BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

LAPORAN PEMAGANGAN PT INGGU LAUT ABADI

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Tanaman hias merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai prospek agribisnis yang cukup besar di Indonesia. Salah satu dari tanaman hias tersebut adalah tanaman krisan. Krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) termasuk salah satu jenis tanaman hias yang banyak digemari oleh masyarakat karena mempunyai warna, ukuran, dan bentuk bunga menarik, serta tanaman krisan dapat bertahan kurang lebih 14 hari. Krisan termasuk jenis bunga potong penting dunia, karena macam jenisnya beraneka ragam. Krisan memiliki 55 varietas yang ada di seluruh dunia.

Seiring dengan terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat maka permintaan akan tanaman hias, khususnya bunga potong juga mengalami peningkatan. Bunga potong krisan merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan prospek yang cukup baik. Bunga krisan (Chrysanthemum morifolium ramat). merupakan salah satu spesies yang sangat populer dan tumbuh sebagai penghias tanaman dan sebagai bunga pot atau bunga potong. Menurut Wijayakusuma (2000), krisan dapat juga dimanfaatkan sebagai tanaman obat dan tanaman penghasil racun serangga alami.

Permintaan konsumen terhadap bunga krisan (Chrysanthemum morifolium ramat)  yang terus meningkat, telah memacu para petani dan pengusaha bunga hias terutama krisan terus meningkatkan produksinya. Hal ini dilihat dari penjualan bunga krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) di Pasar Rawa Belong, mulai dari 2007 sampai 2009 yaitu 399,25, 412,68 dan 422,50 (dalam juta tangkai). Permintaan tersebut ternyata tidak hanya tertuju pada kuantitas saja, melainkan juga jenis dan kualitas bunga. Kendala petani krisan dalam sistem produksi krisan yaitu kurang tersedianya bibit bermutu, rendahnya daya adaptasi varietas introduksi terhadap kondisi lingkungan fisik indonesia serta keterbatasan penggetahuan tentang teknik budidaya. Upaya peningkatan produksi krisan dalam negeri perlu dilakukan melalui penanganan yang memadai, supaya dimasa mendatang tanaman krisan ini diharapkan mampu menjadi komoditas andalan nasional sebagai penghasil devisa negara. Upaya tersebut perlu didukung dengan perbaikan sistem usaha yang menguntungkan dari pemerintah, sehingga petani termotivasi untuk melestarikan usaha tanaman krisan.

Selain itu kendala penanaman tanaman krisan di Indonesia dibutuhkan modifikasi-modifikasi lingkungan agar tanaman dapat tumbuh, mulai dari green house, menambahkan sinar dari lampu, hingga suhu lingkungan. Teknik kultur in vitro merupakan metode perbanyakan tanaman dengan mengisolasi bagian tanaman serta menumbuhkanya dalam kondisi aseptik. Sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman dengan jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat, serta memiliki kualitas, tumbuh dengan tempo yang relatif cepat dibandingkan dengan konvensional. Menyediakan bibit yang berkualitas serta memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit.

1.2  Tujuan Pemagangan

a)      Pendidikan

  1. Mahasiswa dapat mempelajari proses budidaya bunga Krisan mulai dari:
  • Pembibitan
  • Persiapan media tanam
  • Penanaman
  • Pemeliharaan tanaman
  • Panen
  • Pasca panen

b)      Penelitian

  1. Mahasiswa dapat mengetahui perbedaan pertumbuhan akar Krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) yang ditanam pada dataran rendah dan dataran tinggi dengan zat perangsang akar yang berbeda.

c)      Pengabdian

  1. Mahasiswa dapat ikut serta dalam seluruh kegiatan yang dilakukan di tempat pemagangan budidaya bunga krisan

1.3  Manfaat Pemagangan

Manfaat umum kegiatan magang mahasiswa ini antara lain :

  1. Menambah pengetahuan diluar kampus sehingga dapat menyiapkan diri dan menyesuaikan diri dengan dunia kerja.
  2. Mengetahui perkembangan ilmu dan teknologi sesuai dengan tuntunan perkembangan industri.
  3. Memperoleh pengalaman nyata yang berguna untuk meningkatkan keterampilan yang relevan sesuai jurusan yang ditekuni.
  4. Menjalin hubungan baik antara pihak industri dan lembaga pendidikan.
  5. Mengetahui sejauh mana relevansi ilmu yang didapat di kampus dengan penerapan di industri, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PROFIL LOKASI PEMAGANGAN

2.1 Lokasi Pemagangan

Tempat dilakasanakannya pemagangan ini berada di PT Inggu Laut Abadi yang  terletak di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur kilometer 17 jalan raya Bumi Aji-Sumber Brantas, yang berkedudukan di Desa Sumber Agung, Kecamatan Bumi Aji. Tempat ini berada pada ketinggian ± 1400 m dpl dengan luas lahan 3,5 hektar. Waktu pelaksanaan pemagangan dimulai pada tanggal 17 Januari – 16 Februari 2011.

2.2 Sejarah Perusahaan

PT Inggu Laut Abadi merupakan perusahaan perseroan yang didirikan pada tanggal 10 Mei 2002, ini berdasarkan akta yang di terbitkan oleh Ny. Hartati Marsono, SH. Kemudian diperkuat di Pengadilan negeri No.38605/tertanggal 27 mei 2002. Bentuk badan hukum Inggu Laut Abadi adalah Perseroan Terbatas (PT) yang memiliki surat ijin usaha perdagangan 0305/09-02/PB/V/2002. Pendiri dari perusahaan ini adalah keluarga besar Solo-Indroko, nama Inggu Laut merupakan nama tanaman hias yaitu Lantana camara sp atau yang lebih kita kenal dengan nama “Tembelek”. Tembelek di Jawa Barat lebih dikenal dengan nama inggu laut, tanaman ini dapat ditemui di pinggir laut hingga daerah dataran tinggi. Tanaman tembelek merupakan tanaman yang dapat hidup di segala tempat, dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Inggu Laut digunakan sebagai nama, agar tanaman krisan dapat tumbuh dimana saja dari dataran rendah hingga tinggi seperti tanaman Lantana camara sp.

Perusahaan ini pertama kali didirikan di Cipanas, Jawa Barat, yaitu mengambil alih dari usaha kecil yang mengalami kebangkrutan. Kebun Cipanas mulai beroperasi pada 1 Juli 2002,  pada lahan seluas 3600 m2. Budidaya tanaman krisan di PT. Inggu Laut Abadi dilakukan secara kultur in vitro, yang meliputi pengadaan tanaman hasil kultur dalam botol, bibit stek akar dan bunga potong krisan yang dihasilkan yaitu krisan standart dan krisan spray. Pemasaran bunga disalurkan ke Jakarta yaitu Pasar Bunga Rawa Belong, kemudian pada awal bulan Juni 2003 perusahaan mulai memperluas pemasaran ke Surabaya dan Bali. Untuk mempermudah dan meningkatkan produksi maka pada bulan Agustus 2003 di buka kebun baru yang terletak di Sumber Brantas, Kota Batu, dengan luas 3,5 hektar. Sistem organisasi PT Inggu Laut Abadi dikepalai oleh seorang Direktur Utama. Direktur wilayah Batu dibantu oleh Kepala Laboratorium dan Kepala Kebun, sedangkan Direktur Wilayah Cipanas dibantu Oleh Kepala Kebun.

Untuk meningkatkan efisiensi kerja, maka perusahaan membagi dua kegiatan produksi besar pada setiap kebun, untuk kebun Batu ditentukan sebagai pusat kegiatan pangadaan bibit, budidaya tanaman hias dan pelatihan tenaga kerja. Sedangkan kebun Cipanas dikhususkan hanya pada kegiatan pusat budidaya tanaman hias baik bunga potong ataupun bunga pot. Hal ini diharapkan setiap kebun dapat berkonsentrasi dalam menjalankan tugasnya serta menghasilkan produk yang unggul.

PT. Inggu Laut Abadi terletak di Jalan Sumber Brantas, Desa Junggo,  Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, dengan ketinggian 1400 m dpl dengan suhu 200-230. Jenis tanahnya yaitu lempung berpasir, dengan topografi berbukit. Di sana  dilengkapi dengan fasilitas 26 mess, 27 green house (20 untuk pengadaan tanaman induk krisan, 2 untuk pembibitan krisan, 4 untuk tanaman gerbra, 1untuk tanaman anyelir), 1 aula, 1 gudang + rapat, 1 perpustakaan, 1 laboratorium kultur jaringan, 3 mobil, 2 motor, 1 motor tosa, alat pemupukan, dan dilahan terbuka ditanami mawar, song of india, philodendron, ruskus, lither leave, dan hortensia.

PT. Inggu Laut Abadi memiliki karyawan yang berjumlah 27 orang dari berbagai latar belakang pendidikan yang berbeda (Tabel 1)

Tingkat Pendidikan

Jumlah Pegawai (orang)

S2

1

S1

3

D3

2

D1

S2

SMK

S1

SMP

D3

SD

1

Jumlah

27

Tabel 1. Latar Belakang Pendidikan Karyawan PT. Inggu Laut Abadi

 

 

 

 

 

 

.

2.2.1 Organisasi Perusahan

Struktur organisasi merupakan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan di antara funsi-fungsi, bagian-bagian, maupun orang-orang yang menunjukkan satu kedudukan, tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi. Struktur organisasi mengandung unsur-unsur spesialisasi kerja, standarisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasai dalam pembuatan keputusan dan besaran suatu kerja(Handoko, 2001).

 Sistem pembagian kerja didasarkan pada jenis dan tahap pekerjaan. Jam kerja yang berlaku mulai dari hari Senin-Sabtu. Total kerja di PT Inggu Laut Abadi adalah 8 jam yang dimulai dari pukul 07.00-15.00.

Adapun stuktur organisasi PT Inggu Laut Abadi ada;ah sebagai berikut :

Gambar 1. Struktur Organisasi PT Inggu Laut Abadi

 

2.2.2 Komoditas Tanaman yang Dibudidayakan

                 Terdapat beberapa komoditas yang dibudidayakan di PT Inggu Laut, yaitu :

1. Pembibitan bunga krisan yang dijual kepada petani dalam bentuk bibit yang sudah berakar dan siap tanam. Semua varietas dibibitkan dan dijual, untuk bibit siap jual yaitu tanaman yang sudah berakar atau berumur 14 hari setelah ditanam dalam sekam bakar.

2. Bunga krisan potong dengan berbagai varietas.

3. komoditas sampingan seperti bunga Mawar, Leather leaf, Song of India, Ruskus, Lily, Gerbera, Anyelir, Anthurium bunga, Philodendron, dll.

Seperti perusahaan bunga potong lainnya yang terus meningkatkan produksinya sesuai permintaan pasar, saat ini perusahaan sedang meningkatkan produksinya dalam hal kualitas dan kuantitas.

2.3 Bidang Kegiatan

Bidang kegiatan yang dilakukan dalam pemagangan ini adalah:

  • Pembibitan
  • Pengolahan media tanam
  • Penanaman
  • Pemeliharaan tanaman
  • Pemanenan
  • Pemackingan

 

 

 

 

 

 

BAB III

KAJIAN PUSTAKA

 

3.1. Tanaman Krisan

            Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicum (kuning), C. Morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, dan tahun 797 bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East. Tanaman krisan dari Cina dan Jepang menyebar ke kawasan Eropa dan Perancis tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan di Inggris. Jenis atau varietas krisan modern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial (Rukmana dan Mulyana, 1997).

            Di beberapa negara tanaman krisan memiliki arti yang beraneka ragam, di Jepang, Korea dan Cina bunga krisan putih menunjukkkan bunga duka cita. Di Eropa seperti Italia, Perancis, Polandia, Spanyol dan Kroasia, krisan merupakan simbol kematian dan hanya digunakan untuk pengkuburan. Di Amerika Serikat bunga krisan diguanakan untuk menunjukkan kebahagiaan dan semangat. Pada beberapa negara krisan menunjukkan kasih sayang, seperti di Australia krisan digunakan ketika “hari ibu”. Serta yang paling menarik tanaman krisan disebut juga bunga November.

3.2. Klasifikasi  Tanaman Krisan

Kingdom      : Plantae
Divisi            : Spermatophyta
Subdivisi       : Angiosperms
Order            : Asterales
Family           : Asteraceae
Tribe             : Anthemideae
Genus           : Chrysanthemum
Type spesies : Chrysanthemum indicum L
Spesies          : Chrysanthemum morifolium ramat

(Wijayakusuma, 2000)

3.3. Morfologi Tanaman Krisan

            Tanaman krisan merupakan tanaman semusim (anual) yang berkisar 9-12 hari tergantung varietas dan lingkungan tempat menanamnya. Tanaman krisan dapat dipertahankan hingga beberapa tahun bila dikehendaki, tetapi bunga yang dihasilkan biasanya jauh menurun kualitasnya (Hasyim dan reza, 1995). Menurut Rukmana (1997), tanaman krisan tumbuh menyemak setinggi 30-200 cm, sistem perakarannya serabut yang keluar dari batang utama. Akar menyebar kesegala arah pada radius dan kedalaman 50-70 cm atau lebih. Batang tanaman krisan tumbuh agak tegak dengan percabangan yang agak jarang, berstruktur lunak, dan berwarna hijau tetapi bila dibiarkan tumbuh terus, batang berubah menjadi keras (berkayu) dan berwarna hijau kecoklatan, serta berdiameter batang sekitar 0,5 cm. Bunga krisan tumbuh tegak pada ujung tanaman dan tersusun dalam tangkai berukuran pendek sampai panjang. Bunga krisan merupakan bunga majemuk yag terdiri atas bunga pita dan bunga tabung. Pada bunga pita terdapat bunga betina (pistil), sedangkan bunga tabung terdiri atas bunga jantan dan bunga betina (biseksual) dan biasanya fertil (kofranek, 1980).

3.4. Syarat-Syarat Tumbuh

3.4.1. Iklim

               Tanaman krisan membutuhkan air yang memadai, tetapi tidak tahan terpaan air hujan. Oleh karena itu untuk daerah untuk curah hujan tinggi penanaman dilakukan di dalam green house. Suhu toleran untuk tanaman krisan adalah 17­­­­0-300C, untuk daerah tropis seperti di Indonesia cocok menggunakan suhu 200-260C. Kelembaban yang dibutuhkan untuk tanaman krisan sangat tinggi ketika pembentukan akar, pada stek kelembabannya 90%-95%. Kemudian tanaman muda sampai tua kelembabannya 70%-80%, dengan sirkulasi udara yang memadai. Kadar CO2 di udara sekitar 3000 ppm, sedangkan kadar CO2 yang ideal untuk fotosintesis adalah 600-900 ppm. Untuk pembungaan membutuhkan lebih lama cahaya, dimana dapat menambah cahaya menggunakan bantuan TL dan lampu pijar. Penambahan penyinaran yang paling baik ketika tengah malam yaitu jam 22.30-01.00 dengan lampu 150 watt untuk 9 m2, dan lampu di pasang menggantung 1,5 m dari tanah. Periode pemasangan lampu dilakukan pada vegetativ (2-8 minggu) untuk merangsang pembentukkan bunga (Lukito, 1998).

3.4.2. Media tanam dan ketinggian tempat

               Untuk pertumbuhan tanaman yang optimum dibutuhkan media yang ideal, di mana tekstur media harus liat berpasir, subur, gembur dan memiliki drainase yang baik, serta tidak mengandung hama dan penyakit. Derajat keasaman media yang baik untuk petumbuhan tanaman adalah 5,5-6,7. Kemudian untuk ketinggian ideal untuk pertumbuhan tanaman sekitar 700-1200 m dpl (Rukmana dan Mulyana, 1997).

3.5 Budidaya

3.5.1.  Pembibitan

               Bibit diperoleh dari tanaman indukan yang sehat, kualitas prima, daya tumbuh yang kuat, serta bebas dari hama dan penyakit. Pembibitan dilakukan secara vegatatif, yaitu dengan anakan, stek pucuk dan kultur in viro.

3.5.1.1. Bibit asal anakan

                 Diperoleh dari tanaman yang sudah tua, yang biasanya anakan muncul d dekat akar atau bagian batang bawah.

3.5.1.2. Bibit asal stek puncuk

                 Yaitu dengan menententukan tanaman yang sehat dan cukup umur, memilih tunas pucuk yang tumbuh sehat. Dengan diameter pangkal 3-5 mm, panjang 5 cm, mempunyai 3 helai daun dewasa berwarna hijau terang, potong pucuk tersebut. Kemudian langsung disemaikan atau disimpan dalam ruangan dingin bersuhu udara 40 C, dengan kelembaban 30 % agar tetap tahan segar selama 3-4 minggu. Cara penyimpanan stek adalah dibungkus dengan beberapa lapis kertas tisu, kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik rata-rata 50 stek.

3.5.1.3. Bibit asal kultur in vitro

                 Yaitu menentukan mata tunas atau eksplan dan diambil dengan pisau silet, stelisasi mata tunas dengan sublimat 0,04 % (HgCl) selama 10 menit, kemudian bilas dengan air suling steril. menanaman dalam medium MS berbentuk padat. Hasil penelitian lanjutan perbanyakan tanaman krisan secara kultur jaringan:

1. Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 1,5 mg kinetin/liter, paling baik untuk pertumbuhan tunas dan akar eksplan. Pertunasan terjadi pada umur 29 hari, sedangkan perakaran 26 hari.

2. Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5 BAP/liter, kalus bertunas waktu 26 hari, tetapi medium tidak merangsang pemunculan akar.

3. Medium MS padat ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-0.2 mg kinetin/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-2,0 BAP/liter pada eksplan varietas Sandra untuk membentuk akar pada umur 21-31 hari. Penyiapan bibit pada skala komersial dilakukan dengan dua tahap yaitu:

a. Stok tanaman induk : Fungsinya untuk memproduksi bagian vegetatif sebanyak mungkin sebagai bahan tanaman ditanam di areal khusus terpisah dari areal budidaya. Jumlah stok tanaman induk disesuaikan dengan kebutuhan bibit yang telah direncanakan. Tiap tanaman induk menghasilkan 10 stek per bulan, dan selama 4-6 bulan dipelihara memproduksi sekitar 40-60 stek pucuk. Pemeliharaan kondisi lingkungan berhari panjang dengan penambahan cahaya 4 jam/hari mulai 23.30–03.00 lampu pencahayaan dapat dipilih Growlux SL 18 Philip.

b. Perbanyakan vegetatif tanaman induk.

1. Pemangkasan pucuk yaitu, dilakukan pada umur 2 minggu setelah bibit ditanam, dengan cara memangkas atau membuang pucuk yang sedang tumbuh sepanjang 0,5-1 cm.

2. Penumbuhan cabang primer. Perlakuan pinching dapat merangsang pertumbuhan tunas ketiak sebanyak 2-4 tunas. Tunas ketiak daun dibiarkan tumbuh sepanjang 15-20 cm atau disebut cabang primer.

3. Penumbuhan cabang sekunder. Pada tiap ujung primer dilakukan pemangkasan pucuk sepanjang 0,5-1cm, pelihara tiap cabang sekunder hingga tumbuh

sepanjang 10-15 cm.

3.5.2. Pengolahan media tanam

               Pengolahan menggunakan cangkul, tanah dicangkul sedalam 30 cm, kemudian dikering anginkan selama 15 hari. Setelah itu digemburkan kedua kalinya dengan dibersihkan gulmanya, lalu di bentuk bedengan dengan lebar 1-1,2 m, tinggi 20-30 cm, dengan panjang sesuai lahan yang ada, serta jarak antar bedengan yaitu 30-49 cm. Jika tanah mempunyai pH dibawah 5,5, maka diperlukan pengapuran menggunakan kapur pertanian seperti dolomit, zeagro atau kalsit. Kebutuhan kapur sesuai kadar pH yang ada dalam tanah, untuk pH 5 = 5,02 ton/ha, pH 5,2 = 4,08 ton/ha, pH 5,3 = 3,60 ton/ha, pH 5,4 = 3,12 ton/ha. Pengapuran dilakukan dengan cara disebar merata pada permukaan bedengan.

3.6. Hama dan Penyakit

3.6.1. Hama

a. Ulat tanah (Agrotis ipsilon)

o Gejala: memakan dan memotong ujung batang tanaman muda, sehingga pucuk dan tangkai terkulai.

o Pengendalian: mencari dan mengumpulkan ulat pada senja hari dan semprot dengan insektisida.

b. Thrips (Thrips tabacci)

o Gejala: pucuk dan tunas-tunas samping berwarna keperak-perakan atau kekuning-kuningan seperti perunggu, terutama pada permukaan bawah daun.

o Pengendalian: mengatur waktu tanam yang baik, memasang perangkap berupa lembar kertas kuning yang mengandung perekat, misalnya IATP buatan Taiwan.

c. Tungau merah (Tetranycus sp)

o Gejala: daun yang terserang berwarna kuning kecoklat-coklatan, terpelintir, menebal, dan bercak-bercak kuning sampai coklat.

o Pengendalian: memotong bagian tanaman yang terserang berat dan dibakar dan penyemprotan pestisida.

d. Penggerek daun (Liriomyza sp) :

o Gejala: daun menggulung seperti terowongan kecil, berwarna putih keabu-abuan yang mengelilingi permukaan daun.

o Pengendalian: memotong daun yang terserang, penggiliran tanaman, dengan aplikasi insektisida.

3.6.2. Penyakit

1. Karat/Rust

o Penyebab: jamur Puccinia sp. karat hitam disebakan oleh cendawan Pchrysantemi, karat putih disebabkan oleh P horiana P.Henn.

o Gejala: pada sisi bawah daun terdapat bintil-bintil coklat/hitam dan terjadi lekukan-lekukan mendalam yang berwarna pucat pada permukaan daun bagian atas. Bila serangan hebat meyebabkan terhambatnya pertumbuhan bunga.

o Pengendalian: menanam bibit yang tahan hama dan penyakit, perompesan daun yang sakit, memperlebar jarak tanam dan penyemprotan insektisida.

2. Tepung oidium

o Penyebab: jamur Oidium chrysatheemi.

o Gejala: permukaan daun tertutup dengan lapisan tepung putih. Pada serangan hebat daun pucat dan mengering.

o Pengendalian: memotong/memangkas daun tanaman yang sakit dan penyemprotan fungisida.

3. Virus kerdil dan mozaik

o Penyebab: virus kerdil krisan, Chrysanhenumum stunt Virus dan Virus Mozaoik Lunak Krisan (Chrysanthemum Mild Mosaic Virus).

o Gejala: tanaman tumbuhnya kerdil, tidak membentuk tunas samping, berbunga lebih awal daripada tanaman sehat, warna bunganya menjadi pucat.

o Penyakit kerdil ditularkan oleh alat-alat pertanian yang tercemar penyakit dan pekerja kebun.

o Virus mosaik menyebabkan daun belang hijau dan kuning, kadang-kadang bergaris-garis.

o Pengendalian: menggunakan bibit bebas virus, mencabut tanaman yang sakit, menggunakan alat-alat pertanian yang bersih dan penyemprotan insektisida untuk pengendalian vektor virus.

BAB IV

METODE PEMAGANGAN

4.1 Bidang Pendidikan

            Ada beberapa hal yang dipelajari dalam proses pemagangan kali ini terutama pengetahuan dalam bidang budidaya krisan, antara lain adalah:

A. Pembibitan           

Dalam rangka mempelajari proses pembibitan maka langkah-langkah yang dilakukan adalah:

  1. Penyiapan Bibit : Pembibitan krisan dilakukan dengan cara vegetatif yaitu dengan anakan, setek pucuk dan kultur jaringan.
  1. Bibit asal anakan
  2. Bibit asal stek pucuk : Tentukan tanaman yang sehat dan cukup umur. Pilih tunas pucuk yang tumbuh sehat, diameter pangkal 3-5 mm, panjang 5 cm, mempunyai 3 helai daun dewasa berwarna hijau terang, potong pucuk tersebut, langsung semaikan atau disimpan dalam ruangan dingin bersuhu udara 4 derajat C, dengan kelembaban 30 % agar tetap tahan segar selama 3-4 minggu. Cara penyimpanan stek adalah dibungkus dengan beberapa lapis kertas tisu, kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik rata-rata 50 stek.
  • Teknik Penyemaian Bibit
    1. Penyemaian di bak : Siapkan tempat atau lahan pesemaian berupa bak-bak berukuran lebar 80 cm, kedalaman 25 cm, panjang disesuaikan dengan kebutuhan dan sebaiknya bak berkaki tinggi. Bak dilubangi untuk drainase yang berlebihan. Medium semai berupa pasir steril hingga cukup penuh. Semaikan setek pucuk dengan jarak 3 cm x 3 cm dan kedalaman 1-2 cm, sebelum ditanamkan diberi Rotoon (ZPT). Setelah tanam pasang sungkup plastik yang transparan di seluruh permukaan.
    2. Penyemaian kultur jaringan : Bibit mini dalam botol dipindahkan ke pesemaian beisi medium berpasir steril dan bersungkup plastik tembus cahaya.
  • Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian : Pemeliharaan untuk stek pucuk yaitu penyiraman dengan sprayer 2-3 kali sehari, pasang bola lampu untuk pertumbuhan vegetatif, penyemprotan pestisida apabila tanaman di serang hama atau penyakit. Buka sungkup pesemaian pada sore hari dan malam hari, terutama pada beberapa hari sebelum pindah ke lapangan. Pemeliharaan pada kultur jaringan dilakukan di ruangan aseptik, setelah bibir berukuran cukup besar, diadaptasikan secara bertahap ke lapangan terbuka.
  • Pemindahan Bibit : Bibit stek pucuk siap dipindahtanamkan ke kebun pada umur 10-14 hari setelah semai dan bibit dari kultur jaringan bibit siap pindah yang sudah berdaun 5-7 helai dan setinggi 7,5-10 cm.
  • B. Pengolahan Media Tanam

    1. Pembentukan Bedengan : Olah tanah dengan menggunakan cangkul sedalam 30 cm hingga gembur, keringanginkan selama 15 hari. Gemburkan yang kedua kalinya sambil dibersihkan dari gulma dan bentuk bedengan dengan lebar 100-120 cm, tinggi 20- 30 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antara bedengan 30-40 cm.
    2. Pengapuran : Tanah yang mempunyai pH > 5,5, perlu diberi pengapuran berupa kapur pertanian misalnya dengan dolomit, kalsit, zeagro. Dosis tergantung pH tanah. Kebutuhan dolomit pada pH 5 = 5,02 ton/ha, pH 5,2 = 4,08 ton/ha, pH 5,3 = 3,60 ton/ha, pH 5,4 = 3,12 ton/ha. Pengapuran dilakukan dengan cara disebar merata pada permukaan bedengan.

    C. Penanaman

    1. Teknik Penanaman Bunga Potong
    1. Penentuan Pola Tanam. : Tanaman bunga krisan merupakan tanaman yangdapat dibudidayakan secara monokultur.
    2. Pembuatan Lubang Tanam : Jarak lubang tanam 10 cm x 10 cm, 20 cm x 20 cm. Lubang tanam dengan cara ditugal. Penanaman biasanya disesuaikan dengan waktu panen yaitu pada hari-hari besar. Waktu tanam yang baik antara pagi atau sore hari.
    3. Pupuk Dasar : Furadan 3G sebanyak 6-10 butir perlubang. Campuran pupuk ZA 75 gram ditambah TSP 75 gram ditambah KCl 25gram (3:3:1)/m2 luas tanam, diberikan merata pada tanah sambil diaduk.
    4. Cara Penanaman : Ambil bibit satu per satu dari wadah penampungan bibit, urug dengan tanah tipis agar perakaran bibit krisan tidak terkena langsung dengan furadan 3G. Tanamkan bibit krisan satu per satu pada lubang yang telah disiapkan sedalam 1-2 cm, sambil memadatkan tanah pelan-pelan dekat pangkal batang bibit. Setelah penanaman siram dengan air dan pasang naungan sementara dari sungkup plastik transparan.
  • Teknik Penanaman untuk Memperpendek Batang : Penanaman dilakukan sama dengan untuk bunga potong biasa, tetapi dengan menambah cahaya agar tangkai menjadi pendek.
    1. Pengaturan dan Penambahan Cahaya : Dilakukan sampai batas tertentu dengan ketinggian tanaman yang dinginkan. Misalnya, bila diinginkan bunga krisan bertangkai 70 cm, maka penambahan cahaya sejak ketinggian 50-60 cm. Lampu dimatikan. Periode berikutnya beralih ke generatif. Tangkai bunga memanjang mencapai 80 cm. Bila dipanen tangkainya 70 cm, maka tangkai bunga yang tersisa adalah 10 cm pada tanaman. Total lama penyinaran sejak bibit ditanam sampai periode generatif antara 12-15 minggu tergantung varietas krisan. Cara pengaturan dan penambahan cahaya yaitu dengan pola byarpet, yaitu pencahayaan malam selama 5 menit lalu dimatikan selama 1 menit dilakukan secara berulang-ulang hingga mencapai 30 menit. Cara lain pengaturan dan penambahan cahaya adalah dengan memasang lampu TL pada tengah malam mulai pukul 22.30-01.00.
    2. Pemupukan : Waktu pemupukan dimulai umur 1 bulan setelah tanam, kemudian diulang kontinue dan periodik seminggu sekali, dan akhirnya sebulan sekali. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan pada fase vegetatif yaitu Urea 200 gram ditambah ZA 200 gram ditambah KNO3 100 gram per m 2 luas lahan. Pada fase Generatif digunakan pupuk Urea 10 gram ditambah TSP 10 gram ditambah KNO3 25 gram per m 2 luas lahan, cara pemberiannya dengan disebar dalam larikan atau lubang ditugal samping kiri dan samping kanan.
    3. Pembuangan Titik Tumbuh : Waktu pembuangan titik tumbuh adalah pada umur 10-14 hari setelah tanam, dengan cara memotes ujung tanam sepanjang 5 cm.
    4. Penjarangan Bunga : Jika ingin mendapatkan bunga yang besar, dalam 1 tangkai bunga hanya dibiarkan satu bakal bunga yang tumbuh.
  • Teknik Penanaman untuk Bunga Pot : Sebanyak 5-7 Bibit yang telah berakar ditanam di dalam pot yang berisi media sabut kelapa (hancur) atau campuran tanah dan sekam padi (1:1). Untuk memperpendek batang, pot-pot ini ditumbuhkan selama 2 minggu dengan penyinaran 16 jam/hari. Untuk merangsang pembungaan, pot-pot kemudian diberi pencahayaan pendek dengan cara menutupnya di dalam kubung dari jam 16.00-22.00. Selama pertumbuhan tanaman diberi pupuk cir multihara lengkap. Pembungaan ini dapat pula dipacu dengan menambahkan hormon tumbuh giberelin sebanyak 500 ppm pada saat penyinaran pendek.
  • Untuk mendapatkan bunga yang besar dan jumlahnya sedikit, bakal bunga dari setiap batang perlu diperjarang dengan hanya menyisakan satu kuncup bunga. Dengan cara ini akan didapatkan krisan pot dengan 5-7 bunga yang mekar bersamaan.

    D. Pemeliharaan Tanaman

    1. Penjarangan dan Penyulaman : Waktu penyulaman seawal mungkin yaitu 10-15 hari setelah tanam. Penyulaman dilakukan dengan cara mengganti bibit yang mati atau layu permanen dengan bibit yang baru.
    2. Penyiangan : Waktu penyiangan dan penggemburan tanah umumnya 2 minggu setelah tanam. Penyiangan dengan cangkul atau kored dengan hati-hati membersihkan rumput-rumput liar.
    3. Pengairan dan Penyiraman : Pengairan yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari, pengairan dilakukan kontinu 1-2 kali sehari, tergantung cuaca atau medium tumbuh. Pengairan dilakukan dengan cara mengabutkan air atau sistem irigasi tetes hingga tanah basah.

    E. Panen

    1. Ciri dan Umur Panen

    Penentuan stadium panen adalah ketika bunga telah setengah mekar atau 3-4 hari sebelum mekar penuh. Tipe spray 75-80% dari seluruh tanaman. Umur tanaman siap panen yaitu setelah 3-4 bulan setelah tanam.

    2. Cara Panen.

    Panen sebaiknya dilakukan pagi hari, saat suhu udara tidak terlalu tinggi dan saat bunga krisan berturgor optimum. Pemanenan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu dipotong tangkainya dan dicabut seluruh tanaman. Tata cara panen bunga krisan: tentukan tanaman siap panen, potong tangkai bunga dengan gunting steril sepanjang 60-80 cm dengan menyisakan tunggul batang setinggi 20-30 cm dari permukaan tanah.

    E. Pasca Panen

    1. Pengumpulan

    Kumpulkan bunga hasil panen, lalu ikat tangkai bunga berisi sekitar 50-1000 tangkai simpan pada rak-rak.

    2. Penyortiran dan Penggolongan

    Pisahkan tangkai bunga berdasarkan tipe bunga, warna dan varietasnya. Lalu bersihkan dari daun-daun kering atau terserang hama. Buang daun-daun tua pada pangkal tangkai. Kriteria utama bunga potong meliputi penampilan yang baik, menarik, sehat dan bebas hama dan penyakit. Kriteria ini dibedakan menjadi 3 kelas yaitu:

    1. Kelas I untuk konsumen di hotel dan florist besar, yaitu panjang tangkai bunga lebih dari 70 cm, diameter pangkal tangkai bunga lebih 5 mm.
    2. Kelas II dan III untuk konsumen rumah tangga, florits menengah dan dekorasi massal yaitu panjang tangkai bunga kurang dari 70 cm dan diameter pangkal tangkai bunga kurang dari 5 mm.

    3. Pengemasan dan Pengangkutan

    Tentukan alat angkutan yang cocok dengan jarak tempuh ke tempat pemasaran dan susunlah kemasan berisi bunga krisan secara teratur, rapi dan tidak longgar, dalam bak atau box alat angkut.

    4.2 Penelitian

                Penelitian yang dilakukan pada pemagangan kali ini adalah melakukan penelitian tentang “Perbedaan Pertumbuhan Bunga Krisan yang Ditanam di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi”. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

    1. Penyiapan wadah berupa pot kecil yang digunakan sebagai wadah untuk menanam tanaman krisan
    2. Penyiapan media tanam yang berupa campuran antara sekam bakar dicampur dengan pupuk kandang kemudian disemprot dahulu dengaan menggunakan Fungisida agar media tanam tidak ditumbuhi oleh jamur.
    3. Penyiapan bibit tanaman dimana bibit tanaman diambil dengan melakukan Pinching terhadap tanaman induk dari krisan
    4. Setelah bibit tanaman telah mencukupi maka selanjutnya adalah mencelupkan batang bibit tanaman dengan dua perlakuan tanaman kelompok 1 separuh dari bibit dicelupkan dengan zat perangsang akar buatan PT INGGU LAUT ABADI yaitu ZTA ILA sedangkan separuhnya lagi dengan menggunakan zat perangsang akar buatan pabrik hal yang sama juga dilakukan pada tanaman kelompok 2
    5. Setelah proses diatas selesai proses selanjutnya adalah menanam bibit tanaman tersebut pada media dan wadah yang telah disediakan kemudian disiram dengan menggunakan air
    6. Selanjutnya tanaman yang telah terbagi menjadi 2 kelompok wadah tersebut dibagi berdasarkan tempat tumbuhnya untuk tanaman kelompok 1 ditanam di dataran tinggi tepatnya ditaruh di PT INGGU LAUT ABADI sedangkan tanaman kelompok 2 ditaruh di dataran rendah tepatnya ditaruh di kos mahasiswa.
    7. Langkah yang terakhir peneliti menyiram tanaman tersebut setiap hari hingga waktu 1 bulan kemudian diukur berapa panjang akar, berat akar, dan jumlah daun antara tanaman krisan yang ditanam di dataran rendah dan tanaman krisan yang ditanam di dataran tinggi.

    4.3 Pengabdian

                Pengabdian yang dilakukan pada pemagangan kali ini antara lain adalah semua hal yang kelompok kami lakukan pada proses pemagangan diantaranya adalah:

    1. Membantu proses Pinching, langkah-langkah yang dilakukan adalah:
    • Memotong ujung tanaman krisan yang telah ditentukan
    • Menaruhnya di sebuah wadah untuk nantinya digunakan sebagai calon bibit baru
    • Mencari tanaman yang masih berumur satu bulan namun sudah terdapat bibit bunga yang mau tumbuh atau dinamakan bendul
    • Bendul tersebut kemudian dipotong dan harus dibuang
    • Memotong jenis-jenis krisan yang telah memasuki masa panen sesuai dengan grade yang telah ditentukan
    • Mengklasifikasi tanaman krisan sesuai dengan grade yang berdasarkan tinggi tanaman hasil panen dimana ada 3 grade yaitu grade a, b, dan c
    • Membungkus tanaman tersebut dengan pembungkus yang telah disediakan oleh PT ILA
    1. Membantu proses Pinching Bendul, langkah-langkah yang dilakukan adalah:
    1. Membantu proses pemanenan bunga krisan, langkah-langkah yang dilakukan adalah:
    1. Membantu proses packaging, langkah-langkah yang dilakukan adalah:

    BAB V

    5.1  Bidang Penelitian

    A.  Tempat dan Waktu Penelitian

    1. Tempat Penelitian

    Tempat penelitian adalah di PT Inggu Laut Abadi dan Kosan mahasiswa di jalan Margo Utomo

    2. Waktu Penelitian

    Waktu penelitian yaitu dengan interval 1 bulan

     B.  Metode Penelitian

    Pemecahan masalah  dalam penelitian ini menggunakan metode ilmiah. Metode yang dipakai adalah metode eksperimen. Menurut Suharsimi (1993: 03) menjelaskan bahwa “dengan ini peneliti sengaja membangkitkan timbulnya suatu kejadian, kemudian diteliti akibatnya”. Dengan kata lain eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan menyisihkan faktor-faktor lain. Dalam penelitian ini pola eksperimen yang dipakai adalah  Simple Random Design. Secara garis besar dikemukakan pola tersebut adalah sebagai berikut :

    Simple Randomized Design atau disingkat S  – R, artinya pola yang bertitik tolak dari landasan simple random sampling, yaitu dari suatu populasi terbatas atau sub populasi secara langsung ditugaskan subyek–subyek ke dalam kelompok kontrol secara random.  Pada pola ini yang akan dicari adalah perbedaan mean antara yang berada di dataran tinggi dan dataran rendah dengan rumus t – test.

    C. Populasi dan Sampel

    1. Populasi Penelitian

                    Menurut Suharsimi (1993: 102) “Populasi merupakan keseluruhan subyek penelitian”. Menurut Djarwanto (1990: 42) “Populasi atau universe adalah jumlah dari satu-satuan atau individu-individu yang karakteristiknya hendak di duga”. Adapun populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh bibit krisan yang didapatkan dari PT Inggu Laut Abadi

    2. Sampel Penelitian

                    Menurut S Margono (2003: 121), “Sampel adalah sebagai bagian dari populasi, sebagai contoh  (monster) yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu”. Dalam penelitian ini peneliti mengambil \sebagian dari populasi disebut sampel. Sampel penelitian ini adalah 100 bibit bunga krisan

    a.  Populasi yang digunakan tersebut dipandang mempunyai sifat yang sama.

    b.  Anggota sampel yang digunakan diasumsikan bisa mewakili dari populasi, sebab diambil dari satu populasi yang sifatnya sama dan mewakili dari populasi tersebut.

    Teknik Analisis Data

    Analisis data digunakan untuk mengetahui dan menguji kebenaran dari hipotesa yang diajukan. Teknik analisis data dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini sangat diperlukan statistik inferensial, sebagai  cara menganalisis data.   Analisis yang digunakan adalah Uji T, sebab uji ini digunakan untuk mengamati perbedaan antara rata-rata dua sampel yang tidak berhubungan satu sama lain. Uji  ini khusus digunakan utuk menentukan apakah ada perbedaan yang signifikan rata-rata dari dua kelompok  yang diamati. Adapun formula dari Uji T ini adalah sebagai berikut :

    Data Hasil Penelitian Bunga Krisan

    Kontrol

    No Spray (Panjang) Spray (Jumlah akar) Standart (Panjang) Standart (Jml akar)
    1 5 16 2.2 8
    2 4 33 0.3 3
    3 4.5 36 4.5 21
    4 5 32 3.2 13
    5 5.2 27 0.4 14
    6 1.5 11 3.6 8
    7 5 33 2.5 7
    8 3 15 0
    9 5 28 5.6 15
    10 7 22 4.8 28

    Rooton

    No Spray Standar
    Panjang akar Jumlah akar Panjang akar Jumlah akar
    1 3 23 3.9 13
    2 3.4 21 4.9 15
    3 3.5 18 1.2 6
    4 5.2 24 5.3 13
    5 3.9 26 0.5 2
    6 3 19 0
    7 4.5 20 5.7 12
    8 3.1 19 4.4 8
    9 3.6 31 1.4 5
    10 4.3 27 0.6 6

    Kingstone

    No Spray Standar
    Panjang akar Jumlah akar Panjang akar Jumlah akar
    1 4.3 24 3 18
    2 4.3 38 6 30
    3 5.3 32 4 20
    4 3 23 3.4 24
    5 2.8 21 4 17
    6 4.6 14 2.3 23
    7 4.4 24 4.1 16
    8 3.6 15 3 23
    9 4.5 31 4.2 21
    10 4.2 29 4.1 29

    B. Uji Persyaratan Analisis

      Untuk memulai menganalisis data diperlukan adanya uji persyaratan analisis terlebih dahulu, yaitu untuk memeriksa keabsahan sampel yang telah ditentukan. Untuk lebih jelasnya maka berikut ini diuraikan mengenai uji persyaratan analisis data yang telah dilakukan:

    1. Uji Normalitas

      Penghitungan uji normalitas dengan menggunakan rumus Shapiro-Wilk dengan pedoman pengambilan keputusan:

    a.  Nilai signifikansi atau nilai probabilitas < 0,05, Distribusi adalah tidak normal.

    b.  Nilai signifikansi atau nilai probabilitas > 0,05, Distribusi adalah normal.

    Tabel 8. Hasil uji normalitas data selisih nilai post tes-pre tes kelompok Media

    Grafis dan Media Model

      Kelompok Sampel Statistik df Signifikansi
    DX Dataran Rendah 0,975 45 0,441
    Dataran Tinggi 0,960 45 0,125

    Hasil penghitungan dengan rumus Shapiro-Wilk diperoleh bahwa kelompok sampel dengan media grafis tingkat signifikansi atau nilai probabilitas  0,441 (sig = 0,441) lebih besar 0,05, maka dapat dikatan bahwa distribusi sampel kelompok media grafis adalah normal. Kelompok sampel dengan media model tingkat signifikansi atau nilai probabilitas 0,125 (sig = 0,125) lebih besar 0,05, maka dapat dikatakan bahwa distribusi sampel kelompok media model adalah normal.

    2. Uji Homogenitas

    Uji Homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah kedua kelompok perlakuan berasal dari sampel yang memiliki variansi yang sama. Dalam penelitian ini digunakan uji Levene. Data berasal dari varians yang homogen bila taraf signifikansi atau nilai probabilitas lebih besar dari 0,05  sehingga dinyatakan bahwa kemampuan awal kedua kelompok adalah sama sebelum diberikan perlakuan dengan metode pembelajaran menggunakan media grafis dan media model.

    Tabel 9. Hasil uji homogenitas dengan uji Levene

    Kelompok Sampel Levene Statistic Df1 Df2 Sig
    Tinggi dan Rendah 2,114 1 85,42 0,150

    Berdasarkan hasil uji homogenitas ditunjukkan bahwa tingkat signifikansi atau nilai probabilitas di atas 0,05 (0,150 lebih besar dari 0,05), maka dapat dikatakan bahwa varians yang dimiliki oleh sampel-sampel yang bersangkutan tidak jauh berbeda, maka sampel-sampel tersebut cukup homogen.

    C. Pengujian Hipotesis

    Setelah diketahui sampel berasal dari populasi yang terdistribusi normal dan homogen, maka dilanjutkan dengan uji hipotesis. Untuk menguji hipotesis pada penelitian ini digunakan uji t. Uji ini dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan hasil belajar Ekonomi dengan metode pembelajaran menggunakan media grafis dan media model. Ringkasan hasil Uji dapat ditampilkan dalam tabel berikut:

    Tabel 10. Hasil uji Hipotesis t-test

    Kelompok Dataran Tinggi dan Rendah

    Signifikansi 0,041
    T hitung -11,215
    Df 88

    Hasil uji t berdasarkan asumsi bahwa varians adalah homogen, didapatkan bahwa t hitung sebesar  -11,215, nilai signifikansi 0,041. Oleh karena signifikansi lebih kecil dari 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti terdapat perbedaan yang nyata terhadap penanaman bunga krisan di dataran tinggi dan dataran rendah

    D.  Pembahasan Hasil Analisis Data

    Berdasarkan hasil perhitungan pada uji hipotesis (t-test) diperoleh bahwa nilai signifikansi atau probabilitas 0,041 < 0,05 sehingga hipotesis nol ditolak dan hipotesis hipotesis alternative diterima, maka terdapat perbedaan yang signifikan penanaman bunga krisan di dataran tinggi dan dataran rendah terhadap jumlah akar dan panjang akar Rata-rata jumlah akar untuk dataran tinggi 1,68 dan untuk dataran rendah sebesar 3,03. Hal ini berarti bahwa jumlah akar yang ada di dataran rendah lebih banyak daripada di dataran tinggi. Dapat disimpulkan bahwa penanaman bunga krisan dari masalah jumlah akar lebih baik di tanam di dataran rendah.

    Proses Pembuatan media tanam dan pemupukan

    Proses Pemberian Fungisida

    Media Tanam Yang Telah Siap

    Proses Pengukuran Penelitian

    Proses Pencatatan Penelitian

     

    5.2 Bidang Pengabdian

    Proses pembudidayaan krisan-panen

    Lanjutan :

    Pemilihan Bunga yg dipanen

    Pembersihan tangkai Bunga

    Pemisahan tangkai Bunga dengan akar

    Pengikatan tangkai Bunga

    Packing  Bunga Standar

    Packing  Bunga Spray

    Hasil Packaging

    Pengiriman Barang

    Mobil pengiriman

    5.3 Bidang Pendidikan

    Pembuatan pestisida dan peracikan pupuk

     Peracikan pupuk untuk tanaman mawar

    Pembuatan fungisida untuk krisan

    Penanaman hingga pemasaran

    Penataan bibit krisan berdasarkan jenis dan tempat penanaman yang akan dilakukan.

    Pembersihan lahan dan pengolahan tanah.

    Pelubangan tanah untuk bibit yang akan ditanam.

    Penanaman krisan

     

    Setelah 3 bulan : pemilian bunga yang siap dipanen

     Tidak layak (terlalu mekar) atau OVER

    Layak (seperempat mekar)

    Pengikatan dengan karet.

    Pemotongan batang untuk menentukan grade.

     Pengiriman bunga dan pemasaran bunga di toko bunga inggu laut.

    Bunga yang sudah di bungkus ditaruhkembali pada kolam kecil terisi air.

     

    Bunga yang sudah dipotong ditaruh kolam kecil terisi air.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    BAB VI

    KESIMPULAN DAN SARAN

     

    5.1 Kesimpulan

                   Kesimpulan yang diperoleh dari pelaksanaan proses pemagangan ini adalah:

    1. a.      Bidang Penelitian
    • Dalam bidang penelitian disimpulkan bahwa tanaman bunga krisan yang ditanam di dataran rendah secara jumlah akar lebih banyak dibandingkan tanaman bibit krisan yang ditanam di dataran tinggi.
    1. b.      Bidang Pendidikan
    • Proses-proses yang dilakukan dalam usaha budidaya bunga krisan meliputi:

    Pembibitan, Persiapan media tanam, Penanaman, Pemeliharaan tanaman, Panen, dan Pasca panen

    5.2 Saran

                   Saran yang diajukan dalam pemagangan ini adalah:

    • Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor geografis terhadap pertumbuhan bunga krisan sehingga nantinya diharapkan dapat membantu menghasilkan bibit dan bunga krisan yang lebih baik
    • Perlu dilakukan inovasi lebih lanjut mengenai proses budidaya bunga krisan sehingga dapat dihasilkan hasil panen bunga yang lebih berkualitas dengan waktu yang lebih singkat.

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Agoes, D. 1994. Aneka Jenis Media Tanam dan Penggunaanya. Penebar Swadaya. Jakarta

    Anonymous. 2007. Media Tanam untuk Tanaman Hias. Penebar Swadaya. Jakarta

    Hardjowigeno. 1987. Ilmu Tanah. Mediantama Sarana Perkasa. Bogor

    Hasim dan Reza. 1995. Krisan. Penebar Swadaya. Jakarta

    Soedijanto. 1982. Bercocok Tanam. CV. Yasaguna. Jakarta

    06/26/2011 - Posted by | Uncategorized

    Belum ada komentar.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: