BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

LAPORAN PKL BATU BARA

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Pada masa otonomi khusus (Otsus) yang sedang berlangsung di Provinsi Papua memberikan dampak positif dalam perkembangan pendidikan khususnya pendidikan di perguruan tinggi yang ada di Papua. Pendidikan itu merupakan salah  satu prioritas utama yang harus dikembangkan karena pendidikan merupakan kunci dari pembangunan daerah. Di dalam pendidikan di perguruan tinggi mahasiswa dituntut untuk menguasai setiap bidang ilmu pengetahuan yang ditekuninya dan mahasiswa harus mengikuti semua tahapan-tahapan yang ditetapkan diperguruan tinggi untuk menyelesaikan study.

Praktek Kuliah Lapangan merupakan suatu syarat yang harus dilalui oleh setiap mahasiswa/i yang berada di perguruan tinggi sebelum mereka mengerjakan Tugas Akhir (TA) atau Skripsi dalam rangka untuk menyelesaikan study di perguruan tinggi. Sesuai dengan perihal tersebut maka kami dari mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Cenderawasih juga melalui tahapan tersebut.

Praktek Kerja Lapangan yang dilakukan ini bertujuan untuk meninjau cadangan dan penyebaran batubara di Kampung Aisa Distrik Aifat Timur Kabupaten Sorong Selatan. Mengingat daerah ini memiliki kandungan batubara yang sangat tinggi, sehingga dirasa perlu oleh penulis untuk melakukan peninjauan disana.

Sangat diharapkan melalui hasil peninjauan cadangan dan penyebaran batubara di Kampung Aisa Distrik Aifat Timur Kabupaten Sorong Selatan ini dapat membantu pemerintah kabupaten sorong selatan dalam merencanakan penambangan batubara disana serta memberikan penjelasan kepada masyarakat yang berada di lokasi tersebut.

1.2 Perumusan Kegiatan

Berdasarkan uraian di atas, maka kegiatan difokuskan pada :

  1. Bagaimana cara melakukan pengukuran untuk mengetahui Penyebaran endapan batubara pada daerah penelitian serta pangambilan sampel.
  2. Bagaimana cara melakukan pengolahan data dari hasil pengukuran dilapangan serta proses penggambaran peta penyebaran endapan batubara pada daerah penelitian.

1.3 Tujuan Praktek

Tujuan dari mahasiswa untuk melakukan praktek kerja lapangan ialah :

  1. Mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari di kampus tentang  cadangan dan penyebaran bahan galian di suatu daerah penambangan.
  2. Mengetahui lokasi penyebaran dan jenis endapan batubara secara langsung di lapangan.
  3. Mahasiswa dapat menambah pengetahuan khususnya dalam peninjauan cadangan dan penyebaran batubara.

1.4 Lokasi dan Kesampaian Daerah

Secara administrasi letak lokasi penelitian berada pada pada Kampung Aisa Distrik Aifat Timur, Distrik baru hasil pemekaran dari Distrik Aifat induk yang berkedudukan di Kampung Kumurkek.

Lokasi penelitian ini dapat dijangkau dengan perjalanan dari Kota Jayapura ke Kota Sorong dengan menggunakan kapal laut atau bisa menggunakan jasa pesawat terbang menuju Kota Sorong. Sedangkan dari Kota Sorong menuju Aifat Timur melalui jalan darat Sorong-Ayamaru-Aifat dengan menggunakan kendaraan roda empat melewati Distrik Ayamaru seterusnya sampai ke sungai Kamundan dengan jarak tempuh 11 jam. Selanjutnya untuk sampai ke Kampung Aisa bisa menggunakan sejenis perahu ketenten melalui sungai Kamundan dan bisa juga melewati jalan darat Kamat-Ayata dan selanjutnya sampai ke Kampung Aisa dengan jarak tempuh satu hari berjalan kaki.

Daerah Aisa ini sendiri terletak paling timur di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Irian Jaya Barat. Secara Geografis daerah ini terletak antara 01° 19’ 54,45’’ LS – 01° 21’ 12,81’’ LS  dan 130° 39’ 26,66’’ BT – 130° 43’ 36,06’’ BT. Dengan batas-batas wilayah Kampung Aisa adalah sebagai berikut:

  1. Sebelah Timur Kampung Aisa berbatasan dengan Kampung Ormu.
  2. Sebelah Barat Kampung Aisa berbatasan dengan Kampung Tahsi Mara.
  3. Sebelah Utara Kampung Aisa berbatasan dengan Kampung Ayawasi.
  4. Sebelah Selatan Kampung Aisa berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Teluk Bintuni.

1.5 Profil Perusahaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.6 Waktu Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL)

Adapun waktu yang direncanakan untuk melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yaitu selama 3 bulan, mulai dari bulan Januari tahun 2008 sampai bulan maret tahun 2008. Praktek Kerja Lapangan (PKL) dibagi dalam dua kegiatan yaitu :

  1.  Kegiatan pengambilan data lapangan yang dilakukan selama 1 bulan
  2. Kegiatan pengolahan data, penggambaran peta serta penyusunan Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang dikerjakan selama 2 bulan.

BAB II

DASAR TEORI

 

2.1 Pengertian Batubara

Batubara adalah benda padat berwarna coklat hingga hitam, kekerasannya kurang dari 3 skala mohs disebut ‘’Paytogenous rock’’  atau batuan  berasal dari diagnesia tumbuhan (flora) sebagai mineral energy berupa batuan yang dapat dibakar membara dan memberikan energi panas berkomposisi organic maseral sedikit mineral dengan penyusun unsur utama yaitu karbon (C), serta sedikit unsur oksigen (O), hidrogen (H), dan nitrogen (N). Sifat kimia berbagai jenis batubara ditentukan oleh jenis dan jumlah unsur  kimia yang terkandung dalam tumbuh-tumbuhan asalnya (PABA 1982).

Adapun beberapa unsur dan kondisi yang menyebabkan suatu tumbuh-tumbuhan itu bisa  berubah menjadi batubara antara lain yaitu:

- Bakteri pembusuk

- Temperature

- Waktu

- Tekanan

Waktu pemanasan juga merupakan hal yang berpengaruh terhadap tingkat pematangan batubara, dimana waktu pemanasan yang lebih lama akan menghasilkan tingkat pematangan batubara yang lebih tinggi. Oleh karena itu batubara yang berumur lebih tua akan mempunyai tingkat pembatubaraan (Coalitification) yang lebih tinggi.

Tekanan juga merupakan pengaruh terhadap proses pematangan batubara, hanya saja pengaruhnya relative kecil bila dibandingkan dengan temperature dan waktu dalam hal ini tekanan hanya berfungsi untuk memadatkan bahan organic dan menekan keluar kandungan air yang ada di dalam batubara.

Perubahan komposisi kimia jenis batubara mulai dari jenis gambut (Peat) sampai pada jenis antrasit disebut tingkatan batubara (Coal rank). Tingkatan atau peringkat batubara dapat ditentukan dengan berpedoman pada beberapa parameter yang sangat penting diantaranya adalah analisis ultimat dan analisis proksimat.

2.2 Cara Terbentuknya Batubara

Batubara terbentuk sisa-sisa tumbuhan yang sudah mati dengan cara yang sangat kompleks dan memerlukan  waktu  yang  sangat lama (puluhan sampai ratusan juta tahun) yang dipengaruhi oleh proses fisika dan kimia ataupun keadaan geologi.  Komposisi kimia batubara hampir sama dengan komposisi kimia jaringan tumbuhan, keduanya mengandung unsur utama yang terdiri dari unsur C, H, O, N, S, P. hal ini mudah cdimengerti karena batubara terbentuk dari jaringan tumbuhan yang telah mengalami proses pembatubaraan (coalification).

 Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut :

Apabila jaringan tumbuhan dibakar dalam suasana reduksi, yaiitu dengan cara sesudah jaringan tumbuhan disulut dengan api kemudian diatas tumpukan ditutup tanah agar tidak berhubungan dengan udara luar (agar jaringan tumbuhan tidak terbakar) maka jaringan tumbuhan (kayu) akan menjadi arang kayu. Agar nyala api yang ada di dalam kayu mati, maka kayu tersebut segera disiram dengan air sehingga terbentuknya arang kayu. Makin keras kayu yang dipergunakan sebagai bahan baku, arang kayu yang dihasilkan mutunya makin baik. Komposisi kimia utama arang kayu serupa dengan komposisi kimia utama batubara. Perbedaannya, arang kayu dapat dibuat sebagai hasil rekayasa dan inovasi manusia selama jangka waktu yang pendek, dengkan batubara terbrntuk oleh proses alam selama jangka waktu ratusan hingga ribuaan juta tahun. Karena batubara terbentuk oleh proses alam, maka banyak parameter yang akan berpengaruh pada pembentukan batubara. Makin tinggi intensitas parameter yang berpengaruh makin tinggi mutu barubara yang terbentuk.

2.3 Tempat Terbentuknya Batubara

              Berdasarkan tempat terbentuknya batubara, maka ada dua teori yang menjelaskan tentang terbentuknya batubara dialam ini yaitu: teori insitu dan teori drift (Krevelan, 1993).

  1. a.      Teori Insitu

Teori insitu menjelaskan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara terbentuknya ditempat dimana tumbuh-tumbuhan tersebut mati, namun belum mengalami proses transportasi segera tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami proses coalification.

Jenis batubara ini mempunyai penyebaran yang luas dan merata serta kualitasnya lebih baik karena kadar abunya relative kecil. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara seperti ini di Indonesia terdapat di Muara Enim Sumatera Selatan (Sukandarrumidi, 1995).

  1. b.     Teori Drift

            Teori ini menjelaskan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara terjadi di tempat yang berbeda dengan tempat tumbuhan semula hidup dan berkembang atau lapisan batubara yang terbentuk jauh dari tumbuh-tumbuhan asal itu berada.

            Proses pembentukan batubara ini dimana tumbuh-tumbuhan yang telah mati dan diangkat oleh air dan berakumulasi disuatu tempat yang tertutup oleh batuan sedimen dan mengalami proses cilification. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran tidak luas dan kualitasnya kurang baik karena banyak mengandung material pengotor yang terangkut bersama selama proses pengakutan dari tempat asal ke tempat sedimentasi. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara seperti ini, di Indonesia terdapat di Delta Mahakam Purba, Kalimantan Timur (Sukandarrumidi, 1995).

2.4 Proses Pembentukan Batubara

Batubara berasal dari sisa tumbuhan yang mengalami proses pembusukan, pemadatan yang telah tertimbung oleh lapisan diatasnya, pengawetan sisa-sisa tanaman yang dipengaruhi oleh proses biokimia yaitu pengubahan oleh bakteri. Akibat pengubahan oleh bakteri tersebut, maka sisa-sisa tumbuhan kemudian terkumpul sebagai suatu masa yang mampat yang disebut gambut (Peatification) terjadi karena akumulasi sisa-sisa tanaman tersimpan dalam kondisi reduksi didaerah rawa dengan system draenase yang buruk yang mengakibat selalu tergenang oleh air, yang pada umumnya mempunyai kedalaman 0,5-1,0 meter. Gambut yang telah terbentuk lama-kelamaan tertimbung oleh endapan-endapan seperti batulampung, batulanau dan batupasir. Dengan jangka waktu puluhan juta tahun sehingga gambut ini akan mengalami perubahan fisik dan kimia akibat pengaruh tekanan (P) dan temperature (T) sehingga berubah menjadi batubara yang dikenal dengan oroses p-embatubaraan (Coalitification) pada tahap ini lebih dominan oleh proses geokimia dan proses fisiska  (Stch, dkk, 1982).

Proses geokimia dan fisika berpengaruh besar terhadap pematangan batubara yaitu perubahan gambut menjadi batubara lignit, batubara bituminous, sampai pada batubara jenis antrasit.

Pematangan bahan organic secara normal terjadi dengan cepat apabila endapannya terdapat lebih dalam, hal ini disebabkan karena temperature bumi semakin dalam akan semakin panas.

Proses pengubahan tumbuh-tumbuhan menjadi batubara ini dikkenal dengan cualitification. Dengan urutan zat yang dihasilkan berupa tumbuh-tumbuhan yaitu mulai dari:

- Gambut (Peat)

- Lignit

- Sub Bituminous

- Bituminous

- Semi Antrasit

- Antrasit

- Meta Antrasit

Urutan proses pembentukan batubara tersebut secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. a.      Peat (Gambut)

           Peat atau gambut adalah tumbuh-tumbuhan yang mati dan mengalami pembusukan dan tercampur dalam paya yang dikenal dengan peat (gambut). Jumlah air dalam gambut ini sangat besar dan jumlah kandungan air tersebut berkisar antara 80-90 % ketika baru ditambang dari paya. Penggunaannya sebagai bahan bakar dalam timber karena akan menghasilkan nyala yang lebih panjang dengan suhu yang relative rendah (Pitojo. S, 1983).  Berdasarkan lingkungan tumbuhan dan pengendapan gambut di Indonesia dapat dibagi atas dua jenis yaitu:

  •  Gambut Ombrogenus, yaitu gambut yang kandungan airnya hanya berasal dari air hujan. Gambut jenis ini dibentuk dalam lingkungan pengendapan dimana tumbuhan pembentuk dimasa hidupnya hanya tumbuh dari air hujan, sehingga kadar abunya adalah asli (Inherent) dari tumbuhan itu sendiri.
  •  Gambut Topogenus, yaitu gambut yang kandungan airnya berasal dari air permukaan. Jenis gambut ini diendapkan dari sisa tumbuhan yang semasa hidupnya tumbuh dari pengaruh air permukaan tanah, sehingga kadar abunya juga dipengaruhi oleh bagian yang terbawa oleh air permukaan tersebut.

Daerah gambut topogenus lebih bermanfaat untuk lahan pertanian bial dibanding dengan daerah gambut ombrogenus karena gambut topogenus mengandung lebih banyak nutrisi.

  1. b.     Lignit

           Lignit yaitu suatu nama yang digunakan pada tahap pertama lapisan Brown Coal. Pada umumnya lignit mengandung material kayu yang sedikit mempunyai struktur yang lebih kompak bila dibandingkan dengan gambut.

           Lignit mempunyai warna yang berkisar antara coklat sampai kehitaman, lignit segar mempunyai kandungan air antara 20-45 % dan nilai bakar 3056-4611 kal/gram, sedangkan lignit yang bebas air dan abu berkisar antara 5566-111 111 kal/gram (Pitojo. S, 1983).

  1. c.      Batubara Sub Bituminous

           Jenis batubara ini berwarna hitam mengkilap dan mempunyai kilapan logam. Batubara ini saat ditambang kandungan air yang terkandung mencapai 45 % dan mempunyai nilai kalor bakar sangat rendah, kandungan karbon sedikit, kandungan abu banyak dan kandungan sulfur yang banyak.

  1. d.     Batubara Bituminous

           Batubara bituminous merupakan jenis batubara yang terpenting dan dipakai sebagai bahan bakar karena memiliki nialai kalor, kandungan karbon yang relative tinggi, sedangkan kandungan air, kandungan abu, dan kandungan sulfur yang relative rendah. Jenis batubara ini juga digunakan sebagai bahan bakar dalam pembuatan kokas dan pabrik gas.

  1. e.      Batubara Semi Antrasit

           Batubara semi antrasit ini merpakan batubara yang memiliki sifat antara batubara bitumen yang mempunyai kandungan zat terbang rendah disbanding dengan batubara antrasit yang mempunyai zat terbang yang tinggi berkisar antara 6-14 %. Batubara ini mudah terbakar dan warna nyalanya sedikit kekuning-kuningan.

  1. f.        Batubara Antrasit

           Batubara antrasit biasanya disebut batubara keras (hard coal) penamaan ini berdasarkan atas dasar kekerasan dan juga kekuatannya antrasit. Batubara antrasit ini mudah untuk ditambang karena letak lapisan didalam kerak bumi yang tidak pasti, dimana letak lapisannya kadang-kadang tegak dan kadang-kadang juga vertical bahkan kadang-kadang juga berlekuk. Sifat barubara ini ditentukan dari derajat kilap atau warna.

Batubara antrasit mempunyai nilai kalor dan kandungan karbon sangat tinggi dan memiliki kandungan air atau sulfur yang relative rendah dan kandungan zat terbang tinggi berkisar antara 8,0 %.

  1. g.      Meta Antrasit

           Batubara Meta Antrasit adalah batubara dengan kelas yang sangat tinggi dimana nilai kalorinya sangat tinggi, berkisar antara 8000-9000 kalori.  Kadara air (Water content) sangat kecil kurang dari 1  %, warna hiam mengkilat, pecahan concoidal, tidak mengotori tangan bila dipegang, menghasilkan api yang biru bila dibakar, tidak mengeluarkan asap, tidak berbau, kadar abu dan sulfur juga sangat rendah. Batubara jenis ini  adalah antrasit yang mengalami pengaruh tekanan dan suhu yang tinggi akibat proses tektonik maupun aktivitas vulkanik yang ada di dekat endapan. Batubara jenis ini terdapat di daerah Pensylvania, Amerika Serikat.

2.5.          Reaksi Pembentukan Batubara

Batubara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang sudah mati, komposisi utama terdiri dari cellulose. Proses pembentukan batubara dikenal sebagai proses pembatubaraan (coalification). Factor fisika dan kimia yang ada di alam akan mengubah cellulosa menjadi lignit, subbitumina, bitumina atau antrasit. Reaksi pembentukan batubara adalah sebagai berikut :

                  5(C6H10O5)                       C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO

             Cellulose                           lignit          gas metan

      Keterangan :

  • Cellulosa (senyawa organik), merupakan senyawa pembentuk batubara.
  • Unsur C pada lignit jumlahnya relatif  lebih sedikit dibandingkan jumlah unsur C pada bitumina, semakin baik kualitasnya.
  • Unsur H pada lignit jumlahnya relatif banyak dibandigkan jumlah unsur H pada bitumina, semakin banyak unsur H pada lignit semakin rendah kualitasnya.
  • Senyawa gas metan (CH4) pada lignit jumlahnya relatif lebih sedikit dibandingkan dengan bitumina, semakin banyak (CH4) lignit semakin baik kualitasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

3.1 Perencanaan Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL)

Sebelum melakukan kegiatan Praktek Kerja Lapangan, maka hal utama yang harus dilakukan dalam perencanaan adalah :

  1. Pemilihan judul dan lokasi praktek kerja lapangan (PKL)

Agar pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan terarah, maka mahasiswa/i diharuskan memilih judul dan lokasi Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang akan diajukan ke jurusan / program study.

      Pemilihan judul dan lokasi pelaksanaan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) harus sesuai dengan kemampuan dan daya jangkau dari mahasiswa sehingga tidak menjadi hambatan dalam melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL).

  1. Konsultasi judul dan lokasi PKL ke jurusan / program study

Judul dan lokasi yang telah dipilih oleh mahasiswa/i harus dikonsultasikan ke jurusan / program study untuk diketahui dan mendapat persetujuan sehingga mahasiswa dapat melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL).

  1. Pengurusan persyaratan yang berkaitan dengan kegiatan PKL

Setelah judul dan lokasi Praktek Kerja Lapangan (PKL) disetujui oleh jurusan / program study, maka mahasiswa di haruskan untuk melengkapi semua persyaratan yang ditetapkan oleh jurusan/program study. Mahasiswa juga harus mengurus surat pengantar dari Fakultas yang akan ditujukan ke Perusahaan atau Instansi tempat mahasiswa melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL).

3.2 Persiapan Perlengkapan Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL)

Sebelum mahasiswa/i melakukan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL), mahasiswa/i harus mempersiapkan perlengkapan yang akan digunakan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan di lapangan. Ada beberapa perlengkapan yang harus disiapkan, yaitu :

  1. Peta topografi daerah Praktek Kerja Lapangan (PKL)
  2. Peralatan dan bahan yang digunakan
    1. Global Positionen Sistym (GPS)
    2. Kompas geologi type Bruntown
    3. Roll meter
    4. Papan datar (Clip board)
    5. Alat tulis (pensil dan buku catatan lapangan)
    6. Kantung sampel
    7. Larutan HCL (larutan kimia)

3.3 Pelaksanaan Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL)

Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang dilakukan di Kampung Aisa Distrik Aifat Timur dibagi dalam 2 tahap, yaitu :

  1. Pengukuran dan pengambilan sampel endapan batubara.
    1. Pengukuran penyebaran endapan batubara

Proses pengukuran penyebaran endapan batubara, yaitu :

  1. Pengukuran arah dan kemiringan (Strike/Dip)

Pengukuran arah dan kemiringan bertujuan untuk mengetahui berapa sudut (°), arah dan kemiringan dari endapan batubara. Pengukuran Strike/ Dip dilakukan dengan menggunakan Kompas geologi type Bruntown.

Cara pengukuran Strike/Dip yaitu : kompas geologi diletakkan di atas endapan batubara yang permukaannya datar atau juga dapat dilakukan dengan bantuan papan datar untuk menahan kompas dengan posisi miring, setelah itu pastikan gelembung udara sudah masuk pada nivo tabung yang berada di dalam kompas geologi, lalu lakukan pembacaan arah dan kemiringan dari endapan batubara tersebut pada kompas geologi.

  1. Ploting posisi atau stasiun singkapan batubara pada peta lintasan yang terdapat di dalam GPS.

Ploting posisi dilakukan untuk menentukan letak atau posisi singkapan endapan batubara pada setiap stasiun untuk mengetahui letak titik koordinat yang nantinya digunakan pada penggambaran peta penyebaran endapan batubara.

        Cara melakukan ploting posisi menggunakan bantuan GPS yaitu : sebelum melakukan perjalan GPS sudah diaktifkan sehingga dapat mengontrol lintasan perjalanan yang dilakukan. Apabila sampai pada stasiun dimana terdapat singkapan batubara maka langsung dilakukan ploting posisi peta lintasan perjalanan yang terdapat di dalam GPS.

  1. Pengambilan Sampel Endapan Batubara

            Pengambilan sampel dilakukan untuk keperluan  pengujian kadar kalori yang terkandung di dalam batubara tersebut di Laboratorium, agar dapat mengetahui berapa nilai kalor dari sampel tersebut

Cara pengambilan sampel adalah sebagai berikut :Sampel yang diambil harus berukuran segenggam tangan orang dewasa. Sampel tersebut dimasukan ke dalam kantung sampel supaya sampel tersebut terlindung udara bebas.

  1. Pengolahan data  penggambaran peta penyebaran endapan batubara.
    1. Pengolahan data pengukuran

Data-data hasil survey endapan batubara yang telah dilakukan harus dilakukan pengolahan data tersebut sehingga menghasilkan suatu data pengukuran yang nantinya akan digunakan untuk penggambaran peta penyebaran endapan batubara.

  1. Penggambaran Peta Penyebaran Endapan Batubara

Apabila pengolahan data telah selesai dikerjakan, maka dapat dilanjudkan pada penggambaran peta penyebaran batubara. Penggambaran peta harus berpatokan pada pengolahan data yang telah diolah terlebih dahulu. Penggambaran peta penyebaran batubara bertujuan untuk mengetahui seberapa luas daerah penyebaran batubara dan juga bagaimana arah penyebaran dari batubara tersebut.

BAB IV.

DISKUSI

4.1 Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan praktek kerja lapangan (PKL).

Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan praktek kerja lapangan  adalah masalah cuaca yang kurang baik (hujan) dan juga topografi daerah lintasan karena pengukuran dilakukan di darat dan di daerah pinggiran sungai sehingga apabila hujan akan mempengruhi pengukuran penampang di tepian sungai karena banjir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V.

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

  Berdasarkan laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) tentang Penyebaran Endapan Batubara di Kampung Aisa Distrik Aifat Timur Kabupaten Sorong Selatan, maka dapat disimpulkan bahwa ::

  1. Mahasiswa dapat mengikuti serta mengerti proses pengukuran dan pengambilan data di lapangan yang berkaitan dengan penyebaran endapan batubara.
  2. Mahasiswa dapat melakukan pengolahan data hasil pengukuran di lapangan dan juga dapat melakukan penggambaran peta penyebaran endapan batubara.
  3. Mahasiswa dapat mengetahui seberapa luas daerah penyebaran endapan batubara di lokasi praktek. Hal ini merupakan tujuan yang mendorong mahasiswa melakukan  Praktek Kerja Lapangan (PKL).
  4. Hasil Praktek Kerja Lapangan (PKL) dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah Kabupaten Sorong Selatan dalam merencanakan penolahan tambang batubara di daerah tersebut, dan juga dapat memberikan pengertian kepada masyarakat setempat bahwa mereka memiliki sumber daya alam terutama batubara yang sangat besar.

5.2 Saran

Berdasarkan penulisan laporan ini, maka dapat disarankan bahwa :

  1. Pemerintah daerah Kabupaten Sorong Selatan dalam melakukan penambangan batubara di daerah Aisa Distrik Aifat Timur harus dilakukan dengan perencanaan yang baik sehingga dapat menigkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
  2. Jurusan/Program study harus konsekwensi dengan waktu pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) sehingga mahasiswa tidak terlambat dalam melakukan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang akan menimbulkan permasalahan sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

 

DAFTAR PUSTAKA

About these ads

06/17/2011 - Posted by | Uncategorized

1 Komentar »

  1. saya add kamu d FB. saya mau tanya ttg mslh skripsi.

    Komentar oleh tuti | 02/29/2012


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 929 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: