BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

EVOLUSI, TEORI EVOLUSI, DAN TEORI DARWIN

EVOLUSI, TEORI EVOLUSI, DAN TEORI DARWIN1

Oleh: Drs. Abdul Gafur, M.Si.

Program Studi Biologi FMIPA Unlam

Sejak dipopulerkan oleh Darwin satu setengah abad yang lalu, konsep evolusi telah berkembang menjadi konsep yang kompleks. Sebagai salah satu pemikiran yang paling mengguncang dunia, gagasan tentang evolusi mendapat tantangan hebat, di samping penganut yang kuat. Namun bagaimanapun juga, pemahaman yang benar mengenai apa yang dimaksud dengan evolusi, dan beberapa istilah serta konsep yang terkait, perlu sekali dimiliki oleh siapa saja sebelum ia memutuskan untuk mengikuti atau menentangnya.

Evolusi sebagai Fakta

Secara umum istilah ‘evolusi’ bermakna :

  • A gradual process in which something changes into a different and usually more complex or better form2.
  • Perubahan (pertumbuhan, perkembangan) secara berangsur-angsur dan perlahan-lahan (sedikit demi sedikit)”3.

Dalam konteks biologi, evolusi dimaksudkan sebagai ‘evolusi makhluk hidup, evolusi biologis, atau evolusi organik’ untuk menyatakan bahwa yang mengalami perubahan itu adalah makhluk hidup. Jadi, pada intinya dalam kata ‘evolusi’ terkandung makna proses perubahan. Dengan demikian, evolusi adalah peristiwa atau kejadian.

Apakah kejadian atau peristiwa itu memang benar-benar terjadi? Untuk itu diperlukan bukti. Begitu pula dengan evolusi. Jika evolusi (proses perubahan) itu memang terjadi, apa buktinya? Dikemukakanlah bukti-bukti evolusi yang pada dasarnya ingin menunjukkan bahwa perubahan itu memang benar-benar terjadi.

Peristiwa evolusi tidak dapat diamati secara langsung. Apa yang dikatakan sebagai ‘bukti evolusi’ selama ini sebenarnya hanyalah bukti inferensian. Dalam hal ini, ada sejumlah gejala atau fakta dianggap dapat membuktikan adanya evolusi karena hanya dapat dijelaskan dengan memuaskan berdasarkan konsep evolusi. Sudah barang tentu pembuktian seperti itu bersifat tentatif. Suatu penjelasan untuk sementara dianggap benar selama belum ada penjelasan lain yang lebih mampu menjelaskan suatu gejala secara lebih memuaskan.

Evolusi sebagai Teori

Teori adalah “Systematically organized knowledge applicable in a relatively wide variety of circumstances, especially a system of assumptions, accepted principles, and rules of procedure devised to analyze, predict, or otherwise explain the nature or behavior of a specified set of phenomena4. Jika fenomenanya adalah gravitasi, teori yang dipergunakan untuk menjelaskannya disebut teori gravitasi. Begitu pula, teori untuk menjelaskan kejadian perubahan makhluk hidup (evolusi) dikenal sebagai ‘teori evolusi’.

Jadi, teori evolusi dimaksudkan sebagai penjelasan tentang bagaimana evolusi itu terjadi (mekanisme evolusi). Bisa terjadi ada beberapa penjelasan yang diberikan mengenai suatu fenomena. Mengenai evolusi, pada abad ke-19 Lamarck memberikan penjelasan bagaimana evolusi itu terjadi, yang dikenal sebagai teori evolusi Lamarck atau teori Lamarck. Penjelasan yang diberikan oleh Lamarck itu kemudian dianggap tidak benar karena ada penjelasan lain yang dipandang lebih memuaskan, terutama yang diberikan oleh Darwin dan dikenal sebagai teori evolusi Darwin atau teori Darwin.

Selain sebagai penjelasan tentang evolusi, teori evolusi bisa juga dimaksudkan sebagai teori yang menyatakan bahwa ada ada kekerabatan di antara organisme (Panchen, 1992) atau ada perubahan dan diversifikasi makhluk hidup. Dalam hal ini teori evolusi merupakan penjelasan terhadap berbagai fenomena yang kemudian ditunjuk sebagai bukti evolusi.

Darwin dan Evolusi

Ada dua macam sumbangsih Darwin yang berkaitan dengan evolusi. Yang pertama adalah ia menyajikan sejumlah besar fakta sebagai bukti evolusi. Yang kedua, ia memberikan penjelasan mengenai mekanisme evolusi, yang dikenal sebagai teori Darwin.

Mayr5 membedah paradigma evolusioner Darwin menjadi lima teori utama yang menjadi dasar dari pemikiran tentang evolusi:

  1. Evolusi itu sendiri. Teori ini menyatakan bahwa dunia tidaklah konstan atau baru saja tercipta dan tidak pula bersiklus (melingkar), melainkan terus berubah, dan bahwa organisme mengalami transformasi (perubahan) dalam perjalanan waktu.
  2. Asal usul yang sama (common descent). Teori ini menyatakan bahwa setiap kelompok organisme diturunkan (berasal) dari moyang yang sama, dan bahwa semua kelompok organisme akhirnya dirunut balik ke satu asal kehidupan di bumi.
  3. Perbanyakan spesies. Teori ini menjelaskan tentang asal mula keanekaragaman makhluk hidup yang amat besar, melalui perpecahan menjadi spesies-spesies anak ataupun ‘pertunasan’, yaitu terbentuknya populasi pendiri yang terisolasi geografis dan akhirnya berkembang menjadi spesies baru.
  4. Gradualisme. Menurut teori ini perubahan evolusioner terjadi melalui perubahan populasi secara bertahap, bukan dengan dihasilkannya individu baru secara mendadak yang merupakan tipe baru.
  5. Seleksi alami (Natural Selection). Menurut teori ini perubahan evolusioner tercapai melalui produksi berlimpah variasi di setiap generasi. Sedikit individu yang bertahan hidup, berkat karakter-karakter terwariskan yang lebih adaptif, menurunkan generasi selanjutnya.

Inti dari teori evolusi Darwin adalah bahwa evolusi terjadi melalui seleksi alami. Gagasannya itu lahir melalui penalaran induktif dan deduktif. Prosesnya diikhtisarkan sbb6.

    • Pengamatan 1: Kecenderungan populasi untuk bertambah besar, dengan peningkatan secara geometrik, karena potensi reproduksi organisme yang sangat tinggi.
    • Pengamatan 2: Kenyataannya, jumlah individu dalam populasi kurang lebih konstan.
    • Kesimpulan 1 : Adanya ‘struggle for existence’ alias ‘struggle for survival
    • Pengamatan 3 : Organisme bervariasi.
    • Kesimpulan 2 : Adanya ‘natural selection’ alias ‘survival of the fittest’.

Mengenai variasi, Darwin menekankan pentingnya variasi yang terwariskan dengan mengatakan “… any variation which is not inherited is unimportant for us7.”. Kemudian, mengenai seleksi alami Darwin sejak semula mengemukakan bahwa “… natural selection has been the main, but not the exclusive, means of modification.”8

Kelemahan paling serius dari penjelasan Darwin berpangkal dari ketidaktahuannya tentang hereditas (pewarisan sifat). Teori yang diajukannya mengenai pewarisan sifat ini terbukti sama sekali keliru.

Sintesis Modern

Umumnya biologiwan sekarang mengakui bahwa evolusi adalah fakta. Karena itu, istilah ‘teori’ dalam hal ini dipandang tidak cocok lagi, kecuali untuk menyebut berbagai model yang mencoba menjelaskan bagaimana evolusi itu berlangsung. Diskusi panjang lebar di kalangan biologiwan sekarang hanya mengenai mekanismenya.

Sejak abad ke-20 genetika dan biologi populasi menyisip ke dalam kajian evolusi. Teori Darwin tentang seleksi alami tidak lagi dipandang sebagai teori terbaik tentang mekanisme evolusi. Gagasan sekarang tentang evolusi biasanya disebut sebagai Modern Synthesis (Sintesis Modern) yang mencakup mekanisme selain seleksi alami. Evolusi menjadi didefinisikan sebagai perubahan komposisi genetik (frekuensi alel di dalam kumpulan gen) suatu populasi dari generasi ke generasi. Ketika biologiwan berkata ia telah mengamati evolusi, maksudnya ia telah mendeteksi adanya perubahan dalam frekuensi gen di dalam suatu populasi. Sering adanya perubahan frekuensi gen itu diinferensikan dari perubahan fenotipe yang dapat diwariskan (Moran, 1997b).

Futuyma (1986) menguraikan prinsip utama Sintesis Modern sebagai berikut.

  1. Populasi mengandung variasi genetik yang muncul melalui mutasi acak (artinya tidak terarah secara adaptif) dan rekombinasi.
  2. Populasi berevolusi dengan perubahan-perubahan dalam frekuensi gen akibat random genetic drift, gene flow, dan khususnya seleksi alami.
  3. Sebagian besar varian genetik mempunyai pengaruh fenotipe yang kecil sehingga perubahan fenotipe terjadi bertahap.
  4. Diversifikasi terjadi melalui spesiasi, yang normalnya melibatkan berkembangnya secara bertahap isolasi reproduksi di antara populasi-populasi.
  5. Proses-proses tersebut, yang terus berlangsung dengan cukup lama, membuahkan perubahan-perubahan yang cukup besar untuk membenarkan ditetapkannya taraf-taraf taksonomik yang lebih tinggi (genus, famili, dst.)

Ada dua macam evolusi: mikroevolusi dan makroevolusi. Perubahan di dalam populasi, yang hanya berupa perubahan frekuensi alel, disebut mikroevolusi. Perubahan yang lebih besar, misalnya yang menyebabkan terbentuknya spesies baru, disebut makroevolusi. Sebagian evolusionis berpendapat bahwa makroevolusi hanyalah kumpulan mikroevolusi. Sebagian lagi berpendapat bahwa mekanisme makroevolusi berbeda dari perubahan mikroevolusi. Punctuated equillibrium adalah salah satu teori yang diajukan untuk menjelaskan mekanisme makroevolusi berdasarkan pola yang terekam dalam catatan fosil.

Seleksi Alami

Seleksi alami dipandang sebagai proses yang mengubah frekuensi gen di dalam populasi. Colby (1997) mendefinisikan seleksi alami sebagai keberhasilan reproduksi yang berlainan di antara kelompok-kelompok varian genetik di dalam kumpulan gen (gene pool). Endler (1992) mendeskripsikan  seleksi alami sebagai proses yang terjadi jika populasi memiliki 3 kondisi:

  1. Variasi di antara individu-individu dalam hal suatu sifat tertentu (variasi fenotip)
  2. Hubungan yang konsisten antara sifat itu dengan kemampuan reproduksi dan kelangsungan hidup (variasi fitness)
  3. Hubungan yang konsisten, untuk sifat itu, antara tetua dan keturunannya; hubungan itu setidaknya secara parsial tidak tergantung pada efek lingkungan (pewarisan sifat)

Apabila ketiga kondisi itu terpenuhi, satu atau dua hal berikut akan terjadi:

  1. Distribusi frekuensi sifat itu akan berbeda di antara kelompok-kelompok umur atau tahap-tahap sejarah-hidup, dan perbedaan itu tidak sesuai dengan yang diramalkan berdasarkan ontogeni (pertumbuhan dan perkembangan).
  2. Apabila populasi tidak dalam keadaan setimbang, distribusi sifat itu di dalam semua keturunan dalam populasi akan berbeda dari distribusinya di dalam semua tetua, tidak sesuai dengan yang diramalkan berdasarkan kondisi (a) dan (c) saja.

Kondisi (a), (b), dan (c) mencakup semua aspek biologi, dan proses (hasil 1 dan 2) murni berasal dari peluang dan statistika.

Seleksi alami dapat dipecah menjadi banyak komponen. Beberapa di antaranya adalah kelangsungan hidup dan dayatarik seksual. Seleksi seksual adalah seleksi alami yang bekerja pada faktor-faktor yang berperan terhadap keberhasilan organisme untuk kawin.

Genetic Drift

Genetic drift adalah perubahan secara kebetulan dalam frekuensi alel suatu kumpulan gen. Meski bisa terjadi pada populasi besar maupun kecil, peristiwa ini terutama terjadi pada populasi yang kecil. Sebagai mekanisme evolusi, genetic drift dipandang setara dengan seleksi alami, malah bisa lebih penting. Mana sebenarnya yang lebih penting di antara keduanya masih diperdebatkan, tetapi setidaknya sebagian tergantung pada ukuran populasi. Di populasi kecil, drift bisa jauh lebih berperan.  Bottleneck effect dan founder effect adalah dua contoh dari proses stokastik tersebut. Sebagai proses acak, genetic drift tidak akan memberikan hasil yang sama pada populasi yang berlainan (Mader, 2001).

Mutasi

Mutasi merupakan bahan mentah evolusi. Peran pentingnya adalah untuk menghasilkan variasi. Mutasi pada dasarnya merupakan kekeliruan dalam penyalinan DNA. Macamnya berupa perubahan kode genetik, penyisipan atau hilangnya suatu gen, dan inversi atau duplikasi gen atau bagian gen. Kebanyakan mutasi dipandang netral dari sudut pandang fitness. Banyak mutasi yang tidak segera memperlihatkan efek pada fenotipe, sehingga tidak terdeteksi. Akan tetapi, kalau mutasi itu sampai menimbulkan efek pada fenotipe, biasanya efeknya merugikan. Hanya sedikit sekali mutasi yang menguntungkan. Nilai adaptif mutasi sepenuhnya tergantung pada kondisi lingkungan.

Sekali alel bermutasi, kombinasi alel-alel tertentu bisa lebih adaptif dari kombinasi yang lain pada kondisi lingkungan tertentu. Fenotipe yang paling cocok baru muncul apabila alel-alel yang tepat dikelompokkan oleh peristiwa rekombinasi.

Gene Flow/Migration

Migrasi gen adalah pergerakan alel di antara populasi-populasi melalui perkawinan individu antarpopulasi.  Individu baru yang masuk ke suatu populasi, lalu kawin di populasi itu, bisa membawa alel baru ke kumpulan gen populasi itu. Dengan demikian, variasi di dalam populasi itu meningkat.

Penutup

Evolusi, teori evolusi, dan teori Darwin adalah tiga hal yang berbeda meskipun berkaitan sangat erat. Evolusi dapat dipandang sebagai fakta dan sebagai teori. Sebagai fakta, evolusi adalah perubahan. Teori evolusi menjelaskan mekanisme perubahan itu. Teori Darwin hanyalah salah satu dari beberapa teori evolusi yang pernah diajukan, dan sekarang telah banyak mengalami penyempurnaan. Menentang teori Darwin belum tentu menentang teori evolusi karena bisa juga berarti mengajukan teori evolusi lain yang lebih baik dari teori evolusi Darwin. Menentang teori evolusi seyogyanya dilakukan dengan memberikan penjelasan (teori) lain yang lebih dapat diterima mengenai berbagai fakta yang selama ini diyakini sebagai bukti evolusi atau fakta yang selama ini dapat dijelaskan berdasarkan konsep evolusi.

Daftar Pustaka

    Appleman, P. (editor). 1970. Darwin. W.W. Norton & Company. New York.
    Colby, C. 1997. Introduction to Evolutionary Biology. Talk. Origins. Archive.
    Endler, J.A. 1992. Natural Selection: Current Usages. Dalam E.F. Keller dan E.A. Lloyd (editor). Keywords in Evolutionary Biology. Harvard University Press. Cambridge.
    Futuyma, D.J. 1986. Evolutionary Biology. Second edition. Sinauer Associates.
    Hanes, J. 1997. What is Darwinism?. Talk. Origins. Archive.
    Mader, S.S. 2001. Biology. Seventh edition. McGraw-Hill. Boston.
    Moran, L. 1997a. The Modern Synthesis of Genetics and Evolution. Talk. Origins. Archive.
    Moran, L. 1997b. What is Evolution?. Talk. Origins. Archive.
    Moran, L. 1997c. Random Genetic Drift. Talk. Origins. Archive.

Moran, L. 1997d. Evolution is a Fact and a Theory. Talk. Origins. Archive.

05/26/2010 Posted by | Evolusi Organik | 4 Komentar

EVOLUSI PRIMATA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar balakang

Nenek moyang primata masa kini barangkali adalah sekelompok insektivora yang relatif tidak menarik ditinjau dari perspektif kita umat manusia atau berbentuk seperti shrew pohon. Primata sendiri berarti “yang terutama”, dan hal ini tidak mengherankan, sebab manusia pastilah menganggap ordo mammalianya sebagai yang terpenting. Begitu juga halnya dengan jika kelinci yang menyusun taksonomi, lagomorpha akan dijadikan primata. Primata tampaknya telah mengalami suatu evolusi pada awal mulanya untuk mengembangkan jari tidak terspesialisasi yang amat baik untuk kehidupan arboreal. Perubahan dalam pengelihatan, modifikasi pelvis, perilaku, dan perkembangan orak terjadi. Dan pada primata modern, termasuk kita, terlihat bahwa ciri hidup terestrial dan bukannya arboreal menandakan modernisasi primata.

Berbicara mengenai evolusi manusia dan primata, tidaklah berarti bahwa manusia berasal dari kera. Dalam menjelaskan mengenai evolusi, terutama mengenai evolusi manusia kita harus berhati-hati dan dapat bersikap netral. Hal ini berarti apapun keyakinan kita mengenai asal usul manusia, kita harus bisa mengemukakan bagaimana pendapat sekelompok orang dan bagaimana mengenai pendapat dari kelompok yang lain, dan bukan hanya pendapat kita sendiri. Apabila memang manusia berasal dari kera seklapun, para ahli evolusi tidak akan dapat membuktikannya. Metode demikian kita kenal dengan metode pendekatan. Jadi dalam membuktikan evolusi kita tidak menggunakan metode pendekatan pembuktian.

Banyak mamalia, misalnya paus, telah memodifikasi susunan lima-jari aslinya di ujung tungkai depan menjadi struktur-struktur terspesialisasi. Misalnya saja pada sirip (flipper) pada paus dan lumba-lumba. Pada kuda, kelima jari telah menjadi satu jari tunggal dengan kukunya. Pada primata, semua jari tetap ada dan meneruskan susunan-bersendi dari struktur reptil yang primitif.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Evolusi Primata

Evolusi primata merupakan salah satu contoh evolusi dengan data yang “cukup lengkap”. Teori evolusi yang hanya didasarkan atas adanya fosil tidak pernah dapat menerangakan dengan lengkap apa yang terjadi di masa lampau. Oleh karena itu untuk mempelajari evolusi suatu organisme, biasanya para ahli menggunakan data suatu organisme yang masih hidup hingga kini. Dalam hal ini, yang dilakukan para ahli ialah melihat perubahan stuktur dari organisme-organisme yang paling erat hubungan kekerabatan dengan organisme sasaran yang diteliti. Dengan mengaitkan perubahan-perubahan suatu cirri, maka dapat ditarik kesimpulan mengenai apa yang terjadi pada masa silam. Dalam hal ini, digunakan pendekatan pada golongan primata.

Salah satu definisi evolusi adalah merupakan suatu ilmu yang mempelajari perubahan yang berangsur-angsur menuju ke arah yang sesuai dengan masa dan tempat. Pada dasarnya evolusi tidak untuk membuktikan apakah suatu jenis berasal dari jenis yang lain. Memang menurut Darwin, suatu organisme berasal dari organisme lain. Tetapi pembuktian bahwa sustu jenis berasal dari jenis yang lain tidak pernah dapat dibuktikan. Yang dipelajari dalam evolusi adalah proses perubahannya.

Primata muncul sekitar 70 juta tahun yang lalu seiring dengan punahnya dinosaurus. Setidaknya, itulah fosil tertua yang pernah ditemukan dari primata. Sekarang, ordo primata dibagi menjadi dua sub ordo, yakni Prosimian (meliputi lemur, tarsius, dll) dan Antropoid (kera, monyet, manusia). Prosimian yang dahulu mendominasi primata, sekarang semakin tersingkir dan akhirnya menjadi endemik beberapa daerah seperti Madagaskar. Dengan pemisahan garis filogenetik, maka cabang dari Anthropoidea ada 3: monyet, kera, dan Hominid (manusia). Monyet pertama muncul kira-kira 50 juta tahun lalu. Awal mulanya, monyet dunia baru muncul dari cabang primata kuno, dan belakangan monyet dunia lama berevolusi sebagai garis keturunan terpisah. Garis keturunan yang tersisa setelah pemisahan monyet disebut garis Hominoid.

George Gaylord Simpson menyarankan pengelompokan garis itu ke superfamilia Hominoidea. Pengelompokan itu mencakup: Hylobatidae (kera kecil), Pongidae (kera besar), Hominidae (manusia). Namun, belakangan ini para taksonom cenderung tidak membedakan lagi antara kera kecil dan kera besar. Kera kecil mencakup siamang alias gibbon dan kerabatnya. Kera besar contohnya gorila, simpanse, dan orangutan. Simpanse punya 2 spesies dan beberapa subspesies (masih kontroversi), sementara itu orangutan dan gorila hanya punya 1 spesies, namun orangutan punya 2 spesies: P. pygmaeus pygmaeus, dan P. pygmaeus abelli. Manusia modern juga hanya memiliki 1 spesies, yakni Homo sapiens. Fosil kera primitif yang pernah ditemukan kira-kira berusia 35 juta tahun dan dinamakan Aegyptopithecus, yakni “kera fajar”. Karena itu merupakan garis keturunan hominoid, maka kera tersebut adalah nenek moyang bersama kera dan manusia. Divergensi antara kera purba dan manusia diduga terjadi sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu.

Awal mulanya, primata mengadaptasikan kehidupan arboreal. Sendi bahu yang sangat fleksibel pada monyet dan kera memudahkan mereka untuk berayun-ayun dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Tipe lokomosi seperti itu disebut brachiasi (dari kata Latin brachia/brachium untuk lengan). Pengemukanya adalah Sir Arthur Keith,yang menyadari keuntungan lokomosi itu di hutan. Modifikasi lainnya adalah pergeseran mata ke tengah wajah, sehingga citra dari kedua mata dapat menumpuk ditengah dan menghasilkan citra yang lebih baik. Kebanyakan primata memiliki pegangan tangan dan kaki yang kuat dan fleksibel. Namun, kemampuan itu telah tereduksi hampir seratus persen pada primata bipedal yang plantigrad, seperti umat manusia.

Akan tetapi, hampir semua primata dari yang paling kuno sampai yang paling baru sekalipun, memiliki tangan dengan ibu jari yang dapat berputar. Hal ini sangat menguntungkan bukan saja untuk memegang objek, namun melakukan manipulasi dan modifikasi lingkungan. Apalagi, dengan perkembangan neokorteks (cerebrum) yang amat pesat, hal ini memberikan jalan lapang untuk perkembangannya. Tangan yang telah “terbebaskan” dari peralihan cara hidup dari arboreal ke non arboreal nampaknya telah banyak berperan dalam komunikasi yang lebih baik diantara spesiesnya, dan karena itu mendorong perkembangan interaksi kelompok, berbicara, dan akhirnya: penciptaan budaya.

Kita yang hidup pada masa sekarang tidak pernah dapat mengetahui dengan pasti mengenai apa yang terjadi pada masa lalu. Oleh karena itu, digunakan data fosil dan data dari organisme yang hidup pada masa kini. Bukti yang digunakan untuk mempelajari perubahan akan ditinjau dari banyak segi, yang dapat memberikan petunjuk mengenai apa yang terjadi peda masa lalu. Suatu sifat akan berevolusi sesusia dengan perkembangan waktu dan tempat. Dengan menggunakan data fosil dan organisme aktuil mempunyai senmua sifat terevolusi. Analisis yang dilakukan pada primata primitive sampai dengan primata  yang maju, yakni manusia memberikan gambaran sebagai berikut:

2.1.1        Perkembangan Primata primitif ke Primata maju

  • Hubungan antara tulang vertebra dan tengkorak mengalami perubahan yang berangsur-angsur menuju titik berat tengkorak. Mula-mula hubungan ini terdapat dibagian tepi menjadi tepat berada di bawah. Perubahan ini diikuti dengan perubahan cara berjalan dari empat kaki menjadi dua kaki. Sejalan dengan perubahan ini, maka otot leherpun menjadi lebih lemah, seadngkan panggul menjadi lebih penting dan kuat. Bentuk tengkorak yang memanjang dengan rahang besar, gigi yang kuat dan membentuk moncong menjadi bertambah pendek. Rongga hidung yang besar sekarang menjadi jauh lebih kecil.
  • Bola mata pada organisme non primata tidak mempunyai tulang yang meliputinya. Tetapi pada kera dan manusia, mata sudah sepenihnya ter-lindung. Hal ini menunjukkan bahwa mata menjadi organ yang sangat penting. Selain itu, dapat pula dilihat bahwa mata ynag menghadap ke samping, menjadi berangsur-angsur menghadap ke depan. Penglihatanpun berubah dari dua dimensi menjadi tiga dimensi, dan kemampuan melihat warna meningkat dari hitam putih untuk membedakan gelap dan terang menjadi mampu melihat hampir semua spectrum warna. Hal ini erat kaitannya dengan cara hidup dari malam hari menjadi siang hari. Selain itu, matapun diperlukan untuk melihat makan diantara ranting-ranting pohon, dan untuk menyelinap dengan mudah diantara hutan.
  • Ujung jari bercakar berangsur-angsur berubah menjadi kuku. Hal ini terlihat bahwa tupai mempunyai cakar, sedangkan primata lebih lanjut mempunyai kuku yang tebal dan akhirnya manusia mempunyai kuku yang tipis. Cakar mula-mula digunakan untuk mengais mencari makan. Dengan berubahnya cara hidup dari hidup di tanah menjadi kehidupan arboreal, maka cakar menjadi mengganggu kemapuan bergerak dengan cepat di atas pohon.kehidupan arboreal lebih membutuhkan kemampuan untuk me-megang. Dengan demikian, terjadi pula perubahan cara memegang dengan terbentuknya ibu jari dengan persendiaan yang lain daripada jari-jari yang lain. Hal ini erat kaitannya dengan timbulnya flora hutan sebagai habitat baru di muka bumi. Cakar perlu untuk naik pohon, tetapi selalu terkait kalau pindah dari suatu tempat ke tempat lain. Selain itu, terjadi pula perubahan dari telapak tangan. Hal ini penting berkaitan dengan kemampuan untuk memegang yang terlihat pada kera, yang mempunyai “empat tangan”, bahkan pada kera Amerika Selatan, ekorpun dapat digunakan untuk memegang.
  • Kehidupan arboreal menyebabkan fungsi tangan lebih penting daripada kaki. Hal ini terlihat pada bangsa kerayang memilki tangan yang lebih panjang dan lebih kuat daripada kaki. Struktur ini penting untuk dapat nerayun-ayun dan berpindah tempat. Dengan berubahnya permukaan bumi, maka jumlah hutan menjadi semakin sedikit. Selain itu, ditemukan primata besar yang tidak dapat ditunjang oleh hutan. Dengan demikian, primata mulai turun ke permukaan bumi. Akibatnya tangan menjadi kurang diperlukan sedangkan kaki diperlukan untuk mengejar mangsa dan menghindarkan diri dari predator.
  • Volume otak mengalami perubahan pesat. Faktor ini sangat nyata terlihat pada golongan kera-manuasia. Australopithecus hanya mempunyai volume otak 600 cc, sedangkan manusia modern sekitar dua kali lebih besar. Data fosil menunjukkan bahwa fosil manusia lainnya mempunyai kisaran antara keduanya. Perubahan volume otak dapat pula dilihat pada perubahan dahi.

Gambar Evoolusi Tengkorak Primata

2.1.2        Data Fosil Evolusi Primata

Bermacam-macam fosil primata seperti Mesopithecus, Miopithecus,dan Aegyptophitecus dari lapisan Oligosen; Parapithecus, Propliopithecus yang berbentuk seperti bajing, diperkirakan tidak mempunyai hubungan kekerabatan yang cukup dengan manusia. Fosil primata yang paling tua dan masih termasuk famili Homonidae adalah Dryopithecus, Limnopithecus, Brahmapithecus, Sivapithecus, Pliopithecus, Oreopithecus, dan Proconsul yang dikenal sejak zaman Miosen.

Dryopithecus dianggap berkerabat dengan bangsa beruk dan kera, sedangkan Proconsul, merupakan fosil Homidid tertua yang diduga berkerabat dengan gorilla dan simpanse. Fosil Brahmapithecus, dan Sivapithecus belum diketahaui kerabat dekatnya. Kemudian kita mengenal fosil Hominid yang lebih muda yakni Ramapithecus yang dianggap sebagai fosil yang erat hubungannya dengan manusia. Fosil ini pada mulanya hanya sebuah tulang rahang. Namun kini pandangan tersebut berubah, karena penemuan baru telah meberikan pandangan yang lebih baik. Fosil ini ternyata identik dengan Dropithecus. Fosil berikutnya adalah Kenyapithecus.

Fosil Homo mungkin pula telah ada, namun data yang ada belum meyakinkan. Baru kemudian, pada lapisan yang lebih muda, mulai dijumpai Paraustralopithecus aethiopicus, yang kemudian oleh para ahli yang beraliran progresif sekaran disebut Homo aethiopicus, Australopithecus (A. africanus, A. afarensis), Homo, Meganthropus palaeojavanicus (Homo mojokertoensis), dan Paranthropus (P. boisei, P. robustus). Kedua marga fosil terakhir dan Gigantopithecus adalah fosil manusia atau kera berukuran besar dan mungkuin pantas dinamakan raksasa. Fosol-fosil yang menempati lapisan lebih atasa adalah Zinjanthropus, Homo habilis, Homo ergaster, Homo rudolfensis. Baru kemudian kita mengenal manusia purba, Homo erectus (Sinatropus, Pithecanthropus, Atlanthropus, Telanthropus, Eoanthropus dan Homo heidelbergensis). Fosil-fosil Hominid yang paling muda semuanya sudah dianggap sebagai Homo-sapiens (Swancombe, Steinheim, Cro-Magnon), dan Homo sapiens neaderthalensis (Homo soloensis, Homo rhodosiensis).

2.1.3        Data Genetika Molekuler Fosil Primata

Pendekatan molekuler dilakukan oleh sekelompok peneliti dari Universitas California di Berkeley. Tahun 1987 mereka mengemukakan hasil analisis ADN mitokondria yang menunjukkan bahwa ADN mitokondria manusia yang paling primitif (wanita, karena ADN mitokondria diturunkan dari pihak ibu) terdapat di Afrika. Bila dikaji mengenai kecepatan mutasi ADN mitokondria, dan dikaitkan dengan perubahan yang terjadi, maka dapat disimpulkan bahwa manusia yang paling primitif harus sudah berada di muka bumi sekitar 200.000 tahun yang lalu. Hal ini menimbulkan kontroversi dengan data fosil, karena menurut fosil, Homo sapiens pertama berumur paling sedikit sekitar 250.000 – 1.000.000 tahun yang lalu. Apalagi bila kita membaca buku yang lebuh tua, maka dapat kita menemukan bahwa perkiraan manusia pertama adalah sekitar 15.000.000 tahun yang lalu.

Penelitian tadinya dilakukan oleh kelompok lain dengan menggunakan analisis ADN kromosom Y menunjukkan bahwa pria pertama berasal dari daerah Aka Afrika, di tempat suku Pygmee berada. Pendekatan tersebut di atas, meskipun mengarah kepada Afrika sebagai daerah asal manusia, sangant didukung oleh data fosil.

Meskipun data molekuler sangat cocock dengan data fosil, namun data yang masih ada belum cukup memastikan asal usul manusia. Teori lain menyatakan bahwa manusia pertama mungkin adalah suatu hybrid antara manusia primitif (Homo erectus dengan Homo habilis dan Homo neaderthalensis) dan dihasilkan manusia modern yang hidup sekarang. Pendapat lain mengatakan bahwa asal usul manusia terjadi di Afrika dan Asia.ada pula kemungkinan yang jauh lebih kecil yakni di Eropa dan Australia. Pendapat ini didasarkan pada fosil Homo erectus dan fosil Homo sapiens.

2.2 Radiasi Primata

Perkembangan evaluasi Primata dimulai dari moyang yang berupa hewan Mammalia pemaan serangga menurunkan Prosimian yang hidup pada zaman Palaeosin. Hewan ini bertubuh kecil seperti cecurut, bermoncong, dan berekor panjang. Mereka tangas dan cerdas, mempunyai organ-organ penggenggan dan lima jari. Dari Prosimian perkembangan radiasi evolusi menuju 4 golongan besar yang masih tetap hidup sekarang ini.

2.2.1        Prosimian Modern

Kelompok besar pertama yakni Prosimian modern. Yang termasuk kelompok ini adalah lemur dan loris, sekarang hidup di pulau Madagaskar. Hewan-hewan ini masih mempunyai moncong dan ekor yang panjang, berkuku, bukan cakar dengan kemampuan untuk memanipulasi obyek, hal ini merupakan ciri umum Primata.

Gambar Evolusi Primata Modern

Hewan lain yang termasuk Prosimian modern ialah tarsier (binatang hantu), hidup di Asia Selatan dan Indonesia (daerah pantai Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra). Pada hewan ini tidak dijumpai lagi moncong yang panjang mata lebih ke depan tidak seperti mata lemur yang agak kesamping oleh karena itu, tarsier dapat memfokuskan satu titik dengan kedua matanya Nampak adanya peningkatan pada alat-alat penglihatan dan mekanisme saraf yang memberikan kemampuan untuk kedalaman persepsi (binocular stereoscopic vision) dan penglihatan warna pada tahap-tahap beranekaragam.

Tarsius besarnya kira-kira sama dengan seekor tikus besar dan dapat bergerak sejauh yang bisa dilakukan seekor kangguru. Tarsius dapat memutar kepalanya nyaris 360 derajat, sehingga dapat memandang lingkungan yang ada tepat di belakangnya. Dalam hal ukuran relatif otak dan bentuk hidung, tarsius mirip dengan monyet.

2.2.2        Ceiboidea (Monyet Dunia Baru)

Ceboidea hanya hidup pada lingkungan pohon dan ditemukan di daerah hutan-hutan sebelah selatan Amerika Utara, Amerika tengah, Dan Amerika Selatan. Mereka terbagi menjadi dua family, yakni callithricidae dan Cebidae. Callithricidae atau Marmoset adalah Primata kecil yang telah menempati niche seperti bajing di hutan Dunia Baru. Perkembangan yang menonjol pada cakar untuk memanjat yang merupakan bagian penting dari pergerakan mereka.

Ceboidae hidup dilingkungan pohon. Namun lebih berkembang dibandingkan dengan Callithricidae. Mereka mengembangkan beraneka ragam besar tubuh dan adaptasi ekologis di pohon-pohon. Beberapa anggota Cebidae telah beeradaptasi dengan cara hidup dilingkungan pohon dengan jalan mengembangkan “kaki ke-5” dalam bentuk ekor prehensile (penggenggam, dapat digunakan untuk memegang sesuatu). Ekor prehensile tidak hanya terdapat pada moyet Dunia lama.

Monyet dunia baru adalah hewan asli Amerika Selatan. Kebanyakan tidak  memiliki ibu jari yang dapat diputar, yang merupakan ciri khas dari primata-primata yang lebih maju. Cupingnnya lebar dan membentang ke arah samping, sehingga hidung tampak rata. Monyet capuchin yang digunakan di Eropa dalam pertunjukan-pertunjukan hiburan tergolong contoh monyet dunia baru.

2.2.3    Cercopithecoidea (Monyet Dunia Lama)

Semua Primata dunia lama kecuali prosimian adalah catarrhini. (hidung terbelah). Monyet-moyet dunia lama diklasifikasikan dalam satu famili yakni Cercopithecidae yang terbagi menjadi 2 sub famili yaitu cercopithecinae (moyet babon) dan colobinae (monyet pemakan daun).

Pada catatan fosil cercopithecoidea berkembang pada zaman Oligosin dan Miosin. Pada akhir Moisin mereka telah menempati sejumlah niche lingkungan pohon serta terestrial di Afrika dan Erasia. Pada saat sekarang mereka berkembang menjadi Colonin (monyet pemakan daun) dan cercopithecin. Cercopithecin yang hidup sekarang menempati iklim dan habitat yang lebih luas dibandingkan Primata lain, kecuali manusia.

1)      Colobinae

Colobinae hidup beradaptasi makan daun vegetasi muda. Mereka mempunyai puncak gigi yang tajam pada gigi molar, kantung pipi khusus, dan bentuk perut khusus untuk mencernakan makanan. Pencernaan dilakukan dengan bantuan bakteri yang hidup pada perutnya yang mirip dengan kantung. Langur (sebutan untuk berapa Colobinae) mendiami banyak habitat. Beberapa diantaranya digunung-gunung tinggi dengan sedikit pohon dan makannya bergantung pada puncak-puncak cemara dan kuliy pohon dan dedaunan.

2)      Cercopithecinae

Sub famili ini menempati beraneka habitat, mulai dari savanna terbuka (babon, macaques, monyet patas) sampai hutan (mandril, mangabey, dan quenon) tingkah laku social babon dan Cercopithecinae terrestrial banyak dipelajari oleh ahli antropologi untuk mengetahui factor-faktor lingkungan dan ekologi yang menolong membentuk nenek moyang manusia.

Mereka berjalan di atas 4 kaki (quadrapedal dan mengembangkan kemampuan mencengkeram, tetapi tidak dengan ekor prehensile. Bentuk pergerakan mereka dinamakan branch walking (berjalan) diatas cabang), plantigrade (kencenderungan bergerak pada permukaan plantar = tapak tangan atau tapak kaki) da digitigrase (kecenderungan bergerak dengan jari tangan atau jari kaki)

Gibbon mempunyai tengkorak yang lebih kecil dibandingkan dengan Hominoid yang lain dan semata-mata orboreal. Bentuk Gibbon khusus untuk bergerak arboncal, disebut brachiation. Branchiation memungkinkan gibbon bergerak arboncal, disebut brachiantion. Branchiation memungkinkan gibbon bergerak lebih cepat antara pepohonan dengan menggunakan kedua lengannya, hingga tangannya berfungsi sebagai sebuah kait. Tetapi jika ia turun ke tanah berjalan-jalan di atas dahan –dahan dilakukan dengan 2 kaki.

Orangutan seperti gibbon hidup terbatas di Asia Tenggara dan pernah hidup tersebar luas di Asia. Cara bergerak orangutan dinamakan quadramanual (empat tangan). Meskipun orangutan menghabiskan banyak waktunya di atas pohon dengan menggunakan 4 anggota badanya, jua dapat berjalan jauh sekali di daratan tanah, khususnya jantan dewasa hampir 2 kali lebih besar daripada betinanya dan menjalani hidup membujang.

Gorila sangat terbatas ruang lingkupnya dan sekarang hanya terdapat di hutan pegunungan daerah katulistiwa dan dataran tinggi Afrika timur. Gorila adalah vegetarian terestial, pemakan daun yang tumbuh didataran tanah. Susunan kerangka sangat khusus untuk menopang berat badan terestrial dan berjalan diatas buku-buku jari. Cara bergerak seperti ini terlihat pada bentuk dada, bahu, pergelangan tangan, dan tulang lumbar verteberal yang kuat.

Gambar Cercopithecinae

Simpanse tidak mempunyai catatan fosil, hidup terbatas di daerah hutan dan bagian berhutan kera. Karena adaptasi mereka, mempunyai struktur badan yang orthograde (tegak), yang memungkinkan mereka berjalan jauh di atas permukaan tanah, tetapi juga posisi duduk dalam jangka waktu lama. Untuk duduk, babon telah mengembangkan sepetak kulit pada bagian belakang yang dinamakan ischial callosities.

3)      Hominoidea

Kelompok ini muncuk pada zaman Paleosin. Selama Miosin awal radiasi Hominoidea bercabang menjadi dua yakni Anthropoidea (kera) dan Hominidea (keluarga manusia). Kedua famili ini ditandai dengan hilangnya ekor dan berkembangnya ukuran besar badan. Otak. Anthropoidae dan Hominiidae jauh lebih berkembang dan demikian fungsi lebih kompleks. Kera-kera yang hidup sekarang dibagi 4 genus, yakni gibbon, orangutan, simpanse, dan gorila.

2.3 Makhluk –makhluk praHomo sapiens

Evolusi makhluk – makhluk  pra –Homo sapiens dapat digolongkan  menjadi dua bagian besar, yakni:

2.3.1 Evolusi pra -Homo sapiens berdasarkan Hubungan Kekerabatan manusia dengan Hewan

Klasifikasi Homo sapiens adalah sebagai berikut:

Kingdom            : Animalia

Kelas                  : Mammalia

Ordo                   : Primata

Subordo : Anthropoidea

Famili                 : Homonoidea

Genus                 : Homo

Species   : Homo sapiens

Berdasarkan hubungan kekerabatan antara manusia dengan  hewan, evolusiner pra-Homo sapiens secara garis besar mengalami 4 perkembangan, yakni:

  • Famili Tupaiidae

Famili Tupaiidae merupakan ordo Primata, yakni golongan hewan pemakan serangga.

  • Famili Lemuroidae

Famili ini merupakan Ordo Primata primitif termasuk di dalamnya adalah jenis binatang setelah kera. Misalnya Tarsius spectrum (binatang hantu), yang hidup di Indonesia (Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra), dan Filipina. Jenis binatang tersebut mempunyai ekor panjang serta berkuku bukan cakar dengan kemampuan memanipulasi objek.

  • Famili Pongidae
  • Famili Homonidae

2.3.2 Evolusi pra -Homo sapiens Berdasarkan Ditemukannya Fosil

Evolusi pra - Homo sapiens berdasarkan hasil penemuan fosil yang ditemukan di berbagai lapisan dunia. Berdasarkan fosil yang ditemukan diperkirakan kehidupan manusia dimulai lebih kurang 25 juta tahun lalu yang tersebar menjadi 3 zaman, yakni:

1)      Zaman Miosin (25 – 10 juta tahun yang lalu)

  • Tingkat pertama, yakni Plipithecus. Makhluk ini sepenuhnya bersifat kera, oleh karena itu dinamakan kera primitif. Tubuhnya kecil dan pendek. Kedua tangannya mungkin masih digunakan untuk bergelantungan di dahan pohon. Mereka belum dapat berjalan tegak. Diduga, kera primitif hidup 35 – 25 juta tahun yang lalu. Ditemukan oleh tim ekspedisi Universitas Yale di Fayum tahun 1961.
  • Tingkat kedua, Proconsul, yakni kera purba yang hidup sekitar 25 -15 juta tahun yang  lalu. Para ahli berpendapat bahwa makhluk ini tidak sepenuhnya bersifat kera; disebabkan pada muka, rahang, gig geliginya terdapat ciri yang ditafsirkan sebagai ciri manusia. Makhluk ini ditemukan di danau Victoria, dikatakan oleh seorang ahli: “Mungkinkah ini merupakan bisikan samar – samar pertama tentang makhluk hidup yakni manusia”. Proconsul semakin banyak terkumpul dan semuanya menunjukkan bahwa binatang ini muncul dengan berbagai ukuran yang berbeda – beda; ada yang sekecil simpanse dan ada yang menjadi sebesar gorilla. Tipe gorilla inilah yang menjadi nenek moyang gorilla modern.
  • Tingkat ketiga, Dryopithecus, yakni kera raksasa yang hidup sekitar 15 – 10 juta tahun yang lalu. Makhluk ini sejenis Proconsul. Fosilnya ditemukan luas di Eropa, India, Cina, dan Afrika. Fosil ini belum lengkap untuk menunjukkan salah satu anggota dari genus yang luas manuju ke arah  manusia. Karena rekonstruksi makhluk ini dibuat terutama dengan menggunakan fragmen – fragmen dan gigi – gigi. Dryopithecus memiliki bentuk badan yang cukup besar serta sangat gemar mengembara sehingga menempati hutan  tropis yang sangat luas.
  • Tingkat keempat, Ramapithecus, yakni primata paling purba yang pada umumnya dianggap sebagai leluhur manusia. Hidup sekitar 15 -10 juta yang lalu. Ukurannya jauh lebih lebih kecil daripada manusia sekarang, yakni 0,9 – 1,2 meter dan kapasitas tengkoraknya lebih kurang 40 cc. Ramapithecus memiliki busur gigi yang lebih kecil namun jauh lebih besar daripada kera. Bentuknya kira-kira mirip dengan busur gigi manusia. Pada manusia, tanganlah yang melakukan sebagian besar pemecahan dan pencabikan makanan yang keras, sedangkan pada kebanyakan kera, gigi tampak merupakan satu-satunya alat untuk melakukan tugas-tugas tersebut. Fosil dari makhluk ini ditemukan  pada tahun 1930-an di bukit Siwalik (Pakistan) oleh G. E. Lewis dari Universitas Yale.

2)      Zaman Pliosin (10 – 2 juta tahun yang lalu)

Pada zaman ini telah muncul makhluk baru yakni primata yang  tidak menyerupai primata yang hidup sebelumnya. Makhluk ini bukan  kera penghuni hutan, tetapi lebih banyak hidup di padang rumput terbuka. Makhluk ini berjalan  tegak dengan  kedua kakinya. Ada dua jenis makhluk ini, yakni:

  • Tahap kelima, Australopithecus afarensis

Makhluk ini merupakan tingkatan kelima. Australopithecus afarensis merupakan makhluk purba yang diduga merupakan keturunan Ramapithecus. Hidup sekitar 5 juta tahun yang lalu. Makhluk ini juga dianggap sebagai Hominoid paling awal yang menurut beberapa ahli sudah  mampu  berjalan tegak.

Gambar Fosil Australopithecus afarensis

Australopithecus afarensis ditemukan oleh Lois dan Mary Leakey dibagian Timur dan Utara Afrika Selatan, di tebing Olduvai dekat dengan Ethiopia. Fosil – fosil makhluk ini ditemukan dari lapisan – lapisan batuan yang berbentuk tebing lembah. Dengan  metode kalium –  argon dapat ditentukan dengan tepat fosil itu.

  • Tahap keenam, Australopithecus africanus

Australopithecus africanus merupakan tingkatan keenam. Makhluk ini ditemukan oleh Raymond Dart, pada tahun 1924, yakni seorang ahli otonomi dan palaentologi dari Universitas Witwatersrand di Johannesburg, Afrika Selatan. Fosil Australopithecus africanus dipelajari Dart dari koleksi batuan yang mengandung fosil dari suatu lubang galian pertambangan kapur di Taung, Batswana. Fosil terbenam dalam salah satu bagian batuan dimana tengkorak – tengkorak yang ditemukan tidak menyerupai tengkorak lainnya yang pernah dilihatnya.

Ketika tenggkorak  tdi dipisahkan sama sekali dari batuan, Nampak suatu tengkorak yang menakjubkan. Dalam beberapa hal, tengkorak ini menyerupai anak manusia yang berumur lima atau enam tahun. Tetapi dalam hal beberapa lainnya tengkorak tadi jelas menyerupai tengkorak kera. Dart menamakan penemuanya dengan Australopithecus africanus, artinya “Kera Afrika Selatan”. dia terus mempelajarinya dan setelah empat tahun bekerja berhasil memisahkan rahang tengkorak sedemikian, sehingga giginya tampak jelas. Terlihat gigi – giginya sangat menyerupai gigi anak manusia. Lain dari itu, dari letak foramen magnum, yakni lubang yang menghadap ke tengkorak dan yang melewati oleh urat saraf tulang belakang menuju ke otak, menghadap langsung ke bawah. Dart merasa bahwa tengkorak tadi adalah tengkorak suatu makhluk yang letak kepalanya seperti pada manusia; mungkin makhluk tersebut sudah berjalan tegak.

Penemuan Dart didukung oleh ahli palaentologi lain yang berkerja di Afrika Selatan, yakni Robert Broom. Setelah bertahun – tahun dia mempelajari fosil Mammalia di Afrika Selatan. dengan beberapa teman sekerja, Broom mencari fosil – fosil lagi yang mungkin dapat memberikan petunjuk untuk memperkuat kesimpulannya. Selama empat puluh tahun berikutnya, terkumpul sudah bahan fosil yang fosil tengkorak, tulang kaki, dan tulang panggul. Semua fosil diharapkan dapat memberi  petunjuk dengan jelas bahwa memang sesungguhnya di Afrika Selatan  terdapat makhluk pra – manusia (pra – Homo sapiens).

3)      Zaman Pleistosin (2 juta tahun yang lalu sampai sekarang)

Pada zaman ini manusia menglami evolusi yang sangat cepat dan sudah menggunakan perkakas baik dari batu  maupun kayu. Mereka sudah pandai berburu, sudah dapat menggunakan api dan diduga sudah dapat berbicara. Anggapan  ini berdasarkan pada volume otak yang lebih besar bila dibandingkan dengan makhluk sebelumnya.

  • Tahap ketujuh, Australopithecus robustus

Australopithecus robustus merupakan makhluk sejenis Australopithecus africanus, namun  ukurannya lebih besar. Tinggi badannya mencapai 1,5 meter dan berat badannya 65 – 75 kg, mempunyai gigi – gigi besar dan otak rahang yang kuat yang menunjukkan bahwa spesies ini adalah herbivora. Sedangkan Australopithecus robustus lebih langsing, berat badanya kira – kira 50 kg dan tingginya 1,2 meter. Meskipun catatan fosil jauh dari sempurna, akan tetapi ada petunjuk bahwa Australopithecus tersebut hidup di Afrika Selatan  kira – kira selama 750. 000 tahun yang lalu. Selama waktu  itu, Australopithecus africanus makin lama makin menyerupai manusia, sedangkan Australopithecus robustus tetap tidak berubah.

  • Tahap kedelapan, Australopithecus boisei

Makhluk ini merupakan tahap kedelapan, yang merupakan jenis Australopithecus yang paling besar. Australopithecus boisei hidup di Afrika Timur, dengan ciri – ciri badan tegap, muka dan giginya khas lagi kokoh, tempurung kepalanya rendah dan kasar. Diduga hidup 1,5 juta tahun yang lalu. Ditemukanj oleh Leakey di Lenbah Olvuvai, Tanzania.

  • Tahap kesembilan, Homo habilis

Makhluk ini merupakan keturunan dari Australopithecus purba yang lebih ramping dan berbeda dengan  saudara – saudaranya, karena lebih tinggi intelegensinya. Homo habilis (manusia tukang) merupakan pembuat dan  memakai alat. Homo habilis hidup sekitar 2 – 1,5 tahun yang lalu. Beberapa ahli berpendapat bahwa makhluk ini sebagai “manusia sejati pertama”, yang lebih cerdas daripada Homo habilis karena memiliki rongga otek yang lebih besar. Ditemukan oleh Leakey di Lembah Olduvai.

  • Tahap kesepuluh, Homo erectus

Makhluk ini diduga hidup pada 1,5 – 0,5 juta tahun yang lalu. Homo erectus dapat berjalan tegak, kakinya panjang dan lurus, dan tulang tungkainya lebih maju. Otaknya lebih besar dengan valume berkisar 750 – 1.400 cc. Homo erectus sebagai manusia purba sudah pandai membuat perkakas, misalnya kapak genggam, walaupun masih agak kasar. Kehidupannya dengan berburu mammalian besar. Telah menggunakan api, sudah dapat berbicara untuk mengajari anaknya bagaimana membuat perkakas. Makhluk ini ditemukan tersebar di dunia.

Kenapa Homo erectus dapat hidup di seluruh dunia belumlah jelas. Mungkin tipe makhluk ini berevolusi di beberapa tempat menyebar sepanjang daratan subur dan yang mudah dilalui, terbentang dari Afrika Timur, mengitari Samudra Indonesia sampai ke Jawa.

Gambar Fosil Homo erectus

Perkembangan evolusi sejalan dengan masa pengembaraan mereka dari abad ke abad. Makhluk ini di temukan diberbagai tempat, antara lain:

  • Pithecanthropus erectus (manusia jawa), ditemukan oleh Eugene Dubois tahun 1891. Dubois adalah seorang dokter Belanda menemukan fosil manusia Jawa di daerah Trinil (sepanjang tepi bengawan solo). Fosil yang ditemukan berupa rahang beberapa gigi, dan sebagian dari tulang tengkorak.
  • Pithecanthropus pekinensis (Sinathropus pekinensis) (manusia Cina). Fosil makhluk ini ditemukan oleh Davidson Black dan Tranz Weidenreich pada tahun 1920 dari suatu penggalian di dalam sebuah gua kapur di dekat Peking. Volume otaknya 900 – 1.200 cc. kebudayaannya sudah lebih maju daripada Pithecanthropus. Mereka telah menggunakan senjata dan perkakas yang terbuat dari tulang dan batu sebagai alat – alat  kerja. Penggunaan api nampaknya sudah biasa. Para ahli berpendapat bahwa mahkluk ini suka membunuh sesamanya. Hal ini terbukti dari tulang – tulang tengkorak kosong yang menunjukkkan bekas dibelah dengan senjata dari bawah ke atas. Banyak ahli juga berpendapat bahwa Sinanthropus pekinensis merupakan varian dari Pithecantropus, karena kedua manusia purba mempunyai struktur tubuh yang sama dan hidup pada zaman yang sama, yakni kira – kira 500.000 tahun yang lalu.
  • Meganthropus Palaeojavanicus (Manusia Raksasa Jawa). Meganthropus palaeojavanicus ditemukan di Sangiran di pulau jawa oleh Von Koningswald pada tahun 1939 – 1941.
  • Manusia Heidelberg.. Manusia heidelberg ditemukan di Jerman
  • Tahap kesebelas, munculnya makhluk yang dinamakan Homo sapiens purba, yakni makhluk yang hidup sekitar 400.000 tahun yang lalu. Makhluk ini sebagai hasil penemuan fosil dari tiga tengkorak yang tidak lengkap, yakni kepingan tengkorak, tulang, dan beberapa gigi. Dari fosil yang ada ditafsirkan bahwa manusia purba ini merupakan tipe peralihan antara Homo erectus ke Homo sapiens yang lebih modern. Kemampuan membuat alat sudah jauh lebih maju, bahkan ada yang menduga bahwa mereka sudah mulai bercocok tanam.
  • Tahap keduabelas, adalah munculnya Homo sapiens neanderthalesis (Manusia Lembah Neander (Neanderthal)) , yakni makhluk yang diduga hidup pada masa antara 75.000 – 10.000 tahun yang lalu. Fosil makhluk ini ditemukan tahun 1856 di Lembah Neanderthal, Jerman. Bentuk tubuhnya sepenuhnya manusia, hidungnya terlihat mancung. Ukuran volume otaknya relative sudah termasuk dalam kisaran ukuran rongga antara 1.,6 – 1,8 meter, berbahu lebar, berdada cembung, dan berotot padat. Manusia Lembah Neander sudah memiliki kemampuan membuat dam memakai pakaian dari kulit  dan hidup menetap secara sederhana di gua – gua. Para ahli pada umumnya sependapat bahwa manusia Lembah  Neander  adalah  leluhur manusia modern, walaupun sekelompok ahli masih meragukan.

Umumnya masih diperdebatkan apakah Homo sapiens neanderthalesis pra-manusia ataukah manusia? Sebagian para ahli berpendapat bahwa makhluk ini manusia walaupun wajahnya menyeramkan. Nama biologiny menunjukkan bahwa ia ditempatkan dalam genus dan spesies yang sama dengan kita, tetapi ditempatkan pada subspecies yang berbeda dengan  manusia. Manusia Neander tidak berdagu dan mempunyai otak yang sama besar dengan otak manusia sekarang. Volume otak ini berkaitan dengan kemampuan berbicara yang berkembang dengan baik. Ia hidup di gua – gua, menggunakan  api dan dapat membuat peralatan dengan baik. Anggota keluarga yang mati dikuburnya.

Homo sapiens neanderthalesis pernah “disingkirkan” dari catatan Homo sapiens secara anatomis modern. Banyak teori yang telah diajukan untuk menjelaskan perkembangan dan kepunahan Neanderthal. Teori – teori tersebut telah berspekulasi mengenai hubungan Neanderthal Eropa dengan  bentuk – bentuk lain dari Timur Tengah dalam rangka upaya mencari tempat Homo sapiens neanderthalesis dalam evolusi manusia.

Teori – teori tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

v  Neanderthal adalah bentuk transisi antara Homo erectus dan Homo sapiens yang kemudian berevolusi menjadi manusia modern. Bentuk progresif dari Timur Tengah dianggap bentuk yang lebih maju.

v  Neanderthal telah terspesialisasi, terisolir secara geneti yang telah teradaptasi dengan lingkungan dingin glasial Eropa. Ketika iklimnya bertambah hangat 40.000 tahun yang lalu. Mereka punah atau oleh bentuk – bentuk yang tidak begitu terspesialisasi dari Timur Tengah, yang berimigrasi ke Eropa.

v  Teori yang sama dengan yang kedua, tetapi bukannya digantikan oleh bentuk – bentuk lain yang dating, melainkan mereka secara genetik tenggelam, tertelan begitu mereka kawin dengan bentuk – bentuk yang lebih maju.

Beberapa teori mungkin benar, atau mungkin salah. Nampaknya memang Neanderthal Eropa sedikitnya agak terisolir secara genetik. Apakah morfologi yang berbeda merupakan akibat founder effect tidaklah pasti. Sama saja seperti pertanyaan yang mempermasalahkan apakah mereka menyumbangkan gen pada populasi manusia modern. Nampaknya juga tidak mungkin teknologi  Neanderthal tidak cukup menghadapi kebudayaan lain yang menyerbu, karena populasi setempat biasanya cenderung untuk lebih teradaptasi dengan lingkungan lokal daripada populasi imigan. Namun, kita banyak melihat kasus – kasus sejarah mengenai kekuatan  teknologi kuat menggantikan  teknologi setempat. Misalnya, jatuhnya suku Indian Amerika setelah kontak dengan orang Eropa.

  • Tahap ketiga belas, yakni munculnya manusia Cro-Magnon. Makhluk ini merupakan Hominidae (manusia)  purba termodern. Diduga hidup 10.000 – ribuan tahun yang lalu. Mereka memiliki kebudayaan yang cukup maju, bercocok tanam secara baik, memelihara binatang, menguasai lingkungan, bahkan kemudian membangun kota serta mengembangkan peradapan. Ciri – cirinya adalah memiliki dagu yang menonjol, hidung mancung, gigi kecil dan merata, serta raut wajah yang tampan. Sesungguhnya makhluk ini mirip dengan orang – orang Eropa sekarang.

Cro – magnon diambilkan dari nama gua di Prancis, tempat fosil – fosil makhluk ini ditemukan. Tanpa ragu – ragu para ahli anthropologi menempatkan manusia Cro – Magnon pada spesies dan subspecies yang sama dengan kita (Homo sapiens). Manusia Cro – Magnon memiliki ciri tinggi, tegak, dan mempunyai otak yang sama besarnya dengan otak manusia sekarang. Ia pandai sekali membuat alat – alat dan juga ahli seni. Selain batu, mereka menggunakan tulang, gading, dan tanduk kijang untuk membuat alat-alatnya. Beberapa dari bahan  ini diukur dengan corak – corak atau dipahatkan menjadi bentuk – bentuk benda yang dapat dikenal.

Bagaimana hubungan antara manusia Cro – Magnon dan Homo sapiens yang sekarang hidup di Eropa tidak begitu jelas. Uraian palaentologi manusia sebenarnya membinggungkan, bahkan lebih membinggungkan daripada uraian yang terlihat di atas. Fosil manusia selalu tidak lengkap dan selalu sukar untuk menentukan umurnya. Kadang-kadang para ahli anthropologi tidak bekerja sama dengan para ahli biologi mengenai lainnya dan begitu sebaliknya. Tetapi penelitian mengenai zaman terjadinya sebagian besar evolusi genus Homo mendapat kemajuan pesat. Dikemudian hari tentu kita akan lebih mengetahui lagi mengenai asal – usul manusia (manusia – manusia pra- Homo sapiens).

  • Tahap keempat belas, yakni munculnya Homo sapiens-sapiens (manusia modern). Tidak pasti benar kapan munculnya manusia modern, namun para peneliti ada yang beranggapan bahwa manusia modern muncul sejak sekitar 2.000 tahun Sebelum Masehi.

2.4 Sejarah Manusia

Sejarah manusia adalah asal usul manusia. Fakta atau bukti yang diperoleh untuk mempelajari sejarah manusia dengan bantuan fosil-fosil yang ditemukan pada lapisan bumi. Dari fosil-fosil yang ditemukan, didapatkan kesimpulan bahwa deretan-deretan fosil yang terdapat di batuan muda berbeda apabila dibandingkan dengan fosil-fosil dari batuan yang lebih tua. Perbedaan itu disebabkan oleh perubahan yang perlahan-lahan. Cara penyebaran hewan dan tumbuhan dapat membuka tabir mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada moyangnya.

Tidak akurat untuk menganggap kalau manusia berkembang dari makhluk yang mirip atau identic dengan kera yang hidup di masa kini. Sebenarnya, baik manusia maupun kera berkemban dari nenek moyang bersama yang barangkali sama sekali tidak mirip dengan kera masa kini dalam hal ciri-ciri spesifiknya. Manusia dank era telah berdivergensi dan menjalani jalur-jalur adaptif yang berbeda selama sekitar 8 juta tahun. Banyak anti-evolusionis meng-anggap bahwa evolusi menyatakan kalau kera yang mirip sekali dengan gorilla masa kini memunculkan manusia dalam jangka waktu yang relatif pendek (ribuan tahun). Pandangan-pandangan itu mencegah pertimbangan terbuka akan nilai teori evolusi untuk menjelaskan keberagaman pada semua organisme.

Berhubungan dekat dengan perspektif tersebut adalah ide yang sama salahnya, bahwa evolusi selalu berjalan lurus (evolusi ortogenik) dari bentuk nenek moyang melalui serangkaian bentuk turunan hingga menjadi organisme yang sangat adaptif dan relatif permanen. Proses ovolusi berlangsung terus, dan pada banyak kasus garis-garis keturunan berkembang seperti semak-semak, bukannya pohon. Tidak ada bentuk yang teramat khusus yang merupakan perwujudan penuh sebuah garis keturunan, akan tetapi percabangan terus menerus terjadi dan jarang ada serangkaian bentuk yang membentuk sebuah garis keturunan tunggal yang tak bercabang.

Pada kasus manusia, garis keturunan hominid menhasilkan sebuah genus dan spesies berbeda, yang mungkin pernah berkoeksistensi satu sama lain untuk jangka waktu yang cukup lama. Pada saat yang sama, beberapa kera menjalani garis-garis evolusionernya sendiri untuk menghasilkan kera-kera masa kini, kera-kera lain menjadi punah. Banyak diantara bentuk-bentuk yang punah itu merupakan cabang dari garis keturunan kera dan bukan merupakan nenek moyang langsung dari kera masa kini. Pelajaran yang penting dari hal tersebut adalah bahwa begitu terjadi divergensi di masa yang sangat lampau antara cabang hominid (manusia) dengan pongid(kera) dalam evolusi primata, sebuah proses selektif yang berbeda beroperasi pada massing-masing kelompok besar tersebut.

Miskonsepsi ketiga adalah  bahwa semua ciri yang berasosiasi dengan hominid muncul secara bersamaan atau setidaknya mulai berkembang bersama-sama. Namun kenyataannya sama sekali tidak seperti itu. Ciri-ciri semacam postur yang tegak tampaknya sudah ada jauh sebelum karakteristik-karakteristik khas hominid lainnya muncul.

Kepercayaan keempat yang dipegang oleh pendukaung pandangan kreasionis adalah bahwa penerimaan garis keturunan evolusioner manusia bertentangan dengan keimanan Yahudi-Kristen ataupun komitmen pada agama apapun juga secara umum. Walupun sejumlah sekte fundamentalis yang menerima interpretasi harfiah teks suci secara tidak kritis dapat menghadapi konflik dengan kerangka kerja evolusioner, banyak sekali pemeluk agama yang dapat mendamaikan komitmen-komitmen intelektual dan spiritual mereka.nia yang mirip sekali dengan gorila nyatakan juta tahun. banyak gkali sama sekali tidak mirip denngan kerayakan kera, gi

Klasifikasi makhluk hidup menggolongkan manusia sebagai hewan Vertebrata, yakni sebagai Mammalia. Bila kita membedah tubuh manusia, bagian-bagian tubuhnya seperti jantung, usus, hati, dan paru-paru tidak banyak berbeda dengan jantung, usus, hati, dan paru-paru kucing atau kera. Dengan demikian pula jika kita mempelajari sistem saraf, sistem endokrin, pernafasan, pencernaan, reproduksi atau kontraksi otot-ototnya, kita akan selalu menemukan proses-proses kimia dan fisika yang pada prinsipnya sama yang seperti terdapat pada hewan. Manusia mempunyai rambut dan manyusui anaknya. Manusia mempunyai gerakan bipedal (Latin: bi= dua, dan pedes= kaki) yang berlainan dengan gerakan  mammalia lainnya. Bagian-bagian anatomi manusia dengan kera sangat serupa, oleh karena itu mereka dimasukkan ke dalam satu golongan yakni Ordo Primata.

Setiap spesies mempunyai ciri-ciri khas yakni ciri struktur, ciri fisiologi, dan ciri tingkah laku yang membedakan dari spesies yang lain. Kadang-kadang sukar untuk dapat membedakan spesies yang berlainan tetapi yang dekat hubungan kekeluargaannya. Meskipun diantara individu dalam spesies manusia banyak terdapat keanekaragaman, spesies manusia dapat dibedakan dengan jelas dari hewan yang paling menyerupai, yakni Primata besar lainnya.

2.4.1        Ciri-ciri Struktur Manusia

Perbedaan jasmani yang mencolok yang terdapat antara manusia dengan hewan ialah dalam hal kemampuan manusia untuk berdiri, berjalan, dan berlari dengan tegak pada kedua kaki. Oleh karena itu, tangan manusia bebas untuk mengerjakan atau membawa sesuatu. Kemampuan ini menyangkut banyak modifikasi anatomi. Kaki manusia lebih panjang daripada lengannya, sesuatu hal yang membedakan dari Primata lainnya.  Kaki manusia yag mempunyai lekukan besar dengan ibu jari yang sebidang letaknya dengan jari lainnya, sangat berbeda dengan kaki kera. Kaki manusia sesuai untuk berjalan atau berlari, akan tetapi tidak sesuai untuk berpegangan pada dahan-dahan pohon. Kepala manusia terletak pada tulang belakang sedemikian rupa, sehingga memungkinkan manusia untuk dapat melihat lurus ke depan jika berdiri tegak.

Otak manusia relatif besar. Manusia masa kini mempunyai volume tempurung otak besar 1.200 samapi 1.500 cc, tempurung otak simpanse hanya hanya 350 sampai 450 cc. Tidak ada hubungan mutlak antara besarnya ukuran otak dengan kecerdasan. Otak individu yang mempunyai otak terbesar belum tentu merupakan individu yang tercerdas.  Namun tidak dapat disangkal bahwa otak manusia mempunyai kemampuan besar untuk belajar.  Ciri-ciri kepala manusia lainnya adalah muka yang tegak lurus, rahang yang tidak begitu menonjol, dagu yang nyata, hidung yang jelas dengan ujung memanjang dan bibir yang mempunyai selaput lendir dibagian luar.

Tubuh manusia mempunyai penyebaran rambut yang istimewa. Penyebaran rambut ini berbeda-beda pada berbagai macam populasi manusia. Kaum pria dari beberapa populasi manusia mempunyai janggut lebat. Banyaknya rambut pada manusia berbeda-beda, begitu pula rambut pada lengan dan kaki. Kita hanya dapat mengira-ngira apa artinya adaptasi penyebaran rambut demikian itu dan sampai sekarang pemikiran-pemikiran semacam itu tidak mempunyai arti sama sekali.

2.4.2        Kemampuan Jasmani

Gambaran mengenai batas-batas kemampuan jasmani dapat dilihat dari hasil-hasil pertandingan olah raga. Misalnya untuk lari jarak pendek (100m), manusia dapat mencapai lari 36 km per jam. Banyak macam hewan dapat lari lebih cepat dari pada manusia. Hewan-hewan ini mempunyai kaki yang lebih panjang daripada kaki manusia dalam perbandingan tubuhnya. Macan tutul dapat dapat mengejar kijang dengan kecepatan lebih dari 100 km perjam.biaasanya berat jenis tubuh manusia lebih rendah daripada berat jenis air. Karena itu, di laut tenang dapat terapung untuk jengka waktu lama. Manusia dapat berenang dengan baik. Untuk jarak 100m manusia dapat berenang dengan kecepataan rata-rata 6,8 km perjam. Untuk menempuh jarak 1,5 km kecepatan menurun sampai 5,3 km perjam. Bahkan dengan bantuan alat-alat di tangan dan kakipun kemampuan berenang manusia masih jauh di bawah kemampun ikan pedang yang dapat membelah air dengan kecepatan 64 km perjam atau kemampuan kura-kura laut dan ikan paus yang dapat berenang dengan kecepatan 25 km perjam.

Perbandingan-perbandingan di atas menunjkkan bahwa kwmampuan jasmani manusia di bawah kemampuan jasmani hewan. Tetapi manusia mempunyai kecakapan yang jauh lebih tinngi dari pada hewan. Karena kecakapan ini mennusia mampu  menggunakan alat indranya yang paling sempurna yakni alat pengliha dengan sebaik-baiknya. Manusia dapat menafsirkan rangsangan yang dapat di terima dan mempunyai pikiran yang tidak terhingga banyaknya dalam mengadakan reaksi terhadap apa yang dialaminya.

2.4.3        Ciri-ciri fisiologi

Sebagian besar keunggulan struktur manusia lebih banyak berhubungan dengan ciri tingkah lakunya dari pada dengan ciri fisiologinya, meskipun memang kadang-kadang sukar untuk membedakan kedua hal ini. Secara fisiologik manusia tidak banyak berbeda dengan mamalia lainnya, terutama primata. Karena itu dalam banyak hal untuk memahami fisiologi manusia dapat menggunakan percobaan dengan Mammalia.

Pada manusia tidak terdapat musim berbiak. Kegiatan reproduksi dapat terjadi setiap saat sepannjang tahun. Populasi manusia dapat di jumpai individu dengan hari lahir pada semua bulan dalam setiap tahun. Pada kera dan sebangsanya terdapat kecenderungan ke arah tidak adanya musim tetentu dalam reproduksi. Kebanyakan hewan yang di pelihara manusia cenderung mempunyai ciri fisiologi seperti manusia, meskipun di alam bebas tetap mempunya musi biak.

Tidak hanya hewan mempunyai umur panjang seperti manusia. Hal ini di sebabkan proses fisiologi pada umur tua menjadi lemah, dan organisme tua lebih mudah di bunuh oleh predator atau parasit. Hal inilah yang mempersulit penentuan umur sesungguhnya pada kebanyakan organisme. Tetapi dari catatan kebun binatang dan akuarium, yang hewannya hidup terlindung diperoleh data mengenai kemungkinan umur yang dapat di capai sebagai spesies hewan. Ternyata hanya penyu besar yang umurnya lebih panjang dari pada manusia. Umur rata-rata manusia mungkin lebih panjang daripada umur hewan.

Manusia berumur panjang tetapi memerlukan jangka waktu lama untuk  menjadi dewasa. Banyak hewan sejak menetas dan  lahir telah dapat berdiri sendiri.. anak Mammalia paling sedikit memerlukan waktu beberapa minggu atau beberapa bulan sebelum dapat mengurusi dirinya sendiri, oleh karena masih harus mendapat makanan dari air susu ibunya. Anak mamnusia selama 6-9 tahun sama sekali bergantung pada orang dewasa. Setelah itu, untuk beberapa waktu ia masih tetap bergantung pada orang dewasa meskipun berkurang. Yang paling mendakati keadaan ini adalah kera besar. Anak yang memerlukan waktu sekitar 2 tahun untuk dapat hidup berdiri sendiri. Manusia meningkat sekitar umur 14 tahun, kera sekitar 10 tahun. Perkembangan manusia mencapai kesempurnaan pada umur sekitar 20 tahun, sedang pada kera sekitar pada umur 12 tahun.

2.4.4        Ciri-ciri tingkah laku

Manusia tidak berdaya sebagai individu tersendiri, walaupun  memiliki otak yang besar. Biasanya manusia hidup bersama-sama membentuk masyarakat. Demikian juga dengan hewan banyak yang hidup bermasyarakat, misalnya serangga. Masyarakat serangga berdasarkan tingkah laku yang merupakan sifat bawaan, sedangkan masyarakat berlandaskan pada tingkah laku yang di pelajarinya. Sedangkan masyarakat kera, jauh lebih teratur, walau dengan di bandingkan dengan masyarakat manusia yang paling sederhana.

Hal penting yang membedakan manusia dengan hewan adalah bahasa. Walaupun mausia dapat mengadakan komunikasi melalui isyarat, tetapi untuk menggantikan bahasa atau dipakai untuk menekan sesuatu. Bahasa manusia rumit, karenatidak hanya terdiri sistem teriakan dan panggilan. Bahasa adalah dasar kemanusiaan. Namun kita belum mengetahui kapan manusia mulai dapat berbicara; tidak ada keterangan mengenai bagai mana bahasa itu di mulai. Oleh karena itu, bahasa adalah suatu ciri dasar tingkah laku manusia.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

  • Perkembangan Primata primitif ke Primata maju, meliputi:
    • Hubungan antara tulang vertebra dan tengkorak mengalami perubahan yang berangsur-angsur menuju titik berat tengkorak
    • Bola mata pada organisme non primata tidak mempunyai tulang yang meliputinya. Tetapi pada kera dan manusia, mata sudah sepenihnya ter-lindung.
    • Ujung jari bercakar berangsur-angsur berubah menjadi kuku.
    • Kehidupan arboreal menyebabkan fungsi tangan lebih penting daripada kaki.
    • Volume otak mengalami perubahan pesat.
    • Perkembangan evaluasi Primata:
      • Prosimian Modern, termasuk lemur dan loris, sekarang hidup di pulau Madagaskar,  tarsier (binatang hantu), hidup di Asia Selatan dan Indonesia (daerah pantai Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra).
      • Ceiboidea (Monyet Dunia Baru), Ceboidea terbagi menjadi dua family, yakni callithricidae dan Cebidae.
      • Cercopithecoidea (Monyet Dunia Lama), Monyet-moyet dunia lama diklasifikasikan dalam satu famili yakni Cercopithecidae yang terbagi menjadi 2 sub famili yaitu cercopithecinae (moyet babon) dan colobinae (monyet pemakan daun).
      • Hominoidea, kelompok ini muncuk pada zaman Paleosin. Selama Miosin awal radiasi Hominoidea bercabang menjadi dua yakni Anthropoidea (kera) dan Hominidea (keluarga manusia).
      • Evolusi makhluk – makhluk  pra –Homo sapiens dapat digolongkan  menjadi dua bagian besar, yakni:
        • Berdasarkan hubungan kekerabatan antara manusia dengan  hewan, evolusiner pra-Homo sapiens secara garis besar mengalami 4 perkembangan, yakni:
          • § Famili Tupaiidae, yakni golongan hewan pemakan serangga.
          • § Famili Lemuroidae, termasuk di dalamnya adalah jenis binatang setelah kera. Misalnya Tarsius spectrum (binatang hantu).
          • § Famili Pongidae
          • § Famili Homonidae
  • Evolusi pra - Homo sapiens berdasarkan hasil penemuan fosil yang ditemukan di berbagai lapisan dunia. Berdasarkan fosil yang ditemukan diperkirakan kehidupan manusia dimulai lebih kurang 25 juta tahun lalu yang tersebar menjadi 3 zaman, yakni:
    • § Zaman Miosin (25 – 10 juta tahun yang lalu)

ü Tingkat pertama, yakni Plipithecus.

ü Tingkat kedua, Proconsul, yakni kera purba yang hidup sekitar 25 -15 juta tahun yang  lalu.

ü Tingkat ketiga, Dryopithecus, yakni kera raksasa yang hidup sekitar 15 – 10 juta tahun yang lalu.

ü Tingkat keempat, Ramapithecus, yakni primata paling purba yang pada umumnya dianggap sebagai leluhur manusia. Hidup sekitar 15 -10 juta yang lalu.

  • § Zaman Pliosin (10 – 2 juta tahun yang lalu)

ü  Tahap kelima, Australopithecus afarensis, hidup sekitar 5 juta tahun yang lalu.

ü  Tahap keenam, Australopithecus africanus

  • § Zaman Pleistosin (2 juta tahun yang lalu sampai sekarang)

ü Tahap ketujuh, Australopithecus robustus

ü Tahap kedelapan, Australopithecus boisei, diduga hidup 1,5 juta tahun yang lalu.

ü Tahap kesembilan, Homo habilis, hidup sekitar 2 – 1,5 juta tahun yang lalu.

ü Tahap kesepuluh, Homo erectus, diduga hidup pada 1,5 – 0,5 juta tahun yang lalu. Makhluk ini di temukan diberbagai tempat, antara lain: Pithecanthropus erectus (manusia jawa), Pithecanthropus pekinensis (Sinathropus pekinensis) (manusia Cina), Meganthropus Palaeojavanicus (Manusia Raksasa Jawa), dan Manusia heidelberg yang ditemukan di Jerman

ü Tahap kesebelas, munculnya makhluk yang dinamakan Homo sapiens purba, yakni makhluk yang hidup sekitar 400.000 tahun yang lalu.

ü Tahap keduabelas, adalah munculnya Homo sapiens neanderthalesis (Manusia Lembah Neander (Neanderthal)) , yakni makhluk yang diduga hidup pada masa antara 75.000 – 10.000 tahun yang lalu.

ü Tahap ketiga belas, yakni munculnya manusia Cro-Magnon. Makhluk ini merupakan Hominidae (manusia)  purba termodern. Diduga hidup 10.000 – ribuan tahun yang lalu.

ü Tahap keempat belas, yakni munculnya Homo sapiens-sapiens (manusia modern). Tidak pasti benar kapan munculnya manusia modern, namun para peneliti ada yang beranggapan bahwa manusia modern muncul sejak sekitar 2.000 tahun Sebelum Masehi.

  • Ø Ciri-ciri Manusia
    • Kaki manusia lebih panjang daripada lengannya, sesuatu hal yang membedakan dari Primata lainnya.
    • Otak manusia relatif besar. Manusia masa kini mempunyai volume tempurung otak besar 1.200 samapi 1.500 cc, tempurung otak simpanse hanya hanya 350 sampai 450 cc.
    • Kemampuan jasmani manusia di bawah kemampuan jasmani hewan. Tetapi manusia mempunyai kecakapan yang jauh lebih tinngi dari pada hewan.
    • Pada manusia tidak terdapat musim berbiak. Kegiatan reproduksi dapat terjadi setiap saat sepannjang tahun.
    • Manusia berumur panjang tetapi memerlukan jangka waktu lama untuk  menjadi dewasa.
    • Biasanya manusia hidup bersama-sama membentuk masyarakat.
    • Hal penting yang membedakan manusia dengan hewan adalah bahasa, bahasa adalah suatu ciri dasar tingkah laku manusia.

3.2 Saran

Dalam penulisan makalah ini pastilah masih banyak kekurangan, namun lihatlah makalah ini sebagai dasar pengetahuan kita tentang perkembangan manusia dan primata secara evolusioner, sehingga kita bisa berfikir dengan cermat darimana sebenarnya kita berasal.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2006. “Sejarah Manusia-Primata” (online) http://www.talkorigins.org/faqs/faq-transitional/part2a.html#primate diakses 1 Oktober 2009 pkl. 20.30 WIB

Anonymous. 2006. “ Sejarah Penemuan Fosil Manusia Purba, Manusia Kera dan Manusia Modern – Teori Perkembangan Evolusi Antar Waktu Arkeologi Biologi” (online) http://id.wikipedia.org/wiki/Timur_Tengah_Kuno diakses 1 Oktober 2009 pkl. 20.43 WIB

Darwin, Charles.1958.On the Origin of Species, New York and Scarborough, Ontario: Mentor Book

Fried,  G. H. 2005. Biologi Edisi Kedua. Penebit Erlangga . Jakarta

Jr, Dolt,H. Robert, 1971. Evolution Of The Earth, Mc Graw Hill, Book Company, New York

Kardong, V. Kenneth, 2005. An Introduction to Biological Evolution, Mc Graw Hill, Higher Education

Ruse, M., 1982. Darwinism Defended, The Benyamin/ Cummungs Publ. Company Inc.

Waluyo, Lud, 2004. Evolusi Organik, UMM Press, Malang

12/20/2009 Posted by | Evolusi Organik | Tinggalkan komentar

PERANAN ISOLASI DALAM MEKANISME EVOLUSI

BAB I

  1. 1. LATAR BELAKANG

Evolusi adalah proses perubahan struktur tubuh makhluk hidup yang berlangsung sangat lambat dan dalam waktu yang sangat lama. Evolusi juga merupakan perkembangan makhluk hidup yang berlangsung secara perlahan-lahan dalam jangka waktu yang lama dari bentuk sederhana ke arah bentuk yang komplek. Evolusi juga dapat diartikan proses perubahan yang berlangsung sedikit demi sedikit dan memakan waktu yang lama.

Teori evolusi dimaksudkan sebagai penjelasan tentang bagaimana evolusi itu terjadi (mekanisme evolusi). Bisa terjadi ada beberapa penjelasan yang diberikan mengenai suatu fenomena. Mengenai evolusi, pada abad ke-19 Lamarck memberikan penjelasan bagaimana evolusi itu terjadi, yang dikenal sebagai teori evolusi Lamarck atau teori Lamarck. Penjelasan yang diberikan oleh Lamarck itu kemudian dianggap tidak benar karena ada penjelasan lain yang dipandang lebih memuaskan, terutama yang diberikan oleh Darwin dan dikenal sebagai teori evolusi Darwin atau teori Darwin.

Faktor-faktor yang mempengaruhi evolusi adalah: seleksi alam, mutasi dan peran isolasi dalam pembentukan spesies baru. Ada perjuangan untuk hidup yaitu antara individu-individu dalam suatu spesies untuk mendapatkan makanan, air, cahaya atau faktor-faktor lain yang penting dalam lingkungan itu. Meskipun mutasi kecil peranannya dalam evolusi, pada dasarnya evolusi bertumpu pada mutasi. Dengan mutasi dapat dihasilkan akla baru yang disusun dalam berbagai kombinasi sebagai bahan baku bagi seleksi alam. Melalui peristiwa isolasi dapat ditetapkan adanya perbedaan genetik. Organisme yang hidup di sekitar kita telah mengalami tahap-tahap isolasi menuju pembentukan spesies baru. Setiap hal yang merintangi arus gen bebas dalam suatu populasi, merupakan tahap dalam terbentuknya spesies baru. Bukti teori evolusi adalah; adaptasi dan seleksi alam. Seleksi alam berlangsung secara mikro evolusi, dengan hasil akhirnya adalah adaptasi. Dua unsur yang terdapat pada teori Evolusi Darwin, yaitu; adaptasi dan pembentukan spesies baru. Terjadi adaptasi melalui proses mikro evolusi, yakni perubahan pada individu dalam populasi secara bertahap untuk membentuk spesies baru.

Pada tahun 1930, teori seleksi alam Darwin digabungkan dengan teori pewarisan Mendel, membentuk sintesis evolusi modern, yang menghubungkan satuan evolusi (gen) dengan mekanisme evolusi (seleksi alam)

Waktu adalah faktor penting dalam evolusi. Proses evolusi memerlukan waktu yang sangat lama. Menurut Darwin, ada dua mekanisme yang mendasari evolusi. Pertama, proses evolusi membawa spesies yang ada untuk berinteraksi dengan kondisi ekologinya. Contohnya, karena hasil evolusi, beberapa burung mempunyai paruh yang hanya bisa dipakai untuk menghisap madu bunga. Selama bunga itu masih tersedia, burung ini akan hidup. Tetapi, bila bunga ini, karena sesuatu hal, punah, maka burung itu kemungkinan besar juga akan punah. Mekanisme yang kedua adalah kelahiran spesies baru dari hasil variasi di spesies yang ada. Ini terjadi bila suatu group mahluk hidup menjadi terpisah dan pada akhirnya mempunyai gaya hidup yang sangat berbeda. Contoh klasik adalah burung finch di atas. Asal mulanya, nenek moyang burung dari bermacam pulau di Galapagos adalah berasal dari daratan Amerika Selatan. Karena bertebaran di bermacam pulau, burung ini akhirnya mengembangkan gaya hidup yang berbeda-beda. Waktu (melalui banyak generasi burung) dan perjuangan untuk hidup (survival) adalah dua hal yang dibutuhkan untuk melahirkan generasi baru burung finch. Waktu yang lebih panjang lagi dan melalui proses yang sama, menurut Darwin akan dapat menjelaskan evolusi dari semua mahluk hidup di muka bumi yang berasal dari satu “nenek moyang yang sama.

Seleksi alam yang merupakan sebuah proses yang menyebabkan sifat terwaris yang berguna untuk keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme menjadi lebih umum dalam suatu populasi – dan sebaliknya, sifat yang merugikan menjadi lebih berkurang. Hal ini terjadi karena individu dengan sifat-sifat yang menguntungkan lebih berpeluang besar bereproduksi, sehingga lebih banyak individu pada generasi selanjutnya yang mewarisi sifat-sifat yang menguntungkan ini.

Mekanisme Isolasi menurut Futuyama. 1981 dalam bukunya Evolutionary Biologi adalah karakteristik biologi yang menyebabkan spesies simpatrik (yang menempati daerah geografi yang sama atau saling menutup dengan daerah persebaran geografi) tetap bertahan (eksis), misalnya mempertahankan gene pool yang terbatas.

Isolasi musiman atau habitat: lawan jenis tidak dapat  ditemui karena matang kawin pada musim yang berbeda atau terdapat pada habitat berbeda.

Barier (hambatan) geografik dapat memungkinkan terjadinya pemisahan dua populasi (allopatric) keadaan ini memungkinkan terjadinya isolasi reproduksi meskipun kedua populasi tersebut berada dalam satu lingkungan kembali (sympatrik).

Isolasi seksual atau polalaku:  kedua jenis kelamin dari dua spesies binatang mungkin terdapat pada lokasi dan waktu yang sama tetapi pola “berpasangannya” berbeda sehingga mencegah perkawinan. Misal, Drosophila melanogaster dan Drosophila simulans tidak berkawin meskipun dalam lokasi yang sama karena polalaku yang berbeda. Isolasi setelah perkawinan: Mortalitas gametik: sperma atau telur dibinasakan karena perkawinan antara spesies. Tepung sari tidak mampu tumbuh pada stigma dari spesies lain. Mortalitas sigotik dan inviabilitas hibrid: telur mengalami fertilisasi tetapi tidak dapat berkembang,  atau berkembang menjadi organisme tetapi dengan viabilitas yang menurun. Sterilitas hibrid: hibrid memiliki viabilitas normal tetapi steril secara reproduktif.

Rumusan Masalah

  • Apa yang dimaksud dengan mekanisme isolasi
  • Apa saja yang termasuk dalam mekanisme isolasi
  • Bagaimana klasifikasi mekanisme isolasi pada hewan
  • Apa yang dimaksud dengan mekanisme evolusi
  • Apa saja yang termasuk peranan isolasi dalam mekanisme evolusi

Tujuan

  • Untuk mengetahui mekanisme isolasi
  • Untuk  mengetahui macam-macam mekanisme isolasi
  • Untuk mengetahui klasifikasi mekanisme isolasi pada hewan
  • Untuk mengetahui mekanisme evolusi
  • Untuk mengetahui peranan isolasi dalam mekanisme evolusi


BAB II

PERANAN ISOLASI DALAM MEKANISME EVOLUSI

  1. A. Mekanisme Isolasi

1. Pengertian Mekanisme Isolasi

Mekanisme Isolasi menurut Futuyama. 1981 dalam bukunya Evolutionary Biologi adalah karakteristik biologi yang menyebabkan spesies simpatrik (yang menempati daerah geografi yang sama atau saling menutup dengan daerah persebaran geografi) tetap bertahan (eksis), misalnya mempertahankan gene pool yang terbatas.

Istilah ini mungkin kurang menguntungkan karena pola ini meliputi pencegahan interbreeding (pembiakan dengan spesies yang berbeda) yang mana sering kali menjadi kasus yang sering muncul.

2. Macam Mekanisme Isolasi

  1. Premating Isolating

Premating Isolating Mechanisme adalah upaya mencegah gamet bertemu untuk membentuk zigot (mencegah persilangan).

Premating Isolating Mechanisme kadang-kadang memiliki dasar ekologis seperti pada spesies Spadefoot toads (Scphiopus) yang jarang bertemu karena perbedaan tipe tempat hidup (Wasserman 1957) dan pada parasit yang bertemu pada spesies inang yang berbeda. Spesies bisa saja terisolasi hanya sementara saja, seperti pada tumbuhan yang mempunyai musim berbunga yang berbeda (Grant and Grant 1964) atau serangga bertemu pada waktu yang berbeda pada mlam hari (Lylod 1966). Ekologis

Meskipun isolasi ekologis dan temporal (sementara) pada spesies simpatrik tidak lengkap, mereka biasanya tidak melakukan interbreed (persilangan) karena karena kondisi fisiologis atau bentuk perilaku (Levin 1978). Hewan yang menyerbukkan tanaman yang berbeda dalam bentuk dan warna bunga yang justru menarik hewan yang berbeda.

  1. Postmating Isolation

Postmating Isolation adalah mekanisme yang mengurangi keberhasilan  persilangan

3. Klasifikasi Mekanisme Isolasi

  1. Mekanisme Yang Mencegah Intersection Cross (persilangan)

1)    Isolasi Geografi

Hampir semua para ahli biologi berpendapat bahwa sebagian besar factor yang mencegah persilangan adalah pemisahan secara geografis. Kalau sistem populasi yang semula continue dipisahkan oleh sebab-sebab geografis yang menyebabkan hambatan bagi penyebaran spesies, maka sistem populasi yang terpisah ini tidak mungkin memepertukarkan susunan gen mereka dan sistem evolusi mereka selanjutnya akan terpisah. Di dalam waktu yang cukup lama, kedua sistem populasi yang terpisah itu semakin berbeda sebab masing-masing menjalani evolusi dengan caranya masing-masing.

Mula mula, isolasi reproduksi hanyalah faktor geografis isolasi dengan pemisahan secara fisik dan sebenarnya populasi ini masih mempunyai potensi untuk mengadakan interbreeding. Menurut konsep spesies yang baru, mereka masih termasuk dalam satu spesies. Kemudian mereka dapat menjadi begitu berbeda secara genetic sehingga ”gene flow” yang efektif tidak dapat berlangsung lagi seandainya mereka bercampur kembali. Kalau titik pemisahan itu telah tercapai, maka kedua populasi itu telah menjadi dua spesies yang terpisah.

2)    Seasonal and Habitat Isolation

Dua sistem yang mula-mula dipisahkan oleh beberapa penghambat luar, pada suatu ketika dapat begitu khusus untuk berbagai keadaan lingkungan sehingga meskipun penghambat luar itu dihilangkan, mereka tidak akan menjadi simpatrik sebab setiap populasi tidak mampu hidup pada tempat dimana populasi lain berada. Dengan perkataan lain, mereka dapat mengalami perubahan pada perbedaan-perbedaan genetis yang dapat tetap memisahkan perbedaan geografis mereka. Contoh adalah jenis pohon  Platanus occidentalis yang terdapat pada bagian timur Amerika Serikat dan Platanus orientalis yang terdapat pada bagian timur Laut Tengah. Kedua spesies itu dapat disilangkan secara buatan dan menghasilkan hybrid yang kuat dan fertil. Kedua spesies ini sebetulnya terpisah sama sekali dan fertilisasi alami tidak mungkin terjadi.

  • Isolasi Iklim

Bila dua spesies berdekatan adalah simpatrik, tetapi berkembang biak pada musim-musim berbeda pada tiap tahun, interbreeding diantara mereka adalah secara efektif tidak akan terjadi. Contoh Pinus radiata dan Pinus muricata, adalah dua jenis Pinus simpatrik yang terdapat di daerah California. Mereka dapat mengadakan persilangan, tetapi hal ini jarang terjadi sebab Pinus radiata mengeluarkan serbuk sarinya pada permulaan bulan Februari, sedangkan Pinus muricata baru mengeluarkan serbuk sarinya pada bulan April.

  • Isolasi Habitat

Jika dua populasi simpatrik mendiami habitat yang berbeda dari daerah tempat tinggal yang umum bagi mereka, individu dari setiap populasi akan lebih sering berjumpa dan mengadakan perkawinan dengan individu dari populasi mereka sendiri daripada dengan individu dari populasi yang lain. Jadi kegemaran akan suatu habitat yang ditentukan secara genetis telah menolong memisahkan kedua “gene pool”. Bufo fowleri dan Bufo americanus adalah dua katak yang sangat berdekatan dan dapat mengadakan persilangan yang menghasilkan keturunan-keturunan hidup. Bufo fowleri biasa hidup di air mengalir sedang Bufo americanus berbiak di genangan air hujan. hal ini menyebabkan adanya barier yang disebabkan oleh adanya perbedaan habitat.

Setiap spesie beradaptasi dengan iklim setempat di dalam batas-batas daerah sendiri dan iklim dari kedua daerah itu sangat berbeda sehingga setiap spesies tidak mungkin hidup di tempat spesies yang lain. Jadi, disini terdapat perbedaan-perbedaan genetis yang mencegah “gene flow” diantara spesies pada keadaan yang alami. Pemisahan mereka bukan saja secara geografis, tetapi juga genetic.

3)    Ethological Isolation

Ethological Isolation atau Isolasi Reproduksi adalah jika kedua jenis kelamin dari dua spesies binatang mungkin terdapat pada lokasi dan waktu yang sama tetapi pola “berpasangannya” berbeda sehingga mencegah perkawinan.  Misal, Drosophila melanogaster dan Drosophila simulans tidak berkawin meskipun dalam lokasi yang sama karena polalaku yang berbeda.

Tingkah laku berperan sangat penting dalam hal courtship (percumbuan) dan mating (perkawinan). Contoh adalah bangsa bebek liar Amerika Serikat yang simpatrik dan mempunyai courtship display yang cukup baik dan biasanya disertai dengan corak warna yang mencolok pada bebek jantan. Fungsi dari hal-hal di atas adalah memeperkecil kesempatan bahwa bebek betina memilih pasangan bebek jantan yang salah.

4)    Mechanical Isolation

Bila perbedaan-perbedaan structural diantara dua spesies yang sangat berdekatan menyebabkan terhalangnya perkawinan antar individu (karena sebab-sebab fisis), maka sudah barang tentu diantara kedua populasi tidak akan terjadi “gene flow”. Misalnya suatu spesies binatang adalah jauh lebih besar daripada spesies lainnya, perkawinan diantara kedua spesies binatang ini sudah barang tentu tidak terjadi. Dapat juga terjadi bahwa perbedaan alat kelamin mencegah terjadinya perkawinan. Isolasi mekanis lebih penting artinya bagi tanaman daripada binatang, terutama pada tumbuh-tumbuhan yang tergantung pada serangga untuk penyerbukannya.

  1. Mekanisme Yang Mengurangi Keberhasilan Intersection Cross (persilangan)

1)   Gametic Mortality (Kematian Gamet)

Meskipun oleh struktur yang kebetulan memungkinkan bahwa dua spesies binatang atau tumbuh-tumbuhan dapat mengadakan perkawinan, fertilisasi yang sebenarnya mungkin tidak akan terjadi. Contohnya adalah persilangan antara Drosophila virilis dengan Drosophila Americana, sperma dari lalat jantan bila sampai pada alat kelamin betina segera berhenti bergerak karena keadaan yang tidak sesuai pada alat kelamin tersebut. Dengan demikian sperma tidak akan mencapai sel telur.

Drosophila yang lain menghasilkan reaksi antara pada saluran betina jika mereka mengadakan perkawinan antar spesies. Reaksi ini menyebabkan alat kelamin betina mengembang dan dengan demikian menghalangi sperma untuk mencapai sel telur dan mati.

2)   Zygot Mortality (Kematian Gamet)

Hybrid seringkali sangat lemah dan berbentuk tidak baik sehingga sering mati sebelum mereka dikeluarkan dari induknya. Hal ini berarti bahwa gene flow antara kedua golongan induk tidak terjadi.

3)   Hybrid Invibility

Anggota dari kedua spesies berdekatan mungkin dapat mengadakan persilangan dan menghasilkan keturunan yang fertil. Jika keturunan ini dan keturunannya lagi bersifat sekuat orang tua mereka disamping adaptasi sebaik orang tua mereka juga, maka dua populasi ini tidak akan tetap terpisah untuk jangka waktu lama jika mereka simpatrik. Hal ini mengakibatkan mereka tidak lagi disebut sebagai dua spesies yang penuh tetapi jika anak-anaknya dan keturunan berikutnya kurang begitu teradaptasi, mereka segera lenyap.

4)   Hybrid Sterility

Beberapa persilangan antar spesies menghasilkan hybrid yang kuat tetapi steril. Contoh terbaik adalah persilangan antara kuda dengan keledai yang menghasilkan hybrid mule. Mule mempunyai sifat-sifat lebih unggul daripada kedua induknya, tetapi mule adalah binatang steril.

  1. B. Mekanisme Evolusi

1. Pengertian Teori Evolusi

Teori evolusi merupakan perpaduan antara ide (gagasan) dan fakta (kenyataan). Yang dianggap sebagai pencetus ide evolusi ialah Charles Darwin (1809-1892) yang menerbitkan buku mengenai asal mula spesies pada tahun 1859, dengan judul “On the ofiginof species by means of natural selection” atau “The preservation of favored races in the struggle for life”.

Evolusi adalah proses perubahan struktur tubuh makhluk hidup yang berlangsung sangat lambat dan dalam waktu yang sangat lama. Evolusi juga merupakan perkembangan makhluk hidup yang berlangsung secara perlahan-lahan dalam jangka waktu yang lama dari bentuk sederhana ke arah bentuk yang komplek. Evolusi juga dapat diartikan proses perubahan yang berlangsung sedikit demi sedikit dan memakan waktu yang lama.

2. Basic Fact Teori Evolusi

Ada tiga basic fact (kenyataan Dasar) dibangunnya teori evolusi, yakni:

  1. Segala macam organisme dibedakan dari makhluk yang berderajat rendah sampai organism yang berderajat tinggi. Jadi ada gradasi atau tingkatan.
  2. Dalam riwayat perkembangan dibumi didapatkan bahwa organism yang lebih sempurna baru muncul kebumi sesudah organisme yang lebih rendah susunannya atau bahkan “berasal” dari bentuk-bentuk yang rendah dengan alas an
  3. Ditemukannya bentuk-bentuk “makhluk antara” atau “makhluk peralihan “ atau “link” yang “link” yang telah memfosil. Misalnya: Archaeopteryx dan archeornis.

3. Teori Evolusi

Secara umum istilah ‘evolusi’ bermakna :

  1. A gradual process in which something changes into a different and usually more complex or better form[1].

b.  Perubahan (pertumbuhan, perkembangan) secara berangsur-angsur dan perlahan-lahan (sedikit demi sedikit)”[2].

Teori evolusi dimaksudkan sebagai penjelasan tentang bagaimana evolusi itu terjadi (mekanisme evolusi). Bisa terjadi ada beberapa penjelasan yang diberikan mengenai suatu fenomena. Mengenai evolusi, pada abad ke-19 Lamarck memberikan penjelasan bagaimana evolusi itu terjadi, yang dikenal sebagai teori evolusi Lamarck atau teori Lamarck. Penjelasan yang diberikan oleh Lamarck itu kemudian dianggap tidak benar karena ada penjelasan lain yang dipandang lebih memuaskan, terutama yang diberikan oleh Darwin dan dikenal sebagai teori evolusi Darwin atau teori Darwin.

Selain sebagai penjelasan tentang evolusi, teori evolusi bisa juga dimaksudkan sebagai teori yang menyatakan bahwa ada ada kekerabatan di antara organisme (Panchen, 1992) atau ada perubahan dan diversifikasi makhluk hidup. Dalam hal ini teori evolusi merupakan penjelasan terhadap berbagai fenomena yang kemudian ditunjuk sebagai bukti evolusi.

4. Petunjuk-petunjuk kejadian evolusi

  1. Anatomi Perbandingan

Dari studi anatomi perbandingan dapat diketabui bahwa alat-alat fungsional pada            pelbagai binatang dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:

  1. Homologi

Alat tubuh yang mempunyai bentuk yang berbeda dan fungsinya berbeda namun kalau    diteliti mempunyai bentuk dasar sama.

  1. Analogi

Alat-alat tubuh yang mempunyai bentuk dasar yang berbeda namun karena perkembangan evolusi yang konvergen alat-alat tersebut mempunyai fungsi yang sama.

d.  Embriolog Perbandingan

Embrio hewan bersel banyak mengalarni kesamaan perkembangan embrio, berawal dari zygot Þ blastula Þ gastrula, kemudian mengalami diferensiasi sehingga terbentuk bermacam-macam alat tubuh.

Ernest Haeckel, mengatakan tentang adanya peristiwa ulangan ontogeni yang serupa dengan peristiwa filogeninya, dia sebut teori rekapitulasi.

Contoh: adanya rekapitulasi adalah perkembangan terjadinya jantung pada mamalia yang dimulai dengan perkembangan yang menyerupai ikan, selanjutnya menyerupai embrio amfibi, selanjutnya menyerupai perkembangan embrio reptil.

  1. Perbandingan Fisiologi

Telah diketahui ada kemiripan dalam faal antara pelbagai makhluk mulai dari mikroorganisme sampai manusia, misalnya :

1)   kemiripan dalam kegiatan pernafasan.

2)   pembentukan ATP dan penggunaannya dalam pelbagai proses kehidupan adalah serupa pada hampir semua organisme.

  1. Petunjuk-petunjuk Secara Biokimia

Digunakan uji presipitin yang pada dasarnya adanya reaksi antara antigen-antibodi. Banyaknya endapan yang terjadi sebagai akibat reaksi tersebut digunakan untuk menentukan jauh-dekatnya hubungan antara organisme yang satu dengan yang lainnya.

  1. Petunjuk-petunjuk Peristiwa Domestikasi

Menguhah tanaman dan hewan liar menjadi tanaman dan hewan yang dapat dikuasai dan bermanfaat sesuai dengan keinginan manusia adalah akibat dari peristiwa domestikasi.

Contoh: penyilangan burung-burung merpati, sehingga dijumpai adanya 150 variasi burung, yang di antaranya begitu berbeda hingga dapat dianggap sebagai spesies berbeda.

  1. Petunjuk-petunjuk dari alat tubuh yang tersisa

Alat-alat yang tersisa dianggap sebagai bukti adanya proses evolusi, alat-alat ini sudah tidak berguna namun ternyata masih dijumpai.

Contoh : Pada manusia :

• selaput mata pada sudut mata sebelah dalam

• tulang ekor

• gigi taring yang runcing

  1. Petunjuk-petunjuk Paleontologi

Telah diketabui bahwa fosil dapat digunakan sebagai petunjuk adanya evolusi.

Contoh : Urutan fosil kuda: dari Eohippus (kuda zaman Eosin) Þ Mesohippus Þ Merychippus Þ Pliohippus Þ Equas (kuda zaman sekarang).

5. Proses Evolusi

Dikenal 2 macam evolusi:

  1. Evolusi progresif : evolusi meonju pada kemungkinan dapat bertahan hidup (survive).
  2. Evolusi regresif (retrogreslf) : evolusi menuju pada kemungkinan menjadi punah.

Alam mengadakan seleksi terhadap individu-individu yang hidup di dalamnya. Hanya individu-individu yang dapat menyesuaikan diri dengan alam lingkungannya yang akan terus hidup, sedangkan individu yang tidak dapat menyesuaikan dengan lingkungannya akan semakin berkurang, mati atau pindah tempat.

Organ-organ dari berbagai makhluk hidup yang mempunyai bentuk asal sama, dan selanjutnya berubah struktur sehingga fungsinya berbeda, disebut homolog. Organ-organ dari berbagai makhluk hidup yang mempunyai fungsi sama tanpa memperhatikan asalnya, disebut analog.

Berbagai jenis vertebrata menunjukan adanya persamaan, yaitu mulai dari zigot, morula, blastula, gastrula hingga fase tetentu dari perkembangan embrio.

Mutasi gen pada suatu populsi menyebabkan terjadinya rekombinasi gen, dan hal ini bersifat menurun, yang selanjutnya dengan adanya rekombinasi gen yang baru,  suatu keturunan akan mengalami perubahan sifat yang berbeda dengan generasi sebelumnya sehingga timbul variasi

Frekuensi gen adalah perbandingan antara gen yang satu dengan gen lainnya di dalam suatu populsi.   Menurut teori evolusi, makhluk hidup muncul menjadi ada melalui berbagai kebetulan, dan berkembang lebih jauh sebagai sebuah hasil dari berbagai dampak yang tidak disengaja. Sekitar 3,8 miliar tahun lalu, ketika makhluk hidup tidak ada di bumi, makhluk bersel satu sederhana (prokaryota) pertama muncul. Seiring dengan perjalanan waktu, sel-sel yang lebih kompleks (eukaryota) dan organisme bersel banyak muncul menjadi ada. Dengan kata lain, menurut Darwinisme, kekuatan alam membangun unsur-unsur benda mati sederhana hingga membentuk rancangan sangat rumit dan sempurna.

Pada dasarnya teori ini menekankan bahwa seleksi alam dan mutasi adalah dua mekanisme yang saling melengkapi. Sumber dari perubahan secara evolusi terdapat pada mutasi acak yang terjadi pada struktur genetik makhluk hidup. Sifat yang dihasilkan dari mutasi ini kemudian dipilah dengan mekanisme seleksi alam, dan melalui cara inilah makhluk hidup berevolusi. Akan tetapi jika kita kaji lebih dalam teori ini, kita akan menemukan bahwa tidak ada mekanisme evolusi seperti itu. Baik seleksi alam maupun mutasi tidak dapat menyebabkan spesies yang berbeda berkembang menjadi spesies lain, dan pernyatan bahwa kedua mekanisme ini mampu melakukan hal tersebut benar-benar tidak berdasar.

Sesungguhnya ”alam” dan segala yang ALLOH ciptakan adalah untuk manusia serta tergantung kepada manusia itu sendiri dalam hal pengaturannya (disamping penggunaanya, agar ”alam” tersebut tetap lestari penj), sebagaimana yang DIA firmankan di dalam wahyu terkahir-Nya kepada ummat manusia, al-Qur`an :

Tidakkah kamu perhatikan (wahai manusia), Sesungguhnya Allah Telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang dilangit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir 2 dan batin3. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan (Luqman:20).

Dengan adanya kemajuan IPTEK, sebagian manusia kerap kali menjadi semakin arogan. Mereka tidak hanya mengklaim bahwa mother nature merupakan pencipta (yaitu: yang menyebabkan mereka ada dikarenakan berbagai fenomena yang terjadi penj), tetapi mereka juga mengatakan bahwa ”alam” tersebutlah yang mengatur ”diri”-nya sendiri. Tentulah pendapat seperti ini sangat aneh!. Namun, ALLOH telah menegaskan di dalam Al-quran bahwa akan ada orang-orang yang seperti mereka (yang memiliki pemahaman yang aneh dan menyimpang penj) dari kalangan manusia, sebagaiman f irman-NYA:

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya Karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu Telah Sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab kami di waktu malam atau siang, lalu kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (kami) kepada orang-orang berfikir (Yunus:24).

Dalam suatu perkawinan akan di hasilkan keturunan dari satu induk yang bervariasi, serta keturunan yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya mempunyai kemampuan hidup dan menghasilkan keturunan yang lebih tinggi. Jadi ada hubungan antara kemampuan organisme (vitalitas) dengan sifat genetik. Variasi dalam satu keturunan terjadi karena dua penyebab utama yaitu mutasi gen dan rekombinasi gen-gen di dalam keturunannya.

  1. Mutasi gen

Mutasi gen pada suatu populsi menyebabkan terjadinya rekombinasi gen, dan hal ini bersifat menurun. Selanjutnya dengan adanya rekombinasi gen yang baru,  suatu keturunan akan mengalami perubahan sifat yang berbeda dengan generasi sebelumnya sehingga timbul variasi. Adanya berbagai variasi ini membuka peluang untuk terjadninay evolusi.

Mutasi gen yang tidak dipengaruhi faktor luar mempunyai sifat-sifat  :

-      sangat jarang terjadi

-      umumnya tidak menguntungkan

Angka mutasi yaitu angka yang menunjukan berapakah jumlah gen-gen yang bermutasi dari seluruh gamet yang dihasilkan oleh suatu individu dari suatu species. Angka laju mutasi pada umumnya mulai 1 gen di antara 200.000 sampai jutaan gamet (rata-rata 1 : 100.000). Ini berarti dalamsetiap gamet 100.000 gamet ada 1 gen yang dapat bermutasi, jadi kemungkinan terjadinya mutasi sangat kecil. Meskipun angka laju mutasi sangat kecil, tetapi merupakan suatu mekanisme evolusi yang penting sebab  :

-      setiap gamet mengandung ribuan gen

-      setiap individu dapat menghasilkan jutaan gamet dalam suatu generasi

-      jumlah generasi dari suatu species sangat banyak

  1. Frekuensi gen di dalam populasi

Frekuensi gen adalah perbandingan antara gen yang satu dengan gen lainnya di dalam suatu populsi. Misal suatu populasi mempunyai gen dominan A dan  gen resesif a. Kedua gen tersebut sama-sama adaptif.  Maka generasi yang bergenotif AA, Aa maupun aa mempunyai daya fertilitas dan viabelitas yang sama.

Misalnya populsi tersebut dimulai dengan 50% AA jantan dan 50%  aa betina, maka dalam generasi (F1) semua populasi bergenotif Aa.

Apabila dilakukan perkawinan F1 dengan F1 maka frekuensi genotif  F2 adalah   =    25 AA  :  50 Aa  :  25 aa    atau   ¼  AA  :  ½  Aa  :  ¼ aa

Berdasarkan perhitungan tersebut maka frekuensi keseimbangan genotif F2 adalah hasil kali frekuensi gen dari masing-masing induknya, yaitu  :

(A  +  a)(A  +  a)         =  AA  +  2 Aa  +  aa

A2 +  2 Aa  +  a2

Demikian pula pada generasi F3 tetap seperti pada F2 yaitu  1  :  2  :  1. Jadi apabila setiap individu dari berbagai kesempatan melakukan perkawinan yang sama dan berlangsung secara acak, serta setiap genotif mempunyai variabilitas yang sama maka perbandingan antara genotif yang satu denganyang lainnya dari generasi ke generasi adalah tetap sama.

6. Faktor Yang Mempengaruhi Evolusi

Evolusi pada umumnya dapat disebabkan oleh dua faktor penyebab, yaitu antara lain :

  1. Faktor Dalam / Faktor Gen / Faktor Genetika

Pada setiap makhluk hidup pasti memiliki substansi gen pada kromosom. Perubahan pada gen atau genetika pada makhluk tersebut akan berakibat pada terjadinya perubahan sifat organisme tersebut. Perubahan pada gen kromosom dapat terjadi akibat :

1)   Mutasi Gen
Mutasi adalah perubahan pada struktur kimia gen yang bersifat turun-temurun yang terjadi bisa secara spontan atau tidak spontan oleh zat kimia, radiasi sinar radioaktif, terinfeksi virus, dan lain sebagainya.

2)   Rekombinasi Gen
Pengertian dan arti definisi rekombinasi gen adalah penggabungan beberapa gen induk jantan dan betina ketika pembuahan ovum oleh sperma yang menyebabkan adanya susunan pasangan gen yang berbeda dari induknya. Akibatnya adalah lahirnya varian spesies baru.

  1. Faktor Lingkungan Luar

Makhluk hidup dalam kesehariannya pasti berada di lingkungan habitat tempat tinggalnya sesuai dengan kondusi fisik maupun kondisi karakteristiknya. Organisme makhluk hidup dituntut untuk dapat menyesuaikan atau adaptasi dengan kondisi lingkungan sekitarnya. Mahluk hidup yang melakukan perubahan fisik dan karakter secara terus-menerus untuk dapat selalu beradaptasi dengan lingkungannya menyebabkan munculnya varian spesies baru yang bermacam-macam dan beraneka ragam.

  1. C. Peranan Isolasi Dalam Mekanisme Evolusi

Kata evolusi mempunyai arti suatu proses perubahan atau perkembangan secara secara bertahap atau perlahan-lahan. Dalam pengertian biologi, evolusi berarti perubahan yang progresif artinya suatu perubahan yang berlangsung sedikit demi sedikit dan memakan waktu yang lama dan perubahannya menuju ke arah semakin kompleksnya struktur dan fungsi makhluk dan semakin banyak ragam jenis yang ada. Selain itu, evolusi juga bisa mengarah perubahan yang regresif, dimana makhluk hidup cenderung menuju ke arah kepunahan yang terjadi bukan hanya karena semakin mundurnya struktur dan fungsi tetapi dapat juga karena perkembangan struktur yang melebihi porsinya.

Pada teori neodarwinisme dijelaskan bahwa seleksi alam bukanlah sebab utama terjadinya evolusi organic, seleksi alam hanyalah sebagai faktor yang mengukuhkan varian-varian yang sesuai yang diperoleh dari peristiwa rekombinasi gen dan mutasi gen yang menyebabkan variasi makhluk hidup.

Mekanisme Isolasi menurut Futuyama. 1981 dalam bukunya Evolutionary Biologi adalah karakteristik biologi yang menyebabkan spesies simpatrik tetap bertahan (eksis), misalnya mempertahankan gene pool yang terbatas yang meliputi pencegahan interbreeding (pembiakan dengan spesies yang berbeda) melalui isolasi geografi, isolasi habitat, isolasi musim, isolasi reproduksi dan mechanical isolation. Selain mencegah interbreeding, juga mengurangi keberhasilan persilangan melalui isolasi gamet, isolasi zigot, hybrid viability dan hibryd sterility

Tidak  interbreeding
Tidak terjadi pertukaran susunan gen

susunan gen

Premating isolation
Spesies

Peranan isolasi dalam mekanisme evolusi yaitu:

  1. Premating isolation dapat menyebabkan variasi genetic , hal ini terjadi karena populasi yang semula continue dipisahkan oleh sebab-sebab geografis, iklim, habitat yang menyebabkan hambatan bagi penyebaran spesies, maka sistem populasi yang terpisah ini tidak mungkin terjadi perkawinan (interbreeding). Hal ini menyebabkan tidak terjadi pertukaran susunan gen mereka dan sistem evolusi mereka selanjutnya akan terpisah. sistem evolusi yang berbeda dalam waktu yang relatif lama tejadi perbedaan spesies yang menyebabkan perubahan susunan genetic, apabila pemisahan tercapai maka akan menghasilkan spesies yg benar-benar berbeda.

Terdapat tiga alasan mengapa sistem populasi yang terpisah geogravis akan mengalami penyimpanan sejalan dengan waktu:

  • Pertama, terdapat kemungkinan yang sangat besar bahwa kedua sistem populasi yang terpisah itu mempunyai frekuensi gen permulaan yang berbeda, sebab pembagian suatu sistem populasi menjadi dua bagian yang terpisah belum tentu membagi kedalam dua populasi yang sama secara genetis. Jadi, kalau dua populasi mencapai potensi genetis yang berbeda sejak saat pemisahannya, evolusi mendatang sudah tentu akan mengalami jalan yang berbeda saat pemisahannya, evolusi mendatang sudah tentu akan melalui jalan yang berbeda.
  • Kedua, populasi yang terpisah itu akan mengalami kejadian-kejadian mutasi yang berbeda. Mutasi terjadi secara sebaran (random), dan terdapat dua kemungkinan besar bahwa beberapa mutasi yang terjadi di dalam satu bagian dari populasi yang terpisah, sedangkan pada bagian lain mutasi tidak terjadi atau sebaliknya.
  • Ketiga, penyimpangan pada populasi yang terpisah itu, terjadi juga karena adanya tekanan seleksi dari sekeliling yang berbeda-beda sebab mereka menempati keadaan yang berbeda-beda. Kemungkinan bahwa kedua tempat mempunyai keadaan keliling yang sama adalah kecil.

Setiap spesies beradaptasi dengan iklim setempat di dalam batas-batas daerah sendiri, dan iklim dari kedua daerah itu sangat berbeda, sehingga setiap spesies tidak mungkin hidup di tempat spesies yang lain. Jadi, disini terdapat perbedaan-perbedaan genetis yang mencegah “gene flow” diantara spesies pada keadaan yang alami. Pemisahan mereka bukan saja secara geografis, tetapi juga genetis.

  1. 2. Postmating isolation

Postmating isolation dapat menyebakan evolusi retrogresif. Kepunahan adalah kematian ras atau spesies. Kepunahan terjadi bila suatu spesies tidak lagi mampu mereproduksi. Kebanyakan kepunahan diperkirakan disebabkan oleh perubahan lingkungan yang mempengaruhi spesies dalam dua cara :

  • Spesies mungkin tidak mampu beradaptasi terhadap lingkungan yang berubah dan mati tanpa keturunan ;
  • atau dapat beradaptasi tetapi dalam prosesnya mungkin berkembang menjadi spesies baru yang berbeda.

Dampak manusia pada lingkungan melalui pemburuan, pengumpulan dan perusakan habitat merupakan faktor yang signifikan pada kepunahan binatang dan tumbuhan. Kepunahan merupakan fitur yang sedang terjadi pada flora dan fauna di bumi, banyak spesies yang pernah hidup telah punah.

KESIMPULAN

Kata evolusi mempunyai arti suatu proses perubahan atau perkembangan secara secara bertahap atau perlahan-lahan. Dalam pengertian biologi, evolusi berarti perubahan yang progresif artinya suatu perubahan yang berlangsung sedikit demi sedikit dan memakan waktu yang lama dan perubahannya menuju ke arah semakin kompleksnya struktur dan fungsi makhluk dan semakin banyak ragam jenis yang ada. Selain itu, evolusi juga bisa mengarah perubahan yang regresif, dimana makhluk hidup cenderung menuju ke arah kepunahan yang terjadi bukan hanya karena semakin mundurnya struktur dan fungsi tetapi dapat juga karena perkembangan struktur yang melebihi porsinya.

Mekanisme Isolasi menurut Futuyama. 1981 dalam bukunya Evolutionary Biologi adalah karakteristik biologi yang menyebabkan spesies simpatrik (yang menempati daerah geografi yang sama atau saling menutup dengan daerah persebaran geografi) tetap bertahan (eksis), misalnya mempertahankan gene pool yang terbatas.

Premating isolation dapat menyebabkan variasi genetic , hal ini terjadi karena populasi yang semula continue dipisahkan oleh sebab-sebab geografis, iklim, habitat yang menyebabkan hambatan bagi penyebaran spesies, maka sistem populasi yang terpisah ini tidak mungkin terjadi perkawinan (interbreeding).

Postmating isolation dapat menyebakan evolusi retrogresif. Kepunahan adalah kematian ras atau spesies. Kepunahan terjadi bila suatu spesies tidak lagi mampu mereproduksi.

Daftar Pustaka

Anonymous,2008.Mekanisme-Darwin.(online)http: // komputertest.blogspot.com. Diakses tanggal 09 November 2009

Anonymous,2009.Atikel_kimia biokimia, isolasi-geografis-memicu-evolusi-mikroba-termofilik.(online)http://www.chem-is-try.org.Diakses tanggal 09 November 2009

Anonymous,2008.Mekanisme-khayalan-teori-evolusi.(online) http://astaqauliyah.com.Diakses tanggal Diakses tanggal 09 November 2009

Anonymous2009.Wiki-Evolusi.(online)http://id.wikipedia.org.Diakses tanggal Diakses tanggal 09 November 2009

Anonymous,2008.Journal/item/4.(online)http://maqdhiatusunindra4.multiply.com.Diakses tanggal Diakses tanggal 10 November 2009

Dobzhansky, T, Ayala, T. F. J. Stebbins, G. l, and Valentine, J. W. 1977. Evolusi San Francisco: W. H. Freeman

Futuyma, D, J. 1981. Evolutionary Biology, Surderland Massachussetts: Sinaver Publ

Futuyma, D.J. 1986. Evolutionary Biology. Second edition. Sinauer Associates.

12/20/2009 Posted by | Evolusi Organik | 4 Komentar

TEORI EVOLUSI BIOLOGIS TIDAK MENGINGKARI TUHAN DALAM PENCIPTAAN MAKHLUK-MAKHLUK DAN TIDAK MENENTANG AGAMA

BAB I

PENDAHULUAN

Kata evolusi menurut kamus Webter’s II mempunyai arti suatu proses perubahan atau perkembangan secara bertahap atau perlahan. Sedangkan lawan katanya revolusi yang berarti proses perubahan secara tiba – tiba (cepat atau radikal) pada suatu keadaan atau pada suatu system. Kata evolusi digunakan pertama kali oleh Herbert spencer, seorang ahli filsafat inggris oleh karena itu Spencer konsep evolusi yang dilontarkan dari waktu melalui perubahan bertingkat sehingga istilah tersebut tidak ada kaitannya dengan pembahasan dibidang biologi.

Evolusi merupakn kata yang umum yang dipakai orang untuk menunjukkan adanya suatu perubahan, perkembangan atau pertumbuhan secara berangsur – angsur. Perubahan tersebut dapat terjadi karena pengaruh alam ataupun rekayasa manusia. Penggunanan lebih lanjut istilah evolusi akhirnya keberbagai hal atau bidang. Binatang – binatang dan planet – planet, ternasuk bumi kita senantiasa mengalami evolusi. Tingkah laku manusia, arsitektur bangunan, mode busana, bahkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni juga mengalami perubahan atau evolusi.

Tiga teori sejarah kehidupan

  1. Penciptaan terpisah
  2. Transformisme
  3. Evolusi

Diluar pendekatan agama, bila kita simpulkan ada tiga teori tentang sejarah kehidupan. Teori penciptaan terpisah. Mengatakan bahwa spesies tidak berubah dan ada banyak asal mula spesies sebanyak spesiesnya. 2. Transformisme. Mengatakan bahwa spesies berubah, tetapi ada beberapa asal mula kehidupan, dan 3. Evolusi. Mengatakan bahwa spesies berubah dan pecah menjadi lebih dari satu spesies, dan spesies yang kita kenal sekarang adalah keturunan satu nenek moyang tunggal.

Ada tiga macam bukti untuk menguji ketiga teori diatas. Pertama, adalah pengamatan evolusi dalam sksla kecil. Kedua, argument klasifikasi, yang membicarakan pola – pola tertentu dari diversitas kehidupan, dan Ketiga, adalah bukti fosil.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Teori Kejadian Jagad Raya

Sebelum diketemukan teori tentang asal usul alam raya para pakar mengatakan bahwa alam semesta tidak terhingga besarnya, tak terbatas, dan tak berubah status totalitasnya dari waktu kewaktu tak terhingga lamanya dari waktu lampau sampai waktu tak berhingga lamanya dimasa yang akan datang. Hal ini berlandaskan pada hukum kekekalan masa yang mereka yakini. Secara umum dikatakan bahwa alam ini kekal dan nyata tidak mengakui adanya penciptaan alam. Pada tahun 1929 terjadi pergeseran pandangan dilingkungan para ahli tentang penciptaan alam dengan menggunakan teropong besar Hubble melihat galaksi – galaksi yang tampak menjahui galaksi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jaraknya dari bumi, yang terjauh bergerak paling cepat meninggalkan galaksi kita. Penemuan inilah yang mengawali perkembangan teori tentang asal usul terjadinya jagat raya, yakni:

  • Teori keadaan tetap (Steady – State Theory)

Teori ini mengatakan bahwa alam semesta ini, dimana pun dan kapan pun tetap sama. Teori ini didasarkan pada prinsip kosmologi sempurna dan mengartikan bahwa alam semesta tidak berawal dan tidak berakhir. Pendukung teori ini antara lain Fred Hooyl, Herman Bondi, dan Thomas Gold.

  • Teori Dentuman Besar (Big Bang Theory)

Teori ini berpendapat bahwa semua materi dan tenaga yang ada dialam semesta ini terjadinya terpadu menjadi satu bola yang terdiri dari bola neutron tenaga pancaran yang dinamakan “Ylem” (baca ailem). Suatu ketika “Ylem” ini meledak dan seluruh materinya terlempar keseluruh ruang alam semesta. Kemudian materi – materi tersebut melakukan ekspansi selama beribu – ribu jutaan tahun dan berlangsung jutaan tahun lagi. Hal ini menimbulkan gaya yang berlawanan yakni gaya grafitasi dan gaya repulse kosmik. Teori ini lahir dari ahli astrofisika George Gamow, Ralp Alpher, Hans Bethe, dan Robert Herman pada akhir tahun 1940 – an.

  • Teori Osilasi

Teori ini juga dinamakan teori alam semesta berayun. Teori ini menyatakan bahwa semua materi bergerak saling menjahui dan bermula dari massa yang mampat. Pergerakan materi ini akhirnya melambat dan suatu ketika semakin lambat dari kecepatan lepas krisis, dan akhirnya berhenti kemudian kembali mengerut karena gravitasi. Setelah materi tersebut mampat lalu meledak dan dilanjutkan dengan pemuaian lagi. Selama proses ini tidak ada materi yang rusak atau tercipta, melainkan hanya berubah tatanan atau mengalami goyangan (osilasi). Dengan demikian, teori ini merupakan teori yang mempertahankan pendapat bahwa alam semesta ini terhingga, bukanya tidak terhingga.

2.2 Kejadian Jagad Raya Menurut Islam

Sungguh sangat menarik untuk membandingkan konsep pembentukan alam raya ini dengan pandangan dari Agama Islam terhadap pandangan dari kosmologi. Terjadinya alam raya ini seperti difirmankan dalam Al-Qur’an surat Fush Shilat 41 ayat 11 – 12 yang maknanya kira – kira adalah :

“ Kemudian ia merancang dari langit dan bumi yang masih berbentuk gas seperti asap. Lalu tuhan berfirman kepada langit dan kepada bumi sekaligus: “ jadikanlah, engkau keduanya, secara sukarela atau terpaksa “. Langit dan bumi berkata : “ kami jadi secara sukarela (patuh)”. Lalu diselesaikan –Nya penciptaannya menjadi tujuh langit dalam dua rangkaian waktu (masa). Kepada setiap langit diwahyukan tentang hukumnya sendiri – sendiri. Dan kami hiasi langit terdekat dengan bintang – bintang siarat yang merupakan lentera – lentera (lampu – lampu) dan pelindungan – pelindungan yang berkelip – kelip”. Makna yang dirangkum di atas setelah mempelajari beberapa terjemahan dan terutama didasarkan pada perbandingan terjemahan Al-Qur’an kedalam bahasa inggris oleh Khatib atas tugas Universitas Al – Azhar pada tahun 1984, Abdullah Yusuf’Ali dan Asad.

Teori Ledakan Maha Dahsyat juga tergambarkan dalam firman Allah pada Al- Qur’an surat Anbiya(21) ayat 30 : yang maknanya kira – kira: “Apakah mereka orang – orang kafir itu tidak mengutahui bahwa langit – langit (ruang alam) dan bumi (materi alam) itu asalnya berpadu, lalu kami pisahkan keduanya. Selanjutnya, kami buat dari air semua makhluk hidup. Mengapa mereka tidak neriman juga?“

Dari ilmu pengetahuan kita mengetahui bahwa setelah terjadinya ledakan meha dahsyat, menurut perkiraan para ahli, zat yang mula – mula terpecah – pecah menjadi zarah yang paling sederhana, yakni hydrogen : yang merupakan unsur pembentukan air lama kelamaan dari hydrogen ini melalui reaksi (perpaduan) terbentuk senyawa – senyawa lainnya diantaranya bila bereaksi dengan oksigen akan membentuk air. Air merupakan suatu zat cair dengan sifat – sifat yang mengagumkan yakni karena kemampuannya melarutkan garam – garam dan zat – zat kimia lain yang diperlukan oleh kehidupan.

Teori Ledakan Maha Dahsyat juga mengatakan adanya pemuaian alam semesta. Hal ini sejalan dengan Al-Qur’an surat Adz- Dzaariyaat(51) ayat 47, yang maknanya kira – kira : “ Dan langit (ruang alam) itu kami bangun dengan kekuatan, dan kamilah yang sesungguhnya yang meluaskannya”.

Selanjutnya, mengenai ekspansi alam semesta ini, yang menaburkan materi paling tidak sebanyak 100 milyar galaksi yang masing – masing berisi rata – rata 100 milyar bintang itu. Kekuatan yang dilibatkan dalam pembangunan alam semesta ini, dan yang mampu melemparkan kira – kira 10.000 milyar bintang yang masing – masing massanya sekitar massa matahari ke seluruh pelosok alam itu, tentu saja tidak dapat kita bayangkan. Dari pembandingan semacam ini dapat kita ketahui bahwa pada akhirnya, fisika yang dikembangkan untuk mencari kebenaran sampai juga pada fakta yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an. Kenyataan ini menggusarkan para fisikawan pada umumnya karena penciptaan alam raya dari ketiadaan memerlukan adanya sang Pencipta Yang  Maha Kuasa, suatu keadaan yang mereka ingin hindari. Sebab mereka hanya membicarakan apa – apa yang dapat dinderakan atau dideteksi dengan peralatan saja.

Oleh karenanya, maka beberapa pakar fisika mencoba mengelakkan penciptaan alam ini dengan melontarkan teori – teori tandingan seperti teori alam yang berosilasi, yakni alam semesta yang berkembang kempis, yang meledak dan berekspansi untuk kemudian kembali mengecil berulang – ulang tanpa awal tanpa akhir, namun kosmos yang berkelakuan seperti itu tidak dapat dibenarkan secara termodinamis. Usaha lain dengan mengemukakan Teori Alam Keadaan Tetap (Ajeng), yang mengatakan bahwa galaksi – galaksi boleh terbang ke seberang sana tetapi ruang yang ditinggalkannya akan terisi lagi oleh materi baru, namun teori ini menjadi tidak berlaku setelah pada tahun 1964, Wilson dan Penzias dalam observasinya ke segenap penjuru alam menemukan sisa – sisa kilatan dentuman besar yang terjadi sekitar 15 milyar tahun yang lalu.

Hal tersebut diatas, sejalan dengan Al-Qur’an surat Fush-Shilat(41) ayat 53 , yang maknanya kira – kira adalah : “ Akan kami perlihatkan kepada mereka ayat – ayat kami segenap penjuru dan dalam diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu yang benar”. Belumkah cukup bahwa tuhanmu menyaksikan segala – galanya? Allah SWT telah memenuhi janjinya itu dengan memperlihatkan ekspansi kosmos (alam semesta) dan memperlihatkan sisa – sisa kilatan dentumun besar, dan Yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih akan memperlihatkan berkali – kali lagi ayat – ayat-Nya, untuk menolong hamba – hamba-Nya dari kesesatan. Meskipun jelas fakta – fakta yang diungkapkan oleh sang pencipta dan para pakar fisika dapat menangkap dan mengetahuinya, namun terdapat perbedaan besar antara ajaran fisika (sains) dengan ajaran agama. Kalau dalam fisika filsafat ilmu itu mendorong para pakarnya untuk menghindari dari tindakan melibatkan Tuhan Yang Maha Esa dan mengatakan bahwa alam tercipta dengan sendirinya, maka dalam ajaran Agama Islam justru Allah SWT pemegang peranan utama alam semesta ini.

Pada teori Ledakan Maha Dahsyat, juga mengatakan adanya pemuaian alam semesta. Kemudian galaksi itu akan hancur kembali dan diserap oleh suatu lubang hitam, yang mungkin diisyaratkan dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiyaa’(21) ayat 104, yang maknanya kira – kira : “ Pada hari itu kami gulung langit (bentuk tunggal) seperti menggulung gulungan perkamen untuk tulisan. Sebagaimana janji kami yang telah memulai penciptaan pertama, kami akan melaksanakannya”.

3.1 Penciptaan Bumi

Kapan dimana dan dengan cara bagaimana kehidupan di bumi ini berawal? adalah pertanyaan yang terus menggoda para ilmuwan. Berbagai teori asal-usul kehidupan telah disusun oleh para pakar tetapi belum ada satupun teori yang diterima secara memuaskan oleh semua pihak.

  • Teori Generatio Spontanea

Disebut juga teori Abiogenesis pelopornya seorang ahli filsafat zaman Yunani Kuno Aristoteles (384-322 SM) yang berpendapat bahwa makhluk hidup terjadi begitu saja pendapat ini masih terus bertahan sampai abad kc 17 -18 Anthony van Leenwenhoek (abad ke 18) berhasil membuat mikroskop dan melihat jasad renik di dalam air bekas rendaman jerami penemuan Leeuwenhoek (salah seorang penganut teori abiogenesis) memperkuat teori generatio spontanea teori terbukti makhluk hidup berasal dari benda mati (jasad renik berasal dari air bekas rendaman jerarni). Beberapa ahli berusaha mengadakan penelitian untuk menyangkal teori generatio spontanea antara lain Franscesco Redi, Spallanzani dan Louis Pasteur.

  • Evolusi Kimia

Menerangkan bahwa terbentuknya senyawa organik terjadi secara bertahap dimulai dari bereaksinya bahan-bahan anorganik yang terdapat di dalam atmosfer primitif dengan energi halilintar membentuk senyawa-senyawa organik kompleks.

Stanley Miller mencoba mensimulasikan kondisi atmosfer purba di dalam skala laboratorium. Miller memasukkan gas H2, CH4 (metan), NH3 (amonia) dan air ke dalam alat. Air dipanasi sehingga uap air bercampur dengan gas-gas tadi. Sebagai sumber energi yang bertindak sebagai “halilintar” agar gas-gas dan uap air bereaksi, digunakan lecutan aliran listrik tegangan tinggi. Ternyata timbul reaksi, terbentuk senyawa-senyawa organik seperti asam amino, adenin dan gula sederhana seperti ribosa.

  • Evolusi Biologi

Alexander Oparin mengemukakan di dalam atmosfer primitif bumi akan timbul reaksi-reaksi yang menghasilkan senyawa organik dengan energi pereaksi dari radiasi sinar ultra violet. Senyawa organik tersebut merupakan “soppurba” tempat kehidupan dapat muncul. Senyawa organik akhirnya akan membentuk timbunan gumpalan (koaservat). Timbunan gumpalan (koaservat) yang kaya akan bahan-bahan organik membentuk timbunan jajaran molekul lipid sepanjang perbatasan koaservat dengan media luar yang dianggap sebagai “selaput sel primitif” yang memberi stabilitas pada koaservat. Meskipun begitu Oparin tetap berpendapat amatlah sulit untuk nantinya koaservat yang sudah terbungkus dengan selaput sel primitif tadi akan dapat menghasilkan “organisme heterotrofik” yang dapat mereplikasikan dirinya dan mengambil nutrisi dari “sop purba” yang kaya akan bahan-bahan organik dan menjelaskan mekanisme transformasi dari molekul-molekul protein sebagai benda tak hidup ke benda hidup. Teori evolusi kimia telah teruji melalui eksperimen di laboratoriurn, sedang teori evolusi biologi belum ada yang menguji secara eksperimental. Walaupun yang dikemukakan dalam teori itu benar, tetap saja belum dapat menjelaskan tentang dari mana dan dengan cara bagaimana kehidupan itu muncul, karena kehidupan tidak sekadar menyangkut kemampuan replikasi diri sel. Kehidupan lebih dari itu tidak hanya kehidupan biologis, tetapi juga kehidupan rohani yang meliputi moral, etika, estetika dan inteligensia.

3.2  Teori Penciptaan dalam Islam

Teori penciptaan dalam Islam adalah kepercayaan bahwa alam semesta (termasuk umat manusia dan semua makhluk yang lain) tidak hanya yang diciptakan oleh Allah, tetapi juga dijalankan oleh Allah dalam setiap waktu, sebagaimana dijelaskan Allah dalam ayat berikut, ‘Berkata Firaun, ‘Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?’ Musa berkata, ‘Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’’ (Thaha: 49-50)

Inilah teori penciptaan dalam Islam. Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia mengendalikan alam semesta menurut kehendak-Nya sesuai fungsi dan peran yang spesifik.

Dalam teori penciptaan dalam Islam, Allah menentukan peran bagi Hawa, seorang perempuan diciptakan dari laki-laki, yang ditugaskan di Al-Qur’an dengan ayat-ayat berikut:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)

Menurut teori penciptaan dalam Islam, seperti yang telah dinyatakan, peran Tuhan lebih dari dari sekedar menciptakan manusia. Dalam menjawab pertanyaan berikut ini yang disebut secara berturut-turut di salah satu dari surat, kita dapat mendefinisikan peran rahmat-Nya:

“Kami telah menciptakan kamu, maka mengapa kamu tidak membenarkan (hari berbangkit)?”(al-Waqi’ah: 57)

‘Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kami kah yang menciptakannya?’ (al-Waqi’ah: 58-59)

‘Bahkan kami menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa. Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?’ (Waqi’ah: 67-70)

‘Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dari gosokan-gosokan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kami-kah yang menjadikannya?’ (Waqi’ah: 71-72)

Menurut ayat-ayat tersebut, teori penciptaan dalam Islam mencakup:

  • Allah menentukan desain fitur-fitur manusia dalam air sperma yang dipancarkan manusia dengan DNA yang spesifik, peta genetika atau jumlah chromosom bersama antara pasangan perkawinan, laki-laki dan perempuan.
  • Allah menjaga sumber kelangsungan kehidupan makhluk-Nya. Karena itu, Allah mengatur kerajaan tumbuhan sebagai makhluk otonom yang menyediakan makanan yang diperlukan untuk kerajaan manusia.
  • Dia mengatur siklus untuk menghasilkan air tawar untuk minuman manusia dan pengairan tanaman yang mereka makan.
  • Allah mengelola pasokan energi untuk makhluk-Nya demgam proses fotosintesis yang ajaib, yang menyimpan energi dari matahari menjadi buah yang dapat dimakan.

‘Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: ‘Bersujudlah kamu kepada Adam’; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.’ (al-A’raf: 11)

Jadi, Allah dalam teori Penciptaan dalam Islam tidak hanya membuat badan kita hidup, tetapi ia juga membentuk rupa kita agar terlihat seperti rupa manusia. Jadi, Allah memiliki nama lain dalam Al-Qur’an selain al-Khaliq (Pencipta), yaitu al-Mushawwir (Yang membentuk rupa).

Allah berfirman, ‘Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’ (al-Hasyr: 24)

2.4 Asal Usul Kehidupan Dan Keanekaragaman Jenis

2.4.1 Teori Evolusi dan Asal Usul Manusia
Evolusi adalah perubahan genotip pada suatu populasi yang berlangsung secara perlahan-lahan dan memerlukan waktu yang sangat panjang.

Teori evolusi menurut Jean Lamarck

  • Evolusi organik terjadi karena perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pengaruh lingkungannya dapat diturunkan.
  • Organ yang mengalami perubahan karena terus menerus dipakai akan berkembang makin sempurna dan organ yang tidak diperlukan lagi lama kelamaan perkembangannya menurun dan akhirnya rudiment atau atrofi.

Teori Lamarck disanggah Weismann.

Teori evolusi menurut Charles Darwin

  • Spesies yang ada sekarang adalah keturunan dari spesies-spesies sebelumnya.
  • Seleksi alam sangat menentukan berlangsungnya mekanisme evolusi.

Seleksi alam merupakan gagasan murni dari Darwin. Sementara teori pertama di atas telah ada sejak jama Yunani kuno, hanya saja Darwin menjelaskannya secara lebih tajam dan detil.

Ciri-ciri proses evolusi

1. Evolusi adalah perubahan dalam satu populasi BUKAN perubahan individu.

2. Perubahan yang terjadi hanya frekuensi gen-gen tertentu, sedangkan sebagian besar sifat gen tidak berubah.

3. Evolusi memerlukan penyimpangan genetik sebagai bahan mentahnya. Dengan kata lain harus ada perubahan genetik dalam evolusi.

4. Dalam evolusi perubahan diarahkan oleh lingkungan, harus ada faktor pengarah sehingga evolusi adalah perubahan yang selektif.

Faktor perubahan

  1. Mutasi gen maupun mutasi kromosom menghasilkan bahan mentah untuk evolusi. Tetapi Darwin sendiri sebenarnya tidak mengenal mutasi ini, sementara mutasi merupakan peristiwa yang sangat penting yang mendukung keabsahan teori Darwin
  2. Rekombinasi perubahan yang dikenal Darwin. Rekombinasi dari hasil-hasil mutasi memperlengkap bahan mentah untuk evolusi.

Faktor pengarah :

  1. Dalam setiap species terdapat banyak penyimpangan yang menurun, karenanya dalam satu species tidak ada dua individu yang tepat sama dalam susunan genetiknya (pada saudara kembar misalnya, susunan genetiknya tetap tidak sama).
  2. Pada umumnya proses reproduksi menghasilkan jumlah individu dalam tiap generasi lebih banyak daripada jumlah individu pada generasi sebelumnya.
  3. Penambahan individu dalam tiap species ternyata dikendalikan hingga jumlah suatu populasi species dalam waktu yang cukup lama tidak bertambah secara drastis.
  4. Ada persaingan antara individu-individu dalam species untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya dari lingkungannya. Persaingan intra species ini terjadi antara individu-individu yang berbeda sifat genetiknya. Individu yang mempunyai sifat paling sesuai dengan lingkungannya akan memiliki viabilitas yang tinggi. Di samping viabilitas juga fertilitas yang tinggi merupakan faktor yang penting dalam seleksi alam. Mekanisme evolusi terjadi karena adanya variasi genetik dan seleksi alam. Variasi genetik muncul akibat : mutasi dan rekombinasi gen-gen dalam keturunan baru.

Frekuensi Gen

Pada proses evolusi terjadi perubahan frekuensi gen. Bila perbandingan antara genotp-genotp dalam satu populasi tidak berubah dari satu generasi ke generasi, maka frekuensi gen dalam populasi tersebut dalam keadaan seimbang. Frekuensi gen seimbang bila :

  1. Tidak ada mutasi atau mutasi berjalan seimbang (jika gen A bermutasi menjadi gen  a, maka harus ada gen a yang menjadi gen A dalam jumlah yang sama).
  2. Tidak ada seleksi
  3. Tidak ada migrasi
  4. Perkawinan acak
  5. Populasi besar

Bila frekuensi gen dalam satu populasi ada dalam keadaan seimbang berlaku Hukum Hardy Weinberg. Apabila frekuensi gen yang satu dinyatakan dengan p dan alelnya adalah q, maka menurut Weinberg : (p+q)=1 Bila frekuensi gen A=p dan frekuensi gen a =1 maka frekuensi genotip : AA : Aa : aa : p^2 : 2pq : q^2

Terbentuknya spesies baru dapat terjadi karena :

  1. Isolasi waktu Misalnya adalah kuda. Kuda jaman eosen yaitu Eohippus – Mesohippus – Meryhippus – Pliohippus – Equus. Dari jaman eosin hingga sekarang seorang ahli palaentolog menduga telah terjadi 150 ribu kali mutasi yang menguntungkan untuk setiap gen kuda. Dengan dmikian terdapat cukup banyak perbedaan antara nenek moyang kuda dengan kuda yang kita kenal sekarang. Oleh sebab itu kuda-kuda tersebut dinyatakan berbeda species.
  2. Isolasi geografis Burung Fringilidae yang mungkin terbawa badai dari pantai Equador ke kepulauan Galapagos. Karena pulas-pulau itu cukup jauh jaraknya maka perkawinan populasi satu pulau dengan pulau lainnya sangat jarang terjadi. Akibat penumpukan mutasi yang berbeda selama ratusan tahun menyebabkan kumpulan gen yang jauh berbeda pada tiap-tiap pulaunya. Dengan demikian populasi burung di tiap-tiap pulau di kepulauan Galapagos menjadi spesies yang terpisah.
  3. Domestikasi Hewan ternak yang dijinakkan dari hewan liar dan tanaman budi daya dari tumbuhan liar adalah contoh domestikasi. Domestikasi memindahkan makhluk-makhluk tersebut dari habitat aslinya ke dalam lingkungan yang diciptakan manusia. Hal ini mengakibatkan muncul jenis hewan dan tumbuhan yang memiliki sifat menyimpang dari sifat aslinya.
  4. Mutasi kromosom adalah peristiwa terjadinya species baru secara cepat.

Isolasi Reproduksi

Tanda dua populasi berbeda species bila mereka tidak dapat berhybridisasi disebut juga bila mereka mengalami Isolasi reproduksi. Isolasi reproduksi terjadi karena :

  1. Isolasi ekologi : isolasi karena menempati habitat yang berbeda.
  2. Isolasi musim : akibat berbeda waktu pematangan gamet
  3. Isolasi tingkah laku : akibat berbeda tingkah laku dalam hal perkawinan.
  4. Isolasi mekanik : karena bentuk morfologi alam kelamin yang berbeda.
  5. Isolasi gamet : karena gamet jantan tidak memiliki viabilitas dalam alat reproduksi betina.
  6. Terbentuknya basta mandul
  7. Terbentuk bastar mati bujang

Bukti-bukti adanya evolusi

  1. Adanya variasi antara individu-individu dalam satu keturunan.
  2. Adanya pengaruh penyebaran geografis
  3. Adanya fosil-fosil di berbagai lapisan bumin yang menunjukkan perubahan secara   perlahan-lahan.
  4. Adanya data sebagai hasil studi mengenail komperatif perkembangan embrio.

2.5 Posisi Adam dalam Teori Evolusi

2.5.1 Konsep Penciptaan Adam Menurut Al-qur’an

Wacana tentang asal-usul manusia, menjadi satu hal yang menarik untuk dikaji dan dikaji lagi lebih dalam. Dua konsep (konsep evolusi dan konsep Adam sang manusia pertama) menimbulkan perdebatan yang tak habis-habis untuk dibahas.

Di satu sisi konsep evolusi menawarkan satu gagasan bahwa manusia adalah wujud sempurna dari evolusi makhluk di bumi ini. Sedangkan konsep yang kedua mengatakan bahwa manusia adalah keturunan Adam dan Hawa.

Sedikit disinggung di atas, bahwa adanya manusia menurut al-Qur’an adalah karena sepasang manusia pertama yaitu Adam dan Hawa. Disebutkan bahwa, dua insan ini pada awalnya hidup di Surga. Namun, karena melanggar perintah Allah maka mereka diturunkan ke bumi. Setelah diturunkan ke bumi, sepasang manusia ini kemudian beranak-pinak, menjaga dan menjadi wakil-Nya di dunia baru itu.

Tugas yang amat berat untuk menjadi penjaga bumi. Karena beratnya tugas yang akan diemban manusia, maka Allah memberikan pengetahuan tentang segala sesuatu pada manusia. Satu nilai lebih pada diri manusia, yaitu dianugerahi pengetahuan. Manusia dengan segala kelebihannya kemudian ditetapkan menjadi khalifah di bumi ini. Satu kebijakan Allah yang sempat ditentang oleh Iblis dan dipertanyakan oleh para malaikat. Dan Allah berfirman: “….Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama mereka…” (al-Baqarah ayat 33). Setelah Adam menyebutkan nama-nama itu pada malaikat, akhirya Malaikatpun tahu bahwa manusia pada hakikatnya mampu menjaga dunia.

Dari uraian ini dapat dipahami bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah SWT. Dengan segala pengetahuan yang diberikan Allah manusia memperoleh kedudukannya yang paling tinggi dibandingkan dengan makhluk lainnya. Inipun dijelaskan dalam firman Allah SWT: “…..kemudian kami katakan kepada para Malaikat: Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka merekapun bersujud kecuali Iblis, dia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (al-Baqarah ayat 34). Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki keistimewaan dibanding makhluk Allah yang lainnya, bahkan Malaikat sekalipun.

Menjadi menarik dari sini jika legitimasi kesempurnaan ini diterapkan pada model manusia saat ini, atau manusia-manusia pada umumnya selain mereka para Nabi dan orang-orang maksum. Para nabi dan orang-orang maksum menjadi pengecualian karena sudah jelas dalam diri mereka terdapat kesempurnaan diri, dan kebaikan diri selalu menyertai mereka. Lalu, kenapa pembahasan ini menjadi menarik ketika ditarik dalam bahasan manusia pada umumnya. Pertama, manusia umumnya nampak lebih sering melanggar perintah Allah dan senang sekali melakukan dosa. Kedua, jika demikian maka manusia semacam ini jauh di bawah standar Malaikat yang selalu beribadah dan menjalankan perintah Allah SWT, padahal dijelaskan dalam al-Qur’an Malaikatpun sujud pada manusia. Kemudian, ketiga, bagaimanakah mempertanggungjawabkan firman Allah di atas, yang menyebutkan bahwa manusia adalah sebaik-baiknya makhluk Allah.

Membahas sifat-sifat manusia tidaklah lengkap jika hanya menjelaskan bagaimana sifat manusia itu, tanpa melihat gerangan apa di balik sifat-sifat itu. Murtadha Muthahari di dalam bukunya Manusia dan Alam Semesta sedikit menyinggung hal ini. Menurutnya fisik manusia terdiri dari unsur mineral, tumbuhan, dan hewan. Dan hal ini juga dijelaskan di dalam firman Allah : Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan memulai penciptaan manusia dai tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (as-Sajdah ayat 7-9). Sejalan dengan Muthahari dan ayat-ayat ini, maka manusia memiliki unsur paling lengkap dibanding dengan makhluk Allah yang lain. Selain unsur mineral, tumbuhan, dan hewan (fisis), ternyata manusia memiliki jiwa atau ruh. Kombinasi inilah yang menjadikan manusia sebagai makhluk penuh potensial.

Jika unsur-unsur ditarik garis lurus maka, ketika manusia didominasi oleh unsur fisisnya maka dapat dikatakan bahwa ia semakin menjauhi kehakikiannya. Dan implikasinya, manusia semakin menjauhi Allah SWT. Tipe manusia inilah yang dalam al-Qur’an di sebut sebagai al-Basyar, manusia jasadiyyah. Dan demikianpun sebaliknya, semakin manusia mengarahkan keinginannya agar sejalan dengan jiwanya, maka ia akan memperoleh tingkatan semakin tinggi. Bahkan dikatakan oleh para sufi-sufi besar, manusia sebenarnya mampu melampaui malaikat, bahkan mampu menyatu kembali dengan sang Khalik. Manusia seperti inilah yang disebut sebagai al-insaniyyah.

Luar biasanya manusia jika ia mampu mengelola potensinya dengan baik. Di dalam dirinya ada bagian-bagian yang tak dimiliki malaikat, hewan, tumbuhan, dan mineral—satu persatu. Itu karena di dalam diri manusia unsur-unsur makhluk Allah yang lain ada. Tidak salah bila dikatakan bahwa alam semesta ini makrokosmos dan manusia adalah mikrokosmosnya.

Substansi dari dialog dengan malaikat (Q.s. al-Baqarah: 30-31 ) adalah penegasan bahwa sesungguhnya Allah sebagai Pencipta atau Penjadi khalifah di muka bumi ini. Kata “jaa`ilun” sebagai konstruksi isim fa`il yang berarti subyek pelaku dalam frasa Innii jaa’ilun fi al-ardhi khaliifah tidak harus diartikan “hendak menjadikan khalifah di muka bumi”. Seandainya arti ini yang dipahami, maka tidak ada khalifah sebelum Adam. Konseksuensi logisnya, Adam adalah manusia pertama.

Seandainya frasa tersebut dikembalikan pada makna asalnya sebagai isim fa‘il, maka hal itu mengisyaratkan bahwa Allah—sebelum atau sesudah terjadinya dialog dengan malaikat sebagaimana yang termaktub dalam ayat tersebut—selalu menjadikan khalifah di muka bumi. Dengan demikian, Adam bukanlah khalifah yang pertama dan bukan pula manusia yang pertama yang diciptakan Allah.

Kemudian, ayat-ayat tersebut memunculkan wacana bahwa seolah-olah malaikat mempunyai pengalaman mengamat-amati sepak terjang sang khalifah. Tampaknya malaikat khawatir akan masa depan khalifah baru yang bernama Adam itu, seandainya perilaku destruktif akan menghancurkan tatanan taqdis dan tasbih malaikat. Kita hanya bisa menduga-duga kategori khalifah yang seperti apakah yang telah (dan akan) melakukan perbuatan tercela itu. Tidak ada keterangan yang jelas perihal khalifah versi malaikat yang dimaksud. Al-Qur’an dalam Q.s. Shaad: 67-73 dengan tegas menyatakan untuk tidak memperpanjang bantah-bantahan ini.

Ada riwayat yang mengasumsikan bahwa iblis atau jin sebagai khalifah sebelum Adam.  Qatadah, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas menduga, bahwa khalifah yang dimaksud adalah khalifah dari golongan jin yang diduga berbuat kerusakan. Asumsi ini berdasarkan analisis ayat yang menerangkan bahwa jauh sebelum manusia diciptakan, Allah telah menciptakan jin (Ibn-Katsir, Qishashul Anbiya’, hlm. 2).

Benar bahwa jin (dan malaikat) diciptakan sebelum Adam berdasarkan Q.s. al-Hijr: 26-27, namun apakah mereka—khususnya para jin—berperan sebagai khalifah di muka bumi? Pendapat para sahabat tersebut tampaknya hanyalah praduga saja. Lagi pula tidaklah mungkin bumi yang kasat mata ini diwariskan kepada para jin yang tidak kasat mata. Bentuk pengelolaan semacam apakah seandainya para jin yang berfungsi sebagai khalifah di muka bumi ini.
Khalifah sebelum Adam dan khalifah yang hendak diciptakan Allah ini adalah khalifah yang benar-benar berasal dari golongan manusia. Perhatikan ayat berikut ini: Dan Dialah yang telah menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat ‘iqab-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. (Q.s. al-An’am: 165).

Ayat tersebut kembali menegaskan bahwa sesungguhnya Allah adalah pencipta para khalifah di muka bumi ini. Kata ganti orang kedua (dhamir mukhatab) pada ja’alakum  merujuk pada seluruh umat manusia. Menilik pada keumuman lafadz ini, apabila dikaitkan dengan pertanyaan malaikat tentang penciptaan khalifah, maka khalifah sebelum Adam adalah khalifah dari golongan manusia juga. Ada banyak “Adam-Adam” lain yang sebelumnya diciptakan Allah dengan fungsi yang sama namun dengan karakter yang berbeda; destruktif.

2.5.2 Adam dan Instalasi al-Asma’

Dengan mengorelasikan fakta-fakta arkeologis tentang ragam manusia sebelum Homo Sapiens, tampaknya selaras dengan karakter “destruktif” sebagai yang digambarkan malaikat. Namun, bukankah karakter hominid memang demikian? Manusia-manusia tersebut mempunyai struktur fisik yang hampir mirip manusia (kalau tidak ingin dikatakan hampir mirip kera). Mereka tercipta dengan volume otak yang kecil yang dengan sendirinya perilakunya pun cenderung tanpa tatanan manusiawi atau bersifat kebinatangan. Mereka tidak layak disebut sebagai khalifah. Sementara itu, khalifah mempunyai kedudukan yang terhormat sebagai “duta” Allah untuk mengelola bumi ini.

Di sinilah letak diskontinuitas itu. Ternyata, kita tidak bisa mengorelasikan fakta sejarah manusia (asal mula manusia menurut para penganut evolusionisme) dengan asal-usul Adam. Ada banyak keterserakan, sebagaimana yang dideskripsikan Michel Foucault, diskontinuitas dipahami sebagai terserak dan berkecambahnya sejarah ide-ide dan munculnya periode-periode yang begitu panjang dalam sejarah itu sendiri. Dalam pengertian tradisional, sejarah semata-mata selalu tertuju pada keinginan untuk menentukan relasi-relasi kausalitas, determinasi sirkular, antagonisme dan relasi ekspresi antara berbagai fakta dan kejadian yang terekam oleh manusia (The Archeology of Knowledge, hlm. 10).

Keterserakan ini yang menyangkut relasi-relasi kausalitas, determinasi sirkular, antagonisme dan relasi ekspresi antara berbagai fakta dan kejadian yang terekam oleh manusia. Celakanya, kita menganggap bahwa data-data historis tentang bapak manusia itu dirasa cukup hanya dengan ditafsirkan oleh data-data hadits  yang sangat dipengaruhi oleh kisah-kisah israiliyat (Bible). Seandainya kita hendak meneliti sejarah penciptaan ini, meminimalisasi diskontinuitas dengan “comot sana comot sini” dari data-data Biblikal bukanlah semangat Qur’anik. Bukankah sejak awal al-Qur’an diturunkan untuk menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya?

Dengan meneliti ayat “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya, Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (Q.s. al-Baqarah: 37), suksesi khalifah yang tidak berdasarkan kalimah Allah ke yang berdasarkan kalimah Allah barangkali yang paling mendekati untuk mereka-reka praduga ini. Allah hendak mengganti khalifah yang berperilaku destruktif yang tidak berdasarkan pada hukum-hukum Allah dengan khalifah berperadaban yang berdasarkan pada hukum-hukum Allah. Jadi, tegaslah bahwa para hominid itu bukan khalifah.

Namun yang pasti, Adam bukanlah manusia pertama. Tampaknya Q.s. al-Baqarah: 30 menghendaki bahwa penciptaan khalifah berikutnya adalah untuk mereformasi dan merehabilitasi “Adam-Adam” sebelumnya. Dengan kata lain, Allah hendak mengganti khalifah perusak yang tanpa tatanan hukum Allah itu dengan khalifah baru yang bernama Adam dan anak keturunannya kelak yang berlandaskan tatanan hukum Allah.

Selanjutnya, proses pembelajaran untuk khalifah baru ini segera dilakukan. Instalasi ini adalah pembekalan pada diri Adam yang berupa persiapan diri untuk menerima seluruh identifikasi nama-nama, al-asma’ kullaha. Kalimat kullaha adalah penguatan (taukid) bahwa pengajaran al-asma meliputi seluruh nama-nama atau identitas (al-musammiyaat) benda-benda (Tafsir Zamakhsyari, Juz I, hlm. 30).

Sementara itu, Imam al-Qurthuby menitikberatkan bahwa proses pengajaran al-asma’ adalah pengajaran dalam bentuk dasar-dasar ilmu pengetahuan (Tafsir al-Qurthuby, Juz I, hlm. 279). Hal ini mengandung makna yang lebih dalam, bahwa Adam sudah diperlengkapi dengan perangkat nalar yang siap untuk menerima seluruh identifikasi nama-nama. Pengajaran bukanlah dengan mengajarkan penyebutan benda-benda satu-persatu belaka, namun lebih pada pengidentifikasian yang selanjutnya dikembangkan sendiri oleh Adam. Adam-lah manusia rasional yang pertama.

Proses instalasi ini dijadikan bekal Adam untuk diwariskan kepada anak cucunya dalam rangka mengelola dunianya kelak. Instalasi al-asma’  adalah instalasi sendi-sendi pengetahuan sehingga Adam mampu mengidentifikasi nama-nama seluruhnya (al-asma’ kullaha). Faktor inilah yang mendorong manusia untuk menjadi makhluk pembelajar—homo academicus. Adam mampu mengidentifikasi dan mengembangkan daya nalarnya sampai pada tahap yang mengagumkan malaikat. Sementara, malaikat tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun kecuali apa yang telah diinformasikan Allah kepada mereka, subhaanaka laa ‘ilma lanaa illaa maa ‘allamtanaa. Inilah yang membuat malaikat jatuh tersungkur karena ta’dzim kepada Adam akan pencapaian kemajuan ilmiahnya.

Tampaknya, diskontinuitas sejarah penciptaan Adam memang demikian adanya. Al-Qur’an justru hendak menggerakkan hikmah di balik penciptaan itu untuk selalu terus menerus berpikir dan menggunakan daya nalar manusia di bawah bimbingan hukum Allah (kalimaatin) sebagaimana Adam meletakkan dasar-dasar budaya dan peradaban di bawah bimbingan-Nya. Sementara itu, membicarakan Adam sebagai tokoh sejarah (manusia pertama atau bukan) tidaklah substansial dan tidak memberikan dampak apa-apa bagi peradaban itu sendiri.

2.6 Keselarasan antara Agama, Filsafat, dan Ilmu Pengetahuan tentang Evolusi

2.6.1 Relasi dan Relevansi antara Agama, Filsafat, dan Ilmu

Jalan untuk mencari, menghampiri dan menemukan kebenaran dapat ditempuh dengan jalan, yaitu: ilmu, filsafat dan agama. Ketiga jalan ini mempunyai titik persamaan, titik perbedaan dan titik singgung yang satu terhadap yang lainnnya. Ilmu Pengetahuan Sebagai ilustrasi dikisahkan, bertanyalah seorang kawan kepada ahli filsafat yang arif dan bijaksana, “Bagaimana caranya agar saya mendapatkan pengetahuan yang benar? “Mudah saja”, jawab filosof itu, “Ketahuilah apa yang kau tahu dan ketahuilah apa yang kau tidak tahu” (Jujun, 1990:19). Dari ilustrasi ini dapat digambarkan bahwa pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu dan merupakan hasil proses dari usaha manusia. Beranjak dari pada pengetahuan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah pengetahuan, maka di dalam kehidupannya manusia dapat memiliki berbagai pengetahuan dan kebenaran.

Adapun–sebagaimana dikatakan Burhanuddin Salam (1995:5)–beberapa pengetahuan yang dimiliki manusia, yaitu:

  1. Pengetahuan biasa atau common sense.
  2. Pengetahuan ilmu atau science
  3. Pengetahuan filsafat
  4. Pengetahuan religi

Sedang ilmu pengetahuan sendiri mempunyai pengertian sebagai hasil usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistematika mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal ikhwal yang diselidiinya (alam, manusia, dan juga agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran manusia yang dibantu penginderaannya, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset dan experimental (Anshari, 1979:157).

Endang Saifuddin Anshari, MA (1979:157), mendefiniisikan filsafat sebagai hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami (mendalami dan menyelami) secara radikal dan integral hakikat sarwa yang ada: (a) Hakekat Tuhan; (b) hakekat alam semesta; (c) hakekat manusia; serta sikap manusia termasuk sebagai konsekwensi daripada faham (pemahamnnya) tersebut.

Hal yang menyebabkan manusia berfilsafat karena dirangsang oleh: ketakjuban, ketidakpuasan, hasrat bertanya, dan keraguan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang dialami manusia dalam kehidupannya (Rapar, 1996:16).

Untuk itulah dalam berfikir filsafat perlu dipahami karakteristik yang menyertainya, pertama, adalah sifat menyeluruh artinya seorang ilmuan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu sendiri, tetapi melihat hakekat ilmu dalam konstalasi pengetahuan yang lainnya, kedua, sifat mendasar, artinya bahwa seorang yang berfikirfilsafat tidak sekedar melihat ke atas, tapi juga mampu membongkar tempat berpijak secara fundamental, dan ciri ketiga, sifat spekulatif, bahwa untuk dapat mengambil suatu kebenaran kita perlu spekulasi. Dari serangkaian spekulasi ini kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari perjelajahan pengetahuan (Jujun, 1990:21-22)

Agama pada umumnya merupakan (10 satu sistem credo (tata keimanan atau tata keyakinan) atas adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia; (20 satu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya mutlak itu; (3) satu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan (Anshari, 1979:158).

Agama berbeda dengan sains dan filsafat karena agama menekankan keterlibatan pribadi. Kemajuan spiritual manusia dapat diukur dengan tingginya nilai yang tak terbatas yang ia berikan kepada obyek yang ia sembah. Seseorang yang religius merasakan adanya kewajiban yang tak bersyarat terhadap zat yang ia anggap sebagai sumber yang tertinggi bagi kepribadian dan kebaikan.

Agama tak dapat dipisahkan dari bagian-bagian lain dari kehidupan manusia, jika ia merupakan reaksi terhadap keseluruhan wujud manusia terhadap loyalitasnya yang tertinggi. Sebaiknya, agama harus dapat dirasakan dan difikirkan: ia harus diyakini, dijelaskan dalam tindakan (Titus, 1987:414).

Titik Persamaan dan Perbedaan baik ilmu, filsafat ataupun agama bertujuan sekurang-kurangnya berurusan dengan hal yang sama yaitu kebenaran. Namun titik perbedaannya terletak pada sumbernya, ilmu dan filsafat berumur pada ra’yu (akal, budi, rasio, reason, nous, vede, vertand, vernunft) manusia. Sedangkan agama bersumberkan wahyu.

Disamping itu ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan (riset, research), pengalaman (empiri) dan percobaan (eksperimen) sebagai batu ujian. Filasafat menghampiri kebenaran dengan exploirasi akal budi secara radikal (mengakar); tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri bernama logika. Manusia mencari dan menemukan kebenaran dengan dan dalam agama dengan jalan mempertanyakan berbagai masalah asasi dari atau kepada kitab suci.

Kebenaran ilmu pengetahuan adalah kebenaran positif (berlaku sampai dengan saat ini), kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif (dugaan yang tidak dapat dibuktikan secara empiri, riset dan eksperimental). Baik kebenaran ilmu maupun kebenaran filsafat kedua-duanya nisbi (relatif). Sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (absolut) karena agama adalah wahyu yang diturunkan Allah. Baik ilmu maupun filsafat dimulai dengan sikap sanksi dan tidak percaya. Sedangkan agama dimulai dengan sikap percaya atau iman (Anshari, 1996:158-160).

2.6.2 Keselarasan antara Agama, Ilmu, dan Filsafat tentang Evolusi

Kontroversi teori evolusi adalah karena teori dianggap bertentangan dengan agama. Evolusi dianggap akan mengesampingkan atau bahkan mereduksi ajaran agama. Evolusi dan agama adalah dua hal yang berbeda dalam menjelaskan tentang kehidupan. Secara filosifis kebenaran agama adalah mutak atau absolut sedangkan kebenaran evolusi adalah kebanaran ilmu yang relatif. Artinya teori evolusi belum tentu dibenarkan tanpa koreksi secara terus-menerus dan juga tidak dapat ditolak secara apriori tanpa memahami esensi evolusi. Adanya teori evolusi tidak bermaksud mematahkan ajaran-ajaran agama yang dipercaya sebagian besar manusia bumi. Evolusi jelas bertujuan mengungkap fenomena alam dengan pendekatan ilmu pengetahuan. Evolusi pun hanyalah teori yang patutnya diuji kebanarannya secara ilmiah tanpa membandingkannya dengan ajaran agama. Charles Darwin dalam bagian akhir bukunya menyatakan bahwa: there is grandeur in this view of life, with its several powers, having been originally breathed by the Creator into a few forms or into one; and that, whilst this planet has gone circling on according to the fixed law of gravity, from so simple a beginning endless forms most beautiful and most wonderful have been, and are being evolved. Jelaslah bahwa Darwin mengakui bahwa segala yang ada di bumi telah diciptakan oleh Sang Pencipta menjadi beberapa bentuk atau bentuk tunggal. Evolusi hanya pengarah untuk menjaga keseimbangan melalui seleksi alam. Franz Magnis Suseno, filsuf dan pengajar filsafat STF Drikarya mengemukakan bahwa Penciptaan dalam Kitab Genesis tidak dapat disesuaikan dengan teori evolusi. Cerita penciptaan menurutnya, tidak harus diterima secara literer tetapi dapat dimengerti sebagai ungkapan simbolis tentang suatu keyakinan iman, bahwa memang segala apa yanga ada ini diciptakan oleh Allah dan semua itu baik adanya. Tidak ada jalan lain untuk sampai pada masa pra-evolusi selain penciptaan. Evolusi pun tidak mengajak orang menjadi materialistik dan tidak perlu seseorang menjadi lemah imannya setelah mempelajari evolusi. Setelah lebih dari 150 tahun, teori evolusi masih dipercaya sebagian orang karena manusia baik kehidupan maupun karakteristiknya masih terus berevolusi sehingga teori evolusi pun masih akan terus mengalam evolusi.

DAFTAR PUSTAKA

Hafidhuddin, Didin K.H., Tafsir al-Hijri: Kajian Tafsir al-Qur’an Surat an-Nisa, Jakarta: Yayasan Kalimah Thayyibah, 2000

Imani, Allamah. Kamal. Faqih, Tafsir nurur Qur’an: Sebuah Tafsir Sederhana Menuju Cahaya Tuhan, terj, R Hikmat Danaatmaja, Jakarta: al-Huda, 2003

Muthahari, Murthada, Manusia dan Alam Semesta, terj, Ilyas Hasan, Jakarta: Lentera, 2002

Soenarjo, R.H.A, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta: Depag RI, 1989

——————, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta: Depag RI, 2000

Anonymous. Teori Penciptaan Free For Term Papers. Diakses Tanggal 13 November 2009

Guru NgeBlog.htm. Asal usul kehidupan,Teori Generatio Spontanea,Teori Evolusi Biokimia. Diakses tanggal 13 November 2009

Anonymous. Manusia2.htm. Diakses tanggal 2 November 2009

Darwin, Charles. The Origin of Species  Chapter 14: Recapitulation and Conclusion

12/11/2009 Posted by | Evolusi Organik | 5 Komentar

EVOLUSI PRIMATA: RADIASI PRIMATA, DAN MAKHLUK-MAKHLUK PRA-HOMO SAPIENS

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1. Evolusi Primata

Evolusi primata merupakan salah satu contoh evolusi dengan data yang “cukup lengkap”. Teori evolusi yang hanya didasarkan atas adanya fosil tidak pernah dapat menerangkan dengan lengkap apa yang terjadi di masa lampau. Oleh karena itu untuk mempelajari evolusi suatu organism, biasanya para ahli menggunakan data organisme yang masih hidup hingga kini. Dalam hal ini, yang dilakukan para ahli ialah melihat perubahan struktur dari organisme-organisme yang paling erat kekerabatan dengan organisme sasaran yang diteliti. Dengan mengaitkan perubahan-perubahan suatu ciri, maka dapat ditarik kesimpulan mengenai apa yang terjadi dimasa silam. Dalam hal ini, untuk menjelaskan evolusi manusia, digunakan pendekatan pada golongan primata.

Berbicara mengenai evolusi manusia dan primata, tidaklah berarti bahwa manusia berasal dari kera. Dalam menjelaskan mengenai evolusi, terutama mengenai evolusi manusia kita harus berhati-hati dan dapat bersikap netral. Hal ini berarti apapun keyakinan kita mengenai asal-usul manusia, kita harus dapat mengemukakan bagaimana pendapat sekelompok orang dan bagaimana pula mengenai pendapat dari kelompok yang lain, dan bukan hanya pendapat kita sendiri. Apabila manusia memang berasal dari kera sekalipun, para ahli evolusi tidak akan dapat membuktikanya. Jadi dalam membuktikan evolusi kita tidak menggunakan pendekatan metode pendidikan.

Kita yang hidup pada masa sekarang tidak pernah dapat mengetahui dengan pasti mengenai apa yang terjadi dimasa lalu. Oleh karena itu, digunakan  data fosil dan data organisme yang hidup pada masa kini. Bukti yang digunakan untuk mempelajari perubahan akan tinjauan dari banyak segi, yang dapat memberikan banyak petunjuk mengenai apa yang terjadi dimasa lalu. Suatu sifat akan berevolusi sesuai dengan perkembangan waktu dan tempat. Dengan menggunakan fosil dan organisme aktuil mempunyai semua sifat terevolusi. Analisis yang dilakukan pada primata primitif sampai dengan primata yang maju, yakni manusia memberikan gambaran sebagai berikut:

  1. a. Perkembangan Primata Primitif ke Primata Maju
  • Hubungan antara tulang vertebrata dan tengkorak mengalami perubahan yang berangsur-angsur menuju titik berat tengkorak. Mula-mula hubungan ini terdapat di bagian tepi menjadi berada tepat dibawah. Perubahan ini diikuti dengan perubahan cara berjalan dari empat kaki menjadi dua kaki. Sejalan dengasn perubahan ini, maka otot leherpun menjadi lebih lemah, sedangkan panggul menjadi jauh lebih penting dan kuat. Bentuk tengkorak yang memanjang dengan rahang besar, gigi yang kuat dan membentuk moncong menjadi bertambah pendek. Rongga hidung yang besar sekarang menjadi jauh lebih kecil.
  • Bola mata pada organisme non primata tidak mempunyai tulang yang meliputinya. Tetapi pada kera dan manusia, mata sudah sepenuhnya terlindungi. Hal ini menunjukkan bahwa mata menjadi organ yang sangat penting. Selain itu, dapat pula dilihat bahwa mata yabg menghadap kesamping, menjadi berangsur-angsur menghadap kedepan. Penglihatanpun berubah dari dua dimensi menjadi tiga dimensi, dan kemampuan melihat warna meningkat dari hitam putih untuk membedakan gelap dan terang menjadi mampu melihat hampir semua spektru warna. Hal ini erat kaitanya dengan cara hidup dari malam hari menjadi siang hari. Selain itu, matapun diperluakan untuk melihat makanan diantara ranting-ranting pohon, untuk menyelinapkan dengan mudah diantara hutan.
  • Ujung jari bercakar berangsur-angsur berubah menjadi kuku. Hal ini terlihat bahwa tupai mempunyai cakar, sedangkan primata lebih lanjut mempunyai kuku yang tebal dan akhirnya manusia mempunyai kuku yang tipis. Cakar mula-mula digunakan untuk mengais mencari makan. Dengan berubahnya cara hidup dari hidup di tanah menjadi kehidupan arboreal, maka cakar menjadi mengganggu kemampuan bergerak dengan cepat diatas pohon. Kehidupan arboreal lebih membutuhkan kemampuan memegang. Dengan demikian, terjadi pula perubahan cara memegang dengan terbentuknya ibu jari dengan persendian yang lain daripada jari-jari yang lain. Hal ini erat kaitanya dengan timbulnya flora hutan sebagai habitat baru dimuka bumi. Cakar perlu untuk naik pohon, tetapi selalu terkait kalau pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Selain itu, terjadi pula perubahan dari telapak tangan. Hal ini penting berkaitan  dengan kemampuan untuk memegang yang terliahat pada kera, yang mempunyai “empat tangan”, bahkan pada kera Amerika Selatan, ekorpun dapat digunakan untuk memegang.
  • Kehidupan arboreal menyebabkan fungsi tangan menjadi lebih penting daripada kaki. Hal ini terlihat pada bangsa kera yang memiliki tangan yang lebih panjang dan kuat daripada kaki. Struktur ini penting untuk dapat berayun-ayun dan berpindah tempat. Dengan berubahnya permukaan bumi, maka jumlah hutan menjadi semakin sedikit. Selain itu, ditemukan  primata berukuran besar yang tidak dapat ditunjang oleh hutan. Akibatnya tangan menjadi kurang diperlukan sedangkan kaki diperlukan untuk mengejar mangsa dan menghindarkan diri dari perdator.
  • Volume otak mengalami perubahan pesat. Faktor ini sangat nyata terlihat pada golong-golongan kera manusia. Australopithecus hanya mempunayi volume otak 600 cc, sedangkan manusia modern dua kali lebih besar. Data fosil menunjukan bahwa fosil manusia lainnya mempunyai kisaran antara keduanya. Perubahan volume otak dapat pula dilihat pada perubahan dahi, yang tidak ada pada kera dan hampir tegak pada manusia.
  1. b. Data Evolusi Primata

Bermacam-macam fosil primata seperti Mesopithecus, Mioptithecus, dan Aegyptopithecus dari lapisan oligosen; Parapithecus, Propliopithecus yang berbentuk seperti bajing, diperkirakan tidak mempunyai hubungan kekerabatan yang cukup dengan manusia. Fosil primata yang paling tua dan masih termasuk famili Homonidea adalah Dryopithecus, Limnopithecus, Brahmapithecus, Sivapithecus, Pliopithecus, Oreopithecus, dan Proconsul yang dikenal sejak jaman Miosin.

Dryopithecus dianggap berkerabat derngan bangsa beruk dan kera, sedangkan Proconsul, merupakan fosil Hominid tertua yang diduga berkerabat dengan gorila dan sipanse. Fosil Brahmapithecus dan Sivapithecus belum diketahui kerabat dekatnya. Kemudian kita mengenal fosil Hominid yang lebih muda yaitu Ramapithecus yang sianggap sebagai fosil yang erat hubungannya dengan manusia. Fosil ini pada mulanya hanya dikenal dari sebuah tulang rahang. Namun kini pandangan tersebut berubah, karena penemuan baru telah memberikan pandangan yang lebih baik. Fosil ini ternyata identik dengan Dropihecus. Fosil berikutnya adalah Kenyapithecus.

Fosil Homo mungkin pula telah ada, namun data yang ada belum meyakinkan. Baru kemudian, pada lapisan yang lebih muda, mulai dijumpai Paraaustralopithecus aethiopicus, yang kemudian oleh para ahli yang beraliran progresif sekarang disebut juga Homo aethiopicus, Australopithecus (A. africanus, A. aferensis), Homo, Megathropus paleojavanicus (Homo mojokertensis), dan Paranthropus (P. boisei, P. robustus). Kedua marga fosil terakhir dan Giganthopithecus adalah fosil manusia atau kera berukuran besar dan mungkin pantas dinamakn raksasa. Fosil-fosil yang menempati lapisan lebih atas adalah Zijanthropus, Homo habilis, Homo ergaster, Homo rudolfensis. Baru kemudian kita mengenal manusia purba, Homo erectus (Sinathropus, Pithecanthropus, Atlanthropus, Telanthropus, Eoanthropus, dan Homo hidelbergensis). Fosil-fosil Hominid yang paling muda semuanya sudah dianggap sebagai Homo sapiens (Swancombe, Steinheim, Cro-magnon,), dan Homo sapiens neaderthalensis (Homo soloensis, Homo rhodesiensi).

  1. c. Data Genetika Molekuler Fosil Primata

Pendekatan molekuler dilakukan oleh sekelompok peneliti dari universitas California di Berkeley. Tahun 1987 mereka mengemkakan hasil analisis ADN mitokondria yang menunjukan bahwa ADN mitokondria manusia yang paling primitif (wanita, karena ADN mitokondria diturunkan dari pihak ibu) terdapat di Afrika. Bila dikaji mengenai kecepatan mutasi ADN mitokondria, dan dikaitkan dengan perubahan yang terjadi, maka dapat disimpulkan bahwa manusia yang paling primitif harus sudah berada dimuka bumi sekitar 200.000 tahun yang lalu. Hal ini menimbulkan kontroversi dengan data fosil, karena menurut fosil, Homo sapiens pertama berumur paling sedikit sekitar 250.000-1.000.000 tahun yang lalu. Apalagi bila kita membaca buku yang lebih tua, maka dapat kita menemukan bahwa perkiraan manusia pertama adalah sekitar 15.000.000 tahun yang lalu.

Penelitian tandingan dilakukan oleh kelompok lain dengan menggunakan analisis ADN kromosom Y menunjukan bahwa pria pertama berasal dari daerah aka Afrika, di tempat suku Pygmee berada. Pendekatan tersebut diatas, meskipun mengarah pada Afrika sebagai daerah asal manusia, sangat didukung oleh data fosil.

Meskipun data molekuler sangat cocok dengan data fosil, namun data yang masih ada belum cukup untuk memastikan asal-usul manusia. Teori lain menyatakan bahwa manusia pertama mungkin adalah hibrit antara manusia primitif (Homo erectus dengan Homo habilis dan Homo neaderthalensis) dan dihasilkan manusia modern yang hidup sekarang. Pendapat lain mengatakan bahwa asal usul manusia terjadi di Afrika dan Asia. Adapula kemungkinan yang jauh lebih kecil yakni di Eropa dan Australia. Pendapat ini didasarkan pada fosil Homo erectus dan fosil Homo sapiens.

Berikut ini penyebaran Homo erectus berdasarkan data fosil di empat benua pada masa Pleistosen atas (A), Pleistosen tengah (B), dan Pleistosen bawah (C).

Skema Hubungan Kekerabatan antara Fosil-Fosil Primata

  1. 2. Radiasi Primata

Perkembangan evolusi primata dimulai dari moyang yang berupa hewan mammalia pemakan serangga menurunkan Prosimian yang hidup pada zaman Paleosin. Hewan ini bertubuh kecil seperti cecurut, bermoncong, dan berekor panjang. Mereka tangkas dan cerdas, mempunyai organ-organ penggenggan dan lima jari. Dari prosimian perkembangan radiasi evolusi menuju 4 golongan besar yang masih tetap hidup sekarang ini.

a) Prosimian Modern

Kelompok besar pertama yakni prosimian modern. Yang termasuk kelompok ini adalah lemur dan loris, sekarang hidup di pulau Madagaskar. Hewan-hewan ini masih mempunyai moncong dan ekor yang panjang, berkuku, bukan cakar dengan kemampuan untuk memanipulasi obyek, hal ini merupakan ciri utama primata.

Hewan lain yang termasuk prosimian modern ialah Tarsier (binatang hantu), hidup di Asia Selatan dan Indonesia (daerah pantai Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera). Pada hewan ini tidak dijumpai lagi moncong yang panjang, mata lebih ke depan tidak seperti mata lemur yang agak kesamping. Oleh karena itu, Tarsier dapat memfokuskan satu titik dengan kedua matanya. Nampak adanya peningkatan pada alat-alat penglihatan dan mekanisme saraf yang memberikan kemampuan untuk kedalaman persepsi (binocular stereoscopic vision) dan penglihatn warna pada tahap-tahap beranekaragam.

b) Ceboidea (Monyet Dunia Baru)

Ceboidea hanya hidup pada lingkungan pohon dan ditemukan di daerah hutan-hutan sebelah selatan Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Mereka terbagi menjadi dua famili, yakni Callithricidae dan Cebidae.

Callithricidae atau marmoset adalah Primata kecil yang telah menempati niche seperti bajing di hutan dunia baru. Perkembangan yang menonjol pada cakar untuk memanjat yang merupakan bagian penting dari pergerakan mereka.

Ceboidae hidup di lingkungan pohon. Namun lebih berkembang dibandingkan dengan Callithricidae. Mereka mengembangkan beraneka ragam besar tubuh dan adaptasi ekologis di npohon-pohon. Beberapa anggota Cebidae telah beradaptasi dengan cara hidup di lingkungan pohon dengan jalan mengembangkan “kaki ke-5” dalam bentuk ekor prehensil (penggenggam). Ekor prehensil tidak hanya terdapat pada monyet dunia lama.

c) Cercopithecoidea (Monyet Dunia Lama)

Semua primata dunia lama kecuali prosimian adalah catarrhini (hidung terbelah). Monyet-monyet dunia lama diklasifikasikan dalam satu famili yakni Cercopithecidae yang terbagi menjadi 2 sub famili, yaitu Cercopithecinae (Monyet babon) dan Colobinae (monyet pemakan daun).

Pada catatan fosil Cercopithecoidea berkembang pada zaman Oligosin dan Miosin. Pada akhir miosin mereka telah menempati sejumlah niche lingkungan pohon serta terestrial di Afrika dan Erasia. Pada saat sekarang mereka berkembang menjadi colonin (monyet pemakan daun) dan cercopithecin. Cercopithecin yang hidup sekarang menempati iklim dan habitat yang lebih luas dibandingkan primata lain, kecuali manusia.

  • Colobinae

Colobinae hidup beradaptasi makan daun vegetasi muda. Mereka mempunyai puncak gigi yang tajam pada gigi molar, kantung pipi khusus, dan bentuk perut khusus untuk mencernakan makanan. Pencernaan dilakukan dengan bantuan bakteri yang hidup pada perutnya yang mirip dengan kantung. Langur (sebutan untuk beberapa Colobinae) mendiami banyak habitat. Beberapa diantaranya di gunung-gunung tinggi dengan sedikit pohon dan makanya tergantung pada puncak-puncak cemara dan kulit pohon dan dedauna.

  • Cercopithecinae

Sub famili ini beraneka habitat, mulai dari savana terbuka (babon, macaques, monyet pantas) sampai hutan (mandril, mangabey, dan quenon). Tingkah laku sosial babon dan Cercopithecinae terestrial banyak dipelajari oleh ahli anthropologi untuk mengetahui faktor-faktor lingkungan dan ekologi yang menolong membentuk nenek moyang manusia.

Mereka berjalan di atas 4 kaki (quadrapedal dan mengembangkan kemampuan mencengkeram, tetapi tidak dengan ekor prehensil. Bentuk pergerakan mereka dinamakan branch walking (berjalan di atas cabang), plantigrade (kecenderungan bergerak pada permukaan palntar = tapak tangan atau tapak kaki).

Gibbon mempunyai tengkorak yang lebih kecil dibandingkan dengan Hominoid yang lain semata-mata arboreal. Bentuk gibbon khusus untuk bergerak arboncal, disebut brachiation. Brachiation memungkinkan gibbon bergerak lebih cepat antara pepohonan dengan menggunakan kedua lenganya, hingga tangannya berfungsi sebagai sebuah kait. Tetapi jika ia turun ke tanah atau berjalan-jalan di atas dahan, dilakukan dengan dua kaki.

Orangutan seperti gibbon hidup terbatas di Asia Tenggara dan pernah hidup tersebar luas di Asia. Cara bergerak orangutan dinamakan quadramanual (empat tangan). Meskipun orangutan mengahabiskan banyak waktunya di atas pohon dengan mengguankan 4 anggota badanya, juga dapat berjalan jauh sekali di daratan tanah, khususnya jantan dewasa` hampir 2 kali lebih besar daripada betinanya dn menjalani hidup membujang.

Gorila sangat terbatas ruang lingkupnya dan sekarang hanya terdapat di hutan pegunungan daerah katulistiwa dan dataran tinggi Afrika Timur. Gorila dalah vegetarian terestrial, pemakan daun yang tumbuh di daratan tanah. Susunan kerangka sangat khusus untuk menopang berat badan terestrial dan berjalan di atas buku-buku jari. Cara bergerak seperti inin terlihat pada bentuk dada, bahu, tangan, dan tulang lumbar vertebral yang kuat.

Simpanse tidak mempunyai catatan fosil, hidup terbatas di daerah hutan dan bagian berhutan kera. Karena adaptasi mereka, mempunyai struktur badan yang orthograde (tegak), yang memungkinkan mereka berjalan jauh di atas permukaan tanah, tetapi juga posisi duduk dalam jangka waktu lama. Untuk duduk, babon telah mengembangkan sepetak kulit pada bagian belakang yang dinamakan ischial callosities.

  • Hominoidea

Kelompok ini muncul pada zaman Paleosin. Selama niosin awal radiasi Hominoidae bercabang menjadi dua yakni Anthropoidea (kera) dan Hominidae (keluarga manusia). Kedua famili ini ditandai dengan hilangnya ekor dan berkembangnya ukuran besar badan. Otak Anthropoidae dan Hominiidae jauh lebih berkembang dan demikian fungsi lebih kompleks. Kera-kera hidup sekarang dibagi 4 genus, yakni gibbon, orangutan,simpanse, dan gorila.

  1. Makhluk-makhluk pra-Homo sapiens

Evolusi makhluk-makhluk pra-Homo sapiens dapat digolongkan menjadi dua bagian besar, yakni:

  1. a. Evolusi makhluk-makhluk pra-Homo sapiens berdasarkan hubungan kekerabatan manusia dengan hewan.

Klasifikasi Homo sapiens adalah sebagai berikut:

Kingdom         : Animalia

Kelas               : Mammalia

Ordo                : Primata

Subordo          : Anthropoidea

Famili              : Homonidea

Genus              : Homo

Spesies            : Homo sapiens

Berdasarkan hubungan kekerabatan antara manusia dengan hewan, evolusioner pra-Homo sapiens secara garis besar mengalami 4 perkembangan, yakni:

  • Famili Tupalidae

Famili Tupaliae merupakan ordo primata, yakni golongan hewan pemakan serangga.

  • Famili Lemuroidae

Famili ini merupakan ordo primata primitif termasuk di dalamnya adalah jenis binatang setengah kera. Misalnya Tarsius spectrum (binatang hantu), yang hidup di Indonesia (Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera), dan Filipina. Jenis binatang tersebut mempunyai ciri-ciri yaitu bermoncong dan mempunyai ekor panjang serta berkuku bukan cakar dengan kemampuan memanipulasi obyek.

  • Famili Pongidae
  • Famili Hominidae
  1. b. Evolusi pra- Homo sapiens Berdasarkan Ditemukanya Fosil

Evolusi pra-Homo sapiens berdasarkan hasil penemuan fosil yang ditemukan diberbagai lapisan dunia. Berdasarkan fosil fosil yang ditemukan diperkirakan kehidupan manusia dimulai lebih kurang 25 juta tahun lalu yang tersebar menjadi 3 zaman yakni:

1)                  Zaman Miosin (25-10 juta tahun yang lalu)

v  Tingkat pertama, yakni Plipithecus. Makhluk ini sepenuhnya bersifat kera, oleh karena itu dinamakn kera primitif. Tubuhnya kecil dan pendek. Kedua tangannya mungkin masih digunakan untuk bergelantungan untuk bergelantungan dipohon. Mereka belum dapat berjalan tegak. Diduga, kera primitif hidup 35-25 juta tahun yang lalu ditemukan oleh tim ekspedisi Universitas Yale di Fayum tahun 1961.

v  Tingkat kedua, Proconsul, yakni kera hidup sekitar 25-15 juta tahun yan lalu. Para ahli berpendapat bahwa makhluk ini tidak sepenuhnya bersifat kera, desebabkan pada muka, rahang, gigi geliginya terdapat ciri yang ditafsirkan sebagai ciri manusia. Makhluk ini di temukan di danau Victoria, dikatakan oleh seorang ahli:”Mungkinkah ini merupakan bisikan samar-samar pertama tentang makhluk hidup yakni manusia?”. Proconsul semakin banyak terkumpul dan semuanya menunjukan bahwa binatang ini muncul dengan berbagai ukuran yang berbeda-beda; ada yang sekecil simpanse dan ada yang menjadi sebesar gorilla. Tipe gorilla inilah yan menjadi nenek moyang gorilla modern.

v  Tingkat ketiga, Dryopithecusi, yakni kera raksasa yang hidup sekitar 15-10 juta tahun yan lalu. Makhluk ini sejenis dengan Proconsul. Fosilnya ditemukan luas di Eropa, India, Cina, dan Afrika. Fosil ini belum lengkap untuk menunjukan salah satu anggota dari genus  yang luas menuju kearah manusia. Karena rekonstruksi makhluk ini dibuat terutama dengan menggunakan fragmen-fragmen dan gigi-gigi. Dryipithecus memiliki bentuk badan yang cukup besar serta sangat gemar mengembara sehingga menempati hutan tropis yang sangat luas.

v  Tingkat keempat, Ramapithecus, yakni primata paling purba yang pada umumnya dianggap sebagai leluhur manusia. Hidup sekitar 15-10 juta tahun yang lalu. Ukuranya jauh lebih kecil daripada manusia sekarang, yakni 0,9-1,2 meter dan kapasitas tengkoraknya lebih kurang 400 cc. Fosil dari makhluk ini ditemukan pada tahun 1930-an di bukit Siwalak (Pakistan) oleh G.E. Lewis  dari Universitas Yale.

2)      Zaman Plioin (10-12 juta tahun yang lalu)

Pada zaman ini telah muncul makhluk baru yakni Primata yang tidak menyerupai primata yang hidup sebelumnya. Makhluk ini bukan kera penghuni hutan, tetapi lebih banyak hidup dipadang rumput terbuka. Makhluk ini berjalan tegak dengan kedua kakinya. Ada ada dua jenis makhluk ini yakni:

  • Tahap kelima, Australopithecus aferensis

Makhluk ini merupakan tingkat kelima, Australopithecus aferensis merupakan makhluk purba yang diduga merupakan keturunan Ramapithecus. Hidup sekitar 5 juta tahun yang lalu. Makhluk ini juga dianggap sebagai Hominoid paling awal yang menurut beberapa ahli sudah mampu berjalan tegak. Australopithecus aferensis ditemukan di Louis dan Mary Leakey di bagian utara dan timur Afrika Selatan., ditebing Olduvai dekat dengan Ethiopia. Fosil-fosil makhluk ini ditemukan lapisan-lapisan batuan yang membentuk tebing lembah. Dengan metode kalium-argon dapat ditemukan dengan tepat fosil itu.

Tahap keenam, Australopithecus africanus

Australopithecus africanus merupakan tingkatan keenam. Makhluk ini ditemukan oleh Raymond Dart, pada tahun 1924, yakni seorang anatomi dan palaentologi dari universitas Witwatersrand di Johannesburg, Afrika selatan. Fosil Australopithecus africanus dipelajari Dart dari koleksi batuan yang mengandung dari suatu lubang galian pertambangan kapur di Taung, Batswana. Fosilnya terbenam dalam salah satu bagian batuan dimana tengkorak-tengkorak yang ditemukan tidak menyerupai tengkorak lain yang pernah dilihatnya.

Ketika tengkorak tadi dipisahkan sama sekali dari batuan, nampak suatu tengkorak yang menakjubkan. Dalam beberapa hal, tengkorak ini menyerupai anak manusia yang berumur lima atau enam tahun. Tetapi dalam beberapa hal lainnya tengkorak tadi jelas menyerupai tengkorak kera. Dart menamakan temuannya dengan Australopithecus africanus, artinya Kera afrika selatan. Dia terus mempelajarinya dan setelah empat tahun bekerja berhasil memisahkan rahang tengkorak sedemikian, sehingga giginya tampak jelas. Terlihat gigi-giginya sangat menyerupai gigi anak manusia, lain dari itu, dari letak foramen magnum. Yakni lubang yang menghadap ke tenggorokan dan yang dilewati oleh urat saraf tulang belakang menuju ke otak, menghadap langsung kebawah. Dart merasa bahwa tengkorak tadi adalah tengkorak suatu makhluk yang letak kepalanya seperti pada manusia; mungkin makhluk tersebut sudah berjalan tegak.

Penemuan Dart didukung oleh ahli palaentologi lain yang bekerja di Africa selatan, yakni Robert Broom. Selama bertahun-tahun dia mempelajari fosil mamalia dari Africa selatan. Dengan beberapa teman sekerjanya, Broom mulai mencari fosil-fosil lagi, yang mungkin dapat memberikan petunjuk untuk memperkuat kesimpulannya. Selama empat puluh tahun berikutnya, terkumpul sudah bahan fosil; yakni fosil tengkorak, tulang kaki, dan tulang panggul. Semua fosil diharapkan dapat memberikan petunjuk dengan jelas bahwa memang sesungguhnya di Africa selatan terdapat makhluk pra-manusia(pra-homo sapiens).

Zaman Pleistosin ( 2 juta tahun yang lalu sampai dengan sekarang )

Pada zaman ini manusia mengalami evolusi yang sangat cepat dan sudah menggunakan perkakas yang sangat baik dari batu maupun dari kayu. Mereka sudah pandai berburu, sudah bisa menggunakan api dan diduga sudah dapat berbicara. Anggapan ini berdasarkan pada volume otak yang lebih besar bila dibandingkan dengtan makhluk sebelumnya.

Tahap ketujuh, Australopithecus robustus

Australopithecus robustus  merupakan makhlik sejenis Australopithecus africanus, namun ukurannya lebih besar, tinggi badannya mencapai1,5 meter dan berat badanya 65-75 kg, mempunyai gigi-gigi besar dan otot rahang yang kuat, yang menunjukkkan spesies ini adalah herbivora.sedangkan Australopithecus robustus lebih langsing, berat badannya kira-kira50 kg dan tingginya 1,2 meter. Meskipun dari catatan fosil jauh dari sempurna, tetapi ada pentunjuk yang mengatakan bahwa mereka di Africa kira-kira selama 750.000 tahun yang lalu. Selama waktu itu mereka semakin lama semakin menyerupai manusia., sedangkan Australopithecus robustus tetap tidak berubah.

Tahap kedelapan, Australopithecus boisei

Makhluk ini adalah tahap kedelapan, yang merupakan jenis Australopithecus yang paling besar. Boisei hidup di Africa timur, dengan cirri-ciri badan tegap, muka dan giginya khas lagi kokoh, tempurung kepalanya rendah dan kasar. Diduga hidup 1,5-1 juta tahun yang lalu. Ditemukan oleh leakey di lembah Olduvai, Tanzania.

Tahap kesembilan, Homo habilis

Makhluk ini adalah keturunan dari Australopithecus purba yang lebih ramping dan berbeda dengan saudara-saudaranya, karena lebih tinggi intelegensinya. Homo habilis( manusia tukang) merupakan pembuat dan pemakai alat. Mereka hidup sekitar 2-1,5 juta tahun yang lalu. Beberapa ahli berpendapat bawa makhluk ini sebagai makhluk sejati pertama, Ditemukan oleh Leakey di lembah Olduvai.

Tahap kesepuluh; Homo erectus

Makhluk ini diduga hidup pada 1,5-0,5 juta tahun yang lalu. Homo erectus dapat berjalan tegak, kakinya panjang dan lurus dan tulang tungkainya lebih maju, otaknya lebih besar dengan volume berkisar 750-1.400 cc. homo erectus sebagai manusia purba sudah pandai membuat perkakas, misalnya kapak genggam, walaupun masih agak kasar, kehidupannya dengan berburu mamalia besar. Telah menggunakan api, sudah dapat bicara untuk mengajari anaknya bagaimana membuat perkakas.

Makhluk ini ditemukan terbesar didunia.

Kenapa homo erectus dapat hidup diseluruh duniabelumlah jelas.

Mungkin tipe makhluk ini berevolusi dibeberapa tempat dan menyebar sepanjang dataran subur dan mudah dilalui; terbentang dari Africa timur, mengintari samudera Indonesia sampai ke jawa.

Perkembangan evolusinya sejalan dengan pengembaraan mereka dari abad ke abad. Makhluk ini ditemukan diberbagai tempat, antara lain;

-           Pithecantropus erectus(manusia jawa), ditemukan oleh Uegene Dubois pada tahun             1891. Dubois adalah seorang dokter Belanda menemukan fosil manusia jawa di    daerah Trinil(sepanjang tepi bengawan solo). Fosil yang ditemukan berupa rahang,             beberapa gigi, dan sebagian dari tulang tengkorak.

-           Pithecantropus pekinensis(Sinathropus pekinensis) manusia Cina. Fosil makhluk ini            ditemukan oleh Davidson Black dan Tranz Weidenreich pada tahun 1920 dari sebuah         penggalian disebuah gua kapur didekat Peking. Volume otaknya 900-1.200   cc.Kebudayaannya sudah mulai maju daripada Phithecantropus.Mereka telah             menggunakan senjata dan perkakas yang terbuat dari tulang dan batu sebagai alat-alat       kerja. Penggunaan api tampaknya sudah biasa. Para ahli berpendapat bahwa makhluk   ini suka membunuh antar sesamanya. Hal ini terbukti dari tulang_tulang tengkorak            yang kosong menunjukkan bahwa bekas dibelah dengan senjata dari bawah ke atas.             Banyak para ahli berpendapat bahwa Sinathropus pekinensis merupakan varian dari             Pithecantropus, karena kedua manusia purba memiliki struktur tubuh yang sama dan          hidup pada zaman yang sama, yakni kira-kira 500.000 tahun yang lalu.

Tahap kesebelas, munculnya makhlik yang dinamakan Homo sapiens purba, yakni makhluk yang hidup sekitar 400.000 yang lalu. Makhluk ini sebagai penemuan fosil dari tiga tengkorak yang tidak lengkap, yakni kepingan tengkora, tulang dan gigi. Dari fosil yang ada ditafsirkan bahwa manusia ini merupakan peralihan dari Homo erectus ke Homo sapiens yang lebih modern. Kemampuan membuat alat juga lebih maju, bahkan ada yang menduga bahwa mereka sudah mulai bercocok tanam.

Tahap keduabelas, adalah munculnya Homo sapiens neanderthalesis(manusia lembah neander), yakni makhluk yang diduga hidup pada masa antara 75.000-10.000 tahun yang lalu. Fosil makhluk ini ditemukan pada tahun 1856 di lembah Neanderthal, Jerman. Bentuk tubuhnya sepenuhnya manusia, hidungnya terlihat mancung. Ukuran volume otaknya sudah termasuk dalam kisaran ukuran rongga otak manusia modern. Tinggi tubunya berkisar antara 1,6-1,8 meter, berbahu lebar, berdada cembung  dan berotot padat. Manusia lembah Neander sudah memiliki kemampuan  membuat dan memakai pakaian dari kulit dan menetap secara sederhana di gua-gua. Para ahli pada umumnya sepakat bahwa manusia lembah Neander adalah leluhur manusia modern, walaupun ada sekelompok ahli yang meragukannya.

Umumnya masih didebatkan apakah Homo sapiens neanderthalesis pra manusia atau manusia? Sebagian para ahli berpendapat bahwa makhluk ini manusia walaupun wajahnya menyeramkan. Nama biologinya menunjukkan bahwa ia ditempatkan dalam genus dan spesies sama dengan kita, tapi ditempatkan dalam subspecies yang berbeda dengan manusia. Manusia neander tidak berdagu dan mempunyai otok yang sama besarnya dengan otak manusia sekarang, Volume otak ini berkaitan dengan kemampuan berbicara yang bekembang dengan baik. Ia hidup di gua-gua dan menggunakan api dan membuat peralatan dengan baik dan anggota keluarga meninggal maka akan dikubur.

Homo sapiens neanderthalesis pernah”disingkirkan” dari catatan Homo sapiens secara anatomis modern. Banyak teori yang telah diajukan untuk menjelaskan perkembangan dan kepunahan Neanderthal. Teori-teori tersebut berspekulasi mengenai hubungan Neanderthal eropa dengan bentuk-bentuk lain di Timur Tengah dalam rangka untuk mencari bentuk tempat Homo sapiens neanderthalesis dalam evolusi manusia.

Teori-teori tersebut dapat diuraikan sebagai berikut;

-                      Neanderthal adalah dalam bentuk transisi antara Homo erectus dan Homo sapiens yang kemudian berevolusi menjadi manusia modern. Bentuk progresif dari Timur Tengah dianggap lebih maju.

-                      Neanderthal telah berspesialisasi, terisolir secara genetic yang telah teradaptasi dengan lingkungan dingin glacial Eropa. Kemudian iklim bertambah hangat 40.000 tahun yang lalu, mereka punah dan digantikan oleh bentuk-bentuk yang tidak terlalu berspesialisasi dari Timur Tengah yang berimigrasi ke eropa.

-                      Teori yang sama dengan yang kedua, tetapi bukannya digantikan dengan bentuk-bentuk lain yang datang melainkan merka secara genetik tenggelam dan tertelan begitu mereka kawin dengan bentuk-bentuk lain yang sudah maju.

Beberapa teori mungkin benar, atau mungkin salah. Nampaknya Neanderthal eropa sudah agak terisolir secara genetic. Apakah akibat Morfologi yang berbeda mengakibatkan founder effect tidaklah pasti. Sama saja dengan pertanyaan yang mempermasahkan apakah mereka menyumbangkan gen pada populasi modern. Nampaknya juga tidak mungkin teknologi Neanderthal tidaklah cukup menghadapi kebudayaan lain yang menyerbu, karena populasi setempat cenderung untuk lebih teradaptasi dengan lingkungan lokal daripada populasi imigran, naming kita banyak melihat kasus-kasus sejarah mengenai kekuatan teknologi luar menggantikan teknologi setempat, misalnya jatuhnya suku Indian Amerika setelah kontak dengan orang Eropa.

Tahap ketigabelas, Yakni munculnya Manusia Cro-magnon. Makhluk ini merupakan Hominidae(Manusia)purba termodern. Diduga hidup 10.000-ribuan tahun yang lalu. Mereka memiliki kebudayaan yang cukup maju, bercocok tanam secara baik, memelihara binatang, menguasai lingkungan, bahkan kemudian membangun kota dan memiliki peradapan. Cirri-cirinya adalah memiliki dagu yang menonjol, hidung mancung, gigi kecil dan merata, serta raut wajah yang tampan. Sesungguhnya makhluk ini mirip dengan orang-orang eropa sekarang.

Cro-magnon diambil dari nama gua di Prancis, tempat fosil makhluk ini di temukan. Tanpa ragu-ragu para ahli antropologi nenempatkan manusia Cro-magnon pada spesies dan subspecies yang sama dengan kita(Homo sapiens). Manusia Cro-magnon memiliki cirri, tinggi,tegak dan mempunyai otak yang sama seperti Manusia sekarang. Mereka sangat pandai sekali dalam membuat alat-alat dan juga ahli seni. Selain batu mereka juga menggunakan tulang, gading dan tanduk kijang untuk membuat alat-alatnya, beberapa bahan ini diukur dengan corak-corak atau dipahat  menjadi bentuk benda yang dapat dikenal.

Bagaimana hubungan antara Manusia Cro-manon dan Homo sapiens yang sekarang hidup di eropa tidak begitu jelas. Uraian pantaentologi manusia sebenarnya membingungkan, bahkan lebih membingungkan daripada yang terlihat pada uraian diatas. Fosil Manusia selalu tidak lengkap dan selalu sukar untuk menentukan umurnya. Kadang-kadang para ahli antropologi tidak bekerja sama dengan pra ahli biologi lainnya dan begitu pula sebaiknya. Tetapi penelitian mengenai zaman Pleistosin, yakni zaman terjadinya sebagian besar evolusi genus Homo mendapat kemajuan pesat dan dikemudian hari tentu kita akan lebih mengetahui lagi mengenai asal-usul manusia.

Sejarah manusia

Sejarah manusia adalah asal-usul manusia. Fakta atau bukti yang diperoleh untuk mempelajari sejarah manusia dengan bantuan fosil yang ditemukan pada lapisan bumi. Dari fosil-fosil yang ditemukan, didapatkan kesimpulan bahwa deretan-deretan fosil yang terdapat dibatuan muda berbeda apabila dibandingkan dengan fosil dari batuan yang lebih tua. Perbedaan itu disebabkan oleh perubahan yang berlahan-lahan. Cara penyebaran hewan dan tumbuhan dapat membuka tabir mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada moyangnya.

Dalam pembicaraan mengenai asal-usul manusia pada bahasan berikut ini dilihat dari kacamata biologi. Tentu saja, ada pandangan-pandangan lain yang mengungkapkan tentang timbulnya manusia dibumi ini. Karena kita ingin mengingkpkan sejarah manusia dari segi Biologi, maka sudah barang tentu kita akan menjelaskan dari sudut logika materi biologi yang telah kita ketahui.

Klasifikasi makhluk hidup dengan menggolongkan manusia dengan hewan Vertebrata, yakni sebagian dari mamalia. Bila kita membedah tubuh manusia, bagian-bagian tubuhnya seperti jantung, usus, hati dan paru-paru tidak banyak berbeda dengan jantung, usus, hati dan paru-paru kucing atau kera. Dengan demikian pula dapat kita pelajari sistem saraf, sistem endokrin, pernafasan, pencernaan, repruduksi atau konstraksi otot-ototnya, kita akan selalu menemukan proses-proses kimia dan fisika yang pada prinsipnya sama seperti yang terdapat pada hewan. Manusia mempunyai rambut dan bisa menyusui anaknya. Manusia mempunyai gerakan bipedal( Latin: bi = dua, dan pedes = kaki) yang berlainan dengan gerakan mamalia lainnya. Bagian-bagian anatomi manusia dank era sangat serupa, oleh karena itu mereka dimasukkan kedalam suatu golongan yakni ordo primate.

Setiap spesies memiliki ciri-ciri khas yakni ciri struktur, ciri fisiologi dan ciri tingkah laku yang membedakan spesies yang berlainan tetapi yang dekat hubungan kekeluargaannya. Meskipun dalm individu dalam spesies manusia banyak terdapat keanekaragaman, spesies Manusia dapat dibedakan dengan jelas dari hewan yang paling menyerupai, yakni Primata besar lainnya.

A. Ciri-ciri Struktur Manusia

Perbedaan jasmani yang mencolok pada manusia dan hewan adalah dalam hal kemampuan manusia untuk berdiri, berjalan dan berlari. Oleh karena itu, tangan manusia bebas untuk mengerjakan atau untuk membawa sesuatu. Kemampuan ini banyak menyangkut modifikasi anatomi. Kaki manusia lebih panjang dari pada lengannya, sesuatu hal yang membedakan dari primate lainnya. Kaki mnusia, yang mempunyai lekukan besar dengan ibu jari yang sebidang letaknya dengan jari lainnya, sangat berbeda dengan kaki kera. Kaki manusia sesuai untuk berkalan atau berlari, akan tetapi tidak sesuai untuk berpegangan pada dahan-dahan pohon. Kepala manusia terletak pada tulang belakang sedemikian rupa, sehingga memungkinkan manusia untuk dapat melihat lurus ke depan jika berdiri tegak.

Otak manusia relayif besar. Manusia masa kini mempunyai volume tempurung otak besar 1200 sampai 1.500 cc; tempurung otak simpanse hanya 350 sampai 450 cc. Tidak ada hubungan mutlak antara besarnya ukuran otak dengan kecerdasan. Individu yang mempunyai otak terbesar belum tentu merupakan individu yang tercerdas. Namun tidak tidak dapat disangkal bahwa otak manusia mempunyai kemampuan besar untuk belajar. Ciri-ciri kepala manusia lainnya adalah muka yang tegak lurus, rahang yang tidak begitu menonjol, dagu yang nyata, hidung yang jelas dengan ujung memanjang dan bibir yang mempunyai selaput lendir di bagian luar.

Tubuh manusia mempunyai penyabaran rambut yang istimewa. Penyebaran rambut ini berbeda-beda pada berbagai macam populasi manusia. Kaum pria dari beberapa populasi manusia mempunyai janggut lebat. Banyaknya rambut pada tubuh berbeda-beda, begitu pula rambut pada lengan dan kaki. Kita hanya dapat mengira-ngira apa artinya adaptasi penyebaran rambut demikian itu dan sampai sekarang pemikiran-pemikiran semacam itu tidak mempunyai arti sama sekali.

B. Kemampuan Jasmani

Gambaran mengenai batas-batas kemampuan jasmani manusia dapat dilihat dari hasil-hasil pertandingan olah raga. Misalnya untuk lari jarak pendek (100 m), manusia dapat mencapai lari 36 km per jam. Banyak macam hewan dapat lari lebih cepat daripada manusia. Hewan-hewan ini mempunyai kaki yang lebih panjang daripada kaki manusia dalam perbandingan tubuhnya. Macan tutul dapat mengejar kijang dengan kecepatan lebih dari 100 km per jam. Biasanya berat jenis tubuh manusia lebih rendah daripada berat jenis air. Karena itu, di laut tenang dapat terapung untuk jangka waktu lama. Manusia dapat berenang dengan baik. Untuk jarak 100 m manusia dapat berenang dengan kecepatan rata-rata 6,8 km per jam. Bahkan dengan bantuan alat-alat di tangan dan di kaki pun kemampuan berenang manusia masih jauh dibawah kemampuan ikan pedang yang dapat membelah air dengan kecepatan 64 km per jam atau kempuan kura-kura laut atau ikan paus yang dapat berenang dengan kecepatan 25 km per jam.

Perbandingan-perbandingan di atas menunjukkan bahwa kemampuan jasmani manusia jauh di bawah kemampuan jasmani hewan. Tetapi manusia mempunyai kecakapan yang jauh lebih tinggi dari pada hewan. Karena keakapan ini, manusia mampu menggunakan alat inderanya yang paling sempurna yakni alat pelihat dengan sebaik-baiknya. Manusia dapat menafsirkan rangsangan yang diterima dan mempunyai pikiran yang tidak terhingga banyaknya dalam mengadakan reaksi terhadap apa yang dialaminya.

C. Ciri-ciri Fisiologi

Sebagian besar keunggulan struktur manusia lebih banyak berhubungan dengan cirri tingkah lakunya daripada dengan ciri fisiologi, meskipun memang kadang-kadang sukar untuk membedakan kedua hal ini. Secara fisiologik manusia tidak banyak berbeda dari mamalia lainnya, terutama primata. Karena itu dalam banyak hal untuk mempelajari fisiologi manusia dapat menggunakan percobaan-percobaan dengan Mamalia.

Pada manusia terdapat musim berbiak. Kegiatan reproduksi dapat terjadi setiap saat sepanjang tahun. Populasi manusia banyak dijumpai individu pada hari lahir pada semua bulan dalam setiap tahun. Pada kera dan sebangsanya terdapat terdapat kecenderungan tidak adanya musim tertentu dalam reproduksi. Kebanyakan hewan yang dipelihara oleh Manusia cenderung mempunyai cirri fisiologi yang sama dengan Manusia, meskipun daalam bebas tetap mempunyai musim berbiak.

Tidak banyak hewan memiliki umur panjang. Hal ini disebabkan oleh cirri fisiologi pada umur tua menjadi lemah, dan organisme tua lebih muah untuk dibunuh oleh predator atau parasit. Hal inilah yang mempersulit penentuan umur sesungguhnya pada kebanyakn organisme. Tetapi dari catatan kebun binatang dan akuarium, yang hewannya terlindung diperoleh data melalui kemungkinan umur yang dapat dicapai oleh berbagai spesies hewan. Ternyata banyak penyu besar yang mempunyai umur lebih panjang daripada manusia. Umur rata-rata manusia mungkin lebih panjang daripada umur hewan.

Manusia mempunyai umur panjang, tetapi memerlukan jangka waktu lama untuk menjadi dewasa, banyak hewan yang menetas dan lahir telah dapat berdiri sendiri. Anak mamalia paling banyak memerlukan waktu beberapa minggu atau beberapa bulan sebelum dapat mengurusi dirinya sendiri, oleh karena masih harus mendapatkan makanan dari susu ibunya. Anak manusia selama 6-9 tahun sama sekali bergantung pada orang dewasa setelah itu untuk beberapa waktu ia masih bergantung oleh manusia dewasa meskipun berkurang, yang mendekati keadaan ini adalah kera besar. Anaknya memerlukan sekitar 2 tahun untuk hidup berdiri sendiri. Manusia meningkan pada sekitar umur 14 tahun dank era sekitar 10 tahun. Perkembangan manusia mencapai kesempurnaan pada sekitar 10 tahun, sedangkan pada kera umumnya pada umur 12 tahun.

D. Ciri-ciri tingkah laku

Manusia tidak berdaya sebagai individu sendiri, walaupun memiliki otak yang besar, biasanya manusia hidup bersama-sama membentuk masyarakat. Begitu juga dengan hewan banyak yang hidup bermasyarakat, misalnya serangga, masyarakat serangga berdasarkan tingkah laku yang merupakan sifat bawaan dan sedangkan masyarakat manusia berlandaskan pola tingkah laku yang dipelajarinya sedangkan masyarakat kera kurang teratur walaupun dibandingkan dengan masyarakat manusia yang paling sederhana.

Hal yang penting membedakan manusia dengan hewan adalah bahasa walaupun manusia dapat melakukan komunikasi melalui isyarat, tetapi untuk menggatikan bahasa atau dipakai untuk menekankan sesuatu, bahasa manusia manusia sangat rumit karena tidak hanya terdiri dari sistem teriakan dan panggilan. Bahasa adalah dasar dari kemanusiaan namun kita belum dapat mengetahui kapan manusia dapat berbicara dan tidak adanya keterangan mengenai bagaimana bahasa itu dimulai, bahasa adalah suatu cirri tingkah laku manusia.

KESIMPULAN

Dari makalah diatas kita dapat tarik kesimpulan bahwa:

  • Evolusi primata merupakan salah satu contoh evolusi dengan data yang “cukup lengkap”.
  • Analisis yang dilakukan pada primata primitif sampai dengan primata yang maju, yakni manusia memberikan gambaran sebagai berikut:

-          Hubungan antara tulang vertebrata dan tengkorak mengalami perubahan yang berangsur-angsur menuju titik berat tengkorak.

-          Bola mata pada organisme non primata tidak mempunyai tulang yang meliputinya. Tetapi pada kera dan manusia, mata sudah sepenuhnya terlindungi.

-          Ujung jari bercakar berangsur-angsur berubah menjadi kuku.

-          Kehidupan arboreal menyebabkan fungsi tangan menjadi lebih penting daripada kaki.

-          Volume otak mengalami perubahan pesat.

  • Perkembangan evolusi primata dimulai dari moyang yang berupa hewan mammalia pemakan serangga menurunkan Prosimian yang hidup pada zaman Paleosin.
  • Prosimian modern merupakan kelompok besar pertama, yang termasuk kelompok ini adalah lemur dan loris, sekarang hidup di pulau Madagaskar.
  • Ceboidea (monyet dunia baru) hanya hidup pada lingkungan pohon dan ditemukan di daerah hutan-hutan sebelah selatan Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Mereka terbagi menjadi dua famili, yakni Callithricidae dan Cebidae.
  • Semua primata dunia lama kecuali prosimian adalah catarrhini (hidung terbelah). Monyet-monyet dunia lama diklasifikasikan dalam satu famili yakni Cercopithecidae yang terbagi menjadi 2 sub famili, yaitu Cercopithecinae (Monyet babon) dan Colobinae (monyet pemakan daun).
  • Evolusi makhluk-makhluk pra-Homo sapiens dapat digolongkan menjadi dua bagian besar, yaitu:

-          Evolusi makhluk-makhluk pra-Homo sapiens berdasarkan hubungan kekerabatan manusia dengan hewan.

-          Evolusi pra- Homo sapiens berdasarkan ditemukanya fosil

  • Sejarah manusia adalah asal-usul manusia. Fakta atau bukti yang diperoleh untuk              mempelajari sejarah manusia dengan bantuan fosil yang ditemukan pada lapisan bumi.          Dari fosil-fosil yang ditemukan, didapatkan kesimpulan bahwa deretan-deretan fosil        yang terdapat dibatuan muda berbeda apabila dibandingkan dengan fosil dari batuan     yang lebih tua. Perbedaan itu disebabkan oleh perubahan yang berlahan-lahan.
  • Setiap spesies memiliki ciri-ciri khas yakni ciri struktur, ciri fisiologi dan ciri tingkah          laku yang membedakan spesies yang berlainan tetapi yang dekat hubungan            kekeluargaannya.

Saran

  • Setelah diketahui mengenai Evolusi Primata: Radiasi Primata, dan Makhluk-makhluk Pra-Homo Sapiens diharapkan pembaca tahu dan memahami apa yang dimaksud dengan evolusi primata, radiasi primata, makhluk-makhluk pra-homo sapiens, serta sejarah manusia itu sendiri.

12/11/2009 Posted by | Evolusi Organik | 2 Komentar

VARIASI GENETIK SEBAGAI DASAR EVOLUSI, MUTASI GEN, FREKUENSI GEN DALAM POPULASI DAN HUKUM HARDY- WEINBERG.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Evolusi berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya.Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi.

Suatu individu tidak dapat mengalami evolusi , hanyalah suatu populasi  yang dapat mengalami hal tersebut . komposisi genetik  dari suatu individu  sudah ditentukan semenjak terjadinya fertilisasi, yakni persatuan antara spermatozoid dengan sel sel telur. Kebanyakan dari perubahan sepanjang hidupnya ialah suatu perubahan  dialam eksperesi dari potensi pertumbuahan yang terkandung didalam gen. Didalam populasi , baik komposisi genetik  maupun dari potensi pertumbuhan dapat berubah. Perubahan komposisis genetik populasi adalah evolusi.

Keanekaragaman merupakan faktor utama dari evolusi. Meskipun prosesnya diketahui pada masa dikemukan oleh lamarck  dan darwin, tanpa ada variasi (kenanekaragaman), evolusi tiadak akan terjadi , dialam ada faktor yang bekerja  untuk memepertahankan keutuhan suatu jenis . bila ada secara sendiri maka kedu faktor  tersebut seakan-akan bertentangan dengan kedua faktor  tersebut bekerja secara harmonis.

1.2 Tujuan

1. Mengetahui variasi genetic sebagai dasar evolusi

2. Mempelajari mutasi gen dan frekuensi gen dalam populasi

3. Mempelajari hukum Hardy-Weinberg

BAB II

PEMBAHASAN

.

2.1 Timbulnya variabilitas

Untuk melihat bagaimana keanekaragaman , kita harus mulai dari suatu struktur yang paling kecil, tetapi sangat penting, struktur tersebut adalah asam deoksiribonukleat yang terdiri dari 4 macam asam nukleat, yakni adenin mitosin (C), guanin(G), dan timidin(T). Bila asam amino terakhir diganti  dengan urasil(U), maka asam nukleat akan membentuk 20 macam asam amino esensial. Kini diketahui bahwa  kombinasi tiga dari keempat  macam asam nukleat  akan membentuk asam amino. Kombinasi ini dikenal dengan kode genetik . apabila ada 4 macam asam nukleat  yang membentuk asam amino ., maka hanya diperoleh 16 kombinasi  untuk 16 asam amino , sehingga tidak ditemukan 4 macam asam amino  esensial yang lain.

Secara umum, setiap satu asam amino dikode oleh sekitar 3 macam kombinasi asam amino dikode oleh satu kombinasi, sedangkan asam amino yang lani dikode oleh 6 macam kombinasi . dengan demikian maka suatu asam amino dapat dihasilkan lebih banyak  kemunkinan . yang menjadi masalah  sekarang adalah dari mana terjadinya keanekaragaman. Adanya satu kode  geentik atau lebih belum dapat menerangkan terjadinya keanekaragaman.

Sejak masa lampau, orang sudah mempertanyakan mengapa umur suatu organisme  sejenis tidak sama. Hal ini jelas terlihat apabila kita memelihara  tumbuhan atau hewan, atau kita melihat pada alam disekitar kita dan diri kita sendiri, sebagai manusia. Keluarga pada zaman dahulu umumnya mempunyai anak lebih dari dua, demikian juga dengan hewan. Pada katak dapat kita lihat bahwa jumlah telur yang dihasilkan  berjumlah beratus-ratus butir. Bila semuanya hidup dan berkembag biak , mungkin kini seluruh permukaan bumi dipenuhi oleh katak  atau organisme lainnya. Namun hal ini tidak terjadi  hanya individu  yang sehat dan kuat , atau hampir sempurna dalam semua aspek  kehidupan yang dapat bertahan . jadi alam sudah menyeleksi , mana yang baik  dan mana yang tidak baik atau kurang baik.

Ikan yang selalu di aquarium yang beri makanan cukup , semua kondisi hidup dicukupkan. Bila semua individu kita seleksi sehingga dapat dikategorikan  sebagai sama dan hampir sempurna sekalipun, jumlahnya hanya bertambah pada satu periode saja . padahal semua pasangan yang hidup dalam aquarium tersebut sehat dan berpotensi untuk berkembang biak.  Ada satu hal yang menyebabkan  ikan- ikan tersebut tidak berkembangbiak, yakni  yang tidak cukup. Ikan- ikan sepertinya tahu bahwa bila mereka  terus berkembang biak, maka tidak dapat bergerak bebas . hal ini yang kita sebut sebagai daya dukung  dari aquarium tersebut, jadi selain struktur  biologis  yang hampir sempurna, makanan, daya dukung  tempat ikut menentukan sukses tidaknya suatu jenis dimuka bumi ini.

Setiap organisme mempunyai kisaran toleransi. Misalnya manusia muda (bayi) mempunyai kisaran toleransi suhu tubuh 35- 42 derajat celcius. Pada manusia dewasa , biasanaya batas kisarannya  tersebut adalah: 36-41*C, diluar batas kisaran tersebut manusia tidak dapat bertahan hidup dan akan mati. Kisaran suatu spisies tidak saja terbatas pada toleransi, namun dapat pula menyangkut aspek-aspek apa saja. Semua atau  hampir semua aspek-aspek tersebut dikode oleh  suatu gen. Contoh- contohnya variabilitas antara lain:

2.2 Variasi genetik sebagi dasar evolusi

Variasi genetik dalam populasi yang merupakan gambar dari adanya perbedaan respon individu-individu terhadap lingkungan adalah bahan dasar dari perubahan adaptif. Suatu populasi terdiri dari suatu sejumlah individu. Dengan suatu kekecualian , maka, tidak ada dua individu  yang serupa, pada populasi manusia dapat kita lihat dengan muda adanya perbedaan- perbedaan individu : misalnya dipunyainya ciri-ciri anatomi, fisiologi dan kelakuan  yang khusus. Hal ini dapat kita lihat pada kucing dan anjing dan kuda., variasi individu pada cacing, burung jalak, bajing atau bayam sukar sekali kita dapatkan meskipun hal itu ada. Meskipun variasi individu  ini terdapat dan hali ini mungkin tidak dapat kita lihat oleh mata kita, hal ini terjadi pada binatang bersel satu sampai dengan ikan paus. Dengan demikian, populasi terdiri dari sejumlah individu yang memiliki sifat penting tetapi berbeda satu sama lain didalam berbagai hal.

Fenotipe suatu individu organisme dihasilkan dari genotipe dan pengaruh lingkungan organisme tersebut. Variasi fenotipe yang substansial pada sebuah populasi diakibatkan oleh perbedaan genotipenya. Sintesis evolusioner modern mendefinisikan evolusi sebagai perubahan dari waktu ke waktu pada variasi genetika ini. Frekuensi alel tertentu akan berfluktuasi, menjadi lebih umum atau kurang umum relatif terhadap bentuk lain gen itu. Gaya dorong evolusioner bekerja dengan mendorong perubahan pada frekuensi alel ini ke satu arah atau lainnya. Variasi menghilang ketika sebuah alel mencapai titik fiksasi, yakni ketika ia menghilang dari suatu populasi ataupun ia telah menggantikan keseluruhan alel leluhur.

Variasi berasal dari mutasi bahan genetika, migrasi antar populasi (aliran gen), dan perubahan susunan gen melalui reproduksi seksual. Variasi juga datang dari tukar ganti gen antara spesies yang berbeda: contohnya melalui transfer gen horizontal pada bakteria dan hibridisasi pada tanaman.Walaupun terdapat variasi yang terjadi secara terus menerus melalui proses-proses ini, kebanyakan genom spesies adalah identik pada seluruh individu spesies tersebut. Namun, bahkan perubahan kecil pada genotipe dapat mengakibatkan perubahan yang dramatis pada fenotipenya. Misalnya simpanse dan manusia hanya berbeda pada 5% genomnya.

Perbedaan- perbedaan diatas dapat kita lihat dengan nyata dan dapat pula sangat samar- samar. Dengan demikian, jika terjadi suatu seleksi  yang menentang beberapa varian dan seleksi menguntungkan untuk varian lain didalam suatu populasi, maka komposisi kesehatan dari populasi itu dapat berubah dengan berjalannya waktu , sebab sifat dari populasi itu ditentukan oleh induvidu  didalamnya. Secara umum variasi genetik dapat dibedakan menjadi 5 penyebab (agensia evolutif), yakni mutasi rekombinasi gen, genetic drift, gen flow dan seleksi alam

2.2.1 mutasi

1) pengertian, macam, dan sebab mutasi

a). Pengertian mutasi

Ada beberapa kutipan  yang dapat membantu kita dalam usaha menyimak  pengertian  mutasi.

  • although genes can reproduce them selves exaetty  for many generations they do occasinally undergo abrupt changes called mutations. Mutations involves a change  in the chemical arrangement ag a gene  so that there is a diffrence in the structure and action of a gene “(hickman, 1970 dalam mubadi, 1985)”
  • It is also know taht gene may undrego slight alterations, with a resultant change in some character ……” any modificationof achromosome and the accompaying altertions of a the plant in questions is a mutations “( robbins, 1957dalam mubadi, 1985):”
  • Although gene are remarkably stable and are…………they do from a time to time undergo changes called mutations “ (ville, et al dalam mubadi, 1985.
  • Mutations is the given to all these proceses “ with result in change the heredity material(simpsom, 1957).
  • Mutasi adalah suatu perubahan  frekuensi dan kombiasi alel, gen, atau kromoson secara seketika (spontan)(sidharta, 1995).

Dari kutipan- kutipan tersebut diatas bahwa mutasi diartikan sebagai perubahan faktor keturunan atau sifat keturunan (gen) dan perubahan itu bersifat fisikokimia.

Mutasi terjadi secara acak, yang beradaptasi hanya sebagian kecil. Bila suatu mutasi mempunyai nilai ketahanan dan bentuk baru yang diturunkan telah nampak, maka ketahanan, kedewasaan dan reproduksi dari bentuk baru itu tidak bersifat acak lagi. Mereka, cenderung untuk bertambah dalam populasi dibandingkan dengan anggota populasi lain yang mempunyai nilai seleksif rendah. Walaupun mutasi adalah dasar variasi, tetapi peranannya hanya kecil. Yang lebih penting: kombinasi dan poliploidi.

b). Macam mutasi

Ada beberapa macam mutasi atas dasar sudut pandang tertentu . hal-hal berikut ini menunjukkan beberapa macam mutasi berdasarkan atas berbagai sudut pandang.

1). Berdasarkan tempat terjadinya

  • Mutasi kecil( point mutation)

Mutasi kecil adalah perubahan yang terjadi pada susunan molekul (ADN)gen. Lokus gen sendiri tetap. Mutasi jenis ini  yang menimbulkan perubahan alel. Mutasi gen diartikan sebagai suatu perubahan fisiokimiawi gen. Perubahan fisiokimiawi gen yang terjadi antara lain dapat  berupa perubahan atau pergantian pasangan basa. Misalnya pasangan A-T diganti menjadi G-C: peristiwa semacam ini antara lain disebabkan karena terjadi satu basa purin ataupun pirimidin oleh senyawa lain yang analog semacam zaguanin atau bromouracil C-G. Sebagai akibat peristiwa lain.

  • Mutasi besar (gross mutation)

Mutasi besar adalah perubahan yang terjadi pada stuktur dari kromosom . Istilah khusus mutasi kromosom  yakni aberasi. Sehingga untuk selanjutnya istilah aberasi dipakai untuk mutasi kromosom , sedangkan istilah mutasi khusus untuk mutasi gen saja.

2). Berdasarkan macam sel yang mengalami mutasi

  • Mutasi somatis (mutasi vegetatif)

Mutasi somatis adalah mutasi yang terjadi pada sel soma . bila perubahan sel somatis demikian besar , sel-sel dapat mati . dan kalau dapat bertahan hidup memiliki kelainan atau tak berfungsi secara normal. Bila sel somatis tidak tidak meliputi daerah  yang luas, yang kurang penting, tidak membahayakan . tetapi bila meliputi daerah yang luas atau alat yang amat penting dapat membahayakan bahkan dapat mematikan.

Bila perubahan sel itu terjadi ketiak sel somatis sedang giat membelah seperti dalam embrio dapat mengakibatkan karakter abnormal waktu lahir , tetapi tidak diturunkan kepada generasi berikutnya . makin muda jaringan yang mengalami perubahan genetis makin luas akibat abnormalan yang ditimbulkannya sebliknya makin dewasa jaringan itu ketika mengalami keabnormalan dan dapt ditolerir.

Dalam bidang pertanian mutasi vegetatif banyak dipakai untuk meninggikan produksi dan mutu, seperti terhadap apel . anggur dan jeruk. Dibuat perubahan induksi pada suatu cabang pohon dewasa (misalnya dengan colchicine). Lalu cabang distek atau dicangkok , dan dibiakkan secara vegetatif pula. Sedangkan secara alamiah perubahan vegetatif pada tumbuhan dapat menimbulkan beraneka warna (belang) pada endosperm (biji), daun dan mahkota bunga. Misalnya pada ercis dan bunga pukul 4.

  • Mutasi germinal (mutasi gametis/ generatif)

Mutasi germinal adalah mutasi  yang terjadi sel germinal (terdapat didalam gonad). Hal ini terjadi terdapat pada mahkluk hidup bersel banyak dan bukan yang bersel satu. Atau strukturnya yang lebih sederhana. Bila perubahan berlangsung pada gamet. maka akibat  yang ditimbulkan begitu hebat dan gametpun segera mati. Kadang menyebabkan gamet tidak mampu melakukan pembuahan dengan wajar. Oleh karena itu tak diteruskan pada keturunananya. Tetapi bila perubahan tidak begitu hebat dan gamet dapat melakukan pembuahan, terjadi generasi baru yang menerima peruahan bahan genetik tersebut.

Bila gonad terkena langsung radiasi atau diberi bahan kimia seperti gas murtad, maka kemungkinan besar mengalami perubahan genetis pada gamet . namun kalau radiasi terjadi pad bagian tubuh yang lain, bukan langsung ke gonad, suatu saat gonad menerima akibat radiasi secara tidak langsung itu. Bila radiasi menimbulkan ionisasi berantai pada jaringan dan akhirnya mencapai inti sel gamet.

Makin dekat bagian tubuh yang kena radiasi ke gonad, makin besar kemungkinan gamet menerima perubahan genetis . sebaliknya  semakin jauh bagian tubuh yang kena radiasi dari gonad ,makin kecil kemungkinan gamet menerima perubahan genetik itu.

3). Berdasarkan faktor penyebab mutasi

  • Mutasi alami (spontan)

Mutasi alam adalah mutasi yang terjadi secara alami (tanpa dibuat dan disengaja manusia). Penyebab dari mutasi alamiah antara lain:

  • Sinar kosmos
  • Batuan radioaktif
  • Sinar ultraviolet matahari
  • Sesuatu yang tidak jelas dalam metabolisme sehingga terjdi kekeliruan dalam sintesis bahan genetik. Dan
  • Radiasi ionisasi internal dari bahan radioaktif yang mungkin terkandung dalam jaringan (lewat makanan atau minuman yang terkena pencemaran zat radioaktif

Sinar kosmos berasl dari angkasa luar, meradiasi bumi dengan partikel (butiran) berenergi tinggi, yakni proton, positron, (bagian jumlah perubahan spontan).

  • Mutasi buatan

Mutasi spontan merupakan mutasi yang sengaja dibuat oleh manusia, yang biasa diarahkan kepada tujuan-tujuan tertentu. Misalnya dibidang budidaya, perakitan bibit dan lain-lain. Usaha- usaha manusia dalam perubahan genetik dalam bentuk bahan makanan antara lain:

  • Pemakaian bahan radioaktif untuk diagnosis, terapi, deteksi, sterelisasi dan pengawetan bahan makanan.
  • Penggunaan senjata nuklir
  • Roket, televisi, reaktor yang menggunakan bahan bakar radioaktif.

Mutasi buatan tidak selalu berakibat buruk. Banyak sekali jasa bahan radioaktif terhadap kesejahteraan hidup manusia. Terutama mengembangkan keturunan baru tanaman. Perubahan mutasi buatan yang dilakukan pada gandum, buncis, tomat, ternyata dapat meningkatkan mutunya. banyak tanaman panen (padi jagung gandum) yang dikembangkan sehingga tahan terhadap suatu jenis hama.

4). Berdasarkan jumlah faktor keturunan

  • Mutasi bertahap (mutasi mikro)

Mutasi mikro adalah mutasi yang terjadi atas satu atau sekelompok kecil faktor keturunan.

  • Mutasi lompatan (mutasi makro)

Mutasi makro merupakan mutasi yang terjadi atas sejumlah besar atau mungkin seluruh faktor keturunan.

Dalam ruang lingkup mekanisme evolusi, terdapat dua macam pendapat tentang dampak perubahan yang efektif supaya evolusi mahkluk hidup dapat berlangsung, pendapat pertama, mengatakan bahwa penyebab variasi ( penyebab perubahan) yang lebih efektif adalah perubahan bertahap. Dalam kurun waktu yang cukup lama sedikit demi sedikit akan terjadi akumulasi demikian banyak variasi  yang mengarah pada timbulnya kelompok- kelompok baru( yang ditinjau dari sudut tinjauan tingkat takson tertentu mungkin sudah berbeda dengan sebelumnya). Dalam hubungan dengan ini dikataka bahwa mutasi lompatan, skala perubahan adalah demikian besar sehingga turunan yang mewarisi banyak ciri yang sekaligus berubah, relatif tidak beradaptasi. Pendapat kedua mengatakan bahwa penyebab variasi yang efektif adalah  mutasi lompatan : dikatan bahwa yang terjadi karena mutasi bertahap tidak dapat mengarah kepada terbentuknya spesies baru (spesiasi). Namun demikian, dari pendapat tersebut yang paling banyak dianut adalah  pendapat yang pertama.

5). Berdasarkan manfaat bagi individu atau populasi yang mengalami

  • Mutasi yang merugikan

Mutasi yang merugikan adalah mutasi yang berakibat timbulnya ciri dan kemampuan yang kurang atau tidak adaptip pada individu (populasi)

  • Mutasi yang menguntungkan

Mutasi yang menguntungkan adalah mutasi yang berakibat timbulnya ciri dan kemampuan yang semakin adaptip pada individu (populasi), diantara kedua mutasi itu, yang paling banyak terjadi adalah mutasi yang merugikan: akan tetapi dalam ruang lingkup mekanisme evolusi, dampak perubahan karena mutasi efektif  adalah mutasi  yang menguntungkan.

C. Penyebab mutasi

Faktor- faktor yang menjadi penyebab terjadinya mutasi adalah demikian banyak aspek variabel faktor lingkungan. Faktor- faktor tersebut dikenal sebagai mutagen. Pada umumnya faktor- faktor lingkungan penyebab mutasi (mutasi) dibagi menjadi:

a). Faktor fisika (radiasi)

Agen mutagenik dari faktor fisika brupa radiasi. Radiasi yang bersifat mutagenik antara lain berasal dari sinar kosmis, sinar ultraviolet, sinar gamma, sinar –X, partikel beta, pancaran netron ion- ion berat, dan sina- sinar lain yang mempunyai daya ionisasi.

Radiasi dipancarkan oleh bahan yang bersifat radioaktif. Suatu zat radioaktif dapat berubah secara spontan menjadi zat lain yang mengeluarkan radiasi. Ada radiasi yang menimbulkan ionisasi ada yang tidak. Radiasi yang menimbulkan ionisasi dapat menembus bahan, termasuk jaringan hidup, lewat sel-sel dan membuat ionisasi molekul zat dalam sel, sehingga zat- zat itu tidak berfungsi normal atau bahkan menjadi rusak. Sinar tampak gelombang radio dan panas dari matahari atau api, juga mem,bentuk radiasi, tetapi tidak merusak.

b). Faktor kimia

Banyak zat kimia bersifat mutagenik. Zat- zat tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

  • Pestisida

ü  DDT, insektisida dipertanian dan rumah tangga.

ü  DDVP, insektisida, fumigam, helminteik ternak

ü  Aziridine, dipakai pada industri tekstil, kayu dan kertas untuk membasmi lalat rumah, mutagen pada tawon, mencit, neurospora, E, coli dan bakteriofage T4.

ü  TEM, dipakai dalam teskstil dan medis (agen antineoplastik). Membasmi lalat rumah.mutagen pada mencit dan serangga, jamur, aberasi pada memcit, allium e coli dan lekosit.

  • Industri

ü  Formadehid. Zat ini digunakan dalam pabrik resin, tekstil, kertas dan pupuk, disenfektan benih, dan fungisida, anti pai , anti kusut pada tekstil . banyak dijumpai pada asap tembakau, asap mobil, mesin serta buangan pabrik tekstil. Mutagen pada drosophila, neuspora dan E, coli.

ü  Glycidol. Zat yang digunakan untuk membuat zat kimia yang lain seperti, eter, ester, amin untuk farmasi, dan tekstil bersifat antibakteri dan antijamur pada makanan, mutagen pada drosophila, neuspora, aberasi dan jaringan mencit.

ü  DEB (butadiene deipoxide), mencegah mikroba, untuk tekstil dan farmasi, mutagen pada drosophila, neuspora dan E, coli  . salmonella, penicillium, lalat rumah ragi, jagung, tomat dan mamalia. Aberasi pada allium, drosophila dan mamalia.

 

  • Makanan dan minuman

ü  Caffein. Banyak didapatkan pada minuman, kopi, teh, cokelat, dan limun yang mengandung cola. Pada bidang medis untuk antihistamin dan obat pusing, pengembang pembuluh darah, koroner. Mutagen lemah pada drosophila, mutagen letal adan aberasi pada bakteri, bakteriofage, dan kultur sel orang,

ü  Siklamat dan sikloheksilamin. Banyak dipakai untuk penyedap makanan dan minuman, aberasi secara invitro pada orang dan tikus.

ü  Natriun nitrit dan asam nitrit zat ini digunakan mengawetkan daging, ikan dan keju, mutagen pada bakteri dan jamurdan virus: menghalangi replikasi ADN.

  • Obat

ü  Siklofosfamid. Pelawan berbagai jenis tumor. Toragen pada tikus, mutagen pada drosophila, mencit. Aberasi pada kultur jaringan orang.

ü  Metil di-kloro etil amin. Banyak digunakan diklinik. Mutagen pada mencit, drosophila, aberasi pada Allium.

ü  Antibiotik . sebagian berasal dari streptomyces, seperti mitomysin C, azaserine, streptonigrin, phleomycin. Anti neoplasma. Penghalang replikasi DNA. Mutagen pada drosophila. Aberasi pada kultur lekosit orang.

ü  Aminopterin 4- aminoflic dan methoteraxate. Kedua zat antagonis terhadap asam folat. Banyak dipakai  pengobatan kanker, seperti leukimia, dan choriocarcinoma, aberasi pada kultur lekosit..

c). Faktor biologi

Lebih dari 20 macam virus penyebab kerusakan kromosom. Misalnya virus hepatitis menimbulkan aberasi pada darah dan sumsum tulang. Virus campak, demam kuning, dan cacar juga dapat menimbulkan aberasi.

2.2.2 Rekombinasi gen

Rekombinasi genetika merupakan proses pemutusan seunting bahan genetika (biasanya DNA, namun juga bisa RNA) yang kemudian diikuti oleh penggabungan dengan molekul DNA lainnya. Pada eukariota rekombinasi biasanya terjadi selama meiosis sebagai pindah silang kromosom antara kromosom yang berpasangan. Proses ini menyebabkan keturunan suatu makhluk hidup memiliki kombinasi gen yang berbeda dari orang tuanya, dan dapat menghasilkan alel kimerik yang baru. Pada biologi evolusioner, perombakan gen ini diperkirakan memiliki banyak keuntungan, yakni mengijinkan organisme yang bereproduksi secara seksual menghindari Ratchet Muller.

Secara alami, rekombinasi gen terjadi saat pembelahan meiosis terjadi, (jd bukan saat fertilisasi), yaitu ketika fase yang disebut sebagai “pindah silang” atau crossing over, pada profase I (silahkan lihat tahapan pembelahan meiosis untuk lebih jelasnya). Pada fase itu, gen-gen dari pasangan kromosom homolog saling bertukaran. Seperti kita ketahui, manusia memiliki 2 set kromosom yang saling berpasangan, satu set kromosom yang membawa sifat-sifat ayah, dan satu set kromosom yang membawa sifat-sifat ibu. Pada pembelahan mitosis (perbanyakan sel), kedua set kromosom tersebut akan diperbanyak apa adanya, jadi tidak ada perubahan susunan gen. Namun, pada saat pembelahan meiosis, yaitu pada pembentukan sel gamet (yang nota bene hanya punya satu set kromosom),mterjadi pndah silang, sehingga satu set kromosom hasil dari pembelahan meiosis akan membawa kombinasi sifat ayah da sifat ibu.

Berikut ini adalah informasi – informasi tentang rekombinasi gen seksual seperti disebutkan dibawah ini:

Hukum mandel 1 dan hukum mandel 11, tentang hukum pemisahan dan rekombinasi faktor- faktor keturunan yang terjadi selama meiosis. Pada mahkluk hidup yang bereproduksi  secara sseksual, peristiwa fertilisasi didahului oleh proses pembentukan gamet (meiosis). Proses meiosis menghasilkan gamet-gamet yang mempunyai jumlah kromosom  sebanyak separuh dari jumlah kromosom sel induknya. Pada proses meiosis inilah  terjasi pemisahan  faktor- faktor keturunan dari  masing- masing alelnya secara bebas. Peristiwa pemisahan yang berlangsung secara  bebas itulah  yang lebih terkenal  dengan hukum mandel 1: sebaliknya peristiwa kombinasi secara bebas lebih dikenal  dengan hukum mandel II. Dengan peristiwa pemisahan dan rekombinasi secara bebas inilah menyebabkan kandungan faktor keturunan pada tiap gamet, secara keseluruhan tidak sama satu sama lain. Dengan kata lain secara keseluruhan tiap-tiap gamet  berbeda satu dengan yang lainnya.

Hereditas mendel

Perubahan dalam gen dapat disebabkan:

  1. Mutasi : apabila gen A berubah menjadi a dan sebaliknya, maka frekuensi yang dinyatakan oleh p dan q dalam (p + q)2 akan berubah.

2.  Perbedaan pembagian ke gen pool.

Pembawa (carrier) dari sebuah genotipe dapat berbeda dalam membagi ke gen pool dari generasi berikutnya, perbedaan dalam nilai adaptif dapat menyebabkan perubahan dalam frekuensi gen.

3.  Migrasi: perbedaan migrasi dari pembawa gen A dan gen a kedalam atau keluar populasi akan mengakibatkan perubahan.

4.   Penghanyutan genetik (genetic – drift)

Pada populasi kecil variasi yang terjadi secara kebetulan dapat menjadi penting. Perkawinan sendiri atau antara saudara dapat mengubah frekuensi gen.

Mutasi merupakan sumber dari perubahan genetik, bila suatu mutasi meningkatkan kemauan untuk hidupnya hanya 1% maka untuk terbentuknya ½ populasi perlu waktu 100 generasi. Jadi peranan reproduksi seksual sangat penting. Melalui reproduksi seksual dan seleksi alam, evolusi dapat menjadi terarah.

2.2.3 Gene flow

Aliran gen atau gene flow merupakan pertukaran gen antar populasi, yang biasanya merupakan spesies yang sama. Contoh aliran gen dalam sebuah spesies meliputi migrasi dan perkembangbiakan organisme atau pertukaran serbuk sari. Transfer gen antar spesies meliputi pembentukan organisme hibrid dan transfer gen horizontal.

Migrasi ke dalam atau ke luar populasi dapat mengubah frekuensi alel, serta menambah variasi genetika ke dalam suatu populasi. Imigrasi dapat menambah bahan genetika baru ke lungkang gen yang telah ada pada suatu populasi. Sebaliknya, emigrasi dapat menghilangkan bahan genetika. Karena pemisahan reproduksi antara dua populasi yang berdivergen diperlukan agar terjadi spesiasi, aliran gen dapat memperlambat proses ini dengan menyebarkan genetika yang berbeda antar populasi. Aliran gen dihalangi oleh barisan gunung, samudera, dan padang pasir. Bahkan bangunan manusia seperti Tembok Raksasa Cina dapat menghalangi aliran gen tanaman.

Gene flow (alur gen), akibat adanya imigran yang dapat menambah alela baru kedalam unggun gen suatu “deme”, sehingga dapat merubah frekunsi alela. Alur gen berarti kisaran imigran mulai dari yang sangat rendah kesangat tinggi tergantung dari jumlah individu yang datang dan seberapa banyak perbedaan genetik yang ada pada individu- individu dalam “” deme” yang dapat bergabung. Bila tidak ada perbedaan  yang banyak antara “ deme- deme” dalam populasi  yang besar, maka pergerakan individu dalam jumlah yang sangat kecil diantara “ deme- deme” di pandang cukup kuat dapat menjaga frekuensi alela tetap sama.

Bagaimanapun juga bila informasi genetik sangat berbeda, imigrasi kecil dapat menghasilkan perubahan frekuensi alela  yang sangat besar. Misalnya  hibridisasi, perkawinan dalam ( interbreeding) diantara individu- individu yang termasuk dalam spesies  yang dianggap berbeda mungkin saja terjadi. Hibridisasi semacam itu mugkin membawa banyak alela baru kedalam populasi dan memungkinkan menjadi penyebab dimulainya kecenderungan baru dalam evolusi penerima.

Banyak spesies yang terdiri dari penduduk lokal yang anggotanya cenderung untuk berkembang biak di dalam kelompok. Setiap penduduk lokal dapat mengembangkan gen yang berbeda dari yang lain penduduk lokal. Namun, anggota dari satu populasi dapat berkembang biak dengan sesekali imigran dari populasi yang berdekatan dari spesies yang sama. Hal ini dapat memperkenalkan gen baru atau mengubah frekuensi gen yang ada di warga.

Dalam banyak tanaman dan beberapa binatang, aliran gen dapat terjadi tidak hanya antara sub-populasi dari spesies yang sama tetapi juga antara yang berbeda (tapi masih berhubungan) spesies. Jika hibrida kemudian berkembang biak dengan salah satu jenis orangtua, gen baru masuk ke kolam gen dari populasi induk. Ini hanyalah aliran gen antara spesies daripada dalam diri mereka. Berikut ini adalah contoh gambar dari gene flow :

2.2.4 Genetic drift

Hanyutan genetik, ingsut genetik, penyimpangan genetik, atau rambang genetik dalam genetika populasi, merupakan akumulasi kejadian acak yang menggeser tampilan lungkang gen (gene pool) secara perlahan dari keadaan setimbang, namun semakin membesar seiring berjalannya waktu. Sebenarnya, istilah “genetik” kurang tepat dan yang lebih baik adalah “alel“, karena yang sebenarnya terjadi adalah proses perubahan frekuensi alel suatu populasi karena yang berubah adalah frekuensi dari alel-alel yang ada di dalam populasi yang bersangkutan. Hanyutan genetik berbeda dari seleksi alam. Yang terakhir ini merupakan proses tak acak yang memiliki kecenderungan membuat alel menjadi lebih atau kurang tersebar pada sebuah populasi dikarenakan efek alel pada kemampuan individu beradaptasi dan reproduksi.

Genetic  drift adalah lepasnya frekuensi alela secara kebetulan. Peristiwa ini sangat berarti pada populasi yang sangat kecil. Kenyataannya 1 dari 2 alela mempunyai peluang untuk lepas adalah kira-kira 0, 8%. Hilangnya gen selalu mempengaruhi frekuensi alela pada beberapa tingkat tetapi pengaruh tersebut menurun pada  populasi yang berukuran besar. Karena itu dalam populasi kecil, kurang dari 100 individu hilangnya gen masih cukup kuat pengaruhnya terhadap frekuensi alela, meskipun ada agenesia evolutif lain yang berperanan pada saat itu juga  terhadap perubahan frekuensi alela dalam arah yang berbeda. Berikut ini contoh dari genetic drift.

Genetic drift: When the beetles reproduced, just by random luck more brown genes than green genes ended up in the offspring. In the diagram at right, brown genes occur slightly more frequently in the offspring (29%) than in the parent generation (25%).

 

Genetic drift – Random events, particularly in small populations, may profoundly alter gene frequencies in each subsequent generation. An example is the “founder” effect, in which the characteristics of a small population colonizing a new habitat may be very different than the characteristics of the larger population from which the founders are derived.

2.2.5 Seleksi alam

  1. a. Pengertian seleksi alam

Seleksi alam yang dimaksud dalam teori evolusi adalah teori bahwa makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya lama kelamaan akan punah. Yang tertinggal hanyalah mereka yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Dan sesama makhluk hidup akan saling bersaing untuk mempertahankan hidupnya.

Masih jelas teringat di benak kita tentang teori evolusinya yang menceritakan bahwa awalnya jerapah ada yang berleher pendek dan ada yang berleher panjang. Lalu jerapah yang berleher panjang lebih mudah menjangkau daun-daun muda yang tempatnya memang lebih tinggi dibandingkan dengan jerapah berleher pendek. Akhirnya, jerapah berleher panjang dapat bertahan hidup dan jerapah berleher pendek perlahan-lahan akan punah. Ini yang disebut Charles Darwin sebagai “Seleksi Alam”.

 

Seleksi alam adalah proses dimana mutasi genetika yang meningkatkan reproduksi menjadi (dan tetap) lebih umum dari generasi yang satu ke generasi yang lain pada sebuah populasi. Ia sering disebut sebagai mekanisme yang “terbukti sendiri” karena:

Variasi terwariskan terdapat dalam populasi organisme. Organisme menghasilkan keturunan lebih dari yang dapat bertahan hidup. Keturunan-keturunan ini bervariasi dalam kemampuannya bertahan hidup dan bereproduksi.

Kondisi-kondisi ini menghasilkan kompetisi antar organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Oleh sebab itu, organisme dengan sifat-sifat yang lebih menguntungkan akan lebih berkemungkinan mewariskan sifatnya, sedangkan yang tidak menguntungkan cenderung tidak akan diwariskan ke generasi selanjutnya.

Konsep pusat seleksi alam adalah kebugaran evolusi organisme. Kebugaran evolusi mengukur kontribusi genetika organisme pada generasi selanjutnya. Namun, ini tidaklah sama dengan jumlah total keturunan, melainkan kebugaran mengukur proporsi generasi tersebut untuk membawa gen sebuah organisme. Karena itu, jika sebuah alel meningkatkan kebugaran lebih daripada alel-alel lainnya, maka pada tiap generasi alel tersebut menjadi lebih umum dalam popualasi. Contoh-contoh sifat yang dapat meningkatkan kebugaran adalah peningkatan keberlangsungan dan fekunditas. Sebaliknya, kebugaran yang lebih rendah yang disebabkan oleh alel yang kurang menguntungkan atau merugikan mengakibatkan alel ini menjadi lebih langka. Adalah penting untuk diperhatikan bahwa kebugaran sebuah alel bukanlah karakteristik yang tetap. Jika lingkungan berubah, sifat-sifat yang sebelumnya bersifat netral atau merugikan bisa menjadi menguntungkan dan yang sebelumnya menguntungkan bisa menjadi merugikan.

Seleksi alam dalam sebuah populasi untuk sebuah sifat yang nilainya bervariasi, misalnya tinggi badan, dapat dikategorikan menjadi tiga jenis. Yang pertama adalah seleksi berarah (directional selection), yang merupakan geseran nilai rata-rata sifat dalam selang waktu tertentu, misalnya organisme cenderung menjadi lebih tinggi. Kedua, seleksi pemutus (disruptive selection), merupakan seleksi nilai ekstrem, dan sering mengakibatkan dua nilai yang berbeda menjadi lebih umum (dengan menyeleksi keluar nilai rata-rata). Hal ini terjadi apabila baik organisme yang pendek ataupun panjang menguntungkan, sedangkan organisme dengan tinggi sedang tidak. Ketiga, seleksi pemantap (stabilizing selection), yaitu seleksi terhadap nilai-nilai ektrem, menyebabkan penurunan variasi di sekitar nilai rata-rata. Hal ini dapat menyebabkan organisme secara pelahan memiliki tinggi badan yang sama.

Kasus khusus seleksi alam adalah seleksi seksual, yang merupakan seleksi untuk sifat-sifat yang meningkatkan keberhasilan perkawinan dengan meningkatkan daya tarik suatu organisme. Sifat-sifat yang berevolusi melalui seleksi seksual utamanya terdapat pada pejantan beberapa spesies hewan. Walaupun sifat ini dapat menurunkan keberlangsungan hidup individu jantan tersebut (misalnya pada tanduk rusa yang besar dan warna yang cerah dapat menarik predator). Ketidakuntungan keberlangsungan hidup ini diseimbangkan oleh keberhasilan reproduksi yang lebih tinggi pada penjantan.

Bidang riset yang aktif pada saat ini adalah satuan seleksi, dengan seleksi alam diajukan bekerja pada tingkat gen, sel, organisme individu, kelompok organisme, dan bahkan spesies. Dari model-model ini, tiada yang eksklusif, dan seleksi dapat bekerja pada beberapa tingkatan secara serentak. Di bawah tingkat individu, gen yang disebut transposon berusaha menkopi dirinya di seluruh genom. Seleksi pada tingkat di atas individu, seperti seleksi kelompok, dapat mengijinkan evolusi ko-operasi.

Contoh seleksi alam misalnya yang terjadi pada ngengat biston betularia. Ngengat biston betularia putih sebelum terjadinya revolusi industri jumlahnya lebih banyak daripada ngengat biston betularia hitam. Namun setelah terjadinya revolusi industri, jumlah ngengat biston betularia putih lebih sedikit daripada ngengat biston betularia hitam. Ini terjadi karena ketidakmampuan ngengat biston betularia putih untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Pada saat sebelum terjadinya revolusi di Inggris, udara di Inggris masih bebas dari asap industri, sehingga populasi ngengat biston betularia hitam menurun karena tidak dapat beradaptsi dengan lingkungannya. namun setelah revolusi industri, udara di Inggris menjadi gelap oleh asap dan debu industri, sehingga populasi ngengat biston betularia putih menurun karena tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan, akibatnya mudah ditangkap oleh pemangsanya.

Kettlewell’s seorang dari Oxford University pada tahun 1966 telah menyelidiki kupu hitam dan putih Biston betularia (di Inggris). Kupu hitam banyak ditemui di daerah industri (tercemar) dan sedikit di daerah yang tidak tercemar, dan kupu putih sebaliknya.

Untuk mengecek adanya perbedaan yang dikaitkan dengan penambahan lingkungan maka Kettlewell’s mempelajari perkembangan populasi kupu ini dengan cara “Marking recapture” yaitu menandai sejumlah kupu dari dua warna itu, kemudian dilepas di daerah tercemar (Birminghan) dan di daerah yang tidak tercemar (Dorset), setelah beberapa waktu ditangkap kembali, hasilnya sebagai berikut:

Birminghan (tercemar)  Dilepas Ditangkap kembali
Hitam 477 19%
Putih 137 40%
Dorset(tak tercemar)
Hitam 437 6%
Putih 496 12,5%

Kesimpulan:

1. Penyebaran kupu hitam berkorelasi dengan derajat pencemaran.

2. Ada mutasi putih ke hitam.

Demikian pula yang diperlihatkan dalam penggunaan DDT terhadap serangga. Peningkatan penggunaan DDT mengakibatkan berkurang kekebalannya terhadap serangga.

b. Peran Kreatif  Dari Seleksi Alam

Haldane telah menghitung berapa lama fenotif baru dapat diciptakan. Misalnya, bila setiap 15 gen berada dalam 1 persen dari individu suatu populasi, maka kemungkinan 15 gen tersebut terdapat bersama – sama adalah 1 didalam 1030 individu. Tetapi belum pernah ada  suatu populasi dari organisme tinggi yang terdiri 1030 individu. Jumlah tanaman tinggi sepanjang sejarah kehidupan belum pernah mencapai angka di atas. Sehingga kesempatan kelima gen dapat berada bersama adalah sangat kecil. Lebih – lebih kesempatan ke-15 gen itu berada bersama – sama pada beberapa individu. Dengan perkataan lain bahwa fenotip yang dihasilkan oleh aksi bersama dari 15 gen tidak akan terdapat di dalam populasi.

Masih menurut Haldane, jika terdapat seleksi  alam yang berjalan dalam tingkatan sedang, hanya akan dibutuhkan waktu kurang lebih 10.000 tahun bagi setiap gen untuk bertambah dari frekuensi 1 % menjadi 99 %. Jika setiap gen telah terdapat di dalam 99 % dari populasi, 86 % dari individu di dalamnya akan mempunyai ke-15 gen yang telah disebutkan di atas. Jadi pada peristiwa seleksi, meskipun tanpa adanya mutasi baru dapat menghasilkan suatu fenotip baru dengan adanya kombinasi gen.

Gambaran sebenarnya dari perubahan yang telah diterangkan di atas secara hipotesis, telah dibuktikan oleh para ahli pertanian dari Universitas Illionis (Amerika Serikat). Percobaan tentang seleksi pada seleksi jangka panjang. Para ahli memilih biji jagung dengan kandungan minyak tinggi dan dilakukan selama 50 generasi. Dalam waktu tersebut terdapat kenaikan kandungan minyak secara berangsur – angsur. Hal tersebut terjadi dari formasi kombinasi gen yang dihasilkan dari suatu sesi mutasi baru.

Perhitungan sederhana dibawah ini menunjukkan percobaan di atas. Para ahli pertanian menanam jagung sebanyak 200 – 300 pohon untuk setiap generasi. Dikalikan dengan angka 50, maka jumlah jagung yang telah ditanam selama percobaan adalah 10.000 – 15.000, kecepatan mutasi untuk setiap gen jagung adalah 1 untuk setiap 50.000 tumbuhan. Hal itulah yang menyebabkan tidak mungkinnya satu mutan ke penambahan kadar minyak tentu adanya suatu seri mutasi semacam itu tidak akan terjadi. Penambahan secara berangsur dari kadar minyak selama 50 generasi dengan seleksi harus bersandar pada pembentukan suatu kombinasi gen baru dan bukannya karena mutasi.

Kombinasi gen baru yang dihasilkan dari seleksi sering menghasilkan suatu perubahan alel yang awalnya resesif menjadi dominan. Suatu alel tidak bertindak secara otomatis sebagai resesif atau dominan. Latar belakang genetik menentukan aktivitas suatu alel. Bila latar genesis berubah lewat pergeseran dari suatu gen, maka aktivitas dari gen – gen lain sampai pada batas tertentu.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pada populasi biparental, seleksi alam atau buatan menentukan arah perubahan. Sebagian besar dengan perubahan frekuensi dari gen yang muncul karena mutasi sembarang (random mutation) dari beberapa generasi sebelumnya. Hal ini akan mewujudkan adanya kombinasi gen yang berudan aktivitas gen yang menghasilkan fenotip baru. Mutasi yang umumnya bukanlah suatu kekuatan pengaruh pada evolusi, peran evolusi yang terutama bagi mutasi baru (dan kombinasi baru dari gen) adalah pengganti persediaan variabilitas di dalam gen pool, yang pada akhirnya melengkapi potensi mana seleksi yang akan dating dapat bertindak.

c. Peran Pengawet (Konservatif) dari Seleksi Alam

Telah dijelaskan tentang peran kreatif seleksi alam yang mengarah ke pembentukan kombinasi gen baru yang dapat member arah terhadap proses evolusi. Sebaliknya, seleksi alam juga dapat berperan sangat penting sebagai factor konservatif atau pengawet. Setiap organisme sepanjang perjalanan evolusinya, telah memiliki susunan gen yang dapat saling mempengaruhi menurut jalan yang tepat dalam mengatur proses pertumbuhan, faal, biokimia dimana kelangsungan hidup suatu spesies tergantung. Segala sesuatu yang merusak interaksi harmonis dari genbiasanya merugikan spesies yang bersangkutan. Tetapi pada populasi yang berbiak secara seksual, penggolongan gen baru ini akan berkurang daya adaptasinya daripada golongan asli (meskipun beberapa dapat lebih besar daya adaptasinya). Sebagian besar dari adaptasi baru cenderung merusak penggolongan gen yang menguntungkan, yang mana kekuatan hidup dari sesuatu spesies tergantung. Seleksi alam bekerja secara tetap untuk melenyapkan semua kombinasi, kecuali kombinasi yang sangat menguntungkan, mengimbangi rekombinasi dan mutasi merusak. Dengan demikian seleksi alam juga merupakan faktor utama dalam mempertahankan stabilitas tanpa hal itu tentu terjadi kekacauan.

d. Adaptasi

Setiap organisme dapat dikatakan merupakan suatu kumpulan kompleks dari sejumlah besar adaptasi. Adaptasi yang terjadi memiliki hubungan dengan kebutuhan makanan, pertukaran zat, transport di dalam jaringan, regulasi cairan tubuh, aktifitas efektor, reproduksi dan lain sebagainya. Adaptasi merupakan setiap sifat yang dikendalikan secara genetic yang membantu suatu organism atau spesies, untuk dapat hidup dan berbiak pada keadaan lingkungan dimana spesies itu berada.

Adaptasi pada organism dapat berupa bentuk, faal atau kelakuan. Adaptasi dapat secara genetis sederhana yang dikendalikan oleh satu atau dua gen, atau dapat pula kompleks yang dikendalikan oleh banyak sekali gen. Adaptasi dapat menyangkut seluruh organ atau sistem organ. Dapat pula adaptasi bersifat sangat khusus, atau berguna hanya pada suatu keadaan yang bermacam – macam.

Beberapa contoh dari adaptasi yang mencolok, dimana proses tersebut untuk menjelaskan proses – proses darimana adaptasi terwujud.

  • Kemampuan tumbuh dari tanaman padang rumput

Tahun 1937, Kemp seorang sarjana dari Amerika Serikat mengadakan percobaan tentang kecepatan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan adaptasi keadaan setempat. Caranya dengan menaburi dengan biji – bijian dari rumput dan tanaman dari polong – polongan pada suatu padang rumput di Maryland. Kemudian dibagi menjadi dua bagian, satu bagian selalu dimakan oleh ternak dan sebagian lagi dibiarkan tanpa diganggu. Tiga tahun setelah diadakan percobaan itu. Kemp mengambil tiga jenis tanaman dari kedua bagian tersebut. Biji – biji dari ketiga tanaman tersebut kemudian ditanam pada tanah percobaan dimana keadaan lingkungan dibuat sesame mungkin untuk ketiga jenis tanaman. Didapatkan bahwa tanaman yang diperoleh dari padang rumput yang selalu dimakan oleh ternak adalah cebol dan tumbuh ke segala jurusan. Sedangkan tanaman dari padang rumput yang tidak diganggu menampakkan pertumbuhan yang besar dan tegak lurus.

Dalam waktu tiga tahun, kedua populasi yang terdiri dari jenis – jenis tanaman diketahui berasal dari biji –bijian yang sama telah berbeda dalam cara tumbuhnya. Cara tumbuh ini telah diketahui ditentukan secara genetik. Ternyata ternak pada sebagian padang rumput telah memakan hampir semua tanaman tegak, sedangkan tanaman yang rendah telah lolos dari ternak tersebut. Pada daerah yang dimakan oleh ternak hanya tanaman yang rendah yang dapat terus berbiak dengan bijinya, dalam waktu yang singkat terjadi seleksi yang kuat untuk tanaman cebol dan tumbuh tidak lurus yang mempunyai adaptabilitas yang tinggi. Sebaliknya pada bagian lain dari tanaman lapang itu, dimana tumbuh tanaman yang tidak diganggu ternak, pertumbuhan tegak lurus secara adaptif adalah superior dan tanaman cebol tidak akan dapat bersaing secara efektif.

  • Adaptasi Bunga untuk Penyerbukan

Tumbuh – tumbuhan berbunga tergantung dari agen di luar untuk membawa tepung sari bunga jantan suatu pohon ke bunga betina pohon lainnya. Bunga dari setiap spesies pohon mempunyai adaptasi bentuk, struktur, warna, dan bau untuk agen penyerbuk tergantung. Hal ini member gambaran yang jelas tentang adaptivitas suatu evolusi.

Lebah tertarik oleh warna terang dan oleh bau yang manis, aromatik, atau mentol. Mereka hanya aktif pada siang hari dan mereka biasanya singgah dahulu pada petal sebelum bergerak ke dalam bagian bunga yang mengandung madu dan tepung sari. Bunga yang diserbuk oleh lebah mempunyai warna mencolok, suatu petal yang berwarna terang dan biasanya kuning atau biru, tetapi jarang sekali merah. Lebah tidak dapat melihat warna merah, tetapi dapat melihat warna kuning dan biru dengan baik. Bunga yang biasanya mempunyai bau manis, aromatik, atau mentol, biasanya membuka pada siang hari dan sering mempunyai bibir yang menonjol dimana lebah dapat hinggap sebelum masuk kedalam bunga.

Ada sejenis burung kecil (Hummingbird) pemakan madu, sebaliknya dapat warna merah dengan baik dan warna biru tidak begitu baik. Burung ini tidak hinggap melainkan mengapung di udara sambil menghisap madu, dengan penciuman yang tajam. Bunga – bunga yang terutama diserbukkan oleh burung ini biasanya tidak berbau dan tidak mempunyai tempat untuk hinggap. Berlainan dengan lebah dan “Hummingbird”, kupu – kupu malam sangat aktif pada waktu senja dan malam hari. Bunga- bunga yang diserbuk oleh kupu – kupu malam bisanya berwarna putih dan membuka pada waktu senja atau malam hari. Bunga ini biasa mempunyai bau yang sangat kuat sehingga dapat menuntun kupu – kupu tadi ketempat itu.

Berbeda dengan contoh – contoh di atas, lalat hanya tertarik pada bau yang tidak enak. Lalat adalah pemakan bangkai, kotoran, humus atau darah. Bunga – bunga yang penyerbukannya tergantung dari lalat biasanya berwarna suram dan berbau tidak enak. Bunga – bunga ini kadang berbentuk demikian sehingga dapat mengurung lalat untuk sementara, sehingga bila lalat tersebut keluar dari bunga itu, maka tubuhnya telah penuh dengan tepung sari. Tepung sari yang demikian kemudian dapat terbawa ke bunga lainnya. Mekanisme perangkap ini terdapat juga pada bunga – bunga yang diserbuk oleh kepik.

2.3 Gene pool dan Faktor – factor yang mempengaruhi keseimbangannya

2.3.1 Pengertian Gene pool

Evolusi adalah perubahan susunan genetik pada generasi yang berurutan. Untuk mengetahui evolusi, sangat baik jika mengetahui tentang genetika dari populasi (population genetik). Genetika individu selalu menyangkut konsep genotif yakni konstitusi genetika pada individu. Studi mengenai genetika dari populasi juga tergantung pada konsep gene pool, yakni konstitusi genetis suatu populasi.

Gene pool adalah jumlah dari seluruh gen (termasuk plasma gen) yang dimiliki oleh semua individu. Genotip dari individu diploid hanya dapat mempunyai suatu maksimal jumlah dari dua alel dari suatu gen. Pembatasan ini tidak dijumpai pada gene pool dari suatu populasi. Disini dapat terdapat setiap jumlah dari gen. kita melihat gen pool dari sudut setiap macam gen dengan frekuensi atau perbandingan alel gen A dan a pada suatu populasi yang berbiak secara seksual. Dan misalnya juga bahwa alel A merupakan 90 % dari jumlah kedua alel, sedangkan alel a merupakan 10 % dari jumlah itu. Akan kita katakan kemudian bahwa frekuensi A dan a pada gen pool populasi ini adalah 0,9 dan 0,1. Bila frekuensi ini berubah dengan berubahnya waktu, maka perubahan ini merupakan perubahan evolusi.

Kalau kita katakan bahwa evolusi adalah perubahan di dalam komposisi genetis dari populasi, yang kita artikan adalah suatu perubahan dari frekuensi genetis di dalam suatu gen pool. Itulah sebabnya faktor penyebab evolusi dapat kita tentukan dengan menentukan faktor apa yang dapat menghasilkan suatu pergeseran dari frekuensi genetis.

2.3.2.1 Hukum Hardy – Weinberg

Populasi mendelian yang berukuran besar sangat memungkinkan terjadinya kawin acak (panmiksia) di antara individu-individu anggotanya. Artinya, tiap individu memiliki peluang yang sama untuk bertemu dengan individu lain, baik dengan genotipe yang sama maupun berbeda dengannya. Dengan adanya sistem kawin acak ini, frekuensi alel akan senantiasa konstan dari generasi ke generasi. Prinsip ini dirumuskan oleh G.H. Hardy, ahli matematika dari Inggris, dan W.Weinberg, dokter dari Jerman,. sehingga selanjutnya dikenal sebagai hukum keseimbangan Hardy-Weinberg.

Di samping kawin acak, ada persyaratan lain yang harus dipenuhi bagi berlakunya hukum keseimbangan Hardy-Weinberg, yaitu tidak terjadi migrasi, mutasi, dan seleksi. Dengan perkatan lain, terjadinya peristiwa-peristiwa ini serta sistem kawin yang tidak acak akan mengakibatkan perubahan frekuensi alel.

Deduksi terhadap hukum keseimbangan Hardy-Weinberg meliputi tiga langkah, yaitu :

(1)    Dari tetua kepada gamet-gamet yang dihasilkannya

(2)    Dari penggabungan gamet-gamet kepada genotipe zigot yang dibentuk

(3)    Dari genotipe zigot kepada frekuensi alel pada generasi keturunan.

Secara lebih rinci ketiga langkah ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

Kembali kita misalkan bahwa pada generasi tetua terdapat genotipe AA, Aa, dan aa, masing-masing dengan frekuensi P, H, dan Q.  Sementara itu, frekuensi alel A adalah p, sedang frekuensi alel a adalah q. Dari populasi generasi tetua ini akan dihasilkan dua macam gamet, yaitu A dan a. Frekuensi gamet A sama dengan frekuensi alel A (p). Begitu juga, frekuensi gamet a sama dengan frekuensi alel a (q).

Dengan berlangsungnya kawin acak, maka terjadi penggabungan gamet A dan a secara acak pula. Oleh karena itu, zigot-zigot yang terbentuk akan memilki frekuensi genotipe sebagai hasil kali frekuensi gamet yang bergabung. Pada Tabel 15.1 terlihat bahwa tiga macam genotipe zigot akan terbentuk, yakni AA, Aa, dan aa, masing-masing dengan frekuensi p2,  2pq, dan q2.

Tabel 15.1. Pembentukan zigot pada kawin acak

 

Gamet-gamet Edan frekuensinya
A(p) a(q)
Gamet-gamet G

dan frekuensinya

A (p) AA(p2) Aa(pq)
a (q) Aa(pq) aa(q2)

Oleh karena frekuensi genotipe zigot telah didapatkan, maka frekuensi alel pada populasi zigot atau populasi generasi keturunan dapat dihitung. Fekuensi alel A = p2 + ½ (2pq) = p2 + pq = p (p + q) = p. Frekuensi alel a = q2 + ½ (2pq) = q2 + pq = q (p + q) = q. Dengan demikian, dapat dilihat bahwa frekuensi alel pada generasi keturunan sama dengan frekuensi alel pada generasi tetua.

Kita ketahui bahwa frekuensi gene pool dari generasi ke generasi pada waktu ini (populasi hipotesis) adalah 0,9 dan 0,1; dan perbandingan genotip adalah 0,81; 0,81; dan 0,01. Dengan angka – angka ini kita akan mendapatkan harga yang sama pada generasi berikutnya. Hasil yang sama ini akan kita jumpai pada generasi seterusnya, frekuensi genetis dan perbandingan genotip tidak berubah. Dapat kita simpulkan bahwa perubahan evolusi tidak terjadi. Hal ini dapat diketahui oleh Hardy (1908) dari Cambrige University dan Weinberg dari jerman yang bekerja secara terpisah. Secara singkat dikatakan di dalam rumus Hardy-Weinberg

“Di bawah suatu kondisi yang stabil, baik frekuensi gen maupun perbandingan genotip akan tetap (konstan) dari generasi ke generasi pada populasi yang berbiak secara seksual”

 

2.3.3 Kondisi yang Diperlukan untuk Keseimbangan Genetis

Perlu diteliti apakah yang dimaksud dengan kondisi pada hokum Hardy – Weinberg, sehingga menyebabkan gene pool dari suatu populasi berada di dalam keseimbangan genetis. Kondisi tersebut digambarkan sebagai berikut:

  • Populasi harus cukup besar, sehingga suatu faktor kebetulan saja tidak mungkin mengubah frekuensi genetis secara berarti.
  • Mutasi tidak boleh terjadi, atau harus terjadi keseimbangan secara mutasi.
  • Harus tidak terjadi emigrasi dan imigrasi.
  • Reproduksi harus sama sekali sembarang (random).

Secara teoritis, suatu populasi harus begitu besar sehingga dapat dianggap bukan merupakan faktor penyebab dari perubahan frekuensi genetis. Dalam kenyataan, tidaklah ada populasi yang besarnya tidak terbatas, tetapi beberapa populasi alami dapat cukup besar sehingga perubahan sedikit saja tidak cukup menjadi penyebab dari perubahan yang berarti pada frekuensi genetis gene pool mereka.

Suatu populasi produktif yang terdiri lebih dari 10.000 anggota yang dapat berbiak, mempunyai kemungkinan besar tidak dipengaruhi secara berarti oleh perubahan sembarang, yang dapat menuju kepada lenyapnya suatu alel dari gene pool, meskipun alel itu merupakan alel superior. Di dalam populasi yang demikian, ternyata hanya terdapat sangat kecil alel yang mempunyai frekuensi antara, rupanya semua alel itu mempunyai kecenderungan untuk hilang dengan segera atau tertahan sebagai satu – satunya alel yang ada. Dengan perkataan lain, populasi kecil mempunyai kecenderungan besar untuk menjadi homozigot, sedangkan populasi besar cenderung untuk lebih bermacam – macam.

Jadi suatu kesempatan dapat menyebabkan perubahan evolusi di dalam populasi kecil, tetapi perubahan ini kadang – kadang disebut juga genetic drift atau pergeseran genetis tidak dipengaruhi secara besar oleh adaptivitas relative dari berbagai gen. Hal ini disebut sebagai evolusi pertengahan (intermediate evolution). Syarat kedua bagi keseimbangan mutasi mungkin tidak dijumpai pada suatu populasi.

A mutasi maju

Mutasi selalu terjadi, tidak ada suatu cara apapun untuk mencegahnya. Hampir semua gen mungkin mengalami mutasi sekali pada 50.000 sampai 10.000 pembelahan, kecepatan mutasi pada berbagai macam gen berbeda. Sangat jarang mutasi alel dengan sifat sama dapat sampai mencapai keseimbangan. Jadi jumlah mutasi maju jarang sekali sama dengan mutasi balik di dalam suatu kesatuan waktu. Contoh mutasi alel A ke alel a adalah mutasi maju, sedangkan mutasi dari a ke A adalah mutasi mundur.

mutasi mundur a

Kecepatan dari kedua mutasi ini jarang sekali akan terjadi dalam keadaan yang sama – sama betul sama, salah satu mutasi yang akan terjadi lebih sering. Tekanan mutasi ini akan cenderung untuk menyebabkan pergeseran perlahan – lahan pada frekuensi genetis di dalam populasi. Alel yang lebih stabil akan cenderung untuk bertambah frekuensinya, sedangkan alel yang mudah bermutasi akan cenderung untuk berkurang frekuensinya, kecuali kalau ada faktor lain yang mengubah tekanan mutasi ini. Meskipun tekanan mutasi selalu ada, tetapi mungkin sekali bahwa ini merupakan faktor utama yang dapat menghasilkan perubahan pada frekuensi genetis di dalam suatu populasi. Mutasi berjalan begitu lambat sehingga kalau bereaksi secara tunggal akan membutuhkan waktu yang lama sekali untuk menimbulkan suatu perubahan yang nyata (kecuali dalam hal poliploid). Mutasi terjadi secara sembarang (random) dan seringkali cenderung untuk mengarah pada jurusan yang berbeda dari faktor – faktor lain yang menyebabkan organism sesungguhnya harus berevolusi.

Mutasi mempertinggi variabilitas sehingga dengan demikian merupakan bahan (raw material) yang segera ada untuk evolusi, tetapi jarang menentukan arah atau sifat dari perubahan evolusi.

Kalau gene pool harus dalam keadaan seimbang, sudah barang tentu imigrasi dari populasi lain tidak boleh terjadi kalau hal ini akan menyebabkan terjadinya pemasukan gen baru. Hilangnya gene pool secara emigrasi harus tidak boleh terjadi. sebagian besar populasi alami mungkin paling sedikit mengalami migrasi genetis di dalam jumlah yang sangat kecil, dan faktor ini menambah terjadinya variasi yang cenderung untuk mengacaukan keseimbangan Hardy-Weinberg. Sangat disangsikan akan adanya suatu populasi yang bebas dari migrasi genetis dan pada beberapa kejadian dimana migrasi genetis terjadi, hal ini terjadi begitu kecil sehingga dapat diabaikan sebagai faktor yang menyebabkan pergeseran frekuensi genetis. Itulah sebabnya dapat kita simpulkan bahwa syarat ketiga untuk keseimbangan genetis kadang – kadang terjadi di alam.

Kondisi untuk keseimbangan genetis di dalam populasi adalah perkembangbiakan atau reproduksi yang random. Reproduksi atau perkembangbiakan tidak hanya bertanggung jawab atas kelangsungan reproduksi dari suatu populasi. Seleksi pasangan, efisiensi dan frekuensi proses perkawinan, fertilitas, jumlah zigot yang terjadi pada setiap perkawinan, prosentase zigot yang menuju kea rah pertumbuhan embrio dan kelahiran berhasil, kemampuan hidup keturunan sampai mencapai umur berbiak. Hal tersebut mempunyai pengaruh langsung pada keturunannya dalam arti keselamatan atau efisiensi dari reproduksi. Bila reproduksi merupakan sesuatu yang sama sekali random, maka semua faktor yang mempengaruhi harus random, yakni tidak terganggu dari genotip.

Keadaan tersebut di atas mungkin tidak dijumpai pada suatu populasi. Faktor – faktor tersebut mungkin selalu berhubungan dengan genotip, yakni genotip dari organisme yang mempengaruhi pasangannya dan semua hal yang disebutkan di atas. Secara singkat dapat dikatakan bahwa tidak ada aspek reproduksi yang sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan genotip.

Reproduksi tidak sembarang (nonrandom) adalah hokum umum. Reproduksi di dalam arti luas adalah seleksi alam. Jadi seleksi selalu bekerja pada semua populasi. Sehingga kalau kita simpulkan, empat kondisi yang diperlukan untuk keseimbangan genetis yang diusulkan oleh hokum Hardy-Weinberg adalah:

  • Ditemukan pada populasi besar.
  • Tidak pernah dijumpai mutasi.
  • Tanpa migrasi.
  • Reproduksi random tidak pernah dijumpai.

Suatu keseimbangan yang lengkap di dalam gene pool tidak pernah dijumpai, perubahan secara evolusi adalah sifat – sifat fundamental dari kehidupan suatu populasi.

2.3.4 Peranan Seleksi Alam

Setelah ditemukan daya antibiotik dari penisilin, kemudian diketahui pula bahwa suatu bakteri yang disebut Staphylococcus aureus dapat dengan cepat tumbuh resistan terhadap antibiotic tersebut. Akan dibutuhkan dosis yang lebih tinggi lagi untuk membunuh bakteri tersebut, jadi nyatalah bahwa di bawah pengaruh seleksi penisilin yang kuat, maka populasi bakteri mengalami perubahan secara evolusi. Fenomena ini telah diselidiki secara mendalam di laboratorium secara eksperimental. Pada eksperimen tersebut menujukkan, kultur dari berjuta – juta bakteri mati, dan hanya beberapa yang dapat hidup terus. Kalau sisa bakteri yang hidup ini dikenai penisilin dari dosis yang sama, maka hampir semua bakteri dapat hidup.

Gen untuk kekebalan mungkin telah ada pada populasi sebelum percobaan di atas dimulai, dan antibiotic hanyalah membunuh bakteri yang tidak mempunyai gen ini, yang ditinggalkan hanyalah bakteri yang mempunyai gen kekebalan. Dengan perkataan lain, penisilin mungkin hanya melakukan suatu tekanan seleksi yang kuat terhadap gen yang tidak kebal, sehingga menyebabkan adanya pergeseran besar pada frekuensi tersebut.

Dari beberapa percobaan diketahui bahwa keterangan pertama rupanya benar. Obat ini tidak menyebabkan adanya mutasi untuk kekebalan, hanya mengadakan seleksi terhadap bakteri yang tidak kebal. Beberapa gen yang menentukan jalan metabolism yang menyebabkan resistensi terhadap penisilin sudah ada di dalam kebanyakan populasi pada frekuensi rendah yang muncul mula – mula sekali sebagai hasil mutasi sembarang. Seandainya gen semacam itu belum ada pada populasi yang terkena penisilin, tidak akan ada sel dari populasi yang dapat hidup dan populasi tersebut akan tersapu bersih.

Hal tersebut di atas, tidak berarti bahwa mutasi baru tidak dapat memperbaiki kekebalan, malahan seleksi terus menerus oleh penisilin biasanya menuju ke arah penambahan resistensi secara gradual. Hal ini sudah hampir dipastikan sebagai hasil dari mutasi. Tetapi mutasi tidak dihasilkan oleh kondisi sama yang menyeleksi gen mutan yang telah timbul.

Keuntungan mutasi pada suatu keadaan keliling yang mengandung penisilin dapat timbul sewaktu obat itu dimasukkan sebagai hal yang terjadi secara kebetulan. Sebab mutasi yang serupa dapat juga timbul meskipun penisilin tidak ada. Evolusi resistensi obat pada bakteri tidak dapat disamakan seluruhnya pada evolusi organisme biparental, sebab seleksi yang hebat dapat mengubah frekuensi genetis lebih cepat pada organism haploid aseksual daripada organisme biparental.

Rekombinasi yang terjadi pada setiap generasi pada spesies biparental sering menimbulkan kembali genotip yang hilang pada generasi sebelumnya. Hal ini tidak akan terjadi pada organisme aseksual. Tetapi bagaimanapun juga, suatu tekanan seleksi yang sangat kecil dapat menimbulkan suatu pergeseran besar pada frekuensi gen suatu populasi biparental kalau jangka waktunya mencapai 50.000 tahun (meskipun waktu ini relative sangat pendek). Hal tersebut pernah diperhitungkan Haldane bahwa jika suatu alel dominan yang memperkuat suatu individu dibawa oleh satu bagian dari 1000 (misalnya 1000 individu dari AA yang dapat hidup dan berbiak untuk alel dominan dapat bertambah dari alel resesif).

BAB III

PENUTUP

3.1 Saran

  • Setelah mempelajari variasi genetic, mutasi gen dan frekuensi gen dalam populasi serta hukum Hardy-Weinberg diharapkan penulis dan pembaca dapat mengerti dan memahaminya.

3.2 Kesimpulan

  • Evolusi berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya.Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi.
  • Variasi genetik dalam populasi yang merupakan gambar dari adanya perbedaan respon individu-individu terhadap lingkungan adalah bahan dasar dari perubahan adaptif. Suatu populasi terdiri dari suatu sejumlah individu. Dengan suatu kekecualian , maka, tidak ada dua individu  yang serupa, pada populasi manusia dapat kita lihat dengan muda adanya perbedaan- perbedaan individu.
  • Mutasi terjadi secara acak, yang beradaptasi hanya sebagian kecil. Bila suatu mutasi mempunyai nilai ketahanan dan bentuk baru yang diturunkan telah nampak, maka ketahanan, kedewasaan dan reproduksi dari bentuk baru itu tidak bersifat acak lagi.
  • Ada beberapa macam mutasi atas dasar sudut pandang tertentu :
    • Berdasarkan tempat terjadinya
    • Berdasarkan macam sel yang mengalami mutasi
    • Berdasarkan faktor penyebab mutasi
    • Berdasarkan jumlah faktor keturunan
    • Berdasarkan manfaat bagi individu atau populasi yang mengalami
  • Rekombinasi genetika merupakan proses pemutusan seunting bahan genetika (biasanya DNA, namun juga bisa RNA) yang kemudian diikuti oleh penggabungan dengan molekul DNA lainnya
  • Aliran gen atau gene flow merupakan pertukaran gen antar populasi, yang biasanya merupakan spesies yang sama. Contoh aliran gen dalam sebuah spesies meliputi migrasi dan perkembangbiakan organisme atau pertukaran serbuk sari. Transfer gen antar spesies meliputi pembentukan organisme hibrid dan transfer gen horizontal.
  • Genetic  drift adalah lepasnya frekuensi alela secara kebetulan. Peristiwa ini sangat berarti pada populasi yang sangat kecil. Kenyataannya 1 dari 2 alela mempunyai peluang untuk lepas adalah kira-kira 0, 8%. Hilangnya gen selalu mempengaruhi frekuensi alela pada beberapa tingkat tetapi pengaruh tersebut menurun pada  populasi yang berukuran besar.
  • Seleksi alam adalah proses dimana mutasi genetika yang meningkatkan reproduksi menjadi (dan tetap) lebih umum dari generasi yang satu ke generasi yang lain pada sebuah populasi. Ia sering disebut sebagai mekanisme yang “terbukti sendiri”.
  • Gene pool adalah jumlah dari seluruh gen (termasuk plasma gen) yang dimiliki oleh semua individu. Genotip dari individu diploid hanya dapat mempunyai suatu maksimal jumlah dari dua alel dari suatu gen.
  • Populasi mendelian yang berukuran besar sangat memungkinkan terjadinya kawin acak (panmiksia) di antara individu-individu anggotanya. Artinya, tiap individu memiliki peluang yang sama untuk bertemu dengan individu lain, baik dengan genotipe yang sama maupun berbeda dengannya. Dengan adanya sistem kawin acak ini, frekuensi alel akan senantiasa konstan dari generasi ke generasi. Prinsip ini dirumuskan oleh G.H. Hardy, ahli matematika dari Inggris, dan W.Weinberg, dokter dari Jerman,. sehingga selanjutnya dikenal sebagai hukum keseimbangan Hardy-Weinberg.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2009. Variasi Genetik. http:// I:\blog-evolusi-dan-seleksi-alam.php.htm. Diakses tanggal 5 November 2009

Anonymous.2009. Evolusi. http://wikipedia.com/evolusi. Diakses tanggal 5 November 2009

Anonymous. 2009. Genetika Populasi. http:// Wikipedia.com. Diakses tanggal 7 November 2009

Anonymous. 2009.Rekombinasi Gen. I:\rekombinasi-gen.html. Diakses tanggal 8 November 2009

Anonymous. 2009. Seleksi Alam. http:// Seleksi_alam.htm. Diakses tanggal 8 November 2009

Astika, G.N, 2008. Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam. Universiats Airlangga, Surabaya.

Corebima, tanpa tahun. Evolusi Makhluk Hidup. Ikip. Malang

Sukadana, A.A. 1983. Antropologi-Ekologgi. UNAIR Press. Malang

Waluyo, Lud.2004. Evolusi Organic. UMM Press. Malang

 

 

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit????

Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan???
Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek?????

Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah?????

Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462

INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA

TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES

 

 

 


11/20/2009 Posted by | Evolusi Organik | 15 Komentar

EVOLUSI PRIMATA: RADIASI PRIMATA, DAN MAKHLUK-MAKHLUK PRA-HOMO SAPIENS

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1. Evolusi Primata

Evolusi primata merupakan salah satu contoh evolusi dengan data yang “cukup lengkap”. Teori evolusi yang hanya didasarkan atas adanya fosil tidak pernah dapat menerangkan dengan lengkap apa yang terjadi di masa lampau. Oleh karena itu untuk mempelajari evolusi suatu organism, biasanya para ahli menggunakan data organisme yang masih hidup hingga kini. Dalam hal ini, yang dilakukan para ahli ialah melihat perubahan struktur dari organisme-organisme yang paling erat kekerabatan dengan organisme sasaran yang diteliti. Dengan mengaitkan perubahan-perubahan suatu ciri, maka dapat ditarik kesimpulan mengenai apa yang terjadi dimasa silam. Dalam hal ini, untuk menjelaskan evolusi manusia, digunakan pendekatan pada golongan primata.

Berbicara mengenai evolusi manusia dan primata, tidaklah berarti bahwa manusia berasal dari kera. Dalam menjelaskan mengenai evolusi, terutama mengenai evolusi manusia kita harus berhati-hati dan dapat bersikap netral. Hal ini berarti apapun keyakinan kita mengenai asal-usul manusia, kita harus dapat mengemukakan bagaimana pendapat sekelompok orang dan bagaimana pula mengenai pendapat dari kelompok yang lain, dan bukan hanya pendapat kita sendiri. Apabila manusia memang berasal dari kera sekalipun, para ahli evolusi tidak akan dapat membuktikanya. Jadi dalam membuktikan evolusi kita tidak menggunakan pendekatan metode pendidikan.

Kita yang hidup pada masa sekarang tidak pernah dapat mengetahui dengan pasti mengenai apa yang terjadi dimasa lalu. Oleh karena itu, digunakan  data fosil dan data organisme yang hidup pada masa kini. Bukti yang digunakan untuk mempelajari perubahan akan tinjauan dari banyak segi, yang dapat memberikan banyak petunjuk mengenai apa yang terjadi dimasa lalu. Suatu sifat akan berevolusi sesuai dengan perkembangan waktu dan tempat. Dengan menggunakan fosil dan organisme aktuil mempunyai semua sifat terevolusi. Analisis yang dilakukan pada primata primitif sampai dengan primata yang maju, yakni manusia memberikan gambaran sebagai berikut:

  1. a. Perkembangan Primata Primitif ke Primata Maju
  • Hubungan antara tulang vertebrata dan tengkorak mengalami perubahan yang berangsur-angsur menuju titik berat tengkorak. Mula-mula hubungan ini terdapat di bagian tepi menjadi berada tepat dibawah. Perubahan ini diikuti dengan perubahan cara berjalan dari empat kaki menjadi dua kaki. Sejalan dengasn perubahan ini, maka otot leherpun menjadi lebih lemah, sedangkan panggul menjadi jauh lebih penting dan kuat. Bentuk tengkorak yang memanjang dengan rahang besar, gigi yang kuat dan membentuk moncong menjadi bertambah pendek. Rongga hidung yang besar sekarang menjadi jauh lebih kecil.
  • Bola mata pada organisme non primata tidak mempunyai tulang yang meliputinya. Tetapi pada kera dan manusia, mata sudah sepenuhnya terlindungi. Hal ini menunjukkan bahwa mata menjadi organ yang sangat penting. Selain itu, dapat pula dilihat bahwa mata yabg menghadap kesamping, menjadi berangsur-angsur menghadap kedepan. Penglihatanpun berubah dari dua dimensi menjadi tiga dimensi, dan kemampuan melihat warna meningkat dari hitam putih untuk membedakan gelap dan terang menjadi mampu melihat hampir semua spektru warna. Hal ini erat kaitanya dengan cara hidup dari malam hari menjadi siang hari. Selain itu, matapun diperluakan untuk melihat makanan diantara ranting-ranting pohon, untuk menyelinapkan dengan mudah diantara hutan.
  • Ujung jari bercakar berangsur-angsur berubah menjadi kuku. Hal ini terlihat bahwa tupai mempunyai cakar, sedangkan primata lebih lanjut mempunyai kuku yang tebal dan akhirnya manusia mempunyai kuku yang tipis. Cakar mula-mula digunakan untuk mengais mencari makan. Dengan berubahnya cara hidup dari hidup di tanah menjadi kehidupan arboreal, maka cakar menjadi mengganggu kemampuan bergerak dengan cepat diatas pohon. Kehidupan arboreal lebih membutuhkan kemampuan memegang. Dengan demikian, terjadi pula perubahan cara memegang dengan terbentuknya ibu jari dengan persendian yang lain daripada jari-jari yang lain. Hal ini erat kaitanya dengan timbulnya flora hutan sebagai habitat baru dimuka bumi. Cakar perlu untuk naik pohon, tetapi selalu terkait kalau pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Selain itu, terjadi pula perubahan dari telapak tangan. Hal ini penting berkaitan  dengan kemampuan untuk memegang yang terliahat pada kera, yang mempunyai “empat tangan”, bahkan pada kera Amerika Selatan, ekorpun dapat digunakan untuk memegang.
  • Kehidupan arboreal menyebabkan fungsi tangan menjadi lebih penting daripada kaki. Hal ini terlihat pada bangsa kera yang memiliki tangan yang lebih panjang dan kuat daripada kaki. Struktur ini penting untuk dapat berayun-ayun dan berpindah tempat. Dengan berubahnya permukaan bumi, maka jumlah hutan menjadi semakin sedikit. Selain itu, ditemukan  primata berukuran besar yang tidak dapat ditunjang oleh hutan. Akibatnya tangan menjadi kurang diperlukan sedangkan kaki diperlukan untuk mengejar mangsa dan menghindarkan diri dari perdator.
  • Volume otak mengalami perubahan pesat. Faktor ini sangat nyata terlihat pada golong-golongan kera manusia. Australopithecus hanya mempunayi volume otak 600 cc, sedangkan manusia modern dua kali lebih besar. Data fosil menunjukan bahwa fosil manusia lainnya mempunyai kisaran antara keduanya. Perubahan volume otak dapat pula dilihat pada perubahan dahi, yang tidak ada pada kera dan hampir tegak pada manusia.
  1. b. Data Evolusi Primata

Bermacam-macam fosil primata seperti Mesopithecus, Mioptithecus, dan Aegyptopithecus dari lapisan oligosen; Parapithecus, Propliopithecus yang berbentuk seperti bajing, diperkirakan tidak mempunyai hubungan kekerabatan yang cukup dengan manusia. Fosil primata yang paling tua dan masih termasuk famili Homonidea adalah Dryopithecus, Limnopithecus, Brahmapithecus, Sivapithecus, Pliopithecus, Oreopithecus, dan Proconsul yang dikenal sejak jaman Miosin.

Dryopithecus dianggap berkerabat derngan bangsa beruk dan kera, sedangkan Proconsul, merupakan fosil Hominid tertua yang diduga berkerabat dengan gorila dan sipanse. Fosil Brahmapithecus dan Sivapithecus belum diketahui kerabat dekatnya. Kemudian kita mengenal fosil Hominid yang lebih muda yaitu Ramapithecus yang sianggap sebagai fosil yang erat hubungannya dengan manusia. Fosil ini pada mulanya hanya dikenal dari sebuah tulang rahang. Namun kini pandangan tersebut berubah, karena penemuan baru telah memberikan pandangan yang lebih baik. Fosil ini ternyata identik dengan Dropihecus. Fosil berikutnya adalah Kenyapithecus.

Fosil Homo mungkin pula telah ada, namun data yang ada belum meyakinkan. Baru kemudian, pada lapisan yang lebih muda, mulai dijumpai Paraaustralopithecus aethiopicus, yang kemudian oleh para ahli yang beraliran progresif sekarang disebut juga Homo aethiopicus, Australopithecus (A. africanus, A. aferensis), Homo, Megathropus paleojavanicus (Homo mojokertensis), dan Paranthropus (P. boisei, P. robustus). Kedua marga fosil terakhir dan Giganthopithecus adalah fosil manusia atau kera berukuran besar dan mungkin pantas dinamakn raksasa. Fosil-fosil yang menempati lapisan lebih atas adalah Zijanthropus, Homo habilis, Homo ergaster, Homo rudolfensis. Baru kemudian kita mengenal manusia purba, Homo erectus (Sinathropus, Pithecanthropus, Atlanthropus, Telanthropus, Eoanthropus, dan Homo hidelbergensis). Fosil-fosil Hominid yang paling muda semuanya sudah dianggap sebagai Homo sapiens (Swancombe, Steinheim, Cro-magnon,), dan Homo sapiens neaderthalensis (Homo soloensis, Homo rhodesiensi).

  1. c. Data Genetika Molekuler Fosil Primata

Pendekatan molekuler dilakukan oleh sekelompok peneliti dari universitas California di Berkeley. Tahun 1987 mereka mengemkakan hasil analisis ADN mitokondria yang menunjukan bahwa ADN mitokondria manusia yang paling primitif (wanita, karena ADN mitokondria diturunkan dari pihak ibu) terdapat di Afrika. Bila dikaji mengenai kecepatan mutasi ADN mitokondria, dan dikaitkan dengan perubahan yang terjadi, maka dapat disimpulkan bahwa manusia yang paling primitif harus sudah berada dimuka bumi sekitar 200.000 tahun yang lalu. Hal ini menimbulkan kontroversi dengan data fosil, karena menurut fosil, Homo sapiens pertama berumur paling sedikit sekitar 250.000-1.000.000 tahun yang lalu. Apalagi bila kita membaca buku yang lebih tua, maka dapat kita menemukan bahwa perkiraan manusia pertama adalah sekitar 15.000.000 tahun yang lalu.

Penelitian tandingan dilakukan oleh kelompok lain dengan menggunakan analisis ADN kromosom Y menunjukan bahwa pria pertama berasal dari daerah aka Afrika, di tempat suku Pygmee berada. Pendekatan tersebut diatas, meskipun mengarah pada Afrika sebagai daerah asal manusia, sangat didukung oleh data fosil.

Meskipun data molekuler sangat cocok dengan data fosil, namun data yang masih ada belum cukup untuk memastikan asal-usul manusia. Teori lain menyatakan bahwa manusia pertama mungkin adalah hibrit antara manusia primitif (Homo erectus dengan Homo habilis dan Homo neaderthalensis) dan dihasilkan manusia modern yang hidup sekarang. Pendapat lain mengatakan bahwa asal usul manusia terjadi di Afrika dan Asia. Adapula kemungkinan yang jauh lebih kecil yakni di Eropa dan Australia. Pendapat ini didasarkan pada fosil Homo erectus dan fosil Homo sapiens.

Berikut ini penyebaran Homo erectus berdasarkan data fosil di empat benua pada masa Pleistosen atas (A), Pleistosen tengah (B), dan Pleistosen bawah (C).

Skema Hubungan Kekerabatan antara Fosil-Fosil Primata

  1. 2. Radiasi Primata

Perkembangan evolusi primata dimulai dari moyang yang berupa hewan mammalia pemakan serangga menurunkan Prosimian yang hidup pada zaman Paleosin. Hewan ini bertubuh kecil seperti cecurut, bermoncong, dan berekor panjang. Mereka tangkas dan cerdas, mempunyai organ-organ penggenggan dan lima jari. Dari prosimian perkembangan radiasi evolusi menuju 4 golongan besar yang masih tetap hidup sekarang ini.

a) Prosimian Modern

Kelompok besar pertama yakni prosimian modern. Yang termasuk kelompok ini adalah lemur dan loris, sekarang hidup di pulau Madagaskar. Hewan-hewan ini masih mempunyai moncong dan ekor yang panjang, berkuku, bukan cakar dengan kemampuan untuk memanipulasi obyek, hal ini merupakan ciri utama primata.

Hewan lain yang termasuk prosimian modern ialah Tarsier (binatang hantu), hidup di Asia Selatan dan Indonesia (daerah pantai Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera). Pada hewan ini tidak dijumpai lagi moncong yang panjang, mata lebih ke depan tidak seperti mata lemur yang agak kesamping. Oleh karena itu, Tarsier dapat memfokuskan satu titik dengan kedua matanya. Nampak adanya peningkatan pada alat-alat penglihatan dan mekanisme saraf yang memberikan kemampuan untuk kedalaman persepsi (binocular stereoscopic vision) dan penglihatn warna pada tahap-tahap beranekaragam.

b) Ceboidea (Monyet Dunia Baru)

Ceboidea hanya hidup pada lingkungan pohon dan ditemukan di daerah hutan-hutan sebelah selatan Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Mereka terbagi menjadi dua famili, yakni Callithricidae dan Cebidae.

Callithricidae atau marmoset adalah Primata kecil yang telah menempati niche seperti bajing di hutan dunia baru. Perkembangan yang menonjol pada cakar untuk memanjat yang merupakan bagian penting dari pergerakan mereka.

Ceboidae hidup di lingkungan pohon. Namun lebih berkembang dibandingkan dengan Callithricidae. Mereka mengembangkan beraneka ragam besar tubuh dan adaptasi ekologis di npohon-pohon. Beberapa anggota Cebidae telah beradaptasi dengan cara hidup di lingkungan pohon dengan jalan mengembangkan “kaki ke-5” dalam bentuk ekor prehensil (penggenggam). Ekor prehensil tidak hanya terdapat pada monyet dunia lama.

c) Cercopithecoidea (Monyet Dunia Lama)

Semua primata dunia lama kecuali prosimian adalah catarrhini (hidung terbelah). Monyet-monyet dunia lama diklasifikasikan dalam satu famili yakni Cercopithecidae yang terbagi menjadi 2 sub famili, yaitu Cercopithecinae (Monyet babon) dan Colobinae (monyet pemakan daun).

Pada catatan fosil Cercopithecoidea berkembang pada zaman Oligosin dan Miosin. Pada akhir miosin mereka telah menempati sejumlah niche lingkungan pohon serta terestrial di Afrika dan Erasia. Pada saat sekarang mereka berkembang menjadi colonin (monyet pemakan daun) dan cercopithecin. Cercopithecin yang hidup sekarang menempati iklim dan habitat yang lebih luas dibandingkan primata lain, kecuali manusia.

  • Colobinae

Colobinae hidup beradaptasi makan daun vegetasi muda. Mereka mempunyai puncak gigi yang tajam pada gigi molar, kantung pipi khusus, dan bentuk perut khusus untuk mencernakan makanan. Pencernaan dilakukan dengan bantuan bakteri yang hidup pada perutnya yang mirip dengan kantung. Langur (sebutan untuk beberapa Colobinae) mendiami banyak habitat. Beberapa diantaranya di gunung-gunung tinggi dengan sedikit pohon dan makanya tergantung pada puncak-puncak cemara dan kulit pohon dan dedauna.

  • Cercopithecinae

Sub famili ini beraneka habitat, mulai dari savana terbuka (babon, macaques, monyet pantas) sampai hutan (mandril, mangabey, dan quenon). Tingkah laku sosial babon dan Cercopithecinae terestrial banyak dipelajari oleh ahli anthropologi untuk mengetahui faktor-faktor lingkungan dan ekologi yang menolong membentuk nenek moyang manusia.

Mereka berjalan di atas 4 kaki (quadrapedal dan mengembangkan kemampuan mencengkeram, tetapi tidak dengan ekor prehensil. Bentuk pergerakan mereka dinamakan branch walking (berjalan di atas cabang), plantigrade (kecenderungan bergerak pada permukaan palntar = tapak tangan atau tapak kaki).

Gibbon mempunyai tengkorak yang lebih kecil dibandingkan dengan Hominoid yang lain semata-mata arboreal. Bentuk gibbon khusus untuk bergerak arboncal, disebut brachiation. Brachiation memungkinkan gibbon bergerak lebih cepat antara pepohonan dengan menggunakan kedua lenganya, hingga tangannya berfungsi sebagai sebuah kait. Tetapi jika ia turun ke tanah atau berjalan-jalan di atas dahan, dilakukan dengan dua kaki.

Orangutan seperti gibbon hidup terbatas di Asia Tenggara dan pernah hidup tersebar luas di Asia. Cara bergerak orangutan dinamakan quadramanual (empat tangan). Meskipun orangutan mengahabiskan banyak waktunya di atas pohon dengan mengguankan 4 anggota badanya, juga dapat berjalan jauh sekali di daratan tanah, khususnya jantan dewasa` hampir 2 kali lebih besar daripada betinanya dn menjalani hidup membujang.

Gorila sangat terbatas ruang lingkupnya dan sekarang hanya terdapat di hutan pegunungan daerah katulistiwa dan dataran tinggi Afrika Timur. Gorila dalah vegetarian terestrial, pemakan daun yang tumbuh di daratan tanah. Susunan kerangka sangat khusus untuk menopang berat badan terestrial dan berjalan di atas buku-buku jari. Cara bergerak seperti inin terlihat pada bentuk dada, bahu, tangan, dan tulang lumbar vertebral yang kuat.

Simpanse tidak mempunyai catatan fosil, hidup terbatas di daerah hutan dan bagian berhutan kera. Karena adaptasi mereka, mempunyai struktur badan yang orthograde (tegak), yang memungkinkan mereka berjalan jauh di atas permukaan tanah, tetapi juga posisi duduk dalam jangka waktu lama. Untuk duduk, babon telah mengembangkan sepetak kulit pada bagian belakang yang dinamakan ischial callosities.

  • Hominoidea

Kelompok ini muncul pada zaman Paleosin. Selama niosin awal radiasi Hominoidae bercabang menjadi dua yakni Anthropoidea (kera) dan Hominidae (keluarga manusia). Kedua famili ini ditandai dengan hilangnya ekor dan berkembangnya ukuran besar badan. Otak Anthropoidae dan Hominiidae jauh lebih berkembang dan demikian fungsi lebih kompleks. Kera-kera hidup sekarang dibagi 4 genus, yakni gibbon, orangutan,simpanse, dan gorila.

 

 

  1. Makhluk-makhluk pra-Homo sapiens

Evolusi makhluk-makhluk pra-Homo sapiens dapat digolongkan menjadi dua bagian besar, yakni:

  1. a. Evolusi makhluk-makhluk pra-Homo sapiens berdasarkan hubungan kekerabatan manusia dengan hewan.

Klasifikasi Homo sapiens adalah sebagai berikut:

Kingdom         : Animalia

Kelas               : Mammalia

Ordo                : Primata

Subordo          : Anthropoidea

Famili              : Homonidea

Genus              : Homo

Spesies            : Homo sapiens

Berdasarkan hubungan kekerabatan antara manusia dengan hewan, evolusioner pra-Homo sapiens secara garis besar mengalami 4 perkembangan, yakni:

  • Famili Tupalidae

Famili Tupaliae merupakan ordo primata, yakni golongan hewan pemakan serangga.

  • Famili Lemuroidae

Famili ini merupakan ordo primata primitif termasuk di dalamnya adalah jenis binatang setengah kera. Misalnya Tarsius spectrum (binatang hantu), yang hidup di Indonesia (Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera), dan Filipina. Jenis binatang tersebut mempunyai

ciri-ciri yaitu bermoncong dan mempunyai ekor panjang serta berkuku bukan cakar dengan kemampuan memanipulasi obyek.

  • Famili Pongidae
  • Famili Hominidae
  1. a. Evolusi pra- Homo sapiens Berdasarkan Ditemukanya Fosil

Evolusi pra-Homo sapiens berdasarkan hasil penemuan fosil yang ditemukan diberbagai lapisan dunia. Berdasarkan fosil fosil yang ditemukan diperkirakan kehidupan manusia dimulai lebih kurang 25 juta tahun lalu yang tersebar menjadi 3 zaman yakni:

1)                  Zaman Miosin (25-10 juta tahun yang lalu)

v  Tingkat pertama, yakni Plipithecus. Makhluk ini sepenuhnya bersifat kera, oleh karena itu dinamakn kera primitif. Tubuhnya kecil dan pendek. Kedua tangannya mungkin masih digunakan untuk bergelantungan untuk bergelantungan dipohon. Mereka belum dapat berjalan tegak. Diduga, kera primitif hidup 35-25 juta tahun yang lalu ditemukan oleh tim ekspedisi Universitas Yale di Fayum tahun 1961.

v  Tingkat kedua, Proconsul, yakni kera hidup sekitar 25-15 juta tahun yan lalu. Para ahli berpendapat bahwa makhluk ini tidak sepenuhnya bersifat kera, desebabkan pada muka, rahang, gigi geliginya terdapat ciri yang ditafsirkan sebagai ciri manusia. Makhluk ini di temukan di danau Victoria, dikatakan oleh seorang ahli:”Mungkinkah ini merupakan bisikan samar-samar pertama tentang makhluk hidup yakni manusia?”. Proconsul semakin banyak terkumpul dan semuanya menunjukan bahwa binatang ini muncul dengan berbagai ukuran yang berbeda-beda; ada yang sekecil simpanse dan ada yang menjadi sebesar gorilla. Tipe gorilla inilah yan menjadi nenek moyang gorilla modern.

v  Tingkat ketiga, Dryopithecusi, yakni kera raksasa yang hidup sekitar 15-10 juta tahun yan lalu. Makhluk ini sejenis dengan Proconsul. Fosilnya ditemukan luas di Eropa, India, Cina, dan Afrika. Fosil ini belum lengkap untuk menunjukan salah satu anggota dari genus  yang luas menuju kearah manusia. Karena rekonstruksi makhluk ini dibuat terutama dengan menggunakan fragmen-fragmen dan gigi-gigi. Dryipithecus memiliki bentuk badan yang cukup besar serta sangat gemar mengembara sehingga menempati hutan tropis yang sangat luas.

v  Tingkat keempat, Ramapithecus, yakni primata paling purba yang pada umumnya dianggap sebagai leluhur manusia. Hidup sekitar 15-10 juta tahun yang lalu. Ukuranya jauh lebih kecil daripada manusia sekarang, yakni 0,9-1,2 meter dan kapasitas tengkoraknya lebih kurang 400 cc. Fosil dari makhluk ini ditemukan pada tahun 1930-an di bukit Siwalak (Pakistan) oleh G.E. Lewis  dari Universitas Yale.

2)      Zaman Plioin (10-12 juta tahun yang lalu)

Pada zaman ini telah muncul makhluk baru yakni Primata yang tidak menyerupai primata yang hidup sebelumnya. Makhluk ini bukan kera penghuni hutan, tetapi lebih banyak hidup dipadang rumput terbuka. Makhluk ini berjalan tegak dengan kedua kakinya. Ada ada dua jenis makhluk ini yakni:

  • Tahap kelima, Australopithecus aferensis

Makhluk ini merupakan tingkat kelima, Australopithecus aferensis merupakan makhluk purba yang diduga merupakan keturunan Ramapithecus. Hidup sekitar 5 juta tahun yang lalu. Makhluk ini juga dianggap sebagai Hominoid paling awal yang menurut beberapa ahli sudah mampu berjalan tegak. Australopithecus aferensis ditemukan di Louis dan Mary Leakey di bagian utara dan timur Afrika Selatan., ditebing Olduvai dekat dengan Ethiopia. Fosil-fosil makhluk ini ditemukan lapisan-lapisan batuan yang membentuk tebing lembah. Dengan metode kalium-argon dapat ditemukan dengan tepat fosil itu.

Tahap keenam, Australopithecus africanus

Australopithecus africanus merupakan tingkatan keenam. Makhluk ini ditemukan oleh Raymond Dart, pada tahun 1924, yakni seorang anatomi dan palaentologi dari universitas Witwatersrand di Johannesburg, Afrika selatan. Fosil Australopithecus africanus dipelajari Dart dari koleksi batuan yang mengandung dari suatu lubang galian pertambangan kapur di Taung, Batswana. Fosilnya terbenam dalam salah satu bagian batuan dimana tengkorak-tengkorak yang ditemukan tidak menyerupai tengkorak lain yang pernah dilihatnya.

Ketika tengkorak tadi dipisahkan sama sekali dari batuan, nampak suatu tengkorak yang menakjubkan. Dalam beberapa hal, tengkorak ini menyerupai anak manusia yang berumur lima atau enam tahun. Tetapi dalam beberapa hal lainnya tengkorak tadi jelas menyerupai tengkorak kera. Dart menamakan temuannya dengan Australopithecus africanus, artinya Kera afrika selatan. Dia terus mempelajarinya dan setelah empat tahun bekerja berhasil memisahkan rahang tengkorak sedemikian, sehingga giginya tampak jelas. Terlihat gigi-giginya sangat menyerupai gigi anak manusia, lain dari itu, dari letak foramen magnum. Yakni lubang yang menghadap ke tenggorokan dan yang dilewati oleh urat saraf tulang belakang menuju ke otak, menghadap langsung kebawah. Dart merasa bahwa tengkorak tadi adalah tengkorak suatu makhluk yang letak kepalanya seperti pada manusia; mungkin makhluk tersebut sudah berjalan tegak.

Penemuan Dart didukung oleh ahli palaentologi lain yang bekerja di Africa selatan, yakni Robert Broom. Selama bertahun-tahun dia mempelajari fosil mamalia dari Africa selatan. Dengan beberapa teman sekerjanya, Broom mulai mencari fosil-fosil lagi, yang mungkin dapat memberikan petunjuk untuk memperkuat kesimpulannya. Selama empat puluh tahun berikutnya, terkumpul sudah bahan fosil; yakni fosil tengkorak, tulang kaki, dan tulang panggul. Semua fosil diharapkan dapat memberikan petunjuk dengan jelas bahwa memang sesungguhnya di Africa selatan terdapat makhluk pra-manusia(pra-homo sapiens).

Zaman Pleistosin ( 2 juta tahun yang lalu sampai dengan sekarang )

Pada zaman ini manusia mengalami evolusi yang sangat cepat dan sudah menggunakan perkakas yang sangat baik dari batu maupun dari kayu. Mereka sudah pandai berburu, sudah bisa menggunakan api dan diduga sudah dapat berbicara. Anggapan ini berdasarkan pada volume otak yang lebih besar bila dibandingkan dengtan makhluk sebelumnya.

Tahap ketujuh, Australopithecus robustus

Australopithecus robustus  merupakan makhlik sejenis Australopithecus africanus, namun ukurannya lebih besar, tinggi badannya mencapai1,5 meter dan berat badanya 65-75 kg, mempunyai gigi-gigi besar dan otot rahang yang kuat, yang menunjukkkan spesies ini adalah herbivora.sedangkan Australopithecus robustus lebih langsing, berat badannya kira-kira50 kg dan tingginya 1,2 meter. Meskipun dari catatan fosil jauh dari sempurna, tetapi ada pentunjuk yang mengatakan bahwa mereka di Africa kira-kira selama 750.000 tahun yang lalu. Selama waktu itu mereka semakin lama semakin menyerupai manusia., sedangkan Australopithecus robustus tetap tidak berubah.

Tahap kedelapan, Australopithecus boisei

Makhluk ini adalah tahap kedelapan, yang merupakan jenis Australopithecus yang paling besar. Boisei hidup di Africa timur, dengan cirri-ciri badan tegap, muka dan giginya khas lagi kokoh, tempurung kepalanya rendah dan kasar. Diduga hidup 1,5-1 juta tahun yang lalu. Ditemukan oleh leakey di lembah Olduvai, Tanzania.

Tahap kesembilan, Homo habilis

Makhluk ini adalah keturunan dari Australopithecus purba yang lebih ramping dan berbeda dengan saudara-saudaranya, karena lebih tinggi intelegensinya. Homo habilis( manusia tukang) merupakan pembuat dan pemakai alat. Mereka hidup sekitar 2-1,5 juta tahun yang lalu. Beberapa ahli berpendapat bawa makhluk ini sebagai makhluk sejati pertama, Ditemukan oleh Leakey di lembah Olduvai.

Tahap kesepuluh; Homo erectus

Makhluk ini diduga hidup pada 1,5-0,5 juta tahun yang lalu. Homo erectus dapat berjalan tegak, kakinya panjang dan lurus dan tulang tungkainya lebih maju, otaknya lebih besar dengan volume berkisar 750-1.400 cc. homo erectus sebagai manusia purba sudah pandai membuat perkakas, misalnya kapak genggam, walaupun masih agak kasar, kehidupannya dengan berburu mamalia besar. Telah menggunakan api, sudah dapat bicara untuk mengajari anaknya bagaimana membuat perkakas.

Makhluk ini ditemukan terbesar didunia.

Kenapa homo erectus dapat hidup diseluruh duniabelumlah jelas.

Mungkin tipe makhluk ini berevolusi dibeberapa tempat dan menyebar sepanjang dataran subur dan mudah dilalui; terbentang dari Africa timur, mengintari samudera Indonesia sampai ke jawa.

Perkembangan evolusinya sejalan dengan pengembaraan mereka dari abad ke abad. Makhluk ini ditemukan diberbagai tempat, antara lain;

-           Pithecantropus erectus(manusia jawa), ditemukan oleh Uegene Dubois pada tahun             1891. Dubois adalah seorang dokter Belanda menemukan fosil manusia jawa di    daerah Trinil(sepanjang tepi bengawan solo). Fosil yang ditemukan berupa rahang,             beberapa gigi, dan sebagian dari tulang tengkorak.

-           Pithecantropus pekinensis(Sinathropus pekinensis) manusia Cina. Fosil makhluk ini            ditemukan oleh Davidson Black dan Tranz Weidenreich pada tahun 1920 dari sebuah         penggalian disebuah gua kapur didekat Peking. Volume otaknya 900-1.200   cc.Kebudayaannya sudah mulai maju daripada Phithecantropus.Mereka telah             menggunakan senjata dan perkakas yang terbuat dari tulang dan batu sebagai alat-alat       kerja. Penggunaan api tampaknya sudah biasa. Para ahli berpendapat bahwa makhluk   ini suka membunuh antar sesamanya. Hal ini terbukti dari tulang_tulang tengkorak            yang kosong menunjukkan bahwa bekas dibelah dengan senjata dari bawah ke atas.             Banyak para ahli berpendapat bahwa Sinathropus pekinensis merupakan varian dari             Pithecantropus, karena kedua manusia purba memiliki struktur tubuh yang sama dan          hidup pada zaman yang sama, yakni kira-kira 500.000 tahun yang lalu.

Tahap kesebelas, munculnya makhlik yang dinamakan Homo sapiens purba, yakni makhluk yang hidup sekitar 400.000 yang lalu. Makhluk ini sebagai penemuan fosil dari tiga tengkorak yang tidak lengkap, yakni kepingan tengkora, tulang dan gigi. Dari fosil yang ada ditafsirkan bahwa manusia ini merupakan peralihan dari Homo erectus ke Homo sapiens yang lebih modern. Kemampuan membuat alat juga lebih maju, bahkan ada yang menduga bahwa mereka sudah mulai bercocok tanam.

Tahap keduabelas, adalah munculnya Homo sapiens neanderthalesis(manusia lembah neander), yakni makhluk yang diduga hidup pada masa antara 75.000-10.000 tahun yang lalu. Fosil makhluk ini ditemukan pada tahun 1856 di lembah Neanderthal, Jerman. Bentuk tubuhnya sepenuhnya manusia, hidungnya terlihat mancung. Ukuran volume otaknya sudah termasuk dalam kisaran ukuran rongga otak manusia modern. Tinggi tubunya berkisar antara 1,6-1,8 meter, berbahu lebar, berdada cembung  dan berotot padat. Manusia lembah Neander sudah memiliki kemampuan  membuat dan memakai pakaian dari kulit dan menetap secara sederhana di gua-gua. Para ahli pada umumnya sepakat bahwa manusia lembah Neander adalah leluhur manusia modern, walaupun ada sekelompok ahli yang meragukannya.

Umumnya masih didebatkan apakah Homo sapiens neanderthalesis pra manusia atau manusia? Sebagian para ahli berpendapat bahwa makhluk ini manusia walaupun wajahnya menyeramkan. Nama biologinya menunjukkan bahwa ia ditempatkan dalam genus dan spesies sama dengan kita, tapi ditempatkan dalam subspecies yang berbeda dengan manusia. Manusia neander tidak berdagu dan mempunyai otok yang sama besarnya dengan otak manusia sekarang, Volume otak ini berkaitan dengan kemampuan berbicara yang bekembang dengan baik. Ia hidup di gua-gua dan menggunakan api dan membuat peralatan dengan baik dan anggota keluarga meninggal maka akan dikubur.

Homo sapiens neanderthalesis pernah”disingkirkan” dari catatan Homo sapiens secara anatomis modern. Banyak teori yang telah diajukan untuk menjelaskan perkembangan dan kepunahan Neanderthal. Teori-teori tersebut berspekulasi mengenai hubungan Neanderthal eropa dengan bentuk-bentuk lain di Timur Tengah dalam rangka untuk mencari bentuk tempat Homo sapiens neanderthalesis dalam evolusi manusia.

Teori-teori tersebut dapat diuraikan sebagai berikut;

-                      Neanderthal adalah dalam bentuk transisi antara Homo erectus dan Homo sapiens yang kemudian berevolusi menjadi manusia modern. Bentuk progresif dari Timur Tengah dianggap lebih maju.

-                      Neanderthal telah berspesialisasi, terisolir secara genetic yang telah teradaptasi dengan lingkungan dingin glacial Eropa. Kemudian iklim bertambah hangat 40.000 tahun yang lalu, mereka punah dan digantikan oleh bentuk-bentuk yang tidak terlalu berspesialisasi dari Timur Tengah yang berimigrasi ke eropa.

-                      Teori yang sama dengan yang kedua, tetapi bukannya digantikan dengan bentuk-bentuk lain yang datang melainkan merka secara genetik tenggelam dan tertelan begitu mereka kawin dengan bentuk-bentuk lain yang sudah maju.

 

Beberapa teori mungkin benar, atau mungkin salah. Nampaknya Neanderthal eropa sudah agak terisolir secara genetic. Apakah akibat Morfologi yang berbeda mengakibatkan founder effect tidaklah pasti. Sama saja dengan pertanyaan yang mempermasahkan apakah mereka menyumbangkan gen pada populasi modern. Nampaknya juga tidak mungkin teknologi Neanderthal tidaklah cukup menghadapi kebudayaan lain yang menyerbu, karena populasi setempat cenderung untuk lebih teradaptasi dengan lingkungan lokal daripada populasi imigran, naming kita banyak melihat kasus-kasus sejarah mengenai kekuatan teknologi luar menggantikan teknologi setempat, misalnya jatuhnya suku Indian Amerika setelah kontak dengan orang Eropa.

Tahap ketigabelas, Yakni munculnya Manusia Cro-magnon. Makhluk ini merupakan Hominidae(Manusia)purba termodern. Diduga hidup 10.000-ribuan tahun yang lalu. Mereka memiliki kebudayaan yang cukup maju, bercocok tanam secara baik, memelihara binatang, menguasai lingkungan, bahkan kemudian membangun kota dan memiliki peradapan. Cirri-cirinya adalah memiliki dagu yang menonjol, hidung mancung, gigi kecil dan merata, serta raut wajah yang tampan. Sesungguhnya makhluk ini mirip dengan orang-orang eropa sekarang.

Cro-magnon diambil dari nama gua di Prancis, tempat fosil makhluk ini di temukan. Tanpa ragu-ragu para ahli antropologi nenempatkan manusia Cro-magnon pada spesies dan subspecies yang sama dengan kita(Homo sapiens). Manusia Cro-magnon memiliki cirri, tinggi,tegak dan mempunyai otak yang sama seperti Manusia sekarang. Mereka sangat pandai sekali dalam membuat alat-alat dan juga ahli seni. Selain batu mereka juga menggunakan tulang, gading dan tanduk kijang untuk membuat alat-alatnya, beberapa bahan ini diukur dengan corak-corak atau dipahat  menjadi bentuk benda yang dapat dikenal.

Bagaimana hubungan antara Manusia Cro-manon dan Homo sapiens yang sekarang hidup di eropa tidak begitu jelas. Uraian pantaentologi manusia sebenarnya membingungkan, bahkan lebih membingungkan daripada yang terlihat pada uraian diatas. Fosil Manusia selalu tidak lengkap dan selalu sukar untuk menentukan umurnya. Kadang-kadang para ahli antropologi tidak bekerja sama dengan pra ahli biologi lainnya dan begitu pula sebaiknya. Tetapi penelitian mengenai zaman Pleistosin, yakni zaman terjadinya sebagian besar evolusi genus Homo mendapat kemajuan pesat dan dikemudian hari tentu kita akan lebih mengetahui lagi mengenai asal-usul manusia.

Sejarah manusia

Sejarah manusia adalah asal-usul manusia. Fakta atau bukti yang diperoleh untuk mempelajari sejarah manusia dengan bantuan fosil yang ditemukan pada lapisan bumi. Dari fosil-fosil yang ditemukan, didapatkan kesimpulan bahwa deretan-deretan fosil yang terdapat dibatuan muda berbeda apabila dibandingkan dengan fosil dari batuan yang lebih tua. Perbedaan itu disebabkan oleh perubahan yang berlahan-lahan. Cara penyebaran hewan dan tumbuhan dapat membuka tabir mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada moyangnya.

Dalam pembicaraan mengenai asal-usul manusia pada bahasan berikut ini dilihat dari kacamata biologi. Tentu saja, ada pandangan-pandangan lain yang mengungkapkan tentang timbulnya manusia dibumi ini. Karena kita ingin mengingkpkan sejarah manusia dari segi Biologi, maka sudah barang tentu kita akan menjelaskan dari sudut logika materi biologi yang telah kita ketahui.

Klasifikasi makhluk hidup dengan menggolongkan manusia dengan hewan Vertebrata, yakni sebagian dari mamalia. Bila kita membedah tubuh manusia, bagian-bagian tubuhnya seperti jantung, usus, hati dan paru-paru tidak banyak berbeda dengan jantung, usus, hati dan paru-paru kucing atau kera. Dengan demikian pula dapat kita pelajari sistem saraf, sistem endokrin, pernafasan, pencernaan, repruduksi atau konstraksi otot-ototnya, kita akan selalu menemukan proses-proses kimia dan fisika yang pada prinsipnya sama seperti yang terdapat pada hewan. Manusia mempunyai rambut dan bisa menyusui anaknya. Manusia mempunyai gerakan bipedal( Latin: bi = dua, dan pedes = kaki) yang berlainan dengan gerakan mamalia lainnya. Bagian-bagian anatomi manusia dank era sangat serupa, oleh karena itu mereka dimasukkan kedalam suatu golongan yakni ordo primate.

Setiap spesies memiliki ciri-ciri khas yakni ciri struktur, ciri fisiologi dan ciri tingkah laku yang membedakan spesies yang berlainan tetapi yang dekat hubungan kekeluargaannya. Meskipun dalm individu dalam spesies manusia banyak terdapat keanekaragaman, spesies Manusia dapat dibedakan dengan jelas dari hewan yang paling menyerupai, yakni Primata besar lainnya.

A. Ciri-ciri Struktur Manusia

Perbedaan jasmani yang mencolok pada manusia dan hewan adalah dalam hal kemampuan manusia untuk berdiri, berjalan dan berlari. Oleh karena itu, tangan manusia bebas untuk mengerjakan atau untuk membawa sesuatu. Kemampuan ini banyak menyangkut modifikasi anatomi. Kaki manusia lebih panjang dari pada lengannya, sesuatu hal yang membedakan dari primate lainnya. Kaki mnusia, yang mempunyai lekukan besar dengan ibu jari yang sebidang letaknya dengan jari lainnya, sangat berbeda dengan kaki kera. Kaki manusia sesuai untuk berkalan atau berlari, akan tetapi tidak sesuai untuk berpegangan pada dahan-dahan pohon. Kepala manusia terletak pada tulang belakang sedemikian rupa, sehingga memungkinkan manusia untuk dapat melihat lurus ke depan jika berdiri tegak.

Otak manusia relayif besar. Manusia masa kini mempunyai volume tempurung otak besar 1200 sampai 1.500 cc; tempurung otak simpanse hanya 350 sampai 450 cc. Tidak ada hubungan mutlak antara besarnya ukuran otak dengan kecerdasan. Individu yang mempunyai otak terbesar belum tentu merupakan individu yang tercerdas. Namun tidak tidak dapat disangkal bahwa otak manusia mempunyai kemampuan besar untuk belajar. Ciri-ciri kepala manusia lainnya adalah muka yang tegak lurus, rahang yang tidak begitu menonjol, dagu yang nyata, hidung yang jelas dengan ujung memanjang dan bibir yang mempunyai selaput lendir di bagian luar.

Tubuh manusia mempunyai penyabaran rambut yang istimewa. Penyebaran rambut ini berbeda-beda pada berbagai macam populasi manusia. Kaum pria dari beberapa populasi manusia mempunyai janggut lebat. Banyaknya rambut pada tubuh berbeda-beda, begitu pula rambut pada lengan dan kaki. Kita hanya dapat mengira-ngira apa artinya adaptasi penyebaran rambut demikian itu dan sampai sekarang pemikiran-pemikiran semacam itu tidak mempunyai arti sama sekali.

B. Kemampuan Jasmani

Gambaran mengenai batas-batas kemampuan jasmani manusia dapat dilihat dari hasil-hasil pertandingan olah raga. Misalnya untuk lari jarak pendek (100 m), manusia dapat mencapai lari 36 km per jam. Banyak macam hewan dapat lari lebih cepat daripada manusia. Hewan-hewan ini mempunyai kaki yang lebih panjang daripada kaki manusia dalam perbandingan tubuhnya. Macan tutul dapat mengejar kijang dengan kecepatan lebih dari 100 km per jam. Biasanya berat jenis tubuh manusia lebih rendah daripada berat jenis air. Karena itu, di laut tenang dapat terapung untuk jangka waktu lama. Manusia dapat berenang dengan baik. Untuk jarak 100 m manusia dapat berenang dengan kecepatan rata-rata 6,8 km per jam. Bahkan dengan bantuan alat-alat di tangan dan di kaki pun kemampuan berenang manusia masih jauh dibawah kemampuan ikan pedang yang dapat membelah air dengan kecepatan 64 km per jam atau kempuan kura-kura laut atau ikan paus yang dapat berenang dengan kecepatan 25 km per jam.

Perbandingan-perbandingan di atas menunjukkan bahwa kemampuan jasmani manusia jauh di bawah kemampuan jasmani hewan. Tetapi manusia mempunyai kecakapan yang jauh lebih tinggi dari pada hewan. Karena keakapan ini, manusia mampu menggunakan alat inderanya yang paling sempurna yakni alat pelihat dengan sebaik-baiknya. Manusia dapat menafsirkan rangsangan yang diterima dan mempunyai pikiran yang tidak terhingga banyaknya dalam mengadakan reaksi terhadap apa yang dialaminya.

C. Ciri-ciri Fisiologi

Sebagian besar keunggulan struktur manusia lebih banyak berhubungan dengan cirri tingkah lakunya daripada dengan ciri fisiologi, meskipun memang kadang-kadang sukar untuk membedakan kedua hal ini. Secara fisiologik manusia tidak banyak berbeda dari mamalia lainnya, terutama primata. Karena itu dalam banyak hal untuk mempelajari fisiologi manusia dapat menggunakan percobaan-percobaan dengan Mamalia.

Pada manusia terdapat musim berbiak. Kegiatan reproduksi dapat terjadi setiap saat sepanjang tahun. Populasi manusia banyak dijumpai individu pada hari lahir pada semua bulan dalam setiap tahun. Pada kera dan sebangsanya terdapat terdapat kecenderungan tidak adanya musim tertentu dalam reproduksi. Kebanyakan hewan yang dipelihara oleh Manusia cenderung mempunyai cirri fisiologi yang sama dengan Manusia, meskipun daalam bebas tetap mempunyai musim berbiak.

Tidak banyak hewan memiliki umur panjang. Hal ini disebabkan oleh cirri fisiologi pada umur tua menjadi lemah, dan organisme tua lebih muah untuk dibunuh oleh predator atau parasit. Hal inilah yang mempersulit penentuan umur sesungguhnya pada kebanyakn organisme. Tetapi dari catatan kebun binatang dan akuarium, yang hewannya terlindung diperoleh data melalui kemungkinan umur yang dapat dicapai oleh berbagai spesies hewan. Ternyata banyak penyu besar yang mempunyai umur lebih panjang daripada manusia. Umur rata-rata manusia mungkin lebih panjang daripada umur hewan.

Manusia mempunyai umur panjang, tetapi memerlukan jangka waktu lama untuk menjadi dewasa, banyak hewan yang menetas dan lahir telah dapat berdiri sendiri. Anak mamalia paling banyak memerlukan waktu beberapa minggu atau beberapa bulan sebelum dapat mengurusi dirinya sendiri, oleh karena masih harus mendapatkan makanan dari susu ibunya. Anak manusia selama 6-9 tahun sama sekali bergantung pada orang dewasa setelah itu untuk beberapa waktu ia masih bergantung oleh manusia dewasa meskipun berkurang, yang mendekati keadaan ini adalah kera besar. Anaknya memerlukan sekitar 2 tahun untuk hidup berdiri sendiri. Manusia meningkan pada sekitar umur 14 tahun dank era sekitar 10 tahun. Perkembangan manusia mencapai kesempurnaan pada sekitar 10 tahun, sedangkan pada kera umumnya pada umur 12 tahun.

D. Ciri-ciri tingkah laku

Manusia tidak berdaya sebagai individu sendiri, walaupun memiliki otak yang besar, biasanya manusia hidup bersama-sama membentuk masyarakat. Begitu juga dengan hewan banyak yang hidup bermasyarakat, misalnya serangga, masyarakat serangga berdasarkan tingkah laku yang merupakan sifat bawaan dan sedangkan masyarakat manusia berlandaskan pola tingkah laku yang dipelajarinya sedangkan masyarakat kera kurang teratur walaupun dibandingkan dengan masyarakat manusia yang paling sederhana.

Hal yang penting membedakan manusia dengan hewan adalah bahasa walaupun manusia dapat melakukan komunikasi melalui isyarat, tetapi untuk menggatikan bahasa atau dipakai untuk menekankan sesuatu, bahasa manusia manusia sangat rumit karena tidak hanya terdiri dari sistem teriakan dan panggilan. Bahasa adalah dasar dari kemanusiaan namun kita belum dapat mengetahui kapan manusia dapat berbicara dan tidak adanya keterangan mengenai bagaimana bahasa itu dimulai, bahasa adalah suatu cirri tingkah laku manusia.

 

 

 

KESIMPULAN

Dari makalah diatas kita dapat tarik kesimpulan bahwa:

  • Evolusi primata merupakan salah satu contoh evolusi dengan data yang “cukup lengkap”.
  • Analisis yang dilakukan pada primata primitif sampai dengan primata yang maju, yakni manusia memberikan gambaran sebagai berikut:

-          Hubungan antara tulang vertebrata dan tengkorak mengalami perubahan yang berangsur-angsur menuju titik berat tengkorak.

-          Bola mata pada organisme non primata tidak mempunyai tulang yang meliputinya. Tetapi pada kera dan manusia, mata sudah sepenuhnya terlindungi.

-          Ujung jari bercakar berangsur-angsur berubah menjadi kuku.

-          Kehidupan arboreal menyebabkan fungsi tangan menjadi lebih penting daripada kaki.

-          Volume otak mengalami perubahan pesat.

  • Perkembangan evolusi primata dimulai dari moyang yang berupa hewan mammalia pemakan serangga menurunkan Prosimian yang hidup pada zaman Paleosin.
  • Prosimian modern merupakan kelompok besar pertama, yang termasuk kelompok ini adalah lemur dan loris, sekarang hidup di pulau Madagaskar.
  • Ceboidea (monyet dunia baru) hanya hidup pada lingkungan pohon dan ditemukan di daerah hutan-hutan sebelah selatan Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Mereka terbagi menjadi dua famili, yakni Callithricidae dan Cebidae.
  • Semua primata dunia lama kecuali prosimian adalah catarrhini (hidung terbelah). Monyet-monyet dunia lama diklasifikasikan dalam satu famili yakni Cercopithecidae yang terbagi menjadi 2 sub famili, yaitu Cercopithecinae (Monyet babon) dan Colobinae (monyet pemakan daun).
  • Evolusi makhluk-makhluk pra-Homo sapiens dapat digolongkan menjadi dua bagian besar, yaitu:

-          Evolusi makhluk-makhluk pra-Homo sapiens berdasarkan hubungan kekerabatan manusia dengan hewan.

-          Evolusi pra- Homo sapiens berdasarkan ditemukanya fosil

  • Sejarah manusia adalah asal-usul manusia. Fakta atau bukti yang diperoleh untuk              mempelajari sejarah manusia dengan bantuan fosil yang ditemukan pada lapisan bumi.          Dari fosil-fosil yang ditemukan, didapatkan kesimpulan bahwa deretan-deretan fosil        yang terdapat dibatuan muda berbeda apabila dibandingkan dengan fosil dari batuan     yang lebih tua. Perbedaan itu disebabkan oleh perubahan yang berlahan-lahan.
  • Setiap spesies memiliki ciri-ciri khas yakni ciri struktur, ciri fisiologi dan ciri tingkah          laku yang membedakan spesies yang berlainan tetapi yang dekat hubungan            kekeluargaannya.

Saran

  • Setelah diketahui mengenai Evolusi Primata: Radiasi Primata, dan Makhluk-makhluk Pra-Homo Sapiens diharapkan pembaca tahu dan memahami apa yang dimaksud dengan evolusi primata, radiasi primata, makhluk-makhluk pra-homo sapiens, serta sejarah manusia itu sendiri.

 

11/20/2009 Posted by | Evolusi Organik | Tinggalkan komentar

VARIASI GENETIK SEBAGAI DASAR EVOLUSI, MUTASI GEN, FREKUENSI GEN DALAM POPULASI, DAN HUKUM HARDY-WEINBERG

VARIASI GENETIK SEBAGAI DASAR EVOLUSI, MUTASI GEN, FREKUENSI GEN DALAM POPULASI, DAN HUKUM HARDY-WEINBERG

Disusun Oleh:

Miftakhul Jannah      (07330042)

Kurnia Dewi P.S         (07330047)

Qurrotu Aini               (07330072)

Huzaifah Hamid         (07330075)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

MALANG

2009

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, karunia, hidayah, inayah dan maghfirah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini merupakan sebuah analisis dari tim penulis tentang mata kuliah Evolusi Organik terutama dalam hal variasi genetik sebagai dasar evolusi, mutasi gen, frekuensi gen dalam populasi, dan hukum hardy-weinberg Terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada:

  1. Drs Lud Waluyo, M.Kes selaku dosen Pembina Mata Kuliah Evolusi Organik
  2. Semua  pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini

 

Makalah  ini hanyalah sebuah sumbangsih pemikiran anak bangsa yang saat ini mengemban misi agent  of change sebagai mahasiswa. Tulisan inipun kami kira masih terlalu jauh dari sempurna, sehingga saran dan kritik yang konstruktif sangat diharapkan.

 

Malang, 13 November  2009

 

TIM PENULIS

BAB I

PENDAHULUAN

- Latar Belakang

Akar pemikiran evolusionis muncul sezaman dengan keyakinan dogmatis yang berusaha keras mengingkari penciptaan. Mayoritas filsuf penganut pagan di zaman Yunani kuno mempertahankan gagasan evolusi. Jika kita mengamati sejarah filsafat, kita akan melihat bahwa gagasan evolusi telah menopang banyak filsafat pagan.

Akan tetapi bukan filsafat pagan kuno ini yang telah berperan penting dalam kelahiran dan perkembangan ilmu pengetahuan modern, melainkan keimanan kepada Tuhan. Pada umumnya mereka yang memelopori ilmu pengetahuan modern mempercayai keberadaan-Nya. Seraya mempelajari ilmu pengetahuan, mereka berusaha menyingkap rahasia jagat raya yang telah diciptakan Tuhan dan mengungkap hukum-hukum dan detail-detail dalam ciptaan-Nya. Ahli Astronomi seperti Leonardo da Vinci, Copernicus, Keppler dan Galileo; bapak paleontologi, Cuvier; perintis botani dan zoologi, Linnaeus; dan Isaac Newton, yang dijuluki sebagai “ilmuwan terbesar yang pernah ada”, semua mempelajari ilmu pengetahuan dengan tidak

hanya meyakini keberadaan Tuhan, tetapi juga bahwa keseluruhan alam semesta adalah hasil ciptaan-Nya. Albert Einstein, yang dianggap sebagai orang paling jenius di zaman kita, adalah seorang ilmuwan yang mempercayai Tuhan dan menyatakan, “Saya tidak bisa membayangkan ada ilmuwan sejati tanpa keimanan mendalam seperti itu. Ibaratnya: ilmu pengetahuan tanpa agama akan pincang.”

Salah seorang pendiri fisika modern, dokter asal Jerman, Max Planck mengatakan bahwa setiap orang, yang mempelajari ilmu pengetahuan dengan sungguh-sungguh, akan membaca pada gerbang istana ilmu pengetahuan sebuah kata: “Berimanlah”. Keimanan adalah atribut penting seorang ilmuwan.

Teori evolusi merupakan buah filsafat materialistis yang muncul bersamaan dengan kebangkitan filsafatfilsafat materialistis kuno dan kemudian menyebar luas di abad ke-19. Seperti telah disebutkan sebelumnya, paham materialisme berusaha menjelaskan alam semata melalui faktor-faktor materi. Karena menolak penciptaan, pandangan ini menyatakan bahwa segala sesuatu, hidup ataupun tak hidup, muncul tidak melalui penciptaan tetapi dari sebuah peristiwa kebetulan yang kemudian mencapai kondisi teratur. Akan tetapi, akal manusia sedemikian terstruktur sehingga mampu memahami keberadaan sebuah kehendak yang mengatur di mana pun ia menemukan keteraturan. Filsafat materialistis, yang bertentangan dengan karakteristik paling mendasar akal manusia ini, memunculkan “teori evolusi” di pertengahan abad ke-19.

 

-  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:

v     Apakah Variasi Genetik Merupakan Dasar dari Evolusi ?

v     Apakah hubungan mutasi gen, frekuensi gen dalam populasi, dan hukum Hardy Weinberg dalam evolusi?

-  Tujuan Penulisan

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui apakah variase genetik merupakan dasar dari evolusi dan hubungan  antara mutasi gen, frekuensi gen dalam populasi, dan hukum Hardy-Weinberg dalam evolusi

-  Manfaat Penulisan

Penulisan ini memberikan beberapa manfaat terutama dalam aspek akademis dimana masyarakat dapat mengetahui apakah variase genetik merupakan dasar dari evolusi dan hubungan  antara mutasi gen, frekuensi gen dalam populasi, dan hukum Hardy-Weinberg dalam evolusi

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Variasi Genetik dan Evolusi

  1. 1. Timbulnya Variabilitas dan Sebab-sebab Variabilitas

Variasi, istilah yang digunakan dalam ilmu genetika, merujuk pada peristiwa genetis yang menyebabkan individu atau kelompok spesies tertentu memiliki karakteristik berbeda satu sama lain. Sebagai contoh, pada dasarnya semua orang di bumi membawa informasi genetis sama. Namun ada yang bermata sipit, berambut merah, berhidung mancung, atau ber-tubuh pendek, tergantung pada potensi variasi informasi genetisnya. Evolusionis menyebut variasi dalam suatu spesies sebagai bukti kebenaran teorinya. Namun, variasi bukanlah bukti evolusi, karena variasi hanya hasil aneka kombinasi informasi genetis yang sudah ada, dan tidak menambahkan karakteristik baru pada informasi genetis.

Variasi selalu terjadi dalam batasan informasi genetis yang ada. Dalam ilmu genetika, batas-batas ini disebut “kelompok gen” (gene pool). Variasi menyebabkan semua karakteristik yang ada di dalam kelompok gen suatu spesies bisa muncul dengan beragam cara. Misalnya pada suatu spesies reptil, variasi menyebabkan kemunculan varietas yang relatif berekor panjang atau berkaki pendek, karena baik informasi tentang kaki pendek maupun panjang terdapat dalam kantung gen.

Untuk melihat bagaimana keanekaragaman kita harus mulai dari suatu struktur yang paling kecil, tetapi sangat penting. Struktur tersebut adalah AND. ADN terdiri dari 4 macam asam nukleat, yakni adenine (A), sitosin, (C), guanine (G), dan timidin (T). Bila asam amino terakhir diganti Urasil (U), maka asam nukleatnya dinamakan ARN (asam ribonuleat). Keempat asam nukleat akan membentuk 20 macam asam amino esensial. Kini diketahui bahwa kombinasi 3 dari keempat macam asam nukleat akan membentuk satu asam amino. Kombinasi ini dikenal dengan kode genetic. Apabila ada 2 macam asam nukleat yang membentuk satu asam amino, maka hanya akan diperoleh 16 macam kombinasi untuk 16 asam amino, sehingga tidak akan ditemukan 4 macam asam amino esensial yang lain.

Secara umum, setiap asam amino dikode oleh sekitar 3 macam kombinasi. Ada asam amino dikode oleh satu kombinasi, sedangkan asam amino yang lain dikode oleh 6 macam kombinasi. Dengan demikian maka suatu asam amino dapat dihasilkan lebih banyak, bukan saja karena kode tersebut terdapat berulang-ulang, tetapi karena ada lebih bayak kemungkinan. Yang menjadi masalah sekarang adalah dari mana terjadinya keanekaragaman. Adanya satu kode genetic atau lebih belum dapat menerangkan terjadinya keanekaragaman.

Sejak masa lampau, orang sudah mempertanyakan mengapa suatu umur organisme sejenis tidak sama. Hal ini jelas terlihat apabila kita memelihara tumbuhan atau hewan, atau kita melihat pada alam sekitar kita dan diri kita sendiri sebagai manusia. Keluarga pada zaman dahulu umumnya mempunyai anak lebih dari dua, demikian juga dengan hewan. Pada katak, dapat kita lihat bahwa jumlah telur yang dihasilkan berjumlah berates-ratus butir. Bila semuanya hidup dan mampu berkembang biak, mungkin kini seluruh permukaan bumi dipenuhi oleh katak atau organism lainnya. Namun hal ini tidak terjadi, hanya individu yang sehat dan kuat, atau hampir sempurna dalam semua aspek kehidupanlah yang dapat bertahan. Jadi alam sudah menyeleksi, mana yang baik dan mana yang tidak baik atau kurang baik.

Ikan di Aquarium yang selalu diberi makanan cukup, semua kondisi hidup dicukupkan. Bila semua individu kita seleksi sehingga dapat dikategorikan sebagai sama dan hampir sempurna sekalipun, ternyata jumlahnya hanya bertambah pada satu periode saja. Padahal, semua pasangan yang hidup dalam akuarium tersebut sehat dan berpotensi untuk berkembang biak. Ada satu hal yang menyebabkan ikan-ikan tersebut tidak berkembang biak, yakni yang tidak cukup. Ikan-ikan sepertinya tahu, bahwa bila mereka terus berkembang biak, yakni yang tidak cukup. Ikan-ikan sepertinya tahu, bahwa bila mereka terus berkembang biak, maka tidak dapat bergerak bebas. Hal ini yang kita sebut sebagai daya dukung dari akuarium tersebut. Jadi, selain struktur biologis yang hampir sempurna, makanan, daya dukung tempat ikan menentukan sukses tidaknya suatu jenis di muka bumi ini.

Setiap organism di dunia mempunyai kisaran toleransi. Misalnya bayi mempunyai kisaran toleransi suhu tubuh 350 – 420 C. pada manusia dewasa, biasanya batas kisaran tersebut adalah 36-410C, di luar batas kisaran tersebut manusia tidak dapat bertahan dan akan mati. Kisaran suatu spesies tidak saja terbatas pada toleransi, namun dapat pula menyangkut aspek-aspek saja. Semua atau hampir semua aspek-aspek tersebut dikode oleh satu gen. contoh variabilitas antara lain:

  • Wajah manusia tidak ada yang tepat sama

Sebenarnya hal ini berlaku pada makhluk hidup yang lain; hewan, tumbuhan, cendawan, Protista dan Monera. Namun mata kita tidak dibiasakan untuk dapat membedakan.

-         Adanya variasi warna tubuh yang terdapat pada ikan, kucing, kuda, kerbau, dan organisme yang lain.

-         Adanya golongan darah yang bermacam-macam.

-         Adanya bermacam-macam mutan.

-         Adanya ekotip.

Jadi variasi itu memang ada. Adanya variasi hanya dapat diterangkan secara adaptasi dan secara genetic. Variasi adaptasi dapat kita lihat pada olahragawan yang otot-ototnya lebih terlatih sehingga berukuran lebih besar dari kebanyakan orang. Namun variasi adaptasi tidak dapat diturunkan secara langsung kepada keturunanya. Variasi genetislah merupakan satu-satnya kemungkinan yang dapat menerangkan proses evolusi. Secara genetis, variasi dapat timbul akibat mutasi.

Fenotipe suatu individu organisme dihasilkan dari genotipe dan pengaruh lingkungan organisme tersebut. Variasi fenotipe yang substansial pada sebuah populasi diakibatkan oleh perbedaan genotipenya. Sintesis evolusioner modern mendefinisikan evolusi sebagai perubahan dari waktu ke waktu pada variasi genetika ini. Frekuensi alel tertentu akan berfluktuasi, menjadi lebih umum atau kurang umum relatif terhadap bentuk lain gen itu. Gaya dorong evolusioner bekerja dengan mendorong perubahan pada frekuensi alel ini ke satu arah atau lainnya. Variasi menghilang ketika sebuah alel mencapai titik fiksasi, yakni ketika ia menghilang dari suatu populasi ataupun ia telah menggantikan keseluruhan alel leluhur.

Variasi berasal dari mutasi bahan genetika, migrasi antar populasi (aliran gen), dan perubahan susunan gen melalui reproduksi seksual. Variasi juga datang dari tukar ganti gen antara spesies yang berbeda; contohnya melalui transfer gen horizontal pada bakteria dan hibridisasi pada tanaman. Walaupun terdapat variasi yang terjadi secara terus menerus melalui proses-proses ini, kebanyakan genom spesies adalah identik pada seluruh individu spesies tersebut. Namun, bahkan perubahan kecil pada genotipe dapat mengakibatkan perubahan yang dramatis pada fenotipenya. Misalnya simpanse dan manusia hanya berbeda pada 5% genomnya.

 

Variasi pada individu disebabkan oleh :

(1) Variasi genetik yaitu variasi yang disebabkan oleh perubahan genetic (terutama mutasi) dan diwariskan pada keturunannya lewat inti sel dalam gamet.

(2) Variasi lingkungan yaitu variasi yang disebabkan oleh perubahan lingkungan, sedangkan bahan genetiknya tetap (contoh intensitas cahaya matahari, suhu, kandungan garam tanah, dll) dan tidak diwariskan.

Variasi genetik dalam populasi alamiah sempat membingungkan Darwin. Hal ini terjadi karena reproduksi sel belum dikenal. Akan tetapi, pada tahun 1908 kebingungan itu terjawab oleh G.H. Hardy seorang matematikawan Inggris dan G.Weinberg seorang fisikawan Jerman. Hardy dan Wienberg menyatakan bahwa dalam populasi besar di mana perkawinan terjadi secara random dan tidak adanya kekuatan yang mengubah perbandingan alela dalam lokus, perbandingan genotip alami selalu konstan dari generasi ke generasi. Pernyataan tersebut dikenal dengan hukum Perbandingan Hardy-Weinberg.

Kenyataan di alam tidak pernah ditemukan individu yang sama persis, meskipun dalam satu keturunan. Adanya perbedaan tersebut menimbulkan variasi. Individu yang mengalami variasi disebut varian. Darwin berpendapat variasi-variasi tersebut dipengaruhi oleh faktor dari luar, missal makanan, suhu, dan tanah. Jika individu yang telah mengalami perubahan berada pada tempat yang berbeda dari asalnya, dalam perkembangannya akan mengalami perubahan yang sifatnya menetap dan akan makin berbeda dengan nenek moyang dari tempat asal-usulnya. Darwin juga berpendapat pada peristiwa domestikasi spesies yang dimuliakan, manusia berasal dari spesies liar yang kemudian mengalami perubahan yang akhirnya terjadi variasi. Terjadinya variasi digunakan sebagai petunjuk adanya evolusi yang mengarah pada terbentuknya spesies-spesies baru.

Variasi, juga berarti, berarti sebuah peristiwa genetik yang menyebabkan individu atau kelompok dari satu jenis atau spesies memiliki ciri yang berbeda satu sama lain. Misalnya, semua manusia di bumi pada dasarnya membawa informasi genetik yang sama, namun sebagian bermata sipit, sebagian berambut merah, sebagian berhidung mancung, dan sebagian lain bertubuh pendek, semua tergantung dari seberapa besar potensi keragaman dari informasi genetik ini.

Variasi bukan merupakan bukti bagi evolusi karena variasi tidak lain hanyalah perwujudan dari berbagai kombinasi dari informasi genetik yang telah ada, dan variasi tidak menambahkan ciri baru apapun pada informasi genetik tersebut. Kemudian, pertanyaan penting bagi teori evolusi adalah bagaimana informasi yang benar-benar baru dapat muncul untuk menghasilkan spesies yang baru pula.

Variasi selalu terjadi dalam batas informasi genetik [yang ada]. Dalam ilmu genetika, batasan ini disebut “koleksi gen.” Semua sifat yang ada dalam koleksi gen suatu spesies mungkin akan muncul dalam berbagai bentuk karena variasi. Sebagai contoh, sebagai akibat dari variasi, jenis dengan ekor yang lebih panjang atau kaki lebih pendek mungkin akan muncul pada suatu spesies reptilia, karena informasi bagi kedua bentuk kaki-panjang dan kaki-pendek ada dalam kumpulan gen spesies tersebut. Akan tetapi, variasi tidak merubah reptilia menjadi burung dengan menambahkan sayap atau bulu pada mereka, atau dengan merubah metabolisme mereka. Perubahan seperti itu memerlukan penambahan pada informasi genetik makhluk hdup, yang tentunya tidak mungkin terjadi melalui variasi.

Darwin tidak menyadari kenyataan ini ketika ia merumuskan teorinya. Dia berpikir bahwa tidak ada batasan dalam variasi. Dalam sebuah makalah yang ditulisnya pada tahun 1844, ia menyatakan: “Adanya batasan dalam variasi di alam adalah anggapan dari sebagian besar penulis, namun saya tidak bisa menemukan satu kenyataan pun yang mendasari keyakinan ini.” Dalam The Origin of Species ia menyebutkan berbagai contoh variasi sebagai bukti paling penting bagi teorinya.

Misalnya, menurut Darwin, para peternak yang mengawinkan berbagai ras sapi untuk menghasilkan ras baru yang menghasilkan susu lebih banyak, pada akhirnya akan mengubah mereka menjadi spesies yang berbeda. Gagasan Darwin tentang “variasi tak terbatas” sangat jelas terlihat pada kalimat dari The Origin of Species berikut ini:

Saya tidak melihat adanya masalah pada [gagasan tentang] suatu ras beruang yang berubah, oleh seleksi alam, menjadi lebih [cocok hidup di] laut dalam bentuk dan perilaku mereka, dengan mulut yang semakin melebar, sampai dihasilkan suatu makhluk sebesar paus.

Alasan mengapa Darwin mengambil contoh yang tidak masuk akal ini adalah karena pemahaman ilmu pengetahuan yang masih kuno pada masanya. Setelah itu, pada abad ke-20, ilmu pengetahuan telah mengajukan prinsip “kestabilan genetik” (homeostasis genetik), berdasarkan hasil percobaan terhadap makhluk hidup. Prinsip ini menyatakan bahwa, karena semua usaha pengawinan untuk mengubah suatu spesies menjadi spesies lain tidak berhasil, terdapat batas tegas antar berbagai spesies makhluk hidup. Ini berarti mustahil bagi peternak untuk mengubah sapi menjadi spesies lain dengan mengawinkan ras-ras yang berbeda di antara mereka, sebagaimana dirumuskan Darwin.

Norman Macbeth, yang menyanggah Darwinisme dalam bukunya Darwin Retried, menyatakan:

Inti permasalahannya adalah apakah makhluk hidup sungguh [mampu] berubah hingga tingkat tak terbatas… Spesies terlihat tetap. Kita semua telah mendengar kekecewaan pemulia yang telah bekerja keras hanya untuk mendapatkan hewan atau tumbuhannya kembali ke bentuk seperti di awal kerja mereka. Meskipun ada usaha keras selama dua atau tiga abad, tetap belum mungkin menghasilkan mawar berwarna biru atau tulip berwarna hitam.

Luther Burbank, salah seorang pemulia paling ahli, menggambarkan kenyataan ini ketika ia berkata, “terdapat batasan untuk kemungkinan pengembangan, dan batasan ini mengikuti hukum tertentu.” Dalam artikelnya berjudul “Some Biological Problems with the Natural Selection Theory (Beberapa Masalah Biologis atas Teori Seleksi Alam),” Jerry Bergman berkomentar dengan mengutip ahli biologi Edward Deevey yang menjelaskan bahwa variasi selalu terjadi dalam batas genetik yang tegas:

Deevey menyimpulkan, “Hal-hal luar biasa telah dihasilkan melalui “kawin silang”… tetapi gandum tetaplah gandum, dan bukan anggur, misalnya. Kita tidak mungkin menumbuhkan sayap pada babi sebagaimana juga membuat telur ayam seperti pipa.” Contoh yang lebih baru adalah pertambahan rata-rata pada tinggi badan laki-laki yang telah terjadi sejak abad yang lalu. Melalui perawatan kesehatan yang lebih baik (dan mungkin juga seleksi seksual, karena beberapa wanita lebih menyukai pria tinggi sebagai pasangannya) laki-laki telah mencapai catatan tinggi badan dewasa tertinggi selama satu abad terakhir, tetapi pertambahan ini dengan cepat menghilang, menunjukkan bahwa kita telah mencapai batasan kita.

Singkatnya, variasi hanya membawa perubahan yang tetap dalam batasan informasi genetik suatu spesies; mereka tidak pernah bisa menambahkan suatu data genetik baru kedalamnya. Untuk alasan ini, tidak ada variasi yang bisa dianggap sebagai contoh evolusi. Tidak peduli berapa sering Anda mengawinkan ras anjing atau kuda yang berbeda, hasil akhinya akan tetap anjing atau kuda, tanpa kemunculan spesies baru. Ilmuwan Denmark, W.L. Johansen, menyimpulkan permasalahan ini sebagai berikut:

Variasi yang ditekankan oleh Darwin dan Wallace tidak bisa secara selektif dipaksakan melampaui titik tertentu, dan variasi semacam ini tidak mengandung rahasia dari ‘keberangkatan [menjadi spesies] mana saja.

Pengakuan tentang “Evolusi mikro”

Seperti yang telah kita lihat, ilmu genetika telah menemukan bahwa variasi, yang pikir Darwin bisa menjelaskan “asal usul spesies”, sebenarnya tidak seperti itu. Untuk alasan ini, ahli biologi evolusi dipaksa untuk memisahkan antara variasi dalam spesies dan pembentukan spesies baru, dan untuk mengajukan dua gagasan berbeda untuk hal yang berbeda ini. Keanekaragaman dalam satu spesies—yaitu, variasi—mereka sebut “evolusi mikro” dan hipotesis untuk perkembangan spesies baru disebut “evolusi makro.”

Dua gagasan ini telah ada dalam buku biologi sejak lama. Tetapi, sebenarnya terdapat pengelabuan di sini, karena contoh variasi yang disebut sebagai “evolusi mikro” oleh ahli biologi evolusi sebenarnya tidak ada hubungannya dengan teori evolusi. Teori evolusi mengutarakan bahwa makhluk hidup bisa berkembang dan memperoleh data genetik baru melalui mekanisme mutasi dan seleksi alam. Namun, seperti yang baru saja kita lihat, variasi tidak pernah menciptkan informasi genetik baru, dan jadinya tidak bisa menyebabkan terjadinya “evolusi”. Memberi nama variasi sebagai “evolusi mikro” sebenarnya hanyalah kecenderungan ideologis dari sebagian penganut biologi evolusi.

Kesan yang diberikan kaum biologi evolusi dengan menggunakan istilah “evolusi mikro” adalah penalaran salah: bahwa sejalan dengan waktu variasi dapat membentuk kelompok makhluk hidup baru. Dan banyak orang yang belum tercerahkan tentang hal tersebut berpikir dangkal bahwa “sejalan dengan perkembangannya, evolusi mikro bisa berubah menjadi evolusi makro.” Kita seringkali melihat contoh pemikiran seperti itu. Beberapa evolusionis “amatir” mengajukan contoh penalaran semacam itu sebagai berikut: karena tinggi rata-rata manusia bertambah sekitar 2 sentimeter hanya dalam satu abad, ini berarti bahwa selama jutaan tahun bentuk evolusi apa saja bisa terjadi. Akan tetapi, seperti yang telah ditunjukkan di atas, semua variasi semacam perubahan tinggi rata-rata terjadi pada batasan genetik tertentu, dan merupakan kecenderungan yang tak berhubungan sama sekali dengan evolusi.

Kenyataannya, saat ini bahkan para pakar evolusionis pun menerima bahwa variasi yang mereka sebut “evolusi mikro” tidak bisa membawa kepada terbentuknya kelompok baru makhluk hidup—dengan kata lain, kepada “evolusi makro”. Pada artikel tahun 1996 dalam Jurnal terkemuka Developmental Biology, ahli biologi evolusi S.F. Gilbert, J.M. Optiz, dan R.A. Raff menjelaskan permasalahan ini sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

[Teori] Sintesa Modern adalah pencapaian yang mengagumkan. Akan tetapi, dimulai sejak tahun 1970-an, banyak ahli biologi mulai mempertanyakan kelengkapan informasi ini dalam menjelaskan evolusi. Genetika mungkin memadai untuk menjelaskan evolusi mikro, tetapi perubahan melalui evolusi mikro pada frekuensi gen tidak terlihat mampu merubah reptilia menjadi mamalia atau untuk merubah ikan menjadi amfibia. Evolusi mikro melihat pada penyesuaian diri yang berhubungan dengan kelangsungan hidup [spesies] yang paling cocok, bukan kemunculan yang paling cocok. Seperti yang dikatakan Goodwin, “asal usul spesies—permasalahan Darwin—tetap tidak terpecahkan.”

Kenyataan bahwa “evolusi mikro” tidak bisa menghantarkan kita ke “evolusi makro”, atau dengan kata lain bahwa variasi tidak memberikan penjelasan bagi asal usul spesies, telah diterima juga oleh ahli biologi evolusi lainnya. Seorang penulis terkenal sekaligus pakar ilmu pengetahuan, Roger Lewin, menggambarkan hasil dari simposium empat hari di Chicago Museum of Natural History pada November 1980, yang dihadiri oleh 150 evolusionis:

Pertanyaan utama dalam konferensi di Chicago itu adalah apakah mekanisme yang menyebabkan evolusi mikro dapat dipakai untuk menjelaskan fenomena evolusi makro.. Jawabannya dapat diberikan dengan sangat jelas, Tidak.

Kita dapat meringkas permasalahan ini sebagai berikut: Variasi, yang dilihat Darwin sebagai “bukti evolusi” selama beberapa ratus tahun, sebenarnya tidak memiliki hubungan sama sekali dengan “asal usul spesies.” Sapi bisa dikawinkan satu sama lain selama jutaan tahun, dan ras sapi yang berbeda mungkin muncul. Tetapi sapi tidak akan pernah berubah menjadi spesies yang berbeda—misalnya jerapah atau gajah. Dengan cara yang sama, perbedaan yang terdapat pada burung pipit yang dilihat Darwin di kepulauan Galapagos adalah contoh lain dari variasi yang bukan merupakan bukti bagi “evolusi.” Penelitian terbaru telah mengungkapkan bahwa burung pipit ini tidak mengalami variasi tanpa batas seperti yang diajukan teori Darwin. Lebih jauh lagi, kebanyakan dari berbagai burung finch yang menurut Darwin mewakili 14 spesies yang berbeda sebenarnya [mampu] kawin satu sama lain, yang berarti bahwa mereka hanyalah variasi dari satu spesies yang sama. Pengamatan ilmiah menunjukkan bahwa paruh burung pipit, yang telah melegenda dalam hampir semua sumber evolusionis, pada kenyataannya adalah satu contoh dari “variasi”; karenanya hal ini bukanlah merupakan bukti bagi teori evolusi. Sebagai contoh, Peter dan Rosemary Grant, yang menghabiskan waktu bertahun-tahun mengamati keanekaragaman burung pipit di kepulauan Galapagos untuk mencari bukti bagi evolusi Darwin, terpaksa menyimpulkan bahwa “populasi ini, dihadapkan pada seleksi alam, berayun maju mundur,” sebuah kenyataan yang secara tidak langsung menunjukkan tidak ada “evolusi” yang membawa pada kemunculan sifat-sifat baru yang pernah terjadi.

Jadi untuk alasan ini, evolusionis masih belum bisa memecahkan permasalahan Darwin tentang “asal usul spesies”.

Variasi, juga diartikan pula pada peristiwa genetis yang menyebabkan individu atau kelompok spesies tertentu memiliki karakteristik berbeda satu sama lain. Sebagai contoh, pada dasarnya semua orang di bumi membawa informasi genetis sama. Namun ada yang bermata sipit, berambut merah, berhidung mancung, atau ber-tubuh pendek, tergantung pada potensi variasi informasi genetisnya.

Evolusionis menyebut variasi dalam suatu spesies sebagai bukti kebenaran teorinya. Namun, variasi bukanlah bukti evolusi, karena variasi hanya hasil aneka kombinasi informasi genetis yang sudah ada, dan tidak menambahkan karakteristik baru pada informasi genetis.

Variasi selalu terjadi dalam batasan informasi genetis yang ada. Dalam ilmu genetika, batas-batas ini disebut “kelompok gen” (gene pool). Variasi menyebabkan semua karakteristik yang ada di dalam kelompok gen suatu spesies bisa muncul dengan beragam cara. Misalnya pada suatu spesies reptil, variasi menyebabkan kemunculan varietas yang relatif berekor panjang atau berkaki pendek, karena baik informasi tentang kaki pendek maupun panjang terdapat dalam kantung gen. Namun, variasi tidak mengubah reptil menjadi burung dengan menambahkan sayap atau bulu-bulu, atau dengan mengubah metabolisme mereka. Perubahan demikian memerlukan penambahan informasi genetis pada makhluk hidup, yang tidak mungkin terjadi dalam variasi.

Darwin tidak mengetahui fakta ini ketika merumuskan teorinya. Ia mengira tidak ada batas dalam variasi. Dalam sebuah artikel yang ditulisnya pada tahun 1844, ia menyatakan: “Banyak ahli yang menganggap bahwa ada batas dalam variasi di alam, namun saya belum menemukan satu bukti pun yang melandasi keyakinan ini”.

Dalam The Origin of Species, ia menyebutkan beragam contoh variasi sebagai bukti terpenting bagi teorinya. Misalnya, menurut Darwin, para peternak yang mengawinkan beragam varietas sapi untuk menghasilkan varietas baru yang menghasilkan susu lebih banyak, akhirnya akan mengubah ternak itu menjadi spesies berbeda. Gagasan Darwin tentang “variasi tanpa batas” jelas terungkap dalam kalimat dari The Origin of Species:

Saya tidak melihat kesulitan bagi suatu ras beruang, melalui seleksi alam, menjadi semakin terbiasa dengan lingkungan akuatis, dengan mulut semakin lebar, sampai akhirnya menjadi makhluk sebesar paus.

Variasi dalam Spesies Bukanlah Evolusi

Dalam buku Origins, Darwin mengacaukan dua konsep: variasi dalam spesies dan kemunculan spesies baru. Berdasarkan pengamatannya atas varietas-varietas anjing, Darwin mengira bahwa suatu saat berbagai varietas ini akan berubah menjadi spesies baru. Sampai sekarang, evolusionis berusaha menunjukkan variasi dalam spesies sebagai bentuk evolusi. Padahal fakta ilmiah membuktikan bahwa variasi dalam sebuah spesies bukanlah evolusi. Misalnya, sebanyak apa pun varietas dalam spesies anjing di alam, atau yang dibiakkan oleh manusia, mereka tetap anjing. Tidak akan ada peralihan dari satu spesies ke spesies lainnya.

Darwin mengemukakan contoh yang berlebihan ini karena pemahaman yang primitif akan ilmu pengetahuan di zamannya. Pada abad ke-20, ilmu pengetahuan telah menetapkan prinsip “stabilitas genetis” (homeostasis genetis) berdasarkan hasil-hasil eksperimen yang dilakukan pada makhluk-makhluk hidup. Prinsip ini menyatakan bahwa semua usaha pengawinan untuk menghasilkan variasi-variasi baru tidak meyakinkan, dan ada batasan-batasan ketat di antara spesies-spesies makhluk hidup yang berbeda. Artinya, sangat mustahil para peternak dapat mengubah sapi menjadi spesies berbeda dengan cara mengawinkan varietas-varietasnya, seperti dinyatakan Darwin.

 

Norman Macbeth membantah Darwinisme dalam bukunya Darwin Retried:

Inti masalahnya adalah, kalaupun benar makhluk hidup dapat bervariasi tan-pa batas… Spesies-spesies selalu stabil. Kita semua pernah mendengar bagaimana peternak dan hortikulturis yang sudah berusaha sedemikian keras menjadi kecewa mendapati hewan atau tumbuhan yang mereka kembangkan kembali ke varietas asal. Sekalipun usaha keras dilakukan selama dua atau tiga abad, tidak mungkin dihasilkan mawar biru atau tulip hitam.

Luther Burbank yang dianggap sebagai hortikulturis paling berhasil, mengungkap fakta ini saat mengatakan “ada batas-batas dalam pengembangan yang mungkin terjadi, dan batas-batas ini mengikuti suatu aturan”.Tentang hal ini, ilmuwan Denmark, W.L. Johannsen berkomentar:

Variasi-variasi yang menjadi titik tekan Darwin dan Wallace tidak dapat dipaksakan melampaui tahap tertentu. Variabilitas seperti ini tidak me-miliki rahasia ‘perubahan tanpa batas’.

 

APAKAH IKAN PAUS BEREVOLUSI DARI BERUANG?

Dalam buku The Origin of Species, Darwin menyatakan bahwa paus berevolusi dari beruang yang berusaha berenang! Darwin telah keliru menganggap bahwa kemungkinan variasi dalam spesies tidak terbatas. Ilmu pengetahuan abad ke-20 telah menunjukkan bahwa skenario evolusi ini hanya khayalan.

 

2. Variasi Melalui Domestikasi

a. Sifat-sifat Varietas Domestikasi

Penjinakan hewan-hewan liar menjadi hewan peliharaan disebut domestikasi. Domestikasi menyebabkan terjadinya penyimpangan dari keadaan aslinya sehingga mengarah pada terbentuknya spesies baru. Secara alami, hewanhewan peliharaan akan memisahkan diri dari hewan-hewan liar dan mempersempit peluang terjadinya interhibridisasi.

Domestikasi Hewan ternak yang dijinakkan dari hewan liar dan tanaman budi daya dari tumbuhan liar adalah contoh domestikasi. Domestikasi memindahkan makhluk-makhluk tersebut dari habitat aslinya ke dalam lingkungan yang diciptakan manusia. Hal ini mengakibatkan muncul jenis hewan dan tumbuhan yang memiliki sifat menyimpang dari sifat aslinya.

Domestikasi merupakan bukti evolusi yang muncul karena adanya campur tangan manusia. Kegiatan manusia dalam pembudidayaan tanaman ataupun hewan tertentu telah melahirkan spesies-spesies baru yang memiliki sifat yang berbeda dengan nenek moyangnya. Perubahan tersebut merupakan bagian dari evolusi makhluk hidup yang diciptakan oleh manusia untuk keuntungan manusia. Manusia telah membudidayakan berbagai macam tanaman mulai dari tanaman untuk konsumsi, tanaman hias dan hewan ternak dengan tujuan untuk memperoleh kultivar baru yang lebih baik dari tanaman induknya. Sebagai contoh, pernahkah kalian makan semangka tanpa biji? Nah, semangka tersebut merupakan salah satu kultivar hasil domestikasi. Dalam evolusi, makhluk hidup mengalami perubahan secara perlahan lahan dari waktu ke waktu sampai dilahirkannya spesies baru yang berbeda dengan nenek moyangnya.

b. Seleksi Tanpa Sadar

Pada saat para peternak andalan mencoba membuat keturunan yang lebih unggul dari jenis apapun yang ada di Negara, lewat suatu seleksi metode dengan obyek berbeda. Namun untuk tujuan kita, suatu bentuk seleksi yang bisa sadar , yang dihasilkan dari semua orang yang berusah amemiliki dan membiakkan binatang individual yang terbaik adalah lebih penting. Jadi orang yang bermaksud memelihara anjing pemburu sudah barang tentu mencoba mendapatkan anjing yang sebaik mungkin , dan setelah itu baru mk dan mereka selam mengembangkannya diri anjing yang sebaik mungkin, dan setelah itu mengembangkan nya dari anjingnya sendiri yang paling baik. Namun ia tidak ingin dan tidak mengharapkan keturunan yang berubah secara permanen. Bagaimanapun , kota bisa berkesimpulan bahwa selam berabad-abad, proses ini akan mengembangkan dan memodifikasi perkembangbiakan dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Bakewell. Collins dan lain-lain, secara lebih metodis  lewat proses yang sama , dan mereka selama hidupnya banyak memodifikasi bentuk dan sifat bintang ternak mereka. Perubahan-perubahan jenis yang pelan-pelan dan tak terasakan ini tidak peernah dapat diketahui kecuali jika ukuran aktualnya atau gambar keturunan yang sesakma yang dipersoalkan sesudah dibuat sejak lama berelang, dengan begitu bisaa dipakai untuk membandingkan . Bagaimana pun dalam beberapa kasus. Didaerah –daerah yang kurang berbudaya, individu-individu yang tidak berubah atau yang sedikit berubah, tetap  ada; disitu keturunan tidak begitu mengalami perkembangan. Ada alas an untuk percaya bahwa anjing cukup besar  sejak zaman monarki. Beberapa ahli yang berkompeten yakni bahwa anjing setter secara langsung berasal dari anjing spanil, dan mungkin secara berubah dalam abad terakhir ini, dan sebagimana yang dipercaya, dalam kasus ini , perubahan tersebut kena pengruh dari penyilangan dengan foxhound. Namun apa yang terjadi kepedulian kita ialah bahwa  perubahan kita ialah bahwa perubahan itu telah terkena pengaruh secara tidak sadar dan secara bertahap , tapi begitu efektifnya sehingga meskipun anjing pemburu Spanyol dahunya dari Spanyol , tetapi Borrow, sebagaimana yang ia katakana kepada saya, tidak melihat anjing tersebut seperti anjing tersebut seperti anjing berburu kita di Spanyol.

Dengan proses seleksi yang sama , dan dengan pelatihan secara sesakma, kuda-kuda pacu inggris telah unggul dalam hal kecepatan dan ukuran atas nenek moyangnya yang Arab, Lord Spencer dan yang lain-lain telah menunjukkan bagaimana binatang ternak di Inggris telah bertambah berat dan menjadi matang lebih awal jika dibandingkan dengan jenis ternak  yang dulu di pelihara di Negara itu . dengan membandingkan hal-hal yang telah diberikan dalam berbagai tulisan kuno mengenai sifat dulu dan sifat sekarang dari burung merpati pos dan merpati tumbler di inggris , di India dan di Persia, kita bisa melacak tahap-tahap yang mereka lalui tanpa mereka rasakan dan tahap terjadinya perbedaan besar dari merpati batu.

Youatt memberikan suatu ilustrasi sangat bagus mengenai pengaruh-pengaruh jalanannya yang bisa dianggap tak sadar yang selam ini tidak pernah dapat diduga oleh para peternak, atau bahkan diinginkan untuk bisa membuahkan hasil yang tejadi , yakni hasil dari dua keturunan yang berbeda, seperti yang di katakana Youatt, dua jenis domba Leicester yang dipelihara oleh Buckey dan Burgess telah diturunkan secara murni selama lima puluh tahun yang lalu sampai sekarang , dari jenis asli jenis binatang milik Bakewell. Tidak ada kecurigaan dalam fikiran orang mengenai hal ini bahwa salat atu dari kedua pemilik ini tidak menyimpang sesuatu dari darah asli jenis binatang milik Bakewell; perbedaan antara domba-domba yang dipelihara kedua orang tersebut begitu besarnya sehingga domba-domba itu tampak mempunyai variasi yang sangat berbeda.

Kalupun ada orang-orang liar yang masih sangat baebar dan tidak pernah memikirkan sifat warisan pada keturunan binatang-binatang ternak memikirkan sifat warisan pada keturunan binatang ternak mereka, namun jika ada masa kelaparan atau jika ada peristiwa malang lainnya, binatang yang sangat berguna bagi orang-orang itu untuk suatu tujuan khusus , akan tetapi dijaga secara seksama , dan dengan dem pada varietasikian binatang-binatang pilihan tersebut umumnya akan memberikan ketentuan lebih banyak dari pada binatang yang kurang bermutu, sehingga dalam kasus ini aka nada semacam seleksi tanpa sadar wanita tua dan melahapnya pada saat-saat kekurangan maupun karena sudah kurang bernilai dari pada anjing mereka. Disini kita melihat adanya nilai yang dicantumkan pada binatang oleh orang-orang barbar dari Tierra del Fuego.

Pada tumbuhan , proses kemajuan yang sama dan bertahap melalui pelestarian individu-individu terbaik yang okasional, entah mempunyai perbedaan cukup untuk digolongkan sebagai varietas lain pada penampilan pertama , atau belum dan apakah dua spesie rasa tau lebih telah bercampur lewat persalingan atau belum dapat dilihat secara jelas dalam bertambahnya ukuran dan keindahan yang kita liat pada varietas-varietas bunga heartease, pelargonium . dahlia dan tanaman-tanaman lainnya. Jika dibandingkan dengan varietas-varietas lain, atau dengan jenis tentunya. Tidak seorang pun mengharapkan meruperoleh bunga  heartease dan dahlia kelaswahid dari biji tanaman liar. Tidak seorangpun berhadap mengembangkan buah pir kelas wahid dari biji buah pir liar, meskipun mungkin ia berhasil mengembangkan nya dari biji jelek yang tumbuh liar, asalkan biji itu dari biji kebun . buah pir , meskipun  sudah dibudidayakn pada zaman dahulu . tanpak tetap menjadi buah yang berkualitas rendah , sebagaimana diuraikan Pliny. Saya melihat kejutaan besar yang terungkap pada keterampilan tukang kebun dalam kerja kebunya . yang telah membuahkan hasil yang gemilang dari bahan yang tidak baik , seni ini sebetulnya sederhana dan selama ini hasil finalnya telah diikuti hamper secara tidak sadar , ini terjadi karena selalu membudidayakan varietas yang sedikit lebih baik muncul dengan menyeleksinya dan begitu seterusnya. Namun tukang-tukang kebun dari zaman klasik , yang membudidayakan buah-buah pir yang paling baik yang bisa mereka peroleh tidak pernah berfikir alangkah lezat. Berkat varietas terbaik yang bisa kita temukan dimana-mana, yang dalam tingkatan kecil pernah mereka pilih dan pelihara secara alami.

Dalam pandangan yang diberikan mengenai peran penting seleksi oleh manusia menjadi lebih jelas bagaimana ras-ras piaraan menunjukan adaptasi struktur serta kebiasaan menurut  keinginan orang atau kesenangan orang. Saya kira, kita bisa memahami lebih lanjut tentang sifat yang sering abnormal dan ras-ras domestik , demiakian juga mengenai perbedaan-perbedaan mereka yang begitu besar dalam hal sifat-sifatnya luarnya dan perbedaan yang relative kecil dalam hal bagian –bagian internalnya atau organ-organnya. Orang hamper tidak dapat menyeleksi menyimpan stuktur , atau kalau bisa dengan sulit sekali, kecuali yang keliatan . memang jarang ada orang yang peduli akan bagian internal . orang tidak pernah bertindak lewat seleksi keculi menyangkut variasi-variasi yang telah ada padanya dalam tingkatan  kecil yang secar alami. Dan tidak ada orang yang pernah membuat ekor yang berkembang dalam tingkatanktu yang tidak biasa. Atau membuat seekor puter sampai ia melihat merpati yang mempunyai tembolok berukuran tidak biasa; semakin tidak normal dan semakin tidak pada penampilan pertamanya, semakin menarik perhatian. Tetapi penggunaan ungkapan seperti mencoba membuat burung fantail (merpati ekor kipas). Dalam banyak kasus adalah tidak benar sama sekali ; hal ini tidak saya ragukan. Orang yang menyeleksi pertama kali seekor merpati yang berekor sedikit lebih besar, tidak pernah bermimpi bagaimana jadinya keturunan besok melalui seleksi yang berlangsung terus sampai lama, dan yang sebagian tampa sadar , dan yang sebagian lagi bersifat motois. Mungkin nenek moyang semua merpatifantail Jawa sekarang empat belas helai bulu ekor . mungkin merpati puter pertama melambungkan temboloknya tidak lebih besar dari pada merpati tubit yang sekarang melambungkan bagian atas Aesophagusnya, ini suatu kebiasaan yang diabadikan oleh para pencin merpati, karena bukan merupakan salah satu yang dimaksud dari keturunan.

Atau orang hendaknya jangan berfikir tentang perlunya penyimbangan besar stuktur yang bisa ditangkap mata Penggemar. Orang yang busa merasakan adanya perbedaan kecil sekalipun, dan menjadi sifat manusia untuk menghargai sesuatu yang baru, yang jadi miliknya sendiri, meskipun sedikit. Atau nilai yang dulunya ditetapkan atas adanya perbedaan kecil pada individu-individu berspesies sama, hendaknya jangan ditentukan dari nilaij yang ditetapkan sekarang atas perbedaan tersebut, setelah terjadi beberapa keturunan. Sudah diketahui bahwa pada merpati terdapat banyak variasi kecil yang muncul serta kebetulan , namun hal ini tolak sebagai suatu kesalahan dan penyimpanan dari standar kesempurnaan dari setiap keturunan. Angsa biasa tidak melahirkan varietas-veriatas yang mencolok , oleh  karena angsa Toulouse dan keturunan biasa yang sedikit lain warna serta kegesitan tampak  sebagai yang berbeda didalam pemeran unggas.

Pandangan-pandangan ini tampaknya ingin menjelaskan apa yang kadang-kadang menjadi perhatian, yakni bahwa kita hamper tidak tahu apa-apa mengenai asal mula sejarah dari binatang peliharaan kita. Namun nyatanya, suatu keturunan, seperti halnya suatu dialek bahasa, hampir tidak dapat dikatakan mempunyai suatu asal mula yang berbeda. Orang melindungi serta mengembang biakakan suatu individu yang sedikit lain strukturnya, atau orang lebih perduli dari biasanya didalam mencocokkan binatangnya yang terbaik; jadi disini orang meningkatkan binatangnya, dan binatang yang sudah meningkat ini sedit demi sedikit menyebar di kanan kirinya. Tetapi binatang-binatang ini hampir tidak memiliki nama khusus, dan binatang ini, karena hanya sedikit dihargai, sejarahnya pun diabaikan. Jika terus dikembangkan melalui proses yang sama, pelan-pelan, dan bertahap, binatang tadi akan menyebar lebih luas, dan akan dikenal sebagai sesuatu yang lain dan berharga, dan mungkin memperoleh nama kedaerahan. Di Negara-negara yang setengah beradap dan mempunyai sedikit komunikasi bebas, penyebaran sub-keturunan baru ini merupakan suatu proses yang lamban. Sekali nilainya dikenal orang, prinsip seleksi tidak sadar, sebagaimana yang telah saya katakana, akan selalu cenderung menambah secara pelan-pelan cirri-ciri khusus keturunan, entah keturunan apapun, – mungkin dalam suatu periode, pertambahan lebih banyak dari pada periode lainnya, seperti halnya timbul tenggelamnya keturunan untuk mode – mungkin di satu daerah, penambahannya lebih banyak dari pada di daerah lain, sesuai tingkat peradapan penduduk. Tetapi dari catatan yang disimpan mengenai perubahan yang terjadi secara pelan, bervariasi serta tanpa sadar, kemungkinan hal itu sangat kecil.

c. Prinsip-prinsip Seleksi pada Zaman Dulu dan Dampaknya

Marilah kita renungkan sebentar langkah-langka yang dengannya ras-ras piaraan diproduksi, entah dari satu spesies atau dari beberapa spesies yang sekerabat . dampak atau pengaruhnya bias dinisbatatkan pada tindakan kondisi eksternal kehidupan secara langsung dan pasti dan bias pada kebiasaan. Orang menjelaskan perbedaan-perbedaan antara kuda tarik dan kuda balap, antar anjing greyhound dan bloodhound , antara merpati pos dan merpati tumber lewat perantara semacam itu adalah seorang pemberani . salah satu dari cirri mencolok pada ras-ras piaraan kita adalah bahwa kita melihata adanya adaptasi pada mereka, bukan semata untuk  manusia. Beberapa variasi yang digunakan manusia. Beberapa variasi yang berguna bagi manusia kemungkinan timbul secara tiba-tiba atau lewat suatu langkah. Banyak para ahli botani misalnya, percaya bahwa manusia satu genus dan teasel dengan duri-durinya yang tidak dapat ditandatangani dengan pertemuan mekanis apa pun, hanyalah sebuah variasi dari Dipsacus liar, dan banyaknya perubahan ini bias saja muncul  secara tiba-tiba dalam benih. Begitu juga bias saja terjadi pada anjing turnspit, juga dalam kasus domba ancon. Tetapi jika kita membandingkan kuda tarik dengan kuda balap, unta dan dromedary, berbagai jenis domba yang bias hidup ditanah garapan atau di padang rumput , jika kita membandingkan wol dari satu jenis domba dalam satu tujuan, dan wol dari lain jenis untuk tujuan lain ; jika kita membandingkanbanyak jenis anjing, yang masing-masing mempunyai kegunaan bagi manusia dengan cara yang berbeda; jika kita membandingkan ayam sambung yang begitu tegardalam bertarung dengan jenis ayam lain yang kurang suka bertarung, dengan ayam  petelur yang tidak perna mempunyai keinginan untuk bertengger dengan ayam batam yang sangat kecil dan molek ; jika kita membandingkan kelompok ras-ra tanaman perkebunan , tanaman dapur , tanaman kebun buah dan tangaman kebun bungan , yang sangat berguna bagi manusia pada musim-musim yang berbeda dan untuk tujuann yang berbeda pula, maka saya kira kita harus melihat lebih jauh daripada sekedar melihat veriabilitas.kita tidak dapat memperkiraan bahwa semua jenis yang dihasilkan secara mendadak , dengan sempurna dan berguna seperti yang kita liat sekarang ini. Memang dalam banyak kasus , kita tahu bahwa hal ini bukan merupakan sejerah mereka, kuncinya ialah daya kekuatan manusia dalam seleksi kumulatif; alam memberikan variasi-variasi secara selisi berganti ; manusia tinggal menambahnya dengan aturan-aturan tertentu yang sekitarnya berguna baginya. Dalam hal ini , boleh dikatakan manusia membuat keturunan yang sekitarnya berguna bagi dirinya.

Kekuatan besar prinsip seleksi ini tidak bersifat hipotesis. Yang pasti , beberapa peternakan, bahkan dalam satu kurun waktu kehidupan , telah memodifikasi jenis-jenis domba dan ternak mereka secara luas . agar dapat menyadari sunggu-sunggu apa yang telah mereka lakukan, sangat perlu membaca beberapa tulisan mengenai hal tersebut serta perlu meneliti binatang. Para peternak biasanya berbicara tentang kelompok binatang sebagai sesuatu yang bersifatplastis, yang bias mereka jadikan model sesuka mereka, jika ada tempat dalam buku ini , saya dapat mengutip banyak bagian buku dari para ahli yang berkopenten mengenai dampak ini. Youtt yang mungkin lebih dikenal daripada individu yang lain karena karya-karyanya tentang pertanian dan yang merupakan penilaian yang baik tentang binatang , bicara mengenai seleksi sebagai “ sesuatu yang memungkinkan seorang angrikulturis tidak hanya memodifikasi sifat kawanan hewan, tetapi juga sekaligus mengubahnya. Ini merupakan tongkat sihir yang bisa dipakai untuk memerintahkan agar hidup apapun bentuk dan wujudnya , menurut seleranya “ Lord Somerville, ketika berbicara tentang apa yang dilakukan para peternak terhadap domba-dombanya mangatakan, tampak seolah-olah mereka mengapur suatu bentuk yang pada hakekatnya sudah sempurna, pada dinding, dan kemudian memberinya ekssistensi. “ pada bahan wol yang halus , pentingnya prinsip seleksi tentang domba merino telah begitu dikenal sehingga orang menghitungnya suatu kejujuran ; domba ditempatkan pada kandang dan diselidiki oleh seorang “connoisseur” sebagai gambaran: dan ini dilakukan tiga kali dalam interval bulan: setiap kali, domba tadi ditandai dan digolongkan sehingga yang terbaik bisa diseleksi untuk perkembangbiakan.

Apa yang telah mempengaruhi secara aktual pada para peternak Inggris bisa dibuktikan Dengan tingginya harga yang diberikan untuk binatang yang mempunyai silsilah baik. Dan binatang-binatang ini di ekspor ke hampir semua bagian bumi. Kemajuan ini sama sekali bukan karena mempersilangkan jenis –jenis yang berbeda-beda semua peternak yang baik sangat menentang praktik ini, kecuali di kalangan sub jenis yang sangat dekat kekerabatannya, dan inipun hanya kadang-kadang. Jika dilakukan penyilangan, seleksi yang paling dekat lebih diperlukan daripada dalam kasus-kasus biasa. Jika seleksi terjadi hanya dengan memisahkan varietas yang sangat berbeda dan mengembangbiakkan dari situ, asa dasarnya harus jelas, karena hampir tidak mudah dilihat. Hal ini menjadi penting karena pengaruh besar yang dihasilkan oleh akumulasi satu arah dari perbedaan-perbedaan selama generasi ke genarasi sama sekali kurang dikenal dimata orang yang kurang pendidikan. Dari seribu orang, tidak seorangpun yang memiliki kejelian mata dan kejelian penilaian yang cukup untuk menjadi seorang peternak yang handal. Jika ia dikaruniai sifat-sifat tersebut dan jika ia mempelajari subyek tersebut selama bertahun-tahun serta mengabdikan hidupnya untuk hal itu, ia akan sukses dan mungkin bisa membuat kemajuan- kemajuan besar. Jika ia hanya menginginkan salah satu dari sifat-sifat ini, ia justru pasti gagal. Hanya beberapa orang saja yang mau percaya akan kapasitas alami yang harus dimiliki dan perlunya praktik selama bertahun-tahun untuk menjadi seorang pecinta merpati yang terampil.

Prinsip yang sama ini diikuti oleh holtikulturis, tetapi disini variasi-variasinya sering lebih kasar. Tidak seorangpun berpikir bahwa produksi pilihan utama kita telah dihasilkan oleh satu variasi tunggal dari keturunan asli. Kita mempunyai bukti-bukti bahwa hal ini tidaklah demikian dalam kasus-kasus dimana ada catatan –catatan tepat yang disimpan, jadi untuk memberikan suatu contoh yang sangat sederhana, kita bisa mencatat bahwa buah frambus tetap bertambah. Kita melihat kemajuan yang menakjubkan pada sekian banyak bunga milik penanam bunga, ketika bunga-bunga yang ada sekarang dibandingkan dengan gambar-gambar yang dibuat dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu. Begitu jenis tanaman sudah ditanam dengan baik, maka si penanam tinggal memeriksanya di persemaian dan mencabuti yang tidak baik, yang oleh mereka disebut tanaman yang menyimpang dari standar yang semestinya. Adapun yang menyangkut binatang, jenis seleksinya diikuti seperti itu. Oleh karenanya hampir tidak ada yang sembrono hingga mau mengembangbiakkan binatangnya yang paling jelek.

Mengenai tumbuhan, terdapat sarana lain untuk mengamati pengaruh seleksi yang terakumulasi yakni dengan membandingkan diversitas bunga-bunga dalam varietas-varietas berbeda dari spesies yang sama yang ada ditaman bunga, yakni diversitas daun, kelopak, atau diversitas akar umbi, atau bagian apa saja yang bernilai di kebun, dibandingkan dengan bunga-bunga berspesies sama, diversitas bunga yang berspesies sama dikebun buah-buahan, dibandingkan dengan daun dan bunga dari serangkaian varietas yang sama. Lihatlah, bagaimana perbedaan daun-daun kubis, dan bagaimana sangat miripnya bunga-bunganya, betapa tidak miripnya bunga-bunga “heartsease”, dan betapa miripnya daun-daunnya, bagaimana buah dari jenis frambus yang berlainan bisa bisa berbeda dalam hal ukuran, warna, bentuk, dan bulunya, namun bunga-bunganya hanya menunjukkan perbeal dan yang sedikit. Disini verietas yang sangat berbeda dalam satu hal tidak harus berbeda sama sekali dalam hal-hal lain. Setelah diadakan pengamatan seksama, saya mengatakan bahwa hampir tidak ada kasus seperti ini , dan mungkin bahkan tidak perna ada. Hukuman variasi yang berkolerelansi, yang kepentingannya tidak perna dilupakan , akan memastikan adanya beberapa perpedaan; namun, sebagai suatu aturan umum, tidak bisa  diragukan lagi bahwa seleksi variasi kecil-kecil yang terus menerus, entah pada daun , bunga ataupun pada buah , akan menghasilkan ras yang berbeda satu dengan yang lainya , lebih-lebih dalam hal sifat-sifatnya.

Bisa saja ditolak bahwa prinsip seleksi telah tereduksi menjadi praktik-praktik metedologis selama hampi tidak lebih dari seperempat abadi; yang jelas hal ini baru diikuti lebih sering pada tahun-tahun terakhir ini, dan banyak tulisa tentang subyek ini diterbitkan ;dalam hal tingkatan, hasilnya ternyata cepat dan penting. Namun sangat tidak benar kalau hal ini merupakan suatu penemuan modern. Namun sangat tidak benar kalau hal ini merupakan suatu penemuan modern. Disini saya bisa memberikan beberapa referensi tentang karya-karya sangat antik, dimana telah diakui pentingnya prinsip ini. Pada zaman berbar dan primitive pada sejarah inggris, binatang-binatang pilihan seringkali diimpor, maka perlu diberikan undang-undang untuk mencegah ekspor binatang tersebut. Waktu itu ada perintah untuk memusnakan kuda berukuran tertentu,dan ini bisa dibandingkan dengan pemusnahan tumbuh-tumbuhan yang dianggap jelek oleh para penanam. Saya berpendapat , prinsip seleksi diberikan secara berbeda dalam ensklopedia Cina Kuno. Aturan-aturan yang ekspli ditetapkan   oleh beberapa penulis klasik Romawi. Dari bagian-bagian dalam kitab kejadian, jelas bahwa warna binatang-binatang piaraan adalh warna yang ada pada zaman dulu. Orang- orang biadap sekarang ini sering menyilangkan anjing-anjing mereka dengan binatang-binatang mereka jenis anjing liar untuk memajukan keturunan , dan orang-orang biadap di Afrika Selatan menyeragamkan warna binatang-binatang penarik, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang Eskimo terhadap kelompok atau tim anjing mereka. Livingstone menyatakan bahwa keturunan binatang piaraan yang bagus sangat dihargai oleh orang-orang Negro dipedalaman Afrik,yang belum berhubungan dengan orang Eropa . beberapa dari fakta –fakta tersebut tidak menunjukan bahwa pengembangan binatang-binatang piaraan dilakukan oleh orang-orang yang peradabannya bintang-banatang piaraan dilakukan oleh orang-orang yang peradabannya rendah , memang akan merupakan suatu fakta yang aneh jika hal itu tidak mendapatkan perhatian, karena disini sudah jelas ada warisan kualitas baik dan kualitas selek.

 

3. Variasi Alamiah

a. Perbedaan Individu

Terdapat sejumlah evolusionis yang berusaha mengajukan keragaman ras sebagai bukti kebenaran evolusi. Pada kenyataannya, pernyataan ini sebenarnya lebih sering dikeluarkan oleh para evolusionis amatir dengan pemahaman yang kurang memadai atas teori yang mereka dukung tersebut.

Tesis yang diajukan oleh pendukung pernyataan itu didasarkan atas pertanyaan, “Jika, seperti dikatakan sumber-sumber agama samawi, kehidupan memang diawali oleh seorang lelaki dan seorang perempuan, mengapa beragam ras muncul?” Dengan kata lain, maksud pertanyaan itu adalah, “Karena tinggi badan, warna kulit, serta ciri fisik lain pada Adam dan Hawa hanyalah ciri fisik dua orang saja, mengapa berbagai ras dengan ciri fisik yang sama sekali berlainan dapat muncul?”

Sebenarnya, yang menjadi dasar semua pertanyaan atau sangkalan itu adalah kurangnya pengetahuan tentang hukum-hukum genetika, atau ketidakperdulian mereka atas ilmu tersebut. Agar kita dapat memahami penyebab keragaman ras di dunia kini, kita harus lebih dahulu memahami “variasi”, suatu pokok bahasan yang terkait erat dengan pertanyaan ini.

Variasi adalah sebuah istilah dalam ilmu genetika, yaitu peristiwa genetis yang menyebabkan timbulnya perbedaan ciri-ciri satu atau sekelompok individu dalam suatu jenis atau spesies tertentu. Sumber variasi adalah informasi genetis yang dimiliki individu dalam spesies itu. Sebagai akibat perkawinan antar individu, informasi genetis itu bergabung dalam berbagai kombinasi pada generasi berikutnya. Terjadi pertukaran materi genetis antara kromosom ayah dan kromosom ibu. Jadi, gen saling bercampur-baur. Hasilnya, terdapat ciri-ciri individual yang sangat beragam.

Ciri-ciri fisik yang berbeda antar-ras manusia yang berbeda ditimbulkan oleh variasi yang terdapat dalam ras manusia. Semua orang di muka bumi memiliki informasi genetis yang pada dasarnya sama, namun ada yang bermata sipit, ada yang berambut merah, ada yang berhidung mancung, ada yang bertubuh pendek, tergantung sejauh mana potensi variasi informasi genetis ini.

Agar kita memahami potensi variasi ini, cobalah bayangkan sebuah masyarakat di mana kelompok individu berambut coklat dan bermata coklat lebih dominan, dibandingkan individu-individu berambut pirang dan bermata biru. Lama-kelamaan, sebagai hasil dari perbauran dan pernikahan silang, dihasilkan keturunan berambut coklat dan bermata biru. Dengan perkataan lain, ciri fisik kedua kelompok itu akan bergabung dalam keturunan berikutnya dan menghasilkan penampilan baru. Bila kita bayangkan ciri fisik lainnya pun berpadu seperti itu, sangatlah jelas bahwa akan muncul variasi yang sangat beragam.

Variasi-variasi manusia yang sangat beragam

 

Hal penting yang harus dipahami di sini adalah: Setiap ciri fisik ditentukan oleh dua buah gen. Salah satu gen mungkin lebih dominan, atau keduanya sama kuat. Contohnya, ada sepasang gen yang menentukan warna mata seseorang – satu gen dari ibu dan satunya lagi dari ayah. Warna mata orang tersebut ditentukan oleh gen yang dominan. Pada umumnya, warna gelap lebih dominan daripada warna terang. Jadi, bila seseorang memiliki gen mata coklat dan gen mata biru, maka warna matanya akan coklat, karena yang dominan adalah gen warna mata coklat. Namun gen yang bersifat resesif tetap diturunkan, dan mungkin muncul pada masa (generasi – terj.) selanjutnya. Dengan kata lain, pasangan ayah dan ibu yang keduanya bermata coklat dapat memperoleh anak bermata hijau. Hal ini disebabkan karena gen warna tersebut bersifat resesif dan terdapat pada kedua orangtua.

Kaidah ini berlaku juga untuk ciri-ciri fisik lain beserta gen-gen pengaturnya. Ratusan, bahkan ribuan ciri fisik, seperti telinga, hidung, bentuk mulut, tinggi badan, struktur tulang, dan struktur, bentuk serta sifat dari sebuah organ, kesemuanya diatur dengan cara yang serupa. Berkat hal ini, informasi tak terhingga yang terdapat di dalam struktur genetis dapat diturunkan ke generasi berikutnya, tanpa harus tampak dari luar. Adam, manusia pertama, dan Hawa, mampu menurunkan informasi yang kaya dalam struktur genetis mereka kepada keturunan mereka, walau yang tampak dari luar hanya sebagian saja. Isolasi geografis yang terjadi sepanjang sejarah manusia telah mengakibatkan ciri-ciri fisik tertentu terkumpul dalam suatu kelompok. Lama-kelamaan, masing-masing kelompok memiliki ciri tubuh yang khas, misalnya struktur tulang, warna kulit, tinggi badan, dan volume tengkorak kepala. Akhirnya, terbentuklah beragam ras.

Akan tetapi, tentunya waktu yang panjang tidak akan merubah satu hal. Tak menjadi soal, apa pun tinggi, warna kulit dan volume otak, seluruh ras adalah bagian dari spesies manusia.

b. Spesies yang Meragukan

Bentuk-bentuk yang memiliki sifat spesies dalam suatu tingkatan yang nyata, namun sangat mirip dengan bentuk lain atau yang sangat berkaitan dengan bentuk-bentuk lain melalui gradasi pengantar, yang oleh para naturalis tidak digolongkan sebagai spesies lain, ternyata dalam beberapa hal sangat penting bagi kita. Kita memiliki alasan untuk percaya bahwa banyak bentuk-bentuk meragukan dan yang tergabung erat memiliki sifat-seifat yang tersimpan secara permanen sampai lama.

Oleh Karena itu, dalam penentuan apakah suatu bentuk harus digolongkan sebagai spesies atau varietas , terdapat pada naturalis yang memiliki penilaian sehat serta pengalaman luas tampaknya menjadi satu-satunya bimbingan yang harus diikuti . bagaimanapun , dalam banyak kasus, kita harus memutuskannya lewat mayoritas para naturalis, karena varietas yang sudah tampak dikenal, dan yang tidak digolongkan sebagai spesies, dapat disebutkan paling tidak boleh beberapa penilaian yang berkompeten

Varietas-varietas dengan sifat yang meragukan yang menyimpang dari kebiasaan tidak dapat dipertentangkan , cobalah membandingkan  beberapa flora dari inggris, prancis dan amerika yang diambil oleh para ahli botani. Yang berbeda-beda dan liatlah betapa banyaknya bentuk-bentuk yang telah digolongkan oleh ahli botani yang satu sebagiai spesies yang baik, dan oleh para ahli botani lainnya sebagai varietas saja.H.C .Watson yang harus diberi ucapan terima kasih atas bantuan dalam berbagai hal , telah member tanda 182 tanaman untuk saya , yang umumnya dianggap sebagai varietas , tetapi oleh para ahli botani dimasukkan sebagi spesies. Waston juga mengabaikan sama sekali bebera genus yang sangat polimorfis. Pada genera, termasuk bentuk-bentuk yang sangat polimorfis, Babington memberikan 251 spesies sedangkan Benthen hanya memberikan 112, jadi ada selisih 139 bentuk-bentuk yang meragukan. Dikalangan bintang-bintang yang menyatu untuk keperluan kelahiran dan yang merupakan bentuk-bentuk meragukan yang banyak gerak serta yang oleh ahli zoology lainnya sebagai varietas, jarang ditemukan dinegara yang sama, tetapi umumnya didapatkan didaerah-daerah yang terpisah. Beberapa banyak burung serangga di Amerika Utara dan Eropa yang saling berbeda sedikit telah digongkan oleh seorang naturalis terkemuka sebagai spesies yang tidak diragukan dan oleh yang lain sebagai varietas, atau seperti sering mereka sebut sebagai ras geografis. Didalam beberapa naskah berbobot tentang berbagai binatang , lebih-lebih tentang Lepidoptera, yang mendiami pulau-pulau dikepulauan Malaya, Wallace menunjukkan bahwa binatang-binatang tadi bisa diklasifikasikan dalam empat klasifikasi pokok, yakni sebagai bentuk yang variable, sebagai bentuk local, sebagai ras geografis, dan sebagian spesies representative murni. Yang pertama atau bentuk yang variable berfariasi banyak di dalam batas-batas pulau yang sama . bentuk local culup konstan dan berbeda disetiap pulau dibandingkan bersama , perbedaannya tampak sangat sedikitdan bertahap, sehingga tidak mungkin untuk mendefinisikan atau menjelaskannya, meskipun pada saat yang sama berbentuk-bentuk ekstremnya cukup berlainan. Ras geografis atau sub-spesis adalah bentuk local yang sudah pasti dan terisolasi , tetapi karena yang satu dengan yang lain tidak berbeda oleh sifat-sifatnya yang penting dan mencolok , maka tidak ada tes kecuali pendapat pribadi yang memungkan untuk menentukan mana yang sianggap sebagai spesies dan mana yang dianggap sebagai varietas. Akhirnya, spesies respressentatif mengisi tempat yang sama dalam  ekonomi alam  dari setiap pulau seperti yang dilakukan oleh bentuk lokal dan sub-spesies. Namun karena mareka tidak dibedakan satu sama lain oleh banyaknya perbedaan kecuali ada diantara bentuk lokal dan sub-spesies, maka mereka hampir secara universal digolongkan sebagai spesies murni .namun, tidak ada kreteria tertentu yang bisa diberikan yang dipakai untuk mengenal bentuk yang dapat bervariasi, bentuk lokal, sub-spesies dan spesies representative.

 

c. Spesies yang Memiliki Cakupan Luas, Tersedia Umum dan Banyak Bervariasi

Dengan dibimbing oleh pertimbangan teoretis, saya berfikir bahwa beberapa hasil yang menarik dapat dicapai sehubungan dengan sifat serta relasi dengan spesies yang sangat berfariasi , dengan membuat table tentang semua varietas yang ada pada beberapa flora yang dikerjakan dengan baik . pertama-tama, hal ini tampak seperti tugas sederhana, tetapi  H.C. Watson, yang telah member saya nasehat serta dukungan yang berharga , sehingga saya berhutang budai padanya , segera meyakinkan saya bahwa terdapat banyak kesulitan , bahwa kesulitan mengenai istilah-istilah, sebagaimana yang dijumpai Dr. Hooker. Maka saya akan mempersiapkan diskusi mengenai kesulitan-kesulitan tersebut untuk karya yang akan dating, serta menyiapkan table jumlah yang proporsional dari spesies yang bervariasi, setelah ,membaca naskah saya secara seksama dan telah mengamati table-tabel. Dr. Hooker memperbolehklan saya untuk menambahkannya. Ia mendapatkan bahwa pertanyaan-pertanyaan berikut ini cukup mantap. Bagaimanapun, keseluruhan subyekyang dibicarakan dengan semestinya dan secara singkat masih sedikit membingungkan. Adanya sendirian-sendirian mengenai berjuang untuk hidup dan perbedaan sifat atau ciri tidak dapat dihindari, dan pertanyaan-pertanyaan  lain setelah itu harus didiskusikan.

Alphone, Candole, dan yang lain telah menunjukkan bahwa tanaman yang mempunyai jangkauan luas sekali pada umumnya memberikan varietas-varietas. Hal ini dapat diduga, karena tanaman-tanaman tersebut tampak pada kondisi-kondisi fisik yang bermacam-macam , dank arena tanaman-tanaman tersebut sudah bersaing dengn serangkaian makhul lainnya sebagaimana yang akan kit liat selanjutnya . hal ini merupakan lingkungan yang sama atau yang lebih penting . tetapi lebih lanjut , table saya menunjukkan  spesies-spesie yang sangat umum sehingga banyak terdapat dalam individu-individu, dan spesies-spesies yang sangat umum sehingga banyak terdapat dalam individu-iondividu , dan spesies-spesies yang tersebar luas dinegaranya sendiri (dan ini merupakan pemikiran yang berbeda dari jangkauan luas, dan untuk tingkatan tertentu dari kelaziman). Sering kali menimbulkan varietas yang cukup mantap untuk dicatat dalam karya tulis  botani. Oleh karena itu. Ini merupakan spesies yang tumbuh sanagt subur atau boleh dikatakan sangat dominan , spesies-spesies yang mempunyai cangkupan luas , sangat tersebar luas dinegaranya sendiri, dan memiliki jumlah banyak pada individu-individu ini sering menghasilkan varietas yang mencolok, atau saya mengharapkan sebagai spesies baru jadi. Mungkin hal ini bisa diantisipasi , karena selama varietas harus berjuang dengan penghuni lainnya yang ada disuatu Negara agar bisa menjadi permanen tingkatannya, spesies yang sudah dominan kemungkinan besar akan menghasilkan keturunan yang sedikit termodifikasi dan masih mewarisi keuntungan-keuntungan yang dimiliki tetuanya sehingga menjadi dominan atas sesame penghuni ditempat itu, mengenai kata-kata dominan harus dipahami bahwa referensinya diberikan hanya pada bentuk-bentuk yang ikut sering satu sama lain, lebih-lebih pada anggota-anggota dari genus yang sama atau golongan yang memiliki kebiasaan hidup yang hampir sama. Mengenai jumlah individu atau spesies umum, perbandingannya berhubungan dengan anggota-anggota dari kelompok yang sama, salah satu tanaman biasa dikatakan dominan pada individu lebih banyak dan jika lebih tersebar dimana-nama dari pada tanaman dari satu Negara yang hidup dalam kondisi yang hampir sama. Tanaman jenis ini tidak kalah dominan karena ada jamur yang bersifat parasit. Yang jumlahnya tak terhingga pada individu-individu dan lebih menyebar dimana-mana. Tetapi jika tanaman air atau jamur yang menjadi parasit sampai berlebihan dalam kelompoknya yang berkaitan tersebut diatas, maka akan menjadi dominan dalam golongannya sendiri.

Atas dasar kenyatan bahwa ini adalah hokum alam, saya kira kita dapat memahami jumlah fakta seperti berikut , yang tidak dapat dijelaskan pada pandangan lain. Siapa pun yang melakukan persilangan tahu betapa tidak menyenangkannya terkena basah pada waktu pembuahan bunga, akan tetapi banyak sekali bunga yang benamg sari dan stigmanya berlangsung  terpengaruh oleh keadaan udara! Jika persilangan yang kadang kala terjadi sangat penting , maka dipastikan bahwa benang sari dan putik bunga letaknya begitu berdekatan satu sama lain sehingga terjadi pembuahan sendiri : adanya kebebesan penuh bagi masuknya benang sari dari individu lain akan menjelaskan keadaan pernafasan organ tersebut diatas, sebaliknya banyak bungayang organ pembuahannya tertutup rapat, seperti yang terdapat pada keluarga besar papilionaceous. Tetapi ini hampir selalu memberikan berbagai keindahan dan adaptasi sehubungan dengan kedatangan serangga. Begitu pentingnya kunjungan lebah bagi banyak bunga papilionaceous, sehingga kesuburannya akan sangat berkurang jika kunjungan ini dicegah. Nah, hampir tidak memungkinnkan bagi serangga untuk terbang dari bunga yang satu ke bunga lain dengan tidak membawa serbuk sari dan bunga satu kebunga yang lain untuk kepentingan tanaman,

Serangga bekerja seperti pensil bulu unta, dan untuk memperoleh kesuburan (keturunan) maka cakup  dengan menyatu benang sari dari sekuntum bunga dan putik dari bunga yang lain bulu-bulu sikatnya yang sama. Akan tetapi hal ini tadakboleh diartikan bahwa dengan begitu maka lebah akan membuat banyak sekali blasteran antara spesies yang berbeda, karena jika serbuk sari tanaman sendiri dan serbuk sari tanaman itu sendiri dan serbuk sari bunga yang pertama akan terlalu kuat dan selalu merusak serbuk sari bunga dari tanaman lain sebagaimana yang telah diperlihatkan oleh Gartner mengenal pengaruh serbuk sari dan tanaman lain .bila putik bunga meloncat kearah banang sari , atau bergerak  perlahan-lahan mendekati usaha tersebut tampaknya hanya untuk beradaptasi agar bisa melakukan perbuatan sendiri . dari ini sudah jelas berguna untuk tujuan ini. Pekerjaan serangga sering kali diperlakukan untuk mendorong putik meloncat mendekat, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Kolreuter tentang kasus barberry. Dan genus ini tanpaknya memiliki kemampuan khusus untuk melakukan pembuahan sendiri. Telah amat terkenal bahwa, jika bentuk atau varuetas yang sangat terpadu ditanam secara berdekatan satu sama lain, maka kiranya hampir tidak mungkin untuk menghasilkan benih yang murni, maka sebagian besar mereka melakukan persilangan secara alami, didalam banyak kasus lainnya, terdapat usaha atau kemampuan khusus yang berhasil mencegah stigma bunga menerima serbuk sari dari bunga yang sama, seperti yang dapat saya perhatiakan dalam karya Sprengel dan penulis lainnya. Dan juga dari hasil pengamatan saya sendiri . misalnya, pada bunga Lobelia Fulgens, terdapat usaha atau kemampuan yang sempurna dan bagus, dengan ini seluruh butir serbuk sari yang begitu banyak jumlahnya tersapu bersih dari benang sari yang melekat menjadi satu pada setiap bunga sebelum stibuk sargma bunga individu tersebut siap menerima serbuk sari tadi . dan oleh karena bungan ini tidak pernah dikunjungi serangga, paling tidak yang terdapat eikebun saya sendiri maka kemampuan sendiri bunga itu tak pernah menghasilkan biji , wallaupun dengan menepatkan serbuk-serbuk sari itu dari satu bunga ke setigma  bunga lain, saya dapat menghasilkan banyak benih , pada berbagai kasus lainya, meskipun tidak terdapat kemauan mekanisme khusus untuk mencegah stigma bungan untuk menerima serbuk sari dari bunga yang sama, namun sebagaimana yang telah diperhatiakan oleh sprengel, dan belum lama ini oleh Hilderand, dan penulis-penulis lainya , dan yang dapat sama terima, benang sari bisa meletup sebelum stigma siap akan tetapi serbuk sari bunga yang belum siap, sehingga jenis tanaman yang diberi nama tanaman “dichogamous” memiliki kelamin terpisah , dan persilangan bisa dilakukan . dengan demikian pula halnya dengan tanaman dimofik dan trimofik secara timbale balik yang telah disebutkan sebelumnya. Betapa anehnya fakta ini! Betapa ginjilnya bahwa serbuk sari dan permukaan stigma dari bunga yang sama, ketidakpun diletakkan saling berdekatan sekali dan seolah-olah dalam banyak hal, tujuan serupa untuk melakukan pembuahan sendiri tidak ada gunanya bagi keduanya, berupa sederhananya fakta-fakta ini jika ditengerai atas dasar persilangan yang kadang-kadang terjadidan menguntungkan serta amat penting amat penting bagi individu yang berbeda!

 

4. Hukum-hukum Variasi

a. Dampak Terpakai dan Tidak Terpakainya Bagian Sebagaimana Dikendalikan oleh Seleksi Alam

Dari fakta-fakta diketahui bahwa tidak terpakainya binatang-binatang piaraan telah memperkuat serta memperluas bagin-bagian tertentu, sedangkan jika tidak terpakai telah memperlemah, dan bahwa modifikasi-modifikasi semacam itu diwariskan. Di alam bebas, kita tidak mempunyai standar perbandingan untuk menentukan dampak terpakainya dan tidak terpakainya bagian yang sudah berlangsung lama ini, karena kita tidak tahu bentuk-bentuk serta leluhurnya. Namun banyak binatang mempunyai struktur yang bisa diterangkan dengan baik lewat dampak ketiadaan pemakaian. Seperti yang dikemukakan oleh Profesor Owen, tidak ada keanehan yang lebih besar pada burung yang tidak bisa terbang di alam bebas, namun di Negara ini ada beberapa burung seperti itu. Itik yang suka berkelahi dari Amerika Selatan hanya dapat mengepak-ngepakan sayapnya di atas permukaan air, dan mempunyai sayap yang kondisinya hampir sama dengan itik Aylesbury yang dipelihara. Menurut Cunningham, fakta yang menonjol ialah bahwa burung-burung yang masih muda dapat terbang, sedangkan yang dewasa justru kehilanga daya untuk terbang. Karena sebagian burung mencari makanannya di tanah, jarang terbang, kecuali untuk meloloskan diri dari mara bahaya, ada kemungkinan bahwa keadaan hampir tak bersayap dari beberapa burung tadi disebabkan oleh tidak dipakainya sayap, burung-burung ini tinggal dan diam di beberapa pulau samudera yang tidak di huni burung-burung buas. Burung unta selalu tinggal di daratan, dan untuk menghadapi bahaya, ia tidak dapat meloloskan diri dengan terbang, tetapi ia bisa mempertahankan diri dengan menyepak musuhnya dengan tangkas seperti yang dilakukan binatang berkaki empat. Kita boleh jadi percaya bahwa nenek moyang genus burung onta mempunyai kebiasaan seperti burung bustard, dan bahwa dari generasi ke generasi ukuran serta beratnya semakin bertambah, kakinya lebih sering dipakai sehingga mahirnya mereka tidak dapat terbang.

Dalam beberapa kasus, kita mungkin dapat megatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh modifikasi tidak terpakainya struktur, terutama oleh karena seleksi alam. Wollaston telah menemukan buktu yang amat penting bahwa 200 ekor kumbang, dari 550 spesies (tetapi lebih banyak yang tidak diketahui yang tinggal di madeira) sayapnya lumpuh sehingga tidak dapat terbang, dan bahwa dari 29 genus endemic, tidak kurang dari 23 spesies yang mengalami kondisi yang sama. Beberapa fakta mengatakan bahwa kumbang di berbagai tempat di dunia ini tertiup topan sampai ke laut dan mati; bahwa kumbang di Madeira sebagaimana yang dilihat oleh Wollaston, pada bersembunyi sampai badai reda dan matahari bersinar kembali. Bahwa proporsi kumbag bersayap lebih banyak tinggal di gurun daripada yang tinggal di Madeira sendiri dan terutama adanya faktor luar biasa yang ditandaskan dengan kuat oleh Wallaston sendiri, bahwa sejumlah besar kelompok kumbang yang bergitu banyak jumlahnya mungkin di tempat lain mutlak perlu menggunakan sayap, tetapi di tempat ini hampir tidak meggunakan sama sekali, beberapa keadaan ini memberikan fakta bahwa keadaan tanpa sayap yang menimpa banyak kumbang di Madeira disebabkan terutma oleh pegaruh seleksi alam, mungkin digabung dengan tidak dipakainya sayap. Lewat generasi secara terus-menerus setiap kumbang yang secara individu jarang sekali terbang karena tidak sempurnannya perkembangan sayap atau karena kebiasaan malas terbang. Justru memunyai kesempatan baik untuk selamat dan tetap hidup, karena tidak tertiup oleh angin topan masuk laut. Sebaliknya yang bersayap sempurna dan pandai terbang paling sering tertiup badai dan mati dilaut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kota Madeira

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kumbang Tak bersayap dan Kumbang Bersayap

 

 

 

b. Aklimatisasi

Kebiasaan yang berlaku turun-temurun pada tanaman, seperti pada saat berbunga, pada waktu tidur, pada saat diperlukan sejumlah air bagi biji untuk bisa tumbuh, dan sebagainya, dialami oleh semua tumbuhan. Sebagaimana sangat lezim bagi spesies berbeda yang termasuk genus yang sama untuk tumbuh di negeri-negeri yang beriklim panas dan berhawa dingin, apabila benar bahwa semua spesies dari genus yang sama berasal dari satu bentuk tetua tunggal, maka penyusunan terhadapa lingkungan pasti telah terjadi secara turun temurun dan telah berlangsung lama.

Penelitian dari H.C Watson terhadap spesies tanaman dari eropa yang didatangkan dari Azores ke Inggris bisa dikemukakan fakta otentik tentang spesies yang tersebar luas, menurut tarikh sejarah, meliputi daerah panas dan dingin, dan sebaliknya; akan tetapi kita tidak tahu pasti apakah binatang-binatang ini sangat beradaptasi dengan iklim asalnya, meskipun dalam semua kasus yang bersifat umum kita beranggapan bahwa kasusnya memang demikian; kita juga tidak tahu apakah binatang-binatang tadi akhirnya telah menyesuaikan diri khususnya terhadap tempat kediamannya yang baru, supaya lebih cocok daripada sewaktu mereka datang untuk pertama kalinya dahulu.

Pada umumnya, kita bisa menarik kesimpulan bahwa kebiasaan, atau pemakaian dan tidak adanya pemakaian dalam beberapa hal, telah memainkan peranan penting dalam modifikasi kerangka dan konstitusi, akan tetapi dampaknya seringkali sangat terkombinasi dengan seleksi alam dari variasi-variasi yang ada sejak lahir dan kadang-kadang terlalu dikuasai oleh seleksi alam tersebut.

c. Variasi yang Saling Berhubungan

Yang dimaksudkan dengan ungkapan ini adalah bahwa seluruh organisme atau sangat terikat satu sama lain selama pertumbuhan dan perkembangannya sehingga apabila terjadi sedikit variasi pada bagian manapun dan terakumulasi melalui seleksi alam, maka bagian lain pun termodifikasi.

Salah satu kasus riil yang paling jelas adalah bahwa variasi struktur pada larva secara alami cenderung mempengaruhi struktur binatang di alam bebas. Beberapa bagian tubuh yang proporsional dan yang pada periode embrio awal sama strukturnya, dan yang perlu ditampakkan pada kondisi serupa, tampaknya sangat mudah berubah dengan cara serupa.

d. Struktur Ganda, Rudimen, dan Sederhana yang Bisa Bervariasi

Seolah-olah sudah menjadi peraturan, sebagaimana yang dikemukakan Is. Geoofroy St. Hilaire, baik mengenai varietas maupun spesies, bahwa apabila bagian atau organ mana pun diulang berkali-kali pada individu yang sama seperti tulang belakang pada ular dan kepala putik pada bunga polyandrous, jumlahnya bisa bervariasi. Sedangkan bagian atau organ yang sama, jika itu terjadi pada jumlah lebih sedikit, beberapa ahli botani mengungkapkan bahwa bagian-bagian yang bersifat ganda sangat mudah berubah strukturnya. Karena “pengulangan vegetative” adalah suat tanda organisasi yang sederhana, seperti yang dikatakan oleh Profesor Owen, maka pernyatan-pernyatan yang terdahulu sesuai dengan pendapat umum para naturalis yakni bahwa makhluk yang masih bertataran rendah menurut skala alam lebih bervariasi daripada yang tatarannya lebih tinggi. Yang dimaksud dengan tataran rendah di sini adalah bahwa beberapa bagian struktur organisasi agak lebih dikhususkan untuk fungsi-fungsi tertentu, dan selama bagian yang sama itu harus melakukan pekerjaan berbeda, barangkali kita dapat memahami mengapa tetap bervariasi, yakni mengapa seleksi alam tidak melindungi atau menolak setiap adanya penyimpangan dalam bentuk ketika organ atau bagian harus melakukan pekerjaanya untuk tujuan tertentu. Sama halnya dnegan sebilah pisau yang harus digunakan untuk memotong segala macam barang, bisa jadi bentuknya beraneka ragam, sedangkan alat untuk tujuan tertentu harus berbentuk khusus. Kita jangn pernah melupakan bahwa seleksi alam dapat bertindak sendirian melalui dan untuk kepentingan semua makhluk hidup.

Bagian rudiment, sebagaimana kita ketahui secara umum, cenderung amat bervariasi. Kita harus kembali lagi pada masalah ini, dan menambahkan bahwa keanekaragaman tersebut rupanya karena tidak dimanfaatkan, dank arena seleksi alam, maka tidak memilikikekuatan untuk mengecek penyimpangan yang terjadi pada strukturnya.

e. Ciri-ciri Khusus Lebih Bervariasi dari Ciri Umum

Contoh dari permasalah ini adalah jika dalam sebuah genus besar tumbuhan beberapa spesies mempunyai bunga berwarna biru dan beberapa yang lain memiliki bunga berwarna merah, maka warna tersebut hanya merupakan cirri khusus, dan tak seorang pun akan merasa heran terhadap terhadap spesies biru yang berubah menjadi merah, atau sebaliknya. Tetapi bila semua spesies mempunyai bunga berwarna biru, maka warna tersebut akan menjadi cirri umum dan variasinya akan menjadi keadaan yang luar biasa.

Fakta ini menunjukkan bahwa cirri umum, jika merosot nilainya, dan hanya bernilai khusus, seringkali menjadi bervariasi walaupun arti pentingnya menurut fisiologis mengkin tetap sama. Atau dengan kata lain semakin tidak normal perbedaan organ dalam berbagai spesies dan kelompok yan sama, semakin mudah terjadi penyimpangan pada individu.

f. Spesies yang Berbeda Menunjukkan Ciri yang Serupa

Pernyatan ini akan mudah dimengerti dengan melihat kembali kepada ras binatang piaraan kita. Ras jenis burung merpati yang paling menonjol tersebar luas di berbagai Negara memperlihatkan sub-variasi dengan bulu kepala yang berubah, dan bulu pada kaki, karakter atau cirri yang tidak dimiliki oleh burung serupa pada dua jenis ras yang berbeda atau lebih. Seringkali adanya 14 atau bahkan 16 bulu ekor pada burung merpati puter bisa dianggap sebagai variasi yang mencerminkan struktur normal dari ras merpati lain, yaitu fantail (merpati ekor kipas).

5. Variasi Genetik sebagai Dasar Evolusi dan Mutasi

a. Pengertian, Macam-macam dan Sebab-sebab Mutasi

 

 

Penggandaan pada kromosom

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mutasi adalah perubahan pada struktur kimia gen yang bersifat turun-temurun yang terjadi bisa secara spontan atau tidak spontan oleh zat kimia, radiasi sinar radioaktif, terinfeksi virus, dan lain sebagainya.

Mutasi dapat melibatkan duplikasi fragmen DNA yang besar, yang merupakan sumber utama bahan baku untuk gen baru yang berevolusi, dengan puluhan sampai ratusan gen terduplikasi pada genom hewan setiap satu juta tahun. Kebanyakan gen merupakan bagian dari famili gen leluhur yang sama yang lebih besar.

Gen dihasilkan oleh beberapa metode, umumnya melalui duplikasi dan mutasi gen leluhur, atau dengan merekombinasi bagian gen yang berbeda, membentuk kombinasi baru dengan fungsi yang baru. Sebagai contoh, mata manusia menggunakan empat gen untuk menghasilkan struktur yang dapat merasakan cahaya: tiga untuk sel kerucut, dan satu untuk sel batang; keseluruhannya berasal dari satu gen leluhur tunggal. Keuntungan duplikasi gen (atau bahkan keseluruhan genom) adalah bahwa tumpang tindih atau fungsi berlebih pada gen ganda mengijinkan alel-alel dipertahankan (jika tidak akan membahayakan), sehingga meningkatkan keanekaragaman genetika.

 

 

 

 

 

 

Aglonema Gading Mas, Hasil Mutasi

 

 

Perubahan pada bilangan kromosom dapat melibatkan mutasi yang bahkan lebih besar, dengan segmen DNA dalam kromosom terputus kemudian tersusun kembali. Sebagai contoh, dua kromosom pada genus Homo bersatu membentuk kromosom 2 manusia; pernyatuan ini tidak terjadi pada garis keturunan kera lainnya, dan tetap dipertahankan sebagai dua kromosom terpisah.[38] Peran paling penting penataan ulang kromosom ini pada evolusi kemungkinan adalah untuk mempercepat divergensi populasi menjadi spesies baru dengan membuat populasi tidak saling berkembang biak, sehingga mempertahankan perbedaan genetika antara populasi ini.

Urutan DNA yang dapat berpindah pada genom, seperti transposon, merupakan bagian utama pada bahan genetika tanaman dan hewan, dan dapat memiliki peran penting pada evolusi genom. Sebagai contoh, lebih dari satu juta kopi urutan Alu terdapat pada genom manusia, dan urutan-urutan ini telah digunakan untuk menjalankan fungsi seperti regulasi ekspresi gen. Efek lain dari urutan DNA yang bergerak ini adalah ketika ia berpindah dalam suatu genom, ia dapat memutasikan atau mendelesi gen yang telah ada, sehingga menghasilkan keanekaragaman genetika.

Gejala alam yang mengarah pada bentuk dan struktur tubuh dari populasi suatu organisme sehingga mengalami evolusi disebut mutasi. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Hugo de Vries, seorang ahli botani Belanda bahwa variasi genetik merupakan akibat dari mutasi gen yang menyebabkan terjadinya evolusi. Mutasi dapat mengubah informasi genetik terhadap individu baru dan menambah jumlah variasi dalam suatu populasi. Banyak sekali mutasi terjadi dalam organisme yang telah mampu beradaptasi dengan alam dan hanya sedikit mutasi yang mendatangkan keuntungan bagi individu-individu yang mengalaminya. Sebaliknya, banyak mutasi yang merusak dan menyebabkan kematian. Organisme yang telah mampu beradaptasi dengan alam, tiba-tiba harus memiliki bagian-bagian tubuh yang tidak harmonis dengan lingkungan. Tentu saja organisme tersebut harus tersisih dari lingkungannya. Bagi organisme mutan yang beruntung, ia akan terus bertahan hidup, mewariskan gen mutannya turun-temurun kepada generasi baru. Hal ini dapat digambarkan dalam bagan berikut ini:

 

 

 

 

Bagan Proses Evolusi karena Mutasi

 

Bagan tersebut di atas digambarkan sebagai proses evolusi karena mutasi. Generasi baru akan semakin bervariasi apabila di antara mutan yang subur (fertil) dapat melakukan perkawinan dan membentuk rekombinan. Sekarang, manusia dengan kecanggihan ilmunya dapat membuat evolusi cepat dengan adanya rekayasa genetik sehingga mampu menciptakan varian baru atau mutan buatan dalam waktu singkat.

Sebenarnya mutasi dapat dikatakan sebagai sumber terbentuknya varian karena hasil mutasi tetap dapat diwariskan. Dengan demikian, perubahan sifat pun tampak pada varian dari generasi ke generasi. Namun, tidak semua produk mutasi dapat menghasilkan keturunan (subur) sebab umumnya mutan bersifat steril. Darwin dari hasil penelitiannya mengemukakan pendapat pendapatnya bahwa variasi-variasi yang dapat diwariskan merupakan bahan mentah dari perubahan struktur yang bersifat revolusioner, termasuk variasi akibat mutasi. Bukti-bukti menunjukkan bahwa mutasi terjadi secara sembarang tempat, sembarang waktu, di luar keteraturan sistem kehidupan sehingga menambah keragaman jenis makhluk hidup. Apa pun hasil mutasi, sebenarnya Sang Maha Pencipta tidak pernah sia-sia menciptakan sesuatu. Sama halnya dengan gen-gen lainnya, gen mutan di dalam populasinya juga mengalami seleksi alam terus-menerus. Sementara melewati proses seleksi, seluruh varian memiliki risiko mutasi menjadi varian baru, yang sesuai ataupun tidak sesuai dengan kondisi lingkungannya. Namun, jangan lupa bahwa pada setiap organisme selalu ada gen yang diwariskan dari tetua kepada keturunannya dan gen ini tidak mengalami mutasi, tidak juga mengalami kepunahan akibat seleksi alam. Artinya, di sepanjang lintas evolusi ada saja gen yang eksis secara abadi, selalu adaptif terhadap berbagai perubahan alam sehingga kita dapat melihat dengan jelas adanya kekerabatan struktur tubuh di antara berbagai kelompok organisme. Persis seperti yang digambarkan oleh Linnaeus dan Darwin, evolusi biologi itu seperti sebuah pohon yang memiliki cabang utama dan ranting-rantingnya.

Peristiwa mutasi gen dapat tidak menyebabkan perubahan pembentukan asam amino sehingga tidak menimbulkan efek yang berarti. Namun, jika mutasi gen menyebabkan perubahan pembentukan asam amino maka fungsi gen tersebut juga berubah. Perubahan fungsi ini dapat diamati melalui kelainankelainan yang terjadi pada individu yang mengalami mutasi. Bagaimana peristiwa mutasi dapat menyebabkan terjadinya evolusi? Setiap sel makhluk hidup dapat mengalami mutasi setiap saat, tetapi tidak semua mutasi dapat diwariskan pada keturunannya. Mutasi yang terjadi pada sel soma (sel tubuh) tidak akan diwariskan. Setelah individu yang mengalami mutasi meninggal maka mutasi yang terjadi juga akan menghilang bersamanya. Sementara itu, mutasi yang terjadi pada sel-sel kelamin akan diwariskan pada keturunannya. Adanya bahanbahan mutagen dalam gonad dapat menyebabkan terjadinya mutasi pada sel kelamin jantan (sperma) dan sel kelamin betina (ovum). Dengan demikian, gen yang bermutasi akan selalu ada dalam setiap sel keturunan. Setiap spesies makhluk hidup memiliki sifat genotip dan fenotip (fisik) yang berbeda. Gen-gen yang menentukan fenotip individu tersimpan di kromosom dalam nukleus. Gen-gen sendiri tersusun dalam DNA (asam deoksiribonukleat). Sementara itu, DNA disusun oleh nukleotida yang terdiri dari basa nitrogen, gula deoksiribosa, dan fosfat. Perubahan yang terjadi pada susunan kimia DNA dapat mengakibatkan perubahan sifat individu. Perubahan ini disebut mutasi gen.

Sadar bahwa seleksi alam tidak berfungsi mendorong terjadinya evolusi, evolusionis lalu memunculkan konsep “mutasi” dalam teori mereka di abad ke-20. Mutasi adalah perubahan yang terjadi pada gen makhluk hidup karena pengaruh luar seperti radiasi. Evolusionis menyatakan perubahan ini menyebabkan organism berevolusi. Akan tetapi, berbagai penemuan ilmiah menolak pernyatan ini, sebab semua mutasi yang pernah diketahui, hanya menyebabkan kerugian pada makhluk hidup. Semua mutasi yang terjadi pada manusia mengakibatkan kelainan

mental maupun fisik seperti mongolisme (Down’s Syndrome), albinisme (albino), dwarfisme(tubuh pendek), atau penyakit lain seperti kanker.

Alasan lain mengapa mutasi mustahil menyebabkan makhluk hidup berevolusi adalah mutasi tidak menambahkan informasi genetis baru pada suatu organisme. Mutasi menyebabkan susunan informasi genetis yang telah ada menjadi berubah secara acak, mirip seperti mengocok kartu. Dengan kata lain, tidak ada informasi genetis baru yang dimunculkan oleh mutasi. Namun, teori evolusi menyatakan bahwa informasi genetis makhluk hidup bertambah seiring dengan waktu. Sebagai contoh, bakteri dengan struktur sangat sederhana tersusun atas 2.000 jenis protein yang berbeda, sedangkan manusia memiliki 100.000 jenis protein. Tepatnya 98.000 protein baru harus “didapatkan” agar sebuah bakteri berevolusi menjadi manusia. Jadi, protein-protein ini tidak mungkin terbentuk melalui mutasi, sebab mutasi tidak dapat menambahkan apa pun pada rantai DNA.

Tidak mengherankan jika sejauh ini tak pernah diamati satu mutasi pun yang mampu memperbaiki informasi genetis dari suatu bentuk kehidupan mana pun. Kendatipun dirinya seorang evolusionis, mantan Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Prancis, Pierre Paul Grassé, membuat pengakuan berikut ini: “Tidak peduli seberapa banyak mutasi yang ada, mutasi ini tidak menghasilkan bentuk evolusi apa pun”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kelainan yang Nampak pada bayi “Kembar Siam” manusia disebabkan oleh mutasi. Tubuh katak kembar yang masih saling melekat saat lahir ini memperlihatkan kepada kita akibat dari mutasi.

 

Mutasi diartikan sebagai pemutusan atau penggantian yang terjadi pada molekul DNA, yang ditemukan dalam inti sel dari setiap makhluk hidup dan memuat semua informasi genetik darinya. Pemutusan atau penggantian ini diakibatkan oleh pengaruh-pengaruh luar seperti radiasi atau reaksi kimiawi. Setiap mutasi adalah sebuah “kecelakaan”, dan merusak nukleotida-nukleotida penyusun DNA atau mengubah kedudukan mereka. Hampir selalu, mereka menyebabkan kerusakan dan perubahan yang sedemikian besar sehingga sel tidak bisa memperbaikinya.

Mutasi, yang sering dijadikan tempat berlindung evolusionis, bukan sebuah tongkat sulap yang bisa merubah makhluk hidup ke bentuk yang lebih maju dan sempurna. Dampak langsung mutasi adalah membahayakan. Perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh mutasi hanya akan serupa dengan apa yang dialami penduduk Hiroshima, Nagasaki, dan Chernobyl: yaitu kematian, cacat, dan kelainan tubuh…

Alasan di balik ini sangatlah sederhana: DNA memiliki struktur sangat kompleks, dan perubahan-perubahan acak hanya akan merusakkannya. Ahli biologi B. G. Ranganathan menyatakan:

Pertama, mutasi asli sangat jarang terjadi di alam. Kedua, kebanyakan mutasi adalah berbahaya karena terjadi secara acak, bukan secara teratur merubah struktur gen; setiap perubahan acak dalam suatu sistem yang sangat tertata rapi hanya akan memperburuk, bukan memperbaiki. Sebagai contoh, jika gempa bumi menggoncang struktur yang tertata rapi seperti gedung, akan terjadi perubahan acak pada kerangka bangunan tersebut yang, dapat dipastikan, tidak akan merupakan suatu perbaikan.


Kaki yang cacat, hasil mutasi.

 

 

Tidak mengherankan, tak satupun mutasi bermanfaat telah teramati sejauh ini. Semua mutasi telah terbukti berbahaya. Ilmuwan evolusionis, Warren Weaver, mengomentari laporan yang disusun oleh Committee on Genetic Effects of Atomic Radiation (Komite Dampak Genetik dari Radiasi Atom), yang dibentuk untuk menyelidiki mutasi yang mungkin terjadi akibat senjata nuklir pada Perang Dunia II :

Banyak yang akan tercengang oleh pernyataan bahwa hampir semua gen termutasi yang telah dikenal ternyata membahayakan. Jika mutasi adalah bagian yang diperlukan dari proses evolusi, bagaimana mungkin suatu pengaruh baik—evolusi ke bentuk kehidupan yang lebih tinggi—dihasilkan dari mutasi yang umumnya membahayakan?

Setiap usaha yang dilakukan untuk “menghasilkan mutasi yang bermanfaat” berakhir dengan kegagalan. Selama puluhan tahun, evolusionis melakukan berbagai percobaan untuk menghasilkan mutasi pada lalat buah, karena serangga ini berkembang biak sedemikian cepat sehingga mutasi akan lebih cepat terlihat. Keturunan demi keturunan lalat buah ini dimutasikan, namun tak satu pun mutasi bermanfaat yang teramati. Ahli genetika evolusionis, Gordon Taylor, akhirnya menulis:

Adalah sebuah kenyataan menarik, tetapi tidak sering disebutkan bahwa, meskipun para ahli genetika telah mengembangbiakkan lalat buah selama lebih dari 60 tahun di laboratorium seluruh dunia—lalat yang menghasilkan keturunan baru setiap sebelas hari—mereka tidak pernah melihat munculnya spesies baru atau bahkan enzim baru.

Sejak awal abad ke-20, ahli biologi evolusi telah mencari-cari contoh mutasi menguntungkan dengan menciptakan lalat mutan. Tetapi, usaha ini selalu menghasilkan makhluk yang sakit dan cacat. Gambar kiri menunjukkan kepala seekor lalat buah yang wajar, dan gambar kanan menunjukkan kepala lalat buah dengan kaki yang keluar darinya, hasil mutasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peneliti lainnya, Michael Pitman, berkomentar tentang kegagalan percobaan-percobaan yang dilakukan pada lalat buah:

Morgan, Goldschmidt, Muller, dan ahli genetika yang lain telah menghadapkan beberapa lalat buah pada kondisi ekstrim seperti panas, dingin, terang, gelap dan perlakuan dengan zat kimia serta radiasi. Semua jenis mutasi, semuanya hampir tak berarti atau benar-benar merugikan, telah dihasilkan. Inikah evolusi buatan manusia? Tidak juga: Hanya sebagian kecil dari monster buatan para ahli genetika tersebut yang mungkin mampu bertahan hidup di luar botol tempat mereka dikembangbiakkan. Pada kenyataannya mutan-mutan tersebut mati, mandul, atau cenderung kembali ke jenis asalnya.

 

 

Katak mutan lahir dengan kaki pincang.

 

Hal yang sama berlaku bagi manusia. Semua mutasi yang teramati pada manusia menghasilkan kerugian. Semua mutasi yang terjadi pada manusia mengakibatkan cacat fisik, dalam bentuk penyakit mongolisme, sindroma Down, albinisme (bulai), cebol atau kanker. Jelaslah, sebuah proses yang membuat manusia cacat atau sakit tidak mungkin menjadi “mekanisme evolusi” – evolusi seharusnya menghasilkan bentuk-bentuk yang lebih mampu bertahan hidup.

Ahli penyakit Amerika David A. Demick mencatat sebagai berikut dalam sebuah artikel ilmiah tentang mutasi:

Ribuan penyakit manusia yang berhubungan dengan mutasi genetik telah dicatat pada beberapa tahun terakhir, dan lebih banyak lagi yang sedang dikaji. Sebuah buku rujukan terbaru genetika kedokteran mendaftar sekitar 4500 penyakit genetik yang berbeda. Beberapa gejala menurun yang diketahui secara klinis di masa sebelum analisa genetika molekuler (seperti gejala Marfan) sekarang ternyata diketahui berbeda jenis; yaitu berhubungan dengan berbagai mutasi yang berbeda… Dengan sederetan penyakit manusia yang disebabkan oleh mutasi ini, apakah dampak baiknya? Dengan ribuan contoh mutasi berbahaya yang ada, tentunya dimungkinkan memperlihatkan beberapa mutasi berguna jika saja evolusi makro benar. Hal ini [mutasi berguna] akan diperlukan bukan hanya untuk evolusi ke bentuk lebih kompleks, tapi juga untuk mengurangi dampak buruk dari banyak mutasi berbahaya. Tetapi, ketika tiba saatnya untuk menunjukkan mutasi berguna, ilmuwan-ilmuwan evolusionis anehnya hanya bungkam.

 

 

 

 


 

Bentuk dan fungsi sel darah merah yang dirusak pada anemia sel-sabit.
Akibatnya, daya ikat oksigen sel berkurang
Lalat mutan dengan sayap yang cacat.

 

 

 

 

Satu-satunya contoh “mutasi berguna” yang diberikan oleh ahli biologi evolusi adalah penyakit yang dikenal sebagai anemia sel sabit. Pada penyakit ini, molekul hemoglobin, yang membawa oksigen dalam darah, rusak karena mutasi, dan mengalami perubahan bentuk. Akibatnya, kemampuan molekul hemoglobin untuk mengangkut oksigen benar-benar terganggu. Karena itu, penderita anemia sel sabit mengalami kesulitan bernapas. Namun demikian, contoh mutasi ini, yang dijabarkan dalam bab kelainan darah pada buku kedokteran, anehnya dinilai oleh sebagian ahli biologi evolusi sebagai “mutasi berguna”. Mereka mengatakan bahwa kekebalan terbatas terhadap malaria pada penderita anemia sel sabit adalah sebuah “hadiah” dari evolusi. Dengan alur pemikiran yang sama, seseorang bisa mengatakan bahwa, karena orang yang dilahirkan dengan kelumpuhan kaki genetik tidak mampu berjalan dan jadinya selamat dari kematian karena kecelakaan lalu lintas, maka kelumpuhan kaki genetik tersebut adalah sebuah ”sifat genetik yang menguntungkan”. Pemikiran seperti ini jelas-jelas tidak berdasar.

Jelaslah bahwa mutasi hanyalah suatu mekanisme yang merusak. Pierre-Paul Grasse, mantan ketua French Academy of Sciences, menjelaskan dengan gamblang dalam komentarnya tentang mutasi. Grasse, mengibaratkan mutasi sebagai “kesalahan menulis huruf ketika menyalin sebuah tulisan”. Dan sebagaimana mutasi, kesalahan huruf tidak bisa menghasilkan suatu informasi baru, tetapi hanya merusak informasi yang telah ada. Grasse menjelaskan kenyataan ini sebagai berikut:

Mutasi, di suatu saat, terjadi secara terpisah. Mutasi tidak saling melengkapi satu sama lain, ataupun menumpuk pada keturunan selanjutnya menuju arah tertentu. Mereka merubah apa yang telah ada sebelumnya, tetapi, walau bagaimanapun, mereka melakukannya secara tidak teratur,… Segera setelah beberapa ketidakteraturan, meskipun kecil, terjadi pada makhluk yang teratur, penyakit, dan kemudian kematian, akan mengikuti. Tidak mungkin ada penyatuan antara fenomena kehidupan dengan ketidakteraturan.

Jadi berdasarkan alasan tersebut, seperti yang Grasse katakan, “Tidak peduli berapa sering terjadi, mutasi tidak menghasilkan satu pun bentuk evolusi.

Efek Pleiotropik

Bukti terpenting bahwa mutasi membawa pada kerusakan adalah proses penyandian genetik. Hampir semua gen pada makhluk hidup yang sepenuhnya berkembang membawa lebih dari satu macam informasi. Sebagai contoh, satu gen mungkin mengatur sifat tinggi sekaligus warna mata pada suatu organisme. Ahli mikrobiologi, Michael Denton, menjelaskan sifat gen pada organisme tingkat tinggi seperti manusia ini, sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengaruh dari gen pada perkembangan secara tak terduga sering kali beragam. Pada tikus rumah, hampir semua gen warna kulit memiliki beberapa pengaruh pada ukuran tubuh. Dari tujuh belas mutasi warna mata yang dipicu sinar X pada lalat buah Drosophila melanogaster, empat belas diantaranya mempengaruhi bentuk organ kelamin betina, sifat yang orang akan kira tidak ada hubungannya dengan warna mata. Hampir setiap gen yang telah dipelajari pada organisme tingkat tinggi diketahui mempengaruhi lebih dari satu sistem organ, sebuah efek beragam yang dikenal sebagai pleiotropi. Seperti pendapat Mayr dalam Population, Species and Evolution: “Sangat diragukan apakah ada gen yang tidak pleiotropik pada organisme tingkat tinggi.”

Karena sifat struktur genetik makhluk hidup ini, setiap perubahan tak disengaja karena mutasi, pada gen mana saja dalam DNA, akan mempengaruhi lebih dari satu organ. Akibatnya, mutasi ini tidak akan terbatas pada satu bagian tubuh saja, tetapi akan memperlihatkan lebih banyak dampak merusaknya. Bahkan jika satu dari dampak ini ternyata menguntungkan, sebagai hasil dari kebetulan yang sangat jarang, pengaruh yang tidak bisa dihindari dari kerusakan yang disebabkannya akan jauh lebih terasa daripada manfaat tersebut.

Sebagai rangkuman, ada tiga alasan utama mengapa mutasi tidak memungkinkan terjadinya evolusi:

  1. Pengaruh langsung dari mutasi adalah membahayakan: Karena terjadi secara acak, mutasi hampir selalu merugikan makhluk hidup yang mengalaminya. Nalar kita mengatakan bahwa campur tangan tak berkesadaran [atau perubahan acak] pada sebuah struktur yang sempurna dan kompleks tidak akan memperbaiki struktur tersebut, tetapi malah merusaknya. Dan memang, tidak ada “mutasi berguna” yang pernah teramati.
  2. Mutasi tidak menambahkan informasi baru pada DNA suatu organisme: Unsur-unsur penyusun informasi genetik menjadi terenggut dari tempatnya, hancur atau terbawa ke tempat lain. Mutasi tidak dapat memberi makhluk hidup organ atau sifat baru. Mutasi hanya mengakibatkan kecacatan seperti kaki yang muncul di punggung atau telinga di perut.
  3. Agar dapat diwariskan kepada keturunan selanjutnya, mutasi harus terjadi pada sel-sel perkembangbiakan organisme tersebut: Perubahan acak yang terjadi pada sel biasa atau organ tubuh tidak dapat diwariskan ke keturunan berikutnya. Sebagai contoh, mata manusia yang berubah akibat pengaruh radiasi atau sebab lain, tidak akan diwariskan kepada keturunan berikutnya.

Semua penjelasan yang diberikan di atas menunjukkan bahwa seleksi alam dan mutasi tidak memiliki pengaruh evolusi sama sekali. Sejauh ini, belum ada contoh yang dapat diamati dari “evolusi” yang diperoleh dengan cara ini. Kadang kala, ahli biologi evolusi menyatakan bahwa “mereka tidak bisa mengamati pengaruh evolusi dari mekanisme seleksi alam dan mutasi karena mekanisme ini hanya terjadi dalam jangka waktu yang sangat panjang”. Namun, alasan ini, yang hanya merupakan cara mereka menghibur diri, tidaklah berdasar, dalam pengertian bahwa hal demikian tidak memiliki landasan ilmiah. Selama hidupnya, seorang ilmuwan bisa mengamati ribuan keturunan makhluk hidup dengan masa hidup singkat seperti lalat buah atau bakteri, dan tetap tidak mengamati adanya “evolusi”. Pierre-Paul Grasse menyatakan hal berikut tentang tidak berubahnya bakteri secara alamiah, sebuah kenyataan yang menyanggah evolusi:

 

 

 

 

 

 

 

 

Bakteri Escherichia coli tak berbeda dengan spesimen yang berumur satu miliar tahun. Tak terhitung mutasi selama waktu yang panjang ini tidak mendorong ke perubahan struktur.

 

 

 

 

Bakteri… adalah organisme yang, karena jumlah besar mereka, menghasilkan paling banyak mutan. [B]akteri… menunjukkan kesetiaan besar pada spesies mereka. Bakteri Escherichia coli, yang mutan-nya telah dipelajari dengan teliti, adalah contoh terbaik. Pembaca akan setuju bahwa sungguh mengejutkan, paling tidak, [bahwa mereka] yang ingin membuktikan evolusi dan mengungkap mekanismenya ternyata kemudian memilih bahan untuk dipelajari suatu makhluk yang tidak berubah selama miliaran tahun! Apa gunanya mutasi mereka yang tak kenal berhenti, jika mereka tidak berubah [atau menghasilkan perubahan secara evolusi]? Secara keseluruhan, mutasi pada bakteri dan virus hanyalah perubahan warisan seputar kedudukan pertengahan; berayun ke kanan, ke kiri, tetapi pada akhirnya tidak ada pengaruh evolusi. Kecoa, yang merupakan salah satu kelompok serangga paling maju, sedikit banyak tetap tidak berubah sejak jaman Permian, tetapi mereka telah mengalami mutasi sebanyak Drosophila, serangga jaman Tersier.

Singkatnya, mustahil bagi makhluk hidup mengalami evolusi, karena tidak terdapat mekanisme di alam yang bisa menyebabkan evolusi. Lebih jauh lagi, kesimpulan ini sesuai dengan bukti catatan fosil, yang tidak menunjukkan adanya proses evolusi, tetapi malah sebaliknya.

 

 

b. Akibat Mutasi pada Generasi Turunan

Sebagian besar mutasi bersifat merugikan karena mutasi dapat mengubah atau merusak posisi nukleotida-nukleotida yang menyusun DNA. Perubahan-perubahan akibat mutasi banyak menyebabkan kematian, cacat, dan abnormalitas, seperti yang dialami penduduk Hiroshima, Nagasaki, dan Chernobyl. Kadang-kadang mutasi pada sel kelamin dapat mengakibatkan timbulnya sifat baru yang menguntungkan. Bila sifat baru tersebut dapat beradaptasi dengan lingkungannya maka individu tersebut akan terus hidup dan mewariskan mutasi yang dialaminya kepada keturunannya.

Reaktor nuklir Chernobyl di Ukraina mengalami kebocoran pada tanggal 25 April 1989. Radiasi nuklir menyebar ke seluruh kawasan di Ukraina, tidak menutup kemungkinan meluas ke negara tetangga. Adanya kebocoran ini menyebabkan penduduk di daerah tersebut mengalami mutasi gen.

 

 

Korban Reaktor Nuklir Chernobyl

Manusia yang menderita kanker ganas

 

c. Variasi Fenotif dan Variasi yang Dihasilkan dari Mutasi Somatik

Variasi fenotif di dalam populasi dapat menyebabkan adanya seleksi (reproduksi differensial) diantara individu. Variasi ini belum tentu menunjukan adanya perbedaan-perbedan genetic. Jadi variasi yang dihasilkan oleh berbagai keadaan luar dalam waktu pertumbuhan atau disebabkan penyakit atau kecelakaan dapat dikenai oleh seleksi alam. Meskipun aksi seleksi alam pada segala macam variasi dapat mengubah komposisi suatu populasi di alam suatu waktu yang lama, tetapi hanyalah aksi dari variasi yang mencermikan perbedaan-perbedaan genetic yang mempunyai pengaruh jangka panjang.

Suatu variasi uang betul-betul fenotipik bukanlah suatu bahan baku (bahan dasar) bagi perubahan evolusi. Dapat dimengerti secara pengertian genetic, bahwa bentuk tubuh yang atletis dengan latihan-latihan keras, atau pembentukan daya pemikiran dengan belajar atau menjaga kesehatan dengan makanan yang seimbang atau pemeriksaan badan yang teratur, tidak dapat mengubah gen dalam sel kelamin. Gamet akan mengandung informasi genetic yang sama tanpa mengandung apakah seseorang telah mengalami latihan atau tidak. Ini berarti bahwa latihan, pendidikan, makanan, atau pengawasan medis tidak dapat mengubah pembawa sifat genetic. Jadi seleksi yang bekerja pada variasi yang dihasilkan seluruhnya dengan latihan, pendidikan, makanan, atau pengawasan medis tidak dapat mengubah atau menghasilkan evolusi secara biologis.

Terdapat suatu variasi genetik yang tidak berguna sebagai bahan baku evolusi. Hal ini adalah variasi yang disebabkan oleh mutasi somatic. Dapat terjadi bahwa suatu mutasi yang penting, terjadi pada sel ectoderm suatu embrio muda dari suatu binatang. Semua sel yang diturunkan dari sel yang mengalami mutasi dapat juga bersifat sel mutan. Hasil mutasi demikian akan menyebabkan perubahan besar-besaran pada system saraf, tetapi perubahan ini tidak dapat diturunkan kepada anak-anaknya sebab mutasi bukanlah terjadi pada sel kelamin. Sel ectoderm bukanlah sel yang akan menjadi gamet. Mutasi dari sel tidak dapat mengubah gen dari sel kelamin yang akan menghasilkan sel gamet. Jadi seleksi yang dihasilkan mutasi somatic tidak dapat menghasilkan suatu perubahan secara evolusi pada organism yang berbiak secara seksual.

Tanpa adanya data genetis yang cukup, beberapa ahli biologi pada abad yang lalu dan permulaan abad ini telah menolak pendirian, bahwa variasi fenotip atau mutasi somatic tidak dapat dipakai sebagai bahan baku untuk perubahan-perubahan evolusi. Hal-hal ini rupanya masih juga dimengerti oleh beberapa golongan bukan biologi pada waktu itu.

Selama ini yang telah kita singgung adalah teori evolusi oleh Darwin dan Wallace yang telah diubah dengan adanya penemuan-penemuan baru oleh para penyelidik yang kemudian menyusul. Teori di atas ternyata mempunyai saninga. Saingan dari teori Darwin dan Wallace adalah teori Lamarck. Menurut Lamarck dari pengikutnya, sifat-sifat somatik yang diperoleh individu selama waktu hidupnya dapat diturunkan kepada anak-anaknya. Jadi sifat-sifat dari setiap generasi akan ditentukan, paling tidak sebagian, oleh apa yang terjadi pada generasi sebelumnya, yakni dengan adanya perubahan yang oleh pengalaman, penggunaan, atau tidak bagian-bagian tubuh, dan juga kecelakaan. Jadi, perubahan evolusi ditafsirkan sebagai pengumpulan bertingkat –tingkat dari sifat-sifat yang diperoleh dalam jangka beberapa generasi. Contoh klasik adalah leher jerapah.

Mskipun hipotesis evolusi oleh sifat-sifat yang didapatnya yang diturunkan dianggap rendah oleh beberapa ahli biologi, pada mulanya hal ini dapat diterima secara logis. Tetapi hipotesis Lamarck tidak dapat menghadapi pembuktian riset secara ilmiah. Pada zaman Darwin mapun Lamarck, segala sesuatu mengenai genetic belum ada. Model dengan percobaanya belum muncul. Itulah sebabnya bagian-bagian tubuh yang berubah dapat diturunkan. Memang sejak zaman Yunani telah terdapat suatu anggapan bahwa butiran-butiran atau pangenes, dari semua bagian tubuh akan menjadi telur dan apa yang kita sebut sebagai spermatozoa.

Pandangan pangenesis dari Yunani inilah yang merupakan dasar genetis dari hipotesis Lamarck. Jika pelari jarak jauh mempunyai kaki yang tumbuh dengan baik, jadi pangenesis pada pelari dengan demikian dapat diubah. Jadi pelari membentuk spermatozoa, maka pangenesis dari otot kaki pada spermatozoanya akan berubah tipe yang sudah berubah dan akan menjadikan otot kaki anaknya berukuran besar. Satu hal yang menentang teori Lamarck adalah teori pangenesis dimana teori evolusi ini bergantung sepenuhnya. Kita mengetahui bahwa sel soma sama sekali tidak mempengaruhi genotif sel kelamin. Perubahan apapun pada sel soma tidak akan membawa perubahan-perubahan pada informasi keturunan di dalam gamet. Penurunan dari sifat-sifat didapat belum pernah dibuktikan. Dapatlah kita anggap bahwa teori Lamarck tidak lagi benar.

 

B. Kompleksitas Organisasi Seluler dan Gen

1. Data Penting Menyangkut Organisasi Biokimia Sel

Perubahan- perubahan kimiawi terus berlangsung di dalam setiap sel. Zat hidup yang terkandung di dalam sel itu terus terperbaharui dan sel-sel tersebut memperbaharui diri dengan melakukan pembagian di dalam organ-organnya, sebagian diantaranya seperti darah mempunyai kemampuan yang sangat menonjol untuk memperbaharui diri. Dalam konteks ini, sel-sel reproduktif  harus juga disebutkan, sebab sel ini menjamin lestarinya spesies itu.

Agar semua fungsi ini dapat terus berjalan, perubahan-perubahan pada zat dan energi beserta lingkungan sekelilingnya harus terus pula terjadi, hal ini mengakibatkan dihasilkannya makromolekul pada sel unsur-unsur kimia yang sederhana. Agar hal ini terjadi, bukan hanya kedua komponen yang akan bersatu itu harus ada, tapi harus ada pula apa yang dinamakan ‘katalis’, perantara yang mampu bertindak seminimal mungkin tapi mampu menggerakkan reaksi kimia dan tetap tak berubah begitu reaksi itu terjadi. Masing-masing katalis dapat menimbulkan reaksi yang diperlukan. Agar terproduksi protein pada zat hidup, yang merupakan hasil sintesis komponen-komponen yang lebih sederhana, diperlukan bantuan katalis-katalis yang dalam hal ini berupa enzim-enzim, dan masing-masing enzim mengandung zat unik yang dapat merangsang terjadinya sintesis suatu protein tertentu.

Pada gilirannya, enzim-enzim itu harus dihasilkan, dan setiap sel mempunyai suatu system untuk tujuan ini. Unsur dasar system ini berupa suatu makromolekul protein yang sangat kompleks, yang dinamakan asam desoksiribonukleat (DNA). Komponen-komponen kimia lainnya ‘bergantung’ pada substansi dasar ini, dan dengan tingkat kompleksitas yang beragam komponen-komponen tersebut memproduksi enzim-enzim ini yang akan merangsang terjadinya sintesis protein yang diperlukan bagi adanya kehidupan.

Pada organisme-organisme hidup yang paling sederhana, DNA berhubungan langsung dengan substansi sel, yaitu sitoplasma. Satu contoh mengenai hal ini adalah bakteri yang tidak mempunyai nukleus. Tapi pada sel-sel hewan dan tetumbuhan lain yang lebih  terorganisasi, DNA berada di dalam nucleus sel kromosom. Hal ini berarti bahwa DNA hanya terlibat secara tidak langsung dalam proses sintesasi zat hidup. DNA bertindak semata-mata sebagai penjaga seluruh data (yang jika disatukan menjadi satu paket informasi) yang dibutuhkan oleh reaksi-reaksi, dengan menggunakan perantara ‘kurir-kurir’, yang mengambil salinan-salinan darinya (DNA) dan membawa salinan-salinan tersebut ke bagian-bagian sitoplasma, seperti ribosom. Pesan-pesan itu dipancarkan melalui asam ribonukleat atau RNA.

Tapi pesan yang ditransfer dari nucleus ke sitoplasma-sitoplasma seluler via RNA tidak datang secara langsung. Kurir RNA dalam kenyataannya bertindak dengan bantuan RNA kedua, yaitu RNA transfer, RNA ini berdaya guna dalam menyebarkan pesan itu, setelah itu RNA kurir dihancurkan. Rincian ini menunjukkan kompleksitas system komunikasi, yang dalam kenyataannya lebih rumit daripada yang terlihat pada kerangka sederhana ini, sebab pesan itu sebenarnya disebarkan dalam bentuk kode.

Dengan demikian kita mulai mendapatkan suatu gagasan antar hubungan tak terhitung yang ada didalam sel, lengkap dengan organ-organ perantaranya yang memainkan suatu peran dalam pembaruan zat hidup. Hal penting lainnya adalah bahwa komando pusat memberikan perintah-perintahnya kepada kurir-kurir khusus agar menggerakkan sejumlah besar sintesis kimiawi yang mensyaratkan suatu ragam tak terbatas tugas yang harus dijalankan. Karena itu kita melihat adanya suatu system yang terorganisasi dengan ukuran fungsi yang besar, meskipun volumenya benar-benar kecil. System tersebut merupakan suatu system yang menentukan adanya seluruh aktivitas sel, termasuk reproduksinya, yaitu bagaimana sel tersebut memainkan peranannya dalam hal keturunan dan selanjutnya dalam evolusi.

Setiap sel mengandung rangkaian DNA. Dalam hal bakteri, yang dimensi-dimensinya berukuran 1/1.000 milimiter, DNA membentuk sebuah pita yang panjangnya bermilimeter-milimeter. Pita itu karenanya sangat pendek dalam hal ini, meskipun pada Escherichia Coli, yang diperkirakan antara 5.000 kali lebih panjang daripada dimensi maksimum bakteri tersebut. Panjang satu milimiter itu terhitung sangat besar bila hal itu diberlakukan pada molekul, dan diatas satu milimiter pita DNA ditempatkan sejumlah komponen kimia kompleks yang tak terhingga, dan masing-masing komponen-komponen tersebut menentukan setiap fungsi bakteri. Dalam hal ini manusia, untuk satu sel saja, pita DNA cukup panjang bila dihitung dalam ukuran meter. Sedangkan untuk panjang keseluruhan pita DNA yang terdapat di dalam diri seorang manusia adalah lebih besar daripada jarak bumi matahari (P. Kourilsky).

Pita-pita DNA yang untuk satu sel ukuran panjangnya lebih dari satu meter, merupakan penjaga cirri-ciri khas keturunan yang diturunkan kepada kita oleh oranng tua kita. Pita-pita DNA tersebut menyampaikan semua informasi yang dapat dimanfaatkan oleh setiap sel didalam tubuh kita. Sementara kehidupan embrio berkembang, sel-sel mengalami pembedaan, mendapatkan fungsi-fungsi khusus dan membentuk seluruh organ kita sesuai dengan perintah-perintah yang dikeluarkan oleh gen-gen. Seluruh system ini diperkecil ukurannya sampai sekecil-kecilnya, sebuah pita DNA yang panjangnya lebih dari satu meter itu tak terhingga tipisnya, dan ketipisannya itu diukur dalam angstrom (sepersepuluh juta milimiter).

DNA mempunyai struktur spiral dalam bentuk heliks ganda, satu pitadibelitkan ke sekeliling pita lain. Para ahli di bidang biologi molekuler telah memperbandingkannya dengan sebuah foto yang disertai negatifnya. Bila sebuah replika pita itu dihasilkan pada saat terjadinya pembagian sel, maka kedua rantai itu terpisah dan masing-masing rantai berfungsi sebagai semacam cetakan untuk menghasilkan sebuah rantai pelengkap, persis seperti negatif sebuah foto yang dapat menghasilkan cetakan positif foto tersebut dan begitu pula sebaliknya. Dengan demikian kita dapat memiliki dua salinan yang identik dengan aslinya, asalkan tidak terjadi kesalahan pada waktu pemrosesan.

Kemampuan system ini untuk berproduksi dan perbedaan hasil akhirnya sangat besar. Bakteri seperti Escherichia Coli dapat mensintesis sekitar 3.000 jenis protein yang berbeda-beda. Lebih dari separuhnya telah dapat di identifikasikan. Sel-sel manusia mengandung DNA seribu kali lebih banyak daripada  Escherichia Coli. Dengan demikian kita dapat melihat besarnya kemampuan sel-sel didalam organism-organisme yang lebih tinggi untuk menghasilkan substansi-substansi kehidupan yang sangat beragam. Daftar protein yang dapat disintesiskan dengan cara ini tak lengkap.  Adalah penting untuk dicatat cara fantastis tumbuhnya DNA menjadi semakin panjang ketika melampui tahap sel-sel organisme primitif ke organisme yang lebih tinggi. Pada dasarnya skala adalah satu milimiter panjangnya, tapi ketika menjangkau manusia, DNA tersebut menjadi lebih dari  satu meter panjangnya (P. Kourilsky). Nanti kita akan melihat bahwa kita bisa berbicara mengenai adanya suatu peningkatan gen-gen yang berkaitan dengan tumbuhnya kompleksitas fungsi-fungsi dan struktur semua makhluk hidup. Daftar gen-gen itu lebih lengkap daripada daftar protein-protein seluler. Implikasi yang menyertai pengamatan-pengamatan ini adalah bahwa evolusi harus dikaitkan secara erat dengan perolehan gen-gen baru, yang selanjutnya menjadi elemen esensialnya. Kuantitas informasi yang tercatat secara lambat laun terus meningkat sejalan dengan berlalunya waktu.

Informasi diatas yang menyangkut panjang pita yang diatas pita tersebut gen-gen ditempatkan tampaknya lebih berarti dari pada berat DNA yang terkandung didalam setiap sel. Dalam buku P.P Grasse, ‘L’ Evolution du vivant’ (Evolusi Organisme Hidup), angka-angka diberikan menyangkut berat DNA yang terkandung didalam sel-sel makhluk-makhluk hidup yang berada pada tingkat yang lebih kurang tinggi dalam skala struktur. Berat DNA sangat beragam dari satu spesies ke spesies lainnya, tanpa adanya kaitan yang jelas dengan tingkat evolusi. Hal ini tampaknya tidak bertentangan dengan apa yang telah dinyatakan diatas, sebab tidak hanya ada satu DNA melainkan beberapa DNA yang berat molekulnya naik-turun sesuai dengan sumber yang diambilnya (thymus, wheatgerm), bakteri dan sebagainya yang proporsinya berkisar dari satu sampai beberapa ratus (M. Privat de Garillhe). Kompleksitas kimianya bergantung pada jumlah unsur yang disimpan oleh pita itu. Misalnya, DNA Basil Pelembut mempunyai massa molekul paling sedikit 230 juta, sementara DNA virus herpes mempunyai massa 100 juta, dan massa sehelai DNA bacteriophage adalah 1.600.000 (M. Privat de Garilhe). Untuk sebuah wujud sederhana, seperti air yang terdiri atas dua atom hydrogen dan satu atom oksigen, berat molekulnya adalah 18, angka yang menunjukkan tingkat kompleksitas kimia. Suatu fakta yang perlu diancamkan.

Penjelasan diatas mengenai DNA mengandung syarat, karena jelas tidak mungkin menggunakan suatu timbangan biasa untuk menimbang DNA (skala pengukuran dalam hal ini dihitung dalam sepermiliyar milligram). Perkiraan –perkiraan ini didasarkan pada pengetahuan kita mengenai DNA yang paling sederhana   (paling sederhana dari sudut pandang kimia), dan dikoreksi melalui perhitungan-perhitungan yang diambil dari pengukuran panjang molekul-molekul dengan bantuan sebuah mikroskop electron. Angka-angka itu dapat diubah, dan begitu juga kesimpulan-kesimpulan yang kita ambil dari angka-angka tersebut. Pengamatan- pengamatan ini dikemukakan semata-mata untuk memberikan suatu gagasan mengenai kompleksitas organisasi yang sedang kita bahas ini.

2. Kromosom

Dalam memerikan kompleks biokimia luar biasa yang kita namakan sel, sejauh ini kami baru menyebutkan peranan yang di mainkan oleh DNA untuk mempertahankan cirri-ciri khas keturunan, di antara banyak fungsinya yang lain.  Sebagaimana telah kita lihat, dalam hal makhluk-makhluk bersel tunggal yang paling primitif, seperti bakteri, hanya ada satu pita DNA. Tidak ada nucleus. Tapi dalam organisme-organisme seluler yang mempunyai struktur yang lebih rumit, nucleus itu menampakkan diri, di situ kromosom terkonsentrasi. Dalam kromosom-kromosom  itulah kita temukan gen-gen. Tapi sebelum melangkah lebih jauh dalam menganalisis peranan yang dimainkan oleh gen-gen (terutama dalam evolusi), perlu kita segarkan kembali ingatan kita tentang gagasan-gagasan tertentu yang menyangkut kromosom.

Nama kromosom itu sendiri merujuk langsung pada salah satu ciri khas kromosom tersebut. Alas an Waldeyer memberikan nama ini pada 1888 adalah bahwa dia telah melihat betapa unsur-unsur yang berbeda dalam nucleus itu dapat ternoda oleh warna-warna pada saat sel itu mulai membagi diri. Dalam organisme-organisme yang memiliki suatu system reproduktif seksual, kromosom-kromosom itu ditata dalam pasangan-pasangan yang identik. Penyebaran ini sangat penting sebab system reproduktif seksual tersebut mempertahankan jumlah kromosom selalu sama dalam spesies yang sa,ma selama dalam proses reproduktif. Ketika mencapai kematangan, tiap-tiap sel entah spermatozoa atau ovule hanya mempunyai separuh kromosom spesies itu. Segera setelah kedua sel reproduktif itu menyatu, jumlah kromosom itu ditetapkan kembali.(46 dalam diri manusia).

Salah satu kromosom itu mempunyai peranan dalam menentukan jenis kelamin, dan kromosom ini dimiliki oleh pria. Berikut ini adalah gambaran secara secara garis besar cara kerja proses situ: wanita mempunyai sepasang kromosom yang ditandakan dengan  XX, pria mempunyai sepasang kromosom lain yang ditandakan dengan XY. Karena jumlah kromosom berkurang (meiosis) ketika terjadi pembentukan sel-sel reproduktif, maka spermatozoa  terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok menjgandung X dan yang lainnya Y. Jika ovule X dibuahi spermatozoa yang membawa sebuah X, maka wanitalah (XX) yang akan terbentuk. Jika ovule tersebut dibuahi spermatozoa Y hasilnya adalah pria.

Penyebaran faktor-faktor X dan Y dalam spermatozoa hampir persis sama, hal ini menyebabkan jumlah anak perempuan dan anak laki-laki yang lahir praktis sama pula. Jika spermatozoa  seorang ayah dimasa mendatang berhasil dipisahkan menjadi dua kelompok dan wanita menjalani inseminasi buatan dengan salah satu kelompok itu, maka sepasang suami istri dapat menentukan apakah mereka ingin anak laki-laki atau perempuan. Hal ini sama sekali bukan merupakan suatu visi utopis, sebab manipulasi atas spermatozoa manusia sekarang ini sudah cukup maju sehingga sebuah proyek semacam ini dapat diwujudkan dengan konsekuensi-konsekuensi pasti praktek semacam ini, sebagaimana kita bayangkan sendiri. Tapi untunglah, reproduksi manusia selama ini tetap berlangsung tanpa adanya factor-faktor seperti tersebut diatas yang dapat mengubah penyebaran jenis kelamin keseimbangan itu telah dipertahankan oleh alam.

Kromosom terdiri atas DNA, RNA, dan berbagai protein. DNA membawa gen-gen semuanya tidak akan terperbaharui lain dengan komponen-komponen sel lainnya. DNA hanya dapat terperbaharui jika sel membagi diri. Kuantitas RNA beragam dari satu sel ke sel yang lainnya dan dari satu saat ke saat yang lainnya. Dalam memainkan peranannya sebgai kurir yang membawa informasi yang terkandung di dalam gen-gen, RNA terus menerus terperbaharui di dalam kromosom, menjadi saksi bagi aktifitas-aktifitas gen-gen dan tak terproduksi lagi ketika gen-gen tidak punya pesan lagi yang harus disampaikan.

Ketidakteraturan dalam kromosom-kromosom melahirkan konsekuensi-konsekuensi yang benar-benar serius, keguguran spontan (30% kasus-kasus semacam itu dikarenakan tak berhasilmembagi secara teratur kromosom) dan berbagai penyakit muncul dengan tingkat keseringan yang berbeda, yang paling terkenal diantaranya adalah Mongoloid (trisomy 21, suatu penyakit yang menghinggapi sekitar satu dari 700 anak ). Perubahan-perubahan semacam ini bisa mengakibatkan kematian janin dan bisa pula menyebabkan lahirnya anak-anak yang menderita cacat berat. Tapi diatas semua ini, organisme-organisme hidup dapat berubah selama masa reproduksi, bahkan dalam kerangka suatu pola reproduktif yang cenderung sesuai contoh yang diberikan oleh nenek moyang individu itu. Eksperimen-eksperimen klasik yang dilakukan oleh seorang pendeta Cekoslokavia Gregor Mendel pada  pertengahan abad kesembilan belas (yang tidak dikenal orang banyak sampai meninggalnya) memberikan dukungan teoritis pada riset yang dilaksanakan pada awal abad kedua puluh. Semuanya membuat kita bisa menemukan gen-gen dan tempat gen-gen tersebut didalam kromosom gen.

Sekarang ini telah menjadi fakta yang tak terelakkan bahwa gen-gen merupakan bagian- bagian molekul-molekul DNA. Melalui tindakan DNA , yakni suatu proses yang telah dikemukakan secara garis besar diatas, gen-gen memperbaharui molekul-molekul proteinik yang merupakan zat hidup sel. Aktifitas biokimia ini mengubah sifat – sifat molekul-molekul dalam sel, dan dengan demikian mempengaruhi cara berfungsinya sel itu dan juga produksi struktur-struktur tertentu yang memungkinkan sel-sel tersebut memainkan peranan yang jelas. Dari sudut pandang ini, kita kita dapat mengatakan bahwa gen merupakan bagian paling kecil molekul DNA yang mampu melahirkan suatu cirri khas yang permanent.

Sementara gagasan dasar tersebut diakui bahwa semakin kompeks struktur seekor hewan, semakinbesar kemungkinannya untuk memiliki kuantitas gen yang lebih besar, para ahli genetika tidak sepakat mengeanai jumlah gen yang terlibat. Ketika mereka mengarah  pada hal mutasi, gen menjadi obyek penyelidikan. Dalam hal drosophila , lalat yang dari sudut pandang ini dijadikan sebagai bahan penyelidikan laboratorium, jumlah gen sangat besar sekitar 5.000 sampai  15.000, Berapa banyak gen yang terdapat di dalam tubuh manusia? Tak seorangpun benar-benar tahu. Disamping itu, hubungan antara jumlah ciri dan kuantitas gen sama sekali tidak jeals. Sebagian pengamat menyatakan bahwa suatu enzim spesifik ada hubungannya dengan setiap gen, tapi satu enzim sebenarnya dapat melahirkan beberapa ciri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kromosom. (1) Kromatid. Salah satu dari dua bagian identik kromosom yang terbentuk setelah fase S pada pembelahan sel. (2) Sentromer. Tempat persambungan kedua kromatid, dan tempat melekatnya mikrotubulus. (3) Lengan pendek (4) Lengan panjang.

 

 

 

 

 

3. Gen

Gen adalah bahan genetik yang terkait dengan sifat tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebagai bahan genetik tentu saja gen diwariskan dari satu individu ke individu lainnya. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang dinamakan alel. Ekspresi dari alel dapat serupa, tetapi orang lebih sering menggunakan istilah alel untuk ekspresi gen yang secara fenotipik berbeda.

Gen bertanggung jawab atas fungsi-fungsi yang berbeda. Dari sini kami  menyimpulkan bahwa fungsi-fungsi purba yang mencirikan suatu phylum bergantung pada gen-gen tertentu  yang telah bekerja sebagaimana adanya sejak awal mula lahirnya phylum tersebut. Tapi sejalan dengan kemajuan evolusi, dan kelas ordo, famili , genus dan spesiez saling muncul, gen memperluas campur tangannya secara turun-temurun dan secara khusus pada setiap ciri khas utama. Campur tangan itu terjadi pada periode yang lebih mutakhir dan terkoordinasi dengan sempurna secara berurutan dari campur tangan itulah makhluk-makhluk hidup terbentuk.

Para ahli zoology mempunyai banyak pertanyaan yang perlu diajukan dan pertanyaan tersebut yakni mengenai subyek ini. Dalam L’ ‘Evolution du vivant’ (Evolusi Organisme Hidup) , P.P. Grasse Mengetengahkan  beberapa soal yang sangat penting berikut ini:

-                              DNA bukan hanya ada di dalam kromosom, tapi juga aktif dalam mitochondriaae dan unsure-unsur seluler lainnya. Tapi apakah  peranan DNA ekstra nuklir itu?

-                              Hormon berperan sebagai penggerak aktifitas genetic. Suatu arus tetap informasi mengalir dari nuklir DNA, sementara arus lain membanjir kearahnya, dan dengan demikian menggerakkannya untuk bertindak. Komunikasi timbale balik antara sitoplasma dan kromosom dan sebaliknya terus berlangsung. (P.P. Grasse). Dia selanjutnya menyitir eksperimen-eksperimen yang membuktikan adanya pengaruh sitoplasma atas kromosom. Sebagaimana telah kita lihat diatas, dalam kritik P.P. Grasse atas teori J. Monod (menurut J. Monod informasi hanya dapat mengalir kearah DNA ), dogma yang menyatakan bahwa informasi mengalir satu arah telah tersanggah sepenuhnya sekarang ini.

Semua pengamatan yang dikutip diatas mendorong kita beranggapan bahwa lingkungan mempengaruhi gen, sehingga terubahlah struktur-struktur gen tersebut. P.P. Grasse memberikan contoh-contoh yangh diambil dari dunia tetumbuhan dan menyimpulkan bahwa: “ Aturan yang menyatakan bahwa sebuah gen selalu menetapkan cirri khas yang sama kecuali jika gen tersebut berubah adalah terlalu kaku” . Begitu pula gen memancarkan informasi yang sama , tapi substansi-substansi yang menjawab pesan-pesanya bereaksi dengan cara-cara yang berlainan yang bergantung pada keadaanya.” Seluruh uraian ini menunjukkan kompleksitas fantastis system itu dan makna dari banyak interaksi. Kita telah jauh meninggalkan yang bebas, buta tapi mutlak yang di kemukakan dalam teori yang berusaha menjelaskan bahwa segala suatu terjadi secara kebetulan.

 

C. Gen: Perananya dalam Evolusi dan Proses-proses Lain

1. Peranan Gen dalam Evolusi: Mutasi

Dengan merujuk pada data yang dikemukakan diatas, dapatkah kita mengadakan pendekatan terhadap peranan gen  dalam evolusi? Secara sederhana, ada dua cara untuk mengatasi masalah tersebut dan dua cara untuk mengatasi masalah tersebut benar-benar berlainan. Cara pertama adalah cara yang digunakan oleh para ahli genetika. Cara ini di dasarkan pada pengamatan atas fakta-fakta masa kini, misalnya: penghitungan variasi-variasi genetic dalam populasi-populasi yang ada sekarang, dari situ lahir teori-teori penjelas. Cara kedua diguanakan oleh para ahli zoology dan paleonotologi. Disini termasuk penyelidikan atas materi masa lampau, hal ini tidakl dianggap penting oleh kelompok pertama. Dalam survey berikut ini, kita akan melihat bahwa pertentangan kedua metode ini mendatangkan pertentangan pula pada konsep-konsep evolusi yang dikemukakan oleh kedua kelompok tersebut.

Mengingat apa yang telah kami nyatakan tentang kompleksitas tas tak terhingga struktur kimia gen-gen, dan mengingat cara salinan-salinan itu di hasilkan selama pembagian sel, maka sangatlah mungkin untuk beranggapan bahwa perubahan paling kecil dalam struktur molekul DNA dapat mempengaruhi sel tersebut dan semua yang dihasilkan olehnya. Inilah yang sesungguhnya terjadi ketika modifikasi mempengaruhi sel wanita dan sel pria yang bertanggung jawab atas reproduksi (sel-sel benih): hal ini menyebabkan timbulnya perubahan pada kode genetik. Dalam keadaan-keadaan semacam itu, sebuah ciri khas baru muncul pada diri individu yang diturunkan ke keturunannya. Inilah yang dinamakan mutasi, dan fenomena ini dikenal sebagai mutagenesis. Hal ini mempengaruhi hewan dan tetumbuhan, bentuk-bentuk kehidupan yang paling primitif dan juga bentuk-bentuk kehidupan dengan organisasi yang lebih kompleks (yaitu bentuk kehidupan yang mempunyai nukleus). Dalam hal bentuk-bentuk yang primitif, mutasi mempengaruhi DNA yang terdapat dalam sitoplasma (contohnya bakteri), dalam hal bentuk-bentuk yang lebih kompleks, mutasi mempengaruhi gen-gen yang yang disimpan oleh DNA dalam nucleus. Mengapa mutasi dianggap terjadi secara kebetulan, karena hal itu sama sekali tak dapat diramalkan baik mengenai saat terjadinya maupun tempat mutasi tersebut mempengaruhi molekul DNA.

Pengaruh mutasi atas individu begitu besar sehingga bentuk kehidupan tidak dapat bertahan dalam menghadapi mutagenesis (dalam hal tersebut mutasi dikatakan mempengaruhi gen-gen yang mematikan) dilain pihak, fenomena ini bisa mendorong timbulnya modifikasi- modifikasi kecil yang bisa mempengaruhi generasi- generasi berikutnya.

Dengan cara ini, pada pita DNA sel-sel manusia, yang panjangnya lebih dari satu meter, perubahan-perubahan genetic yang sangat kecil muncul dan memberikan pada individu itu cirri-ciri khas yang membuat individu tersebut berbeda dengan individu lainnya. Perubahan-perubahan inilah yang menjadikannya kurang lebih serupa dengan orang tua atau kakek neneknya, dan perubahan ini bahkan menurunkan pada generasi-generasi sesudahnya ciri-ciri khas keluarga, seperti hidung khas para raja Bourbon dari Prancis. Terkadang, fenomena yang sangat serius bisa terjadi, seperti penyakit yang berkaitan dengan jenis kelamin, yang mengenai kromosom X wanita. Kasus dalam hal ini adalah hemophilia, hal ini terutama mengenai pria, meskipun dia diturunkan melalui wanita yang kebal penyakit tersebut. Para anak-cucu pria Ratu Victoria dari Inggris menderita penyakit ini. Meski terdapat mutasi patologis yang mendasar ini, hamper semua mutasi kecil cenderung terdesak.

Melihat keterangan diatas, masalah evolusi secara selintas mungkin tampak sangat sederhana. Fenomena mutagenesis kelihatannya dapat menjelaskan semua variasi keturunan selama beberapa generasi, yang menyebabkan terjadinya evolusi makhluk-makhluk hidup. Ada sejumlah ahli genetika yang mendukung teori ini. Tapi yang sulit diterima adalah bahwa untuk membenarkan teori ini, maka mutasi-mutasi tersebut harus terjadi sedemikian berurutan dan pada saat yang tepat sehingga terjadi penambahan atau pengurangan organ-organ, atau mendorong timbulnya suatu perubahan pada fungsi-fungsi tertentu. Tapi tampak jelas sekali bahwa mutasi-mutasi ini pada hakikatnya terjadi secara tidak teratur. Pada titik ini, para ahli genetika, yang mengetengahkan hipotesis yang didasarkan atas penghitungan-penghitungan populasi masa kini dan yang menyatakan telah mendapatkan jawaban dalam hal ini, memisahkan diri dari mereka yang menyelidiki peristiwa-peristiwa masa lampau. Pihak yang menyelidiki peristiwa masa lampau ini sangat mempercayai penemuan-penemuan pihak pertama dalam hal sifat-sifat gen, tapi mereka menyatakan telah melihat banyak kelemahan dalam teori-teori yang berusaha menjelaskan inskripsi pada pita DNA dari data baru yang akan diturunkan sejalan dengan  berlalunya waktu. Kelompok kedua tampaknya benar-benar lebih pasti dibandingkan dengan pihak pertama dalam hal nilai demonstrative fakta-fakta tertentu yang telah terbukti menyangkut gen.

Tapi para ahli genetika harus terlebih dahulu menggambarkan jumlah yang mungkin dari mutasi-mutasi spontan. Sejauh ini pandangan tersebut belum ada. Untuk satu gen selama masa jeda yang memisahkan dua generasi, jumlah perkiraannya adalah 1/10.000 (P.L’ Heritier). Terdapat juga sejumlah mutasi netral bila dipandang dari sudut pandang evolusi. Mutasi tersebut merupakan sumber cirri-ciri khas individu dan tidak menyimpang dari kerangka spesies. Dengan demikianlah individu tersebut mempertahankan sifat-sifat spesies. Kita berada jauh sekali dari bermiliyar-miliyar variasi bermanfaat yang disebutkan oleh para ahli genetika tertentu. Yang dinamakan variasi bermanfaat itu jauh lebih sedikit jumlahnya, suatu fakta yang melahirkan gagasan yang lebih problematik mengenai mutasi yang baik yang terjadi pada saat yang tepat. (P.P Grasse). Kita hendaknya tidak mengacaukan proses mutasi kebetulan, yang menyebabkan timbulnya ciri-ciri khas pribadi individu, dengan peran aktif yang dimainkan oleh mutasi-mutasi itu sebagai kekuatan utama dibalik proses evolusi.

Gagasa mengenai evolusi menandakan transformasi-transformasi progresif dalam skala yang sangat besar. Misalnya, evolusi serangga mempengaruhi seluruh organism serangga itu dengan sangat ketat. Transformasi organ-organ itu berlangsung secara perlahan-perlahan tapi mantap dengan melalui tahap-tahap yang berurutan misalnya, hewan menyusui memerlukan waktu 80 juta tahan untuk meninggalkan cirri-ciri reptilianya dan dalam suatu urutan yang tidak sesuai dengan munculnya mutasi-mutasi yang terjadi secara tidak teratur.

Selain fakta-fakta diatas, yang berasal dari penyelidikan paleontology, riset genetis juga member kita data organism-organisme paling primitive yang hidup sekarang ini. Organism-organisme tersebut adalah bakteri, suatu subyek yang mudah ditelaah sebab bakteri bereproduksi dalam jangka waktu dua puluh menit. Dengan demikian menjadi mungkinlah bagi kita untuk mengikuti gerak maju beribu-ribu generasi, yang diantaranya didapat mutasi-mutasi pada molekul DNA. Tapi apakah hasil praktis mutasi-mutasi ini? Variasi-variasi skala kecil. Spesies itu tetap sama, sebagaimana telah terjadi selama berates-ratus juta tahun! Sedangkan mengenai transisi dari bakteri atau ganggang biru ke organisme-organisme yang mempunyai struktur sel dengan sebuah nucleus, suatu peristiwa yang mungkin telah terjadi satu milyar tahun yang lalu, adalah masuk akal jika kita beranggapan bahwa kondisi-kondisi lingkungan saat itu sangat berbeda dengan kondisi-kondisi lingkungan sekarang. Dikarenakan hal ini, sulitlah untuk membayangkan bahwa mutasi-mutasi yang terjadi pada bakteri masa kini persis sama dengan mutasi-mutasi yang terjadi dimasa lampau.

Misteri yang sama melingkupi tetumbuhan dan hewan-hewan yang tidak mengalami perkembangan sama sekali selama berjuta-juta tahun, meskipun mungkin telah menjalani mutasi-mutasi secara kebetulan. Dalam konteks ini, para ahli zoology mengemukakan kasus kecoa biasa yang sepanjang yang dapat mereka kemukakan, hampir tidak mengalami perkembangan sama sekali sejak era awal. Hal yang sama juga terjadi pada spesies ‘panchronic’ dinamakan begitu karena spesies ini berhasil mempertahankan hidup selama berabad-abad tanpa mengalami perubahan sedikitpun, seperti opossum, limuli tertentu (serangga laut dengan insang, yang biasanya dinamakan raja kepiting) dan berbagai tetumbuhan yang tak satupun terpengaruh oleh mutasi.

Sanggahan-sanggahan telah diajukan menyangkut soal diatas, karena para pengamat tertentu menyatakan bahwa spesies panchronic tetap tak berubah karena spesies tersebut hidup didalam lingkungan terbatas disitu kondisinya tidak banyak mengalami perubahan (misalnya, hewan-hewan yang hidup di gua atau di dasar lautan). Sementara hal ini mungkin benar, menyangkut spesies tertentu yang hidup didalam lingkungan semacam itu, hal tersebut tidaklah mudah diterima oleh setiap orang yang telah melakukan banyak perjalanan dan yang telah melihat kecoa-kecoa yang ada diberbagai bagian dunia ini.

 

  1. 2. Gen-gen dan Regenerasi

Contoh –contoh regenerasi menunjukkan secara jelas kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh gen-gen untuk mendorong pertumbuhan jaringan baru setelah terjadinya amputasi-amputasi besar dan bahkan setelah terbaginya sebuah badan menjadi beberapa bagian, sebagaimana kita temukan pada spesies-spesies tertentu.

Tapi dalam pembahasan ini mengenai regenerasi, kami tidak akan merinci masalah kemampuan mahabesar organ-organ tertentu hewan-hewan menyusui (termasuk manusia) untuk berkembang setelah terjadinya amputasi. Hati hanyalah satu contoh sebuah organ yang dapat tumbuh lagi secara sempurna diantara banyak contoh lainnya, dan begitu juga usus. Dalam hal usus, lendir dihasilkan tanpa kesulitan untuk memastikan kesembuhan sebuah luka setelah kedua bagian itu disambungkan.

Yang menjadi pemikiran kami disini adalah pertumbuhan kembali yang melebihi jangkauan organ-organ itu. Dalam hal hewan-hewan tertentu, hal itu mempengaruhi bagian-bagian badan tertentu yang jika dipotong merangsang perkembangan baru bagian yang dihilangkan itu. Triton dapat dijadikan contoh disini: seperti katak-katak lainnya, ketika moncong, kepala, ekor, tangan, kaki atau bahkan matanya dihilangkan, bagian yang dihilangkan itu dapat sepenuhnya tumbuh lagi. Cacing tanah adalah contoh terkenal lainnya. Bagian depan cacing yang berupa kepala akan dapat tumbuh lagi asalkan tidak dipotong pada tempat yang terlalu jauh dari bagian tersebut, dan begitu pula bagian belakangnya akan tumbuh lagi asalkan cacing itu tidak dipotong pada tempat yang terlalu kedepan.

Contoh- contoh regenerasi total terdapat pada hewan-hewan tak bertulang belakang. Dalam kasus-kasus tertentu, hewan itu tumbuh kembali sepenuhnya dari satu bagian badan, bagian manapun. Pada hewan-hewan yang skala organisasinya lebih rendah, ada banyak contoh umum, seperti hydra air. Proses regenerasi menyusun kembali sejumlah hydra baru yang sama dengan jumlah bagian tempat hydra tersebut dipotong. Hewan ini juga memperbaharui jaringan-jaringannya secara spontan sepanjang perjalanan hidupnya. Tapi penyusunan kembali paling spektakuler terjadi pada tubuh-tubuh cacing planaria dan nemertia. Keduanya adalah cacing-cacing kempis yang mempunyai alat pencerna. Planaria, yang panjangnya anata 1-2 cm, dapat dipotong menjadi tiga bagian dengan dua potongan, misalnya : sepuluh hari kemudian, tiga ekor cacing akan muncul. Sebuah kuncup regenerative tumbuh pada bagian tempat dilakukan pemotongan dan pada kuncup itu, otot jaringan pencerna dan kelenjar ,urat dan sebagainya mulai muncul yang secara lambat laun menggantikan semua organ yang hilang pada setiap tiga bagian itu, termasuk otak dan mata.

Yang lebih hebat lagi adalah nemertia, nemertia merupakan varitas cacing lain yang ukuran panjangnya berkisar antara 20 cm- 1m. Seperti planaria, nemertia, ini juga melakukan regenerasi tapi mempunyai kemampuan tambahan untuk memotong diri sendiri menjadi bagian-bagian (autotomy), suatu kemampuan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan spesies lain. Autotomi merupakan suatu mekanisme pertahanan diri yang digunakan oleh seekor hewan yang sedang menghadapi serangan. Dalam kejadian-kejadian begitu, hewan tersebut memisahkan diri dari bagian tubuhnya yang telah tertangkap oleh penyerangnya (kadal meninggalkan ekornya, kepiting membuat sepitnya ) dan bagian itu akan tumbuh lagi nantinya.  Tapi nemertia melangkah lebih jauh lagi. Seperti ditulis P.P Grasse dalam karyanya précis de biologie animale (Buku Pegangan Mengenai Biologi Hewan), ketika menghadapi serangan hebat, baik yang bersifat kimiawi maupun mekanis, nemertia secara spontan memotong dirinya sendiri menjadi bagian-bagian yang nantinya akan membentuk individu tersendiri. Lebih jauh bila sama sekali tidak dapat menemukan makanan, maka nemertiamampu bertahan hidup melalui suatu proses involusi yang luar biasa. Sel –selnya saling menelan, dan organisme itu lambat laun mengkerut. Dawydoff  telah berhasil mendapatkan contoh-contoh Lineus Lacteus yang panjangnya 100 µ (sepersepuluh milimeter) dan terdiri atas 12 sel, P.P Grasse tidak menyatakan apakah jumlah sel yang sangat kecil dan masih tinggal itu mampu menyusun kembali tubuh seekor cacing yang sempurna, tapi penampilan hewan-hewan ini tetaplah mengagumkan.

Namun begitu, sementara anatomi cacing menunjukkan proses-proses regenerasi yang digerakkan oleh sisa-sisa sel-sel berlainan yang terkandung di dalam bagian depan dari potongan itu, adalah mustahil untuk membicarakan regenerasi sisa-sisa yang sama ini bila sisa-sisa yang sama tersebut terletak pada bagian belakang (misalnya diujung ekor). Mesti kita akui bahwa sepanjang tubuh hewan itu, dari satu ujung ke ujung yang lainnya, tersebarlah berbagi sel yang mempunyai fungsi regenerasi khusus. Sel –sel semacam itu dinamakan sel-sel neoblastik, dan sel-sel tersebut merupakan semacam sumber cadangan bagi sel-sel embrionik yang melalui suatu proses diferensiasi, menyusun kembali semua jaringan dan organ.

Betapa sangat mengagumkannya organisasi ini! Sulitlah untuk membayangkan banyaknya informasi yang harus dicatat pada molekul DNA yang terdapat di dalam gen-gen agar sampai pada hasil semacam itu tepat pada waktunya, dengan kata lain, pada saat keadaan-keadaan itu mendorong berjalannya mekanisme yang semestinya (seperti pemotongan cacing menjadi beberapa bagian yang berbeda-beda). Semua kejadian ini berlangsung dalam urutan yang sempurna, dan lihat sepuluh hari kemudian planaria itu telah menyusun kembali tubuh-tubuhnya menjadi normal lagi, Autotomy nemertia merupakan keajaiban lain organisasi ini, karena hewan –hewan ini dapat membagi diri-sendiri menjadi bagian-bagian di bawah pengaruh stimulus tertentu. Gen –gen yang mengatur semua tindakan yang terkoordinasi secara sempurna tersebut (hal ini tidak cukup diulang-ulang terus) di dalam sel dan yang menggerakkan proses penyusunan kembali, adalah gen-gen yang dalam kondisi normal tidak aktif. Fenomena semacam ini melahirkan masalah-masalah genetika yang sangat rumit, hal ini menimbulkan peranyaan mengenai eksistensi normal gen-gen inoperative atau gen-gen adaptif dengan kata lain gen-gen yang memungkinkan terjadinya adaptasi.

 

  1. 3. Gen-gen dan Perilaku Hewan

Perilaku hewan-hewan yang kita kenal dan penampilan spektakuler kemampuan-kemampuan tertentu yang sering ditunjukkan oleh hewan-hewan lainnya telah mendorong banyak orang untuk menganggap bahwa hewan-hewan ini memiliki kemampuan berpikir yang jauh melampui kemampuan-kemampuan sesungguhnya . Banyak hewan-hewan yang memberikan kesan bahwa hewan tersebut mampu berpikir dalam suatu situasi tertentu sampai pada suatu keputusan yang mendorongnya untuk bertindak disertai logika yang tampak menonjol. Tapi dalam kenyataannya, sejumlah besar aktivitas hewan tersebut merupakan warisan jangkauan perilaku otomatis itu beragam sesuai dengan tingkat kompleksitas struktur spesiesnya.

Suatu situasi luar tertentu dapat menimbulkan stimulus pada spesies yang lebih maju yang oleh hewan tersebut disimpan di dalam bank ingatan dan hal ini akan melahirkan respon jika situasi semacam itu akan muncul lagi. Sebagian orang beranggapan bahwa kemampuan ini sangat serupa dengan kemampuan-kemampuan manusia, namun kelak kita akan melihat bahwa terdapat perbedaan yang sangat besar antara perilaku manusia dan perilaku hewan betatapun lihainya hewan tersebut. Timbullah kesulitan akibat kita cenderung menilai bahwa hewan memiliki kemampuan mental seperti kita. Makhluk –makhluk terendah diantara makhluk- makhluk tak bertulang belakang hanya mampu melakukan otomatisasi. Sejumlah tertentu informasi yang diperlukan untuk membuat hewan bereaksi tersimpan didalam molekul-molekul DNA, hal ini merupakan bagian dari kode genetic. Reaksi-reaksi kimiawi terus terjadi begitu lingkungannya berubah: berkat inilah hewan bisa berprilaku.

Tingkat kompleksitas yang lebih tinggi muncul ketika aktifitas itu terjadi secara tetap, diseligi periode-periode kosong. Pembangunan sarang oleh serangga dapat dijadikan contoh disini. Kita melihat adanya kompleksitas yang sama pada tindakan otomatis untuk menyengat: nyamuk betina rata-rata patuh pada impuls yang timbul dalam dirinya ketika muncul stimuli yang merangsang panas dan kelengasan pada kulit manusia, terutama ketika nyamuk itu mencium bau asam butirik yang ada dala jumlah yang sangat kecil pada permukaan kulit. Disini lagi-lagi muncul kasus perilaku bawaan: informasi yang tepat tercatat dalam kode genetic spesies hewan hanya mematuhi perintah-perintah seperti robot saja.

Sekalipun begitu, beberapa hewan tak bertulang belakang mampu melakukan gerak reflex yang terkondisikan. Kita harus selalu ingat kebalikan reflex yang tak terkondisikan dimana tindakan tidak disengaja merupakan hasil suatu stimulus disini kita membicarakan reflex terkondisikan yang memerlukan beberapa persiapan sebelum dilakukan. Pada tigkat awal, stimulus yang sebenarnya dikaitkan dengan stimulus netral yang menyertainya. Pada tingkat kedua, hewan memberikan tanggapan dengan cara yang sama pada stimulus netral itu saja. Reflex-refleks semacam ini dimiliki oleh kumbang dan kupu-kupu misalnya, dimana hewan-hewan itu dituntun oleh bentuk dan warna bunga-bunga yang mereka isap sarinya, dalam hal kumbang, bau juga memainkan peranan. Tapi hal ini hanya sepanjang menyangkut proses belajar serangga-serangga tersebut saja, sebab tidaklah mungkin menjinakkan atau melatih serangga.

Hanya hewan-hewan bertulang belakang sajalah yang mampu melakukan reflex-refleks seperti ini dan mencatat serta memanfaatkan informasi dari luar. Hewan-hewan menyusui dapat dilatih anjing adalah contoh khas dalam hal kemampuan untuk menyatu dengan masyarakat manusia. Tapi disini perilaku bawaan masih tampak menonjol, seperti pola kawin, persiapan untuk membiasakan diri pada tempat tinggalnya yang sering memerlukan teknik-teknik yang sangat komplek, pengasuhan anak, penentuan wilayah untuk tujuan pertahanan, pencarian makanan, hubungan seksual dan sebagainya.

Sejalan dengan naiknya tingkat organisasi, perilaku bawaan tidak hilang juga, meskipun hewan itu mampu mengubah responnya menurut situasi yang dihadapinya. Bahkan pada hewan-hewan menyusui yang lebih tinggi, seperti golongan primata, respon otomatis yang ditetapkan oleh kode genetic hanya menyusut : respon tersebut tidak menghilang sama sekali. P.P Grasse memberikan dua contoh penting disini. Simpanse yang belum pernah hidup dihutan sejak dilahirkan, bila dilepaskan maka simpanse tersebut tahu dengan pasti bagaimana cara membangun tempat bernaung dimalam hari di pohon-pohon. Mereka mengumpulkan bahan-bahan untuk membangun tempat tinggal yang sama dengan tempat tinggal buatan simpanse lainnya yang telah hidup didalam lingkungan alamiah spesiesnya. Begitu juga, gorila selalu ketakutan jika melihat ular dihutan tempat hidup mereka. Reaksi yang sama muncul pada gorilla-gorila muda yang kebetulan melihat seekor ular mati, meskipun mereka baru pertamakali kali itu melihat seekor ular. Hal ini semua jelas merupakan contoh-contoh yang tak diragukan lagi mengenai perilaku bawaan. Hewan terdorong untuk bereaksi dengan cara tertentu sebab didalam molekul DNA nya terkandung gen atau gen-gen yang mengerakkan respon-respon yang telah ditetapkan bila menghadapi stimulus tertentu.

Barangkali salah satu contoh paling spektakuler dari seekor hewan yang mampu mengingat atau menimbun informasi yang terkandung didalam kode genetic adalah sejenis burung asli Australia. Pola berpindah yang luar biasa dari burung istimewa ini dituturkan didalam sebuah karya J. Hamburger yang berjudul ‘La Puissance et la Fragilite’ (Kekuatan dan Kerapuhan).

Pada 27 mei 1955, seorang nelayan jepang menangkap seekor burung yang ditandai dengan sebuah cincin pada 14 maret tahun yang sama di pulau Babel, Australia. Dibagian dunia itu, burubg tersebut dikenal sebagai ‘burung mutton’ atau gunting air berekor pendek. Tangkapan itu merupakan awal serangkaian penemuan yang membuat bisa disusunnya kembali perjalanan besar yang dilakukan oleh burung yang selalu berpindah-pindah ini setiap tahunnya. Tempat keberangkatannya adalah pantai Australia, dari sana burung tersebut terbang ketimur menuju Pasifik, berbelok ke utara sepanjang pantai jepang sampai tiba di Laut Bering, disitu burung tersebut beristirahat sebentar. Setelah persinggahan ini burung tersebut berangkat lagi, kali ini menuju selatan, menyusuri pantai barat Amerika hingga tiba di California. Dari sana terbang kembali menyeberangi Pasifik menuju tempat keberangkatannya. Perjalanan tahunan yang memempuh jarak sekitar 15.000 mil yang membentuk angka 8 ini tidak pernah berubah, baik rute maupun waktunya. Perjalanan ini berlangsung selama enam bulan dan selalu diakhiri pada minggu ketiga bulan September dipulau yang sama dan disangkar yang sama yang ditinggalkannya enam bulan sebelumnya. Yang berikutnya ini lebih mengagumkan lagi. Ketika dating, burung- burung itu membersihkan sarang mereka, kawin dan mengerami satu telur  selama sepuluh hari terakhir dibulan Oktober. Dua bulan kemudian, anak burung itu menetas, tumbuh dengan cepat,  dan pada usia tiga bulan mereka melihat kedua orangtua mereka terbang menempuh perjalanan panjang. Dua minggu kemudian, sekitar pertengahan April, burung-burung muda itupun terbang pula. Tanpa adanya petunjuk jalan, mereka mengikuti rute yang persis sama seperti yang telah diperikan diatas. Implikasi yang ada disini jelas. Didalam materi yang mentransmisi cirri-ciri khas turunan yang terkandung di dalam telur, burung-burung ini mendapatkan semua arah yang diperlukan untuk menempuh perjalanan semacam itu. Sementara sebagian orang beragumen bahwa burung-burung ini dituntun oleh matahari dan bintang-bintang, atau oleh angin yang bertiup sejalan dengan rute penerbangan keliling mereka, factor semacam itu jelas tidak dapat menjelaskan ketepatan geografis dan kronologis perjalanan tersebut. Tak pelak lagi, secara langsung atau tidak, petunjuk-petunjuk untuh menempuh perjalanan 15.000 mil ini tercatat didalam molekul-molekul kimia pemberi perintah yang terdapat di dalam nuclei sel-sel burung ini.

Bagaimana dapat kita bayangkan banyaknya kode informasi yang harus disesuaikan dengan berbagai kondisi yang berlain-lainan, yang semuanya akan dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tempat burung-burung itu harus lewat sendiri dan tanpa tuntunan dari Australia ke Laut Bering dan kembali lagi sekaligus harus menepati jadwal waktu secara benar?bagaimana dapat kita pahami jumlah fantastis perintah-perintah yang harus diberikan dalam waktu enam bulan, perintah-perintah yang tak pelak lagi harus diubah-ubah sesuai dengan keadaan, terutama jika iklim berganti?setiap kemungkinan mesti diperkirakan dalam batas-batas jumlah keseluruhan informasi yang disimpan oleh DNA. Orang bertanya-tanya bagaimana program itu mula-mula dituliskan, dan adakah seseorang yang tahu jawabnya.

Di zaman computer sekarang ini, masalah-masalah pemrograman selalu mendorong kita untuk memikirkan beberapa prestasi material manusia sendiri pada tahun-tahun terakhir ini. Kita dibuat terkagum-kagum oleh hasil-hasil teknologi tinggi yang telah di capai oleh pesawat ulang-alik Amerika yang setelah menyelesaikan penerbangan ujinya, kembali ke bumi pada saat yang telah diperhitungkan sebelumnya. Seperti yang telah berulang-ulang ditekankan oleh para pengamat ilmu, keberangkatan pesawat itu, perjalanannya mengelilingi bumi, kembalinya ke bumi dan banyak maneuver lainnya, dibantu oleh computer-komputer besar yang bekerja

  1. 4. Manipulasi-manipulasi Genetika

Gen bertanggung jawab atas setiap fungsi sel. Beberapa ilmuwan telah mempunyai gagasan untuk memberikan pada sel-sel itu sifat-sifat baru dengan mengubah gen. dalam kenyatan sesungguhnya mereka mulai mengadakan eksperimen atas organisme yang bahkan lebih sederhana dari sel, yaitu bakteri. Dengan mencangkok berbagai gen ke dalam hasil usus besar, mereka mendorong produksi substansi-substansi terapis dan nutrisi tertentu; dikarenakan reproduksi bakteri yang cepat sekali, maka mereka dapat mencapai kuantititas sebstansi ini yang sanagt besar. Eksperimen ini berhasil terutama pada beberapa hormon.

Tulang punggung dan panggul kera dan manusia menunjukan perbedaan-perbedaan dikarenaka postur manusia yang berdiri dengan kedua kakinya. Manusia memiliki panggul yang lebih lebar, dan tulang punggungnya menunjukkan lengkungan yang tidak terdapat pada kera; tulang punggung ini menunjukkan kecembungan ke arah belakang. Semua cirri-ciri ini merupakan akibat adanya kenyatan bahwa postur berdiri dan pola berjalan di atas kedua kaki itu telah tercatat dalam warisan genetika manusia. Tapi, seperti akan kita lihat, pola berjalan di atas kedua kaki bukan merupakan cirri bawaan perilaku manusia. Seorang anak harus belajar berjalan, meskipun struktur anatomisnya telah disesuaikan dengan fungsi spesifiknya.

5. Ciri-ciri Biokimia dan Genetika

Sepanjang menyangkut cirri khasnya yang penting, setiap makhluk hidup yang terus berkembang terdiri atas semacam jaringan-jaringan. Setiap buku pegangan Biologi memberikan cirri-ciri umum yang berupa sejumlah besar jaringan: jaringan penutup, jaringan tulang, otot, dll. Masing-masing jaringan ini mempunyai suatu organisasi sel dengan komponen-komponen kimiawi yang identik antara satu spesies dengan spesies yang lainnya. Protein-protein khas bagi suatu jaringan tertentu pada seekor hewan kemungkinan besar sama dengan yang terdapat pada jaringan serupa hewan yang lainnya meskipun tidak ada hubungan antara keduanya. Pada masa lampau, gen tertentu bertanggung jawab atas orientasi ungsi sel tertentu, dan gen pengarah ini tetap melekat pada warisan keturunan, dan disampaikan dari sat generasi ke generasi lainnya tanpa diserta perubahan. Setiap makhluk hidup yang bernafas memerlukan rongga paru-paru untuk memungkinkan masuknya oksigen kedalam darah dan untuk menghilangkan CO2. Manusia memerlukan hal itu sebagaimana hewan lainnya yang bernafa. Suatu penelitian atas semua fungsi organic akan mengungkapkan bahwa, agar hewan dapat bertahan hidup, struktur-strukturnya harus disesuaikan dengan fungsinya. Misalnya, makanan yang diperlukan untuk mempertahankan  kehidupan, seperti Hb uang terkandung dalam sel-sel darah merah, merupakan hasil fungsi-fungsi khusus sel-sel yang dikontrol oleh gen-gen tertentu. Cirri-ciri khas kimiawi yang persis sama pasti juga dimiliki oleh semua Hb. Cirri-ciri tersebut terdapat pada Hb manusia dan bayak hewan lainnya, sebab tidak ada alternative lainnya.

Usaha-usaha telah dilakukan untuk menghubungkan manusia dengan kera melalui penyelidikan atas warisan genetik mereka masing-masing. Jumlahnya tidak sama: 46 pada manusia dan 48 pada kera-kera besar. Karena angka-angk itu dekat satu sama lainnya telah dikemukakan tanpa disertai bukti sama sekali bahwa pada kera 2 kromosom digabungkan menjadi satu agar jumlahnya menyamai jumlah kromosom manusia dari 48 ke 46. Tapi yang jadi permasalahan adalah gen. di sini kita mendekati bahwa sebuah pendapat menyatakan bahwa daftar gen belum tersusn bagi kera dan mungkin belum lengkap bagi manusia, sementara pendapat lai mengaakan bahwa “barangkali kurang dari 2% dari semua gen itu beragam dari satu spesies ke spesies lainnya”(J. de Grouchy). Para pelaksana riset benar-benar tergugah minatnya oleh penyelidikan kromosom, bahkan sekarang meskipun ada penemuan-penemuan sah yang dilakukan oleh para ahli paleontology, namun mereka masih berusaha untuk menyatukan manusia dengan kera.

Yang terakhir tapi tak kalah pentingnya, kita sampai pada makna penting perbedaan dalam aktifitas seksual manusia dan kera, yang diakitkan dengan berbagai perintah yang dikeluarkan oleh hormone-hormon masing-masing spesies. Dengan mengesampingkan perbedaan-perbedaan anatomis tertentu yang meningkatkan variasi-variasi kecil, soal utama yang perlu dicatat adalah bahwa pada manusia aktifitas seksual itu berkesinambungan dan tidak terlalu bergantung pada siklus menstruasi wanita. Pada kera, situasinya berbeda, siklus menstruasi lebih panjang dan ditandai dengan periode kawin yang terutama terlihat jelas dari melebarnya daerah ano-vulvar, diikuti dengan memerahnya kulit penutupnya. Cirri-ciri fisiologis ini dengan sendirinya mendatangkan pengaruh secara lengsung pada perilaku kera. Tindakan mereka hendaknya dapat dilihat bahwa hal itu merupakan suatu fenomena yang sangat umum yang mengarahkan perilaku hewan.

6. Rekombinasi Gen

Pengertian dan arti definisi rekombinasi gen adalah penggabungan beberapa gen induk jantan dan betina ketika pembuahan ovum oleh sperma yang menyebabkan adanya susunan pasangan gen yang berbeda dari induknya. Akibatnya adalah lahirnya varian spesies baru. Rekombinasi gen – gen yang terjadi karena perkawinan silang merupakan suatu bahan mentah evolusi karena melalui telekombinasi ini dimungkinkan terbentuknya varietas baru,terbentuknya species baru

Terbentuknya spesies baru dapat disebabkan oleh:

  1. 1. Isolasi Geografi : 2 populasi/spesies tidak mampu melakukan interhibridasi karena dipisahkan oleh factor geografi /keadaan alam.
  2. 2. Isolasi Reproduksi : 2 populasi / spesies yang terdapat pada daerah yang sama tidak mampu melakukan interhibridasi. Dua spesies yang berbeda menghuni daerah yang sama disebut spesies simpatik. Populasinya disebut populasi simpatik.

Isolasi reproduksi dapat terjadi melalui :

a) Isolasi ekologi , apabila dua spesies simpatik yang terdapat disuatu daerah masing – masing menempati habitat yang berbeda.

b) Isolasi musim, terjadi bila dua spesies simpatik masing – masing memiliki pemasakan kelamin yang berbeda

c) Isolasi tingkah laku, terjadi bila dua spesies simpatik mempunyai bentuk morfologi alat reproduksi yang berbeda pada waktu kawin

d) Isolasi mekanik, terjadi apabila dua spesies simpatik terdapat sel gamet jantan yang tidak mempunyai viabilitas pada saluran kelamin betina

e)      Bastar mandul, apabila dua spesises simpatik menghasilkan keturunan mandul

Pada organisme aseksual, gen diwariskan bersama, atau ditautkan, karena ia tidak dapat bercampur dengan gen organisme lain selama reproduksi. Keturunan organisme seksual mengandung campuran acak kromosom leluhur yang dihasilkan melalui pemilahan bebas. Pada proses rekombinasi genetika terkait, organisme seksual juga dapat bertukarganti DNA antara dua kromosom yang berpadanan.[43] Rekombinasi dan pemilahan ulang tidak mengubahan frekuensi alel, namun mengubah alel mana yang diasosiasikan satu sama lainnya, menghasilkan keturunan dengan kombinasi alel yang baru.[44] Manakala proses ini meningkatkan variasi pada keturunan individu apapun, pencampuran genetika dapat diprediksi untuk tidak menghasilkan efek, meningkatkan, ataupun mengurangi variasi genetika pada populasi, bergantung pada bagaimana ragam alel pada populasi tersebut terdistribusi. Sebagai contoh, jika dua alel secara acak terdistribusi pada sebuah populasi, maka jenis kelamin tidak akan memberikan efek pada variasi. Namun, jika dua alel cenderung ditemukan sebagai satu pasang, maka pencampuran genetika akan menyeimbangkan distribusi tak-acak ini, dan dari waktu ke waktu membuat organisme pada populasi menjadi lebih mirip satu sama lainnya. Efek keseluruhan jenis kelamin pada variasi alami tidaklah jelas, namun riset baru-baru ini menunjukkan bahwa jenis kelamin biasanya meningkatkan variasi genetika dan dapat meningkatkan laju evolusi.

Rekombinasi mengijinkan alel sama yang berdekatan satu sama lainnya pada unting DNA diwariskan secara bebas. Namun laju rekombinasi adalah rendah, karena pada manusia dengan potongan satu juta pasangan basa DNA, terdapat satu di antara seratus peluang kejadian rekombinasi terjadi per generasi. Akibatnya, gen-gen yang berdekatan pada kromosom tidak selalu disusun ulang menjauhi satu sama lainnya, sehingga cenderung diwariskan bersama.[ Kecenderungan ini diukur dengan menemukan bagaimana sering dua alel gen yang berbeda ditemukan bersamaan, yang disebut sebagai ketakseimbangan pertautan (linkage disequilibrium). Satu set alel yang biasanya diwariskan bersama sebagai satu kelompok disebut sebagaihaplotipe.

Reproduksi seksual membantu menghilangkan mutasi yang merugikan dan mempertahankan mutasi yang menguntungkan. Sebagai akibatnya, ketika alel tidak dapat dipisahkan dengan rekombinasi (misalnya kromosom Y mamalia yang diwariskan dari ayah ke anak laki-laki), mutasi yang merugikan berakumulasi. Selain itu, rekombinasi dan pemilahan ulang dapat menghasilkan individu dengan kombinasi gen yang baru dan menguntungkan. Efek positif ini diseimbangkan oleh fakta bahwa proses ini dapat menyebabkan mutasi dan pemisahan kombinasi gen yang menguntungkan.

7. Gene Flow

Gene flow dapat terjadi apabila statu individu pergi meninggalkan populasi asal atau melakukan emigrasi ke populasi lain dan masuknya individu ke dalam populasi yang berbeda sehingganmengakibatkan perubahan alel pada individu (Klug & Cummings 1994:745).

 

 

 

 

 

 

 

Singa jantan meninggalkan kelompok di mana ia lahir, dan menuju ke kelompok yang baru untuk berkawin. Hal ini menyebabkan aliran gen antar kelompok singa.

 

 

 

 

Aliran gen merupakan pertukaran gen antar populasi, yang biasanya merupakan spesies yang sama. Contoh aliran gen dalam sebuah spesies meliputi migrasi dan perkembangbiakan organisme atau pertukaran serbuk sari. Transfer gen antar spesies meliputi pembentukan organisme hibrid dan transfer gen horizontal.

Migrasi ke dalam atau ke luar populasi dapat mengubah frekuensi alel, serta menambah variasi genetika ke dalam suatu populasi. Imigrasi dapat menambah bahan genetika baru ke lungkang gen yang telah ada pada suatu populasi. Sebaliknya, emigrasi dapat menghilangkan bahan genetika. Karena pemisahan reproduksi antara dua populasi yang berdivergen diperlukan agar terjadi spesiasi, aliran gen dapat memperlambat proses ini dengan menyebarkan genetika yang berbeda antar populasi. Aliran gen dihalangi oleh barisan gunung, samudera, dan padang pasir. Bahkan bangunan manusia seperti Tembok Raksasa Cina dapat menghalangi aliran gen tanaman.

Bergantung dari sejauh mana dua spesies telah berdivergen sejak MRCA (most recent common ancestor) mereka, adalah mungkin kedua spesies tersebut menghasilkan keturunan, seperti pada kuda dan keledai yang hasil perkawinan campurannya menghasilkan bagal. Hibrid tersebut biasanya mandul, oleh karena dua set kromosom yang berbeda tidak dapat berpasangan selama meiosis. Pada kasus ini, spesies yang berhubungan dekat dapat secara reguler saling kawin, namun hibrid yang dihasilkan akan terseleksi keluar, dan kedua spesies ini tetap berbeda. Namun, hibrid yang berkemampuan berkembang biak kadang-kadang terbentuk, dan spesies baru ini dapat memiliki sifat-sifat antara kedua spesies leluhur ataupun fenotipe yang secara keseluruhan baru. Pentingnya hibridisasi dalam pembentukan spesies baru hewan tidaklah jelas, walaupun beberapa kasus telah ditemukan pada banyak jenis hewan, Hyla versicolor merupakan contoh hewan yang telah dikaji dengan baik.

 

Hibridisasi merupakan cara spesiasi yang penting pada tanaman, karena poliploidi (memiliki lebih dari dua kopi pada setiap kromosom) dapat lebih ditoleransi pada tanaman dibandingkan hewan. Poliploidi sangat penting pada hibdrid karena ia mengijinkan reproduksi, dengan dua set kromosom yang berbeda, tiap-tiap kromosom dapat berpasangan dengan pasangan yang identik selama meiosis. Poliploid juga memiliki keanekaragaman genetika yeng lebih, yang mengijinkannya menghindari depresi penangkaran sanak (inbreeding depression) pada populasi yang kecil.

Transfer gen horizontal merupakan transfer bahan genetika dari satu organisme ke organisme lainnya yang bukan keturunannya. Hal ini paling umum terjadi pada bakteri. Pada bidang pengobatan, hal ini berkontribusi terhadap resistansi antibiotik. Ketika satu bakteri mendapatkan gen resistansi, ia akan dengan cepat mentransfernya ke spesies lainnya. Transfer gen horizontal dari bakteri ke eukariota seperti khamir Saccharomyces cerevisiae dan kumbang Callosobruchus chinensis juga dapat terjadi. Contoh transfer dalam skala besar adalah pada eukariota bdelloid rotifers, yang tampaknya telah menerima gen dari bakteri, fungi, dan tanaman. Virus juga dapat membawa DNA antar organisme, mengijinkan transfer gen antardomain. Transfer gen berskala besar juga telah terjadi antara leluhur sel eukariota dengan prokariota selama akuisisi kloroplas dan mitokondria.
8. Gene Drift

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hanyutan genetik, ingsut genetik, penyimpangan genetik, atau rambang genetik dalam genetika populasi, merupakan akumulasi kejadian acak yang menggeser tampilan lungkang gen (gene pool) secara perlahan dari keadaan setimbang, namun semakin membesar seiring berjalannya waktu. Sebenarnya, istilah “genetik” kurang tepat dan yang lebih baik adalah “alel“, karena yang sebenarnya terjadi adalah proses perubahan frekuensi alel suatu populasi karena yang berubah adalah frekuensi dari alel-alel yang ada di dalam populasi yang bersangkutan.

Hanyutan genetik berbeda dari seleksi alam. Yang terakhir ini merupakan proses tak acak yang memiliki kecenderungan membuat alel menjadi lebih atau kurang tersebar pada sebuah populasi dikarenakan efek alel pada kemampuan individu beradaptasi dan reproduksi.

Pada populasi kecil, efek galat contoh (sampling error) pada alel tertentu dalam keseluruhan populasi dapat menyebabkan frekuensinya meningkat atau menurun pada generasi selanjutnya. Ini merupakan perubahan evolusioner; sering kali gen tertentu menjadi tetap pada populasi, atau menjadi punah. Apabila waktu untuk proses ini mencukupi dapat diikuti oleh proses spesiasi seiring terakumulasinya hanyutan genetika.

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Sewall Wright pada tahun 1920-an. Terdapat pedebatan mengenai seberapa signifikan hanyutan genetika. Banyak ilmuwan yang menganggapnya sebagai salah satu mekanisme utama evolusi biologis. Beberapa penulis, seperti Richard Dawkins, menganggap hanyutan genetik penting (terutama untuk populasi yang kecil atau terisolasi), namun kurang penting dibandingkan seleksi alam.

Merupakan sebuah proses bebas yang menghasilkan perubahan acak pada frekuensi sifat dalam suatu populasi. Hanyutan genetika dihasilkan dari probabilitas apakah suatu sifat akan diwariskan ketika suatu individu bertahan hidup dan bereproduksi.

Simulasi hanyutan genetika 20 alel yang tidak bertaut pada jumlah populasi 10 (atas) dan 100 (bawah). Hanyutan mencapai fiksasi lebih cepat pada populasi yang lebih kecil.

Hanyutan genetika atau ingsut genetik merupakan perubahan frekuensi alel dari satu generasi ke generasi selanjutnya yang terjadi karena alel pada suatu keturunan merupakan sampel acak (random sample) dari orang tuanya; selain itu ia juga terjadi karena peranan probabilitas dalam penentuan apakah suatu individu akan bertahan hidup dan bereproduksi atau tidak. Dalam istilah matematika, alel berpotensi mengalami galat percontohan (sampling error). Karenanya, ketika gaya dorong selektif tidak ada ataupun secara relatif lemah, frekuensi-frekuensi alel cenderung “menghanyut” ke atas atau ke bawah secara acak (langkah acak). Hanyutan ini berhenti ketika sebuah alel pada akhirnya menjadi tetap, baik karena menghilang dari populasi, ataupun menggantikan keseluruhan alel lainnya. Hanyutan genetika oleh karena itu dapat mengeliminasi beberapa alel dari sebuah populasi hanya karena kebetulan saja. Bahkan pada ketidadaan gaya selektif, hanyutan genetika dapat menyebabkan dua populasi yang terpisah dengan stuktur genetik yang sama menghanyut menjadi dua populasi divergen dengan set alel yang berbeda.

Waktu untuk sebuah alel menjadi tetap oleh hanyutan genetika bergantung pada ukuran populasi, dengan fiksasi terjadi lebih cepat dalam populasi yang lebih kecil. Pengukuran populasi yang tepat adalah ukuran populasi efektif, yakni didefinisikan oleh Sewal Wright sebagai bilangan teoritis yang mewakili jumlah individu berkembangbiak yang akan menunjukkan derajat perkembangbiakan terpantau yang sama.

Walaupun seleksi alam bertanggung jawab terhadap adaptasi, kepentingan relatif seleksi alam dan hanyutan genetika dalam mendorong perubahan evolusi secara umum merupakan bidang riset pada biologi evolusi. Investigasi ini disarankan oleh teori netral evolusi molekul, yang mengajukan bahwa kebanyakan perubahan evolusi merupakan akibat dari fiksasi mutasi netral yang tidak memiliki efek seketika pada kebugaran suatu organisme. Sehingga, pada model ini, kebanyakan perubahan genetika pada sebuat populasi merupakan akibat dari tekanan mutasi konstan dan hanyutan genetika.

 

D. Seleksi Alam

1. Seleksi Jenis Kelamin

seleksi alam yang merupakan sebuah proses yang menyebabkan sifat terwaris yang berguna untuk keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme menjadi lebih umum dalam suatu populasi – dan sebaliknya, sifat yang merugikan menjadi lebih berkurang. Hal ini terjadi karena individu dengan sifat-sifat yang menguntungkan lebih berpeluang besar bereproduksi, sehingga lebih banyak individu pada generasi selanjutnya yang mewarisi sifat-sifat yang menguntungkan ini. Setelah beberapa generasi, adaptasi terjadi melalui kombinasi perubahan kecil sifat yang terjadi secara terus menerus dan acak ini dengan seleksi alam.

Walaupun perubahan yang dihasilkan oleh hanyutan dan seleksi alam kecil, perubahan ini akan terakumulasi, menyebabkan perubahan yang substansial pada organisme. Proses ini mencapai puncaknya dengan menghasilkan spesies yang baru. Dan sebenarnya, kemiripan antara organisme yang satu dengan organisme yang lain mensugestikan bahwa semua spesies yang kita kenal berasal dari nenek moyang yang sama melalui proses divergen yang terjadi secara perlahan ini.

Seleksi alam adalah proses di mana mutasi genetika yang meningkatkan reproduksi menjadi (dan tetap) lebih umum dari generasi yang satu ke genarasi yang lain pada sebuah populasi. Ia sering disebut sebagai mekanisme yang “terbukti sendiri” karena:

  • Variasi terwariskan terdapat dalam populasi organisme.
  • Organisme menghasilkan keturunan lebih dari yang dapat bertahan hidup
  • Keturunan-keturunan ini bervariasi dalam kemampuannya bertahan hidup dan bereproduksi.

Kondisi-kondisi ini menghasilkan kompetisi antar organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Oleh sebab itu, organisme dengan sifat-sifat yang lebih menguntungkan akan lebih berkemungkinan mewariskan sifatnya, sedangkan yang tidak menguntungkan cenderung tidak akan diwariskan ke generasi selanjutnya.

Konsep pusat seleksi alam adalah kebugaran evolusi organisme. Kebugaran evolusi mengukur kontribusi genetika organisme pada generasi selanjutnya. Namun, ini tidaklah sama dengan jumlah total keturunan, melainkan kebugaran mengukur proporsi generasi tersebut untuk membawa gen sebuah organisme. Karena itu, jika sebuah alel meningkatkan kebugaran lebih daripada alel-alel lainnya, maka pada tiap generasi alel tersebut menjadi lebih umum dalam popualasi. Contoh-contoh sifat yang dapat meningkatkan kebugaran adalah peningkatan keberlangsungan dan fekunditas. Sebaliknya, kebugaran yang lebih rendah yang disebabkan oleh alel yang kurang menguntungkan atau merugikan mengakibatkan alel ini menjadi lebih langka. Adalah penting untuk diperhatikan bahwa kebugaran sebuah alel bukanlah karakteristik yang tetap. Jika lingkungan berubah, sifat-sifat yang sebelumnya bersifat netral atau merugikan bisa menjadi menguntungkan dan yang sebelumnya menguntungkan bisa menjadi merugikan.

Seleksi alam dalam sebuah populasi untuk sebuah sifat yang nilainya bervariasi, misalnya tinggi badan, dapat dikategorikan menjadi tiga jenis. Yang pertama adalah seleksi berarah(directional selection), yang merupakan geseran nilai rata-rata sifat dalam selang waktu tertentu, misalnya organisme cenderung menjadi lebih tinggi. Kedua, seleksi pemutus (disruptive selection), merupakan seleksi nilai ekstrem, dan sering mengakibatkan dua nilai yang berbeda menjadi lebih umum (dengan menyeleksi keluar nilai rata-rata). Hal ini terjadi apabila baik organisme yang pendek ataupun panjang menguntungkan, sedangkan organisme dengan tinggi sedang tidak. Ketiga, seleksi pemantap (stabilizing selection), yaitu seleksi terhadap nilai-nilai ektrem, menyebabkan penurunan variasi di sekitar nilai rata-rata. Hal ini dapat menyebabkan organisme secara pelahan memiliki tinggi badan yang sama.

Kasus khusus seleksi alam adalah seleksi seksual, yang merupakan seleksi untuk sifat-sifat yang meningkatkan keberhasilan perkawinan dengan meningkatkan daya tarik suatu organisme. Sifat-sifat yang berevolusi melalui seleksi seksual utamanya terdapat pada pejantan beberapa spesies hewan. Walaupun sifat ini dapat menurunkan keberlangsungan hidup individu jantan tersebut (misalnya pada tanduk rusa yang besar dan warna yang cerah dapat menarik predator). Ketidakuntungan keberlangsungan hidup ini diseimbangkan oleh keberhasilan reproduksi yang lebih tinggi pada penjantan.

Bidang riset yang aktif pada saat ini adalah satuan seleksi, dengan seleksi alam diajukan bekerja pada tingkat gen, sel, organisme individu, kelompok organisme, dan bahkan spesies. Dari model-model ini, tiada yang eksklusif, dan seleksi dapat bekerja pada beberapa tingkatan secara serentak. Di bawah tingkat individu, gen yang disebut transposon berusaha menkopi dirinya di seluruh genom. Seleksi pada tingkat di atas individu, seperti seleksi kelompok, dapat mengijinkan evolusi ko-operasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seleksi Alam Populasi Berwarna Kulit Gelap

 

 

 

Konsep seleksi alam adalah landasan utama Darwinisme. Pernyataan ini ditegaskan bahkan pada judul buku dimana Darwin mengajukan teorinya: The Origin of Species, by means of Natural Selection (Asal usul Spesies, melalui Seleksi Alam)

Seleksi alam didasarkan pada anggapan bahwa di alam selalu terdapat persaingan untuk kelangsungan hidup. Ia memilih makhluk-makhluk dengan sifat-sifat yang paling membuat mereka mampu mengatasi tekanan yang diberikan lingkungan. Pada akhir persaingan ini, yang terkuat, yang paling sesuai dengan keadaan alam, akan bertahan. Sebagai contoh, pada sekawanan rusa yang berada di bawah ancaman pemangsa, mereka yang mampu berlari lebih cepat secara alami akan bertahan hidup. Hasilnya, kawanan rusa tersebut pada akhirnya hanya akan terdiri dari rusa-rusa yang mampu berlari cepat.

Meskipun demikian, betapapun lamanya hal ini berlangsung, ini tidak akan merubah rusa tersebut menjadi jenis lain. Rusa lemah akan tersingkirkan, yang kuat bertahan, tetapi, karena tidak ada perubahan yang terjadi dalam data genetik mereka, perubahan spesies pun tidak akan terjadi. Meskipun proses seleksi ini terjadi terus-menerus, rusa tetap akan menjadi rusa.

Contoh tentang rusa tersebut berlaku untuk semua spesies. Dalam populasi manapun, seleksi alam hanya menyingkirkan yang lemah, atau individu yang tidak cocok yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan kondisi alam dalam habitat mereka. Mekanisme seperti ini tidak akan menghasilkan spesies baru, informasi genetik yang baru, atau organ baru. Artinya, seleksi alam tidak bisa menyebabkan apapun untuk berevolusi. Darwin pun menerima fakta ini, sesuai dengan pernyataannya “Seleksi alam tidak bisa berbuat apapun hingga perbedaan individu atau keragaman yang menguntungkan terjadi.” Itulah mengapa neo-Darwinisme harus menambahkan mekanisme mutasi sebagai faktor pengubah informasi genetik dalam konsep seleksi alam.

Persaingan untuk kelangsungan hidup?

Anggapan mendasar dari teori seleksi alam adalah bahwa di alam selalu terdapat persaingan sengit untuk kelangsungan hidup, dan setiap makhluk hidup hanya mempedulikan dirinya sendiri. Pada saat Darwin mengajukan teori ini, gagasan Thomas Malthus, seorang ahli ekonomi klasik Inggris, berpengaruh penting pada dirinya. Malthus menyatakan bahwa manusia tak terhindar dari persaingan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Ia mendasari pandangannya pada kenyataan bahwa populasi, yang berarti juga kebutuhan akan sumber makanan, bertambah menurut deret ukur, sementara sumber makanan itu sendiri bertambah menurut deret hitung. Alhasil, ukuran populasi mau tak mau akan dibatasi oleh faktor-faktor lingkungan, seperti kelaparan dan penyakit. Darwin menerapkan pandangan Malthus tentang persaingan sengit untuk kelangsungan hidup antar manusia kepada alam secara luas, dan menyatakan bahwa “seleksi alam” adalah sebuah dampak persaingan ini.

Namun, penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa tidak terdapat persaingan untuk hidup di alam seperti yang dirumuskan Darwin. Sebagai hasil dari penelitian menyeluruh terhadap kelompok-kelompok hewan pada tahun 1960-an hingga 1970-an, V. C. Wynne-Edward, seorang ahli ilmu hewan Inggris, menyimpulkan bahwa makhluk hidup menyeimbangkan populasi mereka melalui suatu cara menarik, yang mencegah persaingan untuk memperoleh makanan. Populasi diatur tidak melalui penyingkiran yang lemah melalui hal-hal seperti wabah penyakit atau kelaparan, tetapi oleh sebuah mekanisme pengatur naluriah. Dengan kata lain, hewan mengatur jumlah mereka tidak dengan persaingan sengit, seperti diusulkan Darwin, tetapi dengan membatasi perkembangbiakan.

Bahkan tumbuhan menunjukkan contoh pengaturan populasi, yang menyanggah pernyataan Darwin tentang seleksi melalui persaingan. Pengamatan seorang ahli ilmu tumbuhan, A. D. Bradshaw, menunjukkan bahwa selama berkembangbiak, tumbuhan menyesuaikan diri dengan “kepadatan” penanaman, dan membatasi perkembangbiakan mereka jika daerah itu telah penuh dengan tumbuhan. Di lain pihak, contoh pengorbanan yang teramati pada hewan seperti semut dan lebah menggambarkan sebuah model yang sama sekali bertentangan dengan persaingan untuk kelangsungan hidup menurut Darwinis.

Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah mengungkap penemuan mengenai “pengorbanan diri” bahkan pada bakteri. Makhluk hidup tanpa otak atau sistem syaraf ini, yang sama sekali tak berkemampuan untuk berfikir, membunuh diri mereka sendiri untuk menyelamatkan bakteri lain ketika mereka diserang virus.

Contoh-contoh ini pastilah menyanggah anggapan dasar dari seleksi alam: persaingan untuk kelangsungan hidup yang tidak bisa dihindari. Memang benar terdapat persaingan di alam; akan tetapi terdapat juga model yang jelas dari “pengorbanan diri” dan “kesetiakawanan”.

 

 

 

 

 

 

Darwin telah terpengaruh oleh Thomas Malthus ketika mengembangkan tesisnya mengenai pertarungan demi hidup Namun, segenap pengamatan dan percobaan membuktikan bahwa Malthus keliru.

 

 

 

 

 

 

Penelitian dan Percobaan

Terlepas dari kelemahan secara teori tersebut di atas, teori evolusi melalui seleksi alam kembali menemui kebuntuan mendasar ketika berhadapan dengan penemuan-penemuan ilmiah yang nyata. Nilai ilmiah sebuah teori harus dikaji berdasarkan berhasil atau tidaknya teori ini dalam percobaan dan pengamatan. Evolusi melalui seleksi alam gagal dalam keduanya.

Sejak masa Darwin, tidak pernah dikemukakan sepotong bukti pun untuk menunjukkan bahwa seleksi alam telah menyebabkan makhluk hidup berevolusi. Colin Patterson, seorang ahli purbakala senior pada Museum Sejarah Alam (Museum of Natural Histroy) Inggris di London yang juga seorang evolusionis terkemuka, menegaskan bahwa seleksi alam belum pernah teramati memiliki kemampuan untuk menyebabkan makhluk hidup berevolusi:

Tak seorangpun pernah menghasilkan satu spesies melalui mekanisme seleksi alam. Tak seorangpun pernah mendekatinya, dan kebanyakan dari perdebatan di dalam neo-Darwinisme adalah seputar pertanyaan ini.

Pierre-Paul Grasse, ahli ilmu hewan terkenal Perancis yang juga penguji Darwinisme, berkomentar di dalam “Evolusi dan Seleksi Alam”, satu bab pada bukunya The Evolution of Living Organisms (Evlolusi Makhluk Hidup).

“Evolusi sedang beraksi” menurut J. Huxley dan ahli biologi lainnya hanyalah pengamatan atas fakta-fakta demografi, keragaman genotipe lokal, dan sebaran geografis. Sering kali spesies yang diamati hampir tidak berubah selama ratusan abad! Keragaman akibat [perubahan] keadaan, dengan didahului perubahan genom, tidak berarti evolusi, dan kita memiliki bukti nyata atas hal ini pada banyak spesies panchronic [yaitu fosil hidup yang tidak berubah selama jutaan tahun].

Sebuah tinjauan lebih dekat pada beberapa “contoh yang teramati dari seleksi alam” yang disajikan oleh ahli biologi yang mendukung teori evolusi, akan mengungkapkan bahwa, pada kenyataannya, mereka tidak menyediakan bukti apapun bagi evolusi.

Kisah Sebenarnya tentang Melanisme Industri

Ketika sumber-sumber evolusionis dikaji, seseorang pasti akan melihat bahwa contoh ngengat di Inggris selama Revolusi Industri disebut-sebut sebagai contoh evolusi melalui seleksi alam. Hal ini diajukan sebagai contoh paling nyata dari evolusi yang teramati, dalam buku-buku acuan, majalah dan bahkan sumber-sumber akademis. Meskipun pada kenyataanya, contoh tersebut tidak berhubungan sama sekali dengan evolusi.

Pertama, mari kita mengingat kembali apa yang dikatakan: Menurut catatan ini, pada permulaan Revolusi Industri di Inggris, warna kulit pohon disekitar Manchester cukup terang. Oleh sebab itu, ngengat berwarna gelap yang berada di pohon itu akan lebih mudah dilihat oleh burung pemangsa mereka, dan karenanya mereka berkemungkinan kecil untuk bertahan hidup. Lima puluh tahun kemudian, di hutan-hutan dimana polusi industri telah membunuh lumut kerak, kulit pohon menjadi lebih gelap, dan sekarang ngengat berwarna terang menjadi paling banyak diburu, karena mereka paling mudah terlihat. Akibatnya, perbandingan antara ngengat berwarna terang dengan berwarna gelap menurun. Evolusionis mempercayai hal ini sebagai satu bukti besar bagi teori mereka. Mereka berlindung dan menghibur diri dengan bangga, menunjukkan bagaimana ngengat berwarna terang “berevolusi” menjadi ngengat berwarna gelap.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar atas menunjukkan pohon-pohon dengan ngengat di atasnya sebelum revolusi industri, dan gambar bawah menunjukkan keadaan sesudahnya. Karena pohon-pohon ini menjadi lebih gelap, burung-burung dapat lebih mudah menangkap ngengat berwarna terang sehingga jumlah ngengat ini berkurang. Akan tetapi, ini bukan contoh “evolusi”, sebab tiada spesies baru yang muncul; yang terjadi adalah berubahnya perbandingan dua jenis yang ada dari spesies yang memang sudah ada.

 

 

 

 

 

 

 

 

Namun demikian, walaupun kita percaya bahwa fakta ini benar, seharusnya sudah jelas bahwa ngengat-ngengat ini tidak bisa dijadikan bukti bagi teori evolusi, karena tidak ada bentuk baru yang muncul yang sebelumnya tidak ada. Ngengat berwarna gelap telah ada dalam populasi ngengat sebelum Revolusi Industri. Hanya perbandingan antar varietas ngengat yang ada saja yang berubah. Ngengat tidak memperoleh suatu sifat atau organ baru, yang akan menyebabkan “spesiasi” [terbentuknya spesies baru]. Agar satu spesies ngengat berubah menjadi satu spesies hidup lain, burung misalnya, harus ada penambahan baru atas gen-gennya. Artinya, sebuah program genetik yang benar-benar baru harus dimasukan termasuk informasi tentang ciri-ciri fisik dari burung.

Ini adalah jawaban yang diberikan untuk kisah “Melanisme Industri” kaum evolusionis. Namun, masih ada sisi yang lebih menarik dari kisah ini: Tidak hanya penjelasannya, tetapi kisah itu sendiri tidak sepenuhnya benar. Sebagai ahli biologi molekuler, Jonathan Wells menjelaskan dalam bukunya Icons of Evolution (Lambang-lambang Evolusi), cerita ngengat berbintik ini, yang dimasukkan pada setiap buku biologi evolusi dan karenanya, telah menjadi sebuah “lambang” dalam hal ini, tidak mencerminkan kebenaran. Wells mengkaji di dalam bukunya bagaimana percobaan Bernard Kettlewell, yang dikenal sebagai “bukti percobaan”, sebenarnya adalah skandal ilmiah. Beberapa unsur dasar dari skandal ini adalah:

  • Banyak percobaan yang dilakukan setelah Kettlewell mengungkap bahwa hanya ada satu jenis dari ngengat ini yang hinggap pada batang pohon, dan semua jenis lainnya lebih suka hinggap di bawah dahan kecil yang mendatar. Sejak 1980 menjadi teranglah bahwa ngengat umumnya tidak hinggap pada batang pohon. Selama 25 tahun kerja lapangan, banyak ilmuwan seperti Cyril Clarke dan Rory Howlett, Michael Majerus, Tony Liebert, dan Paul Brakefield menyimpulkan bahwa dalam percobaan Kettlewell, ngengat dipaksa untuk bertingkah laku tidak umum, karenanya, hasil percobaan tersebut tidak bisa diterima secara ilmiah.14
  • Para Ilmuwan yang menguji kesimpulan Kettlewell muncul dengan hasil yang bahkan lebih menarik: Walaupun jumlah ngengat berwarna terang diharapkan akan lebih banyak pada daerah yang kurang berpolusi di Inggris, ngengat berwarna gelap di sana jumlahnya empat kali lebih banyak dari yang terang. Ini berarti tidak terdapat hubungan antara populasi ngengat dan batang kayu seperti yang dikatakan Kettlewell dan diulang-ulang oleh hampir semua sumber evolusionis.
  • Ketika pengujian diperdalam, besarnya skandal ini semakin nyata: “Ngengat pada batang pohon” yang difoto oleh Kettlewell, sebenarnya adalah ngengat mati. Kettle well menggunakan serangga mati yang direkatkan atau ditusukkan pada batang kayu dan kemudian memfotonya. Pada dasarnya, sulit sekali untuk mengambil gambar seperti itu karena ngengat tidak hinggap di batang pohon, melainkan di bawah dedaunan.

Fakta-fakta ini diungkapkan oleh masyarakat ilmiah baru di akhir 1990-an. Runtuhnya mitos Melanisme Industri, yang telah menjadi salah satu bahasan berharga dalam kuliah-kuliah “Mengenal Evolusi” di setiap Universitas selama beberapa dasawarsa, sangat mengecewakan para evolusionis. Salah satu dari mereka, Jerry Coyne, bertutur:

Reaksi saya mirip dengan kekecewaan yang menyertai temuan saya, pada umur 6 tahun, bahwa ternyata ayah sayalah dan bukan Santa yang membawa hadiah pada malam natal. Jadi, “contoh paling terkenal dari seleksi alam” telah dibuang ke tumpukan sampah sejarah sebagai sebuah skandal ilmiah—sebuah hal yang tak terhindarkan, karena, berkebalikan dengan apa yang dinyatakan evolusionis, seleksi alam bukanlah sebuah “mekanisme evolusi”.

Singkatnya, seleksi alam tidak mampu menambahkan organ baru pada makhluk hidup, atau menghilangkan salah satunya, ataupun merubah organisme dari satu spesies menjadi spesies lain. Bukti “terbesar” yang ada sejak Darwin hanya beranjak tidak lebih jauh dari “Melanisme Industri” ngengat di Inggris.

Mengapa Seleksi Alam Tidak Bisa Menjelaskan Kompleksitas

Seperti yang kami tunjukkan pada bagian awal, masalah terbesar bagi teori evolusi melalui seleksi alam, adalah bahwa ia tidak bisa memunculkan organ atau sifat baru pada makhluk hidup. Seleksi alam tidak bisa mengembangkan data genetik suatu spesies; karenanya, ia tidak bisa digunakan untuk menjelaskan kemunculan spesies baru. Pembela terbesar teori Punctuated Equilibrium (Keseimbangan Tersela), Stephen Jay Gould, menyatakan kebuntuan seleksi alam ini sebagai berikut:

Intisari Dawinisme terdapat dalam sebuah kalimat: seleksi alam adalah kekuatan kreatif dari perubahan secara evolusi. Tak seorang pun menyangkal bahwa seleksi alam akan memainkan peran negatif dengan menyisihkan yang lemah. Teori Darwin mensyaratkan seleksi alam juga menciptakan yang kuat.

Metoda menyesatkan lainnya yang diterapkan para evolusionis dalam masalah seleksi alam adalah usaha mereka untuk menghadirkan mekanisme ini sebagai sebuah perancang cerdas. Namun, seleksi alam tidak memiliki kecerdasan. Seleksi alam tidak memiliki kehendak yang dapat menentukan mana yang baik dan buruk bagi makhluk hidup. Akibatnya, seleksi alam tidak bisa menjelaskan system-sistem biologis dan organ-organ yang memiliki “kompleksitas tak tersederhanakan”. Sistem-sistem dan organ-organ ini tersusun atas banyak bagian yang bekerja sama, dan tidak akan berguna jika satu saja bagiannya hilang atau rusak. (Sebagai contoh, mata manusia tidak akan berfungsi kecuali jika ia memiliki semua bagiannya secara utuh).

Oleh karena itu, kehendak yang menyatukan semua bagian ini seharusnya mampu memperkirakan masa depan dan secara langsung mengarahkan kepada manfaat yang akan didapat pada tahapan terakhir. Karena seleksi alam tidak memiliki kesadaran atau kehendak, seleksi alam tidak bisa melakukan hal seperti itu. Fakta ini, yang menghancurkan dasar dari teori evolusi, juga mengganggu Darwin, yang menulis: “Jika bisa dibuktikan bahwa ada organ kompleks, yang tidak mungkin dapat terbentuk melalui banyak perubahan kecil bertahap, maka teori saya akan sepenuhnya runtuh.”

2. Persilangan Individu

Dalam kasus mengenai binatang atau tanaman dengan kelamin terpisah, sudah jelas bahwa dua individu harus selalu merapat atau bersetubuh untuk melahirkan keturunan. Tetapi pada kasus hermaprodit hal ini sama sekali tidak jelas, namun demikian ada alasan yang dapat dipercaya bagi semua makhluk hermaprodit maka dua individu, hanya kadang-kadangn saja atau secara kebiasaan melakukan secara bersamaan untuk mengembangbiakan sejenisnya.

  1. 3. Penyimpangan Sifat

Dengan mengkaji sifat tanaman atau binatang yang telah berhasil dalam perjuangannya di Negara mana pun dengan keasliannya dan telah beradaptasi di sana maka kita memperoleh gagasan yang maish mentah tentang cara bagaimana beberapa tanaman asli tersebut dimodifikasi agar memperoleh keuntungan yang lebih besar daripada rekan-rekannya dari Negara asalnya, dan setidaknya kita dapat menarik kesimpulan bahwa diversifikasi struktur sebanyak perbedaan genus yang baru akan menguntungkannya. Keuntungan diversifikasi struktur dari penghuni daerah yang sama, sesungguhnya sama dengan pembagian kerja fisiologis organ tubuh individu yan sama.

4. Adaptasi

Adaptasi merupakan struktur atau perilaku yang meningkatkan fungsi organ tertentu, menyebabkan organisme menjadi lebih baik dalam bertahan hidup dan bereproduksi. Ia diakibatkan oleh kombinasi perubahan acak dalam skala kecil pada sifat organisme secara terus menerus yang diikuti oleh seleksi alam varian yang paling cocok terhadap lingkungannya. Proses ini dapat menyebabkan penambahan ciri-ciri baru ataupun kehilangan ciri-ciri leluhur. Contohnya adalah adaptasi bakteri terhadap seleksi antibiotik melalui perubahan genetika yang menyebabkan resistansi antibiotik. Hal ini dapat dicapai dengan mengubah target obat ataupun meningkatkan aktivitas transporter yang memompa obat keluar dari sel. Contoh lainnya adalah bakteri Escherichia coli yang berevolusi menjadi berkemampuan menggunakan asam sitrat sebagai nutrien pada sebuah eksperimen laboratorium jangka panjang, ataupun Flavobacterium yang berhasil menghasilkan enzim yang mengijinkan bakteri-bakteri ini tumbuh di limbah produksi nilon.

Namun, banyak sifat-sifat yang tampaknya merupakan adapatasi sederhana sebenarnya merupakan eksaptasi, yakni struktur yang awalnya beradaptasi untuk fungsi tertentu namun secara kebetulan memiliki fungsi-fungsi lainnya dalam proses evolusi. Contohnya adalah cicak Afrika Holaspis guentheri yang mengembangkan bentuk kepala yang sangat pipih untuk dapat bersembunyi di celah-celah retakan, seperti yang dapat dilihat pada kerabat dekat spesies ini. Namun, pada spesies ini, kepalanya menjadi sangat pipih, sehingga hal ini membantu spesies tersebut meluncur dari pohon ke pohon. Contoh lainnya adalah penggunaan enzim dari glikolisis dan metabolisme xenobiotik sebagai protein struktural yang dinamakan kristalin (crystallin) dalam lensa mata organisme.

 

 

Kerangka paus balin, label a dan b merupakan tulang kaki sirip yang merupakan adaptasi dari tulang kaki depan; sedangkan c mengindikasikan tulang kaki vertigial.

 

 

 

 

 

Ketika adaptasi terjadi melalui modifikasi perlahan pada stuktur yang telah ada, struktur dengan organisasi internal dapat memiliki fungsi yang sangat berbeda pada organisme terkait. Ini merupakan akibat dari stuktur leluhur yang diadaptasikan untuk berfungsi dengan cara yang berbeda. Tulang pada sayap kelelawar sebagai contohnya, secara struktural sama dengan tangan manusia dan sirip anjing laut oleh karena struktur leluhur yang sama yang mempunyai lima jari. Ciri-ciri anatomi idiosinkratik lainnya adalah tulang pada pergelangan panda yang terbentuk menjadi “ibu jari” palsu, mengindikasikan bahwa garis keturunan evolusi suatu organisme dapat membatasi adaptasi apa yang memungkinkan.

Selama adaptasi, beberapa struktur dapat kehilangan fungsi awalnya dan menjadi struktur vestigial. Struktur tersebut dapat memiliki fungsi yang kecil atau sama sekali tidak berfungsi pada spesies sekarang, namun memiliki fungsi yang jelas pada spesies leluhur atau spesies lainnya yang berkerabat dekat. Contohnya meliputi pseudogen, sisa mata yang tidak berfungsi pada ikan gua yang buta, sayap pada burung yang tidak dapat terbang, dan keberadaan tulang pinggul pada ikan paus dan ular. Contoh stuktur vestigial pada manusia meliputi geraham bungsu, tulang ekor, dan umbai cacing (apendiks vermiformis).

Bidang investigasi masa kini pada biologi perkembangan evolusi adalah perkembangan yang berdasarkan adaptasi dan eksaptasi. Riset ini mengalamatkan asal muasal dan evolusi perkembangan embrio, dan bagaimana modifikasi perkembangan dan proses perkembangan ini menghasilkan ciri-ciri yang baru. Kajian pada bidang ini menunjukkan bahwa evolusi dapat mengubah perkembangan dan menghasilkan struktur yang baru, seperti stuktur tulang embrio yang berkembang menjadi rahang pada beberapa hewan daripada menjadi telinga tengah pada mamalia. Adalah mungkin untuk struktur yang telah hilang selama proses evolusi muncul kembali karena perubahan pada perkembangan gen, seperti mutasi pada ayam yang menyebabkan pertumbuhan gigi yang mirip dengan gigi buaya. Adalah semakin jelas bahwa kebanyakan perubahan pada bentuk organisme diakibatkan oleh perubahan pada tingkat dan waktu ekspresi sebuah set kecil gen yang terpelihara.

Beberapa contoh dari adaptasi yang mencolok, dimana proses tersebut untuk menjelaskan proses-proses dari mana adaptasi terwujud.

Kemampuan tumbuh dari tanaman padang rumput

Tahun 1937, Kemp seorang sarjana dari Amerika Serikat mengadakan percobaan tentang kecepatan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan adaptasi keadaan setempat. Caranya dengan menaburi dengan biji-bijian ar rumput dan tanaman polong-polongan pda suatu padang rumput di Maryland. Kemudian dibagi menjadi 2 bagian, satu bagian selalu dimakan oleh ternak dan sebagian lagi dibiarkan tanpa di ganggu. Tiga tahun setelah diadakan percobaan itu, Kemp mengambil 3 jenis tanaman dari kedua bagian tersebut. Biji-biji dari dari ketiga macam tanaman tersebut kemudian ditanam pada tanah percoban dimana keadan lingkungan dibuat sesame mungkin untuk ketiga jenis tanaman. Di dapatkan bahwa tanaman yang diperoleh dari padang rumput yang selaludimakan oleh ternak adalah cebol dan tumbuh kesegala jurusan. Sedangkan tanaman dari padang rumput yang tidak diganggu menampakan pertumbuhan yang besar dan tegak lurus.

Dalam waktu tiga tahun, kedua populasi yang terdiri dari jenis-jenis tanaman diketahui berasal dari biji-bijian yang sama telah berbeda dalam cara tumbuhnya. Cara tumbuh ini telah diketahui ditentukan secara genetik. Ternyata ternak pada sebagian padang rumput telah memakan hampir semua tanaman tegak, sedangkan tanaman yang rendah telah lolos dari ternak tersebut. Pada daerah yang dimakan oleh ternak hanya tanaman yang rendah yang dapat terus berbiak dengan bijinya, dalam waktu yang singkat terjadi suatu seleksi kuat untuk tanaman cebol dan tumbuh tidak lurus yang mempunyai adaptabilitas yang tinggi. Sebaliknya pada bagian lain dari tanaman lpang itu, dimana tumbuh tanaman yang tidak diganggu ternak, pertumbuhan tegak lurus secara adaptatif adalah superior dan tanaman cebol tidak akan dapat bersaing secara efektif.

Adaptasi bunga untuk penyerbukan

Tumbuh-tumbuhan berbunga tergantung dari agen diluar untuk membawa tepungsari bunga jantan suatu pohon ke bunga betina pohon lainya. Bunga dari setiap spesies pohon mempunyai adptasi bentuk, struktur warna dan bau untuk agen penyerbuk tergantung. Hal ini memberikan gambaran yang jelas tentang adaptivitas suatu evolusi.

Lebah tertarik oleh warna terang dan oleh bau yang manis, aromatik atau mentol. Mereka hanya aktif pada siang hari dan mereka biasanya  singgah dahulu pada petal sebelum bergerak kedalam bagian bunga yang mengandug madu dan tepung sari. Bunga yang diserbuk oleh lebah mempunyai warna mencolok, suatu petal yang berwarnadan biasanya kuning atau biru, tetapi jarang sekali merah. Lebah tidak dapat melihat warna merh, tetapi dapat melihat warna kuning dan biru dengan baik. Bunga yang biasanya mempunyai bau manis, aromatic atau mentol biasanya membuka pada siang hari dan sering mempunyai bibir yang menonjol dimana lebah dapat hinggap sebelum msuk kedalam bunga. Ada sejenis burung kecil (Hummingbird) pemakan madu,sebaliknya dapat melihat warna merah dengan baik dan warna biru tidak begitu baik. Burung ini tidak hinggap melinkan mengapung diudara sambil menghisap madu, dengan penciuman yang tajam. Bunga-bunga yang terutama yang diserbukan oleh burung ini biasanya tidak berbau dan tidak mempunyai tempt untuk hinggap. Berlainan dengan lebah dan “ Humingbird” kupu-kupu malam sangat aktif pada waktu senja dan malam hari. Bunga-bunga yang diserbuk oleh kupu-kupu malam biasanya berwarna putih dan membuka pada waktu senja atau malam hari. Bunga ini biasanya mempunyai bau yang sangat kuat sehingga dapat menuntun kupu-kupu tadi ketempat itu,

Berbeda-beda dengan contoh-contoh diatas, lalat hanya tertarik pada bau yang tidak enak. Lalt adalah pemakan bangkai,kotoran, humus atau darah. Bunga-bunga yang penyerbukanya tergantung dari lalat biasanya berwarna suram dn berbau tidak enak.  Buga-bunga ini kadang-kadang berbetuk demikian sehingga dapat mengurung lalt sehingga lalat untuk sementara sehingga bila lalat tersebut keluar dari bunga itu, maka tubuhnya telah penuh dengan tepung sari. Tepung sari yang demikian kemudian dapat terbawa kebunga lainya. Mekanisme perangkap ini terdapat pad bunga-bunga yang diserbuk oleh kepik.

 

 

 

 

E. Gene Pool dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keseimbangan

1. Pengetahuan Gene Pool

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biston betularia hitam

 

 

Dari sudut pandang genetika, evolusi ialah perubahan pada frekuensi alel dalam populasi yang saling berbagi lungkang gen (gene pool) dari generasi yang satu ke generasi yang lain.[51] Sebuah populasi merupakan kelompok individu terlokalisasi yang merupakan spesies yang sama. Sebagai contoh, semua ngengat dengan spesies yang sama yang hidup di sebuah hutan yang terisolasi mewakili sebuah populasi. Sebuah gen tunggal pada populasi ini dapat mempunyai bentuk-bentuk alternatif yang bertanggung jawab terhadap variasi antar fenotipe organisme. Contohnya adalah gen yang bertanggung jawab terhadap warna ngengat mempunyai dua alel: hitam dan putih. Lungkang gen merupakan keseluruhan set alel pada sebuah populasi tunggal, sehingga tiap alel muncul pada lungkang gen beberapa kali. Fraksi gen dalam lungkang gen yang merupakan alel tertentu disebut sebagai frekuensi alel. Evolusi terjadi ketika terdapat perubahan pada frekuensi alel dalam sebuah populasi organisme yang saling berkembangbiak; sebagai contoh alel untuk warna hitam pada populasi ngengat menjadi lebih umum.

Untuk memahami mekanisme yang menyebabkan sebuah populasi berevolusi, adalah sangat berguna untuk memperhatikan kondisi-kondisi apa saja yang diperlukan oleh suatu populasi untuk tidak berevolusi. Asas Hardy-Weinberg menyatakan bahwa frekuensi alel (variasi pada sebuah gen) pada sebuah populasi yang cukup besar akan tetap konstan jika gaya dorong yang terdapat pada populasi tersebut hanyalah penataan ulang alel secara acak selama pembentukan sperma atau sel telur dan kombinasi acak alel sel kelamin ini selama pembuahan. Populasi seperti ini dikatakan sebagai dalam kesetimbangan Hardy-Weinberg dan tidak berevolusi.

 

2. Hukum Hardy-Weinberg

Pada tahun 1908, ahli Matematika Inggris G.H. Hardy dan seorang ahli Fisika Jerman W. Weinberg secara terpisah mengembangkan model matematika yang dapat menerangkan proses pewarisan tanpa mengubah struktur genetika di dalam populasi. Hukum Hardy-Weinberg menyatakan bahwa jumlah frekuensi alel di dalam populasi akan tetap seperti frekuensi awal, dengan beberapa persyaratan yaitu: populasi sangat besar, kawin acak, tidak ada perubahan di dalam unggun gen akibat mutasi, tidak terjadi migrasi individu ke dalam dan ke luar populasi, dan tidak ada seleksi alam (semua genotip mempunyai kesempatan yang sama dalam keberhasilan reproduksi).

Hukum Hardy-Weinberg memberikan standar ideal untuk para ahli genetika untuk membandingkan populasi yang sebenarnya dan mendeteksi perubahan evolusi. Dua hal utama dalam hukum Hardy-Weinberg, yaitu (1) Jika tidak ada gangguan maka frekuensi alel yang berbeda dalam populasi akan cenderung tetap/tidak berubah sepanjang waktu. (2) Dengan tidak adanya faktor pengganggu, maka frekuensi genotipe juga tidak akan berubah setelah generasi I. Hukum ini dapat dilihat misalnya pada populasi siput (Gambar 1) yang dapat melakukan fertilisasi sendiri secara acak (langkah 1). Siput-siput ini memiliki sebagian gen-gen dominan untuk warna cangkang, misalnya biru, kuning, atau hijau. Dengan menganalisis perubahan frekuensi dari gen warna ini dengan persamaan Hardy-Weinberg maka kita akan dapat menentukan apakah populasi siput tersebut berkembang.

Sebagai contoh pada masa revolusi industri di Inggris, kupu-kupu, Biston betularia berwarna terang diperkirakan lebih dari 90%, sedangkan yang berwarna gelap kurang dari 10%. Dengan menggunakan kesetimbangan Hardy-Weinberg, proporsi ini akan terpelihara pada setiap generasi (dengan syarat populasi besar, terjadi kawin acak tanpa perubahan laju mutasi dan migrasi) di dalam lingkungan yang stabil.

Hardy-Weinberg mengemukakan rumus untuk menghitung frekuensi alel dan genotip dalam populasi. Jika di dalam populasi terdapat dua alel pada lokus tunggal, alel dominan D dan alel resesif d, jika frekuensi alel dominan dilambangkan dengan p, dan frekuensi alel resesif dilambangkan dengan q maka p + q = 1. Pada reproduksi seksual, frekuensi setiap macam gamet sama dengan frekuensi alel dalam populasi. Jika gamet berpasangan secara acak, maka peluang frekuensi homozigot DD = p2, peluang frekuensi homozigot dd = q2, dan peluang heterozigot Dd = 2pq, maka p2 + 2pq + q2 = 1.

Dalam populasi besar alami yang tiap individunya memiliki peluang yang sama untuk kawin antar individu dalam populasi tersebut (suatu kondisi yang disebut kawin acak) dan tidak ada faktor-faktor yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan frekuensi genotipe ataupun frekuensi alelnya, maka frekuensi genotipe dan frekuensi alel populasi tersebut akan tetap sepanjang generasi. Populasi dalam keadaan tersebut dinamakan dalam keseimbangan Hardy-Weinberg (dilambangkan sebagai populasi HWeq).

Dalam populasi HWeq, kawin acak berjalan sempurna, sehingga sesuai dengan teori peluang, maka frekuensi genotipe pada generasi berikutnya akan merupakan hasil penggandaan frekuensi alel yang membentuknya. Oleh karena itu bila diketahui frekuensi alel suatu populasi dengan model diploid adalah p dan q, maka frekuensi genotipe homozigot dominan (P), homozigot resesif (Q) dan heterozigot (H) pada generasi berikutnya adalah : P’ = p2, Q’ = q2, H’ = 2pq, di mana P’+Q’+H’ = 1. Bila tidak ada keterpautan (linkage), kondisi HWeq akan tercapai setelah satu kali kawin acak. Konstitusi genetik populasi setelah HWeq tercapai tidak akan berubah sepanjang generasi selama faktor-faktor pengubah frekuensi alel tidak bekerja, atau tidak ada migrasi, mutasi, dan seleksi. Perlu diperhatikan bahwa yang menentukan konstitusi genetik populasi HWeq adalah frekuensi alelnya, bukan frekuensi genotipe tetua.

 

 

 

 

 

Gambar Prinsip Hardy-Weinberg

 

Hukum hardy-Weinberg menyatakan bahwa keseimbangan frekeunsi genitif Aa, Aa, aa serta perbandingan gen A dan a dari genersi ke generasi akan selalu sama, apabila  :

-      populasi harus cukup besar suaya tidak mungkin memberi peluang untuk mengubah secara sendirian frekuensi gen

-      tidak terjadi mutasi

-      tidak terjadi migrasi, baik keluar maupun masuk

-      tidak terjadi seleksi alam

-      perkawinan terjadi secara acak atau random

-      reproduksi berlangsung sukses dan secara acak

Hukum Hardy-Weinberg, dapat dirumuskan sebagai berikut  :   p2 +  2  pq  +  q2 =   1

Apabila frekuensi alel adalah 0,9 untuk  p  dan 0.1 untuk  q , maka persamaannya adalah sebagai berikut  :

p2 +  2  pq  +  q2 =   1

(0,9)(0,9)      +  2 (0,9)(0,9)       +  (0,1)(0,1)           =  1

0,81              +      0,18                 +        0,01              =  1

Dari rumus Hardy –Weinberg menunjukan frekuensi dari tiga genotif, yaitu  :

p2 =  frekuensi dar  A/A            =  0,81

2 pq                 =  frekuensi dari A/a              =  0,18

q2 =  frekuensi dari  a/a              =  0,01

Untuk lebih memahami hukum  Hardy-Weinberg, perhatikan soal berikut. Dalam masyarakat, frekuensi orang yang menderita albino adalah   1  :  10.000.  Berapa prosentase orang normal  ?

p  =  normal

q  =  albino

Orang albino bergenotif       aa     =      q2 =

q2 =

=   0,01

p  +  q      =   1

p              =   1  –  0,01

=   0,99

Orang normal heterozigot begenotif  Aa memiliki  frekuensi  2 pq         =  2 x  0,99  x  0,01

=  0,0198

=  0,0198  x  100%

=  1,08%

 

Orang normal hompzigot bergenotif     AA                   =   p2

=  (0,99)2

=  0,9801

=  0,9801  x  100%

=  98,01%

  1. 4. Kondisi yang Diperlukan untuk Keseimbangan Genetik

Perlu diteliti apakah yang dimaksud dengan kondisi pada hokum Hardy-Weinberg, sehingga menyebabkan gen pool dari suatu populasi berada didalam kesetimbangan genetis. Kondisi tersebut digambarkan sebagai berikut:

  • Populasi harus cukup besar, sehingga suatu factor kebetulan saja tidak mungkin mengubah frekuensi genetis secara berarti
  • Mutasi tidak boleh terjadi, atau harus terjadi kesetimbagna secara mutasi.
  • Harus tidak terjadi emigrasi dan imigrasi.
  • Reproduksi harus sama sekali random.

Secara teoritis, suatu populasi harus begitu besar sehingga dapat dianggap bukan merupakan factor penyebab dari perubahan frekuensi genetis. Dalam kenyataan, tidaklah ada populasi yang besarnya tidak terbatas, tetapi beberapa populasi alami dapat cukup besar sehingga perubahan sedikit saja tidak cukup menjadi penyebab dari perubahan yang berarti pada frekuensi genetis gene pool mereka.

Suatu populasi produktif yang terdiri lebih dari 10.000 anggota yang dapat berbiak, mempunyai kemungkinan besar tidak dipengaruhi secara berarti oleh perubahan sembarang. Tetapi frekuensi genetis pada suatu populasi kecil yang terisolasi, misalnya kurang dari 100 anggota yang dapat, sangat mudah untuk terkena flutuasi sebarang, yang dapat menuju kepada lenyapnya suatu alel dari gene pool, meskipun alel itu merupakan alel superior. Di dalam populasi yang demikian, ternyata hanya terdapat sangat kecil alel yang mempunyai alel superior. Di dalam populasi yang demikian, ternyata hanya sangat kecil alel yang mempunyai frekuensi antara, rupanya semua alel itu mempunyai kecendrungan untuk hilang dengan segera atau tertahan sebagai satu-satunya alel yang ada. Dengan perkataan lain, populasi kecil mempunyai kecendrungan besar untuk menjadi homozigotik, sedangkan populasi besar cenderung untuk lebih bermacam-macam.

Jadi suatu kesempatan dapat menyebabkan perubahan evolusi di dalam populasi kecil, tetapi perubahan ini kadang-kadang disebut juga dengan genetic drift atau pergeseran genetis tidak dipengaruhi secara besar oleh adaptivitas relative dari berbagai gen. Hal ini disebut sebagai evolusi pertengahan. Syarat kedua bagi kesetimbangan mutasi mungkin tidak dijumpai pada suatu populasi.

Mutasi selalu terjadi, tidak ada satu cara apapun untuk dapat mencegahnya. Hampir semua gen mungkin mengalami mutasi sekali pada 50.000 sampai 10.000 pembelahan, kecepatan mutasi bagi berbagai gen berbeda. Sangat jarang mutasi alel dengan sifat sama dapat sampai mencapai kesetimbangan. Jadi jumlah mutasi maju jarang sekali sama dengan mutasi balik di dalam suatu kesatuan waktu. Contoh: mutasi alel A ke allele a adalah mutasi maju, sedangkan mutasi dari a ke A adalah mutasi mundur.

Kecepatan dari kedua mutasi ini jarang sekali akan terjadi dalam keadaan yang sama-sama betul sama, salah satu mutasi yang akan terjadi lebih sering tekanan mutasi ini akan cenderung untuk menyebabkan pergeseran perlahan-lahan pada frekuensi genetis di dalam populasi. Alel yang lebih stabil akan cenderung untuk bertambah frekuensinya, sedangkan alel yang mudah bermutasi akan cenderung untuk berkurang frekuensinya, kecuali kalau ada factor lain yang mengubah tekanan mutasi ini. Meskipun tekanan mutasi selalu ada, tetapi mungkin sekali bahwa ini merupakan factor utama yang dapat menghasilkan perubahan pada frekunsi genetis di dalam suatu populasi. Mutasi berjalan begitu lambat sekali untuk menimbulkan suatu perubahan nyata (kecuali dalam hal poliploidi). Mutasi terjadi secara random dan seringkali cenderung untuk mengarah pada jurusan yang berbeda dari factor-faktor lain yang menyebabkan organism sesungguhnya harus berevolusi.

Kalau gene pool harus di dalam keadaan seimbang, sudah barang tentu imigrasi dari populasi lain tidak boleh terjadi kalau hal ini akan menyebabkan terjadinya pemasukan gen baru. Hilangnya gene pool secara emigrasi harus tidak boleh terjadi. Sebagian besar populasi alami mungkin paling sedikit mengalami migrasi genetis di dalam jumlah yang sangat kecil, dan factor ini  menambah terjadinya variasi yang cenderung untuk megacaukan keseimbangan Hardy-Weinberg. Sangat disangsikan akan adanya suatu populasi yang bebas dari migrasi genetis dan pada beberapa kejadian dimana migrasi genetis terjadi, hal ini terjadi begitu kecil sehingga dapat diabaikan sebagai factor yang menyebabkan pergeseran frekuensi genetis. Itulah sebabnya dapat kita simpulkan bahwa syarat ketiga untuk keseimbangan genetis kadang-kadang di alam.

Kondisi untuk keseimbangan genetis di dalam populasi adalah perkembang biakan atau reproduksi yang random. Reproduksi atau perkembang biakan tidak hanya bertanggung jawab atas kelangsungan reproduksi dari populasi. Seleksi pasangan, efisiensi dan frekuensi proses perkawinan, fertilisasi, jumlah zigot yang terjadi pada setiap perkawinan, prosentase zigot yang menuju ke arah pertumbuhan embrio dan kelahiran berhasil, kemampuan hidup keturunan sampai mencapai umur untuk berbiak. Hal tersebut mempunyai pengaruh langsung pada keturunannya dalam arti keselamatannya atau efisiensi dari reproduksi. Bila reproduksi merupakan sesuatu yang sama sekali random, maka semua factor yang mempengaruhi harus random, yakni tidak tergantung pada genotip.

Reproduksi tidak sembarang (non random) adalah hokum umum. Reproduksi di dalam arti luas adalah seleksi alam. Jadi seleksi selalu bekerja pada semua populasi. Sehingga kalau kita simpulkan, 4 kondisi yang diperlukan untuk keseimbangan genetis yang diusulkan oleh hokum Hardy-Weinberg adalah:

  • Ditemukan pada populasi besar
  • Tidak pernah dijumpai mutasi
  • Tanpa migrasi
  • Reproduksi random tidak pernah dijumpai.

  1. 5. Peranan Seleksi Alam

Perubahan-perubahan pada frekuensi dan gen tiap individu juga disebabkan oleh seleksi alam. Pada populasi hipotesis yang telah kita singgung di depan mempunyai frekuensi permulaan alel A dan a, yakni 0,9 dan 0,1; dan frekuensi genotip 0,91 dan 0,01. Frekuensi ini tidak dapat berubah secara otomatis dengan perkembangan waktu dan perubahan itu hanya akan terjadi bila ada sesuatu yang mengubah keseimbangan genetis. Kita lihat bahwa tekanan mutasi sampai suatu batas kecil, dan tekanan seleksi sampai batas besar, akan selalu menggangu keseimbangan genetis dari populasi. Misalnya, seleksi alam bekerja terhadap fenotip dominan pada contoh kita diatas, dan bahwa seleksi ini memberikan tekanan negative yang dapat mengubah A dari 0,9 menjadi 0,8 sebelum terjadi reproduksi. Tentunya terjadi penambahan frekuensi a dari 0,1 menjadi 0,2; sebab jumlah kedua frekuensi harus 1.

Hal tersebut dapat kita hitung dengan PunnetSquare, perbandingan genotip pada generasi kedua:

Telur Sperma
0,8A 0,2A
0,8A 0,64AA 0,16Aa
0,2a 0,16Aa 0,04aa

 

Kita dapati bahwa perbandingan genotip dari generasi kedua berbeda dengan yang kita dapatkan pada generasi orang tua. Perbandingan yang baru dari 0,81;0,18 dan 0,01 menjadi 0,64;0,32 dan 0,04. Seandainya seleksi alam mengurangi lagi frekuensi A, perbandingan genotip pada generasi ketiga akan berbeda dengan yang ada pada generasi sebelumnya, yakni frekuensi AA menjadi lebih rendah dan aa menjadi lebih tinggi. Kalau tekanan ini bekerja secara terus menerus dari generasi ke generasi, maka frekuensi AA akan turun menjadi sangat rendah dan aa menjadi lebih tinggi. Jadi seleksi alam akan menyebabkan suatu perubahan dari suatu populasi dimana 99% dari individu menunjukan fenotip dominan dan banyak sekali fenotip resesif. Perubahan secara evolusi dari fenotip ini akan berlangsung tanpa dibutuhkannya adanya mutsi, tetapi hanya sebagai hasil dari seleksi alam.

Sekarang kita tinjau pda situasi nyata bukan hanya pada populasi secara hipotesis. Setelah ditemukan daya antibiotik dari penisilin, kemudian diketahui pula bahwa suatu bakteri yang disebut Staphylococcus aureus dapat dengan cepat tumbuh resistensi terhadap antibiotic tertentu, akan dibutuhkan dosis yang lebih tinggi lagi untuk membunuh bakteri tersebut. Jadi nyatalah bahwa di bawah pengaruh seleksi penisilin yang kuat, maka populasi bakteri mengalami perubahan secara evolusi. Fenomena ini telah diselidiki secara mendalam di laboratorium secara eksperimental. Pada eksperimen tersebut menunjukan, kultur dan berjuta-juta bakteri mati, dan hanya beberapa yang dapat hidup terus. Kalau sisa bakteri yang hidup ini dikenai penisilin dari dosis yang sama, maka hampir semua bakteri akan hidup.

Gen untuk kekebalan mungkin telah ada pada populasi sebelum percobaan di atas dimulai, dan antibiotik hanyalah membunuh semua bakteri yang tidak mempunyai gen ini, yang ditinggalkan hanyalah bakteri yang mempunyai gen kekebalan. Dengan perkataan lain, penissilin mungkin hanya melakukan suatu tekanan seleksi yang kuat terhadap gen yang tidak kebal, sehingga menyebabkan adanya pergeseran besar pada frekuensi tersebut.

Dari beberapa percobaan diketahui bahwa keterangan pertama rupanya benar. Obat ini tidak menyebabkan adanya mutasi untuk kekebalan, hanya mengadakan seleksi terhadap bakteri yang tidak kebal. Beberapa gen yang menentukan jalan metabolism yang menyebabkan resistensi terhadap penissilin sudah ada di dalam kebanyakan populasi pada frekuensi rendah yang muncul mula-mula sekali sebagai hasil mutasi sebarang. Seandainya gen semacam itu belum ada pada populasi yang terkena penissilin, tidak akan ada sel dari populasi yang dapat hidup dan populasi tersebut akan tersapu bersih.

Hal tersebut di atas, tidak berarti bahwa mutasi baru tidak dapat memperbaiki kekebalan; malahan seleksi terus menerus oleh penissilin biasnaya menuju ke arah penambahan resistensi secra gradual. Hal ini sudah hampir dipastikan sebagai hasil dari mutasi. Tetapi mutasi tidak dihasilkan oleh kondisi sama yang menyeleksi gen mutan yang timbul.

Keuntungan mutasi pada suatu keadaan keliling yang mengandung penissilin dapat timbul sewaktu obat itu dimasukkan sebagai hal yang terjadi secara kebetulan. Sebab mutasi yang serupa dapat juga timbul meskipun penissilin tidak ada. Evolusi resistensi obat pada bakteri tidak dapat dipersamakan seluruhnya pada evolusi organisme biparental, sebab seleksi yang hebat dapat mengubah frekuensi genetis lebih cepat pada organisme haploid aseksual daripada organisme biparental.

Rekombinasi yang terjadi pada setiap generasi pada spesies biparental sering menimbulkan kembali genotip yang hilang pada generasi sebelumnya. Hal ini tidak akan terjadi pada organisme aseksual. Tetapi bagaimanapun juga, suatu tekanan seleksi yang sangat kecil dapat menimbulkan suatu pergeseran besar frekuensi gen suatu populasi biparental kalau jangka waktunya mencapai 50.000 tahun (meskipun waktu ini relative sangat pendek). Hal tersebut pernah diperhitungkan Haldane bahwa jika suatu alel dominan yang memperkuat suatu individu di bawa oleh 1 bagian dari 1.000, misalnya 1.000 individu dari AA yangd apat hidup dan berbiak untuk alel dominan dapat bertambah dari 0,00001 sampai 0,99 hanya selama 23.400 generasi. Dengan perkataan lain, tekanan seleksi yang hanya 0,01 dapat menyebabkan suatu alel yang sangat jarang menjadi sangat umum selama 23.400 generasi.

Perkataan “hanya” seolah-olah sangat dilebih-lebihkan. Tetapi kita perlu menyadari bahwa beberapa tanaman dan binatang mempunyai paling sedikit satu generasi setiap tahun, dan pada beberapa spesies waktu generasi lebih dari 10 tahun. Jadi 23.400 generasi seringkali berarti kurang dari 23.400 tahun dan jarang sekali lebih dari 23.400 tahun. Kedua waktu ini sangat pendek jika dibandingkan dengan jangka waktu biologis. Malahan tekanan suatu seleksi serendah 0,0001 (1 bagian di dalam 10.000)  akan merupakan faktor utama di dalam suatu populais yang terdiri dari lebih 5.000 individu dalam waktu yang telah kita sebutkan di atas.

 

F. Masalah dan Kontroversi

1. Organisasi Seluler dan Asal-usul Kode Genetika Suatu Teka-teki Ilmiah

Kita mengetahui bahwa organisasi sel berfungsi sesuai dengan kode gentik, tetapi asal-usul system perintah ini tetap merupakan suatu teka-teki.

Dalam hal sel manusia, pita DNA 1.000 kali lebih panjang. Sistemnya jauh lebih kompleks, bagaimanapun juga, disbanding yang dinyatakan oleh angka ini, sebab sementara bakteri itu terdiri atas satu unsure kehidupan, manusia terdiri atas sejumlah besar sel. Fungsi-fungsi sel-sel tersebut dikoordinasikan oleh system-sistem pengatur yang banyak sekali, yang mempengaruhi seluruh unsure pembentuk badan manusia. Jika disatukan, sel-sel manusia itu mengandung satu pita DNA, di situ gen-gen manusia tercatat, yang kira-kira sama panjangnya dengan jarak antara bumi dan matahari. Bagi setiap manusia, hal ini mewakili massa informasi yang besar. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya di, satu sel manusia mengandung bayak sekali data seluler yang terungkapkan oleh gen-gen yang terdapat di dalam sekitar satu meter pita DNA untuk setiap sel.

Kita karenanya dihadang oleh dua pertanyaan:

1)      Bagaimana bisa organisasi yang paling sederhana (atau yang hampir bisa dikatakan sebagai yang paling sederhana, sepanjang menyangkut bakteri) menyuguhkan massa informasi yang begitu besar dengan mengatur setiap fungsi, termasuk reproduksi? Hal ini mendorong timbulnya pertanyaan-pertanyaan mengenai asal-usul kode genetik dalam diri makhluk-makhluk yang paling elementer.

2)      Bagaimana bisa kode genetik, yang berkisar dari bakteri sampai manusia, menjadi begitu kaya akan informasi? Sebab dengan meningkatkan suatu organisme hidup yang baru, dan dengan demikian mengetengahkan suatu modifikasi dalam perbandingan dengan makhluk yang mendahuluinya, kode genetic harus memiliki informasi baru yang diperlukan guna melahirkan individu yang menunjukkan sedikit ketidaksamaan jika dibandingkan dengan pendahulunya. Jelas sangat sulit untuk membayangkan bahwa organisme hidup yang paling sederhana dapat memiliki seluruh gen yang selanjutnya disebarkan ke segenap spesies hewan. Evolusi dalam dunia hewan pasti telah terjadi bersamaan dengan terciptanya gen-gen baru. Gen-gen baru ini mengatur fungsi-fungsi yang menjadi semakin kompleks dalam skala hewan. Mereka mengatur organisasi anatomis dan fungsional seluruh makhluk hidup.

Penyusunan kode genetik bagi makhluk-makhluk yang paling primitive tetap merupakan suatu teka-teki ilmiah. Begitu juga semakin kayanya kode itu melalui pengetahuan gen-gen baru, suatu proses yang sangat penting bagi spesies, yang menyangkut jumlah gen yang lebih besar lagidalam skala hewan. Kegagalan ilmu untuk menjawab teka-teki di atas memindahkan tekanan telaah kita dari yang bersifat material ke yang bersifat metafisis.

Dalam hubungan ini, mereka yang percaya pada Tuhan lebih dari rela untuk mengemukakan adanya campur tangan dari kemampuan-Nya untuk mencipta. Ilmu sendiri telah menunjukkan bahwa teori mengenai pengaruh kreatif, yang bergerak dalam aturan yang ketat dalam evolusi, sangat bersesuaian dengan penemuan-penemuan material.

Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan diajukan oleh setiap orang yang bisa berpikir mengenai asal-usul organisasi sel yang luar biasa kompleksnya itu akan mendapatkan jawaban dalam penemuan-penemuan ilmiah yang sama. Biologi molekuler telah menunjukkan banyak sekali kemampuan untuk menghasilkan protei yang dimiliki oleh sel manusia. Melalui informasi genetik yang dikandungnya, nucleus mengontrol seluruh fungsi ini.

Sekali lagi, kita menghadapi teka-teki yang sama, yang melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang sama dan ini semua pada gilirannya menyuguhkan jawaban-jawaban yang sama.

2. Evolusi Makhluk-makhluk Hidup Suatu Masalah Khusus dalam Evolusi Umum di   Alam Raya.

Persamaan-persaman mungkin dapat ditarik secara jelas, antara data dari kitab-kitab suci dan pengetahuan modern. Kerangka luas evolusi umum di alam raya, yang sekarang bisa disimpulkan dari ajaran-ajaran agama jika ditelaah secara keseluruhan, dan dari data pengetahuan secular, menunjuk pada suatu kemajuan yang tepat. Kemajuan yang tetap ini secara lambat laun bergerak menuju kompleksitas struktur yang semakin meningkat, berkisar dari nebula primer sampai bimasakti, bintang-bintang dan planet-planet, dengan suatu evolusi yang berakhir dalam kematian; hal ini telah dibuktikan oleh ilmu pada benda-benda angkasa tertentu yang sangat jauh jaraknya, dan juga telah diramalkan di dalam kitab-kitab suci yang menyangkut berbagai benda lain yang menjadi bagian tata surya tempat kita hidup.

Evolusi makhluk hidup mengikti kerangka luas yang sama dari perkembangan menuju suatu jumlah varietas yang lebih besar sejalan dengan meningkatnya kompleksitas structural yang disebut oleh Romo Teilhard Chardin termasuk penghentian dalam evolusi itu, dan lenyapnya keturunan tertentu. Sejak manusia pertama muncul di muka bumi, telah timbul perubahan-perubahan evolusioner dalam morfologinya; evolusi ini disebutkan di dalam kitab-kitab suci dan tampak jelas dari sisa-sisa yang ditemukan di dalam tanah-tanah kuno. Sepanjang menyangkut dunia kehidupan, semakin kayanya informasi genetic telah menentukan berlangsungnya transformasi-trasnformasi ini. Dari bakteri sampai manusia informasi terkumpul sampai pada tingkat yang sangat tinggi di dalam sel, yang mengatur dalam urutan yang sangat ketat perubahan-perubahan yang terjadi sejalan dengan berllunya waktu.

 

3. Kesesuaian Antara Agama dan Ilmu

Gagasan-gagasan yang terbentuk sebelumnya mengenai agama-agama pada umumnya mengemukakan bahwa mereka yang menyatakan diri sebagai bagian dari suatu komunitas agama tidak akan mampu mengungkapkan diri mereka sendiri dengan cara yang sesuai dengan suatu keyakinan sederhana. Cukup wajar bila mereka tidak dapat melahirkan bukti ilmiah untuk mendukung pendapat-pendapat mereka. Oleh sebab itu orang-orang semacam itu selalu berangagpan bahwa, sepanjang menyangkut agama, tidak mungkin ada pernyatan-pernyatan yang terbuka bagi penilaian manusia yang didasarkan atas logika.

Dalam hubungan ini, kesesuaian dasar antara agama dan ilmu lahir dengan sendirinya. Meskipun selama berabad-abad berbagai kesulitan dihadapi oleh umat beragama baik Kristen maupun islam. Dalam keadaan semacam ini, sanggahan-sanggahan terhadap teori-teori pengikut Darwin menyangkut perkiraan bahwa asal-usul manusia dari keluarga monyet mungkin dapat ditangkis dengan argument-argumen yang lebih kuat.

Dalam perbandingan antara ajaran-ajaran agama dan data-data ilmiah ini, suatu kesesuaian sungguh-sungguh telah timbul, yang secara tegas menghapuskan pertentangan-pertentangan panas masa lampau. Hal ini menunjukan bahwa penyelidikan atas suatu subyek seperti yang telah ditelaah menjadi lebih jelas bila orang-orang mengesampingkan hipotesis-hipotesis ideologis dan, sebagai criteria mereka satu-satunya, menggantungkan diri pada fakta-fakta yang nyata, kesimpulan logis dan kekuatan akal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

-  Kesimpulan

  • Variasi, istilah yang digunakan dalam ilmu genetika, merujuk pada peristiwa genetis yang menyebabkan individu atau kelompok spesies tertentu memiliki karakteristik berbeda satu sama lain. Sebagai contoh, pada dasarnya semua orang di bumi membawa informasi genetis sama. Namun ada yang bermata sipit, berambut merah, berhidung mancung, atau ber-tubuh pendek, tergantung pada potensi variasi informasi genetisnya. Evolusionis menyebut variasi dalam suatu spesies sebagai bukti kebenaran teorinya. Namun, variasi bukanlah bukti evolusi, karena variasi hanya hasil aneka kombinasi informasi genetis yang sudah ada, dan tidak menambahkan karakteristik baru pada informasi genetis. Jadi ada beberapa pendapat mengenai masalah variasi ini
  • Mutasi gen, frekuensi gen dalam populasi, dan hukum Hardy Weinberg sangat berperan dalam proses evolusi karena semuanya menunjukan bukti akan adanya evolusi

- Saran

  • Kepada masyarakat terutama masyarakat awam agar lebih mempelajari lagi evolusi karena tidak semua materi dari evolusi melanggar perintah agama.
  • Kepada semua kaum akademik agar lebih meningkatkan pengenalan evolusi kepada masyarakat agar stigma buruk mengenai evolusi lama kelamaan akan terhapus.

DAFTAR PUSTAKA

Bucaille, M. 1998. Asal-usul Manusia Menurut Bibel, Al Quran dan Sains. Mizan: Jakarta

Bucaille, M. 2003. God After Than, Tuhan Sesudah Darwin. Mizan: Jakarta

Coichen, Russel. 1987. Primate Evolution and Human Origins. Aldine Transaction: New York

Coray, Michael. 2000. Evolution and The Problem Of Natural Evil. Rowman and Littlefiedd. Boston.

Darwin, Charless. 2002. The Origin Of Spesies Asal-usul Spesies. Ikon Teralitera. Yogyakarta

Fabian, A.C. 1998. Evolution: Society, Science, and The Universe. Cambridge University Pers. Cambridge.

Graebner, Theodore. 2008. Evolution. BiblioBazaar. Wahington DC.

Mayr, Ernst. 2002. What Evolutions. Basic Books: California

Ridley, Mark. 2004. Evolution. Wiley-Blackwell. Maldem, USA.

Waluyo, Lud. 2005. Evolusi Organik. UMM Press. Malang.

Wells, Jonathan. 2002. Icons of Evolution Science or Myth? Why Much of What We Teach About Evolution Is Wrong. Regnery Publishing. Washington DC.

Zimmer, Carl. 2002. Evolution: The Trumph of An Idea. Harpercollins. New York

 

 

 

11/15/2009 Posted by | Evolusi Organik | Tinggalkan komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 653 pengikut lainnya.