BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

JASA PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

JASA PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS. bagi guru salah satu syarat untuk kenaikan pangkat adalah diharuskan membuat PENELITIAN TINDAKAN KELAS. PTK merupakan sarat wajib bagi semua guru karena PENELITIAN TINDAKAN KELAS adalah refleksi dari ilmu dan penerapan metode mengajar guru di kelas.

namun saya yakin bapak dan ibu guru tidak semuanya mampu membuat proposal penelitian tindakan kelas. karena PTK membutuhkan pendalaman ilmu dan sistematika isi proposal yang runtut dan sistematis sesuai yang diinginkan oleh DEPDIKNAS. andaikan para guru merasa mampu membuat PENELITIAN TINDAKAN KELAS, belum tentu juga para bapak dan ibu guru sekalian mempunyai waktu untuk membuat PTK mengingat dalam penerapan kurikulum 2013 ini waktu bapak dan ibu guru pasti akan banyak tersedot untuk rutinitas di sekolah sehingga ketika pulang ke rumah pastinya tinggal lelah yang tersisa.

oleh karena itu saya membuka JASA PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS. Jasa ini akan membantu bapak dan ibu guru sekalian untuk membuat PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS alias PROPOSAL PTK dari awal hingga selesai, sehingga bapak dan ibu guru sekalian tinggal menerima saja.

oke jika bapak dan ibu guru berminat untuk JASA PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS. silahkan hubungi saya di nomer HP: 081938633462 atau email ke zaifbio@gmail.com

JASA PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

JASA PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

09/19/2014 Posted by | Uncategorized | , , , , | Tinggalkan komentar

Karakteristik Gambut yang Mempengaruhi Pertumbuhan Kelapa Sawit

 
Belajar Iklan Di Facebook 728x90
 

A. Karateristik Fisik
Karakteristik fisik gambut yang penting dalam pemanfaatannya untuk tanaman kelapa sawit meliputi kadar air, berat isi (bulk density, BD), daya menahan beban (bearing capacity), subsiden (penurunan permukaan), dan mengering tidak
balik (irriversible drying).Kadar air tanah gambut berkisar antara 100 – 1.300% dari berat keringnya (Mutalib et al., 1991). Artinya bahwa gambut mampu menyerap air sampai 13 kali bobotnya. Dengan demikian, sampai batas tertentu, kubah gambut mampu
mengalirkan air ke areal sekelilingnya. Kadar air yang tinggi menyebabkan BD menjadi rendah, gambut menjadi lembek dan daya menahan bebannya rendah (Nugroho, et al, 1997). BD tanah gambut lapisan atasbervariasi antara 0,1 sampai 0,2 g cm-3 tergantung pada tingkat dekomposisinya. Gambut fibrik yang umumnya berada di lapisan bawah memiliki BD lebih rendah dari 0,1 g/cm3, tapi gambut pantai dan gambut di jalur aliran sungai bisa memiliki BD > 0,2 g cm-3 (Tie and Lim, 1991) karena adanya pengaruh tanah mineral.
Volume gambut akan menyusut bila lahan gambut didrainase, sehingga terjadi penurunan permukaan tanah (subsiden). Selainkarena penyusutan volume, subsiden juga terjadi karena adanyaproses dekomposisi dan erosi. Dalam 2 tahun pertama setelah lahan gambut didrainase, laju subsiden bisa mencapai 50 cm. Pada tahun berikutnya laju subsiden sekitar 2 – 6 cmtahun-1 tergantung kematangan gambut dan kedalaman saluran drainase. Adanya subsidenbisa dilihat dari akar tanaman yang
menggantung.

Software Apotek MedStore 468x60

Rendahnya BD gambut menyebabkan daya menahan atau menyangga beban (bearing capacity) menjadi sangat rendah. Hal ini menyulitkan beroperasinya peralatan mekanisasi karenatanahnya yang empuk. Gambut juga tidak bisa menahan pokok tanaman tahunan untuk berdiri tegak. Tanaman kelapa sawit seringkali doyong atau bahkan roboh . Tanaman kelapasawit yang doyong ini akan mengalami stress selama 1-2 tahun sehingga semasaini tanaman tidak mengasilkan produksi.

Tanaman kelapa sawit yang tumbang secara umum terjadi pada tanah gambut yang sudah matang sehingga pertumbuhan tanaman sudah cukub baik dan memiliki bobot batang dan daun yang lebih besar sehinggatanah tidak cukup kuat untuk menahan bobot tanaman yang yang besar tersebut, sementara perakaran kurang kuat berjangkar di dalam tanah. Apalagi jika air tanah terlalu dangkal menyebabkan perakaran tidak berkembang optimal. Hal ini menuntut pelaksanaan penanaman kelapa sawit dilakukan dengan metode yang berbeda dibandingkan penanaman pada lahan mineral. Pemadatan jalur tanaman menggunakan alat mekanis maupun pembuatan hole in hole planting methoddengan puncher merupakan upaya yang sering dilakukan oleh perkebunan besar.

Sementara pada perkebunan rakyat, sering dijumpai petani menanam dengan sistem punggu (guludan/gundukan tanah), dimana
gundukan ini semakin diperbesar hingga membentuk sistem surjan (Sutarta dan Purba, 1992). Sifat fisik tanah gambut lainnya adalah sifat mengering tidak balik. Gambut yang telah mengering, dengan kadar air <100% (berdasarkan berat), tidak bias menyerap air lagi kalau dibasahi. Gambutyang mengering ini sifatnya sama dengan kayu kering yang mudah hanyut dibawa aliranair dan mudah terbakar dalam keadaan kering (Widjaja-Adhi, 1988).
Universitas Sumatera Utara

B. Karakteristik Kimia
Karakteristik kimia lahan gambut diIndonesia sangat ditentukan oleh kandungan mineral, ketebalan, jenis mineral pada substratum (di dasar gambut), dan tingkat dekomposisi gambut. Kandungan mineral gambut di Indonesia umumnya kurang dari 5% dan sisanya adalah bahan organik. Fraksi organik terdiri dari senyawa-senyawa humat sekitar 10 hingga 20%dan sebagian besar lainnya adalah 10 senyawa lignin, selulosa, hemiselulosa, lilin, tannin, resin, suberin, protein, dan senyawa lainnya.

Social Injection 468x60

Menurut Noor (2001) sifat utama tanah gambut meliputi ; (1) Kemasaman tanah, (2) Ketersediaan unsur hara, (3) Kapasitas tukar kation (KTK) (4) Kadar asam organik tanah dan (5) kandungan pirit. Gambut oligotropik, seperti banyak ditemukan di Kalimantan, mempunyai kandungan kation basa seperti Ca, Mg, K, dan Na sangat rendah terutama pada gambut tebal. Semakin tebal gambut, basa-basa yang dikandungnya semakin rendah dan reaksi tanah menjadi semakin masam (Driessen dan Suhardjo, 1976). Di sisi lain
kapasitas tukar kation (KTK) gambut tergolong tinggi, sehingga kejenuhan basa (KB) menjadi sangat rendah.

Gambut tergolong tanah marginal untuk tanaman kelapa sawit karena mempunyai drainase, sifat fisik dan kimia yang kurang baik. Sifat kimia yang kurang baik antara lain pH tanah yang sangat rendah sekitar 3,5-4.0, nisbah C/N yang tinggi, perimbangan K, Ca, Mg dapat dipertukarkan rendah di banding KTK gambut yang tinggi, perimbangan K, Ca dan Mg yang tidak baik serta ketersedian unsur mikro sangat rendah yang diikat oleh koloid organik dari tanah gambut.
Universitas Sumatera Utara

Secara umum kemasaman tanah gambut berkisar antara 3-5 dan semakin tebal bahan organik maka kemasaman gambut meningkat. Gambut pantai memiliki kemasaman lebih rendah dari gambut pedalaman. Kondisi tanah gambut yang sangat masam akan menyebabkan kekahatan hara N, P, K, Ca, Mg, Bo dan Mo. Unsur hara Cu, Bo dan Zn merupakan unsur mikro yang seringkali sangat kurang (Wong et al. 1986, dalam Mutalib,et al.1991.)

Secara alamiah lahan gambut memiliki tingkat kesuburan rendah karena kandungan unsur haranya rendah dan mengandung beragam asam-asam organik yang sebagian bersifat racun bagi tanaman. Namun demikian asam-asam tersebut merupakan bagian aktif dari tanah yang menentukan kemampuan gambut untuk menahan unsur hara. Karakteristik dari asam-asam organik ini akan menentukan sifat kimia gambut.

Tanah gambut juga mengandung unsur mikro yang sangat rendah dan diikat cukup kuat (khelat) oleh bahan organik sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Selain itu adanya kondisi reduksi yang kuat menyebabkan unsurmikro direduksi ke bentuk yang tidak dapat diserap tanaman. Kandungan unsur mikro pada tanah gambut dapat ditingkatkan dengan menambahkan tanah mineral atau enambahkan pupuk mikro.

Tutorial Adwords 468x60

Lignin yang mengalami proses degradasi dalam keadaan anaerob akan terurai menjadi senyawa humat dan asam-asam fenolat. Asam-asam fenolat dan derivatnya bersifat fitotoksik (meracuni tanaman) dan menyebabkan pertumbuhan tanaman
terhambat. Asam fenolat merusak sel akar tanaman, sehingga asam-asam amino dan bahan lain mengalir keluar dari sel, menghambat pertumbuhan akar dan serapan hara sehingga pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, daun mengalami klorosis (menguning) dan pada akhirnya tanaman akan mati. Turunan asam fenolat yang bersifat fitotoksik antara lain adalah asam ferulat, siringat , p-hidroksibenzoat, vanilat, p-kumarat, sinapat, suksinat, propionat, butirat, dan tartrat.

C . Tingkat kematangan dan Kedalaman Gambut.

Pada fisiografi gambut, jenis tanah utama yang dominan adalah tanah gambut yang merupakan tanah organik. Untuk budidaya kelapa sawit, faktor pembatas yang umum dijumpai pada tanah gambut adalah tingkat kematangan gambut, kedalaman gambut, kedalaman muka air tanah yang optimal, dan defisiensi hara. Tingkat kematangan dan kedalaman gambut merupakan faktor pembatas permanen yang tidak dapat diperbaiki melalui tindakan-tindakan kultur teknis. Dengan demikian, apabila kedua faktor pembatas ini berada pada kategori berat, maka keputusan budidaya kelapa sawit pada lahan rawa pasang surut sebaiknya ditinjau kembali. Tingkat kematangan gambut yang merupakan faktorpembatas berat adalah pada tingkat fibric (gambut mentah), sedangkan kedalaman gambut >3 m dapat diklasifikasikan sebagai faktor pembatas berat untuk budidaya kelapa sawit.

Menurut Widjaja (1988) tingkat kematangan fibrik adalah bahan organik tanah yang sangat sedikit terdekomposisi yang mengandung serat sebanyak 2/3 volume. Bobot volume fibrik lebih kecil dari 0.075 g cm-3 dan kandungan air tinggi
jika tanah dalam keadaan jenuh air. Saprik adalah bahan organik yang terdekomposisi paling lanjut yang mengandung serat kurang dari 1/3 volume dan bobot isi saprik adalah 0.195 g cm3, sedangkan hemik adalah bahan organik yang mempunyai tingkat
dekomposisi antara fibrik dengan saprikdengan bobot isi 0.075 sampai 0.195 g cm3.
Universitas Sumatera Utara

PPT ID Video Templates 468x60

Pusat Penelitian Tanah (1983), memasukkan tanah gambut kedalam tanah organosol yang dibedakan kedalam tiga macam yaitu : 1) Organosol Fibrik, ialah tanah organosol yang didominasi oleh bahan fibriksedalam 50 cm atrau berlapis sampai 80 cm dari permukaan; 2) Organosol Hemik ialah tanah organosol yang didominasi bahan hemik sedalam 50 cm atau berlapis sampai 80 cm dari permukaan; dan 3) Organosol Saprik, ialah tanah organosol selain organosol fibrik maupun hemik yang umumnya didominasi oleh bahan saprik.

Salah satu faktor penentu tingkat kesuburan tanah gambut adalah kedalaman lapisan gambut, gambut dalam secara umum memiliki tingkat kesuburan relative lebih rendah dibanding dengan gambut dangkal. Gambut lapisan atas secara umum memiliki tingkat kesuburan yang berbeda dengan gambut lapisan bawah (di bawah muka air tanah) hal ini disebabkan karena tingkat mineralisasi pada lapisan atas lebih tinggi karena sudah mengalami oksidasi. Pada lapisan bawah gambut juga mengalamidekomposisi secara anaerobic namun proses mineralisasi ini berjalan lambat bila dibanding dengan dekomposisi pada lapisan atas.

Video Monetize Ninja 728x90

Menurut Hardjowigeno (1996) bahwa tingkat kesuburan gambut menurun seiring dengan meningkatnya ketebalan gambut, dari penelitian yang dilakukan pada enam kedalaman gambut disimpulkan bahwa pada gambut tebal pH tanah menurun (rendah), C organic yang masih tinggi, kadar N yang lebih rendah, nilai KTK yang tinggi dan kertersediaan unsurhara yang lebih rendah.
Universitas Sumatera Utara

2.3 Perakaran tanaman kelapa sawit.
Akar tanaman kelapa sawit berfungsi untuk (1) menunjang struktur batang di atas tanah, (2) Menyerap air dan unsur hara dari dalam tanah, (3) sebagai salah satu alat transpirasi tanaman. Sistem perakaran kelapa sawit merupakan sistem akar serabut, terdiri dari akar primer, sekunder,tersier dan kuarterner. Akar primer umumnya berdiameter 6-10 mm, keluar dari pangkal batang secara horijontal dan menghujam ke dalam tanah dengan sudut yang berbeda. Akar sekunder merupakan cabang yang keluar dari akar primer umumnya memiliki diameter 2-4 mm. Akar tersier mamiliki ukuran diameter 0,7-1,2 mm dan akar kuarterner merupakan cabang dari akat tersier dengan diameter 0,1-0,3 mm dan sering disebut feeding root atau akar penyerap utama.

Ratakan 468x60

Sebagian besar perakaran kelapa sawit berada dekat permukaan tanah dan hanya sedikit akar kelapa sawit berada pada kedalaman 90 cm, walaupun permukaan air tanah (water table) cukup dalam, sistemperakaran yang aktif secara umum berada pada kedalaman 5-35 cm dan akar tersier berada pada kedalaman 10-30 cm (Iyung, 2007). Menurut Fauzi, et al., 2008, akar sekunder, tersier, dan kuarter tumbuh sejajar dengan permukaan tanah bahkan akar tersier dan kuarter menuju ke lapisan atas atau
ke tempat yang banyak mengandung zat hara. Selain akar yang ada di dalam tanah akar kelapa sawit juga ada yang keluar ke permukaan tanah sebagai akar napas.

Menurut Harley (1967), perakaran kelapasawit terkonsentrasi pada 50 cm dari permukaan tanah dan disekliling batang. Konsentrasi akar yang tinggi terjadi di atas permukaan air tanah dan juga padatempat dimana memiliki kesuburan dan kelembapan yang lebih baik misalnya dibawah rumpukan pelepah (Tailliez 1971 dalam Chan,__)

Dari hasil penelitian Dr. Christophe Jourdan, disimpulkan bahwa 23 % dari total permukaan akar kelapa sawit merupakan akar absorpsi. Sebagian besar dari akar absorpsi tersebut (83,7%) terdiri dari akar tersier (28.9%) dan akar kuarter.

Seni Menjadi Pedagang Online 468x60

Menurut Harahap (1999) mekanisme pergerakan akar kelapa sawit tumbuh dan berkembang pada tanah yang berkerapatan lindak tinggi dimulai dari masuknya akar tersier, kemudian diikuti oleh akar sekunder dan pada akhirnya baru dimasuki oleh akar primer. Akar primer dan sekunder kelapa sawit berfungsi sebagai jangkar sedangkan akar tersier berfungsi sebagai akarabsorbsi air dan hara. Kelapa sawit dapat tumbuh pada kerapatan lindak yang tinggi selama perkembangan akar tidak terganggu.

Nube Warrior Affiliate Amazon Video Course Series 468x60

Pada tanah gambut kerapatan lindak (BD)tanah tidak merupakan suatu factor penghalang untuk perkembangan akar karena sangat mudah ditembus akar namun cengkraman akar rendah. Faktor penghambat perkembangan akar pada tanah gambut
yang utama adalah asam–asam organik yang dapat meracuni dan merusak sel akar sehingga akar tidak berkembang.

 

 

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN

Ingin kaos bertema BELAJAR, PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN?, bosan dengan kaos yang ada?, ingin mengedukasi keluarga atau murid dengan pembelajaran. HANYA KAMI SATU-SATUNYA DI INDONESIA PERTAMA KALI KAOS BERTEMA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN COCOK DIPAKAI UNTUK SEMUA KALANGAN DAN MEMBERI KESAN EDUKASI DAN PEMBELAJARAN DALAM SETIAP PEMAKAIAANYA

like juga FP kami di https://www.facebook.com/Kaospembelajaran?ref=hl untuk melihat berbagai kolkesi kaos belajar kami

 

KAOS BELAJAR

07/19/2014 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

SKRIPSI AKUNTANSI

Skripsi Akuntansi. seperti kita ketahui, tugas akhir dari setiap mahasiswa ketika menginjak semester akhir adalah membuat skripsi. Nah disini permasalahan dan problematikanya, seringkali skripsi ini menjadi momok dan hantu yang sangat menakutkan bagi sebagian mahasiswa.

Seperti kita ketahui akuntansi adalah pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian informasi kepada manajemen. Jurusan akuntansi ini peminantnya dari tahun ke tahun cukup meningkat, tidak hanya itu lulusannya juga meningkat dari tahun ke tahun, meskipun begitu tetap saja meski tegolong jurusan favorit namun menaklukan skripsi akuntansi yang menjadi tugas mahasiswa tetaplah bukan hal yang mudah.

Untuk mengatasi permasalahan mahasiswa tersebut, sebenarnya jawabannya sangat sederhana sekali, yaitu para mahasiswa perlu skripsi akuntansi yang bagus dan bermutu untuk bahan referensi, karena dengan banyaknya referensi contoh skripsi akuntansi akan membuat mahasiswa mengetahui gambaran skripsi yang akan dibuat kedepannya akan seperti apa, selain itu dengan semakin banyaknya referensi skripsi akuntansi akan meminimalisir kesalahan yang mungkin akan dilakukan ketika mengerjakan skripsi.

Di sini saya menyediakan puluhan contoh skripsi akuntansi yang sangat cocok dan berkualitas untuk digunakan sebagai referensi dalam pembuatan skripsi para mahasiswa jurusan akuntansi. contoh skripsi akuntansi yang ada meliputi, akuntansi keuangan, akuntansi perpajakan, hingga manajemen akuntansi yang kesemuanya sangat cocok dan berbobot untuk dijadikan sebagai bahan referensi bagi mahasiswa akuntansi untuk menyelesaikan skripsi mereka.

Berikut ini contoh beberapa judul contoh skripsi akuntansi yang kami punya: PENGARUH PENGAWASAN FUNGSIONAL TERHADAP KINERJA PEMERINTAH DAERAH (Studi pada Inspektorat Provinsi Jawa Barat), ANALISIS PERBANDINGAN PENERIMAAN PAJAK PENGHASILAN SEBELUM DAN SESUDAH PENERAPAN TARIF TUNGGAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP PAJAK PENGHASILAN TERHUTANG(Studi Kasus Wajib Pajak Badan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Tasikmalaya), ANALISIS PERBEDAAN KINERJA KEUANGAN SEBELUM DAN SESUDAH RIGHT ISSUE pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selain perbankan dan lembaga keuangan, PERANCANGAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI (Studi kasus pada CV. MITRA TANINDO) dan masih banyak puluhan judul lainnya

Jika berminat dan ingin membelinya segera hubungi saya di nomer 081938633462, harganya murah hanya 50rb saja anda sudah bisa mendapatkan puluhan judul contoh skripsi akuntansi berkualitas.

03/21/2014 Posted by | Uncategorized | | 1 Komentar

PengertianPenelitian Tindakan Kelas

Seorang guru kimia memasuki kelas untuk mengajarkan suatu materi. Dia menemui para siswanya sedang lesu, tidak bergairah belajar karena baru saja ulangan matematika. Guru itu melaksanakan pembelajaran dengan metode ekspositori dan tanya jawab. Beberapa pertanyaan diajukan tetapi tidak ada respon dari siswa. Kalaupun ada, hanya satu dua siswa atau yang sudah langgalan (rajin) saja memberikan respon. Mengetahui kondisi yang demikian, guru mengubah strategi dan metode mengajarnya. Guru mengajak siswa ”bermain game kimia”. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dan bagi kelompok yang menang atau skornya tertinggi akan diberikan hadiah (walau belum jelas bentuknya). Siswa menyambutnya dengan keadaan gembira seolaholah pelajaran kimia telah berlalu dan mereka telah bermain game. Setelah masing-masing kelompok diberi tugas untuk didiskusikan, ada soal yang harus dijawab oleh anggota kelompok. Tampak siswa semangat memperoleh nilai tertinggi untuk mengalahkan kelompok lain. Anggota kelompok yang pintar
mengajari temannya yang kurang agar nilai kelompoknya menjadi tinggi. Pelajaran kimiapun berlangsung sangat kondusif, aktif, dan menyenangkan.

Ilustrasi tersebut di atas menunjukkan bahwa seorang guru ketika mengajar dia secara terfokus mengamati keadaan siswa. Bila kondisi siswa yang kurang motivasi diberikan materi kimia yang abstrak maka kelas itu mungkin akan seperi pertunjukan opera disaksikan sekian puluh pasang mata dan sunyi. Tepuk tangan atau kegembiraan baru muncul setelah kelas berakhir. Oleh sebab itu, ketika guru mengamati kondisi yang tidak mendorong siswa untuk belajar, maka dia segera mengganti strategi mengajarnya misalnya (pada ilustrasi di atas) dari tanya jawab menjadi belajar kooperatif. Hal itu menunjukkan bahwa seorang
guru di kelas akan mengubah sendiri strategi atau metode mengajar yang dirasakan kurang mendukung usahanya. Guru sendiri tidak menyadari bahwa apa yang telah dilakukannya adalah sebagai penelitian tindakan meskipun tidak terstruktur, tidak terjadwal, tidak kolaboratif dan tidak menggunakan istrumen.
Pendidikan dan Latihan Profesi Guru, PSG Rayon 15 tahun 2008

Bila guru melakukan kegiatan tersebut dengan motede ilmiah (terstruktur, terencanadsb.) maka dia telah melakukan suatu penelitian tindakan kelas. Ebbut (1985) menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas selanjutnya disingkat PTK merupakan studi sistematis yangdilakukan oleh guru dalam upaya memperbaiki praktik-praktik dalam pendidikan dengan melakukan tindakan praktis serta refleksi dari tindakan tersebut. Bila guru menemukan keadaan di kelas yang kurang memuaskan atau kurang mendukung kondisi belajar maka
guru harus ”melakukan sesuatu” atau ”melakukan tindakan” agar kondisi tersebut tidak menjadi inhibitor (penghambat) proses pembelajaran. Guru yang profesional akan segera melakukan sesuatu tindakan bila di kelasnya terjadi persoalan atau permasalahan yang mengurangi mutu kerjanya.

Ahli lain, Carr dan Kemmis (1992) menyatakan penelitian tindakan kelas sebagai bentuk penyelidikan yang dilakukan oleh partisipan (guru, siswa, kepala sekolah) dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk meningkatkan pertanggungjawaban dari (a) praktik sosial atau pendidikan yang mereka geluti, (b) pemahaman yang lebih baik terhadap praktik yang mereka geluti, dan (c) situasi dan lembaga temat praktik itu dilakukan. Baik Ebbut maupun Carr dan Kemmis secara eksplisit menyatakan bahwa PTK merupakan penelitian partisipatoris artinya peneliti terlibat langsung dalam kegiatan dimana penelitian
itu di lakukan. Bila peneliti tersebut adalah guru maka ketika melakukan PTK maka guru berpartisipasi langsung dalam pelaksanaan PTK tersebut. Elliot (1991) menyatakan pengertian PTK secara lebih sederhana tetapi fokus pada praktiknya. Menurut Elliot, PTK merupakan studi atas suatu situasi sosial (pendidikan) dengan maksud untuk memperbaiki kualitas tindakan dalam situasi yang bersangkutan. Pada pengertian ini, PTK jelas dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas yang dilaksanakan oleh guru dan
diperbaiki oleh guru itu pula.

Berdasarkan definisi para ahli PTK dapat disimpulkan bahwa PTK sebagai bentuk kajian kelas yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan (guru atau pendidik) untuk meningkatkan kemantapan rasional dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya, dan
Pendidikan dan Latihan Profesi Guru, PSG Rayon 15 tahun 2008 memperbaiki praktik-praktik pembelajaran yang dilakukan (guru atau pendidik). Kajian kelas yang dimaksudkan pada konteks PTK berbeda dengan studi kasus karena pada PTK yangdigunakan sebagai fokus studi adalah masalah yang paling dominan dan paling penting pada kelas tersebut atau dialami oleh sebagaian besar siswa di kelas. Berbedadengan studi kasus yang mengambil fokus masalahmasalah yang dialami oleh siswa-siswa tertentu (sebagian kecil siswa di kelas).
Pada studi kasus, masalah yang digunakan fokus bukan masalah kelas tetapi masalah personal siswa.

Aspek penting yang perlu mendapat perhatian dalam PTK adalah masalah yang dialami oleh sebagian besar siswa di kelas. Guru sebagai pengajar seyogyanya dapat mengidentifikasi masalah-masalah tersebut sedini mungkin dan merefleksikan akar masalahnya. Hanya saja, tidak semua guru mampu melihat sendiri apa yang telah dilakukannya selama mengajar di kelas. Kegiatan mengajar tersebut telah dirasakan sebagai rutinitas dari tahun ke tahun dan tidak tertutup kemungkinan ada kekeliruan. Oleh sebab itu, perlu adanya latihanlatihan yang berkelanjutan untuk melakukan refleksi setelah selesai pembelajaran
di kelas.

Bila guru dapat melakukan PTK secara berkelanjutan dan ada rasa ingin melakukannya maka beberapa manfaat akan diperoleh seperti: (1) guru dapat memperbaiki praktik pembelajaran menjadi lebih efektif, (2) guru juga dapat belajar secara lebih sistematis dari pengalamannya sendiri dan dapat meningkatkan wawasan serta pemahamannya tentang siswa dalam hubungannya dengan kegiatan pembelajaran (dilihat dari sudur pandang siswa bukan dari sudut pendang guru semata), (3) PTK tidak membuat guru meninggalkan
tugasnya sehari-hari sebagai pengajar di kelas. Guru tetap melakukan kegiatan mengajar seperti biasa namun pada saat yang bersamaan dan secara terintegrasi guru melaksanakan kegiatan penelitian yaitu mengumpulkan data, melakukan observasi, membuat catatan dan mengevaluasi. Dengan demikian PTK tidak
mengganggu kelancaran proses pembelajaran.

Bila seorang guru telah terbiasa memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang ada di kelas secara sistematis, ibaratnya seorang dokter yang selalu melakukan diagnosa terhadap orang sakit sebelum mengobatinya, maka guru akan menemukan sendiri strategi dan metode mengajar yang tepat untuk materi yang diajarkan. Guru dapat selalu pemperbaiki kualitas pembelajaran secara sistematis dan terencana sampai dicapai kualitas hasil dan proses pembelajaran yang baik. Bila kualitas proses pembelajaran baik, pemahaman siswa terhadap materi pelajaran menjadi tinggi, sehingga hasil belajarnya akan
baik. Hasil belajar tersebutlah yang akan digunakan sebagai indikator kualitas pendidikan di sekolah.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN

Ingin kaos bertema BELAJAR, PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN?, bosan dengan kaos yang ada?, ingin mengedukasi keluarga atau murid dengan pembelajaran. HANYA KAMI SATU-SATUNYA DI INDONESIA PERTAMA KALI KAOS BERTEMA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN COCOK DIPAKAI UNTUK SEMUA KALANGAN DAN MEMBERI KESAN EDUKASI DAN PEMBELAJARAN DALAM SETIAP PEMAKAIAANYA

Jangan lupa kunjungi web kami di http://os-kaos.com/ untuk melihat berbagai koleksi kaos pendidikan dan pembelajaran dari kami like juga FP kami di https://www.facebook.com/Kaospembelajaran?ref=hl

Fast Respon CP : 081938633462 dan 082331864747 PIN BB: 7BD178A5 WA: 081615875217

ee9f2fe2-288a-4081-829e-cac8538debd6wallpaper

03/04/2014 Posted by | Uncategorized | , | Tinggalkan komentar

Layanan Jasa Tulis Artikel Pendidikan dan Sains Untuk Blog

Keutamaan Artikel Yang Kami sediakan
– Manual
– Keyword sesuai permintaan klien
– Judul sesuai permintaan klien atau juga bisa dari kami
– Harga Murah
-Dijamin Asli tanpa copas dari internet
Daftar Harga Bahasa Indonesia
– 1 artikel= 20.000
– pemesanan lebih dari 10 artikel ada harga khusus

Jika berminat hubungi
Email : zaifbio@gmail.com
Contact:
sms 081938633462

NB: HANYA MENERIMA JASA PENULISAN ARTIKEL DI BIDANG PENDIDIKAN, PEMBELAJARAN ,DAN SAINS ATAU ILMU PENGETAHUAN ALAM

01/22/2014 Posted by | Uncategorized | , , | Tinggalkan komentar

JUAL EBOOK SKRIPSI PENDIDIKAN UNTUK REFERENSI

anda kesulitan bikin skripsi pendidikan, bikin skripsi PTK karena kurang referensi??

sudah dikejar deadline untuk wisuda namun skripsi masih kurang sedikit dan butuh referensi??

oke kalau anda mengalami masalah seperti diatas, saya punya sedikit solusi yang bisa membantu kesulitan anda, kini telah hadir EBOOK SKRIPSI PENDIDIKAN UNTUK REFERENSI

apa yang menarik dari EBOOK ini dibandingkan dengan yang lainnya??

1. Ebook ini hanya berisi contoh-contoh SKRIPSI untuk anak-anak FKIP baik itu PTK ataupun non PTK
2. ada 100 contoh skripsi di bidang pendidikan

oke lengkap dan jelaskan jadi kalau berminat untuk mendapatkan EBOOK KUMPULAN SKRIPSI DI BIDANG PENDIDIKAN UNTUK MAHASISWA FKIP BAIK ITU PTK MAUPUN NON PTK silahkan hubungi SMS = 081938633462, HARGANYA HANYA 100Rb, oke saya ulangi lagi harganya hanya 100Rb anda sudah mendapatkan kumpulan contoh SKRIPSI PENDIDIKAN PTK DAN NON PTK sebanyak 100 judul silahkan hubungi SMS= 081938633462

01/22/2014 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

CORNER UNDERWEAR

READY STOCK
Celana dalam (Underwear) motif JUVENTUS, BARCELONA, DAN M.U

Harga : Rp.53.000 (Belum Ongkir)

Hubungi : Corner Underwear
SMS ke 081938633462 : { Nama, Alamat Lengkap, Kode Barang, Jumlah,Ukuran}

Detail :
– 100% Cotton
– digital printing (bukan sablonan)
– tidak luntur ketika dicuci dan disikat
– 1 box berisikan 3 pcs celana dalam dengan motif yang berbeda

Size :
Size ( XL ) dan (XXL) dewasa
NB: Juga menerima pemesanan secara GROSIR

info lebih lengkap kunjungi FP kami

https://www.facebook.com/CornerUnderwear

07/23/2013 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

SEJARAH PEMBUKUAN HADIS

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hampir semua orang Islam sepakat akan pentingnya peranan hadis dalam berbagai disiplin keilmuan Islam seperti tafsir, fiqh, teologi,  akhlaq dan lain sebagainya. Sebab secara struktural hadis merupakan sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an, dan secara fungsional hadis dapat berfungsi sebagai penjelas (baya>n) terhadap ayat-ayat yang mujmal atau global.   Hal itu dikuatkan dengan berbagai pernyataan yang gamblang dalam al-Qur’an itu sendiri yang menunjukkan pentingnya merujuk kepada hadis Nabi, misalnya Q.S> al-Ahzab  [33]: 21,  36, al-Hasyr [59]:  7.

Akan tetapi ternyata secara historis,  perjalanan hadis tidak sama dengan perjalanan al-Qur’an. Jika al-Qur’an sejak awalnya sudah diadakan pencatatan secara resmi oleh para pencatat wahyu atas petunjuk dari Nabi, dan tidak ada tenggang waktu antara turunnya wahyu dengan penulisannya, maka tidak demikian halnya dengan hadis Nabi. Jika, al-Qur’an secara normatif telah ada garansi dari Allah, dan tidak ada keraguan akan otentisitasnya, maka  tidak demikian halnya dengan Hadis Nabi, yang mendapatkan perlakuan berbeda dari al-Qur’an. Bahkan dalam kitab kitab hadis, terdapat adanya pelarangan penulisan hadis. Hal itu tentunya mempunyai impliksi-implikasi tersendiri bagi transformasi hadis, terutam pada zaman Nabi.

Berita tentang prilaku Nabi Muhammad (sabda, perbuatan, sikap ) didapat dari seorang sahabat atau lebih yang kebetulan hadir atau menyaksikan saat itu, berita itu kemudian disampaikan kepada sahabat yang lain yang kebetulan sedang tidak hadir atau tidak menyaksikan. Kemudian berita itu disampaikan kepada murid-muridnya yang disebut tabi’in (satu generasi dibawah sahabat) . Berita itu kemudian disampaikan lagi ke murid-murid dari generasi selanjutnya lagi yaitu para tabi’ut tabi’in dan seterusnya hingga sampai kepada pembuku hadist (mudawwin).Pada masa Sang Nabi masih hidup, Hadits belum ditulis dan berada dalam benak atau hapalan para sahabat. Para sahabat belum merasa ada urgensi untuk melakukan penulisan mengingat Nabi masih mudah dihubungi untuk dimintai keterangan-keterangan tentang segala sesuatu.

Diantara sahabat tidak semua bergaulnya dengan Nabi. Ada yang sering menyertai, ada yang beberapa kali saja bertemu Nabi. Oleh sebab itu Al Hadits yang dimiliki sahabat itu tidak selalu sama banyaknya ataupun macamnya. Demikian pula ketelitiannya. Namun demikian diantara para sahabat itu sering bertukar berita (Hadist) sehingga prilaku Nabi Muhammad banyak yang diteladani, ditaati dan diamalkan sahabat bahkan umat Islam pada umumnya pada waktu Nabi Muhammad masih hidup.Dengan demikian pelaksanaan Al Hadist dikalangan umat Islam saat itu selalu berada dalam kendali dan pengawasan Nabi Muhammad baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karenanya para sahabat tidak mudah berbuat kesalahan yang berlarut-larut. Al Hadist yang telah diamalkan/ditaati oleh umat Islam dimasa Nabi Muhammad hidup ini oleh ahli Hadist disebut sebagai Sunnah Muttaba’ah Ma’rufah. Itulah setinggi-tinggi kekuatan kebenaran Al Hadist.

1.2.  Rumusan Masalah

  • Bagaimana Proses transformasi hadits dari rasulullh kepada sahabat
    • Bagaimana sejarah pembukuan Hadits
    • Bagaimana kritik tentang sejarah pembukuan

1.3.  Tujuan Pembahasa

ü  Agar kita hkususnya sebagai mahasiswa mengerti tentang sejarah pembukuan al hadis

ü  Agar mahasiswa dapat mengerti proses pembukuan hadits

ü  Supaya mahasiswa mengetahui proses transformasi hadits dari rasulullah kepada sahabat

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Transformasi Hadis Dari rasulullah Kepada Sahabat

Sejarah hadsis memulai periodisasi sejarah perkembangan hadis pada saat awal kenabian itu juga,  walaupun informasi yang dimuat adalah informasi-informasi sebelumnya. Sehingga yang dimaksud dengan masa Nabi adalah masa diturunkannya al-Qur’an dari Allah SWT dan masa disampaikannya hadis oleh Nabi SAW.

Bagaimana suasana keilmuan di awal Islam, mungkin inilah pijakan pertama yang harus dilihat untuk mengetahui perjalanan hadis pada masa Nabi. Sejarah menginformasikan bahwa pada awal Islam tersebut sudah ada kebiasaan tulis menulis. Hal ini ditunjukkan oleh adanya penulisan wahyu dan berbagai bentuk tulis menulis untuk keperluan administrasi negara. Setelah hijrah serta kondisi negara sudah stabil terbukalah orientasi umat Islam untuk mempelajari al-Qur’an dan ilmu pengetahuan lainnya, melalui tradisi membaca dan menulis. Bahkan perang Badar mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan kemampuan baca tulis saat itu, karena para tawanan perang akan mendapatkan kebebasan dari Nabi, bila mau mengajar sepuluh anak Madinah untuk membaca dan menulis.

Kemudian berkembanglah kajian-kajian ilmu dan menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam. Ini dibuktikan dengan ditemukannya berbagai tempat-tempat pertemuan dan tempat kajian yang muncul di akhir abad pertama, yang menunjukkan akan adanya kebangkitan ilmiah.  Perkembangan ilmiah tersebut bersamaan dengan usaha-usaha Nabi SAW dalam menyebarkan sunnah, diantaranya dengan cara:

  • Mendirikan sekolah di Madinah segera setelah kedatangannya di sana dan setelah itu mengirimkan guru dan khatib ke berbagai wilayah luar Madinah.
  • Ø Memberikan perintah misalnya, “Sampaikanlah pengetahuan dariku walaupun hanya satu ayat”. Tekanan yang sama dapat dilihat dalam pidatonya dalam haji Wada’, “Yang hadir di sini hendaklah menyampaikan amanat ini kepada yang tidak hadir”.

Di samping itu, Rasulullah  juga menyuruh kepada delegasi yang datang ke Madinah untuk mengajari kaumnya setelah kembali ke daerahnya. Selain itu, beliau juga memberikan rangsangan kepada pengajar dan penuntut ilmu misalnya: ganjaran untuk penuntut ilmu dan pengajar serta ancaman pada orang yang menolak terlibat dalam proses pendidikan.

Dari data historis ini dapat dilihat bahwa pada awal Islam memang kemampuan baca tulis umat Islam masih rendah. Oleh karenanya hal ini juga menjadi fokus perjuangan Nabi SAW  untuk mencerdaskan kehidupan umatnya. Dan berkat upaya-upaya yang dirintis oleh beliau, pada periode-periode berikutnya umat Islam memperoleh kemajuan yang cukup signifikan. Hal ini tentu saja sedikit banyak juga mempunyai implikasi terhadap perjalanan transformasi hadis pada masa itu, yaitu bagaimana mereka melestarikan ajaran-ajaran Nabi SAW yang notabenya merupakan tafsir  praktis terhadap al-Qur’an, melalui seluruh aspek kehidupannya.

Di samping itu,  Rasul Ja’fariyan dalam penelitiannya menemukan bahwa tradisi penulisan hadis di kalangan Syi’ah mendahului fatwa tentang penulisan hadis yang diberikan oleh para Imam belakangan kepada para sahabat mereka. Penulisan hadis merupakan tradisi yang telah dimulai pada masa Nabi dan dikokohkan oleh Ali.   Misalnya, Muhammad Ibn Muslim, seorang sahabat Imam al-Baqir, berkata: “Abu Ja’far membacakan kepada saya “Kitab al-Fara’id} yang didektekan oleh Nabi,  dan ditulis oleh Ali ra.

Namun demikian, hal ini  tidak berarti hadis Nabi  telah terhimpun secara keseluruhan dalam catatan para sahabat tersebut. Karena hadis tidak dilakukan pencatatan (secara resmi) sebagaimana al-Qur’an, sehingga sahabat sebagai individu tidak mungkin mampu menjadi wakil dalam merekam seluruh aspek kehidupan Nabi SAW. Dengan kata lain, oleh karena hadis itu meliputi segala ucapan, tindakan, pembiaran (taqrir), keadaan, kebiasaan dan hal ihwal Nabi Muhammad.  maka yang demikian ini tidak selalu terjadi di hadapan orang banyak.

Dari keterangan di atas tampak bahwa tradisi penulisan hadis sebenarnya sudah ada sejak masa Nabi saw. Namun ada kemungkinan bahwa sebagian hadis yang belum tercatat saat itu,  dan baru dicatat masa sesudahnya lewat hafalan-hafalan penghafal hadis. Bahkan ada kemungkinan juga ada aspek-aspek kehidupan Nabi yang tidak bisa direkam sampai saat ini. Dengan demikian fase ini merupakan fase dimana penulisan hadis belum menjadi praktek yang merata.

Hadis pada masa Nabi memang belum diupayakan penghimpunannya dan tidak ditulis secara resmi sebagaimana al-Qur’an pada masa Nabi SAW. Hal ini tentu ada sebab-sebab yang melatarbelakannginya. Paling tidak ada beberapa faktor mengapa hadis Nabi waktu itu tidak secara resmi ditulis, Pertama,  masa itu tradisi keilmuan (baca tulis) belum menjadi praktek yang merata dan masih dalam tahap diupayakan perkembangannya.

Lalu bagaimana bentuk transformasi hadis pada zaman Nabi ?  Syuhudi Ismail dalam bukunya Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, menyimpulkan bahwa bentuk transformasi hadis antara lain melalui

ü  lisan di muka orang banyak yang terdiri dari kaum laki-laki

ü   pengajian  rutin di kalangan laki-laki

ü  pengajian khusus yang diadakan di kalangan kaum perempuan, setelah mereka memintanya dan lain sebagainya .

Hadis Pada Masa Rasulullah SAW

Hadis atau sunah adalah sumber hukum Islam yang kedua yang merupakan landasan dan pedoman dalam kehidupan umat Islam setelah Al Qur’an, Karena itu perhatian kepada hadis yang diterima dari Muhammad SAW dilakukan dengan cara memahami dan menyampaikannya kepada orang yang belum mengetahuinya. Perhatian semacam ini sudah ada sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup. Namun pada saat itu para perawi hadis sangat berhati-hati dalam menerima maupun meriwayatkan hadis dan menjaga kemurniannya. Pada zaman Rasulullah para sahabatlah yang meriwayatkan hadis yang pertama. Para sahabat adalah penerima hadis langsung dari Muhammad SAW baik yang sifatnya pelajaran maupun jawaban atas masalah yang dihadapi. Pada masa ini para sahabat umumnya tidak melakukan penulisan terhadap hadis yang diterima. Kalaupun ada, jumlahnya sangat tidak berarti. Hal ini di sebabkan antara lain;

a. Khawatir tulisan hadis itu bercampur dengan tulisan .Al-Qur’un.

b. Menghindarkan umat menyandarkan ajaran Islam kepada hadis saja.

c. Khawatir dalam meriwayatkan hadis salah, dan tidak sesuai dengan yang disampaikan

Nabi Muhammad SAW.

Meskipun demikian, hadits Nabi saw tetap dihafal dan diriwayatkan oleh para Shahabat ra , karena Nabi saw bersabda

:
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ     مِنْهُ وَ رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ
“Semoga Alloh menjadikan putih cemerlang seseorang yang mendengar sebuah hadits dari kami, kemudian menghafalkan dan menyampaikannya karena mungkin saja terjadi orang membawa ilmu kepada orang yang lebih faham darinya, dan mungkin terjadi orang yang membawa ilmu tidak faham tentang ilmunya itu.( HSR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, danAl-Hakim )
Hadis pada masa Khutafaur Rasyidin

Setelah Rasulullah SAW wafat para sahabat mulai menebarkan hadis kepada kaum muslimin melalui tabligh.Nabi Muhammad SAW bersadba; yang Artinya;

Sampaikanlah dari padaku, walaupun hanya satu ayat.’

Di samping itu Rasulullah berpesan kepada para sahabat agar berhati-hati dan memeriksa suatu kebenaran hadis yang hendak disampaikan kepada kaum muslimin. Ketika itu para sahabat tidak lagi berdiam hanya di Madinah. Tetapi meyebar ke kota-kota lain. Pada masa Abu Bakar dan Umar, hadis belum meluas kepada masyarakat. Karena para sahabat lebih mengutamakan mengembangkan A1 Qur’an

Ada dua cara meriwayatkan hadis pada masa sahabat:

a. Dengan lafal aslinya, sesuai dengan yang dilafalkan oleh Nabi Muhammad SAW.

b. Dengan maknanya, bukan lafalnya karena mereka tidak hafal lafalnya.

Cara yang kedua ini rnenimbulkan bermacam-macam lafal (matan), tetapi maksud dan isinya tetap sama. Hal ini mmbuka kesempatan kepada sahabat-sahabat yang dekat dengan Rasulullah SAW untuk mengembangkan hadis, walaupun mereka tersebar ke kota-kota lain.

Masa pembukuan hadis pada masa Umar bin Abdul Aziz

Ide pembukuan hadis pertama-tama dicetuskan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz pada awal abad ke 2 hijriyah. Sebagai Khalifah pada masa itu beliau memandang perlu untuk membukukan hadis. Karena ia meyadari bahwa para perawi hadis makin lama semakin banyak yang meninggal. Apabil hadis-hadis tersebut tidak dibukukan maka di khawatirkan akan lenyap dari permukaan bumi. Di samping itu, timbulnya berbagai golongan yang bertikai daIam persoalan kekhalifahan menyebabkan adanya kelompok yang membuat hadis palsu untuk memperkuat pendapatnya. Sebagai penulis hadis yang pertama dan terkenal pada saat itu ialah Abu Bakar Muhammad ibnu MusIimin Ibnu Syihab Az Zuhry.

Pentingnya pembukuan hadis tersebut mengundang para ulama untuk ikut serta berperan dalam meneliti dan menyeleksi dengan cermatl kebenaran hadis-hadis. Dan penulisan hadis pada abad II H ini belum ada pemisahan antara hadis Nabi dengan ucapan sahabat maupun fatwa ulama. Kitab yang terkenal pada masa itu ialalah Al Muwatta karya imam Malik.

Pada abad III H, penulisan dilakukan dengan mulai memisahkan antara hadis, ucapan rnaupun fatwa bahkan ada pula yang memisahkan antara hadis shahih dan bukan shahih. Pada abad IV H, yang merupakan akhir penulisan hadis, kebanyakan bukti hadis itu hanya merupakan penjelasan ringkas dan pengelompokan hadis-hadis sebelumnya.

Sejarah Penulisan Hadits

Hadits Nabi saw memang belum ditulis secara umum pada zaman Nabi saw masih hidup, karena ketika itu Al-Qur’an masih dalam proses diturunkan dan diurutkan. Bahkan Nabi saw melarang masyarakat umum dari menulis hadits, sebagaimana sabdanya :
لا تَكْتُبُوْا عَنِّيْ وَ مَنْ كَتَبَ عَنِّيْ غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَ حَدِّثُوْا عَنِّيْ وَ لا حَرَجَ

وَ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Janganlah kalian menulis sesuatu pun dariku, barangsiapa yang telah menulis dariku selain Al-Qur’an hendaklah dia menghapusnya, dan beritakanlah hadits dariku, yang demikian tidak berdosa, namun barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah dia mengambil tempat duduknya dari api neraka.” ( HR. Muslim )

Walaupun demikian, Nabi saw memberikan izin kepada orang-orang tertentu untuk menulis hadits yang diyakini tidak akan terjadi tercampurnya tulisan Al-Qur’an dengan tulisan hadits pada mereka. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat :
فَقَامَ أَبُو شَاهٍ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ : اكْتُبُوْا لِي يَا رَسُولَ اللَّهِ

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : اكْتُبُوْا لأَبِيْ شَاهٍ
“Berdirilah Abu Syah, yakni seorang laki-laki dari penduduk Yaman, dia berkata : “Tuliskan untukku, wahai Rosullulloh !” Maka Rosululloh saw bersabda : “Tuliskan untuk Abu Syah !” ( HR. Al-Bukhori dan Abu Dawud )

Demikianlah usaha penulisan hadis pada masa khaIifah Umar bin Abdui Aziz yang selanjutnya disempurnakan oleh utama dari masa dan ke masa dan mencapai puncaknya pada akhir abad IV H.

Masa penggalian hadis

Setelah Nabi Muhammad wafat (tahun 11 H / 632 M) pada awalnya tidak menimbulkan masalah mengenai Al Hadits karena sahabat besar masih cukup jumlahnya dan seakan-akan menggantikan peran Nabi sebagai tempat bertanya saat timbul masalah yang memerlukan pemecahan, baik mengenai Al Hadist ataupun Al Quran. Dan diantara mereka masih sering bertemu untuk berbagai keperluan.

Sejak Kekhalifahan Umar bin Khaththab (tahun 13 – 23 H atau 634 – 644 M) wilayah dakwah Islamiyah dan daulah Islamiyah mulai meluas hingga ke Jazirah Arab, maka mulailah timbul masalah-masalah baru khususnya pada daerah-daerah baru sehingga makin banyak jumlah dan macam masalah yang memerlukan pemecahannya. Meski para sahabat tempat tinggalnya mulai tersebar dan jumlahnya mulai berkurang, namun kebutuhan untuk memecahkan berbagai masalah baru tersebut terus mendorong para sahabat makin saling bertemu bertukar Al Hadist.

Kemudian para sahabat kecil mulai mengambil alih tugas penggalian Al Hadits dari sumbernya ialah para sahabat besar. Kehadiran seorang sahabat besar selalu menjadi pusat perhatian para sahabat kecil terutama para tabi’in. Meski memerlukan perjalanan jauh tidak segan-segan para tabi’in ini berusaha menemui seorang sahabat yang memiliki Al Hadist yang sangat diperlukannya. Maka para tabi’in mulai banyak memiliki Al Hadist yang diterima atau digalinya dari sumbernya yaitu para sahabat. Meski begitu, sekaligus sebagai catatan pada masa itu adalah Al Hadist belum ditulis apalagi dibukukan.

Masa penghimpunan al hadis

Musibah besar menimpa umat Islam pada masa awal Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Musibah itu berupa permusuhan diantara sebagian umat Islam yang meminta korban jiwa dan harta yang tidak sedikit. Pihak-pihak yang bermusuhan itu semula hanya memperebutkan kedudukan kekhalifahan kemudian bergeser kepada bidang Syari’at dan Aqidah dengan membuat Al Hadist Maudlu’ (palsu) yang jumlah dan macamnya tidak tanggung-tanggung guna mengesahkan atau membenarkan dan menguatkan keinginan / perjuangan mereka yang saling bermusuhan itu. Untungnya mereka tidak mungkin memalsukan Al Quran, karena selain sudah didiwankan (dibukukan) tidak sedikit yang telah hafal. Hanya saja mereka yang bermusuhan itu memberikan tafsir-tafsir Al Quran belaka untuk memenuhi keinginan atau pahamnya.

Keadaan menjadi semakin memprihatinkan dengan terbunuhnya Khalifah Husain bin Ali bin Abi Thalib di Karbala (tahun 61 H / 681 M). Para sahabat kecil yang masih hidup dan terutama para tabi’in mengingat kondisi demikian itu lantas mengambil sikap tidak mau lagi menerima Al Hadist baru, yaitu yang sebelumnya tidak mereka miliki. Kalaupun menerima, para shabat kecil dan tabi’in ini sangat berhat-hati sekali. Diteliti dengan secermat-cermatnya mengenai siapa yang menjadi sumber dan siapa yang membawakannya. Sebab mereka ini tahu benar siapa-siapa yang melibatkan diri atau terlibat dalam persengketaan dan permusuhan masa itu. Mereka tahu benar keadaan pribadi-pribadi sumber / pemberita Al Hadist. Misal apakah seorang yang pelupa atau tidak, masih kanak-kanak atau telah udzur, benar atau tidaknya sumber dan pemberitaan suatu Al Hadist dan sebagainya. Pengetahuan yang demikian itu diwariskan kepada murid-muridnya ialah para tabi’ut tabi’in.

Umar bin Abdul Aziz seorang khalifah dari Bani Umayah (tahun 99 – 101 H / 717 – 720 M) termasuk angkatan tabi’in yang memiliki jasa yang besar dalam penghimpunan Al Hadist. Para kepala daerah diperintahkannya untuk menghimpun Al Hadist dari para tabi’in yang terkenal memiliki banyak Al Hadist. Seorang tabi’in yang terkemuka saat itu yakni Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah bin Syihab Az Zuhri (tahun 51 – 124 H / 671 – 742 M) diperintahkan untuk melaksanakan tugas tersebut. Untuk itu beliau Az Zuhri menggunakan semboyannya yang terkenal yaitu al isnaadu minad diin, lau lal isnadu la qaala man syaa-a maa syaa-a (artinya : Sanad itu bagian dari agama, sekiranya tidak ada sanad maka berkatalah siapa saja tentang apa saja)

2.2 Masa pendiwanan dan penyusunan al hadis

Usaha pendiwanan (yaitu pembukuan, pelakunya ialah pembuku Al Hadits disebut pendiwan) dan penyusunan Al Hadits dilaksanakan pada masa abad ke 3 H. Langkah utama dalam masa ini diawali dengan pengelompokan Al Hadits. Pengelompokan dilakukan dengan memisahkan mana Al Hadits yang marfu’, mauquf dan maqtu’. Al Hadits marfu’ ialah Al Hadits yang berisi perilaku Nabi Muhammad, Al Hadits mauquf ialah Al Hadits yang berisi perilaku sahabat dan Al Hadits maqthu’ ialah Al Hadits yang berisi perilaku tabi’in. Pengelompokan tersebut diantaranya dilakukan oleh :

ü  Ahmad bin Hambal

ü  ‘Abdullan bin Musa Al ‘Abasi Al Kufi

ü  Musaddad Al Bashri

ü  Nu’am bin Hammad Al Khuza’i

ü  ‘Utsman bin Abi Syu’bah

Yang paling mendapat perhatian paling besar dari ulama-ulama sesudahnya adalah Musnadul Kabir karya Ahmad bin Hambal (164-241 H / 780-855 M) yang berisi 40.000 Al Hadits, 10.000 diantaranya berulang-ulang. Menurut ahlinya sekiranya Musnadul Kabir ini tetap sebanyak yang disusun Ahmad sendiri maka tidak ada hadist yang mardud (tertolak). Mengingat musnad ini selanjutnya ditambah-tambah oleh anak Ahmad sendiri yang bernama ‘Abdullah dan Abu Bakr Qathi’i sehingga tidak sedikit termuat dengan yang dla’if dan 4 hadist maudlu’.

Adapun pendiwanan Al Hadits dilaksanakan dengan penelitian sanad dan rawi-rawinya. Ulama terkenal yang mempelopori usaha ini adalah :

Ishaq bin Rahawaih bin Mukhlad Al Handhali At Tamimi Al Marwazi (161-238 H / 780-855 M)

Ia adalah salah satu guru Ahmad bin Hambal, Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, An Nasai.Usaha Ishaq ini selain dilanjutkan juga ditingkatkan oleh Bukhari, kemudian diteruskan oleh muridnya yaitu Muslim. Akhirnya ulama-ulama sesudahnya meneruskan usaha tersebut sehingga pendiwanan kitab Al Hadits terwujud dalam kitab Al Jami’ush Shahih Bukhari, Al Jamush Shahih Muslim As Sunan Ibnu Majah dan seterusnya sebagaimana terdapat dalamdaftar kitab masa abad 3 hijriyah.

Yang perlu menjadi catatan pada masa ini (abad 3 H) ialah telah diusahakannya untuk memisahkan Al Hadits yang shahih dari Al Hadits yang tidak shahih sehingga tersusun 3 macam Al Hadits, yaitu :

  1. Kitab Shahih – (Shahih BukhariShahih Muslim) – berisi Al Hadits yang shahih saja
  2. Kitab Sunan – (Ibnu Majah, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai, Ad Damiri) – menurut sebagian ulama selain Sunan Ibnu Majah berisi Al Hadit shahih dan Al Hadits dla’if yang tidak munkar.
  3. Kitab Musnad – (Abu Ya’la, Al Hmaidi, Ali Madaini, Al Bazar, Baqi bin Mukhlad, Ibnu Rahawaih) – berisi berbagai macam Al Hadits tanpa penelitian dan penyaringan. Oleh seab itu hanya berguna bagi para ahli Al Hadits untuk bahan perbandingan.

Apa yang telah dilakukan oleh para ahli Al Hadits abad 3 Hijriyah tidak banyak yang mengeluarkan atau menggali Al Hadits dari sumbernya seperti halnya ahli Al Hadits pada adab 2 Hijriyah. Ahli Al Hadits abad 3 umumnya melakukan tashhih (koreksi atau verifikasi) saja atas Al Hadits yang telah ada disamping juga menghafalkannya. Sedangkan pada masa abad 4 hijriyah dapat dikatakan masa penyelesaian pembinaan Al Hadist. Sedangkan abad 5 hijriyah dan seterusnya adalah masa memperbaiki susunan kitab Al Hadits,menghimpun yang terserakan dan memudahkan mempelajarinya

2.3       Kritik Tentang sejarah Pembukuan Hadits

Demikian salah satu hadis yang menyatakan pelarangan penulisan hadis. Apabila ditinjau dari hadis ini, maka dapat diprediksikan bagaimana implikasinya terhadap penulisan dan pembukuan hadis. Ulama kontemporer seperti Muhammad Syharur, misalnya memaknai larangan hadis tersebut sebagai suatu isyarat bahwa   hadis itu sebenarnya hanyalah merupakan ijtihad Nabi yang syarat dengan situasi sosio-kultural dimana Nabi hidup. Hadis Nabi lebih  merupakan marhalah ta>ri>khiyah, dimana Nabi sangat dipengaruhi oleh situasi sosio-budaya Arab waktu itu, sehingga tidak terlalu penting untuk dibukukan.

Namun demikian, disamping ada hadis yang melarang menulisan hadis sebagaimana dikutip di atas, dalam bagian yang lain ada juga hadis-hadis yang menunjukkan kebolehan menulis hadis. Diantaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu> Hurairah yang artinya sebagai berikut:

Terhadap dua riwayat yang tampak saling bertentangan tersebut, para ulama berbeda pendapat dalam memahaminya. Sebagian menganggap bahwa larangan itu mutlak, tetapi  sebagian ulama yang lain berusaha mengkompromikannya dengan mengembalikan persoalan tersebut kepada empat pendapat:

  • Sebagian ulama menganggap bahwa hadis Abi Said Al-Hudri tersebut Mauquf, maka tidak patut untuk dijadikan alasan, untuk melarang penulisan hadis
  • Larangan penulisan hadis berlaku hanya pada masa awal-awal  Islam, karena dikhawatirkan bercampur dengan al-Qur’an.
  • Dengan adanya larangan penulisan hadis tersebut pada hakekatnya Nabi mempercayai kemampuan para sahabat untuk menghafalkannya, dan Nabi khawatir seseorang akan bergantung pada tulisan, sedang pemberian izin Nabi untuk menulis hadisnya,   pada hakekatnya merupakan isyarat bahwa Nabi tidak percaya kepada orang seperti Abi Syah,  dapat menghafalkannya dengan baik.
  • Larangan  itu bersifat umum, tetapi secara khusus diizinkan kepada orang-orang yang bisa baca tulis dengan baik, tidak salah dalam tulisannya, seperti pada Abdullah bin Umar.

Meskipun para ulama mempunyai perbedaan pendapat tentang boleh tidaknya penulisan hadis ini, namun nyatanya para sahabat tetap memelihara dan melestarikan hadis Nabi. Hal ini dibuktikan dengan adanya hadis Nabi yang mengatakan: “Riwayatkanlah dari saya. Barang siapa sengaja berbohong atas nama saya maka tempatnya di neraka”. Sehingga apabila menulis hadis menjadi praktek yang dilarang, maka untuk mengantisipasi terjadinya ketidakotentikan hadis ini Nabi juga memberikan peringatan atau ancaman neraka tersebut

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Walaupun diakui hafalan merupakan salah satu tradisi yang dijunjung tinggi dalam pemeliharaan dan pengembangan pengetahuan, dan konon orang-orang Arab terkenal mempunyai kekuatan hafalan yang tinggi,  bahkan para penghafal masih banyak yang beranggapan bahwa penulisan hadis tidak diperkenankan, namun ternyata tradisi penulisan hadis sudah dilakukan sejak zaman Nabi.

Tradisi tulis hadis memang sudah ada sejak masa Nabi, tapi bukan berarti semua hadis Nabi sudah dibukukan sejak zaman Nabi tersebut. Hal ini bisa kita lihat dari tidak dibukukannya hadis secara resmi saat itu, sedang sahabat yang menulis hadis itu lebih didorong oleh keinginan dirinya sendiri. Padahal koordinasi antara sahabat untuk merekam seluruh aspek kehidupan Nabi tidak ditemukan tanda-tandanya.

Nabi SAW hidup di tengah-tengah masyarakat dan sahabatnya. Mereka selalu bertemu dan berinteraksi dengan beliau secara bebas. Menurut T.M.Hasbi Ash Shiddieqy, bahwa tidak ada ketentuan protokol yang menghalangi mereka bergaul dengan beliau. Yang tidak dibenarkan, hanyalah mereka langsung masuk ke rumah Nabi, di kala beliau tak ada di rumah, dan berbicara dengan para istri Nabi, tanpa hijab. Nabi bergaul dengan mereka di rumah, di mesjid, di pasar, di jalan, di dalam safar dan di dalam hadlar.

Seluruh perbuatan Nabi, demikian juga ucapan dan tutur kata Nabi menjadi tumpuan perhatian para sahabat. Segala gerak-gerik Nabi menjadi contoh dan pedoman hidup mereka. Para sahabat sangat memperhatikan perilaku Nabi dan sangat memerlukan untuk mengetahui segala apa yang disabdakan Nabi. Mereka tentu meyakini, bahwa mereka diperintahkan mengikuti dan menaati apa-apa yang diperintahkan Nabi.

3.2. Saran

Tentunya penulis dalam hal ini menyarankan kepada pembanya agar supaya mempelajari dan menelaah makalah ini Sebagai referensi dalam belajar .Sebagai penulis makalah ini tentunya dalam penulisan masih banyak kesalahan dalam penulisan dan lain sebagaai penulis saya menyarankan kepada para pembaca agar memberikan kritik dan dan saran untuk terbentuknya makalah yang lebih baik .

05/09/2013 Posted by | Uncategorized | 2 Komentar

Model Pembelajaran GASING/FISITARU

Model Pembelajaran Fisitaru disetting dalam bentuk pembelajaran yang diawali dengan sebuah masalahdengan menggunakan instruktur sebagai pelatihan metakognitif dan diakhiri dengan penyajian dan analisis kerja siswa (Yohanes Surya, 2008).

Model pembelajaran Fisitaru berlandaskan pada psikologi kognitif, sehingga fokus pengajaran tidak begitu banyak pada apa yang sedang dilakukan siswa, melainkan kepada apa yang sedang mereka pikirkan pada saat mereka melakukan kegiatan itu. Pada model pembelajaran Gasing berbasis masalah peran guru lebih berperan sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa belajar berpikir dan memecahkan masalah mereka sendiri. Belajar berbasis masalah menemukan akar intelektualnya pada penelitian John Dewey (Ibrahim, 2000). Pedagogi Jhon Dewey menganjurkan guru untuk mendorong siswa terlibat dalam proyek atau tugas yang berorientasi masalah dan membentu mereka menyelidiki masalah-masalah tersebut. Pembelajaran yang berdayaguna atau berpusat pada masalah digerakkan oleh keinginan bawaan siswa untuk menyelidiki secara pribadi situasi yang bermakna merupakan hubungan masalah dengan psikologi Dewey.

Selain Dewey, ahli psikologi Eropa Jean Piaget tokoh pengembang konsep konstruktivisme telah memberikan dukungannya. Pandangan konstruktivisme- kognitif yang didasari atas teori Piaget menyatakan bahwa siswa dalam segala usianya secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuannya sendiri (Ibrahim, 2000).

Adaptasi struktur pembelajaran model Gasing berbasis masalahdalam kelas-kelas sains dilakukan dengan menjamin penerapan beberapa komponen penting dari sains. Empat penerapan esensial dari pembelajaran model Gasing berbasis masalah adalah seperti diurutkan dalam Yohanes Surya (2008) adalah:
1) Orientasi siswa pada masalah
Pada saat mulai pembelajaran, guru menyampaikan tujuan pembelajaran secara jelas, menumbuhkan sikap positif terhadap pelajaran. Guru menyampaikan bahwa perlu adanya elaborasi tentang hal-hal sebagai berikut:
– Tujuan utama dari pembelajaran adalah tidak untuk mempelajari sejumlah informasi baru, namun lebih kepada bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadikan pebelajar yang mandiri.
– Permasalahan yang diselidiki tidak memiliki jawabanmutlak ”benar”. Sebuah penyelesaian yang kompleks memiliki banyak penyelesaian yang terkadang bertentangan.
– Selama tahap penyelidikan dalam pembelajaran, siswadidorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi dengan bimbingan guru.
– Pada tahap analisis dan penyelesaian masalah siswa didorong untuk menyampaikan idenya secara terbuka.
Guru perlu menyajikan masalah dengan hati-hati dengan prosedur yang jelas untuk melibatkan siswa dalam identifikasi. Hal penting di sini adalah orientasi kepada situasi masalah menentukan tahap untuk penyelidikan selanjutnya. Oleh karena itu pada tahap ini presentasi harus menarik minat siswa dan menimbulkan rasa ingin tahu.

2) Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Pembelajaran model Gasing berbasis masalahmembutuhkan keterampilan kolaborasi diantara siswa menurut mereka untuk menyelidiki masalah secara bersama. Oleh karena itu mereka juga membutuhkan bantuan untuk merencanakan penyelidikan dan tugas-tugas belajarnya.
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar kooperatif juga berlaku untuk mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok pembelajaran berbasis masalah. Intinya di sini adalah guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikantugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang akan dipecahkan.

3) Membantu penyelidikan siswa
Pada tahap ini guru mendorong siswa untuk mengumpulkan data-data atau melaksanakan eksperimen sampai mereka betul-betul memahami dimensi dari masalah tersebut. Tujuannya agar siswamengumpulkan cukup informasi untuk membangun ide mereka sendiri. Siswa akan membutuhkan untuk diajarkan bagaimana menjadi penyelidik yang aktif dan bagaimana menggunakan metode yang sesuai untuk masalah yang sedang dipelajari.
Setelah siswa mengumpulkan cukup data mereka akanmulai menawarkan penjelasan dalam bentuk hipotesis, penjelasan dan pemecahan. Selama tahap ini guru mendorong semua ide dan menerima sepenuhnya ide tersebut.

4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Pada tahap ini guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan hasil karya yang akan disajikan. Masing-masing kelompok menyajikan hasil pemecahan masalah yang diperoleh dalam suatu diskusi. Penyajian hasil karya ini dapat berupa laporan, poster maupun media-media yang lain.

5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Tahap akhir ini meliputi aktivitas yang dimaksudkanuntuk membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi prosesberpikir mereka sendiri dan disamping itu juga mengevaluasi keterampilan penyelidikan =dan keterampilan intelektual yang telah mereka gunakan.
Selanjutnya beberapa ciri penting pembelajaran model fisitaru sebagai berikut (Yohanes Surya, 2008).

1. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran dirancang untuk dapat merangsang dan melibatkan pebelajar dalam pola pemecahan masalah. Kondisi ini akan dapat mengembangkan keahlian belajar dalam bidangnya secara langsung dalam mengidentifikasi permasalahan. Dalam konteks belajar kognitif sejumlah tujuan yang terkait adalah belajar langsung dan mandiri, pengetahuan dan pemecahan masalah. Sehingga untuk mencapai keberhasilan, para pebelajar harus mengembangkan keahlian belajar dan mampu mengembangkan strategi dalam mengidentifikasidan menemukan permasalahan belajar, evaluasi dan juga belajar dari berbagai sumber yang relevan.

2. Keberlanjutan masalah
Dalam hal ini ada dua hal yang harus terpenuhi. Pertama, harus dapat memunculkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang relevan dengan content domainyang dibahas. Kedua, permasalahan hendaknya riil sehingga memungkinkan terjadinya kesamaan pandang antarsiswa. Ada tiga alasan kenapa permasalahan harus nyata (realistik). (1) Siswa terkadang terbuka untuk meneliti semua dimensi daripermasalahan sehingga dapat mengalami kesulitan dalam menciptakan suatu permasalahan yang luas dengan informasi yang sesuai. (2) Permasalahan nyata cenderung untuk lebih melibatkan siswa terhadap suatu konteks tentang kesamaan dengan permasalahan. (3) Siswa segera ingin tahu hasil akhir dari penyelesaian masalahnya.

3. Adanya presentasi permasalahan
Pelajar dilibatkan dalam mempresentasikan permasalahan sehingga mereka merasa memiliki permasalahan tersebut. Ada dua hal pokok dalam mempresentasikan permasalahan. Pertama, jika siswa dilibatkan dalam pemecahan masalah yang autentik, maka mereka harus memiliki permasalahan tersebut. Kedua, adalah bahwa data yang ditampilkan dalam presentasi permasalahan tidak menyoroti faktor-faktor utama dalam masalah tersebut, namun dapat ditampilkan sebagai dasar pertanyaan sehingga tidak menampilkan informasi kunci.

4. Peran guru sebagai tutor dan fasilitator
Dalam hal ini peran guru sebagai fasilitator adalahmengembangkan kreativitas berpikir siswa dalam bentuk keahlian dalam pemecahan masalah dan membantu siswa untuk menjadi mandiri. Kemampuan dari tutor sebagai fasilitator keterampilan mengajar kelompok kecil dam proses pembelajaran merupakan penentu utama dari kualitas dan keberhasilan. Setiap metode pendidikan bertujuan: (1) Mengembangkan kreativitas pada siswa dan keahlian berpendapat. (2) Membantu mereka untuk menjadi mandiri. Sedangkan tutorial adalah suatu penggunaan keahlian yang menitikberatkan masalah dasar belajar langsung mandiri.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

05/08/2013 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

BLANSING

 

Blansing merupakan suatu cara pemanasan pendahuluan atau perlakuan pemanasan tipe pasteurisasi  yang  dilakukan  pada  suhu  kurang  dari  100oC selama  beberapa  menit,  dengan menggunakan  air  panas  atau  uap.  Proses  blansing  termasuk  ke  dalam  porses  termal  dan umumnya membutuhkan suhu berkisar 75 – 95°C selama 10 menit. Tujuan utama blansing ialah menginaktifan  enzim  diantaranya  enzim  peroksidase  dan  katalase,  walaupun  sebagian  dari mikroba yang ada dalam bahan juga turut mati. Kedua jenis enzim ini paling  tahan terhadap

panas.  Blansing  biasanya  dilakukan  terhadap  sayur-sayuran  dan  buah-buahan  yang  akan dikalengkan atau  dikeringkan. Di dalam pengalengan sayur-sayuran dan buah-buahan, selain untuk menginaktifkan enzim, tujuan blansing yaitu :

o  membersihkan bahan dari kotoran dan mengurangi jumlah mikroba dalam bahan

 

o  mengeluarkan  atau  menghilangkan  gas-gas  dari  dalam  jaringan  tanaman,  sehingga mrngurangi  terjadinya pengkaratan kaleng dan memperoleh keadaan vakum yang baik dalam “headspace” kaleng.

o  melayukan atau melunakkan jaringan tanaman, agar memudahkan pengisian bahan ke dalam wadah

o  menghilangkan bau dan flavor yang tidak dikehendaki

 

o  menghilangkan lendir pada beberapa jenis sayur-sayuran

 

o  memperbaiki warna produk, a.l. memantapkan warna hijau sayur-sayuran

 

Cara melakukan blansing ialah dengan merendam dalam air panas (merebus) atau dengan uap air (mengukus atau dinamakan juga “steam blanching”). Merebus yaitu memasukkan bahan ke dalam panci yang berisi air mendidih. Sayur-sayuran atau buah-buahan yang akan diblansing dimasukkan ke dalam keranjang  kawat,  kemudian dimasukkan ke dalam panci dengan suhu blansing biasanya mncapai 82 – 83°C selama 3 – 5  menit. Setelah blansing cukup waktunya, kemudian keranjang kawat diangkat dari panci dan cepat-cepat didinginkan dengan air.

Pengukusan  tidak  dianjurkan  untuk  sayur-sayuran  hijau,  karena  warna  bahan  akan menjadi kusam. Caranya ialah dengan mengisikan bahan ke dalam keranjang kawat, kemudian dimasukkan  ke  dalam  dandang   yang  berisi  air  mendidih.  Dandang  ditutup  dan  langkah selanjutnya sama dengan cara perebusan.

 

Kemampuan proses blansing sebagai perlakuan pendahuluan untuk mendapatkan produk yang baik didasari oleh beberapa fungsi, yaitu :

a.   Menginaktivasi enzim yang dapat menyebabkan perubahan kualitas bahan pangan, terutama bahan pangan  segar yang mudah mengalami kerusakan akibat aktivitas enzim yang tinggi. Bahan pangan yang mudah  mengalami kerusakan jenis ini adalah buah-buahan dan sayur- sayuran.  Aktivitas  enzim  ini  terkait  karakteristik  biologi,  fisiologi,  dan  hidratasi  bahan pangan.  Akibat  buruk  akibat  aktivitas enzim  lebih  tampak  jika  pada  proses pengol ahan terjadi  penundaan.  Beberapa  enzim  oksidatif  yang menjadi  inaktif  pada  proses blansing adalah peroksidase, katalase, polifenol oksidase, lipoksigenase, dan lain-lain.

Sebagai contoh blansing dilakukan sebagai perlakuan pendahuluan pada proses pembuatan sari buah apel dengan tujuan untuk menginaktifkan enzim polifenolase. Enzim polifenolase dapat mengkatalis reaksi oksidasi terhadap senyawa fenol yang mengakibatkan pembentukan warna coklat yang tidak dikehendaki karena merusak penampilan produk dan tidak disukai konsumen.

b.  Mengurangi gas antarsel untuk mengurangi perubahan oksidatif. Berkurangnya gas antarsel berakibat  pada  menurunya  kadar  oksigen  dalam  bahan,  sehingga  akan  berakibat  pada menurunya aktivitas enzim oksidatif yang aktifitasnya dipengaruhi oleh kandungan oksigen dalam bahan.

c.   Selain inaktifasi enzim, prinsip proses blansing yang menggunakan pemanasan juga akan menurunkan aktifitas bahkan mematikan mikroorganisme.

 

 

Namun selain dari keuntungan yang diperoleh dari proses blansing tersebut, ada juga kekurangan dari  proses tersebut, yaitu efek negatif berupa kehilangan zat gizi yang sensitif terhadap pemanasan. Zat gizi yang sensitif terhadap pemanasan akan larut pada proses blansing yang dilakukan dengan metode perebusan.

Proses blansing dibutuhkan jika terdapat waktu tunggu sebelum perlakuan panas pada proses  pengeringan  atau  pengalengan  dilakukan.  Proses  blansing  juga  diperlukan  jika  tidak terdapat perlakuan panas pada produk selama pengolahan seperti pada pembekuan.

 

 

I.         Metode Blansing

 

Secara garis besar metode blansing yang sering diterapkan ada 2 (dua), yaitu : blansing dengan air panas, dan blansing dengan uap panas.

1.         Blansing dengan air panas (Hot Water Blanching)

 

Metode blansing ini hampir sama dengan proses perebusan. Metode ini cukup efisien, namun memiliki kekurangan yaitu kehilangan komponen bahan pangan yang mudah larut dalam air serta bahan yang tidak tahan panas.

2.         Blansing dengan uap air panas (Steam Blanching)

 

Blansing dengan metode ini paling sering diterapkan. Metode ini mengurangi kehilangan komponen yang tidak tahan panas.

 

 

II.        Mesin Blansing

 

Ada beberapa jenis/tipe mesin blansing yang sering digunakan pada proses pengolahan industri pertanian khususnya pengolahan pangan. Pemilihan jenis mesin dilakukan berdasarkan jenis bahan, kondisi bahan, serta tujuan dari pengolahan atau spesifikasi produk yang diinginkan. Beberapa jenis mesin blansing tersebut adalah :

1.  Rotary Drum Blancher

 

Rotary drum  blancher  terdiri  atas  sebuah  drum  berputar  yang  secara  substansial ditutup selama operasi untuk meningkatkan efisiensi proses. Bagan dari rotary drum blancher dapat dilihat pada Gambar 2.1, dan gambar fisik rotary drum blancher dapatr dilihat pada Gambar 2.2.

 

 

 

 

Gambar 2.1 Bagan Rorary Drum Blancher

 

Selama operasi, produk makanan secara substansial terus dimasukkan ke blancher melalui inlet produk makanan (I), diproses oleh blancher, dan kemudian dikaluarkan dari                    blancher           melalui                 outlet               produk           makanan      (46).

 

 

Gambar 2.2. Rotary Drum Blancher (sumber : sigmapackaging.com)

 

 

 

2.  Batch Blancher

 

 

 

Gambar 2.3. Batch blancher (sumber : ciae.nic.in)

 

 

 

 

 

3.  Continuous Blancher

 

 

 

Gambar 2.4. Continuous blancher (sumber : asmequipment.com)

 

4.  Belt blancher

 

 

 

Gambar 2.5. Belt blancher (sumber : hughezcompany.biz)

 

 

 

5.  Thermoscrew blancher

 

Thermoscrew  blancher  memiliki  ulir  yang  terdapat  lubang  pada  bagian  tengah. Lubang pada bagian tengah ulir tersebut berisi medium pemanas. Pada alat ini bahan dan air panas bergerak  dengan arah yang berlawanan untuk  mempercepat proses transfer panas. Gambar dari thermoscrew blancher dapat dilihat pada Gambar 2.6.

 

 

 

Gambar 2.6. Thermoscrew Blancher (sumber : Reitz Thermascrew Blancher …bcit.ca)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6.  Steam Blancher

 

Steam blancher digunakan untuk proses blansing dengan uap air panas atau steam blanching. Blansing dengan cara ini dapat mengurangi kehilangan komponen bahan pangan akibat proses blansing dengan air panas. Pada alat ini uap air diberikan  pada lapisan irisan sayuran atau buah-buahan sebanyak 25 kali penyemprotan. Bagan dari proses blansing dengan uap air panas dapat dilihat pada Gambar 2.7.

 

 

 

Gambar 2.7. TRAY-TYPE STEAM BLANCHER. FMC CORPORATION

(Sumber : Machinery International Division fao.org

 

7.  Pasta Blancher

 

 

 

Gambar 2.8. Pasta Blancher (sumber : commercialkitchenindia.com

 

8.  Key Screw Conveyor Blancher

 

 

 

Gambar 2.9. Blancher – Key Screw Conveyor Blancher – Vegetables, Blanching, Water-(sumber

: basedfoodtechinfo.com)

 

9.  Vegetables Blancher

 

 

 

Gambar 2.10. Vegetable blancher with air cooling, capable of blanching 15 tons of peas

(sumber : smartmachinery.co.uk)

 

 

 

Gambar 2.11. Steam Blancher (sumber : tradeindia.com)

 

 

 

 

A. PENGUAPAN ( EVAPORATOR )

 

Evaporasi atau penguapan merupakan pengambilan sebagian uap  air  yang bertujuan utuk  meningkatkan konsentrasi padatan dari suatu bahan makanan cair. Salah satu tujuan lain dari  operasi ini adalah untuk mengurangi volume dari suatu produk  sampai  batas-batas  tertentu  tanpa  menyebabkan  kehilangan  zat-zat  yang mengandung gizi. Pengurangan volume produk, akan mengakibatkan turunnya biaya pengangkutan. Disamping itu, juga akan meningkatkan efisiensi  penyimpanan dan dapat membantu pengawetan, atas dasar berkurangnya jumlah air bebas yang dapat digunakan  oleh  microorganisma  untuk  kehidupannya.  Salah  satu  contoh  untuk pengawetan adalah susu kental manis.

 

 

 

Gambar 1.Evaporator Tabung dan Pipa

 

 

 

 

Operasi  penguapan  yang  mungkin  digunakan  untuk  suatu  produk  sangat bervariasi, hal ini tergantung pada karakteristik bahan produk. Dalam banyak kasus, karakteristik bahan ini berpengaruh pada design evaporator (alat penguap). Adapun contoh  dari  karakteristik  bahan  adalah  kekentalan  bahan  dan  kepekatan  bahan terhadap suhu serta kemampuan bahan untuk membuat alat mengalami korosi.

 

Menaikkan konsentrasi dari fraksi padatan di dalam produk bahan makanan cair  adalah   dengan  menguapkan  air  bebas  yang  ada  didalam  produk.  Proses penguapan ini dilakukan dengan menaikkan temperatur produk sampai titik didih dan menjaganya untuk beberapa waktu  sampai konsentrasi yang diinginkan.Ada empat komponen dasar yang dibutuhkan untuk melakukan penguapan.

 

Keempat komponen tersebut terdiri dari :

 

 

 

 

 

a) sebuah tabung penguapan, b) sustu alat pindah panas,

c) sebuah kondensor, serta

 

d) sebuah metode untuk menjaga tekanan vakum.

 

Keempat komponen ini harus diperhatikan dalam merencanakan suatu evaporator. Sistem tekanan vakumnya harus dapat mengalirkan gas yang tidak terkondensasi agar bisa menjaga tekanan vakum yang diinginkan didalam tabung penguapan. Panas yang cukup  harus  dialirkan/  diberikan  ke  produk  untuk  penguapan  sejumlah  air  yang diinginkan,  serta  sebuah  kondensor  yang  berguna  untuk   mengembangkan  dan memindahkan uap air yang diproduksi melalui penguapan.

 

Keseimbangan  massa  dapat  digunakan  untuk  menentukan  laju  penguapan untuk   mendapatkan  derajad  konsentrasi  yang  diinginkan.  Hubungan  ini  akan membawa kita untuk  dapat menentukan jumlah medium pemanas yang dibutuhkan untuk  mencapai  penguapan  yang  diinginkan.  Kunci  penting  lainnya  yang  perlu mendapat  perhatian  dalam  perencanaan  adalah   pindah  panas  yang  terjadi  dari medium   pemanas   ke   produk,   dengan   memperhatikan   bahwa   kebutuhan   luas permukaan pindah panas tidak akan dapat dihitung tanpa terlebih dahulu menduga koefisien pindah panas keseluruhan bagi permukaan pemanas.

 

Walaupun parameter-parameter untuk design sudah dapat diduga secara tepat, akan tetapi masih ada faktor-faktor khusus yang ada pada produk yang berpengaruh pada design evaporator.  Faktor-faktor ini akan mengakibatkan perhitungan menjadi lebih kompleks. Sebagai contoh adalah  banyaknya padatan yang ada pada produk bahan  makanan  cair  akan  mengakibatkan  titik  didih  yang  lebih  tinggi  apabila dibandingkan dengan titik didih dari air pada tekanan yang sama.

 

Perbedaan titik didih ini menjadi lebih besar dengan bertambah tingginya konsentrasi bahan makanan cair. Kerumitan ditambah lagi dengan tidak konstannya koefisien pindah panas konveksi, karena koefisien pindah panas ini merupakan fungsi dari kekentalan. Padahal telah diketahui bahwa selama proses penguapan, kekentalan produk  selalu  berubah  karena  terjadinya  penguapan.  Keadaan  ini  mengakibatkan koefisien  pindah  panas  konveksi  juga  selalu  berubah  sesuai  dengan  kekentalan produk.  Akhirnya,  persoalan  menjadi  lebih  kompleks  dengan  adanya  sifat  panas produk yang berubah menurut temperatur dan kadar air produk. Tentunya , hal ini semua akan memberikan pengaruh tersendiri terhadap design operator.

 

 

 

 

 

Prinsip Kerja Evaporasi ( Penguapan )

 

Prinsip  kerja  peralatan  evaporator  vakum  ini  berdasarkan  pada  kenyataan bahwa   penurunan  tekanan  akan  menyebabkan  turunnya  titik  didih  cairan.Pada Anhydro laboratory Vacum Evaporator, keadaan vakum tersebut terutama dihasilkan dari pompa air  yang memindahkan  uap terkondensasi dan mendinginkan air dari kondensor.

 

Kevakuman  yang  sebenarnya  dalam  evaporator  ditentukan  oleh  efisiensi pompa, yang  mana hal itu tergantung pada derajat kondensi uap dalam kondensor. Pada kondensi itu sendiri mengambil tempat (berlangsung) sesuai dengan banyaknya semprotan air yang didinginkan ke bagian puncak dari kondensornya. Inilah apa yang dimaksud  dengan  :  kita  bisa  mengatur  suhu  didih   yang  sebenarnya  pada  alat tersebut.Panas yang dibutuhkan untuk penguapan cairan adalah berasal  dari steam yang sudah jenuh. Steam tersebut mengalami pengembunan (dikondensikan) pada tabung, dan bersamaan dengan itu memberikan panasnya untuk penguapan. Steam yang telah diambil panasnya itu disebut juga kondensat, kemudian dipindahkan dari dasar calandria dan ditarik melalui kondensor menuju pompa.

 

Calandria adalah tabung dimana terjadi pergerakan bahan pangan.

 

Bahan cair yang akan ditingkatkan konsentrasinya itu bersirkulasi terus menerus pada alat dalam upaya untuk memperoleh perpindahan/pergerakan yang maksimal didalam calandria. Sirkulasi yang cepat akan mengurangi resiko terjadinya pengendapan pada permukaan tabung, dan dengan cepat membebaskan gelembung-gelembung uap dari bahan cair selama dalam perjalanan melalui evaporator

 

Pindah Panas Di Dalam Evaporator

 

Beberapa  peralatan  penguapan  dapat  langsung  dipanasi  dengan  api.  Api memanasi dinding ketel dan secara konduksi akan memanasi bahan yang terletak di dalam alat penguap. Akan tetapi umumnya evaporator mempergunakan panas tidak langsung dalam proses penguapannya.

 

Pindah panas didalam alat penguapan diatur oleh persamaan pindah panas untuk pendidihan bahan cair dan dengan persamaan konveksi serta konduksi. Panas yang  dihasilkan  dari   sumber  harus  dapat  mencapai  suhu  yang  sesuai  untuk menguapkan  bahan.  Umumnya   medium  pembawa  panasnya  adalah  uap  yang diperoleh  dari  boiler  atau  dari  suatu  tahapan  penguapan  dalam  alat  penguapan lain.Perputaran  bahan  cair  didalam  alat  penguapan  merupakan  hal  yang  penting,

 

 

 

 

 

sebab perputaran mempengaruhi laju pindah panas  dan dengan perputaran bahan yang baik akan meningkatkan laju penguapan.

 

Evaporator Efek Tunggal

 

Yang dimaksud dengan single effect adalah bahwa produk hanya melalui satu buah ruang penguapan dan panas diberikan oleh satu luas permukaan pindah panas.

 

Evaporator Efek Majemuk

 

Di dalam proses penguapan bahan dapat digunakan dua, tiga, empat atau lebih dalam   sekali   proses,   inilah   yang   disebut   dengan   evaporator   efek   majemuk. Penggunaan  evaporator  efek   majemuk  berprinsip  pada  penggunaan  uap  yang dihasilkan dari evaporator sebelumnya.Tujuan penggunaan evaporator efek majemuk adalah   untuk   menghemat   panas   secara   keseluruhan,   hingga          akhirnya                                                                                                                dapat mengurangi ongkos produksi.

 

Keuntungan evaporator efek majemuk adalah merupakan penghematan yaitu dengan  menggunakan uap yang dihasilkan dari alat penguapan untuk memberikan panas  pada  alat  penguapan  lain  dan  dengan  memadatkan  kembali  uap  tersebut. Apabila dibandingkan antara alat penguapan n-efek, kebutuhan uap diperkirakan 1/n kali, dan permukaan pindah panas berukuran n-kali dari pada yang dibutuhkan untuk alat penguapan berefek tunggal, untuk pekerjaan yang sama.

 

Pada evaporator efek majemuk ada 3 macam penguapan, yaitu :

 

a.Evaporator Pengumpan Muka b.Evaporator Pengumpan Belakang c.Evaporator Pengumpan Sejajar

Macam Peralatan Pemanas / Penukar Panas : Tabung Pemanas, Ketel Uap (Boiler), Penukar Panas Spiral Melingkar, Penukar Panas Tipe Permukaan, Penukar Panas  Dengan  Tabung  Dibagian  Dalam,  Pembangkit  Ulang,  Penukar  Panas  Tipe Tong,  Penyemprot  Air  Panas,  Pemasukan  Uap  Panas  dan  Penukar  Panas  Tipe Skrup.Macam  Peralatan  Penguapan  /  Evaporator  :  Evaporator  Kancah  Terbuka, Evaporator  dengan  Tabung  Pendek  yang  Melintang,  Evaporator  dengan  Tabung Pendek  yang  Tegak,  Evaporator  yang  Mempunyai  Sirkulasi   Alamiah  dengan Kalandria  dibagian  Luar,  Evaporator  dengan  Sirkulasi  yang  Dipaksa,  Evaporator

 

 

 

 

 

Bertabung  Panjang,  Evaporator  Piring,  Evaporator  Sentrifugal  dan  Evaporator

Pengaruh Berganda

 

Macam  Peralatan  Pengering  :  Pengeringan  dengan  udara  panas  terdiri Pembakaran   (kiln   dyer),   Pengering   lemari,   Pengering   terowongan,   Pengering konveyor, Pengering kotak,  Pengering tumpukan bahan butiran/tepung, Pengering pneumatic,  Pengering  berputar,  Pengering  semprot,  Pengering  menara.  Pengering dengan  persentuhan  dengan  permukaan   yang  dipanasi   terdiri  Pengering  tong (pengering lapisan, pengering rol), Papan pengering hampa udara, Pengering dengan roda dalam hampa udara.

 

 

 

 

B. REBOILER

 

Reboilers    adalah    exchangers    panas    yang    biasanya    digunakan    untuk memberikan panas ke bagian bawah industri penyulingan kolom. Mereka mendidih cair dari bagian  bawah kolom yang penyulingan untuk menghasilkan Vapors yang dikembalikan  ke  kolom  untuk  mendorong  pemisahan  penyulingan.Benar  reboiler operasi sangat penting untuk penyulingan  efektif. Dalam kolom penyulingan khas klasik,  semua  uap  mengemudi  pemisahan  berasal  dari   reboiler.  Reboiler  yang menerima  aliran  cair  dari  kolom  bawah  dan  mungkin  sebagian  atau  menguap sepenuhnya bahwa aliran. Uap biasanya menyediakan panas yang dibutuhkan untuk penguapan.

 

Jenis reboilers :

 

1. Kettle reboilers

 

2. Thermosyphon reboilers

 

3. Fired reboiler

 

4. Forced sirkulasi reboilers

 

Yang paling penting dari elemen desain reboiler adalah pilihan yang tepat untuk reboiler  jenis layanan tertentu. Paling reboilers merupakan shell dan tabung Exchanger panas uap jenis  dan  biasanya digunakan sebagai sumber panas dalam reboilers. Namun, lainnya heat transfer cairan seperti minyak panas atau Dowtherm (TM) dapat digunakan. Fuel-fired furnaces juga dapat  digunakan sebagai reboilers dalam beberapa kasus.

 

 

 

 

Gambar 1: Typical ketel uap-air panas reboiler untuk penyulingan

 

Gambar 1 menggambarkan sebuah khas ketel uap-air panas reboiler. Ketel reboilers sangat  sederhana  dan dapat diandalkan. Mereka mungkin memerlukan pemompaan dari kolom minum  cairan ke dalam ketel, atau mungkin ada cukup cairan kepala untuk memberikan cairan ke dalam  reboiler. Dalam reboiler tipe ini, uap mengalir melalui  tabung  dan  keluar  sebagai  bundel  condensate.  Cair  dari  bagian  bawah menara, yang biasa disebut minum, mengalir melalui shell samping. Ada dinding atau menahan overflow dam memisahkan tabung reboiler bundel dari bagian di mana sisa reboiled cair (disebut minum produk) yang diambil, sehingga tabung bundel disimpan ditutup dengan cair.

 

Thermosyphon reboilers

 

 

 

Gambar 2: Typical reboiler horisontal thermosyphon

 

 

 

 

 

Ini  tidak  memerlukan  pemompaan  dari  kolom  minum  cairan  ke  dalam  reboiler. Sirkulasi alami diperoleh dengan menggunakan kepadatan perbedaan antara reboiler kolom suak minum cair dan  reboiler outlet cair-uap campuran untuk menyediakan cukup cairan kepala untuk menyampaikan menara minum ke reboiler. Thermosyphon reboilers  lebih  kompleks  daripada  reboilers  ketel  dan  memerlukan  lebih  banyak perhatian tanaman dari operator.

 

Ada banyak  jenis  thermosyphon  reboilers.  Mereka  mungkin  vertikal  atau horizontal  dan  mereka  juga  mungkin  sekali-melalui  atau  recirculating.  Beberapa cairan yang reboiled mungkin sensitif dan suhu, misalnya, terganggu polymerization oleh kontak dengan suhu panas tinggi transfer tabung dinding. Dalam kasus tersebut, yang terbaik adalah memiliki tingkat cair  recirculation menilai untuk menghindari dinding tabung yang tinggi akan menyebabkan suhu yang polymerization, dan karena itu, fouling dari tabung. Thermosiphon reboiler yang digambarkan dalam  gambar 2 adalah khas-uap air panas recirculating thermosiphon reboiler.

 

Fired reboiler

 

.

 

Gambar 3: recirculating fired heater reboiler

 

Fired heaters (furnaces) dapat digunakan sebagai penyulingan reboiler kolom. pompa diperlukan untuk mengedarkan kolom minum melalui transfer panas tabung dalam tanur dari bagian konveksi dan panas. Gambar 3 menggambarkan fired heater yang  digunakan  dalam  konfigurasi  yang  menyediakan  recirculation  pada  kolom minum cair. Namun, dengan beberapa perubahan yang relatif kecil di bagian bawah kolom penyulingan, fired heater yang juga dapat digunakan  dalam sekali-melalui konfigurasi.Heat sumber untuk fired heater reboiler mungkin salah satu bahan bakar gas atau bahan bakar minyak. Batu bara akan jarang, jika pernah, digunakan sebagai bahan bakar untuk fired heater reboiler.

 

 

 

 

Gambar 4: Typical-uap air panas sirkulasi reboiler untuk penyulingan

 

 

 

 

Jenis  reboiler  menggunakan  pompa  berkunjung  ke  kolom  minum  cairan melalui  reboilers.  Gambar  4  menggambarkan  yang  khas  uap-air  panas  terpaksa sirkulasi reboiler.Perlu  dicatat adalah uap panas bukan satu-satunya sumber yang dapat digunakan. Mengalirkan cairan  apapun pada suhu yang cukup tinggi dapat digunakan untuk salah satu dari banyak shell dan  tabung reboiler heat Exchanger jenis.

 

 

 

 

C. CHILLER

 

Chiller adalah mesin yang memindahkan panas dari cair melalui uap-kompresi atau  siklus   penyerapan  refrigeration.  J-kompresi  uap  air  chiller  terdiri  dari  4 komponen utama dari uap-compression refrigeration cycle (kompresor, alat menguap, kondensator,             dan        beberapa            bentuk metering                        perangkat).          Mesin     ini              dapat melaksanakan berbagai refrigerants. Penyerapan chillers memanfaatkan air sebagai pendingin dan  bergantung pada Affinity kuat antara air dan lithium bromida solusi pendinginan untuk mencapai efek. Paling sering, adalah murni air dingin, tetapi juga dapat berisi air persentase glycol dan / atau korosi inhibitors; cairan lainnya seperti minyak tipis bisa dingin juga.

 

Chilled digunakan untuk air dingin dan dehumidify udara pada pertengahan besar untuk ukuran komersial, industri, dan institusi (CII) fasilitas. Chillers air dapat berupa  air  didinginkan,   air-cooled,  atau  evaporatively  didinginkan.  Air-cooled

 

 

 

 

 

chillers   menggabungkan   penggunaan   menara   pendinginan   yang   meningkatkan chillers’  thermodynamic  efektif  dibandingkan  dengan  air-cooled  chillers.  Hal  ini disebabkan oleh panas  atau penolakan di dekat udara dari basah-bohlam daripada suhu            yang    lebih      tinggi,                 kadang-kadang     lebih           tinggi, kering-bohlam   suhu. Evaporatively  cooled  chillers  menawarkan  efisiensi  yang  lebih  baik  dari  udara didinginkan, tetapi lebih rendah daripada air didinginkan.

 

Air    cooled    chillers    biasanya    ditujukan    untuk    indoor    instalasi    dan pengoperasian,  dan  didinginkan  oleh  air  yang  terpisah  kondensator  loop  dan dihubungkan ke luar menara pendinginan untuk membuang panas ke atmosfer. Udara didinginkan dan Evaporatively cooled chillers dimaksudkan untuk luar instalasi dan operasi.  Udara  didinginkan  komputer  secara   langsung  didinginkan  oleh  udara Ambient mekanis yang disirkulasikan langsung melalui mesin kondensator gulungan untuk membuang panas ke atmosfer. Evaporatively didinginkan mesin hampir sama, kecuali mereka menerapkan mist air melalui kondensator gulungan untuk membantu dalam  kondensator pendinginan, membuat mesin lebih efisien daripada tradisional udara didinginkan mesin. Tidak jauh menara biasanya diperlukan dengan salah satu jenis paket udara didinginkan atau evaporatively cooled chillers.

 

Dimana tersedia,  air  dingin  tersedia  di  dekat  badan  air  dapat  digunakan langsung   untuk   pendinginan,  atau  untuk  mengganti   atau  melengkapi  menara pendinginan. The Deep Lake Water Cooling System di Toronto, Kanada, merupakan contoh.  It  dispensed  dengan  kebutuhan  pendinginan  menara  dengan  memotong signifikan dalam emisi karbon dan konsumsi energi.

 

Menggunakan air dingin danau dingin yang chillers, yang pada gilirannya akan  digunakan untuk bangunan kota sejuk melalui kabupaten pendinginan sistem. Laba tersebut digunakan untuk air hangat di kota minum air yang diinginkan dalam cuaca dingin. Kapanpun  chiller penolakan dari panas dapat digunakan untuk tujuan produktif,  di  samping  fungsi  pendinginan,  sangat  tinggi  effectivenesses  thermal adalah mungkin.

 

Penggunaan di udara

 

Di udara, sistem air dingin biasanya didistribusikan ke exchangers panas, atau coils, di udara  menangani unit, atau jenis perangkat terminal udara yang sejuk di dalamnya   dari   masing-masing   ruang   (s),   dan   kemudian   air   dingin   kembali disirkulasikan  kembali  ke  chiller  harus  didinginkan  lagi.  Pendinginan  ini  coils mentransfer  panas  sensible  dan  panas  laten  dari  udara  ke  air  dingin,  sehingga

 

 

 

 

 

pendinginan  dan  biasanya  dehumidifying  aliran  udara.  J  khas  untuk  chiller  AC aplikasi nilai antara 15 sampai 1.500 ton (180.000-18000000 BTU / jam atau 53-5300 kW) dalam kapasitas  pendinginan. Air dingin dapat berkisar antara 35 hingga 45 derajat, tergantung aplikasi persyaratan.

 

Penggunaan dalam industri

 

Dalam aplikasi industri, air dingin atau cairan lainnya dari chiller dipompa melalui  proses   atau  peralatan  laboratorium.  Industri  chillers  digunakan  untuk dikontrol  pendinginan  produk,  mekanisme  dan  mesin-mesin  pabrik  di  berbagai industri.  Mereka  sering  digunakan  di  dalam  industri  plastik  injection  dan  blow molding, logam pekerjaan pemotongan minyak, peralatan  welding, die-casting dan hiasan  yg  dibuat  dgn  alat  mesin,  proses  kimia,  farmasi  formulasi,  pengolahan makanan dan minuman, kekosongan sistem, X-ray difraksi, pasokan daya daya dan generasi   stasiun,   peralatan   analitis,   Semikonduktor,   kompresi   udara   dan   gas pendinginan. Mereka juga digunakan untuk panas dingin tinggi khusus seperti MRI mesin dan laser.

 

Chillers untuk aplikasi industri dapat terpusat, di mana setiap chiller melayani berbagai  kebutuhan  pendinginan,  atau  desentralisasi  di  mana  setiap  aplikasi  atau mesin memiliki chiller.  Setiap pendekatan memiliki keunggulan. Adalah mungkin juga untuk memiliki kombinasi kedua  pusat dan decentral chillers, terutama jika pendinginan  persyaratan  yang  sama  untuk  beberapa   aplikasi  atau  poin  yang digunakan, tetapi tidak semua.

 

 

 

 

Decentral chillers biasanya dalam ukuran kecil (kapasitas pendinginan), biasanya dari

0,2 ton sampai 10 ton. Pusat chillers umumnya memiliki kapasitas mulai dari sepuluh ton ke ratusan atau ribuan ton.

 

Vapor-Kompresi chiller Teknologi

 

Terdapat lima dasarnya berbagai jenis Kompresor digunakan dalam kompresi uap chillers:  Reciprocating kompresi, gulir kompresi, screw-driven kompresi, dan sentrifugal kompresi semua mesin mekanik yang dapat didukung oleh motor listrik, uap,  atau  gas  turbines.  Mereka  menghasilkan  efek  pendinginan  mereka  melalui “reverse-Rankine”              siklus,                        juga   dikenal            sebagai                                  ‘uap-compression’.            Dengan pendinginan yg  menguapkan panas penolakan mereka koefisien-of-kinerja (COPS) sangat tinggi dan biasanya 4,0 atau lebih.

 

 

 

 

 

Dalam beberapa tahun terakhir, aplikasi Variable Speed Drive (VSD) teknologi telah meningkatkan  efisiensi  uap  kompresi  chillers.  VSD  pertama  telah  diterapkan  ke kompresor sentrifugal chillers  pada akhir tahun 1970-an dan telah menjadi norma karena biaya energi meningkat. Sekarang, VSDs sedang diterapkan ke putaran screw dan teknologi Kompresor gulir.

 

Bagaimana Penyerapan Teknologi Bekerja

 

Penyerapan  chillers’  thermodynamic  siklus  yang  digerakkan  oleh  sumber panas,  panas   ini  biasanya  dikirimkan  ke  chiller  melalui  uap,  air  panas,  atau pembakaran. Dibandingkan  elektrik powered chillers, mereka sangat rendah daya listrik persyaratan – sangat jarang di atas 15  kW dikombinasikan konsumsi untuk kedua solusi pump dan refrigerant pump. Namun, mereka panas masukan persyaratan yang besar, dan mereka sering COPS 0,5 (single-efek) untuk 1.0 (efek ganda). Untuk tonase kapasitas yang sama, mereka membutuhkan lebih banyak menara pendinginan dari uap-kompresi chillers.

 

Namun, penyerapan chillers, dari efisiensi energi-point of view, excel dimana murah, panas tinggi kelas atau limbah panas yang tersedia. Dalam iklim sangat cerah, solar energi telah digunakan untuk penyerapan chillers beroperasi.Satu-satunya efek penyerapan siklus menggunakan air sebagai pendingin dan lithium bromida sebagai absorbent. Adalah Affinity kuat bahwa kedua benda ada untuk satu sama lain yang membuat siklus kerja. Seluruh proses yang terjadi di hampir selesai kekosongan.

 

Industri teknologi chiller

 

Industri  chillers  biasanya  datang  sebagai  paket  lengkap  sistem  lingkaran tertutup,  termasuk  unit  chiller,  kondensator,  dan  stasiun  pompa  dengan  pompa recirculating, katup  ekspansi, tidak ada aliran-shutdown, internal tangki air dingin, dan suhu kontrol. Internal tangki air dingin membantu menjaga suhu dan mencegah sepatu  berduri  dari  suhu  terjadi.  Closed  loop  industri  chillers  recirculate  bersih coolant atau air bersih dengan kondisi addititives pada suhu  dan  tekanan konstan untuk meningkatkan stabilitas dan reproducibility air-cooled mesin dan  instrumen. Air mengalir dari chiller ke aplikasi dari segi penggunaan dan kembali.

 

Jika differentials antara suhu air masuk dan keluar yang tinggi, maka besar tangki air eksternal akan digunakan untuk menyimpan air dingin. Dalam hal ini air dingin tidak akan  langsung dari chiller ke aplikasi tersebut, namun pergi ke luar tangki air yang bertindak sebagai semacam “penyangga suhu.” Tangki air dingin jauh

 

 

 

 

 

lebih besar daripada tangki air internal. Air dingin yang keluar dari tangki eksternal untuk aplikasi dan kembali air panas dari aplikasi akan kembali ke luar tangki, bukan ke chiller.Kurang umum buka lingkaran industri chillers mengontrol suhu yang cair dalam tangki yang terbuka atau terus  recirculating oleh bah itu. Cair yang diambil dari tangki, dipompa melalui chiller dan kembali ke tangki. An adjustable thermostat indera yang makeup cair suhu, bersepeda di chiller untuk menjaga suhu yang konstan dalam tangki.

 

Salah satu perkembangan baru dalam industri air chillers adalah penggunaan air cooling  bukan udara pendinginan. Dalam hal ini tidak kondensator yang panas dingin Ambient dengan  pendingin udara, tetapi menggunakan air didinginkan oleh sebuah menara. Pengembangan ini  memungkinkan pengurangan energi persyaratan oleh  lebih  dari  15%  dan  juga  memungkinkan  penurunan  yang  signifikan  dalam besarnya chiller karena kecilnya wilayah permukaan air berbasis  kondensator dan tidak adanya penggemar. Selain itu, tidak adanya fans memungkinkan  signifikan untuk mengurangi tingkat kebisingan.

 

Sebagian  besar  industri  menggunakan  refrigeration  chillers  sebagai  media untuk pendinginan, tetapi beberapa mengandalkan teknik sederhana seperti udara atau air mengalir selama coils berisi coolant untuk mengatur suhu. Air adalah yang paling umum  digunakan  dalam  proses   coolant  chillers,  walaupun  coolant  campuran (kebanyakan  air  dengan  coolant  tambahan   untuk   meningkatkan  panas)  sering digunakan.

 

Industri chiller pilihan

 

Penting untuk mempertimbangkan spesifikasi bila mencari industri chillers termasuk sumber daya, penilaian IP chiller, chiller kapasitas pendinginan, kapasitas alat menguap, bahan alat menguap, jenis alat menguap, kondensator bahan, kapasitas kondensator, suhu Ambient, jenis motor fan, tingkat kebisingan, internal piping bahan

, jumlah Kompresor, jenis kompresor, jumlah sirkuit pendingin, persyaratan coolant, keluarnya cairan suhu, dan COP (rasio antara kapasitas pendinginan di KW ke energi dikonsumsi oleh seluruh chiller di KW). Untuk menengah ke chillers besar ini harus berkisar antara 3,5-4,8 dengan nilai-nilai yang  lebih tinggi berarti efisiensi tinggi. Chiller efisiensi sering ditentukan dalam kilowatts per ton pendinginan (kW / RT).

 

Pompa  proses  spesifikasi  yang  penting  untuk  dipertimbangkan  termasuk proses arus, proses tekanan, pompa bahan, elastomer dan mekanis batang cap bahan, tegangan motor, motor listrik kelas, motor dan pompa IP rating nilai. Jika air dingin

 

 

 

 

 

lebih rendah dari suhu -5 º C, maka kebutuhan pompa khusus yang akan digunakan untuk  dapat  pompa  tingginya  konsentrasi  dari  ethylene  glycol.  Penting  lainnya termasuk spesifikasi internal tangki air ukuran dan bahan-bahan dan penuh beban .

 

 

 

 

Sumber Referensi :

 

http://mohammadsholeh.myblogrepublika.com/

 

http://en.wikipedia.com/wiki/Reboiler

 

http://en.wikipedia.com/wiki/Chiller

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGERINGAN

BAB I PENDAHULUAN

 

 

 

 

I.    Pendahuluan

 

 

 

Indonesia  merupakan  negara  dengan  humiditas  yang  tinggi  sehingga  kandungan  air  dari material-material  yang  mudah  menyerap  air  tinggi.  Kondisi  ini  tentu  tidak  menguntungkan karena   kandungan  air  yang  tinggi  akan  merusak  material  tersebut.  Makanan  dengan kandungan air yang tinggi akan mempercepat proses pembusukan sedangkan material padatan dengan kandungan air  tinggi mengurangi kekuatan material. Selain itu, kandungan air yang tinggi pada material bahan bakar seperti batubara akan mengurangi kandungan air sehingga perlu  dilakukan  proses  pengurangan   kandungan  air  pada  material  tersebut.  Salah  satu pengurangan kandungan air dari material dengan cara pengeringan.

Kandungan air batubara muda Indonesia sekitar 25-49 %. Dengan kandungan air yang tinggi,  maka  batubara  muda  akan  mudah  lengket  satu  sama  lain  yang  kemudian  akan menggumpal saat batubara tersebut dialirkan bersama-sama. Gumpalan batubara menyulitkan dalam transportasi batubara khususnya saat batubara dialirkan di dalam pipa setelah batubara dihaluskan (biasanya pada  industri tenaga listrik (power plant)). Selain itu, batubara dengan kandungan air yang tinggi akan  mengurangi kadar kalor saat dibakar dalam suatu  tungku pembakaran. Maka batubara harus dikeringkan hingga kandungan air tertentu untuk mencegah masalah saat ditransportasikan atau proses selanjutnya

Phenomena  pengeringan  dapat  diketahui  dari  kinetika  pengeringan  oleh  kurva  laju pengeringan. Kinetika pengeringan batubara memperlihatkan perubahan massa batubara untuk tiap  satuan waktu selama proses pengeringan. Hasil dari kinetika pengeringan adalah laju pengeringan dari batubara terhadap kandungan air. Laju pengeringan dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal dari material. Bila udara sebagai media pemanas maka faktor eksternal adalah kecepatan udara, relative humidity dari udara, dan temperatur udara. Sedangkan faktor internal adalah struktur batubara  yang berupa ukuran, kandungan dan distribusi dari pori-pori batubara.

 

 

 

 

II.      Tujuan Percobaan

 

 

Percobaan  ini  dilakukan  untuk  memahami  phenomena  pengeringan  dari  data  kinetika pengeringan material

 

 

III.   Sasaran Praktikum

 

 

 

Sasaran praktikum modul Pengeringan adalah:

 

1. Praktikan dapat membuat kurva pengeringan dari data laju pengurangan massa material

 

2. Praktikan mampu menganalisa phenomena pengeringa dari kurva pengeringan

 

BAB II

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

2.1 Pengeringan

 

 

 

Pengeringan  adalah  proses  pengeluaran  air  atau  pemisahan  air  dalam  jumlah  yang relative kecil  dari bahan dengan menggunakan energi panas.  Hasil dari proses pengeringan adalah bahan kering yang  mempunyai kadar air setara dengan kadar air keseimbangan udara (atmosfir)  normal  atau  setara  dengan  nilai  aktivitas  air  (aw)  yang  aman  dari  kerusakan mikrobiologis, enzimatis dan kimiawi. Pengertian proses  pengeringan berbeda dengan proses penguapan (evaporasi). Proses penguapan atau evaporasi adalah proses pemisahan uap air dalam bentuk murni dari suatu campuran berupa larutan (cairan) yang mengandung air dalam jumlah yang relatif banyak. Meskipun demikian ada kerugian yang ditimbulkan selama pengeringan yaitu terjadinya perubahan sifat fisik dan kimiawi bahan serta terjadinya penurunan mutu bahan.

 

 

Tujuan dilakukannya proses pengeringan adalah untuk:

 

1.  Memudahkan penanganan selanjutnya

 

2.  Mengurangi biaya trasportasi dan pengemasan

 

3.  Mengawetkan bahan

 

4.  Meningkatkan nilai guna suatu bahan atau agar dapat memberikan hasil yang baik

 

5.  Mengurangi biaya korosi

 

Hal ini penting untuk menghindari proses pengeringan lampau dan pengeringan yang terlalu lama, karena kedua proses pengeringan ini akan meningkatkan biaya operasi. Metodologi dan teknik pengeringan dapat dikatakan baik  apabila phenomena perpindahan masaa dan energi pada proses pengeringan dapat dipahami.

 

2.2 Prinsip Dasar Pengeringan

 

Proses pengeringan pada prinsipnya menyangkut proses pindah panas dan pindah massa yang terjadi secara bersamaan (simultan). Proses perpindahan panas yang terjadi adalah dengan cara konveksi serta  perpindahan panas secara konduksi dan radiasi tetap terjadi dalam jumlah yang           relative kecil.    Pertama-tama panas  harus ditransfer dari medium pemanas ke bahan. Selanjutnya setelah terjadi penguapan air, uap air yang  terbentuk harus dipindahkan melalui struktur bahan ke medium sekitarnya. Proses ini akan menyangkut aliran  fluida dengan cairan harus ditransfer melalui struktur bahan selama proses pengeringan berlangsung. Panas  harus disediakan untuk menguapkan air dan air harus mendifusi melalui berbagai macam tahanan agar dapat lepas dari bahan dan berbentuk uap air yang bebas. Lama proses pengeringan tergantung pada bahan yang dikeringkan  dan cara pemanasan yang digunakan, sedangkan waktu proses pengeringannya ditetapkan dalam dua periode (Batty dan Folkman. 1984), yaitu:

1.  Periode pengeringan dengan laju tetap (Constant Rate Periode)

 

Pada periode ini bahan-bahan yang dikeringkan memiliki kecepatan pengeringan yang konstan. Proses penguapan pada periode ini terjadi pada air tak terikat, dimana suhu pada bahan sama dengan suhu bola  basah udara pengering. Periode pengeringan dengan laju tetap dapat dianggap sebagai keadaan steady.

2.  Periode pengeringan dengan laju menurun (Falling Rate Periode)

 

Periode kedua proses pengeringan yang terjadi adalah turunnya laju pengeringan batubara (R=0).  Pada  periode  ini  terjadi peristiwa  penguapan  kandungan  yang  ada  di dalam batubara (internal moisture).

 

 

Gambar. 2.1 Grafik Peristiwa Perpindahan Proses Pengeringan

 

Prinsip pengeringan biasanya akan melibatkan dua kejadian yaitu panas harus diberikan pada bahan, dan air harus dikeluarkan dari bahan. Dua fenomena ini menyangkut pindah panas ke dalam dan pindah massa ke luar. Yang dimaksudkan dengan pindah panas adalah peristiwa perpindahan energi dari udara ke dalam bahan yang dapat menyebabkan berpindahnya sejumlah massa (kandungan air) karena gaya dorong untuk keluar dari  bahan (pindah massa). Dalam pengeringan  umumnya  diinginkan kecepatan pengeringan  yang  maksimum,  oleh  karena  itu semua usaha dibuat untuk mempercepat pindah panas dan pindah massa. Perpindahan panas dalam  proses  pengeringan  dapat  terjadi  melalui  dua  cara  yaitu  pengeringan  langsung  dan pengeringan tidak  langsung. Pengeringan langsung yaitu sumber panas berhubungan dengan bahan yang dikeringkan, sedangkan pengeringan tidak langsung yaitu panas dari sumber panas dilewatkan                   melalui   permukaan                     benda   padat               (conventer)   dan   konventer   tersebut                            yang berhubungan dengan bahan pangan. Setelah panas sampai ke bahan maka air dari sel-sel bahan akan bergerak ke permukaan bahan kemudian keluar. Mekanisme keluarnya air dari dalam bahan selama pengeringan adalah sebagai berikut:

1.  Air bergerak melalui tekanan kapiler.

 

2.  Penarikan air disebabkan oleh perbedaan konsentrasi larutan disetiap bagian bahan.

 

3.  Penarikan  air  ke  permukaan  bahan  disebabkan  oleh  absorpsi  dari  lapisan-lapisan permukaan komponen padatan dari bahan.

4.  Perpindahan air dari bahan ke udara disebabkan oleh perbedaan tekanan uap.

 

 

 

2.3 Faktor-faktor yang berpengaruh dalam kecepatan pengeringan

 

 

 

Proses pengeringan suatu material padatan dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain: luas permukaan kontak  antara padatan dengan fluida panas, perbedaan temperature antara padatan dengan fluida panas,  kecepatan aliran  fluida panas serta tekanan udara. Berikut ini dijelaskan tentang factor-faktor tersebut.

 

 

a. Luas Permukaan

 

Air menguap melalui permukaan bahan, sedangkan air yang ada di bagian tengah akan merembes  ke  bagian permukaan  dan kemudian  menguap.  Untuk  mempercepat  pengeringan umumnya bahan yang akan dikeringkan dipotong-potong atau dihaluskan terlebih dulu. Hal ini terjadi karena:

1.  Pemotongan  atau   penghalusan  tersebut   akan   memperluas   permukaan   bahan  dan permukaan yang luas dapat berhubungan dengan medium pemanasan sehingga air mudah keluar,

2.  Partikel-partikel kecil  atau  lapisan  yang  tipis  mengurangi  jarak  dimana panas  harus bergerak sampai  ke pusat bahan. Potongan kecil juga akan mengurangi jarak melalui massa air dari pusat bahan yang harus keluar ke permukaan bahan dan kemudian keluar dari bahan tersebut.

 

 

b. Perbedaan Suhu dan Udara Sekitarnya

 

Semakin  besar perbedaan suhu antara  medium pemanas dengan  bahan,  makin cepat pemindahan panas ke dalam bahan dan makin cepat pula penghilangan air dari bahan. Air yang keluar dari bahan yang  dikeringkan akan menjenuhkan udara sehingga kemampuannya untuk menyingkirkan  air  berkurang.  Jadi  dengan  semakin  tinggi  suhu  pengeringan  maka  proses pengeringan akan semakin cepat. Akan tetapi bila tidak sesuai dengan bahan yang dikeringkan, akibatnya akan terjadi suatu peristiwa yang disebut  “Case Hardening”,  yaitu suatu keadaan dimana bagian luar bahan sudah kering sedangkan bagian dalamnya masih basah.

 

 

 

c. Kecepatan Aliran Udara

 

Udara yang bergerak dan mempunyai gerakan yang tinggi selain dapat mengambil uap air juga  akan  menghilangkan  uap  air  tersebut  dari  permukaan  bahan  pangan,  sehingga  akan mencegah terjadinya atmosfir  jenuh yang akan memperlambat penghilangan air. Apabila aliran udara disekitar tempat  pengeringan berjalan  dengan baik, proses pengeringan akan semakin cepat, yaitu semakin mudah dan semakin cepat uap air terbawa dan teruapkan.

 

 

d. Tekanan Udara

 

Semakin kecil tekanan udara akan semakin besar kemampuan udara untuk mengangkut air selama pengeringan, karena dengan semakin kecilnya tekanan berarti kerapatan udara makin berkurang  sehingga  uap  air   dapat  lebih  banyak  tetampung  dan  disingkirkan  dari  bahan. Sebaliknya, jika tekanan udara semakin besar  maka udara disekitar pengeringan akan lembab, sehingga   kemampuan   menampung  uap   air   terbatas  dan   menghambat   proses  atau   laju pengeringan.

Densitas  batubara  dapat  bervariasi  yang  menunjukkan  hubungan  antara  rank  dan kandungan  karbon.  Batubara  dengan  kandungan  karbon  85%  biasanya  menunjukkan  suatu derajat ciri hidropobik yang lebih besar dari batubara dengan rank paling rendah. Bagaimanapun, hasil temuan terbaru pada prediksi sifat  hidropobik batubara mengindikasikan bahwa korelasi kharakteristik  kandungan  air  lebih  baik  dari  pada  kandungan  karbon  dan  begitupun  rasio kandungan  air/karbon  lebih  baik daripada  rasio  atomik  oksigen/karbon.  Begitupun, terdapat suatu hubungan antara sifat hidropobik batubara dan kandungan air.

(Labuschagne. 1988).

 

Udara  merupakan  medium  yang  sangat  penting  dalam  proses  pengeringan,  untuk menghantar  panas kepada bahan yang hendak dikeringkan, karena udara satu-satunya medium yang sangat mudah diperoleh dan tidak memerlukan biaya operasional. Oleh karena itu untuk memahami bagaimana proses pengeringan terjadi, maka perlu ditinjau sifat udara.

 

2.4 Kinetika Pengeringan

 

 

 

Setiap material yang akan dikeringkan  memiliki karakteristik kinetika pengeringan yang berbeda-beda bergantung terhadap struktur internal dari material yang akan dikeringkan. Kinetika  pengeringan  memperlihatkan  perubahan  kandungan  air  yang  terdapat  dalam material untuk setiap waktu saat dilakukan proses pengeringan. Dari kinetika pengeringan dapat diketahui jumlah air dari material yang telah diuapkan, waktu pengeringan, konsumsi energy.  Parameteri-parameter dalam proses pengeringan untuk mendapatkan data kinetika pengeringan adalah

 

 

1.  Moisture Content (X) menunjukkan kandungan air yang terdapat dalam material untuk tiap  satuan massa padatan. Moisture content (X) dibagi dalam 2 macam yaitu basis kering (X) dan basis basah (X’). Moisture content basis kering (X) menunjukkan rasio antara  kandungan   air  (kg)  dalam  material  terhadap  berat  material  kering  (kg). Sedangkan moisture content basis basah (X’) menunjukka rasio antara kandungan air (kg) dalam material terhadap berat material basah (kg)

 

 

2.  Drying rate (N, kg/m2.s ) menunjukkan laju penguapan air untuk tiap satuan luas dari permukaan  yang  kontak  antara  material  dengan  fluida  panas.  Persamaan  yang digunakan untuk menghitung laju pengeringan adalah

 

 

 

 

 

 

Ms  adalah massa padatan tanpa air (kg)

A adalah luas permukaan kontak antara fluida panas dengan padatan (m2)

 

dX adalah perubahan moisture content dalam jangka waktu dt dt adalah perubahan waktu (detik)

 

 

 

 

BAB III RANCANGAN PERCOBAAN

 

 

 

 

3.1      Langkah Percobaan

 

Percobaan pengeringan menggunakan gabah, sekam padi, cabai, atau pasir besi yang terdapat di wilayah  Banten.   Tahapan  percobaan  dimulai  dari  persiapan  bahan  baku  dan  percobaan pengeringan. Pada tahapan persiapan bahan baku seperti pada diagram alir Gambar 3.1 bahwa material  dihancurkan  untuk  mendapatkan  ukuran  yang   lebih  kecil.  Selanjutnya  dilakukan pemisahan untuk mendapatkan 3 jenis ukuran melalui proses  pengayakan. 3 Jenis ukuran   itu

akan menjadi bahan yang kan dikeringkan pada alat pengeringan pada percobaan utama.

 

 

Material Padatan

 

 

 

 

 

Menghancurkan Material

 

 

 

 

 

Melakukan pemisahan dengan      ukuran

5-15  mm

 

 

 

Ukuran partikel

 

material

 

 

Gambar 3.1 Diagram alir proses persiapan bahan baku

 

 

 

 

 

3.1.2 Tahap Proses Pengeringan dengan Variasi Temperatur dan Laju Alir

 

Pada tahap ini adalah proses pengeringan material (gabah, sekam padi, cabai atau pasir besi)

 

dengan menggunakan alur pengeringan. Adapun cara pengambilan data adalah sebagai berikut:

 

 

 

Menimbang material dan memasukan ke dalam keranjang basket

 

 

 

 

Menvariasikan temperatur (80, 100, 120 0C) dan laju alir (bukaan 1,2 dan 3) kemudian mengecek kelembaban udara

 

 

 

 

Mencatat perubahan massa, tiap kenaikan temperatur, dan beda tekanan pada setiap perubahan laju alir

 

 

Gambar 3..2 Diagram Alir Proses Persiapan dengan Variasi Temperatur dan Laju Alir

 

 

 

 

3.2 Prosedur Percobaan

 

3.2.1 Persiapan bahan baku batubara muda (Low Rank Coal)

 

Pada tahap persiapan bahan baku, material yang telah diambil, kemudian dihancurkan dan dipisahkan menjadi tiga variasi ukuran,  5, 10, dan 15 mm.

 

 

3.2.2 Proses Pengeringan Batubara

 

Material yang akan dikeringkan kemudian ditimbang dan  dimasukkan ke dalam keranjang pada alat pengering. Dengan menvariasikan temperatur 80, 100, dan 1200C. dan laju alir bukaan

1, 2 dan 3. Dengan tahapan percobaan sebagai berikut

 

1.  Timbang sebanyak 500 gram material yang telah dikecilkan ukurannya

 

2.  Masukkan material tersebut kedalam kerancang

 

3.  Pasang  thermometer  bola  kering  dan  bola  basa  untuk  titik  sebelum  masuk  ruang pengeringan dan setelah area pengeringan untuk mengukur humidity dari udara

4.  Pasang manometer air raksa

 

5.  Pasang pulang balance untuk mengukur massa batubara

 

6.  Nyalakan fan untuk mengalirkan udara

 

7.  Nyalakan pemanas dimulai dari 1 heater hingga 5 menit kemudian dilanjutkan untuk heater selanjutnya hingga sesuai dengan kebutuhan temperature yang diharapkan

8.  Catat data-data temperature operasi, ketinggian manometer, massa batubara yang telah mengalami proses pengeringan setiap 5 menit

 

 

 

 

 

 

3.3 Alat dan Bahan

 

3.3.1 Alat – alat yang digunakan adalah sebagai berikut:

 

 

 

1. Timbangan Digital

 

2. Termometer

 

3. Alat Pengeringan

 

4.Manometer air raksa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.3 Alat Pengering Penelitian

 

 

 

3.3.2 Bahan – bahan yang digunakan adalah sebagai berikut:

 

 

2.Sekam Padi

 

3.Cabai

 

4.Pasir Besi

 

 

 

 

 

 

 

3.4 Variabel Percobaan

 

3.4.1 Penetapan Variabel

 

1.  Variabel Tetap:

 

  • Jenis material

 

  • Kelembaban (humidity) udara

 

 

 

2.  Variabel tidak tetap:

 

  • Laju alir udara dengan ketinggian manometer 5, 10 dan 15 cm

 

  • Temperatur udara (90, 120, 150oC)

 

 

 

3.5 Pengolahan Data

 

 

 

 

 

 

Hasil dari percobaan ditampilkan dalam grafik kinetic pengeringan, yaitu a.   Grafik antara moisture content (X) terhadap waktu (detik) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b.  Grafik antara drying rate (N) terhadap waktu (detik)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

d.  Grafik antara temperatur terhadap waktu (detik)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

1.  C. Strumillo and T. Kudra,” Drying: Principles, Application and Design”, Gordon and

 

Breach  Science Publishers, Switzerland, 1986

 

2.  I.C Kemp, et.all,” Methods for Processing Experimental Drying Kinetics Data”, Drying

 

Technology Journal, 19(1), 15-34, 2001

 

3.  A.S Mujumdar,”Handbook of Industrial Drying”, Taylor and Francis Groups, 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I.      PENDAHULUAN

 

 

 

A.        Deskripsi

 

 

 

Modul    ini    berisikan    materi-materi     pembelajaran    mengenai    salah    satu teknologi pengawetan dan pengolahan ikan dengan menggunakan prinsip pengurangan kadar air, yaitu dengan teknik penggaraman dan pengeringan. Hal -hal  yang dibahas dalam modul ini antara lain adalah : peranan garam dalam proses pengawetan ikan, metode-metode penggaraman, peralatan dan prosedur penggaraman,  proses pengeringan, pengemasan dan pengepakan serta kerusakan-kerusakan yang mungkin terjadi pada produk ikan asin dan cara penanggulangannya.

 

 

Siswa  yang  telah  selesai  mempelajari  modul  ini,  harus  bisa  melakukan tahapan-tahapan  proses  pengaraman  dari  mulai  pemilihan  bahan  baku, penyiangan,  pencucian,      penggaraman,                     pengeringan dan                   pengemasan. Sehingga dengan demikian, siswa akan mampu menghasilkan produk ikan asin yang berkualitas baik. Dalam arti, produk yang dihasilkan bisa diterima dimasyarakat  sehingga keteramplian  ini  dapat  digunakan  sebagai  sumber penghasilan bagi siswa kelak setelah lulus dari sekolah.

 

 

 

 

B.        Prasyarat

 

 

 

Siswa yang akan mempelajari modul ini, harus terlebih dahulu memahami karakteristik produk hasil perikanan sehingga dapat memperlancar kegiatan siswa  dalam  mempelajari  materi-materi  yang  terdapat  dalam  modul  ini.

 

 

 

 

 

Beberapa  kemampuan  yang  harus  di kuasai     siswa  sebelum  mempelajari modul ini adalah sebagai berikut :

1)       Siswa dapat menunjukkan perbedaan antara ikan segar dengan ikan busuk

2)       Siswa dapat menyebutkan proses dan penyebab kemunduran mutu produk hasil perikanan

3)       Siswa dapat menyebutkan prinsip-prinsip pengawetan dan pengolahan produk hasil perikanan

 

 

 

 

C.        Petunjuk Penggunaan Modul

 

 

 

Modul    ini    merupakan    salah    satu    bahan    untuk    mempelajari    proses pengawetan ikan dengan cara penggaraman dan pengeringan.   Modul ini terdiri atas beberapa topik yang disusun sesuai urutan yang diawali dengan tingkat   kemampuan  yang  paling  dasar. Untuk  mempermudah  dalam mempelajari modul ini, ikutilah petunjuk penggunaan berikut ini :

 

 

C.1.     Petunjuk untuk siswa

 

a.  Baca dan pelajari tiap -tiap kegiatan belajar secara bertahap dengan teliti dan seksama

b.  Kerjakanlah  semua  latihan  yang  ada pada  tiap tahap  kegiatan belajar

c.  Jangan mempelajari tahapan kegiatan belajar berikutnya sebelum menyelesaikan latihan pada tahapan belajar sebelumnya.

 

 

C.2.     Petunjuk untuk guru

 

a.  Membantu siswa dalam merencanakan proses belajar

 

 

 

 

 

b.  Membimbing siswa dalam mengerjakan setiap tugas dan latihan yang ada dalam modul ini

c.  Membantu siswa dalam mengakses sumber belajar tambahan lain yang  diperlukan untuk pendalaman penguasaan materi yang ada didalam modul ini.

d.  Mengorganisasikan kelompok belajar siswa bila diperlukan

 

e.  Melaksanakan  penilaian  terhadap  semua  kegiatan  yang  telah dilaksanakan    siswa                     meliputi               aspek    pengetahuan,    sikap    dan keterampilan

f.   Mencatat pencapaian kemajuan  belajar siswa

 

 

 

 

 

D.        Tujuan Akhir

 

 

 

Setiap siswa yang telah selesai mempelajari modul ini, diharapkan  harus mengetahui  dan memahami                             prinsip penggaraman dan pengeringan serta mampu   melaksanakan  kegiatan  penggaraman  dan  pengeringan  sesuai prosedur operasional standar sehingga bisa menghasilkan produk yang sesuai dengan selera  konsumen (tingkat keasinan dan kekeringan) serta memiliki daya awet yang tinggi.

 

 

 

 

 

E.         Kompetensi

 

 

 

Sub

Kompetensi

Kriteria kerja Lingkup

Belajar

Materi pokok Pembelajaran
Sikap Pengetahuan Keterampilan
Melakukan

Pengaraman

dan

Pengeringan

?  Ikan disiangi

sesuai

dengan prosedur yang benar

?  Ikan dicuci sesuai dengan prosedur yang benar

?  Ikan digarami sesuai dengan metede dan procedur yang benar

?  Ikan dikeringkan sesuai dengan procedur yang benar

?  Pengeringan dan pengaraman dilakukan dengan terampil dan cerat

?  Penyiangan

?  Pencucian

?  Penggaraman

?  Bahan penolong dan bahan tambahan

?  Pengeringan

?  Standar mutu

ikan asin dan ikan kering

Cermat dan

hati-hati

dalam melakukan penggaraman dan pengeringan

?  Prinsip

pengawetan

dengan penggaraman dan pengeringan

?  Mutu ikan

?  Perbandingan ikan dengan garam

?  Faktor yang mempengaru hi proses penggaraman dan pengeringan

?  Macam

metode penggaraman (basah,

kering dan kombinasi)

?  Macam

metode pengeringan (alami, mekanis, kombinasi)

?  Standar mutu ikan asin kering

?  Mengidentifikasi

bahan penolong

(air,es) dan tambahan (garam,dll)

?  Membiat ikan asin kering dengan berbagai metode penggaraman dan pengeringan

 

 

 

 

 

F.        Cek Kemampuan

 

 

 

No

Pertanyaan

Ya Tidak

1

Apakah  anda  mengetahui  penyebab  kemunduran

 

mutu produk hasil perikanan ?

   

2

Apakah anda mengetahui cara atau teknik yang bisa

 

dilakukan untuk memperlambat proses kemunduran

   
  mutu produk perikanan ?  

3

  Apakah  anda  mengetahui  cara  pengawetan  ikan

 

dengan teknik penggaraman ?

     

4

Apakah  anda  mengetahui  cara  pengawetan  ikan

 

dengan teknik pengeringan ?

   

5

Apakah      anda       bisa       melaksanakan       teknik    
  penggaraman sesuai prosedur operasional standar ?  

6

  Apakah  anda  bisa  melakukan  teknik  pengeringan

 

sesuai prosedur operasional stantar ?

     

7

Apakah  anda  bisa  mengidentifikasi  produk  hasil

 

penggaraman dan pengeringan yang bermutu baik ?

   

 

 

 

 

Jawablah    pertanyaan-pertanyaan  diatas  terlebih  dahulu,  sebelum  anda mempelajari modul ini. Apabila semua jawaban anda “Ya”, berarti anda tidak perlu lagi memmpelajari modul ini. Apabila ada jawaban anda yang “Tidak”, maka anda harus  kembali mempelajari modul ini secara berurutan tahap demi tahap.

 

 

 

 

 

 

 

II.   PEM BELAJARAN

 

 

 

A.        Rencana Belajar Siswa

 

 

 

Kompetensi             : Mengolah Produk Perikanan Secara Tradisional

 

Sub Kompetensi       : Teknik Penggaraman dan Pengeringan

 

Tanggal Jenis Kegiatan Waktu

(jam)

Lokasi Paraf

Guru

    Mengetahui dan memahami prinsip pengawetan ikan dengan penggaraman dan pengeringan        
    Mengetahui dan memahami berbagai metode penggaraman        
    Melakukan praktikum

penggaraman sesuai dengan petunjuk lembar kerja secara berkelompok

       
    Menyusun laporan kegiatan praktikum secara berkelompok        
  Mengetahui dan memahami berbagai metode  pengeringan      
  Melaksanakan praktikum

pengeringan sesuai dengan petunjuk lembar kerja secara berkelompok

     
  Menyusun laporan kegiatan praktikum pengeringan secara berkelompok      

 

 

Catatan Kegiatan :

 

 

 

 

 

B.        Kegiatan Belajar

 

 

 

B.1.     Kegiatan Belajar 1

 

 

 

Tujuan Kegiatan Pembelajaran

 

Siswa yang telah mempelajari modul ini, diharapkan memiliki pengetahuan tentang teknologi pengawetan ikan dengan cara penggaraman                               serta dapat melakukan praktek penggaraman sesuai prosedur operasional standar.

 

 

 

 

Uraian Materi

 

 

 

 

TEKNIK  PENGGARAMAN

 

 

 

stilah    penggaraman    yang    lebih    akrab    dikenal    dengan    sebutan pengasinan, merupakan cara pengawetan ikan yang produknya paling gampang ditemui diseluruh pelosok Indonesia.  Ada beberapa alasan

 

I

yang menyebabkan teknologi penggaraman ini merupakan cara yang paling 

banyak dilakukan untuk mengawetkan ikan, yaitu :

 

1)       Teknik penggaraman merupakan teknologi yang sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh semua orang

2)       Teknologi yang menggunakan garam ini merupakan cara pengawetan paling murah

3)       Hasil    olahan     yang     dikombinasikan    dengan     cara    pengeringan

 

mempunyai    daya    tahan    lama,    sehingga    dapat    disimpan    atau didistribusikan ke daerah yang jauh tanpa memerlukan perlakukan khusus

 

 

 

 

 

4)       Produk ikan asin harganya murah, sehingga dapat terjangkau oleh semua lapisan masyarakat

 

 

Secara  umum pengertian  penggaraman  adalah  suatu rangkaian  kegiatan yang   bertujuan  untuk  mengawetkan  produk  hasil  perikanan                                           dengan menggunakan  garam.  Garam  yang  digunakan  adalah  jenis  garam  napur (NaCl),  baik berupa kristal maupun  larutan. Mekanisme  pengawetan  ikan melalui proses penggaraman adalah sebagai berikut

1)       Garam menyerap air dari dalam tubuh ikan melalui proses osmosa.

 

Akibatnya kandungan air dalam tubuh ikan yang menjadi media hidup bakteri   menjadi             berkurang.                 Kekurangan    air    dilingkungan    tempat bakteri hidup mengakibatkan proses metabolisme dalam tubuh bakteri menjadi terganggu. Dengan demikian proses kemunduran mutu ikan oleh bakteri dapat dihambat atau dihentikan.

2)       Selain  menyerap  kandungan air  dari  tubuh  ikan,  garam  juga menyerap    air       dari                 dalam       tubuh    bakteri sehingga                bekteri    akan mengalami plasmolisis (pemisahan inti plasma) sehingga bakteri akan mati.

 

 

Teknologi    penggaraman       biasanya    tidak    digunakan     sebagai    metode pengawetan tunggal, biasanya masih dilanjutkan dengan proses pengawetan lain  seperti  pengeringan  ataupun  dengan  perebusan.  Sehingga  kita  bisa menjumpai tiga macam produk ikan asin, yaitu : ikan asin basah, ikan asin kering dan ikan asin rebus (ikan pindang).

 

 

 

 

 

Garam

 

 

S

ecara tradisional, umumnya garam dibuat dengan cara mengalirkan air laut  kedalam petakan lahan tanah yang dasarnya sudah padat danrata. Kemudian air laut dibiarkan terkena sinar matahari dan menguap

 

sampai habis.  Penguapan  air  akan  menghasilkan  endapan  kristal  garam. Garam yang digunakan untuk mengawetkan ikan sebaiknya memakai garam murni yaitu garam  yang sebanyak mungkin mengandung NaCl dan sekecil mungkin mengandung unsur lain seperti MgCl2, CaCl2, MgSO4, CaSO4, lumpur serta  kotoran  lainnya.        Unsur  selain  NaCl  didalam  garam  mempunyai beberapa kelemahan yaitu :

1)       Garam yang mengandung Ca dan Mg lambat sekali menembus masuk ke dalam  daging ikan, sehingga  memungkinkan proses pembusukan tetap berjalan selama proses penggaraman. Selain itu produk ikan asin yang dihasilkan bersifat higroskopis

2)       Garam yang mengandung 0,5 % – 1 % , CaSO 4    menghasilkan produk yang kaku dan warnanya pucat (putih)

3)       Garam  mengandung  magnesium,  sulfat  dan  klorida  menyebabkan produk agak pahit

4)       Garam yang mengandung  besi dan tembaga  menyebabkan  warna coklat, kotor dan kuning

5)       Garam mengandung  CaCl2    menyebabkan ikan asin berwarna putih, keras dan mudah pecah .

 

 

Garam yang baik dapat diperoleh dengan pengendalian waktu dalam proses pengendapan garam.  Tetepi  cara  ini  sulit  dilakukan  untuk  menghasilkan garam berkualitas baik. Sehingga kristal garam hasil endapan biasanya diolah lagi di pabrik  pengolahan  garam  untuk  menghilangkan  unsur-unsur  yang merugikan seperti yang  telah disebutkan  diatas. Berdasarkan  kandungan

 

 

 

 

 

unsur kimianya, garam dapat dikelompokkan menjadi tiga kelas seperti dapat dilihat pada tabel berikut

 

 

Tabel 4.  Komposisi  Garam Kelas 1, 2, dan 3

 

Unsur

Kandungan (%)
Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3

NaCl

 

CaCl2

 

MgSO4

 

MgCl2

 

Bahan tak larut

 

Air

96

 

1

 

0,2

 

0,2

 

-

 

2,6

95

 

0,9

 

0,5

 

0,5 sangat sedikit

3,1

91

 

0,4

 

1

 

1,2

 

0,2

 

0,2

 

 

 

 

 

 

 

 

Metode Penggaraman

 

K

ecepatan proses penyerapan garam kedalan tubuh ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut  : 

1)       Kesegaran      tubuh     ikan.    Semakin    segar     ikan,    maka    proses penyerapan garam kedalam tubuh ikan akan semakin lambat

2)       Kandungan  lemak. Lemak akan menghalangi       masuknya  garam kedalam tubuh ikan, sehingga ikan yang kandungan lemaknya tinggi akan mengalami penyerapan garam yang lambat.

3)       Ketebalan  daging  ikan. Semakin tebal daging ikan maka proses penggaraman semakin lambat

4)       Kehalusan kristal garam. Garam yang halus akan lebih cepat larut

 

dan meresap kedalam tubuh ikan. Tetapi      penyerapan yang terlalu

 

 

 

 

 

cepat akan mengakibatkan permukaan daging cepat mengeras  (Salt burn) dan ini akan menghambat keluarnya kandungan air dari bagian dalam tubuh ikan.

5)       Suhu. Semakin tinggi suhu larutan, maka viskositas larutan       garam semakin kecil sehingga proses penyerapan akan semakin mudah.

 

 

Pada dasarnya, metode penggaraman ikan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu              penggaraman              kering    (Dry    Salting),    penggraman    basah (WetSalting) dan Kench Salting.

 

 

a)         Penggaraman Kering (Dry Salting)

 

Metode   penggaraman    kering    menggunakan    kristal    garam    yang dicampurkan   dengan  ikan. Pada umumnya,  ikan yang berukuran besar        dibuang isi perut dan badannya dibelah dua.     Dalam proses penggaraman ikan ditempatkan didalam wadah yang kedap air. Ikan disusun rapi dalam wadah selapis demi selapis dengan setiap lapisan ikan ditaburi  garam. Lapisan paling atas dan paling bawah               wadah merupakan   lapisan   garam.  Garam  yang  digunakan  pada  proses penggaraman umumnya berjumlah 10 % – 35 % dari berat ikan yang digarami.

Pada  waktu  ikan  bersentuhan  dengan  kulit  /  daging  ikan  (yang

 

basah/berair), garam itu mula-mula akan membentuk larutan pekat. Larutan  ini  kemudian  akan  meresap  kedalam  daging  ikan  melalui proses osmosa. Jadi, kristal garam tidak langsung menyerap air, tetapi terlebih  dahulu  berubah  jadi  larutan.  Semakin  lama  larutan  akan semakin  banyak  dan  ini  berarti  kandungan  air  dalam  tubuh  ikan semakin berkurang.

 

 

 

 

 

b)         Penggaraman Basah (Wet Salting)

 

Penggaraman basah menggunakan larutan garam 30 – 35 % (dalam 1 liter air  terdapat 30  – 35 gram garam). Ikan yang akan digarami dimasukkan  kedalam larutan garam tersebut, kemudian bagian atas wadah ditutup dan diberi pemberat agar semua ikan terendam. Lama waktu perendaman tergantung pada ukuran ketebalan tubuh ikan dan derajat keasinan yang diinginkan.

Dalam    proses    osmosa,   kepekatan    larutan    garam    akan    semakin berkurang karena adanya kandungan air yang keluar dari tubuh ikan, sementara  itu  molekul  garam  masuk  kedalam  tubuh  ikan.  Proses osmosa akan  berhenti  apabila kepekatan larutan diluar dan didalam tubuh ikan sudah seimbang.

 

 

c)         Kench Salting

 

Pada  dasarnya,  teknik  penggaraman  ini  sama  dengan  pengaraman kering   (dry    salting)             tetapi  tidak       mengunakan      bak     /wadah penyimpanan.    Ikan  dicampur  dengan  garam dan dibiarkan  diatas lantai  atau  geladak   kapal,   larutan  air  yang  terbentuk  dibiarkan mengalir dan terbuang. Kelemahan dari cara ini adalah memerlukan jumlah  garam             yang   lebih        banyak             dan     proses    penggaraman berlangsung sangat lambat.

 

 

 

 

 

Pemberat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ikani

kristal garam 

 

 

 

ikan

 

 

 

 

 

Gambar 1 Teknik Penggaraman Dry Salting

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ikan larutan

garam

Pemberat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2 Teknik Penggaraman Wet Salting

 

 

 

 

 

 

 

 

Kristal garam ikanlantai / geladak

 

kapal

 

 

 

 

 

Gambar 3. Teknik Penggaraman Kench Salting

 

 

 

 

 

PelaksanaanPenggaraman

 

a.       Persiapan

 

1) Penyediaan bahan baku.

 

-       Ikan yang akan diproses sebaiknya dipisahkan berdasarkan jenis, tingkat  kesegaran dan ukuran ikannya. Hal ini dilakukan untuk penyeragaman        penetrasi        garam pada                         saat           penggaraman berlangsung

-       Sediakan garam sebanyak 10  – 35 % dari berat total ikan yang

 

akan  diproses,  tergantung  tingkat  keasinan  yang  diinginkan. Sebaiknya,  gunakan  garam  murni  (NaCl                                   99%)  agar  ikan  asin berkualitas baik

 

 

2) Penyediaan peralatan

 

-       Siapkan wadah bak kedap air yang terbuat dari semen, kayu, fibre atau  plastik.  Bila  proses  penggaraman  menggunakan  metode kench salting, wadah bak penggaraman tidak diperlukan

 

 

 

 

 

-       Siapkan  penutup  bak  sesuai  ukuran  bak  dilengkapi  dengan pemberat  untuk  membantu  agar  semua  ikan  terendam  dalam larutan garam

-       Pisai atau golok yang tajam untuk membersihkan dan menyiangi ikan

-       Timbangan untuk menimbang ikan yang telah dibersihkan serta jumlah garam yang dibutuhkan

-       Keranjang plastik atau bambu untuk mengangkut ikan sebelum dan setelah proses penggaraman

-       Tempat penjemuran atau para-para yang tingginya kurang lebih 1

 

meter diatas permukaan tanah. Sebaiknya para-para dibuat miring

 

15o     ke    arah    datangnya    angin    untuk    mempercepat    proses pengeringan

 

 

3) Penanganan dan penyiangan

 

-       Untuk     mempermudah    proses    penanganan,    tempatkan    ikan diwadah terpisah sesuai ukuran, jenis dan tingkat kesegaran

-       Pada ikan    berukuran besar, perlu dilakukan penyiangan dengan membuang  isi  perut,  insang  dan  sisik.  Kemudian  tubuh  ikan dibelah menjadi dua sepanjang garis punggung kearah perut. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses penggaraman

-       Pada ikan yang berukuran sedang, cukup dibersihkan insang, sisik

 

dan isi perut. Bagian badan tidak perlu dibelah.

 

-       Pada ikan kecil    seperti teri atau petek, cukup dicuci dengan air bersih saja, tidak perlu disiangi.

-       Proses pencucian dilakukan dengan air bersih yang mengalir, agar ikan benar-benar bersih

 

 

 

 

 

-       Tiriskan  ikan  yang  telah  dicuci  bersih  dalam  wadah  keranjang plastik atau bambu yang telah disediakan. Pada proses penirisan ini, ikan disusun  rapi dengan perut menghadap ke bawah agar tidak ada air yang menggenang dirongga perutnya

-       Setelah ikan agak kering, timbanglah  ikan agar dapat mengetahui

 

jumlah garam yang diperlukan dalam proses penggaraman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4 . Ikan dicuci dengan air mengalir supaya benar-benar bersih

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar5. Bahan  baku ikan yang sudah dibelah dan dibersihkan

 

 

 

 

 

b.       Tahapan proses penggaraman

 

1) Metode  dry salting

 

-       Sediakan  kristal  garam  sesuai  dengan  jumlah  ikan  yang  akan diproses. Untuk ikan besar sediakan garam 20 – 30 % dari berat ikan, ikan ukuran sedang 15 – 20 % sedangkan ikan berukuran kecil  cukup  5  %.  Gunakan  garam  murni  agar  hasil  olahannya berkualitas baik.

-       Taburkan garam ke dasar bak setebal 1 – 5 cm tergantung jumlah

 

ikan yang diolah. Lapisan ini berfungsi sebagai alas ikan  pada saat proses penggaraman

-       Susunlah    ikan dengan rapi diatas lapisan garam tadi. Usahakan

 

bagian perut ikan menghadap kebawah. Diatas lapisan ikan yang sudah tersusun, taburkan kembali garam secukupnya. Lakukan itu

 

 

 

 

 

sampai semua ikan tertampung didalam wadah, setiap lapisan ikan selalu  diselingi oleh lapisan garam. Pada lapisan atas ditebarkan garam setebal 5 cm agar tidak dihinggapi lalat.

-       Tutuplah  bak  atau  wadah  dengan  papan  yang  telah  diberi pemberat  agar proses penggaraman dapat berlangsung dengan baik.  Ikan  dengan  tingkat  keasinan  tertentu  dapat  diperoleh sebagai hasil akhir proses penggaraman.

-       Selesainya     proses     penggaraman     ditandai     dengan     adanya perubahan  tekstur,    daging  ikan  menjadi  kencang  dan  padat. Lamanya  penggaraman  tergantung  jenis,  ukuran  dan  tingkat kesegaran ikan. Walau demikian, umumnya proses penggaraman dapat berlangsung 1 – 3 hari untuk ikan ukuran besar, 12 – 24 jam untuk ikan ukuran sedang dan 6 – 12 jam untuk ikan ukuran kecil

-       Langkah  selanjutnya,  ikan  diangkat  dari  tempat  penggaraman.

 

Ikan   dicuci    dan    dibersihkan    dari    kotoran    yang    menempel, kemudian ditiriskan  dan selanjutnya ikan dijemur dengan disusun diatas para-para yang sudah disiapkan

 

 

 

 

2) Metode wet salting

 

-       Pisahkan ikan sesuai dengan ukuran, jenis dan tingkat kesegaran.

 

-       Sebagai  media  penggaraman.  Gunakan  larutan  garam  dengan konsentrasi tertetu, tergantung tingkat keasinan yang diinginkan.

-       Bila proses perendaman akan menghabiskan waktu lebih dari 24 jam,  gunakan larutan garam yang lewat jenuh agar kemapuan menarik cairan dalam tu buh ikan menjadi lebih besar dan cepat. Dengan menggunakan larutan lewat jenuh, maka tidak diperlukan

 

 

 

 

 

lagi    penambahan    garam    pada    saat    penggaraman     sedang berlangsung

-       Untuk mengetahui larutan sudah jenuh atau belum, bisa dilakukan dengan  memasukka  biji  kemiri  matang  kedalam  larutan  yang sudah dibuat.  Bila biji kemiri  tenggelam  berarti  larutan  belum jenuh, bila biji kemiri  mengapung  dipermukaan  berarti larutan sudah jenuh.

-       Susunlah  ikan dengan rapi  secara berlapis didalam wadah yang telah  disediakan. Tambahkan larutan garam yang sudah dibuat sampai semua ikan terendam .

-       Tutuplan bak dengan papan dan diberi pemberat supaya semua

 

ikan tetap terendam dalam larutan garam.

 

-       Bila konsentrasi cairan didalam dan di luar tubuh ikan sudah sama, maka proses penggaraman dianggap selesai.

-       Ikan    diangkat    dari    bak   penggaraman,    kemudian    dicuci    dan ditiriskan. Setelah itu ikan dijemur diatas para-para sampai kering.

 

 

 

 

3) Metode kench salting

 

-       Seperti  metode sebelumnya, ikan dipisahkan sesuai jenis, ukuran dan tingkat kesegaran

-       Karena  tidak  menggunakan  wadah,  ikan  ditumpuk  pada  suatu bidang   datar  lau  ditaburi  garam  secukupnya  sampai  seluruh permukaan  tubuh  ikan  tertutup  oleh                                                           garam.  Tumpukan  ikan tersebut ditutup dengan plastik agar tidak dihinggapi lalat

 

 

PK.TPHPi.C.02.M    Teknik Penggaraman dan Pengeringan 19

-       Proses penggaraman dianggap selesai bila telah terjadi perubahan tekstur pada tubuh ikan. Tubuh ikan jadi  lebih kencang dan padat

 

 

 

 

 

PROSEDUR PENGGARAMAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikan dipisahkan berdasarkan jenis, ukuran dan tingkat kesegaranrannya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikan disiangi bagian sisik, isi perut dan insang.

Kemudian dicuci sampai bersih

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikan digarami dengan metode  wet salting, dry salting, atau kench salting

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lama penggaraman dipengaruhi oleh metode yang digunakan, ukuran dan tingkat kesegaran ikan

 

 

 

 

 

RANGKUMAN

 

 

 

 

 

 

 

TEKNOLOGI PENGGARAMAN

 

 

 

Pengertian penggaraman adalah suatu rangkaian proses pengawetan  ikan  dengan  cara  mencampurkan  garam dengan  ikan baik dalam bentuk kristal maupun  larutan garam.  Garam  yang  dicampurkan  dengan  ikan  akan menyerap  kandungan  air  dalam  tubuh  ikan  sehingga kegiatan metabolsme bakteri  didalam tubuh ikan akan apat dihambat atau dihentikan.

 

 

Untuk  menghasilkan  produk  penggaraman  yang  baik maka  harus memperhatikan hal-hal sebagai : pemilihan bahan baku, garam, wadah/alat/tempat yang digunakan, serta   memprhatikan     aspek sanitasi           dan    higiene. Tahapan proses  penggaraman    terdiri dari : persiapan peralatan,     pemilihan     bahan      baku,      penyortiran, penyiangan, pencucian, penirisan,  dan penggaraman.

Metode     penggaraman     dapat     diklasifikasikan menjadi   3        macam               yaitu    dry             salting  (penggaraman kering),  wet  salting  (penggaraman  basah)  dan kench salting (penggaraman kering tanpa wadah).

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA

 

 

 

A.         Waktu dan tempat Kegiatan

 

Kegiatan praktikum dikerjakan bisa langsung dikerjakan di sekolah ataupun di unit produksi milik swasta selama 1 – 2 hari.

 

 

B.         Pendahuluan

 

Penggaraman adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mengawetkan ikan  dengan  menggunakan  garam  sebagai  bahan  pengawet.  Rangkaian kegiatan tersebut        meliputi               pemilihan bahan,     penyortiran,             penyiangan, pencucian, dan penggaraman. Setelah melaksanakan kegiatan praktikum ini, secara umum anda  diharapkan dapat melakukan pengolahan ikan dengan penggaraman  dan  pengeringan  sesuai  dengan  prinsip-prinsip pengolahan yang benar.

 

 

Dalam  kegiatn  praktikum  ini,  siswa  diberi  tugas  untuk  mengamati  dan melakukan tahapan-tahapan kegiatan proses penggaraman dan pengeringan, mengamati daya awet ikan asin kering hasil praktikum, serta melakukan uji rasa terhadap produk yang dihasilkan.

 

 

 

 

C.         Bahan dan Alat

 

Bahan yang diperlukan terdiri dari :

 

-           garam murni (NaCl 96 %)

 

-           dan ikan segar berukuran kecil sampai besar seperti pepetek, teri, kembung, manyung (jamball), remang, lemuru, layang dan lain-lain

 

 

 

 

 

Peralatan yang harus disediakan terdiri dari :

 

-         wadah / bak penggaraman

 

-         penutup wadah

 

-         pisau

 

-         timbangan

 

-         keranjang / saringan.

 

 

 

 

 

D.       Prosedur Penggaraman

 

1)       Ikan berukuran besar

 

-      ikan dibelah dua mulai dari arah punggung bergerak kearah perut, insang dan isi perut dibuang

-      setelah  disiangi,  ikan  dicuci  sampai  bersih  kemudian  ditiriskan beberapa saat di dalam keranjang

-      setelah ditiriskan, timbang ikan supaya bisa mengetahui jumlah garam yang akan digunakan.

-      Siapkan garam sebanyak 20  – 25 % dari berat ikan yang akan diolah

-      Ikan disusun berlapis lapis didalam wadah yang sudah tersedia dengan tiap lapisan ikan diselingi garam

-      Tutup  wadah  penggaraman  dengan  rapat  supaya  tidak  ada

 

serangga     yang     masuk     dan    biarkan     proses    penggaraman berlangsung selama 1 – 2 hari

 

 

2)       Ikan berukuran sedang

 

-      buang insang dan isi perut dengan cara menariknya dari bagian tutup insang sehingga dinding perut tidak rusak atau sobek

-      cuci dan tiriskan ikan, kemudian ditimbang

 

 

 

 

 

-      siapkan garam sebanyak 15 – 20 % dari berat ikan

 

-      susunlah ikan didalam wadah penggaraman secara berlapis seperti yang dilakukan pada ikan ukuran besar

-      tutu wadah penggaraman dengan rapat dan biarkan ikan selama

 

12 – 24 jam

 

 

 

3)     Ikan berukuran kecil

 

-         ikan cukup dicuci dengan iar mengalir tanpa harus membuang isi perut dan insangnya, kemudian ditimbang

-         siapkan garam 5 – 10 % dari berat ikan

 

-         ikan campurkan dengan garam secara merata dan biarkan selama

 

6 – 12 jam

 

 

 

 

 

E.         Umpan balik

 

Praktikum penggaraman ini dianggap berhasil apabila anda bisa melakukan setiap  tahapan  proses  penggaraman  dengan  baik.  Apabila  anda  dapat melakukan  praktikum dan membuat laporannya, maka anda berhak untuk mempelajari mataeri pembelajaran selanjutnya.

 

 

 

 

F.         Petunjuk penulisan  laporan

 

Laporan     praktikum  harus  dibuat  oleh  setiap  kelompok  sesuai  dengan petunjuk dari instrutur. Laporan praktikum memuat hal-hal sebagai berikut :

1) Nama anggota kelompok

 

2) Judul kegiatan praktikum

 

3) Pendahuluan (Latar belakang dan Tujuan)

 

4) Pelaksanaan Kegiatan

 

 

 

 

 

5) Hasil kegiatan dan pembahasan

 

6) Kesimpulan

 

 

 

G.        Kriteria Penilaian

 

Penilaian  dilakukan  berdasarkan  proses  pelaksanaan  tahapan  praktikum, mutu hasil praktikum serta kelengkapan laporan.

 

 

 

 

 

TES FORMATIF

 

 

 

A.         Latihan

 

 

 

JAWABLAH PERTANYAAN DIBAWAH INI DENGAN SINGKAT, PADAT DAN JELAS          !

1.       Sebutkan  keunggulan  teknologi  penggar aman  dibandingkan  produk hasil pengawetan lainnya !

2.        Jelaskan mekanisme pengawetan ikan dengan menggunakan teknologi penggaraman !

3.        Sebutkan    dan    jelaskan    hal-hal     yang    mempengaruhi    kecepatan penyerapan garam kedalam tubuh ikan !

4.        Jelaskan dengan singkat metode penggaraman yang anda ketahui !

 

5.        Sebutkan      tahapan- tahapan  yang  harus  dilakukan  dalam  proses penggaraman

 

 

 

 

B.         Kunci Jawaban

 

 

 

1.        Teknologi  penggaraman dan pengeringan tidak memerlukan keahlian dan  peralatan khusus sehingga mudah dilakukan oleh semua orang dan    dapat            dilakukan     dimana         saja.     Selain         itu           produk    hasil penggaraman  mempunyai  daya  tahan  lama  dan  tidak  memerlukan perlakuan khusus pada saat penyimpanannya

2.        Garam yang dicampurkan dengan ikan akan menarik cairan dari dalam tubuh ikan sehingga kadar air didalam tubuh ikan menjadi berkurang sehingga metabolisme ditubuh bakteri bisa dihambat atau dihentikan

3.        Penyerapan garam kedalan tubuh ikan dipengaruhi oleh :

 

 

 

 

 

a)  Kesegaran    tubuh    ikan.    Semakin    segar     ikan,    maka    proses penyerapan garam kedalam tubuh ikan akan semakin lambat

b)  Kandungan  lemak.  Lemak  akan  menghalangi     masuknya  garam kedalam  tubuh  ikan,  sehingga  ikan  yang  kandungan  lemaknya tinggi akan mengalami penyerapan garam yang lambat.

c)   Ketebalan daging ikan. Semakin tebal daging ikan maka proses penggaraman semakin lambat

d)  Kehalusan kristal garam. Garam yang halus akan lebih cepat larut dan meresap kedalam tubuh ikan.

e)   Suhu. Semakin tinggi suhu larutan, maka viskositas larutan  garam

 

semakin kecil sehingga proses penyerapan akan semakin mudah.

 

4.        Macam -macam metode penggaraman :

 

a)  Dry  salting  yaitu  metode  penggaraman  dengan  menggunakan kristal   garam  yang  dicampurkan  langsung  dengan  ikan  yang disusun secara berlapis didalam wadah / bak penggaraman

b)  Wet salting yaitu metode penggaraman dengan merendam ikan dalam larutan garam didalam wadah / bak penggaraman

c)   Kench salting yaitu metode penggaraman dengan mencampurkan kristal  garam dengan ikan secara langsung tanpa menggunakan wadah / bak penggaraman

5.        Tahapan proses penggaraman meliputi : persiapan (pemilihan bahan

 

baku dan peralatan), penyiangan dan pencucian ikan, penirisan, dan penggaraman

 

 

 

 

 

B.2.     Kegiatan Belajar 2

 

 

 

Tujuan Kegiatan Pembelajaran

 

Siswa yang telah mempelajari modul ini, diharapkan memiliki pengetahuan tentang  teknologi pengawetan ikan dengan cara pengeringan                                serta dapat melakukan praktek pengeringan sesuai prosedur operasional standar.

 

 

 

 

Uraian Materi

 

 

 

TEKNIK PENGERINGAN

 

 

 

 

engeringan  merupakan  cara  pengawetan  produk  makanan  yang pertama digunakan oleh manusia. Pengeringan ikan merupakan cara pengawetan  sebagai  lanjutan  dari  kegiatan  pengawetan  dengan

 

P

penggaraman. Ikan hasil proses penggaraman  segera diangkat dari wadah penggaraman, dicuci bersih kemudian dikeringkan. Pada                                               awalnya proses pengeringan hanya menggunakan panas sinar matahari dan tiupan angin. Pada prinsipnya proses pengeringan akan mengurangi kadar air dalam tubuh ikan  sebanyak-banyaknya,  sehingga kegiatan bakteri akan bisa dihambat atau bila memungkinkan bisa dihentikan. 

 

Tubuh ikan mengandung 56 % – 80 % air. Bila kadar air ini dikurangi maka metabolisme dalam tubuh bakteri akan terhambat. Pada kadar air 30 % – 40

%, sebagian bakteri sudah mati, tetapi sporanya tetap hidup. Spora ini akan tumbuh dan aktif kembali bila kadar air dalam tubuh ikan meningkat kembali. Oleh karena itu sebelum dilakukan proses pengeringan, selalu diawali dengan

 

 

 

 

 

penggaraman     untuk     menghambat     proses     pembusukan     pada     saat pengeringan                    berlangsung.     Karena    itulah,    produk    ikan    kering    selalu diasosiasikan dengan istilah ikan asin.

 

 

Cara  yang  umum  digunakan  untuk  mengeringkan  ikan  adalah  dengan menguapkan     air dari tubuh ikan, yaitu dengan menggunakan hembusan udara panas. Dengan hawa panas ini, akan terjadi penguapan air dari tubuh ikan dari mulai  permukaan hingga ke bagian dalam tubuh ikan. Kecepatan penguapan atau pengeringan dipen garuhi beberapa faktor antara lain :

1)     Kecepatan udara.  Semakin cepat udara maka ikan akan semakin cepat

 

kering

 

2)     Suhu udara. Makin tinggi suhu udara maka penguapan akan semakin cepat

3)     Kelembaban  udara.  Makin  lembab  udara,  proses  penguapan  akan semakin lambat

4)     Ketebalan daging ikan. Makin     tebal daging ikan, proses pengeringan makin berjalan lambat

5)     Arah aliran udara terhadap tubuh ikan. Makin kecil sudut arah udara terhadap posisi tubuh ikan maka ikan semakin cepat kering

6)     Sifat / kandungan tubuh ikan. Ikan yang  berkadar lemak tinggi akan lebih sulit dikeringkan.

 

 

 

 

 

 

 

Arah angin                                 Arah angin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikan                                                            ikan

 

LAMBAT                                                       CEPAT

 

 

 

Gambar 6. Pengaruh arah aliran udara terhadap kecepatan pengeringan

 

 

 

 

 

Metode Pengeringan

 

 

C

ara  pengeringan  bisa  dikelompokkan  menjadi  dua  yaitu  pengeringan alami dan pengeringan mekanis (buatan). 

 

a)         Pengeringan  alami.

 

Pengeringan alami adalah proses pengeringan  yang dilakukan dengan menggunakan  media angin dan sinar matahari.  Dalam pengeringan alam, ikan dijemur diatas rak-rak yang dipasang miring (+15o) kearah datangnya angin dan diletakkan ditempat terbuka supaya terkena sinar matahari               dan   hembusan   angin    secara    langsung.       Keunggulan pengeringan alami adalah proses sangat sederhana, murah dan tidak memerlukan  peralatan  khusus  sehingga   gampang  dilakukan  oleh semua orang.

 

 

 

 

 

 

 

Arah Angin

 

 

 

 

 

15 o

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7 Posisi ikan dalam pengeringan alami

 

 

 

 

 

Pada proses pengeringan ini, angin berfungsi untuk memindahkan uap air yang  terlepas dari ikan, dari atas ikan ke  tempat lain sehingga penguapan berlangsung lebih cepat.  Tanpa adanya pergerakan udara, misalnya jika penjemuran ditempat tertutup (tanpa adanya hembusan angin),  pengeringan   akan  berjalan  lambat.  Selain  tiupan  angin, pengeringan alami juga  dipengaruhi oleh  intensitas cahaya matahari pada saat penjemuran  berlangsung.  Makin tinggi intensitasnya maka proses pengeringan            akan semakin        cepat            berlangsung   begitupun sebaliknya.Oleh karena itu, proses pengeringan alami sering terhambat pada saat musim penghujan karena intensitas cahaya matahari sangat kurang.                 Karena          lambatnya   pengeringan,     proses    pembusukan kemungkinan tetap berlangsung selama proses pengeringan.

Masalah lain yang dihadapi pada pengeringan alami adalah ikan yang

 

dijemur ditempat terbuka gampang dihinggapi serangga atau lalat. Lalat  yang  hinggap akan meninggalkan telur, dalam waktu 24 jam

 

 

 

 

 

telur tersbut  akan  menetas  dan  menjadi  ulat  yang  hidup  didalam daging ikan.

 

 

 

 

b)        Pengeringan Mekanis

 

Karena banyaknya kesulitan yang didapat pada proses pengeringan alami terutama pada saat musim penghujan, maka manusia mencoba membuat  alat  baru  untuk  menghasilkan                  produk  yang  lebih  baik dengan  cara  yang  lebih  efisien.  Pada  pengeringan  mekanis,  ikan disusun diatas rak-rak  penyimpanan  didalam ruangan tertutup yang dilengkapi                 dengan    beberapa   lubang    ventilasi.    Kedalam    ruangan tersebut, ditiupkan hawa panas yang dihasilkan dari elemen pemanas listrik. Hawa panas ditiupkan dengan sebuah kipas angin atau blower supaya mengalir ke arah rak-rak ikan. angin yang membawa uap air dari tubuh ikan akan keluar dari lubang-lubang ventilasi.

Pengeringan mekanis memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut :

 

1)    Ketinggian suhu, kelembaban dan kecepatan udara  mudah  diatur

 

2)    sanitasi dan higiene lebih mudah dikendalikan

 

3)    tidak memerlukan tempat yang luas

 

4)    waktu pengeringan menjadi lebih teratur (tidak terpengaruh oleh adanya musim hujan)

 

 

 

 

 

 

 

lubang keluar uap panas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber panas dan blower

Ikan asin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8.  Proses pengeringan mekanis

 

 

 

 

 

 

 

Penyimpan an dan Pengemasan

 

P

roduk  ikan  asin  kering  yang  sudah  jadi  perlu  dijaga  kualitasnya selama  proses  penyimpanan,  transportasi  dan  distribusi  sehingga harga  jual  bisa  tidak  menurun.  Oleh  karena  itu,  perlu  dilakukan 

pengepakan dan pengemasan yang baik supaya kualitasnya tidak menurun. Pengemasan  bisa  dilakukan  dengan  menggunakan  bahan  kayu,  kertas, kardus   ataupun  plastik.     Bahan-bahan  yang  digunakan  selama  proses pengemasan dan pengepakan disesuaikan dengan keperluan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tahap penyimpanan adalah :

1)     Ruang penyimpan harus bersih, kering dan sejuk

 

 

 

 

 

2)     Sirkulasi  udara  lancar,  sehingga  menghilangkan  bau-bau yang tidak sedap

3)     Ikan kering dibongkar dan dijemur kembali bila terjadi kelembaban yang tinggi

4)     Banda  lain  yang  dapat  menjadi  bahan  pencemar  seperti  pestisida, minyak tanah dan sebagainya, tidak disimpan didekat ikan asin.

 

 

 

 

Kerusakan Produk Ikan Asin Kering

 

K

erusakan ikan asin kering bisa terjadi pada saat penyimpanan dan selama proses transportasi dan distribusi.                         Beberapa kerusakan yang 

mungkin terjadi pada ikan asin kering antara lain :

 

1)     Pink spoilage. Kerusakan ini disebabkan oleh bacteri halophilic yang secara      perlahan-lahan             berkembang       biak               dan    membentuk            figmen berwarna kuning  kemerahan.  Bakteri  ini dengan  cepat  menguraikan daging  ikan  dan menimbulkan bau tengik. Akibatnya daging menjadi lunak dan berwarna keabu-abuan serta mudah terlepas dari tulangnya. Jenis bakteri yang paling dominan adalah Sarcina sp, Serratia, Salinaria, dan  Micrococi.            Pencegannya  bisa  dilakukan  dengan mencampurkan sodium propionat 3 % dengan garam (perbandingan 1 : 10) pada saat proses penggaraman.

2)     Dun spoilage. Kerusakan diakibatkan oleh  bakteri halophilic yang hidup hanya dipermukaan daging ikan dan membentuk warna ke abu-abuan. Biasanya  terjadi  pad a  ikan  asin  yang  berkadar  air  dibawah  17  %. Pencegahan dapat  dilakukan  dengan merendam ikan ikan asin dalam larutan    asam    sorbat    dengan        dosis                 0,1           %.      Setelah             direndam kemudianikan asin  dijemur kembali sampai kering.

 

 

 

 

 

3)     Rust  spoilage.  Untuk  mencegah  bau  tengik  pada  ikan  asin,  garam melepaskan senyawa karbonil. Tetapi, bila bereaksi dengan asam amino senyawa  ini akan menghasilkan senyawa coklat keabu-abuan dengan bau  tengik  yang   mencolok.  Pencegahan  dapat  dilakukan  dengan pencucian dan perendaman ikan asin dalam larutan sodium bikarbonat dengan dosis 2  – 5 %. Setelah itu ikan asin dijemur kembali sampai kering

4)     Saponifikasi.    Kerusakan    disebabkan    oleh   aktifitas    bakteri    anaerob (myxobacteria) yang menghasilkan lendir berbau busuk. Kerusakan ini sangat         berbahaya bagi      manusia,             karena           tidak                 hanya   terjadi    di permukaan  tetapi  juga  menyerang  bagian  dalam  daging  ikan  asin. Pencegahan dengan mencelupkan ikan asin pada larutan asam asetat 3

%. Setelah itu ikan dicuci dengan air bersih dan dijemur kembali sampai

 

kering.

 

5)     Taning. Kerusakan yang terjadi karena proses penetrasi garam kedalam daging ikan sangat lambat dan kurang merata. Ciri-cirinya adalah terjadi bercak-bercak  merah sepanjang tulang punggung ikan  dan munculnya bau busuk.  Pencegahan dengan menyikat bercak-bercah merah sampai bersih dan kemudian ikan digarami kembali secara merata dan dijemur kembali hingga kering.

6)     Serangga Magggot (lalat). Serangan yang ditimbulkan oleh sejenis lalat

 

rumah yang hinggap pada ikan asin dan meninggalkan telurnya. Telur akan menetas membentuk larva dan menyerang daging ikan dari dalam. Pencegahan  dengan merendam kembali ikan asin di dalam air bersih hingga larva-larva yang  ada mengapung di permukaan air. Setelh itu ikan digarami kembali dan dijemur sampai kering.

7)     Salt  burn.  Kerusakan  akibat  penggunaan  garam  yang  halus  secara berlebihan  pada saat penggaraman sehingga ikan asin hanya kering

 

 

 

 

 

pada  bagian  permukaannya  saja.      Hal  ini  bisa  dihindari  dengan menggunakan garam kristal yang tidak terlalu halus pada saat  proses

penggaraman

 

 

 

 

 

 

 

 

Rangkuman

 

 

 

 

 

Pengeringan   merupakan   metode   pengawetan   prod uk                 yang   pertama dilakukan oleh manusia. Selama proses pengeringan, ikan akan mengalami pengurangan  kadar  air  yang  mengakibatkan  proses  metabolisme  bakteri pembusuk  dalam         tubuh           ikan      menjadi                    terganggu.          Sehingga             proses kemunduran mutu ikan dapat dihambat atau dihentikan.

 

Tahapan proses pengeringan terdiri dari : pengangkatan ikan dari wadah penggaraman,                         pencucian,    pengeringan,     peyortiran    dan    pengemasan. Peralatan yang diperlukan selama proses pengeringan terdiri dari wadah pencucian, para-para (untuk pengeringan alami), ruang pengeringan (untuk pengeringan mekanis), kardus pengepakan.

 

Ada  dua  metode  pengeringan  yang  bias  dilakukan  yaitu  :  Pengeringan alami dan pengeringan mekanis. Keuntungan pengeringan alami antara lain adalah   tidak   memerlukan   peralatan   dan   keterampilan   khusus   tetapi memiliki  kelemahan  yaitu  membutuhkan  tempat  yang  luas  serta  waktu pengeringan (suhu) sulit dikendalikan.

 

Keuntungan pengeringan mekanis antara lain : waktu pengeringan (suhu) dapat  dikendalikan  dan tidak memerlukan  tempat yang luas. Kelemahan pengeringan  mekanis antara lain membutuhkan sarana dan keterampilan

khusus.

 

 

 

 

 

PROSEDUR PENGERINGAN

 

 

 

 

Setelah selesai proses penggaraman, keluarkan ikan dari wadah penggaraman

 

 

 

 

 

 

 

 

Cuci dan bersihkan ikan dari kotoran serta sisa-sisa garam yang menempel ditubuhnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masukkan ikan ketempat pengeringan

pengeringan alami atau pengeringan mekanis

 

 

 

 

 

 

 

Lama pengeringan dipengaruhi oleh jenis pengeringan yang digunakan serta ukuran ikan yang dikeringkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah kering, ikan disortir berdasarkan kualitasnya dan dikemas dengan baik untuk menghindari kerusakan selama penyimpanan

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA

 

 

 

A.         Waktu dan Tempat Kegiatan

 

Kegiatan praktikum ini bisa dilaksanakan di sekolah ataupun di unit produksi milik swasta. Pelaksanaan praktikum dilaksanakan selama 1 – 3 hari

 

 

 

 

B.         Pendahuluan

 

Pengeringan ikan        adalah     rangkaian     kegiatan    yang     bertujuan     untuk mengawetkan ikan  dengan mengurangi  kadungan  air  dalam  tubuh  ikan. Rangkaian       kegiatan                   tersebut                  meliputi    pengangkatan          ikan          dari    tempat penggaraman, pencucian, penjemuran, penyortiran dan pengemasan. Setelah melaksanakan kegiatan praktikum ini, secara umum anda diharapkan dapat melakukan  pengolahan ikan dengan penggaraman dan pengeringan sesuai dengan prinsip-prinsip pengolahan yang benar.

 

 

Dalam kegiatan  praktikum  ini,  siswa  diberi tugas untuk mengamati  dan melakukan tahapan-tahapan kegiatan proses pengeringan, mengamati daya awet ikan asin kering  hasil praktikum, serta melakukan uji rasa terhadap produk yang dihasilkan.

 

 

 

 

C.         Bahan dan alat

 

Bahan yang  diperlukan  adalah  ikan  hasil  proses penggaraman.  Peralatan yang      diperlukan           unruk           kegoatan                pengeringanikan     adalah     :    wadah penjemuran (para-para ataupun ruangan pengeringan). Ember pencucian, dan kardus pengemasan.

 

 

 

 

 

D.         Prosedur Pengeringan

 

-         angkat ikan dari tempat penggaraman kemudian cuci sampai bersih

 

-         susun  ikan  ditempat  pengeringan  dengan  rapi  supaya  panas  bisa diterima seluruh tubuh ikan secara merata

-         dalam periode waktu tertentu, posisi ikan dibalik terutama untuk ikan berukuran besar

-         ikan yang telah kering kemudian disortir berdasarkan kualitas dan jenis ikannya  kemudian  simpan  ditempat  yang  aman  danseejuk                                 untuk menghindari proses pengurangan mutu selama penyimpanan.

 

 

 

 

E.         Prosedur pengeringan dan pengemasan

 

Setelah selesai proses penggaraman, ikan diangkat dari wadah penggaraman kemudian dicuci sampai bersih. Ikan yang telah dicuci kemudian  dijemur diatas para-para sambil dibolak balik supaya ikan asin kering secara merata.  Proses penjemuran bisa berlangsung 1 – 3 hari tergantung intensitas  cahaya matahari.             Ikan yangtelah kering dikemas rapi dan disimpan ditempat yang sejuk (tidak lembab dan tidak panas )

 

 

F.         Umpan balik

 

Praktikum  penggaraman  ini  dianggap  berhasil  apabila  anda  bisa melakukan  setiap  tahapan  proses             dan  pengeringan  dengan  baik. Apabila  anda dapat melakukan praktikum dan membuat laporannya, maka     anda       berhak untuk   mempelajari   mataeri            pembelajaran selanjutnya.

 

 

 

 

 

G.         Petunjuk penulisan  laporan

 

Laporan     praktikum  harus  dibuat  oleh  setiap  kelompok  sesuai  dengan petunjuk dari instrutur. Laporan praktikum memuat hal-hal sebagai berikut :

1.     Nama anggota kelompok

 

2.     Judul kegiatan praktikum

 

3.     Pendahuluan (Latar belakang dan Tujuan)

 

4.     Pelaksanaan    Kegaiatan    (waktu    dan    tempat    kegaiatn,    bahan    dan peralatan, metode pelaksanaan)

5.     Hasil kegiatan dan pembahasan

 

6.     Kesimpulan

 

7.     Daftar pustaka

 

 

 

 

 

H.         Kriteria Penilaian

 

Penilaian  dilakukan  berdasarkan  proses  pelaksanaan  tahapan  praktikum, mutu hasil praktikum serta kelengkapan laporan.

 

 

 

 

 

TES FORMARIF

 

 

 

A.         Latihan

 

 

 

JAWABLAH PERTANYAAN DIBAWAH INI DENGAN SINGKAT, PADAT DAN JELAS          !

1.        Sebutkan  keunggulan  teknologi  pengeringan  dibandingkan  produk hasil pengawetan lainnya !

2.        Jelaskan mekanisme pengawetan ikan dengan menggunakan teknologi pengeringan !

3.        Sebutkan    tahapan-tahapan yang harus dilaksanakan dalam proses pengeringan !

4.        Sebutkan       faktor-faktor    yang    mempengaruhi    kecepatan    proses pengeringan ikan asin !

5.        Sebutkan dan jelaskan metode pengeringan yang kamu ketahui !

 

6.        Sebutkan keuntunagn dan kerugian pengeringan mekanis !

 

7.        Sebutkan keuntungan dan kerugian pengeringan alamai !

 

8.        Sebutkan    factor-faktor    yang    mempengaruhi    daya    awet    produk pengeringan !

 

 

 

 

 

 

B.         Kunci Jawaban

 

 

 

1.       Teknik pengawetan dengan pengeringan tidak memerlukan keahlian dan peralatan khusus / rumit sehingga mudah dilakukan oleh semua orang  dan  dapat  dilakukan  dimana  saja.                                                                 Selain  itu  produk  hasil

 

 

 

 

 

pengeringan  mempunyai  daya  tahan  lama  dan  tidak  memerlukan perlakuan khusus pada saat penyimpanannya

2.       selama  proses  penjemuran,  kadar  air  didalam  tubuh  ikan  akan menguap karena suhu lingkungan yang tinggi. Makin lama penjemuran maka kadar air  dalam tubuh ikan akan semakin berkurang.  Dengan berkurangnya  kandungan  air,  maka  metabolisme  bakteri  pembusuk dalam tubuh ikan akan terhambat atau terhenti

3.       Tahapan proses pengeringan meliputi :

 

a)     Mengangkat ikan dari wadah/tempat penggaraman

 

b)     Mencuci supaya bersih dari darah ataupun sisa garam yang masih menempel

c)     Menyusun ikan di tempat penjemuran (pengeringan alami) atau di rak ruang pemanasan (pengeringan mekanis)

d)     Ikan yang sudah kering disortir berdasarkan kualitas, jenis dan ukuran

e)     Simpan ikan ditempat yang sejuk dan tertutup rapat supaya tidak terkontaminasi udara luar sehingga bisa bertahan lama

4)       Kecepatan pengeringan dipengaruhi oleh :

 

a)       Kecepatan udara.  Semakin cepat udara maka ikan akan semakin cepat kering

b)       Suhu  udara.  Makin  tinggi  suhu  udara  maka  penguapan akan

 

semakin cepat

 

c)       Kelembaban udara. Makin lembab udara, proses penguapan akan semakin lambat

d)       Ketebalan    daging    ikan.    Makin      tebal    daging    ikan,    proses pengeringan makin berjalan lambat

e)       Arah aliran udara terhadap tubuh ikan. Makin kecil sudut arah udara terhadap posisi tubuh ikan maka ikan semakin cepat kering

 

 

 

 

 

f)    Sifat / kandungan tubuh ikan. Ikan yang berkadar lemak tinggi akan lebih sulit dikeringkan.

5)       Metode pengeringan terdiri 2 macam yaitu

 

a)   Pengeringan alami yaitu pengeringan dengan memanfaatkan sinar matahari dan hembusan udara bebas dalam proses pengeringan

b)  Pengeringan  mekanis  yaitu  pengeringan  menggunakan  elemen pemanas listrik untuk proses pengeringan

6.       Keuntungan dan kerugian pengeringan mekanis :

 

a)   Keuntungan : suhu dan kecepatan proses pengeringan dapat diatur sesuai   keinginan,  tidak  terpengaruh  oleh  cuaca,  sanitasi  dan higiene dapat dikendalikan

b)  Kerugian : memerlukan keterampilan dan peralatan khusus, serta biaya lebih tinggi disbanding pengeringan alami

7.        Keuntungan dan kerugian pengeringan alami :

 

a)    Keuntungan : tidak memerlukan keaklian dan peralatan khusus, serta biayanya lebih murah

b)   Kerugian  :  membutuhkan  lahan  luas,  sangat  tergantung  pada cuaca, dan sanitasi hygiene sulit dikendalikan

 

 

 

 

 

III. EVALUASI

 

 

 

A.         Aspek Kognitif (Pengetahuan)

 

 

 

Siswa yang telah mempelajari modul ini akan dianggap lulus apabila telah bisa  menjawab  pertanyaan-pertanyaan  yang  terdapat  pada  setiap  akhir kegiatan  pembelajaran.  Apabila  siswa  belum  bisa  menjawab  pertanyaan- pertanyaan  tersebut,  maka  diwajibkan  kembali  mengulang  semua  proses pembelajaran yang terdapat didalam modul ini

 

 

 

 

B.         Aspek Afektif (Sikap)

 

 

 

Siswa  yang  telah  mempelajarai  modul  ini,  dapat  melaksanakan  setiap tahapan proses penggaraman dan pengeringan secara berurutan dari mulai persiapan bahan  dan alat, pemilihan bahan baku, penyiangan, pencucian, penggaraman,  pencucian  kembali,  penjemuran  dan  pengemasan  dengan cermat dan hati-hati.

 

 

 

 

C.         Aspek Psikomotor (Keterampilan)

 

 

 

Siswa yang telah mempelajari modul ini, harus dapat melaksanakan berbagai metode  penggaraman  dan  pengeringan  dengan  terampil  sehingga  bisa menghasilkan  produk  yang  berkualitas  baik  dengan  cirri-ciri : daya awet cukup     lama,    produk        tidak      terlalu kering         dan      tidak            terlalu  asin,       dan penampilan menarik sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.

 

 

 

 

 

IV.    PENUTUP

 

 

 

Siswa  yang  telah  mempelajari  modul  ini,  harus  dapat  menjawab pertanyaan      dalam                soal          latihan       serta          dapat    melaksanakan    praktikum penggaraman dan pengeringan  sesuai dengan petunjuk praktikum. Proses penilaian   dilakukan             dengan                melihat      aspek sikap,     pengetahuan serta keterampilan.  Siswa yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam latihan dan  terampil dalam pelaksanaan kegiatan praktikum dianggap telah memenuhi standar  minimal pencapaian sehingga bisa melanjutkan proses pembelajaran ke modul berikutnya.

 

 

 

 

 

DAFTARPUSTAKA

 

 

 

Eddy Afrianto, Ir dan Evi Liviawaty, Ir  –  Pengawetan dan Pengolahan Ikan. PT Kanisius – Yogyakarta 1989

A.S. Murniyati,  Ir dan Sunarman,  Ir   –  Pendinginan Pembekuan dan Pengawetan

 

Ikan.  PT Kanisisus Yogyakarta  2000

 

Abbas Siregar Djarijah, Ir – Ikan Asin. PT Kanisius – Yogyakarta  1995

 

Rahmad Hidayat – Proses Pengolahan Ikan . PT Bina Ilmu – Surabaya  1979

 

R. Moeljanto, Drs – Penggaraman dan Pengeringan Ikan. PT Penebar Swadaya  – Jakarta 1982

R. Moeljanto, Drs  – Pengaraman  dan Pengeringan Ikan. PT. Penebar Swadaya  – Jakarta 1967

 

01/01/2013 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 940 pengikut lainnya.