BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

“Pangan, Gizi, dan Pembangunan Manusia Indonesia”

1.1    Penyediaan Pangan di Indonesia
Pangan adalah bahan-bahan yang di makan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan energi bagi pemeliharaan, pertumbuhan, kerja, dan penggantian jaringan tubuh yang rusak.
Sektor pangan sebagai sumber zat gizi merupakan sector strategis, disebabkan oleh:
a.    Produk pangan merupakan industri massal.
Sector pangan merupakan sumber kehidupan dan penghidupan yang merupakan industry massal yang melibatkan banyak orang, baik di bidang produksi, pengolahan dan distribusi. Secara nasional, pertanian tanaman pangan menyumbang sekitar 19% dari pendapatan domestic bruto (sumbangan terbesar diantara 16 jenis lapangan industri).
b.    Pangan dikonsumsi oleh semua golongan/lapisan masyarakat Indonesia.
Pangan merupakan bagian yang cukup besar dari penegeluaran rumah tangga miskin di Indonesia. Pengeluaran tersebut mencapai rata-rata 72.02% dimana 27.32% dari total pengeluaran adalah untuk bahan pangan pokok: padi-padian dan hasilnya.
Berdasarkan pemenuhan pangan, masyarakat dapat dibedakan menjadi 2 kelompok:
a.    Kelompok masyarakat yang Kehidupannya sulit.
Masalah utama yang dihadapi oleh kelompok ini adalah daya beli yang terbatas. Kelompok yang rentan terhadap masalah kekurangan gizi kalori maupun gizi protein. Dalam konteks agama islam mereka disebut orang miskin yang pantas mendapatkan santunan dari orang yang mampu. Dalam Al-qur’an Surat Ar-rum di sebutkan bahwa: ” Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan[1171]. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung”.
b.    Kelompok masyarakat yang tergolong beruntung.
Malnutrisi pada kelompok ini diakibatkan oleh konsumsi makanan yang terlalu berlebihan. Dalam Al-qur’an surat Al-a’raf di sebutkan bahwa: ” Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas produk pangan sebagai sumber zat gizi:
a.    Kandungan Gizi, kandungan gizi setiap produk pangan berbeda-beda.
b.    Penanganan pangan yang masih belum mencapai taraf yang diinginkan karena banyaknya bahan makanan hasil panen yang telah rusak saat penyimpanan ataupun pengangkutan.
c.    Penyimpanan bahan makanan harus memenuhi syarat-syarat tertentu terutama bahan yang mudah rusak.
d.    Pengawetan pangan yang bertujuan agar bahan makanan dapat tahan lebih lama.
e.    Pengolahan Pangan. Dalam pengolahannya harus selektif agar tidak kehilangan sebagian zat gizi terutama vitamin.
1.2    Hubungan Pangan dan Gizi
Pangan menyediakan unsur-unsur kimia tubuh yang dikenal sebagai zat Gizi. Pada akhirnya, zat Gizi tersebut menyediakan tenaga bagi tubuh, mengatur proses dalam tubuh dan memperlancar pertumbuhan serta memperbaiki jaringan tubuh. Zat Gizi yang disediakan oleh pangan tersebut disebut zat Gizi Esensial karena dalam unsur-unsur tersebut tidak dapat dibentuk dalam tubuh dalam jumlah yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan normal. Hal ini berarti unsur tersebut harus disediakan oleh unsur pangan diantaranya adalah asam amino esensial (diperlukan untuk memperoleh dan memelihara pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan yang baik).
Faktor-Faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang adalah sebagai berikut: Produk Pangan (jumlah dan jenis makanan), Pembagian makanan atau pangan, Akseptabilitas (daya terima), Prasangka buruk pada bahan makanan tertentu, Pantangan pada makanan tertentu, Kesukaan terhadap jenis makanan tertentu, Keterbatasan ekonomi, Kebiasaan makan, Selera makan, Sanitasi makanan (penyiapan, penyajian, penyimpanan), Pengetahuan Gizi
Status gizi dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
a.    Kecukupan Gizi (gizi seimbang). Asupan Gizi harus seimbang dengan kebutuhan gizi seseorang yang bersangkutan. Kebutuhan gizi ditentukan oleh: kebutuhan gizi basal, kegiatan, keadaan fisiologis tertentu, serta dalam keadaan sakit.
b.    Gizi Kurang. Merupakan keadaan tidak sehat (patologis) yang timbul karena tidak cukup makan dengan demikian konsumsi energy dan protein kurang selama jangka waktu tertentu.
c.    Gizi Lebih. Keadaan patologis (tidak sehat) yang disebabkan kebanyakan makan. Kegemukan (obesitas) merupakan tanda pertama yang dapat dilihat dari keadaan gizi lebih. Obesitas yang berkelanjutan akan mengakibatkan berbagai penyakit antara lain: diabetes mellitus, tekanan darah tinggi, dll.
1.3    Hubungan Pangan, Gizi, dan Pembangunan Manusia Indonesia
Jumlah penduduk yang besar, modal badan fisik biologis modal rohaniah dan mental, serta potensi efektif bangsa merupakan sebagian dari modal pembangunan. Membangun SDM seutuhnya berarti menjamin adanya peningkatan taraf hidup rakyat dari semua lapisan masyarakat dan golongan. Peningkatan taraf hidup rakyat tercermin pada kebutuhan pokok yaitu pangan, sandang, pemukiman, kesehatan, dan pendidikan. Kemajuan usaha pemenuhan kebutuhan pokok akan merupakan tolok ukur pencapaian pembangunan.  Masalah gizi yang terjadi pada masa tertentu akan menimbulkan masalah pembangunan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, usaha-usaha peningkatan gizi terutama harus ditunjukkan pada anak-anak dan ibu hamil. Karena pada masa yang akan datang anak-anak merupakan generasi penerus nusa dan bangsa.
Penundaan pemberian perhatian pemeliharaan gizi yang tepat pada anak-anak akan menurunkan potensi sebagai SDM pembangunan masyarakat dan ekonomi nasional. Berbagai alasan mengapa anak-anak memerlukan penanganan serius terutama jaminan ketersediaan zat gizi, yaitu:
a.    Kekurangan Gizi adalah penyebab utama kematian bayi dan anak-anak (hal ini berarti berkurangnya kualitas SDM di masa yang akan datang).
b.    Kekurangan Gizi berakibat meningkatkan angka kesakitan dan menurunnya produktifitas kerja manusia (hal ini berarti dapat menambah beban pemerintah untuk meningkatkan fasilitas kesehatan).
c.    Kekurangan Gizi berakibat menurunnya kecerdasan anak-anak (hal ini berarti menurunnya kualitas kecerdasan manusia pandai yang dibutuhkan dalam pembangunan bangsa).
d.    Kurangnya Gizi berakibat menurunnya daya tahan manusia untuk bekerja (yang berarti menurunnya prestasi dan produktifitas kerja manusia).
Harusnya kecukupan pangan dan Gizi bukan merupakan landasan untuk semua proses kemajuan ekonomi dan social bangsa. Peningkatan Gizi masyarakat merupakan bagian integral pembangunan nasional. Oleh karena itu pemerintah membuat program perbaikan Gizi masyarakat yang meliputi penanggulangan kekurangan vitamin A, penanggulangan anemia Gizi, penanggulangan gondok endemic,dll.

TAMBAHAN KONSEP

KONSEP  MANUSIA INDONESIA

Manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Manusia yang  memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Jasmani dan rohani
Ipteks dan imtaq.
IQ, EQ, SQ, ScQ.
Bahagia sejahtera dunia akhirat.

ISLAM DAN AJURAN MEMBERI MAKAN ORANG MISKIN

107. Al Maa´uun, 3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.(CIRI PENDUSTA AGAMA)
89. Al Fajr, 18. dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, (CIRI ORANG KUFUR NIKMAT ALLAH)
74. Al Muddatstsir, 44. dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, (CIRI CALON PENGHUNI NERAKA SAQOR)
69. Al Haaqqah, 34. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.(CIRI PENGHUNI NERAKA)
76. Al Insaan, 8. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.
47. Muhammad, 12. Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.
58. Al Mujaadilah, 4. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.

5. Al Maa’idah, 89. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).

4. An Nisaa’, 6. Dan ujilah[269] anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).

5. Al Maa’idah, 95. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan[436], ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad[437] yang dibawa sampai ke Ka’bah[438] atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin[439] atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu[440], supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu[441]. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.

AUDIENSI
Peran Pemerintah dalam mengatasi gizi buruk karena faktor ekonomi
1.    Peningkatan ketahanan pangan pada komunitas rawan pangan dengan melibatkan stakesholders pangan (Pemerintah melalui neo-BLT, raskin, Pemerintah Daerah, DUDI: melalui Cost Social Responsibility/CSR sebesar 2,5% dari laba perusahaan, masyarakat melalui Zakat Mal, Fitrah, Sedekah) à penguatan peran keshalehan sosial.
2.    Penguatan ekonomi pada keluarga prasejahtera (dhuafa’, fakir miskin, musta’afin) dengan usaha kecil menengah.

Prasangka buruk pada bahan makaan tertentu.
Kita janganlah terlalu berperasangka buruk terhadap bahn makanan tertentu, sebab tidak semua bahan makanan tertentu merugikan bagi manusia. Contohnya banyaknya orang menganggap bahwa terong dapat berdampak buruk bagi kita yaitu menyebakan keloyoan pada tubuh kita, padahal sebenarnya tidak.

Akseptabilitas (daya terima)
Aseptabilitas menyangkut penerimaan atau penolakan terhadap makanan yang terkait dengan cara memilih dan menyajikan pangan. Setiap masyarakat mengembangkan cara yang turun termurun untuk mencari, memilih, menangani, menyiapkan, menyajikan, dan makan makanan.

Kekurangan Gizi berakibat meningkatkan angka kesakitan dan menurunnya produktifitas kerja manusia (hal ini berarti dapat menambah beban pemerintah untuk meningkatkan fasilitas kesehatan).

Komplikasi Obesitas: diabetes mellitus, tekanan darah tinggi, aterosklerosis, kanker, dll. (kecenderungan: prevalensi penyakit di atas akan meningkat pada obesitas)
Terapi Obesitas: pembatasan intage/masukan gizi + peningkatan aktivitas (Obesitas ringan)
+ Obat hipolipidemik (obesitas sedang)
+ sedot lemak, operasi (obesitas berat)

Over Nutrition (Kelebihan Gizi)
1.    Obesitas (Kelebihan lemak)
2.    Hipertensi (Kelebihan Natrium)
3.    Higlikemia/DM (Kelebihan GULA)
4.    HiperTRIgliseridemia (Kelebihan asam urat)
5.    Hipervitaminosis A
6.    dll

KENAPA KURUS
MAL NUTRISI (GIZI SALAH)
1.    Intage > Requirement (Over Nutrition)
2.    Intage < Requirement (Under Nutrition, Defisiensi Gizi)
3.    Keracunan Makanan (cemaran mikroorganisme, cemaran B3, toksikan nabati, dll)
4.    Kesalahan Metabolisme (pencernaan, penyerapan, utilisasi/metabolisme intermediat)

KONSEP SALAH
KURUS BUKAN TANDA KURANG GIZI?dasar-gizi-klompok-1

02/01/2009 - Posted by | Dasar-Dasar Ilmu Gizi

1 Komentar »

  1. […] PDF File Name: “pangan, gizi, dan pembangunan manusia indonesia Source: zaifbio.wordpress.com » DOWNLOAD « […]

    Ping balik oleh Prosiding Ekonomi Pembangunan 2010 Download | Terbaru 2015 | 12/21/2014


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: