BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Pengaruh Filtrat Daun Cengkeh (Syzygium Aromaticum) Terhadap Kelulushidupan Ikan Gurami (Osphronemus Gourami) Yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas Hydrophilla.

A. JUDUL : Pengaruh Filtrat Daun Cengkeh (Syzygium Aromaticum)
Terhadap Kelulushidupan Ikan Gurami (Osphronemus
Gourami) Yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas Hydrophilla.

B . Latar belakang
Dalam kurun 5 tahun terakhir, konsumsi ikan nasional melonjak hingga lebih dari 1,2 juta ton. Tahun (2004-2005) persentase kenaikan nilai impor perikanan nasional menduduki angka 12,51% berada jauh di bawah nilai rata-rata ekspor perikanan yang hanya sebesar 1,6%. Saat ini, nilai konsumsi ikan nasional telah mencapai kisaran 26 kg/kapita/tahun, untuk penduduk global nilai konsumsi ikan sudah mencapai 19 kg/kapita/tahun dan presentase kenaikan konsumsi ikan mencapai angka (1,8% per tahun), maka tak dimungkiri 8 tahun ke depan akan terjadi peningkatan kebutuhan ikan dan produk perikanan sebesar 50 juta ton (http://www.walhi.or.id/kampanye/pela/070328_krisis_ikan_li/).
Gurami (Osphronemus gourami) adalah ikan air tawar yang paling banyak menghuni rawa-rawa, danau, atau daerah yang perairannya tenang. Sebagai ikan hasil budi daya, gurami banyak di pilih petani karena mampu berbiak secara alami dan mudah dalam perberian pakan. Dari aspek bisnis keuntungan yang biasa di dapat adalah harga jualnya cukup tinggi dan relatif stabil.
Di dalam memelihara gurami tidak bisa terlepas dari resiko serangan hama dan penyakit. Hama dan penyakit pada ikan umumnya terjadi setelah ikan mengalami gangguan non-parasiter. Gangguan non-parasiter, umumnya menjadi penyebab primer antara lain kerusakan fisik, kurang gizi, berkurangnya mutu air dan sanitasi lingkungan yang buruk (Jangkaru, Z. 2004).
Akan tetapi keberadaan hama seperti ikan liar, kura-kura, biawak, ular dan burung pada dasarnya tidak terlalu serius. Masalah paling di takuti petani gurami adalah serangan penyakit yang bisa berakibat fatal, yakni matinya gurami dalam jumlah besar. Penyakit yang paling banyak menyerang gurami adalah bakteri Aeromonas dan Pseudomonas, serta parasit Argulus, Ichthyophythyrius dan Saprolegnia (Tim Redaksi Agromedia Pustaka 2003).
Anmi, L. (2007) menyatakan bahwa Pada tahun 1980-1981, bakteri Aeromonas hydrophilla menyerang hampir semua komoditas perikanan di Indonesia, khususnya di Jawa Barat bahkan menjadi wabah mematikan pada ikan air tawar. Sehubungan dengan hal itu Taukhid. (2006) menambahkan bahwa tahun 2002 di Blitar dan Yogjakarta juga terjadi serangan sporadis pada ikan air tawar yang salah satunya di sebabkan oleh Aeromonas hydrophilla sehingga menyebabkan kerugian ekonomi ratusan juta rupiah.
Menurut Jangkaru, Z. (2004) bakteri Aeromonas hydrophilla, adalah Jenis bakteri yang bersifat patogen dan dapat menyebabkan sistemik serta mengakibatkan kematian secara masal. Bakteri ini berbentuk batang pendek berukuran 2-3 mikro dan bersifat gram negatif. Bakteri ini menginfeksi luka dan menyebabkan kematian 80-100% setelah satu minggu ikan gurami terinfeksi. Kematian ikan gurami yang sulit diatasi umumnya ketika larva berumur 2-3 minggu.
Bakteri Aeromonas hydrophilla ini seringkali mewabah di Asia Tenggara sampai sekarang. Penularannya sangat cepat melalui perantara air, kontak bagian tubuh ikan atau peralatan tercemar. Untuk saat ini penanggulangan hama dan penyakit pada gurami yang banyak di lakukan adalah melalui sanitasi air dan kolam, desinfeksi peralatan dan ikan serta vaksinasi. Sementara pengobatannya dapat di lakukan dengan menggunakan bahan kimia dan antibiotik melalui perendaman dalam pakan dan injeksi (Jangkaru, Z. 2004).
Dalam menggunakan antibiotik atau pengobatan secara kimiawi seperti Tetracyline, Malachite green, Oxytetra cyline,dll. Maka kepekaan bakteri terhadap obat yang dipilih harus diketahui, sebab kesalahan dalam pengobatan selain merusak lingkungan perairan juga membuat beberapa jenis penyakit menjadi kebal terhadap pengobatan serta ikan-ikan budidaya mudah mengalami kematian (Ghufran.M.2004).
Anonymous. (2006) dalam Astutik, S. (2007) dinyatakan bahwa Indonesia merupakan satu-satunya negara konsumen dan sekaligus produsen cengkeh terbesar didunia. Minyak cengkeh mengandung minyak atsiri dengan jumlah yang relatif besar dibandingkan dengan tanaman sumber minyak atsiri lainnya. tanaman cengkih mempunyai banyak kandungan kimia yang bersifat sebagai antimikroba diantaranya tannin, flavonid dan eugenol.

C. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dibuat rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Adakah pengaruh filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap kelulushidupan ikan gurami (Osphronemus gourami) yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophilla?
2. Konsentrasi filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) berapakah yang paling baik pengaruhnya untuk kelulushidupan ikan gurami (Osphronemus gourami) yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophilla?
D. Tujuan Program
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengaruh filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap
kelulushidupan ikan gurami (Osphronemus gourami) yang terinfeksi
bacteri Aeromonas hydrophilla.
2. Mengetahui konsentrasi filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) yang
terbaik untuk kelulushidupan ikan gurami (Osphronemus gourami) yang
terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophilla.
E. Tujuan Program
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat digunakan sebagai sumber informasi awal bahwa filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) dapat digunakan sebagai obat untuk membunuh bakteri Aeromonas hydrophilla yang menginfeksi ikan gurami (Osphronemus gourami).
2. Diketahuinya konsentrasi yang terbaik dalam penggunaan filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) sebagai obat untuk membunuh bakteri Aeromonas hydrophilla yang menginfeksi ikan gurami (Osphronemus gourami).
3. Dapat digunakan sarana informasi dalam menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan penelitian ini.
F. Luaran Yang Diharapkan
Dari hasil penelitian tentang pengaruh filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap kelulushidupan ikan gurami (Osphronemus gourami) yang terinfeksi bakteri (Aeromonas hydrophilla) dapat diperoleh saran sebagai berikut:
Bagi Dinas Perikanan dalam pengobatan ikan yang terserang bakteri Areomonas hydrophilla sebaiknya mengunakan filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) karena tidak banyak menimbulkan efek samping. Dan apabila telah teridentifikasi bahwa ikan terserang bakteri Aeromonas hydrophilla sebaiknya dilakukan sesegera mungkin untuk mengobatinya.

G. Kegunaan Program
1. Dapat digunakan sebagai sumber informasi awal bahwa filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) dapat digunakan sebagai obat untuk membunuh bakteri Aeromonas hydrophilla yang menginfeksi ikan gurami (Osphronemus gourami).
2. Upaya pengembangan budidaya ikan gurami menjadi lebih optimal, sehingga lebih bermafaat bagi peternak ikan.
H. Tinjauan Pustaka
H.1. Morfologi Ikan Gurami
Bentuk ikan gurami sangat khas. Tubuhnya pipih dan agak panjang. Bagian dahi gurami dewasa terdapat tonjolan mirip cula. Tonjolan itu tidak di temukan pada gurami anakan atau gurami muda. Pada gurami anakan terdapat ciri khas berupa garis-garis hitam yang melintang di tubuhnya. Rata-rata ikan gurami memiliki mulut yang kecil dengan bibir bagian bawah terlihat sedikit lebih panjang di bandingkan bibir atas.
Sisik gurami berukuran besar dan bagian tepinya tidak rata. Ketika muda, warna punggung gurami biru kehitaman, sementara itu bagian perutnya berwarna putih.Warna tersebut berubah ketika gurami semakin dewasa, bagian punggungnya berubah menjadi kecoklatan, dan bagian perutnya menjadi keperakan. Sirip perut gurami mengalami modifikasi bentuk menjadi sepasang benang yang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba.
Selain sirip perut terdapat juga sirip punggung dan sirip dubur yang panjangnya mencapai pangkal ekor. Panjang gurami dewasa dapat mencapai 65 cm dan berat 10 kg. Secara alami pertumbuhan paling pesat terjadi saat mencapai umur 3-5 tahun (Tim Redaksi Agromedia Pustaka. 2001).
Menurut Adnan, M. dkk (2002) perbedaan induk jantan dan induk betina ikan gurami (Osphronemus gouramy ) adalah seperti berikut :
Tabel 1: Perbedaan Induk Jantan Dan Induk Betina Ikan Gurami.
INDUK JANTAN INDUK BETINA
Dahi menonjol
Sirip halus
Dagu berwarna kuning
Jika di taruh ekornya melengkung ke atas
Jika kelaminnya di pencet perlahan, akan keluar cairan putih seperti susu Dahi datar
Sirip kurang halus
Dagu berwarna kuning kecoklatan
Jika di taruh, ekornya bergerak-gerak
Jika kelaminnya di pencet perlahan, tidak akan keluar cairan apapun.
Sumber: Adnan, M. dkk. (2002)
H.2. Habitat Ikan Gurami
Habitat asli gurami adalah rawa di dataran rendah. Salah satu faktor yang membedakan dataran rendah dengan dataran tinggi adalah suhu dan mutu airnya. Suhu di tadaran rendah lebih panas di bandingkan di dataran tinggi. Berkaitan dengan suhu, gurami akan tumbuh sangat baik dalam air dan suhu antara 25oC-28oC.Gurami sangat peka terhadap suhu rendah sehingga jika di pelihara dalam air dengan suhu kurang dari 15 oC ikan ini tidak akan berkembang baik.
Kepekaan gurami terhadap suhu rendah sebetulnya dapat di tanggulangi, misalnya dengan memperdalam badan air sehingga terjadi kestabilan suhu. Sementara itu gurami masih dapat hidup dan berkembang baik secara optimal di perairan dengan ketinggian 800 m di atas permukaan air laut (Jangkaru, Z. 2004).
Jika dilihat dari kualitas air yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan gurami maka air kolam harus mengandung cukup mineral dan unsur hara lain yang dibutuhkan. Dan bila dikaitkan dengan kadar oksigen terlarut sebernarnya tidak terlalu berpengaruh terhadap kehidupan gurami. Hal ini disebabkan gurami memiliki labirin yang berfungsi mengambil udara. Derajat keasaman (pH) air yang ideal untuk pertumbuhan gurami adalah 6,5-7,0 (Prihartono. 2004).
Berbagai badan air di dataran rendah, seperti rawa, situ, waduk, danau, lebak, kolong, kolam pekarangan, kolam tadah hujan, sungai mata, embung, dan lebung merupakan lahan pemeliharaan gurami yang potensial. Wadah pemeliharaan yang di gunakan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi lahan pemaliharaan. Sebagai contoh di perairan waduk, situ, dan kolong dapat di pergunakan wadah pemeliharaan yang berupa keramba jaring apung dan sangkar (Jangkaru, Z. 2004).
H.3. Reproduksi Ikan Gurami
Ikan Gurami merupakan salah satu ikan air tawar yang banyak dijumpai disungai, rawa, telaga, dan kolam berair tawar. Ikan ini pertumbuhannya tergolong sangat lambat, kematangan kelamin milai terjadi pada usia sekitar dua tahun. Masa pemijahan gurami tidak terikat waktu. Pemijahan dapat dilakukan kapan saja bila induk telah siap memijah. Namun, gurami memiliki masa produksi yang tinggi di musim kemarau (Prihartono. 2004).
Secara alami, ikan gurami memiliki masa bertelur selama tiga bulan sekali. Namun, dalam setahun, gurami hanya bertelur sebanyak tiga kali, tiga bulan sisanya (biasanya saat musim hujan) ikan gurami tidak bertelur. Berbeda dengan ikan air tawar lainnya yang umumnya berbiak pada permulaan musim penghujan, di alam bebas gurami akan berbiak sepanjang musim kemarau.
Saat air agak surut dan suhu air agak meningkat, mulailah kawanan gurami beramai-ramai memijah.induk jantan akan membangun sarang yang berbahan baku rumput-rumputan dan dahan-dahan kecil di pinggiran tempat hidupnya yang tersembunyi di antara rumput-rumputan dan tanaman air (Adnan, M. Dkk. 2002).
Ketika perkawinan terjadi, induk jantan akan membuat sarang yang bahan bakunya berupa rumput-rumputan atau dahan-dahan kecil di pinggiran kolam. Sarang tersebut di letakkan tersembunyi di sekitar tumbuhan air. Setelah terjadi pemijahan, induk betina akan menghasilkan telur rata-rata sebanyak 500-3.000 butir. Setelah satu bulan kemudian telur-telur tersebut menetas menjadi larva (Jangkaru, Z. 2004)
I. Bakteri Aeromonas hydrophilla
I.1. Morfologi Bakteri Aeromonas hydrophilla
Ghufran H. (2004) dinyatakan bahwa bakteri Aeromonas hydrophilla umumnya hidup di air tawar yang mengandung bahan organik tinggi. Ciri bakteri Aeromonas hydrophilla adalah bentuknya seperti batang, ukurannya1-4,4 x 0,4-1 mikro,bersifat gram negatif, fakultatif aerobik (dapat hidup tanpa oksigen), tidak berspora, bersifat motil (bergerak aktif) karena mempunyai flagel (Monotrichous flagella) yang keluar dari salah satu kutubnya, senang hidup lingkungan bersuhu 15 oC-30 oC dengan pH antara 5,5-9,0.
Dan menurut sumber lain bentuk bakteri ini seperti batang dengan cambuk yang terletak di ujung batang, dan cambuk ini digunakan untuk bergerak. Ukurannya 7–0,8 x 1–1,5 mikron (http://www.pustakatani.org/InfoTeknologi /tabi d/66/ctl/ArticleView/mid/389/articleId/205/HamadanPenyakitIkanLele.aspx).
I.2. Habitat dan Penyebaran Bakteri Aeromonas hydrophilla
Menurut Tim Agromedia Pustaka (2003) bakteri Aeromonas hidropilla mudah di jumpai pada musim kemarau dan penghujan, terutama dikolam-kolam yang tercemar bahan Organik. Dan menurut Bullock et al (1989) dalam Safi’i (2006) bakteri Aeromonas hydrophilla lebih banyak menyerang ikan di daerah tropis dan daerah sub tropis di bandingkan dengan daerah yang dingin.
Di daerah tropis dan sub tropis penyakit haemorhagic septicaemia pada umumnya muncul pada musim panas.atau kemarau di mana pada saat itu kandungan bahan organiknya sangat tinggi. Bakteri ini dapat di temukan selain pada luka yang terinfeksi juga dapat di temukan pula di hati dan ginjal gurami. Bakteri ini akan kehilangan sifat Patogenitasnya bila berada di dalam usus (Jangkaru, Z. 2004).
I.3. Metabolisme dan Perkembiakan Bakteri Aeromonas hydrophilla
Bacteri Aeromonas hydrophilla termasuk jenis bakteri fakultatif anaerobik, yaitu bakteri yang hidup dengan atau tanpa adanya oksigen. Bakteri fakultatif anaerob akan tumbuh tersebar di seluruh medium jika diinokulasikan dalam medium cair (Dwijosaputro, D. 1998). Bakteri ini akan tumbuh maksimal pada kisaran suhu 38 0C sampai 41 0C, sedangkan pertumbuhan minimalnya pada suhu 00C sampai 50C. Bakteri Aeromonas hydrophilla tumbuh dengan baik pada kisaran PH 5,5 sampai 9,0.
Menurut Afriyanto (1992) dinyatakan bahwa pembiakan bakteri Aeromonas hydrophilla secara aseksual yaitu berkembangbiak dengan memanjangkan sel diikuti dengan pembelahan inti yang di sebut pembelahan biner. Waktu pembelahan sel satu menjadi dua sel memerlukan waktu kurang lebih 10 menit.
Menginfeksi ikan gurami dan menyebabkan kematian pada ikan gurami dewasa. Hal ini di tandai dengan terdapat luka pada tubuh ikan di sertai pendaraan pada organ yang terinfeksi. Ghufran, M (2004) menyatakan bahwa bakeri Aeromonas hydrophilla biasanya menyerang ikan memalui permukaan tubuh yang luka.
Kataba (1885) dalam Safi’i (2006) dinyatakan bahwa bakteri Aeromonas hydrophilla umunya menyebabkan infeksi pada seluru tubuh ikan di sertai dengan pendarahan pada organ dalam tubuh ikan. Bakteri ini dapat menyebar secara cepat pada populasi yang padat penebaran tinggi yang bisa mengakibatkan kematian benih sampai 90 %. Anonymous (1994) dalam Rochani (2000) yang menyatakan bahwa kepadatan bakteri minimum untuk mengeinfeksi ikan gurami adalah 105 sel/ml, sedangkan menurut Austin (1996) dalam Irianto (2004) dikatakan bahwa pada kepadatan 109 sel/ml dapat menyebabkan kematian pada katak.
Penyakit yang di sebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophilla bersifat oportunis yaitu mampu berkembang menjadi lebih ganas pada keadaan kandungan oksigen yang rendah, suhu yang tinggi, akumulasi bahan organik dan sisa–sisa metabolisme ikan-ikan kepadatan tinggi sangat menunjang penyebaran bakteri. infeksi oleh bakeri Aeromonas hydrophilla biasanya terjadi memalui permukaan tubuh yang luka, saluran pencernaan makanan ataupun melalui lubang insang. Kemudian akan masuk ke dalam pembuluh darah dan menyebar pada organ dalam lainnya yang menyebabkan pendaraan dan disertai dengan keracunan karena darah keluar dari pembuluh darah (Ghufran, M. 2004).
Penularan bakteri Aeromonas hydrophilla dapat berlangsung memalui air, kontak badan dengan peralatan yang telah tercemar atau karena pemindahan ikan yang telah terserang Aeromonas hydrophilla dari satu ke tempat ke tempat yang lain. Dan menurut sumber yang lain Aeromonas hydrophilla biasanya merupakan penyerang kedua setelah ikan terinfeksi pasasit lain atau jika ikan menderita stres (Jangkaru, Z. 2004).
Menurut Daelami (2002) Ikan yang terserang bakteri Aeromonas hydrophilla secara morfologi maupun fisiologi menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut : (a) Warna tubuhnya berubah menjadi gelap; (b) Kulit kesat karena kehilangan banyak lendir diikuti oleh pendarahan; (c) Kemampuan ikan berenang sangat lemah, nafasnya megap-megap, sering timbul di permukaan; (d) Dan bila kebetulan menyerang organ dalam biasanya ginjal dan limfanya membengkak. Kadang terjadi pendarahan pada ginjal, limfa, juga pada hati.
Dan menurut Afriyanto (1992) selain tanda–tanda diatas juga terdapat tanda-tanda sebagai berikut : (a) Kulit kasar dan timbul pendarahan yang selanjutnya akan menjadi borok; (b) Kemampuan berenang menurun dan megap-megap di permukaan air karena insangnya rusak sehingga sulit untuk bernafas; (c) Seluru sirip rusak dan insang menjadi berwarna keputih-putihan; (d) Mata rusak dan agak menonjol.
J. Struktur Umum Cengkeh (Syzygium aromaticum)
J.1. Morfologi Cengkeh.
Pohon cengkeh merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan tinggi 10-20 m, mempunyai daun berbentuk lonjong yang berbunga pada pucuk-pucuknya. Tangkai buah pada awalnya berwarna hijau, dan berwarna merah jika bunga sudah mekar (http://id.wi kipedia.org/wiki/Cengkeh).
Cengkeh termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki batang pohon besar dan berkayu keras, tingginya dapat mencapai 20 -30 meter dan daunnya mempunyai ciri khas yang mudah dibedakan dengan daun tanaman lainya. Bentuk daun dari tanaman cengkeh adalah bulat panjang dengan ujung runcing, tebal, kuat, kenyal dan licin. Pada umunya daun yang masih muda berwarna kuning kehijau-hijauan bercampur dengan warna kemerah-merahan dan mengkilat sedangkan pada bagian bawah beerwarna hijau suram. Untuk daun yang tua berwarna hijau pekat. Daun tunggal, duduk daunya saling berhadap-hadapan. Pada simpul-simpul ketiak daun cabang pertama tumbuh tunas-tunas yang menjadi cabang kedua, begitu pula selanjutnya sehingga tumbuh ranting-ranting. Pada ranting-ranting tersebut tumbuh bunga (AAK, 1991).
Dan menurut sumber lain dinyatakan bahwa tumbuhan cengkeh: 1) Pada umumnya dipenuhi oleh ranting-ranting kecil yang mudah patah; 2) Mahkota atau juga lazim disebut tajuk pohon cengkeh berbentuk kerucut; 3) Daun cengkeh berwarna hijau berbentuk bulat telur memanjang dengan bagian ujung dan panggkalnya menyudut, rata-rata mempunyai ukuran lebar berkisar 2-3 cm dan panjang daun tanpa tangkai berkisar 7,5 -12,5 cm; 4) Bunga dan buah cengkeh akan muncul pada ujung ranting daun dengan tangkai pendek serta bertandan; 5) Pada saat masih muda bunga cengkeh berwarna keungu-unguan, kemudian berubah menjadi kuning kehijau-hijauan dan berubah lagi menjadi merah muda apabila sudah tua (http://sehat.suaramerdeka. Com/index.php?id=26).
J.2. Kandungan Daun Cengkeh
Anonymous (2006) dalam Astutik, S. (2007) dinyatakan bahwa tanaman cengkeh mempunyai banyak kandungan kimia yang bersifat sebagai antimikroba, baik pada bagian batang, bunga dan daun. Daun mengandung saponin, flavonoida dan tanin, di samping minyak atsiri yang bermanfaat sebagai bahan antimikroba, karena didalamnya terdapat bahan aktif yang dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan mikroba dan secara alami sudah terbukti. Daun cengkeh mengandung zat-zat minyak atsiri (eugenol, asetileugenol, kariofilen, furfurol, metil-amilketon, vanilin) kariofilin, gom, serat, dan zat lemak.
Anonymous (2006) dalam Susilowati (2007) dinyatakan bahwa Kandungan eugenol pada tumbuhan cengkeh terutama pada daunya mencapai 88.500 ppm – 90.000 ppm. Sementara Anonymous (2006) dalam Nindarti (2006) menambahkan bahwa daun memiliki kandungan yang sama dengan kuncup bunga cuma bedanya pada daun cengkeh kandungan eugenolnya cukup rendah.
Kuncup bunga cengkeh mengandung minyak atsiri 15-20 %, eugenol 85-95 %, sedikit eugenol asetat, B-kariofilena, B-kariofilena oksida, B-humulena, B-humulena epoksida, kuersetin, turunan-turunan kemferol, zat-zat tannin, asam-asam fenolik karboksilat (seperti asam galat, asam prokatekuat, dsb), sedikit sterol dan sterol glikosida, furfural, metil amil keton, dan vanillin (http://www.republika
co.id/suplemen /cetak_detail.asp?id=&id=120 811& kat _id=105&kat_id1= 150 &kat_id2=187).
Kandungan utama daun cengkeh adalah eugenol (dominan hingga 89 %), eugenil acetate, methyil n-hepthyl alcohol, benzyl alcohol, methyl salicilate, methyl n-amil carbinol, terpene caryo-phyllene.(www.mukhlason.com.atsiri.htm). Sementara itu Agusta (2000) menyatakan bahwa pada umumnya minyak cengkeh terdiri dari campuran persenyawaan kimia antara lain mengandung senyawa eugenol 75 – 90% dan eugenol asetat 10 -15%.
J.3. Manfaat Cengkeh
Secara tradisional masyarakat sudah mengenal cengkeh sebagi tanaman yang bisa digunalan untuk menyenbuhkan berbagai macam penyakit. Cengkeh telah banyak di gunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional anatara lain untuk sakit gigi, bau mulut, mual, nyari haid, batuk rejam, demam akibat malaria, lemah syahwat, menghitamkan alis, masuk angin dan beri-beri (Rosidah. 2000).
Cengkeh banyak di tanam di Indonesia, khususnya Kepulauan Maluku (Tidore, Ternate, Mutir), dan Jawa Timur. Minyak cengkeh memiliki khasiat sebagai peluruh gas-gas dalam perut/kentut, (karminatif) karena jika gas-gas seperti itu terkumpul dalam perut, maka perut terasa kembung.
Selain itu, minyak ini memiliki khasiat sebagai stomakik, yang memperbaiki fungsi lambung dalam mencerna makanan sehingga pencernaan akan menjadi lebih baik.
Di samping itu, cengkeh dapat digunakan sebagai bumbu, baik dalam bentuknya yang utuh atau sebagai bubuk. Terutama di Indonesia, cengkeh digunakan sebagai bahan rokok kretek. Cengkeh juga digunakan sebagai bahan dupa di Tiongkok dan Jepang. Minyak cengkeh digunakan untuk aromaterapi dan juga untuk mengobati sakit gigi (http://id.wikipedia.org/wiki/Cengkeh).
Sementara menurut sumber lain dinyatakan bahwa minyak daun cengkeh dapat digunakan sebagai obat gosok (param), obat sakit gigi, penghangat badan, anti nyamuk, obat luka dan antiseptik yang sangat manjur untuk berbagai jenis luka, seperti luka bakar, luka berdarah dan luka bernanah (baru maupun lama), untuk industri farmasi, industri makanan, fragrance, dan aromatherapi (http://ww w.mukhlason.com.atsiri.htm).
J.4. Aktivitas Anti Bakteri Cengkeh
Anonymous (2006) menyatakan bahwa tanaman cengkih mempunyai banyak kandungan kimia yang bersifat sebagai antimikroba baik pada bagian batang, bunga dan daunnya. Daun cengkeh mengandung saponin, flavonoida dan tanin di samping minyak atsiri. Dari kandungan daun cengkeh yang mempunyai kemampuan sebagai antibakteri adalah tanin dan flavonoid.
Menurut Pudjaatmaka dan Qodratillah (1999) tanin merupakan kelompok senyawa nabati yang bersifat asam, aromatik, dan memberikan rasa kesat. Tanin mengendapkan alkaloid, merkuri klorida dan logam berat. Robinson (1991) menambahkan bahwa tanin merupakan kandungan yang bersifat fenol mempunyai rasa sepat dan mempunyai kemampuan menyamak kulit serta berwarna coklat kekuning-kuningan.
Robinson (1995) menyatakan bahwa tanin mempunyai ciri-ciri yang sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua gugus hidroksil. Anonymous (2007) menambahkan bahwa Tannin adalah senyawa phenolic yang larut dalam air. Dengan berat molekul antara 500 – 3000 bisa mengendapkan protein dari larutan.
Flavonoid adalah group paling besar dari fenol yang terjadi secara alami, lebih dari 2000 persenyawaan kini telah diketahui ± 500 yang terbentuk di alam dalam keadaan bebas. Menurut Robinson (1995), golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan senyawa C6-C3-C6, artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzene tersubstitusi) disambungkan oleh rantai alifatik tiga karbon.
Kardinan (2005) menyatakan bahwa minyak cengkih mengandung beberapa komponen, tetapi kandungan yang paling penting adalah eugenol. Dalam sektor pertanian, eugenol dapat diberfungsi sebagai antiserangga, fungisida, bakterisida, sampai nematisida.
Ginting (1992) dalam Susilowati (2007) menyatakan bahwa eugenol adalah salah satu senyawa yang potensial karena mempunyai beberapa gugus fungsi yang dapat ditransformasikan menjadi senyawa lain dengan aktivitas fisiologi yang lebih baik. Eugenol termasuk senyawa alam yang menarik karena mengandung beberapa gugus fungsional yaitu alil, fenol dan eter.
Naim (2004) menyatakan bahwa komponen fenol meliputi chavikol, eugenol, karvakol, sineol, tanin, cavibetol, borneol dan flavonoida. Senyawa fenol cenderung mudah larut dalam air karena umumya berikatan dengan gula sebagai glikosida, dan biasanya terdapat dalam vakuola sel dan kelarutannya dalam air akan bertambah jika gugus hidroksil makin banyak. Golongan fenol dicirikan oleh adanya cincin aromatik dengan satu atau gugus hidroksil.
Volk &Wheller (1988) dalam Astutik, S. (2007) dinyatakan bahwa fenol dalam konsentrasi (0,1- 2%) mampu merusak membran sitoplasma yang menyebabkan bocornya metabolik penting dan disamping itu menginaktifkan sejumlah enzim bakteri, apabila di gunakan dalam konsentrasi tinggi fenol bekerja dengan merusak membran sitoplasma secara total dan mengendapkan protein. Fenol menyerang lapis batas sel total dan merusak semipermiabilitas membran sitoplasma yang terdiri dari lipida dan protein yang tersusun berlapis-lapis.
Menurut Waluyo (2005) fenol (asam karbol) pada konsentrasi yang rendah (2- 4%) daya bunuh di sebabkan karena fenol mempresipitasikan protein secara aktif sehingga sunsunan protein menjadi berubah tidak sesuai dengan kebutuhan sel, selain itu juga merusak membran sel dengan cara menurunkan tegangan permukaannya. Hal ini menyebabkan terjadinya osmosis dan sel akan mengalami lisis.
Anonymous (2003) dalam Astutik (2006) dinyatakan bahwa mekanisme sebenarnya dari penghambatan oleh seluruh senyawa fenol adalah dengan cara merusak membran plasma, menyebabkan enzim inaktif, dan denaturasi protein. Rusaknya dinding sel pada bakteri secara otomatis dapat mempengaruhi membran sitoplasma yang sebagian besar tersusun atas protein dan fosfolipid.
Jawetz (1982) dalam Sukowati (2006) dinyatakan bahwa senyawa fenol tumbuhan cepat sekali membentuk komplek dengan protein sehingga mengakibatkan kerja enzim menjadi terhambat protein pada membran sel akan mengalami koagulasi dan denaturasi, dalam keadaan demikian protein menjadi tidak berfungsi lagi mengakibatkan sifat permeabilitas membran sel sitoplasma tidak berfungsi, sehingga transport zat ke dalam dan keluar sel mengalami gangguan, bila hal itu terjadi maka akan menghambat pertumbuhan bahkan kematian sel.
Kabata (1985) dalam Saputri (2002) dinyatakan bahwa obat yang larut dalam air dapat diserap dengan baik oleh kulit, insang dan organ lain. Hal ini sangat efektif dalam pengobatan melalui perendaman karena bagian yang terinfeksi dapat menyerap dengan baik.
K. Metode Penelitian
K.1. Jenis Penelitian
Berdasarkan sifat masalahnya, penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian true eksperimen melaui pendekatan The Posttest Only Control Group Design yaitu diasumsikan bahwa setiap unit populasi adalah homogen yang berarti semua karakteristik antar unit populasi adalah sama, maka pengukuran awal tidak dilakukan oleh karena dianggap sama semua kelompok karena berasal dari satu populasi yang sama.
Menurut Rofieq. A. (2006). penelitian eksperimen sejati adalah penelitian yang menguji hubungan sebab (Cause) dan akibat (Effect) dalam sistem tertutup atau kondisi terkendali.
K.2. Waktu dan Tempat Penelitian
K.2.1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 21 hari terhitung mulai tanggal 6 Agustus sampai 27 Agustus tahun 2009.
K.2.2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakasanakan di Laboratorium Balai Induk Udang Galah. (BIUG). Jl.Raya. Jogosari No.1 Pandaan.
K.3. Populasi dan Sampel Penelitian
K.3.1. Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan atau himpunan obyek dengan ciri yang sama (Rofieq, A. 2006) Adapun populasi pada penelitian ini adalah benih ikan gurami (Osphronemus gourami) yang ada di Laboratorium Balai Induk Udang Galah. (BIUG). Jl.Raya. Jogosari No.1 Pandaan. yang berumur dua bulan dengan ukuran panjang 3 – 5 cm.
K.3.2. Sampel Penelitian
Sampel adalah himpunan bagian atau sebagian dari suatu populasi. Rofieq, A. (2006) Sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah 300 ekor benih ikan gurami (Osphronemus gourami.) yang ada di Laboratorium Balai Induk Udang Galah. (BIUG). Jl.Raya. Jogosari No.1 Pandaan. yang berumur dua bulan dengan ukuran panjang tubuh 3 – 5 cm.
K.4. Rancangan Percobaan
Rancangan Percobaan yang digunakan adalah berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dalam penelitian ini sekelompok subyek yang ambil dari populasi tertentu di kelompokkan secara random (acak) dengan 6 perlakuan 5 kali ulangan, Sehingga jumlah sampel yang di amati adalah sebanyak 30 buah.
Tabel 3.1: Denah penelitian sebagai berikut :
C4 A1 A4 B5 C1
F3 D2 A5 E4 B1
F1 E1 E2 B2 C2
B3 D3 A2 C3 F2
C5 D1 B4 A3 F4
F5 D5 E5 E3 D4
KETERANGAN :
A1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0 % ulangan 1
A2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0 % ulangan 2
A3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0 % ulangan 3
A4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0 % ulangan 4
A5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0 % ulangan 5
B1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0,5 % ulangan 1
B2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0,5 % ulangan 2
B3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0,5 % ulangan 3
B4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0,5 % ulangan 4
B5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0,5 % ulangan 5
C1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 1,5 % ulangan 1
C2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 1,5 % ulangan 2
C3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 1,5 % ulangan 3
C4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 1,5 % ulangan 4
C5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 1,5 % ulangan 5
D1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 2,5 % ulangan 1
D2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 2,5 % ulangan 2
D3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 2,5 % ulangan 3
D4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 2,5 % ulangan 4
D5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 2,5 % ulangan 5
E1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 3,5 % ulangan 1
E2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 3,5 % ulangan 2
E3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 3,5 % ulangan 3
E4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 3,5 % ulangan 4
E5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 3,5 % ulangan 5
F1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 4.5 % ulangan 1
F2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 4.5 % ulangan 2
F3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 4.5 % ulangan 3
F4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 4.5 % ulangan 4
F5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 4.5 % ulangan 5
K.5. Alat yang digunakan adalah
Akuarium (ukuran 30 x 20 cm sebanyak 30 buah), Akuarium (ukuran 60 x 30 cm sebanyak 1 buah ), Bak plastik (sebanyak 25 buah), Aerator dan perlengkapannya , Timbangan , Haemocytometer, Jaring, Blender, Saringan, Gelas ukur, Pipet, Erlenmeyer, Ph meter, DO meter, Tabung reaksi, Petridish (untuk perkembangbiakan bakteri), Autoclave
K.6. Bahan yang digunakan adalah
Benih ikan gurami (Osphronemus gourami) yang berumur dua bulan dengan ukuran panjang tubuh 3 – 5 cm yang didapat dari Laboratorium Balai Induk Udang Galah. (BIUG). Jl.Raya. Jogosari No.1 Pandaan.
Biakan murni Aeromonas hydrophila , Daun cengkeh (Syzygium aromaticum), Aquadest, Pakan ikan (pelet)
K.7. Tahap Pengamatan.
Pengamatan tingkat kelulushidupan benih ikan umur dua bulan yang diteliti di lakukan satu hari setelah perlakuan penginfeksian selama satu minggu. Benih ikan dinyatakan mati apabila mengendap di dasar dan tidak memberikan respon apabila di sentuh. Dan menurut Effendi (1993) menyatakan bahwa untuk menghitung tingkat kelulushidupan benih ikan mas dapat mengunakan rumus :
SR = Nt / No x 100%
Dimana :
SR : Persen kelulushidupan ikan
Nt : Jumlah ikan yang hidup pada akhir penelitian
No : Jumlah ikan yang hidup pada awal penelitian

K.9. Tahap analisis data
Analisis data yang digunakan, pertama di uji dahulu dengan uji normalitas untuk mengetahui data berdistribusi normal, kemudian di uji dengan uji homogenitas untuk mengetahui varian datanya, di analisis lanjut dengan mengunakan anava satu arah dengan asumsi jika Fhit > Ftab maka ada pengaruh dan selanjutnya di uji wilayah berganda Duncan’s, untuk mengetahui perlakuan yang terbaik.
L. JADUAL KEGIATAN
No Kegiatan Bulan Ke-1 Bulan Ke-2 Bulan Ke-3 Bulan Ke-4 BulanKe-5
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan √
2. Perizinan √
3. Survey lokasi √ √
4 Penyusunan proposal √ √
5. Penelitian pendahuluan √ √
6. Persiapan alat √ √
7. Pembelian bahan baku √ √
8. Proses pembuatan filtrat √ √ √ √ √
9. Pengamatan kelulushidupan ikan √ √ √ √ √ √
10. Pengolahan data √ √
11. Penyusunan laporan akhir √ √
12. Seminar √ √
13. Penggandaan proposal √ √

07/11/2009 - Posted by | Contoh PKM

1 Komentar »

  1. saya pengen tau pada konsentrasi berapa aeromonas bisa mati?
    dan kenapa melakukan perlakuannya dengan konsentrasi 0-4,5%?

    Mohon sebesar-besarnya dibales ke email saya…
    makasih

    Komentar oleh yuliana | 01/24/2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: