BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

MEMAHAMI KONSEP AL-QURAN TENTANG TAQWA DAN IMPLIKASINYA DALAM KEHIDUPAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kata takwa yang sudah umum didengar dan sangat familiar baik di dunia keagamaan maupun pendidikan. Takwa adalah melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarangNya. Takwa juga merupakan suatu hal yang sangat diharapkan oleh setiap manusia bahwa segala sesuatu urusan yang dilalui selalu lancar tanpa hambatan. Tetapi sudah merupakan suatu sunatullah bahwa mustahil untuk mendapat sesuatu tanpa perjuangan. Perjuangan, hambatan, gangguan dan apapun bentuknya merupakan bagian dari ujian untuk mendapatkan sesuatu. Seorang ingin lulus sekolah harus melalui ujian, seorang ingin masuk sebuah pekerjaan di sebuah perusahaan harus melalui tahapan tes yang melelahkan.

Allah menegaskan, bahwa barang siapa yang selalu berupaya merealisir takwanya dalam segala aktivitas riil-konkrit kesehariannya, maka Allah tidak hanya akan memberinya kebaikan di dunia–kebaikan sosial, kebaikan profesi, dan kebaikan solusi bagi problema dirinya, tetapi juga pahala yang sangat besar. Aktualisasi takwa di sisi lain akan mendorong umat manusia, untuk tidak pernah berhenti melakukan perubahan dan kompetisi.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, terkait dengan pembahasan takwa, maka masalah yang timbul dirumuskan berikut ini.

  1. Ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan Takwa beserta artinya.
  2. Tafsir yang berkaitan dengan ayat di atas.
  3. Implikasi Takwa berdasarkan Analisis Ayat-Ayat di Atas dalam Kehidupan.

1.3  Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk mngetahui:

  1. Ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan Takwa beserta artinya.
  2. Tafsir yang berkaitan dengan ayat di atas.
  3. Implikasi Takwa berdasarkan Analisis Ayat-Ayat di Atas dalam Kehidupan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Ayat dan Artinya

v   Surat Ali Imron ayat 102

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qà)®?$# ©!$# ¨,ym ¾ÏmÏ?$s)è? Ÿwur ¨ûèòqèÿsC žwÎ) NçFRr&ur tbqßJÎ=ó¡•B ÇÊÉËÈ

102.  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

v   Surat Al Hujurat ayat 13

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu‘$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& y‰YÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ

13.  Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

v   Surat Ar’ad ayat 35

ã@sW¨B Ïp¨Yyfø9$# ÓÉL©9$# y‰Ïããr tbqà)­GßJø9$# ( “̍øgrB `ÏB $uhÏGøtrB ㍻pk÷XF{$# ( $ygè=à2é& ÒOͬ!#yŠ $yg=Ïßur 4 y7ù=Ï? Ót<ø)ã㠚úïÏ%©!$# (#qs)¨?$# ( _q<ø)ãã¨r tûï͍Ïÿ»s3ø9$# â‘$¨Y9$# ÇÌÎÈ

35.  Perumpamaan syurga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.

2.2  Tafsir dari Ayat-ayat di atas

v   Surat Ali Imron ayat 102

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qà)®?$# ©!$# ¨,ym ¾ÏmÏ?$s)è?

Tafsir dalam ayat ini adalah “Wahai segala mereka yang beriman,  bertaqwalah kepada Allah dengan sempurna-sempurna takwa (laksanakan seluruh kewajiban dan jauhilah segala yang dilarang). Yakni, wajib atasmu bertaqwa akan Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, yaitu mengerjakan segala perintah Nya dan wajib menjauhi segala larangannya.”

Diriwayatkan oleh Al Hafidz Ibnu Abil Halim dari Mas’ud, ujarnya “Takwa kepada Allah, ialah mentaati-Nya, tidak mendurhakai-Nya, Mensyukuri-Nya, tidak mengingkarinya, menyebut-Nya (mengingat-Nya), tidak melupai-Nya. Dan Ibnu Abbas berkata “ takwa itu ialah bermudjahadah pada jalan Allah dengan benar-benar Jihad, dan tidak dipengaruhi pada jalan Allah oleh celaan para pencela, dan menegakkan keadilan karena Allah, walaupun terhadap diri sendiri, ibu dan bapak.

Ÿž tbqßJÎ=ó¡•BNçFRr&ur wÎ) ¨ûèòqèÿsCwur

Tafsir dalam ayat ini adalah “dan janganlah kamu mati melainkan dalam kamu menyerahkan diri kepada Allah (beragama Islam). Yakni: Hai para mu’min, jangan kamu mati melainkandalam keadaan dirimu ikhlas kepada Allah, tidak menserikatkan Allah dengan sesuatu. Jelasnya, tetaplah kamu di dalam Islam dengan memelihara segala kewajiban, menjauhi segala larangan, sehingga kamu menarik nafas penghabisan.

Ada yang mengatakan bahwa firman Allah : ” ittaqullaha haqqa tuqatihi”, dinasahkan oleh fattaqullaha mastatha’tum. Mereka berkata: tidak ada jalan dapat kita bertakwa dengan sepenuh-penuh takwa. Sebenarnya yang dimaksud dengan ayat ini ialah tetap dalam keadaan kembali dan takut akan Allah lahir dan batin.

v   Surat Al Hujurat ayat 13

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur

Tafsirnya yaitu : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan yakni dari Adam dan Hawa -   $\/qãèä© Nä3»oYù=yèy_ur (dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa) lafadz Syu’uban adalah bentuk jamak dari lafadz Sya’bun yang artinya tingkatan nasab keturunan yang paling tinggi-  Ÿ@ͬ!$t7s%ur (dan bersuku-suku) kedudukan suku berada di bawah bangsa, setelah suku atau kabilah disebut Imarah, lalu Bathn, sesudah Bathn adalah Fakhdz dan yang paling bawah adalah Fashilah. Contohnya ialah Khuzaimah adalah nama suatu bangsa, Kinanah adalah nama suatu kabilah atau suku, Quraisy adalah nama atau Imarah, Qushay adalah nama suatu Bathn. Hasyim adalah nama suatu Fakhdz dan Al Abbas adalah suatu Fashilah -  #þqèùu‘$yètGÏ9 (supaya kalian saling kenal mengenal) lafadz Ta‘arafu asalnya adalah Tata’arafu, kemudian salah satu dari kedua huruf Ta dibuang sehingga jadilah Ta‘arafu. Maksudnya supaya sebagian dari kalian saling mengenal sebagian yang lain bukan untuk saling membanggakan ketinggian nasab atau keturunan, karena sesungguhnya kebanggaan itu hanya dinilai daru segi ketakwaan.-  4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& y‰YÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã (Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui) tentang kalian  ׎Î7yz (lagi Maha Mengenal) apa yang tersimpan di dalam batin kalian.

v   Surat Ar Ra’ad ayat 35

ã@sW¨B (perumpamaan) gambaran-  Ïp¨Yyfø9$# ÓÉL©9$# y‰Ïããr tbqà)­GßJø9$# ( surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa) kalimat ayat ini menjadi Mubtada, sedangkan kabarnya tidak disebutkan, lengkapnya mengatakan: yaitu seperti apa yang akan Kami ceritakan kepada kalian –  `ÏB $uhÏGøtrB ㍻pk÷XF{$# ( $ygè=à2é& (mengalir sungai-sungai di bawahnya; buah-buahnya) artinya apa-apa yang dimakan di dalam surga -  ÒOͬ!#yŠ (tiada henti-hentinya) tidak pernah lenyap -  $yg=Ïßur (sedang naungannya) tiada henti-hentinya pula, tidak pernah terhapus oleh matahari, karena di dalam surga tidak ada matahari, -  7ù=Ï?  (itulah) yakni surga itu-  Ót<ø)ãã (tempat kesudahan) akhir daripada kesudahan -  š#qs)¨?$#úïÏ%©!$# ((orang-orang yang bertakwa) takut kepada perbuatan syirik -  â‘$¨Y9$# tûï͍Ïÿ»s3ø9$# _q<ø)ãã¨r (sedangkan tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka)

2.3 Implikasi Takwa berdasarkan Analisis Ayat-Ayat di Atas dalam Kehidupan Beserta Kesimpulan dari Tiap-Tiap Ayat

Secara etimologis kata taqwa merupakan bentuk masdar dari ittaqâ–yattaqiy ittaqâ–yattaqiy (اتَّقَى- يَتَّقِىْ),yang bearti “menjaga diri dari segala yang membahayakan”. Kata ini berasal dari kata waqa-yagi-wiqayah yang berarti “menjaga diri menghindari dan menjahui” yaitu menjaga sesuatu dari segala yang dapat menyakiti dan mencelakan. Jadi yang dimaksud taqwa adalah kata yang sudah umum didengar dan sangat familiar baik di dunia keagamaan maupun pendidikan. Taqwa mengandung pengertian yang berbeda-beda di kalangan ulama, namun semuanya bermuara pada satu pengertian yaitu Seorang hamba melindungi dirinya dari kemurkaan Allah azza wa jalla dan juga siksaNya. Hal itu dilakukan dengan melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarangNya.

Afif Abdulullah Al Fahah Thabbarah mengatakan Taqwa adalah seorang memelihara dirinya dari segala sesuatu yang mengundang kemarahan Allah dan dari segala sesuatu yangmendatangkan mudharat baik dirinya maupun orang lain. Ibnu Rajab rahimahullah berkata bahwa asal taqwa adalah seorang hamba membuat pelindung yang melindungi dirinya dari hal-hal yang ditakuti. Jadi ketaqwaan seseorang hamba kepada Rabnya adalah ia melindungi dirinya dari hal-hal yang dia takuti, yang dating dari Allah berupa kemurkaan dan azabNya yaitu melakukan ketaatan kepadaNya dan menjauhi kemaksiyatan kepadaNya.

Orang-orang bertakwa diberi berbagai kelebihan oleh Allah Swt, tidak hanya ketika mereka di akhirat nanti tetapi juga ketika mereka berada di dunia ini. Beberapa kelebihan mereka disebutkan di dalam al-Quran, antara lain: (1) Dibukakan jalan keluar pada setiap kesulitan yang dihadapinya (2) Dimudahkan segala urusannya (3) Dilimpahkan kepadanya berkah dari langit dan bumi (4) Dianugerahi furqân (فُرْقَان), yakni petunjuk untuk dapat membedakan yang hak dan bathil dan (5) Diampuni segala kesalahan dan dihapus segala dosanya. Dalam Qs. Ali Imron ayat 102 Allah berfirman Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepadaNya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Jika seorang ingin mencapai derajat taqwa mustahil ia dapatkan dalam waktu yang sekejap melainkan melalui proses yang sangat panjang dengan izin Allah. Allah pun tidak melihat hasil melainkan proses melalui ujian-ujian yang diberikan pada hambaNya baik dalam bentuk kebaikan maupun keburukan, kelonggaran maupun kesempitan dan sebagainya. Allah pun memberikan keluasaan untuk memilih bagi hambanya dua jalan yang terbentang dihadapannya berupa jalan fujur dan taqwa sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an.

Ketika seorang memilih jalan fujur maka jalan menuju taqwa akan terhambat bahkan tertutup. Dan jika memilih jalan taqwa berarti segala proses, jalan-jalan menuju ketaqwaan akan ia tempuh, bagaimanapun beratnya perjalanan. Sebagaimana perjalanan Salman Al Farisyi dan Abu Dzar Al Ghifari mencari hidayah Allah. Setelah mereka mendapatkan hidayah Allah kemudian mereka mempertahankan hidayah itu dengan usaha ikut berjuang mengembangkan dan menyebarkan Islam ke penjuru dunia. Atau kisah seorang pembunuh 100 orang yang bertaubat kepada Allah. Ia mendapatkan suatu nikmat ketaqwaan dengan diampuninya dosa dan kesalahannya oleh Allah SWT melalui proses yang sangat panjang. Sebagai pengingat pula bahwa bila seseorang memilih jalan proses ketaqwaan maka ia akan berusaha sekuat mungkin untuk tetap konsisten dalam jalan ketaqwaan sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi : Bertaqwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada. Semoga kita termasuk orang yang melakukan proses ketaqwaan sehingga benar-benar mendapatkan kedudukan taqwa di sisi.

Di sisi lain ayat-ayat Alqur’an yang bertemakan taqwa tersebut pada umumnya sangat berhubungan erat dengan “martabat” dan “peran” yang harus dimainkan manusia di dunia, sebagai bukti keimanan dan pengabdian kepada Allah. Misalnya, ayat Alqur’an yang berkaitan dengan masalah ini terungkap dalam Surat Alhujarat/49: 13 sebagai berikut : ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Dalam ayat tersebut, taqwa dipahami sebagai “yang terbaik menunaikan kewajibannya”. Maka, manusia “yang paling mulia dalam pandangan Allah” adalah “yang terbaik dalam menjalankan perintah dan meninggalkan laranganNya”. Inilah yang menjadi salah satu dasar kenapa Allah menciptakan langit dan bumi yang menjadi tempat berdiam makhluk-Nya serta tempat berusaha dan beramal, agar nyata di antara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah.

Allah menegaskan, bahwa barang siapa yang selalu berupaya merealisir takwanya dalam segala aktivitas riil-konkrit kesehariannya, maka Allah tidak hanya akan memberinya kebaikan di dunia–kebaikan sosial, kebaikan profesi, dan kebaikan solusi bagi problema dirinya, tetapi juga pahala yang sangat besar. Aktualisasi takwa di sisi lain akan mendorong umat manusia, untuk tidak pernah berhenti melakukan perubahan dan kompetisi. Bukan kompetisi untuk memunculkan yang munkar, tapi kompetisi untuk memunculkan yang baik. Keragaman baik itu budaya, suku, ras, dan agama, maupun juga ragam profesi dalam konteks takwa bukanlah hambatan untuk bekerja maksimal merealisir amal saleh dan membawa amal jariyah.  “Hai manusia, sesungguhnyaa Kami mencip-takan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Allah juga menegaskan bahwa yang paling mulia di atas semuanya bukanlah yang menjadikan keragaman sebagai fait a compli, atau faktor yang memunculkan disharmoni,  Orang paling mulia adalah orang yang dapat memanfaatkan keragaman itu untuk memaksimalkan peran dirinya, peran sosialnya, peran profesinya, dan peran beragamanya melalui amalan. Bukan hanya amal dalam pengertian shadaqah, akan tetapi amal dalam pengertian karya nyata dan amal shalih. Rasulullah bersabda, bahwa manusia yang paling baik adalah mereka yang menciptakan manfaat, karya, serta amal shalih yang lebih banyak dan lebih baik bagi sesama umat manusia. Itulah implementasi takwa yang terbaik. Bila kemudian kelompok masyarakat, individu, atau anggota masyarakat dapat mewujudkan takwa dalam konteks semacam ini, dia akan menjadi orang yang utama, mulia, dan terhormat, tidak terhina, tidak tersisihkan, serta tidak disia-siakan. Dia akan mulia di sisi Allah SWT dan karenanya dia akan mulia di sisi umat manusia, sebab adalah suatu kemustahilan, mulia di sisi Allah SWT sambil dihinakan di sisi umat manusia. Kondisi dunia ini sesungguhnya adalah tanaman yang akan kita panen ketika kita hidup di akhirat.

Ketika dalam diri manusia bercokol bibit sifat kesombongan dan ketakaburan serta sifat ujub maka sulit baginya untuk dapat mencapai derajat taqwa. Terkadang dalam realita bahwa kedudukan seseorang itu ditentukan oleh banyak kriteria seperti pangkat, jabatan, kekayaan, banyaknya pengikut, kepandaian, banyaknya gelar kehormatan, kecantikan dan kerupawanan wajah atau bahkan keelokan tubuh yang dapat diumbar dengan seenaknya. Itu sebuah kekeliruan yang sangat fatal. Argumen itu dipatahkan Allah dengan ayatNya dalam al-Qur’an Surat Al Hujurat (49) ayat 13 yang artinya : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara kamu. Kita ingat bahwa sungguh Islam telah meninggikan derajat Salman Al Farisyi dan Bilal bin Rabah sebagai sosok budak dan telah menurunkan kemuliaan berupa kehinaan Abu Lahab karena kekufurannya. Hai ini diperjelas dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dinyatakan bahwa : Sesungguhnya seutama-utama manusia denganku adalah orang-orang yang taqwa, siapapun dan bagaimanapun keadaan mereka.

Dalam Surat ar Ra’ad ayat 35 menyatakan bahwa: “Di dalam apa yang telah Kami kisahkan kepadamu terdapat sifat surga yang Allah janjikan kepada orang-orang yang bertaqwa, yaitu di bawahnya mengalir sungai-sungai dari segenap penjuru.” Adapun makna dalam surat ini adalah:

  1. Di dalam apa yang telah Kami bacakan kepadamu atau kami mengisahkannya terdapat sifat surga yang Allah janjikan kepada orang-orang yang bertaqwa sebagai pembalasan bagi ketundukannya dan keikhlasannya.
  2. Surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai dari segenap penjuru dan dimana saja penghuninya menghendaki timbullah mata air.
  3. Di dalamnya terdapat buah-buahan, makanan, dan minuman yang tidak putus-putus sepanjang masa.
  4. Bayang-bayangnya pun demikian pula, terus-menerus hadir tak henti, sehingga di sana tidak ada panas dan tidak ada dingin. Tidak ada matahari dan tidak ada bulan, serta tidak ada gelap.
  5. Surga yang sudah diterangkan itu merupakan buah yang diperoleh oleh semua orang yang bertaqwa kepada Allah, yang menjauhkan diri dari segala maksiat dan dosa. Itulah pembalasan bagi mereka.
  6. Hasil yang diperoleh semua orang yang mengingkari Allah adalah neraka sebagai pembalasan atas dosa-dosa yang mereka kerjakan. Sikap manusia terhadap al-qur’an yang diturunkan Allah terbagi dua. Ada yang membenarkan dan ada yang mendustakan, seperti diterangkan oleh Allah sendiri.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, terkait dengan Memahami Konsep Al-Qur’an Tentang Takwa dan Implikasi dalam Kehidupan, maka kesimpulan dapat diuraikan berikut ini.

1)   Ayat-ayat suci al-Qur’an yang berkaitan dengan ketakwaan di antaranya adalah Surat Ali Imron ayat 102, Surat al-Hujurat ayat 13 dan Surat Ar Ra’ad ayat 35.

2)   Ali Imron ayat 102 Tafsir dalam ayat ini adalah “Wahai segala mereka yang beriman,  bertaqwalah kepada Allah dengan sempurna-sempurna takwa (laksanakan seluruh kewajiban dan jauhilah segala yang dilarang). Yakni, wajib atasmu bertaqwa akan Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, yaitu mengerjakan segala perintah Nya dan wajib menjauhi segala larangannya.”. dan janganlah kamu mati melainkan dalam kamu menyerahkan diri kepada Allah (beragama Islam). Surat al-Hujurat ayat 13 yaitu Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan yakni dari Adam dan Hawa dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. karena sesungguhnya kebanggaan itu hanya dinilai daru segi ketakwaan dan sesungguhnya orang mulia diantara kamu adalah yang bertakwa, sesungguhnya Allah maha mengetahui dan Maha Mengenal apa yang ada dalam batin kalian. Surat Ar Ra’ad ayat 35 yaitu surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa yang sungai-sungai di bawahnya; buah-buahnya) artinya apa-apa yang dimakan di dalam surga dan tidak pernah lenyap (sedang naungannya), tiada henti-hentinya pula, tidak pernah terhapus oleh matahari, karena di dalam surga tidak ada matahari, karena Surga tempat kesudahan daripda orang-orang yang bertakwa. Orang yang berakwa takut kepada perbuatan syirik sedangkan tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka)

3)   Orang-orang bertakwa diberi berbagai kelebihan oleh Allah Swt, tidak hanya ketika mereka di akhirat nanti tetapi juga ketika mereka berada di dunia ini. Beberapa kelebihan mereka disebutkan di dalam al-Quran, antara lain: (1) Dibukakan jalan keluar pada setiap kesulitan yang dihadapinya (2) Dimudahkan segala urusannya (3) Dilimpahkan kepadanya berkah dari langit dan bumi (4) Dianugerahi furqân (فُرْقَان), yakni petunjuk untuk dapat membedakan yang hak dan bathil dan (5) Diampuni segala kesalahan dan dihapus segala dosanya

DAFTAR PUSTAKA

Al-Mahalily Din, Jalalud, Imam., dan Imam, Jalalud, Din As Suyuti. Tafsir Jalalin Berikut Asbabub Nuzul. Bandung: Sinar Baru., 1990.

AshShiddieqy, Asbi. Tafsir al-qur’an. Jakarta: Bukan Bintang, 1969.

Anonymous. 2008. Taqwa. http//wikepedia.com. (online). Diakses tanggal 30 April 2010.

Ghazali, Muhtar. 2008. Taqwa dan Implikasinya. http//Muchtar.Taqwa.php 3. (online). Diakses tanggal 30 april 2010.

Keraf, Gorys., Prof, DR. Komposisi. Flores: Nusa Indah, 1997.

Muhammad, Tengku.. Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nuur. Semarang: PT.Pustaka rizki,  2000

06/25/2010 Posted by | Uncategorized | 3 Komentar

BIOLOGI REPRODUKSI: B I O L O G I S E L

Heru SWN, S.Kep, Ns, M.M.Kes

Website: www.schoolrack.com/medikes atau www.medikes.dikti.net

E-mail: heruswn@gmail.com

PENDAHULUAN

Beberapa pengertian dasar yang perlu dipahami untuk mempelajari sel adalah:

1.  Organisme atau individu adalah suatu unit kehidupan. Manusia, hewan dan tumbuhan adalah sebuah organisme. Organisme tersusun atas berbagai sistem organ yang membentuk satu kesatuan di antaranya sistem integumen, pencernaan, sirkulasi, respirasi, ekskresi, muskuloskeletal, endokrin, reproduksi dan lainnya.

2.  Sistem organ tersusun oleh beberapa organ, misalnya sistem reproduksi wanita tersusun atas organ ovarium, tuba uterina fallopii, uterus, vagina, vulva dan lainnya. Sistem reproduksi pria tersusun atas penis, testis, prostat, vesikula seminalis dan lainnya.

3.  Organ tersusun atas jaringan-jaringan, misalnya uterus memiliki jaringan otot bernama miometrium, jaringan endotel bernama endometrium, jaringan saraf, jaringan ikat berupa ligamen-ligamen yang menopang uterus. Penis tersusun atas jaringan kulit, mukosa, jaringan otot, jaringan saraf dan lain-lain.

4.  Jaringan merupakan sekumpulan sel-sel dengan struktur dan fungsi yang sama. Misalnya jaringan kulit merupakan sekumpulan sel-sel berstruktur pipih dan memiliki fungsi pokok yang sama yaitu sebagai penutup tubuh. Jaringan saraf tersusun atas sekumpulan sel-sel panjang bernama neuron dan berfungsi sebagai penyalur impuls saraf.

5.  Sel merupakan unit terkecil dari kehidupan. Tubuh manusia dewasa memiliki kira-kira 100 triliun sel. Namun di alam ini ada organisme yang hanya memiliki beberapa sel saja, bahkan ada pula yang hanya memiliki satu sel saja, misalnya bakteri.

Sel merupakan kesatuan hidup terkecil yang sungguh-sungguh ada. Organisme hidup ada yang bersel satu disebut protozoa dan ada yang multiseluler yang disebut metazoa. Dari berbagai jenis sel yang ada di dalam tubuh manusia ada yang berumur pendek dan akhirnya digantikan oleh sel yang baru, namun ada juga yang bertahan sampai dengan akhir kehidupan misalnya sel-sel saraf.

STRUKTUR SEL

Beberapa pengertian dasar yang perlu dipahami untuk mempelajari sel adalah:

Sebuah sel adalah setitik massa protoplasma yang tersusun atas:

  1. Membran sel atau membran plasma (A)

Membran plasma merupakan suatu membran yang berfungsi untuk mempertahankan komposisi yang tepat dari protoplasma karena merupakan membran semipermeabel yang selektif sehingga mampu menyaring bahan-bahan yang masuk. Pada permukaan membran sel terdapat tonjolan-tonjolan disebut mikrofili (R). Dengan adanya mikrofili, permukaan sel menjadi semakin luas.

  1. Sitoplasma/sitosol (B)

Sitoplasma merupakan bahan koloid yang kompleks tempat struktur yang lain terendam dan berfungsi dalam kegiatan anabolik dan sintetik. Di dalam sitoplasma terdapat struktur-struktur penting yang disebut organela-organela, antara lain:

  1. Nukleus atau inti sel (C)

Nukleus terdiri dari massa protoplasma yang lebih pekat dan dipisahkan dari sitoplasma oleh membran inti (D) yang selektif terhadap bahan-bahan yang masuk ke dalam nukleus. Nukleus mengendalikan sel dan kegiatannya. Di dalam nukleus terhadap kromosom yang penting artinya dalam genetika. Di dalam kromosom terdapat bahan genetik yang disebut DNA. Di dalam nukleus juga terdapat inti yang disebut nukleolus atau anak inti (E). Fungsi dari nukleolus adalah membentuk ribosom, yang selanjutnya dibawa keluar dari nukleus menuju retikulum endoplasma granulosun.

  1. Mitokondria (F)

Mitokondria berbentuk tongkat-tongkat kecil yang berfungsi dalam proses katabolisme dan respirasi sel dalam rangka membentuk energi. Termasuk di dalam proses tersebut antara lain Siklus Kreb, oksidasi piruvat dan oksidasi beta.

  1. Kompleks Golgi (G)

Kompleks golgi merupakan saluran-saluran yang terletak di dekat nukleus dan terlibat dalam proses sekresi. Sekresi sel misalnya hormon dan neurotransmitter dipak berupa vesikel sekretori (Q) kemudian dibawa menuju permukaan sel untuk dilepaskan.

  1. Lisosom (H)

Lisosom merupakan organela yang berperan dalam kegiatan pencernaan karena di dalamnya terdapat enzim hidrolitik. Sel darah putih dapat menelan bakteri, selanjutnya isi lisosom dibawa dengan hati-hati menuju vakuola membunuh dan mencerna bakteri tersebut. Pelepasan isi lisosom yang tak terkontrol justru akan mematikan sel (nekrosis).

  1. Retikulum endoplasma (I)

Ada dua jenis retikulum endoplasma yaitu retikulum endoplasma agranulosum dan retikulum endoplasma granulosum yang mengandung ribosom (J).

-       Retikulum endoplasma agranulosum berfungsi dalam proses sintesis lipid dan hormon steroid, detoksikasi racun yang larut dalam lipid di hati, dan pengendalian pelepasan Kalsium dalam mekanisme kontraksi otot.

-       Retikulum endoplasma granulosum berfungsi mengumpulkan protein yang disintesis oleh ribosom, dan selanjutnya menyalurkannya keluar dari sel.

  1. Sentrosom (K)

Merupakan organela yang berperan dalam pembelahan sel. Sentrosom terdiri atas dua sentriol (L). Pada saat pembelahan sel, sentrosom mengalami replikasi (penyalinan) menjadi dua sentriol. Masing-masing belahan akan menuju belahan sel yang berbeda.

  1. Sitoskeleton atau kerangka sel (M)

Sitoskeleton terdiri atas mikrotubulus (N) dan mikrofilamen (O). Fungsi dari sitoskeleton adalah berperan dalam motilitas sel dan mempertahankan bentuk sel.

  1. Vakuola (P)

Vakuola adalah kantong yang berfungsi dalam pencernaan intrasel dan membuang produks sampah sel.

  1. Peroksisom (S)

Peroksisom melindungi sel dari produk sel yang beracun yaitu H2O2 (hidrogen peroksida). Sebagai contoh adalah hidrogen peroksida yang dihasilkan oleh lekosit untuk membunuh bakteri. Enzim oksidatif dari peroksisom memecah hidrogen peroksida menjadi H2O (air) dan oksigen.


PEMBELAHAN SEL

Sel bertambah banyak dengan cara membelah diri. Sel-sel tubuh (sel somatis) misalnya sel otot, sel saraf, sel kulit, sel darah putih dan lain-lain membelah diri dengan cara mitosis. Sedangkan sel-sel kelamin (sel gamet) yaitu ovum dan spermatozoa membelah diri dengan cara meiosis.

1.  Pembelahan mitosis

Setiap 1 sel mengalami pembelahan mitosis akan dihasilkan 2 sel baru yang sama dengan sel semula. Jadi dalam proses ini terjadi proses copy (penyalinan). Dengan demikian dapat dihasilkan salinan-salinan sel baru seperti induknya hingga menjadi triliunan jumlahnya. Pembelahan mitosis terdiri atas 7 fase yaitu:

  1. Interfase adalah fase terpanjang, dengan ciri-ciri:

-       Sel tampak tidak aktif, tetapi memiliki arah berlawanan

-       Terjadi proses replikasi DNA

-       Sentriol membelah

-       Protein disintesis secara aktif

  1. Profase adalah tahap pertama mitotik, dengan ciri-ciri:

-       Nukleolus kabur dan kromatin (gabungan hasil replikasi DNA dengan protein) terkondensasi menjadi kromosom. Masing-masing kromosom hasil replikasi mengandung 2 kromatid yang mengandung informasi genetik yang sama.

-       Mikrotubulus sitoskeleton berubah fungsi dari mempertahankan bentuk sel menjadi fungsi membangun spindel mitotik dari bagian sentrosom.

  1. Prometafase, dengan ciri-ciri:

-       Membran inti menghilang

-       Terjadi elongasi sebagian spindel mitotik dari sentrosom menuju kinetokor, berkas protein pada sentromer kromosom masing-masing pasangan bergabung.

-       Terjadi elongasi spindel lainnya menuju kromosom, tumpang tindih di pusat sel.

  1. Metafase, dengan ciri-ciri:

-       Tegangan serat spindel membuat kromosom berada satu bidang pada pusat sel

  1. Anafase, dengan ciri-ciri:

-       Spindel memendek, kinetokor memisah, kromatid ditarik ke kutub berlawanan

  1. Telofase, dengan ciri-ciri:

-       Kromosom tiba di kutub dan spindel yang telah ditarik berlawanan tak tampak

  1. Sitokenesis

-       Spindel yang tak terikat pada kromosom mulai menghilang sampai hanya bagian overlap saja yang tampak

-       Mikrotubulus diorganisasikan kembali menjadi sitoskeleton baru menuju ke tahap interfase kembali

2.  Pembelahan meiosis

Jika 1 sel gamet mengalami pembelahan meiosis secara sempurna akan dihasilkan 4 sel baru yang memiliki set kromosom hanya separuh dari sel induknya. Jadi dalam proses ini terjadi penggandaan namun tidak dengan cara copy (penyalinan). Dengan demikian dihasilkan sel-sel baru namun semuanya hanya memiliki setengah dari kromosom sel semula. Pembelahan meiosis terdiri atas 2 tahap utama yaitu meiosis I dan meiosis II. Pada kedua tahap tersebut terjadi fase-fase pembelahan sebagaimana halnya pembelahan mitosis. Sel yang bakal membelah secara meiosis adalah spermatogonium dan oogonium, yang memiliki 2 set kromosom atau diploid (2N) namun memiliki 4 set DNA atau tetraploid (4N). Kromosom selanjutnya digandakan menjadi sister chromatids atau homologous dyads. Langkah selanjutnya adalah:

  1. Profase I

-       Pasangan dyads membentuk tetrads, kromatid non homolog berhubungan menyilang membentuk chiasma (crossing over)

  1. Metafase I

-       Spindel mengikat dyad pada kinetokor

-       Tegangan spindel membuat tetrad berada di ekuator (pusat sel)

  1. Anafase I

-       Chiasmata menghilang dan kromatid homolog bergerak ke kutub berlawanan

  1. Telofase I

-       Mulai proses sitokinesis (pembelahan) menghasilkan 2 sel anak haploid (1N)

  1. Profase II

-       Pembentukan spindel dimulai

-       Sentrosom mulai bergerak ke kutub berlawanan

  1. Metafase II

-       Tegangan spindel membuat kromosom ada di bidang ekuator (pusat sel)

  1. Anafase II

-       Kromatid memisah dan menuju kutub berlawanan

  1. Telofase II

-       Mulai terjadi sitokinesis

  1. Gamet yang bersifat haploid (1N) terbentuk

-       Membran inti terbentuk

-       Kromosom terdispersi sebagai kromatin

-       Meiosis menghasilkan 4 sel anak, masing 1N kromosom dan 1N DNA.

-       Lebih lanjut, dalam fertilisasi gamet spermatozoa dan gamet ovum bersatu membentuk zigot dengan sifat diploid (2N)


REFERENSI

Anonim, Mitosis And Meiosis: Cell Division http://ghr.nlm.nih.gov/handbook/ illustrations/mitosismeiosis.jpg, 2009

Basmajian J.V., Slonecker C.E., Grant’s Method of Anatomy, Jilid 1, Edisi XI, Williams and Wilkins, 1993.

Kahle W., Leonhardt H., Platzer W., Atlas Berwarna dan Teks Anatomi Manusia, Jilid 1 Sistem Lokomotor Muskuloskeletal dan Topografi, Edisi IV, Penerjemah Syamsir H.M., Hipokrates, Jakarta, 1995.

Lones Michael, Biological Representation, http://www-users.york.ac.uk/~mal503/common/ thesis/jpegimages/meiosis.jpg, 2003

Sullivan Jim, Cells Alive, http://www.cellsalive.com, 2006

Tortora G.J., Principles of Human Anatomy,  Edisi IV, Harper and Row Publisher, New York, 1986.

06/02/2010 Posted by | Biologi Umum | 8 Komentar

METABOLISME LIPID

Disajikan sebagai Bahan Kuliah Biokimia bagi Mahasiswa D III Kebidanan

Penyusun:

Heru Santoso Wahito Nugroho, S.Kep., Ns., M.M.Kes

Telefon:

0352-752747 (rumah), 081335251726 (mobile), 0351-895216 (kantor)

E-mail:

heruswn@yahoo.co.id atau heruswn@telkom.net

website:

www.heruswn.weebly.com

Referensi:

Anonim, 2000, Petunjuk Praktikum Biokimia Untuk PSIK (B) Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta: Lab. Biokimia FK UGM

Guyton AC, Hall JE, 1996, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi IX, Penerjemah: Setiawan I, Tengadi LMAKA, Santoso A, Jakarta: EGC

http://www.biology.arizona.edu\biochemistry, 2003, The Biology Project-Biochemistry

http://www.bioweb.wku.edu\courses\BIOL115\Wyatt, 2008, WKU Bio 113 Biochemistry

http://www.gwu.edu\_mpb, 1998, The Metabolic Pathways of Biochemistry, Karl J. Miller

http://www.ull.chemistry.uakron.edu\genobc, 2008, General, Organic and Biochemistry

http://www.wiley.com\legacy\college\boyer470003790\animations\electron_transport, 2008, Interactive Concepts in Biochemistry: Oxidative Phosphorylation

Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW, 2003, Biokimia Harper, Edisi XXV, Penerjemah Hartono Andry, Jakarta: EGC

Stryer L, 1996, Biokimia, Edisi IV, Penerjemah: Sadikin dkk (Tim Penerjemah Bagian Biokimia FKUI),  Jakarta: EGC

Supardan, 1989, Metabolisme Lemak, Malang: Lab. Biokimia Universitas Brawijaya


Pendahuluan

Lipid adalah molekul-molekul biologis yang tidak larut di dalam air tetapi larut di dalam pelarut-pelarut organik.

Fungsi lipid

Ada beberapa fungsi lipid di antaranya:

  1. Sebagai penyusun struktur  membran sel

Dalam hal ini lipid berperan sebagai barier untuk sel dan mengatur aliran material-material.

  1. Sebagai cadangan energi

Lipid disimpan sebagai jaringan adiposa

  1. 3. Sebagai hormon dan vitamin

Hormon mengatur komunikasi antar sel, sedangkan vitamin membantu regulasi proses-proses biologis

Jenis-jenis lipid

Terdapat beberapa jenis lipid yaitu:

  1. Asam lemak, terdiri atas asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh
  2. Gliserida, terdiri atas gliserida netral dan fosfogliserida
  3. Lipid kompleks, terdiri atas lipoprotein dan glikolipid
  4. Non gliserida, terdiri atas sfingolipid, steroid dan malam

Asam lemak

Asam lemak merupakan asam monokarboksilat rantai panjang. Adapun rumus umum dari asam lemak adalah:

CH3(CH2)nCOOH atau    CnH2n+1-COOH

Rentang ukuran dari asam lemak adalah C12 sampai dengan C24. Ada dua macam asam lemak yaitu:

  1. Asam lemak jenuh (saturated fatty acid)

Asam lemak ini tidak memiliki ikatan rangkap

  1. Asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acid)

Asam lemak ini memiliki satu atau lebih ikatan rangkap

Struktur asam lemak jenuh

Struktur asam lemak tak jenuh

Asam-asam lemak penting bagi tubuh

Simbol numerik Nama Umum Struktur Keterangan
14:0 Asam miristat CH3(CH2)12COOH Sering terikat dengan atom N terminal dari membran plasma bergabung dengan protein sitoplasmik
16:0 Asam palmitat CH3(CH2)14COOH Produk akhir dari sintesis asam lemak mamalia
16:1D9 Asam palmitoleat CH3(CH2)5C=C(CH2)7COOH
18:0 Asam stearat CH3(CH2)16COOH
18:1D9 Asam oleat CH3(CH2)7C=C(CH2)7COOH
18:2D9,12 Asam linoleat CH3(CH2)4C=CCH2C=C(CH2)7COOH Asam lemak esensial
18:3D9,12,15 Asam linolenat CH3CH2C=CCH2C=CCH2C=C(CH2)7COOH Asam lemak esensial
20:4D5,8,11,14 Assam arakhidonat CH3(CH2)3(CH2C=C)4(CH2)3COOH Prekursor untuk sintesis eikosanoid

Asam stearat                                           Asam oleat                                       Asam arakhidonat

Beberapa contoh struktur asam lemak

Gliserida netral (lemak netral)

Gliserida netral adalah ester antara asam lemak dengan gliserol. Fungsi dasar dari gliserida netral adalah sebagai simpanan energi (berupa lemak atau minyak). Setiap gliserol mungkin berikatan dengan 1, 2 atau 3 asam lemak yang tidak harus sama. Jika gliserol berikatan dengan 1 asam lemak disebut monogliserida, jika berikatan dengan 2 asam lemak disebut digliserida dan jika berikatan dengan 3 asam lemak dinamakan trigliserida. Trigliserida merupakan cadangan energi penting dari sumber lipid.

Struktur trigliserida sebagai lemak netral

Apa yang dimaksud dengan lemak (fat) dan minyak (oil)? Lemak dan minyak keduanya merupakan trigliserida. Adapun perbedaan sifat secara umum dari keduanya adalah:

  1. Lemak

-          Umumnya diperoleh dari hewan

-          Berwujud padat pada suhu ruang

-          Tersusun dari asam lemak jenuh

  1. Minyak

-          Umumnya diperoleh dari tumbuhan

-          Berwujud cair pada suhu ruang

-          Tersusun dari asam lemak tak jenuh

Fosfogliserida (fosfolipid)

Lipid dapat mengandung gugus fosfat. Lemak termodifikasi ketika fosfat mengganti salah satu rantai asam lemak.

Penggunaan fosfogliserida adalah:

  1. Sebagai komponen penyusun membran sel
  2. Sebagi agen emulsi

Struktur dari fosfolipid

Fosfolipid bilayer (lapisan ganda) sebagai penyusun membran sel

Lipid kompleks

Lipid kompleks adalah kombinasi antara lipid dengan molekul lain. Contoh penting dari lipid kompleks adalah lipoprotein dan glikolipid.

Lipoprotein

Lipoprotein merupakan gabungan antara lipid dengan protein.

Gabungan lipid dengan protein (lipoprotein) merupakan contoh dari lipid kompleks

Ada 4 klas mayor dari lipoprotein plasma yang masing-masing tersusun atas beberapa jenis lipid, yaitu:

Perbandingan komposisi penyusun 4 klas besar lipoprotein

  1. Kilomikron

Kilomikron berfungsi sebagai alat transportasi trigliserid dari usus ke jaringan lain, kecuali ginjal

  1. 2. VLDL (very low – density lypoproteins)

VLDL mengikat trigliserid di dalam hati dan mengangkutnya menuju jaringan lemak

  1. 3. LDL (low – density lypoproteins)

LDL berperan mengangkut kolesterol ke jaringan perifer

  1. 4. HDL (high – density lypoproteins)

HDL mengikat kolesterol plasma dan mengangkut kolesterol ke hati.

Ilustrasi peran masing-masing dari 4 klas besar lipoprotein

Lipid non gliserida

Lipid jenis ini tidak mengandung gliserol. Jadi asam lemak bergabung dengan molekul-molekul non gliserol. Yang termasuk ke dalam jenis ini adalah sfingolipid, steroid, kolesterol dan malam.

Sfingolipid

Sifongolipid adalah fosfolipid yang tidak diturunkan dari lemak. Penggunaan primer dari sfingolipid adalah sebagai penyusun selubung mielin serabut saraf. Pada manusia, 25% dari lipid merupakan sfingolipid.

Struktur kimia sfingomielin (perhatikan 4 komponen penyusunnya)

Kolesterol

Selain fosfolipid, kolesterol merupakan jenis lipid yang menyusun membran plasma. Kolesterol juga menjadi bagian dari beberapa hormon.

Kolesterol berhubungan dengan pengerasan arteri. Dalam hal ini timbul plaque pada dinding arteri, yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah karena arteri menyempit, penurunan kemampuan untuk meregang. Pembentukan gumpalan dapat menyebabkan infark miokard dan stroke.

Struktur dasar darikolesterol

Kolesterol merupakan bagian dari membran sel

Steroid

Beberapa hormon reproduktif merupakan steroid, misalnya testosteron dan progesteron.

Progesteron dan testosteron

Steroid lainnya adalah kortison. Hormon ini berhubungan dengan proses metabolisme karbohidrat, penanganan penyakit arthritis rematoid, asthma, gangguan pencernaan dan sebagainya.

Kortison

Malam/lilin (waxes)

Malam tidak larut di dalam air dan sulit dihidrolisis. Malam sering digunakan sebagai lapisan pelindung untuk kulit, rambut dan lain-lain. Malam merupakan ester antara asam lemak dengan alkohol rantai panjang.

Ester antara asam lemak dengan alkohol membentuk malam

Metabolisme lipid

Lipid yang kita peroleh sebagai sumber energi utamanya adalah dari lipid netral, yaitu trigliserid (ester antara gliserol dengan 3 asam lemak). Secara ringkas, hasil dari pencernaan lipid adalah asam lemak dan gliserol, selain itu ada juga yang masih berupa monogliserid. Karena larut dalam air, gliserol masuk sirkulasi portal (vena porta) menuju hati. Asam-asam lemak rantai pendek juga dapat melalui jalur ini.

Struktur miselus. Bagian polar berada di sisi luar, sedangkan bagian non polar berada di sisi dalam

Sebagian besar asam lemak dan monogliserida karena tidak larut dalam air, maka diangkut oleh miselus (dalam bentuk besar disebut emulsi) dan dilepaskan ke dalam sel epitel usus (enterosit). Di dalam sel ini asam lemak dan monogliserida segera dibentuk menjadi trigliserida (lipid) dan berkumpul berbentuk gelembung yang disebut kilomikron. Selanjutnya kilomikron ditransportasikan melalui pembuluh limfe dan bermuara pada vena kava, sehingga bersatu dengan sirkulasi darah. Kilomikron ini kemudian ditransportasikan menuju hati dan jaringan adiposa.

Struktur kilomikron. Perhatikan fungsi kilomikron sebagai pengangkut trigliserida

Simpanan trigliserida pada sitoplasma sel jaringan adiposa

Di dalam sel-sel hati dan jaringan adiposa, kilomikron segera dipecah menjadi asam-asam lemak dan gliserol. Selanjutnya asam-asam lemak dan gliserol tersebut, dibentuk kembali menjadi simpanan trigliserida. Proses pembentukan trigliserida ini dinamakan esterifikasi. Sewaktu-waktu jika kita membutuhkan energi dari lipid, trigliserida dipecah menjadi asam lemak dan gliserol, untuk ditransportasikan menuju sel-sel untuk dioksidasi menjadi energi. Proses pemecahan lemak jaringan ini dinamakan lipolisis. Asam lemak tersebut ditransportasikan  oleh albumin ke jaringan yang memerlukan dan disebut sebagai asam lemak bebas (free fatty acid/FFA).

Secara ringkas, hasil akhir dari pemecahan lipid dari makanan adalah asam lemak dan gliserol. Jika sumber energi dari karbohidrat telah mencukupi, maka asam lemak mengalami esterifikasi yaitu membentuk ester dengan gliserol menjadi trigliserida sebagai cadangan energi jangka panjang. Jika sewaktu-waktu tak tersedia sumber energi dari karbohidrat barulah asam lemak dioksidasi, baik asam lemak dari diet maupun jika harus memecah cadangan trigliserida jaringan. Proses pemecahan trigliserida ini dinamakan lipolisis.

Proses oksidasi asam lemak dinamakan oksidasi beta dan menghasilkan asetil KoA. Selanjutnya sebagaimana asetil KoA dari hasil metabolisme karbohidrat dan protein, asetil KoA dari jalur inipun akan masuk ke dalam siklus asam sitrat sehingga dihasilkan energi. Di sisi lain, jika kebutuhan energi sudah mencukupi, asetil KoA dapat mengalami lipogenesis menjadi asam lemak dan selanjutnya dapat disimpan sebagai trigliserida.

Beberapa lipid non gliserida disintesis dari asetil KoA. Asetil KoA mengalami kolesterogenesis menjadi kolesterol. Selanjutnya kolesterol mengalami steroidogenesis membentuk steroid. Asetil KoA sebagai hasil oksidasi asam lemak juga berpotensi menghasilkan badan-badan keton (aseto asetat, hidroksi butirat dan aseton). Proses ini dinamakan ketogenesis. Badan-badan keton dapat menyebabkan gangguan keseimbangan asam-basa yang dinamakan asidosis metabolik. Keadaan ini dapat menyebabkan kematian.

Gliserol
Kolesterol
Aseto asetat
hidroksi butirat
Aseton
Steroid
Steroidogenesis
Kolesterogenesis
Ketogenesis
Diet
Lipid
Karbohidrat
Protein
Asam lemak
Trigliserida
Asetil-KoA
Esterifikasi
Lipolisis
Lipogenesis
Oksidasi beta

Siklus asam sitrat

ATP
CO2
H2O
+ ATP

Ikhtisar metabolisme lipid

Metabolisme gliserol

Gliserol sebagai hasil hidrolisis lipid (trigliserida) dapat menjadi sumber energi. Gliserol ini selanjutnya masuk ke dalam jalur metabolisme karbohidrat yaitu glikolisis. Pada tahap awal, gliserol mendapatkan 1 gugus fosfat dari ATP membentuk gliserol 3-fosfat. Selanjutnya senyawa ini masuk ke dalam rantai respirasi membentuk dihidroksi aseton fosfat, suatu produk antara dalam jalur glikolisis.

Reaksi-reaksi kimia dalam metabolisme gliserol

Oksidasi asam lemak (oksidasi beta)

Untuk memperoleh energi, asam lemak dapat dioksidasi dalam proses yang dinamakan oksidasi beta. Sebelum dikatabolisir dalam oksidasi beta, asam lemak harus diaktifkan terlebih dahulu menjadi asil-KoA. Dengan adanya ATP dan Koenzim A, asam lemak diaktifkan dengan dikatalisir oleh enzim asil-KoA sintetase (Tiokinase).

Aktivasi asam lemak menjadi asil KoA

Asam lemak bebas pada umumnya berupa asam-asam lemak rantai panjang. Asam lemak rantai panjang ini akan dapat masuk ke dalam mitokondria dengan bantuan senyawa karnitin, dengan rumus (CH3)3N+-CH2-CH(OH)-CH2-COO-.

Membran mitokondria interna

Karnitin palmitoil transferase II

Karnitin

Asil karnitin

translokase

KoA
Karnitin
Asil karnitin
Asil-KoA
Asil karnitin
Beta oksidasi

Membran mitokondria eksterna

ATP + KoA
AMP + PPi
FFA
Asil-KoA

Asil-KoA sintetase

(Tiokinase)

Karnitin palmitoil transferase I
Asil-KoA
KoA
Karnitin
Asil karnitin

Mekanisme transportasi asam lemak trans membran mitokondria melalui mekanisme pengangkutan karnitin

Langkah-langkah masuknya asil KoA ke dalam mitokondria dijelaskan sebagai berikut:

  • Asam lemak bebas (FFA) diaktifkan menjadi asil-KoA dengan dikatalisir oleh enzim tiokinase.
  • Setelah menjadi bentuk aktif, asil-KoA dikonversikan oleh enzim karnitin palmitoil transferase I yang terdapat pada membran eksterna mitokondria menjadi asil karnitin. Setelah menjadi asil karnitin, barulah senyawa tersebut bisa menembus membran interna mitokondria.
  • Pada membran interna mitokondria terdapat enzim karnitin asil karnitin translokase yang bertindak sebagai pengangkut asil karnitin ke dalam dan karnitin keluar.
  • Asil karnitin yang masuk ke dalam mitokondria selanjutnya bereaksi dengan KoA dengan dikatalisir oleh enzim karnitin palmitoiltransferase II yang ada di membran interna mitokondria menjadi Asil Koa dan karnitin dibebaskan.
  • Asil KoA yang sudah berada dalam mitokondria ini selanjutnya masuk dalam proses oksidasi beta.

Dalam oksidasi beta, asam lemak masuk ke dalam rangkaian siklus dengan 5 tahapan proses dan pada setiap proses, diangkat 2 atom C dengan hasil akhir berupa asetil KoA. Selanjutnya asetil KoA masuk ke dalam siklus asam sitrat. Dalam proses oksidasi ini, karbon β asam lemak dioksidasi menjadi keton.

Oksidasi karbon β menjadi keton

Keterangan:

Frekuensi oksidasi β adalah (½ jumlah atom C)-1

Jumlah asetil KoA yang dihasilkan adalah (½ jumlah atom C)

Oksidasi asam lemak dengan 16 atom C. Perhatikan bahwa setiap proses pemutusan 2 atom C adalah proses oksidasi β dan setiap 2 atom C yang diputuskan adalah asetil KoA.

Aktivasi asam lemak, oksidasi beta dan siklus asam sitrat

Telah dijelaskan bahwa asam lemak dapat dioksidasi jika diaktifkan terlebih dahulu menjadi asil-KoA. Proses aktivasi ini membutuhkan energi sebesar 2P. (-2P)

Setelah berada di dalam mitokondria, asil-KoA akan mengalami tahap-tahap perubahan sebagai berikut:

  1. Asil-KoA diubah menjadi delta2-trans-enoil-KoA. Pada tahap ini terjadi rantai respirasi dengan menghasilkan energi 2P (+2P)
  2. delta2-trans-enoil-KoA diubah menjadi L(+)-3-hidroksi-asil-KoA
  3. L(+)-3-hidroksi-asil-KoA diubah menjadi 3-Ketoasil-KoA. Pada tahap ini terjadi rantai respirasi dengan menghasilkan energi 3P (+3P)
  4. Selanjutnya terbentuklah asetil KoA yang mengandung 2 atom C dan asil-KoA yang telah kehilangan 2 atom C.

Dalam satu oksidasi beta dihasilkan energi 2P dan 3P sehingga total energi satu kali oksidasi beta adalah 5P. Karena pada umumnya asam lemak memiliki banyak atom C, maka asil-KoA yang masih ada akan mengalami oksidasi beta kembali dan kehilangan lagi 2 atom C karena membentuk asetil KoA. Demikian seterusnya hingga hasil yang terakhir adalah 2 asetil-KoA.

Asetil-KoA yang dihasilkan oleh oksidasi beta ini selanjutnya akan masuk siklus asam sitrat.

Penghitungan energi hasil metabolisme lipid

Dari uraian di atas kita bisa menghitung energi yang dihasilkan oleh oksidasi beta suatu asam lemak. Misalnya tersedia sebuah asam lemak dengan 10 atom C, maka kita memerlukan energi 2 ATP untuk aktivasi, dan energi yang di hasilkan oleh oksidasi beta adalah 10 dibagi 2 dikurangi 1, yaitu 4 kali oksidasi beta, berarti hasilnya adalah 4 x 5 = 20 ATP. Karena asam lemak memiliki 10 atom C, maka asetil-KoA yang terbentuk adalah 5 buah.

Setiap asetil-KoA akan masuk ke dalam siklus Kreb’s yang masing-masing akan menghasilkan 12 ATP, sehingga totalnya adalah 5 X 12 ATP = 60 ATP. Dengan demikian sebuah asam lemak dengan 10 atom C, akan dimetabolisir dengan hasil -2 ATP (untuk aktivasi) + 20 ATP (hasil oksidasi beta) + 60 ATP (hasil siklus Kreb’s) = 78 ATP.

Sebagian dari asetil-KoA akan berubah menjadi asetoasetat, selanjutnya asetoasetat berubah menjadi hidroksi butirat dan aseton. Aseto asetat, hidroksi butirat dan aseton dikenal sebagai badan-badan keton. Proses perubahan asetil-KoA menjadi benda-benda keton dinamakan ketogenesis.

Proses ketogenesis

Lintasan ketogenesis di hati

Sebagian dari asetil KoA dapat diubah menjadi kolesterol (prosesnya dinamakan kolesterogenesis) yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan untuk disintesis menjadi steroid (prosesnya dinamakan steroidogenesis).

Gambar Lintasan kolesterogenesis

Sintesis asam lemak

Makanan bukan satu-satunya sumber lemak kita. Semua organisme dapat men-sintesis asam lemak sebagai cadangan energi jangka panjang dan sebagai penyusun struktur membran. Pada manusia, kelebihan asetil KoA dikonversi menjadi ester asam lemak. Sintesis asam lemak sesuai dengan degradasinya (oksidasi beta).

Sintesis asam lemak terjadi di dalam sitoplasma. ACP (acyl carrier protein) digunakan selama sintesis sebagai titik pengikatan. Semua sintesis terjadi di dalam kompleks multi enzim-fatty acid synthase. NADPH digunakan untuk sintesis.

Tahap-tahap sintesis asam lemak ditampilkan pada skema berikut.

Tahap-tahap sintesis asam lemak

Penyimpanan lemak dan penggunaannya kembali

Asam-asam lemak akan disimpan jika tidak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi. Tempat penyimpanan utama asam lemak adalah jaringan adiposa. Adapun tahap-tahap penyimpanan tersebut adalah:

-    Asam lemak ditransportasikan dari hati sebagai kompleks VLDL.

-    Asam lemak kemudian diubah menjadi trigliserida di sel adiposa untuk disimpan.

-    Gliserol 3-fosfat dibutuhkan untuk membuat trigliserida. Ini harus tersedia dari glukosa.

-    Akibatnya, kita tak dapat menyimpan lemak jika tak ada kelebihan glukosa di dalam tubuh.

Dinamika lipid di dalam sel adiposa. Perhatikan tahap-tahap sintesis dan degradasi trigliserida

Jika kebutuhan energi tidak dapat tercukupi oleh karbohidrat, maka simpanan trigliserida ini dapat digunakan kembali. Trigliserida akan dipecah menjadi gliserol dan asam lemak. Gliserol dapat menjadi sumber energi (lihat metabolisme gliserol). Sedangkan asam lemak pun akan dioksidasi untuk memenuhi kebutuhan energi pula (lihat oksidasi beta).

06/02/2010 Posted by | BIOKIMIA | 15 Komentar

KETAHANAN PANGAN DAN TEKNOLOGI PRODUKTIVITAS MENUJU KEMANDIRIAN PERTANIAN INDONESIA

Oleh: Dr. Jaegopal Hutapea dan Ali Zum Mashar, SP.

Abstrak

Dengan penduduk 216 juta jiwa, Indonesia saat ini membutuhkan bahan pangan pokok sekurang-kurangnya 53 juta ton beras, 12,5 juta ton jagung dan 3,0 juta ton kedelai. Jika tidak diimbangi dengan laju pertumbuhan produksi pangan dalam negeri secara signifikan, dapat menyebabkan ketahanan pangan nasional rendah. Meskipun upaya peningkatan produksi pangan di dalam negeri saat ini terus dilakukan, namun laju peningkatannya masih belum mampu mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri karena produktivitas tanaman pangan serta peningkatan luas areal yang stagnan bahkan cenderung menurun.

Untuk meningkatkan produksi pangan nasional, dapat dilakukan peningkatan produktivitas dengan menerapkan teknologi produksi antara lain melalui penggunaan pupuk organik/hayati. Pupuk tersebut dapat mengembalikan kesuburan lahan melalui jasa mikroba yang menguntungkan. Sejalan dengan itu, juga perlu dilakukan perluasan lahan pertanian antara lain melalui pengembangan kawasan transmigrasi.

Pendahuluan

Pangan adalah kebutuhan yang paling mendasar dari suatu bangsa. Banyak contoh negara dengan sumber ekonomi cukup memadai tetapi mengalami kehancuran karena tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduknya. Sejarah juga menunjukkan bahwa strategi pangan banyak digunakan untuk menguasai pertahanan musuh. Dengan adanya ketergantungan pangan, suatu bangsa akan sulit lepas dari cengkraman penjajah/musuh. Dengan demikian upaya untuk mencapai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional bukan hanya dipandang dari sisi untung rugi ekonomi saja tetapi harus disadari sebagai bagian yang mendasar bagi ketahanan nasional yang harus dilindungi.

Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 216 juta jiwa dengan angka pertumbuhan 1.7 % per tahun. Angka tersebut mengindikasikan besarnya bahan pangan yang harus tersedia. Kebutuhan yang besar jika tidak diimbangi peningkatan produksi pangan justru menghadapi masalah bahaya latent yaitu laju peningkatan produksi di dalam negeri yang terus menurun. Sudah pasti jika tidak ada upaya untuk meningkatkan produksi pangan akan menimbulkan masalah antara kebutuhan dan ketersediaan dengan kesenjangan semakin melebar.

Keragaan laju peningkatan produksi tiga komoditi pangan nasional padi, jagung dan kedelai tersebut sebagaimana tampak dalam tabel 1.

Keragaan di atas menunjukkan bahwa laju pertumbuhan produksi pangan nasional rata-rata negatif dan cenderung menurun, sedangkan laju pertumbuhan penduduk selalu positif yang berarti kebutuhan terus meningkat. Keragaan total produksi dan kebutuhan nasional dari tahun ke tahun pada ketiga komoditas pangan utama di atas menunjukkan kesenjangan yang terus melebar; khusus pada kedelai sangat memprihatinkan. Kesenjangan yang terus meningkat ini jika terus di biarkan konsekwensinya adalah peningkatan jumlah impor bahan pangan yang semakin besar, dan kita semakin tergantung pada negara asing.

Impor beras yang meningkat pesat terjadi pada tahun 1996 dan puncaknya pada tahun 1998 yang mencapai 5,8 juta ton. Kondisi ini mewarnai krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 dimana produksi beras nasional turun yang antara lain karena kekeringan panjang.

Pada komoditi jagung meskipun pada tahun 1996 terjadi penurunan produksi, namun pada tahun 1998 justru terjadi surplus (ekspor) meskipun hanya kecil. Hal ini diduga karena banyak masyarakat yang memanfaatkan lahan tidur untuk komoditas jagung. Namun pada tahun-tahun berikutnya sampai saat ini produksi jagung cenderung turun dan impor semakin besar (lebih dari 2 juta ton/tahun).

Produksi kedelai nasional tampak mengalami kemunduran yang sangat memprihatinkan. Sejak tahun 2000, kondisi tersebut semakin parah, dimana impor kedelai semakin besar. Hal ini terjadi antara lain karena membanjirnya Impor akibat fasilitas GSM 102, kredit Impor dan “Triple C” dari negara importir yang dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh importir kedelai Indonesia, disisi lain produktivitas kedelai nasional yang rendah dan biaya produksi semakin tinggi di dalam negeri. Akibat kebijakan di atas harga kedelai impor semakin rendah sehingga petani kedelai semakin terpuruk dan enggan untuk menanam kedelai. Dampaknya pada harga kedelai petani tidak bisa bersaing dengan membanjirnya kedelai Impor dan petani kedelai tidak terlindungi.

Melihat kenyataan tersebut seakan kita tidak percaya sebagai negara agraris yang mengandalkan pertanian sebagai tumpuan kehidupan bagi sebagian besar penduduknya tetapi pengimpor pangan yang cukup besar. Hal ini akan menjadi hambatan dalam pembangunan dan menjadi tantangan yang lebih besar dalam mewujudkan kemandirian pangan bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu diperlukan langkah kerja yang serius untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

Permasalahan Produksi Dan Upaya Mengatasi Masalah Pangan Nasional

Rendahnya laju peningkatan produksi pangan dan terus menurunnya produksi di Indonesia antara lain disebabkan oleh: (1) Produktivitas tanaman pangan yang masih rendah dan terus menurun; (2) Peningkatan luas areal penanaman-panen yang stagnan bahkan terus menurun khususnya di lahan pertanian pangan produktif di pulau Jawa. Kombinasi kedua faktor di atas memastikan laju pertumbuhan produksi dari tahun ke tahun yang cenderung terus menurun. Untuk mengatasi dua permasalahan teknis yang mendasar tersebut perlu dilakukan upaya-upaya khusus dalam pembangunan pertanian pangan khususnya dalam kerangka program ketahanan pangan nasional.

Upaya Meningkatkan Produktivitas Tanaman Pangan

Rata-rata produktivitas tanaman pangan nasional masih rendah. Rata-rata produktivitas padi adalah 4,4 ton/ha (Purba S dan Las, 2002) jagung 3,2 ton/ha dan kedelai 1,19 ton/ha. Jika dibanding dengan negara produsen pangan lain di dunia khususnya beras, produktivitas padi di Indonesia ada pada peringkat ke 29. Australia memiliki produktivitas rata-rata 9,5 ton/ha, Jepang 6,65 ton/ha dan Cina 6,35 ton/ha ( FAO, 1993).

Faktor dominan penyebab rendahnya produktivitas tanaman pangan adalah (a) Penerapan teknologi budidaya di lapangan yang masih rendah; (b)Tingkat kesuburan lahan yang terus menurun (Adiningsih, S, dkk., 1994), (c) Eksplorasi potensi genetik tanaman yang masih belum optimal (Guedev S Kush, 2002).

Rendahnya penerapan teknologi budidaya tampak dari besarnya kesenjangan potensi produksi dari hasil penelitian dengan hasil di lapangan yang diperoleh oleh petani. Hal ini disebabkan karena pemahaman dan penguasaan penerapan paket teknologi baru yang kurang dapat dipahami oleh petani secara utuh sehingga penerapan teknologinya sepotong-sepotong (Mashar, 2000). Seperti penggunaan pupuk yang tidak tepat, bibit unggul dan cara pemeliharaan yang belum optimal diterapkan petani belum optimal karena lemahnya sosialisasi teknologi, sistem pembinaan serta lemahnya modal usaha petani itu sendiri. Selain itu juga karena cara budidaya petani yang menerapkan budidaya konvensional dan kurang inovatif seperti kecenderungan menggunakan input pupuk kimia yang terus menerus, tidak menggunakan pergiliran tanaman, kehilangan pasca panen yang masih tinggi 15 – 20 % dan memakai air irigasi yang tidak efisien. Akibatnya antara lain berdampak pada rendahnya produktivitas yang mengancam kelangsungan usaha tani dan daya saing di pasaran terus menurun. Rendahnya produktivitas dan daya saing komoditi tanaman pangan yang diusahakan menyebabkan turunnya minat petani untuk mengembangkan usaha budidaya pangannya, sehingga dalam skala luas mempengaruhi produksi nasional.

Untuk mengatasi permasalahan di atas pemerintah harus memberikan subsidi teknologi kepada petani dan melibatkan stakeholder dalam melakukan percepatan perubahan (Saragih, 2003). Subsidi teknologi yang dimaksud adalah adanya modal bagi petani untuk memperoleh atau dapat membeli teknologi produktivitas dan pengawalannya sehingga teknologi budidaya dapat dikuasai secara utuh dan efisien sampai tahap pasca panennya. Sebagai contoh petani dapat memperoleh dan penerapan teknologi produktivitas organik hayati (misal : Bio P 2000 Z), benih/pupuk bermutu dan mekanisasi pasca panen dan sekaligus pengawalan pendampingannya.

Tingkat kesuburan lahan pertanian produktif terus menurun; revolusi hijau dengan mengandalkan pupuk dan pestisida memiliki dampak negatif pada kesuburan tanah yang berkelanjutan dan terjadinya mutasi hama dan pathogen yang tidak diinginkan. Sebagai contoh lahan yang terus dipupuk dengan Urea (N) cenderung menampakkan respon kesuburan tanaman seketika, tetapi berdampak pada cepat habisnya bahan organik tanah karena memacu berkembangnya dekomposer dan bahan organik sebagai sumber makanan mikroba lain habis (< 1%). Pemakaian pupuk kimia, alkali dan pestisida yang terus menerus menyebabkan tumpukan residu yang melebihi daya dukung lingkungan yang jika tidak terurai akan menjadi “racun tanah” dan tanah menjadi “Sakit”. Akibatnya disamping hilangnya mikroba pengendali keseimbangan daya dukung kesuburan tanah, ketidak-seimbangan mineral dan munculnya mutan-mutan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang kontra produktif. Di lahan sawah/irigasi dengan berbagai upaya program revolusi hijau yang telah ada tidak lagi memberikan kontribusi pada peningkatan produktivitas karena telah mencapai titik jenuh (Levelling Off) dan produktivitas yang terjadi justru cenderung menurun.

Upaya yang harus dilakukan adalah melakukan Soil Management untuk mengembali-kan kesuburan tanah dengan memasukkan berbagai ragam mikroba pengendali yang mempercepat keseimbangan alami dan membangun bahan organik tanah, kemudian diikuti dengan pemupukan dengan jenis dan jumlah yang tepat dan berimbang serta teknik pengolahan tanah yang tepat. Telah diketahui bahwa mikro-organisme unggul berguna dapat diintroduksikan ke tanah dan dapat diberdayakan agar mereka berfungsi mengendalikan keseimbangan kesuburan tanah sebagaimana mestinya. Selain itu, sekumpulan mikro-organisme diketahui menghuni permukaan daun dan ranting. Sebagian dari mereka ada yang hidup mandiri, bahkan dapat menguntungkan tanaman (Mashar, 2000). Prinsip-prinsip hayati yang demikian telah diungkapkan dalam kaidah-kaidah penerapan pupuk hayati (misal : Bio P 2000 Z).

Eksplorasi potensi genetik tanaman yang masih belum optimal tampak pada kesenjangan hasil petani dan hasil produktivitas di luar negeri atau hasil dalam penelitian. Dalam hal ini teknologi pemuliaan telah mengalami kemajuan yang cukup berarti dalam menciptakan berbagai varietas unggul berpotensi produksi tinggi. Meskipun upaya breeding modern, teknologi transgenik dan hibrida dirancang agar tanaman yang dikehendaki memiliki kemampuan genetik produksi tinggi (Gurdev S Kush, 2002), tetapi jika dalam menerapkannya di lapangan asal-asalan, maka performa keunggulan genetiknya tidak nampak. Hasil penggunaan varietas unggul di lapangan seringkali masih jauh dari harapan. Penyebabnya adalah masih belum dipahaminya teknik budidaya sehingga hasil yang didapat belum menyamai potensinya, apalagi melebihi.

Untuk mendapatkan performa hasil maksimal dari tanaman unggul baru yang diharapkan memerlukan persyaratan-persyaratan khusus “Presisi” dalam budidayanya seperti kesuburan lahan, pemupukan, mengamankan dari OPT (Anonim, 2003) dan/atau perlakuan spesifik lainnya. Pada kenyataannya baik tanaman unggul seperti padi VUB, Hibrida dan PTB; dan kedelai serta Jagung hibrida akan mampu berproduksi tinggi jika pengawalan manajemen budidayanya dipenuhi dengan baik, tetapi jika tidak justru terjadi sebaliknya. Hasilnya lebih rendah dari varietas lokal. Hal ini berarti bakal calon penerapan varietas unggul berproduktivitas tinggi harus dilakukan pengawalan dan manajemen teknologi penyerta dengan baik dan diterapkan secara paripurna. Untuk hal tersebut petani harus diberikan dampingan dan memanejemen budidaya secara intensif.

Upaya Menambah Perluasan Lahan Pertanian Baru

Sulitnya melakukan peningkatan produksi pangan nasional antara lain karena pengembangan lahan pertanian pangan baru tidak seimbang dengan konversi lahan pertanian produktif yang berubah menjadi fungsi lain seperti permukiman. Lahan irigasi Indonesia sebesar 10.794.221 hektar telah menyumbangkan produksi padi sebesar 48.201.136 ton dan 50 %-nya lebih disumbang dari pulau Jawa (BPS, 2000). Akan tetapi mengingat padatnya penduduk di pulau Jawa keberadaan lahan tanaman pangan tersebut terus mengalami degradasi seiring meningkatnya kebutuhan pemukiman dan pilihan pada komoditi yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi seperti hortikultura. Jika tidak ada upaya khusus untuk meningkatkan produktivitas secara nyata dan/atau membuka areal baru pertanian pangan sudah pasti produksi pangan dalam negeri tidak akan mampu mencukupi kebutuhan pangan nasional.

Dari sisi perluasan areal lahan tanaman pangan ini upaya yang dapat ditempuh adalah: (1) Memanfaatkan lahan lebak dan pasang surut termasuk di kawasan pasang surut (Alihamsyah, dkk, 2002) (2) Mengoptimalkan lahan tidur dan lahan tidak produktif di pulau Jawa. Kedua pilihan di atas mutlak harus di barengi dengan menerapkan teknologi produktivitas mengingat sebagian besar lahan tersebut tidak subur untuk tanaman pangan.

Luas lahan pasang surut dan Lebak di Indonesia diperkirakan mencapai 20,19 juta hektar dan sekitar 9,5 juta hektar berpotensi untuk pertanian serta 4,2 juta hektar telah di reklamasi untuk pertanian (Ananto, E.,2002). Memanfaatkan lahan lebak dan Pasang Surut dipandang sebagai peluang terobosan untuk memacu produksi meskipun disadari bahwa produktivitas di lahan tersebut masih rendah. Produktivitas rata-rata tanaman pangan padi, Jagung dan Kedelai di lahan lebak/pasang surut dengan penerapan teknologi konvensional hasilnya masih rendah yaitu : secara berturut turut sekitar 3,5 ton/ha; 2,8 ton/ha dan 0,8 ton/ha. Kendala utama pengembang di lahan ini adalah keragaman sifat fisiko-kimia seperti pH yang rendah, kesuburan rendah, keracunan tanah dan kendala Bio fisik seperti pertumbuhan gulma yang pesat, OPT dan cekaman Air (Moeljopawiro, S., 2002)

Ditemukannya teknologi baru (misalnya Bio P 2000 Z) dengan memanfaatkan mikroba penyubur dan pengendali kesuburan alami tanah di lahan lebak dan pasang surut memberikan bukti bahwa produktivitas tanaman pangan tersebut mampu lebih tinggi dibanding produktivitas konvensional di lahan subur atau produktivitas rata-rata nasional yaitu: 5,5 – 8 ton/ha padi; 2,5 – 3,5 ton/ha kedelai dan 5 – 8 ton/ha jagung JPK). Ternyata dengan sistem demikian masalah tersumbatnya produksi komoditi pertanian dapat dipecahkan. Efek mikroba memiliki manfaat yang besar dalam mengendalikan lingkungan mikro tumbuh kembang tanaman yang secara sinergi memberikan manfaat: (1) diredamnya faktor penghambat tumbuh kembang tanaman yang dijumpai dalam tanah termasuk menetralkan kemasaman lahan, (2) adanya produksi senyawa bio-aktif seperti enzim, hormon, senyawa organik, dan energi kinetik yang memacu metabolisme tumbuh kembang akar dan bagian atas tanaman (3) pasok dan penyerapan hara oleh akar makin efesien, lancar, dan berimbang, (4) ketahanan internal terhadap hama dan penyakit meningkat. Budidaya dengan menerapkan teknologi ini secara baik di lahan jenis tersebut mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi sehingga usaha tani pangan di lahan tersebut akan dapat bersaing. Menjadikan lahan lebak dan pasang surut untuk usaha pertanian harus didukung dengan teknologi dan infrastruktur yang memadai sehingga luasan lahan ini dapat menjadi pendukung dan buffer untuk peningkatan produksi pangan dan swasembada.

Lahan kering di Indonesia sebesar 11 juta hektar yang sebagian besar berupa lahan tidur dan lahan marginal sehingga tidak produktif untuk tanaman pangan. Di Pulau Jawa yang padat penduduk, rata-rata pemilikan lahan usaha tani berkisar hanya 0,2 ha/KK petani. Namun, banyak pula lahan tidur yang terlantar. Ada 300.000 ha lahan kering terbengkelai di Pulau Jawa dari kawasan hutan yang menjadi tanah kosong terlantar. Masyarakat sekitar hutan dengan desakan ekonomi dan tuntutan lapangan kerja tidak ada pilihan lain untuk memanfaatkan lahan-lahan kritis dan lahan kering untuk usaha tani pangan seperti jagung, padi huma dan kedelai serta kacang tanah. Secara alamiah hal ini membantu penambahan luas lahan pertanian pangan, meskipun disadari bahwa produktivitas di lahan tersebut masih rendah, seperti jagung 2,5 – 3,5 ton/ha dan padi huma 1,5 ton/ha dan kedelai 0,6 – 1,1 ton/ha, tetapi pemanfaatannya berdampak positif bagi peningkatan produksi pangan.

Melihat kenyataan di atas maka solusi terbaik adalah: (1) pemerintah sebaiknya memberikan ijin legal atas hak pengelolaan lahan yang telah diusahahan petani yaitu semacam HGU untuk usaha produktif usaha tani tanaman pangan sehingga petani dapat memberikan kontribusi berupa pajak atas usaha dan pemanfaatan lahan tersebut, (2) memberikan bimbingan teknologi budidaya khususnya untuk menerapkan teknologi organik dan Bio/hayati guna meningkatkan kesuburan lahan dan menjamin usaha tani yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dan (3) Melibatkan stakeholder dan swasta yang memiliki komitmen menunjang dalam sistem Agribisnis tanaman pangan sehingga akan menjamin kepastian pasar, Sarana Input teknologi produktivitas dan nilai tambah dari usaha tani terpadunya. Pengelolaan lahan kering untuk pertanian dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi produktivitas organik agar memberikan kontribusi yang nyata bagi peningkatan produksi pangan dan kesejahteraan masyarakat. Sebagai contoh jika 150.000 ha lahan ini digunakan untuk budidaya Jagung jika dengan tambahan teknologi produktivitas organik dapat menghasilkan rata-rata 6,5 ton/ha yang dilakukan dengan 2 kali MT maka akan terjadi penambahan produksi sebesar: 1,95 juta ton jagung, berarti akan mensubstitusi lebih dari 60% impor Jagung. Multiple effek dari usaha tani tanaman pangan ini sangat berarti dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar dan bagi kepentingan nasional.

Mencapai Swasembada Pangan 2003 – 2010 Untuk Mewujudkan Kemandirian Dan Ketahanan Pangan Nasional

Membangun Ketahanan pangan berbasis Agribisnis pangan rakyat di Indonesia perlu mendapatkan perhatian serius. Pada tahun 1984 swasembada pangan pernah tercapai yang diukir sebagai prestasi gemilang saat itu, namun tahun-tahun selanjutnya semakin merosot sehingga upaya-upaya mempertahankan dan mencukupi kebutuhan pangan nasional semakin terancam. Proyek pembukaan lahan pertanian sejuta hektar lahan gambut di Kalimantan Tengah, implementasi BIMAS, INSUS, SUPRA INSUS; tampaknya tidak memberikan manfaat bahkan dalam dasawarsa terakhir kita terjebak dalam kesejangan pangan dan dengan produksi pangan nasional semakin terancam dan impor pangan dijadikan sebagai solusi instan. Seharusnyalah dibangun kembali kerangka pembangunan pertanian berkerakyatan dan berorientasi kemandirian dan kesejahteraan yang merata di dalam sistem agribisnis yang terpadu. Masalah penyediaan pangan untuk penduduk harus dipandang secara utuh, bukan sekedar dinilai secara untung rugi saja tetapi lebih jauh dicermati pada aspek politik, dan sosialnya karena di dalam pandangan nasional ketahanan pangan harus merupakan bagian dari ketahanan nasional.

Menempatkan pangan sebagai bagian menempatkan kepentingan rakyat, bangsa dan negara serta rasa nasionalisme untuk melindungi, mencintai dan memperbaiki produksi pangan lokal harus terus dikembang-majukan. Pertanian pangan termasuk di kawasan transmigrasi hendaknya jangan dipandang sebagai lahan untuk menyerap tenaga kerja atau petani dikondisikan untuk terus memberikan subsidi bagi pertumbuhan ekonomi sektor lain dengan tekanan nilai jual hasil yang harus rendah dan biaya sarana produksi terus melambung. Tetapi seharusnya petani pangan mendapatkan prioritas perlindungan oleh pemerintah melalui harga jual dan subsidi produksi karena petani membawa amanah bagi ketahanan pangan, petani pangan perlu mendapatkan kesejahteraan yang layak. Dalam hal ini adalah wajar jika pemerintah berpihak kepada petani dan pelaku produksi pertanian pangan karena merupakan golongan terbesar dari masyarakat Indonesia .

Kebijakan Impor pangan yang menonjol sebagai program instant untuk mengatasi kekurangan produksi justru membuat petani semakin terpuruk dan tidak berdaya atas sistem pembangunan ketahanan pangan yang tidak tegas. Akibat over suplai pangan dari impor seringkali memaksa harga jual hasil panen petani menjadi rendah tidak sebanding dengan biaya produksinya sehingga petani terus menanggung kerugian. Hal ini menjadikan bertani pangan tidak menarik lagi bagi petani dan memilih profesi lain di luar pertanian, sehingga ketahanan pangan nasional mejadi rapuh.

Melihat kondisi saat ini dan trend produksi pangan yang semakin tergantung impor dan bergesernya pola konsumsi masyarakat maka untuk mencapai kemandirian pangan ke depan harus dilakukan melalui upaya-upaya terpadu secara terkonsentrasi pada peningkatan produksi pangan nasional yang terencana mulai “presisi” di sektor hulu – proses (on farm) dan hilirnya. Yang perlu ditekankan adalah: peningkatan produktivitas dan penerapan teknologi bio/hayati organik, perluasan areal pertanian pangan dan optimalisasi pemberdayaan sumber daya pendukung lokalnya, kebijakan tataniaga pangan dan pembatasan impor pangan, pemberian kredit produksi dan subsidi bagi petani pangan, pemacuan kawasan sentra produksi dan ketersediaan silo untuk stock pangan sampai tingkat terkecil dalam mencapai swasembada pangan di setiap daerah. Untuk itu pemacuan peningkatan produksi pangan nasional harus ditunjang dengan kesiapan dana, penyediaan lahan, teknologi, masyarakat dan infrastrukturnya yang dijadikan sebagai kebijakan ketahanan pangan nasional.

Padi

Dalam kurun waktu satu dasa warsa ke depan Indonesia harus mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan bagi masyarakat-nya. Tabel 2 menggambarkan keragaan pemacuan produksi dan pengurangan impor padi yang dipandang rasional.

Dengan asumsi pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun 1,5 % dan impor beras sekitar 1,5 – 2 juta ton pada tahun 2003 dan produksi dalam negeri sekitar 52 juta ton, maka untuk mencapai swasembada pada tahun 2010 diperlukan trend peningkatan produksi sebesar 1,8 – 2,1 % pertahun. Peningkatan ini sangat rasional dan dapat dilakukan dengan melihat potensi produk-tivitas yang dapat ditingkatkan dan potensi ketersediaan lahan baru yang dapat dibuka seperti lahan pasang surut, lebak dan lahan kering untuk padi (Suprihatno, dkk, 1999; Irianto, Gatot, dkk., 2002).

Jagung

Pada tahun 2002 impor jagung mencapai 2,2 juta ton dan sejak tahun 2000 pertumbuhan produksinya menunjukkan trend yang cenderung negatif. Melihat potensi yang ada bahwa hal upaya memacu produksi jagung dalam 10 tahun kedepan masih dapat dilakukan, bahkan sekalipun untuk dapat mencapai surplus (ekspor). Dengan menciptakan tingkat pertumbuhan produksi 2 % sampai 6,5 %per tahun maka pada tahun 2010 Indonesia akan dapat mengekspor jagung. Hal ini sangat rasional untuk dapat diwujudkan dan dicapai mengingat masih banyak lahan tidur dan lahan kering potensial yang dapat dimanfaatkan secara optimal untuk dapat meningkatkan produksi jagung. Peluang penerapan teknologi produktivitas Bio hayati organic dan penerapan benih hibrida untuk meningkatkan produktivitas dari rata-rata 3,5 ton/ha menjadi lebih dari 6,5 ton/ha di lahan tersebut masih sangat rasional apalagi agribisnis jagung telah didukung dengan tersedia dan kesiapan stakeholder dari hulu sampai hilirnya.

Kedelai

Upaya mendongkrak produksi kedelai memang berat mengingat ada sekitar 70 % kebutuhan kedelai dipenuhi dari impor. Terus membanjirnya impor kedelai tahun 2000 memiliki dampak yang tragis bagi petani kedelai dan untuk dapat mencapai imbangan impor harus ada perlakuan khusus dengan mengembalikan kepercayaan petani kembali bertanam kedelai. Upaya perimbangan impor dan pertumbuhan produksi kedelai jika produksi dapat terus ditingkatkan secara linear dari 13 % di tahun 2003 terus tumbuh meningkat hingga 20 % pada tahun 2010. Selama dasawarsa ke depan (2003 – 2013), yang rasional dilakukan adalah menekan impor dengan substitusi dari produksi dalam negeri sampai tinggal 10 – 20 % impor. Hal ini relevan dengan kondisi saat ini dan dapat terjadi jika ada pengaturan tata niaga untuk kepastian harga yang layak saat petani panen raya dan menciptakan produktivitas kedelai yang tinggi sehingga menurunkan biaya produksinya per satuan hasil.

Menerapkan kebijakan tata niaga kedelai, pembatasan impor (tarif bea masuk) dan insentif/subsidi bagi petani produsen dipandang perlu pada komoditas ini karena merupakan komoditi hajat hidup orang banyak (Inkopti, 2001), jika memang keputusan kemandirian pangan sebagai keputusan politik untuk ketahanan pangan. Persoalan teknologi produktivitas kedelai dan lahan sebenarnya bukan lagi sebagai permasalahannya, hanya saja jika petani tidak diberikan subsidi teknologi, produktivitasnya tetap rendah (< 1,2 ton/ha) dan biaya produksi per satuan produk menjadi tinggi sehingga ke depannya tidak dapat bersaing dipasaran bebas. Upaya ini perlu dilakukan dengan dengan menerapkan kebijakan yang simultan untuk merangsang pertumbuhan tinggi baik dengan melibatkan stakeholder pelaku bisnis kedelai dari hulu hingga hilir, teknologi, petani, perbankan dan pemerintah.

Harus diciptakan kondisi yang kondusif untuk memberikan perlindungan pada petani. Menciptakan dan mewujudkan kemandirian pangan nasional agar lebih ditekankan pada peran petani serta stakeholder yang mengawal sistem produksi dari keterjaminan penyediaan teknologi, sarana produksi hingga industri hilirnya. Fasilitas kebijakan yang memberikan kemudahan petani pangan mendapatkan subsidi teknologi, mekanisasi dan fasilitasi penunjang budidaya (seperti infrastruktur untuk pertanian seperti irigasi dan jalan, dan kredit produksi), perlindungan pasar serta kebijakan impor terbatas diperlukan untuk kembali menggairahkan pertanian pangan. Dalam hal ini perlu adanya rencana dan pedoman yang jelas dan sistematis sebagai komitmen bagi stakeholder khususnya dari pemerintah melalui Departemen Pertanian dan departemen terkait dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional yang tangguh sebagai keputusan nasional yang didukung oleh pemerintah daerah sebagai pelaksana di lapangan.

Upaya menciptakan kemandirian pangan dengan mengembangkan produksi sumber pangan alternatif substitusi pangan impor dilakukan seiring dengan pemacuan tiga komoditi pangan utama di atas. Sumber pangan karbohidrat yang dapat dimanfaatkan untuk substitusi pangan impor seperti kentang, jagung putih dan umbi-umbian. Mengembangkan sumber pangan alternatif ini justru memiliki nilai ekonomis tinggi karena disamping produktivitas per hektarnya tinggi, pangan tersebut sebagai bahan baku industri. Dengan keragaman sumber bahan pangan yang dikonsumsi dan dapat diproduksi di dalam negeri diharapkan dapat menekan impor pangan secara nyata dan mengurangi ketergantungan pangan dari luar negeri sehingga ketahanan dan kemandirian pangan nasional semakin mantap.

Peran Teknologi Produktivitas Organik Dalam Menunjang Ketahanan Pangan Yang Berkelanjutan

Subsidi teknologi yang menjadi bagian penting dari upaya menciptakan ketahanan pangan yang tangguh, harus mengutamakan teknologi produktivitas yang ramah lingkungan. Teknologi tersebut harus telah terbukti memberikan kontribusi yang nyata bagi peningkatan produktivitas dan teruji bukan hanya untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan tetapi juga mampu menjaga kelestarian produksi dan ramah lingkungan. Disamping itu teknologi yang diterapkan harus bersifat sederhana, mudah dimengerti dan dilaksanakan petani sehingga dapat diterapkan di lapangan secara utuh dan memiliki kawalan/pendampingan di lapangan untuk menjamin keberhasilannya.

Sebagai contoh teknologi pupuk hayati Bio P 2000 Z yang diramu dari kumpulan mikro-organisme indegenus terseleksi bersifat unggul berguna yang dikondisikan agar dapat hidup harmonis bersama saling bersinergi dengan kultur mikro-organisme komersial serta dibekali nutrisi dan unsur hara mikro dan makro yang berguna bagi mikroba dan komoditas budidaya. Sekumpulan mikro-organisme unggul berguna dikemas dalam pupuk hayati Bio Perforasi terdiri dari dekomposer (Hetrotrop, Putrefaksi), pelarut mineral dan phospat, fiksasi nitrogen, Autotrop (fotosintesis) dan mikroba fermentasi serta mikroba penghubung (seperti Mycorrhiza) yang bekerja bersinergi dan nutrisi bahan organik sederhana, seperti senyawa protein/peptida, karbohidrat, lipida, Vitamin, senyawa sekunder, enzim dan hormon; serta unsur hara makro: N, P, K, S, Ca, dan lainnya berkombinasi dengan hara mikro: seperti Mg, Si, Fe, Mn, Zn, Mn, Mo, Cl, B, Cu, yang semua unsur yang disebut di atas diproses melalui cara fermentasi.

Bio Perforasi secara komprehenship membentuk dan mengkondisikan keseimbangan ekologis alamiah melalui sekumpulan jasa mikro-organisme unggul berguna yang dikondisikan, bersinergi dengan mikroba alami indogenus dan nutrisi; dan dengan menggunakan prinsip “mem-bioperforasi“ secara alami oleh zat inorganik, organik dan biotik pada mahluk hidup (seperti tanaman) sehingga memacu dan/atau mengendalikan pertumbuhan dan produksinya. Ternyata dengan sistem demikian masalah tersumbatnya produksi komoditi pertanian dapat dipecahkan (Mashar, 2000).

Melalui jasa mikro-organisme unggul yang sebelumnya telah dikondisikan terhadap lingkungan tumbuh kembang tanaman serta dibekali nutrisi dan unsur hara, faktor pembatas produksi dan kendala tumbuh asal tanah dan lingkungan dapat direndam sehingga tanaman dapat dipacu berproduksi tanpa menggangu hasil rekayasa konstelasi genetik yang telah dimiliki tanaman sebelumnya. Hal ini seiring dengan tujuan meningkatkan produktivitas hasil dari tanaman varietas unggul yang memiliki potensi genetik tinggi seperti padi Hibrida, PTB dan padi unggul lain yang akan dikembangkan untuk daerah-daerah kritis lebak rentan cekaman kesuburan tanah yang labil. Seperti daerah transmigrasi Penggunaan mikroba Bio P 2000 Z secara teratur dan sesuai anjuran ternyata mampu mendongkrak potensi produksi tanaman yang bersangkutan melebihi referensi Genetik yang dimilikinya dan cekaman anasir penghambat dalam tanah.

Keunggulan penerapan teknologi Bio Perforasi pada padi adalah meningkatnya produktivitas dan kualitas beras. Pada padi unggul nasional memacu bertambahnya anakan produktif rata-rata 19 – 35 anakan dan kuatnya perakaran (gambar A), tahan rebah dan serangan penggerek batang; malai lebih besar (berisi) sehingga dibanding tanpa Bio P2000Z pada volume gabah kering giling (GKG) yang sama rendemen meningkat 30% – 40%. Karena proses keseimbangan hara ini beras lebih jernih dan tidak mudah remuk/patah saat digiling.

Kesimpulan

1. Laju pertumbuhan produksi pangan nasional dalam dasa warsa terakhir rata-rata cenderung terus menurun sedangkan laju pertumbuhan jumlah penduduk terus meningkat yang berarti semakin meningkat ketergantungan pangan nasional pada impor merupakan bahaya laten bagi kemandirian dan ketahanan pangan nasional.

2. Produksi pangan yang terus menurun lebih disebabkan karena: produktivitas hasil budidaya petani rata-rata masih rendah dan perluasan areal lahan pertanian stagnan serta lahan yang ada cenderung menurun kualitasnya sehingga perlu upaya mengatasi permasalahan tersebut dengan terobosan yang konstruktif dalam produktivitas dan perluasan lahan.

3. Meningkatkan produktivitas dapat ditempuh melalui cara antara lain: menerapkan teknologi budidaya produktivitas tinggi dengan memberikan subsidi teknologi kepada petani seperti teknologi pupuk hayati Bio P 2000 Z; melakukan Soil Management di lahan pertanian dengan mengintroduksikan agen mikroba penyubur dan nutrisi (seperti pupuk berimbang) untuk mengembalikan keseimbangan alami yang membangun kesuburan tanah dan tanaman diatasnya; melakukan eksplorasi potensi genetik tanaman yang memiliki performa tanaman unggul hasil maksimal seperti varietas hibrida dan tipe baru dengan memberikan perlakuan presisi kawalan teknologi yang sesuai sehingga efisiensi hasil maksimal dapat tercapai .

4. Upaya memacu pertumbuhan produksi pangan dengan membuka areal Lahan pertanian baru yang dapat di gunakan untuk pertanian produktif adalah potensi lahan pasang surut dan lahan lebak, serta lahan kering yang sebagian besar belum tergarap secara optimal dengan disertai penerapan teknologi produktivitas.

5. Untuk mewujudkan swasembada dan kemandirian serta ketahanan pangan dalam satu dasawarsa ke depan (2010), diperlukan perangkat kebijakan yang mengarah pada perbaikan implementasi sistem agribisnis dan tataniaga (impor) bahan pangan. Disamping itu laju pertumbuhan produksi nasional harus dipacu pertahun secara bertahap, pada komoditas padi/beras dari tahun 2003 sebesar 1,8 % menjadi 2,1% pada tahun 2010, komoditas jagung dari 2 % tahun 2003 menjadi 6,5 % tahun 2010, dan kedelai 13 % tahun 2003 terus meningkat menjadi 20 % pada tahun 2010.

6. Penerapan teknologi organik seperti Bio P 2000 Z yang memanfaatkan sinergi jasa mikroba unggul mampu meningkatkan produktivitas tanaman lebih tinggi dari teknologi pupuk konvensional/kimia dan memiliki manfaat memperbaiki kesuburan lahan serta menjaga produktivitas tinggi lahan yang berkelanjutan.

Lampiran (tabel 1, 2, 3, 4)

Tabel.1

Pertumbuhan Per Tahun Peroduksi Beras, Jagung, Kedelai, 1992-1993

Komoditi 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003
Padi 7.99 0.12 3.18 6.75 2.73 -3.37 -0.28 3.31 2.03 -2.77 1.82 0.04
Jagung 28.36 -19.68 6.25 22.12 12.87 -5.76 15.95 -9.49 5.14 -3.41 1.92 1.42
Kedelai 20.17 -8.63 -8.37 7.41 -9.69 -10.56 -3.76 5.91 -26.41 -16.74 -21.06 13.36
Penduduk 1.4 1.42 1.45 1.52 1.55 1.57 1.59 1.61 1.63 1.66 1.69 1.72

Tabel. 2

Target Produksi dan Proyeksi Impor Padi Nasional Tahun 2000 – 2010

(000 ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
Kebutuhan 52,055 52,114 52,078 53,000 53,795 54,601 55,421 56,252 57,096 57,952 58,822
Produksi 49,429 49,144 50,078 51,000 51,941 52,900 53,877 54,890 56,023 57,191 58,387
Impor 2,626 2,970 2,000 2,000 1,854 1,701 1,544 1,362 1,073 761 435

Tabel. 3

Target Produksi dan Proyeksi Impor Jagung Nasional Tahun 2000 – 2010

(000 ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
Kebutuhan 10.500 11.000 11.500 11.663 11.832 12.016 12.196 12.339 12.564 12.753 12.945
Produksi 9.676 9.165 9.278 9.409 9.625 9.969 10.445 11.065 11.735 12.466 13.285
Impor 824 1.835 2.222 2.254 2.213 2.047 1.251 1.314 229 257 -340

Tabel. 4

Target Produksi dan Proyeksi Impor Kedelai Nasional Tahun 2000 – 2010

(000 ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
Kebutuhan 2.295 2.335 2.376 2.417 2.460 2.503 2.547 2.541 2.637 2.025 2.730
Produksi 1.017 923 837 915 1.010 1.126 1.271 1.453 1.653 1.685 2.380
Impor 1.277 1.412 1.558 1.902 1.450 1.376 1.276 1.138 951 697 350

Daftar Pustaka

Abdullah Buang. 2002. Pengenbangan Padi Tipe Baru. Makalah disampaikan Pada Seminar Temu Lapang BALITPA di KP. Pusakanegara, Subang 26 September 2002

Alihamsyah T., Muhrizal Sarwani dan Isdianto Ar-Riza. 2002. Komponen Utama Teknologi Optimalisasi lahan Pasang Surut Sebagai Sumber Pertumbuhan Produksi Padi Masa Depan. Makalah disampaikan Pada Seminar IPTEK padi Pekan Padi Nasional di Sukamandi 22 Maret 2002.

Ananto Eko. 2002. Pengembangan Pertanian Lahan rawa Pasang Surut Mendukung Peningkatan Produksi Pangan. Makalah disampaikan Pada Seminar IPTEK padi Pekan Padi Nasional di Sukamandi 22 Maret 2002.

Anonim. 2003. Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan dalam Kaitannya dengan Sistem Pertanian Organik. Makalah Pengembangan Teknologi Padi di Hotel Kaisar Maret 2003.

Anonim. 2001. Pemberdayaan Usaha Anggota koperasi Produsen tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Melalui Pemberian Insentif Pemerintah kepada INKOPTI. Inkopti.

Anonim. 2003. Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan dalam Kaitannya dengan Sistem Pertanian Organik. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.

BPS ( Biro Pusat Statistik). 2001. Stasistik Indonesia 2000. BPS Jakarta.

FAO. 1993. Rice In human Nutrition. Food and Nutrition Series. FAO, Rome .

Gurdev S. khush. 2002. Food Security By Design: Improving The Rice Plant in Partnership With NARS. Makalah disampaikan Pada Seminar IPTEK padi Pekan Padi Nasional di Sukamandi 22 Maret 2002.

Purba S. dan Las I. 2002, Regionalisasi Opsi Strategi Peningkatan Produksi Beras. Makalah disampaikan pada Seminar IPTEK padi Pekan Padi Nasional di Sukamandi 22 Maret 2002.

Mashar Ali Zum, 2000, Teknologi Hayati Bio P 2000 Z Sebagai Upaya untuk Memacu Produktivitas Pertanian Organik di Lahan Marginal. Makalah disampaikan Lokakarya dan pelatihan teknologi organik di Cibitung 22 Mei 2000.

Moeljopawiro Sugiono. 2002. Bioteknologi Untuk Peningkatan Produktivitas dan Kualitas Padi. Makalah disampaikan Pada Seminar IPTEK padi Pekan Padi Nasional di Sukamandi 22 Maret 2002.

Sri Adiningsih J., M. Soepartini, A. kusno, Mulyadi, dan Wiwik Hartati. 1994. Teknologi untuk Meningkatkan Produktivitas Lahan Sawah dan Lahan Kering. Prosiding Temu Konsultasi Sumberdaya Lahan Untuk Pembangunan Kawasan Timur Indonesia di Palu 17 – 20 Januari 1994.

05/31/2010 Posted by | Dasar-Dasar Ilmu Gizi | 13 Komentar

Pengaruh Tanaman Penutup Tanah Terhadap Kelimpahan Kutudaun Aphis craccivora Koch (Homoptera: Aphididae), Predator dan Hasil Panen pada Pertanaman Kacang Panjang Oleh: Deri Salanti/A44104062

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kacang panjang (Vigna sesquipedalis) adalah tanaman hortikultura yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia, baik sebagai sayuran maupun sebagai lalapan. Kacang panjang merupakan anggota Famili Fabaceae yang termasuk kedalam golongan sayuran. Kacang panjang dibudidayakan untuk dimanfaatkan polong mudanya atau kadang-kadang daunnya sebagai lalapan. Kacang panjang diperbanyak melalui benih (Sunaryono dan Ismunandar 1981).  Selain rasanya enak, sayuran ini juga mengandung zat gizi cukup banyak. Kandungan gizi, baik polong maupun daun tanaman ini cukup lengkap. Polong mudanya banyak mengandung protein, vitamin A, lemak, dan karbohidrat. Dengan demikian komoditas ini merupakan sumber protein nabati yang cukup potensial (Haryanto et al. 1999).

Kebutuhan sayur-sayuran akan semakin meningkat seiring dengan semakin pedulinya masyarakat akan makanan yang sehat dan berimbang. Kacang panjang sebagai salah satu jenis dari sayur-sayuran dapat menjadi pilihan yang mudah untuk sebagian masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari konsumsi kacang panjang pada tahun 2006 yang diperkirakan sebesar 2.66 kg/kapita/tahun, yang berarti diperlukan kacang panjang sebanyak 492.000 ton/tahun (BPS 2007). Akan tetapi, berdasarkan data BPS (2007) produktivitas kacang panjang baru mencapai sekiar 354.000 ton/tahun.

Tanaman ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagi usahatani karena selain mudah dibudidayakan, pangsa pasarnya juga cukup tinggi. Secara ekonomis, tanaman ini memiliki kekuatan pasar yang cukup besar. Pasar mampu menyerapnya mekipun  produksi kacang panjang berlimpah pada musim panen. Kacang panjang juga dipasarkan ke luar negeri, salah satunya adalah ke negeri Belanda yang membutuhkan lebih dari 3 ton tiap minggunya (Haryanto et al. 1999).

Salah satu kendala dalam meningkatkan produksi kacang panjang adalah adanya gangguan hama tanaman. Berbagai jenis hama di temukan pada tanaman ini, diantaranya yang paling penting adalah kutu daun Aphis crassivora Koch (Homoptera: Aphididae).

Arachis pintoi adalah tanaman golongan kacang-kacangan yang tumbuh merambat di atas permukaan tanah dan merupakan kerabat dekat dari kacang tanah (Arachis hypogea). A. .pintoi di Indonesia dikenal dengan sebutan kacang hias atau kacang pinto.  Ada pula yang menyebutnya golden peanuts karena tanaman ini mempunyai bunga yang berwarna kuning. Tanaman ini merupakan spesies eksotik yang berasal dari Brazil yang didatangkan ke Indonesia melalui Singapura untuk digunakan sebagai tanaman hias dan penutup tanah (BPTP 2004). Menurut Reksohadiprojo dalam Umroh (1995) tanaman ini diintroduksi dari Australia ke Indonesia khususnya Sulawesi Utara pada tahun 1986.

Tanaman A. pintoi dapat digunakan sebagai tanaman hias, penutup tanah, dan sebagai pakan ternak. Penggunaan tanaman ini semakin populer dan sudah banyak digunakan sebagai penutup tanah di beberapa perkebunan serta sudah banyak dimanfaatkan dalam lanskap pertanaman (BPTP 2004). Penanaman A. pintoi dapat menggundang kehadiran musuh alami (parsitoid dan predator). Trisawa et. al (2005) melaporkan bahwa penanaman A. pintoi pada ekosistem lada dapat meningkatkan jenis dan kelimpahan musuh alami.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh tanaman penutup tanah A. pintoi terhadap kelimpahan kutudaun, predator, dan terhadap hasil panen kacang panjang.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di Kampung Liud, Desa Hambaro, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat,  dan di Laboraturium Ekologi Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian berlangsung sejak Februari hingga Mei 2008.

Metode Penelitian

Penataan Petak Percobaan

Percobaan dilaksanakan pada 6 petak yang masing-masing berukuran 10 m x 10 m. Untuk mengurangi terjadinya perpindahan serangga di antara petakan, jarak antar petak diusahakan minimal 10 m. Keenam petak tadi ditata dalam 3 kelompok (ulangan) dengan 2 perlakuan, yaitu petakan dengan A. pintoi dan petakan tanpa A. pintoi.

Penanaman Tanaman Penutup Tanah

Penanaman A. pintoi dilakukan pada bulan Agustus 2007. Untuk maksud tersebut lahan terlebih dahulu diberi pupuk kandang sebanyak 15 ton/ha.  Selain diberi pupuk kandang lahan ini juga diberi pupuk Urea 300 kg/ha, SP36 280 kg/ha, KCL 260 kg/ha.   Penanaman A. pintoi dilakukan dengan cara stek buku tunggal. Buku A. pintoi diambil dari Kebun Percobaan Cikabayan -IPB.

Penanaman dan Pemeliharaan Kacang Panjang

Kacang panjang yang digunakan dalam percobaan ini adalah varietas 777 yang bermerek Panah Merah.  Varietas ini dipilih karena umum digunakan petani serta mudah diperoleh di hampir setiap toko pertanian yang ada di Darmaga. Pemupukan kacang panjang dilakukan tiga kali dengan dosis pupuk Urea 185 kg/ha , SP36 375 kg/ha dan KCL 225 kg/ha. Pemupukan pertama dengan 50% dari dosis dilakukan pada saat tanam, sedangkan pemupukan kedua dan ketiga dilakukan pada saat tanaman kacang panjang berumur 3 MST dan  6 MST, dengan masing-masing 25% dari total dosis pupuk. Pengajiran dilakukan pada saat tanaman kacang panjang berumur 2 MST.  Untuk maksud tersebut setiap tanaman diberi satu ajir bambu, selanjutnya setiap empat ajir diikat dengan tali menjadi satu sehingga membentuk piramida.

Penyiangan gulma juga dilakukan dua kali yaitu pada saat sebelum tanam, dan setelah tanaman kacang panjang berumur 6 MST. Penyiangan ini dilakukan pada setiap lahan baik yang ditanami A. pintoi maupun yang tidak ditanami A. pintoi.  Gulma yang banyak tumbuh adalah jenis teki-tekian dan rumput-rumputan, sedangkan gulma berdaun lebar tidak banyak tumbuh pada lahan ini.

Pengamatan Kutudaun dan Kumbang Kubah

Pada setiap petak percobaan dipilih secara sistematik 18 rumpun tanaman kacang panjang.  Peubah kelimpahan kutudaun didasarkan pada banyaknya koloni yang terdapat pada tanaman contoh. Kelimpahan kumbang kubah dilakukan dengan menghitung banyaknya kumbang yang dijumpai pada tanaman contoh.  Pengamatan dilakukan setiap minggu sejak tanaman berumur 6 MST hingga menjelang panen berakhir.

Pengamatan Artropoda Penghuni Permukaan Tanah

Kelimpahan serangga permukaan tanah diamati dengan cara memasang perangkap (pitfall). Perangkap dibuat dari gelas plastik bervolume 200 ml.  Kedalam gelas dimasukkan cairan formalin 4% sekitar 60 ml.  Gelas tersebut kemudian dibenamkan di tanah dengan permukaan diatur sedemikian rupa sehingga rata dengan permukaan tanah.  Untuk menghindarkan dari curahan air hujan, perangkap diberi atap dari seng.  Letak atap seng diatur sehingga tidak mengganggu aktivitas artropoda yang menuju perangkap.  Pemasangan perangkap dilakukan tiga kali yaitu awal tanam, pertengahan dan akhir tanam. Pada awal tanam perangkap dipasang  selama 24 jam, sedangkan pada pertengahan dan akhir musim tanam perangkap dipasang  72 jam.  Jumlah perangkap ? buah untuk setiap kali pemasangan. Artropoda yang tertangkap diidentifikasi hingga jenjang famili. Penempatan perangkap dalam petak pertanaman dilakukan secara sistematis, yaitu 5 perangkap per petak dengan posisi satu di tengah petak dan empat sisanya pada arah setiap sudut petak. Untuk keperluan analisis, data yang diperoleh pada tiga waktu pengamatan tersebut dijumlahkan dan dipilah berdasarkan famili.

Pengamatan Hasil Panen

Panen dilakukan setiap 4 hari sejak tanaman berumur 7 MST.  Pada setiap kali panen, bobot kacang panjang dari kedua perlakuan ditimbang dan dicatat.  Untuk keperluan analisis, bobot panen dijumlahkan dan dipilah berdasarkan perlakuan.

Analisis Data

Pengaruh perlakuan terhadap kelimpahan kutudaun, kumbang kubah, artropoda penghuni permukaan tanah, dan hasil panen diperiksa dengan melakukan analisis ragam dengan batuan SPSS 11.5.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perkembangan Populasi Kutudaun

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penanaman A. pintoi sebagai penutup tanah tidak berpengaruh  nyata terhadap kelimpahan populasi kutudaun , dari sejak tanaman berumur 6 MST hingga 12 MST (Tabel 1).  Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Smith (1976) yang mengungkapkan bahwa  permukaan tanah yang terbuka dapat menjadi stimulus bagi kutudaun Brevicoryne brassicae (L.) untuk melakukan kolonisasi pada petak sayuran kubis-kubisan.  Diperkirakan bahwa penanaman kacang panjang dengan sistem piramida menyebabkan penutupan permukaan tanah, sehingga pengaruh penanaman A. pintoi terhadap kelimpahan kutudaun tidak terlihat nyata.

Tabel 1. Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan terhadap kelimpahan

populasi kutu daun (transformasi V x + 0,5 )

MST Kuadrat TengahPengaruh db Kuadrat Tengah Galat F P
6 0,180 1, 4 0,045 4,000 0,116
7 1,109 1, 4 0,670 1,656 0,268
8 1,335 1, 4 2,735 0,488 0,523
9 1,197 1, 4 3,957 0,303 0,612
10 0,035 1, 4 4,767 0,007 0,936
11 0,522 1, 4 3,594 0,145 0,722
12 1,480 1, 4 2,997 0,494 0,521

Pada Gambar 1 tampak bahwa hama kutudaun muncul sejak tanaman berumur 6 MST, kemudian populasinya meningkat dan mencapai puncaknya pada 10 MST.  Setelah itu populasi kutudaun  menurun  kembali yang disebabkan  pucuk , daun muda, serta polong sebagai makanan kesukaan kutudaun semakin berkurang. Faktor lain yang diduga menyebabkan fluktuasi kelimpahan kutudaun di lahan percobaan adalah tingginya curah hujan pada saat penelitian dilakukan. Curah hujan pada bulan Februari hingga Mei 2008 mencapai 228.5 mm/bulan dengan sekitar 16 hari hujan setiap bulannya. Dilaporkan bahwa serangga berukuran kecil seperti kutudaun yang hidup di bagian pucuk tanaman sangat rentan terhadap terpaan air hujan (Stoyenoff 2001). Akibat terpaan air hujan ini diduga sebagian kutudaun yang jatuh tidak dapat kembali lagi ke pertanaman.

Gambar  1. Perkembangan populasi kutudaun pada petak perlakuan dan kontrol

Perkembangan Populasi Kumbang Kubah

Jenis serangga predator yang sering ditemukan selama penelitian berlangsung adalah kumbang kubah Menochilus sexmaculatus (F.)(Coleoptera: Coccinellidae). Selain itu ditemukan musuh alami lain di antaranya adalah serangga predator Syrphidae, Carabidae, Reduviidae, serta  beberapa jenis serangga dari golongan parasitoid.  Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penanaman tanaman penutup tanah A. pintoi berpengaruh tidak nyata ( P > 0,05) terhadap kelimpahan kumbang kubah M. sexmaculatus (Tabel 2).

Tabel 2. Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan terhadap kelimpahan

populasi kumbang Menochilus sexmaculatus (transformasi V x + 0,5 )

MST Kuadrat TengahPengaruh db Kuadrat Tengah Galat F P
6 0,392 1, 4 0,676 2,059 0,225
7 0,191 1, 4 0,620 0,308 0,609
8 1,870 1, 4 0,419 4,460 0,102
9 0,516 1, 4 0,191 1,046 0,364
10 0,009 1, 4 1,029 0,009 0,931
11 1,092 1, 4 1,052 1,038 0,366
12 4,200 1, 4 1,082 3,880 0,120

Kelimpahan populasi kumbang kubah M. sexmaculatus disajikan pada Gambar 2. Tampak bahwa kehadiran kumbang predator terjadi sejak tanaman berumur 6 MST, berbarengan dengan kehadiran kutu daun di pertanaman. Dilaporkan bila populasi mangsa rendah maka kumbang kubah dapat berpindah ke tempat lain untuk mencari mangsanya (Schellhorn &  Andow 1999). Hal ini dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2. Kumbang kubah lebih banyak ditemukan pada lahan yang lebih dahulu muncul kutudaun sebagai makanannya, kemudian predator ini lebih banyak ditemukan pada lahan yang tidak ditanami A. pintoi.  Hal ini karena mangsanya yaitu kutudaun berkembang membentuk koloni yang lebik banyak pada lahan yang tidak ditanami A. pintoi dibandingkan pada lahan yang ditanami A. pintoi. Kumbang kubah termasuk salah satu predator yang aktif mencari mangsa dan dapat berpindah dari satu tanaman ke tanaman lainnya (Dixon 2000).

Gambar  2. Perkembangan populasi kumbang predator pada petak perlakuan dan kontrol

Untuk memeriksa hubungan antara kelimpahan kutudaun dengan kelimpahan kumbang kubah, seluruh individu data dari petak dengan A. pintoi dan petak tanpa A. pintoi kemudian dipetakan seperti tampak pada Gambar 3. Hasil analisis menunjukkan terdapat korelasi (r = 0,385) yang nyata (P = 0,012) antara kelimpahan kutudaun dengan kelimpahan kumbang predator. Hal ini menunjukkan bahwa makin banyak populasi kutudaun makan banyak pula populasi kumbang kubah.  Salah satu ciri dari musuh alami yang baik adalah yang memperlihatkan sifat terpaut kerapatan terhadap inangnya atau mangsanya.

Gambar  3. Hubungan antara kelimpahan kutudaun dengan kumbang kubah

Artropoda Penghuni Tanah

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penanaman A. pintoi sebagai penutup tanah berpengaruh nyata terhadap kelimpahan Gryllidae (P = 0,039) tapi tidak nyata terhadap Formicidae (P = 0,064) dan Araneida (P = 0,205) (Tabel ).  Namun secara umum terdapat kecenderungan bahwa kelimpahan artropoda penghuni tanah (Formicidae, Arachnida, Gryllidae) lebih banyak pada petak yang ditanami penutup tanah A. pintoi (Gambar ).

Tabel 3. Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan terhadap kelimpahan populasi

artropoda penghuni permukaan tanah  (transformasi V x + 0,5 )

Kelompok Arthrophoda Kuadrat TengahPengaruh db Kuadrat Tengah Galat F P
Formicidae 140,167 1, 4 21,667 6,469 0,064
Araneida 204,167 1, 4 89,333 2,285 0,205
Gryllidae 16,667 1, 4 1,833 9,091 0,039

Tanaman penutup tanah seperti A. pintoi menyediakan habitat fisik yang sesuai bagi kehidupan artropoda penghuni permukaan tanah. Kelembaban permukaan tanah menjadi lebih tinggi akibat adanya tanaman penutup tanah. Begitu pula tanaman penutup tanah dapat melindungi artropoda penghuni permulkaan tanah dari terpaan terik matahari dan butiran air hujan.  Selain itu, tanaman penutup tanah dapat menyediakan sumberdaya hayati bagi artropoda penghuni permukaan tanah. Berbagai jenis serangga fitofag dapat memanfaatkan tanaman penutup tanah sebagai sumber makanannya, yang pada giliran berikutnya dapat mendukung artropoda yang bersifat sebagai predator seperti semut, laba-laba, dan sebagian jenis jangkrik.

Gambar  4. Kelimpahan artropoda penghuni permukaan tanah pada petak perlakuan dan petak kontrol

Hasil Panen

Total bobot kacang panjang dari delapan kali panen disajikan pada Gambar 5. Hasil analisis ragam menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata (F = 2,839; db = 1, 4; P = 0,167) antara kedua perlakuan. Pada petak ulangan-1 bobot hasil panen sangat rendah, sekitar setengahnya dari petak ulangan lain.  Data bobot hasil panen yang beragam inilah yang menyebabkan hasil pengujian statistika tidak nyata. Secara umum tampak bahwa bobot hasil panen dari petak yang di tanami A. pintoi cenderung lebih rendah daripada petak kontrol. Pada petak perlakuan  A .pintoi, umur kacang panjang tidak sama dengan umur kacang panjang pada petak kontrol, karena pada petak yang disebut pertama terjadi penyulaman akibat sebagian tanaman mengalami kematian. Perbedaan kondisi tanaman ini dapat berpengaruh terhadap hasil panen. Cenderung lebih tingginya hasil panen pada petak tanpa A. pintoi tidak ada kaitannya dengan serangan hama kutudaun, karena kelimpahan hama ini tidak berbeda di antara kedua petak perlakuan. Hasil panen yang cenderung lebih rendah pada petak A. pintoi diduga kuat karena adanya persaingan unsur hara antara tanaman kacang panjang  dengan  A. pintoi.

Tanpa  A. pintoi
Dengan A. pintoi

Gambar  5. Rataan bobot hasil panen kacang panjang pada petak perlakuan dan petak kontrol

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Penanaman A. pintoi sebagai tanaman penutup tanah di lahan kacang panjang tidak berpengaruh terhadap kelimpahan hama kutu daun A. craccivora dan predatornya kumbang M. sexmaculatus. Kelimpahan beberapa kelompok artropoda penghuni permukaan tanah cenderung lebih banyak pada lahan yang ditanami A. pintoi dibandingkan yang tidak. Terdapat kecenderungan bahwa hasil panen kacang panjang lebih rendah pada petakan yang ditanami A. pintoi daripada yang tanpa penutup tanah.  Penanaman A. pintoi sebagai penutup tanah belum cukup bukti mampu memberikan manfaat baik dari segi ekologi yang berupa penekanan hama, maupun dari segi ekonomi yang berupa peningkatan hasil panen.

Saran

Penelitian perlu diulang paling tidak untuk satu musim lagi.  Untuk mengurangi persaingan hara antara kacang panjang dan tanaman penutup tanah disarankan agar daerah sekitar perakaran kacang panjang dibersihkan dari A. pintoi.  Selain itu, dalam jangka panjang perlu dikaji pengaruh positif dari penanaman A. pintoi terhadap penyediaan hara dan konservasi tanah.

DAFTAR PUSTAKA

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2007. http://www.bps.go.id.%5B1 Oktober 2007]

[BPTP Lampung] Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung. 2004. Arachis pintoi sebagai tanaman penutup tanah pada perkebunan lada. BPTP Lampung. http://lampung .litbang.deptan.go.id/teknologi.html [27 april 2006].

Dixon  AFG. 2000. Insect Predator-Prey Dynamics: Ladybird beetles & Biological Control. Spain: Cambridge Univ Pr 257 p.

Haryonto, E, Suhartini T, Rahayu E. 1999. Budidaya Kacang Panjang. Jakarta : Penebar Swadaya.

Schellhorn NA, Andow DA.1999. Mortality of Cocinellid (Coleoptera: Coccinellidae) larvae and pupae when prey become Scarce. Environ Entomol 28 (6): 1092-1100

Smith JG. 1976. Influence of  crop background on aphids and other phytophagous insects in Brussels sprouts.  Ann. Appl Biol 83: 19-22.

Stoyenoff JL. 2001. Plant wahing as a pest management technique for control of aphids (Hmoptera: Aphididae). J Econ Entomol 94(6): 1492-1499.

Sunaryono, H. Dan Ismunandar. 1981. Kunci Bercocok Tanam Sayur-sayuran Penting di Indonesia. Sinar Baru. Bandung. 154 hal

Trisawa IM, IW Laba, dan WR Atmadja. 2005. Artropoda yang Berasosiasi pada Ekosistem Tanaman Lada. Jurnal Entomologi Indonesia 2(1):10-18.

Umroh SI. 1995. Kombinasi Perlakuan Waktu Tanam Arachis pintoi dan Pemupukan Fosfor terhadap pertumbuhan serta Produksi Jagung Hibrida CP-1 dibawah Pertanaman Kelapa [Tesis]. Program Pasca Sarjana, KPK Institute Pertanian Bogor- Universitas Samratulangi, Manado.

05/31/2010 Posted by | Ekologi Hewan | 3 Komentar

PESTISIDA

1.1 Pengertian Pestisida

Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest (“hama”) yang diberi akhiran -cide (“pembasmi”). Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu. Pestisida biasanya, tapi tak selalu, beracun. dalam bahasa sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai “racun”.

Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan.

Undang – Undang tentang Pestisida
Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan alam khususnya kekayaan alam hayati, dan supaya pestisida dapat digunakan efektif, maka peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973. Dalam peraturan tersebut antara lain ditentukan bahwa:

  1. Tiap pestisida harus didaftarkan kepada Menteri Pertanian melalui Komisi  Pestisida untuk dimintakan izin penggunaannya.
  2. Hanya pestisida yang penggunaannya terdaftar dan atau diizinkan oleh Menteri Pertanian boleh disimpan, diedarkan dan digunakan.
  3. Pestisida yang penggunaannya terdaftar dan atau diizinkan oleh Menteri Pertanian hanya boleh disimpan, diedarkan dan digunakan menurut ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam izin pestisida itu.
  4. Tiap pestisida harus diberi label dalam bahasa Indonesia yang berisi keterangan-keterangan yang dimaksud dalam surat Keputusan Menteri Pertanian No. 429/ Kpts/Mm/1/1973 dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam pendaftaran dan izin masing-masing pestisida.

Dalam peraturan pemerintah tersebut yang disebut sebagai pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk:

  • Memberantas atau mencegah hama atau penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman atau hasil pertanian.
  • Memberantas gulma.
  • Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan tanaman yang tidak diinginkan.
  • Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman, kecuali yang tergolong pupuk.
  • Memberantas atau mencegah hama luar pada ternak dan hewan piaraan.
  • Memberantas atau mencegah hama air.
  • Memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah tangga
  • Memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang dilindungi, dengan penggunaan pada tanaman, tanah dan air.

Sesuai dengan definisi tersebut di atas maka suatu bahan akan termasuk dalam pengertian pestisida apabila bahan tersebut dibuat, diedarkan atau disimpan untuk maksud penggunaan seperti tersebut di atas.

Sedangkan menurut The United States Federal Environmental Pesticide Control Act, pestisida adalah semua zat atau campuran zat yang khusus untuk memberantas atau mencegah gangguan serangga, binatang pengerat, nematoda, cendawan, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama kecuali virus, bakteria atau jasad renik yang terdapat pada manusia dan binatang lainnya. Atau semua zat atau campuran zat yang digunakan sebagai pengatur pertumbuhan tanaman atau pengering tanaman.

2.2 Jenis-Jenis Pestisida

A. Berdasarkan Fungsi/sasaran penggunaannya, pestisida dibagi menjadi 6 jenis yaitu :

  • Insektisida

adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas serangga seperti belalang, kepik, wereng, dan ulat. Insektisida juga digunakan untuk memberantas serangga di rumah, perkantoran atau gudang, seperti nyamuk, kutu busuk, rayap, dan semut. Contoh : basudin, basminon, tiodan, diklorovinil dimetil fosfat, diazinon,dll.

Jenis-jenis Insektisida Hidup :

Upaya pengendalian vektor untuk memutus siklus hidup nyamuk, sehingga mengurangi kontak antara manusia dengan vektor. Hanya, berbagai upaya tersebut perlu diikuti dengan cara-cara yang ramah lingkungan. Seperti telah dikemukakan salah satu cara yang lebih ramah lingkungan adalah memanfaatkan tanaman antinyamuk (insektisida hidup pengusir nyamuk). Tanaman hidup pengusir nyamuk adalah jenis tanaman yang dalam kondisi hidup mampu menghalau nyamuk. Artinya tanaman ini tidak perlu diolah terlebih dulu.

Kemampuan jenis tanaman ini sebagai pengusir nyamuk bisa dianggap istimewa. Penyebabnya adalah bau menyengat yang keluar dari tanaman ini. Bau menyengat inilah yang diduga tidak disukai serangga. Penggunaan tanaman ini cukup mudah, yaitu cukup diletakkan di dalam ruangan atau ditanam di pekarangan rumah.

Adapun bahan-bahan insektisida alami itu adalah sebagai berikut: Tembakau, Kenikir, Pandan, Kemangi, Cabe Rawit, Kunyit , Bawang Putih, Gadung , Sereh dan masih banyak lagi yang dapat di pakai sebagai bahan-bahan pembuat insektisida alami . Bila melihat bahan-bahan tersebut , semua ada di lingkungan kita, mudah di dapat dan murah, yang pasti juga aman karena tidak beracun.

  • Fungisida

adalah pestisida untuk memberantas/mencegah pertumbuhan jamur/ cendawan seperti bercak daun, karat daun, busuk daun, dan cacar daun. Contoh : tembaga oksiklorida, tembaga (I) oksida, carbendazim, organomerkuri, dan natrium dikromat.

  • Bakterisida

adalah pestisida untuk memberantas bakteri atau virus. Salah satu contoh bakterisida adalah tetramycin yang digunakan untuk membunuh virus CVPD yang meyerang tanaman jeruk. Umumnya bakteri yang telah menyerang suatu tanaman sukar diberantas. Pemberian obat biasanya segera diberikan kepada tanaman lainnya yang masih sehat sesuai dengan dosis tertentu.

  • Rodentisida

adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman berupa hewan pengerat seperti tikus. Lazimnya diberikan sebagai umpan yang sebelumnya dicampur dengan beras atau jagung. Hanya penggunaannya harus hati-hati, karena dapat mematikan juga hewan ternak yang memakannya. Contohnya : Warangan.

  • Nematisida

adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman berupa nematoda (cacing). Hama jenis ini biasanya menyerang bagian akar dan umbi tanaman. Nematisida biasanya digunakan pada perkebunan kopi atau lada. Nematisida bersifat dapat meracuni tanaman, jadi penggunaannya 3 minggu sebelum musim tanam. Selain memberantas nematoda, obat ini juga dapat memberantas serangga dan jamur. Dipasaran dikenal dengan nama DD, Vapam, dan Dazomet.

  • Herbisida

Adalah pestisida yang digunakan untuk membasmi tanaman pengganggu (gulma) seperti alang-alang, rerumputan, eceng gondok, dll. Contoh ammonium sulfonat dan pentaklorofenol.

Herbisida (dari bahasa Inggris herbicide) adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil (gulma). Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis atau dua jenis tanaman pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh di lahan tersebut. Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah, perolehan cahaya matahari, dan atau keluarnya substansi alelopatik, tumbuhan lain ini tidak diinginkan keberadaannya.

Dua tipe herbisida menurut aplikasinya

Terdapat dua tipe herbisida menurut aplikasinya: herbisida pratumbuh (preemergence herbicide) dan herbisida pascatumbuh (postemergence herbicide). Yang pertama disebarkan pada lahan setelah diolah namun sebelum benih ditebar (atau segera setelah benih ditebar). Biasanya herbisida jenis ini bersifat nonselektif, yang berarti membunuh semua tumbuhan yang ada. Yang kedua diberikan setelah benih memunculkan daun pertamanya. Herbisida jenis ini harus selektif, dalam arti tidak mengganggu tumbuhan pokoknya.

Cara kerja herbisida

Pada umumnya herbisida bekerja dengan mengganggu proses anabolisme senyawa penting seperti pati, asam lemak atau asam amino melalui kompetisi dengan senyawa yang “normal” dalam proses tersebut. Herbisida menjadi kompetitor karena memiliki struktur yang mirip dan menjadi kosubstrat yang dikenali oleh enzim yang menjadi sasarannya. Cara kerja lain adalah dengan mengganggu keseimbangan produksi bahan-bahan kimia yang diperlukan tumbuhan. Contoh:

  • glifosat (dari Monsanto) mengganggu sintesis asam amino aromatik karena berkompetisi dengan fosfoenol piruvat
  • fosfinositrin  mengganggu asimilasi nitrat dan amonium karena menjadi substrat dari enzim glutamin sintase.

Rekayasa genetika dan herbisida

Sejumlah produsen herbisida mendanai pembuatan tanaman transgenik yang tahan terhadap herbisida. Dengan demikian penggunaan herbisida dapat diperluas pada tanaman produksi tersebut. Usaha ini dapat menekan biaya produksi dalam pertanian berskala besar dengan mekanisasi. Contoh tanaman tahan herbisida yang telah dikembangkan adalah raps (kanola), jagung, kapas, padi, kentang, kedelai, dan bit gula.

B. Berdasarkan bahan aktifnya, pestisida dibagi menjadi 3 jenis yaitu:

  • Pestisida organik (Organic pesticide)

Pestisida yang bahan aktifnya adalah bahan organik yang berasal dari bagian tanaman atau binatang, misal : neem oil yang berasal dari pohon mimba (neem).

Fungsi dari Pestisida Organik :

Pestisida Organik memiliki beberapa fungsi, antara lain:

  1. Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang menyengat
  2. Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot.
  3. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa
  4. Menghambat reproduksi serangga betina
  5. Racun syaraf
  6. Mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga
  7. Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga
  8. Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri.

Bahan dan Cara Umum Pengolahan Pestisida Organik :

·         Bahan mentah berbentuk tepung (nimbi, kunyit, dll)

  • Ekstrak tanaman/resin dengan mengambil cairan metabolit sekunder dari bagian tanaman tertentu
  • Bagian tanaman dibakar untuk diambil abunya dan dipakai sebagai insektisida (serai, tembelekan/Lantana camara)
  • Pestisida elemen (Elemental pesticide)

pestisida yang bahan aktifnya berasal dari alam seperti: sulfur.

  • Pestisida kimia/sintetis (Syntetic pesticide)

pestisida yang berasal dari campuran bahan-bahan kimia.

C. Berdasarkan cara kerjanya, pestisida dibagi menjadi 2 jenis yaitu :

  • Pestisida sistemik (Systemic Pesticide)
    Adalah pestisida yang diserap dan dialirkan keseluruh bagian tanaman sehingga akan menjadi racun bagi hama yang memakannya. Kelebihannya tidak hilang karena disiram. Kelemahannya, ada bagian tanaman yang dimakan hama agar pestisida ini bekerja. Pestisida ini untuk mencegah tanaman dari serangan hama.
    Contoh : Neem oil.
  • Pestisida kontak langsung (Contact pesticide) :
    adalah pestisida yang reaksinya akan bekerja bila bersentuhan langsung dengan hama, baik ketika makan ataupun sedang berjalan. Jika hama sudah menyerang lebih baik menggunakan jenis pestisida ini.

D. Berdasarkan nama dan asal katanya, Pestisida dapat digolongkan menjadi bermacam-macam dengan berdasarkan fungsi dan asal katanya. Penggolongan tersebut disajikan sbb.:
* Akarisida, berasal dari kata akari yang dalam bahasa Yunani berarti tungau atau kutu. Akarisida sering juga disebut sebagai mitesida. Fungsinya untuk membunuh tungau atau kutu.
* Algisida, berasal dari kata alga yang dalam bahasa latinnya berarti ganggang laut. Berfungsi untuk melawan alge.
* Avisida, berasal dari kata avis yang dalam bahasa latinnya berarti burung. Berfungsi sebagai pembunuh atau zat penolak burung serta pengontrol populasi burung.
* Bakterisida, berasal dari kata latin bacterium atau kata Yunani bacron. Berfungsi untuk melawan bakteri.
* Fungisida, berasal dari kata latin fungus atau kata Yunani spongos yang berarti jamur. Berfungsi untuk membunuh jamur atau cendawan.
* Herbisida, berasal dari kata latin herba yang berarti tanaman setahun. Berfungsi membunuh gulma (tumbuhan pengganggu).
* Insektisida, berasal dari kata latin insectum yang berarti potongan, keratan atau segmen tubuh. Berfungsi untuk membunuh serangga.
* Larvisida, berasal dari kata Yunani lar. Berfungsi untuk membunuh ulat atau larva.
* Molluksisida, berasal dari kata Yunani molluscus yang berarti berselubung tipis lembek. Berfungsi untuk membunuh siput.
* Nematisida, berasal dari kata latin nematoda atau bahasa Yunani nema yang berarti benang. Berfungsi untuk membunuh nematoda (semacam cacing yang hidup di akar).
* Ovisida, berasal dari kata latin ovum yang berarti telur. Berfungsi untuk membunuh telur.
* Pedukulisida, berasal dari kata latin pedis berarti kutu, tuma. Berfungsi untuk membunuh kutu atau tuma.
* Piscisida, berasal dari kata Yunani piscis yang berarti ikan. Berfungsi untuk membunuh ikan.
* Rodentisida, berasal dari kata Yunani rodera yang berarti pengerat. Berfungsi untuk membunuh binatang pengerat, seperti tikus.
* Predisida, berasal dari kata Yunani praeda yang berarti pemangsa. Berfungsi untuk membunuh pemangsa (predator).
* Silvisida, berasal dari kata latin silva yang berarti hutan. Berfungsi untuk membunuh pohon.
* Termisida, berasal dari kata Yunani termes yang berarti serangga pelubang daun. Berfungsi untuk membunuh rayap.

Berikut ini beberapa bahan kimia yang termasuk pestisida, namun namanya tidak menggunakan akhiran sida:
* Atraktan, zat kimia yang baunya dapat menyebabkan serangga menjadi tertarik. Sehingga dapat digunakan sebagai penarik serangga dan menangkapnya dengan perangkap.
* Kemosterilan, zat yang berfungsi untuk mensterilkan serangga atau hewan bertulang belakang.
* Defoliant, zat yang dipergunakan untuk menggugurkan daun supaya memudahkan panen, digunakan pada tanaman kapas dan kedelai.
* Desiccant. zat yang digunakan untuk mengeringkan daun atau bagian tanaman lainnya.
* Disinfektan, zat yang digunakan untuk membasmi atau menginaktifkan mikroorganisme.
* Zat pengatur tumbuh. Zat yang dapat memperlambat, mempercepat dan menghentikan pertumbuhan tanaman.
* Repellent, zat yang berfungsi sebagai penolak atau penghalau serangga atau hama yang lainnya. Contohnya kamper untuk penolak kutu, minyak sereb untuk penolak nyamuk.
* Sterilan tanah, zat yang berfungsi untuk mensterilkan tanah dari jasad renik atau biji gulma.
* Pengawet kayu, biasanya digunakan pentaclilorophenol (PCP).
* Stiker, zat yang berguna sebagai perekat pestisida supaya tahan terhadap angin dan hujan.
* Surfaktan dan agen penyebar, zat untuk meratakan pestisida pada permukaan daun.
* Inhibitor, zat untuk menekan pertumbuhan batang dan tunas.
* Stimulan tanaman, zat yang berfungsi untuk menguatkan pertumbuhan dan memastikan terjadinya buah.

 

2.3 Formulasi Pestisida

Pestisida sebelum digunakan harus diformulasi terlebih dahulu. Pestisida dalam bentuk murni biasanya diproduksi oleh pabrik bahan dasar, kemudian dapat diformulasi sendiri atau dikirim ke formulator lain. Oleh formulator baru diberi nama. Berikut ini beberapa formulasi pestisida yang sering dijumpai:

1. Cairan emulsi (emulsifiable concentrates/emulsible concentrates)
Pestisida yang berformulasi cairan emulsi meliputi pestisida yang di belakang nama dagang diikuti oleb singkatan ES (emulsifiable solution), WSC (water soluble concentrate). B (emulsifiable) dan S (solution). Biasanya di muka singkatan tersebut tercantum angka yang menunjukkan besarnya persentase bahan aktif. Bila angka tersebut lebih dari 90 persen berarti pestisida tersebut tergolong murni. Komposisi pestisida cair biasanya terdiri dari tiga komponen, yaitu bahan aktif, pelarut serta bahan perata. Pestisida golongan ini disebut bentuk cairan emulsi karena berupa cairan pekat yang dapat dicampur dengan air dan akan membentuk emulsi.

2. Butiran (granulars)
Formulasi butiran biasanya hanya digunakan pada bidang pertanian sebagai insektisida sistemik. Dapat digunakan bersamaan waktu tanam untuk melindungi tanaman pada umur awal. Komposisi pestisida butiran biasanya terdiri atas bahan aktif, bahan pembawa yang terdiri atas talek dan kuarsa serta bahan perekat. Komposisi bahan aktif biasanya berkisar 2-25 persen, dengan ukuran butiran 20-80 mesh. Aplikasi pestisida butiran lebih mudah bila dibanding dengan formulasi lain. Pestisida formulasi butiran di belakang nama dagang biasanya tercantum singkatan G atau WDG (water dispersible granule).

3. Debu (dust)
Komposisi pestisida formulasi debu ini biasanya terdiri atas bahan aktif dan zat pembawa seperti talek. Dalam bidang pertanian pestisida formulasi debu ini kurang banyak digunakan, karena kurang efisien. Hanya berkisar 10-40 persen saja apabila pestisida formulasi debu ini diaplikasikan dapat mengenai sasaran (tanaman).

4. Tepung (powder)
Komposisi pestisida formulasi tepung pada umumnya terdiri atas bahan aktif dan bahan pembawa seperti tanah hat atau talek (biasanya 50-75 persen). Untuk mengenal pestisida formulasi tepung, biasanya di belakang nama dagang tercantum singkatan WP (wettable powder) atau WSP (water soluble powder).

5. Oli (oil)
Pestisida formulasi oli biasanya dapat dikenal dengan singkatan SCO (solluble concentrate in oil). Biasanya dicampur dengan larutan minyak seperti xilen, karosen atau aminoester. Dapat digunakan seperti penyemprotan ULV (ultra low volume) dengan menggunakan atomizer. Formulasi ini sering digunakan pada tanaman kapas.
6. Fumigansia (fumigant)
Pestisida ini berupa zat kimia yang dapat menghasilkan uap, gas, bau, asap yang berfungsi untuk membunuh hama. Biasanya digunakan di gudang penyimpanan.

2.4 Cara Penggunaan Pestisida
Cara penggunaan pestisida yang tepat merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan pengendalian hama. Walaupun jenis obatnya manjur, namun karena penggunaannya tidak benar, maka menyebabkan sia-sianya penyemprotan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida, di antaranya adalah keadaan angin, suhu udara, kelembapan dan curah hujan. Angin yang tenang dan stabil akan mengurangi pelayangan partikel pestisida di udara. Apabila suhu di bagian bawah lebih panas, pestisida akan naik bergerak ke atas. Demikian pula kelembapan yang tinggi akan mempermudah terjadinya hidrolisis partikel pestisida yang menyebabkan kurangnya daya racun. Sedang curah hujan dapat menyebabkan pencucian pestisida, selanjutnya daya kerja pestisida berkurang.

Hal-hal teknis yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida adalah ketepatan penentuan dosis. Dosis yang terlalu tinggi akan menyebabkan pemborosan pestisida, di samping merusak lingkungan. Dosis yang terlalu rendah menyebabkan hama sasaran tidak mati. Di samping berakibat mempercepat timbulnya resistensi.

1. Dosis pestisida
Dosis adalah jumlah pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk mengendalikan hama tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan dalam satu kali aplikasi atau lebih. Ada pula yang mengartikan dosis adalah jumlah pestisida yang telah dicampur atau diencerkan dengan air yang digunakan untuk menyemprot hama dengan satuan luas tertentu. Dosis bahan aktif adalah jumlah bahan aktif pestisida yang dibutuhkan untuk keperluan satuan luas atau satuan volume larutan. Besarnya suatu dosis pestisida biasanya tercantum dalam label pestisida.

2. Konsentrasi pestisida
Ada tiga macam konsentrasi yang perlu diperhatikan dalam hal penggunaan pestisida :

a. Konsentrasi bahan aktif, yaitu persentase bahan aktif suatu pestisida dalam larutan yang sudah dicampur dengan air.

b. Konsentrasi formulasi, yaitu banyaknya pestisida dalam cc atau gram setiap liter air.

  1. Konsentrasi larutan atau konsentrasi pestisida, yaitu persentase kandungan pestisida dalam suatu larutan jadi.

3. Alat semprot
Alat untuk aplikasi pestisida terdiri atas bermacam-macam seperti knapsack sprayer (high volume) biasanya dengan volume larutan konsentrasi sekitar 500 liter. Mist blower (low volume) biasanya dengan volume larutan konsentrasi sekitar 100 liter. Dan Atomizer (ultra low volume) biasanya kurang dari 5 liter.

4. Ukuran droplet
Ada bermacam-macam ukuran droplet:Veri coarse spray lebih 300 µm, Coarsespray 400-500 µm, Medium spray 250-400 µm, Fine spray 100-250 µm,Mist 50-100 µm, Aerosol 0,1-50 µm,Fog 5-15 µm.

5. Ukuran partikel
Ada bermacam-macam ukuran partikel:Macrogranules lebih 300 µm, Microgranules 100-300 µm, Coarse dusts 44-100 µm, Fine dusts kurang 44 µm, Smoke 0,001-0,1 µm.

6. Ukuran molekul hanya ada satu macam, yatu kurang 0,001 µm

2.5 Batas Residu Pestisida

Penggunaan pestisida dalam proses produksi pertanian dapat mengakibatkan terdapatnya residu pestisida pada hasil pertanian. Residu itu dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan masyarakat. Oleh karena itu untuk mencegah dan melindungi kesehatan masyarakat dari kemungkinan terjadinya bahaya pestisida, maka perlu ditetapkan batas maksimum residu (BMR) pestisida pada hasil pertanian atau biasa disebut BMR.

Untuk mengikuti perkembangan penggunaan atau aplikasi pestisida, pemerintah dalam hal ini Departemen Pertanian telah Membentuk Kelompok Kerja Batas Maksimum Residu Pestisida. Tugas Kelompok Kerja tersebut adalah:

1)  Melakukan evaluasi dan menyusun kembali ketetapan batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian;

2) Merumuskan standar dan metode kegiatan-kegiatan penelitian untuk   penentuan batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian;

3) Menyusun usulan tentang mekanisme dan prosedur penerapan batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian;

4) Melakukan inventarisasi, evaluasi dan rekomendasi mengenai jaringan nasional lembaga pengujian dan sertifikasi residu pestisida pada hasil pertanian.

Standar Codex tentang residu pestisida menyatakan bahwa Batas Maksimum Residu pestisida (BMR) adalah konsentrasi maksimum residu pestisida (dalam mg/kg), yang direkomendasikan oleh Codex Allimentarius Commission untuk diijinkan terdapat pada komoditi pertanian termasuk pakan ternak. Dalam penetapan BMR harus didukung dengan data yang berdasarkan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan/ Scientific evidence dan mengutamakan keamanan dan kesehatan pada manusia. BMR ditetapkan melalui Joint FAO/WHO Meeting on Pesticide Residues (JMPR) yang bersidang setiap dua tahunnya untuk menentukan level residu yang dapat ditoleransi toxisitasnya.

Menurut JMPR maka Batas Maksimum Residu pestisida diestimasikan berdasarkan asesmen (kemungkinan) resiko residu pestisida seperti : pertama, asesmen toksikologik terhadap pestisida dan residu pestisida dalam pangan yang berasal dari komoditas pertanian dengan tujuan menetapkan BMR yang dapat diterima secara toksikologik, baik toksisitas kronik (asupan per hari yang dapat diterima/ ADI dan akut ( dosis referensi/ RfD)

Kedua, asessmen paparan residu pestisida di lahan produksi komoditas pertanian melalui review data residu pestisida yang berasal dari data percobaan residu. Ketiga, pestisida tersupervisi (supervised pesticide residue trial) dengan cara aplikasi pestisida menurut panduan nasional cara berbudidaya yang baik dan benar/Good Agricultural Practices agar dapat merefleksikan praktek penggunaan pestisida secara nasional.
Data yang direview termasuk data percobaan residu pestisida tersupervisi dengan dosis aplikasi tertinggi yang direkomendasikan secara nasional. Di samping tingkat residu pestisida terestimasi dari berbagai bahan pangan penyusun pola diet pada tingkat internasional dibandingkan terhadap asupan per hari yang dapat diterima (ADI) atau dosis referensi (RfD). Sehingga BMR ditetapkan apabila perbandingan antara rekomendasi nasional dengan ADI/ RfD menunjukkan aman untuk dikonsumsi masyarakat.

2.6 Efek Penggunaan Pestisida

Penggunaan pestisida telah menimbulkan dampak negatif, baik itu bagi kesehatan manusia maupun bagi kelestarian lingkungan. Dampak negatif ini akan terus terjadi seandainya kita tidak hati-hati dalam memilih jenis dan cara penggunaannya. Adapun dampak negatif yang mungkin terjadi akibat penggunaan pestisida diantaranya :

  1. Tanaman yang diberi pestisida dapat menyerap pestisida yang kemudian terdistribusi ke dalam akar, batang, daun, dan buah. Pestisida yang sukar terurai akan berkumpul pada hewan pemakan tumbuhan tersebut termasuk manusia. Secara tidak langsung dan tidak sengaja, tubuh mahluk hidup itu telah tercemar pestisida. Bila seorang ibu menyusui memakan makanan dari tumbuhan yang telah tercemar pestisida maka bayi yang disusui menanggung resiko yang lebih besar untuk teracuni oleh pestisida tersebut daripada sang ibu. Zat beracun ini akan pindah ke tubuh bayi lewat air susu yang diberikan. Dan kemudian racun ini akan terkumpul dalam tubuh bayi (bioakumulasi).
  1. Pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran air dan masuk ke dalam sistem biota air (kehidupan air). Konsentrasi pestisida yang tinggi dalam air dapat membunuh organisme air diantaranya ikan dan udang. Sementara dalam kadar rendah dapat meracuni organisme kecil seperti plankton. Bila plankton ini termakan oleh ikan maka ia akan terakumulasi dalam tubuh ikan. Tentu saja akan sangat berbahaya bila ikan tersebut termakan oleh burung-burung atau manusia. Salah satu kasus yang pernah terjadi adalah turunnya populasi burung pelikan coklat dan burung kasa dari daerah Artika sampai daerah Antartika. Setelah diteliti ternyata burung-burung tersebut banyak yang tercemar oleh pestisida organiklor yang menjadi penyebab rusaknya dinding telur burung itu sehingga gagal ketika dierami. Bila dibiarkan terus tentu saja perkembangbiakan burung itu akan terhenti, dan akhirnya jenis burung itu akan punah.
  1. Ada kemungkinan munculnya hama spesies baru yang tahan terhadap takaran pestisida yang diterapkan. Hama ini baru musnah bila takaran pestisida diperbesar jumlahnya. Akibatnya, jelas akan mempercepat dan memperbesar tingkat pencemaran pestisida pada mahluk hidup dan lingkungan kehidupan, tidak terkecuali manusia yang menjadi pelaku utamanya.

 

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit????

Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan???
Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek?????

Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah?????

Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462

INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com

TERIMA KASIH DAN SALAM SUKSES

05/31/2010 Posted by | Ekologi Tumbuhan | 22 Komentar

EVOLUSI, TEORI EVOLUSI, DAN TEORI DARWIN

EVOLUSI, TEORI EVOLUSI, DAN TEORI DARWIN1

Oleh: Drs. Abdul Gafur, M.Si.

Program Studi Biologi FMIPA Unlam

Sejak dipopulerkan oleh Darwin satu setengah abad yang lalu, konsep evolusi telah berkembang menjadi konsep yang kompleks. Sebagai salah satu pemikiran yang paling mengguncang dunia, gagasan tentang evolusi mendapat tantangan hebat, di samping penganut yang kuat. Namun bagaimanapun juga, pemahaman yang benar mengenai apa yang dimaksud dengan evolusi, dan beberapa istilah serta konsep yang terkait, perlu sekali dimiliki oleh siapa saja sebelum ia memutuskan untuk mengikuti atau menentangnya.

Evolusi sebagai Fakta

Secara umum istilah ‘evolusi’ bermakna :

  • A gradual process in which something changes into a different and usually more complex or better form2.
  • Perubahan (pertumbuhan, perkembangan) secara berangsur-angsur dan perlahan-lahan (sedikit demi sedikit)”3.

Dalam konteks biologi, evolusi dimaksudkan sebagai ‘evolusi makhluk hidup, evolusi biologis, atau evolusi organik’ untuk menyatakan bahwa yang mengalami perubahan itu adalah makhluk hidup. Jadi, pada intinya dalam kata ‘evolusi’ terkandung makna proses perubahan. Dengan demikian, evolusi adalah peristiwa atau kejadian.

Apakah kejadian atau peristiwa itu memang benar-benar terjadi? Untuk itu diperlukan bukti. Begitu pula dengan evolusi. Jika evolusi (proses perubahan) itu memang terjadi, apa buktinya? Dikemukakanlah bukti-bukti evolusi yang pada dasarnya ingin menunjukkan bahwa perubahan itu memang benar-benar terjadi.

Peristiwa evolusi tidak dapat diamati secara langsung. Apa yang dikatakan sebagai ‘bukti evolusi’ selama ini sebenarnya hanyalah bukti inferensian. Dalam hal ini, ada sejumlah gejala atau fakta dianggap dapat membuktikan adanya evolusi karena hanya dapat dijelaskan dengan memuaskan berdasarkan konsep evolusi. Sudah barang tentu pembuktian seperti itu bersifat tentatif. Suatu penjelasan untuk sementara dianggap benar selama belum ada penjelasan lain yang lebih mampu menjelaskan suatu gejala secara lebih memuaskan.

Evolusi sebagai Teori

Teori adalah “Systematically organized knowledge applicable in a relatively wide variety of circumstances, especially a system of assumptions, accepted principles, and rules of procedure devised to analyze, predict, or otherwise explain the nature or behavior of a specified set of phenomena4. Jika fenomenanya adalah gravitasi, teori yang dipergunakan untuk menjelaskannya disebut teori gravitasi. Begitu pula, teori untuk menjelaskan kejadian perubahan makhluk hidup (evolusi) dikenal sebagai ‘teori evolusi’.

Jadi, teori evolusi dimaksudkan sebagai penjelasan tentang bagaimana evolusi itu terjadi (mekanisme evolusi). Bisa terjadi ada beberapa penjelasan yang diberikan mengenai suatu fenomena. Mengenai evolusi, pada abad ke-19 Lamarck memberikan penjelasan bagaimana evolusi itu terjadi, yang dikenal sebagai teori evolusi Lamarck atau teori Lamarck. Penjelasan yang diberikan oleh Lamarck itu kemudian dianggap tidak benar karena ada penjelasan lain yang dipandang lebih memuaskan, terutama yang diberikan oleh Darwin dan dikenal sebagai teori evolusi Darwin atau teori Darwin.

Selain sebagai penjelasan tentang evolusi, teori evolusi bisa juga dimaksudkan sebagai teori yang menyatakan bahwa ada ada kekerabatan di antara organisme (Panchen, 1992) atau ada perubahan dan diversifikasi makhluk hidup. Dalam hal ini teori evolusi merupakan penjelasan terhadap berbagai fenomena yang kemudian ditunjuk sebagai bukti evolusi.

Darwin dan Evolusi

Ada dua macam sumbangsih Darwin yang berkaitan dengan evolusi. Yang pertama adalah ia menyajikan sejumlah besar fakta sebagai bukti evolusi. Yang kedua, ia memberikan penjelasan mengenai mekanisme evolusi, yang dikenal sebagai teori Darwin.

Mayr5 membedah paradigma evolusioner Darwin menjadi lima teori utama yang menjadi dasar dari pemikiran tentang evolusi:

  1. Evolusi itu sendiri. Teori ini menyatakan bahwa dunia tidaklah konstan atau baru saja tercipta dan tidak pula bersiklus (melingkar), melainkan terus berubah, dan bahwa organisme mengalami transformasi (perubahan) dalam perjalanan waktu.
  2. Asal usul yang sama (common descent). Teori ini menyatakan bahwa setiap kelompok organisme diturunkan (berasal) dari moyang yang sama, dan bahwa semua kelompok organisme akhirnya dirunut balik ke satu asal kehidupan di bumi.
  3. Perbanyakan spesies. Teori ini menjelaskan tentang asal mula keanekaragaman makhluk hidup yang amat besar, melalui perpecahan menjadi spesies-spesies anak ataupun ‘pertunasan’, yaitu terbentuknya populasi pendiri yang terisolasi geografis dan akhirnya berkembang menjadi spesies baru.
  4. Gradualisme. Menurut teori ini perubahan evolusioner terjadi melalui perubahan populasi secara bertahap, bukan dengan dihasilkannya individu baru secara mendadak yang merupakan tipe baru.
  5. Seleksi alami (Natural Selection). Menurut teori ini perubahan evolusioner tercapai melalui produksi berlimpah variasi di setiap generasi. Sedikit individu yang bertahan hidup, berkat karakter-karakter terwariskan yang lebih adaptif, menurunkan generasi selanjutnya.

Inti dari teori evolusi Darwin adalah bahwa evolusi terjadi melalui seleksi alami. Gagasannya itu lahir melalui penalaran induktif dan deduktif. Prosesnya diikhtisarkan sbb6.

    • Pengamatan 1: Kecenderungan populasi untuk bertambah besar, dengan peningkatan secara geometrik, karena potensi reproduksi organisme yang sangat tinggi.
    • Pengamatan 2: Kenyataannya, jumlah individu dalam populasi kurang lebih konstan.
    • Kesimpulan 1 : Adanya ‘struggle for existence’ alias ‘struggle for survival
    • Pengamatan 3 : Organisme bervariasi.
    • Kesimpulan 2 : Adanya ‘natural selection’ alias ‘survival of the fittest’.

Mengenai variasi, Darwin menekankan pentingnya variasi yang terwariskan dengan mengatakan “… any variation which is not inherited is unimportant for us7.”. Kemudian, mengenai seleksi alami Darwin sejak semula mengemukakan bahwa “… natural selection has been the main, but not the exclusive, means of modification.”8

Kelemahan paling serius dari penjelasan Darwin berpangkal dari ketidaktahuannya tentang hereditas (pewarisan sifat). Teori yang diajukannya mengenai pewarisan sifat ini terbukti sama sekali keliru.

Sintesis Modern

Umumnya biologiwan sekarang mengakui bahwa evolusi adalah fakta. Karena itu, istilah ‘teori’ dalam hal ini dipandang tidak cocok lagi, kecuali untuk menyebut berbagai model yang mencoba menjelaskan bagaimana evolusi itu berlangsung. Diskusi panjang lebar di kalangan biologiwan sekarang hanya mengenai mekanismenya.

Sejak abad ke-20 genetika dan biologi populasi menyisip ke dalam kajian evolusi. Teori Darwin tentang seleksi alami tidak lagi dipandang sebagai teori terbaik tentang mekanisme evolusi. Gagasan sekarang tentang evolusi biasanya disebut sebagai Modern Synthesis (Sintesis Modern) yang mencakup mekanisme selain seleksi alami. Evolusi menjadi didefinisikan sebagai perubahan komposisi genetik (frekuensi alel di dalam kumpulan gen) suatu populasi dari generasi ke generasi. Ketika biologiwan berkata ia telah mengamati evolusi, maksudnya ia telah mendeteksi adanya perubahan dalam frekuensi gen di dalam suatu populasi. Sering adanya perubahan frekuensi gen itu diinferensikan dari perubahan fenotipe yang dapat diwariskan (Moran, 1997b).

Futuyma (1986) menguraikan prinsip utama Sintesis Modern sebagai berikut.

  1. Populasi mengandung variasi genetik yang muncul melalui mutasi acak (artinya tidak terarah secara adaptif) dan rekombinasi.
  2. Populasi berevolusi dengan perubahan-perubahan dalam frekuensi gen akibat random genetic drift, gene flow, dan khususnya seleksi alami.
  3. Sebagian besar varian genetik mempunyai pengaruh fenotipe yang kecil sehingga perubahan fenotipe terjadi bertahap.
  4. Diversifikasi terjadi melalui spesiasi, yang normalnya melibatkan berkembangnya secara bertahap isolasi reproduksi di antara populasi-populasi.
  5. Proses-proses tersebut, yang terus berlangsung dengan cukup lama, membuahkan perubahan-perubahan yang cukup besar untuk membenarkan ditetapkannya taraf-taraf taksonomik yang lebih tinggi (genus, famili, dst.)

Ada dua macam evolusi: mikroevolusi dan makroevolusi. Perubahan di dalam populasi, yang hanya berupa perubahan frekuensi alel, disebut mikroevolusi. Perubahan yang lebih besar, misalnya yang menyebabkan terbentuknya spesies baru, disebut makroevolusi. Sebagian evolusionis berpendapat bahwa makroevolusi hanyalah kumpulan mikroevolusi. Sebagian lagi berpendapat bahwa mekanisme makroevolusi berbeda dari perubahan mikroevolusi. Punctuated equillibrium adalah salah satu teori yang diajukan untuk menjelaskan mekanisme makroevolusi berdasarkan pola yang terekam dalam catatan fosil.

Seleksi Alami

Seleksi alami dipandang sebagai proses yang mengubah frekuensi gen di dalam populasi. Colby (1997) mendefinisikan seleksi alami sebagai keberhasilan reproduksi yang berlainan di antara kelompok-kelompok varian genetik di dalam kumpulan gen (gene pool). Endler (1992) mendeskripsikan  seleksi alami sebagai proses yang terjadi jika populasi memiliki 3 kondisi:

  1. Variasi di antara individu-individu dalam hal suatu sifat tertentu (variasi fenotip)
  2. Hubungan yang konsisten antara sifat itu dengan kemampuan reproduksi dan kelangsungan hidup (variasi fitness)
  3. Hubungan yang konsisten, untuk sifat itu, antara tetua dan keturunannya; hubungan itu setidaknya secara parsial tidak tergantung pada efek lingkungan (pewarisan sifat)

Apabila ketiga kondisi itu terpenuhi, satu atau dua hal berikut akan terjadi:

  1. Distribusi frekuensi sifat itu akan berbeda di antara kelompok-kelompok umur atau tahap-tahap sejarah-hidup, dan perbedaan itu tidak sesuai dengan yang diramalkan berdasarkan ontogeni (pertumbuhan dan perkembangan).
  2. Apabila populasi tidak dalam keadaan setimbang, distribusi sifat itu di dalam semua keturunan dalam populasi akan berbeda dari distribusinya di dalam semua tetua, tidak sesuai dengan yang diramalkan berdasarkan kondisi (a) dan (c) saja.

Kondisi (a), (b), dan (c) mencakup semua aspek biologi, dan proses (hasil 1 dan 2) murni berasal dari peluang dan statistika.

Seleksi alami dapat dipecah menjadi banyak komponen. Beberapa di antaranya adalah kelangsungan hidup dan dayatarik seksual. Seleksi seksual adalah seleksi alami yang bekerja pada faktor-faktor yang berperan terhadap keberhasilan organisme untuk kawin.

Genetic Drift

Genetic drift adalah perubahan secara kebetulan dalam frekuensi alel suatu kumpulan gen. Meski bisa terjadi pada populasi besar maupun kecil, peristiwa ini terutama terjadi pada populasi yang kecil. Sebagai mekanisme evolusi, genetic drift dipandang setara dengan seleksi alami, malah bisa lebih penting. Mana sebenarnya yang lebih penting di antara keduanya masih diperdebatkan, tetapi setidaknya sebagian tergantung pada ukuran populasi. Di populasi kecil, drift bisa jauh lebih berperan.  Bottleneck effect dan founder effect adalah dua contoh dari proses stokastik tersebut. Sebagai proses acak, genetic drift tidak akan memberikan hasil yang sama pada populasi yang berlainan (Mader, 2001).

Mutasi

Mutasi merupakan bahan mentah evolusi. Peran pentingnya adalah untuk menghasilkan variasi. Mutasi pada dasarnya merupakan kekeliruan dalam penyalinan DNA. Macamnya berupa perubahan kode genetik, penyisipan atau hilangnya suatu gen, dan inversi atau duplikasi gen atau bagian gen. Kebanyakan mutasi dipandang netral dari sudut pandang fitness. Banyak mutasi yang tidak segera memperlihatkan efek pada fenotipe, sehingga tidak terdeteksi. Akan tetapi, kalau mutasi itu sampai menimbulkan efek pada fenotipe, biasanya efeknya merugikan. Hanya sedikit sekali mutasi yang menguntungkan. Nilai adaptif mutasi sepenuhnya tergantung pada kondisi lingkungan.

Sekali alel bermutasi, kombinasi alel-alel tertentu bisa lebih adaptif dari kombinasi yang lain pada kondisi lingkungan tertentu. Fenotipe yang paling cocok baru muncul apabila alel-alel yang tepat dikelompokkan oleh peristiwa rekombinasi.

Gene Flow/Migration

Migrasi gen adalah pergerakan alel di antara populasi-populasi melalui perkawinan individu antarpopulasi.  Individu baru yang masuk ke suatu populasi, lalu kawin di populasi itu, bisa membawa alel baru ke kumpulan gen populasi itu. Dengan demikian, variasi di dalam populasi itu meningkat.

Penutup

Evolusi, teori evolusi, dan teori Darwin adalah tiga hal yang berbeda meskipun berkaitan sangat erat. Evolusi dapat dipandang sebagai fakta dan sebagai teori. Sebagai fakta, evolusi adalah perubahan. Teori evolusi menjelaskan mekanisme perubahan itu. Teori Darwin hanyalah salah satu dari beberapa teori evolusi yang pernah diajukan, dan sekarang telah banyak mengalami penyempurnaan. Menentang teori Darwin belum tentu menentang teori evolusi karena bisa juga berarti mengajukan teori evolusi lain yang lebih baik dari teori evolusi Darwin. Menentang teori evolusi seyogyanya dilakukan dengan memberikan penjelasan (teori) lain yang lebih dapat diterima mengenai berbagai fakta yang selama ini diyakini sebagai bukti evolusi atau fakta yang selama ini dapat dijelaskan berdasarkan konsep evolusi.

Daftar Pustaka

    Appleman, P. (editor). 1970. Darwin. W.W. Norton & Company. New York.
    Colby, C. 1997. Introduction to Evolutionary Biology. Talk. Origins. Archive.
    Endler, J.A. 1992. Natural Selection: Current Usages. Dalam E.F. Keller dan E.A. Lloyd (editor). Keywords in Evolutionary Biology. Harvard University Press. Cambridge.
    Futuyma, D.J. 1986. Evolutionary Biology. Second edition. Sinauer Associates.
    Hanes, J. 1997. What is Darwinism?. Talk. Origins. Archive.
    Mader, S.S. 2001. Biology. Seventh edition. McGraw-Hill. Boston.
    Moran, L. 1997a. The Modern Synthesis of Genetics and Evolution. Talk. Origins. Archive.
    Moran, L. 1997b. What is Evolution?. Talk. Origins. Archive.
    Moran, L. 1997c. Random Genetic Drift. Talk. Origins. Archive.

Moran, L. 1997d. Evolution is a Fact and a Theory. Talk. Origins. Archive.

05/26/2010 Posted by | Evolusi Organik | 4 Komentar

Cestoda

PENDAHULUAN

CACING (Helminths) berasal dari kata “Helmins atau Helminthos (Greek) yang secara umum berarti organisme yang tubuhnya memanjang dan lunak. Didalam Soulsby (1982), cacing yang penting dipelajari untuk kedokteran hewan ada 2 pilum antara lain :

(1) PLATYHELMINTHES dan

(2). NEMAHELMINTHES.

Kestoda filumnya Platyhelminthes dan berbeda dengan Trematoda , karena tidak memiliki rongga badan maupun saluran pencernaan dan semua organ-organ tersimpan didalam jaringan parenkim. Tubuh umumnya panjang, pipih dorso-ventral (atas bawah) berbentuk pita dan tersusun oleh banyak segmen

Morfologi : berukuran panjang dari beberpa melimeter sampai beberapa meter. Secara umum tubuhnya dapat dibedakan menjadi 3 bagian terdiri dari :

(1) SKOLEK (kepala)

(2) KOLUM (leher)

(3) STROBILA (badan)

SKOLEK, umumnya memiliki 4 buah alat penghisap (“sucker” = acetabula”) yang pada beberapa jenis memiliki kait (dipersenjatai) tetapi ada juga yang hanya memiliki 2 buah alat penghisap yang disebut “Bothria” yang terletak dibagian pinggir berfungsi untuk perlekatan. Pada Skolek juga bisa ditemukan bagian yang menonjol disebut ROSTELUM yang pada beberapa jenis juga dilengkapi dengan kait (dipersenjatai), serta fungsinya juga untuk perlekatan. Bentuk Kait sangat bervariasi, tetapi secara umum terdiri dari sebuah tangkai, sebuah prisai dan sebuah mata kait.

KOLUM, ukurannya pendek dan tidak bersegmen, merupakan tempat terbentuknya segmen. Segmen yang baru terbentuk akan mendorong segmen yang terbentuk sebelumnya, sehingga akhirnya terbentuklah strobila.

STROBILA, tersusun oleh banyak SEGMEN dan setiap segmen disebut PROGLOTIDA. Dari awal pembentukan proglotid, semakin kebelakang setiap proglotid telah menjadi semakin matang (mengalami proses pematangan), sehingga pada akhirnya proglotid dapat dibedakan menjadi :

strobila

(a) Proglotid muda adalah proglotid yang baru terbentuk dan alat kelaminnya belum berkembang sempurna

(b) Proglotid dewasa adalah proglotid yang organ kelaminnya sudah berkembang sempurna

(c) Proglotid bunting adalah proglotid yang sudah penuh mengandung telur

Strobila tersusun oleh beberapa segmen yang bentuk dan ukurannya bervariasi pada setiap spesies. Setiap proglotida dilengkapi dengan satu atau dua pasang organ reproduksi (organ kelamin) jantan  dan betina (bersifat hermaprodit). Lubang kelamin (muara kelamin) jantan dan betina biasanya berdekatan dan terletak didalam satu legokan dangkal pada sisi lateral setiap segmen. Pembuahan terjadi inter proglotida, tetapi pembuahan secara antar proglotida tebih umum (terjadi karena pada setiap proglotida testes lebih dahulu berkembang sempurna dibandingkan ovarium sehingga proglotid yang lebih keanterior akan membuahi ovarium yang lebih di posterior.

Jika telur sudah dibuahi pada setiap proglotid, maka organ reproduksinya akan mengalami degenerasi dan tinggallah uterus yang penuh dengan telur . Pada kebanyakan cacing pita, telur tidak keluar, sehingga bertumpuk didalam proglotid dan disebut proglotid bunting. Proglotid bunting kemudian akan pecah atau keluar dari dalam tubuh hospes definitif bersama tinja atau proglotid keluar sendiri secara aktif.

TELUR, awal perkembangan embrional telur sepenuhnya terjadi didalam uterus, sehingga setelah keluar dari dalam uterus telur sudah mengandung embrio berbentuk bulat atau lonjong yang disebut ONKOSFIR (Embriofor) atau KORASIDIUM. Onkosfir atau korasidium didalamnya ditemukan larva yang memiliki 3 pasang kait yang dikenal dengan nama “hexacant embrio”. Telur paling luar dibungkus oleh kapsul, kemudian selaput vitelin, embriofor (egg shell = onchosphere coat.

KULIT, lapisan paling luar dari cacing pita adalah tersusun oleh tegumen (bukan kutikula) karena mempunyai kemampuan yang tinggi untuk menghisap. Cacing pita tidak memiliki saluran pencernaan maupun sistem peredaran darah. Makanan dihisap langsung melalui dinding tubuhnya.

SISTEMA, sitem syaraf teresusun dari beberapa ganglion pada skolek dengan komisura melintang diantaranya, tiga batang syaraf longitudinal pada sitiap sisi tubuh. Sintem sekresi terdiri dari sel api atau selenosit. Sistem reproduksi, bersifat hermaprodit memiliki organ kelamin jantan (testes) dan betina (ovarium) pada setiap proglotid. Testes dan ovarium memiliki saluran yang akhirnya bermuara pada lubang kelamin.

SIKLUS HIDUP, hospes definitif (HD) mengeluarkan proglotid bunting atau dalam bentuk rangkaian segmen secara tersendiri dan atau bersama tinja pada saat defikasi. Proglotid akan hancur (mengalami proses apolysis), sehingga telur berserakan. Telur apabila termakan oleh hospes intermedier (HI) yang sesuai, didalam saluran pencernaannya karena pengaruh sekresi (lambung, usus, hati dan pankreas) Onkosfer tercerna sehingga menyebabkan aktifnya hexacant embrio. Hexacant embrio dengan kaitnya akan menembus dinding usus dan akhirnya bersama aliran darah atau limfe beredar keseluruh tubuh menuju tempat predileksi. Pada tempat predileksi hexacant embrio akan  mengalami perkembangan lebih lanjut menjadi bentuk peralihan (“metacestoda”).

BENTUK PERALIHAN, cacing pita ada beberapa bentuk antara lain :

  1. SISTISERKUS (Kistiserkus = “Cysticercus”) atau cacing gelembung (kista), merupakan kantong besar berisi skolek tunggal yang invaginasi (membalik dari dalam ke arah luar), biasanya ditemukan  pada vertebrata.
  1. SISTISERKOID (Kistiserkoid = “Cysticercoid”), berbentuk kantong kecil yang rongganya hampir tidak ada dan skolek juga tunggal evaginasi (tidak membalik dari dalam ke arah luar), biasanya ditemukan pada invertebrate
  1. STROBILOSERKUS, terdiri dari skolek yang evaginasi dan dihubungkan dengan kantong oleh rangkaian proglotid yang belum dewasa, biasanya ditemukan pada vertebrata.
  1. MULTICEP (Senurus, Coenurus), merupakan kista besar dengan sejumlah skolek invaginasi yang berkembang pada dindingnya, biasanya ditemukan pada vertebrata.
  1. EKINOKOKUS (Kista Hidatida), merupakan kista besar yang berisi kista – kista yang lebih kecil atau kapsula anak, masing-masing memiliki sejumlah skolek invaginasi, biasanya ditemukan pada vertebrata.
  1. TETRATRIDIUM, berbentuk larva memanjang dengan tubuh padat, skolek invaginasi tertanam kedalamnya. Hanya larva stadium 2 dari Mesocestoides memiliki bentuk peralihan ini dan dapat memperbanyak diri secara aseksual.

Jika bentuk peralihan tertelan oleh hospes definitif, karena pengaruh sekresi lambung dan saluran cerna bentuk peralihan akan tercerna dan skoleknya akan bebas dan menempel pada dinding usus dan proses pembentukan segmen segera dimulai.

KLASIFIKASI, dalam menetapkan jenis kestoda oleh ahli sistimatika dan evolusi ada perbedaan, pada bahan ajar ini klasifikasi berdasarkan Soulsby, (1982).

Kestoda dapat dikalsifikasikan menjadi 2 kelas yaitu :

(1) Cotyloda dan

(2) Eucestoda.

Perbedaan Kelas

COTYLODA

Kelas

EUCESTODA

Skolek sendok globuler
Alat perlekatan 2 buah disebut Bothria dan tidak meiliki kait 4 buah disebut Acetabula dan beberapa diantaranya dilengkapi kait
Rostelum Tidak ada Umumnya ada
Telur Onchosfer, setelah keluar tubuh, memerlukan sekali lagi perkembangan shg terbentuk korasidium yang bersilia dan baru akan keluar dari dalam telur dan aktif mencari hospes intermedier Onkosfer, setelah keluar tubuh tidak perlu mengalami perkembangan lagi dan secara pasif harus termakan oleh hospes intermedier
Jumlah HI 2 1

Kelas

COTYLODA

MORFOLOGI, Skolek, berbentuk seperti sendok, memiliki 2 buah alat perlekatan yang berupa celah otot longitudinal disebut Bothria dan tidak memiliki kait, juga tidak memiliki rostelum (4,3). Kolum dan Proglotid sama dengan  pada pendahuluan. Telur : awal perkembangan telur sama sepenuhnya terjadi didalam uterus, hanya saja telur kelas Cotyloda setelah keluar dari dalam usus hospes definitif memerlukan perkembangan embrional sekali lagi sehingga didalam telur terbentuk Korasidium yang memiliki silia

Siklus hidup : memerlukan 2 HI, telur yang memiliki operkulum akan keluar bersama tinja, Korasidium akan keluar dari dalam telur melalui operkulum, karena memiliki silia akan berenang mencari HI.I. Korasidium akan menempel pada bagian lunak dari HI. I, kemudian melepaskan silianya dan menggunakan kaitnya menusuk bagian lunak dan menerobos masuk kedalam tubuh HI.I. Didalam tubuh HI. I, korasidium akan berkembang menjadi Proserkoid. Jika HI. I termakan oleh HI. II maka proserkoid akan berkembang lebih lanjut menjadi Pleroserkoid yang bersifat infektif.   H D akan terinfeksi jika menelan HI. II yang infektif

Catatan : Korasidium akan menempel pada bagian lunak (lembut) dari Hospes Intermedier I, melepaskan silia  dan baru menembus kutikula dan berkembang menjadi Proserkoid. Korasidium akan mati jika 24 setelah keluar dari telur tidak menemukan HI.I.  Berbeda dengan Eucestoda, dimana Onkosfer tidak bisa berenang dan harus dimakan oleh HI.I

Kelas Cotyloda memiliki 4 Ordo, antara lain :

(1) Diphyllidea

(2) Pseudophyllidea

(3) Spathebothriidea dan

(4) Caryophyllaeidea.

Dari ke-4 ordo diatas, hanya satu ordo yang penting untuk kedokteran hewan yaitu Ordo Diphyllidea. Ordo Diphyllidea hanya memiliki satu familia yaitu : Diphyllobothriidae dan memiliki 2 genus antara lain :

(1). Diphyllobothrium dan

(2). Spirometra

Genus

Diphyllobothrium

Spesies. DIPHYLLOBOTHRIUM LATUM

Hospes definitif : berpredileksi didalam usus halus anjing, kucing, carnivora lain dan manusia dan babi.

Morfologi, merupakan cacing pita besar dengan panjang bisa mencapai 15 – 20 meter, serta tersusun oleh 4.000 proglotid dan tumbuh rata-rata 2 cm per hari. Skolek : bentuknya seperti sendok, tidak memiliki rostelum, bothria berjumlah 2 buah yang juga tidak dilengkapi dengan kait. Proglotid : lebarnya lebih panjang dibandingkan panjangnya (panjangnya lebih pendek dibandingkan lebarnya). Organ reproduksinya (testes dan ovarium) tunggal dan lubang kelamin terletak dibagian tengah setiap segmen. Uterusnya melingkar berbentuk roset (seperti bunga mawar). Telur : berbentuk bulat telur, berwarna kekuningan dan mempunyai operkulum berukuran 70 X 45 mikron keluar melalui lubang kelamin. Anjing dan kucing mungkin tidak penting sebagai sumber infeksi, karena kebanyakan telur yang dikeluarkan infertil.

Siklus hidup : HI.I adalah copepoda genus Diaptomus dan HI. II adalah ikan air tawar. Bentuk Peralihan pada HI.I adalah Proserkoid dan pada HI. II Pleroserkoid  Perioda prepaten selama 5 – 6 minggu (1)

Identifikasi : hampir sama dengan Spirometra, bedanya Diphyllobothrium latum uterusnya melingkar berbentuk roset (3)

Catatan : strobila tumbuh rata-rata 2 cm setiap hari, jika cacing bisa hidup selama 10 tahun (umur yang bisa dicapai), maka bisa diprediksi panjang cacing bisa mencapai 7 km dan memproduksi 2 milyar telur (2,4,3).

Genus

Spirometra

Spesies : SPIROMETRA MANSONOIDES

Hospes definitif : berpredileksi didalam usus halus kucing, kadang-kadang anjing, babi dan mamalia lain (3)

Morfologi, merupakan cacing pita relatif kecil sampai berukuran sedang, sedikit berotot dengan bothria yang mempunyai celah lebar tetapi dangkal dan sebuah uterus berbentuk spiral sederhana dan tidak pernah berbentuk roset (3)

Siklus hidup, HI.I Copepoda genus Cyclops dan HI. II di ASIA adalah kelinci, kodok dan burung (1)

Identifikasi : hampir sama dengan Diphylobothrium latum, bedanya Spirometra mansonoides uterusnya melingkar berbentuk spiral (3)

Kelas

EUCESTODA

Skolek berbentuk globuler (menyerupai bola), secara normal memiliki 4 buah alat perlekatan (“sucker, acetabula”) yang terletak dibagian pinggir dan pada beberapa jenis memiliki kait (dipersenjatai). Beberapa jenis cacing, pada skolek juga dapat ditemukan bagian yang menonjol disebut Rostelum yang juga pada beberapa jenis memiliki kait (dipersenjatai) serta fungsinya juga sebagai alat perlekatan (4,3). Bentuk kait sangat bervariasi, tetapi secara umum terdiri dari : sebuah tangkai, sebuah prisai dan sebuah mata kait (6).

Kolum (“neck, leher) , Strobila, bentuk telur dan siklus hidup seperti pada pendahuluan kestoda.

Klasifikasi menurut Sousby, (1982) selengkapnya sebagai berikut : Filum : Platyhelminthes, memiliki 2 kelas penting yaitu (1) Cotyloda dan (2)  Eucestoda. Kelas Eucestoda memiliki 7 ordo antara lain :

(1) Anoplocephalidea

(2) Davaineidea

(3) Dilepididea

(4) Hymenolepididea

(5) Taeniidea

(6) Nesocestoididea dan

(7) Protocephalidea.

Ordo terpenting yang akan dibahas selanjutnya adalah :

(1) Ordo Anaplocephalidea, memiliki 3 Famili dan hanya Familia Anoplocephalidae dengan Genus Moniezia.

(2) Ordo Davaineidea hanya memiliki satu Familia : Danaineidae dengan dua genus 2.1 Davainea dan 2.2. Raillietina.

(3) Ordo Dilepididea memiliki 2 Fanili keduanya penting, 3.1. Dilepididae dengan genus : Amoebotaenia dan 3.2 Dipyllididae dengan Genus 3.2.1 Choanotaenia dan 3.2.2 Dipylidium.

(4) Ordo Hymenolepididea memiliki 2 Famili, keduanya penting: 4.1 Hymenolepididae dengan Genus Hymenolepis dan  4.2 Fimbriariidae dengan Genus Fimbriaria.

(5) Taeniidea hanya memiliki satu Famili Taeniidae dengan genus 5.1.1 Taenia dan 5.1.2 Echinococcus

Ordo ANOPLOCEPHALIDEA

nggota dari ordo Anoplocephalidae merupakan cacing pita besar, berpredileksi didalam usus halus Ruminansia. Skolek : tidak memiliki Rostelum, asetabulanya tidak memiliki kait. Proglotid : lebar segmen lebih panjang dibandingkan panjangnya, setiap proglotid memiliki 2 pasang organ reproduksi dengan 2 lubang kelamin pada setiap sisi lateral segmen (4,5). Telurnya berbentuk segitiga tidak beraturan (5). Bentuk peralihannya adalah Sistiserkoid (3). Dari Ordo Anoplocephalidea, hanya Famili Anoplocephalidae yang terpenting.

Famili ANOPLOCEPHALIDAE

Cacing dewasa berpredileksi didalam usus halus domba, kambing dan sapi (2,3). Memiliki kelenjar Interproglotida yang berbentuk roset (seperti bunga mawar) atau tersusun pendek. Hanya ada satu genus yang terpenting dipelajari untuk kedokteran hewan yaitu Moniezia (4)

Genus MONIEZIA

Spesies Moniezia yang terpenting : (1) M. expansa dan (2). M. benedini. Kunci identifiaksi adalah lebar segmen, letak dan bentuk kelenjar interproglotida

Spesies MONIEZIA EXPANSA

Hospes definitif : paling sering didalam usus domba, kambing dibandingkan sapi (2,3).

Morfologi : cacing bisa mencapai panjang 2 – 6 meter. Skolek : berukuran lebar 0,36 – 0,8 mikron dan yang paling jelas terlihat adalah asetabulanya tidak bersenjata.

Proglotid : dapat mencapai lebar 1,6 cm yang lebih panjang dibandingkan panjangnya, organ reproduksi ganda dan lubang kelamin terlihat opak dengan garis putih keluar pada tepi lateral. Ovarium dan kelenjar vitelin berbentuk melingkar setiap sisi dan testes menyebar diseluruh bagian. Pada setiap batas belakang segmen ditemukan sebaris kelenjar interproglotida berbentuk roset (seperti bunga mawar). Telurnya bentuknya bersudut atau bisa berbentuk segi tiga dengan diameter sekitar 56 – 67 mikron (2,4,3)

Siklus hidup : HI.  berbagai jenis tungau rumput (Oribatid), termasuk genus : Ceratozetes, Galumna, Oribartula, Peloribates, Pergalumna, Protoscheroribates, Scheloribates, Scutovertex dan Zygoribatula. Bentuk peralihannya adalah Sistisercoid (3) terbentuk setelah 1 – 4 minggu (5). Perioda prepaten 6 minggu dan lama hidup cacing selama 3 bulan.

Spesies MONIEZIA BENEDINI

Hospes definitif , berpredileksi di dalam usus halus sapi, domba dan ruminansia dan paling umum pada sapi dibandingkan dengan yang lainnya (3).

Morfologi : hampir sama dengan M. expansa, bedanya M. benedini ukuran proglotid  lebih lebar dengan ukuran 2,6 cm yang lebih panjang dibandingkan panjangnya, kelenjar interproglotida, berupa barisan pendek menutupi pertengahan proglotida dan tidak seperti M. expanza tersusun sebaris disebelah posterior setiap segmen. Telurnya berbentuk segi empat berukuran 75 mikron (4,5,3)

Siklus hidup : HI.  berbagai jenis tungau rumput (Oribatid), termasuk genus : Ceratozetes, Galumna, Oribartula, Peloribates, Pergalumna, Protoscheroribates, Scheloribates, Scutovertex dan Zygoribatula. Bentuk peralihannya adalah Sistisercoid (3) terbentuk setelah 4 minggu. Perioda prepaten 37 – 40 hari  (4)

Ordo DAVAINEIDEA

Merupakan cacaing pita sangat kecil sampai sedang, berpredielksi didalam usus halus unggas. Pada Skolek : ditemukan acetabula yang dipersenjatai dan Rostelumnya retraktil (bisa memanjang dan memendek) serta dipersenjatai kait berbentuk palu dengan jumlah banyak. Proglotid : organ kelamin biasanya tunggal (sepasang). Telur ditemukan didalam kapsula telur dan bentuk peralihannya adalah sistiserkoid (4,3). Ordo Davaineidea, hanya memiliki satu  Familia : Davaineidae

Familia DAVANEIDAE

Cacing dewasa berpredileksi di dalam usus halus mamalia dan burung, Telurnya berada didalam kapsula telur (4), hanya ada 2 Genus yang terpenting : (1) Davainea dan (2) Raillietina

Genus DAVAINEA

Spesies : DAVAINEA PROGLOTINA

Hospes definitive : merupakan cacing pita yang paling patogen, berpredileksi di dalam duodenum ayam, burung merpati dan berbagai burung lainnya (2,4,5,3).

Morfologi : cacing dewasa berukuran mikroskopis (panjangnya 0,5 – 3 mm) hanya memiliki 4 – 9 segmen. Skolek : memiliki Rostelum yang dipersenjatai dengan 4 – 19 kait yang panjang berukuran 7 – 8 mikron tersusun dalam 2 baris. Asetabulanya juga dipersenjatai dengan kait yang berukuran lebih kecil dan mudah lepas tersusun dalam 4 – 5 baris. Organ kelamin tunggal dan lubang genital letaknya teratur selang seling pada setiap segmen. Telurnya berbentuk bulat berdiameter 28 – 40 mikron terbungkus tunggal didalam kapsula telur dan hampir selalu memenuhi parenkim proglotida bunting (2,4,3).

Siklus Hidup : HI adalah siput genus (agrolimax, Arion, Cepoda dan Limax) dan bentuk peralihannya adalah sistiserkoid (4,5,3) terbentuk setelah 2 – 4 minggu, dan cacing akan melepaskan proglotid gravid 2 minggu setelah infeksi (masa prepaten selama 2 minggu) (2,4,3)

Genus

RAILLIETINA

Merupakan cacing pita yang paling umum menginfeksi usus halus ayam. Pada Skolek : ditemukan Rostelum yang dipersenjatai kait berbentuk palu yang tersusun dalam lingkaran ganda. Asetabulanya juga kadang-kadang dipersenjatai dengan kait kecil dan bergenerasi yang tersusun dalam beberapa lingkaran. Proglotid bunting. ditemukan kantong parenkimatosa, masing-masing dengan satu atau beberapa telur (3)

Spesies, ada 4 spesies yang penting antara lain :

(1) Raillietina cesticillus

(2) Raillietina echinobothrida

(3) Raillietina tetragona dan

(4) Raillietina giargiensis (4)

Spesies

RAILLIETINA CESTICELLUS

Hopes definitif : cacing pita yang paling umum menginfeksi usus halus bagian anterior ungas peliharaan (4). Morfologi : panjangnya 4 cm dan jarang sampai 15 cm. Skolek : besar, ditemukan rostelum lebar dipersenjatai 400 – 5000 kait kecil dalam dua baris. Asetabulanya bulat kecil tanpa dipersenjatai (2,3). Proglotid : setiap kapsula telur berisi satu telur dengan diameter 75 – 88 mikron

Siklus hidup : HI. Adalah kumbang tinja, kumbang tanah dan kumbang hitam genus (Amara, Anisotarus, Bradycellus, Calathus, Choeridium, Cratacanthus, Harpalus, Paecilus, Pterostichus, Selenophorus, Stenolaphus, Stenocellus dan Zabrus (4,3). Bentuk peralihannya adalah sistiserkoid terbentuk setelah 20 hari (4)

Spesies

RAILLIETINA ECHINOBOTHRIDA

Hospes definitif: berpredileksi di dalam usus halus ayam dan kalkun (4,3). Morfologi : panjangnya bisa mencapai ukuran lebih dari 25 cm. Pada Skolek ditemukan Rostelum yang dipersenjatai 200 kait berukuran panjang 10 – 13 mikron dalam dua baris. Asetabulanya berbentuk bulat telur dipersenjatai 8 – 10 baris kait yang agak besar dan memiliki garis bagan yang melingkar (2,3). Kolum tidak jelas setelah skolek. Proglotid : setiap kapsula telur berisi 6 – 12 telur. Sering menimbulkan nodula pada tempat melekatnya yaitu pada dinding usus (2).

Siklus hidup : HI adalah semut genus : Pheidole (vinelandica, pallidula) dan Tetramorium (caespitum, semilaeve). Bentuk peralihannya adalah sistisercoid dengan perioda prepaten selama 20 hari (4,3)

Spesies

RAILLIETINA TETRAGONA

Hospes definitif : berpredileksi didalam ½ bagian belakang usus halus ayam, ayam mutiara dan unggas lainnya (3). Morfologi : ukuran panjangnya bisa mencapai lebih dari 25 cm. Skolek : lebih kecil dibandingkan R. echinobothrida, ditemukan Rostelum yang dipersenjatai 100 kait dengan ukuran 6 – 8 mikron dalam satu atau dua baris. Asetabulanya berbentuk bulat telur juga dipersenjatai oleh kait yang mudah lepas dalam 8 – 10 baris yang ukurannya lebih kecil (2,3). Kolum tidak jelas setelah skolek (2). Proglotid : lubang genuital biasanya selalu unilateral (sepihak) dan setiap kapsula telur berisi 6 – 12 telur (4).

Siklus hidup : HI adalah semut dari genus Pheidola dan tetramorium (3). Perioda prepaten pada ayam selama 13 – 31 hari (4). Bentuk peralihannya adalah sistiserkoid

Spesies

RAILLIETINA GEARGIENSIS

Hospes difinitif : berpredileksi pada 1/3 pertengahan usus halus dari kalkun dan tidak menginfeksi ayam. Morfologi : cacing bisa berukuran panjang 38 cm. Pada Skolek ditemukan Rostelum yang dipersenjatai kait berjumlah 220 – 268 kait dengan panjang 17 – 23 mikron yang tersusun dalam 2 baris. Asetabulanya juga dipersenjatai kait dalam 8 – 10 baris dengan panjang 8 – 13 mikron. Proglotid : setiap kapsula telur berisi 8 – 10 telur yang berdiameter 27 – 48 mikron.

Siklus hidup : HI adalah semut Pheidola venelandica, bentuk peralihannya sistiserkoid

Catatan : cacing hanya bisa hidup selama 10 minggu, perioda prepatennya selama 3 minggu. Seekor kumbang bisa mengandung 1.000 sistiserkoid (2)

Ordo DILEPIDIDEA

Ordo Dilepididea memiliki Rostelum retraktil dan biasanya dipersenjatai oleh satu, dua atau banyak kait berbentuk roset dalam beberapa lingkaran. Asetabulanya juga dipersenjatai. Organ reproduksi satu atau dua, uterus berbentuk kantong dan telur keluar bersama kapsula telur atau bersama selaput uterusnya. Cacing dewasa berparasit pada unggas dan mamalia (2,4,3)

Ordo Dilepididea memiliki 2 Famili yang penting antara lain :

(1) Dilepididae dan

(2) Dipyllididae (4)

Famili DILEPIDIDAE

Famili Dilepididae dicirikan dengan uterus bunting berbentuk kantong tranversal (4), memiliki satu Genus : Amoebotaenia dengan Genus : A. sphenoides

Spesies AMOEBOTAENIA SPHENOIDES

Hospes definitif : berpredileksi didalam usus halus ayam atau unggas domestik (4,5,3).

Morfologi : merupakan cacing pita kecil dengan panjang jarang lebih dai 4 mm dan lebar 1 mm, tersusun oleh lebih dari 20 proglotid yang semakin kebelakang semakin melebar di pertengahan tubuh, sehingga cacing terlihat mengarah segi tiga (2,4,5). Pada Skolek ditemukan Rostelum yang dipersenjatai dengan 12 – 14 kait (2). Proglotid : organ kelaminnya tunggal, lubang kelamin biasanya bermuara selang seling tidak menentu pada tepi atas ujung anterior. Uterus berbentuk kantong dan berlobus (2,4). Telur berbentuk bulat dengan diameter lebih dari 42 mikron dengan kulit yang bergranulasi (2).

Siklus hidup : HI adalah cacing tanah genus Allolobophora, Eisenia, Pheretina dan Ocnerodrilus. Bentuk peralihan adalah sistiserkoid berkembang selama 2 minggu dan masa prepatennya sekitar 4 minggu (4,3)

Famili DYPILIDIIDAE

Famili Dypilidiidae dicirikan pada proglotid bunting uterus digantikan dengan kapsula telur yang berisi satu atau banyak telur . Familia ini memiliki 2 ganus antara lain :

(1) Choanotaenia dan

(2) Dipylidium

Genus CHOANOTAENIA

Spesies CHOANOTAENIA INFUNDIBULUM

Hospes definitif : berpredileksi pada ½ bagian anterior usus halus ayam dan kalkun (4, 5,3). Morfologi : tubuh cacing bisa mencapai panjang 23 cm dengan segmen yang nyata sekali perbedaannya, dimana bagian posteriornya lebih lebar dibandingkan dengan yang dianteriornya, sehingga menjadi bentuk yang menciri (karakteristik) dari cacing ini (4,3). Skolek : ditemukan rostelum yang dipersenjatai dengan 16 – 20 kait berbentuk selinder (4). Proglotid : organ kelaminnya tunggal pada setiap segmen, uterusnya berbentuk kantong. Telur berbentuk bulat telur dan memiliki filamen panjang yang jelas (4).

Siklus hidup : HI adalah lalat rumah (Musca domestica) dan berbagai kumbang dari genus (Aphadius, Calathus, Geotrupes dan Tribolium). Bentuk peralihan adalah sistiserkoid (5, 3) terbentuk setelah 3 – 8 minggu dan perioda prepaten selama 3 – 5 minggu (2)

Genus DIPYLIDIUM

Spesies : DIPYLIDIUM CANINUM (Linnaeus, 1758)

Hospes definitif : berpredileksi di dalam usus halus anjing dan kucing, serta kadang-kadang pada manusia (terutama anak-anak (2, 5, 3).

Morfologi : merupakan cacing pita umum  pada anjing dan panjang cacing bisa mencapai lebih dari 50 cm. Skolek : terdapat rostelum retraktil memiliki 3 – 4 baris kait berbentuk roset. Proglotid bunting memiliki tanda yang menciri (karakteristik) berbentuk seperti biji mentimun. Setiap proglotid terdapat dua pasang organ genital dan lubang kelamin dengan jelas terlihat pada setiap sisi lateral. Ovarium dengan glandula vetelina membentuk masa pada salah satu sisi menyerupai gerombolan buah anggur (4). Proglotid bunting akan terlepas keluar melalui anus, bergerak berputar-putar dengan bebas atau melekat pada rambut disekitar anus (3). Telur tersimpan di dalam kantong telur (kapsula) (2)

Identifikasi : panjang tubuh lebih pendek dibandingkan Taenia sp, dengan panjang maksimal 50 cm. Skolek terdapat rostelum yang retraktil yang memiliki kait kecil dalam 4 – 5 baris. Proglotid seperti biji beras (5), mentimun (3) memiliki 2 pasang organ genital dengan sinus genetalis ganda pada masing-masing tepi lateral (5)

Siklus Hidup ; Hospes intermedier adalah pinjal (ctenocephalides canis, Ctenocephalides felis dan fulex irritans) serta kutu Trichodectes canis, bentuk peralihannya adalah sistiserkoid yang ditemukan didalam rongga badan (4,5,3) terbentuk setelah 13 hari. Masa prepaten selama 2 – 3 minggu (2). Sistiserkoid pada pinjal menimbulkan kematian atau menjadi lemah dan lamban, sehingga dengan mudah dimakan oleh anjing (3)

Ordo

HYMENOLEPIDIDEA (Wardle & Radinovsky, 1974)

Cacing pita ordo Hymenolepididea berukuran kecil sampai sedang. Skolek : ditemukan 4 alat penghisap yang tidak bersenjata. Rostelumnya retraktil dipersenjatai kait yang tersusun melingkar. Proglotid : terdapat satu pasang organ genital dan luang genital terletak secara sepihak. Telur : setiap telur sulit dipisahkan didalam membran.

Siklus hidup : hospes intermediernya artropoda dan bentuk peralihannya adalah sistiserkoid. Cacing dewasa menginfeksi burung dan mamalia. Ordo Hymenolipididea memiliki 2 famili yang terpenting :

(1) Hymenolepididae dan

(2) Fimbriariidae (4)

Famili HYMENOLEPIDIDAE (Railliet & Henry, 1909)

Genus HYMENOLEPIS

Anggota dari genus ini sangat kecil, berpredileksi didalam usus halus burung, mamalia kecil dan amnesia (2). Skoleknya : terdapat rostelum yang memiliki kait dalam satu lingkaran, alat penghisapnya tidak memiliki kait. Proglotid : testes berjumlah 3 buah, susunannya bervariasi dan ovariumnya tunggal (3). Sampai saat ini spesies yang penting untuk kedokteran hewan adalah : Hymenolepis carioca dan (2)  Hymenolepis cantaniana

Spesies HYMENOLEPIS CARIOCA & CANTANIANA

Hospes definitif : berpredileksi didalam usus halus ayam, kalkun dan burung lainnya.

Morfologi : tubuhnya lebih lembut dan tembus cahaya merupakan tanda yang menciri (karakteristik) sehingga mudah dibedakan dengan Raillietina sp (2,3). Proglotid : telurnya berbeda setiap spesies, umumnya bulat atau bulat telur dengan diameter maksimal 80 mikron, berwarna kekuningan (2)

Siklus hidup : HI adalah kumbang tinja dan kumbang tepung (genus Aphodius, Cheoridium dan Inisotarsus) dan mungkin juga lalat kandang (3), Milipedes (Fontaria dan Junus), pinjal (Ctenocephalides) dan copepoda (Cyclop) (2), bentuk peralihannya adalah sistiserkoid (3)

Familia FIMBRIARIIDAE

Genus FIMBRIARIA (Frohlich, 1802)

Hanya spesies Fimbriaria fasciolaris (Fallas, 1781) yang terpenting. Predileksi :  berpredileksi didalam usus halus (duodenum) itik, angsa, ayam dan berbagai burung liar. Morfologi : panjangnya 2,5 – 4,2 cm. bagian anterior dari tubuh melipat memanjang disebut “pseudoskoleks’ yang berfungsi sebagai perlekatan (4). Siklus hidup : HI adalah Copepoda (Cyclop dan Diaptomus vulgaris) dan Amfipoda (Hyalella) (2,3)

Ordo TAENIIDEA (Wardle, McLeod & Radinovsky, 1974)

Ordo Taeniidea, cacing pita berukuran besar, tubuhnya tersusun oleh puluhan sampai ratusan segmen. Skolek : kadang-kadang tidak terdapat rostelum, kalau ada rostelumnya tidak retraktil, tetapi biasanya dipersenjatai oleh dua baris kait besar dan kecil (kecuali Taenia saginata tidak mempunyai kait), ditemukan 4 buah alat penghisap (5,1). Proglotid : panjangnya lebih panjang dibandingkan lebarnya, organ reproduksi tunggal (testes menyebar dan ovarium terletak di bagian belakang). Uterusnya terletak median, longitudinal dan lateral diantara percabangan ovarium. Lubang kelamin, tunggal dan terletak selang seling tidak beraturan. Telur dilapisi oleh ampelop atau kapsula (4,1)

Bentuk peralihannya adalah sistiserkus, strobilosercus, coenurus atau hydatida yang hanya ditemukan pada mamalia herbivora dan kadang-kadang pada mausia (4,5,3)

Familia TAENIIDAE (Ludwig, 1886)

Cacing dewasa familia Taeniidae hidup didalam usus halus manusia dan carnivore domestic. Hanya 2 genus yang terpenting dipelajari, dimana yang memiliki panjang sampai beberapa meter dengan ratusan segmen adalah genus Taenia, tetapi yang hanya berukuran panjang beberapa millimeter dan memiliki 3 – 4 segmen adalah genus Echinococcus (2,4)

Genus TAENIA (Linnaeus, 1758)

Setiap spesies dari Taenia secara morfologi sama, dasar identifiaksi adalah jumlah percabangan uterus lateral setiap segmen dewasa serta jumlah dan ukuran kait yang terdapat pada skolek (2)

Spesies TAENIA SAGINATA (Goeze, 1782)

Predileksi : merupakan cacing pita sapi – manusia (bentuk peralihan pada sapi sedangkan cacing dewasanya didalam usus halus manusia). Taenia saginata (sin ; Taeniarhynchus saginata) berukuran panjang bisa mencapai 5 – 10 meter, tetapi pernah dilaporkan lebih dari 15 meter. Skolek : satu satunya jenis Taenia yang tidak dipersenjatai. Proglotid : memiliki percabangan uterus lateral berjumlah 15 – 35 buah. Setiap proglotid bunting tertapat lebih dari 100 telur (2)

Siklus hidup : HI sapi, keledai, ilama, bentuk peralihannya adalah sistiserkus dan berpredileksi pada : jantung, otot rangka, lemak, hati, maseter, diafragma, lidah, seluruh otot (2,4)

Spesies TAENIA SOLIUM

Predileksi : merupakan cacing pita babi – manusia (maksudnya bentuk peralihannya pada otot daging babi, sedangkan cacing dewasanya pada usus halus manusia) (3). Dasar untuk membedakannya dengan Taenia saginata, dimana Taenia solium : skoleknya dipersenjatai oleh 2 baris kait dan proglotid terdapat percabangan uterus lateral berjumlah 7 – 12 buah (2)

Siklus hidup : HI adalah babi, bentuk peralihan adalah sistiserkus terkenal dengan sistiserkus sellulosa, berpredileksi didalam urat daging babi. Sistiserkus berukuran 20 X 10 atau lebih (3)

Spesies TAENIA PISIFORMIS (Bloch, 1990)

Sinonim : TAENIA SERRATA

Predileksi : merupakan cacing pita kelinci – anjing (bentuk peralihan pada kelinci dan cacing dewasanya pada usus halus anjing dan carnivora lainnya) (5,3)

Morfologi : panjang cacing bisa mencapai 2 meter. Skolek : dipersenjatai dengan 34  48 kait dalam 2 baris, kait yang lebih besar berukuran 225 – 294 mikron dan lebih kecil berukuran 132 – 177 mikron. Proglotida : yang bunting berukuran 8 – 10 x 4 – 5 mm, uterus memiliki 9 – 14 percabangan lateral pada setiap sisi. Telur berukuran 43 – 53 X 43 – 45 mikron (4) 36 X 32 mikron (3)

Siklus hidup : HI adalah kelinci dan rodensia liar. Bentuk peralihannya adalah sistisekus fisiformis berbentuk kacang polong dan bergerombol pada hati dan rongga peritoneum (2,5,3)

Spesies TAENIA HYDATIGENA

Predileksi : merupakan cacing pita (biri-biri, domba, sapi, babi) – anjing (bentuk peralihannya ditemukan pada urat daging (biri-biri, domba, sapi, babi) dan cacing dewasanya didalam usus halus anjing, srigala dan karnivora liar (4,5,3)

Morfologi : merupakan cacing pita besar dengan panjang 75 cm sampai lebih dari 5 meter (4,5,3). Skolek : dipersenjatai kait berjumlah 26 – 44 yang tersusun dalam 2 baris, yang besar berukuran 170 – 220 mikron dan yang kecil berukuran 110 – 160 mikron. Proglotid : yang bunting berukuran 10 – 14 X 4 – 7 mm, uterusnya mempunyai 5 – 10 cabang lateral. Telurnya berbentuk bulat panjang dan berukuran 38 – 39 X 34 – 35 mikron (3).

Siklus hidup : bentuk peralihannya adalah sistiserkus tennuicollis, ditemukan didalam hati atau rongga peritoneum (domba, kambing, sapi, babi, tupai) (3). Sistiserkus tenuicollis berukuran lebih dari 6 cm mengandung satu skolek invaginasi dengan leher panjang (4), terbentuk setelah 4 minggu setelah infeksi dengan diameter lebih dari 8 cm (5)

Spesies TAENIA OVIS

Predileksi : merupakan cacing pita (domba – kambing) – anjing (bentuk peralihan ditemukan pada otot domba dan kambing sedangkan cacing dewasanya didalam usus anjing dan carnivora liar) (4,5,3)

Morfologi : panjang tubuh bisa mencapai 1 meter (3), 2 meter (5). Skolek : dipersenjatai dengan 24 – 36 kait yang tersusun dalam 2 baris, kait yang lebih besar berukuran 156 – 188 mikron dan yang lebih kecil berukuran 96 – 128 mikron. Proglotid : percabangan uterus lateral berjumlah 20 – 25 cabang setiap sisi (3) 11 – 20 cabang (4). Telurnya : berukuran 34 X 24 – 28 mikron (3), 19 – 31 X 24 – 26 mikron (4)

Siklus hidup : bentuk peralihan adalah sistisekus ovis berukuran panjang 6 mm ditemukan pada (otot rangka, jantung, hati, diafragma dan maseter) domba dan kambing dan sangat mirip dengan sistiserkus sellulosa pada babi (4,3) mencapai bentuk infektif setelah 46 hari dan perioda prepatennya selama 60 hari (4)

Speseies TAENIA TAENIAFORMIS (Batsch, 1786)

Sinonim : Hydatigera taeniaformis,

Predileksi : didalam usus halus kucing dan carnivore liar (4)

Morfologi : cacing dewasa pajangnya lebih dari 60 cm. Skolek : besar dan yang paling menjolok memiliki 2 baris kait. Proglotid :  memiliki ciri yang karakteristik yaitu tidak memiliki leher dan berbentuk “bell” atau genta dibagian posterior. Uterusnya memiliki 5 – 9 percabangan lateral. Telur berukuran 31 – 36 mikron (4)

Siklus hidup : HI adalah rodensia, bentuk peralihannya adalah sistiserkus fasciolaris yang berpredileksi didalam hati dan terbentuk setelah 30 hari. Setiap hari terbentuk 42 skolek dan strobiloserkus dewasa setelah 60 hari. Perioda prepaten 36 – 42 hari (4)

Spesies TAENIA SERIALIS (Gervais, 1847)

Predileksi : didalam usus halus anjing

Morfologi : cacing dewasa panjangnya 72 cm. Skolek : terdapat 2 baris kait berjumlah 26 – 32 kait, kait yang lebih besar berukuran 135 – 175 mikron dan yang lebih kecil panjangnya 78 – 120 mikron. Proglotid : uterus memiliki 20 – 25 percabangan lateral. Telur : berbentuk bulat panjang (elip) berukuran 31 – 34 X 29 – 30 mikron (4)

Siklus hidup : HI adalah lagomorfis, bentuk peralihannya coenurus berpredielksi didalam (susunan syaraf pusat, jaringan ikat, rongga perut) dsb

Genus ECHINOCOCCUS

Dari genus Echinococcus hanya 2 spesies yang pentinga dipelajari yaitu :

(1) E. granulosus dan

(2). E. multilocularis (2,5,1)

Spesies ECHINOCOCCUS GRANULOSUS

Predileksi : didalam usus halus anjing, srigala, kucing dan carnivore lainnya (2,4,3,1).

Morfologi : ukuran cacing dewasa bisa mencapai panjang 2 – 6 mm, hanya tersusun oleh tiga atau empat segmen (jarang lebih dari enam). Skolek : dipersenjatai 30 – 60 kait yang tersusun dalam 2 baris, kait yang besar panjangnya 33 – 40 mikron sedangkan yang kecil panjangnya 22 – 34 mikron (3). Proglotida : nomor 2 dari belakang merupakan proglotida dewasa dan yang paling belekang adalah proglotida bunting dan biasanya merupakan pertengahan dari tubuh.Ovarium berbentuk ginjal, lubang genital selang-seling tidak teratur dan normalnya terbuka dibagian posterior pertengahan proglotida dewasa atau bunting. Testes berjumlah 45 – 65 buah menyebar ke seluruh bagian (4,3,1) uterus memiliki cabang lateral (4,3). Telur : keluar melalui lubang uterus (sehingga tidak ditemukan proglotid didalam tinja) berukuran 32 – 36 X 25 – 30 mikron (4)

Siklus hidup : HI adalah (kambing, sapi, babi, manusia, kangguru) (2,1). Bentuk peralihan adalah kista hydatida berpredileksi didalam (hati, paru-paru dan kadang-kadang pada organ lain termasuk tulang) (2,3). Kista terbentuk lambat dan setelah beberapa minggu berdiameter 5 – 10 cm dan mengandung 16 liter cairan (4)

Spesies ECHINOCOCCUS MULTILOCULARIS

Predileksi : didalam usus halus rodensia, rubah (paling sering), tetapi juga pernah ditemukan menginfeksi anjing dan carnivora lainnya (5,3).

Morfologi : sangat mirip dengan Echinococcus granulosus, panjangnya 1 – 4 mm (3). Proglotid matang mempunyai 17 – 26 testes yang kesemuanya terletak di sebelah posterior atau setinggi lobang kelamin yang letaknya sedikit keanterior dari pertengahan proglotid (3,1). Uterusnya seperti kantong tanpa cabang lateral (3)

Siklus hidup : bentuk peralihannya adalah kista hydatid ditemukan pada rodensia (terutama voles dan kancil) dan mamalia lain termasuk manusia, berbentuk alveoli-alveoli terdiri dari banyak kista kecil yang saling berhubungan dan berkembang biak dengan cara bertunas eksogen (3)

05/26/2010 Posted by | PARASITOLOGI | 1 Komentar

HAKIKAT BIOLOGI SEBAGAI ILMU

HAKIKAT BIOLOGI SEBAGAI ILMU

Di antara makhluk hidup, manusia memiliki derajat lebih tinggi. Ia memiliki sifat “ingin tahu“ yang berasal dari akal budinya. Kemampuan itu tidak dimiliki makhluk hidup lain (seperti hewan dan tumbuhan). Sifat keingintahuan manusia adalah ingin tahu lebih banyak akan segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya. Sifat ini mendorong manusia untuk melakukan penelitian. Dengan penelitian tersebut, manusia dapat menjawab ketidaktahuan serta mampu memecahkan permasalahan yang dihadapinya.

Seiring dengan perkembangan zaman, sifat keingintahuan manusia semakin berkembang. Hal itu dilakukan dengan cara mempelajari, mengadakan pengamatan dan penyelidikan untuk menambah pengetahuan dan keterampilannya tentang makhluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan serta alam sekitarnya. Ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang makhluk hidup disebut biologi atau ilmu hayat.

Mengapa kita perlu mempelajari ilmu biologi? Apa saja manfaat atau kegunaan kita mempelajari ilmu tersebut? Pelajarilah materi berikut ini dengan baik!

  1. ILMU BIOLOGI

Semua makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan, dan manusia adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Di antara ciptaan-Nya, manusia merupakan makhluk hidup yang paling sempurna karena diberi akal budi. Dengan akal budi, manusia senantiasa memiliki sifat ingin tahu sehingga terciptalah berbagai macam ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, manusia mampu mengubah kehidupan dari zaman prasejarah primitif yang dikenal dengan zaman batu sampai sekarang ini menjadi zaman modern.

Di era globalisasi seperti sekarang ini, ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat yang tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Contohnya, jika terjadi suatu peristiwa di suatu wilayah, misalnya peristiwa perang antara Irak – Amerika Serikat; terjadinya bencana gelombang pasang tsunami di Daerah Istimewa Aceh, maka hanya dalam hitungan menit, bahkan detik peristiwa tersebut dapat segera diketahui pihak di wilayah lain, walaupun dari jarak yang cukup jauh. Begitu juga dengan ilmu biologi yang telah mencapai perkembangan luar biasa karena telah mencapai pengetahuan substansi kehidupan sampai pada tingkat molekuler. Contoh manfaat ilmu biologi pada tingkat molekuler, yaitu peristiwa terjadinya bom Bali. Pada peristiwa itu pelaku peledakan ikut hancur bersama bomnya, maka satu-satunya cara untuk mengetahui identitas pelaku peledakan yaitu hanya dengan menggunakan tes DNA yang terdapat pada tingkat molekuler.

  1. Pengertian Ilmu

Jika manusia merasa lapar, upaya apakah yang akan dilakukan? Dorongan rasa lapar menyebabkan manusia berupaya mencari makanan, yaitu dengan mencoba-coba memakan tumbuhan atau hewan yang ada di sekitarnya. Usaha tersebut terkadang salah dan terkadang benar. Namun, akhirnya dari pengalaman tersebut manusia sudah mampu membedakan antara tumbuhan dan hewan  yang bisa dimakan maupun yang tidak bisa dimakan.

Sumber bahan makanan manusia antara lain berasal dari hewan, misalnya daging sapi, ayam, dan lain-lain. Semula manusia memakannya dengan olahan yang sederhana. Selanjutnya, sejalan dengan perkembangan pemikiran, manusia mulai mencari cara menjadikan makanannya lebih berkualitas, misalnya daging untuk bahan makanan diolah agar menjadi lebih baik kualitasnya, seperti agar lebih lunak, higienis, serta bebas dari kuman penyakit. Bagaimana syarat-syarat itu bisa terpenuhi? Akhirnya manusia menemukan gagasan, yaitu dengan cara menggoreng, merebus, membakar, atau dengan proses yang lain. Peristiwa tersebut merupakan contoh dari awal mula ditemukan ilmu, yaitu dengan cara berpikir sederhana dan dilakukan dengan cara mencoba-coba, sampai selanjutnya mendapatkan pengalaman yang menjadi dasar sebuah pengetahuan.

Seiring dengan perkembangan zaman, pola pikir manusia semakin berkembang pula. Manusia mulai memikirkan tentang alam sekitar berdasarkan rasa keingintahuannya, dengan mengadakan pengamatan dan penyelidikan sehingga ilmu pengetahuan semakin berkembang dengan pesat. Hal ini saling terkait dengan kehidupan masyarakat yang sejalan dengan perkembangan teknologi. Contohnya, penemuan varietas bibit unggul, kawin suntik pada sapi, kelapa hibrida, padi hasil mutasi buatan dari Batan, yaitu padi jenis Atomita yang berguna untuk meningkatkan produksi pangan bagi manusia. Akan tetapi, di sisi lain dengan adanya dengan kemajuan ilmu pengetahuan dapat menimbulkan dampak negatif, seperti timbulnya pencemaran lingkungan.

Anda tentu sudah mengetahui bahwa ilmu pengetahuan merupakan kumpulan konsep, prinsip, hukum, dan teori yang dibentuk melalui serangkaian kegiatan ilmiah. Bagaimana sifat atau ciri suatu ilmu pengetahuan? Suatu pengetahuan dapat disebut sebagai ilmu apabila memenuhi syarat atau ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Memiliki Objek Kajian

Suatu ilmu harus memiliki objek kajian, contoh ilmu matematika memiliki objek kajian berupa angka-angka, ilmu kimia memiliki objek kajian berupa zat-zat beserta sifatnya. Bagaimana dengan objek kajian biologi?

  1. Memiliki Metode

Pengembangan ilmu pengetahuan tidak dapat dilakukan secara asal-asalan, tetapi menggunakan cara atau metode tertentu. Metode yang digunakan itu bersifat baku dan dapat dilakukan oleh siapapun. Metode apakah yang digunakan untuk menemukan kebenaran secara ilmiah? Coba ingatlah kembali pelajaran tentang metode ilmiah yang Anda pelajari di SMP/MTs!

  1. Bersifat Sistematis

Dalam biologi, jika kita akan mempelajari tentang sel, maka materi yang akan kita pelajari perlu mendapat dukungan materi lain, misalnya tentang jaringan, organ, sistem organ, dan individu. Demikian pula sebaliknya, sehingga pengetahuan-pengetahuan itu tidak bertolak belakang. Ilmu pengetahuan bersifat sistematis adalah bahwa sebuah pengetahuan harus memiliki hubungan ketergantungan dan teratur, tidak boleh ada unsur-unsur yang saling bertolak belakang.

  1. Bersifat universal

Apakah yang dimaksud dengan universal? Coba Anda ingat kembali tentang materi reproduksi yang terjadi pada makhluk hidup! Reproduksi seksual selalu dimulai dengan adanya pertemuan antara sperma dan sel telur. Anda pikirkan, apakah hal itu berlaku untuk semua jenis makhluk hidup? Jika benar, berarti ilmu itu berlaku secara umum atau bersifat universal. Jadi, kebenaran yang disampaikan oleh ilmu harus berlaku secara umum.

  1. Bersifat Obyektif

Bagaimana jika ilmu bersifat tidak objektif? Dapatkah ilmu itu dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia? Sebuah ilmu harus menggambarkan keadaan secara apa adanya, yaitu mengandung data dan pernyataan yang sebenarnya (bersifat jujur), bebas dari prasangka, kepentingan, atau kesukaan pribadi.

Saat ini, ilmu biologi sudah mengalami perkembangan yang luar biasa. Telah disebutkan di awal materi bahwa pada saat terjadi peristiwa bom Bali, untuk mengungkap identitas pelaku peledakan bom tidak bisa dilakukan dengan menggunakan sidik jari karena tubuh pelaku peledakan bom juga ikut hancur. Untuk mengetahui identitas pelaku hanya dapat digunakan satu cara, yaitu dengan menggunakan tes DNA yang berasal dari serpihan tubuh pelaku peledakan yang kemudian dicocokkan dengan DNA orang tuanya.

  1. Bersifat Analitis

Ingatlah kembali pelajaran IPA saat Anda belajar di SMP/MTs! Jika ingin mempelajari struktur dan fungsi tumbuhan, maka Anda akan mempelajari bagian-bagian yang lebih rinci, yaitu akar, batang, daun, dan sebagainya. Itulah sebabnya kajian suatu ilmu dapat terbagi-bagi menjadi bagian yang lebih rinci guna memahami berbagai hubungan, sifat, serta peranan dari bagian-bagian tersebut.

  1. Bersifat verifikatif

Suatu ilmu mengarah pada tercapainya suatu kebenaran. Misalnya, teori tentang Generatio Spontanea, menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati yang sudah diyakini kebenarannya, tetapi akhirnya teori itu digugurkan dengan teori Biogenesis, menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup juga. Akhirnya teori ini diyakini kebenarannya sampai sekarang.

Coba Anda pikirkan, apakah suatu konsep yang diperoleh hanya dengan mengira-ngira atau menerka saja dan hasilnya berupa pendapat atau perkiraan dapat juga disebut sebagai ilmu?

  1. Objek Kajian Biologi

Sekarang Anda sudah memahami tentang ilmu pengetahuan beserta sifat-sifatnya. Biologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan. Ilmu biologi sering pula disebut ilmu hayat, yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang makhluk hidup. Ketika mempelajari biologi di SMP/MTs, tentu saja Anda sudah pernah melakukan pengamatan dan melaksanakan eksperimen. Semakin banyak objek yang Anda amati, semakin banyak pula yang dapat Anda eksperimenkan.

Objek kajian biologi meliputi manusia, hewan, tumbuhan, serta mikroorganisme yang dapat dilihat dengan mata telanjang maupun dengan menggunakan bantuan alat, misalnya mikroskop. Jika Anda mengamati dengan mata telanjang, kesan apa yang Anda peroleh dari suatu objek? Anda hanya dapat mengamati tentang warna, bentuk, wujud, serta ukuran objek. Apakah pengamatan tersebut sudah cukup untuk dalam suatu kegiatan ilmu pengetahuan? Tentu saja masih banyak yang harus kita ketahui tentang berbagai hal dari suatu objek,

seperti berat benda, rasa, bau, suhu, kasar halus, bunyi atau suara dan sifat lainnya, sehingga alat indra manusia memiliki keterbatasan untuk mengamatinya.

Jika Anda mengamati jasad renik atau melihat benda yang jaraknya sangat jauh, apakah Anda mampu mengamati dengan mata telanjang? Tentu saja tidak, Anda memerlukan alat bantu, seperti mikroskop atau teleskop

Seiring dengan berkembangnya bermacam-macam ilmu pengetahuan, biologi sebagai ilmu pengetahuan alam juga berkembang, sehingga objek kajian ilmu biologi semakin banyak. Para ilmuwan tidak sanggup lagi mempelajari secara mendalam seluruh kajian biologi sebagai satu objek studi yang akan dipelajari. Berdasarkan hal itu, maka ilmu biologi memiliki cabang ilmu spesifik dan objek kajian yang semakin khusus untuk memudahkan cara pembelajarannya, mengingat pada umumnya seseorang hanya mampu mendalami salah satu cabang ilmu. Ibarat pohon, ilmu biologi memiliki cabang-cabang seperti berikut.

Anatomi : Ilmu yang mempelajari tentang bagian-bagian struktur tubuh dalam makhluk hidup

Agronomi : Ilmu yang mempelajari tentang tanaman budidaya Andrologi : Ilmu yang mempelajari tentang macam hormon dan kelainan reproduksi pria Algologi : Ilmu yang mempelajari tentang alga/ganggang Botani : Ilmu yang mempelajari tentang tumbuhan Bakteriologi : Ilmu yang mempelajari tentang bakteri Biologi molekuler : Ilmu yang mempelajari tentang kajian biologi pada tingkat molekul Bioteknologi : Ilmu yang mempelajari tentang penggunaan penerapan proses biologi secara terpadu yang meliputi proses biokimia, mikrobiologi, rekayasa kimia untuk bahan pangan dan peningkatan kesejahteraan manusia Ekologi : Ilmu yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan Embriologi : Ilmu yang mempelajari tentang perkembangan embrio Entomologi : Ilmu yang mempelajari tentang serangga Evolusi : Ilmu yang mempelajari tentang perubahan struktur tubuh makhluk hidup secara perlahan-lahan dalam waktu yang lama Epidemiologi : Ilmu yang mempelajari tentang penularan penyakit Eugenetika : Ilmu yang mempelajari tentang hukum pewarisan sifat Endokrinologi : Ilmu yang mempelajari tentang hormon Enzimologi : Ilmu yang mempelajari tentang enzim Fisiologi : Ilmu yang mempelajari tentang faal (fungsi kerja) organ tubuh Fisioterapi : Ilmu yang mempelajari tentang pengobatan terhadap penderita yang mengalami kelumpuhan atau gangguan otot Farmakologi : Ilmu yang mempelajari tentang obat-obatan Genetika : Ilmu yang mempelajari tentang pewarisan sifat Histologi : Ilmu yang mempelajari tentang jaringan Higiene : Ilmu yang mempelajari tentang pemeliharaan kesehatan makhluk hidup Imunologi : Ilmu yang mempelajari tentang sistem kekebalan (imun) tubuh Ichtiologi : Ilmu yang mempelajari tentang ikan Karsinologi : Ilmu yang mempelajari tentang crustacea Klimatologi : Ilmu yang mempelajari tentang iklim Limnologi : Ilmu yang mempelajari tentang perairan mengalir Mikrobiologi : Ilmu yang mempelajari tentang mikroorganisme Malakologi : Ilmu yang mempelajari tentang moluska Morfologi : Ilmu yang mempelajari tentang bentuk atau ciri luar organisme Mikologi : Ilmu yang mempelajari tentang jamur Organologi : Ilmu yang mempelajari tentang organ Onthogeni : Ilmu yang mempelajari tentang perkembangan makhluk hidup dari zigot menjadi dewasa Ornitologi : Ilmu yang mempelajari tentang burung Phylogeni : Ilmu yang mempelajari tentang perkembangan makhluk

hidup Patologi : Ilmu yang mempelajari tentang penyakit dan pengaruh- nya bagi manusia Palaentologi : Ilmu yang mempelajari tentang fosil Parasitologi : Ilmu yang mempelajari tentang makhluk parasit Protozoologi : Ilmu yang mempelajari tentang Protozoa Sanitasi : Ilmu yang mempelajari tentang kesehatan lingkungan Sitologi : Ilmu yang mempelajari tentang sel Taksonomi : Ilmu yang mempelajari tentang penggolongan makhluk hidup Teratologi : Ilmu yang mempelajari tentang cacat janin dalam kandungan Virologi : Ilmu yang mempelajari tentang virus Zoologi : Ilmu yang mempelajari tentang hewan.

3. Metode Dalam Ilmu Biologi

Pernahkah Anda berpikir, mengapa para ilmuwan bisa menemukan teori atau hukum dalam ilmu pengetahuan? Sebenarnya, mereka bukan orang-orang yang super, tetapi mereka memiliki kelebihan dalam hal ketekunan, kerajinan, serta tidak mudah merasa putus asa. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan saja, tetapi harus didukung dengan kerja keras dan ketekunan sehingga dapat diperoleh suatu keberhasilan.

Para ilmuwan tersebut bekerja secara sistematis, tekun, teliti, dan disiplin. Metode apakah yang digunakan para ilmuwan tersebut? Coba ingat kembali langkah-langkah metode ilmiah yang telah Anda pelajari di SMP/MTs! Langkah-langkah metode ilmiah yang digunakan ilmuwan sehingga berhasil menemukan suatu ilmu adalah sebagai berikut.

a. Menemukan dan merumuskan masalah. b. Merumuskan hipotesis (menyusun dugaan sementara). c. Merancang eksperimen untuk merancang hipotesis. d. Melakukan percobaan. e. Mengadakan observasi atau pengumpulan data. f. Menarik kesimpulan. g. Menguji kesimpulan dengan eksperimen lain. h. Merumuskan hukum, konsep, atau prinsip.

Bagaimana cara mempelajari ilmu biologi? Apakah Anda harus belajar harus dengan pendekatan fakta, yaitu dengan cara menghafalkan nama, definisi, dan gambar? Apakah dengan cara hafalan, data-data tersebut mudah untuk diingat? Daya ingat setiap orang terbatas, sehingga hafalan tersebut mudah untuk dilupakan. Bagaimana jika belajar dengan pendekatan konsep? Pendekatan secara konsep merupakan pendekatan dua fakta atau lebih yang membentuk satu pengertian. Cara belajar seperti ini masih kurang baik, karena masih banyak fakta dan Anda masih lebih banyak bertindak pasif dan belum berupaya sendiri.

Kegiatan untuk mempelajari biologi sebaiknya dengan melakukan pendekatan proses karena Anda akan mendapatkan fakta atau konsep sendiri. Belajar seperti ini akan dapat bertahan dalam waktu yang lama dan dapat membentuk sikap serta keterampilan ilmiah, seperti yang dilakukan ilmuwan terdahulu. Contohnya, Mendel dalam menemukan ilmu pengetahuan. Apabila Anda belajar dengan melakukan keterampilan proses, yaitu meliputi kegiatan observasi, menggolongkan, menafsirkan, memperkirakan, mengajukan pertanyaan, dan mengidentifikasi variabel, maka Anda akan ‘menemukan’ ilmu itu sendiri. Berikut ini langkah-langkah belajar dengan pendekatan proses.

  1. Mengobservasi

Observasi merupakan hasil dari pengamatan melalui indra, maka Anda akan belajar dengan mencari gambaran atau informasi tentang objek penelitian. Hasil apa saja yang kita peroleh dari suatu pengamatan? Coba Anda sebutkan fungsi alat indra kita. Dengan mata, kita bisa melihat bentuk, warna, serta gerak suatu objek. Dengan alat pendengaran, kita bisa mendengar bunyi atau suara. Dengan lidah, kita bisa merasakan berbagai rasa, dengan perabaan bisa mengetahui permukaan objek, adapun dengan penciuman kita bisa merasakan macam-macam bau.

Dalam mempelajari biologi, kegiatan observasi ini bisa dibantu dengan alat bantu, antara lain mikroskop, kertas lakmus, lup, termometer, penggaris, dan sebagainya. Hasil observasi dapat berupa gambar, bagan, tabel, atau grafik.

  1. Menggolongkan

Untuk memudahkan cara mempelajari suatu objek, maka kita lakukan penggolongan suatu objek itu. Jika kita melakukan kegiatan untuk menggolongkan makhluk hidup, maka hasilnya dapat berupa bagan. Contoh: Jika Anda diminta membuat penggolongan tanaman kembang merak, kembang sepatu, rumput, palem maka contoh hasilnya bagan sebagai berikut.

  1. Menafsirkan

Menafsirkan artinya memberikan arti terhadap suatu kejadian berdasarkan kejadian lainnya. Ketika menafsirkan suatu data, hendaknya kita menggunakan acuan atau patokan.

Contoh: Suatu hari Anda menanam 10 tanaman cabai di halaman rumah. Tanaman cabai itu tumbuh dengan subur. Karena beberapa hari kurang perawatan, akhirnya 5 tanaman cabai mati. Contoh penafsirannya, ada penurunan jumlah populasi tanaman cabai sebesar 5 10

Biji berkeping satu Biji berkeping dua × 100% = 50%. Penurunan populasi ini mungkin disebabkan oleh pengaruh cuaca, kekurangan air, suhu, atau kelembapan udara.

  1. Memperkirakan

Kegiatan memperkirakan bukan berarti meramalkan, tetapi membuat perkiraan berdasarkan pada kejadian sebelumnya atau hukum-hukum yang berlaku. Contoh: Anda mengamati pertumbuhan tanaman cabai. Pada hari ke-5 tingginya 4 cm, pada hari ke-10 tingginya 6 cm, hari ke-15 tingginya 8 cm, dan pada hari ke-20 tingginya 10 cm. Jika dibuat menjadi sebuah grafik,

  1. Mengajukan Pertanyaan

Seringkah Anda memiliki naluri ‘ingin tahu’ untuk mengetahui suatu permasalahan? Untuk menemukan suatu permasalahan, Anda harus dapat mengembangkan pertanyaan-pertanyaan, misalnya apa, bagaimana, di mana, kapan, mengapa, dan siapa terhadap suatu objek. Contohnya, suatu saat Anda mengamati tanaman cabai di sekitar rumah. Tanaman cabai tersebut sepertinya terlihat akan mati karena banyak daun yang mulai layu dan menguning, serta banyak bunga yang berguguran. Selanjutnya, tentu akan timbul pertanyaan untuk mengetahui permasalahan tersebut. Bagaimana ciri tanaman cabai yang subur dan tanaman cabai yang tidak subur? Adakah ciri-ciri ketidaksuburan pada tanaman cabai yang Anda amati? Pada bagian mana tanaman itu terganggu? Mengapa tanaman cabai menjadi tidak subur?

Semua pertanyaan itu perlu dicari jawabannya. Di antara pertanyaan itu, ada yang bisa dijawab dan ada yang belum bisa dijawab. Pertanyaan yang belum terjawab merupakan permasalahan yang harus dicari jawabannya, misalnya dengan cara membaca laporan-laporan dari penemuan sebelumnya atau bisa juga dengan cara lain.

  1. Mengidentifikasi Variabel

Tentu Anda mengetahui bahwa pertumbuhan tanaman cabai membutuhkan tanah sebagai tempat tumbuhnya yang ditunjang dengan pupuk, air, pH, cahaya, suhu, serta udara. Faktor-faktor pendukung itulah yang dimaksud dengan variabel. Jadi, variabel merupakan faktor-faktor yang berpengaruh dan memiliki nilai (ukuran tertentu) serta dapat berubah atau diubah.

Ada tiga jenis variabel, yaitu variabel bebas, variabel kontrol, dan variabel terikat. Pada contoh tersebut, tanah sebagai variabel bebas karena akan diteliti pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman cabai. Variabel bebas adalah faktor yang dapat dibuat bervariasi. Adapun faktor seperti cahaya, suhu, pH, air, udara, dan pupuk merupakan variabel kontrol, yaitu faktor lain yang ikut berpengaruh dan dibuat sama serta terkendali, sedangkan pertumbuhan tanaman cabai sebagai variabel terikat, yaitu faktor yang muncul akibat variabel bebas.

  1. Cara Permecahan Masalah Dalam Biologi

Jika Anda sudah mempelajari biologi dengan cara melakukan pendekatan proses, maka langkah selanjutnya adalah melakukan eksperimen. Eksperimen merupakan kegiatan melalui tata cara tertentu yang biasa dilakukan oleh ilmuwan, dengan tujuan untuk memecahkan masalah atau menemukan jawaban terhadap suatu masalah. Samakah cara yang dilakukan para ilmuwan untuk memecahkan suatu masalah? Ada beberapa indikator/petunjuk untuk menyelesaikan suatu masalah dalam pembelajaran biologi. Apa saja indikator tersebut?

Beberapa indikator yang dipakai untuk memecahan masalah adalah sebagai berikut.

  1. Merumuskan Masalah

Dari hasil suatu pengamatan akan timbul suatu permasalahan. Selanjutnya masalah itu dirumuskan, kemudian akan diperoleh fakta yang berkaitan dengan masalah yang akan dihadapi.

Contoh: Anda ingin mencoba memberikan pupuk kompos terhadap tanaman cabai. Perubahan kondisi yang akan diteliti adalah pertumbuhan tanaman cabai, yaitu tentang perubahan tinggi tanaman serta besar daunnya dibandingkan dengan tanaman cabai yang tidak diberi pupuk. Selanjutnya, Anda dapat merumuskan suatu masalah, misalnya adakah pengaruh pupuk kompos terhadap pertumbuhan tanaman cabai? Dari permasalahan ini kemudian disusun hipotesis/dugaan sementara.

  1. Menguji Hipotesis

Setelah menyusun jawaban sementara, misalnya bahwa pupuk kompos berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman cabai, selanjutnya hipotesis itu diuji dengan melakukan eksperimen melalui tahap-tahap berikut.

  1. Perencanaan

Kegiatan perencanaan ini dilakukan sebelum melakukan eksperimen, yaitu dengan merencanakan dan mempersiapkan alat serta bahan terlebih dahulu. Semua peralatan yang dibutuhkan hendaknya didaftar, jangan sampai ada yang terlupakan atau tidak tersedia saat diperlukan. Misalnya untuk contoh di atas, maka alat dan bahan yang diperlukan adalah biji tanaman cabai, pot, tanah, pupuk kompos, air, penggaris/meteran, pensil, kertas, sekam, cetok, timbangan, dan sendok.

  1. Pelaksanan Eksperimen

Pada tahap ini kegiatan yang harus dilakukan adalah menyiapkan semua kondisi yang sama terhadap kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada pelaksanaan eksperimen hendaknya memperhatikan hal-hal berikut.

  1. Taraf Perlakuan

Kegiatan pada taraf perlakuan adalah menentukan dan mengontrol variabel. Pada kelompok eksperimen diberikan perlakuan, sedangkan pada kelompok kontrol tidak.

Misalnya, sesuatu yang akan dicobakan, yaitu pupuk disebut sebagai variabel bebas, kemudian diberikan taraf perlakuannya, yaitu dengan memberikan pupuk dengan dosis yang berbeda-beda. Antara dosis pertama dengan dosis berikutnya sebaiknya meningkat secara tetap. Misalnya, perlakuan pertama dosisnya 1, perlakuan kedua dosisnya 2, perlakuan ketiga dosisnya 3, dan seterusnya. Setiap tingkatan dosisnya naik 1 kali.

  1. Pengendalian Faktor Lain

Jika dalam suatu eksperimen akan dibuktikan pengaruh pupuk, maka pengaruh faktor lain harus dikendalikan, yaitu dengan cara memberikan faktor (variabel) pada semua kelompok perlakuan yang sama. Misalnya, pemberian air, besarnya pot, banyak tanah, jenis cabai, cahaya matahari, frekuensi pemupukan semuanya harus diperlakukan sama. Variabel ini dinamakan variabel tak bebas atau variabel terkendali.

  1. Pengulangan

Sebaiknya dalam melaksanakan perlakuan eksperimen tidak hanya terhadap satu individu atau satu kelompok saja sebab sangat riskan karena data yang diperoleh bisa mengalami kesalahan yang tidak disengaja. Selain itu, satu individu/satu kelompok saja tidak bisa mewakili seluruh populasi.

Misalnya, jumlah setiap perlakuan ada 3 individu, berarti dalam eksperimen tersebut ada 6 perlakuan akan diulang sebanyak 3 kali sehingga untuk semua perlakuan terdapat 18 individu. Jadi, besarnya sampel (jumlah individu/ kelompok yang diberi perlakuan) seluruhnya adalah 18 individu. Semakin banyak ulangannya, berarti sampel juga semakin besar, sehingga hasilnya semakin sahih/mendekati kebenaran. Seperti terlihat pada contoh pemberian pupuk pada tanaman cabai. Pada percobaan 3 tanaman cabai diberikan pupuk kompos dengan dosis yang berbeda-beda

  1. Pengukuran

Agar diperoleh data yang kuantitatif dan akurat, sebaiknya dilakukan pengukuran. Misalnya, untuk mengukur tinggi tanaman cabai, panjang batang, dan lebar daunnya dengan menggunakan meteran/mistar.

  1. Observasi Dalam Ekserimen

Maksud observasi dalam eksperimen adalah mengamati dengan teliti perubahan atau gejala yang terjadi ketika melakukan percobaan dengan maksud mengumpulkan data yang lebih banyak.

Contoh: Percobaan yang dilakukan pada contoh pengulangan tersebut di atas diketahui ternyata tanaman cabai mempunyai ketinggian yang berbedabeda walaupun diberikan pupuk yang sama

  1. Menjawab Masalah

Dari masalah yang akan dijawab, melalui kegiatan eksperimen dicari dan ditemukan  jawabannya berdasarkan analisis data yang diperoleh dalam eksperimen, kemudian didiskusikan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mencari rata-rata dari semua data yang diperoleh atau diubah ke dalam persen kemudian dibuat grafik. Hasil rata-rata itu kemudian ditafsirkan dan dijadikan pijakan untuk membuat kesimpulan.

  1. Menguji Jawaban

Tahap ini dilakukan untuk meyakinkan kebenaran suatu jawaban. Pengujian sekali lagi perlu dilakukan melalui percobaan seperti contoh di depan. Pengujian ini dilakukan dengan kondisi dan perlakuan yang sama seperti semula. Contoh dilakukan percobaan pemberian pupuk kompos terhadap pertumbuhan tinggi tanaman cabai dengan perlakuan pada sejumlah individu yang sama. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin banyak pemberian pupuk, semakin banyak memberikan hasil yang paling baik dari sampel yang dicobakan.

  1. Menarik Kesimpulan

Kesimpulan diperoleh berdasarkan hasil dari eksperimen. Kemungkinan kesimpulan pertama, hipotesis ditolak jika dugaan sementara tidak sesuai dengan hasil eksperimen. Apabila hipotesis diterima, berarti dugaan sementara sesuai dengan hasil eksperimen. Manakah hasil eksperimen yang baik, jika hipotesis ditolak atau diterima? Semua hasil eksperimen dikatakan baik jika dilakukan dengan prosedur secara ilmiah, contoh dari hasil percobaan terhadap pemberian pupuk diketahui pemberian pupuk berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman cabai.

05/05/2010 Posted by | Biologi Umum | 24 Komentar

RENDAMAN BATANG BROTOWALI (Tinospora crispa L. Miers.) SEBAGAI PENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI PENYEBAB DIARE (GASTROENTERITIS)

RENDAMAN BATANG BROTOWALI (Tinospora crispa L. Miers.)

SEBAGAI PENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI PENYEBAB DIARE (GASTROENTERITIS)

Muhammad Jakfar Sadiq, Siti Rahmatullaili, Ifan Prasetya Yuda

Jurusan Pendidikan Biologi-FKIP-Universitas Muhammadiyah Malang

ABSTRAK

Salah satu permasalah kesehatan di masyarakat yang tidak pernah dapat diatasi secara tuntas adalah diare. Masyarakat biasanya menggunakan obat tradisional untuk mengobati diare selain juga menggunakan obat sintetis. Namun sampai saat ini, belum ada yang menemukan secara pasti bahwa rendaman batang brotowali berkhasiat untuk menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare. Sehingga perlu dilakukan studi yang bertujuan untuk membuktikan efek farmakologi rendaman batang brotowali terhadap pertumbuhan Salmonella typhi, Perlakuan pada penelitian ini menggunakan konsentrasi rendaman batang brotowali 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%. Metode penelitian meliputi pembuatan medium Mueller Hilton dan pembuatan larutan MacFarland, sterilisasi cakram disk, pembuatan rendaman batang brotowali, uji efek farmakologi rendaman batang brotowali terhadap pertumbuhan Salmonella typhi. Analisis data yaitu uji normalitas dan uji homogenitas untuk mengetahui jenis populasi dari data yang didapat, apakah  berdistribusi normal atau homogen. Selanjutnya dilakukan uji t untuk mengetahui perlakuan terbaik konsentrasi rendaman batang brotowali dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi. Hasil studi menunjukkan bahwa rendaman batang brotowali menyebabkan penurunan jumlah koloni Salmonella typhia. Konsentrasi rendaman batang brotowali yang paling efektif untuk menghambat pertumbuhan Salmonella typhi tersebut adalah 100%. Dengan demikian rendaman batang brotowali dapat digunakan sebagai penghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare.

Kata Kunci : Salmonella typhi, batang brotowali, gastroenteritis, diare.

PENDAHULUAN

Salah satu permasalah kesehatan di masyarakat yang tidak pernah dapat diatasi secara tuntas salah satunya adalah diare. Hasil survey tahun 2004 mencatat 4.800 orang terserang diare. Penyakit ini bersifat endemis dan biasanya berulang tiap tahunnya. Harian Kompas memberitakan bahwa korban diare juga terjadi di NTT dengan korban meninggal secara kumulatif mencapai 42 orang dan 2.017 orang lainnya dirawat di salah satu rumah sakit yang ada di NTT (Kompas, 2006).

Sampai saat ini penyakit diare (gastroenteritis), masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di Indonesia. Dari daftar urutan penyebab kunjungan Puskesmas/Balai pengobatan, diare hampir selalu menjadi penyebab utama kunjungan masyarakat. Di Indonesia dapat ditemukan sekitar 60 juta kejadian penderita diare setiap tahunnya. Sebesar 70 – 80 % dari penderita ini adalah anak di bawah lima tahun (±40 juta kejadian). Kelompok ini setiap tahunnya mengalami lebih dari satu kejadian diare. 1 – 2 % akan jatuh ke dalam dehidrasi dan bila tidak segera ditolong 50–60 % diantaranya meninggal. (Kompas, 2005).

Dalam Harian Kompas juga diberitakan bahwa diare di Flores Timur meluas, 19 warga meninggal. Kasus diare yang mewabah di Kab. Flores Timur NTT, semakin meluas hingga ke 10 kecamatan di wilayah paling timur Pulau Flores tersebut, yakni Kec. Adonara Timur, Klubagolit, Witihama, Solor Timur, Tanjung Bunga, Larantuka, Adonara Barat, Solor Barat, Wulanggitang dan IlE Mandiri. Kabag Kesejahteraan Biro Bina Sosial Setda NTT, Fransiska Palan Bolen SH mengatakan sesuai laporan yang diterima dari Pemkab Flores Timur 5 Feb2005, terjadi peningkatan jumlah kasus dari 1.472 kasus menjadi 1.659 kasus. Penyakit menular ini menyebabkan 19 warga meninggal dunia dan 39 warga menjalani perawatan secara intensif di RSUD Larantuka. (Kompas, 2006).

Diare merupakan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan gizi, bakteri, keracunan makanan dan peradangan usus. Penyakit ini dapat menular melalui tinja yang mengandung kuman penyebab diare dan mencemari lingkungan, misalnya tanah, sungai, dan air sumur. Pada umumnya daerah yang rentan terhadap diare ini adalah daerah yang tidak mencukupi akan kebutuhan air bersih, seperti daerah pesisir pantai dan daerah yang kaya akan air tetapi air tersebut tidak mencukupi standar air bersih atau telah tercemari. (Jawets, 2001).

Diare disebut pula sebaga gastroenteritis (Kompas, 2005). Diare atau gastroenteritis (GE) adalah suatu infeksi usus yang menyebabkan keadaan feses bayi encer dan atau berair, dengan frekuensi lebih dari 3 kali perhari, dan kadang disertai muntah. Muntah dapat berlangsung singkat, namun diare bisa berlanjut sampai sepuluh hari.Pada banyak kasus, pengobatan tidak diperlukan. Bayi usia sampai enam bulan dengan diare dapat terlihat sangat sakit, akibat terlalu banyak cairan yang dikeluarkannya. Empat jenis klinis diare antara lain:

a)      Diare akut bercampur air (termasuk kolera) yang berlangsung selama beberapa jam/hari: bahaya utamanya adalah dehidrasi, juga penurunan berat badan jika tidak diberikan makan/minum

b)      Diare akut bercampur darah (disentri): bahaya utama adalah kerusakan usus halus (intestinum), sepsis (infeksi bakteri dalam darah) dan malnutrisi (kurang gizi), dan komplikasi lain termasuk dehidrasi.

c)      Diare persisten (berlangsung selama 14 hari atau lebih lama): bahaya utama adalah malnutrisi (kurang gizi) dan infeksi serius di luar usus halus, dehidrasi juga bisa terjadi.

d)     Diare dengan malnutrisi berat (marasmus atau kwashiorkor): bahaya utama adalah infeksi sistemik (menyeluruh) berat, dehidrasi, gagal jantung, serta defisiensi (kekurangan) vitamin dan mineral. (Sabrini, 2004).

Setidaknya ada dua mekanisme dasar terjadinya diare, yaitu pengeluaran cairan di usus yang berlebihan akibat toksin. Lebih dikenal dengan sebutan diare sekresi. Pada diare jenis ini dinding usus permukaannya tidak rusak dan absorbsi karbohidrat/lemak yang jelek. Lebih dikenal dengan sebutan diare osmotik. Pada jenis ini dinding usus mengalami kerusakan. Infeksi peyakit ini dikelompokkan dalam 2 jenis, yaitu penyakit ringan, karena dapat sembuh dengan sendirinya dan penyakit berat karena dapat menimbulkan kematian.

Faktor lingkungan  berperan penting dalam perkembangbiakan bakteri dan virus penyebab diare(Salmonella typhi) tersebut (Budiyanto, 2000 : 130). Penyakit gastroenteritis merupakan sindroma/infeksi usus, yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi, masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 12-48 jam atau lebih. Gejalanya biasanya berupa mual-mual dan muntah yang mereda dalam beberapa jam, kemudian diikuti dengan nyeri abdomen dan demam. Adapun pada kasus yang berat dapat berupa diare yang bercampur darah. Penderita sering sembuh dengan sendirinya dalam jangka waktu 1-5 hari, tetapi kadang-kadang dapat menjadi berat dimana terjadi gangguan keseimbangan elektrolit dan dehidrasi. Untuk menangani penyakit tersebut biasanya masyarakat memamfaatkan tanaman tradisional sebagai salah satu alternatif pengobatan disamping obat-obatan modern yang sudah banyak di pasaran, agar terhindar dari resistensi dan efek samping yang tidak diinginkan. Tanaman yang digunakan masyarakat dalam pengobatan penyakit ini biasa dikenal dengan “batang brotowali” (Budiyanto, 2000 : 130).

Brotowali yang dikenal sebagai tanaman obat ini berasal dari Asia Tenggara. Wilayah penyebarannya di Asia Tenggara cukup luas, meliputi wilayah Cina, Semenanjung Melayu, Filipina, dan Indonesia. Brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) merupakan tanaman merambat dan tumbuh dengan baik di hutan terbuka atau semak belukar di daerah tropis. Di Indonesia, tanaman ini dikenal dengan berbagai nama daerah, seperti andawali Sunda), antawali (Bali dan Nusa Tenggara), dan bratawali, antawali, putrowali atau daun gedel (Jawa). Di daerah lain, brotowali dikenal dengan nama putrawali atau daun gedel. Dalam bahasa Inggris brotowali disebut bitter grape, dan dalam bahasa Cina dikienal dengan nama sen jinteng. Rendaman batang brotowali dapat digunakan sebagai penghambat pertumbuhan Salmonella typhi, hal ini disebabkan pada batangan brotowali mengandung senyawa berberin yang secara farmakologi dapat bermamfaat sebagai obat diare. Karena mempunyai sifat analgenik menyebabkan brotowali dapat menghilangkan rasa sakit dan sifat antipiretikum yang berkhasiat dalam menurunkan panas. Batang brotowali banyak digunakan untuk mengobati sakit perut (diare) dan demam.

Tanaman Brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) merupakan salah satu dari sekian banyak tanaman obat yang  di Indonesia. Gejala penyakit ini adalah sedikit demam atau timbul mual, sakit kepala, mualnya diare yang hebat dengan beberapa lekosit dalam tinja tetapi jarang terdapat darah. Biasanya akan terjadi demam yang ringan tetapi hal ini akan sembuh sendirinya dalam 2-3 hari. Terdapat lesi-lesi peradangan usus halus dan usus besar.

Brotowali mengandung senyawa kimia yang berkhasiat mengobati berbagai penyakit, yaitu sakit perut, diare, demam, dan sakit kuning. Senyawa kimia ini terdapat di seluruh bagian mulai dari akar, batang sampai daun, dalam senyawa kimia yang terkandung dalam batang brotowali tersebut tercatat ada berbagai efek farmakologi yang menjadi faktor penyebab berkhasiatnya batang brotowali (Kresnady, 2003 : 3).

Menurut peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala daya antimikroba ekstrak batang brotowali terhadap E. Coli lebih besar dibandingkan dengan Staphylococcus Aureus. Disamping itu, ekstrak brotowali ini bersifat fungistatik terhadap jamur kapang (Trichophyton ajelloi) pada konsentrasi di atas 0,8 g/ml (Kresnady, 2003 : 8).

Berdasarkan uraian di atas diduga bahwa rendaman batang brotowali memiliki efek farmakologi terhadap Salmonella typhi yang merupakan salah satu penyebab infeksi gastroenteritis (diare). Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu studi tentang ”Rendaman Batang Brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) Sebagai Penghambat Pertumbuhan Bakteri Diare (Gastroenteritis) sebagai alternatif untuk pengobatan terhadap infeksi oleh bakteri Salmonella typhi,  mengingat sifat bakteri tersebut yang sangat berbahanya bagi masyarakat.

Studi ini bertujuan untuk membuktikan efek rendaman batang brotolawi sebagai penghambat pertumbuhan bakteri diare (Gastroenteritis) serta konsentrasi rendaman batang brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) yang paling efektif sebagai penghambat Salmonella typhidan penyebab diare (Gastroenteritis) secara aplikasi studi ini memberikan informasi pada masyarakat umum dan Departement Kesehatan khususnya bahwa batang brotowali (Tinospora cripa, L. Miers) dapat dimanfaatkan sebagai antiseptik alternatif untuk mengatasi penyakit diare (gastroenteritis). Adapun manfaat dari studi ini, secara teoritis memberikan informasi ilmiah tentang rendaman batang brotowali sebagai penghambat pertumbuhan bakteri diare (gastroenteritis).

METODE PENELITIAN

Adapun tahap pelaksanaan studi rendaman batang brotowali sebagai penghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare, yaitu : pembuatan suspensi Salmonella typhi, inokulasi Salmonella typhi. Sedangkan analisis data yang digunakan dalam studi ini meliputi uji t, yang kemudian dilanjutkan dengan uji normalitas/uji homogenitas.

Studi ini dilakukan di Laboratotium Biologi Universitas Muhammadiyah Malang dengan menggunakan sampel bakteri Salmonella typhi yang diambil secara acak sederhana. Alat-alat yang digunakan dalam studi ini yaitu beaker glass, jarum inokulasi, inkubator (37°), blender, tabung reaksi ukuran 10 cc, kompor gas, cawan petri ukuran 9 cm, rak tabung reaksi, erlenmeyer ukuran 500 ml, timbangan tripel beam, gelas ukur ukuran 100 ml, aluminium foil ukuran 100 cm, bunsen, hot plate magnetik stirrer, autoklaf, jangka sorong, enkats, pinset, spet ukur ukuran 10 ml, spatter, mikropipet. Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bakteri Salmonella typhi 3-7 jarum ose, batang brotowali, medium Mueler Hilton (MH) agar 450 ml, aquades steril 700 ml, kertas cakram whattman no. 45 (diameter 60 mm), ampicillin 10 mg, BaCl2 1% 0,05 ml, H2SO4 1% 9,95 ml, lidi, kapas, kertas label, tissue, spiritus.

Jumlah perlakuan P=10 (macam rendaman batang brotowali), sehingga variabel bebas dalam studi ini adalah konsentrasi rendaman batang brotowali (Tinospora crispa, L., Miers.) yaitu : 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%. Sedangkan variabel terikat dalam studi ini meliputi diameter daya hambat Salmonella typhi.

Sterilisasi alat dilakukan dengan autoklaf dengan suhu 121° C dengan tekanan 15 atm selama 15 menit.

Pelaksanaan studi ” Rendaman Batang Brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) ini adalah sebagai berikut :

Menyiapkan tabung reaksi sebanyak 3 buah dan suspensi bakteri Salmonella typhi, enkast 1 buah, biakan Salmonella typhi dan garam fisiologi. Masukkan suspensi dan biakan Salmonella typhi ke dalam enkast, dilanjutkan dengan mensuspensikan koloni biakan Salmonella typhi dalam tabung reaksi yang berisi garam fisiologi, selanjutnya disimpan dalam inkubator pada suhu 37° C selama 24 jam. Kemudian membandingkan suspensi tersebut dan larutan Mac Farland standar yang telah dibuat, jika suspensi terlalu keruh maka suspensi ditambahkan dengan garam fisiologi steril, sehingga menyerupai dengan larutan Mac Farland, apabila larutan terlalu encer ditambahkan bakteri. Setelah itu memasukkan media padat MH, suspensi Salmonella typhi, lidi, kapas, busen, mikro pipet, paper disk dan rendaman batang brotowali ke dalam enkast. Selanjutnya menyalakan api bunsen, yang kemudian dilanjutkan dengan mencelupkan ujung kapas ke dalam suspensi Salmonella typhi, kemudian diperas pada samping tabung reaksi secara perlahan. Setelah itu membuka cawan petri, yang kemudian menggoreskan kapas tersebut di atas media Mueler Hilton agar secara steaking yaitu penggoresan dengan arah zigzag. Kemudian meletakkan paper disk di bagian tengan atas media MH yang telah digoreskan bakteri . selanjutnya menetesi paper disk dengan rendaman batang brotowali menggunakan mikro pipet sebanyak 0,5 miu liter pada setiap paper disk. Kemudian menutup kembali cawan Petri dan diputar-putar pada api bunsen, selanjutnya mengeluarkannya dari enkast, kemudian dilanjutkan dengan membungkus cawan petri dengan kertas wrap, dilanjutkan dengan membungkusnya dengan kertas coklat. Kemudian meletakkannya ke dalam inkubator selama 24 jam pada suhu 34° C. Setelah 24 jam semua cawan petri dikeluarkan dari inkubator dan dilakukan pengukuran diameter daya hambat rendaman batang brotowali dengan menggunakan jangka sorong. Pengukuran berawal dari tepi daerah daya hambat sampai ke tepi daya hambat yang terpanjang lainnya. Satuan pengukuran yang digunakan adalah mm.

HASIL PENELITIAN

Pengamatan tingkat konsentrasi rendaman batang brotowali (Tinospora crispa, L., Miers.) terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi pada penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi rendaman batang brtowali yang digunakan, maka akan mempengaruhi penurunan Salmonella typhi dengan lebih tinggi pula, dan konsentrasi rendaman batang brotowali yang paling efektif untuk mengurangi pertumbuhan Salmonella typhi yaitu 100%, sebagaimana data hasil pengamatan tingkat konsentasi rendaman brotowali di bawah ini.

Tabel 1. Diameter Daya Hambat Bakteri Salmonella typhi Akibat Pemberian Berbagai Konsentrasi Rendaman Batang Brotowali (Tinospora cripa, L. Miers.) (mm).

Konsentrasi Rendaman Batang Brotowali Ulangan

Total Rerata
1 2 3
10% 0,85 0,82 0,88 2,55 0,85
20% 0,91 0,895 0,93 2,735 0,911
30% 0,93 0,94 0,95 2,82 0,94
40% 1,12 1,13 1,145 3,395 1,131
50% 1,315 1,405 1,31 4,03 1,34
60% 1,5 1,52 1,59 4,61 1,53
70% 1,7 1,695 1,595 4,99 1,66
80% 1,7 1,74 1,74 5,18 1,72
90% 1,895 1,92 1,95 5,765 1,92
100% 2,205 2,015 2,015 6,235 2,07
Jumlah 42,31 1,40

PEMBAHASAN

Kemampuan rendaman brotowali dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi, dikarenakan dalam fraksi rendaman batang brotowali terdapat senyawa aktif yaitu berberin. Berberin merupakan golongan terbesar dari fenol, dimana dalam Jawetz (1992), menyatakan fenol dan persenyawaan dari fenol merupakan unsur antikuman yang kuat pada konsentrasi yang biasa digunakan  (larutan air 1-2%), fenol dan derivatnya dapat menimbulkan denaturasi protein.

Volk dan Wheller (1993) menyatakan, bahwa fenol merupakan senyawa yang bersifat bakteriostatik atau bakterisidal tergantung dari konsentrasinya. Konsentrasi yang tinggi  dapat merusak membran sitoplasma secara total dan mengendapkan protein sel. Dalam konsentrasi 0,1-2% dapat merusak membran sitoplasma yang menyebabkan bocornya metabolit penting dan menginaktifkan sejumlah sistem enzim bakteri. Membran sitoplasma merupakan 8-10% bobot kering sel. Struktur ini terdiri dari fosfolipid dan protein. Fosfolipid ini merupakan srtuktur dasar dari membran sitoplasma. Fosfolipid terdiri dari bagian yang bersifat hidrofobik dan hidrofilik yang saling berdekataan sehingga membentuk 2 lapis.

Adanya berberin yang terdapat pada batang brotowali menyebabkan penyusunan utama membran sel yaitu ion Ca2+ (kalsium) kehilangan kemampuannya untuk mengangkut bahan-bahan terlarut ke dalam sitoplasma atau organel-organel sel, tanpa kehadiran ion ini membran sel akan akan menjadi bocor. Dimana bahan-bahan yang sudah diangkut ke dalam sitoplasma atau organel akan merembes ke luar. Fungsi kalsium pada membran ini adalah berperan mengikat bagian hidrofilik fosfolipid satu sama lain dengan gugusan dari molekul protein pada permukaan membran. Senyawa berberin  ini dalam struktur kimianya mempunyai gugus alkohol yang secara aktif berperan dalam menghambat Salmonella typhi.

Menurut Lay (1992) apabila terjadi pembengkakan membran sitoplasma akan menyebabkan terjadi plasmolisis yang menyebabkan keluarnya cairan sitoplasma dan kebocoran nutrient dari dalam sel bakteri. Kebocoran nutrien ini diawali dengan keluarnya berbagai komponen penting yaitu protein, asam nukleat dan lain-lain. Selain itu kerusakan pada membran sitoplasma dapat mencegah masuknya bahan-bahan penting ke dalam sel karena membran sitoplasma juga mengendalikan pengangkutan aktif ke dalam sel.

Adanya perbedaan pengaruh yang ditunjukkan dengan perbedaan diameter daya hambat dikarenakan adanya perbedaan konsentrasi yang digunakan sehingga kandungan zat aktif antibakteri juga berbeda. Konsentrasi yang meningkat diikuti dengan kandungan zat aktif yang semakin besar, sehingga kemampuan bakterisidal atau bakteriostatiknya semakin meningkat Pada perlakuan konsentrasi 100% menghasilkan rata-rata diameter daya hambat terbesar. Hal ini dapat dikatakan bahwa perlakuan konsentrasi 100% merupakan perlakuan terbaik dibandingkan dengan perlakuan 90% ke bawah. Pada konsentrasi rendaman batang brotowali 100% memiliki kandungan zat aktif berberin yang lebih besar sehingga kemampuannya menghambat bakteri Salmonella typhi juga lebih tinggi.

Sensitivitas bakteri Salmonella typhi terhadap ampicillin dikarenakan ampiccilin adalah antibiotik berspekturm luas, yang mengeluarkan efek bakteriostatis. Antibiotika ini menghambat sintesis protein dengan terikat pada sub unit ribosom 30s, dengan demikian mencegah penempelan asam amino yang membawa tRNA. Terapi antimikrobial dari infeksi Salmonella typhi adalah dengan ampicillin, trimetropim sulfametosazole. Resistensib obat berkali-kali ditransfer secara genetik oleh plasmid di antara bakteri enterik dan merupakan sebuah masalah penting dalam infeksi Salmonella typhi (Volk dan Wheller, 1993).    Brotowali mengandung banyak senyawa kimia yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Kandungan kimia berkhasiat obat terdapat di seluruh bagian tanaman, dari akar, batang, sampai daun. Batang brotowali mengandung senyawa antimikroba berberin. Berdasarkan sejumlah literatur, secara umum di dalam tanaman brotowali terkandung berbagai senyawa kimia, antara lain alkaloid, dammar lunak, pati, glikosida, pikroretosid, harsa, zat pahit pikroretin, tinokrisposid, berberin, palmatin, kolumbin, dan kaokulin. Berdasarkan berbagai senyawa yang terkandung dalam brotowali, dapat diketahui ada beberapa efek farmakologis dari brotowali (Tinospora crispa, L. Meirs), sehingga dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Brotowali dapat memberikan efek farmakologis, yaitu analgesik, anti-inflamasi, antikoagulan, tinikum, antiperiodikum, dan diuretikum. Sifat analgenik menyebabkan brotowali dapat menghilangkan rasa sakit. Sifat antipirektikum menyebabkan brotowali berkhasiat dalam menurunkan panas. Batang brotowali banyak digunakan untuk mengobati sakit perut (diare) dan demam. Semua bagian brotowali dari akar, batang, daun, dan bunganya terasa sangat pahit jika dimakan. Rasa pahit itu disebabkan oleh adanya senyawa berberin yang banyak terdapat di dalam batang brotowali.

Kuriharismah (dalam Arishinta, 2002), mengasumsikan bahwa berberin mempunyai mekanisme kerja yang sama dengan senyawan lain yang fungsinya sebagai antimikroba. Senyawa berberin mempunyai kemampuan bereaksi dengan protein, yang mengakibatkan terputusnya ikatan protein dengan fosfolipi, sehingga berpengaruh pada fungsi selaput sel. Pada bakteri gram negatif, transport dari beberapa nutrisi dibantu oleh ikatan protein yang terdapat pada ruang periplasmik. Protein ini berfungsi memindah substrat yang diikat ke dalam membran transport protein yang sesuai. Adapun mekanisme kerja berberin adalah mampu berikatan dengan protein pengikat. Protein pengikat ini bukan enzim tetapi mempunyai sifat mengikat suatu zat tertentu, protein ini dikenal dengan sebutan protein porin. Protein inilah yang mengikat berberin dibawa masuk oleh molekul pembawaya yang terikat pada membran sitoplasma.

Menurut Jawetz (2001) antibiotik yang berfungsi sebagai antibakteri mempunyai fungsi merusak protein dan fosfolipid sel-sel membran. Padahal seharusnya 50% dari membran sitoplasma berada dalam keadaan cair tetapi karena protein membran telah rusak akibat reaksi dengan flavonoid menyebabkan protein telah terputus dengan fosfolipit. Keadaan membran sitoplasma yang tidak memenuhi syarat akan berpengaruh dalam petumbuhan sel. Selain itu daya kerja flavonoid menyebabkan ketidakaktifan enzim-enzim serta kerusakan asam amino dalam sel protein dalam membra sel. Padahal membran sitoplasma atau membran sel terdiri dari lipida dan enzim-enzim yang berfungsi untuk gerakan aktivitas transport zat-zat yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup bakteri. Karena membran sel berada dalam kondisi tidak normal dan sekaligus berakibat pada rusaknya membran akibat daya aktivitas berberin, maka akan berakibat pada pertumbuhan sel bakteri Salmonella typhi atau kematian, sehingga mengakibatkan bakteri Salmonella typhi tidak dapat melangsungkan hidupanya, dikarenakan pengaruh pemberian rendaman batang brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) tersebut.

KESIMPULAN

Rendaman batang brotowali yang digunakan masyarakat tradisional sebagai obat diare terbukti memiliki efek menghambat pertumbuhan Salmonella typhi. Peningkatan konsentrasi 80%-100%, rendaman batang brotowali cenderung menyebabkan penurunan jumlah koloni Salmonella typhi sebagai bakteri penyebab diare (Gastroenteritis). Konsentrasi rendaman batang brotowali yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi adalah pada konsentrasi 100%.

UCAPAN TERIMA KASIH

Studi ini telah selesai dilaksanakan dalam waktu yang telah ditetapkan berkat bantuan dari berbagai pihak, sehingga penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Ibu Dra. Roimil Latifah, M. Si. MM., selaku Kepala Laboratorium Biologi yang telah memberikan saran, pemantapan dan pertimbangan yang berguna bagi penyelesaian PKMI ini;
  2. Ibu Dra. Elly Purwanti, M.P., selaku Dosen Mata Kuliah Biologi Umum yang telah banyak memberikan ilmunya; dan
  3. Segenap teknisi Laboratorium Biologi, yang telah memberikan bantuan sehingga studi mata kuliah Biologi ini dapat terselesaikan.
  4. Husamah, Ketua Umum Forum Kajian Ilmiah Mahasiswa Biologi (FKIMB) yang telah meminjamkan berbagai literatur serta mereview tulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 1994. Penatalaksanaan Dan  Pencegahan Diare Akut. Jakarta: EGC.

Anonymous. 2003. Bakteriologi Medik. Malang: Bayu Media

Budiyanto, MAK. 2000. Mikrobiologi Terapan. Malang: UMM Press.

Jawetz., et al. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Rajawali Press.

Jawetz, et al. 2001. Mikrobiologi Kedokteran. Surabaya: Salemba Medical

Kompas. 2005. Konsultasi: Diare Berkepanjangan. www.kompas.com/kesehatan/news/0503/21/084059.htm. Diakses tanggal 1 Desember 2006

Kompas. 2006. Setiap Tahun 100.000 Anak Mati karena Diare di Indonesia.     www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0611/26/194504.htm. Diakses tanggal 1 Desember 2006

Kresnadi, Budi. 2003. Khasiat dan Manfaat Brotowali. Jakarta: Agromedia

Lay, BW., dan Hastowo., S. 1992. Mikrobiologi. Jakarta: Rajawali Press.

Majalah Poultry. 2004. Mengamati Cara Kerja Dan Mekanisme Resistensi Antibiotik.http//www.poultryindonesia.com/modules.php?name=News&file=print&sid=398. Diakses tanggal 3 Nopember 2006

Rofieq, A., dan Nur Widodo. 2002. Pengantar dan Metodelogi Penelitian FKIP UMM. Malang : UMM Press

Sarbini. 2004 . Diare .http// http://www.mer-c.org/mc/ina/ikes/ikes_0304_diare.htm Diakses tanggal 3 Nopember 2006

Volk dan Wheller. 1993. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Erlangga.

05/05/2010 Posted by | Contoh PKM | 6 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 914 pengikut lainnya.