BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

PEMANTAUAN KESEJAHTERAAN JANIN SELAMA KEHAMILAN

I. PENDAHULUAN
Perkembangan janin merupakan keajaiban alam ciptaan Tuhan, dan kini menjadi
perhatian dunia kedokteran. Dengan teknologi pencitraan kita dapat melihat
perkembangan fisik dan fungsi organ janin. Dengan demikian riset mengungkapkan
pengertian peranan janin pada implantasi, pengenalan ibu terhadap kehamilan, aspek
immunologi, fungsi endokrin, nutrisi dan persalinan. Beberapa tahun terakhir ini, angka
kematian dan kesakitan perinatal telah menurun secara signifikan, akan tetapi kematian
janin antenatal masih merupakan masalah. Kematian janin tidak selalu pada kelompok
kehamilan risiko tinggi, akan tetapi beberapa kematian tersebut terjadi pada kehamilan
dengan risiko rendah bahkan normal.
Salah satu tujuan utama perawatan antenatal adalah untuk mengidentifikasi ibu
hamil yang berisiko tinggi terjadinya gangguan pada buah kehamilannya. Terdapat
berbagai macam peralatan/teknik untuk pengawasan janin ante/intrapartum diantaranya
NST, OCT dan penilaian ultrasonik real time. Tetapi sayangnya mayoritas kelompok
risiko rendah tidak dipantau oleh alat- alat pemantau elektronik janin atau ultrasonik
selama periode antepartum. Disisi lain pemeriksaan hormonal sepertial estriol plasma,
HPL serum terbukti kurang dapat dipercaya hasilnya dan tidak praktis untuk penapisan
kehamilan risiko rendah maupun tinggi.
Beberapa istilah telah dipakai untuk menunjukkan lamanya kehamilan dan
usia janin, yang memang berbeda. Usia gestasi yaitu lamanya amenore, dihitung
dari hari pertama haid terakhir, suatu periode sebelum terjadi konsepsi, yaitu kira-kira 2
minggu sebelum ovulasi dan fertilasi, atau 3 minggu sebelum implantasi blastokis.
Lamanya kehamilan rata-rata ialah 280 hari atau 40 minggu (91/3 bulan = 10x 28
hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir tersebut sampai bayi lahir.
Periode kehamilan sering dibagi 3 yaitu : trimester 1, 2 dan 3 mengingat adanya
kejadian umum yang terjadi; misalnya abortus kebanyakan terjadi pada trimeser
pertama, sedangkan kemungkinan hidup lebih besar bila kelahiran terjadi pada trimeser
ketiga.
II. Pertumbuhan dan Perkembangan janin
a. Pertumbuhan
Dalam 2 minggu setelah ovulasi ada beberapa tahapan :
(a) ovulasi (b) fertilisasi (c) pembentukan blastokista (d) implantasi blastokista yaitu 1
minggu setelah ovulasi. Villi khorialis primitif telah terbentuk segera setelah implantasi,
pada pemeriksaan patologi dikatakan ada kehamilan bila ditemukan villi.
Bentuk mudigah dimulai sejak 3 minggu setelah fertilisasi, kira-kira pada minggu haid
yang diperkirakan akan datang. Pada saat ini lempeng mudigah telah terbentuk dan besar
kantong khorion dapat mencapai 1 cm. Telah terbentuk ruang intervilli yang
mengandung darah ibu dan villi dengan mesoderm angioblastik khorionik.
Pada minggu ke empat setelah ovulasi, kantong khorion mencapai 2-3 cm dan
mudigah besarnya 4-5 mm, jantung tampak dominan karena dilatasi ruang jantung.
Tonjolan tangan dan kaki mulai tampak, sementara amnion mulai meliputi body
stalk yang kemudian akan menjadi tali pusat. Pada akhir minggu ke enam setelah
fertilisasi panjang janin ialah 22-24 mm, dan kepala relatif lebih besar dari badan; pada
saat ini tangan sudah tampak.
Janin
Disebut janin ialah saat mulai minggu ke 10 dihitung dari hari pertama haid
terakhir, saat ini janin telah 4 cm panjangnya. Kebanyakan organ mengalami
pertumbuhan dan pematangan dari struktur yang terbentuk pada periode mudigah.
Minggu ke 12
Akhir minggu ke 12, jarak kepala bokong (crown-rump length) ialah 6-7 cm,
pada saat ini pusat pertulangan telah terbentuk, jari tangan dan kaki telah jelas, kuku
serta bakal rambut. Genitalia eksterna mulai menunjukkan perbedaan pria atau
perempuan.
Minggu ke 16
Pada akhir minggu ke 16 jarak kepala bokong ialah 12 cm, dan beratnya 10
gram. Dengan cermat dapat dilihat genitalia eksterna.
Minggu ke 20
Pada akhir minggu ke 20 yaitu paruh waktu kehamilan normal, berat janin
300 gram; kulit janin tidak begitu bening dan tampak lanugo halus dan beberapa helai
rambut. Sejak saat ini bila dilahirkan disebut partus.
Minggu ke 24
Akhir minggu 24, berat janin 630 gram, kulit tampak keriput, dan sudah ada
lemak di bawah kulit. Kepala masih relatif besar; sudah tampak alis dan bulu mata.
Kebanyakan janin pada usia ini bila dilahirkan tak lama akan meninggal.
Minggu ke 28
Pada akhir 28 minggu, jarak kepala bokong sekitar 25 cm dan beratnya 1100
gram. Kulit masih merah dan diseliputi vernix caseosa. Membran yang meliputi pupil
baru saja menghilang dari mata. Janin yang dilahirkan pada saat ini dapat
menggerakkan tangan dan kaki, menangis lemah; dengan teknologi perawatan intensif
umumnya dapat diusahakan kelangsungan kehidupan.
Minggu 32
Pada akhir 32 minggu, janin telah mencapai panjang kepala bokong 28 cm,
dan beratnya 1800 gram. Kulit masih merah dan keriput; umumnya bayi dapat
hidup bila dilahirkan saat ini.
Minggu 36
Pada akhir 36 minggu, rata-rata jarak kepala bokong ialah 32 cm dan beratnya
2500 gram. Karena lemak subkutan cukup, bayi lebih kuat dan tidak tampak keriput.
Minggu 40
Pada akhir 40 minggu, janin
telah berkembang sempurna, jarak kepala bokong ialah 36 cm, panjang rata-rata 50
cm dan rata-rata beratnya 3400 gram. Dari 37 minggu lengkap sampai 41 minggu
lengkap disebut aterm. Berat janin pada aterm dipengaruhi oleh nutrisi ibu, tingkat
sosioekonomi dan seks. Bayi pria lebih berat 100 gram. Sejak 20 minggu berat janin
berkembang linear dan setelah 37 minggu menjadi landai.
b. Perkembangan
Sistem susunan syaraf pusat mengkoordinir fungsi-fungsi otot spesifik janin.
Karena itu penilaian pergerakan janin bertindak sebagai suatu ukuran integritas dan
fungsi susunan syaraf. Pergerakan janin dapat spontan, berasal dari janin itu sendiri atau
akibat rangsangan dari luar. Pergerakan spontan, non refleks adalah otonom dan
berlangsung sebelum timbulnya reaksi rangsangan. Pergerakan refleks disebabkan
karena rangsangan luar seperti suara, vibrasi, sentuhan dan sinar atau oleh rangsangan
atau suara yang dihasilkan oleh ibu sendiri. Grimwade dkk memperlihatkan bahwa
rangsangan suara yang dekat ke abdomen ibu hamil pada 38-40 mg menyebabkan
pergerakan janin. Respons janin terhadap rangsangan dari luar akan terjadi pada umur
kehamilan 26 minggu ke atas. Sebelum itu pergerakan janin terutama spontan. Tetapi
sayangnya ibu sendiri tidak mungkin membedakan apakah pergerakan itu spontan
atau akibat rangsangan.
Ibu hamil pertama kali merasakan pergerakan janin sekitar 18-20 minggu. Mulamula gerakan jarang, lemah dan kadang-kadang tidak dapat dibedakan dengan sensasi
abdomen lainnya seperti yang berasal dari usus. Mulai 20 minggu kehamilan, persentasi
gerakan janin yang lemah berkurang berangsur-angsur sampai kehamilan 36-37 minggu,
dan sejak saat itu pergerakan bertambah sampai aterm. Seiring dengan itu, pergerakanpergerakan yang kuat dan berputar bertambah secara proportional sampai 36-37 minggu,
kemudian setelah itu berkurang sedikit sampai aterm.
Pergerakan janin rata-rata per hari sekitar 200 pada umur kehamilan 20 minggu
dengan maksimum 575 pada 32 minggu. Pergerakan rata-rata harian janin tersebut
selama kehamilan bervariasi. Nilai klinis dari jumlah absolut pergerakan janin belum
ditentukan. Meskipun beberapa wanita merasa pergerakan janinnya rendah, seperti 4-10/hari, sebagaian terbesar bayinya lahir normal. Ehstrona dan Wood et al mengatakan
bahwa aktivitas maksimal per hari pergerakan janin berlangsung sekitar 32 minggu.
Setelah 36 minggu dimana janin tumbuh dan volume cairan amnion berkurang dapat
menerangkan mengapa pergerakan yang dirasakan ibu tersebut berkurang. Timor Tisch
et al menerangkan bahwa berkurangnya aktivitas pada aterm mungkin juga berhubungan
dengan waktu janin tidur, yang bertambah dengan makin maturnya janin. Lebih lanjut
mereka menerangkan periode yang lama dan istirahat janin, sampai 75 menit, akan
mengurangi gerakan-gerakan berputar dan keadaan ini merupakan hal yang biasa dan
dari janin yang sehat pada trimester ke 3.
Kegiatan janin dapat juga dipengaruhi oleh keadaan gula darah ibu, terutama
selama periode post prandial. Tetapi peneliti lain melaporkan tidak ada perbedaan yang
signifikan pergerakan janin sebelum dan setelah makan. Umur ibu, berat, paritas, etnis,
sex janin, volume cairan amnion, lokasi plasenta, panjang tali pusat dan kesakitan
neonatus tidak mempengaruhi jumlah pergerakan janin. Meskipun demikian, posisi ibu
terutama dari terlentang ke lateral menyebabkan variasi frekuensi kegiatan janin.
Obat-obatan ini seperti barbiturat, diazepam, meferidine dan magnesium sulfat
mengurangi pergerakan janin. Tetapi isoxsuprine, ß adrenergic, corticosteroid, caffeine
atau alkohol tidak mengurangi pergerakan janin, juga pada ibu-ibu yang merokok.
Perubahan-perubahan kualitatif dan kuantitatif aktivitas motorik janin merupakan
cerminan perubahan-perubahan fungsi SSP janin dan dapat merupakan tanda-tanda
gangguan kesehatan janin. Tingginya pergerakan dianggap janin tersebut normal, asal
keadaan ini tetap konstan. Meskipun demikian, pergerakan janin yang hebat kemudian
diikuti oleh keadaan tenang dapat merupakan tanda gawat janin akut atau ancaman
kematian janin akibat tekanan pada tali pusat. Seandainya gerakan janin yang berat tidak
dapat melepaskan tekanan pada tali pusat yang akut, janin dapat meninggal in utero. Hal
yang sama dengan urutan seperti tersebut di atas dapat pula terjadi pada solutio
placentae akut.
Penilaian pergerakan janin sebagai teknik penapisan tunggal pada penderita
risiko rendah nampaknya cukup memadai. Akan tetapi pada penderita-penderita dengan
risiko tinggi masih tetap diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan antenatal termasuk NST,
OCT atau profil biofisik.
III. EVALUASI KESEJAHTERAAN DAN PERTUMBUHAN JANIN
Penilaian kesejahteraan janin yang konvensional umumnya dikerjakan dengan
cara-cara yang tidak langsung, seperti pengukuran berat badan ibu, palpasi abdomen,
pengukuran tinggi fundus, maupun penilaian gejala atau tanda fisik ibu yang diduga
dapat mengancam kesejahteraan janin (misalnya hipertensi, perdarahan pervaginam dan
sebagainya). Cara-cara seperti itu seringkali tidak untuk memprediksi kesejahteraan
janin, sehingga sulit digunakan untuk membuat strategi yang rasional dalam upaya
pencegahan dan intervensi penanganan janin yang mengalami gangguan intrauterin
Dalam konsep obstetri modern, khususnya di bidang perinatologi, janin
dipandang sebagai individu yang harus diamati dan ditangani sebagaimana layaknya
seorang pasien (fetus as a patient). Janin perlu mendapat pemeriksaan fisik untuk
mengetahui apakah kondisinya aman, atau dalam bahaya (asfiksia, pertumbuhan
terhambat, cacat bawaaan, dan sebagainya). Pengetahuan akan hal itu akan menentukan
segi penanganan janin selanjutnya. Penilaian profil biofisik janin merupakan salah satu
cara yang efektif untuk mendeteksi adanya asfiksia janin lebih dini, sebelum
menimbulkan kematian atau kerusakan yang permanen pada janin. Pemeriksaan tersebut
dimungkinkan terutama dengan bantuan peralatan elektronik, seperti ultrasonografi
(USG) dan kardiotokografi (KTG).
Alat USG real-time dengan resolusi tinggi dapat digunakan untuk menilai
perilaku dan fungsi janin, morfologi dan morfometri janin, plasenta, tali pusat, dan
volume cairan amnion. Penilaian fungsi hemodinamik uterus-plasenta-janin dapat
dilakukan dengan USG Doppler Berwarna. Belakangan ini telah dikembangkan USG 3
dimensi (USG 3-D) yang bermanfaat untuk mempelajari morfologi dan hemodinamik
janin dengan lebih mudah dan akurat. Kardiotokografi berguna untuk mendeteksi secara
dini adanya hipoksia janin dan kausanya.
A. PENILAIAN KLINIS
1. Pertambahan berat badan ibu
Pertambahan berat ibu selama kehamilan memang mempengaruhi berat lahir bayi.
Abrams dan Laros (1986) mempelajari efek pertambahan berat ibu terhadap berat lahir
pada 2946 kehamilan dengan persalinan aterm. Hanya delapan wanita tidak mengalami
pertambahan berat. Dilakukan analisis regresi multiple untuk mengendalikan faktor usia
ibu, ras, paritas, status sosioekonomi, konsumsi rokok, dan usia gestasi. Pertambahan
berat ibu mempengaruhi berat lahir; wanita yang beratnya kurang melahirkan bayi yang
lebih kecil sedangkan yang sebaliknya berlaku pada wanita yang berat badannya
berlebih. Rerata pertambahan berat ibu selama kehamilan adalah 33 lb (15 kg). Temuan
penting dalam studi ini adalah bahwa pertambahan berat tampaknya tidak merupakan
syarat bagi pertumbuhan janin pada wanita kegemukan.
Hyten (1991) mengkaji berbagai data yang terkumpul selama lebih 20 tahun dan
mengamati bahwa pertambahan berat total selama kehamilan pada primigravida sehat
yang makan tanpa batasan adalah sekitar 12,5 kg (27,5 lb). Proses-proses fisiologis
komulatif menghasilkan penambahan 9 kg yang berupa janin, plasenta, air ketuban,
hipertrofi uterus dan payudara, peningkatan volume darah, serta retensi cairan ekstrasel
dan intrasel. Sisa 3,5 kg tampaknya sebagian besar berupa lemak simpanan ibu.
Beberapa kerugian yang mungkin ditimbulkan oleh pertambahan berat badan
berlebihan yang disebabkan oleh beratnya janin-bayi harus dipertimbangkan. Parker dan
Abrams (1992) meneliti keterkaitan antara pertambahan berat ibu di luar rekomendasi
Institute of Medicine pada 6690 kelahiran tunggal. Berat rata-rata prahamil adalah 57 kg
(125 lg) dan pertambahan rata-rata berat ibu adalah 15,2 ± 5,2 kg (33,4 ± 11,4 lb) pada
wanita yang terutama dari golongan Kaukasus dan Asia ini. Kurang dari separuh yang
memperlihatkan pertambahan berat dalam rentang yang direkomendasikan oleh Institute
berdasarkan BMI mereka.
Pertambahan berat dalam rentang rekomendasi menurunkan resiko gangguan
pada hasil akhir kehamilan. Sebaliknya, kurangnya pertambahan berat untuk habitus
tertentu berkaitan dengan bayi kecil untuk usia kehamilannya. Terdapat beberapa studi
lain yang menunjukkan pertambahan berat yang lebih rendah daripada yang dianjurkan
berkaitan dengan persalinan prematur atau bayi berat lahir rendah (Abrams dan Selvin,
1995; Hickey dkk., 1995; Siega-Riz dkk., 1994). Parker dan Abrams (1992)
memperlihatkan bahwa pertambahan berat yang berlebihan berkaitan dengan bayi besar
untuk usia kehamilannya sehingga meningkatkan angka seksio sesarea (16 versus 22
persen). Witter dkk. (1995) melaporkan bahwa resiko seksio sesarea meningkat secara
linier seiring dengan pertambahan berat selama kehamilan, tanpa bergantung pada berat
lahir.
2. Pengukuran tinggi fundus uteri
Pada kehamilan, uterus tumbuh secara teratur, kecuali jika ada gangguan pada
kehamilan tersebut. Pada kehamilan 8 minggu uterus membesar sebesar telur bebek, dan
pada kehamilan 12 minggu sebesar telur angsa. Pada saat ini fundus uteri telah dapat
diraba dari luar, diatas simfisis. Pada pemeriksaan ini wanita tersebut harus
mengosongkan kandung kencingnya dahulu.
Pada kehamilan 16 minggu besar uterus kira-kira sebesar tinju orang dewasa.
Dari luar fundus uteri kira-kira terletak di antara pertengahan pusat ke simfisis. Pada
kehamilan 20 minggu fundus uteri terletak kira-kira dipinggir bawah pusat sedangkan
pada kehamilan 24 minggu fundus uteri berada tepat dipinggir atas pusat. Pada
kehamilan 28 minggu fundus uteri terletak kira-kira 3 jari di atas pusat. Pada kehamilan
32 minggu terletak antara pusat dan processus xiphoideus. Pada kehamilan 36 minggu
terletak 1 jari dibawah processus xiphoideus.
Bila pertumbuhan janin normal maka tinggi fundus uteri pada kehamilan 28
minggu sekurangnya 25 cm, pada 32 minggu 27 cm dan pada 36 minggu 30 cm. Pada
kehamilan 40 minggu fundus uteri turun kembali dan terletak kira-kira 3 jari dibawah
processus xiphoideus. Hal ini disebabkan oleh kepala janin yang pada primigravida
turun dan masuk kedalam rongga panggul.
3. Penilaian gerakan janin oleh ibu
Merupakan metode yang minimal invasif serta paling sederhana pengawasannya.
Ibu diminta mneghitung berapa kali dia merasa bayinya bergerak dalam rentang waktu
tertentu. Cara yang dianjurkan, ibu berbaring dengan posisi miring ke kiri setelah
makan. Terdapat beberapa perbedaan standar dalam mendefinisikan janin dalam
keadaan baik dari penilaian ibu terhadap gerakan janin. Salah satu caranya adalah
memeinta ibu menghitung gerakan janin selama satu jam. Bayi dianggap aman/baik bila
terdapat ≥ 4 gerakan dalam waktu itu.
Teknik yang kedua adalah meminta ibu menghitung gerakan bayinya saat ibu
bangun pagi hari dan mencatat waktu yang diperlukan untuk merasakan 10 kali gerakan.
Rata-rata waktu yang diperlukan untuk merasakan 10 kali gerakan adalah 2-3 jam. Bila
ibu melaporkan gerakan yang kurang dari jumlah tersebut maka diperlukan pemeriksaan
lebih lanjut. Protokol untuk menghitung pergerakan janin, oleh ibu sebagai berikut :
1. Nilai pergerakan janin selama 30 menit, 3 (tiga) kali sehari.
2. Adanya gerakan yang dirasakan ibu empat atau lebih dalam waktu 30 menit
adalah normal. Selanjutnya nilai pergerakan janin selama periode penghitungan
seperti tersebut di atas.
3. Bila pergerakan janin kurang dari empat, penderita diharuskan berbaring dan
dihitung untuk beberapa jam, misalnya 2 – 6 jam.
4. Seandainya selama 6 jam, terdapat paling sedikit 10 pergerakan, maka hitungan
diteruskan tiga kali sehari seperti menghitung sebelumnya
5. Bila selama 6 jam gerakannya kurang dari 10 kali, atau semua gerakan dirasakan
lemah, penderita harus datang ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan NST, OCT dan
pemantauan dengan ultrasonik real time.
Bila penderita risiko rendah datang ke Rumah Sakit untuk penilaian pergerakan
janin yang berkurang, maka NST harus dilakukan. Pemeriksaan ultrasonik pun harus
dilakukan untuk menilai volume cairan amnion dan mencari kemungkinan kelainan
kongenital. Bila NST non reaktif, maka OCT dan profil biofisik harus dilakukan.
Seandainya pemeriksaan-pemeriksaan tersebut normal, pemantauan harus diulangi
dengan interval yang memadai.
Cara lain untuk menghitung pergerakan janin adalah Cardiff ” Count of 10″, atau
modifikasinya. Penderita diminta untuk mulai menghitung pergerakan-pergerakan janin
pada pagi hari dan terus berlanjut sampai si ibu mendapat hitungan pergerakan janin
sebanyak 10. Bila ia menemukan pergerakan lebih dari 10 dalam waktu 10 jam atau
kurang, umumnya janin dalam keadaan baik. Seandainya gerakan janin yang dirasakan
ibu kurang dari 10 dalam waktu 10 jam, ia harus mengunjungi dokter untuk pemeriksaan
lebih lanjut.
B. PENILAIAN DENGAN MODALITAS USG
1. Peralatan
Pemeriksaan ultrasonografi obstetri sebaiknya dilakukan dengan peralatan USG
real-time, dapat menggunakan cara transabdominal dan/atau transvaginal. Frekuensi
gelombang ultrasonik yang digunakan pada transduser (probe) sebaiknya disesuaikan
dengan keperluan. Pemeriksaan ultrasonografi terhadap janin hanya dilakukan bilamana
ada alasan medik yang jelas. Informasi diagnostik yang diperlukan sebaiknya diperoleh
melalui pemaparan ultrasonik yang serendah mungkin.
Pemeriksaan dengan USG real-time diperlukan untuk menentukan adanya tanda
kehidupan pada janin, seperti aktivitas jantung dan gerakan janin. Pilihan atas frekuensi
transduser yang digunakan didasarkan atas suatu pertimbangan akan kedalaman
penetrasi gelombang ultrasonik dan resolusi yang diinginkan. Pada transduser
abdominal, frekuensi 3 – 5 MHz memberikan kedalaman penetrasi dan resolusi yang
cukup memadai pada sebagian besar pasien. Pada pasien gemuk dapat digunakan
transduser dengan frekuensi yang lebih rendah agar diperolah kedalaman penetrasi yang
mencukupi. Pemeriksaan transvaginal biasanya dilakukan dengan menggunakan
frekuensi 5 – 7,5 MHz.
Agar dapat memberikan pelayanan yang bermutu kepada pasien, maka setiap
pemeriksaan ultrasonografi harus disertai dengan dokumentasi yang memadai.
Dokumentasi tersebut sebaiknya merupakan bentuk rekaman permanen (cetakan, foto,
video, dsb.) mengenai gambaran ultarsonografi, mencakup parameter-parameter ukuran
dan hasil-hasil temuan anatomi. Pada dokumentasi gambaran ultrasonografi
sebaiknya dicantumkan tanggal pemeriksaan, identitas pasien, dan jika ada,
dicantumkan juga orientasi dari gambaran ultrasonografi. Laporan hasil pemeriksaan
ultrasonografi sebaiknya dimasukkan ke dalam catatan medik pasien. Penyimpanan hasil
pemeriksaan ultrasonografi harus konsisten dengan keperluan klinik dan berkaitan
dengan kebutuhan fasilitas pelayanan kesehatan setempat yang berlaku.
2. Standar pemeriksaan USG
2.1 Pada kehamilan trimester I
Pemeriksaan ultrasonografi pada kehamilan trimester I dapat dilakukan dengan
cara transabdominal, transvaginal, atau keduanya. Jika dengan pemeriksaan
transabdominal tidak berhasil mendapatkan informasi diagnostik, maka jika mungkin
pemeriksaan dilanjutkan dengan cara transvaginal. Begitu pula, jika pemeriksaan
transvaginal tidak dapat menjangkau seluruh daerah yang diperlukan untuk diagnosis,
maka pemeriksaan harus dilanjutkan dengan cara transabdominal.
a. Evaluasi uterus dan adneksa untuk melihat adanya kantung gestasi. Jika terlihat
kantung gestasi, maka lokasinya harus dicatat. Pencatatan juga dilakukan terhadap adatidaknya mudigah, dan CRL (crown-rump length). CRL merupakan indikator yang lebih
akurat dari diameter kantung gestasi untuk menentukan usia gestasi. Jika mudigah tidak
terdeteksi, evaluasi adanya yolk sac di dalam kantung gestasi. Dalam keadaan demikian,
penentuan usia gestasi didasarkan atas ukuran diameter rata-rata kantung gestasi, atau
morfologi dan isi dari kantung gestasi. Gambaran definitif kantung gestasi didasarkan
atas terlihatnya yolk sac dan mudigah. Jika struktur embrionik tersebut tidak terlihat,
maka diagnosis definitif kantung gestasi harus dilakukan hati-hati. Pada kehamilan
ektopik, kadang-kadang terlihat cairan yang terkumpul di dalam kavum uteri dan
memberikan gambaran kantung gestasi palsu (pseudogestational sac). Pada akhir
trimester I, diameter biparietal dan ukuran-ukuran janin lainnya dapat digunakan untuk
menentukan usia gestasi.
b. Ada-tidaknya aktivitas jantung mudigah/janin harus dilaporkan.
Diagnosis aktivitas jantung hanya bisa ditentukan dengan USG real-time. Dengan
pemeriksaan transvaginal, denyut jantung harus bisa dilihat bila CRL sudah mencapai 5
mm atau lebih. Jika terlihat mudigah kurang dari 5 mm yang belum menunjukkan
aktivitas jantung, harus dilakukan follow-up untuk mengevaluasi tanda kehidupan.
c. Jumlah janin harus dicatat.
Kehamilan multipel dilaporkan hanya atas dasar jumlah mudigah yang lebih dari satu.
Kadang-kadang pada awal masa kehamilan terlihat struktur menyerupai kantung yang
Kriteria Perkiraan usia kehamilan selama periode janin (William Obstetric)
jumlahnya lebih dari satu dan secara keliru dianggap sebagai kehamilan multipel,
padahal sebenarnya berasal dari fusi selaput amnion dan korion yang tidak sempurna,
atau perdarahan subkorionik.
d. Evaluasi uterus, struktur adneksa, dan kavum Douglasi.
Pemeriksaan ini berguna untuk memperoleh temuan tambahan yang mempunyai arti
klinis penting. Jika terlihat suatu mioma uteri atau massa di adneksa, maka lokasi dan
ukurannya harus dicatat. Kavum Douglasi harus dievaluasi untuk melihat ada-tidaknya
cairan. Jika terlihat cairan di daerah kavum Douglasi, cari kemungkinan adanya cairan di
tempat lain, seperti di daerah abdomen dan rongga subhepatik.
e. Evaluasi plasenta
Struktur plasenta sudah bisa dikenali dengan menggunakan ultrasonografi sejak usia
kehamilan 8 minggu dengan tampaknya daerah yang menebal disekitar kantung
kehamilan. Pada saat ini, vili korialis akan berdiferensiasi menjadi korion laeve yang
tipis dan avaskuler dan selanjutnya bagian yang menebal akan menjadi korion
frondosum dan bersatu dengan desidua basalis dan selanjutnya akan berkembang
menjadi plasenta. Pada usia kehamilan 10-12 minggu, gambaran granuler yang merata
akan tampak dengan pemeriksaan USG. Gambaran ini dihasilkan oleh gema yang
berasal dari bangunan vili yang disekitarnya terdapat darah maternal. Gambaran USG
seperti ini akan didapatkan sampai kehamilan aterm. Pada bulan ketiga mulai dibentuk
septa plasenta yang dibentuk dari desidua dan trofoblas dan mencapai permukaan fetal
dari plasenta. Pada akhir bulan ke empat bentuk dan tebal plasenta mencapai titik akhir,
sedang perkembangan kesamping terus berlanjut sampai aterm.Pembuluh darah yang
bisa dilihat dengan menggunakan USG adalah vena, terutama bila letak plasenta di
anterior, sedangkan arteriol terlalu kecil untuk bisa dilihat dengan USG.
Kadang sulit membedakan kehamilan normal dari kehamilan abnormal dan kehamilan
ektopik. Pada keadaan ini pemeriksaan kadar hormon (misalnya HCG) di dalam serum
ibu serta hubungannya dengan gambaran ultrasonografi bisa membantu diagnosis.
Penentuan usia kehamilan dengan USG harus dimulai pada kehamilan awal
karena keakuratnnya sanga tinggi pada periode ini, lagipula akan sulit menentukan
kemajuan kehamilan bila hanya diperiksa pada trimester lanjut. Pada usia 4 minggu
kehamilan akan tampak kantong gestasi, pada usia 5 minggu akan tampak kantong
gestasi serta yolk sac dan pada usia 6 minggu akan tampak denyut jantung, maka
apabila tahapan ini tidak diperoleh berarti kehamilan belum mencapai usia tersebut
bila HCG nya telah positif atau bila memang hamil tanpa ada denyut jantung pada usia
tersebut maka dapat dikatakan ini merupakan suatu blighted ovum.
Bila pemeriksaan pertama pada usia 5 minggu tampak gambaran tersebut,
kemudian diperiksa lagi 27 minggu kemudian bila menurut USG tamapak panjang yang
kurang dari 40-42 cm, maka dapat dikatakan telah terjadi penghambatan atau retardasi
pertumbuhan intra uterine, Sekali lagi dokter Obgyn harus mengkombinasikan semua
hasil pemeriksaan sebelum membuat keputusan tertentu termasuk diagnosa dalam
kehamilan.
2.2 Pada kehamilan trimester II dan III
a. Kehidupan janin, jumlah, presentasi, dan aktivitas janin harus dicatat.
Adanya frekuensi dan irama jantung yang abnormal harus dilaporkan. Pada kehamilan
multipel perlu dilaporkan informasi tambahan mengenai jumlah kantung gestasi, jumlah
plasenta, ada-tidaknya sekat pemisah, genitalia janin (jika terlihat), perbandingan
ukuran-ukuran janin, dan perbandingan volume cairan amnion pada masing-masing
kantung amnion.
b. Prakiraan volume cairan amnion (normal, banyak, sedikit) harus dilaporkan.
Variasi fisiologik volume cairan amnion harus dipertimbangkan di dalam penilaian
volume cairan amnion pada usia kehamilan tertentu.
c. Lokasi plasenta, gambaran, dan hubungannya dengan ostium uteri internum harus
dicatat. Tali pusat juga harus diperiksa. Lokasi plasenta pada kehamilan muda seringkali
berbeda dengan lokasi pada saat persalinan. Kandung kemih yang terlampau penuh atau
kontraksi segmen bawah uterus dapat memberikan gambaran yang salah dari plasenta
previa. Pemeriksaan transabdominal, transperineal, atau transvaginal dapat membantu
dalam mengidentifikasi ostium uteri internum dan hubungannya dengan letak plasenta
d. Penentuan usia gestasi harus dilakukan pada saat pemeriksaan ultrasonografi
pertama kali, dengan menggunakan kombinasi ukuran kepala seperti DBP atau lingkar
kepala, dan ukuran ekstremitas seperti panjang femur. Pengukuran pada kehamilan
trimester III tidak akurat untuk menetukan usia gestasi. Jika sebelumnya sudah
dilakukan 1 kali atau lebih pemeriksaan ultrasonografi, maka usia gestasi pada
pemeriksaan sekarang harus didasarkan atas hasil pemeriksaan CRL, DBP, lingkar
kepala, dan/atau panjang femur yang paling awal dilakukan sebelumnya, oleh karena
hasilnya akan lebih akurat. Dengan demikian usia gestasi sekarang = usia gestasi pada
pemeriksaan pertama + interval waktu (minggu) sampai pemeriksaan sekarang.
Pengukuran bagian-bagian struktur tubuh janin yang abnormal (seperti kepala pada janin
hidrosefalus atau ekstremitas pada janin dengan displasia skeletal) tidak boleh
digunakan untuk penghitungan usia kehamilan
1. Standard pengukuran DBP dilakukan pada bidang aksial kepala melalui thalamus
(transthalamik). Jika bentuk kepala dolikosefalus atau brakhisefalus, pengukuran DBP
akan tidak akurat. Bentuk kepala yang demikian dapat diketahui melalui pengukuran
indeks sefalik, yaitu rasio DBP dengan diameter fronto-oksipital. Pada keadaan tersebut
ukuran yang digunakan sebaiknya adalah lingkar kepala
2. Pengukuran lingkar kepala dilakukan pada bidang yang sama seperti pada
pengukuran DBP. Pengukuran dilakukan melalui permukaan luar tulang kepala
3. Panjang femur harus diukur dan dicatat secara rutin setelah kehamil-an 14 minggu.
Seperti halnya ukuran kepala, panjang femur juga mempunyai variasi biologik tertentu
pada kehamilan lanjut.
e. Perkiraan berat janin harus ditentukan pada akhir trimester II dan trimester III, dan
memerlukan pengukuran lingkar abdomen.
1. Pengukuran lingkar abdomen dilakukan melalui bidang transversal abdomen
pada daerah pertemuan vena porta kiri dan kanan. Pengukuran lingkar abdomen
diperlukan untuk memprakirakan berat janin dan untuk mendeteksi pertumbuhan
janin terhambat dan makrosomia.
2. Jika sebelumnya sudah dilakukan pengukuran biometri janin, maka prakiraan
laju pertumbuhan janin harus ditentukan.
f. Evaluasi uterus (termasuk serviks) dan struktur adneksa.
Pemeriksaan ini berguna untuk memperoleh temuan tambahan yang mempunyai arti
klinis penting. Jika terlihat suatu mioma uteri atau massa adneksa, catat lokasi dan
ukurannya. Ovarium ibu seringkali tidak bisa ditemukan dalam pemeriksaan
ultrasonografi pada trimester II dan III. Pemeriksaan cara transvaginal atau transperineal
berguna untuk mengevaluasi serviks, bila pada cara pemeriksaan trans abdominal letak
kepala janin menghalangi pemeriksaan serviks.
g. Meskipun tidak perlu dibatasi, pemeriksaan ultrasonografi paling tidak harus
meliputi penilaian anatomi janin seperti: ventrikel serebri, fossa posterior (termasuk
hemisfer serebri dan sisterna magna), four-chamber view jantung (termasuk posisinya di
dalam toraks), spina, lambung, ginjal, kandung kemih, insersi tali pusat janin dan
keutuhan dinding depan abdomen. Jika posisi janin memungkinkan, lakukan juga
pemeriksaan terhadap bagian-bagian janin lainnya.
Dalam prakteknya tidak semua kelainan sistem organ tersebut di atas dapat
dideteksi melalui pemeriksaan ultrasonografi. Pemeriksaan tersebut di atas dianjurkan
sebagai standar minimal untuk mempelajari anatomi janin. Kadang-kadang beberapa
bagian struktur janin tidak bisa dilihat, karena posisi janin, volume cairan amnion yang
berkurang, dan habitus tubuh ibu akan membatasi pemeriksaan ultrasonografi. Jika hal
ini terjadi, maka struktur janin yang tidak bisa terlihat dengan baik harus dicantumkan di
dalam laporan pemeriksaan ultrasonografi. Pemeriksaan yang lebih seksama harus
dilakukan terhadap suatu organ yang diduga mempunyai kelainan.
3. Profil biofisik Janin
3.1 Pemeriksaan profil biofisik
Aktivitas biofisik janin dipengaruhi oleh beberapa keadaan. Hipoksemia (asfiksia)
janin akan menyebabkan aktivitas biofisik berkurang atau menghilang. Obat-obat yang
menekan aktivitas susunan saraf pusat (SSP) akan menurunkan aktivitas biofisik
(sedativa, analgetik, anestesi). Obat-obat yang merangsang SSP dan keadaan
hiperglikemia akan meningkatkan aktivitas biofisik. Aktivitas biofisik janin juga
bervariasi, sesuai dengan siklus tidur-bangunnya janin.
Penilaian profil biofisik janin merupakan suatu untuk mendeteksi adanya risiko
pada janin, berdasarkan penilaian gabungan tanda-tanda akut dan kronik dari penyakit
(asfiksia) janin. Metoda ini pertama kali diperkenalkan oleh Manning dkk. Pada tahun
1980, dengan menggunakan sistem skoring terhadap 5 komponen aktivitas biofisik
janin, yaitu gerakan nafas, gerakan tubuh, tonus, denyut jantung janin, dan volume
cairan amnion
Pemeriksaan profil biofisik dilakukan dengan menggunakan alat USG real-time
dan kardiotokografi. Berbagai modifikasi atas penilaian profil biofisik manning telah
dilakukan oleh banyak peneliti. Wiknjosastro memperkenalkan cara penilaian fungsi
dinamik janin-plasenta (FDJP) berdasarkan penilaian USG, NST, dan USG Dopper,
untuk memprediksi adanya asfiksia dan asidosis janin pada pasien-pasien preeklampsia
dan eklampsia
Gerakan nafas janin pada pemeriksaan USG dapat diketahui dengan mengamati
episode gerakan ritmik dinding dada ke arah dalam disertai dengan turunnya diafragma
dan isi rongga perut; kemudian gerakan kembali ke posisi semula. Adanya gerakan nafas
janin sudah dapat dideteksi pada kehamilan 10-12 minggu, meskipun pengukuran gerak
nafas umumnya baru dikerjakan setelah kehamilan 28 minggu. Gerakan nafas janin
diketahui mempunyai pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan paru, perkembangan
otot-otot diafragma dan otot-otot interkostal/ekstradiafragma. Gerakan nafas dianggap
normal apabila dalam 30 menit pemeriksaan terlihat gerakan nafas yang berlangsung
lebih dari 30 detik.
Pada janin yang mengalami hipoksemia biasanya gerakan nafas akan
menghilang. Gerakan nafas janin juga dipengaruhi oleh beberapa hal lamanya, seperti
hiperkapnia, hiperoksia, rokok, alkohol, dam obat-obatan (diazepam, salbutamol,
terbutalin, metidopa, mependin, kafein, dsb.). gerakan nafas janin juga akan berkurang
menjelang persalinan. Gerakan janin pada pemeriksaan USG diketahui dengan
mengamati gerakan tubuh ekstremitas, berupa gerakan tunggal atau multipel. Adanya
gerakan janin sudah dapat dideteksi mulai kehamilan 7 minggu, berupa gerak kedutan
tubuh dan gerakan ekstensi kepala. Pada kehamilan 8-9 minggu terlihat gerakan ekstensi
ekstremitas dan leher. Pada kehamilan 14 minggu terlihat gerakan rotasi kepala, dan
gerakan fleksi atau ekstensi lutut dan siku. Gerakan menelan mulai terlihat dengan jelas
sejak kehamilan 19 minggu. Mulai kehamilan 25 minggu semua pola gerakan janin
dapat terlihat dengan jelas.
Gerakan janin dianggap normal apabila selama 30 menit pemeriksaan terlihat
sedikitnya 3 gerakan tubuh atau ekstremitas. Beberapa keadaan dapat mempengaruhi
gerakan janin, seperti asfiksia janin, makanan dan glukosa, serta kondisi medik ibu
(insufisiensi plasenta) dan janin (Pertumbuhan janin terhambat, gawat janin).
Tonus janin dengan pemeriksaan USG diketahui sebagai gerakan ekstensi
ekstremitas atau tubuh janin, yang dilanjutkan dengan gerakan kembali ke posisi fleksi.
Tonus janin dapat juga dinilai dengan melihat gerakan jari-jari tangan yang membuka
(ekstensi) dan kembali ke posisi mengepal. Dalam keadaan normal, gerakan tersebut
terlihat sedikitnya sekali dalam 30 menit pemeriksaan. Tonus janin juga dianggap
normal apabila jari-jari tangan terlihat mengepal terus selama 30 menit pemeriksaan.
Penilaian denyut jantung janin (djj) dilakukan dengan pemeriksaan NST. Hasil
NST dinyatakan normal (relatif) apabila selama 30 menit pemeriksaan dijumpai
sedikitnya 2 kali akselerasi djj yang menyertai gerakan janin, dengan ampitudo lebih
dari 30 dpm., dan lamanya lebih dari 15 detik. Hasil NST yang relatif biasanya diikuti
dengan keadaan janin yang baik sampai minimal 1 minggu kemudian, dengan
spesifisitas 99%. Hasil NST yang non-reaktif disertai dengan keadaan janin yang jelek
(kematian perinatal, nilai Apgar rendah, adanya deselerasi lambat intrartum), dengan
sensitivitas sebesar 20%. Karena tingginya nilai positif palsu (80%), maka hasil NST
yang non-reaktif sebaiknya dievaluasi lebih lanjut dengan Contraction Stres Test (CST),
kecuali bila terdapat kontraindikasi. Dengan cara ini, hasil positif dapat dikurangi
sampai 50 %.
CST merupakan metode yang paling intensif dalam memonitor janin. Memiliki
spesifitas yang sangat tinggi untuk mendeteksi janin yang terancam. Kontraksi di
induksi dengan rangsangan puting susu atau dengan infuse oksitosin. Dilakukan
berulang dengan rangsangan puting berulang atau dengan titrasi oksitosin sampai
didapat 3 kontraksi dalam 10 menit. Tes ini dikatakan positif bila dijumpai deselerasi
lambat dan dikatakan negatif bila tidak ada deselarasi lambat
Volume cairan amnion secara semikuantitatif dapat ditentukan dengan mengukur
diameter vertikal kantung amnion. Volume cairan amnion dianggap normal apabila
terdapat kantung amnion berdiamter 2 cm atau lebih. Cara lain menentukan volume
cairan amnion adalah dengan mengukur indeks cairan amnion (ICA), yaitu mengukur
diameter vertikal kantung amnion pada 4 kuadran uterus. Volume cairan amnion yang
normal adalah bila ICA berjumlah antara 5-25 cm. Volume amnion kurang dari 2 cm;
atau ICA kurang dari 5 cm. Oligohidramnion (oleh sebab apapun) akan menyebabkan
kematian peri-natal meningkat. Janin akan mudah mengalami kompresi tali pusat.
Jaringan paru akan terganggu perkembangannya (hipoplasia paru) sehingga akan
menimbulkan distres pernafasan pada neonatus.
3.2 Interprestasi variabel biofisik
Variabel-variabel biofisik dipengaruhi bukan saja oleh hipoksia SSP tapi juga oleh
faktor-faktor farmakologis dan fisiologis. Produk-produk farmasi yang mendepresi SSP
seperti analgetik, sedatif dan anestesi secara efektif mengurangi dan bahkan dapat
menghilangkan beberapa kegiatan biofisik janin, sedangkan obat-obat yang
dipergunakan untuk menstimulir SSP dapat memperkuat variabel-variabel biofisik
janin. Di sisi lain siklus istirahat/ kegiatan dan perubahan -perubahan kadar gula darah
dapat mempengaruhi secara fisiologis parameter-parameter biofisik. Ibu yang merokok
akan menyebabkan transien deselarasi
Dengan demikian kegiatan normal biofisik menandakan SSP yang mengontrol
tipe kegiatan ini adalah intak, dan bukan sasaran hipoksia, sebaliknya suatu penurunan
atau tidak adanya kegiatan biofisik sulit untuk diinterprestasikan. Itu mungkin akibat
hipoksemia, tapi juga akibat satu fase tidur yang fisiologis atau pengaruh obat tertentu.
Bayi memiliki siklus tidur dengan durasi 20-80 menit. Selama periode ini variabilitas
jangka panjang denyut jantung janin menurun, dan penjejakan kemungkinan didapatkan
hasil tidak reaktif. Untuk menyingkirkan siklus tidur sebagai penyebab non reaktif maka
pemeriksaan dilakukan untuk waktu yang lebih lama dari 80 menit.
Manning dkk mengembangkan suatu profil biofisik yang didesain untuk
meminimalisir hasil false (+) dengan menggabungkan penilaian secara simultan
beberapa variabel (semua variabel dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor fisiologis atau
farmasi). Telah dibuktikan bahwa penelitian rangkaian variabel-variabel patofisiologis
yang berbeda secara signifikan meningkatkan kemampuan prediksi uji.
Penilaian satu variabel biofisik terbukti memberikan jumlah yang tinggi uji-uji
abnormal (10-15%) dengan hasil false negatif yang tinggi (36/1000) dan yang lebih
tidak dapat diterima lagi adanya false (+) yang tinggi pula ( 30 – 70%). Sebaliknya
profil biofisik janin memperlihatkan hasil normal yang tinggi (97%), false (+) yang
rendah dengan spesivitas dan nilai normal positif yang tinggi. Bila skor profil biofisik
antara 8-10, risiko asfiksia janin umumnya rendah selama volume cairan amnion masih
normal. Tindakan terminasi kehamilan hanya dilakukan atas indikasi obstetrik atau ibu,
atau bila cairan amnion telah berkurang.
Bila skor profil biofisik 6, tindakan terminasi kehamilan dilakukan bila volume
cairan amnion berkurang, atau janin telah matur dan serviks telah matang. Bila janin
belum matur dan volume cairan amnion masih normal, penilaian diulang dalam 24 jam.
Bila pada penilaian ulang skor profil biofisik meningkat menjadi 8 atau 10, maka tidak
perlu dilakukan tindakan intervensi. Akan tetapi bila ternyata skor tetap sama atau lebih
rendah dari sebelumnya, maka dilakukan terminasi kehamilan (indikasi janin). Bila skor
profil 4 atau kurang, janin kemungkinan besar mengalami asfiksia, sehingga perlu
dilakukan terminasi.
3.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi variabel biofisik
Kebanyakan variabel yang dipergunakan antepartum untuk menilai janin
mencerminkan keadaan SSP janin dan terutama derajat oksigenisasi. Urutan di mana
variabel-variabel biofisik terpengaruh oleh adanya asfiksia dan tipe respons terhadap
suatu stimulus hipoksemia bervariasi sesuai dengan saatnya timbul, luas dan lamanya
kejadian.
Urutan terpengaruhinya variabel-variabel biofisik
Vintzileos dkk membuktikan bahwa urutan pengaruh hipoksia terhadap variabel
biofisik terbalik dengan urutan dimana mereka mulai aktif didalam perkembangan janin,
meskipun pada beberapa kasus asfiksia berat semua parameter terkena. Jadi tonus janin
yang berfungsi pertama kali adalah fungsi terakhir yang akan hilang dengan adanya
asfiksia yang progresif. Juga dengan tidak adanya tonus berhubungan dengan tingginya
angka kematian perinatal.
Sebaliknya pusat reaktif FHR yang matangnya kemudian ( ± 28 minggu)
merupakan variabel pertama yang terkena dan dapat ditentukan sebagai variabel biofisik
yang paling sensitif terhadap asfiksia.
Tipe respon
Pola respon biofisik janin terhadap asfiksia tergantung pada lama dan beratnya serangan,
terdiri dari 2 tipe :
1. Pola respon akut
Sebagai hasil suatu serangan akut, terhadap perubahan-perubahan yang cepat SSP yang
mengatur kegiatan biofisik janin, yaitu FHR, gerakan-gerakan badan, pergerakan
pernapasan, tonus janin dan lain-lain.
2. Pola respon kronis atau subakut
Asfiksia janin yang kronis mengakibatkan berkurangnya cairan amnion, perlambatan
pertumbuhan janin akibat redistribusi dan sentralisasi aliran darah. Pada keadaan ini
terdapat peningkatan komplikasi neonatus.
Pola respon yang terjadi tergantung pada penyebab asfiksia. Pola respon akut
biasanya terjadi pada kasus-kasus solutio plasenta atau turunnya yang tiba-tiba perfusi
uterus ( berhentinya kardiorespirasi ibu) atau perfusi umbilicus (prolapsus tali pusat).
Sedangkan pola response yang kronis lebih sering berbentuk IUGR. Pada umumnya,
kira-kira 10% kematian perinatal, sebagai akibat serangan asfiksia akut, 30% sebagai
akibat anomali pertumbuhan janin dan 60% akibat asfiksia kronis.
3.4 Modifikasi Profil Biofisik
Vintzileos dkk yang pertama mengusulkan modifikasi profil biofisik guna
menilai kesejahteraan janin. Dia memantau 6543 janin berisiko tinggi dengan NST
mempergunakan VAST (Vibro acoustic Stimulation Test) dan memeriksa volume cairan
amnion, hasilnya tidak ada kematian janin dalam waktu satu minggu sejak penilaian
biofisik mereka.
Modifikasi profil biofisik merupakan cara pemeriksaan primer terbaik.
Pemeriksaan ini merupakan kombinasi observasi indeks hipoksia janin akut, NST dan
VAST, dan indeks kedua merupakan petunjuk masalah janin yang khronis volume
cairan amnion. Uji tersebut memberikan nilai ramal positif dan negatif yang cukup
memuaskan, mudah interprestasinya dan dapat dilakukan dalam waktu 20 menit.
Petunjuk berikut dapat dipergunakan sebagai pegangan dalam melaksanakan modifikasi
profil biofisik.
1. Apabila kedua uji normal, penilaian janin diulangi setiap minggu.
2. Bila kedua uji abnormal (NST non reaktif dan cairan amnion volumenya
berkurang) serta umur kehamilan 36 minggu atau lebih, penderita harus
dilahirkan. Akan tetapi bila umur janin kurang dari 36 minggu pengelolaan
individual. Mungkin perlu dilakukan amniosintesis, CST atau dilahirkan
tergantung pada keadaan.
3. Bila volume cairan amnion kurang tetapi NST reaktif, pencarian ke arah keadaan
janin yang khronis harus dilakukan, terutama untuk kelainan kongenital dan
pemeriksaan dengan modifikasi biofisik profil dua kali seminggu.
4. Seandainya volume cairan amnion normal dan NST non reaktif, pemeriksaan
lebih lanjut dengan CST atau pemeriksaan profil biofisik penuh harus dilakukan.
Meskipun di Indonesia pemeriksaan ultrasonografi (USG) telah dikenal dan dilakukan
sejak tahun 1970-an, namun hingga saat ini belum ada pengaturan yang jelas mengenai
tata-cara pemakaiannya, termasuk juga dalam hal indikasi dari pemeriksaan
ultrasonografi di bidang obstetri.
Dalam prakteknya tidak semua kelainan sistem organ tersebut di atas dapat
dideteksi melalui pemeriksaan ultrasonografi. Pemeriksaan tersebut di atas dianjurkan
sebagai standar minimal untuk mempelajari anatomi janin. Kadang-kadang beberapa
bagian struktur janin tidak bisa dilihat, karena posisi janin, volume cairan amnion yang
berkurang, dan habitus tubuh ibu akan membatasi pemeriksaan ultrasonografi. Jika hal
ini terjadi, maka struktur janin yang tidak bisa terlihat dengan baik harus dicantumkan di
dalam laporan pemeriksaan ultrasonografi. Pemeriksaan yang lebih seksama harus
dilakukan terhadap suatu organ yang diduga mempunyai kelainan.
4. PENUTUP
Profil biofisik janin merupakan cara penilaian dengan menggunakan USG dan
KTG untuk mendeteksi adanya asfiksia janin intrauterin. Cara ini akan membantu dalam
pengambilan keputusan yang lebih rasional dalam penanganan kehamilan risiko tinggi.
Manfaat lainnya dari pemeriksaan profil biofisik janin adalah untuk menilai kondisi
keseluruhan di dalam uterus, misalnya untuk mengetahui:
1. Jumlah, presentasi, dan letak janin.
2. Letak dan arsitektur plasenta.
3. Letak dan struktur tali pusat.
4. Morfometri janin.
5. Kelainan struktur dan fungsi janin.
DAFTAR PUSTAKA
1. Dana Gosseta and Karin Blakemore, Fetal assessment, the john Hopkins Manual of
Gynecologic and obstetrics, 2
nd
edition, Lippincoth William Wilkin, United stated, May 2002
2. Sarwono Prawirohardjo, Ultrasonografi dalam Obstetri, Ilmu kebidanan, Yayasan Bina
Pustaka, Jakarta, 2002
3. Susan Martin Tucker, Pemantauan dan pengkajian intrapartum, Edisi 4, Penerbit EGC, Jakarta,
2005
4. Catherine Y.Spong, Fetal monitoring, Danforth’s Obstetry & Gynecology, ninth edition,
William & Wilkin Publisher, USA, August 2003
5. Donel Laughlin, Robert A. Knuppel, M.D, Maternal-plasental-fetal unit; fetal and early
neonatal physiology, Current Obstetry and Gynecologic Diagnosis & treatment, Ninth edition,
Mc Graw Hill Co, USA, 2003
6. Frank A. Chevernak, Steven G.Gabbe, Obstetric ultrasound: assessme nt of fetal growth and
anatomy, Obstetric – Normal & Problem Pregnancies, 4 edition, Churchill Livingstone, British,
2002
7. F. Gary Cunningham et al, Fetal growth and development, William Obstetric, 21 edition, Mc
Graw Hill Profesional, United states, 2001
8. Palmer, P.E.S, Panduan Pemeriksaan Diagnostik USG, Penerbit EGC, Jakarta, 1996
9. R. Hariadi, Ilmu kedokteran fetomaternal, Edisi perdana, Himpunan kedokteran fetomaternal
POGI, Surabaya, 2004
10. Abdul Bari Saifuddin, Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal,
Yayasan bina pustaka, Jakarta, 2002

Iklan

11/25/2014 - Posted by | ANFISMAN | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: