BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Konsep Genogram

1. Sejarah Genogram
Genogram pertama kali diperkenalkan oleh Murray Bowen pada tahun
1950 sebagai alat yang digunakan dalam terapi keluarga (Peluso, 2003: 287).
Bowen meyakini bahwa proses keluarga dapat mengungkap persoalan emosional
individu yang belum terpecahkan.
Kemudian pengunaan genogram diperluas oleh banyak peneliti, di
antaranya: Okiishi (1985) , Halevy (1988), Hardy andLaszloffy (1995), Dunn and
Levitt (2000), Malott andMagnuson (2004), dan Peluso (2006).
Okiishi (Supriatna, 2009: 61), mengembangkan genogram sebagai alat
bantu di dalam wawancara konseling karier. Dalam wawancara genogram dapat
dianalisis berbagai aspek yang berkaitan dengan pengenalan diri dan lingkungan,
khususnya dunia kerja. Hal-hal yang dapat dianalisantara lain mengenai: (a) isi
pengamatan diri konseli; (b) pemahaman lingkungan dan dunia kerja; (c) proses
pembuatan keputusan; (d) model-model pola hidup; dan (e) model-model
okupasional.
Halevy (1988), menggunakan genogram pada pelatihankonseling lintas-budaya untuk memfasilitasi para siswa dalam memahami dirinya. Malott and
Magnuson (2004), menggunakan genogram untuk mengeksplorasi perkembangan
karier konseli, dan Dunn andLevitt (2000), menggunakan genogram untuk
17
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
mengungkap kolaborasi yang saling menguntungkan di antara anggota keluarga
(Lim, 2008: 35).
Secara klinis, penggunaan genogram terkadang hanya terbatas pada data-data tentang informasi konisi/keadaan yang dialami keluarga seperti: tanggal
lahir, status pernikahan/perceraian, dan kematian selama prosedur penilaian awal
berlangsung. Namun, lebih luas genogram dapat digunakan untuk mengungkap:
(a) reaksi dari setiap anggota keluarga terhadap peristiwa penting yang terjadi
dalam keluarga; (b) gambaran dari berbagai persepsitentang pola-pola hubungan
dalam keluarga; dan (c) informasi yang lebih luas dalam konteks sosial.
(Magnuson dan Shaw, 2003: 46).
2. Pengertian
Genogram memiliki pengertian secara etimologis dan konseptual. Secara
etimologis, genogram berarti silsilah, yaitu gambarasal-usul keluarga konseli
sebanyak tiga generasi (Supriatna dan Ilfiandra, 2006: 11). Secara konseptual,
genogram diartikan beragam oleh para ahli. Adapunbeberapa ahli tersebut,yaitu
sebagai berikut.
Menurut McGoldrick andGerson (Kerka, 2000), genogram merupakan
suatu pola untuk menggambar pohon keluarga yang menyimpan informasi tentang
anggota dan hubungan diantara keluarga sepanjang tiga generasi (online).
Menurut Peluso (2003: 287), genogram merupakan alatyang tepat untuk
memahami pengaruh asal-usul keluarga konseli. Selain itu, genogram juga
18
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
berfungsi untuk memberikan feedbackkepada konseli tentang dinamika
keluarganya.
Genogram yang dikembangkan Okiishi (Supriatna, 2009: 61), merupakan
alat yang dipersiapkan untuk membantu konselor-konseli ketika wawancara karier
berlangsung. Penggunaan genogram dalam proses konseling karier tersebut
ditempuh melalui tiga tahapan, yakni: (1) membentukgenogram; (2)
mengidentifikasi pekerjaan-pekerjaan yang ditunjukkan dalam genogram; dan (3)
mengeksplorasi individu-individu yang dinyatakan dalam genogram, dengan
memberikan catatan mengenai model-model peranan itu.
Berdasarkan pemaparan dari beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan
bahwa genogram adalah suatu model grafis yang menyimpan informasi tentang
anggota keluarga dan hubungan di antara mereka sepanjang tiga generasi.
3. Konstruk Genogram
Pada konstruk genogram terdapat sejumlah bentuk khusus/simbol yang
digunakan untuk menunjukkan posisi individu dan anggota keluarga serta
hubungan yang terjadi di antara mereka sepanjang tiga generasi. Posisi bentuk
tersebut secara khusus disebut dengan peta struktur(Mcgoldrick, et. al., 1999:
20).
Peta struktur tersusun dari beberapa simbol yang berbentuk kotak,
lingkaran, dan garis-garis. Adapun penjelasan darisimbol tersebut, yakni sebagai
berikut.
19
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Kotak menunjukkan pria, dan lingkaran wanita (Gambar 2.1). Untuk
membedakan penunjuk orang atau identified patient(IP) yang dijadikan konseli
dalam konstruk genogram, pada kotak atau lingkaran (tergantung gender konseli)
digunakan garis rangkap. Bagi anggota keluarga yang sudah meninggal diberi
tanda X di dalam kotak/lingkaran. Selain itu, terdapat garis yang menghubungkan
antar anggota dalam keluarga. Garis ini menunjukkan bahwa terdapat ikatan
biologis dan ipar di antara mereka. Dua orang yangtelah menikah ditunjukkan
dengan garis yang menurun/kebawah dan membentang kekiri atau kanan, dengan
posisi suami di sebelah kiri dan istri di sebelah kanan. Garis pernikahan akan
berubah jika terjadi perceraian (divorced) yaitu dengan menambahkan dua garis
yang memotong garis pernikahan.
Gambar 2.1
Contoh Genogram
20
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Gambar 2.2
Penjelasan Bentuk-Bentuk yang Digunakan dalam Genogram
Terdapat bentuk lain yang digunakan untuk menunjukkan anggota
keluarga dengan kondisi berbeda, seperti: kembar (twins), anak adopsi (adopted),
anak angkat (fraternal), dan wanita hamil (pregnancy). Adapun bentuk-bentuk
tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.3
Bentuk untuk Anak angkat, adopsi, kembar,
dan wanita hamil
Fraternal twins adopted pregnancy
21
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
B. Penggunaan Genogram dalam Konseling
1. Keragamanan
Pada konseling, genogram dapat dijadikan alat intervensi yang beragam.
Keragaman ini disesuaikan dengan kondisi konseli yang ditangani. Menurut
Magnuson dan Shaw (2003: 47-51), terdapat beberapa kegunaan genogram dalam
menangani permasalahan-permasalahan konseli, di antaranya meliputi
penggunaan genogram untuk: (a) Pra-nikah, (b) remaja, (c) karier, (d) hubungan
seksualitas dan permasalahan yang berkaitan dengannya, (e) menjelaskan secara
lengkap tentang dinamika gender, (f) menghilangkan kebiasaan mengkonsumsi
alkohol.
Adapun penjelasan dari setiap penggunaan genogram tersebut, yakni
sebagai berikut.
a. Genogram Pra-nikah
Menurut Wood dan Stroup (Magnuson dan Shaw, 2003: 47), penggunaan
genogram dalam konseling pra-nikah berfungsi untuk mengungkap secara lebih
luas mengenai silsilah keluarga dari pasangan, sehingga satu sama lain dapat
saling memahami dan mengidentifikasi tentang tradisi dominan, pola hubungan,
peran-peran gender, nilai-nilai, garis kekuatan dankewibaan, pengekspresian
emosi, strategi penyelesaian masalah, dan gaya pengambilan keputusan yang
terdapat dalam keluarga dari pasangan.
Dengan mengikutsertakan asal-usul keluarga dalam konseling pra-nikah,
pasangan yang dilanda masalah akan memperoleh petunjuk yang lebih spesifik
dalam menemukan solusi penyelesaiannya.
22
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
b. Genogram pada remaja
Nims (Magnuson and Shaw, 2003: 50), menggunakan genogram sebagai
alat konseling kelompok pada remaja untuk membangunidentitas ego melalui
proses penyamaan self-differentiationdengan resolusi tugas perkembangan.
Pada proses penyamaan Self-Differentiation, Nims memperkenalkan
prinsip-prinsip sistematik yang berhubungan dengan complexitykeluarga,
kedekatan dan jarak, peran keluarga, urutan kelahiran, dan potensi yang
mempengaruhi pengalaman keluarga.
c. Genogram dalam konseling karier
Penggunaan genogram dalam konseling karier mulai dipopulerkan oleh
Rae Wiemers Okiishi (Supriatna dan Ilfiandra, 2006:11), dalam tulisannya yang
berjudulThe Genogram as a Tool in Career Counseling dimuat dalam Journal of
Counselling and Development, Volume 66. Secara etimologis, genogram berarti
silsilah, yaitu gambar asal-usul keluarga konseli sebanyak tiga generasi.
Penggunaan teknik genogram dilandasi oleh asumsi bahwa ada pengaruh dari
orang lain yang berarti (significant other) terhadap individu dalam identifikasi
perencanaan dan pemilihan karier. Konselor atau pembimbing berupaya
mengidentifikasi orang yang berarti bagi diri konseli.
Pada dasarnya penggunaan genogram ini lebih merupakan teknik awal
untuk memasuki konseling karier, oleh karena itu pelaksanaannya pun bersifat
individual. Namun tidak menutup kemungkinan, wawancara genogram dapat
dipandang sebagai proses konseling karier manakala dalam wawancara tersebut
23
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
konselor (pembimbing) menerapkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik konseling
yang terfokus pada pemecahan masalah karier konseli(Supriatna dan Ilfiandra,
2006).
Lebih jauh Sueyoshi, et. al.(2001: 656) menyatakan bahwa genogram
sangat berguna dan efektif dalam wawancara konseling karier dengan berbagai
konseli yang memiliki keragaman budaya. Terdapat beberapa alasan yang
melatarbelakangi pendapat Sueyoshi, et. al. tersebut, yaitu genogram: (1)
menggambarkan pengaruh keluarga dan orangtua oleh karena itu tidak
menganggap bahwa keputusan karier dan gaya hidup hanya berorientasi pada
seorang individu saja; (2) dapat dilihat (visual) dan kurang mengandalkan
komunikasi verbal; (3) menunjukkan informasi secaraterstruktur dan terorganisir,
serta memberikan konseli sesuatu yang “konkrit” tentang informasi yang ada
dalam keluarga; dan (4) dapat berpotensi membuka perkembangan identitas
individu secara akulturasi dan rasial/minoritas.
Pada konseling karier, genogram ditujukan untuk memaparkan suatu
metode yang membantu konseli dalam wawancara yang bersuasana
menyenangkan, sehingga konseli dapat mengungkapkan dirinya dan beroleh
informasi yang memadai serta terorganisasi tentang aspirasi karier dan latar
belakang silsilah keluarganya sepanjang tiga generasi (Supriatna, 2009: 61).
Dalam wawancara genogram dapat dianalisis beberapa aspek yang
berkaitan dengan pengenalan diri dan lingkungan,khususnya dunia kerja. Hal-hal
yang dapat di analisis antara lain mengenai: (a) isi pengamatan diri konseli; (b)
pemahaman lingkungan atau dunia kerja; (c) proses pembuatan keputusan; (d)
24
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
model-model pola hidup; (e) model-model okupasional. Atas dasar analisis
tersebut, konselor dapat membantu konseli dalam membuat perencanaan karier di
masa depannya (Supriatna, 2009: 63).
Penerapan teknik genogram ditempuh dalam tiga tahap, yaitu: (1)
konstruksi genogram, (2) identifikasi jabatan, dan (3) eksplorasi konseli.
d. Genogram untuk mengungkap hubungan seksualitas dan
permasalahan yang berkaitan dengannya
Hof dan Berman (Magnuson dan Shaw, 2003: 47), menyatukan prinsip-prinsip yang ada dalam terapi seks dan keluarga untuk digunakan dalam sexual
genogram. Hal ini bertujuan untuk menguji keberadaan disfungsi seks pada
intergenerational keluarga yang kompleks.
e. Genogram untuk menjelaskan secara lengkap tentang dinamika
gender
White dan Tyson-Rawson (Magnuson and Shaw, 2003: 48), mengungkap
peran gender melalui genogram, secara spesifik pengungkapan tersebut disebut
dengan “gendergram”. Gendergram menjelaskan secara lengkap tentang etiologi
dasar dari gender.
Asumsi dari penggunaan genogram dalam mengungkap peran gender
(gendergram), yaitu sebagai berikut: (a) peristiwa yang salingberkaitan selama
masa kanak-kanak dan dewasa; (b) hubungan yang signifikan selama tingkat
25
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
kehidupan individu yang berbeda-beda; (c) peran, tema, dan pola-pola yang
muncul dalam keluarga.
f. Genogram untuk Menghilangkan Kebiasaan MengkonsumsiAlkohol
Synol (Magnuson and Shaw, 2003: 48), menganjurkan agar genogram
digunakan untuk membantu pasangan yang memiliki anggota keluarga seorang
alkoholik, sehingga mereka dapat mengetahui silsilah keluarga yang memiliki
permasalahan serupa. Namun yang ditekankan pada penggunaan genogram dalam
permasalahan ini bukanlah pada peminumnya melainkanpada sistem yang ada
dalam keluarga. Dengan melihat sistem tersebut, konseli dapat dibantu untuk
melakukan perubahan pada sistem yang ada dalam keluarganya sehingga pada
turunan berikutnya tidak akan terdapat anggota keluarga seorang alkoholik lagi.
2. Ilustrasi
Genogram dapat dilakukan secara individual maupun
berkelompok/klasikal. Berikut akan dipaparkan ilustrasi mengenai penggunaan
genogram secara individual oleh Sueyoshi, et. al. (2000: 662-668), terhadap dua
mahasiswa yang berada di salah satu universitas di New York, dan secara
klasikal/kelompok oleh Gibson terhadap para siswa di sekolah menengah.
a. Penggunaan Genogram Secara Individual
Ilustrasi penggunaan genogram sebagai alat konseling karier oleh
Sueyoshi, et. al. (2000: 662-668), terhadap dua mahasiswa dari salah satu
Universitas yang ada di New York. Kedua mahasiswa tersebut adalah Mike
26
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
seorang warga Amerika keturunan Cina dan Dave seorang warga Amerika
keturunan Albania
1) Kasus Mike
Mike adalah seorang pria berumur 22 tahun dan wargaAmerika keturunan
Cina. Dia juga merupakan mahasiswa dari salah satuuniversitas di New York.
Di universitas tersebut dia berkonsultasi pada seorang konselor yang juga warga
Amerika keturunan Jepang. Pada pembicaraanya dengan konselor dia
mengatakan bahwa saat ini tujuannya adalah memperoleh gelar maskapai dalam
ilmu teknik mesin dan kemudian memperoleh gelar sarjana muda pada ilmu
tersebut.
Berikut adalah percakapan antara Mike dengan konselor pada pertemuan
berikutnya.
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Terakhir kita bertemu, kamu berkata bahwa kamu ingin
meneruskan karier dalam bidang teknik mesin. Kamu
nampaknya yakin bahwa hal tersebut adalah apa yang ingin
kamu lakukan, tapi mengapa tidak kita gunakan beberapa
waktu hari ini untuk mengeksplorasi betapa teknik mesin
tersebut sangat menarik bagi kamu? Genogram merupakan
sebuah grafik yang menunjukkan sejarah keluarga. Ini dapat
digunakan untuk menjajaki berbagai karier, hubungan,
pengaruh, dan harapan-harapan yang ada dalam keluarga.
Maukah kamu mencoba genogram?
Ok
Baiklah, mari kita mulai dengan dirimu dan saudara-saudaramu. Kamu anak ke berapa dan dari berapa
bersaudara?
Baik, saya anak tertua. Saya memiliki dua adik perempuan di
bawah saya dan satu adik laki-laki yang paling kecil.
Dalam genogram kita menggunakan lingkaran untuk
menunjukkan seorang wanita dalam keluarga dan kotakuntuk
menunjukkan pria. Jadi, saya akan menempatkan kamu
sebagai kotak dan dengan diikuti dua lingkaran yang
menunjukkan kedua adik perempuanmu dan terakhir kotak
sebagai adik laki-lakimu, kemudian diurutkan dari yang tertua
27
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
hingga termuda. (gambar mike dan ketiga saudaranya
ditempatkan di halaman bawah sebuah kertas, mereka
berempat berada pada garis horizontal yang sama) apa adik-adikmu segera masuk sekolah? (karena adik-adiknya lebih
muda daripada Mike, maka perlu ditanyakan sekolahnya)
Ya, adik saya yang pertama kuliah di jurusan hospitality
management, adik saya yang kedua masih duduk di bangku
SMA, dan adik saya yang terakhir masih duduk di bangku
SMP.
Apakah adik-adikmu memiliki beberapa keinginan khusus
atau saat ini mereka berpikir tentang karier? (perlu diketahui
tentang ketertarikan saudara kandung terhadap karier
tertentu walaupun mereka masih muda)
Belum.
Ok, sekarang kita akan menuju pada kedua orangtuamu. Kita
mulai dengan ibumu. Dia anak ke berapa dari berapa
bersaudara? (gambar ibu, ayah, dan saudara-saudaranya
berada di atas Mike dan ketiga saudaranya pada bidang
horizontal yang sama)
Ibuku anak kedua dari tujuh bersaudara, lima perempuan dan
dua laki-laki.
Ok. Kita mulai dengan kakak perempuan ibumu. Apa yang
dia lakukan?
Dia pemilik salah satu toko di Panama.
Ok, seorang pemilik toko yang tinggal di Panama. Saya akan
menuliskan informasi ini di bawah lingkarannya. Selanjutnya
yang kedua? Apa yang dia lakukan dan di mana dia tinggal?
(pertanyaan tentang tempat tinggal diperlukan untuk
mengetahui posisi saudara ibunya yang mungkin tinggal di
luar United States atau Cina)
Yang kedua adalah ibuku dan dia tinggal di United Sates
(U.S.). dia seorang penjahit pakaian, tapi kadang-kadang suka
membantu bisnis ayah.
Ok, jadi ibumu seorang penjahit wanita atau orang yang
menjahit (membantu konseli sampai pada ketepatan dalam
memberikan gelar suatu pekerjaan) saya juga akan mencatat
bahwa dia membantu bisnis ayahmu. Apa bisnis ayahmu?
Ayahku pemilik toko dan restoran di Mexico. Dia tinggal
bersama kami tapi bepergian terus di antara dua tempat
(Panama, New York, Mexico… dari sini dapat terlihat bahwa
keluarganya terbentang secara geograpis)
Di Mexico? Ok, saya akan mencatatnya di sini, tapi kita akan
kembali pada ayahmu nanti. Selanjutnya siapa setelah ibumu?
Seorang adik perempuan di Panama yang memiliki sebuah
toko. Berikutnya adik laki-laki yang memiliki gas station dan
restoran di Mexico. Berikutnya adik perempuan yangtinggal
28
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
di Panama, tapi saya tidak yakin apa yang dia lakukan.
Berikutnya adik perempuan yang tinggal di U.S. danbekerja
di pabrik, dan terakhir, seorang adik laki-laki di Mexico yang
memiliki sebuah hotel dan restoran.
Ini sangat menarik. Dengan pengecualian kedua bibimu,
seorang pekerja pabrik, dan seorang bibi yang kamu tidak
yakin dengan apa yang dia lakukan, keluarga dari ibumu
adalah seorang pembisnis. (penting untuk menunjukkan
berbagai kesamaan dan pola yang ada dalam keluarga).
Ya, memang begitu. (Mike mulai menggambarkan pekerjaan
ayahnya sebaik pekerjaan saudara-saudara dari pihak
ayahnya, yang memiliki kesamaan sebagai seorang pemilik
atau yang membantu bisnis keluarga)
Bagaimana menurutmu hal ini dapat mempengaruhi
keputusanmu untuk mengejar karier dalam bidang teknik
mesin?
Sebenarnya, hal ini tidak berpengaruh. Saya tidak mendukung
atau berkecil hati dari membantu bisnis ayah. Sayahanya
tidak tertarik dengan bisnis. Sejak kecil, saya selalu tertarik
pada mesin, elektronik, dan komputer. Orangtua saya selalu
menekan anak-anaknya untuk melakukan yang terbaik di
sekolah, tetapi mereka tidak mengatakan apa-apa tentang
karier kami.
Jadi, mereka mendukung keputusan kariermu, apa pun
kemungkinannya?
Ya.
Itu bagus. Tradisi orang-orang asia terjadi lagi tentang anak
pertama dan harus menjaga pekerjaan keluarga atau suatu
perkerjaan yang dipilih oleh orangtua. Apakah ini sama bagi
saudaramu? (pertanyaan menantang dan membuka tingkat
penyesuaian orangtua- yaitu, Westernized, traditional Asian)
Ya. Mereka dapat melakukan apa yang mereka inginkanjuga.
Jadi, orangtuamu sangat terbuka dan Americanized.
Ya.
Kembali ke genogram, bagaimana dengan kakek-nenekmu?
Di mana mereka, dan apa yang mereka lakukan?
di Cina. Kakek-nenek dari ibuku adalah seorang petani.
Sekarang mereka tinggal di Mexico dengan salah satu
keluarga. Kakek dari ayah merupakan seorang pemilik toko,
dan nenek seorang ibu rumah tangga. Tetapi dia telah
meninggal, dan nenek sekarang tinggal di Panama dengan
salah satu keluarga.
Jadi, dari keseluruhan informasi yang ada dalam genogram
kita dapat melihat pola bisnis keluarga, yang sebenarnya
dimulai dari generasi kakekmu. Apakah kamu mengetahui
informasi tentang kakek-nenek moyangmu?
29
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Tidak, saya tidak tahu apapun tentang mereka. (kebanyakan
orang dapat kembali pada tiga generasi sebelumnya, tetapi
mungkin akan kesulitan menuju ke sana).
Kelihatannya keluargamu sekarang kebanyakan berada di
Panama atau Mexico. Hanya ayah dan salah satu bibimu yang
tinggal di U.S. mengapa ini bisa terjadi?
Keluarga saya pada mulanya ada di Panama juga. Saya besar
dan tumbuh di sana selama sepuluh tahun. Kemudian kami
pindah ke U.S. dan ayah saya memindahkan bisnisnya ke
Mexico. Mengenai keluarga saya yang lain, mereka
memutuskan untuk imigrasi ke Panama atau Mexico setelah
ayah dan paman saya mendapatkan kesuksessan di kedua
tempat tersebut.
Apa ada alasan khusus mengapa Panama dan mexico?
Mereka hanya berpikir hal ini akan memudahkan mereka
mendapatkan kesuksesan di sana.
Jadi, setiap orang memulainya dari generasi orangtuamu. Dan
orangtuamu merupakan generasi pertama para imigram cina?
Ya, saya kira anda bisa mengatakan itu. Tetapi sebenarnya
saya melihat diri saya sebagai orang spanyol bukan orang cina
atau amerika. Walaupun saya lahir di Cina dan tinggal di
U.S., saya besar dan tumbuh di Panama, jadi saya merasa
sangat dekat dengan budaya di sana daripada budaya Amerika
atau Cina.
Hal itu bisa dimengerti. Tapi kedengarannya kamu lebih
triculturural. (pernyataan ini dapat membantu konseli
mengakui dan memeluk tiga budaya)
Tricultural, seperti tiga budaya? Panggilan yang cukup
menarik. Saya suka.
Selanjutnya, konselor mengeksplorasi tiga budaya yang ada pada Mike
yakni Panama-Cina-Amerika yang diidentifikasi terhadap dirinya, meliputi
identitas visible (Asian Chinese) versus invisible(Panamian), dengan kata lain
dapat diartikan sebagai bagaimana “yang lain” menetapkan Mike dengan Mike
menetapkan dirinya sendiri atau “harapan” untuk menetapkan dirinya. Konselor
menempatkan hubungan antara identitas dan bahasa (merasa lebih seperti orang
Panama ketika berbicara bahasa Spanyol), aspek-aspek situasi yang ada pada
bahasa dan identitas (bahasa Inggris di sekolah, bahasa Cina di rumah, bahasa
30
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Spanyol ketika bersama teman), dan hubungan antara identitas dan agama
(orangtua Mike beragama Buddha dan Shinto, sedangkan Mike Kristen, yakni
agama yang konsisten dengan budaya hispanic). Selanjutnya diskusi tentang
sejarah pendidikan keluarga. Tingkat pendidikan tertinggi di keluarga Mike
adalah SMA dan pertama kali dimulai pada generasi orangtuanya, pada generasi
Mike (dirinya, adiknya, dan sepupunya) menjadi generasi pertama yang masuk
bangku kuliah.
Gambar genogram dari hasil wawancara konselor dengan Mike disajikan
pada gambar 2.4. berikut.
Pemilik
toko dan
Kakek
Pemilik toko
Nenek
Ibu RT Sekarang
ada di Panama
Kakek
Petani sekarang
ada di mexico
Nenek
Petani/ibu RT
sekarang ada di
mexico
31
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
2) Kasus Dave
Mainland China
Keterangan :
Wanita
Pria
Meninggal
H.L.E : High Level of
Education
Gambar 2.4
Genogram keluarga Mike
32
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Dave adalah seorang pria berumur 19 tahun dan wargaAmerika keturunan
Albania. Dia juga merupakan mahasiswa di universitas yang sama dengan Mike.
Dia ditunjuk untuk mempertimbangkan akademiknya danmelakukan konseling
pribadi. Dave telah bertemu konselor beberapa minggu dan pada pertemuan
tersebut dia terkesan kurang yakin dengan jurusan yang dimasukinya dan juga
mengenai tujuan kariernya.
Berikut adalah percakapan antara Mike dengan konselor pada pertemuan
berikutnya.
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Beberapa waktu lalu ketika kita bertemu, kamu memiliki
ketidakpastian dalam tujuan karier atau ketertarikan terhadap
itu. Maukah kamu mencoba sebuah latihan yang di dalamnya
dapat mengeksplorasi sejarah karier keluarga. Mungkin keragu-raguanmu itu berhubungan dengan hal ini. Ini juga dapat
membantu saya dalam memahami bagaimana kamu
memandang dunia pekerjaan. Pada latihan ini kita perlu
membentuk suatu genogram. Tahukah apa genogram?
Tidak, apa genogram?
Genogram serupa dengan pohon keluarga, di mana kita
memetakan keluargamu, baik itu keluarga inti maupunyang
lebih luas, dan juga karier mereka. (menginformasikan pada
konseli tentang perlunya membentuk genogram).
Ya, saya tahu pohon keluarga, tapi saya belum pernah
membuatnya.
Maukah kamu membuat genogram bersama-sama?
Baiklah.
Ok, kita mulai dengan kakek-nenekmu, atau keluarga terjauh
yang dapat kamu ingat dari pihak ibumu. Mereka aslimana, dan
apa yang mereka lakukan?
Sejauh ini saya hanya tahu mengenai kakek-nenek. Nenek saya
orang jerman, dia imigrasi ke U.S. Kakek saya orangamerika,
tapi saya tidak ingat apa yang dia lakukan. Saya hanya tahu
kalau kakek seorang alkoholik dan meninggal karena kanker
paru-paru. Dan saya pun tahu kalau dia punya istritapi bukan
nenekku.
Maksudmu nenekmu itu merupakan istri kedua atau kekasih
kakekmu? (penting untuk mengklarifikasi hubungan yang ada
dalam keluarga, menyimpan peristiwa penting secara
emosional dalam pikiran dapat menimbulkan daya tahan atau
33
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
reaksi yang kuat. Beberapa tingkat kepercayaan dan
pemahaman, seperti keterbukaan di antara Dave dan konselor,
mungkin juga dibutuhkan ketika menanyakan pertanyaan-pertanyaan langsung atau pribadi).
Mungkin. Mereka pasangan yang aneh.
Tahukah kamu apa yang nenekmu lakukan?
Tidak. Saya tidak tahu. Saya hanya tahu kalau sekarang dia
bekerja di toko bahan makanan. Apakah semua orang benar-benar tahu tentang bahan itu? Saya tidak pernah memikirkan
hal ini sebelumnya. Pada kenyataanya saya tahu kakek saya
tidak ada apa-apanya.
Baik, terdapat beberapa yang kamu ketahui dan tidaktentang
keluargamu. Tidak ada orang yang harus mengetahui
semuanya, tetapi sedikit apapun informasi yang kamuberikan
akan sangat membantu. (menormalkan pengalaman dan
membiarkan konseli mengetahui bahwa dia tidak perlu
mengetahui semua tentang keluarganya) disamping itu, kamu
dapat kembali dan merubah atau memilih celahnya nanti. Saya
akan memberikan salinan genogram ini padamu nanti, jadi
kamu tidak perlu mengingat atau merekamnya sekarang.
(genogram sebagai sebuah “hadiah” yang nyata dari konselor
pada konseli) bagaimana dengan kakek-nenek dari pihak ayah?
Mereka berdua berasal dari Albania dan berimigrasi ke U.S.
Kakek saya bekerja di restoran, dan dia memiliki banyak uang
di Albania, tapi tidak ada di U.S. Nenek saya seorang ibu
rumah tangga. Termasuk ayah saya, mereka memiliki enam
anak. Saya harap saya dapat mengetahui lebih jauh tentang
budaya Albania yang ada pada diri saya, tapi saya tidak tahu.
Saya bahkan tidak menggunakan bahasanya. Dan sangat sulit
bagi saya untuk mencari lebih jauh tentang budaya Albania
karena kakek-nenek telah meninggal. Hanya nenek dari pihak
ibu yang masih hidup. Terdapat ayah saya, adik perempuan
dan laki-lakinya.
Ya, siapa mereka dan apa yang mereka lakukan?
Ayah saya adalah anak pertama dari enam bersaudara.Dia
adalah seorang desainer tetapi sekarang sudah tidakmampu
lagi. Kemudian adik laki-lakinya seorang mekanis kapal
terbang, tadinya dia tentara, sekarang bekerja untuk pemerintah
pusat. Berikutnya adik laki-laki yang berada di rumah sakit
jiwa dan saya hanya melihat dia sekali. Tidak ada orang yang
membicarakan tentang dirinya, hal ini seperti rahasia besar.
Selanjutnya terdapat tiga bibi yang menjadi ibu rumah tangga,
walaupun satu bibi bekerja sebagai seorang pustakawan dan
yang lainnya penjual eceran paruh waktu.
Baru-baru ini kamu mengatakan tertarik pada psikologi dan
mungkin akan berkarier pada ranah tersebut. Menurutmu
34
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
apakah dengan memiliki paman di rumah sakit jiwa maka perlu
ada sesuatu yang perlu dilakukan dengan hal tersebut? (catatan
sejarah pekerjaan/pengangguran dan masalah psikologi juga
medis dalam keluarga dapat digunakan untuk bertanyatentang
kemungkinan hubungannya).
Tidak, saya meragukannya.
Ok. Bagaimana tentang paman ipar, suami bibimu? (penting
menanyakan tentang keluarga yang tidak sedarah)
Salah satu dari mereka adalah kepala sekolah, satunya tidak
banyak diceritakan, dan yang satu lagi saya tidak tahu.
Genogram ini menjadi lambat, apakah kita hampir selesai?
Ya, kita hampir selesai. Saya memiliki sedikit pertanyaan
tentang keluarga dari pihak ibumu, dirimu dan saudara-saudaramu. Adakah sesuatu yang membuatmu kurang jelas
atau terganggu tentang hal ini, atau ada sesuatu yang ingin
kamu ungkapkan? (bertanya dan mengklarifikasi apa yang
benar-benar diperhatikan konseli: perasaan ketika latihan
genogram berlangsung atau harapan konseli untuk
mendiskusikan hal lain).
Tidak, saya akan melanjutkan genogram ini kalau memang
sebentar lagi. Saya hanya tidak tahu ini akan kemana.
Itu wajar. Saya tahu mungkin sekarang tidak jelas,tapi saat kita
mengetahui keseluruhannya hal ini akan berguna. Saya berjanji
akan memenuhi dan menjawab apa pun pertanyaanmu nanti.
(diketahuinya proses tersebut dapat memunculkan keambiguan
tetapi semuanya akan diklarifikasi nanti). Ok, bisakah kita
memproses genogram ini?
Ya.
Dapatkah kamu memberitahu saya tentang keluarga dari pihak
ibumu.
Ya, di pihak ibu saya, terdapat ibu saya dan kedua paman saya.
Ibu saya adalah ibu rumah tangga tapi sekarang dia bekerja di
toko bahan makanan. Adiknya yang satu memiliki penyakit
leukemia dan cacat, dan adik satunya lagi adalah seorang
pekerja fisik.
Adakah sepupu atau orang di luar keluarga yang sangat
mempengaruhimu? (penting untuk menanyakan tentang orang
yang berpengaruh terhadap konseli- seperti guru, teman,
tetangga, pendeta).
Tidak, tidak juga. Maksud saya, semua sepupu saya masih
kecil, tapi saya punya pasangan dan dua kakak laki-laki, D and
A, yang sangat saya kagumi dan hormati. Tidak pura-pura
seperti orang lain. Mereka tidak perduli dengan pikiran orang
lain dan melakukan apa yang mereka inginkan. Dan pacar saya
Susan dia sangat pintar, mahasiswa pekerja keras yang kuliah di
universitas lain.
35
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Ada lagi orang lain, atau seseorang yang lebih tua darimu dan
yang kau anggap sebagai panutan?
Tidak, aku tidak bisa memikirkan orang lain.
Terakhir kita akan menuju padamu dan saudara-saudaramu.
Kamu anak ke berapa dari berapa bersaudara?
Saya anak kedua dari enam bersaudara.
Kita mulai dengan kakakmu, apakah dia perempuan atau laki-laki, dan apa yang dia lakukan?
Dia perempuan dan dia bekerja sebagai resepsionis di fitness
club.
Kemudian dirimu…
Ya, berikutnya saya, dan sekarang saya di sini. Kemudian ada
dua adik laki-laki setelah saya, D dan A. kemudiansatu adik
perempuan, E, dan satu adik laki-laki, D. mereka semua masih
sekolah, tetapi hanya saya yang duduk di bangku kuliah.
Apakah mereka tahu apa yang mereka inginkan atau lakukan di
masa depan?
Adik saya D, dia ingin menjadi seorang ahli mekanik. Dia
selalu tahu dia ingin menjadi seorang mekanik, itulah yang dia
tanamkan dari sekarang. Saya juga berharap dapat seperti itu.
Jadi, impian karier seperti apa yang kamu miliki saat masih
kecil?
Suatu waktu saya ingin menjadi pilot pesawat tempur. Tapi juga
saya ingin menjadi pembalap mobil, seorang detektif, dan juga
arkeolog. Tetapi itu semua hanya pemikiran fantasianak kecil.
Apakah saya menjadi salah satu di antaranya? Tidak.Bahkan
ayah saya ingin menjadi pilot, tetapi ayahnya tidak
mengijinkan.
Jadi, mungkin bukan berarti tidak ada keinginan tetapi tidak ada
dukungan.
Mungkin, saya sangat bingung, saya bahkan tidak tahu apa yang
harus saya lakukan besok.
Ini bukanlah proses yang mudah, dan ini akan memakan
beberapa waktu sebelum kamu menemukan apa yang benar-benar ingin kamu lakukan. Yang terpenting adalah kamu
memulai perjalanannya sekarang. Lihat genogrammu, adakah
keluarga atau karier mereka yang sesuai dengan dirimu?
Tidak ada di antara mereka yang dapat dikatakan “karier” atau
karier yang menarik perhatian saya.
Itu merupakan salah satu cara untuk memandangnya. Hal ini
terlihat bahwa kamu benar-benar tidak memiliki seseorang yang
dekat atau jauh dari pihak keluarga yang sesuai dengan karier
yang kamu inginkan, apakah itu panutan, dukungan, atau hanya
pencerahan pada karier yang berbeda. Ini akan menjelaskan
mengapa kamu tidak bisa memutuskan jurusan yang akan kamu
ambil dan juga tujuan kariermu. (membantu memvalidkan dan
36
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Dave :
melengkapi kepastian konseli terhadap ketiadaan panutan,
dukungan, pencerahan pada karier). Tidak semua orang
memerlukan panutan dan dukungan tetapi hal ini akanmenjadi
sulit tanpa itu semua. Beruntung, kamu memiliki teman-teman
yang baik dan saudara laki-laki yang dapat diajak bertukar
pikiran. Saya pikir ini akan membantu kita pada pertemuan
berikutnya untuk mengeksplorasi berbagai karier yang
membuatmu tertarik saat masih kecil dan lihat apa yang
membuat hal tersebut menarik perhatianmu dan kemungkinan
di antaranya yang dapat kamu capai. Dan jika kamu mau, saya
akan mengatur jadwal untukmu mengisi careers interest
inventory, yang dapat mengukur ketertarikan terhadap salah
satu jenis pekerjaan dan lingkungan pekerjaan yang berbeda,
dan kita dapat melihat apa yang muncul dari sana. Bagaimana
menurutmu?
Saya bisa melakukannya.
Gambar genogram dari hasil wawancara konselor dengan Dave disajikan
pada gambar 2.5. berikut.
? ?
Nenek
Dari Jerman
imigrasi ke
Menikah?
?
Kakek
Warga
amerika
Nenek
Orang
Albania
Kakek
Orang Albania
imigrasi ke
37
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
b. Penggunaan Genogram Secara Klasikal/Kelompok
Keterangan :
Wanita
Pria
Meninggal
Gambar 2.5
Genogram Dave
38
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Penggunaan genogram secara klasikal dilakukan oleh Gibson (2005),
terhadap para siswa yang berada di sekolah menengah. Hal ini dikarenakan pada
saat sekolah menengah, siswa mulai terlibat pada penilaian yang lebih formal
terhadap minat, dan bakat yang mereka miliki (online).
Pada penggunaan genogram secara klasikal, guru ataukonselor perlu
memberikan penjelasan tentang bentuk-bentuk dan garis-garis yang akan
digunakan. Instruksi yang diberikan dapat seperti berikut ini.
Hari ini, setiap orang akan menggambarkan secara visual tentang keluarga
masing-masing. Gambar ini disebut genogram (memberikan contoh
gambar genogram). Pada genogram, kotak menunjukkanseorang pria
dalam keluarga, dan lingkaran menunjukkan seorang wanita, dan terdapat
garis yang menunjukkan tipe-tipe hubungan di antarasatu anggota dengan
anggota keluarga yang lainnya. Pertama-tama, kita akan mengambarkan
posisi kalian dan adik/kakak kalian pada genogram. Dimulai dengan
menempatkan anak pertama pada halaman kiri bawah. Kemudian
dilanjutkan dengan anak ke dua dan seterusnya, darikiri ke kanan (tertua
ke termuda).
Setelah pemberian instruksi tersebut, selanjutnya konselor atau guru
menunjukkan cara membuat genogram.
Selanjutnya, gambarkan dan tempatkan ayahmu juga kakak/adiknya pada
halaman kiri bawah di atasmu dan kakak/adikmu.
Ingat, posisikan mereka dari kiri ke kanan, dari yang tertua ke termuda.
Kamu akan melakukan hal yang serupa pada ibumu dan kakak/adiknya.
Perubahan instruksi dapat terjadi pada siswa yang single-parentatau
berada di tempat penampungan atau juga yang tinggaldengan wali. Maksud dari
penggunaan genogram ini adalah untuk menguji hubungan yang ada dalam
pekerjaan dan keputusan pendidikan.
Selain itu, lebih luas lagi penugasan ini dapat mendorong siswa untuk
bertanya pada orangtuanya tentang “mengapa” orangtuanya memilih suatu
39
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
pendidikan atau karier tertentu, “apa” yang mempengaruhi keputusan mereka
tersebut, dan “kapan” mereka membuat keputusan itu.
Untuk mendukung pemahaman siswa mengenai dunia pekerjaan dan
pendidikan konselor atau guru perlu memberikan materi tambahan mengenai hal
tersebut agar siswa mampu mengeksplorasi sejarah pendidikan dan pekerjaan
yang ada dalam keluarga mereka, misalnya dengan memberikan informasi tentang
alamat website, buku-buku, atau hal lainnya yang berkaitan denganpekerjaan dan
pendidikan.
C. Tahapan Genogram dalam Konseling Karier
Menurut Gibson (2005), terdapat empat tahapan yang harus ditempuh
dalam membentuk genogram, di antaranya: (1) konselor memberikan penjelasan
kepada siswa tentang cara membuat genogram. Pada tahap ini konselor juga
menjelaskan tentang bentuk dan garis yang digunakandalam genogram dan
selanjutnya konselor memberikan tugas rumah kepada siswa berupa beberapa
pertanyaan terkait dengan tipe-tipe pekerjaan, hobi, pendidikan dan alasan
pemilihan karier yang ditujukan pada anggota keluarga mereka; (2) Siswa diminta
untuk bertanya kepada orangtuanya tentang alasan “mengapa” orangtuanya
memilih pendidikan dan jenjang karier tertentu, faktor “apa” yang mempengaruhi
keputusan mereka, “siapa” yang mempengaruhi keputusan mereka, dan “kapan”
mereka membuat keputusan; (3) konselor sekolah membantu siswa
mengeksplorasi sejarah pendidikan dan pekerjaan keluarga mereka. Pada tahap
ini konselor juga memberikan informasi karier kepada siswa terkait pendidikan
40
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
dan pekerjaan yang ada dalam keluarga mereka melalui berbagai media yang ada
seperti pemberian alamat situs web, dan buku; dan (4) konselor dapat melakukan
proses perluasan genogram karier secara individual maupun kelompok kecil
dengan siswa (online).
Okiishi (Supriatna, 2009: 64), dalam wawancara konseling kariernya
dengan menggunakan genogram, menunjukkan bahwa terdapat tiga tahapan yang
harus ditempuh dalam pembentukkan genogram, yaitu: (1) konstruksi genogram;
(2) identifikasi jabatan; dan (3) eksplorasi konseli.
1. Konstruksi genogram
Proses ini merupakan tahap pertama untuk memetakan/membuat gambar
silsilah atau asal-usul keluarga konseli sebanyak tiga generasi, yaitu generasi
konseli, generasi orangtua konseli dan generasi kakek nenek konseli. Seluruh
angota keluarga dari ketiga generasi yang diketahuioleh konseli dibuat
gambarnya; konselor membuat gambar tersebut bersama-sama dengan konseli.
Gambar tersebut hendaknya memberi penjelasan hal-hal penting berkenaan
dengan silsilah dari ketiga generasi konseli, dengan mencantumkan tanda atau
simbol tertentu yang dapat dipahami oleh guru pembimbing dan konseli
(Supriatna dan Ilfiandra, 2006: 11-12).
2. Identifikasi jabatan
41
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Pada tahap ini guru pembimbing bersama konseli berupaya menelusuri
bidang-bidang pekerjaan/jabatan yang ada pada anggota keluarga dari tiga
generasi itu, termasuk usaha yang ditempuh untuk memperoleh pekerjaan/jabatan,
tingkat keberhasilan, dan konsekuensinya dalam segala aspek kehidupan yang
bersangkutan (Supriatna dan Ilfiandra, 2006: 12).
3. Eksplorasi konseli
Tahap ini memfokuskan kajian terhadap diri konseli agar memperoleh
pemahaman diri dan lingkungan serta dapat merencanakan kariernya. Oleh karena
itu, hal-hal yang perlu dianalisis selama wawancaragenogram adalah: (1) isi
pengamatan diri konseli; (2) pemahaman lingkungan/dunia kerja; (3) proses
pembuatan keputusan; model-model pola hidup; dan (5) model-model
okupasional. Sedangkan yang perlu didiskusikan olehguru pembimbing dengan
siswa adalah: (1) keberhasilan-keberhasilan anggotakeluarga; (2) mobilitas
anggota keluarga; (3) pengelolaan waktu; dan (4) integritas diri (Supriatna dan
Ilfiandra, 2006: 12).
Sejalan dengan pendapat di atas, Surya (1988: 52) menyatakan bahwa
terdapat sedikitnya tiga tahapan penggunaan genogram dalam konseling karier,
yakni (1) tahapan pertama adalah konselor membentukgenogram berdasarkan
informasi dan arahan dari konseli, (2) konselor bersama konseli mencatat
pekerjaan-pekerjaan individu-individu tertentu yangditunjukan dalam genogram,
(3) konselor bersama konseli mengeksplorasi individu-individu yang dinyatakan
42
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
dalam genogram, dengan memberikan catatan mengenai model-model peranan
itu.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga tahapan yang
harus dilalui dalam membentuk genogram, yakni (1) konstruksi genogram; (2)
identifikasi pendidikan dan pekerjaan; dan (3) eksplorasi konseli.

01/01/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | 1 Komentar

PROSES BLANCHING PADA INDUSTRI PANGAN

  1. 1.      Landasan Teori

1.1  Definisi Blanching

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita menemui bahan pangan nabati seperti buah dan sayur dalam bentuk produk beku, kering atau kalengan. Bentuk olahan-olahan tersebut disukai karena selain dapat memperpanjang umur penyimpanan bahan, proses produksinya juga dipermudah karena akan  mempersingkat waktu pengolahan bahan tersebut menjadi produk akhir. Selama proses pembekuan, pengeringan, pengalengan maupun selama proses penyimpanannya, bahan pangan tersebut dapat mengalami penurunan mutu dan nutrisi, sehingga dibutuhkan suatu proses pemanasan awal yang dikenal dengan istilah blanching. Blanching adalah proses perlakuan pemanasan awal yang biasanya dilakukan pada bahan nabati segar sebelum mengalami proses pembekuan, pengeringan atau pengalengan.

 

1.2  Metode Blanching

Proses blanching dilakukan dengan memanaskan bahan pangan pada suhu kurang dari 100oC dengan menggunakan air panas atau uap air panas. Contoh proses blanching yaitu mencelupkan sayuran atau buah di dalam air mendidih selama 3 sampai 5 menit atau mengukusnya selama 3 sampai 5 menit.

Setelah dilakukan proses pemanasan bahan pangan, biasanya dilanjutkan dengan proses pendinginan yang bertujuan untuk mencegah pelunakan jaringan yang berlebihan sekaligus dan sebagai proses pencucian setelah blanching. Proses pendinginan dilakukan segera setelah proses blanching selesai. Bahan dibenamkan ke dalam air es selama beberapa waktu, biasanya lamanya waktu untuk proses pendinginan sama dengan lama waktu yang digunakan untuk blanching. Waktu pendinginan ini tidak boleh terlalu lama, karena dapat menyebabkan meningkatnya kehilangan komponen larut air karena lisis kedalam air pendingin. Untuk meminimalkan kehilangan komponen larut air karena lisis kedalam air pendingin, maka proses pendinginan dapat dilakukan dengan menggunakan udara dingin sebagai media pendinginnya.

Setiap bahan pangan memiliki waktu proses blanching yang berbeda-beda untuk inaktivasi enzim, tergantung pada jenis bahan tersebut, metode blanching yang digunakan, ukuran bahan dan suhu media pemanas yang digunakan. Pada Tabel dibawah ini dapat dilihat lama waktu blanching dari beberapa jenis bahan pangan :

Sayuran (dalam air suhu 100oC)

Waktu blanching (menit)

Brokoli

2-3

Jagung

2-3

Bayam

12

Beet ukuran kecil, utuh

3-5

Beet dipotong dadu

3

Idealnya, lama waktu yang diperlukan untuk proses blanching adalah pas tidak terlalu lama atau terlalu sebentar. Proses blanching yang berlebihan akan menyebabkan produk menjadi matang, kehilangan flavor, warna, dan nutrisi-nutrisi penting yang terkandung didalamnya karena komponen-komponen tersebut dapat rusak dan terlarut kedalam media pemanas (pada proses blanching dengan air panas atau steam).

Sebaliknya, waktu blanching yang terlalu sebentar akan mendorong meningkatnya aktivitas enzim perusak dan menyebabkan kerusakan mutu produk yang lebih besar dibandingkan dengan yang tidak mengalami proses blanching.

Proses blanching salah satunya bertujuan untuk menjaga mutu produk, dengan cara menonaktifkan enzim alami yang terdapat pada bahan pangan. Enzim tersebut di nonaktifkan karena dapat mengganggu kualitas pangan saat dilakukan proses pengolahan selanjutnya.  Contohnya ialah enzim polifenolase yang menimbulkan pencoklatan pada bahan pangan buah-buahan.  Tujuan blanching bervariasi dan bergantung pada proses pengolahan yang akan dilakukan.

Dalam proses blanching buah dan sayuran, terdapat dua jenis enzim yang tahan panas, yaitu enzim katalase dan peroksidase. Kedua enzim ini memerlukan pemanasan yang lebih tinggi untuk menginaktifkannya dibandingkan enzim-enzim yang lain. Baik enzim katalase maupun peroksidase tidak menyebabkan kerusakan pada buah dan sayuran. Namun karena sifat ketahanan panasnya yang tinggi, enzim katalase dan peroksidase sering digunakan sebagai enzim indikator bagi kecukupan proses blanching. Artinya, apabila tidak ada lagi aktivitas enzim katalase atau peroksidase pada buah dan sayuran yang telah di blanching, maka enzim-enzim lain yang tidak diinginkan pun telah terinaktivasi dengan baik.

  1. 2.      Fungsi Alat

Sayuran hijau yang diberi perlakuan blanching sebelum dibekukan atau dikeringkan mutu wama hijaunya lebih baik dibandingkan dengan sayuran yang tidak di blanching terlebih dahulu. Dalam pengalengan sayuran dan buah-buahan, blanching dapat menghilangkan gas dari dalam jaringan tanaman, melayukan jaringan tanaman agar dapat masuk dalam jumlah banyak dalam kaleng, menghilangkan lendir dan memperbaiki warna produk. Alat yang digunakan untuk proses blanching adalah blancher dimana proses yang terjadi bertujuan untuk:

  • Menonaktifkan enzim alami yang terdapat pada bahan pangan.
  • Membunuh sebagian jasad renik yang terdapat pada bahan pangan.
  • Mematikan jaringan-jaringan bahan.
  • Menghilangkan kotoran yang melekat pada sayuran.
  • Menghilangkan zat-zat penyebab lendir pada sayuran.
  • Mengeluarkan gas-gas, termasuk O2 dalam jaringan buah atau sayuran.
  • Mempertahankan mutu sensorik dan nutrisi dari buah dan sayur.

Pada proses blanching prinsipnya adalah melewatkan bahan pangan menuju uap pemanas dan media pendingin (dapat berupa udara atau air). Proses blanching dalam skala industri dilakukan pada Rotary Drum Steam Blancher. Ini merupakan suatu alat dimana proses blanching berupa pemanasan dan pendinginannya dilangsungkan dalam suatu drum yang berputar. Proses pemanasan di dalam alat umumnya dilakukan pada suhu 70-80oC bergantung pada jenis bahan pangan dan menggunakan uap jenuh. Sementara untuk proses pendinginan dipilih menggunakan media pendingin berupa air kondensat.

 

  1. 3.      Jenis dan Gambar Alat

Kapasitas dari alat ini mencapai 1000 hingga 50.000 PPH (Pounds per Hour), tergantung dari waktu tinggal bahan pangan dan jenis bahan pangan itu sendiri. Rotary Drum Steam Blancher efisien dalam penghematan energi dan mudah dalam proses pembersihannya. Recovery di akhir proses dapat mencapai 3%. Energi yang dikonsumsi oleh steam blancher kurang lebih setengah dari konsumsi energi water blancher. Alat ini juga praktis karena pemanasan dan penginginan berlangsung dalam satu alat sehingga bisa mengingkatkan efisiensi dan efektivitas dari proses produksi bahan pangan.

  1. 4.      Contoh Produk

Di industri jasa boga, buah dan sayur segar yang telah mengalami perlakuan perlukaan (misalnya dikupas, diiris atau dirajang) kadang-kadang tidak langsung diolah karena berbagai faktor. Bahan yang mengalami perlukaan ketika kontak dengan udara akan mengalami kerusakan warna, flavor dan tekstur karena aktivitas enzim. Proses blanching dilakukan untuk inaktivasi enzim dan mencegah terjadinya kerusakan tersebut. Blanching juga bisa dilakukan untuk mempermudah proses pengupasan. Panas karena blanching akan melunakkan kulit bahan sehingga mempermudah proses pelepasan kulit bahan.

Proses blanching juga membantu membersihkan bahan dan mengurangi jumlah mikroba awal, terutama yang ada di permukaan bahan. Pada sayuran daun, proses blanching dapat mereduksi jumlah bakteri mesofilik lebih dari 103 koloni/gram, tanpa menambahkan perlakuan kimiawi. Untuk alasan ini, maka proses blanching terkadang juga digunakan sebagai alternatif pengawetan untuk produk buah dan sayur diolah minimal (contohnya salad buah dan sayur; dan fresh cut product) yang dikemas dalam kemasan vakum dengan lama penyimpanan lebih dari 10 hari dan kondisi suhu ruang penyimpanan tidak stabil di suhu dingin (kurang dari 4oC).

Blanching yang dilakukan pada proses pengalengan, ditujukan untuk mengeluarkan udara dari dalam jaringan bahan dan meningkatkan suhu bahan (pemanasan awal). Pengeluaran udara dari jaringan dan pemanasan awal sebelum pengisian kedalam kaleng menjadi tujuan utama karena sangat berpengaruh pada penurunan kadar oksigen (pembentukan kondisi vakum) di dalam wadah. Keberadaan oksigen dalam produk kaleng tidak dikehendaki karena akan mempercepat proses kerusakan dan memperpendek umur simpan produk. Selain itu, blanching pada proses pengalengan juga bertujuan untuk melunakkan jaringan bahan sehingga mempermudah proses pengemasan (pengisian).

Pada proses pengalengan, inaktivasi enzim tidaklah menjadi tujuan utama. Pada beberapa kasus pengalengan, blanching bertujuan untuk mengaktivasi kerja enzim. Dalam kasus ini, aplikasi panas selama pengalengan menyebabkan lapisan epidermis bahan menjadi rusak dan tekstur berubah menjadi lembek. Blanching yang dilakukan pada suhu rendah dan waktu yang panjang dapat mencegah terjadinya pelunakan tekstur karena meningkatkan aktivitas enzim pektin metil esterase, enzim yang mengubah karakteristik biokimiawi dinding sel dan lamella tengah dari jaringan nabati menjadi lebih mudah membentuk kompleks dengan kalsium yang mencegah pelunakan tekstur.

Blanching untuk sayuran biasanya dilakukan dengan menggunakan air panas atau steam sementara blanching buah dilakukan dengan menggunakan larutan kalsium. Penggunaan larutan kalsium, bertujuan untuk mempertahankan tekstur buah melalui pembentukan kalsium pektat. Pengental seperti pektin, karboksimetil selulose dan alginat juga dapat digunakan untuk membantu mempertahankan tekstur buah agar tetap segar setelah proses blanching.

Contoh aplikasi blanching pada saat memasak sayur mayur adalah sayur yang sudah dibersihkan dimasukkan ke dalam air yang mendidih, direbus hingga berubah warna menjadi warna yang diinginkan lalu diangkat dan langsung dicelupkan ke dalam air dingin, umumnya air es. Tujuan proses blanching pada persoalan di atas adalah untuk mendapatkan kematangan yang diinginkan. Pencelupan sayur ke dalam air dingin bertujuan untuk menghentikan proses pematangan, karena seperti yang diketahui, ketika sayur diangkat dan masih dalam keadaan panas maka proses pematangan masih tetap berlangsung.

Hal ini dapat menyebabkan sayuran berwarna terlalu coklat atau terlalu matang. Selain untuk mencapai tingkat kematangan tertentu, proses ini bertujuan untuk mendapatkan tekstur tertentu dari suatu sayuran. Tekstur yang diinginkan mungkin agak lunak atau lebih renyah, ini tergantung kepada teknik memasak. Tujuan lain dari proses ini adalah untuk menghilangkan potensi berkecambah dari biji- bijian. Hal ini merupakan salah satu proses pengawetan.

  1. Pengganti Bleaching

Blanching dengan air panas tidak selalu diinginkan, terutama pada buah potong yang akan dimakan dalam bentuk segar dan buah beku yang akan dikonsumsi dalam bentuk segar (tanpa pemasakan) setelah proses thawing. Pada buah potong yang akan dikonsumsi dalam bentuk segar, proses blanching dapat menyebabkan perubahan karakteristik sensorik ‘khas buah segar’-nya. Sementara pada buah beku, kerusakan panas yang terjadi selama blanching pada beberapa jenis buah menyebabkan perubahan flavor dan tekstur buah (tekstur menjadi porous seperti gabus) setelah dithawing. Kondisi ini menyebabkan buah menjadi tidak layak untuk dikonsumsi segar. Untuk kasus seperti ini, maka digunakan metode alternatif lain untuk menghambat perubahan enzimatis terutama reaksi pencoklatan.

Beberapa metode yang bisa digunakan sebagai pengganti blanching pada pembuatan buah beku adalah inaktivasi enzimatis secara kimia, menghindarkan kontak dengan oksigen (misalnya dengan mengemas buah dalam larutan gula) dan perendaman dalam larutan yang mengandung anti oksidan (misalnya asam askorbat).

Contoh lain proses blanching diterapkan pada buah- buahan. Proses blanching ini bertujuan untuk mencegah terbentuknya warna coklat pada buah- buahan. Buah yang paling mudah mengalami pencoklatan adalah apel. Blanching yang dilakukan pada buah- buahan ini adalah dengan memberikan panas terhadap bahan pangan melalui perendaman bahan dalam air yang mendidih atau pemberian steam dalam waktu yang relatif singkat.

Untuk apel, setelah dikupas dan dipotong- potong selanjutnya apel direndam di dalam air panas selama 3 menit dengan suhu mencapai 82-93°C. Setelah proses perendaman selesai, apel direndam dalam larutan vitamin C. Dengan takaran vitamin 200 miligram per liter. Sehingga akan diperoleh apel yang tetap segar dengan tambahan vitamin C. Selain itu, proses blanching untuk buah- buahan dapat dilakukan dalam larutan garam kalsium dengan tujuan untuk memperbaiki kekerasan buah dengan terbentuknya kalsium pektat. Kekerasan buah setelah diblanching juga dapat diperbaiki dengan bantuan pektin, karboksimetil dan alginat.

12/27/2012 Posted by | Uncategorized | , , , , , | 2 Komentar

CULTURE LIBRARY FOUNDATION SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN PERPUSTAKAAN YANG MENJADI PUSAT KEBUDAYAAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perpustakaan merupakan sistem informasi yang di dalamnya terdapat aktivitas pengumpulan, pengolahan, pengawetan, pelestarian dan penyajian serta penyebaran informasi. Perpustakaan sebagaimana yang ada dan berkembang sekarang telah dipergunakan sebagai salah satu pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan, penelitian, rekreasi, pelestarian khasanah budaya bangsa, serta memberikan berbagai layanan jasa lainnya  (Lasa Hs:1998). Selain itu menurut  Sulistyo-Basuki (1991:  3 )perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual.

Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa perpustakaan  merupakan tempat tumpukan buku tanpa mengetahui pasti ciri dan fungsi perpustakaan. Ada beberapa ciri yang perlu diketahui  oleh masyarakat diantaranya adalah  tersedianya koleksi,  sarana prasarana, pustakawan dan pengunjung serta adanya suatu unit kerja.

Kebudayaan sebagai aktivitas manusia yang melibatkan unsur karsa, rasa dan cipta diibaratkan lingkaran yang tidak mengenal ujung ataupun pangkalnya. Suatu produk budaya dikatakan merupakan awal, dalam waktu yang singkat bisa menjadi pijakan untuk kegiatan budaya yang baru lainnya. Hal ini karena kegiatan kebudayaan berhubungan dengan kondisi yang berhubungan dengan manusia sebagai aktornya maupun alam dan benda sebagai objeknya selalu berubah atau berkembang.

Di samping itu dalam lingkungan kebudayaan ada proses kontemplasi/eksperimentasi tentang kenyataan/eksistensi (persoalan ontologi) asal muasal pengetahuan (persoalan epistemologi) rasa/keindahan (persoalan estetika) kemudian berlanjut ke tahapan komunikasi. Dua tahapan ini tidak mutlak, misalnya ketika dalam tahapan komunikasi hasil kontemplasi maka juga ada kegiatan-kegiatan mempertanyakan asal muasal pengetahuan, kebenaran dan keindahan. Aktivitas tersebut meninggalkan jejak yang disebut sebagai koleksi kebudayaan. Wujud atau koleksi dari kegiatan berpikir dan mengolah rasa dapat berupa, pertama, buku atau tulisan (ilmiah, puisi, esai atau novel), kedua, berujud lukisan, kaligrafi, fotografi, patung, ketiga adalah seni drama, monolog, pembacaan puisi, tari dan lainnya.

Koleksi kebudayaan memiliki arti yang penting karena, Pertama, sebagai informasi yang bisa menunjukkan unsur-unsur yang telah membentuk kebudayaan suatu bangsa atau kelompok. Kedua, sebagai sumber ilmu pengetahuan. Kebudayaan adalah hasil dari aktivitas cipta, karsa dan rasa manusia, sehingga muncul teknik atau pengetahuan dari aktivitas tersebut yang bisa dimanfaatkan dan diperbarui. Ketiga, sebagai sumber kearifan atau nilai moral. Kebudayaan memuat ajaran tentang bagaimana hubungan dengan orang lain itu dilakukan, bagaimana memaknai kelahiran, perkawinan, kematian atau bagaimana menjalin hubungan dengan alam. Keempat, bernilai pariwisata ataupun ekonomi. Wujud kebudayaan muncul dalam bentuk-bentuk yang memiliki unsur estetika atau keunikan sehingga dapat dipertontonkan. Kebudayaan ditampilkan dan dikemas menarik sehingga dapat ditonton, dinikmati dan mendatangkan keuntungan. Di samping, itu bisa juga berfungsi untuk memperkenalkan suatu bentuk kebudayaan/negara tertentu

Mempertahankan, memelihara, mengembangkan serta menyempurnakan kebudayaan merupakan kewajiban masyarakat baik dalam arti perorangan, kelompok maupun dalam arti keseluruhan. Ciri khas dan kepribadian suatu bangsa terutama terletak pada kebudayaan yang dimilikinya (Soetrisno, 1982: 3). Kebudayaan perlu dihimpun karena berpotensi hilang atau musnah yang bisa berarti putusnya rantai sejarah suatu peradaban, hilangnya nilai kearifan, ilmu pengetahuan dan keindahan, serta keunikaannya. Setelah dihimpun kebudayaan juga perlu dirawat untuk menjaga eksistensinya. Tahap berikutnya kebudayaan perlu disebarkan karena, kebudayaan membutuhkan apresiasi dan kritik agar dapat terus berkembang serta berdayaguna.

Usaha penghimpunan, perawatan dan penyebaran informasi tersebut dapat dilakukan salah satunya oleh Perpustakaan. Fungsi perpustakaan diantaranya adalah pengumpulan/penyimpanan, perawatan dan penyebaran bahan pustaka. Menurut Soejono Trimo (1997: 2-3), fungsi perpustakaan, pertama, sebagai clearing house (pusat pengumpulan/penyimpanan) bagi semua penerbitan dari dan tentang daerahnya ataupun dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu, kedua, the preservation of knowledge atau menjaga kelestarian baik fisik maupun isinya sehingga informasi yang dikandungnya masih terjaga, dapat diketahui dan disebarkan walaupun telah dicetak atau ditulis beberapa waktu yang lampau.

Lebih lanjut Soejono Trimo menjelaskan bahwa peran/fungsi perpustakaan sesuai dengan misi atau visi organisasi induknya. Ketika perpustakaan berada di lingkungan kebudayaan maka perpustakaan tersebut bertugas menghimpun, merawat, mengembangkan dan menyebarkan koleksi kebudayaan. Hal ini sejalan dengan tugas pokok dari perpustakaan yaitu menghimpun, mengelola, memelihara dan menyebarkan semua ilmu pengetahuan atau gagasan manusia.

Peran perpustakaan sebagai pusat kebudayaan berdiri di dua pijakan yang saling mendukung. Pijakan pertama adalah yang terkait dengan tugas-tugas pokok seperti, menyediakan koleksi yang lengkap di bidang kebudayaan (ensiklopedi,majalah, tabloid, surat kabar harian, buku hasil penelitian, terbitan/penulis luar negeri maupun dalam negeri, Compact Disc dan VCD), memberika jasa layanan yang baik/prima (pustakawan ramah, tanggap, menguasai koleksi yang dimiliki, memiliki media/ alat penelusuran bahan informasi yang cepat dan tepat, proses peminjamannya cepat dan mudah melakukan kontrol terhadap koleksi yang dimiliki atau dipinjam baik untuk perpustakaan maupun usernya) menciptakan kondisi perpustakaan yang kondusif untuk berlajar, studi maupun rekreasi dengan membuat lingkungan perpustakaan yang bersih, kelembaban udara yang terjaga ideal, cahaya yang ideal dan arsitektur yang indah.

Pijakan kedua adalah kegiatan pendukung yang mengarah ke pemanfaatan bahan pustaka, penyebaran, pengenalan bahan informasi/ilmu pengetahuan, penciptaan bahan informasi yang dimiliki atau dihimpun perpustakaan. Kegiatan ini antara lain; diskusi, pelatihan, pameran, pementasan atau pertunjukan, sarasehan.

Dengan latar belakang masalah di atas penulis tertarik untuk mengetahui fungsi Culture Library Foundation sebagai pusat kebudayaan dan mengetahui langkah-langkah yang ditempuh untuk mewujudkan fungsi Perpustakaan sebagai pusat kebudayaan

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana peran Culture Library Foundation sebagai pusat kebudayaan?

2.  Bagaimana Culture Library Foundation mewujudkan perpustakaan sebagai pusat kebudayaan?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan

1.  Mengetahui peran Culture Library Foundation sebagai pusat kebudayaan.

2. Mengetahui usaha-usaha yang dilakukan Culture Library Foundation untuk mewujudkan perpustakaan sebagai pusat kebudayaan.

3.  Memberikan sumbangan pemikiran bagi Ilmu Perpustakaan dan Informasi mengenai seluk beluk perpustakaan dalam bidang kebudayaan.

4.  Memberikan informasi dan sumbangan pemikiran tentang upaya-upaya yang dilakukan perpustakaan dalam mewujudkan tujuan, peran atau visi misinya.

BAB II

METODE PENULISAN

2.1 Sumber Data

Data dan fakta yang berhubungan dengan pembahasan tema ini didapatkan dengan tahapan-tahapan pengumpulan data dengan cara pembacaan kritis terhadap ragam literatur yang berhubungan dengan tema pembahasan.

Data yang digunakan adalah data dengan kriteria telah dipublikasikan kepada masyarakat melalui literatur yang diterbitkan, surat kabar, buletin, jurnal upun internet. Dengan demikian penulis mengelompokan atau menyeleksi data dan informasi berdasarkan ktegori dan relevansi untuk selanjutnya dianalisis dan disimpulkan.

2.2 Analisis Data

Dalam penulisan ini teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998), analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.

Untuk menganalisa data dan informasi yang didapat, digunakan analisis isi (content analysis).  Analisis isi adalah suatu teknik yang sistematik untuk menganalisis makna pesan dan cara mengungkapkan pesan. Analisis isi selalu melibatkan kegiatan menghubungkan atau membandingkan penemuan berupa kriteria atau teori. Langkah yang dilakukan dalam menganalisis data pada penelitian ini menggunakan interaktive model dari Miles dan Huberman (Miles dan Huberman, 1994). Model ini terdiri dari 4 komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan atau reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan dan pengujian atau verifikasi kesimpulan.

BAB III

HASIL PEMBAHASAN

3.1 Analisa

            Culture Library Foundation adalah sebuah pemikiran baru dimana menempatkan Perpustakaan yang selama ini hanya berfungsi sebagai tempat membaca ditambah fungsinya menjadi pusat kebudayaan. Untuk membuat Culture Library Foundation yang tepat maka beberapa hal harus dilakukan terlebih dahulu diantaranya adalah

1. Penataan dan Tata Ruang Gedung

Bangunan maupun ruang untuk perpustakaan sebenarnya tidak sesederhana yang dibayangkan orang. Ditinjau dari segi bangunan, perpustakaan merupakan suatu organisasi yang memiliki sub-sub sistem yang memiliki fungsi berbeda-beda. Oleh karena itu, dalam perencanaan gedung dan ruang perpustakaan perlu memperhatikan fungsi tiap ruang, unsur-unsur keharmonisan dan keindahan, baik segi eksterior maupun interior. Ruang yang tertata baik akan memberikan kepuasan kepada pemakainya ( Pegawai maupun pengguna perpustakaan).

Dalam perencanaan bangunan atau ruang perpustakaan perlu juga diperhatikan alokasi luas lantai, pembagian ruangan menurut fungsi, tata ruang struktur, utilitas, pegamanan ruang, dan rambu-rambu. Disamping itu perlu dipikirkan pula area perluasan, minimal untuk masa sepuluh tahun mendatang.

  Prinsip-prinsip arsitektur

Gedung / ruang perpustakaan perlu ditata sesuai kebutuhan dengan tetap mengindahkan prinsip-prinsip arsitektur. Ruang perpustakaan akan nyaman bagi pemakai dan petugas apabila ditata dengan memperhatikan fungsi, keindahan, dan keharmonisan ruang. Dengan penataan yang baik akan memberikan kepuasan fisik dan psikis bagi pemakai. Oleh karena itu, dalam perencanaan pelu diperhitungkan kebutuhan manusia, tata ruang, dan segi lingkungan.

  Azas-azas tata ruang

Disamping itu perlu diperhatikan azas-azas tata ruang, yakni azas jarak, azas rangkaian kerja, dan azas pemanfaatan.

  Azas jarak, yaitu suatu susunan tata ruang yang memungkinkan proses penyelesain pekerjaan dengan menempuh jarak yang paling pendek.

  Azas rangkaian kerja, yakni suatu tata ruang yang menempatkan tenaga dan alat-alat dalam suatu rangkaian yang sejalan dengan urutan penyelesaian pekerjaan yang bersangkutan.

  Azas pemanfaatan, yakni tara susunan ruang yang mempergunakan ruang yang ada.

  Tata Letak

Untuk memperlancar kegiatan pelayanan dan penyelesaian pekerjaan, dalam penataan ruang perlu diperhatikan prinsip-prinsip tata ruang berikut ini :

  Pelaksanaan tugas yang memerlukan konsentrasi hendaknya ditempatkan di ruang terpisah atau di tempat yang aman dari gangguan.

  Bagian yang bersifat pelayanan umum hendaknya ditempatkan di lokasi yang strategis agar mudah dicapai.

  Penempatan perabot, seperti meja, kursi, dan rak hendaknya disusun dalam bentuk garis lurus.

  Jarak satu mebeler dengan yang lain dibuat agak melebar agar orang yang lewat leluasa.

Dalam perencanaan bangunan atau ruang perpustakaan perlu juga diperhatikan alokasi luas lantai, pembagian ruangan menurut fungsi, tata ruang struktur, utilitas, pegamanan ruang, dan rambu-rambu. Disamping itu perlu dipikirkan pula area perluasan, minimal untuk masa sepuluh tahun mendatang.

  Prinsip-prinsip arsitektur

Gedung / ruang perpustakaan perlu ditata sesuai kebutuhan dengan tetap mengindahkan prinsip-prinsip arsitektur. Ruang perpustakaan akan nyaman bagi pemakai dan petugas apabila ditata dengan memperhatikan fungsi, keindahan, dan keharmonisan ruang. Dengan penataan yang baik akan memberikan kepuasan fisik dan psikis bagi pemakai. Oleh karena itu, dalam perencanaan pelu diperhitungkan kebutuhan manusia, tata ruang, dan segi lingkungan.

  Azas-azas tata ruang

Disamping itu perlu diperhatikan azas-azas tata ruang, yakni azas jarak, azas rangkaian kerja, dan azas pemanfaatan.

  Azas jarak, yaitu suatu susunan tata ruang yang memungkinkan proses penyelesain pekerjaan dengan menempuh jarak yang paling pendek.

  Azas rangkaian kerja, yakni suatu tata ruang yang menempatkan tenaga dan alat-alat dalam suatu rangkaian yang sejalan dengan urutan penyelesaian pekerjaan yang bersangkutan.

  Azas pemanfaatan, yakni tara susunan ruang yang mempergunakan ruang          yang ada.

  Tata Letak

Untuk memperlancar kegiatan pelayanan dan penyelesaian pekerjaan, dalam penataan ruang perlu diperhatikan prinsip-prinsip tata ruang berikut ini :

  Pelaksanaan tugas yang memerlukan konsentrasi hendaknya ditempatkan di ruang terpisah atau di tempat yang aman dari gangguan.

  Bagian yang bersifat pelayanan umum hendaknya ditempatkan di lokasi yang strategis agar mudah dicapai.

  Penempatan perabot, seperti meja, kursi, dan rak hendaknya disusun dalam bentuk garis lurus.

  Jarak satu mebeler dengan yang lain dibuat agak melebar agar orang yang lewat leluasa.

  Bagian yang mempunyai tugas yang sama, hampir sama, maupun kelanjutan, hendaknya ditempatkan di lokasi yang berdekatan.

  Bagian yang menangani pekerjaan yang berantakan, seperti pengolahan, pengetikan, dan penjilidan hendaknya ditempatkan di tempat yang tidak tampak oleh khalayak umum.

  Apabila memungkinkan, semua petugas dalam suatu unit/ ruangan duduk menghadap arah yang sama dan pimpinan duduk di belakang.

  Alur pekerjaan hendaknya bergerak maju dari satu meja ke meja lain dalam satu garis lurus.

  Ukuran tinggi, rendah, panjang, dan lebar, luas, dan bentuk perabot hendaknya dapat diantur lebih leluasa.

  Perlu ada lorong yang cukup besar untuk jalan apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran.

  Bagian yang menimbulakn suara berisik hendaknya ditempatkan di ruang terpisah.

2. Standar dan Kapasitas Perpustakaan Umum

Persentase pengguna aktif sebuah perpustakaan (populasi yang dilayani) pada sebuah kota atau masyarakat normalnya adalah antara 20-30 % penduduknya

3. Tinjauan Fungsi

Dari tinjauan fungsi ini, kiata dapat mengetahui bagaimana Culture Library Foundation bekerja, apa aktifitasnya siapa penggunanya dan persyaratan ruang

  1.  Deskripsi Pengguna dan Kegiatan

Jadwal operasional kegiatan yang terjadi di Medan Public Library yaitu:

  Senin – Jumat : Pukul 08.30 – 20.00

  Tutuppukul 17.00 pada malam Tahun Baru, malam Natal. Malam Idul Fitri, malam Deepavali, malam Imlek.

  Tutup pada Hari Libur Umum

  1. Pengunjung Perpustakaan

  Pengunjung

  Usia balita (usia 1-5 tahun)

-  Mewarnai

-  Menggambar

-  Menonton video

-  Bermain

-  Tidur

  Usia anak-anak (usia 5-12 tahun)

-  Mencari informasi

-  Melihat buku baru

-  Mewarnai

-  Menggambar

-  Mencari buku

-  Membaca buku

-  Meminjam buku

-  Belajar

-  Mengembalikan buku

-  Mendengarkan cerita

-  Menonton video

-  Melihat pameran

-  Bermain game komputer

-  Bermain

-  Membeli alat tulis

-  Membeli suvernir

  Usia muda (usia 13-16 tahun)

-  Mencari informasi

-  Melihat buku baru

-  Mencari buku

-  Membaca buku

-  Meminjam buku

-  Belajar

-  Mengembalikan buku

-  Berdiskusi

-  Menonton video

-  Melihat pameran

-  Mengakses internet

-  Mengikuti seminar

-  Membeli alat tulis

-  Membeli suvernir

  Usia remaja (usia 17-19 tahun)

-  Mencari informasi

-  Melihat buku baru

-  Mencari buku

-  Membaca buku

-  Meminjam buku

-  Belajar

-  Mengembalikan buku

-  Berdiskusi

-  Menonton video

-  Melihat pameran

-  Mengakses internet

-  Mengikuti seminar

-  Membeli alat tulis

-  Membeli suvernir

  Usia dewasa (usia > 19 tahun)

-  Mencari informasi

-  Mencari buku

-  Membaca buku

-  Meminjam buku

-  Berdiskusi

-  Belajar

-  Mengembalikan buku

-  Menonton video

-  Melihat pameran

-  Mengakses internet

-  Mengikuti seminar

-  Membeli alat tulis

-  Rapat

-  Melihat seni

-  Membeli suvernir

  Pengelola

  Kepala Perpustakaan

Memimpin perpustakaan dan menyiapkan kebijakan-kebijakan bagi perpustakaan.

  Administrasi

Pelayanan administrasi yang meliputi pembinaan ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana, kepegawaian, perencanaan, keuangan, perlengkapan, rumah

tangga, hubungan masyarakat. Dimana terbagi menjadi sekretaris dan asisten.

  Unit pengadaan bahan

Melaksanakan pengadaan koleksi bahan pustaka melalui pembelian, hadiah, hibah dan tukar menukar.

  Unit pengelolaan bahan

Melaksanakan klasifikasi, katalogisasi dan penyelesaian fisik bahan pustaka, verifikasi bahan pustaka serta pemasukan data ke pangkalan data.

  Unit pelayanan, sirkulasi, dan peminjaman

Melaksanakan layanan sirkulasi, rujukan dan keliling, audio visual, reproduksi, terjemahan, transliterasi (alih aksara), melaksanakan kerjasama perpustakaan dalam dan luar negeri, pengelolaan pangkalan data daerah, pelaksanaan, pengembangan sistem otomasi perpustakaan di lingkungan Badan, pengelolaan website, jaringan internet.

  Unit Pelayanan Referensi

Melaksanakan layanan referensi, alat-alat bibliografi seperti indeks, laporan tahunan, kamus, ensiklopedia, dll

  1. Deskripsi pelaku

  Pengguna dan alurkegiatan

  Struktur organisasi pengelola perpustakaan umum

  Proses pelayanan arus sirkulasi buku

  Proses alur koleksi buku lama

  Proses alur koleksi buku baru

3.2 Sintesa (Culture Library Foundation dan Pusat Kebudayaan)

Model Culture Library Foundation yang bisa dicontoh dan patut ditiru adalah Yayasan Karta pustaka. Pusat kebudayaan Yayasan Karta Pustaka didirikan pada tahun 1967 oleh nyonya E. Th. Simadibrata-Piontek, Pater Theodore Geldorp (Dick Hartoko, SJ.), Drs. Soepojo Padmodiputro, MA., dan Pater H. M. L. Loeff, SJ.. Walaupun para pendirinya telah wafat, namun yayasan ini masih tetap berdiri. Para anggota pengurusnya masih tetap terdiri dari tokoh-tokoh penting dalam bidang kebudayaan, kesenian dan pendidikan dari berbagai universitas dan organisasi budaya di Yogyakarta. Kepemimpinan harian kantor berada dalam tangan ibu Anggi Minarni di dukung oleh 10 orang pegawai yang sebagian besar sudah bekerja lebih dari 10 tahun untuk Karta Pustaka.

Dalam tahun 2003 Yayasan Karta Pustaka telah merumuskan ulang tujuannya yaitu: penguatan persahabatan antara Indonesia dengan negeri Belanda melalui kebudayaan memfasilitasi kegiatan pendidikan masyarakat melalui kebudayaan dan kesenian, dan mendorong upaya upaya pelestarian warisan budaya.

Karta Pustaka bekerja sama dengan Erasmus Huis, Pusat Bahasa Erasmus, dan banyak pusat kebudayaan serta lembaga pendidikan lain di Yogyakarta dan sekitarnya, antara lain dengan Bentara Budaya Yogyakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Jogja Heritage Society, Jogja TV, ELTI Radio, Teater Garasi, Jaringan Perempuan Yogyakarta dan Yayasan Umar Kayam.

Karta Pustaka juga turut memberi sumbangan dalam pengenalan akan kebudayaan Belanda dan Indonesia dalam arti yang luas. Karena itu yayasan ini sering diundang oleh pihak pemerintah maupun swasta untuk bekerjasama dalam bidang kebudayaan di Yogyakarta. Karta Pustaka berpendapat bahwa kebudayaan bisa membentuk sebuah jembatan yang mantap antara manusia dari berbagai budaya, dan merupakan sebuah alat bantu yang sangat baik untuk menghargai insan manusia.

Yayasan Karta Pustaka sungguh sesuai dengan makna namanya, karena Karta Pustaka berarti: perpustakaan yang berkembang; perpustakaannya benar benar bertumbuh dan saat ini berjumlah 9.000 judul, terutama terdiri dari buku buku mengenai kebudayaan. Dalam tahun 2009 sebanyak 4873 orang telah memanfaatkan perpustakaan ini, kebanyakan para mahasiswa berusia antara 19 – 35 tahun, dan para peneliti. Di samping itu para anggota yang berusia lebih tua tetap memanfaatkan perpustakaan ini dengan setia. Beberapa acara diselenggarakan di pendopo (ruang tamu dari bangunan Jawa) Karta Pustaka, dan hal ini kembali meningkatkan jumlah pengunjung perpustakaan.

Dalam tahun 2009 juga kembali diadakan berbagai kursus bahasa Belanda untuk komunikasi aktif, adapun kelas reguler dan les privat. Terdapat 198 peserta kursus yang terdiri dari para mahasiswa, pegawai biro perjalanan, atau orang orang yang telah menikah dengan orang Belanda. Secara total ada 16 orang yang telah mengikuti ujian dari CnaVT dari Nederlandse Taalunie (Persatuan Bahasa Belanda). Atas bantuan Erasmus Huis, maka bagi ketiga tenaga pengajar terdapat kemungkinan untuk mengikuti pendidikan lanjutan di Pusat Bahasa Erasmus di Jakarta, di negeri Belanda atau di Belgia.

Bersama dengan Erasmus Huis telah diselenggarakan 8 kegiatan berikut ini dalam tahun 2009:

  • ceramah oleh Louis Zweer dan pemutaran film dokumenter karya Alfred Hustinx di pendopo Karta Pustaka, yang banyak diminati para fotografer muda, jurnalis foto dan mahasiswa.
  • konser musik klasik oleh Trio Storioni di ruangan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, yang terutama telah menarik minat publik muda usia (400 pengunjung).
  • duo akordeon TOEAC beranggotakan Pieternel Berkers dan Renée Bekkers (350 pengunjung). TOEAC juga telah mengunjungi sebuah sekolah menengah dan memperkenalkan musik akordeon kepada para siswa (100 orang).
  • konser musik jazz oleh Sensual Band dan Denise Jannah dengan kelompoknya, dengan lebih dari 600 orang pengunjung pada masing masing konser.
  • trio Mike del Ferro menyajikan sebuah konser musik jazz dalam kerjasama dengan orkes gamelan Azied Dewa Trio dari Yogyakarta. Sebuah perpaduan yang luar biasa dari instrumen musik diatonis Barat dengan gamelan pentatonis dari Yogya (400 pengunjung).
  • pameran desain grafis oleh Max Kisman membawa banyak inspirasi bagi para dosen dan mahasiswa sekolah desain grafis (300 pengunjung).
  • pameran “Buku dengan Desain Terbaik”, dengan lokakarya (40 mahasiswa) dan ceramah (75 mahasiswa) oleh Joost Grootens (600 pengunjung).
  • Konser Gypsy Jazz oleh kelompok Pigalle 44 di Fakultas Kedokteran UGM merupakan sebuah sukses besar. Sebanyak 300 penonton menunggu selama hampir 2 jam kedatangan para artis yang terlambat karena jadwal penerbangan.

Baik dalam kerjasama dengan pihak lain ataupun tidak, atas inisiatif sendiri Karta Pustaka antara lain juga telah mengadakan kegiatan berikut :

  • pameran gambar oleh Clementine Oomes, seorang ilustrator koran NRC Handelsblad dan buku anak anak (total 200 pengunjung).
  • Europe Days, bekerjasama dengan pusat kebudayaan lainnya, membawa informasi tentang kebudayaan Europa, bahasa dan pendidikan (total 1500 pengunjung).
  • International Women’s Day, dengan penampilan kaum wanita dari Indonesia, Belanda, Perancis dan Amerika (250 pengunjung).
  • Opera “Mata Hari” bekerjasama dengan ISI Yogyakarta dan Taman Budaya Yogyakarta, dengan sutradara panggung Joned Suryatmoko, penata musik Edward van Ness dan komposer Vincent MsDermott, desainer kostum Afif Syakur, restoran Gajah Wong, peralatan tata suara dan tata cahaya dari MadFlash (400 pengunjung).
  • “Anak dan Perangko”, sebuah kerjasama dengan perkumpulan Filateli Indonesia Yogyakarta, dan PT POS. Setiap hari anak anak dari berbagai sekolah dan rumah piatu dari Yogya dan sekitarnya mengunjungi pameran, dan bercakap-cakap dengan anak anak yang memenangkan hadiah karena keindahan koleksi perangko mereka (400 pengunjung).
  • Pameran pameran foto oleh para mahasiswa dari berbagai universitas atau perkumpulan foto, dilanjutkan oleh diskusi dengan para wartawan foto senior dari media pers nasional seperti a.l. Kompas dan Tempo.
  • Indonesia Arts and Culture Scholarship, sebuah program yang diikuti oleh 12 siswa dari 12 negara di Asia Pasifik, untuk belajar mengenal kesenian dan kebudayaan Indonesia.
  • “Seven Needles”, sebuah pameran karya bordir, rajutan dan manik manik, yang dilanjutkan dengan lokakarya (300 pengunjung).
  • “Seniman Membaca Mangunwijaya”, dalam rangka mengenang Pater YB Mangunwijaya, seorang pendeta Katolik, bapak pelindung wilayah miskin pinggir kali Code, arsitek dan penulis dari karya karya prosa terkenal.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1    Simpulan

Penelitian ini dapat disimpulkan menjadi dua poin;

1. Peran Culture Library Foundation sebagai pusat kebudayaan adalah menjadi tempat apresiasi, eksperimen dan mencipta di bidang kebudayaan. Peran ini ditunjang oleh koleksi yang representatif di bidang kebudayaan di samping keragaman jenis informasinya. Bahan informasi itu terdiri dari;  pertama, koleksi cetak terdiri dari buku, majalah, ensiklopedi, kamus, surat kabar, tabloid;  kedua, adalah koleksi  non cetak, kaset, foto atau compact disc terbitan/produksi dalam negeri maupun luar negeri.

2. Perpustakaan yang concern di bidang kebudayaan berpijak di dua tempat. Pertama berpijak pada koleksi yang representatif sehingga user  mampu melakukan apresiasi secara komprehensif atau analitis, mengerjakan ekspreimen dengan bahan rujukan yang beragam dan kaya, mencipta dengan kekayaan pengetahuan dan pengalaman. Kedua, berpijak pada kegiatan pendukung yang mampu menjadi pendorong apresiasi, eksperimen dan mencipta, atau dengan kata lain koleksi perpustakaan dimanfaatkan atau membantu dengan cara tidak langsung, ada terminal-terminal sebelumnya yang harus disinggahi. Kegiatan pendukung itu antara lain; pembacaan puisi, pameran, pementarasan, diskusi, sarasehan. Misalnya dengan pembacaan puisi, karya itu akan dikenal ketika orang belum mengetahui karya itu berada di buku apa. Pembacaan puisi juga menambah kaya puisi itu sendiri, karena di apresiasi, dipelajari, dan menambah ketenangan hati, keluasan pikiran.

4.2  Saran

1. Kebudayaan memiliki ranah yang cukup luas. Masuk ke dalam bidang kebudayaan laiknya sebuah penentuan pilihan atau posisi. Culture Library Foundation lewat perpustakaan sebagai salah satu sarana penyimpan informasi dan penyebaran informasi juga memilih posisi tertentu dalam wilayah kebudayaan. Hal ini berpengaruh terhadap pilihan atau penentuan kebijakan dalam koleksi apa yang harus di sediakan, juga pada kegiatan apa yang harus diselenggarakan, siapa saja pesertanya sebagai upaya untuk menghimpun koleksi atau menyebarkan informasi budaya. Upaya untuk mengakomodir semua aktivitas dan kelompok kebudayaan juga mustahil tetapi setidaknya ada cara untuk selalu mengikuti perkembangan kebudayaan yang lebih intens (rutin dan dalam). Caranya adalah dengan melakukan penelitian-penelitian budaya yang dilakukan yayasan sendiri maupun bekerjasama dengan pihak lain.

2.  Culture Library Foundation, jika dilihat dari segi pengunjung yang memanfaatkan adalah golongan tertentu. Koleksi yang dimiliki memiliki nilai informasi dan sejarah yang tinggi. Sehingga harus ada upaya-upaya untuk mengenalkan koleksi-koleksi yang dimiliki terhadap masyarakat. Koleksi bernilai tinggi ini bagi sebagian orang menunjukkan kesan angker, dingin dan tidak menarik. Hal ini untuk beberapa kasus mungkin masalah penyampaian. Artinya harus ada cara lain untuk menyampaikan selain dengan cara informasi yang disajikan lewat format penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Dudung. 2003. Pengantar Metode Penelitian. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta.

Alisjahbana, S.Takdir. (t.t.). ANTROPOLOGI BARU. Nilai-nilai Sebagai Tenaga Integrasi dalam Pribadi, Masyarakat dan Kebudayaan. Jakarta: Universitas Nasional dan Dian Rakyat.

Azwar, Saifuddin. 1999. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Budiman, Hikmat. 2002. Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Capra, Fritjof. 2000. Titik Balik Peradaban. Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan. Turning Point. Science, Society and The Rising Culture.

Thoyibi (penerj). Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. Driyarkara. 1980. Tentang Pendidikan. Jakarta: Yayasan Kanisius.

Darma, Budi. 2001. Ironi si kembar siam: Tentang posmo dan kajian budaya. Dalam jurnal Kalam. Edisi 18, tahun 2001

Ganap, Victor. 2001. Musik Keroncong Tugu Sebuah Sintesis Budaya Hibrida dalam Selonding Jurnal Etnomusikologi Volume 1, Nomor 1, September 2001.

Hamakonda, Towa [dan] J.N.B. Tairas. 1992. Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey. Jakarta: Gunung Mulia.

Jubaidi, M. 2008. Strategi Pengembangan Perpustakaan Masjid Raya Klaten. (Skripsi). Yogyakarta: Fakultas Adab Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN SUKA.

Koentjaraningrat. 2002. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan.  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

11/26/2012 Posted by | CONTOH LKTM | , , , , | 2 Komentar

Motivasi Belajar

Ada beberapa hal terkait dengan motivasi belajar yang akan diuraikan pada bagian berikut ini:

2.2.1 Pengertian Motivasi Belajar

            Motivasi belajar pada dasarnya merupakan bagian dari motivasi secara umum. Dalam kegiatan belajar mengajar dikenal adanya motivasi belajar yaitu motivasi yang ada dalam dunia pendidikan atau motivasi yang dimiliki peserta didik (siswa).

            Sardiman (2006) mengemukakan bahwa “motif” dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitas tertentu demi mencapai tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata “motif” maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila keinginan untuk mencapai kebutuhan sangat kuat. Selain itu, menurut Dimyati dan Mudjiono (2006) motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Nasution ( dalam Rohani, 2004) menyatakan motivasi peserta didik (siswa) adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga siswa mau melakukan apa yang dapat dilakukannya.

Menurut Winkel (2005) “Motivasi belajar ialah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan. Motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah atau semangat dalam belajar, sehingga siswa yang bermotivasi kuat memiliki energi banyak untuk melakukan kegiatan belajar”.

            Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa motivasi belajar adalah suatu penggerak yang timbul dari kekuatan mental diri peserta didik maupun dari penciptaan kondisi belajar sedemikian rupa untuk mencapai tujuan-tujuan belajar itu sendiri.

2.2.2 Fungsi Motivasi dalam Belajar

Motivasi belajar dianggap penting di dalam proses belajar dan pembelajaran dilihat dari segi fungsi dan nilainya atau manfaatnya. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi belajar mendorong timbulnya tingkah laku dan mempengaruhi serta mengubah tingkah laku siswa. Menurut Sardiman (2001) mengemukakan tiga fungsi motivasi yaitu:

1)      Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan.

Tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

2)      Motivasi berfungsi sebagai pengarah.

Artinya motivasi mengarahkan perubahan untuk mencapai yang diinginkan.  Dengan demikian, motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

3)      Motivasi berfungsi sebagai penggerak.

Artinya mengerakkan tingkah laku seseorang. Selain itu, motivasi belajar berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi.

2.2.3 Jenis-jenis Motivasi

Secara umum, motivasi dibedakan menjadi dua jenis yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik.

1)      Motivasi Instrinsik

            Hamalik (2004) berpendapat bahwa motivasi instrinsik adalah motivasi yang tercakup dalam situasi belajar yang bersumber dari kebutuhan dan tujuan-tujuan siswa sendiri. Sedangkan menurut Sardiman (2006) motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif dan berfungsi tidak perlu dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Dengan kata lain, individu terdorong untuk bertingkah laku ke arah tujuan tetentu tanpa adanya faktor pendorong dari luar. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas dapat dikatakan bahwa motivasi instrinsik adalah motivasi yang tercakup dalam situasi belajar yang bersumber dari kebutuhan dan tujuan-tujuan siswa sendiri atau dengan kata lain motivasi instrinsik tudak memerlukan rangsangan dari luar tetapi berasal dari diri siswa.

            Siswa yang termotivasi secara instrinsik dapat terlihat dari kegiatannya yang tekun dalam mengerjakan tugas-tugas belajar karena bituh dan ingin mencapai tujuan belajar yang sebenarnya. Dengan kata lain, motivasi instrinsik dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukan adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan itu sendiri (Sardiman, 2001). Siswa yang memiliki motivasi instrinsik menunjukkan keterlibatan dan aktivitas yang tinggi dalam belajar.

            Motivasi dalam diri merupakan keinginan dasar yang mendorong individu mencapai berbagai pemenuhan segala kebutuhan diri sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan dasar siswa, guru memanfaatkan dorongan keingintahuan siswa yang bersifat alamiah dengan jalan menyajikan materi yang cocok dan bermakna bagi siswa. Menurut Usman (2005) motivasi instrinsik timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari orang lain tetapi atas kemauan sendiri.

            Pada dasarnya siswa belajar didorong oleh keinginan sendiri maka siswa secara mandiri dapat menentukan tujuan yang dapat dicapainya dan aktivitas-aktivitasnya yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan belajar. seseorang mempunyai motivasi instrinsik karena didorong rasa ingin tahu, mencapai tujuan menambah pengetahuan. Dengan kata lain, motivasi instrinsik bersumber pada kebutuhan yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Motivasi instrinsik muncul dari kesadaran diri sendiri, bukan karena ingin mendapat pujian atau ganjaran.

            Guru dapat menggunakan beberapa strategi dalam pembelajaran agar siswa termotivasi secara instrinsik, yaitu:

  1. Mengaitkan tujuan belajar dengan tujuan siswa sehingga tujuan belajar menjadi tujuan siswa atau sama dengan tujuan siswa.
  2. Memberi kebebasan kepada siswa untuk memperluas kegiatan dan materi belajar selama masih dalam batas-batas daerah belajar yang pokok.
  3. Memberikan waktu ekstra yang cukup banyak bagi siswa untuk mengembangkan tugas-tugas mereka dan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang ada di sekolah.
  4. Kadang kala memberikan penghargaan atas pekerjaan siswa.
  5. Meminta siswa-siswanya untuk menjelaskan dan membacakan tugas-tugas yang mereka buat, kalau mereka ingin melakukannya. Hal ini perlu dilakukan terutama sekali terhadap tugas yang bukan merupakan tugas pokok yang harus dikerjakan oleh siswa, kalau tugas dikerjakan dengan baik.

2)      Motivasi Ekstrinsik

            Motivasi ekstrinsik berbeda dari motivasi instrinsik karena dalam motivasi ini keinginan siswa untuk belajar sangat dipengaruhi oleh adanya dorongan atau rangsangan dari luar. Dorongan dari luar tersebut dapat berupa pujian, celaan, hadiah, hukuman dan teguran dari guru. Menurut Sardiman (2006) motivasi ekstrinsik adalah “motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya rangsangan atau dorongan dari luar”. Bagian yang terpenting dari motivasi ini bukanlah tujuan belajar untuk mengetahui sesuatu tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik, sehingga mendapatkan hadiah.

            Motivasi instrinsik juga diperlukan dalam kegiatan belajar karena tidak semua siswa memiliki motivasi yang kuat dari dalam dirinya untuk belajar. Guru sangat berperan dalam rangka menumbuhkan motivasi ekstrinsik. Pemberian motivasi ekstrinsik harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa, karena jika siswa diberikan motivasi ekstrinsik secara berlebihan maka motivasi instrinsik yang sudah ada dalam diri siswa akan hilang. Motivasi ekstrinsik dapat membangkitkan motivasi instrinsik, sehingga motivasi ekstrinsik sangat diperlukan dalam pembelajaran.

            Dimyanti (2006) mengemukakan bahwa motivasi ekstrinsik dapat berubah menjadi motivasi instrinsik jika siswa menyadari pentingnya belajar. Motivasi ekstrinsik juga sangat diperlukan oleh siswa dalam pembelajaran karena adanya kemungkianan perubahan keadaan siswa dan juga faktor lain seperti kurang meneriknya proses belajar mengajar bagi siswa. Motivasi ekstrinsik dan instrinsik harus saling menambah dan memperkuat sehingga individu dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2.2.4 Cara Membangkitkan Motivasi Belajar

            Upaya-upaya peningkatan motivasi belajar siswa dilakukan oleh guru dengan menggunakan berbagai cara. Pemilihan cara membangkitkan motivasi belajar siswa harus disesuaikan dengan karakteristik siswa dan juga mata pelajaran yang sedang diajarkan oleh guru. Siswa yang mempunyai motivasi belajar dan berprestasi instrinsik yang kuat berbeda penenganannya dengan siswa yang bermotivasi belajar dan berprestasi ekstrinsiknya yang kuat. Di sisi lain faktor-faktor terjadinya penurunan motivasi belajar dan berprestasi juga turut  menentukan pemilihan upaya yang akan dilakukan.

            Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh guru membangkitkan motivasi belajar siswa, baik motivasi instrinsik maupun ekstrinsik antara lain dengan cara:

  1. Memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi.
  2. Adanya persaingan atau kompetisi di dalam kelas.
  3. Pemberian hadiah atau pujian terhadap siswa-siswa yang memiliki prestasi baik dan memberikan hukuman kepada siswa yang prestasinya mengalami penurunan.
  4. Adanya pemberitahuan tentang kemujan belajar siswa.

Dengan mengetahui hasil pekerjaan maka siswa akan terdorong untuk lebih giat belajar, apabila jika hasil yang diperoleh menunjukkan kemajuan.

  1. Ego involvement.

Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimenya sebagai tantangan.

  1. Pemberian ulangan.

Guru harus memberitahukan terlebih dahulu jika akan diadakan ulangan karena siswa akan lebih giat belajar jika mengetahui akan ada ulangan.

  1. Adanya hasrat untuk belajar.

Hasrat untuk belajar berarti kemauan yang timbul pada diri anak didik untuk belajar, sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

  1. Minat.

Minat merupakan alat pokok dalam rangka memotivasi siswa. Cara yang bisa diambil oleh guru untuk membangkitkan minat belajar siswa menurut Sardiman (2006) adalah membangkitkan adanya kebutuhan, menghubungkan materi dengan keadaan sebenarnya, serta menggunakan berbagai metode mengajar.

  1. Tujuan yang diakui.

Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, merupakan alat motivasi yang sangat penting. Semua cara tersebut bisa adopsi oleh guru untuk menambah motivasi siswa agar meningkatkan hasil belajarnya.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

11/09/2012 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , , | Tinggalkan komentar

PETUNJUK RINGKAS PENULISAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS*)

A. Judul Penelitian PTK

  • Ditulis secara singkat, spesifik dan jelas
  • Menggambarkan masalah yang akan diteliti
  • Menggambarkan tindakan penelitian yang dipilih untuk memecahkan masalah
  • Ada Setting (tempat dan waktu)
  • Jumlah kata jangan terlalu panjang sekitar  20-25 kata

Contoh:

  1. Penggunaan Metode Matrik Perbandingan untuk Meningkatkan motivasi dan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran Kawasan Benua dan Negara Tetangga  di Kelas 7 SMPN 3 Solo Tahun 2004
  2. Meminimalisir  Miskonsepsi Siswa Dalam Pembelajaran IPS  melalui Penggunaan Modul IPS Terpadu di Kelas VII SMPN 10 Solo Tahun 2007
  3. Peningkatkan keberanian siswa untuk berenang melalui penggunaan alat-alat bantu berenang pada Siswa Kelas 3 SDN I Jaten Kec Jaten Kab Karanganyar
  4. Mempercepat ketepatan  Handgrip melalui Pola Latihan Silang antara pukulan Forhand Volley dan groundstroke Depan Belakang Pada Permainan Tenis Kelompok Ex Pemain Badminton.

 

B. Bab Pendahuluan

1. Latar Belakang Masalah

  • Masalah PTK yang diangkat:
    • Merupakan masalah nyata di kelas / sekolah, bukan hasil kajian teoretik dari buku
    • Dapat terinspirasi dari hasil penelitian terdahulu, tetapi  digali dari permasalahan pembelajaran yang aktual.
    • Masalah didiagnosis secara kolaboratif oleh guru atau kelompok guru.
  • Masalah harus bersifat:
    • penting dan mendesak untuk dipecahkan,
    • dapat dilaksanakan (ketersediaan waktu, biaya dan daya dukung lainnya).
  • Hal-hal yang perlu dideskripsikan pada LBM:

-          Deskripsikan masalah yang dihadapi

-          Sajikan fakta/bukti-buktinya

-          Deskripsikan apa yang seharusnya dicapai

-          Deskripsikan dampaknya jika masalah tersebut tdk teratasi

-          Deskripsikan penyebab-penyebab masalah tersebut

-          Deskripsikan alternatif pemecahan masalah tersebut

 

2.  Rumusan Masalah

  1. Sajian rumusan masalah harus dilihat dari aspek substansi dan bentuk rumusannya

l  Substansi rumusan masalah PTK

lAda permasalahan yang akan diatasi

lAda alternatif tindakan yang akan diambil dan hasil

     positif yang diantisipasi

l  Bentuk rumusan menggunakan kalimat tanya, contoh:

l  Apakah Penggunaan Metode Matrik Perbandingan  dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam  pembelajaran Geografi  Kawasan Benua dan Negara Tetangga di kelas 7a SLTPN 3 Solo?

l  Apakah Penggunaan Modul IPS Terpadu dapat Meminimalisir Miskonsepsi Siswa dalam Pembelajaran IPS di SMPN 10 Solo?

l  Apakah penggunaan alat-alat bantu berenang dapat meningkatkan keberanian siswa untuk berenang pada siswa Kelas 3 SDN I Jaten Kec Jaten Kab Karanganyar?

l  Apakah penggunaan pola latihan pukulan Forhand Volley dan groundstroke Depan Belakang dapat mempercepat ketepatan  Handgrip  permainan tenis pada Kelompok Ex Pemain Badminton Siswa SMPN 2 Kab karanganyar?

l  Apakah penggunaan gaya umpan balik Reciprocal Style dapat meningkatkan kemampuan passing bawah dalam pembelajaran bermain bolavolly pada siswa kelas XI SMAN karangpandan Kab Karanganyar Tahun 2008?

     b. Buat definisi operasional dari variabel pokok penelitian

3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian  perlu dirumuskan secara singkat dan jelas tentang apa yang ingin diatasi atau dicapai berdasarkan permasalahandan cara pemecahan masalah yang dikemukakan.

Contoh:

  1. 1.      untuk mengetahui peningkakan motivasi belajar siswa melalui penggunaan penggunaan metode matrik perbandingan
  2. 2.      Meningkatkan hasil belajar yang lebih bermakna baik aspek kognitif, afektif dan psikomotorik siswa melalui penggunaan penggunaan metode matrik perbandingan

4. Manfaat Penelitian

- Manfaat penelitian perlu diuraikan secara jelas dan sistematis baik praktis maupun teoritis

- Kemukakan manfaat bagi siswa, guru, komponen pendidikan terkait di sekolah,.

1. Bagi siswa:

  1.                               a.      Tumbuhnya motivasi siswa dalam proses pembelajaran
  2.                               b.      Meningkatnya hasil belajar siswa baik aspek kognitif maupun afektif
  3.                                c.      Meningkatnya ketrampilan sosial siswa dalam bergaul di lingkungan sosialnya 
  4.                               d.      Meningkatnya keaktifan siswa dalam belajar

 

2. Bagi guru:

  1. a.      mengetahui strategi pembelajaran yang bervariasi untuk memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran Pengetahuan sosial
  2. b.      Diperolehnya strategi pembelajaran yang tepat untuk materi bahasan Negara maju dan Negara berkembang
  3. c.       Diperolehnya media pembelajaran yang cocok untuk pembelajaran Kawasan Regional

 

  1. 2.            Bagi Sekolah:
  2.                               a.      Meningkatnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial
  3.                               b.      Tumbuhnya motivasi guru dalam mengembangkan proses pembelajaran yang bermutu
  4.                                c.      Tumbuhnya iklim  pembelajaran  siswa aktif di sekolah

 

C. Bab Kajian Teori dan Hipotesis Tindakan

  1. Deskripsikan kajian teori yang relevan dengan topik penelitian yang dilakukan , terutama variabel yang mau diatasi (variabel Y= variabel terikat) dan variabel digunakan untuk mengatasi (variabel X= variabel bebas)
  2. Deskripsikan hasil penelitian terdahulu yang relevan dg topik yang diteliti
  3. Buat kerangka pemikiran yang menjelaskan keandalan tindakan untuk mengatasi masalah.
  4. Buat kerangka pemikiran diatas dalam bentuk gambar skema tindakan
  5. Tulislah Hipotesis tindakan.

 

 

D. Bab Metode Penelitian

  1. Setting Penelitian

Deskripsikan Tempat, kondisi dan waktu penelitian dilakukan

  1. Subjek Penelitian

Deskripsikan Subjek penelitian secara lugas yang mencakup jumlah, jenis kelamin, cakupan, kondisi siswa.

  1. Prosedur Penelitian

Jelaskan metode penelitian, siklus penelitian, dan prosedur penelitian

Jelaskan jumlah siklus, tindakan siklus I, siklus 2 dan seterusnya disertai dengan penjelasan

Prosedur Penelitian mencakup: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi serta analisis dan refleksi

a. Perencanaan Tindakan

    Deskripsikan tentang persiapan tindakan, kegiatannya

    mencakup :

-          penyusunan rencana tindakan (skenario pembelajaran)

-          penyusunan media

-          penyusunan materi

-          penyusunan instrumen

-          Simulasi rencana tindakan (skenario pembelajaran)

         b. Pelaksanaan tindakan

               Deskripsikan rencana pelaksanaan  tindakan dalam bentuk RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) serta jumlah pertemuaannya.

   c. Observasi tindakan

  Jelaskan data yang dikumpulkan dan teknik pengumpulan data

 (soal test, lembar observasi, kuesioner)

   d. Analisis dan Refleksi

  Deskripsikan teknik analisis yang digunakan serta bahan dan   prosedur refleksi yang  digunakan

 

E. Bab Hasil Penelitian dan Pembahasan

 

Pada bagian ini sistematika sajiannya dapat dibuat sebagai berikut:

a)      Kondisi Awal

b)      Siklus I

c)      Siklus II

d)     Siklus  III)

e)      Siklus berikutnya (jika ada)

f)       Pembahasan antar siklus

Penjelasan

1)  Kondisi Awal

     Deskripsikan fakta dari permasalahan atau kondisi variabel yang ada sebelum dilakukan peneltian, misal: nilai tes rata-rata yang dicapai, aspek ketrampilan sosial yang ada, tingkat keberanian bertanya siswa, miskonsepsi yang terjadi , dan sebagainya.

2)  Siklus I,

Untuk masing-masing siklus dapat disajikan urutan sebagai berikut:

  1. Rencana tindakan (deskripsikan skenario pembelajaran),
  2. Pelaksanaan tindakan (deskripsi hasil observasi proses pelaksanaan pembelajaran secara rinci dari dari awal sampai akhir setiap pertemuan)
  3. Hasil Tindakan   (sajikan /deskripsikan hasil analisis data dari observasi proses, hasil test, dan angket)

  1. Hasil Belajar Siswa Aspek Kognitif
  2. Hasil Belajar siswa apek ketrampilan sosial (keberanian siswa dalam bertanya, berpendapat dan berargumentasi)
  3. Efektifitas cara pembelajaran menurut siswa     dan seterusnya

  1. Refleksi

a) Deskripsikan hasil analisis tindakan dan bandingkan dengan indikator kinerja yang telah ditetapkan), dan sertakan fakta-fakta penting dalam proses penelitian sebagai bahan analisis kritis.

b) Deskripsi ini merupakan sajian  analisis kritis  terhadap indikator kinerja VS hasil tindakan serta pengembangan konsep teoritis dan rencana tindak lanjut yang diperlukan.

3) Siklus II (seperti siklus I)

4) Siklus III ((seperti siklus I)

5) Pembahasan Antar Siklus

F. Bab Simpulan dan Saran

  1. Simpulan

Simpulan merupakan jawaban terhadap perumusan masalah. Jadi untuk membuat kesimpulan harus disesuaikan  perumusan masalahanya, jika ada 3 perumusan masalah pada bagian pendahuluan maka minimal ada 3 kesimpulan yang harus dibuat.

  1. Saran

      Merupakan tindak lanjut dari hasil penelitian baik yang bersifat teoritis, praktis, maupun kebijakan.

 

 

 

G. Sistematika Penulisan Proposal PTK

 

BAGIAN PEMBUKA

            Halaman Judul

            Daftar Isi

Bagian I. Pendahuluan

A.  Latar Belakang Masalah

B.  Perumusan Masalah

C.  Tujuan Penelitian

D.  Manfaat Penelitian

Bagian II. Landasan Teori dan Pengajuan Hipotesis

A.  Tinjauan Pustaka

            B.  Hasil Penelitian yang Relevan

C.  Kerangka Pemikiran

D.    Hipotesis Tindakan

Bagian III Metode Penelitian (cara penelitian)

A.    Setting Penelitian

B.     Subjek Penelitian

C.     Prosedur Penelitian (langkah-langkah PTK)

  1. Perencanaan Tindakan
  2. Pelaksanaan Tindakan
  3. Observasi Tindakan
  4. Analisis dan Refleksi

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

H. SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN PTK

BAGIAN PEMBUKA

            Halaman Judul

            Lembar Pengesahan

            Kata Pengantar

            Daftar Isi

            Daftar Tabel (bila ada)

            Daftar Gambar (bila ada)

            Daftar Lampiran

            Abstrak atau ringkasan

BAB I. PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

B.  Perumusan Masalah

C.  Tujuan Penelitian

D.  Manfaat Penelitian

BAB II. LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A.  Tinjauan Pustaka

            B.  Hasil Penelitian yang Relevan

C.  Kerangka Pemikiran

E.     Hipotesis Tindakan

BAB III METODE PENELITIAN (CARA PENELITIAN)

A.    Setting Penelitian

B.     Subjek Penelitian

C.     Prosedur Penelitian (langkah-langkah PTK)

  1. Perencanaan Tindakan
  2. Pelaksanaan Tindakan
  3. Observasi Tindakan
  4. Analisis dan Refleksi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Siklus I

B.     Siklus II

C.     Siklus  III)

D.    Siklus berikutnya (jika ada)

  1. Pembahasan antar siklus

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A.    Simpulan

B.     Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

11/05/2012 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , , , | 1 Komentar

SISTEM PERTAHANAN TUBUH

A. Antigen dan Antibodi
Seorang pendekar bela diri tentu mampu meng antisipasi berbagai macam serangan dari lawannya. Bahkan, serangan dari banyak lawan dalam satu waktu sekaligus pun dapat teratasi. Nah, sama seperti halnya pendekar bela diri, tubuh kita juga memiliki sistem yang dapat mempertahankan tubuh dari berbagai macam serangan penyakit. Suatu sistem dalam tubuh yang memiliki peran utama dalam pertahanan diri ini disebut sistem pertahanan tubuh atau sistem imun. Sistem ini terdiri atas struktur dan sel yang didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah se-bagai pelindung dari serangan benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Sementara ilmu yang mempelajari sistem imun atau kekebalan tubuh disebut immunologi.
Apabila sistem imun di dalam tubuh kita baik, tentu serangan penyakit dapat ditangkal sedini mungkin. Sebaliknya, bila sistem imun
tubuh kita lemah, kemungkinan terserang penyakit pun menjadi besar.Di dalam tubuh, sistem imun melawan berbagai penyerang
asing atau antigen dengan garis pertahanan yang bertahap. Tahapan-nya dimulai dari garis pertahanan pertama seperti kulit, membran
mukosa, sekresi dari kulit dan mukosa. Garis pertahanan kedua de-ngan fagositosis oleh sel darah putih, protein antimikroba, dan respon peradangan. Sementara garis pertahanan ketiga melalui limfosit yang menghasilkan antibodi.
Pada subbab berikut, kita mempelajari mekanisme perta hanan tubuh dari antigen dengan pembentukan antibodi. Oleh karena itu,
simak dan pahami uraian berikut.
1. Pengertian Antigen dan Antibodi
Tanpa kita sadari, sebenarnya di lingkungan sekitar terdapat banyak bibit penyakit yang dapat mengancam tubuh. Ketika perta hanan tubuh lemah, dengan segera bibit penyakit akan menyerang. Berbagai bibit penyakit tersebut dapat melayang di udara, larut dalam air, menempel pada tanah, meja, kursi bahkan buku dan pensil. Bakteri, virus dan organisme sejenisnya adalah contoh bibit penyakit yang dapat menye-rang tubuh.
• Imun
• Imunisasi
• Antigen
• Antibodi
• Vaksin

Berbagai organisme dan substansi asing yang masuk ke dalam tu-buh dinamakan antigen. Antigen meliputi molekul yang dimiliki virus,
bakteri, fungi, protozoa, dan cacing parasit. Apabila antigen tersebut masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh meningkatkan sistem pertahanannya. Peningkatan sistem pertahanan dilakukan untuk mela-wan serangan-serangan dari organisme dan substansi asing tersebut.
Caranya yakni dengan memproduksi suatu zat sejenis protein atau polisakarida. Zat yang demikian dinamakan antibodi. Pada umumnya, antibodi terletak dan melekat pada permukaan sel. Namun, apabila tidak melekat, antibodi berada dalam darah dan dalam sekresi jaringan eksokrin. Awalnya, antibodi ditemukan pada serum darah, yakni cairan darah yang dipisahkan dari sel-selnya. Oleh
karena itu, banyak penyakit yang dapat didiagnosis dengan keberadaan antibodi khusus dalam serum. Ilmu yang mempelajari cara seperti ini dinamakan serologiyang merupakan cabang immunologi

2. Struktur dan Fungsi Antibodi
Antigen merupakan protein dan permukaan polisakarida berbagai mikroba, jaringan cangkokan yang tidak cocok, ataupun sel-sel darah yang ditransfusikan. Selain itu, antigen dapat pula berwujud protein asing seperti racun lebah atau serbuk sari yang dapat menyebabkan alergi atau hipersensitivitas.
Sebuah antigen mempunyai bagian pada permukaan suatu or-ganisme atau substansi tertentu yang dapat berikatan dengan antibodi.
Bagian tersebut dinamakan epitopatau determinan antigenik. Semua epitop tentu akan berikatan dengan antibodi yang sesuai. Sehingga per-mukaan bakteri, misalnya, yang berperan sebagai antigen seluruhnya
dapat ditutupi oleh banyak jenis antibodi.
Antibodi merupakan protein terdiri atas satu atau lebih molekul yang berbentuk huruf Y. Empat rantai proteinnya disusun oleh ikatan
sulfida. Dua rantai berat yang identik merupakan batang dan sebagian lengan Y. Sedangkan dua rantai ringan yang identik berada pada bagian
lainnya. Pada kedua molekul berbentuk Y terdapat daerah variable (V) rantai berat dan rantai ringan. Dinamakan seperti itu karena pada ba-gian V memiliki urutan asam amino yang bervariasi dari satu antibodi ke antibodi lainnya.

Umumnya antibodi terdiri atas sekelompok protein yang berada pada fraksi-fraksi globulin serum. Fraksi-fraksi globulin serum ini
dinamakan imunoglobulin atau disingkat Ig. Imunoglobulin ini ber-manfaat apabila di dalam tubuh terjadi reaksi imun. Manusia memiliki beberapa tipe imunoglobulin dengan berbagai struktur. Adapun tipe-tipe imunoglobulin tersebut meliputi imunoglobin
M (IgM), imunoglobulin G (IgG), imunoglobulin A (IgA), imunoglobulin D (IgD), dan imunoglobulin E (IgE).
3. Pembentukan Antigen dan Antibodi
Di dalam tubuh manusia, antibodi dihasilkan oleh organ limfoid sentral yang terdiri atas sumsum tulang dan kelenjar timus, terutama
oleh sel-sel limfosit. Ada dua macam sel limfo sit, yaitu sel limfosit B dan sel limfosit T. Kedua sel ini bekerja sama untuk menghasilkan
antibodi dalam tubuh. Baik antibodi maupun antigen keduanya mempunyai hubungan spesifik yang sangat khas. Keadaan ini terlihat sewaktu antigen masuk ke dalam tubuh. Saat itu, dengan seketika sel limfosit T mendeteksi karakteristik dan jenis antigen. Ke-mudian sel limfosit T bereaksi cepat dengan cara mengikat antigen tersebut melalui permukaan reseptornya. Setelah itu, sel limfosit T membelah dan membentuk klon. Sementara pada permu-kaan membrannya menghasilkan immunoglobu-lin monomerik.
Berikutnya, molekul antigen dan molekul an-tibodi saling berikat an dan ikatan kedua molekul ini ditempatkan pada makrofaga. Secara beruru-tan, makrofaga menghadirkan antigen pada sel limfosit B. Lantas, sel limfosit B berpoliferasi dan menjadi dewasa, sehingga mampu membentuk

Sementara itu, pembuangan antigen setelah diikat antibodi dapat menggunakan berbagai cara, yakni netralisasi, aglutinasi, presipitasi, dan fiksasi komplemen. Perhatikan Gambar 11.6. Netralisasimerupakan cara yang digunakan antibodi untuk berikatan dengan antigensupaya aktivitasnya terhambat. Sebagai contoh, antibodi melekat pada molekul yang akan digunakan virus untuk menginfeksi inangnya. Pada proses ini, antibodi dan antigen dapat mengalami proses opsonisasi, yakni proses pelenyapan bakteri yang diikat antibodi oleh makrofaga melalui fagositosis.

Cara pelenyapan antigen berikutnya adalah aglutinasi. Aglutinasi atau penggumpalan merupakan proses pengikatan antibodi terhadap bakteri atau virus sehingga mudah dinetralkan dan diopsonisasi. Misalnya, IgG yang berikatan dengan dua sel bakteri atau virus secara bersama-sama. Mekanisme yang sama juga terjadi pada cara berikutnya yakni presi pitasi. Presipitasi atau pengendapan merupakan pengikatan silang molekul-molekul antigen yang terlarut dalam cairan tubuh. Setelah di-endapkan, antigen tersebut dikeluarkan dan dibuang melalui fagositosis.
Selain berbagai cara tersebut, pembuangan antigen dapat melalui fiksasi komplemen. Fiksasi komplemen merupakan pengaktifan
ren tetan molekul protein komplemen karena adanya infeksi. Prosesnya menyebabkan virus dan sel-sel patogen yang menginfeksi bagian tubuh menjadi lisis

B. Mekanisme Pertahanan Tubuh
Adanya sistem pertahanan tubuh membuat tubuh kita aman dari serangan penyakit. Diibaratkan sebuah senjata, sistem pertahan-an tubuh membunuh semua bibit penyakit yang menyerang tubuh. Mekanisme yang dilakukan pun amat beragam. Berikut kita bahas ragam mekanisme sistem pertahanan tubuh pada manusia.
1. Ragam Mekanisme Pertahanan Tubuh
Di dalam tubuh, sistem imun yang kita miliki dapat melakukan mekanisme pertahanan dari berbagai jenis antigen, seperti bakteri, virus maupun kuman tertentu. Mekanisme pertahanan tersebut dapat dilaku-kan dengan cara membentuk kekebalan aktif dan kekebalan pasif.
a. Kekebalan Aktif
Kekebalan aktifmerupakan kekebalan tubuh yang diperoleh dari dalam tubuh, karena tubuh membuat antibodi sendiri. Jenis kekebalan ini dapat terbentuk baik secara alami ataupun buatan.Kekebalan aktif alami(natural immunity) adalah kekebalan tu-buh yang diperoleh tubuh setelah seseorang sembuh dari serangan suatu penyakit. Sebagai contoh, orang yang pernah terserang penyakit seperti cacar air, campak, dan gondongan tidak akan terserang penyakit yang sama untuk kedua kalinya. Sebab, tubuh yang terserang sudah begitu kenal atau tidak asing dengan antigen yang menyerang. Akibat-nya, darah membentuk antibodi untuk melawan antigen tersebut.
Selain secara alami, kekebalan aktif dapat diperoleh secara buat an. Kekebalan aktif buatan(induced immunity) diperoleh dari luar tubuh, yakni setelah tubuh mendapatkan vaksinasi. Vaksinasi merupa kan proses memasukkan vaksin ke dalam tubuh supaya tubuh
membentuk antibodi sehingga kebal terhadap suatu penyakit. Se-mentaravaksinialah kuman penyakit yang sudah dilemahkan atau
dijinakkan sehingga tidak berbahaya bagi tubuh.
Tindakan membentuk kekebalan dalam tubuh seseorang de ngan memberikan vaksin disebut imunisasi. Orang yang mengembangkan
imunisasi pertama kali adalah dr. Edward Jenner, seorang dokter berkebangsaan Inggris. Teknik ini seringkali diberikan kepada semua
umur supaya kebal terhadap antigen tertentu. Ada beberapa penyakit yng dapat dilawan dengan vaksin, misalnya vaksin BCG yang mela-wan antigen penyakit TBC.
Imunisasi mempunyai beberapa tipe. Imunisasi yang diberikan kepada individu dari spesies yang sama disebut isoimun. Sedangkan imunisasi yang diberikan pada individu yang berbeda dan dari spesies yang berbeda pula disebut heteroimu

b. Kekebalan Pasif
Kekebalan pasifmerupakan kekebalan yang diperoleh bukan dari antibodi yang disintesis dalam tubuh, melainkan tinggal memakainya
saja. Seperti halnya kekebalan aktif, kekebalan pasif juga terjadi secara alami dan buatan.Kekebalan pasif alamiadalah kekebalan yang diperoleh bukan dari tubuhnya sendiri, melainkan dari tubuh orang lain. Misalnya kekebalan bayi yang diperoleh dari ibunya. Ketika masih dalam kan-dungan, bayi mendapatkan antibodi dari ibunya melalui plasenta dan tali pusat. Kemudian setelah lahir, bayi mendapatkan antibodi dari ASI eksklusif melalui proses menyusui.
Sedangkan kekebalan pasif buatan adalah kekebalan yang di-peroleh dari antibodi yang sudah jadi dan terlarut dalam serum. Sepintas
antibodi ini mirip dengan vaksin. Perbedaannya yakni vaksin bersifat sementara, sedangkan serum dapat digunakan dalam jangka waktu yang relatif lebih lama. Bahkan dapat digunakan seumur hidup. Seba-gai contoh adalah suntikan ATS (Anti Tetanus Serum) dan sun tikan IG (Globulin Imun).
Sistem pertahanan tubuh ibarat benteng yang melindungi tubuh dari serangan berbagai macam antigen. Akan tetapi, adakalanya sistem pertahanan tubuh justru menyerang dan merusak tubuh itu sendiri. Keadaan semacam ini disebut dengan autoimun. Menurut beberapa penelitian, penyakit autoimun lebih banyak menyerang wanita daripada pria, khususnya wanita usia produktif.
Penyakit ini tidak menular, namun memiliki kecenderungan bersifat menurun. Seseorang dikatakan menderita autoimun apabila sistem pertahanan tubuhnya mengalami kesalahan. Kesalahan ini ditandai dengan penyerangan antibodi hasil sintesis tubuh terhadap sel, jaring-an dan organ di dalam tubuh yang sama. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh mengalami peradangan.Autoimun pada manusia kebanyakan menyebabkan timbulnya penyakit. Hasil publikasi dari Lembaga Penyakit Infeksi dan Alergi Nasional (NIAID) Amerika Serikat, menyatakan bahwa penyakit yang disebabkan oleh autoimun menyerang tubuh dengan cara berlainan.
Misalnya, apabila autoimun terjadi di otak, maka akan menyebabkan penyakit multiple sclerosis. Kemudian, apabila autoimun terjadi di usus dapat menyebabkan penyakit crohn. Beberapa jenis penyakit autoimun semakin parah apabila mengalami infeksi oleh virus, paparan sinar matahari, faktor usia, stres kronis, gangguan hormon, dan kehamilan.

Hingga saat ini, penyakit-penyakit autoimun masih sulit untuk didiagnosis, terutama pada stadium dini yang gejalanya tidak spesi-fik. Meski tergolong penyakit kronis, kebanyakan dokter tidak bisa meramalkan kondisi pasien penderita penyakit autoimun pada suatu waktu. Dokter hanya memberikan obat-obatan tertentu dan memoni-tor kondisi pasien tersebut.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

10/31/2012 Posted by | ANFISMAN | 2 Komentar

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD)

Model pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja kelompok dalam memecahkan suatu masalah secara bersama-sama. Beberapa pendapat tentang model belajar kooperatif dikemukakan oleh Slavin (Gerson, 2002:107), “Belajar kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana peserta didik belajar dan bekerjasama dalam kelompok kecil saling membantu untuk mempelajari suatu materi.” Sedangkan Sunal dan Hans (Hariyanto, 2000:18) mengemukakan, “Model kooperatif learning yaitu suatu cara pendekatan atau serangkain strategi yang khusus dirancang untuk memberikan dorongan kepada peserta didik agar bekerjasama selama berlangsungnya proses pembelajaran.”

Selanjutnya Stahl (Wardani, 2001:7) menyatakan, “Cooperatif learning dapat meningkatkan sikap tolong menolong dalam perilaku sosial.” Demikian pula Tim MKPBM (2001:218) mengungkapkan, “Cooperatif Learning mencakupi suatu kelompok kecil peserta didik yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya.

Model pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja kelompok dalam memecahkan suatu masalah secara bersama-sama. TIM MKPBM (2001:217) mengemukakan “model cooperative learning tampaknya akan lebih dapat melatih para peserta didik untuk mendengarkan pendapat orang lain dan merangkum pendapat atau temuan-temuan dalam bentuk tulisan.” Pembelajaran kooperatif ditunjukkan adanya kolaborasi antara beberapa pemikiran sehingga diperoleh pemahaman yang lebih baik. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Slavin, R.E. (2009:8) “dalam model pembelajaran kooperatif akan duduk bersama dalam kelompok yang beranggotakan empat orang untuk menguasai materi yang disampaikan oleh guru. Sebagai contoh misalnya dalam metode yang disebut Student Teams Achievement Division (STAD).”

Mengenai langkah-langkah model pembelajaran kooperatif, Ibrahim, Muslimin, et.al. (2000:10) membagi model pembelajaran kooperatif menjadi enam langkah atau fase, yang dapat dilihat pada Tabel II.1

Tabel II.1
Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif

Fase

Tingkah Laku Guru

  1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik

Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi peserta didik belajar

  1. Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada peserta didik dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

  1. Mengorganisasikan peserta didik ke dalam kelompok-kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada peserta didik bagaimana caranya membentuk kelompok belajar agar melakukan transisi secara efisien

  1. Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka

  1. Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

  1. Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Sumber: Ibrahim, Muslimin, et.al. (2000:10)

Model pembelajaran kooperatif dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan antara lain dengan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD). Pembelajaran kooperatif tipe STAD di kembangkan oleh Robert E. Slavin, di mana pembelajaran tersebut mengacu pada belajar kelompok peserta didik. Dalam satu kelas peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan anggota empat sampai lima orang, setiap kelompok haruslah heterogen.

Jumlah peserta didik bekerja dalam kelompok harus dibatasi, agar kelompok yang terbentuk menjadi efektif, karena ukuran kelompok akan berpengaruh pada kemampuan kelompoknya. Ukuran kelompok yang ideal untuk pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah empat sampai lima orang. Kelebihan kelompok berempat menurut Lie, Anita (2007:47) antara lain:

  1. Mudah dipecah menjadi berpasangan
  2. Lebih banyak ide muncul
  3. Lebih banyak tugas yang bisa dilakukan
  4. Guru mudah memonitor

Slavin (Wardani, Sri, 2006:5-7) mengemukakan bahwa secara garis besar tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut:

  1. Tahap Penyajian Materi

Pada tahap ini, guru mulai dengan menyampaikan tujuan pembelajaran umum dan khusus serta memotivasi rasa keingintahuan peserta didik mengenai topik/materi yang akan dipelajari. Dilanjutkan dengan memberikan apersepsi yang bertujuan mengingatkan peserta didik terhadap materi prasyarat yang telah dipelajari agar peserta didik dapat menghubungkan meteri yang akan diberikan dengan pengetahuan yang dimiliki. Teknik penyajian materi pelajaran dapat dilakukan dengan cara klasikal ataupun melalui diskusi. Mengenai lamanya presentasi dan berapa kali harus dipresentasikan bergantung kepada kekompleksan materi yang akan dibahas.

  1. Tahap kerja Kelompok

Pada tahap ini peserta didik diberikan lembar tugas sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok ini, peserta didik saling berbagi tugas dan saling membantu penyelesaian agar semua anggota kelompok dapat memahami materi yang akan dibahas dan satu lembar dikumpulkan sebagai hasil kerja kelompok. Pada tahap ini guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator kegiatan tiap kelompok.

  1. Tahap Tes Individual

Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar yang akan dicapai diadakan tes secara individual mengenai materi yang telah dibahas, tes individual biasanya dilakukan setiap selesai pembelajaran setiap kali pertemuan, agar peserta didik dapat menunjukkan apa yang telah dipelajari secara individu selama bekerja dalam kelompok Skor perolehan individu ini dikumpulkan dan diarsipkan untuk digunakan pada perhitungan perolehan skor kelompok.

  1. Tahap Perhitungan Skor Perkembangan Individu

Skor perkembangan individu dihitung berdasarkan skor awal. Perhitungan skor perkembangan individu dimaksudkan agar peserta didik terpacu untuk memperoleh prestasi terbaik sesuai dengan kemampuannya.

Berikut ini adalah pedoman pemberian skor perkembangan individu.

Tabel II.2
Konversi Skor Perkembangan Poin Kemajuan

Skor Tes

Poin Kemajuan

Lebih dari 10 poin di bawah skor awal

5 poin

10 – 1 poin di bawah skor awal

10 poin

Skor awal sampai 10 poin di atasnya

20 poin

Lebih dari 10 poin di atas skor awal

30 poin

Kertas jawaban sempurna (terlepas dari skor awal)

30 poin

Sumber: Slavin, R.E. (2009:159)

  1. Tahap Penghargaan Kelompok

Pada tahap ini perhitungan skor kelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan masing-masing skor perkembangan individu kemudian dibagi sesuai jumlah anggota kelompoknya. Pemberian penghargaan diberikan berdasarkan perolehan rata-rata, penghargaan dikategorikan kepada kelompok baik, kelompok hebat dan kelompok super.

Slavin, R.E. (2009:160) mengemukakan kriteria yang digunakan untuk menentukan pemberian penghargaan terhadap kelompok yaitu:

Tabel II.3
Tingkat Penghargaan Kelompok

Rata-rata Kelompok

Penghargaan

15 poin

Tim baik

16 poin

Tim sangat baik

17 poin

Tim super

Sumber: Slavin, R.E. (2009:160)

Berdasarkan uraian di atas, dalam pembelajaran kooperatif yang menggunakan pendekatan STAD guru harus melaksanakan langkah-langkah: penyajian materi, kegiatan kelompok, tes individu, perhitungan skor setiap individu dan penghargaan kelompok. Guru bisa menyajikan materi baik secara klasikal atau pun melalui diskusi, dan tetap harus menyusun perencanaan pelaksanaan pembelajaran dan mempersiapkan lembar kerja peserta didik atau panduan belajar peserta didik, pembentukan kelompok belajar dan menjelaskan pada peserta didik tentang tugas dan perannya dalam kelompok, juga mengenai perencanaan waktu dan tempat duduk peserta didik. Supaya proses pembelajaran terlaksana dengan baik segala sesuatunya harus dipersiapkan dengan baik pula, agar peran aktif peserta didik dan demokrasi benar-benar terlaksana.

  1. Teori Belajar yang Mendukung Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD)

Teori belajar konetruktivisme lahir dari gagasan Piaget dan Vygotsky. Ide dari teori ini adalah peserta didik aktif membangunpengetahuannya sendiri. Otak peserta didik dianggap sebagai mediator yang menerima masukkan dari dunia luar dan menentukan apa yang akan dipelajarinya. Pandangan konstruktivis tentang pembelajaran adalah peserta didik diberi kesempatan memilih dan menggunakan model belajar sendiri dalam belajar dan guru membimbing peserta didik ke tingkat pengetahuan yang lebih tingi. Selain itu peserta didik diberi kesempatan untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial dengan temannya untuk mencapai tujuan belajar.

Menurut Piaget (Depdiknas, 2004:21), “Faktor utama yang mendorong perkembangan kognitif seseorang adalah motivasi atau daya dari diri si individu sendiri untuk mau belajar dan berinteraksi dengan lingkungannya”. Lebih lanjut Piaget (Depdiknas, 2004:5) menjelaskan bahwa perkembangan kemampuan intelektual manusia terjadi karena beberapa faktor yang mempengaruhinya, seperti:

  1. Kematangan (maturation), yaitu pertumbuhan otak dan sistem syaraf manusia karena bertambahnya usia.
  2. Pengalaman (experience), yaitu terdiri dari:
  1. Pengalaman fisik, yaitu interaksi manusia dengan obyek-obyek di lingkungannya.
  2. Pengalaman logika matematis, yaitu kegiatan-kegiatan pikiran yang dilakukan manusia bersangkutan.
  1. Transmisi sosial, yaitu interaksi dan kerja sama yang dilakukan oleh manusia dengan manusia lainnya.
  2. Penyeimbangan (equilibration), yaitu proses struktur mental (struktur kognitif) manusia kehilangan keseimbangan sebagai akibat dari adanya pengalaman-pengalaman baru, kemudian berusaha untuk mencapai keseimbangan baru dengan melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah di mana informasi-informasi dan pengalaman-pengalaman baru diserap (dimasukkan) ke dalam struktur kognitif manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian pada struktur kognitif manusia sebagai akibat dari adanya informasi-informasi dan pengalaman-pengalaman baru yang diserap.

Berdasarkan uraian di atas, teori Piaget sangat mendukung pada pembelajaran kooperatif tipe STAD. Teori Piaget memandang penting dibentuknya kelompok belajar sehingga setiap anak memiliki rasa tanggung jawab dan merasa adanya saling ketergantungan secara positif karena setiap anggota memiliki peran serta dalam mencapai keberhasilan kelompoknya.

 

 

 

10/01/2012 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | 6 Komentar

Pendekatan Reciprocal Teaching

Reciprocal teaching merupakan salah satu model pembelajaran yang memiliki manfaat agar tujuan pembelajaran tercapai melalui kegiatan belajar mandiri dan peserta didik mampu menjelaskan temuannya kepada pihak lain. Menurut Palinscar dan Brown ( Slavin, 2008: 89) penelitian terhadap reciprocal teaching menunjukkan bagaimana strategi pembelajaran langsung dapat meningkatkan pengaruh dari sebuah teknik yang berhubungan dengan pembelajaran kooperatif. Menurut Arends (1997: 266) reciprocal teaching adalah suatu prosedur pengajaran atau pendekatan yang dirancang untuk mengajarkan kepada siswa tentang strategi-strategi kognitif serta untuk membantu siswa memahami isi bacaan atau materi pembelajaran dengan baik.

Reciprocal teaching merupakan strategi belajar melalui kegiatan mengajarkan teman. Pada strategi ini siswa berperan sebagai “guru” menggantikan peran guru untuk mengajarkan teman-temannya (Muslimin Ibrahim, http://www.kpicenter.org/index). Sementara itu guru lebih berperan sebagai model yang menjadi contoh, fasilitator yang memberi kemudahan dan pembimbing yang melakukan scaffolding.Scaffolding adalah bimbingan yang diberikan oleh orang yang lebih tahu kepada orang yang kurang atau belum tahu, misalnya guru kepada siswa atau siswa yang pandai dengan siswa lain yang kurang pandai. Palinscar dan Brown (1984:117-175) menyatakan bahwa guru mengajar ketrampilan-ketrampilan kognitif yang penting kepada siswa dengan cara menciptakan pengalaman-pengalaman belajar. Guru mencontohkan tingkah laku tertentu kemudian membantu siswa untuk membangun ketrampilan-ketrampilan itu sendiri dengan memberikan rangsangan, dukungan, dan sarana-sarana yang mendukung.

Pembelajaran dengan pendekatan reciprocal teaching mengajarkan strategi pemahaman mandiri sebagaimana yang diungkapkan oleh Palinscar dan Brown (1984:117-175), pada pendekatan reciprocal teaching, diajarkan beberapa strategi pemahaman mandiri yang spesifik, seperti meringkas atau merangkum (summarizing), membuat pertanyaan (question generate), dan menjelaskan atau mempresentasikan (clarifying). Hal tersebut juga dikemukakan oleh Alverman dan Phelps(1998), yaitu: “reciprocal teaching has features: instruction and practice of the four comprehension strategies—predicting, question generating, clarifying, and summarizing”.Merangkum yang dimaksud adalah aktivitas siswa dalam menemukan ide-ide pokok atau memahami suatu bacaan tertentu dalam buku paket. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Poerwadarminta (Syaiful Sagala, 2006 : 59), membaca yaitu : (1) membaca tujuan, (2) menangkap gagasan isi bacaan, (3) membaca dengan mata dan pikiran yang tenang, (4) latihan mempercepat waktu belajar, (5) membaca menurut urutan pikiran dalam pelajaran, dan (6) mengumpulkan istilah dan pengertian yang berkaitan dengan mata pelajaran yang dipelajari. Membuat pertanyaan dalam hal ini yang dimaksud adalah aktivitas siswa dalam membuat pertanyaan atau memberikan contoh soal beserta penyelesaiannya. Menjelaskan atau presentasi, dalam hal ini yang dimaksud adalah aktivitas siswa dalam menjelaskan materi yang telah dipelajari, menjelaskan contoh soal beserta penyelesaiannya atau mengkomunikasikan ide-ide mereka kepada siswa lain. Termasuk dalam aktivitas ini adalah mendiskusikan atau mengungkapkan mengenai materi yang kurang jelas atau kurang dipahami yang terdapat pada topik yang telah ditugaskan.

Melalui pembelajaran dengan pendekatan reciprocal teaching, siswa diberi tugas untuk mempelajari suatu topik atau konsep yang terdapat dalam buku paket. Selanjutnya siswa dituntut untuk dapat memahami pokok atau inti pada topik tersebut, memberikan contoh soal dan penyelesaiannya, kemudian mempertanggungjawabkan tugas tersebut dengan mempresentasikan di kelas. Dengan demikian, siswa telah dilatih untuk belajar mandiri dengan memanfaatkan buku paket atau sumber-sumber lainnya yang telah tersedia.

Setiap pendekatan pembelajaran memiliki kelebihan-kelebihan masing-masing. Adapaun kelebihan-kelebihan dari Pembelajaran dengan pendekatan reciprocal teaching sebagai berikut :

  1. Melatih kemampuan siswa belajar mandiri. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Paulina Panen (2001) yang menyatakan bahwa melalui pembelajaran reciprocal teaching ini, diharapkan siswa dapat mengembangkan kemampuan belajar mandiri, siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri, dan guru cukup berperan sebagai fasilitator, mediator, dan manajer dari proses pembelajaran. Reciprocal teaching juga melatih siswa untuk menjelaskan kembali kepada pihak lain. Dengan demikian, penerapan pembelajaran ini dapat dipakai untuk melatih siswa dalam meningkatkan kepercayaan diri mereka.

  2. Selama kegiatan pembelajaran, siswa membuat rangkuman. Jadi siswa terlatih untuk menemukan hal-hal penting dari apa yang siswa pelajari dan ini merupakan ketrampilan penting untuk belajar, sehingga dapat dikatakan bahwa reciprocal teaching dapat meningkatkan hasil belajar yang rendah.

  3. Selama kegiatan pembelajaran, siswa membuat pertanyaan dan menyelesaikan pertanyaan tersebut, sehingga dikatakan bahwa reciprocal teaching dapat mempertinggi kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.

10/01/2012 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , , , | 1 Komentar

1.Kemandirian Belajar

Kemandirian merupakan salah satu unsur kepribadian penting, karena diperlukan manusia untuk menyesuaikan diri secara aktif dalam lingkungannya. Kemandirian merupakan kesanggupan untuk berdiri sendiri, tidak saja secara ekonomi sosial, tetapi terutama secara moral dalam artian bertanggungjawab atas keputusan-keputusannya dalam perkara yang bersifat rasional maupun emosional (Cony Semiawan, 1991:42). Corno dan Mandinach yang dikutip oleh Kerlin menyatakan kemandirian belajar sebagai suatu kemampuan untuk mengolah dan memanipulasi suatu pengetahuan dalam proses belajar dan untuk memonitor dalam rangka meningkatkan proses belajar.

Kemandirian belajar menurut Haris Mudjiman (2007) adalah kegiatan belajar aktif yang didorong oleh niat atau motif untuk menguasai suatu kompetensi guna mengatasi suatu masalah, dan dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang telah dimiliki. Jerold E.Kemp (1994:155) menyatakan bahwa siswa yang ikut dalam program belajar mandiri akan lebih rajin, lebih banyak dan mampu lebih lama mengingat hal yang dipelajarinya dibandingkan dengan siswa yang mengikuti kelas konvensional. Menurut Kartono (1999:14) pribadi yang mandiri berarti mampu memiliki pandangan yang jelas tanpa mengabaikan saran dan nasehat, mampu mengambil keputusan sendiri, bebas dari pengaruh berlebihan dari orang lain, mampu bertindak sesuai dengan nilai baik yang dihayati dalam lubuk hatinya dan bilamana perlu melawan arus. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Joan Freeman dan Utami Munandar (1996 :142) yang menjelaskan bahwa tipe anak yang mandiri, mempunyai keberanian untuk bertindak berbeda dari teman-temannya. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh rasa percaya diri dan keinginan untuk sesekali berjalan di luar garis, sebagai pewujudan dari sikap kreatif.

Istilah kemandirian belajar berhubungan dengan beberapa istilah lain diantaranya self regulated learning, self regulated thinking, self directed learning, self efficacy, dan self –esteem. Pengertian kelima istilah terakhir di atas tidak tepat sama, namun mereka memiliki beberapa kesamaan karakteristik (Utari Sumarmo, 2004 : 1). Utari Sumarmo (2004: 4) memberikan tiga karakteristik kemandirian belajar, yaitu bahwa individu :

  1. Merancang belajar sendiri sesuai dengan tujuannya.

  2. Memilih strategi kemudian melaksanakan rancangan belajarnya.

  3. Memantau kemajuan belajarnya, mengevaluasi hasilnya dan dibandingkan dengan standar tertentu.

Schunk’s yang dikutip oleh Kerlin (1992) mendefinisikan kemandirian belajar sebagai suatu proses kognitif yang terdiri dari kemampuan penerimaan konsep, pemerolehan pengetahuan, dapat mengungkapkan pengetahuan yang dimiliki dan mengolah pengetahuan itu menggunakan kemampuan yang dimiliki dengan penuh rasa tanggung jawab untuk belajar. Schunk dan Zimmerman (Utari Sumarmo, 2004 :2) merinci kegiatan yang berlangsung pada tiap fase self regulated learning sebagai berikut :

  1. Fase merancang belajar : menganalisis tugas belajar, menetapkan tujuan belajar, dan merancang strategi belajar.

  2. Fase mengevaluasi, memuat kegiatan memeriksa bagaimana jalannya evaluasi strategi: apakah strategi telah berjalan dengan baik? ( evaluasi proses); hasil belajar apa yang telah dicapai? (evaluasi produk); dan sesuaikah strategi dengan tugas belajar yang dihadapi.

  3. Pada fase merefleksi: pada dasarnya fase ini tidak hanya berlangsung pada fase keempat dalam siklus self regulated learning, namun refleksi berlangsung pada tiap fase selama siklus berjalan.

10/01/2012 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , , , | Tinggalkan komentar

Potensi daum murbei sebagai pakan ternak

Komposisi Nutrien Daun Murbei

Informasi potensi produksi tanaman murbei telah banyak dilaporkan, namun informasi tersebut terkait dengan kebutuhan daun murbei sebagai pakan ulat sutera.Penelitian pemanfaatn murbei sebagai pakan ternak baru dijumpai sebagian kecil di India, Jepang dan Korea. Percobaan pemanfaatan daun murbei sebagai pengganti konsentrat unggas di Jepang telah dilaporkan oleh Machii et al (2002), sedangkan untuk bahan pakan ternak ruminansia, penelitian telah dilakukan antara lain oleh Singh dan Makkar (2002), yang meakukan pengujian secara in vitro. Sanchez (2002) melaporkan bahwa di Indonesia, tanaman murbei baru digunakan sebagai pakan ulat sutera, sedangkan penelitian atau pemanfaatan daum murbei sebagai pakan ternak belum dijumpai. Kondisi yang berbeda terjadi di Negara-negara bagian Amerika yang telah menggunakan daun murbei sebagai bahan pakan ternak.

Tanaman murbei mempunyai potensi sebagai bahan pakan yang berkualitas karena potensi produksi, kandungan nutrient dan daya adaptasi tumbuhnya yang baik (Singh & Makkar, 2002). Produksi daun murbei sangat bervariasi, tergantung pada varietas, lahan, ketersediaan air dan pemupukan. Martin et al (2002) melaporkan produksi biomassa murbei mencapai 25 ton BK/ha/tahun dan produksi daun sebesar 16 ton BK/ha/tahun, sedangkan Boschini (2002) melaporkan produksi daun sebesar 19 ton BK/ha/tahun.

Kandungan nutrient daun murbei meliputi 22-23% PK, 8-10% total gula, 12-18% mineral, 35% ADF, 45,6% NDF, 10-40% hemiselulosa, 21,8% selulosa (Datta et al, 2002). Kandungan nutrient daun beberapa varietas murbei disajikan pada Tabel 1. Kualitas daun murbei yang tinggi juga ditandai oleh kandungan asam aminonya yang lengkap. Pada daun murbei juga teridentifikasi adanya asam askorbat, karotene, vitamin B1, asam folat dan pro vitamin D (Singh & Makkar, 2002).

Tabel 1. Komposisi nutrien daun murbei

Komposisi

Nutrien

Varietas Murbei

Morus

Alba

Morus

Nigra

Morus

Multicaulis

Morus

Cathayana

Morus

Australis

Air (%)

84,28

83,17

77,11

79,55

83,89

Protein Kasar (%)

20,15

20,06

15,51

18,53

19,44

Serat Kasar (%)

13,27

16,19

12,55

12,89

12,82

Lemak Kasar (%)

3,62

3,63

3,64

3,69

4,10

Abu (%)

10,58

10,77

10,97

14,84

10,63

Sumber : Samsijah (1992).

Komposisi nutrien yang lengkap serta produksi daun yang tinggi, menjadikan tanaman murbei potensial dijadikan bahan pakan ternak, menggantikan konsentrat khususnya untuk ternak ruminansia (Doran et al, 2006). Selain kandungan nutriennya yang lengkap, tanaman murbei juga mengandung senyawa aktif 1-deoxynojirimycin (DNJ) yang berpotensi menjadi agen slow release RAC (Syahrir,dkk, 2010).

Senyawa DNJ ditemukan terdapat pada tanaman murbei sebanyak 0,24% (Oku et al, 2006). Senyawa ini mampu menghambat proses hidrolisis oligosakarida menjadi monomer-monomernya (Breitmeier, 1997; Arai et al,1998). Senyawa DNJ masuk ke sisi aktif enzim glukosidase (Romaniouk et al, 2004; Chapel et al, 2006), sehingga menghambat kinerja enzim untuk menghidrolisis substrat. Karena itu, senyawa DNJ diduga dapat melepas RAC secara perlahan (Syahrir,dkk, 2010). Khusus pada ternak ruminansia, mekanisme slow release RAC dalam system rumen akan menjaga kesinambungan penyediaan RAC, sehingga mikroba-mikroba penghasil enzim pencerna karbohidrat structural dapat berkembang optimal (Syahrir,dkk, 2010).

Potensi daum murnei sebagai pakan ternak

Tanaman murbei (Morus alba L)merupakan tanaman asli dari daerah utara cina namun sekarang telah dibudidaya di berbagai tempat baik daerah dengan iklim subtropics maupun tropis. Tanaman ini tergolong tanaman yang cepat tumbuh, berumur pendek dan memiliki tinggi 10-20 m. Pada saat masa pertumbuhan, panjang daunnya dapat mencapai 30 cm dan terdapat banyak lobus sedangkan pada saat dewasa, panjang daunnya hanya mencapai 5-15 cm serta tidak memiliki lobus. Daunnya selalu gugur di musim gugur serta selalu hijau di daerah beriklim tropis (Anonima, 2011).

Gambar 1. Tanaman Murbei (Morus alba)

Tumbuhan yang sudah dibudidayakan ini menyukai daerah-daerah yang cukup basa seperti dilereng gunung. Tetapi pada tanah yang berdrainase baik, tanaman murbei juga dapat ditemukan dalam keadaan tumbuh liar. Tinggi pohonnya sekitar 9 m , percabangan banyak, cabang muda berambut halus. Daunnya tunggal dengan letak berseling, bertangkai yang panjangnya 4 cm. Helai daun bulat telur sampai berbentuk jantung dengan ujung runcing dan pangkal tumpul. Tepi daunnya bergerigi dengan pertulangan menyirip agak menonjol dan permukaan atas dan bawah kasar. Panjang daunnya mencapai 2,5-20cm, sedangkan lebar daun 1,5-12 cm dan berwarna hijau. Bunganya majemuk bentuk tandan yang keluar dari ketiak daun. Buahnya banyak berupa buah buni, berair dan rasanya enak, tumbuhan ini dibudidayakan karena daunnya digunakan untuk makanan ulat sutra dan dapat disayur serta berkhasiat sebagai pembersih darah bagi orang yg sering bisulan. Bahkan daun murbei juga dapat dikeringkan menjadi the murbei (Anonima, 2011).

Tanaman murbei dapat diperbanyak dengan biji, stek atau okulasi. Perbanyakan dengan biji relatif lebih mahal, tetapi menghasilkan tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan perbanyakan melalui stek. Perbanyakan tanaman dengan stek membutuhkan 75.000 sampai 120.000 stek/ha, sedangkan perbanyakan dengan okulasi membutuhkan 4.000 tanaman/hektar. Teknik perbanyakan tanaman dengan okulasi secara ekslusif dilakukan di Jepang (Machii et al, 2002).

Tanaman murbei mencapai ketinggian 1,3 m pada umur 10 minggu (Kartiarso,dkk, 2009). Pemanenan pertama daun dilakukan pada umur 12 minggu setelah penanaman. Pemanenan dapat dilakukan sebanyak 10 kali/thn untuk daerah yang beririgasi, sedangkan pada daerah tadah hujan dapat dilakukan pemanenan sebanyak 6 sampai 7 kali (Kartiarso,dkk, 2009). Tanaman murbei dapat berproduksi dengan baik sampai berumur 15 tahun. Setelah itu, tanaman harus diremajakan.

Tanaman murbei mempunyai potensi sebagai bahan pakan yang berkualitas karena potensi produksi, kandungan nutrien dan daya adaptasi tumbuhnya yang baik (Singh dan Makkar, 2002). Produksi daun murbei sangat bervariasi, tergantung pada varietas, lahan, ketersediaan air dan pemupukan, dimana potensi produksinya mencapai 22 ton BK/ha/tahun. Potensi produksi tersebut lebih tinggi dibanding dengan leguminosa seperti gamal (Gliricidia sepium) dengan potensi produksi sebesar 7-9 ton BK/ha/tahun (Horne et al, 1994) dan lamtoro mini (Desmanthus virgatus) dengan potensi produksi sebesar 7-8 ton/BK/ha/tahun (Suyadi, dkk, 1989).

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

09/09/2012 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 940 pengikut lainnya.