BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

LAPORAN MAGANG TANAMAN KRISAN

I. PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

            Tanaman hias merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai prospek agribisnis yang cukup besar di Indonesia. Salah satu dari tanaman hias tersebut adalah tanaman krisan. Krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) termasuk salah satu jenis tanaman hias yang banyak digemari oleh masyarakat karena mempunyai warna, ukuran, dan bentuk bunga menarik, serta tanaman krisan dapat bertaan kurang lebi 14 hari. Krisan termasuk jenis bunga potong penting dunia, karena macam jenisnya beraneka ragam. Krisan memiliki 55 varietas yang ada d seluruh dunia.

            Seiring dengan terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat maka permintaan akan tanaman hias, khususna bunga potong juga mengalami peningkatan. Bunga potong krisan merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan prospek yang cukup baik. Bunga krisan (Chrysanthemum morifolium ramat). merupakan salah satu spesiaes yang sangat populer dan tumbuh sebagai penghias tanaman dan sebagai bunga pot atau bunga potong. Menurut Wijayakusuma (2000), krisan dapat juga dimanfaatkan sebagai tanaman obat dan tanaman penghasil racun serangga alami.

            Permintaan konsumen terhadap bunga krisan (Chrysanthemum morifolium ramat)  yang terus meningkat, telah memacu para petani dan pengusaha bunga hias terutama krisan terus meningkatkan produksinya. Hal ini dilihat dari penjualan bunga krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) di Pasar Rawa Belong, mulai dari 2007 sampai 2009 yaitu 399,25, 412,68 dan 422,50 (dalam juta tangkai). Permintaan tersebut ternyata tidak hanya tertuju pada kuantitas saja, melainkan juga jenis dan kualitas bunga. Kendala petani krisan dalam sistem produksi krisan yaitu kurang tersedianya bibit bermutu, rendahnya daya adaptasi varietas introduksi terhadap kodisi lingkungan fisik indonesia serta keterbatasan penggetahuan tentang teknik budidaya. Upaya peningkatan produksi krisan dalam negeri perlu dilakukan melalui penanganan yang memadai, supaya dimasa mendatang tanaman krisan ini diharapkan mampu menjadi komoditas andalan nasional sebagai penghasil devisa negara. Upaya tersebut perlu didukung dengan perbaikan sistem usaha yang menguntungkan dari pemerintah, sehingga petani termotivasi untuk melestarikan usaha tanaman krisan.

            Selain itu kendala penanaman tanaman krisan di Indonesia dibutuhkan modifikasi-modifikasi lingkungan agar tanaman dapat tumbuh, mulai dari green house, menambakan sinar dari lampu, hingga suhu lingkungan. Teknik kultur invitro merupakan metode perbanyakan tanaman dengan mengisolasi bagian tanaman serta menumbuhkanya dalam kondisi aseptik. Sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman dengan jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat, serta memiliki kualitas, tumbuh degan tempo yang reatif cepat di bandingankan dengan konvensional. Menyediakan bibit yang berkualitas serta memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit.

1.2. Identifikasi Masalah

1. Bagaimana perkembangan regenerasi tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) dalam kultur in vitro.

2.    Bagaimana proses kultur in vitro pada tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat).

3.    Bagaimana pengaruh media dalam meregerasi tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) pada kultur in vitro.

1.3. Tujuan

            Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam pelakdanaan PKL adalah:

1. Untuk mengetahui perkembangan regerasi tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) dalam kultur in vitro.

2.  Untuk mengetahui proses kultur in vitro pada tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat).

3. Untuk mengetahui pengaruh media dalam meregenerasi tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) pada kultur in vitro.

II DASAR TEORI

 

2.1. Tanaman Krisan

            Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicum (kuning), C. Morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, dan tahun 797 bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East. Tanaman krisan dari Cina dan Jepang menyebar ke kawasan Eropa dan Perancis tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan di Inggris. Jenis atau varietas krisan modern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial (Rukmana dan Mulyana, 1997).

Di beberapa negara tanaman krisan memiliki arti yang beraneka ragam, di Jepang, Korea dan Cina bunga krisan putih menunjukkkan bunga duka cita. Di Eropa seperti Italia, Perancis, Polandia, Spanyol dan Kroasia, krisan merupakan simbol kematian dan hanya digunakan untuk pengkuburan. Di Amerika Serikat bunga krisan diguanakan untuk menunjukkan kebahagiaan dan semangat. Pada beberapa negara krisan menunjukkan kasih sayang, seperti di Australia krisan digunakan ketika “hari ibu”. Serta yang paling menarik tanaman krisan disebut juga bunga November.

2.2. Klasifikasi  Tanaman Krisan

Kingdom      : Plantae
Divisi            : Spermatophyta
Subdivisi       : Angiosperms
Order            : Asterales
Family           : Asteraceae
Tribe             : Anthemideae
Genus           : Chrysanthemum
Type spesies : Chrysanthemum indicum L
Spesies          : Chrysanthemum morifolium ramat

(W ijayakusuma, 2000)

2.3. Morfologi Tanaman Krisan

            Tanaman krisan merupakan tanaman semusim (anual) yang berkisar 9-12 hari tergantun varietas dan lingkungan tempat menanamnya. Tanaman krisan dapat dipertahankan hingga beberapa tahun bila dikehendaki, tetapi bunga yang dihasilkan biasanya jauh menurun kualitasnya (Hasyim dan rexa, 1995). Menurut Rukmana (1997), tanaman krisan tumbuh menyemak setinggi 30-200 cm, sistem perakarannya serabut yang keluar dari batang utama. Akar menyebar kesegala arah pada radius dan kedalaman 50-70 cm atau lebih. Batang tanaman krisan tumbuh agak tegak dengan percabangan yang agak jarang, berstruktur lunak, dan berwarna hijau tetapi bila dibiarkan tumbuh terus, batang berubah menjadi keras (berkayu) dan berwarna hijau kecoklatan, serta berdiameter batang sekitar 0,5 cm.

            Bunga krisan tumbuh tegak pada ujung tanaman dan tersusun dalam tangkai berukuran pendek sampai panjang, serta termasuk bunga lengkap. Bunga krisan merupakan bunga majemuk yag terdiri atas bunga pita dan bunga tabung. Pada bunga pita terdapat bunga betina (pistil), sedangkan bunga tabung terdiri atas bunga jantan dan bunga betina (biseksual) dan biasanya fertil (kofranek, 1980).

2.4. Syarat-Syarat Tumbuh

2.4.1. Iklim

               Tanaman krisan membutuhkan air yang memadai, tetapi tidak tahan terpaan air hujan. Oleh karena itu untuk daerah untuk cucah hujan tinggi penanaman dilakukan di dalam green house. Suhu toleran untuk tanaman krisan adalah 17­­­­0-300C, untuk daerah tropis seperti di Indonesia cocok menggunakan suhu 200-260C. Kelembaban yang dibutuhkan untuk tanaman krisan sangat tinggi ketika pembentukan akar, pada stek kelembabannya 90%-95%. Kemudian tanaman muda sampai tua kelembabannya 70%-80%, dengan sirkulasi udara yang memadai. Kadar CO2 di udara sekitar 3000 ppm, sedangkan kadar CO2 yang ideal untuk fotosintesis adalah 600-900 ppm. Untuk pembungaan membutuhkan lebih lama cahaya, dimana dapat menambah cahaya menggunakan bantuan TL dan lampu pijar. Penambahan penyinaran yang paling baik ketika tengah malam yaitu jam 22.30-01.00 dengan lampu 150 watt untuk 9 m2, dan lampu di pasang menggantung 1,5 m dari tanah. Periode pemasangan lampu dilakukan pada vegetativ (2-8 minggu) untuk merangsang pembentukkan bunga (Lukito, 1998).

2.4.2. Media tanam dan ketinggian tempat

               Untuk pertumbuhan tanaman yang optimum dibutuhkan media yang ideal, di mana tekstur media harus liat berpasir, subur, gembur dan memiliki drainase yang baik, serta tidak mengandung hama dan penyakit. Derajat keasaman media yang baik untuk petumbuhan tanaman adalah 5,5-6,7. Kemudian untuk ketinggian ideal untuk pertumbuhan tanaman sekitar 700-1200 m dpl (Rukmana dan Mulyana, 1997).

2.5 Budidaya

2.5.1.  Pembibitan

               Bibit diperoleh dari tanaman indukan yang sehat, kualitas prima, daya tumbuh yang kuat, serta bebas dari hama dan penyakit. Pembibitan dilakukan secara vegatatif, yaitu dengan anakan, stek pucuk dan kultur in viro.

2.5.1.1. Bibit asal anakan

                 Diperoleh dari tanaman yang sudah tua, yang biasanya anakan muncul d dekat akar atau bagian batang bawah.

2.5.1.2. Bibit asal stek puncuk

                 Yaitu dengan menententukan tanaman yang sehat dan cukup umur, memilih tunas pucuk yang tumbuh sehat. Dengan diameter pangkal 3-5 mm, panjang 5 cm, mempunyai 3 helai daun dewasa berwarna hijau terang, potong pucuk tersebut. Kemudian langsung disemaikan atau disimpan dalam ruangan dingin bersuhu udara 4 derajat C, dengan kelembaban 30 % agar tetap tahan segar selama 3-4 minggu. Cara penyimpanan stek adalah dibungkus dengan beberapa lapis kertas tisu, kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik rata-rata 50 stek.

2.5.1.3. Bibit asal kultur in vitro

                 Yaitu menetukan mata tunas atau eksplan dan diambil dengan pisau silet, stelisasi mata tunas dengan sublimat 0,04 % (HgCL) selama 10 menit, kemudian bilas dengan air suling steril. mepenanaman dalam medium MS berbentuk padat. Hasil penelitian lanjutanperbanyakan tanaman krisan secara kultur jaringan:

1. Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 1,5 mg kinetin/liter, paling baik untuk pertumbuhan tunas dan akar eksplan. Pertunasan terjadi pada umur 29 hari, sedangkan perakaran 26 hari.

2. Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5 BAP/liter, kalus bertunas waktu 26 hari, tetapi medium tidak merangsang pemunculan akar.

3. Medium MS padat ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-0.2 mg kinetin/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-2,0 BAP/liter pada eksplan varietas Sandra untuk membentuk akar pada umur 21-31 hari. Penyiapan bibit pada skala komersial dilakukan dengan dua tahap yaitu:

a. Stok tanaman induk : Fungsinya untuk memproduksi bagian vegetatif sebanyak mungkin sebagai bahan tanaman Ditanam di areal khusus terpisah dari areal budidaya. Jumlah stok tanaman induk disesuaikan dengan kebutuhan bibit yang telah

direncanakan. Tiap tanaman induk menghasilkan 10 stek per bulan, dan selama 4-6 bulan dipelihara memproduksi sekitar 40-60 stek pucuk. Pemeliharaan kondisi lingkungan berhari panjang dengan penambahan cahaya 4 jam/hari mulai 23.30–03.00 lampu pencahayaan dapat dipilih Growlux SL 18 Philip.

b. Perbanyakan vegetatif tanaman induk.

1. Pemangkasan pucuk yaitu, dilakukan pada umur 2 minggu setelah bibit ditanam, dengan cara memangkas atau membuang pucuk yang sedang tumbuh sepanjang 0,5-

1 cm.

2. Penumbuhan cabang primer. Perlakuan pinching dapat merangsang pertumbuhan tunas ketiak sebanyak 2-4 tunas. Tunas ketiak daun dibiarkan tumbuh sepanjang

15-20 cm atau disebut cabang primer.

3. Penumbuhan cabang sekunder. Pada tiap ujung primer dilakukan pemangkasan pucuk sepanjang 0,5-1 cm, pelihara tiap cabang sekunder hingga tumbuh

sepanjang 10-15 cm.

2.5.2. Pengolahan media tanam

               Pengolahan menggunakan cangkul, tanah dicangkul sedalam 30 cm, kemudian dikering anginkan selama 15 hari. Setelah itu digeemburkan kedua kalinya dengan dibersihkan gulmanya, lalu di bentuk bedengan dengan lebar 1-1,2 m, tinggi 20-30 cm, dengan panjang sesuai lahan yang ada, serta jarak antar bedengan yaitu 30-49 cm. Jika tanah mempunyai pH dibawah 5,5, maka diperlukan pengapuran menggunakan kapur pertanian seperti dolomit, zeagro atau kalsit. Kebutuhan kapur sesuai kadar pH yang ada dalam tanah, untuk pH 5 = 5,02 ton/ha, pH 5,2 = 4,08 ton/ha, pH 5,3 = 3,60 ton/ha, pH 5,4 = 3,12 ton/ha. Pengapuran dilakukan dengan cara disebar merata pada permukaan bedengan.

2.6. Hama dan Penyakit

2.6.1. Hama

a. Ulat tanah (Agrotis ipsilon)

o Gejala: memakan dan memotong ujung batang tanaman muda, sehingga pucuk dan tangkai terkulai.

o Pengendalian: mencari dan mengumpulkan ulat pada senja hari dan semprot dengan insektisida.

b. Thrips (Thrips tabacci)

o Gejala: pucuk dan tunas-tunas samping berwarna keperak-perakan atau kekuning-kuningan seperti perunggu, terutama pada permukaan bawah daun.

o Pengendalian: mengatur waktu tanam yang baik, memasang perangkap berupa lembar kertas kuning yang mengandung perekat, misalnya IATP buatan Taiwan.

c. Tungau merah (Tetranycus sp)

o Gejala: daun yang terserang berwarna kuning kecoklat-coklatan, terpelintir, menebal, dan bercak-bercak kuning sampai coklat.

o Pengendalian: memotong bagian tanaman yang terserang berat dan dibakar dan penyemprotan pestisida.

d. Penggerek daun (Liriomyza sp) :

o Gejala: daun menggulung seperti terowongan kecil, berwarna putih keabuabuan yang mengelilingi permukaan daun.

o Pengendalian: memotong daun yang terserang, penggiliran tanaman, dengan aplikasi insektisida.

2.6.2. Penyakit

1. Karat/Rust

o Penyebab: jamur Puccinia sp. karat hitam disebakan oleh cendawan Pchrysantemi, karat putih disebabkan oleh P horiana P.Henn.

o Gejala: pada sisi bawah daun terdapat bintil-bintil coklat/hitam dan terjadi lekukan-lekukan mendalam yang berwarna pucat pada permukaan daun bagian atas. Bila serangan hebat meyebabkan terhambatnya pertumbuhan bunga.

o Pengendalian: menanam bibit yang tahan hama dan penyakit, perompesan daun yang sakit, memperlebar jarak tanam dan penyemprotan insektisida.

2. Tepung oidium

o Penyebab: jamur Oidium chrysatheemi.

o Gejala: permukaan daun tertutup dengan lapisan tepung putih. Pada serangan hebat daun pucat dan mengering.

o Pengendalian: memotong/memangkas daun tanaman yang sakit dan penyemprotan fungisida.

3. Virus kerdil dan mozaik

o Penyebab: virus kerdil krisan, Chrysanhenumum stunt Virus dan Virus Mozaoik Lunak Krisan (Chrysanthemum Mild Mosaic Virus).

o Gejala: tanaman tumbuhnya kerdil, tidak membentuk tunas samping, berbunga lebih awal daripada tanaman sehat, warna bunganya menjadi pucat.

o Penyakit kerdil ditularkan oleh alat-alat pertanian yang tercemar penyakit dan pekerja kebun.

o Virus mosaik menyebabkan daun belang hijau dan kuning, kadang-kadang bergaris-garis.

o Pengendalian: menggunakan bibit bebas virus, mencabut tanaman yang sakit, menggunakan alat-alat pertanian yang bersih dan penyemprotan insektisida untuk pengendalian vektor virus.

2.7. Metode Kultur

            Kultur jaringan tanaman terdiri dari sejumlah teknik untuk menumbuhkan organ, jaringan dan sel tanaman. Jaringan dapat dikulturkan pada agar padat atau dalm medium hara cair. Kultur biasanya dimulai dengan menanamkan satu iris jaringan steril pada medium hara yang dipadatkan dengan agar. Dalam waktu 2-3 minggu akan terbentuk kalus. Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan kalus dan kultur suspensi sel amat beragam, dan terutama bergantung pada jaringan eksplan dan komposisi medium kultur. Baik kultur kalus maupun kultur suspensi sel dapat diperoleh dari berbagai spesies. Kemudahan memulai kultur bergantung pada jenis tanaman dan asal jaringan (wetter and constabel, 1991).

2.8. Media

            Kegiatan kultur jaringan sangat ditentukan dan tergantung oleh pilihan media yang digunakan. Dalam kultur jaringan menekankan lingkungan yang cocok agar eksplan dapat tumbuh dan berkembang. Lingkungan yang cocok, sebagian akan terpenuhi bila media yang akan dipilih mempertimbangan apa-apa yang diperlukan oleh tanaman. Secara umum kebutuhan nutrisi kebanyakan tanaman sama, tetapi secara khusus hal tersebut berbeda (Soeryowinoto dan Soeryowinoto, 1984).

2.8.1. Garam organik

               Garam anorganik yang diperlukan eksplan dalam kultur jaringan sama halnya dengan garam-garam organik yang diperlukan tanaman yang tumbuh normal di lingkungan alaminya. Beberapa garam organik yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah takaran banyak (milimole) dan dikenal sebagai unsur makro adalah N, K, S (anion) P, Ca, dan Mg (kation). Sedangkan unsur esensial yang kebutuhannya dalam takaran sedikit (mikromolar) dan disebut unsur mikro adalah Fe, Mn, Zn, B, Cu dan Mo (santoso dan nursandi, 2004).

2.8.2. Sumber karbon dan energi

Sumber karbon yang dianggap standar adalah sukrosa atau glukosa. Sukrosa umumnya digunakan pada kosentrasi 2-3 %, kebanyakan media mengandung miositol. Zat ini sesungguhnya bukan sesuatu yang mutlak harus ditambahkan, tetapi penambahan pada media kira-kira 100 mg/liter dapat meningkatkan pertumbuhan sel (santoso dan nursandi, 2004).

2.8.3. Vitamin

Tanaman normal melakukan sintetis vitamin untuk pertumbuhan dan perkembangan. Ketika sel-sel tumbuhan tinggi tumbuh didalam kultur, beberapa vitamin tidak terpennuhi atau jumlahnya kurang. Dalam penggunaan vitamin adalah kadar yang seharusnya ditambhakan ke dalam media adalah sangat randah, berkisar 0,1-0,5 mg/liter (wetter and constabel, 1991).

2.8.4. Hormon tanaman

Sitokinin dan auksin merupakan dua kelompok hormon tanaman yang sangat penting dan diperlukan dalam aktivitas kultur jaringan. Kedua hormon tersebut diperlukan untuk mendorong terjadinya pembelahan sel dan pembentukan  kalus. Tidak hanya sitokinin dan auksin yang digunakan, namun ada abcisic acid (santoso dan nursandi, 2004).

2.8.5. N-Organik

N-organik diperlukan untuk pada saat inisiasi kalus terjadi, atau digunakan untuk mempertahankan kultur kalus atau suspensi. Sumber-sumber dari n-organik adalah asam amino, glutamin, asparagin, dan adenin. Namun sumber n-organik tidak terlalu dianggap (santoso dan nursandi, 2004).

III. METODE PELAKSANAAN

 

3.1. Tempat

Praktek kerja lapang (PKL) dilakasanakan di PT Inggu Laut Abadi laboratorium molekuler, dan ditempatkan pada laboratorium kultur in vitro. PT Inggu Laut Abadi terletak di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur kilometer 17 jalan raya Bumi Aji-Sumber Brantas, yang berkedudukan di Desa Sumber Agung, Kecamatan Bumi Aji. Tempat ini berada pada ketinggian ± 1400 m dpl dengan luas lahan 3,5 hektar. Waktu pelaksanaan PKL dimulai pada tanggal 24 Januari 2011 sampai dengan 26 Februari 2011.

3.2. Bahan dan Alat

3.2.1. Alat

               Alat yang digunakan dalam praktek kerja lapang menggunakan beberapa alat, diantaranya laminar air flow, autoklaf, oven, pisau klinis, tang, cawan petri, labu kultur, sumbat, pipet, serta lemari pendingin.

3.2.2. Bahan

               Bahan pada praktek kerja lapang menggunakan  beberapa bahan, diantaranya aquades, garam mineral dan senyawa organik, n-organik, dan agar.

3.3. Pengumpulan Data

            Pengumpalan data yang berhubungan dengan regenerasi tanaman padi indica krisan pada kultur in vitro yaitu:

  1. Melakukan survey lapang di laboratorium kultur in vitro PT Inggu Laut Abadi
  2.  wawancara dengan pembimbing lapang dan staf pekerja/ karyawan.
  3. Melihat dokumen atau data yang berhubungan dengan regerasi tanaman krisan di kultur in vitro.

3.4. Pengolahan Data

            Pada pengolahan data yang dilakukan dalam pelaksanaan PKL ini hanya menggunakan analisa deskriptif. Analisa deskriptif dimaksudkan untuk memberi gambaran tentang regenerasi tanaman krisan pada kultur in vitro.

3.5. Pengamatan

            Pengamatan yang dilakukan yaitu mengamati perkembangan planlet yang sudah di pindah ketiap media yang sudah disiapkan. Mengamati perkembangan akar serta tunas yang muncul serta mengamati kontaminasi yang terjadi pada proses regenerasi tanaman krisan. selain itu mengamati proses pembuatan media, sterilisasi hingga inkubasi.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

4.1.2. Gambaran Umum Lokasi

PT Inggu Laut Abadi merupakan perusahaan perseroan yang didirikan pada tanggal 10 Mei 2002, ini berdasarkan akta yang di terbitkan oleh Ny. Hartati Marsono, SH. Kemudian diperkuat di Pengaadilan negeri no.38605/tertanggal 27 mei 2002. Bentuk badan hukum Inggu Laut Abadi adalah Perseroan Terbatas (PT) yang memiliki surat ijin usaha perdagangan 0305/09-02/PB/V/2002. Pendiri dari perusahaan ini adalah keluarga besar Solo-Indroko, nama Inggu laut merupakan nama tanaman hias yaitu Lantana camara sp atau yang lebih kita kenal dengan nama “Tembelek”. Tembelek di Jawa Barat lebih dikenal dengan nama inggu laut, tanaman ini dapat ditemui di pinggir laut hingga daerah dataran tinggi. Tanaman tembelek merupakan tanaman yang dapat hidup di segala tempat, dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Inggu Laut digunakan sebagai nama, agar tanaman krisan dapat tumbuh dimana saja dari dataran rendah hingga tinggi seperti tanaman Lantana camara sp.

Perusahaan ini pertama kali didirikan di Cipanas, Jawa Barat, yaitu mengambil alih dari usaha kecil yang mengalami kebangkrutan. Kebun Cipanas mulai beroperasi pada 1 Juli 2002,  pada lahan seluas 3600 m2. Budidaya tanaman krisan di PT. Inggu Laut Abadi dilakukan secara kultur in vitro, yang meliputi pengadaan tanaman hasil kultur dalam botol, bibit stek akar dan bunga potong krisan yang dihasilkan yaitu krisan standart dan krisan spray. Pemasaran bunga disalurkan ke Jakarta yaitu Pasar Bunga Rawa Belong, kemudian pada awal bulan Juni 2003 perusahaan mulai memperluas pemasaran ke Surabaya dan Bali. Untuk mempermudah dan meningkatkan produksi maka pada bulan Agustus 2003 di buka kebun baru yang terletak di Sumber Brantas, Kota Batu, dengan luas 1,6 hektar. Sistem organisasi PT Inggu Laut Abadi dikepalai oleh seorang Direktur Utam. Direktur wilayah Batu dibantu oleh Kepala Laboratorium dan Kepala Kebun, sedangkan Direktur Wilayah Cipanasdibantu Oleh Kepala Kebun.

Untuk meningkatkan efisiensi kerja, maka perusahaan membagi dua kegiatan produksi besar pada setiap kebun, untuk kebun Batu ditentukan sebagai pusat kegiatan pangadaan bibit, budidaya tanaman hias dan pelatihan tenaga kerja. Sedangkan kebun Cipanas dikhususkan hanya pada kegiatan pusat budidaya tanaman hias baik bunga potong ataupun bunga pot. Hal ini diharapkan setiap kebun dapat berkonsentrasi dalam menjalankan tugasnya serta kairnya menghasilkan produk yang unggul.

            PT. Inggu Laut Abadi terletak di Jalan Sumber Brantas, Desa Junggo,  Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, dengan ketinggian 1400 m dpl dengan suhu 200-230. Jenis tanahnya yaitu lempung berpasir, dengan topografi berbukit. Di sana  dilengkapi dengan fasilitas 26 mess, 27 green house (20 untuk pengadaan tanaman induk krisan, 2 untuk pembibitan krisan, 4 untuk tanaman gerbra, 1untuk tanaman anyelir), 1 aula, 1 gudang + rapat, 1 perpustakaan, 1 laboratorium kultur jaringan, 3 mobil, 2 motor, 1 motor tosa, alat pemupukan, dan dilahan terbuka ditanami mawar, song of india, philodendron, ruskus, lither leave, dan hortensia.

PT. Inggu Laut Abadi memiliki karyawan yang berjumlah 27 orang dari berbagai latar belakang pendidikan yang berbeda (Tabel 1)

Tingkat Pendidikan

Jumlah Pegawai (orang)

S2

1

S1

3

D3

2

D1

S2

SMK

S1

SMP

D3

SD

1

Jumlah

27

Tabel 1. Latar Belakang Pendidikan Karyawan PT. Inggu Laut Abadi

4.1.2. Komoditas Tanaman yang Dibudidayakan

 Terdapat beberapa komoditas yang dibudidayakan di PT Inggu Laut, yaitu :

1. Pembibitan bunga krisan yang dijual kepada petani dalam bentuk bibit yang sudah berakar dan siap tanam. Semua varietas dibibitkan dan dijual, untuk bibit siap jual yaitu tanaman yang sudah berakar atau berumur 14 hari setelah ditanam dalam sekam bakar.

2. Bunga krisan potong dengan berbagai varietas.

3. komoditas sampingan seperti bunga Mawar, Leather leaf, Song of India, Ruskus, Lily, Gerbera, Anyelir, Anthurium bunga, Philodendron, dll.

Seperti perusahaan bunga potong lainnya yang terus meningkatkan produksinya sesuai permintaan pasar, saat ini perusahaan sedang meningkatkan produksinya dalam hal kualitas dan kuantitas.

4.1.3. Sarana dan Prasarana pada Kultur In Vitro

Perbanyakan tanaman secara kultur in vitro pada umumnya di lakukan di laboratorium. Laboratorium merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan suatu penelitian ataupun perbanyakan tanaman dengan teknik kultur in vitro. Keberadaan suatu laboratorium dengan ruangan dan peralatan yang cukup memadai sangat membantu terlaksananya suatu kegiatan. Biasanya penataan ruang-ruang, peralatan serta bahan dalam laboratorium disesuaikan dengan langkah-langkah prosedur kultur in vitro. Beberapa ruangan yang digunakan di laboratorium kultur in vitro PT Inggu Laut Abadi antara lain :

a. Ruang persiapan

Ruang ini digunakan untuk mempersiapkan bahan tanaman serta media kultur yang akan digunakan dalam kultur jaringan. Serta dilengkapi tempan menyimpan unsur mikro dan bahan media lain seperti air kelapa, yaitu lemari es.

b. Ruang penimbangan dan penyimpanan bahan

runag ini berfungdi sebagai tempat menimbang dan menyiapkan semua bahan-bahan kimia yang dibutukan dalam pembuatan media kultur in vitro. Bahan-bahan yang tersimpan diruangan ini adalah unsur-unsur hara makro, unsur-unsur hara mikro, Fe EDTA, hormon, sukrosa, vitamin, dan agar-agar. Timbangan yang digunakan adalah timbangan mikro biasa, sehingga dalam menimbang terdapat persyaratan-persyaratan. Diantaranya harus bebas dari getaran seperti arus angin, getaran dari mesin, dan getaran lainnya, karena akan mempengaruhi asil penimbangan. Ruangan ini juga dilengkapi rak-rak untuk menyimpan bahan-bahan kimia, ruangan ini dijaga sedikit gelap dan tetap sejuk.

c. Ruang tanam (transfer)

Dalam melakukan kultur jaringan hal yang diperlukakan dalam ruang tanam adalah aseptik, karena dalam ruangan ini dilakukan sterilisasi, isolasi dan penanaman eksplan pada media tanam. Ruangan ini dilengkapi berbagai alat, diantaranya : Laminar Air Flow Cabinet yang merupakan sarana mutlak dalam kultur jaringan, rak untuk menaruh media dan hasil tanam, alat-alat kerja tanam (bunsen, penjepit, pisau bedah, gunting, dll), meja, dan kursi.

 Gambar 1. Ruang tanam (transfer)

d. Ruang Inkubasi

ruangan ini merupakan  ruang untuk meletakkan botol-botol kultur jaringan untuk induksi atau inkubasi. Botol-botol kultur jaringan diletakkan di rak-rak bertingkat denngan panjang 150-200 cm, lebar 40-60 cm dan tinggi 200-300 cm. Kemudian jarak antar tingkat rak kurang lebih 60 cm, setiap tingkat dari masing-masing rak dilengkapi lampu neon 40 watt yang jaraknya 40-60 cm dari permukaan botol kultur jaringan. Ruangan ini juga dilengkapi oleh AC (Air Conditioner) dengan termperatur berkisar antara 160-250 C dengan kelembaban 50-60%.

e. Green House

Green house di PT Inggu Laut Abadi adalah rumah plastik yang digunakan untuk pembibitan, pembuatan bibit, tempat mother stock, sebagai eksplan, serta digunakan untuk pembungaan. Green house ini dibuat sedemikian rupa sehingga terbebas dari hama dan penyakit.

4.1.4. Pembuatan Media

Media yang digunakan untuk perbanyakan tanaman krisam melalui kultur jaringan menggunakan formula yang digunakan perusahaan Murashige dan Skoog (MS) dengan konsentrasi  MS ( lihat tabel 2). Pembuatan media 2 liter  MS padat diawali dengan menimbang semua unsur makro yaitu 3,3 g NH­4NO3; 3,8 g KNO3; 0,88 g CaCl2.2H2O; 0,74 g MgSO4.7H2O; 0,34 g KH3PO; 0,2 g Mio-Inositol; dan 60 g Gula Pasir. Kemudian bahan-bahan tersebut dimasukkan kedalam teko ukur bervolume ± 2 liter yang telah berisi sedikit aquades, lalu digoyang-goyangkan agar bercampur secara homogen. Selanjutnya larutan tersebut di tambah berbagai macam stok (lihat tabel 3), diantaranya ; 2 ml stok A, 20 ml stok B, 2 ml stok C, 2 ml stok D dan 2 ml stok E. Kemudian larutan tersebut dimasukkandalam teko yang berisi bahan makro lalu di campur dan volumenya di jadikan menjadi 2 liter.

Larutan tersebut diaduk hingga menjadi homogen lalu diukur pHnya dengan menggunakan kertas lakmus atau pH meter, dan jangan lupa menambahkan arang aktif (NORIT) kedalam media serta agar-agar. Agar-agar yang digunakan adalah agar-agar yang mudah di peroleh ditoko klontong (Warung Kecil), dengan harga yang relatif lebih murah. pH yang ideal untuk media kultur jaringan adalah 5,8-5,9, media yang memiliki pH diatas 5,8-5,9 maka perlu ditambah HCl, begitu juga sebaliknya jika pHnya dibawah 5,8-5,9 maka media tadi ditambah NaOH. Kemudian campuran media tadi dimasukkan kedalam panci lalu dipanaskan diatas kompor gas dengan api sedang, diaduk terus hingga mendidih. Setelah mendidih kompor dimatikan lalu di masukkan kedalam botol kultur yang telah steril sebanyak ± 20 ml. Kemudian botol yang berisi larutan media langsung ditutup menggunakan plastik lalu diikat menggunakan karet. Setelah selesai mengisi botol berisi larutan media disterilisasi ulang menggunakan autoclave.

 

 

Tabel 2. Komposisi Media MS
Komposisi Media Pembuatan Media (liter)
1 2 3
Kimia Makro MS
NH­4NO3 1,65 3,3 4,95
KNO3 1,9 3,8 5,7
CaCl2.2H2O 0,44 0,88 1,32
MgSO4.7H2O 0,37 0,74 1,11
KH3PO4 0,17 0,34 0,51
Gula Pasir 30 60 90
Kimia Mikro MS
MnSO4.4H2O 0,0446 0,0892 0,1338
ZnSO4.7H2O 0,0172 0,0344 0,0516
H3BO3 0,0124 0,0248 0,0372
KI 0,00166 0,00332 0,00498
CuSO4.5H2O 0,00005 0,0001 0.00015
NaMoO4.2H2O 0,0005 0,001 0,0015
CoCl2.4H2O 0,00005 0,0001 0,00015
FeSO4.7H2O 0,0054 0,0108 0,0162
NaEDTA.2H2O 0,0746 0,1492 0,2238
Vitamin
Myo-Inositol 0,1 0,2 0,3
Thiamine HCl 0,0001 0,0002 0,0003
Nikotinik Acid 0,0005 0,001 0,0015
Pyridoksin HCl 0,0005 0,001 0,0015
Glycine 0,002 0,004 0,006
Ket : Satuan dalam gram

 

 

 

Tabel 3. Komposisi Stok

Stok

Komposisi

A

0,0005 g NaMoO4.2H2O; 0,0124 g H3BO3; 0,00005 g CoCl2.4H2O; 0,0172 g ZnSO4.7H2O; dan 0,00005 g CuSO4.5H2O.

B

0,0446 g MnSO4.4H2O dan 0,1 g Myo-Inositol

C

0,00166 g KI

D

0,0001 g Thiamine HCl; 0,0005 g Nikotinik Acid; 0,0005 g Pyridoksin HCl; dan 0,002 g Glycine

E

0,0054 g FeSO4.7H2O dan 0,746 g NaEDTA.2H2O

4.1.5. Sterilisasi

Sterilisasi merupakan hal yang wajib dilakukan dalam kultur in vitro, ini adalah penentuan keberhasilan kultur in vitro. Kegagalan dalam kultur in vitro disebabkan terkontaminasi bahan eksplan, media, alat-alat kultur, lingkungan kerja dan kecerobohan dalam pelaksanaan. Sterilisasi perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya kontaminasi.

a. Sterilisasi alat dan botol kultur

Botol-botol yang akan digunakan sebelumnya dicuci terlebih dahulu, pencucian dilakukan dengan merendam terlebih dahulu dengan  cup deterjen dan 1 tutup botol pemutih (lihat gambar 2). Perendaman berfungsi untuk mengilangkan noda dan kotoran-kotoran yang keras, agar menjadi mudah untuk di bersihkan. Perendaman dilakukakn selama 24 jam, lalu di bersihkan menggunakan busa atau sikat dan dibilas menggunakan air mengalir. Setelah dibilas botol ditaruh dinampan besar berukuran 60×40 cm, lalu dijemur dibawah sinar matahari hingga kering. Kemudian botol sebelum dimasuki media disterilkan terlebih dahulu menggunakan autoclave, terlebih dahulu botol ditutup menggunakan plastik dan diikat menggunakan karet. Kemudian botol-botol dimasukkan kedalam autoclave, selain itu alat-alat kultur seperti gunting, scalpel, pinset dan petridist serta erlenmeyer juga disterilisasi. Alat-alat tersebut disterilisasi dalam keadaan terbungkus kertas.

b

a

Gambar 2. Perendaman botol kultur : a. Botol yang direndam; b. Tempat perendaman.

Botol dan alat-alat kultur disterilisasi dengan dipanaskan di atas api hingga jarum petunjuk tekanan kearah angka 15 psi pada suhu 1300 C selama 30 menit, perhitungan menit pertama ketika suhu mencapai 1300 C atau pada tekanannya menunjukkan 15 psi. Keseimbangan dijaga, setelah 30 menit kompor dimatikan lalu tunggu jarum pada autoclave menunjukkan diantara 0-10, lalu dibuka penguncinya. Ketika membuka pengunci jangan sampai dingin karena akan sulit untuk membukanya, sehingga ketika hangat itu yang idela untuk membuka penguncinya. Botol dikeluarkan dari autoclave lalu ditaruh diruang isolasi, dan alat-alat ditaruh diruang laminar. Pembungkus ala-alat kultur tidak perlu dibuka dan dibiarkan tertutup untuk menjaga tidak terjadi kontaminasi dan steril selama dalam ruang (tempat penyimpanan).

b. Sterilisasi media

media kultur yang telah siap untuk dimasukkan dalam botol yang telah disteril, kemudian dimasukan dalam botol ± 20 ml lalu ditutup menggunakan plastik dan diikat dengan karet. Media tersebut lalu disetrilisasi mengunakan autoclave pada tekanan 15 psi dan suhu 1300 C selama 30 menit, setelah disterilisasi botol-botol kultur yang berisi media di simpan diruang penyimpanan media lalu disusun dirak-rak yang telah ada. Media tersebut didiamkan selama 3 hari mengetahui terjadi kontaminasi atau tidak.

c. Sterilisasi ruang kerja

ruang kerja sebelum digunakan terlebih dahulu disterilkan menggunakan formalin, caranya di semprotkan 2-3 kali dengan arah acak, lalu didiamkan semalam atau hingga bau formalin hilang. Setelah formalin hilang lalu membersihkan laminar air flow cabinet dengan menggunakan alkohol 70% diratakan menggunakan lap tissue (Canebo), lalu UV dinyalakan dan ruang dikosongkan selama 1 jam. UV dimatika lampu biasa dan blower dinyalakan, kemudian alat-alat, media, dan planlet yang akan digunakan dimasukkan kedalam LAFC yang terlebih dahulu dilap menggunakan spirtus sebagai pengganti alkohol. Setelah kegiatan tanam selesai laminar air flow cabinet dibersihkan kembali menggunakan alkohol 70%.

4.1.6. Sub Kultur

Sub kultur merupakan kegiatan pemindahan dan pemotongan planlet dari media yang lama ke media yang baru setelah satu kali masa umur. Tujuan sub kultur merupakan memelihara pertumbuhan dan perkembangan planlet serta perbanyakan planlet lebih lanjut. Keberhasilan dalam sub kultur terlihat dari banyaknya botol yang terkontaminasi (lihat tabel 4). Kontaminasi yang biasanya menyerang planlet dan media dalam botol adalah jamur dan bakteri (gambar 7). Kontaminasi dapat diatasi dengan memperhatikan planlet yang akan digunakan, jeli melihat media, serta yang paling penting yaitu sterilisasi peralatan yang akan digunakan.

Tabel 4. Presentase Keberhasilan Tahap Sub Kultur

Varietas

Jumlah botol

Keberhasilan

%

Tanam

Tidak Terkontaminasi

Kontaminasi

Monalisa Dark

12

9

3

75

Stroika

8

8

0

100

Yellow Fiji

10

0

10

0

Kegiatan sub kultur di mulai dengan mengeluarkan botol dan planlet dari ruang inkubasi dan dibawa ke ruang tanam, planlet yang digunakan adalah planlet yang tidak terkontaminasi. Planlet yang akan ditanaman berasal dari berbagai macam varietas tanaman krisan (lihat tabel 5), pertama planlet diambil menggunakan pinset lalu dipotong menggunakan gunting. Hal ini berfungsi untuk memisahkan dari akar, lalu diletakkan dalam petridisk. Kemudian planlet di potong-potong ± 1 cm dan tiap tunas terdapat minimal 1 daun dan memiliki tunas aksilar. Potongan tersebut kemudian ditanam dalam media dengan jumlah per botol 5-7 tanaman, selanjutnya botol di tutup rapat menggunakan plastik wrap film dan diikat menggunakan karet kemudian diberi label dengan spidol. Setelah selesai botol dipindah ke ruang ruang penyimpanan atau ruang inkubasi. Satu botol yang berisi 5 planlet dapat disubkultur menjadi 6-8 botol subkultur yang berisi 5 planlet.

No.

Varietas

No.

Varietas

1

Kermit

18

Puma Kuning

2

Stallion

19

New Red

3

Salem Total

20

Boris Putih

4

Yellow Fiji

21

Boris Kuning

5

White Fiji

22

M-2000

6

Monalisa Pink

23

Rhino

7

Evergreen

24

Yoko Ono

8

Shamrock

25

Town Talk

9

Sheena Select

26

Jaguar Purple

10

Reagen Kuning

27

Jaguar red

11

Reagen Pink

28

Euro Putih

12

Reagen Putih

29

Stroika

13

Ungu Total

30

Monalisa Putih

14

Ellen

31

Monalisa Dark

15

Cat Eyes

32

Snow White

16

Euro Kunig

33

Tiger

17

Puma Putih

34

Remix Ungu

            a.                                             b.                                             c.

Gambar 3. Subkultur dan alat : a. Subkultur; b.rak media; c.alat kerja kultur in vitro

Kegiatan penanaman planlet dilakukan dalam laminar air flow cabinet (Gambar 3). Alat dan bahan diletakkan dalam LAFC, antara lain : petridish yang digunakan sebagai wadah potongan planlet, bunsen sebagai pembakar alat agar steril da bebas dari bakteri maupun jamur, botol yang berisi media, gunting, scalpel, dan pinset yang diletakkan dalam botol media yang berisi alkohol 70%, fungsi dari alkohol sebagai pensteril alat agar bebas dari bakteri dan jamur, plastik wrap film yang digunakan sebagai penutup botol yang telah berisi planlet, dan botol yang berisi planlet sebagai sumber eksplan. Dimana semua alat dan bahan tersebut terlebih dahulu disterilkan menggunakan spirtus (sebagai pengganti alkohol) dengan cara dilapkan secara merata, sebulum akhirnya dimasukkan kedalam laminar air flow cabinet. Di dalam ruang inkubasi terdapat rak penyimpanan botol eksplan dengan pencahayaan lampu TL 40 Watt dan diberi AC dengan suhu 210C (Gambar 4). Banyak lampu disesuaikan dengan luasnya rak, dimana botol-botol planlet tersebut dapat tersinari dengan baik.

 Gambar 4. Ruang inkubasi

4.1.7. Aklimatisasi

Aklimatisasi adalah masa yang kritis dalam kultur in vitro, karena planlet menunjukkan sifat yang kurang baik jika langsung hidup dilapang. Menururt sosilowati (1998), ada beberapa ekspresi tanaman jika planlet ditanam langsung ke lapang, diantarnya :

1. Sel-sel palisade daun hanya terbentuk dalam jumlah sedikit.

2. Stomata sering kali tidak berfungsi.

3. Lapisan lilin tidak berkembang dengan baik.

4. Jaringan pembuluh dari akar kepucuk kurang berkembang.

Planlet jika langsung ditaruh dilapang, sangat peka terhadap transpirasi, serangan mikroba-mikroba dan cahaya yang intesitasnya tinggi. Oleh sebab itu perlu penanganan khusus dalam aklimatisasi planlet tanaman krisan. aklimatisasi yang dilakuan di PT Inggu Laut Abadi terdapat 2 metode aklimatisasi, yaitu metode cutting dan metode langsung.

a. Metode Cutting

proses yang dilakukan dalam metode cutting, aklimatisasi tanaman krisannya tidank menggunakan akar dari planlet. Metode ini sangat cocok digunakan jika aklimatisasi terlambat dilakukan, sehingga tanaman dalam botol terlalu tinggi. Selain itu tanaman dalam botol terkontaminasi, sehingga perlu ada penyelamatan tanaman. Planlet dipilih yang akan diaklimatisasi, lalu dibuka tutupnya kemudian di gunting tanaman kira-kira 2 ruas dari akar. Lalu diletakkan dalam rooten F, hal ini berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar didaerah potongan. Kemudian hasil tadi ditanamn dalam nampang yang berisi media arang sekam yang telah disiram dengan fungisida (Gambar 5). Tanaman siap pindah kelapang ketika umur 4-6 minggu.

                        a.                                                         b.

Gambar 5. Aklimatisasi : a. Penclupan dalam rooten F dan b. penanaman dalam media arang sekam.

b. Metode Langsung

aklimatisasi metode langsung yaitu planlet ditanam beserta akarnya. Pertama planlet dikeluarkan dari dalam botol beserta medianya. Akar planlet dicuci sampai bersih menggunakan air bersih, dicuci sampai bersih. Kemudian akar dicelupkan dalam rooten F, setalah itu di tanam dalam media arang sekam. Tanaman aklimatisasi diletakkan dalam ruang khusus untuk aklimatisasi (Gambar 6).

Gambar 6. Tempat penumbuhan aklimatisasi.

            a.                                             c.                                 d.

Gambar 7. Kontaminasi : a. Bakteri; b. Bakteri ; c. Jamur

4.2. Pembahasan dan Alternatif Pemecahan

Dalam pembuatan media menggunakan air kelapa karena berbagai pertimbangan, memanfaatkan limbah organik serta mempertimbangkan dari segi ekonomisnya. Sebelumnya perusahaan menggunakan NAA sebagai ZPT media kultur. Air kelapa sebagai pengganti auksin tersebut. Penggunaan air kelapa dikarenakan pada air kelapa terdapat berbagai macam ZPT, seperti auksin dan sitokinin serta berbagai unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh dalam kultur in vitro.

Air kelapa kelapa mengandung komponen aktif, misalnya mio-inositol, leukoantosianin, dan sitokinin. Penambahan air kelapa dan mio-inositol dalam medium Murashige dan skoog yang mengandung 3 mn dan 2,4-D akan merangsang pembentukkan kalus saccharum. Sedangkan jaringan korteks dan parengkim daun akan mudah tumbuh dalam medium yang diperkaya vitamin, air kelapa dan ekstra yeast (Thorpe, 1981). Di dalam air kelapa terkandung Diphenil urea yang mempunyai aktivitas seperti sitokinin, yaitu mempunyai aktifitas pembelahan sel. Sebab, air kelapa adalah endosperm cair yang terbentuk setelah terjadi pembuahan atau pelebuaran diri antara inti sperma dengan inti sel telur (Hendaryono dan ari, 2006). Fitohormon yang terkandung dalam air kelapa adalah sitokinin dan auksin, menurut Matatula (2003), menyatakan bahwa air kelapa terdeteksi mengandung sitokinin 5,8 mg/l dan auksin 0,07 mg/l dalam kelapa tua. Jika menambahkan 50% air kelapa ke media berarti sebanyak 2,9 mg/l sitokinin dan 0,035 mg/l auksin ditambahkan ke media. Dengan substitusi media MS dengan air kelapa 50% dapat meningkatkan berat basah tunas dan akar tanaman. Sitokinin berperan dalam memacu pembentangan sel, pembesaran dan pembelahan sel, poliferasi kalus, pembentukkan tunas, menghambat pembentukkan akar dan mendorong pembentukkan klorofil pada kalus (Untung dan Fatimah, 2004). Selain itu, sitokinin dapat mengatur fisiologis tumbuhan, hal ini disebabkan oleh hormon yang mempengaruhi asam nukleat sehingga langsung mempengaruhi sitesis protein dan mengatur aktivitas enzim (Hendaryono, dkk, 2002). Sedangkan auksi berperan dalam menginduksi terjadinya kalus, mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas, pembelahan sel, diferensiasi trkhea, dominasi apikal, pembentukkan akar baru, pembentukan tunas, mendorong proses embriogenesis dan auksin juga dapat mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman kalus (Untung dan Fatimah, 2004).

Sukrosa di PT Inggu Laut Abadi tidak digunakan, sebagai pengganti yaitu gula pasir biasa yang banyak ada dipasaran. Sukrosa tidak digunakan karena harganya lebih mahal dibandingan dengan gula pasir yang lebih murah, penggunaannya tetap yaitu 30 g/liter. Sukrosa merupakan sumber karbohidrat dalam kultur in vitro, konsentrasi normal dalam media yaitu 2-3 % (Hendaryono, dkk, 2002). Menurut Hendaryono, dkk (2002), penggunaan sukrosa di atas kadar 3% menyebabkan terjadinya penebalan dinding sel. Media kultur yang terdapat di Inggu Laut berwarna hitam, ini karena penambahan tablet arang aktif (karbon) dengan dosis 1 tablet/liter (berat tablet 125 mg). Pemberian arang aktif bertujuan untuk membunuh bakteri yang tumbuh didalam media, mengingat karbon biasanya digunakan oleh manusia untuk mengobati yang terserang diare. Selain itu karbon juga digunakan untuk menggelapkan media, sebab akar akan cepat tumbuh dan memanjang pada media gelap dari pada bening. Pengaruh arang aktif umumnya diarahkan untuk beberapa hal, diantaranya: penyerapan zat pengatur tumbuh, penyerapan senyawa penghambat dan menggelapkan media (Muslim, 2009). Menurut Abidin (1994), konsentrasi arang aktif yang ditambahkan ke dalam media kultur umumnya ± 0,5-3%. Bahan pemadat yang digunakan adalah agar-agar berwarna putih dengan dosis 7 mg/liter (1 bungkus), agar-agar diperoleh ditoko-toko kecil dengan harga relatif murah. Konsentrasi yang digunakan dalam media kultur adalah 0,5-1%, bahan lain yang pernah coba digunakan yaitu gelatin dengan konsentrasi 10%, methosel dan algiat tetapi penanganannya sulit serta harganya mahal dan agarose dengan konsentrasi 0,35-0,7% (Hendaryono, dkk, 2002). Menurut Mansyur (2007), agar yang menghasilkan gel yang bening serta cocok untuk mendeteksi terjadinya kontaminasi adalah agar sintetik phytagel dan gelrite, agar ini banyak digunakan untuk kultur in vitro.

Pada kultur jaringan sterilisasi merupakan hal yang sangat penting, untuk menekan terjadinya kontaminasi serta semua media, bahan dan alat harus sama steril (Santoso dan Fatimah, 2004). Alat-alat seperti botol, scalpel, gunting, pinset dan petidris  harus disterilkan dengan autoklaf. Menurut Suryowinoto (1994), sterilisasi autoklaf dilakukan pada tekanan 1,5 atm hingga suhu mencapai 1210C selama 20-30 menit. Botol-botol yang sudah terisi medium setelah ditutup dengan plastik tahan panas serta di ikat dengan karet, kemudian disterilisasi. Dengan skala kegiatan yang semakin besar, pengelolaan alat gelas perlu mendapat perhatian yang lebih terutama berkaitan dengan proses pembersihan dan penyimpanan. Kegiatan pembersihan alat gelas yanng kotor perlu mendapatkan penanganan serius, karena bila tidak segara ditangani dapat menjadi agen kontaminasi untuk koleksi atau alat-alat lain yang steril (Untung daan Fatimah, 2004). sterilisasi Ruangan juga disterilkan dengan menyemprotkan formalin 10% sebanyak 3 semprot disebarang sudut, lalu didiamkan selama semalam baru digunakan. Tempat transfer (LAFC) juga harus disterilkan dengan alkohol 70%, caranya dengan menggunakan hand sprayer lalu di lap. LAFC selain disterilkan dengan alkohol juga disterilkan dengan ultaviolet (UV) selama 1 jam sebelum digunakan, ini berfungsi untuk menghilangkan bakteri atau jamur.

Regenerasi atau subkultur yang dilakukan di PT Inggu Laut Abadi, hampir tiap hari tergantung dengan jumlah krisan botol didalam. Eksplan yang digunakan adalah potongan dari batang planlet yang memiliki mata tunas, dengan satu helai daun pada setiap potongannya. Rata-rata dari satu planlet dihasilkan 5-12 eksplan yang

About these ads

06/17/2011 - Posted by | Uncategorized

7 Komentar »

  1. maaf saya mau tanya, ada laporan magang tentang bunga lili?
    mohon bantuannya..saya sangat membutuhkan data tersebut..
    sebelumnya saya ucapkan terimakasih

    Komentar oleh nurul | 10/23/2011

  2. daftar pustakyna tolong d lampirkan

    Komentar oleh 4pertanian | 11/15/2011

  3. daftar pustakanya mohon dilampirkan

    Komentar oleh dewi | 11/24/2011

  4. makasih mas, ngebantu banget,.
    hoho

    Komentar oleh AgRa A Rahman | 10/23/2012

  5. boleh minta no telpon perusahaan PT Inggu Laut Abadi ?
    respon cepat yah mas, please sms 089677436643 (anggi)

    Komentar oleh Anggi Aviah Tsany II | 01/21/2013

  6. […] Laporan magang tanaman krisan « biologi online […]

    Ping balik oleh tanaman hias cipanas - Share Free | 10/08/2014

  7. […] Laporan magang tanaman krisan « biologi online […]

    Ping balik oleh tanaman obat keluarga ppt - Share Free | 10/12/2014


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 953 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: