BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

PENGARUH BERBAGAI MACAM DOSIS EKSTRAK TANAMAN PULE (ALSTONIA SCHOLARIS) PADA GLUKOSA TIKUS YANG MENDERITA DM

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pule disebut Alstonia scholaris R Br, termasuk ke dalam famili tumbuhan Apocynaceae. Tanaman ini dikenal dengan naman daerah pule, lame, polay, hanjalutung, kayu skala, rita atau lita-lita. Pulai (Alstonia sp) merupakan tumbuhan asli Indonesia dan penyebarannya cukup luas di Indonesia.  Pulai tumbuh  mulai dari ketinggian 10 – 1250 m dpl dengan variasi tapak yang beragam baik pada areal rawa, gambut, pasang surut maupun daerah kering (Martawidjaja, 1981).

Pulai (Alstonia spp.) merupakan salah satu jenis tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Jenis ini termasuk indigenous species dan cepat tumbuh (fast growing species), serta mempunyai sebaran hampir di seluruh wilayah Indonesia (Soerianegara dan Lemmens, 1994). Pulai sangat prospektif untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman karena kegunaan kayu pulai cukup banyak dan saat ini permintaannya cukup tinggi. Kegunaan kayu pulai antara lain untuk pembuatan peti, korek api, hak sepatu, kerajinan seperti wayang golek dan topeng, cetakan beton, pensil slate, dan pulp (Samingan, 1980 dan Martawijaya et al., 1981). Beberapa industri yang menggunakan bahan baku kayu pulai adalah industri pensil slate di Sumatera Selatan, industri kerajinan topeng di Yogyakarta, dan industri kerajinan ukiran di Bali.

Kulit batang pule (Alstonia scholaris R.Br.) merupakan tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Indonesia. Dari studi pustaka, kulit batang pule berkhasiat sebagai penurun demam, meningkatkan selera makan, mengobati radang ginjal, obat kencing manis, obat malaria, obat tekanan darah tinggi dan obat cacing

Tumbuhan ini kaya dengan kandungan kimia, yang sudah diketahui antara lain: Kulit batang: saponin, flavonoida dan polifenol. Alkaloid : ditamine (C18H19NO3), ditaine (echititamine), echi-kaoetchine. Zat pahit : echeretine, echicherine. Selain itu, dalam farmakologi Cina dan pengobatan tradisional lain disebutkan bahwa tanaman ini memiliki sifat; pahit, anti piretik, anti malaria, anti demam,anti hipertensi/ anti andenergik, melancarkan saluran darah.

Diabetes Mellitus adalah penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah (hiperglikemi) dan kadar gula yang tinggi pula dalam air seni (glukosuria). Penyakit Diabetes Mellitus biasanya herediter (menurun) dan merupakan penyakit metabolik sebagai akibat dari tubuh yang kekurangan insulin efektif yang merubah gula darah menjadi gula otot (glikogen).

WHO telah mendefenisikan 3 jenis diabetes: Diabetes Tipe 1, biasanya tediagnosa sejak usia kanak-kanak.is usually diagnosed in childhood. Tubuh penderita hanya sedikit menghasilkan insulin atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan insulin, oleh karena itu untuk bertahan hidup penderita harus mendapat suntikan insulin setiap harinya. Tanpa pengaturan harian, kondisi darurat dapat terjadi.

Diabetes Tipe 2, lebih umum ditemui daripada type 1 dan mencapai 90% atau lebih dari seluruhj kasus diabetes. Biasanya terjadi di usia dewasa. Pada tipe-2 ini, pankreas tidak cukup membuat insulin untuk menjaga level gula darah tetap normal, seringkasili disebabkan tubuh tidak merespin dengan baik terhadap insulin tersebut.Kebanyakan orang tidak menyadari telah menderita dibetes tipe-2, walaupun keadaannya sudah menjadi sangat serius. Diabetess type 2 sudha menjadi umum dialami didunia maupun di Indonesia, dan angkanya terus bertambah akibat gaya hidup yang tidak sehat, kegemukan dan malas berolahraga, dan Gestational diabetes, adalah kondisi gula darah yang tinggi yang terjadi pada masa kehamilan, terjadi pada orang yang tidak menderita diabetes. Umunnya akan kembali normal setelah masa kehamilan.

Banyak faktor resiko diabetes, termasuk diantaranya: Ayah atau Ibu, saudara laki-laki atau perempuan yang menderita diabetes (faktor keturunan), Kegemukan, Usia diatas 45 tahun, Gestational diabetes atau melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 Kg, Tekanan darah tinggi, Angka Triglycerid (salah satu jenis molekuk lemak) yang tinggi, Level kolesterol yang tinggi, Gaya hidup modern yang cenderung banyak mengkonsumsi makanan instan. Perokok, dan Stress.

Diabetes Melitus menempati urutan ke-4 dalam ranking pembunuh manusia. Kongres Federasi Diabetes International tahun 2003 menyebutkan bahwa sekitar 194 Juta orang di dunia menderita penyakit ini. Di Indonesia sendiri tercatat 2,5 juta orang dan diperkirakan akan terus bertambah. Berdasarkan pola pertambahan penduduk , diperkirakan pada tahun 2020 nanti akan ada sejumlah 178 juta penduduk berusia diatas 20 tahun dan dengan asumsi prevalensi DM sebesar 4 % akan didapatkan 7 juta pasien DM. Sedangkan menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes. Namun, pada tahun 2006

diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 persen yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30 persen yang datang berobat teratur.

Berdasarkan latar belakang diatas maka diharapakan tanaman pule akan dapat digunakan dan dijadikan alternative oleh masyarakat untuk pengobatan penyakit diabetes mellitus yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

Apakah dengan menggunakan ekstrak kulit batang tanaman pule dapat menurunkan kadar glukosa pada hewan percobaan tikus?

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui apakah dengan menggunakan ekstrak kulit batang pule dapat menurunkan kadar glukosa pada hewan percobaan tikus.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini memberikan beberapa manfaat diantaranya untuk masyarakat adalah: memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai tanaman pule yang dapat digunakan dalam mengobati Diabetes Melitus, dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat terutama penderita Diabetes Melitus untuk mengobati penyakitnya.

Sedangkan manfaat bagi peneliti sendiri adalah dapat mempelajari lebih dalam mengenai tanaman pule untuk pengobatan Diabetes Melitus sehingga lebih memperkaya pengetahuan peneliti terhadap berbagai macam penelitian yang nantinya dapat diaplikasikan kepada masyarakat.

1.5 Batasan Penelitian

Batasan penelitian kali ini adalah tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah pule (Alstonia scholaris) terutama pada bagian kulit batang, dan penyakit yang diteliti pada percobaan kali ini adalah diabetes melitus.

1.6 Definisi Istilah

Ekstrak adalah sediaan sari pekat tumbuhan atau hewan yang diperoleh dengan cara melepaskan zat aktif dari masing-masing bahan (Zainal, 2007).

Diabetes mellitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup (Agus, 2005).

BAB II

STUDI PUSTAKA

2.1 Tanaman Pule

2.1.1 Klasifikasi

Divisio             : Magnoliophyta

Class                : Magnoliopsida

Ordo                : Gentianales

Famili              : Apocynaceae

Genus              : Alstonia

Spesies            : Alstonia scholaris (Chevalier, 2000)

2.1.2 Morfologi

Ciri-ciri umum dari Alstonia scholaris adalah pohon mencapai 40 m, daun berkarang 3-8, tulang daun banyak. Perbungaan terminalis atau pada ketiak daun yang terletak di bagian ujung cabang, memiliki ibu tangkai bunga, percabangan utamanya memayung. Bunga umumnya putih atau putih kehijauan, kecil. Buah berupa bumbung, berpasangan (Hendrian, 1999).

Dari hasil pengamatan lapang didapatkan data bahwa daun tersusun melingkar atau berkarang 5-7 helaian, berbentuk lonjong, panjang tangkai daun 1,5-3 cm. sedangkan batang pohon yang sudah tua beralur sangat jelas dengan sayatan berwarna krem dan mengeluarkan banyak getah berwarna putih. Diamaer batang ± 16 cm. perbungaan terminalis, panjang tangkai perbungaan 7-13 cm, bunga tergolong bunga banci, berbilangan 5, panjang bunga lebih dari 1 cm, berwarna putih, krem atau hijau, kelopak berbagi, daun mahkota berlekatan membentuk buluh yang relative panjang, bakal buah menumpang, dikelilingi cakram. Buah berupa bumbung berpasangan 20-50 cm. biji bersayap/berambut, lembaga besar, dan lurus (Tjitrosoepomo, 2002).

2.1.3 Daerah Persebaran dan Habitat

Menurut valkenberg dan Bunyapraphatsara (2002), persebaran Alstonia scholaris cukup luas, antara lain di Sri Langka, Indo-China, kawasan malesia, Australia hingga kepulauan pasifik. Toleran terhada berbagai-macam tanah dan habitat, dijumpai sebagai tanaman kecil yang tumbuh di atas karang atau bagian tajuk dari hutan primer dan  sekunder.  Banyak dijumpai di dataran rendah/pesisir dengan curah hujan tahunan 10003800 mm. Juga dijumpai pada ketinggian diatas 1000 m dpl.  Salah satu sifat adalah dapat tumbuh di atas tanah dangkalTidak tumbuhy pada sebaran alami yang suhunya kurang dari 8ºC, yang menunjukkan jenis ini tidak tahan udara dingin.

Di alam, jenis-jenis Alstonia umumnya tumbuh di daerah terbuka, bersemak, atau hutan campuran, pada ketinggian 50-1.500 m dpl (Hendrian dan Hadiah, 1999). Di tempat alaminya, Alstonia scholaris dapat tumbuh di atas tanah dangkal dan tidak dapat tumbuh pada tempat denga  temperatur udara kurang dari 80 C. banyak dijumpai di daratan rendah dan pesisir dengan curah hujan tahunan 1.000 – 3.800 mm. Namun dapat dijumpai pula di daerah dengan mencapai ketinggian 1.000 m dpl. Tanaman ini toleran terhadap berbagai macam tanah dan habitat. Dapat dijumpai pula sebagai tanaman kecil yang tumbuh di atas karang atau bagian tajuk dari hutan primer dan sekunder (Anonim, 2001).

Menurut Hendrian dan Hadiah (1999), Alstonia scholaris dapat ditemukan pada daerah dengan ketinggian tempat antara 500 sampai dengan 1000 meter di atas permukaan laut. Sedangkan menurut Heyne (1987) Alstonia scholaris tumbuh tersebar di seluruh nusantara, di Jawa umumnya tumbuh pada ketinggian di bawah 900 m dpl.

2.1.4 Pemanfaatan

Selain itu, Alstonia scholaris bermanfaat sebagai tanaman obat tradisional. Kulit kayunya digunakan sebagai obat demam, malaria, sakit perut, batuk dan disentri. Kandungan kimia yang terdapat pada Alstonia scholaris diantaranya ekitamina dan alstonamina (Valkenberg dan Bunyapraphatsara, 2002). Kayunya yang tidak awet, hanya memungkinkan untuk konstruksi ringan di dalam ruangan atau untuk pulp dan kertas. Juga digunakan sebagai bahan-bahan kerajinan, misalnya patung dan topeng serta papan tulis sekolah. Di Sri Langka banyak digunakan sebagai kayu bakar dan dikelola dengan daur pendek (6-8 Tahun), tetapi tidak terlalu baik jika digunakan sebagai arang.

Di dalam kehidupan masyarakat Hndu Bali, kayu pule ini banyak dimanfaatkan untuk digunakan sebagai bahan kerajinan patung dan topeng serta sebagai salah satu piranti upacara. Selain kayunya, daun juga digunakan dalam upacara Pitra Yadnya sebagai salah satu komponen yang diramu dalam sesajen/banten, yang berupa jejangan urap (Sayuran).

2.2 Diabetes Melitus

2.2.1 Pengertian

Diabetes mellitus (DM) berasal dari kata Yunani diabaínein, yang berarti “tembus” atau “pancuran air”, dan dari kata Latin mellitus yang berarti “rasa manis”.Di Indonesia (dan negara berbahasa Melayu) lebih dikenal sebagai kencing manis. Diabetes Mellitus adalah penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah (hiperglisemia) yang terus-menerus dan bervariasi, terutama setelah makan. Sumber lain menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan diabetes mellitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron.

Semua jenis diabetes mellitus memiliki gejala yang mirip dan komplikasi pada tingkat lanjut. Hiperglisemia sendiri dapat menyebabkan dehidrasi dan ketoasidosis. Komplikasi jangka lama termasuk penyakit kardiovaskular (risiko ganda), kegagalan kronis ginjal (penyebab utama dialisis), kerusakan retina yang dapat menyebabkan kebutaan, serta kerusakan saraf yang dapat menyebabkan impotensi dan gangren dengan risiko amputasi. Komplikasi yang lebih serius lebih umum bila kontrol kadar gula darah buruk.

Diabetes melitus sering disebut sebagai the great imitator, karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan, gejalanya sangat bervariasi. Diabetes melitus jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan timbulnya komplikasi pada berbagai organ tubuh seperti mata, ginjal, jantung, pembuluh darah kaki, syaraf, dan lain-lain. Penderita diabetes melitus dapat mengalami beberapa komplikasi bersama-sama atau terdapat satu masalah yang mendominasi, yang meliputi kelainan vaskuler, retinopati, nefropati diabetik, neuropati diabetik dan ulkus kaki diabetik.

2.2.2 Macam-macam Diabetes Melitus

Menurut WHO secara umum Diabetes Mellitus dibagi menjadi 3 Macam yaitu:

a. Diabetes Melitus Tipe 1

Diabetes mellitus tipe 1 dulu disebut insulin-dependent diabetes (IDDM, “diabetes yang bergantung pada insulin”), atau diabetes anak-anak, dicirikan dengan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Sampai saat ini diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah. Diet dan olah raga tidak bisa menyembuhkan ataupun mencegah diabetes tipe 1. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umumnya normal pada penderita diabetes tipe ini, terutama pada tahap awal.

Penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta pada diabetes tipe 1 adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh.

Saat ini, diabetes tipe 1 hanya dapat diobati dengan menggunakan insulin, dengan pengawasan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor pengujian darah. Pengobatan dasar diabetes tipe 1, bahkan untuk tahap paling awal sekalipun, adalah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketosis dan diabetic ketoacidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan kematian. Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olahraga). Terlepas dari pemberian injeksi pada umumnya, juga dimungkinkan pemberian insulin melalui pump, yang memungkinkan untuk pemberian masukan insulin 24 jam sehari pada tingkat dosis yang telah ditentukan, juga dimungkinkan pemberian dosis (a bolus) dari insulin yang dibutuhkan pada saat makan. Serta dimungkinkan juga untuk pemberian masukan insulin melalui “inhaled powder”.

Perawatan diabetes tipe 1 harus berlanjut terus. Perawatan tidak akan mempengaruhi aktivitas-aktivitas normal apabila kesadaran yang cukup, perawatan yang tepat, dan kedisiplinan dalam pemeriksaan dan pengobatan dijalankan. Tingkat Glukosa rata-rata untuk pasien diabetes tipe 1 harus sedekat mungkin ke angka normal (80-120 mg/dl, 4-6 mmol/l). Beberapa dokter menyarankan sampai ke 140-150 mg/dl (7-7.5 mmol/l) untuk mereka yang bermasalah dengan angka yang lebih rendah. seperti “frequent hypoglycemic events”. Angka di atas 200 mg/dl (10 mmol/l) seringkali diikuti dengan rasa tidak nyaman dan buang air kecil yang terlalu sering sehingga menyebabkan dehidrasi. Angka di atas 300 mg/dl (15 mmol/l) biasanya membutuhkan perawatan secepatnya dan dapat mengarah ke ketoasidosis. Tingkat glukosa darah yang rendah, yang disebut hypoglycemia, dapat menyebabkan kejang atau seringnya kehilangan kesadaran.

b. Diabetes Melitus Tipe 2

Diabetes mellitus tipe 2 dulu disebut non-insulin-dependent diabetes mellitus (NIDDM, “diabetes yang tidak bergantung pada insulin”) — terjadi karena kombinasi dari “kecacatan dalam produksi insulin” dan “resistensi terhadap insulin” atau “berkurangnya sensitifitas terhadap insulin”(adanya defek respon jaringan terhadap insulin)yang melibatkan reseptor insulin di membran sel. Pada tahap awal abnormalitas yang paling utama adalah berkurangnya sensitifitas terhadap insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah. Pada tahap ini, hiperglikemia dapat diatas dengan berbagai cara dan Obat Anti Diabetes yang dapat meningkatkan sensitifitas terhadap insulin atau mengurangi produksi glukosa dari hepar, namun semakin parah penyakit, sekresi insulinpun semakin berkurang, dan terapi dengan insulin kadang dibutuhkan. Ada beberapa teori yang menyebutkan penyebab pasti dan mekanisme terjadinya resistensi ini, namun obesitas sentral (fat concentrated around the waist in relation to abdominal organs, not it seems, subcutaneous fat) diketahui sebagai faktor predisposisi terjadinya resistensi terhadap insulin, mungkin dalam kaitan dengan pengeluaran dari adipokines ( nya suatu kelompok hormon) itu merusak toleransi glukosa. abdominal gemuk Adalah terutama aktip hormonally. Kegendutan ditemukan di kira-kira 90% dari pasien dunia dikembangkan mendiagnose dengan jenis 2 kencing manis. Lain faktor boleh meliputi mengeram dan sejarah keluarga, walaupun di dekade yang ter]akhir [itu] telah terus meningkat mulai untuk mempengaruhi anak remaja dan anak-anak.

Diabetes tipe 2 boleh pergi tak ketahuan bertahun-tahun dalam suatu pasien [sebelum/di depan] hasil diagnosa [sebagai/ketika] gejala yang kelihatan adalah secara khas lembut atau yang tidak ada,, tanpa ketoacidotic, dan dapat sporadis.. Bagaimanapun, kesulitan yang menjengkelkan dapat diakibatkan oleh jenis tak ketahuan 2 kencing manis, termasuk kegagalan yang berkenaan dengan ginjal, penyakit yang vaskuler ( termasuk penyakit nadi/jalan utama serangan jantung), visi merusakkan, dan lain lain

Diabetes Tipe 2 biasanya, awalnya, diobati dengan cara perubahan aktivitas fisik (biasanya peningkatan), diet (umumnya pengurangan asupan karbohidrat), dan lewat pengurangan berat badan. Ini dapat memugar kembali kepekaan hormon insulin, bahkan ketika kerugian berat/beban adalah rendah hati,, sebagai contoh, di sekitar 5 kg ( 10 sampai 15 lb), paling terutama ketika itu ada di deposito abdominal yang gemuk. Langkah yang berikutnya, jika perlu,, perawatan dengan lisan antidiabetic drugs. Sebagai/Ketika/Sebab] produksi hormon insulin adalah pengobatan pada awalnya tak terhalang, lisan ( sering yang digunakan di kombinasi) kaleng tetap digunakan untuk meningkatkan produksi hormon insulin ( e.g., sulfonylureas) dan mengatur pelepasan/release yang tidak sesuai tentang glukosa oleh hati ( dan menipis pembalasan hormon insulin sampai taraf tertentu ( e.g., metformin), dan pada hakekatnya menipis pembalasan hormon insulin ( e.g., thiazolidinediones). Jika ini gagal, ilmu pengobatan hormon insulin akan jadilah diperlukan untuk memelihara normal atau dekat tingkatan glukosa yang normal. Suatu cara hidup yang tertib tentang cek glukosa darah direkomendasikan dalam banyak kasus, paling terutama sekali dan perlu ketika mengambil kebanyakan pengobatan.

c. Gestational Diabetes Melitus

Gestational diabetes mellitus (GDM) melibatkan kombinasi dari kemampuan reaksi dan pengeluaran hormon insulin yang tidak cukup, menirukan jenis 2 kencing manis di beberapa pengakuan. Terjadi selama kehamilan dan dapat sembuh setelah melahirkan. GDM mungkin dapat merusak kesehatan janin atau ibu, dan sekitar 20–50% dari wanita penderita GDM bertahan hidup.

GDM terjadi di sekitar 2–5% dari semua kehamilan. GDM bersifat temporer dan secara penuh bisa perlakukan tetapi, tidak diperlakukan, boleh menyebabkan permasalahan dengan kehamilan, termasuk macrosomia (kelahiran yang tinggi menimbang), janin mengalami kecacatan dan menderita penyakit jantung sejak lahir. Penderita memerlukan pengawasan secara medis sepanjang kehamilan.

Resiko Fetal/Neonatal yang dihubungkan dengan GDM meliputi keanehan sejak lahir seperti berhubungan dengan jantung, sistem nerves yang pusat, dan [sebagai/ketika/sebab] bentuk cacad otot. Yang ditingkatkan hormon insulin hal-hal janin boleh menghalangi sindrom kesusahan dan produksi surfactant penyebab hal-hal janin yang berhubung pernapasan. Hyperbilirubinemia boleh diakibatkan oleh pembinasaan sel darah yang merah. Di kasus yang menjengkelkan, perinatal kematian boleh terjadi, paling umum sebagai hasil kelimpahan placental yang lemah/miskin dalam kaitan dengan perusakan/pelemahan yang vaskuler. Induksi/Pelantikan mungkin ditandai dengan dikurangi placental fungsi. Bagian Cesarean mungkin dilakukan jika ditandai kesusahan hal-hal janin atau suatu ditingkatkan risiko dari luka-luka/kerugian dihubungkan dengan macrosomia, seperti bahu dystocia.

2.2.3 Penyebab Diabetes Melitus

Penyebab utama diabetes di era globalisasi adalah adanya perubahan gaya hidup (pola makan yang tidak seimbang, kurang aktivitas fisik). Selain itu, adanya stress, kelainan genetika, usia yang semakin lama semakin tua dapat pula menjadi salah satu faktor penyebab timbulnya penyakit diabetes. Penyakit ini dapat dicegah dengan merubah pola makan yang seimbang (hindari makanan yang banyak mengandung protein, lemak, gula, dan garam), melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari (berenang, bersepeda, jogging, jalan cepat), serta rajin memeriksakan kadar gula urine setiap tahun (Sinaga, 2003).

Agar lebih memahami diabetes, sangat penting untuk terlebih dahulu memahami proses normal dari metabolisme makanan. Beberapa hal yang terjadi ketika makanan dicerna:

  • Gula atau yang disebut glukosa masuk kedalam aliran darah. Glokosa merupakan sumber bahan bakar utama bagi tubuh.
  • Organ tubuh yang disebut pankreas memproduksi insulin. Peranan dari insulin adalah mengangkut glukosa dari darah menuju otot, lemak, dan sel-sel hati, diamana kana digunakan sebagai bahan bakar.

Penderita diabetes memiliki kadar gula darah yang tinggi. Ini disebabkan karena pankreas tidak dapat memproduksi insulin ataupun otot, lemak dan sel-sel hati tidak merespon insulin secara normal. Ataupun kedua-duanya.

Sebuah analogi yang cukup pas menggambarkan hal ini disampaikan oleh Mistra dalam bukunya 3 Jurus Melawan Diabetes Mellitus. Mistra menganalogikan hormon insulin sebagai sopir angkutam umum sebuah kota. Jika para supir angkutan kota mogok massal, orang-orang akan berkumpul ditepi jalan menanti jasa angkutan. Orang-orang (calon penumpang) ini diibaratkan sebagai gula dalam darah. Jika hormoninsulin tidak ada atau sedikit jumlahnya maka gula yang ada dalam drah tidak dapat terangkut sehingga menyebar diseluruh pembuluh darah.

Secara umum, asupan gula dalam darah disimpan dalam hati. Di sini diolah menjadi glikogen. Jika tubuh memerlukan, hati akan mengeluarkan dan mengolah kembali menjadi glukosa. Bagi orang normail, sebanyak apapun konsumsi gula tidak mengganggu organ tubuh. Namun, tidak demikian bagi diabetesi. Jika buang air kecil, airnya agak kental dan terasa manis. Ini dikarenakan banyaknya gula yang berada dalam darah. Gula tersebut dibersihkan dan dikumpulkan dalam kandung kemih oleh ginjal.

Selain itu, Menurut banyak ahli beberapa faktor yang sering dianggap penyebab yaitu:
a.Faktor genetik

Riwayat keluarga dengan diabetes : Pincus dan White berpendapat perbandingan keluarga yang menderita diabetes mellitus dengan kesehatan keluarga sehat, ternyata angka kesakitan keluarga yang menderita diabetes mellitus mencapai 8, 33 % dan 5, 33 % bila dibandingkan dengan keluarga sehat yang memperlihatkan angka hanya1, 96 %.

b.Faktor non genetik

1.)Infeksi
Virus dianggap sebagai “trigger” pada mereka yang sudah mempunyai predisposisi genetic terhadap diabetes mellitus.

2.)Nutrisi
a.)Obesitas dianggap menyebabkan resistensi terhadap insulin.

b.)Malnutrisi protein

c.)Alkohol, dianggap menambah resiko terjadinya pankreatitis.

3.)Stres
Stres berupa pembedahan, infark miokard, luka bakar dan emosi biasanya menyebabkan hyperglikemia sementara.

4.)Hormonal Sindrom cushing karena konsentrasi hidrokortison dalam darah tinggi, akromegali karena jumlah somatotropin meninggi, feokromositoma karena konsentrasi glukagon dalam darah tinggi, feokromositoma karena kadar katekolamin meningkat

2.2.4 Gejala Diabetes Melitus

Tiga serangkai yang klasik tentang gejala kencing manis adalah polyuria (banyak kencing), polydipsia (banyak minum) dan polyphagia (banyak makan). Gejala ini boleh kembang;kan sungguh puasa diset dicetak 1, terutama sekali di anak-anak ( bulan atau minggu) tetapi mungkin sulit dipisahkan atau dengan sepenuhnya absen & & mdash; seperti halnya mengembang;kan jauh lebih pelan-pelan & mdash; diset dicetak 2. Diset dicetak 1 [di/ke] sana boleh juga jadilah kerugian berat/beban ( di samping normal atau yang ditingkatkan makan) dan kelelahan yang tidak dapat diperkecil lagi. Gejala ini boleh juga menjelma diset dicetak 2 kencing manis di pasien kencing manis siapa adalah dengan kurang baik dikendalikan. Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan sampai ke urine. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri).

Akibat poliuri maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polidipsi). Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polifagi).

Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual dan berkurangnya ketahanan selama melakukan olah raga. Penderita diabetes yang kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi. Karena kekurangan insulin yang berat, maka sebelum menjalani pengobatan penderita diabetes tipe I hampir selalu mengalami penurunan berat badan. Sebagian besar penderita diabetes tipe II tidak mengalami penurunan berat badan.

Pada penderita diabetes tipe I, gejalanya timbul secara tiba-tiba dan bisa berkembang dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut dengan ketoasidosis diabetikum. Kadar gula di dalam darah adalah tinggi tetapi karena sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, maka sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain. Sel lemak dipecah dan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosis). Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan sering kencing, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernafasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Bau nafas penderita tercium seperti bau aseton. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam.

Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita diabetes tipe I bisa mengalami ketoasidosis jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stres akibat infeksi, kecelakaan atau penyakit yang serius.

Penderita diabetes tipe II bisa tidak menunjukkan gejala selama beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah gejala yang berupa sering kencing dan haus. Jarang terjadi ketoasidosis. Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat stres-misalnya infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang disebut koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik.

2.2.5 Patofisiologi Diabetes Melitus

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelainan yang heterogenik dengan karakter utama hiperglikemia kronis. Meskipun pola pewarisannya belum jelas, faktor genetik dikatakan memiliki peran yang kuat dalam munculnya DM ini. Faktor genetik ini akan berinteraksi dengan faktor lingkungan seperti gaya hidup, diet, rendahnya aktivitas fisik, obesitas dan tingginya kadar asam lemak bebas. Pada DM terjadi defek sekresi insulin, resistensi insulin di perifer dan gangguan regulasi produksi glukosa oleh hepar.

Penyakit diabetes membuat gangguan/komplikasi melalui kerusakan pada pembuluh darah di seluruh tubuh, disebut angiopati diabetik. Penyakit ini berjalan kronis dan terbagi dua yaitu gangguan pada pembuluh darah besar (makrovaskular) disebut makroangiopati, dan pada pembuluh darah halus (mikrovaskular) disebut mikroangiopati. Bila yang terkena pembuluh darah di otak timbul stroke, bila pada mata terjadi kebutaan, pada jantung penyakit jantung koroner yang dapat berakibat serangan jantung/infark jantung, pada ginjal menjadi penyakit ginjal kronik sampai gagal ginjal tahap akhir sehingga harus cuci darah atau transplantasi. Bila pada kaki timbul luka yang sukar sembuh sampai menjadi busuk (gangren). Selain itu bila saraf yang terkena timbul neuropati diabetik, sehingga ada bagian yang tidak berasa apa-apa/mati rasa, sekalipun tertusuk jarum /paku atau terkena benda panas.

Kelainan tungkai bawah karena diabetes disebabkan adanya gangguan pembuluh darah, gangguan saraf, dan adanya infeksi. Pada gangguan pembuluh darah, kaki bisa terasa sakit, jika diraba terasa dingin, jika ada luka sukar sembuh karena aliran darah ke bagian tersebut sudah berkurang. Pemeriksaan nadi pada kaki sukar diraba, kulit tampak pucat atau kebiru-biruan, kemudian pada akhirnya dapat menjadi gangren/jaringan busuk, kemudian terinfeksi dan kuman tumbuh subur, hal ini akan membahayakan pasien karena infeksi bisa menjalar ke seluruh tubuh (sepsis). Bila terjadi gangguan saraf, disebut neuropati diabetik dapat timbul gangguan rasa (sensorik) baal, kurang berasa sampai mati rasa. Selain itu gangguan motorik, timbul kelemahan otot, otot mengecil, kram otot, mudah lelah. Kaki yang tidak berasa akan berbahaya karena bila menginjak benda tajam tidak akan dirasa padahal telah timbul luka, ditambah dengan mudahnya terjadi infeksi. Kalau sudah gangren, kaki harus dipotong di atas bagian yang membusuk tersebut. Gangren diabetik merupakan dampak jangka lama arteriosclerosis dan emboli trombus kecil. Angiopati diabetik hampir selalu juga mengakibatkan neuropati perifer. Neuropati diabetik ini berupa gangguan motorik, sensorik dan autonom yang masing-masing memegang peranan pada terjadinya luka kaki. Paralisis otot kaki menyebabkan terjadinya perubahan keseimbangan di sendi kaki, perubahan cara berjalan, dan akan menimbulkan titik tekan baru pada telapak kaki sehingga terjadi kalus pada tempat itu.

Gangguan sensorik menyebabkan mati rasa setempat dan hilangnya perlindungan terhadap trauma sehingga penderita mengalami cedera tanpa disadari. Akibatnya, kalus dapat berubah menjadi ulkus yang bila disertai dengan infeksi berkembang menjadi selulitis dan berakhir dengan gangren.

Gangguan saraf autonom mengakibatkan hilangnya sekresi kulit sehingga kulit kering dan mudah mengalami luka yang sukar sembuh. Infeksi dan luka ini sukar sembuh dan mudah mengalami nekrosis akibat dari tiga faktor. Faktor pertama adalah angiopati arteriol yang menyebabkan perfusi jaringan kaki kurang baik sehingga mekanisme radang jadi tidak efektif. Faktor kedua adalah lingkungan gula darah yang subur untuk perkembangan bakteri patogen. Faktor ketiga terbukanya pintas arteri-vena di subkutis, aliran nutrien akan memintas tempat infeksi di kulit.

2.2.6 Pengobatan Diabetes Melitus

Regulasi glukosa darah merupakan kunci dalam pencegahan komplikasi dan perkembangan penyakit diabetes. Pengaturan istirahat, makan(diet) dan olah raga perupakan terapi pokok dalam pengelolaan DM di samping pemberian obat berkhasiat menurunkan glukosa darah (hipoglikemik) (Hendromartono,2004).

Obat-obat Anti Diabetes, disingkat OAD, mengalami perkembangan yang cukup pesat. Saat ini dapat dijumpai OAD yang praktis, hanya diminum sekali sehari, dan selain menurunkan kadar gula darah juga menjaga kesehatan sel Beta Pankreas, meningkatkan fungsi sel-sel Beta Langerhans di Pankreas, mencegah resistensi, ini yang penting. Namun OAD yang lama juga masih tetap dipakai karena pertimbangan harga. Yang harus diketahui: agar angiopati diabetik tidak mudah timbul, hindarkan terjadinya NSH (Nocturnal Symptompless Hypoglycemia). NSH bisa timbul bila OAD golongan tertentu diberikan pada sore atau malam hari, sehingga pada malamnya timbul NSH. NSH ini akan merangsang sekresi katekolamin, kortisol, growth hormon, dan glukagon yang semuanya mempercepat terjadinya angiopati diabetik. Karena itu, apabila memberikan OAD golongan tertentu, misalnya golongan glibenklamid, berikanlah pada pagi dan siang hari, jangan pagi dan sore hari.

Karena kejenuhan, biasanya penderita DM suka berganti-ganti metode pengobatan. Bermacam-macam terapi alternatif ditempuh. Teman bilang ini dituruti, saudara bilang ke sana maka dia pun ke sana, baik pengobatan modern maupun pengobatan alternaif yang bermacam ragamnya. kadang-kadang satu macam pengobatan belum menampakkan hasilnya, sudah berpindah lagi.Ini yang harus diperhatikan, apa pun pengobatan yang ditempuh, tetap harus rajin mengukur kadar gula darahnya, untuk bisa melihat kemajuan pengobatannya. Minimal sebulan sekali. Saat ini sudah banyak alat pengukur gula darah, jika bisa memliki sendiri juga baik. Sekali-sekali memeriksakan juga kadar HbA1c. Namun tetap diperlukan nasehat dari dokter untuk pemilihan, pemantauan dan analisa terapi yang dijalani.

Prinsip pengobatan dalam diabetes mellitus diantaranya adalah:

1). Antidiabetes suntikan / insulin

Insulin harus digunakan pada keadaan ketoasidosis atau koma hiperosmolar nonketotik. Pada keadaan penyakit akut, infeksi dan strees, keadaan diabetes akan sangat tidak terkendali sehingga harus digunakan insulin. Pada DMTTI (Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin) kadang-kadang terjadi hiperglikemia selama operasi anesthesia sehingga harus juga dipakai insulin. Diabetes Melitus Tergantung Insulin (DMTI) merupakan indikasi klasik penggunaan insulin. Insulin juga harus diberikan pada wanita hamil dan bila pengobatan dengan obat hipoglikemik oral mengalami kegagalan (Anonim, 1996). Hal yang harus diperhatikan dalam melakukan evaluasi pengobatan dengan insulin adalah dengan cara apa insulin itu diberikan. Menurut lama kerja insulin dibagi menjadi 4, yaitu insulin kerja singkat, insulin kerja menengah, insulin kerja panjang, dan insulin ifasik (kombinasi insulin kerja cepat dan menengah). Insulin kerja singkat dapat diberikan secara intravena, intramuskular, atau subkutan dan tidak tergantung pada pH bahan pelarut. Insulin kerja menengah atau panjang tidak dapat diberikan secara intravena karena bahaya emboli. Insulin kerja singkat dapat ditambahkan dalam cairan infus seperti asam amino, glukosa dan elektrolit serta sebaiknya tidak diberikan bersama darah atau serum karena mengandung hidrosilat atau enzim yang dapat merusak insulin. Absorbsi yang paling cepat terjadi pada dinding abdomen, paling lambat di paha, sedang di lengan dan daerah gluteus di antaranya. Tempat yang dianjurkan adalah rotasi di daerah dinding abdomen (Anonim, 1996).

2). Obat hipoglikemik oral

Berdasarkan cara kerjanya, obat hipoglikemik oral (OHO) dibagi menjadi 2 golongan :

a). Pemicu sekresi insulin

(1). Sulfonilurea

Mekanisme kerja obat golongan sulfonilurea adalah menstimulasi pelepasan insulin yang tersimpan (stored insulin), menurunkan ambang sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa (Anonim,1996). Obat golongan ini merupakan pilihan untuk pasien diabetes dewasa baru dengan berat badan normal dan kurang serta tidak pernah mengalami ketoasidosis sebelumnya. Sulfonilurea sebaiknya tidak diberikan pada penyakit hati, ginjal, dan tiroid (Soegondo, dkk., 2005). Obat golongan ini antara lain khlorpropamid, glibenklamid, gliklasid, glikuidon, glipisid, glimepirid.

(2). Glinid

Glinid merupakan obat generasi baru yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea dengan meningkatkan sekresi insulin fase pertama. Contoh obat golongan ini adalah repaglinid dan nateglinid.

b). Penambah sensitifitas terhadap insulin

(1). Biguanid

Biguanid tidak merangsang sekresi insulin dan menurunkan kadar glukosa darah sampai normal (euglikemia) serta tidak pernah menyebabkan hipoglikemia. Efek samping yang sering terjadi adalah nausea, muntah-muntah, kadang-kadang diare, oleh karena itu, lebih baik diberikan kepada pasien yang gemuk, sebab tidak merangsang sekresi insulin, yang seperti diketahui mempunyai efek anabolit. Sebenarnya obat ini baik sekali bila diiingat sifatnya yang hanya merupakan euglicemic agent, jadi tidak terdapat bahaya terjadinya hipoglikemia. Tetapi sayang sekali obat golongan ini seringkali menyebabkan asidosis laktat, terutama dengan preparat Fenformin dan Buformin, sehingga kedua preparat ini tidak dipasarkan lagi. Contoh obat golongan ini adalah metformin (Soegondo,dkk., 2005).

(2). Thiazolindin / glitazon

Thiazolindion berikatan pada peroxisome proliferator activated receptor gamma (PPARg) suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak. Contoh obat golongan ini adalah pioglitazon dan rosiglitazon (Soegondo, dkk., 2005).

c). Penghambatan alfa glukosidase / acarbose

Cara kerja obat golongan ini adalah berdasarkan persaingan inhibisi enzim glukosidase di mukosa deudenum, sehingga reaksi penguraian di-/polisakarida menjadi monosakarida dihambat. Dengan demikian glukosa dilepas lebih lambat dan absorbsinya di dalam darah juga kurang cepat, lebih rendah dan merata sehingga memuncaknya kadar gula darah bisa dihindari (Tjay dan Rahardja, 2002). Efek samping obat ini adalah perut kurang enak, lebih banyak flatus dan kadangkadang diare, yang akan berkurang setelah pengobatan lebih lama. Obat ini hanya mempengaruhi kadar glukosa darah pada waktu makan dan tidak mempengaruhi kadar glukosa darah setelah itu. Bila diminum bersama-sama obat golongan sulfonilurea (atau dengan insulin) dapat terjadi hipoglikemia yang hanya dapat diatasi dengan glukosa murni, jadi tidak dapat diatasi dengan pemberian gula pasir (Soegondo,dkk., 2005).

2.3 Flavonoid

Senyawa Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, dan biru dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan.

Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana dua cincin benzene (C6) terikat pada suatu rantai propana (C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6, susunan ini menghasilkan tiga jenis struktur senyawa flavonoida yaitu:

  1. Flavonoida atau 1,3-diarilpropana
  1. Isoflavonoida atau 1,2-diarilpropana
  1. Neoflavonoida atau 1,1-diarilpropana

Istilah flavonoida diberikan untuk senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kata flavon, yaitu nama salah satu jenis flavonoida yang terbesar jumlahnya pada tumbuhan. Senyawa-senyawa flavon ini mempunyai kerangka 2-fenilkroman, dimana posisi orto dari cincin A dan atom karbon yang terikat pada cincin B dari 1,3-diarilpropana dihubungkan oleh jembatan oksigen sehingga membentuk cincin heterosiklik yang baru (Cincin C).

Senyawa-senyawa flavonoida terdiri dari beberapa jenis tergantung pada tingkat oksidasi dari rantai propana dari sistem 1,3-diarilpropana. Flavon, flavonol dan antosianidin adalah jenis yang banyak ditemukan dialam sehingga sehingga sering disebut sebagai flavonoida utama. Banyaknya senyawa flavonoida ini disebabkan oleh berbagai tingkat hidroksilasi, alkoksilaksi, atau glikosilasi dari struktur tersebut.

Dalam hal penurunan kadar glukosa darah menurut Ivorra, M.D dalam buku “A Review of Natural Product and Plants as Potensial Antidiabetic,” senyawa aktif alkoloid dan flavonoid memiliki aktivitas hipoglikemik atau penurun kadar glukosa darah.

2.4 Efek Aloksan Terhadap Kadar Glukosa Darah

Aloksan (2,4,5,6-tetraoxypyrimidine; 2,4,5,6-pyrimidinetetrone) adalah suatu substansi yang secara struktural merupakan derivate perimidin sederhana. Aloksan telah digunakan secara luas untuk menginduksi diabetes pada hewan percobaan. Substansi diabetogenik ini secara selektif bekerja pada sel pankreas yang bertanggung jawab untuk memproduksi insulin. Aloksan dalam darah berikatan dengan GLUT-2 (pengangkut glukosa) yang memfasilitasi masuknya aloksan ke dalam sitoplasma sel pankreas. Di dalam sel, aloksan menimbulkan depolarisasi berlebih pada mitokondria sebagai akibat pemasukan ion Ca2+ yang diikuti dengan penggunaan energi berlebih sehingga terjadi kekurangan energi dalam sel. Dua mekanisme ini mengakibatkan kerusakan baik dalam jumlah sel maupun massa sel pankreas sehingga terjadi penurunan pelepasan insulin yang mengakibatkan terjadinya hiperglikemi.

Beberapa teori lain menerangkan bahwa aloksan dapat membangkitkan reactive oxygen species (ROS) melalui siklus reaksi yang hasil reduksinya berupa dialuric acid. Dialuric acid ini akan mengalami siklus redoks dan membentuk radikal superoksida. Kemudian radikal ini akan mengalami dismutasi menjadi hidrogen peroksida dan pada tahap akhir mengalami reaksi katalisasi besi membentuk radikal hidroksil. Radikal hidroksil inilah yang menyebabkan kerusakan pada sel pankreas sehingga terjadilah insulin dependent diabetes mellitus atau disebut juga alloxan diabetes pada hewan percobaan. Diabetes tipe ini memiliki karakteristik yang serupa dengan diabetes tipe I pada manusia. Oleh karena itu, pemberian aloksan merupakan salah satu cara untuk menghasilkan kondisi diabetik eksperimental (hiperglikemik) pada hewan percobaan.

2.5 Kerangka Konsep

Kadar Glukosa Darah
Ekstrak Kulit Batang Pule

2.6 Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah dan uraian teoritik pada studi pustaka dan kerangka konseptual dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

Pemberian Ekstrak kulit batang pule (Alstonia scholaris) dapat menurunkan kadar glukosa darah pada hewan percobaan.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan antara tanggal 7-15 Mei 2010, tempat penelitian ini adalah di Laboratorium Kimia Universitas Muhammadiyah Malang.

3.2 Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis Penelitian: Penelitian Eksperimen

Rancangan Penelitian: Rancangan acak dengan desain penelitian Post Test Randomized Control Design.

3.3 Populasi dan Teknik Sampling

  • Populasi: Tikus putih yang diperoleh dari Laboratorium Kimia Universitas Muhammadiyah Malang.
  • Teknik Sampling: Random Sampling.
  • Sampel: 4 buah tikus putih.

3.4 Jenis dan Definisi Operasional Variabel

  • Jenis Variabel

Variabel bebas: Konsentrasi ekstrak pule, dosis ekstrak 490 mg/kg bb

Variabel tergantung: Kadar glukosa darah pada tikus yang menderita diabetes

Variabel kontrol: Umur, jenis pakan, ukuran kandang.

  • Definisi Operasional Variabel

Konsentrasi ekstrak pule: Adalah jumlah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dari tanaman pule menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan.

Kadar Glukosa darah pada tikus: adalah banyaknya glukosa yang terkandung dalam 1L atau 1 dL darah tikus wistar yang diperiksa secara kuantitatif.

Umur: umur adalah perhitungan yang dimulai dari awal dilahirkanya tikus hingga pada saat akan dilakukan percobaan, pada percoban ini umur tikus dibuat seragam dengan umur ± 3 bulan.

Jenis pakan: jenis pakan adalah jenis makanan yang akan diberikan pada tikus selama masa percobaan.

Ukuran kandang: ukuran kandang adalah jumlah panjang dan lebar tempat yang akan digunakan sebagai tempat pemeliharaan tikus.

3.5 Pelaksanaan Penelitian

A. Persiapan Penelitian

1. Penentuan Dosis ekstrak 490 mg/kg/bb dan 590 mg/kg/bb adalah dosis pada mencit yang memberikan efek farmakologi (Kumolosasi, 1999).

2. Memilih hewan uji (tikus putih ) sejumlah 4 ekor, umur 2 bulan, berat badan awal 183 – 262 gram.

3. Menyiapkan kandang tikus putih lengkap dengan tempat pakan dan minum.

4. Membuat ekstrak kulit batang pule

B. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 4 ekor tikus putih. Tikus tersebut dibagi kedalam 3 kelompok, 2 ekor tikus sebagai kontrol dan 2 ekor tikus sebagai uji atau perlakuan. Masing-masing kelompok akan diperlakukan sebagai berikut:

  1. Kontrol

R                II. Diberi Ekstrak Pule 490 mg/kg/bb

III. Diberi Ekstrak Pule 590 mg/kg/bb

Keterangan:

R           : Random

I            : Tikus tidak diinduksi aloksan

II         : Tikus diinduksi aloksan yang diberi ekstrak kulit batang pule 490 mg/kg/bb

III        : Tikus diinduksi aloksan yang diberi ekstrak kulit batang pule 590 mg/kg/bb

Tikus putih dibagi kedalam tiga kelompok secara random. Kemudian dua kelompok selain kelompok kontrol diinduksi dengan aloksan. Dua kelompok ini kemudian diberi perlakuan ekstrak batang pule yang berbeda.

C. Teknik Pengumpulan Data

Pemeriksaan kadar glukosa dilakukan secara kuantitatif dengan metode GODPAP. Glukosa ditentukan setelah oksidasi enzimatis dengan adanya glucose oxidase. Hidrogen peroksida yang terbentuk bereaksi dengan adanya peroksidase dengan phenol serta 4-aminophenazone menjadi zat warna quinoneimine berwarna merah violet. Pengukuran kadar glukosa dilakukan dengan spektrofotometri. Ada tiga jenis tabung yang harus disiapkan yaitu, tabung sampel, berisi sampel/serum yang dicampur dengan reagen glucose liquicolor dengan perbandingan 1:100; tabung standar, berisi larutan standar yang dicampur dengan reagen glucose liquicolor dengan perbandingan 1:100; dan tabung blanko, berisi larutan reagen saja. Kemudian mengukur absorbansi standar (d Astd) dan sampel (d Asp) terhadap blanko reagen dengan alat spektrofotometer pada gelombang 500 nm.

Kalkulasi dilakukan dengan rumus:

Keterangan :

C (mg/dl) : Kadar glukosa dalam satuan (mg/dl)

C (mmol/dl) : Kadar glukosa dalam satuan (mmol/L)

dAsp : Nilai absorbansi sampel

dAstd : Nilai absorbansi standar

Hasil tiap kelompok dibandingkan setelah data semua tikus wistar terkumpul.

3.6 Teknik Analisa Data

Untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak Pule dengan berbagai dosis terhadap kadar Glokosa darah tikus putih, dilakukan Analisis Varians (ANAVA) satu jalan dengan taraf kepercayaan 5 % (Sudjana, 1988).

Keterangan:

db        : Derajat kebebasan

JK        : Jumlah kuadrat

KT       : Kuadrat tengah

F          : Nilai frekuensi

T(1-1/2a) : Treatment

r           : Replikasi/ulangan

Selanjutnya untuk dapat menolak atau menerima hipotesis, maka Fhitung yang telah diketahui harus dikonsultasikan dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel, sehingga kesimpulan yang dapat diambil adalah:

  1. Bila Fh > Ft= signifikan maka Ho ditolak, Ha diterima
  2. Bila Fh < Ft= tidak signifikan maka Ho diterima, Ha ditolak.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Pada percobaan ini dilakukan pengukuran kadar glukosa pada hari ke 7. Penentuan hari dihitung sejak pemberian aloksan pertama kali. Jadi, hari ke-1 adalah hari pertama pemberian aloksan. Pada hari ke 8 perlakuan, kadar glukosa darah hewan coba sudah menunjukkan kenaikan yang berarti, hal ini dapat dilihat di table 1 dimana ketika tikus diuji dengan menggunakan glukotes sudah menunjukan nilai glukosa darah 127 dan 129 mg/dl. Hal ini menunjukan bahwa tikus telah terkena Diabetes Melitus dapat dilihat dari nilai glukosa darh tikus yang apa pada Glukotest kemudian dikali dengan angka 1,5 sehingga didapatkan hasil bahwa darah tikus sudah masuk kategori diabetes mellitus. Oleh sebab itu pemberian bahan uji dilakukan sejak hari ke -9 sampai dengan hari ke-15.

TABEL 1

Jenis Tikus Nilai Glucotest X 1,5
Tikus 1 127 mg/dl 190.5 mg/dl
Tikus 2 129 mg/dl 193.5 mg/dl
Tikus 3 129 mg/dl 193.5 mg/dl
Tikus 4 127 mg/dl 190.5 mg/dl

Setelah diberi perlakuan ekstrak selama 1 minggu dengan dosis 490 mg/kg bb dan 590 mg/kg bb, kemudian tikus kembali dianalisa menggunakan metode GODPAP, sehingga didapatkan hasil sebagai berikut:

  • Untuk tikus 1 perlakuan 590 kg/bb didapatkan hasil nilai spektrofotometri tikus 1 adalah 0,19 kemudian dimasukan ke rumus untuk mencari kadar glukosa darah sehiingga didapatkan hasil nilai kadar glukosa darah adalah 66,20 mg/dl
  • Untuk tikus 2 perlakuan 490 kg/bb didapatkan hasil nilai spektrofotometri tikus adalah 0,24 kemudian dimasukan rumus untuk mencari kadar glukosa darah sehingga didapatkan hasil nilainya adalah 83,62 mg/dl
  • Untuk tikus 3 perlakuan 490 kg/bb didapatkan hasil nilai spektrofotometri tikus adalah 0,20 kemudian dimasukan rumus untuk mencari kadar glukosa darah sehingga didapatkan hasil nilainya adalah 101,04 mg/dl

Dari nilai di atas dapat diketahui bahwa setelah diberi perlakuan selama 1 minggu kadar glukosa darah telah kembali normal.

4.2 Pembahasan

Berdasarkan stadar WHO mengenai kadar glukosa darah normal orang yang berpuasa adalah antara 180-120 mg/dl maka dapat diketahui bahwa tikus yang kami beri percobaan semua kadar glukosanya telah kembali dalam keadaan normal.

Berdasar studi literature dan hasil praktikum diketahui bahwa zat pada kulit batang pule yang sangat berperan dalam penurunan kadar glukosa darah adalah senyawa alkaloid dan flavovnoid. Menurut Ivorra, M.D dalam buku “A Review of Natural Product and Plants as Potensial Antidiabetic,” senyawa aktif alkoloid dan flavonoid memiliki aktivitas hipoglikemik atau penurun kadar glukosa darah, selain itu Flavonoid berperan dalam meningkatkan glikogenesis sehingga tidak terjadi penimbunan glukosa dalam darah..

Selain itu zat lainnya yang berperan dalam penurunan kadar glukosa pada darah yang berasal dari kulit batang pule adalah tannin. Mekanisme kerja Tanin adalah berfungsi sebagai astringent atau pengelat yang dapat mengkerutkan membran epitel usus halus sehingga mengurangi penyerapan sari makanan akibatnya menghambat asupan glukosa & laju peningkatan glukosa darah tidak terlalu tinggi.

Selain itu juga kandungan triterpenoid sangat berperan dalam penurunan kadar glukosa darah mekanisme kerja dari zat ini adalah mempercepat keluarnya glukosa dari sirkulasi, dengan cara mempercepat peredaran darah yang erat kaitannya dengan kerja jantung dan dengan cara mempercepat filtrasi dan ekskresi ginjal sehingga produksi urin meningkat jadi sebagai diuretika. Karena laju ekskresi glukosa melalui ginjal meningkat, ini akan menyebabkan kadar glukosa dalam darah menurun.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil studi literature dan pengujian maka dapat dihasilkan kesimpulan sebagai berikut:

  • Setelah diberi perlakuan selama 1 minggu dengan dosis 490 mg/kg bb dan 590 mg/kg bb didapatkan hasil bahwa semua kadar glukosa darah pada tikus telah normal seperti yang ada pada standar WHO dimana kadar glukosa darah pada tikus untuk tikus 1 66,20 mg/dl, tikus 2 83,62 mg/dl, dan tikus 3 sebesar 101,04 mg/dl.
  • Senyawa aktif yang terdapat pada kulit batang pule dan sangat berperan dalam penurunan kadar glukosa darah adalah Flavonoid, alkaloid, tannin, dan triterpenoid.
  • Ektrak kulit bantang pule dapat menurunkan kadar glukosa pada darah.

5.2 Saran

  • Untuk para peneliti atau mahasiswa agar lebih mendalami lagi penelitian mengenai tanaman pule ini sehingga didapatkan hasil penelitian yang benar-benar akurat dan nantinya dapat diaplikasikan pada  masyarakat
  • Untuk masyarakat agar dapat menggunakan kulit batang pule sebagai alternatif dalam pengobatan melawan diabetes mellitus.
  • Untuk pemerintah agar lebih memperhatikan potensi tanaman obat yang ada di Indonesia lebih digalakkan lagi demu kesehatan masyarakat

DAFTAR PUSTAKA

Asmaliyah, Burhan Ismail dan Teguh Hardi TW. 2004. Beberapa Serangga Hama Pada Tanaman Pulai Gading. Prosiding Ekspopse Terpadu Hasil Penelitian, Badan Litbang Kehutanan. Departemen Kehutanan. Yogyakarta.

Chevalier, A. 2000. Natural Health: Encyclopedia of Herbal Medicine, A. Dorling Book: New York.

Dwidjoseputro. 1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Doran JC, Turnbull JW, 1997. Australian trees and shrubs: Species for land rehabilitation and farm planting in the tropics. ACIAR Monograph No. 24. 384 pp. Holmes CH, 1954. Seed germination and seedling studies of timber trees of Ceylon. Ceylon Forester, 1(3):3-51.

Isbandi D. 1983. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Kasahara, S., and Hemmi, S., “Medical Herb Index Indonesia, PT. Eisai Indonesia, Jakarta, 34-35, 222 – 223 (1986).

Kumolosasi., E., Elin Yulinah S., Komar Ruslan W., Andreanus A.S., Sundani Nurono., “Pembuatan Sediaan Fitofarmaka Terhadap Penyakit Toksoplasmosis, Disebabkan oleh Toxoplasma gondii yang Efektif dan Aman”, Laporan Penelitian Hibah Bersaing VII, ITB, th 1999.

Martawijaya, A., I. Kartasujana, K. Kadir, dan S.A. Prawira. 1981. Atlas Kayu Indonesia. Jilid I. Balai Penelitian Hasil Hutan. Bogor.

Pratiwi. 2000. Potensi dan Prospek Pengembangan Pohon Pulai untuk Hutan Tanaman. Buletin Kehutanan dan Perkebunan 1(1) : 1-9.

Soerianegara I, Lemmens RHMJ, eds., 1993. Plant Resources of South-East Asia No. 5(1). Timber trees: major commercial timbers. Wageningen, Netherlands: Pudoc Scientific Publishers. Also published by Prosea Foundation, Bogor, Indonesia.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

05/09/2013 Posted by | Fitofarmaka | Tinggalkan komentar

Model Pembelajaran GASING/FISITARU

Model Pembelajaran Fisitaru disetting dalam bentuk pembelajaran yang diawali dengan sebuah masalahdengan menggunakan instruktur sebagai pelatihan metakognitif dan diakhiri dengan penyajian dan analisis kerja siswa (Yohanes Surya, 2008).

Model pembelajaran Fisitaru berlandaskan pada psikologi kognitif, sehingga fokus pengajaran tidak begitu banyak pada apa yang sedang dilakukan siswa, melainkan kepada apa yang sedang mereka pikirkan pada saat mereka melakukan kegiatan itu. Pada model pembelajaran Gasing berbasis masalah peran guru lebih berperan sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa belajar berpikir dan memecahkan masalah mereka sendiri. Belajar berbasis masalah menemukan akar intelektualnya pada penelitian John Dewey (Ibrahim, 2000). Pedagogi Jhon Dewey menganjurkan guru untuk mendorong siswa terlibat dalam proyek atau tugas yang berorientasi masalah dan membentu mereka menyelidiki masalah-masalah tersebut. Pembelajaran yang berdayaguna atau berpusat pada masalah digerakkan oleh keinginan bawaan siswa untuk menyelidiki secara pribadi situasi yang bermakna merupakan hubungan masalah dengan psikologi Dewey.

Selain Dewey, ahli psikologi Eropa Jean Piaget tokoh pengembang konsep konstruktivisme telah memberikan dukungannya. Pandangan konstruktivisme- kognitif yang didasari atas teori Piaget menyatakan bahwa siswa dalam segala usianya secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuannya sendiri (Ibrahim, 2000).

Adaptasi struktur pembelajaran model Gasing berbasis masalahdalam kelas-kelas sains dilakukan dengan menjamin penerapan beberapa komponen penting dari sains. Empat penerapan esensial dari pembelajaran model Gasing berbasis masalah adalah seperti diurutkan dalam Yohanes Surya (2008) adalah:
1) Orientasi siswa pada masalah
Pada saat mulai pembelajaran, guru menyampaikan tujuan pembelajaran secara jelas, menumbuhkan sikap positif terhadap pelajaran. Guru menyampaikan bahwa perlu adanya elaborasi tentang hal-hal sebagai berikut:
- Tujuan utama dari pembelajaran adalah tidak untuk mempelajari sejumlah informasi baru, namun lebih kepada bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadikan pebelajar yang mandiri.
- Permasalahan yang diselidiki tidak memiliki jawabanmutlak ”benar”. Sebuah penyelesaian yang kompleks memiliki banyak penyelesaian yang terkadang bertentangan.
- Selama tahap penyelidikan dalam pembelajaran, siswadidorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi dengan bimbingan guru.
- Pada tahap analisis dan penyelesaian masalah siswa didorong untuk menyampaikan idenya secara terbuka.
Guru perlu menyajikan masalah dengan hati-hati dengan prosedur yang jelas untuk melibatkan siswa dalam identifikasi. Hal penting di sini adalah orientasi kepada situasi masalah menentukan tahap untuk penyelidikan selanjutnya. Oleh karena itu pada tahap ini presentasi harus menarik minat siswa dan menimbulkan rasa ingin tahu.

2) Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Pembelajaran model Gasing berbasis masalahmembutuhkan keterampilan kolaborasi diantara siswa menurut mereka untuk menyelidiki masalah secara bersama. Oleh karena itu mereka juga membutuhkan bantuan untuk merencanakan penyelidikan dan tugas-tugas belajarnya.
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar kooperatif juga berlaku untuk mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok pembelajaran berbasis masalah. Intinya di sini adalah guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikantugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang akan dipecahkan.

3) Membantu penyelidikan siswa
Pada tahap ini guru mendorong siswa untuk mengumpulkan data-data atau melaksanakan eksperimen sampai mereka betul-betul memahami dimensi dari masalah tersebut. Tujuannya agar siswamengumpulkan cukup informasi untuk membangun ide mereka sendiri. Siswa akan membutuhkan untuk diajarkan bagaimana menjadi penyelidik yang aktif dan bagaimana menggunakan metode yang sesuai untuk masalah yang sedang dipelajari.
Setelah siswa mengumpulkan cukup data mereka akanmulai menawarkan penjelasan dalam bentuk hipotesis, penjelasan dan pemecahan. Selama tahap ini guru mendorong semua ide dan menerima sepenuhnya ide tersebut.

4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Pada tahap ini guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan hasil karya yang akan disajikan. Masing-masing kelompok menyajikan hasil pemecahan masalah yang diperoleh dalam suatu diskusi. Penyajian hasil karya ini dapat berupa laporan, poster maupun media-media yang lain.

5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Tahap akhir ini meliputi aktivitas yang dimaksudkanuntuk membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi prosesberpikir mereka sendiri dan disamping itu juga mengevaluasi keterampilan penyelidikan =dan keterampilan intelektual yang telah mereka gunakan.
Selanjutnya beberapa ciri penting pembelajaran model fisitaru sebagai berikut (Yohanes Surya, 2008).

1. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran dirancang untuk dapat merangsang dan melibatkan pebelajar dalam pola pemecahan masalah. Kondisi ini akan dapat mengembangkan keahlian belajar dalam bidangnya secara langsung dalam mengidentifikasi permasalahan. Dalam konteks belajar kognitif sejumlah tujuan yang terkait adalah belajar langsung dan mandiri, pengetahuan dan pemecahan masalah. Sehingga untuk mencapai keberhasilan, para pebelajar harus mengembangkan keahlian belajar dan mampu mengembangkan strategi dalam mengidentifikasidan menemukan permasalahan belajar, evaluasi dan juga belajar dari berbagai sumber yang relevan.

2. Keberlanjutan masalah
Dalam hal ini ada dua hal yang harus terpenuhi. Pertama, harus dapat memunculkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang relevan dengan content domainyang dibahas. Kedua, permasalahan hendaknya riil sehingga memungkinkan terjadinya kesamaan pandang antarsiswa. Ada tiga alasan kenapa permasalahan harus nyata (realistik). (1) Siswa terkadang terbuka untuk meneliti semua dimensi daripermasalahan sehingga dapat mengalami kesulitan dalam menciptakan suatu permasalahan yang luas dengan informasi yang sesuai. (2) Permasalahan nyata cenderung untuk lebih melibatkan siswa terhadap suatu konteks tentang kesamaan dengan permasalahan. (3) Siswa segera ingin tahu hasil akhir dari penyelesaian masalahnya.

3. Adanya presentasi permasalahan
Pelajar dilibatkan dalam mempresentasikan permasalahan sehingga mereka merasa memiliki permasalahan tersebut. Ada dua hal pokok dalam mempresentasikan permasalahan. Pertama, jika siswa dilibatkan dalam pemecahan masalah yang autentik, maka mereka harus memiliki permasalahan tersebut. Kedua, adalah bahwa data yang ditampilkan dalam presentasi permasalahan tidak menyoroti faktor-faktor utama dalam masalah tersebut, namun dapat ditampilkan sebagai dasar pertanyaan sehingga tidak menampilkan informasi kunci.

4. Peran guru sebagai tutor dan fasilitator
Dalam hal ini peran guru sebagai fasilitator adalahmengembangkan kreativitas berpikir siswa dalam bentuk keahlian dalam pemecahan masalah dan membantu siswa untuk menjadi mandiri. Kemampuan dari tutor sebagai fasilitator keterampilan mengajar kelompok kecil dam proses pembelajaran merupakan penentu utama dari kualitas dan keberhasilan. Setiap metode pendidikan bertujuan: (1) Mengembangkan kreativitas pada siswa dan keahlian berpendapat. (2) Membantu mereka untuk menjadi mandiri. Sedangkan tutorial adalah suatu penggunaan keahlian yang menitikberatkan masalah dasar belajar langsung mandiri.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

05/08/2013 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN MANUSIA

A. Masa Balita
Pada bab sebelumnya kamu sudah mempelajari pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan dan hewan. Coba kamu sebutkan definisi dari perkembangan! Secara harfiah, perkembangan diartikan sebagai proses menuju kedewasaan. Pertumbuhan dan perkem-bangan manusia terjadi secara bertahap, yaitu balita, anak-anak, remaja, dewasa, dan manula. Balita merupakan kependekan dari anak usia di bawah lima tahun. Masa balita merupakan tahap pertumbuhan anak mulai dari bayi sampai usia 5 tahun.
Pernahkah kamu mengamati adikmu yang masih bayi? Bayi yang semula hanya bisa tidur kemudian dapat melakukan gerakan tengkurap, merang-kak, merambat, dan berjalan hingga berlari. Hal tersebut seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya, yaitu semakin besar dan semakin kuatnya anggota-anggota tubuh. Perkembangan pada balita juga ditunjukkan dengan kemampuan berbicaranya, dari hanya mampu mengucapkan satu kata, dua kata, hingga lancar berbicara.
2013-05-02_011905

B. Masa Anak-anak

Tahapan berikutnya setelah masa balita adalah masa anak-anak, yaitu usia 6 tahun hingga 10 tahun. Pada masa anak-anak, pertumbuhan fisik dan mental mulai meningkat. Pertumbuhan meliputi tinggi badan, berat badan disertai perkembangan koordinasi otot-otot, dan kemampuan mental. Ciri-ciri masa anak-anak ditunjukkan pada tabel berikut.

2013-05-02_012226

Kemampuan menulis, membaca, dan beralasan telah berkembang pada masa anak-anak. Anak pada masa ini telah dapat membedakan tindakan baik dan buruk.

C. Masa Remaja

Masa remajaatau masa puber, merupakan masa penghubung antara masa anak-anak dengan dewasa. Pertumbuhan dan perkembangan pada masa remaja sangat pesat, baik fisik maupun psikologis. Perkembangan yang pesat ini berlangsung pada usia 11–16 tahun pada laki-laki dan 10–15 tahun pada perempuan. Anak perempuan lebih cepat dewasa dibandingkan anak laki-laki.

Pada masa pubertas mulai ada rasa tertarik terhadap lawan jenisnya. Pesatnya perkembangan pada masa puber dipengaruhi oleh hormon seksual. Organ-organ reproduksi pada masa puber telah mulai berfungsi. Salah satu ciri masa pubertas adalah mulai terjadinya menstruasi pada perempuan. Adapun pada laki-laki mulai mampu menghasilkan sperma. Ciri-ciri perubahan tubuh pada masa remaja dapat dibedakan menjadi ciri kelamin primer dan ciri kelamin sekunder.

1. Ciri-ciri kelamin primer
a. Mulai berfungsinya organ reproduksi
Organ reproduksi pada laki-laki (testis) mulai berfungsi menghasilkan hormon testosteron. Testosteron berfungsi merangsang testis untuk menghasilkan sperma. Organ reproduksi pada perempuan (ovarium) mulai memproduksi hormon estrogendan progesteron. Hormon ini memengaruhi perkem-bangan organ reproduksi perempuan. Selain itu, juga memengaruhi ovulasi, yaitu pematangan sel telur dan pelepasan sel telur dari ovarium.
b. Laki-laki mengalami mimpi basah dan perempuan mengalami menstruasi

Seiring dengan produksi sperma yang meningkat, pada anak laki-laki terjadi mimpi basah. Mimpi basah pertama dapat dijadikan tanda
bahwa seorang laki-laki telah akil balig. Organ reproduksi yang telah aktif pada anak perempuan ditandai dengan terjadinya menstruasi. Ketika memasuki masa pubertas, indung telur (ovarium) pada perempuan mulai aktif dan mampu menghasilkan sel telur (ovum).
2. Ciri-ciri kelamin sekunder
Ciri-ciri kelamin sekunder berupa perubahan fisik, terjadi pada laki-laki dan perempuan. Ciri-ciri kelamin sekunder pada perempuan, antara lain payudara tumbuh membesar, tumbuhnya rambut di ketiak dan di sekitar alat kelamin, serta membesarnya panggul. Ciri-ciri kelamin sekunder anak laki-laki adalah tumbuhnya kumis dan jambang, tumbuhnya rambut di ketiak dan di sekitar alat kelamin, serta dada menjadi lebih bidang. Agar lebih mudah memahami perbedaan perkembangan ciri-ciri kelamin sekunder anak laki-laki dan perempuan, perhatikan tabel berikut ini!

2013-05-02_012758

Perkembangan fisik pada masa remaja paling pesat di antara tahap-tahap perkembangan manusia. Selain perubahan-perubahan fisik, remaja juga mengalami perubahan secara psikologis. Perkembangan jiwa pada masa remaja juga semakin mantap. Pada akhir masa remaja, jiwanya sudah tidak mudah terpengaruh serta sudah mampu memilih dan menyeleksi. Remaja juga mulai belajar bertanggung jawab pada dirinya,= keluarga, dan lingkungan. Remaja mulai sadar akan dirinya sendiri dan tidak mau diperlakukan seperti anak-anak lagi.

D. Masa Dewasa

Tubuh manusia mencapai puncak pertumbuhan dan perkembangan sempurna pada usia kurang lebih 20 tahun. Pada masa tersebut otot-otot dan otak telah mencapai kekuatan maksimal. Perkembangan cara berpikir telah matang. Demikian juga emosinya. Organ reproduksi pada masa dewasa telah berkembang dengan sempurna.

E. Masa Tua (Manula)

Ketika manusia memasuki usia 40 sampai 50 tahun mulai terjadi banyak perubahan pada tubuh. Pada masa tua organ-organ tubuh mengalami penurunan fungsi karena proses penuaan. Penurunan fungsi organ tubuh antara lain persendian menjadi kaku, tulang menjadi lemah, lensa mata mengeras, dan kulit kehilangan elastisitasnya. Selain itu, juga terjadi pengurangan kepekaan alat indera,
baik pendengaran, penglihatan, maupun peraba. Orang yang sudah tua lebih=cepat letih, reaksinya semakin lamban, dan daya tahan terhadap penyakit semakin lemah. Meskipun demikian, perubahan ini terjadi sangat lambat sehingga orang tidak menyadarinya selama bertahun-tahun

 

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

05/01/2013 Posted by | ANFISMAN | Tinggalkan komentar

Media Realia

1. Definisi Media

            Kata media berasal dari bahasa latin ‘medius’ yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’, atau ‘pengantar’[1]. Menurut Bovee yang dikutip Ena (2001), media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan[2]. Selain itu beberapa ahli mengemukakan bahwa media dalam proses pembelajaran cenderung diartikan alat-alat grafis, fotografis atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.

Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. Telah banyak pakar dan juga organisasi (lembaga) yang mendefinisikan media ini, beberapa definisi tentang media pembelajaran ini adalah sebagai berikut: media pembelajaran atau media pendidikan adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk media pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah dan sebagainya, ahli lain menyampaikan bahwa media adalah teknologi pembawa pesan yang dapat  dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara, NEA, mengemukakan media merupakan sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio visual, termasuk teknologi perangkat kerasnya. B berpendapat media adalah alat bantu untuk memberikan perangsang bagi peserta didik supaya terjadi proses belajar. Lain lagi dengan yang menyatakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan peserta didik untuk belajar[3].

Dari berbagai pendapat di atas, jelaslah bahwa pada dasarnya semua pendapat tersebut memosisikan media sebagai suatu alat atau sejenisnya yang dapat dipergunakan sebagai pembawa pesan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Pesan yang dimaksud adalah materi pelajaran. Keberadaan media dimaksudkan agar pesan dapat lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh peserta didik. Bila media adalah sumber belajar, secara luas dapat diartikan bahwa manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan dapat disebut sebagai media.

Untuk lebih mengkongkritkan penyajian pesan, sekitar pertengahan abad 20 mulai digunakan alat audio sehingga lahirlah istilah alat bantu audiovisual. Usaha tersebut terus berlanjut. Edgar Dale mengklasifikasikan sepuluh tingkat pengalaman belajar dari yang paling konkret sampai dengan yang paling abstrak. Klasifikasi ini dikenal dengan nama kerucut pengalaman Dale.

Pada akhir tahun 1950-an teori komunikasi mulai masuk memengaruhi penggunaan alat bantu audiovisual dalam kegiatan pembelajaran. Menurut teori ini ada tiga komponen penting dalam proses penyampaian pesan yaitu sumber pesan, media penyalur pesan, dan penerima pesan. Sejak saat itu alat bantu audiovisual tidak lagi hanya dipandang sebagai alat bantu guru saja, tetapi juga sebagai alat penyalur pesan. Hanya saja faktor peserta didik yang menjadi komponen utama dalam proses belajar belum mendapat perhatian. Baru pada tahun 1950 – 1965 orang mulai memerhatikan peserta didik sebagai komponen yang penting dalam proses pembelajaran. Teori tingkah laku ajaran Skinner mulai memengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Teori ini mendorong orang untuk lebih memerhatikan peserta didik dalam proses pembelajaran.

Pada tahun 1965 – 1970 pendekatan sistem mulai menampakkan pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran. Pendekatan sistem ini mendorong penggunaan media sebagai bagian yang integral dalam program pembelajaran.

Setiap program pembelajaran hendaknya direncanakan secara sistematis dengan memusatkan perhatian pada peserta didik dan berdasarkan kebutuhan serta karakteristiknya. Media tidak lagi dipandang sebagai alat bantu guru, tetapi juga diberi wewenang membawa pesan.Oleh karena itu, media haruslah dipilih dan dikembangkan secara sistematis dan digunakan secara integral dalam proses pembelajaran. Demikianlah, apabila kita mendengar kata media saat ini, maka istilah ini hendaknya ditafsirkan dalam pengertiannya yang terakhir, meliputi mulai dari alat bantu guru hingga pembawa pesan dari kurikulum.

                                                                                                                   

2. Pengertian media dalam Matematika

            Mathematics has been called the queen of the sciences (matematika disebut ratu ilmu pengetahuan) . Matematika adalah salah satu ilmu yang sangat penting dalam kehidupan kita karena merupakan ilmu yang sangat mendasar. The most quoted statement here is that of Bertrand Russel : mathematics may be defined as the subject in which we never know what we are talking about, nor whether what we say is true(pernyataan yang paling banyak dikutip oleh Bertrand Russel: matematika bisa didefinisikan sebagai subyek dimana kita tidak pernah tahu apa yang kita bicarakan maupun kita tidak pernah tau apa yang kita bicarakan itu benar). Sehingga diperlukan wawasan yang sangat luas dan mendalam untuk mengetahui hakekat matematika. Kita harus mengerti tentang isi, pendekatan pemahaman, dan pola pikir yang digunakan dalam matematika, serta peran matematika itu sendiri.

            Menurut James matematika adalah ilmu tentang logika, mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang saling berhubungan satu sama lain yang terbagi dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, serta geometri[4].

            Sedangkan berpendapat bahwa matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam[5].

            Adapun beberapa definisi/pengertian matematika adalah sebagai berikut:

1) Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan teroganisir secara sistematik.

2) Matematika adalah pengetahuan bilangan dan kalkulasi.

3) Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.

4) Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan

masalah tentang ruang dan bentuk.

5) Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.

6) Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat[6].

            Dari penjelasan tentang definisi matematika, maka dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika yang mempelajari struktur dan pola daribentuk, susunan, dan besaran yang saling berhubungan satu sama lain yang terbagi dalam aljabar, analisis, dan geometri serta tersusun secara hierarkis, sistematis, dan teratur untuk membantu manusia memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.

            Belajar matematika sangat terkait dengan berpikir matematis. Berpikir matematis menurut Dienes berkenaan dengan penyeleksian himpunan-himpunan unsur matematika, dan himpunan-himpunan ini menjadi unsur-unsur dari himpunan-himpunan baru yang lebih rumit dan seterusnya. Belajar matematika haruslah bertahap, dimulai dari yang dasar sesuai dengan hakekat matematika bahwa matematika adalah ilmu yang mempelajari benda pikiran yang masih bersifat abstrak. Sehingga dalam pembelajaran matematika siswa harus diajarkan secara perlahan dimulai dari yang konkret kemudian yang bersifat abstrak[7].

Media pembelajaran matematika adalah sarana dalam menyajikan, mempelajari, memahami, dan memmpermudah dalam mempelajari matematika. Matematika bersifat abstrak, bagi siswa SD berfikir secara abstrak mungkin hal yang sulit. Oleh karena itu, diperlukan alat yang dapat membantu siswa membayangkan hal yang bersifat abstrak melalui benda konkret. Media pembelajaran matematika bisa berupa alat peraga/model, lembar kerja siswa, tayangan, software, dan sebagainya. Media pembelajaran tidak selalu berbentuk alat peraga. Papan tulis bisa menjadi media pembelajaran utama untuk menjelaskan beberapa pokok bahasan.

Agar media pembelajaran menjadi efektif dan efisien serta dapat digunakan dalam jangka panjang, dibutuhkan beberapa pertimbangan dalam membuatnya yaitu sebagai berikut:

  • local material (bahan-bahan mudah didapat)
  • proses pembuatan hendaknya menggunakan alat yang tepat agar hasilnya akurat
  • mudah untuk dibuat oleh sendiri
  • efisien dalam menggunakan bahan
  • terdapat petunjuk penggunaan
  • mudah digunakan, baik oleh siswa, guru dan orang lain yang membutuhkan
  • dapat membantu memahami materi
  • tidak berbahaya
  • tampilannya menarik
  • tahan lama
  • bernilai jual

3. Tujuan Media

Dalam proses pembelajaran, media memiliki tujuan sebagai pembawa informasi dari sumber (guru) menuju penerima (siswa). Sedangkan metode adalah prosedur untuk membantu siswa dalam menerima danmengolah informasi guna mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan media dalam proses pembelajaran ditunjukkan pada Gambar

Gambar Tujuan Media dalam Pembelajaran

Media pengajaran merupakan salah satu komponen pengajaran yang dapat mengefektifkan interaksi guru dan siswa serta siswadengan lingkungannya. Maka dari itu mediaa merupakan hal yang penting yang dapat membantu dalam proses pengajaran.

Dalam situs http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/12/media-pembelajaran/media memiliki beberapa tujuan, diantaranya:

1.  media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik.

2.  media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas.

3.  media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.

4.  media menghasilkan keseragaman pengamatan.

5.  media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.

6.  media membangkitkan keinginan dan minat baru.

7.  media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.

8.  media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak[8] .

Sejalan dengan penjelasan di atas mengenai tujuan media pembelajaran adalah membuat proses pembelajaran berjalan lebih menarik, membantu penyampaian pengajar kepada pembelajar lebih mudah.

Dalam hal lain, media pembelajaran memiliki tujuan yang berbeda-beda sesuai dengan kegunaan pembelajaran. Tujuan dari media tersebut akan terasa apabila diletakkan pada posisi yang tepat. Penggunaan media pembelajaran sebagai alat bantu tidak boleh sembarangan, seorang pengajar harus memperhatikan dan mempertimbangkan apakah media yang akan digunakan sesuai dengan tujuan pengajaran atau tidak.

Beberapa tujuan media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu:

1)  Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat

menumbuhkan motivasi belajar.

2)  Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran.

3)  Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata  komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh  guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru

mengajar pada setiap jam pelajaran.

4)  Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya

mendengarkan uraian guru, mendemontrasikan, memerankan dan  lain-lain[9].

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan media pembelajaran adalah untuk membantu proses pembelajaran dan meningkatkan motivasi belajar siswa.

Levi dan Lentz mengemukakan bahwa terdapat empat tujuan media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu:

1)  Fungsi atensi; yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan  dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.

2)  Fungsi afektif; yaitu media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar atau membaca teks yang bergambar.

3)  Fungsi kognitif; artinya lambang visual atau gambarakan memperlancar pencapaian tujuan yang terkandung dalam gambar.

4)  Fungsi kompensatoris; yaitu media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan dengan secara verbal[10].

Dari uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwaperanan atau kedudukan media pembelajaran merupakan komponen metode mengajar sebagai salah satu upaya untuk menghubungkan prosesinteraksi guru dengan siswa dan siswa dengan lingkungan belajarnya. Dengan demikian, maka fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu  dalam proses pembelajaran, yakni menunjang penggunaan metode mengajar yang digunakan oleh guru. Oleh karena itu, penggunaan media dalam  proses pembelajaran sangat dianjurkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

 

4.  Manfaat Media

Secara umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Tetapi secara lebih khusus beberapa manfaat media yang lebih rinci Kemp dan Dayton misalnya mengidentifikasi beberapa manfaat media dalam pembelajaran, yaitu:

1)  Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan.

Setiap guru mungkin mempunyai penafsiran yang  berbeda-beda terhadap suatu konsep materi pelajaran tertentu. Dengan bantuan media, penafsiran yang beragam tersebut dapat dihindari sehingga dapat disampaikan kepada siswa secara seragam.

2)  Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik.

Dengan berbagai potensi yang dimilikinya, media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi.

3)  Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif.

Media dapat membantu guru dan siswa melakukan komunikasi dua arah secara aktif selama proses pembelajaran.

4)  Efisiensi dalam waktu dan tenaga.

Dengan media, tujuan pembelajaran akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin.

5)  Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa

Penggunaan media bukan hanya membuat proses pembelajaran lebih efisien, tetapi juga membantu siswa menyerap materi belajar lebih mendalam dan utuh.

6)  Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Media pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara lebih leluasa, kapanpun dan dimanapun, tanpa tergantung pada keberadaan seorang guru.

7)  Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan

proses belajar.

Dengan media, proses pembelajaran  menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.

8)  Merubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif[11].

Dengan memanfaatkan media secara baik, seorang guru bukan lagi menjadi satu-satunya sumber belajar bagi siswa.

Selain beberapa manfaat media yang telah dikemukakan di atas, masih banyak manfaat praktis lainnya. Manfaat praktis media pembelajaran antara lain dijelaskan sebagai berikut.

  Media pembelajaran dapat  membuat materi pelajaran yang abstrak menjadi lebih konkrit.

  Media juga dapat mengatasi kendala keterbatasan ruang dan waktu.

  Media dapat membantu mengatasi keterbatasan indera manusia.

  Media juga dapat menyajikan obyek pelajaran berupa benda atau peristiwa langka dan berbahaya ke dalam kelas.

  Informasi pelajaran yang disajikan dengan media yang tepat akan memberikan kesan mendalam dan lebih lama tersimpan pada diri siswa.

Meskipun media banyak ragamnya, namun kenyataannya tidak banyak jenis media yang bisa  digunakan oleh guru di sekolah. Beberapa media yang paling akrab dan hampir semua sekolah memanfaatkannya adalah media cetak (buku) dan papan tulis. Selain itu banyak sekolah yang telah memanfaatkan jenis media lain  seperti gambar, model, dan Overhead Proyektor (OHP) dan obyek-obyek nyata. Sedangkan media lainnya seperti kaset audio, video, VCD, slide (film bingkai), program pembelajaran komputer masih jarang digunakan meskipun sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar guru. Meskipun demikian, sebagai seorang guru alangkah baiknya kita mengenal beberapa jenis media pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar mendorong kita untuk mengadakan dan memanfaatkan media tersebut dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

 

5.  Karakteristik Media Realia dalam Matematika

            media realia adalah benda nyata yang digunakan sebagai bahan atau sumber belajar. Pemanfaatan media realia tidak harus dihadirkan secara nyata dalam ruang kelas, melainkan dapat juga dengan cara mengajak siswa melihat langsung (observasi) benda nyata tersebut ke lokasinya[12].

            Realia dapat digunakan dalam kegiatan belajar dalam bentuk sebagaimana adanya, tidak perlu dimodifikasi, tidak ada pengubahan kecuali dipindahkan dari kondisi lingkungan aslinya. Ciri media realia yang  asli adalah benda yang masih dalam keadaan utuh, dapat dioperasikan, hidup, dalam ukuran yang sebenarnya, dan dapat dikenali sebagai wujud aslinya. Media realia sangat bermanfaat terutama bagi siswa yang tidak memiliki pengalaman  terhadap benda tertentu.

            Misalnya untuk mempelajari binatang langka, siswa diajak melihat badak yang ada di kebun binatang. Selain observasi dalam kondisi aslinya, penggunaan media realia juga dapat dimodifikasi. Modifikasi media realia bisa berupa: potongan benda (cutaways), benda contoh (specimen), dan pameran (exhibid). Cara potongan (cutaways)  adalah benda sebenarnya tidak digunakan secara utuh atau menyeluruh, tetapi hanya diambil sebagian saja yangdianggap penting dan dapat mewakili aslinya. Misalnya binatang langka hanya diambil bagian kepalanya saja.

            Benda contoh (specimen) adalah benda asli tanpa dikurangi sedikitpun. Yang dipakai sebagai contoh untuk mewakili karakter darisebuah benda dalam jenis atau kelompok tertentu. Misalnya beberapa ekor ikanhias dari jenis tertentu, yang dimasukkan dalam sebuah toples berisi air untuk diamati di dalam kelas. Pameran (exhibit) menampilkan benda benda tertentu yang dirancang seolah olah berada dalam lingkungan atau situasi aslinya. Misalnya senjata senjata kuno yang masih asli ditata dan dipajang seolah olah mengambarkan situasi perang pada jaman dulu.

            Dalam memhami karakteristik media realia dalam pembelajaaran matematika, harus juga dipahami mengenai makna dari pembelajaran matematika tersebut Pembelajaran matematika merupakan upaya penataan lingkungan agar proses belajar atau pembentukan pengetahuan dan pemahaman matematika oleh siswa berkembang secara optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan[13] .

            Menurut Erman Suherman, fungsi mata pelajaran matematika sebagai berikut:

a) Alat

            Siswa diberi pengalaman menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan suatu informasi misalnya melalui persamaan-persamaan, atau tabel-tabel dalam model-model matematika yang merupakan penyederhanaan dari soal-soal cerita atau soal-soal uraian matematika lainnya. Bilaseorang siswa dapat melakukan perhitungan tetapi tidak tahu alasannya, maka tentu ada yang salah dalam pembelajarannya atau ada sesuatu yang belum dipahami.

b) Pola Pikir

            Belajar matematika bagi para siswa, juga merupakan pembentukan pola pikir dan pemahaman suatu pengertian maupun penalaran dalam suatu hubungan di antara pengertian-pengertian itu. Di dalam proses penalaran siswa, dikembangkan pola pikir induktif maupun deduktif. Namun semuanya harus disesuaikan dengan perkembangan kemampuan siswa, sehingga pada akhirnya akan sangat membantu kelancaran proses pembelajaran matematika di sekolah.

c) Ilmu Pengetahuan

            Fungsi matematika sebagai ilmu pengetahuan, dan tentunya pengajaran matematika di sekolah harus diwarnai oleh fungsi yang ketiga ini. Guru harus mampu menunjukkan betapa matematika selalu mencari kebenaran, dan bersedia meralat kebenaran yang sementara diterima, bila ditemukan kesempatan untuk mencoba mengembangkan penemuan-penemuan sepanjang mengikuti pola pikir yang sah[14].

            Beberapa jenis media yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Masing-masing media tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan, namun dalam kegiatan belajar mengajar dikelas guru dapat menggabungkan beberapa media dengan tujuan agar penggunaan media dapat saling melengkapi satu sama lain dan dapat menutupikelemahan-kelemahan salah satu media. Oleh sebab itu, hendaknya perhatikan kriteria media yang akan digunakan di kelas. Sudjana dan Rivai menyatakan bahwa:

            “Penggunaan media sangat bergantung kepada tujuan pengajaran, bahan pengajaran, kemudahan memperoleh media yang diperlukan serta kemampuan guru dalam menggunakannya dalam kegiatan belajar mengajar dikelas”[15].

            Secara umum, Wibawa menjelaskan faktor- faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih media atau kriteria pemilihan media dalam matematika adalah:

1)  Tujuan, artinya ketika guru memilih media yang akan digunakan berdasarkan tujuan yang telah dirancang sebelumnya. Jika tujuannya membuat anak memahami konsep bilangan, maka guru dapat mempergunakan papan flanel angka, menyediakan beberapa bentuk angka dan menggunakan benda-benda pada saat mempelajari konsep bilangan.

2)  Karakteristik Siswa, penyediaan media juga berhubungan dengan jumlah anak, dimana lokasi belajarnya dan bagaimana gaya belajaranak di kelas. Dengan begitu, guru dapat menyediakan media sesuai dengan  jumlah anak agar semua anak mendapat kesempatan yang sama untuk mempergunakan media secara optimal.

3)  Karakteristik Media, guru harus mengetahui karakteristik media yang hubungannya dengan keunggulan dan kelemahan media tersebut. Misalnya

guru tidak mempergunakan media foto untuk mengajarkan gerakan, alangkah lebih baik apabila guru menggunakan media video.

4)  Alokasi Waktu, guru harus merencanakan berapa lama  anak mempergunakan media tersebut dan juga guru harus memperhatikan bagaimana cara merapikan kembali media tersebut. Hal ini berhubungan dengan  keefisienan media tersebut.

5)  Ketersediaan, sebelum guru mempergunakan televisi di kelas, guru harus

memperhatikan ketersediaan alat-alat pendukung televisi tersebut. Seperti ketersediaan stop kontak, aliran listrik dan sebagainya.

6)  Efektivitas, berhungan dengan apakah penggunaan media tersebut efektif

dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

7)  Kompatibilitas, media yang akan digunakan harus bersifat praktis, luwes dan tahan lama agar dapat digunakan diwaktu-waktu selanjutnya. Kemudian dalam penggunaanya tidak merepotkan guru dan anak sehingga mudah digunakan.

8)  Biaya, hal ini terkait dengan perawatan media yang  digunakan. Apakah

pemeliharaannya mudah atau memakan biaya yang sangat mahal.

            Berdasarkan beberapa penjelasan tentang kriteria  pemilihan media secara umum, dapat dilihat bahwa kriteria penggunaan mediasecara umum dipertimbangkan pada saat memilih media realia. Wibawa  mengungkapkan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh guru sebelum menggunakan media realia sebagai media pengajaran,  yaitu (1) karena benda nyata itu banyak macamnya, mulai dari benda-benda hidup sampai benda-benda mati, maka perlu dipertanyakan benda-benda atau makhluk hidup apakah yang mungkin dapat dimanfaatkan di kelas secara efisien,(2) bagaimanakah caranya agar benda-benda itu sesuai dengan pola belajar mengajar di kelas, (3) darimana kita memperoleh benda-benda itu.

            Selain itu, untuk penggunaan media pembelajaran agar lebih efektif, Heinich mengajukan model ASSURE. Model ini dicetuskan oleh Heinich  et.al

sejak tahun 1980-an dan terus dikembangkan oleh Smaldino et.al hingga sekarang model ini merupakan singkatan yang terdiri atas istilah [16].

            Model ASSURE merupakan akronim dari  analyze learner, state objective, select methods, media and materials, require learner participant and evaluate and revise. Adapun penjabaran dari ASSURE tersebut yaitu:

a)  Analyze learner (menganalisis peserta didik). Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru harus mengetahui karakteristik atau siapa yang akan kita ajarkan agar metode dan bahan ajar yang kita gunakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Yang perlu dianalisa dari  peserta didik adalah : karakteristik umum, kompetensi prasyarat baik pengetahuan, keterampilan, maupun tentang topik pembelajaran dan gaya belajarnya.

b)  State objective (merumuskan tujuan pembelajaran). Langkah selanjutnya ialah menuliskan tujuan pembelajaran secara spesifik. Tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu agar proses pembelajaran lebih terarah.Tujuan pembelajaran dapat diperoleh dari silabus, buku teks, dari kurikulum utama atau dikembangkan oleh guru.

c)  Select methods,  media and materials(memilih metode, media dan bahan ajar). Agar proses pembelajaran dapat lebih efektif maka guru harus bisa memilih metode, media dan bahan ajar yang tepat sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan tujuan yang hendak dicapai. Disini kecermatan dalam memilih sangat dibutuhkan agar proses pembelajaran tidak sia-sia dan mendaapat hasil yang maksimal. Ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam memilih yaitu : memilih bahan pembelajaran yang sesuai, memodifikasi bahan  pembelajaran yang ada, merancang bahan pembelajaran baru.

d)  Utilize Media and Materials(memanfaatkan media dan bahan ajar). Guru dituntut untuk mampu memanfaatkan media dan bahan ajar seefektif dan semaksimal mungkin. Setelah memodifikasi atau mendesain bahan pembelajaran tahap selanjutnya ialah membuat perencanaan penggunaan bahan pembelajaran tersebut dalam mengimplementasikan metode yang digunakan.

e)  Require learner participant(mengembangkan peran peserta didik). Guru sebagai pengajar dituntut untuk lebih terampil sebagai upaya untuk mengembangkan peran peserta didik agar lebih aktif dalam kegiatan KBM atau dalam penggunaan bahan pembelajaran dapat dilakukandengan melibatkan pembelajaran.

f)  evaluate and revise  (menilai dan memperbaiki). Setelah melakukan KBM maka hal yang perlu dilakukan adalah memberikan penilaian untuk mengukur tingkat pemahaman atas materi yang baru saja diberikan dan setelah itu menilai seluruh komponen yuang ada dalam KBM tadi untuk mengetahui sejauh mana keefektivan dan dapat dijadika masukan bagi perbaikan penyelenggaraan KBM selanjutnya

            Apabila telah mengetahui kriteria dalam penggunaan  media, ada baiknya mempertimbangkan dengan matang sebelum penggunaan media di kelas. Beberapa penjelasan di atas dapat menjadi pertimbangan guru pada saat sebelum mempergunakan media dan dapat dijadikan acuan guru pada saat memilih media realia yang akan digunakan di kelas. Maka hendaknya pemanfaatan media realia sebagai media pengajaran dan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas proses belajar mengajar akan semakin efektif.


[1] Azhar, Arsyad (2002). Media pembelajaran.Jakarta: rajawali Press.p.1.

[2] Ena, Ouda Teda. 2001. Membuat Media Pembelajaran Interaktif dengan Piranti  Lunak Presentasi. Yogyakarta: Indonesian Language and Culture Intensive Ciurse Universiatas Sanata Dharma.

[3] Rachmad, Antonius. 2005. Pengantar Multimedia. Yogyakarta: Fakultas Teknik

Informatika Universitas Kristen Duta Wacana.p.5.

[4] Erman, Suherman. (2003).  Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung:

Universitas Pendidikan Indonesia.p.16

[5] Erman, Suherman. (2003).  Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.p.17

[6] Soedjadi, R. 2000.  Kiat Pendidikan Matematika Di Indonesia. Jakarta: Direktorat

Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.p.11

[7] Herman Hudojo. (2003). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: Universitas Negeri Malang..p.73

[8] http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/12/media-pembelajaran/media. diakses tanggal 2 april 2013

[9] Sudjana dan Rivai.2009. Media pengajaran. Bandung:Sinar Baru.p.2

[10] Azhar, Arsyad (2010). Media pembelajaran.Jakarta: rajawali Press.p.16

[11] Aristo rahadi, 2003. Media Pembelajaran. Direktorat Tenaga kependidikan Direktorat Jendral Pendidikan dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.p.15

[12] Indriana, D. 2011. Ragam Alat Baantu Media Pengajaran. Mengenal, Merancang,  dan Mempraktikannya. Jogjakarta: DIVA Press.p.15.

[13] Esti Wuryastuti. (2008). Upaya Meningkatkan Kemandirian Belajar Matematika Siswa SMP N 1 Minggir Melalui Penerapan Problem Based Learning. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

[14] Erman, Suherman. (2003).  Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.p.56-57

[15] Sudjana dan Rivai.2009. Media pengajaran. Bandung:Sinar Baru.p.2

[16] Anita Lie. (2002). Cooperative Learning. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.p.2

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG D

IBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN BUKU

Dijual E-Book EXCELLENT BIOLOGY FOR SMP  Harga hanya Rp 20.000 (dua puluh ribu rupiah) info dan pemesanan hubungi pak zaif  HP: 081938633462,E-Mail: Zaifbio@gmail.com

2013-04-25_215950

SINOPSIS BUKU

EXCELLENT BIOLOGY FOR SMP

OLEH: HUZAIFAH HAMID S.Pd

            Mata pelajaran Biologi yang tergabung dalam IPA Terpadu pada jenjang pendidikan SMP, merupakan mata pelajaran yang menarik, disukai siswa sekaligus menantang. Meskipun tergolong ilmu pasti, namun mata pelajaran Biologi memiliki keunikan tersendiri. Ciri khas dari setiap mata pelajaran biologi adalah diperlukannya hafalan serta pemahaman yang mendalam pada setiap bab yang dipelajari karena langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, berbeda dengan mata pelajaran ilmu pasti lainnya yang lebih menjurus kea rah berhitung.

Buku EXCELLENT BIOLOGY FOR SMP ini berisi rangkuman pelajaran Biologi kelas VII, VIII, dan IX. Setiap bab yang disajikan dalam buku ini berisi intisari hal-hal yang esensial dan paling penting untuk dipelajari dari setiap bab dalam pelajaran Biologi SMP. Tidak hanya berisi rangkuman pelajaran buku ini juga dilengkapi dengan beberapa contoh gambar yang menunjang penjelasan materi pada setiap bab, sehingga diharapkan siswa menjadi lebih tertarik dan paham. Selain itu hal baru dan berbeda dari buku lainnya adalah pada buku ini terdapat rubrik Temukan. Rubrik ini berisi ajakan untuk membuka website berkaitan dengan materi yang dipelajari. Diharapkan rubrik ini akan mendorong siswa untuk membiasakan diri memperkaya wawasan dan pengetahuan dari berbagai sumber.

IKLAN BUKU

Dijual E-Book CARA MUDAH MEMBUAT MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS ICT(PANDUAN PEMBUATAN BLOG, DAN VIDEO UNTUK PEMBELAJARAN) harga hanya Rp 20.ooo (Dua puluh ribu rupiah) info dan pemesanan hubungi pak zaif  HP: 081938633462,E-Mail: Zaifbio@gmail.com

2013-04-24_222353

SINOPSIS BUKU

CARA MUDAH MEMBUAT MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS ICT

(PANDUAN PEMBUATAN BLOG, DAN VIDEO UNTUK PEMBELAJARAN)

 

Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong pembelajar untuk melakukan praktik-praktik dengan benar.

Ada beberapa media pembelajaran berbasis ICT yang saat ini ramai dibicarakan yaitu Blog dan Video. Blog adalah catatan pribadi seseorang di internet. berisi informasi yang sering di update dan kronologis. Blog memberikan sebuah peluang agar kegiatan belajar lebih menarik dan interaktif. Selain itu, di dalam sebuah blog terdapat fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung potensi setiap pelajar dalam mengembangkan materi pelajarannya seperti adanya video, gambar, hingga Link (jaringan) ke berbagai sumber pembelajaran.  Sedangkan video itu berkenaan dengan apa yang dapat dilihat, utamanya adalah gambar hidup (bergerak; motion), proses perekamannya, dan penayangannya yang tentunya melibatkan teknologi, menurut munadi video adalah teknologi pemprosesan sinyal elektronik meliputi gambar gerak dan suara.

Buku ini akan menjelaskan secara detail dan mudah mengenai cara pembuatan kedua media pembelajaran diatas yaitu pembuatan Blog dan video, tidak hanya panduan yang diberikan di dalam buku ini juga dilengkapi dengan gambar dari setiap proses pembuatan video dan blog sehingga memudahkan pengguna untuk menirunya, selain itu juga di awal pembahasan buku ini pembaca akan diberi definisi, manfaat dan berbagai tinjauan pustaka mengenai video dan blog, jadi jika ingin menjadi guru yang lebih kreatif dan tidak ketinggalan jaman jangan lupa baca buku ini

\

04/28/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , , | 1 Komentar

Kemandirian Belajar

1. Pengertian Kemandirian Belajar

            Belajar mandiri bukan berarti belajar sendiri. Seringkali orang menyalahartikan belajar mandiri sebagai belajar sendiri. Bab II Undang undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Ikapi,2003: 15) yang menyatakan bahwa  pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab. Jelaslah bahwa kata mandiri telah muncul sebagai salah satu tujuan pendidikan nasional kita. Karena itu penanganannya memerlukan perhatian khusus semua guru, apalagi tidak ada mata pelajaran khusus tentang kemandirian.

            Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kemandirian adalah keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain[1].

             Pengertian belajar mandiri adalah sebagai berikut: [2]

1) Setiap individu berusaha  meningkatkan tanggung jawab untuk mengambil berbagai keputusan.

2) Belajar mandiri dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada setiap orang dan situasi pembelajaran.

3) Belajar mandiri bukan berarti memisahkan diri dengan orang lain.

4) Dengan belajar mandiri, siswa dapat mentransferkan hasil belajarnya yang berupa pengetahuan dan keterampilan ke dalam situasi yang lain.

5) Siswa yang melakukan belajar mandiri dapat melibatkan berbagai sumber daya dan aktivitas, seperti: membaca sendiri, belajar kelompok, latihan-latihan, dialog elektronik, dan kegiatan korespondensi.

6) Peran efektif guru dalam belajar mandiri masih dimungkinkan, seperti dialog dengan siswa, pencarian sumber, mengevaluasi hasil, dan memberi gagasan-gagasan kreatif.

7) Beberapa institusi pendidikan sedang mengembangkan belajar mandiri menjadi program yang lebih terbuka (seperti Universitas Terbuka) sebagai alternatif pembelajaran yang bersifat individual dan program-program inovatif lainnya.

            Dari pengertian belajar mandiri menurut Hiemstra di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah perilaku siswa dalam mewujudkan kehendak atau keinginannya secara nyata dengan tidak bergantung pada orang lain, dalam hal ini adalah siswa tersebut mampu melakukan belajar sendiri, dapat menentukan cara belajar yang efektif, mampu melaksanakan tugas-tugas belajar dengan baik dan mampu untuk melakukan aktivitas belajar secara mandiri.

            Kegiatan-kegiatan yang perlu diakomodasikan dalam pelatihan belajar mandiri adalah sebagai berikut:

a) Adanya kompetensi-kompetensi yang ditetapkan sendiri oleh siswa untuk menuju pencapaian tujuan-tujuan akhir yang ditetapkan oleh program pelatihan untuk setiap mata pelajaran.

b) Adanya proses pembelajaran yang ditetapkan sendiri oleh siswa.

c) Adanya input belajar yang ditetapkan dan dicari sendiri. Kegiatan-kegiatan itu dijalankan oleh siswa, dengan ataupun tanpa bimbingan guru.

d) Adanya kegiatan evaluasi diri (self evaluation) yang dilakukan oleh siswa sendiri.

e) Adanya kegiatan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dijalani siswa.

f) Adanya past  experience reviewatau review terhadap pengalaman-pengalaman yang telah dimiliki siswa.

g) Adanya upaya untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa.

h) Adanya kegiatan belajar aktif.[3]

            Berdasarkan uraian tentang kegiatan-kegiatan dalam pelatihan belajar menurut Haris Mudjiman di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa siswa yang memiliki kemandirian belajar adalah siswa yang mampu menetapkan kompetensi-kompetensi belajarnya sendiri, mampu mencari input belajar sendiri, dan melakukan kegiatan evaluasi diri serta refleksi terhadap proses pembelajaran yang dijalani siswa.

2. Aspek-aspek Kemandirian Belajar

            Dalam keseharian siswa sering dihadapkan pada permasalahan yang menuntut siswa untuk mandiri dan menghasilkan suatu keputusan yang baik. Song and Hill (2007: 31-32) menyebutkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu :

1)  Personal Attributes

            Personal attributes merupakan aspek yang berkenaan dengan motivasi dari pebelajar, penggunaan sumber belajar, dan strategi belajar. Motivasi belajar merupakan keinginan yang terdapat pada diri seseorang yang merangsang pebelajar untuk melakukan kegiatan belajar. Ciri-ciri motivasi antara lain:  (a) tanggung jawab (mereka yang memiliki motivasi belajar merasa bertanggung jawab atas tugas yang dikerjakannya dan tidak meninggalkan tugasnya sebelum berhasil menyelesaikannya), (b) tekun terhadap tugas (berkonsentrasi untuk menyelesaikan tugas dan tidak mudah menyerah), (c) waktu penyelesaian tugas (berusaha menyelesaikan setiap tugas dengan waktu secepat dan seefisien mungkin), (d) menetapkan tujuan yang realitas (mampu menetapkan tujuan realistis sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, mampu berkonsentrasi terhadap setiap langkah untuk mencapai tujuan dan mengevaluasi setiap kemajuan yang telah dicapai.

            Dalam belajar, sumber belajar yang digunakan siswa tidak terbatas, asalkan sesuai dengan materi yang dipelajari dan dapat menambah pengetahuan siswa. Sedangkan yang dimaksud dengan strategi belajar di siniadalah segala usaha yang dilakukan siswa untuk menguasai materi yang sedang dipelajari, termasuk usaha yang dilakukan apabila siswa tersebut mengalami kesulitan.

2)  Processes

            Processes merupakan aspek yang berkenaan dengan otonomi proses pembelajaran yang dilakukan oleh pebelajar meliputi perencanaan, monitoring, serta evaluasi pembelajaran. Kegiatan perencanaan meliputi: (a) mengelola waktu secara efektif (pembuatan jadwal belajar, menyusun kalender studi untuk menulis atau menandai tanggal-tanggal penting dalam  studi, tanggal penyerahan tugas makalah, tugas PR, dan tanggal penting lainnya, mempersiapkan buku, alat tulis, dan peralatan belajar lain), (b) menentukan prioritas dan manata diri (mencari tahu mana yang paling penting dilakukan terlebih dahulu dan kapan mesti dilakukan).

3)  Learning Context

            Fokus dari learning context adalah faktor lingkungan dan bagaimana faktor tersebut mempengaruhi tingkat kemandirian pebelajar. Ada beberapa faktordalam konteks pembelajaran yang dapat mempengaruhi pengalaman mandiri pebelajar antara lain, structure dan nature of task.

            Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemandirian belajar siswa merupakan suatu bentuk belajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan tujuan belajar, perencanaan belajar, sumber-sumber belajar, mengevaluasi belajar, dan menentukan kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhannya sendiri. Aspek yang menunjukkan kemandirian belajar siswa dalam penelitian ini, yaitu personal attributes,  processes, dan learning context. Dalam pembelajaran matematika, kemandirian belajar dapat dilakukan dalam kegiatan berdiskusi.Semakin besar peran aktif siswa dalam berbagai kegiatan tersebut, mengindikasikan bahwa siswa tersebut memiliki kemandirian belajar yang tinggi.


[1] Departemen Pendidukan Nasional. (2006). Panduan Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan ( KTSP ) SD/MI. Jakarta : Depdiknas.

[2] Hiemstra. (1994). “Self Directed Learning”. [Online]. Tersedia: http://www.nwrel.org/

planning/report/self directed learning/index.php. [02 April 2013].P. 1

[3] Mujiman, Haris ( 2006 ).  Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.p. 20-21

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN BUKU

Dijual E-Book EXCELLENT BIOLOGY FOR SMP  Harga hanya Rp 20.000 (dua puluh ribu rupiah) info dan pemesanan hubungi pak zaif  HP: 081938633462,E-Mail: Zaifbio@gmail.com

2013-04-25_215950

SINOPSIS BUKU

EXCELLENT BIOLOGY FOR SMP

OLEH: HUZAIFAH HAMID S.Pd

            Mata pelajaran Biologi yang tergabung dalam IPA Terpadu pada jenjang pendidikan SMP, merupakan mata pelajaran yang menarik, disukai siswa sekaligus menantang. Meskipun tergolong ilmu pasti, namun mata pelajaran Biologi memiliki keunikan tersendiri. Ciri khas dari setiap mata pelajaran biologi adalah diperlukannya hafalan serta pemahaman yang mendalam pada setiap bab yang dipelajari karena langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, berbeda dengan mata pelajaran ilmu pasti lainnya yang lebih menjurus kea rah berhitung.

Buku EXCELLENT BIOLOGY FOR SMP ini berisi rangkuman pelajaran Biologi kelas VII, VIII, dan IX. Setiap bab yang disajikan dalam buku ini berisi intisari hal-hal yang esensial dan paling penting untuk dipelajari dari setiap bab dalam pelajaran Biologi SMP. Tidak hanya berisi rangkuman pelajaran buku ini juga dilengkapi dengan beberapa contoh gambar yang menunjang penjelasan materi pada setiap bab, sehingga diharapkan siswa menjadi lebih tertarik dan paham. Selain itu hal baru dan berbeda dari buku lainnya adalah pada buku ini terdapat rubrik Temukan. Rubrik ini berisi ajakan untuk membuka website berkaitan dengan materi yang dipelajari. Diharapkan rubrik ini akan mendorong siswa untuk membiasakan diri memperkaya wawasan dan pengetahuan dari berbagai sumber.

IKLAN BUKU

Dijual E-Book CARA MUDAH MEMBUAT MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS ICT(PANDUAN PEMBUATAN BLOG, DAN VIDEO UNTUK PEMBELAJARAN) harga hanya Rp 20.ooo (Dua puluh ribu rupiah) info dan pemesanan hubungi pak zaif  HP: 081938633462,E-Mail: Zaifbio@gmail.com

2013-04-24_222353

SINOPSIS BUKU

CARA MUDAH MEMBUAT MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS ICT

(PANDUAN PEMBUATAN BLOG, DAN VIDEO UNTUK PEMBELAJARAN)

 

Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong pembelajar untuk melakukan praktik-praktik dengan benar.

Ada beberapa media pembelajaran berbasis ICT yang saat ini ramai dibicarakan yaitu Blog dan Video. Blog adalah catatan pribadi seseorang di internet. berisi informasi yang sering di update dan kronologis. Blog memberikan sebuah peluang agar kegiatan belajar lebih menarik dan interaktif. Selain itu, di dalam sebuah blog terdapat fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung potensi setiap pelajar dalam mengembangkan materi pelajarannya seperti adanya video, gambar, hingga Link (jaringan) ke berbagai sumber pembelajaran.  Sedangkan video itu berkenaan dengan apa yang dapat dilihat, utamanya adalah gambar hidup (bergerak; motion), proses perekamannya, dan penayangannya yang tentunya melibatkan teknologi, menurut munadi video adalah teknologi pemprosesan sinyal elektronik meliputi gambar gerak dan suara.

Buku ini akan menjelaskan secara detail dan mudah mengenai cara pembuatan kedua media pembelajaran diatas yaitu pembuatan Blog dan video, tidak hanya panduan yang diberikan di dalam buku ini juga dilengkapi dengan gambar dari setiap proses pembuatan video dan blog sehingga memudahkan pengguna untuk menirunya, selain itu juga di awal pembahasan buku ini pembaca akan diberi definisi, manfaat dan berbagai tinjauan pustaka mengenai video dan blog, jadi jika ingin menjadi guru yang lebih kreatif dan tidak ketinggalan jaman jangan lupa baca buku ini

04/28/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Picture to Picture

Salah satu model pembelajaran kooperatif yang mejadi bahan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) adalah model  picture to picture. Pembelajaran dengan menggunakan model ini menitikberatkan kepada gambarsebagai media penanaman sutu konsep tertentu. Gambar-gambar yang disajikan atau diberikan menjadifactor utama dalam proses pembelajaran karena siswa akan belajar memahami suatu konsep atau fakta dengan cara mendeskripsikan dan menceritakan gambaryang diberikan berdasarkan ide/gagasannya. Dalam proses pembelajarannya penggunaan media gambar dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif, kreatif dan menemukan sendiri dengan bantuan guru materi yang dipelajari.

Media gambar menurut Riyanto (1990) merupakan salah satu jenis bahasa yang memungkinkan terjadinya komunikasi, yang diekspresikan lewat tanda dan simbol.  Media gambar merupakan salah satu jenis bahasa yangmemungkinkan terjadinya komunikasi, yang diekspresikan lewat tanda dan simbol.

Jenis jenis media gambar menurut  menurut Riyanto (1990)  dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1.Foto dokumentasi; menyangkut dokumen yang berhubungan dengan nilai sejarah.

2.Foto aktual; gambar atau problem aktual ini menggambarkan kejadian kejadian atau problem aktual.

3.Gambar atau foto reklame; gambar ini bertujuan untuk mempengaruhi manusia dengan tujuan komersial. Gambar ini terdapat dalam  surat kabar, majalah-majalah, buku-buku, poster-poster. Gambar ini dapatdigunakan sebagai media pendidikan dalam pelajaran ekonomi, pengetahuan sosial,bahasa dan lain-lain.

4.Gambar atau foto simbolik; jenis ini terutama dalam bentuk simbol yang mengungkapkan pesan tertentu, misalnya gambar ular  yang sedang makan kelinci merupakan simbol yang mengungkapkan suatu kehidupan manusia yang mendalam.

Sudjana dan Rivai (2002) mengungkapkan beberapa kelebihan pembelajaran dengan mengunakan media gambar sebagai berikut:

a. konkrit, lebih realistis dan menunjukkan pokok masalah atau pesan yang akan

dikomunikasikan bila dibandingkan media verbal.

b. dapat mengatasi batasan ruang dan waktu

c. dapat mengatasi keterbatasan indera

d. dapat memperjelas suatu masalah yang kompleks

e. murah harganya dan mudah diperoleh.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model picture to picture mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan model yang lainnya yaitu :

1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa

2. Melatih berpikir logis dan sistematis.

3. Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar.

4. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.

5. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya

Sedangkan Koyok dan Zurkarimen dikutip Moh Uzer Usman (1992), berpendapat bahwa kelemahan media gambar adalah gambar hanya menekankan persepsi indera mata dan gambar yang terlalu kecilkurang efektif dalam kegiatan pengajaran. Begitu pula dengan Riyanto (1990), memberikan beberapa kelemahan dari penggunaan media gambar sebagi berikut:

(1) tafsiran orang yang melihat gambar akan berbeda akan terjadi ketidak samaan dalam penafsiran gambar,

(2) gambar hanya menampilkan persepsi indera mata,

(3) gambar hanya disajikan dalam ukuran kecil mengakibatkan kurang efektif untuk proses pengajaran.

Langkah-langkah pembelajaran dengan model  picture to picture adalah sebagai berikut :

1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai

Langkah pertama ini sangat penting disampaikan kepada siswa agar mereka dapat mengukur sejauh mana materi yang harusdikuasainya. Di samping itu guru juga harus menyampaikan indikator-indikator ketercapaian kompetensi dasar, dengan tujuan agar siswa dapat mencapai kriteria ketuntasan mninimal yang ditetapkan

2. Guru menyajikan materi sebagai pengantar pembelajaran Penyajian materi sebagai pengantar merupakan hal yang sangat penting diberikan oleh guru dengan tujuan mengarahkan siswaagar mencapai tujuan yang ditetapkan . Dalam penyampaiannya , guru haruslah kreatif mencari cara dan teknik yang baik agar siswa termotivasi untuk belajar lebih dalam tentang materi yang akan dipelajari

3.  Guru menunjukkan gambar atau memperlihatkan gambar  yang berhubungan dengan materi Dalam langkah ini, guru memperlihatkan beberapa gambar yang yang berhubungan dengan materi yang akan diajarkan dan menanyakan kepada siswa tentang nama, ciri-ciri benda yang ditunjukkan .

4.  Guru memberikan kumpulan gambar kepada siswa dalam kelompok. Dalam langkah ini guru haruslah dapat melakukan inovasi agar gambar yang menjadi media untuk model pembelajaran ini dapat menarik dan memotivasi siswa untuk memahami suatu konsep yang diajarkan

4. Siswa mengamati gambar- gambar dan mengklasifikasi ciri-ciri. Pada langkah ini, siswa dalam kelompok mengamati gambar-gambar yang diberikan guru. Siswa melakukan diskusi kelompok untuk menentukan nama, ciri-ciri benda yang diamati. Hasil diskusi kelompok dicatat dalam catatan khusus , dipandu dengan lembaran kerja siswa yang dibuat guru

5. Siswa mengemukan pendapat/mempresentasikan alasan pemikiran. Siswa dilatih untuk mengemukan alasan pemikiran atau pendapat tentang hasil diskusi kelompoknya dengan cara melaporkan hasilnya di depan kelas. Dalam lngkah ini peran guru sangatlah penting sebagai fasilitator dan motivator adar siswa bernai mengemukan pendaptnya. Biasanya siswa pada kelas rendah tidak berani untuk berbicara kecuali dituntun dan dimotivasi oleh gurunya.

6. Guru bersama sama dengan siswa melakukan diskusi kelas tentang hasil pemikiran dari tiap kelompok. Guru dapat meotivasi dan mengajak siswa untuk berdiskusi, bertanya kepada teman yang melaporkan pekerjaannya di depan kelas. Pekerjaan ini sangat sulit dilakukan, sehingga guru harus berinovasi agar siswa mau bertanya dan menjawab pertanyaan gdari temannya maupun dari guru. Guru bisa membantu dengan memberikan kalimat yang belum lengkap sehingga siswa bisa melanjutkan apa yang akan disampaikan.

7. Penarikan kesimpulan pembelajaran bersama-sama. Langkah terakhir pada pembelajaran dengan model  picture to picture adalah guru mengajak siswa untuk dapat bersama-sama menyimpulkan materi yang dipelajari dengan kata-kjata dan bahasasendiri. Pada langkah ini , guru harus sering melakukan penekanan-penekanan pada hal yang ingin dicapai dengan meminta siswa lain mengulangi, dan menuliskan kembali konsep-konsep yang ingin dicapaisesuai dengan indikator yang harapkan.

main_education

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

04/05/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | 1 Komentar

Evaluasi

1. Pengertian Evaluasi

Tujuan umum untuk mengevaluasi haruslah jelas. Untuk menentukan strategi evaluasi yang cocok, seorang peneliti harus mengetahui mengapa evaluasi  dilaksanakan (Brinkerhoff, 1983:16). Apakah evaluasi akan digunakan untuk menemukan permasalahan, memecahkan permasalahan, menyediakan informasi yang sedang berlangsung, atau memutuskan keberhasilan program? Alasan umum untuk mengevaluasi akan membantu evaluator menentukan strategi untuk melahirkan pertanyaan-pertanyaan evaluasi secara khusus. “The first step in thutilization-focused approach to evaluation is identification and organization of relevant decision makers for information users of the evaluation” (Patton, 1978: 61).

Untuk memutuskan tujuan suatu evaluasi, seorang evaluator membuat keputusan mengenai evaluasi tersebut. “Most evaluation studies arise from the interest in oversight” (Levine, 1981:134). Sementara ada tujuan yang dikesampingkan atau terpusat secara umum untuk dimanfaatkan dengan evaluasi, evaluator akan menemukan bahwa audienceyang berbeda akan memiliki alasan berbeda pula untuk menginginkan evaluasi yang sama. Maka dari itu, audience bermaksud akan menggunakan hasil tersebut dengan berbeda pula (Brinkerhoff,1983: 16).

Stufflebeam (1985: 3) menyatakan ‘’The standard definition of evaluation is as follows: Evaluation is the systematic assessment of the worth or merit of some object’’. Stufflebeam (1985: 174) juga menyatakan, “a process evaluation is an ongoing check on the implementation of a plan”. Demikian pula Gronlund (1971: 6) mengemukakan definisi tentang evaluasi sebagai berikut. Evaluasi dapat dikemukakan sebagai suatu proses sistematis dari menentukan tingkat capaian tujuan bahan pelajaran yang diterima oleh siswa. Gronlund (1981: 36) juga mengemukan kembali bahwa evaluasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang sistematis untuk mengumpulkan dan menginterpretasikan informasi tentang pencapaian pemebelajaran guna menentukan nilai. Selanjutnya Lynch (1996:2) mendefinisikan “evaluation is defined here as the systematic attempt to gather information in order to make judgements or decisions”. Nunan (1992: 13) membandingkan bahwa evaluasi lebih luas dalam konsep daripada penilaian. Demikian pula Baumgartner & Jackson (1995: 154) mengemukakan, “Evaluation often follows measurement, taking the form of judgement about the quality of a performance”. Ghani, Hari, & Suyanto (2006: 70) mengemukakan bahwa istilah ‘evaluasi’ sering membingungkan penggunaannya terutama dalam pembelajaran.

Kadang-kadang ‘evaluasi’ disamakan dengan ‘pengukuran’ atau juga digunakan untuk menggantikan istilah ‘pengujian.” Ketika guru menyelenggarakan tes hasil belajar, mereka mungkin mengatakan: ‘menguji prestasi’, ‘mengukur prestasi’, atau mengevaluasi prestasi.’ Selanjutnya, dalam kasus lain istilah evaluasi juga diartikan sebagai metode penelitian yang tidak tergantung pada pengukuran. Sebenarnya, istilah evaluasi mengandung dua pengertian, yakni evaluasi sebagai deskripsi kualitatif dari perilaku siswa dan sebagai deskripsi kuantitatif dari hasil pengukuran (misalnya: skor tes). Untuk jelasnya arti istilah tes, pengukuran, dan
evaluasi dapat diperbandingkan sebagai berikut:

(a) Tes adalah suatu instrumen atau prosedur sistematis untuk mengukur contoh perilaku siswa;

(b) Pengukuran adalah suatu proses perolehan deskripsi numerik dari ciri khusus penguasaan siswa; dan

(c) Evaluasi adalah proses sistematis dari pengumpulan, analisis, dan penafsiran informasi guna menentukan sejauh mana siswa mencapai tujuan pembelajaran.

Jadi evaluasi lebih komprehensif dan mencakup pengukuran, sedangkan pengujian hanyalah merupakan salah satu bagian dari pengukuran. Istilah pengukuran hanya terbatas pada deskripsi kuantitatif dari perilaku siswa. Hasil pengukuran hanya selalu berbentuk angka (misalnya: siswa A menjawab benar 30 butir dari 50 butir pertanyaan), dan tidak mencakup deskripsi kualitatif(misalnya: siswa B mendapat nilai paling jelek). Disisi lain, evaluasi dapat mencakup deskripsi kuantitatif (pengukuran) dan deskripsi kualitatif (bukan pengukuran) dari perilaku siswa. Selanjutnya, evaluasi selalu mencakup pertimbangan nilai (value judgement) atas hasil yang diperoleh (misalnya: siswa C mencapai kemajuan yang berarti dalam pelajaran tertentu).

Selanjutnya Anderson & Ball (Ghani, Hari, & Suyanto, 2006:71) mengemukakan bahwa evaluasi adalah proses yang menentukan sampai sejauh mana tujuan pendidikan dapat dicapai. Menurut Cronbach (Ghani, Hari, & Suyanto, 2006: 71) evaluasi adalah menyediakan informasi untuk pembuatan keputusan. Sehubungan dengan pembelajaran, evaluasi yang dimaksud adalah suatu proses pengumpulan data untuk menentukan manfaat, nilai, kekuatan, dan kelemahan pembelajaran yang ditujukan untuk merevisi pembelajaran guna meningkatkan daya tarik dan efektifitasnya. Dalam proses pembelajaran dikenal adanya evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif dilaksanakan selama berlangsungnya suatu program pembelajaran yang bertujuan untuk perbaikan dan peningkatan program, sedangkan evaluasi sumatif dilaksanakan pada akhir pelaksanaan suatu program pembelajaran yang bertujuan untuk pengambilan keputusan akhir (biasanya dilakukan setelah berakhirnya pembelajaran suatu materi tertentu). Philips (1991: 62) juga mengemukan,”evaluation is a sytematic process with several important parts”. Demikian pula Worthen & Sanders (2002:129) mengemukakan “Evaluation is the process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives”. Hubungan antara pengukuran dan evaluasi dapat dilihat dari penjelasan Gronlund (1971: 6) sebagai berikut: Evaluasi = Deskripsi kuantitatif dari siswa (pengukuran) + Penetapan nilai (value Judgement), Evaluasi = Deskripsi kualitatif dari siswa (bukan pengukuran) + Penetapan nilai (value Judgement). Weiss (1972: 6) mengungkapkan bahwa evaluasi adalah pembandingan “what is” dengan “what should be”. Walaupun peneliti sendiri tetap tidak bias dan objektif, peneliti terfokus pada fenomena yang mendemonstrasikan apakah program tersebut menerima tujuan yang diinginkannya. Secara sederhana Azwar (2004: 7) mengemukakan karakteristik evaluasi adalah: “(1) Merupakan perbandingan anatara hasil ukur dengan suatu norma atau suatu kriteria; (2) Hasilnya bersifat kualitatif; dan (3) Hasilnya dinyatakan secara evaluatif”.

Para evaluator memerlukan berbagai keahlian supaya lebih efektif dalam mengevaluasi. Selain itu mereka seharusnya menjadi ahli analisisyang baik sehingga tidak salah tafsir makna yang terkandung di dalam penomena yang menjadi data. Mereka seharusnya juga memiliki keahlian pemasaran. Mereka harus mengkomunikasikan nilai evaluasi kepada pengambil kebijakan dan para manager yang mungkin tidak menyadari keuntungan dari bantuan evaluasi yang sistematis. Dengan demikian para pengambil kebijakan dan manager akan mendapatkan manfaat dari evaluasi sehingga mereka akan menemukan jalan keluar dari permasalahan yang mereka hadapi. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Wholey, Harty, & Newcomer (1994: 591) sebagai berikut.

Evaluators need a variety of skills to be effective. They should be good analysts. They should be gifted at listening. Evaluators should also possess marketing skills. They must communicate the value of evaluation to policy-makers and managers who may not appriciate the benefits to be derived from systematic evaluation efforts.

Jadi komponen yang perlu dipertimbangkan dalam sistem evaluasi menurut Stronge (2006: 82) adalah:
(a) Pernyataan tujuan; (b) Kriteria kinerja; (c) Rating scaleyang mendefinisikan standar kinerja; (d) Deskripsi prosedur yang digunakan untuk mengumpulkan informasi pada kinerja; dan (e) Alat meringkas informasi yang formal pada kinerja, seperti suatu ringkasan evaluasi.

Sebagai contoh komponen proses pembelajaran yang perlu dievaluasi dikemukakan oleh Ghani, Hari, & Suyanto (2006: 74) adalah:
(a) Apakah strategi yang digunakan telah terbukti efektif?; (b) Apakah media pembelajaran yang ada telah dimanfaatkan secara optimal?; (c) Apakah cara mengajar telah berhasil membantu mengajar secara optimal? ; dan (d) Apakah cara belajarnya efektif?

Contoh komponen outputyang perlu dievaluasi adalah bagaimana prestasi peserta didik? Evaluasi ini sebaiknya terpisah dari objek evaluasi lainya. Evaluasi terhadap outputpembelajaran adalah evaluasi hasil belajar siswa.

2. Evaluasi Program

Evaluasi program adalah proses menentukan kualitas suatu programsecara sistematis dan bagaimana program tersebut dapat ditingkatkan (Sanders & Sullins, 2006: 1). Racangan untuk suatu evaluasi didukung oleh (1) seperangkat pengukuran kinerja program secara kuantitatif atau kualitatif (2)seperangkat analisis yang digunakan pengukuran untuk menjawab pertanyaan kunci tentang kinerja program. Evaluasi dirancang termasuk cara untuk menggambarkan sumber program, aktivitas program, dan outcomesprogram sebanding dengan metode untuk mengestimasi pengaruh aktivitas program, yaitu, perbedaan antara outcomesprogram dan outcomesyang telah terjadi tanpa program (Wholey, Harty, Newcomer, 1994: 11).

Evaluasi program termasuklah pengukuran kinerja program—sumber biaya, aktivitas program, dan outcomesprogram—dan pengujian asumsi sementara yang berhubungan dengan tiga elemen ini. Satu kontribusi potensial penting dari evaluasi program adalah kegunaanya oleh pengambil kebijakan, manager, dan staf untuk mengubah sumber, aktivitas, atau tujuan programuntuk meningkatkan kinerja program. Bagaimanapun juga, evaluasi mengandung lebih banyak seni daripada ilmu pengetahuan. Rencana setiap dukungan evaluasi membutuhkan keputusan pekerjaan yang sulit sebagai evaluatormencoba untuk mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab. Evaluator harus mengimbangi yang dapat dilakukan dan biaya desain dengan keuntungan hasil evaluasi dalam meningkatkan kinerja program atau mengkomunikasikan nilai aktivitas program kepada pengambil kebijakan atau masyarakat umum(Wholey, Harty, & Newcomer, 1994: 15).

Para ahli evaluasi seperti Alex Astin & Bob Panos (Madaus, Scriven & Stufflebeam, 1986: 293) mengatakan bahwa tujuan prinsip evaluasi adalah untuk menghasilkan informasi yang dapat memandu keputusan mengenai adopsi atau modifikasi program pendidikan. Evaluasi diharapkan untuk menyelesaikan berbagai tujuan:
(a) Mendokumentasikan kejadian; (b) Mencatat perubahan siswa; (c) Mendeteksi daya kelembagaan; (d) Menempatkan kesalahan bagi permasalahan; (e) Membantu membuat keputusan administratif; (f) Memfasilitasi aksiperbaikan; dan (g) Meningkatkan pemehaman kita terhadap pembelajaran.

Masing-masing tujuan ini berhubungan secara langsung atau tidak pada nilai suatu program dan mungkin suatu tujuan legitimasi untuk studi evaluasi tertentu. Hal ini sangatlah penting untuk disadari bahwa masing-masing tujuan membutuhkan data yang terpisah: semua tujuan tidak dapat disajikan dengan pengumpulan data tunggal.

Perencanaan untuk melaksanakan evaluasi program secara individu dan perencanaan terorganisasi bagi produksi dan kegunaan adalah dua hal yang berbeda. Pertama termasuk proses penemuan fakta yang terkenal, bagipertanyaan bijak yang diberikan, kesesuaian metode untuk jawabannya. Hal ini termasuklah keahlian merancang studi, membangun perbandingan, mengembangkan pengukuran pada data yang akan dikumpulkan, menyelidiki sumber data potensial, dan menggambarkan teknik analisis yang digunakan. Suatu proses perencanaanbiasanya diikuti jalur penelitian tradisional dan terfokus pada aspek teknik (yaitu, metodologi dan statistik) bukti kelengkapan pada pandangan kebijakan.

Perencanaan untuk keberhasilan unit evaluasi program, bagaimanapun juga—termasuk perjalanan singkat menjadi wilayah sedikit terkenal dan dipikirkan suatu aktivitas politik yang penting yang hanya teknik terpisah secara alami. Seperti semua perencanaan, perencanaan memiliki suatu tujuan: membuat perbedaan kualitas kebijakan pemerintah dan program pemerintah dengan mengimformasikan keputusan pengambil kebijakan melalui temuan evaluasi program. Walaupun tujuan ini adalah tanpa kesalahan dan dikenal, tujuan ini juga tidak cukup jelas. Perencana memerlukan tujuan yang lebih khusus untuk menyentuh kenyataan lebih mendalam.
a. Definisi Program
Sebuah program didefinisikan sebagai seperangkat sumber dan aktivitas yang menuju satu tujuan umum atau lebih. Termasuklah kedua sumber dan aktivitas dalam definisi ini terfokus pada perhatian perilaku yang diinginkan dari program staf dan pada sumber lainnya perlu untuk memberikan layanan program. Dalam praktiknya, “program” adalah dua tipe yang cukup berbeda, dengan implikasi yang berbeda bagi proses evaluasi: sejumlah program dan program yang ditargetkan secara khusus dengan baik. Sejumlah program sering terjadi di dalam sistem pemerintahan dan bagian sistem pemerintahan ketika istilah “program” adalah sutu klasifikasi pendanaan untuk aktivitas yang diorientasikan sekitar suatu tujuan global. Aktivitas khusus dilakukan dengan lokal cenderung secara terpisah dari yang lain. Evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program (Arikunto, 1999: 290). Evaluasi program untuk sejumlah program sering terfokus pada peserta monitoring dan aktivitas, kemudian pengukuran outcomes, dengan sedikit tekanan pada metode untuk mencapai kesepakatan dari kenyataan apakah program tersebut menyebabkan outcomes (Wholey, Harty, & Newcomer, 1994: 41).

Pada dasarnya evaluasi terhadap suatu program dapat dilaksanakan secara mandiri oleh pengelola program, atau dilaksanakan oleh pihak luar. Evaluasi yang dilakukan secara mandiri oleh pengelola program atau sering dikenal dengan evaluasi internal, lebih berfungsi sebagai pembinaan dan untuk evaluasi diri. Desentralisasi pendidikan berdasarkan atas kerelaan pengembangan dan administrasi pusat untuk mengizinkan sekolah untuk  membuat keputusan sendiri. Sekolah berbasis manajeman telah menjadi administratif (Brown, 1990: 129). Caldwell & Spinks (1992: 4) mengemukakan, “a self-managing school is a school in a system of education where there has been significant and consistent decentralisation to the school level of authority to make decisions related to the allocation of resorces”. Karena itu sekolah penting untuk mengevaluasi dirinya sendiri sebagai pembinaan. Evaluasi yang dilakukan oleh pihak luar lebih berfungsi sebagai pengawasan dan menjamin akuntabilitas program yang dilaksanakan oleh sekolah tersebut (Depdiknas, 2005: 5-7). Evaluasi internal dan eksternal dapat diuraikan berikut ini.

1) Evaluasi Internal
Sanders & Sullins (2006: 9) mengemukakan bahwa suatu evaluasi internal, yang diadakan secara internal oleh staf yang bekerja pada program tersebut, biasanya berkembang secara alami. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan feedback pada aspek program yang tinjauan dan kemungkinan revisi sedang berlangsung. Apa yang berjalan dengan baik dan apa yang tidak? Apakah perlu perbaikan? Apakah perlu perbaikan di pertengahan keberlangsungan program tersebut? Evaluasi pada umumnya tidak dimaksudkan untuk pihak luar; bagaimanapun, evaluasi dapat berbagi dengan pihak luar sebagai cara demonstrasi bahwa staf sekolah menerapkan peraturan aktif dalam mengevaluasi dan meningkatkan sekolah mereka sendiri.

Sebagaimana evaluasi juga disarankan untuk memiliki seorang peninjau evaluasi program formatif dari luar, disebut meta evaluasi, dengan evaluator eksternal yang independen untuk memperhatikan penyimpangan evaluator internal. Evaluasi internal dilaksanakan sendiri oleh pelaksana program di berbagai tingkatan sebagai berikut:
(a) Di tingkat pusat; (b) Penanggungjawab evaluasi adalah Satkerpusat, yang dalam pelaksanannya dibantu oleh seksi evaluasi dan penyelesaian masalah tingkat pusat; (c) Di tingkat propinsi; (d) Penanggung jawab evaluasi adalah Satker pusat, yang dalam pelaksanannya dibantu oleh Seksi evaluasi dan penyelesaian masalah tingkat propinsi; dan (e) Di tingkat kabupaten/kota.

Penanggung jawab evaluasi adalah Satker pusat, yang dalam pelaksanannya dibantu oleh Seksi evaluasi dan penyelesaian masalah tingkat Kabupaten/Kota. Walaupun dalam pelaksanaannya pengelola program dapat bekerja sama dengan pihak luar dalam proses pengumpulan datanya, namun segal tanggung jawab terhadap pelaksanaan dan hasil evaluasi sepenuhnya ada pada pengelola program di setiap tingkatan. Pelaksanaan kerjasama ini dapat dilakukan dalam hal:
(a) Melakukan seleksi indikator dan penetapan fokus evaluasi; (b) Mengumpulkan dan mengelola data; (c) Menjadi tim evaluasi atau personel site visit;(d) Menggunakan data yang telah dikumpulkan oleh lembaga lain (Badan Pengawas Sekolah atau sumber yang lain); dan (e)Melakukan evaluasi dan memberikan evaluasi.

Fungsi evaluasi diri, pengelola program dapat melakukan evaluasi pada akhir program ini untuk melengkapi informasi yang akan digunakan sebagai bahan analisis dan penyususnan laporan akhir program. Di dalam bahasa Inggris, Ria-Dickins & Germaine (1998: 82) menyatakan,”Investigations by teachers, whether as classroom evaluation or action research, cannot contribute to the profession and discipline of applied linguistics while living by another, less rigorous set of principles.”

2) Evaluasi Eksternal
Tipe evaluasi lainnya, evaluasi eksternal, diselenggarakan oleh staf yang di luar pelaksana program (Sanders & Sullins, 2006: 9). Evaluasi biasanya dimotivasi oleh pertanyaan-pertanyaan dari luar dan memerlukan respon yang akurat terhadap pertanyaan yang diajukan pihak luar. Evaluasi eksternal adalah sumatif: keputusan tentang penggantian, pemeriksaan, penghargaan, atau keputusan akuntabilitas adalah hasil akhir.

Karena tekanan pada akuntabilitas dalam evaluasi program sumatif, evaluator eksternal lebih efektif karena independen dan kemampuan mereka untuk melangkah kembali mengambil pandangan objektif pada gambaran besar, yang mungkin termasuk lebih dari memperhatikan sekolah atau wilayah sekolah. Komunitas, daerah bagian, dan persoalan pemerintah menjadi berperan dalam evaluasi sumatif. Evaluator eksternal sering berperan sebgai pembina evaluasi yang profesional.

Pelaksanaan evaluasi dapat dilakukan juga dengan pihak lain. Hal tersebut penting dilakukan agar transparansi, objektivitas, dan akuntabilitas dapat benar-benar terjaga. Evaluasi eksternal ini dapat dilakukan oleh berbagai pihak seperti:

(a) Tim evaluasi independen: perguruan tinggi, DPRD, Bapeda, dan BIN pendidikan atau tim independen khusus yang ditunjuk oleh pemerintah;

(b) Unsur masyarakat dari unsur dewan pendidikan, LSM, BMPS, maupun organisasi masyarakat/kependidikan lainnya; (c) Instansi pengawasan: BPK, BPKP, inspektorat jendral, dan Bawasda propinsi dan kabupaten/kota; dan (d) Unit-unit pengaduan masyarakat yang terdapat di sekolah, kabupaten/kota, propinsi dan pusat.

3. Evaluasi Pembelajaran
Secara umum, ada dua macam evaluasi yang kita kenal, yakni evaluasi hasil belajar dan evaluasi proses pembelajaran (Ghani, Hari, & Suyanto, 2006:72). Evaluasi hasil pembelajaran disebut juga evaluasi substantif, atau populer dengan sebutan tes dan pengukuran hasil belajar. Sedang evaluasi proses pembelajaran, yang oleh beberapa ahli, ada pula yang menyebutnya sebagai evaluasi diagnostik atau juga evaluasi menajerial.

Ada tiga menfaat evaluasi proses pembelajaran menurut Ghani, Hari, & Suyanto (2006: 72) yaitu memahami sesuatu, membuat keputusan, dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Seorang pendidik membutuhkan berbagai informasi tentang sesuatu agar proses pembelajaran yang akan dilakukan berjalan optimal. Contoh: Seorang pendidik membutuhkan informasi tentang calon anak didik yang akan diajarnya, agar ia mampu menentukan entry behavioryang dimiliki peserta didik atau hal-hal lain secara tepat. Pertanyaan-pertanyaan evaluasi yang relevan diajukan, antara lain apakah peserta didik sudah cukup menguasai beberapa pelajaran atau pokok bahasan yang menjadi persyaratan pelajaran yang saya ajarkan ini?; Berapa banyak peserta didik yang memiliki cukup fasilitas yang disyaratkan oleh pelajaran ini?; Bagaimana tingkat motivasi peserta didik dalam mengikuti pelajaran?; Mengapa mereka mengambil pelajaran ini, dan bukan yang lain?; dll. Tidak hanya itu, pendidik perlu juga melakukan evaluasi terhadap keberadaan saranah dan prasaranah yang dibutuhkan. Contoh pertanyaan evaluasi yang diajukan antara lain, apakah bahan-bahan yang akan dipakai dalam paraktik laboraturium telah tersedia dalam jumlah yang cukup?; apakah ukuran ruang kelas sebanding dengan jumlah peserta didik yang mengambil pelajaran tersebut? Apakah pendidik akan bertahan dengan kondisi pembelajaran yang acak-acakan dan tidak terkontrol sampai dengan akhir pelajaran?; dll. Yang penting diperhatikan adalah pendidik hendaknya memahami dirinya sendiri. Misalnya, apakah ada hal-hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan diri pendidik?; Apakah proses pembelajaran berikutnya akan sama dengan pembelajaran yang sudah dilakukan selama beberapa tahun terakhir? Apakah persiapan pembelajaran sudah cukup memadai?; dan lain-lain. Yang sering terjadi, seorang pendidik melakukan evaluasi proses pembelajaran hanya setelah proses secara keseluruhan itu selesai. Namun, yang perlu diperhatikan adalah, dalam mengevaluasi proses pembelajaran, maksudnya \adalah untuk memperbaiki proses pembelajaran itu sendiri, agar selanjutnya menjadi lebih baik. Seyogyanya evaluasi jenis ini dilakukan dalam kurun waktu 1/3 dari waktu tatap muka dan 2/3 waktu pelaksanaan pembelajaran, misalnya 1/3 dari 16 tatap muka dan 2/3 dari 16 tatap muka. Namun jika dilakukan pada akhir pelajaran, hal ini tidak ada salahnya dan bahkan dianjurkan dilakukan untuk kepentingan peningkatan kualitas pembelajaran di masa berikutnya. Contoh pertanyaan yang bisa diajukan pendidik adalah: bagaimana pendapat peserta didik terhadap pembelajaran selama satu periode tertentu? Apakah pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah dibuat di awal pembelajaran? Jika ada perubahan, apakah bentuk perubahan itu dan mengapa berubah?; Apakah pendidik atau tim dalam proses pembelajaran ini telah bekerja dengan baik dan kompak?

Semua jawaban terhadap pertanyaan di atas dapat digunakan sebagai masukan untuk membuat keputusan misalnya, apakah pendidik dan timnya yang sekarang ini perlu diperbaiki formasinya?; apakah strategi pembelajaran yang selama ini dipakai perlu diganti dengan yang lain?; apakah carapendidik mengajar perlu diubah? Dan lain-lain.

Sebagian atau seluruh hasil evaluasi proses pembelajaran tersebut, biasanya digunakan sebagai bahan renungan evaluasi untuk memperbaiki pembelajaran. Pertanyaan yang perlu dipertimbangkan misalnya, mengapa hanya ada 25% peserta didik yang tidak lulus? Apa penyebabnya?; sebagian besar peserta didik mengatakan bahwa saya sangat menguasai materi. Tetapi, sebagian besar dari mereka juga mengatakan bahwa cara mengajar saya kurang sistematik. Benarkah kesimpulan ini? Jika benar, bagian mana yang tidak sistematik?; ada peserta didik yang mengatakan bahwa saya tidak menggunakan media pembelajaran dengan baik. Apa yang perlu saya lakukan untuk memperbaiki keadaan ini? Dan lain-lain.

Menurut Ghani, Hari, & Suyanto (2006: 74) proses pembelajaran mencakup 3 komponen, yaitu input,proses, dan output. Contoh komponen input yang perlu dievaluasi adalah bagaimana entry behavioryang dimiliki peserta didik?; apakah bahan pelajaran cukup relevan dan up-to-date?; apakah ruang kelas cukup memadai?; Apakah bahan-bahan, alat-alat, media pengajaran telah tersedia?; Apakah semua anggota guru telah memehami tugas dan kewajiban mereka?; apakah GBPP perlu direvisi? Strategi yang manakah yang paling cocok?; dan lain-lain.

Contoh komponen proses yang perlu dievaluasi adalah apakah strategi yang digunakan telah terbukti efektif?; Apakah media pembelajaran yang ada telah dimanfaatkan secara optimal?; Apakah cara mengajar telah berhasil membantu mengajar secara optimal?; Apakah cara belajarnya efektif?; dan lain-lain. Contoh komponen outputyang perlu dievaluasi adalah bagaimana prestasi peserta didik?

Evaluasi ini sebaiknya terpisah dari objek evaluasi lainya. Evaluasi terhadap outputpembelajaran adalah evaluasi hasil belajar siswa. Evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses pengumpulan data untuk menentukan manfaat, nilai, kekuatan, dan kelemahan pembelajaran yang ditujukan untuk merevisi pembelajaran guna meningkatkan daya tarik dan efektivitasnya.

Dalam proses pembelajaran dikenal adanya evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif dilaksanakan selama berlangsungnya suatu program pembelajaran yang bertujuan untuk perbaikan dan peningkatan program, sedangkan evaluasi sumatif dilaksanakan pada akhir pelaksanaan suatu program pembelajaran yang bertujuan untuk pengambilan keputusan.

01/05/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | 2 Komentar

Pemrograman Bahasa Assembly (Assembler)

Bahasa assembly adalah sebuah program yang terdiri dari instruksi-instruksi  yang menggantikan kode-kode biner dari bahasa mesin dengan “mnemonik” yang mudah diingat. Misalnya sebuah instruksi penambahan dalam bahasa mesin dengan kode “10110011” yang dalam bahasa assembly dapat dibuat dalam instruksi mnemonik ADD, sehingga mudah diingat dibandingkan dengan angka 0 dan 1, dalam setiap instruksi membutuhkan suatu operand baik berupa data langsung maupun suatu lokasi memori yang menyimpan data yang bersangkutan. Bahasa assembly sering juga disebut kode sumber atau kode simbolik yang tidak dapat dijalankan oleh prosesor, sedangkan assembler adalah suatu program yang dapat menerjemahkan program bahasa assembly ke program bahasa mesin. bahasa mesin adalah kumpulan kode biner yang merupakan instruksi yang bisa dijalankan oleh komputer. Program bahasa mesin sering disebut sebagai kode objek.

Baris-baris program yang mengandung instruksi mesin atau pengarah assembler harus mengikuti aturan program assembler ASM51. Masing-masing baris atas beberapa field yang dipisahkan dengan spasi atau tabulasi adalah bagian label, bagian mnemonic, bagian operand yang bisa lebih dari satu bagian komentar dan diakhiri dengan END.

2.2.1    Bagian – Bagian Dari Program Assembler

Berikut ini adalah bagian – bagian dari rogram assembler yaitu:

  1. 1.      Label

            Label merupakan suatu simbol yang didefinisikan sendiri oleh pembuat program untuk menandai lokasi memori pada area program. Simbol dan label adalah dua hal yang berbeda. Simbol tidak menggunakan titik dua, sedangkan label harus diakhiri dengan titik dua.

                  Contoh :

                  PAR                      EQU 500        ; “PAR” Menunjukan suatu simbol

                                                                       ; dari nilai 500

                  MULAI:

                  MOV                      A, #0FFh       ; pada label; “Mulai” nilai 0FFh

                                                                        ; dipindahkan ke Akumulator

Dalam satu baris hanya ada satu label, pada umumnya Assembler membatasi jumlah karakter yang bisa digunakan hingga 31 karakter.

  1. 2.      Mnenonik

            Mnemonic instruksi atau pengarah Assembler dimasukan dalam “Mnemonic field” yang mengikuti “label mnemonic”. Mnemonic instruksi misalnya ADD, MOV, INC dan lain-lain.Sedangkan pengarah Assembler misalnya ORG, EQU, DB dan lain-lain.

  1. 3.      Operand

            Operand ditulis setelah mnemonic, bisa berupa alamat atau data yang digunakan instruksi yang bersangkutan.

          Contoh :

          MOV                      A, #20h         ; A dan #20h adalah operand

          LAGI:

          JNB                        LAGI            ; LAGI adalah operand

  1. 4.      Komentar

           Komentar harus diawali dengan titik koma. Sub rutin dari bagian besar program yang mengerjakan suatu operasi biasanya diawali dengan blok komentar yang menjelaskan fungsi sub rutin atau bagian besar program tersebut.

  1. 5.      End

            Petunjuk END merupakan kode perintah terakhir yang menunjukan batas akhir dari proses Assembly.

Instruksi yang sering digunakan dalam pembuatan program yaitu :

a.   Instruksi Aritmatik

               Instruksi aritmatik selalu melibatkan akumulator dan ada juga beberapa instruksi yang melibatkan register lain.

Berikut ini contoh instruksi–instruksi arimatika yaitu:

Tabel 2.4 Instruksi-instruksi Aritmatik

Instruksi

Keterangan

Contoh

ADD A,Rn Menambah isi register Rn dengan isi akumulator lalu disimpan di akumulator ADD A,R1
ADD A, direct Menambah isi direct dengan akumulator, hasilnya disimpan di akumulator ADD A, 30H
ADD A, #data Menambahkan immediate data ke akumulator ADD A, #20H
ADD A, @Rn Menambahkan isi dari alamat yang ditunjuk Rn dengan akumulator ADD A, @R1
ADDC A, #data Menambahkan immediate data ke akumulator dengan carry ADDC A, #20H
SUBB A, Rn Kurangkan isi register Rn dari akumulator SUBB A, R1
INC A Tambah isi akumulator dengan 1 INC A
DEC A Kurangkan isi akumulator denga 1 DEC A
MUL AB Kalikan isi A dengan isi B, low-byte disimpan pada akumulator, dan high byte pada B MUL AB
DIV AB Bagi isi A dengan isi B. Akumulator menerima hasil integer pembagian dan B menerima integer sisanya. DIV AB

  1. b.      Instruksi Logika

               Instruksi Logika ini dipakai untuk melakukan operasi logika, yaitu operasi AND (instruksi ANL), operasi OR (instruksi ORL), operasi Exclusive-OR (instruksi XRL), operasi clear (instruksi CLR), instruksi komplemen (instruksi CPL), operasi penggeseran kanan atau kiri (instruksi RR, RRC, RL dan RLC) serta operasi penukaran data (instruksi SWAP). Data yang dipakai dalam operasi  ini biasanya berupa data yang berada dalam akumulator atau data yang berada dalam memori data.

c.   Instruksi Pemindahan Data

Instruksi – instruksi pemindahan data adalah :

Tabel 2.5 Instruksi – instruksi Perpindahan Data

Instuksi

Keterangan

Contoh

MOV A, Rn Memindahkan isi register Rn ke akumulator MOV A, R0
MOV A,direct Memindahkan isi direct byte ke akumulator MOV A, 30h
MOV A , #data Mengisi akumulator dengan nilai data MOV A,#20h
MOV A, @Rn Mengisi akumulator dengan isi dari alamat yang ditunjuk oleh Rn MOV A, @R0

2.2.2    Mode – Mode Pengalamatan

  1. 1.      Mode Pengalamatan Langsung

            Dalam pengalamat langsung nilai yang akan disimpan dalam suatu memori diperoleh secara langsung dengan mengambil dari lokasi memori yang lain.

            Contoh :

     MOV A,30H         ; isi akumulator dengan bilangan 30 heksadesimal

  1. 2.      Mode Pengalamatan Tak Langsung

            Dalam pengalamatan tak langsung, instruksi menentukan  suatu register yang digunakan untuk menyimpan alamat operan

            Contoh :

ADD A,R         ; Tambahkan isi RAM yang lokasinya ditunjukan oleh register R1 ke akumulator.

DEC @R1        ; Kurangi satu isi RAM yang  alamatnya ditunjukan                  oleh register R1.

  1. 3.      Mode Pengalamatan Segera

            Cara ini menggunakan konstanta.

Contoh :

            MOV A,#20H        ; isi akumulator dengan bilangan 20 heksadesimal

Data konstanta merupakan data yang menyatu dengan instruksi, contoh intruksi diatas mempunyai arti bahwa data konstantanya, yaitu 20H, (sebagai data konstanta harus diawali dengan ’#’ dan tanda H untuk menyatakn format bilangan heksadesimal) disalin ke Akumulator (A).

  1. 4.      Mode Pengalamatan Data

            Pengalamatan data terjadi pada sebuah perintah ketika nilai operasi merupakan alamat data yang akan diisi atau yang akan dipindahkan.

            Contoh :

MOV P1,A            ; isi P1 dari nilai akumulator.

  1. 5.      Mode Pengalamatan Bit

            Pengalamatan bit adalah penunjukkan menggunakan simbol titik (.) yang menunjuk alamat lokasi bit, baik dalam RAM internal atau perangkat keras.

            Contoh :

            SETB P1.7            ; set bit port 1.7 high ( pot 1.7 diberi nilai logika 1)

01/02/2013 Posted by | TEKNIK ELEKTRO | 4 Komentar

Mikrokontroller AT89S51

Mikrokontroller adalah rangkaian elektronik atau chip yang sangat terintegrasi untuk membuat sebuah alat kontrol.  Biasanya terdiri dari CPU (Central Processing Unit), RAM (Random Access Memory), sebagian bentuk ROM (Read Only Memory), I/O (Input/Output) port, dan timers. Mikrokontroler digunakan untuk tugas yang sangat spesifik.  Sehingga jumlah komponen dapat dan ongkosproduksi dapat dikurangi.

Mikrokontroller AT89S51 merupakan mikrokomputer CMOS 8 bit dengan 4Kbyte Flash “Programable and Erasable Read Only Memory” (PEROM) berteknologi memori non-volatile (isi memori tidak akan hilang saat tegangan catu daya dimatikan). Memori ini biasa digunakan untuk menyimpan instruksi (perintah) berstandar MCS-51 sehingga memungkinkan mikrokontroller ini untuk bekerja dalam mode single chip operation (mode operasi keping tunggal) yang tidak memerlukan memori luar untuk menyimpan kode sumber sebagai perintah menjalankan mikrokontroller. Konfigurasi pin-pin mikrokontroller AT89S51 diperlihatkan pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Konfigurasi Mikrokontroler AT89S51

Sumber: alldatasheet.com

Penjelasan masing-masing pin pada gambar diatas adalah sebagai berikut :

  1. Pin 40 (VCC) sebagai sumber tegangan
  2. Pin 20 (GND) digunakan sebagai pentanahan.
  3. Pin 32 sampai 39 (Port 0) merupakan port masukan dan keluaran biasa, juga bisa sebagai jalur alamat rendah dan bus data untuk memori eksternal.
  4. Pin 1 sampai 8 (Port 1) merupakan port masukan dan keluaran dua arah berjumlah 8 bit dengan rangkaian pull-up internal dan dapat juga berfungsi sebagai input dengan memberikan logika 1. Pada port ini terdapat pin MISO, MOSI dan SCK yang digunakan saat pemrograman dan verifikasi data.
  5. Pin 21 sampai 28 (Port 2) merupakan saluran atau bus I/O 8 bit dua arah biasa, atau dapat berfungsi sebagai saluran alamat tinggi pada saat mengakses memori eksternal.
  6. Pin 10 sampai 17 (Port 3) merupakan saluran I/O 8 bit dua arah dengan internal pull-up yang memiliki fungsi pengganti. Bila fungsi pengganti tidak difungsikan, port ini dapat digunakan sebagai port paralel 8 bit serba guna. Adapun fungsi pengganti pada port ini diperlihatkan seperti tabel di bawah ini:

Tabel 2.1 Fungsi pengganti Port 3 AT89S51

Bit

Nama

Fungsi Alternatif

P 3.0

RXD

Serial Input Port

P 3.1

TXD

Serial Output Port

P 3.2

INT 0

Eksternal Interupt 0

P 3.3

INT 1

Eksternal Interupt 1

P 3.4

T0

Timer 0 External Input

P 3.5

T1

Timer 1 External Input

P 3.6

WR

Eksternal data memori write strobe

P 3.7

RD

Eksternal data memori read strobe

  1. Pin 9 (Reset) merupakan masukan reset. Sebuah sinyal berlogika tinggi pada pin ini selama dua siklus mesin saat osilator bekerja akan mereset perangkat ini.
  2. Pin 19 (XTAL1) masukan untuk penguat membalik osilator dan masukan bagi rangkaian operasi detak internal.
  3. Pin 18 (XTAL 2) keluaran dari penguat membalik osilator.
  4. Pin 31 ( /VPP EA ) adalah pin untuk mengaktifkan pengaksesan eksternal. EA (Eksternal Acces Enable) harus selalu ditanahkan saat mikrokontroler akan mengeksekusi program dari memori eksternal dengan lokasi 0000h sampai FFFFh dan EA harus dihubungkan ke Vcc agar mikrokontroler mengakses program secara internal.
  5. Pin 19 (PSEN ) Program Store Enable adalah sinyal baca untuk memori program eksternal. Pada saat AT89S51 menjalankan program dari memori program eksternal, PSEN diaktifkan dua kali setiap siklus mesin, kecuali pada saat dua aktivasi PSEN dilompati selama tiap akses data memori eksternal
  6. Pin 30 (ALE/PROG ) adalah sebuah pulsa keluaran untuk menahan bit alamat rendah pada saat mengakses memori eksternal. Pin ini juga berfungsi sebagai sebagai pulsa input pemrograman (PROG) selama proses pemrograman. Sedangkan diagram blok mokrokontroller AT89S51 diperlihatkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.2 : Diagram Blok Mikrokontroler AT89S51

Sumber: alldatasheet.com

2.1.1    Memori Program

Semua mikrokontroler Atmel memiliki ruang alamat (address space) memori program dan memori data yang terpisah. Pemisahan ruang alamat ini memudahkan memori data untuk diakses oleh alamat 8 bit, sehingga lebih cepat disimpan dan dimanipulasi oleh CPU 8 bit. Struktur memori program mikrokontroler AT89S51 ditunjukan pada Gambar 2.3. Setelah reset, CPU segera melaksanakan program mulai dari lokasi 0000h. Dengan demikian, awal dari program pengendali MCS 51 harus ditempatkan di memori nomor 0000h.

\

Gambar 2.3 Struktur Memori Program AT89S51

Sumber: Endra Hermawan, 2010

2.1.2    Memori Data

Gambar 2.4 menunjukkan struktur ruang-ruang memori data internal dan eksternal untuk AT89S51. Memori data eksternal dapat ditentukan sampai sebesar 64 Kbyte. Seperti terlihat dalam struktur memori data internal gambar 2.4 memori data dibagi menjadi dua bagian, memori nomor 00h sampai 7Fh merupakan memori seperti RAM selayaknya meskipun beberapa bagian mempunyai kegunaan khusus, sedangkan memori nomor 80h sampai FFh digunakan sangat khusus yang dinamakan sebagai Special Function Register.

Gambar 2.4 Peta Memori Data AT89S51

Sumber: Endra Hermawan, 2010

Peta memori data internalnya ditunjukkan pada Gambar 2.5 32 byte bawah yaitu alamat 00h sampai 1Fh selain sebagai memori-data biasa dapat pula digunakan sebagai register serba guna (General Purpose Register). Memori sebanyak 32 byte ini dikelompokkan menjadi 4 bank dan 8 register (R0 sampai R7). Dua bit pada PSW (Program Status Word) digunakan untuk memilih kelompok register mana yang digunakan. Arsitektur ini mengijinkan penggunaan ruang kode secara lebih efisien, karena instruksi-instruksi register lebih pendek daripada insutruksi-instruksi yang menggunakan pengalamatan langsung.16 Byte berikutnya, di atas bank-bank register, membentuk suatu blok ruang memori yang bisa teralamati per-bit (bit addressable). Alamat-alamat bit ini adalah 00h sampai 7Fh. Namun memori data pada lokasi ini tetap dapat digunakan sebagai memori data biasa. Sedangkan memori nomor 30h sampai 7Fh yaitu sebanyak 80 byte merupakan memori data biasa (general purpose RAM), dapat digunaan untuk menyimpan data maupun digunakan sebagai Stack.

Gambar 2.5 Peta Memori Data Internal AT89S51

Sumber: Endra Hermawan, 2010

2.1.3    SFR (Special Function Register)

SFR atau register fungsi khusus merupakan suatu daerah RAM dalam IC keluarga MCS51 yang digunakan untuk mengatur perilaku MCS51 dalam hal-hal khusus, misalnya tempat untuk berhubungan dengan port paralel P1 atau P3, dan sarana input/output lainnya, tapi tidak umum dipakai untuk menyimpan data seperti layaknya memori-data. SFR dalam RAM internal menempati lokasi alamat 80h sampai 7Fh. Masing-masing register pada SFR ditunjukkan dalam tabel, yang meliputi simbol, nama dan alamatnya.

Tabel.2.2 Special Funtion Register

Simbol

Nama

Alamat

Acc

Akumulator

E0h

B

B register

F0h

PSW

Program Status Word

D0h

SP

Stack Pointer

81h

DPTR

(DPH)

(DPL)

Data Pointer 16 Bit

DPL Byte rendah

DPH Byte tinggi

82h

83h

P0

Port 0

80h

P1

Port 1

90h

P2

Port 2

A0h

P3

Port 3

B0h

IP

Interupt Priority Control

B8h

IE

Interupt Enable Control

A8h

TMOD

Timer/Counter Mode Control

89h

TCON

Timer/Counter Control

88h

TH0

Timer/Counter 0 High byte

8Ch

TL0

Timer/Counter 0 Low byte

8Ah

TH1

Timer/Counter 1 High byte

8Dh

TL1

Timer/Counter 1 Low byte

8Bh

SCON

Serial Control

98h

SBUF

Serial Data Buffer

99h

PCON

Power Control

87h

2.1.4    Sistem Interupsi

Apabila CPU pada mikrokontroler AT89S51 sedang melaksanakan suatu program, maka pelaksanaan program dapat dihentikan sementara dengan meminta interupsi. Apabila CPU mendapat permintaan interupsi, program counter akan diisi alamat dari vektor interupsi. CPU kemudian melaksanakan rutin pelayanan interupsi mulai dari alamat tersebut. Bila rutin pelayanan interupsi selesai dilaksanakan, CPU AT89S51 kembali ke pelaksanaan program utama yang ditinggalkan. Instruksi RETI (return from interupt routine) harus digunakan untuk kembali dari layanan rutin interupsi. Instruksi ini digunakan agar saluran interupsi kembali dapat dipakai.

Mikrokontoler AT89S51 menyediakan 5 sumber interupsi yaitu: interupsi eksternal (External interupt) yang berasal dari pin INT0 dan INT1, interupsi timer (Timer Interupt) yang berasal dari timer 0 maupun timer 1, dan yang terakhir adalah interupsi port seri (Serial Port Interupt) yang berasal dari bagian penerima dan pengirim port seri. Alamat awal layanan rutin interupsi dari setiap sumber interupsi diperlihatkan pada Tabel.

Tabel 2.3 Alamat Layanan Rutin Interupsi

Interupsi

Alamat

Prioritas Interupsi
INT 0

03h

1

Interupsi Timer 0

0Bh

2

INT 1

13h

3

Interupsi Timer 1

1Bh

4

Interupsi Port Serial

23h

5

Ada dua register yang mengontrol interupsi, yaitu IE (Interupt Enable) dan IP (Interupt Priority). Register IE berfungsi untuk mengaktifkan atau menonaktifkan sumber interupsi, sedangkan register IP digunakan untuk menentukan prioritas suatu sumber interupsi terhadap sumber interupsi lainnya, yaitu apabila ada dua atau lebih interupsi secara bersamaan. Jika register IP tidak didefinisikan, maka prioritas interupsi menggunakan urutan prioritas seperti dicantumkan pada Tabel 2.3

2.1.5    Timer/ Counter

Pada mikrokonteroler AT89S51 terdapat dua timer/counter 16 Bit yang dapat diatur melalui perangkat lunak, yaitu timer/counter 0 dan timer/counter 1. Apabila timer/counter diaktifkan pada frekuensi kerja mikrokontroler 12 MHz, timer/counter akan melakukan perhitungan waktu sekali setiap 1 µs secara independen, tidak tergantung pada pelaksanaan suatu instruksi.

Apabila periode waktu tertentu telah dilampaui, timer/counter segera menginterupsi mikrokontroler untuk memberitahukan bahwa perhitungan periode waktu telah selesai dilaksanakan. Timer/counter AT89S51 dapat dipilih beroperasi dalam 4 mode operasi yaitu sebagai timer/counter 13 bit, timer counter 16 bit, timer/counter 8 bit dengan isi ulang (auto reload), dan gabungan timer/counter 16 bit dan 8 bit. Register timer mode (TMOD) dan register timer control (TCON) merupakan register pembantu untuk mengatur kerja timer 0 dan timer 1. Register TMOD digunakan sebagai pengontrol pemilih mode operasi timer/counter sedangkan register TCON digunakan sebagai pengontrol kerja timer/counter.

01/02/2013 Posted by | TEKNIK ELEKTRO | , , , , , | 2 Komentar

Sumber Belajar

1. Pengertian sumber belajar.
Pengajaran merupakan suatu prosessistematis yang meliputi banyak komponen salah satunya adalah sumber belajar. Segala dayayang dapat digunakan untuk kepentingan proses/ aktivitas pengajaran baik secaralangsung maupun tidak langsung diluar diri peserta didik (lingkungan) yang melengkapi diri mereka pada saat pengajaran berlangsung tersebut sumber belajar. Sumber belajar menurut Ahmad Rohani dan Abu Ajmadi mempunyai pengertian segala daya yang dapat dipergunakan untuk kepentingan atau aktivitas pengajaran baiksecara langsung maupun tidak langsung, diluar diri peserta didik (lingkungan) yang melengkapi diri mereka pada saat pengajaran berlangsung.

Sumber belajar digunakan sebesar-besarnya untuk meningkatkan proses belajar, termasuk di dalamnya bahan, alat, teknik, setting, materi pelajaran dan personil. Untuk memilih sumber belajar yang sesuai, maka dalam belajar kimia diperlukan pengkajian terhadap sumber belajar tersebut.

Dengan menggunakan sumber belajar yang diorganisasi dengan baik, maka akan diperoleh permasalahan, pemecahan, pengalaman dan keterampilan karena pada hakekatnya sumber belajar adalah segala sesuatu yang mendukung dan membantu berlangsungnya proses belajar-mengajar. Menurut Arif I. Sadiman, sumber belajar adalah yang ada diluar diri seseorang (peserta didik) dan yang memungkinkan memudahkan terjadinya proses belajar.

Edgar Dale menyatakan bahwa sumber belajar adalah pengalaman-pengalaman yang pada dasarnya sangat luas, yakni seluas kehidupan yang mencakup segala sesuatu yang dapat dialami, yang dapat menimbulkan peristiwa belajar.Maksudnya adanya perubahan tingkah laku ke arah yang lebih sempurna sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.

Menurut Asosiasi teknologi komponen pendidikan (AECT), sumber belajar adalah semua sumber (baik berupa data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberikan fasilitas (kemudahan) belajar bagi siswa. Sumber belajar itu meliputi pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan lingkungan.
2. Klasifikasi Sumber Belajar (AECT).
AECT (Association For Education Communication and Technology) mengklasifikasikan sumber belajar menjadi 6, yaitu :

1. Pesan (Message), yaitu informasi yang ditransmisikan (diteruskan) oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta, arti dan data.
2. Orang (People), yaitu manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah, dan penyaji pesan.
3. Bahan (Material), yaitu perangkat lunak yangmengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat ataupun oleh dirinya sendiri.
4. Alat (Devices), yaitu perangkat keras yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan dalam bahan. 5. Teknik (Techniques), yaitu prosedur atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan bahan, peralatan, orang dan lingkungan untuk menyampaikan pesan.
6. Lingkungan (Setting), yaitu situasi sekitar dimana pesan disampaikan, baik lingkungan fisik maupun non fisik. Pesan : dalam sistem persekolahan, maka pesan ini berupa seluruh mata pelajaran yang disampaikan kepada siswa.Ditinjau dari tipe atau asal usulnya, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Sumber belajar yang dirancang (learning recources by design) yaitu sumber belajar yang memang sengaja dibuat untuk tujuan pembelajaran. Sumber belajar semacam ini sering disebut bahan pembelajaran. Contoh buku pelajaran modul, program audio, program slide suara, transparansi.
b. Sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan (learning recources by utilization) yaitu sumber belajar yang tidaksecara khusus dirancang untuk keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan, dipilih dan dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran. Contohnya pejabat pemerintah, waduk, museum, film, sawah, terminal, surat kabar, siaran TV, dan lain-lain.
3. Ciri-ciri Sumber Belajar.

Secara garis besar sumber belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

a. Sumber belajar harus mampu memberikankekuatan dalam proses belajar-mengajar sehingga tujuan intruksional dapat tercapai secara maksimal.
b. Sumber belajar harus mempunyai nilai-nilai intruksional edukatif yaitu dapat mengubah dan membawa perubahan yang sempurna terhadap tingkah laku sesuai tujuan yang ada.
c. Dengan adanya klasifikasi sumber belajar, maka sumber belajar yang dimanfaatkan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Tak terorganisasi dan tak sistematis baik dalam bentuk maupun isi.
2. Tidak mempunyai tujuan intruksional yang eksplisit.
3. Hanya dipergunakan menurut keadaan dan tujuan tertentu secara insidental.
4. Dapat dipergunakan untuk berbagai tujuan intruksional.
d. Sumber belajar yang dirancang mempunyai ciri-ciri yang spesifik sesuai dengan tersedianya media.
4. Manfaat Sumber Belajar.

Pengalaman sains dapat diperoleh dengan mengambil segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitar berupa objek studibaik benda hidup maupun benda tak hidup, sehingga siswa dapat mempelajari melalui indranya. Oleh karena itu, obyek atau gejala-gejala kimia yang terdapat di sekitar kita dapat kita manfaatkan sebagai sumber belajar kimia. Manfaat sumberbelajar tersebut antara lain

1. Memberi pengalaman belajar secara langsung dan konkret kepada peserta didik.
2. Dapat menyajikan sesuatu yang tidakmungkin diadakan, dikunjungi ataupun dilihat secara langsung dan kongkret.
3. Dapat menambah dan memperluas cakrawala kajian yang ada di dalam kelas.
4. Dapat memberi informasi yang akurat dan terbaru.
5. Dapat membantu memecahkan masalah pendidikan baik dalam lingkup mikro maupun makro.
6. Dapat memberi motivasi yang positif, apabila diatur dan direncanakan pemanfaatannya secara tepat.
7. Dapat merangsang untuk berfikir, bersikap dan berkembang lebih lanjut.

b. Sumber Belajar Pendidikan Kimia

Suatu penelitian dapat digunakan sebagai sumber belajar meliputi 2 hal pokok, yaitu proses dan hasil penelitian. Proses dan hasil penelitian dapat dijadikan pertimbangan guru dalam menyusun materi dan kegiatan belajar-mengajar. Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memanfaatkan sumber belajar agar proses belajar-mengajar dapat berjalan dan berlangsung efektif yaitu :
1. Kejelasan potensi,
2. Kesesuaian dengan tujuan belajar,
3. Kejelasan sasaran,
4. Kejelasan informasi yang ingin diungkap,
5. Kejelasan eksplorasinya. Pemanfaatan hasil dan proses penelitian kimia sebagai sumber belajar di SMA/ MA dapat dilakukan dengan praktikum di laboratorium adalah sebagai berikut:

a. Mengembangkan ketrampilan pengamatan, manipulasi, instrumentasi dan preparatif,
b. Memperoleh pengetahuan kimia,
c. Mengenal ketelitian dan ketertiban kerja laboratorium,
d. Merekam secara cermat dan mengkombinasikan hasil secara jelas,
e. Mengembangkan tanggung jawab perorangan dan realitas dalam pelaksanaan eksperimen,
f. Merencanakan dan melaksanakan kerja laboratorium dengan menggunakan sumber-sumber laboratorium secara efektif.
Serangkaian kegiatan-kegiatan di laboratorium dilakukan untuk mencapai tujuan pengajaran laboratorium. Kegiatan khusus yang biasanya dilakukan siswa dalam kerja laboratorium meliputi :
a. Merencanakan eksperimendan menyusun hipotesis,
b. Merakit bahan dan peralatan,
c. Melakukan pengamatan terhadap gejala-gejala alamiah,
d. Melakukan pengamatan terhadap sesuatu proses yang terjadi dalam laboratorium yang tertutup,
e. Mengumpulkan dan mencatat data,
f. Melakukan modifikasi peralatan,
g. Melakukan pembacaan pada alat-alat pengukur, h. Mengkalibrasi peralatan,
i. Menghubungkan bahan dengan grafik,
j. Menarik kesimpulan dari data,
k. Membuat laporan eksperimen,
l. Memberikan penjelasan tentang eksperimen yang dilakukan,
m. Mengindentifikasikan permasalahan untuk studi lanjutan,
n. Melepas, membersihkan, menyimpan dan memperbaiki peralatan.
Siswa akan dapat mempelajari kimia dengan kegiatan praktikum melalui
pengamatan secara langsung terhadap gejala-gejala maupun proses-proses kimia. Praktikum dapat pula melatih berpikir secara ilmiah, dapat menambah serta mengembangkan sikap ilmiah, dapat menemukan dan memecahkan berbagai masalah baru melalui metode ilmiah. Metode ilmiah dalam pendidikan IPA membudayakan sikap ilmiah kepada anak didik antara lain bergairah, ingin tahu, disertai cermat dalam mengambil dan mengukur, terbuka, objektif, jujur, dan skeptis, taat asas, kritis dan runtut dalam berpikir, tekun, ulet dan penuh tanggung jawab.
c. Proses Belajar-Mengajar Kimia
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku karena adanya pengalaman, sedangkan pengalaman merupakan interaksi siswa dengan lingkungan, baik lingkungan fisik seperti buku pelajaran, alat pelajaran, fasilitas laboratorium dan sebagainya maupun lingkungan sosial seperti guru, siswa lain, tutor, pembimbing dilaboratorium, nara sumber, dan sebagainya. Menurut Tabrani Rusran, belajar merupakan proses perubahan tingkah laku berkat pengalaman dan latihan.

Ini berarti bahwa tujuan suatu kegiatan belajar ialah mencapai perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut aspek pengetahuan, keterampilan, maupun aspek sikap. Menurut Nasution yang dikutib oleh Muhibbin Syah, mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisir atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar mengajar.

Lingkungan dalam pengertian disini tidak hanya ruang kelas (ruang belajar) tetapi juga meliputi guru, alat peraga, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya yang relevan dengan kegiatan belajar siswa. Dari pengertian-pengertian di atas, kita ketahui bahwa belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Belajar menunjuk kepada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai yang menerima pelajaran (peserta didik), sedang mengajar menunjuk kepada apa yang harus dilakukan oleh seorang guru yang menjadi pengajar. Jadi, mengajar merupakan proses interaksi antara guru dan peserta didik pada saat proses pengajaran. Ilmu kimia merupakan ilmu yang dekat dengan kehidupan, oleh karena itu dalam pembelajarannya harus selalu dihubungkan dengan kehidupan dan aplikasinya, sehingga siswa merasa bahwa ilmu tersebut penting dan dibutuhkan dalam kehidupannya. Lebih lanjut lagi I Made Sukarna menjelaskan bahwa pada proses belajar-mengajar kimia, siswa tidak hanya disuguhi konsep-konsep yang merupakan hasil metode ilmiah tetapi harus diarahkan untuk melakukan proses sehingga mempunyai keterampilan atau sikap seperti yang dimiliki oleh para ilmuwan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan.

Kegiatan pembelajaran ilmu kimia lebih diarahkan kepada kegiatanyang mendorong siswa untuk belajar lebih aktif, baik secara fisik, sosial, maupun psikis dalam memahami konsep, yaitu dengan pendekatan keterampilan proses. Pendekatan keterampilan proses menurut Conny Semiawan merupakan pendekatan dalam proses pembelajaranyang menekankan pada pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya.

Pendekatan keterampilan proses akan mendorong siswa untuk aktif dalam belajar-mengajar. Dengan keaktifan seperti itu baik secara intelektual maupun emosional siswa ikut terlibat dalam proses mendapatkan ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan yang didapat akan lebih dihargai oleh siswa karena ia ikut turut berperan dalam mendapatkannya.

Dalam melaksanakan proses belajar-mengajar kimia, guru dituntut kreatifitasnya dalam memilih metode mengajar, menyeleksi materi pelajaran, mengembangkan minat dan kemampuan serta keterampilan siswa, menggunakan fasilitas belajar secara tepat serta menggunakan sumber belajar yang sesuai sehingga tujuan proses belajar-mengajar yang telah ditentukan akan dapat tercapai dengan  baik. Lebih lanjut lagi Conny Semiawan mengungkapkan bahwa dalam kegiatan belajar-mengajar tugas guru tidak hanya memberikan pengetahuan, melainkan menyiapkan situasi yang dapat menggiring siswa atau anak didik untuk aktif bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen serta dapat menemukan fakta dan konsep sendiri. Hal ini sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Oleh karenaitu penerapan pendekatan konsep yang diinginkan oleh KTSP merupakan hal yang tepat dilaksanakan dalam menunjang proses belajar-mengajar kimia.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

01/02/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , , , | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 742 pengikut lainnya.