BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Retensi dan Pemahaman Konsep

2.4 Retensi

            Daya ingat yang baik merupakan kebutuhan setiap siswa untuk belajar optimal. Ini karena hasil belajar siswa di sekolah diukur berdasarkan penguasaan siswa atas materi pelajaran, yang prosesnya tidak terlepas dari kegiatan mengingat (kemampuan menggunakan daya ingat). Maka dengan daya ingat yang baik, siswa akan dapat belajar dengan mudah dan mencapai hasil optimal. Namun, tidak setiap siswa memiliki daya ingat yang baik. Dalam setiap kelas, misalnya, pasti ada siswa yang memiliki daya ingat baik dan ada pula yang memiliki daya ingat buruk. Hal ini sesuai pendapat Kapadia (2003) yang menyatakan bahwa beberapa orang memiliki daya ingat yang baik, dan yang lainnya berdaya ingat buruk (Admin, 2009).

Proses pembelajaran di kelas akan berlangsung lancar bila seluruh siswa memiliki daya ingat yang baik. Tetapi ketika sebagian besar siswa memiliki daya ingat buruk ditandai dengan kesulitan siswa dalam mengingat materi pelajaran tentunya akan timbul masalah karena proses pembelajaran menjadi lamban. Lambannya proses pembelajaran akan berdampak tidak tercapainya target yang ditentukan. Atau kalau target tercapai, daya serapnya justru tidak tercapai. Jika ini terjadi, berarti pembelajaran tidak berhasil (Admin, 2009).

Untungnya, daya ingat itu dapat diperbaiki. Ini sesuai pendapat Stine (2003) bahwa orang yang memiliki ingatan tajam (daya ingat baik) tidak dilahirkan tetapi diciptakan. Melalui teknik yang tepat, orang dapat mendayagunakan daya ingat sehingga memperoleh yang terbaik darinya, memproses dan mengakses informasi dengan mudah
Untuk memudahkan pemahaman tentang pendayagunaan daya ingat, kita perlu mengetahui cara kerjanya. Menurut Kapadia, cara kerja daya ingat mirip dengan cara kerja perekam. Dia mengibaratkan daya ingat sebagai tape recorder. Tombol “play” diwakili indera (peraba, perasa, pembau, penglihat, pendengar). Tombol perekam diwakili benak (pemusatan pikiran). Putar ulang diwakili kemauan, dan listrik diwakili energi lingkungan.

Rendahnya daya ingat siswa terhadap meteri pelajaran merupakan salah satu masalah yang sering dihadapi guru. Retensi sebagai bagian dari ingatan memegang peranan penting agar dapat terjadi perubahan yang relatif permanan dalam tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman, yaitu proses belajar. Tanpa adanya retensi, proses belajar tidak mungkin terjadi, begitu pula sebaliknya. Retensi siswa dapat ditingkatkan dengan cara melibatkan mereka secara aktif
dalam proses pembelajaran. Peran aktif siswa dalam belajar dapat bervariasi mulai dari yang paling minimal hingga maksimal (Aryanti,. et all, 2007). Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui apakah dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share kelompok rendah tinggi dan pemberian tugas terstruktur retensi dan pemahaman siswa dapat meningkat.

2.5 Pemahaman Konsep

Pemahanam konsep merupakan salah satu bentuk hasil belajar yang diperoleh siswa dari mengikuti proses kegiatan pembelajarannya. Menurut Benjamin S. Bloom tiga ranah (domain) hasil belajar, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik (Sudijono, 2008). Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental otak. Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses berpikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang dimaksud adalah: (1) pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge), (2) pemahaman (comprehension), (3) penerapan (application), (4) analisis (analysis), (5) sintesis (synthesis) dan (6) penilaian (evaluation). Uraian dari keenam jenjang proses berpikir adalah sebagaimana berikut ini.

  1. a.    Pengetahuan (knowledge)

Kemampuan seseorang untuk meningat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya artinya siswa dapat memperkenalkan, mengingat, dan mereproduksi bahan pengajaran/pelajaran yang pernah diberikan (Arishanti, 2005). Pengetahuan atau ingatan ini merupakan proses berpikir yang paling rendah.

  1. b.   Pemahaman (comprehension)

Kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi (Sudijono, 2008). Seorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri, artinya peserta didik dapat memahami materi yang diberikan dan mampu mempergunakannya tanpa perlu menghubungkan dengan materi lain/melihat implikasinya (Arishanti, 2005). Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berpikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.

  1. c.    Penerapan (application)

Kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya dalam situasi yang baru dan konkrit artinya peserta didik dapat menggunakan hal-hal abstrak dalam situasi khusus dan konkrit (Arishanti, 2005). Aplikasi atau penerapan ini merupakan proses berpikir setingkat lebih tinggi ketimbang pemahaman.

  1. d.   Analisis (analysis)

Kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya, artinya peserta didik dapat menguraikan materi menjadi bagian-bagian sehingga  kedudukan/hubungannya menjadi jelas (Arishanti, 2005). Jenjang analisis setingkat lebih tinggi ketimbang jenjang aplikasi.

 

  1. e.    Sintesis (synthesis)

Kemampuan berpikir yang merupakan kebalikan dari proses berpikir analisis. Sintesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis sehinga menjelma menjadi suatu pola yang berstruktur atau berbentuk pola baru, artinya peserta didik dapat menyusun susunan bagian-bagian sehingga membentuk keseluruhan proses belajar dengan bahan-bahan dan menyusunnya menjadi pola tertentu (Arishanti, 2005). Jenjang analisis setingkat lebih tinggi ketimban jenjang aplikasi.

  1. f.      Penilaian (evaluation)

Kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai atau ide, misalnya seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih salah satu pilihan yang terbaik, sesuai denan patokan-patokan atau kriteria yang ada artinya peserta didik dapat mempertimbangan mengenai nilai dari bahan dan metoda untuk tujuan tertentu (Arishanti, 2005). Penilaian merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif (Sudijono, 2008).

Menurut Arikunto (1995) pemahaman (comprehension) siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana diantara fakta-fakta atau konsep. Menurut sudjana (1992) pemahaman dapat dibedakan dalam tiga kategori antara lain : (1) tingkat terendah adalah pemahaman terjemahan, mulai dari menerjemahkan dalam arti yang sebenarnya, mengartikan prinsip-prinsip, (2) tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran, yaitu menghubungkan bagian-bagian terendah dengan yang diketahui berikutnya, atau menghubungkan dengan kejadian, membedakan yang pokok dengan yang bukan pokok, dan (3) tingkat ketiga merupakan tingkat tertinggi yaitu pemahaman ektrapolasi.

Pemahaman konsep penting bagi siswa karena dengan memahami konsep yang benar maka siswa dapat menyerap, menguasai, dan menyimpan materi yang dipelajarinya dalam jangka waktu yang lama.

Iklan

11/24/2011 - Posted by | PTK

1 Komentar »

  1. kesimpulan tentang pemahaman konsepnya bagus buangethhhh….

    Komentar oleh chintae | 03/13/2012


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: