BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Pemrograman Bahasa Assembly (Assembler)

Bahasa assembly adalah sebuah program yang terdiri dari instruksi-instruksi  yang menggantikan kode-kode biner dari bahasa mesin dengan “mnemonik” yang mudah diingat. Misalnya sebuah instruksi penambahan dalam bahasa mesin dengan kode “10110011” yang dalam bahasa assembly dapat dibuat dalam instruksi mnemonik ADD, sehingga mudah diingat dibandingkan dengan angka 0 dan 1, dalam setiap instruksi membutuhkan suatu operand baik berupa data langsung maupun suatu lokasi memori yang menyimpan data yang bersangkutan. Bahasa assembly sering juga disebut kode sumber atau kode simbolik yang tidak dapat dijalankan oleh prosesor, sedangkan assembler adalah suatu program yang dapat menerjemahkan program bahasa assembly ke program bahasa mesin. bahasa mesin adalah kumpulan kode biner yang merupakan instruksi yang bisa dijalankan oleh komputer. Program bahasa mesin sering disebut sebagai kode objek.

Baris-baris program yang mengandung instruksi mesin atau pengarah assembler harus mengikuti aturan program assembler ASM51. Masing-masing baris atas beberapa field yang dipisahkan dengan spasi atau tabulasi adalah bagian label, bagian mnemonic, bagian operand yang bisa lebih dari satu bagian komentar dan diakhiri dengan END.

2.2.1    Bagian – Bagian Dari Program Assembler

Berikut ini adalah bagian – bagian dari rogram assembler yaitu:

  1. 1.      Label

            Label merupakan suatu simbol yang didefinisikan sendiri oleh pembuat program untuk menandai lokasi memori pada area program. Simbol dan label adalah dua hal yang berbeda. Simbol tidak menggunakan titik dua, sedangkan label harus diakhiri dengan titik dua.

                  Contoh :

                  PAR                      EQU 500        ; “PAR” Menunjukan suatu simbol

                                                                       ; dari nilai 500

                  MULAI:

                  MOV                      A, #0FFh       ; pada label; “Mulai” nilai 0FFh

                                                                        ; dipindahkan ke Akumulator

Dalam satu baris hanya ada satu label, pada umumnya Assembler membatasi jumlah karakter yang bisa digunakan hingga 31 karakter.

  1. 2.      Mnenonik

            Mnemonic instruksi atau pengarah Assembler dimasukan dalam “Mnemonic field” yang mengikuti “label mnemonic”. Mnemonic instruksi misalnya ADD, MOV, INC dan lain-lain.Sedangkan pengarah Assembler misalnya ORG, EQU, DB dan lain-lain.

  1. 3.      Operand

            Operand ditulis setelah mnemonic, bisa berupa alamat atau data yang digunakan instruksi yang bersangkutan.

          Contoh :

          MOV                      A, #20h         ; A dan #20h adalah operand

          LAGI:

          JNB                        LAGI            ; LAGI adalah operand

  1. 4.      Komentar

           Komentar harus diawali dengan titik koma. Sub rutin dari bagian besar program yang mengerjakan suatu operasi biasanya diawali dengan blok komentar yang menjelaskan fungsi sub rutin atau bagian besar program tersebut.

  1. 5.      End

            Petunjuk END merupakan kode perintah terakhir yang menunjukan batas akhir dari proses Assembly.

Instruksi yang sering digunakan dalam pembuatan program yaitu :

a.   Instruksi Aritmatik

               Instruksi aritmatik selalu melibatkan akumulator dan ada juga beberapa instruksi yang melibatkan register lain.

Berikut ini contoh instruksi–instruksi arimatika yaitu:

Tabel 2.4 Instruksi-instruksi Aritmatik

Instruksi

Keterangan

Contoh

ADD A,Rn Menambah isi register Rn dengan isi akumulator lalu disimpan di akumulator ADD A,R1
ADD A, direct Menambah isi direct dengan akumulator, hasilnya disimpan di akumulator ADD A, 30H
ADD A, #data Menambahkan immediate data ke akumulator ADD A, #20H
ADD A, @Rn Menambahkan isi dari alamat yang ditunjuk Rn dengan akumulator ADD A, @R1
ADDC A, #data Menambahkan immediate data ke akumulator dengan carry ADDC A, #20H
SUBB A, Rn Kurangkan isi register Rn dari akumulator SUBB A, R1
INC A Tambah isi akumulator dengan 1 INC A
DEC A Kurangkan isi akumulator denga 1 DEC A
MUL AB Kalikan isi A dengan isi B, low-byte disimpan pada akumulator, dan high byte pada B MUL AB
DIV AB Bagi isi A dengan isi B. Akumulator menerima hasil integer pembagian dan B menerima integer sisanya. DIV AB

  1. b.      Instruksi Logika

               Instruksi Logika ini dipakai untuk melakukan operasi logika, yaitu operasi AND (instruksi ANL), operasi OR (instruksi ORL), operasi Exclusive-OR (instruksi XRL), operasi clear (instruksi CLR), instruksi komplemen (instruksi CPL), operasi penggeseran kanan atau kiri (instruksi RR, RRC, RL dan RLC) serta operasi penukaran data (instruksi SWAP). Data yang dipakai dalam operasi  ini biasanya berupa data yang berada dalam akumulator atau data yang berada dalam memori data.

c.   Instruksi Pemindahan Data

Instruksi – instruksi pemindahan data adalah :

Tabel 2.5 Instruksi – instruksi Perpindahan Data

Instuksi

Keterangan

Contoh

MOV A, Rn Memindahkan isi register Rn ke akumulator MOV A, R0
MOV A,direct Memindahkan isi direct byte ke akumulator MOV A, 30h
MOV A , #data Mengisi akumulator dengan nilai data MOV A,#20h
MOV A, @Rn Mengisi akumulator dengan isi dari alamat yang ditunjuk oleh Rn MOV A, @R0

2.2.2    Mode – Mode Pengalamatan

  1. 1.      Mode Pengalamatan Langsung

            Dalam pengalamat langsung nilai yang akan disimpan dalam suatu memori diperoleh secara langsung dengan mengambil dari lokasi memori yang lain.

            Contoh :

     MOV A,30H         ; isi akumulator dengan bilangan 30 heksadesimal

  1. 2.      Mode Pengalamatan Tak Langsung

            Dalam pengalamatan tak langsung, instruksi menentukan  suatu register yang digunakan untuk menyimpan alamat operan

            Contoh :

ADD A,R         ; Tambahkan isi RAM yang lokasinya ditunjukan oleh register R1 ke akumulator.

DEC @R1        ; Kurangi satu isi RAM yang  alamatnya ditunjukan                  oleh register R1.

  1. 3.      Mode Pengalamatan Segera

            Cara ini menggunakan konstanta.

Contoh :

            MOV A,#20H        ; isi akumulator dengan bilangan 20 heksadesimal

Data konstanta merupakan data yang menyatu dengan instruksi, contoh intruksi diatas mempunyai arti bahwa data konstantanya, yaitu 20H, (sebagai data konstanta harus diawali dengan ’#’ dan tanda H untuk menyatakn format bilangan heksadesimal) disalin ke Akumulator (A).

  1. 4.      Mode Pengalamatan Data

            Pengalamatan data terjadi pada sebuah perintah ketika nilai operasi merupakan alamat data yang akan diisi atau yang akan dipindahkan.

            Contoh :

MOV P1,A            ; isi P1 dari nilai akumulator.

  1. 5.      Mode Pengalamatan Bit

            Pengalamatan bit adalah penunjukkan menggunakan simbol titik (.) yang menunjuk alamat lokasi bit, baik dalam RAM internal atau perangkat keras.

            Contoh :

            SETB P1.7            ; set bit port 1.7 high ( pot 1.7 diberi nilai logika 1)

01/02/2013 Posted by | TEKNIK ELEKTRO | 6 Komentar

Mikrokontroller AT89S51

Mikrokontroller adalah rangkaian elektronik atau chip yang sangat terintegrasi untuk membuat sebuah alat kontrol.  Biasanya terdiri dari CPU (Central Processing Unit), RAM (Random Access Memory), sebagian bentuk ROM (Read Only Memory), I/O (Input/Output) port, dan timers. Mikrokontroler digunakan untuk tugas yang sangat spesifik.  Sehingga jumlah komponen dapat dan ongkosproduksi dapat dikurangi.

Mikrokontroller AT89S51 merupakan mikrokomputer CMOS 8 bit dengan 4Kbyte Flash “Programable and Erasable Read Only Memory” (PEROM) berteknologi memori non-volatile (isi memori tidak akan hilang saat tegangan catu daya dimatikan). Memori ini biasa digunakan untuk menyimpan instruksi (perintah) berstandar MCS-51 sehingga memungkinkan mikrokontroller ini untuk bekerja dalam mode single chip operation (mode operasi keping tunggal) yang tidak memerlukan memori luar untuk menyimpan kode sumber sebagai perintah menjalankan mikrokontroller. Konfigurasi pin-pin mikrokontroller AT89S51 diperlihatkan pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Konfigurasi Mikrokontroler AT89S51

Sumber: alldatasheet.com

Penjelasan masing-masing pin pada gambar diatas adalah sebagai berikut :

  1. Pin 40 (VCC) sebagai sumber tegangan
  2. Pin 20 (GND) digunakan sebagai pentanahan.
  3. Pin 32 sampai 39 (Port 0) merupakan port masukan dan keluaran biasa, juga bisa sebagai jalur alamat rendah dan bus data untuk memori eksternal.
  4. Pin 1 sampai 8 (Port 1) merupakan port masukan dan keluaran dua arah berjumlah 8 bit dengan rangkaian pull-up internal dan dapat juga berfungsi sebagai input dengan memberikan logika 1. Pada port ini terdapat pin MISO, MOSI dan SCK yang digunakan saat pemrograman dan verifikasi data.
  5. Pin 21 sampai 28 (Port 2) merupakan saluran atau bus I/O 8 bit dua arah biasa, atau dapat berfungsi sebagai saluran alamat tinggi pada saat mengakses memori eksternal.
  6. Pin 10 sampai 17 (Port 3) merupakan saluran I/O 8 bit dua arah dengan internal pull-up yang memiliki fungsi pengganti. Bila fungsi pengganti tidak difungsikan, port ini dapat digunakan sebagai port paralel 8 bit serba guna. Adapun fungsi pengganti pada port ini diperlihatkan seperti tabel di bawah ini:

Tabel 2.1 Fungsi pengganti Port 3 AT89S51

Bit

Nama

Fungsi Alternatif

P 3.0

RXD

Serial Input Port

P 3.1

TXD

Serial Output Port

P 3.2

INT 0

Eksternal Interupt 0

P 3.3

INT 1

Eksternal Interupt 1

P 3.4

T0

Timer 0 External Input

P 3.5

T1

Timer 1 External Input

P 3.6

WR

Eksternal data memori write strobe

P 3.7

RD

Eksternal data memori read strobe

  1. Pin 9 (Reset) merupakan masukan reset. Sebuah sinyal berlogika tinggi pada pin ini selama dua siklus mesin saat osilator bekerja akan mereset perangkat ini.
  2. Pin 19 (XTAL1) masukan untuk penguat membalik osilator dan masukan bagi rangkaian operasi detak internal.
  3. Pin 18 (XTAL 2) keluaran dari penguat membalik osilator.
  4. Pin 31 ( /VPP EA ) adalah pin untuk mengaktifkan pengaksesan eksternal. EA (Eksternal Acces Enable) harus selalu ditanahkan saat mikrokontroler akan mengeksekusi program dari memori eksternal dengan lokasi 0000h sampai FFFFh dan EA harus dihubungkan ke Vcc agar mikrokontroler mengakses program secara internal.
  5. Pin 19 (PSEN ) Program Store Enable adalah sinyal baca untuk memori program eksternal. Pada saat AT89S51 menjalankan program dari memori program eksternal, PSEN diaktifkan dua kali setiap siklus mesin, kecuali pada saat dua aktivasi PSEN dilompati selama tiap akses data memori eksternal
  6. Pin 30 (ALE/PROG ) adalah sebuah pulsa keluaran untuk menahan bit alamat rendah pada saat mengakses memori eksternal. Pin ini juga berfungsi sebagai sebagai pulsa input pemrograman (PROG) selama proses pemrograman. Sedangkan diagram blok mokrokontroller AT89S51 diperlihatkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.2 : Diagram Blok Mikrokontroler AT89S51

Sumber: alldatasheet.com

2.1.1    Memori Program

Semua mikrokontroler Atmel memiliki ruang alamat (address space) memori program dan memori data yang terpisah. Pemisahan ruang alamat ini memudahkan memori data untuk diakses oleh alamat 8 bit, sehingga lebih cepat disimpan dan dimanipulasi oleh CPU 8 bit. Struktur memori program mikrokontroler AT89S51 ditunjukan pada Gambar 2.3. Setelah reset, CPU segera melaksanakan program mulai dari lokasi 0000h. Dengan demikian, awal dari program pengendali MCS 51 harus ditempatkan di memori nomor 0000h.

\

Gambar 2.3 Struktur Memori Program AT89S51

Sumber: Endra Hermawan, 2010

2.1.2    Memori Data

Gambar 2.4 menunjukkan struktur ruang-ruang memori data internal dan eksternal untuk AT89S51. Memori data eksternal dapat ditentukan sampai sebesar 64 Kbyte. Seperti terlihat dalam struktur memori data internal gambar 2.4 memori data dibagi menjadi dua bagian, memori nomor 00h sampai 7Fh merupakan memori seperti RAM selayaknya meskipun beberapa bagian mempunyai kegunaan khusus, sedangkan memori nomor 80h sampai FFh digunakan sangat khusus yang dinamakan sebagai Special Function Register.

Gambar 2.4 Peta Memori Data AT89S51

Sumber: Endra Hermawan, 2010

Peta memori data internalnya ditunjukkan pada Gambar 2.5 32 byte bawah yaitu alamat 00h sampai 1Fh selain sebagai memori-data biasa dapat pula digunakan sebagai register serba guna (General Purpose Register). Memori sebanyak 32 byte ini dikelompokkan menjadi 4 bank dan 8 register (R0 sampai R7). Dua bit pada PSW (Program Status Word) digunakan untuk memilih kelompok register mana yang digunakan. Arsitektur ini mengijinkan penggunaan ruang kode secara lebih efisien, karena instruksi-instruksi register lebih pendek daripada insutruksi-instruksi yang menggunakan pengalamatan langsung.16 Byte berikutnya, di atas bank-bank register, membentuk suatu blok ruang memori yang bisa teralamati per-bit (bit addressable). Alamat-alamat bit ini adalah 00h sampai 7Fh. Namun memori data pada lokasi ini tetap dapat digunakan sebagai memori data biasa. Sedangkan memori nomor 30h sampai 7Fh yaitu sebanyak 80 byte merupakan memori data biasa (general purpose RAM), dapat digunaan untuk menyimpan data maupun digunakan sebagai Stack.

Gambar 2.5 Peta Memori Data Internal AT89S51

Sumber: Endra Hermawan, 2010

2.1.3    SFR (Special Function Register)

SFR atau register fungsi khusus merupakan suatu daerah RAM dalam IC keluarga MCS51 yang digunakan untuk mengatur perilaku MCS51 dalam hal-hal khusus, misalnya tempat untuk berhubungan dengan port paralel P1 atau P3, dan sarana input/output lainnya, tapi tidak umum dipakai untuk menyimpan data seperti layaknya memori-data. SFR dalam RAM internal menempati lokasi alamat 80h sampai 7Fh. Masing-masing register pada SFR ditunjukkan dalam tabel, yang meliputi simbol, nama dan alamatnya.

Tabel.2.2 Special Funtion Register

Simbol

Nama

Alamat

Acc

Akumulator

E0h

B

B register

F0h

PSW

Program Status Word

D0h

SP

Stack Pointer

81h

DPTR

(DPH)

(DPL)

Data Pointer 16 Bit

DPL Byte rendah

DPH Byte tinggi

82h

83h

P0

Port 0

80h

P1

Port 1

90h

P2

Port 2

A0h

P3

Port 3

B0h

IP

Interupt Priority Control

B8h

IE

Interupt Enable Control

A8h

TMOD

Timer/Counter Mode Control

89h

TCON

Timer/Counter Control

88h

TH0

Timer/Counter 0 High byte

8Ch

TL0

Timer/Counter 0 Low byte

8Ah

TH1

Timer/Counter 1 High byte

8Dh

TL1

Timer/Counter 1 Low byte

8Bh

SCON

Serial Control

98h

SBUF

Serial Data Buffer

99h

PCON

Power Control

87h

2.1.4    Sistem Interupsi

Apabila CPU pada mikrokontroler AT89S51 sedang melaksanakan suatu program, maka pelaksanaan program dapat dihentikan sementara dengan meminta interupsi. Apabila CPU mendapat permintaan interupsi, program counter akan diisi alamat dari vektor interupsi. CPU kemudian melaksanakan rutin pelayanan interupsi mulai dari alamat tersebut. Bila rutin pelayanan interupsi selesai dilaksanakan, CPU AT89S51 kembali ke pelaksanaan program utama yang ditinggalkan. Instruksi RETI (return from interupt routine) harus digunakan untuk kembali dari layanan rutin interupsi. Instruksi ini digunakan agar saluran interupsi kembali dapat dipakai.

Mikrokontoler AT89S51 menyediakan 5 sumber interupsi yaitu: interupsi eksternal (External interupt) yang berasal dari pin INT0 dan INT1, interupsi timer (Timer Interupt) yang berasal dari timer 0 maupun timer 1, dan yang terakhir adalah interupsi port seri (Serial Port Interupt) yang berasal dari bagian penerima dan pengirim port seri. Alamat awal layanan rutin interupsi dari setiap sumber interupsi diperlihatkan pada Tabel.

Tabel 2.3 Alamat Layanan Rutin Interupsi

Interupsi

Alamat

Prioritas Interupsi
INT 0

03h

1

Interupsi Timer 0

0Bh

2

INT 1

13h

3

Interupsi Timer 1

1Bh

4

Interupsi Port Serial

23h

5

Ada dua register yang mengontrol interupsi, yaitu IE (Interupt Enable) dan IP (Interupt Priority). Register IE berfungsi untuk mengaktifkan atau menonaktifkan sumber interupsi, sedangkan register IP digunakan untuk menentukan prioritas suatu sumber interupsi terhadap sumber interupsi lainnya, yaitu apabila ada dua atau lebih interupsi secara bersamaan. Jika register IP tidak didefinisikan, maka prioritas interupsi menggunakan urutan prioritas seperti dicantumkan pada Tabel 2.3

2.1.5    Timer/ Counter

Pada mikrokonteroler AT89S51 terdapat dua timer/counter 16 Bit yang dapat diatur melalui perangkat lunak, yaitu timer/counter 0 dan timer/counter 1. Apabila timer/counter diaktifkan pada frekuensi kerja mikrokontroler 12 MHz, timer/counter akan melakukan perhitungan waktu sekali setiap 1 µs secara independen, tidak tergantung pada pelaksanaan suatu instruksi.

Apabila periode waktu tertentu telah dilampaui, timer/counter segera menginterupsi mikrokontroler untuk memberitahukan bahwa perhitungan periode waktu telah selesai dilaksanakan. Timer/counter AT89S51 dapat dipilih beroperasi dalam 4 mode operasi yaitu sebagai timer/counter 13 bit, timer counter 16 bit, timer/counter 8 bit dengan isi ulang (auto reload), dan gabungan timer/counter 16 bit dan 8 bit. Register timer mode (TMOD) dan register timer control (TCON) merupakan register pembantu untuk mengatur kerja timer 0 dan timer 1. Register TMOD digunakan sebagai pengontrol pemilih mode operasi timer/counter sedangkan register TCON digunakan sebagai pengontrol kerja timer/counter.

01/02/2013 Posted by | TEKNIK ELEKTRO | , , , , , | 2 Komentar

Sumber Belajar

1. Pengertian sumber belajar.
Pengajaran merupakan suatu prosessistematis yang meliputi banyak komponen salah satunya adalah sumber belajar. Segala dayayang dapat digunakan untuk kepentingan proses/ aktivitas pengajaran baik secaralangsung maupun tidak langsung diluar diri peserta didik (lingkungan) yang melengkapi diri mereka pada saat pengajaran berlangsung tersebut sumber belajar. Sumber belajar menurut Ahmad Rohani dan Abu Ajmadi mempunyai pengertian segala daya yang dapat dipergunakan untuk kepentingan atau aktivitas pengajaran baiksecara langsung maupun tidak langsung, diluar diri peserta didik (lingkungan) yang melengkapi diri mereka pada saat pengajaran berlangsung.

Sumber belajar digunakan sebesar-besarnya untuk meningkatkan proses belajar, termasuk di dalamnya bahan, alat, teknik, setting, materi pelajaran dan personil. Untuk memilih sumber belajar yang sesuai, maka dalam belajar kimia diperlukan pengkajian terhadap sumber belajar tersebut.

Dengan menggunakan sumber belajar yang diorganisasi dengan baik, maka akan diperoleh permasalahan, pemecahan, pengalaman dan keterampilan karena pada hakekatnya sumber belajar adalah segala sesuatu yang mendukung dan membantu berlangsungnya proses belajar-mengajar. Menurut Arif I. Sadiman, sumber belajar adalah yang ada diluar diri seseorang (peserta didik) dan yang memungkinkan memudahkan terjadinya proses belajar.

Edgar Dale menyatakan bahwa sumber belajar adalah pengalaman-pengalaman yang pada dasarnya sangat luas, yakni seluas kehidupan yang mencakup segala sesuatu yang dapat dialami, yang dapat menimbulkan peristiwa belajar.Maksudnya adanya perubahan tingkah laku ke arah yang lebih sempurna sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.

Menurut Asosiasi teknologi komponen pendidikan (AECT), sumber belajar adalah semua sumber (baik berupa data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberikan fasilitas (kemudahan) belajar bagi siswa. Sumber belajar itu meliputi pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan lingkungan.
2. Klasifikasi Sumber Belajar (AECT).
AECT (Association For Education Communication and Technology) mengklasifikasikan sumber belajar menjadi 6, yaitu :

1. Pesan (Message), yaitu informasi yang ditransmisikan (diteruskan) oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta, arti dan data.
2. Orang (People), yaitu manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah, dan penyaji pesan.
3. Bahan (Material), yaitu perangkat lunak yangmengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat ataupun oleh dirinya sendiri.
4. Alat (Devices), yaitu perangkat keras yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan dalam bahan. 5. Teknik (Techniques), yaitu prosedur atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan bahan, peralatan, orang dan lingkungan untuk menyampaikan pesan.
6. Lingkungan (Setting), yaitu situasi sekitar dimana pesan disampaikan, baik lingkungan fisik maupun non fisik. Pesan : dalam sistem persekolahan, maka pesan ini berupa seluruh mata pelajaran yang disampaikan kepada siswa.Ditinjau dari tipe atau asal usulnya, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Sumber belajar yang dirancang (learning recources by design) yaitu sumber belajar yang memang sengaja dibuat untuk tujuan pembelajaran. Sumber belajar semacam ini sering disebut bahan pembelajaran. Contoh buku pelajaran modul, program audio, program slide suara, transparansi.
b. Sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan (learning recources by utilization) yaitu sumber belajar yang tidaksecara khusus dirancang untuk keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan, dipilih dan dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran. Contohnya pejabat pemerintah, waduk, museum, film, sawah, terminal, surat kabar, siaran TV, dan lain-lain.
3. Ciri-ciri Sumber Belajar.

Secara garis besar sumber belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

a. Sumber belajar harus mampu memberikankekuatan dalam proses belajar-mengajar sehingga tujuan intruksional dapat tercapai secara maksimal.
b. Sumber belajar harus mempunyai nilai-nilai intruksional edukatif yaitu dapat mengubah dan membawa perubahan yang sempurna terhadap tingkah laku sesuai tujuan yang ada.
c. Dengan adanya klasifikasi sumber belajar, maka sumber belajar yang dimanfaatkan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Tak terorganisasi dan tak sistematis baik dalam bentuk maupun isi.
2. Tidak mempunyai tujuan intruksional yang eksplisit.
3. Hanya dipergunakan menurut keadaan dan tujuan tertentu secara insidental.
4. Dapat dipergunakan untuk berbagai tujuan intruksional.
d. Sumber belajar yang dirancang mempunyai ciri-ciri yang spesifik sesuai dengan tersedianya media.
4. Manfaat Sumber Belajar.

Pengalaman sains dapat diperoleh dengan mengambil segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitar berupa objek studibaik benda hidup maupun benda tak hidup, sehingga siswa dapat mempelajari melalui indranya. Oleh karena itu, obyek atau gejala-gejala kimia yang terdapat di sekitar kita dapat kita manfaatkan sebagai sumber belajar kimia. Manfaat sumberbelajar tersebut antara lain

1. Memberi pengalaman belajar secara langsung dan konkret kepada peserta didik.
2. Dapat menyajikan sesuatu yang tidakmungkin diadakan, dikunjungi ataupun dilihat secara langsung dan kongkret.
3. Dapat menambah dan memperluas cakrawala kajian yang ada di dalam kelas.
4. Dapat memberi informasi yang akurat dan terbaru.
5. Dapat membantu memecahkan masalah pendidikan baik dalam lingkup mikro maupun makro.
6. Dapat memberi motivasi yang positif, apabila diatur dan direncanakan pemanfaatannya secara tepat.
7. Dapat merangsang untuk berfikir, bersikap dan berkembang lebih lanjut.

b. Sumber Belajar Pendidikan Kimia

Suatu penelitian dapat digunakan sebagai sumber belajar meliputi 2 hal pokok, yaitu proses dan hasil penelitian. Proses dan hasil penelitian dapat dijadikan pertimbangan guru dalam menyusun materi dan kegiatan belajar-mengajar. Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memanfaatkan sumber belajar agar proses belajar-mengajar dapat berjalan dan berlangsung efektif yaitu :
1. Kejelasan potensi,
2. Kesesuaian dengan tujuan belajar,
3. Kejelasan sasaran,
4. Kejelasan informasi yang ingin diungkap,
5. Kejelasan eksplorasinya. Pemanfaatan hasil dan proses penelitian kimia sebagai sumber belajar di SMA/ MA dapat dilakukan dengan praktikum di laboratorium adalah sebagai berikut:

a. Mengembangkan ketrampilan pengamatan, manipulasi, instrumentasi dan preparatif,
b. Memperoleh pengetahuan kimia,
c. Mengenal ketelitian dan ketertiban kerja laboratorium,
d. Merekam secara cermat dan mengkombinasikan hasil secara jelas,
e. Mengembangkan tanggung jawab perorangan dan realitas dalam pelaksanaan eksperimen,
f. Merencanakan dan melaksanakan kerja laboratorium dengan menggunakan sumber-sumber laboratorium secara efektif.
Serangkaian kegiatan-kegiatan di laboratorium dilakukan untuk mencapai tujuan pengajaran laboratorium. Kegiatan khusus yang biasanya dilakukan siswa dalam kerja laboratorium meliputi :
a. Merencanakan eksperimendan menyusun hipotesis,
b. Merakit bahan dan peralatan,
c. Melakukan pengamatan terhadap gejala-gejala alamiah,
d. Melakukan pengamatan terhadap sesuatu proses yang terjadi dalam laboratorium yang tertutup,
e. Mengumpulkan dan mencatat data,
f. Melakukan modifikasi peralatan,
g. Melakukan pembacaan pada alat-alat pengukur, h. Mengkalibrasi peralatan,
i. Menghubungkan bahan dengan grafik,
j. Menarik kesimpulan dari data,
k. Membuat laporan eksperimen,
l. Memberikan penjelasan tentang eksperimen yang dilakukan,
m. Mengindentifikasikan permasalahan untuk studi lanjutan,
n. Melepas, membersihkan, menyimpan dan memperbaiki peralatan.
Siswa akan dapat mempelajari kimia dengan kegiatan praktikum melalui
pengamatan secara langsung terhadap gejala-gejala maupun proses-proses kimia. Praktikum dapat pula melatih berpikir secara ilmiah, dapat menambah serta mengembangkan sikap ilmiah, dapat menemukan dan memecahkan berbagai masalah baru melalui metode ilmiah. Metode ilmiah dalam pendidikan IPA membudayakan sikap ilmiah kepada anak didik antara lain bergairah, ingin tahu, disertai cermat dalam mengambil dan mengukur, terbuka, objektif, jujur, dan skeptis, taat asas, kritis dan runtut dalam berpikir, tekun, ulet dan penuh tanggung jawab.
c. Proses Belajar-Mengajar Kimia
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku karena adanya pengalaman, sedangkan pengalaman merupakan interaksi siswa dengan lingkungan, baik lingkungan fisik seperti buku pelajaran, alat pelajaran, fasilitas laboratorium dan sebagainya maupun lingkungan sosial seperti guru, siswa lain, tutor, pembimbing dilaboratorium, nara sumber, dan sebagainya. Menurut Tabrani Rusran, belajar merupakan proses perubahan tingkah laku berkat pengalaman dan latihan.

Ini berarti bahwa tujuan suatu kegiatan belajar ialah mencapai perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut aspek pengetahuan, keterampilan, maupun aspek sikap. Menurut Nasution yang dikutib oleh Muhibbin Syah, mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisir atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar mengajar.

Lingkungan dalam pengertian disini tidak hanya ruang kelas (ruang belajar) tetapi juga meliputi guru, alat peraga, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya yang relevan dengan kegiatan belajar siswa. Dari pengertian-pengertian di atas, kita ketahui bahwa belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Belajar menunjuk kepada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai yang menerima pelajaran (peserta didik), sedang mengajar menunjuk kepada apa yang harus dilakukan oleh seorang guru yang menjadi pengajar. Jadi, mengajar merupakan proses interaksi antara guru dan peserta didik pada saat proses pengajaran. Ilmu kimia merupakan ilmu yang dekat dengan kehidupan, oleh karena itu dalam pembelajarannya harus selalu dihubungkan dengan kehidupan dan aplikasinya, sehingga siswa merasa bahwa ilmu tersebut penting dan dibutuhkan dalam kehidupannya. Lebih lanjut lagi I Made Sukarna menjelaskan bahwa pada proses belajar-mengajar kimia, siswa tidak hanya disuguhi konsep-konsep yang merupakan hasil metode ilmiah tetapi harus diarahkan untuk melakukan proses sehingga mempunyai keterampilan atau sikap seperti yang dimiliki oleh para ilmuwan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan.

Kegiatan pembelajaran ilmu kimia lebih diarahkan kepada kegiatanyang mendorong siswa untuk belajar lebih aktif, baik secara fisik, sosial, maupun psikis dalam memahami konsep, yaitu dengan pendekatan keterampilan proses. Pendekatan keterampilan proses menurut Conny Semiawan merupakan pendekatan dalam proses pembelajaranyang menekankan pada pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya.

Pendekatan keterampilan proses akan mendorong siswa untuk aktif dalam belajar-mengajar. Dengan keaktifan seperti itu baik secara intelektual maupun emosional siswa ikut terlibat dalam proses mendapatkan ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan yang didapat akan lebih dihargai oleh siswa karena ia ikut turut berperan dalam mendapatkannya.

Dalam melaksanakan proses belajar-mengajar kimia, guru dituntut kreatifitasnya dalam memilih metode mengajar, menyeleksi materi pelajaran, mengembangkan minat dan kemampuan serta keterampilan siswa, menggunakan fasilitas belajar secara tepat serta menggunakan sumber belajar yang sesuai sehingga tujuan proses belajar-mengajar yang telah ditentukan akan dapat tercapai dengan  baik. Lebih lanjut lagi Conny Semiawan mengungkapkan bahwa dalam kegiatan belajar-mengajar tugas guru tidak hanya memberikan pengetahuan, melainkan menyiapkan situasi yang dapat menggiring siswa atau anak didik untuk aktif bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen serta dapat menemukan fakta dan konsep sendiri. Hal ini sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Oleh karenaitu penerapan pendekatan konsep yang diinginkan oleh KTSP merupakan hal yang tepat dilaksanakan dalam menunjang proses belajar-mengajar kimia.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

01/02/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , , , | Tinggalkan komentar

PROSES BLANCHING PADA INDUSTRI PANGAN

PROSES BLANCHING PADA BAHAN PANGAN

 

  1. 1.      Landasan Teori

1.1  Definisi Blanching

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita menemui bahan pangan nabati seperti buah dan sayur dalam bentuk produk beku, kering atau kalengan. Bentuk olahan-olahan tersebut disukai karena selain dapat memperpanjang umur penyimpanan bahan, proses produksinya juga dipermudah karena akan  mempersingkat waktu pengolahan bahan tersebut menjadi produk akhir. Selama proses pembekuan, pengeringan, pengalengan maupun selama proses penyimpanannya, bahan pangan tersebut dapat mengalami penurunan mutu dan nutrisi, sehingga dibutuhkan suatu proses pemanasan awal yang dikenal dengan istilah blanching. Blanching adalah proses perlakuan pemanasan awal yang biasanya dilakukan pada bahan nabati segar sebelum mengalami proses pembekuan, pengeringan atau pengalengan.

 

1.2  Metode Blanching

Proses blanching dilakukan dengan memanaskan bahan pangan pada suhu kurang dari 100oC dengan menggunakan air panas atau uap air panas. Contoh proses blanching yaitu mencelupkan sayuran atau buah di dalam air mendidih selama 3 sampai 5 menit atau mengukusnya selama 3 sampai 5 menit.

Setelah dilakukan proses pemanasan bahan pangan, biasanya dilanjutkan dengan proses pendinginan yang bertujuan untuk mencegah pelunakan jaringan yang berlebihan sekaligus dan sebagai proses pencucian setelah blanching. Proses pendinginan dilakukan segera setelah proses blanching selesai. Bahan dibenamkan ke dalam air es selama beberapa waktu, biasanya lamanya waktu untuk proses pendinginan sama dengan lama waktu yang digunakan untuk blanching. Waktu pendinginan ini tidak boleh terlalu lama, karena dapat menyebabkan meningkatnya kehilangan komponen larut air karena lisis kedalam air pendingin. Untuk meminimalkan kehilangan komponen larut air karena lisis kedalam air pendingin, maka proses pendinginan dapat dilakukan dengan menggunakan udara dingin sebagai media pendinginnya.

Setiap bahan pangan memiliki waktu proses blanching yang berbeda-beda untuk inaktivasi enzim, tergantung pada jenis bahan tersebut, metode blanching yang digunakan, ukuran bahan dan suhu media pemanas yang digunakan. Pada Tabel dibawah ini dapat dilihat lama waktu blanching dari beberapa jenis bahan pangan :

 

Sayuran (dalam air suhu 100oC)

Waktu blanching (menit)

Brokoli

2-3

Jagung

2-3

Bayam

12

Beet ukuran kecil, utuh

3-5

Beet dipotong dadu

3

 

Idealnya, lama waktu yang diperlukan untuk proses blanching adalah pas tidak terlalu lama atau terlalu sebentar. Proses blanching yang berlebihan akan menyebabkan produk menjadi matang, kehilangan flavor, warna, dan nutrisi-nutrisi penting yang terkandung didalamnya karena komponen-komponen tersebut dapat rusak dan terlarut kedalam media pemanas (pada proses blanching dengan air panas atau steam).

Sebaliknya, waktu blanching yang terlalu sebentar akan mendorong meningkatnya aktivitas enzim perusak dan menyebabkan kerusakan mutu produk yang lebih besar dibandingkan dengan yang tidak mengalami proses blanching.

Proses blanching salah satunya bertujuan untuk menjaga mutu produk, dengan cara menonaktifkan enzim alami yang terdapat pada bahan pangan. Enzim tersebut di nonaktifkan karena dapat mengganggu kualitas pangan saat dilakukan proses pengolahan selanjutnya.  Contohnya ialah enzim polifenolase yang menimbulkan pencoklatan pada bahan pangan buah-buahan.  Tujuan blanching bervariasi dan bergantung pada proses pengolahan yang akan dilakukan.

Dalam proses blanching buah dan sayuran, terdapat dua jenis enzim yang tahan panas, yaitu enzim katalase dan peroksidase. Kedua enzim ini memerlukan pemanasan yang lebih tinggi untuk menginaktifkannya dibandingkan enzim-enzim yang lain. Baik enzim katalase maupun peroksidase tidak menyebabkan kerusakan pada buah dan sayuran. Namun karena sifat ketahanan panasnya yang tinggi, enzim katalase dan peroksidase sering digunakan sebagai enzim indikator bagi kecukupan proses blanching. Artinya, apabila tidak ada lagi aktivitas enzim katalase atau peroksidase pada buah dan sayuran yang telah di blanching, maka enzim-enzim lain yang tidak diinginkan pun telah terinaktivasi dengan baik.

 

  1. 2.      Fungsi Alat

Sayuran hijau yang diberi perlakuan blanching sebelum dibekukan atau dikeringkan mutu wama hijaunya lebih baik dibandingkan dengan sayuran yang tidak di blanching terlebih dahulu. Dalam pengalengan sayuran dan buah-buahan, blanching dapat menghilangkan gas dari dalam jaringan tanaman, melayukan jaringan tanaman agar dapat masuk dalam jumlah banyak dalam kaleng, menghilangkan lendir dan memperbaiki warna produk. Alat yang digunakan untuk proses blanching adalah blancher dimana proses yang terjadi bertujuan untuk:

  • Menonaktifkan enzim alami yang terdapat pada bahan pangan.
  • Membunuh sebagian jasad renik yang terdapat pada bahan pangan.
  • Mematikan jaringan-jaringan bahan.
  • Menghilangkan kotoran yang melekat pada sayuran.
  • Menghilangkan zat-zat penyebab lendir pada sayuran.
  • Mengeluarkan gas-gas, termasuk O2 dalam jaringan buah atau sayuran.
  • Mempertahankan mutu sensorik dan nutrisi dari buah dan sayur.

 

 

Pada proses blanching prinsipnya adalah melewatkan bahan pangan menuju uap pemanas dan media pendingin (dapat berupa udara atau air). Proses blanching dalam skala industri dilakukan pada Rotary Drum Steam Blancher. Ini merupakan suatu alat dimana proses blanching berupa pemanasan dan pendinginannya dilangsungkan dalam suatu drum yang berputar. Proses pemanasan di dalam alat umumnya dilakukan pada suhu 70-80oC bergantung pada jenis bahan pangan dan menggunakan uap jenuh. Sementara untuk proses pendinginan dipilih menggunakan media pendingin berupa air kondensat.

 

  1. 3.      Jenis dan Gambar Alat

 

 

Kapasitas dari alat ini mencapai 1000 hingga 50.000 PPH (Pounds per Hour), tergantung dari waktu tinggal bahan pangan dan jenis bahan pangan itu sendiri. Rotary Drum Steam Blancher efisien dalam penghematan energi dan mudah dalam proses pembersihannya. Recovery di akhir proses dapat mencapai 3%. Energi yang dikonsumsi oleh steam blancher kurang lebih setengah dari konsumsi energi water blancher. Alat ini juga praktis karena pemanasan dan penginginan berlangsung dalam satu alat sehingga bisa mengingkatkan efisiensi dan efektivitas dari proses produksi bahan pangan.

 

  1. 4.      Contoh Produk

Di industri jasa boga, buah dan sayur segar yang telah mengalami perlakuan perlukaan (misalnya dikupas, diiris atau dirajang) kadang-kadang tidak langsung diolah karena berbagai faktor. Bahan yang mengalami perlukaan ketika kontak dengan udara akan mengalami kerusakan warna, flavor dan tekstur karena aktivitas enzim. Proses blanching dilakukan untuk inaktivasi enzim dan mencegah terjadinya kerusakan tersebut. Blanching juga bisa dilakukan untuk mempermudah proses pengupasan. Panas karena blanching akan melunakkan kulit bahan sehingga mempermudah proses pelepasan kulit bahan.

Proses blanching juga membantu membersihkan bahan dan mengurangi jumlah mikroba awal, terutama yang ada di permukaan bahan. Pada sayuran daun, proses blanching dapat mereduksi jumlah bakteri mesofilik lebih dari 103 koloni/gram, tanpa menambahkan perlakuan kimiawi. Untuk alasan ini, maka proses blanching terkadang juga digunakan sebagai alternatif pengawetan untuk produk buah dan sayur diolah minimal (contohnya salad buah dan sayur; dan fresh cut product) yang dikemas dalam kemasan vakum dengan lama penyimpanan lebih dari 10 hari dan kondisi suhu ruang penyimpanan tidak stabil di suhu dingin (kurang dari 4oC).

Blanching yang dilakukan pada proses pengalengan, ditujukan untuk mengeluarkan udara dari dalam jaringan bahan dan meningkatkan suhu bahan (pemanasan awal). Pengeluaran udara dari jaringan dan pemanasan awal sebelum pengisian kedalam kaleng menjadi tujuan utama karena sangat berpengaruh pada penurunan kadar oksigen (pembentukan kondisi vakum) di dalam wadah. Keberadaan oksigen dalam produk kaleng tidak dikehendaki karena akan mempercepat proses kerusakan dan memperpendek umur simpan produk. Selain itu, blanching pada proses pengalengan juga bertujuan untuk melunakkan jaringan bahan sehingga mempermudah proses pengemasan (pengisian).

Pada proses pengalengan, inaktivasi enzim tidaklah menjadi tujuan utama. Pada beberapa kasus pengalengan, blanching bertujuan untuk mengaktivasi kerja enzim. Dalam kasus ini, aplikasi panas selama pengalengan menyebabkan lapisan epidermis bahan menjadi rusak dan tekstur berubah menjadi lembek. Blanching yang dilakukan pada suhu rendah dan waktu yang panjang dapat mencegah terjadinya pelunakan tekstur karena meningkatkan aktivitas enzim pektin metil esterase, enzim yang mengubah karakteristik biokimiawi dinding sel dan lamella tengah dari jaringan nabati menjadi lebih mudah membentuk kompleks dengan kalsium yang mencegah pelunakan tekstur.

Blanching untuk sayuran biasanya dilakukan dengan menggunakan air panas atau steam sementara blanching buah dilakukan dengan menggunakan larutan kalsium. Penggunaan larutan kalsium, bertujuan untuk mempertahankan tekstur buah melalui pembentukan kalsium pektat. Pengental seperti pektin, karboksimetil selulose dan alginat juga dapat digunakan untuk membantu mempertahankan tekstur buah agar tetap segar setelah proses blanching.

Contoh aplikasi blanching pada saat memasak sayur mayur adalah sayur yang sudah dibersihkan dimasukkan ke dalam air yang mendidih, direbus hingga berubah warna menjadi warna yang diinginkan lalu diangkat dan langsung dicelupkan ke dalam air dingin, umumnya air es. Tujuan proses blanching pada persoalan di atas adalah untuk mendapatkan kematangan yang diinginkan. Pencelupan sayur ke dalam air dingin bertujuan untuk menghentikan proses pematangan, karena seperti yang diketahui, ketika sayur diangkat dan masih dalam keadaan panas maka proses pematangan masih tetap berlangsung.

Hal ini dapat menyebabkan sayuran berwarna terlalu coklat atau terlalu matang. Selain untuk mencapai tingkat kematangan tertentu, proses ini bertujuan untuk mendapatkan tekstur tertentu dari suatu sayuran. Tekstur yang diinginkan mungkin agak lunak atau lebih renyah, ini tergantung kepada teknik memasak. Tujuan lain dari proses ini adalah untuk menghilangkan potensi berkecambah dari biji- bijian. Hal ini merupakan salah satu proses pengawetan.

 

  1. Pengganti Bleaching

Blanching dengan air panas tidak selalu diinginkan, terutama pada buah potong yang akan dimakan dalam bentuk segar dan buah beku yang akan dikonsumsi dalam bentuk segar (tanpa pemasakan) setelah proses thawing. Pada buah potong yang akan dikonsumsi dalam bentuk segar, proses blanching dapat menyebabkan perubahan karakteristik sensorik ‘khas buah segar’-nya. Sementara pada buah beku, kerusakan panas yang terjadi selama blanching pada beberapa jenis buah menyebabkan perubahan flavor dan tekstur buah (tekstur menjadi porous seperti gabus) setelah dithawing. Kondisi ini menyebabkan buah menjadi tidak layak untuk dikonsumsi segar. Untuk kasus seperti ini, maka digunakan metode alternatif lain untuk menghambat perubahan enzimatis terutama reaksi pencoklatan.

Beberapa metode yang bisa digunakan sebagai pengganti blanching pada pembuatan buah beku adalah inaktivasi enzimatis secara kimia, menghindarkan kontak dengan oksigen (misalnya dengan mengemas buah dalam larutan gula) dan perendaman dalam larutan yang mengandung anti oksidan (misalnya asam askorbat).

Contoh lain proses blanching diterapkan pada buah- buahan. Proses blanching ini bertujuan untuk mencegah terbentuknya warna coklat pada buah- buahan. Buah yang paling mudah mengalami pencoklatan adalah apel. Blanching yang dilakukan pada buah- buahan ini adalah dengan memberikan panas terhadap bahan pangan melalui perendaman bahan dalam air yang mendidih atau pemberian steam dalam waktu yang relatif singkat.

Untuk apel, setelah dikupas dan dipotong- potong selanjutnya apel direndam di dalam air panas selama 3 menit dengan suhu mencapai 82-93°C. Setelah proses perendaman selesai, apel direndam dalam larutan vitamin C. Dengan takaran vitamin 200 miligram per liter. Sehingga akan diperoleh apel yang tetap segar dengan tambahan vitamin C. Selain itu, proses blanching untuk buah- buahan dapat dilakukan dalam larutan garam kalsium dengan tujuan untuk memperbaiki kekerasan buah dengan terbentuknya kalsium pektat. Kekerasan buah setelah diblanching juga dapat diperbaiki dengan bantuan pektin, karboksimetil dan alginat.

 

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

01/01/2013 Posted by | BIOKIMIA | , , , , , | Tinggalkan komentar

PEMEKATAN LARUTAN GULA DALAM SUATU SYSTEM “EVAPORATOR EFEK TIGA” *) (Penerapan Konsep Neraca Massa dan Neraca Panas Dalam Proses Penguapan)

Oleh:

Endang Dwi Siswani Widyatmiko **)

 

 

ABSTRAK

 

Makalah ini bertujuan memberikan satu contoh penerapan konsep neraca massa dan neraca panas dalam  proses penguapan. Didalam Industri gula, sebelum sampai pada proses kristalisasi, larutan gula terlebih dahulu dipekatkan  dengan cara  penguapan, yang dilakukan di dalam suatu alat yang disebut dengan  evaporator.  Dalam makalah ini akan dibahas mengenai  langkah- langkah penerapan neraca massa dan neraca panas dalam proses pemekatan 22680 kg/ jam larutan gula 10% menjadi laruan gula 50% dalam system evaporator efek tiga, untuk menentukan  besarnya semua aliran bahan yang keluar dan yang masuk dalam suatu system evaporator efek tiga (L1; L2; L3; V1; V2; V3), jumlah uap air yang diperlukan (S), serta  besarnya luas permukaan perpindahan panas dari tiap- tiap evaporator (A1; A2; dan A3).

Langkah- langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1). menentukan  kenaikan titik didih larutan pada evaporator1, 2 dan 3; 2). menghitung  jumlah keseluruhan uap (V1 + V2 + V3) dan jumlah serta komposisi larutan (xi ) yang keluar dalam tiap- tiap evaporator (L1, L2 dan L3) dan mengasumsikan harga V1= V2 = V3; 3). menghitung  suhu embunan yang keluar dari tiap- tiap evaporator; 4). menentukan luas permukaan perpindahan panas pada tiap- tiap evaporator ( A1,, A2 , A3) berdasarkan hasil perhituingan pada langkah 2);  5) melakukan checking apakah benar bahwa A1 = A2 = A3;; 6). mengulang langkah 2) sampai dengan 5), hingga dieproleh harga A1 = A2 = A3.

Berdasarkan langkah- langkah diatas, diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut: harga  L1 = 17005 kg/jam; L2 = 10952 kg/jam; L3 = 4536 kg’jam; V1 = 5675 kg/jam; V2 =  6053 kg/jam; V3 = 6416 kg/ jam. Jumlah Steam (uap air) yang diperlukan = S = 8960. Luas permukaan perpindahan panas untuk tiap- tiap evaporator adalah: A1 = 104,6 m2 ; A2 = 105,6 m2; dan A3 = 104,9 m2.

 

  1. PENDAHULUAN

Evaporator adalah salah satu jenis alat industri yang digunakan untuk memekatkan larutan. Alat ini banyak digunakan dalam industri yang mengolah bahan- bahannya dalam fase cair. Berdasarkan jumlah evaporator yang digunakan, system evaporator dibagi dalam beberapa jenis; yaitu: system evaporator efek tunggal ( sebuah evaporator); system evaporator multi efek ( lebih dari sebuah evaporator). Jika jumlah evaporator ada 3 buah, disebut dengan system evaporator efek tiga. Proses pemekatan di dalam evaporator bertujuan untuk menghilangkan sebagian pelarut dengan  cara menguapkan pelarut tersebut. Oleh karena itu, diperlukan uap air sebagai medium pemanas.

Dalam skala industri, dengan jumlah bahan yang dipekatkan cukup banyak, ( dengan kecepatan aliran massa sebanyak ribuan kg/jam), maka pemekatan larutan dengan menggunakan system evaporator efek tunggal akan banyak memerlukan jumlah uap air sebagai medium pemanas, sehingga ongkos pengadaan uap air akan menambah  ongkos produksi secara keseluruhan. Disamping itu dalam system evaporator efek tunggal panas yang dibawa oleh uap air yang meninggalkan evaporator (sebagai hasil penguapan pelarut) akan terbuang (tidak dimanfaatkan). Hal ini jika penanganannya kurang cermat akan mengakibatkan terjadinya polusi dalam ruang kerja. Berdasarkan tinjauan ekonomi dan teknis diatas, untuk mereduksi biaya dan untuk memanfaatkan panas yang dibawa oleh uap air yang meninggalkan evaporator,  perlu digunakan evaporator multi efek.

Makalah ini bertujuan menjelaskan bagaimana langkah- langkah perhitungan dalam perancangan system evaporator efek tiga, yang digunakan untuk memekatkan larutan gula dari 10% berat gula manjadi larutan 50% berat gula.  Perhitungan dilakukan dengan bantuan konsep neraca massa dan neraca panas. Perhitungan disini bertujuan menentukan kuantita bahan- bahan yang keluar dari satu evaporator maupun yang masuk ke dalam evaporator lainnya (meliputi: jumlah larutan gula jenuh, dan uap air yang meninggalkan evaporator), disamping itu  akan ditentukan  besaranya luas permukaan perpindahan panas dari tiap-tiap evaporator (A) dan banyaknya uap air ( S = steam) yang diperlukan sebagai  medium pemanas pada evaporator 1.

 

 

  1. KONSEP NERACA MASSA DAN NERACA PANAS

Dalam bidang Teknik Kimia, untuk menyelesaikan suatu masalah ( terutama pada bidang perancangan alat proses), selain konsep-konsep kimia  diperlukan juga  konsep-konsep matematika  sebagai sarana penyelesaiannya/ perancangannya. Konsep matematika yang digunakan dalam perancangna evaporator adalah “konsep neraca massa” dan “konsep neraca panas”. Dalam hal ini adalah konsep neraca massa dan neraca panas untuk proses steady state

Neraca massa diturunkan dari hokum kekekalan massa; yang menyatakan bahwa untuk proses yang steady (tunak) dan tidak terjadi reaksi kimia  maka massa bahan- bahan (zat) yang masuk  ke dalam suatu alat proses sama dengan massa bahan- bahan yang keluar dari alat proses tersebut.  Demikian juga konsep neraca panas menyatakan bahwa  untuk proses yang steady (tunak), maka jumlah panas yang masuk sama dengan  jumlah panas yang kelaur dari  alat proses tersebut.

 

 

  1. C.    SYSTEM  EVAPORATOR EFEK TIGA

Seperti telah disebutkan di atas, untuk mengurangi ongkos pengadaan uap air sebagai pemanas dan untuk mengantisipasi terjadinya polusi panas dalam ruang kerja,  maka digunakan beberapa buah evaporator yang dipasnag seri. System ini dikenal dengan system evaporator multi efek. Apabila digunakan 3 buah rekator, disebut dengan system evaporator efek tiga. Gambar sederhana dari system evaporator efek tiga dapat dilihat pada Gambar 1.

Dalam system evaporator efek tiga, tiap- tiap evaporator bertindak sebagai evaporator tunggal. Dalam system efek tiga, sejumlah uap air digunakan sebagai  medium pemanas untuk evaporator 1, dan  larutan dalam evaporator I akan mendidih pada kondisi T1 dan P.1.  Uap yamg keluar dari evaporator 1 ( sebesar V1),  digunakan sebagai medium pemanas pada Evaporator 2, yang akan menguapkan air dalam evaporator 2 dalam  kondisi T2 dan P2.  Demikian juga uap yang keluar dari evaporator 2 akan digunakan sebagai medium pemanas pada evaporator 3, yang  akan menguapkan air pada kondisi T3 dan P3. Apabila System evaporator efek tiga ini bekerja dalam kondisi steady  state,  maka kecepatan aliran bahan dan kecepatan penguapan di tiap- tiap evaporator akan  konstan.

Kasus yang  akan dijelaskan dalam makalah ini adalah : suatu system evaporator efek tiga digunakan untuk memekatkan larutan gula 10% berat,  sebanyak 22680 kg/jam, menjadi larutan gula 50% berat.  Larutan gula 10%  (F) dimasukkan  ke dalam evaporator 1 pada suhu 26,7 0C ( = 80 0F). Sebagai medium pemanas digunakan uap air  (S) pada tekanan 205,5 kPa (= 29,8 psia) dan pada suhu 121,1 0C ( = 250 0F). Tekanan uap pada evaporator 3 sebesar 13,4 kPa (= 1,94 psia). Harga panas jenis dari larutan didekati dengan  persamaan: cp = 4,19 – 2,35 x kJ. ( x = fraksi berat gula dalam  larutan). Diketahui harga koefisien perpindahan panas untuk  larutan dalm tiap- tiap evaporator berturut- turut : U1 = 550; U2 = 350 dan U3 = 200 Btu// j. ft2.  Apabila  ketiga evaporator tersebut mempunyai luas permukaan perpindahan panas yang sama (A1 = A2 = A3), maka dapat ditentukan:

  1. Besarnya luas permukaan perpindahan panas ( A1, A2 dan A3)
  2. Besarnya kecepatan uap air  sebagai medium pemanas untuk evaporator 1 (S)
  3. Jumlah  larutan yang  keluar  dari tiap- tiap evaporator (l1, L2 dan L3)
  4. Jumlah uap air yang keluar dari  tiap- tiap evaporator (V1, V2 dan V3)

 

Langkah- langkah penyelesaian: (Geankoplis, C.J, 1991)

Perhitungan dilakukan dengan cara  coba- coba.

 

1. Menentukan kenau\ikan titik didih larutan

Mem\nentukan  kenaikan titik didih larutan (KTD )dalam tiap- tiap evaporator

            Persamaan yang digunakan: (KTD)i = 1,78 xi + 6,22 xi2                                ………(1)

                                                            ( i  = 1 s.d 3 )

            Diperoleh (KTD)1 = 0,36 0C; (KTD)2 = 0,65 0C; (KTD)3 = 2,45 0C

Sehingga T3 = 51,67 + 2,45 = 54,12 0C

 

2. Menghitung L1, L2, L3, V1, V2 dan V3

a. Membuat neraca massa komponene keseluruhan :

F xF = L3 x3 + (V1 + V2 + V3) 0                                                           ………. (2)

—à  Diperoleh harga L3 = 4536 kg/j.

b. Membuat  neraca massa total (untuk seluruh evaporator) :

F = L3 + (V1 + V2 + V3 ),                                                                 ……….(3)

diperoleh ( V1 + V2 + V3) = 18144 kg/j

Diambil V1 = V2 = V3 = 15144/3 = 6048 kg/j.

 

c. Membuat neraca massa  untuk tiap- tiap evaporator:

Ev 1: F   = V1 + L1,                                                                            ……….(4)

diperoleh harga L1 = 16632 kg/j

    Ev 2: L1 = V2 + L2,                                                                            ……….(5)

diperoleh harga L2 = 10584 kg/j

Ev 3: L2 = V3 + L3,                                                                             ………(6)

diperoleh harga L3 = 4536 kg/j

 

c. Membuat neraca  massa komponen untuk tiap- tiap evaporator:

Ev1:  F (xF)   = L1 (x1),                                                                       ………(7)

diperoleh harga x1 = 0,136

Ev2 : L1 (x1) = L2 (x2),                                                                      ……….(8)

diperoleh harga x2 = 0,214

Ev3 : L2 (x2) = L3 (x3),                                                                       ………(9).

diperoleh harga x3 = 0,500

 

3. Menghitung suhu  embunan uap air (sebagai medium pemanas yang keluar dari tiap-    tiap evaporator (Ts1, Ts2 dan Ts3)

Persamaan yang digunakan :

Ev1 : T1 = Ts1 –  T1,                                                               ………..(10)

diperoleh harga Ts1 = 121,10C

Ev2 : Ts2 =  T1 – (KTD)1,                                                                    ………(11)

diperoleh harga Ts2 = 105,8 0C

Ev 3 : Ts3 = T2 – (KTD)2,                                                                    ………(12)

diperoleh harga Ts3 = 86,19 0C

Harga- harga ini digunsksn untuk menghitung       S1,       S2  dan       S3

 

4. Menentukan luas permukaan perpindahan panas tiap- tiap evaporator (A1, A2, A3)

Untuk menentukan A1, A2 dan A3 digunakan konsep neraca panas:

Qi = Ui Ai    Ti;                                                                                 ………(13)

Qi = panas yang diberikan oleh uap air sebagai medium pemanas

Untuk evaporator ke i

Ui = Koefisien perpindahan panas pada evaporator ke i

Ti = Kenaikan titik didih larutan dalam evaporator (KTD)i

i   = evaporator ke 1,2 dan 3

 

Persamaan diatas dapat dituliskan : Ai = Qi/ (Ui)(    Ti)             …..……… (14)

Harga Qi  dicari dari persamaan : Qi =  S    Si                                      …………..(15)

Dari perhitungan ditemukan harga

LS1 = 2200 kJ/kg;    S2 = 2244 kJ/kg dan    S3 = 2294 kJ/kg

Jika harga S telah diketahui dari hasil perhitungan diatas, maka:

Q1 = 5,460 x 106 W;  Q2 = 3,492 x 106 W dan Q3 = 3,830 x 106 W

 

Dengan persamaan (14), dengan  harga  Q1, Q2 dan Q3 ini maka dapat dihitung harga A1 = 112,4 m2; A2 = 95,8 m2 dan A3 = 105,1 m2.

 

5. Langkah 5 : Checking harga A1, A2 dan A3 hasil hitungan.

Dari hasil hitungan dapat dihitung harga A rerata atau Am = (112,4 + 95,8 + 105,1) /3 = 104, 4 m2. Karena masing- masing harga A tidak sama dengan harga Am, maka perlu dilakukan perhitungan kembali.

 

6: Mengulang langkah 2) sampai dengan 5)

Langkah ini bertujuan untuk menentukan A1, A2 dan A3 dengan urutan yang sama, mulai dari langkah 2) sampai dengna langkah 5) dengan menggunakan harga L1, L2 dan L3 berturut- turut = 17005, 10952 dan 4536 kg/j.

Dengan  urutan yang sama, diperoleh harga A1 = 104,56 m2; A2 = 105,6 m2  dan A3 =104,9 m2 serta Am = 104,4 m2. Ternyata harga A1, A2 dan A3 hampir sama atau dapat dikatakan sama dengna harga Am. Berdasarkan ini, maka berarti harga A1, A2 dan A3 yang terakhir ini adalah harga luas permukaan perpindahan panas untuk tiap- tiap evaporator.Dengan demikian maka perhitungan dihentikan.

 

 

D  KESIMPULAN

Berdasarkan langkah- langkah perhitungan dimuka, maka dapat disimpulkan: bahwa system evaporator efek tiga yang digunakan untuk memekatkan larutan gula 10% sebanyak 22680 kg/j menjadi larutan gula 50%, mempunyai spesifikasi sebagai berikut:

  1. Besarnya luas permukaan perpindahan panas A1=104,6 m2, A2 = 105,6 m2 dan A3 = 104,9 m2
  2. Besarnya kecepatan uap air  sebagai medium pemanas untuk evaporator 1=

S = 8960 kg/j

  1. Jumlah  larutan yang  keluar  dari tiap- tiap evaporator L1 = 17005  kg/j,

L2 = 10952 kg/j dan L3 = 4536 kg/j

  1. Jumlah uap air yang keluar dari  tiap- tiap evaporator: V1 = 5675 kg/j;

V2  = 6053 kg/j dan V3 = 6416 kg/j

01/01/2013 Posted by | BIOKIMIA | , , , , | 2 Komentar

BLANSING

 

Blansing merupakan suatu cara pemanasan pendahuluan atau perlakuan pemanasan tipe pasteurisasi  yang  dilakukan  pada  suhu  kurang  dari  100oC selama  beberapa  menit,  dengan menggunakan  air  panas  atau  uap.  Proses  blansing  termasuk  ke  dalam  porses  termal  dan umumnya membutuhkan suhu berkisar 75 – 95°C selama 10 menit. Tujuan utama blansing ialah menginaktifan  enzim  diantaranya  enzim  peroksidase  dan  katalase,  walaupun  sebagian  dari mikroba yang ada dalam bahan juga turut mati. Kedua jenis enzim ini paling  tahan terhadap

panas.  Blansing  biasanya  dilakukan  terhadap  sayur-sayuran  dan  buah-buahan  yang  akan dikalengkan atau  dikeringkan. Di dalam pengalengan sayur-sayuran dan buah-buahan, selain untuk menginaktifkan enzim, tujuan blansing yaitu :

o  membersihkan bahan dari kotoran dan mengurangi jumlah mikroba dalam bahan

 

o  mengeluarkan  atau  menghilangkan  gas-gas  dari  dalam  jaringan  tanaman,  sehingga mrngurangi  terjadinya pengkaratan kaleng dan memperoleh keadaan vakum yang baik dalam “headspace” kaleng.

o  melayukan atau melunakkan jaringan tanaman, agar memudahkan pengisian bahan ke dalam wadah

o  menghilangkan bau dan flavor yang tidak dikehendaki

 

o  menghilangkan lendir pada beberapa jenis sayur-sayuran

 

o  memperbaiki warna produk, a.l. memantapkan warna hijau sayur-sayuran

 

Cara melakukan blansing ialah dengan merendam dalam air panas (merebus) atau dengan uap air (mengukus atau dinamakan juga “steam blanching”). Merebus yaitu memasukkan bahan ke dalam panci yang berisi air mendidih. Sayur-sayuran atau buah-buahan yang akan diblansing dimasukkan ke dalam keranjang  kawat,  kemudian dimasukkan ke dalam panci dengan suhu blansing biasanya mncapai 82 – 83°C selama 3 – 5  menit. Setelah blansing cukup waktunya, kemudian keranjang kawat diangkat dari panci dan cepat-cepat didinginkan dengan air.

Pengukusan  tidak  dianjurkan  untuk  sayur-sayuran  hijau,  karena  warna  bahan  akan menjadi kusam. Caranya ialah dengan mengisikan bahan ke dalam keranjang kawat, kemudian dimasukkan  ke  dalam  dandang   yang  berisi  air  mendidih.  Dandang  ditutup  dan  langkah selanjutnya sama dengan cara perebusan.

 

Kemampuan proses blansing sebagai perlakuan pendahuluan untuk mendapatkan produk yang baik didasari oleh beberapa fungsi, yaitu :

a.   Menginaktivasi enzim yang dapat menyebabkan perubahan kualitas bahan pangan, terutama bahan pangan  segar yang mudah mengalami kerusakan akibat aktivitas enzim yang tinggi. Bahan pangan yang mudah  mengalami kerusakan jenis ini adalah buah-buahan dan sayur- sayuran.  Aktivitas  enzim  ini  terkait  karakteristik  biologi,  fisiologi,  dan  hidratasi  bahan pangan.  Akibat  buruk  akibat  aktivitas enzim  lebih  tampak  jika  pada  proses pengol ahan terjadi  penundaan.  Beberapa  enzim  oksidatif  yang menjadi  inaktif  pada  proses blansing adalah peroksidase, katalase, polifenol oksidase, lipoksigenase, dan lain-lain.

Sebagai contoh blansing dilakukan sebagai perlakuan pendahuluan pada proses pembuatan sari buah apel dengan tujuan untuk menginaktifkan enzim polifenolase. Enzim polifenolase dapat mengkatalis reaksi oksidasi terhadap senyawa fenol yang mengakibatkan pembentukan warna coklat yang tidak dikehendaki karena merusak penampilan produk dan tidak disukai konsumen.

b.  Mengurangi gas antarsel untuk mengurangi perubahan oksidatif. Berkurangnya gas antarsel berakibat  pada  menurunya  kadar  oksigen  dalam  bahan,  sehingga  akan  berakibat  pada menurunya aktivitas enzim oksidatif yang aktifitasnya dipengaruhi oleh kandungan oksigen dalam bahan.

c.   Selain inaktifasi enzim, prinsip proses blansing yang menggunakan pemanasan juga akan menurunkan aktifitas bahkan mematikan mikroorganisme.

 

 

Namun selain dari keuntungan yang diperoleh dari proses blansing tersebut, ada juga kekurangan dari  proses tersebut, yaitu efek negatif berupa kehilangan zat gizi yang sensitif terhadap pemanasan. Zat gizi yang sensitif terhadap pemanasan akan larut pada proses blansing yang dilakukan dengan metode perebusan.

Proses blansing dibutuhkan jika terdapat waktu tunggu sebelum perlakuan panas pada proses  pengeringan  atau  pengalengan  dilakukan.  Proses  blansing  juga  diperlukan  jika  tidak terdapat perlakuan panas pada produk selama pengolahan seperti pada pembekuan.

 

 

I.         Metode Blansing

 

Secara garis besar metode blansing yang sering diterapkan ada 2 (dua), yaitu : blansing dengan air panas, dan blansing dengan uap panas.

1.         Blansing dengan air panas (Hot Water Blanching)

 

Metode blansing ini hampir sama dengan proses perebusan. Metode ini cukup efisien, namun memiliki kekurangan yaitu kehilangan komponen bahan pangan yang mudah larut dalam air serta bahan yang tidak tahan panas.

2.         Blansing dengan uap air panas (Steam Blanching)

 

Blansing dengan metode ini paling sering diterapkan. Metode ini mengurangi kehilangan komponen yang tidak tahan panas.

 

 

II.        Mesin Blansing

 

Ada beberapa jenis/tipe mesin blansing yang sering digunakan pada proses pengolahan industri pertanian khususnya pengolahan pangan. Pemilihan jenis mesin dilakukan berdasarkan jenis bahan, kondisi bahan, serta tujuan dari pengolahan atau spesifikasi produk yang diinginkan. Beberapa jenis mesin blansing tersebut adalah :

1.  Rotary Drum Blancher

 

Rotary drum  blancher  terdiri  atas  sebuah  drum  berputar  yang  secara  substansial ditutup selama operasi untuk meningkatkan efisiensi proses. Bagan dari rotary drum blancher dapat dilihat pada Gambar 2.1, dan gambar fisik rotary drum blancher dapatr dilihat pada Gambar 2.2.

 

 

 

 

Gambar 2.1 Bagan Rorary Drum Blancher

 

Selama operasi, produk makanan secara substansial terus dimasukkan ke blancher melalui inlet produk makanan (I), diproses oleh blancher, dan kemudian dikaluarkan dari                    blancher           melalui                 outlet               produk           makanan      (46).

 

 

Gambar 2.2. Rotary Drum Blancher (sumber : sigmapackaging.com)

 

 

 

2.  Batch Blancher

 

 

 

Gambar 2.3. Batch blancher (sumber : ciae.nic.in)

 

 

 

 

 

3.  Continuous Blancher

 

 

 

Gambar 2.4. Continuous blancher (sumber : asmequipment.com)

 

4.  Belt blancher

 

 

 

Gambar 2.5. Belt blancher (sumber : hughezcompany.biz)

 

 

 

5.  Thermoscrew blancher

 

Thermoscrew  blancher  memiliki  ulir  yang  terdapat  lubang  pada  bagian  tengah. Lubang pada bagian tengah ulir tersebut berisi medium pemanas. Pada alat ini bahan dan air panas bergerak  dengan arah yang berlawanan untuk  mempercepat proses transfer panas. Gambar dari thermoscrew blancher dapat dilihat pada Gambar 2.6.

 

 

 

Gambar 2.6. Thermoscrew Blancher (sumber : Reitz Thermascrew Blancher …bcit.ca)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6.  Steam Blancher

 

Steam blancher digunakan untuk proses blansing dengan uap air panas atau steam blanching. Blansing dengan cara ini dapat mengurangi kehilangan komponen bahan pangan akibat proses blansing dengan air panas. Pada alat ini uap air diberikan  pada lapisan irisan sayuran atau buah-buahan sebanyak 25 kali penyemprotan. Bagan dari proses blansing dengan uap air panas dapat dilihat pada Gambar 2.7.

 

 

 

Gambar 2.7. TRAY-TYPE STEAM BLANCHER. FMC CORPORATION

(Sumber : Machinery International Division fao.org

 

7.  Pasta Blancher

 

 

 

Gambar 2.8. Pasta Blancher (sumber : commercialkitchenindia.com

 

8.  Key Screw Conveyor Blancher

 

 

 

Gambar 2.9. Blancher – Key Screw Conveyor Blancher – Vegetables, Blanching, Water-(sumber

: basedfoodtechinfo.com)

 

9.  Vegetables Blancher

 

 

 

Gambar 2.10. Vegetable blancher with air cooling, capable of blanching 15 tons of peas

(sumber : smartmachinery.co.uk)

 

 

 

Gambar 2.11. Steam Blancher (sumber : tradeindia.com)

 

 

 

 

A. PENGUAPAN ( EVAPORATOR )

 

Evaporasi atau penguapan merupakan pengambilan sebagian uap  air  yang bertujuan utuk  meningkatkan konsentrasi padatan dari suatu bahan makanan cair. Salah satu tujuan lain dari  operasi ini adalah untuk mengurangi volume dari suatu produk  sampai  batas-batas  tertentu  tanpa  menyebabkan  kehilangan  zat-zat  yang mengandung gizi. Pengurangan volume produk, akan mengakibatkan turunnya biaya pengangkutan. Disamping itu, juga akan meningkatkan efisiensi  penyimpanan dan dapat membantu pengawetan, atas dasar berkurangnya jumlah air bebas yang dapat digunakan  oleh  microorganisma  untuk  kehidupannya.  Salah  satu  contoh  untuk pengawetan adalah susu kental manis.

 

 

 

Gambar 1.Evaporator Tabung dan Pipa

 

 

 

 

Operasi  penguapan  yang  mungkin  digunakan  untuk  suatu  produk  sangat bervariasi, hal ini tergantung pada karakteristik bahan produk. Dalam banyak kasus, karakteristik bahan ini berpengaruh pada design evaporator (alat penguap). Adapun contoh  dari  karakteristik  bahan  adalah  kekentalan  bahan  dan  kepekatan  bahan terhadap suhu serta kemampuan bahan untuk membuat alat mengalami korosi.

 

Menaikkan konsentrasi dari fraksi padatan di dalam produk bahan makanan cair  adalah   dengan  menguapkan  air  bebas  yang  ada  didalam  produk.  Proses penguapan ini dilakukan dengan menaikkan temperatur produk sampai titik didih dan menjaganya untuk beberapa waktu  sampai konsentrasi yang diinginkan.Ada empat komponen dasar yang dibutuhkan untuk melakukan penguapan.

 

Keempat komponen tersebut terdiri dari :

 

 

 

 

 

a) sebuah tabung penguapan, b) sustu alat pindah panas,

c) sebuah kondensor, serta

 

d) sebuah metode untuk menjaga tekanan vakum.

 

Keempat komponen ini harus diperhatikan dalam merencanakan suatu evaporator. Sistem tekanan vakumnya harus dapat mengalirkan gas yang tidak terkondensasi agar bisa menjaga tekanan vakum yang diinginkan didalam tabung penguapan. Panas yang cukup  harus  dialirkan/  diberikan  ke  produk  untuk  penguapan  sejumlah  air  yang diinginkan,  serta  sebuah  kondensor  yang  berguna  untuk   mengembangkan  dan memindahkan uap air yang diproduksi melalui penguapan.

 

Keseimbangan  massa  dapat  digunakan  untuk  menentukan  laju  penguapan untuk   mendapatkan  derajad  konsentrasi  yang  diinginkan.  Hubungan  ini  akan membawa kita untuk  dapat menentukan jumlah medium pemanas yang dibutuhkan untuk  mencapai  penguapan  yang  diinginkan.  Kunci  penting  lainnya  yang  perlu mendapat  perhatian  dalam  perencanaan  adalah   pindah  panas  yang  terjadi  dari medium   pemanas   ke   produk,   dengan   memperhatikan   bahwa   kebutuhan   luas permukaan pindah panas tidak akan dapat dihitung tanpa terlebih dahulu menduga koefisien pindah panas keseluruhan bagi permukaan pemanas.

 

Walaupun parameter-parameter untuk design sudah dapat diduga secara tepat, akan tetapi masih ada faktor-faktor khusus yang ada pada produk yang berpengaruh pada design evaporator.  Faktor-faktor ini akan mengakibatkan perhitungan menjadi lebih kompleks. Sebagai contoh adalah  banyaknya padatan yang ada pada produk bahan  makanan  cair  akan  mengakibatkan  titik  didih  yang  lebih  tinggi  apabila dibandingkan dengan titik didih dari air pada tekanan yang sama.

 

Perbedaan titik didih ini menjadi lebih besar dengan bertambah tingginya konsentrasi bahan makanan cair. Kerumitan ditambah lagi dengan tidak konstannya koefisien pindah panas konveksi, karena koefisien pindah panas ini merupakan fungsi dari kekentalan. Padahal telah diketahui bahwa selama proses penguapan, kekentalan produk  selalu  berubah  karena  terjadinya  penguapan.  Keadaan  ini  mengakibatkan koefisien  pindah  panas  konveksi  juga  selalu  berubah  sesuai  dengan  kekentalan produk.  Akhirnya,  persoalan  menjadi  lebih  kompleks  dengan  adanya  sifat  panas produk yang berubah menurut temperatur dan kadar air produk. Tentunya , hal ini semua akan memberikan pengaruh tersendiri terhadap design operator.

 

 

 

 

 

Prinsip Kerja Evaporasi ( Penguapan )

 

Prinsip  kerja  peralatan  evaporator  vakum  ini  berdasarkan  pada  kenyataan bahwa   penurunan  tekanan  akan  menyebabkan  turunnya  titik  didih  cairan.Pada Anhydro laboratory Vacum Evaporator, keadaan vakum tersebut terutama dihasilkan dari pompa air  yang memindahkan  uap terkondensasi dan mendinginkan air dari kondensor.

 

Kevakuman  yang  sebenarnya  dalam  evaporator  ditentukan  oleh  efisiensi pompa, yang  mana hal itu tergantung pada derajat kondensi uap dalam kondensor. Pada kondensi itu sendiri mengambil tempat (berlangsung) sesuai dengan banyaknya semprotan air yang didinginkan ke bagian puncak dari kondensornya. Inilah apa yang dimaksud  dengan  :  kita  bisa  mengatur  suhu  didih   yang  sebenarnya  pada  alat tersebut.Panas yang dibutuhkan untuk penguapan cairan adalah berasal  dari steam yang sudah jenuh. Steam tersebut mengalami pengembunan (dikondensikan) pada tabung, dan bersamaan dengan itu memberikan panasnya untuk penguapan. Steam yang telah diambil panasnya itu disebut juga kondensat, kemudian dipindahkan dari dasar calandria dan ditarik melalui kondensor menuju pompa.

 

Calandria adalah tabung dimana terjadi pergerakan bahan pangan.

 

Bahan cair yang akan ditingkatkan konsentrasinya itu bersirkulasi terus menerus pada alat dalam upaya untuk memperoleh perpindahan/pergerakan yang maksimal didalam calandria. Sirkulasi yang cepat akan mengurangi resiko terjadinya pengendapan pada permukaan tabung, dan dengan cepat membebaskan gelembung-gelembung uap dari bahan cair selama dalam perjalanan melalui evaporator

 

Pindah Panas Di Dalam Evaporator

 

Beberapa  peralatan  penguapan  dapat  langsung  dipanasi  dengan  api.  Api memanasi dinding ketel dan secara konduksi akan memanasi bahan yang terletak di dalam alat penguap. Akan tetapi umumnya evaporator mempergunakan panas tidak langsung dalam proses penguapannya.

 

Pindah panas didalam alat penguapan diatur oleh persamaan pindah panas untuk pendidihan bahan cair dan dengan persamaan konveksi serta konduksi. Panas yang  dihasilkan  dari   sumber  harus  dapat  mencapai  suhu  yang  sesuai  untuk menguapkan  bahan.  Umumnya   medium  pembawa  panasnya  adalah  uap  yang diperoleh  dari  boiler  atau  dari  suatu  tahapan  penguapan  dalam  alat  penguapan lain.Perputaran  bahan  cair  didalam  alat  penguapan  merupakan  hal  yang  penting,

 

 

 

 

 

sebab perputaran mempengaruhi laju pindah panas  dan dengan perputaran bahan yang baik akan meningkatkan laju penguapan.

 

Evaporator Efek Tunggal

 

Yang dimaksud dengan single effect adalah bahwa produk hanya melalui satu buah ruang penguapan dan panas diberikan oleh satu luas permukaan pindah panas.

 

Evaporator Efek Majemuk

 

Di dalam proses penguapan bahan dapat digunakan dua, tiga, empat atau lebih dalam   sekali   proses,   inilah   yang   disebut   dengan   evaporator   efek   majemuk. Penggunaan  evaporator  efek   majemuk  berprinsip  pada  penggunaan  uap  yang dihasilkan dari evaporator sebelumnya.Tujuan penggunaan evaporator efek majemuk adalah   untuk   menghemat   panas   secara   keseluruhan,   hingga          akhirnya                                                                                                                dapat mengurangi ongkos produksi.

 

Keuntungan evaporator efek majemuk adalah merupakan penghematan yaitu dengan  menggunakan uap yang dihasilkan dari alat penguapan untuk memberikan panas  pada  alat  penguapan  lain  dan  dengan  memadatkan  kembali  uap  tersebut. Apabila dibandingkan antara alat penguapan n-efek, kebutuhan uap diperkirakan 1/n kali, dan permukaan pindah panas berukuran n-kali dari pada yang dibutuhkan untuk alat penguapan berefek tunggal, untuk pekerjaan yang sama.

 

Pada evaporator efek majemuk ada 3 macam penguapan, yaitu :

 

a.Evaporator Pengumpan Muka b.Evaporator Pengumpan Belakang c.Evaporator Pengumpan Sejajar

Macam Peralatan Pemanas / Penukar Panas : Tabung Pemanas, Ketel Uap (Boiler), Penukar Panas Spiral Melingkar, Penukar Panas Tipe Permukaan, Penukar Panas  Dengan  Tabung  Dibagian  Dalam,  Pembangkit  Ulang,  Penukar  Panas  Tipe Tong,  Penyemprot  Air  Panas,  Pemasukan  Uap  Panas  dan  Penukar  Panas  Tipe Skrup.Macam  Peralatan  Penguapan  /  Evaporator  :  Evaporator  Kancah  Terbuka, Evaporator  dengan  Tabung  Pendek  yang  Melintang,  Evaporator  dengan  Tabung Pendek  yang  Tegak,  Evaporator  yang  Mempunyai  Sirkulasi   Alamiah  dengan Kalandria  dibagian  Luar,  Evaporator  dengan  Sirkulasi  yang  Dipaksa,  Evaporator

 

 

 

 

 

Bertabung  Panjang,  Evaporator  Piring,  Evaporator  Sentrifugal  dan  Evaporator

Pengaruh Berganda

 

Macam  Peralatan  Pengering  :  Pengeringan  dengan  udara  panas  terdiri Pembakaran   (kiln   dyer),   Pengering   lemari,   Pengering   terowongan,   Pengering konveyor, Pengering kotak,  Pengering tumpukan bahan butiran/tepung, Pengering pneumatic,  Pengering  berputar,  Pengering  semprot,  Pengering  menara.  Pengering dengan  persentuhan  dengan  permukaan   yang  dipanasi   terdiri  Pengering  tong (pengering lapisan, pengering rol), Papan pengering hampa udara, Pengering dengan roda dalam hampa udara.

 

 

 

 

B. REBOILER

 

Reboilers    adalah    exchangers    panas    yang    biasanya    digunakan    untuk memberikan panas ke bagian bawah industri penyulingan kolom. Mereka mendidih cair dari bagian  bawah kolom yang penyulingan untuk menghasilkan Vapors yang dikembalikan  ke  kolom  untuk  mendorong  pemisahan  penyulingan.Benar  reboiler operasi sangat penting untuk penyulingan  efektif. Dalam kolom penyulingan khas klasik,  semua  uap  mengemudi  pemisahan  berasal  dari   reboiler.  Reboiler  yang menerima  aliran  cair  dari  kolom  bawah  dan  mungkin  sebagian  atau  menguap sepenuhnya bahwa aliran. Uap biasanya menyediakan panas yang dibutuhkan untuk penguapan.

 

Jenis reboilers :

 

1. Kettle reboilers

 

2. Thermosyphon reboilers

 

3. Fired reboiler

 

4. Forced sirkulasi reboilers

 

Yang paling penting dari elemen desain reboiler adalah pilihan yang tepat untuk reboiler  jenis layanan tertentu. Paling reboilers merupakan shell dan tabung Exchanger panas uap jenis  dan  biasanya digunakan sebagai sumber panas dalam reboilers. Namun, lainnya heat transfer cairan seperti minyak panas atau Dowtherm (TM) dapat digunakan. Fuel-fired furnaces juga dapat  digunakan sebagai reboilers dalam beberapa kasus.

 

 

 

 

Gambar 1: Typical ketel uap-air panas reboiler untuk penyulingan

 

Gambar 1 menggambarkan sebuah khas ketel uap-air panas reboiler. Ketel reboilers sangat  sederhana  dan dapat diandalkan. Mereka mungkin memerlukan pemompaan dari kolom minum  cairan ke dalam ketel, atau mungkin ada cukup cairan kepala untuk memberikan cairan ke dalam  reboiler. Dalam reboiler tipe ini, uap mengalir melalui  tabung  dan  keluar  sebagai  bundel  condensate.  Cair  dari  bagian  bawah menara, yang biasa disebut minum, mengalir melalui shell samping. Ada dinding atau menahan overflow dam memisahkan tabung reboiler bundel dari bagian di mana sisa reboiled cair (disebut minum produk) yang diambil, sehingga tabung bundel disimpan ditutup dengan cair.

 

Thermosyphon reboilers

 

 

 

Gambar 2: Typical reboiler horisontal thermosyphon

 

 

 

 

 

Ini  tidak  memerlukan  pemompaan  dari  kolom  minum  cairan  ke  dalam  reboiler. Sirkulasi alami diperoleh dengan menggunakan kepadatan perbedaan antara reboiler kolom suak minum cair dan  reboiler outlet cair-uap campuran untuk menyediakan cukup cairan kepala untuk menyampaikan menara minum ke reboiler. Thermosyphon reboilers  lebih  kompleks  daripada  reboilers  ketel  dan  memerlukan  lebih  banyak perhatian tanaman dari operator.

 

Ada banyak  jenis  thermosyphon  reboilers.  Mereka  mungkin  vertikal  atau horizontal  dan  mereka  juga  mungkin  sekali-melalui  atau  recirculating.  Beberapa cairan yang reboiled mungkin sensitif dan suhu, misalnya, terganggu polymerization oleh kontak dengan suhu panas tinggi transfer tabung dinding. Dalam kasus tersebut, yang terbaik adalah memiliki tingkat cair  recirculation menilai untuk menghindari dinding tabung yang tinggi akan menyebabkan suhu yang polymerization, dan karena itu, fouling dari tabung. Thermosiphon reboiler yang digambarkan dalam  gambar 2 adalah khas-uap air panas recirculating thermosiphon reboiler.

 

Fired reboiler

 

.

 

Gambar 3: recirculating fired heater reboiler

 

Fired heaters (furnaces) dapat digunakan sebagai penyulingan reboiler kolom. pompa diperlukan untuk mengedarkan kolom minum melalui transfer panas tabung dalam tanur dari bagian konveksi dan panas. Gambar 3 menggambarkan fired heater yang  digunakan  dalam  konfigurasi  yang  menyediakan  recirculation  pada  kolom minum cair. Namun, dengan beberapa perubahan yang relatif kecil di bagian bawah kolom penyulingan, fired heater yang juga dapat digunakan  dalam sekali-melalui konfigurasi.Heat sumber untuk fired heater reboiler mungkin salah satu bahan bakar gas atau bahan bakar minyak. Batu bara akan jarang, jika pernah, digunakan sebagai bahan bakar untuk fired heater reboiler.

 

 

 

 

Gambar 4: Typical-uap air panas sirkulasi reboiler untuk penyulingan

 

 

 

 

Jenis  reboiler  menggunakan  pompa  berkunjung  ke  kolom  minum  cairan melalui  reboilers.  Gambar  4  menggambarkan  yang  khas  uap-air  panas  terpaksa sirkulasi reboiler.Perlu  dicatat adalah uap panas bukan satu-satunya sumber yang dapat digunakan. Mengalirkan cairan  apapun pada suhu yang cukup tinggi dapat digunakan untuk salah satu dari banyak shell dan  tabung reboiler heat Exchanger jenis.

 

 

 

 

C. CHILLER

 

Chiller adalah mesin yang memindahkan panas dari cair melalui uap-kompresi atau  siklus   penyerapan  refrigeration.  J-kompresi  uap  air  chiller  terdiri  dari  4 komponen utama dari uap-compression refrigeration cycle (kompresor, alat menguap, kondensator,             dan        beberapa            bentuk metering                        perangkat).          Mesin     ini              dapat melaksanakan berbagai refrigerants. Penyerapan chillers memanfaatkan air sebagai pendingin dan  bergantung pada Affinity kuat antara air dan lithium bromida solusi pendinginan untuk mencapai efek. Paling sering, adalah murni air dingin, tetapi juga dapat berisi air persentase glycol dan / atau korosi inhibitors; cairan lainnya seperti minyak tipis bisa dingin juga.

 

Chilled digunakan untuk air dingin dan dehumidify udara pada pertengahan besar untuk ukuran komersial, industri, dan institusi (CII) fasilitas. Chillers air dapat berupa  air  didinginkan,   air-cooled,  atau  evaporatively  didinginkan.  Air-cooled

 

 

 

 

 

chillers   menggabungkan   penggunaan   menara   pendinginan   yang   meningkatkan chillers’  thermodynamic  efektif  dibandingkan  dengan  air-cooled  chillers.  Hal  ini disebabkan oleh panas  atau penolakan di dekat udara dari basah-bohlam daripada suhu            yang    lebih      tinggi,                 kadang-kadang     lebih           tinggi, kering-bohlam   suhu. Evaporatively  cooled  chillers  menawarkan  efisiensi  yang  lebih  baik  dari  udara didinginkan, tetapi lebih rendah daripada air didinginkan.

 

Air    cooled    chillers    biasanya    ditujukan    untuk    indoor    instalasi    dan pengoperasian,  dan  didinginkan  oleh  air  yang  terpisah  kondensator  loop  dan dihubungkan ke luar menara pendinginan untuk membuang panas ke atmosfer. Udara didinginkan dan Evaporatively cooled chillers dimaksudkan untuk luar instalasi dan operasi.  Udara  didinginkan  komputer  secara   langsung  didinginkan  oleh  udara Ambient mekanis yang disirkulasikan langsung melalui mesin kondensator gulungan untuk membuang panas ke atmosfer. Evaporatively didinginkan mesin hampir sama, kecuali mereka menerapkan mist air melalui kondensator gulungan untuk membantu dalam  kondensator pendinginan, membuat mesin lebih efisien daripada tradisional udara didinginkan mesin. Tidak jauh menara biasanya diperlukan dengan salah satu jenis paket udara didinginkan atau evaporatively cooled chillers.

 

Dimana tersedia,  air  dingin  tersedia  di  dekat  badan  air  dapat  digunakan langsung   untuk   pendinginan,  atau  untuk  mengganti   atau  melengkapi  menara pendinginan. The Deep Lake Water Cooling System di Toronto, Kanada, merupakan contoh.  It  dispensed  dengan  kebutuhan  pendinginan  menara  dengan  memotong signifikan dalam emisi karbon dan konsumsi energi.

 

Menggunakan air dingin danau dingin yang chillers, yang pada gilirannya akan  digunakan untuk bangunan kota sejuk melalui kabupaten pendinginan sistem. Laba tersebut digunakan untuk air hangat di kota minum air yang diinginkan dalam cuaca dingin. Kapanpun  chiller penolakan dari panas dapat digunakan untuk tujuan produktif,  di  samping  fungsi  pendinginan,  sangat  tinggi  effectivenesses  thermal adalah mungkin.

 

Penggunaan di udara

 

Di udara, sistem air dingin biasanya didistribusikan ke exchangers panas, atau coils, di udara  menangani unit, atau jenis perangkat terminal udara yang sejuk di dalamnya   dari   masing-masing   ruang   (s),   dan   kemudian   air   dingin   kembali disirkulasikan  kembali  ke  chiller  harus  didinginkan  lagi.  Pendinginan  ini  coils mentransfer  panas  sensible  dan  panas  laten  dari  udara  ke  air  dingin,  sehingga

 

 

 

 

 

pendinginan  dan  biasanya  dehumidifying  aliran  udara.  J  khas  untuk  chiller  AC aplikasi nilai antara 15 sampai 1.500 ton (180.000-18000000 BTU / jam atau 53-5300 kW) dalam kapasitas  pendinginan. Air dingin dapat berkisar antara 35 hingga 45 derajat, tergantung aplikasi persyaratan.

 

Penggunaan dalam industri

 

Dalam aplikasi industri, air dingin atau cairan lainnya dari chiller dipompa melalui  proses   atau  peralatan  laboratorium.  Industri  chillers  digunakan  untuk dikontrol  pendinginan  produk,  mekanisme  dan  mesin-mesin  pabrik  di  berbagai industri.  Mereka  sering  digunakan  di  dalam  industri  plastik  injection  dan  blow molding, logam pekerjaan pemotongan minyak, peralatan  welding, die-casting dan hiasan  yg  dibuat  dgn  alat  mesin,  proses  kimia,  farmasi  formulasi,  pengolahan makanan dan minuman, kekosongan sistem, X-ray difraksi, pasokan daya daya dan generasi   stasiun,   peralatan   analitis,   Semikonduktor,   kompresi   udara   dan   gas pendinginan. Mereka juga digunakan untuk panas dingin tinggi khusus seperti MRI mesin dan laser.

 

Chillers untuk aplikasi industri dapat terpusat, di mana setiap chiller melayani berbagai  kebutuhan  pendinginan,  atau  desentralisasi  di  mana  setiap  aplikasi  atau mesin memiliki chiller.  Setiap pendekatan memiliki keunggulan. Adalah mungkin juga untuk memiliki kombinasi kedua  pusat dan decentral chillers, terutama jika pendinginan  persyaratan  yang  sama  untuk  beberapa   aplikasi  atau  poin  yang digunakan, tetapi tidak semua.

 

 

 

 

Decentral chillers biasanya dalam ukuran kecil (kapasitas pendinginan), biasanya dari

0,2 ton sampai 10 ton. Pusat chillers umumnya memiliki kapasitas mulai dari sepuluh ton ke ratusan atau ribuan ton.

 

Vapor-Kompresi chiller Teknologi

 

Terdapat lima dasarnya berbagai jenis Kompresor digunakan dalam kompresi uap chillers:  Reciprocating kompresi, gulir kompresi, screw-driven kompresi, dan sentrifugal kompresi semua mesin mekanik yang dapat didukung oleh motor listrik, uap,  atau  gas  turbines.  Mereka  menghasilkan  efek  pendinginan  mereka  melalui “reverse-Rankine”              siklus,                        juga   dikenal            sebagai                                  ‘uap-compression’.            Dengan pendinginan yg  menguapkan panas penolakan mereka koefisien-of-kinerja (COPS) sangat tinggi dan biasanya 4,0 atau lebih.

 

 

 

 

 

Dalam beberapa tahun terakhir, aplikasi Variable Speed Drive (VSD) teknologi telah meningkatkan  efisiensi  uap  kompresi  chillers.  VSD  pertama  telah  diterapkan  ke kompresor sentrifugal chillers  pada akhir tahun 1970-an dan telah menjadi norma karena biaya energi meningkat. Sekarang, VSDs sedang diterapkan ke putaran screw dan teknologi Kompresor gulir.

 

Bagaimana Penyerapan Teknologi Bekerja

 

Penyerapan  chillers’  thermodynamic  siklus  yang  digerakkan  oleh  sumber panas,  panas   ini  biasanya  dikirimkan  ke  chiller  melalui  uap,  air  panas,  atau pembakaran. Dibandingkan  elektrik powered chillers, mereka sangat rendah daya listrik persyaratan – sangat jarang di atas 15  kW dikombinasikan konsumsi untuk kedua solusi pump dan refrigerant pump. Namun, mereka panas masukan persyaratan yang besar, dan mereka sering COPS 0,5 (single-efek) untuk 1.0 (efek ganda). Untuk tonase kapasitas yang sama, mereka membutuhkan lebih banyak menara pendinginan dari uap-kompresi chillers.

 

Namun, penyerapan chillers, dari efisiensi energi-point of view, excel dimana murah, panas tinggi kelas atau limbah panas yang tersedia. Dalam iklim sangat cerah, solar energi telah digunakan untuk penyerapan chillers beroperasi.Satu-satunya efek penyerapan siklus menggunakan air sebagai pendingin dan lithium bromida sebagai absorbent. Adalah Affinity kuat bahwa kedua benda ada untuk satu sama lain yang membuat siklus kerja. Seluruh proses yang terjadi di hampir selesai kekosongan.

 

Industri teknologi chiller

 

Industri  chillers  biasanya  datang  sebagai  paket  lengkap  sistem  lingkaran tertutup,  termasuk  unit  chiller,  kondensator,  dan  stasiun  pompa  dengan  pompa recirculating, katup  ekspansi, tidak ada aliran-shutdown, internal tangki air dingin, dan suhu kontrol. Internal tangki air dingin membantu menjaga suhu dan mencegah sepatu  berduri  dari  suhu  terjadi.  Closed  loop  industri  chillers  recirculate  bersih coolant atau air bersih dengan kondisi addititives pada suhu  dan  tekanan konstan untuk meningkatkan stabilitas dan reproducibility air-cooled mesin dan  instrumen. Air mengalir dari chiller ke aplikasi dari segi penggunaan dan kembali.

 

Jika differentials antara suhu air masuk dan keluar yang tinggi, maka besar tangki air eksternal akan digunakan untuk menyimpan air dingin. Dalam hal ini air dingin tidak akan  langsung dari chiller ke aplikasi tersebut, namun pergi ke luar tangki air yang bertindak sebagai semacam “penyangga suhu.” Tangki air dingin jauh

 

 

 

 

 

lebih besar daripada tangki air internal. Air dingin yang keluar dari tangki eksternal untuk aplikasi dan kembali air panas dari aplikasi akan kembali ke luar tangki, bukan ke chiller.Kurang umum buka lingkaran industri chillers mengontrol suhu yang cair dalam tangki yang terbuka atau terus  recirculating oleh bah itu. Cair yang diambil dari tangki, dipompa melalui chiller dan kembali ke tangki. An adjustable thermostat indera yang makeup cair suhu, bersepeda di chiller untuk menjaga suhu yang konstan dalam tangki.

 

Salah satu perkembangan baru dalam industri air chillers adalah penggunaan air cooling  bukan udara pendinginan. Dalam hal ini tidak kondensator yang panas dingin Ambient dengan  pendingin udara, tetapi menggunakan air didinginkan oleh sebuah menara. Pengembangan ini  memungkinkan pengurangan energi persyaratan oleh  lebih  dari  15%  dan  juga  memungkinkan  penurunan  yang  signifikan  dalam besarnya chiller karena kecilnya wilayah permukaan air berbasis  kondensator dan tidak adanya penggemar. Selain itu, tidak adanya fans memungkinkan  signifikan untuk mengurangi tingkat kebisingan.

 

Sebagian  besar  industri  menggunakan  refrigeration  chillers  sebagai  media untuk pendinginan, tetapi beberapa mengandalkan teknik sederhana seperti udara atau air mengalir selama coils berisi coolant untuk mengatur suhu. Air adalah yang paling umum  digunakan  dalam  proses   coolant  chillers,  walaupun  coolant  campuran (kebanyakan  air  dengan  coolant  tambahan   untuk   meningkatkan  panas)  sering digunakan.

 

Industri chiller pilihan

 

Penting untuk mempertimbangkan spesifikasi bila mencari industri chillers termasuk sumber daya, penilaian IP chiller, chiller kapasitas pendinginan, kapasitas alat menguap, bahan alat menguap, jenis alat menguap, kondensator bahan, kapasitas kondensator, suhu Ambient, jenis motor fan, tingkat kebisingan, internal piping bahan

, jumlah Kompresor, jenis kompresor, jumlah sirkuit pendingin, persyaratan coolant, keluarnya cairan suhu, dan COP (rasio antara kapasitas pendinginan di KW ke energi dikonsumsi oleh seluruh chiller di KW). Untuk menengah ke chillers besar ini harus berkisar antara 3,5-4,8 dengan nilai-nilai yang  lebih tinggi berarti efisiensi tinggi. Chiller efisiensi sering ditentukan dalam kilowatts per ton pendinginan (kW / RT).

 

Pompa  proses  spesifikasi  yang  penting  untuk  dipertimbangkan  termasuk proses arus, proses tekanan, pompa bahan, elastomer dan mekanis batang cap bahan, tegangan motor, motor listrik kelas, motor dan pompa IP rating nilai. Jika air dingin

 

 

 

 

 

lebih rendah dari suhu -5 º C, maka kebutuhan pompa khusus yang akan digunakan untuk  dapat  pompa  tingginya  konsentrasi  dari  ethylene  glycol.  Penting  lainnya termasuk spesifikasi internal tangki air ukuran dan bahan-bahan dan penuh beban .

 

 

 

 

Sumber Referensi :

 

http://mohammadsholeh.myblogrepublika.com/

 

http://en.wikipedia.com/wiki/Reboiler

 

http://en.wikipedia.com/wiki/Chiller

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGERINGAN

BAB I PENDAHULUAN

 

 

 

 

I.    Pendahuluan

 

 

 

Indonesia  merupakan  negara  dengan  humiditas  yang  tinggi  sehingga  kandungan  air  dari material-material  yang  mudah  menyerap  air  tinggi.  Kondisi  ini  tentu  tidak  menguntungkan karena   kandungan  air  yang  tinggi  akan  merusak  material  tersebut.  Makanan  dengan kandungan air yang tinggi akan mempercepat proses pembusukan sedangkan material padatan dengan kandungan air  tinggi mengurangi kekuatan material. Selain itu, kandungan air yang tinggi pada material bahan bakar seperti batubara akan mengurangi kandungan air sehingga perlu  dilakukan  proses  pengurangan   kandungan  air  pada  material  tersebut.  Salah  satu pengurangan kandungan air dari material dengan cara pengeringan.

Kandungan air batubara muda Indonesia sekitar 25-49 %. Dengan kandungan air yang tinggi,  maka  batubara  muda  akan  mudah  lengket  satu  sama  lain  yang  kemudian  akan menggumpal saat batubara tersebut dialirkan bersama-sama. Gumpalan batubara menyulitkan dalam transportasi batubara khususnya saat batubara dialirkan di dalam pipa setelah batubara dihaluskan (biasanya pada  industri tenaga listrik (power plant)). Selain itu, batubara dengan kandungan air yang tinggi akan  mengurangi kadar kalor saat dibakar dalam suatu  tungku pembakaran. Maka batubara harus dikeringkan hingga kandungan air tertentu untuk mencegah masalah saat ditransportasikan atau proses selanjutnya

Phenomena  pengeringan  dapat  diketahui  dari  kinetika  pengeringan  oleh  kurva  laju pengeringan. Kinetika pengeringan batubara memperlihatkan perubahan massa batubara untuk tiap  satuan waktu selama proses pengeringan. Hasil dari kinetika pengeringan adalah laju pengeringan dari batubara terhadap kandungan air. Laju pengeringan dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal dari material. Bila udara sebagai media pemanas maka faktor eksternal adalah kecepatan udara, relative humidity dari udara, dan temperatur udara. Sedangkan faktor internal adalah struktur batubara  yang berupa ukuran, kandungan dan distribusi dari pori-pori batubara.

 

 

 

 

II.      Tujuan Percobaan

 

 

Percobaan  ini  dilakukan  untuk  memahami  phenomena  pengeringan  dari  data  kinetika pengeringan material

 

 

III.   Sasaran Praktikum

 

 

 

Sasaran praktikum modul Pengeringan adalah:

 

1. Praktikan dapat membuat kurva pengeringan dari data laju pengurangan massa material

 

2. Praktikan mampu menganalisa phenomena pengeringa dari kurva pengeringan

 

BAB II

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

2.1 Pengeringan

 

 

 

Pengeringan  adalah  proses  pengeluaran  air  atau  pemisahan  air  dalam  jumlah  yang relative kecil  dari bahan dengan menggunakan energi panas.  Hasil dari proses pengeringan adalah bahan kering yang  mempunyai kadar air setara dengan kadar air keseimbangan udara (atmosfir)  normal  atau  setara  dengan  nilai  aktivitas  air  (aw)  yang  aman  dari  kerusakan mikrobiologis, enzimatis dan kimiawi. Pengertian proses  pengeringan berbeda dengan proses penguapan (evaporasi). Proses penguapan atau evaporasi adalah proses pemisahan uap air dalam bentuk murni dari suatu campuran berupa larutan (cairan) yang mengandung air dalam jumlah yang relatif banyak. Meskipun demikian ada kerugian yang ditimbulkan selama pengeringan yaitu terjadinya perubahan sifat fisik dan kimiawi bahan serta terjadinya penurunan mutu bahan.

 

 

Tujuan dilakukannya proses pengeringan adalah untuk:

 

1.  Memudahkan penanganan selanjutnya

 

2.  Mengurangi biaya trasportasi dan pengemasan

 

3.  Mengawetkan bahan

 

4.  Meningkatkan nilai guna suatu bahan atau agar dapat memberikan hasil yang baik

 

5.  Mengurangi biaya korosi

 

Hal ini penting untuk menghindari proses pengeringan lampau dan pengeringan yang terlalu lama, karena kedua proses pengeringan ini akan meningkatkan biaya operasi. Metodologi dan teknik pengeringan dapat dikatakan baik  apabila phenomena perpindahan masaa dan energi pada proses pengeringan dapat dipahami.

 

2.2 Prinsip Dasar Pengeringan

 

Proses pengeringan pada prinsipnya menyangkut proses pindah panas dan pindah massa yang terjadi secara bersamaan (simultan). Proses perpindahan panas yang terjadi adalah dengan cara konveksi serta  perpindahan panas secara konduksi dan radiasi tetap terjadi dalam jumlah yang           relative kecil.    Pertama-tama panas  harus ditransfer dari medium pemanas ke bahan. Selanjutnya setelah terjadi penguapan air, uap air yang  terbentuk harus dipindahkan melalui struktur bahan ke medium sekitarnya. Proses ini akan menyangkut aliran  fluida dengan cairan harus ditransfer melalui struktur bahan selama proses pengeringan berlangsung. Panas  harus disediakan untuk menguapkan air dan air harus mendifusi melalui berbagai macam tahanan agar dapat lepas dari bahan dan berbentuk uap air yang bebas. Lama proses pengeringan tergantung pada bahan yang dikeringkan  dan cara pemanasan yang digunakan, sedangkan waktu proses pengeringannya ditetapkan dalam dua periode (Batty dan Folkman. 1984), yaitu:

1.  Periode pengeringan dengan laju tetap (Constant Rate Periode)

 

Pada periode ini bahan-bahan yang dikeringkan memiliki kecepatan pengeringan yang konstan. Proses penguapan pada periode ini terjadi pada air tak terikat, dimana suhu pada bahan sama dengan suhu bola  basah udara pengering. Periode pengeringan dengan laju tetap dapat dianggap sebagai keadaan steady.

2.  Periode pengeringan dengan laju menurun (Falling Rate Periode)

 

Periode kedua proses pengeringan yang terjadi adalah turunnya laju pengeringan batubara (R=0).  Pada  periode  ini  terjadi peristiwa  penguapan  kandungan  yang  ada  di dalam batubara (internal moisture).

 

 

Gambar. 2.1 Grafik Peristiwa Perpindahan Proses Pengeringan

 

Prinsip pengeringan biasanya akan melibatkan dua kejadian yaitu panas harus diberikan pada bahan, dan air harus dikeluarkan dari bahan. Dua fenomena ini menyangkut pindah panas ke dalam dan pindah massa ke luar. Yang dimaksudkan dengan pindah panas adalah peristiwa perpindahan energi dari udara ke dalam bahan yang dapat menyebabkan berpindahnya sejumlah massa (kandungan air) karena gaya dorong untuk keluar dari  bahan (pindah massa). Dalam pengeringan  umumnya  diinginkan kecepatan pengeringan  yang  maksimum,  oleh  karena  itu semua usaha dibuat untuk mempercepat pindah panas dan pindah massa. Perpindahan panas dalam  proses  pengeringan  dapat  terjadi  melalui  dua  cara  yaitu  pengeringan  langsung  dan pengeringan tidak  langsung. Pengeringan langsung yaitu sumber panas berhubungan dengan bahan yang dikeringkan, sedangkan pengeringan tidak langsung yaitu panas dari sumber panas dilewatkan                   melalui   permukaan                     benda   padat               (conventer)   dan   konventer   tersebut                            yang berhubungan dengan bahan pangan. Setelah panas sampai ke bahan maka air dari sel-sel bahan akan bergerak ke permukaan bahan kemudian keluar. Mekanisme keluarnya air dari dalam bahan selama pengeringan adalah sebagai berikut:

1.  Air bergerak melalui tekanan kapiler.

 

2.  Penarikan air disebabkan oleh perbedaan konsentrasi larutan disetiap bagian bahan.

 

3.  Penarikan  air  ke  permukaan  bahan  disebabkan  oleh  absorpsi  dari  lapisan-lapisan permukaan komponen padatan dari bahan.

4.  Perpindahan air dari bahan ke udara disebabkan oleh perbedaan tekanan uap.

 

 

 

2.3 Faktor-faktor yang berpengaruh dalam kecepatan pengeringan

 

 

 

Proses pengeringan suatu material padatan dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain: luas permukaan kontak  antara padatan dengan fluida panas, perbedaan temperature antara padatan dengan fluida panas,  kecepatan aliran  fluida panas serta tekanan udara. Berikut ini dijelaskan tentang factor-faktor tersebut.

 

 

a. Luas Permukaan

 

Air menguap melalui permukaan bahan, sedangkan air yang ada di bagian tengah akan merembes  ke  bagian permukaan  dan kemudian  menguap.  Untuk  mempercepat  pengeringan umumnya bahan yang akan dikeringkan dipotong-potong atau dihaluskan terlebih dulu. Hal ini terjadi karena:

1.  Pemotongan  atau   penghalusan  tersebut   akan   memperluas   permukaan   bahan  dan permukaan yang luas dapat berhubungan dengan medium pemanasan sehingga air mudah keluar,

2.  Partikel-partikel kecil  atau  lapisan  yang  tipis  mengurangi  jarak  dimana panas  harus bergerak sampai  ke pusat bahan. Potongan kecil juga akan mengurangi jarak melalui massa air dari pusat bahan yang harus keluar ke permukaan bahan dan kemudian keluar dari bahan tersebut.

 

 

b. Perbedaan Suhu dan Udara Sekitarnya

 

Semakin  besar perbedaan suhu antara  medium pemanas dengan  bahan,  makin cepat pemindahan panas ke dalam bahan dan makin cepat pula penghilangan air dari bahan. Air yang keluar dari bahan yang  dikeringkan akan menjenuhkan udara sehingga kemampuannya untuk menyingkirkan  air  berkurang.  Jadi  dengan  semakin  tinggi  suhu  pengeringan  maka  proses pengeringan akan semakin cepat. Akan tetapi bila tidak sesuai dengan bahan yang dikeringkan, akibatnya akan terjadi suatu peristiwa yang disebut  “Case Hardening”,  yaitu suatu keadaan dimana bagian luar bahan sudah kering sedangkan bagian dalamnya masih basah.

 

 

 

c. Kecepatan Aliran Udara

 

Udara yang bergerak dan mempunyai gerakan yang tinggi selain dapat mengambil uap air juga  akan  menghilangkan  uap  air  tersebut  dari  permukaan  bahan  pangan,  sehingga  akan mencegah terjadinya atmosfir  jenuh yang akan memperlambat penghilangan air. Apabila aliran udara disekitar tempat  pengeringan berjalan  dengan baik, proses pengeringan akan semakin cepat, yaitu semakin mudah dan semakin cepat uap air terbawa dan teruapkan.

 

 

d. Tekanan Udara

 

Semakin kecil tekanan udara akan semakin besar kemampuan udara untuk mengangkut air selama pengeringan, karena dengan semakin kecilnya tekanan berarti kerapatan udara makin berkurang  sehingga  uap  air   dapat  lebih  banyak  tetampung  dan  disingkirkan  dari  bahan. Sebaliknya, jika tekanan udara semakin besar  maka udara disekitar pengeringan akan lembab, sehingga   kemampuan   menampung  uap   air   terbatas  dan   menghambat   proses  atau   laju pengeringan.

Densitas  batubara  dapat  bervariasi  yang  menunjukkan  hubungan  antara  rank  dan kandungan  karbon.  Batubara  dengan  kandungan  karbon  85%  biasanya  menunjukkan  suatu derajat ciri hidropobik yang lebih besar dari batubara dengan rank paling rendah. Bagaimanapun, hasil temuan terbaru pada prediksi sifat  hidropobik batubara mengindikasikan bahwa korelasi kharakteristik  kandungan  air  lebih  baik  dari  pada  kandungan  karbon  dan  begitupun  rasio kandungan  air/karbon  lebih  baik daripada  rasio  atomik  oksigen/karbon.  Begitupun, terdapat suatu hubungan antara sifat hidropobik batubara dan kandungan air.

(Labuschagne. 1988).

 

Udara  merupakan  medium  yang  sangat  penting  dalam  proses  pengeringan,  untuk menghantar  panas kepada bahan yang hendak dikeringkan, karena udara satu-satunya medium yang sangat mudah diperoleh dan tidak memerlukan biaya operasional. Oleh karena itu untuk memahami bagaimana proses pengeringan terjadi, maka perlu ditinjau sifat udara.

 

2.4 Kinetika Pengeringan

 

 

 

Setiap material yang akan dikeringkan  memiliki karakteristik kinetika pengeringan yang berbeda-beda bergantung terhadap struktur internal dari material yang akan dikeringkan. Kinetika  pengeringan  memperlihatkan  perubahan  kandungan  air  yang  terdapat  dalam material untuk setiap waktu saat dilakukan proses pengeringan. Dari kinetika pengeringan dapat diketahui jumlah air dari material yang telah diuapkan, waktu pengeringan, konsumsi energy.  Parameteri-parameter dalam proses pengeringan untuk mendapatkan data kinetika pengeringan adalah

 

 

1.  Moisture Content (X) menunjukkan kandungan air yang terdapat dalam material untuk tiap  satuan massa padatan. Moisture content (X) dibagi dalam 2 macam yaitu basis kering (X) dan basis basah (X’). Moisture content basis kering (X) menunjukkan rasio antara  kandungan   air  (kg)  dalam  material  terhadap  berat  material  kering  (kg). Sedangkan moisture content basis basah (X’) menunjukka rasio antara kandungan air (kg) dalam material terhadap berat material basah (kg)

 

 

2.  Drying rate (N, kg/m2.s ) menunjukkan laju penguapan air untuk tiap satuan luas dari permukaan  yang  kontak  antara  material  dengan  fluida  panas.  Persamaan  yang digunakan untuk menghitung laju pengeringan adalah

 

 

 

 

 

 

Ms  adalah massa padatan tanpa air (kg)

A adalah luas permukaan kontak antara fluida panas dengan padatan (m2)

 

dX adalah perubahan moisture content dalam jangka waktu dt dt adalah perubahan waktu (detik)

 

 

 

 

BAB III RANCANGAN PERCOBAAN

 

 

 

 

3.1      Langkah Percobaan

 

Percobaan pengeringan menggunakan gabah, sekam padi, cabai, atau pasir besi yang terdapat di wilayah  Banten.   Tahapan  percobaan  dimulai  dari  persiapan  bahan  baku  dan  percobaan pengeringan. Pada tahapan persiapan bahan baku seperti pada diagram alir Gambar 3.1 bahwa material  dihancurkan  untuk  mendapatkan  ukuran  yang   lebih  kecil.  Selanjutnya  dilakukan pemisahan untuk mendapatkan 3 jenis ukuran melalui proses  pengayakan. 3 Jenis ukuran   itu

akan menjadi bahan yang kan dikeringkan pada alat pengeringan pada percobaan utama.

 

 

Material Padatan

 

 

 

 

 

Menghancurkan Material

 

 

 

 

 

Melakukan pemisahan dengan      ukuran

5-15  mm

 

 

 

Ukuran partikel

 

material

 

 

Gambar 3.1 Diagram alir proses persiapan bahan baku

 

 

 

 

 

3.1.2 Tahap Proses Pengeringan dengan Variasi Temperatur dan Laju Alir

 

Pada tahap ini adalah proses pengeringan material (gabah, sekam padi, cabai atau pasir besi)

 

dengan menggunakan alur pengeringan. Adapun cara pengambilan data adalah sebagai berikut:

 

 

 

Menimbang material dan memasukan ke dalam keranjang basket

 

 

 

 

Menvariasikan temperatur (80, 100, 120 0C) dan laju alir (bukaan 1,2 dan 3) kemudian mengecek kelembaban udara

 

 

 

 

Mencatat perubahan massa, tiap kenaikan temperatur, dan beda tekanan pada setiap perubahan laju alir

 

 

Gambar 3..2 Diagram Alir Proses Persiapan dengan Variasi Temperatur dan Laju Alir

 

 

 

 

3.2 Prosedur Percobaan

 

3.2.1 Persiapan bahan baku batubara muda (Low Rank Coal)

 

Pada tahap persiapan bahan baku, material yang telah diambil, kemudian dihancurkan dan dipisahkan menjadi tiga variasi ukuran,  5, 10, dan 15 mm.

 

 

3.2.2 Proses Pengeringan Batubara

 

Material yang akan dikeringkan kemudian ditimbang dan  dimasukkan ke dalam keranjang pada alat pengering. Dengan menvariasikan temperatur 80, 100, dan 1200C. dan laju alir bukaan

1, 2 dan 3. Dengan tahapan percobaan sebagai berikut

 

1.  Timbang sebanyak 500 gram material yang telah dikecilkan ukurannya

 

2.  Masukkan material tersebut kedalam kerancang

 

3.  Pasang  thermometer  bola  kering  dan  bola  basa  untuk  titik  sebelum  masuk  ruang pengeringan dan setelah area pengeringan untuk mengukur humidity dari udara

4.  Pasang manometer air raksa

 

5.  Pasang pulang balance untuk mengukur massa batubara

 

6.  Nyalakan fan untuk mengalirkan udara

 

7.  Nyalakan pemanas dimulai dari 1 heater hingga 5 menit kemudian dilanjutkan untuk heater selanjutnya hingga sesuai dengan kebutuhan temperature yang diharapkan

8.  Catat data-data temperature operasi, ketinggian manometer, massa batubara yang telah mengalami proses pengeringan setiap 5 menit

 

 

 

 

 

 

3.3 Alat dan Bahan

 

3.3.1 Alat – alat yang digunakan adalah sebagai berikut:

 

 

 

1. Timbangan Digital

 

2. Termometer

 

3. Alat Pengeringan

 

4.Manometer air raksa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.3 Alat Pengering Penelitian

 

 

 

3.3.2 Bahan – bahan yang digunakan adalah sebagai berikut:

 

 

2.Sekam Padi

 

3.Cabai

 

4.Pasir Besi

 

 

 

 

 

 

 

3.4 Variabel Percobaan

 

3.4.1 Penetapan Variabel

 

1.  Variabel Tetap:

 

  • Jenis material

 

  • Kelembaban (humidity) udara

 

 

 

2.  Variabel tidak tetap:

 

  • Laju alir udara dengan ketinggian manometer 5, 10 dan 15 cm

 

  • Temperatur udara (90, 120, 150oC)

 

 

 

3.5 Pengolahan Data

 

 

 

 

 

 

Hasil dari percobaan ditampilkan dalam grafik kinetic pengeringan, yaitu a.   Grafik antara moisture content (X) terhadap waktu (detik) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b.  Grafik antara drying rate (N) terhadap waktu (detik)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

d.  Grafik antara temperatur terhadap waktu (detik)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

1.  C. Strumillo and T. Kudra,” Drying: Principles, Application and Design”, Gordon and

 

Breach  Science Publishers, Switzerland, 1986

 

2.  I.C Kemp, et.all,” Methods for Processing Experimental Drying Kinetics Data”, Drying

 

Technology Journal, 19(1), 15-34, 2001

 

3.  A.S Mujumdar,”Handbook of Industrial Drying”, Taylor and Francis Groups, 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I.      PENDAHULUAN

 

 

 

A.        Deskripsi

 

 

 

Modul    ini    berisikan    materi-materi     pembelajaran    mengenai    salah    satu teknologi pengawetan dan pengolahan ikan dengan menggunakan prinsip pengurangan kadar air, yaitu dengan teknik penggaraman dan pengeringan. Hal -hal  yang dibahas dalam modul ini antara lain adalah : peranan garam dalam proses pengawetan ikan, metode-metode penggaraman, peralatan dan prosedur penggaraman,  proses pengeringan, pengemasan dan pengepakan serta kerusakan-kerusakan yang mungkin terjadi pada produk ikan asin dan cara penanggulangannya.

 

 

Siswa  yang  telah  selesai  mempelajari  modul  ini,  harus  bisa  melakukan tahapan-tahapan  proses  pengaraman  dari  mulai  pemilihan  bahan  baku, penyiangan,  pencucian,      penggaraman,                     pengeringan dan                   pengemasan. Sehingga dengan demikian, siswa akan mampu menghasilkan produk ikan asin yang berkualitas baik. Dalam arti, produk yang dihasilkan bisa diterima dimasyarakat  sehingga keteramplian  ini  dapat  digunakan  sebagai  sumber penghasilan bagi siswa kelak setelah lulus dari sekolah.

 

 

 

 

B.        Prasyarat

 

 

 

Siswa yang akan mempelajari modul ini, harus terlebih dahulu memahami karakteristik produk hasil perikanan sehingga dapat memperlancar kegiatan siswa  dalam  mempelajari  materi-materi  yang  terdapat  dalam  modul  ini.

 

 

 

 

 

Beberapa  kemampuan  yang  harus  di kuasai     siswa  sebelum  mempelajari modul ini adalah sebagai berikut :

1)       Siswa dapat menunjukkan perbedaan antara ikan segar dengan ikan busuk

2)       Siswa dapat menyebutkan proses dan penyebab kemunduran mutu produk hasil perikanan

3)       Siswa dapat menyebutkan prinsip-prinsip pengawetan dan pengolahan produk hasil perikanan

 

 

 

 

C.        Petunjuk Penggunaan Modul

 

 

 

Modul    ini    merupakan    salah    satu    bahan    untuk    mempelajari    proses pengawetan ikan dengan cara penggaraman dan pengeringan.   Modul ini terdiri atas beberapa topik yang disusun sesuai urutan yang diawali dengan tingkat   kemampuan  yang  paling  dasar. Untuk  mempermudah  dalam mempelajari modul ini, ikutilah petunjuk penggunaan berikut ini :

 

 

C.1.     Petunjuk untuk siswa

 

a.  Baca dan pelajari tiap -tiap kegiatan belajar secara bertahap dengan teliti dan seksama

b.  Kerjakanlah  semua  latihan  yang  ada pada  tiap tahap  kegiatan belajar

c.  Jangan mempelajari tahapan kegiatan belajar berikutnya sebelum menyelesaikan latihan pada tahapan belajar sebelumnya.

 

 

C.2.     Petunjuk untuk guru

 

a.  Membantu siswa dalam merencanakan proses belajar

 

 

 

 

 

b.  Membimbing siswa dalam mengerjakan setiap tugas dan latihan yang ada dalam modul ini

c.  Membantu siswa dalam mengakses sumber belajar tambahan lain yang  diperlukan untuk pendalaman penguasaan materi yang ada didalam modul ini.

d.  Mengorganisasikan kelompok belajar siswa bila diperlukan

 

e.  Melaksanakan  penilaian  terhadap  semua  kegiatan  yang  telah dilaksanakan    siswa                     meliputi               aspek    pengetahuan,    sikap    dan keterampilan

f.   Mencatat pencapaian kemajuan  belajar siswa

 

 

 

 

 

D.        Tujuan Akhir

 

 

 

Setiap siswa yang telah selesai mempelajari modul ini, diharapkan  harus mengetahui  dan memahami                             prinsip penggaraman dan pengeringan serta mampu   melaksanakan  kegiatan  penggaraman  dan  pengeringan  sesuai prosedur operasional standar sehingga bisa menghasilkan produk yang sesuai dengan selera  konsumen (tingkat keasinan dan kekeringan) serta memiliki daya awet yang tinggi.

 

 

 

 

 

E.         Kompetensi

 

 

 

Sub

Kompetensi

Kriteria kerja Lingkup

Belajar

Materi pokok Pembelajaran
Sikap Pengetahuan Keterampilan
Melakukan

Pengaraman

dan

Pengeringan

?  Ikan disiangi

sesuai

dengan prosedur yang benar

?  Ikan dicuci sesuai dengan prosedur yang benar

?  Ikan digarami sesuai dengan metede dan procedur yang benar

?  Ikan dikeringkan sesuai dengan procedur yang benar

?  Pengeringan dan pengaraman dilakukan dengan terampil dan cerat

?  Penyiangan

?  Pencucian

?  Penggaraman

?  Bahan penolong dan bahan tambahan

?  Pengeringan

?  Standar mutu

ikan asin dan ikan kering

Cermat dan

hati-hati

dalam melakukan penggaraman dan pengeringan

?  Prinsip

pengawetan

dengan penggaraman dan pengeringan

?  Mutu ikan

?  Perbandingan ikan dengan garam

?  Faktor yang mempengaru hi proses penggaraman dan pengeringan

?  Macam

metode penggaraman (basah,

kering dan kombinasi)

?  Macam

metode pengeringan (alami, mekanis, kombinasi)

?  Standar mutu ikan asin kering

?  Mengidentifikasi

bahan penolong

(air,es) dan tambahan (garam,dll)

?  Membiat ikan asin kering dengan berbagai metode penggaraman dan pengeringan

 

 

 

 

 

F.        Cek Kemampuan

 

 

 

No

Pertanyaan

Ya Tidak

1

Apakah  anda  mengetahui  penyebab  kemunduran

 

mutu produk hasil perikanan ?

   

2

Apakah anda mengetahui cara atau teknik yang bisa

 

dilakukan untuk memperlambat proses kemunduran

   
  mutu produk perikanan ?  

3

  Apakah  anda  mengetahui  cara  pengawetan  ikan

 

dengan teknik penggaraman ?

     

4

Apakah  anda  mengetahui  cara  pengawetan  ikan

 

dengan teknik pengeringan ?

   

5

Apakah      anda       bisa       melaksanakan       teknik    
  penggaraman sesuai prosedur operasional standar ?  

6

  Apakah  anda  bisa  melakukan  teknik  pengeringan

 

sesuai prosedur operasional stantar ?

     

7

Apakah  anda  bisa  mengidentifikasi  produk  hasil

 

penggaraman dan pengeringan yang bermutu baik ?

   

 

 

 

 

Jawablah    pertanyaan-pertanyaan  diatas  terlebih  dahulu,  sebelum  anda mempelajari modul ini. Apabila semua jawaban anda “Ya”, berarti anda tidak perlu lagi memmpelajari modul ini. Apabila ada jawaban anda yang “Tidak”, maka anda harus  kembali mempelajari modul ini secara berurutan tahap demi tahap.

 

 

 

 

 

 

 

II.   PEM BELAJARAN

 

 

 

A.        Rencana Belajar Siswa

 

 

 

Kompetensi             : Mengolah Produk Perikanan Secara Tradisional

 

Sub Kompetensi       : Teknik Penggaraman dan Pengeringan

 

Tanggal Jenis Kegiatan Waktu

(jam)

Lokasi Paraf

Guru

    Mengetahui dan memahami prinsip pengawetan ikan dengan penggaraman dan pengeringan        
    Mengetahui dan memahami berbagai metode penggaraman        
    Melakukan praktikum

penggaraman sesuai dengan petunjuk lembar kerja secara berkelompok

       
    Menyusun laporan kegiatan praktikum secara berkelompok        
  Mengetahui dan memahami berbagai metode  pengeringan      
  Melaksanakan praktikum

pengeringan sesuai dengan petunjuk lembar kerja secara berkelompok

     
  Menyusun laporan kegiatan praktikum pengeringan secara berkelompok      

 

 

Catatan Kegiatan :

 

 

 

 

 

B.        Kegiatan Belajar

 

 

 

B.1.     Kegiatan Belajar 1

 

 

 

Tujuan Kegiatan Pembelajaran

 

Siswa yang telah mempelajari modul ini, diharapkan memiliki pengetahuan tentang teknologi pengawetan ikan dengan cara penggaraman                               serta dapat melakukan praktek penggaraman sesuai prosedur operasional standar.

 

 

 

 

Uraian Materi

 

 

 

 

TEKNIK  PENGGARAMAN

 

 

 

stilah    penggaraman    yang    lebih    akrab    dikenal    dengan    sebutan pengasinan, merupakan cara pengawetan ikan yang produknya paling gampang ditemui diseluruh pelosok Indonesia.  Ada beberapa alasan

 

I

yang menyebabkan teknologi penggaraman ini merupakan cara yang paling 

banyak dilakukan untuk mengawetkan ikan, yaitu :

 

1)       Teknik penggaraman merupakan teknologi yang sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh semua orang

2)       Teknologi yang menggunakan garam ini merupakan cara pengawetan paling murah

3)       Hasil    olahan     yang     dikombinasikan    dengan     cara    pengeringan

 

mempunyai    daya    tahan    lama,    sehingga    dapat    disimpan    atau didistribusikan ke daerah yang jauh tanpa memerlukan perlakukan khusus

 

 

 

 

 

4)       Produk ikan asin harganya murah, sehingga dapat terjangkau oleh semua lapisan masyarakat

 

 

Secara  umum pengertian  penggaraman  adalah  suatu rangkaian  kegiatan yang   bertujuan  untuk  mengawetkan  produk  hasil  perikanan                                           dengan menggunakan  garam.  Garam  yang  digunakan  adalah  jenis  garam  napur (NaCl),  baik berupa kristal maupun  larutan. Mekanisme  pengawetan  ikan melalui proses penggaraman adalah sebagai berikut

1)       Garam menyerap air dari dalam tubuh ikan melalui proses osmosa.

 

Akibatnya kandungan air dalam tubuh ikan yang menjadi media hidup bakteri   menjadi             berkurang.                 Kekurangan    air    dilingkungan    tempat bakteri hidup mengakibatkan proses metabolisme dalam tubuh bakteri menjadi terganggu. Dengan demikian proses kemunduran mutu ikan oleh bakteri dapat dihambat atau dihentikan.

2)       Selain  menyerap  kandungan air  dari  tubuh  ikan,  garam  juga menyerap    air       dari                 dalam       tubuh    bakteri sehingga                bekteri    akan mengalami plasmolisis (pemisahan inti plasma) sehingga bakteri akan mati.

 

 

Teknologi    penggaraman       biasanya    tidak    digunakan     sebagai    metode pengawetan tunggal, biasanya masih dilanjutkan dengan proses pengawetan lain  seperti  pengeringan  ataupun  dengan  perebusan.  Sehingga  kita  bisa menjumpai tiga macam produk ikan asin, yaitu : ikan asin basah, ikan asin kering dan ikan asin rebus (ikan pindang).

 

 

 

 

 

Garam

 

 

S

ecara tradisional, umumnya garam dibuat dengan cara mengalirkan air laut  kedalam petakan lahan tanah yang dasarnya sudah padat danrata. Kemudian air laut dibiarkan terkena sinar matahari dan menguap

 

sampai habis.  Penguapan  air  akan  menghasilkan  endapan  kristal  garam. Garam yang digunakan untuk mengawetkan ikan sebaiknya memakai garam murni yaitu garam  yang sebanyak mungkin mengandung NaCl dan sekecil mungkin mengandung unsur lain seperti MgCl2, CaCl2, MgSO4, CaSO4, lumpur serta  kotoran  lainnya.        Unsur  selain  NaCl  didalam  garam  mempunyai beberapa kelemahan yaitu :

1)       Garam yang mengandung Ca dan Mg lambat sekali menembus masuk ke dalam  daging ikan, sehingga  memungkinkan proses pembusukan tetap berjalan selama proses penggaraman. Selain itu produk ikan asin yang dihasilkan bersifat higroskopis

2)       Garam yang mengandung 0,5 % – 1 % , CaSO 4    menghasilkan produk yang kaku dan warnanya pucat (putih)

3)       Garam  mengandung  magnesium,  sulfat  dan  klorida  menyebabkan produk agak pahit

4)       Garam yang mengandung  besi dan tembaga  menyebabkan  warna coklat, kotor dan kuning

5)       Garam mengandung  CaCl2    menyebabkan ikan asin berwarna putih, keras dan mudah pecah .

 

 

Garam yang baik dapat diperoleh dengan pengendalian waktu dalam proses pengendapan garam.  Tetepi  cara  ini  sulit  dilakukan  untuk  menghasilkan garam berkualitas baik. Sehingga kristal garam hasil endapan biasanya diolah lagi di pabrik  pengolahan  garam  untuk  menghilangkan  unsur-unsur  yang merugikan seperti yang  telah disebutkan  diatas. Berdasarkan  kandungan

 

 

 

 

 

unsur kimianya, garam dapat dikelompokkan menjadi tiga kelas seperti dapat dilihat pada tabel berikut

 

 

Tabel 4.  Komposisi  Garam Kelas 1, 2, dan 3

 

Unsur

Kandungan (%)
Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3

NaCl

 

CaCl2

 

MgSO4

 

MgCl2

 

Bahan tak larut

 

Air

96

 

1

 

0,2

 

0,2

 

-

 

2,6

95

 

0,9

 

0,5

 

0,5 sangat sedikit

3,1

91

 

0,4

 

1

 

1,2

 

0,2

 

0,2

 

 

 

 

 

 

 

 

Metode Penggaraman

 

K

ecepatan proses penyerapan garam kedalan tubuh ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut  : 

1)       Kesegaran      tubuh     ikan.    Semakin    segar     ikan,    maka    proses penyerapan garam kedalam tubuh ikan akan semakin lambat

2)       Kandungan  lemak. Lemak akan menghalangi       masuknya  garam kedalam tubuh ikan, sehingga ikan yang kandungan lemaknya tinggi akan mengalami penyerapan garam yang lambat.

3)       Ketebalan  daging  ikan. Semakin tebal daging ikan maka proses penggaraman semakin lambat

4)       Kehalusan kristal garam. Garam yang halus akan lebih cepat larut

 

dan meresap kedalam tubuh ikan. Tetapi      penyerapan yang terlalu

 

 

 

 

 

cepat akan mengakibatkan permukaan daging cepat mengeras  (Salt burn) dan ini akan menghambat keluarnya kandungan air dari bagian dalam tubuh ikan.

5)       Suhu. Semakin tinggi suhu larutan, maka viskositas larutan       garam semakin kecil sehingga proses penyerapan akan semakin mudah.

 

 

Pada dasarnya, metode penggaraman ikan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu              penggaraman              kering    (Dry    Salting),    penggraman    basah (WetSalting) dan Kench Salting.

 

 

a)         Penggaraman Kering (Dry Salting)

 

Metode   penggaraman    kering    menggunakan    kristal    garam    yang dicampurkan   dengan  ikan. Pada umumnya,  ikan yang berukuran besar        dibuang isi perut dan badannya dibelah dua.     Dalam proses penggaraman ikan ditempatkan didalam wadah yang kedap air. Ikan disusun rapi dalam wadah selapis demi selapis dengan setiap lapisan ikan ditaburi  garam. Lapisan paling atas dan paling bawah               wadah merupakan   lapisan   garam.  Garam  yang  digunakan  pada  proses penggaraman umumnya berjumlah 10 % – 35 % dari berat ikan yang digarami.

Pada  waktu  ikan  bersentuhan  dengan  kulit  /  daging  ikan  (yang

 

basah/berair), garam itu mula-mula akan membentuk larutan pekat. Larutan  ini  kemudian  akan  meresap  kedalam  daging  ikan  melalui proses osmosa. Jadi, kristal garam tidak langsung menyerap air, tetapi terlebih  dahulu  berubah  jadi  larutan.  Semakin  lama  larutan  akan semakin  banyak  dan  ini  berarti  kandungan  air  dalam  tubuh  ikan semakin berkurang.

 

 

 

 

 

b)         Penggaraman Basah (Wet Salting)

 

Penggaraman basah menggunakan larutan garam 30 – 35 % (dalam 1 liter air  terdapat 30  – 35 gram garam). Ikan yang akan digarami dimasukkan  kedalam larutan garam tersebut, kemudian bagian atas wadah ditutup dan diberi pemberat agar semua ikan terendam. Lama waktu perendaman tergantung pada ukuran ketebalan tubuh ikan dan derajat keasinan yang diinginkan.

Dalam    proses    osmosa,   kepekatan    larutan    garam    akan    semakin berkurang karena adanya kandungan air yang keluar dari tubuh ikan, sementara  itu  molekul  garam  masuk  kedalam  tubuh  ikan.  Proses osmosa akan  berhenti  apabila kepekatan larutan diluar dan didalam tubuh ikan sudah seimbang.

 

 

c)         Kench Salting

 

Pada  dasarnya,  teknik  penggaraman  ini  sama  dengan  pengaraman kering   (dry    salting)             tetapi  tidak       mengunakan      bak     /wadah penyimpanan.    Ikan  dicampur  dengan  garam dan dibiarkan  diatas lantai  atau  geladak   kapal,   larutan  air  yang  terbentuk  dibiarkan mengalir dan terbuang. Kelemahan dari cara ini adalah memerlukan jumlah  garam             yang   lebih        banyak             dan     proses    penggaraman berlangsung sangat lambat.

 

 

 

 

 

Pemberat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ikani

kristal garam 

 

 

 

ikan

 

 

 

 

 

Gambar 1 Teknik Penggaraman Dry Salting

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ikan larutan

garam

Pemberat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2 Teknik Penggaraman Wet Salting

 

 

 

 

 

 

 

 

Kristal garam ikanlantai / geladak

 

kapal

 

 

 

 

 

Gambar 3. Teknik Penggaraman Kench Salting

 

 

 

 

 

PelaksanaanPenggaraman

 

a.       Persiapan

 

1) Penyediaan bahan baku.

 

-       Ikan yang akan diproses sebaiknya dipisahkan berdasarkan jenis, tingkat  kesegaran dan ukuran ikannya. Hal ini dilakukan untuk penyeragaman        penetrasi        garam pada                         saat           penggaraman berlangsung

-       Sediakan garam sebanyak 10  – 35 % dari berat total ikan yang

 

akan  diproses,  tergantung  tingkat  keasinan  yang  diinginkan. Sebaiknya,  gunakan  garam  murni  (NaCl                                   99%)  agar  ikan  asin berkualitas baik

 

 

2) Penyediaan peralatan

 

-       Siapkan wadah bak kedap air yang terbuat dari semen, kayu, fibre atau  plastik.  Bila  proses  penggaraman  menggunakan  metode kench salting, wadah bak penggaraman tidak diperlukan

 

 

 

 

 

-       Siapkan  penutup  bak  sesuai  ukuran  bak  dilengkapi  dengan pemberat  untuk  membantu  agar  semua  ikan  terendam  dalam larutan garam

-       Pisai atau golok yang tajam untuk membersihkan dan menyiangi ikan

-       Timbangan untuk menimbang ikan yang telah dibersihkan serta jumlah garam yang dibutuhkan

-       Keranjang plastik atau bambu untuk mengangkut ikan sebelum dan setelah proses penggaraman

-       Tempat penjemuran atau para-para yang tingginya kurang lebih 1

 

meter diatas permukaan tanah. Sebaiknya para-para dibuat miring

 

15o     ke    arah    datangnya    angin    untuk    mempercepat    proses pengeringan

 

 

3) Penanganan dan penyiangan

 

-       Untuk     mempermudah    proses    penanganan,    tempatkan    ikan diwadah terpisah sesuai ukuran, jenis dan tingkat kesegaran

-       Pada ikan    berukuran besar, perlu dilakukan penyiangan dengan membuang  isi  perut,  insang  dan  sisik.  Kemudian  tubuh  ikan dibelah menjadi dua sepanjang garis punggung kearah perut. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses penggaraman

-       Pada ikan yang berukuran sedang, cukup dibersihkan insang, sisik

 

dan isi perut. Bagian badan tidak perlu dibelah.

 

-       Pada ikan kecil    seperti teri atau petek, cukup dicuci dengan air bersih saja, tidak perlu disiangi.

-       Proses pencucian dilakukan dengan air bersih yang mengalir, agar ikan benar-benar bersih

 

 

 

 

 

-       Tiriskan  ikan  yang  telah  dicuci  bersih  dalam  wadah  keranjang plastik atau bambu yang telah disediakan. Pada proses penirisan ini, ikan disusun  rapi dengan perut menghadap ke bawah agar tidak ada air yang menggenang dirongga perutnya

-       Setelah ikan agak kering, timbanglah  ikan agar dapat mengetahui

 

jumlah garam yang diperlukan dalam proses penggaraman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4 . Ikan dicuci dengan air mengalir supaya benar-benar bersih

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar5. Bahan  baku ikan yang sudah dibelah dan dibersihkan

 

 

 

 

 

b.       Tahapan proses penggaraman

 

1) Metode  dry salting

 

-       Sediakan  kristal  garam  sesuai  dengan  jumlah  ikan  yang  akan diproses. Untuk ikan besar sediakan garam 20 – 30 % dari berat ikan, ikan ukuran sedang 15 – 20 % sedangkan ikan berukuran kecil  cukup  5  %.  Gunakan  garam  murni  agar  hasil  olahannya berkualitas baik.

-       Taburkan garam ke dasar bak setebal 1 – 5 cm tergantung jumlah

 

ikan yang diolah. Lapisan ini berfungsi sebagai alas ikan  pada saat proses penggaraman

-       Susunlah    ikan dengan rapi diatas lapisan garam tadi. Usahakan

 

bagian perut ikan menghadap kebawah. Diatas lapisan ikan yang sudah tersusun, taburkan kembali garam secukupnya. Lakukan itu

 

 

 

 

 

sampai semua ikan tertampung didalam wadah, setiap lapisan ikan selalu  diselingi oleh lapisan garam. Pada lapisan atas ditebarkan garam setebal 5 cm agar tidak dihinggapi lalat.

-       Tutuplah  bak  atau  wadah  dengan  papan  yang  telah  diberi pemberat  agar proses penggaraman dapat berlangsung dengan baik.  Ikan  dengan  tingkat  keasinan  tertentu  dapat  diperoleh sebagai hasil akhir proses penggaraman.

-       Selesainya     proses     penggaraman     ditandai     dengan     adanya perubahan  tekstur,    daging  ikan  menjadi  kencang  dan  padat. Lamanya  penggaraman  tergantung  jenis,  ukuran  dan  tingkat kesegaran ikan. Walau demikian, umumnya proses penggaraman dapat berlangsung 1 – 3 hari untuk ikan ukuran besar, 12 – 24 jam untuk ikan ukuran sedang dan 6 – 12 jam untuk ikan ukuran kecil

-       Langkah  selanjutnya,  ikan  diangkat  dari  tempat  penggaraman.

 

Ikan   dicuci    dan    dibersihkan    dari    kotoran    yang    menempel, kemudian ditiriskan  dan selanjutnya ikan dijemur dengan disusun diatas para-para yang sudah disiapkan

 

 

 

 

2) Metode wet salting

 

-       Pisahkan ikan sesuai dengan ukuran, jenis dan tingkat kesegaran.

 

-       Sebagai  media  penggaraman.  Gunakan  larutan  garam  dengan konsentrasi tertetu, tergantung tingkat keasinan yang diinginkan.

-       Bila proses perendaman akan menghabiskan waktu lebih dari 24 jam,  gunakan larutan garam yang lewat jenuh agar kemapuan menarik cairan dalam tu buh ikan menjadi lebih besar dan cepat. Dengan menggunakan larutan lewat jenuh, maka tidak diperlukan

 

 

 

 

 

lagi    penambahan    garam    pada    saat    penggaraman     sedang berlangsung

-       Untuk mengetahui larutan sudah jenuh atau belum, bisa dilakukan dengan  memasukka  biji  kemiri  matang  kedalam  larutan  yang sudah dibuat.  Bila biji kemiri  tenggelam  berarti  larutan  belum jenuh, bila biji kemiri  mengapung  dipermukaan  berarti larutan sudah jenuh.

-       Susunlah  ikan dengan rapi  secara berlapis didalam wadah yang telah  disediakan. Tambahkan larutan garam yang sudah dibuat sampai semua ikan terendam .

-       Tutuplan bak dengan papan dan diberi pemberat supaya semua

 

ikan tetap terendam dalam larutan garam.

 

-       Bila konsentrasi cairan didalam dan di luar tubuh ikan sudah sama, maka proses penggaraman dianggap selesai.

-       Ikan    diangkat    dari    bak   penggaraman,    kemudian    dicuci    dan ditiriskan. Setelah itu ikan dijemur diatas para-para sampai kering.

 

 

 

 

3) Metode kench salting

 

-       Seperti  metode sebelumnya, ikan dipisahkan sesuai jenis, ukuran dan tingkat kesegaran

-       Karena  tidak  menggunakan  wadah,  ikan  ditumpuk  pada  suatu bidang   datar  lau  ditaburi  garam  secukupnya  sampai  seluruh permukaan  tubuh  ikan  tertutup  oleh                                                           garam.  Tumpukan  ikan tersebut ditutup dengan plastik agar tidak dihinggapi lalat

 

 

PK.TPHPi.C.02.M    Teknik Penggaraman dan Pengeringan 19

-       Proses penggaraman dianggap selesai bila telah terjadi perubahan tekstur pada tubuh ikan. Tubuh ikan jadi  lebih kencang dan padat

 

 

 

 

 

PROSEDUR PENGGARAMAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikan dipisahkan berdasarkan jenis, ukuran dan tingkat kesegaranrannya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikan disiangi bagian sisik, isi perut dan insang.

Kemudian dicuci sampai bersih

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikan digarami dengan metode  wet salting, dry salting, atau kench salting

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lama penggaraman dipengaruhi oleh metode yang digunakan, ukuran dan tingkat kesegaran ikan

 

 

 

 

 

RANGKUMAN

 

 

 

 

 

 

 

TEKNOLOGI PENGGARAMAN

 

 

 

Pengertian penggaraman adalah suatu rangkaian proses pengawetan  ikan  dengan  cara  mencampurkan  garam dengan  ikan baik dalam bentuk kristal maupun  larutan garam.  Garam  yang  dicampurkan  dengan  ikan  akan menyerap  kandungan  air  dalam  tubuh  ikan  sehingga kegiatan metabolsme bakteri  didalam tubuh ikan akan apat dihambat atau dihentikan.

 

 

Untuk  menghasilkan  produk  penggaraman  yang  baik maka  harus memperhatikan hal-hal sebagai : pemilihan bahan baku, garam, wadah/alat/tempat yang digunakan, serta   memprhatikan     aspek sanitasi           dan    higiene. Tahapan proses  penggaraman    terdiri dari : persiapan peralatan,     pemilihan     bahan      baku,      penyortiran, penyiangan, pencucian, penirisan,  dan penggaraman.

Metode     penggaraman     dapat     diklasifikasikan menjadi   3        macam               yaitu    dry             salting  (penggaraman kering),  wet  salting  (penggaraman  basah)  dan kench salting (penggaraman kering tanpa wadah).

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA

 

 

 

A.         Waktu dan tempat Kegiatan

 

Kegiatan praktikum dikerjakan bisa langsung dikerjakan di sekolah ataupun di unit produksi milik swasta selama 1 – 2 hari.

 

 

B.         Pendahuluan

 

Penggaraman adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mengawetkan ikan  dengan  menggunakan  garam  sebagai  bahan  pengawet.  Rangkaian kegiatan tersebut        meliputi               pemilihan bahan,     penyortiran,             penyiangan, pencucian, dan penggaraman. Setelah melaksanakan kegiatan praktikum ini, secara umum anda  diharapkan dapat melakukan pengolahan ikan dengan penggaraman  dan  pengeringan  sesuai  dengan  prinsip-prinsip pengolahan yang benar.

 

 

Dalam  kegiatn  praktikum  ini,  siswa  diberi  tugas  untuk  mengamati  dan melakukan tahapan-tahapan kegiatan proses penggaraman dan pengeringan, mengamati daya awet ikan asin kering hasil praktikum, serta melakukan uji rasa terhadap produk yang dihasilkan.

 

 

 

 

C.         Bahan dan Alat

 

Bahan yang diperlukan terdiri dari :

 

-           garam murni (NaCl 96 %)

 

-           dan ikan segar berukuran kecil sampai besar seperti pepetek, teri, kembung, manyung (jamball), remang, lemuru, layang dan lain-lain

 

 

 

 

 

Peralatan yang harus disediakan terdiri dari :

 

-         wadah / bak penggaraman

 

-         penutup wadah

 

-         pisau

 

-         timbangan

 

-         keranjang / saringan.

 

 

 

 

 

D.       Prosedur Penggaraman

 

1)       Ikan berukuran besar

 

-      ikan dibelah dua mulai dari arah punggung bergerak kearah perut, insang dan isi perut dibuang

-      setelah  disiangi,  ikan  dicuci  sampai  bersih  kemudian  ditiriskan beberapa saat di dalam keranjang

-      setelah ditiriskan, timbang ikan supaya bisa mengetahui jumlah garam yang akan digunakan.

-      Siapkan garam sebanyak 20  – 25 % dari berat ikan yang akan diolah

-      Ikan disusun berlapis lapis didalam wadah yang sudah tersedia dengan tiap lapisan ikan diselingi garam

-      Tutup  wadah  penggaraman  dengan  rapat  supaya  tidak  ada

 

serangga     yang     masuk     dan    biarkan     proses    penggaraman berlangsung selama 1 – 2 hari

 

 

2)       Ikan berukuran sedang

 

-      buang insang dan isi perut dengan cara menariknya dari bagian tutup insang sehingga dinding perut tidak rusak atau sobek

-      cuci dan tiriskan ikan, kemudian ditimbang

 

 

 

 

 

-      siapkan garam sebanyak 15 – 20 % dari berat ikan

 

-      susunlah ikan didalam wadah penggaraman secara berlapis seperti yang dilakukan pada ikan ukuran besar

-      tutu wadah penggaraman dengan rapat dan biarkan ikan selama

 

12 – 24 jam

 

 

 

3)     Ikan berukuran kecil

 

-         ikan cukup dicuci dengan iar mengalir tanpa harus membuang isi perut dan insangnya, kemudian ditimbang

-         siapkan garam 5 – 10 % dari berat ikan

 

-         ikan campurkan dengan garam secara merata dan biarkan selama

 

6 – 12 jam

 

 

 

 

 

E.         Umpan balik

 

Praktikum penggaraman ini dianggap berhasil apabila anda bisa melakukan setiap  tahapan  proses  penggaraman  dengan  baik.  Apabila  anda  dapat melakukan  praktikum dan membuat laporannya, maka anda berhak untuk mempelajari mataeri pembelajaran selanjutnya.

 

 

 

 

F.         Petunjuk penulisan  laporan

 

Laporan     praktikum  harus  dibuat  oleh  setiap  kelompok  sesuai  dengan petunjuk dari instrutur. Laporan praktikum memuat hal-hal sebagai berikut :

1) Nama anggota kelompok

 

2) Judul kegiatan praktikum

 

3) Pendahuluan (Latar belakang dan Tujuan)

 

4) Pelaksanaan Kegiatan

 

 

 

 

 

5) Hasil kegiatan dan pembahasan

 

6) Kesimpulan

 

 

 

G.        Kriteria Penilaian

 

Penilaian  dilakukan  berdasarkan  proses  pelaksanaan  tahapan  praktikum, mutu hasil praktikum serta kelengkapan laporan.

 

 

 

 

 

TES FORMATIF

 

 

 

A.         Latihan

 

 

 

JAWABLAH PERTANYAAN DIBAWAH INI DENGAN SINGKAT, PADAT DAN JELAS          !

1.       Sebutkan  keunggulan  teknologi  penggar aman  dibandingkan  produk hasil pengawetan lainnya !

2.        Jelaskan mekanisme pengawetan ikan dengan menggunakan teknologi penggaraman !

3.        Sebutkan    dan    jelaskan    hal-hal     yang    mempengaruhi    kecepatan penyerapan garam kedalam tubuh ikan !

4.        Jelaskan dengan singkat metode penggaraman yang anda ketahui !

 

5.        Sebutkan      tahapan- tahapan  yang  harus  dilakukan  dalam  proses penggaraman

 

 

 

 

B.         Kunci Jawaban

 

 

 

1.        Teknologi  penggaraman dan pengeringan tidak memerlukan keahlian dan  peralatan khusus sehingga mudah dilakukan oleh semua orang dan    dapat            dilakukan     dimana         saja.     Selain         itu           produk    hasil penggaraman  mempunyai  daya  tahan  lama  dan  tidak  memerlukan perlakuan khusus pada saat penyimpanannya

2.        Garam yang dicampurkan dengan ikan akan menarik cairan dari dalam tubuh ikan sehingga kadar air didalam tubuh ikan menjadi berkurang sehingga metabolisme ditubuh bakteri bisa dihambat atau dihentikan

3.        Penyerapan garam kedalan tubuh ikan dipengaruhi oleh :

 

 

 

 

 

a)  Kesegaran    tubuh    ikan.    Semakin    segar     ikan,    maka    proses penyerapan garam kedalam tubuh ikan akan semakin lambat

b)  Kandungan  lemak.  Lemak  akan  menghalangi     masuknya  garam kedalam  tubuh  ikan,  sehingga  ikan  yang  kandungan  lemaknya tinggi akan mengalami penyerapan garam yang lambat.

c)   Ketebalan daging ikan. Semakin tebal daging ikan maka proses penggaraman semakin lambat

d)  Kehalusan kristal garam. Garam yang halus akan lebih cepat larut dan meresap kedalam tubuh ikan.

e)   Suhu. Semakin tinggi suhu larutan, maka viskositas larutan  garam

 

semakin kecil sehingga proses penyerapan akan semakin mudah.

 

4.        Macam -macam metode penggaraman :

 

a)  Dry  salting  yaitu  metode  penggaraman  dengan  menggunakan kristal   garam  yang  dicampurkan  langsung  dengan  ikan  yang disusun secara berlapis didalam wadah / bak penggaraman

b)  Wet salting yaitu metode penggaraman dengan merendam ikan dalam larutan garam didalam wadah / bak penggaraman

c)   Kench salting yaitu metode penggaraman dengan mencampurkan kristal  garam dengan ikan secara langsung tanpa menggunakan wadah / bak penggaraman

5.        Tahapan proses penggaraman meliputi : persiapan (pemilihan bahan

 

baku dan peralatan), penyiangan dan pencucian ikan, penirisan, dan penggaraman

 

 

 

 

 

B.2.     Kegiatan Belajar 2

 

 

 

Tujuan Kegiatan Pembelajaran

 

Siswa yang telah mempelajari modul ini, diharapkan memiliki pengetahuan tentang  teknologi pengawetan ikan dengan cara pengeringan                                serta dapat melakukan praktek pengeringan sesuai prosedur operasional standar.

 

 

 

 

Uraian Materi

 

 

 

TEKNIK PENGERINGAN

 

 

 

 

engeringan  merupakan  cara  pengawetan  produk  makanan  yang pertama digunakan oleh manusia. Pengeringan ikan merupakan cara pengawetan  sebagai  lanjutan  dari  kegiatan  pengawetan  dengan

 

P

penggaraman. Ikan hasil proses penggaraman  segera diangkat dari wadah penggaraman, dicuci bersih kemudian dikeringkan. Pada                                               awalnya proses pengeringan hanya menggunakan panas sinar matahari dan tiupan angin. Pada prinsipnya proses pengeringan akan mengurangi kadar air dalam tubuh ikan  sebanyak-banyaknya,  sehingga kegiatan bakteri akan bisa dihambat atau bila memungkinkan bisa dihentikan. 

 

Tubuh ikan mengandung 56 % – 80 % air. Bila kadar air ini dikurangi maka metabolisme dalam tubuh bakteri akan terhambat. Pada kadar air 30 % – 40

%, sebagian bakteri sudah mati, tetapi sporanya tetap hidup. Spora ini akan tumbuh dan aktif kembali bila kadar air dalam tubuh ikan meningkat kembali. Oleh karena itu sebelum dilakukan proses pengeringan, selalu diawali dengan

 

 

 

 

 

penggaraman     untuk     menghambat     proses     pembusukan     pada     saat pengeringan                    berlangsung.     Karena    itulah,    produk    ikan    kering    selalu diasosiasikan dengan istilah ikan asin.

 

 

Cara  yang  umum  digunakan  untuk  mengeringkan  ikan  adalah  dengan menguapkan     air dari tubuh ikan, yaitu dengan menggunakan hembusan udara panas. Dengan hawa panas ini, akan terjadi penguapan air dari tubuh ikan dari mulai  permukaan hingga ke bagian dalam tubuh ikan. Kecepatan penguapan atau pengeringan dipen garuhi beberapa faktor antara lain :

1)     Kecepatan udara.  Semakin cepat udara maka ikan akan semakin cepat

 

kering

 

2)     Suhu udara. Makin tinggi suhu udara maka penguapan akan semakin cepat

3)     Kelembaban  udara.  Makin  lembab  udara,  proses  penguapan  akan semakin lambat

4)     Ketebalan daging ikan. Makin     tebal daging ikan, proses pengeringan makin berjalan lambat

5)     Arah aliran udara terhadap tubuh ikan. Makin kecil sudut arah udara terhadap posisi tubuh ikan maka ikan semakin cepat kering

6)     Sifat / kandungan tubuh ikan. Ikan yang  berkadar lemak tinggi akan lebih sulit dikeringkan.

 

 

 

 

 

 

 

Arah angin                                 Arah angin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikan                                                            ikan

 

LAMBAT                                                       CEPAT

 

 

 

Gambar 6. Pengaruh arah aliran udara terhadap kecepatan pengeringan

 

 

 

 

 

Metode Pengeringan

 

 

C

ara  pengeringan  bisa  dikelompokkan  menjadi  dua  yaitu  pengeringan alami dan pengeringan mekanis (buatan). 

 

a)         Pengeringan  alami.

 

Pengeringan alami adalah proses pengeringan  yang dilakukan dengan menggunakan  media angin dan sinar matahari.  Dalam pengeringan alam, ikan dijemur diatas rak-rak yang dipasang miring (+15o) kearah datangnya angin dan diletakkan ditempat terbuka supaya terkena sinar matahari               dan   hembusan   angin    secara    langsung.       Keunggulan pengeringan alami adalah proses sangat sederhana, murah dan tidak memerlukan  peralatan  khusus  sehingga   gampang  dilakukan  oleh semua orang.

 

 

 

 

 

 

 

Arah Angin

 

 

 

 

 

15 o

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7 Posisi ikan dalam pengeringan alami

 

 

 

 

 

Pada proses pengeringan ini, angin berfungsi untuk memindahkan uap air yang  terlepas dari ikan, dari atas ikan ke  tempat lain sehingga penguapan berlangsung lebih cepat.  Tanpa adanya pergerakan udara, misalnya jika penjemuran ditempat tertutup (tanpa adanya hembusan angin),  pengeringan   akan  berjalan  lambat.  Selain  tiupan  angin, pengeringan alami juga  dipengaruhi oleh  intensitas cahaya matahari pada saat penjemuran  berlangsung.  Makin tinggi intensitasnya maka proses pengeringan            akan semakin        cepat            berlangsung   begitupun sebaliknya.Oleh karena itu, proses pengeringan alami sering terhambat pada saat musim penghujan karena intensitas cahaya matahari sangat kurang.                 Karena          lambatnya   pengeringan,     proses    pembusukan kemungkinan tetap berlangsung selama proses pengeringan.

Masalah lain yang dihadapi pada pengeringan alami adalah ikan yang

 

dijemur ditempat terbuka gampang dihinggapi serangga atau lalat. Lalat  yang  hinggap akan meninggalkan telur, dalam waktu 24 jam

 

 

 

 

 

telur tersbut  akan  menetas  dan  menjadi  ulat  yang  hidup  didalam daging ikan.

 

 

 

 

b)        Pengeringan Mekanis

 

Karena banyaknya kesulitan yang didapat pada proses pengeringan alami terutama pada saat musim penghujan, maka manusia mencoba membuat  alat  baru  untuk  menghasilkan                  produk  yang  lebih  baik dengan  cara  yang  lebih  efisien.  Pada  pengeringan  mekanis,  ikan disusun diatas rak-rak  penyimpanan  didalam ruangan tertutup yang dilengkapi                 dengan    beberapa   lubang    ventilasi.    Kedalam    ruangan tersebut, ditiupkan hawa panas yang dihasilkan dari elemen pemanas listrik. Hawa panas ditiupkan dengan sebuah kipas angin atau blower supaya mengalir ke arah rak-rak ikan. angin yang membawa uap air dari tubuh ikan akan keluar dari lubang-lubang ventilasi.

Pengeringan mekanis memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut :

 

1)    Ketinggian suhu, kelembaban dan kecepatan udara  mudah  diatur

 

2)    sanitasi dan higiene lebih mudah dikendalikan

 

3)    tidak memerlukan tempat yang luas

 

4)    waktu pengeringan menjadi lebih teratur (tidak terpengaruh oleh adanya musim hujan)

 

 

 

 

 

 

 

lubang keluar uap panas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber panas dan blower

Ikan asin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8.  Proses pengeringan mekanis

 

 

 

 

 

 

 

Penyimpan an dan Pengemasan

 

P

roduk  ikan  asin  kering  yang  sudah  jadi  perlu  dijaga  kualitasnya selama  proses  penyimpanan,  transportasi  dan  distribusi  sehingga harga  jual  bisa  tidak  menurun.  Oleh  karena  itu,  perlu  dilakukan 

pengepakan dan pengemasan yang baik supaya kualitasnya tidak menurun. Pengemasan  bisa  dilakukan  dengan  menggunakan  bahan  kayu,  kertas, kardus   ataupun  plastik.     Bahan-bahan  yang  digunakan  selama  proses pengemasan dan pengepakan disesuaikan dengan keperluan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tahap penyimpanan adalah :

1)     Ruang penyimpan harus bersih, kering dan sejuk

 

 

 

 

 

2)     Sirkulasi  udara  lancar,  sehingga  menghilangkan  bau-bau yang tidak sedap

3)     Ikan kering dibongkar dan dijemur kembali bila terjadi kelembaban yang tinggi

4)     Banda  lain  yang  dapat  menjadi  bahan  pencemar  seperti  pestisida, minyak tanah dan sebagainya, tidak disimpan didekat ikan asin.

 

 

 

 

Kerusakan Produk Ikan Asin Kering

 

K

erusakan ikan asin kering bisa terjadi pada saat penyimpanan dan selama proses transportasi dan distribusi.                         Beberapa kerusakan yang 

mungkin terjadi pada ikan asin kering antara lain :

 

1)     Pink spoilage. Kerusakan ini disebabkan oleh bacteri halophilic yang secara      perlahan-lahan             berkembang       biak               dan    membentuk            figmen berwarna kuning  kemerahan.  Bakteri  ini dengan  cepat  menguraikan daging  ikan  dan menimbulkan bau tengik. Akibatnya daging menjadi lunak dan berwarna keabu-abuan serta mudah terlepas dari tulangnya. Jenis bakteri yang paling dominan adalah Sarcina sp, Serratia, Salinaria, dan  Micrococi.            Pencegannya  bisa  dilakukan  dengan mencampurkan sodium propionat 3 % dengan garam (perbandingan 1 : 10) pada saat proses penggaraman.

2)     Dun spoilage. Kerusakan diakibatkan oleh  bakteri halophilic yang hidup hanya dipermukaan daging ikan dan membentuk warna ke abu-abuan. Biasanya  terjadi  pad a  ikan  asin  yang  berkadar  air  dibawah  17  %. Pencegahan dapat  dilakukan  dengan merendam ikan ikan asin dalam larutan    asam    sorbat    dengan        dosis                 0,1           %.      Setelah             direndam kemudianikan asin  dijemur kembali sampai kering.

 

 

 

 

 

3)     Rust  spoilage.  Untuk  mencegah  bau  tengik  pada  ikan  asin,  garam melepaskan senyawa karbonil. Tetapi, bila bereaksi dengan asam amino senyawa  ini akan menghasilkan senyawa coklat keabu-abuan dengan bau  tengik  yang   mencolok.  Pencegahan  dapat  dilakukan  dengan pencucian dan perendaman ikan asin dalam larutan sodium bikarbonat dengan dosis 2  – 5 %. Setelah itu ikan asin dijemur kembali sampai kering

4)     Saponifikasi.    Kerusakan    disebabkan    oleh   aktifitas    bakteri    anaerob (myxobacteria) yang menghasilkan lendir berbau busuk. Kerusakan ini sangat         berbahaya bagi      manusia,             karena           tidak                 hanya   terjadi    di permukaan  tetapi  juga  menyerang  bagian  dalam  daging  ikan  asin. Pencegahan dengan mencelupkan ikan asin pada larutan asam asetat 3

%. Setelah itu ikan dicuci dengan air bersih dan dijemur kembali sampai

 

kering.

 

5)     Taning. Kerusakan yang terjadi karena proses penetrasi garam kedalam daging ikan sangat lambat dan kurang merata. Ciri-cirinya adalah terjadi bercak-bercak  merah sepanjang tulang punggung ikan  dan munculnya bau busuk.  Pencegahan dengan menyikat bercak-bercah merah sampai bersih dan kemudian ikan digarami kembali secara merata dan dijemur kembali hingga kering.

6)     Serangga Magggot (lalat). Serangan yang ditimbulkan oleh sejenis lalat

 

rumah yang hinggap pada ikan asin dan meninggalkan telurnya. Telur akan menetas membentuk larva dan menyerang daging ikan dari dalam. Pencegahan  dengan merendam kembali ikan asin di dalam air bersih hingga larva-larva yang  ada mengapung di permukaan air. Setelh itu ikan digarami kembali dan dijemur sampai kering.

7)     Salt  burn.  Kerusakan  akibat  penggunaan  garam  yang  halus  secara berlebihan  pada saat penggaraman sehingga ikan asin hanya kering

 

 

 

 

 

pada  bagian  permukaannya  saja.      Hal  ini  bisa  dihindari  dengan menggunakan garam kristal yang tidak terlalu halus pada saat  proses

penggaraman

 

 

 

 

 

 

 

 

Rangkuman

 

 

 

 

 

Pengeringan   merupakan   metode   pengawetan   prod uk                 yang   pertama dilakukan oleh manusia. Selama proses pengeringan, ikan akan mengalami pengurangan  kadar  air  yang  mengakibatkan  proses  metabolisme  bakteri pembusuk  dalam         tubuh           ikan      menjadi                    terganggu.          Sehingga             proses kemunduran mutu ikan dapat dihambat atau dihentikan.

 

Tahapan proses pengeringan terdiri dari : pengangkatan ikan dari wadah penggaraman,                         pencucian,    pengeringan,     peyortiran    dan    pengemasan. Peralatan yang diperlukan selama proses pengeringan terdiri dari wadah pencucian, para-para (untuk pengeringan alami), ruang pengeringan (untuk pengeringan mekanis), kardus pengepakan.

 

Ada  dua  metode  pengeringan  yang  bias  dilakukan  yaitu  :  Pengeringan alami dan pengeringan mekanis. Keuntungan pengeringan alami antara lain adalah   tidak   memerlukan   peralatan   dan   keterampilan   khusus   tetapi memiliki  kelemahan  yaitu  membutuhkan  tempat  yang  luas  serta  waktu pengeringan (suhu) sulit dikendalikan.

 

Keuntungan pengeringan mekanis antara lain : waktu pengeringan (suhu) dapat  dikendalikan  dan tidak memerlukan  tempat yang luas. Kelemahan pengeringan  mekanis antara lain membutuhkan sarana dan keterampilan

khusus.

 

 

 

 

 

PROSEDUR PENGERINGAN

 

 

 

 

Setelah selesai proses penggaraman, keluarkan ikan dari wadah penggaraman

 

 

 

 

 

 

 

 

Cuci dan bersihkan ikan dari kotoran serta sisa-sisa garam yang menempel ditubuhnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masukkan ikan ketempat pengeringan

pengeringan alami atau pengeringan mekanis

 

 

 

 

 

 

 

Lama pengeringan dipengaruhi oleh jenis pengeringan yang digunakan serta ukuran ikan yang dikeringkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah kering, ikan disortir berdasarkan kualitasnya dan dikemas dengan baik untuk menghindari kerusakan selama penyimpanan

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA

 

 

 

A.         Waktu dan Tempat Kegiatan

 

Kegiatan praktikum ini bisa dilaksanakan di sekolah ataupun di unit produksi milik swasta. Pelaksanaan praktikum dilaksanakan selama 1 – 3 hari

 

 

 

 

B.         Pendahuluan

 

Pengeringan ikan        adalah     rangkaian     kegiatan    yang     bertujuan     untuk mengawetkan ikan  dengan mengurangi  kadungan  air  dalam  tubuh  ikan. Rangkaian       kegiatan                   tersebut                  meliputi    pengangkatan          ikan          dari    tempat penggaraman, pencucian, penjemuran, penyortiran dan pengemasan. Setelah melaksanakan kegiatan praktikum ini, secara umum anda diharapkan dapat melakukan  pengolahan ikan dengan penggaraman dan pengeringan sesuai dengan prinsip-prinsip pengolahan yang benar.

 

 

Dalam kegiatan  praktikum  ini,  siswa  diberi tugas untuk mengamati  dan melakukan tahapan-tahapan kegiatan proses pengeringan, mengamati daya awet ikan asin kering  hasil praktikum, serta melakukan uji rasa terhadap produk yang dihasilkan.

 

 

 

 

C.         Bahan dan alat

 

Bahan yang  diperlukan  adalah  ikan  hasil  proses penggaraman.  Peralatan yang      diperlukan           unruk           kegoatan                pengeringanikan     adalah     :    wadah penjemuran (para-para ataupun ruangan pengeringan). Ember pencucian, dan kardus pengemasan.

 

 

 

 

 

D.         Prosedur Pengeringan

 

-         angkat ikan dari tempat penggaraman kemudian cuci sampai bersih

 

-         susun  ikan  ditempat  pengeringan  dengan  rapi  supaya  panas  bisa diterima seluruh tubuh ikan secara merata

-         dalam periode waktu tertentu, posisi ikan dibalik terutama untuk ikan berukuran besar

-         ikan yang telah kering kemudian disortir berdasarkan kualitas dan jenis ikannya  kemudian  simpan  ditempat  yang  aman  danseejuk                                 untuk menghindari proses pengurangan mutu selama penyimpanan.

 

 

 

 

E.         Prosedur pengeringan dan pengemasan

 

Setelah selesai proses penggaraman, ikan diangkat dari wadah penggaraman kemudian dicuci sampai bersih. Ikan yang telah dicuci kemudian  dijemur diatas para-para sambil dibolak balik supaya ikan asin kering secara merata.  Proses penjemuran bisa berlangsung 1 – 3 hari tergantung intensitas  cahaya matahari.             Ikan yangtelah kering dikemas rapi dan disimpan ditempat yang sejuk (tidak lembab dan tidak panas )

 

 

F.         Umpan balik

 

Praktikum  penggaraman  ini  dianggap  berhasil  apabila  anda  bisa melakukan  setiap  tahapan  proses             dan  pengeringan  dengan  baik. Apabila  anda dapat melakukan praktikum dan membuat laporannya, maka     anda       berhak untuk   mempelajari   mataeri            pembelajaran selanjutnya.

 

 

 

 

 

G.         Petunjuk penulisan  laporan

 

Laporan     praktikum  harus  dibuat  oleh  setiap  kelompok  sesuai  dengan petunjuk dari instrutur. Laporan praktikum memuat hal-hal sebagai berikut :

1.     Nama anggota kelompok

 

2.     Judul kegiatan praktikum

 

3.     Pendahuluan (Latar belakang dan Tujuan)

 

4.     Pelaksanaan    Kegaiatan    (waktu    dan    tempat    kegaiatn,    bahan    dan peralatan, metode pelaksanaan)

5.     Hasil kegiatan dan pembahasan

 

6.     Kesimpulan

 

7.     Daftar pustaka

 

 

 

 

 

H.         Kriteria Penilaian

 

Penilaian  dilakukan  berdasarkan  proses  pelaksanaan  tahapan  praktikum, mutu hasil praktikum serta kelengkapan laporan.

 

 

 

 

 

TES FORMARIF

 

 

 

A.         Latihan

 

 

 

JAWABLAH PERTANYAAN DIBAWAH INI DENGAN SINGKAT, PADAT DAN JELAS          !

1.        Sebutkan  keunggulan  teknologi  pengeringan  dibandingkan  produk hasil pengawetan lainnya !

2.        Jelaskan mekanisme pengawetan ikan dengan menggunakan teknologi pengeringan !

3.        Sebutkan    tahapan-tahapan yang harus dilaksanakan dalam proses pengeringan !

4.        Sebutkan       faktor-faktor    yang    mempengaruhi    kecepatan    proses pengeringan ikan asin !

5.        Sebutkan dan jelaskan metode pengeringan yang kamu ketahui !

 

6.        Sebutkan keuntunagn dan kerugian pengeringan mekanis !

 

7.        Sebutkan keuntungan dan kerugian pengeringan alamai !

 

8.        Sebutkan    factor-faktor    yang    mempengaruhi    daya    awet    produk pengeringan !

 

 

 

 

 

 

B.         Kunci Jawaban

 

 

 

1.       Teknik pengawetan dengan pengeringan tidak memerlukan keahlian dan peralatan khusus / rumit sehingga mudah dilakukan oleh semua orang  dan  dapat  dilakukan  dimana  saja.                                                                 Selain  itu  produk  hasil

 

 

 

 

 

pengeringan  mempunyai  daya  tahan  lama  dan  tidak  memerlukan perlakuan khusus pada saat penyimpanannya

2.       selama  proses  penjemuran,  kadar  air  didalam  tubuh  ikan  akan menguap karena suhu lingkungan yang tinggi. Makin lama penjemuran maka kadar air  dalam tubuh ikan akan semakin berkurang.  Dengan berkurangnya  kandungan  air,  maka  metabolisme  bakteri  pembusuk dalam tubuh ikan akan terhambat atau terhenti

3.       Tahapan proses pengeringan meliputi :

 

a)     Mengangkat ikan dari wadah/tempat penggaraman

 

b)     Mencuci supaya bersih dari darah ataupun sisa garam yang masih menempel

c)     Menyusun ikan di tempat penjemuran (pengeringan alami) atau di rak ruang pemanasan (pengeringan mekanis)

d)     Ikan yang sudah kering disortir berdasarkan kualitas, jenis dan ukuran

e)     Simpan ikan ditempat yang sejuk dan tertutup rapat supaya tidak terkontaminasi udara luar sehingga bisa bertahan lama

4)       Kecepatan pengeringan dipengaruhi oleh :

 

a)       Kecepatan udara.  Semakin cepat udara maka ikan akan semakin cepat kering

b)       Suhu  udara.  Makin  tinggi  suhu  udara  maka  penguapan akan

 

semakin cepat

 

c)       Kelembaban udara. Makin lembab udara, proses penguapan akan semakin lambat

d)       Ketebalan    daging    ikan.    Makin      tebal    daging    ikan,    proses pengeringan makin berjalan lambat

e)       Arah aliran udara terhadap tubuh ikan. Makin kecil sudut arah udara terhadap posisi tubuh ikan maka ikan semakin cepat kering

 

 

 

 

 

f)    Sifat / kandungan tubuh ikan. Ikan yang berkadar lemak tinggi akan lebih sulit dikeringkan.

5)       Metode pengeringan terdiri 2 macam yaitu

 

a)   Pengeringan alami yaitu pengeringan dengan memanfaatkan sinar matahari dan hembusan udara bebas dalam proses pengeringan

b)  Pengeringan  mekanis  yaitu  pengeringan  menggunakan  elemen pemanas listrik untuk proses pengeringan

6.       Keuntungan dan kerugian pengeringan mekanis :

 

a)   Keuntungan : suhu dan kecepatan proses pengeringan dapat diatur sesuai   keinginan,  tidak  terpengaruh  oleh  cuaca,  sanitasi  dan higiene dapat dikendalikan

b)  Kerugian : memerlukan keterampilan dan peralatan khusus, serta biaya lebih tinggi disbanding pengeringan alami

7.        Keuntungan dan kerugian pengeringan alami :

 

a)    Keuntungan : tidak memerlukan keaklian dan peralatan khusus, serta biayanya lebih murah

b)   Kerugian  :  membutuhkan  lahan  luas,  sangat  tergantung  pada cuaca, dan sanitasi hygiene sulit dikendalikan

 

 

 

 

 

III. EVALUASI

 

 

 

A.         Aspek Kognitif (Pengetahuan)

 

 

 

Siswa yang telah mempelajari modul ini akan dianggap lulus apabila telah bisa  menjawab  pertanyaan-pertanyaan  yang  terdapat  pada  setiap  akhir kegiatan  pembelajaran.  Apabila  siswa  belum  bisa  menjawab  pertanyaan- pertanyaan  tersebut,  maka  diwajibkan  kembali  mengulang  semua  proses pembelajaran yang terdapat didalam modul ini

 

 

 

 

B.         Aspek Afektif (Sikap)

 

 

 

Siswa  yang  telah  mempelajarai  modul  ini,  dapat  melaksanakan  setiap tahapan proses penggaraman dan pengeringan secara berurutan dari mulai persiapan bahan  dan alat, pemilihan bahan baku, penyiangan, pencucian, penggaraman,  pencucian  kembali,  penjemuran  dan  pengemasan  dengan cermat dan hati-hati.

 

 

 

 

C.         Aspek Psikomotor (Keterampilan)

 

 

 

Siswa yang telah mempelajari modul ini, harus dapat melaksanakan berbagai metode  penggaraman  dan  pengeringan  dengan  terampil  sehingga  bisa menghasilkan  produk  yang  berkualitas  baik  dengan  cirri-ciri : daya awet cukup     lama,    produk        tidak      terlalu kering         dan      tidak            terlalu  asin,       dan penampilan menarik sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.

 

 

 

 

 

IV.    PENUTUP

 

 

 

Siswa  yang  telah  mempelajari  modul  ini,  harus  dapat  menjawab pertanyaan      dalam                soal          latihan       serta          dapat    melaksanakan    praktikum penggaraman dan pengeringan  sesuai dengan petunjuk praktikum. Proses penilaian   dilakukan             dengan                melihat      aspek sikap,     pengetahuan serta keterampilan.  Siswa yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam latihan dan  terampil dalam pelaksanaan kegiatan praktikum dianggap telah memenuhi standar  minimal pencapaian sehingga bisa melanjutkan proses pembelajaran ke modul berikutnya.

 

 

 

 

 

DAFTARPUSTAKA

 

 

 

Eddy Afrianto, Ir dan Evi Liviawaty, Ir  –  Pengawetan dan Pengolahan Ikan. PT Kanisius – Yogyakarta 1989

A.S. Murniyati,  Ir dan Sunarman,  Ir   –  Pendinginan Pembekuan dan Pengawetan

 

Ikan.  PT Kanisisus Yogyakarta  2000

 

Abbas Siregar Djarijah, Ir – Ikan Asin. PT Kanisius – Yogyakarta  1995

 

Rahmad Hidayat – Proses Pengolahan Ikan . PT Bina Ilmu – Surabaya  1979

 

R. Moeljanto, Drs – Penggaraman dan Pengeringan Ikan. PT Penebar Swadaya  – Jakarta 1982

R. Moeljanto, Drs  – Pengaraman  dan Pengeringan Ikan. PT. Penebar Swadaya  – Jakarta 1967

 

01/01/2013 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Konsep Genogram

1. Sejarah Genogram
Genogram pertama kali diperkenalkan oleh Murray Bowen pada tahun
1950 sebagai alat yang digunakan dalam terapi keluarga (Peluso, 2003: 287).
Bowen meyakini bahwa proses keluarga dapat mengungkap persoalan emosional
individu yang belum terpecahkan.
Kemudian pengunaan genogram diperluas oleh banyak peneliti, di
antaranya: Okiishi (1985) , Halevy (1988), Hardy andLaszloffy (1995), Dunn and
Levitt (2000), Malott andMagnuson (2004), dan Peluso (2006).
Okiishi (Supriatna, 2009: 61), mengembangkan genogram sebagai alat
bantu di dalam wawancara konseling karier. Dalam wawancara genogram dapat
dianalisis berbagai aspek yang berkaitan dengan pengenalan diri dan lingkungan,
khususnya dunia kerja. Hal-hal yang dapat dianalisantara lain mengenai: (a) isi
pengamatan diri konseli; (b) pemahaman lingkungan dan dunia kerja; (c) proses
pembuatan keputusan; (d) model-model pola hidup; dan (e) model-model
okupasional.
Halevy (1988), menggunakan genogram pada pelatihankonseling lintas-budaya untuk memfasilitasi para siswa dalam memahami dirinya. Malott and
Magnuson (2004), menggunakan genogram untuk mengeksplorasi perkembangan
karier konseli, dan Dunn andLevitt (2000), menggunakan genogram untuk
17
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
mengungkap kolaborasi yang saling menguntungkan di antara anggota keluarga
(Lim, 2008: 35).
Secara klinis, penggunaan genogram terkadang hanya terbatas pada data-data tentang informasi konisi/keadaan yang dialami keluarga seperti: tanggal
lahir, status pernikahan/perceraian, dan kematian selama prosedur penilaian awal
berlangsung. Namun, lebih luas genogram dapat digunakan untuk mengungkap:
(a) reaksi dari setiap anggota keluarga terhadap peristiwa penting yang terjadi
dalam keluarga; (b) gambaran dari berbagai persepsitentang pola-pola hubungan
dalam keluarga; dan (c) informasi yang lebih luas dalam konteks sosial.
(Magnuson dan Shaw, 2003: 46).
2. Pengertian
Genogram memiliki pengertian secara etimologis dan konseptual. Secara
etimologis, genogram berarti silsilah, yaitu gambarasal-usul keluarga konseli
sebanyak tiga generasi (Supriatna dan Ilfiandra, 2006: 11). Secara konseptual,
genogram diartikan beragam oleh para ahli. Adapunbeberapa ahli tersebut,yaitu
sebagai berikut.
Menurut McGoldrick andGerson (Kerka, 2000), genogram merupakan
suatu pola untuk menggambar pohon keluarga yang menyimpan informasi tentang
anggota dan hubungan diantara keluarga sepanjang tiga generasi (online).
Menurut Peluso (2003: 287), genogram merupakan alatyang tepat untuk
memahami pengaruh asal-usul keluarga konseli. Selain itu, genogram juga
18
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
berfungsi untuk memberikan feedbackkepada konseli tentang dinamika
keluarganya.
Genogram yang dikembangkan Okiishi (Supriatna, 2009: 61), merupakan
alat yang dipersiapkan untuk membantu konselor-konseli ketika wawancara karier
berlangsung. Penggunaan genogram dalam proses konseling karier tersebut
ditempuh melalui tiga tahapan, yakni: (1) membentukgenogram; (2)
mengidentifikasi pekerjaan-pekerjaan yang ditunjukkan dalam genogram; dan (3)
mengeksplorasi individu-individu yang dinyatakan dalam genogram, dengan
memberikan catatan mengenai model-model peranan itu.
Berdasarkan pemaparan dari beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan
bahwa genogram adalah suatu model grafis yang menyimpan informasi tentang
anggota keluarga dan hubungan di antara mereka sepanjang tiga generasi.
3. Konstruk Genogram
Pada konstruk genogram terdapat sejumlah bentuk khusus/simbol yang
digunakan untuk menunjukkan posisi individu dan anggota keluarga serta
hubungan yang terjadi di antara mereka sepanjang tiga generasi. Posisi bentuk
tersebut secara khusus disebut dengan peta struktur(Mcgoldrick, et. al., 1999:
20).
Peta struktur tersusun dari beberapa simbol yang berbentuk kotak,
lingkaran, dan garis-garis. Adapun penjelasan darisimbol tersebut, yakni sebagai
berikut.
19
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Kotak menunjukkan pria, dan lingkaran wanita (Gambar 2.1). Untuk
membedakan penunjuk orang atau identified patient(IP) yang dijadikan konseli
dalam konstruk genogram, pada kotak atau lingkaran (tergantung gender konseli)
digunakan garis rangkap. Bagi anggota keluarga yang sudah meninggal diberi
tanda X di dalam kotak/lingkaran. Selain itu, terdapat garis yang menghubungkan
antar anggota dalam keluarga. Garis ini menunjukkan bahwa terdapat ikatan
biologis dan ipar di antara mereka. Dua orang yangtelah menikah ditunjukkan
dengan garis yang menurun/kebawah dan membentang kekiri atau kanan, dengan
posisi suami di sebelah kiri dan istri di sebelah kanan. Garis pernikahan akan
berubah jika terjadi perceraian (divorced) yaitu dengan menambahkan dua garis
yang memotong garis pernikahan.
Gambar 2.1
Contoh Genogram
20
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Gambar 2.2
Penjelasan Bentuk-Bentuk yang Digunakan dalam Genogram
Terdapat bentuk lain yang digunakan untuk menunjukkan anggota
keluarga dengan kondisi berbeda, seperti: kembar (twins), anak adopsi (adopted),
anak angkat (fraternal), dan wanita hamil (pregnancy). Adapun bentuk-bentuk
tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.3
Bentuk untuk Anak angkat, adopsi, kembar,
dan wanita hamil
Fraternal twins adopted pregnancy
21
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
B. Penggunaan Genogram dalam Konseling
1. Keragamanan
Pada konseling, genogram dapat dijadikan alat intervensi yang beragam.
Keragaman ini disesuaikan dengan kondisi konseli yang ditangani. Menurut
Magnuson dan Shaw (2003: 47-51), terdapat beberapa kegunaan genogram dalam
menangani permasalahan-permasalahan konseli, di antaranya meliputi
penggunaan genogram untuk: (a) Pra-nikah, (b) remaja, (c) karier, (d) hubungan
seksualitas dan permasalahan yang berkaitan dengannya, (e) menjelaskan secara
lengkap tentang dinamika gender, (f) menghilangkan kebiasaan mengkonsumsi
alkohol.
Adapun penjelasan dari setiap penggunaan genogram tersebut, yakni
sebagai berikut.
a. Genogram Pra-nikah
Menurut Wood dan Stroup (Magnuson dan Shaw, 2003: 47), penggunaan
genogram dalam konseling pra-nikah berfungsi untuk mengungkap secara lebih
luas mengenai silsilah keluarga dari pasangan, sehingga satu sama lain dapat
saling memahami dan mengidentifikasi tentang tradisi dominan, pola hubungan,
peran-peran gender, nilai-nilai, garis kekuatan dankewibaan, pengekspresian
emosi, strategi penyelesaian masalah, dan gaya pengambilan keputusan yang
terdapat dalam keluarga dari pasangan.
Dengan mengikutsertakan asal-usul keluarga dalam konseling pra-nikah,
pasangan yang dilanda masalah akan memperoleh petunjuk yang lebih spesifik
dalam menemukan solusi penyelesaiannya.
22
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
b. Genogram pada remaja
Nims (Magnuson and Shaw, 2003: 50), menggunakan genogram sebagai
alat konseling kelompok pada remaja untuk membangunidentitas ego melalui
proses penyamaan self-differentiationdengan resolusi tugas perkembangan.
Pada proses penyamaan Self-Differentiation, Nims memperkenalkan
prinsip-prinsip sistematik yang berhubungan dengan complexitykeluarga,
kedekatan dan jarak, peran keluarga, urutan kelahiran, dan potensi yang
mempengaruhi pengalaman keluarga.
c. Genogram dalam konseling karier
Penggunaan genogram dalam konseling karier mulai dipopulerkan oleh
Rae Wiemers Okiishi (Supriatna dan Ilfiandra, 2006:11), dalam tulisannya yang
berjudulThe Genogram as a Tool in Career Counseling dimuat dalam Journal of
Counselling and Development, Volume 66. Secara etimologis, genogram berarti
silsilah, yaitu gambar asal-usul keluarga konseli sebanyak tiga generasi.
Penggunaan teknik genogram dilandasi oleh asumsi bahwa ada pengaruh dari
orang lain yang berarti (significant other) terhadap individu dalam identifikasi
perencanaan dan pemilihan karier. Konselor atau pembimbing berupaya
mengidentifikasi orang yang berarti bagi diri konseli.
Pada dasarnya penggunaan genogram ini lebih merupakan teknik awal
untuk memasuki konseling karier, oleh karena itu pelaksanaannya pun bersifat
individual. Namun tidak menutup kemungkinan, wawancara genogram dapat
dipandang sebagai proses konseling karier manakala dalam wawancara tersebut
23
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
konselor (pembimbing) menerapkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik konseling
yang terfokus pada pemecahan masalah karier konseli(Supriatna dan Ilfiandra,
2006).
Lebih jauh Sueyoshi, et. al.(2001: 656) menyatakan bahwa genogram
sangat berguna dan efektif dalam wawancara konseling karier dengan berbagai
konseli yang memiliki keragaman budaya. Terdapat beberapa alasan yang
melatarbelakangi pendapat Sueyoshi, et. al. tersebut, yaitu genogram: (1)
menggambarkan pengaruh keluarga dan orangtua oleh karena itu tidak
menganggap bahwa keputusan karier dan gaya hidup hanya berorientasi pada
seorang individu saja; (2) dapat dilihat (visual) dan kurang mengandalkan
komunikasi verbal; (3) menunjukkan informasi secaraterstruktur dan terorganisir,
serta memberikan konseli sesuatu yang “konkrit” tentang informasi yang ada
dalam keluarga; dan (4) dapat berpotensi membuka perkembangan identitas
individu secara akulturasi dan rasial/minoritas.
Pada konseling karier, genogram ditujukan untuk memaparkan suatu
metode yang membantu konseli dalam wawancara yang bersuasana
menyenangkan, sehingga konseli dapat mengungkapkan dirinya dan beroleh
informasi yang memadai serta terorganisasi tentang aspirasi karier dan latar
belakang silsilah keluarganya sepanjang tiga generasi (Supriatna, 2009: 61).
Dalam wawancara genogram dapat dianalisis beberapa aspek yang
berkaitan dengan pengenalan diri dan lingkungan,khususnya dunia kerja. Hal-hal
yang dapat di analisis antara lain mengenai: (a) isi pengamatan diri konseli; (b)
pemahaman lingkungan atau dunia kerja; (c) proses pembuatan keputusan; (d)
24
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
model-model pola hidup; (e) model-model okupasional. Atas dasar analisis
tersebut, konselor dapat membantu konseli dalam membuat perencanaan karier di
masa depannya (Supriatna, 2009: 63).
Penerapan teknik genogram ditempuh dalam tiga tahap, yaitu: (1)
konstruksi genogram, (2) identifikasi jabatan, dan (3) eksplorasi konseli.
d. Genogram untuk mengungkap hubungan seksualitas dan
permasalahan yang berkaitan dengannya
Hof dan Berman (Magnuson dan Shaw, 2003: 47), menyatukan prinsip-prinsip yang ada dalam terapi seks dan keluarga untuk digunakan dalam sexual
genogram. Hal ini bertujuan untuk menguji keberadaan disfungsi seks pada
intergenerational keluarga yang kompleks.
e. Genogram untuk menjelaskan secara lengkap tentang dinamika
gender
White dan Tyson-Rawson (Magnuson and Shaw, 2003: 48), mengungkap
peran gender melalui genogram, secara spesifik pengungkapan tersebut disebut
dengan “gendergram”. Gendergram menjelaskan secara lengkap tentang etiologi
dasar dari gender.
Asumsi dari penggunaan genogram dalam mengungkap peran gender
(gendergram), yaitu sebagai berikut: (a) peristiwa yang salingberkaitan selama
masa kanak-kanak dan dewasa; (b) hubungan yang signifikan selama tingkat
25
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
kehidupan individu yang berbeda-beda; (c) peran, tema, dan pola-pola yang
muncul dalam keluarga.
f. Genogram untuk Menghilangkan Kebiasaan MengkonsumsiAlkohol
Synol (Magnuson and Shaw, 2003: 48), menganjurkan agar genogram
digunakan untuk membantu pasangan yang memiliki anggota keluarga seorang
alkoholik, sehingga mereka dapat mengetahui silsilah keluarga yang memiliki
permasalahan serupa. Namun yang ditekankan pada penggunaan genogram dalam
permasalahan ini bukanlah pada peminumnya melainkanpada sistem yang ada
dalam keluarga. Dengan melihat sistem tersebut, konseli dapat dibantu untuk
melakukan perubahan pada sistem yang ada dalam keluarganya sehingga pada
turunan berikutnya tidak akan terdapat anggota keluarga seorang alkoholik lagi.
2. Ilustrasi
Genogram dapat dilakukan secara individual maupun
berkelompok/klasikal. Berikut akan dipaparkan ilustrasi mengenai penggunaan
genogram secara individual oleh Sueyoshi, et. al. (2000: 662-668), terhadap dua
mahasiswa yang berada di salah satu universitas di New York, dan secara
klasikal/kelompok oleh Gibson terhadap para siswa di sekolah menengah.
a. Penggunaan Genogram Secara Individual
Ilustrasi penggunaan genogram sebagai alat konseling karier oleh
Sueyoshi, et. al. (2000: 662-668), terhadap dua mahasiswa dari salah satu
Universitas yang ada di New York. Kedua mahasiswa tersebut adalah Mike
26
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
seorang warga Amerika keturunan Cina dan Dave seorang warga Amerika
keturunan Albania
1) Kasus Mike
Mike adalah seorang pria berumur 22 tahun dan wargaAmerika keturunan
Cina. Dia juga merupakan mahasiswa dari salah satuuniversitas di New York.
Di universitas tersebut dia berkonsultasi pada seorang konselor yang juga warga
Amerika keturunan Jepang. Pada pembicaraanya dengan konselor dia
mengatakan bahwa saat ini tujuannya adalah memperoleh gelar maskapai dalam
ilmu teknik mesin dan kemudian memperoleh gelar sarjana muda pada ilmu
tersebut.
Berikut adalah percakapan antara Mike dengan konselor pada pertemuan
berikutnya.
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Terakhir kita bertemu, kamu berkata bahwa kamu ingin
meneruskan karier dalam bidang teknik mesin. Kamu
nampaknya yakin bahwa hal tersebut adalah apa yang ingin
kamu lakukan, tapi mengapa tidak kita gunakan beberapa
waktu hari ini untuk mengeksplorasi betapa teknik mesin
tersebut sangat menarik bagi kamu? Genogram merupakan
sebuah grafik yang menunjukkan sejarah keluarga. Ini dapat
digunakan untuk menjajaki berbagai karier, hubungan,
pengaruh, dan harapan-harapan yang ada dalam keluarga.
Maukah kamu mencoba genogram?
Ok
Baiklah, mari kita mulai dengan dirimu dan saudara-saudaramu. Kamu anak ke berapa dan dari berapa
bersaudara?
Baik, saya anak tertua. Saya memiliki dua adik perempuan di
bawah saya dan satu adik laki-laki yang paling kecil.
Dalam genogram kita menggunakan lingkaran untuk
menunjukkan seorang wanita dalam keluarga dan kotakuntuk
menunjukkan pria. Jadi, saya akan menempatkan kamu
sebagai kotak dan dengan diikuti dua lingkaran yang
menunjukkan kedua adik perempuanmu dan terakhir kotak
sebagai adik laki-lakimu, kemudian diurutkan dari yang tertua
27
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
hingga termuda. (gambar mike dan ketiga saudaranya
ditempatkan di halaman bawah sebuah kertas, mereka
berempat berada pada garis horizontal yang sama) apa adik-adikmu segera masuk sekolah? (karena adik-adiknya lebih
muda daripada Mike, maka perlu ditanyakan sekolahnya)
Ya, adik saya yang pertama kuliah di jurusan hospitality
management, adik saya yang kedua masih duduk di bangku
SMA, dan adik saya yang terakhir masih duduk di bangku
SMP.
Apakah adik-adikmu memiliki beberapa keinginan khusus
atau saat ini mereka berpikir tentang karier? (perlu diketahui
tentang ketertarikan saudara kandung terhadap karier
tertentu walaupun mereka masih muda)
Belum.
Ok, sekarang kita akan menuju pada kedua orangtuamu. Kita
mulai dengan ibumu. Dia anak ke berapa dari berapa
bersaudara? (gambar ibu, ayah, dan saudara-saudaranya
berada di atas Mike dan ketiga saudaranya pada bidang
horizontal yang sama)
Ibuku anak kedua dari tujuh bersaudara, lima perempuan dan
dua laki-laki.
Ok. Kita mulai dengan kakak perempuan ibumu. Apa yang
dia lakukan?
Dia pemilik salah satu toko di Panama.
Ok, seorang pemilik toko yang tinggal di Panama. Saya akan
menuliskan informasi ini di bawah lingkarannya. Selanjutnya
yang kedua? Apa yang dia lakukan dan di mana dia tinggal?
(pertanyaan tentang tempat tinggal diperlukan untuk
mengetahui posisi saudara ibunya yang mungkin tinggal di
luar United States atau Cina)
Yang kedua adalah ibuku dan dia tinggal di United Sates
(U.S.). dia seorang penjahit pakaian, tapi kadang-kadang suka
membantu bisnis ayah.
Ok, jadi ibumu seorang penjahit wanita atau orang yang
menjahit (membantu konseli sampai pada ketepatan dalam
memberikan gelar suatu pekerjaan) saya juga akan mencatat
bahwa dia membantu bisnis ayahmu. Apa bisnis ayahmu?
Ayahku pemilik toko dan restoran di Mexico. Dia tinggal
bersama kami tapi bepergian terus di antara dua tempat
(Panama, New York, Mexico… dari sini dapat terlihat bahwa
keluarganya terbentang secara geograpis)
Di Mexico? Ok, saya akan mencatatnya di sini, tapi kita akan
kembali pada ayahmu nanti. Selanjutnya siapa setelah ibumu?
Seorang adik perempuan di Panama yang memiliki sebuah
toko. Berikutnya adik laki-laki yang memiliki gas station dan
restoran di Mexico. Berikutnya adik perempuan yangtinggal
28
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
di Panama, tapi saya tidak yakin apa yang dia lakukan.
Berikutnya adik perempuan yang tinggal di U.S. danbekerja
di pabrik, dan terakhir, seorang adik laki-laki di Mexico yang
memiliki sebuah hotel dan restoran.
Ini sangat menarik. Dengan pengecualian kedua bibimu,
seorang pekerja pabrik, dan seorang bibi yang kamu tidak
yakin dengan apa yang dia lakukan, keluarga dari ibumu
adalah seorang pembisnis. (penting untuk menunjukkan
berbagai kesamaan dan pola yang ada dalam keluarga).
Ya, memang begitu. (Mike mulai menggambarkan pekerjaan
ayahnya sebaik pekerjaan saudara-saudara dari pihak
ayahnya, yang memiliki kesamaan sebagai seorang pemilik
atau yang membantu bisnis keluarga)
Bagaimana menurutmu hal ini dapat mempengaruhi
keputusanmu untuk mengejar karier dalam bidang teknik
mesin?
Sebenarnya, hal ini tidak berpengaruh. Saya tidak mendukung
atau berkecil hati dari membantu bisnis ayah. Sayahanya
tidak tertarik dengan bisnis. Sejak kecil, saya selalu tertarik
pada mesin, elektronik, dan komputer. Orangtua saya selalu
menekan anak-anaknya untuk melakukan yang terbaik di
sekolah, tetapi mereka tidak mengatakan apa-apa tentang
karier kami.
Jadi, mereka mendukung keputusan kariermu, apa pun
kemungkinannya?
Ya.
Itu bagus. Tradisi orang-orang asia terjadi lagi tentang anak
pertama dan harus menjaga pekerjaan keluarga atau suatu
perkerjaan yang dipilih oleh orangtua. Apakah ini sama bagi
saudaramu? (pertanyaan menantang dan membuka tingkat
penyesuaian orangtua- yaitu, Westernized, traditional Asian)
Ya. Mereka dapat melakukan apa yang mereka inginkanjuga.
Jadi, orangtuamu sangat terbuka dan Americanized.
Ya.
Kembali ke genogram, bagaimana dengan kakek-nenekmu?
Di mana mereka, dan apa yang mereka lakukan?
di Cina. Kakek-nenek dari ibuku adalah seorang petani.
Sekarang mereka tinggal di Mexico dengan salah satu
keluarga. Kakek dari ayah merupakan seorang pemilik toko,
dan nenek seorang ibu rumah tangga. Tetapi dia telah
meninggal, dan nenek sekarang tinggal di Panama dengan
salah satu keluarga.
Jadi, dari keseluruhan informasi yang ada dalam genogram
kita dapat melihat pola bisnis keluarga, yang sebenarnya
dimulai dari generasi kakekmu. Apakah kamu mengetahui
informasi tentang kakek-nenek moyangmu?
29
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Konselor :
Mike :
Tidak, saya tidak tahu apapun tentang mereka. (kebanyakan
orang dapat kembali pada tiga generasi sebelumnya, tetapi
mungkin akan kesulitan menuju ke sana).
Kelihatannya keluargamu sekarang kebanyakan berada di
Panama atau Mexico. Hanya ayah dan salah satu bibimu yang
tinggal di U.S. mengapa ini bisa terjadi?
Keluarga saya pada mulanya ada di Panama juga. Saya besar
dan tumbuh di sana selama sepuluh tahun. Kemudian kami
pindah ke U.S. dan ayah saya memindahkan bisnisnya ke
Mexico. Mengenai keluarga saya yang lain, mereka
memutuskan untuk imigrasi ke Panama atau Mexico setelah
ayah dan paman saya mendapatkan kesuksessan di kedua
tempat tersebut.
Apa ada alasan khusus mengapa Panama dan mexico?
Mereka hanya berpikir hal ini akan memudahkan mereka
mendapatkan kesuksesan di sana.
Jadi, setiap orang memulainya dari generasi orangtuamu. Dan
orangtuamu merupakan generasi pertama para imigram cina?
Ya, saya kira anda bisa mengatakan itu. Tetapi sebenarnya
saya melihat diri saya sebagai orang spanyol bukan orang cina
atau amerika. Walaupun saya lahir di Cina dan tinggal di
U.S., saya besar dan tumbuh di Panama, jadi saya merasa
sangat dekat dengan budaya di sana daripada budaya Amerika
atau Cina.
Hal itu bisa dimengerti. Tapi kedengarannya kamu lebih
triculturural. (pernyataan ini dapat membantu konseli
mengakui dan memeluk tiga budaya)
Tricultural, seperti tiga budaya? Panggilan yang cukup
menarik. Saya suka.
Selanjutnya, konselor mengeksplorasi tiga budaya yang ada pada Mike
yakni Panama-Cina-Amerika yang diidentifikasi terhadap dirinya, meliputi
identitas visible (Asian Chinese) versus invisible(Panamian), dengan kata lain
dapat diartikan sebagai bagaimana “yang lain” menetapkan Mike dengan Mike
menetapkan dirinya sendiri atau “harapan” untuk menetapkan dirinya. Konselor
menempatkan hubungan antara identitas dan bahasa (merasa lebih seperti orang
Panama ketika berbicara bahasa Spanyol), aspek-aspek situasi yang ada pada
bahasa dan identitas (bahasa Inggris di sekolah, bahasa Cina di rumah, bahasa
30
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Spanyol ketika bersama teman), dan hubungan antara identitas dan agama
(orangtua Mike beragama Buddha dan Shinto, sedangkan Mike Kristen, yakni
agama yang konsisten dengan budaya hispanic). Selanjutnya diskusi tentang
sejarah pendidikan keluarga. Tingkat pendidikan tertinggi di keluarga Mike
adalah SMA dan pertama kali dimulai pada generasi orangtuanya, pada generasi
Mike (dirinya, adiknya, dan sepupunya) menjadi generasi pertama yang masuk
bangku kuliah.
Gambar genogram dari hasil wawancara konselor dengan Mike disajikan
pada gambar 2.4. berikut.
Pemilik
toko dan
Kakek
Pemilik toko
Nenek
Ibu RT Sekarang
ada di Panama
Kakek
Petani sekarang
ada di mexico
Nenek
Petani/ibu RT
sekarang ada di
mexico
31
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
2) Kasus Dave
Mainland China
Keterangan :
Wanita
Pria
Meninggal
H.L.E : High Level of
Education
Gambar 2.4
Genogram keluarga Mike
32
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Dave adalah seorang pria berumur 19 tahun dan wargaAmerika keturunan
Albania. Dia juga merupakan mahasiswa di universitas yang sama dengan Mike.
Dia ditunjuk untuk mempertimbangkan akademiknya danmelakukan konseling
pribadi. Dave telah bertemu konselor beberapa minggu dan pada pertemuan
tersebut dia terkesan kurang yakin dengan jurusan yang dimasukinya dan juga
mengenai tujuan kariernya.
Berikut adalah percakapan antara Mike dengan konselor pada pertemuan
berikutnya.
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Beberapa waktu lalu ketika kita bertemu, kamu memiliki
ketidakpastian dalam tujuan karier atau ketertarikan terhadap
itu. Maukah kamu mencoba sebuah latihan yang di dalamnya
dapat mengeksplorasi sejarah karier keluarga. Mungkin keragu-raguanmu itu berhubungan dengan hal ini. Ini juga dapat
membantu saya dalam memahami bagaimana kamu
memandang dunia pekerjaan. Pada latihan ini kita perlu
membentuk suatu genogram. Tahukah apa genogram?
Tidak, apa genogram?
Genogram serupa dengan pohon keluarga, di mana kita
memetakan keluargamu, baik itu keluarga inti maupunyang
lebih luas, dan juga karier mereka. (menginformasikan pada
konseli tentang perlunya membentuk genogram).
Ya, saya tahu pohon keluarga, tapi saya belum pernah
membuatnya.
Maukah kamu membuat genogram bersama-sama?
Baiklah.
Ok, kita mulai dengan kakek-nenekmu, atau keluarga terjauh
yang dapat kamu ingat dari pihak ibumu. Mereka aslimana, dan
apa yang mereka lakukan?
Sejauh ini saya hanya tahu mengenai kakek-nenek. Nenek saya
orang jerman, dia imigrasi ke U.S. Kakek saya orangamerika,
tapi saya tidak ingat apa yang dia lakukan. Saya hanya tahu
kalau kakek seorang alkoholik dan meninggal karena kanker
paru-paru. Dan saya pun tahu kalau dia punya istritapi bukan
nenekku.
Maksudmu nenekmu itu merupakan istri kedua atau kekasih
kakekmu? (penting untuk mengklarifikasi hubungan yang ada
dalam keluarga, menyimpan peristiwa penting secara
emosional dalam pikiran dapat menimbulkan daya tahan atau
33
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
reaksi yang kuat. Beberapa tingkat kepercayaan dan
pemahaman, seperti keterbukaan di antara Dave dan konselor,
mungkin juga dibutuhkan ketika menanyakan pertanyaan-pertanyaan langsung atau pribadi).
Mungkin. Mereka pasangan yang aneh.
Tahukah kamu apa yang nenekmu lakukan?
Tidak. Saya tidak tahu. Saya hanya tahu kalau sekarang dia
bekerja di toko bahan makanan. Apakah semua orang benar-benar tahu tentang bahan itu? Saya tidak pernah memikirkan
hal ini sebelumnya. Pada kenyataanya saya tahu kakek saya
tidak ada apa-apanya.
Baik, terdapat beberapa yang kamu ketahui dan tidaktentang
keluargamu. Tidak ada orang yang harus mengetahui
semuanya, tetapi sedikit apapun informasi yang kamuberikan
akan sangat membantu. (menormalkan pengalaman dan
membiarkan konseli mengetahui bahwa dia tidak perlu
mengetahui semua tentang keluarganya) disamping itu, kamu
dapat kembali dan merubah atau memilih celahnya nanti. Saya
akan memberikan salinan genogram ini padamu nanti, jadi
kamu tidak perlu mengingat atau merekamnya sekarang.
(genogram sebagai sebuah “hadiah” yang nyata dari konselor
pada konseli) bagaimana dengan kakek-nenek dari pihak ayah?
Mereka berdua berasal dari Albania dan berimigrasi ke U.S.
Kakek saya bekerja di restoran, dan dia memiliki banyak uang
di Albania, tapi tidak ada di U.S. Nenek saya seorang ibu
rumah tangga. Termasuk ayah saya, mereka memiliki enam
anak. Saya harap saya dapat mengetahui lebih jauh tentang
budaya Albania yang ada pada diri saya, tapi saya tidak tahu.
Saya bahkan tidak menggunakan bahasanya. Dan sangat sulit
bagi saya untuk mencari lebih jauh tentang budaya Albania
karena kakek-nenek telah meninggal. Hanya nenek dari pihak
ibu yang masih hidup. Terdapat ayah saya, adik perempuan
dan laki-lakinya.
Ya, siapa mereka dan apa yang mereka lakukan?
Ayah saya adalah anak pertama dari enam bersaudara.Dia
adalah seorang desainer tetapi sekarang sudah tidakmampu
lagi. Kemudian adik laki-lakinya seorang mekanis kapal
terbang, tadinya dia tentara, sekarang bekerja untuk pemerintah
pusat. Berikutnya adik laki-laki yang berada di rumah sakit
jiwa dan saya hanya melihat dia sekali. Tidak ada orang yang
membicarakan tentang dirinya, hal ini seperti rahasia besar.
Selanjutnya terdapat tiga bibi yang menjadi ibu rumah tangga,
walaupun satu bibi bekerja sebagai seorang pustakawan dan
yang lainnya penjual eceran paruh waktu.
Baru-baru ini kamu mengatakan tertarik pada psikologi dan
mungkin akan berkarier pada ranah tersebut. Menurutmu
34
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
apakah dengan memiliki paman di rumah sakit jiwa maka perlu
ada sesuatu yang perlu dilakukan dengan hal tersebut? (catatan
sejarah pekerjaan/pengangguran dan masalah psikologi juga
medis dalam keluarga dapat digunakan untuk bertanyatentang
kemungkinan hubungannya).
Tidak, saya meragukannya.
Ok. Bagaimana tentang paman ipar, suami bibimu? (penting
menanyakan tentang keluarga yang tidak sedarah)
Salah satu dari mereka adalah kepala sekolah, satunya tidak
banyak diceritakan, dan yang satu lagi saya tidak tahu.
Genogram ini menjadi lambat, apakah kita hampir selesai?
Ya, kita hampir selesai. Saya memiliki sedikit pertanyaan
tentang keluarga dari pihak ibumu, dirimu dan saudara-saudaramu. Adakah sesuatu yang membuatmu kurang jelas
atau terganggu tentang hal ini, atau ada sesuatu yang ingin
kamu ungkapkan? (bertanya dan mengklarifikasi apa yang
benar-benar diperhatikan konseli: perasaan ketika latihan
genogram berlangsung atau harapan konseli untuk
mendiskusikan hal lain).
Tidak, saya akan melanjutkan genogram ini kalau memang
sebentar lagi. Saya hanya tidak tahu ini akan kemana.
Itu wajar. Saya tahu mungkin sekarang tidak jelas,tapi saat kita
mengetahui keseluruhannya hal ini akan berguna. Saya berjanji
akan memenuhi dan menjawab apa pun pertanyaanmu nanti.
(diketahuinya proses tersebut dapat memunculkan keambiguan
tetapi semuanya akan diklarifikasi nanti). Ok, bisakah kita
memproses genogram ini?
Ya.
Dapatkah kamu memberitahu saya tentang keluarga dari pihak
ibumu.
Ya, di pihak ibu saya, terdapat ibu saya dan kedua paman saya.
Ibu saya adalah ibu rumah tangga tapi sekarang dia bekerja di
toko bahan makanan. Adiknya yang satu memiliki penyakit
leukemia dan cacat, dan adik satunya lagi adalah seorang
pekerja fisik.
Adakah sepupu atau orang di luar keluarga yang sangat
mempengaruhimu? (penting untuk menanyakan tentang orang
yang berpengaruh terhadap konseli- seperti guru, teman,
tetangga, pendeta).
Tidak, tidak juga. Maksud saya, semua sepupu saya masih
kecil, tapi saya punya pasangan dan dua kakak laki-laki, D and
A, yang sangat saya kagumi dan hormati. Tidak pura-pura
seperti orang lain. Mereka tidak perduli dengan pikiran orang
lain dan melakukan apa yang mereka inginkan. Dan pacar saya
Susan dia sangat pintar, mahasiswa pekerja keras yang kuliah di
universitas lain.
35
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Dave :
Konselor :
Ada lagi orang lain, atau seseorang yang lebih tua darimu dan
yang kau anggap sebagai panutan?
Tidak, aku tidak bisa memikirkan orang lain.
Terakhir kita akan menuju padamu dan saudara-saudaramu.
Kamu anak ke berapa dari berapa bersaudara?
Saya anak kedua dari enam bersaudara.
Kita mulai dengan kakakmu, apakah dia perempuan atau laki-laki, dan apa yang dia lakukan?
Dia perempuan dan dia bekerja sebagai resepsionis di fitness
club.
Kemudian dirimu…
Ya, berikutnya saya, dan sekarang saya di sini. Kemudian ada
dua adik laki-laki setelah saya, D dan A. kemudiansatu adik
perempuan, E, dan satu adik laki-laki, D. mereka semua masih
sekolah, tetapi hanya saya yang duduk di bangku kuliah.
Apakah mereka tahu apa yang mereka inginkan atau lakukan di
masa depan?
Adik saya D, dia ingin menjadi seorang ahli mekanik. Dia
selalu tahu dia ingin menjadi seorang mekanik, itulah yang dia
tanamkan dari sekarang. Saya juga berharap dapat seperti itu.
Jadi, impian karier seperti apa yang kamu miliki saat masih
kecil?
Suatu waktu saya ingin menjadi pilot pesawat tempur. Tapi juga
saya ingin menjadi pembalap mobil, seorang detektif, dan juga
arkeolog. Tetapi itu semua hanya pemikiran fantasianak kecil.
Apakah saya menjadi salah satu di antaranya? Tidak.Bahkan
ayah saya ingin menjadi pilot, tetapi ayahnya tidak
mengijinkan.
Jadi, mungkin bukan berarti tidak ada keinginan tetapi tidak ada
dukungan.
Mungkin, saya sangat bingung, saya bahkan tidak tahu apa yang
harus saya lakukan besok.
Ini bukanlah proses yang mudah, dan ini akan memakan
beberapa waktu sebelum kamu menemukan apa yang benar-benar ingin kamu lakukan. Yang terpenting adalah kamu
memulai perjalanannya sekarang. Lihat genogrammu, adakah
keluarga atau karier mereka yang sesuai dengan dirimu?
Tidak ada di antara mereka yang dapat dikatakan “karier” atau
karier yang menarik perhatian saya.
Itu merupakan salah satu cara untuk memandangnya. Hal ini
terlihat bahwa kamu benar-benar tidak memiliki seseorang yang
dekat atau jauh dari pihak keluarga yang sesuai dengan karier
yang kamu inginkan, apakah itu panutan, dukungan, atau hanya
pencerahan pada karier yang berbeda. Ini akan menjelaskan
mengapa kamu tidak bisa memutuskan jurusan yang akan kamu
ambil dan juga tujuan kariermu. (membantu memvalidkan dan
36
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Dave :
melengkapi kepastian konseli terhadap ketiadaan panutan,
dukungan, pencerahan pada karier). Tidak semua orang
memerlukan panutan dan dukungan tetapi hal ini akanmenjadi
sulit tanpa itu semua. Beruntung, kamu memiliki teman-teman
yang baik dan saudara laki-laki yang dapat diajak bertukar
pikiran. Saya pikir ini akan membantu kita pada pertemuan
berikutnya untuk mengeksplorasi berbagai karier yang
membuatmu tertarik saat masih kecil dan lihat apa yang
membuat hal tersebut menarik perhatianmu dan kemungkinan
di antaranya yang dapat kamu capai. Dan jika kamu mau, saya
akan mengatur jadwal untukmu mengisi careers interest
inventory, yang dapat mengukur ketertarikan terhadap salah
satu jenis pekerjaan dan lingkungan pekerjaan yang berbeda,
dan kita dapat melihat apa yang muncul dari sana. Bagaimana
menurutmu?
Saya bisa melakukannya.
Gambar genogram dari hasil wawancara konselor dengan Dave disajikan
pada gambar 2.5. berikut.
? ?
Nenek
Dari Jerman
imigrasi ke
Menikah?
?
Kakek
Warga
amerika
Nenek
Orang
Albania
Kakek
Orang Albania
imigrasi ke
37
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
b. Penggunaan Genogram Secara Klasikal/Kelompok
Keterangan :
Wanita
Pria
Meninggal
Gambar 2.5
Genogram Dave
38
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Penggunaan genogram secara klasikal dilakukan oleh Gibson (2005),
terhadap para siswa yang berada di sekolah menengah. Hal ini dikarenakan pada
saat sekolah menengah, siswa mulai terlibat pada penilaian yang lebih formal
terhadap minat, dan bakat yang mereka miliki (online).
Pada penggunaan genogram secara klasikal, guru ataukonselor perlu
memberikan penjelasan tentang bentuk-bentuk dan garis-garis yang akan
digunakan. Instruksi yang diberikan dapat seperti berikut ini.
Hari ini, setiap orang akan menggambarkan secara visual tentang keluarga
masing-masing. Gambar ini disebut genogram (memberikan contoh
gambar genogram). Pada genogram, kotak menunjukkanseorang pria
dalam keluarga, dan lingkaran menunjukkan seorang wanita, dan terdapat
garis yang menunjukkan tipe-tipe hubungan di antarasatu anggota dengan
anggota keluarga yang lainnya. Pertama-tama, kita akan mengambarkan
posisi kalian dan adik/kakak kalian pada genogram. Dimulai dengan
menempatkan anak pertama pada halaman kiri bawah. Kemudian
dilanjutkan dengan anak ke dua dan seterusnya, darikiri ke kanan (tertua
ke termuda).
Setelah pemberian instruksi tersebut, selanjutnya konselor atau guru
menunjukkan cara membuat genogram.
Selanjutnya, gambarkan dan tempatkan ayahmu juga kakak/adiknya pada
halaman kiri bawah di atasmu dan kakak/adikmu.
Ingat, posisikan mereka dari kiri ke kanan, dari yang tertua ke termuda.
Kamu akan melakukan hal yang serupa pada ibumu dan kakak/adiknya.
Perubahan instruksi dapat terjadi pada siswa yang single-parentatau
berada di tempat penampungan atau juga yang tinggaldengan wali. Maksud dari
penggunaan genogram ini adalah untuk menguji hubungan yang ada dalam
pekerjaan dan keputusan pendidikan.
Selain itu, lebih luas lagi penugasan ini dapat mendorong siswa untuk
bertanya pada orangtuanya tentang “mengapa” orangtuanya memilih suatu
39
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
pendidikan atau karier tertentu, “apa” yang mempengaruhi keputusan mereka
tersebut, dan “kapan” mereka membuat keputusan itu.
Untuk mendukung pemahaman siswa mengenai dunia pekerjaan dan
pendidikan konselor atau guru perlu memberikan materi tambahan mengenai hal
tersebut agar siswa mampu mengeksplorasi sejarah pendidikan dan pekerjaan
yang ada dalam keluarga mereka, misalnya dengan memberikan informasi tentang
alamat website, buku-buku, atau hal lainnya yang berkaitan denganpekerjaan dan
pendidikan.
C. Tahapan Genogram dalam Konseling Karier
Menurut Gibson (2005), terdapat empat tahapan yang harus ditempuh
dalam membentuk genogram, di antaranya: (1) konselor memberikan penjelasan
kepada siswa tentang cara membuat genogram. Pada tahap ini konselor juga
menjelaskan tentang bentuk dan garis yang digunakandalam genogram dan
selanjutnya konselor memberikan tugas rumah kepada siswa berupa beberapa
pertanyaan terkait dengan tipe-tipe pekerjaan, hobi, pendidikan dan alasan
pemilihan karier yang ditujukan pada anggota keluarga mereka; (2) Siswa diminta
untuk bertanya kepada orangtuanya tentang alasan “mengapa” orangtuanya
memilih pendidikan dan jenjang karier tertentu, faktor “apa” yang mempengaruhi
keputusan mereka, “siapa” yang mempengaruhi keputusan mereka, dan “kapan”
mereka membuat keputusan; (3) konselor sekolah membantu siswa
mengeksplorasi sejarah pendidikan dan pekerjaan keluarga mereka. Pada tahap
ini konselor juga memberikan informasi karier kepada siswa terkait pendidikan
40
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
dan pekerjaan yang ada dalam keluarga mereka melalui berbagai media yang ada
seperti pemberian alamat situs web, dan buku; dan (4) konselor dapat melakukan
proses perluasan genogram karier secara individual maupun kelompok kecil
dengan siswa (online).
Okiishi (Supriatna, 2009: 64), dalam wawancara konseling kariernya
dengan menggunakan genogram, menunjukkan bahwa terdapat tiga tahapan yang
harus ditempuh dalam pembentukkan genogram, yaitu: (1) konstruksi genogram;
(2) identifikasi jabatan; dan (3) eksplorasi konseli.
1. Konstruksi genogram
Proses ini merupakan tahap pertama untuk memetakan/membuat gambar
silsilah atau asal-usul keluarga konseli sebanyak tiga generasi, yaitu generasi
konseli, generasi orangtua konseli dan generasi kakek nenek konseli. Seluruh
angota keluarga dari ketiga generasi yang diketahuioleh konseli dibuat
gambarnya; konselor membuat gambar tersebut bersama-sama dengan konseli.
Gambar tersebut hendaknya memberi penjelasan hal-hal penting berkenaan
dengan silsilah dari ketiga generasi konseli, dengan mencantumkan tanda atau
simbol tertentu yang dapat dipahami oleh guru pembimbing dan konseli
(Supriatna dan Ilfiandra, 2006: 11-12).
2. Identifikasi jabatan
41
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
Pada tahap ini guru pembimbing bersama konseli berupaya menelusuri
bidang-bidang pekerjaan/jabatan yang ada pada anggota keluarga dari tiga
generasi itu, termasuk usaha yang ditempuh untuk memperoleh pekerjaan/jabatan,
tingkat keberhasilan, dan konsekuensinya dalam segala aspek kehidupan yang
bersangkutan (Supriatna dan Ilfiandra, 2006: 12).
3. Eksplorasi konseli
Tahap ini memfokuskan kajian terhadap diri konseli agar memperoleh
pemahaman diri dan lingkungan serta dapat merencanakan kariernya. Oleh karena
itu, hal-hal yang perlu dianalisis selama wawancaragenogram adalah: (1) isi
pengamatan diri konseli; (2) pemahaman lingkungan/dunia kerja; (3) proses
pembuatan keputusan; model-model pola hidup; dan (5) model-model
okupasional. Sedangkan yang perlu didiskusikan olehguru pembimbing dengan
siswa adalah: (1) keberhasilan-keberhasilan anggotakeluarga; (2) mobilitas
anggota keluarga; (3) pengelolaan waktu; dan (4) integritas diri (Supriatna dan
Ilfiandra, 2006: 12).
Sejalan dengan pendapat di atas, Surya (1988: 52) menyatakan bahwa
terdapat sedikitnya tiga tahapan penggunaan genogram dalam konseling karier,
yakni (1) tahapan pertama adalah konselor membentukgenogram berdasarkan
informasi dan arahan dari konseli, (2) konselor bersama konseli mencatat
pekerjaan-pekerjaan individu-individu tertentu yangditunjukan dalam genogram,
(3) konselor bersama konseli mengeksplorasi individu-individu yang dinyatakan
42
Rima Irmayanti, 2011
Penggunaan Genogram untuk Mengembangkan …
Universitas Pendidikan Indonesia |repository.upi.edu
dalam genogram, dengan memberikan catatan mengenai model-model peranan
itu.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga tahapan yang
harus dilalui dalam membentuk genogram, yakni (1) konstruksi genogram; (2)
identifikasi pendidikan dan pekerjaan; dan (3) eksplorasi konseli.

01/01/2013 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | 1 Komentar

PROSES BLANCHING PADA INDUSTRI PANGAN

  1. 1.      Landasan Teori

1.1  Definisi Blanching

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita menemui bahan pangan nabati seperti buah dan sayur dalam bentuk produk beku, kering atau kalengan. Bentuk olahan-olahan tersebut disukai karena selain dapat memperpanjang umur penyimpanan bahan, proses produksinya juga dipermudah karena akan  mempersingkat waktu pengolahan bahan tersebut menjadi produk akhir. Selama proses pembekuan, pengeringan, pengalengan maupun selama proses penyimpanannya, bahan pangan tersebut dapat mengalami penurunan mutu dan nutrisi, sehingga dibutuhkan suatu proses pemanasan awal yang dikenal dengan istilah blanching. Blanching adalah proses perlakuan pemanasan awal yang biasanya dilakukan pada bahan nabati segar sebelum mengalami proses pembekuan, pengeringan atau pengalengan.

 

1.2  Metode Blanching

Proses blanching dilakukan dengan memanaskan bahan pangan pada suhu kurang dari 100oC dengan menggunakan air panas atau uap air panas. Contoh proses blanching yaitu mencelupkan sayuran atau buah di dalam air mendidih selama 3 sampai 5 menit atau mengukusnya selama 3 sampai 5 menit.

Setelah dilakukan proses pemanasan bahan pangan, biasanya dilanjutkan dengan proses pendinginan yang bertujuan untuk mencegah pelunakan jaringan yang berlebihan sekaligus dan sebagai proses pencucian setelah blanching. Proses pendinginan dilakukan segera setelah proses blanching selesai. Bahan dibenamkan ke dalam air es selama beberapa waktu, biasanya lamanya waktu untuk proses pendinginan sama dengan lama waktu yang digunakan untuk blanching. Waktu pendinginan ini tidak boleh terlalu lama, karena dapat menyebabkan meningkatnya kehilangan komponen larut air karena lisis kedalam air pendingin. Untuk meminimalkan kehilangan komponen larut air karena lisis kedalam air pendingin, maka proses pendinginan dapat dilakukan dengan menggunakan udara dingin sebagai media pendinginnya.

Setiap bahan pangan memiliki waktu proses blanching yang berbeda-beda untuk inaktivasi enzim, tergantung pada jenis bahan tersebut, metode blanching yang digunakan, ukuran bahan dan suhu media pemanas yang digunakan. Pada Tabel dibawah ini dapat dilihat lama waktu blanching dari beberapa jenis bahan pangan :

Sayuran (dalam air suhu 100oC)

Waktu blanching (menit)

Brokoli

2-3

Jagung

2-3

Bayam

12

Beet ukuran kecil, utuh

3-5

Beet dipotong dadu

3

Idealnya, lama waktu yang diperlukan untuk proses blanching adalah pas tidak terlalu lama atau terlalu sebentar. Proses blanching yang berlebihan akan menyebabkan produk menjadi matang, kehilangan flavor, warna, dan nutrisi-nutrisi penting yang terkandung didalamnya karena komponen-komponen tersebut dapat rusak dan terlarut kedalam media pemanas (pada proses blanching dengan air panas atau steam).

Sebaliknya, waktu blanching yang terlalu sebentar akan mendorong meningkatnya aktivitas enzim perusak dan menyebabkan kerusakan mutu produk yang lebih besar dibandingkan dengan yang tidak mengalami proses blanching.

Proses blanching salah satunya bertujuan untuk menjaga mutu produk, dengan cara menonaktifkan enzim alami yang terdapat pada bahan pangan. Enzim tersebut di nonaktifkan karena dapat mengganggu kualitas pangan saat dilakukan proses pengolahan selanjutnya.  Contohnya ialah enzim polifenolase yang menimbulkan pencoklatan pada bahan pangan buah-buahan.  Tujuan blanching bervariasi dan bergantung pada proses pengolahan yang akan dilakukan.

Dalam proses blanching buah dan sayuran, terdapat dua jenis enzim yang tahan panas, yaitu enzim katalase dan peroksidase. Kedua enzim ini memerlukan pemanasan yang lebih tinggi untuk menginaktifkannya dibandingkan enzim-enzim yang lain. Baik enzim katalase maupun peroksidase tidak menyebabkan kerusakan pada buah dan sayuran. Namun karena sifat ketahanan panasnya yang tinggi, enzim katalase dan peroksidase sering digunakan sebagai enzim indikator bagi kecukupan proses blanching. Artinya, apabila tidak ada lagi aktivitas enzim katalase atau peroksidase pada buah dan sayuran yang telah di blanching, maka enzim-enzim lain yang tidak diinginkan pun telah terinaktivasi dengan baik.

  1. 2.      Fungsi Alat

Sayuran hijau yang diberi perlakuan blanching sebelum dibekukan atau dikeringkan mutu wama hijaunya lebih baik dibandingkan dengan sayuran yang tidak di blanching terlebih dahulu. Dalam pengalengan sayuran dan buah-buahan, blanching dapat menghilangkan gas dari dalam jaringan tanaman, melayukan jaringan tanaman agar dapat masuk dalam jumlah banyak dalam kaleng, menghilangkan lendir dan memperbaiki warna produk. Alat yang digunakan untuk proses blanching adalah blancher dimana proses yang terjadi bertujuan untuk:

  • Menonaktifkan enzim alami yang terdapat pada bahan pangan.
  • Membunuh sebagian jasad renik yang terdapat pada bahan pangan.
  • Mematikan jaringan-jaringan bahan.
  • Menghilangkan kotoran yang melekat pada sayuran.
  • Menghilangkan zat-zat penyebab lendir pada sayuran.
  • Mengeluarkan gas-gas, termasuk O2 dalam jaringan buah atau sayuran.
  • Mempertahankan mutu sensorik dan nutrisi dari buah dan sayur.

Pada proses blanching prinsipnya adalah melewatkan bahan pangan menuju uap pemanas dan media pendingin (dapat berupa udara atau air). Proses blanching dalam skala industri dilakukan pada Rotary Drum Steam Blancher. Ini merupakan suatu alat dimana proses blanching berupa pemanasan dan pendinginannya dilangsungkan dalam suatu drum yang berputar. Proses pemanasan di dalam alat umumnya dilakukan pada suhu 70-80oC bergantung pada jenis bahan pangan dan menggunakan uap jenuh. Sementara untuk proses pendinginan dipilih menggunakan media pendingin berupa air kondensat.

 

  1. 3.      Jenis dan Gambar Alat

Kapasitas dari alat ini mencapai 1000 hingga 50.000 PPH (Pounds per Hour), tergantung dari waktu tinggal bahan pangan dan jenis bahan pangan itu sendiri. Rotary Drum Steam Blancher efisien dalam penghematan energi dan mudah dalam proses pembersihannya. Recovery di akhir proses dapat mencapai 3%. Energi yang dikonsumsi oleh steam blancher kurang lebih setengah dari konsumsi energi water blancher. Alat ini juga praktis karena pemanasan dan penginginan berlangsung dalam satu alat sehingga bisa mengingkatkan efisiensi dan efektivitas dari proses produksi bahan pangan.

  1. 4.      Contoh Produk

Di industri jasa boga, buah dan sayur segar yang telah mengalami perlakuan perlukaan (misalnya dikupas, diiris atau dirajang) kadang-kadang tidak langsung diolah karena berbagai faktor. Bahan yang mengalami perlukaan ketika kontak dengan udara akan mengalami kerusakan warna, flavor dan tekstur karena aktivitas enzim. Proses blanching dilakukan untuk inaktivasi enzim dan mencegah terjadinya kerusakan tersebut. Blanching juga bisa dilakukan untuk mempermudah proses pengupasan. Panas karena blanching akan melunakkan kulit bahan sehingga mempermudah proses pelepasan kulit bahan.

Proses blanching juga membantu membersihkan bahan dan mengurangi jumlah mikroba awal, terutama yang ada di permukaan bahan. Pada sayuran daun, proses blanching dapat mereduksi jumlah bakteri mesofilik lebih dari 103 koloni/gram, tanpa menambahkan perlakuan kimiawi. Untuk alasan ini, maka proses blanching terkadang juga digunakan sebagai alternatif pengawetan untuk produk buah dan sayur diolah minimal (contohnya salad buah dan sayur; dan fresh cut product) yang dikemas dalam kemasan vakum dengan lama penyimpanan lebih dari 10 hari dan kondisi suhu ruang penyimpanan tidak stabil di suhu dingin (kurang dari 4oC).

Blanching yang dilakukan pada proses pengalengan, ditujukan untuk mengeluarkan udara dari dalam jaringan bahan dan meningkatkan suhu bahan (pemanasan awal). Pengeluaran udara dari jaringan dan pemanasan awal sebelum pengisian kedalam kaleng menjadi tujuan utama karena sangat berpengaruh pada penurunan kadar oksigen (pembentukan kondisi vakum) di dalam wadah. Keberadaan oksigen dalam produk kaleng tidak dikehendaki karena akan mempercepat proses kerusakan dan memperpendek umur simpan produk. Selain itu, blanching pada proses pengalengan juga bertujuan untuk melunakkan jaringan bahan sehingga mempermudah proses pengemasan (pengisian).

Pada proses pengalengan, inaktivasi enzim tidaklah menjadi tujuan utama. Pada beberapa kasus pengalengan, blanching bertujuan untuk mengaktivasi kerja enzim. Dalam kasus ini, aplikasi panas selama pengalengan menyebabkan lapisan epidermis bahan menjadi rusak dan tekstur berubah menjadi lembek. Blanching yang dilakukan pada suhu rendah dan waktu yang panjang dapat mencegah terjadinya pelunakan tekstur karena meningkatkan aktivitas enzim pektin metil esterase, enzim yang mengubah karakteristik biokimiawi dinding sel dan lamella tengah dari jaringan nabati menjadi lebih mudah membentuk kompleks dengan kalsium yang mencegah pelunakan tekstur.

Blanching untuk sayuran biasanya dilakukan dengan menggunakan air panas atau steam sementara blanching buah dilakukan dengan menggunakan larutan kalsium. Penggunaan larutan kalsium, bertujuan untuk mempertahankan tekstur buah melalui pembentukan kalsium pektat. Pengental seperti pektin, karboksimetil selulose dan alginat juga dapat digunakan untuk membantu mempertahankan tekstur buah agar tetap segar setelah proses blanching.

Contoh aplikasi blanching pada saat memasak sayur mayur adalah sayur yang sudah dibersihkan dimasukkan ke dalam air yang mendidih, direbus hingga berubah warna menjadi warna yang diinginkan lalu diangkat dan langsung dicelupkan ke dalam air dingin, umumnya air es. Tujuan proses blanching pada persoalan di atas adalah untuk mendapatkan kematangan yang diinginkan. Pencelupan sayur ke dalam air dingin bertujuan untuk menghentikan proses pematangan, karena seperti yang diketahui, ketika sayur diangkat dan masih dalam keadaan panas maka proses pematangan masih tetap berlangsung.

Hal ini dapat menyebabkan sayuran berwarna terlalu coklat atau terlalu matang. Selain untuk mencapai tingkat kematangan tertentu, proses ini bertujuan untuk mendapatkan tekstur tertentu dari suatu sayuran. Tekstur yang diinginkan mungkin agak lunak atau lebih renyah, ini tergantung kepada teknik memasak. Tujuan lain dari proses ini adalah untuk menghilangkan potensi berkecambah dari biji- bijian. Hal ini merupakan salah satu proses pengawetan.

  1. Pengganti Bleaching

Blanching dengan air panas tidak selalu diinginkan, terutama pada buah potong yang akan dimakan dalam bentuk segar dan buah beku yang akan dikonsumsi dalam bentuk segar (tanpa pemasakan) setelah proses thawing. Pada buah potong yang akan dikonsumsi dalam bentuk segar, proses blanching dapat menyebabkan perubahan karakteristik sensorik ‘khas buah segar’-nya. Sementara pada buah beku, kerusakan panas yang terjadi selama blanching pada beberapa jenis buah menyebabkan perubahan flavor dan tekstur buah (tekstur menjadi porous seperti gabus) setelah dithawing. Kondisi ini menyebabkan buah menjadi tidak layak untuk dikonsumsi segar. Untuk kasus seperti ini, maka digunakan metode alternatif lain untuk menghambat perubahan enzimatis terutama reaksi pencoklatan.

Beberapa metode yang bisa digunakan sebagai pengganti blanching pada pembuatan buah beku adalah inaktivasi enzimatis secara kimia, menghindarkan kontak dengan oksigen (misalnya dengan mengemas buah dalam larutan gula) dan perendaman dalam larutan yang mengandung anti oksidan (misalnya asam askorbat).

Contoh lain proses blanching diterapkan pada buah- buahan. Proses blanching ini bertujuan untuk mencegah terbentuknya warna coklat pada buah- buahan. Buah yang paling mudah mengalami pencoklatan adalah apel. Blanching yang dilakukan pada buah- buahan ini adalah dengan memberikan panas terhadap bahan pangan melalui perendaman bahan dalam air yang mendidih atau pemberian steam dalam waktu yang relatif singkat.

Untuk apel, setelah dikupas dan dipotong- potong selanjutnya apel direndam di dalam air panas selama 3 menit dengan suhu mencapai 82-93°C. Setelah proses perendaman selesai, apel direndam dalam larutan vitamin C. Dengan takaran vitamin 200 miligram per liter. Sehingga akan diperoleh apel yang tetap segar dengan tambahan vitamin C. Selain itu, proses blanching untuk buah- buahan dapat dilakukan dalam larutan garam kalsium dengan tujuan untuk memperbaiki kekerasan buah dengan terbentuknya kalsium pektat. Kekerasan buah setelah diblanching juga dapat diperbaiki dengan bantuan pektin, karboksimetil dan alginat.

12/27/2012 Posted by | Uncategorized | , , , , , | 2 Komentar

CULTURE LIBRARY FOUNDATION SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN PERPUSTAKAAN YANG MENJADI PUSAT KEBUDAYAAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perpustakaan merupakan sistem informasi yang di dalamnya terdapat aktivitas pengumpulan, pengolahan, pengawetan, pelestarian dan penyajian serta penyebaran informasi. Perpustakaan sebagaimana yang ada dan berkembang sekarang telah dipergunakan sebagai salah satu pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan, penelitian, rekreasi, pelestarian khasanah budaya bangsa, serta memberikan berbagai layanan jasa lainnya  (Lasa Hs:1998). Selain itu menurut  Sulistyo-Basuki (1991:  3 )perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual.

Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa perpustakaan  merupakan tempat tumpukan buku tanpa mengetahui pasti ciri dan fungsi perpustakaan. Ada beberapa ciri yang perlu diketahui  oleh masyarakat diantaranya adalah  tersedianya koleksi,  sarana prasarana, pustakawan dan pengunjung serta adanya suatu unit kerja.

Kebudayaan sebagai aktivitas manusia yang melibatkan unsur karsa, rasa dan cipta diibaratkan lingkaran yang tidak mengenal ujung ataupun pangkalnya. Suatu produk budaya dikatakan merupakan awal, dalam waktu yang singkat bisa menjadi pijakan untuk kegiatan budaya yang baru lainnya. Hal ini karena kegiatan kebudayaan berhubungan dengan kondisi yang berhubungan dengan manusia sebagai aktornya maupun alam dan benda sebagai objeknya selalu berubah atau berkembang.

Di samping itu dalam lingkungan kebudayaan ada proses kontemplasi/eksperimentasi tentang kenyataan/eksistensi (persoalan ontologi) asal muasal pengetahuan (persoalan epistemologi) rasa/keindahan (persoalan estetika) kemudian berlanjut ke tahapan komunikasi. Dua tahapan ini tidak mutlak, misalnya ketika dalam tahapan komunikasi hasil kontemplasi maka juga ada kegiatan-kegiatan mempertanyakan asal muasal pengetahuan, kebenaran dan keindahan. Aktivitas tersebut meninggalkan jejak yang disebut sebagai koleksi kebudayaan. Wujud atau koleksi dari kegiatan berpikir dan mengolah rasa dapat berupa, pertama, buku atau tulisan (ilmiah, puisi, esai atau novel), kedua, berujud lukisan, kaligrafi, fotografi, patung, ketiga adalah seni drama, monolog, pembacaan puisi, tari dan lainnya.

Koleksi kebudayaan memiliki arti yang penting karena, Pertama, sebagai informasi yang bisa menunjukkan unsur-unsur yang telah membentuk kebudayaan suatu bangsa atau kelompok. Kedua, sebagai sumber ilmu pengetahuan. Kebudayaan adalah hasil dari aktivitas cipta, karsa dan rasa manusia, sehingga muncul teknik atau pengetahuan dari aktivitas tersebut yang bisa dimanfaatkan dan diperbarui. Ketiga, sebagai sumber kearifan atau nilai moral. Kebudayaan memuat ajaran tentang bagaimana hubungan dengan orang lain itu dilakukan, bagaimana memaknai kelahiran, perkawinan, kematian atau bagaimana menjalin hubungan dengan alam. Keempat, bernilai pariwisata ataupun ekonomi. Wujud kebudayaan muncul dalam bentuk-bentuk yang memiliki unsur estetika atau keunikan sehingga dapat dipertontonkan. Kebudayaan ditampilkan dan dikemas menarik sehingga dapat ditonton, dinikmati dan mendatangkan keuntungan. Di samping, itu bisa juga berfungsi untuk memperkenalkan suatu bentuk kebudayaan/negara tertentu

Mempertahankan, memelihara, mengembangkan serta menyempurnakan kebudayaan merupakan kewajiban masyarakat baik dalam arti perorangan, kelompok maupun dalam arti keseluruhan. Ciri khas dan kepribadian suatu bangsa terutama terletak pada kebudayaan yang dimilikinya (Soetrisno, 1982: 3). Kebudayaan perlu dihimpun karena berpotensi hilang atau musnah yang bisa berarti putusnya rantai sejarah suatu peradaban, hilangnya nilai kearifan, ilmu pengetahuan dan keindahan, serta keunikaannya. Setelah dihimpun kebudayaan juga perlu dirawat untuk menjaga eksistensinya. Tahap berikutnya kebudayaan perlu disebarkan karena, kebudayaan membutuhkan apresiasi dan kritik agar dapat terus berkembang serta berdayaguna.

Usaha penghimpunan, perawatan dan penyebaran informasi tersebut dapat dilakukan salah satunya oleh Perpustakaan. Fungsi perpustakaan diantaranya adalah pengumpulan/penyimpanan, perawatan dan penyebaran bahan pustaka. Menurut Soejono Trimo (1997: 2-3), fungsi perpustakaan, pertama, sebagai clearing house (pusat pengumpulan/penyimpanan) bagi semua penerbitan dari dan tentang daerahnya ataupun dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu, kedua, the preservation of knowledge atau menjaga kelestarian baik fisik maupun isinya sehingga informasi yang dikandungnya masih terjaga, dapat diketahui dan disebarkan walaupun telah dicetak atau ditulis beberapa waktu yang lampau.

Lebih lanjut Soejono Trimo menjelaskan bahwa peran/fungsi perpustakaan sesuai dengan misi atau visi organisasi induknya. Ketika perpustakaan berada di lingkungan kebudayaan maka perpustakaan tersebut bertugas menghimpun, merawat, mengembangkan dan menyebarkan koleksi kebudayaan. Hal ini sejalan dengan tugas pokok dari perpustakaan yaitu menghimpun, mengelola, memelihara dan menyebarkan semua ilmu pengetahuan atau gagasan manusia.

Peran perpustakaan sebagai pusat kebudayaan berdiri di dua pijakan yang saling mendukung. Pijakan pertama adalah yang terkait dengan tugas-tugas pokok seperti, menyediakan koleksi yang lengkap di bidang kebudayaan (ensiklopedi,majalah, tabloid, surat kabar harian, buku hasil penelitian, terbitan/penulis luar negeri maupun dalam negeri, Compact Disc dan VCD), memberika jasa layanan yang baik/prima (pustakawan ramah, tanggap, menguasai koleksi yang dimiliki, memiliki media/ alat penelusuran bahan informasi yang cepat dan tepat, proses peminjamannya cepat dan mudah melakukan kontrol terhadap koleksi yang dimiliki atau dipinjam baik untuk perpustakaan maupun usernya) menciptakan kondisi perpustakaan yang kondusif untuk berlajar, studi maupun rekreasi dengan membuat lingkungan perpustakaan yang bersih, kelembaban udara yang terjaga ideal, cahaya yang ideal dan arsitektur yang indah.

Pijakan kedua adalah kegiatan pendukung yang mengarah ke pemanfaatan bahan pustaka, penyebaran, pengenalan bahan informasi/ilmu pengetahuan, penciptaan bahan informasi yang dimiliki atau dihimpun perpustakaan. Kegiatan ini antara lain; diskusi, pelatihan, pameran, pementasan atau pertunjukan, sarasehan.

Dengan latar belakang masalah di atas penulis tertarik untuk mengetahui fungsi Culture Library Foundation sebagai pusat kebudayaan dan mengetahui langkah-langkah yang ditempuh untuk mewujudkan fungsi Perpustakaan sebagai pusat kebudayaan

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana peran Culture Library Foundation sebagai pusat kebudayaan?

2.  Bagaimana Culture Library Foundation mewujudkan perpustakaan sebagai pusat kebudayaan?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan

1.  Mengetahui peran Culture Library Foundation sebagai pusat kebudayaan.

2. Mengetahui usaha-usaha yang dilakukan Culture Library Foundation untuk mewujudkan perpustakaan sebagai pusat kebudayaan.

3.  Memberikan sumbangan pemikiran bagi Ilmu Perpustakaan dan Informasi mengenai seluk beluk perpustakaan dalam bidang kebudayaan.

4.  Memberikan informasi dan sumbangan pemikiran tentang upaya-upaya yang dilakukan perpustakaan dalam mewujudkan tujuan, peran atau visi misinya.

BAB II

METODE PENULISAN

2.1 Sumber Data

Data dan fakta yang berhubungan dengan pembahasan tema ini didapatkan dengan tahapan-tahapan pengumpulan data dengan cara pembacaan kritis terhadap ragam literatur yang berhubungan dengan tema pembahasan.

Data yang digunakan adalah data dengan kriteria telah dipublikasikan kepada masyarakat melalui literatur yang diterbitkan, surat kabar, buletin, jurnal upun internet. Dengan demikian penulis mengelompokan atau menyeleksi data dan informasi berdasarkan ktegori dan relevansi untuk selanjutnya dianalisis dan disimpulkan.

2.2 Analisis Data

Dalam penulisan ini teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998), analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.

Untuk menganalisa data dan informasi yang didapat, digunakan analisis isi (content analysis).  Analisis isi adalah suatu teknik yang sistematik untuk menganalisis makna pesan dan cara mengungkapkan pesan. Analisis isi selalu melibatkan kegiatan menghubungkan atau membandingkan penemuan berupa kriteria atau teori. Langkah yang dilakukan dalam menganalisis data pada penelitian ini menggunakan interaktive model dari Miles dan Huberman (Miles dan Huberman, 1994). Model ini terdiri dari 4 komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan atau reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan dan pengujian atau verifikasi kesimpulan.

BAB III

HASIL PEMBAHASAN

3.1 Analisa

            Culture Library Foundation adalah sebuah pemikiran baru dimana menempatkan Perpustakaan yang selama ini hanya berfungsi sebagai tempat membaca ditambah fungsinya menjadi pusat kebudayaan. Untuk membuat Culture Library Foundation yang tepat maka beberapa hal harus dilakukan terlebih dahulu diantaranya adalah

1. Penataan dan Tata Ruang Gedung

Bangunan maupun ruang untuk perpustakaan sebenarnya tidak sesederhana yang dibayangkan orang. Ditinjau dari segi bangunan, perpustakaan merupakan suatu organisasi yang memiliki sub-sub sistem yang memiliki fungsi berbeda-beda. Oleh karena itu, dalam perencanaan gedung dan ruang perpustakaan perlu memperhatikan fungsi tiap ruang, unsur-unsur keharmonisan dan keindahan, baik segi eksterior maupun interior. Ruang yang tertata baik akan memberikan kepuasan kepada pemakainya ( Pegawai maupun pengguna perpustakaan).

Dalam perencanaan bangunan atau ruang perpustakaan perlu juga diperhatikan alokasi luas lantai, pembagian ruangan menurut fungsi, tata ruang struktur, utilitas, pegamanan ruang, dan rambu-rambu. Disamping itu perlu dipikirkan pula area perluasan, minimal untuk masa sepuluh tahun mendatang.

  Prinsip-prinsip arsitektur

Gedung / ruang perpustakaan perlu ditata sesuai kebutuhan dengan tetap mengindahkan prinsip-prinsip arsitektur. Ruang perpustakaan akan nyaman bagi pemakai dan petugas apabila ditata dengan memperhatikan fungsi, keindahan, dan keharmonisan ruang. Dengan penataan yang baik akan memberikan kepuasan fisik dan psikis bagi pemakai. Oleh karena itu, dalam perencanaan pelu diperhitungkan kebutuhan manusia, tata ruang, dan segi lingkungan.

  Azas-azas tata ruang

Disamping itu perlu diperhatikan azas-azas tata ruang, yakni azas jarak, azas rangkaian kerja, dan azas pemanfaatan.

  Azas jarak, yaitu suatu susunan tata ruang yang memungkinkan proses penyelesain pekerjaan dengan menempuh jarak yang paling pendek.

  Azas rangkaian kerja, yakni suatu tata ruang yang menempatkan tenaga dan alat-alat dalam suatu rangkaian yang sejalan dengan urutan penyelesaian pekerjaan yang bersangkutan.

  Azas pemanfaatan, yakni tara susunan ruang yang mempergunakan ruang yang ada.

  Tata Letak

Untuk memperlancar kegiatan pelayanan dan penyelesaian pekerjaan, dalam penataan ruang perlu diperhatikan prinsip-prinsip tata ruang berikut ini :

  Pelaksanaan tugas yang memerlukan konsentrasi hendaknya ditempatkan di ruang terpisah atau di tempat yang aman dari gangguan.

  Bagian yang bersifat pelayanan umum hendaknya ditempatkan di lokasi yang strategis agar mudah dicapai.

  Penempatan perabot, seperti meja, kursi, dan rak hendaknya disusun dalam bentuk garis lurus.

  Jarak satu mebeler dengan yang lain dibuat agak melebar agar orang yang lewat leluasa.

Dalam perencanaan bangunan atau ruang perpustakaan perlu juga diperhatikan alokasi luas lantai, pembagian ruangan menurut fungsi, tata ruang struktur, utilitas, pegamanan ruang, dan rambu-rambu. Disamping itu perlu dipikirkan pula area perluasan, minimal untuk masa sepuluh tahun mendatang.

  Prinsip-prinsip arsitektur

Gedung / ruang perpustakaan perlu ditata sesuai kebutuhan dengan tetap mengindahkan prinsip-prinsip arsitektur. Ruang perpustakaan akan nyaman bagi pemakai dan petugas apabila ditata dengan memperhatikan fungsi, keindahan, dan keharmonisan ruang. Dengan penataan yang baik akan memberikan kepuasan fisik dan psikis bagi pemakai. Oleh karena itu, dalam perencanaan pelu diperhitungkan kebutuhan manusia, tata ruang, dan segi lingkungan.

  Azas-azas tata ruang

Disamping itu perlu diperhatikan azas-azas tata ruang, yakni azas jarak, azas rangkaian kerja, dan azas pemanfaatan.

  Azas jarak, yaitu suatu susunan tata ruang yang memungkinkan proses penyelesain pekerjaan dengan menempuh jarak yang paling pendek.

  Azas rangkaian kerja, yakni suatu tata ruang yang menempatkan tenaga dan alat-alat dalam suatu rangkaian yang sejalan dengan urutan penyelesaian pekerjaan yang bersangkutan.

  Azas pemanfaatan, yakni tara susunan ruang yang mempergunakan ruang          yang ada.

  Tata Letak

Untuk memperlancar kegiatan pelayanan dan penyelesaian pekerjaan, dalam penataan ruang perlu diperhatikan prinsip-prinsip tata ruang berikut ini :

  Pelaksanaan tugas yang memerlukan konsentrasi hendaknya ditempatkan di ruang terpisah atau di tempat yang aman dari gangguan.

  Bagian yang bersifat pelayanan umum hendaknya ditempatkan di lokasi yang strategis agar mudah dicapai.

  Penempatan perabot, seperti meja, kursi, dan rak hendaknya disusun dalam bentuk garis lurus.

  Jarak satu mebeler dengan yang lain dibuat agak melebar agar orang yang lewat leluasa.

  Bagian yang mempunyai tugas yang sama, hampir sama, maupun kelanjutan, hendaknya ditempatkan di lokasi yang berdekatan.

  Bagian yang menangani pekerjaan yang berantakan, seperti pengolahan, pengetikan, dan penjilidan hendaknya ditempatkan di tempat yang tidak tampak oleh khalayak umum.

  Apabila memungkinkan, semua petugas dalam suatu unit/ ruangan duduk menghadap arah yang sama dan pimpinan duduk di belakang.

  Alur pekerjaan hendaknya bergerak maju dari satu meja ke meja lain dalam satu garis lurus.

  Ukuran tinggi, rendah, panjang, dan lebar, luas, dan bentuk perabot hendaknya dapat diantur lebih leluasa.

  Perlu ada lorong yang cukup besar untuk jalan apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran.

  Bagian yang menimbulakn suara berisik hendaknya ditempatkan di ruang terpisah.

2. Standar dan Kapasitas Perpustakaan Umum

Persentase pengguna aktif sebuah perpustakaan (populasi yang dilayani) pada sebuah kota atau masyarakat normalnya adalah antara 20-30 % penduduknya

3. Tinjauan Fungsi

Dari tinjauan fungsi ini, kiata dapat mengetahui bagaimana Culture Library Foundation bekerja, apa aktifitasnya siapa penggunanya dan persyaratan ruang

  1.  Deskripsi Pengguna dan Kegiatan

Jadwal operasional kegiatan yang terjadi di Medan Public Library yaitu:

  Senin – Jumat : Pukul 08.30 – 20.00

  Tutuppukul 17.00 pada malam Tahun Baru, malam Natal. Malam Idul Fitri, malam Deepavali, malam Imlek.

  Tutup pada Hari Libur Umum

  1. Pengunjung Perpustakaan

  Pengunjung

  Usia balita (usia 1-5 tahun)

-  Mewarnai

-  Menggambar

-  Menonton video

-  Bermain

-  Tidur

  Usia anak-anak (usia 5-12 tahun)

-  Mencari informasi

-  Melihat buku baru

-  Mewarnai

-  Menggambar

-  Mencari buku

-  Membaca buku

-  Meminjam buku

-  Belajar

-  Mengembalikan buku

-  Mendengarkan cerita

-  Menonton video

-  Melihat pameran

-  Bermain game komputer

-  Bermain

-  Membeli alat tulis

-  Membeli suvernir

  Usia muda (usia 13-16 tahun)

-  Mencari informasi

-  Melihat buku baru

-  Mencari buku

-  Membaca buku

-  Meminjam buku

-  Belajar

-  Mengembalikan buku

-  Berdiskusi

-  Menonton video

-  Melihat pameran

-  Mengakses internet

-  Mengikuti seminar

-  Membeli alat tulis

-  Membeli suvernir

  Usia remaja (usia 17-19 tahun)

-  Mencari informasi

-  Melihat buku baru

-  Mencari buku

-  Membaca buku

-  Meminjam buku

-  Belajar

-  Mengembalikan buku

-  Berdiskusi

-  Menonton video

-  Melihat pameran

-  Mengakses internet

-  Mengikuti seminar

-  Membeli alat tulis

-  Membeli suvernir

  Usia dewasa (usia > 19 tahun)

-  Mencari informasi

-  Mencari buku

-  Membaca buku

-  Meminjam buku

-  Berdiskusi

-  Belajar

-  Mengembalikan buku

-  Menonton video

-  Melihat pameran

-  Mengakses internet

-  Mengikuti seminar

-  Membeli alat tulis

-  Rapat

-  Melihat seni

-  Membeli suvernir

  Pengelola

  Kepala Perpustakaan

Memimpin perpustakaan dan menyiapkan kebijakan-kebijakan bagi perpustakaan.

  Administrasi

Pelayanan administrasi yang meliputi pembinaan ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana, kepegawaian, perencanaan, keuangan, perlengkapan, rumah

tangga, hubungan masyarakat. Dimana terbagi menjadi sekretaris dan asisten.

  Unit pengadaan bahan

Melaksanakan pengadaan koleksi bahan pustaka melalui pembelian, hadiah, hibah dan tukar menukar.

  Unit pengelolaan bahan

Melaksanakan klasifikasi, katalogisasi dan penyelesaian fisik bahan pustaka, verifikasi bahan pustaka serta pemasukan data ke pangkalan data.

  Unit pelayanan, sirkulasi, dan peminjaman

Melaksanakan layanan sirkulasi, rujukan dan keliling, audio visual, reproduksi, terjemahan, transliterasi (alih aksara), melaksanakan kerjasama perpustakaan dalam dan luar negeri, pengelolaan pangkalan data daerah, pelaksanaan, pengembangan sistem otomasi perpustakaan di lingkungan Badan, pengelolaan website, jaringan internet.

  Unit Pelayanan Referensi

Melaksanakan layanan referensi, alat-alat bibliografi seperti indeks, laporan tahunan, kamus, ensiklopedia, dll

  1. Deskripsi pelaku

  Pengguna dan alurkegiatan

  Struktur organisasi pengelola perpustakaan umum

  Proses pelayanan arus sirkulasi buku

  Proses alur koleksi buku lama

  Proses alur koleksi buku baru

3.2 Sintesa (Culture Library Foundation dan Pusat Kebudayaan)

Model Culture Library Foundation yang bisa dicontoh dan patut ditiru adalah Yayasan Karta pustaka. Pusat kebudayaan Yayasan Karta Pustaka didirikan pada tahun 1967 oleh nyonya E. Th. Simadibrata-Piontek, Pater Theodore Geldorp (Dick Hartoko, SJ.), Drs. Soepojo Padmodiputro, MA., dan Pater H. M. L. Loeff, SJ.. Walaupun para pendirinya telah wafat, namun yayasan ini masih tetap berdiri. Para anggota pengurusnya masih tetap terdiri dari tokoh-tokoh penting dalam bidang kebudayaan, kesenian dan pendidikan dari berbagai universitas dan organisasi budaya di Yogyakarta. Kepemimpinan harian kantor berada dalam tangan ibu Anggi Minarni di dukung oleh 10 orang pegawai yang sebagian besar sudah bekerja lebih dari 10 tahun untuk Karta Pustaka.

Dalam tahun 2003 Yayasan Karta Pustaka telah merumuskan ulang tujuannya yaitu: penguatan persahabatan antara Indonesia dengan negeri Belanda melalui kebudayaan memfasilitasi kegiatan pendidikan masyarakat melalui kebudayaan dan kesenian, dan mendorong upaya upaya pelestarian warisan budaya.

Karta Pustaka bekerja sama dengan Erasmus Huis, Pusat Bahasa Erasmus, dan banyak pusat kebudayaan serta lembaga pendidikan lain di Yogyakarta dan sekitarnya, antara lain dengan Bentara Budaya Yogyakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Jogja Heritage Society, Jogja TV, ELTI Radio, Teater Garasi, Jaringan Perempuan Yogyakarta dan Yayasan Umar Kayam.

Karta Pustaka juga turut memberi sumbangan dalam pengenalan akan kebudayaan Belanda dan Indonesia dalam arti yang luas. Karena itu yayasan ini sering diundang oleh pihak pemerintah maupun swasta untuk bekerjasama dalam bidang kebudayaan di Yogyakarta. Karta Pustaka berpendapat bahwa kebudayaan bisa membentuk sebuah jembatan yang mantap antara manusia dari berbagai budaya, dan merupakan sebuah alat bantu yang sangat baik untuk menghargai insan manusia.

Yayasan Karta Pustaka sungguh sesuai dengan makna namanya, karena Karta Pustaka berarti: perpustakaan yang berkembang; perpustakaannya benar benar bertumbuh dan saat ini berjumlah 9.000 judul, terutama terdiri dari buku buku mengenai kebudayaan. Dalam tahun 2009 sebanyak 4873 orang telah memanfaatkan perpustakaan ini, kebanyakan para mahasiswa berusia antara 19 – 35 tahun, dan para peneliti. Di samping itu para anggota yang berusia lebih tua tetap memanfaatkan perpustakaan ini dengan setia. Beberapa acara diselenggarakan di pendopo (ruang tamu dari bangunan Jawa) Karta Pustaka, dan hal ini kembali meningkatkan jumlah pengunjung perpustakaan.

Dalam tahun 2009 juga kembali diadakan berbagai kursus bahasa Belanda untuk komunikasi aktif, adapun kelas reguler dan les privat. Terdapat 198 peserta kursus yang terdiri dari para mahasiswa, pegawai biro perjalanan, atau orang orang yang telah menikah dengan orang Belanda. Secara total ada 16 orang yang telah mengikuti ujian dari CnaVT dari Nederlandse Taalunie (Persatuan Bahasa Belanda). Atas bantuan Erasmus Huis, maka bagi ketiga tenaga pengajar terdapat kemungkinan untuk mengikuti pendidikan lanjutan di Pusat Bahasa Erasmus di Jakarta, di negeri Belanda atau di Belgia.

Bersama dengan Erasmus Huis telah diselenggarakan 8 kegiatan berikut ini dalam tahun 2009:

  • ceramah oleh Louis Zweer dan pemutaran film dokumenter karya Alfred Hustinx di pendopo Karta Pustaka, yang banyak diminati para fotografer muda, jurnalis foto dan mahasiswa.
  • konser musik klasik oleh Trio Storioni di ruangan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, yang terutama telah menarik minat publik muda usia (400 pengunjung).
  • duo akordeon TOEAC beranggotakan Pieternel Berkers dan Renée Bekkers (350 pengunjung). TOEAC juga telah mengunjungi sebuah sekolah menengah dan memperkenalkan musik akordeon kepada para siswa (100 orang).
  • konser musik jazz oleh Sensual Band dan Denise Jannah dengan kelompoknya, dengan lebih dari 600 orang pengunjung pada masing masing konser.
  • trio Mike del Ferro menyajikan sebuah konser musik jazz dalam kerjasama dengan orkes gamelan Azied Dewa Trio dari Yogyakarta. Sebuah perpaduan yang luar biasa dari instrumen musik diatonis Barat dengan gamelan pentatonis dari Yogya (400 pengunjung).
  • pameran desain grafis oleh Max Kisman membawa banyak inspirasi bagi para dosen dan mahasiswa sekolah desain grafis (300 pengunjung).
  • pameran “Buku dengan Desain Terbaik”, dengan lokakarya (40 mahasiswa) dan ceramah (75 mahasiswa) oleh Joost Grootens (600 pengunjung).
  • Konser Gypsy Jazz oleh kelompok Pigalle 44 di Fakultas Kedokteran UGM merupakan sebuah sukses besar. Sebanyak 300 penonton menunggu selama hampir 2 jam kedatangan para artis yang terlambat karena jadwal penerbangan.

Baik dalam kerjasama dengan pihak lain ataupun tidak, atas inisiatif sendiri Karta Pustaka antara lain juga telah mengadakan kegiatan berikut :

  • pameran gambar oleh Clementine Oomes, seorang ilustrator koran NRC Handelsblad dan buku anak anak (total 200 pengunjung).
  • Europe Days, bekerjasama dengan pusat kebudayaan lainnya, membawa informasi tentang kebudayaan Europa, bahasa dan pendidikan (total 1500 pengunjung).
  • International Women’s Day, dengan penampilan kaum wanita dari Indonesia, Belanda, Perancis dan Amerika (250 pengunjung).
  • Opera “Mata Hari” bekerjasama dengan ISI Yogyakarta dan Taman Budaya Yogyakarta, dengan sutradara panggung Joned Suryatmoko, penata musik Edward van Ness dan komposer Vincent MsDermott, desainer kostum Afif Syakur, restoran Gajah Wong, peralatan tata suara dan tata cahaya dari MadFlash (400 pengunjung).
  • “Anak dan Perangko”, sebuah kerjasama dengan perkumpulan Filateli Indonesia Yogyakarta, dan PT POS. Setiap hari anak anak dari berbagai sekolah dan rumah piatu dari Yogya dan sekitarnya mengunjungi pameran, dan bercakap-cakap dengan anak anak yang memenangkan hadiah karena keindahan koleksi perangko mereka (400 pengunjung).
  • Pameran pameran foto oleh para mahasiswa dari berbagai universitas atau perkumpulan foto, dilanjutkan oleh diskusi dengan para wartawan foto senior dari media pers nasional seperti a.l. Kompas dan Tempo.
  • Indonesia Arts and Culture Scholarship, sebuah program yang diikuti oleh 12 siswa dari 12 negara di Asia Pasifik, untuk belajar mengenal kesenian dan kebudayaan Indonesia.
  • “Seven Needles”, sebuah pameran karya bordir, rajutan dan manik manik, yang dilanjutkan dengan lokakarya (300 pengunjung).
  • “Seniman Membaca Mangunwijaya”, dalam rangka mengenang Pater YB Mangunwijaya, seorang pendeta Katolik, bapak pelindung wilayah miskin pinggir kali Code, arsitek dan penulis dari karya karya prosa terkenal.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1    Simpulan

Penelitian ini dapat disimpulkan menjadi dua poin;

1. Peran Culture Library Foundation sebagai pusat kebudayaan adalah menjadi tempat apresiasi, eksperimen dan mencipta di bidang kebudayaan. Peran ini ditunjang oleh koleksi yang representatif di bidang kebudayaan di samping keragaman jenis informasinya. Bahan informasi itu terdiri dari;  pertama, koleksi cetak terdiri dari buku, majalah, ensiklopedi, kamus, surat kabar, tabloid;  kedua, adalah koleksi  non cetak, kaset, foto atau compact disc terbitan/produksi dalam negeri maupun luar negeri.

2. Perpustakaan yang concern di bidang kebudayaan berpijak di dua tempat. Pertama berpijak pada koleksi yang representatif sehingga user  mampu melakukan apresiasi secara komprehensif atau analitis, mengerjakan ekspreimen dengan bahan rujukan yang beragam dan kaya, mencipta dengan kekayaan pengetahuan dan pengalaman. Kedua, berpijak pada kegiatan pendukung yang mampu menjadi pendorong apresiasi, eksperimen dan mencipta, atau dengan kata lain koleksi perpustakaan dimanfaatkan atau membantu dengan cara tidak langsung, ada terminal-terminal sebelumnya yang harus disinggahi. Kegiatan pendukung itu antara lain; pembacaan puisi, pameran, pementarasan, diskusi, sarasehan. Misalnya dengan pembacaan puisi, karya itu akan dikenal ketika orang belum mengetahui karya itu berada di buku apa. Pembacaan puisi juga menambah kaya puisi itu sendiri, karena di apresiasi, dipelajari, dan menambah ketenangan hati, keluasan pikiran.

4.2  Saran

1. Kebudayaan memiliki ranah yang cukup luas. Masuk ke dalam bidang kebudayaan laiknya sebuah penentuan pilihan atau posisi. Culture Library Foundation lewat perpustakaan sebagai salah satu sarana penyimpan informasi dan penyebaran informasi juga memilih posisi tertentu dalam wilayah kebudayaan. Hal ini berpengaruh terhadap pilihan atau penentuan kebijakan dalam koleksi apa yang harus di sediakan, juga pada kegiatan apa yang harus diselenggarakan, siapa saja pesertanya sebagai upaya untuk menghimpun koleksi atau menyebarkan informasi budaya. Upaya untuk mengakomodir semua aktivitas dan kelompok kebudayaan juga mustahil tetapi setidaknya ada cara untuk selalu mengikuti perkembangan kebudayaan yang lebih intens (rutin dan dalam). Caranya adalah dengan melakukan penelitian-penelitian budaya yang dilakukan yayasan sendiri maupun bekerjasama dengan pihak lain.

2.  Culture Library Foundation, jika dilihat dari segi pengunjung yang memanfaatkan adalah golongan tertentu. Koleksi yang dimiliki memiliki nilai informasi dan sejarah yang tinggi. Sehingga harus ada upaya-upaya untuk mengenalkan koleksi-koleksi yang dimiliki terhadap masyarakat. Koleksi bernilai tinggi ini bagi sebagian orang menunjukkan kesan angker, dingin dan tidak menarik. Hal ini untuk beberapa kasus mungkin masalah penyampaian. Artinya harus ada cara lain untuk menyampaikan selain dengan cara informasi yang disajikan lewat format penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Dudung. 2003. Pengantar Metode Penelitian. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta.

Alisjahbana, S.Takdir. (t.t.). ANTROPOLOGI BARU. Nilai-nilai Sebagai Tenaga Integrasi dalam Pribadi, Masyarakat dan Kebudayaan. Jakarta: Universitas Nasional dan Dian Rakyat.

Azwar, Saifuddin. 1999. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Budiman, Hikmat. 2002. Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Capra, Fritjof. 2000. Titik Balik Peradaban. Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan. Turning Point. Science, Society and The Rising Culture.

Thoyibi (penerj). Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. Driyarkara. 1980. Tentang Pendidikan. Jakarta: Yayasan Kanisius.

Darma, Budi. 2001. Ironi si kembar siam: Tentang posmo dan kajian budaya. Dalam jurnal Kalam. Edisi 18, tahun 2001

Ganap, Victor. 2001. Musik Keroncong Tugu Sebuah Sintesis Budaya Hibrida dalam Selonding Jurnal Etnomusikologi Volume 1, Nomor 1, September 2001.

Hamakonda, Towa [dan] J.N.B. Tairas. 1992. Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey. Jakarta: Gunung Mulia.

Jubaidi, M. 2008. Strategi Pengembangan Perpustakaan Masjid Raya Klaten. (Skripsi). Yogyakarta: Fakultas Adab Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN SUKA.

Koentjaraningrat. 2002. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan.  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

11/26/2012 Posted by | CONTOH LKTM | , , , , | 2 Komentar

Motivasi Belajar

Ada beberapa hal terkait dengan motivasi belajar yang akan diuraikan pada bagian berikut ini:

2.2.1 Pengertian Motivasi Belajar

            Motivasi belajar pada dasarnya merupakan bagian dari motivasi secara umum. Dalam kegiatan belajar mengajar dikenal adanya motivasi belajar yaitu motivasi yang ada dalam dunia pendidikan atau motivasi yang dimiliki peserta didik (siswa).

            Sardiman (2006) mengemukakan bahwa “motif” dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitas tertentu demi mencapai tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata “motif” maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila keinginan untuk mencapai kebutuhan sangat kuat. Selain itu, menurut Dimyati dan Mudjiono (2006) motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Nasution ( dalam Rohani, 2004) menyatakan motivasi peserta didik (siswa) adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga siswa mau melakukan apa yang dapat dilakukannya.

Menurut Winkel (2005) “Motivasi belajar ialah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan. Motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah atau semangat dalam belajar, sehingga siswa yang bermotivasi kuat memiliki energi banyak untuk melakukan kegiatan belajar”.

            Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa motivasi belajar adalah suatu penggerak yang timbul dari kekuatan mental diri peserta didik maupun dari penciptaan kondisi belajar sedemikian rupa untuk mencapai tujuan-tujuan belajar itu sendiri.

2.2.2 Fungsi Motivasi dalam Belajar

Motivasi belajar dianggap penting di dalam proses belajar dan pembelajaran dilihat dari segi fungsi dan nilainya atau manfaatnya. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi belajar mendorong timbulnya tingkah laku dan mempengaruhi serta mengubah tingkah laku siswa. Menurut Sardiman (2001) mengemukakan tiga fungsi motivasi yaitu:

1)      Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan.

Tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

2)      Motivasi berfungsi sebagai pengarah.

Artinya motivasi mengarahkan perubahan untuk mencapai yang diinginkan.  Dengan demikian, motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

3)      Motivasi berfungsi sebagai penggerak.

Artinya mengerakkan tingkah laku seseorang. Selain itu, motivasi belajar berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi.

2.2.3 Jenis-jenis Motivasi

Secara umum, motivasi dibedakan menjadi dua jenis yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik.

1)      Motivasi Instrinsik

            Hamalik (2004) berpendapat bahwa motivasi instrinsik adalah motivasi yang tercakup dalam situasi belajar yang bersumber dari kebutuhan dan tujuan-tujuan siswa sendiri. Sedangkan menurut Sardiman (2006) motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif dan berfungsi tidak perlu dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Dengan kata lain, individu terdorong untuk bertingkah laku ke arah tujuan tetentu tanpa adanya faktor pendorong dari luar. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas dapat dikatakan bahwa motivasi instrinsik adalah motivasi yang tercakup dalam situasi belajar yang bersumber dari kebutuhan dan tujuan-tujuan siswa sendiri atau dengan kata lain motivasi instrinsik tudak memerlukan rangsangan dari luar tetapi berasal dari diri siswa.

            Siswa yang termotivasi secara instrinsik dapat terlihat dari kegiatannya yang tekun dalam mengerjakan tugas-tugas belajar karena bituh dan ingin mencapai tujuan belajar yang sebenarnya. Dengan kata lain, motivasi instrinsik dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukan adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan itu sendiri (Sardiman, 2001). Siswa yang memiliki motivasi instrinsik menunjukkan keterlibatan dan aktivitas yang tinggi dalam belajar.

            Motivasi dalam diri merupakan keinginan dasar yang mendorong individu mencapai berbagai pemenuhan segala kebutuhan diri sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan dasar siswa, guru memanfaatkan dorongan keingintahuan siswa yang bersifat alamiah dengan jalan menyajikan materi yang cocok dan bermakna bagi siswa. Menurut Usman (2005) motivasi instrinsik timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari orang lain tetapi atas kemauan sendiri.

            Pada dasarnya siswa belajar didorong oleh keinginan sendiri maka siswa secara mandiri dapat menentukan tujuan yang dapat dicapainya dan aktivitas-aktivitasnya yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan belajar. seseorang mempunyai motivasi instrinsik karena didorong rasa ingin tahu, mencapai tujuan menambah pengetahuan. Dengan kata lain, motivasi instrinsik bersumber pada kebutuhan yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Motivasi instrinsik muncul dari kesadaran diri sendiri, bukan karena ingin mendapat pujian atau ganjaran.

            Guru dapat menggunakan beberapa strategi dalam pembelajaran agar siswa termotivasi secara instrinsik, yaitu:

  1. Mengaitkan tujuan belajar dengan tujuan siswa sehingga tujuan belajar menjadi tujuan siswa atau sama dengan tujuan siswa.
  2. Memberi kebebasan kepada siswa untuk memperluas kegiatan dan materi belajar selama masih dalam batas-batas daerah belajar yang pokok.
  3. Memberikan waktu ekstra yang cukup banyak bagi siswa untuk mengembangkan tugas-tugas mereka dan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang ada di sekolah.
  4. Kadang kala memberikan penghargaan atas pekerjaan siswa.
  5. Meminta siswa-siswanya untuk menjelaskan dan membacakan tugas-tugas yang mereka buat, kalau mereka ingin melakukannya. Hal ini perlu dilakukan terutama sekali terhadap tugas yang bukan merupakan tugas pokok yang harus dikerjakan oleh siswa, kalau tugas dikerjakan dengan baik.

2)      Motivasi Ekstrinsik

            Motivasi ekstrinsik berbeda dari motivasi instrinsik karena dalam motivasi ini keinginan siswa untuk belajar sangat dipengaruhi oleh adanya dorongan atau rangsangan dari luar. Dorongan dari luar tersebut dapat berupa pujian, celaan, hadiah, hukuman dan teguran dari guru. Menurut Sardiman (2006) motivasi ekstrinsik adalah “motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya rangsangan atau dorongan dari luar”. Bagian yang terpenting dari motivasi ini bukanlah tujuan belajar untuk mengetahui sesuatu tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik, sehingga mendapatkan hadiah.

            Motivasi instrinsik juga diperlukan dalam kegiatan belajar karena tidak semua siswa memiliki motivasi yang kuat dari dalam dirinya untuk belajar. Guru sangat berperan dalam rangka menumbuhkan motivasi ekstrinsik. Pemberian motivasi ekstrinsik harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa, karena jika siswa diberikan motivasi ekstrinsik secara berlebihan maka motivasi instrinsik yang sudah ada dalam diri siswa akan hilang. Motivasi ekstrinsik dapat membangkitkan motivasi instrinsik, sehingga motivasi ekstrinsik sangat diperlukan dalam pembelajaran.

            Dimyanti (2006) mengemukakan bahwa motivasi ekstrinsik dapat berubah menjadi motivasi instrinsik jika siswa menyadari pentingnya belajar. Motivasi ekstrinsik juga sangat diperlukan oleh siswa dalam pembelajaran karena adanya kemungkianan perubahan keadaan siswa dan juga faktor lain seperti kurang meneriknya proses belajar mengajar bagi siswa. Motivasi ekstrinsik dan instrinsik harus saling menambah dan memperkuat sehingga individu dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2.2.4 Cara Membangkitkan Motivasi Belajar

            Upaya-upaya peningkatan motivasi belajar siswa dilakukan oleh guru dengan menggunakan berbagai cara. Pemilihan cara membangkitkan motivasi belajar siswa harus disesuaikan dengan karakteristik siswa dan juga mata pelajaran yang sedang diajarkan oleh guru. Siswa yang mempunyai motivasi belajar dan berprestasi instrinsik yang kuat berbeda penenganannya dengan siswa yang bermotivasi belajar dan berprestasi ekstrinsiknya yang kuat. Di sisi lain faktor-faktor terjadinya penurunan motivasi belajar dan berprestasi juga turut  menentukan pemilihan upaya yang akan dilakukan.

            Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh guru membangkitkan motivasi belajar siswa, baik motivasi instrinsik maupun ekstrinsik antara lain dengan cara:

  1. Memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi.
  2. Adanya persaingan atau kompetisi di dalam kelas.
  3. Pemberian hadiah atau pujian terhadap siswa-siswa yang memiliki prestasi baik dan memberikan hukuman kepada siswa yang prestasinya mengalami penurunan.
  4. Adanya pemberitahuan tentang kemujan belajar siswa.

Dengan mengetahui hasil pekerjaan maka siswa akan terdorong untuk lebih giat belajar, apabila jika hasil yang diperoleh menunjukkan kemajuan.

  1. Ego involvement.

Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimenya sebagai tantangan.

  1. Pemberian ulangan.

Guru harus memberitahukan terlebih dahulu jika akan diadakan ulangan karena siswa akan lebih giat belajar jika mengetahui akan ada ulangan.

  1. Adanya hasrat untuk belajar.

Hasrat untuk belajar berarti kemauan yang timbul pada diri anak didik untuk belajar, sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

  1. Minat.

Minat merupakan alat pokok dalam rangka memotivasi siswa. Cara yang bisa diambil oleh guru untuk membangkitkan minat belajar siswa menurut Sardiman (2006) adalah membangkitkan adanya kebutuhan, menghubungkan materi dengan keadaan sebenarnya, serta menggunakan berbagai metode mengajar.

  1. Tujuan yang diakui.

Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, merupakan alat motivasi yang sangat penting. Semua cara tersebut bisa adopsi oleh guru untuk menambah motivasi siswa agar meningkatkan hasil belajarnya.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

11/09/2012 Posted by | Belajar Dan Pembelajaran | , , , , | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 954 pengikut lainnya.