BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Tinjauan tentang Lesson Study Berbasis Sekolah

1. Pengertian Lesson Study Berbasis Sekolah
Lesson study merupakan suatu pendekatan peningkatan kualitas pembelajaran yang awal mulanya berasal dari jepang. Di Negara tersebut, kata atau istilah itu lebih popular dengan sebutan Jugyokenkyu. Lesson study dikembangkan oleh Makoto Yoshida”.1

Herawati Susilo mengutip dari Styler dan Hiebert yang menyatakan “Lesson study adalah suatu proses kolaboratif pada sekelompok guru ketika mengidentifikasi masalah pembelajaran, merancang suatu skenario  pembelajaran, membelajarkan peserta didik sesuai skenario, mengevalusi dan merevisi skenario pembelajaran”.2 Walker menyatakan “Lesson study merupakan suatu kegiatan pengkajian terhadap proses pembelajaran di kelas nyata yang dilakukan oleh sekelompok guru secara berkolaborasi dalam jangka waktu lama dan terus menerus untuk meningkatkan keprofesionalannya”.

Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa lesson study adalah pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkesinambungan dengan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning (bermanfaat pada kedua belah pihak) untuk membangun komunitas belajar mengajar. Selanjutnya berpijak dari pengertian lesson study tersebut, maka dapat diperoleh pengertian lesson study berbasis sekolah (LSBS). Lesson study berbasis sekolah adalah lesson study yang dilakukan di suatu sekolah dengan kegiatan utama berupa open lesson atau open class oleh setiap guru secaran bergiliran pada hari tertentu. Pada saat
salah satu guru membuka kelas (open class) guru-guru yang lain di sekolah bertindak sebagai observer. Setelah itu semua guru, baik guru model atau guru observer melakukan diskusi refleksi untuk membahas berbagai hal yang terkait dengan fakta atau fenomena proses belajar yang ditemukan dalam pembelajaran tersebut.4
Dapat disimpulkan bahwa lesson study berbasis sekolah adalah lesson study yang dilaksanakan secara kolaboratif oleh guru mata pelajaran yang berbeda dalam satu sekolah. Dalam melaksanakan lesson study berbasis sekolah guru secara kolaboratif mempelajari kurikulum dan merumuskan tujuan pembelajaran dan tujuan pengembangan peserta didiknya, merancang pembelajaran untuk mencapai tujuan, melaksanaan dan engamati pembelajaran, melakukan refleksi untuk mendiskusikan pembelajaran yang dikaji.

2. Ciri-Ciri Lesson Study Berbasis Sekolah
Lesson study berbasis sekolah memiliki ciri-ciri, yaitu:
a. Tujuan bersama untuk jangka panjang
Lesson study berbasis sekolah didahului adanya kesepakatan dari
para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun
waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas,
misalnya tentang pengembangan kemampuan akademik siswa,
pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan
belajar siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan,
mengembangkan kerajinan siswa dalam belajar dan sebagainya.
b. Materi pelajaran yang sulit
Lesson study berbasis sekolah mengutamakan pada materi atau
bahan pelajaran yang dianggap menjadi titik lemah dalam
pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa.
c. Studi tentang siswa yang cermat
Fokus yang paling utama dari lesson study berbasis sekolah
adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa,
misalnya apakah siswa menunjukan minat dan motivasinya dalam
belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana
siswa melakukan tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lain yang
berkaitan dengan aktivitas, partisipasi serta kondisi dari setiap siswa
dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian pusat
15
perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana cara guru dalam
mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah supervisi kelas yang
dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah.
d. Observasi pembelajaran secara langsung
Observasi langsung digunakan untuk menilai kegiatan
pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa serta
mengamati proses pembelajaran secara langsung sehingga data yang
diperoleh tentang proses pembelajaran akan lebih akurat dan utuh.5
Dari penjelasan ciri-ciri di atas dapat disimpulkan bahwa lesson study
berbasis sekolah menentukan tujuan bersama untuk jangka panjang dengan
mengutamakan pada materi pelajaran yang sulit dan berpusat pada minat
dan motivasi belajar siswa. Semua ini dapat ditemukan pada saat observasi
pembelajaran secara langsung di kelas.
3. Tahap-tahap Lesson Study Berbasis Sekolah
Siklus lesson study berbasis sekolah dilaksanakan dalam tiga
tahap:6
a. Perencanaan (plan)
Tahap perencanaan (plan) bertujuan menghasilkan rancangan
pembelajaran yang diyakini mampu membelajarkan siswa secara
efektif dan membangkitkan partisipasi peserta didik dalam

pembelajaran. Perencanaan dilakukan secara kolaboratif oleh beberapa
orang guru yang termasuk dalam satu kelompok lesson study berbasis
sekolah. Untuk memperlancara kegiatan tersebut ditetapkan siapa guru
yang akan menjadi guru pengajar (guru model) dan guru pengajar
menyusun RPP. Para guru kemudian bertemu dan berbagi ide
menyempurnakan rancangan pembelajaran yang sudah disusun guru
pengajar untuk menghasilkan cara pengorganisasian bahan ajar, proses
pembelajaran, maupun penyiapan alat bantu pembelajaran yang
dianggap paling baik. Semua komponen yang tertuang dalam
rancangan pembelajaran sebelum dilaksanakan dalam kelas
disimulasikan lebih dulu. Pada tahap ini juga ditetapkan prosedur
pengamatan dan instrumen yang diperlukan dalam pengamatan.7
Dalam proses perencanaan para guru hendaknya mengkaji:
1) Kurikulum (KTSP), termasuk di dalamnya mencermati kompetensi
dasar dan standar kompetensi.
2) Menentukan materi pembelajaran yang akan disajikan. Biasanya
materi yang dipilih untuk diangkat dan dijadikan topik dalam lesson
study adalah :
a) Materi yang sulit bagi siwa.
b) Materi yang sulit bagi guru.
c) Materi yang baru dalam kurikulum.
d) Materi yang memerlukan metode pembelajaran yang efektif.
e) Materi yang memerlukan media pembelajaran yang efektif.
f) Menyusun indikator dan pengalaman belajar.
g) Menentukan metode yang sesuai dengan materi ajar yang akan
disampaikan.
h) Menentukan urutan proses pembelajaran (skenario pembelajaran)
i) Menyusun lembar kerja siswa (LKS).8
Dalam menetapkan metode pembelajaran yang akan digunakan,
guru perlu mempertimbangkan banyak aspek, antara lain kompetensi
yang ingin dicapai, karakter materi ajar, kemampuan awal siswa, dan
ketersediaan media pembelajaran. Namun demikian guru perlu ingat,
metode apapun yang dipilih oleh guru dalam merancang dan
melaksanakan pembelajaran hendaknya mampu membuat siswa belajar
secara:
1) Aktif, yaitu siswa terlibat dalam pembelajaran secara mental dan
fisik.
2) Kreatif, misalnya masing-masing siswa mengemukakan
penemuannya sendiri, tidak perlu hasil yang seragam asalkan masih
dalam koridor pokok bahasan.

3) Kolaboratif, yaitu saling membelajarkan namun masing-masing
siswa tetap memiliki hasil belajar secara individual.9
b. Tahap pelaksanaan (do)
Tahap pelaksanaan (do), dimaksudkan untuk menerapkan
rancangan pembelajaran yang telah direncanakan. Salah satu anggota
kelompok berperan sebagai guru model , sedangkan anggota kelompok
lainnya mengamati. Fokus pengamatan diarahkan pada kegiatan
belajar peserta didik dengan berpedoman pada prosedur dan instrumen
yang telah disepakati pada tahap perencanaan, bukan pada penampilan
guru yang sedang bertugas mengajar. Selama pembelajaran
berlangsung, para pengamat tidak diperkenankan mengganggu proses
pembelajaran walaupun mereka boleh merekam dengan kamera video
atau kamera digital. Tujuan utama kehadiran pengamat yakni belajar
dari pembelajaran yang sedang berlangsung.10
Adapun hal-hal yang diobservasi oleh pengamat tentang kegiatan
belajar siswa antara lain:
1) Interaksi siswa dengan siswa lain baik dalam satu kelompok
maupun antar kelompok, serta bagaimana implementasi kerja
kelompok apakan ada saling membantu.
9 Putu Ashintya Widhiartha, Lesson Study Sebuah Upaya peningkatan Mutu Pendidik
Pendidikan Nonformal, (Surabaya: Guna Widya, 2008), 10-11. 10 Herawati, Lesson Study, 35.
2) Interaksi siswa dengan guru selama kegiatan proses pembelajaran
berlangsung.
3) Interaksi siswa dengan media pembelajaran, apakah semua
menyentuh dan menggunakan media yang telah disiapkan oleh gur
atau siswa itu sendiri.
4) Interaksi siswa dengan sumber belajar atau dengan lingkungan
sekitarnya.
5) Gerak tubuh siswa yang mencerminkan aktif dalam belajar.
6) Hal-hal lain yang berkaitan dengan aktivitas belajar atau
ketidakaktifan dalam belajar.11
Untuk memudahkan pengamatan, pengamat perlu membawa
lembar observasi. Pengamat dapat mengamati kelompok siswa
tertentu, agar pengamatannya lebih terfokus, sementara pengamat yang
lain mengamati kelompok lain atau jika sudah mahir dapat mengamati
siswa di kelas secara keseluruhan. Usahakan data pengamatan ditulis
secara akurat, obyektif, bukan berdasar apa yang seharusnya sesuai
keinginan pengamat, melainkan berdasar keadaan sebenarnya.
Pencatatan yang akurat memerlukan denah tempat duduk siswa, nama
siswa, jam/ peristiwa yang mendahului atau menyertai kegiatan belajar
siswa. Data otentik yang obyektif ini penting untuk dikemukakan pada
waktu refleksi nanti.
11 Ibid., 5.

20
c. Tahap refleksi (see)
Tahap refleksi (see) dimaksudkan untuk menemukan kelebihan
dan kekurangan pelaksanaan pembelajaran. Guru yang bertugas
sebagai pengajar mengawali diskusi dengan menyampaikan pesan dan
pemikirannya mengenai pelaksanaan pembelajaran. Kesempatan
berikutnya diberikan kepada guru yang bertugas sebagai pengamat
untuk mengutarakan apa yang dapat diperoleh dari pembelajaran yang
baru berlangsung. Kritik dan saran disampaikan secara bijak tanpa
merendahkan atau menyakiti hati guru yang membelajarkan, dengan
tujuan demi perbaikan praktik ke depan. Dari beberapa masukan dapat
dirancang pembelajaran berikutnya yang lebih baik.12
Tahapan refleksi (see) merupakan tahapan yang sangat penting
karena upaya perbaikan proses pembelajaran berikutnya akan
bergantung dari ketajaman analisis para peserta berdasarkan
pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah
dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang
diikuti seluruh peserta lesson study berbasis sekolah yang dipandu oleh
kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari
penyampaian kesan-kesan guru yang telah mempraktekan
pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum atas
proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan
dan permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah
disusun.13
Dari penjelasan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa pada
dasarnya tahap lesson study berbasis sekolah pada tahap perencanaan
(plan) sama dengan persiapan guru yang akan mengajar, dimana pada
tahap ini guru menyusun perangkat pembelajaran yang teridiri dari
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),Lembar Kerja siswa (LKS),
media dan alat peraga, instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran
dan lembar observasi pembelajaran. Pada tahap pelaksanaan (do), tugas
guru mata pelajaran (model) mengajar sesuai dengan rencana
pembelajaran yang telah disusun bersama-sama dengan guru observer,
kemudian guru observer megobservasi kegiatan pembelajaran, baik
aktivitas guru maupun aktivitas belajar siswa, namun yang dititikberatkan
adalah observasi terhadap aktivitas belajar siswa sehingga dapat diketahui
bagaimana hasil belajar siswa. Sedangkan pada tahap refleksi diadakan
antara guru yang mengajar dan guru yang melakukan observasi, kegiatan
diskusi ini bertujuan untuk membahas kekurangan dalam pembelajaran,
sehingga diharapkan pembelajaran berikutnya akan lebih baik.
13 Istamar, Lesson Study, 62.

22
4. Peranan Lesson Study Berbasis Sekolah
a. Peranan lesson study berbasis sekolah dalam meningkatkan sistem
pendidikan
Menurut Lewis dan Wang-Iverson yang dikutib oleh Herawati
lesson study berbasis sekolah memiliki peran yang cukup besar dalam
melakukan perubahan secara sistematik. Lesson study berbasis sekolah
tidak hanya memberikan sumbangan terhadap pengetahuan
keprofesionalan guru, tetapi juga terhadap peningkatan sistem
pendidikan yang lebih luas. Hal tersebut dapat terjadi dengan
membahas lima jalur yang ditempuh lesson study sebagai berikut:
1) Membawa standar tujuan pendidikan ke realita dalam kelas.
2) Menggalakkan upaya perbaikan berdasarkan data.
3) Menargetkan pencapaian berbagai kualitas peserta didik yang
mempengaruhi kegiatan belajar.
4) Menciptakan tuntunan mendasar perlunya peningkatan kualitas
pembelajaran.
5) Menjunjung tinggi nilai guru.
14
b. Peranan lesson study dalam pengembangan keprofesionalan guru
Lebih lanjut Herawati mengutip dari Lewis yang menguraikan
bagaimana lesson study berbasis sekolah dapat memberikan
sumbangan terhadap pengembangan keprofesionalan guru, yaitu
14 Herawati, Lesson Study, 5-10.

23
dengan menguraikan delapan pengalaman yang diberikan kepada guru
sebagai berikut. Lesson study berbasis sekolah memungkinkan guru
untuk:
1) Memikirkan dengan cermat mengenai tujuan pembelajaran, materi
pokok, dan pembelajaran bidang studi
2) Mengkaji dan mengembangkan pembelajaran yang terbaik yang
dapat dikembangkan
3) Memperdalam pengetahuan mengenai materi pokok yang diajarkan
4) Memikirkan secara mendalam tujuan jangka panjang yang akan
dicapai yang berkaitan dengan siswa
5) Merancang pembelajaran secara kolaboratif
6) Mengkaji secara cermat cara dan proses belajar serta tingkah laku
siswa
7) Mengembangkan pengetahuan pedagogis yang sesuai untuk
membelajarkan siswa
8) Melihat hasil pembelajaran sendiri melalui mata siswa dan kolega.15
Dari penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa lesson study
berbasis sekolah sangat berperan dalam meningkatkan sistem pendidikan
melalui lima jalur yaitu membawa standar tujuan pendidikan ke ralita
dalam kelas, menggalakkan upaya perbaikan berdasarkan data,
menargetkan pencapaian berbagai kualitas peserta didik yang
15 Ibid., 10-11.

24
mempengaruhi kegiatan belajar, menciptakan tuntunan mendasar
perlunya peningkatan kualitas pembelajaran, dan menjunjung tinggi nilai
guru. Lesson study berbasis sekolah juga dapat memberikan sumbangan
terhadap pengembangan keprofesionalan guru yaitu dengan memberikan
kesempatan kepada guru untuk memikirkan dengan cermat mengenai
tujuan pembelajaran, materi pokok, dan pembelajaran bidang studi,
mengkaji dan mengembangkan pembelajaran yang terbaik yang dapat
dikembangkan, memperdalam pengetahuan mengenai materi pokok yang
diajarkan, memikirkan secara mendalam tujuan jangka panjang yang akan
dicapai yang berkaitan dengan peserta didik, merancang pembelajaran
secara kolaboratif, mengkaji secara cermat cara dan proses belajar serta
tingkah laku siswa, mengembangkan pengetahuan pedagogis yang sesuai
untuk membelajarkan peserta didik, melihat hasil pembelajaran sendiri
melalui mata peserta didik dan kolega.
5. Manfaat Lesson Study Berbasis Sekolah
Menurut Tim Lesson Study, dalam bukunya Herawati Susilo,
bahwa lesson study berbasis sekolah memberikan manfaat bagi guru
sebagai berikut:
a. Mengurangi keterasingan guru (dari komunitasnya) dalam perencanaan
dan pelaksanaan pembelajaran dan perbaikan.
b. Membantu guru untuk mengobservasi dan mengkritisi
pembelajarannya
25
c. Memperdalam pemahaman guru tentang materi pelajaran, cakupan dan
urutan kurikulum
d. Membantu guru memfokuskan bantuannya pada seluruh aktivitas
belajar peserta didik
e. Meningkatkan kolaborasi antar sesama guru dalam pembelajaran
f. Meningkatkan mutu guru dan mutu pembelajaran yang pada gilirannya
berakibat pada peningkatan mutu lulusan (siswa)
g. Memungkinkan guru memiliki banyak kesempatan untuk membuat
bermakna ide-ide pendidikan dalam praktik pembelajarannya sehingga
dapat mengubah perspektif tentang pembelajaran, dan belajar praktik
dari perspektif peserta didik.
h. Memudahkan guru berkonsultasi pada pakar dalam hal pembelajaran
atau kesulitan materi pembelajaran
i. Memperbaiki praktik pembelajaran di kelas
j. Meningkatkan keterampilan menulis buku ajar.16
Dari penjelasan di atas, penulis dapat simpulkan bahwa manfaat
lesson study berbasis sekolah antara lain: mengurangi keterasingan guru
dalam perencanaan pembelajaran; membantu guru dengan mengobservasi
dalam pembelajarannya; memperdalam pemahaman tentang materi
pembelajaran; membantu supaya lebih fokus pada aktivitas belajar siswa;
meningkatkan kolaborasi antar sesama guru; meningkatkan mutu guru dan
16 Ibid., 17.

26
mutu pembelajaran; memberi kesempatan pada guru untuk memberi
makna ide-ide pendidikan pada praktek pembelajarannya; mempermudah
dalam berkonsultasi dengan pakar dalam hal pembelajaran atau kesulitan
materi pelajaran; dan memperbaiki praktek pembelajaran di kelas.
6. Faktor pendukung dan penghambat lesson study berbasis sekolah
a. Faktor pendukung lesson study berbasis sekolah
Adapun faktor pendukung lesson study berbasis sekolah
diantaranya:
1) Antusiasme guru dalam mengikuti pelatihan.
2) Motivasi guru yang tinggi dalam meningkatkan profesionalismenya.
3) Sumber daya manusia yang memadai (adanya nara sumber yang
berkompeten di bidangnya).
b. Faktor penghambat lesson study berbasis sekolah
Adapun hambatan pelaksanaan lesson study berbasis sekolah
diantaranya:
1) Kuranganya pemahaman dan komitmen guru mengenai apa,
mengapa, dan bagaimana lesson study.
2) Kecenderungan guru yang memilki komitmen dan kesungguhan
hati untuk melakukan yang terbaik, tetapi cenderung lebih memilih
sikap sedang-sedang atau bahkan cukup.
3) Guru kurang memiliki sikap “mau belajar sepanjang hayat” dan
lebih tertarik bila melakukan suatu hal bila ada biayanya.
27
4) Kepala sekolah dan pengawas kurang terbiasa melakukan supervisi
dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran.
5) Guru seringkali kurang melakukan refleksi diri tetapi hanya
menunggu diberi masukan oleh kepala sekolah maupun pengawas.17
Dari uraian di atas, penulis dapat simpulkan bahwa implementasi
lesson study berbasis sekolah didukung oleh tiga faktor yaitu tingginya
antusiasme guru dalam mengikuti pelatihan, motivasi guru yang tinggi
dalam meningkatkan profesionalismenya dan sumber daya manusia yang
memadai. Sedangkan faktor-faktor yang menghambat implementasi
lesson study berbasis sekolah adalah kuranganya pemahaman dan
komitmen guru mengenai apa, mengapa, dan bagaimana lesson study,
kecenderungan guru yang memilki komitmen dan kesungguhan hati untuk
melakukan yang terbaik, tetapi cenderung lebih memilih sikap sedangsedang
atau bahkan cukup, guru kurang memiliki sikap mau belajar
sepanjang hayat dan lebih tertarik bila melakukan suatu hal bila ada
biayanya, kepala sekolah dan pengawas kurang terbiasa melakukan
supervisi dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran, dan guru
seringkali kurang melakukan refleksi diri tetapi hanya menunggu diberi
masukan oleh kepala sekolah maupun pengawas.

Iklan

06/29/2015 - Posted by | Belajar Dan Pembelajaran

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: