BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Usaha kucing hias “Cat Corner”

I. JUDUL PROGRAM
Usaha kucing hias “Cat Corner”

II. LATAR BELAKANG MASALAH
Kemampuan dan kemauan untuk membuka usaha bukan hanya didominasi kalangan suasta, mahasiswa selayaknya juga memiliki etos kerja sebaik para pengusaha atau bahkan lebih.
Di era sekarang, bukan zamanya mahasiswa melulu kuliah. Berbagai aktifitas diluar kegiatan sebagai praktik perkuliahan terbukti bisa mendukung penguasaan materi kuliah bahkan bisa menghasilkan pendapatan yang menjanjikan. Hobi mahasiswa yang tersalurkan dengan baik, bisa menciptakan sebuah lapangan pekerjaan. Salah satu diantara hobi tersebut adalah jual beli kucing hias.
Keinginan para mahasiswa penggemar kucing hias untuk dapat memiliki dan memeliharanya semakin besar. Bila dulu hanya suka melihat atau memperhatikanya, kini mereka ingin untuk membeli dan merawatnya,serta menjadikanya sebagai hiburan tersendiri yang menggemaskan karena kelucuanya. Walaupun sangat sibuk, umumnya mahasiswa dan masyarakat penggemar kucing hias masih memiliki waktu ubtuk merawat kucing kesayanganya disela-sela aktivitasnya sehari-hari.
Mahasiswa putrid di UMM cukup banyak, dan kebanyakan suka dengan kucing hias. Hal ini tidak berlaku pada mahasiswa putrid saja, mahasiswa putra pun banyak yang menyukai kucing hias, sehingga bisa dikatakan sebagai penggemar.
Jika diasumsikan atau kami prediksi terjual 6 samapi 8 ekor kucing hias tiap bulan, dalam hal ini jenis Persia dan Angora, maka keuntungan yang didapatkan sebesar Rp. 3.420.000,- sampai Rp. 4.650.000,- untuk jenis Persia. Sedangkan untuk jenis Angora sebesar Rp. 1.245.000,- sampai Rp. 1.660.000,-.
Harga yang relative lebih murah daripada tempat lain yang sejenis untuk kucing hias sekelas Persia dan Angora, bisa menjadi daya tarik penggemar kucing hias. Harga pasaran di tempat lain untuk jenis Angora dan Persia umur 2 bulanan masing-masing Rp. 400.000,- dan Rp. 900.000,- per ekor. Sedangkan di tempat kami “Cat Corner”, masing-masing Rp. 300.000,- dan Rp. 750.000,- per ekor. Secara umum harga tersebut sudah terhitung murah di pasaran. Hal ini karena kami ingin lebih memperkenalkan hobi terhadap kucing hias kepada para mahasiswa serta masyarakat pada umumnya. Sehingga semakin banyak kalangan penggemar kucing hias yang dapat menyalurkan hobinya.
Kecintaan mahasiswa dan masyarakat pada umumnya terhadap kucing hias yang tinggi itulah menginspirasi penulis untuk membuat usaha pet shop dengan nama “Cat Corner”. Berbekal kegemaran untuk memelihara kucing hias yang dimiliki beberapa anggota kelompok kami, penulis merasa yakin usaha ini sangat menjanjikan bagi mahasiswa. Sebelumnya salah satu anggota kelompok kami mempunyai pengalaman bahwa kucing hias miliknya, pernah ditawar oleh rekan dari orang tuanya yang kebetulan berkunjung kerumah, hal itu karena menurut orang tersebut kucing itu sangat bagus bahkan penampilanya pun lebih menarik daripada kucing hias miliknya yang harganya lebih mahal.
Memang kalau kita terlanjur cinta terhadap kucing hias, berapapun jumlah kucing yang telah kita miliki pastilah akan merasa kurang puas jika melihat kucing sejenis yang memiliki karakter dan tampilan yang berbeda. Sehingga bisa dikatakan kalau kucing hias selalu menarik hati peminatnya, bahkan tidak sedikit penggemar yang menomor duakan harga untuk mendapatkan kucing tersebut.
Penulis lebih tertarik untuk memilih usaha ini karena ada beberapa pertimbangan, diantaranya, (1) kucing jenis ini masih belum banyak yang memelihara padahal penggemarnya sangat banyak, (2) pengelolaan bisnis yang tidak terlalu rumit, (3) bisa dilakukan sebagai pekerjaan sampingan, (4) peluang bisnis yang masih terbuka, (5) keuntungan yang relatif besar.

III. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana Bentuk Usaha Cat Corner yang akan dirancang?
2. Bagaimana teknis pelaksanaan usaha yang dijalankan ?
3. Bagaimana perhitungan hasil usahanya di lingkungan sekitar kampus UMM?
4. Bagaimana Bentuk Evaluasi Pelaksanaanya?

IV. TUJUAN PROGRAM
Setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia dengan kesadaran pastilah memiliki tujuan, begitu pula dengan pengajuan proposal ini. Diharapkan setelah proposal ini disetujui, penulis bisa, (1) Mempermudah para mahasiswa untuk menyalurkan hobinya akan kucing ras, (2) Serta dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi mahasiswa sehingga mengurangi ketergantungan kepada orang tua.
V. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Program kreativitas mahasiswa kewirausahaan ini, diharapkan bisa mewujudkan rancangan usaha yang kami rencanakan sehingga usaha ini bisa berjalan, usaha ini mampu bersaing dengan usaha sejenis di tempat lain sehingga dapat disimpulkan bahwa usaha kucing hias “cat corner” ini pantas untuk dikembangkan.

VI. KEGUNAAN PROGRAM
Para mahasiswa khususnya yang mempunyai hobi memelihara kucing hias akan menyalurkan hobinya dengan budget yang relatif lebih terjangkau jika dibandingkan dengan harga kucing hias di tempat lain.

Perbandingan Cat Corner dengan tempat lain
Pertimbangan Cat Corner Tempat Lain
Persia Angora Persia Angora
Harga Anakan Rp 750.000,- Rp 300.000,- Rp. 900.000,- Rp. 400.000,-
Kualitas Kesehatan Lebih Terjamin Sulit Dipastikan
Tabel 1

VII. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
Mahasiswa kampus diasumsikan sebagai konsumen kucing hias yang mempunyai potensi yang cukup besar. Hal ini dapat kami ketahui dari survey yang kami lakukan, bila sebelumnya para mahasiswa hanya terpaku pikirannya di pasar hewan seperti Splendid, Jatim Park ataupun mungkin di Pet Shop yang lain yang menawarkan harga yang relative tinggi, maka dengan adanya Cat Corner ini hal semacam itu tidak terjadi lagi sehingga dapat dijangkau kantong mahasiswa pecinta kucing hias.
Input Cat Corner adalah 2 ekor indukan kucing betina yang siap kawin terdiri dari Jenis yaitu Persia dan Angora.
Output Cat Corner adalah anakan kucing yang mana setelah berumur kurang lebih 2 bulan anakan tersebut siap untuk dijual. Adapun proses perkawinannya dilakukan dengan system kawin sewa (dilakukan kerjasama dengan rekanan). Sistem kawin tersebut dengan rincian untuk jenis Persia terkena biaya sebesar Rp 500.000,- sedangkan untuk Anggora terkena biaya sebesar Rp 150.000,- .

Dalam menghitung rincian biaya ini kami mengasumsikan bahwa setiap induk akan menghasilkan 4 ekor anak, dengan biaya makan selama 2 bulan sebesar Rp. 40.000,- per ekor dan biaya perawatan selama 2 bulan sebesar Rp. 15.000,- per ekor, jadi kita mengestimasi harga pokok kucing sbb :

a. Persia sebesar = Rp 180.000,-
Dengan rincian :
Ongkos Kawin =Rp. 500.000 = Rp. 125.000,-
4
Biaya Makan (2kg) Pelet = Rp. 40.000,-
Biaya Perawatan = Rp. 15.000,-

Total Rp. 180.000,

b. Angora sebesar = Rp 92.500,-
Dengan rincian :
Ongkos Kawin = Rp. 150.000 = Rp. 37.500,-
4
Biaya Makan (2kg) Pelet = Rp. 40.000,-
Biaya Perawatan = Rp. 15.000,-

Total Rp. 92.500,-

Dari perhitungan diatas kami dapat mengasumsikan laba satu induk kucing dalam setiap periode kawin, sebagai berikut :
a. Persia
Harga Jual Per Ekor (2 bulan) =Rp. 750.000,-
Harga Pokok Per Ekor =(Rp. 180.000,-)
Laba Per Ekor = Rp. 570.000,-

b. Angora
Harga Jual Per Ekor (2 bulan) = Rp. 300.000,-
Harga Pokok Per Ekor = (Rp. 92.500,-)
Laba Per Ekor = Rp. 207.500,-
Usaha ini cocok untuk dikembangkan karena kucing jenis ini banyak peminatnya, selain daripada itu harga dari kucing jenis ini bergerak pada kisaran relative terjangkau oleh para peminatnya jika didapatkan di Cat Corner.

VIII. METODE PELAKSANAAN
1. Melakukan pendekatan secara personal terhadap mahasiswa yang memiliki hobi memelihara kucing hias.
2. Melakukan penawaran kepada para penghobi kucing hias.
3. Mendirikan outlet kecil di sekitar kampus.

IX. Jadwal Program Kegiatan
kegiatan Bulan ke
1 2 3 4
• Pemilihan tempat x
• Pemnbuatan kandang xx
• Penyediaan indukan kucing xx
• Proses pemeliharaan xxxx xxxx xxxx

X. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK
Ketua Pelaksanaan Kegiatan:
a. Nama : Ahmad Ishadi Muzakky
b. NIM : 04620217
c. Fakultas/Program Studi : FE/Akuntansi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jl. Kertoraharjo 133, Dolopo Madiun
f. Nomor Handphone : 081807105017
g. Waktu untuk PKM : 10 jam/minggu

Anggota Pelaksana :
a. Nama : Rezha Aditya Pradana
b. NIM : 04620215
c. Fakultas/Program Studi : FE/Akuntansi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jl. Asem Payung no. 437 Kec.Dolopo, Madiun
f. Nomor Handphone : 085649146632
g. Waktu untuk PKM : 8 jam/minggu

a. Nama : Guntur Bowo Laksono
b. NIM : 04620220
c. Fakultas/Program Studi : FE/Akuntansi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jl. KH Abu Mansyur Gg I, No.26B, Kedungwaru,
Tulungagung
f. Nomor Handphone : 085235596161
g. Waktu untuk PKM : 8 jam/minggu

a. Nama : M. Agus Mustofa
b. NIM : 04620252
c. Fakultas/Program Studi : FE/Akuntansi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jl. Bantaran Indah A 16B Malang
f. Nomor Handphone : 085646311711
g. Waktu untuk PKM : 8 jam/minggu

a. Nama : Rita Karina Hassanoesi
b. NIM : 05620047
c. Fakultas/Program Studi : FE/Akuntansi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jl. Kalpataru Blok E8 Jombang
f. Nomor Handphone : 081334886614
g. Waktu untuk PKM : 8 jam/minggu

XI. NAMA DAN BIODATA DOSEN PEMBIMBING
a. Nama lengkap dan Gelar : Drs. Setu Setyawan MM.
b. Golongan Pangkat dan NIP : Penata Tk I / IIID
c. Jabatan Fungsional : Sektor Kepala IV A
d. Jabatan Struktural : Pembantu Dekan III FE
e. Fakultas / Program Studi : Ekonomi / Akuntansi
f. Bidang Keahlian : Perpajakan dan Sektor Publik
g. Wakltu untuk Kegiatan Penelitian : 6 jam/minggu

XII. LAMPIRAN
Analisis SWOT Usaha Cat Corner di lingkungan kampus UMM

a. Strenghten (Kelebihan)
1. Jumlah peminat besar.
2. Tempat Usaha di sekitar kampus dinilai sangat strategis karena letak Cat Corner dilalui mahasiswa ketika berangkat maupun pulang kuliah.
3. Jenis usaha ini tidak rumit dan mudah dijalankan.
b. Weakness (Kelemahan)
1. Usaha ini memerlukan modal besar terutama untuk mendapatkan indukan kucing.
2. Biaya kawin sewa yang seharusnya dapat dieliminasi untuk mengurangi harga pokok kucing anakan yang menjadi output usaha ini.
3. Tempat usaha yang belum permanent karena keterbatasab modal.
c. Opportunity (Peluang)
Dengan pertimbangan modal yang terbatas, dimungkinkan akan menghasailkan laba yang relatif besar. Sehingga dirasa lebih mudah untuk melakukan ekspansi usahanya.
d. Threaten (tantangan/ancaman)
Selama ini usaha sejenis memiliki modal yang relatif besar sehingga dirasa lebih mudah untuk melakukan ekspansi usahanya.

XIII. GAMBARAN PRODUK
Anakan kucing yang kita tawarkan adalah anakan kucing yang kisaran umurnya kurang lebih 2 bulan. Hal ini sangat jarang ditemukan pada tempat-tempat lain.

XIV. RINCIAN DANA
No. Jenis Biaya Besarnya Biaya (Rp)
1. Harga indukan betina siap kawin
a. Persia
b. Anggora
RP. 2.400.000,-
Rp. 900.000,-
2. Biaya Kawin
a. Persia
b. Anggora
Rp. 500.000,-
Rp. 150.000,-
3. Kandang
a. Buatan Sendiri (1X1,5m)
b. Khusus @ 150.000 (2buah)
Rp. 100.000,-
Rp. 300.000,-
4. Pakan 4 Sak (8 anak dan 2 induk) @ Rp. 140.000
Rp. 560.000,-
5. Vitamin ( 8 anak dan 2 induk) Rp. 240.000,-
6. Shampo 10 buah ( 2 induk selama 5 bulan) Rp. 250.000,-
7. Transportasi (2 Sepeda Motor) Rp. 320.000,-
8. Sewa Tempat Rp. 280.000,-
Total Rp. 6.000.000,-
Tabel 2

07/07/2009 Posted by | Contoh PKM | 5 Komentar

RAYAP SEBAGAI SUMBER PROTEIN (IKHTIAR KEMBALI KE ALAM UNTUK PENGENTASAN GIZI BURUK)

ABSTRAK
RAYAP SEBAGAI SUMBER PROTEIN
(IKHTIAR KEMBALI KE ALAM UNTUK PENGENTASAN GIZI BURUK)
Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualtias, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat dan kesehatan yang prima disamping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekurangan gizi dapat merusak bangsa.
Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat akan potensi rayap sebagai penghasil protein yang dapat membantu mengentaskan gizi buruk dan membantu menambah penghasilan masyarakat dengan ccara membudidayakan rayap.
Penulisan karya ilmiah ini menggunakan teknik analisa data, analisa deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998:25), analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Sedangkan Reduksi data dalam karya tulis ini dilakukan dalam bentuk pemilihan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan literature atau intisari literature.
Berdasarkan dari data dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa rayap dapat digunakan sebagai panganan alternative yang mempunyai protein yang tinggi untuk membantu mengurangi gizi buruk selain itu dengan membudidayakan rayap dapat memberi lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Kata Kunci: Rayap, gizi buruk, Budidaya

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM.
Pada saat ini, sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat, umumnya disebut kekurangan gizi (Atmarita, 2008). Kejadian kekurangan gizi sering terluputkan dari penglihatan atau pengamatan biasa, akan tetapi secara perlahan berdampak pada tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, angka kematian balita, serta rendahnya umur harapan hidup.
Di Indonesia gizi buruk ini melanda 27 persen balita atau mencapai 175 ribu penderita di seluruh indonesia(Tjuk, 2008). Untuk mengatasi hal ini pemerintah melakukan berbagai macam cara diantaranya dengan melakukan SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi) yang melakukan pemetaan daerah rawan pangan. Selain itu, pemerintah akan mengaktifkan kembali peran Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dalam mengontrol berat badan balita, karena orang yang aktif adalah ibu balita, bukan petugas Posyandu setempat (Eko, 2008).
Penyebab kekurangan gizi pada masyarakat ini adalah kurangnya makanan yang cukup mengandung hidrat arang, lemak, protein serta vitamin dan mineral yang sering menjadi masalah adalah protein. Berkat protein, tubuh manusia bisa tumbuh dan terpelihara. Protein akan membentuk sel-sel dan jaringan baru tubuh dan memelihara pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh yang aus. Protein juga membantu pengaturan asam basa di dalam tubuh, serta membentuk hormon dan enzim yang kemudian berperan dalam berbagai proses kimia tubuh. Protein juga bisa menjadi bahan bahan untuk energi bila keperluan tubuh akan hidrat arang dan lemak tidak terpenuhi. Kekurangan protein akan membuat tubuh mudah merasa lelah, tekanan darah turun, dan daya tahan terhadap infeksi menurun. Pada anak-anak, selain mudah terserang penyakit kwasiorkor, juga pertumbuhan dan tingkat kecerdasannya akan terganggu.
Namun, hal ini sulit diterapkan dalam masyarakat karena selain harganya mahal dan juga banyak orang tidak tahu seberapa banyak protein yang dibutuhkan serta apa saja sumber-sumbernya.. Oleh karena itu dibutuhkan sumber alternatif gizi yang mudah, murah, dan banyak terdapat di masyarakat.
Rayap sebagai salah satu alternatif sumber protein banyak tersedia di masyarakat dan harganya murah. Namun banyak masyarakat hanya kenal rayap sebagai hewan perusak. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan makannya yang sangat cepat. Makanan rayap adalah selulosa baik berbentuk arsip kantor, buku, perabotan, kayu bagian konsruksi, sampah, dan tunggak. Kayu-kayu yang tertimbun di bawah fondasi bangunan (ini merupakan bahan sarang yang baik karena kelak mereka dimungkinkan untuk “naik”), kayu sisa cetakan beton yang tidak dikeluarkan dari konstruksi, dan lain-lain.
Perubahan iklim ditengarai juga ikut mempercepat perkembangan rayap yang pada akhirnya memperparah kerusakan bangunan maupun peralatan manusia yang terbuat dari kayu. Berdasarkan penelitian dua tahun terakhir, misalnya, 55 persen bangunan di Jakarta sudah rusak oleh rayap, sementara di Semarang 41 persen, dan Surabaya 36 persen. Kerugian finansial yang harus ditanggung secara nasional diperkirakan mencapai 3,73 juta dollar AS (Dodi, 2008). Jadi, untuk menghindar dari serangan rayap jelas perlu dihindarkan obyek-obyek makanan rayap ini, kecuali bila bahan kayu memang diperlukan maka perlu perlakuan perlindungan seperti perlakuan tanah dengan insektisida (soil treatment), pengawetan kayu (wood preservation). Atau biarkan saja sampai rayap menyerang kemudian rayapnya kita serang – tapi kerugian besar tak terhindarkan dan pengendalian rayap akan sangat sulit (sifat kritobiotik !).
Pemanfaatan rayap sebagai sumber protein tinggi dapat dilakukan mulai dari makanan yang sifatnya sederhana, seperti membuat aneka panganan, seperti rempeyek rayap, hingga mengolahnya menjadi permen. Bahkan, rayap sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan tambahan untuk pakan ayam. Mengingat jumlahnya yang besar di tanah air, tidak sulit menemukan rayap di sekitar tempat tinggal masyarakat.
Berangkat dari wacana dan peluang tersebut maka perlu adanya, budidaya atau pemanfaatan rayap sebagai upaya untuk mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh serangan rayap yang mencapai 3,73 juta dollar AS. Selain itu, dengan membudidayakan rayap juga bermanfaat untuk mengurangi angka kemiskinan dan jumlah pengganguran yang ada di Indonesia karena, akan membuka peluang bagi masyarakat untuk menambah penghasilan sampingan bagi mereka.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu
1.Bagaimanakah potensi rayap sebagai alternative pengentas gizi buruk ?
2.Bagaimanakah potensi budidaya rayap untuk meningkatkan pendapatan masyarakat?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat akan potensi rayap sebagai penghasil protein yang dapat membantu mengentaskan gizi buruk dan membantu menambah penghasilan masyarakat dengan ccara membudidayakan rayap.
1.4 Manfaat penulisan
Berdasarkan latar belakang rumusan masalah dan tujuan di atas maka manfaat yang diharapkan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah:
a. Masyarakat dapat memanfaatkan potensi rayap yang begitu besar terdapat di sekitar lingkungan masyarakat.
b. Mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran pada masyarakat karena, dengan membudidayakan rayap berarti dapat menciptakan lapangan kerja yang baru

BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1 GIZI BURUK
Beragam masalah malnutrisi banyak ditemukan pada anak-anak. Dari kurang gizi hingga busung lapar. Secara umum kurang gizi adalah salah satu istilah dari penyakit malnutrisi energi-protein(MEP), yaitu penyakit yang diakibatkan kekurangan energi dan protein. Bergantung pada derajat kekurangan energi-protein yang terjadi, maka manifestasi penyakitnya pun berbeda-beda. MEP ringan sering diistilahkan dengan kurang gizi. Sedangkan marasmus, kwashiorkor (sering juga diistilahkan dengan busung lapar atau HO), dan marasmik-kwashiorkor digolongkan sebagai MEP berat.
Tabel1. Data penderita gizi kurang dan buruk di Indonesia dari tahun 1989-2004 (Susenas):
Tahun Jumlah Penduduk Jumlah Balita Gizi Kurang dan Buruk Jumlah Balita Gizi Buruk
1989 177.614.965 7.986.279 1.324.769
1992 185.323.456 7.910.346 1.607.866
1995 95.860.899 6.803.816 2.490.567
1998 206.398.340 6.090.815 2.169.247
1999 209.910.821 5.256.587 1.617.258
2000 203.456.005 4.415.158 1.348.181
2001 206.070.000 4.733.028 1.142.455
2002 208.749.460 5.014.028 1.469.596
2004 211.567.577 5.119.935 1.528.676
Sumber: www. depkes.go.id

Tabel 2. Data terbaru tahun 2007 di Indonesia diketahui bahwa:
Kota Gizi Buruk
Jawa Tengah 15.980
Cilacap 120
Sampang 59
Tangerang 2.895
Trenggalek 500
Sumber: http://www.tribunkaltim.com
Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa penderita gizi buruk di Indonesia masih besar. Secara umum penyakit gizi buruk dibagi menjadi beberapa macam yaitu:
2.1.1 KURANG GIZI
Penyakit ini paling banyak menyerang anak balita, terutama di negara-negara berkembang. Gejala kurang gizi ringan relatif tidak jelas, hanya terlihat bahwa berat badan anak tersebut lebih rendah dibanding anak seusianya. Rata-rata berat badannya hanya sekitar 60-80% dari berat ideal. Adapun ciri-ciri klinis yang biasa menyertainya antara lain :
1). Kenaikan berat badan berkurang, terhenti, atau bahkan menurun.
2). Ukuran lingkaran lengan atas menurun.
3). Maturasi tulang terlambat
4). Rasio berat terhadap tinggi, normal atau cenderung menurun.
5). Tebal lipat kulit normal atau semakin berkurang.

2.1.2 MARASMUS
Anak-anak penderita marasmus secara fisik mudah dikenali. Meski masih anak-anak,
wajahnya terlihat tua, sangat kurus karena kehilangan sebagian lemak dan otot-ototnya. Penderita marasmus berat akan menunjukkan perubahan mental, bahkan hilang kesadaran. Dalam stadium yang lebih ringan, anak umumnya jadi lebih cengeng dan gampang menangis karena selalu merasa lapar. Ada pun ciri-ciri lainnya adalah:
1). Berat badannya kurang dari 60% berat anak normal seusianya
2). Kulit terlihat kering, dingin dan mengendur.
3). Beberapa di antaranya memiliki rambut yang mudah rontok
4). Tulang-tulang terlihat jelas menonjol.
5). Sering menderita diare atau konstipasi
6). Tekanan darah cenderung rendah dibanding anak normal, dengan kadar hemoglobin yang juga lebih rendah dari semestinya.
2.1.3 KWASHIORKOR
Kwashiorkor sering juga diistilahkan sebagai busung lapar atau HO. Penampilan anak-anak penderita HO umumnya sangat khas, terutama bagian perut yang menonjol. Berat badannya jauh di bawah berat normal. Edema stadium berat maupun ringan biasanya menyertai penderita ini. Beberapa ciri lain yang menyertai di antaranya :
1). Perubahan mental menyolok. Banyak menangis, bahkan pada stadium lanjut anak terlihat sangat pasif.
2). Penderita nampak lemah dan ingin selalu terbaring.
3). Diare dengan feses cair yang banyak mengandung asam laktat karena berkurangnya produksi lactase dan enzim penting lainnya.
4). Kelainan kulit yang khas, dimulai dengan titik merah menyerupai petechia ( pendarahan kecil yang timbul sebagia titik berwarna merah keunguan, pada kulit maupun selaput lender, Red.), yang lambat laun kemudian menghitam. Setelah mengelupas, terlihat kemerahan dengan batas menghitam. Kelainan ini biasanya dijumpai di kulit sekitar punggung, pantat, dan sebagainya.
5). Pembesaran hati, bahkan saat rebahan, pembesaran ini dapat diraba dari luar tubuh, terasa licin dan kenyal
2.1.4 MARASMIK- KWASHIORKOR
Penyakit ini merupakan gabungan dari marasmus dan kwashiorkor dengan gabungan gejala yang menyertai:
1). Berat badan penderita hanya berkisar di angka 60% dari berat normal. Gejala khas kedua penyakit tersebut nampak jelas, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit dan sebagainya.
2). Tubuh mengandung lebih banyak cairan, karena berkurangnya lemak dan otot.
3). Kalium dalam tubuh menurun drastic sehingga menyebabkan gangguan metabolic seperti gangguan pada ginjal dan pancreas.
4). Mineral lain dalam tubuh pun mengalami gangguan, seperti meningkatnya kadar natrium dan fosfor inorgonik serta menurunya kadar magnesium
2.1.5 GAGAL TUMBUH
Selain malnutrisi energi-protein di atas, ada juga gangguan pertumbuhan yang diistilahkan dengan gagal tumbuh. Gagal tumbuh adalah bayi/anak dengan pertumbuhan fisik kurang secara bermakna disbanding anak sebayanya. Untuk mudahnya, pertumbuhan anak tersebut ada di bawah kurva pertumbuhan normal. Tanda-tanda lainnya adalah :
1). Kegagalan mencapai tinggi dan berat badan ideal
2). Hilangnya lemak di bawah kulit secara signifikan
3). Berkurangnya massa otot
4). Dermatitis
5). Infeksi berualang
2.1.6 FAKTOR PENYEBAB
Secara umum masalah malnutrisi energi-protein (MEP) disebabkan beberapa factor yang paling dominant adalah tanggung jawab negara terhadap rakyatnya karena bagaimanapun MEP tidak akan terjadi bila kesejahteraan rakyat terpenuhi. Berikut faktor-faktor penyebab terjadinya gizi buruk:
1). Faktor sosial, yang dimaksud disini adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi bagi pertumuhan anak. Sehingga banyak balita yang diberi makan “sekedarnya” atau asal kenyang padahal miskin gizi.
2). Kemiskinan, hal ini sering dituding sebagai biang keladi munculnya penyakit ini di Negara-negara berkembang. Rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan kebutuhan paling mendasar, yaitu pangan pun seringkali tak bisa terpenuhi.
3). Laju pertambahan penduduk yang tidak seimbang dengan bertambahnya ketersediaan bahan pangan akan menyebabkan krisis pangan. Ini pun menjadi penyebab munculnya penyakit MEP.
4). Infeksi, tak dapat dipungkiri memang ada hubungan erat antara infeksi dengan malnutrisi. Infeksi sekecil apa pun berpengagruh pada tubuh. Sedangkan kondisi malnutrisi akan semakin memperlemah daya tahan tubuh yang pada giliran berikutnya akan mempermudah masuknya beragam penyakit.
Tindakan pencegahan otomatis sudah dilakukan bila factor-faktor penyebabnya dapat dihindari. Misalnya ketersediaan pangan yang tercukupi, daya beli masyarakat untuk dapat membeli bahan pangan, serta pentingnya sosialisasi makanan bergizi terutama bagi balita.
2.1.7 LANGKAH PENGOBATAN
Pengobatan pada penderita MEP tentu saja harus disesuaikan dengan tingkatannya. Penderita kurang gizi stadium ringan, contohnya, diatasi dengan perbaikan gizi. Dalam sehari anak-anak ini harus mendapat masukan protein sekitar 2-3 gram atau setara dengan 100-150 Kkal. Sedangkan pengobatan MEP berat cenderung lebih kompleks karena masing-masing penyakit yang menyertai harus diobati satu per satu. Penderita pun sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk mendapat perhatian medis secara penuh. Sejalan dengan pengobatan penyakit penyerta maupun infeksinya, status gizi anak tersebut terus diperbaiki hingga sembuh.
Secara umum pentingnya gizi dan penyebab terjadinya kekurangan gizi dapat dilihat pada bagan berikut:
Bagan 1. Gizi menurut daur kehidupan

Bagan 2. Penyebab kurang gizi

2.2 PROTEIN
Gizi yang cukup yang dapat menjamin kesehatan optimal Dalam hidup protein memegang peranan yang penting. Proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim, suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalis. Di samping itu, hemoglobin dalam butir-butir darah merah atau eritrosit yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru keseluruh bagian tubu, adalah satu jenis protein. Demikian pula zat-zat yang berperan untuk melawan bakteri penyakit atau yang disebut antigen, juga suatu protein. Kita memperoleh protein dari makanan yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Protein yang berasal dari tumbuhan disebut protein nabati, sedangkan yang berasal dari hewan disebut protein hewani. Beberapa sumber protein adalah daging, telur, susu, beras, kacang, kedelai, gandum, jagung, dan buah-buahan.
Protein membentuk sebahagian besar struktur di dalam sel termasuklah sebagai enzim dan pigmen respiratori. Protein dibentuk dari percantuman unit asas yang dikenali sebagai asid amino. Protein boleh dibahagikan kepada dua jenis yaitu protein fibrous yang banyak bergantung kepada struktur sekunder dinama bentuk protein ini boleh diulang. Manakala bentuk kedua ialah protein globular (enzim dan antibodi) yang banyak bergantung kepada interaksi struktur bebas yang terdapat 20 jenis asid amino yang digunakan untuk membentuk rantaian polipeptida (protein) Fungsi, bentuk, ukuran dan jenis protein akan ditentukan oleh jenis, bilangan dan taburan asam amino yang terdapat di dalam struktur tersebut. Penamaan beberapa asam amino dinamakan tindakbalas kondensasi dengan dicirikan berlakunya pembentukan ikatan peptida dan pembentukan molekul air. Penamaan ini akan menghasilkan rantai peptida yang lebih dikenali sebagai polipeptida dengan mempunyai dua ujung rantai yang berbeda sifatnya. Di ujung yang mempunyai kumpulan amino dikenali sebagai terminal N (amino) dan ujung yang mempunyai kumpulan karboksil dikenal sebagai terminal N. penyambungan rantai asam amino ini memerlukan tenaga yang tinggi dan ketepatan urutan asam amino dalam rantai ini pula tergantung pada koordinasi di antara mRNA dan tRNA.
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh sesudah air. Seperlima bagian tubuh protein, separuhnya ada di dalam otot, seperlima di dalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluh didalam kulit, dan selebihnya didalam jaringan lain, dan cairan tubuh. Semua enzim, berbagai hormon, pengangkut zat-zat gizi dan darah, matriks intra seluler dan sebagainya adalah protein. Disamping itu asam amino yang membentuk protein bertindak sebagai prekursor sebagian besar koenzim, hormon, asam nukleat, dan molekul-molekul yang essensial untuk kehidupan. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantika oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.
Protein yang dibentuk dengan hanya menggunakan satu polipeptida dinamakan sebagai protein monomerik dan yang dibentuk oleh beberapa polipeptida contohnya hemoglobin pula dikenali sebagai protein multimerik. Protein (akar kata protos dari bahasa Yunani yang berarti “yang paling utama”) adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus. Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut (heterotrof).
Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipida, dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan oleh Jons Jakob Berzelius pada tahun 1838. Biosintesis protein alami sama dengan ekspresi genetik. Kode genetik yang dibawa DNA ditranskripsi menjadi RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi translasi yang dilakukan ribosoma. Sampai tahap ini, protein masih “mentah”, hanya tersusun dari asam amino proteinogenik. Melalui mekanisme pascatranslasi, terbentuklah protein yang memiliki fungsi penuh secara biologi.
Dalam kehidupan protein memegang peranan yang penting, proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim yang berfungsi sebagai biokatalis. Disamping itu hemoglobin dalam butir-butir darah merah atau eritrosit yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru keseluruh bagian tubuh, adalah salah satu jenis protein. Demikian pula zat-zat yang berperan untuk melawan bakteri penyakit atau disebut antigen, juga suatu protein.
2.2.1 Zat Protein
Protein dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari dapat berasal dari hewani maupun nabati. Protein yang berasal dari hewani seperti daging, ikan, ayam, telur, susu, dan lain-lain disebut protein hewani, sedangkan protein yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti kacang-kacangan, tempe, dan tahu disebut protein nabati. Dahulu, protein hewani dianggap berkualitas lebih tinggi daripada menu seimbang protein nabati, karena mengandung asam-asam amino yang lebih komplit. Tetapi hasil penelitian akhir-akhir ini membuktikan bahwa kualitas protein nabati dapat setinggi kulaitas protein hewani, asalkan makanan sehari-hari beraneka ragam. Dengan susunan hidangan yang beragam atau sering pula disebut sebagai, maka kekurangan asam amino dari bahan makanan yang satu, dapat ditutupi oleh kelebihan asam-asam amino dari bahan makanan lainnya. Jadi dengan hidangan: ada nasi atau penggantinya, lauk-pauk, sayur-sayuran, dan buah-buahan, apalagi bila ditambah susu, maka susunan hidangan adalah sehat. Bukan saja jumlah atau kualitas zat-zat gizi yang kita butuhkan tercukupi, tetapi juga kualitas zat-zat gizi yang kita konsumsi bermutu tinggi.
Protein dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan, pembentukan otot, pembentukan sel-sel darah merah, pertahanan tubuh terhadap penyakit, enzim dan hormon, dan sintesa jaringan-jaringan badan lainnya. Protein dicerna menjadi asam-asam amino, yang kemudian dibentuk protein tubuh di dalam otot dan jaringan lain. Protein dapat berfungsi sebagai sumber energi apabila karbohidrat yang dikonsumsi tidak mencukupi seperti pada waktu berdiet ketat atau pada waktu latihan fisik intensif. Sebaiknya, kurang lebih 15% dari total kalori yang dikonsumsi berasal dari protein.
2.2.2Sintesis Protein
Tumbuh-tumbuhan dan hewan dapat mensintesis protein, yaitu tumbuh-tumbuhan dari nitrogen yang tersedia ditanah, sedangkan hewan dari asam amino yang diperoleh dari makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Hewan dapat mensintesis beberapa macam asam amino dari nitrogen yang berasal dari makanan. Sintesis protein meliputi pembentukan rantai panjang asam amino yang dinamakan rantai peptide. Ikatan kimia yang mengaitkan dua asam amino satu sama lain dinamkan ikatam peptide. Ikatan ini terjadi karena satu hydrogen (H) dari gugus amino suatu asam amino bersatu dengan hidroksil (OH) dari gugus karboksil asam amino yang lain. Proses ini menghasilkan satu molekul air, sedangkan CO dan NH yang tersisa akan menbentuk ikatan peptide. Sebaliknya ikatan peptide ini dapat dipecah menjadi asam amino, oleh asam atau enzim pencerna dengan penambahan satu molekul air. Proses ini dinamakan hidrolisis.
Hasil akhir pencernaan protein terutama berupa asam amino dan ini segera diabsorpsi dalm waktu lima belas menit setelah makan. Absorpsi terutama terjadi dalam usus halus berupa empat sistem absorpsi aktif yang membutuhkan energi, yaitu masing-masing untuk asam amino netral, asam amino asam dan basa, serta untuk prolin dan hidroksiprolin. Absorpsi ini menggunakan mekanisme transpor natriun seperti halnya pada absorpsi glukosa. Asam amino yang diabsorpsi memasuki sirkulasi darah melalui vena porta dan dibawa ke hati. Sebagian asam amino digunakan oleh hati, dan sebagian lagi melalui sirkulasi darah dibawa ke sel-sel jaringan.
Kadang-kadang protein yang belum dicerna dapat memasuki mukosa usus halus dan muncul dalam darah. Hal ini sering terjadi pada protein susu dan protein telur yang dapat menimbulkan gejala alergi (immunological sensitive protein). Sebagian besar asam amino telah diabsorpsi pada saat asam amino sampai diujung usus halus. Hanya 1 % proein yang dimakan ditemukan dalam feses. Protein endogen yang berasal dari sekresi saluran cerna dan sel-sel yang rusak juga dicerna dan diabsorpsi. Ribuan protein yang terdapat dalam tubuh manusia melakukan berbagai fungsi yang begitu banyak ubtuk dituliskan. Fungsi ini menyangkut pekerkjaan sebagai pembawa vitamin, oksigen dan karbondioksida plus peranan structural, kinetic, katalitik serta pembentukan sinya
2.3 RAYAP
Rayap dalam biologi adalah sekelompok hewan dalam salah satu ordo Isoptera dari kelas Artropoda. Ordo Isoptera beranggotakan sekitar 2.000 spesies dan di Indonesia telah tercatat kurang lebih 200 jenis (spesies). Nama lain dari rayap adalah anai-anai, semut putih, rangas dan laron (khusus individu bersayap), dan alates. Sampai saat ini para ahli hama telah menemukan kira- kira 2000 jenis rayap yang tersebar di seluruh dunia, sedangkan di Indonesia sendiri telah ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap ( Nandika dan Tambunan, 1989).
Beberapa sifat yang penting untuk diperhatikan dalam kehidupan rayap adalah sifat : (1)Trophalaxis, yaitu sifat rayap untuk berkumpul saling menjilat serta mengadakan pertukaran bahan makanan; (2) Cryptobiotic, yaitu sifat rayap untuk menjauhi cahaya. (3) Kanibalisme, yaitu sifat rayap untuk memakan individu sejenis yang lemah atau sakit.; dan (4) Sifat Necrophagy, yaitu sifat rayap untuk memakan bangkai sesamanya.
Koloni rayap dapat terbentuk melalui beberapa cara, yaitu : (1) pembentukan koloni oleh kasta reproduktif primer (laron); (2) Pembentukan koloni dengan cara isolasi; dan (3). Pembentukan koloni dengan cara migrasi.
Selulosa adalah makanan utama rayap, oleh karena itu kayu dan jaringan tanaman lainnya merupakan sasaran utama serangga rayap. Walaupun makanan utama rayap adalah selulosa, tetapi rayap tidak dapat hidup dan tumbuh normal bila hanya tersedia selulosa murni. Para ahli menyimpulkan bahwa rayap hidup dan tumbuh bila tersedia makanan yang mengandung gula, protein, garam dan vitamin A,B, dan E karena zat- zat tersebut sangat penting dalam kehidupannya. Dari perilaku makan yang demikian rayap termasuk golongan makhluk hidup perombak bahan mati yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan dalam ekosistem.
2.3.1 Sebaran dan Makanan
Rayap pada dasarnya adalah serangga daerah tropika dan subtropika. Namun sebarannya kini cenderung meluas ke daerah sedang (temperate ) dengan batas-batas 50o LU dan LS. Di daerah tropika rayap ditemukan mulai dari pantai sampai ketinggian 3000 m di atas permukaan laut. Makanan utamanya adalah kayu atau bahan yang terutama terdiri atas selulosa. Dari perilaku makan yang demikian kita menarik kesimpulan bahwa rayap termasuk golongan makhluk hidup perombak bahan mati yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan dalam ekosistem kita. Mereka merupakan konsumen primer dalam rantai makanan yang berperan dalam kelangsungan siklus beberapa unsur penting seperti karbon dan nitrogen. Tapi masalahnya adalah manusia juga merupakan konsumen primer yang memerlukan hasil-hasil tanaman bukan saja untuk makanannya tetapi juga untuk membuat rumah dan bangunan-bangunan lain yang diperlukannya. Di sinilah letak permasalahannya, sehingga manusia bersaing dengan rayap. Semula agak mengherankan para pakar bahwa rayap mampu makan (menyerap) selulosa karena manusia sendiri tidak mampu mencernakan selulosa (bagian berkayu dari sayuran yang kita makan, akan dikeluarkan lagi !), sedangkan rayap mampu melumatkan dan menyerapnya sehingga sebagian besar ekskremen hanya tinggal lignin saja. Keadaan menjadi jelas setelah ditemukan berbagai protozoa flagellata dalam usus bagian belakang dari berbagai jenis rayap (terutama rayap tingkat rendah: Mastotermitidae, Kalotermitidae dan Rhinotermitidae), yang ternyata berperan sebagi simbion untuk melumatkan selulosa sehingga rayap mampu mencernakan dan menyerap selulosa. Bagi yang tak memiliki protozoa seperti famili Termitidae, bukan protozoa yang berperan tetapi bakteria — dan bahkan pada beberapa jenis rayap seperti Macrotermes , Odontotermes dan Microtermes memerlukan bantuan jamur perombak kayu yang dipelihara di “kebun jamur” dalam sarangnya.
Semua rayap makan kayu dan bahan berselulosa, tetapi perilaku makan (feeding behavior ) jenis-jenis rayap bermacam-macam. Hampir semua jenis kayu potensial untuk dimakan rayap. Memang ada yang relatif awet seperti bagian teras dari kayu jati tetapi kayu jati kini semakin langka. Untuk mencapai kayu bahan bangunan yang terpasang rayap dapat “keluar” dari sarangnya melalui terowongan-terowongan atau liang-liang kembara yang dibuatnya. Bagi rayap subteran (bersarang dalam tanah tetapi dapat mencari makan sampai jauh di atas tanah), keadaan lembab mutlak diperlukan. Hal ini menerangkan mengapa kadang-kadang dalam satu malam saja rayap Macrotermes dan Odontoterme s telah mampu menginvasi lemari buku di rumah atau di kantor jika fondasi bangunan tidak dilindungi. Sebaliknya, rayap kayu kering (Cryptotermes) tidak memerlukan air (lembab) dan tidak berhubungan dengan tanah. Juga tidak membentuk terowongan-terowongan panjang untuk menyerang obyeknya. Mereka bersarang dalam kayu, makan kayu dan jika perlu menghabiskannya sehingga hanya lapisan luar kayu yang tersisa, dan jika di tekan dengan jari serupa menekan kotak kertas saja. Ada pula rayap yang makan kayu yang masih hidup dan bersarang di dahan atau batang pohon, seperti Neotermes tectonae yang menimbulkan kerusakan (pembengkakan atau gembol) yang dapat menyebabkan kematian pohon jati. Penggolongan menurut habitat atau perilaku bersarang.
Berdasarkan lokasi sarang utama atau tempat tinggalnya, rayap perusak kayu dapat digolongkan dalam tipe-tipe berikut :
1. Rayap pohon, yaitu jenis-jenis rayap yang menyerang pohon yang masih hidup, bersarang dalam pohon dan tak berhubungan dengan tanah. Contoh yang khas dari rayap ini adalah Neotermes tectonae (famili Kalotermitidae), hama pohon jati.
2. Rayap kayu lembab, menyerang kayu mati dan lembab, bersarang dalam kayu, tak berhubungan dengan tanah. Contoh : Jenis-jenis rayap dari genus Glyptotermes (Glyptotermes spp., famili Kalotermitidae).
3. Rayap kayu kering, seperti Cryptotermes spp. (famili Kalo-termitidae), hidup dalam kayu mati yang telah kering. Hama ini umum terdapat di rumah-rumah dan perabot-perabot seperti meja, kursi dsb. Tanda serangannya adalah terdapatnya butir-butir ekskremen kecil berwarna kecoklatan yang sering berjatuhan di lantai atau di sekitar kayu yang diserang. Rayap ini juga tidak berhubungan dengan tanah, karena habitatnya kering.
4. Rayap subteran, yang umumnya hidup di dalam tanah yang mengandung banyak bahan kayu yang telah mati atau membusuk, tunggak pohon baik yang telah mati maupun masih hidup. Di Indonesia rayap subteran yang paling banyak merusak adalah jenis-jenis dari famili Rhinotermitidae. Terutama dari genus Coptoterme s (Coptotermes spp.) dan Schedorhinotermes. Perilaku rayap ini mirip rayap tanah seperti Macr¬otermes namun perbedaan utama adalah kemampuan Coptotermes untuk bersarang di dalam kayu yang diserangnya, walaupun tidak ada hubungan dengan tanah, asal saja sarang tersebut sekali-sekali memperoleh lembab, misalnya tetesan air hujan dari atap bangunan yang bocor. Coptotermes pernah diamati menyerang bagian-bagian kayu dari kapal minyak yang melayani pelayaran Palembang-Jakarta. Coptotermes curvignathus Holmgren sering kali diamati menyerang pohon Pinus merkusii dan banyak meyebabkan kerugian pada bangunan.
5. Rayap tanah. Jenis-jenis rayap tanah di Indonesia adalah dari famili Termitidae. Mereka bersarang dalam tanah terutama dekat pada bahan organik yang mengandung selulosa seperti kayu, serasah dan humus. Contoh-contoh Termitidae yang paling umum menyerang bangunan adalah Macrotermes spp. (terutama M. gilvus) Odontotermes spp. dan Microtermes spp. Jenis-jenis rayap ini sangat ganas, dapat menyerang obyek-obyek berjarak sampai 200 meter dari sarangnya. Untuk mencapai kayu sasarannya mereka bahkan dapat menembus tembok yang tebalnya beberapa cm, dengan bantuan enzim yang dikeluarkan dari mulutnya. Macrotermes dan Odontotermes merupakan rayap subteran yang sangat umum menyerang bangunan di Jakarta dan sekitarnya.
Taksonomi atau penggolongan jenis-jenis rayap merupakan salah satu misteri dunia insekta karena tingginya tingkat kemiripan antar jenis rayap dalam masing-masing famili. Kiranya kita tak perlu sangat memusingkan jenis-jenis (spesies) rayap ini. Hal yang penting adalah dapat mengenal tipe-tipe seperti telah disebut di muka. Pada umumnya rayap yang terdapat dalam satu kategori memiliki kemiripan dalam hampir semua segi perilakunya, sehingga metoda pengendalianyapun dapat disamakan.
Dapat dikatakan bahwa terdapat tiga famili rayap perusak kayu (yang dianggap sebagai hama), yaitu famili Kalotermitidae, Rhinotermitidae dan Termitidae. Kalotermitidae diwakili oleh Neotermes tectonae (hama pohon jati) dan Cryptotermes spp. (rayap kayu kering); Rhinotermitidae oleh Coptotermes spp dan Schedorhinotermes, sedangkan Termitidae oleh Macrotermes spp., Odontotermes spp. dan Microtermes spp.). Masih banyak jenis-jenis rayap yang juga penting tetapi agak jarang dijumpai menyerang bangunan. Misalnya jenis-jenis Nasutitermes (famili Termitidae), yang pada dahi prajuritnya terdapat “tusuk” (seperti hidung: nasus, nasute), dan mampu melumpuhkan lawannya bukan dengan menusuknya tetapi meyemprotkan cairan pelumpuh berwarna putih, melalui saluran dalam “tusuk”nya. 2.3.2 Rayap Sebagai Sumber Protein
Bagi kelompok masyarakat tertentu, terutama di Afrika dan beberapa kelompok di Asia, konsumsi larva dan serangga dewasa ternyata memberikan sumbangan zart gizi yang sangat berarti. Di Eropa dan Amerika, perburuan serangga untuk dimakan ternyata juga dilakukan, tetapi tujuannya sebagian besar adalah untuk gaya hidup. Banyak orang di negara-negara maju tersebut menyukai gaya hidup di alam bebas atau alam liar termasuk cara mendapatkan makanannya. Bagi mereka, serangga merupakan makanan favorit yang sering diburu. Aneka buku dan ribuan resep serta situs-situs di internet tentang mengolah serangga sebagai bahan makanan telah dibuat dan dikembangkan oleh kelompok masyarakat tersebut. Sebagian besar serangga kaya akan protein (40-60 persen) dan lemak (10-15 persen). Serangga dewasa kadang-kadang membutuhkan penghilangan kulit kerasnya sebelum dapat digoreng atau disangrai. Larva serangga baik dalam bentuk serangga muda maupun ulat (sering disebut caterpillar) dapat langsung dimasak, atau ditambahkan ke dalam saus atau rebusan makanan (daging dan sayur/buah). Komposisi gizi beberapa jenis serangga yang digunakan sebagai bahan pangan dapat dilihat pada

Tabel 3. Data gizi macam-macam serangga:
Jenis Serangga Energi Protein Lemak Karbohidrat Serat
Semut
• Mentah
• Kering
3.0

10.1
9.5

1.3
Kumbang 192 27.1 3.7 11.2 6.4
Larva
• Mentah
86
10.6
2.7
4.2
2.8
Jangkrik
• Mentah
117
13.7
5.3
2.9
2.9
Rayap
• Mentah
• Kering
356
656
20.4
35.7
28.0
54.3
4.2
3.5
2.7
Sumber:www.ebookpangan.com/ARTIKEL/SERANGGA%20

BAB III
METODOLOGI PENULISAN
3.1 Sumber Data
Data dan fakta yang berhubungan untuk pembahasan tema ini berasal dan tahapan-tahapan pengumpulan data dengan pembacaan secara kritis terhadap ragam literatur (Library research) yang berhubungan dengan tema pembahasan.
Data potensi rayap yang ditampilkan dalam karya tulis ini dapat berupa angka atau pesan. Untuk angka, data yang dipakai adalah data dengan kriteria telah dipublikasikan kepada masyarakat, melalui literatur yang digunakan berupa buku, surat kabar, buletin, jurnal, majalah maupun internet. Dengan demikian penulis mengelompakkan atau menyeleksi data dan informasi tersebut berdasarkan kategori atau relevansi dan kemudian selanjutnya ke tahapan analisis dan pengambilan kesimpulan
3.2 Analisis Data
Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998:25), analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.
Untuk menganalisa data yang berupa pesan maka digunakan cara analisis isi (content analysis). Analisis ini menghubungkan penemuan berupa kriteria atau teori. Analisis yang dilakukan pada analisis isi karya tulis ini menggunakan interactive model (Miles dan Huberman, 1994). Model ini terdiri dari empat komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaa atau reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan data pengujian atau verifikasi kesimpulan.
3.3 Reduksi Data
Reduksi data dalam karya tulis ini dilakukan dalam bentuk pemilihan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan literature atau intisari literature. Reduksi data berlangsung secara terus menerus selama penulisan karya tulis ini dibuat hingga sampai karya tulis ini berakhir lengkap tersusun. Reduksi data dilakukan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengkoordinasi data dengan cara sedemikian sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan dapat diverifikasi.
3.4 Penyajian Data
Sekumpulan informasi disusun sehingga memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan melihat penyajian-penyajian data penulis dapat memahami apa yang seharusnya terjadi dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

BAB IV
ISI
4.1 PEMBAHASAN
4.1.1 Penyebaran Rayap di Indonesia
Rayap dalam biologi adalah sekelompok hewan dalam salah satu ordo Isoptera dari kelas Artropoda. Ordo Isoptera beranggotakan sekitar 2.000 spesies dan di Indonesia telah tercatat kurang lebih 200 jenis (spesies). Nama lain dari rayap adalah anai-anai, semut putih, rangas dan laron (khusus individu bersayap), dan alates. Sampai saat ini para ahli hama telah menemukan kira- kira 2000 jenis rayap yang tersebar di seluruh dunia, sedangkan di Indonesia sendiri telah ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap ( Nandika dan Tambunan, 1989).
Di Indonesia sampai dengan tahun 1970 sudah ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap dari berbagai genus ( Tarumingkeng, 1971). Menurut Roonwal dan Maiti (1976) dalam Tambunan dan Nandika (1989) jenis-jenis rayap banyak dijumpai di daerah tropika seperti di Indonesia adalah sebagai berikut :
Famili Kalotermitidae
1.Genus : Neotermes Holmgren
Jenis : N. dalbergia Kalshoven
N.tectonae
2. Genus : Cryptotermes Banks
Jenis : C.cynocephalus Light
C. domesticus Haviland
C. dudleyi Banks

Penyebaran rayap berhubungan dengan suhu dan curah hujan sehingga sebagian besar jenis rayap terdapat di dataran rendah tropika dan hanya sebagaian kecil ditemukan di dataran tinggi . Namun demikian, rayap menyebar tidak hanya di daerah- daerah tropika tapi juga mencakup sebagian besar negara-negara sub tropika
4.1.2 Kandungan Gizi Rayap
Rayap sebagai alternative sumber gizi mempunyai banyak kandungan gizi seperti yang tertera dalam table di bawah ini:
Data gizi macam-macam serangga:
Jenis Serangga Energi Protein Lemak Karbohidrat Serat
Semut
• Mentah
• Kering
3.0

10.1
9.5

1.3
Kumbang 192 27.1 3.7 11.2 6.4
Larva
• Mentah
86
10.6
2.7
4.2
2.8
Jangkrik
• Mentah
117
13.7
5.3
2.9
2.9
Rayap
• Mentah
• Kering
356
656
20.4
35.7
28.0
54.3
4.2
3.5
2.7

Dari data ini diketahui bahwa dari berbagai perbandingan macam jenis serangga, rayap memiliki kandungan gizi yang tinggi terutama pada protein yang dimilikinya apalagi jika rayap itu berada dalam keadaan kering yaitu sebesar 35,7.
4.1.3 Budidaya Rayap Sebagai Pengentas Gizi Buruk dan Kemiskinan
Pemanfaatan rayap sebagai sumber protein dapat dilakukan mulai dari makanan yang sifatnya sederhana, seperti rempeyek hingga permen.
Rayap sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan tambahan untuk pakan ayam. Mengingat jumlahnya yang besar di Tanah Air, tidak sulit menemukan rayap di sekitar tempat tinggal warga. Jika perlu, rayap juga diternakkan, rayap sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan tambahan untuk pakan ayam. Di daerah tropis, rayap terdapat dimana-mana dalam jumlah yang banyak. Mereka dengan mudah dapat dikumpulkan dari sarang rayap atau dengan cara memancing mereka menggunakan lampu pada malam hari, biasanya setelah hujan. Pada saat keluar sarang, rayap yang masih bersayap akan tertarik pada cahaya lampu atau api dan terbangdisekitar sumber sinar tersebut. Hawa panas disekitar sumber cahaya menyebabkan sayap rayap terlepas sehingga tubuhnya jatuh ke bawah. Rayap yang sudah tidak bersayap ini sangat mudah untuk ditangkap dan dikumpulkan.
Ratu rayap ternyata mempunyai rasa yang enak, panjangnya dapat mencapai 10-12 cm. Mereka tidak keluar dari sarangnya, tetapi tetap berada ditempat ruangan khusus tempat mengeluarkan ribuan telur tiap hari. Jika gundukan tanah sarang rayap dihancurkan, ratu rayap dapat ditangkap dan dimasak dengan cara disangrai (digoreng tanpa minyak). Rayap yang masih bersayap dapat digoreng kering dalam panci karena mereka kaya akan minyak. Selama penggorengan, sayapnya akan lepas dan dapat dipisahkan dengan hembusan angin. Kemudian diberi garam dan dimakan sebagai snack. Di Afrika Barat, rayap digoreng dalam minyak sawit, sedangkan di Malawi dan Zimbabwe rayap dipanaskan sebentar, dikeringkan dan kemudian dijual.
Melihat potensi diatas seharusnya masyarakat berani untuk mengembangkan budidaya rayap sebagai altenartif matapencaharian mereka, apalagi melihat data penduduk miskin di Indonesia.

Tabel 5. Jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 1990-2004
Tahun Penduduk Miskin
1990 15.1
1993 13.7
1996 11.3
1999 23.43
2002 18.2
2003 17.42
2004 16.66
Jumlah Penduduk Miskin (juta jiwa) %
Sumber:www.undp.or.id/pubs/imdg2005/BI/tujuan
Dari data ini diketahui bahwa jumlah penduduk miskin dan lapangan kerja di Indonesia semakin menipis, oleh karena itu diperlukan alternative dan rayap merupakan jawaban yang tepat karena sumber daya alam ini tersedia dan mudah didapatkan di masyaraka
4.2 SARAN
Berdasarkan dari data dan pembahasan di atas maka dapat disarankan bahwa:
1. Masyarakat diharapkan agar membudidayakan rayap sebagai alternative panganan yang bergizi sehingga dapat mengurangi kerusakan akibat rayap selain itu juga dapat menambah penghasilan masyarakat
2. Masyarakat diharapkan untuk mulai mengkonsumsi rayap sebagai alternative sumber protein
3. Pemerintah diharapkan giat untuk melakukan sosialisasi budidaya rayap sebagai alternatif sebagai panganan yang bergizi sehingga dapat mengurangi jumlah penderita gizi buruk.

4.3 KESIMPULAN
Berdasarkan dari data dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa rayap dapat digunakan sebagai panganan alternative yang mempunyai protein yang tinggi untuk membantu mengurangi gizi buruk selain itu dengan membudidayakan rayap dapat memberi lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Anna Poedjiadi. Dasar-Dasar Biokimia. UI-Press. Jakarta. 1994
BPS. Konsumsi Kalori dan protein Penduduk Indonesia dan propinsi 1999. Jakarta: Biro Pusat Statistik, 2000.
Direktorat Gizi. Depkes RI. Nutrition in Indonesia: Problem, Strategy and Programs. Jakarta: Direktorat Gizi, Depkes RI 1995.
FAO. Energi and protein Requirements. Report of joint FAO/WHO/UN expert consultation. Geneva: WHO Series 724, 1985
Sunita Almatsier. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia. Jakarta. 2005
Ahreus, Richard A., “Nutrition for Health”, Belmont, California, Wadworth, 1970
Femina, 18 Mei 1999, Jakarta
Frankle, Reva T. & Yavokick Owen Ainta, Delivering Service, St. Louis, Mosby, 1978
… ,”Nutrition needs and asessment of normal growth”, New York Raven, 1985
Nandika, Dodi dan B. Tambunan. 1990. Deteriorasi Kayu oleh Faktor Biologis. Fakultas Kehutanan IPB.
Natawiria, Djatnika. 1986. Peranan Rayap dalam Ekosistem Hutan. Prosiding Seminar Nasional Ancaman Terhadap Hutan Tanaman Industri, 20 Desember 1986. FMIPA-UI dan Dephut. p. 168 – 177.
Tarumingkeng, Rudy C. 1971. Biologi dan Pengenalan Rayap Perusak Kayu Indonesia. Lap. L.P.H. No. 138. 28 p.

07/07/2009 Posted by | CONTOH LKTM | Tinggalkan komentar

RECOVERY KONSERVASI DAN REHABILITASI TUMBUHAN SEBAGAI STRATEGI MITIGASI GLOBAL WARMING

ABSTRAK
RECOVERY KONSERVASI DAN REHABILITASI TUMBUHAN
SEBAGAI STRATEGI MITIGASI GLOBAL WARMING

Pada saat ini bumi menghadapi pemanasan yang cepat. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin banyak mengandung gas-gas rumah kaca ini, atmosfer semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari Matahari yang dipancarkan ke Bumi.
Jika pada tahun 1990 emisi CO2 bumi sebesar 1,34 milyar ton, maka hingga tahun 1997 saja angkanya sudah 1,47 milyar ton. Emisi buang gas pembakaran bahan bakar fosil 30 negara maju, yang berpenduduk sekitar 20 persen penduduk dunia menyumbang dua pertiga emisi gas rumah kaca ini. Sedangkan 80 persen lainnya yang merupakan penduduk negara berkembang menyumbang sepertiga emisi CO2 (Angkasa, 2002).
Salah satu penyebab pemanasan global akumulasi karbondioksida di dunia adalah akibat kerusakan hutan. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Angka kerusakan hutan semakin tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Di tahun 1950-1985, angka kerusakan mencapai 32,9 juta Ha atau 942 ribu hektare per tahun atau 2,616 ribu hektare per hari. Tahun 1985-1993 jumlah hutan yang hilang mencapai 45,6 juta hektare per tahun, hingga tahun 2004 jumlah kerusakan mencapai 59,17 juta Ha dengan lahan kritis di luar kawasan hutan sebesar 41,47 juta Ha. (Jawa Pos, 5/6/2007).
Untuk mencegah semakin bertambahnya gas-gas rumah kaca tersebu Usaha yang dapat dilakukan adalah dengan penanaman sebanyak mungkin pohon, selama ini program penghijauan telah banyak dilakukan namun belum menampakkan keberhasilan. Hal itu disebabkan program penghijauan yang dilakukan selama ini masih mengalami banyak kekurangan. Kekurangan yang teridentifikasi adalah: Pertama: pemilihan waktu yang tidak tepat. Biasanya penghijauan dilakukan pada bulan Pebruari setelah bencana banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana. Padahal musim hujan hampir berakhir, dengan demikian setelah hujan berakhir tumbuhan mati kekeringan. Kedua: pemilihan tumbuhan tidak memperhatikan kondisi iklim (ketinggian dan suhu) setempat. Hal tersebut dapat dilihat dari jenis tumbuhan sumbangan masyarakat tanpa sebuah kriteria. Ketiga: kegiatan sangat bersifat ceremonial dan kolosal namun tidak ada jaminan keberlanjutan, sehingga setelah penanaman tidak pernah ada monitoring (Wahyu. Prihanta, 2006)
Dalam rangka mitigasi global warming, perlu dilakukan recovery pola konsrvasi dan rehabilitasi tumbuhan yang aplikatif sehingga mudah untuk dilaksanakan dan memiliki efek langsung pada penurunan suhu bumi.
Recovery yang dilakukan adalah perbaikan sisten konservasi dan rehabilitasi tumbuhan meliputi konservasi tumbuhan, perbaikan sistem reboisasi dan konservasi satwa pelestari tumbuhan.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada saat ini, bumi menghadapi pemanasan yang cepat, penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam; yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin banyak mengandung gas-gas rumah kaca ini, atmosfer semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi.
Energi yang menerangi bumi datang dari matahari, sebagian besar energi yang membanjiri planet kita ini adalah radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas dan menghangatkan bumi. Permukaan bumi, akan memantulkan kembali sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar; walaupun sebagian tetap terperangkap di atmosfer bumi. Gas-gas tertentu di atmosfer termasuk uap air, karbondioksida, dan metana, menjadi perangkap radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca sehingga gas-gas ini dikenal sebagai gas rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Jika pada tahun 1990 emisi CO2 bumi sebesar 1,34 milyar ton, maka hingga tahun 1997 saja angkanya sudah 1,47 milyar ton. Emisi buang gas pembakaran bahan bakar fosil 30 negara maju, yang berpenduduk sekitar 20 persen penduduk dunia menyumbang dua pertiga emisi gas rumah kaca ini. Sedangkan 80 persen lainnya yang merupakan penduduk negara berkembang menyumbang sepertiga emisi CO2 (Angkasa, 2002).
Semakin meningkatnya suhu permukaan bumi akan berdampak terjadinya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.
Para ilmuwan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Dari hasil tersebut ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbonnya di tempat lain, cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya.
Salah satu penyebab akumulasi karbondioksida di dunia adalah akibat kerusakan hutan. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Angka kerusakan hutan semakin tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Di tahun 1950-1985, angka kerusakan mencapai 32,9 juta Ha atau 942 ribu hektare per tahun atau 2,616 ribu hektare per hari. Tahun 1985-1993 jumlah hutan yang hilang mencapai 45,6 juta hektare per tahun, hingga tahun 2004 jumlah kerusakan mencapai 59,17 juta Ha dengan lahan kritis di luar kawasan hutan sebesar 41,47 juta Ha. (Jawa Pos, 5/6/2007).
Usaha yang dapat dilakukan adalah dengan penanaman sebanyak mungkin pohon, selama ini program penghijauan telah banyak dilakukan namun belum menampakkan keberhasilan. Hal itu disebabkan program penghijauan yang dilakukan selama ini masih mengalami banyak kekurangan. Kekurangan yang teridentifikasi adalah: Pertama: pemilihan waktu yang tidak tepat. Biasanya penghijauan dilakukan pada bulan Pebruari setelah bencana banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana. Padahal musim hujan hampir berakhir, dengan demikian setelah hujan berakhir tumbuhan mati kekeringan. Kedua: pemilihan tumbuhan tidak memperhatikan kondisi iklim (ketinggian dan suhu) setempat. Hal tersebut dapat dilihat dari jenis tumbuhan sumbangan masyarakat tanpa sebuah kriteria. Ketiga: kegiatan sangat bersifat ceremonial dan kolosal namun tidak ada jaminan keberlanjutan, sehingga setelah penanaman tidak pernah ada monitoring (Wahyu. Prihanta, 2006)
Dalam rangka mitigasi global warming, harus dicari pola baru (recovery) rehabilitasi lingkungan yang aplikatif sehingga mudah untuk dilaksanakan dan memiliki efek langsung pada penurunan suhu bumi.

1.2 Rumusan Masalah
Global warming telah dirasakan pengaruhnya pada seluruh permukaan bumi, pengaruh utama peningkatan suhu global berpengaruh pada perubahan iklim yang berakibat pada bencana alam, penyakit, bidang pertanian dan bidang-bidang lain. Untuk itu perlu dicari solusi untuk mengatasinya. Salah satu cara efektif untuk mengatasi global warming adalah dengan mengurangi jumlah gas efek rumah kaca terutama karbon dioksida di atmosfer.
Permasalah yang dihadapi saat ini telah terjadi deforestri besar-besaran disisi lain proses rehabilitasi dan konservasi tumbuhan yang saat ini dilakukan masih memiliki banyak kekurangan. Kekurangan tersebut antara lain tidak tepat musim, tidak tepat jenis dengan klimatologi dan tidak ada keberlanjutan. Disamping itu aspek konservasi menyeluruh tidak diperhatikan. Dengan demikian perlu dicari dilakukan (recovery) mencari pola baru konservasi dan rehabilitasi tumbuhan dalam rangka mitigasi global warming?

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah memberikan masukan kepada instansi terkait dan masyarakat tentang pola baru konservasi dan rehabilitasi tumbuhan dalam rangka mitigasi global warming.

1.4 Manfaat Penulisan
Penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:
a. Membentuk kesadaran masyarakat terhadap global warming, dalam dampak global warming dan mitigasi global warming;
b. Dapat digunakan sebagai masukan untuk perbaikan (recovery) strategi konservasi dan rehabilitasi tumbuhan dalam rangka mitigasi global warming.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Global Warming
Pemanasan global (global warming) dapat didefinisikan sebagai naiknya suhu permukaan bumi menjadi lebih panas selama beberapa kurun waktu yang disebabkan karena meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di lapisan atmosfer. Pada dasarnya fenomena pemanasan dipermukaan bumi sebenarnya merupakan gejala sistem alam yang normal untuk menghangatkan planet bumi sehingga suhu bumi tidak menjadi dingin bahkan membeku seperti pada jaman es yang pernah terjadi 15.000 tahun lalu.
Namun proses alam yang normal tersebut telah menjadi ancaman bagi keberlangsungan kehidupan di planet ini karena konsentrasi gas rumah kaca yang menyelimuti lapisan atmosfer telah melebihi daya dukung (carrying capacity) konsentrasi gas-gas yang terkandung di lapisan atmosfer tersebut. Terjadinya peningkatan suhu bumi ini awal mulanya dikemukanan oleh Arrhenius pada tahun 1896 bahwa telah terjadi peningkatan suhu dipermukaan bumi sehingga kehidupan di panet bumi akan terhindar dari zaman es dikemudian hari. Selanjutnya National Research Council sejak tahun 1958–1980 telah melakukan pemantauan secara langsung di Gunung Mauna Loa di Hawaii yang bertujuan untuk mengetahui kadar CO2 yang menyelimuti lapisan atmosfer. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan kadar CO2 dilapisan atmosfer yang signifikan selama 22 tahun pemantauan. di Gunung Mauna Loa di Lokasi pemantauan ini dipilih secara langsung. Pemantauan itu dilakukan sejak manusia memasuki proses industri. Pada masa ini manusia mulai melakukan pembakaran batu bara, minyak dan gas bumi untuk menghasilkan bahan bakar dan listrik. Proses pembakaran energi dari Bumi ini ternyata menghasilkan gas buangan berupa gas rumah kaca (Langit selatan,2008)

2.2 Gas –Gas Penyebab Efek Rumah kaca (GRK)
2.2.1 Sumber Gas Rumah Kaca
Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktifitas manusia. Gas rumah kaca yang paling banyak adalah uap air yang mencapai atmosfer akibat penguapan air dari laut, danau dan sungai. Karbondioksida adalah gas terbanyak kedua. Ia timbul dari berbagai proses alami seperti: letusan vulkanik; pernafasan hewan dan manusia (yang menghirup oksigen dan menghembuskan karbondioksida); dan pembakaran material organic (seperti tumbuhan) (Wikipedia,27 Maret 2008).
GRK dapat dihasilkan baik secara alamiah maupun dari hasil kegiatan manusia. Sebagian besar penyebab terjadi perubahan komposisi GRK di atmosfer adalah gas-gas buang yang teremisikan keangkasa sebagai “hasil sampingan” dari aktifitas manusia untuk membangun dalam memenuhi kebutuhan hidupnya selama ini. Dimulai sejak manusia menemukan teknologi industri pada abad 18 revolusi industri 1970-an, banyak menggunakan bahan bakar primer seperti minyak bumi, gas maupun batubara untuk menghasilkan energi yang diperlukan. Energi dapat diperoleh, kalau minyak itu dibakar lebih dahulu, dari proses pembakaran tersebut keluarlah gas-gas rumah kaca.
Aktifitas-aktifitas yang menghasilkan GRK adalah perindustrian, penyediaan energi listrik, dan transportasi. Sedangkan dari peristiwa secara alam juga menghasilkan/ mengeluarkan GRK seperti dari letusan gunung berapi, rawa-rawa, kebakaran hutan, peternakan hingga kita bernafaspun mengeluarkan GRK. Komposisi dan konsentrasi gas rumah kaca yang berada di lapisan atmosfer akan sangat bergantung dari gas-gas emisi yang dihasilkan berbagai kegiatan manusia dalam merekayasa sistem tatanan ekologi di planet ini. United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC) mengklasifikasi enam jenis gas yang dapat menyerap radiasi matahari di lapisan atmosfer yaitu Karbondioksida (CO2), Dinitroksida (NO2), Metana (CH4), Sulfurheksaflorida (SF6), Perfluorokarbon (PFCs) dan hidrofluorokarbon (HFCs).
Gas karbondioksida, dinitro oksida dan metana terutama dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil di sektor energi, transportasi dan industri. Gas metana juga dihasilkan dari kegiatan pertanian dan peternakan. Sementara untuk 3 jenis GRK yang terakhir, sulfurheksaflorida, perflorokarbon dan hidroflorokarbon dihasilkan dari industri pendingin dan penggunaan aerosol.

2.2.2 Sumber Emisi GRK
Meningkatnya jumlah emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer disebabkan oleh kegiatan manusia di berbagai sektor, antara lain:
1. Energi
Pemanfaatan bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, batubara, dan gas, secara berlebihan dalam berbagai kegiatan merupakan penyebab utama dilepaskannya emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Pembangkitan listrik, penggunaan alat-alat elektronik seperti AC, TV, komputer, penggunaan kendaraan bermotor dan kegiatan industri merupakan contoh kegiatan manusia yang meningkatkan emisi GRK di atmosfer.
Walaupun sama-sama menghasilkan emisi GRK, minyak bumi, batubara dan gas bumi menghasilkan tingkat emisi yang berbeda-beda untuk jenis kegiatan yang sama. Contohnya, untuk menghasilkan energi sebesar 1 kWh, pembangkit listrik yang menggunakan batubara mengemisikan sekitar 940 gram CO2. Sementara pembangkit listrik yang menggunakan minyak bumi dan gas alam menghasilkan emisi GRK sekitar 798 dan 581 gram C02.
Dari contoh di atas terlihat bahwa di antara ketiga jenis bahan bakar fosil, batubara menghasilkan emisi CO2 paling tinggi. Di Indonesia, sektor energi menempati urutan kedua sebagai sumber GRK yaitu sekitar 25% dari total emisi. Sementara dari sisi pemanfaatan energi di Indonesia, sektor industri merupakan sektor pengemisi GRK terbesar, diikuti oleh sektor transportasi.
2. Kehutanan
Salah satu fungsi hutan adalah sebagai penyerap emisi GRK, biasa disebut carbon sink. Hutan bekerja untuk menyerap dan mengubah karbondioksida (CO2), salah satu jenis GRK, menjadi oksigen (O2) untuk kebutuhan mahluk hidup. Oleh karena itu kegiatan pengrusakan hutan, penebangan hutan, perubahan kawasan hutan menjadi bukan hutan, menyebabkan lepasnya sejumlah emisi GRK yang sebelumnya disimpan di dalam pohon.
Seharusnya dengan luasnya kawasan hutan di Indonesia, sekitar 144 juta ha (tahun 2002), maka emisi GRK yang dapat diserap jumlahnya cukup banyak. Namun dengan laju kerusakan hutan sekitar 2,2 juta ha per tahun, tak heran jika sector kehutanan merupakan penyumbang emisi GRK terbesar di Indonesia. Menurut The First National Communication yang berisi inventarisasi GRK di berbagai Negara, sekitar 64% dari total emisi GRK di Indonesia dihasilkan dari sektor kehutanan.
3. Pertanian dan Peternakan
Sektor pertanian dan peternakan juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan emisi GRK di atmosfer. Dari sektor pertanian, emisi GRK dihasilkan dari sawah yang tergenang, pemanfaatan pupuk, pembakaran padang sabana, dan pembusukan sisa-sia pertanian. Sektor pertanian menurut The First National Communication secara umum menghasilkan emisi GRK hanya sekitar 8%. Namun sektor ini menghasilkan emisi gas metana tertinggi dibandingkan sektor lainnya.
Sementara dari sektor peternakan, emisi GRK berupa gas metana (CH4) dilepaskan dari kotoran ternak yang membusuk. Sesungguhnya untuk mengurangi emisi GRK dari sector ini, kotoran ternak dapat diolah untuk menjadi biogas, bahan bakar yang ramah lingkungan.
4. Sampah
Manusia dalam setiap kegiatannya hampir selalu menghasilkan sampah. Sampah sendiri turut menghasilkan emisi GRK berupa gas metana (CH4). Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metana. Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, diperkirakan pada tahun 2020 sampah yang dihasilkan per hari sekitar 500 juta kg/ hari atau 190 ribu ton/ tahun. Ini berarti pada tahun 2020 Indonesia akan mengemisikan gas metana ke atmosfer sebesar 9500 ton. Sampah kota perlu dikelola secara benar, agar laju perubahan iklim bisa diperlambat.

2.3 Pemanasan Global dan Perubahan Iklim
2.3.1 Sistem Iklim
Secara umum iklim di definisikan sebagai pola cuaca pada suatu tempat di permukaan bumi yang terjadi selama bertahun-tahun. Untuk mengetahui kondisi iklim suatu tempat, menurut ukuran internasional diperlukan nilai rata-rata parameternya selama kurang lebih 30- 100 tahun (inter contenial). Sementara cuaca adalah merupakan kondisi harian suhu, curah hujan, tekanan udara dan angin.
Iklim muncul akibat dari pemerataan energi bumi yang tidak tetap dengan adanya perputaran/revolusi bumi mengelilingi matahari selama kurang lebih 365 hari serta rotasi bumi selama 24 jam. Hal tersebut menyebabkan radiasi matahari yang diterima berubah tergantung lokasi dan posisi geografi suatu daerah. Daerah yang berada di posisi sekitar 23,5 Lintang Utara – 23,5 Lintang Selatan, merupakan daerah tropis yang konsentrasi energi suryanya surplus dari radiasi matahari yang diterima setiap tahunnya.

2.3.2 Proses Terjadinya Perubahan Iklim
Secara alamiah panas matahari yang masuk ke bumi, sebagian akan diserap oleh permukaan bumi, sementara sebagian lagi akan dipantulkan kembali ke luar angkasa. Adanya lapisan gas (gas rumah kaca) yang berada di atmosfer menyebabkan terhambatnya panas matahari yang hendak dipantulkan ke luar angkasa menembus atmosfer. Peristiwa terperangkapnya panas matahari di permukaan bumi ini dikenal dengan istilah efek rumah kaca.
Sejak revolusi industri tahun pertengahan abad ke-18, kegiatan manusia yang menggunakan bahan bakar fosil (minyak, gas dan batubara) seperti pembangkitan tenaga listrik, kegiatan industri, penggunaan alat-alat elektronik, dan penggunaan kendaraan bermotor, pada akhirnya akan melepaskan sejumlah emisi gas rumah kaca ke atmosfer.
Hal ini berakibat pada meningkatnya jumlah gas rumah kaca yang berada di atmosfer yang kemudian menyebabkan meningkatnya panas matahari yang terperangkap di atmosfer. Peristiwa ini pada akhirnya menyebabkan meningkatnya suhu di permukaan bumi, yang umum disebut pemanasan global.
Pemanasan global kemudian pada prosesnya menyebabkan terjadinya perubahan seperti meningkatnya suhu air laut, yang menyebabkan meningkatnya penguapan di udara, serta berubahnya pola curah hujan dan tekanan udara. Perubahan-perubahan ini pada akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan iklim.
Berdasarkan penelitian para ahli, perubahan iklim diketahui akan menimbulkan dampak-dampak yang merugikan bagi kehidupan umat manusia. Kekeringan, gagal panen, krisis pangan dan air bersih, hujan badai, banjir dan tanah longsor, serta wabah penyakit tropis merupakan beberapa dampak akibat perubahan iklim. Secara umum iklim di definisikan sebagai pola cuaca pada suatu tempat di permukaan bumi yang terjadi selama bertahun-tahun. Untuk mengetahui kondisi iklim suatu tempat, menurut ukuran internasional diperlukan nilai rata-rata parameternya selama kurang lebih 30- 100 tahun (inter contenial). Sementara cuaca adalah merupakan kondisi harian suhu, curah hujan, tekanan udara dan angin.
Iklim muncul akibat dari pemerataan energi bumi yang tidak tetap dengan adanya perputaran/revolusi bumi mengelilingi matahari selama kurang lebih 365 hari serta rotasi bumi selama 24 jam. Hal tersebut menyebabkan radiasi matahari yang diterima berubah tergantung lokasi dan posisi geografi suatu daerah. Daerah yang berada di posisi sekitar 23,5 Lintang Utara – 23,5 Lintang Selatan, merupakan daerah tropis yang konsentrasi energi suryanya surplus dari radiasi matahari yang diterima setiap tahunnya.

2.3.3 Keterkaitan Efek Rumah Kaca, Pemanasan Global dan Perubahan
Iklim
Keterkaitan antara efek rumah kaca, pemanasan global dan perubahan iklim secara sederhana dijelaskan sebagai berikut sinar matahari yang tidak terserap permukaan bumi akan dipantulkan kembali dari permukaan bumi ke angkasa. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, sinar tampak adalah gelombang pendek, setelah dipantulkan kembali berubah menjadi gelombang panjang yang berupa energi panas (sinar inframerah), yang kita rasakan. Namun sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus kembali atau lolos keluar ke angkasa, karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu komposisinya (komposisinya berlebihan). Akibatnya energi panas yang seharusnya lepas keangkasa (stratosfer) menjadi terpancar kembali ke permukaan bumi (troposfer) atau adanya energi panas tambahan kembali lagi ke bumi dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga lebih dari dari kondisi normal, inilah efek rumah kaca berlebihan karena komposisi lapisan gas rumah kaca di atmosfer terganggu, akibatnya memicu naiknya suhu rata-rata dipermukaan bumi maka terjadilah pemanasan global. Karena suhu adalah salah satu parameter dari iklim dengan begitu berpengaruh pada iklim bumi, terjadilah perubahan iklim secara global.

2.3.4 Skenario Terjadinya Perubahan Iklim Global
Skenario yang paling nyata dari pengaruh meningkatnya suhu udara adalah akan mengakibatkan meningkatnya suhu tanah, sebagai konsekuensinya permukaan tanah akan lebih cepat panas daripada lautan. Dengan meningkatnya suhu permukaan tanah tersebut, maka mengakibatkan mencairnya es di wilayah kutub. Apabila hal ini terjadi, maka air laut diprediksi akan meningkat rata-rata 6 cm/dekade pada abad yang akan datang pada kisaran 3-10 cm/dekade. Mencairnya lapisan es di kutub utara tersebut, selain dapat meningkatnya permukaan laut tersebut, juga dapat merubah iklim global, sehingga sering terjadi badai. Pada saat terjadinya badai inilah, terutama badai Holocene transgression, permukaan air laut meningkat secara maksimal, yaitu sebesar 20 cm/dekade.
Berdasarkan skenario tersebut diprediksi bahwa suhu permukaan lautan tropis akan meningkat antara 1-3oC. Akan tetapi skenario ini masih banyak pertentangan, namun paling tidak suhu stabilnya diperlukan antara 30-31oC. Intensitas dan frekuensi perubahan yang ektrim secara nyata mempengaruhi tehadap perubahan ekologi terumbu karang paling tidak ada dua kejadian yang mempengaruhi tersebut:1) peningkatan curah hujan terutama pada saat badai besar, 2) terjadinya kemungkinan perubahan frekuensi penyebaran badai tropis.

2.4 Dampak Global Warming Terhadap Kehidupan
Perubahan iklim dalam prosesnya terjadi secara perlahan sehingga dampaknya tidak langsung dirasakan saat ini, namun akan sangat terasa bagi generasi mendatang. Beberapa dampak yang akan terjadi akibat perubahan iklim:
1. mencairnya es di kutub
2. meningkatnya permukaan air laut
3. pergeseran musim
Dampak perubahan iklim bagi Indonesia antara lain:
1. kenaikan temperatur dan berubahnya musim
2. naiknya permukaan air laut
3. dampak perubahan iklim terhadap sektor perikanan
4. dampak perubahan iklim terhadap sektor kehutanan
5. dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian
6. dampak perubahan iklim terhadap kesehatan
Menurut Pratiwi Sudarmono (2007), Pemanasan global dapat menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Dengan adanya perubahan iklim berubah pula pola hujan, pola tanam, sirkulasi air dan sebagainya. Bila berbagai perubahan tersebut tidak disertai dengan kemampuan adaptasi manusia dan mahluk hidup lainnya. Maka akan mempengaruhi munculnya berbagai penyakit. Sebagai contoh, perubahan iklim akan dapat menyebabkan masa inkubasi nyamuk malariadan demam berdarah menjadi pendek. Sehingga nyamuk malaria dan demam berdarah bisa berkembang dengan cepat

2.5 Mitigasi Global Warming
Mitigasi global warming adalah proses pengendalian dari akibat yang ditimbulkan global warming. Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbonnya di tempat lain, cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya (Wahyu Prihanta, 2007).
Pelaksanaan rehabilitasi lingkungan yang dilakukan selama ini tidak menunjukkan keberhasilan yang signifikan. Hal ini disebabkan kegiatan tersebut memiliki beberapa kekurangan, selama ini program penghijauan telah banyak dilakukan namun belum menampakkan keberhasilan. Hal tersebut disebabkan program penghijauan yang dilakukan selama ini masih mengalami banyak kekurangan. Kekurangan yang teridentifikasi adalah: Pertama: pemilihan waktu yang tidak tepat. Biasanya penghijauan dilakukan pada bulan Pebruari setelah bencana banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana. Padahal musim hujan hampir berakhir, dengan demikian setelah hujan berakhir tumbuhan mati kekeringan. Kedua: pemilihan tumbuhan tidak memperhatikan kondisi iklim (ketinggian dan suhu) setempat. Hal tersebut dapat dilihat dari jenis tumbuhan sumbangan masyarakat tanpa sebuah kriteria. Ketiga: kegiatan sangat bersifat ceremonial dan kolosal namun tidak ada jaminan keberlanjutan, sehingga setelah penanaman tidak pernah ada monitoring (Wahyu. Prihanta, 2006).
Lebih lanjut dalam rangka rehabilitasi lingkungan tidak hanya dilakukan dengan penanaman pohon namun juga harus dilakukan konservasi dari tumbuhan yang ada dan perlu mengkaitkan dengan komponen ekologi lainnnya. Alam terbangun dalam sebuah sistem yang sangat komplek, selalu ada kaitan antara komponen-komponen sistem di alam ini. Demikian juga keberadaan tumbuhan, sangat berkaitan dengan komponen lain yaitu hewan. Hewan terutama burung memiliki peran yang sangat besar pada keberadaan tumbuhan melalui perannya dalam membantu penyerbukan dan juga penyebaran biji (Wahyu Prihanta, 2007).

BAB III
METODE PENULISAN

3.1 Sumber Data
Data dan fakta yang berhubungan untuk pembahasan tema ini berasal dan tahapan-tahapan pengumpulan data dengan pembacaan secara kritis terhadap ragam literatur (Library research) yang berhubungan dengan tema pembahasan.
Data kerusakan lingkungan yang ditampilkan dalam karya tulis ini dapat berupa angka atau pesan. Untuk angka, data yang dipakai adalah data dengan kriteria telah dipublikasikan kepada masyarakat, melalui literatur yang digunakan berupa buku, surat kabar, buletin, jurnal, majalah maupun internet. Dengan demikian penulis mengelompakkan atau menyeleksi data dan informasi tersebut berdasarkan kategori atau relevansi dan kemudian selanjutnya ke tahapan analisis dan pengambilan kesimpulan. Namun demikian, untuk mendukung dan memperkaya gagasan dalam karya tulis ini, dilakukan wawancara dan observasi dengan narasumber yang kompeten dibidangnya Kepala Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan Universitas Muhammadiyah Malang (PSLK-UMM) Drs. Wahyu Prihanta, M.Kes.

3.2 Analisis Data
Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998:25), analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.
Untuk menganalisa data yang berupa pesan maka digunakan cara analisis isi (content analysis). Analisis ini menghubungkan penemuan berupa kriteria atau teori. Analisis yang dilakukan pada analisis isi karya tulis ini menggunakan interactive model (Miles dan Huberman, 1994). Model ini terdiri dari empat komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan atau reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan data pengujian atau verifikasi kesimpulan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pembahasan
4.1.1 Peranan Pohon dalam Mitigasi Global Warming
Gas Rumah Kaca terbesar adalah karbondioksida, dimana karbon dioksida dihasilkan sebagai hasil proses alamiah dalam proses respirasi dan juga dari berbagai aktifitas manusia non respirasi. Karbondioksida memiliki peranan menyerap panas sehingga penumpukan dalam jumlah besar akan berakibat meningkatnya suhu bumi.
Karbondioksida dapat berkurang karena terserap oleh lautan dan diserap tanaman untuk digunakan dalam proses fotosintesis. Fotosintesis memecah karbondioksida dan melepaskan oksigen ke atmosfer serta mengambil atom karbonnya (Wikipedia, 2008).
Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbonnya di tempat lain, cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya (Wahyu Prihanta, 2007).
Mekanisme penyerapan karbondioksida adalah melalui proses fotosintesis, dimana karbondioksida diserap oleh tumbuhan dari udara dan bereaksi dengan air membentuk karbohidrat. (Dwijo seputro, 1994). Secara kimiawi proses tersebut digambarkan sebagai berikut. CO2 + H2O C6H12O6, proses tersebut dibantu dengan sinar matahari dan terjadi pda klorofil daun. Dengan mekanisme ini maka secara alamiah pohon memiliki kemampuan mengurangi karbon dioksida di udara.
4.1.2 Strategi Mengoptimalkan Peranan Pohon dalam Mitigasi Global
Warming
4.1.2.1 Konservasi Tumbuhan
Secara alamiah tumbuh-tumbuhan memiliki peran yang sangat besar alam mengurangi karbondioksida di atmosfir yang berarti mampu mengurangi panas bumi. Namun ironisnya, keberdaan tumbuhan dimuka bumi mengalami penurunan jumlah yang signifikan, disisi lain emisi gas rumah kaca makin meningkat akibat berbagai kegiatan yang menggunakan bahan bakar fosil.
Hutan memiliki peran yang sangat tinggi dalam penyerapan karbondioksida, namun kerusakan hutan saat ini semakin meningkat. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Angka kerusakan hutan semakin tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Di tahun 1950-1985, angka kerusakan mencapai 32,9 juta Ha atau 942 ribu hektare per tahun atau 2,616 ribu hektare per hari. Tahun 1985-1993 jumlah hutan yang hilang mencapai 45,6 juta hektare per tahun, hingga tahun 2004 jumlah kerusakan mencapai 59,17 juta Ha dengan lahan kritis di luar kawasan hutan sebesar 41,47 juta Ha. (Jawa Pos, 5/6/2007).
Selain kerusakan hutan, hilangnya tumbuh-tumbuhan terjadi di kawasan non hutan. Wahyu Prihanta sebagai Ketua Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan Universitas Muhammadiyah Malang dalam wawancara ekslusif menyebutkan salah satu contoh kerusakan tumbuhan yang tidak banyak disadarai namun memiliki peran penting dalam mitigasi global warming adalah kerusakan tanaman tepi jalan, dimana tanaman tepi jalan memiliki peran dalam penyerapan gas yang dihasilkan oleh kegiatan transportasi yang makin meningkat (2007). Perusakan tanaman tepi jalan dari jenis Asam Jawa yang telah berumur 200 tahun banyak ditebang di Situbondo (Surya, 4/2-2001), pembangunan jalan di Lumajang (RCTI, 9/2-2001) dan di Jombang (TEB, 2001). Dalam satu minggu 30 pohon mati diracun di Kota Malang, jika seminggu sebelumnya 90 pohon yang di racun, pada hari senin 2/4-2007 jumlahnya meningkat menjadi 120 pohon (Data Dinas Pertamanan Malang).
Dalam bulan April di Jalur Batu – Malang sepanjang 10 km, 2 pohon trembesi dalam kondisi sehat di tebang, 2 pohon trembesi lain dibakar pangkalnya (Data Tim Ekspedisi Biokonservasi seperti yang dilaporkan ke Kapolwil, 15 Maret 2007 dalam Wahyu Prihanta, 2007). Hilangnya tumbuhan juga terjadi akibat alih fungsi lahan untuk berbagai kegiatan manusia sebagai contoh pertanian, perumahan maupun industri.
Berdasarkan fakta di atas, mitigasi global warming dapat dilakukan dengan meningkatkan penyerapan karbondioksida oleh tumbuhan. Menambah jumlah tumbuhan menjadi kurang efektif jika disisi lain perusakan tumbuhan terus dilakukan. Untuk itu selain menanam kegiatan konservasi tumbuhan perlu ditingkatkan.

4.1.2.2 Recovery Sistem Rehabilitasi Tumbuhan
Hilangnya tumbuhan akibat berbagai aktifitas manusia dan bencana alam dapat diperbaiki dengan rehabilitasi atau yang sering disebut dengan reboisasi. Namun dalam pelaksanaannya, reboisasi saat ini belum mendapatkan hasil yang maksimal, recovery perlu dilakukan dalam kegiatan ini. Hal ini disebabkan karena pelaksanaannya masih memiliki beberapa kekurangan.
Kekurangan yang teridentifikasi adalah: Pertama: pemilihan waktu yang tidak tepat. Biasanya penghijauan dilakukan pada bulan Pebruari setelah bencana banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana. Padahal musim hujan hampir berakhir, dengan demikian setelah hujan berakhir tumbuhan mati kekeringan. Kedua: pemilihan tumbuhan tidak memperhatikan kondisi iklim (ketinggian dan suhu) setempat. Hal tersebut dapat dilihat dari jenis tumbuhan sumbangan masyarakat tanpa sebuah kriteria. Ketiga: kegiatan sangat bersifat ceremonial dan kolosal namun tidak ada jaminan keberlanjutan, sehingga setelah penanaman tidak pernah ada monitoring (Wahyu. Prihanta, 2006).
Daerah tropika terkhusus Indonesia memiliki putaran musim yang relatif stabil, dimana memiliki dua musim yaitu penghujan dan kemarau. Kegiatan rahabilitai yang dilakukan saat ini sering tidak sesuai dengan musim yaitu awal musim hujan sekitar bulan Nopember sampai dengan Januari. Sehingga banyak tumbuhan mati akibat tidak cocok secara klimatologi sehingga ketersediaan air yang sangat dibutuhkan tumbuhan krang terpenuhi. Sebagai contoh program rehabilitasi tumbuhan di Kota Malang yang dengan program Malang Ijo Royo-Royo (MIRR) tahun 1 dan ke 2 dilaksanakan pada bulan Juli dimana merupakan bulan terkering sepanjang tahun (Radar malang, 15 Juli 2004). Demikian juga rehabilitasi lingkungan di Kota Batu dilaksanakan pada bulan Pebruari 2003, pada saat akhir musim hujan.
Selain itu hal tersebut di atas pemilihan tumbuhan tidak sesuai dengan klimatologi yang dipersyaratkan tumbuhan. Tumbuhan rambutan dan mangga digunakan alam program Malang Ijo Royo (radar Malang, 15/6/2004), secara klimatologi kedua jenis tumbuhan tersebut sesuai hidup pada dataran rendah (0-200 dpl) (Stenis, 1987). Sedangkan Kota Malang merupakan daerah dataran tinggai (sekitar 450 dpl). Setiap tumbuhan memiliki syarat tumbuh dalam ketinggian daerah tertentu (dpl), sehingga dikenal dengan nama tumbuhan dataran rendah dan dataran tinggi. Hal ini disebabkan ketinggian tempat mempengaruhi klimatologi dan klimatologi sangat mempengaruhi kehidupan tumbuhan (Stenis, 1987; Pulonin, 1994).
Program penanaman tumbuhanpun tidak disertai dengan program perawatan. Sebaiknya program penanaman harus disertai program perawatan untuk tanaman yang berumur kurang dari tiga tahun setelah penanaman (Departemen Kehutanan, 2007).
Berdasarkan hal tersebut pelaksanaan rehabilitasi tumbuhan untuk mitigasi global warming perlu diperbaiki

4.1.2.3 Konservasi Menyeluruh pada Satwa Penyebar Tumbuhan
Alam tercipta dalam keterkaitan dan keseimbangan yang sempurna, berbagai komponen kehidupan keberadaannya saling menunjang. Selama ini banyak satwa yang berperan dalam membantu penyebaran biji-biji tumbuhan sehingga secara automatis membantu menumbuhkan berbagai jenis tumbuhan yang secara ekologi sesuai. Banyak jenis burung yang memakan buah dan menyebarkan bijinya bersama feces di tempat yang sangat jauh dari pohon induknya (Jones and Luchsinger, 1987; Pulonin, 1994).
Penyebaran biji atau alat reproduksi lain yang dibantu satwa memiliki banyak keuntungan, burung mampu menyebarkan biji di daerah yang tak terjangkau oleh manusia, selain itu daerah edar harian burung relatif pada ekologi sistem ekologi di mana tumbuhan berada sehingga secara klimatologi akan banyak kesesuaian.
Mempertimbangkan hal tersebut maka rehabilitasi tumbuhan dalam rangka mitigasi global warming akan memberikan hasil yang sempurna jika disertai dengan kegiatan konservasi berbagai jenis burung yang memiliki manfaat dalam penyebaran alat reproduksi tumbuhan. Mengingat saat ini banyak penangkapan jenis-jenis burung tersebut dengan berbagai alasan. Jika kegiatan ini di biarkan berlanjut, akan menyebabkan kepunahan burung yang sangat berperan dalam pelestarian tumbuhan baik sebagai mediator polinasi (penyerbukan) maupun mediator dispersal (penyebaran) tumbuhan.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan dari kegiatan recovery konservasi dan rehabilitas lingkungan dalam rangka mitigasi global warming:
1. Global Warming merupakan permasalahan seluruh dunia yang bisa di antisipasi dengan 2 hal yaitu pengurangan produk emisi dan pengurangan gas rumah kaca dengan memperbanyak tumbuhan.
2. Strategi memperbanyak tumbuhan tidak hanya menanam tetapi juga perlu mengkonservasi yang telah ada. Selain itu pada penanaman pohon perlu perbaikan tidak sekedar menanam tapi juga harus dilakukan perawatan dan juga harus sesuai dengan musim tanam dan pemilihan jenis harus sesuai dengan klimatologi.
3. Dalam rangka konservasi tumbuhan harus memperhatikan pula peranan satwa-satwa pelestari tumbuhan sebab secara ekologi satwa pelestari tumbuhan memiliki peran yang besar dalam penyebaran tumbuhan.

5.2 Saran
Berdasarkan uraian di atas, disarankan:
1. Global warming merupakan permasalahan dunia sehingga perlu perhatian, kesadaran dan tindakan semua pihak;
2. Salah satu cara mitigasi golbal warming adalah menyerap karbondioksida di atmosfer dengan mengkonservasi dan menanam sebanyak mungkin tumbuhan. Kegiatan tersebut harus dilakukan secara menyeluruh, sehingga segera harus dilakukan konservasi tumbuhan, perbaikan sistem rehabilitasi dan mengkonservasi satwa pelestari tumbuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Animous, (On-line) global-warming-apa-dan-mengapa Diakses pada tanggal 27 maret 2008 dari http://langitselatan.com/2008/02/09/global-warming-apa-dan-mengapa.htl

Anonimus, Gas rumah kaca Diakses dari
http://id.wikipedia.org/wiki/Gas_rumah_kaca. tanggal 27 Maret 2008

Departemen Kehutanan, 2007, Panduan Kegiatan Aksi Penanaman Serentak Indonesia dan Pekan Pemeliharaan Pohon Menyongsong Pertemuan Internasional Tentang Perubhan Iklim Global Di Bali, Desember 2007. Departemen Kehutanan, 2007.

Dwijo Seputro, 1994, Fisiologi Tumbuhan, PT Gramedia. Jakarta.

Jones and Luchsinger, 1987. Plant Systematics, McGraw Hill, Singapore

Kenneth D. Johnson, 1984. Biology An Introduction, The Benyamin/Cummings
Publishing Company, Inc, Menlo Park

Nicholas Polunin, 1994, Pengantar Geografi Tumbuhan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Pratiwi Sudarmono, 2007. Pengaruh Pemanasan Global pada Kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia, Makalah Seminar Ancaman Pemanasan Global dan Perubahan Iklim, 15 Nopember 2007.

Radar Malang, 15 Juli 2004. Malang Ijo Royo-Royo.

Van Stenis CGGJ, 1987, Flora Edisi 4, Pradnya Paramita, Jakarta

Wahyu Prihanta, 2007, Strategi Pusat Studi Lingkngan dan Kependududkan Universitas Muhammadiyah Malang dalam Rangka Perang Menyeluruh Terhadap Global Warming, Seminar Nasional BKPSL

Wahyu Prihanta, 2007. Strategi Perlindungan Tanaman Tepi Jalan untuk Penyelamatan Lingkungan Menyeluruh, Sosialisasi Kebijakan Lingkungan Hidup Tahun 2007, DKLH Kota Batu.

Wahyu Prihanta, 2006. Rehabilitasi Lingkungan Integratif dan Kontinu, Seminar Regional, Pusal Studi Lingkungan dan Kependudukan Universitas Muhammadiyah Malang, Mei 2007.

07/07/2009 Posted by | CONTOH LKTM | Tinggalkan komentar

Contoh Pembelajaran PAKEM Biologi

Mata Pelajaran : Biologi
Standart Kopetensi :Memahami Manfaat Keanekaragaman Hayati
Kompetensi Dasar :Mengkomunikasikan keanekaragaman hayati Indonesia,dan usaha pelestarian serta pemanfaatan Sumber Daya Alam
Kelas : X Semester 2
Waktu : 2X45 menit
Indikator :1. Dengan berdiskusi kelompok siswa dapat menjelaskan keragaman hayati, usaha pelestarian serta pemanfatan sumber daya alam suatu kawasan di Indonesia
2. Dengan menunjukan pada peta, menuliskan pada kertas karton lalu mempresentasikanya siswa dapat menunjukan kenekaragaman hayati yang ada di kawasan-kawasan di Indonesia berdasarkan biografinya
3. Dengan adanya presentasi pada masing-masing kelompok siswa dapat membedakan keanekaragaman hayati pada sutu kawasan dengan kawasan lain di Indonesia.
4. Dengan melihat film siswa dapat menentukan keanekaragaman hayati, usaha pelestarian serta pemanfaatan sumber daya alam pada berbagai kawasn di Indonesai

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Ø Kegitan Awal
1. Ketua kelas memimpin doa secara bersama-sama
2. Guru mengecek atau mengabsen kehadiran siswa
3. Guru memberikan penjelasan tentang materi yang akan di pelajari pada pertemuan kali ini
4. Guru memberikan rifresing atau penyegaran serta agar siswa berkonsentrasi dalam menerima pelajaran dengan memberikan sedikit permainan yaitu dengen cara ketika guru bilang ”berdiri” maka siswa duduk dan sebaliknya Guru berkat ” duduk ” maka siswa berdiri dan seterusnya.
5. Guru memberikan pertanyaan tentang keanekaragaman hayati untuk mengetahui seberapa besar penetahuan siswa tentang keaneragaman hayati.
Ø Kegiatan Inti
1. Guru membagi siswa menjadi 5 Kelompok, tiap kelompok diberikan satu wilayah di Indonesia yaitu: Kelompok 1 Pulau Sumatra, Kelompok 2 Pulau Jawa, Kelompok 3 Pulau Kalimantan, Kelompok 4 Papua dan Kelopok 5 Pulau Nusa Tenggara.
2. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk mempelajari tentang Keanekaragamn Hayati berdasarkan Penyebaranya (Biografinya) baik pada Persebaran Hewan maupun Persebaran Tumbuhan, berdasarkan Ekosistem Perairan Baik pada Ekosistem air tawar maupun ekosistem air laut serta usaha dan pemanfaatan sumber daya alamnya,( selama 20 menit).
3. Guru meminta hasil dari diskusi ditulis pada selembar kertas kertas karton yang telah dipersiapkan, serta menunjukan lokasi wilyahnya pada peta Indonesia.
4. Guru meminta perwakilan pada masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok, kemudian kelompok yang lain boleh bertanya, atau memberikan tambahan.
5. Setelah semua kelompok selesai presentasi, guru memberikan sedikit penyegaran dengan mengajak siswa bermain sebentar seperti pada awal.
6. Guru meminta siswa kembali duduk pada tempat duduk masing-masing, kemudian memutarkan film tentang keanekaragaman hayati di indonesia.

Ø Kegiatan Akhir
1. Guru memberikan pertanyaan tentang keaneka ragaman hayati apa saja,serta usaha untuk melestarikanya dan pemanfatan sumber daya alam yag terdapat pada film
2. Guru memberikan penguatan siswa tentang materi keanekaragaman hayati,usaha pelestarian serta pemanfatan sumber daya alam.
3. Guru menyimpulkan konsep dari pelajaran yang baru diperoleh.
4. Guru melakukan evaluasi untuk mengetahui kemampuan siswa menguasai meteri pembelajaran yang baru saja diperoleh.
5. Guru menyampaikan Pesan Moral yang terkait dengan pelajaran kepada siswa
6. Guru memberikan tugas untuk mempelajari tentang keanekaragam hayati khas indonesia yang akan di bahas pda pertemuan mendatang.
7. Guru meminta ketua kelas untuk memimpin doa secara bersama-sama

07/06/2009 Posted by | SBM | Tinggalkan komentar

Contoh Langkah Pembelajaran pakem mata pelajaran BIOLOGI

Mata Pelajaran : Biologi
Kelas/Semester : X/I
Standar Kompetensi : Memahami hakikat Biologi sebagai ilmu
Kompetensi Dasar : Mengidentifikasi Ruang Lingkup Biologi
Alokasi Waktu : 2×45 Menit (1x pertemuan)
Indikator : – Dengan teka-teki siswa diharapkan mampu Mengidentifikasi macam – macam ruang lingkup Biologi dari lingkungan
Dengan diskusi siswa diharapkan mampu menyebutkan macam-macam ruang lingkup Biologi
Dengan diskusi dan presentasi siswa diharapkan mampu menjelaskan pengertian dan bagian – bagian dari ruang lingkup Biologi.
Tujuan Pembelajaran : – Siswa mampu menyebutkan ruang lingkup biologi dari lingkungan
– Siswa mampu menjelaskan manfaat ruang lingkup yang ada pada biologi.
– Siswa mampu menjelaskan bagian-bagian penting dari ruang lingkup Biologi.
Materi Ajar : Identifikasi Ruang Lingkup Biologi

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
a.Kegiatan Awal (15 Menit)
Guru menyampaikan salam kemudian mengajak siswa berdoa dengan dipimpin oleh ketua kelas.
Guru mengecek kehadiran siswa
Guru menyampaikan tema dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Guru memusatkan pikiran siswa dengan mengajukan beberapa teka-teki diantaranya: – aku cukup beruntung di dunia. Aku merupakan cabang dari biologi yang ditugaskan untuk mempelajari bagian-bagian dari tumbuhan seperti ciri-ciri, kehidupan, siapakah aku?
– aku merupakan makhluk hidup yang berukuran sangat kecil, aku punya banyak manfaat tapi aku juga punya banyak kerugian. Cabang ilmu biologi apa sih yang mempelajari aku?
– Setelah siswa selesai menjawab teka-teki yang diajukan oleh guru menggali lagi pengetahuan awal siswa dengan mengkaitkannya dengan materi pelajaran biologi apa sajakah yang didapatkan oleh siswa selama smp.
b. Kegiatan Inti (60 Menit)
– Guru membagi siswa kedalam 5 kelompok sesuai dengan ruang lingkup biologi yang akan dipelajari yaitu botani, zoologi, mikrobiologi, sitologi,dan histology dengan cara menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa soal dan bagian lainnya berupa jawaban yang dibuat berdasarkan pembagian dari ruang lingkup biologi.
– Setiap siswa yang mendapat satu buah kartu akan memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang dan kemudian setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban). Selain itu juga para siswa dalam hal ini dituntut untuk mengenali dirinya termasuk dalam bagian ruang lingkup biologi yang mana.
– Setelah menemukan pasangannya para siswa dituntut untuk bergabung dalam kelompok besar sesuai denga ruang lingkup biologi yang sesuai dnegan kartu yang diberikan oleh guru.
– Setelah bergabung dalam kelompok besar. Siswa diharuskan melakukan diskusi dan membuat kesimpulan tentang ruang lingkup biologi yang harus dia bahas seperti kelompok yang mendapat tema botani harus membahas tentang ruang lingkup botani yang meliputi tumbuhan.
– Setelah selesai melakukan diskusi dan membuat kesimpulan. Hasil kesimpulan tersebut diletakkan di depan kelas agar bias dilihat oleh semua siswa.
– Setelah langkah tersebut tiap kelompok menunjuk satu orang siswa sebagai tutor untuk menjelaskan ruang lingkup biologi yang menjadi pembahasannya.
– Guru Memberikan kesempatan siswa/peserta tiap kelompok untuk menjelaskan kepada peserta lainnya baik melalui bagan/peta konsep maupun yang lainnya.
– Setelah kegiataan diatas selesai guru menyegarkan pikiran siswa dengan mengajak siswa melihat film yang berhubungan dengan Biologi dan ruang lingkupnya.
Kegiatan Penutup (15 Menit)
Guru menentun siswa untuk bersama-sama membuat kesimpulan
Guru memberikan penguatan terhadap kesimpulan yang telah diberikan oleh siswa.
Guru melakukan penilaian kepada siswa dengan cara memberi tes atau kuis seacara kelompok dan individu.
Penetapan tim yang dianggap paling baik dalam pelajaran
Guru menutup pembelajaran hari ini.

07/06/2009 Posted by | SBM | Tinggalkan komentar

Strategi untuk manajemen kelas

1. Dapatkan ketertarikan siswa yang sesungguhnya.
Sapa siswa ketika masuk. Pahami budaya dan bahasa prokem mereka. Dorong keterlibatan dan berikan reward. Dekati siswa secara individual tidak hanya keseluruhan kelas.
2. Komunikasikan aturan kelas dengan jelas.
Jelaskan aturan kelas serta konsistensinya. Tegakkan aturan dengan adil dan konsisten.
3. Jadilah orang yang obyektif bukan pengailan.
Berusahalah untuk mengadopsi perspektif siswa. Pandanglah isu dari berbagai perspektiv.
4. Tunjukkan bahwa kita adalah manusia.
Siapkan diri untuk mengakui kesalahan atau kekurangan. Jika perlu gunakan humor.
5. Minimalisasi perbedaan kekuasaan dalam komunikasi setiap hari.
Duduk dibelakang meja atau podium dapat menunjukkan kesan bahwa kita ingin menciptakan jarak antara guru dengan siswa.
6. Atasi masalah kelakuan secara langsung dan secepatnya.
Isu dan konflik yang tidak diselesaikan biasanya akan kembali. Atasi masalah sebelum berkembang semakin parah.
7. Pakailah pendekatan kolaborativ.
Maksimalkan kesempatan siswa untuk membuat pilihan di kelas. Pandanglah siswa sebagai milik siswa bukan milik guru. Secara aktif terimalah pendapat siswa.
Aturan Kelas Kita

Organisasi
Aturan dan prosedur sebaiknya dibangun dalam hubungannya dengan strategi pembelajaran yang dapat membantu siswa menemukan kebutuhan pribadi dan akademiknya.
• Atur tempat duduk dalam bentuk U, baris atau lingkaran sehingga kita mudah mengawasi dan bergerak mendekati siswa.
• Tentukan jadwal setiap hari dan diskusikan perubahannya pada pagi hari.
• Libatkan siswa sampai anda benar-benar memberikan instruksi yang jelas pada suatu kegiatan.
• Libatkan siswa untuk lebih bertanggung jawab pada pembelajaran dengan cara tidak melakukan tugas yang dapat dilakukan oleh siswa.
• Tentukan cara-cara mengumpulakn PR membagi kertas dsb.
• Bergeraklah disekitar ruangan dan ketahuilah kebutuhan individu siswa..
• Tentukan arahan dengan sederhana dan bertahap.
• Ingatkan siswa tentang prosedur kunci dihubungkan dengan pelajaran berikutnya..
• Gunakan kompetisi kelompok untuk merangsang belajar.
• Bangun kegiatan transisi
Komunikasi
Komunikasi efektif merupakan dasar manajeman kelas yang baik. Ketrampilan komunikasi terdiri dari mengirim dan menerima.
Mengirim pesean
• Informasi sangat berguna jika diberikan sebelumnya
• Berbicaralah langsung pada mereka untuk mendapat respek dan perhatian.
• Berbicaralah dengan sopan sebagai teladan bagi siswa.
• Tunjukkan tanggung jawab dengan berkata “saya”
• Berikan pernyataan bukan pertanyaan. Pertanyaan seringkali menakutkan siswa.
Menerima pesan (teknik menjadi pendengar yang baik):
• Jadilah pendengar yang empatik. Hal ini akan membuat siswa merasa pernyataannya dapat didengar dengan baik dan diterima.
• Tunjukkan reaksi sehingga siswa merasa berdialog.
• Lakukan kontak mata dan sadarilah pesan-pesan non verbal.
• Tunjukkan kepemimpinan yang baik dengan gerakan, ekspresi wajah dan gesture.
Monitoring
Berikut ini adalah teknik-teknik yang berguna untk merespon gangguan di kelas
• Lakukan pengamatan kelas secara berkala untuk memperhatikan dan merespon potensi masalah.
• Lakukan reaksi dengan cepat dan tenang jika ada anak yang nakal .
• Lakukan kontak awal yang positif dengan menghargai kelakuan baik dan menentang kelakuan yang kurang baik.
• Ingatkan siswa tentang aturan kelas
• Jelaskan siswa tentang aturan, prosedur dan konsekuensinya jika terjadi pelanggaran.
• Terapkan konsekuensi yang konsisten terhadap kelakuan kurang baik.
• Informasikan pada siswa bahwa mereka memilih konsekuensi dari kelakuannya.
• Gunakan konsekuensi yang secara alamiah mendidik.
• Ketika ada satu atau dua siswa sangat mengganggu, fokuskan siswa yang lain untuk melaksanakan tugas, dan carilah waktu untuk berbicara dengan siswa yang mengganggu.
Menyampaikan pelajaran
• Libatkan siswa dalam mengevaluasi pekerjaannya sendiri.
• Tuliskan garis besar, definsi atau bimbingan untuk membantu siswa mengorganisasi pikiran dan memfokuskan perhatian.
• Ajukan pertanyaan dan dan berikan waktu sebelum menunjuk seseorang.
• Variasikan gaya mengajar dan materi untuk mewadahi perbedaan gaya belajar siswa..
• Tentukan tugas dengan kesulitan tertentu sehingga cocok untuk tingkat kemampuan yang beragam.
• Hubungkan bahan-bahan dengan kehidupan siswa kapanpun memungkinkan.
• Animasikan, buat antisipasi dan gunakan kegiatan-kegiatan untuk memancing ketertarikan siswa dan meningkatkan motivasi untuk berpartisipasi.
• Libatkan siswa dalam pembelajaran kooperative, kompetisi kelompok, diskusi kelompok, debat dan bermain peran.

Daftar reward
1. Duduk di kursi guru
2. Ortu mendapat telfon tentang kehebatan anaknya.
3. Duduk di barisan terdepan
4. Mendapatkan permen
5. Membawa pulang peliharaan kelas semalam.
6. Membantu siswa lain yang lebih muda
7. Membantu guru
8. Mendapat stempel
9. Membawa pulang alat peraga semalam
10. Pindah tempat duduk yang disukai.
11. Menjaga binatang di meja.
12. Tidak ada PR
13. Bercerita di depan kelas
14. Menjadi pemimpin dalam permainan kelas
15. Membaca untuk teman-temannya
16. Memilih film untuk dilihat teman-temannya.

Saya sudah selesai, lalu ngapain?
1. Cek ulang pekerjaanmu. Apakah bisa diperbaiki?
2. Membaca buku.
3. Menulis dalam jurnal.
4. Menulis cerita.
5. Membantu teman yang lain.
6. Mengatur meja
7. Mengatur kelas
8. Melihat hasil kerja teman
9. Menyiapkan untuk tes.
10. Membuat catatan pada seseorang yang lain yang juga sudah selesai.
11. Pergi ke perpus dan mencari buku.
12. Bekerja dengan komputer.
13. Tiduran di atas meja
14. Bertanya pada guru jika tidak ada sesuatu yang dapat dilakukan

Cara membangkitkan kelakuan baik
These are mostly suited for the younger students but can be adapted for older classes.
• Aturan Kelas
Diskusikan dengan siswa sejumlah aturan kelas dan konsekuensinya jika melanggar.
• Kartu berwarna
Pada saku nama dapat diberikan warna-warna. Merah berarti melanggar aturan, kuning hati-hati dan hijau berarti telah bertindak sesuai dengan harapan.
• Point Kelas
Pajangkan sistem talus suatu poin pada sebuah papan. Setiap kali siswa menunjukkan prestasi, berikan poin. Jika kelas mencapai poin tertentu berilah hadiah berupa kegiatan yang mengasyikkan.
• Positive Popsicle Sticks
Tuliskan komentar positif pada batang sedotan misalnya; “ sangat aktif” , “ suka membantu” dll. Jika seorang anak menerima beberapa sedotan berikan padanya reward.

Managemen Ruang
Pengaturan kelas yang baik tidak menjamin perilaku baik dari siswa sementara pengaturan kelas yang kurang baik dapat menciptakan kondisi yang mengarahkan pada masalah.
* Guru hendaknya dapat mengamati seluruh siswa dan memonitor perilaku siswapada seluruh waktu. Guru hendaknya juga dapat melihat pintu dari tempatnya duduk.
* Guru hendaknya dapat mengakses semua ruangan kelas.
* Siswa dapat melihat guru dan presentasinya tanpa harus menoleh atau berpindah.
* Buku-buku, presensi, ijin meninggalkan kelas dan buku acuan siswa hendaknya telah disiapkan.
* Beberapa pajangan hendaknya tersusun dengan baik sehingga kelas menjadi menarik.

Mengatur perilaku Negatif Siswa
* Lakukan pengawasan secara teratur sehingga kelakuan yang kurang baik dapat segera diketahui dan dicegah untuk menular pada yang lain atau menimbulkan kekacauan yang lebih besar.
*Lakukan tindakan jika terdapat kelakuan yang menyimpang sedemikian sehingga tidak menyela kegiatan kelas atau menyita perhatian siswa dengan cara:
– Dekatilah siswa, lakukan kontak mata dan berikan sinyal non verbal untuk menghentikan tindakan siswa.
– Panggil nama siswa atau berikan perintah non verbal pendek untuk menghentikan perilaku siswa.
– Berikan pengarahan pada siswa untuk memfokuskan perhatian.
– Perilaku yang serius semacam perkelahian harus segera diatasi, pelajaran dihentikan dan diserahkan pada petugas sekolah.

07/02/2009 Posted by | SBM | 1 Komentar

Mengembangkan Lingkungan Belajar PAKEM

Pengantar

Salah satu upaya untuk mengoptimalkan pembelajaran PAKEM adalah dengan mengembangkan lingkungan kelas yang mendukung. Di bawah ini adalah beberapa contoh inovasi lingkungan kelas yang dapat mendukung terciptanya pembelajaran PAKEM.

1. Pajangan kelas
• Pajangan kelas merupakan tempat untuk memamerkan hasil kreasi semua siswa dalam proses pembelajaran. Jadi semua siswa memiliki tempat untuk memajangkan hasil karyanya.
• Pajangan kelas dapat dibuat dari bahan sederhana seperti bambu atau bahan yang lebih mahal semacam melamin.
• Prinsipnya terdapat nama siswa dan tempat untuk menggantungkan karya siswa seperti paku, penjepit atau yang lainnya.
• Umumnya pajangan siswa diletakkan di dalam kelas

2. Sudut Baca
• Sudut baca merupakan tempat untuk mewadahi berbagai bahan bacaan seperti buku, majalah, cerita koran atau yang lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh siswa dalam belajar.
• Pajangan kelas dapat dibuat dari bahan sederhana seperti papan kayu yang disangga dengan plat L atau berbentuk rak-rak buku. Jika masih tersedia tempat, sudut baca dapat dilengkapi dengan beberapa kursi, bangku atau tikar untuk membaca sambil lesehan.
• Prinsipnya terdapat tempat untuk mewadahi bahan bacaan
• Umumnya sudut baca diletakkan di pojok kelas sehingga sering pula disebut dengan pojok baca.

3. Pengaturan bangku
• Pada dasarnya pengaturan bangku untuk kelas pakem dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengakomodasi interaksi antar siswa.
• Umumnya bangku diatur berkelompok-kelompok.
• Idealnya menggunakan bangku dan meja yang mudah digeser

4. Alat Peraga dan Media
• Salah satu ciri pembelajaran PAKEM adalah belajar sambil bekerja. Jadi, alat peraga merupakan perangkat yang perlu tersedia di kelas.
• Alat peraga dapat dibuat sendiri oleh guru memanfaatkan alat-alat/bahan sederhana.
• Alat peraga tidak perlu dipajang, dimasukkan dalam kotak/dos dan dipergunakan ketika diperlukan.

5. Jam kejujuran
• Jam kejujuran merupakan peraga jam dinding untuk semua siswa yang mana jarum-jarumnya dapat diputar/diubah
• Setiap anak memiliki sebuah peraga jam dan mengubah jarumnya sesuai dengan waktu kehadirannya

6. Pohon Prestasi
• Pohon prestasi merupakan tempat bagi guru untuk memberikan penghargaan kepada siswa.
• Pohon prestasi dapat berupa gambar pohon di kertas dan ditempelkan di tembok.
• Pohon prestasi dapat pula di buat dari ranting pohon sungguhan dan penghargaan berupa bintang atau yang lain di kaitkan pada ujung-ujung ranting tersebut

7. Point Prestasi
• Setiap siswa dapat memperoleh point prestasi
• Point prestasi dapat berupa daftar nama siswa dan kolom untuk menempelkan

8. Folder/Tempat Karya Siswa
• Setiap siswa mempunyai tempat tersendiri untuk mengumpulkan karya-karya mereka yang sudah tidak di pajang lagi.
• Folder dapat dibuat dari kardus bekas atau kotak susu bekas dan bisa di balut dengan kertas kado supaya terlihat manis.
• Folder diletakkan ditempat yang aman secara berjajar dan diberi nama setiap siswa.

9. Bank Kelas
• Kelas dapat memiliki bank kelas bagi siswa yang kelebihan uang jajan
• Kotak amal dapat dibuat dari kaleng biskuit .
• Uang yang terkumpul dapat dipergunakan untuk membeli keperluan kelas seperti buku cerita, kitab dan sebagainya

10. Kotak Soal
• Kotak soal berisi soal hari ini yang di buat oleh guru.
• Kotak soal dapat dibuat dari kardus bekas atau kotak susu bekas dan bisa di balut dengan kertas kado supaya terlihat manis.
.
11. Kebun Percobaan
• Lahan di luar kelas dapat dimanfaatkan sebagai kebun percobaan untuk pelajaran IPA
• Jika tidak tersedia area kebun percobaan dapat memanfaatkan pot atau polibag yang harganya relatif murah
• Jika memungkinkan kebun percobaan dapat menghasilkan produk yang dapat dijual misalnya bunga, bonsai, sayuran dan sebagainya.

12. Emblem
• Emblem adalah karton dengan tulisan tertentu yang dilengkapi dengan penjepit untuk dijepitkan di baju
• Emblem dapat membantu siswa menghapal sesuatu

13. Karya Tiga Dimensi
• Karya tiga dimensi yang dihasilkan siswa juga dapat dipajangkan di kelas asalkan tidak mengganggu.
• Jika memungkinkan areal di luar kelas juga dapat digunakan sebagai pameran karya/ majalah dinding kelas

14. Point Prestasi
• Setiap siswa dapat memperoleh point prestasi

15. Point prestasi dapat berupa daftar nama siswa dan kolom untuk menempelkan pointnya

07/02/2009 Posted by | SBM | 1 Komentar

Memajang Karya Siswa (Kolaborasi Siswa-Guru)

Memajang Karya Siswa
(Kolaborasi Siswa-Guru)

1. Pendahuluan
Kelas yang dipenuhi dengan karya/pekerjaan siswa merupakan pemandangan yang menyenangkan karena memberi pesan kepada mereka bahwa pekerjaan dan belajar mereka penting. Selama ini yang menentukan pemajangan karya siswa biasanya guru, bukan siswa. Clayton (2002) mengajukan gagasan tentang pemajangan karya siswa yang melibatkan siswa, jadi merupakan kolaborasi antara siswa dengan guru. Ia beranggapan bahwa melibatkan siswa dalam memajang hasil pekerjaan mereka dapat meningkatkan tanggungjawab siswa dalam perkembangan belajarnya. Mereka bias dibiarkan bebas memilih pekerjaannya yang akan dipajang guru, bisa juga diserahi tugas mendisain dan memajang pekerjaan di papan (bulletin board), atau mereka bisa juga ditugasi untuk mengelola sendiri seluruh proses mulai dari memilih, membuat tempat pajangan, dan memeliharanya.

2. Manfaat kolaborasi siswa-guru dalam memajang karya siswa
Melibatkan siswa dalam mengelola pajangan dapat memberi manfaat, baik manfaat yang berkaitan dengan proses pendidikan, maupun manfaat praktis.

Manfaat Pendidikan:
• Siswa mempunyai kesempatan untuk belajar mempraktekkan ketrampilan akademik dan social.
• Ketika mereka memilih sendiri karyanya untuk dipajang,mereka belajar untuk melakukan refleksi atas apa yang telah mereka kerjakan.
• Dengan menciptakan pajangan yang lebih mengutamakan USAHA dari pada HASIL SEMPURNA, anak akan lebih memahami bahwa belajar adalah proses pertumbuhan, bukan hanya proses penguasaan.
• Kolaborasi macam ini juga dapat meyakinkan/menguatkan rasa tumbuh kembangnya kompetensi mereka dan memberikan pengalaman kepada mereka untuk mengambil keputusan baik secara individu maupun kelompok.
• Memberi kesempatan kepada mereka untuk belajar dari orang lain, menghargai pekerjaan orang lain, menumbuhkan empati, menghormati, dan menumbuhkan rasa kebersamaan dalam komunitas kelas.

Manfaat Praktis:
• Mengembangkan ketrampilan mengukur, menggunting, menggunakan alat-alat, dan menulis.
• Mengembangkan ketrampilan berorganisasi dan pengambilan keputusan.

Pada dasarnya semua aspek dalam kegiatan tersebut menjadikan anak mengambil tanggungjawab dalam bagian dari kehidupan kelas.

3. Mengajari siswa cara memilih hsil karya untuk pajangan
Agar anak merasa nyaman memilih karyanya untuk pajangan, guru perlu mengajari mereka bagaimana menilai pekerjaan mereka dan bagaimana memilihnya. Berikut ini langkah-langkah yang perlu dilakukan.

(1) Membuat kriteria untuk memilih karya untuk dipajang. Mulailah dengan bertanya: “Mengapa kita memajang pekerjaan di kelas?” Mungkin mereka menjawab:
• Supaya kita bisa melihat apa yang telah dikerjakan teman
• Supaya kita bisa menunjukkan karya yang membuat kita bangga
• Supaya bisa belajar lebih banyak tentang suatu topik
• Agar ada hal menarik yang dipajang di tembok dsb.

Guru bisa menambahkan bahwa pajangan juga bisa berguna untuk merefleksi pekerjaan kita sendiri, belajar dari pekerjaan teman, dan membuat kelas menjadi indah.

Kriteria untuk memilih karya pajangan:
• Karya tersebut menunjukkan usaha kita, bukan hanya menunjukkan pekerjan yang baik.
• Karya menunjukkan perkembangan dan perbaikan
• Kita merasa bangga dengan karya tersebut,
• Karya tersebut penting buat kita

(2) Praktek memilih karya untuk pajangan
Berilah mereka kesempatan untuk menggunakan kriteria yang berbeda dalam memilih karya untuk pajangan. Misalnya, biarkan mereka memiih karya tulis dari portfolionya sesuai dengan keinginannya.

(3) Minta pendapat teman
` Biarkan mereka meminta pendapat teman sekelas sebelum memajangnya. Mereka mungkin menunjukkan aspek yang ingin mereka perhatikan.

4. Mengajari siswa membuat pajangan yang efektif
Pajangan yang efektif adalah yang membuat setiap karya yang dipajang memancarkan hal yang membuat bangga pemiliknya. Karya tersebut lebih menonjol bila dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya. Cara-cara yang bisa dilakukan guru adalah:
• Ingatkan siswa mengapa kita memajang karya di kelas
• Memeriksa pajangan yang ada. Ajak mereka melihat pajangan tersebut dan ajak mereka memeriksa pajangan tersebut tentang efektifitasnya.
• Buatlah daftar kriteria pajangan efektif. Setelah melihat pajangan dan membuat daftar tujuan memajang karya, buatlah petunjuk menciptakan pajangan yang efektif, misalnya, pajanan harus:
(1) sederhana,
(2) menunjukkan apa yang paling penting dari karya tsb,
(3) dekorasi harus cocok dengan karya yang dipajang, dan pajangan lebih menojol dari pada dekorasinya,
(4) pajangan mencantumkan nama pemiliknya, judul karya, atau mungkin ada hal lain tentang karya tersebut.
(5) Pajangan rapi

• Letakkan petunjuk tersebut di dekat tempat pajangan
• Ajari mereka cara-cara membingkai dan memajang karyanya
• Siswa bisa menambahi dengan label lain yang diperlukan misalnya tema, siapa pembuatnya, foto pembuatnya, dll.

Empat tips tentang Pajangan

(1) Pajangan harus memiliki hubungan yang bermakna dengan kurikulum.
Pajangan merupakan alat yang efektif untuk belajar dan mengajar.

(2) Ciptakan pajangan yang menghargai usaha, bukan hanya pekerjaan yang sempurna. Hindari adanya nilai atau komentar pada karya yang dipajang.

(3) Pastikan ada pajangan yang merefleksikan upaya seluruh siswa dalam kelas tersebut. Hal ini untuk menumbuhkan rasa kepemilikan dan memiliki pengaruh yang kuat pada pembentukan komunitas.

(4) Jaga kemutakhiran pajangan, bermakna, dan tidak berserakan. Pajangan harus diganti sesuai dengan perjalanan relevansinya dengan kurikulum. Bila ruang terbatas, karya dipajang bergiliran dari pada dipaksakan sampai berjubel.

Reference:
Clayton, Marlyn K. 2002. Displaying Student Work. An Opportunity for Student-teacher collaboration. http://www.responsiveclassroom.org.

07/02/2009 Posted by | SBM | 1 Komentar

Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

A. Latar Belakang
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.
IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana untuk menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan. Di tingkat SMP/MTs diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) secara terpadu yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.
Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SMP/MTs menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SMP/MTs merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.

B. Tujuan
Mata pelajaran IPA di SMP/MTs bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Meningkatkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaanNya
2. Mengembangkan pemahaman tentang berbagai macam gejala alam, konsep dan prinsip IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran terhadap adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat
4. Melakukan inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bersikap dan bertindak ilmiah serta berkomunikasi
5. Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan serta sumber daya alam
6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan
7. Meningkatkan pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

C. Ruang Lingkup
Bahan kajian IPA untuk SMP/MTs merupakan kelanjutan bahan kajian IPA SD/MI meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan
2. Materi dan Sifatnya
3. Energi dan Perubahannya
4. Bumi dan Alam Semesta

D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Kelas VII, Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami prosedur ilmiah untuk mempelajari benda-benda alam dengan menggunakan peralatan 1.1 Mendeskripsikan besaran pokok dan besaran turunan beserta satuannya
1.2 Mendeskripsikan pengertian suhu dan pengukurannya
1.3 Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari

2. Memahami klasifikasi zat 2.1 Mengelompokkan sifat larutan asam, larutan basa, dan larutan garam melalui alat dan indikator yang tepat
2.2 Melakukan percobaan sederhana dengan bahan-bahan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari
2.3 Menjelaskan nama unsur dan rumus kimia sederhana
2.4 Membandingkan sifat unsur, senyawa, dan campuran

3. Memahami wujud zat dan perubahannya 3.1 Menyelidiki sifat-sifat zat berdasarkan wujudnya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
3.2 Mendeskripsikan konsep massa jenis dalam kehidupan sehari-hari
3.3 Melakukan percobaan yang berkaitan dengan pemuaian dalam kehidupan sehari-hari
3.4 Mendeskripsikan peran kalor dalam mengubah wujud zat dan suhu suatu benda serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

4. Memahami berbagai sifat dalam perubahan fisika dan kimia 4.1 Membandingkan sifat fisika dan sifat kimia zat
4.2 Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia
4.3 Menyimpulkan perubahan fisika dan kimia berdasarkan hasil percobaan sederhana
4.4 Mengidentifikasi terjadinya reaksi kimia melalui percobaan sederhana

Kelas VII, Semester 2
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
5. Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan 5.1 Melaksanakan pengamatan objek secara terencana dan sistematis untuk memperoleh informasi gejala alam biotik dan a-biotik
5.2 Menganalisis data percobaan gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah beraturan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
5.3 Menggunakan mikroskop dan peralatan pendukung lainnya untuk mengamati gejala-gejala kehidupan
5.4 Menerapkan keselamatan kerja dalam melakukan pengamatan gejala-gejala alam

6. Memahami keanekara-gaman makhluk hidup 6.1 Mengidentifikasi ciri¬-ciri makhluk hidup
6.2 Mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki
6.3 Mendeskripsikan keragaman pada sistem organisasi kehidupan mulai dari tingkat sel sampai organisme

7. Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem 7.1 Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem
7.2 Mengidentifikasi pentingnya keanekaragaman mahluk hidup dalam pelestarian ekosistem
7.3 Memprediksi pengaruh kepadatan populasi manusia terhadap lingkungan
7.4 Mengaplikasikan peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan

Kelas VIII, Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia

1.1 Menganalisis pentingnya pertumbuhan dan perkembangan pada makhluk hidup
1.2 Mendeskripsikan tahapan perkembangan manusia
1.3 Mendeskripsikan sistem gerak pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan
1.4 Mendeskripsikan sistem pencernaan pada manusia dan dan hubungannya dengan kesehatan
1.5 Mendeskripsikan sistem pernapasan pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan.
1.6 Mendeskripsikan sistem peredaran darah pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan

2. Memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan
2.1 Mengidentifikasi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
2.2 Mendeskripsikan proses perolehan nutrisi dan transformasi energi pada tumbuhan hijau
2.3 Mengidentifikasi macam-macam gerak pada tumbuhan
2.4 Mengidentifikasi hama dan penyakit pada organ tumbuhan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari

3. Menjelaskan konsep partikel materi 3.1 Menjelaskan konsep atom, ion, dan molekul
3.2 Menghubungkan konsep atom, ion, dan molekul dengan produk kimia sehari-hari
3.3 Membandingkan molekul unsur dan molekul senyawa

4. Memahami kegunaan bahan kimia dalam kehidupan 4.1 Mencari informasi tentang kegunaan dan efek samping bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari
4.2 Mengkomunikasikan informasi tentang kegunaan dan efek samping bahan kimia
4.3 Mendeskripsikan bahan kimia alami dan bahan kimia buatan dalam kemasan yang terdapat dalam bahan makanan
4.4 Mendeskripsikan sifat/pengaruh zat adiktif dan psikotropika
4.5 Menghindarkan diri dari pengaruh zat adiktif dan psikotropika

Kelas VIII, Semester 2
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
5. Memahami peranan usaha, gaya, dan energi dalam kehidupan sehari-hari

5.1 Mengidentifikasi jenis-jenis gaya, penjumlahan gaya dan pengaruhnya pada suatu benda yang dikenai gaya
5.2 Menerapkan hukum Newton untuk menjelaskan berbagai peristiwa dalam kehidupan sehari-hari
5.3 Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya, prinsip “usaha dan energi” serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
5.4 Melakukan percobaan tentang pesawat sederhana dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
5.5 Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan gas serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

6. Memahami konsep dan penerapan getaran, gelombang dan optika dalam produk teknologi sehari-hari 6.1 Mendeskripsikan konsep getaran dan gelombang serta parameter-parameternya
6.2 Mendeskripsikan konsep bunyi dalam kehidupan sehari-hari
6.3 Menyelidiki sifat-sifat cahaya dan hubungannya dengan berbagai bentuk cermin dan lensa
6.4 Mendeskripsikan alat-alat optik dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

Kelas IX, Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia 1.1 Mendeskripsikan sistem ekskresi pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan
1.2 Mendeskripsikan sistem reproduksi dan penyakit yang berhubungan dengan sistem reproduksi pada manusia
1.3 Mendeskripsikan sistem koordinasi dan alat indera pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan

2. Memahami kelangsungan hidup makhluk hidup 2.1 Mengidentifikasi kelangsungan hidup makhluk hidup melalui adaptasi, seleski alam, dan perkembangbiakan
2.2 Mendeskripsikan konsep pewarisan sifat pada makhluk hidup
2.3 Mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat dan penerapannya.
2.4 Mendeskripsikan penerapan bioteknologi dalam mendukung kelangsungan hidup manusia melalui produksi pangan

3. Memahami konsep kelistrikan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari 3.1 Mendeskripsikan muatan listrik untuk memahami gejala-gejala listrik statis serta kaitannya dalam kehidupan sehari-hari
3.2 Menganalisis percobaan listrik dinamis dalam suatu rangkaian serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
3.3 Mendeskripsikan prinsip kerja elemen dan arus listrik yang ditimbulkannya serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
3.4 Mendeskripsikan hubungan energi dan daya listrik serta pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari

Kelas IX, Semester 2
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari 4.1 Menyelidiki gejala kemagnetan dan cara membuat magnet
4.2 Mendeskripsikan pemanfaatan kemagnetan dalam produk teknologi
4.3 Menerapkan konsep induksi elektromagnetik untuk menjelaskan prinsip kerja beberapa alat yang memanfaatkan prinsip induksi elektromagnetik
5. Memahami sistem tata surya dan proses yang terjadi di dalamnya 5.1 Mendeskripsikan karakteristik sistem tata surya
5.2 Mendeskripsikan matahari sebagai bintang dan bumi sebagai salah satu planet
5.3 Mendeskripsikan gerak edar bumi, bulan, dan satelit buatan serta pengaruh interaksinya
5.4 Mendeskripsikan proses-proses khusus yang terjadi di lapisan lithosfer dan atmosfer yang terkait dengan perubahan zat dan kalor
5.5 Menjelaskan hubungan antarar proses yang terjadi di lapisan lithosfer dan atmosfer dengan kesehatan dan permasalahan lingkungan

E. Arah Pengembangan
Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.

07/02/2009 Posted by | SBM | 5 Komentar

Mata Pelajaran Biologi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA)

A. Latar Belakang
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu (inquiry) tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya sebagai penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA di sekolah menengah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan alam sekitar.
Biologi sebagai salah satu bidang IPA menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara baik dan benar dengan selalu mempertimbangkan keamanan dan keselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, menggolongkan dan menafsirkan data, serta mengkomunikasikan hasil temuan secara lisan atau tertulis, menggali dan memilah informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari.
Mata pelajaran Biologi dikembangkan melalui kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar. Penyelesaian masalah yang bersifat kualitatif dan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan pemahaman dalam bidang matematika, fisika, kimia dan pengetahuan pendukung lainnya.

B. Tujuan
Mata pelajaran Biologi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Membentuk sikap positif terhadap biologi dengan menyadari keteraturan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
2. Memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat bekerjasama dengan orang lain
3. Mengembangkan pengalaman untuk dapat mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis
4. Mengembangkan kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip biologi
5. Mengembangkan penguasaan konsep dan prinsip biologi dan saling keterkaitannya dengan IPA lainnya serta mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri
6. Menerapkan konsep dan prinsip biologi untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia
7. Meningkatkan kesadaran dan berperan serta dalam menjaga kelestarian lingkungan.

C. Ruang Lingkup
Mata pelajaran Biologi di SMA / MA merupakan kelanjutan IPA di SMP/MTs yang menekankan pada fenomena alam dan penerapannya yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Hakikat biologi, keanekaragaman hayati dan pengelompokan makhluk hidup, hubungan antarkomponen ekosistem, perubahan materi dan energi, peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem
2. Organisasi seluler, struktur jaringan, struktur dan fungsi organ tumbuhan, hewan dan manusia serta penerapannya dalam konteks sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat
3. Proses yang terjadi pada tumbuhan, proses metabolisme, hereditas, evolusi, bioteknologi dan implikasinya pada sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat.

D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Kelas X, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami hakikat Biologi sebagai ilmu
1.1 Mengidentifikasi ruang lingkup Biologi
1.2 Mendeskripsikan objek dan permasalahan biologi pada berbagai tingkat organisasi kehidupan (molekul, sel, jaringan, organ, individu, populasi, ekosistem, dan bioma)

2. Memahami prinsip-prinsip pengelompokan makhluk hidup

2.1 Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peran virus dalam kehidupan
2.2 Mendeskripsikan ciri-ciri Archaeobacteria dan Eubacteria dan peranannya bagi kehidupan
2.3 Menyajikan ciri-ciri umum filum dalam kingdom Protista, dan peranannya bagi kehidupan
2.4 Mendeskripsikan ciri-ciri dan jenis-jenis jamur berdasarkan hasil pengamatan, percobaan, dan kajian literatur serta peranannya bagi kehidupan

Kelas X, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
3. Memahami manfaat keanekaragaman hayati

3.1 Mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, ekosistem, melalui kegiatan pengamatan
3.2 Mengkomunikasikan keanekaragaman hayati Indonesia, dan usaha pelestarian serta pemanfaatan sumber daya alam
3.3 Mendeskripsikan ciri-ciri Divisio dalam Dunia Tumbuhan dan peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi
3.4 Mendeskripsikan ciri-ciri Filum dalam Dunia Hewan dan peranannya bagi kehidupan

4. Menganalisis hubungan antara komponen ekosistem, perubahan materi dan energi serta peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem

4.1 Mendeskripsikan peran komponen ekosistem dalam aliran energi dan daur biogeokimia serta pemanfaatan komponen ekosistem bagi kehidupan
4.2 Menjelaskan keterkaitan antara kegiatan manusia dengan masalah perusakan/pencemaran lingkungan dan pelestarian lingkungan
4.3 Menganalisis jenis-jenis limbah dan daur ulang limbah
4.4 Membuat produk daur ulang limbah

Kelas XI, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami struktur dan fungsi sel sebagai unit terkecil kehidupan
1.1 Mendeskripsikan komponen kimiawi sel, struktur dan fungsi sel sebagai unit terkecil kehidupan
1.2 Mengidentifikasi organela sel tumbuhan dan hewan
1.3 Membandingkan mekanisme transpor pada membran (difusi, osmosis, transport aktif, endositosis, eksositosis)

2. Memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan hewan, serta penerapannya dalam konteks Salingtemas
2.1 Mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan mengaitkannya dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan
2.2 Mendeskripsikan struktur jaringan hewan Vertebrata dan mengaitkannya dengan fungsinya

3. Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan/penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada Salingtemas 3.1 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem gerak pada manusia
3.2 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem peredaran darah

Kelas XI, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
3. Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan dan/atau penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada Salingtemas 3.3 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pencernaan makanan pada manusia dan hewan (misalnya ruminansia)
3.4 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pernapasan pada manusia dan hewan (misalnya burung)
3.5 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem ekskresi pada manusia dan hewan (misalnya pada ikan dan serangga)
3.6 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem regulasi manusia (saraf, endokrin, dan penginderaan)
3.7 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses yang meliputi pembentukan sel kelamin, ovulasi, menstruasi, fertilisasi, kehamilan, dan pemberian ASI, serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem reproduksi manusia
3.8 Menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda asing berupa antigen dan bibit penyakit

Kelas XII, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Melakukan percobaan pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan 1.1 Merencanakan percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan
1.2 Melaksanakan percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan
1.3 Mengkomunikasikan hasil percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan

2. Memahami pentingnya proses metabolisme pada organisme 2.1 Mendeskripsikan fungsi enzim dalam proses metabolisme
2.2 Mendeskripsikan proses katabolisme dan anabolisme karbohidrat
2.3 Menjelaskan keterkaitan antara proses metabolisme karbohidrat dengan metabolisme lemak dan protein

3. Memahami penerapan konsep dasar dan prinsip-prinsip hereditas serta implikasinya pada Salingtemas 3.1 Menjelaskan konsep gen, DNA, dan kromosom
3.2 Menjelaskan hubungan gen (DNA)-RNA-polipeptida dan proses sintesis protein
3.3 Menjelaskan keterkaitan antara proses pembelahan mitosis dan meiosis dengan pewarisan sifat
3.4 Menerapkan prinsip hereditas dalam mekanisme pewarisan sifat
3.5 Menjelaskan peristiwa mutasi dan implikasinya dalam Salingtemas

Kelas XII, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
4. Memahami teori evolusi serta implikasinya pada Salingtemas 4.1 Menjelaskan teori, prinsip, dan mekanisme evolusi biologi
4.2 Mengkomunikasikan hasil studi evolusi biologi
4.3 Mendeskripsikan kecenderungan baru tentang teori evolusi

5. Memahami prinsip-prinsip dasar bioteknologi serta implikasinya pada Salingtemas 5.1 Menjelaskan arti, prinsip dasar, dan jenis-jenis bioteknologi
5.2 Menjelaskan dan menganalisis peran bioteknologi serta implikasi hasil-hasil bioteknologi pada Salingtemas

E. Arah Pengembangan
Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.

07/02/2009 Posted by | SBM | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 653 pengikut lainnya.