BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Pemanfaatan Ekstrak Pigmen Bunga Kana Merah (Canna coccinea Mill.) Sebagai Tablet Effervescent

A. JUDUL PROGRAM :
Pemanfaatan Ekstrak Pigmen Bunga Kana Merah (Canna coccinea Mill.) Sebagai Tablet Effervescent

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Di Indonesia tanaman kana (Canna coccinea Mill.) merupakan salah satu tanaman hias yang potensial. Tanaman ini memiliki warna bunga yang sangat beragam mulai dari merah tua, merah muda kuning, sampai dengan kombinasi dari warna-warna tersebut, karena keindahannya tersebut, maka tanaman kana mulai dipergunakan sebagai ornamen taman kota, dan sebagai tanaman hias dalam pot. Terlebih akhir-akhir ini di beberapa kota termasuk Kota Batu dilakukan penanaman bunga kana (“kananisasi”) di sepanjang jalan raya. Beragamnya warna bunga kana mengindikasikan bahwa bunga tersebut mengandung pigmen alami (antosianin, antosantin) yang dapat digunakan sebagai zat pewarna alami alternatif maupun sebagai antioksidan alami.
Pigmen bunga kana merah memiliki kandungan senyawa Flavonoid, tepatnya antosianin. Antosianin merupakan jenis dari flavonoid yang penting untuk diperhatikan sebab mempunyai beberapa respon positif bagi tubuh. Antosianin dan beberapa flavonoid lainnya banyak dikabarkan akhir-akhir ini bermanfaat didunia kesehatan seperti fungsinya sebagai antikarsinogen, antiinflamasi, antihepatoksik, antibakterial, antiviral, antialergenik, antitrombotik, dan sebagai perlindungan akibat kerusakan yang disebabkan oleh radiasi sinar UV dan sebagai antioksidan (Holton 1995; Macdougall 2002).
Antioksidan merupakan zat yang anti terhadap zat lain yang bekerja sebagai oksidan. Adanya antioksidan alami maupun sintetik dalam makanan dapat menghambat oksidasi lipida, mencegah kerusakan, perubahan dan degradasi komponen organik dalam bahan pangan sehingga dapat memperpanjang waktu simpan. Antioksidan alami dapat diperoleh dari ekstrak bagian tanaman rempah-rempah atau tanaman obat-obatan seperti akar, batang, daun, bunga, dan biji.
Biasanya kebanyakan orang mengenal tanaman ini sebagai tanaman hias belaka. Hanya sedikit orang yang mengetahui khasiat tanaman kana (Canna coccinea Mill.), walaupun demikian cara mereka memafaatkannya masih sangat tradisional dan jauh dari kesan yang praktis. Di zaman modern semacam ini banyak orang yang menuntut semuanya serba praktis dan instan termasuk masalah kesehatan pada diri mereka. Cara yang praktis dan instan tersebut sangat diminati masyarakat karena sebagian besar masyarakat memiliki mobilitas kehidupan yang sangat tinggi. Sehingga di sini peneliti mencoba untuk menginstankan bunga kana (Canna coccinea Mill.) menjadi salah satu produk effervescent agar lebih praktis dan mudah untuk dikonsumsi. Dengan bantuan tekhnologi yang semakin canggih diharapkan program ini dapat terealisasikan, serta dapat diharapkan pula effervescent Bunga kana instan ini lebih memudahkan masyarakat dalam mengkonsumsinya.
Berkembangnya obat-obat fitoterapi dan semakin berkembangnya perusahaan obat tradisional di Indonesia menunjukkan bahwa, penduduk Indonesia makin menyadari pentingnya gerakan back to nature dan mengetahui efek samping dari penggunaan bahan kimia baik dalam makanan maupun obat-obatan. Apalagi mengetahui bahwa kekayaan hayati negeri kita banyak yang memiliki khasiat dan fungsi sebagai sumber pangan dan menunjang vitalitas tubuh, serta dapat mencegah dan mengobati suatu penyakit, diantaranya adalah tanaman Kana Merah. Oleh karena manfaat bunga kana begitu besar bagi kesehatan untuk itulah peneliti membuat tablet Effervescent dari bunga kana merah.

C. PERUMUSAN MASALAH
Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam pembuatan tablet effervescent dari ekstrak pigmen bunga kana adalah sebagai berikut :
1. Jenis pelarut apakah yang efektif digunakan untuk mengekstrak pigmen bunga kana merah ?
2. Bagaimana pengaruh prosentase filler ( bahan pengisi) terhadap kualitas tepung pigmen yang dihasilkan ?
3. Bagaimana pengaruh prosentase penggunaan Na-bikarbonat terhadap kualitas tablet effervescent dari ekstrak bunga kana merah ?

D. TUJUAN PROGRAM
Tujuan Khusus yang ingin dicapai pada penelitian ini, antara lain :
1. Mengetahui cara metode yang tepat dalam melakukan ekstraksi pigmen bunga kana merah, khususnya jenis pelarut yang digunakan..
2. Mengetahui pengaruh prosentase filler (bahan pengisi) terhadap kualitas tepung pigmen bunga kana merah.
3. Mengetahui pengaruh prosentase penggunaan Na-bikarbonat terhadap kualitas tablet effervescent dari ekstrak bunga kana merah.
4. Menghasilkan produk tablet effervescent dari ekstrak pigmen bunga kana merah, agar
meningkat daya gunanya untuk masyarakat.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat diketahui metode ekstraksi yang tepat untuk memperoleh pigmen bunga kana merah secara maksimal, terutama jenis pelarut dan prosentase filler yang digunakan, untuk kemudian dapat dioptimalkan fungsinya sebagai bahan baku tablet efferevescent karena mengandung senyawa bioaktif yang dapat meningkatkan vitalitas atau menyehatkan masyarakat. Hasil penelitian akan dipublikasikan dalam bentuk artikel ilmiah.

F. KEGUNAAN PROGRAM
Adapun kegunaan yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah :
1. Aspek akademik : Menerapkan salah satu mata kuliah dari Jurusan Teknologi Hasil Pertanian bidang studi Analisa Pangan ( Hasil Pertanian) dan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian.
2. Aspek ekonomi : Dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dengan peningkatan budidaya tanaman (khususnya bunga Kana Merah) sebagai sumber bahan baku obat yang alami. Dan dapat menyediakan, menyerap lapangan kerja baru, dengan merintis terbentuknya usaha industrialisasi secara berkala dengan berbasis ekosistem atau kekayaan hayati lokal.
3. Upaya pengembangan tanaman kana (Canna coccinea Mill.) dengan pengolahan yang lebih bermafaat bagi masyarakat.

G. TINJAUAN PUSTAKA
G.1. Bunga Kana dan Potensinya
Tanaman kana (Canna coccinea Mill.) banyak dikenal dengan nama lili kana, kembang tasbih, panah india, ganyong hutan, puspa mjindra, ganyong wono, ganyong alas, dan ganyong leuweung. Organ utama tanaman kana terdiri dari akar (rimpang), batang semu, daun, bunga, buah, dan biji. Perakaran tanaman kana disebut rimpang (geragih), batangnya mengandung air (herbaceous) dan terbentuk dari pelepah-pelepah daun yang saling menutupi satu sama lain sehingga disebut “batang palsu”.
Daun tersusun dalam tangkai pendek dan tumbuh berselang-seling, berbentuk oval dengan ujung runcing. Permukaan daun bagian atas berwarna hijau, tembaga gelap atau keungu-unguan, sedangkan permukaan bagian bawah tertutup lapisan putih seperti bedak. Kuntum bunga berbentuk mirip corong, terdiri dari tiga sampai lima helai mahkota bunga yang berukuran kecil sampai besar tergantung jenisnya. Warna mahkota bervariasi, antara lain kuning cerah, kuning tua, merah muda, merah tua, jingga, kuning berbintik-bintik coklat atau kombinasi dari warna-warna tersebut (Rukmana, 1997).
Umbi bunga tasbih mengandung pati (tepung halus) serta banyak zat lain, yaitu enam substansi phenol, dua terpene, dan empat coumarin. Selain zat-zat tersebut, zat lain yang juga terdapat di dalamnya adalah glukosa, lemak, alkaloid, dan getah (Anonim, 2005).
Tanaman bunga kana, mudah tumbuh di sekitar halaman kita, jadi sebenarnya bisa dimanfaatkan. Terlebih akhir-akhir ini di beberapa kota termasuk Kota Batu dilakukan penanaman bunga kana (“kananisasi”) di sepanjang jalan raya. Padahal mahkota bunga yang beraneka warna berpotensi mengandung pigmen antosianin. Pada tahun 2002 hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak pigmen bunga kana merah tua terbukti mengandung antosianin berjenis pelargonidin glikosida, dengan kadar gula yang lebih banyak daripada bunga pacar air, yaitu sebesar 3,2%. Juga dapat menyumbangkan warna makanan-minuman (sari buah, susu fermentasi, jelly/agar-agar) meskipun hanya ditambahkan sebanyak 1-3%, tanpa menggunakan pewarna sintetis sama sekali. Karena sifatnya yang larut dalam air ini, maka pigmen antosianin dan antosantin relatif mudah dan berpeluang besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alamiah.
Yang lebih menggembirakan lagi adalah setelah diuji daya lindungnya terhadap komponen gizi yang mudah mengalami oksidasi, seperti vitamin C ) pada sari buah) dan lemak (pada susu fermentasi). Kandungan lemak pada susu fermentasi/yoghurt dapat dipertahankan 86,7%nya ( dengan kadar 0,117%, tanpa pigmen 0,087 %) setelah disimpan 6 hari pada suhu dingin maupun suhu kamar. Bahkan pigmen pekat yang telah disimpan selama 60 hari (suhu dingin/ cold storage) terbukti masih bagus menyumbangkan warna merah pada kue tradisional (apem, bolu kukus dan bikang).
Berdasarkan hasil uji organoleptik atau sensorik, penggunaan ekstrak bunga kana merah ini lebih sesuai digunakan untuk bahan pewarna alami produk minuman, misalnya sirup, sari buah dan yoghurt. Disamping rasanya yang sesuai, yaitu menyumbangkan warna dan rasa manis sedikit asam, juga penggunaan asam sitrat pada waktu ekstraksinya membantu menjadi bahan pengawet dan fungsi antioksidannya juga bersifat sinergis dengan pigmen antosianin ( Susanto, 1998; Rahardjo, 2004)
G.2. Pigmen Antosianin
G.2.1 Sifat Fisik Antosianin
Antosianin adalah kelompok pigmen yang berwarna merah sampai biru yang tersebar dalam tanaman. Pada dasarnya, antosianin terdapat dalam sel epidermal dari buah, akar, dan daun pada buah tua dan masak (Eskin, 1979 dalam Abbas 2003). Pada beberapa buah-buahan dan sayuran serta bunga memperlihatkan warna-warna yang menarik yang mereka miliki termasuk komponen warna yang bersifat larut dalam air dan terdapat dalam cairan sel tumbuhan (Fennema, 1976).
Menurut De Man (1997), pigmen antosianin terdapat dalam cairan sel tumbuhan, senyawa ini berbentuk glikosida dan menjadi penyebab warna merah, biru, dan violet yang banyak terdapat pada buah dan sayur. Antosianin berwarna kuat dan namanya diambil dari nama bunga. Sebagian besar, antosianin mengalami perubahan selama penyimpanan dan pengolahan. Beberapa studi mengatakan bahwa warna kuning, orange atau merah yang disebabkan oleh pigmen karotenoid ini terdapat dalam jumlah kecil (0,005-0,008% berat bahan segar) bersama-sama klorofil. Disamping itu, karotenoid terdapat pada jaringan yang tidak hijau sebagai kristal-kristal kecil dalam sitoplasma atau dalam membran yang membatasi kromoplas. Karotenoid yang terdapat pada bagian selain kloroplas dalam hal tertentu dapat terakumulasi sampai kurang lebih 0,1% berat bahan segar (Tranggono, 1990).
Berbeda dengan apa yang dikemukakan Macheix et.al (1990); Geissman (1969) bahwa antosianin ditampakkan oleh panjang gelombang dari absorbansi maksimal spektrum pada 500-550 nm dan pada spektrum ultraviolet 280 nm. Masing-masing jenis antosianin memiliki absorbansi maksimal seperti pada panjang gelombang jenis pelargonidin 520 nm (merah tua atau merah hati), sianidin 535 nm merah tua, dan delphidin 546 nm (biru lembayung muda). Intensitas warna dipengaruhi oleh kedaan pigmen dan yang paling berpengaruh adalah konsentrasi, pH dan suhu, sedangkan lainnya adalah cara penghancuran pigmen. Jenis antosianin ditentukan oleh harga Rf (retrogradation factor) pada fase gerak (mobil) yang nilainya dapat dilihat pada Tabel 1. berikut

Tabel 1. Harga Rf Antosianin dengan Beberapa Fase gerak/mobil
Jenis antosianin Rf (x100) dalam
BAA BuHCl 1% HCl
a. Monoglikosida
– Pelargonidin 3-glukosida
– Sianidin 3-glukosida
– Malvidin 3-glukosida
b. Diglikosida
– Pelargonidin 3,5 diglukosida
– Peonidin 3,5 diglukosida
– Delvidin 3,5 diglukosida
c. Triglikosida
– Sianidin3ramnosildiglukosida
d. Diglukosida terasilasi
– Pelargonidin 3 (p-umarilgluko-sida) 5-glukosida
44
38
38

31
31
15

25

40
38
25
15

14
10
3

8

46
14
7
6

23
8
8

36

61
Sumber : Harborne (1987).

G.2.2 Sifat Kimia Antosianin
Antosianin merupakan jenis dari flavonoid yang penting untuk diperhatikan sebab mempunyai beberapa respon positif bagi tubuh. Antosianin dan beberapa flavonoid lainnya banyak dikabarkan akhir-akhir ini bermanfaat didunia kesehatan seperti fungsinya sebagai antikarsinogen, antiinflamasi, antihepatoksik, antibakterial, antiviral, antialergenik, antitrombotik, dan sebagai perlindungan akibat kerusakan yang disebabkan oleh radiasi sinar UV dan sebagai antioksidan (Holton 1995; Macdougall 2002). Antosianin merupakan glukosida yang sebagian besar penyebab warna pada bunga merah dan biru, sedangkan antosianidin merupakan suatu tipe garam flavilium yang bukan merupakan gula dari glukosida. Warna tertentu yang diberikan oleh suatu antosianin, sebagian bergantung pada pH bunga. Warna biru bunga cornflower (bunga biru yang tumbuh di ladang gandum) dan warna merah bunga mawar disebabkan oleh antosianin yang sama, yakni sianin. Dalam sekuntum mawar merah, sianin berada dalam bentuk fenol. Dalam cornflower biru, sianin berada dalam bentuk anionnya dengan hilangnya sebuah proton dari salah satu gugus fenolnya. Dalam hal ini, sianin serupa dengan indikator asam basa (Fessenden,1982).
Frekuensi antosianin ketika bercampur, dikatakan oleh Fennema (1976), bahwa sebagain komponen campuran akan mengalami penambahan warna, misalnya kandungan anggur biru tidak hanya glikosida dari delfinidin tapi syringidin yang merupakan dimethyl eter dari delphinidin.
Menurut Winarno (2002), antosianin dan antoxantin tergolong pigmen yang tergolong senyawa flavonoid yang pada umumnya larut dalam air. Flavonoid mengandung dua cincin benzena yang dihubungkan oleh tiga atom karbon. Ketiga karbon tersebut dirapatkan oleh sebuah atom oksigen sehingga terbentuk cincin diantara dua cincin benzena. Struktur antosinin secara umum dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Struktur antosianin secara umum (Winarno, 2002)

Seluruh senyawa antosianin merupakan senyawa turunan dari kation flavilum. Banyak senyawa yang ditemukan, akan tetapi hanya enam yang memegang peranan penting dalam bahan pangan yaitu pelargonidin, sianidin, delfidin, pelargonidin, petunidin dan malvidin. Pigmen antosianin terdiri dari glikogen (antosianidin) yang teresterifikasi oleh satu atau lebih gula (Francis, 1985; Markakis, 1982).
Antosianidin pada umumnya ada enam. Antosianidin ini adalah aglikon antosianin yang terbentuk apabila antosianin dihidrolisis dengan asam. Antosianidin yang paling umum pada saat ini adalah sianidin yang berwarna merah lembayung. Warna jingga disebabkan oleh pelargonidin yang gugus hidroksilnya kurang satu dibanding sianidin, sedangkan warna merah senduduk, lembayung dan biru umumnya disebabkan oleh delfidin yang gugus hidroksilnya lebih satu dibandingkan dengan sianidin (Harborne, 1987).
Gross (1987), menyatakan bahwa lima puluh antosianin yang berbeda ditemukan dalam buah-buahan yang umum, aglikonnya diwakili oleh enam antosianidin umum seperti pelargonidin, sianidin, delfinidin, peonidin, pentunidin dan malvidin. Sianidin terdapat sebanyak 55%, peonidin dan delfinidin masing-masing sebanyak 12%, pelargonidin dan malvidin masing masing sebanyak 8% dan petunidin 6%. Strukturnya dapat dilihat pada Gambar 2.
Secara kimia, semua antosianin merupakan turunan suatu aromatik tunggal yaitu sianidin dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil atau dengan metilasi atau glikosilase (Harborne, 1987).

Pelargonidin Sianidin Delfinidin

Peonidin Petunidin Malvidin
Gambar 2. Struktur Kimia Pelargonidin, Sianidin, Depfidin, Peonidin, Petunidin dan Malvidin (Francis, 1985 and Markakis, 1982).
G. 3. Ekstraksi Pigmen
Proses ekstraksi adalah proses pengeluaran sesuatu dari campuran zat, dengan jalan ditambahkan bahan ekstraksi tepat pada waktunya. Hanya zat yang diekstrak yang dapat larut dalam bahan ekstraksi. Dalam proses ekstraksi terjadi peralihan dari fase yang satu ke fase yang lain, yang diperoleh dengan jalan penambahan penambahan bahan pelarut (solvent) (Wanto dan Romli, 1977).
Ekstraksi juga dapat diartikan sebagai proses pemisahan zat dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Berdasarkan bentuk campuran yang diekstrak, ekstraksi dibedakan menjadi dua macam, yaitu ekstraksi padat-cair: campuran yang diekstrak berbentuk padat, dan ekstraksi cair-cair: cairan yang diekstrak berbentuk cair. Ekatraksi berbentuk padat-cair paling sering digunakan untuk mengisolasi zat yang terkandung dalam bahan alami. Sifat-sifat seperti kepolaran, larutan bahan alami yang diisolasi berperan penting terhadap sempurnanya proses ekstraksi. Di samping pemilihan pelarut dan pengaturan suhu (Vogel, 1978).
Antosianin adalah senyawa polar yang lebih mudah diekstrak dalam suasana asam. Hasil penelitian Lestario, dkk (2005), menunjukkan bahwa ekstrak buah duwet dengan pelarut metanol-HCL 1% menghasilkan ekstrak dengan kadar antosianin tertinggi, diikuti oleh pelarut air, aseton-air (7:3), dan aseton.
Ekstraksi pigmen antosianin dari bahan nabati umumnya menggunakan pelarut HCl dalam metanol. Untuk kepentingan penelitian pangan, menurut Francis (1982), HCl dengan konsentarsi 1 % dalam larutan pengekstrak sudah mencukupi jika proses ekstraksi dilakukan selama 24 jam pada suhu 4oC. Penelitian Viguera et al. (1996), dalam mengekstrak bubur buah yang mengandung antosianin menggunakan pelarut metanol : asam asetat : air ( 25 : 1 : 24) selama 20 menit pada temperatur ruang.

G.4. Tablet Effervescent
Dasar formula minuman bubuk dan tablet efferfescent adalah reaksi antara senyawa asam (asidulan) dengan karbonat atau bikarbonat menghasilkan karbondioksida. Bila tablet dimasukkan ke dalam air, maka akan terjadi reaksi kimia secara spontan antara asam dan natrium membentuk garam natrium, CO2, serta air (Pulungan, Suprayogi dan Yudha., 2004)
Formula garam effervescent resmi yang ada unsur pembentuk effervescent terdiri dari 53% sodium bikarbonat, 28% asam tartrat dan 19% asam sitrat. Reaksi antara asam sitrat dengan sodium bikarbonat pada produk effervescent dapat dilihat pada berikut ini:
H3C6H5H2O + 3NaHCO3 Na3C6H5O7 + 4H2O + 3CO2
Asam sitrat Na bikarbonat Na sitrat air karbondioksida
Gambar 1. Reaksi antara asam sitrat dengan sodium bikarbonat (Ansel, 1989)
Tablet effervescent dapat dibuat dengan tanpa melibatkan cairan, dinamakan sebagai precompression atau prapengempaan. Proses ini terdiri dari pengeringan, pencampuran bahan-bahan tambahan, pengempaan serbuk atau granula sampai terbentuk tablet effervescent yang memiliki kemampuan menahan sifat-sifat effervescent. Kemudian segera dikemas dengan alumunium foil (Burlinso, 1968). Tablet effervescent yang ada di pasaran umumnya dikemas dalam kemasan tubedan alumunium foil dengan berat setiap tablet sekitar 5 gram
Keuntungan tablet effervescent adalah kemungkinan penyiapan larutan dalam waktu seketika. Selain itu tablet effervescent mempunyai kemampuan menghasilkan gas karbondioksida yang memberikan rasa seperti pada air soda. Adanya gas tersebut akan dapat menutupi beberapa rasa obat tertentu yang tidak diinginkan serta memperoleh proses pelarutan tanpa melibatkan proses pengadukan secara manual. Sedangkan kerugian tablet effervescent adalah kesukaran untuk menghasilkan produk yang stabil terhadap kelembaban udara. Bahkan selama reaksi berlangsung, air yang dibebaskan dari bikarbonat menyebabkan autokatalis dari reaksi (Lachman et al., 1986). Hal ini terutama dipengaruhi oleh unsur-unsur pembentuk effervescent yang terdiri dari sodium bikarbonat dan asam organik seperti asam sitrat sehinggga menghasilkan garam natrium, karbondioksida serta air (Ansel, 1989).
Tabel 2. Analisa Kimia dari Tablet effervescent Calcium-D-Redoxon (CDR)
Kekerasan Tablet 38 kg/cm2
Kadar Air 0.993 %
Viskositas 9.4
pH 6.8
Kecepatan Larut 0.028
Sumber : Data Hasil Analisa Kimia pada Laboratorium Kimia, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang (2007)

G.5. Pengeringan
Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas. Biasanya kandungan air dari bahan tersebut dikurangai sampai suatu batas tertentu agar mikroba tidak dapat tumbuh lagi didalamnya (Winarno, dkk, 1980).
Pengeringan merupakan salah satu cara pengawetan pangan yang paling tua. Cara ini merupakan suatu proses yang ditiru dari alam. Untuk pengeringan bahan pangan terdapat berbagai tipe pengering yang digunakan. Pada umumnyapemilihan tipe pengering ditentukan oleh jenis komoditi yang akan dikeringkan, bentuk air yang dikehendak, faktor ekonomi dan kondisi operasional.
Bahan pangan dapat dikeringkan didalam udara, dalam uap lewat panas, dalam panas, dalam gas inert, dan aplikasi panas langsung. Paa umumnya udara digunakan sebagai medium pengering, sebab jumlahnya cukup banyak. Mudah digunakan dan pemanasan yang berlebihan terhadap bahan pangan kedalam bahan pangan tidak ada suatu sistem pengambilan air yang diperlukan terhadap udara, seperti yang diperlukan dengan gas-gas lain. Pengeringan dapat dilakukan dengan berangsur-angsur, dan adanya kecenderungan menjadi gosong dan berubah warna selalu terkendali (Desrosier, 1988).
Faktor- faktor utama yang mempengaruhi kecepatan pengeringan dari suatu bahan pangan adalah; sifat fisik dan kimia dari produk (bentuk, ukuran, komposisi, kadar air), pengaturan geometris produk sehubungan dengan permukaan alat atau media perantara pemindahan panas (suhu, kelembaban dan kecepatan udara), karakteristik alat pengering (efensiasi pemindahan panas) (Buckle, et. All., 1987).

G.6. Bahan Penstabil
G.6.1 Sukrosa
Sukrosa mempunyai sifat sedikit higroskopis dan mudah larut dalam air. Semakin tinggi suhu, kelarutannya semakin besar. Menurut Tranggono (1990) satu gram sukrosa dapat larut dalam 0,5 ml air pada suhu kamar atau 0,2 ml dalam air mendidih, dalam 170 ml alkohol atau 100 ml metanol. Kristal sukrosa bersifat stabil diudara terbuka dan dalam keadaan yang langsung berhubungan dengan udara dapat menyerap uap air sebanyak 1% dari total berat dan akan dilepaskan kembali apabila dipanaskan pada suhu 90˚C (Sudarmadji, 1982).
Rumus struktur sukrosa dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 3. Rumus Struktur Sukrosa (Fennema, 1996).
Sukrosa merupakan salah satu jenis bahan penyalut tablet. Bahan ini dapat digunakan untuk melapisi tablet dengan tujuan untuk melindungi terhadap peruraian obat dengan oksigen atmosfer atau kelembaban, untuk membungkus rasa dan bau dari zat obat, atau untuk tujuan estetik (Ansel, 1989).

G.7. Bahan Pengisi
G.7.1 Maltodekstrin
Maltodekstrin (C6H12O5)nH2O memiliki berat molekul rata-rata kurang lebih 1800 untuk DE 10. Berat molekul ini jauh lebih kecil dari pati alami yang memiliki berat molekul sekitar 2 juta (Jacson dan Lee 1991). Menurut Hui (1992), maltodekstrin dapat digunakan pada makanan karena memiliki sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat yang dimiliki maltodekstrin antara lain maltodekstrin mengalami proses dispersi yang cepat, memiliki daya larut yang tinggi, mampu membentuk film, memiliki sifat higroskopis yang rendah, mampu membentuk body, sifat browning rendah, mampu menghambat kristalisasi dan memiliki daya ikat yang kuat.

G.8. Bahan Tambahan
G. 8. 1. Asam Sitrat
Asam sitrat adalah asidulan yang sering digunakan untuk makanan dan minuman karena dapat memberikan kombinasi sifat yang diinginkan selain karena tersedia dalam jumlah yang besar dengan harga yang murah. Asidulan dapat berfungsi sebagai pemberi rasa asam, penegas rasa dan mengontrol PH (Hui, 1992). Asidulan yang dapat berfungsi sebagai pemberi rasa asam, penegas rasa dan warna, pengawet serta dapat digunakan untuk menyelubungi after taste yang tidak disukai (Winarno, 2004).
Rumus struktur asam sitrat dapat dilihat pada gambar berikut:

COOH

CH2

HO C COOH

CH2

COOH
Gambar 4 . Struktur Bangun Asam Sitrat (Tjokroadikoesoemo, 1986).

Menurut Marthawindholz (1983), kristal monohidrat akan kehilangan air kristalnya dalam udara kering atau dipanaskan pada suhu 40 – 50˚C. Menurut Maga and Tu (1995) asam sitrat digunakan sebagai asidulan utama dalam minuman berkarbonasi juga minuman bubuk yang memberikan rasa jeruk yang tajam. Menurut Reynold (1989) asam sitrat yang digunakan dalam effervescent umumnya yang dalam bentuk monohidrat. Morhle (1989) menambahkan bahwa asam sitrat sering dipergunakan sebagai memberi asam dalam pembuatan serbuk atau tablet effervescent karena memiliki kelarutan yang tinggi dalam air dingin, mudah didapatkan dalam bentuk granula atau serbuk. Kelemahan asam sitrat adalah sifatnya yang sangat higroskopis sehingga memerlukan perhatian yang cukup dalam penyimpanannya.

G. 8. 2. Sodium Bikarbonat
Sodium bikarbonat (NaHCO3) merupakan serbuk kristal berwarna putih yang memiliki warna asin dan mampu menghasilkan karbondioksida. Sodium bikarbonat memiliki berat molekul 84,01g (tiap gramnya mengandung 11,9 mmol sodium), sodium bikarbonat anhidrat terkonvensi pada suhu 250˚C – 300˚C. Pada RH diatas 85% akan cepat menyerap air dari lingkungannya dan menyebabkan dekomposisi dengan hilangnya karbondioksida (Reynolds, 1989). Menurut Hui (1991), bahwa sodium bikarbonat juga dapat mengalami dekomposisi karena adanya panas yaitu pada suhu lebih tinggi dari 120˚C.
Berdasarkan Morhle (1989), senyawa karbonat yang banyak digunakan dalam formulasi effervescent adalah garam karbonat kering karena kemampuannya menghasilkan karbondioksida. Garam karbonat tersebut antara lain Na-bikarbonat (NaHCO3) dipilih sebagai senyawa penghasil karbondioksida dalam sistem effervescent karena harganya murah dan bersifat larut sempurna dalam air. Ansel (1989) menambahkan bahwa natrium bikarbonat bersifat non-higroskopis dan tersedia secara komersial mulai dari bentuk bubuk sampai bentuk granular dan mampu menghasilkan 52% karbondioksida.
Sodium bikarbonat sering juga disebut sebagai soda kue. Ada dua macam soda kue yaitu soda kue dengan aktifitas cepat (aktifitas tinggi) dan soda kue dengan aktifitas lambat (aktifitas ganda). Perbedaan keduanya adalah pada mudah tidaknya komponen asam atau pembentuk asam, larut pada air dingin (Winarno, 2004).

H. METODE PENELITIAN
H.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Agustus s/d Desember 2008, di Laboratorium Analisa Pangan dan Laboratorium Rekayasa Pangan Tekhnologi Hasil Pertanian jurusan Tekhnologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.

H.2. Alat dan Bahan Penelitian
H.2.1 Alat
Peralatan yang diperlukan dalam pembuatan tablet effervescent adalah kain saring, gelas ukur, sarung tangan karet, timbangan, blender kering, loyang, pengering vakum, ayakan 60 mesh, cetakan tablet (terdiri : landasan dari baja berlapis chrom stainless steel (ukuran panjang = 9 cm, lebar = 7 cm), cincin/ring dari logam stainless steel (ukuran diameter dalam = 2,7 cm, tingggi =2 cm), dan as penumpuk dari baja berlapis chrom stainless steel dengan (ukuran panjang = 10 cm, diameter luar = 2,6 cm) Sedangkan peralatan untuk analisa adalah gelas kimia, gelas ukur, erlenmeyer, beaker glass, pipet gongok, pH meter (pH315i/SET merek: wtw), color reader (CR-10 Konika Minolta) hardness tester (Kiya Seisakusho,Ltd Tokyo).

H.2.2 Bahan
Bahan utama yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah Bunga kana merah diperoleh dari petani bunga yang berada di Batu . Bahan-bahan tambahan lain yaitu Aguades, Isopropanol, Etanol, asam sitrat, sodium bikarbonat, sukrosa, dektrosa monohidrat. dan maltodekstrin.
H.3. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua tepung pigmen dan tablet effervescent yang dihasilkan dari kombinasi perlakuan yang dicobakan. Sampel dalam penelitian ini adalah tablet effervescent dan minuman yang dihasilkan.
H.4. Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahapan. Tahap penelitian awal meliputi tahapan ekstraksi dengan beragam jenis pelarut, guna mengetahui metode ekstraksi yang menghasilkan pigmen yang berkualitas. Kemudian penelitian berikutnya adalah memproses ekstrak pigmen terbaik menjadi tepung pigmen dan selanjutnya dibentuk menjadi tablet effervescent.
Pelaksanaan penelitian tahap pertama dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) sederhana, yaitu menggunakan faktor perlakuan adalah jenis pelarut.
Faktor I : jenis pelarut yang digunakan ekstraksi pigmen bunga kana merah
P 1 : Aquades dan asam sitrat ( 9 : 1)
P 2 : Isopropanol : aquades : asam sitrat ( 4 : 5 : 1)
P 3 : Etanol : aquades : asam sitrat ( 4 : 5 : 1)
Sehingga terdapat tiga (3) perlakuan yang akan diulang sebanyak tiga (3) kali
Pengamatan dilakukan terhadap kualitas pigmen yang dihasilkan meliputi, jenis pigmen, nilai pH, absorbansi pigmen ( filtrat, konsentrat) (Spektrofotometer UV) (Jenie, dkk, 1997), intensitas warna ( Lab)( Colour reader) (Fabre, et al, 1993), kadar dan rendemen pigmen. Kemudian setelah diketahui kualitas pigmen yang terbaik ( menggunakan analisis statistik), maka akan dilanjutkan pada tajhap penelitian kedua.
Penelitian tahap kedua disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok secara faktorial, dengan faktor yang masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali.

Perlakuan :
Faktor I. Prosentase filler yang digunakan pada saat penepungan pigmen
F1 = 20 %
F2 = 30 % (dekstrin)
Faktor II. Prosentase Na-bikarbonat yang digunakan pada pembentukan tablet effervescent.
N1 = 20 %
N2 = 25 %
N3 = 30 %
Sehingga diperoleh 6 kombinasi perlakuan, dan akan diulang sebanyak 3 kali.
Pengamatan terhadap kualitas tepung, meliputi pengukuran rendemen, nilai pH, nilai Lab ( intensitas warna) ( Colour reader) (Fabre, et al, 1993). Kemudian setelah menjadi tablet effervescent, dilakukan pengamatan terhadap nilai pH, tingkat kekerasan, kadar air, viskositas dan kecepatan larut ( setelah dimasukkan kedalam air) serta organolpetik ( tingkat kesukaan konsumen) terhadap kenampakan, aroma dan rasa .

H.5. Pengumpulan Data
Teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut :
a. Pengamatan data dilakukan terhadap kualitas pigmen bunga kana merah yang dihasilkan, meliputi nilai pH, absorbansi pigmen, intensitas warna (Lab), kadar, rendemen pigmen.
b. Pengamatan data dilakukan terhadap tepung pigmen, meliputi : nilai pH,
absorbansi pigmen, nilai Lab (intensitas warna)
c. Pengamatan terhadap tablet effervescent meliputi tingkat kekerasan . tekstur, daya larut, pH, intensitas warna (Lab), viskositas, organoleptik (tingkat kesukaan konsumen terhadap kenampakan, aroma dan rasa )

H.6. PENGUKURAN PENGAMATAN
H.6. 1. Penemuan Intensitas Warna (Fabre et al., 1993)
Warna sampel hasil ekstraksi ditentukan dengan alat ACS Datacolor Chroma Sensor 3, yang mngukur spectrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat warna seperti L, a dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan system tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-); axis b menunjukkan intensitas warna
kuning (+) atau biru (-).

H.6.2. Penentuan kadar air
Cara Pemanasan
a) Menimbang contoh sebanyak 2 g dalam botol timbang yang telah diketahui beratnya.
b) Kemudian mengeringkan dalam oven pada suhu 1000 C selama 5 jam. Kemudian mendinginkan dalam eksikator dan menimbang. Memanaskan lagi dalam oven selama 30 menit, mendinginkan dalam eksikator dan menimbang; mengulang perlakuan ini sampai tercapai berat konstan (selisih penimbangan berturut-turut kurang dari 0,2 mg).
c) Pengurangan berat merupakan banyaknya air dalam bahan (Sudarmadji, dkk, 1997).
Kadar Air = x 100%
H.6.3. Penentuan pH
Menentukan pH dilakukan dengan pH meter yang dilakukan dengan cara
a) Menghidupkan pH meter. Mengkalibrasi elektroda dengan larutan buffer pH 4 dan membersihkan dengan aquades. Kemudian mengkalibrasi lagi elektroda pada larutan buffer pH 7 dan bilas dengan aquades.
b) Siapkan larutan sampel yang akan diuji pada wadah. Mencelupkan alat pendeteksi (elektroda) kedalam larutan yang akan diuji kemudian membaca hasilnya (Apriyanto dkk, 1998).

H.6.4. Penentuan Absorbansi Pigmen
Menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang tertentu (400-600 nm). Cara kerjanya : siapkan larutan sampel dan larutan blangko dalam kuvet/tabung, kemudian kuvet-kuvet tersebut dimasukkan secara bersama supaya alat tera. Dengan menggunakan panjang gelombang tertentu akan diperoleh nilai absorbansi larutan sampel yang maksimal. Jika larutan standar juga disediakan, maka dengan membandingkan nilai absorbansinya dengan larutan sampel, maka akan dapat diketahui juga kadar antosianinnya dalam larutan sampel.

H.6.5. Penentuan Rendemen (Hanum, 2000)
Perhitungan rendemen berdasarkan berat/volume input dan output yang dihasilkan proses ekstraksi (ekstrak atau konsentrat), dengan rumusan :
Rendemen (%) = konsentrasi antosianin x fp x volume ekstrak x 100 %
Berat bunga pacar air
Dimana : fp = faktor pengenceran (Hanum, 2000)

H.6.6. Pembuatan Tablet Effervescent Ekstrak Pigmen Bunga K ana Merah
Ekstrak kering pigmen bunga kana yang telah diperoleh kemudian dibuat menjadi tablet effervescent dengan cara sebagai berikut:
1. Dicampurkan ekstrak kering bunga kana dengan asam sitrat. Dihomogenisasi dan penggerusan dengan mortal.
2. Dikeringkan pada suhu 60oC selama 1 jam
3. Dicampurkan sodium bikarbonat dan sukrosa dengan cara digerus menggunakan mortal sampai bahan tercampur merata. .
4. Dilakukan penggranulasian kering dengan cara campuran diatas dicetak sebesar tiga kali lipat dari tablet kemudian didiamkan selama 30 menit dan selanjutnya dihancurkan menjadi bentuk granula diatas ayakan 40 mesh dengan alu sehingga didapatkan granula inti 40 mesh
5. Pengepresan menjadi bentuk tablet dengan tebal ±0,5 cm, diameter ±2,5cm, dan bobot ±5 gram.
6. Dikemas tablet effervescent mangkudu dengan aluminium foil.
7. Dianalisa sifat fisik, kimia, dan organoleptik.
Diagram alir proses pembuatan ekstrak kering mengkudu serta proses pembuatan tablet effervescent dapat dilihat pada Gambar. 5 dan 6.

H.6.7. Analisa
Analisa yang dilakukan baik untuk tablet effervescent bunga kana merah (Canna coccinea Mill.) meliputi analisa fisik, kimia, dan organoleptik. Analisa fisik antara lain viskositas, kekerasan tablet, kecepatan larut, dan warna. Sedangkan analisa kimia yang dilakukan adalah kadar air, dan pH. Analisa organoleptik meliputi analisa kesukaan terhadap: kesukaan bentuk tablet, kenampakan minuman, aroma minuman, dan rasa minuman.
1) Analisa Fisik
Analisa fisik yang dilakukan pada tablet effervescent meliputi, warna, kecepatan larut, viskositas minuman dan kekerasan tablet.

a. Warna (Yuwono dan Susanto, 1998)
Warna tablet diukur dengan dengan alat ACS Datacolor Chroma Sensor 3 yang mengukur spektrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat seperti L, a, dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan sistem tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-), axis b menunjukkan intensitas warna kuning (+) atau biru (-). Peneraan warna dilakukan menggunakan kuvet yang pada masing-masing sisinya dirtutup dengan warna putih.

b. Kecepatan Larut (Yuwono dan Susanto, 1998)
Kecepatan larut tablet effervescent dilakuan dengan cara melarutkan tablet dalam 200 ml air. Waktu yang diperlukan tablet untuk larut sampai habis dicatat, kemudian kecepatan larut tablet dihitung dengan rumus berikut:

Kecepatan larut = berat tablet (g)
Waktu larut (detik)

c. Viskositas Metode Pipet Volum (Yuwono dan Susanto, 1998)
Viskositas minuman effervescent diukur menggunakan metode pipet volum, karena viskositas minuman effervescent sangat rendah. Caranya adalah dengan memasukkan larutan tablet ke dalam pipet gondok 25 ml, kemudian bagian atas pipet ditutup dengan jari. Larutan kemudian dialirkan dengan cara membuka penutup, kemudian waktu yang digunakan sampai larutan keluar dari pipet dicatat. Waktu ini kemudian digunakan untuk mengukur viskositas larutan dengan ketetapan:
Viskositas (cps) = 0,8901 x 10223,3 x (waktu larut (dt)/997,1)
4,37
d Kekerasan Tablet Effervescent Bunga Kana (Canna coccinea Mill.) (Yuwono dan Susanto, 1998)
a). Pengukuran kekerasan bahan dilakukan dengan Hardness Tester berdasarkan gaya per satuan luas (kg/cm2) yang dibutuhkan untuk memecahkan tablet. Semakin keras maka semakin besar gaya yang dibutuhkan.
b). Meletakkan sampel pada penumpu Hardness Tester, kemudian memutar perlahan untuk menaikkan landasan sampai menyentuh landasan bagian atas, tapi jarum tetap menunjuk di angka nol.
c). Memutar pegangan perlahan-lahan sampai sampel patah, bersamaan itu jarum penunjuk gaya kembali ke nol.
d). Angka terakhir jarum penunjuk adalah gaya yang dibutuhkan untuk mematahkan sampel.

2) Analisa kimia
Analisa Kimia pada tablet effervescent meliputi:
a. Penentuan pH Tablet dan larutan (Sudarmadji, 1982)
Mula-mula dilakukan standarisasi pH meter, yaitu dengan menyalakan dan membiarkan pH meter beberapa saat agar stabil. Elektroda dibersihkan dengan tissue kemudian dimasukkan dalam larutan buffer dan pengukuran pH dilakukan. Pengaturan standarisasi pH meter disesuaikan dengan pH larutan buffer.
Sampel dimasukkan dalam beaker glass. Elektroda dibilas dengan aquades dan dikeringkan dengan kertas tissue. Elektroda dicelupkan kedalam larutan sampel dan pengukuran pH dilakukan. Elektroda dibiarkan tercelup beberapa saat sampai diperoleh pembacaan angka yang stabil dan pencatatan pH sampel.

b. Penentuan Intensitas Warna Minuman (Yuwono dan Susanto, 1998)
Warna sampel hasil ekstraksi ditentukan dengan alat ACS Data Color Chroma Sensor 3 yang mengukur spektrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat seperti L, a, dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan sistem tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-), axis b menunjukkan intensitas warna kuning (+) atau biru (-). Peneraan warna dilakukan menggunakan kuvet yang pada masing-masing sisinya dirtutup dengan warna putih.

3) Kadar Air
Kadar air tablet diukur menggunakan metode oven kering. Caranya adalah sebagai berikut:
a. Menimbang 2 gram sampel dan dimasukkan ke dalam cawan, dan dinyatakan sebagai berat awal.
b. Mengoven sampel pada suhu 100 – 110ºC selama ± 5 jam.
c. Menimbang sampel yang sudah kering dan dinyatakan sebagai berat akhir.
d. Menghitung kadar air pada tablet dengan rumus sebagai berikut:
% kadar air = berat awal-berat akhir x 100%
Berat sampel

c. Uji Organoleptik (Soekarto, 1985)
Uji yang dilakukan terhadap tablet dan larutan tablet minuman effervescent bunga kana (Canna coccinea Mill.) dilakukan secara panel test menggunakan uji sensoris kerelaan. Daftar pertanyaan diajukan menurut cara Hedonic Scale Scoring. Hasilnya dinyatakan dalam angka, yaitu 7 (sangat menyukai), 6 (menyukai), 5 (agak menyukai), 3 (agak tidak menyukai), 2 (tidak menyukai), 1 (sangat tidak menyukai).

H.6.8. Penentuan Perlakuan Terbaik (De Garmo, Sullivan dan Canada, 1984)
Pemilihan perlakuan terbaik ditentukan dengan menggunakan metode indeks efektivitas dan perlakuan dengan perhitungan sebagai berikut:
1. Memberikan bobot nilai pada masing-masing parameter mutu dengan nilai relative dari 0 hingga 1. Bobot nilai yang diberikan tergantung dari kepentingan masing-masing parameter yang hasilnya diperoleh sebagai akibat perlakuan.
2. Menentukan bobot normal variable. Yaitu bobot variable dibagi bobot total.
3. Menghitung Nilai Efektifitas (NE) dengan rumus:
Nilai Efektifitas = Nilai perlakuan – nilai terjelek
Nilai terbaik – nilai terjelek
4. Menjumlahkan nilai hasil (NH) dari semua variable perlakuan terbaik dipilih dari perlakuan dengan nilai tertinggi.

Pencucian

Penghancuran

Air Penyaringan Ampas

Filtrat

Dekstrin : 20 %, 30 %

Pencampuran

Pengeringan
(60o selama 6-8 jam)

Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Gambar 5. Diagram Alir Pembuatan Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Homogenisasi

Pengeringan (60oC, ± selama 1-2 jam)

– Sodium bikarbonat
20 %, 25%, 30%
– Sukrosa

Penggranulasian Kering

Granula Inti 40 mesh

Pencetakan Tablet

Tablet effervescent Bunga Kana Merah

Gambar 6. Diagram Alir Pembuatan Tablet Effervescent Bunga Kana Merah

I. JADWAL KEGIATAN
I.1. Rencana Kegiatan
Rencana kegiatan keseluruhan memerlukan waktu kurang lebih 5 bulan. Dilaksanakan di Laboratorium Analisa Pangan dan Rekayasa Pangan Tekhnologi Hasil Pertanian Jurusan Tekhnologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, bersama anggota dan dosen pembimbing.

I.2. Jadwal Pelaksanaan

No Kegiatan Bulan Ke-1 Bulan Ke-2 Bulan Ke-3 Bulan Ke-4 Bulan Ke-5
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan √
2. Perizinan √
3. Survey lokasi √ √
4 Penyusunan proposal √ √
5. Penelitian pendahuluan √ √
6. Persiapan alat √ √
7. Pembelian bahan baku √ √
8. Proses pembuatan produk √ √ √ √ √
9. Analisa kimia dan fisik √ √ √ √ √ √
10. Pengolahan data √ √
11. Penyusunan laporan akhir √ √
12. Seminar √ √
13. Penggandaan proposal √ √

J. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK
1. Ketua pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Husni Thamrin
b. NIM : 05730010
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• TK Nurul Iman Bekasi lulus tahun 1991
• SD Negeri Narogong Indah Bekasi lulus tahun 1997.
• SMP Negeri 16 Bekasi lulus tahun 2000
• SMU Pangeran Jayakarta lulus tahun 2003
Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

2. Anggota
a. Nama Lengkap : Ika Ratna Austin
b. NIM : 05730001
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 10 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• TK Dharma Wanita lulus tahun 1992
• SD Negeri Pagerngumbuk 1 Wonoayu lulus tahun 1999.
• SMP Negeri 1 Krian lulus tahun 2002.
• SMU Negeri 3 Sidoarjo lulus tahun 2005.
• Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

3. Anggota
a. Nama Lengkap : Eka Rini Wibisono
b. NIM : 06730019
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 10 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• SD Muhammadiyah 08 Dau Malang lulus tahun 2000
• SLTP Negeri 8 Malang lulus tahun 2003
• SMA Negeri 3 Malang lulus tahun 2006
• Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

K. Biodata Dosen Pendamping
1. Nama : Ir. Elfi Anis Saati,MP
2. NIP-UMM : 131944789
3. Tempat/tanggal lahir : Pasuruan, Jawa Timur, 21 Juni 1966
4. Jenis kelamin : Perempuan
5. Pangkat/Golongan : Pembina / IV-a
6. Jurusan/Fakultas : Teknologi Hasil Pertanian
7. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
8. Alamat rumah : Perum.Muara Sarana Indah F 11, Jetis,Desa
Mulyoagung, Kec. Dau- Malang, Telp. (0341)
461472
9. Waktu Kegiatan PKM : 6 jam/minggu
10. Riwayat Pendidikan : 1. Strata 1 Jurusan Gizi Masyarakat
&Sumberdaya Keluarga (GMSK) IPB,
Bogor, lulus tahun 1989.
2. Strata 2 Program Studi THP Pasca Sarjana
Universitas Brawijaya, Malang,lulus tahun 2002.
11. Pengalaman Pekerjaan : – Dosen Jurusan THP Faperta UMM, tahun 1991
hingga sekarang.
– Sekretaris Jurusan THP Faperta UMM, tahun
2001 – 2002
– Ketua Jurusan THP Faperta UMM, tahun 2002
hingga sekarang (2007)
12. Pengalaman Penelitian dan Publikasi :

Publikasi :
1.Ekstraksi dan Identifikasi Pigmen Antosianin Bunga Pacar Air (Proseding).
Disampaikan pada Seminar Nasional PATPI. 30-31 Juli 2002.
2.Potensi Bunga Pacar air Sebagai Pawarna Alami pada Produk Minuman.
TROPIKA Vol. 10, No.2, Majalah Ilmiah Terakrediatsi Fakultas Pertanian,
Universitas Muhammadiyah Malang ( Juli 2002).
3. Karakterisasi Pigmen Antosianin dari Bunga Pacar Air (Impatien balsamina
Linn).TROPIKA. Vol. 12, No.1, Majalah Ilmiah Terakreditasi Fakultas
Pertanian,Universitas Muhammadiyah Malang ( Januari 2004).
4. Bunga Mawar sebagai Pewarna Alami. Surya dan Kompas, 13 Oktober 2004.
5. Penggalian Potensi Bunga Kana sebagai pewarna Alami alternatif (Kajian
Stabilitas dan Efektivitas Bentuk Pigmen serta Aplikasinya pada Produk
Pangan). Proseding.Disampaikan pada Seminar Nasional dan Konggres PATPI
17-18 Desember 2004 di Jakarta.
6. Pengaruh Tingkat Kesegaran Bunga Mawar Merah (Rosa damascena Mill)
terhadap Kualitas Zat Warna dan Daya Antioksidasinya pada Minuman.
Proseding. Disampaikan pada Seminar Nasional dan Konggres PATPI 17-18
Desember 2004 ( sebagai makalah POSTER) di Jakarta.
7. Pemanfaatan Kekayaan Hayati/Bunga lokal (mawar, kana dan pacar air)
sebagai Zat pewarna dan Antioksidan alami pada Makanan. Proseding.
Disampaikan pada Seminar Kimia Nasional 3 Pebruari 2005 di Universitas
Surabaya (Unesa).

Penelitian :
1. Pengaruh Pupuk Organik terhadap Kualitas Semangka dan Selera Konsumen (1998 )
2. Pengaruh Konsentrasi Garam dan Medianya terhadap Kualitas Telur Asin ( 1999 )
3. Pengaruh Beberapa Penelitian Pendahuluan terhadap Kualitas Susu
Kedelai (2000)
4. Pemanfaatan Lidah Buaya Sebagai Minuman : Kajian Pengaruh Suhu
dan Essence Jeruk terhadap Kualitas Sari Lidah Buaya (Aloe vera)
(2002)
5. Studi Pengetahuan dan Perilaku Keamanan Pangan Jajanan Murid
Sekolah di SD Muhammadiyah 08 Malang (2001)
6. Pemanfaatan Bunga Mawar (Rosa sp.) Sortiran Sebagai Pewarna Alami (2002)
7. Pemanfaatan Bunga Kana sebagai Zat Pewarna Alami Alternatif ( 2003)
8. Pemanfaatan Pigmen Bunga Mawar Rontok sebagai Pewarna Alami pada Makanan Jajanan (2004).
9. Uji Efektivitas Ekstrak Pigmen Bunga Mawar Sortiran sebagai Zat Pewarna Alami Alternatif pada Produk Minuman (2005). Dosen Muda-DIKTI.

13. Pengalaman Pengabdian :

1. Pelatihan Pembuatan Susu Kedelai di Desa Tumpak Rejo kecamatan Kalipare Kabupaten Malang (2001)
2. Pelatihan Pembuatan Keripik Talas dengan Aneka Rasa di Desa Kalipare Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang (2001)
3. Pelatihan Pembuatan Kecap Air Kelapa di Dusun Kedungmonggo Desa KarangPandan Kecamatan Pakisaji kabupaten Malang (2002).
4. Pelatihan Penanganan Pasca Panen Tanaman Obat dengan Topik Metode Pengawetan, pengeringan dan pengemasan, di Pondok Pesantren annuqayah (KSM/Kelompok Swadaya Masyarakat lengkong) Guluk-guluk Sumenep Madura (2002).
5. Pelatihan Pembuatan Lidah buaya intans dan STMJ pada mahasiswa peserta KKN Universitas Muhammadiyah Malang (2003).
6. Sosialisasi Pemanfaatan Kekayaan Hayati/Bunga lokal (mawar, kana dan
pacar air) sebagai Zat pewarna dan Antioksidan alami pada Makanan,
Kosmetik dan Kerajinan Lain, di SMA Negeri 3 Lumajang dan di SMA
Negeri Bangil Pasuruan, tahun 2005

L. RENCANA ANGGARAN BIAYA
Alokasi Jumlah Harga Jumlah
1. Honor Dosen Pendamping
2. Bahan dan alat habis pakai
* Bunga Kana Merah
* Aquades
*Asam Sitrat
* Sodium bikarbonat 20%, 25 %, 30%
* Maltodekstrin
* Sukrosa
* Kertas whatnan no 41/42
* Petroleum eter
* Isopropanol
* Etanol
Sub total
3. Alat habis pakai
* Timbangan Analitik
* Penyaring Vakum tipe VWR Scientific
Scientific
* Blender
* Rotary evaporator Vacum
* Spektrofotometer UV-vis merk shimadju
* Cetakan Tablet
* pH meter/CG 832 School Gerale
* trimulus Colorimeter/color Reade CR-10
* Oven
Sub total
4. Perjalanan dan konsumsi :
Pelaksana (3) orang
Pendamping (1 orang)
Sub total
5. Analisa Kimia
* Kadar air
* Kadar gula
Sub total
6. Lain-lain
Publikasi hasil penelitian
Dokumentasi
Laporan, fotocopy, penjilidan, pengiriman
Sewa lab dan pemeliharaan alat pemakaian
Pemakaian telpon, fax, internet
Tinta printer, kertas
Sub total

60 tangkai
20 lt
200 g
1 Kg
1 Kg
1 Kg
20 lbr
250 ml
500 ml
500 ml

1 buah
36 Jam @ 5.000

10 hari @ 10.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000

3 orang @50.000x 5 bln
5 bln @ 50.000

2 roll film + cuci cetak
10 expl
5 bln @ 40.000

B/W, warna 3 rim Rp. 1.000.000,-

Rp. 120.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 200.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,- +
Rp. 1.020.000,-

Rp. 70.000,-
Rp. 180.000,-

Rp. 100.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,- +
Rp. 1.430.000,-

Rp. 750.000,-
Rp. 250.000,- +
Rp. 1.000.000,-

Rp. 200.000,-
Rp. 300.000,- +
Rp. 500.000,-

Rp. 200.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 200.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 200.000,- +
Rp. 1.050.000,-
Total Rp. 6.000.000,-
Total Dana Yang diperlukan Untuk Penelitian ini sebesar Rp. 6.000.000,-

M. Daftar Pustaka

Anonim. 2005. Bunga Tasbih. http//ipteknet.com
Anonim, 2006. Gelembung Gas Effervescent. Kompas. 7 September 2006.

Ansel, H.1989. Pangantar Bentuk-Bentuk Sediaan Farmasi Edisi ke-4. UI
press. Jakarta.

Buckle, K. A. Edwards, G. H Fleet and M. Wotton. 1987. Ilmu Pangan.
Diterjemahkan oleh Purnomo, A. Adiono. UI-Press. Jakarta.

De Man, J. M. 1989. Principle of Food Chemistry (terjemahan Kosasih).
Van Norstand Reinhold. A Division of Wadswort., Inc., New York.

Eskin, N. A. M., 1979. Plant Pigments, Flavors and Tekstures. The
Chemistry and Biochemistry of Selected Compounds. Academic
Press. London.

Fennema, O. R. 1996. Food Chemistry. Marcel Dekker, inc. New York.

Fessenden and Fessenden. 1982. Kimia Organik edisi ketiga. Erlangga.Jakarta
Francis, F. J. 1982. Analysis of Anthosianin. Di dalam Markakis, P., (ed). Anthocyanin as Food Colour. Academic Press. New York.
___________. 1985. Analysis of Anthosianin. Di dalam Fennema, O.R. Principle of Food Science. Marcell Dekker Inc., New York.

Giese, J. 1996. Antioxidants: Tool Food Preventing Lipid Oxidation. Antioxidants are Critical in Preserving Lipid-Containing Food from Rancidity ang Extending Shelf life. J. Food Tech. 50 (11): 73-810.

Gross, J. 1987. Pigment in Fruits. Academic Press. London.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fetokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Penerbit Institut Teknologi Bandung. Bandung.
Hidayat, Nur; dan Dania, W.A.P., 2005. Minuman Berkarbonasi dari Buah Segar. Trubus Agrisarana, Surabaya.

Hui, Y. H. 1992. Encyclopedia of Food Scince and Technology Vol. I. Jhon Wiley and Sons, Inc. New York.

Jacson, L., and K. Lee. 1991. Microeacapsulation and Food Industry. Lebenson-Wiss-U-Technol. 24:289-297.

Marthawindholz, E. 1983. An Encyclopedia of Chemical, Drugs, and Biologicals The Merck Indeks. 10 th Ed. Merck and Co, Inc. New York

Markakis, P., 1982. Anthocyanins as Food Additive. Di dalam Markakis,P. (ed). Anthocyanins as Food Colors. Academic Press, New York.

Morhle, R. 1989. Effervescent Tablets. Dalam Nugroho, S. 1999. Penambaan Komponen Berprotein Pada Minuman Serbuk Effervescent. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.

Pohan, H.G dan Antara, N.T., 2001. Pengaruh Penambahan Madu dan Asam Sitrat Terhadap Karakteristik Minuman Fungsional Dari Sari Buah Mengkudu. Forum Komunikasi Industri Hasil Pengolahan (no 4):11-20.

Pulungan, M.Hindun., Suprayogi danBeni Yudha. 2004. Membuat Effervescent Tanaman Obat. Trubus Agrisarana. Surabaya.

Rukmana, R.H. 1997. Bunga Kana. Kanisius. Yogyakarta.
Sa’ati E.A. 2005. Optimalisasi Fungsi Ekstraksi Bunga Kana (Canna coccinea Mill) Sebagai Zat Pewarna Dan Antioksidan Alami Melalui Metode Isolasi Dan Karakteristik Pigmen. Program Penelitian Fundamental Lemlit UMM. Malang.

Tjokroadikoesoemo, P.S.,1986. HFS dan Industri Ubi Kayu Lainnya. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Tranggono. 1990. Kimia, Nutrisi dan Makanan. PAU Pangan dan Gizi. UGM-Press. Yogyakarta.

Vogel, A.I. 1978. Texbook of Practical Organic Chemistry. Revised by Furnies, B.S. fourth Edition. New York.

Wanto dan M. Romli. 1977. Alat-alat Industri Kimia I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Winarno, F.G. dan Fardiaz, S., 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Pt. Gramedia, Jakarta.
Winarno, F.G., 1993. Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
—————-., 2002. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Winarno, F. G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Iklan

07/23/2009 - Posted by | Contoh PKM

6 Komentar »

  1. subhanallah..ide yang keren..klo boleh tahu ini jenis PKMPkah? buat PIMNAS?

    Komentar oleh ania | 08/28/2009

  2. blog ini khusus berisi jurnal2 ilmiah,yaa..?
    ohya, an maw taw nih..teknologi effervescent memakan biaya yg mahal,g,sih?
    tolong jawab di email saya,yaa..adaania@yahoo.co.id

    Komentar oleh ania | 09/03/2009

  3. punya info dimana saya bisa mengamati kandungan pigmen antosianin? saya dari puslit karet dan akan melakukan pengamatan kandungan antosianin pada hipodermis batang dan petiol pada tanaman karet. terimakasih. mohon informasi bisa di share di email saya : tari4mojo@yahoo.com atau balitgetas@yahoo.com

    Komentar oleh tari admojo | 01/04/2010

  4. terimaksh, ckup membntu

    Komentar oleh dewi | 11/23/2011

  5. Hi there to all, it’s actually a nice for me to pay a visit this web page, it includes useful Information.

    Komentar oleh kreisrunder haarausfall bei kindern wikipedia | 12/19/2012

  6. […] Pemanfaatan ekstrak pigmen bunga kana merah (canna […]

    Ping balik oleh tanaman hias bunga tasbih - Share Free | 10/03/2014


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: