 menit dan selanjutnya dihancurkan menjadi bentuk granula diatas ayakan 40 mesh dengan alu sehingga didapatkan granula inti 40 mesh
5. Pengepresan menjadi bentuk tablet dengan tebal ±0,5 cm, diameter ±2,5cm, dan bobot ±5 gram.
6. Dikemas tablet effervescent mangkudu dengan aluminium foil.
7. Dianalisa sifat fisik, kimia, dan organoleptik.
Diagram alir proses pembuatan ekstrak kering mengkudu serta proses pembuatan tablet effervescent dapat dilihat pada Gambar. 5 dan 6.

H.6.7. Analisa
Analisa yang dilakukan baik untuk tablet effervescent bunga kana merah (Canna coccinea Mill.) meliputi analisa fisik, kimia, dan organoleptik. Analisa fisik antara lain viskositas, kekerasan tablet, kecepatan larut, dan warna. Sedangkan analisa kimia yang dilakukan adalah kadar air, dan pH. Analisa organoleptik meliputi analisa kesukaan terhadap: kesukaan bentuk tablet, kenampakan minuman, aroma minuman, dan rasa minuman.
1) Analisa Fisik
Analisa fisik yang dilakukan pada tablet effervescent meliputi, warna, kecepatan larut, viskositas minuman dan kekerasan tablet.

a. Warna (Yuwono dan Susanto, 1998)
Warna tablet diukur dengan dengan alat ACS Datacolor Chroma Sensor 3 yang mengukur spektrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat seperti L, a, dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan sistem tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-), axis b menunjukkan intensitas warna kuning (+) atau biru (-). Peneraan warna dilakukan menggunakan kuvet yang pada masing-masing sisinya dirtutup dengan warna putih.

b. Kecepatan Larut (Yuwono dan Susanto, 1998)
Kecepatan larut tablet effervescent dilakuan dengan cara melarutkan tablet dalam 200 ml air. Waktu yang diperlukan tablet untuk larut sampai habis dicatat, kemudian kecepatan larut tablet dihitung dengan rumus berikut:

Kecepatan larut = berat tablet (g)
Waktu larut (detik)

c. Viskositas Metode Pipet Volum (Yuwono dan Susanto, 1998)
Viskositas minuman effervescent diukur menggunakan metode pipet volum, karena viskositas minuman effervescent sangat rendah. Caranya adalah dengan memasukkan larutan tablet ke dalam pipet gondok 25 ml, kemudian bagian atas pipet ditutup dengan jari. Larutan kemudian dialirkan dengan cara membuka penutup, kemudian waktu yang digunakan sampai larutan keluar dari pipet dicatat. Waktu ini kemudian digunakan untuk mengukur viskositas larutan dengan ketetapan:
Viskositas (cps) = 0,8901 x 10223,3 x (waktu larut (dt)/997,1)
4,37
d Kekerasan Tablet Effervescent Bunga Kana (Canna coccinea Mill.) (Yuwono dan Susanto, 1998)
a). Pengukuran kekerasan bahan dilakukan dengan Hardness Tester berdasarkan gaya per satuan luas (kg/cm2) yang dibutuhkan untuk memecahkan tablet. Semakin keras maka semakin besar gaya yang dibutuhkan.
b). Meletakkan sampel pada penumpu Hardness Tester, kemudian memutar perlahan untuk menaikkan landasan sampai menyentuh landasan bagian atas, tapi jarum tetap menunjuk di angka nol.
c). Memutar pegangan perlahan-lahan sampai sampel patah, bersamaan itu jarum penunjuk gaya kembali ke nol.
d). Angka terakhir jarum penunjuk adalah gaya yang dibutuhkan untuk mematahkan sampel.

2) Analisa kimia
Analisa Kimia pada tablet effervescent meliputi:
a. Penentuan pH Tablet dan larutan (Sudarmadji, 1982)
Mula-mula dilakukan standarisasi pH meter, yaitu dengan menyalakan dan membiarkan pH meter beberapa saat agar stabil. Elektroda dibersihkan dengan tissue kemudian dimasukkan dalam larutan buffer dan pengukuran pH dilakukan. Pengaturan standarisasi pH meter disesuaikan dengan pH larutan buffer.
Sampel dimasukkan dalam beaker glass. Elektroda dibilas dengan aquades dan dikeringkan dengan kertas tissue. Elektroda dicelupkan kedalam larutan sampel dan pengukuran pH dilakukan. Elektroda dibiarkan tercelup beberapa saat sampai diperoleh pembacaan angka yang stabil dan pencatatan pH sampel.

b. Penentuan Intensitas Warna Minuman (Yuwono dan Susanto, 1998)
Warna sampel hasil ekstraksi ditentukan dengan alat ACS Data Color Chroma Sensor 3 yang mengukur spektrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat seperti L, a, dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan sistem tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-), axis b menunjukkan intensitas warna kuning (+) atau biru (-). Peneraan warna dilakukan menggunakan kuvet yang pada masing-masing sisinya dirtutup dengan warna putih.

3) Kadar Air
Kadar air tablet diukur menggunakan metode oven kering. Caranya adalah sebagai berikut:
a. Menimbang 2 gram sampel dan dimasukkan ke dalam cawan, dan dinyatakan sebagai berat awal.
b. Mengoven sampel pada suhu 100 – 110ºC selama ± 5 jam.
c. Menimbang sampel yang sudah kering dan dinyatakan sebagai berat akhir.
d. Menghitung kadar air pada tablet dengan rumus sebagai berikut:
% kadar air = berat awal-berat akhir x 100%
Berat sampel

c. Uji Organoleptik (Soekarto, 1985)
Uji yang dilakukan terhadap tablet dan larutan tablet minuman effervescent bunga kana (Canna coccinea Mill.) dilakukan secara panel test menggunakan uji sensoris kerelaan. Daftar pertanyaan diajukan menurut cara Hedonic Scale Scoring. Hasilnya dinyatakan dalam angka, yaitu 7 (sangat menyukai), 6 (menyukai), 5 (agak menyukai), 3 (agak tidak menyukai), 2 (tidak menyukai), 1 (sangat tidak menyukai).

H.6.8. Penentuan Perlakuan Terbaik (De Garmo, Sullivan dan Canada, 1984)
Pemilihan perlakuan terbaik ditentukan dengan menggunakan metode indeks efektivitas dan perlakuan dengan perhitungan sebagai berikut:
1. Memberikan bobot nilai pada masing-masing parameter mutu dengan nilai relative dari 0 hingga 1. Bobot nilai yang diberikan tergantung dari kepentingan masing-masing parameter yang hasilnya diperoleh sebagai akibat perlakuan.
2. Menentukan bobot normal variable. Yaitu bobot variable dibagi bobot total.
3. Menghitung Nilai Efektifitas (NE) dengan rumus:
Nilai Efektifitas = Nilai perlakuan – nilai terjelek
Nilai terbaik – nilai terjelek
4. Menjumlahkan nilai hasil (NH) dari semua variable perlakuan terbaik dipilih dari perlakuan dengan nilai tertinggi.

Pencucian

Penghancuran

Air Penyaringan Ampas

Filtrat

Dekstrin : 20 %, 30 %

Pencampuran

Pengeringan
(60o selama 6-8 jam)

Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Gambar 5. Diagram Alir Pembuatan Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Homogenisasi

Pengeringan (60oC, ± selama 1-2 jam)

– Sodium bikarbonat
20 %, 25%, 30%
– Sukrosa

Penggranulasian Kering

Granula Inti 40 mesh

Pencetakan Tablet

Tablet effervescent Bunga Kana Merah

Gambar 6. Diagram Alir Pembuatan Tablet Effervescent Bunga Kana Merah

I. JADWAL KEGIATAN
I.1. Rencana Kegiatan
Rencana kegiatan keseluruhan memerlukan waktu kurang lebih 5 bulan. Dilaksanakan di Laboratorium Analisa Pangan dan Rekayasa Pangan Tekhnologi Hasil Pertanian Jurusan Tekhnologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, bersama anggota dan dosen pembimbing.

I.2. Jadwal Pelaksanaan

No Kegiatan Bulan Ke-1 Bulan Ke-2 Bulan Ke-3 Bulan Ke-4 Bulan Ke-5
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan √
2. Perizinan √
3. Survey lokasi √ √
4 Penyusunan proposal √ √
5. Penelitian pendahuluan √ √
6. Persiapan alat √ √
7. Pembelian bahan baku √ √
8. Proses pembuatan produk √ √ √ √ √
9. Analisa kimia dan fisik √ √ √ √ √ √
10. Pengolahan data √ √
11. Penyusunan laporan akhir √ √
12. Seminar √ √
13. Penggandaan proposal √ √

J. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK
1. Ketua pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Husni Thamrin
b. NIM : 05730010
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• TK Nurul Iman Bekasi lulus tahun 1991
• SD Negeri Narogong Indah Bekasi lulus tahun 1997.
• SMP Negeri 16 Bekasi lulus tahun 2000
• SMU Pangeran Jayakarta lulus tahun 2003
Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

2. Anggota
a. Nama Lengkap : Ika Ratna Austin
b. NIM : 05730001
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 10 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• TK Dharma Wanita lulus tahun 1992
• SD Negeri Pagerngumbuk 1 Wonoayu lulus tahun 1999.
• SMP Negeri 1 Krian lulus tahun 2002.
• SMU Negeri 3 Sidoarjo lulus tahun 2005.
• Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

3. Anggota
a. Nama Lengkap : Eka Rini Wibisono
b. NIM : 06730019
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 10 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• SD Muhammadiyah 08 Dau Malang lulus tahun 2000
• SLTP Negeri 8 Malang lulus tahun 2003
• SMA Negeri 3 Malang lulus tahun 2006
• Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

K. Biodata Dosen Pendamping
1. Nama : Ir. Elfi Anis Saati,MP
2. NIP-UMM : 131944789
3. Tempat/tanggal lahir : Pasuruan, Jawa Timur, 21 Juni 1966
4. Jenis kelamin : Perempuan
5. Pangkat/Golongan : Pembina / IV-a
6. Jurusan/Fakultas : Teknologi Hasil Pertanian
7. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
8. Alamat rumah : Perum.Muara Sarana Indah F 11, Jetis,Desa
Mulyoagung, Kec. Dau- Malang, Telp. (0341)
461472
9. Waktu Kegiatan PKM : 6 jam/minggu
10. Riwayat Pendidikan : 1. Strata 1 Jurusan Gizi Masyarakat
&Sumberdaya Keluarga (GMSK) IPB,
Bogor, lulus tahun 1989.
2. Strata 2 Program Studi THP Pasca Sarjana
Universitas Brawijaya, Malang,lulus tahun 2002.
11. Pengalaman Pekerjaan : – Dosen Jurusan THP Faperta UMM, tahun 1991
hingga sekarang.
– Sekretaris Jurusan THP Faperta UMM, tahun
2001 – 2002
- Ketua Jurusan THP Faperta UMM, tahun 2002
hingga sekarang (2007)
12. Pengalaman Penelitian dan Publikasi :

Publikasi :
1.Ekstraksi dan Identifikasi Pigmen Antosianin Bunga Pacar Air (Proseding).
Disampaikan pada Seminar Nasional PATPI. 30-31 Juli 2002.
2.Potensi Bunga Pacar air Sebagai Pawarna Alami pada Produk Minuman.
TROPIKA Vol. 10, No.2, Majalah Ilmiah Terakrediatsi Fakultas Pertanian,
Universitas Muhammadiyah Malang ( Juli 2002).
3. Karakterisasi Pigmen Antosianin dari Bunga Pacar Air (Impatien balsamina
Linn).TROPIKA. Vol. 12, No.1, Majalah Ilmiah Terakreditasi Fakultas
Pertanian,Universitas Muhammadiyah Malang ( Januari 2004).
4. Bunga Mawar sebagai Pewarna Alami. Surya dan Kompas, 13 Oktober 2004.
5. Penggalian Potensi Bunga Kana sebagai pewarna Alami alternatif (Kajian
Stabilitas dan Efektivitas Bentuk Pigmen serta Aplikasinya pada Produk
Pangan). Proseding.Disampaikan pada Seminar Nasional dan Konggres PATPI
17-18 Desember 2004 di Jakarta.
6. Pengaruh Tingkat Kesegaran Bunga Mawar Merah (Rosa damascena Mill)
terhadap Kualitas Zat Warna dan Daya Antioksidasinya pada Minuman.
Proseding. Disampaikan pada Seminar Nasional dan Konggres PATPI 17-18
Desember 2004 ( sebagai makalah POSTER) di Jakarta.
7. Pemanfaatan Kekayaan Hayati/Bunga lokal (mawar, kana dan pacar air)
sebagai Zat pewarna dan Antioksidan alami pada Makanan. Proseding.
Disampaikan pada Seminar Kimia Nasional 3 Pebruari 2005 di Universitas
Surabaya (Unesa).

Penelitian :
1. Pengaruh Pupuk Organik terhadap Kualitas Semangka dan Selera Konsumen (1998 )
2. Pengaruh Konsentrasi Garam dan Medianya terhadap Kualitas Telur Asin ( 1999 )
3. Pengaruh Beberapa Penelitian Pendahuluan terhadap Kualitas Susu
Kedelai (2000)
4. Pemanfaatan Lidah Buaya Sebagai Minuman : Kajian Pengaruh Suhu
dan Essence Jeruk terhadap Kualitas Sari Lidah Buaya (Aloe vera)
(2002)
5. Studi Pengetahuan dan Perilaku Keamanan Pangan Jajanan Murid
Sekolah di SD Muhammadiyah 08 Malang (2001)
6. Pemanfaatan Bunga Mawar (Rosa sp.) Sortiran Sebagai Pewarna Alami (2002)
7. Pemanfaatan Bunga Kana sebagai Zat Pewarna Alami Alternatif ( 2003)
8. Pemanfaatan Pigmen Bunga Mawar Rontok sebagai Pewarna Alami pada Makanan Jajanan (2004).
9. Uji Efektivitas Ekstrak Pigmen Bunga Mawar Sortiran sebagai Zat Pewarna Alami Alternatif pada Produk Minuman (2005). Dosen Muda-DIKTI.

13. Pengalaman Pengabdian :

1. Pelatihan Pembuatan Susu Kedelai di Desa Tumpak Rejo kecamatan Kalipare Kabupaten Malang (2001)
2. Pelatihan Pembuatan Keripik Talas dengan Aneka Rasa di Desa Kalipare Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang (2001)
3. Pelatihan Pembuatan Kecap Air Kelapa di Dusun Kedungmonggo Desa KarangPandan Kecamatan Pakisaji kabupaten Malang (2002).
4. Pelatihan Penanganan Pasca Panen Tanaman Obat dengan Topik Metode Pengawetan, pengeringan dan pengemasan, di Pondok Pesantren annuqayah (KSM/Kelompok Swadaya Masyarakat lengkong) Guluk-guluk Sumenep Madura (2002).
5. Pelatihan Pembuatan Lidah buaya intans dan STMJ pada mahasiswa peserta KKN Universitas Muhammadiyah Malang (2003).
6. Sosialisasi Pemanfaatan Kekayaan Hayati/Bunga lokal (mawar, kana dan
pacar air) sebagai Zat pewarna dan Antioksidan alami pada Makanan,
Kosmetik dan Kerajinan Lain, di SMA Negeri 3 Lumajang dan di SMA
Negeri Bangil Pasuruan, tahun 2005

L. RENCANA ANGGARAN BIAYA
Alokasi Jumlah Harga Jumlah
1. Honor Dosen Pendamping
2. Bahan dan alat habis pakai
* Bunga Kana Merah
* Aquades
*Asam Sitrat
* Sodium bikarbonat 20%, 25 %, 30%
* Maltodekstrin
* Sukrosa
* Kertas whatnan no 41/42
* Petroleum eter
* Isopropanol
* Etanol
Sub total
3. Alat habis pakai
* Timbangan Analitik
* Penyaring Vakum tipe VWR Scientific
Scientific
* Blender
* Rotary evaporator Vacum
* Spektrofotometer UV-vis merk shimadju
* Cetakan Tablet
* pH meter/CG 832 School Gerale
* trimulus Colorimeter/color Reade CR-10
* Oven
Sub total
4. Perjalanan dan konsumsi :
Pelaksana (3) orang
Pendamping (1 orang)
Sub total
5. Analisa Kimia
* Kadar air
* Kadar gula
Sub total
6. Lain-lain
Publikasi hasil penelitian
Dokumentasi
Laporan, fotocopy, penjilidan, pengiriman
Sewa lab dan pemeliharaan alat pemakaian
Pemakaian telpon, fax, internet
Tinta printer, kertas
Sub total

60 tangkai
20 lt
200 g
1 Kg
1 Kg
1 Kg
20 lbr
250 ml
500 ml
500 ml

1 buah
36 Jam @ 5.000

10 hari @ 10.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000

3 orang @50.000x 5 bln
5 bln @ 50.000

2 roll film + cuci cetak
10 expl
5 bln @ 40.000

B/W, warna 3 rim Rp. 1.000.000,-

Rp. 120.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 200.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,- +
Rp. 1.020.000,-

Rp. 70.000,-
Rp. 180.000,-

Rp. 100.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,- +
Rp. 1.430.000,-

Rp. 750.000,-
Rp. 250.000,- +
Rp. 1.000.000,-

Rp. 200.000,-
Rp. 300.000,- +
Rp. 500.000,-

Rp. 200.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 200.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 200.000,- +
Rp. 1.050.000,-
Total Rp. 6.000.000,-
Total Dana Yang diperlukan Untuk Penelitian ini sebesar Rp. 6.000.000,-

M. Daftar Pustaka

Anonim. 2005. Bunga Tasbih. http//ipteknet.com
Anonim, 2006. Gelembung Gas Effervescent. Kompas. 7 September 2006.

Ansel, H.1989. Pangantar Bentuk-Bentuk Sediaan Farmasi Edisi ke-4. UI
press. Jakarta.

Buckle, K. A. Edwards, G. H Fleet and M. Wotton. 1987. Ilmu Pangan.
Diterjemahkan oleh Purnomo, A. Adiono. UI-Press. Jakarta.

De Man, J. M. 1989. Principle of Food Chemistry (terjemahan Kosasih).
Van Norstand Reinhold. A Division of Wadswort., Inc., New York.

Eskin, N. A. M., 1979. Plant Pigments, Flavors and Tekstures. The
Chemistry and Biochemistry of Selected Compounds. Academic
Press. London.

Fennema, O. R. 1996. Food Chemistry. Marcel Dekker, inc. New York.

Fessenden and Fessenden. 1982. Kimia Organik edisi ketiga. Erlangga.Jakarta
Francis, F. J. 1982. Analysis of Anthosianin. Di dalam Markakis, P., (ed). Anthocyanin as Food Colour. Academic Press. New York.
___________. 1985. Analysis of Anthosianin. Di dalam Fennema, O.R. Principle of Food Science. Marcell Dekker Inc., New York.

Giese, J. 1996. Antioxidants: Tool Food Preventing Lipid Oxidation. Antioxidants are Critical in Preserving Lipid-Containing Food from Rancidity ang Extending Shelf life. J. Food Tech. 50 (11): 73-810.

Gross, J. 1987. Pigment in Fruits. Academic Press. London.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fetokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Penerbit Institut Teknologi Bandung. Bandung.
Hidayat, Nur; dan Dania, W.A.P., 2005. Minuman Berkarbonasi dari Buah Segar. Trubus Agrisarana, Surabaya.

Hui, Y. H. 1992. Encyclopedia of Food Scince and Technology Vol. I. Jhon Wiley and Sons, Inc. New York.

Jacson, L., and K. Lee. 1991. Microeacapsulation and Food Industry. Lebenson-Wiss-U-Technol. 24:289-297.

Marthawindholz, E. 1983. An Encyclopedia of Chemical, Drugs, and Biologicals The Merck Indeks. 10 th Ed. Merck and Co, Inc. New York

Markakis, P., 1982. Anthocyanins as Food Additive. Di dalam Markakis,P. (ed). Anthocyanins as Food Colors. Academic Press, New York.

Morhle, R. 1989. Effervescent Tablets. Dalam Nugroho, S. 1999. Penambaan Komponen Berprotein Pada Minuman Serbuk Effervescent. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.

Pohan, H.G dan Antara, N.T., 2001. Pengaruh Penambahan Madu dan Asam Sitrat Terhadap Karakteristik Minuman Fungsional Dari Sari Buah Mengkudu. Forum Komunikasi Industri Hasil Pengolahan (no 4):11-20.

Pulungan, M.Hindun., Suprayogi danBeni Yudha. 2004. Membuat Effervescent Tanaman Obat. Trubus Agrisarana. Surabaya.

Rukmana, R.H. 1997. Bunga Kana. Kanisius. Yogyakarta.
Sa’ati E.A. 2005. Optimalisasi Fungsi Ekstraksi Bunga Kana (Canna coccinea Mill) Sebagai Zat Pewarna Dan Antioksidan Alami Melalui Metode Isolasi Dan Karakteristik Pigmen. Program Penelitian Fundamental Lemlit UMM. Malang.

Tjokroadikoesoemo, P.S.,1986. HFS dan Industri Ubi Kayu Lainnya. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Tranggono. 1990. Kimia, Nutrisi dan Makanan. PAU Pangan dan Gizi. UGM-Press. Yogyakarta.

Vogel, A.I. 1978. Texbook of Practical Organic Chemistry. Revised by Furnies, B.S. fourth Edition. New York.

Wanto dan M. Romli. 1977. Alat-alat Industri Kimia I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Winarno, F.G. dan Fardiaz, S., 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Pt. Gramedia, Jakarta.
Winarno, F.G., 1993. Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
—————-., 2002. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Winarno, F. G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 5 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 741 pengikut lainnya.