BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Pembelajaran Kooperatif

2.1 Pembelajaran Kooperatif

Ada beberapa hal prinsip sehubungan dengan pembelajaran kooperatif yang akan dijelaskan pada bagian ini, yaitu: pengertian pembelajaran kooperatif, tujuan pembelajaran kooperatif, teori-teori yang terkait dengan pembelajaran kooperatif, karakteristik pembelajaran kooperatif, langkah-langkah pembelajaran kooperatif, dan jenis-jenis pembelajaran kooperatif, sebagaimana uraian berikut ini.

2.1.1 Pengertian Pembelajaran Kooperatif

            Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) adalah model pembelajaran yang mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Model pembelajaran ini melibatkan siswa dalam kelompok yang terdiri dari empat atau lima siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda. Pembelajaran kooperatif memiliki suatu struktur tugas dan penghargaan yang berbeda dalam mengupayakan pembelajaran siswa. Struktur tugas itu menghendaki siswa untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil. Struktur penghargaan itu mengakui upaya kolektif dan individual. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan jika mereka berhasil sebagai kelompok.

            Model kooperatif yang digunakan oleh para guru memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Ibrahim et al., 2006):

  1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
  2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
  3. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda. Penghargaan berorientasi kelompok dari pada individu.

Pembelajaran kooperatif dapat berjalan secara efektif, maka perlu ditanamkan pada diri siswa unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut (Ibrahim et al., 2005):

  1. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup semati.
  2. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
  3. Para siswa haruslah beranggapan bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
  4. Para siswa haruslah membagi tugas dan bertanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
  5. Para siswa dikenakan penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompoknya.
  6. Para siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajar.
  7. Para siswa diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

2.1.2 Tujuan Pembelajaran Kooperatif

            Pelaksanaan model cooperative learning membutuhkan partisipasi dan kerja sama dalam kelompok pembelajaran. Cooperative leraning dapat meningkatkan cara belajar siswa menuju belajar lebih baik, sikap tolong-menolong dalam beberapa perilaku sosial. Tujuan utama dalam penerapan model belajar mengajar cooperative learning adalah agar peserta didik dapat belajar secara berkelompok bersama teman-temannya dengan cara saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan pendapat mereka secara berkelompok.

            Pada dasarnya model cooperative learning di kembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum Ibrahim, et al.(2000) dalam Isjoni (2010), yaitu:

  1. Hasil belajar akademik

Dalam cooperative learning meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan, model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan  dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, cooperative learning dapat memberi keuntungan, baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

  1. Penerimaan terhadap perbedaan individu

Tujuan lain model cooperative learning adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

  1. Pengembangan keterampilan sosial

Tujuan penting ketiga cooperative learning adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerjasama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial penting dimiliki siswa, sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

2.1.3 Teori-teori yang Terkait dengan Pembelajaran Kooperatif

            Model pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang agak kompleks, dan yang lebih penting lagi, dapat membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensikan sosial dan hubungan antar manusia. Telah dibuktikan pembelajaran kooperatif sangat efektif untuk memperbaiki hubungan antar suku dan etnik, dan kelas yang bersifat multicultural, dan hubungan antar siswa biasa dengan siswa penyandang cacat. Belajar secara kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif-konstruktivis dan teori belajar sosial (Kardi, 2003).

            Teori Vigotsky memiliki dua implikasi utama. Pertama adalah hasrat mewujudkan tatanan pembelajaran kooperatif diantara kelompok-kelompok siswa dengan tingkat-tingkat kemampuan yang berbeda. Penuturan teman sebaya yang lebih kompeten akan paling efektif dalam mengembangkan pertumbuhan di dalam zona perkembangan terdekat. Kedua, pendekatan ala Vigotsky dalam pengajaran menekankan perancahan (Scaffolding), dengan siswa semakin lama semakin mengambil tanggung jawab untuk pembelajarannya sendiri (Nur, 2004).

            Ericson mengembangkan apa yang disebut rasa percaya diri (industry). Interaksi diantara teman sebaya menjadi semakin penting dengan adanya rasa percaya diri. Kemampuan anak untuk bergerak antara dunia tersebut dan mengatasi tugas akademik, aktivitas kelompok, dan teman-teman akan membawa ke arah pengembangan rasa mampu (Marsitah, 2004).

            Menurut Ausabel dalam Suprijono (2009), pemecahan masalah yang cocok adalah lebih bermanfaat bagi siswa dan merupakan strategi yang efisien dalam pembelajaran. Kekuatan dan kebermaknaan proses pemecahan masalah dalam pembelajaran terletak pada kemampuan pelajar dalam mengambil peran pada kelompoknya. Untuk memperlancar proses tersebut diperlukan bimbingan langsung dari guru, baik lisan maupun dengan contoh tindakan. Sedangkan siswa diberi kebebasan untuk membangun pengetahuannya sendiri, dengan demikian cooperative learning akan dapat mengusir rasa jenuh dan bosen.

            Menurut Piaget dalam Suprijono (2009), dalam hubungannya dengan pembelajaran, teori ini mengacu kepada kegiatan pembelajaran yang harus melibatkan partisipasi peserta didik. Sehingga menurut teori ini pengetahuan tidak hanya sekedar dipindahkan secara verbal tetapi harus dikonstruksi dan direkonstruksi peserta didik. Sebagai realisasi teori ini, maka dalam kegiatan pembelajaran peserta didik haruslah bersifat aktif. Cooperative learning adalah sebuah model pembelajaran aktif dan partisipatif.

2.1.4 karakterisitik Pembelajaran Kooperatif

            Pada hakikatnya pembelajaran kooperatif sama dengan kerja kelompok, oleh sebab itu banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh dalam pembelajaran kooperatif, karena mereka menganggap telah terbiasa menggunakannya. Walaupun pembelajaran kooperatif terjadi dalam bentuk kelompok, tetapi tidak setiap kerja kelompok dikatakan cooperative learning.

Roger dan David johnson dalam Lie (1999) menyatakan bahwa: “Tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning.  Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur pembelajaran kooperatif harus diterapkan, yaitu : (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung jawab perseorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antar anggota, dan (5) evaluasi proses kelompok”.

1. Saling ketergantungan positif

Keberhasilan kelompok sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya.  Kegagalan satu anggota kelompok saja berarti kegagalan kelompok. Untuk menciptakan  kelompok kerja yang efektif, guru perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri.  Penilaian yang dilakukan adalah penilaian individu dan penilaian kelompok.  Dengan demikian setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan nilai pada kelompoknya.

2. Tanggung jawab perseorangan

Jika  tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik, sehingga masing-masing anggota kelompok akan melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok dapat dilaksanakan.

3. Tatap muka

Setiap anggota kelompok diberikan kesempatan bertemu muka dan berdis-kusi.  Kegiatan interaksi ini akan membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota.  Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing.

4. Komunikasi antar anggota

Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk mengutarakan pendapat mereka.  Disinilah peranan guru untuk memotivasi siswanya agar berani mengutarakan pendapatnya.  Proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
5. Evaluasi proses kelompok

Evaluasi proses kelompok bertujuan untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja mereka agar selanjutnya dapat bekerja sama dengan lebih baik.

Model pembelakaran kooperatif ini menekankan adanya kerjasama, saling ketergantungan dan menghormati pendapat orang lain dalam menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan pembelajaran dan suatu penghargaan bersama.

            Keterampilan-keterampilan selama kooperatif tersebut antara lain sebagai berikut Lungdren (1994) dalam Isjoni (2010):

  1. Keterampilan Koopertif Tingkat Awal

1)      Menggunakan kesepakatan

Yang dimaksud dengan menggunakan kesepakatan adalah menyamakan pendapat yang berguna untuk meningkatkan hubungan kerja dalam kelompok.

2)      Menghargai kontribusi

Menghargai berarti memperhatikan atau mengenal apa yang dapat dikatakan atau dikerjakan anggota lain. Hal ini berarti harus selalu setuju dengan anggota lain, dapat saja kritik yang diberikan itu ditunjukan terhadap ide dan tidak individu.

3)      Mengambil giliran dan berbagi tugas

Pengertian ini mengandung arti bahwa setiap anggota kelompok bersedia menggantikan dan bersedia mengemban tugas/tanggung jawab tertentu dalam kelompok.

4)      Berada dalam kelompok

Yaitu setiap anggota tetap berada dalam kelompok kerja selama kegiatan berlangsung.

5)      Berada dalam tugas

Yaitu meneruskan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, agar kegiatan dapat diselesaikan sesuai waktu yang dibutuhkan.

6)      Mendorong partisipasi

Yaitu mendorong semua anggota kelompok untuk memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok.

7)      Mengundang orang lain

Yaitu meminta orang lain untuk berbicara dan berpartisipasi terhadap tugas.

8)      Menyelesaikan tugas dalam waktunya

9)      Menghormati perbedaan individu

Yaitu bersikap menghormati terhadap budaya, suku, ras atau pengalaman peserta didik.

  1. Keterampilan Tingkat Menengah

Keterampilan tingkat menengah meliputi menunjukkan penghargaan dan simpati, mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara dapat diterima, mendengarkan dengan arif, bertanya, membuat ringkasan, menafsirkan, dan mengurangi ketegangan.

  1. Keterampilan Tingkat Mahir

Keterampilan tingkat mahir meliputi mengelaborasi, memeriksa dengan cermat, menanyakan kebenaran, menetapkan tujuan, dan berkompromi.

2.1.5 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

            Terdapat 6 langkah utama atau tanggapan di dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi peserta didik untuk belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian informasi, seringkali dengan bahan bacaan dari pada secara verbal. Selanjutnya peserta didik dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat peserta didik bekerja sama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Fase terakhir pembelajaran kooperatif meliputi kerja kelompok, atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Enam tahap pembelajaran koperatif dapat dirangkum pada tabel berikut:

Tabel 1. Langkah umum model pembelajaran kooperatif

(Ibrahim et al., 2006)

Fase

Tingkah Laku Guru

  • Fase I

Menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik

  • Fase II

Menyajikan informasi

  • Fase III

Mengorganisasikan peserta didik ke dalam kelompok belajar

  • Fase IV

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

  • Fase V

Evaluasi

  • Fase VI

Memberikan penghargaan

  • Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi peserta didik belajar.
  • Guru menyajikan informasi kepada peserta didik dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
  • Guru menjelaskan kepada peserta didik bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
  • Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

 

  • Guru mengevaluasi hasil belajar yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
  • Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

 

 

2.1.6 Jenis-jenis Pembelajaran Kooperatif

            Jenis-jenis pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:

  1. Numbered Heads Toghether (NHT) atau Kepala Bernomor, langkah-langkahnya:

1)   Peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok dan setiap peserta didik mendapatkan nomor

2)   Guru membagikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya

3)   Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan setiap kelompok mengerjakannya/mengetahui jawabannya

4)   Guru memanggil salah satu nomor siswa untuk melaporkan hasil kerja mereka

5)   Peserta didik yang lain memberi tanggapan

6)   Guru menunjuk nomor yang lainnya untuk kelompok berikutnya

7)   kesimpulan

  1. Think Pair and Share (TPS)

Srategi Think-pair-share yang digunakan oleh para guru menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:

1)   Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai

2)   Peserta didik diminta untuk berpikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru

3)   Peserta didik diminta berpasangan dengan teman sebelahnya dan mengutarakan pemikiran masing-masing

4)   Guru memimpin diskusi kecil. Tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya

5)   Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para peserta didik

6)   Guru memberi kesimpulan/penutup

  1. STAD (Student Teams Achievement Divisions)

Strategi ini menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:

1)   Membentuk kelompok beranggotakan 4 peserta didik secara heterogen

2)   Guru menyajikan pelajaran

3)   Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang mengetahui menjelaskan kepada lainnya sampai mengerti

4)   Guru memberi pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat peserta didik menjawab pertanyaan tidak boleh saling membantu

5)   Memberi evaluasi

6)   penutup

  1. Jigsaw

Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:

1)   Peserta didik dikelompokkan beranggotakan 4

2)   Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda

3)   Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian bab atau sub bab yang sama bertemu dengan kelompok baru (Kelompok Ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka

4)   Setelah selesai diskusi sebagian tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan berganian mengajar atau melaporkan hasil diskusinya kepada teman satu tim mereka tentang sub bab yang harus dibahas

5)   Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusinya

6)   Guru memberikan evaluasi

7)   Penutup

About these ads

11/24/2011 - Posted by | PTK

1 Komentar »

  1. bagaimana penerapan jig show untuk 28 siswa dimana mereka akan membahas 4 materi yang berbeda ?

    Komentar oleh Dewi Puspitasari | 10/08/2012


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 943 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: