BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

LAPORAN PEMAGANGAN PT INGGU LAUT ABADI

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Tanaman hias merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai prospek agribisnis yang cukup besar di Indonesia. Salah satu dari tanaman hias tersebut adalah tanaman krisan. Krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) termasuk salah satu jenis tanaman hias yang banyak digemari oleh masyarakat karena mempunyai warna, ukuran, dan bentuk bunga menarik, serta tanaman krisan dapat bertahan kurang lebih 14 hari. Krisan termasuk jenis bunga potong penting dunia, karena macam jenisnya beraneka ragam. Krisan memiliki 55 varietas yang ada di seluruh dunia.

Seiring dengan terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat maka permintaan akan tanaman hias, khususnya bunga potong juga mengalami peningkatan. Bunga potong krisan merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan prospek yang cukup baik. Bunga krisan (Chrysanthemum morifolium ramat). merupakan salah satu spesies yang sangat populer dan tumbuh sebagai penghias tanaman dan sebagai bunga pot atau bunga potong. Menurut Wijayakusuma (2000), krisan dapat juga dimanfaatkan sebagai tanaman obat dan tanaman penghasil racun serangga alami.

Permintaan konsumen terhadap bunga krisan (Chrysanthemum morifolium ramat)  yang terus meningkat, telah memacu para petani dan pengusaha bunga hias terutama krisan terus meningkatkan produksinya. Hal ini dilihat dari penjualan bunga krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) di Pasar Rawa Belong, mulai dari 2007 sampai 2009 yaitu 399,25, 412,68 dan 422,50 (dalam juta tangkai). Permintaan tersebut ternyata tidak hanya tertuju pada kuantitas saja, melainkan juga jenis dan kualitas bunga. Kendala petani krisan dalam sistem produksi krisan yaitu kurang tersedianya bibit bermutu, rendahnya daya adaptasi varietas introduksi terhadap kondisi lingkungan fisik indonesia serta keterbatasan penggetahuan tentang teknik budidaya. Upaya peningkatan produksi krisan dalam negeri perlu dilakukan melalui penanganan yang memadai, supaya dimasa mendatang tanaman krisan ini diharapkan mampu menjadi komoditas andalan nasional sebagai penghasil devisa negara. Upaya tersebut perlu didukung dengan perbaikan sistem usaha yang menguntungkan dari pemerintah, sehingga petani termotivasi untuk melestarikan usaha tanaman krisan.

Selain itu kendala penanaman tanaman krisan di Indonesia dibutuhkan modifikasi-modifikasi lingkungan agar tanaman dapat tumbuh, mulai dari green house, menambahkan sinar dari lampu, hingga suhu lingkungan. Teknik kultur in vitro merupakan metode perbanyakan tanaman dengan mengisolasi bagian tanaman serta menumbuhkanya dalam kondisi aseptik. Sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman dengan jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat, serta memiliki kualitas, tumbuh dengan tempo yang relatif cepat dibandingkan dengan konvensional. Menyediakan bibit yang berkualitas serta memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit.

1.2  Tujuan Pemagangan

a)      Pendidikan

  1. Mahasiswa dapat mempelajari proses budidaya bunga Krisan mulai dari:
  • Pembibitan
  • Persiapan media tanam
  • Penanaman
  • Pemeliharaan tanaman
  • Panen
  • Pasca panen

b)      Penelitian

  1. Mahasiswa dapat mengetahui perbedaan pertumbuhan akar Krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) yang ditanam pada dataran rendah dan dataran tinggi dengan zat perangsang akar yang berbeda.

c)      Pengabdian

  1. Mahasiswa dapat ikut serta dalam seluruh kegiatan yang dilakukan di tempat pemagangan budidaya bunga krisan

1.3  Manfaat Pemagangan

Manfaat umum kegiatan magang mahasiswa ini antara lain :

  1. Menambah pengetahuan diluar kampus sehingga dapat menyiapkan diri dan menyesuaikan diri dengan dunia kerja.
  2. Mengetahui perkembangan ilmu dan teknologi sesuai dengan tuntunan perkembangan industri.
  3. Memperoleh pengalaman nyata yang berguna untuk meningkatkan keterampilan yang relevan sesuai jurusan yang ditekuni.
  4. Menjalin hubungan baik antara pihak industri dan lembaga pendidikan.
  5. Mengetahui sejauh mana relevansi ilmu yang didapat di kampus dengan penerapan di industri, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PROFIL LOKASI PEMAGANGAN

2.1 Lokasi Pemagangan

Tempat dilakasanakannya pemagangan ini berada di PT Inggu Laut Abadi yang  terletak di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur kilometer 17 jalan raya Bumi Aji-Sumber Brantas, yang berkedudukan di Desa Sumber Agung, Kecamatan Bumi Aji. Tempat ini berada pada ketinggian ± 1400 m dpl dengan luas lahan 3,5 hektar. Waktu pelaksanaan pemagangan dimulai pada tanggal 17 Januari – 16 Februari 2011.

2.2 Sejarah Perusahaan

PT Inggu Laut Abadi merupakan perusahaan perseroan yang didirikan pada tanggal 10 Mei 2002, ini berdasarkan akta yang di terbitkan oleh Ny. Hartati Marsono, SH. Kemudian diperkuat di Pengadilan negeri No.38605/tertanggal 27 mei 2002. Bentuk badan hukum Inggu Laut Abadi adalah Perseroan Terbatas (PT) yang memiliki surat ijin usaha perdagangan 0305/09-02/PB/V/2002. Pendiri dari perusahaan ini adalah keluarga besar Solo-Indroko, nama Inggu Laut merupakan nama tanaman hias yaitu Lantana camara sp atau yang lebih kita kenal dengan nama “Tembelek”. Tembelek di Jawa Barat lebih dikenal dengan nama inggu laut, tanaman ini dapat ditemui di pinggir laut hingga daerah dataran tinggi. Tanaman tembelek merupakan tanaman yang dapat hidup di segala tempat, dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Inggu Laut digunakan sebagai nama, agar tanaman krisan dapat tumbuh dimana saja dari dataran rendah hingga tinggi seperti tanaman Lantana camara sp.

Perusahaan ini pertama kali didirikan di Cipanas, Jawa Barat, yaitu mengambil alih dari usaha kecil yang mengalami kebangkrutan. Kebun Cipanas mulai beroperasi pada 1 Juli 2002,  pada lahan seluas 3600 m2. Budidaya tanaman krisan di PT. Inggu Laut Abadi dilakukan secara kultur in vitro, yang meliputi pengadaan tanaman hasil kultur dalam botol, bibit stek akar dan bunga potong krisan yang dihasilkan yaitu krisan standart dan krisan spray. Pemasaran bunga disalurkan ke Jakarta yaitu Pasar Bunga Rawa Belong, kemudian pada awal bulan Juni 2003 perusahaan mulai memperluas pemasaran ke Surabaya dan Bali. Untuk mempermudah dan meningkatkan produksi maka pada bulan Agustus 2003 di buka kebun baru yang terletak di Sumber Brantas, Kota Batu, dengan luas 3,5 hektar. Sistem organisasi PT Inggu Laut Abadi dikepalai oleh seorang Direktur Utama. Direktur wilayah Batu dibantu oleh Kepala Laboratorium dan Kepala Kebun, sedangkan Direktur Wilayah Cipanas dibantu Oleh Kepala Kebun.

Untuk meningkatkan efisiensi kerja, maka perusahaan membagi dua kegiatan produksi besar pada setiap kebun, untuk kebun Batu ditentukan sebagai pusat kegiatan pangadaan bibit, budidaya tanaman hias dan pelatihan tenaga kerja. Sedangkan kebun Cipanas dikhususkan hanya pada kegiatan pusat budidaya tanaman hias baik bunga potong ataupun bunga pot. Hal ini diharapkan setiap kebun dapat berkonsentrasi dalam menjalankan tugasnya serta menghasilkan produk yang unggul.

PT. Inggu Laut Abadi terletak di Jalan Sumber Brantas, Desa Junggo,  Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, dengan ketinggian 1400 m dpl dengan suhu 200-230. Jenis tanahnya yaitu lempung berpasir, dengan topografi berbukit. Di sana  dilengkapi dengan fasilitas 26 mess, 27 green house (20 untuk pengadaan tanaman induk krisan, 2 untuk pembibitan krisan, 4 untuk tanaman gerbra, 1untuk tanaman anyelir), 1 aula, 1 gudang + rapat, 1 perpustakaan, 1 laboratorium kultur jaringan, 3 mobil, 2 motor, 1 motor tosa, alat pemupukan, dan dilahan terbuka ditanami mawar, song of india, philodendron, ruskus, lither leave, dan hortensia.

PT. Inggu Laut Abadi memiliki karyawan yang berjumlah 27 orang dari berbagai latar belakang pendidikan yang berbeda (Tabel 1)

Tingkat Pendidikan

Jumlah Pegawai (orang)

S2

1

S1

3

D3

2

D1

S2

SMK

S1

SMP

D3

SD

1

Jumlah

27

Tabel 1. Latar Belakang Pendidikan Karyawan PT. Inggu Laut Abadi

 

 

 

 

 

 

.

2.2.1 Organisasi Perusahan

Struktur organisasi merupakan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan di antara funsi-fungsi, bagian-bagian, maupun orang-orang yang menunjukkan satu kedudukan, tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi. Struktur organisasi mengandung unsur-unsur spesialisasi kerja, standarisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasai dalam pembuatan keputusan dan besaran suatu kerja(Handoko, 2001).

 Sistem pembagian kerja didasarkan pada jenis dan tahap pekerjaan. Jam kerja yang berlaku mulai dari hari Senin-Sabtu. Total kerja di PT Inggu Laut Abadi adalah 8 jam yang dimulai dari pukul 07.00-15.00.

Adapun stuktur organisasi PT Inggu Laut Abadi ada;ah sebagai berikut :

Gambar 1. Struktur Organisasi PT Inggu Laut Abadi

 

2.2.2 Komoditas Tanaman yang Dibudidayakan

                 Terdapat beberapa komoditas yang dibudidayakan di PT Inggu Laut, yaitu :

1. Pembibitan bunga krisan yang dijual kepada petani dalam bentuk bibit yang sudah berakar dan siap tanam. Semua varietas dibibitkan dan dijual, untuk bibit siap jual yaitu tanaman yang sudah berakar atau berumur 14 hari setelah ditanam dalam sekam bakar.

2. Bunga krisan potong dengan berbagai varietas.

3. komoditas sampingan seperti bunga Mawar, Leather leaf, Song of India, Ruskus, Lily, Gerbera, Anyelir, Anthurium bunga, Philodendron, dll.

Seperti perusahaan bunga potong lainnya yang terus meningkatkan produksinya sesuai permintaan pasar, saat ini perusahaan sedang meningkatkan produksinya dalam hal kualitas dan kuantitas.

2.3 Bidang Kegiatan

Bidang kegiatan yang dilakukan dalam pemagangan ini adalah:

  • Pembibitan
  • Pengolahan media tanam
  • Penanaman
  • Pemeliharaan tanaman
  • Pemanenan
  • Pemackingan

 

 

 

 

 

 

BAB III

KAJIAN PUSTAKA

 

3.1. Tanaman Krisan

            Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicum (kuning), C. Morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, dan tahun 797 bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East. Tanaman krisan dari Cina dan Jepang menyebar ke kawasan Eropa dan Perancis tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan di Inggris. Jenis atau varietas krisan modern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial (Rukmana dan Mulyana, 1997).

            Di beberapa negara tanaman krisan memiliki arti yang beraneka ragam, di Jepang, Korea dan Cina bunga krisan putih menunjukkkan bunga duka cita. Di Eropa seperti Italia, Perancis, Polandia, Spanyol dan Kroasia, krisan merupakan simbol kematian dan hanya digunakan untuk pengkuburan. Di Amerika Serikat bunga krisan diguanakan untuk menunjukkan kebahagiaan dan semangat. Pada beberapa negara krisan menunjukkan kasih sayang, seperti di Australia krisan digunakan ketika “hari ibu”. Serta yang paling menarik tanaman krisan disebut juga bunga November.

3.2. Klasifikasi  Tanaman Krisan

Kingdom      : Plantae
Divisi            : Spermatophyta
Subdivisi       : Angiosperms
Order            : Asterales
Family           : Asteraceae
Tribe             : Anthemideae
Genus           : Chrysanthemum
Type spesies : Chrysanthemum indicum L
Spesies          : Chrysanthemum morifolium ramat

(Wijayakusuma, 2000)

3.3. Morfologi Tanaman Krisan

            Tanaman krisan merupakan tanaman semusim (anual) yang berkisar 9-12 hari tergantung varietas dan lingkungan tempat menanamnya. Tanaman krisan dapat dipertahankan hingga beberapa tahun bila dikehendaki, tetapi bunga yang dihasilkan biasanya jauh menurun kualitasnya (Hasyim dan reza, 1995). Menurut Rukmana (1997), tanaman krisan tumbuh menyemak setinggi 30-200 cm, sistem perakarannya serabut yang keluar dari batang utama. Akar menyebar kesegala arah pada radius dan kedalaman 50-70 cm atau lebih. Batang tanaman krisan tumbuh agak tegak dengan percabangan yang agak jarang, berstruktur lunak, dan berwarna hijau tetapi bila dibiarkan tumbuh terus, batang berubah menjadi keras (berkayu) dan berwarna hijau kecoklatan, serta berdiameter batang sekitar 0,5 cm. Bunga krisan tumbuh tegak pada ujung tanaman dan tersusun dalam tangkai berukuran pendek sampai panjang. Bunga krisan merupakan bunga majemuk yag terdiri atas bunga pita dan bunga tabung. Pada bunga pita terdapat bunga betina (pistil), sedangkan bunga tabung terdiri atas bunga jantan dan bunga betina (biseksual) dan biasanya fertil (kofranek, 1980).

3.4. Syarat-Syarat Tumbuh

3.4.1. Iklim

               Tanaman krisan membutuhkan air yang memadai, tetapi tidak tahan terpaan air hujan. Oleh karena itu untuk daerah untuk curah hujan tinggi penanaman dilakukan di dalam green house. Suhu toleran untuk tanaman krisan adalah 17­­­­0-300C, untuk daerah tropis seperti di Indonesia cocok menggunakan suhu 200-260C. Kelembaban yang dibutuhkan untuk tanaman krisan sangat tinggi ketika pembentukan akar, pada stek kelembabannya 90%-95%. Kemudian tanaman muda sampai tua kelembabannya 70%-80%, dengan sirkulasi udara yang memadai. Kadar CO2 di udara sekitar 3000 ppm, sedangkan kadar CO2 yang ideal untuk fotosintesis adalah 600-900 ppm. Untuk pembungaan membutuhkan lebih lama cahaya, dimana dapat menambah cahaya menggunakan bantuan TL dan lampu pijar. Penambahan penyinaran yang paling baik ketika tengah malam yaitu jam 22.30-01.00 dengan lampu 150 watt untuk 9 m2, dan lampu di pasang menggantung 1,5 m dari tanah. Periode pemasangan lampu dilakukan pada vegetativ (2-8 minggu) untuk merangsang pembentukkan bunga (Lukito, 1998).

3.4.2. Media tanam dan ketinggian tempat

               Untuk pertumbuhan tanaman yang optimum dibutuhkan media yang ideal, di mana tekstur media harus liat berpasir, subur, gembur dan memiliki drainase yang baik, serta tidak mengandung hama dan penyakit. Derajat keasaman media yang baik untuk petumbuhan tanaman adalah 5,5-6,7. Kemudian untuk ketinggian ideal untuk pertumbuhan tanaman sekitar 700-1200 m dpl (Rukmana dan Mulyana, 1997).

3.5 Budidaya

3.5.1.  Pembibitan

               Bibit diperoleh dari tanaman indukan yang sehat, kualitas prima, daya tumbuh yang kuat, serta bebas dari hama dan penyakit. Pembibitan dilakukan secara vegatatif, yaitu dengan anakan, stek pucuk dan kultur in viro.

3.5.1.1. Bibit asal anakan

                 Diperoleh dari tanaman yang sudah tua, yang biasanya anakan muncul d dekat akar atau bagian batang bawah.

3.5.1.2. Bibit asal stek puncuk

                 Yaitu dengan menententukan tanaman yang sehat dan cukup umur, memilih tunas pucuk yang tumbuh sehat. Dengan diameter pangkal 3-5 mm, panjang 5 cm, mempunyai 3 helai daun dewasa berwarna hijau terang, potong pucuk tersebut. Kemudian langsung disemaikan atau disimpan dalam ruangan dingin bersuhu udara 40 C, dengan kelembaban 30 % agar tetap tahan segar selama 3-4 minggu. Cara penyimpanan stek adalah dibungkus dengan beberapa lapis kertas tisu, kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik rata-rata 50 stek.

3.5.1.3. Bibit asal kultur in vitro

                 Yaitu menentukan mata tunas atau eksplan dan diambil dengan pisau silet, stelisasi mata tunas dengan sublimat 0,04 % (HgCl) selama 10 menit, kemudian bilas dengan air suling steril. menanaman dalam medium MS berbentuk padat. Hasil penelitian lanjutan perbanyakan tanaman krisan secara kultur jaringan:

1. Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 1,5 mg kinetin/liter, paling baik untuk pertumbuhan tunas dan akar eksplan. Pertunasan terjadi pada umur 29 hari, sedangkan perakaran 26 hari.

2. Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5 BAP/liter, kalus bertunas waktu 26 hari, tetapi medium tidak merangsang pemunculan akar.

3. Medium MS padat ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-0.2 mg kinetin/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-2,0 BAP/liter pada eksplan varietas Sandra untuk membentuk akar pada umur 21-31 hari. Penyiapan bibit pada skala komersial dilakukan dengan dua tahap yaitu:

a. Stok tanaman induk : Fungsinya untuk memproduksi bagian vegetatif sebanyak mungkin sebagai bahan tanaman ditanam di areal khusus terpisah dari areal budidaya. Jumlah stok tanaman induk disesuaikan dengan kebutuhan bibit yang telah direncanakan. Tiap tanaman induk menghasilkan 10 stek per bulan, dan selama 4-6 bulan dipelihara memproduksi sekitar 40-60 stek pucuk. Pemeliharaan kondisi lingkungan berhari panjang dengan penambahan cahaya 4 jam/hari mulai 23.30–03.00 lampu pencahayaan dapat dipilih Growlux SL 18 Philip.

b. Perbanyakan vegetatif tanaman induk.

1. Pemangkasan pucuk yaitu, dilakukan pada umur 2 minggu setelah bibit ditanam, dengan cara memangkas atau membuang pucuk yang sedang tumbuh sepanjang 0,5-1 cm.

2. Penumbuhan cabang primer. Perlakuan pinching dapat merangsang pertumbuhan tunas ketiak sebanyak 2-4 tunas. Tunas ketiak daun dibiarkan tumbuh sepanjang 15-20 cm atau disebut cabang primer.

3. Penumbuhan cabang sekunder. Pada tiap ujung primer dilakukan pemangkasan pucuk sepanjang 0,5-1cm, pelihara tiap cabang sekunder hingga tumbuh

sepanjang 10-15 cm.

3.5.2. Pengolahan media tanam

               Pengolahan menggunakan cangkul, tanah dicangkul sedalam 30 cm, kemudian dikering anginkan selama 15 hari. Setelah itu digemburkan kedua kalinya dengan dibersihkan gulmanya, lalu di bentuk bedengan dengan lebar 1-1,2 m, tinggi 20-30 cm, dengan panjang sesuai lahan yang ada, serta jarak antar bedengan yaitu 30-49 cm. Jika tanah mempunyai pH dibawah 5,5, maka diperlukan pengapuran menggunakan kapur pertanian seperti dolomit, zeagro atau kalsit. Kebutuhan kapur sesuai kadar pH yang ada dalam tanah, untuk pH 5 = 5,02 ton/ha, pH 5,2 = 4,08 ton/ha, pH 5,3 = 3,60 ton/ha, pH 5,4 = 3,12 ton/ha. Pengapuran dilakukan dengan cara disebar merata pada permukaan bedengan.

3.6. Hama dan Penyakit

3.6.1. Hama

a. Ulat tanah (Agrotis ipsilon)

o Gejala: memakan dan memotong ujung batang tanaman muda, sehingga pucuk dan tangkai terkulai.

o Pengendalian: mencari dan mengumpulkan ulat pada senja hari dan semprot dengan insektisida.

b. Thrips (Thrips tabacci)

o Gejala: pucuk dan tunas-tunas samping berwarna keperak-perakan atau kekuning-kuningan seperti perunggu, terutama pada permukaan bawah daun.

o Pengendalian: mengatur waktu tanam yang baik, memasang perangkap berupa lembar kertas kuning yang mengandung perekat, misalnya IATP buatan Taiwan.

c. Tungau merah (Tetranycus sp)

o Gejala: daun yang terserang berwarna kuning kecoklat-coklatan, terpelintir, menebal, dan bercak-bercak kuning sampai coklat.

o Pengendalian: memotong bagian tanaman yang terserang berat dan dibakar dan penyemprotan pestisida.

d. Penggerek daun (Liriomyza sp) :

o Gejala: daun menggulung seperti terowongan kecil, berwarna putih keabu-abuan yang mengelilingi permukaan daun.

o Pengendalian: memotong daun yang terserang, penggiliran tanaman, dengan aplikasi insektisida.

3.6.2. Penyakit

1. Karat/Rust

o Penyebab: jamur Puccinia sp. karat hitam disebakan oleh cendawan Pchrysantemi, karat putih disebabkan oleh P horiana P.Henn.

o Gejala: pada sisi bawah daun terdapat bintil-bintil coklat/hitam dan terjadi lekukan-lekukan mendalam yang berwarna pucat pada permukaan daun bagian atas. Bila serangan hebat meyebabkan terhambatnya pertumbuhan bunga.

o Pengendalian: menanam bibit yang tahan hama dan penyakit, perompesan daun yang sakit, memperlebar jarak tanam dan penyemprotan insektisida.

2. Tepung oidium

o Penyebab: jamur Oidium chrysatheemi.

o Gejala: permukaan daun tertutup dengan lapisan tepung putih. Pada serangan hebat daun pucat dan mengering.

o Pengendalian: memotong/memangkas daun tanaman yang sakit dan penyemprotan fungisida.

3. Virus kerdil dan mozaik

o Penyebab: virus kerdil krisan, Chrysanhenumum stunt Virus dan Virus Mozaoik Lunak Krisan (Chrysanthemum Mild Mosaic Virus).

o Gejala: tanaman tumbuhnya kerdil, tidak membentuk tunas samping, berbunga lebih awal daripada tanaman sehat, warna bunganya menjadi pucat.

o Penyakit kerdil ditularkan oleh alat-alat pertanian yang tercemar penyakit dan pekerja kebun.

o Virus mosaik menyebabkan daun belang hijau dan kuning, kadang-kadang bergaris-garis.

o Pengendalian: menggunakan bibit bebas virus, mencabut tanaman yang sakit, menggunakan alat-alat pertanian yang bersih dan penyemprotan insektisida untuk pengendalian vektor virus.

BAB IV

METODE PEMAGANGAN

4.1 Bidang Pendidikan

            Ada beberapa hal yang dipelajari dalam proses pemagangan kali ini terutama pengetahuan dalam bidang budidaya krisan, antara lain adalah:

A. Pembibitan           

Dalam rangka mempelajari proses pembibitan maka langkah-langkah yang dilakukan adalah:

  1. Penyiapan Bibit : Pembibitan krisan dilakukan dengan cara vegetatif yaitu dengan anakan, setek pucuk dan kultur jaringan.
  1. Bibit asal anakan
  2. Bibit asal stek pucuk : Tentukan tanaman yang sehat dan cukup umur. Pilih tunas pucuk yang tumbuh sehat, diameter pangkal 3-5 mm, panjang 5 cm, mempunyai 3 helai daun dewasa berwarna hijau terang, potong pucuk tersebut, langsung semaikan atau disimpan dalam ruangan dingin bersuhu udara 4 derajat C, dengan kelembaban 30 % agar tetap tahan segar selama 3-4 minggu. Cara penyimpanan stek adalah dibungkus dengan beberapa lapis kertas tisu, kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik rata-rata 50 stek.
  • Teknik Penyemaian Bibit
    1. Penyemaian di bak : Siapkan tempat atau lahan pesemaian berupa bak-bak berukuran lebar 80 cm, kedalaman 25 cm, panjang disesuaikan dengan kebutuhan dan sebaiknya bak berkaki tinggi. Bak dilubangi untuk drainase yang berlebihan. Medium semai berupa pasir steril hingga cukup penuh. Semaikan setek pucuk dengan jarak 3 cm x 3 cm dan kedalaman 1-2 cm, sebelum ditanamkan diberi Rotoon (ZPT). Setelah tanam pasang sungkup plastik yang transparan di seluruh permukaan.
    2. Penyemaian kultur jaringan : Bibit mini dalam botol dipindahkan ke pesemaian beisi medium berpasir steril dan bersungkup plastik tembus cahaya.
  • Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian : Pemeliharaan untuk stek pucuk yaitu penyiraman dengan sprayer 2-3 kali sehari, pasang bola lampu untuk pertumbuhan vegetatif, penyemprotan pestisida apabila tanaman di serang hama atau penyakit. Buka sungkup pesemaian pada sore hari dan malam hari, terutama pada beberapa hari sebelum pindah ke lapangan. Pemeliharaan pada kultur jaringan dilakukan di ruangan aseptik, setelah bibir berukuran cukup besar, diadaptasikan secara bertahap ke lapangan terbuka.
  • Pemindahan Bibit : Bibit stek pucuk siap dipindahtanamkan ke kebun pada umur 10-14 hari setelah semai dan bibit dari kultur jaringan bibit siap pindah yang sudah berdaun 5-7 helai dan setinggi 7,5-10 cm.
  • B. Pengolahan Media Tanam

    1. Pembentukan Bedengan : Olah tanah dengan menggunakan cangkul sedalam 30 cm hingga gembur, keringanginkan selama 15 hari. Gemburkan yang kedua kalinya sambil dibersihkan dari gulma dan bentuk bedengan dengan lebar 100-120 cm, tinggi 20- 30 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antara bedengan 30-40 cm.
    2. Pengapuran : Tanah yang mempunyai pH > 5,5, perlu diberi pengapuran berupa kapur pertanian misalnya dengan dolomit, kalsit, zeagro. Dosis tergantung pH tanah. Kebutuhan dolomit pada pH 5 = 5,02 ton/ha, pH 5,2 = 4,08 ton/ha, pH 5,3 = 3,60 ton/ha, pH 5,4 = 3,12 ton/ha. Pengapuran dilakukan dengan cara disebar merata pada permukaan bedengan.

    C. Penanaman

    1. Teknik Penanaman Bunga Potong
    1. Penentuan Pola Tanam. : Tanaman bunga krisan merupakan tanaman yangdapat dibudidayakan secara monokultur.
    2. Pembuatan Lubang Tanam : Jarak lubang tanam 10 cm x 10 cm, 20 cm x 20 cm. Lubang tanam dengan cara ditugal. Penanaman biasanya disesuaikan dengan waktu panen yaitu pada hari-hari besar. Waktu tanam yang baik antara pagi atau sore hari.
    3. Pupuk Dasar : Furadan 3G sebanyak 6-10 butir perlubang. Campuran pupuk ZA 75 gram ditambah TSP 75 gram ditambah KCl 25gram (3:3:1)/m2 luas tanam, diberikan merata pada tanah sambil diaduk.
    4. Cara Penanaman : Ambil bibit satu per satu dari wadah penampungan bibit, urug dengan tanah tipis agar perakaran bibit krisan tidak terkena langsung dengan furadan 3G. Tanamkan bibit krisan satu per satu pada lubang yang telah disiapkan sedalam 1-2 cm, sambil memadatkan tanah pelan-pelan dekat pangkal batang bibit. Setelah penanaman siram dengan air dan pasang naungan sementara dari sungkup plastik transparan.
  • Teknik Penanaman untuk Memperpendek Batang : Penanaman dilakukan sama dengan untuk bunga potong biasa, tetapi dengan menambah cahaya agar tangkai menjadi pendek.
    1. Pengaturan dan Penambahan Cahaya : Dilakukan sampai batas tertentu dengan ketinggian tanaman yang dinginkan. Misalnya, bila diinginkan bunga krisan bertangkai 70 cm, maka penambahan cahaya sejak ketinggian 50-60 cm. Lampu dimatikan. Periode berikutnya beralih ke generatif. Tangkai bunga memanjang mencapai 80 cm. Bila dipanen tangkainya 70 cm, maka tangkai bunga yang tersisa adalah 10 cm pada tanaman. Total lama penyinaran sejak bibit ditanam sampai periode generatif antara 12-15 minggu tergantung varietas krisan. Cara pengaturan dan penambahan cahaya yaitu dengan pola byarpet, yaitu pencahayaan malam selama 5 menit lalu dimatikan selama 1 menit dilakukan secara berulang-ulang hingga mencapai 30 menit. Cara lain pengaturan dan penambahan cahaya adalah dengan memasang lampu TL pada tengah malam mulai pukul 22.30-01.00.
    2. Pemupukan : Waktu pemupukan dimulai umur 1 bulan setelah tanam, kemudian diulang kontinue dan periodik seminggu sekali, dan akhirnya sebulan sekali. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan pada fase vegetatif yaitu Urea 200 gram ditambah ZA 200 gram ditambah KNO3 100 gram per m 2 luas lahan. Pada fase Generatif digunakan pupuk Urea 10 gram ditambah TSP 10 gram ditambah KNO3 25 gram per m 2 luas lahan, cara pemberiannya dengan disebar dalam larikan atau lubang ditugal samping kiri dan samping kanan.
    3. Pembuangan Titik Tumbuh : Waktu pembuangan titik tumbuh adalah pada umur 10-14 hari setelah tanam, dengan cara memotes ujung tanam sepanjang 5 cm.
    4. Penjarangan Bunga : Jika ingin mendapatkan bunga yang besar, dalam 1 tangkai bunga hanya dibiarkan satu bakal bunga yang tumbuh.
  • Teknik Penanaman untuk Bunga Pot : Sebanyak 5-7 Bibit yang telah berakar ditanam di dalam pot yang berisi media sabut kelapa (hancur) atau campuran tanah dan sekam padi (1:1). Untuk memperpendek batang, pot-pot ini ditumbuhkan selama 2 minggu dengan penyinaran 16 jam/hari. Untuk merangsang pembungaan, pot-pot kemudian diberi pencahayaan pendek dengan cara menutupnya di dalam kubung dari jam 16.00-22.00. Selama pertumbuhan tanaman diberi pupuk cir multihara lengkap. Pembungaan ini dapat pula dipacu dengan menambahkan hormon tumbuh giberelin sebanyak 500 ppm pada saat penyinaran pendek.
  • Untuk mendapatkan bunga yang besar dan jumlahnya sedikit, bakal bunga dari setiap batang perlu diperjarang dengan hanya menyisakan satu kuncup bunga. Dengan cara ini akan didapatkan krisan pot dengan 5-7 bunga yang mekar bersamaan.

    D. Pemeliharaan Tanaman

    1. Penjarangan dan Penyulaman : Waktu penyulaman seawal mungkin yaitu 10-15 hari setelah tanam. Penyulaman dilakukan dengan cara mengganti bibit yang mati atau layu permanen dengan bibit yang baru.
    2. Penyiangan : Waktu penyiangan dan penggemburan tanah umumnya 2 minggu setelah tanam. Penyiangan dengan cangkul atau kored dengan hati-hati membersihkan rumput-rumput liar.
    3. Pengairan dan Penyiraman : Pengairan yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari, pengairan dilakukan kontinu 1-2 kali sehari, tergantung cuaca atau medium tumbuh. Pengairan dilakukan dengan cara mengabutkan air atau sistem irigasi tetes hingga tanah basah.

    E. Panen

    1. Ciri dan Umur Panen

    Penentuan stadium panen adalah ketika bunga telah setengah mekar atau 3-4 hari sebelum mekar penuh. Tipe spray 75-80% dari seluruh tanaman. Umur tanaman siap panen yaitu setelah 3-4 bulan setelah tanam.

    2. Cara Panen.

    Panen sebaiknya dilakukan pagi hari, saat suhu udara tidak terlalu tinggi dan saat bunga krisan berturgor optimum. Pemanenan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu dipotong tangkainya dan dicabut seluruh tanaman. Tata cara panen bunga krisan: tentukan tanaman siap panen, potong tangkai bunga dengan gunting steril sepanjang 60-80 cm dengan menyisakan tunggul batang setinggi 20-30 cm dari permukaan tanah.

    E. Pasca Panen

    1. Pengumpulan

    Kumpulkan bunga hasil panen, lalu ikat tangkai bunga berisi sekitar 50-1000 tangkai simpan pada rak-rak.

    2. Penyortiran dan Penggolongan

    Pisahkan tangkai bunga berdasarkan tipe bunga, warna dan varietasnya. Lalu bersihkan dari daun-daun kering atau terserang hama. Buang daun-daun tua pada pangkal tangkai. Kriteria utama bunga potong meliputi penampilan yang baik, menarik, sehat dan bebas hama dan penyakit. Kriteria ini dibedakan menjadi 3 kelas yaitu:

    1. Kelas I untuk konsumen di hotel dan florist besar, yaitu panjang tangkai bunga lebih dari 70 cm, diameter pangkal tangkai bunga lebih 5 mm.
    2. Kelas II dan III untuk konsumen rumah tangga, florits menengah dan dekorasi massal yaitu panjang tangkai bunga kurang dari 70 cm dan diameter pangkal tangkai bunga kurang dari 5 mm.

    3. Pengemasan dan Pengangkutan

    Tentukan alat angkutan yang cocok dengan jarak tempuh ke tempat pemasaran dan susunlah kemasan berisi bunga krisan secara teratur, rapi dan tidak longgar, dalam bak atau box alat angkut.

    4.2 Penelitian

                Penelitian yang dilakukan pada pemagangan kali ini adalah melakukan penelitian tentang “Perbedaan Pertumbuhan Bunga Krisan yang Ditanam di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi”. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

    1. Penyiapan wadah berupa pot kecil yang digunakan sebagai wadah untuk menanam tanaman krisan
    2. Penyiapan media tanam yang berupa campuran antara sekam bakar dicampur dengan pupuk kandang kemudian disemprot dahulu dengaan menggunakan Fungisida agar media tanam tidak ditumbuhi oleh jamur.
    3. Penyiapan bibit tanaman dimana bibit tanaman diambil dengan melakukan Pinching terhadap tanaman induk dari krisan
    4. Setelah bibit tanaman telah mencukupi maka selanjutnya adalah mencelupkan batang bibit tanaman dengan dua perlakuan tanaman kelompok 1 separuh dari bibit dicelupkan dengan zat perangsang akar buatan PT INGGU LAUT ABADI yaitu ZTA ILA sedangkan separuhnya lagi dengan menggunakan zat perangsang akar buatan pabrik hal yang sama juga dilakukan pada tanaman kelompok 2
    5. Setelah proses diatas selesai proses selanjutnya adalah menanam bibit tanaman tersebut pada media dan wadah yang telah disediakan kemudian disiram dengan menggunakan air
    6. Selanjutnya tanaman yang telah terbagi menjadi 2 kelompok wadah tersebut dibagi berdasarkan tempat tumbuhnya untuk tanaman kelompok 1 ditanam di dataran tinggi tepatnya ditaruh di PT INGGU LAUT ABADI sedangkan tanaman kelompok 2 ditaruh di dataran rendah tepatnya ditaruh di kos mahasiswa.
    7. Langkah yang terakhir peneliti menyiram tanaman tersebut setiap hari hingga waktu 1 bulan kemudian diukur berapa panjang akar, berat akar, dan jumlah daun antara tanaman krisan yang ditanam di dataran rendah dan tanaman krisan yang ditanam di dataran tinggi.

    4.3 Pengabdian

                Pengabdian yang dilakukan pada pemagangan kali ini antara lain adalah semua hal yang kelompok kami lakukan pada proses pemagangan diantaranya adalah:

    1. Membantu proses Pinching, langkah-langkah yang dilakukan adalah:
    • Memotong ujung tanaman krisan yang telah ditentukan
    • Menaruhnya di sebuah wadah untuk nantinya digunakan sebagai calon bibit baru
    • Mencari tanaman yang masih berumur satu bulan namun sudah terdapat bibit bunga yang mau tumbuh atau dinamakan bendul
    • Bendul tersebut kemudian dipotong dan harus dibuang
    • Memotong jenis-jenis krisan yang telah memasuki masa panen sesuai dengan grade yang telah ditentukan
    • Mengklasifikasi tanaman krisan sesuai dengan grade yang berdasarkan tinggi tanaman hasil panen dimana ada 3 grade yaitu grade a, b, dan c
    • Membungkus tanaman tersebut dengan pembungkus yang telah disediakan oleh PT ILA
    1. Membantu proses Pinching Bendul, langkah-langkah yang dilakukan adalah:
    1. Membantu proses pemanenan bunga krisan, langkah-langkah yang dilakukan adalah:
    1. Membantu proses packaging, langkah-langkah yang dilakukan adalah:

    BAB V

    5.1  Bidang Penelitian

    A.  Tempat dan Waktu Penelitian

    1. Tempat Penelitian

    Tempat penelitian adalah di PT Inggu Laut Abadi dan Kosan mahasiswa di jalan Margo Utomo

    2. Waktu Penelitian

    Waktu penelitian yaitu dengan interval 1 bulan

     B.  Metode Penelitian

    Pemecahan masalah  dalam penelitian ini menggunakan metode ilmiah. Metode yang dipakai adalah metode eksperimen. Menurut Suharsimi (1993: 03) menjelaskan bahwa “dengan ini peneliti sengaja membangkitkan timbulnya suatu kejadian, kemudian diteliti akibatnya”. Dengan kata lain eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan menyisihkan faktor-faktor lain. Dalam penelitian ini pola eksperimen yang dipakai adalah  Simple Random Design. Secara garis besar dikemukakan pola tersebut adalah sebagai berikut :

    Simple Randomized Design atau disingkat S  – R, artinya pola yang bertitik tolak dari landasan simple random sampling, yaitu dari suatu populasi terbatas atau sub populasi secara langsung ditugaskan subyek–subyek ke dalam kelompok kontrol secara random.  Pada pola ini yang akan dicari adalah perbedaan mean antara yang berada di dataran tinggi dan dataran rendah dengan rumus t – test.

    C. Populasi dan Sampel

    1. Populasi Penelitian

                    Menurut Suharsimi (1993: 102) “Populasi merupakan keseluruhan subyek penelitian”. Menurut Djarwanto (1990: 42) “Populasi atau universe adalah jumlah dari satu-satuan atau individu-individu yang karakteristiknya hendak di duga”. Adapun populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh bibit krisan yang didapatkan dari PT Inggu Laut Abadi

    2. Sampel Penelitian

                    Menurut S Margono (2003: 121), “Sampel adalah sebagai bagian dari populasi, sebagai contoh  (monster) yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu”. Dalam penelitian ini peneliti mengambil \sebagian dari populasi disebut sampel. Sampel penelitian ini adalah 100 bibit bunga krisan

    a.  Populasi yang digunakan tersebut dipandang mempunyai sifat yang sama.

    b.  Anggota sampel yang digunakan diasumsikan bisa mewakili dari populasi, sebab diambil dari satu populasi yang sifatnya sama dan mewakili dari populasi tersebut.

    Teknik Analisis Data

    Analisis data digunakan untuk mengetahui dan menguji kebenaran dari hipotesa yang diajukan. Teknik analisis data dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini sangat diperlukan statistik inferensial, sebagai  cara menganalisis data.   Analisis yang digunakan adalah Uji T, sebab uji ini digunakan untuk mengamati perbedaan antara rata-rata dua sampel yang tidak berhubungan satu sama lain. Uji  ini khusus digunakan utuk menentukan apakah ada perbedaan yang signifikan rata-rata dari dua kelompok  yang diamati. Adapun formula dari Uji T ini adalah sebagai berikut :

    Data Hasil Penelitian Bunga Krisan

    Kontrol

    No Spray (Panjang) Spray (Jumlah akar) Standart (Panjang) Standart (Jml akar)
    1 5 16 2.2 8
    2 4 33 0.3 3
    3 4.5 36 4.5 21
    4 5 32 3.2 13
    5 5.2 27 0.4 14
    6 1.5 11 3.6 8
    7 5 33 2.5 7
    8 3 15 - 0
    9 5 28 5.6 15
    10 7 22 4.8 28

    Rooton

    No Spray Standar
    Panjang akar Jumlah akar Panjang akar Jumlah akar
    1 3 23 3.9 13
    2 3.4 21 4.9 15
    3 3.5 18 1.2 6
    4 5.2 24 5.3 13
    5 3.9 26 0.5 2
    6 3 19 - 0
    7 4.5 20 5.7 12
    8 3.1 19 4.4 8
    9 3.6 31 1.4 5
    10 4.3 27 0.6 6

    Kingstone

    No Spray Standar
    Panjang akar Jumlah akar Panjang akar Jumlah akar
    1 4.3 24 3 18
    2 4.3 38 6 30
    3 5.3 32 4 20
    4 3 23 3.4 24
    5 2.8 21 4 17
    6 4.6 14 2.3 23
    7 4.4 24 4.1 16
    8 3.6 15 3 23
    9 4.5 31 4.2 21
    10 4.2 29 4.1 29

    B. Uji Persyaratan Analisis

      Untuk memulai menganalisis data diperlukan adanya uji persyaratan analisis terlebih dahulu, yaitu untuk memeriksa keabsahan sampel yang telah ditentukan. Untuk lebih jelasnya maka berikut ini diuraikan mengenai uji persyaratan analisis data yang telah dilakukan:

    1. Uji Normalitas

      Penghitungan uji normalitas dengan menggunakan rumus Shapiro-Wilk dengan pedoman pengambilan keputusan:

    a.  Nilai signifikansi atau nilai probabilitas < 0,05, Distribusi adalah tidak normal.

    b.  Nilai signifikansi atau nilai probabilitas > 0,05, Distribusi adalah normal.

    Tabel 8. Hasil uji normalitas data selisih nilai post tes-pre tes kelompok Media

    Grafis dan Media Model

      Kelompok Sampel Statistik df Signifikansi
    DX Dataran Rendah 0,975 45 0,441
    Dataran Tinggi 0,960 45 0,125

    Hasil penghitungan dengan rumus Shapiro-Wilk diperoleh bahwa kelompok sampel dengan media grafis tingkat signifikansi atau nilai probabilitas  0,441 (sig = 0,441) lebih besar 0,05, maka dapat dikatan bahwa distribusi sampel kelompok media grafis adalah normal. Kelompok sampel dengan media model tingkat signifikansi atau nilai probabilitas 0,125 (sig = 0,125) lebih besar 0,05, maka dapat dikatakan bahwa distribusi sampel kelompok media model adalah normal.

    2. Uji Homogenitas

    Uji Homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah kedua kelompok perlakuan berasal dari sampel yang memiliki variansi yang sama. Dalam penelitian ini digunakan uji Levene. Data berasal dari varians yang homogen bila taraf signifikansi atau nilai probabilitas lebih besar dari 0,05  sehingga dinyatakan bahwa kemampuan awal kedua kelompok adalah sama sebelum diberikan perlakuan dengan metode pembelajaran menggunakan media grafis dan media model.

    Tabel 9. Hasil uji homogenitas dengan uji Levene

    Kelompok Sampel Levene Statistic Df1 Df2 Sig
    Tinggi dan Rendah 2,114 1 85,42 0,150

    Berdasarkan hasil uji homogenitas ditunjukkan bahwa tingkat signifikansi atau nilai probabilitas di atas 0,05 (0,150 lebih besar dari 0,05), maka dapat dikatakan bahwa varians yang dimiliki oleh sampel-sampel yang bersangkutan tidak jauh berbeda, maka sampel-sampel tersebut cukup homogen.

    C. Pengujian Hipotesis

    Setelah diketahui sampel berasal dari populasi yang terdistribusi normal dan homogen, maka dilanjutkan dengan uji hipotesis. Untuk menguji hipotesis pada penelitian ini digunakan uji t. Uji ini dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan hasil belajar Ekonomi dengan metode pembelajaran menggunakan media grafis dan media model. Ringkasan hasil Uji dapat ditampilkan dalam tabel berikut:

    Tabel 10. Hasil uji Hipotesis t-test

    Kelompok Dataran Tinggi dan Rendah

    Signifikansi 0,041
    T hitung -11,215
    Df 88

    Hasil uji t berdasarkan asumsi bahwa varians adalah homogen, didapatkan bahwa t hitung sebesar  -11,215, nilai signifikansi 0,041. Oleh karena signifikansi lebih kecil dari 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti terdapat perbedaan yang nyata terhadap penanaman bunga krisan di dataran tinggi dan dataran rendah

    D.  Pembahasan Hasil Analisis Data

    Berdasarkan hasil perhitungan pada uji hipotesis (t-test) diperoleh bahwa nilai signifikansi atau probabilitas 0,041 < 0,05 sehingga hipotesis nol ditolak dan hipotesis hipotesis alternative diterima, maka terdapat perbedaan yang signifikan penanaman bunga krisan di dataran tinggi dan dataran rendah terhadap jumlah akar dan panjang akar Rata-rata jumlah akar untuk dataran tinggi 1,68 dan untuk dataran rendah sebesar 3,03. Hal ini berarti bahwa jumlah akar yang ada di dataran rendah lebih banyak daripada di dataran tinggi. Dapat disimpulkan bahwa penanaman bunga krisan dari masalah jumlah akar lebih baik di tanam di dataran rendah.

    Proses Pembuatan media tanam dan pemupukan

    Proses Pemberian Fungisida

    Media Tanam Yang Telah Siap

    Proses Pengukuran Penelitian

    Proses Pencatatan Penelitian

     

    5.2 Bidang Pengabdian

    Proses pembudidayaan krisan-panen

    Lanjutan :

    Pemilihan Bunga yg dipanen

    Pembersihan tangkai Bunga

    Pemisahan tangkai Bunga dengan akar

    Pengikatan tangkai Bunga

    Packing  Bunga Standar

    Packing  Bunga Spray

    Hasil Packaging

    Pengiriman Barang

    Mobil pengiriman

    5.3 Bidang Pendidikan

    Pembuatan pestisida dan peracikan pupuk

     Peracikan pupuk untuk tanaman mawar

    Pembuatan fungisida untuk krisan

    Penanaman hingga pemasaran

    Penataan bibit krisan berdasarkan jenis dan tempat penanaman yang akan dilakukan.

    Pembersihan lahan dan pengolahan tanah.

    Pelubangan tanah untuk bibit yang akan ditanam.

    Penanaman krisan

     

    Setelah 3 bulan : pemilian bunga yang siap dipanen

     Tidak layak (terlalu mekar) atau OVER

    Layak (seperempat mekar)

    Pengikatan dengan karet.

    Pemotongan batang untuk menentukan grade.

     Pengiriman bunga dan pemasaran bunga di toko bunga inggu laut.

    Bunga yang sudah di bungkus ditaruhkembali pada kolam kecil terisi air.

     

    Bunga yang sudah dipotong ditaruh kolam kecil terisi air.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    BAB VI

    KESIMPULAN DAN SARAN

     

    5.1 Kesimpulan

                   Kesimpulan yang diperoleh dari pelaksanaan proses pemagangan ini adalah:

    1. a.      Bidang Penelitian
    • Dalam bidang penelitian disimpulkan bahwa tanaman bunga krisan yang ditanam di dataran rendah secara jumlah akar lebih banyak dibandingkan tanaman bibit krisan yang ditanam di dataran tinggi.
    1. b.      Bidang Pendidikan
    • Proses-proses yang dilakukan dalam usaha budidaya bunga krisan meliputi:

    Pembibitan, Persiapan media tanam, Penanaman, Pemeliharaan tanaman, Panen, dan Pasca panen

    5.2 Saran

                   Saran yang diajukan dalam pemagangan ini adalah:

    • Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor geografis terhadap pertumbuhan bunga krisan sehingga nantinya diharapkan dapat membantu menghasilkan bibit dan bunga krisan yang lebih baik
    • Perlu dilakukan inovasi lebih lanjut mengenai proses budidaya bunga krisan sehingga dapat dihasilkan hasil panen bunga yang lebih berkualitas dengan waktu yang lebih singkat.

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Agoes, D. 1994. Aneka Jenis Media Tanam dan Penggunaanya. Penebar Swadaya. Jakarta

    Anonymous. 2007. Media Tanam untuk Tanaman Hias. Penebar Swadaya. Jakarta

    Hardjowigeno. 1987. Ilmu Tanah. Mediantama Sarana Perkasa. Bogor

    Hasim dan Reza. 1995. Krisan. Penebar Swadaya. Jakarta

    Soedijanto. 1982. Bercocok Tanam. CV. Yasaguna. Jakarta

    06/26/2011 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

    LAPORAN PKL BATU BARA

    BAB I

    PENDAHULUAN

     

    1.1 Latar Belakang

    Pada masa otonomi khusus (Otsus) yang sedang berlangsung di Provinsi Papua memberikan dampak positif dalam perkembangan pendidikan khususnya pendidikan di perguruan tinggi yang ada di Papua. Pendidikan itu merupakan salah  satu prioritas utama yang harus dikembangkan karena pendidikan merupakan kunci dari pembangunan daerah. Di dalam pendidikan di perguruan tinggi mahasiswa dituntut untuk menguasai setiap bidang ilmu pengetahuan yang ditekuninya dan mahasiswa harus mengikuti semua tahapan-tahapan yang ditetapkan diperguruan tinggi untuk menyelesaikan study.

    Praktek Kuliah Lapangan merupakan suatu syarat yang harus dilalui oleh setiap mahasiswa/i yang berada di perguruan tinggi sebelum mereka mengerjakan Tugas Akhir (TA) atau Skripsi dalam rangka untuk menyelesaikan study di perguruan tinggi. Sesuai dengan perihal tersebut maka kami dari mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Cenderawasih juga melalui tahapan tersebut.

    Praktek Kerja Lapangan yang dilakukan ini bertujuan untuk meninjau cadangan dan penyebaran batubara di Kampung Aisa Distrik Aifat Timur Kabupaten Sorong Selatan. Mengingat daerah ini memiliki kandungan batubara yang sangat tinggi, sehingga dirasa perlu oleh penulis untuk melakukan peninjauan disana.

    Sangat diharapkan melalui hasil peninjauan cadangan dan penyebaran batubara di Kampung Aisa Distrik Aifat Timur Kabupaten Sorong Selatan ini dapat membantu pemerintah kabupaten sorong selatan dalam merencanakan penambangan batubara disana serta memberikan penjelasan kepada masyarakat yang berada di lokasi tersebut.

    1.2 Perumusan Kegiatan

    Berdasarkan uraian di atas, maka kegiatan difokuskan pada :

    1. Bagaimana cara melakukan pengukuran untuk mengetahui Penyebaran endapan batubara pada daerah penelitian serta pangambilan sampel.
    2. Bagaimana cara melakukan pengolahan data dari hasil pengukuran dilapangan serta proses penggambaran peta penyebaran endapan batubara pada daerah penelitian.

    1.3 Tujuan Praktek

    Tujuan dari mahasiswa untuk melakukan praktek kerja lapangan ialah :

    1. Mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari di kampus tentang  cadangan dan penyebaran bahan galian di suatu daerah penambangan.
    2. Mengetahui lokasi penyebaran dan jenis endapan batubara secara langsung di lapangan.
    3. Mahasiswa dapat menambah pengetahuan khususnya dalam peninjauan cadangan dan penyebaran batubara.

    1.4 Lokasi dan Kesampaian Daerah

    Secara administrasi letak lokasi penelitian berada pada pada Kampung Aisa Distrik Aifat Timur, Distrik baru hasil pemekaran dari Distrik Aifat induk yang berkedudukan di Kampung Kumurkek.

    Lokasi penelitian ini dapat dijangkau dengan perjalanan dari Kota Jayapura ke Kota Sorong dengan menggunakan kapal laut atau bisa menggunakan jasa pesawat terbang menuju Kota Sorong. Sedangkan dari Kota Sorong menuju Aifat Timur melalui jalan darat Sorong-Ayamaru-Aifat dengan menggunakan kendaraan roda empat melewati Distrik Ayamaru seterusnya sampai ke sungai Kamundan dengan jarak tempuh 11 jam. Selanjutnya untuk sampai ke Kampung Aisa bisa menggunakan sejenis perahu ketenten melalui sungai Kamundan dan bisa juga melewati jalan darat Kamat-Ayata dan selanjutnya sampai ke Kampung Aisa dengan jarak tempuh satu hari berjalan kaki.

    Daerah Aisa ini sendiri terletak paling timur di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Irian Jaya Barat. Secara Geografis daerah ini terletak antara 01° 19’ 54,45’’ LS – 01° 21’ 12,81’’ LS  dan 130° 39’ 26,66’’ BT – 130° 43’ 36,06’’ BT. Dengan batas-batas wilayah Kampung Aisa adalah sebagai berikut:

    1. Sebelah Timur Kampung Aisa berbatasan dengan Kampung Ormu.
    2. Sebelah Barat Kampung Aisa berbatasan dengan Kampung Tahsi Mara.
    3. Sebelah Utara Kampung Aisa berbatasan dengan Kampung Ayawasi.
    4. Sebelah Selatan Kampung Aisa berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Teluk Bintuni.

    1.5 Profil Perusahaan

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    1.6 Waktu Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL)

    Adapun waktu yang direncanakan untuk melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yaitu selama 3 bulan, mulai dari bulan Januari tahun 2008 sampai bulan maret tahun 2008. Praktek Kerja Lapangan (PKL) dibagi dalam dua kegiatan yaitu :

    1.  Kegiatan pengambilan data lapangan yang dilakukan selama 1 bulan
    2. Kegiatan pengolahan data, penggambaran peta serta penyusunan Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang dikerjakan selama 2 bulan.

    BAB II

    DASAR TEORI

     

    2.1 Pengertian Batubara

    Batubara adalah benda padat berwarna coklat hingga hitam, kekerasannya kurang dari 3 skala mohs disebut ‘’Paytogenous rock’’  atau batuan  berasal dari diagnesia tumbuhan (flora) sebagai mineral energy berupa batuan yang dapat dibakar membara dan memberikan energi panas berkomposisi organic maseral sedikit mineral dengan penyusun unsur utama yaitu karbon (C), serta sedikit unsur oksigen (O), hidrogen (H), dan nitrogen (N). Sifat kimia berbagai jenis batubara ditentukan oleh jenis dan jumlah unsur  kimia yang terkandung dalam tumbuh-tumbuhan asalnya (PABA 1982).

    Adapun beberapa unsur dan kondisi yang menyebabkan suatu tumbuh-tumbuhan itu bisa  berubah menjadi batubara antara lain yaitu:

    - Bakteri pembusuk

    - Temperature

    - Waktu

    - Tekanan

    Waktu pemanasan juga merupakan hal yang berpengaruh terhadap tingkat pematangan batubara, dimana waktu pemanasan yang lebih lama akan menghasilkan tingkat pematangan batubara yang lebih tinggi. Oleh karena itu batubara yang berumur lebih tua akan mempunyai tingkat pembatubaraan (Coalitification) yang lebih tinggi.

    Tekanan juga merupakan pengaruh terhadap proses pematangan batubara, hanya saja pengaruhnya relative kecil bila dibandingkan dengan temperature dan waktu dalam hal ini tekanan hanya berfungsi untuk memadatkan bahan organic dan menekan keluar kandungan air yang ada di dalam batubara.

    Perubahan komposisi kimia jenis batubara mulai dari jenis gambut (Peat) sampai pada jenis antrasit disebut tingkatan batubara (Coal rank). Tingkatan atau peringkat batubara dapat ditentukan dengan berpedoman pada beberapa parameter yang sangat penting diantaranya adalah analisis ultimat dan analisis proksimat.

    2.2 Cara Terbentuknya Batubara

    Batubara terbentuk sisa-sisa tumbuhan yang sudah mati dengan cara yang sangat kompleks dan memerlukan  waktu  yang  sangat lama (puluhan sampai ratusan juta tahun) yang dipengaruhi oleh proses fisika dan kimia ataupun keadaan geologi.  Komposisi kimia batubara hampir sama dengan komposisi kimia jaringan tumbuhan, keduanya mengandung unsur utama yang terdiri dari unsur C, H, O, N, S, P. hal ini mudah cdimengerti karena batubara terbentuk dari jaringan tumbuhan yang telah mengalami proses pembatubaraan (coalification).

     Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut :

    Apabila jaringan tumbuhan dibakar dalam suasana reduksi, yaiitu dengan cara sesudah jaringan tumbuhan disulut dengan api kemudian diatas tumpukan ditutup tanah agar tidak berhubungan dengan udara luar (agar jaringan tumbuhan tidak terbakar) maka jaringan tumbuhan (kayu) akan menjadi arang kayu. Agar nyala api yang ada di dalam kayu mati, maka kayu tersebut segera disiram dengan air sehingga terbentuknya arang kayu. Makin keras kayu yang dipergunakan sebagai bahan baku, arang kayu yang dihasilkan mutunya makin baik. Komposisi kimia utama arang kayu serupa dengan komposisi kimia utama batubara. Perbedaannya, arang kayu dapat dibuat sebagai hasil rekayasa dan inovasi manusia selama jangka waktu yang pendek, dengkan batubara terbrntuk oleh proses alam selama jangka waktu ratusan hingga ribuaan juta tahun. Karena batubara terbentuk oleh proses alam, maka banyak parameter yang akan berpengaruh pada pembentukan batubara. Makin tinggi intensitas parameter yang berpengaruh makin tinggi mutu barubara yang terbentuk.

    2.3 Tempat Terbentuknya Batubara

                  Berdasarkan tempat terbentuknya batubara, maka ada dua teori yang menjelaskan tentang terbentuknya batubara dialam ini yaitu: teori insitu dan teori drift (Krevelan, 1993).

    1. a.      Teori Insitu

    Teori insitu menjelaskan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara terbentuknya ditempat dimana tumbuh-tumbuhan tersebut mati, namun belum mengalami proses transportasi segera tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami proses coalification.

    Jenis batubara ini mempunyai penyebaran yang luas dan merata serta kualitasnya lebih baik karena kadar abunya relative kecil. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara seperti ini di Indonesia terdapat di Muara Enim Sumatera Selatan (Sukandarrumidi, 1995).

    1. b.     Teori Drift

                Teori ini menjelaskan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara terjadi di tempat yang berbeda dengan tempat tumbuhan semula hidup dan berkembang atau lapisan batubara yang terbentuk jauh dari tumbuh-tumbuhan asal itu berada.

                Proses pembentukan batubara ini dimana tumbuh-tumbuhan yang telah mati dan diangkat oleh air dan berakumulasi disuatu tempat yang tertutup oleh batuan sedimen dan mengalami proses cilification. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran tidak luas dan kualitasnya kurang baik karena banyak mengandung material pengotor yang terangkut bersama selama proses pengakutan dari tempat asal ke tempat sedimentasi. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara seperti ini, di Indonesia terdapat di Delta Mahakam Purba, Kalimantan Timur (Sukandarrumidi, 1995).

    2.4 Proses Pembentukan Batubara

    Batubara berasal dari sisa tumbuhan yang mengalami proses pembusukan, pemadatan yang telah tertimbung oleh lapisan diatasnya, pengawetan sisa-sisa tanaman yang dipengaruhi oleh proses biokimia yaitu pengubahan oleh bakteri. Akibat pengubahan oleh bakteri tersebut, maka sisa-sisa tumbuhan kemudian terkumpul sebagai suatu masa yang mampat yang disebut gambut (Peatification) terjadi karena akumulasi sisa-sisa tanaman tersimpan dalam kondisi reduksi didaerah rawa dengan system draenase yang buruk yang mengakibat selalu tergenang oleh air, yang pada umumnya mempunyai kedalaman 0,5-1,0 meter. Gambut yang telah terbentuk lama-kelamaan tertimbung oleh endapan-endapan seperti batulampung, batulanau dan batupasir. Dengan jangka waktu puluhan juta tahun sehingga gambut ini akan mengalami perubahan fisik dan kimia akibat pengaruh tekanan (P) dan temperature (T) sehingga berubah menjadi batubara yang dikenal dengan oroses p-embatubaraan (Coalitification) pada tahap ini lebih dominan oleh proses geokimia dan proses fisiska  (Stch, dkk, 1982).

    Proses geokimia dan fisika berpengaruh besar terhadap pematangan batubara yaitu perubahan gambut menjadi batubara lignit, batubara bituminous, sampai pada batubara jenis antrasit.

    Pematangan bahan organic secara normal terjadi dengan cepat apabila endapannya terdapat lebih dalam, hal ini disebabkan karena temperature bumi semakin dalam akan semakin panas.

    Proses pengubahan tumbuh-tumbuhan menjadi batubara ini dikkenal dengan cualitification. Dengan urutan zat yang dihasilkan berupa tumbuh-tumbuhan yaitu mulai dari:

    - Gambut (Peat)

    - Lignit

    - Sub Bituminous

    - Bituminous

    - Semi Antrasit

    - Antrasit

    - Meta Antrasit

    Urutan proses pembentukan batubara tersebut secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut:

    1. a.      Peat (Gambut)

               Peat atau gambut adalah tumbuh-tumbuhan yang mati dan mengalami pembusukan dan tercampur dalam paya yang dikenal dengan peat (gambut). Jumlah air dalam gambut ini sangat besar dan jumlah kandungan air tersebut berkisar antara 80-90 % ketika baru ditambang dari paya. Penggunaannya sebagai bahan bakar dalam timber karena akan menghasilkan nyala yang lebih panjang dengan suhu yang relative rendah (Pitojo. S, 1983).  Berdasarkan lingkungan tumbuhan dan pengendapan gambut di Indonesia dapat dibagi atas dua jenis yaitu:

    •  Gambut Ombrogenus, yaitu gambut yang kandungan airnya hanya berasal dari air hujan. Gambut jenis ini dibentuk dalam lingkungan pengendapan dimana tumbuhan pembentuk dimasa hidupnya hanya tumbuh dari air hujan, sehingga kadar abunya adalah asli (Inherent) dari tumbuhan itu sendiri.
    •  Gambut Topogenus, yaitu gambut yang kandungan airnya berasal dari air permukaan. Jenis gambut ini diendapkan dari sisa tumbuhan yang semasa hidupnya tumbuh dari pengaruh air permukaan tanah, sehingga kadar abunya juga dipengaruhi oleh bagian yang terbawa oleh air permukaan tersebut.

    Daerah gambut topogenus lebih bermanfaat untuk lahan pertanian bial dibanding dengan daerah gambut ombrogenus karena gambut topogenus mengandung lebih banyak nutrisi.

    1. b.     Lignit

               Lignit yaitu suatu nama yang digunakan pada tahap pertama lapisan Brown Coal. Pada umumnya lignit mengandung material kayu yang sedikit mempunyai struktur yang lebih kompak bila dibandingkan dengan gambut.

               Lignit mempunyai warna yang berkisar antara coklat sampai kehitaman, lignit segar mempunyai kandungan air antara 20-45 % dan nilai bakar 3056-4611 kal/gram, sedangkan lignit yang bebas air dan abu berkisar antara 5566-111 111 kal/gram (Pitojo. S, 1983).

    1. c.      Batubara Sub Bituminous

               Jenis batubara ini berwarna hitam mengkilap dan mempunyai kilapan logam. Batubara ini saat ditambang kandungan air yang terkandung mencapai 45 % dan mempunyai nilai kalor bakar sangat rendah, kandungan karbon sedikit, kandungan abu banyak dan kandungan sulfur yang banyak.

    1. d.     Batubara Bituminous

               Batubara bituminous merupakan jenis batubara yang terpenting dan dipakai sebagai bahan bakar karena memiliki nialai kalor, kandungan karbon yang relative tinggi, sedangkan kandungan air, kandungan abu, dan kandungan sulfur yang relative rendah. Jenis batubara ini juga digunakan sebagai bahan bakar dalam pembuatan kokas dan pabrik gas.

    1. e.      Batubara Semi Antrasit

               Batubara semi antrasit ini merpakan batubara yang memiliki sifat antara batubara bitumen yang mempunyai kandungan zat terbang rendah disbanding dengan batubara antrasit yang mempunyai zat terbang yang tinggi berkisar antara 6-14 %. Batubara ini mudah terbakar dan warna nyalanya sedikit kekuning-kuningan.

    1. f.        Batubara Antrasit

               Batubara antrasit biasanya disebut batubara keras (hard coal) penamaan ini berdasarkan atas dasar kekerasan dan juga kekuatannya antrasit. Batubara antrasit ini mudah untuk ditambang karena letak lapisan didalam kerak bumi yang tidak pasti, dimana letak lapisannya kadang-kadang tegak dan kadang-kadang juga vertical bahkan kadang-kadang juga berlekuk. Sifat barubara ini ditentukan dari derajat kilap atau warna.

    Batubara antrasit mempunyai nilai kalor dan kandungan karbon sangat tinggi dan memiliki kandungan air atau sulfur yang relative rendah dan kandungan zat terbang tinggi berkisar antara 8,0 %.

    1. g.      Meta Antrasit

               Batubara Meta Antrasit adalah batubara dengan kelas yang sangat tinggi dimana nilai kalorinya sangat tinggi, berkisar antara 8000-9000 kalori.  Kadara air (Water content) sangat kecil kurang dari 1  %, warna hiam mengkilat, pecahan concoidal, tidak mengotori tangan bila dipegang, menghasilkan api yang biru bila dibakar, tidak mengeluarkan asap, tidak berbau, kadar abu dan sulfur juga sangat rendah. Batubara jenis ini  adalah antrasit yang mengalami pengaruh tekanan dan suhu yang tinggi akibat proses tektonik maupun aktivitas vulkanik yang ada di dekat endapan. Batubara jenis ini terdapat di daerah Pensylvania, Amerika Serikat.

    2.5.          Reaksi Pembentukan Batubara

    Batubara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang sudah mati, komposisi utama terdiri dari cellulose. Proses pembentukan batubara dikenal sebagai proses pembatubaraan (coalification). Factor fisika dan kimia yang ada di alam akan mengubah cellulosa menjadi lignit, subbitumina, bitumina atau antrasit. Reaksi pembentukan batubara adalah sebagai berikut :

                      5(C6H10O5)                       C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO

                 Cellulose                           lignit          gas metan

          Keterangan :

    • Cellulosa (senyawa organik), merupakan senyawa pembentuk batubara.
    • Unsur C pada lignit jumlahnya relatif  lebih sedikit dibandingkan jumlah unsur C pada bitumina, semakin baik kualitasnya.
    • Unsur H pada lignit jumlahnya relatif banyak dibandigkan jumlah unsur H pada bitumina, semakin banyak unsur H pada lignit semakin rendah kualitasnya.
    • Senyawa gas metan (CH4) pada lignit jumlahnya relatif lebih sedikit dibandingkan dengan bitumina, semakin banyak (CH4) lignit semakin baik kualitasnya.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    BAB III

    PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

    3.1 Perencanaan Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL)

    Sebelum melakukan kegiatan Praktek Kerja Lapangan, maka hal utama yang harus dilakukan dalam perencanaan adalah :

    1. Pemilihan judul dan lokasi praktek kerja lapangan (PKL)

    Agar pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan terarah, maka mahasiswa/i diharuskan memilih judul dan lokasi Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang akan diajukan ke jurusan / program study.

          Pemilihan judul dan lokasi pelaksanaan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) harus sesuai dengan kemampuan dan daya jangkau dari mahasiswa sehingga tidak menjadi hambatan dalam melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL).

    1. Konsultasi judul dan lokasi PKL ke jurusan / program study

    Judul dan lokasi yang telah dipilih oleh mahasiswa/i harus dikonsultasikan ke jurusan / program study untuk diketahui dan mendapat persetujuan sehingga mahasiswa dapat melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL).

    1. Pengurusan persyaratan yang berkaitan dengan kegiatan PKL

    Setelah judul dan lokasi Praktek Kerja Lapangan (PKL) disetujui oleh jurusan / program study, maka mahasiswa di haruskan untuk melengkapi semua persyaratan yang ditetapkan oleh jurusan/program study. Mahasiswa juga harus mengurus surat pengantar dari Fakultas yang akan ditujukan ke Perusahaan atau Instansi tempat mahasiswa melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL).

    3.2 Persiapan Perlengkapan Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL)

    Sebelum mahasiswa/i melakukan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL), mahasiswa/i harus mempersiapkan perlengkapan yang akan digunakan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan di lapangan. Ada beberapa perlengkapan yang harus disiapkan, yaitu :

    1. Peta topografi daerah Praktek Kerja Lapangan (PKL)
    2. Peralatan dan bahan yang digunakan
      1. Global Positionen Sistym (GPS)
      2. Kompas geologi type Bruntown
      3. Roll meter
      4. Papan datar (Clip board)
      5. Alat tulis (pensil dan buku catatan lapangan)
      6. Kantung sampel
      7. Larutan HCL (larutan kimia)

    3.3 Pelaksanaan Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL)

    Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang dilakukan di Kampung Aisa Distrik Aifat Timur dibagi dalam 2 tahap, yaitu :

    1. Pengukuran dan pengambilan sampel endapan batubara.
      1. Pengukuran penyebaran endapan batubara

    Proses pengukuran penyebaran endapan batubara, yaitu :

    1. Pengukuran arah dan kemiringan (Strike/Dip)

    Pengukuran arah dan kemiringan bertujuan untuk mengetahui berapa sudut (°), arah dan kemiringan dari endapan batubara. Pengukuran Strike/ Dip dilakukan dengan menggunakan Kompas geologi type Bruntown.

    Cara pengukuran Strike/Dip yaitu : kompas geologi diletakkan di atas endapan batubara yang permukaannya datar atau juga dapat dilakukan dengan bantuan papan datar untuk menahan kompas dengan posisi miring, setelah itu pastikan gelembung udara sudah masuk pada nivo tabung yang berada di dalam kompas geologi, lalu lakukan pembacaan arah dan kemiringan dari endapan batubara tersebut pada kompas geologi.

    1. Ploting posisi atau stasiun singkapan batubara pada peta lintasan yang terdapat di dalam GPS.

    Ploting posisi dilakukan untuk menentukan letak atau posisi singkapan endapan batubara pada setiap stasiun untuk mengetahui letak titik koordinat yang nantinya digunakan pada penggambaran peta penyebaran endapan batubara.

            Cara melakukan ploting posisi menggunakan bantuan GPS yaitu : sebelum melakukan perjalan GPS sudah diaktifkan sehingga dapat mengontrol lintasan perjalanan yang dilakukan. Apabila sampai pada stasiun dimana terdapat singkapan batubara maka langsung dilakukan ploting posisi peta lintasan perjalanan yang terdapat di dalam GPS.

    1. Pengambilan Sampel Endapan Batubara

                Pengambilan sampel dilakukan untuk keperluan  pengujian kadar kalori yang terkandung di dalam batubara tersebut di Laboratorium, agar dapat mengetahui berapa nilai kalor dari sampel tersebut

    Cara pengambilan sampel adalah sebagai berikut :Sampel yang diambil harus berukuran segenggam tangan orang dewasa. Sampel tersebut dimasukan ke dalam kantung sampel supaya sampel tersebut terlindung udara bebas.

    1. Pengolahan data  penggambaran peta penyebaran endapan batubara.
      1. Pengolahan data pengukuran

    Data-data hasil survey endapan batubara yang telah dilakukan harus dilakukan pengolahan data tersebut sehingga menghasilkan suatu data pengukuran yang nantinya akan digunakan untuk penggambaran peta penyebaran endapan batubara.

    1. Penggambaran Peta Penyebaran Endapan Batubara

    Apabila pengolahan data telah selesai dikerjakan, maka dapat dilanjudkan pada penggambaran peta penyebaran batubara. Penggambaran peta harus berpatokan pada pengolahan data yang telah diolah terlebih dahulu. Penggambaran peta penyebaran batubara bertujuan untuk mengetahui seberapa luas daerah penyebaran batubara dan juga bagaimana arah penyebaran dari batubara tersebut.

    BAB IV.

    DISKUSI

    4.1 Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan praktek kerja lapangan (PKL).

    Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan praktek kerja lapangan  adalah masalah cuaca yang kurang baik (hujan) dan juga topografi daerah lintasan karena pengukuran dilakukan di darat dan di daerah pinggiran sungai sehingga apabila hujan akan mempengruhi pengukuran penampang di tepian sungai karena banjir.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    BAB V.

    KESIMPULAN DAN SARAN

    5.1 Kesimpulan

      Berdasarkan laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) tentang Penyebaran Endapan Batubara di Kampung Aisa Distrik Aifat Timur Kabupaten Sorong Selatan, maka dapat disimpulkan bahwa ::

    1. Mahasiswa dapat mengikuti serta mengerti proses pengukuran dan pengambilan data di lapangan yang berkaitan dengan penyebaran endapan batubara.
    2. Mahasiswa dapat melakukan pengolahan data hasil pengukuran di lapangan dan juga dapat melakukan penggambaran peta penyebaran endapan batubara.
    3. Mahasiswa dapat mengetahui seberapa luas daerah penyebaran endapan batubara di lokasi praktek. Hal ini merupakan tujuan yang mendorong mahasiswa melakukan  Praktek Kerja Lapangan (PKL).
    4. Hasil Praktek Kerja Lapangan (PKL) dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah Kabupaten Sorong Selatan dalam merencanakan penolahan tambang batubara di daerah tersebut, dan juga dapat memberikan pengertian kepada masyarakat setempat bahwa mereka memiliki sumber daya alam terutama batubara yang sangat besar.

    5.2 Saran

    Berdasarkan penulisan laporan ini, maka dapat disarankan bahwa :

    1. Pemerintah daerah Kabupaten Sorong Selatan dalam melakukan penambangan batubara di daerah Aisa Distrik Aifat Timur harus dilakukan dengan perencanaan yang baik sehingga dapat menigkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
    2. Jurusan/Program study harus konsekwensi dengan waktu pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) sehingga mahasiswa tidak terlambat dalam melakukan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang akan menimbulkan permasalahan sendiri.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    LAMPIRAN

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

    06/17/2011 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

    LAPORAN PRAKTEK MAGANG DI KELAPA SAWIT

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Kelapa sawit (Elais guineensis Jack) merupakan sumber minyak nabati yang sangat penting disamping beberapa minyak nabati lain, seperti kelapa dalam, kacang-kacangan dan biji-bijian lain. Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an (Adlin U. Lubis 1992 ). Pembukaan perkebunan kelapa sawit terus meluas seiring dengan meningkatnya permintaan minyak nabati di berbagai belahan dunia.

                Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk beragam kegunaan karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik (Sastrosayono Selardi, 2003) .

                Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah daging buah yang banyak menghasilkan minyak sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai keturunannya. Kelebihan minyak sawit adalah harga yang murah, rendah kolestrol dan memiliki kandungan karoten tinggi.

    Dalam konteks pembangunan dan pengembangan pertanian, dirasakan betapa perlunya tenaga-tenaga yang lebih spesifik, lebih berperan dan profesional serta terampil dalam menangani bidangnya masing-masing dengan karakter kepemimpinan dan mental yang baik.

    Upaya-upaya pemerintah dalam menanggapi masalah tersebut maka dibentuk suatu lembaga pendidikan tinggi yang lebih berorientasi pada keterampilan praktis yang ditunjang dengan teori yaitu Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, yang diharapkan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pembangunan pertanian di Indonesia. Fakultas Pertanian diharapkan mempunyai andil yang besar untuk membentuk tenaga-tenaga Ahli Madya yang siap pakai dalam bidangnya. Dengan hadirnya Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan (BTP) diharapkan mampu meningkatkan kualitas serta kuantitas hasil pertanian melalui penerapan ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku perkuliahan.

    Mengingat peranannya, maka sistem perkuliahan di Fakultas Pertanian menyangkut kurikulum yang diterapkan dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan pertanian di indonesia. Kegiatan praktek dan teori tentang ilmu-ilmu pertanian yang diberikan secara tersusun dengan cakupan dan ruang lingkup yang lebih tinggi berupa teori yang diberikan sejalan dengan pelaksanaan praktek yang dilakukan. Mengetahui dan memahami keadaan atau kondisi pertanian yang sebenarnya baik ditinjau dari teknis budidaya, pengolahan hasil serta sistem manajemennya, maka kegiatan Magang (Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa) dianggap perlu karena dengan demikian akan menambah wawasan dan ilmu pengetahuan khususnya di bidang pertanian.

    Pelaksanaan magang ini agar para mahasiswa mendapatkan pengalaman serta kemampuan, keterampilan di lapangan, membentuk jiwa kepemimpinan, serta melatih untuk berjiwa wiraswasta dan mempermudah untuk mendapatkan lapangan pekerjaan.

    B. Tujuan Magang

    1. Tujuan umum

    1. Mendewasakan  cara berpikir dan meningkatkan daya nalar mahasiswa.
    2. Melatih mahasiswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh mahasiswa dibangku kuliah.
    3. Studi banding antara teori yang didapat dibangku kuliah dengan pelaksanaannya secara teknis dilapangan.

    2. Tujuan Khusus

                Diharapkan setelah melaksanakan kegiatan magang ini, mahasiswa dapat mengetahui dan memahami keadaan serta permasalahan yang ada dilapangan khususnya permasalahan yang ada di PT. Prakasa Tani Sejati Kecamatan Sungai Laur Kabupaten Ketapang, serta mencoba memecahkan permasalahan tersebut.

    C. Metode Pendekatan

                Dalam melaksanakan kegiatan magang ini digunakan beberapa metode, pendekatan yaitu :

    1. Metode Observasi

    Mahasiswa terjun langsung kelapangan untuk mengamati serta melihat keadaan yang sebenarnya terjadi di lapangan dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan dilapangan.

    1. Metode Wawancara

    Mahasiswa melakukan dialog dan bertanya langsung dengan pihak terkait yang ada dilapangan serta orang-orang orang yang terlibat langsung dalam pelaksanaan dilapangan dan bertanggung jawab terhadap semua masalah teknis dilapangan.

    1. Studi Pustaka

    Penulis menggunakan berbagai literatur yang bisa memperkuat isi tulisan seperti, buku, jurnal dan berbagai literatur lain yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan tentang budidaya  kelapa sawit.

    1. Dokumentasi

    Selama melaksanakan kegiatan dilapangan mahasiswa menggunakan foto atau gambar untuk memperkuat isi laporan yang akan disusun.

    D. Identifikasi masalah

                Upaya dalam meningkatkan hasil produksi kelapa sawit di PT. Prakasa Tani Sejati Kecamatan Sungai Laur Kabupaten Ketapang tidak terlepas dari masalah yang dihadapi dilapangan. Masalah-masalah yang biasa dihadapi adalah sebagai berikut :

    1. Perencanaan ataupun manajemen kebun yang kurang tepat seperti perencanaan pembukaan lahan yang lambat sehingga mempersulit kegiatan pemindahan dan penanaman bibit kelapangan.
    2. Bibit yang belum bisa ditanam kelapangan menyebabkan timbulnya permasalahan baru yaitu membengkaknya biaya atau anggaran perawatan.
    3. Banyaknya tanaman di pembibitan menimbulkan berbagai hama penyakit yang menyerang tanaman dan sangat sulit untuk dikendalikan karena anggaran pemeliharaan yang terbatas.

    BAB II

    GAMBARAN UMUM LOKASI MAGANG

     

    A. Gambaran Umum Kecamatan Sungai Laur Kabupaten Ketapang

    1. Letak dan Luas Wilayah

                Secara geografis, kecamatan Sungai Laur terletak pada 1° LS-109° BT. Luas wilayah secara keseluruhan 1.650,70 km dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

    a)      Sebelah Timur, berbatasan dengan Kecamatan Sandai

    b)      Sebelah Barat, berbatasan degan Kecamatan Simpang

    c)      Sebelah Utara, berbatasan dengan Kabuaten Sanggau.

    d)     Sebelah Selatan, berbatasan dengan Kecamatan Sandai.

                Ibu kota Kecamatan Sungai Laur adalah Aur Kuning dan merupakan salah satu kecamatan yang berada di pedalaman wilayah administratif  Kabupaten Ketapang. Kecamatan Sungai Laur terdiri dari 6 desa dan 8 dusun, desa-desa tersebut adalah Desa Riam Bunut, Desa Sampurna, Desa Sepotong, Desa Bengaras, Desa Sukaramai dan Desa Tanjung Beringin.

    Tabel 1. Luas wilayah desa-desa dikecamatan sei Laur

    No

    Desa

    Luas (km²)

    Persentase (%)

    1

    Riam Bunut

    419,50

    25,41

    2

    Bengaras

    186,00

    11,27

    3

    Sempurna

    263,90

    15,99

    4

    Suka ramai

    148,80

    9,01

    5

    Sepotong

    400,90

    24,29

    6

    Tanjung Beringin

    231,60

    14,03

    Jumlah

    1.60,70

    100

          Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

    2. Topografi Wilayah

                Kondisi topografi Wilayah Kecamatan Sungai Laur terdiri dari dataran, daerah bergelombang dan daerah berbukit yang berada pada ketinggian < 390 meter dpl. Pembagian wilayah berdasarkan topografi adalah sebagai berikut;

    1. Daerah dataran sampai berombak 30%
    2. Daerah berombak sampai berbukit 70%

    3. Keadaan Iklim

                Iklim diwilayah kecamatan Sungai Laur pada umumnya sama dengan kecamatan lainnya yang ada diwilayah Kabupaten Ketapang yaitu beriklim tropis yang masih dipengaruhi oleh musim kering. Suhu udara rata-rata harian mencapai 24° C-30° C degan kelembaban rata-rata 30%. Curah hujan rata-rata pertahun adalah 114 hari hujan dan umumnya musim hujan terjadi antara bulan oktober sampai april. Curah hujan pada bulan mei sampai agustus agak rendah. Kondisi iklim diwilayah kecamatan Sungai Laur sangat dipengaruhi oleh kondisi wilayah yang pada dasarnya merupakan daerah dataran tinggi yang berbukit-bukit.

    4. Keadaan Tanah

                Umumnya jenis tanah yang paling dominan diwilayah Kecamatan Sungai Laur adalah jenis tanah podsolik yang ditandai dengan warna merah kuning bercampur pasir dan berbatu. Jenis tanah ini dimanfaatkan penduduk setempat sebagai lahan pertanian serta pemukiman. Adapun komposisi penggunaan lahan oleh masyarakat Sungai Laur adalah sebagai berikut :

    1. Sawah             : 1.329 Ha
    2. Pekarangan      : 1. 636,49 Ha
    3. Ladang            : 5. 959,90 Ha
    4. Hutan             : 118.318,10 Ha
    5. Kebun                         : 8.878,70 Ha
    6. Lain-lain          : 28.947,81 Ha

    Tabel 2. Pemanfaatan Lahan Kecamatan Sei Laur untuk perkebunan

    No

    Desa

    Luas Lahan (ha)

    Jumlah (ha)

    Kelapa sawit

    Kopi

    Cengkeh

    1

    Riam Bunut

    460

    4.0

    1.215,5

    1.679,5

    2

    Bengaras

    464

    -

    834,0

    1.298,0

    3

    Sempurna

    960

    2.0

    374,4

    1.336,4

    4

    Sukaramai

    -

    2.0

    1.161,0

    1.163,0

    5

    Sepotong

    -

    6.0

    1.206,0

    1.212,0

    6

    Tanjung Beringin

    -

    8.5

    877,56

    886,0

      Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

    Dari pemanfaatan lahan tersebut dapat kita ketahui jenis dan ragam hasil yang  diproduksi, seperti pada tabel berikut :

    Tabel 3. Jenis hasil produksi

    No Desa Produksi Hasil Perkebunan (ton/ha) Jumlah (ton/ha)
    Kelapa Sawit Kopi Cengkeh
    1 Riam Bunut 8.280 2,8 482,20 8.765,00
    2 Bengaras 8.052 - 333,60 8.385,60
    3 Sempurna 14.400 1,4 449,28 14.850,68
    4 Sukaramai - 9,0 465,60 474,60
    5 Sepotong - 8,5 482,60 491,10
    6 Tanjung Beringin - 3,0 351,00 354,00

    Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

    5. Keadaan Penduduk

                Jumlah penduduk Sungai Laur sebesar 12.094 jiwa terdiri dari penduduk laki-laki 6.158 jiwa, perempuan 5.936 jiwa yang terangkum dalam 2.922 kelompok keluarga. Jumlah ini apabila dibandingkan dengan luas wilayah kecamatan sungai Laur, maka kepadatan penduduk mencapai 8 jiwa /km².

    Tabel 4. Penyebaran penduduk

    No

    Desa

    Luas (km²)

    Penduduk

    Kepadatan Penduduk (Jiwa/km²)

    KK

    Jiwa

    1

    Riam Bunut

    419,50

    521

    2.101

    5

    2

    Bengaras

    186,00

    439

    1.686

    9

    3

    Sempurna

    263,90

    471

    1.887

    7

    4

    Sukaramai

    148,80

    459

    1.885

    13

    5

    Sepotong

    400,90

    543

    2.247

    6

    6

    Tanjung Beringin

    231,60

    485

    2.261

    10

    Jumlah

    1.650,70

    2922

    12.094

       Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

                Apabila dilihat dari komposisi penduduk menurut usia yang masih produktif dan yang tidak produktif, maka akan diperoleh angka sebagaimana terlihat pada tabel berikut :

    Tabel 5. Komposisi penduduk menurut umur

    No

    Produktif

    Non Produktif

    Usia

    Jiwa

    Usia

    Jiwa

    1

    15-21

    2.348

    0-14

    4561

    2

    22-50

    5077

    >50

       98

    Jumlah

    7.425

     

    4.669

    %

    61,39%

    38,61%

                  Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

                Pada tabel  5 menunjukkan bahwa penduduk usia produktif sebanyak 7.425 jiwa ( 61,39%) sedangkan penduduk yang nonproduktif berjumlah 4.669 jiwa ( 38,61%). Sebagian besar penduduk usia kerja di Kecamatan Sungai Laur memiliki mata pencarian pada sub sektor pertanian tanaman pangan, perkebunan karet, peternakan serta jasa dengan tingkat produktifitas yang masih relatif rendah serta sarana dan prasarana pertanian yang masih sangat sederhana.

     

     

    B. Keadaan Umum PT. Prakasa Tani Sejati

    1. Sejarah singkat berdirinya perusahaan

                PT Prakasa Tani Sejati berdiri pada tahun 1991 yang merupakan Perkebunan Besar Swasta Nasional (PBSN) Bumi Raya Utama Group (BRUG) sebagai perusahaan inti yang menjalankan usaha perkebunan kelapa sawit.

                Pembangunan kebun dimulai pada tahun 1992 dengan penanaman pertama pada bulan maret 1993. berdasarkan kebijakan pemerintah, pembangunan perkebunan diarahkan untuk menjadikan pelengkap yang mampu mewadahi perkembangan kewiraswastaan petani perkebunan kearah usaha yang rasional.

                Ada 2 pola perkebunan yang diterapkan  di PT Prakasa Tani Sejati, yaitu pola perkebunan Inti dan Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA). Perbedaan antara kedua pola ini adalah pada kebun KKPA pengelolaan perkebunan dilakukan oleh anggota KKPA dengan bimbingan perusahaan, sedangkan kebun Inti dikelola sepenuhnya oleh perusahaan.

                Dari luas izin areal 20.000 ha direncanakan seluas 20% (4000 ha) untuk kebun plasma bagi masyarakat sekitar perkebunan melalui program KKPA. Tahun  2003-2009 telah dilakukan konversi terhadap  1.072  kk  dengan luasan masing-masing kk 2 ha. Masyarakat penerima kebun plasma adalah masyarakat yang telah berdomisili sekitar Sungai Daka 142 kk, Sempurna 245 kk, Bayur Rempangi 239 kk, Merumbuk 154 kk dan Randau 242 kk. Tenaga kerja yang bekerja diperusahaan diambil dari masyarakat setempat sesuai dengan Peraturan Daerah yang mengatur bahwa perusahaan wajib menerima karyawan dari masyarakat setempat sekurang-kurangnya 35 % dari jumlah keseluruhan karyawan atau tenaga kerja. Akan tetapi, sumber daya manusia masyarakat setempat masih belum memenuhi target dan kriteria yang diperlukan di perusahaan. Oleh karenanya, tenaga kerja masih didatangkan dari daerah lain dengan sistem kontrak demi memenuhi dan menjalankan roda perusahaan.

                Karyawan kontrak dipimpin oleh seorang kepala rombongan yang bertanggung jawab langsung kepada perusahaan dan karyawan. Jumlah tenaga kerja tetap di PT Prakasa Tani Sejati sampai bulan desember 2009 ini secara keseluruhan berjumlah 1.888 orang dan ditambah dengan karyawan tidak tetap beberapa orang.

                Tingkat pendidikan karyawan SD 318 orang, SMP 540 orang, SMA 973 orang, Diploma 19 Orang dan Strata (1) 38 orang. PT Prakasa Tani Sejati dibagi kedalam beberapa Estate dan setiap Estate membawahi beberapa divisi. Masing-masing Estate diimpin oleh seorang Estate Manager. Dalam pelaksanaan kegiatan operasionalnya PT Prakasa Tani Sejati bekerjasama dengan beberapa kontraktor.

    Bidang pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor meliputi sarana pengangkutan buah, pembukaan lahan, pengankutan pupuk dan lain-lain.

    Pelaksanaan pemupukan dilakukan setelah perusahaan mendapatkan rekomendasi pemupukan dari Badan Peneliti Kelapa Sawit (BPKS) Medan. Untuk pengadaan pupuk perusahaan mendatangkan pupuk dari berbagai sumber yang disalurkan melalui Bumi Raya Utama Group yang ada di Indonesia maupun Malaysia. Di PT Prakasa Tani Sejati, produk yang dihasilkan masih berupa kernel dan CPO.untuk proses selanjutnya perusahaan menjualnya pada pihak lain. PT Prakasa Tani Sejati memiliki satu Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) yang terletak di Estate Central dengan kapasitas 40 ton TBS per jam. Untuk pengolahan limbah perusahaan sudah memiliki pengolahan limbah tersendiri yang sesuai dengan AMDAL yang ramah lingkungan. Apalagi dalam waktu dekat ini akan dibangun pabrik yang khusus mengelola tandan kosong yang akan dibuat menjadi bahan utama pembuatan pupuk. Pembangunan pabrik tankos sudah berjalan dan sampai saat ini pembangunan masih terus dilanjutkan untuk sesegera mungkin diselesaikan dan difungsikan sebagaimana mestinya.

    2. Visi dan Misi Perusahaan

    a. Visi

                Perusahaan berdasarkan Prestasi dunia.

    b. Misi

                Kami ingin menjadi yang terbaik dalam setiap bisnis dan berkomitmen untuk memuaskan pelanggan-pelanggan serta para karyawan, pemegang saham dan masyarakat dengan menjaga investasi dalam jangka panjang yang sangat menguntungkan. Bagi para pemegang saham, dalam visi dan sikap dan tingkah laku beretika , sistem dan gaya manajemen yang terbaik, pengembalian dana misi kami akan memasukkan nilai-nilai seperti kerjasama secara menyeluruh, kesatuan dan kerja tim.

    3. Struktur Organisasi Perusahaan

                Perusahaan perkebunan PT Prakasa Tani Sejati dipimpin oleh seorang Regional Controller (RC) yang bertugas sebagai Decission Maker kebijakan pengelolaan dan pengembangan perkebunan. Dalam melaksanakan tugasnya, RC dibantu oleh seorang Deputi Perkebunan yang tugasnya adalah perpanjangan tangan dari RC sekaligus mengatur pengelolaan kebun untuk meningkatkan produktivitasnya, akan tetapi masih ada tugas lain yaitu menangani masalah-masalah non teknis seperti masalah pembebasan lahan , KKPA, aparat Pemerintah dan masyarakat sekitar perkebunan. Selain itu, RC juga membawahi Senior Assisten Manager Humas, Estate Support and Development, Kepala Tata Usaha (KTU), Kepala Divisi PLKP dan Kepala Divisi Accounting Finnance.

    Kegiatan operasional lapangan pada tiap-tiap wilayah kebun dipimin oleh seorang Estate Manager (EM) yang membawahi beberapa kepala divisi kebun. Setiap kepala divisi kebun dalam melaksanakan kegiatannya dibantu oleh kepala bagian (Kabag) yang tugasnya menangani dan memimpin petugas pengawas lapangan pada tiap-tiap blok. Fungsi pengawas adalah mengawasi, mengatur dan mengarahkan para karyawan kebun tentang kegiatan-kegiatan dilapangan serta memberikan masukan kepada atasan mengenai situasi yang terjadi dilapangan terutama yang berhubungan dengan teknis dan kinerja para karyawan.

    4. Sarana dan Prasarana Perusahaan

    Usaha  memperlancar seluruh kegiatan di perkebunan, diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, sarana tersebut bisa seperti rumah pegawai manajemen, kantor dan fasilitas kerja, tempat ibadah, sekolah, rumah pegawai borongan dan harian serta beberapa kendaraan yang bisa memfasilitasi para pegawai dan karyawan guna meningkatkan efektivitas kerja seperti yang dapat dilihat pada tabel berikut :

    Tabel 7. Sarana dan prasarana

    No

    Jenis Bangunan

    Jumlah/Unit

    Kondisi

    (1)

    (2)

    (3)

    (4)

    A

    Kantor Central

    1. Kantor kebun
    2. Kantor Pabrik
    3. Kantor PLKP Kebun
    4. Kantor PLKP Pabrik
    5. Kantor Koperasi (KUD)
    6. Kantor Koperasi Karyawan
    7. Work Shop Kebun
    8. Gudang BBM Kebun
    9. Wartel
    10. Taman Kanak-kanak
    11. Klinik

    1

    1

    1

    1

    1

    1

    1

    1

    1

    1

    1

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    B

    Perumahan Central

    1. Mess GM
    2. Mess Regional Controller
    3. Mess Mill Manager
    4. Mess Staf C, D dan E
    5. Barak Karyawan 6 pintu/Unit
    6. Masjid
    7. Gereja
    8. Klinik

    1

    1

    1

    3

    4

    1

    1

    1

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    C

    Bangunan divisi I

    1. Kantor Divisi
    2. Koperasi
    3. Gudang Pupuk
    4. Masjid/Surau
    5. Mess Kabag
    6. Mess Karyawan Borongan
    7. Mes Keluarga
    8. Camp Div I

    1

    1

    1

    1

    3

    39

    39

    1

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Rusak 4

    Baik

    Baik

    D

    Bangunan Divisi II

    1. Kantor Divisi
    2. Gudang Pupuk I, II dan III
    3. Gudang Permanen
    4. Masjid
    5. Mess Kabag
    6. Mess Karyawan
    7. Jembatan Komposit Belian Beton

    1

    3

    1

    1

    3

    44

    4

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    (1)

    (2)

    (3)

    (4)

    E

    Bangunan Divisi III

    1. Kantor Divisi
    2. Gudang Pupuk
    3. Mess Staf
    4. Bangunan Copel
    5. Barak Karyawan
    6. WC Karyawan
    7. Rumah Mesin

    8. Jembatan Komposit

     

    1

    1

    1

    1

    16

    1

    1

    3

     

     

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    F

    Bangunan divisi IV

    1. Kantor Divisi
    2. Gudang Pupuk
    3. Mess Staf
    4. Bangunan Copel
    5. Barak Karyawan
    6. WC Karyawan
    7. Rumah Mesin

    8.   Jembatan Komposit  Beton

     

    1

    1

    1

    6

    1

    2

    1

    1

     

     

    1

    1

    1

    6

    1

    2

    1

    1

    G

    Bangunan Divisi V dan VI

    1. Kantor Mess
    2. Dapur Umum
    3. Barak Karyawan
    4. Rumah Kabag
    5. Camp karyawan
    6. Rumah Mesin
    7. Wc Karyawan

     

    1

    1

    1

    2

    3

    1

    1

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    H

    Mess Tamu Matan

    1

    Baik

     Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

    Tabel 8. Sarana Alat Berat dan Kendaraan

    No

    Jenis kendaraan/Alat berat

    Jumlah/Unit

    Kondisi

    A

    Kendaraan

    1. Truck
      1. Dump Truck Nissan
      2. Dump Truck Dyna Rino
      3. Truck Hino Tronton
    2. Mobil Daihatsu
      1. Taft F.70
      2. Taft F.69
      3. Taft Rocky
      4. Ranger
      5. Pick Up
    3. Farm Tractor
      1. John Deere
      2. Ford
    4. Sepeda Motor
      1. Honda Win 100
      2. Honda Mega pro

     

    2

    1

    1

    1

    1

    1

    1

    2

    4

    12

    19

    15

    Rusak

    Rusak

    Baik

    Rusak

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    Baik

    B

    Alat Berat

    1. Bulldozer
    1. Bulldozer Komatsu
    2. Bulldozer Caterpillar
  • Exavator Komatsu
  • 3. Motor Grader

    1. Motor Grader Komatsu
    2. Motor Grader Caterpillar

    4. Wheel Loader

    5. Backhoe Loader Cartepillar

     

     

     

    1

    2

    1

    1

    1

    1

    2

    Baik

    Rusak

    Baik

    Rusak

    Baik

    Baik

    Rusak

    Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

    BAB III

    PELAKSANAAN MAGANG

    A. Waktu dan Tempat Magang

                Pelaksanaan magang diselenggarakan selama 2 bulan dimulai dari hari selasa 27 oktober sampai hari selasa 29 desember 2009 yang berlokasi diperusahaan perkebunan kelapa sawit PT Prakasa Tani Sejati, kecamatan Sungai Laur kabupaten Ketapang Kalimantan Barat.

    B. Pelaporan dilokasi Magang

                Tujuan pelaporan adalah agar pihak Perusahaan yaitu PT Prakarsa Tani Sejati dapat mengetahui kehadiran mahasiswa yang akan melaksanakan kegiatan magang dilapangan sehingga kedua belah pihak dapat dengan mudah berkoordinasi tentang kegiatan yang akan dilaksanakan dikemudian hari.

    C. Penyusunan Program dan Jadwal Kegiatan

                Penyusunan program dan jadwal kegiatan lapangan dilakukan secara bersama-sama antara mahasiswa dengan Estate Manager dan kepala Divisi. Jadwal kegiatan disesuaikan dengan kondisi dilapangan sehingga tidak mengganggu kelancaran kerja Perusahaan.

    D. Kegiatan dilapangan

                Kegiatan dilapangan dibimbing langsung oleh pembimbing teknis lapangan,   seperti kepala divisi dan kepala bagian lapangan. Kegiatan dilapangan terdiri dari beberapa kegiatan utama, yaitu :

     

     1. Kegiatan di Areal Pembibitan

                Diareal Pembibitan penulis terjun langsung kelapangan untuk melihat, mempelajari dan menguasai berbagai hal yang berkaitan dengan tekhik pembibitan dan pemeliharaan serta perawatannya.

                  Magang di Pembibitan dibagi menjadi 2 lokasi kegiatan yaitu di areal Prenursery dan Mainursery.

    Kegiatan di Areal Prenursery meliputi :

    1. Penyiapan Lahan Pembibitan

    Persiapan lahan pembibitan dilakukan dengan Buldozer untuk meratakan area agar mempermudah pembuatan bedengan. Tanah permukaan didorong kepinggir dan akar-akar serta kayu tunggul dicabut dan dibuang agar lahan bersih serta terhindar dari berbagai bahan yang menyebabkan sumber penyakit.

    1. Persiapan Media tanam

    Langkah awal persiapan media tanam adalah dengan membuat bedengan. Bedengan terbuat dari kayu papan yang berukuran lebar 10 cm dan panjang 10 m dengan ketebalan papan 2 cm. bedengan dibuat dengan bentu kotak persegi panjang  dengan lebar bedengan 1 m dan panjang 10 serta jarak antar bedengan 60 cm. Pembuatan bedengan bertujuan agar poly bag tersusun rapi, tidak roboh dan yang terpenting adalah untuk mempermudah pemeliharaan dan penyensusan. Dari kegiatan penyensusan bedengan, akan diketahui berapa jumlah kebutuhan kecambah yang akan didatangkan dari Balai Penelitian Kelapa Sawit berdasarkan jumlah bedengan dan jumlah rata-rata poly bag dalam bedengan. Sehingga, tidak akan terjadi kekurangan kecambah ketika kegiatan penanaman dimulai. Contoh, jika jumlah bedengan keseluruhan adalah 60 bedengan dan rata-rata jumlah poly bag per bedengan 1200 poly bag, maka dapat kita ketahui bahwa jumlah kecambah yang diperlukan adalah sebanyak 72000 kecambah. Selain itu, penyensusan bedengan dilakukan untuk menentukan jenis perawatan dan anggaran pemeliharaannya.

    Langkah selanjutnya dari kegiatan persiapan media tanam adalah pengisian poly bag. Poly bag untuk untuk media kecambah di areal prenursery berukuran 6×9 cm. Tanah yang digunakan adalah tanah top soil, yaitu tanah permukaan yang memiliki banyak kandungan unsur hara. Pada saat pengisian tanah kedalam poly bag, tanah harus diguncang dan ditekan agar mempunyai kepadatan yang optimal. Poly bag disusun rapi dalam bedengan, kemudian disiram dengan air. Jenis instalasi penyiraman yang digunakan di areal prenursery adalah jaringan vipa water pam yang dipancarkan dengan selang sumi diantara jalur bedengan dengan kekuatan mesin robin.

    Media yang telah terisi tanah disiram selama beberapa hari dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan debit tanah yang telah dimasukkan kedalam poly bag, jika debit tanah menurun maka akan segera dilakukan toping atau pembumbunan. Toping adalah pengisian kembali poly bag dengan tanah setelah diketahui debit tanah dalam poly bag menurun akibat curahan air hujan ataupun penyiraman. Toping bertujuan untuk menjaga tingkat kepadatan tanah dalam poly bag agar tetap optimal sehingga ketika penanaman kecambah berlangsung dipastikan tidak ada lagi poly bag yang kosong dan berongga di bagian dalam.

    1. Pembuatan Naungan dan Pagar

    Pembuatan naungan dilakukan setelah semua kegiatan di media tanam terselesaikan, baik itu pembuatan bedengan, pengisian serta penyusunan poly bag dan pemasangan instalasi penyiraman. Tujuan pembuatan naungan pada areal prenursary adalah untuk menjaga tingkat kelembaban media tanam, menekan pertumbuhan gulma, mengurangi tingkat penurunan kualitas unsur hara pada media akibat terik sinar matahari langsung dan melindungi media dari curah hujan secara langsung dan berlebih yang bisa menyebabkan tanah dalam poly bag terlalu mengeras dan padat. Naungan terbuat dari pelepah tanaman kelapa sawit yang disusun rapi diatas para-para bambu bulat dengan tiang kayu yang kokoh sebagai penyangga. Tinggi naungan 2 m dari permukaan tanah, hal ini bertujuan untuk menjaga suhu, kelembaban dan udara yang bergerak dalam area prenursery tetap stabil.

    Pelepah yang digunakan sebagai bahan naungan harus berasal dari tanaman yang sehat dan terhindar dari penyakit seperti jamur ataupun virus yang bisa menular pada bibit. Adapun tujuan pembuatan pagar adalah agar lahan, media dan tanaman  terjaga dari gangguan atau serangan hama seperti tikus, landak, babi hutan dan lain-lain. Pagar terbuat dari kawat ram yang dipasang mengelilingi seluruh lahan pembibitan di areal prenursary.

    1. Penanaman Kecambah

    Penanaman kecambah dilakukan setelah media tanam dipastikan selesai dan siap tanam serta naungan dan instalasi penyiraman telah terpasang. Kecambah yang ditanam berasal dari Marihat yang merupakan Pusat Pengembangan Kelapa Sawit (PPKS) di Medan Sumatera Utara. Kecambah berasal dari varietas Tenera, yaitu persilangan antara Dura dan Fisifera. Jenis ini telah lama dibudidayakan di PT Prakasa Tani Sejati base camp Sungai Laur karena memiliki beberapa keunggulan, antara lain memiliki daya tumbuh yang baik, memiliki buah dan kandungan minyak yang berkualitas, serta tahan terhadap kondisi yang ekstrim baik saat kemarau maupun ketika curah hujan tinggi dimana pada saat itu intensitas genangan pada tanaman sawit yang masih muda dan berada dilahan dengan topografi rendah kerap kali terjadi dengan waktu yang cukup lama.

    Penanaman kecambah harus sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan, baik dari waktu maupun metode penanaman. Kecambah harus segera ditanam 2×24 jam dari mulai pengiriman sampai tiba di areal prenursary dengan perlakuan yang baik seperti pengiriman melalui pesawat, disimpan diruangan ber AC dan dijemput dengan mobil bak tertutup. Kecambah kelapa sawit memiliki volume pertumbuhan radikula dan plumula  yang sangat cepat, sehingga akan berdampak kerusakan jika jadwal penanaman tidak sesuai dengan jadwal pengiriman.

    Plumula kecambah berwarna putih sedangkan radikulanya berwarna coklat dan tumpul. Oleh karena itu, kegiatan penanaman harus diawasi agar tidak terjadi kesalahan dalam cara penanaman. Kedalaman lubang pada media poly bag ± 2 cm, posisi plumula yang berwarna putih berada diatas sedangkan radikula yang berwarna coklat berada dibawah. Lubang yang telah ditanam ditutup dengan tanah yang gembur agar plumula tumbuh tanpa hambatan. Jika tanah penutup keras dan berbatu maka proses pertumbuhan akan terhambat dan biasanya tanaman akan tumbuh membengkok.

    1. Pemasangan Klerat

    Pemasangan klerat dilakukan satu hari sebelum penanaman kecambah dan dipasang satu pada setiap bedengan serta setiap sudut areal prenursery. Klerat adalah Rodentisida kontak yang diperuntukkan bagi hama pengerat, seperti tikus dan landak.

    1. Penyiraman

    Penyiraman dilakukan setelah semua media telah tertanam oleh kecambah. Penyiraman dilakukan dengan intensitas rendah, hal ini dilakukan agar air bisa menyerap sempurna kedalam poly bag tanpa merusak permukaan media sehingga kecambah tetap pada keadaan semula. Instalasi penyiraman menggunakan tenaga mesin robin dengan vipa water pam dan dipancarkan melalui selang sumi yang berada pada setiap jalur bedengan. Penyiraman berikutnya dilakukan dengan intensitas meningkat tergantung pada tingkat pertumbuhan kecambah dan keadaan cuaca.

    1. Toping

    Seperti dijelaskan sebelumnya, toping adalah pengisian kembali tanah kedalam poly bag setelah debit tanah dalam poly bag menurun akibat penyiraman ataupun curahan air hujan. Toping seringkali dilakukan pada setiap kegiatan di areal prenursery dengan tujuan yang berbeda. Toping kali ini bertujuan  agar akar pada tanaman yang baru tumbuh di areal prenursery tidak terganggu baik oleh sinar matahari ataupun mahluk hidup lainnya. Karena akar tanaman yang baru tumbuh sangat rentan terhadap kerusakan. Akar yang terbuka juga dapat mengundang perhatian hama tanaman seperti tikus, landak dan babi. Oleh karena itu perlu dilakukan toping ulang agar tanaman tetap tumbuh dengan baik. Kegiatan toping pada tanaman yang baru tumbuh juga sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan vegetatif akar.

    1. Pengendalian Gulma

    Pegendalian gulma pada areal prenursery dilakukan secara manual, yaitu Weeding bag dan Weeding antar bag. Weeding bag adalah mencabut atau membersihkan gulma yang tumbuh didalam poly bag. Kegiatan ini dilakukan secara teliti dan hati-hati karena gulma tumbuh disekitar media dan tanaman yang masih sangat rentan sehingga dikhawatirkan media rusak dan akar tanaman terganggu atau bahkan tercabut. Weeding bag dilakukan secara bertahap tergantung dari intensitas dan volume pertumbuhan gulma. Weeding bag harus dilakukan sebelum pertumbuhan gulma mencapai ambang batas, yaitu volume pertumbuhan gulma melebihi atau hampir sama dengan volume pertumbuhan tanaman. Karena, gulma dewasa bisa mempengaruhi aktivitas penyerapan unsur hara pada tanaman sehingga pertumbuhan tanaman akan terhambat. Adapun Weeding antar bag adalah mencabut dan membersihkan gulma yang tumbuh diantara sela-sela poly bag dan bedengan. Weeding bag dilakukan dengan cara mengangkat poly bag Satu-persatu dan membersihkan gulma yang tumbuh pada areal bedengan kemudian meletakkan kembali poly bag pada tempat semula. Pengendalian gulma dengan menggunakan Herbisida tidak dilakukan pada areal prenursery, karena dikhawatirkan dampak buruk yang akan terjadi pada tanaman yang masih sangat rentan terhadap bahan aktif herbisida yang bisa menyebabkan kerusakan atau kamatian. Weeding bag dan weeding antar bag dilakukan oleh pekerja harian khusus pemeliharaan.

    1. Pemupukan

    Pemupukan pada tanaman diareal prenursery dilakukan setelah satu minggu tanaman tumbuh. Pupuk yang digunakan adalah jenis NPK yellow yang diaplikasikan dengan dua cara berbeda, yaitu disemprot dan disiramkan (Ekstra Polya). Dosis dan konsentrasi yang dianjurkan untuk penyemprotan adalah 5 kg NPK yellow diekstraksi kedalam 10 liter air yang merupakan bahan campuran untuk 10 tanki pom. Setiap satu tanki pom yang memiliki kapasitas 20 liter air dicampur dengan 1 liter ekstrak NPK yellow untuk setiap 200 batang tanaman. Untuk penyiraman dilakukan dengan cara yang sama tetapi dengan konsentrasi dan dosis yang berbeda yaitu 5 kg NPK yellow diekstraksi kedalam 5 liter air untuk kemudian dicampurkan dengan 100 liter air dan diaplikaskan dengan cara disiram untuk setiap 100 batang tanaman. Pemupukan ekstra polya sangat efektif untuk diaplikasikan diareal prenursery karena dianggap mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya :

    - Pupuk dapat langsung diserap tanaman melalui pori-pori daun (stomata) dan akar.

    -  Tanaman selalu dalam keadaan  segar karena pemupukan dilakukan dengan   penyemprotan dan penyiraman.

    -  Menghindari kemungkinan terjadinya kematian pada tanaman akibat percikan pupuk jika pupuk diaplikasikan dengan cara ditabur.

    1. Pembukaan Naungan

    Pembukaan naungan dilakukan setelah tanaman berumur 2 minggu dan dilakukan secara bertahap agar tanaman bisa beradaptasi dengan cahaya matahari. Tahapan pertama adalah 50% dan tahapan kedua adalah pembukaan total, yaitu 100%. Adapun tujuan dari pembukaan naungan adalah :

    -          Agar tanaman mampu beradaptasi dengan lingkungan

    -          Mencegah terjadinya etiolasi atau pertumbuhan memanjang akibat kurangnya penyinaran matahari

    -          Mencegah terjadinya serangan penyakit seperti virus dan jamur.

    1. Penyemprotan Pestisida

    Penyemprotan insektisida dilakukan hanya jika terjadi serangan hama serangga. Penyemprotan fungisida biasa dilakukan setiap 2 minggu untuk mencegah timbulnya jamur pada tanaman. Insektisida yang digunakan jika terjadi serangan hama serangga adalah jenis Bassa, dan fungisida yang digunakan untuk mencegah timbulnya jamur adalah jenis Dithane yang memiliki kandungan tiram dan sangat bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.

    1. Sensus atau Sortir Bibit

    Penyortiran dilakukan untuk mencegah adanya bibit abnormal yang ikut tertanam diarea mainnursery. ciri-ciri bibit yang abnormal adalah, tunas yang memuntir, daun lalang (tegak dan kecil), daun menggulung, collante (daun seperti pita), daun keriting dan daun yang berbentuk mangkuk.

    Kegiatan di areal Mainnursery terdiri dari beberapa jenis kegiatan sebagai berikut :

    1. Persiapan lahan

    Persiapan lahan terdiri dari beberapa kegiatan, seperti membersihkan lahan dengan buldozer untuk meratakan areal dari kayu-kayuan dan tunggul-tunggul yang tersisa, pemancangan, pembuatan jalan pemeliharaan dan pemasangan instalasi penyiraman .

    1. Pengisian Poly bag

    Poly bag untuk tanaman di mainnursery berukuran 40×50 cm lebih besar dari ukuran tanaman di prenursary dengan ketebalan 0,12 mm, karenanya pengisian memakan waktu yang cukup lama dan dipersiapkan jauh-jauh hari agar penyelesaiannya bersamaan dengan berakhirnya masa usia tanaman di areal prenursery. Tanah yang digunakan adalah tanah top soil yang memiliki banyak kandungan hara. Poly bag yang telah diisi kemudian diletakkan dan disusun berdasarkan pancang yang telah tersedia dengan jarak 90×90 cm segitiga sama sisi dengan kapasitas perhektar 14.200 bibit.

    1. Penanaman

    Kegiatan penanaman di mainnursery  dilakukan setelah tanaman mencapai usia maksimal. Dilakukan pengawasan ketat agar proses penanaman berjalan dengan baik, penanaman dilakukan dengan cara merobek poly bag dengan silet setelah membuat lubang tanam pada poly bag mainursary tanpa harus memotong bagian akar sedikitpun.

    1. Penyiraman

    Penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore selama dua jam. Penyiraman dihentikan jika terjadi curah hujan dengan intensitas yang tinggi.

    1. Pemupukan

    Pemupukan dilakukan dengan rotasi 2x selama 1 bulan dengan dosis dan jenis pupuk yang telah direkomendasikan. Jenis pupuk yang digunakan adalah NPK Blue dan NPK Yellow. Berikut adalah tabel pemupukan yang telah direkomendasikan.

    Tabel 9. Pemupukan

    Umur Bibit

    Dosis Pupuk (g/Bibit)

    Cara Aplikasi

    Jenis Pupuk

    3-4 Bulan

    7

    Ditabur

    NPK Yellow

    5-6 Bulan

    14

    Ditabur

    NPK Blue

    7-8 Bulan

    21

    Ditabur

    NPK Blue

    > 8 Bulan

    28

    Ditabur

    NPK Blue

     Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

    1. Pengendalian Gulma

    Pengendalian gulma pada tanaman diareal pembibitan mainursary dilakukan dengan cara manual dan kimia. Pengendalian gulma dengan cara manual terdiri dari weeding bag dan weeding antar bag. Weeding antar bag adalah memberantas gulma dengan cara mencabut dan membersihkan gulma diantara jalur-jalur poly bag ( luar), sedangkan  weeding bag adalah membersihkan gulma yang berada pada poly bag tanaman. Rotasi pengendalian 2-3 kali/bulan.

    Pengendalian gulma cara kimia dilakukan dengan aplikasi herbisida pratumbuh 1 kali dan purna tumbuh 2 kali dengan rotasi 3 bulan. Penyemprotan herbida purna tumbuh memakai parakuat sedangkan untuk herbisida pratumbuh dianjurkan memakai linuron. Penyemprotan dilakukan dengan sprayer gendong (knapsack sprayer) dengan posisi semprotan vertical (kebawah) dengan posisi lebih rendah dari permukaan tanah poly bag untuk menghindari percikan larutan herbisida.

    1. Toping

          Sama halnya dengan tanaman yang berada diareal prenursery, tanaman yang berada di areal mainnursery juga dilakukan toping untuk menjaga debit tanah dalam poly bag agar tetap stabil dan pertumbuhan akar bisa terjaga. Toping dilakukan dengan tanah yang gembur dan banyak mengandung unsur hara.

    1. Pemangkasan

    Kegiatan pemangkasan hanya dilakukan pada bibit yang berumur diatas 10 bulan. Pemangkasan befungsi untuk menjaga agar tanaman yang berada diareal pembibitan mainursary tetap terjaga kelembabannya dan tidak menjadi sumber atau sarang hama dan penyakit yang bisa menular pada tanaman yang masih muda. Selain itu untuk mempermudah kegiatan perawatan seperti pemupukan dan pengendalian gulma serta menghindari robohnya tanaman dari hembusan angin dan terpaan hujan. Pemangkaan dilakukan dengan cara memotong setiap ujung pelepah berbentuk piramida, hal ini untuk menjaga agar pertumbuhan pelepah bisa normal kembali. Alat yang digunakan adalah pisau stainless dan hanya dilakukan apabila pertumbuhan pelepah melampaui batas yang ditentukan

    1. Pengikatan Pelepah

    Pengikatan bibit dilakukan oleh tenaga kerja borongan sebelum bibit diangkut kelapangan. Manfaat dari pengikatan bibit adalah, agar mempermudah pengangkutan, mempermudah penanaman, agar tajuk terpelihara dengan baik dan menghindari kerusakan tanaman akibat terjadi gesekan ataupun penumpukan bibit dalam angkutan.

    1. Sortir Bibit (Thinning Out)

    Penyortiran bibit dilakukan pada saat akan diangkut kelapangan, adapun cirri-ciri bibit yang abnormal adalah, permukaan daun yang kasar (bibit banci), anak daun tersusun jarang, tidak memiliki anak daun (juvenile), permukaan tajuk yang rata dan bibit yang kerdil.

    2. Kegiatan Diareal Pembukaan Lahan

                Areal pengembangan merupakan pusat kegiatan dan perencanaan perluasan  areal perkebunan. Diareal pengembangan mahasiswa terjun langsung untuk melihat, memahami dan menguasai proses pembukaan lahan (Land Clearing). Selain itu kegiatan yang diikuti adalah pemeliharaan tanaman muda dilapangan seperti konsolidasi pohon kelapa sawit. Kegiatan yang dilakukan selama berada diareal pengambangan diantaranya :

    1. Pengaturan Rumpukan

    Pengaturan rumpukan dilakukan setelah kegiatan penumbangan pohon dan telah ditentukan titik tanam agar tidak mengganggu kegiatan pemancangan dan penanaman kelapa sawit.

    1. Pembuatan Teras

    Teras kontur dibuat dengan Buldozer dengan lebar teras 4 m dengan kemiringan 10-15º. Pembuatan teras ini membutuhkan biaya yang besar, tetapi mempunyai keuntungan diantaranya konservasi tanah, konservasi air mencegah dan mengurangi erosi pupuk, memberikan kemudahan operasional dilapangan, meningkatkan hasil TBS dan brondolan dan mengurangi biaya perawatan jalan.

    1. Rencana Pembuatan Jalan

    alan penghubung utama dan jalan primer dibuat dengan Buldozer. Top soil digusur membentuk badan jalan sesuai dengan profil jalan yang sudah ditentukan. Profil jalan berbentuk cembung dan kanan kiri jalan dibuat parit dengan jarak 1,5-2 meter dari badan jalan. Tinggi tanah timbunan setelah dipadatkan minimal 80 cm dari permukaan tanah yang akan dibuat jalan dengan lebar 5-6 meter.

    1. Pembuatan Saluran air (Drainase)

    Jaringan drainase harus dibangun selama tahap pembangunan kebun kelapa sawit ditanam. Pembuatan saluran drainase sebaiknya dimulai dari bawah atau dari hilir ke hulu, serta keadaan parit harus diatur sedemikian rupa sehingga semua air dar parit satu atau parit yang lain dapat mengalir kesungai dengan baik. Kecepatan airan air pada saluran drainase cukup baik jika salutan tersebut memiliki kemiringan 1 : 5000- 1 : 3000 dengan rotasi pekerjaan 6 bulan sekali. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan saluran drainase adalah :

    -        Semak-semak yang menutupi parit harus dibersihkan

    -        Tanah galian dibuang keatas dan disebar serata mungkin dan diguakan sebagai badan jalan.

    -        Tanah yang ada dalam parit dinaikan keatas.

    -        Saluran drainase dan pinggiran sungai yang terbuka perlu diperkuat dengan jaringan-jaringan yang diisi dengan batu.

    1. Kegiatan Pemancangan

    Kegiatan pemancangan adalah suatu kegiatan untuk menentukan titik tanam yang menggunakan alat kompas  dan kawat seling agar barisan sawit lurus dan berbentuk segitiga sama sisi dengan jarak minimal 7,6 meter. Apabila posisi panjang dekat parit atau jalan maka panjang tersebut dianggap pancang Bantu, selanjutnya pancang tanam digeser dalam barisan sebagai berikut :

    1)      Jarak minimal dari parit primer/sungai : 5 meter

    2)      Jarak minimal dari parit sekunder/tersier : 3 meter

    3)      Jarak minimal dari pinggir jalan : 3 meter

    4)      Jarak minimal dari tunggul kayu : 3 meter

    1. Penanaman Tanaman Penutup Tanah (Leguminosa Cover Crop)

    Penanaman LCC diareal lahan baru boleh dengan sistem larikan atau dicangkul dengan jarak 1×1 meter. Fungsi dari penanaman LCC adalah untuk menjaga kelambaban tanah, mengurangi pertumbuhan gulma, menambah bahan organik tanah dan mencegah erosi.

    1. Penanaman Kelapa Sawit

    Kegiatan yang perlu diperhatikan dalam penanaman kelapa sawit adalah :

    1)      Bibit yang ditanam adalah bibit yang terseleksi (bibit produktif).

    2)      Tidak boleh merusak pelepah dan tidak boleh merusak akar pada waktu membuka poly bag.

    3)      Bibit ditanam pada pajang yang ada dengan ukuran lubang tanam 60 x 60 x 60 cm.

    4)      Sebelum tanam, masukkan pupuk rock phosphate (RP) dalam ubang dan ditaburkan diatas tanah galian lubang. Bibit ditanam sebatas leher bibit, tidak boleh terlalu dalam atau terlalu dangkal.

    3. Kegiatan diareal Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)

                Kegiatan praktek yang dilakukan diareal TBM diantaranya konsolidasi, penyisipan, garuk piring, pembuatan tapak kuda, penanaman kacangan (Leguminosa cover crop), pemupukan, pengendalian hama penyakit serta pemeliharaan jalan, parit dan drainase.

    1. Konsolidasi

    Kegiatan yang dilakukan untuk merehabilitasi tanaman yang baru ditanam. Kesalahan tanam biasanya disebabkan oleh penanaman yang terburu-buru dan kurangnya pengawasan sehingga mengakibatkan kerusakan tanaman, kelambatan atau kelainan pertumbuhan bibit yang ditanam.

    Kegiatan konsolidasi antara lain adalah menginventarisasi tanaman yang mati, abnormal, tumbang dan terserang hama penyakit serta menegakkan pohon yang tumbang dengan cara menimbun tanah disekitar pangkal batang dan dipadatkan sehingga tanaman tegak kembali. Konsolidasi pokok ini dilakukan pada umur TBM I dan TBM III jika terlambat sulit untuk diperbaiki karena batang tanaman sudah besar.

    1. Penyisipan

    Penyisipan dilakukan untuk menggantikan tanaman yang mati, sakit atau kerdil sehingga diperoleh tanaman yang tumbuh sehat dan seragam. Kegiatan ini dilakukan berdasarkan hasil inventarisasi pada areal TBM tanaman yang perlu disisip pada masa TBM I sampai III setiap satu bulan sekali, dan setelah TBM III penyisipan cukup dilakukan setiap satu tahun sekali.

    1. Garuk Piring

    Kegiatan ini dilakukan dengan membersihkan gulma yang terdapat disekitar tanaman kelapa sawit gulma digaruk dengan menggunakan cangkul, dengan radius 1 meter dari pangkal batang.piringan harus bebas dari gulma untuk menghindari persaingan dalam penyerapan unsur hara antara gulma dengan tanaman kelapa sawit. Rotasi garuk piringan ini dilakukan setiap satu bulan sekali.

    1. Teras Individu atau Tapak Kuda

    Pembuatan tapak kuda tepat pada pancang tanaman mula-mula tanah dibebeskan dari humus, tunggul dan kayu-kayuan. Tanah galian disusun untuk tanah baigan yang ditimbun, sedangkan tanah yang agak miring dicangkul dan diratakan denga sudut kemiringan 10°-15° kemudian dibuat benteng kecil dipinggir tanah timbunan tersebut.

    apak kuda dibuat pada bagian permukaan tanah yang memiliki kecuraman atau kemiringan yang tinggi. Adapun tujuan dibiatnya tapak kuda adalah apabila pada saat pemupukan unsur hara tidak langsung tercuci tetapi tetap berada dalam piringan atau tapak kuda tersebut. Tapak kuda dibuat pada areal TBM I ( tanaman ulang). Pemeliharaan pada tahap awal diperlukan pemeriksaan yang teratur untuk memperbaiki tapak kuda yang rusak, dan rehabilitasi selanjutnya dilakukan setiap satu tahun sekali.

    1. Penanaman Tanaman Penutup Tanah

    Penanaman tanaman penutup tanah (Leguminora cover crop), sangat baik untuk mengurangi erosi permukaan tanah, memperbaiki aerasi, menjaga kelembaban tanah dan menambah bahan organik serta cadangan unsur hara. Akar tanaman kacangan dapat memfiksasi nitrogen dan juga dapat mencegah pertumbuhan gulma. Jika tanaman telah menutupi areal dengan sempurna maka akan menghemat biaya penyiangan gulma dan tanaman kelapa sawit dapat terhindar dari serangan hama kumbang oryctes.

    Tanaman LCC (Leguminora cover crop) yang digunakan adalah jenis CP ( Centrocema pubescent) dan PJ ( Pueraria javanica), jenis ini dpakai karena sifatnya dapat bertahan hidup lebih lama dibandingkan dengan jenis yang lain. Sistem yang digunakan dalam penanaman kacangan ini adalah dengan cara penugalan dengan perbandingan 5 : 5 : 1. Setiap satu gawangan dibuat dua jalur tanam dengan jarak 1 m dari tanaman kelapa sawit dengan jumlah kacangan yang diperlukan adalah 5 kg/ha.

    1. Pemupukan

    Kegiatan pemupukan pada areal TBM sangatlah penting untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik dan kokoh serta persiapan aktivitas pertumbuhan. Pengaruh pemupukan terhadap produksi bersifat jangka panjang dan baru akan terlihat setelah 2 sampai 3 tahun kedepan. Jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk majemuk NPKM, yang diberikan dengan sistem tabur.

    1. Pengendalian Hama

    Hama yang sering dijumpai menyerang tanaman kelapa sawit belum menghasilkan ini adalah ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS) yang bersifat permanen seterti ulat api (limacodidae) dan ulat kantong (psychidae).

    Usaha mengetahui tingkat serangan hama, dilakukan sistem pengamatan dini (Early Warning System) sehingga dapat diketahui apakah seranga hama dibawah tingkat kritis dan jika telah berada diatas batas kritis maka dapat diambil tindakan pengendalian.

    Tujuan dari pengendalian hama adalah untuk menurunkan populasi hama sehingga tidak merugikan secara ekonomi dan tidak melampaui batas kritis keseimbangan alam. Serangan UPDKS mengakibatkan kelapa sawit kehilangan daun, secara signifikan akan mengganggu pertumbuhan tanaman kelapa sawit.

    alah satu tindakan yang diambil untuk pengendalian hama ulat kantong dan ulat api dikebun adalah dengan cara hand picking, yaitu pengutipan ulat denga memeriksa setiap tanaman, jika terdapat ulat maka ulat-ulat tersebut dikumpulkan kemudian dimusnahkan. Jumlah ulat pada setiap tanaman di catat untuk mengetahui tingkat serangan.

    1. Pemeliharaan Jalan dan Parit Drainase

    Jalan diperkebunan kelapa sawit sangat diperlukan sejak pembukaan lahan hingga tanaman menghasilkan. Jalan merupakan sarana penghubung untuk pengangkutan Tandan Buah Segar (TBS), pupuk serta untuk kegiatan lain. Jalan di buat dengan daya dukung  tertentu sehingga dapat dilalui setiap waktu oleh kendaraan. Sarana jalan tersebut harus dikelola dan dipelihara dengan baik sehingga semua kegiatan perusahaan dapat berjalan dengan lancar. Jalan diklasifkasikan menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan kelas, ukuran, ketahanan dan fungsi serta kapasitasnya masing-masing. Berikut adalah tabel klasifikasi jalan PT. Prakarsa Tani Sejati base camp Sungai Laur yang akan dijadikan sarana pengangkutan dan berbagai aktivitas pemeliharaan tanaman di areal TBM dan TM.

    Tabel 10. Klasifikasi Jalan

    Kelas Jalan

    Bahu dan Badan Jalan (m)

    Kaki Lima (m)

    Jalan Parit Ketanaman (m)

    DM 3 (m)

    Jalan Primer (utama)

    Jalan Sekunder  ( produksi)

    Jalan Tersier (koleksi)

    Jalan Kuarter (pinggir)

    8-10

    5-6

    4-5

    4-5

    1,5

    1

    1

    -

    3

    3

    3

    -

    12

    10

    8

    -

      Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

    Jalan primer (main road) adalah jalan yang menghubungkan divisi dengan divisi emplasment keluar dari lingkungan kebun. Jalan sekunder (secondary road) merupakan jalan penghubung dengan areal produksi dan berfungsi  sebagai jalan pengumpulan hasil, umumnya arah utara sampai dengan selatan. Jalan  tersier (tertiary road) merupakan jalan didalam areal produksi/ blok yang berfungsi sebagai tempat pengumpulan hasil, dengan arah timur- barat. Jalan line (koridor road) adalah jalan pinggir kebun sebagai batas areal tanaman dan juga sebagai jalan kontrol.

    Pemeliharaan jalan dilakukan secara manual tetapi diusahakan menggunakan alat grader dan compactor. Permukaan jalan diusahakan cembung sehingga pada saat hujan turun air tidak menggenang, pemeliharaan jalan dilakukan setiap enam bulan sekali, sementara parit drainase dibangun untuk mengeluarkan kelebihan air agar areal tanamn kelapa sawit tidak tergenang dengan cara mengangkat/ menggali tanah yang menutup parit. Pada areal TBM parit dibuat dengan lebar 1 m dengan kedalaman 1,5 meter. Pembuatan parit ini menggunakan tenaga borongan dengan target 100 m/hk.

    Kegiatan-kegiatan pemeliharaan TBM diatas pada saat praktek magang ini sudah dilaksanakan. Adapun kegiatan yang belum dilakukan adalah penunasan (tunas pasir) dan kastrasi. Karena tanaman pada masa TBM I belum membentuk bunga dan buah.

    4. Kegiatan di Areal Tanaman Menghasilkan ( TM )

    Kegiatan di areal TM dilaksanakan selama 1 minggu yaitu pada tanggal  23  Oktober – 10 Desember 2009. tempat kegiatan di areal TM difokuskan di areal kebun TM divisi III Wilayah Central. Jenis kegiatan di areal TM meliputi kegiatan sebagai berikut :

    1. Cabut Anak Kayu

    Kegiatan mencabut anak kayu / gulma di sekitar tanaman kelapa sawit, pasal pikul dan TPH, tujuan dari kegiatan ini untuk mencegah terjadinya persaingan dalam mengambil unsur hara di dalam tanah.

    1. Garuk Piringan

    Kegiatan membuang gulma atau sisa brondolan yang tertinggal di piringan, dengan menggunakan alat cangkul yang berbentuk seperti tangan manusia, piringan berfungsi sebagai tempat penyebaran pupuk, serta tempat jatuhnya brondolan, dan mempermudah pengangkutan buah ke TPH.

    1. Pemupukan

    emupukan pada tanaman kelapa sawit membutuhkan biaya yang cukup besar yaitu sekitar 40% – 60% dari total pemeliharaan. Oleh karena itu, agar tercapai hasil pemupukan yang optimal maka pupuk yang digunakan harus sesuai dengan rekomendasi yang telah ditetapkan.

    Jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk majemuk NPK Mg, dengan rotasi pemupukan dibagi menjadi 3 periode dalam waktu 1 tahun. Agar pupuk yang diberikan unsur hanya dapat diserap oleh tanaman secara maksimal maka perlu diperhatikan pengaplikasiannya sesuai dengan pengertian 4 tepat yaitu :

    -          Tepat Jenis                              :    Pupuk yang diberikan sesuai unsur hara yang diperlukan oleh tanaman.

    -          Tepat Dosis                             :    Jumlah pupuk yang diberikan sesuai dengan kebutuhan tanaman.

    -          Tepat Waktu dan Frekuensi    :    Pelaksanaan pemupukan harus sesuai jadwal yang telah ditetapkan

    -          Tepat Cara                               :    Penempatan pupuk harus sesuai dengan ketentuan sehingga penyerapan unsur hara akan maksimal.

    Ada dua cara aplikasi pupuk yaitu sistem pocket (benam) dan sistem tebar. Sistem benam dengan membuat 3 (tiga) lubang pada piringan dengan jarak 21 cm dari pangkal batang tanaman  kelapa sawit, dosis pupuk sebanyak 3 kg/pohon kemudian dibagi dan dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibuat dan setelah itu lubang ditutup kembali. Sistem tebar cukup hanya dengan menebarkan pupuk di dalam piringan pokok.

    Menentukan jenis pupuk yang akan diberikan pada tanaman kelapa sawit menghasilkan dengan melakukan penelitian seperti analisa daun, analisa tanah dengan memperhatikan kondisi alam yang dilakukan oleh dengan dosis pada setiap blok dan pemakaian pupuk sesuai dengan hasil dari analisa tanah dan daun.

    1. Kegiatan Pemotongan Pelepah Kelapa Sawit

    Kegiatan ini adalah memangkas pelepah tanaman kelapa sawit yang menaungi daerah jalan. Tujuannya supaya jalan tidak terlindungi oleh cabang-cabang kelapa sawit, sehingga cahaya matahari dapat menembus langsung ke bagian badan jalan, dan pada musim hujan kelembaban tanah cepat diatasi.

    1. Pembuatan Rorak

    Rorak dibuat untuk menampung limpahan air dari jalan dalam kebun dan daerah miring, sehingga partikel tanah yang dihasilkan dari proses erosi dapat ditampung dalam rorak. Fungsinya meningkatkan cadangan air tanah jika terjadi kemarau atau curah hujan rendah. Pembuatan rorak bisa juga disebut usaha konservasi tanah dan air.

    1. Penunasan

    Penunasan merupakan kegiatan memangkas pelepah yang tidak aktif  lagi untuk fotosintesis. Selain itu juga untuk menjaga keseimbangan fisiologi tanaman dan sanitasi serta mempermudah pemanenan. Alat yang digunakan adalah egrek sedangkan kapak digunakan untuk memotong pelepah yang telah dipangkas. Dalam penunasan perlu diperhatikan jumlah pelepah yang harus ditinggalkan di setiap pohon, guna terpeliharanya jumlah kanopi pelepah yang sangat berpengaruh terhadap kegiatan fotosintesis pada tanaman, sebagaimana tabel berikut :

    Tabel 11. Klasifikasi Jumlah pelepah yang tersisa pada penunasan

    No

    Umur Tanaman

    Jumlah Pelepah / Pohon

    Pusingan

    1

    < 5 tahun

    57 – 64

    6 bulan sekali

    2

    5 – 10 tahun

    49 – 56

    6 bulan sekali

    3

    > 10 tahun

    42 – 48

    6 bulan sekali

            Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

    Pelepah dipotong mepet dengan membentuk tapak kuda keluar. Pelepah yang telah dipangkas, dipotong menjadi 2 – 3 bagian dan disusun di gawangan mati sejajar dengan pasar pikul. Pada daerah miring pelepah disusun searah dengan kontur sehingga berfungsi sebagai penahan erosi.

    1. Aplikasi Pengendalian Hama Tikus Dengan Klerat

    Kegiatan ini tujuannya untuk meminimalkan serangan hama tikus diperkebunan bukan membasmi hama tikus, cara yang digunakan dengan menggunakan rodentisida yang bermerek dagang klerat (campuran lilin, ika, beras busuk, dan warfarin/racun). Teknis pemasangan klerat, memasang klerat harus perjaringan agar memudahkan pengontrolan pekerjaan karyawan, tiap-tiap satu pohon diletakkan di pangkal batang pohon satu biji karet.

    1. Aplikasi Tankos

    Aplikasi tandan kosong dilakukan pada areal datarang tinggi, bukit, atau teras dan disusun melingkar pada piringan pohon sebanyak tujuh lingkaran dan tankos jangan menyentuh batang kelapa sawit (kurang lebih 30 cm dari batang) dengan tujuan agar gulam tidak dapat tumbuh dan menambah bahan organik tanah.

    1. Herbisida Piringan

    Pengendalian gulma di sekitar piringan tanaman kelapa sawit yang menggunakan paraquat ( gromoxon 50 cc dan Ally 2,5 gr dalam satu liter air). Kegiatan di areal TM ini dibimbing langsung oleh Kepala Estate Manager, Kepala Devisi dan Kepala Bagian Lapangan masing-masing divisi yaitu Divisi III A.

    5. Kegiatan Panen

    Panen adalah merupakan suatu kegiatan memotong tandan buah yang matang dan mengutip brondolan kemudian selanjutnya di kumpul ke tempat pengumpulan jasil (TPH).

                Syarat-syarat  buah sawit siap dipanen harus sesuai dengan kriteria matang panen. Tanaman kelapa sawit dianggap telah dapat menghasilkan pada kira-kira tahun ke-3 sampai ke-8 setelah di tanam, sedangkan buah kelapa sawit biasanya sudah dianggap matang kira-kira 6 bulan setelah penyerbukan. Proses pemasakan tandan sawit mula-mula dapat dilihat dari perubahan warna, adapun perubahan warnanya adalah: mula-mula hijau oleh karena zat klorofil kemudian berubah menjadi merah atau orange oleh karena pengaruh zat warna betacaroten setelah warna ini terakhir tercapai, maka minyak sawit yang terkandung dalam daging buah telah mencapai maksimalnya dan buah sawit akan lepas dari tangkai tandanya dan disebut membrondol. Sudah merupakan kelaziman bahwa kriteria kematangan buah dinyatakan jumlah brondolan yang sudah jatuh. Buah yang telah matang akan terlepas dari tandannya (membrondol) kondisi ini merupakan tanda kematangan buah. Semakin buah yang banyak membrondol berati buah semakin matang.

    Sebelum kegiatan pemanen dilakukan terlebih dahulu mempersiapkan semua peralatan yang di gunakan. Alat yang di gunakan dalam pemanenan buah sawit adalah sebagai berikut:

    Tabel 12. Alat-alat Panen

    Umur

    (Tahun)

    Tanaman

    Menghasilkan

    Tinggi Batang

    (m)

    Alat Panen

    3-4

    5-8

    >8

    1

    2

    3

    0-2

    2-4

    5-12

    Dodos

    Dodos

    Egrek

     

      Sumber: Monografi Kecamatan Sei Laur (2009)

    Sebelum kegiatan pemanenan di lakukan pihak perusahaan PT Prakarsa Tani Sejati Kecamatan Sungai Laur mengutuskan pengawas dan kerani untuk mengadakan sensus buah dengan tujuan, untuk mengetahui jumlah buah yang layak atau tidak layaknya yang di panen. Selain itu juga, sensus buah bertujuan untuk mempermudah perhitungan dalam satu blok/jaringan.

    Umur tanaman kelapa sawit menghasilkan di kebun PT Prakarsa Tani Sejati Kecamatan Sungai Laur saat ini telah mencapai 16 tahun dan tingginya mencapai 8–12 m maka alat yang di gunakan adalah egrek sebagai alat untuk alat pemanen. Sistem panen yang di gunakan adalah ancak giring dan ancak tetap. Kedua system ini masing-masin mempunyai kelebihan dan kekurangan yaitu ancak giring keuntunganya, pekerjaan relatif ringan dan kerugiannya adalah adanya pekerjaan kurang tanggung  jawab dari si pemanen yang tidak terjangkau sehingga pohon-pohon sawit  tidak di panen karena mengejar target. Keuntungan dari ancak tetap adalah mudah dalam pengontrolan jika ada TBS yang tidak di panen. Kerugiannya pekerjaan relatif lambat, pekerjaan cukup berat karena satu orang menanggung sejumlah jaringan panen masing-masing.

    Kegiatan pemanenan buah sawit, harus selalu sesuai dengan rotasi (pusingan). Rotasi (pusingan) yang di maksud, adalah pergiliran waktu panen. Waktu yang di perlukan di antaranya panen terakhir sampai panen berikutnya pada tempat yang sama. Rotasi (pusingan) tergantung pada cepatnya matang buah. Pada panen permulaan biasanya 15 hari, kemudian 10 hari dan terakhir 7 hari. Dalam hal pusingan, digunakan simbol panen  5⁄7 yang berarti dalam satu minggu hanyadilakukan panen sebanyak 5 kali, sedangkan sisawaktu 2 hari difokuskan pada kegiatan pemeliharaan pelepah. Cara panen yang biasa di lakukan di PT Prakarsa Tani Sejati Kecamatan Sungai Laur sesuai dengan umur dan ketinggian tanaman. Jika ketinggian pohon mencapai 8-12m  maka pemanenan di lakukan dengan menggunakkan alat seperti egrek sedangkan untuk usia tanaman yang berumur 3-5 tahun cukupmenggunakan dodos.

    Cara pemanenan buah sawit adalah dengan memotong pelepah yang menyangga buah yang telah matang. Setelah buah jatuh ke tanah, dilakukan pengangkutan dan membuang pelepah keareal gawang mati. Gawang mati adalah tempat penumpukan pelepah atau sampah. Setelah pemanenan selesai dalam satu jalur, maka buah yang di panen di angkut menggunakan keranjang, gancu, dan arko, untuk membawa buah ke tempat pengumpulan hasil (TPH), setelah buah terangkat semua, di lakukan pemotongan tangkai buah yang panjang supaya tidak ada lagi greeding atau pemotongan timbangan TBS ketika sampai dipabrik.

    Tenaga kerja pemanen di PT. Prakarsa Tani Sejati Kecamatan Sungai Laur terdirir dari pemanen TBS dan pengutipan brondolan. Pemanen TBS terdiri dari dua tenaga kerja yaitu pemanen TBS khusus untuk TBS umum, sedangkan yang mengutip brondolan hanya mengutip brondolan saja. Tujuannya adalah untuk mempermudah dalam pemanenan TBS dan brondolan tidak tertinggal di lapangan (di piringan) . buah yang di simpan di TPH di beri tanda atau nomor pemanen sehingga mudah dalam perhitungan dan pengecekan ulang jika terjadi kesalahan dalam pengecekan buah.

    Tandan buah yang telah di panen secepat mungkin di angkut ke pabrik kelapa sawit (PKS) guna untuk di lakukan pengolahan selanjutnya. Buah yang telah di panen harus segera di angkut dan tidak boleh di inapkan (restan) di kebun karena dapat menyebabkan meningkatnya asam bebas (ALB) dalam minyak, sehingga mutu lemak menjadi lemah. Oleh karena itu semakin cepat TBS  di angkut dan di olah maka semakin baik mutu minyak yang di hasilkan.

    Tabel 13. Kriteria Kematangan Panen

    Fraksi

    istilah

    Criteria

    00

    Mentah sekali Brondolan o%

    0

    Mentah Brondolan 1-12,5%

    (buah luar membrondolan)

    1

    Kurang matang Brondolan 12,5-25%

    (permukaan luar membrondol)

    2

    Matang I Brondolan 25-50%

    (permukaan luar membrondol)

    3

    Matang II Brondolan 50-75%

    (permukaan luar membrondol)

    4

    Lewat matang Brondolan 75-100%

    (permukaan luar membrondol)

    Sumber, PT Prakarsa Tani Sejati 2009

    Berdasarkan table penggolongan kematang buah yang siap di panen adalah fraksi 1,2, dan 3. Fraksi ini di tetapkan karena fraksi ini memiliki mutu minyak yang baik dengan tingkat minyak ekstrasi yang optimal.

    5. Kegiatan Di Parik Kelapa Sawit (PKS)

                Kegiatan yang di lakukan di pabrik pengolahan kelapa sawit itu di antaranya adalah :

    1. Stasiun jembatan timbang

    Tandan buah yang  telah di panen di angkut ke pabrik  minyak kelapa  sawit(PMKS) untuk di olah kemudian di timbang terlebih dahulu di jembatan penimbangan agar di ketahui berapa berat jenjang rata-rata(BJR)pertandan yang di angkut ke pabrik.Di stasiun jembatan penimbangan ini aktifitas yang dilakukanantra lain:

    1)       Penimbangan tandan buah segar (TBS)

    2)       Penimbangan tandan kosong (TANKOS)

    3)       Penimbangan crude palm oil (CPO)

    4)       Penimbangan kernel

    Tabel 14. Pengolahan Fraksi TBS Yang Di Terima Di Pabrik

    Fraksi

    00

    0

    I

    II

    III

    IV

    V

    % Tandan

    0

    0

    23

    35

    30

    10

    2

          Sumber, PT Prakarsa Tani Sejati 2009

    Penimbangan di lakukan dua tahap,untuk tandan buah segar di timbang bersamaan dengan kendaraan yang mengangkutnya, setelah itu buah di masukan ke loding ramp dan kendaraan ditimbang kembali.

    1. Stasiun Loding ramp

    Tempat  ini merupakan untuk menampung tandan buah kelapa sawit dari kebun sebelum dilakukan pemprosesan di pabrik.

    1. Perebusan ( sterilizer)

    Tandan buah segar yang  telang ditimbang dimasukan kedalam lori melewati  stadium Loading Ramp sebelum dimasukan kelori perebusan. Setelah buah masuk ke lori kemudian dimasukan kedalam sterilizer dengan kapasitas tiap lori adalah 3-4 ton. Proses perebusan ini dimaksudkan bertujuan;

    1)                  Agar buah mudah dilepaskan tandannya

    2)                  Membunuh enzim penstimulir pembentukan asam lemak bebas, agar daging buah menjadi lunak

    3)                  Memudahkan  terlepasnya inti dari cangkangnya ( shell ),

    4)                  Menambah kelembaban didalam daging buah sehingga minyak lebih mudah dikeluarkan (dipisahkan), dan

    5)                  Mengkoagulasi protein sehingga proses pemurnian minyak lebih mudah.

    Proses ini berlangsung selama 90-100 menit dengan menggunakan uap air yang berkekuatan 2,8-3,5 bar. Tandan buah yang sudah direbus dimasukan dalam treasure dengan menggunakan Holisting Crane.

    1. Perontokan buah dari tandan

    Setelah kegiatan di perebusan tersebut, pada treasure ( alat untuk memisahkan buah dari tandan )buah yang masih melekat dari tandannya akan dipisahkan dengan menggunakan prinsip bantingan sehingga buah tersebut lepas. Buah yang telah terlepas diangkut dengan menggunakan stasiun Kompeyor menuju ke Ketel pengaduan atau mesin pelumat (Digester).

    1. Pengolahan minyak dari daging buah

    Buah yang diangkut ke digester dimaksudkan agar buah tersebut terlepas dari bijinya. Dalam proses ini digunakan uap air yang temperaturnya selalu dijaga agar stabil. Setelah proses pengadukan selesai kemudian  dimasukan kedalam alat pengepresan ( Scewpress ) agar minyak keluar dari cangkang dan sabut. Untuk proses pengepresan diperlukan tambahan panas antara 10-15%, sehingga akan diperolah minyak kasar dan ampas serta biji.

    Sebelum minyak kasar ditampung pada Crude Palm Oil Tank, harus dilakuakan pemisahan kandungan selain dari minyak sawit  pada santrap yang kemudian dilakukan penyaringan ( Vibrating Screen). Ampas dan biji yang mengandung minyak(Oil Sludge) dikirim kepemisahan ampas dan biji ( Depericarper ). Dalam prose penyaringan kasar perlu ditamabahkan air panas untuk melancarkan penyaringan minyak kasar. Minyak kasar kemudian dipompakan kedalam Decenter guna memisahkan Solid dan Liquide. Fase yang berupa minyak dan masa jenis ringan ditampung di Continous Setiling Tank, minyak dialirkan ke Oil Tank, fase berat yang terdiri dari air dan padatan terlarut ditampung kedalam Sludge Tank.

    1. Proses pemisahan minyak

    Minyak dari Oil Tank dialirkan  kedalam Oil Purifer untuk memisahkan kotoran atau solid yang mengandung kadar air. Selanjutnya minyak dialirkan ke vakum Drier untuk memisahkan air sampai pada batas standar. Melalui sarvo Balance minyak sawit dipompakan ketengki timbun ( Oil Storange Tank ).

    1. Proses pengolahan inti sawit

    Ampas kelapa yang terdiri dari bijikelapa dan sabut  dimasukan ke Depericarper melalui Cake Brake Conveyor. Ditempat ini ampas  dipanaskan dengan uap air agar kandungan air dapat diperkecil, sehingga  press cuke terurai dan memudahkan proses pemisahan sabut dan biji. Pemisahan ini terjadi akibat dari perbedaan berat dan gaya isap Blower. Hasil dari pengepresan berupa biji (nui) dan serat (fiber) didistribusikan dengan Cake Breaker Conveyor ( CBC ) untuk memisahkan biji dan serat dengan system hisapan Blower. Fiber  yang terhisap akan masuk ke Fibrecycone melalui air lock dan jatuh kedalam Conveyor untuk didistribusikan ke stasiun Boiler sebagai bahan bakar.

    Biji yang tidak terhisap oleh Blower  masuk dan di polis di Depericaper ( polising drum ) untuk memisahkan kotoran dan sisa fibre yang masih melekat dan tercampur pada biji. Pada Depericarver ini terdapat lubang untuk meloloskan biji yang akan diolah lebih lanjut, sedangkan yang tidak terpolis akan keluar melalui kisi-kisi pada ujung drum. Selanjutnya biji akan lolos di Depericarver melalui We Nut Elevator dimasukan ke dalam Nut Grading Drum untuk disortirr berdasarkan ukurannya (kecilo, sedang dan besar). Sebelum bijindi pecahkan dengan Ripple mill, sebelumnya biji di tampung di 3 (tiga) buah  Nut silo dengan masing-masing ukuranya.Agar biji  tidak sekaligus masuk ke Rippler Mill, maka kecepatan tumpahnya biji kedalam Rippler Mill harus di atur, dan apa bila tidak di atur maka Rippler Mill akan mengalami trip (ketidak mampuan satunalat untuk menjalankan fungsinya).

    Persortiran berdasarkan ukuran ini dimaksudkan agar ukuran biji disesuaikan dengan spesifikasi Rippler Mill agar dapat dipecahkan. Setelah biji dipecahkan, maka kernel dengan cangkang melalui Crakced Mixture Conveyor dan elevator di distribusikan ke Fractional Sunction Blower 1 (fractional colum 1) untuk di pisahkan antara kernel dan shell dengan menggunakan system hisapan blower, menuju air lock untuk ditanpung didalam shell hopper dan selanjutnya dengan Conveyor di distribusikan ke stasiun boiler sebagai bahan bakar.

    Proses pemisahan Kernel dan cangkang di lakukan 2 kali dengan menggunakan Fraktional Sunction Blower II (fractional colum II) dan selanjutnya dilakukan proses yang sama dengan fractional coloum I, dan pada pemisahan dengan fractional coloum ini tidak semua cangkang yang terpisah maka di lakukan proses selanjutnya yaitu Clay Bath. Pada Clay Bath ini kernel dan cangkang dipisahkan berdasarkan perbedaan berat jenis dengan menggunakan media berupa larutan kaolin (calium carbonat), untuk mempermudah pemisahan cangkang dan kernel (berdasarkan berat jenis), dengan larutan ini maka kernel akan mengapung sedangkan cangkang (shell) mengendap ke bawah, selanjutnya dipisahkan. Kernel langsung di distribusikan ke dalam kernel silo dengan temperatur yang berperiasi (tiga tingkat an suhu), atas 60-°C, tengah 70-80%°C dan bawah 50-60%°C.

    Setelah ditampung dalam Kernel silo maka Kernel di distribusikan dengan dorongan angin (fam) menuju ball Silo atau penimbunan akhir. Sedangkan shello yang berasal dari Fraktion Coloum I,Fraktion coloum II dan Claybath yang ditanpung dalam shell hopper selanjutnya juga akan di distribusikan ke stasiun boyler dengan menggunakan conveyor.

    6. Kegiatan di Kantor

                Selain memahami dan menguasai kegiatan dilapangan, mahasiswa juga diarahkan pada kegiatan kantor sebagai pedoman dan pembelajaran administrasi serta manajemen kebun yang dibagi menjadi dua kegiatan, yaitu :

    1. Kegiatan dikantor Divisi III PT. Prakarsa Tani Sejati

    Kegiatan ini meliputi latihan administrasi kantor, pengumpulan data dan literatur yang diperlukan untuk menyusun laporan praktek kerja lapangan dan kegiatan pendalaman materi serta pelaksanaan ujian tertulis. Kegiatan ini dibimbing oleh kepala bagian administrasi kantor, bahan materi yang diberikan meliputi materi yang terkait langsung dilapangan.

    1. Kegiatan dikantor Kebun Central PT. Prakarsa Tani Sejati

    Kegiatan ini meliputi pemberian materi mengenai budidaya tanaman kelapa sawit, akutansi dan manajemen kebun. Kegiatan ini berkaitan langsung dengan perusahaan perkebunan PT. PT. Prakarsa Tani Sejati.

    BAB IV

    PEMBAHASAN

    A. Perencanaan dan Manajemen Pembibitan yang Kurang Tepat

                Perkebunan kelapa sawit merupakan jenis usaha jangka panjang. Kelapa sawit ditanam saat ini baru akan dipanen hasilnya beberapa tahun kemudian. Oleh karena itu, aspek-aspek manajemen dan teknik budidaya merupakan kunci keberhasilan utama dalam pengembangan kelapa sawit guna mewujudkan visi dan misi perusahaan.

                Pembibitan adalah salah satu kegiatan utama yang memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas dan produktivitas tanaman. Jika kegiatan pembibitan berjalan dengan baik, maka kegiatan berikutnya akan berjalan dengan baik pula. Namun jika kegiatan di pembibitan mengalami masalah, maka masalah itu akan berdampak buruk bagi kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit selanjutnya. Akan tetapi dalam pelaksanaanya dilapangan masih dijumpai beberapa masalah yang bisa berdampak buruk bagi keberlangsungan perusahaan itu sendiri, yaitu :

    1. Terlambatnya pembukaan lahan diareal pengembangan

    Terhambatnya pembukaan areal penanaman yang dilakasanakan oleh pengembang menyebabkan bibit yang berada diareal tanaman pembibitan tidak bisa didistribusikan dengan baik kelapangan yang akhirnya menyebabkan masalah baru diareal pembibitan. Masalah- masalah yang timbul tersebut diantaranya adalah :

    1. Serangan Penyakit

    Serangan hama penyakit diakibatkan oleh tingginya tingkat kelembaban diareal pembibitan karena jarak atau kerapatan tanam yang tidak sesuai dengan umur tanaman. Sehingga penyakit mudah menginfeksi baik pada batang ataupun daun yang terlalu rimbun. Jenis penyakit yang umumnya ditemukan seperti,

    • Ø  Drechslera halodes

    Mula-mula timbul pada pupus atau daun pertama yang baru saja membuka, terbentuk becak kecil hijau pucat, lalu menjadi hijau jernih yang dikelilingi halo lebar berwarna hijau kekuningan dan tidak berbatas tegas. Ditengah bercak dapat dilihat satu titik berwarna coklat. Bercak-bercak ini dapat bersatu dengan bentuk tidak teratur, berwarna hitam kelabu.

    • Helminthosporium
      Cendawan ini menunjukkan gejala-gejala yang berbeda. Kadang-kadang menghasilkan bercak kecil, berwarna coklat, tidak disertai dengan klorosis, dan bercak tidak membesar. Bagaimanapun dia dapat juga menyebabkan bercak memanjang.
    • Botryodiplodia
      Bercak daun dimulai dari ujung daun. Becak-becak kecil dan transparan dan mudah dimonitor dengan penembusan sinar matahari. Bagian tengah dari bercak menjadi kelabu atau coklat gelap kertas dengan banyak titik hitam. mewakili tubuh buah (picnidia) dari jamur tersebut.

    Usaha menekan terjadinya intensitas serangan yang lebih berat akibat semua penyakit tersebut,  perlu diambil langkah-langkah pengendalian semakimal mungkin dengan cara melakukan pengguntingan atau pemotongan bagian tanaman yang terkena penyakit, mengisolasi atau memusnahkan tanaman yang terkena penyakit, serta memisahkan areal tanaman prenursary dan mainursary dengan jarak yang berjauhan serta penjarangan atau penambahan luas areal mainnursary.  Adapun langkah-langkah yang telah dilakukan oleh pihak perusahaan adalah melakukan penyemprotan dengan fungisida Dithane dan Daconil 0.2% ( 2 gr / liter air) dan fungisida Banlate 0.2% ( 2 gr / liter air).

    Ketiga fungisida diatas dipakai secara bergantian dengan interval satu minggu pada daun tanaman selama satu bulan. Jika serangan yang terjadi pada daun muda atau daun yang belum membuka  sudah menurun, maka interval penyemprotan dapat diturunkan menjadi 10 hari sekali. Pemberian fungisida harus dihentikan jika daun tombak atau daun yang baru membuka sudah bebas dari pathogen-patogen. Keberhasilan pelaksanaan pengendalian penyakit ini biasanya tergantung dari intensitas serangan atau daur penyakit yang menjangkit tanaman. 

     

    1. Serangan Hama

    Tanaman yang telah berumur lebih dari 12 bulan lebih rentan terkena serangan hama dikarenakan susahnya pengawasan dan pengontrolan terhadap area tanaman akibat populasi dan jarak tanam yang tidak sesuai dengan usia tanaman. Hama yang biasanya menyerang tanaman diareal pembibitan yaitu :

    1)      Tikus

    Tikus biasanya menyerang tanaman pada malam hari, biasanya tikus lebih menyukai tanaman yang masih berada diareal prenursary dengan cara memakan dan merusak biji bagian bawah anak bibit kelapa sawit yang baru tumbuh, keberadaan tikus diareal mainursary biasanya untuk menambah populasi mereka dengan membuat sarang dan berkembang biak diantara tanaman yang rimbun dan bersemak. Hal ini perrlu mendapat perhatian yang serius, karena jika populasi mereka semakin banyak maka intensitas serangan akan semakin meningkat. Cara mengendalikan hama tikus yaitu dengan cara manual yaitu membersihkan areal pembibitan dari gulma dan melakukan pemangkasan pada pelepah yang terlalu rimbun. Adapun cara selanjutnya adalah dengan memasang rodentisida jenis klerat pada setiap sudut areal pembibitan.

    2)      Landak

    Landak biasanya menyerang bagian bawah tanaman yang masih muda yaitu dengan cara memakan umbut tanaman. Cara pengendalian sama halnya seperti pengendalian hama tikus yaitu dengan memasang rodentisida jenis klerat.

    3)      Babi

    Selain memakan umbut tanaman, babi juga merusak tanaman dengan cara merusak dan merobohkan batang tanaman. Pengendalian hama babi dilakukan dengan menangkap dan memasang penjebak serta membunuhnya. Cara lainnya adalah dengan cara memasang pagar kawat yang mengelilingi areal pembibitan.

    1. Etiolasi

    Etiolasi diakibatkan oleh rapatnya populasi tanaman sehingga mengurangi intenitas penyinaran matahari pada tanaman. Tanaman tumbuh memanjang tetapi memiliki perakaran yang pendek. Tanaman yang mengalami etiolasi sudah tidak mungkin ditanam dilapangan karena akan mengalami tingkat stress yang sangat tinggi akibat perubahan suhu yang dratis.

    1. Bertambahnya anggaran perawatan

    Kegiatan pemeliharaan di areal pembibitan tidak terlepas dari peran dan fungsi karyawan tenaga borongan maupun karyawan tenaga harian. Jenis-jenis perawatan yang dilakukan diareal pembibitan khususnya areal mainursary adalah pengendalian gulma, tarik kacangan, pemangkaan, pemupukan dan penyiraman. Perawatan terhadap tanaman yang mengalami keterlambatan penditribusian kelapangan tetap dilaksanakan sebagaimana biasanya. Hal ini untuk menekan terjadinya kerugian perusahaan akibat kegagalan target penanaman.

    Salah satu yang menjadikan alasan kuat terhambatnya pembukaan lahan untuk areal penanaman adalah kurangnya alat-alat berat yang dimiliki perusahaan ataupun kerusakan yang cenderung terjadi pada alat berat ketika melaksanakan kegiatan pengembangan lahan perkebunan.

    2. Keadaan Alam atau cuaca 

                Keadaan alam atau cuaca juga merupakan faktor penghambat pendistribusian bibit keareal penanaman, iklim dilokasi perkebunan PT. Prakarsa Tani Sejati termasuk iklim tropis. Hal ini ditandai dengan tingginya curah hujan pertahun pada lokasi tersebut, yaitu rata-rata 3200 mm/th. Pembagian hujan setiap bulannya >150 mm perbulan. Jumlah hari hujan rata- rata perbulan 16 hari. Umumnya musim hujan terjadi pada bulan oktober-april. Bulan dengan curah hujan yang sedikit terjadi pada bulan mei-septermber.

    1. Curah hujan tinggi

    Curah hujan yang tinggi bisa mengakibatkan areal yang akan ditanami mengalami penggenangan air, sehingga akan menyulitkan penggalian lubang tanam sehingga proses penanaman terhambat dan bibit yang akan didistribusikan kelapangan tertahan diarea pembibitan . Lahan yang mengalami penggenangan air adalah lahan yang memiliki topografi rendah seperti rawa-rawa yang berada dibawah lereng dan bukit. Tanaman yang ditanam diareal bertopografi rendah harus memperhatikan tingkat curah hujan didaerah tersebut. Tanaman yang yang baru dipindahkan kelahan akan mengalami kematian jika intensitas genangan bertahan atau bahkan meningkat sehingga menyebabkan pembusukan pada akar tanaman.

    1. Kekeringan

    Perencanaan pembibitan yang tidak tepat juga bisa mengakibatkan jadwal penanaman yang tidak sesuai dengan kondisi iklim dan cuaca seperti kekeringan. Kegiatan penanaman kelapa sawit biasanya dilakukan pada awal musim hujan atau akan berakhirnya musim kemarau. Jika usia bibit telah berakhir diareal pembibitan sedangkan musim sedang mengalami kemarau maka pendistribusian bibit kelapangan akan tertunda sementara kegiatan pemeliharaan diareal pembibitan akan terus berjalan.

    3. Kerusakan Jalan

                Kerusakan jalan juga merupakan salah satu masalah yang dapat menghambat kegiatan penyaluran bibit kelapangan, adapun penyebab kerusakan jalan adalah akibat keadaan cuaca yang estrim seperti hujan yang menyebabkan material jalan terbawa arus air dan mengalami pengikisan, kurangnya pemeliharaan dan terlambatnya perbaikan akibat rusaknya alat berat. Cara  mengatasi kerusakan jalan yang dapat mengganggu kegiatan pendistribusian bibit kelapangan antara lain :

    1. Melakukan pemeliharaan ringan seperti penimbunan jalan yang berlubang, perataan dan pengerasan pada tempat-tempat tertentu.
    2. Melakukan pembuatan jalan alternatif selama jalan utama dalam perbaikan atau masih dalam pemeliharaan.

    4. Kegiatan Pemeliharaan yang Kurang Tepat Di areal Pemibitan

                Kegiatan pemeliharaan tanaman muda di areal pembibitan terdiri dari berbagai jenis kegiatan, seperti pengendalian hama penyakit, pengendalian gulma, pemupukan, penyiraman, pembumbunan (toping) dan pengawasan serta penjagaan areal pembibitan. Kegiatan tersebut terbagi menjadi dua item pekerjaan menurut tempat pelaksanaannya yaitu kegiatan pemeliharaan diareal prenursary dan kegiatan pemeiharaan diareal mainursary.  Perbedaannya adalah cara atau penerapannya di kedua areal tersebut.

    Pemeliharaan tanaman kelapa sawit diareal pembibitan  merupakan kunci utama keberhasilah budidaya tanaman kelapa sawit diareal TBM dan TM. Oleh karena itu, pemeliharaan harus dilakukan secara intensif dengan menajemen dan pengawasan yang tepat. Pengawasan kerja, teknik atau cara pemeliharaan, suplai biaya, tenaga kerja, ketersediaan bahan dan alat yang mendukung dan memenuhi standar serta kriteria yang telah ditentukan. Fakta dilapangan masih ditemukannya praktek atau cara pemeliharaan yang tidak sesuai dengan apa yang ditentukan, seperti :

    1. Aplikasi Pupuk

    Masih adanya kegiatan pemupukan pada waktu yang tidak tepat yaitu diatas jam 10- jam 3 siang oleh pekerja harian. Hal ini sangat tidak efisien karena pupuk yang diterapkan akan mengalami penguapan oleh sinar matahari dan sedikit sekali unsur hara yang bisa diserap tanaman sehingga bisa menyebabkan terjadinya gejala kekurangan unsur hara pada tanaman. Ciri-ciri tanaman yang mengalami gejala kekurangan unsur hara adalah, daun agak kekuning-kuningan akibat kekurangan nitrogen, diameter batang kecil dan dan pertumbuhan lama akibat kekurangan Phosfor, defisiensi kalium (Kcl) pada tanaman muda memang agak sulit dikenali akan tetapi terkadang terjadi gejala bintik- bintik hitam diantara ruas daun.

    Selain itu masih ada pupuk yang digunakan sudah mengalami perubahan bentuk karena  pupuk yang akan diaplikasikan ditumpuk diareal lapangan terbuka dan hanya ditutup oleh terpal. Akibatnya pupuk yang diaplikasikan telah mencair dan mengalami penurunan kualitas hara seperti Nitrogen (N), Phospor (P) dan Kalium (Kcl).

    Cara pemupukan yang efektif untuk tanaman berusia diatas tiga bulan adalah dengan menaburkan pupuk mengelilingi batang tanaman, waktu yang baik untuk kegiatan pemupukan adalah pagi hari dan perlu dilakukan penyiraman pada sore harinya dengan intensitas rendah.

    1. Penyemprotan herbisida

    Herbisida merupakan senyawa kimia yang mampu menekan pertumbuhan gulma di areal pembibitan. Menurut aplikasinya, herbisida terbagi menjadi dua yaitu herbisida pratumbuh (preemergence herbicide) dan herbisida purna tumbuh (postemergence herbicide). Cara yang kedua digunakan pada areal pembibitan di mainursary dan jenis yang dipakai adalah adalah gramoxon dengan bahan aktif Paraquat diklorida yang merupakan herbisida bersifat kontak, non selektif dengan daya kerja yang cukup cepat (Syngenta, 2002). Oleh karena itu penggunaan herbisida ini harus dilakukan dengan alat semprot yang selektif seperti pompa gendong yang dilengkapi knap- sack sprayer CP-15 dengan nozel hijau agar pancaran air merata kebawah. Fakta dilapangan berbeda jauh dengan apa yang telah direkomendasikan, yaitu masih adanya penggunaan alat semprot dengan menggunakan nozel bulat dan penggunaan herbisida tanpa dosis dan konsentrasi. Hal ini sangat membahayakan tanaman, terbukti masih adanya tanaman yang mati akibat terkena percikan dan hembusan herbisida atau tanaman yang mengalami keterlambatan pertumbuhan karena mengalami kerusakan pada daun.

    Tabel 15.

    Srandar Alat Semprot yang digunakan di areal Pembibitan

    Pengaturan

    Knapsack

    CDA

    Tipe Nozzle AN 1.0 Herbi blue
    Tekanan Rendah n/a
    Ketinggian 0,4 0,4
    Lebar 1 1,2
    Kecepatan Alir 1,2/detik 1,7 ml/detik
    Kecepatan Berjalan 1 m/detik 1 m/detik

    1. Pembumbunan ( toping)

    Pembumbunan dilakukan untuk menambah kembali debit tanah yang menurun didalam poly bag tanaman. Tanah yang digunakan adalah tanah top soil yang masih banyak mengandung humus untuk menambah kesuburan tanaman. Akan tetapi pemberian tanah yang terlalu banyak pada poly bag tanaman menyebabkan masalah baru yaitu sulitnya melakukan kegiatan pemupukan. Akibatnya pupuk yang diaplikasikan pada tanaman tidak merata dan terbuang sia-sia.

    1. Penyiraman

    Penyiraman tanaman diareal pembibitan dilakukan pada pagi dan sore hari dengan lama 2 jam setiap penyiraman. Instalasi yang digunakan adalah mesin robin dengan vipa water pam yang dilengkapi sprinkler sebagai penyiram. Air yang digunakan berasal dari sungai dan penyiraman tergantung kepada kapasitas dan debit air sungai tersebut.

    Tabel 16. Kebutuhan air menurut umur bibit

    No

    Umur Bibit (Bulan)

    Kebutuhan air/hari

    1

    0-2

    0,6 lt

    2

    2-4

    0,7 lt

    3

    4-6

    1,0 lt

    4

    >6

    1,5 lt

    Musim kemarau adalah kendala terbesar bagi pemeliharaan tanaman di areal pembibitan debit air yang sangat menurun menyulitkan kegiatan penyiraman sehingga waktu dan intensitas penyiraman dikurangi dan mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat. Menampung adalah solusi terbaik untuk menjaga cadangan air untuk kegiatan penyiraman, akan tetapi hanya kecil sekali yang bisa terlaksana berhubung anggaran yang diperlukan tidaklah sedikit.

    B. Manajemen Sumberdaya Manusia yang masih Rendah dan Kinerja Karyawan yang Kurang Efektif.

     

    1. Manajemen Sumber daya Manusia yang Masih Rendah

    Manajemen Sumber daya Manusia adalah suatu proses menangani berbagai masalah pada ruang lingkup karyawan, pegawai, buruh, manajer dan tenaga kerja lainnya untuk dapat menunjang aktivitas perusahaan demi mencapai tujuan yang telah ditentukan

    Manajemen Sumber Daya Manusia diperlukan untuk meningkatkan efektivitas sumber daya manusia dalam perusahaan. Tujuannya adalah memberikan kepada perusahaa satuan kerja yang efektif. Untuk mencapai tujuan ini, manajemen personalia akan menunjukkan bagaimana seharusnya perusahaan mendapatkan, mengembangkan, menggunakan, mengevaluasi, dan memelihara karyawan dalam jumlah (kuantitas) dan tipe (kualitas) yang tepat.

    Tenaga kerja yang bekerja pada perusahaan harus menguasai pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya. Untuk itu diperlukan suatu pembekalan agar tenaga kerja yang ada dapat lebih menguasai dan ahli di bidangnya masing-masing serta meningkatkan kinerja yang ada. Struktur organisasi di areal pengembangan khususnya pada areal pembibitan terdiri dari :

    a)      Estate manager yang merancang, menangani, melakukan perencanaan teknis dilapangan, membuat dan menganalisa laporan-laporan yang meliputi anggaran pembiayaan diareal pembibitan dan bertanggung jawab terhadap Regional controller.

    b)      Kepala divisi yang bertugas mengawasi, melaksanakan dan memberikan laporan-laporan tentang kegiatan  yang telah direncanakan kepada estate manager.

    c)      Kepala bagian lapangan yang mengontrol aktivitas langsung dilapangan, memberikan laporan kepada kepala divisi dan memberikan arahan kepada pengawas lapangan tentang kegiatan teknis dilapangan.

    d)     Pengawas Lapangan  yang bertugas mengawasi semua kegiatan yang dilakukan oleh para pekerja harian lepas atau pekerja borongan dan membuat laporan mengenai kegiatan para pekerja dilapangan.

    e)      Pekerja harian lepas dan borongan yang berasal dari daerah setempat maupun yang berasal dari luar daerah yang dipekerjakan melalui system kontrak.

    UU RI No. 18 tahun 2004, pasal 4 menyebutkan bahwa perkebunan memiliki fungsi ekonomi, yaitu :

    1)      Peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat

    2)                              Penguatan struktur ekonomi wilayah dan nasional

    3)                              Membuat lapangan pekerjaan bagi masyarakat  setempat

    Menurut perda No. 19 tahun 2009 yang mengatur dan memberikan izin pembukaan lahan sawit yang berada dikabupaten ketapang, tercantum pasal yang mewajibkan bagi setiap perusahaan sawit untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat sekurang-kurangnya 35% dari semua jumlah karyawan perusahaan.

    Hal ini tentu saja menjadi tantangan berat bagi perusahaan karena tidak semua masyarakat yang melamar diperusahaan memenuhi syarat dan ketentuan yang diinginkan sedangkan masyarakat sangat berharap besar dapat ikut berpartisipasi dan bekerja di perkebunan yang ada diwilayah mereka dengan jabatan dan posisi yang strategis. Demi keberlangsungan kegiatan perusahaan, hal ini masih bisa ditolerir walaupun sebenarnya tidak memenuhi kriteria secara manajemen. Oleh karenanya, perusahaan harus menerima konsekwensinya seperti rendahnya kualitas hasil produksi akibat kurangnya pengetahuan dan manajemen perencanaan pemeliharaan tanaman yang kerap kali terjadi kekeliruan.

    Bidang pengembangan yang terdiri dari pembibitan dan pembukaan lahan memerlukan orang-orang yang memiliki basic ilmu pengetahuan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan pertanian khususnya perkebunan. Sayangnya, dari sekian jumlah karyawan hanya beberapa orang saja yang memenuhi kriteria tersebut sehingga kesalahan teknis dilapangan masih sering ditemukan, seperti kesalahan waktu pemupukan yang seharusnya dilakukan pada pagi hari  tetapi masih dilakukan pada siang hari tanpa adanya teguran dari kepala divisi, kepala bagian lapangan dan para pengawas.

    Training atau pelatihan dan pengkaderan pada karyawan setingkat kepala divisi, kepala bagian lapangan dan pengawas harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di perusahaan, tetapi sayangnya hal ini tidak pernah dilakukan oleh pihak perusahaan dengan alasan dana dan anggaran yang tidak memadai.

    1. Kinerja Karyawan yang Kurang Efektif.

    PT Prakarsa Tani Sejati yang berada jauh dan terisolir menyebabkan tumbuh suburnya kesenjangan sosial antara pekerja buruh dengan pihak manajemen perusahaan. Hubungan kerja yang cenderung eksploitatif menyebabkan etos kerja para karyawan kontrak semakin memburuk. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap kelancaran perusahaan dalam melakukan kegiatan dilapangan seperti kegiatan diareal pembibitan, Pengembangan lahan dan kegiatan teknis lainnya.

    Selain itu, pihak perusahaan masih  mempekerjakan BHL selama lebih dari 3 bulan berturut pada pekerjaan yang sama tanpa ada peningkatan status buruh (pengangkatan golongan). Pengangkatan golongan hanya berlaku bagi pihak manajemen perusahaan dan beberapa orang pengawas lapangan atau mandor saja. Pada beberapa kasus sering terjadi konflik, dimana buruh BHL menuntut kenaikan status dan kalau tidak dipenuhi mereka melakukan mogok kerja. Hal ini menyebabkan kegiatan pemeliharaan diareal pembibitan menjadi terhambat dan tanaman tidak terpelihara dengan baik. Jikalau mereka melakukan pekerjaan maka pekerjaan itu tidak dilakukan secara maksimal karena tidak dilakukan sepenuh hati. Dampaknya aka berujung kepada kegiatan pemeliharaan tanaman dipembibitan yang tidak baik dan sangat merugikan pihak perusahaan itu sendiri.

    BAB V

    PENUTUP

     

    A. Kesimpulan

    1. Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman komoditi yang mempunyai priorotas utama untuk dikembangkan di kalimantan barat, karena memiliki potensi yang sangat besar mengingat ketersediaan lahan masih cukup luas dan kondisi lingkungan di Kalimantan Barat yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman kelapa sawit.
    2. Kurangnya manajemen perencanaan awal menyebabkan semua kegiatan yang berlangsung diareal pembibitan dan pembukaan lahan tidak berjalan secara seimbang sehingga terjadi penumpukan bibit diarea pembibitan
    3. Kegiatan pelaksanaan pembibitan tanaman kelapa sawit di perusahaan PT. Prakarsa Tani Sejati Kecamatan Sungai Laur tidak terlepas dari hambatan-hambatan atau masalah yang harus dihadapi, misalnya manajemen pembibitan yang kurang baik, masih banyaknya jumlah bibit yang tidak bisa didistribusilan keareal penanaman, pemupukan yang tidak tepat waktu, jenis dan cara, banyaknya tanaman yang terserang hama penyakit dan anggaran pemeliharaan yang meningkat.
    4. Salah satu permasalahan yang dihadapi perusahaan PT. Prakarsa Tani Sejati dalam pengelolaan pembibitan adalah kegiatan pemeliharaan dimana dalam hal ini perusahaan harus memprogramkan kegiatan penjarangan pada tanaman yang tidak terdistribusikan ke areal penanaman untuk mengurangi intensitas kerugian akibat serangan hama dan penyakit.
    5. Banyaknya Tenaga kerja PT. Prakarsa Tani Sejati belum memenuhi standar atau kemampuan dalam memanajemen kebun terutama pada bidang teknis budidaya mengakibatkan menurunnya produksi yang dihasilkan.

    B. Saran

    1. Mengingat kurangnya perencanaan (planning) dan manajemen dalam pelaksanaan kegiatan pembibitan tanaman kelapa sawit, sebaiknya aspek-aspek yang berkaitan dengam permasalahan yang terjadi di lapangan perlu mendapat perhatian dan prioritas utama dengan melakukan evaluasi yang mengarah pada peningkatan mutu kerja.
    2. Kegiatan penjarangan sebaiknya cepat dilakukan  sedini mungkin pada areal pembibitan mengingat umur tanaman yang terus bertambah dan dikhawatirkan akan memberikan dampak buruk yaitu semakin menurunnya kualitas bibit yang akan ditanam dilapangan sehingga menyebabkan kesulitan  kegiatan pemeliharaan berikutnya.
    3. Diharapkan  perusahaan lebih perduli terhadap kesejahteraan karyawan guna meningkatkan mutu dan etos kerja mereka sehingga akan berdampak baik terhadap perkembangan perusahaan.

    06/17/2011 Posted by | Uncategorized | 9 Komentar

    LAPORAN MAGANG TANAMAN KRISAN

    I. PENDAHULUAN

     

    1.1. Latar Belakang

                Tanaman hias merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai prospek agribisnis yang cukup besar di Indonesia. Salah satu dari tanaman hias tersebut adalah tanaman krisan. Krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) termasuk salah satu jenis tanaman hias yang banyak digemari oleh masyarakat karena mempunyai warna, ukuran, dan bentuk bunga menarik, serta tanaman krisan dapat bertaan kurang lebi 14 hari. Krisan termasuk jenis bunga potong penting dunia, karena macam jenisnya beraneka ragam. Krisan memiliki 55 varietas yang ada d seluruh dunia.

                Seiring dengan terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat maka permintaan akan tanaman hias, khususna bunga potong juga mengalami peningkatan. Bunga potong krisan merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan prospek yang cukup baik. Bunga krisan (Chrysanthemum morifolium ramat). merupakan salah satu spesiaes yang sangat populer dan tumbuh sebagai penghias tanaman dan sebagai bunga pot atau bunga potong. Menurut Wijayakusuma (2000), krisan dapat juga dimanfaatkan sebagai tanaman obat dan tanaman penghasil racun serangga alami.

                Permintaan konsumen terhadap bunga krisan (Chrysanthemum morifolium ramat)  yang terus meningkat, telah memacu para petani dan pengusaha bunga hias terutama krisan terus meningkatkan produksinya. Hal ini dilihat dari penjualan bunga krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) di Pasar Rawa Belong, mulai dari 2007 sampai 2009 yaitu 399,25, 412,68 dan 422,50 (dalam juta tangkai). Permintaan tersebut ternyata tidak hanya tertuju pada kuantitas saja, melainkan juga jenis dan kualitas bunga. Kendala petani krisan dalam sistem produksi krisan yaitu kurang tersedianya bibit bermutu, rendahnya daya adaptasi varietas introduksi terhadap kodisi lingkungan fisik indonesia serta keterbatasan penggetahuan tentang teknik budidaya. Upaya peningkatan produksi krisan dalam negeri perlu dilakukan melalui penanganan yang memadai, supaya dimasa mendatang tanaman krisan ini diharapkan mampu menjadi komoditas andalan nasional sebagai penghasil devisa negara. Upaya tersebut perlu didukung dengan perbaikan sistem usaha yang menguntungkan dari pemerintah, sehingga petani termotivasi untuk melestarikan usaha tanaman krisan.

                Selain itu kendala penanaman tanaman krisan di Indonesia dibutuhkan modifikasi-modifikasi lingkungan agar tanaman dapat tumbuh, mulai dari green house, menambakan sinar dari lampu, hingga suhu lingkungan. Teknik kultur invitro merupakan metode perbanyakan tanaman dengan mengisolasi bagian tanaman serta menumbuhkanya dalam kondisi aseptik. Sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman dengan jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat, serta memiliki kualitas, tumbuh degan tempo yang reatif cepat di bandingankan dengan konvensional. Menyediakan bibit yang berkualitas serta memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit.

    1.2. Identifikasi Masalah

    1. Bagaimana perkembangan regenerasi tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) dalam kultur in vitro.

    2.    Bagaimana proses kultur in vitro pada tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat).

    3.    Bagaimana pengaruh media dalam meregerasi tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) pada kultur in vitro.

    1.3. Tujuan

                Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam pelakdanaan PKL adalah:

    1. Untuk mengetahui perkembangan regerasi tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) dalam kultur in vitro.

    2.  Untuk mengetahui proses kultur in vitro pada tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat).

    3. Untuk mengetahui pengaruh media dalam meregenerasi tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium ramat) pada kultur in vitro.

    II DASAR TEORI

     

    2.1. Tanaman Krisan

                Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicum (kuning), C. Morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, dan tahun 797 bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East. Tanaman krisan dari Cina dan Jepang menyebar ke kawasan Eropa dan Perancis tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan di Inggris. Jenis atau varietas krisan modern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial (Rukmana dan Mulyana, 1997).

    Di beberapa negara tanaman krisan memiliki arti yang beraneka ragam, di Jepang, Korea dan Cina bunga krisan putih menunjukkkan bunga duka cita. Di Eropa seperti Italia, Perancis, Polandia, Spanyol dan Kroasia, krisan merupakan simbol kematian dan hanya digunakan untuk pengkuburan. Di Amerika Serikat bunga krisan diguanakan untuk menunjukkan kebahagiaan dan semangat. Pada beberapa negara krisan menunjukkan kasih sayang, seperti di Australia krisan digunakan ketika “hari ibu”. Serta yang paling menarik tanaman krisan disebut juga bunga November.

    2.2. Klasifikasi  Tanaman Krisan

    Kingdom      : Plantae
    Divisi            : Spermatophyta
    Subdivisi       : Angiosperms
    Order            : Asterales
    Family           : Asteraceae
    Tribe             : Anthemideae
    Genus           : Chrysanthemum
    Type spesies : Chrysanthemum indicum L
    Spesies          : Chrysanthemum morifolium ramat

    (W ijayakusuma, 2000)

    2.3. Morfologi Tanaman Krisan

                Tanaman krisan merupakan tanaman semusim (anual) yang berkisar 9-12 hari tergantun varietas dan lingkungan tempat menanamnya. Tanaman krisan dapat dipertahankan hingga beberapa tahun bila dikehendaki, tetapi bunga yang dihasilkan biasanya jauh menurun kualitasnya (Hasyim dan rexa, 1995). Menurut Rukmana (1997), tanaman krisan tumbuh menyemak setinggi 30-200 cm, sistem perakarannya serabut yang keluar dari batang utama. Akar menyebar kesegala arah pada radius dan kedalaman 50-70 cm atau lebih. Batang tanaman krisan tumbuh agak tegak dengan percabangan yang agak jarang, berstruktur lunak, dan berwarna hijau tetapi bila dibiarkan tumbuh terus, batang berubah menjadi keras (berkayu) dan berwarna hijau kecoklatan, serta berdiameter batang sekitar 0,5 cm.

                Bunga krisan tumbuh tegak pada ujung tanaman dan tersusun dalam tangkai berukuran pendek sampai panjang, serta termasuk bunga lengkap. Bunga krisan merupakan bunga majemuk yag terdiri atas bunga pita dan bunga tabung. Pada bunga pita terdapat bunga betina (pistil), sedangkan bunga tabung terdiri atas bunga jantan dan bunga betina (biseksual) dan biasanya fertil (kofranek, 1980).

    2.4. Syarat-Syarat Tumbuh

    2.4.1. Iklim

                   Tanaman krisan membutuhkan air yang memadai, tetapi tidak tahan terpaan air hujan. Oleh karena itu untuk daerah untuk cucah hujan tinggi penanaman dilakukan di dalam green house. Suhu toleran untuk tanaman krisan adalah 17­­­­0-300C, untuk daerah tropis seperti di Indonesia cocok menggunakan suhu 200-260C. Kelembaban yang dibutuhkan untuk tanaman krisan sangat tinggi ketika pembentukan akar, pada stek kelembabannya 90%-95%. Kemudian tanaman muda sampai tua kelembabannya 70%-80%, dengan sirkulasi udara yang memadai. Kadar CO2 di udara sekitar 3000 ppm, sedangkan kadar CO2 yang ideal untuk fotosintesis adalah 600-900 ppm. Untuk pembungaan membutuhkan lebih lama cahaya, dimana dapat menambah cahaya menggunakan bantuan TL dan lampu pijar. Penambahan penyinaran yang paling baik ketika tengah malam yaitu jam 22.30-01.00 dengan lampu 150 watt untuk 9 m2, dan lampu di pasang menggantung 1,5 m dari tanah. Periode pemasangan lampu dilakukan pada vegetativ (2-8 minggu) untuk merangsang pembentukkan bunga (Lukito, 1998).

    2.4.2. Media tanam dan ketinggian tempat

                   Untuk pertumbuhan tanaman yang optimum dibutuhkan media yang ideal, di mana tekstur media harus liat berpasir, subur, gembur dan memiliki drainase yang baik, serta tidak mengandung hama dan penyakit. Derajat keasaman media yang baik untuk petumbuhan tanaman adalah 5,5-6,7. Kemudian untuk ketinggian ideal untuk pertumbuhan tanaman sekitar 700-1200 m dpl (Rukmana dan Mulyana, 1997).

    2.5 Budidaya

    2.5.1.  Pembibitan

                   Bibit diperoleh dari tanaman indukan yang sehat, kualitas prima, daya tumbuh yang kuat, serta bebas dari hama dan penyakit. Pembibitan dilakukan secara vegatatif, yaitu dengan anakan, stek pucuk dan kultur in viro.

    2.5.1.1. Bibit asal anakan

                     Diperoleh dari tanaman yang sudah tua, yang biasanya anakan muncul d dekat akar atau bagian batang bawah.

    2.5.1.2. Bibit asal stek puncuk

                     Yaitu dengan menententukan tanaman yang sehat dan cukup umur, memilih tunas pucuk yang tumbuh sehat. Dengan diameter pangkal 3-5 mm, panjang 5 cm, mempunyai 3 helai daun dewasa berwarna hijau terang, potong pucuk tersebut. Kemudian langsung disemaikan atau disimpan dalam ruangan dingin bersuhu udara 4 derajat C, dengan kelembaban 30 % agar tetap tahan segar selama 3-4 minggu. Cara penyimpanan stek adalah dibungkus dengan beberapa lapis kertas tisu, kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik rata-rata 50 stek.

    2.5.1.3. Bibit asal kultur in vitro

                     Yaitu menetukan mata tunas atau eksplan dan diambil dengan pisau silet, stelisasi mata tunas dengan sublimat 0,04 % (HgCL) selama 10 menit, kemudian bilas dengan air suling steril. mepenanaman dalam medium MS berbentuk padat. Hasil penelitian lanjutanperbanyakan tanaman krisan secara kultur jaringan:

    1. Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 1,5 mg kinetin/liter, paling baik untuk pertumbuhan tunas dan akar eksplan. Pertunasan terjadi pada umur 29 hari, sedangkan perakaran 26 hari.

    2. Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5 BAP/liter, kalus bertunas waktu 26 hari, tetapi medium tidak merangsang pemunculan akar.

    3. Medium MS padat ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-0.2 mg kinetin/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-2,0 BAP/liter pada eksplan varietas Sandra untuk membentuk akar pada umur 21-31 hari. Penyiapan bibit pada skala komersial dilakukan dengan dua tahap yaitu:

    a. Stok tanaman induk : Fungsinya untuk memproduksi bagian vegetatif sebanyak mungkin sebagai bahan tanaman Ditanam di areal khusus terpisah dari areal budidaya. Jumlah stok tanaman induk disesuaikan dengan kebutuhan bibit yang telah

    direncanakan. Tiap tanaman induk menghasilkan 10 stek per bulan, dan selama 4-6 bulan dipelihara memproduksi sekitar 40-60 stek pucuk. Pemeliharaan kondisi lingkungan berhari panjang dengan penambahan cahaya 4 jam/hari mulai 23.30–03.00 lampu pencahayaan dapat dipilih Growlux SL 18 Philip.

    b. Perbanyakan vegetatif tanaman induk.

    1. Pemangkasan pucuk yaitu, dilakukan pada umur 2 minggu setelah bibit ditanam, dengan cara memangkas atau membuang pucuk yang sedang tumbuh sepanjang 0,5-

    1 cm.

    2. Penumbuhan cabang primer. Perlakuan pinching dapat merangsang pertumbuhan tunas ketiak sebanyak 2-4 tunas. Tunas ketiak daun dibiarkan tumbuh sepanjang

    15-20 cm atau disebut cabang primer.

    3. Penumbuhan cabang sekunder. Pada tiap ujung primer dilakukan pemangkasan pucuk sepanjang 0,5-1 cm, pelihara tiap cabang sekunder hingga tumbuh

    sepanjang 10-15 cm.

    2.5.2. Pengolahan media tanam

                   Pengolahan menggunakan cangkul, tanah dicangkul sedalam 30 cm, kemudian dikering anginkan selama 15 hari. Setelah itu digeemburkan kedua kalinya dengan dibersihkan gulmanya, lalu di bentuk bedengan dengan lebar 1-1,2 m, tinggi 20-30 cm, dengan panjang sesuai lahan yang ada, serta jarak antar bedengan yaitu 30-49 cm. Jika tanah mempunyai pH dibawah 5,5, maka diperlukan pengapuran menggunakan kapur pertanian seperti dolomit, zeagro atau kalsit. Kebutuhan kapur sesuai kadar pH yang ada dalam tanah, untuk pH 5 = 5,02 ton/ha, pH 5,2 = 4,08 ton/ha, pH 5,3 = 3,60 ton/ha, pH 5,4 = 3,12 ton/ha. Pengapuran dilakukan dengan cara disebar merata pada permukaan bedengan.

    2.6. Hama dan Penyakit

    2.6.1. Hama

    a. Ulat tanah (Agrotis ipsilon)

    o Gejala: memakan dan memotong ujung batang tanaman muda, sehingga pucuk dan tangkai terkulai.

    o Pengendalian: mencari dan mengumpulkan ulat pada senja hari dan semprot dengan insektisida.

    b. Thrips (Thrips tabacci)

    o Gejala: pucuk dan tunas-tunas samping berwarna keperak-perakan atau kekuning-kuningan seperti perunggu, terutama pada permukaan bawah daun.

    o Pengendalian: mengatur waktu tanam yang baik, memasang perangkap berupa lembar kertas kuning yang mengandung perekat, misalnya IATP buatan Taiwan.

    c. Tungau merah (Tetranycus sp)

    o Gejala: daun yang terserang berwarna kuning kecoklat-coklatan, terpelintir, menebal, dan bercak-bercak kuning sampai coklat.

    o Pengendalian: memotong bagian tanaman yang terserang berat dan dibakar dan penyemprotan pestisida.

    d. Penggerek daun (Liriomyza sp) :

    o Gejala: daun menggulung seperti terowongan kecil, berwarna putih keabuabuan yang mengelilingi permukaan daun.

    o Pengendalian: memotong daun yang terserang, penggiliran tanaman, dengan aplikasi insektisida.

    2.6.2. Penyakit

    1. Karat/Rust

    o Penyebab: jamur Puccinia sp. karat hitam disebakan oleh cendawan Pchrysantemi, karat putih disebabkan oleh P horiana P.Henn.

    o Gejala: pada sisi bawah daun terdapat bintil-bintil coklat/hitam dan terjadi lekukan-lekukan mendalam yang berwarna pucat pada permukaan daun bagian atas. Bila serangan hebat meyebabkan terhambatnya pertumbuhan bunga.

    o Pengendalian: menanam bibit yang tahan hama dan penyakit, perompesan daun yang sakit, memperlebar jarak tanam dan penyemprotan insektisida.

    2. Tepung oidium

    o Penyebab: jamur Oidium chrysatheemi.

    o Gejala: permukaan daun tertutup dengan lapisan tepung putih. Pada serangan hebat daun pucat dan mengering.

    o Pengendalian: memotong/memangkas daun tanaman yang sakit dan penyemprotan fungisida.

    3. Virus kerdil dan mozaik

    o Penyebab: virus kerdil krisan, Chrysanhenumum stunt Virus dan Virus Mozaoik Lunak Krisan (Chrysanthemum Mild Mosaic Virus).

    o Gejala: tanaman tumbuhnya kerdil, tidak membentuk tunas samping, berbunga lebih awal daripada tanaman sehat, warna bunganya menjadi pucat.

    o Penyakit kerdil ditularkan oleh alat-alat pertanian yang tercemar penyakit dan pekerja kebun.

    o Virus mosaik menyebabkan daun belang hijau dan kuning, kadang-kadang bergaris-garis.

    o Pengendalian: menggunakan bibit bebas virus, mencabut tanaman yang sakit, menggunakan alat-alat pertanian yang bersih dan penyemprotan insektisida untuk pengendalian vektor virus.

    2.7. Metode Kultur

                Kultur jaringan tanaman terdiri dari sejumlah teknik untuk menumbuhkan organ, jaringan dan sel tanaman. Jaringan dapat dikulturkan pada agar padat atau dalm medium hara cair. Kultur biasanya dimulai dengan menanamkan satu iris jaringan steril pada medium hara yang dipadatkan dengan agar. Dalam waktu 2-3 minggu akan terbentuk kalus. Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan kalus dan kultur suspensi sel amat beragam, dan terutama bergantung pada jaringan eksplan dan komposisi medium kultur. Baik kultur kalus maupun kultur suspensi sel dapat diperoleh dari berbagai spesies. Kemudahan memulai kultur bergantung pada jenis tanaman dan asal jaringan (wetter and constabel, 1991).

    2.8. Media

                Kegiatan kultur jaringan sangat ditentukan dan tergantung oleh pilihan media yang digunakan. Dalam kultur jaringan menekankan lingkungan yang cocok agar eksplan dapat tumbuh dan berkembang. Lingkungan yang cocok, sebagian akan terpenuhi bila media yang akan dipilih mempertimbangan apa-apa yang diperlukan oleh tanaman. Secara umum kebutuhan nutrisi kebanyakan tanaman sama, tetapi secara khusus hal tersebut berbeda (Soeryowinoto dan Soeryowinoto, 1984).

    2.8.1. Garam organik

                   Garam anorganik yang diperlukan eksplan dalam kultur jaringan sama halnya dengan garam-garam organik yang diperlukan tanaman yang tumbuh normal di lingkungan alaminya. Beberapa garam organik yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah takaran banyak (milimole) dan dikenal sebagai unsur makro adalah N, K, S (anion) P, Ca, dan Mg (kation). Sedangkan unsur esensial yang kebutuhannya dalam takaran sedikit (mikromolar) dan disebut unsur mikro adalah Fe, Mn, Zn, B, Cu dan Mo (santoso dan nursandi, 2004).

    2.8.2. Sumber karbon dan energi

    Sumber karbon yang dianggap standar adalah sukrosa atau glukosa. Sukrosa umumnya digunakan pada kosentrasi 2-3 %, kebanyakan media mengandung miositol. Zat ini sesungguhnya bukan sesuatu yang mutlak harus ditambahkan, tetapi penambahan pada media kira-kira 100 mg/liter dapat meningkatkan pertumbuhan sel (santoso dan nursandi, 2004).

    2.8.3. Vitamin

    Tanaman normal melakukan sintetis vitamin untuk pertumbuhan dan perkembangan. Ketika sel-sel tumbuhan tinggi tumbuh didalam kultur, beberapa vitamin tidak terpennuhi atau jumlahnya kurang. Dalam penggunaan vitamin adalah kadar yang seharusnya ditambhakan ke dalam media adalah sangat randah, berkisar 0,1-0,5 mg/liter (wetter and constabel, 1991).

    2.8.4. Hormon tanaman

    Sitokinin dan auksin merupakan dua kelompok hormon tanaman yang sangat penting dan diperlukan dalam aktivitas kultur jaringan. Kedua hormon tersebut diperlukan untuk mendorong terjadinya pembelahan sel dan pembentukan  kalus. Tidak hanya sitokinin dan auksin yang digunakan, namun ada abcisic acid (santoso dan nursandi, 2004).

    2.8.5. N-Organik

    N-organik diperlukan untuk pada saat inisiasi kalus terjadi, atau digunakan untuk mempertahankan kultur kalus atau suspensi. Sumber-sumber dari n-organik adalah asam amino, glutamin, asparagin, dan adenin. Namun sumber n-organik tidak terlalu dianggap (santoso dan nursandi, 2004).

    III. METODE PELAKSANAAN

     

    3.1. Tempat

    Praktek kerja lapang (PKL) dilakasanakan di PT Inggu Laut Abadi laboratorium molekuler, dan ditempatkan pada laboratorium kultur in vitro. PT Inggu Laut Abadi terletak di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur kilometer 17 jalan raya Bumi Aji-Sumber Brantas, yang berkedudukan di Desa Sumber Agung, Kecamatan Bumi Aji. Tempat ini berada pada ketinggian ± 1400 m dpl dengan luas lahan 3,5 hektar. Waktu pelaksanaan PKL dimulai pada tanggal 24 Januari 2011 sampai dengan 26 Februari 2011.

    3.2. Bahan dan Alat

    3.2.1. Alat

                   Alat yang digunakan dalam praktek kerja lapang menggunakan beberapa alat, diantaranya laminar air flow, autoklaf, oven, pisau klinis, tang, cawan petri, labu kultur, sumbat, pipet, serta lemari pendingin.

    3.2.2. Bahan

                   Bahan pada praktek kerja lapang menggunakan  beberapa bahan, diantaranya aquades, garam mineral dan senyawa organik, n-organik, dan agar.

    3.3. Pengumpulan Data

                Pengumpalan data yang berhubungan dengan regenerasi tanaman padi indica krisan pada kultur in vitro yaitu:

    1. Melakukan survey lapang di laboratorium kultur in vitro PT Inggu Laut Abadi
    2.  wawancara dengan pembimbing lapang dan staf pekerja/ karyawan.
    3. Melihat dokumen atau data yang berhubungan dengan regerasi tanaman krisan di kultur in vitro.

    3.4. Pengolahan Data

                Pada pengolahan data yang dilakukan dalam pelaksanaan PKL ini hanya menggunakan analisa deskriptif. Analisa deskriptif dimaksudkan untuk memberi gambaran tentang regenerasi tanaman krisan pada kultur in vitro.

    3.5. Pengamatan

                Pengamatan yang dilakukan yaitu mengamati perkembangan planlet yang sudah di pindah ketiap media yang sudah disiapkan. Mengamati perkembangan akar serta tunas yang muncul serta mengamati kontaminasi yang terjadi pada proses regenerasi tanaman krisan. selain itu mengamati proses pembuatan media, sterilisasi hingga inkubasi.

    IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1. Hasil

    4.1.2. Gambaran Umum Lokasi

    PT Inggu Laut Abadi merupakan perusahaan perseroan yang didirikan pada tanggal 10 Mei 2002, ini berdasarkan akta yang di terbitkan oleh Ny. Hartati Marsono, SH. Kemudian diperkuat di Pengaadilan negeri no.38605/tertanggal 27 mei 2002. Bentuk badan hukum Inggu Laut Abadi adalah Perseroan Terbatas (PT) yang memiliki surat ijin usaha perdagangan 0305/09-02/PB/V/2002. Pendiri dari perusahaan ini adalah keluarga besar Solo-Indroko, nama Inggu laut merupakan nama tanaman hias yaitu Lantana camara sp atau yang lebih kita kenal dengan nama “Tembelek”. Tembelek di Jawa Barat lebih dikenal dengan nama inggu laut, tanaman ini dapat ditemui di pinggir laut hingga daerah dataran tinggi. Tanaman tembelek merupakan tanaman yang dapat hidup di segala tempat, dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Inggu Laut digunakan sebagai nama, agar tanaman krisan dapat tumbuh dimana saja dari dataran rendah hingga tinggi seperti tanaman Lantana camara sp.

    Perusahaan ini pertama kali didirikan di Cipanas, Jawa Barat, yaitu mengambil alih dari usaha kecil yang mengalami kebangkrutan. Kebun Cipanas mulai beroperasi pada 1 Juli 2002,  pada lahan seluas 3600 m2. Budidaya tanaman krisan di PT. Inggu Laut Abadi dilakukan secara kultur in vitro, yang meliputi pengadaan tanaman hasil kultur dalam botol, bibit stek akar dan bunga potong krisan yang dihasilkan yaitu krisan standart dan krisan spray. Pemasaran bunga disalurkan ke Jakarta yaitu Pasar Bunga Rawa Belong, kemudian pada awal bulan Juni 2003 perusahaan mulai memperluas pemasaran ke Surabaya dan Bali. Untuk mempermudah dan meningkatkan produksi maka pada bulan Agustus 2003 di buka kebun baru yang terletak di Sumber Brantas, Kota Batu, dengan luas 1,6 hektar. Sistem organisasi PT Inggu Laut Abadi dikepalai oleh seorang Direktur Utam. Direktur wilayah Batu dibantu oleh Kepala Laboratorium dan Kepala Kebun, sedangkan Direktur Wilayah Cipanasdibantu Oleh Kepala Kebun.

    Untuk meningkatkan efisiensi kerja, maka perusahaan membagi dua kegiatan produksi besar pada setiap kebun, untuk kebun Batu ditentukan sebagai pusat kegiatan pangadaan bibit, budidaya tanaman hias dan pelatihan tenaga kerja. Sedangkan kebun Cipanas dikhususkan hanya pada kegiatan pusat budidaya tanaman hias baik bunga potong ataupun bunga pot. Hal ini diharapkan setiap kebun dapat berkonsentrasi dalam menjalankan tugasnya serta kairnya menghasilkan produk yang unggul.

                PT. Inggu Laut Abadi terletak di Jalan Sumber Brantas, Desa Junggo,  Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, dengan ketinggian 1400 m dpl dengan suhu 200-230. Jenis tanahnya yaitu lempung berpasir, dengan topografi berbukit. Di sana  dilengkapi dengan fasilitas 26 mess, 27 green house (20 untuk pengadaan tanaman induk krisan, 2 untuk pembibitan krisan, 4 untuk tanaman gerbra, 1untuk tanaman anyelir), 1 aula, 1 gudang + rapat, 1 perpustakaan, 1 laboratorium kultur jaringan, 3 mobil, 2 motor, 1 motor tosa, alat pemupukan, dan dilahan terbuka ditanami mawar, song of india, philodendron, ruskus, lither leave, dan hortensia.

    PT. Inggu Laut Abadi memiliki karyawan yang berjumlah 27 orang dari berbagai latar belakang pendidikan yang berbeda (Tabel 1)

    Tingkat Pendidikan

    Jumlah Pegawai (orang)

    S2

    1

    S1

    3

    D3

    2

    D1

    S2

    SMK

    S1

    SMP

    D3

    SD

    1

    Jumlah

    27

    Tabel 1. Latar Belakang Pendidikan Karyawan PT. Inggu Laut Abadi

    4.1.2. Komoditas Tanaman yang Dibudidayakan

     Terdapat beberapa komoditas yang dibudidayakan di PT Inggu Laut, yaitu :

    1. Pembibitan bunga krisan yang dijual kepada petani dalam bentuk bibit yang sudah berakar dan siap tanam. Semua varietas dibibitkan dan dijual, untuk bibit siap jual yaitu tanaman yang sudah berakar atau berumur 14 hari setelah ditanam dalam sekam bakar.

    2. Bunga krisan potong dengan berbagai varietas.

    3. komoditas sampingan seperti bunga Mawar, Leather leaf, Song of India, Ruskus, Lily, Gerbera, Anyelir, Anthurium bunga, Philodendron, dll.

    Seperti perusahaan bunga potong lainnya yang terus meningkatkan produksinya sesuai permintaan pasar, saat ini perusahaan sedang meningkatkan produksinya dalam hal kualitas dan kuantitas.

    4.1.3. Sarana dan Prasarana pada Kultur In Vitro

    Perbanyakan tanaman secara kultur in vitro pada umumnya di lakukan di laboratorium. Laboratorium merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan suatu penelitian ataupun perbanyakan tanaman dengan teknik kultur in vitro. Keberadaan suatu laboratorium dengan ruangan dan peralatan yang cukup memadai sangat membantu terlaksananya suatu kegiatan. Biasanya penataan ruang-ruang, peralatan serta bahan dalam laboratorium disesuaikan dengan langkah-langkah prosedur kultur in vitro. Beberapa ruangan yang digunakan di laboratorium kultur in vitro PT Inggu Laut Abadi antara lain :

    a. Ruang persiapan

    Ruang ini digunakan untuk mempersiapkan bahan tanaman serta media kultur yang akan digunakan dalam kultur jaringan. Serta dilengkapi tempan menyimpan unsur mikro dan bahan media lain seperti air kelapa, yaitu lemari es.

    b. Ruang penimbangan dan penyimpanan bahan

    runag ini berfungdi sebagai tempat menimbang dan menyiapkan semua bahan-bahan kimia yang dibutukan dalam pembuatan media kultur in vitro. Bahan-bahan yang tersimpan diruangan ini adalah unsur-unsur hara makro, unsur-unsur hara mikro, Fe EDTA, hormon, sukrosa, vitamin, dan agar-agar. Timbangan yang digunakan adalah timbangan mikro biasa, sehingga dalam menimbang terdapat persyaratan-persyaratan. Diantaranya harus bebas dari getaran seperti arus angin, getaran dari mesin, dan getaran lainnya, karena akan mempengaruhi asil penimbangan. Ruangan ini juga dilengkapi rak-rak untuk menyimpan bahan-bahan kimia, ruangan ini dijaga sedikit gelap dan tetap sejuk.

    c. Ruang tanam (transfer)

    Dalam melakukan kultur jaringan hal yang diperlukakan dalam ruang tanam adalah aseptik, karena dalam ruangan ini dilakukan sterilisasi, isolasi dan penanaman eksplan pada media tanam. Ruangan ini dilengkapi berbagai alat, diantaranya : Laminar Air Flow Cabinet yang merupakan sarana mutlak dalam kultur jaringan, rak untuk menaruh media dan hasil tanam, alat-alat kerja tanam (bunsen, penjepit, pisau bedah, gunting, dll), meja, dan kursi.

     Gambar 1. Ruang tanam (transfer)

    d. Ruang Inkubasi

    ruangan ini merupakan  ruang untuk meletakkan botol-botol kultur jaringan untuk induksi atau inkubasi. Botol-botol kultur jaringan diletakkan di rak-rak bertingkat denngan panjang 150-200 cm, lebar 40-60 cm dan tinggi 200-300 cm. Kemudian jarak antar tingkat rak kurang lebih 60 cm, setiap tingkat dari masing-masing rak dilengkapi lampu neon 40 watt yang jaraknya 40-60 cm dari permukaan botol kultur jaringan. Ruangan ini juga dilengkapi oleh AC (Air Conditioner) dengan termperatur berkisar antara 160-250 C dengan kelembaban 50-60%.

    e. Green House

    Green house di PT Inggu Laut Abadi adalah rumah plastik yang digunakan untuk pembibitan, pembuatan bibit, tempat mother stock, sebagai eksplan, serta digunakan untuk pembungaan. Green house ini dibuat sedemikian rupa sehingga terbebas dari hama dan penyakit.

    4.1.4. Pembuatan Media

    Media yang digunakan untuk perbanyakan tanaman krisam melalui kultur jaringan menggunakan formula yang digunakan perusahaan Murashige dan Skoog (MS) dengan konsentrasi  MS ( lihat tabel 2). Pembuatan media 2 liter  MS padat diawali dengan menimbang semua unsur makro yaitu 3,3 g NH­4NO3; 3,8 g KNO3; 0,88 g CaCl2.2H2O; 0,74 g MgSO4.7H2O; 0,34 g KH3PO; 0,2 g Mio-Inositol; dan 60 g Gula Pasir. Kemudian bahan-bahan tersebut dimasukkan kedalam teko ukur bervolume ± 2 liter yang telah berisi sedikit aquades, lalu digoyang-goyangkan agar bercampur secara homogen. Selanjutnya larutan tersebut di tambah berbagai macam stok (lihat tabel 3), diantaranya ; 2 ml stok A, 20 ml stok B, 2 ml stok C, 2 ml stok D dan 2 ml stok E. Kemudian larutan tersebut dimasukkandalam teko yang berisi bahan makro lalu di campur dan volumenya di jadikan menjadi 2 liter.

    Larutan tersebut diaduk hingga menjadi homogen lalu diukur pHnya dengan menggunakan kertas lakmus atau pH meter, dan jangan lupa menambahkan arang aktif (NORIT) kedalam media serta agar-agar. Agar-agar yang digunakan adalah agar-agar yang mudah di peroleh ditoko klontong (Warung Kecil), dengan harga yang relatif lebih murah. pH yang ideal untuk media kultur jaringan adalah 5,8-5,9, media yang memiliki pH diatas 5,8-5,9 maka perlu ditambah HCl, begitu juga sebaliknya jika pHnya dibawah 5,8-5,9 maka media tadi ditambah NaOH. Kemudian campuran media tadi dimasukkan kedalam panci lalu dipanaskan diatas kompor gas dengan api sedang, diaduk terus hingga mendidih. Setelah mendidih kompor dimatikan lalu di masukkan kedalam botol kultur yang telah steril sebanyak ± 20 ml. Kemudian botol yang berisi larutan media langsung ditutup menggunakan plastik lalu diikat menggunakan karet. Setelah selesai mengisi botol berisi larutan media disterilisasi ulang menggunakan autoclave.

     

     

    Tabel 2. Komposisi Media MS
    Komposisi Media Pembuatan Media (liter)
    1 2 3
    Kimia Makro MS
    NH­4NO3 1,65 3,3 4,95
    KNO3 1,9 3,8 5,7
    CaCl2.2H2O 0,44 0,88 1,32
    MgSO4.7H2O 0,37 0,74 1,11
    KH3PO4 0,17 0,34 0,51
    Gula Pasir 30 60 90
    Kimia Mikro MS
    MnSO4.4H2O 0,0446 0,0892 0,1338
    ZnSO4.7H2O 0,0172 0,0344 0,0516
    H3BO3 0,0124 0,0248 0,0372
    KI 0,00166 0,00332 0,00498
    CuSO4.5H2O 0,00005 0,0001 0.00015
    NaMoO4.2H2O 0,0005 0,001 0,0015
    CoCl2.4H2O 0,00005 0,0001 0,00015
    FeSO4.7H2O 0,0054 0,0108 0,0162
    NaEDTA.2H2O 0,0746 0,1492 0,2238
    Vitamin
    Myo-Inositol 0,1 0,2 0,3
    Thiamine HCl 0,0001 0,0002 0,0003
    Nikotinik Acid 0,0005 0,001 0,0015
    Pyridoksin HCl 0,0005 0,001 0,0015
    Glycine 0,002 0,004 0,006
    Ket : Satuan dalam gram

     

     

     

    Tabel 3. Komposisi Stok

    Stok

    Komposisi

    A

    0,0005 g NaMoO4.2H2O; 0,0124 g H3BO3; 0,00005 g CoCl2.4H2O; 0,0172 g ZnSO4.7H2O; dan 0,00005 g CuSO4.5H2O.

    B

    0,0446 g MnSO4.4H2O dan 0,1 g Myo-Inositol

    C

    0,00166 g KI

    D

    0,0001 g Thiamine HCl; 0,0005 g Nikotinik Acid; 0,0005 g Pyridoksin HCl; dan 0,002 g Glycine

    E

    0,0054 g FeSO4.7H2O dan 0,746 g NaEDTA.2H2O

    4.1.5. Sterilisasi

    Sterilisasi merupakan hal yang wajib dilakukan dalam kultur in vitro, ini adalah penentuan keberhasilan kultur in vitro. Kegagalan dalam kultur in vitro disebabkan terkontaminasi bahan eksplan, media, alat-alat kultur, lingkungan kerja dan kecerobohan dalam pelaksanaan. Sterilisasi perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya kontaminasi.

    a. Sterilisasi alat dan botol kultur

    Botol-botol yang akan digunakan sebelumnya dicuci terlebih dahulu, pencucian dilakukan dengan merendam terlebih dahulu dengan  cup deterjen dan 1 tutup botol pemutih (lihat gambar 2). Perendaman berfungsi untuk mengilangkan noda dan kotoran-kotoran yang keras, agar menjadi mudah untuk di bersihkan. Perendaman dilakukakn selama 24 jam, lalu di bersihkan menggunakan busa atau sikat dan dibilas menggunakan air mengalir. Setelah dibilas botol ditaruh dinampan besar berukuran 60×40 cm, lalu dijemur dibawah sinar matahari hingga kering. Kemudian botol sebelum dimasuki media disterilkan terlebih dahulu menggunakan autoclave, terlebih dahulu botol ditutup menggunakan plastik dan diikat menggunakan karet. Kemudian botol-botol dimasukkan kedalam autoclave, selain itu alat-alat kultur seperti gunting, scalpel, pinset dan petridist serta erlenmeyer juga disterilisasi. Alat-alat tersebut disterilisasi dalam keadaan terbungkus kertas.

    b

    a

    Gambar 2. Perendaman botol kultur : a. Botol yang direndam; b. Tempat perendaman.

    Botol dan alat-alat kultur disterilisasi dengan dipanaskan di atas api hingga jarum petunjuk tekanan kearah angka 15 psi pada suhu 1300 C selama 30 menit, perhitungan menit pertama ketika suhu mencapai 1300 C atau pada tekanannya menunjukkan 15 psi. Keseimbangan dijaga, setelah 30 menit kompor dimatikan lalu tunggu jarum pada autoclave menunjukkan diantara 0-10, lalu dibuka penguncinya. Ketika membuka pengunci jangan sampai dingin karena akan sulit untuk membukanya, sehingga ketika hangat itu yang idela untuk membuka penguncinya. Botol dikeluarkan dari autoclave lalu ditaruh diruang isolasi, dan alat-alat ditaruh diruang laminar. Pembungkus ala-alat kultur tidak perlu dibuka dan dibiarkan tertutup untuk menjaga tidak terjadi kontaminasi dan steril selama dalam ruang (tempat penyimpanan).

    b. Sterilisasi media

    media kultur yang telah siap untuk dimasukkan dalam botol yang telah disteril, kemudian dimasukan dalam botol ± 20 ml lalu ditutup menggunakan plastik dan diikat dengan karet. Media tersebut lalu disetrilisasi mengunakan autoclave pada tekanan 15 psi dan suhu 1300 C selama 30 menit, setelah disterilisasi botol-botol kultur yang berisi media di simpan diruang penyimpanan media lalu disusun dirak-rak yang telah ada. Media tersebut didiamkan selama 3 hari mengetahui terjadi kontaminasi atau tidak.

    c. Sterilisasi ruang kerja

    ruang kerja sebelum digunakan terlebih dahulu disterilkan menggunakan formalin, caranya di semprotkan 2-3 kali dengan arah acak, lalu didiamkan semalam atau hingga bau formalin hilang. Setelah formalin hilang lalu membersihkan laminar air flow cabinet dengan menggunakan alkohol 70% diratakan menggunakan lap tissue (Canebo), lalu UV dinyalakan dan ruang dikosongkan selama 1 jam. UV dimatika lampu biasa dan blower dinyalakan, kemudian alat-alat, media, dan planlet yang akan digunakan dimasukkan kedalam LAFC yang terlebih dahulu dilap menggunakan spirtus sebagai pengganti alkohol. Setelah kegiatan tanam selesai laminar air flow cabinet dibersihkan kembali menggunakan alkohol 70%.

    4.1.6. Sub Kultur

    Sub kultur merupakan kegiatan pemindahan dan pemotongan planlet dari media yang lama ke media yang baru setelah satu kali masa umur. Tujuan sub kultur merupakan memelihara pertumbuhan dan perkembangan planlet serta perbanyakan planlet lebih lanjut. Keberhasilan dalam sub kultur terlihat dari banyaknya botol yang terkontaminasi (lihat tabel 4). Kontaminasi yang biasanya menyerang planlet dan media dalam botol adalah jamur dan bakteri (gambar 7). Kontaminasi dapat diatasi dengan memperhatikan planlet yang akan digunakan, jeli melihat media, serta yang paling penting yaitu sterilisasi peralatan yang akan digunakan.

    Tabel 4. Presentase Keberhasilan Tahap Sub Kultur

    Varietas

    Jumlah botol

    Keberhasilan

    %

    Tanam

    Tidak Terkontaminasi

    Kontaminasi

    Monalisa Dark

    12

    9

    3

    75

    Stroika

    8

    8

    0

    100

    Yellow Fiji

    10

    0

    10

    0

    Kegiatan sub kultur di mulai dengan mengeluarkan botol dan planlet dari ruang inkubasi dan dibawa ke ruang tanam, planlet yang digunakan adalah planlet yang tidak terkontaminasi. Planlet yang akan ditanaman berasal dari berbagai macam varietas tanaman krisan (lihat tabel 5), pertama planlet diambil menggunakan pinset lalu dipotong menggunakan gunting. Hal ini berfungsi untuk memisahkan dari akar, lalu diletakkan dalam petridisk. Kemudian planlet di potong-potong ± 1 cm dan tiap tunas terdapat minimal 1 daun dan memiliki tunas aksilar. Potongan tersebut kemudian ditanam dalam media dengan jumlah per botol 5-7 tanaman, selanjutnya botol di tutup rapat menggunakan plastik wrap film dan diikat menggunakan karet kemudian diberi label dengan spidol. Setelah selesai botol dipindah ke ruang ruang penyimpanan atau ruang inkubasi. Satu botol yang berisi 5 planlet dapat disubkultur menjadi 6-8 botol subkultur yang berisi 5 planlet.

    No.

    Varietas

    No.

    Varietas

    1

    Kermit

    18

    Puma Kuning

    2

    Stallion

    19

    New Red

    3

    Salem Total

    20

    Boris Putih

    4

    Yellow Fiji

    21

    Boris Kuning

    5

    White Fiji

    22

    M-2000

    6

    Monalisa Pink

    23

    Rhino

    7

    Evergreen

    24

    Yoko Ono

    8

    Shamrock

    25

    Town Talk

    9

    Sheena Select

    26

    Jaguar Purple

    10

    Reagen Kuning

    27

    Jaguar red

    11

    Reagen Pink

    28

    Euro Putih

    12

    Reagen Putih

    29

    Stroika

    13

    Ungu Total

    30

    Monalisa Putih

    14

    Ellen

    31

    Monalisa Dark

    15

    Cat Eyes

    32

    Snow White

    16

    Euro Kunig

    33

    Tiger

    17

    Puma Putih

    34

    Remix Ungu

                a.                                             b.                                             c.

    Gambar 3. Subkultur dan alat : a. Subkultur; b.rak media; c.alat kerja kultur in vitro

    Kegiatan penanaman planlet dilakukan dalam laminar air flow cabinet (Gambar 3). Alat dan bahan diletakkan dalam LAFC, antara lain : petridish yang digunakan sebagai wadah potongan planlet, bunsen sebagai pembakar alat agar steril da bebas dari bakteri maupun jamur, botol yang berisi media, gunting, scalpel, dan pinset yang diletakkan dalam botol media yang berisi alkohol 70%, fungsi dari alkohol sebagai pensteril alat agar bebas dari bakteri dan jamur, plastik wrap film yang digunakan sebagai penutup botol yang telah berisi planlet, dan botol yang berisi planlet sebagai sumber eksplan. Dimana semua alat dan bahan tersebut terlebih dahulu disterilkan menggunakan spirtus (sebagai pengganti alkohol) dengan cara dilapkan secara merata, sebulum akhirnya dimasukkan kedalam laminar air flow cabinet. Di dalam ruang inkubasi terdapat rak penyimpanan botol eksplan dengan pencahayaan lampu TL 40 Watt dan diberi AC dengan suhu 210C (Gambar 4). Banyak lampu disesuaikan dengan luasnya rak, dimana botol-botol planlet tersebut dapat tersinari dengan baik.

     Gambar 4. Ruang inkubasi

    4.1.7. Aklimatisasi

    Aklimatisasi adalah masa yang kritis dalam kultur in vitro, karena planlet menunjukkan sifat yang kurang baik jika langsung hidup dilapang. Menururt sosilowati (1998), ada beberapa ekspresi tanaman jika planlet ditanam langsung ke lapang, diantarnya :

    1. Sel-sel palisade daun hanya terbentuk dalam jumlah sedikit.

    2. Stomata sering kali tidak berfungsi.

    3. Lapisan lilin tidak berkembang dengan baik.

    4. Jaringan pembuluh dari akar kepucuk kurang berkembang.

    Planlet jika langsung ditaruh dilapang, sangat peka terhadap transpirasi, serangan mikroba-mikroba dan cahaya yang intesitasnya tinggi. Oleh sebab itu perlu penanganan khusus dalam aklimatisasi planlet tanaman krisan. aklimatisasi yang dilakuan di PT Inggu Laut Abadi terdapat 2 metode aklimatisasi, yaitu metode cutting dan metode langsung.

    a. Metode Cutting

    proses yang dilakukan dalam metode cutting, aklimatisasi tanaman krisannya tidank menggunakan akar dari planlet. Metode ini sangat cocok digunakan jika aklimatisasi terlambat dilakukan, sehingga tanaman dalam botol terlalu tinggi. Selain itu tanaman dalam botol terkontaminasi, sehingga perlu ada penyelamatan tanaman. Planlet dipilih yang akan diaklimatisasi, lalu dibuka tutupnya kemudian di gunting tanaman kira-kira 2 ruas dari akar. Lalu diletakkan dalam rooten F, hal ini berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar didaerah potongan. Kemudian hasil tadi ditanamn dalam nampang yang berisi media arang sekam yang telah disiram dengan fungisida (Gambar 5). Tanaman siap pindah kelapang ketika umur 4-6 minggu.

                            a.                                                         b.

    Gambar 5. Aklimatisasi : a. Penclupan dalam rooten F dan b. penanaman dalam media arang sekam.

    b. Metode Langsung

    aklimatisasi metode langsung yaitu planlet ditanam beserta akarnya. Pertama planlet dikeluarkan dari dalam botol beserta medianya. Akar planlet dicuci sampai bersih menggunakan air bersih, dicuci sampai bersih. Kemudian akar dicelupkan dalam rooten F, setalah itu di tanam dalam media arang sekam. Tanaman aklimatisasi diletakkan dalam ruang khusus untuk aklimatisasi (Gambar 6).

    Gambar 6. Tempat penumbuhan aklimatisasi.

                a.                                             c.                                 d.

    Gambar 7. Kontaminasi : a. Bakteri; b. Bakteri ; c. Jamur

    4.2. Pembahasan dan Alternatif Pemecahan

    Dalam pembuatan media menggunakan air kelapa karena berbagai pertimbangan, memanfaatkan limbah organik serta mempertimbangkan dari segi ekonomisnya. Sebelumnya perusahaan menggunakan NAA sebagai ZPT media kultur. Air kelapa sebagai pengganti auksin tersebut. Penggunaan air kelapa dikarenakan pada air kelapa terdapat berbagai macam ZPT, seperti auksin dan sitokinin serta berbagai unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh dalam kultur in vitro.

    Air kelapa kelapa mengandung komponen aktif, misalnya mio-inositol, leukoantosianin, dan sitokinin. Penambahan air kelapa dan mio-inositol dalam medium Murashige dan skoog yang mengandung 3 mn dan 2,4-D akan merangsang pembentukkan kalus saccharum. Sedangkan jaringan korteks dan parengkim daun akan mudah tumbuh dalam medium yang diperkaya vitamin, air kelapa dan ekstra yeast (Thorpe, 1981). Di dalam air kelapa terkandung Diphenil urea yang mempunyai aktivitas seperti sitokinin, yaitu mempunyai aktifitas pembelahan sel. Sebab, air kelapa adalah endosperm cair yang terbentuk setelah terjadi pembuahan atau pelebuaran diri antara inti sperma dengan inti sel telur (Hendaryono dan ari, 2006). Fitohormon yang terkandung dalam air kelapa adalah sitokinin dan auksin, menurut Matatula (2003), menyatakan bahwa air kelapa terdeteksi mengandung sitokinin 5,8 mg/l dan auksin 0,07 mg/l dalam kelapa tua. Jika menambahkan 50% air kelapa ke media berarti sebanyak 2,9 mg/l sitokinin dan 0,035 mg/l auksin ditambahkan ke media. Dengan substitusi media MS dengan air kelapa 50% dapat meningkatkan berat basah tunas dan akar tanaman. Sitokinin berperan dalam memacu pembentangan sel, pembesaran dan pembelahan sel, poliferasi kalus, pembentukkan tunas, menghambat pembentukkan akar dan mendorong pembentukkan klorofil pada kalus (Untung dan Fatimah, 2004). Selain itu, sitokinin dapat mengatur fisiologis tumbuhan, hal ini disebabkan oleh hormon yang mempengaruhi asam nukleat sehingga langsung mempengaruhi sitesis protein dan mengatur aktivitas enzim (Hendaryono, dkk, 2002). Sedangkan auksi berperan dalam menginduksi terjadinya kalus, mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas, pembelahan sel, diferensiasi trkhea, dominasi apikal, pembentukkan akar baru, pembentukan tunas, mendorong proses embriogenesis dan auksin juga dapat mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman kalus (Untung dan Fatimah, 2004).

    Sukrosa di PT Inggu Laut Abadi tidak digunakan, sebagai pengganti yaitu gula pasir biasa yang banyak ada dipasaran. Sukrosa tidak digunakan karena harganya lebih mahal dibandingan dengan gula pasir yang lebih murah, penggunaannya tetap yaitu 30 g/liter. Sukrosa merupakan sumber karbohidrat dalam kultur in vitro, konsentrasi normal dalam media yaitu 2-3 % (Hendaryono, dkk, 2002). Menurut Hendaryono, dkk (2002), penggunaan sukrosa di atas kadar 3% menyebabkan terjadinya penebalan dinding sel. Media kultur yang terdapat di Inggu Laut berwarna hitam, ini karena penambahan tablet arang aktif (karbon) dengan dosis 1 tablet/liter (berat tablet 125 mg). Pemberian arang aktif bertujuan untuk membunuh bakteri yang tumbuh didalam media, mengingat karbon biasanya digunakan oleh manusia untuk mengobati yang terserang diare. Selain itu karbon juga digunakan untuk menggelapkan media, sebab akar akan cepat tumbuh dan memanjang pada media gelap dari pada bening. Pengaruh arang aktif umumnya diarahkan untuk beberapa hal, diantaranya: penyerapan zat pengatur tumbuh, penyerapan senyawa penghambat dan menggelapkan media (Muslim, 2009). Menurut Abidin (1994), konsentrasi arang aktif yang ditambahkan ke dalam media kultur umumnya ± 0,5-3%. Bahan pemadat yang digunakan adalah agar-agar berwarna putih dengan dosis 7 mg/liter (1 bungkus), agar-agar diperoleh ditoko-toko kecil dengan harga relatif murah. Konsentrasi yang digunakan dalam media kultur adalah 0,5-1%, bahan lain yang pernah coba digunakan yaitu gelatin dengan konsentrasi 10%, methosel dan algiat tetapi penanganannya sulit serta harganya mahal dan agarose dengan konsentrasi 0,35-0,7% (Hendaryono, dkk, 2002). Menurut Mansyur (2007), agar yang menghasilkan gel yang bening serta cocok untuk mendeteksi terjadinya kontaminasi adalah agar sintetik phytagel dan gelrite, agar ini banyak digunakan untuk kultur in vitro.

    Pada kultur jaringan sterilisasi merupakan hal yang sangat penting, untuk menekan terjadinya kontaminasi serta semua media, bahan dan alat harus sama steril (Santoso dan Fatimah, 2004). Alat-alat seperti botol, scalpel, gunting, pinset dan petidris  harus disterilkan dengan autoklaf. Menurut Suryowinoto (1994), sterilisasi autoklaf dilakukan pada tekanan 1,5 atm hingga suhu mencapai 1210C selama 20-30 menit. Botol-botol yang sudah terisi medium setelah ditutup dengan plastik tahan panas serta di ikat dengan karet, kemudian disterilisasi. Dengan skala kegiatan yang semakin besar, pengelolaan alat gelas perlu mendapat perhatian yang lebih terutama berkaitan dengan proses pembersihan dan penyimpanan. Kegiatan pembersihan alat gelas yanng kotor perlu mendapatkan penanganan serius, karena bila tidak segara ditangani dapat menjadi agen kontaminasi untuk koleksi atau alat-alat lain yang steril (Untung daan Fatimah, 2004). sterilisasi Ruangan juga disterilkan dengan menyemprotkan formalin 10% sebanyak 3 semprot disebarang sudut, lalu didiamkan selama semalam baru digunakan. Tempat transfer (LAFC) juga harus disterilkan dengan alkohol 70%, caranya dengan menggunakan hand sprayer lalu di lap. LAFC selain disterilkan dengan alkohol juga disterilkan dengan ultaviolet (UV) selama 1 jam sebelum digunakan, ini berfungsi untuk menghilangkan bakteri atau jamur.

    Regenerasi atau subkultur yang dilakukan di PT Inggu Laut Abadi, hampir tiap hari tergantung dengan jumlah krisan botol didalam. Eksplan yang digunakan adalah potongan dari batang planlet yang memiliki mata tunas, dengan satu helai daun pada setiap potongannya. Rata-rata dari satu planlet dihasilkan 5-12 eksplan yang

    06/17/2011 Posted by | Uncategorized | 7 Komentar

       

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 944 pengikut lainnya.