BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

LAHAN

 

<a href=”https://account.ratakan.com/aff/go/zaifbio/?i=116″><img src=”https://account.ratakan.com/file/get/path/.banners.53a2e965bb2fd/i/251&#8243; alt=”Belajar Iklan Di Facebook 468×60″ width=”468″ height=”60″ border=”0″ /></a>

 

Lahan merupakan bagian dari bentang alam yang mencakup
pengertian lingkungan fisik termasuk tanah, iklim, topografi, dan bahkan
keadaan vegetasi alami yang semuanya secara potensial akan berpengaruh
yang lebih luas termasuk yang telah dipengaruhi oleh berbagai aktivitas
flora, fauna, dan manusia baik dimasa lalu maupun saat sekarang, seperti
lahan rawa dan pasang surut yang telah direklamasi atau tindakan
konservasi tanah pada suatu lahan tertentu (Djaenudin et al, 2003).
a. Tanah
Karakteristik tanah dapat diamati atau diukur, seperti tebal
horison, tekstur, struktur, kadar bahan organik, reaksi tanah, jenis
lempung, kandungan hara tanaman dan kemampuan mengikat air.
Tanah mempunyai karakteristik yang berbeda bagi masing-masing
horison dalam profil tanah (Darmawijaya, 1997).
Kualitas tanah merupakan hasil interaksi antara karakteristik
tanah, penggunaan tanahnya, dan keadaan lingkungannya. Kelas
drainase tanah yang banyak digunakan sebagai kriteria klasifikasi
kemampuan lahan adalah kualitas yang berdasarkan atas hasil interaksi
di atara permeabilitas, permukaan air tanah dan jumlah air yang
meresap ke dalam tanah. Kualitas tanah tidak dapat diukur langsung,
tetapi harus diperhitu ngkan dari karakteristik tanah (Darmawijaya,
1997).
b. Iklim
Dengan mempertimbangkan iklim sebagai salah satu elemen
penting dari sumber daya bumi, harus diakui bahwa dibandingkan
dengan suhu dan curah hujan, tekanan udara dan angin kurang penting
sebagai elemen iklim. Semua bentuk kehidupan di bumi mendapat
pengaruh dari adanya iklim tersebut (Lakitan, 1994).
xv
Komponen iklim yang paling berpengaruh terhadap
kemampuan lahan adalah suhu dan curah hujan. Suhu yang rendah
berpengaruh terhadap jenis dan pertumbuhan tanaman. Di daerah
tropis, suhu udara dipengaruhi oleh ketinggian suatu tempat terhadap
permukaan laut. Secara umum, makin tinggi letak suatu tempat makin
rendah suhu udaranya dengan laju penurunan 1ºC setiap kenaikan 100
m dari permukaan laut (Suripin, 2001).
Iklim merupakan faktor yang dinamis y ang sangat berpengaruh
dalam proses kehidupan. Cuaca dan iklim mempunyai pengaruh yang
sangat penting dalam pertanian. Cuaca dan iklim tidak hanya
memepengaruhi perkembangan tanaman tetapi juga berpengaruh
terhadap kegiatan manusia dalam usaha pertanian, t empat tinggal,
budaya dan makanan (Handoko, 1995).
Beberapa faktor berperan menentukan perbedaan iklim antara
wilayah yang satu dengan wilayah lainnya di muka bumi. Faktorfaktor yang dominan peranannya adalah :
a. Posisi relatif terhadap garis edar matahari (posisi lintang)
b. Keberadaan lautan atau permukaan air lainnya
c. Pola arah angin
d. Rupa permukaan daratan bumi
e. Kerapatan dan jenis vegetasi
(Lakitan, 2002).
Schmidt dan Ferguson menentukan jenis iklim di Indonesia
berdasarkan perhitungan jumlah bulan kering dan bulan basah. Mereka
memperoleh delapan jenis iklim dari iklim basah sampai iklim kering.
Kemudian Oldeman juga memakai unsur iklim curah hujan sebagai
dasar klasifikasi iklim di Indonesia. Metode Oldeman lebih
menekankan pada bidang pertanian, karenanya sering disebut
klasifikasi iklim pertanian (agro-climatic classification) (Tjasyono,
2004).
xvi
c. Topografi
Pada dasarnya bentuk wilayah dikenal wilayah datar,
berombak, bergelombang, dan bergunung. Perbedaan wilayah di suatu
daerah menyebabkan adanya perbedaan gerakan air tanah bebas dan
jenis – jenis tumbuhan diatasnya (di permukaan tanah). Hal ini
menyebabkan pengaruh yang berbeda dalam proses pembentukan
tanah (Sutopo, 1997).
Topografi atau relief bentuk wilayah mempengaruhi proses
pembentukan tanah dengan cara :
a. mempengaruhi jumlah air hujan yang meresap atau ditahan masa
tanah
b. mempengaruhi dalamnya air tanah
c. mempengaruhi besarnya erosi
d. mengarahkan gerakan air serta bahan yang larut di dalamnya
(Harjadi, 1993).
Faktor topografi umumnya dinyatakan ke dalam kemiringan
dan panjang lereng. Kecuraman, panjang, dan bentuk lereng (cembung
atau cekung) semuanya mempengaruhi laju aliran permukaan dan
erosi. Kecuraman lereng dapat diketahui dari peta tanah, namun
keduanya sering dapat menjadi petunjuk jenis tanah tertentu, dan
pengaruhnya pada penggunaan dan pengolahan tanah dapat dievaluasi
sebagai bagian satuan peta (Suripin, 2001).
Ketinggian di atas muka laut, panjang dan derajat kemiringan
lereng, posisi pada bentangan lahan, mudah diukur dan nilai sangat
penting dalam evaluasi lahan. Faktor-faktor topografi dapat
berpengaruh tidak langsung terhadap kualitas tanah. Faktor ini
berpengaruh terhadap kemungkinan bahaya erosi atau mudah tidaknya
diusahakan, demikian juga di program mekanisasi pertanian. Data
topografi ini hampir selalu digunakan setiap sistem evaluasi lahan,
terutama dalam kaitannya dengan nilai-nilai kriteria kemiringan lereng
atau ketinggian (altitude) (Sitorus, 1985).
xvii

<a href=”https://account.ratakan.com/aff/go/zaifbio/?i=116″><img src=”https://account.ratakan.com/file/get/path/.banners.53a2e965bb2fd/i/251&#8243; alt=”Belajar Iklan Di Facebook 468×60″ width=”468″ height=”60″ border=”0″ /></a>
d. Vegetasi
Vegetasi sampai sekarang masih dianggap sebagai cara
konservasi tanah yang paling jitu. Secara alamiah tanaman rumput
cenderung melindungi tanah dan tanaman dalam barisan memberikan
perlindungan lebih kecil, tetapi pendapat umum ini berubah oleh
pengelolaan. Pergiliran tanaman mempengaruhi lamanya pergantian
penutupan tanah oleh tajuk tanaman (Hudson, 1989).
Vegetasi merupakan salah satu unsur lahan, yang dapat
berkembang secara alami atau sebagai hasil dari aktivitas manusia baik
pada masa yang lalu atau masa kini. Vegetasi perlu dipertimbangkan
dengan pengertian bahwa vegetasi sering dapat digunakan sebagai
petunjuk untuk mengetahui potensi lahan atau kesesuaian lahan bagi
suatu penggunaan tertentu melalui kehadiran tanaman – tanaman
indikator. Vegetasi dapat juga berfungsi sebagai sumberdaya, misalnya
areal hutan dapat memberikan hasil kayu untuk keperluan bangunanbangunan atau menjadi sumber makanan ternak atau penggembalaan
(Sitorus, 1985).
Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin
keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat : 1)
memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan
memperbesar granulasi tanah 2) penutupan lahan oleh seresah dan
tajuk mengurangi erosi 3) disamping itu dapat meningkatkan aktifitas
mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah,
sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi.
Fungsi lain daripada vegetasi berupa tanaman kehutanan tidak kalah
pentingnya yaitu memiliki nilai ekonomi sehingga dapat menambah
penghasilan petani (Hamilton, et.al., 1997).
2. Survei Tanah
a. Pengertian dan Metode Survei Tanah
Survei tanah adalah proses mempelajari dan memetakan
permukaan bumi dalam pola unit yang disebut tipe tanah (Foth, 1996).
xviii
Sedangkan menurut Hardjowigeno (1995), tujuan dari survei tanah
adalah mengklasifikasi, menganalisis dan memetakan tanah dan
mengelompokkan tanah – tanah yang sama atau hampir sama sifatnya
ke dalam satuan peta tanah tertentu. Sifat – sifat dari masing-masing
satuan peta secara singkat dicantumkan dalam legenda, sedang uraian
lebih detail dicantumkan dalam laporan survei tanah yang selalu
menyertai peta tanah tersebut. Disamping itu dilakukan interpretasi
kemampuan tanah dari masing – masing satuan peta tanah untuk
penggunaan – penggunaan tanah tertentu.
Survei tanah memisahkan jenis tanah dan menggambarkan
dalam suatu peta beserta uraiannya. Klasifikasi dan survei merupakan
dwitunggal yang saling melengkapi dan saling memberi manfaat bagi
peningkatan daya gunanya. Survei tanah yang dilaksanakan dapat
bertujuan untuk meningkatkan pembukaan areal, penanaman baru,
rasionalisasi penggunaan tanah, pemecahan permasalahan kerusakan
tanah dan sebagainya yang akan menghasilkan suatu rekomendasi
untuk pelaksanaan tujuan tersebut (Darmawijaya, 1990).
b. Satuan Peta Tanah (SPT)
Peta tanah adalah suatu peta yang menggambarkan penyebaran
jenis-jenis tanah di suatu daerah. Peta ini dilengkapi dengan legenda
yang secara singkat menerangkan sifat-sifat tanah dari masing-masing
satuan peta. Peta tanah biasanya disertai pula dengan laporan
pemetaan tanah yang menerangkan lebih lanjut sifat-sifat dan
kemampuan tanah yang digambarkan dalam peta tersebut. Walaupun
pada dasarnya peta ini dibuat untuk tujuan pertanian, namun tidak
menutup kemungkinan untuk dimanfaatkan dalam bidang-bidang lain
seperti halnya dalam bidang-bidang engineering (Hardjowigeno,
1995).
Peta survei tanah mengandung banyak tipe informasi, tetapi
mungkin yang bernilai tinggi adalah tipe tanah, lereng dan derajat erosi
yang tercatat untuk setiap daerah yang dibatasi pada peta. Peta ini
xix
sebagai dasar untuk mengembangkan peta bagi bermacam-macam
penggunaan. Area dapat dikelompokkan dalam klas-klas kemampuan
lahan (Foth, 1996).
Satuan peta tanah (soil mapping unit) tersusun dari unsur-unsur
yang pada dasarnya merupakan kesatuan dari tiga satuan, ialah satuan
tanah, satuan bahan induk dan satuan wilayah. Perbedaan satuan peta
dalam berbagai peta tanah terletak pada ketelitian masing-masing
unsur satuan petanya. Penggunaan tiga unsur dimaksudkan untuk dapat
memberi gambaran yang jelas dari suatu wilayah tentang keadaan
tanah dan wilayahnya (Darmawijaya, 1997).
Sifat-sifat dari masing-masing satuan peta secara singkat
dicantumkan dalam legenda, sedang uraian lebih detail dicantumkan
dalam laporan survai tanah yang selalu menyertai peta tanah tersebut.
Disamping itu dilakukan interpretasi kemampuan tanah dari masingmasing satuan peta tanah untuk penggunaan-penggunaan tanah
tertentu. Survei tanah merupakan pekerjaan pengumpulan data kimia,
fisik, dan biologi di lapangan maupun dilaboratorium, dengan tujuan
pendugaan penggunaan lahan umum maupun khusus. Suatu survai
tanah baru memiliki kegunaan yang tinggi jika teliti dalam
memetakannya. Hal itu berarti :
a. Tepat mencari site yang representatif, tepat meletakkan site pada
peta yang harus didukung oleh peta dasar yang baik,
b. Tepat dalam mendeskripsikan profilnya atau benar dalam
menetapkan sifat-sifat morfologinya,
c. Teliti dalam mengambil contoh, dan
d. Benar menganalisisnya di laboratorium
(Abdullah, 1993).
Peta tanah menggambarkan penyebaran beberapa satuan tanah
dalam berbagai luasan lahan. Dengan skala tertentu peta tanah
memberitakan keadaan tanah dan lahansesuai dengan nama petanya.
xx
Berita tersebut dijelaskan dalam legenda peta yang biasanya tertera di
pojok bawah peta tersebut (Darmawijaya, 1990).
Satuan tanah yang digunakan dalam peta tanah tertentu, dapat
berupa jenis, macam, rupa, seri tanah menurut kategori dalam system
klasifikasi tanah. Jenis tanah mempunyai persamaan horison-horison
penciri dengan gejala-gejala pengikutnya dan terbentuk pada proses
pembentukan tanah yang sama. Macam tanah mempunyai persamaan
horison penciri atau lapisan sedalam kurang lebih 50 cm, terutama
mengenai warna, sifat horison tambahan atau horison peralihannya.
Rupa tanah dalam pembagian macam tanah dibedakan atas dasar
perbedaan tekstur dan draenase tingkat rupa. Seri tanah adalah
segolongan tanah yang terbentuk dari bahan induk yang sama,
mempunyai sifat dan susunan horison sama (Darmawijaya, 1990).

<a href=”https://account.ratakan.com/aff/go/zaifbio/?i=116″><img src=”https://account.ratakan.com/file/get/path/.banners.53a2e965bb2fd/i/251&#8243; alt=”Belajar Iklan Di Facebook 468×60″ width=”468″ height=”60″ border=”0″ /></a>

 

c. Klasifikasi Tanah
Menurut Hardjowigeno (1987), tanah alfisols adalah tanah -tanah dimana terdapat penimbunan liat di horison bawah (horison
argilik) dan mempunyai kejenuhan basa tinggi yaitu 35% pada
kedalaman 180 cm dari permukaan tanah. Liat yang tertimbun di
horison bawah ini berasal dari horison di atasnya dan tercuci ke bawah
bersama dengan gerakan air. Tanah ini dulu termasuk tanah Mediteran
Merah Kuning, Latosol, dan Podzolik Merah Kuning.
Alfisols umumnya berkembang dari batu kapur, olivine, tufa
dan lahar. Bentuk wilayah beragam dari bergelombang hingga tertoreh,
tekstur berkisar antara sedang hingga halus, drainasenya baik. Reaksi
tanah berkisar antara agak masam hingga netral, kapasitas tukar kation
dan basa-basanya beragam dari rendah hingga tinggi, bahan organik
pada umumnya sedang hingga rendah. (Munir, 1996).
Alfisols termasuk tanah y ang subur untuk pertanian tetapi
masih dijumpai kendala – kendala yang perlu mendapat perhatian
dalam pengelolaannya.
Kendala – kendala tersebut antara lain :
xxi
Pada beberapa tempat dijumpai kondisi lahan yang berlereng dan
berbatu.
Horison B argilik dapat mencegah distribusi akar pada tanah yang
bertekstur berat.
Pengelolaan tanah yang intensif dapat menurunkan bahan organik pada
lapisan tanah atas (top soil).
Kemungkinan terjadi fiksasi K dan amonium karena adanya mineral
illit.
Kemungkinan terjadi erosi pada daerah berlereng.
Kandungan P dan K rendah.
(Munir, 1996).
d. Formasi Geologi
Keadaan bahan induk akan mempunyai efek yang menentukan
pada sifat-sifat tanah muda dan mungkin dapat menumbuhkan
pengaruh terhadap tanah tertua sekalipun pada tanah yang bukan
induknya berasal dari batuan yang terkonsolidasi, pembentukan bahan
induk dan tanah mungkin terjadi bersamaan. Sifat – sifat bahan induk
yang menimbulkan pengaruh kuat terhadap perkembangan tanah
meliputi tekstur, susunan mineralogi, dan derajat stratifikasi (Foth,
1994).

 

<a href=”https://account.ratakan.com/aff/go/zaifbio/?i=116″><img src=”https://account.ratakan.com/file/get/path/.banners.53a2e965bb2fd/i/251&#8243; alt=”Belajar Iklan Di Facebook 468×60″ width=”468″ height=”60″ border=”0″ /></a>

 

3. Kemampuan Lahan
Kemampuan Lahan adalah suatu sistem klasifikasi lahan yang
dikembangkan terutama untuk tujuan konservasi tanah. Sistem tersebut
mempertimbangkan kelestarian lahan dalam menopang penggunaannya
untuk pertanian secara luas, seperti untuk budidaya tanaman pertanian
umum, padang rumput, dan agroforestry (Fletcher and Gibb, 1990).
Kelas kemampuan lahan merupakan tingkat kecocokan pola
penggunaan lahan. Berdasarkan kelas kemampuannya, lahan
dikelompokkan dalam delapan kelas. Lahan kelas I sampai IV merupakan
lahan yang sesuai bagi usaha pertanian, sedangkan lahan kelas V sampai
VIII merupakan lahan yang tidak sesuai untuk usaha pertanian.
xxii
Ketidaksesuaian ini bisa jadi karena biaya pengolahannya lebih tinggi
dibandingkan hasil yang bisa dicapai (Arsyad, 2006).
Secara lebih terperinci, kelas – kelas kemampuan lahan dapat
dideskripsikan sebagai berikut :
a. Kelas I, Merupakan lahan dengan ciri tanah datar, butiran tanah agak
halus, mudah diolah, sangat responsif terhadap pemupukan, dan
memiliki sistem pengairan air yang baik. Tanah kelas I sesuai untuk
semua jenis penggunaan pertanian tanpa memerlukan usaha
pengawetan tanah. Untuk meningkatkan kesuburannya dapat dilakukan
pemupukan.
b. Kelas II, Merupakan lahan dengan ciri lereng landai, butiran tanahnya
halus sampai agak kasar. Tanah kelas II agak peka terhadap erosi.
Tanah ini sesuai untuk usaha pertanian dengan tindakan pengawetan
tanah yang ringan, seperti pengolahan tanah berdasarkan garis
ketinggian dan penggunaan pupuk hijau.
c. Kelas III, Merupakan lahan dengan ciri tanah terletak di daerah yang
agak miring dengan sistem pengairan air yang kurang baik. Tanah
kelas III sesuai untuk segala jenis usaha pertanian dengan tindakan
pengawetan tanah yang khusus seperti pembuatan terasering, pergiliran
tanaman, dan sistem penanaman berjalur. Untuk mempertahankan
kesuburan tanah perlu pemupukan.
d. Kelas IV, Merupakan lahan dengan ciri tanah terletak pada wilayah
yang miring sekitar 12-30% dengan sistem pengairan yang buruk.
Tanah kelas IV ini masih dapat dijadikan lahan pertanian dengan
tingkatan pengawetan tanah yang lebih khusus dan lebih berat.
e. Kelas V, Merupakan lahan dengan ciri terletak di wilayah yang datar
atau agak cekung, namun permukaannya banyak mengandung batu dan
tanah liat. Karena terdapat di daerah yang cekung tanah ini seringkali
tergenang air sehingga tingkat keasaman tanahnya tinggi. Tanah ini
tidak cocok untuk dijadikan lahan pertanian, tetapi inipun lebih sesuai
untuk dijadikan padang rumput atau dihutankan.
xxiii
f. Kelas VI, Merupakan lahan dengan ciri ketebalan tanahnya tipis dan
terletak di daerah yang agak curam dengan kemiringan lahan sekitar
30-45 %. Lahan kelas VI ini mudah sekali tererosi, sehingga lahan
inipun lebih sesuai untuk dijadikan padang rumput atau dihutankan.
g. Kelas VII, Merupakan lahan dengan ciri terletak di wilayah yang
sangat curam dengan kemiringan antara 45-65 % dan tanahnya sudah
mengalami erosi berat. Tanah ini sama sekali tidak sesuai untuk
dijadikan lahan pertanian, namun lebih sesuai ditanami tanaman
tahunan (tanaman keras).
h. Kelas VIII, Merupakan lahan dengan ciri terletak di daerah dengan
kemiringan di atas 65 %, butiran tanah kasar, dan mudah lepas dari
induknya. Tanah ini sangat rawan terhadap kerusakan, karena itu lahan
kelas VIII harus dibiarkan secara alamiah tanpa campur tangan
manusia atau dibuat cagar alam (Rayes, 2006).
4. Kesesuaian Lahan
Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan suatu bidang lahan
untuk kegunaan tertentu. Misalnya untuk pertanian tanaman tahunan atau
semusim. Kesesuaian lahan tersebut dapat dinilai untuk kondisi saat ini
atau setelah diadakan perbaikan. Lebih spesifik lagi kesesuaian lahan
tersebut ditinjau dari sifat-sifat fisik lingkungannya yang terdiri atas iklim,
tanah, topografi, hidrologi dan drainase sesuai untuk usaha tani atau
komoditas tanaman yang produktif (Rayes, 2006).
Salah satu konsep yang diperhatikan dalam identifikasi kesesuaian
lahan yaitu kesesuaian lahan aktual (saat ini) dan kesesuaian lahan
potensial. Kesesuaian lahan aktual didasarkan pada kesesuaian lahan untuk
penggunaan tertentu pada saat ini, sedangkan kelas kesesuaian lahan
potensial adalah kesesuaian lahan untuk penggunaan tertentu setelah
dilkukan perbaikan lahan terpenuhi (Djikerman dan Dianingsih, 1985).
Penilaian kesesuian lahan didasarkan atas data dan informasi yang
diperoleh langsung di lapangan, ditambah dengan data hasil analisis di
laboratorium. Metode yang digunakan adalah kerangka penilaian lahan
xxiv
CSR/FAO Staff (1983) dalam Arsyad 2006. Dalam kerangka penilaian
lahan ini dikenal kelas – kelas kesesuaian lahan sebagai berikut :
a. S1 = Sangat Sesuai
Lahan tidak mempunyai pembatas yang serius untuk
menerapkan pengolahan yang diberikan atau hanya mempunyai
pembatas yang tidak berarti yang tidak secara nyata berpengaruh
terhadap produksi dan tidak akan menaikkan masukan melebihi yang
biasa.
b. S2 = Cukup Sesuai
Lahan mempunyai pembatas – pembatas yang cukup serius
untuk mempertahankan tingkat pengolahan yang harus diterapkan.
Pembatas akan mengurangi produksi atau kelentingan atau
meningkatkan masukan yang diperlukan.
c. S3 = Batas Ambang Sesuai
Lahan mempunyai pembatas – pembatas yang cukup serius
untuk mempertahankan tingkat pengolahan yang harus diterapkan,
dengan demikian akan mengurangi produksi dan keuntungan atau
penambah masukan yang diperlukan.
d. N = Tidak Sesuai
Lahan mempunyai pembatas sangat serius, tetapi masih
mungkin diatasi dengan tingkat pengelolaan yang membutuhkan
modal sangat besar; atau lahan yang mempunyai pembatas permanen
yang menutup segala kemungkinan penggunaan yang
berkelangsungan.
Kelas – kelas kesesuaian lahan tersebut di atas dibagi kedalam sub
– kelas. Pada tingkat ini terlihat dari jenis dari pembatas yang terdapat
pada suatu satuan peta. Faktor pembatas yang digunakan dalam metode
penilaian kesesuaian lahan ini adalah :
a. tc : Suhu (
0
C), yaitu rerata suhu tahunan.
b. wa : Ketersediaan air, meliputi curah hujan (mm) dan lama masa
kering (bulan/tahun).
xxv
c. oa : Ketersediaan oksigen, yaitu drainase.
d. rc : Media perakaran, meliputi tekstur, bahan kasar (%), dan
kedalaman tanah (cm).
e. nr : Retensi hara, meliputi KTK liat (C mol), kejenuhan basa (%), pH
H2O, dan C-organik.
f. eh : Bahaya erosi, meliputi lereng (%) dan bahaya erosi.
g. fh : Bahaya banjir, yaitu genangan.
h. lp : Penyiapan lahan, meliputi batuan di permukaan (%) dan singkapan
batuan (%).

 

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN

Ingin kaos bertema BELAJAR, PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN?, bosan dengan kaos yang ada?, ingin mengedukasi keluarga atau murid dengan pembelajaran. HANYA KAMI SATU-SATUNYA DI INDONESIA PERTAMA KALI KAOS BERTEMA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN COCOK DIPAKAI UNTUK SEMUA KALANGAN DAN MEMBERI KESAN EDUKASI DAN PEMBELAJARAN DALAM SETIAP PEMAKAIAANYA

like juga FP kami di https://www.facebook.com/Kaospembelajaran?ref=hl untuk melihat berbagai kolkesi kaos belajar kami

Fast Respon CP : 081938633462 dan 082331864747 WA: 081615875217

KAOS BELAJAR

07/16/2014 - Posted by | Biologi Umum

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: