BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Strategi untuk manajemen kelas

1. Dapatkan ketertarikan siswa yang sesungguhnya.
Sapa siswa ketika masuk. Pahami budaya dan bahasa prokem mereka. Dorong keterlibatan dan berikan reward. Dekati siswa secara individual tidak hanya keseluruhan kelas.
2. Komunikasikan aturan kelas dengan jelas.
Jelaskan aturan kelas serta konsistensinya. Tegakkan aturan dengan adil dan konsisten.
3. Jadilah orang yang obyektif bukan pengailan.
Berusahalah untuk mengadopsi perspektif siswa. Pandanglah isu dari berbagai perspektiv.
4. Tunjukkan bahwa kita adalah manusia.
Siapkan diri untuk mengakui kesalahan atau kekurangan. Jika perlu gunakan humor.
5. Minimalisasi perbedaan kekuasaan dalam komunikasi setiap hari.
Duduk dibelakang meja atau podium dapat menunjukkan kesan bahwa kita ingin menciptakan jarak antara guru dengan siswa.
6. Atasi masalah kelakuan secara langsung dan secepatnya.
Isu dan konflik yang tidak diselesaikan biasanya akan kembali. Atasi masalah sebelum berkembang semakin parah.
7. Pakailah pendekatan kolaborativ.
Maksimalkan kesempatan siswa untuk membuat pilihan di kelas. Pandanglah siswa sebagai milik siswa bukan milik guru. Secara aktif terimalah pendapat siswa.
Aturan Kelas Kita

Organisasi
Aturan dan prosedur sebaiknya dibangun dalam hubungannya dengan strategi pembelajaran yang dapat membantu siswa menemukan kebutuhan pribadi dan akademiknya.
• Atur tempat duduk dalam bentuk U, baris atau lingkaran sehingga kita mudah mengawasi dan bergerak mendekati siswa.
• Tentukan jadwal setiap hari dan diskusikan perubahannya pada pagi hari.
• Libatkan siswa sampai anda benar-benar memberikan instruksi yang jelas pada suatu kegiatan.
• Libatkan siswa untuk lebih bertanggung jawab pada pembelajaran dengan cara tidak melakukan tugas yang dapat dilakukan oleh siswa.
• Tentukan cara-cara mengumpulakn PR membagi kertas dsb.
• Bergeraklah disekitar ruangan dan ketahuilah kebutuhan individu siswa..
• Tentukan arahan dengan sederhana dan bertahap.
• Ingatkan siswa tentang prosedur kunci dihubungkan dengan pelajaran berikutnya..
• Gunakan kompetisi kelompok untuk merangsang belajar.
• Bangun kegiatan transisi
Komunikasi
Komunikasi efektif merupakan dasar manajeman kelas yang baik. Ketrampilan komunikasi terdiri dari mengirim dan menerima.
Mengirim pesean
• Informasi sangat berguna jika diberikan sebelumnya
• Berbicaralah langsung pada mereka untuk mendapat respek dan perhatian.
• Berbicaralah dengan sopan sebagai teladan bagi siswa.
• Tunjukkan tanggung jawab dengan berkata “saya”
• Berikan pernyataan bukan pertanyaan. Pertanyaan seringkali menakutkan siswa.
Menerima pesan (teknik menjadi pendengar yang baik):
• Jadilah pendengar yang empatik. Hal ini akan membuat siswa merasa pernyataannya dapat didengar dengan baik dan diterima.
• Tunjukkan reaksi sehingga siswa merasa berdialog.
• Lakukan kontak mata dan sadarilah pesan-pesan non verbal.
• Tunjukkan kepemimpinan yang baik dengan gerakan, ekspresi wajah dan gesture.
Monitoring
Berikut ini adalah teknik-teknik yang berguna untk merespon gangguan di kelas
• Lakukan pengamatan kelas secara berkala untuk memperhatikan dan merespon potensi masalah.
• Lakukan reaksi dengan cepat dan tenang jika ada anak yang nakal .
• Lakukan kontak awal yang positif dengan menghargai kelakuan baik dan menentang kelakuan yang kurang baik.
• Ingatkan siswa tentang aturan kelas
• Jelaskan siswa tentang aturan, prosedur dan konsekuensinya jika terjadi pelanggaran.
• Terapkan konsekuensi yang konsisten terhadap kelakuan kurang baik.
• Informasikan pada siswa bahwa mereka memilih konsekuensi dari kelakuannya.
• Gunakan konsekuensi yang secara alamiah mendidik.
• Ketika ada satu atau dua siswa sangat mengganggu, fokuskan siswa yang lain untuk melaksanakan tugas, dan carilah waktu untuk berbicara dengan siswa yang mengganggu.
Menyampaikan pelajaran
• Libatkan siswa dalam mengevaluasi pekerjaannya sendiri.
• Tuliskan garis besar, definsi atau bimbingan untuk membantu siswa mengorganisasi pikiran dan memfokuskan perhatian.
• Ajukan pertanyaan dan dan berikan waktu sebelum menunjuk seseorang.
• Variasikan gaya mengajar dan materi untuk mewadahi perbedaan gaya belajar siswa..
• Tentukan tugas dengan kesulitan tertentu sehingga cocok untuk tingkat kemampuan yang beragam.
• Hubungkan bahan-bahan dengan kehidupan siswa kapanpun memungkinkan.
• Animasikan, buat antisipasi dan gunakan kegiatan-kegiatan untuk memancing ketertarikan siswa dan meningkatkan motivasi untuk berpartisipasi.
• Libatkan siswa dalam pembelajaran kooperative, kompetisi kelompok, diskusi kelompok, debat dan bermain peran.

Daftar reward
1. Duduk di kursi guru
2. Ortu mendapat telfon tentang kehebatan anaknya.
3. Duduk di barisan terdepan
4. Mendapatkan permen
5. Membawa pulang peliharaan kelas semalam.
6. Membantu siswa lain yang lebih muda
7. Membantu guru
8. Mendapat stempel
9. Membawa pulang alat peraga semalam
10. Pindah tempat duduk yang disukai.
11. Menjaga binatang di meja.
12. Tidak ada PR
13. Bercerita di depan kelas
14. Menjadi pemimpin dalam permainan kelas
15. Membaca untuk teman-temannya
16. Memilih film untuk dilihat teman-temannya.

Saya sudah selesai, lalu ngapain?
1. Cek ulang pekerjaanmu. Apakah bisa diperbaiki?
2. Membaca buku.
3. Menulis dalam jurnal.
4. Menulis cerita.
5. Membantu teman yang lain.
6. Mengatur meja
7. Mengatur kelas
8. Melihat hasil kerja teman
9. Menyiapkan untuk tes.
10. Membuat catatan pada seseorang yang lain yang juga sudah selesai.
11. Pergi ke perpus dan mencari buku.
12. Bekerja dengan komputer.
13. Tiduran di atas meja
14. Bertanya pada guru jika tidak ada sesuatu yang dapat dilakukan

Cara membangkitkan kelakuan baik
These are mostly suited for the younger students but can be adapted for older classes.
• Aturan Kelas
Diskusikan dengan siswa sejumlah aturan kelas dan konsekuensinya jika melanggar.
• Kartu berwarna
Pada saku nama dapat diberikan warna-warna. Merah berarti melanggar aturan, kuning hati-hati dan hijau berarti telah bertindak sesuai dengan harapan.
• Point Kelas
Pajangkan sistem talus suatu poin pada sebuah papan. Setiap kali siswa menunjukkan prestasi, berikan poin. Jika kelas mencapai poin tertentu berilah hadiah berupa kegiatan yang mengasyikkan.
• Positive Popsicle Sticks
Tuliskan komentar positif pada batang sedotan misalnya; “ sangat aktif” , “ suka membantu” dll. Jika seorang anak menerima beberapa sedotan berikan padanya reward.

Managemen Ruang
Pengaturan kelas yang baik tidak menjamin perilaku baik dari siswa sementara pengaturan kelas yang kurang baik dapat menciptakan kondisi yang mengarahkan pada masalah.
* Guru hendaknya dapat mengamati seluruh siswa dan memonitor perilaku siswapada seluruh waktu. Guru hendaknya juga dapat melihat pintu dari tempatnya duduk.
* Guru hendaknya dapat mengakses semua ruangan kelas.
* Siswa dapat melihat guru dan presentasinya tanpa harus menoleh atau berpindah.
* Buku-buku, presensi, ijin meninggalkan kelas dan buku acuan siswa hendaknya telah disiapkan.
* Beberapa pajangan hendaknya tersusun dengan baik sehingga kelas menjadi menarik.

Mengatur perilaku Negatif Siswa
* Lakukan pengawasan secara teratur sehingga kelakuan yang kurang baik dapat segera diketahui dan dicegah untuk menular pada yang lain atau menimbulkan kekacauan yang lebih besar.
*Lakukan tindakan jika terdapat kelakuan yang menyimpang sedemikian sehingga tidak menyela kegiatan kelas atau menyita perhatian siswa dengan cara:
– Dekatilah siswa, lakukan kontak mata dan berikan sinyal non verbal untuk menghentikan tindakan siswa.
– Panggil nama siswa atau berikan perintah non verbal pendek untuk menghentikan perilaku siswa.
– Berikan pengarahan pada siswa untuk memfokuskan perhatian.
– Perilaku yang serius semacam perkelahian harus segera diatasi, pelajaran dihentikan dan diserahkan pada petugas sekolah.

07/02/2009 Posted by | SBM | 1 Komentar

Mengembangkan Lingkungan Belajar PAKEM

Pengantar

Salah satu upaya untuk mengoptimalkan pembelajaran PAKEM adalah dengan mengembangkan lingkungan kelas yang mendukung. Di bawah ini adalah beberapa contoh inovasi lingkungan kelas yang dapat mendukung terciptanya pembelajaran PAKEM.

1. Pajangan kelas
• Pajangan kelas merupakan tempat untuk memamerkan hasil kreasi semua siswa dalam proses pembelajaran. Jadi semua siswa memiliki tempat untuk memajangkan hasil karyanya.
• Pajangan kelas dapat dibuat dari bahan sederhana seperti bambu atau bahan yang lebih mahal semacam melamin.
• Prinsipnya terdapat nama siswa dan tempat untuk menggantungkan karya siswa seperti paku, penjepit atau yang lainnya.
• Umumnya pajangan siswa diletakkan di dalam kelas

2. Sudut Baca
• Sudut baca merupakan tempat untuk mewadahi berbagai bahan bacaan seperti buku, majalah, cerita koran atau yang lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh siswa dalam belajar.
• Pajangan kelas dapat dibuat dari bahan sederhana seperti papan kayu yang disangga dengan plat L atau berbentuk rak-rak buku. Jika masih tersedia tempat, sudut baca dapat dilengkapi dengan beberapa kursi, bangku atau tikar untuk membaca sambil lesehan.
• Prinsipnya terdapat tempat untuk mewadahi bahan bacaan
• Umumnya sudut baca diletakkan di pojok kelas sehingga sering pula disebut dengan pojok baca.

3. Pengaturan bangku
• Pada dasarnya pengaturan bangku untuk kelas pakem dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengakomodasi interaksi antar siswa.
• Umumnya bangku diatur berkelompok-kelompok.
• Idealnya menggunakan bangku dan meja yang mudah digeser

4. Alat Peraga dan Media
• Salah satu ciri pembelajaran PAKEM adalah belajar sambil bekerja. Jadi, alat peraga merupakan perangkat yang perlu tersedia di kelas.
• Alat peraga dapat dibuat sendiri oleh guru memanfaatkan alat-alat/bahan sederhana.
• Alat peraga tidak perlu dipajang, dimasukkan dalam kotak/dos dan dipergunakan ketika diperlukan.

5. Jam kejujuran
• Jam kejujuran merupakan peraga jam dinding untuk semua siswa yang mana jarum-jarumnya dapat diputar/diubah
• Setiap anak memiliki sebuah peraga jam dan mengubah jarumnya sesuai dengan waktu kehadirannya

6. Pohon Prestasi
• Pohon prestasi merupakan tempat bagi guru untuk memberikan penghargaan kepada siswa.
• Pohon prestasi dapat berupa gambar pohon di kertas dan ditempelkan di tembok.
• Pohon prestasi dapat pula di buat dari ranting pohon sungguhan dan penghargaan berupa bintang atau yang lain di kaitkan pada ujung-ujung ranting tersebut

7. Point Prestasi
• Setiap siswa dapat memperoleh point prestasi
• Point prestasi dapat berupa daftar nama siswa dan kolom untuk menempelkan

8. Folder/Tempat Karya Siswa
• Setiap siswa mempunyai tempat tersendiri untuk mengumpulkan karya-karya mereka yang sudah tidak di pajang lagi.
• Folder dapat dibuat dari kardus bekas atau kotak susu bekas dan bisa di balut dengan kertas kado supaya terlihat manis.
• Folder diletakkan ditempat yang aman secara berjajar dan diberi nama setiap siswa.

9. Bank Kelas
• Kelas dapat memiliki bank kelas bagi siswa yang kelebihan uang jajan
• Kotak amal dapat dibuat dari kaleng biskuit .
• Uang yang terkumpul dapat dipergunakan untuk membeli keperluan kelas seperti buku cerita, kitab dan sebagainya

10. Kotak Soal
• Kotak soal berisi soal hari ini yang di buat oleh guru.
• Kotak soal dapat dibuat dari kardus bekas atau kotak susu bekas dan bisa di balut dengan kertas kado supaya terlihat manis.
.
11. Kebun Percobaan
• Lahan di luar kelas dapat dimanfaatkan sebagai kebun percobaan untuk pelajaran IPA
• Jika tidak tersedia area kebun percobaan dapat memanfaatkan pot atau polibag yang harganya relatif murah
• Jika memungkinkan kebun percobaan dapat menghasilkan produk yang dapat dijual misalnya bunga, bonsai, sayuran dan sebagainya.

12. Emblem
• Emblem adalah karton dengan tulisan tertentu yang dilengkapi dengan penjepit untuk dijepitkan di baju
• Emblem dapat membantu siswa menghapal sesuatu

13. Karya Tiga Dimensi
• Karya tiga dimensi yang dihasilkan siswa juga dapat dipajangkan di kelas asalkan tidak mengganggu.
• Jika memungkinkan areal di luar kelas juga dapat digunakan sebagai pameran karya/ majalah dinding kelas

14. Point Prestasi
• Setiap siswa dapat memperoleh point prestasi

15. Point prestasi dapat berupa daftar nama siswa dan kolom untuk menempelkan pointnya

07/02/2009 Posted by | SBM | 1 Komentar

Memajang Karya Siswa (Kolaborasi Siswa-Guru)

Memajang Karya Siswa
(Kolaborasi Siswa-Guru)

1. Pendahuluan
Kelas yang dipenuhi dengan karya/pekerjaan siswa merupakan pemandangan yang menyenangkan karena memberi pesan kepada mereka bahwa pekerjaan dan belajar mereka penting. Selama ini yang menentukan pemajangan karya siswa biasanya guru, bukan siswa. Clayton (2002) mengajukan gagasan tentang pemajangan karya siswa yang melibatkan siswa, jadi merupakan kolaborasi antara siswa dengan guru. Ia beranggapan bahwa melibatkan siswa dalam memajang hasil pekerjaan mereka dapat meningkatkan tanggungjawab siswa dalam perkembangan belajarnya. Mereka bias dibiarkan bebas memilih pekerjaannya yang akan dipajang guru, bisa juga diserahi tugas mendisain dan memajang pekerjaan di papan (bulletin board), atau mereka bisa juga ditugasi untuk mengelola sendiri seluruh proses mulai dari memilih, membuat tempat pajangan, dan memeliharanya.

2. Manfaat kolaborasi siswa-guru dalam memajang karya siswa
Melibatkan siswa dalam mengelola pajangan dapat memberi manfaat, baik manfaat yang berkaitan dengan proses pendidikan, maupun manfaat praktis.

Manfaat Pendidikan:
• Siswa mempunyai kesempatan untuk belajar mempraktekkan ketrampilan akademik dan social.
• Ketika mereka memilih sendiri karyanya untuk dipajang,mereka belajar untuk melakukan refleksi atas apa yang telah mereka kerjakan.
• Dengan menciptakan pajangan yang lebih mengutamakan USAHA dari pada HASIL SEMPURNA, anak akan lebih memahami bahwa belajar adalah proses pertumbuhan, bukan hanya proses penguasaan.
• Kolaborasi macam ini juga dapat meyakinkan/menguatkan rasa tumbuh kembangnya kompetensi mereka dan memberikan pengalaman kepada mereka untuk mengambil keputusan baik secara individu maupun kelompok.
• Memberi kesempatan kepada mereka untuk belajar dari orang lain, menghargai pekerjaan orang lain, menumbuhkan empati, menghormati, dan menumbuhkan rasa kebersamaan dalam komunitas kelas.

Manfaat Praktis:
• Mengembangkan ketrampilan mengukur, menggunting, menggunakan alat-alat, dan menulis.
• Mengembangkan ketrampilan berorganisasi dan pengambilan keputusan.

Pada dasarnya semua aspek dalam kegiatan tersebut menjadikan anak mengambil tanggungjawab dalam bagian dari kehidupan kelas.

3. Mengajari siswa cara memilih hsil karya untuk pajangan
Agar anak merasa nyaman memilih karyanya untuk pajangan, guru perlu mengajari mereka bagaimana menilai pekerjaan mereka dan bagaimana memilihnya. Berikut ini langkah-langkah yang perlu dilakukan.

(1) Membuat kriteria untuk memilih karya untuk dipajang. Mulailah dengan bertanya: “Mengapa kita memajang pekerjaan di kelas?” Mungkin mereka menjawab:
• Supaya kita bisa melihat apa yang telah dikerjakan teman
• Supaya kita bisa menunjukkan karya yang membuat kita bangga
• Supaya bisa belajar lebih banyak tentang suatu topik
• Agar ada hal menarik yang dipajang di tembok dsb.

Guru bisa menambahkan bahwa pajangan juga bisa berguna untuk merefleksi pekerjaan kita sendiri, belajar dari pekerjaan teman, dan membuat kelas menjadi indah.

Kriteria untuk memilih karya pajangan:
• Karya tersebut menunjukkan usaha kita, bukan hanya menunjukkan pekerjan yang baik.
• Karya menunjukkan perkembangan dan perbaikan
• Kita merasa bangga dengan karya tersebut,
• Karya tersebut penting buat kita

(2) Praktek memilih karya untuk pajangan
Berilah mereka kesempatan untuk menggunakan kriteria yang berbeda dalam memilih karya untuk pajangan. Misalnya, biarkan mereka memiih karya tulis dari portfolionya sesuai dengan keinginannya.

(3) Minta pendapat teman
` Biarkan mereka meminta pendapat teman sekelas sebelum memajangnya. Mereka mungkin menunjukkan aspek yang ingin mereka perhatikan.

4. Mengajari siswa membuat pajangan yang efektif
Pajangan yang efektif adalah yang membuat setiap karya yang dipajang memancarkan hal yang membuat bangga pemiliknya. Karya tersebut lebih menonjol bila dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya. Cara-cara yang bisa dilakukan guru adalah:
• Ingatkan siswa mengapa kita memajang karya di kelas
• Memeriksa pajangan yang ada. Ajak mereka melihat pajangan tersebut dan ajak mereka memeriksa pajangan tersebut tentang efektifitasnya.
• Buatlah daftar kriteria pajangan efektif. Setelah melihat pajangan dan membuat daftar tujuan memajang karya, buatlah petunjuk menciptakan pajangan yang efektif, misalnya, pajanan harus:
(1) sederhana,
(2) menunjukkan apa yang paling penting dari karya tsb,
(3) dekorasi harus cocok dengan karya yang dipajang, dan pajangan lebih menojol dari pada dekorasinya,
(4) pajangan mencantumkan nama pemiliknya, judul karya, atau mungkin ada hal lain tentang karya tersebut.
(5) Pajangan rapi

• Letakkan petunjuk tersebut di dekat tempat pajangan
• Ajari mereka cara-cara membingkai dan memajang karyanya
• Siswa bisa menambahi dengan label lain yang diperlukan misalnya tema, siapa pembuatnya, foto pembuatnya, dll.

Empat tips tentang Pajangan

(1) Pajangan harus memiliki hubungan yang bermakna dengan kurikulum.
Pajangan merupakan alat yang efektif untuk belajar dan mengajar.

(2) Ciptakan pajangan yang menghargai usaha, bukan hanya pekerjaan yang sempurna. Hindari adanya nilai atau komentar pada karya yang dipajang.

(3) Pastikan ada pajangan yang merefleksikan upaya seluruh siswa dalam kelas tersebut. Hal ini untuk menumbuhkan rasa kepemilikan dan memiliki pengaruh yang kuat pada pembentukan komunitas.

(4) Jaga kemutakhiran pajangan, bermakna, dan tidak berserakan. Pajangan harus diganti sesuai dengan perjalanan relevansinya dengan kurikulum. Bila ruang terbatas, karya dipajang bergiliran dari pada dipaksakan sampai berjubel.

Reference:
Clayton, Marlyn K. 2002. Displaying Student Work. An Opportunity for Student-teacher collaboration. http://www.responsiveclassroom.org.

07/02/2009 Posted by | SBM | 1 Komentar

Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

A. Latar Belakang
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.
IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana untuk menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan. Di tingkat SMP/MTs diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) secara terpadu yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.
Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SMP/MTs menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SMP/MTs merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.

B. Tujuan
Mata pelajaran IPA di SMP/MTs bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Meningkatkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaanNya
2. Mengembangkan pemahaman tentang berbagai macam gejala alam, konsep dan prinsip IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran terhadap adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat
4. Melakukan inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bersikap dan bertindak ilmiah serta berkomunikasi
5. Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan serta sumber daya alam
6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan
7. Meningkatkan pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

C. Ruang Lingkup
Bahan kajian IPA untuk SMP/MTs merupakan kelanjutan bahan kajian IPA SD/MI meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan
2. Materi dan Sifatnya
3. Energi dan Perubahannya
4. Bumi dan Alam Semesta

D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Kelas VII, Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami prosedur ilmiah untuk mempelajari benda-benda alam dengan menggunakan peralatan 1.1 Mendeskripsikan besaran pokok dan besaran turunan beserta satuannya
1.2 Mendeskripsikan pengertian suhu dan pengukurannya
1.3 Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari

2. Memahami klasifikasi zat 2.1 Mengelompokkan sifat larutan asam, larutan basa, dan larutan garam melalui alat dan indikator yang tepat
2.2 Melakukan percobaan sederhana dengan bahan-bahan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari
2.3 Menjelaskan nama unsur dan rumus kimia sederhana
2.4 Membandingkan sifat unsur, senyawa, dan campuran

3. Memahami wujud zat dan perubahannya 3.1 Menyelidiki sifat-sifat zat berdasarkan wujudnya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
3.2 Mendeskripsikan konsep massa jenis dalam kehidupan sehari-hari
3.3 Melakukan percobaan yang berkaitan dengan pemuaian dalam kehidupan sehari-hari
3.4 Mendeskripsikan peran kalor dalam mengubah wujud zat dan suhu suatu benda serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

4. Memahami berbagai sifat dalam perubahan fisika dan kimia 4.1 Membandingkan sifat fisika dan sifat kimia zat
4.2 Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia
4.3 Menyimpulkan perubahan fisika dan kimia berdasarkan hasil percobaan sederhana
4.4 Mengidentifikasi terjadinya reaksi kimia melalui percobaan sederhana

Kelas VII, Semester 2
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
5. Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan 5.1 Melaksanakan pengamatan objek secara terencana dan sistematis untuk memperoleh informasi gejala alam biotik dan a-biotik
5.2 Menganalisis data percobaan gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah beraturan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
5.3 Menggunakan mikroskop dan peralatan pendukung lainnya untuk mengamati gejala-gejala kehidupan
5.4 Menerapkan keselamatan kerja dalam melakukan pengamatan gejala-gejala alam

6. Memahami keanekara-gaman makhluk hidup 6.1 Mengidentifikasi ciri¬-ciri makhluk hidup
6.2 Mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki
6.3 Mendeskripsikan keragaman pada sistem organisasi kehidupan mulai dari tingkat sel sampai organisme

7. Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem 7.1 Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem
7.2 Mengidentifikasi pentingnya keanekaragaman mahluk hidup dalam pelestarian ekosistem
7.3 Memprediksi pengaruh kepadatan populasi manusia terhadap lingkungan
7.4 Mengaplikasikan peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan

Kelas VIII, Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia

1.1 Menganalisis pentingnya pertumbuhan dan perkembangan pada makhluk hidup
1.2 Mendeskripsikan tahapan perkembangan manusia
1.3 Mendeskripsikan sistem gerak pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan
1.4 Mendeskripsikan sistem pencernaan pada manusia dan dan hubungannya dengan kesehatan
1.5 Mendeskripsikan sistem pernapasan pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan.
1.6 Mendeskripsikan sistem peredaran darah pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan

2. Memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan
2.1 Mengidentifikasi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
2.2 Mendeskripsikan proses perolehan nutrisi dan transformasi energi pada tumbuhan hijau
2.3 Mengidentifikasi macam-macam gerak pada tumbuhan
2.4 Mengidentifikasi hama dan penyakit pada organ tumbuhan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari

3. Menjelaskan konsep partikel materi 3.1 Menjelaskan konsep atom, ion, dan molekul
3.2 Menghubungkan konsep atom, ion, dan molekul dengan produk kimia sehari-hari
3.3 Membandingkan molekul unsur dan molekul senyawa

4. Memahami kegunaan bahan kimia dalam kehidupan 4.1 Mencari informasi tentang kegunaan dan efek samping bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari
4.2 Mengkomunikasikan informasi tentang kegunaan dan efek samping bahan kimia
4.3 Mendeskripsikan bahan kimia alami dan bahan kimia buatan dalam kemasan yang terdapat dalam bahan makanan
4.4 Mendeskripsikan sifat/pengaruh zat adiktif dan psikotropika
4.5 Menghindarkan diri dari pengaruh zat adiktif dan psikotropika

Kelas VIII, Semester 2
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
5. Memahami peranan usaha, gaya, dan energi dalam kehidupan sehari-hari

5.1 Mengidentifikasi jenis-jenis gaya, penjumlahan gaya dan pengaruhnya pada suatu benda yang dikenai gaya
5.2 Menerapkan hukum Newton untuk menjelaskan berbagai peristiwa dalam kehidupan sehari-hari
5.3 Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya, prinsip “usaha dan energi” serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
5.4 Melakukan percobaan tentang pesawat sederhana dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
5.5 Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan gas serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

6. Memahami konsep dan penerapan getaran, gelombang dan optika dalam produk teknologi sehari-hari 6.1 Mendeskripsikan konsep getaran dan gelombang serta parameter-parameternya
6.2 Mendeskripsikan konsep bunyi dalam kehidupan sehari-hari
6.3 Menyelidiki sifat-sifat cahaya dan hubungannya dengan berbagai bentuk cermin dan lensa
6.4 Mendeskripsikan alat-alat optik dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

Kelas IX, Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia 1.1 Mendeskripsikan sistem ekskresi pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan
1.2 Mendeskripsikan sistem reproduksi dan penyakit yang berhubungan dengan sistem reproduksi pada manusia
1.3 Mendeskripsikan sistem koordinasi dan alat indera pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan

2. Memahami kelangsungan hidup makhluk hidup 2.1 Mengidentifikasi kelangsungan hidup makhluk hidup melalui adaptasi, seleski alam, dan perkembangbiakan
2.2 Mendeskripsikan konsep pewarisan sifat pada makhluk hidup
2.3 Mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat dan penerapannya.
2.4 Mendeskripsikan penerapan bioteknologi dalam mendukung kelangsungan hidup manusia melalui produksi pangan

3. Memahami konsep kelistrikan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari 3.1 Mendeskripsikan muatan listrik untuk memahami gejala-gejala listrik statis serta kaitannya dalam kehidupan sehari-hari
3.2 Menganalisis percobaan listrik dinamis dalam suatu rangkaian serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
3.3 Mendeskripsikan prinsip kerja elemen dan arus listrik yang ditimbulkannya serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
3.4 Mendeskripsikan hubungan energi dan daya listrik serta pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari

Kelas IX, Semester 2
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari 4.1 Menyelidiki gejala kemagnetan dan cara membuat magnet
4.2 Mendeskripsikan pemanfaatan kemagnetan dalam produk teknologi
4.3 Menerapkan konsep induksi elektromagnetik untuk menjelaskan prinsip kerja beberapa alat yang memanfaatkan prinsip induksi elektromagnetik
5. Memahami sistem tata surya dan proses yang terjadi di dalamnya 5.1 Mendeskripsikan karakteristik sistem tata surya
5.2 Mendeskripsikan matahari sebagai bintang dan bumi sebagai salah satu planet
5.3 Mendeskripsikan gerak edar bumi, bulan, dan satelit buatan serta pengaruh interaksinya
5.4 Mendeskripsikan proses-proses khusus yang terjadi di lapisan lithosfer dan atmosfer yang terkait dengan perubahan zat dan kalor
5.5 Menjelaskan hubungan antarar proses yang terjadi di lapisan lithosfer dan atmosfer dengan kesehatan dan permasalahan lingkungan

E. Arah Pengembangan
Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.

07/02/2009 Posted by | SBM | 5 Komentar

Mata Pelajaran Biologi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA)

A. Latar Belakang
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu (inquiry) tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya sebagai penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA di sekolah menengah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan alam sekitar.
Biologi sebagai salah satu bidang IPA menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara baik dan benar dengan selalu mempertimbangkan keamanan dan keselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, menggolongkan dan menafsirkan data, serta mengkomunikasikan hasil temuan secara lisan atau tertulis, menggali dan memilah informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari.
Mata pelajaran Biologi dikembangkan melalui kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar. Penyelesaian masalah yang bersifat kualitatif dan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan pemahaman dalam bidang matematika, fisika, kimia dan pengetahuan pendukung lainnya.

B. Tujuan
Mata pelajaran Biologi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Membentuk sikap positif terhadap biologi dengan menyadari keteraturan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
2. Memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat bekerjasama dengan orang lain
3. Mengembangkan pengalaman untuk dapat mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis
4. Mengembangkan kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip biologi
5. Mengembangkan penguasaan konsep dan prinsip biologi dan saling keterkaitannya dengan IPA lainnya serta mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri
6. Menerapkan konsep dan prinsip biologi untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia
7. Meningkatkan kesadaran dan berperan serta dalam menjaga kelestarian lingkungan.

C. Ruang Lingkup
Mata pelajaran Biologi di SMA / MA merupakan kelanjutan IPA di SMP/MTs yang menekankan pada fenomena alam dan penerapannya yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Hakikat biologi, keanekaragaman hayati dan pengelompokan makhluk hidup, hubungan antarkomponen ekosistem, perubahan materi dan energi, peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem
2. Organisasi seluler, struktur jaringan, struktur dan fungsi organ tumbuhan, hewan dan manusia serta penerapannya dalam konteks sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat
3. Proses yang terjadi pada tumbuhan, proses metabolisme, hereditas, evolusi, bioteknologi dan implikasinya pada sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat.

D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Kelas X, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami hakikat Biologi sebagai ilmu
1.1 Mengidentifikasi ruang lingkup Biologi
1.2 Mendeskripsikan objek dan permasalahan biologi pada berbagai tingkat organisasi kehidupan (molekul, sel, jaringan, organ, individu, populasi, ekosistem, dan bioma)

2. Memahami prinsip-prinsip pengelompokan makhluk hidup

2.1 Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peran virus dalam kehidupan
2.2 Mendeskripsikan ciri-ciri Archaeobacteria dan Eubacteria dan peranannya bagi kehidupan
2.3 Menyajikan ciri-ciri umum filum dalam kingdom Protista, dan peranannya bagi kehidupan
2.4 Mendeskripsikan ciri-ciri dan jenis-jenis jamur berdasarkan hasil pengamatan, percobaan, dan kajian literatur serta peranannya bagi kehidupan

Kelas X, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
3. Memahami manfaat keanekaragaman hayati

3.1 Mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, ekosistem, melalui kegiatan pengamatan
3.2 Mengkomunikasikan keanekaragaman hayati Indonesia, dan usaha pelestarian serta pemanfaatan sumber daya alam
3.3 Mendeskripsikan ciri-ciri Divisio dalam Dunia Tumbuhan dan peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi
3.4 Mendeskripsikan ciri-ciri Filum dalam Dunia Hewan dan peranannya bagi kehidupan

4. Menganalisis hubungan antara komponen ekosistem, perubahan materi dan energi serta peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem

4.1 Mendeskripsikan peran komponen ekosistem dalam aliran energi dan daur biogeokimia serta pemanfaatan komponen ekosistem bagi kehidupan
4.2 Menjelaskan keterkaitan antara kegiatan manusia dengan masalah perusakan/pencemaran lingkungan dan pelestarian lingkungan
4.3 Menganalisis jenis-jenis limbah dan daur ulang limbah
4.4 Membuat produk daur ulang limbah

Kelas XI, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami struktur dan fungsi sel sebagai unit terkecil kehidupan
1.1 Mendeskripsikan komponen kimiawi sel, struktur dan fungsi sel sebagai unit terkecil kehidupan
1.2 Mengidentifikasi organela sel tumbuhan dan hewan
1.3 Membandingkan mekanisme transpor pada membran (difusi, osmosis, transport aktif, endositosis, eksositosis)

2. Memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan hewan, serta penerapannya dalam konteks Salingtemas
2.1 Mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan mengaitkannya dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan
2.2 Mendeskripsikan struktur jaringan hewan Vertebrata dan mengaitkannya dengan fungsinya

3. Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan/penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada Salingtemas 3.1 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem gerak pada manusia
3.2 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem peredaran darah

Kelas XI, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
3. Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan dan/atau penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada Salingtemas 3.3 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pencernaan makanan pada manusia dan hewan (misalnya ruminansia)
3.4 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pernapasan pada manusia dan hewan (misalnya burung)
3.5 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem ekskresi pada manusia dan hewan (misalnya pada ikan dan serangga)
3.6 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem regulasi manusia (saraf, endokrin, dan penginderaan)
3.7 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses yang meliputi pembentukan sel kelamin, ovulasi, menstruasi, fertilisasi, kehamilan, dan pemberian ASI, serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem reproduksi manusia
3.8 Menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda asing berupa antigen dan bibit penyakit

Kelas XII, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Melakukan percobaan pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan 1.1 Merencanakan percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan
1.2 Melaksanakan percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan
1.3 Mengkomunikasikan hasil percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan

2. Memahami pentingnya proses metabolisme pada organisme 2.1 Mendeskripsikan fungsi enzim dalam proses metabolisme
2.2 Mendeskripsikan proses katabolisme dan anabolisme karbohidrat
2.3 Menjelaskan keterkaitan antara proses metabolisme karbohidrat dengan metabolisme lemak dan protein

3. Memahami penerapan konsep dasar dan prinsip-prinsip hereditas serta implikasinya pada Salingtemas 3.1 Menjelaskan konsep gen, DNA, dan kromosom
3.2 Menjelaskan hubungan gen (DNA)-RNA-polipeptida dan proses sintesis protein
3.3 Menjelaskan keterkaitan antara proses pembelahan mitosis dan meiosis dengan pewarisan sifat
3.4 Menerapkan prinsip hereditas dalam mekanisme pewarisan sifat
3.5 Menjelaskan peristiwa mutasi dan implikasinya dalam Salingtemas

Kelas XII, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
4. Memahami teori evolusi serta implikasinya pada Salingtemas 4.1 Menjelaskan teori, prinsip, dan mekanisme evolusi biologi
4.2 Mengkomunikasikan hasil studi evolusi biologi
4.3 Mendeskripsikan kecenderungan baru tentang teori evolusi

5. Memahami prinsip-prinsip dasar bioteknologi serta implikasinya pada Salingtemas 5.1 Menjelaskan arti, prinsip dasar, dan jenis-jenis bioteknologi
5.2 Menjelaskan dan menganalisis peran bioteknologi serta implikasi hasil-hasil bioteknologi pada Salingtemas

E. Arah Pengembangan
Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.

07/02/2009 Posted by | SBM | Tinggalkan komentar

Apa itu PAKEM?

PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”) tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.
Secara garis besar, PAKEM dapat digambarkan sebagai berikut:
• Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
• Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
• Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
• Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
• Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

Apa yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM?
1. Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia – selama mereka normal – terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat anugerah Tuhan tersebut. Suasana pembelajaran yang ditunjukkan dengan guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.
2. Mengenal anak secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga anak tersebut belajar secara optimal.
3. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorga-nisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal tersebut memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sesering-seringnya memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu).
5. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disaran-kan dalam PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam KBM karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.

6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) me-rupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat ber-peran sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Peng-gunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan ling-kungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pe-manfaatan lingkungan dapat mengembang-kan sejumlah keterampilan seperti meng-amati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasikan, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.
7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.
8. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling ber-hadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan ‘PAKEM.’

07/01/2009 Posted by | SBM | Tinggalkan komentar

KONSEP DASAR METODE DAN TEKNIK PEMBELAJARAN

Pada handout ini akan dibahas mengenai:
1. Pengertian Metode dan Teknik Pembelajaran
2. Klasifikasi Metode Pembelajaran
3. Faktor-faktor dalam Menentukan Metode Pembelajaran

Pengertian Metode dan Teknik Pembelajaran
Metode memiliki peran yang sangat strategis dalam mengajar. Metode berperan sebagai rambu-rambu atau “bagaimana memproses” pembelajaran sehingga dapat berjalan baik dan sistematis. Bahkan dapat dikatakan proses pembelajaran tidak dapat berlangsung tanpa suatu metode. Karena itu, setiap guru dituntut menguasai berbagai metode dalam rangka memproses pembelajaran efektif, efesien, menyenangkan dan tercapai tujuan pembelajaran yang ditargetkan. Secara implementatif metode pembelajaran dilaksanakan sebagai teknik, yaitu pelaksanakan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan.

Metode secara harfiah berarti “cara”. Secara umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam pendapat lain juga dijelaskan bahwa metode adalah cara atau prosedur yang dipergunakan oleh fasilitator dalam interaksi belajar dengan memperhatikan keseluruhan sistem untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan kata “mengajar” sendiri berarti memberi pelajaran (Fathurrohman dan Sutikno, 2007; 55).

Berdasarkan pandangan di atas dapat dipahami bahwa metode mengajar merupakan cara-cara menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode itu sendiri merupakan salah satu sub system dalam sistem pembelajaran, yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Oleh karena itu, salah satu masalah yang sangat memerlukan perhatian dalam kegiatan pembelajaran adalah metode pembelajaran (learning method). Pada awalnya metode ini kurang mendapatkan perhatian, karena orang berpandangan bahwa pembelajaran itu merupakan suatu kegiatan yang sifatnya praktis. Jadi tidak diperlukan pengetahuan (teori) yang ada sangkut pautnya dengan pembelajaran. Orang merasa sudah mampu mengajar dan menjadi pendidik atau fasilitator kalau sudah menguasai materi yang akan disampaikan. Pandangan ini tidaklah benar. Fasilitator perlu pula mempelajari pengetahuan yang ada kaitannya dengan kegiatan pembelajaran, khususnya metode pembelajaran, yang berguna untuk “bagaimana memproses” terjadinya interaksi belajar. Jadi metode digunakan oleh guru untuk mengkreasi lingkungan belajar dan menkhususkan aktivitas di mana guru dan peserta didik terlibat selama proses pembelajaran berlangsung.

Metode pembelajaran dalam implementasinya memiliki prosedur atau fase-fase tertentu. Secara garis besar dalam satu proses interaksi belajar, metode pembelajaran dikelompokkan menjadi empat fase utama, yaitu fase pendahuluan, fase pembahasan, fase menghasilkan dan fase penurunan.
Fase pendahuluan; dimaksudkan untuk menyusun dan mempersiapkan mental set yang menguntungkan, menyenangkan guna pembahasan materi pembelajaran. Dalam fase ini fasilitator dapat melakukan kaji ulang (review) terhadap pembahasan sebelumnnya dan menghubungkan dengan pembahasan berikutnya.

Fase pembahasan dimaksudkan untuk melakukan kajian, pembahasan dan penelahaan terhadap materi pembelajaran. Dalam fase ini, peserta didik mulai dikonsentasikan perhatiannya kepada pokok materi pembahasan. Dalam fase ini perlu dicari metode yang cocok dengan tujuan, sifat materi, latar belakang peserta didik dan guru.

Fase menghasilkan tahap penarikan kesimpulan bedasarkan dari seluruh hasil pembahasan yang berdasarkan pengalaman dan teori yang mendukungnya. Fase penurunan dimaksudkan untuk menentukan konsentrasi peserta didik secara berangsur-angsur. Ketegangan perhatian peserta didik terhadap materi pembelajaran perlu secara bertahap diturunkan untuk memberi isyarat bahwa proses pembelajaran akan berakhir.

Secara implementatif metode pembelajaran dilaksanakan sebagai teknik pembelajaran. Secara utuh bila dirangkai dari filosofinya rangkaian itu adalah dari pendekatan, model, stategi, metode, dan teknik pembelajaran. Pendekatan adalah pola/cara berpikir atau dasar pandangan terhadap sesuatu. Model merupakan orientasi filosofi dari pembelajaran. Pendekatan dan model terdapat sejumlah strategi yang dapat digunakan. Sedangkan strategi adalah pola umum perbuatan guru-peserta didik di dalam perwujudan kegiatan pembelajaran. Strategi ini memuat beberapa metode. Metode adalah alat untuk mencapai tujuan yang bersifat prosedural (fase pendahuluan, fase pembahasan, fase menghasilkan dan fase penurunan ), sedangkan teknik merupakan pelaksanakan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan yang bersifat implementatif. Istilah lain dari teknik pembelajaran adalah keterampilan pembelajaran

Keterampilan merupakan perilaku pembelajaran yang paling spesifik. Keterampilan meliputi keterampilan/teknik menjelaskan, demonstrasi, bertanya, dan masih banyak lagi’

Keterampilan/teknik menjelaskan
Penjelasan perlu diberikan untuk membantu peserta didik mencapai atau mendalami pemahaman konsep, serta memahami generalisasi. Untuk tujuan ini guru perlu memilih konsep dan definisi yang cocok begitu pula dengan contoh dan yang bukan contoh.

Penjelasan hendaknya dapat menunjukkan:
• hubungan sebab akibat,
• kejadian yang diatur oleh suatu keteraturan dan hukum,
• prosedur atau proses,
• tujuan suatu kegiatan atau proses.

Keterampilan/teknik demonstrasi
Seringkali peserta didik belajar dari apa yang dilakukan oleh orang lain. Sebuah demonstrasi dapat menentukan hubungan antara kengetahui sesuatu dengan dapat
melakukan sesuatu. Riset menunjukkan bahwa demonstrasi efektif jika tepat, peserta didik dapat mengamati dengan baik dan memahami apa yang sedang terjadi dan
jika penjelasan dan diskusi dilakukan ketika demonstrasi sedang berlangsung.

Keterampila bertanya
Diantara keterampilan pembelajaran, bertanya merupakan keterampilan utama
dalam pembelajaran. Pertanyaan baik digunakan jika:
• partisipasi peserta didik menjadi tinggi apabila pertanyaan diajukan
• terjadi campuran antara level kognitif tinggi dan rendah
• pemahaman pemahaman semakin meningkat
• pemikiran peserta didik terangsang
• balikan dan penguatan terjadi
• kemampuan berfikir kritis demakin tajam
• kreativitas peserta didik didorong

Biasanya metode digunakan melalui salah satu strategi, tetapi juga tidak tertutup kemungkinan beberapa metode berada dalam strategi yang bervariasi, artinya penetapan metode dapat divariasikan melalui strategi yang berbeda tergantung pada tujuan yang akan dicapai dan konten proses yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Sebagai contoh, guru mungkin memberikan informasi melalui metode ceramah (dari strategi pembelajaran langsung) sementara mereka juga menggunakan metode interpretive untuk meminta peserta menentukan informasi yang signifikan dari informasi yang dipresentasikan (dari strategi pembelajaran tak langsung).

Klasifikasi Metode Pembelajaran
Metode bukan merupakan tujuan, melainkan cara untuk mencapai tujuan sebaik-baiknya. Untuk itu tidak mungkin membicarakan metode tanpa mengetahui tujuan yang hendak dicapai. Jadi berhasil tidaknya tujuan yang akan dicapai bergantung pada penggunaan metode yang tepat. Hal tersebut mengingatkan kita bahwa sebenarnya tidak ada metode mengajar yang paling baik atau buruk. Yang ada adalah guru yang cakap dengan tidak cakap dalam memilih dan mempergunakan metode dalam pembelajaran.
Klasifikasi metode pembelajaran, hanya untuk memudahkan guru dalam memilih metode sesuai dengan strategi yang akan dipilih. Untuk itu klasifikasi disini didasarkan pada strategi pembelajaran. Untuk melihat karakteristik masing-masing metode akan dibicarakan pada Paket 12 buku ini.
Klasifikasi metode pembelajaran
1. Startegi pembelajaran langsung
Strategi pembelajaran langsung sangat diarahkan oleh guru. Metode yang cocok antara lain: ceramah, tanya jawab, demonstrasi, latihan, dan drill.
2. Strategi pembelajaran tidak langsung
Sering disebut inkuiri, induktif, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan penemuan. Strategi ini berpusat pada peserta didik. Metode yang cocok digunakan antara lain: inkuiri, studi kasus, pemecahan masalah, peta konsep.
3. Strategi pembelajaran interaktif
Menekankan pada diskusi dan sharing di antara peserta didik, maka metode yang cocok antara lain: diskusi kelas, diskusi kelompok kecil atau projek, kerja berpasangan.

4. Strategi pembelajaran mandiri
Merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri. Bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok kecil. Memberikan kesempatan peserta didik untuk bertanggung jawab dalam merencanakan dan memacu belajarnya sendiri. Dapat dilaksanakan sebagai rangkaian dari metode lain atau sebagai strategi pembelajaran tunggal untuk keseluruhan unit. Metode yang cocok antara lain: pekerjaan rumah, karya tulis, projek penelitian, belajar berbasisi komputer, E-learning.

5. Belajar melalui pengalaman
Berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik dan berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan formulasi perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis dalam pembelajaran empirik yang efektif. Metode yang cocok antara lain: bermain peran, observasi/survey, simulasi.

Prinsip-prinsip Metode Pembelajaran
Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip dalam pembahasan ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan metode pembelajaran. Prinsip umum penggunaan metode pembelajaran adalah bahwa tidak semua metode pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan pembelajaran dan keadaan pembelajaran berlangsung. Semua metode pembelajaran memiliki kekhasan sendiri-sendiri dan relevan dengan tujuan pembelajaran tertentu namun tidak cocok untuk tujuan dan keadaan yang lain. Dengan kata lain, semua metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Guru sebagai agency of change harus mampu memillih metode yang tepat sesuai dengan tujuan dan keadaan pembelajaran. Kesalahan dalam memilih metode dalam mengajar berarti guru telah merancang kegagalan dalam pembelajaran.

Sebagai guide dalam memilih metode yang tepat, ada lima prinsip umum dalam menentukan metode pembelajaran, di antaranya;
1. berorientasi pada tujuan pembelajaran
2. berorientasi pada aktivitas peserta didik
3. berorientasi pada individualitas, dan
4. berorientasi pada integritas.

Berorientasi pada tujuan pembelajaran. Dalam sistem pembelajaran tujuan merupakan komponen yang utama. Segala aktivitas guru dan peserta didik, mestilah diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ini sangat penting, sebab mengajar adalah proses yang bertujuan. Oleh karena itu, keberhasilan suatu metode pembelajaran dapat ditentukan dari keberhasilan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran dapat menentukan suatu metode yang harus digunakan guru akan tetapi hal ini sering dilupakan guru. Guru yang senang berceramah, hampir setiap tujuan menggunakan metode ceramah, seakan-akan dia berpikir bahwa segala jenis tujuan dapat dicapai dengan metode yang demikian. Hal ini tentu saja keliru. Apabila kita menginginkan peserta didik terampil menggunakan alat ter¬tentu, katakanlah terampil menggunakan termometer sebagai alat pengukur suhu badan, tidak mungkin menggunakan metode ceramah saja. Untuk mencapai tujuan yang demikian, peserta didik harus berpraktik secara langsung. Demikian juga, manakala kita menginginkan agar peserta didik dapat menyebutkan hari dan tanggal proklamasi kemerdekaan suatu negara, tidak akan efektif kalau menggunakan metode diskusi untuk memecahkan masalah. Untuk me¬ncapai tujuan yang demikian guru cukup menggunakan metode ceramah atau pengajaran secara langsung.

Aktivitas peserta didik. Belajar bukan sebatas aktivitas menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah berbuat (learning by doing) yakni memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu, metode pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas peserta didik. Aktivitas tidak dimaksudkan terbatas pada aktivitas fisik, akan tetapi meliputi aktivitas yang bersifat psikis atau aktifitas mental. Guru sering lupa dengan hal ini. Banyak guru yang terkecoh oleh sikap peserta didik yang pura-pura aktif padahal sebenarnya tidak.

Individualitas. Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu peserta didik. Walaupun guru mengajar sekelompok peserta didik, namun pada hakikatnya yang ingin dicapai dalah perubahan prilaku setiap siswa. Sama seperti seorang dokter. Dikatakan seorang dokter yang jitu dan profesional manakala ia menangani 50 orang pasien, seluruhnya sembuh; dan dikatakan dokter yang tidak baik manakala ia menangani 50 orang pasien, 49 sakitnya bertambah parah atau malah mati. Demikian juga halnya dengan guru, dikatakan guru yang baik dan profesional manakala ia menangani 50 orang peserta didik, seluruhnya berhasil mencapai tujuan; dan sebaliknya, dikatakan guru yang tidak baik atau tidak berhasil manakala ia menangani 50 orang peserta didik, 49 tidak berhasil mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, dilihat dari segi jumlah peserta didik sebaiknya standar ke¬berhasilan guru ditentukan setinggi-tingginya. Semakin tinggi standar keberhasilan ditentukan, maka semakin berkualitas proses pembelajaran.

Integritas. Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi siswa. Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, akan tetapi meliputi pengembangan aspek afektif dan psikomotorik. Oleh karena itu, pembelajaran harus diarahkan untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian peserta didik secara terintegrasi (ranah kognitif, afektif dan psikomotorik). Penggunaan metode diskusi, contohnya, guru harus dapat merancang strategi pelaksanaan diskusi tak hanya terbatas pada pengembangan aspek intelektual saja, tetapi harus terdorong peserta didik agar mereka bisa berkembang secara keseluruhan, misalkan mendorong agar peserta didik dapat menghargai pendapat orang lain, mendorong peserta didik agar berani mengeluarkan gagasan atau ide yang orisinil, mendorong peserta didik untuk bersikap jujur, tenggang rasa, dan lain sebagainya.

Di samping itu, dalam Bab IV Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 dikatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pen¬didikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik.

Dari beberapa uraian di atas dapat ditentukan faktor-faktor yang perlu di perhatikan dalam menentukan metode pembelajaran, antara lain:
1. tujuan pembelajaran
2. kemampuan guru
3. kemampuan peserta didik
4. jumlah peserta didik
5. jenis materi
6. waktu
7. fasilitas yang ada.

Tujuan pembelajaran merupakan kriteria terpenting di dalam menentukan metode pembelajar, nkarena metode merupakan cara menyajikan isi pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Di dalam tujuan pembelajaran terdapat kompentesi yang diharapkan dikuasai peserta didik di akhir pembelajaran. Misalnya, terdapat suatu indikator sebagai berikut: peserta didik diharapkan dapat mengidentifikasi minimal 7 tugas perkembangan masa bayi dan awal masa kanak-kanak. Kemampuan yang diharapkan dari indikaor itu adalah peserta didk dapat mengidentifikasi. Untuk mengidentifikasi ada beberapa alternatif penggunaan metode dan teknik pembelajarannya. Misalnya prosedur/langkah yang dipilih untuk mencapai tujuan tersebut adalah:
1. Peserta didik diminta untuk mengamati bayi dan anak-anak
2. Peserta didik diminta membaca buku tentang perkembangan masa bayi dan anak-anak
3. Peserta didik diminta mendiskusikan hasil pengamatan dan hasil bacaanya
4. Peserta didik diminta membandingkan perkembangan masa bayi dan anak-anak

Dari contoh di atas terlihat bahwa metode utama yang digunakan adalah studi kasus, dan diskusi, dengan 4 langkah teknik seperti di atas. Keempat langkah tersebut dinamakan strategi pembelajaran.

Kemampuan guru merupakan pertimbangan di dalam pemilihan metode, sebab guru itulah yang melakukan pembelajaran. Sebaik apapun metode tersebut apabila guru yang melaksanakan tidak menguasai penggunaannya, maka metode tersebut tidak akan baik. Begitu juga tentang kemampuan peserta didik. Guru harus memperhatikan kemampuan intelektual anak, sehingga tepat penggunaan metodenya.
Jumlah peserta didik perlu digunakan dalam penentuan metode, misalnya bila jumlah peserta didik banyak, maka lebih efisien menggunakan metoda ceramah dan tanya jawab dibandingkan metode yang lain. Dan pertimbangan jenis materi juga sangat penting, karena jenis materi tertentu mempunyai kespesifikan masing-masing dalam menggunakan metode.

Waktu juga mempengaruhi guru di dalam menetukan metode, misalnya karena sesuatu hal maka waktu belajar peserta didik banyak digunakan kegiatan lain. Untuk itu guru harus mencari alternatif metode dengan waktu singkat mendapatkan materi yang banyak. Begitu juga dengan fasilitas. Fasilitas juga mempengaruhi penentuan metode. Misalnya menurut jenis materinya maka metode yang harus digunakan adalah metode pengamatan/pratikum, karena alat dan bahan kurang dapat diganti dengan demontrasi.

Dalam memilih metode seorang guru harus memegang prinsip-prinsip antara lain:
1. Efektif dan efisien.
2. Digunakan secara bervariasi.
3. Digunakan dengan memadukan beberapa metode.

Efektif dan efisien harus selalu dipikirkan dalam penggunaan metode karena untuk supaya tidak terjadi pemborosan waktu maupun biaya dalam pembelajaran. Sedangkan variasi dan pemaduan penggunaan sangat menguntungkan karena untuk megurangi kebosanan, dan memudahkan peserta didik dalam mencapai dalam tujuan pembelajaran. Karena masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangannya.

Perlu diketahui juga bahwa di dalam memandang keunggulan dan kelemahan metode perlu juga dipikirkan tentang prinsip-prinsip belajar, antara lain:
1. Prinsip motivasi.
2. Prinsip-prinsip keaktifan.
3. Prinsip umpan balik dan penguatan.
4. Prinsip kecepatan belajar.

Motivasi adalah pendorong tingkah laku peserta didik ke arah tujuan tertentu. Kaitannya dengan metode, maka guru diharapkan menggunakan metode yang dapat menarik peserta didik, sehingga peserta didk berminat untuk belajar, ingin kerja keras, dan berusaha menyelesaikan tugas hingga selesai. Hal ini juga dapat dilakukan guru dengan menggunakan variasi metode untuk mengurangi kebosanan peserta didik. Karena kebosanan akan mengurangi minat peserta didik untuk belajar.
Keaktifan dapat didorong dengan dengan mengaitkan pengalaman peserta didik dengan pengetahuan yang baru. Untuk itu seorang guru harus dapat memilih metode yang dapat mangaktifkan proses berpikir peserta didik dengan menghubungkan pengalaman lama mereka dengan pengetahuan yang baru diajarkan. Keaktifan peserta didik akan menurun bila tidak mendapatkan umpan balik, sehingga memberikan penguatan atas upaya yang dilakukan peserta didik.
Dipandang dari kecepatan belajar, peserta didik dapat dibedakan menjadi peserta didik yang cepat belajar, dan peserta didik lambat belajar. Dengan adanya perbedaan peserta didik ini guru harus pandai-pandai memilih metode supaya tidak menimbulkan frustasi bagi peserta didik.

Rangkuman
• Metode adalah alat atau cara untuk mencapai tujuan yang bersifat prosedural (fase pendahuluan, fase pembahasan, fase menghasilkan dan fase penurunan ).
• Teknik pembelajaran merupakan pelaksanakan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan yang bersifat implementatif.
• Istilah lain dari teknik pembelajaran adalah keterampilan pembelajaran Keterampilan merupakan perilaku pembelajaran yang paling spesifik. Keterampilan meliputi keterampilan/teknik menjelaskan, demonstrasi, bertanya, dan masih banyak lagi.
• Biasanya metode digunakan melalui salah satu strategi, tetapi juga tidak tertutup kemungkinan beberapa metode berada dalam strategi yang bervariasi, artinya penetapan metode dapat divariasikan melalui strategi yang berbeda tergantung pada tujuan yang akan dicapai dan konten proses yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran.
• Klasifikasi metode pembelajaran
o Startegi pembelajaran langsung: ceramah, tanya jawab, demonstrasi latihan dan drill.
o Strategi pembelajaran tidak langsung: inkuiri, studi kasus, pemecahan masalah, peta konsep.
o Pembelajaran interaktif: diskusi kelas, diskusi kelompok kecil atau projek, kerja berpasangan.
o Pembelajaran mandiri: pekerjaan rumah, karya tulis, projek penelitian, belajar berbasisi komputer, E-learning.
 Faktor-faktor yang perlu di perhatikan dalam menentukan metode pembelajaran, antara lain: tujuan pembelajaran, kemampuan guru, kemampuan peserta didik, jumlah peserta didik, jenis materi, waktu, fasilitas yang ada.
 Prinsip-prinsip penggunann metode antara lain: efektif dan efisien, digunakan secara bervariasi, digunakan dengan memadukan beberapa metode.

07/01/2009 Posted by | SBM | 4 Komentar

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

Pada handout ini akan dibahas mengenai hal-hal berikut:
 Konsep dasar model-model pembelajaran
 Model interaksi sosial
 Model pemrosesan informasi
 Model Personal (Personal Models)
 Model Modifikasi Tingkah Laku (Behavioral)

4.1 Konsep Dasar Model-Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain (Joyce, 1992). Selanjutnya Joyce menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarah kepada desain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

Soekamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000) mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah: “Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.” Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak bahwa model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengajar.

Joyce & Weil (1992) berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk mernbentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efesien untuk mencapai tujuan pendidikan.

Model pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
• Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu. Sebagai contoh, model penelitian kelompok disusun oleh Herbert Thelen dan berdasarkan teori John Dewey. Model ini dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis.
• Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu. Misalnya model berfikir induktif dirancang untuk mengembangkan proses berfikir induktif.
• Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas. Misalnya model Synectic dirancang untuk memperbaiki kreativitas dalam pelajaran mengarang.
• Memiliki bagian-bagian model dalam pelaksanaan, yaitu: (1) urutan langkah-langkah pembelajaran(syntax), (2) adanya prinsip-prinsip reaksi, (3) sistem sosial, dan (4) sistem pendukung. Keempat bagian tersebut merupakan pedoman praktis bila guru akan melaksanakan suatu model pembelajaran.
• Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran. Dampak tersebut meliputi: (1) dampak pembelajaran, yaitu hasil belajar yang dapat diukur dan (2) dampak pengiring, yaitu hasil belajar jangka panjang.
• Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedomaan model pembelajaran yang dipilihnya

Para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan, teori-¬teori psikologis, sosiologis, psikiatri, analisis sistem, atau teori-teori lain (Joyce & Weil, 1992), Lebih lanjut Joyce & Weil mempelajari model-model pembelajaran berdasarkan teori belajar yang dikelompokkan menjadi empat model pembelajaran; 1. model interaksi sosial, 2. model pemrosesan informasi, 3. model personal (personal models), dan 4. model modifikasi tingkah laku (behavioral)

4.2 Model Interaksi Sosial
Model interaksi sosial menekankan pada hubungan personal dan sosial kemasyarakatan diantara peserta didik. Model tersebut berfokus pada peningkatan kemampuan peserta didik. untuk berhubungandengan orang lain, terlibat dalam proses-proses yang demokratis dan bekerja secara produktif dalam masyarakat. Model ini didasari oleh teori belajar Gestalt (field-theory). Model interaksi sosial menitikberatkan pada hubungan yang harmonis antara individu dengan masyarakat (learning to life to¬gether). Teori pembelajaran

Gestalt dirintis oleh Max Wertheimer (1912) bersama dengan Kurt Koffka dan W. Kohler. Mereka mengadakan eksperimen mengenai pengamatan visual dengan fenomena fisik. Percobaannya yang dilakukan memproyeksikan titik-titik cahaya (keseluruhan lebih penting dari pada bagian).
Pokok pandangan Gestalt adalah objek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai suatu keseluruhan yang terorganisasikan. Makna suatu objek/peristiwa adalah terletak pada keseluruhan bentuk (Gestalt) dan bukan bagian-bagiannya. Pembelajaran akan lebih bermakna bila materi diberikan secara utuh bukan bagian-bagian.

Aplikasi teori Gestalt dalam pembelajaran adalah sebagai berikut.
• Pengalaman insight. Dalam proses pembelajaran peserta didik hendaknya memiliki kemampuan insight yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu objek. Guru hendaknya mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah dengan insight.
• Pembelajaran yang bermakna. Kebermaknaan unsur-unsur yang terkait dalam suatu objek akan menunjang pembentukan pemahaman dalam proses pembelajaran. Content yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas baik bagi dirinya maupun bagi kehidupannya di masa yang akan datang.
• Perilaku bertujuan. Perilaku terarah pada suatu tujuan. Perilaku di samping ada kaitan dengan SR-bond, juga terkait erat dengan tujuan yang hendak dicapai. Pembelajaran terjadi karena peserta didik memiliki harapan tertentu. Oleh sebab itu, pembelajaran akan berhasil bila peserta didik mengetahui tujuan yang akan dicapai.
• Prinsip ruang hidup (Life space). Prinsip ini dikembangkan oleh Kurt Lewin (teori medan field theory). Prinsip ini menyatakan bahwa perilaku peserta didik terkait dengan lingkungan/medan tempat ia berada. Materi yang disampaikan hendaknya memiliki kaitan dengan situasi lingkungan tempat peserta didik berada (CTL).

Model interaksi sosial ini mencakup strategi pembelajaran sebagai berikut.
• Kerja Kelompok bertujuan mengembangkan keterampilan berperan serta dalam proses bermasyarakat dengan cara mengembangkan hubungan interpersonal dan discovery skill dalam bidang akademik.
• Pertemuan kelas bertujuan mengembangkan pemahaman mengenai diri sendiri dan rasa tanggungjawab baik terhadap diri sendiri maupun terhadap kelompok.
• Pemecahan masalah sosial atau Inquiry Social bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah-masalah sosial dengan cara berpikir logis.
• Model laboratorium bertujuan untuk mengembangkan kesadaran pribadi dan keluwesan dalam ¬kelompok.
• Bermain peran bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik menemukan nilai-nilai sosial dan pribadi melalui situasi tiruan.
• Simulasi sosial bertujuan untuk membantu peserta didik mengalami berbagai kenyataan sosial serta menguji reaksi mereka.

Tabel 4.4 Rumpun Model Interaksi Sosial
No Model Tokoh Tujuan
1. Penentuan Kelompok Herbert Telen
& John Dewey • Perkembangan keterampilan untuk partisipasi dalam proses sosial demokratis
• Aspek perkembangan pribadi merupakan hal yang penting dalam model ini
2. Inkuiri Sosial Byron Massialas & Benjamin Cox • Pemecahan masalah sosial, terutama melalui penemuan sosial dan penalaran logis
3. Metode Laboratori Bethel Maine (National Teaching Laboratory) • Perkembangan keterampilan antar pribadi dan kelompok melalui kesadaran dan keluwesan pribadi
4. Jurisprudensial Donald Oliver & James P. Shaver • Dirancang terutama untuk mengajarkan kerangka acuan jurisprudensial sebagai cara berfikir dan penyelesaian isu-isu sosial.
5. Bermain Peran Fainnie Shatel & George Fhatel • Dirancang untuk mempengaruhi peserta didik agar menemukan nilai-nilai pribadi dan sosial.
• Perilaku dan nilai-nilainya diharapkan peserta didik menjadi sumber bagi penemuan berikutnya.
6. Simulasi Sosial Sarene Bookock & Harold Guetzkov • Dirancang untuk membantu peserta didik mengalami bermacam-macam proses dan kenyataan sosial, dan untuk menguji reaksi mereka, serta untuk memperoleh konsep keterampilan pembuatan keputusan

4.3 Model Pemrosesan Informasi
Model pemrosesan informasi ditekankan pada pengambilan, penguasaan, dan pemrosesan informasi. Model ini lebih memfokuskan pada fungsi kognitif peserta didik.

Model ini didasari oleh teori belajar kognitif (Piaget) dan berorientasi pada kemampuan peserta didik memproses informasi yang dapat memperbaiki kemampuannya. Pemrosesan Informasi merujuk pada cara mengumpulkan/menerima stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep, dan menggunakan simbol verbal dan visual. Teori pemrosesan informasi/kognitif dipelopori oleh Robert Gagne (1985). Asumsinya adalah pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil komulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi yang kemudian diolah sehingga menghasilkan output dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi interaksi antara kondisi internal (keadaan individu, proses kognitif) dan kondisi-kondisi eksternal (rangsangan dari lingkungan). Interaksi antar keduanya akan menghasilkan hasil belajar. Pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capitalities) yang terdiri dari: (1) informasi verbal, (2) kecakapan intelektual, (3) strategi kognitif, (4) sikap, dan (5) kecakapan motorik.

Robert M. Gagne mengemukakan ada delapan fase proses pembelajaran. Kedelapan fase itu sebagai berikut.
• Motivasi yaitu fase awal memulai pembelajaran dengan adanya dorongan untuk melakukan suatu tindakan dalam mencapai tujuan tententu (motivasi intrinsik dan ekstrinsik).
• Pemahaman yaitu individu menerima dan memahami Informasi yang diperoleh dari pembelajaran. Pemahaman didapat melalui perhatian.
• Pemerolehan yaitu individu memberikan makna/mempersepsi segala Informasi yang sampai pada dirinya sehingga terjadi proses penyimpanan dalam memori peserta didik.
• Penahanan yaitu menahan informasi/hasil belajar agar dapat digunakan untuk jangka panjang. Hal ini merupakan proses mengingat jangka panjang.
• Ingatan kembali yaitu mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan, bila ada rangsangan
• Generalisasi yaitu menggunakan hasil pembelajaran untuk keperluan tertentu.
• Perlakuan yaitu perwujudan perubahan perilaku individu sebagai hasil pembelajaran
• Umpan balik yaitu individu memperoleh feedback dari perilaku yang telah dilakukannya.
Ada sembilan langkah yang harus diperhatikan guru di kelas dalam kaitannya dengan pembelajaran pemrosesan informasi.
• Melakukan tindakan untuk menarik perhatian peserta didik
• Memberikan informasi mengenai tujuan pembelajaran dan topik yang akan dibahas
• Merangsang peserta didik untuk memulai aktivitas pembelajaran
• Menyampaikan isi pembelajaran sesuai dengan topik yang telah dirancang
• Memberikan bimbingan bagi aktivitas peserta didik dalam pembelajaran
• Memberikan penguatan pada perilaku pembelajaran
• Memberikan feedback terhadap perilaku yang ditunjukkan peserta didik
• Melaksanakan penilaian proses dan hasil
• Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya dan menjawab berdasarkan pengalamannya

Model Proses Informasi meliputi beberapa pendekatan/strategi pembelajaran di antaranya sebagai berikut.
• Mengajar induktif, yaitu untuk mengembangkan kemampuan berfikir dan membentuk teori
• Latihan inquiry, yaitu untuk mencari dan menemukan informasi yang memang diperlukan
• Inquiry keilmuan, yaitu bertujuan untuk mengajarkan sistem penelitian dalam disiplin ilmu, diharapkan dapat memperoleh pengalaman dalam domain-domain disiplin ilmu lainnya.
• Pembentukan konsep, yaitu bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir individu mengembangkan konsep dan kemampuan analisis.
• Model pengembangan, bertujuan untuk mengembangkan intelegensi umum, terutama berfikir logis, aspek sosial dan moral.
• Advanced Organizer Model yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memproses informasi yang efesien untuk menyerap dan menghubungkan satuan ilmu pengetahuan secara bermakna

Implikasi teori belajar kognitif (Piaget) dalam pembelajaran diantaranya seperti di bawah ini.
 Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. Anak akan dapat belajar dengan baik apabila ia mampu menghadapi lingkungan dengan baik.
 Guru harus dapat membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan belajar sebaik mungkin (fasilitator, ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani).
 Bahan yang harus dipelajari hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing dan berilah peluang kepada anak untuk belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya.

 Di kelas, berikan kesempatan pada anak untuk dapat bersosialisi dan berdiskusi sebanyak mungkin.

Tabel 4.5 Rumpun Model Pemrosesan Informasi
No. Model Tokoh Tujuan
1. Model Berfikir Induktif Hilda Taba • Dirancang untuk pengembangan proses mental induktif dan penalaran akademik atau pembentukan teori.
2. Model Latihan Inkuiri Richard Suchman • Dirancang untuk mengajar peserta didik menghadapi penalaran kausal dan untuk lebih fasih serta tepat dalam mengajukan pertanyaan, membentuk konsep, dan hipotesis.
• Model ini pada mulanya digunakan dalam sains, tetapi kemampuan-kemampuan ini berguna untuk tujuan-tujuan pribadi dan sosial.
3. Inkuiri Ilmiah Joseph J. Schwab • Dirancang untuk mengajarkan sistem penelitian dari suatu disiplin, tetapi juga diharapkan mempunyai efek dalam kawasan-kawasan lain (metode-metode sosial mungkin diajarkan dalam upaya meningkatkan pemahaman sosial dan pemecahan masalah sosial).
4 Penemuan Konsep Jerome Bruner • Dirancang terutama untuk mengembangakan penalaran induktif, dan perkembangan dan analisis konsep.
5 Pertumbuhan Kognitif Jean Piaget Irving Sigel Edmund Sulivan Lawrence Kohlberg • Dirancang untuk meningkatkan perkembangan intelektual, terutama penalaran logis, dan dapat diterapkan pada perkembangan sosial dan moral.
6 Model Penata Lanjutan David Ausubel • Dirancang untuk meningkatkan efisiensi kemampuan pemrosesan informasi untuk menyerap dan mengaitkan bidang-bidang pengetahuan.
7 Memori Harry Lorayne Jerry Lucas • Dirancang untuk meningkatkan kemampuan mengingat.

4.4 Model Personal (Personal Models)
Model personal menekankan pada pengembangan konsep diri setiap individu. Hal ini meliputi pengembangan proses individu dan membangun serta mengorganisasikan dirinya sendiri. Model memfokuskan pada konsep diri yang kuat dan realistis untuk membantu membangun hubungan yang produktif dengan orang lain dan lingungannya.

Model ini bertitik tolak dari teori Humanistik, yaitu berorientasi pada pengembangan individu. Perhatian utamanya pada emosional peserta didik dalam mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Model ini menjadikan pribadi peserta didik mampu membentuk hubungan harmonis serta mampu memproses informasi secara efektif. Tokoh humanistik adalah Abraham Maslow (1962), R. Rogers, C. Buhler dan Arthur Comb. Menurut teori ini, guru harus berupaya menciptakan kondisi kelas yang kondusif, agar peserta didik merasa bebas dalam belajar mengembangkan dirin baik emosional maupun intelektual. Teori humanistik timbul sebagai cara untuk memanusiakan manusia. Pada teori humanistik ini, pendidik seharusnya berperan sebagai pendorong bukan menahan sensivitas peserta didik terhadap perasaanya. Implikasi teori ini dalam pendidikan adalah sebagai berikut.
• Bertingkah laku dan belajar adalah hasil pengamatan.
• Tingkahlaku yang ada dapat dilaksanakan sekarang (learning to do).
• Semua individu memiliki dorongan dasar terhadap aktualisasi diri.
• Sebagian besar tingkahlaku individu adalah hasil dari konsepsinya sendiri.
• Mengajar adalah bukan hal penting, tapi belajar bagi peserta didik adalah sangat penting.
• Mengajar adalah membantu individu untuk mengembangkan suatu hubungan yang produktif dengan lingkungannya dan memandang dirinya sebagai pribadi yang cakap.

Model pembelajaran personal ini meliputi strategi pembelajaran sebagai berikut.
• Pembelajaran non-direktif, yaitu bertujuan untuk membentuk kemampuan dan perkemban pribadi (kesadaran diri, pemahaman, dan konsep diri).
• Latihan kesadaran, yaitu bertujuan untuk meningkatkan kemampuan interpersonal atau kepada peserta didik.
• Sinetik, yaitu untuk mengembangkan kreativitas pribadi dan memecahkan masalah secara kreatif
• Sistem konseptual, yaitu untuk meningkatkan kompleksitas dasar pribadi yang luwes.

Tabel 4.6 Rumpun Model Personal

No. Model Tokoh Tujuan
1. Pengajaran non-Directif Carl Rogers • Menekankan pada pembentukan kemampuan untuk perkembangan pribadi dalam arti kesadaran diri, pemahaman diri, kemandirian dan konsep diri.
2. Latihan Fritz Perls Willian Schutz • Meningkatkan kemampuan seseorang untuk kesadaran eksplorasi diri dan
• Banyak menekankan pada perkembangan kesadaran dan pemahaman antarpribadi
3. Sinerktik William Gordon • Mengembangkan pribadi dalam kreativitas dan pemecahan masalah kreatif
4. Penemuan Konsep Jerome Bruner • Sistem-sistem David Hun dirancang untuk meningkatkan kekomplekan Konseptual dan keluwesan pribadi.
5. Pertemuan Kelas Willian Glasser • Mengembangkan pemahaman diri dan tanggung jawab kepada diri sendiri serta kelompok sosial.

4.5 Model Modifikasi Tingkah Laku (Behavioral)
Model behavioral menekankan pada perubahan perilaku yang tampak dari peserta ddik sehingga konsisten dengan konsep dirinya. Sebagai bagian dari teori stimulus-respon. Model behaviorial menekankan bahwa tugas-tugas harus diberikan dalam suatu rangkaian yang kecil, berurutan dan mengandung perilaku tertentu.
Model ini bertitik tolak dari teori belajar behavioristik, yaitu bertujuan mengembangkan sistem yang efisien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar dan membentuk tingkah laku dengan cara memanipulasi penguatan (reinforcement). Model ini lebih menekankan pada aspek perubahan perilaku psikologis dan perlilaku yang tidak dapat diamanti karakteristik model ini adalah penjabaran tugas¬-tugas yang harus dipelajari peserta didik lebih efisien dan berurutan.

Ada empat fase dalam model modifikasi tingkah laku ini, yaitu:
• fase mesin pengajaran.
• penggunaan media.
• pengajaran berprograma (linier dan branching)
• operant conditioning, dan operant reinforcement.

Implementasi dari model modifikasi tingkah laku ini adalah meningkatkan ketelitian pengucapan pada anak. Guru selalu perhatian terhadap tingkah laku belajar peserta didik. Modifikasi tingkah laku anak yang kemampuan belajarnya rendah dengan reward, sebagai reinforcement pendukung. Penerapan prinsip pembelajaran individual dalam pembelajaran klasikal.

Tabel 4.7 Rumpun Model Modifikasi Tingkah Laku (Behavioral)
No. Model Tokoh Tujuan
1. Manajemen Kontingensi B.F. Skinner Menekankan pada pembelajaran fakta-fakta, konsep, dan keterampilan
2. Kontrol diri B.F. Skinner Menekankan pada pembelajaran perilaku/keterampilan sosial.
3. Relaksasi (santai) Rimm & Masters Wolpe Menekankan pada Tujuan-tujuan pribadi
4. Pengurangan Ketegangan Jerome Bruner Mengurangi ketegangan dan kecemasan
5. Perternuan Kelas Willian Glasser Mengembangkan pemahaman diri dan tanggung jawab kepada diri sendiri dan kelompok sosial.

Rangkuman
• Model pembelajaran adalah: “Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar
• Model pemrosesan informasi ditekankan pada pengambilan, penguasaan, dan pemrosesan informasi. Model ini lebih memfokuskan pada fungsi kognitif peserta didik.
• Model personal menekankan pada pengembangan konsep diri setiap individu. Hal ini juga meliputi pengembangan proses individu pembangunan dan pengorganisasian dirinya sendiri. Model ini memfokuskan pada konsep diri yang kuat dan realistis untuk membantu peserta didik membangun hubungan yang produktif dengan orang lain dan lingungannya.
• Model interaksi sosial menekankan pada hubungan personal dan sosial kemasyarakatan di antara peserta didik. Fokusnya pada peningkatan kemampuan peserta didik. untuk berhubungandengan orang lain, terlibat dalam proses-proses yang demokratis dan bekerja secara produktif dalam masyarakat.
• Model behavioral menekankan pada perubahan perilaku yang tampak dari peserta ddik sehingga konsisten dengan konsep dirinya. Sebagai bagian dari teori stimulus-respon, model behaviorial menekankan bahwa tugas-tugas harus diberikan dalam suatu rangkaian yang kecil, berurutan, dan mengandung perilaku tertentu.

 

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit????

Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan???
Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek?????

Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah?????

Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462

INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA

TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES

PAK ZAIF

 

07/01/2009 Posted by | SBM | 15 Komentar

PENDEKATAN PEMBELAJARAN

Pada handout ini akan dibahas mengenai hal-hal berikut:
 Pengertian pendekatan pembelajaran
 Macam-macam pendekatan pembelajaran
 Pendekatan pembelajaran efektif

3.1 Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan (approach) memiliki pengetahuan yang berbeda dengan strategi (Sanjaya Wina, 2007), Pendekatan bersifat filosofis paradigmatik ,yang mendasari aplkasi strategi dan metode. Pendekatan adalah pola/cara berpikir atau dasar pandangan terhadap sesuatu. Pendekatan dapat diimplementasikan dalam sejumlah strategi. Sedangkan, strategi adalah pola umum perbuatan guru-siswa di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar. Strategi dapat diimplementasikan dalam beberapa metode.

Pendekatan adalah titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran atau merupakan gambaran pola umum perbuatan guru dan peserta didik di dalam perwujudan kegiatan pembelajaran. Sedangkan strategi sendiri merupakan pola umum perbuatan guru peserta didik di dalam perwujudan kegiatan pembelajaran. Pendekatan merupakan dasar penentuan strategi yang akan diwujudkan dengan penentuan metode sedangkan metode merupakan alat yang digunakan dalam pelaksanaan strategi pembelajaran.Jadi pendekatan lebih luas cakupanya dibandingkan dengan strategi.

3.2 Macam-macam Pendekatan Pembelajaran
Roy Killen (1998) berpendapat pendekatan pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centred approaches). Klasifikasi pendekatan di atas didasarkan pada subjek dan objek pembelajaran. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instrucion), dan pembelajaran deduktif atau expository. Sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiry serta pembelajaran induktif.

Berdasarkan pemerolehan bahan pembelajaran, secara garis besar pendekatan pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pendekatan konsep dan pendekatan proses. Pendekatan konsep adalah suatu pendekatan yang menekankan pada perolehan dan pemahaman fakta dan prinsip. Sedangkan pendekatan proses atau dikenal dengan pendekatan keterampilan proses menekankan pada bagaimana bahan pelajaran itu diajarkan dan dipelajari.

Pendekatan konsep lebih banyak bergantung pada apa yang diajarkan guru berupa bahan atau isi pelajaran, dan lebih bersifat kognitif. Sedangkan pendekatan keterampilan proses menekankan pentingnya kebermaknaan belajar untuk mencapai hasil yang memadai. Selain itu, pendekatan keterampilan proses juga menekankan pentingkan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran dan menekankan pada hasil belajar secara tuntas.

Pendekatan konsep tidak dapat dipertentangkan dengan pendekatan keterampilan proses sehingga keduanya merupakan dua pendekatan yang terpisah. Hal ini disebabkan keduanya merupakan garis kontinum, yakni pendekatan keterampilan proses menekankan penghayatan proses dan pendekatan konsep, lebih menekankan perolehan dan pemahanan fakta dan prinsip. Belajar dengan keterampilan proses tidak mungkin terjadi apabila tidak ada materi atau bahan pelajaran yang dipelajari. Sebaliknya, belajar konsep tidak mungkin dilakaukan tanpa adanya keterampilan proses pada diri peserta didik.

Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan yang relevan dengan prinsip cara belajar siswa aktif (CBSA), walaupun dapat pula terjadi pendekatan keterampilan proses dengan kadar keaktifan peserta didik yang tidak tertalu tinggi. Begitu pula sebaliknya, bahwa CBSA dapat terjadi pada waktu peserta didik mempelajari konsep, fakta, dan prinsip.
Biasanya belajar konsep diikuti dengan kadar keaktifan peserta didik yang rendah. Kondisi demikian cenderung akan memperlihatkan modus pembelajaran yang lebih expository. Sedangkan belajar keterampilan proses biasanya diikuti dengan kadar keaktifan peserta didik yang tinggi. Hal ini memungkinkan belajar keterampilan proses cenderung untuk bermodus discovery.

Untuk memperjelas keterangan di atas berikut ini akan dibahas tentang pendekatan konsep, pendekatan keterampilan proses, pendekatan expository, dan pendekatan discovery.

Pendekatan Konsep
Pendekatan konsep merupakan pendekatan yang mementingkan hasil daripada proses perolehan hasil. Untuk itu pendekatan ini terkesan hanya merupakan pemberian informasi, sehingga hasilnya kurang bermakna dan kurang bertahan lama. Kondisi demikian cenderung memperlihatkan modus pembelajaran yang lebih expository.

Bagaimanapun pendekatan ini masih dibutuhkan dalam pembelajaran, karena tidak semua bahan pembelajaran dapat disampaikan dengan pendekatan keterampilan proses. Karena faktor jenis bahan atau waktu yang tersedia tidak memungkinkan dilakukan dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses semua. Hanya saja perlu digali bagaimana penerapan pendekatan konsep ini dapat berlangsung semaksimal mungkin di dalam pembelajaran.

Apapun pendekatan yang digunakan sebenarnya yang diharapkan hasil belajar dari pendekatan tersebut adalah peserta didik dapat membentuk kerangka kognitif sendiri. Maksudnya, konsep yang dimiliki oleh peserta didik adalah hasil bangunannya sendiri, sehingga konsep tersebut benar-benar menjadi milik peserta didik yang pada akhirnya mudah mereproduksi apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.
Dalam strategi expository guru cenderung memberikan informasi yang berupa teori, generalisasi, hukum atau dalil beserta bukti-bukti yang mendukung. Sedangkan, peserta didik hanya menerima saja informasi yang diberikan oleh guru. Pengajaran telah diolah oleh guru, sehingga siap disampaikan kepada peserta didik, dan peserta didik diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu.

Prosedur expository adalah sebagai berikut:
1. Preparasi, yaitu guru menyiapkan bahan selengkapnya secara sistematis dan rapi.
2. Apersepsi, yaitu guru bertanya atau memberikan uraian singkat untuk mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan diajarkan.
3. Presentasi, yaitu guru menyajikan bahan dengan cara memberikan ceramah atau menyuruh peserta didik membaca bahan yang telah dipersiapkan (diambil) dari buku teks tertentu atau ditulis oleh guru.
4. Resitasi, yaitu bertanya dan peserta didik disuruh menyatakan kembali dengan kata-kata sendiri pokok-pokok yang telah dipelajari (lisan atau tertulis).

Pendekatan Keterampilan Proses
Pendekatan ketrampilan proses merupakan pendekatan yang mengembangkan keterampilan memproseskan pemerolehan, sehingga peserta didik mampu menemukan dan mengembangkan secara bebas dan kreatif fakta dan konsep serta mengaitkannya dengan sikap dan nilai yang diperlukan. Hal ini dapat dilakukan karena pendekatan keterampilan proses dilakukan sebagaimana layaknya ilmuan menemukan pengetahuan (menggunakan langkah-langkah metode ilmiah), sehingga kevalidannya dapat diandalkan.

Keterampilan proses ini tidak saja mementingkan hasil, tetapi juga memperhatikan proses mendapatkan hasil. Dengan melaksanakan pendekatan keterampila proses berarti peserta didik terlibat secara aktif dalam kegiatan pengamatan dan menemukan sendiri konsep dan prinsip sehingga materi pelajaran mudah dikuasai oleh peserta didik. Dengan mengetahui proses diharapkan dapat merangsang daya cipta peserta didik untuk menemukan sesuatu. Pada akhirnya dapat membentuk manusia yang berkualitas, yaitu manusia yang kreatif, mampu memecahkan persoalan-persoalan aktual dalam kehidupan, dan mampu mengambil keputusan yang menjangkau masa depan.

Keterampilan proses meliputi keterampilan-keterampilan mengamati, mengukur, menarik kesimpulan, memanipulasi variabel, merumuskan hipotesis, meyusun tabel data, menyususn definisi operasional, dan melaksanakan eksperimen.
Keterampilan proses dapat lebih disederhanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Sajikan masalah-masalah aktual kepada peserta didik dalam konteks yang sesuai dengan tingkat perkembangan mereka.
2. Strukturkan pembelajaran di sekitar konsep-konsep primer.
3. Beri dorongan kepada peserta didik untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan sendiri.
4. Beri motivasi mereka untuk menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaannya sendiri.
5. Beri motivasi mereka untuk menemukan pendapat dan hargai sudut pandangnya.
6. Tantang mereka untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam, bukan sekedar menyelesaikan tugas.
7. Anjurkan peserta didik untuk bekerja dalam kelompok.
8. Dorong mereka untuk berani menerima tanggung jawab.

Belajar keterampilan proses biasanya diikuti dengan kadar keaktifan peserta didik yang tinggi. Hal ini memungkinkan belajar keterampilan proses cenderung untuk bermodus discovery.

Discovery atau penemuan adalah proses mental yang memiliki ciri peserta didik dapat mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental itu misalnya mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, membuat kesimpulan.

Inqury atau penyelidikan mengandung proses mental yang lebih tinggi, misalnya merumuskan problem, merancang eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data dan membuat kesimpulan. Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bahwa inquiry ini selaras dengan teori belajar yang ditemukan oleh Brunner. Menurut Brunner discovery learning adalah merupakan belajar dengan menemukan sendiri menggunakan prinsip belajar induktif, yaitu dari khusus ke yang umum. Sumber munculnya discovery learning ini adalah teori belajar Piaget, yaitu anak harus berperan secara aktif di dalam kelas.

Dasar pikiran penggunaan discovery learning ini adalah:
• Belajar berinteraksi dengan lingkungan secara aktif.
• Orang menciptakan sendiri suatu kerangka kogitif bagi diri sendiri.

Refleksi dari belajar discovery ini adalah bahwa belajar berkisar pada manusia sebagai pengolah aktif terhadap informasi atau masukan yang diterimanya untuk memperoleh pemahaman. Dengan discovery ini diharapkan peserta didik dapat mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.

Kelebihan penggunaan discovery antara lain:
• Mata pelajaran dapat diajarkan secara efektif dalam bentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Hal tersebut terjadi karena discovery diberikan dengan cara yang bermakna, dari konkrit ke yang abstrak, dan pengajaran ditekankan pada pengertian yang fundamental. Dalam pelaksanaannya guru hendaknya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan arti bagi mereka sendiri, dan untuk mempelajari konsep-konsep dalam bahasa mereka pahami.
• Hasil belajar lebih mengakar, mudah dan cepat ditransfer dalam kehidupan sehari-hari, dan berdaya guna untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam bernalar dengan baik.

Pendekatan discovery ini bila dilaksanakan secara murni sangat memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga perlu disiasati dengan cara Gaided discovery learning, yaitu discovery yang masih dituntun oleh guru. Misalnya guru menyajikan suatu problem dan mendampingi dalam pemecahannya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terarah.

Pendekatan discovery dapat digunakan dengan ketentuan berikut:
• Adanya problem yang akan dipecahkan, yang dinyatakan dengan pernyataan dan pertanyaan.
• Jelas tingkat/kelasnya.
• Konsep atau prinsip yang harus ditemukan peserta didik melalui kegiatan tersebut perlu ditulis dengan jelas.
• Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dalam melaksanakan kegiatan.
• Diskusi sebagai pengarahan sebelum peserta didik melaksanakan kegiatan.
• Kegiatan metode menemukan oleh peserta didik berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.
• Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional peserta didik, yang diharapkan dalam kegiatan.
• Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan peserta didik.
• Adanya catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan sebagaimana mestinya.
Sedangkan langkah-langkah inquiry adalah:
1. Menemukan masalah.
2. Mengumpulkan data untuk memperoleh kejelasan.
3. Pengumpulan data untuk mengadakan percobaan.
4. Perumusan keterangan yang diperoleh.
5. Analis proses inquiry.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa inquiry lebih cocok digunakan di kelas-kelas tinggi dengan kematangan psikologis yang cukup. Dan discovery dapat digunakan pada kelas yang lebih rendah. Itupu masih harus dipertimbangkan apakah discovery yang digunakan murni atau discovery terpimpin.

Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk membantu guru dalam mememacahkan masalah kegiatan belajar-mengajar, Syaiful Bahri (2006) membagi pendekatan menjadi sembilan jenis yaitu; pendekatan individual, pendekatan kelompok, pendekatan bervariasi, pendekatan edukatif pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, pendekatan fungsional, pendekatan keagamaan, dan pendekatan kebermaknaan.

Pendekatan Individual
Perbedaan individual peserta didik yang beragam memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi pengajaran harus mamperhatikan perbedaan peserta didik secara individual. Dengan kata lain, guru harus melakukan pendekatan individual dalam implementasi strategi belajar mengajarnya. Bila tidak dilakukan, maka strategi belajar tuntas atau mastery learning yang menuntut penguasaan penuh kepada peserta didik tidak pernah menjadi kenyataan. Dengan pendekatan individual diharapkan peserta didik memiliki tingkat penguasaan optimal.

Pada kasus-kasus tertentu yang timbul dalam kegiatan belajar-
mengajar, dapat diatasi dengan pendekatan individual, misalnya untuk menghentikan peserta didik yang suka bicara. Dalam kasus ini dapat digunakan memisahkan/ memindahkan salah satu peserta didik tersebut pada tempat yang terpisah dengan jarak yang cukup jauh. Peserta didik yang suka bicara ditempatkan pada kelompok peserta didik yang pendiam.

Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pembelajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual ini. Pemilihan metode harus didasari oleh kegunaan pendkatan individual sehingga dalam proses pembelajaran di kelas guru akan memperhatikan perserta didik secara individu. Dengan demikian kesulitan belajar peserta didik lebih mudah dipecahkan, walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan.

Pendekatan Kelompok
Dalam kegiatan belajar mengajar kadang-kadang ada juga guru yang menggunakan pendekatan lain, yakni pendekatan kelompok. Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan perlu digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial peserta didik. Hal ini disadari bahwa peserta didik adalah sejenis makhluk homo socius, yakni makhluk yang berkecenderungan untuk hidup bersama.

Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat tumbuh dan berkembang rasa sosial yang tinggi pada diri setiap peserta didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada dalam diri mereka masing-masing, sehingga terbentuk sikap kesetiakawanan sosial di kelas. Tentu saja dalam hal sikap kesetiakawanan sosial yang positif. Mereka sadar bahwa hidup ini saling ketergantungan, seperti ekosistem dalam mata rantai kehidupan semua makhluk hidup di dunia. Tidak ada makhluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri tanpa keterlibatan makhluk lain, langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, makhluk lain itu ikut ambil bagian dalam kehidupan makhluk tertentu.

Peserta didik yang dibiasakan hidup bersama dan bekerja sama dalam kelompok, akan menyadari bahwa dirinya ada kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau membantu mereka yang mempunyai kekurangan. Sebaliknya, mereka yang mempunyai kekurangan dengan rela hati mau belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan tanpa ada rasa minder. Persaingan yang positif pun dapat terjadi di kelas dalam rangka mencapai prestasi belajar yang optimal. Inilah yang diharapkan, yakni peserta didik y aktif, kreatif, dan mandiri.

Ketika guru ingin menggunakan pendekatan kelompok, guru harus mempertimbangkan bahwa hal itu tidak bertentangan dengan tujuan, sesuai dengan fasilitas belajar pendukung yang ada, metode yang akan dipakai sudah dikuasai, dan bahan yang akan diberikan kepada peserta didik cocok. Karena itu, pendekatan kelompok tidak bisa dilakukan secara sembarangan, tetapi banyak hal yang berpengaruh yang harus dipertimbangkan dalam penggunaannya.

Dalam pengelolaan kelas, terutama yang berhubungan dengan penempatan peserta didik, pendekatan kelompok sangat diperlukan. Perbedaan individual peserta didik pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis dapat dijadikan sebagai pijakan dalam menentukan pendekatan kelompok.
Beberapa pengarang mengatakan, keakraban atau kekompakan kelompok ditentukan oleh tarikan-tarikan interpersonal, atau saling suka satu sama lain. Keakraban adalah satu-satunya faktor yang menyebabkan kelompok bersatu.

Keakraban kelompok ditentukan oleh beberapa faktor, berikut.
1. Perasaan diterima atau disukai teman-teman
2. Tarikan kelompok
3. Teknik pengelompokan oleh guru
4. Partisipasi/keterlibatan dalam kelompok
5. Penerimaan tujuan kelompok dan persetujuan dalam cara mencapainya
6. Struktur dan sifat-sifat kelompok. Sedang sifat-sifat kelompok itu adalah:
a. suatu multi personalia dengan tingkatan keakraban tertentu,
b. suatu sistem interaksi,
c. suatu organisasi atau struktur,
d. merupakan suatu motif tertentu dan tujuan bersama,
e. merupakan suatu kekuatan atau standar perilaku tertentu, dan
f. pola perilaku yang dapat diobservasi yang disebut kepriba¬dian.

Pendekatan Bervariasi
Ketika guru dihadapkan kepada permasalahan peserta didik yang bermasalah, guru akan berhadapan dengan permasalahan peserta didik yang bervariasi. Setiap masalah yang dihadapi oleh peserta didik tidak selalu sama, terkadang ada perbedaan dalam belajar, misalnya dalam hal motivasi. Ada peserta didik yang memiliki motivasi rendah, dan ada yang bergairah belajar, ada pula yang kurang bergairah. Diantara mereka ada yang duduk dan berbicara (berbincang-bincang) satu sama lain tentang hal¬-hal lain yang tidak ada kaitannya dengan masalah pelajaran.

Dalam mengajar, guru yang hanya menggunakan satu metode biasanya sukar menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam waktu relatif lama. Bila terjadi perubahan suasana kelas, sulit menormalkannya kembali. Ini sebagai tanda adanya gangguan dalam proses belajar mengajar. Akibatnya, proses pembelajaran kurang efektif. Efisiensi dan efektivitas pencapaian tujuan pun jadi terganggu, karena peserta didik kurang berkonsentrasi. Penggunaan satu metode dalam proses pembelajaran dapat mengakibatkan proses pembelajaran tersebut tidak bisa berlangsung. Hal tersebut karena metode yang dipilih memiliki banyak kelemahan.Karena itu, dalam proses pembelajaran kebanyakan guru menggunakan beberapa metode dan jarang sekali menggunakan satu metode.

Dalam kegiatan belajar mengajar, guru bisa saja membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok belajar. Tetapi dalam hal ini, terkadang diperlukan juga pendapat dan kemauan peserta didik. Bagaimana keinginan mereka masing-masing. Boleh jadi dalam suatu pertemuan ada peserta didik yang suka belajar dalam kelompok, tetapi ada juga peserta didik yang senang belajar sendiri. Bila hal ini terjadi, ada dua kemungkinan yang terjadi yaitu, belajar dalam kelompok dan belajar sendiri. Akan tetapi semua masih dalam pengawasan dan bimbingan guru.

Permasalahan yang dihadapi oleh setiap peserta didik biasanya bervariasi, untuk itu pendekatan yang digunakan guru pun akan lebih tepat kalau bervariasi pula. Misalnya, peserta didik yang tidak disiplin dan peserta didik yang suka berbicara memiliki pemecahannya dan menghendaki pendekatan yang berbeda pula. Demikian juga halnya terhadap peserta didik yang membuat keributan. Guru tidak bisa menggunakan teknik pemecahan yang sama dengan teknik memecahkan permasalahan yang lain. Kalaupun ada, itu hanya pada kasus tertentu. Perbedaan dalam teknik pemecahan kasus itulah merupakan implikasi “pendekatan bervariasi. “

Pendekatan bervariasi bertolak dari konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap peserta didik dalam belajar bermacam-macam. Kasus yang biasanya muncul dalam pembelajaran itu memiliki berbagai motif sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan. Terkait dengan itu pendekatan bervariasi ini dapat menjadi alat yang dapat guru gunakan untuk kepentingan pengajaran.

Pendekatan Edukatif
Apa pun yang dilakukan guru dalam pendidikan dan pengajaran memiliki tujuan mendidik, bukan karena motif-motif lain, seperti dendam, gengsi, ingin ditakuti, dan sebagainya. Peserta didik yang telah melakukan kesalahan, yakni membuat keributan di kelas ketika guru sedang memberikan pelajaran, tidak tepat diberikan sanksi hukum dengan cara memukul badannya hingga luka atau cidera. Ini adalah tindakan sanksi hukum yang tidak bernilai pendidikan. Guru telah melakukan pendekatan yang salah. Guru telah menggunakan teori power, yakni teori kekuasaan untuk menundukkan orang lain. Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana bila menggunakan kekuasaan karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian peserta didik. Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif. Setiap tindakan, sikap, dan perbuatan yang guru lakukan hams bemilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik peserta didik agar menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, noram sosial, dan norma agama.

Cukup banyak sikap dan perbuatan yang harus guru lakukan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada peserta didik. Salah satu contoh, ketika lonceng tanda masuk kelas telah berbunyi, anak-anak jangan dibiarkan masuk dulu, tetapi suruh mereka bebaris di depan pintu masuk dan perintahkanlah ketua kelas untuk mengatur barisan. Semua anak perempuan berbaris dalam kelompok jenisnya. Demikian juga semua anak laki berbaris dalam kelompok sejenisnya. Jadi, barisan dibentuk menjadi dua dengan pandangan terarah ke pintu masuk. Di sisi pintu masuk guru berdiri sambil mengontrol bagaimana anak-anak berbaris di depan pintu masuk kelas. Semua anak dipersilakan masuk oleh ketua kelas. Mereka pun satu per satu masuk kelas. Mereka satu per satu menyalami guru sambil mencium tangan guru. Akhirnya, semua anak masuk dan pelajaran pun dimulai.

Contoh di atas menggambarkan pendekatan edukatif yang telah dilakukan oleh guru dengan menyuruh peserta didik berbaris di depan pintu masuk kelas. Guru telah meletakkan tujuan untuk membina watak peserta didik dengan pendidikan akhlak yang mulia. Guru telah membimbing peserta didik bagaimana cara memimpin kawan-kawannya dan anak-anak lainnya, membina bagaimana cara menghargai orang lain dengan cara mematuhi semua perintahnya yang bernilai kebaikan.

Guru yang hanya mengajar di kelas belum tentu dapat menjamin terbentuknya kepribadian peserta didik yang berakhlak mulia. Demikian juga halnya dengan guru yang mengambil jarak dengan peserta didik. Kerawanan hubungan guru dengan peserta didik disebabkan komunikasi antara guru dengan peserta didik yang kurang berjalan harmonis. Kerawanan hubungan ini menjadi kendala bagi guru untuk melakukan pendekatan edukatif kepada peserta didik yang bermasalah.

Guru yang jarang bergaul dengan peserta didik dan tidak mau tahu dengan masalah yang dirasakan peserta didik membuat peserta didik apatis dan tertutup terhadap apa yang dirasakannya. Sikap guru yang demikian kurang dibenarkan dalam pendidikan, karena menyebabkan peserta didik menjadi orang yang introvert (tertutup).

Kasuistis yang terjadi di sekolah biasanya tidak hanya satu, tetapi bermacam-macam jenis dan tingkat kesukaran. Hal ini menghendaki pendekatan yang tepat. Berbagai kasus yang terjadi, selain ada yang dapat didekati dengan pendekatan individual, ada yang dapat didekati dengan pendekatan kelompok, dan ada pula yang dapat didekati dengan pendekatan bervariasi. Namun yang penting untuk diingat adalah bahwa pendekatan individual harus berdampingan dengan pendekatan edukatif; pendekatan kelompok harus berdampingan dengan pendekatan edukatif, dan pendekatan bervariasi harus berdampingan dengan pendekatan edukatif. Dengan demikian, semua pendekatan yang dilakukan guru harus bernilai edukatif, dengan tujuan untuk mendidik.

Selain berbagai pendekatan yang telah disebutkan di depan, ada pendekatan-pendekatan lain. Berdasarakan kurikulum atau Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Pendidikan Agama Islam SUP Tahun 1994 disebutkan lima macam pendekatan untuk pendidikan agama Islam, yaitu pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, dan pendekatan fungsional. Kelima macam pendekatan ini diajukan, karena pendidikan agama Islam di sekolah umum dilaksanakan melalui kegiatan intra dan ekstra kurikuler yang satu sama lainnya saling menunjang dan saling melengkapi. Kelima pendekatan tersebut dijelaskan sebagai berikut:

Pendekatan Pengalaman
Experience is the -best teacher, pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman adalah guru bisu yang tidak pernah marah. Pengalaman adalah guru yang tanpa jiwa, namun selalu dicari oleh siapa pun juga. Belajar dari pengalaman adalah lebih baik daripada sekadar bicara, atau tidak pernah berbuat sama sekali. Belajar adalah kenyataan yang ditunjukkan dengan kegiatan. Karena itu, the proses of learn¬ing is doing, reacting, undergoing, experiencing. The products of learning are all achieved by the learner through his own activity. (H.C. Witherington dan W.H. Burton, 1986: 57)

Meskipun pengalaman diperlukan dan selalu dicari selama hidup, namun tidak semua pengalaman bersifat mendidik (educative ex¬perience) karena ada pengalaman yang tidak bersifat mendidik miseducative experience). Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik, bila guru tidak membawa anak ke arah tujuan pendidikan, misalnya “mendidik anak menjadi pencopet.” Karena itu, ciri-ciri pengalaman yang edukatif adalah berpusat pada suatu tujuan yang berarti bagi anak (meaningful), kontinu dengan kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan, dan menambah integritas anak.

Betapa tingginya nilai suatu pengalaman, maka disadari akan pentingnya pengalaman itu bagi perkembangan jiwa anak. Sehingga dijadikanlah pengalaman itu sebagai suatu pendekatan. Maka jadilah “pendekatan pengalaman” sebagai frase yang baku dan diakui pemakaiannya dalam pendidikan.

Untuk pendidikan agama Islam, pendekatan pengalaman yaitu suatu pendekatan yang memberikan pengalaman keagamaan kepada siswa dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini siswa diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman keagamaan, baik secara individu maipun kelompok. Sebagai contoh, ketika bulan Ramadhan tiba, semua kaum muslimin diwajibkan melaksanakan ibadah puasa. Di malam bulan Ramadhan biasanya setelah kaum muslimin selesai menunaikan Salat Tarawih dilanjutkan dengan kegitan ceramah agama sekitar tujuh menit (kultum) yang disampaikan oleh ulama atau da’ i/guru agama dengan penjadwalan yang telah ditentukan. Para peserta didik biasanya tidak ketinggalan untuk mendengarkan ceramah tersebut. Kegiatan peserta didik ini adalah untuk mendapatkan pengalaman keagamaan. Kegiatan ini untuk peserta didik tertentu biasanya merupakan tugas dari guru mereka dan kemudian mereka harus melaporkannya kepada guru dalam bentuk laporan tertulis yang sudah ditandatangani oleh penceramah.

Untuk pendekatan ini, metode mengajar yang perlu dipertimbangkan untuk digunakan, antara lain adalah metode pemberian tugas (resitasi) dan Tanya- jawab mengenai pengalaman keagamaan peserta didik.

Pendekatan Pembiasaan
Pembiasaan adalah alat pendidikan. Bagi anak yang masih kecil, pembiasaan ini sangat penting. Karena dengan pembiasaan itulah akhimya suatu aktivitas akan menjadi milik anak di kemudian hari. Pembiasaan yang baik akan membentuk suatu sosok manusia yang berkepribadian yang baik pula. Sebaliknya, pembiasaan buruk akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian buruk pula. Begitulah biasanya yang terlihat dan yang terjadi pada diri seseorang. Karenanya, di dalam kehidupan bermasyarakat, kedua kepribadian yang bertentangan ini selalu ada dan tidak jarang menimbulkan konflik di antara mereka.

Anak kecil tidak seperti orang dewasa yang dapat berpikir abstrak. Anak kecil hanya dapat berpikir konkrit. Kata-kata seperti kebijaksanaan, keadilan, dan perumpamaan adalah contoh kata benda abstrak yang sukar dipikirkan oleh mereka yang belum kuat ingatannya, ia lekas melupakan apa yang sudah dan baru terjadi. Perhatian mereka lekas dan mudah beralih kepada hal-hal yang baru, yang lain, yang disukainya. (M. Ngalim Purwanto, 1991)

Anak kecil memang belum mempunyai kewajiban, tetapi dia sudah mempunyai hak, seperti hak dipelihara, hak dilindungi, hak diberi makanan yang bergizi, dan hak mendapatkan pendidikan. Salah satu cara untuk memberikan haknya di bidang pendidikan adalah dengan cara memberikan kebiasaan yang baik dalam kehidupan mereka. Berdasarkan pembiasaan yang baik di rumah itulah anak terbiasa menurut dan taat kepada peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakat dan juga di sekolah.

Menanamkan kebiasaan yang baik memang tidak mudah dan kadang-kadang makan waktu yang lama. Tetapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sukar untuk diubah. Untuk itu hal yang penting adalah pada awal kehidupan anak, orang tua menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik saja dan jangan sekali-kali mendidik anak berdusta, tidak disiplin, suka berkelahi, dan sebagainya. Tanamkanlah kebiasaan seperti ikhlas melakukan puasa, gemar menolong orang yang kesukaran, suka membantu fakir dan miskin, gemar melakukan salat lima waktu, aktif berpartisipasi dalam kegiatan yang baik-baik, dan sebagainya. Pengaruh lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat tidak bisa dielakkan dalam hal ini.

J.B. Watson (1991) berpendapat, bahwa reaksi-reaksi kodrati yang dibawa sejak lahir itu sedikit sekali. Kebiasaan-kebiasaan itu terbentuk dalam perkembangan, karena latihan dan belajar. Terkait dengan itu, aliran Behaviorisme dari J.B. Watson dan aliran Empirisme dari John Locke lebih dominan daripada aliran Nativisme dari Shcopenhour.
Bertolak dari pendidikan kebiasaan itulah yang menyebabkan kebiasaan dijadikan sebagai pendekatan pembiasaan. Pendidikan agama Islam sangat penting dalam hal ini karena dengan pendidikan pembiasaan itulah diharapkan siswa senantiasa mengamalkan ajaran agamanya. Oleh karena itu pendekatan pembiasaan memberikan kesempatan kepada siswa untuk senantiasa mengamalkan ajaran agamanya baik secara individual maupun secara kelompok dalam kehidupan sehari-hari. Terkait dengan metode mengajar yang perlu dipertimbangkan, antara lain adalah metode latihan (drill), pelaksanaan tugas, demonstrasi dan pengalaman langsung di lapangan.

Pendekatan Emosional
Emosi adalah gejala kejiwaan yang ada di dalam diri seseorang. Emosi berhubungan dengan masalah perasaan. Seseorang yang mempunyai perasaan pasti dapat merasakan sesuatu, baik perasaan jasmaniah maupun perasaan rohaniah. Perasaan rohaniah di dalamnya ada perasaan intelektual, perasaan estetis, perasaan etis, perasaan sosial, dan perasaan harga diri. Merasa adalah aktualisasi kerja dari hati sebagai materi dalam struktur tubuh manusia, dan merasa sebagai aktivitas kejiwaan adalah suatu pernyataan jiwa yang bersifat subjektif. Hal ini dilakukan dengan mengemukakan suatu kesan senang atau tidak senang, dan umumnya tidak tergantung pada pengamatan yang dilakukan oleh indra.
menurut “rasa senang dan tidak senang”, mempunyai sifat-sifat senang dan sedih/tidak senang, kuat dan lemah, lama dan sebentar, relatif, dan tidak berdiri sendiri sebagai pernyataan jiwa.

Ditambahkan lagi oleh mereka bahwa nilai perasaan bagi manusia pada umumnya adalah dapat menyesuaikan diri dengan keadaan alam sekitar, seseorang dapat ikut mengalami, menimbulkan rasa senasib dan sekewajiban sebagai manusia (perasaan religius), dapat membedakan antara makhluk bahwa manusia merupakan makhluk yang mempunyai perasaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang tergugah perasaannya berarti emosinya tergugah. Orang yang emosional adalah orang yang cepat tergugah perasaannya. Misalnya, ketika seseorang menonton film sedih di TV karena menyentuh perasaannya tersebut menangis atau sedih. Mendengar atau melihat saudaranya seiman dan seagama menderita atau meninggal dunia akibat peperangan antarbangsa di dunia, seseorang akan marah, sedih, mertcaci-maki, atau mengancam, dan sebagainya.

Dalam kehidupan sosial keagamaan, perasaan seiman dan seagama mengikat perasaan seseorang sebagai orang yang beragama. Karena menyadari akan suatu kewajiban yang dibebankan di pundaknya oleh hukum agama, maka dengan kesadaran dia meyakini, memahami, dan menghayati ajaran agamanya itu. Demikian juga halnya dalam kehidupan seseorang yang beragama, dia menyadari adanya ajaran kitab sucinya yang menyuruh berbuat kebaikan dan menjauhi perbuatan yang munkar. Perasaan keagamaan yang demikian tumbuh dan berkembang seiring dengan bertambahnya usia seseorang, dari sejak anak hingga dewasa.

Emosi atau perasaan adalah sesuatu yang peka. Emosi akan memberi tanggapan (respons) bila ada rangsangan (stimulus) dari luar diri seseorang. Baik rangsangan verbal maupun nonverbal, mempengaruhi kadar emosi seseorang. Rangsangan verbal itu misalnya ceramah, cerita, sindiran, pujian, ejekan, berita, dialog, anjuran, perintah, dan sebagainya sedangkan rangsangan nonverbal dalam bentuk perilaku berupa sikap

Pendekatan Rasional
Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh sang Maha Pencipta, yaitu Allah swt. Manusia adalah makhluk yang sempurna diciptakan. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya yang diciptakan oleh Tuhan. Perbedaannya terletak pada akal. Manusia mempunyai akal, sedangkan makhluk lainnya seperti binatang dan sejenisnya tidak mempunyai akal. Jadi, hanya manusialah yang dapat berpikir, sedangkan makhluk lainnya tidak mampu berpikir.
Dengan kekuatan akalnya manusia dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatah yang buruk, mana kebenaran dan mana kedustaan dari sesuatu ajaran atau perbuatan. Dengan akal pula dapat membuktikan dan membenarkan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta atas segala sesuatu di dunia ini. Walaupun disadari keterbatasan akal untuk memikirkan dan memecahkan sesuatu, tetapi diyakini pula bahwa dengan akal dapat dicapai ketinggian ilmu pengetahuan dan penghasilan teknologi modern. Itulah sebabnya manusia dikatakan sebagai homo sapien, yakni makhluk yang berkecenderungan untuk berpikir.
Akal atau rasio memang mempunyai potensi untuk menaklukkan dunia. Tetapi jangan sampai mempertuhankan akal. Karena hal itu akan menggelincirkan keimanan terhadap ajaran agama. Sebaiknya, akal dijadikan alat untuk membuktikan kebenaran ajaran-ajaran agama. Dengan begitu, keyakinan terhadap agama yang dianut bertambah kokoh.

Di sekolah peserta didik dengan berbagai ilmu pengetahuan. Perkembangan berpikir anak dibimbing ke arah yang lebih baik, sesuai dengan tingkat usia anak. Perkembangan berpikir anak mulai dari yang konkret sampai yang abstrak. Untuk itu pembuktian suatu kebenaran, dalil, prinsip, atau hukum menghendaki dari hal-hal yang sangat sederhana menuju ke kompleks. Pembuktian tentang sesuatu yang berhubungan dengan masalah keagamaan harus sesuai dengan tingkat berpikir anak. Kesalahan pembuktian akan berakibat fatal bagi perkembangan j iwa anak. Usaha yang terpenting bagi guru adalah bagaimana memberikan peranan kepada akal (rasio) dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agama, termasuk mencoba memahami hikmah dan fungsi ajaran agama.

Karena keampuhan akal (rasio) itulah akhirnya dijadikan pendekatan yang disebut pendekatan rasional guna kepentingan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Untuk mendukung pemakaian pendekatan ini, maka metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, latihan, dan pemberian tugas.

Pendekatan Fungsional
Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh anak di sekolah bukanlah hanya sekadar pengisi otak, tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Anak dapat memanfaatkan ilmunya untuk kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya. Bahkan yang lebih penting adalah ilmu pengetahuan dapat membentuk kepribadian anak. Anak dapat merasakan manfaat dari ilmu yang didapatnya di sekolah. Anak mendayagunakan nilai guna dari suatu ilmu sudah fungsional di dalam diri anak.

Pelajaran agama yang diberikan di kelas bukan hanya untuk memberantas kebodohan dan pengisi kekosongan intelektual, tetapi untuk diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang demikian itulah yang pada akhirnya hendak dicapai oleh tujuan pendidikan agama di sekolah dalam berbagai jenis dan tingkatan. Karena itu, kurikulum pun disusun sesuai dengan kebutuhan siswa di masyarakat.

Pendekatan fungsional yang diterapkan di sekolah diharapkan dapat menjembatani harapan tersebut. Untuk memperlicin jalan ke arah itu, tentu saja diperlukan penggunaan metode mengajar. Dalam hal ini ada beberapa metode mengajar yang perlu dipertimbangkan, antara lain adalah metode latihan, pemberian tugas, ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi.

Pendekatan Keagamaan
Pendidikan dan pelajaran di sekolah tidak hanya memberikan satu atau dua macam mata pelajaran, tetapi terdiri dari banyak mata pelajaran. Semua mata pelajaran itu pada umumnya dapat dibagi menjadi mata pelajaran umum dan mata pelajaran agama. Berbagai pendekatan dalam pembahasan terdahulu dapat digunakan untuk kedua jenis mata pelajaran ini. Tentu saja penggunaannya tidak sembarangan, tetapi harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang dicapai. Dalam praktiknya tidak hanya digunakan satu, tetapi bisa juga penggabungan dua atau lebih pendekatan.

Khususnya untuk mata pelajaran umum, sangat berkepentingan dengan pendekatan keagamaan. Hal ini dimaksudkan agar nilai budaya ilmu itu tidak sekuler, tetapi menyatu dengan nilai agama. Dengan penerapan prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi, guru dapat menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran umum. Tentu saja guru harus menguasai ajaran-ajaran agama yang sesuai dengan mata pelajaran yang dipegang. Mata pelajaran biologi, misalnya, bukan terpisah dari masalah agama, tetapi ada hubungannya. Cukup banyak dalil agama yang membahas masalah biologi. Persoalannya sekarang terletak pada mau atau tidaknya guru mata pelajaran tersebut mencari dan menggali dalil-dalil dimaksud serta menafsirkannya guna mendukung
penggunaan pendekatan keagamaan dalam pendidikan dan pengajaran. Surah Yaasiin, ayat 34, dan ayat 36, adalah bukti nyata bahwa pelajaran biologi tidak bisa dipisahkan dari ajaran agama. Surah Yaasiin ayat 37, 38, 39, dan 40 adalah dalil-dalil nyata pendukung pendekatan keagamaan dalam mata pelajaran fisika.

Akhirnya, pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperkecil kerdilnya jiwa agama di dalam diri siswa, yang pada akhir¬nya nilai-nilai agama tidak dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diya¬kini, dipahami, dihayati, dan diamalkan selama hayat siswa di kandung badan.

Pendekatan kebermaknaan
Dalam rangka penguasaan bahasa asing guru tidak bisa mengabaikan masalah pendekatan yang harus digunakan dalam proses belajar mengajar. Salah satu sebab kegagalan penguasaan bahasa asing oleh siswa, adalah kurang tepatnya pendekatan yang digunakan oleh guru selain faktor lain seperti faktor sejarah, fasilitas, lingkungan serta kompetensi guru. Kegagalan pengajaran tersebut tentu saja tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena akan menjadi masalah bagi siswa dalam setiap jenjang pendidikan yang dimasukinya. Karenanya perlu dipecahkan. Salah satu alternatif ke arah pemecahan masalah tersebut diajukanlah pendekatan baru, yaitu pendekatan kebermaknaan. Beberapa konsep penting yang berkaitan dengan pendekatan ini diuraikan sebagai berikut.
1. Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan malalui struktur (tata bahasa dan kosa kata). Dengan demikian, struktur berperan sebagai alat pengungkapan makna (gagasan, pikiran, pendapat, dan perasaan).
2. Makna ditentukan oleh lingkup kebahasaan maupun lingkup situasi yang merupakan konsep dasar dalam pendekatan kebermaknaan pengajaran bahasa yang natural, didukung oleh pemahaman lintas budaya.
3. Makna dapat diwujudkan melalui kalimat yang berbeda, baik secara lisan maupun tertulis. Suatu kalimat dapat mempunyai makna yang berbeda tergantung pada situasi saat kalimat itu digunakan. Jadi keragaman ujaran diakui keberadaannya dalam bentuk bahasa lisan atau tertulis.
4. Belajar bahasa asing adalah belajar berkomunikasi melalui bahasa tersebut sebagai bahasa sasaran baik secara lisan maupun tertulis. Belajar berkomunikasi ini perlu didukung oleh pembelajaran unsur-¬unsur bahasa sasaran.
5. Motivasi belajar peserta didik merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan belajamya. Kadar motivasi ini banyak ditentukan oleh kadar kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran yang diikuti peserta didik. Dengan kata lain, kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran memiliki peranan yang amat penting dalam keberhasilan belajar peserta didik.
6. Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi peserta didik jika berhubungan dengan pengalaman, minat, tata nilai, dan masa depannya. Karena itu, pengalaman peserta didik dalam lingkungan, minat, tata nilai, dan masa depannya harus dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan pengajaran dan pembelajaran untuk membuat pelajaran lebih bermakna bagi siswa.
7. Dalam proses belajar-mengajar, peserta didik merupakan subjek utama, bukan sebagai objek belaka. Karena itu, ciri-ciri dan kebutuhan mereka harus dipertimbangkan dalam segala keputusan yang terkait dengan pengajaran.
8. Dalam proses belajar-mengajar guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan keterampilan berbahasanya. Akhimya, perlu diikhtisarkan bahwa ada berbagai pendekatan yang dapat dipergunakan dalam pendidikan dan pengajaran, yaitu pendekatan individual, pendekatan kelompok, pendekatan bervariasi, pendekatan edukatif pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, pendekatan fungsional, pendekatan keagamaan, dan pendekatan kebermaknaan.

3.3 Pemilihan Pendekatan yang efektif
Pemilihan pendekatan pembelajaran yang efektif perlu mempehatikan hal-hal berikut.

1. Identifikasi tujuan
Kegiatan merancang suatu program harus dimulai dari identifikasi tujuan yang menjadi tuntutan suatu pekerjaan. Karena itu perlu dibuat suatu kejelasan tujuan berdasarkan tuntutan pekerjaan itu. Selanjutnya ditentukan peranan-peranan yang harus dilaksanakan sehubungan dengan tujuan tersebut tersebut. Hal itulah yang menjadi titik tolak untuk menentukan pendekatan pembelajaran yang sesuai.

2. Analisis tujuan
Tujuan-tujuan yang telah ditetapkan secara dimensional dijabarkan menjadi seperangkat tujuan-tujuan yang lebih spesifik. Setiap dimensi tujuan dijabarkan sedemikian rupa sehingga mencerminkan segala sesuatu yang harus dicapai. Hal ini akan lebih memudahkan dalam pemilihan pendekatan pembelajaran yang lebih sesuai.

3. Penetapan tujuan
Langkah ini sejalan dengan langkah yang telah dilaksanakan sebelumnya. Setiap tujuan hendaknya didasarkan pada kriteria kognitif, afektif,dan psikomoto.Tentu saja kompetensi yang diharapkan itu harus relevan dengan tuntutan kerja yang telah ditentukan. Dengan penetapan tujuan maka selanjutnya akan diikuti untuk penetapan pendekatan

4. Spesifikasi pengetahuan, keterampilan, dan sikap
Agar tidak terjadi tumpang tindih pendekatan antara satu materi dengan yang lain maka. Setiap kompetensi yang ditetapkan dirinci menjadi pengetahuan apa, sikap-sikap apa, dan keterampilan-¬keterampilan apa yang perlu dimiliki oleh setiap peserta didik. Spesifikasi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap juga terkait dengan tingkat usia peserta didik.

5. Identifikasi kebutuhan pendidikan dan latihan
Ada perbedaan pendekatan antara pembelajaran yang bersifat teoritis dan prakti. Untuk itu diperlukan langkah analisis kebutuhan pendidikan dan latihan, artinya jenis-jenis pendidikan dan atau latihan-latihan yang sewajarnya disediakan dalam rangka mengembangkan kemampuan-kemampuan yang telah ditetapkan, seperti kegiatan teoritis dan praktis.

7. Evaluasi
Kriteria penentuan jenis evaluasi sebagai indikator keberhasilan suatu program, akan menentukan penggunaan pendekatan dalam pembelajaran. Karena keberhasilan tersebut akan terwujud secara efektif apabila ada ketepatan dalam penentuan pendekatan.

8. Organisasi sumber-sumber belajar
Langkah pengorganisasian sumber belajar juga akan menentukan pengambilan pendekatan dalam pembelajaran. Hal ini karena materi pelajaran yang akan disampaikan sangat erat hubungannya dengan pencapaian tujuan yang telah ditentukan.

Rangkuman
 Pendekatan adalah titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran.
 Berdasarkan subjek dan objek, pendekatan pembelajaran dibedakan menjadi dua, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang berpust pada siswa (student-centred approaches).
 Berdasarkan cara perolehan bahan pembelajaran, pendekatan secara garis besar dibedakan menjadi dua yaitu pendekatan konsep dan pendekatan proses.
 Pendekatan dapat dibedakan menjadi sembilan jenis yaitu; pendekatan individual, pendekatan kelompok, pendekatan bervariasi, pendekatan edukatif pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, pendekatan fungsional, pendekatan keagamaan, dan pendekatan kebermaknaan.
 Aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan pendekatan pembelajaran yang efektif adalah dengan mempertimbangkan aspek-aspek berikut ini: Identifikasi tujuan, . Analisis tujuan, Penetapan tujuan, Spesifikasi pengetahuan, keterampilan, dan sikap, Identifikasi kebutuhan pendidikan dan latihan, Evaluasi, Organisasi sumber-sumber belajar.

07/01/2009 Posted by | SBM | 10 Komentar

Pendekatan, Strategi, Kaedah dan Teknik?

“Kaedah pengajaran yang saya gunakan adalah betul… tapi hasil yang saya harapkan masih tidak tercapai.”
“Kalau begitu, adakah teknik-teknik yang kau gunakan itu betul juga”
“Teknik-teknik yang saya pakai tidak mungkin salah lagi”
“Oh ya! Strategi pengajaran macam mana pula…”
“Apa itu stra…”

PENDAHULUAN
Bagi seseorang yang baru menjejak kakinya dalam arena pengajaran malah ramai guru yang berpengalaman, konsep pendekatan, strategi, kaedah serta teknik pengajaran amat sukar dibeza-bezakan. Apa lagi terdapat orang yang menganggap bahawa semua istilah tersebut adalah sama dengan cara pengajaran sahaja. Ini adalah suatu perkara yang harus diberi perhatian yang serius kerana konsep-konsep tersebut adalah merupakan asas untuk membentuk sesuatu rancangan pelajaran harian yang sempurna oleh seseorang guru. Penjelasan tentang perhubungan di antara keempat-empat konsep adalah amat berguna bagi guru-guru pelatih yang menjalankan latihan mengajar supaya ilmu pedagogi yang dipelajari itu dapat diamalkan dalam bilik darjah.
Rencana ringkas ini bertujuan memberi sedikit sebanyak penjelasan tentang pendekatan, strategi, kaedah serta teknik pengajaran serta hubungan di antara satu sama lain. Walau pun difikirkan bahawa konsep-konsep itu merupakan asas dalam perbincangan pedagogi tetapi kebanyakan pengarang buku pedagogi masih samar-samar tentang konsep-konsep tersebut.
Untuk menjelaskan konsep-konsep tersebut, perbincangan akan bermula dengan kaedah pengajaran dan diikuti oleh teknik pengajaran. Selepas kita telah jelas mengenai kedua-kedua konsep tersebut maka kita akan meneliti konsep strategi serta pendekatan pengajaran. Akhir sekali kita akan mengulas perhubungan kesemua konsep tersebut dalam situasi pengajaran.
KAEDAH DAN TEKNIK
Sebelum kita membincangkan konsep kaedah pengajaran adalah eloknya kita memikirkan secara umum pengertian kaedah. Kaedah mengikut Kamus Dewan bermaksud cara atau aturan (membuat sesuatu), hukum atau prinsip. Justeru itu, sesuatu kaedah terdiri daripada sesuatu siri tindakan yang sistematik dan tersusun untuk mencapai sesuatu matlamat.
Lantaran itu, jika kita ingin memasak ikan maka kita perlu fikirkan apakah kaedah-kaedah memasak yang kita boleh gunakan. Sudah tentunya, kaedah-kaedah yang biasa kita gunakan ialah seperti menggoreng, merebus, memanggang atau mengukus. Begitu juga kalau kita diminta memberi kaedah-kaedah menyepak bola kita akan menyatakan kaedah-kaedahnya adalah seperti sepakan sering, sepakan tinggi, sepakan grounder, sepakan banana serta bermacam-macam lagi. Satu lagi contoh ialah jika kita ingin peri memburu harimau di dalam hutan, kaedah-kaedah yang kita boleh gunakan adalah seperti menembak dengan senapang, memanah, menjerat, menikam atau menombak.
Andaikan kita ingin memasak ikan dengan kaedah menggoreng. Maka sudah tentu kita perlu memiliki kemahiran-kemahiran yang khusus dalam menjayakan kaedah tersebut. Kemahiran khusus tersebut adalah dimaksudkan sebagai teknik. Sebab itu, bolehlah kita menyatakan bahawa semua kaedah mempunyai teknik-teknik tertentu yang disusun dengan sistematik. Umpamanya untuk menggoreng ikan, kita mesti memanaskan kuali terlebih dahulu sebelum mencurahkan minyak ke dalamnya. Untuk mengelakkan ikan melekat pada kuali, suatu lagi teknik ialah memasukkan sedikit garam ke dalam minyak yang telah panas di kuali. Api juga harus dikawal supaya tidak terlalu panas. Kesemua tindakan yang spesifik ini adalah disebut sebagai teknik menggoreng. Teknik-teknik untuk kaedah memasak ikan secara memanggang pula adalah amat berbeza.
Untuk menjelaskan lagi hubungan kaedah dengan teknik, kita boleh ambil contoh memburu harimau. Kalau kita hendak memburu harimau dengan kaedah memanah maka teknik-tekniknya adalah seperti meneliti arah angin, kemahiran memegang ibu panah, gerakan tangan untuk membuat sasaran, kedudukan kaki serta tindakan menarik nafas.
Dalam zama atom ini, sudah tentu kaedah memburu harimau dengan kaedah memanah tidak begitu berkesan. Jadi walau pun seorang pemanah itu betul-betul mahir dan telah menguasai segala teknik memanah dengan seratus perstus, maka kemungkinan besar ia dimakan oleh harimau. Itu sebabnya kaedah memburu yang dipilih adalah kurang sesuai walaupun teknik-teknik kaedah itu adalah baik.
Oleh itu, untuk menjayakan sesuatu yang kita ingini kaedah yang dipilih mestilah disertai dengan teknik-teknik yang betul. Memilih kaedah yang tepat tanpa menguasai teknik-teknik yang baik menurut kaedah tersebut tidak akan menjaminkan tercapainya matlamat kaedah yang diingini.
KAEDAH DAN TEKNIK PENGAJARAN
Kaedah pengajaran adalah terdiri daripada beberapa langkah atau kegiatan yang mempunyai urutan yang tertentu. Pengajaran yang dimaksudkan ialah segala aktiviti seseorang untuk menghasilkan perubahan tindkah laku yang agak kekal dalam diri seseorang yang lain. Lantaran itu, kaedah-kaedah pengajaran adalah seperti cercerita, perbincangan, bermain, latih tubi, main peranan, menyelesaikan masalah, brain storming, perbahasan, kuiz, lakonan, projek, soalan atau Socratik dan lain-lain lagi.
Teknik-teknik pengajaran adalah kemahiran atau perkara-perkara khusus yang terdapat dalam sesuatu kaedah. Jika seseorang guru itu tidak dapat menguasai teknik-teknik yang ada apda sesuatu kaedah maka kemungkinan besar matlamat kaedah itu akan tidak berhasil.
Misalnya katakanlah seorang ingin menggunakan kaedah bercerita untuk mengajar sesuatu tajuk pelajaran. Teknik-teknik bercerita yang dimaksudkan ialah kawalan nada suara, penggunaan alatan yang berkenaan, kemahiran mengekalkan minat murid, gerrakan tangan “facial expression”, serta kedudukan murid-murid semasa aktiviti bercerita itu berlangsung.
Kaedah mengajar seperti syarahan juga mempunyai teknik-teknik yang tersendiri. Teknik-teknik syarahan adalah seperti mempelbagaikan nada sera kadar percakapan, bahasa yang sesuai, penggunaan OHP, garis kasar kuliah yang disampaikan, menyoal soalan-soalan yang mencabar pemikiran pelajra dan lain-lain lagi.
Satu lagi contoh kaedah mengajar ialah kaedah soalan. Jika kita ingin mengajar dengan kaedah soalanmaka kita pelu menggunakan teknik-teknik menyoal yang baik seperti soalan-soalan yang ditanya haruslah jelas dan tepat, pelajar-pelajar diberi masa untuk memikirkan jawapan soalan sebelum sesiapa dipanggil untuk menjawab, layanan yang munasabah bagi semua tindak balas daripada murid, suara haruslah jelas, mempelbagaikan soalan-soalan yang ditanya dan sebagainya.
Jadi jika kita hendak mengajar seseorang berenang kita haruslah memilih kaedah-kaedah yang sesuai. Kaedah seperti perbincangan serta syarahan sudah tertentu tidak berkesan. Kaedah pengajaran seperti demostrasi adalah lebih sesuai. Meskipun demikian, untuk memastikan bahawa demostrasi itu berjaya kita mesti menguasai teknik-teknik demostrasi.
Sebagai kesimpulan, bila kita sebut teknik pengajarankita mesti bertanya teknik pengajaran untuk kaedah apa. Setiap kaedah pengajaran mesti mempunyai teknik-teknik yang tertentu.
PENDEKATAN
Pendekatan biasanya dimaksudkan dengan arah atau hala yang kita ambil untuk menuju sesuatu sasaran. Dalam pengertianyang lebih luas pendekatan juga diertikan sebagi “to come near to in any sense” atau jalan yang diambil untuk melakukan sesuatu. Pendekatan-pendekatan yang dipilih biasanya berasaskan teori-teori atau generalisasi yang tertentu.
Sebagai contoh, pendekatan-pendekatan memasak ikan yang kita boleh gunakan ialah seperti pendekatan Timur atau pendekatan Barat. Bagi pendekatan Barat, kita dapati keutamaan ditegaskan pada nilai kalori, nilai makanan dari segi zat makanan dan ciri-ciri makanan seimbang. Bagi pendekatan Timur pula, keutamaan adalah diberi kepada rasa seperti rupa makanan tetapi tidak begitu mementingkan nilai kalori atau ciri-ciri makanan seimbangan. Pendekatan Barat ini adalah amat berkaitan dengan perkembangan sains dan teknologi pemakanan yang mempunyai prinsip-prinsip makanan serta hubungannya dengan kesihatan.
Suatu lagi contoh tentang pendekatan melakukan sesuatu ialah pendekatan seseorang dalam belajar bermain tenis. Dia boleh menggunakan pendekatan profesional atau pendekatan konvensyenal (tradisional atau acquired) atau biasa. Bagi pendekatan profesional, semua kaedah bermain dipelajari berdasarkan prinsip-prinsip sains yang sangat bersistematik. Manakala bagi pendekatan konvensyenal, kaedah-kaedah bermain dipelajari berdasarkan pengalaman, perbincangan informal serta dengan pemerhatian.
PENDEKATAN PENGAJARAN
Pendekatan pengajaran merupakan haluan atau aspek yang digunakan untuk mendekati atau memulakan proses pengajaran sesuatu isi pelajaran, sesuatu mata pelajaran atau beberapa mata pelajaran atau sesuatu kemahiran. Pendekatan-pendekatan wujud berdasarkan aspek-aspek pengajaran yang kita ingin utamakan atau memberi perhatian yang lebih utama. Sebab itu ada kalanya pendekatan meyerupai klasifikasi pengajaran di mana jenis-jenis pendekatan wujud berdasarkan kriteria-kriteria yang kita gunakan untuk meneliti proses pengajaran. Pendekatan-pendekatan pengajaran boleh digolongkan mengikut cara pengelolaan murid, cara-cra fakta disampaikan, keaktifan pengajaran atau pelajar, pengajaran bahasa dan pengajaran mata pelajaran lain.
Pendekatan pengajaran yang berasaskan pengelolaan murid adalah seperti pendekatan individu, pendekatan pasangan, pendekatan kumpulan, pendekatan kelas, pendekatan kelas bercantum dan sebagainya. Pendekatan yang dimaksudkan di sini tidak menyentuh tentang kaedah yang boleh digunakan dalam pengajaran. Guru adalah bebas memilih kaedah yang difikirkan wajar bagi setiap pendekatan tersebut.
Berdasarkan kriteria bagaimana isi pelajaran disampaikan maka terdapatlah pendekatan induktif, pendekatan deduktif, pendekatan eklektik, pendekatan dari segi isi mudah ke isi susah dan pendekatan dari isi maujud ke isi abstrak.
Pendekatn yang memberi tumpuan kepada pengajar disebut sebagai pendekatan memusatkan guru manakala pengajran yang mementingkan murid disebut sebagai pendekatan memusatkan murid. Kaedah-kaedah yang seiring dengan pendekatan yang memusatkan guru adalah seperti kaedah syarahan dan kaedah demonstrasi manakala kaedah-kaedah pengajaran yang selari dengan pendekatan pengajaran yang memusatkan murid adalah seperti kaedah menyelesaikan masalah, kaedah bermain dan kaedah perbincangan kumpulan.
Terdapat juga pendekatan-pendekatan yang digunakan untuk mengajar beberapa mata pelajaran mengikut tema-tema pelajaran. Contohnya pengajaran dalam Alam dan Manusia menggunakan perdekatan interdisiplin atau pendekatan bersepadu. Ini adalah kerana beberapa mata pelajaran seperti Sejarah, Geografi dan Kesihatan digabungkan menjadi suatu mata pelajaran yang baru. Pendekatan ini adalah sama dengan pengajaran Sains Panduan di mana Biologi, Fizik serta Kimia digabungkan dan diajar mengikut tema-tema tertentu.
Akhirnya dalam pengajaran bahasa terdapat pendekatan-pendekatan seperti pendekatan komunikasi, pendekatan situasi, pendekatan psiko-linguistik, pendekatan terjemahan dan pendekatan nahu. Pendekatan-pendekatan ini timbul berasaskan teori-teori pembelajaran yang berbentuk mentalis atau behavouris. Contohnya jika kita mengikut teori mentalis atau kognitif maka pendekatan yang digunakan adlah seperti pendekatan terjemahan dan pendekatan nahu. Bagi teori behavouris atau S-R maka pendekatan pengajaran yang digunakan adalah pendekatan komunikasi dan situasi.
Rumusan yang boleh dibuat ialah pendekatan merupakan sesuatu yang agak umum dan ia seolah-olahnya menunjukkan sesuatu haluan tetapi tidak menerangkan bagaimana caranya untuk menuju haluan itu. Cara-cara yang digunakan untuk menuju arah yang ditetapkan oleh sesuatu pendekatan pengajaran adalah kaedah-kaedah pengajaran.
STRATEGI
Strategi boleh diibaratkan sebagai suatu susunan pendekatan-pendekatan dan kaedah-kaedah untuk mencapai sesuatu matlamat dengan menggunakan tenaga, masa serta kemudahan secara optimum. Seseorang panglima tentera harus memikirkan strateginya untuk mempertahankan kedudukannya atau menyerang kubu musuhnya.
Sebagai contoh, katakanlah perang tercetus di antara Malaysia dan Singapura. Seorang panglima Malaysia yang dipertanggungjawabkan untuk menyerang dan menawan Singapura terpaksa merancang strategi peperangannya. Dia harus memikirkan apakah pendekatan-pendekatan dan kaedah-kaedah untuk menyerang pihak musuh. Adakah kita menggunakan tentera udara atau tentera laut? Adakah kita mengebom sasaran-sasaran pertahanannya terlebih dahulu sebelu menghantar angkatan tentera darat diikuti oleh angkatan tentera laut. Susunan serta urutan kaedah yang dirancangkan mengikut kekangan logistik adalah disebut sebagai strategi peperangan.
Andaikan kita menggunakan contoh memasak ikan semula. Kalau kita ingin memasak seekor ikan yang agak besar (5 kilogram) kita perlu merancangkan strategi memasak supaya kita dapat kepuasan dan faedah yang paling banyak dengan menggunakan masa, tenaga erta sember yang paling minimum. Di sini kita perlu merancangkan pendekatan-pendekatan dan kaedah-kaedah yang boleh digunakan untuk memasak ikan tersebut. Umpamanya adalah kita menggoreng kepalanya, merebus ekornya, memanggang tulang diikuti dengan mendidihnya dalam sup, menjerut telurnya dan sebagainya. Kaedah manakah yang kita buat terlebih dahulu? Pendekatan timur atau barat yang patut diikuti untuk memasak? Rancangan yang lengkap ini boleh disebut sebagai strategi memasak.
Bagaimana dengan strategi memburu harimau pula? Kita telah membincangkan kaedah-kaedah yang boleh digunakan untuk memburu harimau. Jadi bagaimanakah rancangan kita untuk menggabungkan kaedah-kaedah tersebut seupaya harimau itu dapat diburu dengan mudah. Adakah kita memagar kawasan yang didiami oleh harimau dan menahan jerat pada kawasan-kawasan tertentu. Apabila harimau telah terjerat, barulah kita menembaknya. Atau perlukah kita menghadkan makanan harimau untuk melapar dan meletihkannya kemudian membunuhnya dengan lebing.
Untuk memenangi sesuatu pertanding badminton, seseorang pemain bukan sahaja perlu menguasai segala kaedah untuk menghantar bola tangkis kepada lawannya tetapi a juga perlu merancangkan strategi permainan itu. Strategi permainan adalah seperti bermain secara defence pada pemainan pertama untuk meletihkan musuh dan kemudiannya menyerang dengan secara smash yang kencang pada pemainan kedua. Adakah dia sengaja bermain sebanyak 3 atau 2 pemainan sahaja. Jika pemain itu menguasai semua kaedah menghantar bole tangkis dengan sempurna tetapi strategi permainannya tidak sesuai mana ia akan ditawan. Oleh sebab itu, ada kalanya pasukan yang mahir dalam semua kaedah permainan dikalahkan sebab strategi permainan tidak sesuai.
STRATEGI PENGAJARAN
Untuk mencapai objektif-objektif pengajaran, seseorang guru biasanya menggunakan gabungan berapa pendekatan serta kaedah mengajar tertentu. Rancangan gabungan pendekatan dan kaedah serta turutan pendekatan dan kaedah itu dilaksanakan merupakan strategi pengajaran.
Sebagai contoh, untuk mengajar sebuah kelas berenang, strategi pengajaran harus mempertimbangkan pendekatan yang digunakan serta kaedah-kaedah yang perlu digunakan. Adakah kita gunakan pendekatan individu atau pendekatan kumpulan kecil? Bila kita menerangkan cara-cara berenang kepada pelajar patutkah kita gunakan pendekatan induktif atau pendekatan deduktif? Di samping itu, apakah kaedah pengajaran yang boleh kita gunakan. Antara kaedah syarahan, kaedah demostrasi dan kaedah latih tubi yang manakah kita gunakan terlebih dahulu? Bagaimanakah kombinasinya? Ringkasnya rancangan yang lengkap yang mengandungi pendekatan dan kaedah adalah strategi mengajar yang dimaksudkan.
Peranan strategi pengajaran adalah lebih penting lagi jika kita mengajar pelajar-pelajar yang berbeza dari segi kebolehan, pencapaian, kecenderungan serta minat yang berbeza-beza. Kita perlu rancangkan pendekatan dan kaedah yang digunakan untuk mengajar kumpulan-kumpulan yang berbeza-beza itu. Contohnya, dalam bilik darjah KBSR yang biasanya terdiri daripada kumpulan lemah, kumpulan serdahana serta kumpulang cergas. Guru terpaksa memikirkan strategi pengajaran yang terdiri daripada pelbagai kaedah mengajar untuk memenuhi keperluan semua kumpulan. Di samping itu, setiap bilik darjah mempunyai halangan serta rintangan-rintangan yang tersendiri seperti keadaan fizikal, kemudahan bilik darjah, nilai, norma serta latar belakang sekolah dan murid. Lantaran itu, seseorang guru bukan sahaja mesti menguasi berbagai-bagai kaedah mengajar tetapi yang lebih penting lagi ialah bagaimana mengintegrasikan serta menyusun kaedah-kaedah itu untuk membentuk strategi pengajaran yang paling berkesan dalam pengajarannya.
Kita biasanya mendengar pendapat bahawa tiada terdapat mana-mana kaedah yang paling baik sekali. Ini amat benar kerana kaedah-kaedah mengajar mestilah diatur untuk membentuk strategi pengajaran mengikut keadaan di mana proses pengajaran itu berlaku. Jelasnya sesuatu kaedah pengajaran tidak menjaminkan pencapaian matlamat pengaajaran. Yang lebih penting adalah interaksi kaedah itu dengan kaedah-kaedah lain.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang boleh dibuat setakat ini ialah sesuatu strategi pengajaran menggabungkan pelbagai kaedah dan pendekatan pengajaran untuk mencapai kesan pengajaran yang optimum sekali. Strategi yang baik akan menggunakan masa, tenaga serta kos yang paling sedikit tetapi menghasilkan kesan pengajaran pembelajaran yang paling maksimum

Rujukan
Arbak Othman (1985) “Mengajar Tatabahasa”, Dewan Bahasa & Pustaka, Kuala Lumpur.
Ee, Ah Meng (1987) “Pedagogi Untuk Bakal Guru”, Fajar Bakti, Petaling Jaya.
Kamarudin Husin (1988) “Pedagogi Bahasa”, Longman (M), Kuala Lumpur.
Kaye, Barrington (1970) “Participation In Learning”, George Allen & Unwin, London.
Kemp, Jennold E (1987) “Corak Rancangan Pengajaran – Suatu Rancangan Untuk menggubal Unit Dan Kursus” Dewan Bahasa & Pustaka, Kuala Lumpur.
Raminah Sabran & Rahim Syam (1985) “Kaedah Pengajaran Bahasa Malaysia”, Fajar Bakti, Petaling Jaya.
Tang, Chee Yee (1988) “Pandua Latihan Mengajar”, Fajar Bakti, Petaling Jaya.
Thompson, Brenda (1974) “Learning To Teach”, Sidgwick & Jackson, London.
Wragg, E.C. (1974) “Teaching Teaching”, Douglas David & Charles Ltd., West Vancouver.
http://www.phreneticus.com/leftbrain/lessons/inquiry/inquiry.htm: 6/10/2005 12:47 PM

07/01/2009 Posted by | SBM | 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 945 pengikut lainnya.