BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

PENDEKATAN PEMBELAJARAN

Pada handout ini akan dibahas mengenai hal-hal berikut:
 Pengertian pendekatan pembelajaran
 Macam-macam pendekatan pembelajaran
 Pendekatan pembelajaran efektif

3.1 Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan (approach) memiliki pengetahuan yang berbeda dengan strategi (Sanjaya Wina, 2007), Pendekatan bersifat filosofis paradigmatik ,yang mendasari aplkasi strategi dan metode. Pendekatan adalah pola/cara berpikir atau dasar pandangan terhadap sesuatu. Pendekatan dapat diimplementasikan dalam sejumlah strategi. Sedangkan, strategi adalah pola umum perbuatan guru-siswa di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar. Strategi dapat diimplementasikan dalam beberapa metode.

Pendekatan adalah titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran atau merupakan gambaran pola umum perbuatan guru dan peserta didik di dalam perwujudan kegiatan pembelajaran. Sedangkan strategi sendiri merupakan pola umum perbuatan guru peserta didik di dalam perwujudan kegiatan pembelajaran. Pendekatan merupakan dasar penentuan strategi yang akan diwujudkan dengan penentuan metode sedangkan metode merupakan alat yang digunakan dalam pelaksanaan strategi pembelajaran.Jadi pendekatan lebih luas cakupanya dibandingkan dengan strategi.

3.2 Macam-macam Pendekatan Pembelajaran
Roy Killen (1998) berpendapat pendekatan pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centred approaches). Klasifikasi pendekatan di atas didasarkan pada subjek dan objek pembelajaran. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instrucion), dan pembelajaran deduktif atau expository. Sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiry serta pembelajaran induktif.

Berdasarkan pemerolehan bahan pembelajaran, secara garis besar pendekatan pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pendekatan konsep dan pendekatan proses. Pendekatan konsep adalah suatu pendekatan yang menekankan pada perolehan dan pemahaman fakta dan prinsip. Sedangkan pendekatan proses atau dikenal dengan pendekatan keterampilan proses menekankan pada bagaimana bahan pelajaran itu diajarkan dan dipelajari.

Pendekatan konsep lebih banyak bergantung pada apa yang diajarkan guru berupa bahan atau isi pelajaran, dan lebih bersifat kognitif. Sedangkan pendekatan keterampilan proses menekankan pentingnya kebermaknaan belajar untuk mencapai hasil yang memadai. Selain itu, pendekatan keterampilan proses juga menekankan pentingkan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran dan menekankan pada hasil belajar secara tuntas.

Pendekatan konsep tidak dapat dipertentangkan dengan pendekatan keterampilan proses sehingga keduanya merupakan dua pendekatan yang terpisah. Hal ini disebabkan keduanya merupakan garis kontinum, yakni pendekatan keterampilan proses menekankan penghayatan proses dan pendekatan konsep, lebih menekankan perolehan dan pemahanan fakta dan prinsip. Belajar dengan keterampilan proses tidak mungkin terjadi apabila tidak ada materi atau bahan pelajaran yang dipelajari. Sebaliknya, belajar konsep tidak mungkin dilakaukan tanpa adanya keterampilan proses pada diri peserta didik.

Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan yang relevan dengan prinsip cara belajar siswa aktif (CBSA), walaupun dapat pula terjadi pendekatan keterampilan proses dengan kadar keaktifan peserta didik yang tidak tertalu tinggi. Begitu pula sebaliknya, bahwa CBSA dapat terjadi pada waktu peserta didik mempelajari konsep, fakta, dan prinsip.
Biasanya belajar konsep diikuti dengan kadar keaktifan peserta didik yang rendah. Kondisi demikian cenderung akan memperlihatkan modus pembelajaran yang lebih expository. Sedangkan belajar keterampilan proses biasanya diikuti dengan kadar keaktifan peserta didik yang tinggi. Hal ini memungkinkan belajar keterampilan proses cenderung untuk bermodus discovery.

Untuk memperjelas keterangan di atas berikut ini akan dibahas tentang pendekatan konsep, pendekatan keterampilan proses, pendekatan expository, dan pendekatan discovery.

Pendekatan Konsep
Pendekatan konsep merupakan pendekatan yang mementingkan hasil daripada proses perolehan hasil. Untuk itu pendekatan ini terkesan hanya merupakan pemberian informasi, sehingga hasilnya kurang bermakna dan kurang bertahan lama. Kondisi demikian cenderung memperlihatkan modus pembelajaran yang lebih expository.

Bagaimanapun pendekatan ini masih dibutuhkan dalam pembelajaran, karena tidak semua bahan pembelajaran dapat disampaikan dengan pendekatan keterampilan proses. Karena faktor jenis bahan atau waktu yang tersedia tidak memungkinkan dilakukan dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses semua. Hanya saja perlu digali bagaimana penerapan pendekatan konsep ini dapat berlangsung semaksimal mungkin di dalam pembelajaran.

Apapun pendekatan yang digunakan sebenarnya yang diharapkan hasil belajar dari pendekatan tersebut adalah peserta didik dapat membentuk kerangka kognitif sendiri. Maksudnya, konsep yang dimiliki oleh peserta didik adalah hasil bangunannya sendiri, sehingga konsep tersebut benar-benar menjadi milik peserta didik yang pada akhirnya mudah mereproduksi apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.
Dalam strategi expository guru cenderung memberikan informasi yang berupa teori, generalisasi, hukum atau dalil beserta bukti-bukti yang mendukung. Sedangkan, peserta didik hanya menerima saja informasi yang diberikan oleh guru. Pengajaran telah diolah oleh guru, sehingga siap disampaikan kepada peserta didik, dan peserta didik diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu.

Prosedur expository adalah sebagai berikut:
1. Preparasi, yaitu guru menyiapkan bahan selengkapnya secara sistematis dan rapi.
2. Apersepsi, yaitu guru bertanya atau memberikan uraian singkat untuk mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan diajarkan.
3. Presentasi, yaitu guru menyajikan bahan dengan cara memberikan ceramah atau menyuruh peserta didik membaca bahan yang telah dipersiapkan (diambil) dari buku teks tertentu atau ditulis oleh guru.
4. Resitasi, yaitu bertanya dan peserta didik disuruh menyatakan kembali dengan kata-kata sendiri pokok-pokok yang telah dipelajari (lisan atau tertulis).

Pendekatan Keterampilan Proses
Pendekatan ketrampilan proses merupakan pendekatan yang mengembangkan keterampilan memproseskan pemerolehan, sehingga peserta didik mampu menemukan dan mengembangkan secara bebas dan kreatif fakta dan konsep serta mengaitkannya dengan sikap dan nilai yang diperlukan. Hal ini dapat dilakukan karena pendekatan keterampilan proses dilakukan sebagaimana layaknya ilmuan menemukan pengetahuan (menggunakan langkah-langkah metode ilmiah), sehingga kevalidannya dapat diandalkan.

Keterampilan proses ini tidak saja mementingkan hasil, tetapi juga memperhatikan proses mendapatkan hasil. Dengan melaksanakan pendekatan keterampila proses berarti peserta didik terlibat secara aktif dalam kegiatan pengamatan dan menemukan sendiri konsep dan prinsip sehingga materi pelajaran mudah dikuasai oleh peserta didik. Dengan mengetahui proses diharapkan dapat merangsang daya cipta peserta didik untuk menemukan sesuatu. Pada akhirnya dapat membentuk manusia yang berkualitas, yaitu manusia yang kreatif, mampu memecahkan persoalan-persoalan aktual dalam kehidupan, dan mampu mengambil keputusan yang menjangkau masa depan.

Keterampilan proses meliputi keterampilan-keterampilan mengamati, mengukur, menarik kesimpulan, memanipulasi variabel, merumuskan hipotesis, meyusun tabel data, menyususn definisi operasional, dan melaksanakan eksperimen.
Keterampilan proses dapat lebih disederhanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Sajikan masalah-masalah aktual kepada peserta didik dalam konteks yang sesuai dengan tingkat perkembangan mereka.
2. Strukturkan pembelajaran di sekitar konsep-konsep primer.
3. Beri dorongan kepada peserta didik untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan sendiri.
4. Beri motivasi mereka untuk menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaannya sendiri.
5. Beri motivasi mereka untuk menemukan pendapat dan hargai sudut pandangnya.
6. Tantang mereka untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam, bukan sekedar menyelesaikan tugas.
7. Anjurkan peserta didik untuk bekerja dalam kelompok.
8. Dorong mereka untuk berani menerima tanggung jawab.

Belajar keterampilan proses biasanya diikuti dengan kadar keaktifan peserta didik yang tinggi. Hal ini memungkinkan belajar keterampilan proses cenderung untuk bermodus discovery.

Discovery atau penemuan adalah proses mental yang memiliki ciri peserta didik dapat mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental itu misalnya mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, membuat kesimpulan.

Inqury atau penyelidikan mengandung proses mental yang lebih tinggi, misalnya merumuskan problem, merancang eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data dan membuat kesimpulan. Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bahwa inquiry ini selaras dengan teori belajar yang ditemukan oleh Brunner. Menurut Brunner discovery learning adalah merupakan belajar dengan menemukan sendiri menggunakan prinsip belajar induktif, yaitu dari khusus ke yang umum. Sumber munculnya discovery learning ini adalah teori belajar Piaget, yaitu anak harus berperan secara aktif di dalam kelas.

Dasar pikiran penggunaan discovery learning ini adalah:
• Belajar berinteraksi dengan lingkungan secara aktif.
• Orang menciptakan sendiri suatu kerangka kogitif bagi diri sendiri.

Refleksi dari belajar discovery ini adalah bahwa belajar berkisar pada manusia sebagai pengolah aktif terhadap informasi atau masukan yang diterimanya untuk memperoleh pemahaman. Dengan discovery ini diharapkan peserta didik dapat mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.

Kelebihan penggunaan discovery antara lain:
• Mata pelajaran dapat diajarkan secara efektif dalam bentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Hal tersebut terjadi karena discovery diberikan dengan cara yang bermakna, dari konkrit ke yang abstrak, dan pengajaran ditekankan pada pengertian yang fundamental. Dalam pelaksanaannya guru hendaknya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan arti bagi mereka sendiri, dan untuk mempelajari konsep-konsep dalam bahasa mereka pahami.
• Hasil belajar lebih mengakar, mudah dan cepat ditransfer dalam kehidupan sehari-hari, dan berdaya guna untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam bernalar dengan baik.

Pendekatan discovery ini bila dilaksanakan secara murni sangat memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga perlu disiasati dengan cara Gaided discovery learning, yaitu discovery yang masih dituntun oleh guru. Misalnya guru menyajikan suatu problem dan mendampingi dalam pemecahannya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terarah.

Pendekatan discovery dapat digunakan dengan ketentuan berikut:
• Adanya problem yang akan dipecahkan, yang dinyatakan dengan pernyataan dan pertanyaan.
• Jelas tingkat/kelasnya.
• Konsep atau prinsip yang harus ditemukan peserta didik melalui kegiatan tersebut perlu ditulis dengan jelas.
• Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dalam melaksanakan kegiatan.
• Diskusi sebagai pengarahan sebelum peserta didik melaksanakan kegiatan.
• Kegiatan metode menemukan oleh peserta didik berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.
• Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional peserta didik, yang diharapkan dalam kegiatan.
• Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan peserta didik.
• Adanya catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan sebagaimana mestinya.
Sedangkan langkah-langkah inquiry adalah:
1. Menemukan masalah.
2. Mengumpulkan data untuk memperoleh kejelasan.
3. Pengumpulan data untuk mengadakan percobaan.
4. Perumusan keterangan yang diperoleh.
5. Analis proses inquiry.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa inquiry lebih cocok digunakan di kelas-kelas tinggi dengan kematangan psikologis yang cukup. Dan discovery dapat digunakan pada kelas yang lebih rendah. Itupu masih harus dipertimbangkan apakah discovery yang digunakan murni atau discovery terpimpin.

Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk membantu guru dalam mememacahkan masalah kegiatan belajar-mengajar, Syaiful Bahri (2006) membagi pendekatan menjadi sembilan jenis yaitu; pendekatan individual, pendekatan kelompok, pendekatan bervariasi, pendekatan edukatif pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, pendekatan fungsional, pendekatan keagamaan, dan pendekatan kebermaknaan.

Pendekatan Individual
Perbedaan individual peserta didik yang beragam memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi pengajaran harus mamperhatikan perbedaan peserta didik secara individual. Dengan kata lain, guru harus melakukan pendekatan individual dalam implementasi strategi belajar mengajarnya. Bila tidak dilakukan, maka strategi belajar tuntas atau mastery learning yang menuntut penguasaan penuh kepada peserta didik tidak pernah menjadi kenyataan. Dengan pendekatan individual diharapkan peserta didik memiliki tingkat penguasaan optimal.

Pada kasus-kasus tertentu yang timbul dalam kegiatan belajar-
mengajar, dapat diatasi dengan pendekatan individual, misalnya untuk menghentikan peserta didik yang suka bicara. Dalam kasus ini dapat digunakan memisahkan/ memindahkan salah satu peserta didik tersebut pada tempat yang terpisah dengan jarak yang cukup jauh. Peserta didik yang suka bicara ditempatkan pada kelompok peserta didik yang pendiam.

Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pembelajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual ini. Pemilihan metode harus didasari oleh kegunaan pendkatan individual sehingga dalam proses pembelajaran di kelas guru akan memperhatikan perserta didik secara individu. Dengan demikian kesulitan belajar peserta didik lebih mudah dipecahkan, walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan.

Pendekatan Kelompok
Dalam kegiatan belajar mengajar kadang-kadang ada juga guru yang menggunakan pendekatan lain, yakni pendekatan kelompok. Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan perlu digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial peserta didik. Hal ini disadari bahwa peserta didik adalah sejenis makhluk homo socius, yakni makhluk yang berkecenderungan untuk hidup bersama.

Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat tumbuh dan berkembang rasa sosial yang tinggi pada diri setiap peserta didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada dalam diri mereka masing-masing, sehingga terbentuk sikap kesetiakawanan sosial di kelas. Tentu saja dalam hal sikap kesetiakawanan sosial yang positif. Mereka sadar bahwa hidup ini saling ketergantungan, seperti ekosistem dalam mata rantai kehidupan semua makhluk hidup di dunia. Tidak ada makhluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri tanpa keterlibatan makhluk lain, langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, makhluk lain itu ikut ambil bagian dalam kehidupan makhluk tertentu.

Peserta didik yang dibiasakan hidup bersama dan bekerja sama dalam kelompok, akan menyadari bahwa dirinya ada kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau membantu mereka yang mempunyai kekurangan. Sebaliknya, mereka yang mempunyai kekurangan dengan rela hati mau belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan tanpa ada rasa minder. Persaingan yang positif pun dapat terjadi di kelas dalam rangka mencapai prestasi belajar yang optimal. Inilah yang diharapkan, yakni peserta didik y aktif, kreatif, dan mandiri.

Ketika guru ingin menggunakan pendekatan kelompok, guru harus mempertimbangkan bahwa hal itu tidak bertentangan dengan tujuan, sesuai dengan fasilitas belajar pendukung yang ada, metode yang akan dipakai sudah dikuasai, dan bahan yang akan diberikan kepada peserta didik cocok. Karena itu, pendekatan kelompok tidak bisa dilakukan secara sembarangan, tetapi banyak hal yang berpengaruh yang harus dipertimbangkan dalam penggunaannya.

Dalam pengelolaan kelas, terutama yang berhubungan dengan penempatan peserta didik, pendekatan kelompok sangat diperlukan. Perbedaan individual peserta didik pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis dapat dijadikan sebagai pijakan dalam menentukan pendekatan kelompok.
Beberapa pengarang mengatakan, keakraban atau kekompakan kelompok ditentukan oleh tarikan-tarikan interpersonal, atau saling suka satu sama lain. Keakraban adalah satu-satunya faktor yang menyebabkan kelompok bersatu.

Keakraban kelompok ditentukan oleh beberapa faktor, berikut.
1. Perasaan diterima atau disukai teman-teman
2. Tarikan kelompok
3. Teknik pengelompokan oleh guru
4. Partisipasi/keterlibatan dalam kelompok
5. Penerimaan tujuan kelompok dan persetujuan dalam cara mencapainya
6. Struktur dan sifat-sifat kelompok. Sedang sifat-sifat kelompok itu adalah:
a. suatu multi personalia dengan tingkatan keakraban tertentu,
b. suatu sistem interaksi,
c. suatu organisasi atau struktur,
d. merupakan suatu motif tertentu dan tujuan bersama,
e. merupakan suatu kekuatan atau standar perilaku tertentu, dan
f. pola perilaku yang dapat diobservasi yang disebut kepriba¬dian.

Pendekatan Bervariasi
Ketika guru dihadapkan kepada permasalahan peserta didik yang bermasalah, guru akan berhadapan dengan permasalahan peserta didik yang bervariasi. Setiap masalah yang dihadapi oleh peserta didik tidak selalu sama, terkadang ada perbedaan dalam belajar, misalnya dalam hal motivasi. Ada peserta didik yang memiliki motivasi rendah, dan ada yang bergairah belajar, ada pula yang kurang bergairah. Diantara mereka ada yang duduk dan berbicara (berbincang-bincang) satu sama lain tentang hal¬-hal lain yang tidak ada kaitannya dengan masalah pelajaran.

Dalam mengajar, guru yang hanya menggunakan satu metode biasanya sukar menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam waktu relatif lama. Bila terjadi perubahan suasana kelas, sulit menormalkannya kembali. Ini sebagai tanda adanya gangguan dalam proses belajar mengajar. Akibatnya, proses pembelajaran kurang efektif. Efisiensi dan efektivitas pencapaian tujuan pun jadi terganggu, karena peserta didik kurang berkonsentrasi. Penggunaan satu metode dalam proses pembelajaran dapat mengakibatkan proses pembelajaran tersebut tidak bisa berlangsung. Hal tersebut karena metode yang dipilih memiliki banyak kelemahan.Karena itu, dalam proses pembelajaran kebanyakan guru menggunakan beberapa metode dan jarang sekali menggunakan satu metode.

Dalam kegiatan belajar mengajar, guru bisa saja membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok belajar. Tetapi dalam hal ini, terkadang diperlukan juga pendapat dan kemauan peserta didik. Bagaimana keinginan mereka masing-masing. Boleh jadi dalam suatu pertemuan ada peserta didik yang suka belajar dalam kelompok, tetapi ada juga peserta didik yang senang belajar sendiri. Bila hal ini terjadi, ada dua kemungkinan yang terjadi yaitu, belajar dalam kelompok dan belajar sendiri. Akan tetapi semua masih dalam pengawasan dan bimbingan guru.

Permasalahan yang dihadapi oleh setiap peserta didik biasanya bervariasi, untuk itu pendekatan yang digunakan guru pun akan lebih tepat kalau bervariasi pula. Misalnya, peserta didik yang tidak disiplin dan peserta didik yang suka berbicara memiliki pemecahannya dan menghendaki pendekatan yang berbeda pula. Demikian juga halnya terhadap peserta didik yang membuat keributan. Guru tidak bisa menggunakan teknik pemecahan yang sama dengan teknik memecahkan permasalahan yang lain. Kalaupun ada, itu hanya pada kasus tertentu. Perbedaan dalam teknik pemecahan kasus itulah merupakan implikasi “pendekatan bervariasi. “

Pendekatan bervariasi bertolak dari konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap peserta didik dalam belajar bermacam-macam. Kasus yang biasanya muncul dalam pembelajaran itu memiliki berbagai motif sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan. Terkait dengan itu pendekatan bervariasi ini dapat menjadi alat yang dapat guru gunakan untuk kepentingan pengajaran.

Pendekatan Edukatif
Apa pun yang dilakukan guru dalam pendidikan dan pengajaran memiliki tujuan mendidik, bukan karena motif-motif lain, seperti dendam, gengsi, ingin ditakuti, dan sebagainya. Peserta didik yang telah melakukan kesalahan, yakni membuat keributan di kelas ketika guru sedang memberikan pelajaran, tidak tepat diberikan sanksi hukum dengan cara memukul badannya hingga luka atau cidera. Ini adalah tindakan sanksi hukum yang tidak bernilai pendidikan. Guru telah melakukan pendekatan yang salah. Guru telah menggunakan teori power, yakni teori kekuasaan untuk menundukkan orang lain. Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana bila menggunakan kekuasaan karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian peserta didik. Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif. Setiap tindakan, sikap, dan perbuatan yang guru lakukan hams bemilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik peserta didik agar menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, noram sosial, dan norma agama.

Cukup banyak sikap dan perbuatan yang harus guru lakukan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada peserta didik. Salah satu contoh, ketika lonceng tanda masuk kelas telah berbunyi, anak-anak jangan dibiarkan masuk dulu, tetapi suruh mereka bebaris di depan pintu masuk dan perintahkanlah ketua kelas untuk mengatur barisan. Semua anak perempuan berbaris dalam kelompok jenisnya. Demikian juga semua anak laki berbaris dalam kelompok sejenisnya. Jadi, barisan dibentuk menjadi dua dengan pandangan terarah ke pintu masuk. Di sisi pintu masuk guru berdiri sambil mengontrol bagaimana anak-anak berbaris di depan pintu masuk kelas. Semua anak dipersilakan masuk oleh ketua kelas. Mereka pun satu per satu masuk kelas. Mereka satu per satu menyalami guru sambil mencium tangan guru. Akhirnya, semua anak masuk dan pelajaran pun dimulai.

Contoh di atas menggambarkan pendekatan edukatif yang telah dilakukan oleh guru dengan menyuruh peserta didik berbaris di depan pintu masuk kelas. Guru telah meletakkan tujuan untuk membina watak peserta didik dengan pendidikan akhlak yang mulia. Guru telah membimbing peserta didik bagaimana cara memimpin kawan-kawannya dan anak-anak lainnya, membina bagaimana cara menghargai orang lain dengan cara mematuhi semua perintahnya yang bernilai kebaikan.

Guru yang hanya mengajar di kelas belum tentu dapat menjamin terbentuknya kepribadian peserta didik yang berakhlak mulia. Demikian juga halnya dengan guru yang mengambil jarak dengan peserta didik. Kerawanan hubungan guru dengan peserta didik disebabkan komunikasi antara guru dengan peserta didik yang kurang berjalan harmonis. Kerawanan hubungan ini menjadi kendala bagi guru untuk melakukan pendekatan edukatif kepada peserta didik yang bermasalah.

Guru yang jarang bergaul dengan peserta didik dan tidak mau tahu dengan masalah yang dirasakan peserta didik membuat peserta didik apatis dan tertutup terhadap apa yang dirasakannya. Sikap guru yang demikian kurang dibenarkan dalam pendidikan, karena menyebabkan peserta didik menjadi orang yang introvert (tertutup).

Kasuistis yang terjadi di sekolah biasanya tidak hanya satu, tetapi bermacam-macam jenis dan tingkat kesukaran. Hal ini menghendaki pendekatan yang tepat. Berbagai kasus yang terjadi, selain ada yang dapat didekati dengan pendekatan individual, ada yang dapat didekati dengan pendekatan kelompok, dan ada pula yang dapat didekati dengan pendekatan bervariasi. Namun yang penting untuk diingat adalah bahwa pendekatan individual harus berdampingan dengan pendekatan edukatif; pendekatan kelompok harus berdampingan dengan pendekatan edukatif, dan pendekatan bervariasi harus berdampingan dengan pendekatan edukatif. Dengan demikian, semua pendekatan yang dilakukan guru harus bernilai edukatif, dengan tujuan untuk mendidik.

Selain berbagai pendekatan yang telah disebutkan di depan, ada pendekatan-pendekatan lain. Berdasarakan kurikulum atau Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Pendidikan Agama Islam SUP Tahun 1994 disebutkan lima macam pendekatan untuk pendidikan agama Islam, yaitu pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, dan pendekatan fungsional. Kelima macam pendekatan ini diajukan, karena pendidikan agama Islam di sekolah umum dilaksanakan melalui kegiatan intra dan ekstra kurikuler yang satu sama lainnya saling menunjang dan saling melengkapi. Kelima pendekatan tersebut dijelaskan sebagai berikut:

Pendekatan Pengalaman
Experience is the -best teacher, pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman adalah guru bisu yang tidak pernah marah. Pengalaman adalah guru yang tanpa jiwa, namun selalu dicari oleh siapa pun juga. Belajar dari pengalaman adalah lebih baik daripada sekadar bicara, atau tidak pernah berbuat sama sekali. Belajar adalah kenyataan yang ditunjukkan dengan kegiatan. Karena itu, the proses of learn¬ing is doing, reacting, undergoing, experiencing. The products of learning are all achieved by the learner through his own activity. (H.C. Witherington dan W.H. Burton, 1986: 57)

Meskipun pengalaman diperlukan dan selalu dicari selama hidup, namun tidak semua pengalaman bersifat mendidik (educative ex¬perience) karena ada pengalaman yang tidak bersifat mendidik miseducative experience). Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik, bila guru tidak membawa anak ke arah tujuan pendidikan, misalnya “mendidik anak menjadi pencopet.” Karena itu, ciri-ciri pengalaman yang edukatif adalah berpusat pada suatu tujuan yang berarti bagi anak (meaningful), kontinu dengan kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan, dan menambah integritas anak.

Betapa tingginya nilai suatu pengalaman, maka disadari akan pentingnya pengalaman itu bagi perkembangan jiwa anak. Sehingga dijadikanlah pengalaman itu sebagai suatu pendekatan. Maka jadilah “pendekatan pengalaman” sebagai frase yang baku dan diakui pemakaiannya dalam pendidikan.

Untuk pendidikan agama Islam, pendekatan pengalaman yaitu suatu pendekatan yang memberikan pengalaman keagamaan kepada siswa dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini siswa diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman keagamaan, baik secara individu maipun kelompok. Sebagai contoh, ketika bulan Ramadhan tiba, semua kaum muslimin diwajibkan melaksanakan ibadah puasa. Di malam bulan Ramadhan biasanya setelah kaum muslimin selesai menunaikan Salat Tarawih dilanjutkan dengan kegitan ceramah agama sekitar tujuh menit (kultum) yang disampaikan oleh ulama atau da’ i/guru agama dengan penjadwalan yang telah ditentukan. Para peserta didik biasanya tidak ketinggalan untuk mendengarkan ceramah tersebut. Kegiatan peserta didik ini adalah untuk mendapatkan pengalaman keagamaan. Kegiatan ini untuk peserta didik tertentu biasanya merupakan tugas dari guru mereka dan kemudian mereka harus melaporkannya kepada guru dalam bentuk laporan tertulis yang sudah ditandatangani oleh penceramah.

Untuk pendekatan ini, metode mengajar yang perlu dipertimbangkan untuk digunakan, antara lain adalah metode pemberian tugas (resitasi) dan Tanya- jawab mengenai pengalaman keagamaan peserta didik.

Pendekatan Pembiasaan
Pembiasaan adalah alat pendidikan. Bagi anak yang masih kecil, pembiasaan ini sangat penting. Karena dengan pembiasaan itulah akhimya suatu aktivitas akan menjadi milik anak di kemudian hari. Pembiasaan yang baik akan membentuk suatu sosok manusia yang berkepribadian yang baik pula. Sebaliknya, pembiasaan buruk akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian buruk pula. Begitulah biasanya yang terlihat dan yang terjadi pada diri seseorang. Karenanya, di dalam kehidupan bermasyarakat, kedua kepribadian yang bertentangan ini selalu ada dan tidak jarang menimbulkan konflik di antara mereka.

Anak kecil tidak seperti orang dewasa yang dapat berpikir abstrak. Anak kecil hanya dapat berpikir konkrit. Kata-kata seperti kebijaksanaan, keadilan, dan perumpamaan adalah contoh kata benda abstrak yang sukar dipikirkan oleh mereka yang belum kuat ingatannya, ia lekas melupakan apa yang sudah dan baru terjadi. Perhatian mereka lekas dan mudah beralih kepada hal-hal yang baru, yang lain, yang disukainya. (M. Ngalim Purwanto, 1991)

Anak kecil memang belum mempunyai kewajiban, tetapi dia sudah mempunyai hak, seperti hak dipelihara, hak dilindungi, hak diberi makanan yang bergizi, dan hak mendapatkan pendidikan. Salah satu cara untuk memberikan haknya di bidang pendidikan adalah dengan cara memberikan kebiasaan yang baik dalam kehidupan mereka. Berdasarkan pembiasaan yang baik di rumah itulah anak terbiasa menurut dan taat kepada peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakat dan juga di sekolah.

Menanamkan kebiasaan yang baik memang tidak mudah dan kadang-kadang makan waktu yang lama. Tetapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sukar untuk diubah. Untuk itu hal yang penting adalah pada awal kehidupan anak, orang tua menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik saja dan jangan sekali-kali mendidik anak berdusta, tidak disiplin, suka berkelahi, dan sebagainya. Tanamkanlah kebiasaan seperti ikhlas melakukan puasa, gemar menolong orang yang kesukaran, suka membantu fakir dan miskin, gemar melakukan salat lima waktu, aktif berpartisipasi dalam kegiatan yang baik-baik, dan sebagainya. Pengaruh lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat tidak bisa dielakkan dalam hal ini.

J.B. Watson (1991) berpendapat, bahwa reaksi-reaksi kodrati yang dibawa sejak lahir itu sedikit sekali. Kebiasaan-kebiasaan itu terbentuk dalam perkembangan, karena latihan dan belajar. Terkait dengan itu, aliran Behaviorisme dari J.B. Watson dan aliran Empirisme dari John Locke lebih dominan daripada aliran Nativisme dari Shcopenhour.
Bertolak dari pendidikan kebiasaan itulah yang menyebabkan kebiasaan dijadikan sebagai pendekatan pembiasaan. Pendidikan agama Islam sangat penting dalam hal ini karena dengan pendidikan pembiasaan itulah diharapkan siswa senantiasa mengamalkan ajaran agamanya. Oleh karena itu pendekatan pembiasaan memberikan kesempatan kepada siswa untuk senantiasa mengamalkan ajaran agamanya baik secara individual maupun secara kelompok dalam kehidupan sehari-hari. Terkait dengan metode mengajar yang perlu dipertimbangkan, antara lain adalah metode latihan (drill), pelaksanaan tugas, demonstrasi dan pengalaman langsung di lapangan.

Pendekatan Emosional
Emosi adalah gejala kejiwaan yang ada di dalam diri seseorang. Emosi berhubungan dengan masalah perasaan. Seseorang yang mempunyai perasaan pasti dapat merasakan sesuatu, baik perasaan jasmaniah maupun perasaan rohaniah. Perasaan rohaniah di dalamnya ada perasaan intelektual, perasaan estetis, perasaan etis, perasaan sosial, dan perasaan harga diri. Merasa adalah aktualisasi kerja dari hati sebagai materi dalam struktur tubuh manusia, dan merasa sebagai aktivitas kejiwaan adalah suatu pernyataan jiwa yang bersifat subjektif. Hal ini dilakukan dengan mengemukakan suatu kesan senang atau tidak senang, dan umumnya tidak tergantung pada pengamatan yang dilakukan oleh indra.
menurut “rasa senang dan tidak senang”, mempunyai sifat-sifat senang dan sedih/tidak senang, kuat dan lemah, lama dan sebentar, relatif, dan tidak berdiri sendiri sebagai pernyataan jiwa.

Ditambahkan lagi oleh mereka bahwa nilai perasaan bagi manusia pada umumnya adalah dapat menyesuaikan diri dengan keadaan alam sekitar, seseorang dapat ikut mengalami, menimbulkan rasa senasib dan sekewajiban sebagai manusia (perasaan religius), dapat membedakan antara makhluk bahwa manusia merupakan makhluk yang mempunyai perasaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang tergugah perasaannya berarti emosinya tergugah. Orang yang emosional adalah orang yang cepat tergugah perasaannya. Misalnya, ketika seseorang menonton film sedih di TV karena menyentuh perasaannya tersebut menangis atau sedih. Mendengar atau melihat saudaranya seiman dan seagama menderita atau meninggal dunia akibat peperangan antarbangsa di dunia, seseorang akan marah, sedih, mertcaci-maki, atau mengancam, dan sebagainya.

Dalam kehidupan sosial keagamaan, perasaan seiman dan seagama mengikat perasaan seseorang sebagai orang yang beragama. Karena menyadari akan suatu kewajiban yang dibebankan di pundaknya oleh hukum agama, maka dengan kesadaran dia meyakini, memahami, dan menghayati ajaran agamanya itu. Demikian juga halnya dalam kehidupan seseorang yang beragama, dia menyadari adanya ajaran kitab sucinya yang menyuruh berbuat kebaikan dan menjauhi perbuatan yang munkar. Perasaan keagamaan yang demikian tumbuh dan berkembang seiring dengan bertambahnya usia seseorang, dari sejak anak hingga dewasa.

Emosi atau perasaan adalah sesuatu yang peka. Emosi akan memberi tanggapan (respons) bila ada rangsangan (stimulus) dari luar diri seseorang. Baik rangsangan verbal maupun nonverbal, mempengaruhi kadar emosi seseorang. Rangsangan verbal itu misalnya ceramah, cerita, sindiran, pujian, ejekan, berita, dialog, anjuran, perintah, dan sebagainya sedangkan rangsangan nonverbal dalam bentuk perilaku berupa sikap

Pendekatan Rasional
Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh sang Maha Pencipta, yaitu Allah swt. Manusia adalah makhluk yang sempurna diciptakan. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya yang diciptakan oleh Tuhan. Perbedaannya terletak pada akal. Manusia mempunyai akal, sedangkan makhluk lainnya seperti binatang dan sejenisnya tidak mempunyai akal. Jadi, hanya manusialah yang dapat berpikir, sedangkan makhluk lainnya tidak mampu berpikir.
Dengan kekuatan akalnya manusia dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatah yang buruk, mana kebenaran dan mana kedustaan dari sesuatu ajaran atau perbuatan. Dengan akal pula dapat membuktikan dan membenarkan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta atas segala sesuatu di dunia ini. Walaupun disadari keterbatasan akal untuk memikirkan dan memecahkan sesuatu, tetapi diyakini pula bahwa dengan akal dapat dicapai ketinggian ilmu pengetahuan dan penghasilan teknologi modern. Itulah sebabnya manusia dikatakan sebagai homo sapien, yakni makhluk yang berkecenderungan untuk berpikir.
Akal atau rasio memang mempunyai potensi untuk menaklukkan dunia. Tetapi jangan sampai mempertuhankan akal. Karena hal itu akan menggelincirkan keimanan terhadap ajaran agama. Sebaiknya, akal dijadikan alat untuk membuktikan kebenaran ajaran-ajaran agama. Dengan begitu, keyakinan terhadap agama yang dianut bertambah kokoh.

Di sekolah peserta didik dengan berbagai ilmu pengetahuan. Perkembangan berpikir anak dibimbing ke arah yang lebih baik, sesuai dengan tingkat usia anak. Perkembangan berpikir anak mulai dari yang konkret sampai yang abstrak. Untuk itu pembuktian suatu kebenaran, dalil, prinsip, atau hukum menghendaki dari hal-hal yang sangat sederhana menuju ke kompleks. Pembuktian tentang sesuatu yang berhubungan dengan masalah keagamaan harus sesuai dengan tingkat berpikir anak. Kesalahan pembuktian akan berakibat fatal bagi perkembangan j iwa anak. Usaha yang terpenting bagi guru adalah bagaimana memberikan peranan kepada akal (rasio) dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agama, termasuk mencoba memahami hikmah dan fungsi ajaran agama.

Karena keampuhan akal (rasio) itulah akhirnya dijadikan pendekatan yang disebut pendekatan rasional guna kepentingan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Untuk mendukung pemakaian pendekatan ini, maka metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, latihan, dan pemberian tugas.

Pendekatan Fungsional
Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh anak di sekolah bukanlah hanya sekadar pengisi otak, tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Anak dapat memanfaatkan ilmunya untuk kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya. Bahkan yang lebih penting adalah ilmu pengetahuan dapat membentuk kepribadian anak. Anak dapat merasakan manfaat dari ilmu yang didapatnya di sekolah. Anak mendayagunakan nilai guna dari suatu ilmu sudah fungsional di dalam diri anak.

Pelajaran agama yang diberikan di kelas bukan hanya untuk memberantas kebodohan dan pengisi kekosongan intelektual, tetapi untuk diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang demikian itulah yang pada akhirnya hendak dicapai oleh tujuan pendidikan agama di sekolah dalam berbagai jenis dan tingkatan. Karena itu, kurikulum pun disusun sesuai dengan kebutuhan siswa di masyarakat.

Pendekatan fungsional yang diterapkan di sekolah diharapkan dapat menjembatani harapan tersebut. Untuk memperlicin jalan ke arah itu, tentu saja diperlukan penggunaan metode mengajar. Dalam hal ini ada beberapa metode mengajar yang perlu dipertimbangkan, antara lain adalah metode latihan, pemberian tugas, ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi.

Pendekatan Keagamaan
Pendidikan dan pelajaran di sekolah tidak hanya memberikan satu atau dua macam mata pelajaran, tetapi terdiri dari banyak mata pelajaran. Semua mata pelajaran itu pada umumnya dapat dibagi menjadi mata pelajaran umum dan mata pelajaran agama. Berbagai pendekatan dalam pembahasan terdahulu dapat digunakan untuk kedua jenis mata pelajaran ini. Tentu saja penggunaannya tidak sembarangan, tetapi harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang dicapai. Dalam praktiknya tidak hanya digunakan satu, tetapi bisa juga penggabungan dua atau lebih pendekatan.

Khususnya untuk mata pelajaran umum, sangat berkepentingan dengan pendekatan keagamaan. Hal ini dimaksudkan agar nilai budaya ilmu itu tidak sekuler, tetapi menyatu dengan nilai agama. Dengan penerapan prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi, guru dapat menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran umum. Tentu saja guru harus menguasai ajaran-ajaran agama yang sesuai dengan mata pelajaran yang dipegang. Mata pelajaran biologi, misalnya, bukan terpisah dari masalah agama, tetapi ada hubungannya. Cukup banyak dalil agama yang membahas masalah biologi. Persoalannya sekarang terletak pada mau atau tidaknya guru mata pelajaran tersebut mencari dan menggali dalil-dalil dimaksud serta menafsirkannya guna mendukung
penggunaan pendekatan keagamaan dalam pendidikan dan pengajaran. Surah Yaasiin, ayat 34, dan ayat 36, adalah bukti nyata bahwa pelajaran biologi tidak bisa dipisahkan dari ajaran agama. Surah Yaasiin ayat 37, 38, 39, dan 40 adalah dalil-dalil nyata pendukung pendekatan keagamaan dalam mata pelajaran fisika.

Akhirnya, pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperkecil kerdilnya jiwa agama di dalam diri siswa, yang pada akhir¬nya nilai-nilai agama tidak dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diya¬kini, dipahami, dihayati, dan diamalkan selama hayat siswa di kandung badan.

Pendekatan kebermaknaan
Dalam rangka penguasaan bahasa asing guru tidak bisa mengabaikan masalah pendekatan yang harus digunakan dalam proses belajar mengajar. Salah satu sebab kegagalan penguasaan bahasa asing oleh siswa, adalah kurang tepatnya pendekatan yang digunakan oleh guru selain faktor lain seperti faktor sejarah, fasilitas, lingkungan serta kompetensi guru. Kegagalan pengajaran tersebut tentu saja tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena akan menjadi masalah bagi siswa dalam setiap jenjang pendidikan yang dimasukinya. Karenanya perlu dipecahkan. Salah satu alternatif ke arah pemecahan masalah tersebut diajukanlah pendekatan baru, yaitu pendekatan kebermaknaan. Beberapa konsep penting yang berkaitan dengan pendekatan ini diuraikan sebagai berikut.
1. Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan malalui struktur (tata bahasa dan kosa kata). Dengan demikian, struktur berperan sebagai alat pengungkapan makna (gagasan, pikiran, pendapat, dan perasaan).
2. Makna ditentukan oleh lingkup kebahasaan maupun lingkup situasi yang merupakan konsep dasar dalam pendekatan kebermaknaan pengajaran bahasa yang natural, didukung oleh pemahaman lintas budaya.
3. Makna dapat diwujudkan melalui kalimat yang berbeda, baik secara lisan maupun tertulis. Suatu kalimat dapat mempunyai makna yang berbeda tergantung pada situasi saat kalimat itu digunakan. Jadi keragaman ujaran diakui keberadaannya dalam bentuk bahasa lisan atau tertulis.
4. Belajar bahasa asing adalah belajar berkomunikasi melalui bahasa tersebut sebagai bahasa sasaran baik secara lisan maupun tertulis. Belajar berkomunikasi ini perlu didukung oleh pembelajaran unsur-¬unsur bahasa sasaran.
5. Motivasi belajar peserta didik merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan belajamya. Kadar motivasi ini banyak ditentukan oleh kadar kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran yang diikuti peserta didik. Dengan kata lain, kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran memiliki peranan yang amat penting dalam keberhasilan belajar peserta didik.
6. Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi peserta didik jika berhubungan dengan pengalaman, minat, tata nilai, dan masa depannya. Karena itu, pengalaman peserta didik dalam lingkungan, minat, tata nilai, dan masa depannya harus dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan pengajaran dan pembelajaran untuk membuat pelajaran lebih bermakna bagi siswa.
7. Dalam proses belajar-mengajar, peserta didik merupakan subjek utama, bukan sebagai objek belaka. Karena itu, ciri-ciri dan kebutuhan mereka harus dipertimbangkan dalam segala keputusan yang terkait dengan pengajaran.
8. Dalam proses belajar-mengajar guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan keterampilan berbahasanya. Akhimya, perlu diikhtisarkan bahwa ada berbagai pendekatan yang dapat dipergunakan dalam pendidikan dan pengajaran, yaitu pendekatan individual, pendekatan kelompok, pendekatan bervariasi, pendekatan edukatif pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, pendekatan fungsional, pendekatan keagamaan, dan pendekatan kebermaknaan.

3.3 Pemilihan Pendekatan yang efektif
Pemilihan pendekatan pembelajaran yang efektif perlu mempehatikan hal-hal berikut.

1. Identifikasi tujuan
Kegiatan merancang suatu program harus dimulai dari identifikasi tujuan yang menjadi tuntutan suatu pekerjaan. Karena itu perlu dibuat suatu kejelasan tujuan berdasarkan tuntutan pekerjaan itu. Selanjutnya ditentukan peranan-peranan yang harus dilaksanakan sehubungan dengan tujuan tersebut tersebut. Hal itulah yang menjadi titik tolak untuk menentukan pendekatan pembelajaran yang sesuai.

2. Analisis tujuan
Tujuan-tujuan yang telah ditetapkan secara dimensional dijabarkan menjadi seperangkat tujuan-tujuan yang lebih spesifik. Setiap dimensi tujuan dijabarkan sedemikian rupa sehingga mencerminkan segala sesuatu yang harus dicapai. Hal ini akan lebih memudahkan dalam pemilihan pendekatan pembelajaran yang lebih sesuai.

3. Penetapan tujuan
Langkah ini sejalan dengan langkah yang telah dilaksanakan sebelumnya. Setiap tujuan hendaknya didasarkan pada kriteria kognitif, afektif,dan psikomoto.Tentu saja kompetensi yang diharapkan itu harus relevan dengan tuntutan kerja yang telah ditentukan. Dengan penetapan tujuan maka selanjutnya akan diikuti untuk penetapan pendekatan

4. Spesifikasi pengetahuan, keterampilan, dan sikap
Agar tidak terjadi tumpang tindih pendekatan antara satu materi dengan yang lain maka. Setiap kompetensi yang ditetapkan dirinci menjadi pengetahuan apa, sikap-sikap apa, dan keterampilan-¬keterampilan apa yang perlu dimiliki oleh setiap peserta didik. Spesifikasi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap juga terkait dengan tingkat usia peserta didik.

5. Identifikasi kebutuhan pendidikan dan latihan
Ada perbedaan pendekatan antara pembelajaran yang bersifat teoritis dan prakti. Untuk itu diperlukan langkah analisis kebutuhan pendidikan dan latihan, artinya jenis-jenis pendidikan dan atau latihan-latihan yang sewajarnya disediakan dalam rangka mengembangkan kemampuan-kemampuan yang telah ditetapkan, seperti kegiatan teoritis dan praktis.

7. Evaluasi
Kriteria penentuan jenis evaluasi sebagai indikator keberhasilan suatu program, akan menentukan penggunaan pendekatan dalam pembelajaran. Karena keberhasilan tersebut akan terwujud secara efektif apabila ada ketepatan dalam penentuan pendekatan.

8. Organisasi sumber-sumber belajar
Langkah pengorganisasian sumber belajar juga akan menentukan pengambilan pendekatan dalam pembelajaran. Hal ini karena materi pelajaran yang akan disampaikan sangat erat hubungannya dengan pencapaian tujuan yang telah ditentukan.

Rangkuman
 Pendekatan adalah titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran.
 Berdasarkan subjek dan objek, pendekatan pembelajaran dibedakan menjadi dua, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang berpust pada siswa (student-centred approaches).
 Berdasarkan cara perolehan bahan pembelajaran, pendekatan secara garis besar dibedakan menjadi dua yaitu pendekatan konsep dan pendekatan proses.
 Pendekatan dapat dibedakan menjadi sembilan jenis yaitu; pendekatan individual, pendekatan kelompok, pendekatan bervariasi, pendekatan edukatif pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, pendekatan fungsional, pendekatan keagamaan, dan pendekatan kebermaknaan.
 Aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan pendekatan pembelajaran yang efektif adalah dengan mempertimbangkan aspek-aspek berikut ini: Identifikasi tujuan, . Analisis tujuan, Penetapan tujuan, Spesifikasi pengetahuan, keterampilan, dan sikap, Identifikasi kebutuhan pendidikan dan latihan, Evaluasi, Organisasi sumber-sumber belajar.

07/01/2009 Posted by | SBM | 10 Komentar

Pendekatan, Strategi, Kaedah dan Teknik?

“Kaedah pengajaran yang saya gunakan adalah betul… tapi hasil yang saya harapkan masih tidak tercapai.”
“Kalau begitu, adakah teknik-teknik yang kau gunakan itu betul juga”
“Teknik-teknik yang saya pakai tidak mungkin salah lagi”
“Oh ya! Strategi pengajaran macam mana pula…”
“Apa itu stra…”

PENDAHULUAN
Bagi seseorang yang baru menjejak kakinya dalam arena pengajaran malah ramai guru yang berpengalaman, konsep pendekatan, strategi, kaedah serta teknik pengajaran amat sukar dibeza-bezakan. Apa lagi terdapat orang yang menganggap bahawa semua istilah tersebut adalah sama dengan cara pengajaran sahaja. Ini adalah suatu perkara yang harus diberi perhatian yang serius kerana konsep-konsep tersebut adalah merupakan asas untuk membentuk sesuatu rancangan pelajaran harian yang sempurna oleh seseorang guru. Penjelasan tentang perhubungan di antara keempat-empat konsep adalah amat berguna bagi guru-guru pelatih yang menjalankan latihan mengajar supaya ilmu pedagogi yang dipelajari itu dapat diamalkan dalam bilik darjah.
Rencana ringkas ini bertujuan memberi sedikit sebanyak penjelasan tentang pendekatan, strategi, kaedah serta teknik pengajaran serta hubungan di antara satu sama lain. Walau pun difikirkan bahawa konsep-konsep itu merupakan asas dalam perbincangan pedagogi tetapi kebanyakan pengarang buku pedagogi masih samar-samar tentang konsep-konsep tersebut.
Untuk menjelaskan konsep-konsep tersebut, perbincangan akan bermula dengan kaedah pengajaran dan diikuti oleh teknik pengajaran. Selepas kita telah jelas mengenai kedua-kedua konsep tersebut maka kita akan meneliti konsep strategi serta pendekatan pengajaran. Akhir sekali kita akan mengulas perhubungan kesemua konsep tersebut dalam situasi pengajaran.
KAEDAH DAN TEKNIK
Sebelum kita membincangkan konsep kaedah pengajaran adalah eloknya kita memikirkan secara umum pengertian kaedah. Kaedah mengikut Kamus Dewan bermaksud cara atau aturan (membuat sesuatu), hukum atau prinsip. Justeru itu, sesuatu kaedah terdiri daripada sesuatu siri tindakan yang sistematik dan tersusun untuk mencapai sesuatu matlamat.
Lantaran itu, jika kita ingin memasak ikan maka kita perlu fikirkan apakah kaedah-kaedah memasak yang kita boleh gunakan. Sudah tentunya, kaedah-kaedah yang biasa kita gunakan ialah seperti menggoreng, merebus, memanggang atau mengukus. Begitu juga kalau kita diminta memberi kaedah-kaedah menyepak bola kita akan menyatakan kaedah-kaedahnya adalah seperti sepakan sering, sepakan tinggi, sepakan grounder, sepakan banana serta bermacam-macam lagi. Satu lagi contoh ialah jika kita ingin peri memburu harimau di dalam hutan, kaedah-kaedah yang kita boleh gunakan adalah seperti menembak dengan senapang, memanah, menjerat, menikam atau menombak.
Andaikan kita ingin memasak ikan dengan kaedah menggoreng. Maka sudah tentu kita perlu memiliki kemahiran-kemahiran yang khusus dalam menjayakan kaedah tersebut. Kemahiran khusus tersebut adalah dimaksudkan sebagai teknik. Sebab itu, bolehlah kita menyatakan bahawa semua kaedah mempunyai teknik-teknik tertentu yang disusun dengan sistematik. Umpamanya untuk menggoreng ikan, kita mesti memanaskan kuali terlebih dahulu sebelum mencurahkan minyak ke dalamnya. Untuk mengelakkan ikan melekat pada kuali, suatu lagi teknik ialah memasukkan sedikit garam ke dalam minyak yang telah panas di kuali. Api juga harus dikawal supaya tidak terlalu panas. Kesemua tindakan yang spesifik ini adalah disebut sebagai teknik menggoreng. Teknik-teknik untuk kaedah memasak ikan secara memanggang pula adalah amat berbeza.
Untuk menjelaskan lagi hubungan kaedah dengan teknik, kita boleh ambil contoh memburu harimau. Kalau kita hendak memburu harimau dengan kaedah memanah maka teknik-tekniknya adalah seperti meneliti arah angin, kemahiran memegang ibu panah, gerakan tangan untuk membuat sasaran, kedudukan kaki serta tindakan menarik nafas.
Dalam zama atom ini, sudah tentu kaedah memburu harimau dengan kaedah memanah tidak begitu berkesan. Jadi walau pun seorang pemanah itu betul-betul mahir dan telah menguasai segala teknik memanah dengan seratus perstus, maka kemungkinan besar ia dimakan oleh harimau. Itu sebabnya kaedah memburu yang dipilih adalah kurang sesuai walaupun teknik-teknik kaedah itu adalah baik.
Oleh itu, untuk menjayakan sesuatu yang kita ingini kaedah yang dipilih mestilah disertai dengan teknik-teknik yang betul. Memilih kaedah yang tepat tanpa menguasai teknik-teknik yang baik menurut kaedah tersebut tidak akan menjaminkan tercapainya matlamat kaedah yang diingini.
KAEDAH DAN TEKNIK PENGAJARAN
Kaedah pengajaran adalah terdiri daripada beberapa langkah atau kegiatan yang mempunyai urutan yang tertentu. Pengajaran yang dimaksudkan ialah segala aktiviti seseorang untuk menghasilkan perubahan tindkah laku yang agak kekal dalam diri seseorang yang lain. Lantaran itu, kaedah-kaedah pengajaran adalah seperti cercerita, perbincangan, bermain, latih tubi, main peranan, menyelesaikan masalah, brain storming, perbahasan, kuiz, lakonan, projek, soalan atau Socratik dan lain-lain lagi.
Teknik-teknik pengajaran adalah kemahiran atau perkara-perkara khusus yang terdapat dalam sesuatu kaedah. Jika seseorang guru itu tidak dapat menguasai teknik-teknik yang ada apda sesuatu kaedah maka kemungkinan besar matlamat kaedah itu akan tidak berhasil.
Misalnya katakanlah seorang ingin menggunakan kaedah bercerita untuk mengajar sesuatu tajuk pelajaran. Teknik-teknik bercerita yang dimaksudkan ialah kawalan nada suara, penggunaan alatan yang berkenaan, kemahiran mengekalkan minat murid, gerrakan tangan “facial expression”, serta kedudukan murid-murid semasa aktiviti bercerita itu berlangsung.
Kaedah mengajar seperti syarahan juga mempunyai teknik-teknik yang tersendiri. Teknik-teknik syarahan adalah seperti mempelbagaikan nada sera kadar percakapan, bahasa yang sesuai, penggunaan OHP, garis kasar kuliah yang disampaikan, menyoal soalan-soalan yang mencabar pemikiran pelajra dan lain-lain lagi.
Satu lagi contoh kaedah mengajar ialah kaedah soalan. Jika kita ingin mengajar dengan kaedah soalanmaka kita pelu menggunakan teknik-teknik menyoal yang baik seperti soalan-soalan yang ditanya haruslah jelas dan tepat, pelajar-pelajar diberi masa untuk memikirkan jawapan soalan sebelum sesiapa dipanggil untuk menjawab, layanan yang munasabah bagi semua tindak balas daripada murid, suara haruslah jelas, mempelbagaikan soalan-soalan yang ditanya dan sebagainya.
Jadi jika kita hendak mengajar seseorang berenang kita haruslah memilih kaedah-kaedah yang sesuai. Kaedah seperti perbincangan serta syarahan sudah tertentu tidak berkesan. Kaedah pengajaran seperti demostrasi adalah lebih sesuai. Meskipun demikian, untuk memastikan bahawa demostrasi itu berjaya kita mesti menguasai teknik-teknik demostrasi.
Sebagai kesimpulan, bila kita sebut teknik pengajarankita mesti bertanya teknik pengajaran untuk kaedah apa. Setiap kaedah pengajaran mesti mempunyai teknik-teknik yang tertentu.
PENDEKATAN
Pendekatan biasanya dimaksudkan dengan arah atau hala yang kita ambil untuk menuju sesuatu sasaran. Dalam pengertianyang lebih luas pendekatan juga diertikan sebagi “to come near to in any sense” atau jalan yang diambil untuk melakukan sesuatu. Pendekatan-pendekatan yang dipilih biasanya berasaskan teori-teori atau generalisasi yang tertentu.
Sebagai contoh, pendekatan-pendekatan memasak ikan yang kita boleh gunakan ialah seperti pendekatan Timur atau pendekatan Barat. Bagi pendekatan Barat, kita dapati keutamaan ditegaskan pada nilai kalori, nilai makanan dari segi zat makanan dan ciri-ciri makanan seimbang. Bagi pendekatan Timur pula, keutamaan adalah diberi kepada rasa seperti rupa makanan tetapi tidak begitu mementingkan nilai kalori atau ciri-ciri makanan seimbangan. Pendekatan Barat ini adalah amat berkaitan dengan perkembangan sains dan teknologi pemakanan yang mempunyai prinsip-prinsip makanan serta hubungannya dengan kesihatan.
Suatu lagi contoh tentang pendekatan melakukan sesuatu ialah pendekatan seseorang dalam belajar bermain tenis. Dia boleh menggunakan pendekatan profesional atau pendekatan konvensyenal (tradisional atau acquired) atau biasa. Bagi pendekatan profesional, semua kaedah bermain dipelajari berdasarkan prinsip-prinsip sains yang sangat bersistematik. Manakala bagi pendekatan konvensyenal, kaedah-kaedah bermain dipelajari berdasarkan pengalaman, perbincangan informal serta dengan pemerhatian.
PENDEKATAN PENGAJARAN
Pendekatan pengajaran merupakan haluan atau aspek yang digunakan untuk mendekati atau memulakan proses pengajaran sesuatu isi pelajaran, sesuatu mata pelajaran atau beberapa mata pelajaran atau sesuatu kemahiran. Pendekatan-pendekatan wujud berdasarkan aspek-aspek pengajaran yang kita ingin utamakan atau memberi perhatian yang lebih utama. Sebab itu ada kalanya pendekatan meyerupai klasifikasi pengajaran di mana jenis-jenis pendekatan wujud berdasarkan kriteria-kriteria yang kita gunakan untuk meneliti proses pengajaran. Pendekatan-pendekatan pengajaran boleh digolongkan mengikut cara pengelolaan murid, cara-cra fakta disampaikan, keaktifan pengajaran atau pelajar, pengajaran bahasa dan pengajaran mata pelajaran lain.
Pendekatan pengajaran yang berasaskan pengelolaan murid adalah seperti pendekatan individu, pendekatan pasangan, pendekatan kumpulan, pendekatan kelas, pendekatan kelas bercantum dan sebagainya. Pendekatan yang dimaksudkan di sini tidak menyentuh tentang kaedah yang boleh digunakan dalam pengajaran. Guru adalah bebas memilih kaedah yang difikirkan wajar bagi setiap pendekatan tersebut.
Berdasarkan kriteria bagaimana isi pelajaran disampaikan maka terdapatlah pendekatan induktif, pendekatan deduktif, pendekatan eklektik, pendekatan dari segi isi mudah ke isi susah dan pendekatan dari isi maujud ke isi abstrak.
Pendekatn yang memberi tumpuan kepada pengajar disebut sebagai pendekatan memusatkan guru manakala pengajran yang mementingkan murid disebut sebagai pendekatan memusatkan murid. Kaedah-kaedah yang seiring dengan pendekatan yang memusatkan guru adalah seperti kaedah syarahan dan kaedah demonstrasi manakala kaedah-kaedah pengajaran yang selari dengan pendekatan pengajaran yang memusatkan murid adalah seperti kaedah menyelesaikan masalah, kaedah bermain dan kaedah perbincangan kumpulan.
Terdapat juga pendekatan-pendekatan yang digunakan untuk mengajar beberapa mata pelajaran mengikut tema-tema pelajaran. Contohnya pengajaran dalam Alam dan Manusia menggunakan perdekatan interdisiplin atau pendekatan bersepadu. Ini adalah kerana beberapa mata pelajaran seperti Sejarah, Geografi dan Kesihatan digabungkan menjadi suatu mata pelajaran yang baru. Pendekatan ini adalah sama dengan pengajaran Sains Panduan di mana Biologi, Fizik serta Kimia digabungkan dan diajar mengikut tema-tema tertentu.
Akhirnya dalam pengajaran bahasa terdapat pendekatan-pendekatan seperti pendekatan komunikasi, pendekatan situasi, pendekatan psiko-linguistik, pendekatan terjemahan dan pendekatan nahu. Pendekatan-pendekatan ini timbul berasaskan teori-teori pembelajaran yang berbentuk mentalis atau behavouris. Contohnya jika kita mengikut teori mentalis atau kognitif maka pendekatan yang digunakan adlah seperti pendekatan terjemahan dan pendekatan nahu. Bagi teori behavouris atau S-R maka pendekatan pengajaran yang digunakan adalah pendekatan komunikasi dan situasi.
Rumusan yang boleh dibuat ialah pendekatan merupakan sesuatu yang agak umum dan ia seolah-olahnya menunjukkan sesuatu haluan tetapi tidak menerangkan bagaimana caranya untuk menuju haluan itu. Cara-cara yang digunakan untuk menuju arah yang ditetapkan oleh sesuatu pendekatan pengajaran adalah kaedah-kaedah pengajaran.
STRATEGI
Strategi boleh diibaratkan sebagai suatu susunan pendekatan-pendekatan dan kaedah-kaedah untuk mencapai sesuatu matlamat dengan menggunakan tenaga, masa serta kemudahan secara optimum. Seseorang panglima tentera harus memikirkan strateginya untuk mempertahankan kedudukannya atau menyerang kubu musuhnya.
Sebagai contoh, katakanlah perang tercetus di antara Malaysia dan Singapura. Seorang panglima Malaysia yang dipertanggungjawabkan untuk menyerang dan menawan Singapura terpaksa merancang strategi peperangannya. Dia harus memikirkan apakah pendekatan-pendekatan dan kaedah-kaedah untuk menyerang pihak musuh. Adakah kita menggunakan tentera udara atau tentera laut? Adakah kita mengebom sasaran-sasaran pertahanannya terlebih dahulu sebelu menghantar angkatan tentera darat diikuti oleh angkatan tentera laut. Susunan serta urutan kaedah yang dirancangkan mengikut kekangan logistik adalah disebut sebagai strategi peperangan.
Andaikan kita menggunakan contoh memasak ikan semula. Kalau kita ingin memasak seekor ikan yang agak besar (5 kilogram) kita perlu merancangkan strategi memasak supaya kita dapat kepuasan dan faedah yang paling banyak dengan menggunakan masa, tenaga erta sember yang paling minimum. Di sini kita perlu merancangkan pendekatan-pendekatan dan kaedah-kaedah yang boleh digunakan untuk memasak ikan tersebut. Umpamanya adalah kita menggoreng kepalanya, merebus ekornya, memanggang tulang diikuti dengan mendidihnya dalam sup, menjerut telurnya dan sebagainya. Kaedah manakah yang kita buat terlebih dahulu? Pendekatan timur atau barat yang patut diikuti untuk memasak? Rancangan yang lengkap ini boleh disebut sebagai strategi memasak.
Bagaimana dengan strategi memburu harimau pula? Kita telah membincangkan kaedah-kaedah yang boleh digunakan untuk memburu harimau. Jadi bagaimanakah rancangan kita untuk menggabungkan kaedah-kaedah tersebut seupaya harimau itu dapat diburu dengan mudah. Adakah kita memagar kawasan yang didiami oleh harimau dan menahan jerat pada kawasan-kawasan tertentu. Apabila harimau telah terjerat, barulah kita menembaknya. Atau perlukah kita menghadkan makanan harimau untuk melapar dan meletihkannya kemudian membunuhnya dengan lebing.
Untuk memenangi sesuatu pertanding badminton, seseorang pemain bukan sahaja perlu menguasai segala kaedah untuk menghantar bola tangkis kepada lawannya tetapi a juga perlu merancangkan strategi permainan itu. Strategi permainan adalah seperti bermain secara defence pada pemainan pertama untuk meletihkan musuh dan kemudiannya menyerang dengan secara smash yang kencang pada pemainan kedua. Adakah dia sengaja bermain sebanyak 3 atau 2 pemainan sahaja. Jika pemain itu menguasai semua kaedah menghantar bole tangkis dengan sempurna tetapi strategi permainannya tidak sesuai mana ia akan ditawan. Oleh sebab itu, ada kalanya pasukan yang mahir dalam semua kaedah permainan dikalahkan sebab strategi permainan tidak sesuai.
STRATEGI PENGAJARAN
Untuk mencapai objektif-objektif pengajaran, seseorang guru biasanya menggunakan gabungan berapa pendekatan serta kaedah mengajar tertentu. Rancangan gabungan pendekatan dan kaedah serta turutan pendekatan dan kaedah itu dilaksanakan merupakan strategi pengajaran.
Sebagai contoh, untuk mengajar sebuah kelas berenang, strategi pengajaran harus mempertimbangkan pendekatan yang digunakan serta kaedah-kaedah yang perlu digunakan. Adakah kita gunakan pendekatan individu atau pendekatan kumpulan kecil? Bila kita menerangkan cara-cara berenang kepada pelajar patutkah kita gunakan pendekatan induktif atau pendekatan deduktif? Di samping itu, apakah kaedah pengajaran yang boleh kita gunakan. Antara kaedah syarahan, kaedah demostrasi dan kaedah latih tubi yang manakah kita gunakan terlebih dahulu? Bagaimanakah kombinasinya? Ringkasnya rancangan yang lengkap yang mengandungi pendekatan dan kaedah adalah strategi mengajar yang dimaksudkan.
Peranan strategi pengajaran adalah lebih penting lagi jika kita mengajar pelajar-pelajar yang berbeza dari segi kebolehan, pencapaian, kecenderungan serta minat yang berbeza-beza. Kita perlu rancangkan pendekatan dan kaedah yang digunakan untuk mengajar kumpulan-kumpulan yang berbeza-beza itu. Contohnya, dalam bilik darjah KBSR yang biasanya terdiri daripada kumpulan lemah, kumpulan serdahana serta kumpulang cergas. Guru terpaksa memikirkan strategi pengajaran yang terdiri daripada pelbagai kaedah mengajar untuk memenuhi keperluan semua kumpulan. Di samping itu, setiap bilik darjah mempunyai halangan serta rintangan-rintangan yang tersendiri seperti keadaan fizikal, kemudahan bilik darjah, nilai, norma serta latar belakang sekolah dan murid. Lantaran itu, seseorang guru bukan sahaja mesti menguasi berbagai-bagai kaedah mengajar tetapi yang lebih penting lagi ialah bagaimana mengintegrasikan serta menyusun kaedah-kaedah itu untuk membentuk strategi pengajaran yang paling berkesan dalam pengajarannya.
Kita biasanya mendengar pendapat bahawa tiada terdapat mana-mana kaedah yang paling baik sekali. Ini amat benar kerana kaedah-kaedah mengajar mestilah diatur untuk membentuk strategi pengajaran mengikut keadaan di mana proses pengajaran itu berlaku. Jelasnya sesuatu kaedah pengajaran tidak menjaminkan pencapaian matlamat pengaajaran. Yang lebih penting adalah interaksi kaedah itu dengan kaedah-kaedah lain.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang boleh dibuat setakat ini ialah sesuatu strategi pengajaran menggabungkan pelbagai kaedah dan pendekatan pengajaran untuk mencapai kesan pengajaran yang optimum sekali. Strategi yang baik akan menggunakan masa, tenaga serta kos yang paling sedikit tetapi menghasilkan kesan pengajaran pembelajaran yang paling maksimum

Rujukan
Arbak Othman (1985) “Mengajar Tatabahasa”, Dewan Bahasa & Pustaka, Kuala Lumpur.
Ee, Ah Meng (1987) “Pedagogi Untuk Bakal Guru”, Fajar Bakti, Petaling Jaya.
Kamarudin Husin (1988) “Pedagogi Bahasa”, Longman (M), Kuala Lumpur.
Kaye, Barrington (1970) “Participation In Learning”, George Allen & Unwin, London.
Kemp, Jennold E (1987) “Corak Rancangan Pengajaran – Suatu Rancangan Untuk menggubal Unit Dan Kursus” Dewan Bahasa & Pustaka, Kuala Lumpur.
Raminah Sabran & Rahim Syam (1985) “Kaedah Pengajaran Bahasa Malaysia”, Fajar Bakti, Petaling Jaya.
Tang, Chee Yee (1988) “Pandua Latihan Mengajar”, Fajar Bakti, Petaling Jaya.
Thompson, Brenda (1974) “Learning To Teach”, Sidgwick & Jackson, London.
Wragg, E.C. (1974) “Teaching Teaching”, Douglas David & Charles Ltd., West Vancouver.
http://www.phreneticus.com/leftbrain/lessons/inquiry/inquiry.htm: 6/10/2005 12:47 PM

07/01/2009 Posted by | SBM | 1 Komentar

TEORI-TEORI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN

Pada handout ini akan dibahas mengenai:
 Prinsip-prinsip Belajar dalam Pencapaian Tujuan Pembelajaran.
 Klasifikasi Teori Belajar dalam Pembelajaran dan Penerapannya dalam Pembelajaran.

2.1 Prinsip-prinsip Belajar dalam Pencapaian Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran pada hakikatnya akan membentuk manusia yang mampu bersaing di dunia global, sehingga sebagai guru sejak di sekolah tingkat dasar sudah harus memiliki kemampuan untuk mempersiapkan peserta didiknya ke arah sana. Tentu saja dengan cara yang disesuaikan dengan usianya.
Sumber daya manusia yang mampu bersaing memasuki dunia global adalah manusia yang benar-benar unggul. Manusia unggul adalah manusia yang mempunyai kemampuan antara lain: (1) berpikir kreatif dan produktif, (2) mampu mengambil keputusan, (3) mampu memecahkan masalah, (4) belajar bagaimana belajar, (5) kolaborasi, dan (6) mampu mengelola/mengendalikan diri. Untuk membentuk sumber daya manusia yang demikian guru benar-benar harus mempertimbangkan strategi pembelajaran yang dilakukan.
Pada prinsipnya strategi pembelajaran ditentukan berdasarkan atas teori-teori belajar yang sudah ditemukan. Dalam paket 2 ini akan dibahas hubungan teori belajar dengan penentuan strategi pembelajaran.
Penentuan strategi bembelajaran merupakan penerapan dari azas-azas pembelajaran. Azas pembelajaran ditentukan berdasarkan prinsip-prinsip belajar. Atau dapat dikatakan bahwa azas pembelajaran merupakan implikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru. Prinsip-prinsip belajar adalah:
1. Perhatian dan motivasi.
2. Keaktifan.
3. Keterlibatan langsung/ berpengalaman.
4. Pengulangan.
5. Tantangan.
6. Balikan dan penguatan.
7. Perbedaan Individual.

2.2 Klasifikasi Teori Belajar dalam Pembelajaran
Untuk mendasari strategi pembelajaran maka perlu dibahas teori-teori belajar yang akan mendasari penerapan strategi pembelajaran. Secara garis besar teori belajar menurut Gredler (1991) dapat dibedakan menjadi 3 yaitu: (1) Conditioning theory, (2) Connection theories, (3) Insightful Learning.
Conditioning theory
Conditioning theory adalah suatu teori yang menyatakan bahwa belajar merupakan suatu respons dari stimulus tertentu. Teori ini dikemukakan oleh Pavlov, dan dikembangkan oleh Watson, Guthreic, dan Skinner.
Pavlov mengembangkan teori belajar ini dengan disebut juga conditioning reflex, sebab yang dipelajari adalah gerakan gerakan otot sederhana yang secara otomatis bereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. Reflex juga dapat ditimbulkan oleh perangsang lain yang mulanya tidak menimbulkan reflex.
Secara rinci hasil dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
• Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
• Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
Selanjutnya Watson mengembangkan teori belajar dengan berpola pada penemuan Pavlov, dia berpendapat bahwa belajar adalah merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respons bersyarat melalui stimulus pengganti. Guthreic memperluas penemuan Watson yang dikenal dengan the law of association, yaitu suatu kombinasi stimuli yang telah menyertai suatu gerakan, cenderung menimbulkan gerakan apabila kombinasi stimuli itu muncul kembali. Maksudnya jika sesuatu dalam situasi tertentu, maka nantinya dalam situasi yang sama akan mengerjakan hal yang serupa lagi.
Skinner mengembangkan teori belajar ini dengan teori operant conditioning, yaitu tingkah laku bukanlah sekedar respons terhadap stimulus, tetapi suatu tindakan yang disengaja atau operant. Teori ini terlihat bahwa di dalam belajar diperlukan adanya pengulangan-pengulangan suatu stimulus untuk mendapatkan respons.
Secara rinci hasil dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, di antaranya :
• Law of operant conditioning yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
• Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.
Connection theories
Connection theories merupakan teori belajar yang menyatakan bahwa belajar merupakan pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respons. Teori belajar ini dikembangkan oleh Thorndhike yang juga dinamakan trial and error learning. Hal ini disebabkan karena proses belajar dapat melalui coba-coba dalam rangka memilih respons yang tepat bagi stimulus tertentu. Hukum belajarnya dinamakan Law effect, yaitu:
• Segala tingkah laku yang menyenangkan akan diingat dan mudah dipelajar.
• Segala tingkah laku yang tidak menyenangkan akan diingat dan mudah dipelajari.
• Aplikasi dari teori ini dengan adanya pemberian ganjaran, hukuman, dan lain sebagainya.
Secara rinci hasil eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, di antaranya:
• Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.
• Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
• Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.
Insightful Learning
Insightful learning adalah belajar menurut pandangan kognitif. Disebut juga Gestalt dan Field Teories. Teori mengutamakan pengertian dalam proses belajar mengajar, jadi bukan ulangan seperti halnya kedua teori terdahulu. Dengan demikian menurut teori ini belajar merupakan perubahan kognitif (pemahaman). Belajar bukan hanya ulangan tetapi perubahan struktur pengertian.
Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
• Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu objek atau peristiwa.
• Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
• Perilaku bertujuan (purposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
• Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan tempat ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
Transfer dalam belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Jadi menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya
Selanjutnya teori Gestalt dikembangkan oleh Piaget. Menurut teori Piaget teori belajar merupakan:
• Proses belajar dari konkret ke yang abstrak.
• Pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan mental baru yang sebelumnya.
• Perubahan umur mempengaruhi kemampuan belajar individu.

Teori belajar Brunner merupakan pengembangan dari teoeri Gestaltl insightful learning. Dalam teori Brunner dikatakan untuk mendapatkan pemahaman belajar dengan menemukan sendiri, sehingga menggunakan pendekatan discovery learning. Pendekatan ini, pemahaman pesrta didik didapatkan secara induktif.
Dalam pendekatan ini mengandung makna bahwa refleksi belajar berkisar pada manusia sebagai pengolah terhadap informasi (masukan) yang diterimanya untuk memperoleh pemahaman. Dasar pikiran teori ini adalah:
• Belajar berinteraksi dengan lingkungan secara aktif.
• Orang menciptakan sendiri suatu kerangka kognitif bagi diri sendiri.

Namun demikian teori ini juga ada kelemahannya, yaitu memerlukan banyak biaya, waktu lama, dan kepemilikan teori dasar mutlak diperlukan. Untuk mengurangi kekurangan tersebut ada pengembangan teori insightful learning ini dengan tetap membangun kerangka kognitif sendiri tidak dengan induktif tetapi deduktif. Jadi peserta tidak harus mengalami sendiri.
Teori terakhir ini dikembangkan oleh Ausebel dengan nama teori bermakna. Belajar bermakna tidak mutlak harus menemukan sendiri, yang penting peserta dapat membentuk kerangka kognitif sendiri, yang selanjutnya dikembangkan dengan peta konsep.
Dalam penerapannya sebenarnya guru dapat saja memadukan beberapa teori belajar di atas. Hanya saja biasanya seorang guru akan mempunyai kecenderungan ke arah mana mereka akan bertindak. Pada saat ini yang banyak dikembangkan adalah teori yang ke tiga, karena diharapkan siswa lebih banyak memahami atau mengerti dibandingkan hanya menghafal saja tanpa pemahaman. Karena dengan menghafal saja konsep-konsep materi akan segera dilupakan lagi.
Berdasarkan teori-teori di atas muncul adanya prinsip-prinsip belajar yang sebenarnya merupakan penggabungan dari beberapa teori belajar. Prinsip belajar itu antara lain berupa perhatian dan motivasi, kreativitas, keterlibatan langsung/pengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, dan perbedaan individu.
Hubungan prinsip belajar, teori belajar dan implikasi asas pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.3: Hubungan Prinsip Belajar, Teori Belajar, dan Implikasi Asas Pembelajaran.
Prinsip Belajar Dasar Teori Belajar Implikasi Asas Pembelajaran
1. Perhatian dan Motivasi.
BF Skiner
Operant Conditioning
Perhatian:
1. Menunjukkan tujuan.
2. Metode bervariasi.
3. Media yang sesuai.
4. Gaya bahasa tidak monoton.
5. Pertanyaan membimbing.
Motivasi:
1. Bahan ajar sesuai minat siswa.
2. Metode dan teknik yang disukai siswa.
3. Memberitahu hasil pekerjaan siswa.
4. Penguatan.
2. Keaktifan Teori kognitif, Teori Thorndike (Hukum belajar law of exercise) 1. Multi metode dan media.
2. Tugas individu dan kelompok.
3. Eksperimen dan memecahkan masalah.
4. Mengerti isi bacaan.
5. Tanya jawab dan diskusi.
3. Keterlibatan langsung/Berpengalaman. John Dewey (Learning by doing) Piaget (konkret – abstrak).
Brunner (Discovery Learning) 1. Pembelajaran individual dan kelompok.
2. Eksperimen.
3. Media.
4. Psikomotorik.
5. Mencari informasi sendiri.
6. Merangkum.
7. Guru sebagai menejer dan pengelola.
4. Pengulangan Teori psikologi daya. Connection Theories (Thorndike-Low of exercise) 6 Merancang pengulangan.
7 Mengembangkan soal-soal.
8 Petunjuk kegiatan.
9 Alat evaluasi.
10 Bervariasi.
5 Tantangan Conditioning Theory. 1 Eksperimen individual dan kelompok kecil.
2 Tugas pemecahan masalah.
3 Menyimpulkan isi.
4 Menyajikan pelajaran dengan tidak detail.
5 Menemukan konsep, fakta, prinsip, generalisasi.
6 Diskusi.
6. Balikan dan penguatan Teori Medan (Field Theory)
Kurt Lewin.
1 Memantapkan jawaban siswa yang benar.
2 Membenarkan jawaban siswa yang salah.
3 Mengoreksi PR.
4 Catatan-catatan pada tugas.
5 Membagi lembar jawaban siswa.
6 Peringkat.
7 Isyarat.
8 Hadiah.
7. Perbedaan Individual.
BF Skiner (Operant Conditioning)
Thorndike (Low of Effect). 1. Multi metode dan media.
2. Mengenali karakteristik siswa.
3. Pengayaan dan remidiasi

2.3 Paradigm Pembelajaran
Teori belajar-teori belajar yang telah ditemukan akan digunakan dalam konteks pembelajaran. Kecenderungan penggunaan teori-teori belajar akan menghasilkan pandangan atau paradigma pembelajaran yang digunakan. Paradigma pembelajaran dapat dibedakan secara garis besar menjadi 2, yaitu: (1) paradigma behaviorisme dan (2) paradigma konstruktivisme.
Paradigma Behaviorisme
Pandangan behaviorisme sebenarnya merupakan penerapan dari teori belajar Conditioning theory dan Connection theories. Sebagai ilustrasi dapat dicontohkan dari operant conditioning yang dikemukakan oleh B.F. Skinner. Operant conditioning ialah sebuah perilaku yang memberikan pengaruh pada lingkungannya serta menimbulkan akibat. Sebaliknya, perilaku tersebut dipengaruhi oleh akibat itu. Dan tindakan yang utama ialah pengadaan reinforcement/penguatan. Kemungkinan terulangnya sebuah perilaku akan lebih besar, jikalau akibat-akibat yang ditimbulkannya memberikan reinforcement/penguatan.
Penjelasan di atas dapat menggambarkan bahwa menurut operant conditioning ada tiga komponen belajar, yaitu: (1) stimulus diskriptif, (2) respons peserta didik, dan (3) konsekuensi perkuatan operan pembelajaran. Asumsi yang membentuk landasan untuk conditioning theoris ini adalah: (1) Belajar adalah tingkah laku, (2) Perubahan tingkah laku secara fungsional terkait dengan adanya perubahan kejadian di lapangan, (3) Hubungan antara tingkah laku dan lingkungan berpengaruh jika sifat tingkah laku dan kondisi-kondisi dapat terkontrol secara seksama, (4) Data dari studi eksperimental tingkah laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat diterima sebagai penyebab terjadinya tingkah laku, (5) Tingkah laku organisme secara individual merupakan sumber data yang cocok, (6) Dinamika interaksi organisme dengan lingkungan adalah sama untuk semua jenis makhluk hidup.
Penerapan teori tersebut dalam pembelajaran dari pandangan behaviorisme adalah teknik pembelajaran berprogram yang mengatur bahan pelajaran menjadi bagian-bagian kecil (operasional) dan memberikan penguatan pada jawaban-jawabannya (reinforcement). Sehingga behavior modification merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengubah perilaku seseorang sesuai dengan yang diinginkan, melalui reinforcement berulang sampai perilakunya berubah. Dari sini mengandung pengertian bahwa peserta didik diharapkan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan.
Penjelasan di atas mengartikan bahwa belajar menurut pandangan behaviorisme sebagai perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar, sehingga tujuan pembelajaran ditekankan pada penambahan pengetahuan. Pengetahuan itu telah terstruktur dengan rapi, objektif, pasti, dan tetap, sehingga orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial, atau dapat dikatakan ciri dari pembelajaran behavioristik adalah adanya keteraturan.
Ketatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Peserta didik adalah objek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan. Kontrol belajar dipegang oleh sistem yang berada di luar diri peserta didik. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikatagorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikatagorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.

Pembelajaran cenderung mengikuti urutan kurikulum secara ketat. Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks dengan penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil.

Kecenderungan pandangan ini adalah belajar merupakan perilaku yang nampak. Menurut pandangan ini perilaku yang nampak sangat sesuai dalam pembelajaran karena pengaruh teknologi yang serba rasional dan realistik serta praktis, maka manusia saat ini cenderung untuk lebih operasional, lebih menyukai yang nampak (observable), yang dapat diukur (measurable), penampilan/kinerja (performance), dan kemasan yang rapai (appearance).
Permasalahan yang timbul dari pandangan behaviorisme ini adalah adanya hal-hal yang mungkin tidak tercakup dalam perilaku manusia yang tampak. Selain itu juga perlu dipertimbangkan adalah apakah belajar bisa terjadi dalam lingkungan yang penuh aturan? Tampaknya memang tidak mudah untuk menerapkan pandangan ini, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang diharapkan saat ini, yaitu berpikir kreatif, dapat mengambil keputusan, dapat memecahkan masalah, belajar bagaimana belajar, kolaborasi, dan pengelolaan diri. Karena menurut pandangan ini rasanya tidak mungkin pembelajaran tanpa adanya ketaatan atau keteraturan.
Apapun kelemahan dari pandangan ini, ternyata dewasa ini banyak teori-teori belajar dalam lingkup pandangan behaviorisme yang diterapkan pada prinsip-prinsip belajar yang diharapkan. Hal ini menandakan bahwa pandangan ini juga banyak diterapkan dewasa ini, walau implikasinya banyak dipadukan dengan pandangan konstruktivisme. Yang perlu dilakukan adalah harus dilihat dan dipilih secara jeli mana yang dapat ditangani dengan menerapkan pandangan behaviorisme ini dalam pembelajaran.
Paradigma Konstruktivisme
Dasar paradigm konstruktivisme adalah memandang bahwa pengetahuan bersifat non objective, temporer, selalu berubah, dan tidak menentu, sehingga ciri konstruktivisme adalah ketidakteraturan. Maksudnya kebebasan menjadi unsur yang esensial dalam lingkungan belajar, karena hanya di alam yang penuh kebebasan peserta didik dapat mengungkapkan makna yang berbeda dari hasil interpretasinya terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata.
Menurut pandangan konstruktivisme, belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Sedangkan mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Dengan demikian maka pesrta didik akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.
Implikasi pembelajaran dari pernyataan di atas adalah guru diharapkan dapat mendorong munculnya diskusi dalam rangka memberi kesempatan siswa untuk mengekplorasi pikiran atau aktivitas dan keterampilan berpikir kritis. Selain itu guru diharapkan dapat mengkaitkan informasi baru ke pengalaman pribadi atau pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik.
Peserta didik adalah subjek yang harus mampu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar, dan kontrol belajar dipegang oleh peserta didik. Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai.
Implikasi dalam pembelajaran dari pernyataan di atas adalah diharapkan guru menyediakan pilihan tugas, sehingga tidak semua peserta didik harus mengerjakan tugas yang sama. Dan juga beri kebebasan peserta didik untuk memilih bagaimana cara mengevaluasi dirinya untuk mengukur kemampuan yang telah dikuasainya.
Tujuan pembelajaran ditekankan pada belajar bagaimana cara belajar, menciptakan pemahaman baru yang sesuai aktivitas kreatif-produktif dalam konteks nyata, yang mendorong peserta didik untuk berpikir ulang dan mendemonstrasikan. Dengan demikian maka pembelajaran dan evaluasi menekankan pada proses.
Pembelajaran dalam kontek konstruktivisme lebih diarahkan untuk melayani pertanyaan atau pandangan peserta didik. Penyajian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan ke bagian. Dan evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata.
Implikasi dari pernyataan di atas adalah hendaknya guru memberikan kesempatan untuk menerapkan cara berpikir dan belajar yang paling cocok dengan dirinya. Beri kesempatan peserta didik untuk melakukan evaluasi diri tentang cara berpikirnya, tentang cara belajarnya, tentang mengapa ia menyukai tugas tertentu.
Secara ringkas penataan lingkungan belajar berdasarkan pandangan konstruktivisme menurut Wilson (1996) dalam Diptiadi (1997) adalah:
• Menyediakan pengalaman belajar melalui proses pembentukan pengetahuan. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara peserta didik diajak ikut menentukan topik/sub topik bidang studi yang mereka pelajari, metode pengajaran, dan strategi pemecahan masalah.
• Menyediakan pengalaman belajar yang kaya akan berbagai alternatif. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan peninjauan kembali masalah dari berbagai segi.
• Mengintegrasikan proses belajar mengajar dengan konteks yang nyata dan relevan. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan mengupayakan peserta didik dapat menerapkan pengetahuan yang didapat dalam kehidupan sehari-hari.
• Memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menentukan isi dan arah belajar mereka. Dalam hal ini guru berperan sebagai konsultan.
• Mengintegrasi belajar dengan pengalaman bersosialisasi. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara peningkatan interaksi antara guru-peserta didik dan peserta didik-peserta didik.
• Meningkatkan penggunaan berbagai media di samping komunikasi tertulis dan lisan.
• Meningkatkan kesadaran peserta didik dalam proses pembentukan pengetahuan mereka. Dalam hal ini diharapkan peserta didik mampu menjelaskan mengapa/bagaimana mereka memecahkan masalah dengan cara tertentu.

Dengan penataan lingkungan belajar seperti disebutkan di atas diharapkan mendapatkan hasil aplikasi pandangan konstruktivisme dalam pembelajaran, antara lain:
• Peserta didik memiliki sikap dan persepsi positif terhadap belajar.
• Peserta didik mengintegrasikan pengetahuan baru dengan struktur pengetahuan yang dimilikinya, misalnya mengklasifikasikan, membandingkan, menganalisis, membuat induksi–deduksi, memecahkan masalah.
• Peserta didik memiliki kebiasaan mental yang produktif, untuk menjadi pemikir yang mandiri, kritis, dan kreatif.

Secara ringkas, manusia yang diharapkan dalam belajar konstruktivisme adalah berpikir kreatif, berani mengambil keputusan, dapat memecahkan masalah, belajar bagaimana belajar, kolaborasi, dan pengelolaan diri. Bila dihubungkan dengan teori belajar terdahulu, yang sesuai dengan pandangan konstruktivistik ini adalah kelompok teori belajar Insightful Learning, karena harapan hasilnya adalah sama. Menurut pandangan konstruktivisme, belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Sedangkan mengajar adalah menata lingkungan agar peserta didik termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Dengan demikian maka peserta didik akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.
Implikasi pembelajaran dari pernyataan di atas adalah guru diharapkan dapat mendorong munculnya diskusi dalam rangka memberi kesempatan peserta didik untuk meluapkan pikiran atau aktivitas dan keterampilan berpikir kritis. Selain itu guru diharapkan dapat mengkaitkan informasi baru ke pengalaman pribadi atau pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik.
Konstruktivisme memandang bahwa pengetahuan adalah non objective, bersifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu, sehingga ciri konstruktivisme adalah ketidakteraturan. Maksudnya kebebasan menjadi unsur yang esensial dalam lingkungan belajar, karena hanya di alam yang penuh kebebasan si belajar dapat mengungkapkan makna yang berbeda dari hasil interpretasinya terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata.
Peserta didik adalah subjek yang harus mampu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar, dan kontrol belajar dipegang oleh peserta didik. Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai.
Teori Belajar Kognitif menurut Piaget
Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by which a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the evidence of their senses to make it fit” sedangkan akomodasi adalah “the difference made to one’s mind or concepts by the process of assimilation”

Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
• Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
• Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
• Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
• Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
• Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Robert Gagne (1985) bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan umpan balik.
Rangkuman
• Azas pembelajaran ditentukan berdasarkan prinsip-prinsip belajar. Atau dapat dikatakan bahwa azas pembelajaran merupakan implikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru
• Secara garis besar teori belajar menurut Gredler (1991) dapat dibedakan menjadi 3 yaitu: (1) Conditioning theory, (2) Connection theories, (3) Insightful Learning.
• Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi.
• Menurut Robert Gagne (1985) bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.
• Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan.
• Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu
• Menurut pandangan konstruktivistik, belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Sedangkan mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan.

07/01/2009 Posted by | SBM | 10 Komentar

KONSEP DASAR STRATEGI PEMBELAJARAN

Pada handout ini dibahas mengenai hal-hal sebagai berikut:
1 Pengertian Strategi Pembelajaran
2 Model, Pendekatan, Strategi, Metode dan Teknik pembelajaran
3 Klasifikasi Strategi Pembelajaran
4 Komponen Strategi Pembelajaran
5 Strategi Pembelajaran Efektif

1.1 Pengertian Strategi Pembelajaran
Pada mulanya istilah strategi digunakan dalam dunia militer dan diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Seorang yang berperang dalam mengatur strategi, untuk memenangkan peperangan sebelum melakukan suatu tindakan, ia akan menimbang bagaimana kekuatan pasukan yang dimilikinya baik dilihat dari kuantitas maupun kual¬itasnya. Setelah semuanya diketahui, baru kemudian ia akan menyusun tindakan yang harus dilakukan, baik tentang siasat peperangan yang harus dilakukan, taktik dan teknik peperangan, maupun waktu yang tepat untuk melakukan suatu serangan. Dengan demikian dalam menyusun strategi perlu memperhitungkan berbagai faktor, baik dari dalam maupun dari luar.
Dari ilustrasi tersebut dapat disimpulkan, bahwa strategi digunakan untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular education goal. Jadi, strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Menurut Sanjaya Wina (2007) istilah strategi, sebagaimana banyak istilah lainnya, dipakai dalam banyak konteks dengan makna yang tidak selalu sama. Di dalam konteks belajar-mengajar, strategi berarti pola umum perbuatan guru-peserta didik di dalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar. Sifat umum pola tersebut berarti bahwa macam dan urutan perbuatan yang dimaksud tampak dipergunakan dan/atau dipercayakan guru-peserta didik di dalam bermacam-macam peristiwa belajar. Dengan demikian maka konsep strategi dalam hal ini menunjuk pada karakteristik abstrak rentetan perbuatan guru-peserta didik di dalam peristiwa belajar-mengajar. Implisit di balik karakteristik abstrak itu adalah rasional yang membedakan strategi yang satu dari strategi yang lain secara fundamental. istilah lain yang juga dipergunakan untuk maksud ini adalah model-model mengajar. Sedangkan rentetan perbuatan guru-peserta didik dalam suatu peristiwa belajar-mengajar aktual tertentu, dinamakan prosedur instruksional.
Di bawah ini akan diuraikan beberapa definisi tentang strategi pembelajaran.
• Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
• Kozma (dalam Sanjaya 2007) secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.
• Gerlach dan Ely menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. Selanjutnya dijabarkan oleh mereka bahwa strategi pembelajaran dimaksud meliputi; sifat, lingkup, dan urutan kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik.
• Dick dan Carey (1990 dalam Sanjaya, 2007) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang/atau digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Menurut mereka strategi pembelajaran bukan hanya terbatas pada prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.
• Cropper di dalam Wiryawan dan Noorhadi (1998) mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. la menegaskan bahwa setiap tingkah laku yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya harus dapat dipraktikkan.
Ada dua hal yang patut dicermati dari pengertian-pengertian di atas. Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Dengan demikian, penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Oleh sebab itu, sebelum menentukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi.
Strategi pembelajaran berbeda dengan desain instruksional karena strategi pembelajaran berkenaan dengan kemungkinan variasi pola dalam arti macam dan urutan umum per¬buatan belajar-mengajar yang secara prinsip berbeda antara yang satu dengan yang lain, sedangkan desain instruksional menunjuk kepada cara-cara merencanakan sesuatu sistem lingkungan belajar tertentu, setelah ditetapkan untuk menggunakan satu atau lebih strategi pembelajaran tertentu. Kalau disejajarkan dengan pembuatan rumah, pembicaraan tentang (bermacam-macam) strategi pembelajaran adalah ibarat melacak pelbagai kemungkinan macam rumah yang akan dibangun (joglo, rumah gadang, villa, bale gede, rumah gedung modern, dan sebagainya yang masing-masing menampilkan kesan dan pesan unik), sedang¬kan desain instruksional adalah penetapan cetak biru rumah yang akan dibangun itu serta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan langkah-langkah konstruksinya maupun kriteria penyelesaian dari tahap ke tahap sampai dengan penyelesaian akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibuat.
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa untuk dapat melaksanakan tugas secara profesional, seorang guru memerlukan wawasan yang mantap tentang kemungkinan¬-kemungkinan strategi pembelajaran sesuai dengan tujuan-tujuan belajar, baik dalam arti efek instruksional maupun efek pengiring, yang ingin dicapai berdasarkan rumusan tujuan pendidikan yang utuh, di samping penguasaan teknis di dalam mendesain sistem lingkungan belajar-mengajar dan mengimplementasikan secara efektif apa yang telah direncanakan di dalam desain instruksional.
Ceramah, diskusi, bermain peran, LCD, video-tape, karya wisata, penggunaan nara sumber, dan lain-lainnya merupakan metode, teknik dan alat yang menjadi bagian dari perangkat alat dan cara di dalam pelaksanaan sesuatu strategi pembelajaran. Juga harus dicatat bahwa dalam peristiwa pembelajaran, seringkali harus dipergunakan lebih dari satu stra¬tegi, karena tujuan-tujuan yang akan dicapai juga biasanya kait-mengait satu dengan yang lain dalam rangka usaha pencapaian tujuan yang lebih umum.
Agar tidak bias dalam mendefinisikan strategi pembelajaran, dibutuhkan pemahaman terhadap pengertian-pengertian lain yang mirip dengan strategi pembelajaran yang selalu digunakan seperti model, pendekatan, strategi, metode dan teknik. Dalam referensi kependidikan sering disandingkan antara pengertian-pengertian tersebut dengan maksud yang serupa, namun dalam bahan perkuliahan ini akan diuraikan perbedaan antara model, pendekatan, strategi, metode dan teknik pembelajaran,

1.2 Model,Pendekatan, Strategi,metode dan teknik pembelajaran
Arends (1997) menyatakan “The term teaching model refers to a particular approach to instruction that includes its goals, syntax, environment, and management ystem.” Istilah model pengajaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungan, dan sistem pengelolaannya, sehingga model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada pendekatan, strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain (Joyce, 1992 ). Selanjutnya Joyce menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarah kepada desain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

Soekamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000) mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah: “Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.” Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak bahwa model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengajar.

Model pembelajaran mempunvai empat ciri khusus yang membedakan dengan strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ialah:
1. rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya;
2. landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana peserta didik belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai);
3. tingkah laku pembelajaran yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil; dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai (Kardi dan Nur, 2000 ).

Adapun istilah pendekatan (approach) dalam pembelajaran menurut Sanjaya (2007) memiliki kemiripan dengan strategi. Sebenarnya pendekatan berbeda baik dengan strategi dan metode. Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh karenanya, strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber dari pendekatan tertentu. Roy Killen (1998) misal¬nya mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centred approaches). Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran lang¬sung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif.

Menurut Fathurrahman Pupuh (2007) metode secara harfiah berarti cara. Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, metode didefinisikan sebagai cara-cara menyajikan bahan pelajara pada peserta didik untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam pembelajaran adalah keterampilan memilih motode. Pemilihan metode terkait langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga pencapaian tujuan pengajaran diperoleh secara optimal. Oleh karena itu, salah satu hal yang sangat mendasar untuk dipahami guru adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen bagi keberhasilan kegiatan belajar-mengajar sama pentingnya dengan komponen-komponen lain dalam keseluruhan komponen pendidikan.

Makin tepat metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar akan semakin efektif kegiatan pembelajaran. Tentunya ada juga faktor-faktor lain yang harus diperhatikan, seperti: faktor guru, anak, situasi (lingkungan belajar), media, dan lain-lain.

Selain strategi, metode, dan pendekatan pembelajaran, terdapat istilah lain yang kadang-kadang sulit dibedakan, yaitu teknik dan taktik mengajar. Teknik dan taktik mengajar merupakan pen¬jabaran dari metode pembelajaran. Teknik adalah cara yang dilakukan ¬orang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode, yaitu cara yang harus dilakukan agar metode yang dilakukan berjalan efektif dan efisien. Dengan demikian, sebelum seseorang melakukan proses ceramah sebaiknya memperhatikan kondisi dan situasi. Misalnya, berceramah pada siang hari dengan jumlah peserta didik yang banyak tentu saja akan berbeda jika dilakukan pada pagi hari dengan jumlah peserta didik yang sedikit.
Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. Dengan demikian, taktik sifatnya lebih individual. Misalnya ada dua orang yang sama-sama menggunkan metode ceramah dalam situasi yang sama maka bisa dipastian mereka akan melakukannya secara berbeda .
Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru akan tergantung pada pendekatan yang digunakan; sedangkan bagaimana menjalankan strategi itu dapat diterapkan berbagai metode pembelajaran. Dalam upaya menjalankan metode pembelajaran, guru dapat menentukan teknik yang dianggap relevan dengan metode, dan penggunaan teknik itu setiap guru memiliki taktik yang mungkin berbeda antara guru yang satu dengan yang lain.
1.3 Klasifikasi Strategi Pembelajaran
Strategi dapat diklasifikasikan menjadi 4, yaitu: strategi pembelajaran langsung (direct instruction), tak langsung (indirect instruction), interaktif, mandiri, melalui pengalaman (experimental).

Strategi pembelajaran langsung
Strategi pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang banyak diarahkan oleh guru. Strategi ini efektif untuk menentukan informasi atau membangun keterampilan tahap demi tahap. Pembelajaran langsung biasanya bersifat deduktif.

Kelebihan strategi ini adalah mudah untuk direncanakan dan digunakan, sedangkan kelemahan utamanya dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan, proses-proses, dan sikap yang diperlukan untuk pemikiran kritis dan hubungan interpersonal serta belajar kelompok. Agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan pemikiran kritis, strategi pembelajaran langsung perlu dikombinasikan dengan strategi pembelajaran yang lain.

Strategi pembelajaran tak langsung
Strategi pembelajaran tak langsung sering disebut inkuiri, induktif, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan penemuan. Berlawanan dengan strategi pembelajaran langsung, pembelajaran tak langsung umumnya berpusat pada peserta didik, meskipun dua strategi tersebut dapat saling melengkapi. Peranan guru bergeser dari seorang penceramah menjadi fasilitator. Guru mengelola lingkungan belajar dan memberikan kesempatan peserta didik untuk terlibat.

Kelebihan dari strategi ini antara lain: (1) mendorong ketertarikan dan keingintahuan peserta didik, (2) menciptakan alternatif dan menyelesaikan masalah, (3) mendorong kreativitas dan pengembangan keterampilan interpersonal dan kemampuan yang
lain, (4) pemahaman yang lebih baik, (5) mengekspresikan pemahaman. Sedangkan kekurangan dari pembelajaran ini adalah memerlukan waktu panjang, outcome sulit diprediksi. Strategi pembelajaran ini juga tidak cocok apabila peserta didik perlu mengingat materi dengan cepat.

Strategi pembelajaran interaktif
Pembelajaran interaktif menekankan pada diskusi dan sharing di antara peserta didik. Diskusi dan sharing memberi kesempatan peserta didik untuk bereaksi terhadap gagasan, pengalaman, pendekatan dan pengetahuan guru atau temannya dan untuk membangun cara alternatif untuk berfikir dan merasakan.
Kelebihan strategi ini antara lain: (1) peserta didik dapat belajar dari temannya dan guru untuk membangun keterampilan sosial dan kemampuan-kemampuan, (2) mengorganisasikan pemikiran dan membangun argumen yang rasional. Strategi pembelajaran interaktif memungkinkan untuk menjangkau kelompokkelompok
dan metode-metode interaktif. Kekurangan dari strategi ini sangat bergantung pada kecakapan guru dalam menyusun dan mengembangkan dinamika kelompok.

Strategi pembelajaran empirik (experiential)
Pembelajaran empirik berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik, dan berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan formulasi
perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis
dalam pembelajaran empirik yang efektif.

Kelebihan dari startegi ini antara lain: (1) meningkatkan partisipasi peserta didik, (2) meningkatkan sifat kritis peserta didik, (3) meningkatkan analisis peserta didik, dapat menerapkan pembelajaran pada situasi yang lain. Sedangkan kekurangan dari strategi ini adalah penekanan hanya pada proses bukan pada hasil, keamanan siswa, biaya yang mahal, dan memerlukan waktu yang panjang.

Strategi pembelajaran mandiri
Belajar mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk
membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri. Fokusnya
adalah pada perencanaan belajar mandiri oleh peserta didik dengan bantuan guru. Belajar
mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok
kecil.

Kelebihan dari pembelajaran ini adalah membentuk peserta didik yang mandiri dan bertanggunggjawab. Sedangkan kekurangannya adalah peserta MI belum dewasa, sehingga sulit menggunakan pembelajaran mandiri.

Karakteristik dan cara penggunaan macam-macam strategi di atas, akan dibahas tuntas pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Strategi yang akan dibahas telah dimodivikasi sesuai yang banyak diperlukan dalam pembelajaran di Mi, yaitu: pada paket 5, dibahas tentang strategi pembelajaran langsung (direct instruction), paket 6, strategi pembelajaran tak langsung (indirect instruction) yang diberi judul dengan startegi pembelajaran inkuiri , paket 7, strategi pembelajaran berbasis masalah (SPBM), paket 8, strategi pembelajaran kooperatf (Cooperative Learning), paket 8, strategi pembelajaran aktif, dan paket 9, strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berfikir
1.4 Komponen Strategi Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu sistem instruksional yang mengacu pada seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Selaku suatu sistem, pembelajaran meliputi suatu komponen, antara lain tujuan, bahan, peserta didik, guru, metode, situasi, dan evaluasi. Agar tujuan itu tercapai, semua komponen yang ada harus diorganisasikan sehingga antarsesama komponen terjadi kerja sama. Oleh karena itu, guru tidak boleh hanya memperhatikan komponen-komponen tertentu saja misalnya metode, bahan, dan evaluasi saja, tetapi ia harus mempertimbangkan komponen secara keseluruhan.

Guru
Guru adalah pelaku pembelajaran, sehingga dalam hal ini guru merupakan faktor yang terpenting. Di tangan gurulah sebenarnya letak keberhasilan pembelajaran. Komponen guru tidak dapat dimanipulasi atau direkayasa oleh komponen lain, dan sebaliknya guru mampu memanipulasi atau merekayasa komponen lain menjadi bervariasi. Sedangkan komponen lain tidak dapat mengubah guru menjadi bervariasi. Tujuan rekayasa pembelajaran oleh guru adalah membentuk lingkungan peserta didik supaya sesuai dengan lingkungan yang diharapkan dari proses belajar peserta didik, yang pada akhirnya peserta didik memperoleh suatu hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu, dalam merekayasa pembelajaran, guru harus berdasarkan kurikulum yang berlaku.

Peserta didik
Peserta didik merupakan komponen yang melakukan kegiatan belajar untuk mengembangkan potensi kemampuan menjadi nyata untuk mencapai tujuan belajar. Komponen peserta ini dapat dimodifikasi oleh guru.
Tujuan
Tujuan merupakan dasar yang dijadikan landasan untuk menentukan strategi, materi, media dan evaluasi pembelajaran. Untuk itu, dalam strategi pembelajaran, penentuan tujuan merupakan komponen yang pertama kali harus dipilih oleh seorang guru, karena tujuan pembelajran merupakan target yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran
Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berupa materi yang tersusun secara sistematis dan dinamis sesuai dengan arah tujuan dan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan tuntutan masyarakat. Menurut Suharsimi (1990) bahan ajar merupakan komponen inti yang terdapat dalam kegiatan pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran
Agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal, maka dalam menentukan strategi pembelajaran perlu dirumuskan komponen kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan standar proses pembelajaran.
Metode
Metode adalah satu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Penentuan metode yang akan digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran akan sangat menentukan berhasil atau tidaknya pembelajaran yang berlangsung.

Alat
Alat yang dipergunakan dalam pembelajran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran alat memiliki fungsi sebagai pelengkap untuk mencapai tujuan. Alat dapat dibedakan menjadi dua, yaitu alat verbal dan alat bantu nonverbal. Alat verbal dapat berupa suruhan, perintah, larangan dan lain-lain, sedangkan yang nonverbal dapat berupa globe, peta, papan tulis slide dan lain-lain.
Sumber Pembelajaran
Sumber pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat atau rujukan di mana bahan pembelajaran bisa diperoleh. Sehingga sumber belajar dapat berasal dari masyarakat, lingkungan, dan kebudayaannya, misalnya, manusia, buku, media masa, lingkungan, museum, dan lain-lain.
Evaluasi
Komponen evaluasi merupakan komponen yang berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau belum, juga bisa berfungsi sebagai sebagai umpan balik untuk perbaikan strategi yang telah ditetapkan. Kedua fungsi evaluasi tersebut merupakan evaluasi sebagai fungsi sumatif dan formatif.
Situasi atau Lingkungan
Lingkungan sangat mempengaruhi guru dalam menentukan strategi pembelajaran. Lingkungan yang dimaksud adalah situasi dan keadaan fisik (misalnya iklim, madrasah, letak madrasah, dan lain sebagainya), dan hubungan antar insani, misalnya dengan teman, dan peserta didik dengan orang lain. Contoh keadaan ini misalnya menurut isi materinya seharusnya pembelajaran menggunakan media masyarakat untuk pembelajaran, karena kondisi masyarakat sedang rawan, maka diubah dengan menggunakan metode lain, misalnya membuat kliping.

Komponen-komponen strategi pembelajaran tersebut akan mempengaruhi jalannya pembelajaran, untuk itu semua komponen strategi pembelajaran merupakan faktor yang berpengaruh terhadap strategi pembelajaran. Untuk lebih mempermudah menganalisis faktor yang berpengaruh terhadap strategi pembelajaran, komponen strategi pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: peserta didik sebagai raw input, entering behavior peserta didik, dan instrumental input atau sasaran.

Peserta didik sebagai raw input.
Strategi pembelajaran digunakan dalam rangka membelajarkan peserta didik. Untuk itu dalam pembelajaran seorang guru harus memperhatikan siapa yang dihadapi. Peserta didik pada tingkat sekolah yang sama cenderung memiliki umur yang sama, sehingga perkembangan intelektual pada umumnya adalah sama. Dipandang dari kesamaan ini, maka seorang guru dapat menggunakan metode atau teknik yang sama dalam membelajarkan peserta didik. Namun demikian di samping persamaan tersebut, peserta masih mempunyai perbedaan-perbedaan walaupun pada umur yang relatif sama.

Perbedaan peserta didik tersebut dari segi fisiologisnya adalah pendengaran, penglihatan, kondisi fisik, juga perbedaan dari segi psikologisnya. Perbedaan segi psikologis tersebut antara lain adalah IQ, bakat, motivasi, minat/perhatian, kematangan, kesiapan, dan masih banyak lagi. Kondisi-kondisi tersebut sangat mempengaruhi peserta didik dalam belajar. Untuk itu, dalam menentukan strategi pembelajaran harus diperhatikan hal-hal di atas.

Pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam menghadapi heterogenitas peserta dalam kelas yang sama adalah seorang guru disarankan untuk menggunakan multimetode dan multimedia. Hal ini disebabkan masing-masing metode dan media mempunyai kelebihan dan kekurangan, dan dimungkinkan masing-masing peserta didik akan mempunyai kecenderungan tertarik pada metode dan media tertentu.

Entering Behavior Peserta Didik
Seorang pendidik untuk dapat menentukan strategi pembelajaran yang sesuai terlebih dahulu harus mengetahui perubahan perilaku, baik secara material-subtansial, struktural-fungsional, maupun secara behavior peserta didik. Misalnya, apakah tingkat prestasi yang dicapai peserta didik itu merupakan hasil kegiatan belajar mengajar yang bersangkutan?. Untuk kepastiannya seharusnya guru mengetahui tentang karakteristik perilaku peserta didik saat mereka mau masuk sekolah dan saat kegiatan belajar mengajar dilangsungkan, tingkat dan jenis karakteristik perilaku peserta didik yang dimilikinya ketika mau mengikuti kegiatan belajar mengajar. Itulah yang dimaksudkan dengan entering behavior peserta didik.
Entering bahavior akan dapat diidentifikasi dengan cara sebagai berikut:
• Secara tradisional, telah lazim para guru mulai dengan pertanyaan mengenai bahan yang pernah diberikan sebelum menyajikan bahan baru.
• Secara inovatif, guru tertentu di berbagai lembaga pendidikan yang memiliki atau mampu mengembangkan instrumen pengukuran prestasi belajar dengan memenuhi syarat, mengadakan pretes sebelum mereka mulai mengikuti program belajar mengajar.

Pola-pola Belajar Peserta Didik
Mengetahui pola belajar peserta didik adalah modal bagai seorang guru untuk menentukan strategi pembelajaran. Robert M. Gagne (1979) membedakan pola-pola belajar peserta didik ke dalam delapan tipe, yang tiap tipe merupakan prasyarat bagi lainnya yang lebih tinggi hierarkinya. Delapan tipe belajar dimaksud adalah: 1) signal , (belajar isyarat), 2) stimulus-response learning (belajar stimu¬pons), 3) chaining (rantai atau rangkaian), 4) verbal association,(asosiasi verbal), 5) discrimination learning (belajar diskriminasi), 6) concept learning (belajar konsep), 7) rule learning (belajar aturan), problem solving (memecahkan masalah).
Kedelapan tipe belajar sebagaimana disebutkan di atas akan dijelaskan satu per satu secara singkat dan jelas sebagai berikut.
Belajar Tipe 1: Signal Learning (Belajar Isyarat)
Belajar tipe ini merupakan tahap yang paling dasar. Jadi, tidak ada persyaratan, namun merupakan hierarki yang harus dilalui untuk menuju jenjang belajar yang paling tinggi. Signal learning dapat diartikan sebagai penguasaan pola-pola dasar perilaku bersifat involuntary ( tidak sengaja dan tidak disadari tujuannya). Dalam tipe ini terlibat aspek reaksi emosional di dalamnya. Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah diberikannya stimulus (signal) secara serempak dan perangsang-perangsang tertentu secara berulang kali. Signal learning. Ini mirip dengan conditioning menurut Pavlov yang timbul setelah sejumlah pengalaman tertentu. Respon yang timbul bersifat umum dan emosional selain timbulnya dengan tidak sengaja dan tidak dapat dikuasai. Contoh: Aba-aba “Siap!” merupakan suatu signal atau isyarat mengambil sikap tertentu. Melihat wajah ibu menimbulkan rasa senang. Wajah ibu di sini merupakan isyarat yang menimbulkan perasaan senang itu. Melihat ular yang besar menimbulkan rasa takut. Melihat ular merupakan isyarat yang menimbulkan perasaan tertentu.
Belajar Tipe 2: Stimulus-Respons Learning (Belajar Stimulus¬-respon)
Bila tipe di atas digolongkan dalam jenis classical condition, maka belajar 2 ini termasuk ke dalam instrumental conditioning atau belajar dengan trial and error (mencoba-coba). Proses belajar bahasa pada anak-anak merupakan proses yang serupa dengan ini. Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah faktor inforcement. Waktu antara stimulus pertama dan berikutnya amat penting. Makin singkat jarak S-R dengan S-R berikutnya, semakin kuat reinforce¬ment.
Contoh: Anjing dapat diajar “memberi’ salam”.dengan mengangkat kaki depannya bila kita katakan “Kasih tangan! ” atau “Salam “. Ucapan `kasih tangan’ merupakan stimulus yang menimbulkan respons `memberi’ salam’ oleh anjing itu.
Belajar Tipe 3: Chaining (Rantai atau Rangkaian)
Chaining adalah belajar menghubungkan satuan ikatan S-R (Stimu¬lus-Respons) yang satu dengan yang lain. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya tipe belajar ini antara lain, secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlah satuan pola S-R, baik psikomotorik maupun verbal. Selain itu prinsip kesinambungan, pengulangan, dan reinforce¬ment tetap penting bagi berlangsungnya proses chaining.
Contoh: Dalam bahasa kita banyak contoh chaining seperti ibu-bapak, kampung-halaman, selamat tinggal, dan sebagainya. Juga dalam perbuatan kita banyak terdapat chaining ini, misalnya pulang kantor, ganti baju, makan malam, dan sebagainya. Chain¬ing terjadi bila terbentuk hubungan antara beberapa S-R, sebab yang terjadi segera setelah yang satu lagi. Jadi berdasarkan hubungan conntiguity).
Belajar Tipe 4. Verbal Association (Asosiasi Verbal)
Baik chaining maupun verbal association, yang kedua tipe belajar ini, menghubungkan satuan ikatan S-R yang satu dengan lain. Bentuk verbal association yang paling sederhana adalah bila diperlihatkan suatu bentuk geometris, dan si anak dapat mengatakan “bujur sangkar”, atau mengatakan “itu bola saya”, bila melihat bolanya. Sebelumnya, ia harus dapat membedakan bentuk geometris agar dapat mengenal `bujur sangkar’ sebagai salah satu bentuk geometris, atau mengenal ‘bola’, `saya’, dan ‘itu’. Hubungan itu terbentuk, bila unsur¬nya terdapat dalam urutan tertentu, yang satu segera mengikuti satu lagi (conntiguity).
Belajar Tipe 5: Discrimination Learning (Belajar Diskriminasi)
Discrimination learning atau belajar membedakan. Tipe ini peserta didik mengadakan seleksi dan pengujian di antara¬ perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya, kemudian memilih pola-pola respons yang dianggap paling sesuai. Kondisi utama berlangsung proses belajar ini adalah anak didik sudah mempunyai pola aturan melakukan chaining dan association serta pengalaman (pola S-R)
Contoh:. Guru mengenal peserta didik serta nama masing-masing karena mampu mengadakan diskriminasi di antara anak ¬itu. Diskriminasi didasarkan atas chain. Anak misalnya harus mengenal mobil tertentu berserta namanya. Untuk mengenal model lain diadakannya chain baru dengan kemungkinan yang satu akan mengganggu yang satunya lagi. Makin banyak yang dirangkaikan, makin besar kesulitan yang dihadapi, karena kemungkinan gangguan atau interference itu, dan kemungkinan suatu chain dilupakan.
Belajar Tipe 6: Concept Learning (Belajar Konsep)
Concept learning adalah belajar pengertian. Dengan berdasarkan kesamaan ciri-ciri dari sekumpulan stimulus dan objek-objeknya, ia membentuk suatu pengertian atau konsep. Kondisi utama yang diperlukan adalah menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamen¬tal sebelumnya.
Belajar konsep dapat dilakukan karena kesanggupan manusia untuk mengadakan representasi internal tentang dunia sekitarnya dengan menggunakan bahasa. Manusia dapat melakukannya tanpa batas berkat bahasa dan kemampuannya mengabstraksi. Dengan menguasai konsep, ia dapat menggolongkan dunia sekitarnya menurut konsep itu, misalnya menurut warna, bentuk, besar, jumlah, dan sebagainya. la dapat menggolongkan manusia menurut hubungan keluarga, seperti bapak, ibu, paman, saudara, dan sebagainya; menurut bangsa, pekerjaan, dan sebagainya. Dalam hal ini, kelakuan manusia tidak dikuasai oleh stimulus dalam bentuk fisik, melainkan dalam bentuk yang abstrak. Misalnya kita dapat menyuruh peserta didik dengan perintah: “Ambilkan botol yang di tengah! ” Untuk mempelajari suatu konsep, peserta didik harus mengalami berbagai situasi dengan stimulus tertentu. Untuk itu, ia harus dapat mengadakan diskriminasi untuk membedakan apa yang termasuk dan tidak termasuk konsep itu. Proses belajar konsep memakan waktu dan berlangsung secara berangsur-angsur.
Belajar Tipe 7: Rule Learning (Belajar Aturan)
Rule learning belajar membuat generalisasi, hukum, dan kaidah. Pada tingkat ini peserta didik belajar mengadakan kombinasi berbagai konsep dengan mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (induktif, dedukatif, sintesis, asosiasi, diferensiasi, komparasi, dan kausalitas) sehingga peserta didik dapat menemukan konklusi tertentu yang mungkin selanjutnya dipandang sebagai “rule “: prinsip, daliI, aturan, hukum, kaidah, dan sebagainya.
Belajar Tipe 8: Problem Solving (Pemecahan Masalah)
Problem solving adalah belajar memecahkan masalah. Pada tingkat ini para peserta didik belajar merumuskan memecahkan masalah, memberikan respons terhadap rangsangan yang menggambarkan atau membangkitkan situasi problematik, yang mempergunakan berbagai kaidah yang telah dikuasainya. Belajar memecahkan masalah itu berlangsung sebagai berikut: Individu menyadari masalah bila ia dihadapkan kepada situasi keraguan dan kekaburan sehingga merasakan adanya semacam kesulitan. Langkah-langkah yang memecahkan masalah, adalah sebagai berikut:
Merumuskan dan Menegaskan Masalah
Individu melokalisasi letak sumber kesulitan, untuk memungkinkan mencari jalan pemecahannya. la menandai aspek mana yang mungkin dipecahkan dengan menggunakan prinsip atau dalil serta kaidah yang diketahuinya sebagai pegangan.
Mencari Fakta Pendukung dan Merumuskan Hipotesis
Individu menghimpun berbagai informasi yang relevan termasuk pengalaman orang lain dalam menghadapi pemecahan masalah yang serupa. Kemudian mengidentifikasi berbagai alternatif kemungkinan pemecahannya yang dapat dirumuskan sebagai pertanyaan dan jawaban sementara yang memerlukan pembuktian (hipotesis).
Mengevaluasi Alternatif Pemecahan yang Dikembangkan
Setiap alternatif pemecahan ditimbang dari segi untung ruginya. Selanjutnya dilakukan pengambilan keputusan memilih alternatif yang dipandang paling mungkin (feasible) dan menguntungkan.
Mengadakan Pengujian atau Verifikasi
Mengadakan pengujian atau verifikasi secara eksperimental alternatif pemecahan yang dipilih, dipraktikkan, atau dilaksanakan. Dari hasil pelaksanaan itu diperoleh informasi untuk membuktikan benar atau tidaknya yang telah dirumuskan.

Instrumental Input atau Sasaran
Instrumental input menunjukkan kualifikasi serta kelengkapan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk berlangsungnya proses pembelajaran. Yang termasuk dalam instrumental input antara lain guru, kurikulum, bahan/sumber, metode, dan media.
Keberadaan instrumental input ini sangat mempengaruhi dalam menentukan strategi pembelajaran. Misalnya secara teoritis, dipandang dari tujuannya maka suatu materi harus disajikan dengan menggunakan metode laboratorium, namun karena tidak adanya media di sekolah tersebut, maka diganti dengan metode demonstrasi atau yang lainnya.
Strategi pembelajaran yang dterapkan oleh guru akan selalu bergantung pada sasaran atau tujuan. Tujuan itu bertahap dan berjenjang mulai dari yang sangat operasional dan konkrit, yakni Tujuan Instruksional Khusus dan Tujuan Instruksional Umum, tujuan kurikuler, tujuan nasional, sampai kepada tujuan yang bersifat universal.
Persepsi guru atau persepsi anak didik mengenai sasaran akhir kegiatan pelajaran akan mempengaruhi persepsi mereka terhadap sasaran-antara serta sasaran-kegiatan. Sasaran itu harus diterjemahkan ke dalam ciri-ciri perilaku kepribadian yang didambakan tersebut harus memiliki kualifikasi: a) pengembangan bakat secara, optimal, b) hubungan antarmanusia, c) efisiensi ekonomi, dan d) tanggung jawab warga selaku warga negara.
Pandangan hidup para guru maupun peserta didik akan turut mewarnai berkenaan dengan gambaran karakteristik sasaran manusia idaman. Konsekuensinya akan mempengaruhi juga kebijakan tentang perencanaan, pengorganisasian, serta penilaian terhadap kegiatan belajar mengajar.

Enviromental Input ( Lingkungan).
Lingkungan sangat mempengaruhi guru di dalam menentukan strategi belajar- mengajar. Lingkungan yang dimaksud adalah situasi dan keadaan fisik (misalnya iklim, sekolah, letak sekolah, dan lain sebagainya), dan hubungan antar insani, misalnya dengan teman, dan peserta didik dengan orang lain. Contoh keadaan ini misalnya seharusnya menurut isi materinya seharusnya menggunakan media masyarakat untuk pembelajaran, karena kondisi masyarakat sedang rawan, maka diubah dengan menggunakan metode lain, misalnya membuat kliping.
Proses belajar mengajar adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang diiorganisasi. Lingkungan ini diatur serta diawasi agar kegiatan belajar terarah sesuai dengan tujuan pendidikan. Pengawasan itu turut menentukan lingkungan dalam membantu kegiatan belajar. Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan yang menantang dan merangsang para peserta didik belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan serta mencapai tujua yang diharapkan. Salah satu faktor yang mendukung kondisi belajar di dalam suatu kelas adalah job description proses belajar mengajar yang berisi serangkaian pengertian peristiwa belajar yang dilakukan oleh kelompok-kelompok peserta didik. Sehubungan dengan hal ini, job description guru dalam implementasi proses belajar- mengajar sebagai berikut.
• Perencanaan instruksional, yaitu alat atau media untuk mengarahkan kegiatan-kegiatan organisasi belajar.
• Organisasi belajar yang merupakan usaha menciptakan wadah dan fasilitas-fasilitas atau lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan yang mengandung kemungkinan terciptanya proses belajar mengajar. Menggerakkan anak didik yang merupakan usaha memancing, membangkitkan, dan mengarahkan motivasi belajar peserta didik.
• Supervisi dan pengawasan, yakni usaha mengawasi, menunjang, manbantu, mengaskan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan perencanaan instruksional yang telah didesain sebelumnya.
• Penelitian yang lebih bersifat penafsiran penilaian yang mendukung pengertian lebih luas dibanding dengan pengukuran atau evaluasi pendidikan.

1.5 Strategi Pembelajaran efektif
Pengertian strategi pembelajaran efektif adalah prinsip memilih hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan strategi pembelajaran. Prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap strategi memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Killen (1998): No teaching strategy is better than others in all circumstances, so you have to be able to use a variety of teaching strategies, and make rational decisions about when each of the teaching strategies is likely to most effective.
Apa yang dikemukakan Killen itu jelas bahwa guru harus mampu memilih strategi yang dianggap cocok dengan keadaan. Oleh sebab itu, guru perlu memahami prinsip-prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran sebagai berikut.
Berorientasi pada Tujuan
Segala aktivitas guru dan peserta didik, mestinya diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Ini sangat penting, sebab mengajar adalah proses yang bertujuan. Oleh karena keberhasilan suatu strategi pembelajaran dapat ditentukan dari keberhasilan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.

Aktivitas
Belajar bukanlah menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah berbuat; memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas peserta didik.
Individualitas
Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu peserta didik. Walaupun kita mengajar pada sekelompok peserta didik, namun pada hakikatnya yang ingin kita capai adalah perubahan perilaku setiap peserta didik.
Integritas
Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi peserta didik. Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, tetapi juga meliputi aspek afektif, dan psikomotorik.
Prinsip khusus dalam pengelolaan pembelajaran sebagai berikut.
Interaktif
Prinsip interaktif mengandung makna bahwa mengajar bukan hanya sekadar menyampaikan pengetahuan dari guru ke peserta didik; akan tetapi mengajar dianggap sebagai proses mengatur lingkungan yang dapat merangsang peserta didiik untuk belajar. Dengan demikian, proses pembelajaran adalah proses interaksi baik antara guru dan peserta didik, antara peserta didik dan peserta didik, maupun antara peserta didik dengan lingkungannya. Melalui proses interaksi, memungkinkan kemampuan peserta didik akan berkembang, baik mental maupun intelektualnya.
Inspiratif
Proses pembelajaran adalah proses yang inspiratif, yang memungkinkan peserta didik untuk mencoba dan melakukan sesuatu. Berbagai informasi dan proses pemecahan masalah dalam pembelajaran bukan harga mati, yang bersifat mutlak, akan tetapi merupakan hipotesis yang merangsang peserta didik untuk mau mencoba dan mengujinya. Oleh karena itu, guru mesti membuka berbagai kemungkinan yang dapat dikerjakan peserta didik. Biarkan peserta didik berbuat dan berpikir sesuai dengan inspirasinya sendiri, sebab pengetahuan pada dasarnya bersifat subjektif yang bisa dimaknai oleh setiap peserta didik.
Menyenangkan
Proses pembelajaran adalah proses yang dapat mengembangkan seluruh potensi peserta didik. Seluruh potensi itu hanya mungkin dapat berkembang manakala mereka terbebas dari rasa takut dan mene¬gangkan. Oleh karena itu, perlu diupayakan agar proses pembelajaran merupakan proses yang menyenangkan (joyfull learning). Proses pembelajaran yang menyenangkan bisa dilakukan, pertama, dengan menata ruangan yang apik dan menarik, yaitu yang memenuhi unsur kesehatan, misalnya dengan pengaturan cahaya, ventilasi, dan se¬bagainya; serta memenuhi unsur keindahan, misalnya cat tembok yang segar dan bersih, bebas dari debu, lukisan dan karya-karya peserta didik yang tertata, vas bunga, dan lain sebagainya. Kedua, melalui pengelolaan pembelajaran yang hidup dan bervariasi, yakni dengan menggunakan pola dan model pembelajaran, media, dan sumber belajar yang relevan serta gerakan-gerakan guru yang mampu mem¬bangkitkan motivasi belajar peserta didik.
Menantang
Proses pembelajaran adalah proses yang menantang peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir, yakni merangsang kerja otak secara maksimal. Kemampuan tersebut dapat ditumbuhkan dengan cara mengembangkan rasa ingin tahu peserta didik melalui kegiatan men¬coba-coba, berpikir secara intuitif atau bereksplorasi. Apa pun yang diberikan dan dilakukan guru harus dapat merangsang peserta didik untuk berpikir (learning how to learn) dan melakukan (learning how to do). Apabila guru akan memberikan informasi, hendaknya tidak mem¬berikan informasi yang sudah jadi yang siap dikonsumsi peserta didik, akan tetapi informasi yang mampu membangkitkan peserta didik untuk mau “mengunyahnya”, untuk memikirkannya sebelum ia mengambil kesimpulan. Untuk itu, dalam hal-hal tertentu, sebaiknya guru memberikan informasi yang “meragukan”, kemudian karena keraguan itulah peserta terangsang untuk membuktikannya.
Motivasi
Motivasi adalah aspek yang sangat penting untuk membelajar¬kan peserta didik. Tanpa adanya motivasi, tidak mungkin mereka memiliki kemauan untuk belajar. Oleh karena itu, membangkitkan motivasi merupakan salah satu peran dan tugas guru dalam setiap proses pembelajaran. Motivasi dapat diartikan sebagai dorongan yang memungkinkan peserta didik untuk bertindak atau melakukan sesuatu. Dorongan itu hanya mungkin muncul dalam diri peserta didik manakala mereka merasa membutuhkan (need). Peserta didik yang merasa butuh akan bergerak dengan sendirinya untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh sebab, itu dalam rangka membangkitkan motivasi, guru harus dapat menunjukkan pentingnya pengalaman dan materi belajar bagi kehidupan peserta didik, dengan demikian peserta didik akan belajar bukan hanya sekadar untuk memperoleh nilai atau pujian akan tetapi didorong oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhannya.

Rangkuman
• Ada dua hal yang patut dicermati dari pengertian-pengertian strategi pembelajaran Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan.
• Model pembelajaran adalah: “Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.”
• Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya proses yang sifatnya masih sangat umum
• Metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kaitannya dengan pembelajaran metode didefinisikan sebagai cara-cara menyajikan bahan pelajara pada peserta didik untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan
• Teknik dan taktik mengajar merupakan pen¬jabaran dari metode pembelajaran. Teknik adalah cara yang dilakukan ¬orang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode yaitu cara yang harus dilakukan agar metode yang dilakukan berjalan efektif dan efisien. Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. Dengan demikian, taktik sifatnya lebih individual.
• Komponen strategi pembelajaran adalah; guru, siswa, tujuan, bahan pelajaran, kegiatan pembelajaran, metode, alat, sumber pembelajaran dan evaluasi
• Komponen-komponen strategi pembelajaran akan mempengaruhi jalannya pembelajaran, untuk itu, semua komponen strategi pembelajaran merupakan faktor yang berpengaruh terhadap strategi pembelajaran.
• Faktor yang mempengaruhi strategi pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu peserta didik, sebagai raw input, instrumental input atau sasaran, enviromental input ( lingkungan).
• Strategi pembelajaran efektif: berorentasi pada tujuan. aktivitas, individualitas, integritas, motivasi, menantang. menyenangkan, inspiratif, interaktif

07/01/2009 Posted by | Uncategorized | 2 Komentar

SISTEM DISTIBUSI PEREDARAN DARAH HEWAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alat peredaran di dalam tubuh binatang bersel satu hanya berupa gerakan cytoplasma dalam protoplasmanya secara difusi, sedang dalam badan binatang bersel banyak mempunyai alat-alat yang pokok, seperti: (1) Darah terdiri atas cairan plasma dan sel-sel darah atau corpusculum darah serta; (2) Jantung/cor atau struktur yang hampir sama berotot tebal, dapat berkontraksi secara otomatis memompa darah kebagian-bagian/lorong kecil diseluruh tubuh dengan perantaraan (3). Sistim saluran darah/arteria/vena/capiller. Ada yang mempunyai sistim terbuka/lacuniar dan ada yang tertutup.
Dengan sistem peredaran darah adalah sistem organ yang bergerak gizi, gas, dan limbah dari dan ke sel untuk membantu memerangi penyakit dan membantu menstabilkan suhu tubuh dan pH untuk mempertahankan homeostasis. Sistem ini dapat dilihat sangat darah sebagai jaringan distribusi, namun mempertimbangkan beberapa sistem peredaran darah yang terdiri dari sistem cardiovascular, yang mendistribusikan darah, dan sistem yang lemah, yang mendistribusikan getah bening. Sementara manusia, serta lainnya vertebrates, ada yang tertutup cardiovascular system (arti bahwa darah tidak pernah meninggalkan jaringan arteries, veins and capillaries), beberapa hewan tdk bertulang punggung kelompok memiliki sistem buka cardiovascular. Hewan yang paling primitif phyla kurangnya sistem peredaran darah. Sistem yang lemah, di sisi lain, merupakan sistem terbuka.
Komponen utama dari sistem peredaran darah manusia adalah jantung, darah, dan darah kapal. Sistem peredaran darah yang meliputi: the pulmonary circulation, a “loop” melalui paru-paru di mana darah adalah oxygenated, dan sirkulasi sistemik, sebuah “loop” melalui bagian tubuh untuk menyediakan oxygenated darah. Rata-rata orang dewasa berisi lima sampai enam quarts (sekitar 4,7-5,7 liter) darah, yang terdiri dari plasma, sel darah merah, sel darah putih, dan platelets. Juga, sistem pencernaan bekerja dengan sistem peredaran darah untuk menyediakan sistem kebutuhan gizi untuk menjaga jantung memompa.
Dua jenis cairan bergerak melalui sistem peredaran darah: darah dan getah bening. Darah, jantung, dan darah kapal membentuk sistem cardiovascular. Di getah bening, Kelenjar getah bening, dan getah bening kapal membentuk sistem lemah. The cardiovascular system dan sistem yang lemah secara kolektif membentuk sistem peredaran darah.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
 Apa saja sistem distribusi peredaran darah yang dimiliki oleh hewan ?
 Bagaimanakah cara kerja dari sistem distribusi peredaran darah yang dimiliki oleh tiap hewan ?
1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui apa saja sistem sirkulasi peredaranyang dimiliki oleh hewan baik itu avertebrata maupun vertebrata, selain itu juga ingin mengetahui bagaimana cara kerja dari system sirkulasi peredaran darah yang dimiliki oleh tiap-tiap hewan baik itu vertebrata maupun avertebrata.
1.4 Manfaat Penulisan
Penulisan ini memberikan beberapa manfaat. Aspek akademis memberikan informasi ilmiah kepada masyarakat tentang apa saja sistem sirkulasi peredaran darah yang dimiliki oleh hewan baik itu avertebrata maupun vertebrata, selain itu juga bagaimana cara kerja dari system sirkulasi peredaran darah yang dimiliki oleh tiap-tiap hewan baik itu vertebrata maupun avertebrata..

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Macam-Macam Sistem Peredaran Darah Hewan

2.1.1 Sistem Peredaran Darah Avertebrata
Protozoa, spons, coelentrata dan cacing pipih, tidak mempunyai alat peredaran yang tertentu, makanan diangkut melalui lekukan sederhana, demikian juga udara pernafasan, dan sisa makanan. Pada Nematoda, Rotifera, dan Entoprocta, cairan badan dialirkan dalam pseudoceol. Kebanyakan Echinodermata mempunyai cairan coelom, cairan hemalis dan ruangan intercullair yang saling berhubungan, sedang cairan ambulacral terpisah. Nemertean mempunyai saluran darah satu dipunggung dan 2 disamping dengan banyak hubungan menyilang. Pulsasi/perasan di dinding mengakibatkan denyutan darah yang terdiri dari sel-sel darah seperti vertebrata. Biasanya sel-sel bebas berupa corpusculum amoeboid menyerupai sel-sel darah putih bersifat pagocytosis.
Pada insecta banyak sel-sel pada alat-alat dan dalam plasma hanya setelah pelukan badan atau selama pengelupasan kulit/sampai 30.000-70.000 per cu mm pada beberapa spesies. Jantung pada avertebrata biasanya di daerah dorsal saluran pencernaan, pada Molusca pendek terletak dalam kantong pericardium tipis, terdiri dari ½ auricular berdinding tipis yang menerima darah dari badan dan mengirimkan ke ventrikel tunggal yang dindingnya berotot. Selanjutnya kontraksi memeras darah melalui saluran atau arteries yang menuju kea lat-alat.
Insecta dan arthopoda mempunyai jantung seperti saluran didorsal dengan lobang/ostia terletak disamping, segmental yang menerima darah dari ruangan badan/hemocoel dan memompanya melalui aorta medialis, dimana ia mengalir melalui ruangan badan ke alat-alat dan jaringan-jaringan. Banyak insecta mempunyai jantung istimewa yang mendorong darah ke antenna, sayap dan kaki.
Cacing tanah mempunyai sistim terbuka dengan beberapa saluran-saluran yang panjang melalui badan dan sepasang arah transversal menghubungkan saluran-saluran ke segment badan. Peredaran dihasilkan oleh konstraksi dan saluran middorsal dan 4 pasang jantung samping di anterior segment badan (pigment pernafasan yaitu hemocyanin). Tunicata mempunyai jantung berupa setengah saluran terletak di dalam pericardium, darah mengalir terputus-putus dengan interval waktu yang pendek.
Jantung mollusca adalah myogenik, denyutan asli dalam ototnya, sedang jantung Crustaceae dan Limulus adalah neurogenik, denyutan asli dengan sel-sel ganglion syaraf didalam jantungnya.

2.1.2 Sistem Peredaran Darah Pada Vertebrata
Hampir semua vertebrata darahnya terdiri atas: (1), plasma yang tidak berwarna; (2) sel-sel darah putih/leucocyt; (3) sel-sel darah merah atau eritrocyt yang member warna pada hemoglobin; (4) sel-sel kecil yaitu platelet/trombocyt yang penting pada pembekuan. Diagram schema sistemnya kebanyakan tertutup dengan alat-alat pokok yaitu jantung, arteria, vena, capillair, system lymphatica dengan jantung lympha sendiri, tetapi biasanya berdekatan dengan saluran darah tersebut. Jantungnya mempunyai ruangan yang berbeda-beda dan mempunyai selaput pericardium. Biasanya terdiri atas sinus venosus, atrium/serambi, ventrikel/bilik, truncus arteriosus, bulbus arteriosus. Plasama darah membawa sari-sari makanan, sisa-sisa sekresi dalam, gas dan terdiri atas ± 92% air + protein dan garam organic + 0,9 % garam anorganik termasuk NaCl lebih banyak. Setiap manusia dewasa mempunyai darah kira-kira 5-6 1/5 – 6 quarts, kira-kira 60% plasma.

2.2 Bagian-bagian Sistem Peredaran Darah

2.2.1 Eritrocyt
Sel ini mempunyai inti pada hampir semua vertebrata non mammalian. Pada mammalia mereka tidak bernucleus, biconcave dan circulair/oval pada Unta, tetapi selama pertumbuhan mereka mempunyai inti. Pada wanita mencapai jumlah ± 4.5 Milyun per cu mm sedang pada laki-laki mencapai 5.0 milyun. Mereka dapat hidup sampai 120 hari dan dapat membuat 50.000 putaran pada aliran darah. Sel merah lebih banyak pada masa bayi, pada manusia yang hidup di gunung-gunung, tetapi mereduksi pada beberapa hal missal terkena penyakit seperti anemia. Sel ini dihasilkan di dalam sumsum tulang merah, disimpan sementara dilien/spleen. Sel-sel tua sering rusak di lien, walaupun banyak hemoglobin melalui hati, pigmennya dikeluarkan dibilus dan besinya kembali ke sum-sum.

2.2.2 Leucocyt
Penting dalam proses pagocytosis yaitu memakan sel-sel asing yang masuk ke dalam aliran darah dengan gerakan amoeboid dan dapat berenang diantara sel-sel endothelium ditepi capillair 2 ke dalam ruangan diantara sel-sel jaringan. Masa hidupnya 12-13 hari, dibuat oleh sumsun, lien, dan lymphoid.
Pada luka yang akut seperti appendicitis/radang usus buatan atau pneumonia, neutophil dan lymphocyte bagian darai leucocyt bertambah jumlahnya, sekitar 5.000-30.000 per cu mm untuk membendung infeksi. Cairan putih disekitar luka biasanya terdiri atas leucocyt yang mati, sel-sel jaringan dan serum darah.

2.2.3 Thrombocyt
Merupakan unsure yang penting dari darah. Mereka lebih atau kurang berbentuk discus, lebih kecil daripada sel darah merah dan tanpa nuclei. Berfungsi aktif dalam proses pembekuan darah. Jumlahnya mencapai 1 trilyun, hidupnya antara 8-10 hari. Apabila saluran darah dilukai, mereka mengumpul dan melepaskan thromboplastis yang berguna dalam proses penyendalam. Selama penyendalan platelet hanya dengan ATP tetapi akan kehilangan banyak tenaga phosphat.

2.2.4 Kapiler Darah dan Sistem Lymphatica
Darah didalam kapiler-kapiler mempunyai fungsi yang sangat penting didalam alat peredaran mengangkut pergantian makanan dan hasil akhir metabolisme. Pergantian ini terjadi didalam cairan jaringan atau lympha yang mengumpulkan dalam saluran-saluran interstitial diantara kapiler-kapiler dan sel-sel. Lympha merumuskan filtrat plasma yang penting, cairan yang asalnya dari air yang masuk melalui dinding kapiler. Protein plasma darah tetap karena berat molekulnya sangat tinggi sehingga mencegah dari diffusi keluar. Larutan Na, Cl, glucose konsentrasinya identik diplasma dan cairan jaringan. Dinding kapiler sangat tinggi permeabilitasnya terhadap larutan diatas dan perubahan konsentrasinya disebabkan oleh aktivitas celulair yang hanya berakibat kecil pada kapiler.
Difusi juga terjadi diantara sel-sel dan lympha tetapi sel-sel dan berbeda dengan kapiler-kapiler dalam kapasitas mereka untuk transport aktif. Lympha kemudian berperanan pokok sebagai transport vital diantara sel-sel seperti pada difusi dan immunitas. System limphatyca membawa cairan hanya satu arah, dari jaringan kedarah dan jantung. Cairan digerakkan oleh gerak mengirim dari otot-otot pada saluran lympha dan oleh tekanan pada waktu perubahan pernafasan. Valvula/kelep lympha mencegah aliran kembali. Lebih dari setengahnya protein dalam darah yang hilang dari kapiler tiap hari dan kembali kesaluran darah melalui system lymphatica. Kira-kira 60% volume plasma, system lymphatica penting dalam kestabilan volume darah. Juga system lymphatica merupakan jalan pokok kegemukan, penyerapan oleh lacteral diintestinum, ditransport kepembuluh darah dari jaringan melalui ductus trhoracicus.
Cholesterol mencapai pembuluh darah dari jaringan dengan system ini. Disepanjang system ini banyak nodhus lymphaticus, disamping menghasilkan lymphocyte, nodus mencegah badan terhadap infeksi. Infeksi dileher, akan menyebabkan banyak nodus keleher. Lien merupakan bagian dari SRE/system reticuloendo thelial, berguna sebagai tempat persediaan penyimpan butir-butir darah putih dan platelet, mengatur volume darah dimana-mana, juga menghasilkan lymphopocyt dan menghancurkan butir darah merah yang telah tua.

2.2.5 Jantung
System peredaran bagian dalam setiap Vertebrata selalu terdiri atas jantung, saluran darah, arteiola, kapiler, vuna, saluran lympha, dan nodis lymphaticus. Jantung mempunyai beberapa ruangan dengan masing-masing dindingnya berotot tebal yang berguna memompa darah venus ke arteria.
Pada pisces jantung terdiri 1 atrium dan I ventrikel; Amphibia dan Reptilia mempunyai jantung 2 atrium dan 1 ventrikel; Aves mempunyai jantung dengan 2 atrium dan 2 ventrikel; fungsi sebelah kiri memompa darah dari paru-paru ke badan, sedang ruang yang kanan memompa darah dari badan ke paru-paru.
Jantung dapat berkontraksi sejak mulai embrio, apabila dikeluarkan dari badan, akan berkontraksi selama beberapa menit, dan apabila dimasukkan kedalam larutan garam phisiologis yang diberi unsur-unsur makanan/NaCl, KCl, CaCl2, glucosa, akan berdenyut beberapa hari. Hal ini disebabkan oleh sel-sel istimewa dari jantung sendiri. Nodus sinertialis didinding sebelah atas atrium dexter mengatur kontraksinya atrium. Kemudian terjadi pengiriman rangsangan ke pusat kedua/nodus atrioventricularis pada sekat diantara atrium, yang mengakibatkan seikat serabut-serabut “bundle of his” didinding ventrikel mulai berkontraksi.
Denyut jantung juga dibawah control syaraf. Rangsangan dari nodus sinoatrialis melalui serabut-serabut parasimphatis pada versus vagus atau pemberian acetylcholine setempat mengakibatkan pelanya denyut jantung, sedang rangsangan melalui serabut simphatis atau pemberian setempat norephinepherine akan mempercepat denyutnya. Kalau ditinjau phisiologi jantung manusia sebagai berikut: atrium berdinding tipis berisi darah dari vena besar, kemudian berkontraksi, memindahkandarah ke ventrikel. Valvula bicuspidalis dan tricuspiladil tertutup oleh tekanan tinggi darah. Valvula semilunaris masih tertutup, sehingga darah mengumpul disemua jurusan, tekanan naik. Apabila tekanan pada ventrikel lebih besar dari arteria, valvula semilunaris terbuka dan darah masuk kedalam system arteriel. Begitu peredaran akan berulang. Saat istirahat jantung apabila ruangan penuh pada interval yang pendek. Jantung pada manusia normal yang diam berkontraksi kira-kira 72x/menit dan memompa darah kira-kira 60 cc tiap denyut. Jumlah volume darah 6000 cc dan banyaknya denyutan 100x. Darah keluar dari jantung secara beruntun, yang dapat dilihat pada arteria seperti dipergelangan tangan dan pelipis dalam bentuk pulpus, kontraksi jantung systole dan diastole.
Tekanan pada arteria 120/80 sistole/diastole, kapiler 30/10, vena 10/0. Alat electrocardiogram dipergunakan utnuk melihat aksi phase denyut jantung tiap menit. Dari aorta dekat valvula semilunaris keluar arteries coronaria yang berjalan dipermukaan jantung dan masuk ke otot-otot melalui kapiler-kapiler. Darah kembali melalui vena coronaria ke sinus coronaria ke AD. Kira-kira 7-10% darah aorta merupakan kebutuhan besar dari jantung. Saluran coronaria dapat berhenti karena angina pectoris dan sering mengakibatkan kematian.

2.2.6 Fungsi darah
Penting sebagai medium sirkulasi di dalam badan.
Fungsi pokok lain yaitu:
1. Mengangkut O2 dan CO2 diantara alat-alat pernafasan dan jaringan.
2. Mengangkut air dan sari-sari makanan.
3. Menyimpan makanan dalam bentuk sari-sari.
4. Mengangkut sisa-sisa organic, melepaskan mineral-mineral.
5. Mengangkut hormone.
6. Distribusi panas dan mengontrol temperature
7. Pembentukan fibrin
8. Pencegahan infeksi/penyakit
9. Mengatur pH jaringan.

2.2.7 Proses Pembekuan Darah
Apabila arteri/vena diiris, aliran darah akan berhenti, karena ada penggumpalan/pembekuan. Platelet menuju ketempat luka dan membentuk anyaman. Throboplastin/thrombokinase dibentuk disekitar luka dan dihasilkan oleh trombhocyt dan merupakan faktor yang terbentuk dalam plasma darah. Dalam ikatan dengan ion-ion calcium melalui plasma bereaksi dengan prothrombin juga dalam darah menghasilkan thrombin. Phrotrombin dihasilkan dihati ketika ada vitamin K. thrombin bereaksi dengan larutan protein darah, fibrinogen menjadi fibrin yang menjadi massa terdiri serabut-serabut halus melekat dengan corpusculum membentuk gumpalan.
Prosesnya dapat digambarkan demikian:
Thromboplastin………………..prothrombil + Ca………………………………………..
Thrombin+fibrinogen………………..fibrin + sel-sel darah………………………………
Pembekuan.
Cairan persediaan dari pembekuan yaitu serum darah. Substansi selanjutnya yaitu heparing, yang mencegah terbentuknya thrombin dalam aliran darah yang normal. Berkurangnya jumlah platelet selama pembekuan adalah 3 menit pada orang laki-laki.
Darah yang berguna untuk transfusi atau untuk laboratorium, dalam keadaan cair dicampur dengan Na citrate yang mengubah ion calcium. Koagulan dikeluarkan oleh lintah/hirudinae dan oleh sejenis serangga yang menghisap darah binatang lain untuk makanan dalam bentuk cairan selama musim makan.
Pada orang yang darahnya tak dapat menyendal/bleeder luka akan mengakibatkan kematian, karena kehilangan darah terlalu banyak/hemorhhgae, keadaan ini disebabkan oleh penyakit keturunan/hemophilia, biasanya pada wanita, hal ini disebabkan oleh karena salah satu protein dalam plasma tidak dapat mengubah phrothrombin menjadi thrombin.

2.2.8 Antibodi
Apabila protein asing dari luar badan memasuki badan dan memasuki darah antibodi biasanya terbentuk dalam jaringan lymphoid. Jikalau dosis sublethal dari racun ular bebisa diinjeksikan kedalam tubuh burung merpati, plasma darahnya akan berisi antibody yang sanggup menetralisir dosis yang lebih besar dari racun. Racun berfungsi sebagai antigen yang merangsang jaringan untuk menghasilkan antibody dalam plasma darah. Bacteria dan organism lain berfungsi sebagai antigen. Antibody dapat tidak aktif pada beberapa virus, menetralkan racun bacteria dan menjadi phagocytosis oleh perubahan pada permulaan dari mikrobia.
Bersama-sama dengan plasma protein, disebut komplemen, beberapa organisme dapat terbunuh juga. Kesembuhan dari suatu penyakit juga dapat menghasilkan zat antibody yang sering tingkatannya disebut immunitas. Dengan menyuntikkan vaksin yang sudah mati/organism yang lemah atau anti-toxin/serum immune dari kuda/hewan lain maka binatang dapat immune dari penyakit tersebut. Missal lain: Vaksin dari penyakit cacar dan thyfoid fever, antitoxin untuk diphteri, tetanus dan gigitan ular. Antibody terjadi dibagian globulin dari plasma darah. Suntikan dari gamma globulin, berisi dari darah si pemberi adapt menaikkan immunitas terhadap serangan penyakit campak dan poliomyelitis. Beberapa polysacharida juga dapat berfungsi sebagai antigen.

2.2.9 Golongan Darah
Apabila terjadi pencampuran dari darah seseorang dengan individu lain, sering terjadi penggumpalan/aglunitasi. Ini merupakan hal yang penting didalam transfuse darah. Darah dari donor harus ada kecocokan golongan darah dengan darah penerima. Test-test yang ditunjukkan kelihatan bahwa ada 2 tipe dari antigen yang disebut antigen A dan B, sedangkan plasma terdiri dua macam antibody/agglutinin disebut a/anti A dan b/anti B. ada 4 golongan darah pada manusia: golongan O yang mempunyai anti bodi a da b, tetapi tidak mempunyai antigen ; golongan A antibody b dan antigen A; golongan B antibody a dan antigen B; golongan AB yang mempunyai antigen A dan B, tetapi tidak mempunyai antibody.
Seseorang dari golongan O yang tidak mempunyai antigen dalam sel-sel darah merahnya dapat memberi darah pada setiap orang, tetapi hanya dapat menerima darah golongan O. type frequency dari populasi sering disebutM, banyak orangIndian, Amerika ada sedikit memunyai type N. type darah M-N sering ada unuk menentukan hal-hal yang sukar pada orang tua. Plasma kering steriltanpa corpusculum, sering dipakai dalam transfuse darah oleh karena mudah dan hanya diperlukan air sril dalam penyuntikan transfusi darah.

2.2.10 Faktor Rhesus
Kira-kira ada 85% orang kulit putih mempunyai antigen lain di dalam sel-sel darah merah, dan darah mereka dikenal sebagai Rh +/rhesus positif yang tidak mempunyai substansi itu disebiut Rh negatif yang berbeda pada faktor keturunan. Jikalau darah Rh + diulangi ditransfusikan kedalam individu Rh -, antigen merangsang pengeluaran dari agglutinin anti Rh. Ini disebut isoimmunisasi, selama antigen Rh dan antibodi anti Rh dalam spesies yang sama. Seorang dengan golongan AB, tak mempunyai antibodi dalam serumnya, dapat menerima darah dari setiap golongan/penerima umum tetapi hanya dapat member darah pada golongan lain yang sama. Golongan darah merupakan cirri karakteristik yang diturunkan dan tetap selama hidup, tetapi metode modern dapat merubah golongan darah demikian, yaitu dengan mencampur serum dengan plasma kering dan ditunggu sampai tidak terjadi penyendalan di dalam tubuh. Darah dari kera, lain dengan darah pada manusia. Juga dari jenis-jenis binatang rendah lainnya, tidak pada manusia. Antigen lain (M, N) kelihatan ada pada sel-sel darah manusia. Ini menghasilkan 3 tipe darah, orang yang hanya mempunyai antigen M, yang hanya mempunyai antigen N, dan yang hanya mempunyai antigen M dan N. Individu Rh- menerima darah dari Rh+ tidak menunjukkan reaksi pada permulaanya, tetapi kemudian menjadi isoimmunisasi jikalau kemudian ia ditransfusi dengan Rh + ada beberapa reaksi, biasanya kematian. Agglutinin anti Rh menyebabkan hemoysis pada daerah transfusi Rh+ dari ayah, dapat menjadi immune oleh eritrosit fetal Rh+ yang memasuki peredaran darah ibu. Kemudian frequensi mengandung induk agglutinin anti Rh menyilang placenta, memasuki peredaran fetus dan sel-sel darah fetus mengalami hemolyse yang biasanya mengakibatkan kematian. Penyakit ini disebut erythoblasthosis di dalam fetus arau kelahiran baru menghasilkan 1 pregnasi diantara 50 wanita kulit putih di amerika. Pada suatu waktu dapat menjadi immune. Seperti ibu dengan RH+ ayah, serupa dengan anak keil yang kekurangan darah fetus atau bayi yang baru lahir dipindahkan.

2.2.11 Arcus aortae
Diwaktu embrio kelihatan 6 pasang pada semua Vertebrata, muncul dari pusat aorta dibagian ujung anterior jantung dan melalui celah insang yang berkembang disisi pharynx. Pasangan nomor 1 dan 2 kemudian menghilang. Pada ikan dewasa, arus no 3-6 memasuki insang dimana terjadi pernafasan, dan kemudian semua bersatu didaerah punggung membentuk aorta dorsalis, seperti juga pada Salamander arcus nomor 4-6 mensulai insang. Diantara vertebrata yang hidup ditanah, arcus nomor 3 biasanya menjadi arteria carotis pada masing-masing sisi, arcus nomor 5 menghilang, arcus nomor 6 menjadi arteria pulmonalis. Pada katak dan Reptilia kedua arcus nomor 4 menjadi system acus ke aorta dorsalis pada Aves hanya ½ bagian kanan yang kelihatan pada Mammalia hanya setengah bagian kiri, masing-masing yang berlawanan akan membentuk arteria subclavia.

2.3 Jalan Peredaran Darah Manusia
Darah dari bagian-bagian badan melalui vera cava anterior dan vena cava posterior memasuki AD, miskin O2 berwarna merah hitam/biru dan mengangkut CO2. Dari AD mengalir melalui valvula tricuspidalis ke VC dan kemudian dengan kekuatan konstraksi yang kuat dari otot jantung/systole, melalui valvula semilunaris&menuju ke arteria pulmonalis ke paru-paru.
Di paru-paru darah melalui banyak kapiler-kapiler yang kecil, darah melalui membrane sekitar alveoli, dimana terjadi pertukaran gas yaitu meleaskan CO2 dan mengisap O2. Kemudian darah mengalir kembali kesaluran yang besar dan vena pulmonalis menuju ke AS melalui valvula biscupidalis mencapai VS dimana dengan konstraksi otot/systole diperas ke aorta, saluran yang terbesar dan berdinding tebal. Aorta ini bercabang-cabang keseluru tubuh kea lat-alat dan memberikan O2 baru. Saluran aorta ke ala-alat menjadi arteriola dan kapilar-kapilar yang kemudian pulang ke jantung melalui vena. Kadang-kadang sebelum kembali kejantung, singgah disuatu alat membentuk anyaman vena, system ini yang disebut dengan system portae, biasanya singgah dihati/SPH dan ginjal/SPR. System reticuloendohelial biasanya disingkat SRE diberikan kepada lympha.

2.4 Alat-alat Yang Bekerjasama Dengan Sistem Saluran Darah
Jantung dan saluran darah dikontrol oleh system syaraf dan juga oleh substansi tertentu dalam darah. System peredaran darah sensitif terhadap perubahan panas dibadan dan fungsinya sangat kompleks karena banyak alat-alat yang diurusi. Denyut jantung bertambah cepat dari rangsang reflex yang menaikkan tekanan AD. Lain reflex merangsang penyempitan dan pebesaran di pusat medulla, menurunnya aliran darah pada beberapa daerah yang membutuhkan. Kemudian hypothalamus aktif dan menghasilkan ephinepherine/adrenalin mengakibatkan penyempitan saluran darah dikulit dan alat dalam dan pembesaran saluran darah di otot-otot.

Pada hewan tingkat tinggi terdapat 2 tipe sistem peredaran darah, yaitu sistem peredaran darah terbuka dan sistem peredaran darah tertutup.

a. Sistem Peredaran Darah Terbuka
Peredaran darah terbuka adalah peredaran atau distribusi darah ke seluruh tubuh (jaringan) yang tidak selalu melewati pembuluh darah. Kadang darah secara langsung menuju jaringan tubuh tanpa melalui pembuluh. Dalam sistem peredaran darah terbuka tidak dapat dibedakan antara darah dan cairan intersisial (cairan yang mengisi ruang antarsel). Karena tercampur. Hal ini merupakan karakteristik dari hewan Arthropoda, misalnya Pada Daphnia dan belalang. Pada Daphia dan Crustacea plasma darah umumnya tak berwarna dan mengandug sel ameboid dengan sel darah (korpuskula) yang bebas dalam plasma terlarut suatu pigmen yang disebut hemosianin (pigmen respirasi) yang berguna untuk mengedarkan oksigen kejaringan – jaringan. Sistem peredaran darah terbuka terdiri dari jantung sebagai pusat peredaran darah, sejumlah rongga yang disebut sinus, dan beberapa arteri. Jantung berbentuk sadel atau tabung terbungkus oleh membran (Perikandrium). Jantung terletak di bagian tengah belakang dada dengan dinding otot yang tebal. Saluran arteri yang berasal dari jantung memiliki
katup-katup (valvula) untuk mencegah darah masuk kembali ke jantung. Arteri-arteri tersebut adalah sebagai berikut:
1. Arteri optalmik (mata); terletak di median dorsal di atas lambung dan keluar menuju bagian muka (kemudian ke bawah bercabang-cabang menjadi dua).
2. Dua arteri antena; terletak bersebelahan dengan arteri optalmik menuju ke bagian muka, kemudian bercabang-cabang ke bawah. Arteri ini memberi darah ke daerah lambung, antena alat ekskresi, otot, dan jaringan kepala lainnya.
3. Dua saluran arteri hati; meninggalkan jantung menuju kelenjar pencernaan dan berada di bawah arteri antena.
4. Saluran arteri dorso abdominalis; menuju posterior dan berfungsi memberi darah ke dorsal ataupun abdomen. Darah yang berasal dari arteri masuk ke rongga jaringan yang disebut sinus. Dari sinus, darah masuk ke jantung melalui tiga katup (ostium) dan dipompa dengan kontraksi otot sampai di kapiler seluruh tubuh.

b. Sistem Peredaran Darah Tertutup
Peredaran darah tertutup adalah sirkulasi darah ke seluruh tubuh melalui pembuluh – pembuluh darah. Pada sistem peredaran darah lni. Darah diedarkan melewati arteri dan kembali ke jantung melewati vena. contoh cacing tanah (Lumbricus terrestris). Pada cacing tanah, sistem peredarannya terdiri dari cairan darah, beberapa pembuluh darah, dan jantung sebagai pusat peredaran.
Darah cacing tanah terdiri atas plasma darah dan benda darah. Darah cacing tanah berwarna merah disebabkan oleh adanva hemoglobin yang larut dalam plasma darah. Jantung dan saluran darahnva memiliki katup sehingga darah tidak mengalir kembali ke jantung. Aliran darah disebabkan oleh kontraksi lengkung jantung. Jantung memompa darah dari saluran darah dorsal ke saluran darah ventral kemudlian ke seluruh tubuh. Pertukaran gas terjadi di jaringan-jaringan tubuh, Dari seluruh tubuh, darah menuju bagian dorsal tubuh, darah menuju bagian dorsal tubuh. Dari bagian dorsal tubuh darah kembali ke jantung.

2.5 Contoh-Contoh Sistem Peredaran Darah Pada Hewan
2.5.1 Mamalia
Sistem peredaran darah yang terdapat di dalam tubuh manusia merupakan sebuah perangkat transportasi yang paling sempurna dan menakjubkan di dunia. Sistem ini memiliki panjang pembuluh melebihi panjang seluruh rel kereta api di dunia yang cakupan jaraknya mampu mencapai hitungan antara 100 ribu hingga 150 ribu kilometer.
Sistem peredaran darah ini bekerja secara otomatik tanpa henti sepanjang siang malam. Dia bertugas menyiapkan darah lalu mengedarkannya ke seluruh jaringan badan yang membutuhkannya sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan oleh masing-masing sel badan tersebut yang jumlahnya bisa melebihi ratusan milyar sel. Dalam aktivitasnya, sistem ini akan membuang sel-sel yang rusak lalu menggantikannya dengan membentuk sel-sel baru berupa sel-sel darah merah, pada setiap detiknya dia mampu menyiapkan satu juta sel darah merah untuk menggantikan sel-sel yang rusak tadi.
Ketika pembuluh-pembuluh pengirim darah mengalami kerusakan, maka sistem ini secara otomatis akan mereparasi dan memperbaikinya. Demikian juga, apabila pembuluh pengirim darah yang sangat halus ini terlobangi oleh sebuah jarum, maka sistem ini dengan segera akan mengatupkannya untuk mengembalikannya sebagaimana keadaan semula.
Ketika terjadi goresan kecil pada permukaan tubuh, maka dia akan bereaksi dengan memunculkan segumpal bulu halus dari bahan fibrine (bahan sejenis albumen darah) yang akan mengambil sel-sel darah lalu membentuk jeli, tanpa adanya gumpalan pencegah ini, maka luka yang paling kecil sekalipun akan mampu menyebabkan terjadinya pendarahan yang bisa berakhir pada kematian.
Dalam setiap menitnya, sistem peredaran darah ini mampu mengedarkan 5 liter darah ke seluruh tubuh yang berarti dalam sepanjang siang dan malam dia mampu menyalurkan lebih dari tujuh ribu liter darah.
Pembuluh arteri tidak hanya berperan sebagai sebuah pipa yang sederhana melainkan merupakan pembuluh hidup yang memiliki kapabilitas sangat menarik, pembuluh inilah yang telah menyebabkan terjadinya denyutan dan detakan jantung.
Jantung akan memompa dan mengirimkan darah secara perlahan ke pembuluh arteri, yang kemudian oleh pembuluh ini akan diatur untuk menciptakan denyutan nadi yang lebih ringan. Pada pertengahan perjalanannya, darah ini akan saling bergabung dan secara perlahan akan memasuki pembuluh-pembuluh darah halus, dan ketika pembuluh-pembuluh ini mati karena tarikan yang sangat kuat, dengan otomatis pembuluh-pembuluh ini akan kosong dari darah.
Pada awalnya, para ahli bedah mengira bahwa pembuluh-pembuluh ini bertugas untuk membawa udara, akan tetapi akhirnya pada tahun 1628 Masehi, Wiliam Harry, seorang dokter berkebangsaan Inggris menemukan aktivitas pembuluh sistem peredaran darah.
Sistem peredaran darah melakukan dua aktivitas, pertama: darah yang memasuki pembuluh-pembuluh untuk mengirimkan nutrisi ke sel-sel tubuh akan membawa bahan-bahan seperti asid-asid amino yang berguna untuk mereparasi jaringan-jaringan badan, juga akan membawa gula yang merupakan sumber energi, serta bahan-bahan mineral lain seperti vitamin-vitamin, hormon-hormon dan oksigen.
Kedua: darah yang kembali ke jantung dengan perantara pembuluh-pembuluh darah halus, dalam perjalanannya kembali, akan mengambil gas karbon, air, sel-sel yang rusak dan serpihan-serpihan yang dihasilkan dari perubahan dan aksi reaksi protein-protein.
Sekarang, mari kita lihat, aksi dan reaksi apa yang akan terjadi ketika kita menyantap sepotong daging: Di dalam perut dan usus-usus panjang, fermentasi gastric (lambung perut) akan mengubah protein-protein ke dalam bentuk asid-asid amino. Perlu diketahui bahwa di dalam dinding usus terdapat bulu-bulu halus yang ketika kita letakkan di bawah teropong mikroskop akan terlihat dalam bentuk yang mirip dengan permadani tebal.
Jumlah bulu-bulu halus di atas bisa mencapai hitungan hingga lima jutaan, dimana masing-masingnya tertanam pada sebuah pembuluh halus yang terletak di dalam dinding pori-pori yang merupakan butiran-butiran sangat halus yang menyaring asid-asid amino, getah dan sumsum daging, bahan-bahan yang telah tersaring, akan memasuki peredaran darah, akan tetapi sebelumnya mereka akan mengunjungi liver yang merupakan laboratorium kimia dan pengatur darah.
Liver senantiasa mengontrol jumlah gula darah yang dibutuhkan sebagai bahan makanan otot, dan juga mengontrol asid-asid amino yang dibutuhkan untuk membentuk dan memperbaiki jaringan-jaringan badan.
Apabila makanan yang kita konsumsi memiliki kandungan daging yang banyak, maka darah yang akan memasuki liver pun akan mengandung asid-asid amino yang banyak pula, dan liver akan menyimpan sebagian dari bahan-bahan ini dan mempergunakan sebagian lainnya. Dengan proses ini, darah sebagai bahan nutrisi bagi sel-sel tubuh akan tersedia dan akan dikirimkan hingga sampai pada setiap bagian sel-sel tubuh yang membutuhkannya, misalnya untuk membentuk sebuah otot atau memperbaharui jari yang terbakar.
Gula yang didapatkan oleh darah dari teh manis yang kita hirup, demikian juga yang dihasilkan dari tepung roti dan kentang yang kita makan, pada usus panjang akan berubah menjadi glukosa dan setelah itu akan memasuki liver. Setiap kali glukosa ini mencapai jumlah tertentu, maka liver akan mengubahnya menjadi glycogene, lalu menyimpannya dalam bentuk ini. Ketika otot membutuhkan bahan bakar dan energi, maka glycogene ini akan kembali berubah menjadi glukosa dan secara bertahap akan keluar dari liver. Ketika terjadi aktivitas olah raga yang membutuhkan banyak energi, maka liver ini akan mengambil glukosa simpanannya yang cukup untuk dimanfaatkan dalam waktu sekitar 12 hingga 24 jam.
Lemak-lemakpun merupakan salah satu dari jenis bahan bakar yang dipergunakan oleh tubuh. Setelah melakukan perjalanannya melewati usus, lemak-lemak ini akan berubah menjadi asid-asid lemak dan memasuki getah makanan, dan setiap kali persediaan glycogene yang disimpan oleh liver habis, maka untuk beberapa minggu lamanya liver mampu memenuhi bahan bakar tubuh dengan persediaan dan simpanan yang dia miliki.
Sebagaimana yang telah kami sebutkan, darah membawa berbagai bahan di dalam dirinya terutama bahan-bahan protein yang memiliki jumlah cukup menarik perhatian. Salah satu dari protein-protein mengandung bahan yang digunakan untuk kelenjar tiroid[1], sementara yang lainnya memiliki fosfor yang mempunyai peran sangat penting untuk menguatkan tulang-tulang dan memberikan pertahanan yang kuat bagi gigi.
Di dalam darah senantiasa terdapat satu liter oksigen larut, gas teramat penting ini, di dalam darah akan bergabung dengan hemoglobin, yang kemudian dari proses ini akan dihasilkan warna merah darah sebagaimana yang kita miliki. Meskipun proses ini bisa berlangsung di dalam paru-paru akan tetapi proses kebalikannya terjadi di dalam sel-sel dan juga di dalam sepanjang sistem peredaran darah. Dalam proses ini hemoglobin akan menolak oksigen ke arah darah dan gas karbon akan mengambil darah.
Bagian dari sistem peredaran darah yang sering mendapat perhatian adalah saluran luas dari pembuluh-pembuluh halus yang merupakan pipa-pipa mikroskopik yang menghubungkan ujung pembuluh-pembuluh halus. Pembuluh-pembuluh ini sedemikian halusnya sehingga ketika sel-sel darah merah hendak memasukinya, mereka terpaksa harus melakukannya secara bergilir, di sinilah darah melakukan kewajiban aslinya dan memberikan nutrisi pada sel-sel lalu mengambil sel-sel yang telah rusak dan menyertakannya dalam alirannya.
Masing-masing sel melangsungkan kehidupannya dengan berenang di dalam cairan bergaram yang senantiasa mengalami pembaruan, dan cairan asin tersebut berperan sebagai tempat untuk melakukan pembinaan sel-sel tadi.
Darah halus memiliki beragam sedimen antara lain seperti gas karbon, air, dan sisa-sisa protein yang telah mengalami perubahan, dan sistem peredaran darahlah yang bertugas untuk mengirimkan sedimen-sedimen ini ke dalam liver atau ginjal.
Ginjal merupakan sebuah sistem infiltrasi yang terbentuk dari pipa-pipa sangat panjang yang jumlah ukuran panjangnya bisa mencapai seratus kilometer, bentuk ginjal ini mirip dengan biji-bijian, dan dalam sepanjang siang dan malam dia mampu membersihkan darah hingga mendekati jumlah 200 liter darah. Bahan-bahan berbahaya dan kotor yang terdapat di dalam darah khususnya urea, amoniak dan kerak-kerak dari sisa makanan akan diubahnya menjadi urine yang kemudian akan dikeluarkan, sementara 178 liter cairan yang bersih akan dikirimkannya kembali ke dalam darah.
Liver akan mengontrol asid-asid amino dan gula darah, sedangkan ginjal bertugas untuk menyeimbangkan bahan-bahan mineral darah. Darah yang memasuki ginjal bisa jadi memiliki kandungan garam sodium, magnesium dan fosfat dalam jumlah yang lebih banyak. Dalam keadaan ini kedua ginjal akan meletakkan mineral-mineral garam tersebut dalam pengawasannya untuk membatasi jumlah masing-masingnya. Ketika darah meninggalkan kedua ginjal, maka dia akan membawa sejumlah bahan-bahan mineral garam yang dibutuhkan oleh anggota tubuh yang secara urgensi harus memiliki bahan-bahan tersebut, lalu mengirimkannya kepada sel-sel tubuh yang membutuhkanya, dan darah ini akan melakukan tugas-tugas di atas dengan sangat cermat.
Berdasarkan metode lama, kecepatan aliran darah bisa ditentukan dengan cara menyuntikkan cairan asin ke dalam pembuluh darah. Cairan ini akan disuntikkan melalui pembuluh darah yang terletak di pergelangan kaki, lalu waktu yang dibutuhkan sejak dilakukan penyuntikan hingga sampainya cairan asin ini ke indera perasa yaitu lidah, akan dihitung dengan menggunakan sebuah alat penghitung waktu yang sangat detail bernama chronometer.
Akan tetapi pada era kontemporer, kecepatan aliran darah telah bisa diukur dengan alat ukur tertentu yang menggunakan bahan radioaktif. Dari pengamatan yang dilakukan dengan alat ini, para spesialis sampai pada kesimpulan bahwa batasan normal kecepatan aliran darah, pada setiap detiknya mampu menempuh jarak hingga limabelas sentimeter. Pengontrolan aliran darah pada setiap detik merupakan pekerjaan yang sangat susah dan menuntut kecermatan tinggi dan hal ini bergantung pada pusat urat-urat saraf dan pembuluh kapiler.
Cairan-cairan saraf yang bergerak dari otak ke arah dinding otot-otot pembuluh, akan memberikan perintah yang in-active atau perlahan, perintah ini lalu akan diterima oleh klep pengatur darah yang akan terbuka dan tertutup secara otomatis. Misalnya, apabila pada hari yang sangat panas, seseorang berbaring di samping kolam air, maka aliran darahnya bisa tetap berada dalam keadaan yang tenang dan pembuluh-pembuluh halusnya kosong, hal ini dikarenakan, ketika seseorang berada dalam keadaan yang tenang dan santai, sel-sel tubuhnya tidak banyak membutuhkan energi. Akan tetapi, begitu orang tersebut menceburkan dirinya ke dalam kolam, maka pusat penggerak saraf dan otot-ototnya dengan cepat akan melakukan aktivitas, dan otot-ototnya akan segera melahap glukosa-glukosa miliknya lalu berusaha untuk segera membuang sedimen-sedimen karbon yang ada di dalamnya.
Di dalam tubuh terdapat pula cabang lain yang memegang peran penting untuk mengontrol aliran darah, salah satunya terletak pada bagian atas perut yang juga merupakan salah satu dari saluran saraf. Apabila terdapat benturan mengenai bagian ini maka saluran tipis ini akan segera mengalami kerusakan dan pembuluh-pembuluh halus yang terdapat di dalam perut akan mengalami pembengkakan. Dengan adanya pembengkakan, darah akan tersedot ke lokasi ini dalam jumlah yang besar, yang hal ini akan menyebabkan otak mengalami kekurangan persediaan darah, dan kekurangan persediaan darah pada otaklah yang kemudian menyebabkan penderita menjadi pingsan.
Setelah makan siang atau makan malam, peristiwa semacam ini pun akan terjadi, hanya saja, dengan kualitas yang tidak terlalu parah. Ketika darah yang digunakan untuk mencerna makanan memberikan perhatiannya pada kondisi perut, maka otak akan menerima darah kurang dari jumlah yang seharusnya dia terima, reaksi yang akan muncul dari keadaan ini adalah timbulnya rasa mengantuk pada seseorang, karena alasan inilah sehingga sering dikatakan bahwa setelah makan seseorang harus menghindarkan diri dari pergi ke air, karena apabila darah yang sampai pada sistem pencernaan dan otot-otot tidak mencukupi, maka akan bisa terjadi kekacauan pada tubuh yang berakibat sangat fatal.
Jumlah sel-sel darah merah yang dimiliki oleh orang dewasa kira-kira berkisar antara enam hingga tujuh liter, dimana dalam jumlah sebanyak ini terdapat sekitar 30 ribu milyar sel. Sel-sel ini beroperasi di dalam inti tulang dan dalam setiap menitnya mampu menciptakan 72 juta sel setara yang kemudian akan menghilang, dan umur terpanjang dari kehidupannya adalah 30 hari.
Sel-sel darah merah, yang menjadi target serangan dari tambahan-tambahan mikroskopik sel yang mirip dengan lautan bintang ketika melewati liver, akan menjadi musnah dan menghilang, akan tetapi organ-organ tubuh senantiasa akan menyimpan 85 persen dari sel-sel ini, dan simpanan ini akan dikirimkan oleh darah ke inti tulang, kemudian inti tulang akan melakukan proses untuk mempersiapkan hemoglobin baru.
Di dalam tubuh manusia, selain terdapat sel-sel darah merah, terdapat pula sel-sel darah putih yang memiliki tugas untuk melakukan penyerangan kepada bakteri dan infeksi-infeksi serta kerusakan darah yang ada di dalam tubuh, sebagian dari sel-sel darah putih ini akan menyerang mikroba-mikroba lalu memakannya.
Di dalam darah terdapat pula sebuah bahan yang dipergunakan untuk melakukan penggumpalan, dimana para ilmuwan dan para ahli kimia hingga kini belum mampu menemukan substansinya. Selain itu, di dalam darah juga bisa ditemukan adanya material lain yang sangat signifikan, dimana material ini sangat berguna untuk menentukan jenis dan golongan darah yang dimiliki secara khusus oleh setiap individu. Hingga saat ini telah ditemukan dua hingga tiga jenis darah dan sebagaimana yang kita ketahui, akhir-akhir ini telah dilakukan pengaturan yang rapi dalam menyusun berkas-berkas jenis darah untuk masing-masing individu.

2.5.2 Burung
Alat-alat transportasi pada burung merpati terdiri atas jantung dan pembuluh darah. Jantung terdiri atas empat ruang yaitu serambi kiri, serambi kanan, bilik kiri dan bilik kanan. Darah yang banyak mengandung oksigen yang berasal dari paru-paru tidak bercampur dengan darah yang banyak mengandung karbondioksida yang berasal dari seluruh tubuh. Peredaran darah burung merupakan peredaran darah ganda yang terdiri atas peredaran darah kecil dan peredaran darah besar.
Untuk mempelajari peredaran darah pada aves, kita ambil contoh peredaran darah burung. Peredaran darah burung tersusun oleh jantung sebagai pusat peredaran darah, darah, dan pembuluh-pembuluh darah. Darah pada burung tersusun oleh eritrosit berbentuk oval dan berinti. Jantung burung berbentuk kerucut dan terbungkus selaput perikardium. Jantung terdiri dari dua serambi yang berdinding tipis serta dua bilik yang dindingnya lebih tebal. Pembuluh-pembuluh darah dibedakan atas arteri dan vena. Arteri yang keluar dari bilik kiri ada tiga buah, yaitu dua arteri anonim vang bercabang lagi menjadi arteri – arteri vang memberi darah ke bagian kepala, otot terbang, dan anggota depan; dan sebuah aorta vang merupakan sisa dari arkus aortikus vang menrlju ke kanan (arkus aortikus yang menuju ke kiri rnereduksi). pembuluh nadi ini kemudian melingkari bronkus sebelah kanan dan membelok ke arah ekor menjadi aorta dorsalis (pembuluh nadi punggung). Pembuluh nadi yang keluar dari bilik kana hanya satu, yakni arteri pulmonis (pembuluh nadi paru -paru), yang kemudian bercabang menuju paru-paru kiri dan kanan.

Pembuluh balik (verra) dibedakan atas:
1. Pembuluh balik tubuh bagian atas (vena kava superior); vena ini membawa darah dari kepala,anggota. depan, dan anggota otot-otot pektoralis menuju jantung.
2. Pembuluh balik tubuh bagian bawah (vena kava inferior); membawa darah dari bagian bawah tubuh ke jantung.
3. Pembuluh balik yang datang jari paru – paru (pulmo) kanan dan paru – paru kiri serta membawa darah menuju serambi kiri jantung.

2.5.3 Reptil
Jantung reptil mempunyai sistem peredaran ganda seperti pada burung. Jantung kadal terdiri dari empat ruang yaitu serambi kiri, serambi kanan, bili kiri dan bilik kanan. Dari jantung keluar dua buah aorta aorta kanan dan aorta kiri. Aorta kanan keluar dari bilik kiri dan mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Aorta kiri keluar dari perbatasan bilik kiri dan bilik kanan mengalirkan darah ke bagian belakang tubuh.
Sistem peredaran darah pada reptilian lebih maju bila dibandingkan dengan sistem peredaran amfibi karena adanya pemisahan darah yang beroksigen dan tidak beroksigen dalam jantung. Jantung reptilia terletak di rongga dada di bagian depan ventral. Jantung terdiri dari sinus venosus, serambi kiri dan serambi kanan, serta bilik kiri dan bilik kanan. Pada umumnya, diantara dua bilik terdapat sekat (septum) yang tidak sempurna, kecuali pada buaya. Pada buaya sekat tersebut hamper sempurna dan terdapat foramen panizzae, yaitu lubang yang terdapat pada tempat pertemuan arteri sistemik kanan dan kiri. Arteri sistemik merupakan arteri yang berasal dari jantung menuju keaorta. Arteri sistemik merupakan arteri yang berasal dari jantung menuju ke aorta. Darah dari vena masuk ke jantung melalui sinus venosus, menuju ke serambi kanan kemudian ke bilik kanan. Darah yang berasal dari paru-paru, melalui arteria pulmonalis, masuk ke serambi kiri kemudian ke bilik kiri. Dari bilik kiri, darah dipompa keluar melalui sepasang arkus aortikus. Dua arkus aortikus ini lalu menghubungkan diri menjadi satu membentuk aorta dorsalis yang mensuplai darah ke alat-alat dalam, ekor, dan alat gerak belakang. Dari seluruh jaringan tubuh, darah menuju ke vena, kemudian menuju sinus venosus dan kembali ke jantung.

2.5.4 Katak
Jantung katak mempunyai sistem peredaran darah ganda. Jantung katak terdiri atas tiga ruang yaitu serambi kiri, serambi kanan dan bilik. Karena jantung katak hanya mempunyai satu bilik,darah yang banyak mengandung oksigen dan karbon dioksida masih bercampur dalam bilik jantung.
Sistem peredaran darah pada katak terdiri dari, jantung beruang tiga, arteri, vena, sinus, venosus, kelenjar limfa, dan cairan limfa.darah katak tersusun dari plasma darah yang terang (cerah) dan berisi sel – sel darah (korpuskula), yakni sel – sel darah merah , sel darah putih dan keeping sel darah.

Jantung katak terdiri dari:
1. Sebuah bilik yang berdinding tebal dan letaknya disebelah posterior.
2. Dua buah serambi , yakni serambi kanan (atrium dekster) dan serambi kiri (atrium sinister).
3. Sinus venosus yang berbentuk segitiga dan terletak disebelah dorsal dari jantung.
4. Trunkus arteriosus berupa pembuluh bulat yang keluar dari bagian dasar anterior bilik.
Untuk mencegah berbaliknya, aliran darah, di antara serambi dan bilik terdapat katup (valve), sedangkan antara serambi kanan dan kiri terdapat sekat (septum). Di dalam trunkus arteriosus terdapat katup spiralis. Darah yang mengandung CO2, dari seluruh tubuh masuk ke jantung melalui vena kava (pembuluh balik tubuh). Darah ini mula – mula berkumpul di sinus venosus, dan kemudian karena adanya kontraksi maka darah akan masuk serambi kanan. pada saat itu, darah yang mengandung O2, yang berasal dari paru-paru masuk ke serambi kiri. Bila kedua serambi berkontraksi maka darah akan terdorong ke dalam bilik. Dalam bilik terjadi sedikit percampuran darah yang kaya O2 dan miskin O2. Untuk selanjutnya, darah yang kaya O2 dalam bilik dipompa melalui trunkus arteriosus menuju arteri hingga akhirnya sampai di arteri yang sangat kecil (kapiler) diseluruh jaringan tubuh. Dari seluruh jaringan tubuh, darah akan kembali kejantung melewati pembuluh balik yang kecil (venula) dan kemudian ke vena dan akhirnya ke jantung, sementara itu, darah yang miskin dipompa keluar melewati arteri konus tubular. Pada katak dikenal adanya sistem porta , yaitu suatu sistem yang dibentuk oleh pembuluh balik (vena ) saja.

2.5.5 Ikan

Sistem peredaran darah pada ikan terdiri dari: jantung beruang dua, yaitu sebuah-bilik (ventrikel) dan sebuah serambi (atrium). Jantung terletak dibawah faring di dalam rongga pericardium , yaitu bagian dari rongga tubuh yang terletak dianterior (muka). selain itu, terdapat organ sinus venosus, yaitu struktur penghubung berupa rongga yang menerima darah dari vena dan terbuka di ruang depan jantung. Darah ikan tampak pucat dan relative sedikit bila dibanding dengan vertebrata darat. Plasma darah mengandung sel darah merah yang berinti dan sel darah putih. Lien (limpa) sebagai bigian dari sistem peredaran terdapat di dekat lambung dan dilengkapi dengan pembuluh-pembuluh limpa. Pada proses peredaran darah, darah dari seluruh tubuh yang mengandung CO2 kembali ke jantung melalui vena dan berkumpul di sinus venosus kemudian masuk ke serambi. Selanjutnya, darah dari serambi masuk ke bilik dan dipompa menuju insang melewati konus arterious, aorta ventralis, dan empat pasang arteri aferen brakialis. Pada arteri aferen brakialis, Oksigen diikat oleh darah, selanjutnya menuju arteri eferen brakialis dan melalui aorta dorsalis darah diedarkan ke seluruh tubuh. Di jaringan tubuh, darah mengikat CO2 Dengan adanya sistem vena, darah dikemballikan dari bagian kepala dan badan menuju jantung. Vena yang penting misalnya: vena cardinalisposterior dan vena cardinalis posterior (membawa darah dari kepala dan badan), vena porta hepatika (membawa darah dari tubuh melewati hati),vena porta renalis (membawa darah dari tubuh melewati ginjal). Peredaran darah pada ikan disebut peredaran darah tunggal karena darah hanya satu kali melewati jantung.
Peredaran darah ikan mempunyai sistem peredaran darah tunggal. Jantung terdiri atas dua ruang yaitu serambi dan bilik. Jantung berisi darah yang miskin oksigen. Darah yang berasal dari bilik jantung dipompa melalui aorta menuju insang. Dalam insang karbon dioksida dilepaskan dan oksigen diikat oleh darah. Setelah melewati insang, darah yang banyak mengandung oksigen dialirkan ke seluruh tubuh.
Sistem peredaran darah pada ikan terdiri dari: jantung beruang dua, yaitu sebuah-bilik (ventrikel) dan sebuah serambi (atrium). Jantung terletak dibawah faring di dalam rongga pericardium , yaitu bagian dari rongga tubuh yang terletak dianterior (muka). selain itu, terdapat organ sinus venosus, yaitu struktur penghubung berupa rongga yang menerima darah dari vena dan terbuka di ruang depan jantung. Darah ikan tampak pucat dan relative sedikit bila dibanding dengan vertebrata darat. Plasma darah mengandung sel darah merah yang berinti dan sel darah putih. Lien (limpa) sebagai bigian dari sistem peredaran terdapat di dekat lambung dan dilengkapi dengan pembuluh-pembuluh limpa. Pada proses peredaran darah, darah dari seluruh tubuh yang mengandung CO2 kembali ke jantung melalui vena dan berkumpul di sinus venosus kemudian masuk ke serambi. Selanjutnya, darah dari serambi masuk ke bilik dan dipompa menuju insang melewati konus arterious, aorta ventralis, dan empat pasang arteri aferen brakialis. Pada arteri aferen brakialis, Oksigen diikat oleh darah, selanjutnya menuju arteri eferen brakialis dan melalui aorta dorsalis darah diedarkan ke seluruh tubuh. Di jaringan tubuh, darah mengikat CO2 Dengan adanya sistem vena, darah dikemballikan dari bagian kepala dan badan menuju jantung. Vena yang penting misalnya: vena cardinalisposterior dan vena cardinalis posterior (membawa darah dari kepala dan badan), vena porta hepatika (membawa darah dari tubuh melewati hati),vena porta renalis (membawa darah dari tubuh melewati ginjal). Peredaran darah pada ikan disebut peredaran darah tunggal karena darah hanya satu kali melewati jantung.

2.5.6 Serangga
Serangga mempunyai alat transportasi berupa jantung pembuluh. Pada bagian jantung pembuluh terdapat lubang-lubang kecil (ostium) yang mempunyai katup. Pada waktu jantung pembuluh berdenyut ostium tertutup, darah mengalir ke depan melalui aorta. Peredaran darah belalang hanya mengedarkan sari makanan dan mengambil sisa metabolisme. Sedangkan pengedaran oksigen ke seluruh tubuh dan pengambilan karbon dioksida dilakukan melalui sistem trakea.

2.5.7 Cacing Tanah
Cacing mempunyai alat peredaran darah yang terdiri atas pembuluh darah punggung, pembuluh darah perut dan lima pasang lengkung aorta. Lengkung aorta berfungsi sebagai jantung.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut diantaranya:
1. Secara umum system peredaran darah yang dimiliki oleh hewan dibagi menjadi 2 (dua) yaitu system peredaran darah terbuka dan system peredaran darah tertutup.
2. Sistem peredaran darah pada avertebrata seperti Protozoa, spons, coelentrata dan cacing pipih, tidak mempunyai alat peredaran yang tertentu, makanan diangkut melalui lekukan sederhana, demikian juga udara pernafasan, dan sisa makanan. Sedangkan pada vertebrata hampir semua vertebrata darahnya terdiri atas: (1), plasma yang tidak berwarna; (2) sel-sel darah putih/leucocyt; (3) sel-sel darah merah atau eritrocyt yang member warna pada hemoglobin; (4) sel-sel kecil yaitu platelet/trombocyt yang penting pada pembekuan.
3.2 Saran
Berdasarkan penulisan dan pembahasan system sirkulasi dan distribusi darah pada hewan maka dapat disarankan terutama kepada ilmuwan ataupun para ahloi dalam bidang hewan lebih mempelajari lagi tentang system peredaran darah yang ada pada hewan, agar disuatu saat pengetahuan tentang masalah ini dapat digunakan untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan, selain itu juga dapat memberikan kontribusi yang positif kepada bangsa dan Negara.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2009. Sistem Peredaran Darah. (Online). http://www.wikipedia.org. Diakses Tanggal 07 Maret 2009.
Anonymous. 2009. Sistem Transportasi Hewan. http://gurungeblog.wordpress.com/. Diakses Tanggal 07 Maret 2009.
Anonymous. 2008. Sistem Peredaran Darah. (Online). http://kireidwi.blog.friendster.com/. Diakses Tanggal 07 Maret 2009.
Anonymous. 2008. Sistem Sirkulasi Pada Hewan dan Manusia. (Online). http://tedbio.multiply.com/journal/item/19/Sistem_Sirkulasi_pada_Hewan_dan_Manusia. Diakses Tanggal 06 Maret 2009.
Anonymous. 2007. The System Peredaran Darah. (Online). http://www.emc.maricopa.edu. Diakses Tanggal 07 Maret 2009.
Hadikastowo. 1982. Zoologi Umum. Penerbit Alumni. Bandung.
Puspta, Hendra. 2008. Sistem Peredaran Darah Pada Vertebrata. http://one.indoskripsi.com/. Diakses Tanggal 07 Maret 2009.

06/20/2009 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

METODE PEMBELAJARAN ICE MIXES

METODE PEMBELAJARAN ICE MIXES
1. Guru menyampaikan pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Pada tahap ini guru memberikan gambaran umum tetntang materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok.
2. Guru membagi siswa kedalam kelompok dengan cara menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topic yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
3. Setiap siswa mendapat satu buah kartu Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang d. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban).
4. Setelah siswa bertemu dengan pasanganya, siswa mencari lagi kelompok besarnya berdasarkan indikator yang telah diterangkan oleh guru sebelumnya.
5. Setelah siswa dalam kelompok besar, tiap kelompok menunjuk satu orang tutor untuk menjelaskan materi indicator yang telah diperoleh siswa berdasarkan langkah ke 3 dan ke 4 dalam kelompoknya.
6. Guru Memberikan kesempatan siswa/peserta tiap kelompok untuk menjelaskan kepada peserta lainnya baik melalui bagan/peta konsep maupun yang lainnya.
7. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya.
8. Sementara pendengar :Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap. Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya h.
9. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
10. Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan Guru.
11. Guru melakukan penilaian kepada siswa dengan cara memberi tes atau kuis seacara kelompok dan individu.
12. Penetapan tim yang dianggap paling baik dalam pelajaran.

06/20/2009 Posted by | SBM | Tinggalkan komentar

ASOSIASI BEKICOT INDONESIA (ABI)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bekicot berasal dari Afrika Timur, tersebar keseluruh dunia dalam waktu relatif singkat, karena berkembang biak dengan cepat. Bekicot tersebar ke arah Timur sampai di kepulauan Mauritius, India, Malaysia, akhirnya ke Indonesia. Bekicot sejak tahun 1933 telah ada disekitar Jakarta, sumber lain menyatakan bahwa bekicot jenis Achatina fulica masuk ke Indonesia pada tahun 1942 (masa pendudukan Jepang). Sampai saat ini, bekicot jenis Achanita fulica banyak terdapat di Pulau Jawa.
Bekicot mengandung protein yang cukup tinggi dibandingkan dengan daging ayam, daging sapi dan telor. Pembuatan tepung bekicot merupakan usaha untuk menghindari kesan menjijikkan terhadap bekicot dengan jalan mengolahnya menjadi bentuk yang berbeda dengan sewaktu hidupnya. Di samping itu juga bertujuan untuk memperpanjang masa simpan. Setiap 100 daging bekicot mentah mengandung protein sebanyak 15,8 gram dan lemak 0,9 gram. Tenaga yang dihasilkan tiap 100 gram daging bekicot sebanyak 97 kilo kalori atau lebih besar dari tenaga yang dihasilkan oleh daging yang diternak lain.
Bekicot sejak lama dikenal dan ditemukan dimana-mana di pelosok tanah air. Dulu hewan ini dikenal sebagai hama tanaman, tetapi sejak tahun 1980 mulai diekspor dalam bentuk beku dengan tujuan Eropa. Bagi masyarakat Eropa, khususnya Prancis bekicot merupakan salah satu makanan yang lezat, bergizi dan terhormat serta berharga mahal.
Impor bekicot Prancis dalam bentuk segar dan dibekukan dari Indonesia diperkirakan meningkat dari 1 212 ton pada tahun 1986 menjadi sekitar 11000 ton pada tahun 1990. Sedangkan data sebelumnya, yaitu tahun 1983 menunjukkan bahwa ekspor bekicot Indonesia tercatat 190 813 kg dengan nilai 939 011 dollar AS dan 725 240 senilai 1 182 299. 34 dollar AS pada tahun 1984. Pasaran ekspor bekicot Indonesia yang penting selain Prancis adalah Amerika Serikat, Hongkong dan Taiwan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
 Bagaimanakah bentuk budidaya dari bekicot?
 Bagaimanakah bentuk produk-produk olahan dari bekicot?
 Bagaimanakah bentuk perkumpulan atau asosiasi dari bekicot?
1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah bentuk budidaya dari bekicot, Bagaimanakah bentuk produk-produk olahan dari bekicot, dan Bagaimanakah bentuk perkumpulan atau asosiasi dari bekicot.
1.4 Manfaat Penulisan
Penulisan ini memberikan beberapa manfaat. Aspek akademis memberikan indormasi ilmiah kepada masyarakat tentang pembudidayaan dan produk-produk olahan dari bekicot. Aspek ekonomis dengan penginformasian tentang pembudidayaan dan produk olahan dari bekicot akan mendatangkan income atau pendapatan bagi masyarakat. Aspek sosial dengan pendirian asosiasi bekicot akan membuat bekicot lebih dikenal oleh masyarakat dan membuat masyarakat tidak lagi apatis terhadap bekicot.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Bekicot
2.1.1 Deskripsi Bekicot
Bekicot dewasa memiliki tinggi sekitar 7 cm (2,5 inci), dan mereka dapat mencapai panjang 20 cm (8 inci) atau lebih. Cangkang bentuknya kerucut, yang luasnya dua kali lipat dari tinggi tubuhnya. Cangkang bentuknya searah jarum jam (sinistral) atau berlawanan arah dari jarum jam. Warna cangkang sangat variabel, dan bergantung pada makanan. Biasanya, coklat adalah warna utama dan cangkang terikat.
Achatina fulica merupakan protandrous wadam. Dewasa laki-laki dan perempuan memiliki organ seksual, dengan laki-laki organ maturing sebelumnya. Kematangan seksual laki-laki terjadi dalam waktu kurang dari satu tahun, kadang-kadang sebagai muda sebagai lima bulan. Setelah persetubuhan mereka dapat menyimpan sperma, membuat telur-turut setelah peletakan mungkin hanya satu perkawinan. Beberapa ratus telur per kopling mungkin diungkapkan. Mereka adalah telur warna kekuning-kuningan-putih ke kuning, agak oval dengan bentuk dan ukuran 4 hingga 5,5 mm (kurang lebih ¼ inci) dan panjang sekitar 4 mm lebar. Shell mungkin ukuran hingga 20 cm (8 inci) dan panjang 12 cm (hampir 5 inci) di diameter maksimum. Umumnya terdapat tujuh dengan sembilan whorls dan jarang sebanyak sepuluh whorls. Achatina fulica lebih lingkungan yang kaya akan kalsium carbonate, seperti batu gamping, marl, dan dibangun atas tempat terdapat banyak semen atau beton.. Kapur di daerah-daerah yang kaya kerang orang dewasa cenderung kental dan kabur. Remaja umumnya memiliki tipis, shell lebih jelas dan lebih rapuh. Perlu dicatat bahwa bahkan di posting ini berhubung dgn lembaga-ciri remaja yang dipotong columella sudah jelas. Setelah muncul dari kulit telur panjang pos-berhubung dgn lembaga remaja shell tindakan sekitar 4 mm (sekitar 1 / 6 inci). Walaupun shell pewarnaan variabel mungkin karena kondisi lingkungan dan gizi, umumnya adalah cokelat kemerahan dengan cahaya kekuning-kuningan, vertikal (aksial) streaks. Shell dua warna tidak berbeda dari satu sama lain dan agak buram atau bimbang dalam tampilan. Lain shell variasi warna menyerupai cahaya warna kopi. Warna secara perlahan dengan usia di awal whorls muncul terang atau kurang kuat, menjadi gelap dan lebih bersemangat terdekat badan ulir. Tubuh hewan yang hidup ini memiliki dua pasang tentacles, satu rendah singkat pasangan yang berkenaan dgn peraba dan chemotactic, dan satu lagi atas pasangan dengan bintik-bintik pada mata tips. Tubuh itu sendiri lembab, berlumpur dan elastis. Tubuh pewarnaan dapat berupa burik coklat atau lebih jarang yang pucat warna cream. Footsole adalah yang rata, dengan kasar tubercles paling nyata laterally di atas permukaan tubuh diperpanjang.
Dengan garis-besar, shell Mei agak berbeda, bahkan di dalam satu koloni, dari lanjai ke cukupan obese. Spesimen yang lebih luas dengan jumlah yang sama whorls cenderung singkat di shell panjang.. Shell biasanya conically khas narrowed runcing dan ditarik keluar tapi hampir di puncak. Yang akan dibulatkan whorls terkesan dengan cukupan sutures antara whorls. Kecepatan rana yang relatif singkat dan memiliki ovate-bentuk semi bulan. Adalah bibir yang tajam, cembung, tipis dan merata ke laur biasa semi elips. Shell permukaan relatif halus, dengan pertumbuhan kusam aksial baris. Salah satu yang paling penting identifikasi fitur Achatina fulica merupakan columella yang truncates atau tiba-tiba berakhir, fitur jelas sepanjang sisa jangka hidup dari siput. Columella yang umumnya kelung; kurang concaved columella cenderung agak sinting. Kerang yang lebih luas cenderung memiliki lebih cekung columella. The columella dan parietal belulang yang kebiru-biruan atau putih-putih tanpa jejak dari pink.
2.1.2 Habitat
Seluruh negara di mana Achatina fulica didirikan dengan iklim tropis yang hangat, ringan sepanjang tahun suhu dan kelembaban tinggi (Venette dan Larson 2004). Spesies yang terjadi di daerah-daerah pertanian, wilayah pesisir dan Wetlands, terganggu daerah, alam dan hutan tanaman, zona tepi pantai, scrublands dan shrublands, dan perkotaan (Moore 2005). Snails ini berkembang pesat di tepi hutan, dimodifikasi hutan, perkebunan dan habitat (Raut dan Barker 2002). Di mana pun itu terjadi, maka siput terus ke panas lowlands sedang hangat dan lebih rendah dari lereng gunung-gunung. Perlu di atas suhu beku sepanjang tahun, dan kelembaban tinggi selama sekurang-kurangnya bagian dari tahun, bulan kering yang berkurang dalam aestivation terbengkalai. Ia dibunuh oleh sunshine (Venette dan Larson 2004). fulica tetap aktif di berbagai suhu 9 ° C sampai 29 ° C, dan survives suhu dari 2 ° C oleh hibernasi dan 30 ° C oleh aestivation (Fowler dan Smith 2003).
2.1.3 Jenis Makanan
The Giant Snail Afrika Timur adalah macrophytophagous herbivore; tidak makan berbagai macam bahan tanaman, buah dan sayuran. Ia akan kadang-kadang makan pasir, batu-batu sangat kecil, tulang carcasses dari beton dan bahkan sebagai sumber kalsium untuk shell. Dalam kasus yang jarang snails akan mengkonsumsi satu sama lain. Dalam tahanan, spesies ini dapat makan di butiran produk seperti roti, biskuit pencernaan ayam dan pakan. Buah-buahan dan sayuran harus dicuci rajin sebagai siput sangat peka terhadap apa pun tak datang-datang pestisida Dalam tahanan, snails memerlukan cuttlebone untuk membantu pertumbuhan dan kekuatan untuk mereka shells. Seperti semua molluscs, mereka menikmati dalam ragi bir, yang berfungsi sebagai pendorong pertumbuhan.
2.1.4 Reproduksi
The East African Giant Snail adalah serentak wadam; masing-masing individu memiliki kedua testes dan ovaries dan mampu memproduksi kedua sperma dan ova. Contoh dari diri fertilisation yang langka, hanya terjadi di populasi kecil. Meskipun kedua snails dalam perkawinan pasangan dapat secara bersamaan gametes mentransfer ke satu sama lain (bilateral perkawinan), hal ini tergantung pada ukuran perbedaan antara mitra. Snails ukuran yang sama akan mereproduksi dengan cara ini. Snails dari dua ukuran yang berbeda akan mate sepihak (satu arah), dengan semakin besar individu sebagai perempuan. Hal ini karena perbandingan sumberdaya investasi yang terkait dengan berbagai genders.
Lainnya seperti tanah snails, perkawinan ini telah menarik tingkah laku, termasuk hastakarya kepala bagian depan dan terhadap satu sama lain. Masa terakhir dapat sampai setengah jam, dan yang sebenarnya transfer gametes dapat berlangsung selama dua jam. Ditransfer sperma dapat disimpan dalam tubuh sampai dua tahun. Jumlah telur per kopling rata-rata sekitar 200. J siput 5-6 Mei meletakkan kuku-kuku per tahun dengan penggarisan kelangsungan hidup dari sekitar 90%.
2.1.5 Siklus Hidup
Ukuran dewasa yang mencapai sekitar enam bulan, yang kemudian akan memperlambat pertumbuhan tetapi tidak pernah berhenti. Harapan Hidup umumnya lima atau enam tahun dalam tahanan, tetapi untuk hidup snails Mei hingga sepuluh tahun. Mereka aktif di malam hari dan menghabiskan hari terkubur di bawah tanah. East African Land Snail mampu aestivating untuk sampai tiga tahun pada saat kemarau ekstrim, sealing sendiri ke dalam tempurung oleh keluarnya dari calcerous kompleks yang dries pada kontak dengan udara. Ini adalah kedap; siput yang tidak akan kehilangan apapun air selama periode ini.
2.2 Pembudidayaan
2.2.1 Persyaratan Lokasi
Lokasi perlu dipilih yang dekat dengan jalan, agar mudah penanganannya, baik saat pembuatan kandang, saat pengontrolan maupun penanganannya pascapanen, artinya pada saat membawa hasil panen tersebut tidak kesulitan dalam transportasinya. Lokasi yang sesuai untuk budidaya bekicot adalah lokasi yang basah serta lembab dan terlindung dari cahaya matahari secara langsung. Selain itu juga tanah yang disukai adalah tanah yang banyak mengandung kapur sebagai zat untuk pembentukan cangkang.
2.2.2 Pemilihan Bibit
Tidak semua jenis bekicot cocok untuk dibudidayakan. Dua jenis bekicot yang biasa diternakan, yaitu spesies Achantina fulica dann Achantina variegata. Cirri bekicot jenis achantina fulica biasanya berwarna garis-garis pada tempurung/cangkangnya tidak begitu mencolok. Sedangkan jenis Achantina variegate warna garis-garis pada cangkangnya tebal dan berbuku-buku.
Jika bibit unggul belum tersedia maka sebagaimaka sebagai langkah pertama dapat di gunakan bibit local mpulkan bekicot yang banyak terdapat di kebun pisang, kelapa, serta semak belukar. Bekicot yang baik di jadikan bibit adalah yang tidak rusak/cacat yang sementara waktu dan yang besar dengan berat lebih kurang 75-100grm/ekor.
1) Pemilihan Bibit Calon Induk
Jika bibit unggul belum tersedia maka sebagai langkah pertama dapat digunakan bibit lokal dengan jalan mengumpulkan bekicot yang banyak terdapat di kebun pisang, kelapa, serta semak belukar. Bekicot yang baik dijadikan bibit adalah yang tidak rusak/cacat yang sementara waktu dan yang besar dengan berat lebih kurang 75-100 gram/ekor.
2) Reproduksi dan Perkawinan
Bekicot biasanya mulai kawin pada usia enam sampai tujuh bulan ditempat pemeliharaan yang cukup memenuhi syarat. Pada masa kawin bekicot betina mulai menyingkir ke tempat yang lebih aman. Bekicot bertelur di sembarang tempat. Jumlah telurnya setiap penetasan biasanya lebih dari lima puluh butir (50 100). Jumlah produksi telur tergantung masa subur bekicot itu sendiri. Besar telur bekicot tidak lebih dari 2 mm.
3) Proses Kelahiran
Telur bekicot akan menetas setelah usianya cukup. Pada waktu telur itu menetas dan menjadi anak cangkang, biasanya tidak ditunggui induknya. Begitu bekicot selesai bertelur, telurnya ditinggalkan begitu saja. Telur bekicot akan pecah sendiri melalui proses alam.

Penetasan bekicot hingga menjadi anak tergantung pada keadaan tempat dan waktu tetas. Bilamana tempat itu memenuhi syarat (sempurna) seperti kelembaban tanah, iklim dan cahaya yang mencukupi, maka telur akan cepat menetas. Sebaliknya jika keadaan tanah/iklim kering dan tempatnya kurang menguntungkan maka telur akan lambat menetas.

2.2.3 Pengandangan
Walaupun lahan yang diperlukan tidaklah terlalu luas namun persyaratan mengenai kelembaban dan keteduhan perkandangan perlu di perhatikan, karena dalam aslinya dan untuk berkembang biak secara baik bekicot senang dengan keadaan yang lenmbab yang teduh. Kandang didirikan di tanah kering, teduh, lembab, dengan suhun udara berkisar 25-30 C. cara pemeliharaan bekicot tidak terlalu sulit. Bisa dilakukan secra terpisah, artinya bekicot yang kecil dupelihara terpisah dengan yang besar. Bisa juga di lakukan denagn cara campuran, yaitu bekicot kecil dan besar dipelihara dalam satu kandang. Bila dilakukan secara terpisah resikonya harus di buat kandang yang besar dan terpisah. Fungsinya kandang adalah untuk penetasan, pembesaran, dan sebagai kandang induk. Ada tiga cara bekicot untuk di ternakan yaitu
a. Kandang kotak kayu
Kandang terbuat dalam lembaran kayu triplek yang berkaki. Untuk kerangkanya dapat digunakan kayu kaso. Ukuran panjang dan lebar kandang adalah 1×1 meter, tinggi 1,25 meter. Di atas kotak tersebut di beri kawat kasa, agar bekicot tidak keluar dari dalam kandang.
b. Kandang dari bak semen
Pembuatan kandang ini sama dengan kandang kotak kayu. Dalam bak semen yang perlu di perhatikan adalah alasnya. Untuk menciptakan suasana yang lembab, alas semen perlu di beri tanah dan cacing untuk menggenburkan tanah dan menyerap kotoran yang dikeluarkan bekicot. Tebal lapisan tanah di dalam bak sekitar 30cm.
c. Kandang galian tanah
Tanah di gali dengan ukuran panjang, lebar dan tinggi 1x1x1 m. perlu di perhatikan sebaiknya tanah galian yang akan di gunakan ungtuk kandang di pilih yang agak kering. Untuk menjaga supaya tanah selalu gelap, seperti cara yang pertama dan kedua di atas kandang perlu di buatkan bedeng sebagai penutup. Masa panen, ila kandangnya terbuat dari tanah galian. Cara pengambilanya dilakukan dengan galah yang bisa menjepit bekicot agar bekicot dan telurnya tidak rusak. Beberapa perawatan teknis dalam budidaya bekicot diantaranya meliputi : 1) menjaga kelembapan lingkungan. 2) mempertahankan kondisi lingkungan. 3) pemberian pakan yang bermutu secra teratur. 4) menjaga areal agar tidak di masuki hewan lain. 5) menjaga bekicot agar tidak keluar dari areal pemeliharaan.
2.2.4 Pemeliharaan
Pemeliharaan bekicot bisa dilakukan dengan cara terpisah dan bisa juga secara campuran di dalam suatu tempat. Meskipun cara terpisah membutuhkan tempat khusus tetapi ada keuntungannya. Misalnya, anak bekicot bisa diketahui perkembangannya secara tepat, baik besarnya maupun usianya. Dengan demikian, tidak sulit untuk memberikan perawatan secara khusus. Bagi peternak bekicot sangat mudah kiranya apabila perawatan anak bekicot itu dilakukan di tempat khusus. Adapun makanan anak bekicot bisa diberi makanan dengan sejenis ganggang (lumut), pupus daun dan sedikit zat kapur. Harus diingat hendaklah tempatnya selalu teduh dan lembab. Setelah anak bekicot berusia dua/tiga bulan, hendaklah dipindahkan kekandang pembesaran. Keberhasilan budidaya bekicot tergantung pada cara perawatan dan pemeliharaan teknis selama diternakkan. Beberapa perawatan teknis dalam budidaya bekicot diantaranya meliputi:
1) Menjaga kelembaban lingkungan
Bekicot sangat suka tempat yang lembab sehingga untuk mempertahankan kelembaban lingkungan dapat digunakan atap atau perlindungan lain. Pada musim panas kelembaban lingkungan dapatdipertahankan dengan menyiramkan air lokasi peternakan setiap hari.
2) Mempertahankan kondisi likngkungan
Bekicot menyukai tempat yang lembab, namun bukan berarti pada tanah yang becek. Sehingga diperlukan usaha untuk mempertahankan kondisi lingkungan yang sesuai dengan yang dikehendaki bekicot.
3) Pemberian pakan yang bermutu secara teratur
Agar hasil budidaya berhasil dengan baik diperlukan pemberian pakan yang bermutu dan teratur. Pemberian pakan berpedoman pada mutu pakan dan kebiasaan waktu makan. Mutu makan yang baik akan menentukan kualitas daging bekicot. Mutu pakan yang baik dapat dipenuhi dengan memberi pakan berupa daun-daunan yang disukai dan buah-buahan. Misalnya; daun dan buah pepaya, daun bayam, buah terung mentimun, swai dan lain sebagainya.
4) Menjaga areal agar tidak dimasuki hewan lain
Agar bekicot dapat tumbuh baiak tanpa gangguan dari hewan yang merupakan musuhnya dan hewan yang dapat merebut makanannya maka lahan budidaya harus dijaga agar tidak dapat dimasuki hewan-hewan lain.
5) Menjaga bekicot agar tidak keluar dari areal pemeliaraan.
Untuk menjaga agar bekicot tidak keluar dari areal dapat dilakukan hal
sebagai berikut: membuat tutup kandang (bila budidaya bekicot dalam kandang)
dan membuat pagar yang bagian atasnya diolesi dengan detergen menabur abu atau garam disekeliling pagar bagian dalam.
2.2.5 Pemberian Pakan
Agar hasil budidaya berhasil dengan baik diperlukan pembarian pakan yang bermutu dan teratur. Pemberian pakan berpedoman pada mutu pakan dan kebiasaan waktu makan. Mutu makan yang baik akan menentukan kualitas daging bekicot. mutu pakan yang baik dapat dipenuhi dengan memberi pakan berupa daun-daunan yang disukai dan buah-buahan. Misalnya: daun dan buah papaya, daun bayam, buah terung mentimun, swai dan lain sebagainya.
2.2.6 Pencegahan Penyakit
Sampai saat ini belum banyak diketahui tentang adanya hama atau penyakit yang dapat menyebabkan kematian bekicot, kecuali semut, bebek dan itik.
2.2.7 Panen
Dengan pemeliharaan cukup baik, bekicot mulai dapat dipanen setelah 5-8 bulan. secara fisik dapat dilihat apabila panjang cangkang telah mencapai 8-10 Cm, maka bekicot telah siap untuk diambil dagingnya. Hasil utama dari ternak bekicot adalah dagingnya, yang dapat diolah langsung dengan dibuat sate, keripik, dendeng/masakan segar lainnya dan dapat juga diolah dalam bentuk kalengan. Ada juga permintaan dalam keadan hidup. Disamping itu daging dari bekicot ini dapat dijadikan tepung, yang pengolahannya melalui proses pengeringan terlebih dahulu.
Disamping diambil dagingnya, kulit/cangkang bekicot juga laku untuk dijual. Baik untuk bahan dasar obat-obatan/dibuat tepung untuk tambahan makanan untuk hewan ternak yang membutuhkan tepung berbahan dasar yang mengandung zat kapur. Penangkapan Bekicot dikumpulkan di dalam kotak kardus/peti dari kayu dan jangan menggunakan karung goni karena dapat mengakibatkan kulit bekicot pecah. Setelah dimasukkan dalam peti, pertama sekali perlu dilakukan pencucian agar terhindar dari semua kotoran dan lumpur yang melekat pada cangkangnya. Pencucian ini dengan cara menyemprot bekicot dengan air bersih. Setelah itu, Bekicot di karantina selama 1-2 hari/malam tanpa diberikan makan agar kotoran dan lendirnya keluar sebanyak mungkin.
2.2.8 Pasca Panen
Setelah dilakukan penagkapan dan pengumpulan bekicot lalu dilakukan penyortiran dengan jalan membuang bekicot yang mati atau terlalu kecil untuk diolah. Kemudian dilakukan penggaraman, dengan memberikan garam 10-15% dari berat total bekicot, dengan cara diaduk rata. Penggaraman dapat mematikan bekicot sekaligus mengeluarkan lendir sebanyak mungkin. Setelah melalui tahapan penggaraman, segera direbus dengan air garam 3% selama 10 menit, kemudian diangkat dan disemprot dengan air dingin, baru dilakukan pencukilan daging. Perebusan kedua dilakukan setelah bagian perut dibuang dan kotoran lainnya dalam larutan garam 3%. Cara ini bertujuan untuk menghilangkan lendir dan daging menjadi lebih lunak. Kemudian daging tersebut dibungkus dan dikemas dalam karton.
2.2.9 Analisis Ekonomi dan Budaya
2.2.9.1 Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya bekicot metoda kebun di daerah Kediri (Jawa Timur) dengan luas lahan 4.000 m2 pada tahun 1999.
1) Biaya produksi
a. Sewa Lahan 4.000 m2 Rp. 200.000,-
b. Bibit induk 100 ekor @ Rp. 50,- Rp. 5.000,-
c. Pembuatan Pagar dan saluran 5 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 25.000,-
d. Bambu pagar 10 btg @ Rp. 2.000,- Rp. 20.000,-
e. Pakan dan Pemeliharaan Rp. 120.000,-
f. Panen dan pasca panen Rp. 100.000,-
g. Lain-lain Rp. 30.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 500.000,-

2) Pendapatan
– Bekicot siap panen 30.000 ekor = 100 kg @ Rp. 100,- Rp. 10.000,-
– Anak bekicot 60.000,-
– Telur bekicot 9.030.000 butir
Selanjutnya hasil panen dapat dilakukan setiap hari 100 kg dan pendapatan tiap bulan adalah Rp. 300.000,- dan perkembangan bekicot dari telur menjadi bekicot dan bekicot bertelur dan seterusnya.

3)Keuntungan
Dari budidaya bekicot tersebut dapat didapat keuntungan Rp. 180.000,- setiap bulannya dan Rp. 6.000,- setiap harinya.
2.2.9.2 Gambaran Peluang Agribisnis
Daging bekicot merupakan komoditi eksport yang menjanjikan, karena harganya yang cukup mahal dipasaran internasional. Pada periode Januari-Juli 1988 harga ekspor daging bekicot US $ 1,82 per kg. Hal ini menyebabkan menculnya Peternakan Inti Rakyat (PIR) dengan komoditi bekicot. Kini telah banyak berdiri perusahaan-perusahaan pengelola daging bekicot, yang dapat memperlancar pemasaran pasaran sebagai komoditi eksport.
2.3 Produk – Produk Olahan Bekicot
Bekicot sejak lama dikenal dan ditemukan dimana-mana di pelosok tanah air. Dulu hewan ini dikenal sebagai hama tanaman, tetapi sejak tahun 1980 mulai diekspor dalam bentuk beku dengan tujuan Eropa. Bagi masyarakat Eropa, khususnya Prancis bekicot merupakan salah satu makanan yang lezat, bergizi dan terhormat serta berharga mahal.
Impor bekicot Prancis dalam bentuk segar dan dibekukan dari Indonesia diperkirakan meningkat dari 1 212 ton pada tahun 1986 menjadi sekitar 11000 ton pada tahun 1990. Sedangkan data sebelumnya, yaitu tahun 1983 menunjukkan bahwa ekspor bekicot Indonesia tercatat 190 813 kg dengan nilai 939 011 dollar AS dan 725 240 senilai 1 182 299. 34 dollar AS pada tahun 1984. Pasaran ekspor bekicot Indonesia yang penting selain Prancis adalah Amerika Serikat, Hongkong dan Taiwan.
2.3.1 Bekicot Sebagai Obat

Bagian bekicot yang umum dikonsumsi manusia adalah bagian kakinya, sedangkan perut dan sungutnya dibuang. Dari 7 kg bekicot dapat diperoleh 1 kg daging kaki. Daging bekicot menghasilkan protein yang tinggi dan menghasilkan energi yang cukup besar, lebih besar dari daging kerbau. Dari hasil analisis, diketahui bahwa dalam 100 gram daging segar terkandung protein sebanyak 15.8 gram, lemak 0.9 gram dan akan menghasilkan energi sebesar 97 kkal. Daging bekicot juga mengandung asam amino esensial yang lebih tinggi dari telur ayam (ras dan lokal), disamping mempunyai komposisi asam amino yang baik dan tinggi dalam kadar lisin dan arginan, serta banyak mengandung vitamin B12, kalsium dan fosfor.
Bekicot mengeluarkan lendir dari mulutnya, sebagai senjata untuk mempertahankan diri bila ada gangguan dan memudahkan pergerakan. Lendir yang merupakan glikoprotein tersebut dapat dihilangkan dengan memanaskan daging bekicot, meredamnya dalam larutan asam encer atau ditaburi garam dapur.
Daging bekicot mempunyai daya penyembuhan terhadap penyakit. Bahan yang mempunyai daya penyembuh yang diekstraksi dari daging bekicot disebut “Ishimoto negligin”. Penyakit yang dapat disembuhkan antara lain asma, sakit ginjal, TBC, anemia, diabetes, sembelit dan mencegah influenza.
2.3.2 Bekicot Segar Beku
Untuk memperoleh daging bekicot, mula-mula bekicot yang telah dikumpulkan dipuasakan 2 – 3 hari agar kotorannya keluar. Kemudian dicuci dan diberi garam serta dibiarkan selama 15 – 30 menit agar semua lendirnya dikeluarkan. Biasanya 1 bata garam cukup untuk 1 – 1.5 kg bekicot. Setelah dicuci bersih, bekicot direbus dalam air cuka (100 ml cuka meja dalam 10 liter air), selama 15 – 20menit.
Daging bekicot dipisahkan dari cangkangnya dengan cara dicungkil atau dipecahkan. Bagian sungut dan perut dibuang (atau dicacah untuk makanan ikan dan bebek). Setelah dicuci, daging kaki bekicot direbus lagi dalam air cuka selama 15 – 20 menit setelah mendidih. Hasil yang diperoleh merupakan daging bekicot setengah jadi yang siap diolah.
Setelah dicuci dan ditiriskan, daging bekicot setengah jadi dikemas dalam plastik polietilen dan dibekukan pada suhu –18 sampai -23.5oC. Persiapan daging bekicot untuk makanan manusia harus dilakukan dengan hati-hati. Perebusan daging sebelum, pengolahan tidak hanya berguna untuk menghilangkan lendir yang beracun, tetapi juga untuk menghindari adanya bakteri patogen (penyebab penyakit ) terutama Salmonella, juga untuk membunuh telur cacing. Jika perebusan kurang sempurna atau hanya dilakukan sekali saja, telur cacing tidak mati dan akan masuk ke dalam tubuh yang dapat menyebabkan hepatitis. Makanan yang mengandung Salmonella dapat menyebabkan keracunan. Gejala keracunan berupa mual, muntah, sakit perut, sakit kepala, demam dan diare dapat timbul 12 – 24 jam setelah makan.
2.3.3 Pengalengan Daging Bekicot
Persiapan untuk pengalengan daging bekicot sama dengan untuk pembekuan. Daging bekicot setengah jadi yang diperoleh dicuci dan ditiriskan, lalu dimasukkan ke dalam kaleng dan diberi bumbu berupa saus tomat dan garam, serta diisi dengan larutan garam 1 – 2 persen. Pada waktu pengisian harus diperhatikan agar masih ruangan kosong dibagian atas kaleng (“head space”), sehingga pada waktu proses “exhausting” (penghilangan udara atau oksigen dari dalam kaleng) masih ada tempat pengembangan isi kaleng. Isi yang terlalu penuh akan menyebabkan kaleng menjadi cembung, yang walaupun tidak menyebabkan kerusakan tetapi akan menurunkan mutu dan penerimaannya karena diangggap busuk.
Selanjutnya dilakukan “exhausting” dengan cara mengukus kaleng terbuka sehingga udara atau oksigen yang terdapat di dalamnya terusir keluar. Kemudian dilakukan penutupan kaleng dengan sistem “double seamer” sehingga kedap udara, uap air dan mikroba. Setelah ditutup, dilakukan sterilisasi dalam otoklaf (retort) pada suhu 121oC selama 20 – 40 menit. Setelah proses sterilisasi selesai, harus segera dilakukan pendinginan yang cukup untuk mencegah tumbuhnya kembali bakteri termofilik (tahan panas). Pendinginan dapat dilakukan dalam retort sebelum dibuka atau di luar retort dengan cara menyemprotkan air dingin.

2.3.4 Dendeng Bekicot
Daging bekicot setengah jadi yang akan dibuat dendeng harus bersifat empuk. Untuk itu, daging bekicot direndam selama 6 jam dalam parutan buah nenas matang dengan perbandingan 1 : 1. Buah nenas mengandung enzim bromelin yang merupakan salah satu enzim proteolitik (pemecah protein). Enzim ini mampu mengempukkan daging karena dapat memutuskan protein jaringan pengikat dan protein serat otot. Setelah perendaman selesai, daging bekicot dicuci dan dibelah untuk memperoleh permukaan yang agak lebar.
Bumbu-bumbu yang digunakan sama pada pembuatan dendeng sapi yaitu gula merah (30 persen dari berat daging) dan ramuan bumbu (garam dapur 2.5 persen, lengkuas 2.5 persen, asam jawa 3 persen, lada 1 persen, ketumbar 1.5 persen, bawang putih 1.5 persen dan bawang merah 5 persen). Bumbu yang telah dihaluskan, dibalur pada daging bekicot dan dibiarkan selama 10 jam supaya meresap. Dengan disusun pada tampah atau wadah lebar lainnya, dendeng basah dikeringkan dengan oven suhu 60oC atau dijemur di bawah terik matahari selama 4 – 5 hari. Setelah kering dendeng bekicot dikemas dalam plastik polietilen atau polipropilen.
2.3.5 Tepung Bekicot
Untuk membuat tepung bekicot, mula-mula dibuat larutan garam dapur 5 persen. Masukkan bekicot ke dalam larutan tersebut sampai terendam seluruhnya, diaduk berkali-kali untuk mempercepat pengeluaran lendir. Setelah dicuci, bekicot direbus selama 10 – 20 menit (setelah mendidih), lalu dipisahkan dari cangkangnya. Daging kaki yang diperoleh kemudian dicuci bersih. Daging bekicot kemudian diiris setipis 0.5 – 1.0 cm untuk memudahkan pengeringan, dicuci lagi untuk menghilangkan sisa lendir dan dikukus 10 – 15 menit. Selanjutnya dikeringkan dalam oven suhu 60oC atau dijemur sampai kering dan digiling atau ditumbuh atau diayak. Tepung yang dihasilkan dimasukkan ke dalam kantong plastik polietilen dan ditutup rapat.
2.4 Asosiasi Bekicot Indonesia
2.4.1 Pengertian Organisasi
Istilah asosiasi berasal dari kata association yang berarti asosiasi; sekutuan; persahabatan; pergaulan; belitan; pembauran. Istilah ini dianggap berkaitan dengan pengertian perkumpulan, persatuan, asosiasi, gabungan, persahabatan dan berbagai macam hal yang lain.
Asosiasi sangat erat hubungannya dengan organisasi. Organisasi (Yunani: ὄργανον, organon – alat) adalah suatu kelompok orang yang memiliki tujuan yang sama. Baik dalam penggunaan sehari-hari maupun ilmiah, istilah ini digunakan dengan banyak cara.
Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen. Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi (organizational behaviour), atau analisa organisasi (organization analysis). Terdapat beberapa teori dan perspektif mengenai organisasi, ada yang cocok sama satu sama lain, dan ada pula yang berbeda. Karakteristik dari organisasi sendiri adalah mempunyai tujuan yang jelas, struktur yang jelas, dan orang yang jelas pula.
2.4.2 ABI
Dari beberapa hal diatas seperti pengertian organisasi yang merupakan kelompok orang yang memiliki tujuan yang sama.maka Asosiasi Bekicot Indonesia yang disingkat dengan ABI dibentuk. Asosiasi ini digunakan untuk menampung minat dari orang-orang yang menyukai binatang unik bernama bekicot atau mempunyai nama lain Achantina fulica. Diharapkan dengan terbentuknya ABI ini yang awal mulanya berasal dari tugas mata kuliah kemudian merembet hingga kepada pendirian asosiasi secara formal akan dapat meningkatkan informasi kepada masyarakat akan binatang bernama bekicot yang selama ini hanya dianggap sebelah mata ternyata memiliki nilai ekonomis dan gizi yang cukup tinggi sehingga bekicot tidak lagi dipandang sebelah mata namun sudah merupakan komuditas andalan yang dapat diandalkan oleh masyarakat.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut diantaranya:
 Bekicot merupakan hewan yang termasuk dalam phylum molusca.Bekicot dewasa memiliki tinggi sekitar 7 cm (2,5 inci), dan mereka dapat mencapai panjang 20 cm (8 inci) atau lebih. Cangkang bentuknya kerucut, yang luasnya dua kali lipat dari tinggi tubuhnya. Cangkang bentuknya searah jarum jam (sinistral) atau berlawanan arah dari jarum jam. Warna cangkang sangat variabel, dan bergantung pada makanan. Biasanya, coklat adalah warna utama dan cangkang terikat.
 Pembudidayan bekicot harus memperhatikan berbagai faktor diantaranya: persaratan lokasi, pemilihan bibit, pengandangan , pemeliharaan, pemberian pakan, pencegahan penyakit, masa panen dan masa pasca panen.
 Bekicot dapat diolah menjadi beberapa produk diantaranya: Tepung bekicot, sate bekicot, keripik bekicot, dendeng bekicot, rempeyek bekicot dan berbagai macam produk olahan lainnya.
 Untuk lebih meningkatkan animo masyarakat terhadap bekicot maka dibentuklah Asosiasi Bekicot Indonesia (ABI) sebagai wadah untuk para pencinta bekicot untuk saling bertukar informasi tentang bekicot.
3.2 Saran
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan diatas maka dapat disarankan kepada pemerintah dan masyarakat agar lebih membudidayakan bekicot sebagai komunitas ekonomis yang menguntungkan sehingga sedikit banyak dapat mengurangi pengangguran. Selain itu kepada masyarakat agar tidak lagi menganggap bekicot sebagai hama bagi loingkungan tetapi merupakan sebuah peluang untuk mendapatkan keuntungan. Dan juga kepada kalangan akademis diharapkan agar lebih meneliti dan mengkreasikan bekicot agar lebih dapat diterima oleh masyarakat.

TEPUNG BEKICOT
1. PENDAHULUAN
2. Tepung bekicot merupakan usaha pengolahan daging bekicot supaya
3. pemanfaatannya lebih luas, terutama sebagai bahan tambahan pada makanan
4. bayi. Penggunaan lain adalah untuk bahan campuran pembuatan kerupuk dan
5. makanan lain.
2. BAHAN
1) Bekicot hidup 2 kg (100 ekor)
2) Garam dapur 400 gram
3) Daun jeruk 5 – 10 lembar
4) Air 50 liter
5) Natrium benzoat 1 – 2 gram
6) Kayu bakar atau minyak tanah secukupnya
7) Cuka 25 % secukupnya
3. ALAT
1) Ember Plastik
2) Tampah atau kawat kasa
3) Pengaduk
4) Kompor
5) Pencukil atau pengukit kecil
6) Panci aluminium atau belanga tanah liat
7) Oven (bila perlu)
8) Ayakan halus atau tapisan
9) Alat penumbuk
10) Pisau
11) Panci atau belanga tanah liat
4. CARA PEMBUATAN
A. Pembuatan daging bekicot siap olah
1) Simpan bekicot hidup ukuran sedang dalam bak penampungan selama 2
hari 2 malam untuk mengurangi jumlah kotoran dan lendir, kemudian
masukkan dalam ember;
2) Taburi garam dapur 250 gram;
3) Aduk dengan pengaduk kayu selama 15 menit, sampai lendir banyak yang
keluar;
4) Tiriskan selama 15 menit, kemudian masukkan ke dalam ember lain dan
taburi 150 gram garam;
5) Aduk selama 15 menit, lalu diamkan selama 15 menit, kemudian cuci
sampai bersih dari lendir;
6) Rebus dalam belanga tanah liat selama 20 menit sampai mendidih, setelah
itu tiriskan dan angin-anginkan;
7) Pisahkan cangkang dari daging tubuh dengan alat pengukit;
8) Pisahkan kotoran dari bagian daging kemudian cuci sampai bersih;
9) Rebus selama 20 menit sampai mendidih. Bubuhi 5 – 10 lembar daun jeruk
nipis dan cuka untuk menghilangkan bau amis;
10) Tiriskan dan angin-anginkan sampai dingin dan kering. Hasilnya berupa
daging siap olah.
B. Pengolahan tepung bekicot
1) Potong tipis daging bekicot siap olah;
2) Keringkan dengan sinar matahari selama 16 jam atau menggunakan oven
dengan suhu 500 ~ 550 C selama 6 jam. Pengeringan dianggap selesai bila
daging bekicot dapat dipatahkan dengan tangan;
3) Tumbuk sampai halus, kemudian ayak sampai diperoleh tepung bekicot.
5. DIAGRAM ALIR PEMBUATAN TEPUNG BEKICOT
Catatan:
Bahan baku (bekicot hasil penangkapan liar) saat ini sulit diperoleh. Oleh sebab
itu, untuk kesinambungan penyediaan bahan baku perlu diusahakan
pembudidayaan bekicot.

Escargot
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Escargot
Escargot merupakan masakan berbahan baku daging bekicot. Di Jepang pun demikian halnya, bahkan pengolahan bekicot ini begitu sederhana, hanya dengan bumbu jahe, cuka dan pemanis. Creswell dan Kopiang (1981) merinci komposisi kimia bekicot, ternyata dagingnya memang kaya protein. Cangkang bekicot kaya kalsium, dan dalam daging tersebut masih terdapat banyak asam-asam amino.
Sementara itu sumber data lain menunjukkan, protein yang terkandung sekitar 12 gram per 100 gram dagingnya. Kandungan lain adalah lemak 1%, hidrat arang 2%, kalsium 237 mg, fosfor 78 mg, Fe 1,7 mg serta vitamin B komplek terutama vitamin B2.
Selain itu kandungan asam amino daging bekicot cukup menonjol. Dalam 100 gr daging bekicot kering antara lain terdiri atas leusin 4,62 gr, lisin 4,35 gr, arginin 4,88 gr, asam aspartat 5,98 gr, dan asam glutamat 8,16 gr

Bekicot Lezat dan Kaya Protein

Sabtu, 8 Juni, 2002 oleh: Gsianturi
Bekicot Lezat dan Kaya Protein
Gizi.net – Bagi manula Indonesia bekicot mengingatkan mereka pada jaman penjajahan Jepang yang menyengsarakan, sehingga terpaksa makan bekicot. Tapi mengapa daging bekicot menjadi makanan prestisius di negara lain? Jika Anda ke Perancis, di sana ada masakan yang kondang disebut escargot. Apa itu? Anda mungkin terkejut bahwa escargot merupakan masakan berbahan baku daging bekicot. Di Jepang pun demikian halnya, bahkan pengolahan bekicot ini begitu sederhana, hanya dengan bumbu jahe, cuka dan pemanis. Tapi, betapa lezatnya daging bekicot itu! Itu sebabnya Perancis dan Jepang selalu mengandalkan pasokan daging bekicot. Beberapa negara lain juga selalu mengimpor daging bekicot, seperti Hongkong, Belanda, Taiwan, Yunani, Belgia, Luxemburg, Kanada, Jerman dan Amerika Serikat. Kita termasuk salah satu negara eksportir bekicot. Tapi volume dan kontinuitasnya belum memenuhi kebutuhan pasar importir. Nah, bukankah ini peluang agribisnis yang terbentang di depan mata kita? Kalsium dan Asam Amino
Barangkali menimbulkan tanda tanya, kenapa orang menyukai daging bekicot? Ya, lihat saja kandungannya. Dalam rangka memenuhi tuntutan kecukupan gizi, bekicot merupakan salah satu alternatif yang patut diperhitungkan.

Creswell dan Kopiang (1981) merinci komposisi kimia bekicot, ternyata dagingnya memang kaya protein. Cangkang bekicot kaya kalsium, dan dalam daging tersebut masih terdapat banyak asam-asam amino (tabel 1). Sementara itu sumber data lain menunjukkan, protein yang terkandung sekitar 12 gram per 100 gram dagingnya. Kandungan lain adalah lemak 1%, hidrat arang 2%, kalsium 237 mg, fospor 78 mg, Fe 1,7 mg serta vitamin B komplek terutama vitamin B2. Selain itu kandungan asam amino daging bekicot cukup menonjol. Dalam 100 gr daging bekicot kering antara lain terdiri atas leusin 4,62 gr, lisin 4,35 gr, arginin 4,88 gr, asam aspartat 5,98 gr, dan asam glutamat 8,16 gr. Bukankah daging bekicot mengandung bakteri salmonella? Memang betul! Tapi ada cara untuk mengusir bakteri tersebut, yakni teknik pengolahan yang benar. Malahan dari temuan di lapangan, di Kediri, mereka yang biasa makan daging bekicot mengaku dapat menyembuhkan gatal-gatal, batuk, kudis dan sebagainya. Langkah Pengolahan
Kediri dikenal sebagai Kota Tahu, tapi juga sebagai cikal bakal produsen bekicot. Di awal 1970-an hanya satu dua penduduk Desa Jengkol dan Plosokidul, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri yang mulai tertarik mengembangkan dan memanfaatkan bekicot. Adalah Sadi Suryaatmaja dari Plosokidul yang boleh dibilang sebagai ‘aktor bekicot’ karena berhasil mendayagunakannya. Entah sebagai keripik bekicot, sate bekicot, rempeyek bekicot, dan sebagainya. Semula usaha beternak bekicot di daerah itu hanya kecil-kecilan saja. Kemudian dibuka warung bekicot, dan ada pula yang dijual keliling. Makin lama makin banyak orang yang ikut mencoba mengusahakannya. Lebih lanjut Kediri dengan bekicotnya mampu menarik perhatian pengusaha dari kota lain. Hal ini dapat dibuktikan dengan hadirnya peminat-peminat ternak bekicot, yang belajar dan menimba pengalaman ke Kediri.

Berdasarkan pengalaman peternak bekicot di Kediri, rendemen daging bekicot sekitar 15-18%. Artinya, dari setiap 100 kg bekicot segar (hidup) akan didapatkan daging bekicot sekitar 15-18 kg. Melalui 7 Tahap Untuk mendapatkan hasil yang baik, daging bekicot harus melalui tahap. Pemberakan atau pembersihan kotoran. Bekicot yang masih hidup dimasukkan ke dalam bak penampung selama 2 hari, tanpa diberi pakan apa pun. Lakukan penyiraman setiap sore. Pemberakan ini bertujuan untuk memacu pengeluaran kotoran dan lendir serta menghilangkan bau apek. Perendaman. Sesudah dilakukan pemberakan, bekicot direndam dalam air garam yang diberi sedikit cuka. Perendaman berlangsung sekitar 5-10 menit sambil diaduk atau dikopyok, lantas airnya dibuang. Perendaman ini dilakukan 3-4 kali hingga air rendaman menjadi jernih. Perebusan awal. Bekicot yang telah direndam dimasukkan ke dalam air mendidih selama 15 menit sambil dibolak balik, lalu didinginkan.

Pemisahan. Bekicot yang telah direbus awal itu harus dipisahkan antara cangkang, kotoran, telur dan dagingnya. Caranya ialah dengan mencungkil daging bekicot tersebut dari cangkangnya dengan alat pencungkil. Setelah daging, telur dan kotoran bekicot keluar dari cangkangnya kemudian dipisah-pisahkan. Telur bekicot dapat langsung dicuci bersih, digoreng dan dimakan. Sedangkan dagingnya masih perlu pengolahan selanjutnya.
Pencucian. Daging bekicot yang telah terpisah dari cangkang, lantas dicuci bersih. Lebih baik jika pencucian ini dilakukan dengan air yang mengalir. Perendaman. Daging yang telah dicuci bersih, direndam dengan air cuka selama 15 menit. Perebusan akhir. Daging bekicot yang telah direndam itu direbus lagi selama 15 menit. Sesudah direbus, dicuci sekali lagi sampai bersih dan diiris-iris menurut selera kita. Inilah daging bekicot yang telah siap dimasak. @ Ir. Hieronymus Budi Santoso, pemerhati masalah agribisnis.

Membuat Kripik dan Sate Bekicot
Barangkali Anda ingin membuat sendiri keripik bekicot dan sate bekicot? Ikuti pedoman praktis berikut ini.

Keripik Bekicot
Bahan:
250 gr daging bekicot (dari 1,5 kg bekicot segar)
250 cc minyak goreng

Bumbu:
2 butir bawang putih
3 butir kemiri
1/2 sendok teh ketumbar
1/2 rimpang jahe
1 lembar daun jeruk purut
1 mata asam
garam dan penyedap rasa secukupnya

Cara Membuat:
Daging bekicot yang telah siap olah diiris tipis-tipis. Lalu irisan tersebut dicampur dengan bumbu yang telah dihaluskan. Diamkan beberapa saat agar bumbu meresap.
Jemur di bawah sinar matahari langsung (usahakan sekali jemur sudah kering).
Goreng sampai kering. @

Sate Bekicot
Sate bekicot sudah cukup beken. Setiap warung bekicot atau warung “nol dua” hampir pasti ada sate bekicotnya. Jika Anda ingin membuat sendiri sate bekicot, silakan mengikuti resep ini.

Bahan:
500 gram daging bekicot (dari 3 kg bekicot segar)
25 bilah tusuk sate

Bumbu:
1/4 kg kacang tanah
5 sendok makan minyak goreng
5 sendok makan kecap
5 butir bawang merah
5 butir merica
3 butir bawang putih
3 lembar daun jeruk purut
2 buah jeruk nipis
1/4 sendok teh penyedap rasa
Cabe rawit, cuka, garam sesuai selera

Cara Membuat:
Daging bekicot yang telah siap olah diiris menjadi dua bagian, tusuk dengan tusukan sate.

Masukkan ke dalam bumbu yang telah dihaluskan (bawang putih, merica campur kecap dan cuka), lalu diamkan sementara waktu agar bumbunya meresap.

Buat bumbu kacang: goreng kacang tanah dan tumbuk hingga halus. Campur dengan bawang putih, garam, daun jeruk purut, cabe rawit dan penyedap rasa yang telah dihaluskan. Beri air sedikit lalu rebus hingga berminyak dan diberi sedikit kecap.

Panggang daging bekicot sampai matang, lalu disiram bumbu kacang, taburi bawang merah mentah dan irisan jeruk nipis.

Selamat menikmati . @

Peluang Agribisnis Bekicot

Written by noel
Sunday, 29 June 2008
Sentra peternakan bekicot banyak ditemukan di masyarakat pedesaan Jawa Timur, Bogor (Jawa Barat), Sumatera Utara dan Bali. Bekicot diternakkan umumnya jenis Achatina fulica yang banyak disenangi orang, karena bekicot jenis ini banyak mengandung daging.
Selain pakan ternak bekicot merupakan sumber protein hewani yang bermutu tinggi karena mengandung asam-asam amino esensial yang lengkap. Disamping itu ada masyarakat yang menggemari makanan dari bahan baku bekicot, seperti sate bekicot, keripik bekicot, baso bekicot. Terkadang bekicot juga kerap dipakai dalam pengobatan tradisional, karena ekstrak daging bekicot dan lendirnya sangat bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Jika tertarik berbudidayaya bekicot, salah satu yang perlu diperhatikan adalah masalah lokasi. Lokasi perlu dipilih yang dekat dengan jalan, agar mudah penanganannya, baik saat pembuatan kandang, saat pengontrolan maupun penanganannya pascapanen, artinya pada saat membawa hasil panen tersebut tidak kesulitan dalam transportasi

Lahan yang diperlukan tidaklah terlalu luas namun persyaratan mengenai kelembaban dan keteduhan perkandangan perlu diperhatikan, karena untuk berkembang biak secara baik bekicot senang dengan keadaan yang lembab dan teduh. Kandang didirikan di tanah kering, teduh, lembab dengan suhu udara berkisar 25-30 derajat C.

Cara pemeliharaan bekicot tidak terlalu sulit. Bisa dilakukan secara terpisah, artinya bekicot yang kecil dipelihara terpisah dari yang besar. Bisa juga dilakukan secara campuran, yaitu bekicot kecil dan besar dipelihara dalam satu kandang tanpa melihat umur/besarnya. Bila dilakukan secara terpisah risikonya harus dibuat beberapa kandang.

Jika bibit unggul belum tersedia maka sebagai langkah pertama dapat digunakan bibit lokal dengan jalan mengumpulkan bekicot yang banyak terdapat di kebun pisang, kelapa, serta semak belukar. Bekicot yang baik dijadikan bibit adalah yang tidak rusak/cacat yang sementara waktu dan yang besar dengan berat lebih kurang 75-100 gram/ekor.

Keberhasilan budidaya bekicot tergantung pada cara perawatan dan pemeliharaan teknis selama diternakkan. Beberapa perawatan teknis dalam budidaya bekicot diantaranya meliputi penjagaan kelembaban lingkungan, mempertahankan kondisi lingkungan (yang lembab), pemberian pakan yang bermutu secara teratur, menjaga areal agar tidak dimasuki hewan lain, serta menjaga agar bekicot tidak ekluar dari areal pemeliharaan.

Peluang Agribisnis Bekicot
13 November, 2007 05:45:00 wirausahacom
Font size:
Mencermati cerita asal muasal bekicot (Achanita spp.), hewan yang satu ini berasal dari Afrika Timur, tersebar keseluruh dunia dalam waktu relatif singkat, karena berkembang biak dengan cepat. Bekicot tersebar ke arah Timur sampai di kepulauan Mauritius, India, Malaysia, akhirnya ke Indonesia. Bekicot sejak tahun 1933 telah ada disekitar Jakarta, sumber lain menyatakan bahwa bekicot jenis Achatina fulica masuk ke Indonesia pada tahun 1942 (masa pendudukan Jepang).
Sentra peternakan bekicot banyak ditemukan di masyarakat pedesaan Jawa Timur, Bogor (Jawa Barat), Sumatera Utara dan Bali. Bekicot diternakkan umumnya jenis Achatina fulica yang banyak disenangi orang, karena bekicot jenis ini banyak mengandung daging. Di Eropa, bekicot jenis ini digunakan sebagai bahan baku makanan yang disebut Escargot. Escargot semula berbahan baku Helix pomatia. Karena Helix pomatia lama kelamaan sulit diperoleh maka bekicot jenis Achatina fulica menggantikannya sebagai bahan baku Escargot. Selain pakan ternak bekicot merupakan sumber protein hewani yang bermutu tinggi karena mengandung asam-asam amino esensial yang lengkap. Disamping itu ada masyarakat yang menggemari makanan dari bahan baku bekicot, seperti sate bekicot, keripik bekicot, baso bekicot.
Bekicot juga kerap dipakai dalam pengobatan tradisional, karena ekstrak daging bekicot dan lendirnya sangat bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti radang selaput mata, sakit gigi, gatal-gatal, jantung dan lain-lain. Sedangkan kulit bekicot sangat mujarab untuk penyakit tumor. Sejenis obat yang dikenal berasal dari kulit bekicot, dinamakan Maulie, dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti kekejangan, jantung suka berdebar, tidak bisa tidur/insomania, dan leher membengkak. Daging bekicot merupakan komoditi ekspor yang menjanjikan, karena harganya yang cukup mahal dipasaran internasional. Kini juga telah banyak berdiri perusahaan-perusahaan pengelola daging bekicot, yang dapat memperlancar pemasaran pasaran sebagai komoditi ekspor.
Jika tertarik berbudidayaya bekicot, salah satu yang perlu diperhatikan adalah masalah lokasi. Lokasi perlu dipilih yang dekat dengan jalan, agar mudah penanganannya, baik saat pembuatan kandang, saat pengontrolan maupun penanganannya pascapanen, artinya pada saat membawa hasil panen tersebut tidak kesulitan dalam transportasi. Lokasi yang sesuai untuk budidaya bekicot adalah lokasi yang basah serta lembab dan terlindung dari cahaya matahari secara langsung. Selain itu juga tanah yang disukai adalah tanah yang banyak mengandung kapur sebagai zat untuk pembentukan cangkang.
Lahan yang diperlukan tidaklah terlalu luas namun persyaratan mengenai kelembaban dan keteduhan perkandangan perlu diperhatikan, karena untuk berkembang biak secara baik bekicot senang dengan keadaan yang lembab dan teduh. Kandang didirikan di tanah kering, teduh, lembab dengan suhu udara berkisar 25-30 derajat C. Cara pemeliharaan bekicot tidak terlalu sulit. Bisa dilakukan secara terpisah, artinya bekicot yang kecil dipelihara terpisah dari yang besar. Bisa juga dilakukan secara campuran, yaitu bekicot kecil dan besar dipelihara dalam satu kandang tanpa melihat umur/besarnya. Bila dilakukan secara terpisah risikonya harus dibuat beberapa kandang. Fungsi kandang itu antara lain untuk penetasan, pembesaran dan sebagai kandang induk.
Namun tidak semua jenis bekicot cocok dibudidayakan. Dua jenis bekicot yang biasa diternakkan, yaitu spesies Achatina fulica dan Achatina variegata. Ciri bekicot jenis Achanita fulica biasanya warna garis-garis pada tempurung/cangkangnya tidak begitu mencolok. Sedangkan jenis Achatina variegata warna garis-garis pada cangkangnya tebal dan berbuku-buku.
Jika bibit unggul belum tersedia maka sebagai langkah pertama dapat digunakan bibit lokal dengan jalan mengumpulkan bekicot yang banyak terdapat di kebun pisang, kelapa, serta semak belukar. Bekicot yang baik dijadikan bibit adalah yang tidak rusak/cacat yang sementara waktu dan yang besar dengan berat lebih kurang 75-100 gram/ekor.
Bekicot biasanya kawin pada usia enam sampai tujuh bulan ditempat pemeliharaan yang cukup memenuhi syarat. Pada masa kawin bekicot betina mulai menyingkir ke tempat yang lebih aman. Bekicot bertelur di sembarang tempat. Jumlah telurnya setiap penetasan biasanya lebih dari lima puluh butir (50-100). Jumlah produksi telur tergantung masa subur bekicot itu sendiri. Besar telur bekicot tidak lebih dari 2 mm.
Keberhasilan budidaya bekicot tergantung pada cara perawatan dan pemeliharaan teknis selama diternakkan. Beberapa perawatan teknis dalam budidaya bekicot diantaranya meliputi penjagaan kelembaban lingkungan, mempertahankan kondisi lingkungan (yang lembab), pemberian pakan yang bermutu secara teratur, menjaga areal agar tidak dimasuki hewan lain, serta menjaga agar bekicot tidak ekluar dari areal pemeliharaan.

BEKICOT
June 4th, 2008 by pakrat1
Dari Hama ke Hidangan Berkelas
Tubuhnya bercangkang dan berlendir. Biasanya mereka senang berkumpul di pematang air di sawah dan tempat-tempat lembab lainnya. Cara berjalannya yang lambat membuat hewan sejenis siput ini dijuluki si lambat, atau bekicot. Secara keseluruhan, tidak ada sesuatu yang istimewa pada bekicot. Bahkan, cara hidup hewan ini sering kali membuat orang-orang pada umumnya “bergidik”. Apalagi bila dijadikan makanan. Siapa sangka, hewan berlendir ini ternyata menjadi menu makanan berkelas di negara-negara lain, seperti Perancis, Amerika, Kanada, Jepang, ataupun
Taiwan. Harga makanan itu tidak murah. Hewan ini mampu mendatangkan keuntungan cukup besar setelah diolah menjadi menu makanan.
Mungkin bagi orang-orang tua di
Indonesia, bekicot mengingatkan mereka pada zaman penjajahan Jepang yang menyengsarakan. Konon pada masa itu, sulit untuk mendapatkan bahan pangan, sehingga terpaksa makan bekicot.
Kini, bekicot sudah mulai naik pamor. Dari hewan yang dianggap sebagai
hama menjadi bahan makanan yang cukup prestisius. Di Indonesia, bekicot bisa diolah menjadi aneka masakan yang lezat, seperti sate bekicot dan keripik bekicot. Tidak hanya itu, di Bali, bekicot bisa dimasak gule dan pepes. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan, tingginya kandungan protein pada bekicot juga berguna sebagai bahan pembuat biskuit pendamping ASI, seperti yang diteliti oleh mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes). Di Perancis, bekicot diolah menjadi hidangan mewah yang disebut Escargot d’France. Hidangan ala Prancis dari bekicot itu kini menjadi hidangan yang sangat khas di sejumlah hotel berbintang.
Pasar Potensial
Bukan tanpa alasan bila “si
hama” ini berhasil pindah ke meja hidangan di restoran megah. Dari segi gizi, bekicot tidak kalah dengan jenis makanan yang lain. Kandungan gizinya cukup tinggi.
Pasar potensial bekicot adalah Perancis dan
Taiwan karena itu kedua negara itu mengandalkan pasokan daging bekicot termasuk dari
Indonesia. Beberapa negara lain juga selalu mengimpor daging bekicot, seperti Hongkong,
Belanda, Taiwan, Yunani, Belgia, Luxemburg, Kanada, Jerman dan Amerika Serikat.
Indonesia adalah termasuk salah satu negara eksportir bekicot.
Budi daya bekicot sebenarnya cukup mudah, sederhana dan menguntungkan karena binatang ini dapat memakan semua jenis makanan, semua hijau-hijauan dan buah-buahan.
Hama dan penyakitnya boleh dibilang tidak ada dan kemampuan untuk mengembangkan diri cukup besar. Tingginya perkembangbiakan ini disebabkan sifat bekicot yang termasuk hewan hermaprodit, yaitu mempunyai alat kelamin ganda dengan kemampuan bertelur banyak.
Dua jenis bekicot yang biasa diternakkan, yaitu spesies Achatina fulica dan Achatina variegata. Ciri bekicot jenis Achanita fulica biasanya warna garis-garis pada tempurung/cangkangnya tidak begitu mencolok. Sedangkan jenis Achatina variegata warna garis-garis pada cangkangnya tebal dan berbuku-buku.
Pemeliharaannya pun sangat mudah, asal kelembaban dan keteduhan dalam kandang terjaga dengan baik. Kandang untuk beternak bekicot dapat dibuat dengan tiga cara, yakni kandang kotak kayu, kandang dari bak semen, dan kandang dari galian tanah.
Bekicot yang baik dijadikan bibit adalah yang tidak rusak/cacat sementara waktu dan yang besar dengan berat lebih kurang 75-100 gram/ekor. Adapun anak bekicot bisa diberi makanan dengan sejenis ganggang (lumut), pupus daun dan sedikit zat kapur. Setelah anak bekicot berusia dua/tiga bulan, hendaklah dipindahkan ke kandang pembesaran. Bekicot mulai dapat dipanen setelah 5-8 bulan. Secara fisik dapat dilihat apabila panjang cangkang telah mencapai 8-10 cm, maka bekicot telah siap untuk diambil dagingnya.

06/20/2009 Posted by | Ekologi Hewan | 3 Komentar

LAPORAN OBSERVASI SEKOLAH SMP Muhammadiyah 6 Malang

RPP

Satuan Pendidikan : SMP
Mata Pelajaran : Sains
Kelas/semester : VIII/II
Pokok Bahasan : Sistem Indra
Sub Pokok Bahasan : Sistem Indra pada manusia
Nama Guru : Andik Prasetia, S.si
A. STANDAR KOMPETENSI
Mengaitkan hubungan antara struktur dan fungsi beberapa sistem organ pada
manusia dan vertebrata dengan lingkungan, teknologi dan masyarakat.
B. Kompetensi Dasar
Mendeskripsikan sistem eksresi pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan
C. Indikator
– Membandingkan macam organ penyusun sistem eksresi pada manusia
– mendeskripsikan fungsi sistem ekskresi
– mendata contoh kelainan dan penyakit pada sistem eksresi yang biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan upaya mengatasinya.
D. Materi Pokok
– Sistem saraf dan indra manusia
E. Sumber Pustaka
1. Sumarwan, dkk. 2004. Sains. Biologi untuk SMP kelas VIII. Semester 2. Erlangga
2. Wijaya, J. dkk. 2005. Sains, Biologi 1 B. untuk kelas 1 SMP Semester kedua. Yudhistira.
3. Pendamping siswa. Canggih. Ringkasan materi, latihan soal, mid semester, dilengkapi latihan uji kompetensi. Ilmu Pegetahuan Alam Biologi. Disusun berdasarkan Kurikulum SMP 2004. Untuk SMP kelas 2. Semester genap. Gema Nusa.

F. Langkah-langkah Pembelajaran

NO Kegiatan Waktu Metode
1. Pendahuluan
1. Guru mengapresiasikan materi tentang “sistem indra pada manusia” untuk mrnimbulksn, perhatian, motivasi, serta mengetahui pengetahuan siswa
2. Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai siswa dalam kegiatan pembelajaran 10 Menit Ceramah dan tanya jawab
Ceramah
2. Kegiatan Inti
1. Guru menjelaskan tentang. Sistem indra pada manusia
2. Siswa menyebutkan dan menjelaskan bagian-bagian panca indera pada manusia
3. Siswa menyebutkan dan menjelaskan mekanisme kerja panca indera pada manusia
4. Siswa mengerjakan LKS Waktu
70 Menit Metode
Ceramah
Tanya jawab dan curah pendapat
Tanya jawab dan curah pendapat
Penugasan
3. Penutup
1. Guru bersama-sama dengan siswa mengadakan refleksi terhadap proses dan hasil belajar
2. Guru memberikan tugas rumah yaitu siswa mengerjakan LKS dan merangkum materi 10 Menit Refleksi dan tanya jawab
Penugasan individu

Langkah-langkah Pengajaran oleh guru
1. Guru Meriview pelajran terdahulu untuk mengembalikan lagi ingatan dari siswa terhadap materi yang telah berlalu
2. Siswa diminta mengumpulkan tugas untuk kompetensi dasar saat ini yang telah ditugaskan pada pertemuan terdahulu
3. Salah satu siswa diminta untuk mencatat materi kompetensi dasar saat ini sedangkan siswa yang lain mencatat apa yang dituliskan salah satu siswa tersebut hingga waktu pelajaran selesai
4. Selama proses mencatat di papan tulis, guru melakukan koreksi terhadap tugas-tugas yang telah dikerjakan oleh siswa. Sambil memberikan tebakan-tebakan sebagai stimulus kepada siswa untuk menguji kepahaman siswa akan tugas yang diberikan guru.

KESIMPULAN

Metode Pembelajaran: Mencatat, brainstorming
Pendekatan Pembelajaran: Teacher Centre
Strategi Pembelajaran: exposition-discovery learning
Model Pembelajaran: model pengolahan informasi

06/20/2009 Posted by | SBM | 7 Komentar

METODE PEMBELAJARAN KELOMPOK TUTORIAL

Tutorial

Tutorial (tutoring) adalah bantuan atau bimbingan belajar yang bersifat akademik oleh tutor kepada mahasiswa (tutee) untuk membantu kelancaran proses belajar madiri mahasiswa secara perorangan atau kelompok berkaitan dengan materi ajar. Tutorial dilaksanakan secara tatap muka atau jarak jauh berdasarkan konsep belajar mandiri.
Konsep belajar mandiri dalam tutorial mengandung pengertian, bahwa tutorial merupakan bantuan belajar dalam upaya memicu dan memacu kemandirian, disiplin, dan inisiatif diri mahasiswa dalam belajar dengan minimalisasi intervensi dari pihak pembelajar/tutor. Prinsip pokok tutorial adalah “kemandirian mahasiswa” (student’s independency). Tutorial tidak ada, jika kemandirian tidak ada. Jika mahasiswa tidak belajar di rumah, dan datang ke tutorial dengan ‘kepala kosong’, maka yang terjadi adalah “perkuliahan” biasa, bukan tutorial. Dengan demikian, secara konseptual tutorial perlu dibedakan secara tegas dengan “kuliah” (lecturing) yang umum berlaku di perguruan tinggi tatap muka, di mana peran dosen sangat besar.

Peran utama tutor dalam tutorial adalah: (1) “pemicu” dan “pemacu” kemandirian belajar mahasiswa, berpikir dan berdiskusi; dan (2) “pembimbing, fasilitator, dan mediator” mahasiswa dalam membangun pengetahuan, nilai, sikap dan keterampilan akademik dan profesional secara mandiri, dan/atau dalam menghadapi atau memecahkan masalah-masalah dalam belajar mandirinya; memberikan bimbingan dan panduan agar mahasiswa secara mandiri memahami materi mata kuliah; memberikan umpan balik kepada mahasiswa secara tatap muka atau melalui alat komunikasi; memberikan dukungan dan bimbingan, termasuk memotivasi dan membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan belajarnya.

Agar tutorial tidak terjebak dalam situasi perkuliahan biasa, terbina hubungan bersetara, mampu memainkan peran-peran di atas, dan tutorial berjalan efektif, tutor perlu menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang berfungsi untuk: (1) membangkitkan minat mahasiswa terhadap materi yang sedang dibahas, (2) menguji pemahaman mahasiswa terhadap materi pelajaran, (3) memancing mahasiswa agar berpartisipasi aktif dalam kegiatan tutorial, (4) mendiagnosis kelemahan-kelemahan mahasiswa, dan (5) menuntun mahasiswa untuk dapat menjawab masalah yang sedang dihadapi (Hyman, dalam Suroso, 1992). Tutor juga menstimulasi mahasiswa untk terlibat aktif dalam pembahasan: (1) masalah yang ditemukan mahasiswa dalam mempelajari modul; (2) kompetensi atau konsep esensial matakuliah; (3) persoalan yang terkait dengan unjuk kerja (praktik/praktikum) mahasiswa di dalam/di luar kelas tutorial; dan (4) masalah yang berkaitan dengan profesi keguruan yang ditemukan ketika mahasiswa menjalankan tugas sehari-hari sebagai guru.

Untuk mendukung pelaksanaan peran dan fungsi-fungsi di atas, tutor perlu menguasai secara trampil sejumlah keterampilan dasar tutorial, yakni: (1) membuka dan menutup tutorial; (2) bertanya lanjut; (3) memberi penguatan; (4) mengadakan variasi; (5) menjelaskan; (6) memimpin diskusi kelompok kecil; (7) mengelola kelas; dan (8) mengajar kelompok kecil dan perorangan. Kedelapan jenis keterampilan dasar tutorial ini pada dasarnya sama dengan keterampilan dasar mengajar, yang diadaptasi dari perangkat “Sydney Micro Skills” yang dikembangkan oleh Sydney University tahun 1973.

B. Prinsip-prinsip Tutorial
Beberapa prinsip dasar tutorial yang sebaiknya dipahami oleh tutor agar penyelenggaraan tutorial yang efektif, dan tidak terjebak pada situasi perkuliahan biasa, adalah:
1. interaksi tutor-tutee sebaiknya berlangsung pada tingkat metakognitif, yaitu tingkatan berpikir yang menekankan pada pembentukan keterampilan “learning how to learn” atau “think how to think” (mengapa demikian, bagaimana hal itu bisa terjadi, dsb).
2. tutor harus membimbing tutee dengan teliti dalam keseluruhan langkah proses belajar yang dijalani oleh tutee.
3. tutor harus mampu mendorong tutee sampai pada taraf pengertian (understanding = C2) yang mendalam sehingga mampu menghasilkan pengetahuan (create = C6) yang tahan lama.
4. tutor seyogianya menghindarkan diri dari pemberian informasi semata (transfer of knowledge/information), dan menantang tutee untuk menggali informasi/pengetahuan sendiri dari berbagai sumber belajar dan pengalaman lapangan.
5. tutor sebaiknya menghindarkan diri dari upaya memberikan pendapat terhadap kebenaran dan kualitas komentar atau sumbang pikiran (brainstroming) tutee.
6. tutor harus mampu menumbuhkan diskusi, komentar dan kritik antartutee, sehingga dapat meningkatkan kemampuan intelektual, psikomotorik, sikap demokrasi, kerjasama, dan interaksi antartutee.
7. segala kuputusan dalam tutorial sebaiknya diambil melalui proses dinamika kelompok di mana setiap tutee dalam kelompok memberikan sumbang pikirannya.
8. tutor sebaiknya menghindari pola interaksi tutor-tutee, dan mengembangkan pola interaksi tutee-tutee.
9. tutor perlu melakukan pelacakan lebih jauh (probing) terhadap setiap kebenaran jawaban atau pendapat tutee, untuk lebih meyakinkan tutee atas kebenaran jawaban atau pendapat yang dikemukakan tutee. (Anda yakin demikian, mengapa, apa alasannya?).
10. tutor seyogianya mampu membuat variasi stimulasi/rangsangan untuk belajar, sehingga tutee tidak merasa bosan, jenuh, dan/atau putus asa.
11. tutor selayaknya memantau kualitas kemajuan belajar tutee dengan mengarahkan kajian sampai pada taraf pengertian yang mendalam (indepth understanding).
12. tutur perlu menyadari kemungkinan munculnya potensi masalah interpersonal dalam kelompok, dengan segera melakukan intervensi skala kecil untuk memelihara efektivitas proses kerja dan dinamika kelompok. tutor perlu senantiasa bekerjasama (power with) dengan tutee, dan selalu bertanggungjawab atas proses belajar dalam kelompok. Akan tetapi, sewaktu-waktu tutor juga harus lepas tangan (power off) bila proses belajar tutee telah berjalan dengan baik.

C. Model-model Tutorial
Model tutorial adalah suatu analog konseptual tentang tutorial yang digunakan untuk menyarankan bagaimana sebuah proses tutorial selayaknya dilakukan. Model tutorial juga dapat diartikan sebagai sebuah struktur konseptual tentang tutorial yang dapat membantu memberikan bimbingan atau arahan kepada tutor di dalam mengelola dan mengembangkan aktivitas tutorial, agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan secara efektif. Sebuah model tutorial, dikembangkan atas dasar pertimbangan-pertimbangan filosofis, psikologis, sosial, kultural tentang hakikat tutee, tutor, materi, dsb.

Pada dasarnya, terdapat ragam model tutorial yang dikenal dalam kepustakaan tutorial. Beberapa model tutorial yang bisa digunakan oleh para tutor secara terampil untuk keperluan tutorial di Universitas Terbuka di antaranya model-model tutorial tersebut sengaja dikembangkan dalam rangka Program Akreditasi Tutor UT (PAT-UT), yakni: (1) PAT-UT I, (2) PAT-UT II, dan (3) PAT-UT III. Selain itu para tutor juga dapat menggunakan model-model tutorial yang aktif-kreatif inovatif yang banyak berkembang dan digunakan dalam pembelajaran di Indonesia seperti: Cooperative Learning, Jigsaw I dan II, Konstruktivisme, Pemecahan Masalah/Studi Kasus, Model Kreatif & Produktif, Latihan Keterampilan, Simulasi & Bermain Peran, atau Model Pembelajaran Orang Dewasa.

D. Modus Tutorial

Ada empat modus tutorial, yakni: tutorial tatap muka (TTM); tutorial tertulis (tutis) lewat surat-menyurat/krespondensi; tutorial elektorik (tutel) lewat televisi, radio, media massa, dan internet; dan tutorial online (tuton) lewat internet. Bagi mahasiswa PENDAS ada dua modus tutorial yang disediakan, yaitu (1) Tutorial Tatap muka (TTM), meliputi Tutorial Tatap Muka Wajib (TTM) dan Tutorial Tatap Muka Atas Dasar Permintaan Mahasiswa (TTM-ATPEM).dan (2) tutorial online (tuton) lewat internet.
Diskusi kelompok terbimbing dengan model tutur merupakan kelompok diskusi yang beranggotakan 5-6 siswa pada setiap kelas di bawah bimbingan guru mata pelajaran dengan menggunakan tutor sebaya. Tutur sebaya adalah siswa di kelas tertentu yang memiliki kemampuan di atas rata-rata anggotanya yang memiliki tugas untuk membantu kesulitan anggota dalam memahami materi ajar. Dengan menggunakan model tutor sebaya diharapkan setiap anggota lebih mudah dan leluasa dalam menyampaikan masalah yang dihadapi sehingga siswa yang bersangkutan terpacu semangatnya untuk mempelajari materi ajar dengan baik.

E Langkah-langkah

Untuk menghidupkan suasana kompetitif, setiap kelompok harus terus dipacu untuk menjadi kelompok yang terbaik. Oleh karena itu, selain aktivitas anggota kelompok, peran ketua kelompok atau tutor sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan kelompok dalam mempelajari materi ajar yang disajikan. Ketua kelompok dipilih secara demokratis oleh seluruh siswa. Misalnya, jika di suatu kelas terdapat 46 siswa, berarti ada 9 kelompok dengan catatan ada satu kelompok yang terdiri atas 6 siswa. Sebelum diskusi kelompok terbentuk, siswa perlu mengajukan calon tutor. Seorang tutor hendaknya memiliki kriteria: (1) memiliki kemampuan akademis di atas rata-rata siswa satu kelas; (2) mampu menjalin kerja sama dengan sesama siswa; (3) memiliki motivasi tinggi untuk meraih prestasi akademis yang baik; (4) memiliki sikap toleransi dan tenggang rasa dengan sesama; (5) memiliki motivasi tinggi untuk menjadikan kelompok diskusinya sebagai yang terbaik; (6) bersikap rendah hati, pemberani, dan bertanggung jawab; dan (7) suka membantu sesamanya yang mengalami kesulitan.
Tutor atau ketua kelompok memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: (1) memberikan tutorial kepada anggota terhadap materi ajar yang sedang dipelajari; (2) mengkoordinir proses diskusi agar berlangsung kreatif dan dinamis; (3) menyampaikan permasalahan kepada guru pembimbing apabila ada materi ajar yang belum dikuasai; (4) menyusun jadwal diskusi bersama anggota kelompok, baik pada saat tatap muka di kelas maupun di luar kelas, secara rutin dan insidental untuk memecahkan masalah yang dihadapi; (4) melaporkan perkembangan akademis kelompoknya kepada guru pembimbing pada setiap materi yang dipelajari.
Peran guru dalam metode diskusi kelompok terbimbing model tutor sebaya hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing terbatas. Artinya, guru hanya melakukan intervensi ketika betul-betul diperlukan oleh siswa.

06/20/2009 Posted by | SBM | 11 Komentar

Strategi Pembelajaran Tak Langsung Metode Inquiri

Metode inquiry merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi (Sagala, 2004).
Walaupun dalam praktiknya aplikasi metode pembelajaran inquiry sangat beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan bahwa pembelajaran dengan metode inquiry memiliki 5 komponen yang umum yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources (Garton, 2005).
Question. Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya, yang dimaksudkan sebagai pengarah ke pertanyaan inti yang akan dipecahkan oleh siswa. Selanjutnya, guru menyampaikan pertanyaan inti atau masalah inti yang harus dipecahkan oleh siswa. Untuk menjawab pertanyaan ini – sesuai dengan Taxonomy Bloom – siswa dituntut untuk melakukan beberapa langkah seperti evaluasi, sintesis, dan analisis. Jawaban dari pertanyaan inti tidak dapat ditemukan misalnya di dalam buku teks, melainkan harus dibuat atau dikonstruksi.
Student Engangement. Dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator. Siswa bukan secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir bab sebuah buku, melainkan dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yang menunjukkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari atau dalam melakukan sebuah investigasi.
Cooperative Interaction. Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. Dalam hal ini, siswa bukan sedang berkompetisi. Jawaban dari permasalahan yang diajukan guru dapat muncul dalam berbagai bentuk, dan mungkin saja semua jawaban benar.
Performance Evaluation. Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya mengenai permasalahan yang sedang dipecahkan. Bentuk produk ini dapat berupa slide presentasi, grafik, poster, karangan, dan lain-lain. Melalui produk-produk ini guru melakukan evaluasi.
Variety of Resources. Siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dengan ahli, dan lain sebagainya.
Langkah-langkah pelaksanaan metode inquiry:
1. Orientasi

Adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsive. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi ini adalah:
 Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
 Menjelaskan pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inquiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.
 Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.

2. Merumuskan masalah

Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki.persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah diantaranya:
 Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Siswa akan akan memiliki motivai yang tinggi manakala dilibatkan dalam merumuskan masalah yang hendak dikaji.
 Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti.
 Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa.

3. Merumuskan hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenaranya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki setiap individu sejak lahir. Oleh sebab itu, potensi untuk mengembangkan kemampuan harus dibina. Salah satu cara yang harus dilakukan guru untuk mengembangkan hipotesis siswa adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.

4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya. Oleh karena itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mampu mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.
5. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Di samping itu, menguji hipotesis juga berari mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Meumuskan kesimpulan
Adalah poses mendeskrisikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gong-nya dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, oleh karena banyaknya data yang diperoleh, menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukan pada siswa data mana yang relevan.

06/20/2009 Posted by | Uncategorized | 10 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 930 pengikut lainnya.