BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Retensi dan Pemahaman Konsep

2.4 Retensi

            Daya ingat yang baik merupakan kebutuhan setiap siswa untuk belajar optimal. Ini karena hasil belajar siswa di sekolah diukur berdasarkan penguasaan siswa atas materi pelajaran, yang prosesnya tidak terlepas dari kegiatan mengingat (kemampuan menggunakan daya ingat). Maka dengan daya ingat yang baik, siswa akan dapat belajar dengan mudah dan mencapai hasil optimal. Namun, tidak setiap siswa memiliki daya ingat yang baik. Dalam setiap kelas, misalnya, pasti ada siswa yang memiliki daya ingat baik dan ada pula yang memiliki daya ingat buruk. Hal ini sesuai pendapat Kapadia (2003) yang menyatakan bahwa beberapa orang memiliki daya ingat yang baik, dan yang lainnya berdaya ingat buruk (Admin, 2009).

Proses pembelajaran di kelas akan berlangsung lancar bila seluruh siswa memiliki daya ingat yang baik. Tetapi ketika sebagian besar siswa memiliki daya ingat buruk ditandai dengan kesulitan siswa dalam mengingat materi pelajaran tentunya akan timbul masalah karena proses pembelajaran menjadi lamban. Lambannya proses pembelajaran akan berdampak tidak tercapainya target yang ditentukan. Atau kalau target tercapai, daya serapnya justru tidak tercapai. Jika ini terjadi, berarti pembelajaran tidak berhasil (Admin, 2009).

Untungnya, daya ingat itu dapat diperbaiki. Ini sesuai pendapat Stine (2003) bahwa orang yang memiliki ingatan tajam (daya ingat baik) tidak dilahirkan tetapi diciptakan. Melalui teknik yang tepat, orang dapat mendayagunakan daya ingat sehingga memperoleh yang terbaik darinya, memproses dan mengakses informasi dengan mudah
Untuk memudahkan pemahaman tentang pendayagunaan daya ingat, kita perlu mengetahui cara kerjanya. Menurut Kapadia, cara kerja daya ingat mirip dengan cara kerja perekam. Dia mengibaratkan daya ingat sebagai tape recorder. Tombol “play” diwakili indera (peraba, perasa, pembau, penglihat, pendengar). Tombol perekam diwakili benak (pemusatan pikiran). Putar ulang diwakili kemauan, dan listrik diwakili energi lingkungan.

Rendahnya daya ingat siswa terhadap meteri pelajaran merupakan salah satu masalah yang sering dihadapi guru. Retensi sebagai bagian dari ingatan memegang peranan penting agar dapat terjadi perubahan yang relatif permanan dalam tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman, yaitu proses belajar. Tanpa adanya retensi, proses belajar tidak mungkin terjadi, begitu pula sebaliknya. Retensi siswa dapat ditingkatkan dengan cara melibatkan mereka secara aktif
dalam proses pembelajaran. Peran aktif siswa dalam belajar dapat bervariasi mulai dari yang paling minimal hingga maksimal (Aryanti,. et all, 2007). Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui apakah dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share kelompok rendah tinggi dan pemberian tugas terstruktur retensi dan pemahaman siswa dapat meningkat.

2.5 Pemahaman Konsep

Pemahanam konsep merupakan salah satu bentuk hasil belajar yang diperoleh siswa dari mengikuti proses kegiatan pembelajarannya. Menurut Benjamin S. Bloom tiga ranah (domain) hasil belajar, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik (Sudijono, 2008). Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental otak. Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses berpikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang dimaksud adalah: (1) pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge), (2) pemahaman (comprehension), (3) penerapan (application), (4) analisis (analysis), (5) sintesis (synthesis) dan (6) penilaian (evaluation). Uraian dari keenam jenjang proses berpikir adalah sebagaimana berikut ini.

  1. a.    Pengetahuan (knowledge)

Kemampuan seseorang untuk meningat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya artinya siswa dapat memperkenalkan, mengingat, dan mereproduksi bahan pengajaran/pelajaran yang pernah diberikan (Arishanti, 2005). Pengetahuan atau ingatan ini merupakan proses berpikir yang paling rendah.

  1. b.   Pemahaman (comprehension)

Kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi (Sudijono, 2008). Seorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri, artinya peserta didik dapat memahami materi yang diberikan dan mampu mempergunakannya tanpa perlu menghubungkan dengan materi lain/melihat implikasinya (Arishanti, 2005). Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berpikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.

  1. c.    Penerapan (application)

Kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya dalam situasi yang baru dan konkrit artinya peserta didik dapat menggunakan hal-hal abstrak dalam situasi khusus dan konkrit (Arishanti, 2005). Aplikasi atau penerapan ini merupakan proses berpikir setingkat lebih tinggi ketimbang pemahaman.

  1. d.   Analisis (analysis)

Kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya, artinya peserta didik dapat menguraikan materi menjadi bagian-bagian sehingga  kedudukan/hubungannya menjadi jelas (Arishanti, 2005). Jenjang analisis setingkat lebih tinggi ketimbang jenjang aplikasi.

 

  1. e.    Sintesis (synthesis)

Kemampuan berpikir yang merupakan kebalikan dari proses berpikir analisis. Sintesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis sehinga menjelma menjadi suatu pola yang berstruktur atau berbentuk pola baru, artinya peserta didik dapat menyusun susunan bagian-bagian sehingga membentuk keseluruhan proses belajar dengan bahan-bahan dan menyusunnya menjadi pola tertentu (Arishanti, 2005). Jenjang analisis setingkat lebih tinggi ketimban jenjang aplikasi.

  1. f.      Penilaian (evaluation)

Kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai atau ide, misalnya seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih salah satu pilihan yang terbaik, sesuai denan patokan-patokan atau kriteria yang ada artinya peserta didik dapat mempertimbangan mengenai nilai dari bahan dan metoda untuk tujuan tertentu (Arishanti, 2005). Penilaian merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif (Sudijono, 2008).

Menurut Arikunto (1995) pemahaman (comprehension) siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana diantara fakta-fakta atau konsep. Menurut sudjana (1992) pemahaman dapat dibedakan dalam tiga kategori antara lain : (1) tingkat terendah adalah pemahaman terjemahan, mulai dari menerjemahkan dalam arti yang sebenarnya, mengartikan prinsip-prinsip, (2) tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran, yaitu menghubungkan bagian-bagian terendah dengan yang diketahui berikutnya, atau menghubungkan dengan kejadian, membedakan yang pokok dengan yang bukan pokok, dan (3) tingkat ketiga merupakan tingkat tertinggi yaitu pemahaman ektrapolasi.

Pemahaman konsep penting bagi siswa karena dengan memahami konsep yang benar maka siswa dapat menyerap, menguasai, dan menyimpan materi yang dipelajarinya dalam jangka waktu yang lama.

Iklan

11/24/2011 Posted by | PTK | 1 Komentar

Tugas Terstruktur

2.3 Tugas Terstruktur

Salah satu upaya dalam meningkatkan intensitas belajar IPA adalah dengan pemberian tugas terstruktur. Dalam pemberian tugas terstruktur dimaksudkan agar selain untuk penguatan juga menimbulkan sikap positif terhadap pelajaran IPA. Pemberian tugas biasanya dalam bentuk pekerjaan rumah, yang bertujuan memberikan kesempatan siswa untuk mendapatkan pengertian yang luas tentang topik dan konsep-konsep yang telah dan akan diajarkan didalam kelas. Dengan ini siswa akan lebih tahu kekurangan dalam mempelajari dan memahami materi yang telah diajarkan oleh guru. Dan dengan adanya pemberian tugas terstruktur tersebut siswa juga tidak akan merasa bosan dalam belajar IPA karena materi pelajaran disampaikan secara berurutan atau terprogram sehingga siswa dengan mudah mengerjakan tugas yang dapat menimbulkan pengalaman belajar yang nantinya dapat meningkatkan intensitas belajar dan pemahaman siswa.

Tugas ini dirancang untuk membimbing peserta didik dalam satu program pelajaran, dengan sedikit atau sama sekali tanpa bantuan guru, untuk mencapai sasaran yang dituju dalam pelajaran itu, dalam hal ini adalah pembelajaran IPA tentang Batuan dan Proses Pembentukan Tanah.

Pada penelitian tugas terstruktur disajikan dalam bentuk modul. Modul dapat dirumuskan sebagai suatu unit yang lengkap yang berdiri sendiri dan terdiri atas suatu rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu peserta didik mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas. Modul yang diberikan berisi uraian materi yang dilengkapi dengan soal latihan yang diharapkan dapat meningkatkan penalaran dan pemahaman peserta didik terhadap materi yang diajarkan. Modul ini diberikan pada pertemuan sebelumnya sehingga peserta didik dapat mempelajarinya di rumah.

Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang berupa bahan cetakan. Ada beberapa pengertian tentang modul, antara lain:

1)        Modul adalah alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan materi pembelajaran, petunjuk kegiatan belajar, latihan dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan dapat digunakan secara mandiri.

2)        Modul adalah alat pembelajaran yang disusun sesuai dengan kebutuhan belajar pada mata pelajaran tertentu untuk keperluan proses pembelajaran tertentu, sebuah kompetensi atau sub kompetensi dikemas dalam satu modul secara utuh (self contained), mampu membelajarkan diri sendiri atau dapat digunakan untuk belajar secara mandiri (self instrucsional), penggunaannya tidak tergantung dengan media lain (self alone), memberikan kesempatan peserta didik untuk berlatih dan memberikan rangkuman, memberi kesempatan melakukan tes sendiri (self test) dan mengakomodasi kesulitan peserta didik dengan memberikan tindak lanjut dan umpan balik.

Dengan memperhatikan kedua pengertian diatas kita dapat bahwa modul adalah sarana pembelajaran dalam bentuk tertulis/cetak yang disusun secara sistematis, memuat materi pembelajaran, metode, tujuan pembelajaran berdasarkan kompetensi dasar atau indikator pencapaian kompetensi, petunjuk kegiatan belajar mandiri (self instructional), dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menguji diri sendiri melalui latihan yang disajikan dalam modul tersebut.

Modul memiliki sifat self contained artinya dikemas dalam satu kesatuan yang utuh untuk mencapai kompetensi tertentu. Modul juga memiliki sifat membantu dan mendorong pebacanya untuk mampu membelajarkan diri sendiri (self instructional) dan tidak bergantung pada media lain (self alone) dalam penggunaannya (Suprawoto, 2009).

Modul memiliki berbagai manfaat baik ditinjau dari kepentingan peserta didik maupun dari kepentingan guru. Bagi peserta didik modul bermanfaat antara lain:

1)        Peserta didik memiliki kesempatan melatih diri belajar secara mandiri.

2)        Belajar menjadi lebih menarik karena dapat dipelajari diluar kelas dan diluar jam pelajaran.

3)        Berkesempatan mengekspresikan cara-cara belajar yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

4)        Berkesempatan menguji kemampuan diri sendiri dengan mengerjakan latihan yang disajikan dalam modul.

5)        Mampu membelajarkan diri sendiri.

6)        Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam berinteraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya.

11/24/2011 Posted by | PTK | Tinggalkan komentar

Pembelajaran Kooperatif tipe TPS

2.2 Pembelajaran Kooperatif tipe TPS

            Ada beberapa hal prinsip sehubungan dengan pembelajaran kooperatif tipe TPS yang akan dijelaskan dibagian ini, yaitu: pengertian pembelajaran kooperatif tipe TPS dan kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TPS.

2.2.1 Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS

            TPS yaitu teknik yang dikembangkan oleh Frank Lyman (Think-Pair-Share). Teknik ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan dan teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa, yaitu memberi kesempatan delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain (Isjoni, 2006).

Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa pendekatan, salah satunya ialah TPS. Strategi TPS tumbuh dari penelitian pembelajaran kooperatif dan waktu tunggu. Strategi ini merupakan cara yang efektif untuk mengubah pola diskursus didalam kelas. Strategi ini menantang asumsi bahwa seluruh resistasi dan diskusi perlu dilakukan di dalam setting seluruh kelompok. TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.

            Strategi TPS yang digunakan oleh para guru menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:

Tahap-1: Thinking (berfikir)

Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.

Tahap-2: Pairing

Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau berbagi ide jika suatu persoalan khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.

Tahap-3: Share

Pada tahap ini, guru meminta kepada beberapa pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah didiskusikan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan pekerjaannya (Ibrahim, 2006).

            Kegiatan “berpikir-berpasangan-berbagi” dalam model Think-Pair-Share memberikan keuntungan. Siswa secara individu dapat mengembangkan pemikirannya masing-masing karena adanya waktu berpikir (think time), Sehingga kualitas jawaban juga dapat meningkat. Menurut Jones (2002), akuntabilitas berkembang karena siswa harus saling melaporkan hasil pemikiran masing-masing dan berbagi (berdiskusi) dengan pasangannya, kemudian pasangan-pasangan tersebut harus berbagi dengan seluruh kelas. Jumlah anggota kelompok yang kecil mendorong setiap anggota untuk terlibat secara aktif, sehingga siswa jarang atau bahkan tidak pernah berbicara di depan kelas paling tidak memberikan ide atau jawaban karena pasangannya.

Menurut Spencer Kagan ( dalam Maesuri, 2002) manfaat Think-Pair-Share adalah: (1) para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain ketika mereka terlibat dalam kegiatan Think-Pair-Share lebih banyak siswa yang mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dalam pasangannya. Para siswa mungkin mengingat secara lebih seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi lebih baik, dan (2) para guru juga mungkin mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan Think-Pair-Share. Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamati reaksi siswa, dan mengajukan pertanyaaan tingkat tinggi.

2.2.2 Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS

            Sanjaya (2006) menyatakan bahwa keunggulan pembelajaran Kooperatif sebagai suatu model pembelajaran diantarannya adalah sebagai berikut:

  1. Melalui model pembelajaran kooperatif peserta didik tidak terlalu menggantungkan pada guru, tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari peserta didik yang lain.
  2. Model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan, mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
  3. Model pembelajaran kooperatif dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
  4. Model pembelajaran kooperatif dapat memberdayakan setiap peserta didik untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
  5. Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan orang lain, mengembangkan keterampilan me-manage waku, dan sikap positif terhadap sekolah.
  6. Melalui model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahaman sendiri, menerima umpan balik. Peserta didik dapat memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
  7. Model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan peserta didik menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
  8. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan berfikir. Hal ini berguna untuk pendidikan jangka panjang.

11/24/2011 Posted by | PTK | Tinggalkan komentar

Pembelajaran Kooperatif

2.1 Pembelajaran Kooperatif

Ada beberapa hal prinsip sehubungan dengan pembelajaran kooperatif yang akan dijelaskan pada bagian ini, yaitu: pengertian pembelajaran kooperatif, tujuan pembelajaran kooperatif, teori-teori yang terkait dengan pembelajaran kooperatif, karakteristik pembelajaran kooperatif, langkah-langkah pembelajaran kooperatif, dan jenis-jenis pembelajaran kooperatif, sebagaimana uraian berikut ini.

2.1.1 Pengertian Pembelajaran Kooperatif

            Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) adalah model pembelajaran yang mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Model pembelajaran ini melibatkan siswa dalam kelompok yang terdiri dari empat atau lima siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda. Pembelajaran kooperatif memiliki suatu struktur tugas dan penghargaan yang berbeda dalam mengupayakan pembelajaran siswa. Struktur tugas itu menghendaki siswa untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil. Struktur penghargaan itu mengakui upaya kolektif dan individual. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan jika mereka berhasil sebagai kelompok.

            Model kooperatif yang digunakan oleh para guru memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Ibrahim et al., 2006):

  1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
  2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
  3. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda. Penghargaan berorientasi kelompok dari pada individu.

Pembelajaran kooperatif dapat berjalan secara efektif, maka perlu ditanamkan pada diri siswa unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut (Ibrahim et al., 2005):

  1. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup semati.
  2. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
  3. Para siswa haruslah beranggapan bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
  4. Para siswa haruslah membagi tugas dan bertanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
  5. Para siswa dikenakan penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompoknya.
  6. Para siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajar.
  7. Para siswa diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

2.1.2 Tujuan Pembelajaran Kooperatif

            Pelaksanaan model cooperative learning membutuhkan partisipasi dan kerja sama dalam kelompok pembelajaran. Cooperative leraning dapat meningkatkan cara belajar siswa menuju belajar lebih baik, sikap tolong-menolong dalam beberapa perilaku sosial. Tujuan utama dalam penerapan model belajar mengajar cooperative learning adalah agar peserta didik dapat belajar secara berkelompok bersama teman-temannya dengan cara saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan pendapat mereka secara berkelompok.

            Pada dasarnya model cooperative learning di kembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum Ibrahim, et al.(2000) dalam Isjoni (2010), yaitu:

  1. Hasil belajar akademik

Dalam cooperative learning meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan, model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan  dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, cooperative learning dapat memberi keuntungan, baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

  1. Penerimaan terhadap perbedaan individu

Tujuan lain model cooperative learning adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

  1. Pengembangan keterampilan sosial

Tujuan penting ketiga cooperative learning adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerjasama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial penting dimiliki siswa, sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

2.1.3 Teori-teori yang Terkait dengan Pembelajaran Kooperatif

            Model pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang agak kompleks, dan yang lebih penting lagi, dapat membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensikan sosial dan hubungan antar manusia. Telah dibuktikan pembelajaran kooperatif sangat efektif untuk memperbaiki hubungan antar suku dan etnik, dan kelas yang bersifat multicultural, dan hubungan antar siswa biasa dengan siswa penyandang cacat. Belajar secara kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif-konstruktivis dan teori belajar sosial (Kardi, 2003).

            Teori Vigotsky memiliki dua implikasi utama. Pertama adalah hasrat mewujudkan tatanan pembelajaran kooperatif diantara kelompok-kelompok siswa dengan tingkat-tingkat kemampuan yang berbeda. Penuturan teman sebaya yang lebih kompeten akan paling efektif dalam mengembangkan pertumbuhan di dalam zona perkembangan terdekat. Kedua, pendekatan ala Vigotsky dalam pengajaran menekankan perancahan (Scaffolding), dengan siswa semakin lama semakin mengambil tanggung jawab untuk pembelajarannya sendiri (Nur, 2004).

            Ericson mengembangkan apa yang disebut rasa percaya diri (industry). Interaksi diantara teman sebaya menjadi semakin penting dengan adanya rasa percaya diri. Kemampuan anak untuk bergerak antara dunia tersebut dan mengatasi tugas akademik, aktivitas kelompok, dan teman-teman akan membawa ke arah pengembangan rasa mampu (Marsitah, 2004).

            Menurut Ausabel dalam Suprijono (2009), pemecahan masalah yang cocok adalah lebih bermanfaat bagi siswa dan merupakan strategi yang efisien dalam pembelajaran. Kekuatan dan kebermaknaan proses pemecahan masalah dalam pembelajaran terletak pada kemampuan pelajar dalam mengambil peran pada kelompoknya. Untuk memperlancar proses tersebut diperlukan bimbingan langsung dari guru, baik lisan maupun dengan contoh tindakan. Sedangkan siswa diberi kebebasan untuk membangun pengetahuannya sendiri, dengan demikian cooperative learning akan dapat mengusir rasa jenuh dan bosen.

            Menurut Piaget dalam Suprijono (2009), dalam hubungannya dengan pembelajaran, teori ini mengacu kepada kegiatan pembelajaran yang harus melibatkan partisipasi peserta didik. Sehingga menurut teori ini pengetahuan tidak hanya sekedar dipindahkan secara verbal tetapi harus dikonstruksi dan direkonstruksi peserta didik. Sebagai realisasi teori ini, maka dalam kegiatan pembelajaran peserta didik haruslah bersifat aktif. Cooperative learning adalah sebuah model pembelajaran aktif dan partisipatif.

2.1.4 karakterisitik Pembelajaran Kooperatif

            Pada hakikatnya pembelajaran kooperatif sama dengan kerja kelompok, oleh sebab itu banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh dalam pembelajaran kooperatif, karena mereka menganggap telah terbiasa menggunakannya. Walaupun pembelajaran kooperatif terjadi dalam bentuk kelompok, tetapi tidak setiap kerja kelompok dikatakan cooperative learning.

Roger dan David johnson dalam Lie (1999) menyatakan bahwa: “Tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning.  Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur pembelajaran kooperatif harus diterapkan, yaitu : (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung jawab perseorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antar anggota, dan (5) evaluasi proses kelompok”.

1. Saling ketergantungan positif

Keberhasilan kelompok sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya.  Kegagalan satu anggota kelompok saja berarti kegagalan kelompok. Untuk menciptakan  kelompok kerja yang efektif, guru perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri.  Penilaian yang dilakukan adalah penilaian individu dan penilaian kelompok.  Dengan demikian setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan nilai pada kelompoknya.

2. Tanggung jawab perseorangan

Jika  tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik, sehingga masing-masing anggota kelompok akan melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok dapat dilaksanakan.

3. Tatap muka

Setiap anggota kelompok diberikan kesempatan bertemu muka dan berdis-kusi.  Kegiatan interaksi ini akan membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota.  Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing.

4. Komunikasi antar anggota

Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk mengutarakan pendapat mereka.  Disinilah peranan guru untuk memotivasi siswanya agar berani mengutarakan pendapatnya.  Proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
5. Evaluasi proses kelompok

Evaluasi proses kelompok bertujuan untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja mereka agar selanjutnya dapat bekerja sama dengan lebih baik.

Model pembelakaran kooperatif ini menekankan adanya kerjasama, saling ketergantungan dan menghormati pendapat orang lain dalam menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan pembelajaran dan suatu penghargaan bersama.

            Keterampilan-keterampilan selama kooperatif tersebut antara lain sebagai berikut Lungdren (1994) dalam Isjoni (2010):

  1. Keterampilan Koopertif Tingkat Awal

1)      Menggunakan kesepakatan

Yang dimaksud dengan menggunakan kesepakatan adalah menyamakan pendapat yang berguna untuk meningkatkan hubungan kerja dalam kelompok.

2)      Menghargai kontribusi

Menghargai berarti memperhatikan atau mengenal apa yang dapat dikatakan atau dikerjakan anggota lain. Hal ini berarti harus selalu setuju dengan anggota lain, dapat saja kritik yang diberikan itu ditunjukan terhadap ide dan tidak individu.

3)      Mengambil giliran dan berbagi tugas

Pengertian ini mengandung arti bahwa setiap anggota kelompok bersedia menggantikan dan bersedia mengemban tugas/tanggung jawab tertentu dalam kelompok.

4)      Berada dalam kelompok

Yaitu setiap anggota tetap berada dalam kelompok kerja selama kegiatan berlangsung.

5)      Berada dalam tugas

Yaitu meneruskan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, agar kegiatan dapat diselesaikan sesuai waktu yang dibutuhkan.

6)      Mendorong partisipasi

Yaitu mendorong semua anggota kelompok untuk memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok.

7)      Mengundang orang lain

Yaitu meminta orang lain untuk berbicara dan berpartisipasi terhadap tugas.

8)      Menyelesaikan tugas dalam waktunya

9)      Menghormati perbedaan individu

Yaitu bersikap menghormati terhadap budaya, suku, ras atau pengalaman peserta didik.

  1. Keterampilan Tingkat Menengah

Keterampilan tingkat menengah meliputi menunjukkan penghargaan dan simpati, mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara dapat diterima, mendengarkan dengan arif, bertanya, membuat ringkasan, menafsirkan, dan mengurangi ketegangan.

  1. Keterampilan Tingkat Mahir

Keterampilan tingkat mahir meliputi mengelaborasi, memeriksa dengan cermat, menanyakan kebenaran, menetapkan tujuan, dan berkompromi.

2.1.5 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

            Terdapat 6 langkah utama atau tanggapan di dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi peserta didik untuk belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian informasi, seringkali dengan bahan bacaan dari pada secara verbal. Selanjutnya peserta didik dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat peserta didik bekerja sama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Fase terakhir pembelajaran kooperatif meliputi kerja kelompok, atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Enam tahap pembelajaran koperatif dapat dirangkum pada tabel berikut:

Tabel 1. Langkah umum model pembelajaran kooperatif

(Ibrahim et al., 2006)

Fase

Tingkah Laku Guru

  • Fase I

Menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik

  • Fase II

Menyajikan informasi

  • Fase III

Mengorganisasikan peserta didik ke dalam kelompok belajar

  • Fase IV

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

  • Fase V

Evaluasi

  • Fase VI

Memberikan penghargaan

  • Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi peserta didik belajar.
  • Guru menyajikan informasi kepada peserta didik dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
  • Guru menjelaskan kepada peserta didik bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
  • Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

 

  • Guru mengevaluasi hasil belajar yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
  • Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

 

 

2.1.6 Jenis-jenis Pembelajaran Kooperatif

            Jenis-jenis pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:

  1. Numbered Heads Toghether (NHT) atau Kepala Bernomor, langkah-langkahnya:

1)   Peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok dan setiap peserta didik mendapatkan nomor

2)   Guru membagikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya

3)   Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan setiap kelompok mengerjakannya/mengetahui jawabannya

4)   Guru memanggil salah satu nomor siswa untuk melaporkan hasil kerja mereka

5)   Peserta didik yang lain memberi tanggapan

6)   Guru menunjuk nomor yang lainnya untuk kelompok berikutnya

7)   kesimpulan

  1. Think Pair and Share (TPS)

Srategi Think-pair-share yang digunakan oleh para guru menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:

1)   Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai

2)   Peserta didik diminta untuk berpikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru

3)   Peserta didik diminta berpasangan dengan teman sebelahnya dan mengutarakan pemikiran masing-masing

4)   Guru memimpin diskusi kecil. Tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya

5)   Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para peserta didik

6)   Guru memberi kesimpulan/penutup

  1. STAD (Student Teams Achievement Divisions)

Strategi ini menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:

1)   Membentuk kelompok beranggotakan 4 peserta didik secara heterogen

2)   Guru menyajikan pelajaran

3)   Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang mengetahui menjelaskan kepada lainnya sampai mengerti

4)   Guru memberi pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat peserta didik menjawab pertanyaan tidak boleh saling membantu

5)   Memberi evaluasi

6)   penutup

  1. Jigsaw

Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:

1)   Peserta didik dikelompokkan beranggotakan 4

2)   Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda

3)   Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian bab atau sub bab yang sama bertemu dengan kelompok baru (Kelompok Ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka

4)   Setelah selesai diskusi sebagian tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan berganian mengajar atau melaporkan hasil diskusinya kepada teman satu tim mereka tentang sub bab yang harus dibahas

5)   Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusinya

6)   Guru memberikan evaluasi

7)   Penutup

11/24/2011 Posted by | PTK | 1 Komentar