BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Gerak pada Tumbuhan

Tumbuhan juga melakukan gerak, tetapi gerak yang dilakukan tumbuhan tidak seperti hewan dan manusia. Gerakan pada tumbuhan sangat terbatas, biasanya gerakannya tidak berpindah tempat (kecuali yang bersel satu). Bagaimana cara kita membuktikan bahwa tumbuhan juga melakukan gerak?

Gerakan yang dilakukan hanya dilakukan oleh bagian tertentu, misalnya bagian ujung tunas, ujung akar, atau bagian lembar daun tertentu kecuali tumbuhan bersel satu. Gerakan tumbuhan dapat diamati dengan adanya pertumbuhan tanaman yang menuju atau ke arah tertentu. Sebagai contoh jika kita menancapkan sebatang kayu atau ranting di dekat tanaman mentimun atau tanaman lain yang merambat, maka selang beberapa waktu ranting kayu tersebut telah dibelit oleh tanaman mentimun atau tanaman yang merambat lainnya.

Demikian pula akar-akar yang menembus tanah menuju ke tempat yang lembap atau berair. Peristiwa tersebut merupakan contoh bahwa tumbuhan bergerak. Jadi, gerakan tumbuhan terjadi karena adanya proses pertumbuhan dan adanya kepekaan terhadap rangsang atau iritabilita yang dimiliki oleh tumbuhan tersebut.

Bagaimana terjadinya iritabilita pada tumbuhan? Seperti makhluk hidup lainnya, tumbuhan juga memiliki kepekaan terhadap rangsang tertentu. Untuk menanggapi rangsangan tersebut tumbuhan melakukan gerakan yang mungkin menuju ke arah rangsang, menjauhi rangsang, atau hanya sekedar melakukan gerak tanpa menunjukkan ke arah tertentu. Gerak pada
tumbuhan yang tergolong iritabilita dibedakan menjadi tiga, yaitu tropisme, taksis, dan nasti. Gerakan ini karena pengaruh rangsang dari luar yang disebut gerak esionom.

A. Gerak Esionom

Gerak pada tumbuhan yang termasuk gerak esionom ada tiga macam, yaitu sebagai berikut.

1. Tropisme
Tropisme adalah gerakan dari sebagian tubuh tumbuhan yang dipengaruhi oleh arah rangsang dari luar. Jika gerakan tumbuhan tersebut mendekati rangsang disebut tropi positif, tetapi jika gerakan menjauhi rangsang disebut tropi negatif. Berdasarkan jenis rangsangnya, tropisme dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain sebagai berikut.

a. Fototropisme adalah gerak bagian tumbuhan yang dipengaruhi oleh rangsang cahaya. Apabila gerak tumbuhan tersebut menuju ke arah cahaya, berarti tumbuhan tersebut melakukan gerak fototropisme positif. Tetapi apabila gerakan tumbuhan itu menjauhi arah cahaya, maka disebut fototropisme negatif. Sebagai contoh tumbuhan yang melakukan gerak
fototropisme positif adalah pertumbuhan tunas tanaman biji-bijian (pada umumnya menuju ke arah cahaya).

2013-12-04_182843

b. Kemotropismeadalah gerak bagian tumbuhan karena adanya rangsang zat kimia. Jika geraknya mendekati rangsang disebut kemotropisme positif tetapi jika gerakannya menjauhi rangsang disebut kemotropisme negatif.

2013-12-04_182956

c. Geotropismeadalah gerakan bagian tumbuhan yang dipengaruhi oleh gravitasi (gaya tarik) bumi. Apabila arah
pertumbuhan menuju ke bawah berarti termasuk gerak geotropisme positif. Contoh geotropisme positif adalah
pertumbuhan akar yang selalu menuju ke bawah atau ke dalam tanah, sedangkan pertumbuhan batang yang selalu mengarah ke atas merupakan contoh gerakan geotropisme negatif.

2013-12-04_183318

d. Hidrotropisme adalah gerak bagian tumbuhan menuju ke arah yang basah atau berair. Arah pertumbuhan mendekati tempat yang berair disebut gerak hidrotropisme positif, sedangkan apabila arah pertumbuhan tanaman menjauhi tempat yang berair disebut gerak hidrotropisme negatif. Salah satu contoh hidrotropisme positif adalah arah pertumbuhan ujung akar di dalam tanah yang selalu menuju ke tempat yang mengandung air.

2013-12-04_183633

e. Tigmotropismeadalah gerak dari bagian tumbuhan akibat persinggungan. Contoh sulur markisa yang membelit dan batang mentimun yang membelit tanaman lain.

2013-12-04_183858

2. Nasti

Nasti adalah gerak dari sebagian tubuh tumbuhan sebagai tanggapan terhadap rangsang yang datang dari luar, tetapi arah gerak tidak ditentukan oleh datangnya rangsang. Nasti dapat dibedakan menjadi enam.

a. Seismonasti adalah gerak bagian tumbuhan karena rangsangan sentuhan. Contoh: gerak menutupnya daun putri malu (Mimo pudica)karena disentuh

2013-12-04_184008

b. Niktinasi adalah gerak tidur dari tumbuh-tumbuhan karena adanya rangsang gelap. Contoh: menutupnya daun petai cina, turi, dan si kecut pada saat malam hari.

c. Fotonasti adalah gerak bagian tumbuh-tumbuhan sebagai reaksi terhadap rangsang dari luar yang arah dan pola geraknya tidak dipengaruhi oleh arah datangnya rangsang, melainkan ditentukan oleh struktur tumbuhan sendiri. Contoh: bunga kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis)yang mekar pada siang hari dan menguncup pada malam hari.

d. Termonasti adalah gerak bagian tumbuhan karena pengaruh perubahan suhu. Contoh: bunga tulip (di Eropa) mekar jika suhu naik dan menutup jika suhu turun.

e. Haptonastiadalah gerak bagian tumbuhan karena sentuhan. Contoh: daun tumbuhan insektifora, jika ada serangga yang menyentuh, daun menutup, sehingga serangga tertutup daun kemudian dicerna dengan enzim.

2013-12-04_184132

f. Nasti kompleks, adalah gerak nasti yang dipengaruhi oleh banyak rangsang yaitu rangsang cahaya, zat kimia, panas, dan air. Gerakan ini terjadi pada proses membuka dan menutupnya stomata.

2013-12-04_184244

3. Taksis
Taksis adalah gerak seluruh tubuh tumbuhan karena adanya rangsang dari luar. Berdasarkan rangsang penyebab, taksis dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

a. Fototaksis adalah gerak seluruh tubuh tumbuhan karena rangsang cahaya. Contoh: gerak Euglenyang selalu mendekati cahaya.

2013-12-04_184909

b. Kemotaksis adalah gerak seluruh tubuh tumbuhan karena rangsang zat kimia. Contoh: gerak spermatozoid ke arkegonium pada tumbuhan lumut.

2013-12-04_184951

Gambar 9.10 menunjukkan gerak spermatozoid ke arkegonium. Tumbuhan lumut yang sudah membuat alat reproduksi jantan (anteridium) dan alat kelamin betina (arkegonium). Anteridium yang sudah masak akan mengeluarkan spermatozoid, dan arkegonium akan membuat saluran dan mengeluarkan zat gula (zat kimia), sehingga spermatozoid tertarik oleh adanya rangsang gula (zat kimia) dan menuju arkegonium untuk proses perkawinan.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit???? Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan??? Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek????? Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah????? Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462 INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com. DIJAMIN PTK ATAU KARYA ILMIAHNYA BARU LANGSUNG DIBIKINKAN BUKAN STOK LAMA ATAU COPY PASTE SEHINGGA DIJAMIN ORIGINALITASNYA TERIMA KASIH DAN SALAM GURU SUKSES PAK ZAIF

IKLAN

Ingin kaos bertema PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN?, bosan dengan kaos yang ada?, ingin mengedukasi keluarga atau murid dengan pembelajaran. HANYA KAMI SATU-SATUNYA DI INDONESIA PERTAMA KALI KAOS BERTEMA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN COCOK DIPAKAI UNTUK SEMUA KALANGAN DAN MEMBERI KESAN EDUKASI DAN PEMBELAJARAN DALAM SETIAP PEMAKAIAANYA

Jangan lupa kunjungi web kami di http://os-kaos.com/ untuk melihat berbagai koleksi kaos pendidikan dan pembelajaran dari kami like juga FP kami di https://www.facebook.com/oskaos1745

Fast Respon CP : 081938633462 dan 082331864747

ee9f2fe2-288a-4081-829e-cac8538debd6wallpaper

12/03/2013 Posted by | Ekologi Tumbuhan | 6 Komentar

PESTISIDA

1.1 Pengertian Pestisida

Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest (“hama”) yang diberi akhiran -cide (“pembasmi”). Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu. Pestisida biasanya, tapi tak selalu, beracun. dalam bahasa sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai “racun”.

Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan.

Undang – Undang tentang Pestisida
Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan alam khususnya kekayaan alam hayati, dan supaya pestisida dapat digunakan efektif, maka peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973. Dalam peraturan tersebut antara lain ditentukan bahwa:

  1. Tiap pestisida harus didaftarkan kepada Menteri Pertanian melalui Komisi  Pestisida untuk dimintakan izin penggunaannya.
  2. Hanya pestisida yang penggunaannya terdaftar dan atau diizinkan oleh Menteri Pertanian boleh disimpan, diedarkan dan digunakan.
  3. Pestisida yang penggunaannya terdaftar dan atau diizinkan oleh Menteri Pertanian hanya boleh disimpan, diedarkan dan digunakan menurut ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam izin pestisida itu.
  4. Tiap pestisida harus diberi label dalam bahasa Indonesia yang berisi keterangan-keterangan yang dimaksud dalam surat Keputusan Menteri Pertanian No. 429/ Kpts/Mm/1/1973 dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam pendaftaran dan izin masing-masing pestisida.

Dalam peraturan pemerintah tersebut yang disebut sebagai pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk:

  • Memberantas atau mencegah hama atau penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman atau hasil pertanian.
  • Memberantas gulma.
  • Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan tanaman yang tidak diinginkan.
  • Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman, kecuali yang tergolong pupuk.
  • Memberantas atau mencegah hama luar pada ternak dan hewan piaraan.
  • Memberantas atau mencegah hama air.
  • Memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah tangga
  • Memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang dilindungi, dengan penggunaan pada tanaman, tanah dan air.

Sesuai dengan definisi tersebut di atas maka suatu bahan akan termasuk dalam pengertian pestisida apabila bahan tersebut dibuat, diedarkan atau disimpan untuk maksud penggunaan seperti tersebut di atas.

Sedangkan menurut The United States Federal Environmental Pesticide Control Act, pestisida adalah semua zat atau campuran zat yang khusus untuk memberantas atau mencegah gangguan serangga, binatang pengerat, nematoda, cendawan, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama kecuali virus, bakteria atau jasad renik yang terdapat pada manusia dan binatang lainnya. Atau semua zat atau campuran zat yang digunakan sebagai pengatur pertumbuhan tanaman atau pengering tanaman.

2.2 Jenis-Jenis Pestisida

A. Berdasarkan Fungsi/sasaran penggunaannya, pestisida dibagi menjadi 6 jenis yaitu :

  • Insektisida

adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas serangga seperti belalang, kepik, wereng, dan ulat. Insektisida juga digunakan untuk memberantas serangga di rumah, perkantoran atau gudang, seperti nyamuk, kutu busuk, rayap, dan semut. Contoh : basudin, basminon, tiodan, diklorovinil dimetil fosfat, diazinon,dll.

Jenis-jenis Insektisida Hidup :

Upaya pengendalian vektor untuk memutus siklus hidup nyamuk, sehingga mengurangi kontak antara manusia dengan vektor. Hanya, berbagai upaya tersebut perlu diikuti dengan cara-cara yang ramah lingkungan. Seperti telah dikemukakan salah satu cara yang lebih ramah lingkungan adalah memanfaatkan tanaman antinyamuk (insektisida hidup pengusir nyamuk). Tanaman hidup pengusir nyamuk adalah jenis tanaman yang dalam kondisi hidup mampu menghalau nyamuk. Artinya tanaman ini tidak perlu diolah terlebih dulu.

Kemampuan jenis tanaman ini sebagai pengusir nyamuk bisa dianggap istimewa. Penyebabnya adalah bau menyengat yang keluar dari tanaman ini. Bau menyengat inilah yang diduga tidak disukai serangga. Penggunaan tanaman ini cukup mudah, yaitu cukup diletakkan di dalam ruangan atau ditanam di pekarangan rumah.

Adapun bahan-bahan insektisida alami itu adalah sebagai berikut: Tembakau, Kenikir, Pandan, Kemangi, Cabe Rawit, Kunyit , Bawang Putih, Gadung , Sereh dan masih banyak lagi yang dapat di pakai sebagai bahan-bahan pembuat insektisida alami . Bila melihat bahan-bahan tersebut , semua ada di lingkungan kita, mudah di dapat dan murah, yang pasti juga aman karena tidak beracun.

  • Fungisida

adalah pestisida untuk memberantas/mencegah pertumbuhan jamur/ cendawan seperti bercak daun, karat daun, busuk daun, dan cacar daun. Contoh : tembaga oksiklorida, tembaga (I) oksida, carbendazim, organomerkuri, dan natrium dikromat.

  • Bakterisida

adalah pestisida untuk memberantas bakteri atau virus. Salah satu contoh bakterisida adalah tetramycin yang digunakan untuk membunuh virus CVPD yang meyerang tanaman jeruk. Umumnya bakteri yang telah menyerang suatu tanaman sukar diberantas. Pemberian obat biasanya segera diberikan kepada tanaman lainnya yang masih sehat sesuai dengan dosis tertentu.

  • Rodentisida

adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman berupa hewan pengerat seperti tikus. Lazimnya diberikan sebagai umpan yang sebelumnya dicampur dengan beras atau jagung. Hanya penggunaannya harus hati-hati, karena dapat mematikan juga hewan ternak yang memakannya. Contohnya : Warangan.

  • Nematisida

adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman berupa nematoda (cacing). Hama jenis ini biasanya menyerang bagian akar dan umbi tanaman. Nematisida biasanya digunakan pada perkebunan kopi atau lada. Nematisida bersifat dapat meracuni tanaman, jadi penggunaannya 3 minggu sebelum musim tanam. Selain memberantas nematoda, obat ini juga dapat memberantas serangga dan jamur. Dipasaran dikenal dengan nama DD, Vapam, dan Dazomet.

  • Herbisida

Adalah pestisida yang digunakan untuk membasmi tanaman pengganggu (gulma) seperti alang-alang, rerumputan, eceng gondok, dll. Contoh ammonium sulfonat dan pentaklorofenol.

Herbisida (dari bahasa Inggris herbicide) adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil (gulma). Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis atau dua jenis tanaman pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh di lahan tersebut. Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah, perolehan cahaya matahari, dan atau keluarnya substansi alelopatik, tumbuhan lain ini tidak diinginkan keberadaannya.

Dua tipe herbisida menurut aplikasinya

Terdapat dua tipe herbisida menurut aplikasinya: herbisida pratumbuh (preemergence herbicide) dan herbisida pascatumbuh (postemergence herbicide). Yang pertama disebarkan pada lahan setelah diolah namun sebelum benih ditebar (atau segera setelah benih ditebar). Biasanya herbisida jenis ini bersifat nonselektif, yang berarti membunuh semua tumbuhan yang ada. Yang kedua diberikan setelah benih memunculkan daun pertamanya. Herbisida jenis ini harus selektif, dalam arti tidak mengganggu tumbuhan pokoknya.

Cara kerja herbisida

Pada umumnya herbisida bekerja dengan mengganggu proses anabolisme senyawa penting seperti pati, asam lemak atau asam amino melalui kompetisi dengan senyawa yang “normal” dalam proses tersebut. Herbisida menjadi kompetitor karena memiliki struktur yang mirip dan menjadi kosubstrat yang dikenali oleh enzim yang menjadi sasarannya. Cara kerja lain adalah dengan mengganggu keseimbangan produksi bahan-bahan kimia yang diperlukan tumbuhan. Contoh:

  • glifosat (dari Monsanto) mengganggu sintesis asam amino aromatik karena berkompetisi dengan fosfoenol piruvat
  • fosfinositrin  mengganggu asimilasi nitrat dan amonium karena menjadi substrat dari enzim glutamin sintase.

Rekayasa genetika dan herbisida

Sejumlah produsen herbisida mendanai pembuatan tanaman transgenik yang tahan terhadap herbisida. Dengan demikian penggunaan herbisida dapat diperluas pada tanaman produksi tersebut. Usaha ini dapat menekan biaya produksi dalam pertanian berskala besar dengan mekanisasi. Contoh tanaman tahan herbisida yang telah dikembangkan adalah raps (kanola), jagung, kapas, padi, kentang, kedelai, dan bit gula.

B. Berdasarkan bahan aktifnya, pestisida dibagi menjadi 3 jenis yaitu:

  • Pestisida organik (Organic pesticide)

Pestisida yang bahan aktifnya adalah bahan organik yang berasal dari bagian tanaman atau binatang, misal : neem oil yang berasal dari pohon mimba (neem).

Fungsi dari Pestisida Organik :

Pestisida Organik memiliki beberapa fungsi, antara lain:

  1. Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang menyengat
  2. Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot.
  3. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa
  4. Menghambat reproduksi serangga betina
  5. Racun syaraf
  6. Mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga
  7. Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga
  8. Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri.

Bahan dan Cara Umum Pengolahan Pestisida Organik :

·         Bahan mentah berbentuk tepung (nimbi, kunyit, dll)

  • Ekstrak tanaman/resin dengan mengambil cairan metabolit sekunder dari bagian tanaman tertentu
  • Bagian tanaman dibakar untuk diambil abunya dan dipakai sebagai insektisida (serai, tembelekan/Lantana camara)
  • Pestisida elemen (Elemental pesticide)

pestisida yang bahan aktifnya berasal dari alam seperti: sulfur.

  • Pestisida kimia/sintetis (Syntetic pesticide)

pestisida yang berasal dari campuran bahan-bahan kimia.

C. Berdasarkan cara kerjanya, pestisida dibagi menjadi 2 jenis yaitu :

  • Pestisida sistemik (Systemic Pesticide)
    Adalah pestisida yang diserap dan dialirkan keseluruh bagian tanaman sehingga akan menjadi racun bagi hama yang memakannya. Kelebihannya tidak hilang karena disiram. Kelemahannya, ada bagian tanaman yang dimakan hama agar pestisida ini bekerja. Pestisida ini untuk mencegah tanaman dari serangan hama.
    Contoh : Neem oil.
  • Pestisida kontak langsung (Contact pesticide) :
    adalah pestisida yang reaksinya akan bekerja bila bersentuhan langsung dengan hama, baik ketika makan ataupun sedang berjalan. Jika hama sudah menyerang lebih baik menggunakan jenis pestisida ini.

D. Berdasarkan nama dan asal katanya, Pestisida dapat digolongkan menjadi bermacam-macam dengan berdasarkan fungsi dan asal katanya. Penggolongan tersebut disajikan sbb.:
* Akarisida, berasal dari kata akari yang dalam bahasa Yunani berarti tungau atau kutu. Akarisida sering juga disebut sebagai mitesida. Fungsinya untuk membunuh tungau atau kutu.
* Algisida, berasal dari kata alga yang dalam bahasa latinnya berarti ganggang laut. Berfungsi untuk melawan alge.
* Avisida, berasal dari kata avis yang dalam bahasa latinnya berarti burung. Berfungsi sebagai pembunuh atau zat penolak burung serta pengontrol populasi burung.
* Bakterisida, berasal dari kata latin bacterium atau kata Yunani bacron. Berfungsi untuk melawan bakteri.
* Fungisida, berasal dari kata latin fungus atau kata Yunani spongos yang berarti jamur. Berfungsi untuk membunuh jamur atau cendawan.
* Herbisida, berasal dari kata latin herba yang berarti tanaman setahun. Berfungsi membunuh gulma (tumbuhan pengganggu).
* Insektisida, berasal dari kata latin insectum yang berarti potongan, keratan atau segmen tubuh. Berfungsi untuk membunuh serangga.
* Larvisida, berasal dari kata Yunani lar. Berfungsi untuk membunuh ulat atau larva.
* Molluksisida, berasal dari kata Yunani molluscus yang berarti berselubung tipis lembek. Berfungsi untuk membunuh siput.
* Nematisida, berasal dari kata latin nematoda atau bahasa Yunani nema yang berarti benang. Berfungsi untuk membunuh nematoda (semacam cacing yang hidup di akar).
* Ovisida, berasal dari kata latin ovum yang berarti telur. Berfungsi untuk membunuh telur.
* Pedukulisida, berasal dari kata latin pedis berarti kutu, tuma. Berfungsi untuk membunuh kutu atau tuma.
* Piscisida, berasal dari kata Yunani piscis yang berarti ikan. Berfungsi untuk membunuh ikan.
* Rodentisida, berasal dari kata Yunani rodera yang berarti pengerat. Berfungsi untuk membunuh binatang pengerat, seperti tikus.
* Predisida, berasal dari kata Yunani praeda yang berarti pemangsa. Berfungsi untuk membunuh pemangsa (predator).
* Silvisida, berasal dari kata latin silva yang berarti hutan. Berfungsi untuk membunuh pohon.
* Termisida, berasal dari kata Yunani termes yang berarti serangga pelubang daun. Berfungsi untuk membunuh rayap.

Berikut ini beberapa bahan kimia yang termasuk pestisida, namun namanya tidak menggunakan akhiran sida:
* Atraktan, zat kimia yang baunya dapat menyebabkan serangga menjadi tertarik. Sehingga dapat digunakan sebagai penarik serangga dan menangkapnya dengan perangkap.
* Kemosterilan, zat yang berfungsi untuk mensterilkan serangga atau hewan bertulang belakang.
* Defoliant, zat yang dipergunakan untuk menggugurkan daun supaya memudahkan panen, digunakan pada tanaman kapas dan kedelai.
* Desiccant. zat yang digunakan untuk mengeringkan daun atau bagian tanaman lainnya.
* Disinfektan, zat yang digunakan untuk membasmi atau menginaktifkan mikroorganisme.
* Zat pengatur tumbuh. Zat yang dapat memperlambat, mempercepat dan menghentikan pertumbuhan tanaman.
* Repellent, zat yang berfungsi sebagai penolak atau penghalau serangga atau hama yang lainnya. Contohnya kamper untuk penolak kutu, minyak sereb untuk penolak nyamuk.
* Sterilan tanah, zat yang berfungsi untuk mensterilkan tanah dari jasad renik atau biji gulma.
* Pengawet kayu, biasanya digunakan pentaclilorophenol (PCP).
* Stiker, zat yang berguna sebagai perekat pestisida supaya tahan terhadap angin dan hujan.
* Surfaktan dan agen penyebar, zat untuk meratakan pestisida pada permukaan daun.
* Inhibitor, zat untuk menekan pertumbuhan batang dan tunas.
* Stimulan tanaman, zat yang berfungsi untuk menguatkan pertumbuhan dan memastikan terjadinya buah.

 

2.3 Formulasi Pestisida

Pestisida sebelum digunakan harus diformulasi terlebih dahulu. Pestisida dalam bentuk murni biasanya diproduksi oleh pabrik bahan dasar, kemudian dapat diformulasi sendiri atau dikirim ke formulator lain. Oleh formulator baru diberi nama. Berikut ini beberapa formulasi pestisida yang sering dijumpai:

1. Cairan emulsi (emulsifiable concentrates/emulsible concentrates)
Pestisida yang berformulasi cairan emulsi meliputi pestisida yang di belakang nama dagang diikuti oleb singkatan ES (emulsifiable solution), WSC (water soluble concentrate). B (emulsifiable) dan S (solution). Biasanya di muka singkatan tersebut tercantum angka yang menunjukkan besarnya persentase bahan aktif. Bila angka tersebut lebih dari 90 persen berarti pestisida tersebut tergolong murni. Komposisi pestisida cair biasanya terdiri dari tiga komponen, yaitu bahan aktif, pelarut serta bahan perata. Pestisida golongan ini disebut bentuk cairan emulsi karena berupa cairan pekat yang dapat dicampur dengan air dan akan membentuk emulsi.

2. Butiran (granulars)
Formulasi butiran biasanya hanya digunakan pada bidang pertanian sebagai insektisida sistemik. Dapat digunakan bersamaan waktu tanam untuk melindungi tanaman pada umur awal. Komposisi pestisida butiran biasanya terdiri atas bahan aktif, bahan pembawa yang terdiri atas talek dan kuarsa serta bahan perekat. Komposisi bahan aktif biasanya berkisar 2-25 persen, dengan ukuran butiran 20-80 mesh. Aplikasi pestisida butiran lebih mudah bila dibanding dengan formulasi lain. Pestisida formulasi butiran di belakang nama dagang biasanya tercantum singkatan G atau WDG (water dispersible granule).

3. Debu (dust)
Komposisi pestisida formulasi debu ini biasanya terdiri atas bahan aktif dan zat pembawa seperti talek. Dalam bidang pertanian pestisida formulasi debu ini kurang banyak digunakan, karena kurang efisien. Hanya berkisar 10-40 persen saja apabila pestisida formulasi debu ini diaplikasikan dapat mengenai sasaran (tanaman).

4. Tepung (powder)
Komposisi pestisida formulasi tepung pada umumnya terdiri atas bahan aktif dan bahan pembawa seperti tanah hat atau talek (biasanya 50-75 persen). Untuk mengenal pestisida formulasi tepung, biasanya di belakang nama dagang tercantum singkatan WP (wettable powder) atau WSP (water soluble powder).

5. Oli (oil)
Pestisida formulasi oli biasanya dapat dikenal dengan singkatan SCO (solluble concentrate in oil). Biasanya dicampur dengan larutan minyak seperti xilen, karosen atau aminoester. Dapat digunakan seperti penyemprotan ULV (ultra low volume) dengan menggunakan atomizer. Formulasi ini sering digunakan pada tanaman kapas.
6. Fumigansia (fumigant)
Pestisida ini berupa zat kimia yang dapat menghasilkan uap, gas, bau, asap yang berfungsi untuk membunuh hama. Biasanya digunakan di gudang penyimpanan.

2.4 Cara Penggunaan Pestisida
Cara penggunaan pestisida yang tepat merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan pengendalian hama. Walaupun jenis obatnya manjur, namun karena penggunaannya tidak benar, maka menyebabkan sia-sianya penyemprotan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida, di antaranya adalah keadaan angin, suhu udara, kelembapan dan curah hujan. Angin yang tenang dan stabil akan mengurangi pelayangan partikel pestisida di udara. Apabila suhu di bagian bawah lebih panas, pestisida akan naik bergerak ke atas. Demikian pula kelembapan yang tinggi akan mempermudah terjadinya hidrolisis partikel pestisida yang menyebabkan kurangnya daya racun. Sedang curah hujan dapat menyebabkan pencucian pestisida, selanjutnya daya kerja pestisida berkurang.

Hal-hal teknis yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida adalah ketepatan penentuan dosis. Dosis yang terlalu tinggi akan menyebabkan pemborosan pestisida, di samping merusak lingkungan. Dosis yang terlalu rendah menyebabkan hama sasaran tidak mati. Di samping berakibat mempercepat timbulnya resistensi.

1. Dosis pestisida
Dosis adalah jumlah pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk mengendalikan hama tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan dalam satu kali aplikasi atau lebih. Ada pula yang mengartikan dosis adalah jumlah pestisida yang telah dicampur atau diencerkan dengan air yang digunakan untuk menyemprot hama dengan satuan luas tertentu. Dosis bahan aktif adalah jumlah bahan aktif pestisida yang dibutuhkan untuk keperluan satuan luas atau satuan volume larutan. Besarnya suatu dosis pestisida biasanya tercantum dalam label pestisida.

2. Konsentrasi pestisida
Ada tiga macam konsentrasi yang perlu diperhatikan dalam hal penggunaan pestisida :

a. Konsentrasi bahan aktif, yaitu persentase bahan aktif suatu pestisida dalam larutan yang sudah dicampur dengan air.

b. Konsentrasi formulasi, yaitu banyaknya pestisida dalam cc atau gram setiap liter air.

  1. Konsentrasi larutan atau konsentrasi pestisida, yaitu persentase kandungan pestisida dalam suatu larutan jadi.

3. Alat semprot
Alat untuk aplikasi pestisida terdiri atas bermacam-macam seperti knapsack sprayer (high volume) biasanya dengan volume larutan konsentrasi sekitar 500 liter. Mist blower (low volume) biasanya dengan volume larutan konsentrasi sekitar 100 liter. Dan Atomizer (ultra low volume) biasanya kurang dari 5 liter.

4. Ukuran droplet
Ada bermacam-macam ukuran droplet:Veri coarse spray lebih 300 µm, Coarsespray 400-500 µm, Medium spray 250-400 µm, Fine spray 100-250 µm,Mist 50-100 µm, Aerosol 0,1-50 µm,Fog 5-15 µm.

5. Ukuran partikel
Ada bermacam-macam ukuran partikel:Macrogranules lebih 300 µm, Microgranules 100-300 µm, Coarse dusts 44-100 µm, Fine dusts kurang 44 µm, Smoke 0,001-0,1 µm.

6. Ukuran molekul hanya ada satu macam, yatu kurang 0,001 µm

2.5 Batas Residu Pestisida

Penggunaan pestisida dalam proses produksi pertanian dapat mengakibatkan terdapatnya residu pestisida pada hasil pertanian. Residu itu dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan masyarakat. Oleh karena itu untuk mencegah dan melindungi kesehatan masyarakat dari kemungkinan terjadinya bahaya pestisida, maka perlu ditetapkan batas maksimum residu (BMR) pestisida pada hasil pertanian atau biasa disebut BMR.

Untuk mengikuti perkembangan penggunaan atau aplikasi pestisida, pemerintah dalam hal ini Departemen Pertanian telah Membentuk Kelompok Kerja Batas Maksimum Residu Pestisida. Tugas Kelompok Kerja tersebut adalah:

1)  Melakukan evaluasi dan menyusun kembali ketetapan batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian;

2) Merumuskan standar dan metode kegiatan-kegiatan penelitian untuk   penentuan batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian;

3) Menyusun usulan tentang mekanisme dan prosedur penerapan batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian;

4) Melakukan inventarisasi, evaluasi dan rekomendasi mengenai jaringan nasional lembaga pengujian dan sertifikasi residu pestisida pada hasil pertanian.

Standar Codex tentang residu pestisida menyatakan bahwa Batas Maksimum Residu pestisida (BMR) adalah konsentrasi maksimum residu pestisida (dalam mg/kg), yang direkomendasikan oleh Codex Allimentarius Commission untuk diijinkan terdapat pada komoditi pertanian termasuk pakan ternak. Dalam penetapan BMR harus didukung dengan data yang berdasarkan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan/ Scientific evidence dan mengutamakan keamanan dan kesehatan pada manusia. BMR ditetapkan melalui Joint FAO/WHO Meeting on Pesticide Residues (JMPR) yang bersidang setiap dua tahunnya untuk menentukan level residu yang dapat ditoleransi toxisitasnya.

Menurut JMPR maka Batas Maksimum Residu pestisida diestimasikan berdasarkan asesmen (kemungkinan) resiko residu pestisida seperti : pertama, asesmen toksikologik terhadap pestisida dan residu pestisida dalam pangan yang berasal dari komoditas pertanian dengan tujuan menetapkan BMR yang dapat diterima secara toksikologik, baik toksisitas kronik (asupan per hari yang dapat diterima/ ADI dan akut ( dosis referensi/ RfD)

Kedua, asessmen paparan residu pestisida di lahan produksi komoditas pertanian melalui review data residu pestisida yang berasal dari data percobaan residu. Ketiga, pestisida tersupervisi (supervised pesticide residue trial) dengan cara aplikasi pestisida menurut panduan nasional cara berbudidaya yang baik dan benar/Good Agricultural Practices agar dapat merefleksikan praktek penggunaan pestisida secara nasional.
Data yang direview termasuk data percobaan residu pestisida tersupervisi dengan dosis aplikasi tertinggi yang direkomendasikan secara nasional. Di samping tingkat residu pestisida terestimasi dari berbagai bahan pangan penyusun pola diet pada tingkat internasional dibandingkan terhadap asupan per hari yang dapat diterima (ADI) atau dosis referensi (RfD). Sehingga BMR ditetapkan apabila perbandingan antara rekomendasi nasional dengan ADI/ RfD menunjukkan aman untuk dikonsumsi masyarakat.

2.6 Efek Penggunaan Pestisida

Penggunaan pestisida telah menimbulkan dampak negatif, baik itu bagi kesehatan manusia maupun bagi kelestarian lingkungan. Dampak negatif ini akan terus terjadi seandainya kita tidak hati-hati dalam memilih jenis dan cara penggunaannya. Adapun dampak negatif yang mungkin terjadi akibat penggunaan pestisida diantaranya :

  1. Tanaman yang diberi pestisida dapat menyerap pestisida yang kemudian terdistribusi ke dalam akar, batang, daun, dan buah. Pestisida yang sukar terurai akan berkumpul pada hewan pemakan tumbuhan tersebut termasuk manusia. Secara tidak langsung dan tidak sengaja, tubuh mahluk hidup itu telah tercemar pestisida. Bila seorang ibu menyusui memakan makanan dari tumbuhan yang telah tercemar pestisida maka bayi yang disusui menanggung resiko yang lebih besar untuk teracuni oleh pestisida tersebut daripada sang ibu. Zat beracun ini akan pindah ke tubuh bayi lewat air susu yang diberikan. Dan kemudian racun ini akan terkumpul dalam tubuh bayi (bioakumulasi).
  1. Pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran air dan masuk ke dalam sistem biota air (kehidupan air). Konsentrasi pestisida yang tinggi dalam air dapat membunuh organisme air diantaranya ikan dan udang. Sementara dalam kadar rendah dapat meracuni organisme kecil seperti plankton. Bila plankton ini termakan oleh ikan maka ia akan terakumulasi dalam tubuh ikan. Tentu saja akan sangat berbahaya bila ikan tersebut termakan oleh burung-burung atau manusia. Salah satu kasus yang pernah terjadi adalah turunnya populasi burung pelikan coklat dan burung kasa dari daerah Artika sampai daerah Antartika. Setelah diteliti ternyata burung-burung tersebut banyak yang tercemar oleh pestisida organiklor yang menjadi penyebab rusaknya dinding telur burung itu sehingga gagal ketika dierami. Bila dibiarkan terus tentu saja perkembangbiakan burung itu akan terhenti, dan akhirnya jenis burung itu akan punah.
  1. Ada kemungkinan munculnya hama spesies baru yang tahan terhadap takaran pestisida yang diterapkan. Hama ini baru musnah bila takaran pestisida diperbesar jumlahnya. Akibatnya, jelas akan mempercepat dan memperbesar tingkat pencemaran pestisida pada mahluk hidup dan lingkungan kehidupan, tidak terkecuali manusia yang menjadi pelaku utamanya.

 

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit????

Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan???
Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek?????

Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah?????

Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462

INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com

TERIMA KASIH DAN SALAM SUKSES

05/31/2010 Posted by | Ekologi Tumbuhan | 24 Komentar

Respon Beberapa Varietas Entres Mangga (MANGIFERA indica l.) Pada Perbedaan Waktu Defoliasi Terhadap Pertumbuhan Bibit Secara Grafting

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang
Mangga merupakan jenis buah tropis yang digemari oleh masyarakat di dunia dan menjadi komoditas perdagangan antar negara. Publitas mangga dikenal sebagai The Best Loved-Tropical , mendampingi popularitas durian sebagai King of Fruit. Komoditas hortikultura, khususnya buah-buahan salah satunya buah mangga mempunyai prospek baik bila dikembangkan secara intensif dan dalam skala agribisnis. Dari tahun ke tahun permintaan buah tropis didalam dan luar negeri semakin meningkat, baik dalam bentuk segar maupun olahan.
Keadaan produksi ataupun produktifitas, dan kualitas mangga Indonesia masih rendah, padahal kita mempunyai koleksi plasma nutfah terbesar No. 2 didunia setelah India. Kebun koleksi tersebut terletak di kebun percobaan daerah Cukorgondang Pasuruan. Penyebabnya antara lain adalah bentuk kultur budidaya yang bersifat tanaman pekarangan varietas atau kultivar aneka ragam, bibit kurang bermutu, dan pemeliharaan kurang intensif. (Rukmana, 1997).
Disamping itu jika diamati laju perkembangan mangga, maka dijumpai kasus yang perlu memperoleh perhatian, yaitu sejak tahun 1995 hingga 1997, produksi mangga Indonesia meningkat, tetapi ekspor pada tahun yang sama mengalami penurunan tajam. Pada tahun 1997 produksi mangga Indonesia mencapai 1.206.050 ton (11,20% dari total produksi buah nasional) sementara ekspor mangga hanya sebesar 74,995 ton (0,048% dari total ekspor buah nasional). Di lain pihak impor buah-buahan dalam tahun yang sama justru mengalami peningkatan (Anonim, 1998). Hal tersebut menunjuk¬¬kan bahwa peran mangga dalam ekspor buah secara nasional makin turun. Hal ini disebabkan oleh kualitas mangga Indonesia tidak mampu bersaing di pasar global, atau konsumen jenuh dengan varietas yang ada, yaitu Arumanis atau Gadung. Dengan demikian preferensi konsumen sedang berubah. Untuk itu perlu menawarkan varietas alternatif, agar segmen pasar yang jenuh tersebut bergerak kembali.
Pada beberapa tahun mendatang diramalkan warna merah akan mendominasi beberapa aspek kehidupan masyarakat, tidak kecuali penampilan buah. Untuk itu penyediaan varietas unggul mangga diarahkan untuk memenuhi perubahan selera konsumen yang mulai menyukai warna buah merah untuk buah segar seperti mangga varietas Irwin, Haden, Kensington Aplle. Di¬samping varietas-varietas untuk memenuhi kebutuhan produk olahan sebagai diversifikasi produk mangga selaras dengan perkembangan industri olahan yang berkembang pesat. Industrialisasi ternyata juga menumbuhkan industri baru skala rumah tangga dan skala perusahaan besar. Industri rumah tangga manisan atau asinan, juice, puree, jamu, kripik dan tepung sedang tumbuh di beberapa pusat-pusat produksi mangga, yang semuanya membutuhkan bahan baku yang sesuai dengan kegunaan-nya.
Walaupun demikian varietas unggul buah mangga yang telah dilepas (dirintis) resmi oleh Menteri Pertanian nasional dengan Surat Keputusan nomor 890 /Kpts/TP.240/11/1984, yaitu, varietas Arumanis-143, Manalagi-69, Golek-31 masih menjadi primadona bagi konsumen buah mangga di beberapa negara seperti Singapura, Eropa barat, USA, dan negara timur tengah. Sehingga harus juga terus dikembangkan kualitas dan kuantitasnya, dengan mencari alternatif cara perbanyakan bibit mangga yang paling efektif. Dalam usaha penyediaan bibit yang baik, banyak digunakan batang bawah terutama varietas madu. Selain batang bawah, batang atas juga perlu diperhatikan sehingga nantinya akan diperoleh tanaman mangga yang sesuai dengan selera konsumen. Dari beberapa cara perbanyakan tanaman mangga yang paling mudah dan banyak dilakukan orang sekarang ini adalah okulasi dan grafting.
Defoliasi adalah suatu cara yang umum dilakukan dalam hal ini melakukan perompesan dalam batang atas adalah daun-daun pada calon batang atas dibuang helai yang paling ujung atau memangkas seluruh daun dengan atau tanpa meninggalkan dua helai digunting dan disisakan seperempat bagian. Menurut Sudarto (2000), perlakuan defoliasi pada cabang entres dapat mendukung persentase sambung jadi dan mempercepat tumbuhnya tunas atas. Hal ini disebabkan karena ada kaitannya dengan kandungan asimilat yang terakumulasi pada cabang entres yang dirompes. Dimana akumulasi hasil asimilat dapat merangsang pembelahan, pembesaran dan deferensiasi sel, yang kemudian mendorong proses pertautan antara batang atas dan batang bawah. Sehingga unsur hara, mineral, dan air dapat berjalan dengan lancar dari batang bawah ke batang atas.

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh beberapa macam varietas entres mangga (Mangifera Indica L.) dan perbedaan waktu defoliasi entres terhadap pertumbuhan bibit secara grafting.

1.3 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa macam varietas entres mangga (Mangifera Indica L.) dan perbedaan waktu defoliasi entres terhadap pertumbuhan bibit secara grafting.

1.4 Hipotesa
1. Terjadi interaksi antara beberapa macam varietas entres mangga (Mangifera indica L.) dan waktu defoliasi entres terhadap pertumbuhan bibit secara grafting.
2. Beberapa macam varietas entres mangga ( Mangifera indica L.) berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit secara grafting.
3. Perbedaan waktu dofoliasi entres mangga (Mangifera indica L.) berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit secara grafting.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Taksonomi dan Morfologi
Buah mangga yang bisa dijual-belikan di pasaran pada umumnya adalah buah mangga Arummanis, Manalagi, Gadung, dan lainnya. Ditinjau dari sistematika, tanaman mangga dapat digolongkan sebagai berikut :
Devisio : Spermatophyta (tumbuhan berbiji).
Kelas : Angiospermae (berbiji tertutup).
Sub Kelas : Dicotyledoneae (berkeping dua).
Ordo : Sapindale
Famili (keluarga) : Anacardiaceae.
Genus : Mangifera.
Species : Mangifera Indica L. ( Rukmana, 1997).
Mangga (Mangifera indica L.) termasuk famili Anacardiacea, terdiri dari 64 generasi. Di samping mangga, beberapa tanaman lain yang segenerasi dengan mangga adalah Anacardium occidentale (jambu mete), Spodias mangifera (hot plum, amra), Bouea macrophylla Griff. (gandaria) dan Pisticia vere L. (pistachio).(Tjitrosoepomo,2003).
Genus Mangifera L. terdiri dari 62 spesies yang berupa pepohonan daun selang-seling, berpetiole lengkap dan coriaceous (Singh, 1969). Mukherjee (1985) menyajikan hanya 41 spesies Mangifera L. yang terdapat di Asia Tenggara, sedangkan spesies selebihnya-sekurangnya mungkin sinonim. Bunga-bunganya kecil, berangkai dalam satu malai yang muncul sempurna yang terdapat pada pohon yang sama. Buahnya termasuk kelompok fleshy drupe dan berserat. Biji kompak dilapisi oleh kulit dalam seperti kertas dan kulit luar yang berserabut.
Di samping Mangifera indica L. 15 spesies lainya dari genus Mangifera L. dapat dimakan dan beberapa diantaranya enak dimakan, tetapi kualitas buahnya tidak sebaik buah mangga (Mangifera indica L.). Meskipun begitu tetap bermanfaat sebagai batang bawah.
Jumlah kromosom Mangifera L., M. syvatica Roxb., M. coloneura kunz, M. zenglanica Hook. F., dan M.odorata griff yang dilaporkan oleh Mukherjee (1950) adalah 2n = 40. singh (1969) manyajikan 2n = 20 dalam seedling M. indica yang poliembrioni. Dari sejumlah kromosom ini terdiri dari 11 tipe yang terdapat dalam M. indica dan M.sylvatica. spesies dan varietas M.indica dapat dibedakan dari satu dengan lainya berdasarkan perbedaan satu atau lebih diantara 11 tipe kromosom tersebut (Mukherjee, 1950). Berdasarkan ukurannya, dari 20 kromosom bivalen dalam varietas-varietas mangga adalah besar. Hal ini menunjukkan adanya kontrol genotipe melalui ukuran kromosom, dan merupakan sebuah fenomena yang dapat dikaitkan dengan hibridisasi dan mutasi gen. Tentu kejadian secara sitologis tersebut menunjukkan bahwa mangga adalah alloploid, dan mungkin sebagian besar amphidiploid. Dengan demikian hibridasi inter-varietas secara alami sangat penting untuk memperoleh varietas baru. (Purnomo. 1990).
Menurut Rukmana (1999), Kerabat dekat suku mangga-manggaan cukup banyak diantaranya adalah kemang (Mangifera casei Jack ex Wall), batang atau embacang atau limu (M.foitida Lour). Tanaman mangga memiliki pohon yang tingginya mencapai 10 m – 30 m atau lebih dan umurnya dapat mencapai puluhan tahun. Batang tubuh tegak, kokoh, berkayu, dan berkulit agak tebal dan warnanya abu-abu kecoklatan, pecah-pecah serta mengandung cairan semacam damar. Percabangannya banyak yang tumbuh ke segala arah hingga tampak rimbun.
Daun tubuh tunggal pada ranting, letaknya berseling-seling dan bertangkai panjang. Bentuk daun panjang-lonjong dengan bagian ujung meruncing. Permukaan sebelah bawah berwarna hijau-muda. Bunga tersusun dalam rangkaian bunga (malai) tiap-tiap malai bunga dalam jumlah sangat banyak, yakni sekitar 1000-6000 kuntum, namun bunga yang berkembang menjadi buah sekitar 1%. Rendahnya prosentase bunga yang menjadi buah disebabkan oleh banyak faktor diantaranya adalah, jumlah bunga jantan permalai amat banyak sekitar 90%, namun sel telur yang normal sangat rendah antara 5 %-10 %. Disamping itu, bunga jantan letaknya pada pangkal malai, sedangkan bunga sempurna dibagian ujung malai. Kedua kemampuan tumbuh tepung sari sangat rendah, yakni sekitar 1%-12% tidak sempurna (abnormal) hingga tidak mampu membuahi sel telur. Ketiga tidak terjadi penyerbukan akibat banyak turun hujan atau tidak ada lebah penyerbuk. (Rebin, 1999).
Buah mangga disebut buah batu dan memiliki bentuk beraneka ragam, antara lain bulat, bulat-pendek dengan ujung pipih, dan bulat panjang agak pipih. Susunan tubuh buah terdiri dari beberapa lapisan, yaitu: tangkai, pangkal buah, kulit buah, daging buah, serabut, biji, lukukan, paruh, pucuk buah.( Rukmana,1997).

2.2 Jenis dan Varietas Mangga Unggul
Diseluruh dunia banyak jenis mangga, karena penyebaran tanaman hampir mencakup seluruh benua. Dikawasan ASEAN saja terdapat lebih dari 500 varietas asli maupun introduksi. Meskipun demikian untuk tujuan komersial, berbagai Negara hanya memilih jenis atau varietas tertentu untuk dikembangkan secara intensif. (Kusumo dan Tjiptosuhardjo, 1970).
Di Indonesia dikenal 3 jenis (golongan) mangga yang tersebar luas diberbagai wilayah nusantara, antara lain terdiri dari mangga Arummanis, Manalagi dan Golek.
Plasma nutfah mangga di Indonesia cukup banyak. Sejak tahun 1941 sampai sekarang ragam jenis atau varietas mangga dikoleksikan di kebun percobaan Cukorgondang, Pasuruan.
Pengembangan mangga varietas unggul dibeberapa negara dirancang sesuai dengan permintaan pasar (konsumen). Baik konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Filipina mengembangkan mangga untuk sasaran ekspor dengan memilih varietas atau kultivar Carabao dan Pico. Sementara untuk pasaran dalam negeri memilih varietas Pahutan, Dudul, Senora, dan Binoboy.
Di Thailand varietas mangga unggul yang dikembangkan secara komersial antara lain adalah Okyong, Nam Dokmai, Thong Dam, Nang Klangwan Chok’anam, Pinsendeang, Keo Cuk, dan Read. Varietas unggul lainnya untuk konsumen dalam negeri adalah Khieo Sawoei, Pimsenman, Selaya, dan Sampi.(Rismunandar,1990).
Di Malasyia terdapat lebih dari 110 klon Mangga, namun baru 5 klon (Varietas) yang dipilih untuk dikembangkan penanamannya secara komersial. Kelima varietas tersebut adalah Took Boon, Arumanis, Kuala Selangor, Golek, dan Maha 65. Dua varietas yang juga dianjurkan adalah Malgova dan Apple Mango.
Di Indonesia dikenal beberapa varietas mangga seperti Arumanis, Golek, Manalagi, Madu, Cengir, Gendong, Dodol, dan lain lain. Berdasarkan dengan surat keputusan Menteri Pertanian, telah ditetapkan (dilepas) 3 varietas unggul yaitu: Golek 31, Manalagi 69, dan Arumanis 143. produksi rata-rata ketiga varietas unggul tersebut adalah 52,3 Kg/pohon, 36,5 kg/pohon, 54,7 kg/pohon.(Rismunandar,1990).

2.3 Syarat Tumbuh Tanaman Mangga
2.3.1 Keadaan Iklim
Tanaman Mangga dapat tumbuh dan berproduksi di daerah tropik maupun sub-tropik. Di daerah tropik Indonesia mangga tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl namun paling optimal pada ketinggian 300 m dpl dan iklimnya kering. Unsur penting bagi tanaman mangga adalah curah hujan, suhu (temperatur), dan angin. Tanaman mangga membutuhkan pergantian musim kemarau dan hujan yang nyata. Yakni sedikitnya 4-6 bulan kering, dan curah hujan 1000 mm/tahun atau kurang dari 60 mmm/bulan atau selama jangka waktu musim kering mempengaruhi fase repoduktif. Pembungaan mangga membutuhkan bulan kering selama 3-5 bulan karena keluarnya bunga mangga terjadi 1,5 – 2 bulan sesudah awal musim kering. Sedangkan pembuahan membutuhkan minimal 1 bulan kering setelah pembungaan.(Rukmana, 1997).
Suhu udara yang ideal adalah antara 270-340 C dan tidak ada angin kencang atau angin panas. Disamping itu, untuk mendapatkan produksi yang optimal, tanaman mangga membutuhkan penyinaran antara 50%-80%.
Di daerah yang tipe iklimnya basah, mangga sedikit sekali berbuah dan rasanya cenderung masam, serta tanaman mudah terserang penyakit mati pucuk oleh cendawan Gloeosporium mangifera.Curah hujan yang tinggi atau angin kencang pada pembungaan atau pembuahan dapat menyebabkan gugurnya bunga atau buah.
Mangga pada umumnya cocok ditanam di daerah yang beriklim kering, namun beberapa jenis atau varietas dapat beradaptasi di daerah yang beriklim basah. Mangga Kemang, Gedong, Cengkir banyak ditanam di daerah Cirebon dan Idramayu yang iklimnya basah.
Mangga varietas unggul seperti Arumanis 143, Manalagi 69, dan Golek 31 tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah yang beriklim kering. Daerah-daerah yang mempunyai kondisi iklim kering terdapat di wilayah Indonesia bagian timur, seperti Sulawesi Tenggara, Lombok, Sumbawa, Kupang, dan lain lain. (Kusumo dan Tjiptosuhardjo. 1970).

2.3.2 Temperatur
Menurut Rukmana (1997), Temperatur untuk pertumbuhan optimimum tanaman mangga lebih kurang 24-270C. Pada suhu tersebut pertumbuhan vegetatif dan hasilnya juga sangat baik. Baik temperatur yang rendah, bagi tanaman mangga muda (umur 5 tahun) akan banyak menderita kerusakan. Namun ada beberapa jenis tanaman mangga yang masih tahan terhadap suhu rendah, tetapi tidak berproduksi dengan baik. Menurut pengamatan temperatur tanaman mangga masih dapat hidup adalah lebih kurang 4-100 C, tetapi temperatur yang baik untuk pertumbuhan dan produksi.
Pada musim kemarau, jika temperatur mencapai lebih dari 450 C dan disertai angin kencang, dapat mengakibatkan luka bakar matahari pada buah. Untuk mengatasi hal ini, di tepi perkebunan mangga yang sering ditiup angin kencang harus diberi tanaman yang lebih tinggi dari pada pohon mangga, supaya dapat mematahkan kecepatan angin, misalnya ditanami sengon laut.
Pada temperatur kira-kira 450 C dengan kelembaban 15 persen ditempat yang terlidung, daun-daun dan buah yang masih kecil akan terpengaruh sebagian buah yang masih kecil akan rontok, sedangkan yang masih berkembang akan menjadi buah yang tidak berbiji. Pada temperatur maksimum lebih dari 440 C, tanaman mangga masih dapat hidup, tetapi hasilnya tidak begitu baik.

2.3.3 Curah Hujan
Keadaan volume curah hujan akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman mangga dan proses produksi dan pembentukan bunga dan buah. Kalau pada musim bunga dan masa berbuah mulai masak tidak ada hujan, tanaman akan tumbuh dengan baik dan proses produksi akan berlangsung dengan baik pula. Sebaliknya, apabila waktu musim bunga, banyak turun hujan, berawan dan banyak kabut, proses pembentukan bunga akan terganggu. Disamping itu, keadaan tersebut akan merangsang timbulnya hama penyakit yang penyebarannya cepat sekali.
Jadi pada prinsipnya curah hujan hanya diperlukan pada tidak musim bunga, yaitu pada masa pertumbuhan vegetatif untuk memacu pertumbuhan cabang, ranting, serta tunas-tunas baru. Jumlah curah hujan tidak begitu penting pada waktu musim bunga, tetapi kalau ternyata masih juga turun hujan sedikit justru baik untuk pertumbuhan bunga, sebab akam menciptakan suasana udara sejuk, tetapi tidak lembab. (Marhijanto dan Wibowo. 1994).
Prosentase pembagian curah hujan setiap tahun sangat penting pengaruhnya terhadap proses pembungaan. Sebab masa primordial bunga akan terjadi setelah musim hujan, sekurang-kurangnya setiap tahun kira-kira 10.000 mm, dan musim kering lebih kurang 4-6 bulan dengan curah hujan rata-rata 60 mm/bulan. Jika dalam jangka waktu yang lama tidak ada hujan, maka areal pertanaman dapat dibantu dengan pengairan. Sebab kalau kondisi kadar air tanah terlalu kering, bunga mangga dapat menjadi layu dan akhirnya kering.
Beberapa pengaruh curah hujan yang kurang menguntungkan pada musim bunga adalah:
a). Air hujan akan mencuci butir-butir tepung sari, dan akhirnya tepungsari tersebut jatuh bersama air hujan.
b). Hujan yang terlalu lebat biasa menyebabkan luka pada permukaan tubuh bunga, dan bahkan dapat merontokkan bunga.
c). Volume curah hujan yang tinggi mengakibatkan udara menjadi lembab, sehingga menimbulkan serangan cendawan atau wereng mangga yang lebih hebat, akhirnya banyak bunga maupun buah yang rontok, dan panen pun gagal.
d). Selama hari-hari hujan, serangga penyerbuk tinggal diam, praktis mereka tidak melakukan penyerbukan karena tidak dapat terbang.
e). Banyak embun dan kabut dapat menggagalkan pemanenan, karena peristiwa ini juga mengakibatkan banyak bunga dan buah yang rontok seperti pada waktu musim hujan.

2.3.4. Ketinggian Tempat
Tanaman mangga dapat tumbuh sampai ketinggian tempat lebih kurang 1.300 m dpl. Akan tetapi didaerah yang tinggi. Produksinya tidak begitu banyak, dan kualitasnya pun tidak baik. Jika kita ingin mengusahakan tanaman mangga yang produksinya optimal, sebaiknya ditanam pada suatu areal yang memiliki ketinggian maksimal 500 m dpl. (Rukmana. 1997).
Masa berbunga tanaman mangga juga dipengaruhi oleh ketinggian tempat dari permukaan laut. Karena negara Indonesia didaerah tropis pada posisi 110 LU atau 60 LS. Maka setiap kenaikan kira-kira 130 m, ditempat pohon mangga itu ditanam, masa pembungaan tanaman tersebut akan tertunda selam 4 hari.

2.3.5 Keadaan Tanah
Tanaman mangga mempunyai daya penyesuaian tinggi terhadap berbagai jenis tanah. Di pantai utara Kraton dan Bangil (Jawa Timur) yang tanahnya berbelah-belah, termasuk jenis tanah sangat berat (Grumosol), tanaman mangga dapat tumbuh baik. Untuk jenis tanah grumasol perlu dilakukan penutupan dengan mulsa jerami atau pemberian kompos dalam jumlah banyak untuk menahan penguapan.
Pertumbuhan dan produksi mangga yang optimal membutuhkan jenis berpasir, lempung, atau agak liat. Keadaan tanah yang ideal untuk tanaman mangga adalah subur, gembur, banyak mengandung banyak bahan organik, drainasenya baik, dan pH optimum antara 5,5-6,0. Jenis tanah Aluvial seperti di Probolingga (Jawa Timur) mempunyai pengaruh baik terhadap kualitas buah.
Tanaman mangga toleran terhadap kekeringan, namun untuk menjamin pertumbuhan dan produksi membutuhkan keadaan air tanah yang memadai. Air tanah yang ideal adalah tidak lebih dari 50 cm dari permukaan tanah. Apabila tidak ada sumber air, pengadaan air dapat dilakukan dengan cara menampung air hujan dalam bak-bak penampung. Selama masa pembesaran buah tanaman mangga amat diperlukan air, terutama pada musim kemarau. (Pracaya. 1990).

2.4 Pengertian Varietas Unggul
Varietas atau kultivar unggul adalah sekumpulan individu tanaman yang dibedakan oleh setiap sifat (morfologi, fisiologi, sitologi, kimia) yang nyata untuk maksud usaha pertanian dan bila diproduksi kembali akan menunjukkan sifat unggul yang dapat dibedakan dari yang lain, Varietas unggul meliputi :
a. Sifat Genetik
Sifat genetik merupakan penampilan varietas murni atau tertentu yang menunjukkan identitas genetik dari tanaman induknya mulai benih penjenis, benih dasar, benih pokok dan benih sebar.
b. Sifat Fisiologik
Sifat ini menampilkan kemampuan daya hidup varietas serta bebas dari hama dan penyakit.
c. Sifat Fisik
Sifat fisik merupakan penampilan varietas secara prima bila dilihat secara fisik seperti ukuran varietas.
Keunggulan sifat kadang-kadang dinyatakan pada salah satu komponen hasil atau hasil akhir, kadang-kadang juga pada mutu atau kandungan zat gizi maupun hanya pada kegenjahan atau ketahanannya pada suatu hama penyakit atau kekeringan. Secara total keistimewaan suatu varietas unggul tentu pada daya produksinya disuatu daerah tertentu (Rukmana, 1999).

2.5 Morfologi Beberapa Jenis Mangga
2.5.1 Arumanis –143
Mangga arumanis memiliki pohon yang tidak begitu besar dengan ukuran diameter 120-130 cm. Mangga ini memiliki tinggi berkisar 900 cm. Mangga ini memiliki daun yang sangat lebat berbentuk lonjong, panjang dan ujungnya runcing. Panjang daun mencapai 22 cm- 24 cm lebarnya berkisar antara 5,5 cm – 7 cm.
Bunganya majemuk dan mempunyai panjang 43 cm – 45 cm lebarnya berkisar antara 5,5 cm – 45 cm, dengan bentuk bunga kerucut. Setelah berbunga, tidak selang beberapa lama berubah menjadi buah. Buah yang telah tua berwarna hijau tua dan dilapisi dengan lilin, sehingga warnanya menjadi hijau kelabu. Jika dimasak, pangkal buahnya akan kering dan pada pada pangkal tangkai buah akan meyebar warna merah sampai bagian tengahnya.

2.5.2 Golek – 31
Pohon berukuran sedang, berdiameter antara 120-130 cm, miliki cabang banyak. Pada cabang tersebut terdapat ranting yang merupakan kekuatan untuk menggantung buah.
Daun mangga golek berbentuk lonjong, pada bagian pangkalnya meruncing sehingga berbentuk seperti mata tombak. Panjangnya berkisar antara 23 cm – 24,5 cm, dengan lebar 6 cm.
Mangga ini berbunga majemuk, artinya bunganya banyak dan berkumpul dalam suatu tangkai sehingga kelihatan bergerombol. Tidak semua bunga dapat menjadi buah, karena diantara bunga tersebut tidak memiliki putik yang dapat diserbuki juga disebabkan oleh daya hidup pada tepung sari pada bunga tersebut mulai berkurang .
Buahnya yang masih muda berwarna hijau muda, rasanya tidak terlalu masam. Sesudah masak, sebagian kulitnya mulai dari pangkal tangkai berwarna kuning, sedangkan sebagian lain berwarna kuning kehijauan. Kulitnya dilapisi dengan lilin tipis sehingga tampak bintik-bintik kelenjar yang berwarna putih kehijauan, jika sudah tua warnanya akan berubah putih kecoklatan.

2.5.3 Manalagi – 69
Pohon mangga manalagi hampir sama dengan pohon golek dan arumanis, besarnya berdiameter 120 cm dengan ketinggian 800 cm. Cabang dan rantingnya tidak teralu banyak (boleh dikatakan kurang).
Daun mangga manalagi berbentuk lonjong dengan ujung yang runcing, dibagian pangkal tangkai daun berbentu agak bulat. Panjang daun mangga ini berkisar antara 23 cm-25 cm dan lebar sampai 7,5 cm, permukaan daun agak bergelombang.
Bunga mangga manalagi mempunyai bunga majemuk (berbunga banyak) dan bergerombol dalam satu tangkai. Sebagian tidak bisa menjadi buah karena sebagian ada yang tidak memiliki putik yang bisa dibuahi. Bunga manalagi berwarna kuning dengan tangkai hijau muda sedikit kemerahan dan berbentuk kerucut.
Buah yang masih muda berwarna hijau, jika sudah tua warna berubah menjadi hijau tua dan agak kelabu, buah yang sudah tua akan berlapis lilin sehingga tampak hijau keputihan, bila pangkal buah akan berwarna kekuningan tetapi pada ujung masih berwarna hijau.

2.5.4 Keitt
Mangga ini berasal dari filipina, pohon mangga keitt memiliki tinggi sekitar 6,20 m dengan diameter batang 49 cm batang bawah dan 47 cm batang atas, warna batang coklat dan kulit batang kehitaman licin. Cabang dan rantingnya jarang dengan bentuk tajuk piramida tumpul.
Daun mangga keitt berbentuk lonjong dengan pucuk daun berbentuk lancip. Panjang daun 20,5 cm dan lebarnya berkisar 7,1 cm. Warna pupus cenderung kekuningan dan panjang pupus berkisar 17,3 cm.
Bunga mangga keitt tersusun teratur dalam satu tangkai. Panjang malai sekitar 31 cm dan lebar sekitar 17 cm. Bentuk malai seperti piramida lancip dengan warna malai berwarna merah. Bunga mangga ini berwarna merah kekuningan diikuti porsi bunga permalai 78 sempurna dan 309 jantan.
Berat buah mangga keitt , yaitu 650gr/buah. Ukuran buah relatif besar dengan panjang 14 cm dan lebar 24 cm dan lingkar 24 cm. Bentuk pucuk buah ini sedikit berlekuk dan mempunyai paruh. Kulit buahnya tebal, halus berbintik dan jarang warna putih. Jika sudah masak warna daging buah pada pangkal merah kekuningan dan pucuk buah hijau. Aromanya sedang, rasanya segar, selain itu buah ini mempunyai kadar vitamin c 8,9 mg/100 gr buah. (Rebin, et al. 1998).
2.5.5 Haden
Mangga jenis ini merupakan hasil introduksi dari USDA. Besar pohon relatif besar sekitar 133 cm batang dan 107 cm batang atas. Mangga ini cabang dan ranting yang jarang dan menyebar dengan bentuk tajuk seperti piramida tumpul (bulat). Warna kulit batang coklat kehitaman kekuningan dan kulit batang berwarna coklat kehitaman.
Daun mangga haden berbentuk sempit dengan ujungnya lancip dan dasar daun runcing. Ukuran daun berkisar 18, 2 cm panjang dan 15,2 cm lebar. Warna pupus daun coklat tua dengan panjang pupus 21,3 cm.
Bentuk Bunga pada mangga haden teratur dengan ukuran malai bunga, yaitu panjang malai sekitar 32 cm dan lebar malai sekitar 19 cm, dan bentuk malai bunga seperti piramida lancip. Bunga buah ini berwarna kuning, malai berwarna kuning dan warna tangkai malai merah kehijauan. Selain itu porsi bunga buah haden ini adalah 50 betina dan 50 jantan.
Berat buah berkisar 365 gr/buah, dengan ukuran bauh 9 x 7x 6,5 cm. Bentuk buah ini bulat dengan pangkal berbentuk rata dan pucuk buah bulat. Ketika sudah masak daging buah berwarna kuning dan aromanya agak harum, selain itu mangga ini kadar air 66ml/100gr buah dengan kadar gula 15,52 % (Rebin, et al. 1998).

2.5.6 Irwin
Mangga ini berasal dari Australia, ukuran pohonnya relatif kecil yaitu, mempunyai ketinggian mencapi 9 m, diameter pohon sekitar 8 cm. Percabangan mangga Irwin terkategori sedang dengan bentuk tajuk piramida lancip. Sedangkan warna batang mangga ini adalah coklat.
Bentuk daun mangga Irwin bebentuk sempit, dengan permukaan berombak, pucuk daun lancip, dasar daun lancip. Ukuran daun meliputi; panjang daun 25 cm dan lebar 5 cm. Warna daun muda hijau muda dan warna daun tua hijau tua.
Bunga pada mangga ini tersusun teratur , berbunga 3-4 kali pada lokasi di Solok, Sumatera Barat. Ukuran malai yaitu; panjang malai sekitar 43 cm dan lebar sekitar 26 cm dengan bentuk malai seperti piramida lancip. Sedangkan warna bunga mangga Irwin adalah merah,merah keunguan dan warna malai bunga merah kekuningan.
Berat buah sekitar 368,75 gram/ buah. Ukuran buah relatif besar dengan panjang 43 cm, lebar 26 cm. Bentuk pangkal buah rata dan berlekuk, betuk pucuk buah datar, lekukan pucuk buah datar, paruh sedikit jelas. Daging buahnya tebal sekita 2,5 cm dengan tekster lunak. Jika sudah masak daging buahnya berwarna kuning berserat kasar, dan panjang. (Rebin, et al. 1998).

2.6 Perbanyakan Tanaman Mangga
Tanaman mangga dapat diperbanyak atau dikembangkan dengan beberapa cara, cara pertama adalah seksual (generatif) dengan biji, dimana biji ada yang monoembrional dan yang polyembrional. Sedangkan cara kedua adalah secara aseksual (vegetatif), hal ini dapat dilakukan baik melalui grafting, cangkok maupun rundukan. Cara ketiga adalah pengembangan cara vegetatif dan cara generatif (Harjadi, 1985).

2.6.1 Perbanyakan secara Generatif
Penanaman mangga yang paling mudah adalah dengan cara menanam biji, kebanyakan pohon-pohon mangga yang berumur sampai berpuluh-puluh tahun, pohonnya menjadi sangat besar dan kuat, bibitnya berasal dari biji. Pohon mangga yang dari biji mempunyai akar tunggang yang kuat dan menjalar ke segala arah sampai puluhan meter panjangnya (Gardner, 1989).
Semua biji pelok yang dipersiapkan sebagai benih harus dipilih dari buah yang benar-benar sudah masak. Usaha pembibitan dengan menggunakan biji masih tetap diperlukan dan masih banyak dirasakan manfaatnya terutama untuk kepentingan bibit okulasi dan grafting, sebagai batang bawah (Winarno,dkk 1990).
Beberapa keuntungan perkembangbiakan mangga secara generatif antara lain:
a. Kondisi tanaman dari biji biasanya perakarannya relatif lebih kuat, sehat dan berumur panjang.
b. Perlakuan mudah dan murah
c. Dapat diperoleh varietas baru yang baik
d. Pada biji poliembrionik dapat menghasilkan tanaman yang sama dengan sifat induknya.
Beberapa kelemahan pengembangbiakan mangga secara generatif antara lain:
a. Tidak cepat berbuah
b. Varietas baru yang muncul belum tentu mempunyai sifat yang baik seperti induknya.
c. Untuk mengetahui kualitasnya membutuhkan waktu yang cukup lama, dengan juga dengan ketahanannya terhadap penyakit. (Danoesastro, 1984).

2.6.2 Perbanyakan Secara Vegetatif
Pengembangbiakan cara vegetatif ini merupakan cara perbanyakan tanaman mangga tanpa melaui proses seksual (askesual) dimana perbanyakan dilakukan dengan jalan menggunakan bagian tanaman tersebut. Perbanyakan vegetatif ini terdiri dari bagian batang, daun dan akar (Sasmita, 1985).
Perbanyakan vegetatif adalah penggabungan antara dua jenis tanaman, yang satu bertindak sebagai penerima yang disebut batang atas “entres” dan yang lain bertindak sebagai pendukung (donor) yang disebut sebagai batang bawah. Oleh karena itu tanaman harus mampu menjalani hidup bersama tanpa menimbulkan yang tidak diinginkan bahkan mampu meningkatkan kekekaran dan produktifitas dan kualitas hasil batang atas. untuk maksud tersebut maka batang bawah tersebut harus mempunyai sifat:
1. Kompatebel dengan entresnya.
2. Resistensi terhadap penyakit batang
3. Mempunyai sistem perakaran yang luas dan kuat
4. Tahan terhadap lingkungan yang menekan.
Perbanyakan vegetatif ini mempunyai kelebihan antara lain :
1. Pada umumnya tanaman mempunyai sifat yang sama dengan pohon induknya, misalnya: buah besar dan manis, tahan hama dan penyakit.
2. Tanaman cepat berbunga dan berbuah,walaupun pohonnya masih pendek.
3. Tanaman masih dapat tumbuh dengan baik pada tempat yang permukaan air tanahnya dangkal, karena tidak mempunyai akar tunggang.
Disisi lain cara perbanyakan ini juga meiliki kelemahan antara lain:
1. Tidak hanya sifat yang baik saja yang diturunkan oleh induknya, tetapi sifat jeleknya juga diturunkan.
2. Perakaran tidak dalam sehingga pada kondisi angin kencang akan mudah roboh, dan pada musim kemarau panjang tidak tahan pada kekeringan.
3. Sukar untuk memperoleh banyak tanaman dari atau pohon induk sekaligus (Rochiman, 1983).

2.6.3 Perbanyakan Mangga Secara Grafting
Grafting adalah teknik menyatukan pucuk yang berfungsi sebagai calon batang atas dengan calon batang bawah, sehingga dapat diperoleh batang baru yang memiliki sifat-sifat unggul. Keunggulan dari grafting yaitu lebih mudah dan lebih cepat dalam pengerjaannya (sederhana), tingkat keberhasilannya cukup tinggi, banyak digunakan buah kombinasi yang berumur 6-12 bulan atau pada tanaman induk yang diremajakan. Tujuan teknik ini yaitu untuk mendapatkan bibit tanaman buah yang unggul, memperbaiki bagian-bagian tanaman yang rusak atau terserang hama dan penyakit, membantu proses pertumbuhan tanaman dan memperoleh tanaman buah kombinasi (Anonymous, 1990).

2.6.3.1 Syarat Batang Atas dan Bawah
Untuk memperoleh hasil (tanaman) sambungan yang baik diperlukan batang bawah yang cocok dan serasi. Menurut Marhijanto dan Wibowo (1994) tanaman yang baik untuk batang atas harus mempunya sifat sebagai berikut, yaitu: Cabang dari pohon yang kuat, normal pertumbuhannya dan bebas dari serangan hama dan penyakit. Mempunyai bentuk percabangan yang lurus, dimana diameter batang atas harus disesuaikan dengan batang bawah sekitar paling besar 1 cm. Cabang yang diambil berasal dari pohon yang yang mempunyai sifat unggul seperti buahnya lebat, tahan penyakit dan hama, rasa dan aroma buah enak. Dan yang terakhir adalah adanya kemampuan untuk menyesuaikan diri antara batang atas dengan batang bawah sehingga sambungan kompatibel (cocok).
Menurut Rismunandar (1990), Sedangkan syarat tanaman yang akan dijadikan batang bawah harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut; batang bawah yang baik mempunyai kemampuan daya adaptasi yang tinggi. Mempunyai perakaran dan batang yang kuat dan tahan terhadap serangan hama sehingga akan mengokohkan daya topang pohon yang kuat ketika sudah dewasa. Dan yang terakhir mempunyai kecepatan tumbuh sesuai dengan batang atas yang digunakan, sehingga diharapkan batang bawah ini mampu hidup bersama dengan batang atas.

2.6.3.2 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Grafting
2.6.3.2.1 Faktor Tanaman
Kesehatan batang bawah yang akan digunakan sebagai bahan perbanyakan perlu diperhatikan. Pada batang bawah yang kurang sehat, proses pembentukan kambium pada bagian yang dilukai sering terhambat. Keadaan ini akan sangat mempengaruhi keberhasilan penyambungan (Sugiyanto, 1995). Pendapat ini didukung oleh Garner dan Chaudri (1976) yang mengemukakan bahwa batang bawah berpengaruh kuat dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga pemilihan tanaman yang digunakan sebagai batang bawah sama pentingnya dengan pemilihan varietas yang akan digunakan sebagai batang atas.
Berhasilnya pertemuan entres dan batang bawah bukanlah jaminan adanya kompatibilitas pada tanaman hasil sambungan. Sering terjadi perubahan pada entres maupun pada tanaman hasil sambungan, misalnya pembengkakan pada sambungan, pertumbuhan entres yang abnormal atau penyimpanan pertumbuhan lainnya, dimana keadaan ini disebut inkompatibel. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan struktur antara batang atas dan batang bawah atau ketidakserasian bentuk potongan pada sambungan (Rochiman dan Harjadi, 1973). Sedangkan batang yang mampu menyokong pertautan dengan baik dan serasi disebut kompatibel (Winarno, 1990).

2.6.3.2.2 Faktor Pelaksanaan
Faktor pelaksanaan memegang peranan penting dalam penyambungan. Menurut Rochiman dan Harjadi (1973) kecepatan penyambungan merupakan pencegahan terbaik terhadap infeksi penyakit. Pemotongan yang bergelombang dan tidak sama pada permukaan masing-masing batang yang disambungkan tidak akan memberikan hasil yang memuaskan ( Hartman dan Kester, 1976).
Kehalusan bentuk sayatan dari suatu bagian dengan bagian lain sangat penting untuk mendapatkan kesesuaian posisi persentuhan kambium. Ukuran batang bawah dengan batang atas hampir sama sangat diharapkan agar persentuhan kambium sangat banyak terjadi. Apabila batang atas lebih kecil dari batang bawah, maka salah satu sisi kambium harus cepat. Cara penyambungan suatu tanaman keberhasilannya lebih banyak dibandingkan dengan metode lain. Disamping itu ketrampilan dan keahlian dalam pelaksanaan penyambungan maupun penempelan serta ketajaman alat-alat yang digunakan juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pekerjaan tersebut (Sugiyanto, 1995;Winarno, 1990).

2.6.3.2.3 Faktor Lingkungan
Cahaya matahari sangat kuat akan berpengaruh terutama pada saat pelaksanaan penyambungan. Oleh karena itu penyambungan dilakukan pada waktu pagi hari atau sore hari. Penyambungan sebaiknya dilakukan pada musim kemarau. Selain untuk menghindari kebusukan, curah hujan pada musim kemarau batang sedang aktif mengalami pertumbuhan serta entres yang tersedia cukup masak (Sugiyanto, 1995)

2.7 Defoliasi (Perompesan Daun)
Menurut Widianto (1988) dalam Sudarto (2000), Cara yang umum dilakukan dalam hal ini perompesan dalam batang atas adalah daun-daun pada calon batang atas dibuang helai yang paling ujung daun yang tinggi dua helai digunting dan disisakan ¼ bagian.
Usaha untuk mengetahui sejauh mana efesiensi hasil suatu tanaman tergantung pada aktifitas organ pengguna yaitu dengan perompesan sebagian daun atau menghilangkan sebagian pengguna. Organ pengguna yang dimaksud adalah pengguna fotosintat misalnya: titik tumbuh, bunga, buah, akar. Sedangkan penghasil bagian tanaman, atau organ yang menghasilkan fotosintat misalnya daun yang membuka penuh, seludang daun, namun sebagian besar fotosintat dihasilkan oleh daun dan digunakan oleh organ tanaman yang aktif tumbuh. Widianto (1988).
Pertumbuhan daun selalu cenderung mengalami perubahan subtansi yang mengarah terjadinya absisi. Perompesan daun (defoliasi) telah membuang asimilat, juga meniadakan hormon pertumbuhan tunas yang biasanya ditranslokasikan dari daun, sehingga dapat mempertinggi sambungan jadi dan mepercepat pembentukan tunas (Widianto,1988).
Menurut Sudarto (2000), bahwa defoliasi mempunyai pengaruh pada peubah panjang tunas yang terjadi pada 98 hari setelah grafting dan menunjukkan perbedaan yang sangat nyata, secara terpisah perlakuan entres yang didefoliasi dengan cara membuang daun dan menyisakan 2-3 helai daun terbukti dapat meningkatkan panjang tunas. Hal ini diduga karena hormon penghambat pertumbuhan tunas yang biasanya ditranslokasikan dari daun semakin berkurang, seiring dengan dengan pengurangan cabang entres sehingga proses penyatuan sambungan dapat terjadi dengan baik.
Perlakuan defoliasi cabang entres dapat mendukung prosentase sambung jadi. Hal ini disebabkan karena ada kaitannya dengan kandungan asimilat yang terakumulasi pada cabang entres yang dirompes. Akumulasi asimilat dapat merangsang pembelahan, pembesaran dan deferensiasi sel, yang kemudian mendorong proses pertautan antara batang atas dan bawah, sehingga melancarkan unsur hara dan air dari batang bawah kebatang atas (Lukman, 2004).
Sedangkan menurut Lukman (2004), pada tanaman jambu mete pengaruh lama waktu defoliasi sebelum penyambungan pada tiga stadium entres terhadap keberhasilan penyambungan menunjukkan keberhasilan yang cukup tinggi, diatas 54,4 % yaitu dengan defoliasi pada 3 dan 6 hari. Entres yang sedang aktif dapat digunakan sebagai entres dengan perlakuan defoliasi. Tunas akan keluar dari tunas yang berada diketiak daun disamping batang pucuk. Perlakuan defoliasi pada tunas tidur menunjukan keberhasilan lebih tinggi dibanding pada tunas aktif dan entres tanpa pucuk, yaitu 89,3% dengan defoliasi 3 HSS dan 77,1% dengan defoliasi 6 HSS. Hadad dan Koernati (1996) melaporkan, bahwa tingkat keberhasilan penyambungan pada umur 60 HSP cukup representatif. Munculnya tunas-tunas baru menunjukkan bahwa hasil sambungan kompatibel.
Perontokan daun sebelum penyambungan pada ketiga stadium entres menunjukkan tingkat keberhasilan lebih tinggi, mencapai 54,4-89,3% dibanding dengan tanpa defoliasi (13,7- 31,3%). Hal ini akan menunjukkan bahwa perontokan daun sebelum penyambungan berpengaruh positif dalam penyembuhan luka.
Alvin et al. (1972) melaporkan semakin banyak daun yang dipangkas semain banyak senyawa absicic acid (ABA) yang hilang sehingga meningkatkan nisbah sitokinin dengan ABA. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sitokinin berperan pada pemacuan pertunasan. Hal ini menunjukkan bahwa waktu defoliasi antara 3-6 HSS dapat mengimbangi proses penyembuhan dan menstimulir hasil metabolisme untuk mendorong munculnya tunas atau pucuk baru.
Penggunaan stadium entres dengan defoliasi kelihatannya berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman, lingkar batang, jumlah daun. Perlakuan stadium entres dengan defoliasi menunjukkan pertumbuhan tanaman yang lebih tinggi dengan diameter batang yang lebih besar serta jumlah daun lebih banyak dibanding dengan tanpa defoliasi (Alvin,1972).

2.8 Proses Pertautan Sambungan
Proses pembentukan pertautan sambungan dapat disamakan dengan penyembuhan luka, apabila pangkal sebuah tanaman dibelah, maka jaringan yang luka tersebut akan sembuh dengan jika luka tersebut diikat dengan kuat. Keberhasilan penyambungan suatu tanaman tergantung pada terbentuknya pertautan sambungan itu, dimana sebagian besar disebabkan oleh adanya hubungan kambium yang rapat dari kedua batang yang disambungkan (Ashari, 1995).
Ashari (1995), mengemukakan bahwa pertautan antara btang atas dengan batang bawah melalui beberapa tahapan. Apabila dua jenis tanaman disambung maka pada daerah potongan dari masing-masing tanaman tersebut tumbuh sel-sel meristematis. Agar proses pertautan tersebut dapat berlanjut, kegiatan sel/jaringan meristem antara daerah potongan harus terjadi kontak untuk saling menjalin secara sempurna. Hal ini hanya mungkin apabila kedua jenis tanaman cocok (kompaibel) dan irisan luka rata, serta pengikatan sambungan tidak terlalu lemah dan tidak terlalu kuat, sehingga terjadi kerusakan/kematian jaringan.
Adnance dan Brison (1976), menjelaskan adanya pengikat yang erat akan menahan bagian sambungan untuk tidak bergerak, sehingga kalus yang terbentuk akan semakin jalin-menjalin dan terpadu dengan kuat. Jalinan kalus yang kuat semakin menguatkan pertautan sambungan yang terbentuk.
Lebih lanjut Hartman dan Khester (1975) mengemukakan proses fotosiologis didalam peristiwa penyembuhan luka adalah sebagai berikut:
• Setelah dilakukan penyembuhan antara batang bawah (stock), batang atas (scion), maka tahap pertama di daerah kambium.
• Pada tahap kedua, sel-sel parenkim berkembang sehingga terjadi penggabungan antara batang bawah dengan batang atas.
• Pada tahap ketiga, terjadi deferensiasi pada sel-sel kambium baru dan terjadi penggabungan antara dua kambium (lama) dari batang bawah dan atas.
Setelah tahap pertama sampai tahap ketiga selesai, maka tebentuklah jaringan vaskuler baru (xylem, dan floem) sebagai saluran untuk menyalurkan air dan zat-zat makanan antara batang bawah dan atas (Abidin,1987).
Menurut Ashari (1995), dalam proses penyambungan ada beberapa hal yang harus ketahui adalah sebagai berikut:

a). Polaritas
Dalam melakukan sambung atau okulasi, hal penting yang harus diperhatikan adalah polaritas bagian batang atas dan batang bawah. Untuk batang atas, bagian dasar entres atau mata tempel harus harus disambungkan dengan bagian atas batang bawah. Dalam hal okulasi, berarti mata tunas harus menghadap keatas. Bila runtutan atau posisi terbalik, maka sambungan tidak akan berhasil baik, karena fungsi xilem sebagai penghantar hara dari tanah maupun fungsi floem yang mengantar asimilat dari daun terbalik arahnya. Tetapi sebaliknya, apabila entres disambungkan pada akar tanaman, maka posisinya menjadi terbalik, yaitu bagian dasar entres harus disambungkan pada bagian dasar akar karena ujung akar sifatnya geotropik (Lukman, 2004).
b). Kompatibilitas
Pengertian kompatibilitas adalah kemampuan dua jenis tanaman yang disambung untuk tumbuh menjadi satu tanaman baru. Kebalikan kejadian ini adalah inkopitibilitas.
Bahan tanaman yang disambungkan akan menghasilkan persentase kompatibilitas tinggi apabila tinggi tanaman tersebut masih dalam satu spesies atau satu klon. Bahkan ada kalanya berbeda spesies pun dapat berhasil disambung asalkan masih dalam satu famili, tentu saja hal ini bergantung pada jenis tanaman masing-masing. Pada tanaman mangga dan jeruk terlihat kompatibilitas yang tinggi, misalnya jeruk roug lemon disambungkan dengan jeruk siem besar jeruk nipis dan sebagainya. Dengan halnya dengan mangga ; mangga madu memberikan keberhasilan tinggi bila disambung dengan batang atas jenis golek, lalijiwo dan sebagainya (Lukman, 2004).
Inkompatibilitas antar jenis tanaman yang disambung mulai terlihat pada beberapa tahapan, mulai sejak gagalnya sambungan hingga matinya tanaman sambungan secara perlahan. Adapun kriteria inkompatibilitas menurut Hartman dan Kester (1978) sebagai berikut:
1. Tingkat keberhasilan sambungan rendah.
2. Pada tanaman yang sudah berhasil tumbuh, terlihat daunnya menguning, rontok dan mati tunas.
3. Mati muda pada bibit sambungan.
4. Terdapat perbedaan laju tumbuh antara batang bawah dengan batang atas .
5. Terjadinya pertumbuhan yang berlebihan baik batang bawah ataupun batang atas (Hartman dan Kester, 1978).

III. METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Pebruari sampai dengan bulan April 2006, di kebun percobaan Pohjentrek Pasuruan. Ketinggian tempat 4 m dpl, dengan jenis tanah latosol kompleks, tipe iklim D Smith Ferguson, curah hujan per tahun 1332 mm dengan 96 hari hujan, suhu rata-rata 27o C dan kelembaban nisbih 65%.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah pisau okulasi, gunting stek, kamera, alat tulis dan peralatan lain yang mendukung dalam pelaksanaan.
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah entres varietas Irwin, Haden, Kengsinton apple, Arumanis 143, Golek 31, Manalagi 69. Tanaman mangga, batang bawah varietas madu 225, pupuk kandang kambing, tanah, pasir, polibag, plastik pembungkus.

3.3 Metode
Pelaksanaan penelitian ini menggunakan percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial, 2 faktor dengan 3 kali ulangan. Dimana macam varietas sebagai faktor I, dan perbedaan waktu defoliasi sebagai faktor II.
Faktor I adalah varietas entres (V) yang terdiri dari 6 level :
V1 : entres mangga varietas Heiden
V2 : entres mangga varietas Irwin
V3 : entres mangga varietas Kensintong Apple
V4 : entres mangga varietas Arumanis-143
V5: entres mangga varietas Golek-31
V6 : entres mangga varietas Manalagi-69
Faktor II adalah waktu defoliasi (D) yang terdiri dari 3 level:
D1: 0 hari sebelum sambung
D2: 6 hari sebelum sambung
D3: 12 hari sebelum sambung
Dari kedua faktor tersebut didapat 18 kombinasi perlakuan. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan diwakili oleh 3 sampel. Sehingga seluruh populasi berjumlan 162 tanaman. Seperti pada Tabel 1 dibawah ini :
Perlakuan Defoliasi 0 Hari Sebelum Sambung Defoliasi 6 Hari Sebelum Sambung Defoliasi 12 Hari SebelumSambung
Entres V. Haden V1D1 V1D2 V1D3
Entres V. Irwin V2D1 V2D3 V2D3
Entres V.Kengsinton Apple V3D1 V3D2 V3D3
Entres V. Arumanis-143 V4D1 V4D2 V4D3
Entres V. Golek V5D1 V5D2 V5D3
Entres V. Manalagi V6D1 V6D2 V6D3

3.4 Pelaksanaan Percobaan
3.4.1 Persiapan Media
Persiapan dimulai dengan mengemburkan tanah, kemudian dicampur dengan pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1 . kemudian media yang sudah dicampur itu dimasukkkan kedalam polybag yang bagian dasar berlubang, ukuran tinggi 20 cm dan diameter 12,5 cm.
3.4.2 Penyediaan Batang Bawah
Batang bawah yang digunakan adalah varietas madu-225 yang telah ditanam dipolibag yang berumur kurang lebih 4 bulan, batang bawah yang digunakan tersebut mempunyai diameter batang 0,5-0,7 cm.
3.4.3 Penyediaan Batang Atas
Penyediaan batang atas yang diguanakan adalah sebagai entres dari varietas mangga Haden, Irwin, Kensinton Apple, Arumanis-143, Golek-31, Manalagi-69. Batang atas dipilih dari ranting yang baik, diameter batang disesuaikan dengan batang, bentuknya lurus panjang sekitar 15 cm.
3.4.4 Defoliasi (perompesan daun)
Perompesan dilakukan dengan cara membuang seluruh daun pada cabang yang akan dijadikan batang atas. Saat perompesan dilakukan berdasarkan waktu: yaitu 0 hari sebelum sambung, 6 hari sebelum sambung, 12 hari sebelum sambung.

3.4.5 Pelaksanaan Penyambungan
Batang bawah yang ada dipolybag akan disambung bila sudah mencapai sebesar pensil. Cara penyabungan menggunakan model sambung celah, pelaksanaan penyambungan dilakukan setelah entres didefoliasi sesuai dengan perlakuan yang yang ada. Pengikatan penyambungan menggunakan kantong plastik es yang lentur dengan cara dimulai dari bawah keatas kemudian sisa plastik ditutupkan pada entres, tujuan untuk menjaga kelembababan bibit hasil sambungan.
3.4.6 Pemeliharaan Bibit Sambungan
Selama pembibitan pemeliharaan sambungan agar diperoleh keberhasilan yang baik, maka dilakukan pemeliharaan sebagai berikut:
3.4.7 Pemberian Air
Untuk memenuhi kebutuhan air dalam pertumbuhan, penyiraman dilakukan dua hari sekali pada pagi hari. Banyak air yang diberikan dalam jumlah yang cukup, artinya pemberian tersebut tidak sampai tergenang. Alat yang digunakan adalah gembor.
3.4.8 Pemupukan
Pemupukan awal berupa pupuk N dan P diberikan setelah bibit berumur satu bulan setelah sambung dengan kandungan nitrogen lebih tinggi. Dosis pupuk 15 gram P perpolibag, caranya dengan dibenamkan sedalam 10 cm dalam polibag.
3.4.9 Pengendalian Hama Penyakit
Apabila ada tanda-tanda terserang penyakit, dikendalikan dengan menggunakan Decise dengan dosis 2 cc/liter dan untuk pengendalain serangga digunakan insektisida dursban yang diberikan dengan konsntrasi 2 cc/liter air. Dan waktu pemberian dilakukan pada umumya 14 HSS sedang pemberantasan berikutnya tergantung serangan atau bila terjadi serangan hama dana penyakit.

3.5 Alur Pelaksanaan Percobaan

3.6 Pengamatan
Dalam penelitian tidak semua diamati tetapi pengamatan dapat dilakukan hanya dengan pengambilan beberapa sampel (contoh) yang mewakili.
Pengamatan dilakukan secara non destruktif setiap 6 hari sampai 58 HSP, kecuali untuk saat pecah mata tunas dilakukan 2 hari sekali. Pengamatan terhadap keberhasilan bibit mangga hasil grafting ini dilakukan dengan mengamati parameter:
1. Saat Muncul Tunas
Saat pecah tunas dihitung dari munculnya bakal daun yang ditandai apabila seludang daun telah lepas.
2. Persentase Sambung Jadi
Pengukuran keberhasilan grafting dimulai dari masuknya batang atas ke batang bawah setelah 3 minggu dari penyambungan, dihitung dengan rumus :
P = Jumlah entres yang tumbuh x 100%
Jumlah sample tanaman

3. Panjang tunas
Pengukuran dimulai dasar tunas sampai titik tumbuh dilakukan 10 hari sekali
5. Diameter tunas
Pengukuran dilakukan diatas sambungan kurang lebih dua cm, waktu pelaksaan 12 hari setelah sambung dengan menggunakan jangka sorong.
4. Luas Daun
Luas daun dengan mengukur panjang dan lebar daun maksimum kemudian dikalikan dengan faktor koreksi dikalikan jumlah daun pertanaman.
LD = P xL xF k x n
Dimana :
LD : Luas daun L : Lebar daun
P : Panjang daun Fk : Faktor koreksi
n : Jumlah daun pertanaman

3.6 Analisa Data

Data penelitian akan dianalisa dengan menggunakan RAK Faktorial untuk mencari interaksi antara perbedaan waktu defoliasi entres dengan beberapa macam varietas terhadap pertumbuhan bibit mangga. Jika uji F pada analisis ragam menunjukkan pengaruh yang nyata, maka pengujian selanjutnya menggunakan uji jarak duncan (Duncan Multiple Range Test) 5 %.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Saat Muncul Tunas
Berdasarkan hasil analisis ragam menunjukkan adanya interaksi yang sangat nyata antara macam varietas dan perlakuan defoliasi entres terhadap peubah saat muncul tunas.(Lampiran 1).
Rerata saat muncul tunas pada pengaruh interaksi antara macam varietas dan perlakuan defoliasi entres disajikan pada tabel.1
Tabel 1 Rerata saat muncul tunas pada pengaruh interaksi antara perlakuan macam varietas dan defoliasi entres.
Perlakuan Saat muncul tunas
( HSS)
Heiden dengan defoliasi 0 hss (V1D1)
Heiden dengan defoliasi 6 hss (V1D2)
Heiden dengan defoliasi 12 hss (V1D3)
Irwin dengan defoliasi 0 hss (V2D1)
Irwin dengan defoliasi 6 hss (V2D2)
Irwin dengan defoliasi 12 hss (V2D3)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 0 hss (V3D1)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 6 hss (V3D2)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 12 hss (V3D3)
Arumanis-143 dengan defoliasi 0 hss (V4D1)
Arumanis-143 dengan defoliasi 6 hss (V4D2)
Arumanis-143 dengan defoliasi 12 hss (V4D3)
Golek dengan defoliasi 0 hss (V5D1)
Golek dengan defoliasi 6 hss (V5D2)
Golek dengan defoliasi 12 hss (V5D3)
Manalagi dengan defoliasi 0 hss (V6D1)
Manalagi dengan defoliasi 6 hss (V6D2)
Manalagi dengan defoliasi 12 hss (V6D3)
6,63abcde
9,53e
15,20f
4,33a
4,53ab
5,06abc
20,00g
4,73ab
21,00g
8,83cde
10,53e
7,20abcde
4.14a
9,10de
4,20a
5,50abcd
8,30bcde
6,63abcde
Keterangan:
angka-angka yang di yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung

Pada tabel diatas nampak bahwa perlakuan varietas kengsinton apple yang didefoliasi 12 hari sebelum sambung menunjukkan perbedaan yang nyata dibandingkan semua kombinasi perlakuan yang ada, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan varietas kengsinton apple yang didefoliasi saat sambung. Sedangkan varietas golek yang didefoliasi saat sambung menghasilkan saat muncul paling cepat tetapi tidak berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan yang lain. Saat awal muncul tunas umur 4 HSS disajikan pada gambar.1

Gambar.1 Saat awal muncul tunas umur 4 HSS

4.1.2 Persentase Sambung Jadi
Berdasarkan analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi yang nyata antara perlakuan macam varietas dan perbedaan waktu defoliasi entres terhadap persentase sambung jadi. Akan tetapi jika dilihat secara terpisah perlakuan varietas menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi perlakuan waktu defoliasi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase sambung jadi. (Lampiran 2 dan 3).
Rerata persentase keberhasilan sambung pada perlakuan macam varietas disajikan dalam tabel 2

Tabel.2 Rerata persentase sambung jadi pada pengaruh perlakuan macam varietas entres.
Perlakuan Persentase sambung jadi (%) umur ( HSS)
16 23 30 37 44 51 58
Macam Varietas (V) :
Heiden (V1)
Irwin (V2)
Kengsinton.A (V3)
Arumanis-143 (V4)
Golek (V5)
Manalagi (V6)
33,37ab
59,30bc
44,47ab
85,20c
25,94a
55,7bc

44,50a
66,67ab
63,00ab
96,30c
51,90ab
77,78ab
55,60a
74,10ab
77,80ab
96,30b
70,40ab
70,40ab
63,00a
85,30ab
88,90ab
100,00b
62,98a
88,90ab
55,60a
96,30c
88,90bc
100,00c
70,40bc
88,90bc

55,60a
96,30c
88,90bc
100,00c
70,40ab
88,90bc
59,30a
88,90bc
88,90bc
100,00c
66,68ab
88,90bc

Defoliasi (D)
Defoliasi 0 hss (D1)
Defoliasi 6 hss (D2)
Defoliasi 12 hss ( D3)

42,62a
57,42a
51,88a

64,85a
75,95a
59,29a

72,25a
85,20a
64,85

79,65a
85,19a
79,65a

83,35a
87,05a
79,65a

83,35a
87,05a
79,65a

81,50a
85,19a
79,65a
Keterangan:
angka-angka yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung

Pada tabel 2 di atas terlihat bahwa perlakuan varietas Arumanis-143 menunjukkan persentase hidup lebih tinggi dan berbeda nyata dibanding dengan varietas Heiden pada semua umur pengamatan, tetapi tidak berbeda nyata dengan varietas Irwin, Kengsinton Apple, Arumanis-143, Golek, dan Manalagi. Hasil persentase sambung jadi varietas Arumanis-143 umur 58 HSS disajikan pada gambar.2

Gambar.2 Hasil persentase sambung jadi Arumanis-143 umur 58 HSS

4.1.3 Panjang Tunas
Kombinasi perlakuan macam varietas dan perbedaan waktu defoliasi entres memberikan pengaruh sangat nyata terhadap peubah pajang tunas pada umur pengamatan 51 dan 58 HSS. (Lampiran 5.b dan 5.c). Perlakuan macam varietas berpengaruh nyata pada umur pengamatan 16, 23, 30 37 dan 44 HSS. Akan tetapi perlakuan defoliasi entres tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap peubah panjang tunas pada semua umur pengamatan.(Lampiran 5 dan 6)
Rerata panjang tunas pada interaksi antara macam varietas dan waktu defoliasi entres disajikan tabel.
Tabel 3 Rerata panjang tunas pada pengaruh interaksi antara macam varietas dan waktu defoliasi entres.
Perlakuan Panjang Tunas (cm) umur HSS
51 58

Heiden dengan defoliasi 0 hss (V1D1)
Heiden dengan defoliasi 6 hss (V1D2)
Heiden dengan defoliasi 12 hss (V1D3)
Irwin dengan defoliasi 0 hss (V2D1)
Irwin dengan defoliasi 6 hss (V2D2)
Irwin dengan defoliasi 12 hss (V2D3)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 0 hss (V3D1)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 6 hss (V3D2)
Kengsinton Apple dengan defoliasi 12 hss (V3D3)
Arumanis-143 dengan defoliasi 0 hss (V4D1)
Arumanis-143 dengan defoliasi 6 hss (V4D2)
Arumanis-143 dengan defoliasi 12 hss (V4D3)
Golek dengan defoliasi 0 hss (V5D1)
Golek dengan defoliasi 6 hss (V5D2)
Golek dengan defoliasi 12 hss (V5D3)
Manalagi dengan defoliasi 0 hss (V6D1)
Manalagi dengan defoliasi 6 hss (V6D2)
Manalagi dengan defoliasi 12 hss (V6D3)
4,043a
6,23a
6,06a
4,00a
10,58a
6,76a
6,86a
6,10a
6,43a
8,73a
8,06a
6,00a
9,30a
23,10b
9,00a
6,00a
10,86a
24,00b
6,16a
8,16ab
13,66c
7,40ab
14,03c
7,63ab
7,10ab
7,03ab
8,10ab
10,33b
9,33ab
14,10c
15,00c
24,03d
10,10b
7,06ab
14,40c
24,36d
Ket: angka-angka yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung

Pada tabel. 3 nampak varietas Manalagi dan waktu defoliasi 12 hss menghasilkan panjang tunas yang lebih panjang dan berbeda nyata dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lain pada umur 51 dan 58, tetapi tetapi tidak berbeda nyata dibandingkan varietas Golek dengan defoliasi 6 hss. Panjang tunas varietas Manalagi dengan 12 hss umur 58 HSS disajikan pada gambar. 3

Gambar.3 Panjang tunas manalagi dengan defoliasi 12 hss umur 58 HSS
Rerata panjang tunas pada pengaruh perlakuan macam varietas disajikan dalam tabel.4

Tabel 4 Rerata panjang tunas pada pengaruh perlakuan macam varietas entres.
Perlakuan Panjang tunas (cm) umur ( HSS)
16 23 30 37 44
Macam Varietas (V):
Haiden (V1)
Irwin (V2)
Kengsinton.A (V3)
Arumanis-143 (V4)
Golek (V5)
Manalagi (V6)
0,38a
2,61c
1,02bc
4,58d
0,83a
2,45bc
1,56a
3,27a
1,53a
6,67c
3,37bc
4,05c
2,11a
4,46a
2,62a
6,33b
4,49ab
3,80a
2,85a
6,95bc
4,03a
8,58c
6,17bc
7,58c
3,42a
7,62bcd
5,39ab
9,25d
6,22ab
8,44cd
Defoliasi (D)
Defoliasi 0 hss (D1)
Defoliasi 6 hss (D2)
Defoliasi 12 hss (D3)
1,83a
2,16a
1,85a
2,73a
4,09a
3,41a
3,28a
5,02a
3,57a
5,83a
6,32a
5,85a
6,76a
6,66a
6,76a
Keterangan:
angka-angka yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung
Pada tabel 4 di atas terlihat bahwa varietas Arumanis-143 menunjukkan panjang tunas lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Heiden pada pengamatan 16 dan 44 HSS, tetapi tidak berbeda nyata dengan vareitas Manalagi, dan Irwin.

4.1.4 Diameter Tunas
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara macam perlakuan varietas dan defoliasi terhadap peubah diameter tunas. Namun jika dilihat secara terpisah perlakuan macam varietas berpengaruh sangat nyata pada semua umur kecuali pada umur 44, 51 dan 58 HSS, sedangkan pada perlakuan waktu defoliasi tidak berpengaruh nyata pada semua umur pengamatan.
(Lampiran 6 dan 7).
Rerata diameter tunas pada pengaruh perlakuan macam varietas disajikan dalam tabel.5
Tabel 5 Rerata diameter tunas pada pengaruh perlakuan macam varietas entres.
Perlakuan Diameter Tunas (mm) umur ( HSS)
16 23 30 37 44
Macam Varietas (V):
Heiden (V1)
Irwin (V2)
Kengsinton.A (V3)
Arumanis-143 (V4)
Golek (V5)
Manalagi (V6)
1.24a
2.87bc
2.88ab
3.84c
1.44a
3.84c
1.84a
3.88b
3.22b
5.28c
3.14b
4.40bc
1.96a
3.48b
3.22b
5.41c
3.17ab
4.52bc
2.31a
4.71b
4.71b
6.06b
4.34b
5.27b
2.83a
5.506b
4.65b
7.15c
4.80b
5.80b
Defoliasi (D)
Defoliasi 0 hss (D1)
Defoliasi 6 hss (D2)
Defoliasi 12 hss (D3)
2.56a
2.58a
2.30a
3.91a
3.45a
3.32a
3.97a
3.51a
3.40a
4.80a
4.73a
4.00a
5.39a
5.32a
4.66a
Keterangan:
angka-angka yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung
Tabel. 4 di atas terlihat bahwa perlakuan varietas Arumanis-143 pada umur pengamatan 44 HSS menunjukkan diameter tunas lebih besar dan berbeda nyata dibanding semua perlakuan macam varietas, sedangkan varietas Heiden pada umur pengamatan 37 dan 44 HSS menunjukkan diameter terendah dibandingkan semua perlakuan yang ada. Diameter tunas umur 44 HSS disajikan pada gambar.4

Gambar.4 Diameter tunas pada umur 44 HSS
4.1.5 Luas Daun
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara perlakuan macam varietas dan waktu defoliasi entres terhadap peubah luas daun. Akan tetapi secara terpisah perlakuan macam varietas memberikan pengaruh yang nyata pada umur pengamatan 23, 30, 37, 44, 51, dan 58 HSS. Sedangkan perlakuan defoliasi entres tidak berpengaruh nyata terhadap peubah panjang tunas pada semua umur pengamatan.(Lampiran 8 dan 9).
Rerata luas daun pada perlakuan macam varietas disajikan dalam tabel.7
Tabel 7 Rerata luas daun pada pengaruh perlakuan macam varietas entres.
Perlakuan Luas Daun (cm2) umur ( HSS)
23 30 37 44 51 58
Macam Varietas (V):
V1=Haiden (V1)
V2=Irwin (V2)
V3=Kengsinton.A (V3)
V4=Arumanis-143 (V4)
V5=Golek (V5)
V6=Manalagi (V6)
20.29a
25.62ab
24.27ab
33.53bc
36.96c
32.50bc
23.88a
28.99ab
27.67ab
36.76bc
40.66c
36.84bc
23.88a
28.99ab
27.67ab
36.76bc
40.66c
36.84bc
23.88a
28.99ab
27.67ab
36.76bc
40.66c
36.84bc
24.74a
29.77ab
28.31ab
37.55bc
41.31c
37.35bc
26.75a
32.23ab
30.62ab
39.98bc
43.42c
39.50bc
Defoliasi (D)
Defoliasi 0 hss (D1)
Defoliasi 6 hss (D2)
Defoliasi 12 hss (D3)
28.53a
29.12a
28.53a
32.49a
32.56a
32.35a
32.49a
32.55a
32.35a
32.49a
32.55a
32.35a
33.16a
33.33a
33.02a
35.30a
35.51a
35.30a

Keterangan:
angka-angka yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.
HSS : Hari setelah sambung
hss : Hari sebelum sambung

Tabel 6 diatas terlihat bahwa varietas Golek menghasilkan luas daun lebih besar dan berbeda nyata dibandingkan dengan vaietas Heiden pada semua umur pengamatan, tetapi tidak berbeda nyata dengan varietas Manalagi dan Arumanis-143 sejak umur pengamatan 16-58 HSS. Hasil luas daun varietas Manalagi umur 58 HSS disajikan pada gambar.5

Gambar.5 Luas daun manalagi saat umur 58 HSS

4.1 Pembahasan
4.2.1 Saat Muncul Tunas
Hasil analisis ragam yang dicobakan menunjukkan pengaruh yang sangat nyata pada peubah saat muncul tunas. Varietas golek yang didefoliasi saat sambung menghasilkan saat muncul paling cepat tetapi tidak berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan yang lain.
Dalam hal ini karena hasil sambungan pada varietas golek yang didefoliasi saat sambung lebih cepat membentuk sel-sel fungsional, sehingga terjadi pertautan antara batang atas dengan batang bawah yang lebih sempurna. Menurut Suseno (1968) mengemukakan bahwa defoliasi daun pada batang atas dimaksudkan untuk memecahkan dormansi tunas-tunas yang terdapat pada batang. Hal ini didukung Sudarto (2000), bahwa perlakuan defoliasi pada cabang entres dapat mendukung persentase sambung jadi dan mempercepat tumbuhnya tunas atas. Hal ini disebabkan karena ada kaitannya dengan kandungan asimilat yang terakumulasi pada cabang entres yang dirompes. Dimana akumulasi hasil asimilat dapat merangsang pembelahan, pembesaran dan deferensiasi sel, yang kemudian mendorong proses pertautan antara batang atas dan batang bawah. Sehingga unsur hara, mineral, dan air dapat berjalan dengan lancar dari batang bawah ke batang atas.
Sedangkan varietas kengsinton apple dengan defoliasi 12 hari sebelum sambung menghasilkan saat muncul tunas terlama dan berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan yang lain. Hal ini di duga waktu defoliasi entres yang terlampau lama yaitu 12 hss menyebabkan fotosintat yang tersimpan pada entres dirombak sehinga entres tersebut muncul tunas sebelum disambung. Menurut Ashari (1995), bahwa tunas atau entres yang baik untuk sambung adalah entres dalam keadaan dorman atau segera akan tumbuh.

4.2.2 Persentase Sambung Jadi
Varietas Arumanis-143 menunjukkan persentase hidup lebih tinggi dan berbeda nyata dibanding dengan varietas Heiden pada semua umur pengamatan. Hal ini diduga varietas menunjukkan kesiapan tumbuh saat itu didukung oleh keadaan entres dan batang bawah serta translokasi bahan organik dari batang bawah keentres maupun faktor lingkungan.
Menurut Hartman dan Kester (1976) keberhasilan sambungan disebabkan adanya hubungan sel-sel fungsional pada daerah sambungan yang terbentuk sehinga dapat mengalirkan air serta nutrisi dari kedua batang secara sempurna.
Sedangkan pada perlakuan defoliasi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase sambung jadi pada semua umur pengamatan. Hal ini diduga rentang waktu defoliasi entres terlampau lama, sehingga hal ini menyebabkan fotosintat yang tersimpan pada entres telah terpakai semua pada saat muncul tunas.
Menurut Supriyanto (1995) bahwa faktor-faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan sambung diantaranya adalah temperatur, kelembaban dan keadaan O2 disekitar bidang pertautan, dimana ketiga faktor inilah secara langsung berperan dalam proses pertautan antara batang atas dengan batang bawah.

4.2.2 Panjang Tunas
Varietas Manalagi dan waktu defoliasi 12 hss menghasilkan panjang tunas yang lebih panjang dan berbeda nyata dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lain pada umur 51 dan 58, tetapi tetapi tidak berbeda nyata dibandingkan varietas Golek dengan defoliasi 6 hss, hal ini diduga dipengaruhi oleh cepatnya pertautan dan tingkat kompatibilitas antara batang atas (varietas Manalagi) dan batang bawah (varietas Madu-22) yang tinggi, sehingga aliran nutrisi berjalan dengan lancar serta memudahkan aktifitas meristem apikal dapat berlangsung dengan baik dan perkembangan tunas segera terjadi. Menurut Garner dan Chaundri (1976) dalam Ifdlali (2002) mengemukakan bahwa batang atas berpengaruh kuat dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Sedangkan Wattimena (1987) yang mengemukakan bahwa tinggi tanaman sangat dipengaruhi oleh aktifitas auksin, suatu phytohormon yang berpengaruh didalam inisiasi dan pemajangan sel pucuk tanaman. Hali ini didukung oleh Abidin (1985) yang mengemukakan bahwa auksin dapat meningkatkan permeabilitas sel terhadap air, meningkatkan sintesa protein, dan pengembangan dinding sel.
Menurut Lakitan (1996) mekanisme pemanjangan batang diawali dengan sel-sel meristem batang mula-mula membesar secara radial dan setelah itu terjadi dideferensiasi. Selanjutnya terbentuk prokambium, kemudian xilem dan floem. Diferensiasi ini berlansung secara akropetal, mulai dari sel-sel yang lebih tua. Setelah dideferensiasi terjadi, sel-sel ini kemudian membesar secara longitudinal, sehingga mengakibatkan pemanjangan batang.
4.2.4 Diameter Tunas
Varietas Arumanis-143 pada umur pengamatan 44 HSS menunjukkan diameter tunas lebih besar dan berbeda nyata dibanding semua perlakuan macam varietas. Diduga varietas Arumanis-143 pada umur tersebut sudah terjadi persentuhan kambium antara batang bawah dan batang atas, yang ditandai dengan bertambahnya ukuran diameter tunas. Dan kedua sambungan memiliki kedudukan yang mantap sehingga memudahkan pertautan antara batang bawah dan batang atas. Dijelaskan oleh Rochman dan Harjadi (1973), bahwa keberhasilan sambungan dipengaruhi oleh berbagai hal, disamping batang bawah dan batang atas sendiri juga dipengaruhi oleh hubungan sel-sel fungsional pada daerah tempelan.

4.2.5 Luas Daun
Daun merupakan bagian tanaman yang berpengaruh penting terhadap fotosintesisis, dimana laju fotosintesis persatuan luas tanaman di tentukan oleh luas daun. Varietas Golek menghasilkan luas daun lebih besar dan berbeda nyata dibandingkan dengan vaietas Heiden pada semua umur pengamatan. Hal ini diduga sambungan yang telah terbentuk dengan baik, sehingga akan mempercepat transpor nutrisi, dimana nutrisi tersebut akan diubah menjadi energi dalam fotosintesis dan energi inilah yang digunakan untuk pembelahan sel-sel meristem daun sehingga luas daun menjadi meningkat. Selain energi, fotosintesis juga menghasilkan fotosintat yang kemungkinan juga ditranslokasikan untuk pelebaran luas daun. Pembagian asimilat atau fotosintat sangat penting pada masa pertumbuhan vegetatif maupun reproduksi. Pembagian selama fase vegetatif akan menentukan luas daun terakhir (Garner, F.B, Perce.Rager, 1985).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Terjadi interaksi antara macam varietas entres pada perbedaan waktu defoliasi terhadap saat muncul tunas dan panjang tunas.
2. Varietas golek dengan defoliasi saat sambung menghasilkan saat muncul tunas paling cepat yaitu 4,14 HSS. Sedangkan pada varietas manalagi dengan defoliasi 12 hari sebelum sambung menghasilkan panjang tunas lebih tinggi dibanding dengan kombinasi perlakuan lain pada umur 51 dan 58 HSS, yaitu 24 – 24,36 cm.
3. Varietas arumanis-143 menunjukkan persentase sambung jadi yang tertinggi, diameter yang lebih besar, dan diameter tunas yang lebih besar.
4. Perbedaan waktu defoliasi tidak memberikan pengaruh pada persentase sambung jadi, diameter tunas dan luas daun.

5.2 Saran
Perlu dikaji lebih lanjut pertumbuhan bibit mangga hasil defoliasi sehingga didapatkan hasil bibit yang berkualitas.

07/29/2009 Posted by | Ekologi Tumbuhan | 9 Komentar

DISTRIBUSI INDIVIDU DALAM KOMUNITAS

I. PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang

Segi keanekaragaman hayati, posisi geografis Indonesia sangat menguntungkan. Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau, berada di antara dua benua, yaitu Asia dan Australia, serta terletak di khatulistiwa. Dengan posisi seperti ini, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan keaneka-ragaman hayati terbesar di dunia. Keanekaragaman hayati Indonesia tersebar di berbagai tempat. Menurut Dr. Sampurno Kadarsan, ahli botani Indonesia, flora Indonesia termasuk dalam kawasan Malesiana. Kawasan Malesiana terdiri dari Indonesia, Filipina, Semenanjung Malaya, dan Papua Nugini. Kawasan ini dibatasi oleh tiga simpul demarkasi yang masing-masing terletak di Selat Torres di bagian selatan Jazirah Kra (Thailand) di bagian barat, dan di ujung utara pulau Luzon (Filipina) (Ifhendri, 2001).

Keanekaragaman hayati ditunjukkan dengan adanya variasi makhluk hidup yang meliputi bentuk, penampilan, jumlah, serta ciri lain. Keanekaragaman hayati merupakan ungkapan pernyataan terdapatnya berbagai maacam variasi bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan makhluk hidup, yaitu tingkatan genetik, tingkatan spesies, dan tingkatan ekosistem. Keanekaragaman hayati menurut UU No. 5 tahun 1994 adalah keanekaragaman di antara makhluk hidup dari semua sumber termasuk di antaranya daratan, lautan, dan ekosistem akuatik lain, serta kompleks ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragamannya, mencakup keanekaragaman dalam spesies, dan antara spesies dengan ekosistem (Adianto, 2007).

1.2 Rumusan Masalah

Adapun masalah yang di temukan dalam praktikum ini adalah seberapa besar density, frekuensi, indeks nilai penting serta indeks morisita pada suatu area?

1.3 Tujuan

Tujuan dalam praktikum ini adalah untuk memahami serta mengetahui density, frekuensi, indeks nilai penting serta indeks morisitas seberapa pada suatu area terutama di sekitar kampus III UMM.

DATA PENGAMATAN

DATA

T1

T2

1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

Jambu biji

2

1

0

0

1

0

0

0

0

0

Rumput

7

3

10

5

7

5

1

3

0

1

Jambu air

1

0

0

0

1

0

0

0

0

0

Cabe

1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Anggrek

3

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Duwet

0

0

1

1

0

1

0

0

0

6

Krokot

0

0

0

0

5

2

2

1

0

0

L total= 1x1x5x2= 10

Density

  1. D Jambu air = 4/10= 0,4

D Rumput = 42/10= 4,2

D Jambu air = 2/10= 0,2

D Cabe = 1/10= 0,1

D Anggrek = 3/10= 0,3

D Duwet = 9/10= 0,9

D Krokot = 10/10= 1

Total D = 7,1

  1. RD Jambu biji= 0,4/7,1= 0,056

RD Rumput= 4,2/7,1= 0,59

RD Jambu air= 0,2/7,1= 0,028

RD Cabe= 0,1/7,1= 0,014

RD Anggrek= 0,3/7,1= 0,042

RD Duwet= 0,9/7,1= 0,126

RD Krokot= 1/7,1= 0,14

  1. F Jambu biji= 3/10= 0,3

F Rumput= 9/10= 0,9

F Jambu air= 2/10= 0,2

F Cabe= 1/10= 0,1

F Anggrek= 1/10= 0,1

F Duwet= 4/10= 0,4

F Krokot= 4/10= 0,4

Total F = 2,4

  1. Rf Jambu biji= 0,3/2,4= 0,125

Rf Rumput= 0,9/2,4= 0,375

Rf Jambu air= 0,2/2,4= 0,083

Rf Cabe= 0,1/2,4= 0,04

Rf Anggrek= 0,1/2,4= 0,04

Rf Duwet= 0,4/2,4= 0,16

Rf Krokot= 0,4/2,4= 0,16

Indeks Nilai Penting

IV= RD+RF

IV Jambu biji= 0,056+0,125= 0,181

IV Rumput= 0,59+0,375= 0,965

IV Jambu air= 0,028+0,083= 0,111

IV Cabe= 0,014+0,04= 0,054

IV Anggrek= 0,042+0,04= 0,082

IV Duwet= 0,126+0,16= 0,286

IV Krokot= 0,14+0,16= 0,30

TINJAUAN PUSTAKA

Kepadatan Dan Biomasa

Kepadatan populasi diestimasi berdasarkan jumlah tanaman di setiap segmen transek berukuran berukuran 10 m × 2 m untuk setiap transek (Krebs, 1989). Kepadatan populasi total diperoleh dengan mengkonversi nilai kepadatan tanaman di setiap transek ke dalam satuan luasan hektar untuk memperoleh kepadatan tanaman per lokasi pencuplikan. Biomassa tanaman ditentukan berdasarkan berat total individu anggota populasi tanaman, jumlah individu per lokasi, dan kepadatan tanaman (Brower., 1990).

Pola Distribusi

Distribusi spasial tanaman diestimasi berdasarkan jumlah tanaman yang terdapat di setiap segmen transek berukuran 10 m × 2 m. Pola distribusi tanaman secara spasial ditentukan menggunakan indeks dispersi Morisita yang distandarisasi (Ip) pada selang kepercayaan 95%. Nilai standarisasi indeks sebaran Morisita (Ip) berkisar antara–1,0 sampai 1,0. Bila nilai Ip sama dengan nol maka pola distribusinya acak, dan bila nilai Ip lebih besar dari nol maka pola distribusinya mengelompok, sementara bila nilai Ip kurang dari nol maka pola distribusinya seragam (Krebs, 1989).

Index Shanon Wiener

Indeks ini adalah bahwa individu secara acak dari sampel yang terbatas penduduk dan semua spesies yang terwakili dalam sampel. Nilai yang biasanya ditemukan untuk jatuh antara 1,5 dan 3,5, jarang melebihi 4.5 (Magurran, 1988)

Index Morisita

Indeks ini mengukur kesamaan antara dua masyarakat, yang paling mudah diartikan sebagai sebuah kemungkinan. Ini bervariasi dari 0 (tidak ada kesamaan) untuk 1 (lengkap kesamaan). Ini adalah nearly hampir independen dari ukuran sampel, kecuali untuk sampel sangat kecil (Krebs 1999).

Pola Penyebaran Individu

Penyebaran adalah pola tata ruang individu yang satu relative terhadap yang lain dalam populasi. Penyebaran atau distribusi individu dalam satu populasi bias bermacam – macam, pada umumnya memperlihatkan tiga pola penyebaran, yaitu : enyebaran secara acak, penyebaran secara merata, dan penyebaran berkelompok (Rahardjanto, 2001)

Penyebaran secara teratur (regular dispersion) dengan individu – individu yang kurang lebih berjarak sama satu dengan yang lain, jarang terdapat di alam, tetapi umumnya di dalam suatu ekosistem yang dikelola, dan disini tanaman atau pohon memang sengaja datur seperti itu yaitu jarak yang sama untuk menghasilkan produk yang optimal (Setiono, 1999).

Penyebaran acak (random dispersion) juga sangat jarang terjadi dialam. Penyebaran semacam ini biasanya terjadi apabila factor lingkunganya sangat seragam unuk seluruh daerah dimana populasi berada, selain itu tidak ada sifat – sifat untuk berkelompok dai organisme tersebut,, dalam tumbuhan ada bentuk – bentuk organ tertentu yang menunjang untuk terjadinya pengelompokan tumbuhan (Azhari, 2007).

Penyebaran secara merata, umum terdapat padaa tumbuhan. Penyebaran seacam ini terjadi apabila adapersaingan yang kuat diantara individu – individu dalam populasi tersebut. Pada tumuhan misalnya untuk mendapatkan nutrisi dan ruang (Lestari, 2001).

Penyebaran secara berkelompok (clumped dispersion) dengan individu – individu yang bergerombol dalam kelompok – kelompok adalah yang paling umum terdapat dialam, terutama untuk hewan (Hastuti, 2007).

Beberapa langkah-langkah standar yang berlimpahnya relatif dan mutlak digunakan untuk menilai kontribusi masing-masing jenis ke masyarakat (Barbour. 1999). Langkah-langkah ini meliputi: kepadatan, jumlah individu dalam satu kawasan yang dipilih (misalnya, m 2 hektar); kepadatan relatif, kepadatan dari satu spesies sebagai persentase dari total kepadatan; frekuensi, persentase dari total quadrats atau poin yang berisi di setidaknya satu individu suatu spesies; frekuensi relatif, frekuensi satu spesies sebagai persentase dari total frekuensi; dominasi, total dr dasarnya kawasan tertentu spesies per unit area di dalam masyarakat; dominasi relatif, yang dominasi dari satu spesies sebagai persentase dari total dominasi; dan pentingnya, dinyatakan sebagai kontribusi relatif dari spesies ke seluruh masyarakat dinyatakan sebagai kombinasi dari kepadatan relatif, frekuensi relatif, dominasi dan relatif (Delvian, 2006).

Individu dari spesies dapat secara acak di seluruh masyarakat (yakni, lokasi satu individu suatu spesies tidak memiliki hubungan dengan lokasi dari individu lain yang spesies). Individu dari spesies lain mungkin satu per satu secara teratur dan didistribusikan di seluruh masyarakat (contoh yang ekstrim adalah seragam dari kebun buah pohon jarak), sementara individu dari spesies lain masih dapat clumped (yakni, kehadiran satu individu suatu spesies meningkat kemungkinan untuk menemukan orang lain dari spesies yang dekat). Dengan demikian, ecologists mengenali tiga pola distribusi utama: (1) acak, (2) reguler (seragam) atau hyperdispersed, dan (3) clumped (gabungan) atau underdispersed (Barbour 1999).

Terdapat sejumlah alasan mengapa tanaman menunjukkan clumped distro. Banyak tanaman sangat clonal (yaitu, mereka dapat menyebarkan vegetatif dengan cara yang tidak goldenrods dan aspens) sekali sehingga membentuk pembibitan di sebuah situs, tanaman menyebar ke berbagai produk, spatially dipisahkan (tetapi secara genetis identik), aboveground batang. Selain itu, lingkungan gradients yang lazim di alam sehingga sebuah situs yang baik untuk satu individu dari spesies yang diberikan akan lebih baik untuk individu lain yang spesies. Namun ada kekuatan di alam yang menghalangi clumping (Ribery, 2002). Kompetisi antar individu untuk air di pasir atau cahaya di hutan dapat nikmat jarak biasa. Demikian pula tanaman yang clumped akan lebih ditemukan oleh mereka herbivores atau patogen (Barbour. 1999).

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil paktikum diketahui bahwa density atau kepadatan yang tertinggi didiapatkan oleh rumput, dan kepadatan terendah di dapatkan oleh tanaman cabe, begitu juga dengan nilai RD, frekuensi (F), Rf, dan indeks Nilai Penting nilai tertinggi didapatkan oleh rumput sedangkan nilai terendah didapatka oleh tanaman cabe. Dari hasil praktikum diatas dapat diketahui bahwa rumput merupakan tumbuhan yang mempunyai kepadatan tertinggi sehingga dapat diketahui bahwa rumput mendominasi ekosistem tanaman yang berada di sekitar area UMM terutama samping perpustakaan kampus III UMM yang dijadikan sebagai lokasi tempat penelitian. Sedangkan cabe merupakan tanaman yang mempunyai kepadatan terendah sehingga dapat diketahui bahwa cabe merupakan tanaman yang paling jarang ditemuka pada ekosistem tanaman yang berada di sekitar area UMM terutama samping perpustakaan kampus III UMM yang dijadikan sebagai lokasi tempat penelitian.

KESIMPULAN

Dari data pengamatan dan pembahasan diatas maka dapa diambil kesimpulan bahwa :

  1. Rumput merupakan tumbuhan yang mendominasi kampus III UMM terutama samping perpustakaan yang dijadikan tempat penelitian hal ini ditinjukan dengan nilai D, RD, F, Rf dan indeks nilai penting yang menunjukan angka tertinggi.

  2. Tanaman cabe merupakan tumbuhan yang paling jarang ditemukan di kampus III UMM terutama samping perpustakaan yang dijadikan tempat penelitian hal ini ditinjukan dengan nilai D, RD, F, Rf dan indeks nilai penting yang menunjukan angka terendah.

DAFTAR PUSTAKA

Adianto. 2007. Kepadatan, Biomassa, Dan Pola Distribusi Keong Lola (Trochus Niloticus) Di Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Jurnal Peneitian Hayati Vol 5 No 12 Hal 73 – 78, 2007.

Azhari, Siti. 2007. Bencana Air Karena Salah Urus. Jurnal Sosioteknologi Edisi 10 Tahun 6, April 2007.

Barbour, M.G. 1999. Terrestrial Plant Ecology. B. Cumings. California

Delvian. 2006. Siklus Hara, Faktor Penting Bagi Pertumbuhan Pohon Dalam Pengembangan Hutan Tanaman Industri. Jurnal Ilmu Pertanian USU Volume 5 No 15, 2006. Hal 145 – 163.

Hastuti, Liliana. 2007. Asal – Usul Domestikasi Dalam Latar Belakang Ekologi. Jurnal Ilmu Pertanian USU Volume 2 no 7, 2007. Hal 34 – 47.

Ifhendri. 2007. Pengaruh pembuangan limbah tambak udangTerhadap densitas dan pola distribusi larva dan Juvenil ikan di muara sungai bogowonto Kabupaten kulon progo. Jurnal Sains dan Teknologi Vol 1 No 3 Hal 12 – 29 Th, 2007.

Krebs, S.J. 1989. Ekofarming. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Lestari, P. 2001. Fraksional POOL Bahan Organik Tanah Labil Pada Lahan Hutan dan Lahan Deforestasi. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia Volume 3 No 2, 2001. Hal 75 – 83.

Margian, Wolf. 1988. General Ecology. Saunders College Pub. New York.

Riberu, Paskalis. 2002. Pembelajaran Ekologi. Jurnal Pendidikan Penabur – No.01 / Th.I / Maret 2002.

Setiono, Djoko. 1999. Keberadaan Taman Nasional Baluran Terancam Acacia Nilotica (Akasia Duri). Jurnal Nasional Taman Baluran Vol 5 No 14, 1999. Hal 45 – 58.

01/30/2009 Posted by | Ekologi Tumbuhan | 4 Komentar

ATMOSFER DAN BIOTIKA


Atmosfer

Definisi

Atmosfer berasal dari kata yunani yaitu atmos berarti uap dan  sphaira  berarti bulatan. Jadi atmosfer adalah lapisan gas yang menyelubungi bulatan bumi. Ilmu yang mempelajari atmosfer bumi dan gejala-gejala cuaca yang terjadi didalamnya disebut metereologi. Cuaca adalah keadaan atmosfer pada suatu saat, sedang purata dari cuaca dari periode yang pajang disebut iklim. Ilmu yang mempelajari macam-macam ilmu dimuka bumi dan faktor-faktor yang menentukannya disebut klimatologi. Seperti halnya meterologi, klimatologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang atmosfer. Meteorologi mempelajari proses-proses cuaca dilapisan atmosfer bawah (lapisan trofosfer), sedangkan klimatologi terutama mempelajari hasil proses-proses cuaca tersebut. Klimatologi berasal dari dua kata yunani yaitu klima diartikan sebagai kemiringan (slope) bumi yang menunjukan pengertian lintang tempat, dan logos diartiakan sebagai ilmu pengetahuan.
Mikroklimotologi ialah ilmu yang mempelajari iklim mikro atau iklim dalam ruang yang kecil. Iklim mikro dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:
a.    Tumbuh tumbuhan: hutan,rawa.
b.    Bentuk tanah: cekung,cembung,danau.
c.    Aktivitas manusia: industri, pabrik, kota.
Pada masa lampau iklim telah berubah, sekarang juga sudah berubah dan diperkirakan akan berubah pada masa mendatang. Hal ini dikaitkan dengan dampak aktivitas manusia pada lingkungan.

Komposisi Atmosfer Bumi

Atmosfer penting bagi kehidupan karena tanpa atmosfer, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan tidak dapat hidup. Atmosfer juga bertindak sebagai pelindung kehidupan di bumi dari radiasi matahari yang kuat pada siang hari dan mencegah hilangnya panas keruang angkasa pada malam hari. Sebagian meteor-meteor yang melalui atmosfer akan menjadi panas dan hancur sebelum mencapai permukaan bumi. Atmosfer dapat bersifat kompresibel (dapat dimampatkan), sehingga lapisan atmosfer bahwa lebih padat dari pada lapisan diatasnya, akibatnya tekanan udara berkurang dengan ketinggian. Massa total atmosfer sekitar 56 X 1014 ton, setengah dari massanya kira-kira terletak dibawah 6.000 m dan lebih dari 99% terletak di dalam 35.000 m dari permukaan bumi.
Lapisan atmosfer merupakan campuran dari gas-gas yang tidak tampak dan tidak berwarna. Empat gas yaitu oksigen, nitrogen, argon dan karbon dioksida meliputi hampir 100% dari volume udara kering. Gas lain seperti neon, Helium, Methane, Krypton, Hydrogen, Xenon dan kurang stabil termasuk Ozone dan Radon juga terdapat d I atmosfer dalam jumlah yang sangat kecil.
Manusia dapat bertahan sampai satu hari tanpa air di daerah gurun yang paling panas, tetapi tanpa udara manusia hanya bertahan beberapa menit saja. Jadi Anda tentu bisa menyimpulkan sendiri betapa pentingnya udara bagi kehidupan di bumi. Karena tanpa udara, maka manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan tidak dapat hidup. Udara untuk kehidupan sehari-hari terdapat di atmosfer. Atmosfer juga berfungsi sebagai payung atau pelindung kehidupan di bumi dari radiasi matahari yang kuat pada siang hari dan mencegah hilangnya panas ke ruang angkasa pada malam hari. Atmosfer juga merupakan penghambat bagi benda-benda angkasa yang bergerak melaluinya sehingga sebagian meteor yang melalui atmosfer akan menjadi panas dan hancur sebelum mencapai permukaan bumi. Lapisan atmosfer merupakan campuran dari gas yang tidak tampak dan tidak berwarna. Empat gas utama dalam udara kering meliputi
Tabel 1.1 gas utama dalam udara kering

Macam gas    Volume %    Massa %
Nitrogen (N2)

Oksigen (O2)

Argon (Ar)

Karbon dioksida (CO2)    78,088
20,049
0,930
0,030    75,527
23,143

1,282
0,045

Total Keseluruhan    99,097    99,097

Selain udara kering, lapisan atmosfer mengandung air dalam ketiga fasenya dalam bentuk cair, padat atau es, gas atau uap, dan partikel padat atau cair yang mengapung di atmosfer yang disebut aerosol atmosfer. Karena itu, uadara kering yang murni di alam tidak pernah dijumpai, karena dua alasan yaitu adanya uap air di udara yang jumlahnya berubah-ubah dan selalu ada pengotoran di dalam udara, misalnya debu. Udara semacam ini disebut udara alam.
Oksigen (O2) sangat penting bagi kehidupan yaitu untuk mengubah makanan menjadi energi hidup. Oksigen dapat bergabung dengan unsure kimia lain dan dibutuhkan pembakaran. Karbon dioksida (CO2) dihasilkan dari pembakaran bahan bakar, pernafasan manusia dan hewan kemudian dibutuhkan oleh tanaman.karbon dioksida merupakan salah satu senyawa kimia udara yang terdiri dari satu bagian karbon dan dua bagian oksigen. Karbon dioksida menyebabkan efek rumah kaca (greenhouse) yaitu transparan pada radiasi gelombang pendek dan menyerap radiasi gelombang panjang. Dengan demikian konsentrasi CO2 di dalam atmosfer akan menyebabkan kenaikan temperature permukaan bumi.
Nitrogen (N2) terdapat diudara dalam jumlah paling banyak yaitu meliputi 78 bagian. Nitrogen tidak langsung bergabung dengan unsur lain,tetapi pada hakikatnya penting karena nitrogen merupakan bagian senyawa organik.
Neon, argon, xenon, dan krypton disebut gas mulia, karena tidak mudah dengan unsur lain. Meskipun gas ini kurang penting diatmosfer, namun non biasanya digunakan untuk reklame da argon digunkan untuk bola lampu listrik.
Helium dan hydrogen sanat jarang diudara kecuali pada paras yang tinggi. Gas ini adalah paling ringan dan sering balon metereologi.
Ozone adalah gas yang sangat aktif dan merupakan bentuk lain dari oksigen. Gas ini terdapat terutma pada ketinggingan 20 dn 30 km. ozone dapat menyerap radiasi ultra violet yang mempunyai energy besar dan berbahaya bagi tubuh manusia.
Uap air (H2O) sangat penting dalam cuaca atau iklim, karena dapat berubah fase (wujud) menjadi fase cair atau fase padat melalui kondensasi dan deposisi.perubahan fase air memainkan peranan penting dalam fisika awan. Perubahan fase air yang mungkin, dapat dilukiskan pada gambar 1.1. Uap air merupakan senyawa kimia udara dalam jumlah besar yang tersusun daru dua bagian hidrogen dan satu bagian oksigen.uap air terdapat di atmosfer sebagai hasil penguapan dari laut, danau, kolam, sungai dan transpirasi tanaman.
Gambar 1.1 : perubahan fasa air.
Atmosfer selalu dikotori oleh debu. Debu ialah istilah yang dipakai untuk benda – benda yang sangat kecil sehingga sebagian tidak tampak kecuali dengan mikroskop. Jumlah debu berubah – ubah bergantung pada tempat. Dipegunungan,jumlah debu hanya beberapa ratus partikel tiap cm3. Tetapi di kota – kota besar, daerah industry dan daerah kering, jumlah debu dapat mencapai 5 juta partikel tiap cm3. Konsentrasi debu pada umumnya berkurang dengan ketinggian, meskipun debu meteoric dapat dapat di jumpai pada lapisan atmosfer atas. Sumber debu beraneka ragam yaitu asap, abu vulkanik, pembakaran bahan bakar, kebakaran hutan, bakteri, spora, tepung dan serbuk dari tanah yang terhembus ke atas, partikel garam yang masuk ke dalam atmosferdari percikan air laut, dsb. Partikel debu yang bersifat higroskopis akan bertindak sebagai inti kondensasi. Debu higroskopis yang penting ialah partikel garam, asap batu bara atau arang. Kabas (smog) singkatan dari kabut dan asap (smoke dan fog) adalah kabut tebal yang sering di jumpai pada industri yang disebabkan banyaknya kondensasi. Debu dapat menyerap, memantulkan dan menghamburkan radiasi yang datar. Debu atmosferik dapat tersapu turun ke permukaan bumi oleh curah hujan, tetapi kemudian atmosfer dapat terisi partikel debu kembali
3. Struktur Vertikal Atmosfer Bumi
Jika temperature dipakai dasar pembagian atmosfer, maka di jumpai troposfer, stratosfer, mesosfer dan termosfer, lihat gambar 1.2. lapisan troposfer dan stratosfer di pisahkan oleh lapisan tropopause. Lapisan stratosfer dan mesosfer di batasi oleh lapisan stratopouse dan batas antara lapisan mesosfer dan termosfer disebut lapisan mesopouse.

Gambar 1.2: pembagian lapisan atmosfer berdasarkan temperatur
Gejala cuaca (awan dan hujan) terjadi dilapisan troposfer. Pada troposfer terdapat penurunan temperature disebabkan troposfer sangat sedikit menyerap radiasi gelombang pendek dari matahari, sebaiknya permukaan tanah memberikan panas pada lapisan troposfer yang terletak diatasnya melalui konduksi, konveksi dan panas laten kondensasi yang dilapaskan oleh uap air atmosferik. Pertuakaran panas banyak terjadi pada troposfer bawah, karena itu tempertur turun dengan ketinggian mulai dari permukaan tanah. Penurunan temperatu bergabtung pada situasi meteorologik dan nilai antara 0,50C dan 10C tiap 100 m dengan nilai purata 0,650C tiap 100 m.
Udara troposfer atas sangat dingin dengan demikian lebih berat di bandingkan dengan udara diatas tropopause sehingg udara troposfer tidak dapat menembus tropopause. Ketinggian tropopause lebih besar dari daerah ekuator. Diekuator, tropopause terletak pada ketinggian 18 km dengan temperature -800 C, sedangkan kutup tropopause hanya mencapai ketinggian 6 km dengan tempertur berorde -40oC. karena tropopause lebih tinggi di ekuator dari pada di kutup maka stratosfer lebih tipis di ekuator dari pada di kutub, lihat gambar 1.3.

Gambar 1.3: tropopause dalam bidang meridian.
Kedudukan troposfer kadang – kadang sulit di tentukan. Ada definisi untuk ditentukan. Ada definisi untuk menentukan tinggi tropopause misalnya:
a.    Jika lapisan stratosfer di awali perubahan mendadak dari penurunan temperature menjadi kenaikan temperature maka tinggi tropopause adalah tinggi dari dasar temperature.
b.    Jika ada perubahan mendadak ke penurunan temperature yang kurang dari 20K/Km maka tinggi tropopause adalah tinggi dari dari perubahan mendadak tersebut.
Devenisi diatas adalah kompleks, kadang-kadang mengharuskan lebih dari satu tropopause dan biasanya disebut tropopause ganda. Tropopause yang lebih tinggi di tandai dengan suhu yang lebih dingin. Pernyataan ini dapat ditunjukkan pada table 1.2.
Table : tinggi tropopause dan tenperatur tropopause purata pada bulan januari dan juli 1979, stasion kemayoran Jakarta.
Lapisan atmosfer diatas tropopause disebut stratosfer. Kenaikan temperature pada lapisan stotosfer disebabkan oleh lapisan ozonosfer yang menyerap radiasi ultraviolet dari matahari. Stratosfer merupakan lapisan inversi sihingga pertukaran antara stratosver dan trofosfer melalui tropopause sangat kecil. Bagian atas stratosfer dibatasi oleh permukaan diskontinuitas temperatu yang disebut stratopause. Stratopause terletak pada ketinggian 60 km denagan temperature berode  00C.
Lapisan diatas stratopause disebut Mesosfer yang terletak dari ketinggian 60 sampai 85 km lapisan mesosfer ditandai dengan penurunan temperatur 0,40C setiap 100 m karena mesofer mempunyai radiasi negative. Bagian atas mesosfer di batasi oleh mesopause, mesopause terletak pada ketinggian 85 km.
Diatas mesopause terdapat lapisan termosfer terletak antara 85 dan 300 km yang di tandai dengan kenaikan temperature -1000 C sampai ratusan bahkan ribuan derajat, lihat gambar 1.4. bagian atas lapisan atas atmosfer di batasi oleh lapisan tremopause yang meluas dari ketinggian 300 km sampai rumbai – rumbai bumi yaitu 1000 km.
Temperature tropopause adalah konstan terhadap ketinggian tetapi berubah dengan waktu yaitu dengan isolasi (incoming solar radiation). Temperature malam hari berkisar 300 – 10000C dan pada siang hari 700 – 17000C. densitas termopause sangat kecil kira-kira 10-13 kali densitas atmosfer permukaan tanah.

ANGIN
Angin merupakan pergerakan udara dan timbul akibat pemanasan yang tetap dari udara dalam hubungannya dengan permukaan bumi, serat perputaran bumi pada porosnya (Skith, 1974).
Udara panas menjadi lebih ringan dan naik keatas akibat tekanan yang rendah. Keadaan ini akan segera dig anti oleh udara dingin dan berat yang bertekanan tinggi. Pergerakan mendatar dari bagian udara yang dingin ini yang menggantikan masa udara yang lebih panas disebut angin. Dalam hal ini angin akan menserkulasi oksigen, karbon dioksida, dan uap air.
Secara umum angin berfungsi dalam mengangkut udara dingin atau hangat, menggerakkan awan dank abut, mencampurkan udara sehingga perubahan suhu tidak terlalu mencolok. Dan mempengaruhi tumbuhan secara langsung maupun tidak langsung.
Pengaruh angin secara langsung bagi tumbuhan
Angin yang kuat mungkin membatasi pertumbukan tanaman dan mengakibatkan kerusakan fisik. Bentuk yang tidak normal dari struktur tumbuhan akibat angin sering terjadi pada tempat – tempat terbuka diperbukitan, pegunungan pada daerah gegernya dan juga dipedataran.
Di daerah garis lintang menengah dan tinggi, kombinasi angin dengan kebekuan akan menyebabkan penumpukan es pada tumbuhan yang akan mengakibatkan rusak sampai runtuhnya tumbuhan tadi.
Di daerah pantai, kombinasi angin dan partikel garam akan membatasi pertumbuhan berbagai jenis tumbuhan yang tidak tahap terhadap silinitas yang tinggi
Pengaruh angin tidak langsung pada tumbuhan
Angin mempengaruhi transpirasi dengan bergeraknya uap air dari sekitar tumbuhan, sehingga memberikan kesempatan terjadinya penguapan lebih lanjut. Situasi ini merupakan tekanan yang kuat bagi keseimbangan air, meskipun jumlah air dalam tanah cukup banyak. Pertumbuhan vertical akan terbatas sesuai dengan kemampuan mengisap dan mentransformasi air ke atas untuk mengimbangi transpirasi yang cepat, hasilnya mungkin akan membentuk tumbuhan yang kerdil.
Penahan angin
Untuk mengatasi pengaruh dari angin yang merusak tadi, sering dilakukan penahanan angin oleh deretan pohon sebagai windbreak atau shertelbelt. Deretan pohon ini berfungsi dalam  mengurangi kecepatn angin dan membantu kelembapan tanah. Secara umum penahan angin ini akanmereduksi tranpirasi dan evaporasi dll. Evek dari penahanan angin tergantung pada jalur hijau dan kerapatan.
Penyerbukan angin
Tepung sari yang akan ditiup angin akan menybar kemanamana dan tidak teratur dengan demikian penyerbukan ini kurang efisien dan kemungkinan jatuhnya tepung sari pada stigma yang sejenis rendah kemungkinan/peluangnya. Biasanya untuk mengimbangi hal ini, jumlah tepung sari yang dihasilkan untuk diterbangkan angin sangat banyak. Di ala mini ternyata banyak tumbuhan dalam proses penyerbukannya memakai angin sebagai medium, terutama Coniferae, Poales, Ranales, Glumiferae, dan Amantiferae.
Ciri-ciri morfologi tumbuhan yang teradaptasi untuk penyerbukan angin, misalnya:
1.    Bunga yang kecil dengan perhiasan bunga kurang baik pertumbuhannya.
2.    Stamen panjang dan stigma berbulu serta terbuka letaknya.
3.    Bunga biasanya uniseksual dan sering terletak pada bagian atas dari tumbuhan sehingga tidak terhalang.
4.    Tepung sari kering dan ringan serta jumlahnya yang banyak sekali dan kadang-kadang mengandung semacam zat perekat pada bagian eksinnya.

Fungsi Angin :
1.    Mengangkut udara dingin atau hangat
2.    Menggerakan awan dan kabut
3.    Mencampurkan udara sehingga perubahan suhu tidak terlalu mencolok
4.    Mempengaruhi tumbuhan secara langsung ataupun tidak langsung
Faktor Terjadinya Angin
Faktor terjadinya angin, yaitu : Gradien Barometris, letak tempat tersebut, ketinggian tempat tersebut, dan waktu.

  • Gradien Barometris

Bilangan yang menunjukkan perbedaan tekanan udara dari 2 isobar yang jaraknya 111 km. Makin besar gradien barometrisnya angin semakin cepat.

  • Letak Tempat

kecepatan angin di dekat khatulistiwa lebih cepat dari lainnya. Sebaliknya yang jauh dari garis khatulistiwa lebih lambat.

  • Tinggi Tempat

Semakin tinggi tempat, semakin kencang pula angin yang bertiup

  • Waktu

Di siang hari angin bergerak lebih cepat daripada di malam hari
Pengaruh angin secara langsung bagi tumbuhan
1.    Daerah Garis lintang menengah dan tinggi
Kombinaasi angin dengan kebekuan akan menyebabkan penumpukan es pada tumbuhan yang akan mengakibatkan rusak sampai runtuhnya tumbuhan tadi
2.    Daerah pantai
Kombinasi angin dan partikel garam akan membatasi pertumbuhan berbagai jenis tumbuhan yang tidak tahan terhadap silinitas yang tinggi.
3.    Daerah perbukitan, pergunungan, daratan
Angin yang kuat membatasi pertumbuhan tanaman dan menyebabkan kerusakan fisik. Bentuk yang tidak normal dan st ruktur tumbuhan akibat angin sering terjadi.
Pengaruh angin tidak langsung bagi tumbuhan
Angin mempengaruhi transpirasi dengan bergeraknya uap air dari sekitar tumbuhan, sehingga memberikan kesempatan terjadinya penguapan lebih lanjut. Situasi ini merupakan tekanan yang kuat bagi keseimbangan air, meskipun jumlah air dalam tanah cukup banyak. Pertumbuhan vertikal akan terbatas sesuai dengan kemampuan menghisap dan mentransformasikan air ke atas untuk mengimbangi traspirasi yang cepat, hasilnya mungkin akan membentuk tumbuhan yang kerdil.
Penahan Angin
Untuk mengatasi pengaruh dari angin yang merusak, sering dilakukan oleh penahanan angin oleh deretan pohon sebagai jalur hijau atau berfungsi sebagai Windbreak atau Shertelbelt.
Deretan pohon ini berfungsi dalam mengurangi kecepatan angin dan membantu menjaga kelembapan tanah. Secara umum angin ini akan mereduksi transpirasi dan evaporasi, mengurangi kerusakan oleh angin, dan mengurangi perpindahan tanah yang terangkut oleh angin. Efektifitas dari penahanan angin ini tergantung dari sistem penanaman jalur hijau dan kerapatannya.
Secara Umum Fungsi Penahan Angin secara langsung dalam bidang pertanian adalah :

  • Mengurangi stres pada tanaman sehingga meningkatkan pertumbuhan tanaman.
  • Mengurangi kerusakan tanaman yang disebabkan oleh angin.
  • Mengurangi erosi.
  • Mengurangi penguapan air dari tanaman dan tanah sehingga akan menghemat air.
  • Menstabilkan suhu dalam tanah; tanah tidak akan terlalu panas atau terlalu dingin. Suhu yang stabil baik bagi kesehatan akar tanaman dan hewan dalam tanah.

Secara Umum Fungsi Penahan Angin secara langsung dalam bidang pertanian adalah :

  • Mengurangi stres pada tanaman sehingga meningkatkan pertumbuhan tanaman.
  • Mengurangi kerusakan tanaman yang disebabkan oleh angin.
  • Mengurangi erosi.
  • Mengurangi penguapan air dari tanaman dan tanah sehingga akan menghemat air.
  • Menstabilkan suhu dalam tanah; tanah tidak akan terlalu panas atau terlalu dingin. Suhu yang stabil baik bagi kesehatan akar tanaman dan hewan dalam tanah.

Contoh Tumbuhan yang Digunakan Untuk Penahan Angin

Penyebaran Biji Oleh Angin
Angin merupakan medium yang baik untuk penyebaran migrula tumbuhan, dan merpakan proses yang efisen. Karena angin membawa migula sampai jarak yang jauh, maka secara ekologi merupakan factor yang penting. Dalam penyebaran melalui angin tumbuhan melakukan adaptasi morfologi.
1). Ukuran biji sangat kecil biji yang kecil dan ringan mudah disebarkan oleh angin. Misalnya ericeciae.
2). Biji berkomosa permukaan biji diperluas dengan adanya bulu-bulu yang hampir tidak menambah berat. Dengan demikian mudah dibawa oleh angin, cara ini lebih baik dibandinkan cara yang tadi.
Contohnya: salicaceae.
3). Biji bersayap, banyak tumbuhan dengan biji dengan sayap dan dapat mempengaruhi kecepatan untuk terbawa angin sehingga penyebarannya dapat menjangkau secara luas.
Contohnya: aceraceae.
4). Buah bersayap, misalnya pterocarus
5). Biji bergantung, biji tertutupi oleh stuktur yang pipih sehingga dapat berguling di tanah.
Contoh: pedaliaceae.
6). Stuktur khusus seperti pada spinifex littoralis, karangan bungan yang masak lepas dan mengglundung terbawa angin sambil menghamburkan biji yang telah masak

Dalam usaha penyebaran biji oleh angin ini berbagai bentuk adaptasi morfologi dilakukan oleh tumbuhan, misalnya:
1.    Ukuran biji sangat kecil         Orchidaceae, dan Ericeae
2.    Biji berkomosa         Salicaceae, Aspleciadaceae
3.    Biji bersayap       Aceraceae, Pinaceae, Bignoniaceae
4.    Buah bersayap        Dipterocarpaceae, Pterocarpus
5.    Biji berkantung       Chenopodiaceae, Pedaliaceae
6.    Struktur khusus       Spinifex littoralis

Faktor Biotik
Faktor biotik adalah semua komponen hidup dari suatu ekosistem, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan yang dapat mempengaruhi masyarakat tumbuhan baik secara langsung maupun tidak langsung.
1.    Beberapa bentuk hubungan antara tumbuhan
a.    Kompetisi
Merupakan hasil dari persaingan antara individu lainnya dalam hal pemenuhan kebutuhan akan nutrisi, air, cahaya, ruang, dan sebagainya. Jadi kompetisi akan timbul apabila individu tumbuhan mempunyai daur hidup akankeperluan lingkungan yang sama dengan individu-individu lainnya, baik untuk jenis yang sama maupun untuk jenis yang berbeda.
Contoh yang paling jelas adalah pergantian jenis-jenis tumbuhan selama suksesi dalam bentuk seral-seralnya, yaitu damarnis oportunis sampai kejenis keseimbangan.
b.    Liana
Liana merupakan tumbuhan yang berakar dalam tanah dan berusaha mempertahankan tegaknya batang dengan mempergunakan tumbuhan lain sebagai penyokong/ penolongnya. strategi yang dipergunakan adalah untuk mendapatkan sejumlah  cahaya yang melimpah untuk keperluan fotosintesisnya, sehingga letak daun-daunnya jauh tinggi di atas, dan juga perbungaanya, sedangkan akar tetap berada didalam tanah.
Batangnya mempunyai karakteristik anatomi yang khusus, yaitu terdiri dari dua bagian utama :
Bagian berkayu yang slindris atau dipisahkan oleh jaringan perenkhim yang vertikal.
Serabut-serabut silem yang panjang dan lebar.
Bagian berkayu beradaftasi untuk mempermudah pergerakan dan perputaran batang sehingga mudah untuk berubah bentuk untuk memanjat atau membelit.kadangkala juga dilengkapi oleh struktur lainnya untuk mempermudah panjatannya, seperti pada Cucurbitaceae dan Passifloraceae.
Contoh Liana

c.    Epifit
Kelompok tumbuhan yang memanfatkan tumbuhan lainnya untuk tempat hidup secara menempel, jadi berbeda dengan parasit mereka mempunyai akar untuk tempat mengisap air dan nutrisi yang terlarut., dan mampu menghasilkan makanan sendiri. Yang diperlukan oleh epifit ini adalah penedahan dari tumbuhan lain serta kelembapan, sehingga tidak tahan terhadap kekeringan. contohnya Orchidaceae ; Pteridaceae; Bromeliaceae.
d.    Lumut kerak
Organisme yang terbentuk karena adanya hubungan antara satu atau lebih jenis jamur (biasanya Ascomycetes atau Basidiomycetes) dengan satu atau lebih ganggang hijau atau biru yang bersel satu. Gangang delalu terdiri dari jenis yang dapat hidup bebas, tetapi jamurnya hanya khusus terdapat pada lumut kerak.
Lumut kerak ini merupakan contoh yang baik untuk simbiosis mutualisme, hubungannya saling menguntungkan. Beberapa pakar menganggap hubungan yang bersifat parasit ringan, karena jamurnya tidak bisa hidup bebas/ atau sendiri dengan ganggangnya mampu hidup tersendiri.
Jamur menerima seluruh makanannya dengan ganggang. selain melindungi jamur juga berguna bagi ganggang karena kemampuannya untuk mengikat N dan juga dalam penyerapan air.
Lumut kerak sangat bervariasi dalam sifat dan bentuknya dan tersebar secara luas hampir keseluruh muka bumi. Biasanya bersifat serofit dan sering hidup diatas batu yang tandus yang tidak memungkinkan tumbuhan lain untuk hidup dengan baik, dengan demikian lumut kerak ini merupakan tumbuhan pioner.

Contoh Tanaman

e.    Mikotrofi
Merupakan hubungan antara jamur dengan tumbuhan, biasanya jamur bersatu dengan beberapa bagian tumbuhan tinggi (akar), membentuk bagian yang disebut Mikoriza.
Dikenal ada dua bentuk mikoriza ini, yaitu :
Ektotrofi, miselia membentuk lapisan tebal menutupi permukaan akar, dan mempunyai hife yang menonjol keluar. Contohnya : Pinaceae, dan Amentiferae.
Endotrifi, hife masuk keprotoplast dari jaringan parenkhim dari akar dan sebagian keluar menembus tanah. Contohnya : Ericaceae, dan Orchidaceae.
2.    Pengaruh Hewan Pada Tumbuhan
a.    Perusakan
Hubungan ini timbul akibat peranan tumbuhan sebagai sumber pakan bagi hewan, baik seluruhnya maupun sebagian. disamping akibat yang bisa ditimbulkan akibat injak-injakan hewan perumput.
Dialam biasanya kedua prose situ terjadi bersamaan dan sering menjadi faktor pembatas untuk penyebaran tumbuhan dan juga dapat menghasilkan bentuk-bentuk morfologis khusus sebagai adaptasinya yang pada akhirnya akan  menghasilkan masyarakat tumbuhan yang berkarakteristik.
b.    Penyerbukan oleh hewan
Salah satu hubungan yang umum antara hewan dan tumbuhan adalah dalam proses penyerbukan atau pemindahan tepung sari ke kepala putik. serangga biasanya merupakan hewan penyerbuk atau pollinator utama tetapi kadang kala dapat juga dilakukan oleh hewan lainnya seperti burung, kelelawar, dan sudah terang manusia.
Timbuhan yang penyerbukan dilakukan oleh serangga dikenal dengan istilah entomofili biasanya memiliki karakteristik tersendiri, yaitu :
Perhiasan bunga berkembang dengan baik
Tepung sari berkumpul pada suatu kelompok
Putik berbentuk tingkat
Sering bunga dilengkapi dengan nektar
Serangga biasanya mengunjungi bunga untuk mengmbil madu dan tepung sari sebagai makanan. tepung sari melekat pada tubuhnyayang berbulu sehingga terjadi pemindahan dari satu bunga ke bunga yang lain dan mempunyai kesempatan tepung sari ini untuk menempel di kepala putik, maka terjadi hubungan yang bersifat simbiosis.
Contoh Gambar Penyerbukan Oleh Hewan

c.    Penyebaran oleh hewan
1)    Endozookori
Alat penyebar buah dimakan oleh hewan tetapi karena bijinya dilapisi oleh kulit luar yang keras maka tidak dapat dicernanya, yang kemudian dikeluarkannya bersama faeces. Contohnya : Kopi oleh luak, Rubus oleh berbagai jenis burung, dan Eran juga oleh luak.
2)    Epizookori
Alat penyebar dilengkapi oleh struktur khusus sehingga dapat menempel pada tubuh hewan (yang umumnya berbulu), sehingga biji atau buah terbawa ketempat yang jauh. Contohnya : Urena lobata, Bidens, sp, Andropogon aciculatus, dll.

DAFTAR PUSTAKA
Jumin, Hasan Basri. 1992. Ekologi Tanaman. Rajawali Press: Jakarta
Michael, P. 1995.  Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. UI Press: Jakarta.
Rahardjanto, Abdulkadir.  2001.  Ekologi Umum. Umm Press: Malang.
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha.  2001.  Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA: Malang.
Syafei, Eden Surasana. 1990.  Pengantar Ekologi Tumbuhan.  ITB: Bandung.
Wolf, Larry dan S.J McNaughton. 1990.  Ekologi Umum.  UGM Press: Jogjakarta.

01/30/2009 Posted by | Ekologi Tumbuhan | 3 Komentar

Deskripsi Dan Analisis Vegetasi Floristika Dan Non Floristika

Vegetasi di definisikan sebagai mosaik komunitas tumbuhan dalam lansekap dan vegetasi alami diartikan sebagai vegetasi yang terdapat dalam lansekep yang belum dipengaruhi oleh manusia (Kuchler, 1967). Ilmu vegetasi sudah dimulai hampir tiga abad yang lalu. Mula-mula kegiatan utama yang dilakukan lebih diarahkan pada diskripsi dari tentang alam dan vegetasinya. Dalam abad ke XX usaha-usaha diarahkan untuk menyederhanakan eskripsi dari vegetasi dengan tujuan untuk untuk meningkatkan keakuratan dan untuk mendapatkan standart dasar dalam evaluasi secara kuantitaif. Berbagai metode analisis vegetasi dikembangkan, dengan penjabaran data secara detail melalui cara coding dan tabulasi. Berbagai metode yang digemari dan banyak diterima oleh banyak pakar adalah dari Raun kiaer (1913, 1918), Clements (1905, 1916), Du Rietz (1921, 1930), Braun (1915), dan Braun Bienquet (1928). Deskripsi umum dari vegetasi dan komunitas tumbuhan melalui bentuk hidup dan species dominan adalah tekanan pada zaman yang telah lalu.
Indonesia membentang sepanjang lebih dari 5000 km dari barat sampai ke timur dan luasan lahannya mencakup anekaragam Vegetasi lahan kering dan rawa. Penelaahan biologi, termasuk penelitian Vegetasi di Indonesia belum terlalu banyak, baru kulitnya saja, meskipun telah dimulai sejak permulaan abad ke-18. Uraian sejarah penelitian yang dilaksanakan sebelum tahun 1945 disarikan dalam buku Science and Scientists in Netherlands Indies (Honig and Verdoorn, 1945) dan kemudian Chronica Naturae, volume 106 (6) pada 1950. Penelitian Vegetasi dan ekologi, termasuk ekologi tumbuhan, terutama menyangkut eksplorasi flora dan fauna serta inventarisasi, pertelaan berdasarkan pengamatan visual, peri kehidupan, dan sampai tingkat tertentu faktor ekologi. Banyak hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang terbit di Indonesia, antara lain Tropische Natuur, Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indie, Treubia, Bulletin du Jardin Botanique de Buitenzorg, dan Annales du Jardin Botanique de Buitenzorg
Di Indonesia Perkembangan penelitian Vegetasi sampai tahun 1980 telah dilaporkan oleh Kartawinata (1990), yang mengevaluasi pustaka yang ada mengenai Vegetasi dan ekologi tumbuhan di Indonesia, menunjukkan bahwa bidang ini belum banyak diteliti. Banyak dari informasi tentang ekologi tumbuhan dalam berbagai pustaka seperti serie buku Ekologi Indonesia (misalnya MacKinnon dkk., 1996 dan Whitten dkk.,1984) berdasarkan berbagai penelitian di Malaysia. Berbagai penelitian sebagian besar terfokus pada ekosistem hutan, terutama hutan pamah dipterokarp (lowland dipterocarp). Sebagian besar informasi untuk kawasan fitogeografi Malesia (Brunei, Filipina, Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea dan Timor Leste) telah disintesis oleh Whitmore (1984) dalam bukunya Tropical Rain Forests of the Far East. Data vegetasi biogeografi dan ekologi tentang Papua New Guinea (misalnya Paijmans, 1976; Gressitt, 1982; Johns, 1985, 1987a,b; Brouns, 1987; Grubb dan Stevens 1985) dapat diterapkan untuk Papua
Analisis vegetasi
Para pakar ekologi memandang vegetasi sebagai salah satu komponen dari ekosistem, yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi faktor lingkungn dari sejarah dan pada fackor-faktor itu mudah diukur dan nyata. Dengan demikian analisis vegetasi secara hati-hati dipakai sebagai alat untuk memperlihatkan informasi yang berguna tentang komponen-komponen lainnya dari suatu ekosistem.
Ada dua fase dalam kajian vegetasi ini, yaitu mendiskripsikan dan menganalisa, yang masing-masing menghasilkan berbagi konsep pendekatan yang berlainan.
Metode manapun yang dipilih yang penting adalah harus disesuaikan dengan tujuan  kajian, luas atau sempitnya yang ingin diungkapkan, keahlian dalam bidang botani dari pelaksana (dalam hal ini adalah pengetahuan dalam sistimatik), dan variasi vegetasi secara alami itu sendiri (Webb, 1954).
Pakar ekologi dalam pengetahuan yang memadai tentang sistematik tumbuhan berkecenderungan untuk melakukan pendekatan sacara florestika dalam mengungkapkan suatu vegetasi, yaitu berupa komposisi dan struktur tumbuhan pembntuk vegetasi tersebut.
Pendekatan kajianpun sangat tergantung kepada permasalahan apakah bersifat autekologi atau sinetologi, dan juga apakah menyangkut masalah produktivitas atau hubungan sebab akibat.
Pakar autelogi biasanya memerlukan pengetahuan tentang kekerapan atau penampakan dari suatu species tumbuhan, sedangkan pakar senitologi berkepentingan dengan komunitas yaitu problema yang dihadapi sehubungan dengan keterkaitan antara alam dengan variasi vegetasi. Pakar rkologi produktivitas memerlukan data tentang berat kering dan kandungan kalori yang dalam melakukannya sangat menyita waktu dan juga bersifat destruktif.
Deskripsi vegetasi juga memerlukan bagian yang integral dengan kegiatan survey smber daya alam, misalnya sehubungan dengan investarisasi kayu untuk balok dihutan,dan menelaah kapasitas tamping suatu lahan untuk sutu tujuan ternak atau penggembalaan.pakar, tanah, dan sedikit banyak pakar geologi dan pakar iklim tertarik dengan vegetasi sebagai ekspresi dari factor – factor yang mereka pelajari.
Kehutanan memerlukan penelaahan tentang komposisi spesies tumbuhan sebagai penunjuk (indicator) potensi dari tapak sebagai bahan bantu dalam menentukan jenis kayu yang ditanam.
Dalam mendiskripsikan suatu vegetasi haruslah dimulai dari suatu titik pandang bahwa vegetasi merupakan suatu pengelompokan dari tubuh – tumbuhan yang hidup bersama dialam suatu tempat tertentu yang mungkin dikarakterisasi baik oleh spesies sebagai komponennya, maupun oleh kombinasi dari struktur dan fungsi sifat – sifatnya yang mengkarekterisasi gambaran vegetasi secara umum atau fisiognomi.
Metode dengan pendekatan secara fisignomi tidak memerlukan identifikasi dari species dan sering lebih berarti hasilnya untuk gambaran vegetasi dengan skala kecil (area yang luas),atau untuk gambaran habitat bagi disiplin ilmu lainnya.misalnya pakar hewan menghendaki deskripsi vegetasi yang dapat dipakai untuk menggambarkan relung atau nisia,habitat dan sumber pakan untuk hewan.
Metode berdasarkan komposisi atau floristika species lebih bermanfaat untuk menggambarkan vegetasi engan skala besar ( area yang sempit )yang lebih detail,yang biasannya dipergunakan oleh pakar dieropa daratan dalam klasifikasi vegtasi dan pemetaan pada skala yang besar dan sangat rinci.
Beberapa metode analisis vegetasi
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Syafei, 1990).
Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi titik (metode tanpa plot) (Syafei, 1990).
Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990).
Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001).
Sedangkan metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman, 2001).
Selain menggunakan kedua metode di atas namun, secara garis besar metode analisis dalam ilmu vegetasi dapat dikelompokkan dalam dua perbedaan yang prinsip, yaitu:
a.    Metode diskripsi dan
b.    Metode non diskripsi
Metode destruktif
Metode ini biasanya dilakukan untuk memahami jumlah materi organik yang dapat dihasilkan oleh suatu komunitas tumbuhan. Variable yang dipakai bisa diproduktivitas primer, maupun biomasa. Dengan demikian dalam pendekatan selalu harus dilakukan penuain atau berarti melakukan perusakan terhadap vegetasi tersebut.
Metode ini umumnya dilakukan untu bentuk bentuk vegetasi yang sederhana, dengan ukuran luas pencuplikan antara satu meter persegi sampai lima meter persegi. Penimbangan bisa didasarkan pada berat segar materi hidup atau berat keringnya.
Metode ini sangant membantu dalam menentukan kualitas suatu padang rumput denan usaha pencairan lahan penggembalaan dan sekaligus menentukan kapasitas tampungnya. Pendekatan yang terbaik untuk metode ini adalah secara floristika, yaitu didasarkan pada pengetahuan taksonomi tumbuhan.
Metode non-destruktif
Metode ini dapat dilakukan dengan dua cara pendekatan, yaitu berdasarkan penelaahan                                                                           organism hidup/tumbuhan tidak didasarkan pada taksonominya,sehingga dikenal dengan pendekatan lainnya adalah didasarkan pada penelaahan organisma tumbuhan secara taksonomi atau pendekatan floristika.
Metode non-destruktif,non-floristika
Metode non-floristiaka tealah dikembangkan oleh banyak pakar vegetasi. Seperti Du Rietz (1931), Raunkiaer (1934), dan Dansereau (1951). Yang kemudian diekspresiakan oleh Eiten (1968) dan Unesco (1973). Danserau membagi dunia tumbuhan berdasarkan berbagai hal, yaitu bentuk hidup, ukuran, fungsi daun, bentuk dan ukuran daun, tekstur daun, dan penutupan. Untuk setiap karakteristika di bagi-bagi lagi dalam sifat yang kebih rinci, yang pengungkapannya dinyatakan dalam bentuk simbol huruf dan gambar.
Bentuk HidupMetode ini, klasifikasi bentuk vegetasi, biasanya dipergunakan dalam pembuatan peta vegetasi dengan skalakecil sampai sedang, dengan tujuan untuk menggambarkan penyebaran vegetasi berdasarkan penutupannya, dan juga masukan bagi disiplin ilmu yang lainnya (Syafei,1990).

Metode telah banyak dikembangkan oleh berbagai pakar ilmu vegetsi, seperti Du Rietz (1931) ; Raunkiaer (1934) dan Dansereau (1951). Yang kemudian diekspresikan juga dengan cara lain oleh Eiten (1968) dan UNESCO (1973).
Untuk memahami metode non floristika sebaiknya kita kaj dasar-dasar pemikiran dari beberapa pakar tadi. Pada prinsipnya mereka berusaha mengungkapkan vegetasi berdasarkan bentuk hidupnya, jadi pembagian dunia tumbuhan secara taksonomi sama aekali diabaikan, mereka membuat klasifikasi tersendiri dengan dasar-dasar tertentu.

Sistem Klasifikasi dan Bentuk hidup
Klasifikasi sistematis pada masyarakat tumbuhan menerima suatu daya dorong khusus melalui BRAUN-BLANQUET, yang mengkombinasikan banyak inisiasi dari para pendahulunya kedalam suatu rencana yang meyakinkan. Sistem phytosociology-nya (1928,1932) diterima sangat baik di seluruh dunia, dan telah mempengaruhi pengembangan Ilmu pengetahuan Tumbuh-Tumbuhan Eropa dalam beberapa dekade. Hirarki unit sistemat isnya sengaja dipolakan setelah pengetahuan vegetasi akan menemukan suatu akhir dalam penetapan, penamaan, dan penerapan seperti classcategories terpadu. Kecenderungan ini tidak sesuai dengan niat asli BRAUN-BLANQUET. Di dalam cetakan pertama buku terkenalnya, ia mengabdikan lebih dari separuh ruang untuk ekologi didalam pengert ian yang sesuai, yaitu untuk hubungan fungsional dan hubungan sebab akibat. Hubungan masyarakat tumbuhan pada habitatnya menjadi penekanan oleh banyak pengarang. seperti UNGER (1836), SENDTNER (1854) DRUDE (1896), WARMING (1909), SCHIMPER (1898), SCHROTER (1904), dan banyak orang yang lain. Beberapa dari mereka, khususnya WARMING dan DRUDE (1913), membuat hubungan lingkungan, dasar studi vegetasi-nya. Mereka juga mengembangankan sistem klasif ikasi tumbuhan menurut lingkungannya. Ilmu pengetahuan Tumbuh-Tumbuhan menjadi suatu cabang ekologi yang penting di sekitar peralihan abad itu. Pemahaman ini menjadikan definisi ekologi dikenal dan ditafsirkan dalam semua negara-negara yang berbahasa Inggris. Saat ini, kecenderungan nampak mempengaruhi arah dari studi-studi hubungan lingkungan. Penggunaan dari kriteria lingkungan untuk mencirikan masyarakat tumbuhan menjadi lebih umum, dan usaha hingga mencapai suatu sintesis tentang floristic dan perlakuan ekologi vegetasi (KRAJINA 1969, DAUBENNIIRE 1968). Penekanan tertentu diberikan untuk menjelaskan penelitian ekologi pada komunitas tunggal.(ODUM 1959, OVINGTON 1962). Bersamaan dengan ini terjadi suatu perubahan pent ing dalam metodametoda sepanjang dekade terakhir. Pengarang yang lebih awal bekerja sebagian besar secara deduktif dan menggambarkan ekologis mereka dan bahkan kesimpulan fisiologis dari perbandingan pengamatan di lapangan, tanpa mencoba untuk mendukungnya dengan eksperimen. Berlainan dengan penyelidik modern yang bekerja secara induktif dan menggunakan eksperimen untuk meningkatkan ketelit ian dari kesimpulan mereka.
Analisis kuantitatif komunitas
Konsep komnitas termasuk konsep tertua dalam ekologi.pada tahun 1844 Edward Forbes, dosen botani pada kings college, London, mempelajari distribusi binatang laut di laut Aegean. Dia menyimpulkan adanya delapan daerah kedalaman yang dibdakan satu sama lain oleh kelompok spesies yang ada di dalamnya( kormondy, 1965) kemudian karl mobius (1877),ahli tidak hanya didiami oleh tiram sendiri, tetapi didiami binatang – binatang lain. Setiap tempat tinggal merupakan suatu kehidupan dimana sejumlah spesies dan individu – individu satu sama lain dibatasi, dan selanjtnya terjadi seleksi dan pemilikan teitori tertentu.ruang dan makanan merupakan kebutuhan pertma setiap komunitas social. Berdasarkan alas an ini, Eugene warming (1909), ahli botani Denmark, menyimpulkan spesies tertentu bahwa membentuk kelompok alami,dengan kata lain membentuk kelompok alami,dengan kata lain membentuk komonitas, yang memperlihatkan kombinasi bentuk pertumbuhan.

Diskontinyuitas relative

Komunias komunitas tanaman digunakan sebagai model organisassi komunitas. Banyak ekolog membuktikan bahwa pada bbeberapa keadaan, vegetasi membuntuk continuum, pada keadaan yang lain vegetasi membentuk komunitas yang berbeda dan sebagian besar vegetasi berada dimana mana diantara kondisi tersebut. Yang peril di peranyakan adalah: factor factor  apa yang menentukan kontyutas vegetasi (beals, 1969). Beals mengjukan hipotesa bahwa kontinyutas komunitas merupakan fungsi kontinyutas lingkungan. Jika gradient tajam atau curam, komposisi komunitas bisa berubah secara perahan, komposisi komunitas juga akan berubah secara perlahan.
Banyak ekolog eropa menggunakan metiode semi komunikatf untuk mengklsifikasikan komunitas. Metode ini diberi nama sesuai denga penemunya yaitu braun-blantquet (1951).daftar spesies dari sejumlah tegakan kemudian digunakan untuk menetukan ketetapan yaitu proporsi spesies yang ada ddiseluruh tegakan. Satua dari klasifikasi adalah pencampuran, sutu abstaksi yang terdaftar dari spesies yang beraal dari banyak tempat. Spesies dengan constancy intermediate (sedang) digunakan untuk menentukan percampuran, karena baik spesies tersebut ada disetiap tempat maupun hanya ada pada sedikit tempat, tidak berguna untuk pemisahan tipe tipe komunitas (muller-dombis dan ellenberg,1974). Kebenaran spesies ( a spesies fidelity) penting sekali dalam menentukan percampuran. Spesies yang bisa dipercaya (faithful spesies), terbatas pada tipe komunitas tertentu dan digunakan untuk mendiaknosa komunitas.
Selain itu untuk menentukan apakah suatu spesies cenderung berada bersama beberapa spesies dan tidak ada dengan kehadiran spesies lainya, maka Agmew (1961) mencatat kehadiran spesies di 99 paya (marsh) di North Wales. Tanaman utama dalam paya yang dijadikan sampel adalah gelaga (rush), Juncus efufus. Keberadaan spesies yang kurang dari 5 kali, dihilangkan sehingga tingal 53 spesies yang dihitung nilai X2 nya. Di dalam paya-paya, beberapa spesies yang bercampur secara positif dan negativ. Pencampuran positif dihasilkan jika spesies terjadi dalam komunitas secara bersamaan dan tidak terjadi tanpa kehadiran spesies lainnya. Pencampuran negatif dihasilkan jika spesies tidak terjadi bersamaan. Dia tidak menggunakan spesies yang hanya memiliki satu kali pencampuran dari 20 kali pencampuran.
Analisa ini menggunakan bahwa kelompok spesies bercampur dengan spesies lainyya. Dan menunjukan adanya sekelompok spesies tertentu yang cenderung berada bersama-sama di payau tersebut dan tipe komunitas tersebut dapat dikenali dengan metode yang obyektif. Akan tetapi, tidak satupun dari kelompok tersebut terisolasi secara sempurna terhadap kelompok lain, bermacam – macam spesies berhubungan di antara kelompok tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Jumin, Hasan Basri. 1992. Ekologi Tanaman. Rajawali Press: Jakarta
Michael, P. 1995.  Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. UI Press: Jakarta.
Rahardjanto, Abdulkadir.  2001.  Ekologi Umum. Umm Press: Malang.
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha.  2001.  Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA: Malang.
Syafei, Eden Surasana. 1990.  Pengantar Ekologi Tumbuhan.  ITB: Bandung.
Wolf, Larry dan S.J McNaughton. 1990.  Ekologi Umum.  UGM Press: Jogjakarta.
.

01/30/2009 Posted by | Ekologi Tumbuhan | 10 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 653 pengikut lainnya.