BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Deskripsi Dan Analisis Vegetasi Floristika Dan Non Floristika

Vegetasi di definisikan sebagai mosaik komunitas tumbuhan dalam lansekap dan vegetasi alami diartikan sebagai vegetasi yang terdapat dalam lansekep yang belum dipengaruhi oleh manusia (Kuchler, 1967). Ilmu vegetasi sudah dimulai hampir tiga abad yang lalu. Mula-mula kegiatan utama yang dilakukan lebih diarahkan pada diskripsi dari tentang alam dan vegetasinya. Dalam abad ke XX usaha-usaha diarahkan untuk menyederhanakan eskripsi dari vegetasi dengan tujuan untuk untuk meningkatkan keakuratan dan untuk mendapatkan standart dasar dalam evaluasi secara kuantitaif. Berbagai metode analisis vegetasi dikembangkan, dengan penjabaran data secara detail melalui cara coding dan tabulasi. Berbagai metode yang digemari dan banyak diterima oleh banyak pakar adalah dari Raun kiaer (1913, 1918), Clements (1905, 1916), Du Rietz (1921, 1930), Braun (1915), dan Braun Bienquet (1928). Deskripsi umum dari vegetasi dan komunitas tumbuhan melalui bentuk hidup dan species dominan adalah tekanan pada zaman yang telah lalu.
Indonesia membentang sepanjang lebih dari 5000 km dari barat sampai ke timur dan luasan lahannya mencakup anekaragam Vegetasi lahan kering dan rawa. Penelaahan biologi, termasuk penelitian Vegetasi di Indonesia belum terlalu banyak, baru kulitnya saja, meskipun telah dimulai sejak permulaan abad ke-18. Uraian sejarah penelitian yang dilaksanakan sebelum tahun 1945 disarikan dalam buku Science and Scientists in Netherlands Indies (Honig and Verdoorn, 1945) dan kemudian Chronica Naturae, volume 106 (6) pada 1950. Penelitian Vegetasi dan ekologi, termasuk ekologi tumbuhan, terutama menyangkut eksplorasi flora dan fauna serta inventarisasi, pertelaan berdasarkan pengamatan visual, peri kehidupan, dan sampai tingkat tertentu faktor ekologi. Banyak hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang terbit di Indonesia, antara lain Tropische Natuur, Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indie, Treubia, Bulletin du Jardin Botanique de Buitenzorg, dan Annales du Jardin Botanique de Buitenzorg
Di Indonesia Perkembangan penelitian Vegetasi sampai tahun 1980 telah dilaporkan oleh Kartawinata (1990), yang mengevaluasi pustaka yang ada mengenai Vegetasi dan ekologi tumbuhan di Indonesia, menunjukkan bahwa bidang ini belum banyak diteliti. Banyak dari informasi tentang ekologi tumbuhan dalam berbagai pustaka seperti serie buku Ekologi Indonesia (misalnya MacKinnon dkk., 1996 dan Whitten dkk.,1984) berdasarkan berbagai penelitian di Malaysia. Berbagai penelitian sebagian besar terfokus pada ekosistem hutan, terutama hutan pamah dipterokarp (lowland dipterocarp). Sebagian besar informasi untuk kawasan fitogeografi Malesia (Brunei, Filipina, Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea dan Timor Leste) telah disintesis oleh Whitmore (1984) dalam bukunya Tropical Rain Forests of the Far East. Data vegetasi biogeografi dan ekologi tentang Papua New Guinea (misalnya Paijmans, 1976; Gressitt, 1982; Johns, 1985, 1987a,b; Brouns, 1987; Grubb dan Stevens 1985) dapat diterapkan untuk Papua
Analisis vegetasi
Para pakar ekologi memandang vegetasi sebagai salah satu komponen dari ekosistem, yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi faktor lingkungn dari sejarah dan pada fackor-faktor itu mudah diukur dan nyata. Dengan demikian analisis vegetasi secara hati-hati dipakai sebagai alat untuk memperlihatkan informasi yang berguna tentang komponen-komponen lainnya dari suatu ekosistem.
Ada dua fase dalam kajian vegetasi ini, yaitu mendiskripsikan dan menganalisa, yang masing-masing menghasilkan berbagi konsep pendekatan yang berlainan.
Metode manapun yang dipilih yang penting adalah harus disesuaikan dengan tujuan  kajian, luas atau sempitnya yang ingin diungkapkan, keahlian dalam bidang botani dari pelaksana (dalam hal ini adalah pengetahuan dalam sistimatik), dan variasi vegetasi secara alami itu sendiri (Webb, 1954).
Pakar ekologi dalam pengetahuan yang memadai tentang sistematik tumbuhan berkecenderungan untuk melakukan pendekatan sacara florestika dalam mengungkapkan suatu vegetasi, yaitu berupa komposisi dan struktur tumbuhan pembntuk vegetasi tersebut.
Pendekatan kajianpun sangat tergantung kepada permasalahan apakah bersifat autekologi atau sinetologi, dan juga apakah menyangkut masalah produktivitas atau hubungan sebab akibat.
Pakar autelogi biasanya memerlukan pengetahuan tentang kekerapan atau penampakan dari suatu species tumbuhan, sedangkan pakar senitologi berkepentingan dengan komunitas yaitu problema yang dihadapi sehubungan dengan keterkaitan antara alam dengan variasi vegetasi. Pakar rkologi produktivitas memerlukan data tentang berat kering dan kandungan kalori yang dalam melakukannya sangat menyita waktu dan juga bersifat destruktif.
Deskripsi vegetasi juga memerlukan bagian yang integral dengan kegiatan survey smber daya alam, misalnya sehubungan dengan investarisasi kayu untuk balok dihutan,dan menelaah kapasitas tamping suatu lahan untuk sutu tujuan ternak atau penggembalaan.pakar, tanah, dan sedikit banyak pakar geologi dan pakar iklim tertarik dengan vegetasi sebagai ekspresi dari factor – factor yang mereka pelajari.
Kehutanan memerlukan penelaahan tentang komposisi spesies tumbuhan sebagai penunjuk (indicator) potensi dari tapak sebagai bahan bantu dalam menentukan jenis kayu yang ditanam.
Dalam mendiskripsikan suatu vegetasi haruslah dimulai dari suatu titik pandang bahwa vegetasi merupakan suatu pengelompokan dari tubuh – tumbuhan yang hidup bersama dialam suatu tempat tertentu yang mungkin dikarakterisasi baik oleh spesies sebagai komponennya, maupun oleh kombinasi dari struktur dan fungsi sifat – sifatnya yang mengkarekterisasi gambaran vegetasi secara umum atau fisiognomi.
Metode dengan pendekatan secara fisignomi tidak memerlukan identifikasi dari species dan sering lebih berarti hasilnya untuk gambaran vegetasi dengan skala kecil (area yang luas),atau untuk gambaran habitat bagi disiplin ilmu lainnya.misalnya pakar hewan menghendaki deskripsi vegetasi yang dapat dipakai untuk menggambarkan relung atau nisia,habitat dan sumber pakan untuk hewan.
Metode berdasarkan komposisi atau floristika species lebih bermanfaat untuk menggambarkan vegetasi engan skala besar ( area yang sempit )yang lebih detail,yang biasannya dipergunakan oleh pakar dieropa daratan dalam klasifikasi vegtasi dan pemetaan pada skala yang besar dan sangat rinci.
Beberapa metode analisis vegetasi
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Syafei, 1990).
Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi titik (metode tanpa plot) (Syafei, 1990).
Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990).
Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001).
Sedangkan metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman, 2001).
Selain menggunakan kedua metode di atas namun, secara garis besar metode analisis dalam ilmu vegetasi dapat dikelompokkan dalam dua perbedaan yang prinsip, yaitu:
a.    Metode diskripsi dan
b.    Metode non diskripsi
Metode destruktif
Metode ini biasanya dilakukan untuk memahami jumlah materi organik yang dapat dihasilkan oleh suatu komunitas tumbuhan. Variable yang dipakai bisa diproduktivitas primer, maupun biomasa. Dengan demikian dalam pendekatan selalu harus dilakukan penuain atau berarti melakukan perusakan terhadap vegetasi tersebut.
Metode ini umumnya dilakukan untu bentuk bentuk vegetasi yang sederhana, dengan ukuran luas pencuplikan antara satu meter persegi sampai lima meter persegi. Penimbangan bisa didasarkan pada berat segar materi hidup atau berat keringnya.
Metode ini sangant membantu dalam menentukan kualitas suatu padang rumput denan usaha pencairan lahan penggembalaan dan sekaligus menentukan kapasitas tampungnya. Pendekatan yang terbaik untuk metode ini adalah secara floristika, yaitu didasarkan pada pengetahuan taksonomi tumbuhan.
Metode non-destruktif
Metode ini dapat dilakukan dengan dua cara pendekatan, yaitu berdasarkan penelaahan                                                                           organism hidup/tumbuhan tidak didasarkan pada taksonominya,sehingga dikenal dengan pendekatan lainnya adalah didasarkan pada penelaahan organisma tumbuhan secara taksonomi atau pendekatan floristika.
Metode non-destruktif,non-floristika
Metode non-floristiaka tealah dikembangkan oleh banyak pakar vegetasi. Seperti Du Rietz (1931), Raunkiaer (1934), dan Dansereau (1951). Yang kemudian diekspresiakan oleh Eiten (1968) dan Unesco (1973). Danserau membagi dunia tumbuhan berdasarkan berbagai hal, yaitu bentuk hidup, ukuran, fungsi daun, bentuk dan ukuran daun, tekstur daun, dan penutupan. Untuk setiap karakteristika di bagi-bagi lagi dalam sifat yang kebih rinci, yang pengungkapannya dinyatakan dalam bentuk simbol huruf dan gambar.
Bentuk HidupMetode ini, klasifikasi bentuk vegetasi, biasanya dipergunakan dalam pembuatan peta vegetasi dengan skalakecil sampai sedang, dengan tujuan untuk menggambarkan penyebaran vegetasi berdasarkan penutupannya, dan juga masukan bagi disiplin ilmu yang lainnya (Syafei,1990).

Metode telah banyak dikembangkan oleh berbagai pakar ilmu vegetsi, seperti Du Rietz (1931) ; Raunkiaer (1934) dan Dansereau (1951). Yang kemudian diekspresikan juga dengan cara lain oleh Eiten (1968) dan UNESCO (1973).
Untuk memahami metode non floristika sebaiknya kita kaj dasar-dasar pemikiran dari beberapa pakar tadi. Pada prinsipnya mereka berusaha mengungkapkan vegetasi berdasarkan bentuk hidupnya, jadi pembagian dunia tumbuhan secara taksonomi sama aekali diabaikan, mereka membuat klasifikasi tersendiri dengan dasar-dasar tertentu.

Sistem Klasifikasi dan Bentuk hidup
Klasifikasi sistematis pada masyarakat tumbuhan menerima suatu daya dorong khusus melalui BRAUN-BLANQUET, yang mengkombinasikan banyak inisiasi dari para pendahulunya kedalam suatu rencana yang meyakinkan. Sistem phytosociology-nya (1928,1932) diterima sangat baik di seluruh dunia, dan telah mempengaruhi pengembangan Ilmu pengetahuan Tumbuh-Tumbuhan Eropa dalam beberapa dekade. Hirarki unit sistemat isnya sengaja dipolakan setelah pengetahuan vegetasi akan menemukan suatu akhir dalam penetapan, penamaan, dan penerapan seperti classcategories terpadu. Kecenderungan ini tidak sesuai dengan niat asli BRAUN-BLANQUET. Di dalam cetakan pertama buku terkenalnya, ia mengabdikan lebih dari separuh ruang untuk ekologi didalam pengert ian yang sesuai, yaitu untuk hubungan fungsional dan hubungan sebab akibat. Hubungan masyarakat tumbuhan pada habitatnya menjadi penekanan oleh banyak pengarang. seperti UNGER (1836), SENDTNER (1854) DRUDE (1896), WARMING (1909), SCHIMPER (1898), SCHROTER (1904), dan banyak orang yang lain. Beberapa dari mereka, khususnya WARMING dan DRUDE (1913), membuat hubungan lingkungan, dasar studi vegetasi-nya. Mereka juga mengembangankan sistem klasif ikasi tumbuhan menurut lingkungannya. Ilmu pengetahuan Tumbuh-Tumbuhan menjadi suatu cabang ekologi yang penting di sekitar peralihan abad itu. Pemahaman ini menjadikan definisi ekologi dikenal dan ditafsirkan dalam semua negara-negara yang berbahasa Inggris. Saat ini, kecenderungan nampak mempengaruhi arah dari studi-studi hubungan lingkungan. Penggunaan dari kriteria lingkungan untuk mencirikan masyarakat tumbuhan menjadi lebih umum, dan usaha hingga mencapai suatu sintesis tentang floristic dan perlakuan ekologi vegetasi (KRAJINA 1969, DAUBENNIIRE 1968). Penekanan tertentu diberikan untuk menjelaskan penelitian ekologi pada komunitas tunggal.(ODUM 1959, OVINGTON 1962). Bersamaan dengan ini terjadi suatu perubahan pent ing dalam metodametoda sepanjang dekade terakhir. Pengarang yang lebih awal bekerja sebagian besar secara deduktif dan menggambarkan ekologis mereka dan bahkan kesimpulan fisiologis dari perbandingan pengamatan di lapangan, tanpa mencoba untuk mendukungnya dengan eksperimen. Berlainan dengan penyelidik modern yang bekerja secara induktif dan menggunakan eksperimen untuk meningkatkan ketelit ian dari kesimpulan mereka.
Analisis kuantitatif komunitas
Konsep komnitas termasuk konsep tertua dalam ekologi.pada tahun 1844 Edward Forbes, dosen botani pada kings college, London, mempelajari distribusi binatang laut di laut Aegean. Dia menyimpulkan adanya delapan daerah kedalaman yang dibdakan satu sama lain oleh kelompok spesies yang ada di dalamnya( kormondy, 1965) kemudian karl mobius (1877),ahli tidak hanya didiami oleh tiram sendiri, tetapi didiami binatang – binatang lain. Setiap tempat tinggal merupakan suatu kehidupan dimana sejumlah spesies dan individu – individu satu sama lain dibatasi, dan selanjtnya terjadi seleksi dan pemilikan teitori tertentu.ruang dan makanan merupakan kebutuhan pertma setiap komunitas social. Berdasarkan alas an ini, Eugene warming (1909), ahli botani Denmark, menyimpulkan spesies tertentu bahwa membentuk kelompok alami,dengan kata lain membentuk kelompok alami,dengan kata lain membentuk komonitas, yang memperlihatkan kombinasi bentuk pertumbuhan.

Diskontinyuitas relative

Komunias komunitas tanaman digunakan sebagai model organisassi komunitas. Banyak ekolog membuktikan bahwa pada bbeberapa keadaan, vegetasi membuntuk continuum, pada keadaan yang lain vegetasi membentuk komunitas yang berbeda dan sebagian besar vegetasi berada dimana mana diantara kondisi tersebut. Yang peril di peranyakan adalah: factor factor  apa yang menentukan kontyutas vegetasi (beals, 1969). Beals mengjukan hipotesa bahwa kontinyutas komunitas merupakan fungsi kontinyutas lingkungan. Jika gradient tajam atau curam, komposisi komunitas bisa berubah secara perahan, komposisi komunitas juga akan berubah secara perlahan.
Banyak ekolog eropa menggunakan metiode semi komunikatf untuk mengklsifikasikan komunitas. Metode ini diberi nama sesuai denga penemunya yaitu braun-blantquet (1951).daftar spesies dari sejumlah tegakan kemudian digunakan untuk menetukan ketetapan yaitu proporsi spesies yang ada ddiseluruh tegakan. Satua dari klasifikasi adalah pencampuran, sutu abstaksi yang terdaftar dari spesies yang beraal dari banyak tempat. Spesies dengan constancy intermediate (sedang) digunakan untuk menentukan percampuran, karena baik spesies tersebut ada disetiap tempat maupun hanya ada pada sedikit tempat, tidak berguna untuk pemisahan tipe tipe komunitas (muller-dombis dan ellenberg,1974). Kebenaran spesies ( a spesies fidelity) penting sekali dalam menentukan percampuran. Spesies yang bisa dipercaya (faithful spesies), terbatas pada tipe komunitas tertentu dan digunakan untuk mendiaknosa komunitas.
Selain itu untuk menentukan apakah suatu spesies cenderung berada bersama beberapa spesies dan tidak ada dengan kehadiran spesies lainya, maka Agmew (1961) mencatat kehadiran spesies di 99 paya (marsh) di North Wales. Tanaman utama dalam paya yang dijadikan sampel adalah gelaga (rush), Juncus efufus. Keberadaan spesies yang kurang dari 5 kali, dihilangkan sehingga tingal 53 spesies yang dihitung nilai X2 nya. Di dalam paya-paya, beberapa spesies yang bercampur secara positif dan negativ. Pencampuran positif dihasilkan jika spesies terjadi dalam komunitas secara bersamaan dan tidak terjadi tanpa kehadiran spesies lainnya. Pencampuran negatif dihasilkan jika spesies tidak terjadi bersamaan. Dia tidak menggunakan spesies yang hanya memiliki satu kali pencampuran dari 20 kali pencampuran.
Analisa ini menggunakan bahwa kelompok spesies bercampur dengan spesies lainyya. Dan menunjukan adanya sekelompok spesies tertentu yang cenderung berada bersama-sama di payau tersebut dan tipe komunitas tersebut dapat dikenali dengan metode yang obyektif. Akan tetapi, tidak satupun dari kelompok tersebut terisolasi secara sempurna terhadap kelompok lain, bermacam – macam spesies berhubungan di antara kelompok tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Jumin, Hasan Basri. 1992. Ekologi Tanaman. Rajawali Press: Jakarta
Michael, P. 1995.  Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. UI Press: Jakarta.
Rahardjanto, Abdulkadir.  2001.  Ekologi Umum. Umm Press: Malang.
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha.  2001.  Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA: Malang.
Syafei, Eden Surasana. 1990.  Pengantar Ekologi Tumbuhan.  ITB: Bandung.
Wolf, Larry dan S.J McNaughton. 1990.  Ekologi Umum.  UGM Press: Jogjakarta.
.

01/30/2009 - Posted by | Ekologi Tumbuhan

10 Komentar »

  1. terimakasih yah atas artikelnya..bantu bgt.salam kenal

    Komentar oleh issanto | 11/18/2009

  2. salam kenal juga

    Komentar oleh zaifbio | 11/18/2009

  3. Makasih artikl’a mmbantu bngtd

    Komentar oleh Rudi | 11/24/2009

  4. assalamualaikum……………….

    Komentar oleh zain | 12/07/2009

  5. assalamualikum…. makasih ya, artikelnya ngebantu banget!

    Komentar oleh egi_bio_09 | 12/27/2009

  6. bagus ne aRTIKELNYA..

    ARTIKELNYA APA AJA???

    Komentar oleh gunawan | 05/15/2010

  7. Macaci,,, sy sdh dpt tugasku,,,, nilaiku pasti A

    Komentar oleh YANTER FORESTER | 08/20/2010

  8. […] Deskripsi Dan Analisis Vegetasi Floristika Dan Non Floristika […]

    Ping balik oleh PESTISIDA « michaelharatuarajagukguk | 06/16/2011

  9. makasi ya postingan nya 🙂

    Komentar oleh Suryani Zainuddin (@suryaanii) | 01/05/2012

  10. Trims artikelnya, saya ingin belajar lebih banyak tentang struktur Website Biologi Online.

    Komentar oleh Saswin | 01/11/2012


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: