BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

RAYAP SEBAGAI SUMBER PROTEIN (IKHTIAR KEMBALI KE ALAM UNTUK PENGENTASAN GIZI BURUK)

ABSTRAK
RAYAP SEBAGAI SUMBER PROTEIN
(IKHTIAR KEMBALI KE ALAM UNTUK PENGENTASAN GIZI BURUK)
Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualtias, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat dan kesehatan yang prima disamping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekurangan gizi dapat merusak bangsa.
Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat akan potensi rayap sebagai penghasil protein yang dapat membantu mengentaskan gizi buruk dan membantu menambah penghasilan masyarakat dengan ccara membudidayakan rayap.
Penulisan karya ilmiah ini menggunakan teknik analisa data, analisa deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998:25), analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Sedangkan Reduksi data dalam karya tulis ini dilakukan dalam bentuk pemilihan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan literature atau intisari literature.
Berdasarkan dari data dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa rayap dapat digunakan sebagai panganan alternative yang mempunyai protein yang tinggi untuk membantu mengurangi gizi buruk selain itu dengan membudidayakan rayap dapat memberi lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Kata Kunci: Rayap, gizi buruk, Budidaya

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM.
Pada saat ini, sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat, umumnya disebut kekurangan gizi (Atmarita, 2008). Kejadian kekurangan gizi sering terluputkan dari penglihatan atau pengamatan biasa, akan tetapi secara perlahan berdampak pada tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, angka kematian balita, serta rendahnya umur harapan hidup.
Di Indonesia gizi buruk ini melanda 27 persen balita atau mencapai 175 ribu penderita di seluruh indonesia(Tjuk, 2008). Untuk mengatasi hal ini pemerintah melakukan berbagai macam cara diantaranya dengan melakukan SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi) yang melakukan pemetaan daerah rawan pangan. Selain itu, pemerintah akan mengaktifkan kembali peran Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dalam mengontrol berat badan balita, karena orang yang aktif adalah ibu balita, bukan petugas Posyandu setempat (Eko, 2008).
Penyebab kekurangan gizi pada masyarakat ini adalah kurangnya makanan yang cukup mengandung hidrat arang, lemak, protein serta vitamin dan mineral yang sering menjadi masalah adalah protein. Berkat protein, tubuh manusia bisa tumbuh dan terpelihara. Protein akan membentuk sel-sel dan jaringan baru tubuh dan memelihara pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh yang aus. Protein juga membantu pengaturan asam basa di dalam tubuh, serta membentuk hormon dan enzim yang kemudian berperan dalam berbagai proses kimia tubuh. Protein juga bisa menjadi bahan bahan untuk energi bila keperluan tubuh akan hidrat arang dan lemak tidak terpenuhi. Kekurangan protein akan membuat tubuh mudah merasa lelah, tekanan darah turun, dan daya tahan terhadap infeksi menurun. Pada anak-anak, selain mudah terserang penyakit kwasiorkor, juga pertumbuhan dan tingkat kecerdasannya akan terganggu.
Namun, hal ini sulit diterapkan dalam masyarakat karena selain harganya mahal dan juga banyak orang tidak tahu seberapa banyak protein yang dibutuhkan serta apa saja sumber-sumbernya.. Oleh karena itu dibutuhkan sumber alternatif gizi yang mudah, murah, dan banyak terdapat di masyarakat.
Rayap sebagai salah satu alternatif sumber protein banyak tersedia di masyarakat dan harganya murah. Namun banyak masyarakat hanya kenal rayap sebagai hewan perusak. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan makannya yang sangat cepat. Makanan rayap adalah selulosa baik berbentuk arsip kantor, buku, perabotan, kayu bagian konsruksi, sampah, dan tunggak. Kayu-kayu yang tertimbun di bawah fondasi bangunan (ini merupakan bahan sarang yang baik karena kelak mereka dimungkinkan untuk “naik”), kayu sisa cetakan beton yang tidak dikeluarkan dari konstruksi, dan lain-lain.
Perubahan iklim ditengarai juga ikut mempercepat perkembangan rayap yang pada akhirnya memperparah kerusakan bangunan maupun peralatan manusia yang terbuat dari kayu. Berdasarkan penelitian dua tahun terakhir, misalnya, 55 persen bangunan di Jakarta sudah rusak oleh rayap, sementara di Semarang 41 persen, dan Surabaya 36 persen. Kerugian finansial yang harus ditanggung secara nasional diperkirakan mencapai 3,73 juta dollar AS (Dodi, 2008). Jadi, untuk menghindar dari serangan rayap jelas perlu dihindarkan obyek-obyek makanan rayap ini, kecuali bila bahan kayu memang diperlukan maka perlu perlakuan perlindungan seperti perlakuan tanah dengan insektisida (soil treatment), pengawetan kayu (wood preservation). Atau biarkan saja sampai rayap menyerang kemudian rayapnya kita serang – tapi kerugian besar tak terhindarkan dan pengendalian rayap akan sangat sulit (sifat kritobiotik !).
Pemanfaatan rayap sebagai sumber protein tinggi dapat dilakukan mulai dari makanan yang sifatnya sederhana, seperti membuat aneka panganan, seperti rempeyek rayap, hingga mengolahnya menjadi permen. Bahkan, rayap sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan tambahan untuk pakan ayam. Mengingat jumlahnya yang besar di tanah air, tidak sulit menemukan rayap di sekitar tempat tinggal masyarakat.
Berangkat dari wacana dan peluang tersebut maka perlu adanya, budidaya atau pemanfaatan rayap sebagai upaya untuk mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh serangan rayap yang mencapai 3,73 juta dollar AS. Selain itu, dengan membudidayakan rayap juga bermanfaat untuk mengurangi angka kemiskinan dan jumlah pengganguran yang ada di Indonesia karena, akan membuka peluang bagi masyarakat untuk menambah penghasilan sampingan bagi mereka.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu
1.Bagaimanakah potensi rayap sebagai alternative pengentas gizi buruk ?
2.Bagaimanakah potensi budidaya rayap untuk meningkatkan pendapatan masyarakat?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat akan potensi rayap sebagai penghasil protein yang dapat membantu mengentaskan gizi buruk dan membantu menambah penghasilan masyarakat dengan ccara membudidayakan rayap.
1.4 Manfaat penulisan
Berdasarkan latar belakang rumusan masalah dan tujuan di atas maka manfaat yang diharapkan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah:
a. Masyarakat dapat memanfaatkan potensi rayap yang begitu besar terdapat di sekitar lingkungan masyarakat.
b. Mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran pada masyarakat karena, dengan membudidayakan rayap berarti dapat menciptakan lapangan kerja yang baru

BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1 GIZI BURUK
Beragam masalah malnutrisi banyak ditemukan pada anak-anak. Dari kurang gizi hingga busung lapar. Secara umum kurang gizi adalah salah satu istilah dari penyakit malnutrisi energi-protein(MEP), yaitu penyakit yang diakibatkan kekurangan energi dan protein. Bergantung pada derajat kekurangan energi-protein yang terjadi, maka manifestasi penyakitnya pun berbeda-beda. MEP ringan sering diistilahkan dengan kurang gizi. Sedangkan marasmus, kwashiorkor (sering juga diistilahkan dengan busung lapar atau HO), dan marasmik-kwashiorkor digolongkan sebagai MEP berat.
Tabel1. Data penderita gizi kurang dan buruk di Indonesia dari tahun 1989-2004 (Susenas):
Tahun Jumlah Penduduk Jumlah Balita Gizi Kurang dan Buruk Jumlah Balita Gizi Buruk
1989 177.614.965 7.986.279 1.324.769
1992 185.323.456 7.910.346 1.607.866
1995 95.860.899 6.803.816 2.490.567
1998 206.398.340 6.090.815 2.169.247
1999 209.910.821 5.256.587 1.617.258
2000 203.456.005 4.415.158 1.348.181
2001 206.070.000 4.733.028 1.142.455
2002 208.749.460 5.014.028 1.469.596
2004 211.567.577 5.119.935 1.528.676
Sumber: www. depkes.go.id

Tabel 2. Data terbaru tahun 2007 di Indonesia diketahui bahwa:
Kota Gizi Buruk
Jawa Tengah 15.980
Cilacap 120
Sampang 59
Tangerang 2.895
Trenggalek 500
Sumber: http://www.tribunkaltim.com
Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa penderita gizi buruk di Indonesia masih besar. Secara umum penyakit gizi buruk dibagi menjadi beberapa macam yaitu:
2.1.1 KURANG GIZI
Penyakit ini paling banyak menyerang anak balita, terutama di negara-negara berkembang. Gejala kurang gizi ringan relatif tidak jelas, hanya terlihat bahwa berat badan anak tersebut lebih rendah dibanding anak seusianya. Rata-rata berat badannya hanya sekitar 60-80% dari berat ideal. Adapun ciri-ciri klinis yang biasa menyertainya antara lain :
1). Kenaikan berat badan berkurang, terhenti, atau bahkan menurun.
2). Ukuran lingkaran lengan atas menurun.
3). Maturasi tulang terlambat
4). Rasio berat terhadap tinggi, normal atau cenderung menurun.
5). Tebal lipat kulit normal atau semakin berkurang.

2.1.2 MARASMUS
Anak-anak penderita marasmus secara fisik mudah dikenali. Meski masih anak-anak,
wajahnya terlihat tua, sangat kurus karena kehilangan sebagian lemak dan otot-ototnya. Penderita marasmus berat akan menunjukkan perubahan mental, bahkan hilang kesadaran. Dalam stadium yang lebih ringan, anak umumnya jadi lebih cengeng dan gampang menangis karena selalu merasa lapar. Ada pun ciri-ciri lainnya adalah:
1). Berat badannya kurang dari 60% berat anak normal seusianya
2). Kulit terlihat kering, dingin dan mengendur.
3). Beberapa di antaranya memiliki rambut yang mudah rontok
4). Tulang-tulang terlihat jelas menonjol.
5). Sering menderita diare atau konstipasi
6). Tekanan darah cenderung rendah dibanding anak normal, dengan kadar hemoglobin yang juga lebih rendah dari semestinya.
2.1.3 KWASHIORKOR
Kwashiorkor sering juga diistilahkan sebagai busung lapar atau HO. Penampilan anak-anak penderita HO umumnya sangat khas, terutama bagian perut yang menonjol. Berat badannya jauh di bawah berat normal. Edema stadium berat maupun ringan biasanya menyertai penderita ini. Beberapa ciri lain yang menyertai di antaranya :
1). Perubahan mental menyolok. Banyak menangis, bahkan pada stadium lanjut anak terlihat sangat pasif.
2). Penderita nampak lemah dan ingin selalu terbaring.
3). Diare dengan feses cair yang banyak mengandung asam laktat karena berkurangnya produksi lactase dan enzim penting lainnya.
4). Kelainan kulit yang khas, dimulai dengan titik merah menyerupai petechia ( pendarahan kecil yang timbul sebagia titik berwarna merah keunguan, pada kulit maupun selaput lender, Red.), yang lambat laun kemudian menghitam. Setelah mengelupas, terlihat kemerahan dengan batas menghitam. Kelainan ini biasanya dijumpai di kulit sekitar punggung, pantat, dan sebagainya.
5). Pembesaran hati, bahkan saat rebahan, pembesaran ini dapat diraba dari luar tubuh, terasa licin dan kenyal
2.1.4 MARASMIK- KWASHIORKOR
Penyakit ini merupakan gabungan dari marasmus dan kwashiorkor dengan gabungan gejala yang menyertai:
1). Berat badan penderita hanya berkisar di angka 60% dari berat normal. Gejala khas kedua penyakit tersebut nampak jelas, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit dan sebagainya.
2). Tubuh mengandung lebih banyak cairan, karena berkurangnya lemak dan otot.
3). Kalium dalam tubuh menurun drastic sehingga menyebabkan gangguan metabolic seperti gangguan pada ginjal dan pancreas.
4). Mineral lain dalam tubuh pun mengalami gangguan, seperti meningkatnya kadar natrium dan fosfor inorgonik serta menurunya kadar magnesium
2.1.5 GAGAL TUMBUH
Selain malnutrisi energi-protein di atas, ada juga gangguan pertumbuhan yang diistilahkan dengan gagal tumbuh. Gagal tumbuh adalah bayi/anak dengan pertumbuhan fisik kurang secara bermakna disbanding anak sebayanya. Untuk mudahnya, pertumbuhan anak tersebut ada di bawah kurva pertumbuhan normal. Tanda-tanda lainnya adalah :
1). Kegagalan mencapai tinggi dan berat badan ideal
2). Hilangnya lemak di bawah kulit secara signifikan
3). Berkurangnya massa otot
4). Dermatitis
5). Infeksi berualang
2.1.6 FAKTOR PENYEBAB
Secara umum masalah malnutrisi energi-protein (MEP) disebabkan beberapa factor yang paling dominant adalah tanggung jawab negara terhadap rakyatnya karena bagaimanapun MEP tidak akan terjadi bila kesejahteraan rakyat terpenuhi. Berikut faktor-faktor penyebab terjadinya gizi buruk:
1). Faktor sosial, yang dimaksud disini adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi bagi pertumuhan anak. Sehingga banyak balita yang diberi makan “sekedarnya” atau asal kenyang padahal miskin gizi.
2). Kemiskinan, hal ini sering dituding sebagai biang keladi munculnya penyakit ini di Negara-negara berkembang. Rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan kebutuhan paling mendasar, yaitu pangan pun seringkali tak bisa terpenuhi.
3). Laju pertambahan penduduk yang tidak seimbang dengan bertambahnya ketersediaan bahan pangan akan menyebabkan krisis pangan. Ini pun menjadi penyebab munculnya penyakit MEP.
4). Infeksi, tak dapat dipungkiri memang ada hubungan erat antara infeksi dengan malnutrisi. Infeksi sekecil apa pun berpengagruh pada tubuh. Sedangkan kondisi malnutrisi akan semakin memperlemah daya tahan tubuh yang pada giliran berikutnya akan mempermudah masuknya beragam penyakit.
Tindakan pencegahan otomatis sudah dilakukan bila factor-faktor penyebabnya dapat dihindari. Misalnya ketersediaan pangan yang tercukupi, daya beli masyarakat untuk dapat membeli bahan pangan, serta pentingnya sosialisasi makanan bergizi terutama bagi balita.
2.1.7 LANGKAH PENGOBATAN
Pengobatan pada penderita MEP tentu saja harus disesuaikan dengan tingkatannya. Penderita kurang gizi stadium ringan, contohnya, diatasi dengan perbaikan gizi. Dalam sehari anak-anak ini harus mendapat masukan protein sekitar 2-3 gram atau setara dengan 100-150 Kkal. Sedangkan pengobatan MEP berat cenderung lebih kompleks karena masing-masing penyakit yang menyertai harus diobati satu per satu. Penderita pun sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk mendapat perhatian medis secara penuh. Sejalan dengan pengobatan penyakit penyerta maupun infeksinya, status gizi anak tersebut terus diperbaiki hingga sembuh.
Secara umum pentingnya gizi dan penyebab terjadinya kekurangan gizi dapat dilihat pada bagan berikut:
Bagan 1. Gizi menurut daur kehidupan

Bagan 2. Penyebab kurang gizi

2.2 PROTEIN
Gizi yang cukup yang dapat menjamin kesehatan optimal Dalam hidup protein memegang peranan yang penting. Proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim, suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalis. Di samping itu, hemoglobin dalam butir-butir darah merah atau eritrosit yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru keseluruh bagian tubu, adalah satu jenis protein. Demikian pula zat-zat yang berperan untuk melawan bakteri penyakit atau yang disebut antigen, juga suatu protein. Kita memperoleh protein dari makanan yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Protein yang berasal dari tumbuhan disebut protein nabati, sedangkan yang berasal dari hewan disebut protein hewani. Beberapa sumber protein adalah daging, telur, susu, beras, kacang, kedelai, gandum, jagung, dan buah-buahan.
Protein membentuk sebahagian besar struktur di dalam sel termasuklah sebagai enzim dan pigmen respiratori. Protein dibentuk dari percantuman unit asas yang dikenali sebagai asid amino. Protein boleh dibahagikan kepada dua jenis yaitu protein fibrous yang banyak bergantung kepada struktur sekunder dinama bentuk protein ini boleh diulang. Manakala bentuk kedua ialah protein globular (enzim dan antibodi) yang banyak bergantung kepada interaksi struktur bebas yang terdapat 20 jenis asid amino yang digunakan untuk membentuk rantaian polipeptida (protein) Fungsi, bentuk, ukuran dan jenis protein akan ditentukan oleh jenis, bilangan dan taburan asam amino yang terdapat di dalam struktur tersebut. Penamaan beberapa asam amino dinamakan tindakbalas kondensasi dengan dicirikan berlakunya pembentukan ikatan peptida dan pembentukan molekul air. Penamaan ini akan menghasilkan rantai peptida yang lebih dikenali sebagai polipeptida dengan mempunyai dua ujung rantai yang berbeda sifatnya. Di ujung yang mempunyai kumpulan amino dikenali sebagai terminal N (amino) dan ujung yang mempunyai kumpulan karboksil dikenal sebagai terminal N. penyambungan rantai asam amino ini memerlukan tenaga yang tinggi dan ketepatan urutan asam amino dalam rantai ini pula tergantung pada koordinasi di antara mRNA dan tRNA.
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh sesudah air. Seperlima bagian tubuh protein, separuhnya ada di dalam otot, seperlima di dalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluh didalam kulit, dan selebihnya didalam jaringan lain, dan cairan tubuh. Semua enzim, berbagai hormon, pengangkut zat-zat gizi dan darah, matriks intra seluler dan sebagainya adalah protein. Disamping itu asam amino yang membentuk protein bertindak sebagai prekursor sebagian besar koenzim, hormon, asam nukleat, dan molekul-molekul yang essensial untuk kehidupan. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantika oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.
Protein yang dibentuk dengan hanya menggunakan satu polipeptida dinamakan sebagai protein monomerik dan yang dibentuk oleh beberapa polipeptida contohnya hemoglobin pula dikenali sebagai protein multimerik. Protein (akar kata protos dari bahasa Yunani yang berarti “yang paling utama”) adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus. Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut (heterotrof).
Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipida, dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan oleh Jons Jakob Berzelius pada tahun 1838. Biosintesis protein alami sama dengan ekspresi genetik. Kode genetik yang dibawa DNA ditranskripsi menjadi RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi translasi yang dilakukan ribosoma. Sampai tahap ini, protein masih “mentah”, hanya tersusun dari asam amino proteinogenik. Melalui mekanisme pascatranslasi, terbentuklah protein yang memiliki fungsi penuh secara biologi.
Dalam kehidupan protein memegang peranan yang penting, proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim yang berfungsi sebagai biokatalis. Disamping itu hemoglobin dalam butir-butir darah merah atau eritrosit yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru keseluruh bagian tubuh, adalah salah satu jenis protein. Demikian pula zat-zat yang berperan untuk melawan bakteri penyakit atau disebut antigen, juga suatu protein.
2.2.1 Zat Protein
Protein dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari dapat berasal dari hewani maupun nabati. Protein yang berasal dari hewani seperti daging, ikan, ayam, telur, susu, dan lain-lain disebut protein hewani, sedangkan protein yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti kacang-kacangan, tempe, dan tahu disebut protein nabati. Dahulu, protein hewani dianggap berkualitas lebih tinggi daripada menu seimbang protein nabati, karena mengandung asam-asam amino yang lebih komplit. Tetapi hasil penelitian akhir-akhir ini membuktikan bahwa kualitas protein nabati dapat setinggi kulaitas protein hewani, asalkan makanan sehari-hari beraneka ragam. Dengan susunan hidangan yang beragam atau sering pula disebut sebagai, maka kekurangan asam amino dari bahan makanan yang satu, dapat ditutupi oleh kelebihan asam-asam amino dari bahan makanan lainnya. Jadi dengan hidangan: ada nasi atau penggantinya, lauk-pauk, sayur-sayuran, dan buah-buahan, apalagi bila ditambah susu, maka susunan hidangan adalah sehat. Bukan saja jumlah atau kualitas zat-zat gizi yang kita butuhkan tercukupi, tetapi juga kualitas zat-zat gizi yang kita konsumsi bermutu tinggi.
Protein dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan, pembentukan otot, pembentukan sel-sel darah merah, pertahanan tubuh terhadap penyakit, enzim dan hormon, dan sintesa jaringan-jaringan badan lainnya. Protein dicerna menjadi asam-asam amino, yang kemudian dibentuk protein tubuh di dalam otot dan jaringan lain. Protein dapat berfungsi sebagai sumber energi apabila karbohidrat yang dikonsumsi tidak mencukupi seperti pada waktu berdiet ketat atau pada waktu latihan fisik intensif. Sebaiknya, kurang lebih 15% dari total kalori yang dikonsumsi berasal dari protein.
2.2.2Sintesis Protein
Tumbuh-tumbuhan dan hewan dapat mensintesis protein, yaitu tumbuh-tumbuhan dari nitrogen yang tersedia ditanah, sedangkan hewan dari asam amino yang diperoleh dari makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Hewan dapat mensintesis beberapa macam asam amino dari nitrogen yang berasal dari makanan. Sintesis protein meliputi pembentukan rantai panjang asam amino yang dinamakan rantai peptide. Ikatan kimia yang mengaitkan dua asam amino satu sama lain dinamkan ikatam peptide. Ikatan ini terjadi karena satu hydrogen (H) dari gugus amino suatu asam amino bersatu dengan hidroksil (OH) dari gugus karboksil asam amino yang lain. Proses ini menghasilkan satu molekul air, sedangkan CO dan NH yang tersisa akan menbentuk ikatan peptide. Sebaliknya ikatan peptide ini dapat dipecah menjadi asam amino, oleh asam atau enzim pencerna dengan penambahan satu molekul air. Proses ini dinamakan hidrolisis.
Hasil akhir pencernaan protein terutama berupa asam amino dan ini segera diabsorpsi dalm waktu lima belas menit setelah makan. Absorpsi terutama terjadi dalam usus halus berupa empat sistem absorpsi aktif yang membutuhkan energi, yaitu masing-masing untuk asam amino netral, asam amino asam dan basa, serta untuk prolin dan hidroksiprolin. Absorpsi ini menggunakan mekanisme transpor natriun seperti halnya pada absorpsi glukosa. Asam amino yang diabsorpsi memasuki sirkulasi darah melalui vena porta dan dibawa ke hati. Sebagian asam amino digunakan oleh hati, dan sebagian lagi melalui sirkulasi darah dibawa ke sel-sel jaringan.
Kadang-kadang protein yang belum dicerna dapat memasuki mukosa usus halus dan muncul dalam darah. Hal ini sering terjadi pada protein susu dan protein telur yang dapat menimbulkan gejala alergi (immunological sensitive protein). Sebagian besar asam amino telah diabsorpsi pada saat asam amino sampai diujung usus halus. Hanya 1 % proein yang dimakan ditemukan dalam feses. Protein endogen yang berasal dari sekresi saluran cerna dan sel-sel yang rusak juga dicerna dan diabsorpsi. Ribuan protein yang terdapat dalam tubuh manusia melakukan berbagai fungsi yang begitu banyak ubtuk dituliskan. Fungsi ini menyangkut pekerkjaan sebagai pembawa vitamin, oksigen dan karbondioksida plus peranan structural, kinetic, katalitik serta pembentukan sinya
2.3 RAYAP
Rayap dalam biologi adalah sekelompok hewan dalam salah satu ordo Isoptera dari kelas Artropoda. Ordo Isoptera beranggotakan sekitar 2.000 spesies dan di Indonesia telah tercatat kurang lebih 200 jenis (spesies). Nama lain dari rayap adalah anai-anai, semut putih, rangas dan laron (khusus individu bersayap), dan alates. Sampai saat ini para ahli hama telah menemukan kira- kira 2000 jenis rayap yang tersebar di seluruh dunia, sedangkan di Indonesia sendiri telah ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap ( Nandika dan Tambunan, 1989).
Beberapa sifat yang penting untuk diperhatikan dalam kehidupan rayap adalah sifat : (1)Trophalaxis, yaitu sifat rayap untuk berkumpul saling menjilat serta mengadakan pertukaran bahan makanan; (2) Cryptobiotic, yaitu sifat rayap untuk menjauhi cahaya. (3) Kanibalisme, yaitu sifat rayap untuk memakan individu sejenis yang lemah atau sakit.; dan (4) Sifat Necrophagy, yaitu sifat rayap untuk memakan bangkai sesamanya.
Koloni rayap dapat terbentuk melalui beberapa cara, yaitu : (1) pembentukan koloni oleh kasta reproduktif primer (laron); (2) Pembentukan koloni dengan cara isolasi; dan (3). Pembentukan koloni dengan cara migrasi.
Selulosa adalah makanan utama rayap, oleh karena itu kayu dan jaringan tanaman lainnya merupakan sasaran utama serangga rayap. Walaupun makanan utama rayap adalah selulosa, tetapi rayap tidak dapat hidup dan tumbuh normal bila hanya tersedia selulosa murni. Para ahli menyimpulkan bahwa rayap hidup dan tumbuh bila tersedia makanan yang mengandung gula, protein, garam dan vitamin A,B, dan E karena zat- zat tersebut sangat penting dalam kehidupannya. Dari perilaku makan yang demikian rayap termasuk golongan makhluk hidup perombak bahan mati yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan dalam ekosistem.
2.3.1 Sebaran dan Makanan
Rayap pada dasarnya adalah serangga daerah tropika dan subtropika. Namun sebarannya kini cenderung meluas ke daerah sedang (temperate ) dengan batas-batas 50o LU dan LS. Di daerah tropika rayap ditemukan mulai dari pantai sampai ketinggian 3000 m di atas permukaan laut. Makanan utamanya adalah kayu atau bahan yang terutama terdiri atas selulosa. Dari perilaku makan yang demikian kita menarik kesimpulan bahwa rayap termasuk golongan makhluk hidup perombak bahan mati yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan dalam ekosistem kita. Mereka merupakan konsumen primer dalam rantai makanan yang berperan dalam kelangsungan siklus beberapa unsur penting seperti karbon dan nitrogen. Tapi masalahnya adalah manusia juga merupakan konsumen primer yang memerlukan hasil-hasil tanaman bukan saja untuk makanannya tetapi juga untuk membuat rumah dan bangunan-bangunan lain yang diperlukannya. Di sinilah letak permasalahannya, sehingga manusia bersaing dengan rayap. Semula agak mengherankan para pakar bahwa rayap mampu makan (menyerap) selulosa karena manusia sendiri tidak mampu mencernakan selulosa (bagian berkayu dari sayuran yang kita makan, akan dikeluarkan lagi !), sedangkan rayap mampu melumatkan dan menyerapnya sehingga sebagian besar ekskremen hanya tinggal lignin saja. Keadaan menjadi jelas setelah ditemukan berbagai protozoa flagellata dalam usus bagian belakang dari berbagai jenis rayap (terutama rayap tingkat rendah: Mastotermitidae, Kalotermitidae dan Rhinotermitidae), yang ternyata berperan sebagi simbion untuk melumatkan selulosa sehingga rayap mampu mencernakan dan menyerap selulosa. Bagi yang tak memiliki protozoa seperti famili Termitidae, bukan protozoa yang berperan tetapi bakteria — dan bahkan pada beberapa jenis rayap seperti Macrotermes , Odontotermes dan Microtermes memerlukan bantuan jamur perombak kayu yang dipelihara di “kebun jamur” dalam sarangnya.
Semua rayap makan kayu dan bahan berselulosa, tetapi perilaku makan (feeding behavior ) jenis-jenis rayap bermacam-macam. Hampir semua jenis kayu potensial untuk dimakan rayap. Memang ada yang relatif awet seperti bagian teras dari kayu jati tetapi kayu jati kini semakin langka. Untuk mencapai kayu bahan bangunan yang terpasang rayap dapat “keluar” dari sarangnya melalui terowongan-terowongan atau liang-liang kembara yang dibuatnya. Bagi rayap subteran (bersarang dalam tanah tetapi dapat mencari makan sampai jauh di atas tanah), keadaan lembab mutlak diperlukan. Hal ini menerangkan mengapa kadang-kadang dalam satu malam saja rayap Macrotermes dan Odontoterme s telah mampu menginvasi lemari buku di rumah atau di kantor jika fondasi bangunan tidak dilindungi. Sebaliknya, rayap kayu kering (Cryptotermes) tidak memerlukan air (lembab) dan tidak berhubungan dengan tanah. Juga tidak membentuk terowongan-terowongan panjang untuk menyerang obyeknya. Mereka bersarang dalam kayu, makan kayu dan jika perlu menghabiskannya sehingga hanya lapisan luar kayu yang tersisa, dan jika di tekan dengan jari serupa menekan kotak kertas saja. Ada pula rayap yang makan kayu yang masih hidup dan bersarang di dahan atau batang pohon, seperti Neotermes tectonae yang menimbulkan kerusakan (pembengkakan atau gembol) yang dapat menyebabkan kematian pohon jati. Penggolongan menurut habitat atau perilaku bersarang.
Berdasarkan lokasi sarang utama atau tempat tinggalnya, rayap perusak kayu dapat digolongkan dalam tipe-tipe berikut :
1. Rayap pohon, yaitu jenis-jenis rayap yang menyerang pohon yang masih hidup, bersarang dalam pohon dan tak berhubungan dengan tanah. Contoh yang khas dari rayap ini adalah Neotermes tectonae (famili Kalotermitidae), hama pohon jati.
2. Rayap kayu lembab, menyerang kayu mati dan lembab, bersarang dalam kayu, tak berhubungan dengan tanah. Contoh : Jenis-jenis rayap dari genus Glyptotermes (Glyptotermes spp., famili Kalotermitidae).
3. Rayap kayu kering, seperti Cryptotermes spp. (famili Kalo-termitidae), hidup dalam kayu mati yang telah kering. Hama ini umum terdapat di rumah-rumah dan perabot-perabot seperti meja, kursi dsb. Tanda serangannya adalah terdapatnya butir-butir ekskremen kecil berwarna kecoklatan yang sering berjatuhan di lantai atau di sekitar kayu yang diserang. Rayap ini juga tidak berhubungan dengan tanah, karena habitatnya kering.
4. Rayap subteran, yang umumnya hidup di dalam tanah yang mengandung banyak bahan kayu yang telah mati atau membusuk, tunggak pohon baik yang telah mati maupun masih hidup. Di Indonesia rayap subteran yang paling banyak merusak adalah jenis-jenis dari famili Rhinotermitidae. Terutama dari genus Coptoterme s (Coptotermes spp.) dan Schedorhinotermes. Perilaku rayap ini mirip rayap tanah seperti Macr¬otermes namun perbedaan utama adalah kemampuan Coptotermes untuk bersarang di dalam kayu yang diserangnya, walaupun tidak ada hubungan dengan tanah, asal saja sarang tersebut sekali-sekali memperoleh lembab, misalnya tetesan air hujan dari atap bangunan yang bocor. Coptotermes pernah diamati menyerang bagian-bagian kayu dari kapal minyak yang melayani pelayaran Palembang-Jakarta. Coptotermes curvignathus Holmgren sering kali diamati menyerang pohon Pinus merkusii dan banyak meyebabkan kerugian pada bangunan.
5. Rayap tanah. Jenis-jenis rayap tanah di Indonesia adalah dari famili Termitidae. Mereka bersarang dalam tanah terutama dekat pada bahan organik yang mengandung selulosa seperti kayu, serasah dan humus. Contoh-contoh Termitidae yang paling umum menyerang bangunan adalah Macrotermes spp. (terutama M. gilvus) Odontotermes spp. dan Microtermes spp. Jenis-jenis rayap ini sangat ganas, dapat menyerang obyek-obyek berjarak sampai 200 meter dari sarangnya. Untuk mencapai kayu sasarannya mereka bahkan dapat menembus tembok yang tebalnya beberapa cm, dengan bantuan enzim yang dikeluarkan dari mulutnya. Macrotermes dan Odontotermes merupakan rayap subteran yang sangat umum menyerang bangunan di Jakarta dan sekitarnya.
Taksonomi atau penggolongan jenis-jenis rayap merupakan salah satu misteri dunia insekta karena tingginya tingkat kemiripan antar jenis rayap dalam masing-masing famili. Kiranya kita tak perlu sangat memusingkan jenis-jenis (spesies) rayap ini. Hal yang penting adalah dapat mengenal tipe-tipe seperti telah disebut di muka. Pada umumnya rayap yang terdapat dalam satu kategori memiliki kemiripan dalam hampir semua segi perilakunya, sehingga metoda pengendalianyapun dapat disamakan.
Dapat dikatakan bahwa terdapat tiga famili rayap perusak kayu (yang dianggap sebagai hama), yaitu famili Kalotermitidae, Rhinotermitidae dan Termitidae. Kalotermitidae diwakili oleh Neotermes tectonae (hama pohon jati) dan Cryptotermes spp. (rayap kayu kering); Rhinotermitidae oleh Coptotermes spp dan Schedorhinotermes, sedangkan Termitidae oleh Macrotermes spp., Odontotermes spp. dan Microtermes spp.). Masih banyak jenis-jenis rayap yang juga penting tetapi agak jarang dijumpai menyerang bangunan. Misalnya jenis-jenis Nasutitermes (famili Termitidae), yang pada dahi prajuritnya terdapat “tusuk” (seperti hidung: nasus, nasute), dan mampu melumpuhkan lawannya bukan dengan menusuknya tetapi meyemprotkan cairan pelumpuh berwarna putih, melalui saluran dalam “tusuk”nya. 2.3.2 Rayap Sebagai Sumber Protein
Bagi kelompok masyarakat tertentu, terutama di Afrika dan beberapa kelompok di Asia, konsumsi larva dan serangga dewasa ternyata memberikan sumbangan zart gizi yang sangat berarti. Di Eropa dan Amerika, perburuan serangga untuk dimakan ternyata juga dilakukan, tetapi tujuannya sebagian besar adalah untuk gaya hidup. Banyak orang di negara-negara maju tersebut menyukai gaya hidup di alam bebas atau alam liar termasuk cara mendapatkan makanannya. Bagi mereka, serangga merupakan makanan favorit yang sering diburu. Aneka buku dan ribuan resep serta situs-situs di internet tentang mengolah serangga sebagai bahan makanan telah dibuat dan dikembangkan oleh kelompok masyarakat tersebut. Sebagian besar serangga kaya akan protein (40-60 persen) dan lemak (10-15 persen). Serangga dewasa kadang-kadang membutuhkan penghilangan kulit kerasnya sebelum dapat digoreng atau disangrai. Larva serangga baik dalam bentuk serangga muda maupun ulat (sering disebut caterpillar) dapat langsung dimasak, atau ditambahkan ke dalam saus atau rebusan makanan (daging dan sayur/buah). Komposisi gizi beberapa jenis serangga yang digunakan sebagai bahan pangan dapat dilihat pada

Tabel 3. Data gizi macam-macam serangga:
Jenis Serangga Energi Protein Lemak Karbohidrat Serat
Semut
• Mentah
• Kering
3.0

10.1
9.5

1.3
Kumbang 192 27.1 3.7 11.2 6.4
Larva
• Mentah
86
10.6
2.7
4.2
2.8
Jangkrik
• Mentah
117
13.7
5.3
2.9
2.9
Rayap
• Mentah
• Kering
356
656
20.4
35.7
28.0
54.3
4.2
3.5
2.7
Sumber:www.ebookpangan.com/ARTIKEL/SERANGGA%20

BAB III
METODOLOGI PENULISAN
3.1 Sumber Data
Data dan fakta yang berhubungan untuk pembahasan tema ini berasal dan tahapan-tahapan pengumpulan data dengan pembacaan secara kritis terhadap ragam literatur (Library research) yang berhubungan dengan tema pembahasan.
Data potensi rayap yang ditampilkan dalam karya tulis ini dapat berupa angka atau pesan. Untuk angka, data yang dipakai adalah data dengan kriteria telah dipublikasikan kepada masyarakat, melalui literatur yang digunakan berupa buku, surat kabar, buletin, jurnal, majalah maupun internet. Dengan demikian penulis mengelompakkan atau menyeleksi data dan informasi tersebut berdasarkan kategori atau relevansi dan kemudian selanjutnya ke tahapan analisis dan pengambilan kesimpulan
3.2 Analisis Data
Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998:25), analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.
Untuk menganalisa data yang berupa pesan maka digunakan cara analisis isi (content analysis). Analisis ini menghubungkan penemuan berupa kriteria atau teori. Analisis yang dilakukan pada analisis isi karya tulis ini menggunakan interactive model (Miles dan Huberman, 1994). Model ini terdiri dari empat komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaa atau reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan data pengujian atau verifikasi kesimpulan.
3.3 Reduksi Data
Reduksi data dalam karya tulis ini dilakukan dalam bentuk pemilihan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan literature atau intisari literature. Reduksi data berlangsung secara terus menerus selama penulisan karya tulis ini dibuat hingga sampai karya tulis ini berakhir lengkap tersusun. Reduksi data dilakukan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengkoordinasi data dengan cara sedemikian sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan dapat diverifikasi.
3.4 Penyajian Data
Sekumpulan informasi disusun sehingga memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan melihat penyajian-penyajian data penulis dapat memahami apa yang seharusnya terjadi dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

BAB IV
ISI
4.1 PEMBAHASAN
4.1.1 Penyebaran Rayap di Indonesia
Rayap dalam biologi adalah sekelompok hewan dalam salah satu ordo Isoptera dari kelas Artropoda. Ordo Isoptera beranggotakan sekitar 2.000 spesies dan di Indonesia telah tercatat kurang lebih 200 jenis (spesies). Nama lain dari rayap adalah anai-anai, semut putih, rangas dan laron (khusus individu bersayap), dan alates. Sampai saat ini para ahli hama telah menemukan kira- kira 2000 jenis rayap yang tersebar di seluruh dunia, sedangkan di Indonesia sendiri telah ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap ( Nandika dan Tambunan, 1989).
Di Indonesia sampai dengan tahun 1970 sudah ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap dari berbagai genus ( Tarumingkeng, 1971). Menurut Roonwal dan Maiti (1976) dalam Tambunan dan Nandika (1989) jenis-jenis rayap banyak dijumpai di daerah tropika seperti di Indonesia adalah sebagai berikut :
Famili Kalotermitidae
1.Genus : Neotermes Holmgren
Jenis : N. dalbergia Kalshoven
N.tectonae
2. Genus : Cryptotermes Banks
Jenis : C.cynocephalus Light
C. domesticus Haviland
C. dudleyi Banks

Penyebaran rayap berhubungan dengan suhu dan curah hujan sehingga sebagian besar jenis rayap terdapat di dataran rendah tropika dan hanya sebagaian kecil ditemukan di dataran tinggi . Namun demikian, rayap menyebar tidak hanya di daerah- daerah tropika tapi juga mencakup sebagian besar negara-negara sub tropika
4.1.2 Kandungan Gizi Rayap
Rayap sebagai alternative sumber gizi mempunyai banyak kandungan gizi seperti yang tertera dalam table di bawah ini:
Data gizi macam-macam serangga:
Jenis Serangga Energi Protein Lemak Karbohidrat Serat
Semut
• Mentah
• Kering
3.0

10.1
9.5

1.3
Kumbang 192 27.1 3.7 11.2 6.4
Larva
• Mentah
86
10.6
2.7
4.2
2.8
Jangkrik
• Mentah
117
13.7
5.3
2.9
2.9
Rayap
• Mentah
• Kering
356
656
20.4
35.7
28.0
54.3
4.2
3.5
2.7

Dari data ini diketahui bahwa dari berbagai perbandingan macam jenis serangga, rayap memiliki kandungan gizi yang tinggi terutama pada protein yang dimilikinya apalagi jika rayap itu berada dalam keadaan kering yaitu sebesar 35,7.
4.1.3 Budidaya Rayap Sebagai Pengentas Gizi Buruk dan Kemiskinan
Pemanfaatan rayap sebagai sumber protein dapat dilakukan mulai dari makanan yang sifatnya sederhana, seperti rempeyek hingga permen.
Rayap sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan tambahan untuk pakan ayam. Mengingat jumlahnya yang besar di Tanah Air, tidak sulit menemukan rayap di sekitar tempat tinggal warga. Jika perlu, rayap juga diternakkan, rayap sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan tambahan untuk pakan ayam. Di daerah tropis, rayap terdapat dimana-mana dalam jumlah yang banyak. Mereka dengan mudah dapat dikumpulkan dari sarang rayap atau dengan cara memancing mereka menggunakan lampu pada malam hari, biasanya setelah hujan. Pada saat keluar sarang, rayap yang masih bersayap akan tertarik pada cahaya lampu atau api dan terbangdisekitar sumber sinar tersebut. Hawa panas disekitar sumber cahaya menyebabkan sayap rayap terlepas sehingga tubuhnya jatuh ke bawah. Rayap yang sudah tidak bersayap ini sangat mudah untuk ditangkap dan dikumpulkan.
Ratu rayap ternyata mempunyai rasa yang enak, panjangnya dapat mencapai 10-12 cm. Mereka tidak keluar dari sarangnya, tetapi tetap berada ditempat ruangan khusus tempat mengeluarkan ribuan telur tiap hari. Jika gundukan tanah sarang rayap dihancurkan, ratu rayap dapat ditangkap dan dimasak dengan cara disangrai (digoreng tanpa minyak). Rayap yang masih bersayap dapat digoreng kering dalam panci karena mereka kaya akan minyak. Selama penggorengan, sayapnya akan lepas dan dapat dipisahkan dengan hembusan angin. Kemudian diberi garam dan dimakan sebagai snack. Di Afrika Barat, rayap digoreng dalam minyak sawit, sedangkan di Malawi dan Zimbabwe rayap dipanaskan sebentar, dikeringkan dan kemudian dijual.
Melihat potensi diatas seharusnya masyarakat berani untuk mengembangkan budidaya rayap sebagai altenartif matapencaharian mereka, apalagi melihat data penduduk miskin di Indonesia.

Tabel 5. Jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 1990-2004
Tahun Penduduk Miskin
1990 15.1
1993 13.7
1996 11.3
1999 23.43
2002 18.2
2003 17.42
2004 16.66
Jumlah Penduduk Miskin (juta jiwa) %
Sumber:www.undp.or.id/pubs/imdg2005/BI/tujuan
Dari data ini diketahui bahwa jumlah penduduk miskin dan lapangan kerja di Indonesia semakin menipis, oleh karena itu diperlukan alternative dan rayap merupakan jawaban yang tepat karena sumber daya alam ini tersedia dan mudah didapatkan di masyaraka
4.2 SARAN
Berdasarkan dari data dan pembahasan di atas maka dapat disarankan bahwa:
1. Masyarakat diharapkan agar membudidayakan rayap sebagai alternative panganan yang bergizi sehingga dapat mengurangi kerusakan akibat rayap selain itu juga dapat menambah penghasilan masyarakat
2. Masyarakat diharapkan untuk mulai mengkonsumsi rayap sebagai alternative sumber protein
3. Pemerintah diharapkan giat untuk melakukan sosialisasi budidaya rayap sebagai alternatif sebagai panganan yang bergizi sehingga dapat mengurangi jumlah penderita gizi buruk.

4.3 KESIMPULAN
Berdasarkan dari data dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa rayap dapat digunakan sebagai panganan alternative yang mempunyai protein yang tinggi untuk membantu mengurangi gizi buruk selain itu dengan membudidayakan rayap dapat memberi lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Anna Poedjiadi. Dasar-Dasar Biokimia. UI-Press. Jakarta. 1994
BPS. Konsumsi Kalori dan protein Penduduk Indonesia dan propinsi 1999. Jakarta: Biro Pusat Statistik, 2000.
Direktorat Gizi. Depkes RI. Nutrition in Indonesia: Problem, Strategy and Programs. Jakarta: Direktorat Gizi, Depkes RI 1995.
FAO. Energi and protein Requirements. Report of joint FAO/WHO/UN expert consultation. Geneva: WHO Series 724, 1985
Sunita Almatsier. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia. Jakarta. 2005
Ahreus, Richard A., “Nutrition for Health”, Belmont, California, Wadworth, 1970
Femina, 18 Mei 1999, Jakarta
Frankle, Reva T. & Yavokick Owen Ainta, Delivering Service, St. Louis, Mosby, 1978
… ,”Nutrition needs and asessment of normal growth”, New York Raven, 1985
Nandika, Dodi dan B. Tambunan. 1990. Deteriorasi Kayu oleh Faktor Biologis. Fakultas Kehutanan IPB.
Natawiria, Djatnika. 1986. Peranan Rayap dalam Ekosistem Hutan. Prosiding Seminar Nasional Ancaman Terhadap Hutan Tanaman Industri, 20 Desember 1986. FMIPA-UI dan Dephut. p. 168 – 177.
Tarumingkeng, Rudy C. 1971. Biologi dan Pengenalan Rayap Perusak Kayu Indonesia. Lap. L.P.H. No. 138. 28 p.

Iklan

07/07/2009 - Posted by | CONTOH LKTM

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: