BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Tinjauan tentang pembelajaran kooperatif meliputi: pengertian pembelajaran kooperatif, tujuan pembelajaran kooperatif, teori-teori yang terkait dengan pembelajaran kooperatif, karakteristik pembelajaran kooperatif, langkah-langkah pembelajaran kooperatif, dan jenis-jenis pembelajaran kooperatif.

2.2.1 Pengertian Pembelajaran Kooperatif

            Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) adalah model pembelajaran yang mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Model pembelajaran ini melibatkan siswa dalam kelompok yang terdiri dari empat atau lima siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda. Pembelajaran kooperatif memiliki suatu struktur tugas dan penghargaan yang berbeda dalam mengupayakan pembelajaran siswa. Struktur tugas itu menghendaki siswa untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil. Struktur penghargaan itu mengakui upaya kolektif dan individual. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan jika mereka berhasil sebagai kelompok.

            Model kooperatif yang digunakan oleh para guru memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Ibrahim et al., 2000):

  1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
  2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
  3. Bilamana mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda. Penghargaan berorientasi kelompok dari pada individu.

Pembelajaran kooperatif dapat berjalan secara efektif, maka perlu ditanamkan pada diri siswa unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut (Ibrahim et al., 2000):

  1. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup semati.
  2. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
  3. Para siswa haruslah beranggapan bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
  4. Para siswa haruslah membagi tugas dan bertanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
  5. Para siswa dikenakan penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompoknya.
  6. Para siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajar.
  7. Para siswa diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

2.2.2 Tujuan Pembelajaran Kooperatif

            Pelaksanaan model cooperative learning membutuhkan partisipasi dan kerja sama dalam kelompok pembelajaran. Cooperative learning dapat meningkatkan cara belajar siswa menuju belajar lebih baik, sikap tolong-menolong dalam beberapa perilaku sosial. Tujuan utama dalam penerapan model belajar mengajar cooperative learning adalah agar siswa dapat belajar secara berkelompok bersama teman-temannya dengan cara saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan pendapat mereka secara berkelompok.

            Pada dasarnya model cooperative learning dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum Ibrahim, et al.(2000), yaitu:

  1. Hasil belajar akademik

Dalam cooperative learning meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan, model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, cooperative learning dapat memberi keuntungan, baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

  1. Penerimaan terhadap perbedaan individu

Tujuan lain model cooperative learning adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

  1. Pengembangan keterampilan sosial

Tujuan penting ketiga cooperative learning adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial penting dimiliki siswa, sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial (Isjoni, 2010).

2.2.5 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

            Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian informasi; seringkali dengan bahan bacaan dari pada secara verbal. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja sama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Fase terakhir pembelajaran kooperatif meliputi kerja kelompok, atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Enam tahap pembelajaran koperatif dapat dirangkum pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Langkah umum model pembelajaran kooperatif

No.

Fase

Tingkah Laku Guru

1

Fase I

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

  • Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

2

Fase II

Menyajikan informasi

 

  • Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

3

Fase III

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar

 

  • Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

4

Fase IV

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

  • Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

5

Fase V

Evaluasi

 

  • Guru mengevaluasi hasil belajar yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

6

Fase VI

Memberikan penghargaan

  • Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Sumber: Ibrahim, et  al (2000)

2.2.6 Jenis-jenis Pembelajaran Kooperatif

            Jenis-jenis pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:

  1. STAD (Student Teams Achievement Divisions)

Strategi ini menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:

1)   Membentuk kelompok beranggotakan 4 siswa secara heterogen.

2)   Guru menyajikan pelajaran.

3)   Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang mengetahui menjelaskan kepada lainnya sampai mengerti.

4)   Guru memberi pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat siswa menjawab pertanyaan tidak boleh saling membantu.

5)   Memberi evaluasi.

6)   Penutup.

  1. Group Investigation (GI)

Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:

1)   Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.

2)   Guru beserta siswa memilih topik-topik tertentu dengan permasalahan yang dapat dikembangkan dari topik-topik tersebut.

3)   Guru dan siswa saling sepakat dengan topic dan permasalah

4)   Guru dan siswa menetukan metode penelitian yang dikembangkan untuk memecahkan masalah.

5)   Siswa dalam kelompok bekerja berdasarkan metode investigasi yang telah mereka rumuskan.

6)   Setiap kelompok mempresentasikan hasil kelompoknya.

7)   Siswa atau kelompok yang lain saling menanggapi.

8)   Memberikan evaluasi.

9)   Penutup

  1. Think Pair and Share (TPS)

Srategi Think-pair-share yang digunakan oleh para guru menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:

1)   Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai.

2)   Siswa diminta untuk berpikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru.

3)   Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya dan mengutarakan pemikiran masing-masing.

4)   Guru memimpin diskusi kecil. Tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya.

5)   Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para siswa.

6)   Guru memberi kesimpulan/penutup.

  1. Jigsaw

Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:

1)   Siswa dibagi menjadi berkelompok.

2)   Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda.

3)   Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian bab atau sub bab yang sama bertemu dengan kelompok baru (Kelompok Ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka.

4)   Setelah selesai diskusi sebagian tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar atau melaporkan hasil diskusinya kepada teman satu tim mereka tentang sub bab yang harus dibahas.

5)   Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusinya.

6)   Guru memberikan evaluasi.

7)   Penutup.

11/21/2011 Posted by | SBM | Tinggalkan komentar

INOVASI MODEL DAN EVALUASI PEMBELAJARAN


Oleh : Lussy Dwiutami Wahyuni

Pengajar, desain pembelajaran, dan peserta didik adalah 3 (tiga) hal yang selalu disebut saat kita ingin berbicara tentang proses pembelajaran. Mengapa demikian ? karena sesungguhnya 3 (tiga) hal tersebutlah yang menjadi motor dalam pergerakan sebuah roda pembelajaran.

Pengajar disini dapat diartikan secara luas, apalagi dalam era internetisasi saat ini. Salah satu dampak yang ditimbulkannya pada dunia pendidikan adalah munculnya metode-metode pembelajaran secara elektronik (elearning atau online learning). Hal tersebut akhirnya berimbas pada cara guru dalam menyampaikan atau membahasakan materi di kelas, dari yang sebelumnya bertutur atau lisan menjadi tulisan. Namun demikian, peran guru atau pengajar di kelas tidak dapat tergantikan karena tidak semua peserta didik mampu belajar dan memahami materi secara mandiri. Untuk mengatasinya adalah dengan cara memblend antara metode klasikal dan elektronik (adanya hybrid instruction).

Menurut Gagne, Briggs, & Wager (dalam Prawiradilaga, 2007) desain pembelajaran membantu proses belajar seseorang, dimana proses belajar itu sendiri memiliki tahapan segera dan jangka panjang. Mereka percaya proses belajar terjadi karena adanya kondisi-kondisi belajar, internal maupun eksternal. Tapi menurut Kemp, Morrison, & Ross (dalam Prawiradilaga, 2007) esensi disain pembelajaran mengacu pada keempat komponen inti, yaitu siswa, tujuan pembelajaran, metode, dan penilaian.

Peserta didik adalah semua individu yang menjadi audiens dalam suatu lingkup pembelajaran. Biasanya penyebutan peserta didik ini mengikuti skup/ruang lingkup dimana pembelajaran dilaksanakan, diantaranya : siswa untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, mahasiswa untuk jenjang pendidikan tinggi, dan peserta pelatihan untuk diklat.

Peserta didik adalah masukan mentah (raw input) dalam sebuah proses pembelajaran yang harus dithreat agar output dan outcomesnya sesuai dengan yang dicanangkan institusi (khususnya) dan dunia pendidikan Indonesia pada umumnya. Agar keluarannya dapat beradaptasi dengan kemajuan zaman, maka sudah sepatutnya materi dan cara pembelajarannyapun disesuaikan dengan dunia nyata juga. Hal tersebut biasa dikenal dengan model pembelajaran inovatif.

Penilaianpun juga sudah melakukan terobosan atau inovasi. Terbukti, saat ini paper and pen bukanlah satu-satunya cara untuk menilai keberhasilan belajar peserta didik. Asesmen portofolio, autentik, dan lain-lain adalah sedikit dari banyak inovasi cara menilai keberhasilan peserta didik yang lebih menitikberatkan pada proses.

  1. A.     Model Pembelajaran Inovatif

Model pembelajaran inovatif lahir dari adanya keresahan terhadap cara belajar klasikal. Dimana peserta didik tidak dapat terlibat aktif dalam hal intelektual maupun fisik. Karena itu, dirancanglah sebuah model pembelajaran yang bisa mengaktifkan seluruh indera dan intelektualitas peserta didiknya.

Yang termasuk ke dalam model pembelajaran inovatif adalah pembelajaran berbasis quantum teaching, pembelajaran berbasis multiple intelegencies, elearning, active learning, integrated learning, cooperative learning, pembelajaran berbasis sumber, konteksual learning, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Selanjutnya yang akan dibahas disini adalah hanya model pembelajaran inovatif berbasis elektronik (elearning) dan contextual learning.

  1. 1.      Model Pembelajaran Berbasis Elektronik (Elearning)
  2. a.      Pengertian E-Learning

E-learning tersusun dari dua bagian, yaitu ‘e’ yang merupakan singkatan dari ‘electronica’ dan ‘learning’ yang berarti ‘pembelajaran’. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika. Jadi dalam pelaksanaannya, e-learning menggunakan jasa audio, video atau perangkat komputer atau kombinasi dari ketiganya. Dengan kata lain e-learning adalah pembelajaran yang dalam pelaksanaannya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, videotape, transmisi satelite atau komputer.(Tafiardi, 2005). Sejalan dengan itu, Onno W. Purbo (dalam Amin, 2004) menjelaskan bahwa istilah “e” dalam e-learning adalah segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet. Internet, satelit, tape audio/video, tv interaktif, dan CD-ROM adalah sebagian dari media elektronik yang digunakan. Pengajaran boleh disampaikan pada waktu yang sama (synchronously) ataupun pada waktu yang berbeda (asynchronously).

Secara lebih singkat  William Horton mengemukakan bahwa (dalam Sembel, 2004) e-learning merupakan kegiatan pembelajaran berbasis web (yang bisa diakses dari internet). Tidak jauh berbeda dengan itu Brown, 2000 dan Feasey, 2001 (dalam Siahaan, 2002) secara sederhana mengatakan bahwa e-learning merupakan kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (internet, LAN, WAN) sebagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitas yang didukung oleh berbagai bentuk layanan belajar lainnya.

Selain itu, ada yang menjabarkan pengertian e-learning lebih luas lagi. Sebenarnya materi  e-learning tidak harus didistribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal maupun internet. Interaksi dengan menggunakan internetpun bisa dijalankan secara on-line dan real-time  ataupun secara  off-line atau archieved. Distribusi secara off-line menggunakan media CD/DVD pun termasuk pola e-learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar dikembangkan sesuai kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD, selanjutnya pembelajar dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat dimana dia berada (Lukmana, 2006).

b.   Karakteristik E-Learning

Karakteristik e-learning ini antara lain adalah:

1)      Memanfaatkan jasa teknologi elektronik. Guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah tanpa dibatasi oleh hal-hal yang bersifat protokoler.

2)      Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer networks)

3)      Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya

4)      Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.

c.   Syarat-Syarat Penggunaan E-Learning

Menurut Newsletter of ODLQC, 2001 (dalam Siahaan) syarat-syarat kegiatan pembelajaran elektronik (e-learning) adalah :

1)      kegiatan pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan dalam hal ini internet.

2)      tersedianya dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta belajar, misalnya CD-ROM atau bahan cetak

3)      tersedianya dukungan layanan tutor yang dapat membantu peserta belajar apabila mengalami kesulitan

4)      adanya lembaga yang menyelenggarakan/mengelola kegiatan e-learning

5)      adanya sikap positif pendidik dan tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet

6)      adanya rancangan sistem pembelajaran yang dapat dipelajari/diketahui oleh setiap peserta belajar

7)      adanya sistem evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta belajar

8)      adanya mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara

Berbeda dengan yang telah diungkapkan di atas, dalam Sembel, 2004, lebih menyoroti dari tenaga-tenaga ahli yang perlu ada untuk “menghidupkan” sebuah e-learning adalah :

1)      Subject Matter Expert (SME), merupakan nara sumber dari pembelajaran yang disampaikan.

2)      Instructional Designer (ID), bertugas untuk secara sistematis mendesain materi dari SME menjadi materi e-learning dengan memasukkan metode pengajaran agar materi menjadi lebih interaktif, lebih mudah, dan lebih menarik untuk dipelajari.

3)      Graphic Designer (GD), bertugas untuk mengubah materi teks menjadi bentuk grafis dengan gambar, warna, dan layout yang enak dipandang, efektif, dan menarik untuk dipelajari.

4)      Learning Management System (LMS), bertugas mengelola sistem di website yang mengatur lalu lintas interaksi antara instruktur dengan siswa, antarsiswa dengan siswa lainnya, serta hal lain yang berhubungan dengan pembelajaran, seperti tugas, nilai, dan peringkat ketercapaian belajar siswa.

Ahli-ahli pendidikan dan ahli internet menyarankan beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum seseorang memilih internet untuk kegiatan pembelajaran (Hartanto dan Purbo dalam Tafiardi, 2002) antara lain:

1)      Analisis Kebutuhan (Need Analysis). Dalam tahapan awal, satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah apakah memang memerlukan e-learning. Pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan perkiraan atau dijawab berdasarkan atas saran orang lain. Setiap lembaga menentukan teknologi pembelajaran sendiri yang berbeda satu sama lain. Untuk itu perlu diadakan analisis kebutuhan atau need analysis yang mencakup studi kelayakan baik secara teknis, ekonomis, maupun sosial.

2)      Rancangan Instruksional yang berisi tentang isi pelajaran, topik, satuan kredit, bahan ajar/kurikulum.

3)      Evaluasi yaitu sebelum program dimulai, ada baiknya dicobakan dengan mengambil beberapa sampel orang yang dimintai tolong untuk ikut mengevaluasi.

d.   Fungsi E-Learning

Setidaknya ada 3 (tiga) fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction), yaitu (dalam Siahaan, 2002) :

1)   suplemen (tambahan)

Dikatakan berfungsi sebagai suplemen, apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.

2)   komplemen (pelengkap)

Dikatakan berfungsi sebagai komplemen, apabila materi e-learning diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas (Lewis, 2002). Sebagai komplemen berarti materi e-learning diprogramkan untuk menjadi materi enrichment (pengayaan) atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.

Sebagai enrichment, apabila peserta didik dapat dengan cepat menguasai/memahami materi pelajaran yang disampaikan guru secara tatap muka diberikan kesempatan untuk mengakses materi e-learning yang memang secara khusus dikembangkan untuk mereka. Tujuannya agar semakin memantapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran yang disajikan guru di kelas.

Sebagai remedial, apabila peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan guru secara tatap muka di kelas. Tujuannya agar peserta didik semakin lebih mudah memahami materi pelajaran yang disajikan guru di kelas.

3)   substitusi (pengganti)

Tujuan dari e-learning sebagai pengganti kelas konvensional adalah agar peserta didik dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahan sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari. Ada 3 (tiga) alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat diikuti peserta didik : (1) sepenuhnya secara tatap muka (konvensional), (2) sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet, atau bahkan (3) sepenuhnya melalui internet.

e.   Manfaat E-Learning

E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan/materi pelajaran. Peserta didik dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran atau kebutuhan pengembangan diri peserta didik. Selain itu, guru dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik di tempat tertentu di dalam web untuk di akses oleh peserta didik. Sesuai dengan kebutuhan, guru dapat pula memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengakses bahan belajar tertentu maupun soal-soal ujian yang hanya dapat diakses oleh peserta didik sekali saja dan dalam rentangan waktu tertentu pula (Website Kudos, 2002, dalam Siahaan).

Secara lebih rinci, manfaat e-learning dapat dilihat dari 2 (dua) sudut, yaitu dari sudut peserta didik dan guru :

1)   sudut peserta didik

Dengan kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi. Menurut Brown, 2000 (dalam Siahaan) ini dapat mengatasi siswa yang (1) belajar di sekolah-sekolah kecil di daerah-daerah miskin untuk mengikuti mata pelajaran tertentu yang tidak dapat diberikan oleh sekolahnya, (2) mengikuti program pendidikan keluarga di rumah (home schoolers) untuk mempelajari materi yang tidak dapat diajarkan oleh orang tuanya, seperti bahasa asing dan ketrampilan di bidang komputer, (3) merasa phobia dengan sekolah atau peserta didik yang di rawat di rumah sakit maupun di rumah, yang putus sekolah tapi berminat melanjutkan pendidikannya, maupun peserta didik yang berada di berbagai daerah atau bahkan yang berada di luar negeri, dan (4) tidak tertampung di sekolah konvensional untuk mendapatkan pendidikan.

2)   guru

Menurut Soekartawi (dalam Siahaan) beberapa manfaat yang diperoleh guru adalah bahwa guru dapat : (1) lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi, (2) mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki realtif lebih banyak, (3) mengontrol kegiatan belajar peserta didik. Bahkan guru juga dapat mengetahui kapan peserta didiknya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang, (4) mengecek apakah peserta didik telah mengerjakan soal-soal latihan setelah mempelajari topik tertentu, dan            (5) memeriksa jawaban peserta didik dan memberitahukan hasilnya kepada peserta didik.

Dari berbagai pengalaman dan juga dari berbagai informasi yang tersedia di literatur, memberikan penjelasan tentang manfaat penggunaan internet, khususnya dalam pendidikan terbuka dan jarak jauh (Soekartawi dalam Tafiardi, 2002 : 94-95), antara lain dapat disebutkan sbb:

a)      Tersedianya fasilitas e-moderating. Guru dan siswa dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara regular atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu.

b)      Guru dan siswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadwal melalui internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari.

c)      Siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan di mana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer.

d)      Bila siswamemerlukan tambahan informasi berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di internet secara lebih mudah.

e)      Baik guru maupun siswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.

f)       Berubahnya peran siswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif

g)      Relatif lebih efisien. Misalnya bagi mereka yang tinggal jauh dari perguruan tinggi atau sekolah konvensional, bagi mereka yang sibuk bekerja, bagi mereka yang bertugas di kapal, di luar negeri, dsb-nya.

f.    Kelebihan E-Learning

E-learning dapat dengan cepat diterima dan kemudian diadopsi adalah karena memiliki kelebihan/keunggulan sebagai berikut (Effendi, 2005)

1)      Pengurangan biaya

2)      Fleksibilitas. Dapat belajar kapan dan dimana saja, selama terhubung dengan internet.

3)      Personalisasi. Siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan belajar mereka.

4)      Standarisasi. Dengan e-learning mengatasi adanya perbedaan yang berasal dari guru, seperti : cara mengajarnya, materi dan penguasaan materi yang berbeda, sehingga memberikan standar kualitas yang lebih konsisten.

5)      Efektivitas. Suatu studi oleh J.D Fletcher menunjukkan bahwa tingkat retensi dan aplikasi dari pelajaran melalui metode e-learning meningkat sebanyak 25 % dibandingkan pelatihan yang menggunakan cara tradisional

6)      Kecepatan. Kecepatan distribusi materi pelajaran akan meningkat, karena pelajaran tersebut dapat dengan cepat disampaikan melalui internet.

g.   Keterbatasan E-Learning

Terakhir yang harus diperhatikan masalah yang sering dihadapi yaitu:

1)      Masalah akses untuk bisa melaksanakan e-learning seperti ketersediaan jaringan internet, listrik, telepon dan infrastruktur yang lain.

2)      Masalah ketersediaan software (piranti lunak). Bagaimana mengusahakan piranti lunak yang tidak mahal.

3)      Masalah dampaknya terhadap kurikulum yang ada.

4)      Masalah skill and knowledge

Walaupun demikian pemanfaatan internet untuk pembelajaran atau  e-learning juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan antara lain:

1)   Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar.

2)   Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis

3)   Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan bukan pendidikan.

4)   Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut menguasai teknik pembelajaran yang menggunakan internet.

5)   Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar tinggi cenderung gagal

6)   Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer).

7)   Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki keterampilan bidang internet dan kurangnya penguasaan bahasa komputer.

h.   Kendala-Kendala

Kendala atau hambatan dalam penyelenggaraan e-learning, yaitu (Effendi, 2005) :

1)   Investasi. Walaupun e-learning pada akhirnya dapat menghemat biaya pendidikan, akan tetapi memerlukan investasi yang sangat besar pada permulaannya.

2)   Budaya. Pemanfaatan e-learning membutuhkan budaya belajar mandiri dan kebiasaan untuk belajar atau mengikuti pembelajaran melalui komputer.

3)   Teknologi dan infrastruktur. E-learning membutuhkan perangkat komputer, jaringan handal, dan teknologi yang tepat.

4)   Desain materi. Penyampaian materi melalui e-learning perlu dikemas dalam bentuk yang learner-centric. Saat ini masih sangat sedikit instructional designer yang berpengalaman dalam membuat suatu paket pelajaran e-learning yang memadai.

  1. 2.      Model Pembelajaran Berbasis Konteks (Contextual and Teaching Learning (CTL))

Fenomena pembelajaran yang berkembang di lapangan adalah masih banyak pengajar yang mengajar hanya sekedar menyelesaikan materi tanpa memikirkan apakah yang diberikannya itu bermakna ataupun ada keterkaitan dengan dunia nyata.  Yang mengakibatkan fenomena ini terjadi, salah satunya adalah karena banyaknya materi yang harus diselesaikan tetapi waktu yang tersedia kurang. Akibatnya, materi yang tersampaikan tidak ada yang terinternalisasi dalam diri peserta didik, kalau boleh dikatakan secara ekstrim adalah lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas apapun di kepala.

Beranjak dari fenomena itulah pembelajaran berbasis konteks atau CTL muncul. Intinya CTL adalah pembelajaran yang menggabungkan isi/materi dengan pengalaman harian individu, kehidupan di dalam masyarakat dan alam pekerjaan. Diharapkan dengan pembelajaran secara konteks, peserta didik dapat memahami materi secara konkrit. Dikatakan konkrit karena tangan dan “kepala” mereka ikut terlibat secara aktif dalam mempelajari dan memahami materi yang disampaikan. Hal ini biasa disebut dengan hands on and minds on activity.

Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual. Suatu pembelajaran dikatakan CTL, jika didalamnya terdapat komponen-komponen sebagai berikut (dikdasmen) :

  1. Konstruktivisme, dalam hal ini peserta didik dikondisikan agar mampu membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal yang telah mereka miliki. Jadi pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan.
  2. Inquiry, disini peserta didik belajar mencari (melalui pengamatan) dan menemukan sendiri hal-hal yang harus diketahui dari sebuah topik yang disodorkan kehadapan mereka. Disini peserta didik belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
  3. Questioning (Bertanya), dengan bertanya pengajar mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa terhadap topik/materi. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry.
  4. Learning community (masyarakat belajar), disini peserta didik berkumpul dengan peergroupnya untuk saling berbagi ide, curah pendapat, dan tukar pengalaman. Masyarakat belajar sangat membantu sekali untuk mengokohkan pemahaman mereka terhadap pengamatan yang telah dilakukan sebelumnya.
  5. Modeling (pemodelan), tujuan adanya pemodelan adalah agar peserta didik mempunyai gambaran nyata tentang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Yang memberikan pemodelan ini biasanya adalah pengajarnya.
  6. Reflection (refleksi), pada tahap ini peserta didik diminta untuk mencatat setiap kejadian yang telah mereka lalui, memikirkannya, dan merefleksikannya. Semua hal itu digunakan peserta didik untuk mengevaluasi pembelajaran yang telah mereka laksanakan.
  7. Authentic assessment (penilaian yang sebenarnya), yaitu penilaian yang dilakukan tidak terbatas secara kognitif (melalui paper and pen test) saja, tapi lebih holistic, yaitu penilaian proses dan produknya. Apakah sudah relevan dan kontekstual ?

Segala hal yang telah dijabarkan di atas bila disintesiskan akan menghasilkan karakteristik CTL, sebagai berikut :

  1. kerjasama
  2. saling menunjang
  3. menyenangkan, tidak membosankan
  4. belajar dengan bergairah
  5. pembelajaran terintegrasi
  6. menggunakan berbagai sumber
  7. siswa aktif
  8. sharing dengan teman
  9. siswa kritis guru kreatif
  10. dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain
  11. laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan lain-lain

Dari 2 (dua) model pembelajaran yang telah dijabarkan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa untuk membelajarkan peserta didik dengan sesungguhnya belajar sangatlah sulit. Dibutuhkan pemikiran kritis, kreatif, dan mendalam untuk mewujudkannya.

  1. B.      Evaluasi Pembelajaran

Tidak lazim dan sayang rasanya bila model pembelajaran yang diberikan sangat inovatif, tapi cara penilaiannya masih biasa-biasa saja. Karena tes tradisional cenderung hanya mengukur kemampuan kogitif peserta didik saja dan terkadang hasil tes tersebut tidak murni (bila peserta didik menyontek). Padahal, dalam pembelajaran inovatif peserta didik dituntut untuk lebih berproses secara aktif dalam pembelajaran.

Evaluasi pembelajaran merupakan usaha-usaha terarah, terencana, dan sistematis untuk meneliti proses pembelajaran. Objek evaluasinya antara lain tujuan pembelajaran, perencanaan dan pengelolaan pembelajaran, serta penyelenggaraan evaluasi hasil belajar.

Evaluasi dikatakan penting karena mempunyai tujuan utama sebagai berikut (Gronlund, 2003) :

  1. Feedback untuk peserta didik, dengan adanya evaluasi yang dilakukan secara berkala peserta didik menjadi tahu kelebihan dan keterbatasannya dalam memahami materi. Sebisa mungkin, feedback yang diberikan kepada peserta didik harus serinci mungkin, agar mereka dapat menilai apakah hasil yang mereka dapat memang karena kemampuan/pemahamannya atau hanya sekedar suatu kebetulan.
  2. Feedback untuk guru, fungsi evaluasi terpenting bagi pengajar adalah untuk menilai seberapa efektifkah pembelajaran yang telah ia laksanakan ? Apakah peserta didik mampu menyerapnya ?
  3. Informasi untuk orang tua, hasil dari tes yang telah dilaksanakan peserta didik menghasilkan skor yang dapat menggambarkan kemampuan mereka terhadap materi. Kumpulan-kumpulan angka tersebut dapat menginformasikan orang tua bagaimanakah kemampuan anaknya di sekolah.
  4. Informasi untuk seleksi, biasanya skor yang didapat dari setiap evaluasi adalah untuk membuat keputusan/seleksi apakah peserta didik tersebut perlu remedial materi sampai dengan keputusan apakah peserta didik perlu tinggal kelas atau tidak ?
  5. Informasi untuk akuntabilitas. Biasanya nilai/skor yang didapat siswa dapat digunakan pula untuk mengevaluasi guru, performansi sekolah oleh pihak-pihak terkait.
  6. Evaluasi sebagai insentif, maksudnya evaluasi dapat berfungsi sebagai hadiah atas segala usaha yang telah dilakukan oleh peserta didik.

Telah disampaikan sebelumnya bahwa model pembelajaran yang inovatif harus dinilai secara inovatif pula. Penilaian tersebut biasa dikenal dengan asesmen. Alasan mengapa pengajar menggunakan asesmen, karena asesmen dapat :

  1. Mendiagnosis kelebihan dan kelemahan peserta didik
  2. Memonitor kemajuan belajar peserta didik
  3. Memberikan grade pada peserta didik
  4. Memberikan batasan bagi efektivitas pengajaran
  5. Mengevaluasi guru
  6. Meningkatkan kualitas pengajaran

Berhubung penilaian/asesmen banyak ragamnya, maka penjabarannya dibatasi hanya pada asesmen autentik dan asesmen portofolio.

  1. 1.      Asesmen Autentik

Adalah asesmen hasil belajar yang menuntut peserta didiknya dapat menunjukkan hasil belajar berupa kemampuan dalam kehidupan nyata, bukan sesuatu yang dibuat-buat atau yang hanya diperoleh di kelas, tetapi tidak dikenal dalam  kehidupan sehari-hari. Jadi, dalam hal ini peserta didik bukan memilih atau menjawab jawaban dari sederet kemungkinan jawaban yang sudah tersedia. Asesmen autentik sering disamakan dengan asesmen kinerja dan sebaliknya.

Asesmen kinerja setidak-tidaknya harus memiliki 3 (tiga) cirri utama, yaitu (Zainul, 2005) :

  1. Multi kriteria, kinerja peserta didik harus dinilai dengan penilaian lebih dari satu kriteria. Misalkan kemampuan peserta didik dalam berbahasa Inggris harus memiliki dasar penilaian dari aspek aksen, sintaksis, dan kosa kata.
  2. Standar kualitas yang spesifik (dalam artian tidak ambigu dan jelas), masing-masing kriteria kinerja peserta didik dapat dinilai secara jelas dan eksplisit dalam memajukan evaluasi kualitas kinerja peserta didik.
  3. Adanya judgement penilaian, asesmen kinerja membutuhkan penilaian yang bersifat manusiawi untuk menilai bagaimana kinerja siswa dapat diterima secara nyata (real).

Berikut  contoh-contoh  tugas yang termasuk dalam asesmen autentik :

  1. Computer adaptive testing (sepanjang tidak berbentuk objektif), yang menuntut peserta didik untuk mengekspresikan diri sehingga dapat menunjukkan tingkat kemampuan yang nyata
  2. Tes pilihan ganda yang diperluas
  3. Extended response atau open ended question (asal tidak hanya menuntut adanya satu jawaban “benar” yang terpola.
  4. Group performance assessment, yaitu tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik secara berkelompok
  5. Individual performance assessment, yaitu tugas yang harus diselesaikan secara mandiri
  6. Interview, yaitu siswa harus merespon pertanyaan lisan dari pengajar
  7. Nontraditional test items, yaitu butir soal yang tidak bersifat objektif tetapi merupakan suatu perangkat respon yang mengharuskan peserta didik memilih berdasarkan kriteria yang ditetapkan
  8. Observasi, meminta peserta didik melakukan suatu tugas. Selama melaksanakan peserta didik tersebut peserta didik diobservasi baik secara terbuka maupun tertutup.
  9. Portofolio, suatu kumpulan hasil karya peserta didik yang disusun berdasarkan urutan waktu maupun urutan kategori kegiatan.
  10. Project, exhibition, or demonstration, yaitu penyelesaian tugas-tugas yang kompleks dalam suatu jangka waktu tertentu yang dapat memperlihatkan penguasaan kemampuan sampai pada tingkatan tertentu pula
  11. Short answer, open ended menuntut jawaban singkat dari siswa, tetapi bukan memilih jawaban dari sederet kemungkinan jawaban yang disediakan.

Asesmen autentik/kinerja memiliki dua bentuk utama yaitu tugas (task) dan skala penilaian (rubric). Tugas-tugas kinerja harus memperlihatkan kemampuan siswa menangani hal-hal yang kompleks melalui penerapan pengetahuan dan keterampilan tentang sesuatu dalam bentuk yang paling nyata. Sedangkan, rubric merupakan panduan untuk member skor yang jelas dan disepakati oleh peserta didik dan pengajar. Dengan bentuk asesmen autentik/kinerja ini diharapkan peserta didik dan pengajar ada upaya memperbaiki proses pembelajaran.

  1. 2.      Asesmen Portofolio

Asesmen portofolio adalah asesmen yang terdiri dari kumpulan hasil karya peserta didik (bisa berasal dari asesmen autentik) yang disusun secara sistematik, sehingga menunjukkan dan membuktikan upaya, hasil, proses, dan kemajuan (progress) belajar yang dilakukan peserta didik dalam jangka waktu tertentu.

Portofolio bisa bertindak hanya sebagai koleksi/kumpulan hasil karya peserta didik, tetapi bisa juga bertindak sebagai asesmen. Hal yang harus diperhatikan, jika kita ingin menggunakan portofolio sebagai instrument asesmen adalah :

  1. Hendaknya memiliki kriteria penilaian yang jelas
  2. Informasi atau hasil karya yang didokumentasikan dapat berasal dari semua orang yang mengetahui peserta didik secara baik, seperti : guru, rekan sesama siswa, guru mata pelajaran lain, dan sebagainya
  3. Dapat terdiri dari berbagai bentuk informasi, seperti : karangan, hasil lukisan, skor tes, foto hasil karya, dll
  4. Kualitas portofolio harus senantiasa ditingkatkan dari waktu ke waktu berdasarkan hasil karya yang memenuhi kriteria
  5. Setiap mata pelajaran mungkin mempunyai bentuk portofolio yang sangat berbeda dengan mata pelajaran lainnya
  6. Harus terbuka bagi orang-orang yang secar langsung berkepentingan dengan hasil karya, seperti : guru, sekolah, orang tua siswa, dan siswa itu sendiri.

Setiap portofolio yang digunakan sebagai instrumen asesmen hasil belajar, secara langsung dapat dijadikan landasan pengembangan kegiatan pembelajaran berikutnya. Dengan demikian, portofolio dapat dijadikan sebagai dasar perencanaan bagi pengajar maupun peserta didik.

Pada dasarnya asesmen portofolio memiliki 3 (tiga) prinsip, yaitu koleksi, seleksi, dan refleksi. Dalam implementasinya ketiga prinsip tersebut memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.

Langkah-langkah yang harus dilalui dalam mengimplementasikan asesmen portofolio, yaitu :

  1. Tahap persiapan

1)      Mengidentifikasi atau menetapkan tujuan pembelajaran yang akan diases dengan asesmen portofolio

2)      Menjelaskan kepada peserta didik bahwa akan dilaksanakan asesmen portofolio untuk mengases tujuan tertentu atau keseluruhan tujuan pembelajaran

3)      Menjelaskan bagian mana dan seberapa banyak kinerja dan hasil karya yang secara minimal harus tercantum atau disertakan dalam portofolio, dalam bentuk apa, dan bagaimana kinerja atau hasil kerja itu akan diases

4)      Menjelaskan bagaimana hasil karya tersebut harus disajikan

  1. Tahap pelaksanaan

1)      Guru mendorong dan memotivasi peserta didik

2)      Guru melakukan pertemuan secara rutin dengan peserta didik guna mendiskusikan proses pembelajaran yang akan menghasilkan karya peserta didik, sehingga setiap langkah peserta didik dapat memperbaiki kelemahan yang mungkin terjadi

3)      Memberikan umpan balik secara berkesinambungan kepada peserta didik

4)      Memamerkan keseluruhan hasil karya yang disimpan dalam portofolio bersama-sama dengan karya keseluruhan peserta didik yang menjadi peserta mata pelajaran tersebut

  1. Tahap penilaian

1)      Menegakkan kriteria penilaian yang akan dilakukan bersama-sama atau partisipasi peserta didik

2)      Kriteria yang disepakati diterapkan secara konsisten, baik oleh pengajar atau peserta didik

3)       Arti terpenting dari tahap penilaian ini adalah self-assessment yang dilakukan oleh peserta didik, sehingga peserta didik menghayati dengan baik kekuatan dan kelemahannya

4)      Hasil penilaian dijadikan tujuan baru bagi proses pembelajaran berikutnya.

  1. C.      Kesimpulan

Model pembelajaran dan evaluasi saling terkait satu sama lain. Model pembelajaran yang dilaksanakan akan semakin baik, bila dalam pengimplementasiannya selalu memperhatikan hasil evaluasi yang telah dilakukan. Jadi bisa dikatakan, evaluasi hadir salah satunya untuk menilai keberhasilan model pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Model pembelajaran yang baik adalah yang dapat mengakomodir dan mengaktifkan peserta didik (yang heterogen), baik dari segi fisik maupun intelektualitasnya. Begitu juga dengan cara penilaiannya, diharapkan menggunakan instrumen yang tidak hanya mengukur potensi kognitifnya saja.

  1. D.     Daftar Pustaka

Anonymous. Pengenalan pembelajaran secara kontekstual. http://myschoolnet.ppk.kpm.my/bhn_pnp/modul_psv/09kontekstual.pdf. Diakses pada   23 Februari 2008 pada 12.57.

__________. Pembelajaran secara kontekstual. http://219.94.96.174/sainsmath2002/pedagogi%20ubahsuai/Kontekstual.pdf . Diakses 23 Februari 2008 pada 1.18 pm.

__________. Kaidah pembelajaran kontekstual. http://www.tutor.com.my/lada/tourism/edu-kontekstual.htm. Diakses  23 Februari 2008 pada  1.03 pm.

Dikdasmen. Pengembangan model pembelajaran yang efektif. http:// www.dikdasmen.org/files/KTSP/SMP/PENGEMMODEL%20PEMBEL%20YG%20EFEKTIF-SMP.doc. Diakses   23 Februari 2008 pada 1.00 pm.

Effendi, Empy, “E-Learning : Pelatihan di era informasi”, http://www.freshmindsgroup.com/resources/index.php?option=com_content&task=view/&i

Lukmana, Lukas, ”Dukungan industri software dalam implementasi                e-Learning di dunia pendidikan”,

http://www.wahanakom.com/infotek/elearning.htm, dikunjungi 10 Juli 2006.

Prawiradilaga, Dewi Salma. Prinsip Disain Pembelajaran : Instructional Design Principles. Jakarta : Kencana, 2007.

Siahaan, Sudirman, “E-Learning (pembelajaran elektronik) sebagai salah Satu Alternatif Kegiatan Pembelajaran”, http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/42/sudirman.htm, dikunjungi 16 Februari 2006.

______, “Penelitian penjajagan tentang kemungkinan pemanfaatan internet untuk pembelajaran di SLTA di wilayah jakarta dan sekitarnya”, http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/39/Penelitian%20Penjajagan%20tentang.htm, dikunjungi 16 Februari 2006.

Tafiardi, “Meningkatkan mutu pendidikan melalui e-learning”, Jurnal Pendidikan Penabur – No.04/ Th.IV/ Juli 2005,

http://www1.bpkpenabur.or.id/jurnal/04/085-097.pdf, dikunjungi 10 Juli 2006

Zainul, Asmawi & Agus Mulyana. Tes dan Asesmen di SD. Jakarta : Universitas Terbuka, 2005.

07/23/2011 Posted by | SBM | 2 Komentar

Contoh Pembelajaran PAKEM Biologi

Mata Pelajaran : Biologi
Standart Kopetensi :Memahami Manfaat Keanekaragaman Hayati
Kompetensi Dasar :Mengkomunikasikan keanekaragaman hayati Indonesia,dan usaha pelestarian serta pemanfaatan Sumber Daya Alam
Kelas : X Semester 2
Waktu : 2X45 menit
Indikator :1. Dengan berdiskusi kelompok siswa dapat menjelaskan keragaman hayati, usaha pelestarian serta pemanfatan sumber daya alam suatu kawasan di Indonesia
2. Dengan menunjukan pada peta, menuliskan pada kertas karton lalu mempresentasikanya siswa dapat menunjukan kenekaragaman hayati yang ada di kawasan-kawasan di Indonesia berdasarkan biografinya
3. Dengan adanya presentasi pada masing-masing kelompok siswa dapat membedakan keanekaragaman hayati pada sutu kawasan dengan kawasan lain di Indonesia.
4. Dengan melihat film siswa dapat menentukan keanekaragaman hayati, usaha pelestarian serta pemanfaatan sumber daya alam pada berbagai kawasn di Indonesai

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Ø Kegitan Awal
1. Ketua kelas memimpin doa secara bersama-sama
2. Guru mengecek atau mengabsen kehadiran siswa
3. Guru memberikan penjelasan tentang materi yang akan di pelajari pada pertemuan kali ini
4. Guru memberikan rifresing atau penyegaran serta agar siswa berkonsentrasi dalam menerima pelajaran dengan memberikan sedikit permainan yaitu dengen cara ketika guru bilang ”berdiri” maka siswa duduk dan sebaliknya Guru berkat ” duduk ” maka siswa berdiri dan seterusnya.
5. Guru memberikan pertanyaan tentang keanekaragaman hayati untuk mengetahui seberapa besar penetahuan siswa tentang keaneragaman hayati.
Ø Kegiatan Inti
1. Guru membagi siswa menjadi 5 Kelompok, tiap kelompok diberikan satu wilayah di Indonesia yaitu: Kelompok 1 Pulau Sumatra, Kelompok 2 Pulau Jawa, Kelompok 3 Pulau Kalimantan, Kelompok 4 Papua dan Kelopok 5 Pulau Nusa Tenggara.
2. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk mempelajari tentang Keanekaragamn Hayati berdasarkan Penyebaranya (Biografinya) baik pada Persebaran Hewan maupun Persebaran Tumbuhan, berdasarkan Ekosistem Perairan Baik pada Ekosistem air tawar maupun ekosistem air laut serta usaha dan pemanfaatan sumber daya alamnya,( selama 20 menit).
3. Guru meminta hasil dari diskusi ditulis pada selembar kertas kertas karton yang telah dipersiapkan, serta menunjukan lokasi wilyahnya pada peta Indonesia.
4. Guru meminta perwakilan pada masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok, kemudian kelompok yang lain boleh bertanya, atau memberikan tambahan.
5. Setelah semua kelompok selesai presentasi, guru memberikan sedikit penyegaran dengan mengajak siswa bermain sebentar seperti pada awal.
6. Guru meminta siswa kembali duduk pada tempat duduk masing-masing, kemudian memutarkan film tentang keanekaragaman hayati di indonesia.

Ø Kegiatan Akhir
1. Guru memberikan pertanyaan tentang keaneka ragaman hayati apa saja,serta usaha untuk melestarikanya dan pemanfatan sumber daya alam yag terdapat pada film
2. Guru memberikan penguatan siswa tentang materi keanekaragaman hayati,usaha pelestarian serta pemanfatan sumber daya alam.
3. Guru menyimpulkan konsep dari pelajaran yang baru diperoleh.
4. Guru melakukan evaluasi untuk mengetahui kemampuan siswa menguasai meteri pembelajaran yang baru saja diperoleh.
5. Guru menyampaikan Pesan Moral yang terkait dengan pelajaran kepada siswa
6. Guru memberikan tugas untuk mempelajari tentang keanekaragam hayati khas indonesia yang akan di bahas pda pertemuan mendatang.
7. Guru meminta ketua kelas untuk memimpin doa secara bersama-sama

07/06/2009 Posted by | SBM | Tinggalkan komentar

Contoh Langkah Pembelajaran pakem mata pelajaran BIOLOGI

Mata Pelajaran : Biologi
Kelas/Semester : X/I
Standar Kompetensi : Memahami hakikat Biologi sebagai ilmu
Kompetensi Dasar : Mengidentifikasi Ruang Lingkup Biologi
Alokasi Waktu : 2×45 Menit (1x pertemuan)
Indikator : – Dengan teka-teki siswa diharapkan mampu Mengidentifikasi macam – macam ruang lingkup Biologi dari lingkungan
Dengan diskusi siswa diharapkan mampu menyebutkan macam-macam ruang lingkup Biologi
Dengan diskusi dan presentasi siswa diharapkan mampu menjelaskan pengertian dan bagian – bagian dari ruang lingkup Biologi.
Tujuan Pembelajaran : – Siswa mampu menyebutkan ruang lingkup biologi dari lingkungan
– Siswa mampu menjelaskan manfaat ruang lingkup yang ada pada biologi.
– Siswa mampu menjelaskan bagian-bagian penting dari ruang lingkup Biologi.
Materi Ajar : Identifikasi Ruang Lingkup Biologi

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
a.Kegiatan Awal (15 Menit)
Guru menyampaikan salam kemudian mengajak siswa berdoa dengan dipimpin oleh ketua kelas.
Guru mengecek kehadiran siswa
Guru menyampaikan tema dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Guru memusatkan pikiran siswa dengan mengajukan beberapa teka-teki diantaranya: – aku cukup beruntung di dunia. Aku merupakan cabang dari biologi yang ditugaskan untuk mempelajari bagian-bagian dari tumbuhan seperti ciri-ciri, kehidupan, siapakah aku?
– aku merupakan makhluk hidup yang berukuran sangat kecil, aku punya banyak manfaat tapi aku juga punya banyak kerugian. Cabang ilmu biologi apa sih yang mempelajari aku?
– Setelah siswa selesai menjawab teka-teki yang diajukan oleh guru menggali lagi pengetahuan awal siswa dengan mengkaitkannya dengan materi pelajaran biologi apa sajakah yang didapatkan oleh siswa selama smp.
b. Kegiatan Inti (60 Menit)
– Guru membagi siswa kedalam 5 kelompok sesuai dengan ruang lingkup biologi yang akan dipelajari yaitu botani, zoologi, mikrobiologi, sitologi,dan histology dengan cara menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa soal dan bagian lainnya berupa jawaban yang dibuat berdasarkan pembagian dari ruang lingkup biologi.
– Setiap siswa yang mendapat satu buah kartu akan memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang dan kemudian setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban). Selain itu juga para siswa dalam hal ini dituntut untuk mengenali dirinya termasuk dalam bagian ruang lingkup biologi yang mana.
– Setelah menemukan pasangannya para siswa dituntut untuk bergabung dalam kelompok besar sesuai denga ruang lingkup biologi yang sesuai dnegan kartu yang diberikan oleh guru.
– Setelah bergabung dalam kelompok besar. Siswa diharuskan melakukan diskusi dan membuat kesimpulan tentang ruang lingkup biologi yang harus dia bahas seperti kelompok yang mendapat tema botani harus membahas tentang ruang lingkup botani yang meliputi tumbuhan.
– Setelah selesai melakukan diskusi dan membuat kesimpulan. Hasil kesimpulan tersebut diletakkan di depan kelas agar bias dilihat oleh semua siswa.
– Setelah langkah tersebut tiap kelompok menunjuk satu orang siswa sebagai tutor untuk menjelaskan ruang lingkup biologi yang menjadi pembahasannya.
– Guru Memberikan kesempatan siswa/peserta tiap kelompok untuk menjelaskan kepada peserta lainnya baik melalui bagan/peta konsep maupun yang lainnya.
– Setelah kegiataan diatas selesai guru menyegarkan pikiran siswa dengan mengajak siswa melihat film yang berhubungan dengan Biologi dan ruang lingkupnya.
Kegiatan Penutup (15 Menit)
Guru menentun siswa untuk bersama-sama membuat kesimpulan
Guru memberikan penguatan terhadap kesimpulan yang telah diberikan oleh siswa.
Guru melakukan penilaian kepada siswa dengan cara memberi tes atau kuis seacara kelompok dan individu.
Penetapan tim yang dianggap paling baik dalam pelajaran
Guru menutup pembelajaran hari ini.

07/06/2009 Posted by | SBM | Tinggalkan komentar

Strategi untuk manajemen kelas

1. Dapatkan ketertarikan siswa yang sesungguhnya.
Sapa siswa ketika masuk. Pahami budaya dan bahasa prokem mereka. Dorong keterlibatan dan berikan reward. Dekati siswa secara individual tidak hanya keseluruhan kelas.
2. Komunikasikan aturan kelas dengan jelas.
Jelaskan aturan kelas serta konsistensinya. Tegakkan aturan dengan adil dan konsisten.
3. Jadilah orang yang obyektif bukan pengailan.
Berusahalah untuk mengadopsi perspektif siswa. Pandanglah isu dari berbagai perspektiv.
4. Tunjukkan bahwa kita adalah manusia.
Siapkan diri untuk mengakui kesalahan atau kekurangan. Jika perlu gunakan humor.
5. Minimalisasi perbedaan kekuasaan dalam komunikasi setiap hari.
Duduk dibelakang meja atau podium dapat menunjukkan kesan bahwa kita ingin menciptakan jarak antara guru dengan siswa.
6. Atasi masalah kelakuan secara langsung dan secepatnya.
Isu dan konflik yang tidak diselesaikan biasanya akan kembali. Atasi masalah sebelum berkembang semakin parah.
7. Pakailah pendekatan kolaborativ.
Maksimalkan kesempatan siswa untuk membuat pilihan di kelas. Pandanglah siswa sebagai milik siswa bukan milik guru. Secara aktif terimalah pendapat siswa.
Aturan Kelas Kita

Organisasi
Aturan dan prosedur sebaiknya dibangun dalam hubungannya dengan strategi pembelajaran yang dapat membantu siswa menemukan kebutuhan pribadi dan akademiknya.
• Atur tempat duduk dalam bentuk U, baris atau lingkaran sehingga kita mudah mengawasi dan bergerak mendekati siswa.
• Tentukan jadwal setiap hari dan diskusikan perubahannya pada pagi hari.
• Libatkan siswa sampai anda benar-benar memberikan instruksi yang jelas pada suatu kegiatan.
• Libatkan siswa untuk lebih bertanggung jawab pada pembelajaran dengan cara tidak melakukan tugas yang dapat dilakukan oleh siswa.
• Tentukan cara-cara mengumpulakn PR membagi kertas dsb.
• Bergeraklah disekitar ruangan dan ketahuilah kebutuhan individu siswa..
• Tentukan arahan dengan sederhana dan bertahap.
• Ingatkan siswa tentang prosedur kunci dihubungkan dengan pelajaran berikutnya..
• Gunakan kompetisi kelompok untuk merangsang belajar.
• Bangun kegiatan transisi
Komunikasi
Komunikasi efektif merupakan dasar manajeman kelas yang baik. Ketrampilan komunikasi terdiri dari mengirim dan menerima.
Mengirim pesean
• Informasi sangat berguna jika diberikan sebelumnya
• Berbicaralah langsung pada mereka untuk mendapat respek dan perhatian.
• Berbicaralah dengan sopan sebagai teladan bagi siswa.
• Tunjukkan tanggung jawab dengan berkata “saya”
• Berikan pernyataan bukan pertanyaan. Pertanyaan seringkali menakutkan siswa.
Menerima pesan (teknik menjadi pendengar yang baik):
• Jadilah pendengar yang empatik. Hal ini akan membuat siswa merasa pernyataannya dapat didengar dengan baik dan diterima.
• Tunjukkan reaksi sehingga siswa merasa berdialog.
• Lakukan kontak mata dan sadarilah pesan-pesan non verbal.
• Tunjukkan kepemimpinan yang baik dengan gerakan, ekspresi wajah dan gesture.
Monitoring
Berikut ini adalah teknik-teknik yang berguna untk merespon gangguan di kelas
• Lakukan pengamatan kelas secara berkala untuk memperhatikan dan merespon potensi masalah.
• Lakukan reaksi dengan cepat dan tenang jika ada anak yang nakal .
• Lakukan kontak awal yang positif dengan menghargai kelakuan baik dan menentang kelakuan yang kurang baik.
• Ingatkan siswa tentang aturan kelas
• Jelaskan siswa tentang aturan, prosedur dan konsekuensinya jika terjadi pelanggaran.
• Terapkan konsekuensi yang konsisten terhadap kelakuan kurang baik.
• Informasikan pada siswa bahwa mereka memilih konsekuensi dari kelakuannya.
• Gunakan konsekuensi yang secara alamiah mendidik.
• Ketika ada satu atau dua siswa sangat mengganggu, fokuskan siswa yang lain untuk melaksanakan tugas, dan carilah waktu untuk berbicara dengan siswa yang mengganggu.
Menyampaikan pelajaran
• Libatkan siswa dalam mengevaluasi pekerjaannya sendiri.
• Tuliskan garis besar, definsi atau bimbingan untuk membantu siswa mengorganisasi pikiran dan memfokuskan perhatian.
• Ajukan pertanyaan dan dan berikan waktu sebelum menunjuk seseorang.
• Variasikan gaya mengajar dan materi untuk mewadahi perbedaan gaya belajar siswa..
• Tentukan tugas dengan kesulitan tertentu sehingga cocok untuk tingkat kemampuan yang beragam.
• Hubungkan bahan-bahan dengan kehidupan siswa kapanpun memungkinkan.
• Animasikan, buat antisipasi dan gunakan kegiatan-kegiatan untuk memancing ketertarikan siswa dan meningkatkan motivasi untuk berpartisipasi.
• Libatkan siswa dalam pembelajaran kooperative, kompetisi kelompok, diskusi kelompok, debat dan bermain peran.

Daftar reward
1. Duduk di kursi guru
2. Ortu mendapat telfon tentang kehebatan anaknya.
3. Duduk di barisan terdepan
4. Mendapatkan permen
5. Membawa pulang peliharaan kelas semalam.
6. Membantu siswa lain yang lebih muda
7. Membantu guru
8. Mendapat stempel
9. Membawa pulang alat peraga semalam
10. Pindah tempat duduk yang disukai.
11. Menjaga binatang di meja.
12. Tidak ada PR
13. Bercerita di depan kelas
14. Menjadi pemimpin dalam permainan kelas
15. Membaca untuk teman-temannya
16. Memilih film untuk dilihat teman-temannya.

Saya sudah selesai, lalu ngapain?
1. Cek ulang pekerjaanmu. Apakah bisa diperbaiki?
2. Membaca buku.
3. Menulis dalam jurnal.
4. Menulis cerita.
5. Membantu teman yang lain.
6. Mengatur meja
7. Mengatur kelas
8. Melihat hasil kerja teman
9. Menyiapkan untuk tes.
10. Membuat catatan pada seseorang yang lain yang juga sudah selesai.
11. Pergi ke perpus dan mencari buku.
12. Bekerja dengan komputer.
13. Tiduran di atas meja
14. Bertanya pada guru jika tidak ada sesuatu yang dapat dilakukan

Cara membangkitkan kelakuan baik
These are mostly suited for the younger students but can be adapted for older classes.
• Aturan Kelas
Diskusikan dengan siswa sejumlah aturan kelas dan konsekuensinya jika melanggar.
• Kartu berwarna
Pada saku nama dapat diberikan warna-warna. Merah berarti melanggar aturan, kuning hati-hati dan hijau berarti telah bertindak sesuai dengan harapan.
• Point Kelas
Pajangkan sistem talus suatu poin pada sebuah papan. Setiap kali siswa menunjukkan prestasi, berikan poin. Jika kelas mencapai poin tertentu berilah hadiah berupa kegiatan yang mengasyikkan.
• Positive Popsicle Sticks
Tuliskan komentar positif pada batang sedotan misalnya; “ sangat aktif” , “ suka membantu” dll. Jika seorang anak menerima beberapa sedotan berikan padanya reward.

Managemen Ruang
Pengaturan kelas yang baik tidak menjamin perilaku baik dari siswa sementara pengaturan kelas yang kurang baik dapat menciptakan kondisi yang mengarahkan pada masalah.
* Guru hendaknya dapat mengamati seluruh siswa dan memonitor perilaku siswapada seluruh waktu. Guru hendaknya juga dapat melihat pintu dari tempatnya duduk.
* Guru hendaknya dapat mengakses semua ruangan kelas.
* Siswa dapat melihat guru dan presentasinya tanpa harus menoleh atau berpindah.
* Buku-buku, presensi, ijin meninggalkan kelas dan buku acuan siswa hendaknya telah disiapkan.
* Beberapa pajangan hendaknya tersusun dengan baik sehingga kelas menjadi menarik.

Mengatur perilaku Negatif Siswa
* Lakukan pengawasan secara teratur sehingga kelakuan yang kurang baik dapat segera diketahui dan dicegah untuk menular pada yang lain atau menimbulkan kekacauan yang lebih besar.
*Lakukan tindakan jika terdapat kelakuan yang menyimpang sedemikian sehingga tidak menyela kegiatan kelas atau menyita perhatian siswa dengan cara:
– Dekatilah siswa, lakukan kontak mata dan berikan sinyal non verbal untuk menghentikan tindakan siswa.
– Panggil nama siswa atau berikan perintah non verbal pendek untuk menghentikan perilaku siswa.
– Berikan pengarahan pada siswa untuk memfokuskan perhatian.
– Perilaku yang serius semacam perkelahian harus segera diatasi, pelajaran dihentikan dan diserahkan pada petugas sekolah.

07/02/2009 Posted by | SBM | 1 Komentar

Mengembangkan Lingkungan Belajar PAKEM

Pengantar

Salah satu upaya untuk mengoptimalkan pembelajaran PAKEM adalah dengan mengembangkan lingkungan kelas yang mendukung. Di bawah ini adalah beberapa contoh inovasi lingkungan kelas yang dapat mendukung terciptanya pembelajaran PAKEM.

1. Pajangan kelas
• Pajangan kelas merupakan tempat untuk memamerkan hasil kreasi semua siswa dalam proses pembelajaran. Jadi semua siswa memiliki tempat untuk memajangkan hasil karyanya.
• Pajangan kelas dapat dibuat dari bahan sederhana seperti bambu atau bahan yang lebih mahal semacam melamin.
• Prinsipnya terdapat nama siswa dan tempat untuk menggantungkan karya siswa seperti paku, penjepit atau yang lainnya.
• Umumnya pajangan siswa diletakkan di dalam kelas

2. Sudut Baca
• Sudut baca merupakan tempat untuk mewadahi berbagai bahan bacaan seperti buku, majalah, cerita koran atau yang lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh siswa dalam belajar.
• Pajangan kelas dapat dibuat dari bahan sederhana seperti papan kayu yang disangga dengan plat L atau berbentuk rak-rak buku. Jika masih tersedia tempat, sudut baca dapat dilengkapi dengan beberapa kursi, bangku atau tikar untuk membaca sambil lesehan.
• Prinsipnya terdapat tempat untuk mewadahi bahan bacaan
• Umumnya sudut baca diletakkan di pojok kelas sehingga sering pula disebut dengan pojok baca.

3. Pengaturan bangku
• Pada dasarnya pengaturan bangku untuk kelas pakem dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengakomodasi interaksi antar siswa.
• Umumnya bangku diatur berkelompok-kelompok.
• Idealnya menggunakan bangku dan meja yang mudah digeser

4. Alat Peraga dan Media
• Salah satu ciri pembelajaran PAKEM adalah belajar sambil bekerja. Jadi, alat peraga merupakan perangkat yang perlu tersedia di kelas.
• Alat peraga dapat dibuat sendiri oleh guru memanfaatkan alat-alat/bahan sederhana.
• Alat peraga tidak perlu dipajang, dimasukkan dalam kotak/dos dan dipergunakan ketika diperlukan.

5. Jam kejujuran
• Jam kejujuran merupakan peraga jam dinding untuk semua siswa yang mana jarum-jarumnya dapat diputar/diubah
• Setiap anak memiliki sebuah peraga jam dan mengubah jarumnya sesuai dengan waktu kehadirannya

6. Pohon Prestasi
• Pohon prestasi merupakan tempat bagi guru untuk memberikan penghargaan kepada siswa.
• Pohon prestasi dapat berupa gambar pohon di kertas dan ditempelkan di tembok.
• Pohon prestasi dapat pula di buat dari ranting pohon sungguhan dan penghargaan berupa bintang atau yang lain di kaitkan pada ujung-ujung ranting tersebut

7. Point Prestasi
• Setiap siswa dapat memperoleh point prestasi
• Point prestasi dapat berupa daftar nama siswa dan kolom untuk menempelkan

8. Folder/Tempat Karya Siswa
• Setiap siswa mempunyai tempat tersendiri untuk mengumpulkan karya-karya mereka yang sudah tidak di pajang lagi.
• Folder dapat dibuat dari kardus bekas atau kotak susu bekas dan bisa di balut dengan kertas kado supaya terlihat manis.
• Folder diletakkan ditempat yang aman secara berjajar dan diberi nama setiap siswa.

9. Bank Kelas
• Kelas dapat memiliki bank kelas bagi siswa yang kelebihan uang jajan
• Kotak amal dapat dibuat dari kaleng biskuit .
• Uang yang terkumpul dapat dipergunakan untuk membeli keperluan kelas seperti buku cerita, kitab dan sebagainya

10. Kotak Soal
• Kotak soal berisi soal hari ini yang di buat oleh guru.
• Kotak soal dapat dibuat dari kardus bekas atau kotak susu bekas dan bisa di balut dengan kertas kado supaya terlihat manis.
.
11. Kebun Percobaan
• Lahan di luar kelas dapat dimanfaatkan sebagai kebun percobaan untuk pelajaran IPA
• Jika tidak tersedia area kebun percobaan dapat memanfaatkan pot atau polibag yang harganya relatif murah
• Jika memungkinkan kebun percobaan dapat menghasilkan produk yang dapat dijual misalnya bunga, bonsai, sayuran dan sebagainya.

12. Emblem
• Emblem adalah karton dengan tulisan tertentu yang dilengkapi dengan penjepit untuk dijepitkan di baju
• Emblem dapat membantu siswa menghapal sesuatu

13. Karya Tiga Dimensi
• Karya tiga dimensi yang dihasilkan siswa juga dapat dipajangkan di kelas asalkan tidak mengganggu.
• Jika memungkinkan areal di luar kelas juga dapat digunakan sebagai pameran karya/ majalah dinding kelas

14. Point Prestasi
• Setiap siswa dapat memperoleh point prestasi

15. Point prestasi dapat berupa daftar nama siswa dan kolom untuk menempelkan pointnya

07/02/2009 Posted by | SBM | 1 Komentar

Memajang Karya Siswa (Kolaborasi Siswa-Guru)

Memajang Karya Siswa
(Kolaborasi Siswa-Guru)

1. Pendahuluan
Kelas yang dipenuhi dengan karya/pekerjaan siswa merupakan pemandangan yang menyenangkan karena memberi pesan kepada mereka bahwa pekerjaan dan belajar mereka penting. Selama ini yang menentukan pemajangan karya siswa biasanya guru, bukan siswa. Clayton (2002) mengajukan gagasan tentang pemajangan karya siswa yang melibatkan siswa, jadi merupakan kolaborasi antara siswa dengan guru. Ia beranggapan bahwa melibatkan siswa dalam memajang hasil pekerjaan mereka dapat meningkatkan tanggungjawab siswa dalam perkembangan belajarnya. Mereka bias dibiarkan bebas memilih pekerjaannya yang akan dipajang guru, bisa juga diserahi tugas mendisain dan memajang pekerjaan di papan (bulletin board), atau mereka bisa juga ditugasi untuk mengelola sendiri seluruh proses mulai dari memilih, membuat tempat pajangan, dan memeliharanya.

2. Manfaat kolaborasi siswa-guru dalam memajang karya siswa
Melibatkan siswa dalam mengelola pajangan dapat memberi manfaat, baik manfaat yang berkaitan dengan proses pendidikan, maupun manfaat praktis.

Manfaat Pendidikan:
• Siswa mempunyai kesempatan untuk belajar mempraktekkan ketrampilan akademik dan social.
• Ketika mereka memilih sendiri karyanya untuk dipajang,mereka belajar untuk melakukan refleksi atas apa yang telah mereka kerjakan.
• Dengan menciptakan pajangan yang lebih mengutamakan USAHA dari pada HASIL SEMPURNA, anak akan lebih memahami bahwa belajar adalah proses pertumbuhan, bukan hanya proses penguasaan.
• Kolaborasi macam ini juga dapat meyakinkan/menguatkan rasa tumbuh kembangnya kompetensi mereka dan memberikan pengalaman kepada mereka untuk mengambil keputusan baik secara individu maupun kelompok.
• Memberi kesempatan kepada mereka untuk belajar dari orang lain, menghargai pekerjaan orang lain, menumbuhkan empati, menghormati, dan menumbuhkan rasa kebersamaan dalam komunitas kelas.

Manfaat Praktis:
• Mengembangkan ketrampilan mengukur, menggunting, menggunakan alat-alat, dan menulis.
• Mengembangkan ketrampilan berorganisasi dan pengambilan keputusan.

Pada dasarnya semua aspek dalam kegiatan tersebut menjadikan anak mengambil tanggungjawab dalam bagian dari kehidupan kelas.

3. Mengajari siswa cara memilih hsil karya untuk pajangan
Agar anak merasa nyaman memilih karyanya untuk pajangan, guru perlu mengajari mereka bagaimana menilai pekerjaan mereka dan bagaimana memilihnya. Berikut ini langkah-langkah yang perlu dilakukan.

(1) Membuat kriteria untuk memilih karya untuk dipajang. Mulailah dengan bertanya: “Mengapa kita memajang pekerjaan di kelas?” Mungkin mereka menjawab:
• Supaya kita bisa melihat apa yang telah dikerjakan teman
• Supaya kita bisa menunjukkan karya yang membuat kita bangga
• Supaya bisa belajar lebih banyak tentang suatu topik
• Agar ada hal menarik yang dipajang di tembok dsb.

Guru bisa menambahkan bahwa pajangan juga bisa berguna untuk merefleksi pekerjaan kita sendiri, belajar dari pekerjaan teman, dan membuat kelas menjadi indah.

Kriteria untuk memilih karya pajangan:
• Karya tersebut menunjukkan usaha kita, bukan hanya menunjukkan pekerjan yang baik.
• Karya menunjukkan perkembangan dan perbaikan
• Kita merasa bangga dengan karya tersebut,
• Karya tersebut penting buat kita

(2) Praktek memilih karya untuk pajangan
Berilah mereka kesempatan untuk menggunakan kriteria yang berbeda dalam memilih karya untuk pajangan. Misalnya, biarkan mereka memiih karya tulis dari portfolionya sesuai dengan keinginannya.

(3) Minta pendapat teman
` Biarkan mereka meminta pendapat teman sekelas sebelum memajangnya. Mereka mungkin menunjukkan aspek yang ingin mereka perhatikan.

4. Mengajari siswa membuat pajangan yang efektif
Pajangan yang efektif adalah yang membuat setiap karya yang dipajang memancarkan hal yang membuat bangga pemiliknya. Karya tersebut lebih menonjol bila dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya. Cara-cara yang bisa dilakukan guru adalah:
• Ingatkan siswa mengapa kita memajang karya di kelas
• Memeriksa pajangan yang ada. Ajak mereka melihat pajangan tersebut dan ajak mereka memeriksa pajangan tersebut tentang efektifitasnya.
• Buatlah daftar kriteria pajangan efektif. Setelah melihat pajangan dan membuat daftar tujuan memajang karya, buatlah petunjuk menciptakan pajangan yang efektif, misalnya, pajanan harus:
(1) sederhana,
(2) menunjukkan apa yang paling penting dari karya tsb,
(3) dekorasi harus cocok dengan karya yang dipajang, dan pajangan lebih menojol dari pada dekorasinya,
(4) pajangan mencantumkan nama pemiliknya, judul karya, atau mungkin ada hal lain tentang karya tersebut.
(5) Pajangan rapi

• Letakkan petunjuk tersebut di dekat tempat pajangan
• Ajari mereka cara-cara membingkai dan memajang karyanya
• Siswa bisa menambahi dengan label lain yang diperlukan misalnya tema, siapa pembuatnya, foto pembuatnya, dll.

Empat tips tentang Pajangan

(1) Pajangan harus memiliki hubungan yang bermakna dengan kurikulum.
Pajangan merupakan alat yang efektif untuk belajar dan mengajar.

(2) Ciptakan pajangan yang menghargai usaha, bukan hanya pekerjaan yang sempurna. Hindari adanya nilai atau komentar pada karya yang dipajang.

(3) Pastikan ada pajangan yang merefleksikan upaya seluruh siswa dalam kelas tersebut. Hal ini untuk menumbuhkan rasa kepemilikan dan memiliki pengaruh yang kuat pada pembentukan komunitas.

(4) Jaga kemutakhiran pajangan, bermakna, dan tidak berserakan. Pajangan harus diganti sesuai dengan perjalanan relevansinya dengan kurikulum. Bila ruang terbatas, karya dipajang bergiliran dari pada dipaksakan sampai berjubel.

Reference:
Clayton, Marlyn K. 2002. Displaying Student Work. An Opportunity for Student-teacher collaboration. http://www.responsiveclassroom.org.

07/02/2009 Posted by | SBM | 1 Komentar

Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

A. Latar Belakang
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.
IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana untuk menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan. Di tingkat SMP/MTs diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) secara terpadu yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.
Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SMP/MTs menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SMP/MTs merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.

B. Tujuan
Mata pelajaran IPA di SMP/MTs bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Meningkatkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaanNya
2. Mengembangkan pemahaman tentang berbagai macam gejala alam, konsep dan prinsip IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran terhadap adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat
4. Melakukan inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bersikap dan bertindak ilmiah serta berkomunikasi
5. Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan serta sumber daya alam
6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan
7. Meningkatkan pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

C. Ruang Lingkup
Bahan kajian IPA untuk SMP/MTs merupakan kelanjutan bahan kajian IPA SD/MI meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan
2. Materi dan Sifatnya
3. Energi dan Perubahannya
4. Bumi dan Alam Semesta

D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Kelas VII, Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami prosedur ilmiah untuk mempelajari benda-benda alam dengan menggunakan peralatan 1.1 Mendeskripsikan besaran pokok dan besaran turunan beserta satuannya
1.2 Mendeskripsikan pengertian suhu dan pengukurannya
1.3 Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari

2. Memahami klasifikasi zat 2.1 Mengelompokkan sifat larutan asam, larutan basa, dan larutan garam melalui alat dan indikator yang tepat
2.2 Melakukan percobaan sederhana dengan bahan-bahan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari
2.3 Menjelaskan nama unsur dan rumus kimia sederhana
2.4 Membandingkan sifat unsur, senyawa, dan campuran

3. Memahami wujud zat dan perubahannya 3.1 Menyelidiki sifat-sifat zat berdasarkan wujudnya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
3.2 Mendeskripsikan konsep massa jenis dalam kehidupan sehari-hari
3.3 Melakukan percobaan yang berkaitan dengan pemuaian dalam kehidupan sehari-hari
3.4 Mendeskripsikan peran kalor dalam mengubah wujud zat dan suhu suatu benda serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

4. Memahami berbagai sifat dalam perubahan fisika dan kimia 4.1 Membandingkan sifat fisika dan sifat kimia zat
4.2 Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia
4.3 Menyimpulkan perubahan fisika dan kimia berdasarkan hasil percobaan sederhana
4.4 Mengidentifikasi terjadinya reaksi kimia melalui percobaan sederhana

Kelas VII, Semester 2
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
5. Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan 5.1 Melaksanakan pengamatan objek secara terencana dan sistematis untuk memperoleh informasi gejala alam biotik dan a-biotik
5.2 Menganalisis data percobaan gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah beraturan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
5.3 Menggunakan mikroskop dan peralatan pendukung lainnya untuk mengamati gejala-gejala kehidupan
5.4 Menerapkan keselamatan kerja dalam melakukan pengamatan gejala-gejala alam

6. Memahami keanekara-gaman makhluk hidup 6.1 Mengidentifikasi ciri¬-ciri makhluk hidup
6.2 Mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki
6.3 Mendeskripsikan keragaman pada sistem organisasi kehidupan mulai dari tingkat sel sampai organisme

7. Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem 7.1 Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem
7.2 Mengidentifikasi pentingnya keanekaragaman mahluk hidup dalam pelestarian ekosistem
7.3 Memprediksi pengaruh kepadatan populasi manusia terhadap lingkungan
7.4 Mengaplikasikan peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan

Kelas VIII, Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia

1.1 Menganalisis pentingnya pertumbuhan dan perkembangan pada makhluk hidup
1.2 Mendeskripsikan tahapan perkembangan manusia
1.3 Mendeskripsikan sistem gerak pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan
1.4 Mendeskripsikan sistem pencernaan pada manusia dan dan hubungannya dengan kesehatan
1.5 Mendeskripsikan sistem pernapasan pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan.
1.6 Mendeskripsikan sistem peredaran darah pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan

2. Memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan
2.1 Mengidentifikasi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
2.2 Mendeskripsikan proses perolehan nutrisi dan transformasi energi pada tumbuhan hijau
2.3 Mengidentifikasi macam-macam gerak pada tumbuhan
2.4 Mengidentifikasi hama dan penyakit pada organ tumbuhan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari

3. Menjelaskan konsep partikel materi 3.1 Menjelaskan konsep atom, ion, dan molekul
3.2 Menghubungkan konsep atom, ion, dan molekul dengan produk kimia sehari-hari
3.3 Membandingkan molekul unsur dan molekul senyawa

4. Memahami kegunaan bahan kimia dalam kehidupan 4.1 Mencari informasi tentang kegunaan dan efek samping bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari
4.2 Mengkomunikasikan informasi tentang kegunaan dan efek samping bahan kimia
4.3 Mendeskripsikan bahan kimia alami dan bahan kimia buatan dalam kemasan yang terdapat dalam bahan makanan
4.4 Mendeskripsikan sifat/pengaruh zat adiktif dan psikotropika
4.5 Menghindarkan diri dari pengaruh zat adiktif dan psikotropika

Kelas VIII, Semester 2
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
5. Memahami peranan usaha, gaya, dan energi dalam kehidupan sehari-hari

5.1 Mengidentifikasi jenis-jenis gaya, penjumlahan gaya dan pengaruhnya pada suatu benda yang dikenai gaya
5.2 Menerapkan hukum Newton untuk menjelaskan berbagai peristiwa dalam kehidupan sehari-hari
5.3 Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya, prinsip “usaha dan energi” serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
5.4 Melakukan percobaan tentang pesawat sederhana dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
5.5 Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan gas serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

6. Memahami konsep dan penerapan getaran, gelombang dan optika dalam produk teknologi sehari-hari 6.1 Mendeskripsikan konsep getaran dan gelombang serta parameter-parameternya
6.2 Mendeskripsikan konsep bunyi dalam kehidupan sehari-hari
6.3 Menyelidiki sifat-sifat cahaya dan hubungannya dengan berbagai bentuk cermin dan lensa
6.4 Mendeskripsikan alat-alat optik dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

Kelas IX, Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia 1.1 Mendeskripsikan sistem ekskresi pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan
1.2 Mendeskripsikan sistem reproduksi dan penyakit yang berhubungan dengan sistem reproduksi pada manusia
1.3 Mendeskripsikan sistem koordinasi dan alat indera pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan

2. Memahami kelangsungan hidup makhluk hidup 2.1 Mengidentifikasi kelangsungan hidup makhluk hidup melalui adaptasi, seleski alam, dan perkembangbiakan
2.2 Mendeskripsikan konsep pewarisan sifat pada makhluk hidup
2.3 Mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat dan penerapannya.
2.4 Mendeskripsikan penerapan bioteknologi dalam mendukung kelangsungan hidup manusia melalui produksi pangan

3. Memahami konsep kelistrikan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari 3.1 Mendeskripsikan muatan listrik untuk memahami gejala-gejala listrik statis serta kaitannya dalam kehidupan sehari-hari
3.2 Menganalisis percobaan listrik dinamis dalam suatu rangkaian serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
3.3 Mendeskripsikan prinsip kerja elemen dan arus listrik yang ditimbulkannya serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
3.4 Mendeskripsikan hubungan energi dan daya listrik serta pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari

Kelas IX, Semester 2
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari 4.1 Menyelidiki gejala kemagnetan dan cara membuat magnet
4.2 Mendeskripsikan pemanfaatan kemagnetan dalam produk teknologi
4.3 Menerapkan konsep induksi elektromagnetik untuk menjelaskan prinsip kerja beberapa alat yang memanfaatkan prinsip induksi elektromagnetik
5. Memahami sistem tata surya dan proses yang terjadi di dalamnya 5.1 Mendeskripsikan karakteristik sistem tata surya
5.2 Mendeskripsikan matahari sebagai bintang dan bumi sebagai salah satu planet
5.3 Mendeskripsikan gerak edar bumi, bulan, dan satelit buatan serta pengaruh interaksinya
5.4 Mendeskripsikan proses-proses khusus yang terjadi di lapisan lithosfer dan atmosfer yang terkait dengan perubahan zat dan kalor
5.5 Menjelaskan hubungan antarar proses yang terjadi di lapisan lithosfer dan atmosfer dengan kesehatan dan permasalahan lingkungan

E. Arah Pengembangan
Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.

07/02/2009 Posted by | SBM | 5 Komentar

Mata Pelajaran Biologi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA)

A. Latar Belakang
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu (inquiry) tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya sebagai penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA di sekolah menengah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan alam sekitar.
Biologi sebagai salah satu bidang IPA menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara baik dan benar dengan selalu mempertimbangkan keamanan dan keselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, menggolongkan dan menafsirkan data, serta mengkomunikasikan hasil temuan secara lisan atau tertulis, menggali dan memilah informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari.
Mata pelajaran Biologi dikembangkan melalui kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar. Penyelesaian masalah yang bersifat kualitatif dan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan pemahaman dalam bidang matematika, fisika, kimia dan pengetahuan pendukung lainnya.

B. Tujuan
Mata pelajaran Biologi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Membentuk sikap positif terhadap biologi dengan menyadari keteraturan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
2. Memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat bekerjasama dengan orang lain
3. Mengembangkan pengalaman untuk dapat mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis
4. Mengembangkan kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip biologi
5. Mengembangkan penguasaan konsep dan prinsip biologi dan saling keterkaitannya dengan IPA lainnya serta mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri
6. Menerapkan konsep dan prinsip biologi untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia
7. Meningkatkan kesadaran dan berperan serta dalam menjaga kelestarian lingkungan.

C. Ruang Lingkup
Mata pelajaran Biologi di SMA / MA merupakan kelanjutan IPA di SMP/MTs yang menekankan pada fenomena alam dan penerapannya yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Hakikat biologi, keanekaragaman hayati dan pengelompokan makhluk hidup, hubungan antarkomponen ekosistem, perubahan materi dan energi, peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem
2. Organisasi seluler, struktur jaringan, struktur dan fungsi organ tumbuhan, hewan dan manusia serta penerapannya dalam konteks sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat
3. Proses yang terjadi pada tumbuhan, proses metabolisme, hereditas, evolusi, bioteknologi dan implikasinya pada sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat.

D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Kelas X, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami hakikat Biologi sebagai ilmu
1.1 Mengidentifikasi ruang lingkup Biologi
1.2 Mendeskripsikan objek dan permasalahan biologi pada berbagai tingkat organisasi kehidupan (molekul, sel, jaringan, organ, individu, populasi, ekosistem, dan bioma)

2. Memahami prinsip-prinsip pengelompokan makhluk hidup

2.1 Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peran virus dalam kehidupan
2.2 Mendeskripsikan ciri-ciri Archaeobacteria dan Eubacteria dan peranannya bagi kehidupan
2.3 Menyajikan ciri-ciri umum filum dalam kingdom Protista, dan peranannya bagi kehidupan
2.4 Mendeskripsikan ciri-ciri dan jenis-jenis jamur berdasarkan hasil pengamatan, percobaan, dan kajian literatur serta peranannya bagi kehidupan

Kelas X, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
3. Memahami manfaat keanekaragaman hayati

3.1 Mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, ekosistem, melalui kegiatan pengamatan
3.2 Mengkomunikasikan keanekaragaman hayati Indonesia, dan usaha pelestarian serta pemanfaatan sumber daya alam
3.3 Mendeskripsikan ciri-ciri Divisio dalam Dunia Tumbuhan dan peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi
3.4 Mendeskripsikan ciri-ciri Filum dalam Dunia Hewan dan peranannya bagi kehidupan

4. Menganalisis hubungan antara komponen ekosistem, perubahan materi dan energi serta peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem

4.1 Mendeskripsikan peran komponen ekosistem dalam aliran energi dan daur biogeokimia serta pemanfaatan komponen ekosistem bagi kehidupan
4.2 Menjelaskan keterkaitan antara kegiatan manusia dengan masalah perusakan/pencemaran lingkungan dan pelestarian lingkungan
4.3 Menganalisis jenis-jenis limbah dan daur ulang limbah
4.4 Membuat produk daur ulang limbah

Kelas XI, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami struktur dan fungsi sel sebagai unit terkecil kehidupan
1.1 Mendeskripsikan komponen kimiawi sel, struktur dan fungsi sel sebagai unit terkecil kehidupan
1.2 Mengidentifikasi organela sel tumbuhan dan hewan
1.3 Membandingkan mekanisme transpor pada membran (difusi, osmosis, transport aktif, endositosis, eksositosis)

2. Memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan hewan, serta penerapannya dalam konteks Salingtemas
2.1 Mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan mengaitkannya dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan
2.2 Mendeskripsikan struktur jaringan hewan Vertebrata dan mengaitkannya dengan fungsinya

3. Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan/penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada Salingtemas 3.1 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem gerak pada manusia
3.2 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem peredaran darah

Kelas XI, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
3. Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan dan/atau penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada Salingtemas 3.3 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pencernaan makanan pada manusia dan hewan (misalnya ruminansia)
3.4 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pernapasan pada manusia dan hewan (misalnya burung)
3.5 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem ekskresi pada manusia dan hewan (misalnya pada ikan dan serangga)
3.6 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem regulasi manusia (saraf, endokrin, dan penginderaan)
3.7 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses yang meliputi pembentukan sel kelamin, ovulasi, menstruasi, fertilisasi, kehamilan, dan pemberian ASI, serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem reproduksi manusia
3.8 Menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda asing berupa antigen dan bibit penyakit

Kelas XII, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Melakukan percobaan pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan 1.1 Merencanakan percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan
1.2 Melaksanakan percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan
1.3 Mengkomunikasikan hasil percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan

2. Memahami pentingnya proses metabolisme pada organisme 2.1 Mendeskripsikan fungsi enzim dalam proses metabolisme
2.2 Mendeskripsikan proses katabolisme dan anabolisme karbohidrat
2.3 Menjelaskan keterkaitan antara proses metabolisme karbohidrat dengan metabolisme lemak dan protein

3. Memahami penerapan konsep dasar dan prinsip-prinsip hereditas serta implikasinya pada Salingtemas 3.1 Menjelaskan konsep gen, DNA, dan kromosom
3.2 Menjelaskan hubungan gen (DNA)-RNA-polipeptida dan proses sintesis protein
3.3 Menjelaskan keterkaitan antara proses pembelahan mitosis dan meiosis dengan pewarisan sifat
3.4 Menerapkan prinsip hereditas dalam mekanisme pewarisan sifat
3.5 Menjelaskan peristiwa mutasi dan implikasinya dalam Salingtemas

Kelas XII, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
4. Memahami teori evolusi serta implikasinya pada Salingtemas 4.1 Menjelaskan teori, prinsip, dan mekanisme evolusi biologi
4.2 Mengkomunikasikan hasil studi evolusi biologi
4.3 Mendeskripsikan kecenderungan baru tentang teori evolusi

5. Memahami prinsip-prinsip dasar bioteknologi serta implikasinya pada Salingtemas 5.1 Menjelaskan arti, prinsip dasar, dan jenis-jenis bioteknologi
5.2 Menjelaskan dan menganalisis peran bioteknologi serta implikasi hasil-hasil bioteknologi pada Salingtemas

E. Arah Pengembangan
Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.

07/02/2009 Posted by | SBM | Tinggalkan komentar

Apa itu PAKEM?

PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”) tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.
Secara garis besar, PAKEM dapat digambarkan sebagai berikut:
• Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
• Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
• Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
• Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
• Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

Apa yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM?
1. Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia – selama mereka normal – terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat anugerah Tuhan tersebut. Suasana pembelajaran yang ditunjukkan dengan guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.
2. Mengenal anak secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga anak tersebut belajar secara optimal.
3. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorga-nisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal tersebut memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sesering-seringnya memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu).
5. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disaran-kan dalam PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam KBM karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.

6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) me-rupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat ber-peran sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Peng-gunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan ling-kungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pe-manfaatan lingkungan dapat mengembang-kan sejumlah keterampilan seperti meng-amati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasikan, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.
7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.
8. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling ber-hadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan ‘PAKEM.’

07/01/2009 Posted by | SBM | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 954 pengikut lainnya.