BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Insighful Learning

Insighful learning adalah belajar menurut pandangan kognitif. Disebut juga Gestalt dan Field Teories. Teori mengutamakan pengertian dalam proses belajar mengajar, jadi bukan ulangan seperti halnya kedua teori terdahulu. Dengan demikian menurut teori ini belajar merupakan perubahan kognitif (pemahaman). Belajar bukan hanya ulangan tetapi perubahan struktur pengertian. Dengan demikian teori belajar ini berhaluan pada pandangan belajar konstruktivistik.
Gestalt dan Field theories berorientasi pada Thorndike. Dalam teori insightful learning terdapat trial and error, tetapi tidak seperti tafsiran Thorndike (belajar ngabur). Dalam semua belajar didahului trial and error. Trial ang error mempunyai peranan dalam timbulnya insight. Pada teori Thorndike tidak ada tujuan, otomatis, tanpa konsep, sedang pada field theories ada tujuan dengan konsep. Insight learning dapat digunakan dalam situasi yang serupa.
Insightful learning berorientasi pada Edward L. Thorndike yang menemukan dan mengembangkan teori koneksionisme berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun 1890-an. Eksperimen Thorndike ini menggunakan hewan-hewan terutama kucing untuk mengetahui fenomena belajar.
Seekor kucing yang lapar ditempatkan dalam sangkar berbentuk kotak berjeruji yang dilengkapi dengan peralatan, seperti pengungkit, gerendel pintu, dan tali yang enghubungkan pengungkit dengan gerendel tersebut. Peralatan ini ditata sedemikian rupa sehingga memungkinkan kucing tersebut memperoleh makanan yang tersedia di depan sangkar tadi.
Keadaan bagian dalam sangkar yang disebut puzzle box (peti teka-teki) itu merupakan situasi stimulus yang merangsang kucing untuk bereaksi melepaskan diri dan memperoleh makanan yang ada dimuka pintu. Mula-mula kucing tersebut mengeong, mencakar, melompat, dan berlarian-larian, namun gagal membuk pintu untuk memperoleh makanan yang ada di depannya. Akhirnya, entah bagaimana, secara kebetulan kucing itu berhasil menekan pengungkit dan terbukalah pintu sangkar tersebut. Eksperimen puzzle box ini kemudian terkenal dengan nama instrumental conditioning. Artinya, tingkah laku yan dipelajari berfungsi sebagai instrumental (penolong) untuk mencapai hasil atau ganjaran yang dikehendaki (Hintzman, 1978).
Berdasarkan eksperimen di atas, Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respons. Itulah sebabnya, teori koneksionisme juga disebut “S-R Bond Theory” dan “S-R Psychology of Learning”. Selain itu, teori ini juga terkenal dengan sebutan “Trial and Error Learning”. Istilah ini menunjuk pada panjangnya waktu atau banyaknya jumlah kekeliaruan dalam mencapai suatu tujuan (Hilgrad & Bower, 1975). Apabila kita perhatikan dengan seksama, dalam eksperimen Thorndike tadi akan kita dapati dua hal pokok yang mendorong tumbuhnya fenomena belajar.
Pertama, keadaan kucing yang lapar. Seandainya kucing itu kenyang, sudah tentu akan berusaha keras untuk keluar. Bahkan, barabngkali ia akan tidur saja dalam puzzle box yang menggurungnya. Dengan kata lain, kucing itu tidak akan menampakkan gejala belajar untuk ke luar. Sehubungan dengan hal ini, hampir dapat dipastikan bahwa motivasi (seperti rasa lapar) merupakan hal yang sangat vital dalam belajar.
Di samping law of effect, Thorndike juga mengemukakan dua macam hukum lainnya yang masing-masing disebut law of readiness dan law of exercise. Sekarang, kedua macam hukum ini sesungguhnya tidak begitu populer, namun cukup berguna sebagai tambahan kajian dan perbandingan.
Law of readiness (hukum kesiapsiagaan) pada prinsipnya hanya merupakan asumsi bahwa kepuasan organism itu berasal dari pendayagunaan conductions units (satuan perantaraan). Unit-unit ini menimbulkan kecendrungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Jelas, hukum ini semata-mata bersifat historis. Dalam hal ini perlu dicatat, bahwa ada kemiripan antara kecendrungan dalam conduction units tersebut dengan self-regulation/self-direction dalam peristiwa belajar.
Law of exercise (hukum latihan) ialah generalisasi atas law of use dan law of disuse. Menurut Hilgrad & Bower (1975), jika perilaku (perubahan hasil belajar) sering dilatih atau digunakan akan semakin kuat (law of use). Sebaliknya, jika perilaku tadi sering dilatih atau digunakan maka eksistensi perilaku tersebut akan semakin kuat (law of use). Sebaliknya, jika perilaku tadi tidak sering dilatih atau tidak digunakan maka ia akan terlupakan atau sekurang-kurangnya akan menurun (law of disuse).

1.    Teori Belajar Gestalt
Menurut teori Gestalt, insight merupakan hal yang penting, jadi tidak bisa hanya hafalan. Peletak dasar teori ini adalah:

Mex Wetheiner (19880-1943): Pengamatan dan problem solving.
Kurt Koffka (1886-1941): Hukum-hukum pengamatan
Walfgang Kohler (1887-1959): Penelitian insight pada simpanse.

Penelitian:
Pisang digantung, di dekatnya diletakkan dua peti, ternyata simpanse mengambil pisang dengan menumpuk peti.
Pisang digantung, di dekatnya diletakkan tongkat, ternyata simpanse menyambung tongkat tersebut untuk mengambil pisang.
Pisang digantung, di dekatnya ada pohon yang berdaha, ternyata simpanse mematahkan dahan kayu untuk mengambil pisang.
Penenelitian ini menunjukkan bahwa simpanse telah menggunakan insight yang timbul pada percobaan pertama untuk mendapatkan hasil di percobaan ke dua, dan mendapat insght pada percobaab kedua untuk mrndapatkan hasil pada percobaab ke tiga. Kesimpulannya bila ada masalah dapat dipecahkan bila terbentuk insight, jadi bukan hafalan.
Dari penjelasan di atas dapat dikatakan belajar juga diartikan dengan problem solving dan insight dapat digunakan dalam problem solving. Yang paling penting dalam belajar adalah insight.

2.    Field Teories
Field teories atau teori Medan ditemukan oleh Kurt Lewin, menyatakan bahwa belajar adalah perubahan kognitif (pemahaman). Belajar bukan hanya ulangan, tetapi perubahan struktur pengertian.
Insight tergantung dari:
Kecerdasan dan bakat. Kecerdasan tergntung pada umur dan keadaan. Semakin muda semakin kurang kecerdasannya.
Pengalaman. Pengalaman yang telah diolah individu akan mempengaruhi insight seseorang.

01/30/2009 - Posted by | Belajar Dan Pembelajaran

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: