BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Teknologi Rekayasa Chitosan ++ sebagai Pengawet dan Peningkat Kadar Protein pada Tahu

  1. A.      JUDUL PROGRAM

Teknologi Rekayasa Chitosan ++ sebagai Pengawet dan Peningkat Kadar Protein pada Tahu

 

  1. B.       LATAR BELAKANG MASALAH

Potensi perairan di Indonesia kaya dengan berbagai jenis invertebrata misalnya udang. Udang merupakan bahan makanan yang mengandung protein (21%), lemak (0,2%), vitamin A dan B1, dan mengandung mineral seperti  zat kapur dan fosfor.  Udang dapat diolah dengan beberapa cara seperti udang beku, udang kering, udang kaleng, dan lain-lain (Goligo, 2009).

Sebagai penghasil udang dengan nilai ekspor yang tinggi Jawa Timur memproduksi udang beku sebesar 47.807,788 ton atau setara dengan US$ 368.644.445,41 pada tahun 2005 (Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur, 2005). Dari proses pembekuan, 40% dari berat udang menjadi limbah (bagian kulit dan kepala) (Rekso, 2001). Di Indonesia udang mengalami proses “cold storage” yaitu bagian kepala, ekor, dan kulit dibuang sebagai limbah.

Limbah udang ini dapat mencemari lingkungan di sekitar pabrik sehingga perlu dimanfaatkan. Selama ini kulit udang hanya dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kerupuk, terasi, dan suplemen bahan makanan ternak. Padahal 20-30% limbah tersebut mengandung senyawa chitin yang dapat diubah menjadi chitosan (Haryani dkk, 2007).

           Chitin dalam cangkang udang, terdapat sebagai mukopoli sakarida yang berikatan dengan garam-garam anorganik, terutama kalsium karbonat (CaCO3), protein dan lipida termasuk pigmen-pigmen. Oleh karena itu untuk memperoleh chitin dari cangkang udang melibatkan proses-proses pemisahan protein (deproteinasi) dan pemisahan mineral (demineralisasi), sedangkan untuk mendapatkan chitosan dilanjutkan dengan proses deasetilasi. Chitosan sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan pengawet makanan, karena chitosan memiliki polikation bermuatan positif sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroba (Wardaniati, 2009) dan mampu berikatan dengan senyawa-senyawa yang bermuatan negatif seperti protein, polisakarida, asam nukleat, logam berat dan lain-lain (Murtini dkk, 2008). Selain itu, molekul chitosan memiliki gugus N yang mampu membentuk senyawa amino yang merupakan komponen pembentukan protein (Irianto dkk, 2009)  dan memiliki atom H pada gugus amina yang memudahkan chitosan berinteraksi dengan air melalui ikatan hidrogen (Rochima, 2009).

           Menurut Hardjito (2006) pada prinsipnya untuk mengawetkan makanan  membutuhkan  chitosan dengan konsentrasi 1,5 % (dalam 1 liter air dibutuhkan 15 gram chitosan) sedangkan aplikasi chitosan sebagai bahan pengawet dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pencampuran dan perendaman pada bahan pangan. Salah satu penelitian tentang aplikasi chitosan dengan cara perendaman yaitu penelitian yang telah dilakukan oleh Hardjito (2006) dan hasilnya menunjukkan bahwa tahu yang telah diberi chitosan dengan konsentrasi 1,5% mempunyai rasa, bau, tekstur yang hampir sama dengan tahu tanpa pemberian chitosan, dan tahu mampu bertahan selama tiga hari yaitu cukup dicelup (dip) selama 5-10 menit dalam larutan chitosan lalu dipindah ke rendaman air biasa saat pengangkutan.

Menurut Standar Industri Indonesia (1992) tahu merupakan suatu produk berupa padatan lunak yang dibuat melalui proses pengolahan kedelai (Glycine sp) dengan cara pengendapan proteinnya dengan atau tanpa penambahan bahan lain yang diijinkan (Farida, 2002).  Suciati (2003) menyatakan bahwa tahu sebagai salah satu produk olahan patut dikembangkan untuk mengatasi masalah kekurangan protein bagi masyarakat luas. Hal ini ditunjang oleh harga tahu itu sendiri yang relatif murah dan terjangkau.

Tahu merupakan suatu produk yang terbuat dari hasil penggumpalan protein kedelai. Dalam perdagangan dikenal dua jenis tahu, yaitu tahu biasa dan tahu Cina. Pada pembuatan tahu Cina, kedelai direbus terlebih dahulu sebelum direndam dan biasanya mempunyai ukuran lebih besar (Koswara, 1992).

Tahu telah menjadi daging tiruan di Cina sejak 2000 tahun yang lalu. Kini sudah menyebar di seluruh penjuru dunia dan menjadi semakin populer. Hal ini terjadi karena meningkatnya tuntutan pilihan pangan, yang menginginkan makanan segar, sehat dan tidak terlalu memberatkan lambung, berkalori rendah, protein tinggi, sedikit manis yang memudahkan penggunaan dalam berbagai hidangan (Winarno, 1993). Standar Industri Indonesia (1992) menyatakan bahwa yang disebut tahu adalah suatu produk makanan berupa padatan lunak yang dibuat melalui proses pengolahan kedelai (Glycine sp) dengan cara pengendapan proteinnya dengan atau tanpa penambahan bahan lain yang diijinkan (Farida, 2002).

Tahu yang diproduksi di Kota Batu pada saat ini proses pengolahannya masih dilakukan secara tradisional. Sehingga daya simpan tahu yang diproduksi memiliki tingkat keawetan yang cukup rendah. Berdasarkan observasi yang dilakukan terhadap mitra PKMT, tingkat keawetan tahu yang diproduksi hanya bertahan sekitar 2 hari setelah diproduksi padahal permintaan konsumen tahu di Kota Batu cukup tinggi. Oleh karena itu perlu adanya suatu teknologi rekayasa tepat guna dalam hal pengawetan tahu, yaitu dengan menggunakan chitosan dari kulit udang. Selain dapat mengawetkan tahu, chitosan dari kulit udang dapat meningkatkan kadar protein tahu dan dapat mengurangi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah kulit udang sehingga teknologi rekayasa ini diberi nama “Chitosan ++”

  1. C.      RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang kami angkat adalah:

  1.     1.     Apakah pemberian chitosan kulit udang  memberikan pengaruh sebagai bahan pengawet tanpa merusak kualitas produk tahu yang diproduksi unit usaha kecil di Kota Batu?
  2.     2.     Apakah pemberian chitosan kulit udang  memberikan pengaruh sebagai bahan peningkat kadar protein tahu yang diproduksi unit usaha kecil di Kota Batu?
  3.     3.     Bagaimanakah mekanisme Chitosan ++ dalam proses pengawetan produk tahu?
  4.     4.     Bagaimanakah aplikasi teknologi rekayasa Chitosan ++ sebagai pengawet alami yang berbahan dasar kulit udang?
  1. D.      TUJUAN

Teknologi dilakukan bertujuan untuk:

  1.     1.     Mengetahui pemberian chitosan kulit udang dalam memberikan pengaruh sebagai bahan pengawet tanpa merusak kualitas produk tahu yang diproduksi unit usaha kecil di Kota Batu
  2.     2.     Mengetahui pemberian chitosan kulit udang dalam memberikan pengaruh sebagai bahan peningkat kadar protein tahu.
  3.     3.     Mengetahui mekanisme Chitosan ++  dalam proses pengawetan produk tahu.
  4.     4.     Mengetahui aplikasi teknologi rekayasa Chitosan ++ sebagai pengawet alami yang berbahan dasar kulit udang.

E.  LUARAN YANG DIHARAPKAN                                             

  1. Menghasilkan produk teknologi rekayasa Chitosan ++ sebagai pengawet alami pada tahu yang dapat meningkatkan kualitas produk tahu dari segi gizi ataupun organoleptik.
  2. Hak paten produk pengawet alami  Chitosan ++ yang berbahan dasar limbah kulit udang.
  1. F.       KEGUNAAN  

Kegunaan yang diharapkan dari teknologi ini adalah:

  1. Secara Praktis
    1. Memberikan solusi kepada masyarakat mengenai pengolahan limbah khususnya limbah kulit udang dengan memanfaatkannya sebagai bahan pengawet alami produk tahu.
    2. Memberikan informasi dan pelatihan bagi unit masyarakat usaha kecil pembuat tahu tentang bahan pengawet tahu secara alami.
  2.  Secara Teoritis
    1. Memberikan penguatan konsep mata kuliah invertebrata sebagai bentuk penerapan dalam bidang teknologi terapan.
    2. Sebagai model terapan teori dasar-dasar ilmu gizi yang diaplikasikan dalam bentuk pengawet alami pada tahu.

G.  TINJAUAN PUSTAKA

G.1 Kulit Udang

Knorr et al (1988) menyatakan bahwa cangkang kulit udang yang keras mengandung 34,9 % protein, 27,6 % mineral kalsium karbonat (CaCO3), 18,1 % chitin dan 19,4 % komponen lain seperti zat terlarut, lemak dan protein. Kulit udang juga mengandung karoten astaksantin 0,02 % (Harini, 2003).

Kulit udang terdiri atas empat lapisan, yaitu : epikutikula, eksokutikula, endokutikula dan epidermis. Tebal tipisnya kutikula bervariasi, bergantung pada lokasinya, di daerah kepala tebalnya 75 mikron dan daerah lunak di bagian pangkal kaki hanya 5 mikron. Kutikula terdiri dari 38,7% zat anorganik yang mengandung 98,5% kalsium. Pada waktu moulting chitin dan protein dari kulit yang lama lebih dulu diserap dan bahan anorganiknya tidak diserap. Sebelum moulting epikutikula dan eksokutikula terbentuk dan terpisah dengan kutikula yang lama, kemudian segera setelah terjadi moulting kalsium perlahan-lahan tertimbun ke dalam eksokutikula dan dalam waktu 5 jam penimbunan tersebut menjadi sempurna. Pertukaran kalsium antara cairan tubuh dengan air laut berjalan melalui insang, kira-kira 90% Ca diserap dan 79% dikeluarkan (Darmono, 1993).

G.2 Chitin dan Chitosan

Kata ”kitin” berasal dari bahasa Yunani, yaitu ”chiton”, yang berarti baju rantai besi. Kitin pertama kali diteliti oleh Bracanot pada tahun 1811 dalam residu ekstrak jamur yang dinamakan ”fugine”. Pada tahun 1823, Odier mengisolasi suatu zat dari kutikula serangga jenis elytra dan mengusulkan nama ”chitin” (Firdaus dkk, 2009). Pada umumnya chitin di alam tidak berada dalam keadaan bebas, akan tetapi berikatan dengan protein, mineral, dan berbagai macam pigmen.

Walaupun chitin tersebar di alam, tetapi sumber utama yang digunakan untuk pengembangan lebih lanjut adalah jenis udang-udangan (crustaceae) yang dipanen secara komersial. Limbah udang sebenarnya bukan merupakan sumber yang kaya akan chitin, namun limbah ini mudah didapat dan tersedia dalam jumlah besar sebagai limbah hasil dari pembuatan udang (Mudhzz, 2010).

Chitin (C8H13NO5)n merupakan polisakarida terbesar kedua setelah selulosa dan mempunyai rumus kimia poli (2-asetamida-2-dioksi-β-D-Glukosa) dengan ikatan β-glikosidik (1,4) yang menghubungkan antar unit ulangnya. Chitin tidak mudah larut dalam air, sehingga penggunaannya terbatas. Namun dengan modifikasi struktur kimiawinya maka akan diperoleh senyawa turunan chitin yang mempunyai sifat kimia yang lebih baik (Srijanto dan Imam, 2009). Salah satu turunan chitin adalah chitosan (C6H11O4N)n suatu polisakarida linier dengan komposisi glukosamin. Chitosan mempunyai rumus kimia poli (2-amino2-dioksi-β-D-Glukosa) dan dapat dihasilkan dengan proses hidrolisis chitin menggunakan basa kuat (Srijanto dan Imam, 2009). Chitosan berbentuk serpihan putih kekuningan, tidak berbau dan tidak berasa. Kadar chitin dalam berat udang, berkisar antara 60-70 % dan bila diproses menjadi chitosan menghasilkan yield 15-20 % (Wardaniati, 2009).

Menurut Hardjito (2009) chitosan mempunyai bentuk mirip dengan selulosa, dan bedanya terletak pada gugus rantai C-2 dimana gugus hidroksi (OH) pada C-2 digantikan oleh gugus amina (NH2). Proses utama dalam pembuatan chitosan, meliputi penghilangan protein dan kandungan mineral melalui proses kimiawi yang disebut deproteinasi dan demineralisasi yang masing-masing dilakukan dengan menggunakan larutan basa dan asam. Selanjutnya, chitosan diperoleh melalui proses deasetilasi dengan cara memanaskan dalam larutan basa (Mudhzz, 2010). Karakteristik fisiko-kimia chitosan berwarna putih dan berbentuk kristal, chitosan mempunyai sifat biodegradabel yaitu mudah terurai secara  hayati, tidak beracun, dapat larut dalam larutan asam organik encer, tetapi tidak larut dalam air, larutan alkali pada PH di atas 6,5 dan pelarut organik lainnya. Pelarut chitosan yang baik adalah asam asetat (Mahmiah, 2005).

Menurut Harini (2003) molekul chitosan bersifat lebih kompak dibandingkan dengan polisakarida lainnya apabila berada dalam larutan asam encer dengan kekuatan ionik rendah. Hal ini mungkin disebabkan oleh densitas muatan yang tinggi. Di dalam larutan berionik tinggi atau bila ke dalam larutan ditambahkan urea, ikatan hidrogen dan gaya elektrostatik pada molekul chitosan terganggu, konformasinya menjadi bentuk acak (random coil). Sifat fleksibel molekul ini menjadikannya dapat membentuk baik konformasi kompak maupun memanjang (polisakarida lain umumnya berbentuk memanjang).

Adanya gugus fungsi hidroksil primer dan sekunder mengakibatkan chitosan mempunyai kereaktifan kimia yang tinggi. Gugus fungsi yang terdapat pada chitosan memungkinkan juga untuk modifikasi kimia yang beraneka ragam termasuk reaksi-reaksi dengan zat perantara ikatan silang, kelebihan ini dapat memungkinkannya chitosan digunakan sebagai bahan campuran bioplastik, yaitu plastik yang dapat terdegradasi dan tidak mencemari lingkungan.

Jika sebagian besar gugus asetil pada chitin disubsitusikan oleh hidrogen menjadi gugus amino dengan penambahan basa konsentrasi tinggi. NaOH 50% dapat digunakan untuk deasetilasi chitin dari limbah kulit udang, maka hasilnya dinamakan chitosan atau chitin terdeasetilasi. Chitosan sendiri bukan merupakan senyawa tunggal, tetapi merupakan kelompok yang terdeasetilasi sebagian dengan derajat deasetilasi beragam.

Chitosan dapat diperoleh dengan mengkonversi chitin, sedangkan chitin sendiri dapat diperoleh dari kulit udang. Produksi kitin biasanya dilakukan dalam tiga tahap yaitu: tahap demineralisasi, penghilangan mineral; tahap deproteinasi, penghilangan protein; dan tahap depigmentasi, pemutihan. Sedangkan chitosan diperoleh dengan deasetilasi chitin yang didapat dengan larutan basa konsentrasi tinggi. Deproteinasi menggunakan natrium hidroksida lebih sering digunakan, karena lebih mudah dan efektif. Pada pemisahan protein menggunakan natrium hidroksida, protein diekstraksi sebagai natrium proteinat yang larut.

Pembuatan chitosan dilakukan dengan cara penghilangan gugus asetil (-COCH3) pada gugusan asetil amino chitin menjadi gugus amino bebas chitosan dengan menggunakan larutan basa. Chitin mempunyai struktur kristal yang panjang dengan ikatan kuat antara ion nitrogen dan gugus karboksil, sehingga pada proses deasetilasi digunakan larutan natrium hidroksida konsentrasi 40-50% dan suhu yang tinggi (100-150oC) untuk mendapatkan chitosan dari chitin.

Reaksi pembentukan chitosan dari chitin merupakan reaksi hidrolisa suatu amida oleh basa. Chitin bertindak sebagai amida dan NaOH sebagai basanya. Mula-mula terjadi reaksi adisi, dimana gugus OH- masuk ke dalam gugus NHCOCH3 kemudian terjadi eliminasi gugus CH3COO- sehingga dihasilkan suatu amida yaitu chitosan.

O

CH2OH

CH2OH

O

Chitosan

Chitin

 

Gambar 1. Reaksi pembentukan chitosan dari chitin

(Sumber : Wardaniati, 2009)

Spesifikasi chitin dan chitosan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 1. Spesifikasi (standart mutu) chitin dan chitosan

Spesifikasi

Deskripsi

Air 2-10% pada kondisi normal laboratorium
Nitrogen 6-7% dalam chitin, 7-8,4% dalam chitosan
Derajat deasetilasi < 10% untuk chitin, >70% untuk chitosan
Abu < 1,0%

Sumber : Muzzarelli (1985) dalam Handayani (2004)

Chitosan sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan antimikroba, karena mengandung enzim lysosim, gugus aminopolysacharida, polikation bermuatan positif yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba dan efisiensi daya hambat chitosan terhadap bakteri tergantung dari konsentrasi pelarutan chitosan. kemampuan dalam hal menekan pertumbuhan bakteri disebabkan chitosan memiliki polikation bermuatan positif yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba (Wardaniati, 2009), dan mampu berikatan dengan senyawa-senyawa yang bermuatan negative seperti protein, polisakarida, asam nukleat, logam berat dan lain-lain (Murtini dkk, 2008).  Selain itu, molekul chitosan memiliki gugus N yang mampu membentuk senyawa amino yang merupakan komponen pembentukan protein (Irianto dkk, 2009) dan memiliki atom H pada gugus amina yang memudahkan chitosan berinteraksi dengan air melalui ikatan hidrogen dan memiliki sifat hidrofobik (Rochima, 2009). Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan-IPB (2006) menyatakan bahwa chitosan tidak dapat dicerna tanpa adanya enzim chitonase, oleh karena itu penggunaan chitosan harus dilarutkan dahulu dalam larutan asam asetat 2 %. Hasil akhir larutan tersebut mempunyai PH 5-6.

Menurut Hardjito (2009) chitosan memiliki beberapa manfaat  sebagai berikut :

1. Penggunaan chitosan pada produk pangan dapat menghindarkan konsumen dari kemungkinan terjangkit penyakit typhus, karena chitosan dapat menghambat pertumbuhan berbagai mikroba patogen penyebab penyakit typhus seperti Salmonella enterica, S. enterica var. Paratyphi-A dan S. enterica var. Paratyphi-B. Chitosan juga dapat menghambat perbanyakan sel kanker lambung manusia dan meningkatkan daya tahan tubuh. Chitosan telah mendapatkan persetujuan dari BPOM No.HK.00.05.52.6581 untuk digunakan dalam produk pangan. Di Amerika chitosan telah mendapat pengesahan sebagai produk GRAS (Generally Recognised As Safe) oleh FDA.

2. Chitosan dapat menjerat lemak (fat absorber) dan mengeluarkannya bersama kotoran karena chitosan sebagai serat tidak dapat dicerna oleh tubuh, sehingga penggunaan chitosan akan mengurangi resiko terkena kolesterol tinggi

3. Berfungsi sebagai pelembab, antioksidan, tabir surya pada produk  kosmetik.

 

 

 

G.3 Protein

Menurut Suhardjo dan Clara (1992) protein berasal dari bahasa Yunani (Greek). “Primary, holding first place” yang berarti menduduki tempat yang terutama.  Protein terbentuk dari unsur-unsur organik yang hampir sama dengan karbohidrat dan lemak yatu terdiri dari unsur karbon, hidrogen,  oksigen dan mineral yaitu fosfor, sulfur dan zat besi. Molekul protein tersusun dari satuan-satuan dasar kimia yaitu asam amino. Dalam molekul protein, asam-asam amino ini saling berhubung-hubungan dengan suatu ikatan yang disebut ikatan peptida (-CONH-). Satu molekul protein terdiri dari 12 sampai 18 macam asam amino dan dapat mencapai ratusan asam amino.

Kebutuhan badan manusia untuk mempertahankan dan memperbaiki tenunan yang sudah tua terus berlangsung selama hidup. Protein dalam jaringan tubuh kita tidak statis, atau tetap. Artinya, sel-sel jaringan tersebut dipecah dan diganti dengan protein baru yang disintesis dari asam amino yang berasal dari makanan dan tenunan dalam tubuh. Apabila seseorang baru saja menjadi donor darah, mengalami menstruasi yang berlebihan, pendarahan yang hebat, kebakaran kulit, TBC kronis, dan sebagainya, maka keperluan proteinnya akan sangat tinggi (Winarno, 1993).

Protein sendiri mempunyai banyak sekali fungsi di dalam tubuh kita. Pada dasarnya protein menunjang keberadaan setiap sel tubuh, proses kekebalan tubuh, sumber energi, pembentukan dan perbaikan sel dan jaringan, sebagai sintesis hormon, enzim, antibodi, pengatur keseimbangan kadar asam basa dalam sel. Menurut Budianto (2001) protein berfungsi sebagai media perambatan impuls syaraf, alat pengangkut dan alat penyimpan, pengatur pergerakan.

Semua enzim adalah protein yang bertindak sebagai katalis dalam pencernaan dan metabolisme. Beberapa hormon, khususnya tiroksin, adrenalin, dan insulin yang diproduksi oleh kelenjar-kelenjar hormon pada umumnya terdiri atas protein. Hormon tersebut berfungsi mengatur dan mengkoordinasi keaktifan badan. Antibodi adalah senyawa yang membantu kemampuan badan untuk melawan infeksi, yaitu masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh (Winarno, 1993). Setiap orang dewasa harus sedikitnya mengkonsumsi 1 g protein per kg berat tubuhnya. Kebutuhan akan protein bertambah pada perempuan yang mengandung dan atlet-atlet. Sumber protein dapat diperoleh dari : dagingikantelursusu, tumbuhan berbiji, suku polong-polongan, kentang.

Menurut Anonymous (2009) kekurangan protein bisa berakibat fatal antara lain:

  1. Kerontokan rambut (rambut terdiri dari 97-100% dari protein – keratin)
  2. Kwasiorkor, penyakit kekurangan protein. Biasanya pada anak-anak kecil yang menderitanya, dapat dilihat dari yang namanya busung lapar, yang disebabkan oleh filtrasi air di dalam pembuluh darah sehingga menimbulkan odem. Simptom yang lain dapat dikenali adalah: hipotonus, gangguan pertumbuhan, hati lemak. Kekurangan yang terus menerus menyebabkan marasmus dan berkibat kematian.

Kelebihan protein dianggap tidak membahayakan. Banyak orang mengkonsumsi lebih dari 200 gr protein per hari tanpa mengalami sakit. Akan tetapi, beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa konsumsi protein yang terlalu tinggi dapat berpengaruh tidak baik. Kelebihan protein dalam makanan yang dikonsumsi dirusak dan sebagian besar nitrogennya dikeluarkan dalam bentuk urea. Beban yang harus dikerjakan dalam menyaring dan membuang hasil metabolisme oleh ginjal, meningkat bila konsumsi protein meningkat (Winarno, 1993).

G.4 Tahu

Tahu merupakan suatu produk yang terbuat dari hasil penggumpalan protein kedelai. Dalam perdagangan dikenal dua jenis tahu, yaitu tahu biasa dan tahu Cina. Pada pembuatan tahu Cina, kedelai direbus terlebih dahulu sebelum direndam dan biasanya mempunyai ukuran lebih besar (Koswara, 1992). Tahu dikenal masyarakat sebagai makanan sehari-hari yang umumnya sangat digemari serta mempunyai daya cerna yang tinggi. Keuntungan lain pada pembuatan tahu adalah berkurangnya senyawa anti tripsin (tripsin inhibitor) yang terbuang bersama whey dan rusak selama pemanasan. Disamping itu adanya proses pemanasan dapat menghilangkan bau langu kedelai (Koswara, 1992). Tahu sebagai salah satu produk olahan patut dikembangkan untuk mengatasi masalah kekurangan protein bagi masyarakat luas. Hal ini ditunjang oleh harga tahu itu sendiri yang relatif murah dan terjangkau. Tahu mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi terutama kandungan proteinnya. Komposisi nilai gizi pada 100 gr tahu segar dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini:

Tabel.2. Komposisi Nilai Gizi pada 100 gr Tahu Segar

Komposisi

Jumlah

Energi 63 kal
Air 86,7 g
Protein 7,9 g
Lemak 4,1 g
Karbohidrat 0,4 g
Serat 0,1 g
Abu 0,9 g
Kalsium 150 mg
Besi 0,2 mg
Vitamin B1 0,04 mg
Vitamin B2 0,02 mg
Niacin 0,4 mg

(Sumber : Direktorat Gizi Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam Suciati, 2003).

Tahu termasuk bahan makanan yang berkadar air tinggi. Besarnya kadar air dipengaruhi oleh bahan penggumpal yang dipakai pada saat pembuatan tahu. Bahan penggumpal asam menghasilkan tahu dengan kadar air lebih tinggi dibanding garam kalsium. Bila dibandingkan dengan kandungan airnya, jumlah protein tahu tidak terlalu tinggi, hal ini disebabkan oleh kadar airnya yang sangat tinggi. Makanan-makanan yang berkadar air tinggi umumnya kandungan protein agak rendah. Selain air, protein juga merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme pembusuk yang menyebabkan bahan mempunyai daya awet rendah. Pengeringan dapat menaikkan daya awet, tetapi menyebabkan bahan berubah sifat dan penggunaannya yaitu tidak dapat digunakan sebagaimana dalam bentuk segar, tetapi dikonsumsi sebagai kripik tahu (Fazani, 2009).

Pada dasarnya proses pembuatan tahu terdiri dari dua bagian, yaitu pembuatan susu kedelai dan penggumpalan proteinnya. Zat yang dapat digunakan sebagai  penggumpal (koogulan)  adalah jeruk nipis, cuka, larutan asam laktat, larutan CaCI2 atau CaSO4. Beberapa faktor yang mempengaruhi rendaman protein dan mutu tahu adalah : cara penggilingan atau ekstraksi, pemilihan bahan baku, bahan penggumpal dan keadaan sanitasi proses pengolahan pada umumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi secara panas menghasilkan rendaman lebih banyak.

  1. H.      METODE PENDEKATAN

Adapun tahapan-tahapan pelaksanaan program ini terdiri atas:

  1. Tahap Persiapan

Pada tahap ini kami akan melakukan koordinasi baik koordinasi intern kelompok maupun koordinasi dengan mitra kami (Pengusaha tahu). Selain itu kami akan melakukan uji pendahuluan dengan menggunakan pengawet alami Chitosan ++  berbagai dosis untuk mendapatkan dosis terbaik dalam proses pengawetan. Kemudian dilakukan pula uji kadar protein untuk mengetahui peningkatan kadar protein pada tahu yang sudah ditambahkan teknologi rekayasa Chitosan ++. Semua uji dilakukan di Laboratorium Kimia Universitas Muhammadiyah Malang.

  1. Tahap Produksi Chitosan ++

Setelah memperoleh dosis terbaik serta pengaruh Chitosan ++ pada protein tahu  kami melakukan salah satu pelaksanaan program yaitu tahap produksi yang dimulai dengan:

  1. Mempersiapkan alat dan bahan

Alat-alat

1)      Statif

2)      Klem

3)      Magnetic stirrer

4)      Thermometer

5)      Pemanas listrik

6)      Oven

7)      Timbangan analitik

8)      Blender

9)      Pisau

10)  Alat-alat gelas

Bahan-bahan

1)      Aquades

2)      NaOH

3)       HCl

4)      Asam asetat

5)      Tahu

6)      H2SO4

7)      Br

8)      Bahan untuk analisa kadar protein

9)      Kulit udang Vannamei.

  1. Proses pembuatan Chitosan ++

Chitosan ++

 

  1. Tahap Pengaplikasian

Setelah pematangan koordinasi, persiapan telah tercapai dan tahap pembuatan Chitosan ++ telah dilakukan, kami akan mengaplikasikan teknologi rekayasa Chitosan ++ pada mitra kerja kami yaitu pengusaha tahu di Kota Batu. Dalam proses pengaplikasian ini dilakukan pendampingan cara pengunaan Chitosan ++. Adapun cara penggunaan teknologi rekayasa ini yaitu:

  1. Melarutkan Chitosan ++ kedalam larutan asam asetat encer (1 %)
  2. Menuangkan larutan Chitosan ++  tersebut ke dalam suatu wadah
  3. Memasukkan tahu kedalam larutan Chitosan ++  dan direndam selama 15 menit.
  1. Tahap Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dilakukan setiap kali produksi yang bertujuan untuk melihat kualitas tahu pada setiap pembelian yang meliputi daya minat konsumen terhadap tahu. Sedangkan pada tahap evaluasi bertujuan untuk mengetahui hasil dari proses penerapan teknologi rekayasa Chitosan ++  yang  dilakukan pada setiap minggunya. Dari hasil evaluasi nantinya dapat diketahui apakah teknologi ini sudah benar-benar berjalan sesuai dengan tujuan program atau masih belum. Jika dari hasil evaluasi belum sesuai dengan tujuan maka kami akan terus melakukan perbaikan sampai teknologi rekayasa Chitosan ++ dapat teraplikasikan pada mitra dengan hasil yang baik.

I.   JADWAL KEGIATAN PENELITIAN

Jenis Kegiatan

Bulan I

Bulan II

Bulan III

Minggu

Minggu

Minggu

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

Persiapan

  1. Koordinasi intern dan mitra
  2. Uji Coba Chitosan

x

x

Pelaksanaan Kegiatan

  1. Pembuatan Chitosan
  2. Pengaplikasian
  3. Organoleptik
  4. Monitoring dan Pendampingan

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

x

Evaluasi x x x x x X
Penyusunan Laporan x
Seminar Hasil x

 

 

 

J.  RANCANGAN BIAYA

1. Biaya bahan habis pakai

a. Kedelai @Rp 50.000 x 10 kg                                       Rp. 500.000

b. Kulit Udang @Rp 100.000 x 2 kg                               Rp. 200.000

c. NaOH 1 kg                                                                    Rp. 200.000

d. HCL 1 liter                                                                   Rp. 250.000

e. CH3COOH 1 liter                                                         Rp. 150.000

2. Biaya alat habis pakai

a. Masker wajah 1 kotak                                                   Rp. 250.000

b. Sarung tangan 1 kotak                                                  Rp. 150.000

c. Kertas saring Whatman 1 pak                                       Rp. 200.000

3. Peralatan penunjang PKM

a. Alat-alat pembuatan Chitosan                                       Rp. 800.000

b. Kertas, alat tulis, printer                                                Rp. 350.000

4. Transport @Rp. 100.000,- x 4 orang                                  Rp. 400.000

5. Organoleptik                                                                       Rp. 600.000

6. Koordinasi dengan mitra                                                    Rp. 650.000

7. Monitoring/Pendampingan  @Rp. 50.000 x 7 x 4 orang    Rp. 1.400.000

8. Lain-lain

a. Dokumentasi                                                                 Rp. 450.000

b. Poster                                                                            Rp. 350.000

c. Seminar Hasil                                                                Rp. 500.000

d. Evaluasi program                                                          Rp. 525.000

e. Sewa Laboratorium                                                       Rp. 800.000

f. Sewa Alat Laboratorium                                               Rp. 400.000

g. Laporan akhir                                                                Rp. 200.000

Total Biaya                                                                      Rp 9.325.000

 

 

 

 

K. DAFTAR PUSTAKA

Budianto, M.A.K. 2001. Dasar-dasar Ilmu Gizi. Malang : UMM Press.

Darmono. 1993. Budidaya Udang Penaeus. Jakarta : Kanisius.

Dinas Kelautan dan Kelautan Jatim. 2005. Laporan Statistik Perikanan Jawa Timur Tahun 2005. Surabaya : DKP.

Farida, M. 2002. Pengaruh Penggunaan Whey sebagai Media Perendaman terhadap Daya Simpan Tahu yang Dikemas (Kajian Lama Penundaan Whey dan Lama Pemanasan Tahu). Skripsi Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Hasil Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.

Firdaus U.A, Khoriyah, Wahyudi, Alziyah N.A.K. 2009. Pemanfaatan CaCO3 dalam Kulit Udang sebagai Absorben Limbah Logam Berat pada Perairan. Makalah Jurusan Kimia Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang.

Goligo, I .2009. Subsektor Perikanan. Makasar : Bone.

Handayani, T. 2004. Pengaruh Habitat Hidup Udang dan Urutan Tahapan Proses Ekstraksi Terhadap Kualitas Chitin dan Chitosan dari Kulit Udang serta Pemanfaatannya sebagai Bahan Koogulasi Pada Sari buah Tomat. Skripsi program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.

Hardjito, L. 2006. Chitosan Lebih Awet dan Aman (online), (http://www.mail-archive.com/majelismuda@yahoogroups.com/msg00980 html. Diakses 8 Oktober 2010).

Harini, N .2003. Proses Pembuatan Chitin-Chitosan (Kajian Berdasarkan Bagian-Bagian Tubuh Kulit Udang (Penaeus vannamei) dan Perlakuan fisik). Laporan Grand Research Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.

Haryani, K dan Budiyati. 2007. Khitosan dari Kulit Udang untuk Mengadsorbsi Logam Krom (Cr6+) dan Tembaga (Cu) (online), Vol. 11 No.2 (http://eprints.undip.ac.id/2175/1/Artikel_Kristinah_UNDIP_7.pdf. Diakses 8 Oktober 2010).

Koswara, S. 1992. Teknologi Pengolahan Kedelai. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Mahmiah. 2005. Pemanfaatan Limbah Kulit Udang Sebagai Bahan Dasar Isolasi Chitin dan Chitosan. Jurnal Perikanan, No.2 Vol.1 Februari 2005 Hal.71-75

Mudzz. 2010. Chitosan (online), (http://mudhzz.wordpress.com/chitosan/. Diakses 6 Oktober  2010).

Murtini, J.T, Dwiyitno dan Yusma. 2008. Penurunan Kandungan Kolesterol pada Cumi-cumi dengan Kitosan Larut Asam dan Pengepresan. Prosiding Seminar Nasional Tahunan V Hasil Kelautan Tahun 2008. Jakarta.

Rekso, G.T. 2001. Pemanfaatan Limbah Perikanan. Jakarta : Puslitbang Teknologi Isotop dan Radiasi (P3TIR), Badan Teknologi Nasional.

Rochima, E. 2009. Karakterisasi Kitin dan Kitosan Asal Limbah Rajungan Cirebon Jawa Barat (online), (erochima@yahoo.com. Diakses 6 Oktober 2010).

Suciati, W. 2003. Analisis Nilai Tambah dan Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi pada Agroindustri Tahu Skala Kecil dan Skala Rumah Tangga (Studi Kasus pada Agroindustri Tahu di Desa Gedog Wetan Turen Kabupaten Malang). Skripsi Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.

Suhardjo dan Clara M.K. 1992. Prinsip-prinsip Ilmu Gizi. Yogyakarta : Kanisius.

Wardaniati, R.A dan Sugiyani S. 2009. Pembuatan Chitosan dari Kulit Udang dan Aplikasinya untuk Pengawetan Bakso. Makalah Penelitian, (online), (http://eprints.undip.ac.id/1718/1/makalah_penelitian_fix.pdf , diakses, 8 Oktober 2010).

Winarno, F.G. 1993. Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Winarno, F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

05/10/2011 Posted by | Contoh PKM | 6 Komentar

Potensi “DAJAMBI” Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) sebagai Bahan Kontrasepsi Alami pada Pria

  1. A.    JUDUL

Potensi “DAJAMBI” Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) sebagai Bahan Kontrasepsi Alami pada Pria

 

  1. B.     LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia setelah RRC, India dan Amerika Serikat laju pertumbuhan penduduk Indonesia memang cukup tinggi, yakni 2,6 juta jiwa per tahun. Tahun 2009 jumlah penduduk Indonesia ada sekitar 230,6 juta jiwa. Pada 2006 rata-rata angka kelahiran mencapai 2,6 anak per wanita subur. Angka tersebut tidak berubah pada 2007, sedangkan laju pertumbuhan penduduk rata-rata masih 2,6 juta jiwa per tahun. Jika tidak dilakukan tindakan pengendalian, 11 tahun lagi atau pada 2020 diperkirakan penduduk Indonesia akan mencapai 261 juta manusia.  (Purnomo, 2004).

Dalam menekan dan mengendalikan jumlah penduduk, maka pemerintah telah menggalakkan program keluarga berencana (KB) bagi pasangan suami istri usia subur. Selanjutnya untuk mensukseskan program tersebut diperlukan peran serta aktif dari suami istri tersebut. Pada saat ini, individu yang ikut serta dalam melaksanakan program KB mayoritas adalah para istri. Keikutsertaan para suami dalam melaksanakan KB masih sangat rendah yaitu sekitar 6% dari seluruh program KB. Rendahnya keikutsertaan  suami dalam program KB disebabkan masih terbatasnya pilihan kontrasepsi untuk suami atau kontrasepsi suami yang ada masih belum memberikan hasil yang memuaskan (Moeleok, 1990).

Suami merupakan fokus baru untuk program KB yang selama ini belum banyak diperhatikan. Sampai sekarang kontrasepsi untuk suami yang dianggap sudah mantap adalah kondom dan vasektomi. Namun penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi menimbulkan keluhan psikologik, sedangkan vasektomi walaupun merupakan kontrasepsi yang dapat diandalkan, seringkali menimbulkan efek samping yang permanen (irreversible), berupa kegagalan rekanalisasi. Apabila faktor akseptor yang menggunakan kontrasepsi tersebut ingin punya anak kembali, maka seringkali sulit dapat dilakukan rekanalisasi kembali. Alternatif lain dalam metode kontrasepsi untuk suami yaitu penggunaan hormon seperti dilakukan pada istri, tetapi cara ini pada suami dianggap belum memuaskan dan masih terus dilakukan penelitian kembali (Arsyad, 1988).

Badan kesehatan dunia (WHO) telah membentuk suatu kelompok kerja (POKJA) untuk mencari dan mengembangkan metode pengaturan kesuburan suami. Mandat yang diberikan kepada pokja tersebut adalah mengembangkan metode pengaturan kesuburan yang aman, efektif dan dapat diterima, serta memonitor keamanan dan keefektivitasannya. Salah satu strategi penelitian yang dilakukan oleh pokja WHO adalah mengembangkan kontrasepsi melalui bahan atau zat dari tumbuh-tumbuhan yang diduga mempunyai bahan aktif yang bersifat antifertilitas (Yurnadi dkk, 2001). Dalam mencari obat alternatif untuk kontrasepsi suami, sebaiknya tidak hanya terbatas pada kontrasepsi hormonal, tetapi juga pada tanaman yang diperkirakan mengandung zat antifertilitas. Berdasarkan kenyataan tersebut, salah satu alternatif yang digunakan dalam masyarakat adalah dengan pemberian daun jambu biji (Psidium guajava L.)  yang memberikan efek antifertilitas (Mursito, 2000).

Jambu biji ( Psidium guajava L.) merupakan tanaman yang termasuk famili Myrtaceae yang banyak tumbuh di Indonesia. Jambu biji adalah salah satu tumbuhan yang sudah lama dimanfaatkan oleh masyarakat, namun pemanfaatannya hanya sebatas pada buahnya untuk keperluan konsumsi karena mengandung vitamin C yang sangat tinggi, tetapi pemanfaatan daunnya hanya sebagian kecil saja yaitu sebagai obat anti diare, disentri, radang usus dan gangguan pencernaan karena mempunyai kandungan zat tanin sebagai astringent dan anti mikroba.

Selain berbagai kegunaan di atas daun jambu biji diduga memiliki zat aktif golongan steroid yang mempunyai daya spermicide. Bahan kimia yang terkandung dalam daun jambu biji diantaranya adalah Beta-sitosterol, alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, eugenol, minyak atsiri dan berbagai senyawa lainya (Albana dkk, 1999).

Khasiat dari zat aktif yang terdapat dalam daun jambu biji seperti alkaloid, mempunyai fungsi menekan sekresi hormon reproduksi yang diperlukan untuk berlangsungnya proses spermatogenesis, minyak atsiri bekerja pada proses transportasi sperma yaitu dapat menggumpalkan sperma sehingga menurunkan motilitas dan daya hidup sperma, begitu juga dengan tanin fungsinya hampir sama dengan minyak atsiri yaitu dapat menggumpalkan semen. Sedangkan flavonoid dapat menghambat enzim aromatase yaitu enzim yang berfungsi mengkatalis konversi androgen menjadi estrogen yang akan meningkatkan hormon testosteron, yang mana tingginya konsentrasi hormon testosteron akan berumpan balik ke hipofisis yaitu tidak melepaskan FSH (Follicle Stimulating Hormon) dan LH (Luteinizing Hormon). Golongan steroid (Beta-sitosterol) yang merupakan derivat dari steroid merupakan prekursor dan hormon estrogen juga dapat menurunkan sekresi FSH dan pada sejumlah keadaan tertentu juga dapat menghambat LH (Wienarno & Sundari 1997). Duke (2003) menyatakan bahwa Beta-sitosterol yang terdapat dalam daun jambu biji berfungsi sebagai anti fertilitas, disamping itu Beta-sitosterol juga mempengaruhi spermycide (Duke’s, 2004).

Proses normal spermatogenesis diatur oleh sistem hormon FSH, LH dan testosteron. Jika sekesi FSH dan LH rendah maka proses spermatogenesis akan terganggu dan menyebabkan jumlah spermatozoa di bawah normal (Adimunca & Sutyarso, 1997).

Selain itu Susetyorini dari hasil penelitiannya dalam Bestari edisi 188 menyatakan bahwa alkaloid, flavonoid, tanin dan minyak atsiri dapat merusak beberapa oganel penyusun sel target yaitu sel sertoli, sel spermatogonium, sel spermatosit, dan sel spermatid.

Dari 74 tanaman yang tercatat secara empiris telah digunakan oleh masyarakat diberbagai daerah untuk obat anti fertilitas tradisional 18 diantaranya telah dilakukan uji anti spermatogenesisnya dan terbukti semua mempunyai sifat menghambat proses spermatgenesis. Apabila dikaitkan dengan senyawa aktif dari tanaman-tanaman ini tenyata banyak diantaranya mengandung zat alkaloid, tiavonoid, steroid, tanin dan minyak atsiri, yang mana semua zat-zat tersebut juga terkandung dalam daun jambu biji sehingga perlu dilakukan penelitian apakah senyawa-senyawa aktif yang terkandung dalam daun jambu biji tersebut juga mempunyai khasiat yang sama terhadap anti spermatogenesis sehingga dapat dijadikan alternatif sebagai obat anti fertilitas pada pria, dimana syarat dari obat anti fertilitas pria adalah memiliki daya hambat terhadap proses spermatogenesis, maturasi sperma, dan transportasi sperma (Sundari & Adimunca,1997).

Studi tentang khasiat zat aktif golongan steroid yang berasal dari jambu biji  (Psidium guajava L.) sebagai antifertilitas sudah mulai dikembangkan, namun di Indonesia belum banyak dipublikasikan. Oleh karena itu, peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian mengenai penggunaan zat aktif golongan steroid yang berasal dari daun jambu biji biji  (Psidium guajava L.) sebagai bahan kontrasepsi alami bagi pria.

  1. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut:

  1. Apakah daun jambu biji (Psidium guajava L.) berpotensi  sebagai bahan kontrasepsi alami bagi pria?
  2.  Bagaimana mekanisme daun jambu biji (Psidium guajava L.) sebagai bahan kontrasepsi alami bagi pria?
  1. TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah:

  1. Mengetahui potensi daun jambu biji (Psidium guajava L.) sebagai bahan kontrasepsi alami bagi pria.
  2. Mengetahui mekanisme daun jambu biji (Psidium guajava L.) sebagai bahan kontrasepsi alami bagi pria.
  1. LUARAN YANG DIHARAPKAN
  1. Menghasilkan artikel penelitian yang dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam memilih kontrasepsi alami bagi pria.
  2. Hak paten kontrasepsi alami bagi pria yang berbahan dasar dari daun jambu biji (Psidium guajava L.).
  1. MANFAAT

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:

  1. Secara Teoritis
    1. Memberikan penguatan konsep mata kuliah embriologi sebagai bentuk penerapan dalam bidang penelitian.
    2. Sebagai model terapan teori-teori  reproduksi yang diaplikasikan dalam bentuk kontrasepsi alami bagi pria.
    3. Secara Praktis
      1. Memberikan solusi kepada masyarakat khususnya kaum pria mengenai kontrasepsi alami yang berbahan dasar  daun jambu biji (Psidium guajava L.).
      2. Memberikan informasi kepada masyarakat serta dinas kesehatan bahwa daun jambu biji (Psidium guajava L.) berpotensi sebagai kontrasepsi alami bagi pria.
  1. TINJAUAN PUSTAKA

G.1 Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.)  

Daun jambu biji (Psidium guajava L.)  berbau aromatik dan rasanya sepat. Daunnya merupakan daun tunggal yang  berwarna hijau keabuan, helai-helai daun berbentuk jorong sampai bulat memanjang, ujung daunnya meruncing sedangkan pangkal daunnya juga meruncing tetapi ada pula yang membulat, daun berukuran panjang  antara 6cm sampai 15cm dan lebar antara 3cm sampai 7,5cm sedangkan tangkainya kurang lebih 1cm. Daun berambut penutup pendek, tampak berbintik-bintik yang sesungguhnya merupakan rongga-rongga lisigen, warnanya gelap namun bila dalam keadaan terendam air menjadi tembus cahaya (Karta Sapoetra,1992).

Menurut pendapat Ris munandar (1989) daun, kulit batang, akar dan buah muda pada daun jambu biji mengandung zat psidi tanin sedangkan khusus daun jambu biji mengandung minyak atsiri, eugenol dan damar disamping zat-zat mineral lain yang banyak terdapat didalam buah.

Daun jambu biji mempunyai zat aktif diantaranya adalah minyak atsiri, alkaloid, flavonoid, tanin, dan pektin. Selain itu tanin juga dapat menyerap racun dan menggumpalkan protein. Dalam penelitian terhadap daun kering jambu biji yang digiling halus diketahui kandungan taninnya sampai 17,4%. Makin halus serbuk daunnya, makin tinggi kandungan taninnya, senyawa itu bekerja sebagai astrengent yaitu melapisi mukosa usus, khususnya usus besar (Winarno 1997).

Bagian daun (folium) mempunyai sifat khas manis, kelat dan menetralkan juga mempunyai kandungan kimia zat samak, minyak atsiri, tri terpenoid, leuko sianidin, kuersetin, asam arjunolat resin, dan minyak lemak (Anonymous, 2000).

Sedangkan menurut (Duke, 2004) tanaman jambu biji (Psidium guajava L.)  khususnya bagian daun mengandung berbagai zat aktif diantaranya adalah amritoside, aromadendren, avicularin, beta-sitosterol, calcium-oxalat, caryopphyllen-oxide, catechol-tannins, crataegolic acid, EO, guajiverin,  guaijaverin, guavin-a,b,c,d, guajivolic-acid, nerolidiol, oleanolic-acid, psidiolic-acid, quercetin, sugar, ursolic-acid, xantophyll, gallo catechin,ellagic-acid, fat, genticid-acid,  hyperocid, leucocyanidine, hyperocide, aslinic-acid.

Daun jambu biji (Psidium guajava L.) mengandung berbagai senyawa kimia  aktif diantaranya saponin, flavonoid, tri terpenoid, minyak atsiri (Menurut Ma’at & Albana), tanin, beta sitosterol dan senyawa-senyawa lainnya (Duke, 2004).

Berbagai zat yang terdapat dalam daun jambu biji seperti flavonoid menurut literatur dapat menghambat enzim aromatase yaitu enzim yang berfungsi mengkatalis konfersi androgen menjadi estrogen yang akan meningkatkan konsentrasi testosteron. Tingginya konsentrasi testosteron akan berumpan balik negatif ke hipofisis  yaitu tidak melepaskan FSH atau LH.

Golongan alkaloid dapat menekan sekresi hormon reproduksi yang diperlukan untuk berlangsungnya proses spermatogenesis. Golongan terpen dan minyak atsiri bekerja bukan pada proses spermatogenesisnya tetapi pada proses transportasi sperma yaitu dapat menggumpalkan sperma sehingga menurunkan motilitas dan daya hidup sperma, akibatnya sperma tidak dapat mencapai sel telur dan pembuahan dapat tercegah. Tanin kerjanya hampir sama dengan terpen yaitu dapat menggumpalkan semen. Sedangkan golongan steroid yang merupakan prekursor dan hormon estrogen yang salah satu kerjanya menurunkan sekresi FSH ,dan pada sejumlah keadaan tertentu  akan menghambat LH (Winarno & Sundari 1999).

Proses normal spermatogenesis diatur oleh sistem hormon (FSH, LH dan testosteron), yang pengendaliannya melalui poros hipotalamus-hipofisis-testis. FSH mempengaruhi sel sertoli dan sel spermatogenik untuk metabolisme normal; sel sertoli dibawah pengaruh FSH mensintesis protein pengikat androgen (ABP) yang berfungsi untuk mengikat testosteron, untuk selanjutnya digunakan dalam proses pembelahan dan pematangan spermatogonia menjadi spermatozoa. Adapun LH penting dalam mempengaruhi sel leydig memproduksi testosteron. Jika sekresi FSH ditekan oleh hipofisis maka konsentrasi FSH menjadi rendah dan akibatnya spermatogenesis dapat terganggu dan jumlah spermatozoa dibawah normal (Adimunca & Sutyarso 1997).

Secara normal FSH sangat diperlukan dalam proses spermatogenesis dan LH diperlukan untuk merangsang produksi testosteron. Jika FSH produksinya dihambat oleh steroid dalam hal ini adalah beta-sitosterol maka akan mengganggu spermatogenesis dan pada sejumlah keadaan tertentu galongan steroid juga dapat menghambat produksi LH (reaksi umpan balik)  sehingga spermatogenesis dapat terganggu.

G.2 Kontrasepsi Pria

Suami merupakan fokus baru untuk program KB yang belum mendapat perhatian. Keikutsertaan para suami dalam melaksanakan KB masih sangat rendah yaitu sekitar 6% dari seluruh program KB. Kontrasepsi untuk suami yang dianggap sudah mantap sampai saat ini  adalah kondom dan vasektomi. Namun penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi menimbulkan keluhan psikologik, sedangkan vasektomi walaupun kontrasepsi yang diandalkan, seringkali menimbulkan efek samping berupa kegagalan rekanalisasi. Rekanalisasi adalah pembukaan kembali pembuluh darah yang tersumbat (Anonymous, 2010). Apabila faktor akseptor yang menggunakan kontrasepsi tersebut ingin punya anak, maka seringkali sulit dapat dilakukan rekanalisasi kembali. Alternatif lain dalam metode kontrasepsi untuk suami yaitu penggunaan hormon seperti dilakukan pada istri, cara ini bisa menjadi alternatif bagi pria Indonesia, namun untuk bisa disebarluaskan kontrasepsi ini harus nyaman dan aman bagi pemakainya. (Winarso, 2003).

Penggunaan alat kontrasepsi di kalangan pria belum membudaya seperti halnya pada kaum perempuan, namun pemerintah berusaha keras untuk meningkatkan kesetaraan ini agar populasi penduduk Indonesia dapat kembali ditekan (Anonymous, 2006). Kontrasepsi pria sendiri ada bermacam-macam diantaranya adalah :

1.  Kontrasepsi Sterilisasi, yaitu pencegahan kehamilan dengan mengikat testis pada pria (vasektomi). Proses sterilisasi ini harus dilakukan oleh ginekolog (dokter kandungan). Efektif bila memang ingin melakukan pencegahan kehamilan secara permanen, misalnya karena faktor usia.

2. Kontrasepsi Teknik yaitu Coitus Interruptus  (senggama terputus) dimana ejakulasi dilakukan di luar vagina. Efektivitasnya 75-80%. Faktor kegagalan biasanya terjadi karena ada sperma yang sudah keluar sebelum ejakulasi, orgasme berulang atau terlambat menarik penis keluar.

3.  Kontrasepsi Mekanik

a. Kondom: Efektif 75-80%. Terbuat dari latex yang berfungsi sebagai pemblokir / barrier sperma. Kegagalan pada umumnya karena kondom tidak dipasang sejak permulaan senggama atau terlambat menarik penis setelah ejakulasi sehingga kondom terlepas dan cairan sperma tumpah di dalam vagina. Kekurangan metode ini: mudah robek bila tergores kuku atau benda tajam lain, membutuhkan waktu untuk pemasangan, mengurangi sensasi seksual

b. Spermatisida: bahan kimia aktif untuk ‘membunuh’ sperma, berbentuk cairan, krim atau tisu vagina yang harus dimasukkan ke dalam vagina 5 menit sebelum senggama. Efektivitasnya 70%. Sayangnya bisa menyebabkan reaksi alergi. Kegagalan sering terjadi karena waktu larut yang belum cukup, jumlah spermatisida yang digunakan terlalu sedikit atau vagina sudah dibilas dalam waktu < 6 jam setelah senggama (Anonymous, 2009).

G.3 Testis

Testis merupakan organ kelamin laki-laki tempat spermatozoa dan hormon laki-laki dibentuk. Testis menghasilkan hormon testosteron dan bekerja sebagai kelenjar endokrin. Hormon testosteron ini berfungsi untuk menentukan sifat-sifat kajantanan.

Contoh: Tumbuhnya jenggot dan jakun, suara yang membesar serta bentuk badan yang besar dan kuat.

Fungsi testis terdiri dari:

  1. Membentuk gamet-gamet baru yaitu spermatozoa, dilakukan di tubulus seminiferus.
  2. Menghasilkan hormon testosteron, dilakukan oleh sel interestial.

Kelenjar testis bentuknya seperti telur yang banyaknya 2 buah yang menghasilkan sel mani atau sperma. Dikirim melalui saluran yang terdapat dibelakang buah pelir dan melewati sebelah dalam, disebelah belakang saluran ini terdapat duktus deferens. Kelenjar testis menghasilkan hormon Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Lutenizing Hormone (LH). Disamping itu testis dapat menghasilkan hormon testosteron. Hormon testosteron ini disekresikan oleh testis, sebagian besar berkaitan dengan protein plasma. Beredar dalam darah 15-30 menit, kemudian disekresi.

Testosteron dihasilkan pada anak berusia 11-14 tahun. Pembentukan ini meningkat dengan cepat pada permulaan pubertas dan berlangsung  hampir seluruh kehidupan, berkurangnya kecepatan produksi setelah pria berumur 40 tahun. Pada umur 80 tahun pria menghasilkan testosteron lebih kurang 1/5 dari nilai puncak, sedangkan testosteron akan memuncak sekresinya oleh beberapa kelenjar sebasea yang pada wajah dapat menimbulkan jerawat yaitu merupakan gambaran yang paling sering pada pubertas.

H. METODE PENELITIAN

H.1 Populasi dan Sampel

Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah tikus putih jantan (Rattus norwegicus) dengan karakteristik mata warna merah jernih dan kulit bersih, umur 2,5-3 bulan dengan berat badan 250-300gr strain Wistar yang diperoleh dari UNAIR Surabaya.

Sampel

Sampel diambil dari populasi tikus putih (Rattus norvegicus) jantan sebagai hewan coba. Dalam penelitian ini terdapat 5 macam perlakuan, dimana untuk mendapatkan banyaknya ulangan pada masing-masing perlakuan ditentikan berdasarkan rumus (Hanafiah, 1993) yaitu:

(t-1)  (r-1) ³15

(5-1) (r-1) ³15

4 (r-1) ³15

r-1 ³ 3,75

r ³ 4,75  maka r ³ 5

Dimana:

t           : Treatment (perlakuan)

r           : Replikasi (ulangan)

Dari rumusan tersebut diperoleh jumlah hewan coba untuk masing-masing perlakuan adalah lebih besar sama dengan 5 (lima). Dalam penelitian ini digunakan 5 ekor hewan coba untuk masing-masing perlakuan karena dimungkinkan sangat kecil tikus putih mengalami kematian.

 

H.2 Variabel Penelitian

  1. Variabel Bebas

Pada penelitian ini variabel bebasnya adalah filtrat daun jambu biji (Psidium guajava L.).

  1. Variabel Terikat

Dalam penelitian  ini yang menjadi variabel terikatnya adalah jumlah sel spermatozoa penampang melintang  testis tikus putih jantan (Rattus norwegicus).

H.3 Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah Eksperimen Sungguhan (True Experiment Research) karena dalam penelitian ini telah memenuhi tiga prinsip yaitu randomisasi, replikasi, dan adanya perlakuan kontrol atau pembanding. Menurut Rofieq (2002) eksperimen sungguhan merupakan suatu penelitian yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan                                                                                                          sebab akibat dengan cara mengenakan satu atau lebih kelompok eksperimental dan membandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan itu.

Desain eksperimental sungguhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah “The Postest-Only Control Group Design” yaitu didalam populasi setiap unit dari populasi adalah homogen yang artinya semua karakteristik antar unit populasi adalah sama maka tidak dilakukan pengukuran awal, semua kelompok perlakuan dianggap sama karena berasal dari satu populasi yang sama sehingga pengukuan variabel hanya dilakukan  pada akhir penelitian (post test) saja, tanpa ada pengukuran awal (pretest) tetapi hanya dilakukan “Control by Design” yaitu dengan menghomogenkan sampel penelitian. Rancangan ini dapat digambarkan:

O2

P1

K                O1

O3

P2

R

O4

O5

P3

P4

Keterangan:

R          = Randomisasi

K          = Kontrol atau banding

P1        = Perlakuan dosis dekok daun jambu biji  4gr

P2        = Perlakuan dosis dekok daun jambu biji  6gr

P3        = Perlakuan dosis dekok daun jambu biji  8gr

P4        = Perlakuan dosis dekok daun jambu biji  10gr

O1-O5  = Hasil penelitian

H.4 Analisa Data

Data Hasil Penelitian dianalisis dengan menggunakan Uji Chi-square karena data penelitian merupakan data diskrit dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Merumuskan Hipotesis nihil(Ho)
  2. Menentukan frekwensi ekspektasi (Ei)
  3. Menghitung X2 hitung dengan rumus:

c2 = å ( Oi – Ei )

Ei

Dimana:

c2 = Chi-kuadrat

Oi= Frekwensi yang diperoleh

Ei= Frekwensi yang diharapkan

H.5 Instrumen Pelaksanaan

Alat

Pembuatan dekok daun jambu biji:

-         Timbangan analitik (0,001 g)

-         Alat pemanas

-         Erlenmeyer 125 ml

-         Kertas saring Whatman 40

-         Labu ukur 100 ml

-         Corong kaca

-         Pengaduk (spatula)

Pembedahan dan pembuatan preparat testis

-         Seperangkat alat secsic seperti: pisau, gunting, jarum pentul, pinset,  skalpel, dan bak lilin

-         Gelas arloji

-         Botol flakon

-         Pipet tetes

-         Mikrotom

-         Oven

-         Jarum ose

-         Kaca benda dan kaca penutup

-         Mikroskop

-         Alat foto dan film Fuji

Bahan

Pembuatan dekok daun jambu biji

-         Daun jambu biji

-         Aquadest

Pengambilan testis

-         Kloroform untuk membius

-         Kapas

-         NaCl

-         Formalin 10%

-         Alumunium foil

Pembuatan preparat histologi testis

-         Testis tikus putih jantan

-         Alkohol 30%, 50%, 70%, 80%, 100%.

-         Xylol

-         Aquadest

-         Putih telur

-         Parafin

-         Enthellan

-         Pewarna H-E (Hematoxylin dan Eosin)

Cara Kerja

Proses adaptasi

Tikus putih jantan dimasukkan kedalam kandang plastik yang telah diberi sekam padi sebagai alas, dan di aklimatisasikan selama 2 minggu sebelum diberi perlakuan. Tikus putih jantan diberi makan (BR1) masing-masing 5 gr/ ekor setiap hari, sedangkan untuk minuman tikus putih jantan menghisap minuman aquadest yang sudah disediakan didalam botol.

Membuat Dekok Daun  Jambu Biji (Psidium guajava L.)

Cara membuat dekok:

-         Menimbang 1 kg bahan (daun jambu biji)

-         Mencuci bahan dengan air mengalir

-         Memotong  bahan (daun jambu biji) hingga kecil-kecil dan memasukkan kedalam erlenmeyer

-         Menambahkan aquadest kedalam bahan tersebut dengan perbandingan 1:1. Semisal jumlah bahan adalah 1000 gr maka ditambahkan aquadest sebanyak 1000 ml atau penambahan aquadest sampai bahan tersebut terendam.

-         Bahan dipanaskan dengan menggunakan api kecil sampai mendidih kemudian diaduk terus menerus sampai volume air berkurang sepertiga sampai separuh bagian kemudian disaring

-         Jika volume larutan masih melebihi volume yang seharusnya (1000 ml) maka dilakukan pemanasan selanjutnya hingga volume menjadi 1000 ml

-         Jika volume larutan kurang dari volume yang seharusnya (1000 ml) maka dilakukan penambahan dengan aquadest sampai volume menjadi 1000 ml. Dengan proses ini maka didapatkan dekok dengan konsentrasi 100%.

Pengambilan Testis dan pembuatan preparat

Fiksasi

-         Membius tikus dengan kloroform dan kapas kemudian menutup dengan alumunium foil

-         Membedah tikus mulai dari bagian bawah abdomen lalu mengambil organ testisnya

Pencucian

-         Mencuci dengan garam fisiologis (Nacl)

-         Memasukkan kedalam botol flakon dan memfiksasi dengan larutan fiksatif  formalin 50% selama 24 jam

-         Membuang larutan fiksatif formalin

Dehidrasi

-         Mendehidrasi dengan alkohol 50% selama 30 menit

-         Mendehidrasi dengan alkohol 70% selama 30 menit

-         Mendehidrasi dengan alkohol 80% selama 30 menit

-         Mendehidrasi dengan alkohol 100% selama 30 menit

-         Mendehidrasi dengan alkohol 100% selama 30 menit

Clering atau Penjernihan

-         Menetesi dengan alkohol : Xylol = 3:1 selama 30 menit

-         Menetesi dengan alkohol : Xylol = 1:1 selama 30 menit

-         Menetesi dengan alkohol : Xylol = 1:3 selama 30 menit

-         Menetesi dengan xylol murni 1 selama 30 menit

-         Menetesi dengan xylol murni 2 selama 30 menit

Inviltrasi

-         Menetesi xylol : parafin =1:9 selama 24 jam (diletakkan dalam oven suhu 60oC )

-         Mengganti dengan parafin murni selama 1 jam dalam oven suhu 60oC

Embeding (penanaman)

-         Parafin cair diletakkan kedalam cetakan berbentuk botol flakon (dibuat dari alumunium foil dalam bentuk botol flakon), kemudian testis dimasukkan kedalamnya dan posisi diatur sebaik mungkin, kemudian didinginkan hingga parafin membeku.

Trimming atau Pengeblokan Parafin

-         Testis dalam cetakan parafin dikepris menjadi potongan yang rapi agar mudah diiris dengan mikrotom.

Pemotongan

-         Testis dalam cetakan parafin dipotong dengan mikrotom ukuran 6 mikron

Mounting I

-         Sayatan hasil pemotongan dengan mikrotom diletakkan pada beaker glass kemudian potongan tersebut dimasukkan kedalam Water bath pada suhu 50oC sehingga parafin memapar, kemudian diletakkan pada gelas objek yang sudah diberi bahan perekat (campuran asam cuka albumin dan air) dan dikeringkan.

Deparafinisasi

-         Menetesi Xylol : alkohol = 3:1 selama 3 menit

-         Menetesi Xylol : alkohol = 1:1 selama 3 menit

-         Menetesi Xylol : alkohol = 1:3 selama 3 menit

Pewarnaan

-         Proses pewarnaan Hematoxylin 30 menit, cuci dengan air mengalir selama 5-10 menit, bilas dengan aquadest 2 kali masing-masing 3-5 detik.

-         Mewarnai dengan larutan 0,1 Eosin kemudian cuci dengan air mengalir selama 5 detik.

Dehidrasi

-         Mendehidasi dengan alkohol 50, 70, 90, absolud masing-masing selama 3 menit

-         Mendehidrasi dengan xylol I selama 3 menit

Mounting II

-         Xylol murni II selama 3 menit

-         Merekatkan dalam Canada balsam atau Enthellen dengan kaca penutup, kemudian dikeringkan

  1. I.                   JADWAL KEGIATAN

No

Jadwal Kegiatan

Bulan 1

Bulan 2

Bulan 3

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1.

Persiapan alat

X

2.

Pengumpulan bahan

X

3.

Proses adaptasi tikus

X

4

Pelaksanaan penelitian

X

X

X

X

6.

Pembuatan sediaan histologis

X

7.

Analisa data

X

8.

Penyusunan laporan

X

X

9.

Presentasi hasil penelitian

X

J. RANCANGAN BIAYA

  1. Biaya bahan habis pakai

a. Daun Jambu Biji                                                         Rp. 30.000

b. Tikus @Rp. 50.000 x 30                                            Rp. 1.500.000

  1. Peralatan Penunjang PKM

a. Alat-alat untuk pembuatan preparat histologi            Rp. 1.000.000

b. Kertas, Tinta, alat Tulis                                              Rp. 470.000

c. Perawatan Tikus                                                         Rp. 400.000

d. Makanan Tikus                                                          Rp. 465.000

  1. Transport @Rp. 200.000,- x 4 orang                          Rp. 800.000
  2. Komunikasi @Rp. 100.000,- x 4 orang                      Rp. 400.000
  3. Analisis preparat histologis                                         Rp. 650.000
  4. Lain-lain

a. Dokumentasi                                                              Rp. 400.000

b. Poster                                                                         Rp. 400.000

c. Seminar Hasil                                                             Rp. 700.000

d. Evaluasi program                                                        Rp. 448.000

e. Sewa Laboratorium                                                     Rp. 700.000

f. Sewa Alat (Bedah, dan Alat Perawatan Tikus)          Rp. 500.000

g. Laporan akhir                                                              Rp. 400.000

Total Biaya                                                                      Rp 9.263.000

 

K. DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2000. Parameter Standart Umum Ekstrak Tumbuhan Obat Cetakan Pertama, Penerbit Departemen Kesehatan RI Diirektorat Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan Direktorat Pengawasan Obat Tradisional, Jakarta.

Darmansyah, 1995. Dasar-dasar Toksikologi Hubungan Antara Hewan Coba Dengan Manusia- Farmakologi Dan Terapi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Ganong, W.F, 1999. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 17, Penerbit Buku Kedoktean EGC, Jakarta.

Ginson John, 1995. Anatomi Dan Fisiologi Modern Untuk Perawat, Penerbit

Gunarso W, 1969. Mikroteknik, Penerbit IPB, Bogor.

Gunawan & Soelaiman, 1979. Spermatozoa Normal (Dalam Buku Spermatologi), Penerbit Perkumpulan Andrologi Indonesia, Surabaya.

Guyton A.C, 1987. Fisiologi Manusia Dan Mekanisme Penyakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Guyton & Hall, 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi Sembilan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Hadi S, 2001. Statistik Jilid 2, Penerbit ANDI, Yogyakarta.

Hanafiah KA, 1993. Rancangan Percobaan Teori & Aplikasi edisi revisi, Penerbit Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang.

Hardianto B, 1993. Pedoman Praktis Budidaya Tanaman Jambu (jambu mete, jambu air, jambu biji), Penerbit PD Mahkota, Jakata.

Kartasapoetra G, 1992. Budidaya Tanaman Berhasiat Obat, Penerbit Rineke Cipta, Jakata.

Koolman & Rohm, 2001. Biokimia Atlas Berwarna Dan Teks, Penerbit Hipokrates, Jakarta.

Lesson & Paparo, 1995. Buku Ajar Histologi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Rismunandar, 1989. Tanaman Jambu Biji, Penerbit Sinar Baru, Bandung. Salisbury & Ross, 1999. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2, Penerbit ITB, Bandung.

Sundari D.danWinarno.W, 1997. Informasi Tanaman Obat Untuk Kontrasepsi Tradisional, Penerbit  Cermin Dunia Kedokteran No.120, Jakarta.

Surachman, 1978. Analisa Sperma 100 Pasangan Suami Istri Infertil Dari Karyawan Pertamina Dan Penduduk Di Daerah Pertamina Wilayah IV Balikpapan, Penerbit Perkumpulan Andrologi Indonesia, Surabaya.

Yatim W, 1994. Reproduksi dan Embryologi Untuk Mahasiswa Biologi Dan Kedokteran, Penerbit TARSITO, Bandung.

 

 

 

 

05/10/2011 Posted by | Contoh PKM | 2 Komentar

ANALISIS PENGADAAN AKTIVA TETAP ANTARA LEASING DENGAN PEMBIAYAAN KREDIT BANK

A. JUDUL PROGRAM

Analisis Investasi Aktiva Tetap Antara Leasing Dengan Pembelian Kredit

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Penelitian ini merupakan studi kasus pada Perusahaan Rokok Sumber Djaya, Wajak, Malang dengan judul ?Analisis Investasi Aktiva Tetap Antara Leasing dengan Pembiayaan Kredit Bank?. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan membandingkan alternative pembiayaan mana yang lebih menguntungkan dalam pengadaan aktiva tetap antara leasing dengan pembiayaan kredit bank yang akan diterapkan oleh Perusahaan Rokok Sumber Djaya.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode analisis sebagai berikut: Analisis produktivitas usaha, yaitu untuk mengetahui seberapa jauh jumlah kapasitas perusahaan dapat memenuhi permintaan. Analisis ini terdiri dari analisis penggunaan kapasitas, analisis least square dan analisis selisih. Analisis yang kedua adalah dengan membandingkan antara proyeksi laba bersih dari kedua alternative serta membandingkan beban dari keua alternative. Analisis yang terakhir adalah analisis kelayakan investasi, yaitu dengan mengukur COC,CCOC, NPV, IRR dan NBCR.

Hasil evaluasi yang telah dilakukan penulis terhadap perusahaan adalah permintaan perusahaan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Namun, perusahaan belum bisa memenuhi permintaan tersebut karena terbatasnya kapasitas produksi saat ini. Hal ini sangat merugikan perusahaan apabila perusahaan tidak menambah kapasitas produksinya. Salah satu usaha adalah dengan melakukan pembelian mesin produksi. Untuk membiayai pengadaan mesin produksi rokok terdapat dua alternative pilihan yaitu dengan melakukan leasing dan pembiayaan kredit bank.

Dari hasil proyeksi laba/rugi tahun yang akan datang, laba diperoleh perusahaan untuk alternative leasing pada tahun pertama Rp.2.730.424.518 tahun kedua Rp.2.720.080.303 dan tahun ketiga Rp.2.720.271.679 sedangkan laba bersih alternative pembiayaan kredit bank untuk tahun pertama sebesar Rp.2,796,666,293 tahun kedua Rp.2,805,921,991 dan tahun ketiga Rp.2,828,188,216. Cash In Flow perusahaan untuk alternative leasing pada tahun pertama Rp. 2,848,861,018 tahun kedua Rp. 2,838,516,803 dan tahun ketiga Rp.2,838,708,179 sedangakan Cash In Flow untuk alternative pembiayaan kredit bank pada tahun pertama Rp3,015,102,793 tahun kedua Rp. 3,024,358,491 dan tahun ketiga Rp. 3,046,624,716. Analisis yang terakhir adalah analisis kelayakan dengan mengukur NPV leasing sebesar Rp. 2.880.656.355 dan kredit bank Rp. 3.327.361.303, IRR leasing 50,54%dan IRR kredit bank 56,01% PP leasing 16,77 bulan dan PP kredit bank 15,82 bulan serta NBCR leasing 172,42% dan kredit bank 183,65%

Berdasarkan analisis diatas, alternative pembiayaan yang paling menguntungkan adalah  kredit bank untuk pengadaan mesin produksinya sehingga perusahaan dapat memenuhi permintaan pasar.

Semangat good governance akhir-akhir ini meningkat seiring dengan meningkatnya semangat reformasi di Indonesia. Meningkatnya good governance di Indonesia dipicu oleh keterpurukan ekonomi nasional yang melanda Indonesia dan beberapa negara tetangga, namun Negara-negara tetangga yang terkena krisis dapat pulih dengan cepat dibandingkan dengan Indonesi. Lambatnya pemulihan keterpurukan ekonomi Indonesia disebabkan oleh pemerintah orde baru yang mengabaikan penerapan good governance pada sistem pemerintahannya (Soelendro,2000).

RSD sebagai salah satu organisasi sektor publik dalam pengelolaannya juga harus dilakukan dengan transparansi dan akuntabilitas publik. Namun demikian, pengelolaan RSD belum sesuai dengan harapan masyarakat. Masyarakat belum mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal dari RSD serta transparansi dan akuntabilitas publik masih rendah. Kondisi ini terjadi karena belum diimplementasikannya good governance secara optimal. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilaksanakan oleh Boz Allen, bahwa Indonesia merupakan negara yang pelaksanaan Good Corporate governance-nya paling rendah.

Kondisi ini baik secara langsung maupun tidak langsung berimbas pada paradigma Rumah Sakit Swasta sebagai salah satu organisasi sektor publik yang berorintasi pada profit oriented, dan kini harus merubah orientasinya dengan memadukan service public oriented dan profit oriented.

Layaknya sebuah unit usaha bisnis, rumah sakit merupakan suatu lembaga yang diorganisir dan dijalankan agar kelangsungan hidup serta perkembangannya dapat terpelihara dengan baik. Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang merupakan salah satu rumah sakit swasta yang menjalankan fungsinya untuk melayani kesehatan masyarakat untuk wilayah Malang dan sekitarnya. Seiring dengan meningkatnya tuntutan masyarakat mengenai kebutuhan akan jasa dan pelayanan yang berkualitas, maka hal ini merupakan tantangan bagi pihak manajemen rumah sakit untuk tetap eksis dalam kegiatan operasionalnya. Berdasarkan keadaan tersebut maka perusahaan diharapkan selalu mengadakan penilaian atas kinerja yang telah dicapai baik yang bersifat financial maupun non financial, sehingga dapat dijadikan bahan evaluasi dalam pencapaian tujuan perusahaan secara maksimal.

Penelitian Prasetyono dkk (2007), mengenai Analisis Kinerja Rumah Sakit Daerah Pendekatan Balanced Scoecard Berdasarkan Komitmen Organisasi, Pengendalian Intern Dan Penerapan Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (Survei Pada Rumah Sakit Daerah di Jawa Timur). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa, Hubungan variabel komitmen organisasi dan pengendalian intern sebesar 0,629 good corporate governance sebesar 0,684 dalam kategori hubungan yang kuat, Terdapat korelasi yang signifikan antara komitmen organisasi dan pengendalian intern terhadap good corporate governance dengan skore yang sedang (0,488), Komitmen organisasi, pengendalian intern dan good corporate governance secara simultan variabel berpengaruh secara siginifikan terhadap kinerja RSD. Besarnya pengaruh secara simultan dalam kategorii sedang (42,3 %), Secara parsial komitmen organisasi, pengendalian intern dan good corporate governance berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap kinerja RSD.

Hasil penelitian Alexander dan Weiner (1998) dalam Pratolo (2006), tentang adopsi model corporate governance pada organisasi non profit, ditemukan bahwa, Kinerja organisasi secara positif berhubungan dengan adopsi model corporate governance oleh rumah sakit non profit, Ukuran organisasi secara positif berhubungan dengan adopsi model corporate governance oleh rumah sakit non profit, Kompetensi di pasar rumah sakit berhubungan secara negatif dengan adopsi model corporate governance oleh rumah sakit non profit, Banyak sumber daya di pasar rumah sakit berhubungan secara positif dengan adopsi model corporate governance oleh rumah sakit non profit, Rumah sakit non profit yang menjadi anggota asosiasi cenderung lebih mengadopsi model corporate governance, Rumah sakit non profit yang terstruktur secara corporate cenderung mengadopsi model corporate governance, Rumah sakit non profit pemerintah cenderung kurang mengadopsi model corporate governance dibandingkan rumah sakit non profit non pemerintah

Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan penerapan good corporate governance dengan Prinsip-prinsip good corporate governance menurut OEDC (1998) dalam FCGI (2002: 1), yang meliputi keadilan (fairness), transparansi (transparancy), akuntabilitas (accountability), dan responsibilitas (responsibility) melalui pendekatan balanced scorecard yang yang mencakup empat perspektif yaitu, (keuangan, customers, proses bisnis intern serta pembelajaran dan pertumbuhan), sebagai tolak ukur kinerja Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang. Dari penelitian ini kita dapat mengukur kinerja dari RS aisiyah Malang setalah diterapkannya good corporate governace. Kegunaan penelitian bagi organisasi/rumah Sakit Islam Aisyiyah yaitu diharapkan dapat memberikan sesuatu pandangan teoritis dan taktis dalam hal pengukuran kinerja yang didasarkan pada strategi perusahaan melalui pendekatan balanced scorecard.

C. RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana penerapan metode leasing dalam perolehan aktiva tetap?
  2. Bagaimana penerapan metode pembelian kredit dalam perolehan aktiva tetap?
  3. Metode mana yang paling tepat digunakan perusahaan x untuk memperoleh untuk memperoleh aktiva tetap?
  4. Asumsi apa yang mendasari masing-masing metode agar penerapannya sesuai kondisi dalam peningkatan profitabilitas?

D. TUJUAN PROGRAM

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alternatif pembelian yang paling menguntungkan antara leasing dengan pembelian melalui kredit bank, ditinjau dari dampak atau pengaruh biaya yang dapat dikurangkan untuk masing-masing pilihan transaksi aktiva tetap terhadap pajak penghasilan yang dapat dihemat oleh perusahaan. Rancangan penelitian yang digunakan berupa studi kasus deskriptif dengan 2 dua jenis data yaitu data kualitatif dan data kuantitatif.

Data berasal dari sumber yang asli atau disebut data primer. Sumber data digolongkan menjadi sumber informasi internal dari dalam perusahaan dan eksternal dari luar perusahaan. Alat yang digunakan untuk memperoleh data adalah daftar pertanyaan pedoman wawancara, sedangkan metode pengumpulan datanya adalah metode survei yaitu melalui interview atau wawancara secara langsung.

Perusahaan merupakan unit analisis dalam penelitian ini. Data dianalisis dengan menggunakan logika penjodohan pola.

Penelitian ini membuktikan bahwa alternatif pembelian melalui sewa guna usaha dengan hak opsi finance lease merupakan alternatif yang paling menguntungkan karena penghematan pajak yang diperoleh perusahaan untuk altematif ini lebih besar dibandingkan altematif pembelian melalui kredit bank. Dengan demikian akan lebih menguntungkan bagi perusahaan jika memilih alternatif pembelian melalui sewa guna usaha dengan hak opsi finance lease sebagai dasar pengambilan keputusan dalam memperoleh aktiva tetap.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan good corporate governance di RS Aisyiyah Malang dengan Prinsip-prinsip good corporate governance yang menurut OEDC (1998) dalam FCGI (2002: 1) yaitu, keadilan (fairness), transparansi (transparancy), akuntabilitas (accountability), dan responsibilitas (responsibility) melalui pendekatan balanced scorecard yang yang mencakup empat perspektif yaitu, (keuangan, customers, proses bisnis internal serta pembelajaran dan pertumbuhan), sebagai tolak ukur kinerja Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang.

Hal ini dilakukan untuk membuktikan keadilan (fairness), transparansi (transparancy), akuntabilitas (accountability), dan responsibilitas (responsibility) Yang selama ini diabaikan beberapa RS di Indonesia karena banyak instansi sektor publik  di Indonesia yang hanya berorientasi kepada profit oriented dan mengesampingkan service public oriented.

Penelitian ini menggunakan pendekatan balanced scorecard agar dapat memberikan manfaat kepada organisasi seperti, Menjelaskan visi organisasi, Menyelaraskan organisasi untuk mencapai visi organisasi, Mengintegrasikan perencanaan strategis dan alokasi sumber daya, Meningkatkan efektivitas manajemen dengan menyediakan informasi yang tepat untuk mengarahkan perubahan.

Informasi yang diberikan melalui pendekatan balanced scorecard ini meliputi aspek keuangan dan juga aspek non-keuangan. Kedua aspek ini dapat digunakan untuk mengukur kinerja karyawan yang ada di RS Aisyiyah Malang. Selain itu balanced scorecard dapat membantu manajer untuk mengukur secara komperhensif bagaimana organisasi mencapai kemajuan lewat sasaran-sasaran strategisnya.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN

Peneltian yang berudul “Analisis Investasi Aktiva Tetap Antara Leasing Dengan Pembelian Kredit ini diharapkan dapat menambah referensi ilmiah untuk penelitian selanjutnya.

F. KEGUNAAN PROGRAM

1. Aspek Ekonomi

Kegunaan program ini bagi masyarakat adalah untuk menambah pengetahuan masyarakat tentang berbagai alternatif yang paling menguntungkan  bagi perusahaan  dalam rangka  pengadaan aktiva tetap. Dengan kita mengetahui alternatif yang pantas digunakan maka perusahaan dapat meminimalkan beban operasi perusahaan, sehingga akan meningkatkan profit perusahaan.

2. Aspek Iptek

kegunaan program ini bagi organisasi atau RS Aisyiyah Malang adalah untuk mendeskripsikan tentang bagaimana penerapan good corporate governance terhadap kinerja dari RS Aisyiyah Malang yang diukur melalui pendekatan balanced scorecard yang meliputi perspektif keuangan, customers, proses bisnis intern serta pembelajaran dan pertumbuhan.

G. TINJAUAN PUSTAKA

1. Penelitian Terdahulu

Penelitian Prasetyono dkk (2007), mengenai Analisis Kinerja Rumah Sakit Daerah Pendekatan Balanced Scoecard Berdasarkan Komitmen Organisasi, Pengendalian Intern Dan Penerapan Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (Survei Pada Rumah Sakit Daerah di Jawa Timur). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa, Hubungan variabel komitmen organisasi dan pengendalian intern sebesar 0,629 good corporate governance sebesar 0,684 dalam kategori hubungan yang kuat, Terdapat korelasi yang signifikan antara komitmen organisasi dan pengendalian intern terhadap good corporate governance dengan skore yang sedang (0,488), Komitmen organisasi, pengendalian intern dan good corporate governance secara simultan variabel berpengaruh secara siginifikan terhadap kinerja RSD. Besarnya pengaruh secara simultan dalam kategorii sedang (42,3 %), Secara parsial komitmen organisasi, pengendalian intern dan good corporate governance berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap kinerja RSD.

Hasil penelitian Alexander dan Weiner (1998) dalam Pratolo (2006), tentang adopsi model corporate governance pada organisasi non profit, ditemukan bahwa, Kinerja organisasi secara positif berhubungan dengan adopsi model corporate governance oleh rumah sakit non profit, Ukuran organisasi secara positif berhubungan dengan adopsi model corporate governance oleh rumah sakit non profit, Kompetensi di pasar rumah sakit berhubungan secara negatif dengan adopsi model corporate governance oleh rumah sakit non profit, Banyak sumber daya di pasar rumah sakit berhubungan secara positif dengan adopsi model corporate governance oleh rumah sakit non profit, Rumah sakit non profit yang menjadi anggota asosiasi cenderung lebih mengadopsi model corporate governance, Rumah sakit non profit yang terstruktur secara corporate cenderung mengadopsi model corporate governance, Rumah sakit non profit pemerintah cenderung kurang mengadopsi model corporate governance dibandingkan rumah sakit non profit non pemerintah

2. Kajian Pustaka

  1. a. Good Corporate Governance

United National Development Program (UNDP), mendifinisikan governance sebagai “the exercise of political, economic, and administrative authority to manage a national’s affair at all levels”, sedangkan World Bank lebih menekankan pada cara pemerintah mengelola sumber daya sosial dan ekonomi untuk kepentingan pembangunan masyarakat (Mardiasmo, 2004: 17). The Indonesia Institute for Corporate Governance (IICG) juga mendifinisikan Corporate Governance sebagai suatu proses dan struktur yang diterapkan dalam menjalankan perusahaan dengan tujuan utama meningkatkan nilai-nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap mempertahankan kepentingan stakeholder yang lain.

Pengertian Corporate Governance (Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara, Nomor : KEP-117/M-MBU/2002), adalah:

“suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organisasi BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang sahan dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perudangan dan nilai-nilai etika”.

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa corporate governance adalah suatu sistem yang mengatur bagaimana suatu perusahaan atau organisasi dijalankan (operasi) dan dikontrol atau sebagai tata kelola perusahaan (organisasi). Sistem ini mengatur secara jelas dan tegas hak dan kewajiban pihak-pihak yang terkait dalam perusahaan.

Prinsip-prinsip good corporate governance menurut OEDC (1998) dalam FCGI (2002: 1), meliputi keadilan (fairness), transparansi (transparancy), akuntabilitas (accountability), dan responsibilitas (responsibility).

  1. b. Kinerja

Kinerja Menurut Atkinson, dkk (1995: 51) sistem penilaian kinerja sebaiknya mengandung indikator kinerja yaitu (1) memperhatikan setiap aktivitas organisasi dan menekankan pada perspektif pelanggan, (2) menilai setiap aktivitas dengan menggunakan alat ukur kinerja yang mengesahkan pelanggan, (3) memperhatikan semua aspek aktivitas kinerja secara komprehensif yang mempengaruhi pelanggan, dan (4) menyediakan informasi berupa umpan balik untuk membantu anggota organisasi mengenai permasalahan dan peluang untuk melakukan perbaikan.

Menurut Hansen dan Mowen (1997: 396) penilaian kinerja perusahaan adalah:

“Activity performance measures exist both financial and non financial forms. These measures are designed to assess how well an activity was performed and the result achieved. They are also designed to reveal if constant improvement is being realized. Measures of activity performance centre on three major dimension: (1) efficiency, (2) quality, and (3) time.

  1. c. Balanced scorecard (BSC)

Menurut Kaplan dan Norton (1996:16), Balanced scorecard adalah suatu kerangka kerja baru untuk mengintegrasikan berbagai ukuran yang diturunkan dari strategi pemasaran. Sedangkan Mulyadi dan Setyawan (2000:222), Balanced scorecard adalah sekumpulan ukuran kerja yang mencakup empat perspektif: keuangan, customers, proses bisnis intern serta pembelajaran dan pertumbuhan. Balanced scorecard berarti bahwa dalam pengukuran kinerja  harus terdapat keseimbangan (balance) antara ukuran keuangan dan ukuran non keuangan (ukuran operasional).

  1. H. METODE PENELITIAN
    1. 1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan pada Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang, dengan alamat Jl. Sulawesi No. 16 Malang.

  1. 2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuatitatif, dimana penulis mencoba mengungkapkan masalah atau fakta yang ada dengan didukung oleh data yang berbentuk angka. Penelitian ini mendeskripsikan tentang 3 hal yaitu, 1) Bagaimana penerapan Good Corporate governance di RS Islam Aisyiyah, 2) Bagaimana kinerja RS Islam Aisyiyah  dengan pendekatan balanced scorecard, 3) Bagaimana Pengaruh Penerapan Good Corporate governance terhadap kinerja RS Islam Aisyiyah Malang.

  1. 3. Definisi Operasional Variabel
    1. a. Variabel Independen : Penerapan Good Corporate Governance

Corporate Governance adalah suatu sistem yang mengatur bagaimana suatu perusahaan atau organisasi dijalankan (operasi) dan dikontrol atau sebagai tata kelola perusahaan (organisasi). Sistem ini mengatur secara jelas dan tegas hak dan kewajiban pihak-pihak yang terkait dalam perusahaan.

Prinsip prinsip Good Corporate Governance menurut OEDC (1998) dalam FCGI (2002: 1), meliputi keadilan (fairness), transparansi (transparancy), akuntabilitas (accountability), dan responsibilitas (responsibility).

  1. b. Variabel Dependen : Kinerja RS Aisyiyah Malang

Kinerja Menurut Atkinson, dkk (1995: 51) sistem penilaian kinerja sebaiknya mengandung indikator kinerja yaitu (1) memperhatikan setiap aktivitas organisasi dan menekankan pada perspektif pelanggan, (2) menilai setiap aktivitas dengan menggunakan alat ukur kinerja yang mengesahkan pelanggan, (3) memperhatikan semua aspek aktivitas kinerja secara komprehensif yang mempengaruhi pelanggan, dan (4) menyediakan informasi berupa umpan balik untuk membantu anggota organisasi mengenai permasalahan dan peluang untuk melakukan perbaikan.

Sedangkan Menurut Hansen dan Mowen (1997: 396) penilaian kinerja perusahaan adalah: ukuran kemampuan aktivitas yang terdiri dari aspek keuangan dan aspek non-keuangan. Ukuran ini dirancang untuk menilai seberapa baik aktivitas yang telah dilakukan serta hasil yang dicapainya. Tercapainya suatu aktivitas dapat diukur melalui 3 aspek yaitu, efisiensi, kualitas dan waktu.

4.  Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah data primer dan juga data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara yang dilakukakan kepada beberapa pasien dan juga staf ahli di RS Aisyiyah Malang. Sedangkan data sekunder berupa Dokumentasi  yang meliputi laporan keuangan tahunan dan daftar absensi pegawai dan daftar kepegawaian.

5.  Teknik Analisis Data

Tahapan pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut:

  1. a. Pengumpulan data

Data yang diperoleh berupa Laporan keuangan serta hasil dari wawancara di RS aisyiyah malang, Di masukakan kedalam sebuah tabulasi data yang menggunakan aplikasi Microsoft excel untuk memudahkan menganalisis data.

  1. b. Pengolahan data

Data yang didapat diolah mengunakan pendekaan balanced scorecard untuk menilai kinerja dari RS aisyiyah Malang.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian berdasarkan pada model pengukuran kinerja secara komprehensif, yaitu balanced scorecard:

1)      Perspektif keuangan

  1. Return on investment (ROI)
  1. Return on equity (ROE)

2)      Perspektif pelanggan

  1. Number of Complain

Number of Complain = x 100%

  1. Customer Acquisition

Customer Acquisition = x 100%

  1. BOR (Bed Occupancy Rate), adalah prosentase pamakaian tempat tidur pada satu satuan waktu tertentu.

BOR = x 100%

3) Perspektif bisnis internal

a. Quality of Place

Pada metoda ini pengukurannya dengan membandingkan antara kapasitas normal jumlah produksi yang seharusnya dapat memenuhi permintaan pasien dengan kapasitas sesungguhnya yang dimiliki rumah sakit.

  1. b. Inovation

Pada variabel ini pengukurannya dengan membandingkan antara rencana rehabilitasi fasilitas-fasilitas pada rumah sakit dengan realita (terlaksana atau tidak) rehabilitasi fisik tersebut.

4)      Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.

  1. a. Training

b. Absenteeism

Absenteeism = x 100%

  1. c. Interpretasi hasil

Hasil pengolahan data diinterpretasikan serta dilakukan analisis.

  1. I. JADWAL KEGIATAN
Kegiatan Bulan Ke-
1 2 3 4
1. Tahap Persiapan
- Studi Pendahuluan dan Survey  Lapangan

- Perizinan

- Penyusunan Instrumen

XXX
XX
X
2. Tahap Perolehan Data
- Pengumpulan Data Penelitian

- Pengolahan Data

XXX
XX
3. Tahap Analisis Data
- Analisis Data dan interpretasi hasil X XXX
- Perumusan dan Hasil Kesimpulan XX
4. Tahap Pelaporan
- Penyusunan laporan penelitian

- Seminar hasil penelitian

X XX
XX
- Publikasi penelitian XX

  1. J. RANCANGAN BIAYA

Biaya-Biaya Penelitian
  1. 1. Biaya Habis Pakai

a)      XXXXXXXXXX

b)      XXXXXXXXXX

c)      XXXXXXXXXX

Jumlah

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

  1. 2. Peralatan Penunjang Penelitian

d)      XXXXXXXXXX

e)      XXXXXXXXXX

f)        XXXXXXXXXX

g)      XXXXXXXXXX

h)      XXXXXXXXXX

i)        XXXXXXXXXX

Jumlah

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

  1. 3. Perjalanan

a)      Tahap Studi Pendahuluan dan perijinan:

XXXXXXXXX

XXXXXXXXX

b)      Tahap Pengumpulan Data:

XXXXXXXXX

Jumlah

Rp. XXXXX

Rp. XXXXX

Rp. XXXXX

Rp. XXXXX

4. Biaya lain-lain

a)      XXXXX

b)      XXXXXX

c)      XXXXXX

d)      XXXXXX

Jumlah

Rp. XXXXX

Rp.    XXXX

Rp.    XXXX

Rp. XXXX

Rp. XXXXX

Total Biaya Penelitian Rp. XXXXX

  1. K. Daftar Pustaka

Amanda, Irwan. 2009 ”Penerapan Balanced Scorecard Sebagai Tolok Ukur Penilaian Kinerja Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang”. Skripsi Universitas Muhammadiyah Malang. Tidak Dipublikasikan.

Atkinson, Anthony A, dkk. 1995. Management Accounting. Second Edition. Prentice Hill. Richard D Irwin, Inc. Pillipines.

FCGI (Forum For Corporate Governance In Indonesia). 2002. Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) The Essence of Good Corporate Governance : Konsep dan Implementasi Perusahaan Publik dan Korporasi Indonesia. Yayasan Pendidikan pasar Modal Indonesia & Synergy Communication. Jakarta.

Kaplan dan Norton, 1996, Balanced Scorecard, Penerbit PT. Erlangga: Jakarta

Kaplan, Robert & Norton. David P.1996. Translating Strategy Into Action The Balance Scorecard. Harvard Business School. Boston. Kaplan, Robert & Norton. David P.1996. Translating Strategy Into Action The Balance Scorecard. Harvard Business School. Boston.

Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta, Andi.

Prasetyono dkk (2007), “Analisis Kinerja Rumah Sakit Daerah Pendekatan Balanced Scoecard Berdasarkan Komitmen Organisasi, Pengendalian Intern Dan Penerapan Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (Survei Pada Rumah Sakit Daerah di Jawa Timur)”Unviersitas Trunojoyo

Sekaran, Uma. 2006. Metodologi Penelitian untuk Bisnis. Jakarta, Salemba Empat.

Ulum, Ihyaul. 2004. Akuntansi Sektor Publik. Malang, UMM Press.

Warsini, 2003. Penerapan Balanced Scorecard Dalam Rangka Menilai Kinerja Manajemen (Studi Kasus Hotel Purnama Kota Batu), Skripsi Universitas Muhammadiyah Malang. Tidak Dipublikasikan.

  1. L. LAMPIRAN

NAMA DAN BIODATA PENULIS

  1. Nama                             : Fajar Ardianur Ramli

Tempat, Tanggal lahir       : Balikpapan,10 September 1989

Alamat                            : Perum. Taman Embong Anyar 2 Blok M. No.9

Malang

No. Telpon/HP                : 085233224465

NIM                               : 07.620.253

Riwayat Pendidikan         : SDN 006 Balikpapan (1995-2001)

SMPN 3 Balikpapan (2001-2004)

SMAN 2 Balikpapan (2004-2007)

Universitas Muhammadiyah Malang (2007-sekarang)

  1. Nama                             :  Ferli Vian

Tempat Tanggal Lahir   :  Malang, 8 Januari 1990

Alamat                            :  Jl. Raya Kedok 141 Turen

No Telp/Hp                     :  08563533469

NIM                               :  08.620.326

Riwayat Pendidikan         :  SD Tamansiswa Turen (1996-2002)

SMPN 2 Ngawi (2002-2005)

SMAN 2 Ngawi (2005-2008)

Universitas Muhammadiyah Malang (2008-sekarang)

  1. Nama                             :  Emy Setyafani

Tempat Tanggal Lahir   :  Jakarta, 5 Juli 1990

Alamat                            :  Jl. Mayjend Pandjaitan 84E Klojen

No Telp/Hp                     :  085649533269

NIM                               :  09.620.090

Riwayat Pendidikan         :  SDIT Al-Irsyad Purwokerto (1995-2001)

SMPN 1 Kebomas-Gresik (2001-2004)

MA Mambaus Sholihin Suci Gresik (2004-2005)

SMAN Muhammadiyah Madiun (2005-2008)

Universitas Muhammadiyah Malang (2008-sekarang)

NAMA DAN BIODATA DOSEN PENDAMPING

Riwayat

Hidup

N a m a                         : IHYAUL ULUM MD.

Tempat, Tanggal Lahir : Lamongan, 02 Juli 1976

Jenis Kelamin                 : Laki – laki

A g a m a                       : I S L A M

Alamat Rumah               : Jl. Raya Apel 42 Sumbersekar, Dau, Malang

Telephon (0341) 7097377 – HP: 0812.331.7606

E-mail: ulum@umm.ac.id.

Alamat Kantor               : Jl. Raya TlogoMas No. 246 Malang 65145             Tel.(0341)464318Psw. 217; Fax.(0341)460782

E-mail: mas_ulum@yahoo.com

Pangkat/Golongan          :  Lektor/III-b

NIPUMM/NIP              : 107.0302.0382

Fakultas/Jurusan            : Ekonomi/Akuntansi

Pendidikan

Formal

Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi UMM; 1996-2000

Madrasah Aliyah (MA), Paciran, Lamongan, Jatim; 1992-1995

Madrasah Tsanawiyah (MTs), Paciran, Lamongan, Jatim; 1989-1992

Madrasah Ibtidaiyah (MI), Paciran, Lamongan, Jatim; 1984-1989

Pendidikan

Informal

Pelatihan Pra Jabatan Calon Dosen UMM, BP-SDM UMM; 9-11 Januari 2004

Pelatihan Keterampilan Dasar-Dasar Instruksional (PEKERTI), BP-SDM UMM; 19-25 Agustus 2002

Kursus Singkat “Filsafat Untuk Pencerahan Intelektual”, Pusat Studi Islam Dan Filsafat (PSIF) UMM, 15-18 Juli 2002

Pelatihan Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling Untuk Dosen Wali, UPT Bimbingan dan Konseling UMM; 2 Juli 2002

Pembekalan Kemampuan Dasar Mengajar Bagi Dosen Kontrak, BP-SDM UMM; 14-15 Pebruari 2001

Intermediate Training (LK II) HMI Cabang Bogor; 1998

Diklat Dasar Jurnalistik, Universitas Brawijaya Malang; 10-13 Oktober 1997

Senior Course Lembaga Pengelola Latihan HMI Cab. Malang; 1997

Basic Training (LK I) HMI Komisariat Ekonomi UMM; 1996

Pendidikan Komputer Aplikasi Bisnis Modern, Concordia CC Surabaya; September-Desember 1995

Pengalaman Penelitian Harmonisasi Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan No. 01 tentang Penyajian Laporan Keuangan dengan International Public Sector Standards No. 1 tentang Presentation of Financial Statement” Dibiayai oleh DPP UMM; Semester Ganjil 2005-2006

Analisis Hubungan Peringkat Daya Tarik Investasi dengan PAD dan Pajak Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia” Dibiayai oleh DPP UMM; Semester Genap 2004-2005

Analisis atas Dana Perimbangan dan Pengaruhnya terhadap Belanja Daerah Provinsi di Indonesia” Dibiayai oleh DPP UMM; Semester Ganjil 2004-2005

Analisis atas Dana Alokasi Umum (DAU) dan Pengaruhnya terhadap Belanja Rutin dan Belanja Pembangunan Kabupaten/Kota di Jawa Timur” Dibiayai oleh DPP UMM; Semester Genap 2003-2004

Studi Eksplorasi Tentang Kesiapan Akuntan Publik di Jawa Timur Berkaitan Dengan Penugasan Audit Laporan Keuangan Pemerintah Daerah” Penelitian Dosen Muda, 2004.

Studi Eksplorasi Tentang Kesiapan Akuntan Publik di Malang Berkaitan Dengan Penugasan Audit Laporan Keuangan Pemerintah Daerah” Dibiayai oleh DPP UMM; Semester Genap 2002-2003

Studi Komparasi atas IPSA 51.01, UU Politik tahun 1999, dan Draf RUU Politik tahun 2002”, Dibiayai oleh DPP UMM; Semester Ganjil 2002-2003

Telaah Kritis Terhadap UU Audit Parpol dan IPSA 51.01 Sehubungan Dengan Pelaksanaan Audit Dana Kampanye Pemilu 1999”, Skripsi di Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi UMM; September 1999 s.d. Januari 2000

Buku & Diktat “Intellectual Capital; Konsep dan Kajian Empiris”, Graha Ilmu, 2009.

“Audit Sektor Publik, Sebuah Pengantar”, Bumi Aksara, 2009

“Akuntansi Sektor Publik (edisi revisi)”, UMM-Press, Malang, 2008

Akuntansi Sektor Publik (Sebuah Pengantar)”, UMM Press, Malang, 2004

Akuntansi Sektor Publik (Diktat)”, Cahaya Press Malang, 2002

Menyoal Pembersihan PKL”, Dalam “Malang Kota Dalam Sorotan” – Bunga Rampai, Wahyu Hidayat Riyanto (Editor), PSKL UMM, UMM Press, 1999

Artikel

Jurnal Ilmiah

‘Intellectual Capital Performance Sektor Perbankan di Indonesia’. Jurnal Akuntansi dan Keuangan (Universitas Petra Surabaya).Edisi Februari2009.

Intellectual capital dan kinerja keuangan perusahaan; sebuah analisis dengan pendekatan partial least squares. Proceeding Simposium Nasional Akuntansi (SNA) XI Pontianak. 2008.

E-Government Accessibility Analysis of Local Government in East Java and its determinant (co-author). Proceeding Konferensi Penelitian Akuntansi dan Keuangan Sektor Publik I, Surabaya. 2007.

“Analisis Hubungan Peringkat Daya Tarik Investasi dengan PAD Kabupaten/Kota di Indonesia”, Jurnal Akuntansi dan Keuangan Sektor Publik (JAKSP),  Volume 06 No. 2, Agustus 2005. ISSN: 1411 – 5921

“Analisis atas Dana Perimbangan dan Pengaruhnya terhadap Belanja Daerah Provinsi di Indonesia”, Jurnal “Humanity” Lemlit UMM, ISSN: 0216-8995, Vol 1/No 1 September 2005

Memahasiswakan Mahasiswa”, Jurnal Bestari UMM, Edisi Khusus, 2005.

Peranan IAI Dalam Mewujudkan Good Governance; Sebuah Kajian Atas Tuntutan Profesionalisme Akuntan Dalam Pelaksanaan Audit Laporan Keuangan Partai Politik”, Jurnal Akuntansi dan Keuangan “BALANCE”, ISSN: 1693-3796, Volume 1/No. 2/April-September 2004

Tauhid Ekonomi; Melawan Arus Kapitalisme Global”:, Jurnal Bestari UMM, No. 34, Tahun XV, 2002

Konstruksi Nilai-Nilai Normatif Akuntansi Islam sebagai Jawaban atas Reduksi Nilai-Nilai Kemanusiaan Akuntansi Konvensional (Study Literatur Konsep Going Concern)” – bersama Bestari Dwi Handayani. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis MEDIAEKONOMI, Edisi 19, Tahun XII, Juni 2002. ISSN: 0854 – 2651

Antisipasi Korupsi, Kolusi, Dan Nepotisme Di Pemerintah Daerah Melalui Penegasan Akuntabilitas Publik”, Jurnal Ekonomi Dan Bisnis MEDIA EKONOMI, Edisi 17, Tahun XI, Juni 2001. ISSN: 0854 – 2651

Pengalaman LKTI Bank Syari’ah Dalam Kerangka Tauhid Ekonomi; Pilar Alternatif Untuk Memajukan Sektor Riil, Lomba Karya Tulis Bank Syari’ah, diselenggarakan oleh BNI Syari’ah, 17 Mei 2003

Peranan IAI Dalam Mewujudkan Good Governance; Sebuah Kajian Atas Tuntutan

Profesionalisme Akuntan Dalam Pelaksanaan Audit Laporan Keuangan Partai Politik, Lomba Karya Tulis Ilmiah Dalam Rangka Konggres IX IAI, 20 Juli 2002

Peluang Pasar (Domestik) Menuju Persaingan Bisnis Global, Seiring Dengan Refungsionalisasi Militer, Lomba Karya Tulis Manajemen Diselenggarakan Oleh HMJ Manajemen Fakultas Ekonomi UMM, 20 Oktober 1999

Restrukturisasi Perbankan Sebagai Pilar Utama Pembenahan Sektor Moneter, Lomba Karya Ilmiah Ekonomi Mahasiswa Indonesia, Diselenggarakan Oleh SEMA Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 15 Maret 1999

Pengalaman Profesional Tim audit Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) P2KP wilayah Malang dan Pasuruan, Januari 2005

Tim kompilasi laporan keuangan PT. Talles Malang, Maret – Mei 2005

Tim audit laporan keuangan SMK Muhammadiyah Malang, Nopember-Desember 2004

Demikian curriculum vitae ini saya buat dengan jujur dan sebenar-benarnya serta dapat saya pertanggungjawabkan.

Malang, 10 Mei 2010

Hormat Saya,

Ihyaul Ulum MD., SE., M.Si.

08/20/2010 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar

RENDAMAN BATANG BROTOWALI (Tinospora crispa L. Miers.) SEBAGAI PENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI PENYEBAB DIARE (GASTROENTERITIS)

RENDAMAN BATANG BROTOWALI (Tinospora crispa L. Miers.)

SEBAGAI PENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI PENYEBAB DIARE (GASTROENTERITIS)

Muhammad Jakfar Sadiq, Siti Rahmatullaili, Ifan Prasetya Yuda

Jurusan Pendidikan Biologi-FKIP-Universitas Muhammadiyah Malang

ABSTRAK

Salah satu permasalah kesehatan di masyarakat yang tidak pernah dapat diatasi secara tuntas adalah diare. Masyarakat biasanya menggunakan obat tradisional untuk mengobati diare selain juga menggunakan obat sintetis. Namun sampai saat ini, belum ada yang menemukan secara pasti bahwa rendaman batang brotowali berkhasiat untuk menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare. Sehingga perlu dilakukan studi yang bertujuan untuk membuktikan efek farmakologi rendaman batang brotowali terhadap pertumbuhan Salmonella typhi, Perlakuan pada penelitian ini menggunakan konsentrasi rendaman batang brotowali 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%. Metode penelitian meliputi pembuatan medium Mueller Hilton dan pembuatan larutan MacFarland, sterilisasi cakram disk, pembuatan rendaman batang brotowali, uji efek farmakologi rendaman batang brotowali terhadap pertumbuhan Salmonella typhi. Analisis data yaitu uji normalitas dan uji homogenitas untuk mengetahui jenis populasi dari data yang didapat, apakah  berdistribusi normal atau homogen. Selanjutnya dilakukan uji t untuk mengetahui perlakuan terbaik konsentrasi rendaman batang brotowali dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi. Hasil studi menunjukkan bahwa rendaman batang brotowali menyebabkan penurunan jumlah koloni Salmonella typhia. Konsentrasi rendaman batang brotowali yang paling efektif untuk menghambat pertumbuhan Salmonella typhi tersebut adalah 100%. Dengan demikian rendaman batang brotowali dapat digunakan sebagai penghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare.

Kata Kunci : Salmonella typhi, batang brotowali, gastroenteritis, diare.

PENDAHULUAN

Salah satu permasalah kesehatan di masyarakat yang tidak pernah dapat diatasi secara tuntas salah satunya adalah diare. Hasil survey tahun 2004 mencatat 4.800 orang terserang diare. Penyakit ini bersifat endemis dan biasanya berulang tiap tahunnya. Harian Kompas memberitakan bahwa korban diare juga terjadi di NTT dengan korban meninggal secara kumulatif mencapai 42 orang dan 2.017 orang lainnya dirawat di salah satu rumah sakit yang ada di NTT (Kompas, 2006).

Sampai saat ini penyakit diare (gastroenteritis), masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di Indonesia. Dari daftar urutan penyebab kunjungan Puskesmas/Balai pengobatan, diare hampir selalu menjadi penyebab utama kunjungan masyarakat. Di Indonesia dapat ditemukan sekitar 60 juta kejadian penderita diare setiap tahunnya. Sebesar 70 – 80 % dari penderita ini adalah anak di bawah lima tahun (±40 juta kejadian). Kelompok ini setiap tahunnya mengalami lebih dari satu kejadian diare. 1 – 2 % akan jatuh ke dalam dehidrasi dan bila tidak segera ditolong 50–60 % diantaranya meninggal. (Kompas, 2005).

Dalam Harian Kompas juga diberitakan bahwa diare di Flores Timur meluas, 19 warga meninggal. Kasus diare yang mewabah di Kab. Flores Timur NTT, semakin meluas hingga ke 10 kecamatan di wilayah paling timur Pulau Flores tersebut, yakni Kec. Adonara Timur, Klubagolit, Witihama, Solor Timur, Tanjung Bunga, Larantuka, Adonara Barat, Solor Barat, Wulanggitang dan IlE Mandiri. Kabag Kesejahteraan Biro Bina Sosial Setda NTT, Fransiska Palan Bolen SH mengatakan sesuai laporan yang diterima dari Pemkab Flores Timur 5 Feb2005, terjadi peningkatan jumlah kasus dari 1.472 kasus menjadi 1.659 kasus. Penyakit menular ini menyebabkan 19 warga meninggal dunia dan 39 warga menjalani perawatan secara intensif di RSUD Larantuka. (Kompas, 2006).

Diare merupakan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan gizi, bakteri, keracunan makanan dan peradangan usus. Penyakit ini dapat menular melalui tinja yang mengandung kuman penyebab diare dan mencemari lingkungan, misalnya tanah, sungai, dan air sumur. Pada umumnya daerah yang rentan terhadap diare ini adalah daerah yang tidak mencukupi akan kebutuhan air bersih, seperti daerah pesisir pantai dan daerah yang kaya akan air tetapi air tersebut tidak mencukupi standar air bersih atau telah tercemari. (Jawets, 2001).

Diare disebut pula sebaga gastroenteritis (Kompas, 2005). Diare atau gastroenteritis (GE) adalah suatu infeksi usus yang menyebabkan keadaan feses bayi encer dan atau berair, dengan frekuensi lebih dari 3 kali perhari, dan kadang disertai muntah. Muntah dapat berlangsung singkat, namun diare bisa berlanjut sampai sepuluh hari.Pada banyak kasus, pengobatan tidak diperlukan. Bayi usia sampai enam bulan dengan diare dapat terlihat sangat sakit, akibat terlalu banyak cairan yang dikeluarkannya. Empat jenis klinis diare antara lain:

a)      Diare akut bercampur air (termasuk kolera) yang berlangsung selama beberapa jam/hari: bahaya utamanya adalah dehidrasi, juga penurunan berat badan jika tidak diberikan makan/minum

b)      Diare akut bercampur darah (disentri): bahaya utama adalah kerusakan usus halus (intestinum), sepsis (infeksi bakteri dalam darah) dan malnutrisi (kurang gizi), dan komplikasi lain termasuk dehidrasi.

c)      Diare persisten (berlangsung selama 14 hari atau lebih lama): bahaya utama adalah malnutrisi (kurang gizi) dan infeksi serius di luar usus halus, dehidrasi juga bisa terjadi.

d)     Diare dengan malnutrisi berat (marasmus atau kwashiorkor): bahaya utama adalah infeksi sistemik (menyeluruh) berat, dehidrasi, gagal jantung, serta defisiensi (kekurangan) vitamin dan mineral. (Sabrini, 2004).

Setidaknya ada dua mekanisme dasar terjadinya diare, yaitu pengeluaran cairan di usus yang berlebihan akibat toksin. Lebih dikenal dengan sebutan diare sekresi. Pada diare jenis ini dinding usus permukaannya tidak rusak dan absorbsi karbohidrat/lemak yang jelek. Lebih dikenal dengan sebutan diare osmotik. Pada jenis ini dinding usus mengalami kerusakan. Infeksi peyakit ini dikelompokkan dalam 2 jenis, yaitu penyakit ringan, karena dapat sembuh dengan sendirinya dan penyakit berat karena dapat menimbulkan kematian.

Faktor lingkungan  berperan penting dalam perkembangbiakan bakteri dan virus penyebab diare(Salmonella typhi) tersebut (Budiyanto, 2000 : 130). Penyakit gastroenteritis merupakan sindroma/infeksi usus, yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi, masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 12-48 jam atau lebih. Gejalanya biasanya berupa mual-mual dan muntah yang mereda dalam beberapa jam, kemudian diikuti dengan nyeri abdomen dan demam. Adapun pada kasus yang berat dapat berupa diare yang bercampur darah. Penderita sering sembuh dengan sendirinya dalam jangka waktu 1-5 hari, tetapi kadang-kadang dapat menjadi berat dimana terjadi gangguan keseimbangan elektrolit dan dehidrasi. Untuk menangani penyakit tersebut biasanya masyarakat memamfaatkan tanaman tradisional sebagai salah satu alternatif pengobatan disamping obat-obatan modern yang sudah banyak di pasaran, agar terhindar dari resistensi dan efek samping yang tidak diinginkan. Tanaman yang digunakan masyarakat dalam pengobatan penyakit ini biasa dikenal dengan “batang brotowali” (Budiyanto, 2000 : 130).

Brotowali yang dikenal sebagai tanaman obat ini berasal dari Asia Tenggara. Wilayah penyebarannya di Asia Tenggara cukup luas, meliputi wilayah Cina, Semenanjung Melayu, Filipina, dan Indonesia. Brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) merupakan tanaman merambat dan tumbuh dengan baik di hutan terbuka atau semak belukar di daerah tropis. Di Indonesia, tanaman ini dikenal dengan berbagai nama daerah, seperti andawali Sunda), antawali (Bali dan Nusa Tenggara), dan bratawali, antawali, putrowali atau daun gedel (Jawa). Di daerah lain, brotowali dikenal dengan nama putrawali atau daun gedel. Dalam bahasa Inggris brotowali disebut bitter grape, dan dalam bahasa Cina dikienal dengan nama sen jinteng. Rendaman batang brotowali dapat digunakan sebagai penghambat pertumbuhan Salmonella typhi, hal ini disebabkan pada batangan brotowali mengandung senyawa berberin yang secara farmakologi dapat bermamfaat sebagai obat diare. Karena mempunyai sifat analgenik menyebabkan brotowali dapat menghilangkan rasa sakit dan sifat antipiretikum yang berkhasiat dalam menurunkan panas. Batang brotowali banyak digunakan untuk mengobati sakit perut (diare) dan demam.

Tanaman Brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) merupakan salah satu dari sekian banyak tanaman obat yang  di Indonesia. Gejala penyakit ini adalah sedikit demam atau timbul mual, sakit kepala, mualnya diare yang hebat dengan beberapa lekosit dalam tinja tetapi jarang terdapat darah. Biasanya akan terjadi demam yang ringan tetapi hal ini akan sembuh sendirinya dalam 2-3 hari. Terdapat lesi-lesi peradangan usus halus dan usus besar.

Brotowali mengandung senyawa kimia yang berkhasiat mengobati berbagai penyakit, yaitu sakit perut, diare, demam, dan sakit kuning. Senyawa kimia ini terdapat di seluruh bagian mulai dari akar, batang sampai daun, dalam senyawa kimia yang terkandung dalam batang brotowali tersebut tercatat ada berbagai efek farmakologi yang menjadi faktor penyebab berkhasiatnya batang brotowali (Kresnady, 2003 : 3).

Menurut peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala daya antimikroba ekstrak batang brotowali terhadap E. Coli lebih besar dibandingkan dengan Staphylococcus Aureus. Disamping itu, ekstrak brotowali ini bersifat fungistatik terhadap jamur kapang (Trichophyton ajelloi) pada konsentrasi di atas 0,8 g/ml (Kresnady, 2003 : 8).

Berdasarkan uraian di atas diduga bahwa rendaman batang brotowali memiliki efek farmakologi terhadap Salmonella typhi yang merupakan salah satu penyebab infeksi gastroenteritis (diare). Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu studi tentang ”Rendaman Batang Brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) Sebagai Penghambat Pertumbuhan Bakteri Diare (Gastroenteritis) sebagai alternatif untuk pengobatan terhadap infeksi oleh bakteri Salmonella typhi,  mengingat sifat bakteri tersebut yang sangat berbahanya bagi masyarakat.

Studi ini bertujuan untuk membuktikan efek rendaman batang brotolawi sebagai penghambat pertumbuhan bakteri diare (Gastroenteritis) serta konsentrasi rendaman batang brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) yang paling efektif sebagai penghambat Salmonella typhidan penyebab diare (Gastroenteritis) secara aplikasi studi ini memberikan informasi pada masyarakat umum dan Departement Kesehatan khususnya bahwa batang brotowali (Tinospora cripa, L. Miers) dapat dimanfaatkan sebagai antiseptik alternatif untuk mengatasi penyakit diare (gastroenteritis). Adapun manfaat dari studi ini, secara teoritis memberikan informasi ilmiah tentang rendaman batang brotowali sebagai penghambat pertumbuhan bakteri diare (gastroenteritis).

METODE PENELITIAN

Adapun tahap pelaksanaan studi rendaman batang brotowali sebagai penghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare, yaitu : pembuatan suspensi Salmonella typhi, inokulasi Salmonella typhi. Sedangkan analisis data yang digunakan dalam studi ini meliputi uji t, yang kemudian dilanjutkan dengan uji normalitas/uji homogenitas.

Studi ini dilakukan di Laboratotium Biologi Universitas Muhammadiyah Malang dengan menggunakan sampel bakteri Salmonella typhi yang diambil secara acak sederhana. Alat-alat yang digunakan dalam studi ini yaitu beaker glass, jarum inokulasi, inkubator (37°), blender, tabung reaksi ukuran 10 cc, kompor gas, cawan petri ukuran 9 cm, rak tabung reaksi, erlenmeyer ukuran 500 ml, timbangan tripel beam, gelas ukur ukuran 100 ml, aluminium foil ukuran 100 cm, bunsen, hot plate magnetik stirrer, autoklaf, jangka sorong, enkats, pinset, spet ukur ukuran 10 ml, spatter, mikropipet. Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bakteri Salmonella typhi 3-7 jarum ose, batang brotowali, medium Mueler Hilton (MH) agar 450 ml, aquades steril 700 ml, kertas cakram whattman no. 45 (diameter 60 mm), ampicillin 10 mg, BaCl2 1% 0,05 ml, H2SO4 1% 9,95 ml, lidi, kapas, kertas label, tissue, spiritus.

Jumlah perlakuan P=10 (macam rendaman batang brotowali), sehingga variabel bebas dalam studi ini adalah konsentrasi rendaman batang brotowali (Tinospora crispa, L., Miers.) yaitu : 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%. Sedangkan variabel terikat dalam studi ini meliputi diameter daya hambat Salmonella typhi.

Sterilisasi alat dilakukan dengan autoklaf dengan suhu 121° C dengan tekanan 15 atm selama 15 menit.

Pelaksanaan studi ” Rendaman Batang Brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) ini adalah sebagai berikut :

Menyiapkan tabung reaksi sebanyak 3 buah dan suspensi bakteri Salmonella typhi, enkast 1 buah, biakan Salmonella typhi dan garam fisiologi. Masukkan suspensi dan biakan Salmonella typhi ke dalam enkast, dilanjutkan dengan mensuspensikan koloni biakan Salmonella typhi dalam tabung reaksi yang berisi garam fisiologi, selanjutnya disimpan dalam inkubator pada suhu 37° C selama 24 jam. Kemudian membandingkan suspensi tersebut dan larutan Mac Farland standar yang telah dibuat, jika suspensi terlalu keruh maka suspensi ditambahkan dengan garam fisiologi steril, sehingga menyerupai dengan larutan Mac Farland, apabila larutan terlalu encer ditambahkan bakteri. Setelah itu memasukkan media padat MH, suspensi Salmonella typhi, lidi, kapas, busen, mikro pipet, paper disk dan rendaman batang brotowali ke dalam enkast. Selanjutnya menyalakan api bunsen, yang kemudian dilanjutkan dengan mencelupkan ujung kapas ke dalam suspensi Salmonella typhi, kemudian diperas pada samping tabung reaksi secara perlahan. Setelah itu membuka cawan petri, yang kemudian menggoreskan kapas tersebut di atas media Mueler Hilton agar secara steaking yaitu penggoresan dengan arah zigzag. Kemudian meletakkan paper disk di bagian tengan atas media MH yang telah digoreskan bakteri . selanjutnya menetesi paper disk dengan rendaman batang brotowali menggunakan mikro pipet sebanyak 0,5 miu liter pada setiap paper disk. Kemudian menutup kembali cawan Petri dan diputar-putar pada api bunsen, selanjutnya mengeluarkannya dari enkast, kemudian dilanjutkan dengan membungkus cawan petri dengan kertas wrap, dilanjutkan dengan membungkusnya dengan kertas coklat. Kemudian meletakkannya ke dalam inkubator selama 24 jam pada suhu 34° C. Setelah 24 jam semua cawan petri dikeluarkan dari inkubator dan dilakukan pengukuran diameter daya hambat rendaman batang brotowali dengan menggunakan jangka sorong. Pengukuran berawal dari tepi daerah daya hambat sampai ke tepi daya hambat yang terpanjang lainnya. Satuan pengukuran yang digunakan adalah mm.

HASIL PENELITIAN

Pengamatan tingkat konsentrasi rendaman batang brotowali (Tinospora crispa, L., Miers.) terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi pada penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi rendaman batang brtowali yang digunakan, maka akan mempengaruhi penurunan Salmonella typhi dengan lebih tinggi pula, dan konsentrasi rendaman batang brotowali yang paling efektif untuk mengurangi pertumbuhan Salmonella typhi yaitu 100%, sebagaimana data hasil pengamatan tingkat konsentasi rendaman brotowali di bawah ini.

Tabel 1. Diameter Daya Hambat Bakteri Salmonella typhi Akibat Pemberian Berbagai Konsentrasi Rendaman Batang Brotowali (Tinospora cripa, L. Miers.) (mm).

Konsentrasi Rendaman Batang Brotowali Ulangan

Total Rerata
1 2 3
10% 0,85 0,82 0,88 2,55 0,85
20% 0,91 0,895 0,93 2,735 0,911
30% 0,93 0,94 0,95 2,82 0,94
40% 1,12 1,13 1,145 3,395 1,131
50% 1,315 1,405 1,31 4,03 1,34
60% 1,5 1,52 1,59 4,61 1,53
70% 1,7 1,695 1,595 4,99 1,66
80% 1,7 1,74 1,74 5,18 1,72
90% 1,895 1,92 1,95 5,765 1,92
100% 2,205 2,015 2,015 6,235 2,07
Jumlah 42,31 1,40

PEMBAHASAN

Kemampuan rendaman brotowali dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi, dikarenakan dalam fraksi rendaman batang brotowali terdapat senyawa aktif yaitu berberin. Berberin merupakan golongan terbesar dari fenol, dimana dalam Jawetz (1992), menyatakan fenol dan persenyawaan dari fenol merupakan unsur antikuman yang kuat pada konsentrasi yang biasa digunakan  (larutan air 1-2%), fenol dan derivatnya dapat menimbulkan denaturasi protein.

Volk dan Wheller (1993) menyatakan, bahwa fenol merupakan senyawa yang bersifat bakteriostatik atau bakterisidal tergantung dari konsentrasinya. Konsentrasi yang tinggi  dapat merusak membran sitoplasma secara total dan mengendapkan protein sel. Dalam konsentrasi 0,1-2% dapat merusak membran sitoplasma yang menyebabkan bocornya metabolit penting dan menginaktifkan sejumlah sistem enzim bakteri. Membran sitoplasma merupakan 8-10% bobot kering sel. Struktur ini terdiri dari fosfolipid dan protein. Fosfolipid ini merupakan srtuktur dasar dari membran sitoplasma. Fosfolipid terdiri dari bagian yang bersifat hidrofobik dan hidrofilik yang saling berdekataan sehingga membentuk 2 lapis.

Adanya berberin yang terdapat pada batang brotowali menyebabkan penyusunan utama membran sel yaitu ion Ca2+ (kalsium) kehilangan kemampuannya untuk mengangkut bahan-bahan terlarut ke dalam sitoplasma atau organel-organel sel, tanpa kehadiran ion ini membran sel akan akan menjadi bocor. Dimana bahan-bahan yang sudah diangkut ke dalam sitoplasma atau organel akan merembes ke luar. Fungsi kalsium pada membran ini adalah berperan mengikat bagian hidrofilik fosfolipid satu sama lain dengan gugusan dari molekul protein pada permukaan membran. Senyawa berberin  ini dalam struktur kimianya mempunyai gugus alkohol yang secara aktif berperan dalam menghambat Salmonella typhi.

Menurut Lay (1992) apabila terjadi pembengkakan membran sitoplasma akan menyebabkan terjadi plasmolisis yang menyebabkan keluarnya cairan sitoplasma dan kebocoran nutrient dari dalam sel bakteri. Kebocoran nutrien ini diawali dengan keluarnya berbagai komponen penting yaitu protein, asam nukleat dan lain-lain. Selain itu kerusakan pada membran sitoplasma dapat mencegah masuknya bahan-bahan penting ke dalam sel karena membran sitoplasma juga mengendalikan pengangkutan aktif ke dalam sel.

Adanya perbedaan pengaruh yang ditunjukkan dengan perbedaan diameter daya hambat dikarenakan adanya perbedaan konsentrasi yang digunakan sehingga kandungan zat aktif antibakteri juga berbeda. Konsentrasi yang meningkat diikuti dengan kandungan zat aktif yang semakin besar, sehingga kemampuan bakterisidal atau bakteriostatiknya semakin meningkat Pada perlakuan konsentrasi 100% menghasilkan rata-rata diameter daya hambat terbesar. Hal ini dapat dikatakan bahwa perlakuan konsentrasi 100% merupakan perlakuan terbaik dibandingkan dengan perlakuan 90% ke bawah. Pada konsentrasi rendaman batang brotowali 100% memiliki kandungan zat aktif berberin yang lebih besar sehingga kemampuannya menghambat bakteri Salmonella typhi juga lebih tinggi.

Sensitivitas bakteri Salmonella typhi terhadap ampicillin dikarenakan ampiccilin adalah antibiotik berspekturm luas, yang mengeluarkan efek bakteriostatis. Antibiotika ini menghambat sintesis protein dengan terikat pada sub unit ribosom 30s, dengan demikian mencegah penempelan asam amino yang membawa tRNA. Terapi antimikrobial dari infeksi Salmonella typhi adalah dengan ampicillin, trimetropim sulfametosazole. Resistensib obat berkali-kali ditransfer secara genetik oleh plasmid di antara bakteri enterik dan merupakan sebuah masalah penting dalam infeksi Salmonella typhi (Volk dan Wheller, 1993).    Brotowali mengandung banyak senyawa kimia yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Kandungan kimia berkhasiat obat terdapat di seluruh bagian tanaman, dari akar, batang, sampai daun. Batang brotowali mengandung senyawa antimikroba berberin. Berdasarkan sejumlah literatur, secara umum di dalam tanaman brotowali terkandung berbagai senyawa kimia, antara lain alkaloid, dammar lunak, pati, glikosida, pikroretosid, harsa, zat pahit pikroretin, tinokrisposid, berberin, palmatin, kolumbin, dan kaokulin. Berdasarkan berbagai senyawa yang terkandung dalam brotowali, dapat diketahui ada beberapa efek farmakologis dari brotowali (Tinospora crispa, L. Meirs), sehingga dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Brotowali dapat memberikan efek farmakologis, yaitu analgesik, anti-inflamasi, antikoagulan, tinikum, antiperiodikum, dan diuretikum. Sifat analgenik menyebabkan brotowali dapat menghilangkan rasa sakit. Sifat antipirektikum menyebabkan brotowali berkhasiat dalam menurunkan panas. Batang brotowali banyak digunakan untuk mengobati sakit perut (diare) dan demam. Semua bagian brotowali dari akar, batang, daun, dan bunganya terasa sangat pahit jika dimakan. Rasa pahit itu disebabkan oleh adanya senyawa berberin yang banyak terdapat di dalam batang brotowali.

Kuriharismah (dalam Arishinta, 2002), mengasumsikan bahwa berberin mempunyai mekanisme kerja yang sama dengan senyawan lain yang fungsinya sebagai antimikroba. Senyawa berberin mempunyai kemampuan bereaksi dengan protein, yang mengakibatkan terputusnya ikatan protein dengan fosfolipi, sehingga berpengaruh pada fungsi selaput sel. Pada bakteri gram negatif, transport dari beberapa nutrisi dibantu oleh ikatan protein yang terdapat pada ruang periplasmik. Protein ini berfungsi memindah substrat yang diikat ke dalam membran transport protein yang sesuai. Adapun mekanisme kerja berberin adalah mampu berikatan dengan protein pengikat. Protein pengikat ini bukan enzim tetapi mempunyai sifat mengikat suatu zat tertentu, protein ini dikenal dengan sebutan protein porin. Protein inilah yang mengikat berberin dibawa masuk oleh molekul pembawaya yang terikat pada membran sitoplasma.

Menurut Jawetz (2001) antibiotik yang berfungsi sebagai antibakteri mempunyai fungsi merusak protein dan fosfolipid sel-sel membran. Padahal seharusnya 50% dari membran sitoplasma berada dalam keadaan cair tetapi karena protein membran telah rusak akibat reaksi dengan flavonoid menyebabkan protein telah terputus dengan fosfolipit. Keadaan membran sitoplasma yang tidak memenuhi syarat akan berpengaruh dalam petumbuhan sel. Selain itu daya kerja flavonoid menyebabkan ketidakaktifan enzim-enzim serta kerusakan asam amino dalam sel protein dalam membra sel. Padahal membran sitoplasma atau membran sel terdiri dari lipida dan enzim-enzim yang berfungsi untuk gerakan aktivitas transport zat-zat yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup bakteri. Karena membran sel berada dalam kondisi tidak normal dan sekaligus berakibat pada rusaknya membran akibat daya aktivitas berberin, maka akan berakibat pada pertumbuhan sel bakteri Salmonella typhi atau kematian, sehingga mengakibatkan bakteri Salmonella typhi tidak dapat melangsungkan hidupanya, dikarenakan pengaruh pemberian rendaman batang brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) tersebut.

KESIMPULAN

Rendaman batang brotowali yang digunakan masyarakat tradisional sebagai obat diare terbukti memiliki efek menghambat pertumbuhan Salmonella typhi. Peningkatan konsentrasi 80%-100%, rendaman batang brotowali cenderung menyebabkan penurunan jumlah koloni Salmonella typhi sebagai bakteri penyebab diare (Gastroenteritis). Konsentrasi rendaman batang brotowali yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi adalah pada konsentrasi 100%.

UCAPAN TERIMA KASIH

Studi ini telah selesai dilaksanakan dalam waktu yang telah ditetapkan berkat bantuan dari berbagai pihak, sehingga penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Ibu Dra. Roimil Latifah, M. Si. MM., selaku Kepala Laboratorium Biologi yang telah memberikan saran, pemantapan dan pertimbangan yang berguna bagi penyelesaian PKMI ini;
  2. Ibu Dra. Elly Purwanti, M.P., selaku Dosen Mata Kuliah Biologi Umum yang telah banyak memberikan ilmunya; dan
  3. Segenap teknisi Laboratorium Biologi, yang telah memberikan bantuan sehingga studi mata kuliah Biologi ini dapat terselesaikan.
  4. Husamah, Ketua Umum Forum Kajian Ilmiah Mahasiswa Biologi (FKIMB) yang telah meminjamkan berbagai literatur serta mereview tulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 1994. Penatalaksanaan Dan  Pencegahan Diare Akut. Jakarta: EGC.

Anonymous. 2003. Bakteriologi Medik. Malang: Bayu Media

Budiyanto, MAK. 2000. Mikrobiologi Terapan. Malang: UMM Press.

Jawetz., et al. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Rajawali Press.

Jawetz, et al. 2001. Mikrobiologi Kedokteran. Surabaya: Salemba Medical

Kompas. 2005. Konsultasi: Diare Berkepanjangan. www.kompas.com/kesehatan/news/0503/21/084059.htm. Diakses tanggal 1 Desember 2006

Kompas. 2006. Setiap Tahun 100.000 Anak Mati karena Diare di Indonesia.     www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0611/26/194504.htm. Diakses tanggal 1 Desember 2006

Kresnadi, Budi. 2003. Khasiat dan Manfaat Brotowali. Jakarta: Agromedia

Lay, BW., dan Hastowo., S. 1992. Mikrobiologi. Jakarta: Rajawali Press.

Majalah Poultry. 2004. Mengamati Cara Kerja Dan Mekanisme Resistensi Antibiotik.http//www.poultryindonesia.com/modules.php?name=News&file=print&sid=398. Diakses tanggal 3 Nopember 2006

Rofieq, A., dan Nur Widodo. 2002. Pengantar dan Metodelogi Penelitian FKIP UMM. Malang : UMM Press

Sarbini. 2004 . Diare .http// http://www.mer-c.org/mc/ina/ikes/ikes_0304_diare.htm Diakses tanggal 3 Nopember 2006

Volk dan Wheller. 1993. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Erlangga.

05/05/2010 Posted by | Contoh PKM | 6 Komentar

“ TELUR AMARA POLKADOT” Telur Asin Macam Rasa Enak dan Bergizi”.

A. Judul Program

“ TELUR  AMARA POLKADOT”  Telur Asin Macam Rasa Enak dan  Bergizi”.

B. Latar Belakang

Di Indonesia sekitar 1,67 juta anak di bawah lima tahun (balita) berstatus penderita gizi buruk (malnutrisi). Berdasarkan data WHO yang mengelompokan prevelensi gizi kurang, Indonesia tahun 2004 tergolong negara dengan status kekurangan gizi yang tinggi karena 5.119.935 (28,47%) dari 17.983.244 balita di Indonesia termasuk kelompok gizi kurang dan gizi buruk. Gizi buruk ini salah satunnya diakibatkan karena kurangnya konsumsi protein hewani oleh masyarakat.

Tingkat konsumsi protein hewani di Indonesia sangat rendah, bahkan masih di bawah standar yang ditetapkan oleh Badan Pangan Dunia (FAO).  Berdasarkan ketetapan FAO,  standar  konsumsi protein hewani bangsa Indonesia minimal sebesar 6 gr/kapita/hari. Namun, saat ini masyarakat di Indonesia baru mengonsumsi protein hewani sebanyak 4,19 gr/kapita/hari. Sumber protein hewani yaitu susu, daging, ikan, telur dan keju mengandung asam amino esensial lengkap, lemak relatif tinggi dan mengandung laktosa.

Konsumsi telur penduduk Indonesia rendah, yakni 2,7 kg/kapita/tahun, sedangkan Malaysia mencapai 14,4 kg, Thailand 9,9 kg dan Fhilipina 6,2 kg. Bila satu kilogram telur rata-rata terdiri atas 17 butir, maka konsumsi telur penduduk Indonesia adalah 46 butir/kapita/tahun atau 1/8 butir telur per hari. Padahal penduduk Malaysia setiap tahunnya memakan 245 butir telur atau 2/3 butir telur per hari..

Rendahnya konsumsi protein menyebabkan terganggunya pertumbuhan, meningkatnya resiko terkena penyakit, mempengaruhi perkembangan mental, dan menurunkan produktivitas tenaga kerja. Kasus malnutrisi yang sangat parah pada usia balita dapat menyebabkan bangsa ini mengalami loss generation. Kekurangan protein mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan, ketidakseimbangan cairan tubuh dan penurunan daya tahan tubuh terhadap infeksi karena makanan kita tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh untuk energi dan protein.

Penyebab rendahnya konsumsi protein hewani dikarenakan rendahnya taraf perekonomian penduduk Indonesia. Kurangnya sosialisasi tentang pentingnya konsumsi protein hewani bagi tubuh. Selain itu, sumber-sumber protein hewani relative harganya mahal jika dibandingkan dengan protein nabati.

Menurut Budiyanto (2007) mahasiswa merupakan Agent of Community Enpowerment, harus terlibat dalam pemecahan masalah pembangunan daerah dan nasional untuk kesejahteraan masyarakat dan harus mendapatkan pengalaman empirik untuk mengelola pemecahan masalah pembangunan daerah dan nasional untuk kesejahteraan masyarakat. Mahasiswa juga merupakan aset bangsa sehingga dituntut untuk aspiratif, akomodatif, responsif, dan reaktif menjadi problem solver terhadap permasalahan pembangunan. Selain itu, mahasiswa sebagai Agent Of Change sepatutnya  memiliki semangat bekerja dan cita-cita tinggi untuk sukses dalam berbisnis seperti para pengusaha bahkan lebih. Di era globalisasi ini, mahasiswa lebih dituntut agar mampu mengembangkan potensinya sehingga memiliki daya saing tinggi dalam masyarakat sebagai bentuk pengabdian ketika berada di dunia masyarakat yang lebih kompleks daripada di kampus.

Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat dimanfaatkan sebagai lauk, bahan pencampur berbagai makanan, tepung telur, obat, dan lain sebagainya. Telur terdiri dari protein 13 %, lemak 12 %, serta vitamin, dan mineral. Nilai tertinggi telur terdapat pada bagian kuningnya. Kuning telur mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan serta mineral seperti : besi, fosfor, sedikit kalsium, dan vitamin B kompleks. Sebagian protein (50%) dan semua lemak terdapat pada kuning telur. Adapun putih telur yang jumlahnya sekitar 60 % dari seluruh bulatan telur mengandung 5 jenis protein dan sedikit karbohidrat. Kelemahan telur yaitu memiliki sifat mudah rusak, baik kerusakan alami, kimiawi maupun kerusakan akibat serangan mikroorganisme melalui pori-pori telur. Oleh sebab itu usaha pengawetan sangat penting untuk mempertahankan kualitas telur (Anonymous, 2000).

Jumlah dan komposisi asam amino telur  sangat lengkap dan berimbang, sehingga hampir seluruh bagiannya dapat digunakan untuk pertumbuhan maupun penggantian sel-sel yang rusak Hasil penelitian mendapatkan, sebutir telur mempunyai kegunaan protein (net protein utilization) 100% dibandingkan dengan daging ayam (80%) dan susu (75%). Hampir semua lemak dalam sebutir telur itik terdapat pada bagian kuningnya, mencapai 35%, sedangkanm di bagian putihnya tidak ada sama sekali. lemak pada telur terdiri dari trigliserida (lemak netral), fosfolipida (umumnya berupa lesitin), dan kolesterol.

Ketersediaan bahan baku di malang………………………..

“TELUR AMARA POLKADOT” adalah telur asin yang berasal dari telur itik, dimana diolah dengan berbagai macam  rasa seperti rasa Bawang, BBQ, cabai, balado, dan jagung bakar  manis. Sedangkan polkadot, karena kulit luar telur bermotif bintik-bintik hal ini dimaksudkan untuk menarik konsumen. Cara pengolahannya dimulai dari pemilihan telur yang bermutu, lalu telur dicuci dan dikeringkan, telur diamplas untuk mengecilkan pori-pori,  mengolah variasi rasa dengan cara di blender, membuat adonan pengasin yang terdiri dari  bubuk batu bata dan garam, mencampur variasi rasa dengan adonan,membungkus telur dengan adonan satu persatu hingga rata, menyimpan telur atau mendiamkan selama 15 hari, setelah 15 hari telur dicuci, direbus dengan daun jati atau kulit bawang putih  untuk memberi motif kulit cangkang telur bintik-bintik sampai masak, setelah itu dilakukan pengemasan dan pemberian label . “TELUR AMARA POLKADOT” mempunyai daya tahan lama, tekstur menarik, rasa menggoda,  dan bergizi tinggi.

Prospek usaha in adalah menciptakan makanan instan yang mengandung protein tinggi bagi konsumsi masyarakat dan mahasiswa UMM.

Berangkat dari wacana dan peluang tersebut maka disusunlah proposal PKMK ini. Pemilihan telur sebagai komoditas untuk dijadikan usaha karena permintaan pasar yang tinggi akan kebutuhan telur asin yang relatif harganya yang murah. Selain itu, telur asin mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi sehingga baik digunakan untuk mencukupi kebutuhan akan gizi masyarakat.

Produk ini dinamakan “ TELUR AMARA POLKADOT” yang merupakan padanan kata telur asin macam rasa yang berbentuk polkadot, usaha ini diharapkan mampu menumbuhkan jiwa wirausaha bagi mahasiswa. Selain itu juga, usaha ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

  1. C. Perumuan Masalah.

Dari latar belakang di atas dapat dikemukanan permasalahan yaitu:

  1. Bagaiman cara produksi telur asin macam rasa polkadot?
  2. Bagaimana bentuk usaha dari “ TELUR AMARA POLKADOT”?
  3. Bagaiman cara pemasaran dari usaha “ TELUR AMARA POLKADOT”?
  4. Bagaiman cara pengembangan “ TELUR AMARA POLKADOT” di masa yang akan datang?

D. Tujuan Program

Tujuan dari program ini adalah:

  1. Untuk memproduksi telur asin macam rasa polkadot yang kaya akan gizi.
  2. Untuk membuat bentuk usaha yang tepat bagi usaha “ TELUR AMARA POLKADOT”.
  3. Untuk memasarkan usaha “ TELUR AMARA POLKADOT” kepada masyarkat sebagi alternatif lauk.
  4. Untuk cara pengembangan “ TELUR AMARA POLKADOT” dimasa yang akan mendatang.
  1. E. Luaran yang Diharapkan.

Luaran yang diharpkan dari usaha “ TELUR AMARA POLKADOT” ini adalah:

  1. Dapat menghasilkan produk “ TELUR AMARA POLKADOT” dengan meningkatkan nilai organoleptik dan penambahan suplemen dan zat aditif dalam produk agar diterima masyarakat dengan sifat telur tahan lama.
  2. Dapat menghasilkan produk jasa, dimana sebagi pendamping dalam pembentukan usaha kepada masyarakat dalam pengembangan produk ini
  3. Produk dapat dipatenkan dalam hal cara atau metode pengolahan telur macam rasa polkadot yang unik.
  1. F. Kegunan Program

Usaha ini memeiliki berbagai macam keguanann diantranya:

  1. 1. Aspek Ekonomis

Dapat memberi lapangan pekerjaan yang baru bagi masyarakat,. Dalam produksi telur asin macam rasa dibutuhkan tenaga kerja yang banyak.

  1. 2. Aspek Akademis

Memberikan kesempatan kepada mahasiswa FKIP Biologi UMM mengaplikasikan kegiatan kuliah untuk diangkat ke dalam kegiatan kewirausahaan, menerapkan mata kuliah dari Jurusan Pendidikan Biologi bidang studi kewirausahaan, pengolahan pangan, dan ilmu gizi.

3. Aspek Ketenagakerjaan

Masyarakat di Malang suka mengkonsumsi telur asin sebagai lauk maupun cemilan, akan tetapi telur asin berbagai macam rasa jarang dijual. Alternatif untuk membuat telur asin yang aneka rasa, kami membuat telur asin dengan rasa Bawang, BBQ, cabai, balado, dan jagung bakar manis. Selain itu, untuk menarik konsumen telur asin macam rasa dibut dengan kulit luar telur yang unik yaitu bermotif bulat-bulat seperti polkadot. Keadaan masyarakat yang membutuhkan protein hewani yang bergizi tinggi dan murah, maka dengan adanya usaha “ TELUR AMARA POLKADOT”  cocok dikembangkan di sekitara kampus UMM dan kota malang.

Kondisi ini bisa dimanfaatkan deangan mengembangkan usaha melalui penambahan alat dan tenaga kerja bahkan membuka cabang usaha. Selain itu, usaha ini dapat menjadi  sarana bagi pengembangan jiwa kewirausahaan mahasiswa.

4. Aspek Gizi Masyarakat.

Memberikan alternatif lauk instan yang mengandung protein hewani tinggi bagi masyarakat dan mahasiswa UMM serta masyarakat Malang pada umumnya.

  1. G. Gambaran Umum Rencana Usaha

G.1 Gambaran Umum Kondisi Masyarakat.

Salah satu permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah merebaknya kasus gizi buruk (malnutrisi) dan busung lapar pada anak-anak usia bawah lima tahun (balita). Sekitar 1,67 juta anak bawah lima tahun (balita) (8% dari anak usia 0-4 tahun) berstatus sebagai penderita gizi buruk (malnutrisi). Kasus malnutrisi ini disebabkan kurangnya asupan kalori-protein yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan anak-anak. Dimana konsumsi protein hewani penduduk Indonesia masih sangat rendah yakni 4,5 gram/kapita/hari, sementara konsumsi protein hewani masyarakat dunia adalah 26 gram/kapita/hari (Rusfidra, 2008).

Tingkat konsumsi protein hewani di Indonesia sangat rendah, bahkan masih di bawah standar yang ditetapkan oleh Badan Pangan Dunia (FAO)  Berdasarkan ketetapan FAO, standar  konsumsi protein hewani bangsa Indonesia minimal sebesar 6 gr/kapita/hari. Namun, saat ini masyarakat di Indonesia baru mengonsumsi protein hewani sebanyak 4,19 gr/kapita/hari. Sumber protein hewani yaitu susu, daging, ikan, telur dan keju mengandung asam amino esensial lengkap, lemak relatif tinggi dan mengandung laktosa (Siswono, 2005) (http://www.gizi.net).

Rendahanya konsumsi protein pada anak akan memyebabkan terganggunya pertumbuhan, meningkatnya resiko terkena penyakit, mempengaruhi perkembangan mental, menurunkan performans anak di sekolah dan menurunkan produktivitas tenaga kerja setelah dewasa. Kasus malnutrisi yang sangat parah pada usia balita dapat menyebabkan bangsa ini mengalami loss generation. Akibat berikutnya adalah rendahnya daya saing SDM bangsa ini dalam percaturan global antar bangsa.

Penyebab rendahnya konsumsi protein hewani dikarenakan rendahnya taraf perekonomian penduduk Indonesia. Kurangnya sosialisasi tentang pentingnya konsumsi protein hewani bagi tubuh. Selain itu, sumber-sumber protein heawani relative harganya mahal jika dibandingkan dengan protein nabati. Oleh karena itu, dibutuhkan sumber protein hewani yang mudah, enak, bergizi dan murah.

G.2 Gambaran Umum Telur

Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat dimanfaatkan sebagai lauk, bahan pencampur berbagai makanan, tepung telur, obat, dan lain sebagainya. Telur terdiri dari protein 13 %, lemak 12 %, serta vitamin, dan mineral. Nilai tertinggi telur terdapat pada bagian kuningnya. Kuning telur mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan serta mineral seperti : besi, fosfor, sedikit kalsium, dan vitamin B kompleks. Sebagian protein (50%) dan semua lemak terdapat pada kuning telur. Adapun putih telur yang jumlahnya sekitar 60 % dari seluruh bulatan telur mengandung 5 jenis protein dan sedikit karbohidrat. telur. Macam-macam telur adalah telur ayam, telur bebek atau itik, telur puyuh dan lain-lain.

Telur itik mempunyai kandungan protein lebih banyak terdapat pada vagina kuning telur 17 %, sedangkan bagian putihnya terdiri dari ovalbumin (putih telur) dan ovavitelin (kuning telur). Sebutir telur mempunyai kegunaan protein (net protein utilization) 100% dibandingkan dengan daging ayam (80%) dan susu (75%). Berarti jumlah dan komposisi asam aminonya sangat lengkap dan berimbang, sehingga hampir seluruh bagiannya dapat digunakan untuk pertumbuhan maupun penggantian sel-sel yang rusak. Hampir semua lemak dalam sebutir telur itik terdapat pada bagian kuningnya, mencapai 35%, sedangkan di bagian putihnya tidak ada sama sekali. lemak pada telur terdiri dari trigliserida (lemak netral), fosfolipida (umumnya berupa lesitin), dan kolesterol. Kandungan nilai gizi telur itik secara umum lebih tinggi dibandingkan dengan telur ayam. Perbandingan nilai gizi telur itik dan telur ayam dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:

Tabel 1. Data Nilai Gizi Telur Itik dan Telur Ayam Per 100 Gram Telur

Jenis Telur Kalori (kkal) Lemak (g) Protein (g) Kalsium (mg) Besi (mg) Vit.A(SI)
Telur itik 163 14.3 13.1 56 2.8 1 230
Telur ayam 189 11.5 12.8 54 2.7 900
Sumber: Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan

Kelemahan telur yaitu memiliki sifat mudah rusak, baik kerusakan alami, kimiawi maupun kerusakan akibat serangan mikroorganisme melalui pori-pori telur. Oleh sebab itu usaha pengawetan sangat penting untuk mempertahankan kualitas. Pengawetan telur dapat dilakukan dengan cara pengasian. Kulit telur (cangkang) tersusun atas senyawa kalsium karbonat (CaCO3). Kulit ini berpori-pori, sehingga gas dan air dapat menembusnya. Sifat inilah menyebabkan telur dapat diasinkan. Telur itik yang mempunyai kandungan ptotein yang tinggi cocok untuk dilakukan pengasianan.

Kebiasaan masyarakat dan mahasiswa  mengkonsumsi telur asin sebagai lauk merupakan potensi penting untuk pemasaran Produk TELUR  AMARA POLKADOT”.  Selain itu, rata-rata telur asin yang dijual di Malang hanya memiliki rasa asin saja. Sehingga “ TELUR  AMARA POLKADOT” yaitu telur asin yang memiliki gizi protein tinggi, aneka rasa dan tekstur yag unik sangat cocok dikembangkan disekitar kampus UMM dan Malang.

Rencana usaha “ TELUR  AMARA POLKADOT” ynag mempunyi protein tinggi mempunyai peluang baik untuk dikembangkan lebih jauh. Analisis usaha  ini meliputi beberapa hal, yaitu :

1.  Produk “ TELUR  AMARA POLKADOT” merupakan telur asin aneka rasa yang bertekstur unik diperkirakan akan memperoleh sambutan yang baik dari masyarakat dan mahasiswa sekitar kampus. Produk ini dapat digunakan sebagai makanan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan protein hewani. Kedepannya produk ini akan lebih berkembang dan ditingkatkan teknologi yang lebih canggih dan modern, sanitasi, higienitas alat dan bahan, serta tambahan jumlah pekerja.

2. Promosi

Promosi Produk “ TELUR  AMARA POLKADOT” dilakukan melalui brosur, selebaran, media surat kabar , dan media elektronik agar produk lebih dikenal oleh masyarakat.

3. Harga

Harga yang ditawarkan Produk “ TELUR  AMARA POLKADOT” sangat terjangkau oleh masyarakat. Hal ini disebabkan bahan baku berupa telur itik mudah didapatkan dipasaran.

4. Tempat

Lokasi produk “ TELUR  AMARA POLKADOT” dipusatkan di kota Malang. Sedangkan untuk pemasarannya dilkukan dilingkungan sekitar kampus meliputi toko-toko, warung makan, kantin kampus, dan kopkar kampus. Kedepannya produk diharapkan akan semakin meluas dengan bertambahnya angka penjualan sehinnga membutuhkan tempat prodiksi yang luas dan jumlah tenaga kerja yang besar.

Tabel 2. Analisis Usaha TELUR  AMARA POLKADOT

A. Investasi
No Bahan-bahan Jumlah Satuan(kg) Total
1.

2.

Bahan-bahan:

a. Telur itik

b. Batu Bata

c. Garam

d. Bawang putih

e.  Rasa BBQ

f.  Cabai

g.  Balado

h. Jagung bakar manis

Labeling dan Packaging

500 butir

100 biji

7,5  kg

2  kg

1,5 kg

2  kg

1,5 kg

1,5 kg

50  bungkus

Rp.      900,00./butir

Rp.      500,00

Rp.   2.000,00

Rp.   7.000,00

Rp. 45.000,00

Rp. 20.000,00

Rp. 45.000,00

Rp. 45.000,00

Rp.   1.000,00

Rp.    450.000,00

Rp.      50.000,00

Rp.      15.000,00

Rp       14.000,00

Rp       67.500,00

Rp       40.000,00

Rp      67.500,00

Rp      67.500,00

Rp      50.000,00

Total Biaya Rp. 821.500,00
B. Biaya Promosi dan Pemasaran
1

2

Transportasi 2 orang x Rp. 50.000,00 (2 bulan)

Komunikasi 5 orang x Rp.  20.000,00 (2 bulan )

Rp. 100.000,00

Rp. 100.000,00

Total biaya Rp. 200.000,00
C. Penerimaan
a. AMARA POLKADOT “ per butir

  • Rasa bawang putih 50 butir
  • Rasa cabai 50 butir
  • Rasa BBQ  50 butir
  • Rasa balado 50 butir
  • Rasa jagung bakar manis 50 butir

b.AMARA POLKADOT “per kotak 5 butir.

  • Rasa bawang putih 8 kotak
  • Rasa cabai  8 kotak
  • Rasa BBQ  8 kotak
  • Rasa balado 8 kotak
  • Rasa jagung bakar manis 8 kotak
  • Rasa campuran (bawang putih, cabai, balodo, BBQ, jagung bakar manis) 10 kotak

@Rp 2.000,00

@Rp 2.000,00

@ Rp 2.500,00

@ Rp. 2.500,00

@ Rp. 2.500,00

@Rp. 11.000,00

@Rp. 11.000,00

@ Rp 14.000,00

@ Rp 14.000,00

@Rp. 14.000,00

@Rp. 13.000,00

Rp  100.000,00

Rp  100.000,00

Rp.  125.000,00

Rp.  125.000,00

Rp.  125.000,00

Rp.   88.000,00

Rp.   88.000,00

Rp. 112.000,00

Rp. 112.000,00

Rp. 112.000,00

Rp. 130.000,00

Jumlah Rp. 1.217.000,00
D. Keuntungan C – (A+B)

1.217.000– (821.500+200.000)

Rp.    195.500,00

R O I (Return Of Investment) =         Laba Usaha       x100%
Modal Produksi

=          Rp.195.500   x 100 %  =19,13%

Rp. 1.021.500

H. METODE PELAKSANAAN PROGRAM

Untuk melaksanakan kegiatan ini maka perlu metode yang tepat dan sistematis agar dicapai hasil yang maksimal. Adapun metode yang kami formulasikan adalah sebagai berikut:

  1. Pelatihan Produksi dilakukan untuk menghasilkan produk yang bermutu
  2. Uji Ketahanan Pangan: Setiap ”TELUR  AMARA POLKADOT” yang sudah jadi akan dilihat kelayakan konsumsi dan kesesuaian, serta kesepakatan hasil. Setelah disorting, akan di beri label khusus sebagai upaya profesionalisme. Di dalam label berisi: nama produk, manfaat, kandungan gizi, masa kadaluarsa, tempat produksi, dan tahun pembuatan.
  3. Pengemasan: Produk dikemas dengan rapat dan aman sehingga tidak terkontaminasi dengan udara luar, serta dimaksudkan agar produk dapat bertahan lama. Selain itu pengemasan akan dilakukan semenarik mungkin, agar konsumen lebih tertarik dengan produk.
  4. Pemasaran: Sasaran pasar adalah masyarakat, mahasiswa, dan pelajar sekolah terutama yang berada di Kota Malang. Namun, sasaran awal adalah mahasiswa dan masyarakat di sekitar kampus UMM.
  5. Promosi baik di media cetak maupun media elektronik bertujuan untuk memperkenalkan produk yang baru kepada masyarakat sehingga masyarakat tersebut mengetahui segala tentang produk yang ditawarkan.
  6. Evaluasi: Evaluasi akan segera dilakukan setelah pemasaran awal di dalam kampus. Langkah itu  akan dilakukan sebagai pedoman pemasaran yang strategis dan profesional di masyarakat.
  • CARA PENGOLAHAN PRODUK TELUR  AMARA POLKADOT

Bahan:

-        Telur itik                                  500    butir

-        Batu bata                                 100    biji

-        Garam                                         7,5 kg

-        Bawang putih                              3    kg

-        Rasa BBQ                                   1,5 kg

-        Cabai                                           2    kg

-        Keju                                            1,5 kg

-        Rasa balado                                 1,5 kg

-        Air                                           secukupnya

-        Minyak tanah                                5 liter

Alat:

-        Lampu neon                            1 buah

-        Lap kain                                  4 buah

-        Amplas                                    5 lembar

-        Ember plastik                          8 buah

-        Kuali                                       5 buah

-        Blender                                   1 buah

-        Kompor gas                             1 buah

-        Gas LPG                                 2 tabung

-        Panci                                       4 buah

-        Alat pengaduk                                    4 buah

-        Toples                                    10 buah

-        Stampel                                   5 buah

Cara pembuatan:

-        Menyeleksi telur dengan tes telur diatas lampu neon

-        Membersihkan telur itik dengan cara mencuci dan mengelap dengan air hangat lalu mengeringkan.

-        Mengamplas seluruh permukaan cangkang telur itik untuk mengecilkn pori-pori.

-        Mengolah variasi rasa, dengan diblender dan direbus.

-        Membuat adonan pengasinan yang terdiri dari bubuk batu bata, garam dengan perbandingan sama (1:1). Adonan dicampurkan dengan variasi rasa dan sedikit air,lalu adonan dibuat pasta.

-        Membungkus telur dengan adonan satu persatu hingga rata. Permukaan telur tebal kira-kira 1-2 mm

-        Menyimpan telur dalam kuali selama 15 hari.

-        Setelah 15 hari, telur dicuci dan dibersihkan.

-        Telur direbus dengan daun jati atau kulit bawang putih sampai matang.

-        Dilakukan pengemasan dan pemberian label.

Skema Pembuatan telur asin macam rasa polkadot:

Dicampurkan

I. JADWAL KEGIATAN PROGRAM

Tabel 3. Jadwal Kegiatan Program

Kegiatan Bulan Ke-
1 2 3 4 5
1. Persiapan
ü  Perijinan x
ü  Persiapan dan Penetapan lokasi usaha x
ü  Persiapan alat dan bahan usaha xx
ü  Promosi dan strategi pengadaan usaha xxx
ü  Evaluasi tahap pertama x
2. Pelaksanaan
ü  Penjaringan konsumen x xxxx
ü  Pelayanan dan pemasaran xxx xx
ü  Pengembangan usaha dan investasi xxx xx
ü  Evaluasi tahap kedua x
3. Kegiatan Bimbingan
ü  Pelaporan kegiatan usaha xxx
ü  Monitoring dengan evaluasi pelaksanaan usaha x
ü  Pengembangan usaha berdasarkan hasil monitoring xxx


L. RENCANA PEMBIAYAAN

Tabel 4. Estimasi Dana Kegiatan

No Jenis Kegiatan Anggaran
A. Pra Kegiatan
1 Perijinan Rp.     150.000,00
2 Persiapan lokasi Rp.     200.000,00
3 Persiapan Alat dan Bahan Rp.     150.000,00
4 Promosi/publikasi Rp.     500.000,00
5 Pengadaan proposal Rp.     200.000,00
B. Pelaksanaan
1 Bahan Habis Pakai:

Telur itik 500 butir x Rp 900/butir

Batu Bata 100 biji x Rp.  500,00/biji

Garam 7,5 kg x Rp 2000

Bawang putih 2 kg x Rp 7.000,00

Rasa BBQ 1,5 kg x Rp 45.000,00

Cabai 2 kg x Rp 20.000,00

Balado 1,5 kg x Rp 45.000,00

Jagung bakar manis 1,5 x Rp 45.000,00

Lampu neon    2 buah x Rp 50.000,00

Rak telur          2 buah x Rp.100.000,00

Lap kain          6 buah x Rp 10.000,00

Amplas            5 lembar x Rp  5.000,00

Ember plastik 12 buah x Rp 30.000,00

Kuali               6 buah x Rp 50.000,00

Blender           1 buah x Rp 400.000,00

Kompor gas     2 buah             x Rp 500.000,00

Gas LPG         2 tabung x Rp 75.000,00

Panci               5 buah x Rp 180.000,00

Alat pengaduk            4 buah x Rp 10.000,00

Toples  besar    10 buah x Rp 50.000,00

Stempel            5 buah x Rp 20.000,00

Uang listrik  selama produksi

Labelling + Pengemasan 50 bungkus x Rp. 1.000,00

Rp. 450.000,00

Rp.   50.000,00

Rp.   15.000,00

Rp.   14.000,00

Rp.   67.500,00

Rp.   40.000,00
Rp.   67.500,00

Rp.    67.500,00

Rp.  100.000,00

Rp. 200.000,00

Rp.    60.000,00

Rp.    25.000,00

Rp.  360.000,00

Rp.  300.000,00

Rp.  400.000,00

Rp. 1.000.000,00

Rp.  150.000,00

Rp.  900.000,00

Rp.    40.000,00

Rp.  500.000,00

Rp.    100.000,00

Rp.   100.0000,00

Rp.    50.000,00

2 Transportasi  (5 bulan) Rp.     450.000,00
3 Komunikasi  (5 bulan) Rp.     250.000,00
4 Dokumentasi Rp.     500.000,00
5 Promosi Rp.     250.000,00
6 Administrasi dan managemen Rp      300.000,00
C. Laporan
1 Penyusunan laporan Rp.     350.000,00
2 Penggandaan laporan Rp.     250.000,00
3 Laporan akhir Rp.      350.000,00
Jumlah Rp

M. Lampiran

– Analisis SWOT Usaha TELUR  AMARA POLKADOT

  1. a. Kelebihan (Strenght)

Konsumsi makanan yang mengandung protein hewani sangat dibutuhkan masyarakat untuk pertumbuhan, keseimbangan cairan tubuh, dan daya tahan tubuh terhadap infeksi. Telur banyak dikonsumsi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan proteinnya. Selain itu, telur mempunyai kandungan gizi yang tinggi sebanding dengan daging. Banyak para pengusaha memanfaatkan peluang pasar tersebut dengan membuat telur asin. Namun di Malang terutama di sekitar kampus UMM belum ada produksi telur yang memiliki aneka rasa. Sehingga produk TELUR  AMARA POLKADOT”  mempunyai peluang tinggi untuk digemari masyarakat dan mahasiswa karena produk ini menawarkan 5 rasa yaitu rasa bawang, BBQ, cabai, balado, dan jagung bakar manisyang mempunyai rasa enak, bergizi, dan juga mempunyai cangkang kulit telur yang unik yaitu bercorak. Telur asin aneka rasa ini cocok digunakan masyarakat dan mahasiswa sebagai cemilan maupun untuk lauk makanan.

  1. b. Kelemahan (Weakness).

Usaha telur asin aneka rasa ini membutuhkan waktu yang lama dalam pemprosesnya. Dalam  1 proses hanya bisa membuat 2 rasa. Rasa selanjutnya dilanjutkan hari berikutnya. Hal ini terjadi karena waktu proses yang lama dan seharusnya proses ini membutuhkan tenaga SDM yng cukup banyak.

  1. c. Kesempatan (Opportunity)

Dengan pertimbangan modal usaha yang dapat ditekan seminimal mungkin, maka usaha ini diharapkan akan menghasilkan keuntungan yang sangat tinggi dibandingkan dengan produk yang sejenis. Selain itu, konsumsi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan protein hewani yang tinggi maka produk memungkinkan untuk dikembangkan dan akan merekrut tenaga kerja yang banyak.

  1. d. Tantangan atau Ancaman (Thread)

Tantangan yang akan dihadapi oleh pengusul diantaranya adalah kesiapan konsumen dalam menerima produk ini karena dari hasil survei banyak pedagang menjual telur asin lebih murah, sehingga pengusul memiliki hambatan dalam hal pendistribusian.

05/05/2010 Posted by | Contoh PKM | 8 Komentar

“SELBIPANG” Selai biji ketapang , Manfaat besar dari buah yang terbuang

A. Judul Program

“SELBIPANG” Selai biji ketapang , Manfaat besar dari buah yang terbuang

B. Latar Belakang

Di Indonesia saat ini Dari hasil wawancara pada pertengahan bulan Agustus 2007 terhadap salah satu pakar enterpreneurship (Deddy Fachruddin) ternyata kemampuan dan keinginan untuk menjadi seorang wirausahawan atau entrepreneur tidak selayaknya hanya dimonopoli oleh pihak-pihak swasta atau negeri yang sudah kaya pengalaman, mahasiswa sebagai Agent Of Change sepatutnya juga memiliki semangat bekerja dan cita-cita tinggi untuk sukses dalam berbisnis seperti para pengusaha bahkan lebih. Di era globalisasi ini, mahasiswa lebih dituntut agar mampu mengembangkan potensinya sehingga memiliki daya saing tinggi dalam masyarakat sebagai bentuk pengabdian ketika berada di dunia masyarakat yang lebih kompleks daripada di kampus.

Di masa sekarang, mahasiswa seharusnya tidak hanya memikirkan kuliah saja. Banyak aktivitas-aktivitas non akademik sebagai praktik dari perkuliahan yang telah diikuti mampu menghasilkan out put yang positif baik dari segi pemahaman teori maupun dari segi finansial yang menjanjikan. Kreatifitas mahasiswa yang unik dapat menciptakan suatu lapangan pekerjaan dengan penghasilan besar. Salah satu kreatifitas mahasiswa tersebut antara lain membuat sesuatu yang tidak bernilai jual tinggi menjadi produk yang bernilai jual, khususnya di bidang makanan (cemilan).

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merupakan salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Jawa Timur, dengan jumlah mahasiswa yang masih aktif kurang lebih 22.000 mahasiswa yang tersebar dalam 13 (tiga belas) fakultas, yaitu fakultas Ekonomi, Pertanian, Hukum, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Sosial Politik, Teknik, Peternakan, Kedokteran, Psikologi, S1 dan D3 Keperawatan, Farmasi dan Agama Islam. Setiap tahun UMM meluluskan sebanyak 3000 – 4000 mahasiswa dari tiga belas fakultas tersebut.

Berdasarkan data Biro Administrasi Akademik (BAA), para lulusan tersebut tidak semua segera terserap dalam lapangan pekerjaan. Hanya sekitar    35 % lulusan mendapat pekerjaan sesuai dengan profesinya dan kurang dari satu tahun. Sebagian besar harus menunggu selama 1-2 tahun atau lebih baru mendapat pekerjaan sesuai dengan profesinya.

Kesulitan mencari kerja sesuai dengan profesi itu, tentu akan semakin berat dihadapi oleh para lulusan dari fakultas-fakultas tertentu, seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang mencetak tenaga-tenaga kependidikan. Fakultas ini di UMM setiap tahun meluluskan ± 345 mahasiswa ternyata hanya 28,5% yang terserap sebagai tenaga guru di lembaga pendidikan. Penyebabnya selain menyempitnya lapangan pekerjaan sebagai guru juga adanya lulusan non kependidikan yang menyeberang menjadi guru padahal mereka tidak punya akta mengajar.

Sebenarnya lulusan fakultas keguruan secara profesional tidak harus menjadi guru di lembaga formal. Mereka dapat bekerja dibidang lain yang seirama dengan profesi guru yaitu sebagai tutor atau pengajar di lembaga non formal, misalnya; tutor di lembaga kursus, tutor private study, pemandu wisata dan lain-lain. Selain itu, mereka dapat berwirausaha pada berbagai bidang yang bertolak belakang dari profesi itu tetapi masih bersandar pada pengetahuan teoritis dan praktis yang diperoleh selama kuliah, misalnya membuat produk konsumtif berupa cemilan.

Ngemil merupakan kebiasaan dari seseorang untuk menyantap makanan di luar makan utama. Berdasarkan Beberapa penelitian memperkirakan bahwa konsumsi makanan berupa snack setiap hari merupakan pola makan yang ideal dan menyehatkan (Apriadji, 2001). Konsumsi makanan di pagi hari dan kebiasaan sering ngemil dalam jumlah yang cukup akan memberikan kita energi dan juga mempermudah konsentrasi serta kerja otak kita setelah menjalani aktifitas yang cukup menguras energi yang dimiliki. Selain itu ngemil juga dapat berfungsi untuk mempertahankan kestabilan kadar gula darah yang ada dalam tubuh kita (www.kaskus.us).

Kecenderungan masyarakat untuk konsumtif terhadap makanan, baik makanan berat maupun makanan ringan semakin meningkat seiring dengan berkembangnya dan beranekaragamnya jenis makanan yang tersedia, aktifitas-aktifitas yang semakin kompleks, dan juga karena manusia tidak dapat menghindari akan kebutuhan pangan itu sendiri sebagai syarat atau salah satu ciri dari makhluk hidup. Dalam keadaan luang maupun sempit, lapar atau tidak, pagi maupun malam, stres atau fit seseorang tidak bisa luput dari kata makanan dan cemilan.

Terminalia catappa merupakan nama latin dari tanaman Katapang. Family dari Terminalia catappa sendiri adalah Combretaceae. Katapang merupakan tanaman yang tumbuh liar dan biasa di tanam di tepi pantai.

Pohon Terminalia catappa berbentuk seperti pagoda karena berawal dari batang yang tunggal. Setelah batang yang tunggal tersebut mencapai ketinggian tertentu maka pohon ini akan membentuk cabang secara horizontal. Pohon ini memiliki jenis percabangan simpodial karena batang pokok sukar ditentukan karena dalam perkembangan selanjutnya terjadi perhentian pertumbuhan atau kalah besar atau kalah cepat pertumbuhannya dibandingkan dengan cabangnya.

Daun lengkap merupakan daun yang terdiri atas upih daun (vagina), tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina). Sedangkan Terminalia catappa disebut daun yang tidak lengkap karena daunnya hanya terdiri atas helaian daun (lamina) dan tangkai daun (petiolus).Terminalia catappa memiliki bentuk tangkai daun seperti bentuk tangkai daun tumbuhan pada umumnya, yaitu berbentuk silinder dengan sisi agak pipih dan menebal pada pangkalnya. Untuk helaian daunnya, daun Terminalia catappa dapat dideskripsikan Batang pada tumbuhan ada yang kelihatan ada pula yang tidak. Oleh sebab itu maka dibedakan menjadi tumbuhan yang tidak berbatang dan tumbuhan yang jelas berbatang. Untuk tumbuhan Terminalia catappa sendiri jelas sekali digolongkan ke dalam tumbuhan yang jelas berbatang karena batang Terminalia catappa merupakan batang berkayu (lignosus), yaitu batang yang keras dan kuat.

Terminalia catappa termasuk ke dalam tumbuhan dikotil sehingga sistem perakarannya adalah sistem akar tunggang (radix primaria), yaitu terdapat akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yag lebih kecil. Jika melihat dari percabangan dan bentuknya, maka akar Terminalia catappa termasuk ke dalam akar tunggang yang bercabang (ramosus), yaitu akar tunggang yang berbentuk kerucut panjang, tumbuh lurus ke bawah, bercabang-cabang banyak sehingga memberi kekuatan yang lebih lagi kepada batang dan juga daerah perakaran menjadi sangat luas selain itu daya serap terhadap air dan zat makanan menjadi lebih besar.

Pada bunga Terminalia catappa, bulir yang terdapat di bagian bawah dengan bunga berkelamin 2 atau bunga betina sedangkan di bagian atas dengan bunga tidak berkelamin atau bunga jantan. Tepi kelopak bertaju 5, berbentuk piring atau lonceng. Bunga betina, panjangnya mencapai 4 – 8 mm berwarna putih. Pada bunga yang berkelamin 2 dan bunga jantan, benang sarinya muncul keluar sedangkan benang sari pada bunga betina dan tidak berkelamin lebih pendek dan steril. Tangkai putiknya sangat pendek bahkan terkadang tidak ada.Bentuk dari buah pohon katapang ini seperti buah almond. Besar buahnya kira-kira 4 – 5,5 cm. Buah katapang berwarna hijau tetapi ketika tua warnanya menjadi merah kecoklatan. Kulit terluar dari bijinya licin dan ditutupi oleh serat yang mengelilingi biji tersebut. Kulit biji dibagi menjadi 2, yaitu lapisan kulit luar (testa) dan lapisan kulit dalam (tegmen). Lapisan kulit luar pada biji Terminalia catappa ini keras seperti kayu. Lapisan inilah yang merupakan pelindung utama bagi bagian biji yang ada di dalamnya. Merupakan bagian yang menghubungkan biji dengan tembuni jadi merupkana tangkainya biji. Jika biji masak, maka biji akan terlepasa dari tali pusar dan pada biji hanya nampak bekasnya.

Ketapang tumbuh alami pada pantai berpasir atau berbatu. Toleran terhadap tanah masin dan tahan terhadap percikan air laut; sangat tahan terhadap angin dan menyukai sinar matahari penuh atau naungan sedang. Mampu bertahan hanya pada daerah-daerah tropis atau daerah dekat tropis dengan iklim lembab,dimalang tumbuhan banyak tumbuh dan tidak berguna sehingga terbuang percuma,

Berangkat dari wacana dan peluang tersebut maka disusunlah proposal PKMK ini. Pemilihan ketapang sebagai komoditas untuk dijadikan usaha dalam bentuk selai  ini selain untuk memanfaatkan buah ketapang yang selama ini terbuang menjadi berguna juga karena kandungan nilai gizi yang ada pada ketapang cukup tinggi.

Usaha ini dinamakan ‘’ SELBIPANG’’, yang merupakan padanan dari kata selai yang berasal dari biji buah ketapang, usaha ini diharapkan mampu menumbuhkan jiwa wirausaha bagi mahasiswa. Selain itu juga, usaha ini juga diharapkan mampu memanfaatkan secara maksimal buah ketapang dan juga menciptakan lapangan kerja yang baru bagi masyarakat.

SELBIPANG adalah selai yang berbahan dasar dari biji buah ketapang, dimana cara pengolahan produk ini dimulai dari buahnya tersebut dipecah dan diambil bijinya untuk kemudian dibuat selai, biji yang sudah diambil dibleder menjadi halus untuk kemudian dicapur dengan gula dan tepung, kemudian dipanaskan selama 15 menit dengan suhu 1000 C setelah matang angkat lalu dinginkan, dan terakhir dilakukan pengemasan. SELBIPANG ini mempunyai rasa yang khas dan unik dari selai yang lain yang selama ini terjual dipasaran.

Keberadaan “SELBIPANG di masyarakat belum begitu dikenal bahkan asing karena cemilan ini merupakan sesuatu yang baru, original dan akan diperkenalkan menjadi daftar menu cemilan yang harus dibeli karena bahan dasarnya merupakan buah yang tidak asing lagi yaitu ares ketapang. Dari bahan dasar tersebut dapat menjadi salah satu pemikat bagi konsumen.

Harganya yang murah, merek yang unik, serta bahan yang sederhana dan alami bisa menjadi suatu daya tarik dari publik untuk mengkonsumsi cemilan  SELBIPANG ini. Rasa yang ditawarkan sesuai dengan selera konsumen manis. Kemasannya juga sederhana sehingga patut digunakan sebagai alternatif daftar cemilan yang akan dibeli.

Sehingga berharap usaha ini nantinya dapat berkeembang lebih besar lagi dan diharapkan juga SELBIPANG menjadi salah satu ikon kota malang yaitu dengan menjadi oleh-oleh atau jajanan khas kota malang

C. Perumusan Masalah

Dari latar belakang di atas dapat dikemukakan permasalahan yaitu:

  1. Bagaimana cara produksi SELBIPANG?
  2. Bagaimana bentuk usaha dari SELBIPANG?
  3. Bagaimana cara pemasaran dari usaha SELBIPANG?
  4. Bagaimana cara pengembangan ”SELBIPANG di masa yang akan datang?

D. Tujuan Program

Tujuan program ini adalah

  1. untuk memanfaatkan buah yang terbuang “KETAPANG
  2. Untuk membuat bentuk usaha yang tepat bagi usaha SELBIPANG.
  3. Untuk memasarkan usaha SELBIPANG kepada masyarakat sebagai alternatif snack yang kaya protein.
  4. Untuk cara pengembangan SELBIPANG dimasa yang akan datang.
  5. Untuk menerapkan usaha yang baru kepada masayarakat

E. Luaran yang Diharapkan

Luaran yang diharapkan dari adanya usaha SELBIPANG ini adalah:

  1. Dapat menghasilkan produk SELBIPANG dengan memanfaatkan buah ketapang yang selama ini terbuang menjadi kiwirauasahaan yang sangat bermafaat bagi masyarakat dan menciptakan lapangan kerja.
  2. Dapat menghasilkan produk khusus dari pemanfaatan biji ketapang lebih luas lagi
  3. Dapat menghasilkan produk jasa, dimana sebagai pendamping dalam pembentukan usaha kepada masyarakat yang berminat mengembangkan produk ini.
  4. Setelah kedua luaran di atas berhasil, maka usaha ini juga dapat mengurangi tingkat gizi buruk dan member lapangan pekerjaan yang baru kepada masyarakat.
  1. F. Kegunaan Program

Usaha ini memiliki berbagai macam kegunaan diantaranya:

1. Aspek Ekonomi

  1. Dapat memberi lapangan pekerjaan yang baru.
  2. Dapat memaanfaatkan barang yang tidak berguna ”buah ketapang ”

2. Aspek Akademis

Memberikan kesempatan kepada mahasiswa FKIP Biologi UMM mengaplikasikan kegiatan kuliah untuk diangkat ke dalam kegiatan kewirausahaan, menerapkan mata kuliah dari Jurusan Pendidikan Biologi bidang studi kewirausahaan, pengolahan pangan, dan ilmu gizi.

3. Aspek Ketenagakerjaan

Kecenderungan masyarakat untuk ngemil di luar makan utama semakin nyata, karena kebutuhan energi yang tinggi baik jika diimbangi dengan ngemil daripada hanya dengan makan makanan utama saja. Akan tetapi untuk ngemilpun kita harus bisa memilih mana cemilan yang bermanfaat dan mana yang merugikan bagi kesehatan. Alternatif cemilan yang unik, murah, alami, enak, gurih, dan halalan thayyiban menjadi salah satu penyebab cocoknya SELBIPANGdi kembangkan di sekitar kampus UMM.

Kondisi ini bisa dimanfaatkan dengan mengembangkan usaha melalui penambahan alat dan tenaga kerja bahkan membuka cabang perusahaan. Selain itu usaha ini dapat menjadi wadah atau sarana bagi pengembangan jiwa kewirausahaan kepada mahasiswa.

G. Gambaran Umum Rencana Usaha

G.1 Gambaran Umum Kondisi Masyarakat

Masyarakat kampus UMM diasumsikan sebagai masyarakat yang konsumtif  terhadap makanan baik itu makanan utama maupun makanan ringan (cemilan), karena dari sekian banyak aktifitas yang dilakukan dibutuhkan energi yang ekstra dan energi tersebut tidak cukup hanya dengan makan nasi saja sebagai makanan utama, tapi perlu asupan makanan ringan sebagai penambah kalori dan energi.

Menurut para peneliti bahwa konsumsi makanan dalam jumlah kecil namun dengan frekuensi yang sering bersifat cukup baik untuk aktivitas fisik dibandingkan dengan menghindari konsumsi sarapan harian atau makan dalam jumlah yang besar di siang hari (www.info-sehat.com). Dan menurut Apriadji (2001), konsumsi makanan berupa snack setiap hari merupakan pola makan yang ideal dan menyehatkan karena dapat mempertahankan kestabilan kadar gula darah dalam tubuh. Sinyal rasa lapar yang disampaikan otak sebenarnya hanya meminta kita untuk mengisi perut. Tidak ada perintah khusus mengenai jenis makanan apa yang sebaiknya dimakan. Karena itu, kita bisa makan cemilan apapun yang mengenyangkan. Namun, demi kesehatan juga kita harus pintar dalam memilih cemilan yang tidak merugikan bagi kesehatan kita.

Berdasarkan hasil observasi penulis, pada saat ini di pasaran banyak beredar jenis makanan ringan yang menawarkan beberapa rasa dengan berbagai variasi. Kebanyakan makanan ringan yang beredar adalah makanan yang mengandung zat pewarna dan penyedap rasa seperti vitsin. Hal ini bisa  berdampak fatal, karena bahan-bahan aditif tersebut dapat merusak kesehatan manusia. Akan tetapi, saat ini telah banyak muncul pula makanan yang memanfaatkan bahan-bahan alami misalnya dari bagian-bagian tumbuhan untuk dimanfaatkan sebagai makanan atau cemilan yang alami dan sehat.

G.2 Gambaran Umum Ketapang

Pohon ketapang berukuran moderat, mudah gugur, bentuk seperti pagoda, terutama bila pohon masih muda. Batang sering berbanir pada pangkal, pepagan coklat abu-abu tua, melekah; cabang tersusun dalam deretan bertingkat dan melintang. Daun berseling, bertangkai pendek, mengumpul pada ujung cabang, biasanya membundar telur sungsang, kadang-kadang agak menjorong, mengertas sampai menjangat tipis, mengkilap. Bunga berbulir tumbuh pada ketiak daun, sebagian besar adalah bunga jantan, bunga biseksual terdapat ke arah pangkal, sangat sedikit, warna putih-kehijauan dengan cakram berjanggut. Buah pelok membulat telur atau menjorong, agak pipih, hijau ke kuning dan merah saat matang. Buah batu dikelilingi lapisan daging berair setebal 3-6 mm. Jenis ini dapat dikenali langsung dari cabangnya yang kaku dan daun-daun besarnya yang tersusun dalam roset.

Ketapang berasal dari Asia Tenggara, dan umum di seluruh daerah, tetapi sepertinya jarang di Sumatra dan Borneo. Umumnya ditanam di Australia Utara, Polinesia, juga di Pakistan, India, Afrika Timur dan Barat, Madagaskar dan dataran rendah Amerika Selatan dan Tengah. Ketapang tumbuh alami pada pantai berpasir atau berbatu. Toleran terhadap tanah masin dan tahan terhadap percikan air laut; sangat tahan terhadap angin dan menyukai sinar matahari penuh atau naungan sedang. Mampu bertahan hanya pada daerah-daerah tropis atau daerah dekat tropis dengan iklim lembab. Pada habitat alaminya curah hujan tahunan berkisar 3000 mm. Tumbuh baik pada semua jenis tanah dengan drainase baik. Umumnya dibudidayakan pada ketinggian sampai 800 m. Seringkali buahnya ditanam di kebun pembibitan karena biji batunya sulit dipisahkan dari daging buahnya. Kecepatan perkecambahan sekitar 25%. Jarak tanam biji di persemaian 25 cm x 25 cm. Pemindahan ke lahan dilakukan pada musim hujan tahun depannya.

Ketapang merupakan tumbuhan multiguna. Pepagan dan daunnya, kadang-kadang juga akar dan buah mudanya dipakai secara lokal untuk penyamakan kulit dan memberi warna hitam, dipakai unttuk mencelup kapas dan rotan dan sebagai tinta. Kayunya berkualitas baik dan digunakan untuk konstruksi rumah dan kapal. Kayunya rentan terhadap rayap. Bijinya enak dimakan, dan mengandung minyak yang tidak berbau, mirip minyak almond. Minyaknya dipakai sebagai pengganti minyak almond yang sebenarnya to meredakan radang rongga perut, dan, dimasak dengan daun, dalam menyembuhkan lepra, kudis dan penyakit kulit yang lain. Daging buahnya dapat dimakan, tetapi berserat dan tidak enak walaupun harum. Pohonnya ditanam di jalan raya dan kebun sebagai naungan karena perawakannya yang cocok, seperti pagoda. Daunnya digunakan untuk rematik pada sendi. Tanin dari pepagan dan daunnya digunakan sebagai astringen pada disentri dan sariawan. Juga sebagai diuretik dan kardiotonik dan dipakai sebagai obat luar pada erupsi kulit.

Melihat fakta-fakta di atas maka, disusunlah proposal untuk memanfaatkan ketapang menjadi sebuah alternatif panganan berprotein tinggi dan kewirausahaan yang berbentuk jus dan selai. Analisis usaha  SELBIPANG ini meliputi beberapa hal, yaitu :

1. Produk

Produk SELBIPANG (selai biji ketapang) ini terbuat dari bahan dasar ketapang yang merupakan penemuan baru, yaitu membuat produk baru untuk memenuhi kebutuhan pasar. Produk ini diperkirakan akan memperoleh sambutan bagus di masyarakat sekitar kampus, bahkan kota Malang secara umum karena bahan yang unik dan belum pernah ada di pasaran. Selain itu juga produk ini nikmat, enak dan tentunya yang paling penting kaya akan gizi, terutama kandungan akan protein yang dimilikinya. Produk ini mempunyai tekstur yang hampir tidak berbeda dengan jus dan selai yang beredar dipasaran namun keunggulan produk ini adalah bahan dasarnya yang terbuat dari buah ketapang Selain itu, produk ini diperkaya dengan rasa yang unik dan berbeda dengan jus dan selai yang selama ini pernah dibuat.

  1. Harga

Produk SELBIPANG dengan bahan baku ketapang ini akan ditawarkan kepada masyarakat di sekitar kampus UMM dan masyarakat kota Malang secara umumnya selaku konsumen dengan harga yang mudah dijangkau oleh masyarakat dibandingkan dengan harga dari produk yang hampir sejenis. Hal ini disebabkan karena bahan-bahan yang diperlukan untuk produksi SELBIPANG ini berbahan alami yang dapat diperoleh dari alam dengan sangat mudah.

  1. Tempat

Lokasi produksi pembuatan SELBIPANG dengan bahan baku ketapang ini dipusatkan di kota Malang, yaitu berada di Jalan raya tlogomas diperum embong anyar RT 006 RW OO2 kecamatan dau dan area kampus UMM.

  1. Pemasaran

Produk ini akan dipasarkan di lingkungan sekitar kampus meliputi kantin kampus, Kopma dan Kopkar UMM, toko-toko di sekitar kampus, serta nantinya diharapkan menembus mal-mal di kota Malang.

  1. Promosi

Kegiatan promosi yang dapat dilakukan untuk mengenalkan produk SELBIPANG dengan bahan baku ketapang ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu :

    1. Promosi melalui brosur atau leaflet yang berisi tentang produk SELBIPANG dengan cara disebarkan di lingkungan sekitar kampus sehingga dikenal oleh masyarakat kampus tersebut.
  1. Promosi melalui media surat kabar yaitu mengenalkan produk dengan menerbitkannya dalam surat kabar kampus, bahkan juga surat kabal regional khususnya, sehingga dikenal oleh masyarakat luas.
  2. c. Promosi melalui media elektronik yaitu mengenalkan produk dengan menggunakan media elektronik melalui radio kampus UMM Fm, ataupun TV lokal yang ada di Malang dan Sekitarnya seperti Malang TV, Batu TV, ATV.melalui cara SMS. Materi yang akan disampaikan dalam iklan melalui media elektronik meliputi kandungan gizi terutama protein, rasa, kehalalan produk, dan keunikan dari produk ini yang menggunakan bahan dasar utama buah ketapang.

Strategi Pengembangan Usaha

Strategi pengembangan usaha SELBIPANG dari bahan baku buah ketapang antara lain dapat ditempuh dengan cara :

  1. Produksi SELBIPANG diharapkan kedepannya memiliki berbagai macam rasa dan bentuk sehingga produk ini akan lebih menarik. Selain itu kandungan gizinya selain protein lebih ditingkatkan agar kandungan gizi dari produk SELBIPANG ini lebih seimbang. Kedepannya juga produksi SELBIPANG akan ditingkatkan teknologi yang lebih canggih dan modern, sanitasi, higienitas alat dan bahan, serta tambahan jumlah pekerja.
  2. Produksi SELBIPANG ini kedepannya akan ditingkatkan maslah prevarensi konsumen, dimana produk ini akan diberi tambahan suplemen, zat aditif yang meliputi warna, rasa, dan tekstur untuk meningkatkan kesukaan konsumen.
  3. Lokasi produk SELBIPANG ini diharapkan akan semakin meluas seiring dengan angka penjualan yang semakin meningkat sehingga membutuhkan tempat produksi yang luas dan jumlah tenaga kerja yang besar.
  4. Pemasaran SELBIPANG diharapkan kedepannya bisa menembus pasaran di luar kota Malang khususnya di Jawa Timur dan Pulau jawa dengan cara distribusi langsung dari pabrik, maupun melalui sistem MLM (Multi Level Marketing).
  5. Promosi yang dilakukan kedepannya akan menjangkau surat kabar dan media elektronik yang bertaraf nasional agar produk lebih dikenal oleh masyarakat.

Tabel 2. Analisis Usaha  SELBIPANG

A. Investasi
No Bahan-bahan Jumlah Satuan(kg) Total
1. Bahan-bahan:

a. biji Ketapang

b. Gula

c. susu

d. minyak goreng

e. mentega

f garam

g pewarna

h daun pandan

i. tepung terigu

Labeling dan Packaging

5 kg

5 kg

5  kg

3 kg

5  kg

5 kg

5 botol

5 helai daun

10 kg

100 Bungkus

Rp.     15.000,00

Rp.     4.000,00

Rp.   15.000,00

Rp.     8.000, 00

Rp.   9.000,00

Rp.   1.500,00

Rp.   5.000,00

Rp.   100,00

Rp.     8.000,00

Rp.    5.000,00

Rp.   75.000,00

Rp.   20.000,00

Rp.   75.000,00

Rp.   27.000,00

Rp.  45.000,00

Rp.   7.500,00

Rp   25.000,00

Rp     5.00,00

Rp.   80.000,00

Rp.   500.000,00

Total Biaya Rp. 859.000,00
B. Biaya Promosi dan Pemasaran
1

2

Transportasi 3 orang x Rp.100.000,00 (2bulan)

Komunikasi 3 orang x Rp.  50.000,00 (2bulan )

Rp. 300.000,00

Rp. 150.000,00

Total biaya Rp.400.000,00
C. Penerimaan
a.  SELBIPANG: 100 bungkus/300 gr @Rp.15.000,00 Rp. 1.500.000,00
Jumlah Rp. 1.500.000,00
D. Keuntungan C – (A+B)

1500.000– (859.000+400.000)

Rp.  241.000

R O I (Return Of Investment) =         Laba Usaha       x100%
Modal Produksi

=          Rp.  241.000x 100 % = 19.14%

Rp. 1.259.000

H. Metode Pelaksanaan Program

Untuk melaksanakan kegiatan ini maka perlu metode yang tepat dan sistematis agar dicapai hasil yang maksimal. Adapun metode yang kami formulasikan adalah sebagai berikut:

1. Pelatihan Produksi dilakukan untuk menghasilkan produk yang bermutu.

2. Uji Ketahanan Pangan: Setiap SELBIPANG yang sudah jadi akan dilihat kelayakan konsumsi dan kesesuaian, serta kesepakatan hasil. Setelah disorting, akan di beri label khusus sebagai upaya profesionalisme. Di dalam label berisi: nama produk, manfaat, kandungan gizi, masa kadaluarsa, tempat produksi, dan tahun pembuatan.

3.Pengemasan: Produk dikemas dengan rapat dan aman sehingga tidak terkontaminasi dengan udara luar, serta dimaksudkan agar produk dapat bertahan lama. Selain itu pengemasan akan dilakukan semenarik mungkin, agar konsumen lebih tertarik dengan produk.

4. Pemasaran: Sasaran pasar adalah masyarakat, mahasiswa, dan pelajar sekolah terutama yang berada di Kota Malang. Namun, sasaran awal adalah mahasiswa dan masyarakat di sekitar kampus UMM.

5.Promosi baik di media cetak maupun media elektronik bertujuan untuk memperkenalkan produk yang baru kepada masyarakat sehingga masyarakat tersebut mengetahui segala tentang produk yang ditawarkan.

Pelatihan pembuatan “ SELBIPANG “ Produks I
Uji Ketahanan Pangan
promosi
Pemasaran
Packing

Bagan 1. Diagram Alur Metode Pelaksanaan  Kegiatan

  • CARA PENGOLAHAN PRODUK SELBIPANG:

Bahan:

-      Biji Kapang                 5 kg    

-      Tepung Terigu             20 kg              

-       Minyak goreng           5 kg

-       Gula                           10kg

-      mentega                      5kg

-      garam                          2kg

-      pewarna                      5botol

-      pandan                        5helai daun

Alat :

-   Gas LPG                   1 tabung

-   blender                      1 buah

-   kompor gas               1 buah

- Tempat penggorengan 1 buah

- penggorengan              1 buah

- baskom                        1 buah

-sendok pengaduk         3 buah

Cara kerja:

Teknik pembuatan  SELBIPANG  adalah sebagai berikut:

  • Campur biji ketapang dan susu cair, masak hingga mendidih dan biji lunak, angkat.
  • Blender biji rebus hingga lembut lalu masak hingga kental.
  • Tambahkan mentega, aduk rata. Masak hingga kalis, tambahkan gula pasir.
  • Aduk rata, masak hingga gula larut, dan selai kalis. Angkat, dinginkan.
  • Simpan dalam wadah dari kaca yang telah disterilkan.

I. Jadwal Kegiatan Program

Tabel 2. Jadwal Kegiatan Program

Kegiatan Bulan Ke-
1 2
1. Persiapan
ü  Perijinan X
ü  Persiapan dan Penetapan lokasi usaha X
ü  Persiapan alat dan bahan usaha Xx
ü  Promosi dan strategi pengadaan usaha Xxx
ü  Evaluasi tahap pertama X
2. Pelaksanaan
ü  Penjaringan konsumen Xxxxx
ü  Pelayanan dan pemasaran xxxxx
ü  Pengembangan usaha dan investasi xxxXx
ü  Evaluasi tahap kedua X
3. Kegiatan Bimbingan
ü  Pelaporan kegiatan usaha xxx
ü  Monitoring dengan evaluasi pelaksanaan usaha X
ü  Pengembangan usaha berdasarkan hasil monitoring Xxx

J. Rencana Pembiayaan

Tabel 3. Estimasi Dana Kegiatan

No Jenis Kegiatan Anggaran
A. Pra Kegiatan
1 Perijinan Rp.     500.000,00
2 Persiapan lokasi Rp.     700.000,00
3 Persiapan Alat dan Bahan Rp.     250.000,00
4 Promosi/publikasi Rp.     500.000,00
5 Pengadaan proposal Rp.     450.000,00
B. Pelaksanaan
1 Bahan Habis Pakai:

Biji ketapang 17 kg x Rp. 15.000,00

Tepung Terigu 30 kg x Rp. 6.000,00

Mentega  8 kg x Rp. 9.000,00

Susu bubuk 15 kg x Rp. 30.000,00

Gula halus 30 kg x Rp. 4.000,00

Garam 0.1 kg x Rp. 5.000,00

Gas LPG 2 tabung x Rp. 75.000,00

Blender  2 buah

penggorengan  5 buah x Rp. 75.000,00

Baskom  5 buah x Rp. 10.000,00

Sendok pengaduk 10 x Rp 25.000,00

Labelling + Pengemasan 100 bungkus x Rp. 5.000,00

Rp.      255.000,00

Rp.     180.000,00

Rp.     79.000,00

Rp.     450.000,00

Rp.      140.000,00

Rp.          1.500,00

Rp.       150.000,00

Rp.   2.000.000,00

Rp.       375.000,00

Rp.         50.000,00

Rp        250.000,00

Rp.       500.000,00

2 Transportasi (2 bulan) Rp.     300.000,00
3 Komunikasi (2 bulan) Rp.     150.000,00
4 Dokumentasi (2 bulan) Rp.     500.000,00
5 Promosi Rp.     500.000,00
6 Administrasi dan managemen Rp      500.000,00
C. Laporan
1 Penyusunan laporan Rp.     500.000,00
2 Penggandaan laporan Rp.     500.000,00
Jumlah Rp. 9.780.500,00

Lampiran 2

– Analisis SWOT Usaha SELBIPANG

a. Kelebihan (Strenght)

Dalam aktivitas sehari-hari masyarakat tidak luput dari aktivitas makan. Makan dapat di bagi menjadi dua, yaitu: makan utama yang lebih di kenal dengan makan nasi dan ngemil (menyantap makanan di luar makan utama). Karena aktifitas yang kita lakukan begitu besar, maka dibutuhkan energi dan kalori yang besar pula untuk keseimbangan nutrisi tubuh kita. Menurut Apriadji (2001), ngemil merupakan pola makan yang sehat karena mampu menambah kadar gula darah yang ada dalam tubuh ketika kita dalam kondisi lapar.

Umumnya makanan berupa snack, camilan khususnya biskuit masih sedikit yang mempunyai kandungan gizi yang tinggi terutama kandungan proteinnya, sehingga selama ini makanan terutama berupa camilan seperti biskuit yang dikonsumsi masyarakat masih rendah kandungan gizinya terutama proteinnya. Sehingga produk SELBIPANG mempunyai peluang tinggi untuk digemari oleh masyarakat karena produk ini menawarkan biskuit yang selain mempunyai rasa yang enak, gurih, Halalan Thayiban serta kaya dengan kandungan potein yang berasal dari ketapang. Selain itu, dengan market yang jelas yaitu masyarakat yang suka akan makanan ringan terutama daerah Malang yang berhawa dingin membuat prospek dari produk ini sangat bagus dan menjanjikan.

  1. a. Kelemahan (Weakness)

Dalam pembuatan produk ini membutuhkan biaya yang cukup besar. Hal ini dikarenakan untuk pembelian berbagai macam alat seperti blender, mixer, dan lian-lain. Selain itu juga tenaga SDM yang dibutuhkan cukup banyak dan harus terlatih terutama dalam hal produksi, packing, dan budidaya rayap.

Selain itu juga masih banyaknya anggapan dari masyarakat bahwa ketapang itu bauah yang tidak berguana dan merugikan bagi mereka, menyebabkan masyarakat sedikit apatis, dan juga adanya asumsi bahwa camilan seperi jus dan selai mempunyai kandungan gizi yang rendah. Oleh karena itu, pengusul ingin mengubah asumsi dari masyarakat tentang rayap dengan membuat  camilan yang berasal dari ketapang dengan mengusulkan produk SELBIPANG, yang terbuat dari buah ketapang, yang mempunyai kandungan gizi terutama protein yang tinggi dan rasa yang unik.

  1. Kesempatan (Opportunity)

Dengan pertimbangan modal usaha yang dapat ditekan seminimal mungkin terutama dalam hal pembudidayaan ketapang maka usaha ini diharapkan akan menghasilkan keuntungan yang sangat tinggi dibandingkan dengan produk yang sejenis. Selain itu, dengan kecendrungan masyarakat yang gemar akan makanan ringan yang bergizi tinggi maka produk ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan dan akan menyerap banyak tenaga kerja.

  1. Tantangan atau Ancaman (Thread)

Tantangan yang akan dihadapi oleh pengusul diantaranya adalah kesiapan konsumen dalam menerima produk ini karena produk ini masih baru dan mengunakan bahan dasar ketpang. Selan itu, dengan kenaikan bahan baku akhir-akhir ini maka, pendanaan untuk produk ini juga akan meningkat.

  • Daftar Riwayat Hidup Ketua dan Anggota

05/05/2010 Posted by | Contoh PKM | 8 Komentar

“Dokun Doughnuts” Donat Sukun Kaya Gizi

  1. A. Judul Program

“Dokun Doughnuts” Donat Sukun Kaya Gizi

  1. Latar Belakang

Tahun 2008, Indonesia mendapat ranking 1 di Asia dalam jumlah pengangguran tertinggi. Hal ini dianggap mengancam stabilitas kawasan Asia mengingat secara keseluruhan jumlah penduduk Indonesia lebih besar daripada Negara-negara tetangga. Meskipun ditengarai turun sekitar 9% dari tahun 2007, tapi secara umum angka ini tetap saja dianggap yang tertinggi di Asia. Banyak sumber memberi prediksi akan naiknya angka pengangguran di Indonesia pada tahun 2009 sekitar 9%. Angka pengangguran terbuka di Indonesia per Agustus 2008 mencapai 9,39 juta jiwa atau 8,39 persen dari total angkatan kerja. Angka pengangguran turun dibandingkan posisi Februari 2008 sebesar 9,43 juta jiwa(8,46 persen).

Angka pengangguran di Indonesia pada tahun 2009 diprediksi bertambah sekitar 2 juta orang. Prediksi itu berdasar hitungan sesuai asumsi pertumbuhan ekonomi dan angkatan tenaga kerja baru.  Ekonom Bank Danamon Anton Gunawan menjelaskan, tambahan pengangguran karena turunnya pertumbuhan ekonomi tahun 2009 bisa mencapai 600 ribu orang. Pada bulan November 2008 Depnakertrans mengatakan ada 20.000 pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Berdasarkan analisa ILO, pada bulan Januari 2009, jumlah pengangguran telah mencapai 24.000 orang dan diprediksi akan meningkat menjadi 26.000 pekerja yang kemungkinan dikenai PHK.

Selain itu Badan Pusat Statistik melakukan survei tenaga kerja setiap Februari dan Agustus setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, pengangguran dengan gelar sarjana sekitar 12,59%. Jadi bisa dibayangkan berapa jumlahnya bila angka tersebut naik sekitar 9%.Dari data di atas, sudah sangat jelas Indonesia mempunyai permasalahan yang tidak ringan dalam mengatasi pengangguran, utamanya yang bergelar sarjana. Sudah kuliah bayar mahal, ujung-ujungnya menganggur juga. Bila tidak segera diatasi, angka ini bukannya semakin turun tapi akan melonjak naik. Apalagi bila mengingat tiap tahun ada dua gelombang wisuda di tiap Perguruan Tinggi (PT), maka tinggal mengalikan saja jumlah tersebut dengan jumlah PT di Indonesia. Bagi sarjana yang sudah mendapat pekerjaan pun, nasib mereka masih terancam juga dengan PHK mengingat kondisi perekonomian Indonesia yang masih saja belum bangkit dari keterpurukan.

Menurut Dirjend Pendidikan Tinggi, Fasli Jalal (2008), saat ini di Indonesia ada 740.206 lulusan perguruan tinggi menganggur. Mereka terdiri dari 151.085 lulusan D1 atau D2, 179.231 lulusan D3 dan 409.890 lulusan universitas. Jumlah penganggur tersebut tidak bekerja karena kompentensi tidak sesuai, lulusan yang tidak terserap, memilih untuk tidak bekerja atau mahasiswa lulusan dari program studi yang sudah jenuh. Lulusan dari program studi tersebut, sangat banyak, namun kurang dibutuhkan dalam dunia kerja.

Sedangkan menurut Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM), Ari Sudjito (2008), yang juga Direktur Institute for Research and Empowernment (IRE), menjamurnya lulusan S1 dan S2 dari perguruan tinggi negeri dan swasta yng menganggur saat ini, dinilai sebagai bentuk kegagalan dunia pendidikan dalam menghasilkan kualitas lulusan. Banyaknya pengangguran ini bukti tidak adanya sinergi positif antara sistem pendidikan dan lapangan kerja. PTN dan PTS punya orientasi sendiri, sementara dunia kerja punya orientasi sendiri, sehingga banyak yang menganggur.

Menurut Budiyanto (2007) mahasiswa merupakan Agent of Community Enpowerment, harus terlibat dalam pemecahan masalah pembangunan daerah dan nasional untuk kesejahteraan masyarakat dan harus mendapatkan pengalaman empirik untuk mengelola pemecahan masalah pembangunan daerah dan nasional untuk kesejahteraan masyarakat. Mahasiswa juga merupakan aset bangsa sehingga dituntut untuk aspiratif, akomodatif, responsif, dan reaktif menjadi problem solver terhadap permasalahan pembangunan. Selain itu, mahasiswa sebagai Agent Of Change sepatutnya  memiliki semangat bekerja dan cita-cita tinggi untuk sukses dalam berbisnis seperti para pengusaha bahkan lebih. Di era globalisasi ini, mahasiswa lebih dituntut agar mampu mengembangkan potensinya sehingga memiliki daya saing tinggi dalam masyarakat sebagai bentuk pengabdian ketika berada di dunia masyarakat yang lebih kompleks daripada di kampus.

Oleh karena itu, kemampuan dan kemauan untuk membuka usaha bukan hanya didominasi kalangan swasta, mahasiswa selayaknya juga memiliki etos kerja sebaik para pengusaha atau bahkan lebih. Di era sekarang, bukan zamanya mahasiswa melulu kuliah. Berbagai aktifitas diluar kegiatan sebagai praktik perkuliahan terbukti bisa mendukung penguasaan materi kuliah bahkan bisa menghasilkan pendapatan yang menjanjikan.

Keberadaan Dokun Donughts di masyarakat belum begitu dikenal bahkan asing karena makanan ini merupakan sesuatu yang baru, original dan akan diperkenalkan menjadi daftar menu makanan yang harus dibeli karena bahan dasarnya merupakan buah yang tidak asing dan mempunyai gizi yang tinggi yaitu sukun. Dari bahan dasar tersebut dapat menjadi salah satu pemikat bagi konsumen.

Harganya yang murah, merek yang unik, serta bahan yang sederhana dan alami bisa menjadi suatu daya tarik dari publik untuk mengkonsumsi Dokun Donughts ini. Berbagai rasa ditawarkan sesuai dengan selera konsumen, mulai dari diberi taburan coklat, keju dan berbagai macam lainnya yang tidak ketinggalan menambah cita rasa dari Dokun Doughnuts.

Tanaman sukun terdapat di berbagai wilayah di Indonesia, dan dikenal dengan berbagai nama seperti, Suune (Ambon), Amo (Maluku Utara), Kamandi, Urknem atau Beitu (Papua), Sukun merupakan tanaman tahunan yang tumbuh baik pada lahan kering (daratan), dengan tinggi pohon dapat mencapai 10 m atau lebih. Buah muda berkulit kasar dan buah tua berkulit halus. Daging buah berwarna putih agak krem, teksturnya kompak dan berserat halus. Rasanya agak manis dan memiliki aroma yang spesifik. Berat buah sukun dapat mencapat 1 kg per buah.

Tanaman sukun dapat tumbuh dan dibudidayakan pada berbagai jenis tanah mulai dari tepi pantai sampai pada lahan dengan ketinggian kurang lebih 600 m dari permukaan laut. Sukun juga toleran terhadap curah hujan yang sedikit maupun curah hujan yang tinggi antara 80 – 100 inchi per pertahun dengan kelembaban 60 – 80%, namun lebih sesuai pada daerah-daerah yang cukup banyak mendapat penyinaran matahari. Tanaman sukun tumbuh baik di tempat yang lembab panas, dengan temperatur antara 15 – 38 °C.

Sukun dalam bentuk segar maupun tepung mempunyai nilai gizi utama yang tidak kalah dengan bahan pangan lain. Selain itu, buah sukun juga kaya akan unsur-unsur mineral dan vitamin yang sangat  tubuh, yaitu kalsium (Ca), Fosfor (P), Zat besi (Fe), vitamin B1, B2 dan vitamin C. Buah sukun juga mengandung asam amino esensial yang tidak diproduksi oleh tubuh manusia, seperti histidine, isoleusin, lysine, methionin, triptophan, dan valin. Jika dibandingkan dengan pangan sumber karbohidrat lainnya, dalam beberapa hal, sukun memiliki keunggulan, yaitu: kandungan protein sukun segar lebih tinggi daripada ubi kayu, begitu pula kandungan karbohidratnya, lebih tinggi dari ubi jalar atau kentang, dan dalam bentuk tepung, nilai gizinya kurang lebih setara dengan beras.

Tabel 1. Kandungan Gizi Sukun

Sumber: FAO, 1972 dalam Widayati E, dan W. Damayanti 2000.

Sukun dapat digunakan sebagai pilihan dalam diet rendah kalori, mengingat kandungan kalori buah sukun lebih rendah dibanding beras, namun memiliki vitamin dan mineral yang lebih lengkap. Selain itu kandungan seratnya yang cukup tinggi baik untuk sistem pencernaan. Bagian-bagian lain dari tanaman sukun yang telah diketahui sangat bermanfaat bagi manusia adalah biji, bunga dan daunnya. Di Melanesia dan New Guinea bijinya dapat disangrai atau direbus seperti chestnut. Bunganya dapat diramu sebagai obat yakni untuk menyembuhkan sakit gigi dengan cara dipanggang lalu digosokkan pada gusi yang giginya sakit.

Dokun Doughnuts merupakan produk makanan berupa donat yang berbahan dasar sukun dimana sukun yang dikupas, dicuci, dan dikukus sampai matang lalu haluskan. sukun tersebut dicampur dengan telur, gula, mentega, tepung terigu dan aduk sampai tidak lengket. bentuk adonan menjadi donat dan goreng sampai berwarna kecoklatkan dan tiriskan setelah dingin oleskan mentega, taburi gula halus dan misis atau taburan lainnya yang sesuai dengan selera konsumen. Karena bahannya yang murah dan jarang untuk dimanfaatkan di masyarakat, maka penulis ingin menunjukkan bahwa bahan yang awalnya bernilai jual rendah ternyata mampu menjadi produk yang bernilai jual setelah diolah menjadi makanan yaitu berupa donat.

Pemilihan sukun sebagai bahan untuk pembuatan donat selain meningkatkan nilai jual dari sukun yang sebelumnya dianggap rendah juga untuk mensukseskan program pemerintah terutama Departemen Kehutanan untuk mengantikan tepung terigu yang sampai saat ini masih impor dan juga antisipasi terhadap terjadinya krisis pangan di dunia. Selain itu kandungan gizi dari sukun yang lebih tinggi dibandingkan terigu yang terbuat dari gandum, terutama kandungan Lysine dan Asam amino. Di samping itu hasilnya untuk pembuatan kue, roti atau donat lebih bagus dibandingkan dengan bahan baku terigu.

  1. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas dapat dikemukakan permasalahan yaitu:

  1. Bagaimana cara pengolahan donat dari bahan sukun?
  2. Bagaimana bentuk usaha dari “Dokun Doughnuts” ?
  3. Bagaimana cara pemasaran dari usaha “Dokun Doughnuts”?
  4. Bagaimana cara pengembangan “Dokun Doughnuts” di masa yang akan datang?
  5. D. Tujuan Program

Tujuan program ini adalah:

  1. Untuk mengolah donat dari bahan sukun yang tinggi gizi.
  2. Untuk membuat bentuk usaha yang tepat bagi usaha “Dokun Doughnuts”.
  3. Untuk memasarkan usaha “Dokun Doughnuts” kepada masyarakat sebagai alternatif makanan yang kaya gizi.
  4. Untuk cara pengembangan “Dokun Doughnuts” dimasa yang akan datang.

E   . LUARAN YANG DIHARAPKAN

Luaran yang diharapkan dari adanya usaha “Dokun Doughnuts” ini adalah:

  1. Dapat menghasilkan produk “Dokun Doughnuts” dengan meningkatkan nilai gizi, dan organoleptik dalam produk agar diterima masyarakat.
  2. Dapat menghasilkan produk jasa, dimana sebagai pendamping dalam pembentukan usaha kepada masyarakat yang berminat mengembangkan produk ini.
  3. Setelah kedua luaran di atas berhasil, maka usaha ini juga dapat memberi lapangan pekerjaan yang baru kepada masyarakat.

F. Kegunaan Program

Usaha ini memiliki berbagai macam kegunaan diantaranya:

1. Aspek Ekonomi

  1. Dapat memberi lapangan pekerjaan yang baru.
  2. Dapat memberikan alternatif panganan yang bergizi tinggi kepada masyarakat.

2. Aspek Akademis

Memberikan kesempatan kepada mahasiswa FKIP Biologi UMM mengaplikasikan kegiatan kuliah untuk diangkat ke dalam kegiatan kewirausahaan, menerapkan mata kuliah dari Jurusan Pendidikan Biologi bidang studi kewirausahaan, pengolahan pangan, dan ilmu gizi.

3. Aspek Ketenagakerjaan

Kecenderungan masyarakat untuk mencari makanan yang murah, enak dan bergizi semakin nyata, karena kebosanan yang telah melanda masyarakat terhadap berbagai makanan yang monoton dan tidak menawarkan gizi yang baik untuk masyarakat bahkan seringkali justru mengancam kesehatan masyarakat. Hal ini menyebabkan usaha “Dokun Doughnuts cocok dikembangkan di sekitar kampus UMM, bahkan kota malang dan Jawa Timur secara umum.

Kondisi ini bisa dimanfaatkan dengan mengembangkan usaha melalui penambahan alat dan tenaga kerja bahkan membuka cabang perusahaan. Selain itu usaha ini dapat menjadi wadah atau sarana bagi pengembangan jiwa kewirausahaan kepada mahasiswa.

G. Gambaran Umum Rencana Usaha

G.1 Gambaran Umum Kondisi Masyarakat

Masyarakat di kota Malang dapat diasumsikan sebagai masyarakat yang konsumtif terutama dalam bidang makanan atau camilan hal ini ditunjukan dari banyaknya alternatif makanan yang tersedia di kota ini. Selain itu dari sekian banyak aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat dibutuhkan energi yang ekstra dan energi tersebut tidak cukup hanya dengan makan nasi saja sebagai makanan utama, tapi perlu asupan makanan ringan sebagai penambah kalori dan energi.

Menurut para peneliti bahwa konsumsi makanan dalam jumlah kecil namun dengan frekuensi yang sering bersifat cukup baik untuk aktivitas fisik dibandingkan dengan menghindari konsumsi sarapan harian atau makan dalam jumlah yang besar di siang hari (www.info-sehat.com). Namun, demi kesehatan juga kita harus pintar dalam memilih makanan yang tidak merugikan bagi kesehatan kita.

Dari segi kesehatan seperti inilah banyak kekhawatiran muncul dikalangan masyarakat. Hal ini karena makanan yang ditawarkan di kota Malang belum tentu baik dikonsumsi untuk kesehatan oleh masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari bahan baku, pengunaan bahan pengawet dan pewarna buatan yang dalam jangka waktu lama akan menyebabkan penyakit bagi masyarakat. Oleh karena itu kami menjawab tantangan ini dengan membuat sebuah produk yang bernama “Dokun Doughnuts yang berasal dari sukun sebuah tanaman yang mempunyai nilai gizi tinggi.

G.2 Gambaran Umum Sukun

1. Klasifikasi

Kingdom              : Plantae

Divisio                  : Magnoliophyta

Class                     : Magnoliopsida

Ordo                     : Urticales

Familia                 : Moraceae

Genus                   : Artocarpus

Spesies                 : Artocarpus communis

2. Morfologi tanaman

Artocarpus communis (sukun) adalah tumbuhan dari genus Artocarpus dalam famili Moraceae yang banyak terdapat di kawasan tropika seperti Malaysia dan Indonesia. Ketinggian tanaman ini bias mencapai 20 meter (Mustafa, A.M., 1998). Di pulau Jawa tanaman ini dijadikan tanaman budidaya oleh masyarakat. Buahnya terbentuk dari keseluruhan kelopak bunganya, berbentuk bulat atau sedikit bujur dan digunakan sebagai bahan makanan alternatif (Heyne K, 1987). Sukun bukan buah bermusim meskipun bias anya berbunga dan berbuah dua kali setahun. Kulit buahnya berwarna hijau kekuningan dan terdapat segmen-segmen petak berbentuk poligonal. Segmen poligonal ini dapat menentukan tahap kematangan buah sukun (Mustafa, A.M.,1998).

3. Kandungan kimia dan manfaat tanaman

Buah sukun mengandung niasin, vitamin C, riboflavin, karbohidrat, kalium, thiamin, natrium, kalsium, dan besi (Mustafa, A.M.,1998). Pada kulit kayunya ditemukan senyawa turunan flavanoid yang terprenilasi, yaitu artonol B dan sikloartobilosanton. Kedua senyawa terebut telah diisolasi dan diuji bioaktivitas antimitotiknya pada cdc2 kinase dan cdc25 kinase (Makmur, L., et al., 1999). Kayu yang dihasilkan dari tanaman sukun bersih dan berwarna kuning, baik untuk digergaji menjadi papan kotak, dapat digunakan sebagai bahan bangunan meskipun tidak begitu baik. Kulit kayunya digunakan sebagai salah satu bagian minuman di Ambon kepada wanita setelah melahirkan (Heyne K, 1987). Flavanoid adalah senyawa polifenol yang secara umum mempunyai struktur phenylbenzopyrone (C6-C3-C6). Flavanoid dan derivatnya terbukti memiliki aktivitas biologi yang cukup tinggi sebagai cancer prevention. Berbagai data dari studi laboratorium, investigasi epidemiologi, dan uji klinik pada manusia telah menunjukkan bahwa Flavanoid memberikan efek signifikan sebagai cancer chemoprevention dan pada chemotheraphy (Ren, W., et al., 2003).

Tabel 3. Kandungan Gizi Sukun

Melihat fakta-fakta di atas maka, disusunlah proposal untuk memanfaatkan sukun menjadi sebuah alternatif panganan berprotein tinggi yang berbentuk donat. Analisis usaha Dokun Doughnuts ini meliputi beberapa hal, yaitu :

  • Produk

Produk Dokun Doughnuts ini terbuat dari bahan dasar sukun yang merupakan jenis penemuan baru, yaitu membuat produk baru untuk memenuhi kebutuhan pasar. Produk ini diperkirakan akan memperoleh sambutan bagus di masyarakat dengan berdasarkan pada produk yang sama tapi dari bahan dasar yang berbeda tanpa diragukan lagi tentang rasa, dan kehalalannya. Selain itu juga, produk ini bisa dinikmati oleh masyarakat karena menyehatkan dan tidak mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan. Produk ini juga akan dibikin dengan mengikuti selera masyarakat sehingga akan member nilai tambah bagi produk ini.

  • Ø Harga

Produk Dokun Doughnuts dengan bahan baku sukun ini akan di tawarkan kepada masyarakat umum di kota Malang selaku konsumen dengan harga yang mudah di jangkau oleh masyarakat. Hal ini disebabkan karena bahan-bahan yang diperlukan untuk produksi Dokun Doughnuts ini berbahan alami yang dapat diperoleh di alam dan tidak beresiko bagi kesehatan.

  • Ø Tempat

Lokasi produksi pembuatan Dokun Doughnuts dengan bahan baku sukun ini dipusatkan di Kota Malang sebagai tempat pengembangan sukun (Artocarpus comunis). Sedangkan untuk saluran distribusinya dilakukan di berbagai toko, koperasi di sekitar kampus UMM dan akan semakin berkembang hingga ke penjuru kota.

  • Ø Pemasaran

Produk ini akan dipasarkan di lingkungan sekitar kampus meliputi kantin kampus, Kopma dan Kopkar UMM, toko-toko di sekitar kampus, serta nantinya diharapkan menembus mal-mal di kota Malang.

  • Ø Promosi
    1. Promosi melalui brosur atau leaflet yang berisi tentang produk Dokun Doughnuts dengan cara disebarkan di lingkungan sekitar kampus sehingga dikenal oleh masyarakat kampus dan Malang secara umum.
  1. Promosi melalui media surat kabar yaitu mengenalkan produk dengan menerbitkannya dalam surat kabar kampus, bahkan juga surat kabal regional khususnya, sehingga dikenal oleh masyarakat luas.
  2. Promosi melalui media elektronik yaitu mengenalkan produk dengan menggunakan media elektronik melalui radio kampus ataupun TV lokal yang ada di Malang dan Sekitarnya, melalui cara SMS. Materi yang akan disampaikan dalam iklan melalui media elektronik meliputi kandungan gizi, rasa, kehalalan produk, dan keunikan dari produk ini yang menggunakan bahan dasar utama sukun.

Strategi Pengembangan Usaha

Strategi pengembangan usaha Dokun Doughnuts dari bahan baku sukun, antara lain dapat di tempuh dengan cara:

  1. Produksi Dokun Doughnuts diharapkan kedepannya memiliki berbagai macam rasa dan bentuk sehingga produk ini akan lebih menarik. Selain itu kandungan gizinya lebih ditingkatkan agar kandungan gizi dari produk Dokun Doughnuts ini lebih seimbang. Kedepannya juga produksi Dokun Doughnuts akan ditingkatkan teknologi yang lebih canggih dan modern, sanitasi, higienitas alat dan bahan, serta tambahan jumlah pekerja.
  2. Produksi Dokun Doughnuts ini kedepannya akan ditingkatkan maslah prevarensi konsumen, dimana produk ini akan diberi tambahan suplemen, zat aditif yang meliputi warna, rasa, dan tekstur untuk meningkatkan kesukaan konsumen.
  3. Lokasi produk Dokun Doughnuts ini diharapkan akan semakin meluas seiring dengan angka penjualan yang semakin meningkat sehingga membutuhkan tempat produksi yang luas dan jumlah tenaga kerja yang besar.
  4. Pemasaran Dokun Doughnuts diharapkan kedepannya bisa menembus pasaran di luar kota Malang khususnya di Jawa Timur dan Pulau JAWA dengan cara distribusi langsung dari pabrik, maupun melalui sistem MLM (Multi Level Marketing).
  5. Promosi yang dilakukan kedepannya akan menjangkau surat kabar dan media elektronik yang bertaraf nasional agar produk lebih dikenal oleh masyarakat.

Analisis Usaha  Dokun Doughnuts

A. Investasi
No Bahan-bahan Jumlah Satuan(kg) Total
1.

2.

Bahan-bahan:

a. Sukun

b. Mentega

c.Minyak Goreng

d. Telur

e. Gula

f. Garam

g. Misis

h. Coklat Batang

i. Keju

j. Kacang

k.fermivan

a. Packaging

b.Labelling

100 Biji

20 kg

20 L

5 kg

10 kg

10 Bungkus

3 kg

3 kg

2 kg

3 kg

1 kg

2 Bungkus besar

2 Buah

Rp.     3.000,00

Rp.   8.000,00

Rp.    15.000,00

Rp.    12.000,00

Rp.   8.000,00

Rp.    1.000,00

Rp.     20.000,00

Rp.    30.000,00

Rp.    30.000,00

Rp.    15.000,00

Rp.    10.000,00

Rp.     15.000,00

Rp.         500,00

Rp.   300.000,00

Rp.   160.000,00

Rp.   300.000,00

Rp.     300.000,00

Rp.    80.000,00

Rp.      10.000,00

Rp.     60.000,00

Rp.    90 .000,00

Rp.    60.000,00

Rp.      45.000,00

Rp.       10.000,00

Rp.    30.000,00

Rp.     1.000,00

Total Biaya Rp. 1.446.000 ,00
B. Biaya Promosi dan Pemasaran
1

2

3

Transportasi 4 orang x Rp.150.000,00 (5 bulan)

Komunikasi 5 orang x Rp.  20.000,00 (5 bulan )

Promosi (baliho, brosur, iklan di media cetak dan elektronik)

Rp. 450.000,00

Rp. 100.000,00

Rp. 500.000,00

Total biaya Rp.1.050.000,00
C. Penerimaan
a.  Dokun Doughnut: 2000 Buah @ Rp. 1.500,00 Rp. 3.000.000,00
Jumlah Rp. 3.000.000,00
D. Keuntungan C – (A+B)

3.000.000– (1.446.000+1.050.000)

Rp.    504.000

R O I (Return Of Investment) =         Laba Usaha       x 100%
Modal Produksi

=          Rp.   504.000 x 100 %  =  20,19%

Rp. 2.496.000

H. METODE PELAKSANAAN PROGRAM

Untuk melaksanakan kegiatan ini maka perlu metode yang tepat dan sistematis agar dicapai hasil yang maksimal. Adapun metode yang kami formulasikan adalah sebagai berikut:

1. Pelatihan Produksi dilakukan untuk menghasilkan produk yang `bermutu.

2. Uji Ketahanan Pangan: Setiap Dokun Doughnuts yang sudah jadi akan dilihat kelayakan konsumsi dan kesesuaian, serta kesepakatan hasil. Setelah disorting, akan di beri label khusus sebagai upaya profesionalisme. Di dalam label berisi: nama produk, manfaat, kandungan gizi, masa kadaluarsa, tempat produksi, dan tahun pembuatan.

3. Pengemasan: Produk dikemas dengan rapat dan aman sehingga tidak terkontaminasi dengan udara luar, serta dimaksudkan agar produk dapat bertahan lama. Selain itu pengemasan akan dilakukan semenarik mungkin, agar konsumen lebih tertarik dengan produk.

4. Pemasaran: Sasaran pasar adalah masyarakat, mahasiswa, dan pelajar sekolah terutama yang berada di Kota Malang. Namun, sasaran awal adalah mahasiswa dan masyarakat di sekitar kampus UMM.

5. Promosi baik di media cetak maupun media elektronik bertujuan untuk memperkenalkan produk yang baru kepada masyarakat sehingga masyarakat tersebut mengetahui segala tentang produk yang ditawarkan.

Uji Ketahanan Pangan
Pelatihan pembuatan “Dokun Doughnuts “ Produks I
Packing
promosi
Pemasaran

Bagan 1. Diagram Alur Metode Pelaksanaan  Kegiatan

I. JADWAL KEGIATAN PROGRAM

Kegiatan Bulan Ke-
1 2 3 4 5
1. Persiapan
ü  Perijinan X
ü  Persiapan dan Penetapan lokasi usaha X
ü  Persiapan alat dan bahan usaha Xx
ü  Promosi dan strategi pengadaan usaha Xxx
ü  Evaluasi tahap pertama X
2. Pelaksanaan
ü  Penjaringan konsumen X xxxx
ü  Pelayanan dan pemasaran xxx Xx
ü  Pengembangan usaha dan investasi xxx Xx
ü  Evaluasi tahap kedua X
3. Kegiatan Bimbingan
ü  Pelaporan kegiatan usaha xxx
ü  Monitoring dengan evaluasi pelaksanaan usaha X
ü  Pengembangan usaha berdasarkan hasil monitoring Xxx
  • CARA PENGOLAHAN PRODUK DOKUN DOUGHNUTS :
  1. 1. Pembuatan Tepung Sukun

ü  Buah Sukun Dibersihkan, dikupas, dan kemudian dicuci kembali.

ü  Setelah bersih buah sukun diiris tipis-tipis dan dijemur hingga kemudian mongering.

ü  Setelah mongering sukun yang berupa gaplek kemudian ditumbuk hingga halus kemudian diayak

ü  Setelah diayak sukun tadi dijemur lai hingga mongering dan berbentuk tepung.

  1. 2. Pembuatan Donat Sukun
  • Sukun dikupas, dicuci, dan dikukus sampai matang lalu haluskan.
  • Sukun tersebut dicampur dengan telur, gula, mentega, tepung terigu dan aduk sampai tidak lengket.
    • Bentuk adonan menjadi donat dan goreng sampai berwarna kecoklatkan dan tiriskan
  • Setelah dingin oleskan mentega, taburi gula halus dan misis sesuai selera konsumen.

L. RENCANA PEMBIAYAAN

Tabel 3. Estimasi Dana Kegiatan

No Jenis Kegiatan Anggaran
A. Pra Kegiatan
1 Perijinan Rp.     100.000,00
2 Persiapan lokasi Rp.     200.000,00
3 Persiapan Alat dan Bahan Rp.     100.000,00
4 Promosi/publikasi Rp.     500.000,00
5 Pengadaan proposal Rp.     300.000,00
B. Pelaksanaan
1

2.

Bahan Habis Pakai:

Sukun 100 biji @ Rp.3.000,00

Mentega 20 kg @ Rp. 8.000,00

Minyak Goreng 20 L @ Rp. 15.000,00

Telur 5 kg @ Rp.12.000,00

Gula 10 kg    @ Rp. 8.000,00

Garam 10  bungkus  @ Rp. 1.000,00

Misis 3 kg @ Rp.20.000,00

Coklat Batang 3 kg @ Rp. 30.000,00

Keju 2 kg @ Rp. 30.000,00

Kacang 3 kg @ Rp. 15.000,00

Fermivan 1 kg @ Rp. 10.000,00

Peralatan Penunjang

Gas LPG 5 tabung @Rp. 75.000,00

Oven Gas 1 buah @ Rp. 250.000,00

Mixer @ Rp. 100.000,00

Penggorengan@ Rp. 100.000,00

Sutil@ Rp.5.000,00

Solet 10 buah  @Rp 4.000,00

Ayakan 4 buah  @Rp. 5.000,00

Baskom  7  buah @ Rp. 14.000,00

Penggiling 1 buah @ Rp. 3.000.000,00

Labelling 2 buah@ Rp. 15.000,00

Bungkus 2 buah@ Rp. 500,00

Rp.     300.000,00

Rp.     160.000,00

Rp.     300.000,00

Rp.     300.000,00

Rp.       80.000,00

Rp.       10.000,00

Rp.       60.000,00

Rp.       90.000,00

Rp.       60.000,00

Rp.       45.000,00

Rp.      10.000,00

Rp.       375.000,00

Rp.     250.000,00

Rp.       100.000,00

Rp.       100.000,00

Rp.         5.000,00

Rp.       40.000,00

Rp.       20.000,00

Rp.       98.000,00

Rp.   3.000.000,00

Rp.        15.000,00

Rp.             1.000,00

3 Persewaan Tempat @ Rp. 100.000/bulan x 5 Rp 500.000,00
4 Uji Gizi Rp. 100.000,00
5 Transportasi (5 bulan) Rp.     450.000,00
6 Komunikasi (5 bulan) Rp.     100.000,00
4 Dokumentasi (5 bulan) Rp.     400.000,00
5 Promosi Rp.     500.000,00
6 Administrasi dan managemen Rp      400.000,00
C. Laporan
1 Penyusunan laporan Rp.     400.000,00
2 Penggandaan laporan Rp.     400.000,00
Jumlah Rp.  10.000.000,00

M. Lampiran

- Analisis SWOT Usaha Dokun Doughnuts

a. Kelebihan (Strenght)

Keberadaan Dokun Donughts di masyarakat belum begitu dikenal bahkan asing karena makanan ini merupakan sesuatu yang baru, original dan akan diperkenalkan menjadi daftar menu makanan yang harus dibeli karena bahan dasarnya merupakan buah yang tidak asing dan mempunyai gizi yang tinggi yaitu sukun. Dari bahan dasar tersebut dapat menjadi salah satu pemikat bagi konsumen.

Harganya yang murah, merek yang unik, serta bahan yang sederhana dan alami bisa menjadi suatu daya tarik dari publik untuk mengkonsumsi Dokun Donughts ini. Berbagai rasa ditawarkan sesuai dengan selera konsumen, mulai dari diberi taburan coklat, keju dan berbagai macam lainnya yang tidak ketinggalan menambah cita rasa dari Dokun Doughnuts.

b. Kelemahan (Weakness)

Dalam pembuatan produk ini membutuhkan biaya yang cukup besar. Hal ini dikarenakan untuk pembelian berbagai macam alat seperti oven, mixer, selain itu juga tenaga SDM yang dibutuhkan cukup banyak dan harus terlatih terutama dalam hal produksi, packaging, dan pengolahan sukun.

Selain itu, banyaknya produk serupa namun berbahan dasar yang berbeda, membuat produk ini memiliki banyak kompetitor. Meskipun begitu, penulis mencoba untuk mengangkat bahan dasar dari produk ini yaitu sukun yang mempunyai nilai gizi tinggi dibandingkan produk serupa yang hanya berbahan dasar tepung terigu sehingga penulis sangat optimis kalau produk ini sangat digemari oleh masyarakat karena mempunyai nilai gizi yang tinggi.

c.   Kesempatan (Opportunity)

Dengan pertimbangan modal usaha yang dapat ditekan seminimal mungkin terutama dalam hal pengolahan sukun maka usaha ini diharapkan akan menghasilkan keuntungan yang sangat tinggi dibandingkan dengan produk yang sejenis. Selain itu, dengan kecendrungan masyarakat yang gemar akan makanan yang bergizi tinggi maka produk ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan dan akan menyerap banyak tenaga kerja.

  1. d. Tantangan atau Ancaman (Thread)

Tantangan yang akan dihadapi oleh pengusul diantaranya adalah kesiapan konsumen dalam menerima produk ini karena produk ini masih baru dan mengunakan bahan dasar sukun. Selain itu, dengan kenaikan bahan baku akhir-akhir ini maka, pendanaan untuk produk ini juga akan meningkat..

Lampiran

Denah Lokasi Usaha dan Mitra Usaha Produk Dokun Doughnuts

Jl. Notokerto

U

Rumah warga dan Kos Mahasiswa
Rumah warga dan Kos Mahasiswa

Jl. Karya Wiguna

Jl. Raya Tlogomas

05/05/2010 Posted by | Contoh PKM | 4 Komentar

KOPI BIJI DUWET (Eugenia Cumini) TWO IN ONE SEBAGAI OBAT DIABETES MELLITUS

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diabetes mellitus (DM) merupakan sindroma khas yang ditandai hiperglikemia kronik serta gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang dihubungkan dengan kekurangan insulin baik relative maupun absolute serta gangguan kerja insulin (Dalimarta, 2005).

Salah satu penyebab penyakit Diabetes Melitus adalah konsumsi zat gizi (terutama karbohidrat dan lemak) yang tidak seimbang atau berlebihan. Kelebihan asupan karbohidrat atau lemak berkaitan dengan kemampuan tubuh untuk memanfaatkannya, misalnya tubuh akan meningkatkan sekresi (pengeluaran) insulin untuk mengimbangi. Insulin berupaya menjaga kadar glukosa (gula) darah pada taraf normal. Namun bila kelebihan asupan tersebut berlangsung, akhirnya insulin tidak lagi melaksanakan tugasnya untuk menjaga kadar gula darah pada taraf normal (Rimbawan dan Siagian, 2004).

Penyakit diabetes mellitus dalam jangka panjang dapat mengakibatkan risiko gangguan lebih lanjut pada retina dan ginjal kerusakan saraf perifer dan mendorong terjadinya penyakit ateroskierosis pada jantung, kaki dan otak (Widowati, 1997).

Penyakit yang akan ditimbulkan oleh penyakit gula darah ini adalah gangguan penglihatan mata, katarak, penyakit jantung, sakit ginjal, impotensi seksual, luka sulit sembuh dan membusuk/gangren, infeksi paru-paru, gangguan pembuluh darah, stroke dan sebagainya (Anonymous, 2008).

Dari berbagai laporan didapatkan jumlah penderita diabetes mellitus semakin meningkat. International Diabetic Federation (IDF) mengestimasikan bahwa jumlah penduduk Indonesia usia 20 tahun ketas menderita DM sebanyak 5,6 juta orang pada tahun 2001 dan akan meningkat menjadi 8,2 juta pada 2020, sedang Survei Depkes 2001 terdapat 7,5 persen penduduk Jawa dan Bali menderita DM (Anonymous, 2005).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, penderita diabetes di Indonesia akan mengalami kenaikan dari 8,4 juta jiwa pada 2000, menjadi 21,3 juta jiwa pada 2030. Hal ini menjadikan Indonesia menduduki ranking ke-4 dunia, setelah Amerika Serikat, India dan Cina (Anonymous, 2008).

Tjokroprawiro (2006) menyatakan, tahun 1994 jumlah penderita diabetes mellitus minimal 2,5 juta, pada tahun 2000 menjadi empat juta, dan tahun 2010 minimal lima juta. Dan ini menunjukan suatu peningkatan yang harus diwaspadai, mengigat banyak akibat fatal yang muncul dari perkembangan penyakit tersebut.

Pengobatan diabetes mellitus dapat diatasi dengan mengkonsumsi obat-obatan hipoglikemik baik berupa suntikan maupun tablet yang dapat di minum. Tetapi harga obat-obatan hipoglikemik dan terapai medis bagi penderita diabetes mellitus sekarang ada juga yang relative mahal dan sulit didapatkan. Sebagai contoh Nutrilite Bio C Plus 100 tablet dengan dosis pemakaian 1-3 kali / hari, seharga Rp.164.000,00; nutrilite fruit dan vegetable fiber 80 tablet dengan dosis pemakaian 1-2 kali/hari seharga Rp.101.000,00; hyperglycemia high calcium powder (tianshi) 90 tablet dengan dosis pemakaian 1-3 kali/hari seharga Rp.183.500,00.”.

Berdasarkan data di atas maka diperlukan salah satu cara pengobatan alternative dengan memakai bahan obat herbal yang dimaksud adalah suatu proses penyembuhan diabetes mellitus dengan menggunakan berbagai tanaman yang berkhasiat obat (Dalimantha, 2005).

Tumbuhan obat terbukti merupakan salah satu sumber bagi bahan baku obat anti diabetes mellitus karena diantara tumbuhan obat tersebut memiliki senyawa yang berkhasiat sebagai anti diabetes mellitus (Suharmiati, 2003).

Badan POM juga menyatakan beberapa tanaman dapat digunakan untuk menurunkan kadar glukosa darah, diantaranya adalah Duwet, Alpukat, Jagung, Lamtoro, Mahoni, Salam, jambu biji, Bawang putih, Kumis kucing, Keji beling, Daun sendok dan Labu parang (Sutrisna, 2003).

Menurut Dr.C.Graeser dari Bonn, Jerman adalah orang yang pertama kali menemukan khasiat biji duwet dan ekstrak buahnya yang bisa menyembuhkan penyakit diabetes mellitus. Ekstrak buah ini diketahui tidak beracun dan dapat menyembuhkan penyakit tanpa efek negatif (Sovi, 2005).

Duwet (Eugenia cumini) mengandung beberapa senyawa kimia yang terdapat pada beberapa bagian diantaranya, pada buah terkandung senyawa penyamak tanin, minyak terbang, damar, asam gallus, dan glikosida,asam galat, triterpenoid. Pada biji terkandung senyawa tanin, asam galat, glukosida phytomelin, dan alfa-phytosterol yang bersifat anticholestemik, minyak atsiri, jambosin (alkaloid), triterpenoid.

Zat tanin, asam galat,dan senyawa alkaloid (jambosin) mempunyai kemampuan menurunkan kadar glukosa darah. Selain itu, senyawa alkaloid (jambosin) juga dapat meningkatkan konsentrasi insulin plasma.

Berangkat dari wacana diatas, maka penulis menggagaskan pengolahan  biji juwet dan cengkeh sebagai obat diabetes melitus, dengan judul “ Kopi Biji Duwet Two In One Sebagai Obat Diabetes Mellitus”.  Hal ini dalam upaya pengobatan diabetes mellitus yang semakin tinggi di Indonesia serta pemanfaatan tanaman lokal sebagai obat.

1.2 Perumusan Masalah

  1. Dapatkah kopi kopi biji duwet (Eugenia cumini) dan cengkeh (Syzygium aromaticum) digunakan sebagai obat diabetes mellitus?
  2. Bagaimanakah cara penggunaan kopi biji duwet (Eugenia cumini) dan cengkeh (Syzygium aromaticum) dalam upaya pengobatan penyakit diabetes mellitus?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui penggunaan kopi biji duwet (Eugenia cumini) dan cengkeh (Syzygium aromaticum) sebagai obat diabetes mellitus.

2. Untuk mengetahuo cara penggunaan kopi biji duwet (Eugenia cumini) dan cengkeh (Syzygium aromaticum) dalam upaya pengobatan penyakit diabetes mellitus

1.4 Manfaat

Berdasarkan paparan diatas dimulai dari latar belakang, rumusan masalah dan tujuan, maka manfaat yang diharapkan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah:

    1. Bagi masyarakat umum, penulisan karya ilmiah ini dapat dijadikan bacaan kesehatan untuk pengobatan penyakit diabetes mellitus dimana pengobatannya dikenal sangat mahal.
    2. Bagi pemerintah, informasi ini dapat membantu dalam program pengobatan penyakit diabetes mellitus dan pemanfatan tanaman tradisional sebagai obat.
    3. Bagi dunia keilmuan, penulisan karya ilmiah ini dapat memberikan sumbangan pemikiran berupa kajian-kajian literature yang kemudian dapat pula digunakan sebagai upaya kesehatan masyarakat.

1.4 Uraian Singkat

Biji duwet mempunyai kandungan berupa senyawa tanin, asam galat dan jambosin (alkaloid), dimana senyawa ini mempunyai kemampuan menurunkan kadar glukosa darah. Kandungan senyawa fenolik pada cengkeh dapat berperan sebagai antioksidan dan secara kultural biasa digunakan dalam minuman. Cengkeh juga terdapat senyawa tanin yang mempunyai kemampuan menurunkan kadar glukosa darah

Berdasarkan hal tersebut, penulis menemukan solusi baru yang lebih aman, mudah dan murah serta tidak memerlukan waktu lama untuk proses pembuatannya. Cara ini lebih efektif digunakan oleh masyarakat kalangan manapun serta dapat membantu pihak terkait terutama masalah pengeluaran biaya untuk penanganan diabetes mellitus yang saat ini memakan banyak biaya.

Diharapkan dengan pemanfaatan biji duwet dan cengkeh sebagai kopi untuk terapi pengobatan penyakit diabetes mellitus, penderita diabetes terhindar dari efek samping sebab tidak mengandung senyawa kimia berbahaya serta dapat memperkecil pengeluaran dan mempersingkat waktu pembuatan.

BAB II

TELAAH PUSTAKA

2.1       Tinjuan Umum Tanaman

2.2       Biologi Tanaman Duwet (Eugenia cumini)

2.2.1    Klasifikasi

Kingdom         : Plantae

Divisi               : Spermatophyta

Subdivisi         : Angiospermae.

Kelas               : Dicotyledonae

Bangsa                        : Myrtales

Family             : Myrtaceae

Marga              : Eugenia.

Jenis                : Eugenia cumini Merr

2.2.2 Morfologi

Pohon dengan tinggi 10-20 m ini berbatang tebal, tumbuhnya bengkok, dan bercabang banyak. Daun tunggal, tebal, tangkai daun 1-3,5 cm. Buahnya buah buni, lonjong, panjang 2-3 cm, masih muda hijau, setelah masak warnanya merah tua keunguan. Biji satu, bentuk lonjong, keras, warnanya putih (Anonymous, 2008).

Gambar 01 Buah Duwet.

2.2.3 Distribusi dan Habitat

Duwet tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 500 m dpl. Biasa ditanam di pekarangan atau tumbuh liar, terutama di hutan jati.

Tumbuhan ini dapat hidup di tanah subur yang drainasenya baik dan dapat tumbuh tidak mengenal musim. Di Indonesia duwet hampir terdapat disemua daerah, tanaman ini mudah tumbuh dimana saja, hanya membutuhkan sedikit sinar matahari, dan sedikit air, duwet dapat berkembang biak melalui bijinya, juga dengan mencangkoknya. Pohon duwet tahan terhadap kekeringan cocok ditanam di pinggir jalan sekitar sekolah atau di tempat umum seperti halaman atau kebun (Novi, 2008).

2.2.4 Manfaat

Duwet (Eugenia cumini) dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit diantaranya penyakit diabetes mellitus, ngompol (inkontinensia urin), diare, masuk angin, Batuk kronis, sesak napas (asma), batuk rejan, batuk pada TB paru disertai nyeri dada serta sariawan (Novi, 2008).

2.2.5 Kandungan Kimia

Duwet (Eugenia cumini) mengandung beberapa senyawa kimia yang terdapat pada beberapa bagian diantaranya, pada buah terkandung senyawa penyamak tanin, minyak terbang, damar, asam gallus, dan glicosida,asam galat, triterpenoid. Pada biji terkandung senyawa tanin, asam galat, glukosida phytomelin, dan alfa-phytosterol yang bersifat anticholestemik, minyak atsiri, jambosin (alkaloid), triterpenoid . Sementara itu, pada kulit pohonnya terkandung seyawa zat samak, asam galat, alkaloid (jambosin) dan jambulol, Triterpenoid, zat tanin.

2.3 Biologi Tanaman Cengkeh  (Syzygium aromaticum)

2.3.1    Klasifikasi

Kingdom         : Plantae

Divisi               : Spermatophyta

Subdivisi         : Angiospermae.

Kelas               : Dicotyledonae

Bangsa                        : Myrtales

Family             : Myrtaceae

Marga              :  Syzygium

Jenis                : Syzygium aromaticum

2.3.2 Morfologi

Pohon ini tingginya bisa lebih dari 20m dan umurnya bisa ratusan tahun. Cabang dan daunnya lebat. Daunnya lonjong berujung lancip. Panjangnya kira-kira 10cm dan lebarnya 3cm. Bunganya bergerombol diujung-ujung ranting. Kuncup bunganya diambil lalu dijemur sampai coklat kehitaman. Baunya harum pedas, selain untuk obat juga banyak digunakan untuk bumbu masak dan ramuan rokok kretek. Selain kuntum bunganya, daunnya juga dipakai dalam pengobatan.

Gambar 02  Tanaman Cengkeh.

2.3.3 Distribusi dan Habitat

Tumbuhan cengkeh akan tumbuh dengan baik pada daerah yang cukup air dan mendapat sinar matahari langsung. Di Indonesia, cengkeh cocok ditanam baik di daerah daratan rendah dekat pantai maupun di pegunungan pada ketinggian 600-1100 meter di atas permukaan laut dan di tanah yang berdrainase baik.

2.3.4 Manfaat

Kandungan senyawa fenolik pada cengkeh dapat berperan sebagai antioksidan dan secara kultural biasa digunakan dalam minuman. Selain itu, di dalam cengkeh juga terdapat senyawa tanin. Dimana senyawa ini  mempunyai kemampuan menurunkan kadar glukosa darah ( Suharmiati, 2003).

2.3.5 Kandungan Kimia

Cengkeh  (Syzygium aromaticum) memiliki kandungan antara lain minyak asiri 16-20% (terdiri dari eugenol 80%, asetil eugenol, iso-eugenol, eugenin, iso-eugenitin, kariolifen, furfural, metil amil keton), vanilin, eugenin, tanin, gom, serat, asam galotanat, dan kalsium oksalat.

2.4 Tinjuan Umum Diabetes Mellitus (DM).

2.4.1 Pengertian

Diabetes mellitus (DM) atau biasa disebut diabetes adalah penyakit kronik yang timbul karena terlalu banyak glukosa (Gula) dalam darah (kadar gula darah normal adalah 80-120 mg/dl (puasa), 100-180 mg/dl (setelah makan), dan 100-140 mg/dl (istirahat/ tidur) juga tergantung menurut usia dan ganguan penyakit tertentu (Sylvia, 1998), atau DM merupakan kelompok gangguan metabolik dengan suatu manifestasi umum, yaitu hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) (Rimbawan dan siagian, 2004).

2.4.2 Gejala-gejala Diabetes Mellitus

Menurut Smith (2005), gejala-gejala klasik yang menunjukan bahwa seseorang terkena penyakit diabetes mellitus adalah sebagai berikut:

  • Sering buang air kecil
  • Rasa haus yang berlebihan
  • Rasa lapar yang terlalu sering muncul
  • Daya penglihatan yang kabur atau berubah
  • Daya sembuh yang sangat lambat, terutama pada tangan dan kaki
  • Sering terinfeksi jamur (pada wanita)
  • Kehilangan atau penambahan berat badan secara mendadak yang tidak diketahui penyebabnya
  • Mendengan bunyi denging atau mati rasa pada tungkai, kaki, atau jari-jari”.

2.4.3 Penyebab Diabetes Mellitus (DM).

Salah satu penyebab penyakit Diabetes Melitus adalah konsumsi zat gizi (terutama karbohidrat dan lemak) yang tidak seimbang atau berlebihan. Kelebihan asupan karbohidrat atau lemak berkaitan dengan kemampuan tubuh untuk memanfaatkannya, misalnya tubuh akan meningkatkan sekresi (pengeluaran) insulin untuk mengimbangi. Insulin berupaya menjaga kadar glukosa (gula) darah pada taraf normal. Namun bila kelebihan asupan tersebut berlangsung, akhirnya insulin tidak lagi melaksanakan tugasnya untuk menjaga kadar gula darah pada taraf normal (Rimbawan dan Siagian, 2004).

2.4.4 Jenis Diabetes Mellitus

Pada tahun 1997, diabetes mellitus dibedakan menjadi 3 yaitu DM tipe 1, Tipe 2, dan gestational diabetes (Rimbawan dan siagian, 2004).

  • Diabetes mellitus tipe 1 (insulin dependent mellitus)

Diabetes tipe 1 ini adalah bila tubuh perlu pasokan insulin dari luar, karena sel-sel beta dari pulau-pulau langerhansmengalami kerusakan, sehingga pangkreas berhenti memproduki insulin.

  • Diabetes mellitus tipe 2 (non-insulin dependent diabetes mellitus)

Diabetes tipe 2 terjadi jika insulin hasil produksi pangkreas tidak cukup atau sel lemak dan otot tubuh menjadi kebal terhadap insulin, sehingga terjadilah gangguan pengiriman gula kesel tubuh. Faktor penyebab ini adalah pola makan yang salah, proses penuaan, dan stress yang mengakibatkan resisten insulin.

Gejala diabetes tipe 2 lebih bertinggkat dan tidak muncul selama bertahun-tahun setelah serangan penyakit. Pengobatan kebanyakan dilakukan dengan pola makanan khusus dan berolahraga (Anonymous, 2004).

  • Gestational diabetes

Gestational diabetes atau diabetes mellitus saat kehamilan merupakan istilah untuk wanita yang menderita diabetes selama kehamilan dan kembali normal setelah melahirkan. Banyak wanita yang mengalami diabetes kehamilan kembali normal saat postpartum (setelah kehamilan), tetapi pada beberapa wanita tidak demikian.

Dalam kondisi parah, diabetes mellitus selama kehamilan tidak hanya menimbulkan kematian pada janin, tetapi juga pada ibu yang mengandung (Wijayakusuma, 2005)

2.4.5 Penelitian Biji Juwet Dan Cengkeh Dengan Diabetes mellitus

Menurut Dr.C.Graeser dari Bonn, Jerman adalah orang yang pertama kali menemukan khasiat biji duwet dan ekstrak buahnya yang bisa menyembuhkan penyakit diabetes mellitus. Ekstrak buah ini diketahui tidak beracun dan dapat menyembuhkan penyakit tanpa efek negatif (Sovi, 2005).

Penelitian di India mendapatkan hasil bahwa buah jamblang dapat mencegah timbulnya katarak akibat diabetes. Hasil penelitian menunjukkan biji, daun, dan kulit kayu jamblang mempunyai khasiat menurunkan kadar glukosa darah (efek hipoglikemik) pada penderita diabetes melitus tipe II.

Menurut Drs H Arief Hariana dalam Tumbuhan Obat & Khasiatnya seri 1, duwet memiliki rasa manis dan bersifat netral. Beberapa bahan kimia yang terdapat dalam duwet di antaranya zat samak, tanin, minyak terbang, damar, glukosida, dan asam galat. Efek farmakologis duwet di antaranya astringen, anti-malline, anti-cholesteremik, dan anti-diabetes.

BAB III

METODE PENULISAN

3.1 Sumber Data

Data tentang kandungan biji duwet sebagai obat diabetes mellitus. Duwet (Eugenia cumini) mengandung beberapa senyawa kimia yang terdapat pada beberapa bagian diantaranya, pada buah terkandung senyawa penyamak tanin, minyak terbang, damar, asam gallus, dan glicosida,asam galat, triterpenoid . Pada biji terkandung senyawa tanin, asam galat, glukosida phytomelin, dan alfa-phytosterol yang bersifat anticholestemik, minyak atsiri, jambosin (alkaloid), triterpenoid . Sementara itu, pada kulit pohonnya terkandung seyawa zat samak, asam galat, alkaloid (jambosin) dan jambulol, Triterpenoid, zat tanin.

Data dan fakta yang berhubungan untuk tema ini berasal dari tahapan-tahapan pengumpulan data dengan pembacaan kritis terhadap ragam literatur (library research) yang berhubungan dengan tema pembahasan dan fakta-fakta lain berasal dari internet, artikel-artikel, dan koran. Dengan demikian penulis mengelompokan atau menyeleksi data dan informasi tersebut berdasarkan katagori atau relevansi yang kemudian selanjutnya ketahapan analisis dan pengambilan kesimpulan.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dari hasil observasi dan pendataan beragam literatur.

3.3 Metode Pengolahan  dan Analisis Data

Teknik anilisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitataif.  Menurut Arikunto (1998: 25), analisis deskriptif kualitatif adalah analisis ynag digambarkan dengan kata-kata atau kalimat,dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.

Untuk analisis data yang berupa pesan maka digunakan cara analisis isi (content analysis). Analisis ini menghubungakan penemuan berupa kritesa atau teori. Analisis yang dilakukan pada nalaisis isi karya tulis ini menggunakan interactive model (Miles dan Huberman, 1994). Model ini terdiri dari empat componen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanan atau reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan data pengujian atau vertifikasi kesimpulan

BAB IV

ANALISIS DAN SINTESIS

4.1 Analisis Permasalahan

Tjokroprawiro (2006) menyatakan, tahun 1994 jumlah penderita diabetes mellitus minimal 2,5 juta, pada tahun 2000 menjadi empat juta, dan tahun 2010 minimal lima juta.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, penderita diabetes di Indonesia akan mengalami kenaikan dari 8,4 juta jiwa pada 2000, menjadi 21,3 juta jiwa pada 2030. Hal ini menjadikan Indonesia menduduki ranking ke-4 dunia, setelah Amerika Serikat, India dan Cina (Anonymous, 2008).

Pengobatan diabetes mellitus dapat diatasi dengan mengkonsumsi obat-obatan hipoglikemik baik berupa suntikan maupun tablet yang dapat di minum. Tetapi harga obat-obatan hipoglikemik dan terapai medis bagi penderita diabetes mellitus sekarang ada juga yang relative mahal dan sulit didapatkan

.

4.2 Sintesis Pemecahan Masalah

Berdasarkan permasalahan tersebut penulis membuat alternatif baru untuk pengobatan penyakit diabetes mellitus dengan menggunakan tumbuhan obat yaitu biji duwet. Tumbuhan obat terbukti merupakan salah satu sumber bagi bahan baku obat anti diabetes mellitus karena diantara tumbuhan obat tersebut memiliki senyawa yang berkhasiat sebagai anti diabetes mellitus.

Badan POM juga menyatakan beberapa tanaman dapat digunakan untuk menurunkan kadar glukosa darah, diantaranya adalah Duwet, Alpukat, Jagung, Lamtoro, Mahoni, Salam, jambu biji, Bawang putih, Kumis kucing, Keji beling, Daun sendok dan Labu parang.

Biji Duwet tersebut dikeringkan dan dibuat kopi bubuk yang dipadukan dengan cengkeh untuk menambah cita rasa dan memperkuat senyawa penurun kadar glukosa darah. Pemanis dalam kopi ini digunakan sakarin yang dibuat khusus untuk penderita diabetes mellitus. Pembuatan Kopi Biji Duwet Two In One sebagai berikut;

Pemisahan daging buah dan biji buah duwet
Biji duwet dicuci
Biji duwet dan cengkeh disangrai sebetar
Dalam 1 bungkus kopi= (15 biji duwet+5 cengkeh) dihaluskan dan ditambahkan sakarin
Pembungkusan

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Diabetes mellitus merupakan merupakan sindroma khas yang ditandai hiperglikemia kronik serta gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang dihubungkan dengan kekurangan insulin baik relative maupun absolute serta gangguan kerja insulin. Penyakit ini termasuk penyakit yang membahayakan di Indonesia.

2. Pemanfaatan biji duwet dan cengkeh sebagai obat diabetes mellitus dalam bentuk kopi bubuk akan lebih efektif digunakan oleh masyarakat kalangan manapun  serta dapat membantu pemerintah dalam pengobatan diabetes mellitus yang semakin mahal.

5.2 SARAN

1. Masyarakat akan menggunakan alternatif pengobatan ini karena pengobatan ini lebih efektif dan lebih terjangkau.

2. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan bagi para calon peneliti selanjutnya agar dapat menemukan alternatif baru untuk mengobati diabetus militus.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2008. Diabetes Mellitus, The Silent Killer. http://www.wikimu.com/News/Kesehatan.aspx (27 Maret 2009)

Anonymous. 2008. Indonesia Urutan Ke-4 Penderita Kencing Manis (diabetes melitus/DM. http://www.ottopharm.com/news ( 27 Maret 2009).

Anonymous. 2009. Basmi Nyamuk dengan Tumbuhan Herba.

http://diancoy.blogspot.com/2008/07/manfaat-daun-kemangi.html (27 Maret 2009).

Dalimartha, Setiawan. 2005. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 3. Jakarta; Pustaka Suara.

Dalimartha, Setiawan. 2005. Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Diabetes Mellitus. Bogor; Penebar swadaya.

Hamilton, J.D. 2000. Programming CGI 101. http://www.cgi.com/class/intro.html (27 Maret 2009)

Novi.2005. Penelitianku Duwet. http://ophie27.blogspot.com/2008/12/penelitianku-duwet.html ( 27 Maret 2009-04-03)

Sutrisna.2005. Uji Efek Penurunan Kadar Glukosa Darah Ekstrak Air Buah Jambu Biji (Psidium guajava L) Pada Kelinci The Decrease Of Blood Glukosa Consentration Of Water Extract Guajava (Psidium guajava L.)In Rabbits. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Rimbawan & Siagian A. 2004. Indeks Glikemik Pangan. Jakarta; Penebar swadaya.

Smith, M.D. 2005. Preventing & Reversing diabetes naturally. Jakarta; Buana Ilmu Popular Kelompok Gramedia.

Tjokroprawiro, Askandar. 2006. Diabetes Mellitus: Capita Selecta 2000-D Diabetes and Nutrition Centre-Dr Soetomo Teaching Hospital. School of medicine airlangga university, Surabaya.

Widowati,L., B. Dzulkarnain, dan Sa’roni. 1997. Tanaman Obat untuk Diabetes Mellitus. Jakart; .Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.

Wijayakusuma. 2005. Bebas Diabetes Melitus Ala Hembing.  Jakarta;  Puspa Suara.

05/05/2010 Posted by | Contoh PKM | 5 Komentar

PENYEDIAAN AIR BERSIH DENGAN TEKNIK SELF PURIFICATION DI ALIRAN SEKITAR SUNGAI BRANTAS

PENYEDIAAN AIR BERSIH DENGAN TEKNIK SELF PURIFICATION DI ALIRAN SEKITAR SUNGAI BRANTAS

Sukma Maholla Y.P., Kartika Juliana., Beni Bakhtiar

Jurusan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM

Ringkasan

Sumber-sumber air semakin dicemari oleh limbah industri yang tidak diolah atau tercemar karena penggunaanya yang melebihi kapasitasnya untuk dapat diperbaharui. Berdasarkan data dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Timur, limbah cair industri dan limbah cair domestik yang dibuang di Kali Brantas mencapai 150 ton per hari dengan komposisi 55 persen berasal dari limbah domestik dan 45 persen limbah industri (Gresik Surya, 03/09/2009).

Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah (Anonim, 2009).

Limbah-limbah yang ada di Sungai Brantas ini akan membawa dampak bagi kehidupan masyarakat sekitar, diantaranya:1) Limbah Industri Pangan, sektor Industri/usaha kecil pangan yang mencemari lingkungan antara lain; tahu, tempe, tapioka dan pengolahan ikan (industri hasil laut). 2) Limbah Industri Kimia & Bahan Bangunan Industri kimia seperti alkohol dalam proses pembuatannya membutuhkan air sangat besar, mengakibatkan pula besarnya limbah cair yang dikeluarkan kelingkungan sekitarnya. 3) Limbah Industri Sandang Kulit & Aneka Sektor sandang dan kulit seperti pencucian batik, batik printing, penyamakan kuit dapat mengakibatkan pencemaran karena dalam proses pencucian memerlukan air sebagai mediumnya dalam jumlah yang besar. 4) Limbah Industri Logam & Ekektronika. (Kartini, 2009).

Pengurangan limbah di Sungai Brantas ini dapat dilakukan melalui teknik Self  Purification sebagai solusi alternatuf minimalisasi pencemaran air dan lingkungan, teknologi. Solusi itu berupa penemuan ekoteknis yang menggunakan rancangan berbasis ekologi dan sekaligus perpaduan antara sistem pengelolaan limbah cair yang menggunakan kolam dan memanfaatkan lahan secara hidroponik dengan menggunakan media batu krikil dan tanaman bunga air. solusi teknologi ini bermanfaat karena pembuatan dan perawatannya mudah serta biaya investasi dan operasionalnya jauh lebih rendah dibanding sistem konvensional yang menggunakan alat mesin dan filter yang canggih. Semakin berkembangnya akar-akar tanaman dikemudian hari maka kualitas effluent yang dihasilkan makin membaik dan memproduksi genetik enzime beranekaragam sesuai dengan perubahan zat-zat kandungan limbah cair yang bersifat berkelanjutan.

v


PENDAHULUAN

Air merupakan kebutuhan essensial bagi makhluk hidup. Tanpa air tidak akan ada kehidupan di bumi ini. Tanpa air dunia akan menjadi sebuah planet yang tidak bernyawa atau gersang. Sekitar 71% atau ¾ komposisi bumi terdiri dari air. Rumus kimia air adalah H2O (tersusun atas dua atom hidrogen dan satu atom oksigen). Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau.

Sumber-sumber air semakin dicemari oleh limbah industri yang tidak diolah atau tercemar karena penggunaanya yang melebihi kapasitasnya untuk dapat diperbaharui. Kalau kita tidak mengadakan perubahan radikal dalam cara kita memanfaatkan air, mungkin saja suatu ketika air tidak lagi dapat digunakan tanpa pengolahan khusus yang biayanya melewati jangkauan sumber daya ekonomi bagi kebanyakan negara. (Middleton, 2009).

Pencemaran adalah suatu penyimpangan dari keadaan normalnya. Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain kedalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Keadan normal air masih tergantung pada faktor penentu, yaitu kegunaan air itu sendiri dan asal sumber air (Wardhana, 1995).

Sementara itu berdasarkan data dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Timur, limbah cair industri dan limbah cair domestik yang dibuang di Kali Brantas mencapai 150 ton per hari dengan komposisi 55 persen berasal dari limbah domestik dan 45 persen limbah industri. Penanganan limbah industri sekarang sedang digalakkan oleh BLH Jatim dengan Perum Jasa Tirta 1 Malang melalui patroli sungai. (Gresik Surya, 03/09/2009).

Kondisi ini berakibat pada penurunan kemampuan bendungan untuk menampung air sebagai pasokan produksi tenaga listrik, irigasi pertanian, dan industri hilir. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan membawa dampak pada krisis energi dan pangan, khususnya pada daerah aliran sungai (DAS) Brantas.

Selain kuantitas, kualitas sungai Brantas Juga mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Tingginya pollutan terlarut dari hulu ke hilir yang masuk ke badan sungai Brantas menjadi penyebab utamanya. Pollutan ini berasal dari penggunaan pestisida, pupuk kimia untuk pertanian, limbah industri yang tidak terolah, limbah rumah tangga baik limbah padat maupun cair, limbah peternakan dan lainnya yang masuk begitu saja. Kejadian ini tidak hanya di sepanjang aliran sungai Brantas, namun juga melalui semua anak sungai yang ber hilir pada sungai Brantas. (Geng, 2009).

Di sisi lain, tipikal kota-kota besar di Indonesia khususnya pulau Jawa selalu mendekati sumber air terdekat, yang umumnya adalah sungai. Bisa dimaklumi, ini akan mempermudah untuk mendapatkan air sebagai pemenuhan kebutuhan hidup. Kota Surabaya misalnya, kebutuhan air bersih kota ini bergantung pada beberapa anak sungai Brantas. Melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), air tersebut dimurnikan melalui beberapa proses serta disalurkan  ke masyarakat melalui sistem pemipaan (Anonim, 2005).

Solusi yang Ditawarkan

Pengurangan limbah di Sungai Brantas ini dapat dilakukan melalui teknik Self  Purification sebagai solusi alternatuf minimalisasi pencemaran air dan lingkungan, teknologi. Solusi itu berupa penemuan ekoteknis yang menggunakan rancangan berbasis ekologi dan sekaligus perpaduan antara sistem pengelolaan limbah cair yang menggunakan kolam dan memanfaatkan lahan secara hidroponik dengan menggunakan media batu krikil dan tanaman bunga air.

Akar tanaman bunga air akan mengisi pori-pori kerikil dan membentuk sel biofilm sebagai biological moleculer filter (BMF) yang memproduksi genetik ratusan juta macam biological enzime berfungsi sebagai biodegrable zat beranekaragam yang terkandung dalam limbah cair. Bunga air dimanfaatkan sesuai karakteristik limbah cair yang ada, mengingat tanaman ini berakar luas dan dalam bisa hidup baik kondisi aerob maupun anaerob serta tumbuh lebat didalam pori-pori kerikil.

Disamping itu, solusi teknologi ini bermanfaat karena pembuatan dan perawatannya mudah serta biaya investasi dan operasionalnya jauh lebih rendah dibanding sistem konvensional yang menggunakan alat mesin dan filter yang canggih. Semakin berkembangnya akar-akar tanaman dikemudian hari maka kualitas effluent yang dihasilkan makin membaik dan memproduksi genetik enzime beranekaragam sesuai dengan perubahan zat-zat kandungan limbah cair yang bersifat berkelanjutan. Pengelolaan limbah cair yang ramah lingkungan serta menjadikan air Sungai Brantas dan lingkungan yang bersih, indah dan air proses dapat dimanfaatkan serta memenuhi hajat hidup masyarakat di hulu sampai hilir Brantas dan menambah deretan objek wisata ekologi dengan nuansa alami.

Dengan begitu kuantitas dan kualitas air menjadi perhatian kita bersama baik di hulu maupun di hilir untuk mencegah dan menangani secara terpadu seluruh stakeholder dengan cara menumbuhkembangkan konservasi hutan dan lahan di dataran Sungai Brastas serta penerapan tekologi tepat guna dalam pengelolaan limbah cair agar meminimalisasi beban pencemaran air Sungai Brantas.

Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini adalah memberikan solusi dari pengurangan bahaya limbah di Sungai Brantas. Yaitu dengan penerapan teknik Self Purification. Manfaat dalam penulisan ini adalah membentuk kesadaran masyarakat terhadap bahayanya limbah yang ada di Sungai Brantas, dalam kehidupan masyarakat sekitar sungai tersebut. Dengan menerapkan teknik Self Purification ini, kita juga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas air yang ada di Sungai Brantas tersebut

GAGASAN

Sungai Brantas

Sungai Brantas adalah sebuah sungai di Jawa Timur yang merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo. Luasnya ± 320 km. Sungai Brantas bermata air di Desa Sumber Brantas (Kota Batu), lalu mengalir ke Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto. Di Kabupaten Mojokerto sungai ini bercabang dua manjadi Kali Mas (ke arah Surabaya) dan Kali Porong (ke arah Porong, Kabupaten Sidoarjo).

Sungai Brantas memiliki fungsi yang sangat penting bagi Jawa Timur mengingat 60% produksi padi berasal dari areal persawahan di sepanjang aliran sungai ini. Akibat pendangkalan dan debit air yang terus menurun sungai ini tidak bisa dilayari lagi. Fungsinya kini beralih sebagai irigasi dan bahan baku air minum bagi sejumlah kota disepanjang alirannya. Adanya beberapa gunung berapi yang aktif di bagian hulu sungai, yaitu Gunung Kelud dan Gunung Semeru menyebabkan banyak material vulkanik yang mengalir ke sungai ini. Hal ini menyebabkan tingkat sedimentasi bendungan-bendungan yang ada di aliran sungai ini sangat tinggi (Anonim, 2009).

Curah hujan rata-rata 2.000 mm/tahun. Total Potensi air permukaan sebesar 373,64 m3/detik atau 11.738,2 juta m3 /tahun. Jumlah penduduk di WS Sungai Brantas tahun 2007 adalah sebesar 16.200.000 jiwa (43% Jawa Timur), dengan pertumbuhan rata-rata 0,99 % dan kepadatan 1.272 jiwa/km2. Pengembangan Wilayah Sungai Brantas dilaksanakan bedasarkan Rencana Induk yang telah 4 (empat) kali disusun (1961,1973,1985,1998) (Anonim,2008).

Gambar 1. Peta Wilayah Sungai Brantas

Air

Air merupakan unsur utama bagi hidup kita di planet ini. Kita mampu bertahan hidup tanpa makan dalam beberapa minggu, namun tanpa air kita akan mati dalam beberapa hari saja. Dalam bidang kehidupan ekonomi modern kita, air juga merupakan hal utama untuk budidaya pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik, dan transportasi. Air merupakan elemen yang paling melimpah di atas Bumi, yang meliputi 70% permukaannya dan berjumlah kira-kira 1,4 ribu juta kilometer kubik. Apabila dituang merata di seluruh permukaan bumi akan terbentuk lapisan dengan kedalaman rata-rata 3 kilometer. Namun hanya sebagian kecil saja dari jumlah ini yang benar-benar dimanfaatkan, yaitu kira-kira hanya 0,003%. Sebagian besar air, kira-kira 97%, ada dalam samudera atau laut, dan kadar garamnya terlalu tinggi untuk kebanyakan keperluan. Dari 3% sisanya yang ada, hampir semuanya, kira-kira 87 persennya,tersimpan dalam lapisan kutub atau sangat dalam di bawah tanah.

Limbah

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).

Macam-macam limbah antara lain, 1) limbah cair biasanya dikenal sebagai entitas pencemar air. Komponen pencemaran air pada umumnya terdiri dari bahan buangan padat, bahan buangan organik, dan bahan buangan anorganik. 2) Limbah padat, 3) Limbah gas dan partikel, 4) Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) merupakan sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat, konsentrasinya, dan jumlahnya secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan, merusak, dan dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.

Dampak Limbah

Limbah-limbah yang ada di Sungai Brantas ini akan membawa dampak bagi kehidupan masyarakat sekitar, diantaranya:

1) Limbah Industri Pangan, apabila efluen dibuang langsung ke suatu perairan akibatnya menganggu seluruh keseimbangan ekologik dan bahkan dapat menyebabkan kematian ikan dan biota perairan lainnya.

2) Limbah Industri Kimia & Bahan Bangunan Industri kimia seperti alkohol dalam proses pembuatannya membutuhkan air sangat besar, mengakibatkan pula besarnya limbah cair yang dikeluarkan kelingkungan sekitarnya.

3) Limbah Industri Sandang Kulit & Aneka Sektor sandang dan kulit seperti pencucian batik, batik printing, penyamakan kuit dapat mengakibatkan pencemaran karena dalam proses pencucian memerlukan air sebagai mediumnya dalam jumlah yang besar.

4) Limbah Industri Logam & Ekektronika (Kartini, 2009).

Perubahan warna perairan                               Cemaran padatan

Pencemaran air sumur akibat sanitasi yang jelek

Analisis Pencemaran

  1. Pengukuran pH

Derajat keasaman (pH) merupakan ukuran dalam kandungan ion H+ yang menunjukan suatu perairan asam atau basa. Air sungai dalam kondisi alami yang belum tercemar memiliki rentangan pH 6,5-8,5. Karena pencemaran, pH air dapat menjadi lebih rendah dari 6,5 atau lebih tinggi dari 8,5. Perubahan nilai pH mempunyai arti penting bagi kehidupan air. Nilai pH yang rendah (sangat asam) atau tinggi (sangat basa) tidak cocok untuk kehidupan kebanyakan organisme.

  1. Oksigen Terlarut

Kadar oksigen terlarut dalam air yang alami barkisar 5-7 ppm (part per million atau satu per sejuta; 1 ml oksigen yang larut dalam 1 liter air dikatakan memiliki kadar oksigen 1 ppm). Parameter oksigen terlarut memberikan indikasi tentang tingkat kesegaran air akibat adanya proses biodegradasi dan asimilasi pada bahan air. Pada umumnya model OT adalah dianalisis berdasarkan kinetika reaksi orde satu (Thoman dan Mueller, 1987). Namun pada saat ini diketahui, bahwa model kualitas air (terutama OT) yang lebih komplek diperlukan untuk menunjukkan interaksi parameter fisika/kimia dan biologi yang lebih akurat (Biswat dan Asit, 1981).

Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan normal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (tosik). Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme (Swingle, 1968). Idealnya kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70% (Huet, 1970). KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk kepentingan wisata bahari dan biota laut (Anonim, 2004).

  1. Pengukuran BOD

Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organism pada saat pemecahan bahan organik, pada kondisi aerobik. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik ini digunakan oleh organisme sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi (Pescod, 1973).

Parameter BOD, secara umum banyak dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran air buangan. Penentuan BOD sangat penting untuk menelusuri aliran pencemaran dari tingkat hulu ke muara. Sesungguhnya penentuan BOD merupakan suatu prosedur bioassay yang menyangkut pengukuran banyaknya oksigen yang digunakan oleh organisme selama organisme tersebut menguraikan bahan organik yang ada dalam suatu perairan, pada kondisi yang hampir sama dengan kondisi yang ada di alam (Sawyer & Mc Carty, 1978).

  1. COD (Chemical Oxygen Demand)

Kebutuhan oksigen kimia atau COD adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis yang ada dalam satu liter sampel air, dimana pengoksidasi K2,Cr 2, O7 digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent) (G. Alerts dan SS Santika, 1987).

  1. Suspended Solid (SS)

Zat padat tersuspensi (Total Suspended Solid) adalah semua zat padat (pasir, lumpur dan tanah liat) atau partikel-partikel yang tersuspensi dalam air dan dapat berupakomponen hidup (biotik) seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan paryikel-partikel anorganik. Zat padat tersuspensi merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang heterogen, dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal dan dapat menghalangi kemampuan produksi zat organik di suatu perairan (Permana et al., 1994).

  1. Pengukuran Ammonia, Nitrit dan Nitrat

Ammonia (NH3) merupakan senyawa nitrogen yang pada kadar tinggi bersifat racun terhadap organisme perairan. Pada pH rendah ammonia berubah menjadi NH4+ dan disebut ammonium. Ammonia sendiri berada dalam keadaan tereduksi (-3), sumber ammonia pada air permukaan adalah air seni , tinja dan juga hasil oksidasi senyawa organik mikrobiologis yang berasal dari air alam atu limbah indutri dan domestik. Kadar ammonia yang tinggi dapat menimbulkan pencemaran dan membahayakan kehidupan biota perairan.

Keberadaan nitrat dan nitrit dapat diindikasikan bahwa air tersebut telah tercemar oleh bakteri (kontaminasi kotoran hewan atau manusia). Nitrit lebih berbahaya dengan dua komponennya. Dalam jumlah yang banyak dapat mengganggu darah dalam mengangkut oksigen dan bersifat racun. Level maksimum nitrat yang direkomendasikan cukup bervariasi (Hakim, 2006).

Nitrit (NO2) merupakan bentuk peralihan antara ammonia dan nitrat (nitrifikasi) dan antara nitrat dengan gas nitrogen (denitrifikasi) oleh karena itu, nitrit bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen. Kandungan nitrit pada perairan alami mengandung nitrit sekitar 0.001 mg/L. kadar nitrit yang lebih dari 0.06 mg/L adalah bersifat toksik bagi organisme perairan (Anonim, 2006). Keberadaan nitrit menggambarkan berlangsungnya proses biologis perombakan bahan organik yang memiliki kadar oksigen terlarut yang rendah (Effendi, 2003).

Nitrit yang dijumpai pada air minum dapat berasal dari bahan inhibitor korosi yang dipakai di pabrik yang mendapatkan air dari sistem distribusi PDAM. Nitrit juga bersifat racun karena dapat bereaksi dengan hemoglobin dalam darah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen, disamping itu juga nitrit membentuk nitrosamin (RRN-NO) pada air buangan tertentu dan dapat menimbulkan kanker (Alaert dan Santika, 1984).

Sumber Data

Data dan fakta yang berhubungan dengan pembahasan tema ini didapatkan dengan tahapan-tahapan pengumpulan data dengan cara pembacaan kritis terhadap ragam literatur yang berhubungan dengan tema pembahasan.

Data yang digunakan adalah data dengan kriteria telah dipublikasikan kepada masyarakat melalui literatur yang diterbitkan, surat kabar, buletin, jurnal upun internet. Dengan demikian penulis mengelompokan atau menyeleksi data dan informasi berdasarkan kategori dan relevansi untuk selanjutnya dianalisis dan disimpulkan.

Analisis Data

Dalam penulisan ini teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptifkualitatif. Menurut Arikunto (1998), analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.

Untuk menganalisa data dan informasi yang didapat, digunakan analisis isi (content analysis). Analisis isi adalah suatu teknik yang sistematik untuk menganalisis makna pesan dan cara mengungkapkan pesan. Analisis isi selalu melibatkan kegiatan menghubungkan atau membandingkan penemuan berupa kriteria atau teori. Langkah yang dilakukan dalam menganalisis data pada penelitian ini menggunakan interaktive model dari Miles dan Huberman (Miles dan Huberman, 1994). Model ini terdiri dari 4 komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan atau reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan dan pengujian atau verifikasi kesimpulan.

Analisis

Berdasarkan pustaka yang telah dikumpulkan didapatkan data bahwa limbah  telah menjadi permasalahan pada lingkungan (Widianto, 2009). Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah (Anonim, 2009). Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) merupakan sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat, konsentrasinya, dan jumlahnya secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan, merusak, dan dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.

Dengan demikian perlu dilakukan pencegahan untuk mengurangi limbah pada sungai Brantas dengan melakukan Self Purification. Self  Purification sebagai solusi alternatif minimalisasi pencemaran air dan lingkungan, teknologi. Solusi itu berupa penemuan ekoteknis yang menggunakan rancangan berbasis ekologi dan sekaligus perpaduan antara sistem pengelolaan limbah cair yang menggunakan kolam dan memanfaatkan lahan secara hidroponik dengan menggunakan media batu krikil dan tanaman bunga air.

Sintesis

Penyediaan Air Bersih dengan Teknik Self Purification Di Aliran Sekitar Sungai Brantas

Solusi yang ditawarkan untuk penyediaan air bersih di aliran sungai Brantas, yaitu dengan menggunakan teknik Self Purification. Solusi ini merupakan penemuan ekoteknis yang menggunakan rancangan berbasis ekologi dan sekaligus perpaduan antara sistem pengelolaan limbah cair yang menggunakan kolam dan memanfaatkan lahan secara hidroponik dengan menggunakan media batu krikil dan tanaman bunga air.

Akar tanaman bunga air akan mengisi pori-pori kerikil dan membentuk sel biofilm sebagai biological moleculer filter (BMF) yang memproduksi genetik ratusan juta macam biological enzime yang berfungsi sebagai biodegrable zat beranekaragam yang terkandung dalam limbah cair. Bunga air dimanfaatkan sesuai karakteristik limbah cair yang ada, mengingat tanaman ini berakar luas dan dalam bisa hidup baik kondisi aerob maupun anaerob serta tumbuh lebat didalam pori-pori kerikil.

Disamping itu, solusi teknologi ini bermanfaat karena pembuatan dan perawatannya mudah serta biaya investasi dan operasionalnya jauh lebih rendah dibanding sistem konvensional yang menggunakan alat mesin dan filter yang canggih. Semakin berkembangnya akar akar tanaman dikemudian hari maka kualitas effluent yang dihasilkan makin membaik dan memproduksi genetik enzime beranekaragam sesuai dengan perubahan zat-zat kandungan limbah cair yang bersifat berkelanjutan. Pengelolaan limbah cair yang ramah lingkungan serta menjadikan air Sungai Brantas dan lingkungan yang bersih, indah dan air proses dapat dimanfaatkan serta memenuhi hajat hidup masyarakat di hulu sampai hilir Brantas dan menambah deretan objek wisata ekologi dengan nuansa alami.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).  Limbah-limbah yang ada di Sungai Brantas ini akan membawa dampak bagi kehidupan masyarakat sekitar, diantaranya:1) Limbah Industri Pangan, sektor Industri/usaha kecil pangan yang mencemari lingkungan antara lain; tahu, tempe, tapioka dan pengolahan ikan (industri hasil laut).

Pengurangan limbah di Sungai Brantas ini dapat dilakukan melalui teknik Self  Purification sebagai solusi alternatuf minimalisasi pencemaran air dan lingkungan, teknologi. Solusi itu berupa penemuan ekoteknis yang menggunakan rancangan berbasis ekologi dan sekaligus perpaduan antara sistem pengelolaan limbah cair yang menggunakan kolam dan memanfaatkan lahan secara hidroponik dengan menggunakan media batu krikil dan tanaman bunga air.  Akar tanaman bunga air akan mengisi pori-pori kerikil dan membentuk sel biofilm sebagai biological moleculer filter (BMF) yang memproduksi genetik ratusan juta macam biological enzime berfungsi sebagai biodegrable zat beranekaragam yang terkandung dalam limbah cair. Bunga air dimanfaatkan sesuai karakteristik limbah cair yang ada, mengingat tanaman ini berakar luas dan dalam bisa hidup baik kondisi aerob maupun anaerob serta tumbuh lebat didalam pori-pori kerikil.

Saran

Saran yang diberikan kepada semua pihak bahwasanya air bersih merupakan pokok utama dalam kehidupan. Sehingga kualitas dan kuantitasnya harus tetap terjaga dari bebagai pencemaran, trutama pencemaran air. Mengingat salah satu cara untuk mencegah pengurangan limbah adalah dengan menggunakan teknik Self Purification. Teknik ini sangat mudah dan murah, sehingga teknik ini dapat dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Alaerts G, & S.S. Santika. 1987. Metoda Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional.6-7.

Biswat, Asit K. 1981. Models for Water Quality Management. Mc Graw Hills, USA. pp 134.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengolahan Sumber Daya Dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisus.

Hakim, Roli Sofwah. 2006. Menentukan Kualitas Air. BULETIN CP. September 2006 Nomor 81/Tahun VII.

Permana, S.D; E. Triyati, A. Nontji. 1994. Pengamatan Klorofil dan Seston di Perairan Selat Malaka 1978-1980: Evaluasi Kondisi Perairan Selat Malaka. 1978-1980. P.63.

Pescod, M.D. 1973. Investigation of Rational Effluen and Stream Standards for Tropical Countries. A.I.T. Bangkok, 59 pp.

Sawyer, C.N and P.L., MC CARTY, 1978. Chemistry for Environmental Engineering. 3rd ed. Mc Graw Hill Kogakusha Ltd.: 405-486 pp.

Swingle, H.S. 1968. Standardization of Chemical Analysis for Water and Pond Muds. F.A.O. Fish, Rep. 44, 4 , 379-406 pp.

Thoman and Mueler. 1987. Principles of Surface Water Quality Modelling and Control. Harper & Row Publisher Inco, New York, USA. pp 226 and 462.

Wardhana, W. A., 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Andi Offset.

Keputusan Pemerintah PP No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Anonim. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. No. 51 Tahun 2004. Tentang: Baku Mutu Air Laut. 2004. 11 hal.

Anonim. 2009. Diakses dari http://lingkunganku.multiply.com/journal/item/3/Dampak_Limbah. Tanggal 20 Desember.

Anonim. 2009. Diakses dari http://dipterocarpa.blogspot.com/2005/05/dampak-limbah.html. Tanggal 20 Desember.

Geng. 2009. Diakses dari http://www.tunashijau.org/2009/brantas1306.htm. Tanggal 20 Desember.

Gresik Surya. 2009. Diakses dari http://www.surya.co.id/2009/08/03/limbah-sungai-brantas-mengkhawatirkan.html. Tanggal 20 Desember.

Kartini, Citra. 2009. Diakses dari http://www.telecenter-citrakartini.co.cc/2009/07/pencemaran-limbah-di-aliran-sungai.html. Tanggal 21 Desember.

Middleton, Richard. 2009. Diakses dari http://air/airbrs1.html. tanggal 20 Desember 2009.

Widianto,Eko. 2009. Diakses dari http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/06/27/brk,20090627-184072,id.html. Tanggal 21 Desember.

Lampiran 1

Daftar Riwayat Hidup Penulis dan Dosen Pembimbing

Ketua Kelompok

a. Nama Lengkap                    : Nur Laili Fauziah

b. Tempat, Tanggal Lahir        : Probolinggo, 30 Januari 1988

c. Agama                                 : Islam

d. Alamat                                : Jl. Raya Jabung sisir No. 149 Paiton, Malang

e. No. Telp/HP                        : 087859010146

f. Riwayat Pendidikan Formal

No Jenjang Nama Institusi Tahun Lulus
1 SD SDN 02 Jabung sisir 2000
2 SLTP SLTPN 01 Paiton 2003
3 SLTA SMA UNGGULAN HAF-SAWATI BPPT GENGGONG PAJARAKAN PROLLINGGO 2006
4 S1 Pendidikan Biologi UMM

Ketua Kelompok

Nur Laili Fauziah

06330063

Anggota Kelompok

a. Nama Lengkap                    : Huzaifah Hamid

b. Tempat, Tanggal Lahir        : Lokayong, 17 Agustus 1989

c. Agama                                 : Islam

d. Alamat                                : Perumahan Taman Embong Anyer II P/7

e. No. Telp/HP                        : 081334238462

f. Riwayat Pendidikan Formal

No Jenjang Nama Institusi

Tahun Lulus

1 SD SDN Jepara 1 No 90 Surabaya 2001
2 SMP SMP Muhammadiyah 11 Surabaya 2004
3 SMA SMAN 8 Surabaya 2007
4 S1 Pendidikan Biologi UMM

g. Pengalaman Penelitian

No Judul Tahun
1.

2

Timbal (Pb) Pada Koran  Pembungkus Makanan Gorengan Mengancam Kesehatan

“RAYABIZ”,  Biskuit Nikmat Kaya Protein

2007

2008

Anggota Kelompok

Huzaifah Hamid

07330075

a. Nama Lengkap                    : Miftakhul Jannah

b. Tempat, Tanggal Lahir        : Lumajang, 07 September 1989

c. Agama                                 : Islam

d. Alamat                                : JL Tlogomas Barat 48 Malang

e. No. Telp/HP                        : 085236926757

f. Riwayat Pendidikan Formal

No Jenjang Nama Institusi Tahun Lulus
1 SD SDN 03 Tempursari 2001
2 SLTP SLTP N 1 Tempursari 2004
3 SLTA SMA PGRI 1 Lumajang

2007

4 S1 Pendidikan Biologi UMM
  1. Pengalaman Penelitian
No Judul Tahun
1

2

Identifikasi Snack Aromanis yang Aman Bagi Anak di SDN Karang ploso – Malang (TIM-PKMI, DIKTI tahun 2007).

Kegiatan Ekspedisi Ilmiah Konservasi Penyu Laut di Pesisir Kabupaten Pacitan. Oleh Tim dari Tim Ekspedisi Biokonservasi (TEB) – LSO Mahasiswa Konservasi di FKIP UMM, 2007

2008

2008

2009

Anggota Kelompok

Miftakhul Jannah

07330042

Dosen Pembimbing

a. Nama Lengkap dan Gelar               : Drs.Nur Widodo, M.Kes

b. NIP                                                 : 131.953.393

c. Alamat Rumah                                : Jl.  Oro-oro Dowo  Kota Batu

d. Telp/HP                                           : 081334017328

Dosen Pendamping

Drs. Nur Widodo, M.Kes

NIP. 131.953.393

04/16/2010 Posted by | Contoh PKM | 4 Komentar

PEMANFAATAN DAUN JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) SEBAGAI LARVASIDA UNTUK PEMBERANTASAN NYAMUK Aedes aegepty

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhagic Fever (DHF) merupakan penyakit dengan angka kejadian yang cenderung meningkat di daerah tropis dan sub tropis. Demam Berdarah Dengue (DBD) ditemukan pertama kali di Indonesia pada tahun 1975 di Makasar dan pada tahun 1980 DHF telah dilaporkan telah tersebar secara meluas serta melanda di seluruh propinsi Indonesia. Dalam Temporaktif (2004) pada tahun 1998 jumlah penderita DBD mencapai 71.776 orang dengan kematian 2.441 jiwa (CFR = 3,4 persen). Sementara itu, jumlah korban penderita DBD 1999 sebanyak 21.134 orang, 2000 (33.443), 2001 (45.904), 2002 (40.377) dan 2003 (50.131).

Dalam Pikiran Rakyat (2007) dipaparkan tindakan pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue yang banyak dilakukan adalah program 3M yaitu menutup, menguras dan menimbun. Selain itu dilakukan pula tindakan seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menggunakan repellent, menabur larvasida, memasang obat nyamuk dan memeriksa jentik secara berkala serta melakukan pengasapan (fogging) .

Tetapi, metode yang paling efektif untuk mengendalikan nyamuk vektor demam berdarah dengan cara membunuh jentik-jentiknya (Nurhasanah, 2001). Cara alternatif yang aman yaitu dengan menggunakan bahan alami dari tumbuhan (pestisida nabati). Oleh karena terbuat dari bahan alami maka jenis pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang.

Lebih dari 2400 jenis tumbuhan yang termasuk ke dalam 255 famili dilaporkan mengandung bahan pestisida, salah satunya adalah jeruk nipis (Citrus aurantifolia. Jeruk nipis mengandung bahan beracun yang disebut limonoida (Kardinan,2001). Senyawa dengan golongan terpenoid yaitu limonoida yang berfungsi sebagai larvasida (Ferguson, 2002).

Kelebihan pestisida nabati dibandingkan dengan pestisida sintetik pada senyawa yang terkandung didalamnya. Dalam suatu ekstrak tumbuhan, selain beberapa senyawa aktif utama biasanya juga banyak terdapat senyawa lain yang kurang aktif, tetapi keberadaannya dapat meningkatkan aktivitas ekstrak secara keseluruhan (sinergi). Hal ini memungkinkan serangga tidak mudah menjadi resisten, karena kemampuan serangga membentuk system pertahanan terhadap beberapa senyawa yang berbeda secara bersamaan lebih kecil daripada senyawa insektisida tunggal.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut :

a.  Dapatkah ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti L.?

b.  Bagaimanakah mekanisme ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti L.?

c. Bagaimanakah cara penggunaan ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dalam meningkatkan mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti L.?

1.3  Uraian Singkat Gagasan Kreatif

Penyakit demam berdarah di Indonesia cenderung meningkat setiap tahunnya hal ini dikarenakan kurang efektifnya pengendalian untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti. Cara alternatif yang aman adalah menggunakan insektisida alami yang dapat membunuh jentik-jentiknya. Salah satunya dengan daun jeruk nipis yang memiliki kandungan Limonoida yang merupakan senyawa yang mempunyai efek larvasida paling potensial. Karena terbuat dari bahan alami larvasida ini mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang. Selain itu, daun jeruk nipis sering dijumpai dalam masyarakat sebagai bumbu dapur dan harganyapun relatif lebih ekonomis.

1.4 Tujuan

Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui kemampuan ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti L

b.   Untuk mengetahui mekanisme ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti L.

c.  Uintuk mengetahui cara penggunaan ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dalam meningkatkan mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti L.

1.5 Manfaat

a.  Secara teoritis karya tulis ini memberikan informasi ilmiah kepada para akademisi tentang pengaruh dan mekanisme ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap mortalitas Aedes aegypti L.

b. Secara aplikatif karya tulis ini memberikan sumbangan informasi cara alternatif kepada masyarakat pada umumnya dan Departemen Kesehatan pada khususnya bahwa ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dapat dimanfaatkan sebagai larvasida nabati yang ramah lingkungan untuk memberantas larva nyamuk Aedes aegypti L.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1   Tinjauan tentang nyamuk Aedes aegypty L.

Nyamuk Aedes aegypti L. berukuran lebih kecil daripada nyamuk Culex guinguef asciatus, dengan warna dasar hitam belang-belang pada bagian tubuh, kaki dan ada gambaran putih pada bagian dorsal toraksnya. Nyamuk tersebut dapat mengandung virus dengue bila menghisap darah seorang penderita DBD, virus ini kemudian masuk ke dalam intestinum dan masuk kedalam hemoecoelum bereplikasi dan akhirnya masuk ke kelenjar air liur, dari sini sudah siap untuk ditularkan lagi. Aedes aegypti L. merupakan vektor nyamuk yang paling efisien untuk arbovirus karena nyamuk ini sangat antrofilik dan hidup dekat manusia dan sering hidup di dalam rumah.

Sayap                                                                                                  Antena

Sersus                                                                                                  Kaki Depan

Kaki Belakang

Gambar 2.1  Morfologi nyamuk Aedes aegypti L

Gandahusada,2000

Larva atau jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti L. berbentuk seperti cacing, aktif bergerak dengan gerakan naik ke permukaan dan turun ke dasar secara berulang-ulang. Larva ini memakan mikroba, oleh karena itu larva Aedes aegypti L.disebut sebagai pemakan di dasar (ground feeder). Pada saat larva mengambil oksigen dari udara (istirahat), posisi tubuh tampak menggantung pada permukaan air. Stadium larva umumnya berlangsung 4-9 hari untuk kemudian menjadi pupa

Nyamuk mengalami metamorforsis sempurna yaitu melalui empat tahap stadium : Telur-larva-pupa-dewasa. Dalam daur hidup vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) dikenal dua alam/lingkungan kehidupan yaitu air (pra dewasa) dan di luar air (dewasa). Nyamuk Aedes aegypti menyukai tempat-tempat penampungan yang berair jernih dan terlindung dari sinar matahari langsung sebagai tempat peridukannya. Larva Aedes aegypti dapat hidup pada air dengan pH antara 5,88.6 (Hidayat,1997).

Suhu mempengaruhi waktu untuk perubahan telur menjadi larva. Larva melakukan pengelupasan kulit (moolting) setelah 2-4 hari mereka. Pengelupasan kulit terjadi pada setiap pergantian stadium. Larva mengalami 4 stadium. Pertumbuhan larva rata-rata berlangsung 10 hari atau lebih untuk kemudian menjadi pupa (Gandahusada,2000).

2.2    Tinjauan tentang Daun Jeruk

Komponen yang terdapat di dalam daun jeruk nipis setelah diambil minyak yang terkandung di dalamnya adalah acetaldehyde, α penen, sabinen, myrcene, octano, talhinen, limonoida, T trans-2 hex-1 ol, terpinen, trans ocimen, cymeno, terpinolene, cis-2 pent-1 ol. Senyawa organik yang terdapat di dalamnya antara lain vitamin, asam amino, protein, steroid, alkaloid, senyawa larut lemak, senyawa tak larut lemak. Senyawa yang khas adalah senyawa golongan terpenoid yaitu senyawa limonoida. Senyawa ini yang berfungsi sebagai larvasida (Ferguson,2002).

Tabel 2.1 Senyawa kimia dalam jeruk  nipis

No. Chemicals ppm
1. α Linolenic acid 190
2. α pinene 80
3. α terpinene 80
4. α terpineol 30
5. Ascorbic-acid 291
6. β pinene 90
7. β terpineol 70
8. Boneol 60
9. Calcium 90
10. Carbohydrates 59000
11. Citric acid 800
12. FAT 2000
13. Fiber 3000
14. δ Selinene 20
No. Chemicals ppm
15. limonene 4700
16. Linolic acid 360
17. Lysine 140
18. Malic acid 2000
19. Niacin 1
20. Octanoic acid 2
21. Oleic acid 160
22. Palmitic acid 10
23. Potassium 820
24. Protein 4000
25. Sodium 10
26. Stearic acid 10
27. Sugars 17400
28. Water 877000

Phytocemical and ethnobotanical data base (2005) dalam Andrianto (2006)

2.3   Senyawa Limonoida .

Senyawa limonoida terdapat dalam 2 bentuk yaitu limonoida aglicones (LA) dan limonoida glucosides (LG). Limonoida aglicones (LA) menyebabkan rasa pahit pada jeruk dan tidak larut dalam air. Sedangkan limonoida glucosoides tidak menyebabkan rasa pahit pada jeruk dan dapat larut dalam air. Limonoida aglicones selama proses maturasi (pemasakan) dari buah proses ini disebut natural debithoring process (Jiaxing,2001).

CH2

CH3

H2C

H

Gambar 2.2  Struktur kimia Limonoida

(Gunawan dan Mulyani,2004)

Limonoida aglycones dibagi lagi menjadi 4 golongan yaitu limonin, colamin, ichangensin dan 7a-acetate limonoida. Diantara empat golongan tersebut yang paling dominan dan menyebabkan rasa pahit pada jeruk dan mempunyai efek larvasida paling potensial adalah limonoida. Kandungan senyawa limonoida paling tinggi pada tanaman jeruk didapatkan pada bagian biji yaitu 927 μg/100 mg, pada bagian daun tanaman adalah 36,6 μg/100mg, pada bagian kulit 2,5 μg/100 mg, dan yang paling sedikit pada buah yaitu hanya 0,7 μg/100mg.

BAB III

METODE PENULISAN

3.1 Tipe Pendekatan

Dalam penulisan karya tulis ini, penulis menggunakan pendekatan sosial masyarakat mengenai cara alternatif untuk memberantas nyamuk Aedes aegepty yang mengakibatkan DBD (Demam Berdarah Dengue).

3.2    Analisis Data

Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998:25), analisa deskriptif kualitatif  adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.

Untuk menganalisa data yang berupa pesan, maka digunakan cara analisis isi (content analysis). Analisa ini menghubungkan penemuan berupa kriteria atau teori. Analisis yang dilakukan pada analisis isi karya tulis ini menggunakan interactive model (Miles dan Huberman, 1994). Model ini terdiri dari empat komponen yang saling  berkaitan, yaitu (1) Pengumpulan data, (2) Penyederhanaan atau reduksi data, (3) Penyajian data, dan (4) Penarikan data pengujian atau verifikasi kesimpulan.

1.      Pengumpulan Data

Data yang digunakan adalah data sekunder. Data kuantitatif dari peningkatan jumlah penderita DBD, cara-cara pemberantasan nyamuk Aedes aegypti yang ada dalam masyarakat, data mengenai kandungan daun jeruk nipis, serta data mengenai biologi, ekologi, daur hidup, dan parasitologi nyamuk Aedes aegypti dimana data diperoleh dari dokumentasi yang diambil dari berbagai sumber, berupa buku, jurnal penelitian, koran, majalah, maupun artikel di internet yang berkaitan dengan masalah yang akan dikaji

2.      Reduksi Data

Reduksi data dalam karya tulis ini dilakukan dalam bentuk pemilihan, pemusatan pada penyederhanaan data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis atau intisari literatur. Reduksi data dilakukan secara terus-menerus selama penulisan karya tulis ini berlangsung sampai karya tulis akhir lengkap tersusun. Reduksi data digunakan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.

3.      Penyajian Data

Sekumpulan informasi disusun sehingga memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan melihat penyajian-penyajian data, penulis dapat memahami apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

4.      Menarik Kesimpulan dan Verifikasi

Penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penulisan berlangsung. Verifikasi adalah tinjauan ulang pada data-data yang ada.

Reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi merupakan suatu jalinan yang saling terkait antara yang satu dengan yang lain. Keterkaitan ketiga komponen-komponen analisis data menurut Miles dan Huberman dapat di lihat pada gambar di bawah ini:

BAB IV

ANALISIS-SINTESIS

4.1 Analisis Pemberantasan Aedes aegepty sebagai Vektor Penyakit

Demam Berdarah

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh Virus Dengue famili Flaviviridae, dengan genusnya adalah flavivirus yang ditularkan ke tubuh manusia melalui nyamuk Aedes aegypti L yang terinfeksi. Demam berdarah adalah suatu penyakit menular yang ditandai demam mendadak, perdarahan baik di kulit maupun di bagian tubuh lainnya serta dapat menimbulkan shock (rejatan) dan kematian.

Penyebab penyakit demam berdarah ialah virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Ae.aegypti dan Ae.albopictus (Chahaya,2003). Virus demam berdarah hanya mengandung nukleoprotein yang dibungkus semacam amplop (envelope) disebut capsid selalu memerlukan kehidupan lain atau yang sering disebut inang untuk melanjutkan keberadaannya. Dalam hal ini nyamuk Aedes aegypti sebagai inang, karena hanya dalam tubuh nyamuk Aedes virus dapat bereplikasi.

Pencegahan wabah DHF dilakukan karena tidak adanya obat antiviral spesifik untuk virus dengue, dan belum adanya vaksin anti dengue yang efektif dan komersial, pemberantasan nyamuk vektornya masih menjadi tumpuan utama dalam pencegahan dan pengendalian. Pengendalian vektor dengan beberapa cara, antara lain adalah :

a. Kimia, dengan menggunakan insektisida pembasmi larva (larvasida)..

b. Biologi, misalnya penebar ikan pemakan jentik.

c. Fisik, dikenal dengan kegiatan 3 M (Menguras, Menutup, Mengubur).

Tetapi, metode yang paling efektif untuk mengendalikan nyamuk vektor demam berdarah dengan cara membunuh jentik-jentiknya (Nurhasanah, 2001). Cara alternatif yang aman yaitu dengan menggunakan bahan alami dari tumbuhan (pestisida nabati). Oleh karena terbuat dari bahan alami maka jenis pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang.

4.2 Ekstrak Daun Jeruk Nipis sebagai Larvasida Alami

Senyawa limonoid merupakan teranoriterpen yang terdapat dalam daun jeruk nipis (Robinson,1994) yang berpotensi sebagai antifeedant terhadap serangga, zat pengatur tumbuh dan zat toksik pada kutu beras, larvasida, anti mikroba, penolak serangga (repellent) dan penghambat reproduksi (Jiaxing,2001). Senyawa limonoida merupakan analog hormon juvenille pada serangga yang berfungsi sebagai pengatur pertumbuhan kutikula larva (Ruberto,2002).

Hal ini karena semakin pekat konsentrasi larutan maka semakin banyak zat yang terkandung dalam ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dalam larutan, yang berarti semakin banyak pula racun yang dikonsumsi larva nyamuk Aedes aegypti, sehingga mortalitas larva Aedes aegypti juga semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan Prijono (1994) dalam Nurhayati (2005) semakin pekat konsentrasi larutan berarti makin banyak kandungan bahan aktif yang dapat mengganggu proses metabolisme. Begitu pula pada kecepatan mortalitas larva Aedes aegypti L. dimana kepekatan konsentrasi larutan juga sangat mempengaruhi kecepatan mortalitas. Ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia(christm.) swingle.) pada konsentrasi 100 ppm adalah yang paling efektif karena dapat menyebabkan mortalitas tertinggi pada larva nyamuk Aedes aegypti L. (Utomo, 2008).

Cara kerja (metode of action) insektisida nabati dalam membunuh atau mengganggu pertumbuhan hama sasaran adalah: (1).mengganggu/mencegah perkembangan telur, larva dan pupa, (2).mengganggu/mencegah aktifitas pergantian kulit dari larva (3) mengganggu proses komunikasi seksual dan kawin pada serangga (4). Meracun larva dan serangga dewasa imago, (5). Mengganggu/mencegah makan serangga, (6) menghambat proses metamorfosis pada berbagai tahap, (7) menolak serangga larva dan dewasa, dan (8) menghambat pertumbuhan penyakit. (Anonymous dalam Saraswati (2004). Cara masuk insektisida ke dalam tubuh serangga dengan berbagai cara, diantaranya sebagai racun kontak, yang dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau dinding tubuh serangga, racun perut atau mulut, masuk melalui alat pencernaan serangga dan yang terakhir dengan fumigant, yang merupakan racun yang masuk melalui pernafasan serangga. Dan limonoid bersifat sebagai racun (Kardinan,2001),

Menurut Untung (1993), insektisida dapat masuk ke dalam tubuh serangga melalui berbagai cara antara lain: sebagai racun perut (stomach poison) yang masuk ke dalam tubuh serangga melalui alat pencernaan serangga, racun kontak (contact poisoining) yang masuk melalui kulit atau dinding tubuh, dan yang terakhir fumigant atau pernafasan yang masuk ke dalam tubuh serangga melalui sistem pernafasan. Banyak senyawa yang merusak sistem saraf dimana berperan menurunkan enzim asetilkolineterase. Enzim ini bertugas menghantarkan pesan atau impuls dari saraf otot melalui sinapse.

Sebagai racun perut limonoid dapat masuk ke dalam tubuh larva nyamuk Aedes aegypti L. masuk ke pencernaan melalui rendaman konsentrasi ekstrak yang termakan. Insektisida akan masuk ke organ pencernaan serangga dan diserap oleh dinding usus kemudian beredar bersama darah yang akan mengganggu metabolisme tubuh nyamuk sehingga akan kekurangan energi untuk aktivitas hidupnya yang akan mengakibatkan nyamuk itu kejang dan akhirnya mati.

Limonoid adalah salah satu jenis senyawa yang bersifat racun, Limonoid dinyatakan sebagai modifikasi tripenes, yang mempunyai 4,4,8 trimethyl-17 furanyl steroid. Susunan sub grup dan struktur ikatan itu mempengaruhi karakteristik sifat dasar yang dibentuk selama pertumbuhan pada produk tanaman yang menghasilkannya. Sifat dasar limonoid mencakup: kegunaannya sebagai insektisida, regulasi pertumbuhan insek, insek antifeedant, dan pengaruh medis terhadap binatang dan manusia seperti antibakteri, viral, dan antifungi (Anonymous,2007). Berpotensi sebagai antifeedant terhadap serangga, zat pengatur tumbuh dan zat toksik pada kutu beras, larvasida, anti mikroba, penolak serangga (repellent) dan penghambat reproduksi (Jiaxing,2001). Senyawa limonoida merupakan analog hormon juvenille pada serangga yang berfungsi sebagai pengatur pertumbuhan kutikula larva (Ruberto,2002).

Secara umum mekanisme kerja limonoid dapat dijelaskan dalam gambar berikut:                                   Aedes aegypti L

Upaya-upaya yang dilakukan

Pengobatan                                                          Pencegahan

- Program 3 M

Pemberian insektisida
Fogging   (pengasapan)

- Memelihara ikan pemakan jentik

- Memasang kasa

- Menggunakan repellent

Bahan alami                         Bahan buatan        Kerugian

- Nikotin (tembakau)      – Abate                   – Resistensi pada populasi nyamuk

- Rotenon (Umbi adung)                                – Hanya membasmi nyamuk pada daerah tertentu saja

- Limonoida (jeruk nipis)                               – Tidak bisa membunuh larva

Kandungan ekstrak daun jeruk nipis

Limonoida

masuk

Sebagai Racun perut            pori-pori permukaan tubuh larva nyamuk

Saluran pencernaan                                Analog hormon juvenille

Menembus dinding usus                                 juvenille hormon

Peredaran darah                                     pergantian kulit

Metabolisme tubuh larva

Kekurangan energi untuk

aktivitas hidupnya

Kejang (konvulasi)

Larva mati

Menurut Sastrodiharjo (1984) saraf pusat pada larva dari sepasang rantai saraf yang terdapat di sepanjang tubuh bagian ventral. Pada tiap segmen terjadi suatu penggumpalan saraf yang disebut ganglion. Pergantian kulit disebabkan karena sejumlah ekdison tertentu. Titer hormon juwana (H.J) menetukan jenis stadium yang akan dialami oleh suatu serangga. Kalau titer H.J tinggi pada waktu ekdison dikeluarkan, maka stadium yang akan ditempuh masih tetap larva. Pupa akan terjadi bila titer H.J rendah dan titer H.J sangat rendah terjadilah imago. Selain mempengaruhi proses pergantian kulit pada larva, limonoid yang menyebar ke jaringan saraf akan mempengaruhi fungsi-fungsi saraf yang lain dan menyebabkan larva kejang yang akan mengakibatkan terjadinya aktifitas mendadak pada saraf pusat. Selain itu juga limonoid dapat masuk ke dalam tubuh larva Aedes aegypti melalui kulit atau dinding tubuh dengan cara osmosis, karena kulit atau dinding tubuh larva bersifat permeable terhadap senyawa yang dilewati, kemudian limonoid akan masuk ke sel-sel epidermis yang selalu mengalami pembelahan dalam proses pergantian kulit, sehingga sel-sel epidermis mengalami kelumpuhan (paralyisis) dan akhirnya mati.

Pernyataan Taruminkeng dalam Saraswati (1999) yang menyatakan langkah pertama dalam respon fisik keracunan adalah respon fisik dan tingkah laku hewan uji. Pada dosis median, secara khas keracunan racun saraf menimbulkan empat tahap simpton, yaitu eksitasi, kejang (konvulsi), kelumpuhan (paralisis), dan kematian. Tahap kegelisahan (anxiety), pada tahap ini serangga menunjukkan perilaku ”membersihkan badan” yaitu tampak bahwa serangga membesihkan antena atau bagian tubuh lainnya dengan mulut. Larva yang keracunan insektisida menggulung badanya dan melakukan gerakan teleskopik yaitu gerakan turun naik dari permukaan air dengan cepat. Mortalitas dalam larva nyamuk Aedes aegypti mempunyai kriteria yaitu (1) gerak larva nyamuk Aedes aegypti tidak aktif (2) tubuh larva nyamuk Aedes aegypti kaku (3) tidak bergerak apabila di sentuh dengan spatula/lidi (4) tubuh larva nyamuk Aedes aegypti mengapung.

Penggunaan toksin yang berasal dari tanaman dapat digunakan untuk pemberantasan larva nyamuk Aedes aegypti, karena dalam suatu ekstrak tumbuhan selain beberapa senyawa aktif utama biasanya juga banyak terdapat senyawa lain yang kurang efektif, tapi keberadaannya dapat meningkatkan aktivitas ekstrak secara keseluruhan (sinergi), hal ini memungkinkan serangga tidak mudah menjadi resisten.

Larvasida dipergunakan dalam bentuk ekstrak yang diencerkan. Proses ekstraksi daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) itu sendiri dilakukan dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Prosesnya adalah Daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia.) seberat ± 300gr dicuci sampai bersih kemudian dikeringanginkan. Setelah kering daun diblender/ digiling dengan penggilingan tepung sehingga didapat serbuk kering. Selanjutnya serbuk bahan dimaserasi dengan etanol 96%, maserat diambil setiap 24 jam atau setiap hari dan maserasi dihentikan apabila larutan memberikan maserat yang agak jernih. Maserat yang sudah didapatkan selanjutnya diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator pada suhu 45oC sampai kental. Ekstrak yang sudah didapatkan kemudian dipekatkan dengan menggunakan water steam dan setelah selesai ”crude extract” disimpan di dalam lemari es dan siap digunakan. Cara penggunaannya dengan memasukan ekstrak daun jeruk nipis dengan konsentrasi 100 ppm (100 mg ekstrak daun jeruk nipis per 1 liter air) ke dalam tempat penampungan air bersih yang memungkinkan larva nyamuk Aedes aegypti berkembang.

BAB V

PENUTUP

5.1   Kesimpulan

Dari hasil analisis-sintesis di atas, dapat disipulkan sebagai berikut :

a. Ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) mampu meningkatkan mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti L karena kandungan Limonoida yang merupaka racun larvasida.

b.  Ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) sebagai racun perut limonoid masuk ke pencernaan tubuh Aedes Aegepty  dan diserap oleh dinding usus kemudian beredar bersama darah yang akan mengganggu metabolisme tubuh nyamuk sehingga akan kekurangan energi untuk aktivitas hidupnya yang akan mengakibatkan nyamuk itu kejang dan akhirnya mati.

c. Cara penggunaan larvasida ini dengan memasukan ekstrak daun jeruk nipis dengan konsentrasi 100 ppm ke dalam tempat penampungan air bersih yang memungkinkan larva nyamuk Aedes aegypti berkembang.

5.2   Saran

Beberapa saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut :

a. Karya tulis ini dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai repellent pada nyamuk dewasa.

b. Perlu diinformasikan kepada masyarakat pada umumnya, dan Dinas Kesehatan pada khususnya bahwa ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia(Christm.) Swingle.) dapat digunakan sebagai alternatif larvasida nabati untuk membunuh larva nyamuk Aedes aegypti L. pada konsentrasi 100 ppm.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous.2007. Basmi Lalat dengan Jeruk Manis.Pikiran Rakyat. Bandung. edisi cetak. Kamis, 16 Februari 2006. .

Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta

Chahaya, Indra.2003.Pemberantasan Vektor Demam Berdarah di Indonesia. Bagian Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Gandahusada.2000. Parasitologi Kedokteran. Balai Penerbitan FK UI.Jakarta.

Gunawan, Didik dan Sri Mulyani.2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid 1.Jakarta : Penebar Swadaya.

Jiaxing,Li.2001.Abrief Introduction to citrus Limonoid,TAMU College,TAMUK citrus Centre.

Kardinan,A.2001.Pestisida Nabati Ramuan dan Aplikasi.PT.Penebar Swadaya. Jakarta.

Miles, Matthew B dan Hubberman, A. Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta : Universitas Indonesia Press

Robinson,Trevor.1995.Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi.Kosasih Padmawinata .Bandung: ITB Bandung.

Sastrodiharjo.1984.Pengantar Entomologi Terapan.Penerbit ITB Bandung.

Untung.1993.Konsep Pengendalian Hama Terpadu.Andi ofset.Yogyakarta.

Andrianto, Arief .2006.Uji Efektifitas Sari Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Dalam Menurunkan Suhu Tubuh Tikus Putih (Rattus norvegicus) Yang Diinduksi Dengan Vaksin Polio. Skripsi.UMM: Malang.

Hidayat,Choirul; Ludfi Santoso dan Hadi Suwarsono.Hasil Penelitian Pengaruh pH Air Perindukan terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Aedes aegypti Pra Dewasa.Cermin Dunia Kedokteran.No.119,1997.

Nurhasanah,S.2001.Efek Mematikan Ekstrak Biji Sirsak (Annona muricata) Terhadap Larva Aedes aegypti.FK Universitas Sebelas Maret.

Nurhayati,Nunung.2005.Pengaruh Jenis Pelarut dan Konsentrasi Ekstrak Umbi Gadung (Dioscorea hispida Dennst) Terhadap Mortalitas Larva Aedes aegypti L. Skripsi.UMM: Malang. .

Saraswati.2004.Pengaruh Konsentrasi Filtrat Biji Bengkuang (Pachyrrhizus erosus L) Terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti L. Skripsi. UMM.Malang.

Anonymous.2004.http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2004/03/26/nrs,20040326-02,id.html diakses 3/3/09

Anonymous,2007. http://ms.wikipedia.org/wiki/aedes. diakses tanggal 11/08/2007

Anonymous.2007.http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2005/12/3/op2.HTM. diakses 9/12/07

Anonymous.2007.http://images.google.co.id.diakses tanggal 9/12/07

Ferguson.2002.Medicinal Use of Citrus Scienses departmenr.Cooperative extension services Institute of Food Agricultural Science, University of Florida, Gainesville (on line),http://edis.ifas.ufl.edu/body Chi 96. diakses tanggal 11/08/2007

Pikiran Rakyat.2007.Cegah Demam Berdarah dan Chikungunya” ,http://www. pikiran rakyat.com. diakses tanggal 11/08/2007.

Ruberto,G.2002. Citrus Limonoids and Their Semisynthetic derivatives as antifeedant.http://www.ncbi.nlm.nih. Department of Health&Human Services. Diakses tanggal 13/03/2007

Lampiran

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  1. Penulis 1
    1. Nama Lengkap                        :  Dwi Utariningsih
    2. Tempat, Tanggal Lahir            :  Malang, 25 Maret 1988
    3. Alamat                                     : Jl. Simpang Mega Mendung I/2 Malang
    4. No. telp/handphone                :  085649896567
    5. Riwayat Pendidikan               :

SDN Pisang Candi 2 Malang     Tahun 1994 – 2000

SLTPN 1 Malang                       Tahun 2000 – 2003

SMAN 5 Malang                       Tahun 2003 – 2006

PT. UMM                                   Tahun 2006 – Sekarang

f.    Pengalaman Organisasi           :

-  Sekbid Jurnalistik Himabio UMM

-  Redaksi Pelaksana Majalah SPORA Jurusan Biologi UMM

-  Fungsionaris FKIMB UMM

-  Fungsionaris UKM FDI UMM

g.   Karya Ilmiah yang Pernah Ditulis       :

- PKMI Dekok Rambut Jagung Efektif dalam Menurunkan Kadar Kolesterol pada Tikus Putih (Rattus norvegicus).

-  PKMI Daun Ubi Jalar (Ipomoea batatas) dan Daun Salam (Syzygium polianthum) Sebagai Obat Alternatif  Penderita Diabetes Mellitus

-   PKMI Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya) Meningkatkan Mortalitas Cacing Hati pada Sapi (Fasciola gigantica) Secara In Vitro

-   PKMI Bunga Sepatu (Hibiscus rosasinensis) Alternatif Obat Kontrasepsi Pria

-   PKMK “ROSELLA-C” Sirup Kelopak Bunga Rosella Bervitamin C

-   PKMK “Chiresh” Chips Ares Yahuud Rasanya

  1. Penulis 2
    1. Nama Lengkap                        :  Dian Purwanti
    2. Tempat, Tanggal Lahir            :  Pasuruan, 29 Mei 1988
      1. Alamat                                     : Dsn Krawan Ds Kedawung Wetan RT 04/RW IV Kecamatan Grati Pasuruan
    3. No. telp/handphone                :  085646639443
    4. Riwayat Pendidikan               :

SDN 3 Kedawung Wetan          Tahun 1994 – 2000

SMPN 1 GratiTunon                  Tahun 2000 – 2003

SMAN 4 Pasuruan                     Tahun 2003 – 2006

PT. UMM                                      Tahun 2006 – Sekarang

f.    Pengalaman Organisasi           :

-  Fungsionaris Majalah SPORA Jurusan Biologi UMM

-  Fungsionaris FKIMB UMM

-  Fungsionaris UKM FDI UMM

g.   Karya Ilmiah yang Pernah Ditulis       :

- PKMI Pengaruh Dosis Dekok Daun Beluntas (Plucea indica. L) terhadap       Jumlah Sel Spermatozoa Abnormal Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus)

- PKMM Aplikasi NLP (Neuro Linguistik Programing) Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini TK Al-Masyitoh Tegal Gondo Karangploso  Malang.

04/16/2010 Posted by | Contoh PKM | 15 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 947 pengikut lainnya.