BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

“Stress Pada Ikan”

Stres pada ikan merupakan proses yang sangat kompleks. Terdapat banyak misteri yang mengelilingi penyebab stress pada ikan dan masih banyak konsep tentang stress yang belum jelas. Hampir semua pengetahuan tentang stress ikan berdasarkan hasil penelitian pada ikan-ikan komersial dan masih berkutat pada hal-hal yang sangat mendasar. Ketika publik berbicara tentang stress, selalu tentang tekanan mental dan emosi, namun ternyata stress merupakan konsekuensi dari aktivitas biokimia dan fisiologi. Stress menyebabkan respon internal hormon yang sama terhadap semua hewan vertebrata termasuk ikan. Lalu apa sebenarnya stress itu, apakah mudah untuk didefinisikan? Pertama, Kita harus membedakan antara sumber stress. Yang merujuk pada penyebab stress dan reaksi internal yang menyebabkannya. Definisi sederhana stress pada ikan dapat menyebabkan stimulus yang dibutuhkan untuk respon fisiologi oleh hewan dan upaya untuk beradaptasi dengan rangsangan tersebut.

Stres dapat digambarkan sebagai respon fisiologis untuk stressor. Dengan kata lain, stres adalah kondisi fisiologis internal yang disebabkan oleh kondisi eksternal. Stres juga dapat digambarkan sebagai respon hormonal internal dari sebuah organisme hidup yang disebabkan oleh lingkungan atau faktor eksternal lainnya yang menyebabkan kendisi fisiologis organisme dalam kondisi yang tidak normal. Stres dapat mengganggu keseimbangan fisiologis ikan atau homeostasis dengan mempercepat aliran energi dalam sistem.

Kriteria stress seperti akut atau kronis, parah dan ringan. Tingkat stres yang mempengaruhi setiap ikan tertentu ditentukan oleh parahnya stres, durasi dan kesehatan ikan. Respirasi dalam air membutuhkan konsumsi energi lebih banyak daripada di udara.
Tingkat konsentrasi gas dalam air umumnya bervariasi dan jauh lebih besar daripada di udara. Gerakan ikan dalam air memerlukan lebih banyak energi metabolik. Meskipun ikan dilengkapi organ dengan baik untuk beradaptasi pada lingkungan air, tentunya masih mengkonsumsi sejumlah besar energi metabolik. Stres mempengaruhi ikan dalam dua cara: menghasilkan efek yang mengganggu keseimbangan homeostatik dan menginduksi respon perilaku dan fisiologis adaptif. Seiring dengan pelepasan hormon stres dan perubahan fisiologis dan kimia, lalu diikuti dengan modifikasi perilaku. Perubahan ini pada dasarnya adaptif dan berfungsi untuk meningkatkan kelangsungan hidup ketika terancam oleh situasi berbahaya.

Dalam lingkungan alam, respon stress melindungi ikan dan menjamin kelangsungan hidup mereka. Salah satu contohnya adalah ketika pemangsa mengancam ikan. Ketika ikan merasa terancam, respon stress utama adalah untuk melepaskan katekolamin ke dalam aliran darah. Hal ini akan menciptakan dorongan energi yang membantu ikan menghindari atau melarikan diri pemangsa. Stress kronis dapat menyebabkan kehilangan resfon adaptif dan menjadi disfungsional. Ikan menanggapi bahan kimia dan penyebab stres lainnya pada tingkat intensitas jauh di bawah yang dapat dideteksi oleh hewan terrestrial. Ikan lebih sensitif terhadap stres daripada vertebrata lainnya karena homeostasis fisiologisnya terikat erat dan tergantung pada air di lingkungan sekitarnya. Gangguan air dan homeostasis ion selama stres adalah karena hubungan yang sangat dekat antara cairan tubuh dalam insang dan air ambien. Bioavailabilitas bahan kimia yan tinggi dalam air adalah juga merupakan factor penyebab stress. Ikan yang terkena polusi melalui permukaan insang .

Ikan merespon stres pada tiga tingkatan. Respon stres ini terintegrasi meliputi: tingkat primer, sekunder dan tersier. Tanggapan utama adalah pelepasan hormon stres, corticosteriods dan katekolamin, ke dalam aliran darah. Respons sekunder adalah efek dari hormon-hormon pada tingkat sel termasuk mobilisasi dan realokasi energi, gangguan osmotik dan peningkatan denyut jantung, pengambilan oksigen dan transfer. Tanggapan tersier melampaui tingkat sel untuk seluruh binatang. Ini menghambat respon kekebalan, reproduksi, pertumbuhan dan kemampuan untuk mentolerir stres tambahan. Respon hormon stres internal pada ikan memiliki banyak kesamaan dengan yang mamalia. Indikator yang paling banyak diterima dari stres adalah tingkat kortisol plasma darah. Dua tindakan utama kortisol pada ikan adalah mengatur keseimbangan hydromineral atau osmotik dan metabolisme energi. Beberapa mempertimbangkan peran corticosteriods akan melindungi tubuh dari mekanisme pertahanan tubuh yang berlebihan.

Hormon kortikosteroid dan katekolamin dilepaskan sebagai respon terhadap stresor dalam upaya untuk beradaptasi atau menghindari penyebab stres. Meskipun kedua jenis hormon stres yang dilepaskan ke aliran darah merupakan bagian dari respon stress yang terintegrasi untuk stres akut dan kronis namun mereka memainkan peran yang berbeda. Katekolamin atau CA adalah hormon utama dirilis untuk merespon “fight or flight” terhadap stres akut. Corticosteriods, didominasi kortisol, hormon utama yang dirilis dalam menanggapi stres kronis. Hormon katekolamin epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin) berhubungan dengan reaksi langsung terhadap stres, dan dilepaskan ketika situasi membutuhkan respon balik . Pelepasan hormon katekolamin ke dalam aliran darah menyebabkan peningkatan denyut jantung, gula darah, pernapasan, penyerapan oksigen, dan aliran darah ke insang. Ini mempersiapkan ikan untuk lebih baik dalam mengatasi terhadap ancaman wilayah dan keselamatan. Respon ini biasanya pendek dalam durasi dan dianggap stres akut. Corticosteriods, terutama kortisol, yang berhubungan dengan stres kronis merupakan upaya hewan untuk beradaptasi. Kortisol dilepaskan sebagai respon terhadap semua stres, namun efeknya menjadi lebih besar. Dalam akuarium, faktor-faktor umum yang dapat menyebabkan respon stres kronis akan mencakup hal-hal seperti kualitas air yang buruk, suhu yang tidak tepat, atau racun. Ketika stres terjadi terus-menerus atau kronis dan tidak dapat dihindari, seperti akuarium, respon hormonal dan tingkah laku akan berakhir dan menjadi alat untuk beradaptasi dan mempertahankan kelangsungan hidup. Pada titik ini, respon ikan menjadi maladaptif.

03/11/2012 Posted by | Ekologi Hewan | Tinggalkan komentar

Psikologi Sosial Hewan

Pernahkah anda menyadari suatu hewan ternak, sapi misalnya. Mengapa mereka begitu mudah untuk diperintah sesuai dengan keinginan sang petani atau pemiliknya. Apabila kita menjawab secara logika mungkin jawabanya “karena sapi itukan sudah terlatih setiap hari”. Benarkah sesingkat ini jawabannya?? Bagaimana jika dipandang dari sudut psikologi dari hewan tersebut??

Sapi adalah binatang yang cerdas, selalu ingin tahu, tidak hanya menggunakan instingnya tapi juga pikiran dan perasaannya dalam menghadapi dan mengatasi keadaan yg dihadapinya. Mereka mempunyai daya ingat yang sangat baik, serta kemampuan beradaptasi yang memadai. Dengan memanfaatkan kelebihan tersebut, sapi sangat bisa di latih dan dibiasakan dengan keadaan yg anda inginkan. Perlakukan Sapi secara konsisten, maka mereka akan mengerti apa yang anda inginkan, sebaliknya anda pun akan mengerti apa yang mereka inginkan, sehingga hubungan timbal balik yang harmonis bisa tercipta.

Sapi merupakan hewan yang sangat sosial dan seringkali membentuk hubungan dekat dengan temannya. Seperti contoh ini, “Saat sapi betina bersama pasangan yang ia sukai, tingkat stres dalam hal detak jantung sangat berkurang dibanding saat sapi bersama sapi asing,” papar McLennan. Hasil temuan ini bisa sangat bermanfaat bagi para peternak, termasuk meningkatkan produksi susu dan mengurangi stres pada binatang yang sangat penting bagi kesejahteraan. Oleh karena itu dengan hal seperti itu dapat kita ketahui bahwa bukan manusia saja yang bisa mengalami hal-hal seperti itu hewan juga bisa mengalami hal seperti itu sehingga hal tersebut termasuk dalam psikologi hewan yang harus diketahui oleh semua orang termasuk peternak sapi, “Jika tidak”

Stress pada sapi yaitu respon fiologis, psikologis dan perilaku, untuk mengadaptasi dan mengatur tekanan dari dalam maupun luar tubuh. Tekanan ini bisa berupa kejadian, situasi atau suatu obyek yang dilihat sebagai unsur yang menimbulkan stress dan menyebabkan reaksi stress sebagai hasilnya tekanan sangat bervariasi bentuk dan macamnya, mulai dari sumber-sumber psikososial dan perilaku seperti frusstasi, cemas dan kelebihan sumber-sumber bioekologi dan fisik seperti bising, polusi, dan temperatur, dan gizi. Tekanan tersebut secara langsung akan mengakibatkan, penurunan nafsu makan, menghambat kenaikan berat badan, meningkatkan kasus penyakit pernafasan, kotoran menjadi lebih basah, dan pada kondisi yang lebih buruk akan menyebabkan kematian.

Jadi kesimpulannya: tidak hanya manusia tetapi hewan juga punya naluri sosial dan hubungan timbal balik. Jadi perlakukanlah hewan dengan penuh kasih sayang. Bagaimapun juga merekapun makhluk ciptaan Allah SWT yang patut kita lindungi serta kita sayangi.

03/11/2012 Posted by | Ekologi Hewan | Tinggalkan komentar

Pengaruh Tanaman Penutup Tanah Terhadap Kelimpahan Kutudaun Aphis craccivora Koch (Homoptera: Aphididae), Predator dan Hasil Panen pada Pertanaman Kacang Panjang Oleh: Deri Salanti/A44104062

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kacang panjang (Vigna sesquipedalis) adalah tanaman hortikultura yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia, baik sebagai sayuran maupun sebagai lalapan. Kacang panjang merupakan anggota Famili Fabaceae yang termasuk kedalam golongan sayuran. Kacang panjang dibudidayakan untuk dimanfaatkan polong mudanya atau kadang-kadang daunnya sebagai lalapan. Kacang panjang diperbanyak melalui benih (Sunaryono dan Ismunandar 1981).  Selain rasanya enak, sayuran ini juga mengandung zat gizi cukup banyak. Kandungan gizi, baik polong maupun daun tanaman ini cukup lengkap. Polong mudanya banyak mengandung protein, vitamin A, lemak, dan karbohidrat. Dengan demikian komoditas ini merupakan sumber protein nabati yang cukup potensial (Haryanto et al. 1999).

Kebutuhan sayur-sayuran akan semakin meningkat seiring dengan semakin pedulinya masyarakat akan makanan yang sehat dan berimbang. Kacang panjang sebagai salah satu jenis dari sayur-sayuran dapat menjadi pilihan yang mudah untuk sebagian masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari konsumsi kacang panjang pada tahun 2006 yang diperkirakan sebesar 2.66 kg/kapita/tahun, yang berarti diperlukan kacang panjang sebanyak 492.000 ton/tahun (BPS 2007). Akan tetapi, berdasarkan data BPS (2007) produktivitas kacang panjang baru mencapai sekiar 354.000 ton/tahun.

Tanaman ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagi usahatani karena selain mudah dibudidayakan, pangsa pasarnya juga cukup tinggi. Secara ekonomis, tanaman ini memiliki kekuatan pasar yang cukup besar. Pasar mampu menyerapnya mekipun  produksi kacang panjang berlimpah pada musim panen. Kacang panjang juga dipasarkan ke luar negeri, salah satunya adalah ke negeri Belanda yang membutuhkan lebih dari 3 ton tiap minggunya (Haryanto et al. 1999).

Salah satu kendala dalam meningkatkan produksi kacang panjang adalah adanya gangguan hama tanaman. Berbagai jenis hama di temukan pada tanaman ini, diantaranya yang paling penting adalah kutu daun Aphis crassivora Koch (Homoptera: Aphididae).

Arachis pintoi adalah tanaman golongan kacang-kacangan yang tumbuh merambat di atas permukaan tanah dan merupakan kerabat dekat dari kacang tanah (Arachis hypogea). A. .pintoi di Indonesia dikenal dengan sebutan kacang hias atau kacang pinto.  Ada pula yang menyebutnya golden peanuts karena tanaman ini mempunyai bunga yang berwarna kuning. Tanaman ini merupakan spesies eksotik yang berasal dari Brazil yang didatangkan ke Indonesia melalui Singapura untuk digunakan sebagai tanaman hias dan penutup tanah (BPTP 2004). Menurut Reksohadiprojo dalam Umroh (1995) tanaman ini diintroduksi dari Australia ke Indonesia khususnya Sulawesi Utara pada tahun 1986.

Tanaman A. pintoi dapat digunakan sebagai tanaman hias, penutup tanah, dan sebagai pakan ternak. Penggunaan tanaman ini semakin populer dan sudah banyak digunakan sebagai penutup tanah di beberapa perkebunan serta sudah banyak dimanfaatkan dalam lanskap pertanaman (BPTP 2004). Penanaman A. pintoi dapat menggundang kehadiran musuh alami (parsitoid dan predator). Trisawa et. al (2005) melaporkan bahwa penanaman A. pintoi pada ekosistem lada dapat meningkatkan jenis dan kelimpahan musuh alami.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh tanaman penutup tanah A. pintoi terhadap kelimpahan kutudaun, predator, dan terhadap hasil panen kacang panjang.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di Kampung Liud, Desa Hambaro, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat,  dan di Laboraturium Ekologi Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian berlangsung sejak Februari hingga Mei 2008.

Metode Penelitian

Penataan Petak Percobaan

Percobaan dilaksanakan pada 6 petak yang masing-masing berukuran 10 m x 10 m. Untuk mengurangi terjadinya perpindahan serangga di antara petakan, jarak antar petak diusahakan minimal 10 m. Keenam petak tadi ditata dalam 3 kelompok (ulangan) dengan 2 perlakuan, yaitu petakan dengan A. pintoi dan petakan tanpa A. pintoi.

Penanaman Tanaman Penutup Tanah

Penanaman A. pintoi dilakukan pada bulan Agustus 2007. Untuk maksud tersebut lahan terlebih dahulu diberi pupuk kandang sebanyak 15 ton/ha.  Selain diberi pupuk kandang lahan ini juga diberi pupuk Urea 300 kg/ha, SP36 280 kg/ha, KCL 260 kg/ha.   Penanaman A. pintoi dilakukan dengan cara stek buku tunggal. Buku A. pintoi diambil dari Kebun Percobaan Cikabayan -IPB.

Penanaman dan Pemeliharaan Kacang Panjang

Kacang panjang yang digunakan dalam percobaan ini adalah varietas 777 yang bermerek Panah Merah.  Varietas ini dipilih karena umum digunakan petani serta mudah diperoleh di hampir setiap toko pertanian yang ada di Darmaga. Pemupukan kacang panjang dilakukan tiga kali dengan dosis pupuk Urea 185 kg/ha , SP36 375 kg/ha dan KCL 225 kg/ha. Pemupukan pertama dengan 50% dari dosis dilakukan pada saat tanam, sedangkan pemupukan kedua dan ketiga dilakukan pada saat tanaman kacang panjang berumur 3 MST dan  6 MST, dengan masing-masing 25% dari total dosis pupuk. Pengajiran dilakukan pada saat tanaman kacang panjang berumur 2 MST.  Untuk maksud tersebut setiap tanaman diberi satu ajir bambu, selanjutnya setiap empat ajir diikat dengan tali menjadi satu sehingga membentuk piramida.

Penyiangan gulma juga dilakukan dua kali yaitu pada saat sebelum tanam, dan setelah tanaman kacang panjang berumur 6 MST. Penyiangan ini dilakukan pada setiap lahan baik yang ditanami A. pintoi maupun yang tidak ditanami A. pintoi.  Gulma yang banyak tumbuh adalah jenis teki-tekian dan rumput-rumputan, sedangkan gulma berdaun lebar tidak banyak tumbuh pada lahan ini.

Pengamatan Kutudaun dan Kumbang Kubah

Pada setiap petak percobaan dipilih secara sistematik 18 rumpun tanaman kacang panjang.  Peubah kelimpahan kutudaun didasarkan pada banyaknya koloni yang terdapat pada tanaman contoh. Kelimpahan kumbang kubah dilakukan dengan menghitung banyaknya kumbang yang dijumpai pada tanaman contoh.  Pengamatan dilakukan setiap minggu sejak tanaman berumur 6 MST hingga menjelang panen berakhir.

Pengamatan Artropoda Penghuni Permukaan Tanah

Kelimpahan serangga permukaan tanah diamati dengan cara memasang perangkap (pitfall). Perangkap dibuat dari gelas plastik bervolume 200 ml.  Kedalam gelas dimasukkan cairan formalin 4% sekitar 60 ml.  Gelas tersebut kemudian dibenamkan di tanah dengan permukaan diatur sedemikian rupa sehingga rata dengan permukaan tanah.  Untuk menghindarkan dari curahan air hujan, perangkap diberi atap dari seng.  Letak atap seng diatur sehingga tidak mengganggu aktivitas artropoda yang menuju perangkap.  Pemasangan perangkap dilakukan tiga kali yaitu awal tanam, pertengahan dan akhir tanam. Pada awal tanam perangkap dipasang  selama 24 jam, sedangkan pada pertengahan dan akhir musim tanam perangkap dipasang  72 jam.  Jumlah perangkap ? buah untuk setiap kali pemasangan. Artropoda yang tertangkap diidentifikasi hingga jenjang famili. Penempatan perangkap dalam petak pertanaman dilakukan secara sistematis, yaitu 5 perangkap per petak dengan posisi satu di tengah petak dan empat sisanya pada arah setiap sudut petak. Untuk keperluan analisis, data yang diperoleh pada tiga waktu pengamatan tersebut dijumlahkan dan dipilah berdasarkan famili.

Pengamatan Hasil Panen

Panen dilakukan setiap 4 hari sejak tanaman berumur 7 MST.  Pada setiap kali panen, bobot kacang panjang dari kedua perlakuan ditimbang dan dicatat.  Untuk keperluan analisis, bobot panen dijumlahkan dan dipilah berdasarkan perlakuan.

Analisis Data

Pengaruh perlakuan terhadap kelimpahan kutudaun, kumbang kubah, artropoda penghuni permukaan tanah, dan hasil panen diperiksa dengan melakukan analisis ragam dengan batuan SPSS 11.5.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perkembangan Populasi Kutudaun

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penanaman A. pintoi sebagai penutup tanah tidak berpengaruh  nyata terhadap kelimpahan populasi kutudaun , dari sejak tanaman berumur 6 MST hingga 12 MST (Tabel 1).  Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Smith (1976) yang mengungkapkan bahwa  permukaan tanah yang terbuka dapat menjadi stimulus bagi kutudaun Brevicoryne brassicae (L.) untuk melakukan kolonisasi pada petak sayuran kubis-kubisan.  Diperkirakan bahwa penanaman kacang panjang dengan sistem piramida menyebabkan penutupan permukaan tanah, sehingga pengaruh penanaman A. pintoi terhadap kelimpahan kutudaun tidak terlihat nyata.

Tabel 1. Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan terhadap kelimpahan

populasi kutu daun (transformasi V x + 0,5 )

MST Kuadrat TengahPengaruh db Kuadrat Tengah Galat F P
6 0,180 1, 4 0,045 4,000 0,116
7 1,109 1, 4 0,670 1,656 0,268
8 1,335 1, 4 2,735 0,488 0,523
9 1,197 1, 4 3,957 0,303 0,612
10 0,035 1, 4 4,767 0,007 0,936
11 0,522 1, 4 3,594 0,145 0,722
12 1,480 1, 4 2,997 0,494 0,521

Pada Gambar 1 tampak bahwa hama kutudaun muncul sejak tanaman berumur 6 MST, kemudian populasinya meningkat dan mencapai puncaknya pada 10 MST.  Setelah itu populasi kutudaun  menurun  kembali yang disebabkan  pucuk , daun muda, serta polong sebagai makanan kesukaan kutudaun semakin berkurang. Faktor lain yang diduga menyebabkan fluktuasi kelimpahan kutudaun di lahan percobaan adalah tingginya curah hujan pada saat penelitian dilakukan. Curah hujan pada bulan Februari hingga Mei 2008 mencapai 228.5 mm/bulan dengan sekitar 16 hari hujan setiap bulannya. Dilaporkan bahwa serangga berukuran kecil seperti kutudaun yang hidup di bagian pucuk tanaman sangat rentan terhadap terpaan air hujan (Stoyenoff 2001). Akibat terpaan air hujan ini diduga sebagian kutudaun yang jatuh tidak dapat kembali lagi ke pertanaman.

Gambar  1. Perkembangan populasi kutudaun pada petak perlakuan dan kontrol

Perkembangan Populasi Kumbang Kubah

Jenis serangga predator yang sering ditemukan selama penelitian berlangsung adalah kumbang kubah Menochilus sexmaculatus (F.)(Coleoptera: Coccinellidae). Selain itu ditemukan musuh alami lain di antaranya adalah serangga predator Syrphidae, Carabidae, Reduviidae, serta  beberapa jenis serangga dari golongan parasitoid.  Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penanaman tanaman penutup tanah A. pintoi berpengaruh tidak nyata ( P > 0,05) terhadap kelimpahan kumbang kubah M. sexmaculatus (Tabel 2).

Tabel 2. Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan terhadap kelimpahan

populasi kumbang Menochilus sexmaculatus (transformasi V x + 0,5 )

MST Kuadrat TengahPengaruh db Kuadrat Tengah Galat F P
6 0,392 1, 4 0,676 2,059 0,225
7 0,191 1, 4 0,620 0,308 0,609
8 1,870 1, 4 0,419 4,460 0,102
9 0,516 1, 4 0,191 1,046 0,364
10 0,009 1, 4 1,029 0,009 0,931
11 1,092 1, 4 1,052 1,038 0,366
12 4,200 1, 4 1,082 3,880 0,120

Kelimpahan populasi kumbang kubah M. sexmaculatus disajikan pada Gambar 2. Tampak bahwa kehadiran kumbang predator terjadi sejak tanaman berumur 6 MST, berbarengan dengan kehadiran kutu daun di pertanaman. Dilaporkan bila populasi mangsa rendah maka kumbang kubah dapat berpindah ke tempat lain untuk mencari mangsanya (Schellhorn &  Andow 1999). Hal ini dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2. Kumbang kubah lebih banyak ditemukan pada lahan yang lebih dahulu muncul kutudaun sebagai makanannya, kemudian predator ini lebih banyak ditemukan pada lahan yang tidak ditanami A. pintoi.  Hal ini karena mangsanya yaitu kutudaun berkembang membentuk koloni yang lebik banyak pada lahan yang tidak ditanami A. pintoi dibandingkan pada lahan yang ditanami A. pintoi. Kumbang kubah termasuk salah satu predator yang aktif mencari mangsa dan dapat berpindah dari satu tanaman ke tanaman lainnya (Dixon 2000).

Gambar  2. Perkembangan populasi kumbang predator pada petak perlakuan dan kontrol

Untuk memeriksa hubungan antara kelimpahan kutudaun dengan kelimpahan kumbang kubah, seluruh individu data dari petak dengan A. pintoi dan petak tanpa A. pintoi kemudian dipetakan seperti tampak pada Gambar 3. Hasil analisis menunjukkan terdapat korelasi (r = 0,385) yang nyata (P = 0,012) antara kelimpahan kutudaun dengan kelimpahan kumbang predator. Hal ini menunjukkan bahwa makin banyak populasi kutudaun makan banyak pula populasi kumbang kubah.  Salah satu ciri dari musuh alami yang baik adalah yang memperlihatkan sifat terpaut kerapatan terhadap inangnya atau mangsanya.

Gambar  3. Hubungan antara kelimpahan kutudaun dengan kumbang kubah

Artropoda Penghuni Tanah

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penanaman A. pintoi sebagai penutup tanah berpengaruh nyata terhadap kelimpahan Gryllidae (P = 0,039) tapi tidak nyata terhadap Formicidae (P = 0,064) dan Araneida (P = 0,205) (Tabel ).  Namun secara umum terdapat kecenderungan bahwa kelimpahan artropoda penghuni tanah (Formicidae, Arachnida, Gryllidae) lebih banyak pada petak yang ditanami penutup tanah A. pintoi (Gambar ).

Tabel 3. Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan terhadap kelimpahan populasi

artropoda penghuni permukaan tanah  (transformasi V x + 0,5 )

Kelompok Arthrophoda Kuadrat TengahPengaruh db Kuadrat Tengah Galat F P
Formicidae 140,167 1, 4 21,667 6,469 0,064
Araneida 204,167 1, 4 89,333 2,285 0,205
Gryllidae 16,667 1, 4 1,833 9,091 0,039

Tanaman penutup tanah seperti A. pintoi menyediakan habitat fisik yang sesuai bagi kehidupan artropoda penghuni permukaan tanah. Kelembaban permukaan tanah menjadi lebih tinggi akibat adanya tanaman penutup tanah. Begitu pula tanaman penutup tanah dapat melindungi artropoda penghuni permulkaan tanah dari terpaan terik matahari dan butiran air hujan.  Selain itu, tanaman penutup tanah dapat menyediakan sumberdaya hayati bagi artropoda penghuni permukaan tanah. Berbagai jenis serangga fitofag dapat memanfaatkan tanaman penutup tanah sebagai sumber makanannya, yang pada giliran berikutnya dapat mendukung artropoda yang bersifat sebagai predator seperti semut, laba-laba, dan sebagian jenis jangkrik.

Gambar  4. Kelimpahan artropoda penghuni permukaan tanah pada petak perlakuan dan petak kontrol

Hasil Panen

Total bobot kacang panjang dari delapan kali panen disajikan pada Gambar 5. Hasil analisis ragam menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata (F = 2,839; db = 1, 4; P = 0,167) antara kedua perlakuan. Pada petak ulangan-1 bobot hasil panen sangat rendah, sekitar setengahnya dari petak ulangan lain.  Data bobot hasil panen yang beragam inilah yang menyebabkan hasil pengujian statistika tidak nyata. Secara umum tampak bahwa bobot hasil panen dari petak yang di tanami A. pintoi cenderung lebih rendah daripada petak kontrol. Pada petak perlakuan  A .pintoi, umur kacang panjang tidak sama dengan umur kacang panjang pada petak kontrol, karena pada petak yang disebut pertama terjadi penyulaman akibat sebagian tanaman mengalami kematian. Perbedaan kondisi tanaman ini dapat berpengaruh terhadap hasil panen. Cenderung lebih tingginya hasil panen pada petak tanpa A. pintoi tidak ada kaitannya dengan serangan hama kutudaun, karena kelimpahan hama ini tidak berbeda di antara kedua petak perlakuan. Hasil panen yang cenderung lebih rendah pada petak A. pintoi diduga kuat karena adanya persaingan unsur hara antara tanaman kacang panjang  dengan  A. pintoi.

Tanpa  A. pintoi
Dengan A. pintoi

Gambar  5. Rataan bobot hasil panen kacang panjang pada petak perlakuan dan petak kontrol

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Penanaman A. pintoi sebagai tanaman penutup tanah di lahan kacang panjang tidak berpengaruh terhadap kelimpahan hama kutu daun A. craccivora dan predatornya kumbang M. sexmaculatus. Kelimpahan beberapa kelompok artropoda penghuni permukaan tanah cenderung lebih banyak pada lahan yang ditanami A. pintoi dibandingkan yang tidak. Terdapat kecenderungan bahwa hasil panen kacang panjang lebih rendah pada petakan yang ditanami A. pintoi daripada yang tanpa penutup tanah.  Penanaman A. pintoi sebagai penutup tanah belum cukup bukti mampu memberikan manfaat baik dari segi ekologi yang berupa penekanan hama, maupun dari segi ekonomi yang berupa peningkatan hasil panen.

Saran

Penelitian perlu diulang paling tidak untuk satu musim lagi.  Untuk mengurangi persaingan hara antara kacang panjang dan tanaman penutup tanah disarankan agar daerah sekitar perakaran kacang panjang dibersihkan dari A. pintoi.  Selain itu, dalam jangka panjang perlu dikaji pengaruh positif dari penanaman A. pintoi terhadap penyediaan hara dan konservasi tanah.

DAFTAR PUSTAKA

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2007. http://www.bps.go.id.%5B1 Oktober 2007]

[BPTP Lampung] Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung. 2004. Arachis pintoi sebagai tanaman penutup tanah pada perkebunan lada. BPTP Lampung. http://lampung .litbang.deptan.go.id/teknologi.html [27 april 2006].

Dixon  AFG. 2000. Insect Predator-Prey Dynamics: Ladybird beetles & Biological Control. Spain: Cambridge Univ Pr 257 p.

Haryonto, E, Suhartini T, Rahayu E. 1999. Budidaya Kacang Panjang. Jakarta : Penebar Swadaya.

Schellhorn NA, Andow DA.1999. Mortality of Cocinellid (Coleoptera: Coccinellidae) larvae and pupae when prey become Scarce. Environ Entomol 28 (6): 1092-1100

Smith JG. 1976. Influence of  crop background on aphids and other phytophagous insects in Brussels sprouts.  Ann. Appl Biol 83: 19-22.

Stoyenoff JL. 2001. Plant wahing as a pest management technique for control of aphids (Hmoptera: Aphididae). J Econ Entomol 94(6): 1492-1499.

Sunaryono, H. Dan Ismunandar. 1981. Kunci Bercocok Tanam Sayur-sayuran Penting di Indonesia. Sinar Baru. Bandung. 154 hal

Trisawa IM, IW Laba, dan WR Atmadja. 2005. Artropoda yang Berasosiasi pada Ekosistem Tanaman Lada. Jurnal Entomologi Indonesia 2(1):10-18.

Umroh SI. 1995. Kombinasi Perlakuan Waktu Tanam Arachis pintoi dan Pemupukan Fosfor terhadap pertumbuhan serta Produksi Jagung Hibrida CP-1 dibawah Pertanaman Kelapa [Tesis]. Program Pasca Sarjana, KPK Institute Pertanian Bogor- Universitas Samratulangi, Manado.

05/31/2010 Posted by | Ekologi Hewan | 3 Komentar

ASOSIASI BEKICOT INDONESIA (ABI)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bekicot berasal dari Afrika Timur, tersebar keseluruh dunia dalam waktu relatif singkat, karena berkembang biak dengan cepat. Bekicot tersebar ke arah Timur sampai di kepulauan Mauritius, India, Malaysia, akhirnya ke Indonesia. Bekicot sejak tahun 1933 telah ada disekitar Jakarta, sumber lain menyatakan bahwa bekicot jenis Achatina fulica masuk ke Indonesia pada tahun 1942 (masa pendudukan Jepang). Sampai saat ini, bekicot jenis Achanita fulica banyak terdapat di Pulau Jawa.
Bekicot mengandung protein yang cukup tinggi dibandingkan dengan daging ayam, daging sapi dan telor. Pembuatan tepung bekicot merupakan usaha untuk menghindari kesan menjijikkan terhadap bekicot dengan jalan mengolahnya menjadi bentuk yang berbeda dengan sewaktu hidupnya. Di samping itu juga bertujuan untuk memperpanjang masa simpan. Setiap 100 daging bekicot mentah mengandung protein sebanyak 15,8 gram dan lemak 0,9 gram. Tenaga yang dihasilkan tiap 100 gram daging bekicot sebanyak 97 kilo kalori atau lebih besar dari tenaga yang dihasilkan oleh daging yang diternak lain.
Bekicot sejak lama dikenal dan ditemukan dimana-mana di pelosok tanah air. Dulu hewan ini dikenal sebagai hama tanaman, tetapi sejak tahun 1980 mulai diekspor dalam bentuk beku dengan tujuan Eropa. Bagi masyarakat Eropa, khususnya Prancis bekicot merupakan salah satu makanan yang lezat, bergizi dan terhormat serta berharga mahal.
Impor bekicot Prancis dalam bentuk segar dan dibekukan dari Indonesia diperkirakan meningkat dari 1 212 ton pada tahun 1986 menjadi sekitar 11000 ton pada tahun 1990. Sedangkan data sebelumnya, yaitu tahun 1983 menunjukkan bahwa ekspor bekicot Indonesia tercatat 190 813 kg dengan nilai 939 011 dollar AS dan 725 240 senilai 1 182 299. 34 dollar AS pada tahun 1984. Pasaran ekspor bekicot Indonesia yang penting selain Prancis adalah Amerika Serikat, Hongkong dan Taiwan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
 Bagaimanakah bentuk budidaya dari bekicot?
 Bagaimanakah bentuk produk-produk olahan dari bekicot?
 Bagaimanakah bentuk perkumpulan atau asosiasi dari bekicot?
1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah bentuk budidaya dari bekicot, Bagaimanakah bentuk produk-produk olahan dari bekicot, dan Bagaimanakah bentuk perkumpulan atau asosiasi dari bekicot.
1.4 Manfaat Penulisan
Penulisan ini memberikan beberapa manfaat. Aspek akademis memberikan indormasi ilmiah kepada masyarakat tentang pembudidayaan dan produk-produk olahan dari bekicot. Aspek ekonomis dengan penginformasian tentang pembudidayaan dan produk olahan dari bekicot akan mendatangkan income atau pendapatan bagi masyarakat. Aspek sosial dengan pendirian asosiasi bekicot akan membuat bekicot lebih dikenal oleh masyarakat dan membuat masyarakat tidak lagi apatis terhadap bekicot.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Bekicot
2.1.1 Deskripsi Bekicot
Bekicot dewasa memiliki tinggi sekitar 7 cm (2,5 inci), dan mereka dapat mencapai panjang 20 cm (8 inci) atau lebih. Cangkang bentuknya kerucut, yang luasnya dua kali lipat dari tinggi tubuhnya. Cangkang bentuknya searah jarum jam (sinistral) atau berlawanan arah dari jarum jam. Warna cangkang sangat variabel, dan bergantung pada makanan. Biasanya, coklat adalah warna utama dan cangkang terikat.
Achatina fulica merupakan protandrous wadam. Dewasa laki-laki dan perempuan memiliki organ seksual, dengan laki-laki organ maturing sebelumnya. Kematangan seksual laki-laki terjadi dalam waktu kurang dari satu tahun, kadang-kadang sebagai muda sebagai lima bulan. Setelah persetubuhan mereka dapat menyimpan sperma, membuat telur-turut setelah peletakan mungkin hanya satu perkawinan. Beberapa ratus telur per kopling mungkin diungkapkan. Mereka adalah telur warna kekuning-kuningan-putih ke kuning, agak oval dengan bentuk dan ukuran 4 hingga 5,5 mm (kurang lebih ¼ inci) dan panjang sekitar 4 mm lebar. Shell mungkin ukuran hingga 20 cm (8 inci) dan panjang 12 cm (hampir 5 inci) di diameter maksimum. Umumnya terdapat tujuh dengan sembilan whorls dan jarang sebanyak sepuluh whorls. Achatina fulica lebih lingkungan yang kaya akan kalsium carbonate, seperti batu gamping, marl, dan dibangun atas tempat terdapat banyak semen atau beton.. Kapur di daerah-daerah yang kaya kerang orang dewasa cenderung kental dan kabur. Remaja umumnya memiliki tipis, shell lebih jelas dan lebih rapuh. Perlu dicatat bahwa bahkan di posting ini berhubung dgn lembaga-ciri remaja yang dipotong columella sudah jelas. Setelah muncul dari kulit telur panjang pos-berhubung dgn lembaga remaja shell tindakan sekitar 4 mm (sekitar 1 / 6 inci). Walaupun shell pewarnaan variabel mungkin karena kondisi lingkungan dan gizi, umumnya adalah cokelat kemerahan dengan cahaya kekuning-kuningan, vertikal (aksial) streaks. Shell dua warna tidak berbeda dari satu sama lain dan agak buram atau bimbang dalam tampilan. Lain shell variasi warna menyerupai cahaya warna kopi. Warna secara perlahan dengan usia di awal whorls muncul terang atau kurang kuat, menjadi gelap dan lebih bersemangat terdekat badan ulir. Tubuh hewan yang hidup ini memiliki dua pasang tentacles, satu rendah singkat pasangan yang berkenaan dgn peraba dan chemotactic, dan satu lagi atas pasangan dengan bintik-bintik pada mata tips. Tubuh itu sendiri lembab, berlumpur dan elastis. Tubuh pewarnaan dapat berupa burik coklat atau lebih jarang yang pucat warna cream. Footsole adalah yang rata, dengan kasar tubercles paling nyata laterally di atas permukaan tubuh diperpanjang.
Dengan garis-besar, shell Mei agak berbeda, bahkan di dalam satu koloni, dari lanjai ke cukupan obese. Spesimen yang lebih luas dengan jumlah yang sama whorls cenderung singkat di shell panjang.. Shell biasanya conically khas narrowed runcing dan ditarik keluar tapi hampir di puncak. Yang akan dibulatkan whorls terkesan dengan cukupan sutures antara whorls. Kecepatan rana yang relatif singkat dan memiliki ovate-bentuk semi bulan. Adalah bibir yang tajam, cembung, tipis dan merata ke laur biasa semi elips. Shell permukaan relatif halus, dengan pertumbuhan kusam aksial baris. Salah satu yang paling penting identifikasi fitur Achatina fulica merupakan columella yang truncates atau tiba-tiba berakhir, fitur jelas sepanjang sisa jangka hidup dari siput. Columella yang umumnya kelung; kurang concaved columella cenderung agak sinting. Kerang yang lebih luas cenderung memiliki lebih cekung columella. The columella dan parietal belulang yang kebiru-biruan atau putih-putih tanpa jejak dari pink.
2.1.2 Habitat
Seluruh negara di mana Achatina fulica didirikan dengan iklim tropis yang hangat, ringan sepanjang tahun suhu dan kelembaban tinggi (Venette dan Larson 2004). Spesies yang terjadi di daerah-daerah pertanian, wilayah pesisir dan Wetlands, terganggu daerah, alam dan hutan tanaman, zona tepi pantai, scrublands dan shrublands, dan perkotaan (Moore 2005). Snails ini berkembang pesat di tepi hutan, dimodifikasi hutan, perkebunan dan habitat (Raut dan Barker 2002). Di mana pun itu terjadi, maka siput terus ke panas lowlands sedang hangat dan lebih rendah dari lereng gunung-gunung. Perlu di atas suhu beku sepanjang tahun, dan kelembaban tinggi selama sekurang-kurangnya bagian dari tahun, bulan kering yang berkurang dalam aestivation terbengkalai. Ia dibunuh oleh sunshine (Venette dan Larson 2004). fulica tetap aktif di berbagai suhu 9 ° C sampai 29 ° C, dan survives suhu dari 2 ° C oleh hibernasi dan 30 ° C oleh aestivation (Fowler dan Smith 2003).
2.1.3 Jenis Makanan
The Giant Snail Afrika Timur adalah macrophytophagous herbivore; tidak makan berbagai macam bahan tanaman, buah dan sayuran. Ia akan kadang-kadang makan pasir, batu-batu sangat kecil, tulang carcasses dari beton dan bahkan sebagai sumber kalsium untuk shell. Dalam kasus yang jarang snails akan mengkonsumsi satu sama lain. Dalam tahanan, spesies ini dapat makan di butiran produk seperti roti, biskuit pencernaan ayam dan pakan. Buah-buahan dan sayuran harus dicuci rajin sebagai siput sangat peka terhadap apa pun tak datang-datang pestisida Dalam tahanan, snails memerlukan cuttlebone untuk membantu pertumbuhan dan kekuatan untuk mereka shells. Seperti semua molluscs, mereka menikmati dalam ragi bir, yang berfungsi sebagai pendorong pertumbuhan.
2.1.4 Reproduksi
The East African Giant Snail adalah serentak wadam; masing-masing individu memiliki kedua testes dan ovaries dan mampu memproduksi kedua sperma dan ova. Contoh dari diri fertilisation yang langka, hanya terjadi di populasi kecil. Meskipun kedua snails dalam perkawinan pasangan dapat secara bersamaan gametes mentransfer ke satu sama lain (bilateral perkawinan), hal ini tergantung pada ukuran perbedaan antara mitra. Snails ukuran yang sama akan mereproduksi dengan cara ini. Snails dari dua ukuran yang berbeda akan mate sepihak (satu arah), dengan semakin besar individu sebagai perempuan. Hal ini karena perbandingan sumberdaya investasi yang terkait dengan berbagai genders.
Lainnya seperti tanah snails, perkawinan ini telah menarik tingkah laku, termasuk hastakarya kepala bagian depan dan terhadap satu sama lain. Masa terakhir dapat sampai setengah jam, dan yang sebenarnya transfer gametes dapat berlangsung selama dua jam. Ditransfer sperma dapat disimpan dalam tubuh sampai dua tahun. Jumlah telur per kopling rata-rata sekitar 200. J siput 5-6 Mei meletakkan kuku-kuku per tahun dengan penggarisan kelangsungan hidup dari sekitar 90%.
2.1.5 Siklus Hidup
Ukuran dewasa yang mencapai sekitar enam bulan, yang kemudian akan memperlambat pertumbuhan tetapi tidak pernah berhenti. Harapan Hidup umumnya lima atau enam tahun dalam tahanan, tetapi untuk hidup snails Mei hingga sepuluh tahun. Mereka aktif di malam hari dan menghabiskan hari terkubur di bawah tanah. East African Land Snail mampu aestivating untuk sampai tiga tahun pada saat kemarau ekstrim, sealing sendiri ke dalam tempurung oleh keluarnya dari calcerous kompleks yang dries pada kontak dengan udara. Ini adalah kedap; siput yang tidak akan kehilangan apapun air selama periode ini.
2.2 Pembudidayaan
2.2.1 Persyaratan Lokasi
Lokasi perlu dipilih yang dekat dengan jalan, agar mudah penanganannya, baik saat pembuatan kandang, saat pengontrolan maupun penanganannya pascapanen, artinya pada saat membawa hasil panen tersebut tidak kesulitan dalam transportasinya. Lokasi yang sesuai untuk budidaya bekicot adalah lokasi yang basah serta lembab dan terlindung dari cahaya matahari secara langsung. Selain itu juga tanah yang disukai adalah tanah yang banyak mengandung kapur sebagai zat untuk pembentukan cangkang.
2.2.2 Pemilihan Bibit
Tidak semua jenis bekicot cocok untuk dibudidayakan. Dua jenis bekicot yang biasa diternakan, yaitu spesies Achantina fulica dann Achantina variegata. Cirri bekicot jenis achantina fulica biasanya berwarna garis-garis pada tempurung/cangkangnya tidak begitu mencolok. Sedangkan jenis Achantina variegate warna garis-garis pada cangkangnya tebal dan berbuku-buku.
Jika bibit unggul belum tersedia maka sebagaimaka sebagai langkah pertama dapat di gunakan bibit local mpulkan bekicot yang banyak terdapat di kebun pisang, kelapa, serta semak belukar. Bekicot yang baik di jadikan bibit adalah yang tidak rusak/cacat yang sementara waktu dan yang besar dengan berat lebih kurang 75-100grm/ekor.
1) Pemilihan Bibit Calon Induk
Jika bibit unggul belum tersedia maka sebagai langkah pertama dapat digunakan bibit lokal dengan jalan mengumpulkan bekicot yang banyak terdapat di kebun pisang, kelapa, serta semak belukar. Bekicot yang baik dijadikan bibit adalah yang tidak rusak/cacat yang sementara waktu dan yang besar dengan berat lebih kurang 75-100 gram/ekor.
2) Reproduksi dan Perkawinan
Bekicot biasanya mulai kawin pada usia enam sampai tujuh bulan ditempat pemeliharaan yang cukup memenuhi syarat. Pada masa kawin bekicot betina mulai menyingkir ke tempat yang lebih aman. Bekicot bertelur di sembarang tempat. Jumlah telurnya setiap penetasan biasanya lebih dari lima puluh butir (50 100). Jumlah produksi telur tergantung masa subur bekicot itu sendiri. Besar telur bekicot tidak lebih dari 2 mm.
3) Proses Kelahiran
Telur bekicot akan menetas setelah usianya cukup. Pada waktu telur itu menetas dan menjadi anak cangkang, biasanya tidak ditunggui induknya. Begitu bekicot selesai bertelur, telurnya ditinggalkan begitu saja. Telur bekicot akan pecah sendiri melalui proses alam.

Penetasan bekicot hingga menjadi anak tergantung pada keadaan tempat dan waktu tetas. Bilamana tempat itu memenuhi syarat (sempurna) seperti kelembaban tanah, iklim dan cahaya yang mencukupi, maka telur akan cepat menetas. Sebaliknya jika keadaan tanah/iklim kering dan tempatnya kurang menguntungkan maka telur akan lambat menetas.

2.2.3 Pengandangan
Walaupun lahan yang diperlukan tidaklah terlalu luas namun persyaratan mengenai kelembaban dan keteduhan perkandangan perlu di perhatikan, karena dalam aslinya dan untuk berkembang biak secara baik bekicot senang dengan keadaan yang lenmbab yang teduh. Kandang didirikan di tanah kering, teduh, lembab, dengan suhun udara berkisar 25-30 C. cara pemeliharaan bekicot tidak terlalu sulit. Bisa dilakukan secra terpisah, artinya bekicot yang kecil dupelihara terpisah dengan yang besar. Bisa juga di lakukan denagn cara campuran, yaitu bekicot kecil dan besar dipelihara dalam satu kandang. Bila dilakukan secara terpisah resikonya harus di buat kandang yang besar dan terpisah. Fungsinya kandang adalah untuk penetasan, pembesaran, dan sebagai kandang induk. Ada tiga cara bekicot untuk di ternakan yaitu
a. Kandang kotak kayu
Kandang terbuat dalam lembaran kayu triplek yang berkaki. Untuk kerangkanya dapat digunakan kayu kaso. Ukuran panjang dan lebar kandang adalah 1×1 meter, tinggi 1,25 meter. Di atas kotak tersebut di beri kawat kasa, agar bekicot tidak keluar dari dalam kandang.
b. Kandang dari bak semen
Pembuatan kandang ini sama dengan kandang kotak kayu. Dalam bak semen yang perlu di perhatikan adalah alasnya. Untuk menciptakan suasana yang lembab, alas semen perlu di beri tanah dan cacing untuk menggenburkan tanah dan menyerap kotoran yang dikeluarkan bekicot. Tebal lapisan tanah di dalam bak sekitar 30cm.
c. Kandang galian tanah
Tanah di gali dengan ukuran panjang, lebar dan tinggi 1x1x1 m. perlu di perhatikan sebaiknya tanah galian yang akan di gunakan ungtuk kandang di pilih yang agak kering. Untuk menjaga supaya tanah selalu gelap, seperti cara yang pertama dan kedua di atas kandang perlu di buatkan bedeng sebagai penutup. Masa panen, ila kandangnya terbuat dari tanah galian. Cara pengambilanya dilakukan dengan galah yang bisa menjepit bekicot agar bekicot dan telurnya tidak rusak. Beberapa perawatan teknis dalam budidaya bekicot diantaranya meliputi : 1) menjaga kelembapan lingkungan. 2) mempertahankan kondisi lingkungan. 3) pemberian pakan yang bermutu secra teratur. 4) menjaga areal agar tidak di masuki hewan lain. 5) menjaga bekicot agar tidak keluar dari areal pemeliharaan.
2.2.4 Pemeliharaan
Pemeliharaan bekicot bisa dilakukan dengan cara terpisah dan bisa juga secara campuran di dalam suatu tempat. Meskipun cara terpisah membutuhkan tempat khusus tetapi ada keuntungannya. Misalnya, anak bekicot bisa diketahui perkembangannya secara tepat, baik besarnya maupun usianya. Dengan demikian, tidak sulit untuk memberikan perawatan secara khusus. Bagi peternak bekicot sangat mudah kiranya apabila perawatan anak bekicot itu dilakukan di tempat khusus. Adapun makanan anak bekicot bisa diberi makanan dengan sejenis ganggang (lumut), pupus daun dan sedikit zat kapur. Harus diingat hendaklah tempatnya selalu teduh dan lembab. Setelah anak bekicot berusia dua/tiga bulan, hendaklah dipindahkan kekandang pembesaran. Keberhasilan budidaya bekicot tergantung pada cara perawatan dan pemeliharaan teknis selama diternakkan. Beberapa perawatan teknis dalam budidaya bekicot diantaranya meliputi:
1) Menjaga kelembaban lingkungan
Bekicot sangat suka tempat yang lembab sehingga untuk mempertahankan kelembaban lingkungan dapat digunakan atap atau perlindungan lain. Pada musim panas kelembaban lingkungan dapatdipertahankan dengan menyiramkan air lokasi peternakan setiap hari.
2) Mempertahankan kondisi likngkungan
Bekicot menyukai tempat yang lembab, namun bukan berarti pada tanah yang becek. Sehingga diperlukan usaha untuk mempertahankan kondisi lingkungan yang sesuai dengan yang dikehendaki bekicot.
3) Pemberian pakan yang bermutu secara teratur
Agar hasil budidaya berhasil dengan baik diperlukan pemberian pakan yang bermutu dan teratur. Pemberian pakan berpedoman pada mutu pakan dan kebiasaan waktu makan. Mutu makan yang baik akan menentukan kualitas daging bekicot. Mutu pakan yang baik dapat dipenuhi dengan memberi pakan berupa daun-daunan yang disukai dan buah-buahan. Misalnya; daun dan buah pepaya, daun bayam, buah terung mentimun, swai dan lain sebagainya.
4) Menjaga areal agar tidak dimasuki hewan lain
Agar bekicot dapat tumbuh baiak tanpa gangguan dari hewan yang merupakan musuhnya dan hewan yang dapat merebut makanannya maka lahan budidaya harus dijaga agar tidak dapat dimasuki hewan-hewan lain.
5) Menjaga bekicot agar tidak keluar dari areal pemeliaraan.
Untuk menjaga agar bekicot tidak keluar dari areal dapat dilakukan hal
sebagai berikut: membuat tutup kandang (bila budidaya bekicot dalam kandang)
dan membuat pagar yang bagian atasnya diolesi dengan detergen menabur abu atau garam disekeliling pagar bagian dalam.
2.2.5 Pemberian Pakan
Agar hasil budidaya berhasil dengan baik diperlukan pembarian pakan yang bermutu dan teratur. Pemberian pakan berpedoman pada mutu pakan dan kebiasaan waktu makan. Mutu makan yang baik akan menentukan kualitas daging bekicot. mutu pakan yang baik dapat dipenuhi dengan memberi pakan berupa daun-daunan yang disukai dan buah-buahan. Misalnya: daun dan buah papaya, daun bayam, buah terung mentimun, swai dan lain sebagainya.
2.2.6 Pencegahan Penyakit
Sampai saat ini belum banyak diketahui tentang adanya hama atau penyakit yang dapat menyebabkan kematian bekicot, kecuali semut, bebek dan itik.
2.2.7 Panen
Dengan pemeliharaan cukup baik, bekicot mulai dapat dipanen setelah 5-8 bulan. secara fisik dapat dilihat apabila panjang cangkang telah mencapai 8-10 Cm, maka bekicot telah siap untuk diambil dagingnya. Hasil utama dari ternak bekicot adalah dagingnya, yang dapat diolah langsung dengan dibuat sate, keripik, dendeng/masakan segar lainnya dan dapat juga diolah dalam bentuk kalengan. Ada juga permintaan dalam keadan hidup. Disamping itu daging dari bekicot ini dapat dijadikan tepung, yang pengolahannya melalui proses pengeringan terlebih dahulu.
Disamping diambil dagingnya, kulit/cangkang bekicot juga laku untuk dijual. Baik untuk bahan dasar obat-obatan/dibuat tepung untuk tambahan makanan untuk hewan ternak yang membutuhkan tepung berbahan dasar yang mengandung zat kapur. Penangkapan Bekicot dikumpulkan di dalam kotak kardus/peti dari kayu dan jangan menggunakan karung goni karena dapat mengakibatkan kulit bekicot pecah. Setelah dimasukkan dalam peti, pertama sekali perlu dilakukan pencucian agar terhindar dari semua kotoran dan lumpur yang melekat pada cangkangnya. Pencucian ini dengan cara menyemprot bekicot dengan air bersih. Setelah itu, Bekicot di karantina selama 1-2 hari/malam tanpa diberikan makan agar kotoran dan lendirnya keluar sebanyak mungkin.
2.2.8 Pasca Panen
Setelah dilakukan penagkapan dan pengumpulan bekicot lalu dilakukan penyortiran dengan jalan membuang bekicot yang mati atau terlalu kecil untuk diolah. Kemudian dilakukan penggaraman, dengan memberikan garam 10-15% dari berat total bekicot, dengan cara diaduk rata. Penggaraman dapat mematikan bekicot sekaligus mengeluarkan lendir sebanyak mungkin. Setelah melalui tahapan penggaraman, segera direbus dengan air garam 3% selama 10 menit, kemudian diangkat dan disemprot dengan air dingin, baru dilakukan pencukilan daging. Perebusan kedua dilakukan setelah bagian perut dibuang dan kotoran lainnya dalam larutan garam 3%. Cara ini bertujuan untuk menghilangkan lendir dan daging menjadi lebih lunak. Kemudian daging tersebut dibungkus dan dikemas dalam karton.
2.2.9 Analisis Ekonomi dan Budaya
2.2.9.1 Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya bekicot metoda kebun di daerah Kediri (Jawa Timur) dengan luas lahan 4.000 m2 pada tahun 1999.
1) Biaya produksi
a. Sewa Lahan 4.000 m2 Rp. 200.000,-
b. Bibit induk 100 ekor @ Rp. 50,- Rp. 5.000,-
c. Pembuatan Pagar dan saluran 5 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 25.000,-
d. Bambu pagar 10 btg @ Rp. 2.000,- Rp. 20.000,-
e. Pakan dan Pemeliharaan Rp. 120.000,-
f. Panen dan pasca panen Rp. 100.000,-
g. Lain-lain Rp. 30.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 500.000,-

2) Pendapatan
– Bekicot siap panen 30.000 ekor = 100 kg @ Rp. 100,- Rp. 10.000,-
– Anak bekicot 60.000,-
– Telur bekicot 9.030.000 butir
Selanjutnya hasil panen dapat dilakukan setiap hari 100 kg dan pendapatan tiap bulan adalah Rp. 300.000,- dan perkembangan bekicot dari telur menjadi bekicot dan bekicot bertelur dan seterusnya.

3)Keuntungan
Dari budidaya bekicot tersebut dapat didapat keuntungan Rp. 180.000,- setiap bulannya dan Rp. 6.000,- setiap harinya.
2.2.9.2 Gambaran Peluang Agribisnis
Daging bekicot merupakan komoditi eksport yang menjanjikan, karena harganya yang cukup mahal dipasaran internasional. Pada periode Januari-Juli 1988 harga ekspor daging bekicot US $ 1,82 per kg. Hal ini menyebabkan menculnya Peternakan Inti Rakyat (PIR) dengan komoditi bekicot. Kini telah banyak berdiri perusahaan-perusahaan pengelola daging bekicot, yang dapat memperlancar pemasaran pasaran sebagai komoditi eksport.
2.3 Produk – Produk Olahan Bekicot
Bekicot sejak lama dikenal dan ditemukan dimana-mana di pelosok tanah air. Dulu hewan ini dikenal sebagai hama tanaman, tetapi sejak tahun 1980 mulai diekspor dalam bentuk beku dengan tujuan Eropa. Bagi masyarakat Eropa, khususnya Prancis bekicot merupakan salah satu makanan yang lezat, bergizi dan terhormat serta berharga mahal.
Impor bekicot Prancis dalam bentuk segar dan dibekukan dari Indonesia diperkirakan meningkat dari 1 212 ton pada tahun 1986 menjadi sekitar 11000 ton pada tahun 1990. Sedangkan data sebelumnya, yaitu tahun 1983 menunjukkan bahwa ekspor bekicot Indonesia tercatat 190 813 kg dengan nilai 939 011 dollar AS dan 725 240 senilai 1 182 299. 34 dollar AS pada tahun 1984. Pasaran ekspor bekicot Indonesia yang penting selain Prancis adalah Amerika Serikat, Hongkong dan Taiwan.
2.3.1 Bekicot Sebagai Obat

Bagian bekicot yang umum dikonsumsi manusia adalah bagian kakinya, sedangkan perut dan sungutnya dibuang. Dari 7 kg bekicot dapat diperoleh 1 kg daging kaki. Daging bekicot menghasilkan protein yang tinggi dan menghasilkan energi yang cukup besar, lebih besar dari daging kerbau. Dari hasil analisis, diketahui bahwa dalam 100 gram daging segar terkandung protein sebanyak 15.8 gram, lemak 0.9 gram dan akan menghasilkan energi sebesar 97 kkal. Daging bekicot juga mengandung asam amino esensial yang lebih tinggi dari telur ayam (ras dan lokal), disamping mempunyai komposisi asam amino yang baik dan tinggi dalam kadar lisin dan arginan, serta banyak mengandung vitamin B12, kalsium dan fosfor.
Bekicot mengeluarkan lendir dari mulutnya, sebagai senjata untuk mempertahankan diri bila ada gangguan dan memudahkan pergerakan. Lendir yang merupakan glikoprotein tersebut dapat dihilangkan dengan memanaskan daging bekicot, meredamnya dalam larutan asam encer atau ditaburi garam dapur.
Daging bekicot mempunyai daya penyembuhan terhadap penyakit. Bahan yang mempunyai daya penyembuh yang diekstraksi dari daging bekicot disebut “Ishimoto negligin”. Penyakit yang dapat disembuhkan antara lain asma, sakit ginjal, TBC, anemia, diabetes, sembelit dan mencegah influenza.
2.3.2 Bekicot Segar Beku
Untuk memperoleh daging bekicot, mula-mula bekicot yang telah dikumpulkan dipuasakan 2 – 3 hari agar kotorannya keluar. Kemudian dicuci dan diberi garam serta dibiarkan selama 15 – 30 menit agar semua lendirnya dikeluarkan. Biasanya 1 bata garam cukup untuk 1 – 1.5 kg bekicot. Setelah dicuci bersih, bekicot direbus dalam air cuka (100 ml cuka meja dalam 10 liter air), selama 15 – 20menit.
Daging bekicot dipisahkan dari cangkangnya dengan cara dicungkil atau dipecahkan. Bagian sungut dan perut dibuang (atau dicacah untuk makanan ikan dan bebek). Setelah dicuci, daging kaki bekicot direbus lagi dalam air cuka selama 15 – 20 menit setelah mendidih. Hasil yang diperoleh merupakan daging bekicot setengah jadi yang siap diolah.
Setelah dicuci dan ditiriskan, daging bekicot setengah jadi dikemas dalam plastik polietilen dan dibekukan pada suhu –18 sampai -23.5oC. Persiapan daging bekicot untuk makanan manusia harus dilakukan dengan hati-hati. Perebusan daging sebelum, pengolahan tidak hanya berguna untuk menghilangkan lendir yang beracun, tetapi juga untuk menghindari adanya bakteri patogen (penyebab penyakit ) terutama Salmonella, juga untuk membunuh telur cacing. Jika perebusan kurang sempurna atau hanya dilakukan sekali saja, telur cacing tidak mati dan akan masuk ke dalam tubuh yang dapat menyebabkan hepatitis. Makanan yang mengandung Salmonella dapat menyebabkan keracunan. Gejala keracunan berupa mual, muntah, sakit perut, sakit kepala, demam dan diare dapat timbul 12 – 24 jam setelah makan.
2.3.3 Pengalengan Daging Bekicot
Persiapan untuk pengalengan daging bekicot sama dengan untuk pembekuan. Daging bekicot setengah jadi yang diperoleh dicuci dan ditiriskan, lalu dimasukkan ke dalam kaleng dan diberi bumbu berupa saus tomat dan garam, serta diisi dengan larutan garam 1 – 2 persen. Pada waktu pengisian harus diperhatikan agar masih ruangan kosong dibagian atas kaleng (“head space”), sehingga pada waktu proses “exhausting” (penghilangan udara atau oksigen dari dalam kaleng) masih ada tempat pengembangan isi kaleng. Isi yang terlalu penuh akan menyebabkan kaleng menjadi cembung, yang walaupun tidak menyebabkan kerusakan tetapi akan menurunkan mutu dan penerimaannya karena diangggap busuk.
Selanjutnya dilakukan “exhausting” dengan cara mengukus kaleng terbuka sehingga udara atau oksigen yang terdapat di dalamnya terusir keluar. Kemudian dilakukan penutupan kaleng dengan sistem “double seamer” sehingga kedap udara, uap air dan mikroba. Setelah ditutup, dilakukan sterilisasi dalam otoklaf (retort) pada suhu 121oC selama 20 – 40 menit. Setelah proses sterilisasi selesai, harus segera dilakukan pendinginan yang cukup untuk mencegah tumbuhnya kembali bakteri termofilik (tahan panas). Pendinginan dapat dilakukan dalam retort sebelum dibuka atau di luar retort dengan cara menyemprotkan air dingin.

2.3.4 Dendeng Bekicot
Daging bekicot setengah jadi yang akan dibuat dendeng harus bersifat empuk. Untuk itu, daging bekicot direndam selama 6 jam dalam parutan buah nenas matang dengan perbandingan 1 : 1. Buah nenas mengandung enzim bromelin yang merupakan salah satu enzim proteolitik (pemecah protein). Enzim ini mampu mengempukkan daging karena dapat memutuskan protein jaringan pengikat dan protein serat otot. Setelah perendaman selesai, daging bekicot dicuci dan dibelah untuk memperoleh permukaan yang agak lebar.
Bumbu-bumbu yang digunakan sama pada pembuatan dendeng sapi yaitu gula merah (30 persen dari berat daging) dan ramuan bumbu (garam dapur 2.5 persen, lengkuas 2.5 persen, asam jawa 3 persen, lada 1 persen, ketumbar 1.5 persen, bawang putih 1.5 persen dan bawang merah 5 persen). Bumbu yang telah dihaluskan, dibalur pada daging bekicot dan dibiarkan selama 10 jam supaya meresap. Dengan disusun pada tampah atau wadah lebar lainnya, dendeng basah dikeringkan dengan oven suhu 60oC atau dijemur di bawah terik matahari selama 4 – 5 hari. Setelah kering dendeng bekicot dikemas dalam plastik polietilen atau polipropilen.
2.3.5 Tepung Bekicot
Untuk membuat tepung bekicot, mula-mula dibuat larutan garam dapur 5 persen. Masukkan bekicot ke dalam larutan tersebut sampai terendam seluruhnya, diaduk berkali-kali untuk mempercepat pengeluaran lendir. Setelah dicuci, bekicot direbus selama 10 – 20 menit (setelah mendidih), lalu dipisahkan dari cangkangnya. Daging kaki yang diperoleh kemudian dicuci bersih. Daging bekicot kemudian diiris setipis 0.5 – 1.0 cm untuk memudahkan pengeringan, dicuci lagi untuk menghilangkan sisa lendir dan dikukus 10 – 15 menit. Selanjutnya dikeringkan dalam oven suhu 60oC atau dijemur sampai kering dan digiling atau ditumbuh atau diayak. Tepung yang dihasilkan dimasukkan ke dalam kantong plastik polietilen dan ditutup rapat.
2.4 Asosiasi Bekicot Indonesia
2.4.1 Pengertian Organisasi
Istilah asosiasi berasal dari kata association yang berarti asosiasi; sekutuan; persahabatan; pergaulan; belitan; pembauran. Istilah ini dianggap berkaitan dengan pengertian perkumpulan, persatuan, asosiasi, gabungan, persahabatan dan berbagai macam hal yang lain.
Asosiasi sangat erat hubungannya dengan organisasi. Organisasi (Yunani: ὄργανον, organon – alat) adalah suatu kelompok orang yang memiliki tujuan yang sama. Baik dalam penggunaan sehari-hari maupun ilmiah, istilah ini digunakan dengan banyak cara.
Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen. Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi (organizational behaviour), atau analisa organisasi (organization analysis). Terdapat beberapa teori dan perspektif mengenai organisasi, ada yang cocok sama satu sama lain, dan ada pula yang berbeda. Karakteristik dari organisasi sendiri adalah mempunyai tujuan yang jelas, struktur yang jelas, dan orang yang jelas pula.
2.4.2 ABI
Dari beberapa hal diatas seperti pengertian organisasi yang merupakan kelompok orang yang memiliki tujuan yang sama.maka Asosiasi Bekicot Indonesia yang disingkat dengan ABI dibentuk. Asosiasi ini digunakan untuk menampung minat dari orang-orang yang menyukai binatang unik bernama bekicot atau mempunyai nama lain Achantina fulica. Diharapkan dengan terbentuknya ABI ini yang awal mulanya berasal dari tugas mata kuliah kemudian merembet hingga kepada pendirian asosiasi secara formal akan dapat meningkatkan informasi kepada masyarakat akan binatang bernama bekicot yang selama ini hanya dianggap sebelah mata ternyata memiliki nilai ekonomis dan gizi yang cukup tinggi sehingga bekicot tidak lagi dipandang sebelah mata namun sudah merupakan komuditas andalan yang dapat diandalkan oleh masyarakat.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut diantaranya:
 Bekicot merupakan hewan yang termasuk dalam phylum molusca.Bekicot dewasa memiliki tinggi sekitar 7 cm (2,5 inci), dan mereka dapat mencapai panjang 20 cm (8 inci) atau lebih. Cangkang bentuknya kerucut, yang luasnya dua kali lipat dari tinggi tubuhnya. Cangkang bentuknya searah jarum jam (sinistral) atau berlawanan arah dari jarum jam. Warna cangkang sangat variabel, dan bergantung pada makanan. Biasanya, coklat adalah warna utama dan cangkang terikat.
 Pembudidayan bekicot harus memperhatikan berbagai faktor diantaranya: persaratan lokasi, pemilihan bibit, pengandangan , pemeliharaan, pemberian pakan, pencegahan penyakit, masa panen dan masa pasca panen.
 Bekicot dapat diolah menjadi beberapa produk diantaranya: Tepung bekicot, sate bekicot, keripik bekicot, dendeng bekicot, rempeyek bekicot dan berbagai macam produk olahan lainnya.
 Untuk lebih meningkatkan animo masyarakat terhadap bekicot maka dibentuklah Asosiasi Bekicot Indonesia (ABI) sebagai wadah untuk para pencinta bekicot untuk saling bertukar informasi tentang bekicot.
3.2 Saran
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan diatas maka dapat disarankan kepada pemerintah dan masyarakat agar lebih membudidayakan bekicot sebagai komunitas ekonomis yang menguntungkan sehingga sedikit banyak dapat mengurangi pengangguran. Selain itu kepada masyarakat agar tidak lagi menganggap bekicot sebagai hama bagi loingkungan tetapi merupakan sebuah peluang untuk mendapatkan keuntungan. Dan juga kepada kalangan akademis diharapkan agar lebih meneliti dan mengkreasikan bekicot agar lebih dapat diterima oleh masyarakat.

TEPUNG BEKICOT
1. PENDAHULUAN
2. Tepung bekicot merupakan usaha pengolahan daging bekicot supaya
3. pemanfaatannya lebih luas, terutama sebagai bahan tambahan pada makanan
4. bayi. Penggunaan lain adalah untuk bahan campuran pembuatan kerupuk dan
5. makanan lain.
2. BAHAN
1) Bekicot hidup 2 kg (100 ekor)
2) Garam dapur 400 gram
3) Daun jeruk 5 – 10 lembar
4) Air 50 liter
5) Natrium benzoat 1 – 2 gram
6) Kayu bakar atau minyak tanah secukupnya
7) Cuka 25 % secukupnya
3. ALAT
1) Ember Plastik
2) Tampah atau kawat kasa
3) Pengaduk
4) Kompor
5) Pencukil atau pengukit kecil
6) Panci aluminium atau belanga tanah liat
7) Oven (bila perlu)
8) Ayakan halus atau tapisan
9) Alat penumbuk
10) Pisau
11) Panci atau belanga tanah liat
4. CARA PEMBUATAN
A. Pembuatan daging bekicot siap olah
1) Simpan bekicot hidup ukuran sedang dalam bak penampungan selama 2
hari 2 malam untuk mengurangi jumlah kotoran dan lendir, kemudian
masukkan dalam ember;
2) Taburi garam dapur 250 gram;
3) Aduk dengan pengaduk kayu selama 15 menit, sampai lendir banyak yang
keluar;
4) Tiriskan selama 15 menit, kemudian masukkan ke dalam ember lain dan
taburi 150 gram garam;
5) Aduk selama 15 menit, lalu diamkan selama 15 menit, kemudian cuci
sampai bersih dari lendir;
6) Rebus dalam belanga tanah liat selama 20 menit sampai mendidih, setelah
itu tiriskan dan angin-anginkan;
7) Pisahkan cangkang dari daging tubuh dengan alat pengukit;
8) Pisahkan kotoran dari bagian daging kemudian cuci sampai bersih;
9) Rebus selama 20 menit sampai mendidih. Bubuhi 5 – 10 lembar daun jeruk
nipis dan cuka untuk menghilangkan bau amis;
10) Tiriskan dan angin-anginkan sampai dingin dan kering. Hasilnya berupa
daging siap olah.
B. Pengolahan tepung bekicot
1) Potong tipis daging bekicot siap olah;
2) Keringkan dengan sinar matahari selama 16 jam atau menggunakan oven
dengan suhu 500 ~ 550 C selama 6 jam. Pengeringan dianggap selesai bila
daging bekicot dapat dipatahkan dengan tangan;
3) Tumbuk sampai halus, kemudian ayak sampai diperoleh tepung bekicot.
5. DIAGRAM ALIR PEMBUATAN TEPUNG BEKICOT
Catatan:
Bahan baku (bekicot hasil penangkapan liar) saat ini sulit diperoleh. Oleh sebab
itu, untuk kesinambungan penyediaan bahan baku perlu diusahakan
pembudidayaan bekicot.

Escargot
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Escargot
Escargot merupakan masakan berbahan baku daging bekicot. Di Jepang pun demikian halnya, bahkan pengolahan bekicot ini begitu sederhana, hanya dengan bumbu jahe, cuka dan pemanis. Creswell dan Kopiang (1981) merinci komposisi kimia bekicot, ternyata dagingnya memang kaya protein. Cangkang bekicot kaya kalsium, dan dalam daging tersebut masih terdapat banyak asam-asam amino.
Sementara itu sumber data lain menunjukkan, protein yang terkandung sekitar 12 gram per 100 gram dagingnya. Kandungan lain adalah lemak 1%, hidrat arang 2%, kalsium 237 mg, fosfor 78 mg, Fe 1,7 mg serta vitamin B komplek terutama vitamin B2.
Selain itu kandungan asam amino daging bekicot cukup menonjol. Dalam 100 gr daging bekicot kering antara lain terdiri atas leusin 4,62 gr, lisin 4,35 gr, arginin 4,88 gr, asam aspartat 5,98 gr, dan asam glutamat 8,16 gr

Bekicot Lezat dan Kaya Protein

Sabtu, 8 Juni, 2002 oleh: Gsianturi
Bekicot Lezat dan Kaya Protein
Gizi.net – Bagi manula Indonesia bekicot mengingatkan mereka pada jaman penjajahan Jepang yang menyengsarakan, sehingga terpaksa makan bekicot. Tapi mengapa daging bekicot menjadi makanan prestisius di negara lain? Jika Anda ke Perancis, di sana ada masakan yang kondang disebut escargot. Apa itu? Anda mungkin terkejut bahwa escargot merupakan masakan berbahan baku daging bekicot. Di Jepang pun demikian halnya, bahkan pengolahan bekicot ini begitu sederhana, hanya dengan bumbu jahe, cuka dan pemanis. Tapi, betapa lezatnya daging bekicot itu! Itu sebabnya Perancis dan Jepang selalu mengandalkan pasokan daging bekicot. Beberapa negara lain juga selalu mengimpor daging bekicot, seperti Hongkong, Belanda, Taiwan, Yunani, Belgia, Luxemburg, Kanada, Jerman dan Amerika Serikat. Kita termasuk salah satu negara eksportir bekicot. Tapi volume dan kontinuitasnya belum memenuhi kebutuhan pasar importir. Nah, bukankah ini peluang agribisnis yang terbentang di depan mata kita? Kalsium dan Asam Amino
Barangkali menimbulkan tanda tanya, kenapa orang menyukai daging bekicot? Ya, lihat saja kandungannya. Dalam rangka memenuhi tuntutan kecukupan gizi, bekicot merupakan salah satu alternatif yang patut diperhitungkan.

Creswell dan Kopiang (1981) merinci komposisi kimia bekicot, ternyata dagingnya memang kaya protein. Cangkang bekicot kaya kalsium, dan dalam daging tersebut masih terdapat banyak asam-asam amino (tabel 1). Sementara itu sumber data lain menunjukkan, protein yang terkandung sekitar 12 gram per 100 gram dagingnya. Kandungan lain adalah lemak 1%, hidrat arang 2%, kalsium 237 mg, fospor 78 mg, Fe 1,7 mg serta vitamin B komplek terutama vitamin B2. Selain itu kandungan asam amino daging bekicot cukup menonjol. Dalam 100 gr daging bekicot kering antara lain terdiri atas leusin 4,62 gr, lisin 4,35 gr, arginin 4,88 gr, asam aspartat 5,98 gr, dan asam glutamat 8,16 gr. Bukankah daging bekicot mengandung bakteri salmonella? Memang betul! Tapi ada cara untuk mengusir bakteri tersebut, yakni teknik pengolahan yang benar. Malahan dari temuan di lapangan, di Kediri, mereka yang biasa makan daging bekicot mengaku dapat menyembuhkan gatal-gatal, batuk, kudis dan sebagainya. Langkah Pengolahan
Kediri dikenal sebagai Kota Tahu, tapi juga sebagai cikal bakal produsen bekicot. Di awal 1970-an hanya satu dua penduduk Desa Jengkol dan Plosokidul, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri yang mulai tertarik mengembangkan dan memanfaatkan bekicot. Adalah Sadi Suryaatmaja dari Plosokidul yang boleh dibilang sebagai ‘aktor bekicot’ karena berhasil mendayagunakannya. Entah sebagai keripik bekicot, sate bekicot, rempeyek bekicot, dan sebagainya. Semula usaha beternak bekicot di daerah itu hanya kecil-kecilan saja. Kemudian dibuka warung bekicot, dan ada pula yang dijual keliling. Makin lama makin banyak orang yang ikut mencoba mengusahakannya. Lebih lanjut Kediri dengan bekicotnya mampu menarik perhatian pengusaha dari kota lain. Hal ini dapat dibuktikan dengan hadirnya peminat-peminat ternak bekicot, yang belajar dan menimba pengalaman ke Kediri.

Berdasarkan pengalaman peternak bekicot di Kediri, rendemen daging bekicot sekitar 15-18%. Artinya, dari setiap 100 kg bekicot segar (hidup) akan didapatkan daging bekicot sekitar 15-18 kg. Melalui 7 Tahap Untuk mendapatkan hasil yang baik, daging bekicot harus melalui tahap. Pemberakan atau pembersihan kotoran. Bekicot yang masih hidup dimasukkan ke dalam bak penampung selama 2 hari, tanpa diberi pakan apa pun. Lakukan penyiraman setiap sore. Pemberakan ini bertujuan untuk memacu pengeluaran kotoran dan lendir serta menghilangkan bau apek. Perendaman. Sesudah dilakukan pemberakan, bekicot direndam dalam air garam yang diberi sedikit cuka. Perendaman berlangsung sekitar 5-10 menit sambil diaduk atau dikopyok, lantas airnya dibuang. Perendaman ini dilakukan 3-4 kali hingga air rendaman menjadi jernih. Perebusan awal. Bekicot yang telah direndam dimasukkan ke dalam air mendidih selama 15 menit sambil dibolak balik, lalu didinginkan.

Pemisahan. Bekicot yang telah direbus awal itu harus dipisahkan antara cangkang, kotoran, telur dan dagingnya. Caranya ialah dengan mencungkil daging bekicot tersebut dari cangkangnya dengan alat pencungkil. Setelah daging, telur dan kotoran bekicot keluar dari cangkangnya kemudian dipisah-pisahkan. Telur bekicot dapat langsung dicuci bersih, digoreng dan dimakan. Sedangkan dagingnya masih perlu pengolahan selanjutnya.
Pencucian. Daging bekicot yang telah terpisah dari cangkang, lantas dicuci bersih. Lebih baik jika pencucian ini dilakukan dengan air yang mengalir. Perendaman. Daging yang telah dicuci bersih, direndam dengan air cuka selama 15 menit. Perebusan akhir. Daging bekicot yang telah direndam itu direbus lagi selama 15 menit. Sesudah direbus, dicuci sekali lagi sampai bersih dan diiris-iris menurut selera kita. Inilah daging bekicot yang telah siap dimasak. @ Ir. Hieronymus Budi Santoso, pemerhati masalah agribisnis.

Membuat Kripik dan Sate Bekicot
Barangkali Anda ingin membuat sendiri keripik bekicot dan sate bekicot? Ikuti pedoman praktis berikut ini.

Keripik Bekicot
Bahan:
250 gr daging bekicot (dari 1,5 kg bekicot segar)
250 cc minyak goreng

Bumbu:
2 butir bawang putih
3 butir kemiri
1/2 sendok teh ketumbar
1/2 rimpang jahe
1 lembar daun jeruk purut
1 mata asam
garam dan penyedap rasa secukupnya

Cara Membuat:
Daging bekicot yang telah siap olah diiris tipis-tipis. Lalu irisan tersebut dicampur dengan bumbu yang telah dihaluskan. Diamkan beberapa saat agar bumbu meresap.
Jemur di bawah sinar matahari langsung (usahakan sekali jemur sudah kering).
Goreng sampai kering. @

Sate Bekicot
Sate bekicot sudah cukup beken. Setiap warung bekicot atau warung “nol dua” hampir pasti ada sate bekicotnya. Jika Anda ingin membuat sendiri sate bekicot, silakan mengikuti resep ini.

Bahan:
500 gram daging bekicot (dari 3 kg bekicot segar)
25 bilah tusuk sate

Bumbu:
1/4 kg kacang tanah
5 sendok makan minyak goreng
5 sendok makan kecap
5 butir bawang merah
5 butir merica
3 butir bawang putih
3 lembar daun jeruk purut
2 buah jeruk nipis
1/4 sendok teh penyedap rasa
Cabe rawit, cuka, garam sesuai selera

Cara Membuat:
Daging bekicot yang telah siap olah diiris menjadi dua bagian, tusuk dengan tusukan sate.

Masukkan ke dalam bumbu yang telah dihaluskan (bawang putih, merica campur kecap dan cuka), lalu diamkan sementara waktu agar bumbunya meresap.

Buat bumbu kacang: goreng kacang tanah dan tumbuk hingga halus. Campur dengan bawang putih, garam, daun jeruk purut, cabe rawit dan penyedap rasa yang telah dihaluskan. Beri air sedikit lalu rebus hingga berminyak dan diberi sedikit kecap.

Panggang daging bekicot sampai matang, lalu disiram bumbu kacang, taburi bawang merah mentah dan irisan jeruk nipis.

Selamat menikmati . @

Peluang Agribisnis Bekicot

Written by noel
Sunday, 29 June 2008
Sentra peternakan bekicot banyak ditemukan di masyarakat pedesaan Jawa Timur, Bogor (Jawa Barat), Sumatera Utara dan Bali. Bekicot diternakkan umumnya jenis Achatina fulica yang banyak disenangi orang, karena bekicot jenis ini banyak mengandung daging.
Selain pakan ternak bekicot merupakan sumber protein hewani yang bermutu tinggi karena mengandung asam-asam amino esensial yang lengkap. Disamping itu ada masyarakat yang menggemari makanan dari bahan baku bekicot, seperti sate bekicot, keripik bekicot, baso bekicot. Terkadang bekicot juga kerap dipakai dalam pengobatan tradisional, karena ekstrak daging bekicot dan lendirnya sangat bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Jika tertarik berbudidayaya bekicot, salah satu yang perlu diperhatikan adalah masalah lokasi. Lokasi perlu dipilih yang dekat dengan jalan, agar mudah penanganannya, baik saat pembuatan kandang, saat pengontrolan maupun penanganannya pascapanen, artinya pada saat membawa hasil panen tersebut tidak kesulitan dalam transportasi

Lahan yang diperlukan tidaklah terlalu luas namun persyaratan mengenai kelembaban dan keteduhan perkandangan perlu diperhatikan, karena untuk berkembang biak secara baik bekicot senang dengan keadaan yang lembab dan teduh. Kandang didirikan di tanah kering, teduh, lembab dengan suhu udara berkisar 25-30 derajat C.

Cara pemeliharaan bekicot tidak terlalu sulit. Bisa dilakukan secara terpisah, artinya bekicot yang kecil dipelihara terpisah dari yang besar. Bisa juga dilakukan secara campuran, yaitu bekicot kecil dan besar dipelihara dalam satu kandang tanpa melihat umur/besarnya. Bila dilakukan secara terpisah risikonya harus dibuat beberapa kandang.

Jika bibit unggul belum tersedia maka sebagai langkah pertama dapat digunakan bibit lokal dengan jalan mengumpulkan bekicot yang banyak terdapat di kebun pisang, kelapa, serta semak belukar. Bekicot yang baik dijadikan bibit adalah yang tidak rusak/cacat yang sementara waktu dan yang besar dengan berat lebih kurang 75-100 gram/ekor.

Keberhasilan budidaya bekicot tergantung pada cara perawatan dan pemeliharaan teknis selama diternakkan. Beberapa perawatan teknis dalam budidaya bekicot diantaranya meliputi penjagaan kelembaban lingkungan, mempertahankan kondisi lingkungan (yang lembab), pemberian pakan yang bermutu secara teratur, menjaga areal agar tidak dimasuki hewan lain, serta menjaga agar bekicot tidak ekluar dari areal pemeliharaan.

Peluang Agribisnis Bekicot
13 November, 2007 05:45:00 wirausahacom
Font size:
Mencermati cerita asal muasal bekicot (Achanita spp.), hewan yang satu ini berasal dari Afrika Timur, tersebar keseluruh dunia dalam waktu relatif singkat, karena berkembang biak dengan cepat. Bekicot tersebar ke arah Timur sampai di kepulauan Mauritius, India, Malaysia, akhirnya ke Indonesia. Bekicot sejak tahun 1933 telah ada disekitar Jakarta, sumber lain menyatakan bahwa bekicot jenis Achatina fulica masuk ke Indonesia pada tahun 1942 (masa pendudukan Jepang).
Sentra peternakan bekicot banyak ditemukan di masyarakat pedesaan Jawa Timur, Bogor (Jawa Barat), Sumatera Utara dan Bali. Bekicot diternakkan umumnya jenis Achatina fulica yang banyak disenangi orang, karena bekicot jenis ini banyak mengandung daging. Di Eropa, bekicot jenis ini digunakan sebagai bahan baku makanan yang disebut Escargot. Escargot semula berbahan baku Helix pomatia. Karena Helix pomatia lama kelamaan sulit diperoleh maka bekicot jenis Achatina fulica menggantikannya sebagai bahan baku Escargot. Selain pakan ternak bekicot merupakan sumber protein hewani yang bermutu tinggi karena mengandung asam-asam amino esensial yang lengkap. Disamping itu ada masyarakat yang menggemari makanan dari bahan baku bekicot, seperti sate bekicot, keripik bekicot, baso bekicot.
Bekicot juga kerap dipakai dalam pengobatan tradisional, karena ekstrak daging bekicot dan lendirnya sangat bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti radang selaput mata, sakit gigi, gatal-gatal, jantung dan lain-lain. Sedangkan kulit bekicot sangat mujarab untuk penyakit tumor. Sejenis obat yang dikenal berasal dari kulit bekicot, dinamakan Maulie, dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti kekejangan, jantung suka berdebar, tidak bisa tidur/insomania, dan leher membengkak. Daging bekicot merupakan komoditi ekspor yang menjanjikan, karena harganya yang cukup mahal dipasaran internasional. Kini juga telah banyak berdiri perusahaan-perusahaan pengelola daging bekicot, yang dapat memperlancar pemasaran pasaran sebagai komoditi ekspor.
Jika tertarik berbudidayaya bekicot, salah satu yang perlu diperhatikan adalah masalah lokasi. Lokasi perlu dipilih yang dekat dengan jalan, agar mudah penanganannya, baik saat pembuatan kandang, saat pengontrolan maupun penanganannya pascapanen, artinya pada saat membawa hasil panen tersebut tidak kesulitan dalam transportasi. Lokasi yang sesuai untuk budidaya bekicot adalah lokasi yang basah serta lembab dan terlindung dari cahaya matahari secara langsung. Selain itu juga tanah yang disukai adalah tanah yang banyak mengandung kapur sebagai zat untuk pembentukan cangkang.
Lahan yang diperlukan tidaklah terlalu luas namun persyaratan mengenai kelembaban dan keteduhan perkandangan perlu diperhatikan, karena untuk berkembang biak secara baik bekicot senang dengan keadaan yang lembab dan teduh. Kandang didirikan di tanah kering, teduh, lembab dengan suhu udara berkisar 25-30 derajat C. Cara pemeliharaan bekicot tidak terlalu sulit. Bisa dilakukan secara terpisah, artinya bekicot yang kecil dipelihara terpisah dari yang besar. Bisa juga dilakukan secara campuran, yaitu bekicot kecil dan besar dipelihara dalam satu kandang tanpa melihat umur/besarnya. Bila dilakukan secara terpisah risikonya harus dibuat beberapa kandang. Fungsi kandang itu antara lain untuk penetasan, pembesaran dan sebagai kandang induk.
Namun tidak semua jenis bekicot cocok dibudidayakan. Dua jenis bekicot yang biasa diternakkan, yaitu spesies Achatina fulica dan Achatina variegata. Ciri bekicot jenis Achanita fulica biasanya warna garis-garis pada tempurung/cangkangnya tidak begitu mencolok. Sedangkan jenis Achatina variegata warna garis-garis pada cangkangnya tebal dan berbuku-buku.
Jika bibit unggul belum tersedia maka sebagai langkah pertama dapat digunakan bibit lokal dengan jalan mengumpulkan bekicot yang banyak terdapat di kebun pisang, kelapa, serta semak belukar. Bekicot yang baik dijadikan bibit adalah yang tidak rusak/cacat yang sementara waktu dan yang besar dengan berat lebih kurang 75-100 gram/ekor.
Bekicot biasanya kawin pada usia enam sampai tujuh bulan ditempat pemeliharaan yang cukup memenuhi syarat. Pada masa kawin bekicot betina mulai menyingkir ke tempat yang lebih aman. Bekicot bertelur di sembarang tempat. Jumlah telurnya setiap penetasan biasanya lebih dari lima puluh butir (50-100). Jumlah produksi telur tergantung masa subur bekicot itu sendiri. Besar telur bekicot tidak lebih dari 2 mm.
Keberhasilan budidaya bekicot tergantung pada cara perawatan dan pemeliharaan teknis selama diternakkan. Beberapa perawatan teknis dalam budidaya bekicot diantaranya meliputi penjagaan kelembaban lingkungan, mempertahankan kondisi lingkungan (yang lembab), pemberian pakan yang bermutu secara teratur, menjaga areal agar tidak dimasuki hewan lain, serta menjaga agar bekicot tidak ekluar dari areal pemeliharaan.

BEKICOT
June 4th, 2008 by pakrat1
Dari Hama ke Hidangan Berkelas
Tubuhnya bercangkang dan berlendir. Biasanya mereka senang berkumpul di pematang air di sawah dan tempat-tempat lembab lainnya. Cara berjalannya yang lambat membuat hewan sejenis siput ini dijuluki si lambat, atau bekicot. Secara keseluruhan, tidak ada sesuatu yang istimewa pada bekicot. Bahkan, cara hidup hewan ini sering kali membuat orang-orang pada umumnya “bergidik”. Apalagi bila dijadikan makanan. Siapa sangka, hewan berlendir ini ternyata menjadi menu makanan berkelas di negara-negara lain, seperti Perancis, Amerika, Kanada, Jepang, ataupun
Taiwan. Harga makanan itu tidak murah. Hewan ini mampu mendatangkan keuntungan cukup besar setelah diolah menjadi menu makanan.
Mungkin bagi orang-orang tua di
Indonesia, bekicot mengingatkan mereka pada zaman penjajahan Jepang yang menyengsarakan. Konon pada masa itu, sulit untuk mendapatkan bahan pangan, sehingga terpaksa makan bekicot.
Kini, bekicot sudah mulai naik pamor. Dari hewan yang dianggap sebagai
hama menjadi bahan makanan yang cukup prestisius. Di Indonesia, bekicot bisa diolah menjadi aneka masakan yang lezat, seperti sate bekicot dan keripik bekicot. Tidak hanya itu, di Bali, bekicot bisa dimasak gule dan pepes. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan, tingginya kandungan protein pada bekicot juga berguna sebagai bahan pembuat biskuit pendamping ASI, seperti yang diteliti oleh mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes). Di Perancis, bekicot diolah menjadi hidangan mewah yang disebut Escargot d’France. Hidangan ala Prancis dari bekicot itu kini menjadi hidangan yang sangat khas di sejumlah hotel berbintang.
Pasar Potensial
Bukan tanpa alasan bila “si
hama” ini berhasil pindah ke meja hidangan di restoran megah. Dari segi gizi, bekicot tidak kalah dengan jenis makanan yang lain. Kandungan gizinya cukup tinggi.
Pasar potensial bekicot adalah Perancis dan
Taiwan karena itu kedua negara itu mengandalkan pasokan daging bekicot termasuk dari
Indonesia. Beberapa negara lain juga selalu mengimpor daging bekicot, seperti Hongkong,
Belanda, Taiwan, Yunani, Belgia, Luxemburg, Kanada, Jerman dan Amerika Serikat.
Indonesia adalah termasuk salah satu negara eksportir bekicot.
Budi daya bekicot sebenarnya cukup mudah, sederhana dan menguntungkan karena binatang ini dapat memakan semua jenis makanan, semua hijau-hijauan dan buah-buahan.
Hama dan penyakitnya boleh dibilang tidak ada dan kemampuan untuk mengembangkan diri cukup besar. Tingginya perkembangbiakan ini disebabkan sifat bekicot yang termasuk hewan hermaprodit, yaitu mempunyai alat kelamin ganda dengan kemampuan bertelur banyak.
Dua jenis bekicot yang biasa diternakkan, yaitu spesies Achatina fulica dan Achatina variegata. Ciri bekicot jenis Achanita fulica biasanya warna garis-garis pada tempurung/cangkangnya tidak begitu mencolok. Sedangkan jenis Achatina variegata warna garis-garis pada cangkangnya tebal dan berbuku-buku.
Pemeliharaannya pun sangat mudah, asal kelembaban dan keteduhan dalam kandang terjaga dengan baik. Kandang untuk beternak bekicot dapat dibuat dengan tiga cara, yakni kandang kotak kayu, kandang dari bak semen, dan kandang dari galian tanah.
Bekicot yang baik dijadikan bibit adalah yang tidak rusak/cacat sementara waktu dan yang besar dengan berat lebih kurang 75-100 gram/ekor. Adapun anak bekicot bisa diberi makanan dengan sejenis ganggang (lumut), pupus daun dan sedikit zat kapur. Setelah anak bekicot berusia dua/tiga bulan, hendaklah dipindahkan ke kandang pembesaran. Bekicot mulai dapat dipanen setelah 5-8 bulan. Secara fisik dapat dilihat apabila panjang cangkang telah mencapai 8-10 cm, maka bekicot telah siap untuk diambil dagingnya.

06/20/2009 Posted by | Ekologi Hewan | 3 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 954 pengikut lainnya.