BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

BELAJAR

2.1 Belajar

      2.1.1 Definisi Belajar

            Belajar merupakan dasar dari setiap siswa untuk memahami sutu mata pelajaran di sekolah, belajar sendiri mempunyai berbagai definisi yang diungkapkan oleh para ahli di bidang pendidikan diantaranya adalah:

  • Belajar menurut Slameto (2003) secara psikologis adalah

Suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya atau belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan sesorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

  • Skinner dalam Dimyati (2002) menyatakan “belajar adalah suatu perilaku pada saat orang belajar maka responnya menjadi lebih baik”. Sehingga dengan belajar maka orang akan mengalami perubahan tingkah laku.
  • “Belajar tidak hanya mata pelajaran, tetapi juga penyusunan, kebiasaan, persepsi, kesenangan atau minat, penyesuaian sosial, bermacam-macam keterampilan lain dan cita-cita” (Hamalik, 2002). W.S.Winkel yang dikutip oleh Darsono (2000) berpendapat “belajar adalah suatu aktivitas mental / psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap”.
  • Menurut Gredler (2006) menyatakan ”belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, ketrampilan, dan sikap”. Menurut Gagne yang dikutip oleh Dimyati (2002) menyatakan ”belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi, lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru”.

Selain definisi menurut para ahli pendidikan di atas, ada beberapa definisi belajar secara khusus yaitu “definisi belajar yang didasarkan pada aliran psikologi tertentu” (Darsono, 2000) di antaranya:

a. Belajar menurut aliran Behavioristik

Belajar merupakan “proses perubahan perilaku karena adanya pemberian stimulus yang berakibat terjadinya tingkah laku yang dapat diobservasi dan diukur” (Darsono, 2000). Supaya tingkah laku (respon) yang diinginkan terjadi, diperlukan latihan dan hadiah (reward) atau penguatan (reinforcement). Jika hubungan antara stimulus dan respon sudah terjadi akibat latihan dan hadiah atau penguatan, maka peristiwa belajar sudah terjadi.

b. Belajar menurut aliran Kognitif

Belajar adalah “peristiwa internal, artinya belajar baru dapat terjadi bila ada kemampuan dalam diri orang yang belajar” (Darsono, 2000). Agar terjadi perubahan, harus terjadi proses berfikir yakni proses pengolahan informasi dalam diri seseorang, yang kemudian respon berupa tindakan. Teori belajar kognitif lebih menekankan pada cara-cara seseorang menggunakan pikirannya untuk belajar, mengingat, dan menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disimpan di dalam pikirannya secara efektif.

c. Belajar menurut aliran Gestalt

Belajar adalah “bagaimana seseorang memandang suatu objek (persepsi) dan kemampuan mengatur atau mengorganisir objek yang dipersepsi (khususnya yang kompleks), sehingga menjadi suatu bentuk bermakna atau mudah dipahami” (Darsono, 2000). Bila orang sudah mampu mempersepsi suatu objek (stimulus) menjadi suatu gestalt, orang itu akan memperoleh insight (pemikiran). Kalau insight sudah terjadi, berarti proses belajar sudah terjadi.

d. Belajar menurut aliran Konstruktivistik

Belajar adalah “lebih dari sekedar mengingat” (Anni, 2004). Teori belajar ini menyatakan bahwa guru bukanlah orang yang mampu memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa yang harus mengkonstruksikan pengetahuan di dalam memorinya sendiri. Hal ini memberikan implikasi bahwa siswa harus terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas, menurut Purwanto (2003) dapat dikemukakan adanya beberapa elemen yang penting yang mencirikan pengertian belajar yaitu :

a. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, di mana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang baik, tetapi juga ada kemungkinan kepada tingkah laku yang lebih buruk.

b. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.

c. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang.

d. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut aspek kepribadian baik fisik maupun psikis seperti perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/ berfikir, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan ataupun sikap.

Dari semua pendapat di atas dapat kita ambil kesimpulan yang sama bahwa belajar adalah aktivitas pengembangan diri melalui serangkaian proses kegiatan atau pengalaman dalam menuju perubahan dalam diri sesorang dan sebenarnya seseorang dikatakan sudah belajar apabila terjadi perubahan pada diri orang yang belajar akibat adanya latihan dan pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan.

2.1.2 Hasil Belajar

Hasil belajar adalah hasil yang dicapai dalam suatu usaha. Dalam hal ini usaha dalam perwujudan prestasi belajar siswa yang didapat pada nilai setiap tes. Keberhasilan proses belajar dapat dilihat dari hasil yang diperoleh siswa dalam belajar, seperti pengalaman, cara berpikir dan penibahan tingkah laku. Keberhasilan proses belajar juga ditentukan dengan tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran. Jika tujuan pembelajaran tercapai atau terpenuhi, proses belajar tersebut dapat dikatakan berhasil (Ahmadi, 2007). Hal ini sejalan dengan pendapat Dimyati (2002) bahwa hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi belajar dan tindak mengajar.

Sedangkan menurut Anni (2002) hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. “Hasil belajar juga merupakan kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar” (Nashar, 2004).

Menurut Rusyan (2005) hasil belajar merupakan hasil yang dicapai oleh seorang siswa setelah ia melakukan kegiatan belajar mengajar tertentu atau setelah ia menerima pengajaran dari seorang guru pada suatu saat.”

Dari beberapa definisi di atas dapat dijelaskan bahwa hasil belajar merupakan suatu perubahan yang berupa perubahan tingkah laku, pengetahuan dan sikap yang diperoleh seseorang setelah melakukan proses kegiatan belajar. Seseorang dapat dikatakan telah belajar sesuatu apabila dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan, Jadi dapat disimpulkan pula bahwa hasil belajar merupakan pencapaian tujuan belajar dan hasil belajar sebagai produk dari proses belajar, maka didapat hasil belajar Seperti yang terlihat pada tabel hasil belajar seperti di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.1 Hubungan Hasil Belajar dengan Proses Belajar

            Dari bagan di atas semakin dapat mencerminkan bahwa hasil belajar diakibatkan oleh adanya kegiatan evaluasi belajar atau tes dan evaluasi belajar dilakukan karena adanya kegiatan belajar. Baik buruknya hasil belajar sangat bergantung dari pengetahuan dan perubahan perilaku individu yang besangkutan terhadap yang dipelajari.

Untuk mendapatakan hasil belajar yang baik maka masih ada unsur-unsur atau berbagai faktor yang mempengaruhi selama pada proses belajar. Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan sebagai berikut :

a. Faktor intern (berasal dari diri siswa), meliputi :

1) Kondisi fisiologis

2) Faktor psikologis, yang meliputi antara lain: kecerdasan, bakat, minat, motivasi dan perhatian.

b. Faktor ekstern (berasal dari luar diri siswa), meliputi :

1) Faktor lingkungan, meliputi: lingkungan alam dan lingkungan sosial.

2) Faktor instrumental, yaitu faktor yang adanya dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil yang diharapkan. Faktor instrumental ini meliputi: kurikulum, sarana, dan prasarana dan guru.

Dengan demikian butuh pemahaman yang menyeluruh dari siswa dan guru untuk mengarahkan siswa menuju ke hasil belajar yang bagus dengan memperhatikan berbagai faktor yang ada baik dari dalam maupun di luar siswa.

Salah satu tahap kegiatan evaluasi, baik yang berfungsi formatif maupun sumatif adalah tahap pengumpulan informasi melalui pengukuran. Menurut Darsono (2000) pengumpulan informasi hasil belajar dapat ditempuh melalui dua cara yaitu:

a.  Teknik Penilaian melalui Tes

Teknik tes biasanya dilakukan di sekolah-sekolah dalam rangka mengakhiri tahun ajaran atau semester. Pada akhir tahun sekolah mengadakan tes akhir tahun. Teknik penilaian u8ntuk mengetahui hasil belajar siswa ini dapat dibagi menjadi 3 macam yaitu:

  1. Tes tertulis yakni tes yang soal-soalnya harus dijawab oleh siswa dengan memberikan jawaban tertulis. Jenis tes tertulis secara umum dikelompokkan menjadi 3 yaitu tes objektif, tes jawaban singkat, dan tes uraian.
  2. Tes perbuatan yakni tes yang pelaksanaanya disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis dan pelaksanaan tugasnya dinyatakan dengan perbuatan atau penampilan.
  3. Tes lisan yakni tes yang pelaksanaanya dilakukan dengan mengadakan Tanya jawab secara langsung antara guru dan siswa.

 

 

b.  Teknik Non Tes

Pengumpulan informasi atau pengukuran dalam evaluasi hasil belajar dapat juga dilakukan melalui observasi, wawancara dan angket. Teknik non tes lebih banyak digunakan untuk mengungkap kemampuan psikomotorik dan hasil belajar efektif.

2.1.3 Aktivitas Belajar

            Menurut Poerwadarminta (2003), aktivitas adalah kegiatan. Jadi aktivitas belajar adalah kegiatan-kegiatan siswa yang menunjang keberhasilan belajar. Dalam hal kegiatan belajar, Rousseuau (dalam Sardiman 2007) memberikan penjelasan bahwa segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan pengamatan sendiri,penyelidikan sendiri, dengan bekerja sendiri baik secara rohani maupun teknis. Tanpa ada aktivitas, proses belajar tidak mungkin terjadi.

Belajar bukanlah proses dalam kehampaan. Tidak pula pernah sepi dari berbagai aktivitas. Tak pernah terlihat orang belajar tanpa melibatkan aktivitas raganya. Apalagi bila aktivitas belajar itu berhubungan dengan masalah belajar menulis, mencatat, memandang, membaca, mengingat, berfikir, latihan atau praktek dan sebagainya.

Prinsip-prinsip aktivitas dalam belajar dalam hal ini akan dilihat dari sudut pandang perkembangan konsepsi jiwa menurut ilmu jiwa. Dengan melihat unsur kejiwaan seseorang subjek belajar/subjek  didik, dapat diketahui bagaimana prinsip aktivitas yang terjadi dalam belajar itu. Karena dilihat dari sudut pandang ilmu jiwa, maka sudah barang tentu yang menjadi fokus perhatian adalah komponen manusiawi

yang melakukan aktivitas dalam belajar mengajar, yakni siswa dan guru.

Untuk melihat prinsip aktivitas belajar dari sudut pandangan ilmu jiwa ini secara garis besar dibagi menjadi dua pandangan yakni ilmu jiwa lama dan ilmu jiwa modern.

a.  Menurut Pandangan Ilmu Jiwa Lama

Menurut Locke jiwa dapat dimisalkan  dengan kertas yang tak bertulis (tabularasa), kertas itu kemudian mendapat isi dari luar. Dalam pendidikan, yang memberi dan mengatur isinya adalah guru. Karena gurulah  yang harus aktif sedangkan anak didik bersifaat reseptif.  Sedangkan menurut Herbart jiwa adalah keseluruhan tanggapan yang secara mekanis dikuasai oleh hukum-hukum asosiasi.

Disinipun guru pulalah yang harus menyampaikan tanggapan-tanggapan itu. Jadi konsepsi jiwa sebagai “kertas bersih” yang harus ditulis atau sebagai bejana yang harus diisi menyebabkan gurulah yang aktif dan dari gurulah datang segala inisiatif. Gurulah yang menentukan bahan pelajaran sedangkan murid-murid bersifat reseptif dan pasif.

b.  Menurut Pandangan Ilmu Jiwa Modern

Menurut konsepsi modern jiwa itu dinamis, mempunyai energi sendiri dan dapat menjadi aktif karena dorongan oleh macam-macam kebutuhan. Anak didik dipandang sebagai organisme yang mempunyai dorongan  untuk berkembang. Mendidik adalah membimbing anak  untuk mengembangkan bakatnya. Dalam pendidikan anak-anak sendirilah yang harus aktif. Guru hanya dapat menyediakan bahan pelajaran, akan tetapi yang mengolah dan mencernanya adalah anak itu sendiri sesuai dengan bakat dan latar belakang dan kemauan masing-masing.

Beberapa aktivitas belajar menurut  Djamarah (2000) sebagai berikut :

  1. Mendengarkan

Mendengarkan adalah salah satu aktivitas belajar. Setiap orang yang belajar di  sekolah pasti ada aktivitas mendengarkan. Ketika  seorang guru menggunakan  metode ceramah, maka setiap siswa  diharuskan mendengarkan apa yang guru  sampaikan. Menjadi pendengar yang baik dituntut dari mereka.

  1. Memandang

Memandang adalah mengarahkan penglihatan ke suatu objek. Aktivitas  memandang berhubungan erat dengan mata. Karena dalam memandang itu  matalah yang memegang peranan penting. Tanpa mata tidak mungkin terjadi  aktivitas memandang dapat dilakukan.

  1. Meraba, Membau, dan Mencicipi/Mengecap

Aktivitas meraba, membau, dan mengecap adalah indra manusia yang dapat  dijadikan sebagai alat untuk kepentingan belajar. Artinya aktivitas meraba,  membau dan mengecap dapat memberikan kesempatan bagi seseorang  untuk belajar. Tentu saja aktivitasnya harus disadari oleh suatu tujuan.

  1.  Menulis atau Mencatat

Menulis atau mencatat merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari aktivitas belajar. Dalam pendidikan tradisional kegiatan mencatat merupakan aktivitas yang sering dilakukan. Walaupun pada  waktu tertentu seseorang harus mendengarkan isi ceramah, namun dia tidak bisa mengabaikan masalah  mencatat hal-hal  yang dianggap penting.

 

  1.  Membaca

Aktivitas membaca adalah aktivitas yang paling banyak dilakukan selama belajar di sekolah atau di perguruan tinggi. Membaca disini tidak mesti membaca buku belaka, tetapi juga membaca majalah,  koran, tabloid, jurnal-jurnal hasil penelitian, catatan hasil belajar atau kuliah dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan kebutuhan studi.

  1. Membaca Ikhtisar atau Ringkasan dan Menggarisbawahi

Ikhtisar atau ringkasan dapat membantu dalam hal mengingat atau mencari kembali materi dalam buku untuk masa-masa yang akan datang. Untuk keperluan belajar yang intensif, bagaimanapun juga hanya membuat ikhtisar adalah belum cukup. Sementara membaca, pada hal-hal yang penting perlu diberi garis bawah (underlining). Hal ini sangat membantu dalam usaha menemukan kembali materi itu dikemudian hari, bila diperlukan.

  1. Mengamati Tabel-Tabel, Diagram-Diagram dan Bagan-Bagan

Dalam buku ataupun di lingkungan lain sering dijumpai tabel-tabel, diagram, ataupun bagan-bagan. Materi non-verbal  semacam ini sangat membantu bagi seseorang dalam mempelajari materi  yang relevan. Demikian pula gambar-gambar, peta-peta, dan lain-lain dapat menjadi bahan ilustratif yang membantu pemahaman seseorang terhadap sesuatu hal.

  1. Menyusun Paper atau Kertas Kerja

Dalam menyusun paper tidak bisa sembarangan, tetapi harus metodologis dan sistematis. Metodologis artinya menggunakan metode-metode tertentu dalam penggarapannya. Sistematis artinya menggunakan  kerangka berpikir yang logis dan kronologis.

  1. Mengingat

Mengingat yang didasari atas kebutuhan serta kesadaran untuk mencapai tujuan belajar lebih lanjut termasuk aktivitas belajar. Apalagi jika mengingat itu berhubungan dengan aktivitas-aktivitas belajar yang lainnya.

  1. Berpikir

Berpikir adalah termasuk aktivitas belajar. Dengan berpikir orang memperoleh penemuan baru, setidak-tidaknya orang menjadi tahu tentang hubungan antara sesuatu.

  1. Latihan atau Praktek

Learning by doing adalah konsep belajar yang menghendaki  adanya penyatuan usaha mendapatkan kesan-kesan dengan  cara berbuat. Belajar sambil berbuat dalam hal ini termasuk latihan. Latihan termasuk cara  yang baik untuk memperkuat ingatan (Djamarah, 2000).

            Menurut Hamalik (2005), nilai-nilai aktivitas dalam pengajaran bagi siswa sebagai berikut :

  1. Para siswa mancari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.
  2. Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral.
  3. Memupuk kerja sama yang harmonis di kalangan siswa.
  4. Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri.
  5. Memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis.
  6. Mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara orang tua dengan guru.
  7. Pengajaran diselenggarakan secara  realitis dan konkret sehingga mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan verbalitis.
  8. Pengajaran di sekolah menjadi hidup sebagaimana aktivitas dalam kehidupan di masyarakat.

Dalam Sardiman (2007), Paul B. Diedrich membuat suatu daftar kegiatan pembelajaran siswa yang antara lain dapat digolongkan sebagai berikut.

  1. Visual activities, yang termasuk di dalamnya seperti membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan.
  2. Oral activities, seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
  3. Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
  4. Writing activities, seperti menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
  5. Drawing activities, seperti menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
  6. Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat konsstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.

12/02/2011 Posted by | PTK | 2 Komentar

Retensi dan Pemahaman Konsep

2.4 Retensi

            Daya ingat yang baik merupakan kebutuhan setiap siswa untuk belajar optimal. Ini karena hasil belajar siswa di sekolah diukur berdasarkan penguasaan siswa atas materi pelajaran, yang prosesnya tidak terlepas dari kegiatan mengingat (kemampuan menggunakan daya ingat). Maka dengan daya ingat yang baik, siswa akan dapat belajar dengan mudah dan mencapai hasil optimal. Namun, tidak setiap siswa memiliki daya ingat yang baik. Dalam setiap kelas, misalnya, pasti ada siswa yang memiliki daya ingat baik dan ada pula yang memiliki daya ingat buruk. Hal ini sesuai pendapat Kapadia (2003) yang menyatakan bahwa beberapa orang memiliki daya ingat yang baik, dan yang lainnya berdaya ingat buruk (Admin, 2009).

Proses pembelajaran di kelas akan berlangsung lancar bila seluruh siswa memiliki daya ingat yang baik. Tetapi ketika sebagian besar siswa memiliki daya ingat buruk ditandai dengan kesulitan siswa dalam mengingat materi pelajaran tentunya akan timbul masalah karena proses pembelajaran menjadi lamban. Lambannya proses pembelajaran akan berdampak tidak tercapainya target yang ditentukan. Atau kalau target tercapai, daya serapnya justru tidak tercapai. Jika ini terjadi, berarti pembelajaran tidak berhasil (Admin, 2009).

Untungnya, daya ingat itu dapat diperbaiki. Ini sesuai pendapat Stine (2003) bahwa orang yang memiliki ingatan tajam (daya ingat baik) tidak dilahirkan tetapi diciptakan. Melalui teknik yang tepat, orang dapat mendayagunakan daya ingat sehingga memperoleh yang terbaik darinya, memproses dan mengakses informasi dengan mudah
Untuk memudahkan pemahaman tentang pendayagunaan daya ingat, kita perlu mengetahui cara kerjanya. Menurut Kapadia, cara kerja daya ingat mirip dengan cara kerja perekam. Dia mengibaratkan daya ingat sebagai tape recorder. Tombol “play” diwakili indera (peraba, perasa, pembau, penglihat, pendengar). Tombol perekam diwakili benak (pemusatan pikiran). Putar ulang diwakili kemauan, dan listrik diwakili energi lingkungan.

Rendahnya daya ingat siswa terhadap meteri pelajaran merupakan salah satu masalah yang sering dihadapi guru. Retensi sebagai bagian dari ingatan memegang peranan penting agar dapat terjadi perubahan yang relatif permanan dalam tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman, yaitu proses belajar. Tanpa adanya retensi, proses belajar tidak mungkin terjadi, begitu pula sebaliknya. Retensi siswa dapat ditingkatkan dengan cara melibatkan mereka secara aktif
dalam proses pembelajaran. Peran aktif siswa dalam belajar dapat bervariasi mulai dari yang paling minimal hingga maksimal (Aryanti,. et all, 2007). Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui apakah dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share kelompok rendah tinggi dan pemberian tugas terstruktur retensi dan pemahaman siswa dapat meningkat.

2.5 Pemahaman Konsep

Pemahanam konsep merupakan salah satu bentuk hasil belajar yang diperoleh siswa dari mengikuti proses kegiatan pembelajarannya. Menurut Benjamin S. Bloom tiga ranah (domain) hasil belajar, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik (Sudijono, 2008). Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental otak. Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses berpikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang dimaksud adalah: (1) pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge), (2) pemahaman (comprehension), (3) penerapan (application), (4) analisis (analysis), (5) sintesis (synthesis) dan (6) penilaian (evaluation). Uraian dari keenam jenjang proses berpikir adalah sebagaimana berikut ini.

  1. a.    Pengetahuan (knowledge)

Kemampuan seseorang untuk meningat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya artinya siswa dapat memperkenalkan, mengingat, dan mereproduksi bahan pengajaran/pelajaran yang pernah diberikan (Arishanti, 2005). Pengetahuan atau ingatan ini merupakan proses berpikir yang paling rendah.

  1. b.   Pemahaman (comprehension)

Kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi (Sudijono, 2008). Seorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri, artinya peserta didik dapat memahami materi yang diberikan dan mampu mempergunakannya tanpa perlu menghubungkan dengan materi lain/melihat implikasinya (Arishanti, 2005). Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berpikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.

  1. c.    Penerapan (application)

Kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya dalam situasi yang baru dan konkrit artinya peserta didik dapat menggunakan hal-hal abstrak dalam situasi khusus dan konkrit (Arishanti, 2005). Aplikasi atau penerapan ini merupakan proses berpikir setingkat lebih tinggi ketimbang pemahaman.

  1. d.   Analisis (analysis)

Kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya, artinya peserta didik dapat menguraikan materi menjadi bagian-bagian sehingga  kedudukan/hubungannya menjadi jelas (Arishanti, 2005). Jenjang analisis setingkat lebih tinggi ketimbang jenjang aplikasi.

 

  1. e.    Sintesis (synthesis)

Kemampuan berpikir yang merupakan kebalikan dari proses berpikir analisis. Sintesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis sehinga menjelma menjadi suatu pola yang berstruktur atau berbentuk pola baru, artinya peserta didik dapat menyusun susunan bagian-bagian sehingga membentuk keseluruhan proses belajar dengan bahan-bahan dan menyusunnya menjadi pola tertentu (Arishanti, 2005). Jenjang analisis setingkat lebih tinggi ketimban jenjang aplikasi.

  1. f.      Penilaian (evaluation)

Kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai atau ide, misalnya seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih salah satu pilihan yang terbaik, sesuai denan patokan-patokan atau kriteria yang ada artinya peserta didik dapat mempertimbangan mengenai nilai dari bahan dan metoda untuk tujuan tertentu (Arishanti, 2005). Penilaian merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif (Sudijono, 2008).

Menurut Arikunto (1995) pemahaman (comprehension) siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana diantara fakta-fakta atau konsep. Menurut sudjana (1992) pemahaman dapat dibedakan dalam tiga kategori antara lain : (1) tingkat terendah adalah pemahaman terjemahan, mulai dari menerjemahkan dalam arti yang sebenarnya, mengartikan prinsip-prinsip, (2) tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran, yaitu menghubungkan bagian-bagian terendah dengan yang diketahui berikutnya, atau menghubungkan dengan kejadian, membedakan yang pokok dengan yang bukan pokok, dan (3) tingkat ketiga merupakan tingkat tertinggi yaitu pemahaman ektrapolasi.

Pemahaman konsep penting bagi siswa karena dengan memahami konsep yang benar maka siswa dapat menyerap, menguasai, dan menyimpan materi yang dipelajarinya dalam jangka waktu yang lama.

11/24/2011 Posted by | PTK | 1 Komentar

Tugas Terstruktur

2.3 Tugas Terstruktur

Salah satu upaya dalam meningkatkan intensitas belajar IPA adalah dengan pemberian tugas terstruktur. Dalam pemberian tugas terstruktur dimaksudkan agar selain untuk penguatan juga menimbulkan sikap positif terhadap pelajaran IPA. Pemberian tugas biasanya dalam bentuk pekerjaan rumah, yang bertujuan memberikan kesempatan siswa untuk mendapatkan pengertian yang luas tentang topik dan konsep-konsep yang telah dan akan diajarkan didalam kelas. Dengan ini siswa akan lebih tahu kekurangan dalam mempelajari dan memahami materi yang telah diajarkan oleh guru. Dan dengan adanya pemberian tugas terstruktur tersebut siswa juga tidak akan merasa bosan dalam belajar IPA karena materi pelajaran disampaikan secara berurutan atau terprogram sehingga siswa dengan mudah mengerjakan tugas yang dapat menimbulkan pengalaman belajar yang nantinya dapat meningkatkan intensitas belajar dan pemahaman siswa.

Tugas ini dirancang untuk membimbing peserta didik dalam satu program pelajaran, dengan sedikit atau sama sekali tanpa bantuan guru, untuk mencapai sasaran yang dituju dalam pelajaran itu, dalam hal ini adalah pembelajaran IPA tentang Batuan dan Proses Pembentukan Tanah.

Pada penelitian tugas terstruktur disajikan dalam bentuk modul. Modul dapat dirumuskan sebagai suatu unit yang lengkap yang berdiri sendiri dan terdiri atas suatu rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu peserta didik mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas. Modul yang diberikan berisi uraian materi yang dilengkapi dengan soal latihan yang diharapkan dapat meningkatkan penalaran dan pemahaman peserta didik terhadap materi yang diajarkan. Modul ini diberikan pada pertemuan sebelumnya sehingga peserta didik dapat mempelajarinya di rumah.

Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang berupa bahan cetakan. Ada beberapa pengertian tentang modul, antara lain:

1)        Modul adalah alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan materi pembelajaran, petunjuk kegiatan belajar, latihan dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan dapat digunakan secara mandiri.

2)        Modul adalah alat pembelajaran yang disusun sesuai dengan kebutuhan belajar pada mata pelajaran tertentu untuk keperluan proses pembelajaran tertentu, sebuah kompetensi atau sub kompetensi dikemas dalam satu modul secara utuh (self contained), mampu membelajarkan diri sendiri atau dapat digunakan untuk belajar secara mandiri (self instrucsional), penggunaannya tidak tergantung dengan media lain (self alone), memberikan kesempatan peserta didik untuk berlatih dan memberikan rangkuman, memberi kesempatan melakukan tes sendiri (self test) dan mengakomodasi kesulitan peserta didik dengan memberikan tindak lanjut dan umpan balik.

Dengan memperhatikan kedua pengertian diatas kita dapat bahwa modul adalah sarana pembelajaran dalam bentuk tertulis/cetak yang disusun secara sistematis, memuat materi pembelajaran, metode, tujuan pembelajaran berdasarkan kompetensi dasar atau indikator pencapaian kompetensi, petunjuk kegiatan belajar mandiri (self instructional), dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menguji diri sendiri melalui latihan yang disajikan dalam modul tersebut.

Modul memiliki sifat self contained artinya dikemas dalam satu kesatuan yang utuh untuk mencapai kompetensi tertentu. Modul juga memiliki sifat membantu dan mendorong pebacanya untuk mampu membelajarkan diri sendiri (self instructional) dan tidak bergantung pada media lain (self alone) dalam penggunaannya (Suprawoto, 2009).

Modul memiliki berbagai manfaat baik ditinjau dari kepentingan peserta didik maupun dari kepentingan guru. Bagi peserta didik modul bermanfaat antara lain:

1)        Peserta didik memiliki kesempatan melatih diri belajar secara mandiri.

2)        Belajar menjadi lebih menarik karena dapat dipelajari diluar kelas dan diluar jam pelajaran.

3)        Berkesempatan mengekspresikan cara-cara belajar yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

4)        Berkesempatan menguji kemampuan diri sendiri dengan mengerjakan latihan yang disajikan dalam modul.

5)        Mampu membelajarkan diri sendiri.

6)        Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam berinteraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya.

11/24/2011 Posted by | PTK | Tinggalkan komentar

Pembelajaran Kooperatif tipe TPS

2.2 Pembelajaran Kooperatif tipe TPS

            Ada beberapa hal prinsip sehubungan dengan pembelajaran kooperatif tipe TPS yang akan dijelaskan dibagian ini, yaitu: pengertian pembelajaran kooperatif tipe TPS dan kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TPS.

2.2.1 Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS

            TPS yaitu teknik yang dikembangkan oleh Frank Lyman (Think-Pair-Share). Teknik ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan dan teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa, yaitu memberi kesempatan delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain (Isjoni, 2006).

Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa pendekatan, salah satunya ialah TPS. Strategi TPS tumbuh dari penelitian pembelajaran kooperatif dan waktu tunggu. Strategi ini merupakan cara yang efektif untuk mengubah pola diskursus didalam kelas. Strategi ini menantang asumsi bahwa seluruh resistasi dan diskusi perlu dilakukan di dalam setting seluruh kelompok. TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.

            Strategi TPS yang digunakan oleh para guru menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:

Tahap-1: Thinking (berfikir)

Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.

Tahap-2: Pairing

Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau berbagi ide jika suatu persoalan khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.

Tahap-3: Share

Pada tahap ini, guru meminta kepada beberapa pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah didiskusikan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan pekerjaannya (Ibrahim, 2006).

            Kegiatan “berpikir-berpasangan-berbagi” dalam model Think-Pair-Share memberikan keuntungan. Siswa secara individu dapat mengembangkan pemikirannya masing-masing karena adanya waktu berpikir (think time), Sehingga kualitas jawaban juga dapat meningkat. Menurut Jones (2002), akuntabilitas berkembang karena siswa harus saling melaporkan hasil pemikiran masing-masing dan berbagi (berdiskusi) dengan pasangannya, kemudian pasangan-pasangan tersebut harus berbagi dengan seluruh kelas. Jumlah anggota kelompok yang kecil mendorong setiap anggota untuk terlibat secara aktif, sehingga siswa jarang atau bahkan tidak pernah berbicara di depan kelas paling tidak memberikan ide atau jawaban karena pasangannya.

Menurut Spencer Kagan ( dalam Maesuri, 2002) manfaat Think-Pair-Share adalah: (1) para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain ketika mereka terlibat dalam kegiatan Think-Pair-Share lebih banyak siswa yang mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dalam pasangannya. Para siswa mungkin mengingat secara lebih seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi lebih baik, dan (2) para guru juga mungkin mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan Think-Pair-Share. Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamati reaksi siswa, dan mengajukan pertanyaaan tingkat tinggi.

2.2.2 Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS

            Sanjaya (2006) menyatakan bahwa keunggulan pembelajaran Kooperatif sebagai suatu model pembelajaran diantarannya adalah sebagai berikut:

  1. Melalui model pembelajaran kooperatif peserta didik tidak terlalu menggantungkan pada guru, tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari peserta didik yang lain.
  2. Model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan, mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
  3. Model pembelajaran kooperatif dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
  4. Model pembelajaran kooperatif dapat memberdayakan setiap peserta didik untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
  5. Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan orang lain, mengembangkan keterampilan me-manage waku, dan sikap positif terhadap sekolah.
  6. Melalui model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahaman sendiri, menerima umpan balik. Peserta didik dapat memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
  7. Model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan peserta didik menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
  8. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan berfikir. Hal ini berguna untuk pendidikan jangka panjang.

11/24/2011 Posted by | PTK | Tinggalkan komentar

Pembelajaran Kooperatif

2.1 Pembelajaran Kooperatif

Ada beberapa hal prinsip sehubungan dengan pembelajaran kooperatif yang akan dijelaskan pada bagian ini, yaitu: pengertian pembelajaran kooperatif, tujuan pembelajaran kooperatif, teori-teori yang terkait dengan pembelajaran kooperatif, karakteristik pembelajaran kooperatif, langkah-langkah pembelajaran kooperatif, dan jenis-jenis pembelajaran kooperatif, sebagaimana uraian berikut ini.

2.1.1 Pengertian Pembelajaran Kooperatif

            Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) adalah model pembelajaran yang mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Model pembelajaran ini melibatkan siswa dalam kelompok yang terdiri dari empat atau lima siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda. Pembelajaran kooperatif memiliki suatu struktur tugas dan penghargaan yang berbeda dalam mengupayakan pembelajaran siswa. Struktur tugas itu menghendaki siswa untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil. Struktur penghargaan itu mengakui upaya kolektif dan individual. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan jika mereka berhasil sebagai kelompok.

            Model kooperatif yang digunakan oleh para guru memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Ibrahim et al., 2006):

  1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
  2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
  3. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda. Penghargaan berorientasi kelompok dari pada individu.

Pembelajaran kooperatif dapat berjalan secara efektif, maka perlu ditanamkan pada diri siswa unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut (Ibrahim et al., 2005):

  1. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup semati.
  2. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
  3. Para siswa haruslah beranggapan bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
  4. Para siswa haruslah membagi tugas dan bertanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
  5. Para siswa dikenakan penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompoknya.
  6. Para siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajar.
  7. Para siswa diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

2.1.2 Tujuan Pembelajaran Kooperatif

            Pelaksanaan model cooperative learning membutuhkan partisipasi dan kerja sama dalam kelompok pembelajaran. Cooperative leraning dapat meningkatkan cara belajar siswa menuju belajar lebih baik, sikap tolong-menolong dalam beberapa perilaku sosial. Tujuan utama dalam penerapan model belajar mengajar cooperative learning adalah agar peserta didik dapat belajar secara berkelompok bersama teman-temannya dengan cara saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan pendapat mereka secara berkelompok.

            Pada dasarnya model cooperative learning di kembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum Ibrahim, et al.(2000) dalam Isjoni (2010), yaitu:

  1. Hasil belajar akademik

Dalam cooperative learning meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan, model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan  dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, cooperative learning dapat memberi keuntungan, baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

  1. Penerimaan terhadap perbedaan individu

Tujuan lain model cooperative learning adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

  1. Pengembangan keterampilan sosial

Tujuan penting ketiga cooperative learning adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerjasama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial penting dimiliki siswa, sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

2.1.3 Teori-teori yang Terkait dengan Pembelajaran Kooperatif

            Model pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang agak kompleks, dan yang lebih penting lagi, dapat membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensikan sosial dan hubungan antar manusia. Telah dibuktikan pembelajaran kooperatif sangat efektif untuk memperbaiki hubungan antar suku dan etnik, dan kelas yang bersifat multicultural, dan hubungan antar siswa biasa dengan siswa penyandang cacat. Belajar secara kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif-konstruktivis dan teori belajar sosial (Kardi, 2003).

            Teori Vigotsky memiliki dua implikasi utama. Pertama adalah hasrat mewujudkan tatanan pembelajaran kooperatif diantara kelompok-kelompok siswa dengan tingkat-tingkat kemampuan yang berbeda. Penuturan teman sebaya yang lebih kompeten akan paling efektif dalam mengembangkan pertumbuhan di dalam zona perkembangan terdekat. Kedua, pendekatan ala Vigotsky dalam pengajaran menekankan perancahan (Scaffolding), dengan siswa semakin lama semakin mengambil tanggung jawab untuk pembelajarannya sendiri (Nur, 2004).

            Ericson mengembangkan apa yang disebut rasa percaya diri (industry). Interaksi diantara teman sebaya menjadi semakin penting dengan adanya rasa percaya diri. Kemampuan anak untuk bergerak antara dunia tersebut dan mengatasi tugas akademik, aktivitas kelompok, dan teman-teman akan membawa ke arah pengembangan rasa mampu (Marsitah, 2004).

            Menurut Ausabel dalam Suprijono (2009), pemecahan masalah yang cocok adalah lebih bermanfaat bagi siswa dan merupakan strategi yang efisien dalam pembelajaran. Kekuatan dan kebermaknaan proses pemecahan masalah dalam pembelajaran terletak pada kemampuan pelajar dalam mengambil peran pada kelompoknya. Untuk memperlancar proses tersebut diperlukan bimbingan langsung dari guru, baik lisan maupun dengan contoh tindakan. Sedangkan siswa diberi kebebasan untuk membangun pengetahuannya sendiri, dengan demikian cooperative learning akan dapat mengusir rasa jenuh dan bosen.

            Menurut Piaget dalam Suprijono (2009), dalam hubungannya dengan pembelajaran, teori ini mengacu kepada kegiatan pembelajaran yang harus melibatkan partisipasi peserta didik. Sehingga menurut teori ini pengetahuan tidak hanya sekedar dipindahkan secara verbal tetapi harus dikonstruksi dan direkonstruksi peserta didik. Sebagai realisasi teori ini, maka dalam kegiatan pembelajaran peserta didik haruslah bersifat aktif. Cooperative learning adalah sebuah model pembelajaran aktif dan partisipatif.

2.1.4 karakterisitik Pembelajaran Kooperatif

            Pada hakikatnya pembelajaran kooperatif sama dengan kerja kelompok, oleh sebab itu banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh dalam pembelajaran kooperatif, karena mereka menganggap telah terbiasa menggunakannya. Walaupun pembelajaran kooperatif terjadi dalam bentuk kelompok, tetapi tidak setiap kerja kelompok dikatakan cooperative learning.

Roger dan David johnson dalam Lie (1999) menyatakan bahwa: “Tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning.  Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur pembelajaran kooperatif harus diterapkan, yaitu : (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung jawab perseorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antar anggota, dan (5) evaluasi proses kelompok”.

1. Saling ketergantungan positif

Keberhasilan kelompok sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya.  Kegagalan satu anggota kelompok saja berarti kegagalan kelompok. Untuk menciptakan  kelompok kerja yang efektif, guru perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri.  Penilaian yang dilakukan adalah penilaian individu dan penilaian kelompok.  Dengan demikian setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan nilai pada kelompoknya.

2. Tanggung jawab perseorangan

Jika  tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik, sehingga masing-masing anggota kelompok akan melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok dapat dilaksanakan.

3. Tatap muka

Setiap anggota kelompok diberikan kesempatan bertemu muka dan berdis-kusi.  Kegiatan interaksi ini akan membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota.  Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing.

4. Komunikasi antar anggota

Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk mengutarakan pendapat mereka.  Disinilah peranan guru untuk memotivasi siswanya agar berani mengutarakan pendapatnya.  Proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
5. Evaluasi proses kelompok

Evaluasi proses kelompok bertujuan untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja mereka agar selanjutnya dapat bekerja sama dengan lebih baik.

Model pembelakaran kooperatif ini menekankan adanya kerjasama, saling ketergantungan dan menghormati pendapat orang lain dalam menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan pembelajaran dan suatu penghargaan bersama.

            Keterampilan-keterampilan selama kooperatif tersebut antara lain sebagai berikut Lungdren (1994) dalam Isjoni (2010):

  1. Keterampilan Koopertif Tingkat Awal

1)      Menggunakan kesepakatan

Yang dimaksud dengan menggunakan kesepakatan adalah menyamakan pendapat yang berguna untuk meningkatkan hubungan kerja dalam kelompok.

2)      Menghargai kontribusi

Menghargai berarti memperhatikan atau mengenal apa yang dapat dikatakan atau dikerjakan anggota lain. Hal ini berarti harus selalu setuju dengan anggota lain, dapat saja kritik yang diberikan itu ditunjukan terhadap ide dan tidak individu.

3)      Mengambil giliran dan berbagi tugas

Pengertian ini mengandung arti bahwa setiap anggota kelompok bersedia menggantikan dan bersedia mengemban tugas/tanggung jawab tertentu dalam kelompok.

4)      Berada dalam kelompok

Yaitu setiap anggota tetap berada dalam kelompok kerja selama kegiatan berlangsung.

5)      Berada dalam tugas

Yaitu meneruskan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, agar kegiatan dapat diselesaikan sesuai waktu yang dibutuhkan.

6)      Mendorong partisipasi

Yaitu mendorong semua anggota kelompok untuk memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok.

7)      Mengundang orang lain

Yaitu meminta orang lain untuk berbicara dan berpartisipasi terhadap tugas.

8)      Menyelesaikan tugas dalam waktunya

9)      Menghormati perbedaan individu

Yaitu bersikap menghormati terhadap budaya, suku, ras atau pengalaman peserta didik.

  1. Keterampilan Tingkat Menengah

Keterampilan tingkat menengah meliputi menunjukkan penghargaan dan simpati, mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara dapat diterima, mendengarkan dengan arif, bertanya, membuat ringkasan, menafsirkan, dan mengurangi ketegangan.

  1. Keterampilan Tingkat Mahir

Keterampilan tingkat mahir meliputi mengelaborasi, memeriksa dengan cermat, menanyakan kebenaran, menetapkan tujuan, dan berkompromi.

2.1.5 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

            Terdapat 6 langkah utama atau tanggapan di dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi peserta didik untuk belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian informasi, seringkali dengan bahan bacaan dari pada secara verbal. Selanjutnya peserta didik dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat peserta didik bekerja sama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Fase terakhir pembelajaran kooperatif meliputi kerja kelompok, atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Enam tahap pembelajaran koperatif dapat dirangkum pada tabel berikut:

Tabel 1. Langkah umum model pembelajaran kooperatif

(Ibrahim et al., 2006)

Fase

Tingkah Laku Guru

  • Fase I

Menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik

  • Fase II

Menyajikan informasi

  • Fase III

Mengorganisasikan peserta didik ke dalam kelompok belajar

  • Fase IV

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

  • Fase V

Evaluasi

  • Fase VI

Memberikan penghargaan

  • Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi peserta didik belajar.
  • Guru menyajikan informasi kepada peserta didik dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
  • Guru menjelaskan kepada peserta didik bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
  • Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

 

  • Guru mengevaluasi hasil belajar yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
  • Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

 

 

2.1.6 Jenis-jenis Pembelajaran Kooperatif

            Jenis-jenis pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:

  1. Numbered Heads Toghether (NHT) atau Kepala Bernomor, langkah-langkahnya:

1)   Peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok dan setiap peserta didik mendapatkan nomor

2)   Guru membagikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya

3)   Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan setiap kelompok mengerjakannya/mengetahui jawabannya

4)   Guru memanggil salah satu nomor siswa untuk melaporkan hasil kerja mereka

5)   Peserta didik yang lain memberi tanggapan

6)   Guru menunjuk nomor yang lainnya untuk kelompok berikutnya

7)   kesimpulan

  1. Think Pair and Share (TPS)

Srategi Think-pair-share yang digunakan oleh para guru menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:

1)   Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai

2)   Peserta didik diminta untuk berpikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru

3)   Peserta didik diminta berpasangan dengan teman sebelahnya dan mengutarakan pemikiran masing-masing

4)   Guru memimpin diskusi kecil. Tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya

5)   Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para peserta didik

6)   Guru memberi kesimpulan/penutup

  1. STAD (Student Teams Achievement Divisions)

Strategi ini menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:

1)   Membentuk kelompok beranggotakan 4 peserta didik secara heterogen

2)   Guru menyajikan pelajaran

3)   Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang mengetahui menjelaskan kepada lainnya sampai mengerti

4)   Guru memberi pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat peserta didik menjawab pertanyaan tidak boleh saling membantu

5)   Memberi evaluasi

6)   penutup

  1. Jigsaw

Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:

1)   Peserta didik dikelompokkan beranggotakan 4

2)   Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda

3)   Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian bab atau sub bab yang sama bertemu dengan kelompok baru (Kelompok Ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka

4)   Setelah selesai diskusi sebagian tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan berganian mengajar atau melaporkan hasil diskusinya kepada teman satu tim mereka tentang sub bab yang harus dibahas

5)   Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusinya

6)   Guru memberikan evaluasi

7)   Penutup

11/24/2011 Posted by | PTK | 1 Komentar

HUBUNGAN ANALISIS KRITIS ARTIKEL DENGAN MINAT MEMBACA DAN HASIL BELAJAR

Dalam menganalisis kritis artikel terdapat panduan yang terdiri dari beberapa langkah, diantaranya: menuliskan bibliografi atau daftar pustaka, menuliskan tujuan penulis, menemukan fakta-fakta unik, menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang muncul setelah membaca, dan lain sebagainya. Sebelum kegiatan analisis kritis artikel dilakukan, siswa harus membaca terlebih dahulu artikel yang diberikan oleh guru maupun yang mereka dapatkan sendiri.  Tanpa membaca siswa tidak akan dapat menuliskan tujuan penulis artikel, menuliskan pertanyaan-pertanyaan, mengidentifikasi konsep yang terkait dengan materi pelajaran, dan menuliskan fakta-fakta unik dalam artikel. Sehingga untuk menganalisis kritis artikel siswa harus mempunyai minat dalam membaca.

Membaca merupakan kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memenuhi minatnya. Melalui membaca, informasi dan pengetahuan yang berguna bagi kehidupan dapat diperoleh. Inilah motivasi pokok yang dapat mendorong timbul dan berkembangnya minat anak. Apabila minat ini sudah tumbuh dan berkembang, dalam arti bahwa anak sudah mulai suka membaca, maka minat baca pun akan meningkat (Sutini, 2010).

Saat ini minat baca siswa tergolong rendah, untuk itu guru harus mampu menumbuhkan minat membaca siswa dengan memberikan tugas yang memungkinkan siswa untuk membaca.  Meskipun minat baca siswa rendah, tetapi kalau seorang guru sudah memberikan tugas dengan deadline pengumpulan yang jelas, maka siswa mau tidak mau akan membaca. Dengan pembelajaran melalui analisis kritis artikel diharapkan kebiasaan membaca siswa yang kurang dapat meningkat. Meskipun membaca yang semula hanya karena mengejar deadline tugas yang diberikan guru, selanjutnya akan menjadi kebiasaan siswa, jika siswa dibiasakan membaca dengan diberi tugas-tugas yang mengharuskan mereka membaca.

Untuk meningkatkan minat baca siswa tidak hanya cukup dengan memberikan tugas-tugas, tetapi sumber bacaan juga sangat menetukan minat baca siswa. Buku pelajaran sudah menjadi sebuah sumber belajar yang membosankan bagi siswa, sehingga guru harus dapat mencari sumber bacaan lain yang lebih meningkatkan minat siswa untuk membaca dan belajar. Artikel yang digunakan dalam pembelajaran dengan analisis kritis artikel berasal dari surat kabar dan internet. Menurut McGowan dalam Bambang (2008) bahwa kini para siswa memandang Internet sebagai sebuah perpustakaan raksasa untuk mencari informasi apapun. Siswa sangat tertarik dengan apapun yang ada di internet. Dengan internet siswa dapat mencari berbagai informasi tentang apa yang dipelajari, yang tidak cukup hanya didapat dari buku pelajaran. Surat kabar juga lebih diminati siswa untuk dibaca daripada buku pelajaran. Sehingga dengan media internet dan surat kabar siswa akan mendapat pengetahuan yang lebih luas dan minat membacanya akan meningkat.

2.1    Hubungan Analisis Kritis Artikel dengan Hasil Belajar

Hamalik dalam Jihad (2009) menyatakan, hasil-hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian dan sikap-sikap, serta apersepsi dan abilitas. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku siswa secara nyata setelah dilakukan proses belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan pengajaran.

Setelah melalui proses belajar maka siswa diharapkan dapat mencapai tujuan belajar yang disebut juga sebagai hasil belajar yaitu kemampuan yang dimiliki siswa setelah menjalani proses belajar. Dalam proses pembelajaran berbagai macam strategi dilakukan oleh guru agar dapat meningkatkan hasil belajar siswanya, salah satunya dengan analisis kritis artikel.

Analisis kritis artikel dapat melatih berbagai kemampuan siswa sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal, misalnya kemampuan membaca, menganalisis suatu fakta dan menghubungkannya dengan materi pelajaran, menulis dan berpikir kritis. Beberapa penelitian membuktikan manfaat kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran. Lawson dalam Anatahime (2009) menyatakan bahwa menurut teori Piaget, perkembangan kemampuan penalaran formal sangat penting bagi perolehan (penguasaan) konsep, karena pengetahuan konseptual merupakan akibat atau hasil dari suatu proses konstruktif, dimana kemampuan penalaran formal adalah kemampuan berpikir kritis.

Dengan analisis kritis artikel kemampuan berpikir kritis siswa akan semakin meningkat, sehingga pemahaman terhadap konsep dan materi yang dipelajari akan lebih mudah. Menurut Kohoe dalam Anatahime (2009), siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis akan memiliki kepribadian yang unggul dalam setiap sisi kehidupannya, bahkan dapat meningkatkan hasil belajar dan mengubah kehidupan dalam lingkup individu maupun masyarakat.

Penilaian analisis kritis artikel apabila siswa mampu menganalisis artikel sesuai dengan panduan analisis kritis artikel dengan tepat yaitu mampu menuliskan bibliografi penulis, menyebutkan tujuan penulis, menyebutkan fakta-fakta unik dalam artikel dan yang paling penting adalah bagaimana siswa menghubungkan fakta yang telah didapat dan menghubungkannya dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari. Untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa dilihat dari hasil analisis kritis artikel dan hasil tes yang diberikan kepada siswa setelah mengerjakan analisis kritis artikel.

11/21/2011 Posted by | PTK | Tinggalkan komentar

HASIL BELAJAR BIOLOGI

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2009). Siswa yang belajar akan mengalami perubahan sebagai hasil belajar yang telah dilakukan. Hasil belajar merupakan sesuatu yang diperoleh, didapatkan atau dikuasai setelah proses belajar yang biasanya ditunjukkan dengan nilai atau skor.

Menurut Howard Kingsley dalam Sudjana (2009) hasil belajar dibagi menjadi tiga macam, yaitu: (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sedangkan Gagne dalam Sudjana (2009) membagi lima kategori hasil belajar, yaitu: (a) informasi verbal, (b) keterampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d) sikap, dan (e) keterampilan motoris.

  1. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.kemampuan merespons secara spesifik terhadap rangasangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah maupun penerapan aturan.
  2. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Keteraampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasikan, kemampuan analisis-sintetis, fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan.
  3. Strategi positif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
  4. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.
  5. Keterampilan motoris yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani (Suprijono, 2010).

Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom. Benyamin Bloom membagi hasil belajar ke dalam tiga ranah yang dikenal dengan taksonomi Bloom, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Yang  dimaksud  dengan ranah-ranah ini oleh Bloom adalah perilaku-perilaku  yang memang diniatkan untuk ditunjukkan   oleh   siswa   atau   pelajar   dalam   cara-cara   tertentu. Ranah kognitif berkaitan dengan tujuan-tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan kemampuan berpikir, mengetahui dan memecahkan masalah. Ranah afektif berkaitan dengan tujuan-tujuan yang berhubungan dengan perasaan, emosi, nilai, dan sikap yang menunjukkan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu. Ranah psikomotor berkaitan dengan keterampilan motorik, manipulasi bahan atau objek.

Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah yang termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang yang dimaksud adalah: (1) Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge), (2) Pemahaman (comprehension), (3) Penerapan (application), (4) Analisis (analysis), (5) Sintesis (synthesis) dan (6) Penilaian (evaluation). Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi (Haris & Jihad, 2009).

Pengetahuan (knowledge), adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah ide, rumus-rumus dan sebagainya. Tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya. Pengetahuan atau ingatan ini adalah proses berfikir yang paling rendah.

Pemahaman (comprehension) adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dengan dapat melihatnya dari berbagai segi. Seorang siswa dapat dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang apa yang dipelajari dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.

Penerapan atau aplikasi (application) adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau mengggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru dan kongkrit.

Analisis (analysis) adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan, atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor yang lainnya.

Sintesis (synthesis) adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Sintesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola yang berstruktur atau berbentuk pola baru.

Penilaian/ penghargaan/ evaluasi (evaluation) adalah merupakan jenjang berfikir paling tinggi dalam ranah kognitif menurut taksonomi Bloom. Penilaian atau evaluasi disini merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai atau ide, misalnya seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan, maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang terbaik, sesuai dengan patokan-patokan atau kriteria-kriteria yang ada.

Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan Internalisasi. Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemampuan bertindak. Ada 6 aspek ranah psikomotoris, yaitu:

  1. Gerakan refleks
  2. Keterampilan gerakan dasar
  3. Kemampuan perseptual
  4. Keharmonisan atau ketepatan
  5. Gerakan ketrampilan kompleks
  6. Dan gerakan ekspresif dan interpretatif

Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah, karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pelajaran.

Hasil  belajar  merupakan  peristiwa  yang  bersifat  internal  dalam  arti sesuatu yang  terjadi pada diri  seseorang. Peristiwa  tersebut dimulai dari adanya perubahan  kognitif  yang  kemudian  berpengaruh  pada  perilaku. Dengan demikian  perilaku  seseorang  didasarkan  pada  tingkat  pengetahuan  terhadap sesuatu yang dipelajari yang kemudian dapat diketahui melalui  tes, dan pada akhirnya muncul hasil belajar dalam bentuk nilai riil atau non riil.

11/21/2011 Posted by | PTK | 1 Komentar

MINAT BACA SISWA

Membaca pada era globalisasi informasi ini merupakan suatu keharusan yang mendasar untuk membentuk perilaku seorang siswa. Dengan membaca seseorang dapat menambah informasi dan memperluas ilmu pengetahuan serta kebudayaan. Tetapi tanpa adanya minat, siswa tidak akan tertarik untuk membaca. Minat merupakan faktor yang sangat penting yang ada dalam diri setiap manusia. Meskipun motivasinya sangat kuat, tetapi jika minat tidak ada tentu kita tidak akan melakukan sesuatu yang dimotivasikan pada kita. Begitu pula halnya kedudukan minat dalam membaca menduduki tingkat teratas, karena tanpa minat seseorang sukar akan melakukan kegiatan membaca (Tarigan, 1990).

Perihal minat berhubungan dengan kebiasaan. Minat dan kebiasaan  adalah dua pengertian yang berbeda tetapi berkaitan. Pengertian minat menurut Poerbakawatja dalam Sutini (2010) adalah ”kesedian jiwa yang sifatnya aktif untuk menerima sesuatu dari luar.” Minat dibedakan menjadi dua macam, yaitu minat spontan dan minat terpola. Minat spontan adalah minat yang tumbuh secara spontan dari dalam diri seseorang tanpa dipengaruhi oleh pihak luar. Minat terpola adalah minat yang timbul sebagai akibat adanya pengaruh dan kegiatan yang berencana atau terpola terutama kegiatan belajar mengajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah (Dawson dan Bamman dalam Sutini (2010)). Minat terpola dapat dipersamakan dengan faktor eksternal, yang secara konkrit merupakan akibat dari motivasi ekstrinsik. Dengan demikian minat dapat dihambat, dipengaruhi, bahkan bisa ditumbuhkembangkan.

Faktor-faktor yang mendorong minat adalah sebagai berikut. Pertama faktor kebutuhan, karena adanya kebutuhan tertentu orang mempunyai minat untuk memenuhi kebutuhan itu. Kedua faktor perasaan; perasaan sukses, senang, mendorong timbulnya minat, sedangkan perasaan kecewa, gagal, menghambat atau bahkan menghilangkan minat. Ketiga, faktor lingkungan; maksudnya minat dipengaruhi dorongan untuk diterima atau diakui oleh lingkungan.

 Minat membaca adalah kemauan dan keinginan seseorang untuk mengenali huruf dan dapat menangkap makna dan tulisan tersebut. Mengartikan minat membaca adalah suatu perhatian yang kuat dan mendalam disertai dengan perasaan senang terhadap kegiatan membaca sehingga dapat mengarahkan seseorang untuk membaca dengan kemauannya sendiri. Minat membaca juga diartikan sebagai sikap positif dan adanya rasa keterikatan dalam diri terhadap aktivitas membaca dan tertarik terhadap buku bacaan (Tampubolon (1993) dalam http://pengertian-minat-baca.html. diakses 30 januari 2011). Minat membaca meliputi perasaan senang terhadap buku bacaan, kesadaran akan manfaat membaca, jumlah buku bacaan yang pernah dibaca, dan perhatian terhadap buku bacaan (Sinambela dalam Rahayu 2009).

Tidak diragukan lagi, bahwa membaca merupakan sarana penting bagi setiap orang yang ingin maju. Begitu pula dengan para pelajar, membaca merupakan suatu keharusan untuk meningkatkan tidak hanya pengetahuan tetapi juga hasil belajar. Karena dengan membaca membuat mereka menjadi cerdas, kritis dan mempunyai daya analisa yang tinggi. Dengan membaca selalu tersedia waktu untuk merenung, berfikir dan mengembangkan kreativitas berfikir.

Indikator siswa yang memiliki minat baca tinggi adalah: rajin mengunjungi perpustakaan sekolah, rajin mencari berbagai koleksi pustaka, kemanapun pergi selalu membawa bahan bacaan, rajin meminjam buku-buku perpustakaan, selau mencari koleksi pustaka meskipun tidak ada tugas dari guru, waktu luangnya selalu digunakan untuk membaca buku-buku ilmu pengetahuan yang berguna dan selalu mencari informasi-informasi yang berguna dari browsing maupun searching internet (Barkah, 2008).

2.1.1   Tujuan Minat Baca

Secara umum minat baca mempunyai tujuan mewujudkan suatu sistem penumbuhan dan pengembangan nilai ilmu yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, serta mengembangkan masyarakat baca (Reading society) lewat pelayanan masyarakat perpustakaan dengan penekanan pada penciptaan lingkungan baca untuk semua jenis bacaan. Di lingkungan sekolah juga demikian, dengan adanya fasilitas perpustakaan yang memadai akan menumbuhkan minat baca siswa sehingga tercipta pula masyarakat baca di lingkungan sekolah. Tujuan dari pengembangan minat baca ini antara lain untuk (1) mendorong minat dan kebiasaan membaca agar tercipta masyarakat yang berbudaya membaca, (2) meningkatkan layanan perpustakaan, (3) menciptakan masyarakat informasi yang siap berperan serta dalam semua aspek pembangunan, (4) memiliki pengetahuan yang terkini, bukan yang sudah “basi”, (5) meningkatkan kemampuan berpikir, dan (6) mengisi waktu luang (Supriyono, 1998).

Minat baca dapat ditumbuhkan dan dikembangkan, sehingga menjadi kebiasaan melalui penguasaan teknik membaca yang tepat. Teknik membaca yang tepat dapat membuat membaca lebih efisien, efektif, serta menarik.

2.1.2   Manfaat Membaca

Banyak manfaat yang diperoleh dari membaca. Dengan membaca siswa dapat memperluas cakrawala ilmu pengetahuan, menambah informasi bagi diri sendiri, meningkatkan pengetahuan serta menambah ide. Jadi jelas pengaruh bacaan sangat besar terhadap peningkatan cara berfikir seorang siswa. Menurut Gray & Rogers (1995) dalam Supriyono menyebutkan beberapa manfaat membaca, antara lain:

  1. Meningkatkan pengembangan diri siswa

Dengan membaca siswa dapat meningkatkan ilmu pengetahuan, sehingga daya nalarnya berkembang dan berpandangan luas yang akan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.

  1. Memenuhi tuntutan intelektual

Dengan membaca buku maupun sumber-sumber bacaan lain seperti surat kabar maupun berita dan artikel-artikel di internet, pengetahuan bertambah dan perbendaharaan kata-kata meningkat, melatih imajinasi dan daya pikir sehingga terpenuhi kepuasan intelektual.

  1. Memenuhi kepentingan hidup, dengan membaca siswa akan memperoleh pengetahuan praktis yang berguna dalam kehidupan mereka sehari-hari.
  2. Meningkatkan minat siswa terhadap suatu bidang
  3. Mengetahui hal-hal yang aktual, dengan membaca siswa dapat mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar maupun di seluruh dunia yang mungkin berhubungan materi pelajaran, sehingga siswa dapat menerapkan dengan kehidupan nyata (Supriyono, 1998).

2.1.3   Upaya untuk Meningkatan Minat Baca

Tidak dapat disangsikan lagi bahwa penanaman kebiasaan membaca harus dimulai pada usia dini, dan tidak dapat disangsikan pula bahwa sekolah merupakan tempat yang sangat tepat untuk memupuk minat dan kebiasaan membaca bagi anak-anak. Salah satu dukungan yang dibutuhkan untuk menumbuhkan minat baca siswa adalah peran guru. Guru perlu memotivasi siswa untuk mencintai buku sejak awal. Karena itu upaya pengembangan/peningkatan minat dan kebiasaan membaca juga diadakan di sekolah-sekolah.

Kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan minat dan kebiasaan membaca siswa antara lain: penyelenggaraan jam-jam cerita di perpustakaan sekolah, pemberian tugas membaca, pemberian tugas pembuatan abstraksi, pemotivasian penyelenggaraan majalah dinding, penyelenggaraan lomba membaca, penyelenggaraan lomba pembuatan kliping, pemotivasian penerbitan majalah atau buletin sekolah, penyelenggaraan pameran buku yang dikaitkan dengan peringatan hari-hari besar nasional dan agama, penugasan siswa membantu pustakawan di perpustakaan sekolah, penyelenggaraan program membaca, dan pemberian bimbingan teknis membaca.

Dari semua kegiatan yang dilaksanakan di atas, tidak akan ada artinya kalau tidak didukung oleh para guru.  Guru mempunyai peranan penting untuk meningkatkan minat baca siswa-siswanya. Jika guru salah atau kurang tepat dalam menggunakan metode mengajar maka akan membuat siswa malas membaca, tidak memberikan motivasi (dorongan) pada siswa untuk gemar membaca. Guru yang tidak memberikan kesempatan atau tidak menciptakan suasana diskusi di dalam kelas, akan mematikan minat siswa untuk ingin tahu atau mencari sesuatu jawaban. Guru yang mengajar dengan metode ceramah saja atau yang lebih buruk lagi dengan menyalin saja (baik di papan tulis atau didiktekan),  akan menjadikan kelas itu kelas yang pasif, kelas yang siswa-siswanya selalu menunggu apa yang akan diberikan oleh gurunya.

11/21/2011 Posted by | PTK | 7 Komentar

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TPS

2.1    Pembelajaran Kooperatif tipe TPS

            TPS yaitu tehnik yang dikembangkan oleh Frank Lyman (Think-Pair-Share) dan Spencer Kagan (Think-Pair-Share). Tehnik ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan dan tehnik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa, yaitu memberi kesempatan delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain (Isjoni, 2010).

TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Strategi TPS yang digunakan oleh para guru menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:

Tahap-1: Thinking (berfikir)

Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.

Tahap-2: Pairing

Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Interaksi selama waktu yang disediakan dalam menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang diajukan atau menyatukan gagasan jika suatu masalah khusus yang diidentifikasi. Secara normal guru memberikan waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.

Tahap-3: Share

Pada tahap ini, guru meminta kepada beberapa pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah didiskusikan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan pekerjaannya (Ibrahim, et al, 2000).

2.1.1        Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS

Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah: a) memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan, karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan b) siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah, c) siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang, d) siswa memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar, e) memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran (Hartina, 2008: 12 dalam http://epta86.blogspot.com/. Diakses 25 februari 2011).

Menurut Mahmudi (2009), kelebihan pembelajaran TPS adalah sebagai berikut:dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan idea tau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.

1)   Membantu siswa untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.

2)   Siswa dapat mengembangkan kemampuan untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri dan menerima umpan balik.

3)   Interaksi yang terjadi selama pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan memberi rangsangan untuk berpikir sehingga bermanfaat bagi proses pendidikan jangka panjang.

4)   Pembelajaran TPS bisa mengajarkan orang untuk bekerja bersama-sama dan lebih efisien, biasanya kegiatan praktik perlu dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Dengan bekerja sama, dua orang dapat menyelesaikan sesuatu lebih cepat.

11/21/2011 Posted by | PTK | Tinggalkan komentar

PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Tinjauan tentang pembelajaran kooperatif meliputi: pengertian pembelajaran kooperatif, tujuan pembelajaran kooperatif, teori-teori yang terkait dengan pembelajaran kooperatif, karakteristik pembelajaran kooperatif, langkah-langkah pembelajaran kooperatif, dan jenis-jenis pembelajaran kooperatif.

2.2.1 Pengertian Pembelajaran Kooperatif

            Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) adalah model pembelajaran yang mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Model pembelajaran ini melibatkan siswa dalam kelompok yang terdiri dari empat atau lima siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda. Pembelajaran kooperatif memiliki suatu struktur tugas dan penghargaan yang berbeda dalam mengupayakan pembelajaran siswa. Struktur tugas itu menghendaki siswa untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil. Struktur penghargaan itu mengakui upaya kolektif dan individual. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan jika mereka berhasil sebagai kelompok.

            Model kooperatif yang digunakan oleh para guru memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Ibrahim et al., 2000):

  1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
  2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
  3. Bilamana mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda. Penghargaan berorientasi kelompok dari pada individu.

Pembelajaran kooperatif dapat berjalan secara efektif, maka perlu ditanamkan pada diri siswa unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut (Ibrahim et al., 2000):

  1. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup semati.
  2. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
  3. Para siswa haruslah beranggapan bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
  4. Para siswa haruslah membagi tugas dan bertanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
  5. Para siswa dikenakan penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompoknya.
  6. Para siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajar.
  7. Para siswa diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

2.2.2 Tujuan Pembelajaran Kooperatif

            Pelaksanaan model cooperative learning membutuhkan partisipasi dan kerja sama dalam kelompok pembelajaran. Cooperative learning dapat meningkatkan cara belajar siswa menuju belajar lebih baik, sikap tolong-menolong dalam beberapa perilaku sosial. Tujuan utama dalam penerapan model belajar mengajar cooperative learning adalah agar siswa dapat belajar secara berkelompok bersama teman-temannya dengan cara saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan pendapat mereka secara berkelompok.

            Pada dasarnya model cooperative learning dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum Ibrahim, et al.(2000), yaitu:

  1. Hasil belajar akademik

Dalam cooperative learning meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan, model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, cooperative learning dapat memberi keuntungan, baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

  1. Penerimaan terhadap perbedaan individu

Tujuan lain model cooperative learning adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

  1. Pengembangan keterampilan sosial

Tujuan penting ketiga cooperative learning adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial penting dimiliki siswa, sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial (Isjoni, 2010).

2.2.5 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

            Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian informasi; seringkali dengan bahan bacaan dari pada secara verbal. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja sama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Fase terakhir pembelajaran kooperatif meliputi kerja kelompok, atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Enam tahap pembelajaran koperatif dapat dirangkum pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Langkah umum model pembelajaran kooperatif

No.

Fase

Tingkah Laku Guru

1

Fase I

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

  • Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

2

Fase II

Menyajikan informasi

 

  • Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

3

Fase III

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar

 

  • Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

4

Fase IV

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

  • Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

5

Fase V

Evaluasi

 

  • Guru mengevaluasi hasil belajar yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

6

Fase VI

Memberikan penghargaan

  • Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Sumber: Ibrahim, et  al (2000)

2.2.6 Jenis-jenis Pembelajaran Kooperatif

            Jenis-jenis pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:

  1. STAD (Student Teams Achievement Divisions)

Strategi ini menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:

1)   Membentuk kelompok beranggotakan 4 siswa secara heterogen.

2)   Guru menyajikan pelajaran.

3)   Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang mengetahui menjelaskan kepada lainnya sampai mengerti.

4)   Guru memberi pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat siswa menjawab pertanyaan tidak boleh saling membantu.

5)   Memberi evaluasi.

6)   Penutup.

  1. Group Investigation (GI)

Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:

1)   Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.

2)   Guru beserta siswa memilih topik-topik tertentu dengan permasalahan yang dapat dikembangkan dari topik-topik tersebut.

3)   Guru dan siswa saling sepakat dengan topic dan permasalah

4)   Guru dan siswa menetukan metode penelitian yang dikembangkan untuk memecahkan masalah.

5)   Siswa dalam kelompok bekerja berdasarkan metode investigasi yang telah mereka rumuskan.

6)   Setiap kelompok mempresentasikan hasil kelompoknya.

7)   Siswa atau kelompok yang lain saling menanggapi.

8)   Memberikan evaluasi.

9)   Penutup

  1. Think Pair and Share (TPS)

Srategi Think-pair-share yang digunakan oleh para guru menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:

1)   Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai.

2)   Siswa diminta untuk berpikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru.

3)   Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya dan mengutarakan pemikiran masing-masing.

4)   Guru memimpin diskusi kecil. Tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya.

5)   Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para siswa.

6)   Guru memberi kesimpulan/penutup.

  1. Jigsaw

Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:

1)   Siswa dibagi menjadi berkelompok.

2)   Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda.

3)   Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian bab atau sub bab yang sama bertemu dengan kelompok baru (Kelompok Ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka.

4)   Setelah selesai diskusi sebagian tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar atau melaporkan hasil diskusinya kepada teman satu tim mereka tentang sub bab yang harus dibahas.

5)   Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusinya.

6)   Guru memberikan evaluasi.

7)   Penutup.

11/21/2011 Posted by | SBM | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 914 pengikut lainnya.