BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

RENDAMAN BATANG BROTOWALI (Tinospora crispa L. Miers.) SEBAGAI PENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI PENYEBAB DIARE (GASTROENTERITIS)

RENDAMAN BATANG BROTOWALI (Tinospora crispa L. Miers.)

SEBAGAI PENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI PENYEBAB DIARE (GASTROENTERITIS)

Muhammad Jakfar Sadiq, Siti Rahmatullaili, Ifan Prasetya Yuda

Jurusan Pendidikan Biologi-FKIP-Universitas Muhammadiyah Malang

ABSTRAK

Salah satu permasalah kesehatan di masyarakat yang tidak pernah dapat diatasi secara tuntas adalah diare. Masyarakat biasanya menggunakan obat tradisional untuk mengobati diare selain juga menggunakan obat sintetis. Namun sampai saat ini, belum ada yang menemukan secara pasti bahwa rendaman batang brotowali berkhasiat untuk menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare. Sehingga perlu dilakukan studi yang bertujuan untuk membuktikan efek farmakologi rendaman batang brotowali terhadap pertumbuhan Salmonella typhi, Perlakuan pada penelitian ini menggunakan konsentrasi rendaman batang brotowali 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%. Metode penelitian meliputi pembuatan medium Mueller Hilton dan pembuatan larutan MacFarland, sterilisasi cakram disk, pembuatan rendaman batang brotowali, uji efek farmakologi rendaman batang brotowali terhadap pertumbuhan Salmonella typhi. Analisis data yaitu uji normalitas dan uji homogenitas untuk mengetahui jenis populasi dari data yang didapat, apakah  berdistribusi normal atau homogen. Selanjutnya dilakukan uji t untuk mengetahui perlakuan terbaik konsentrasi rendaman batang brotowali dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi. Hasil studi menunjukkan bahwa rendaman batang brotowali menyebabkan penurunan jumlah koloni Salmonella typhia. Konsentrasi rendaman batang brotowali yang paling efektif untuk menghambat pertumbuhan Salmonella typhi tersebut adalah 100%. Dengan demikian rendaman batang brotowali dapat digunakan sebagai penghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare.

Kata Kunci : Salmonella typhi, batang brotowali, gastroenteritis, diare.

PENDAHULUAN

Salah satu permasalah kesehatan di masyarakat yang tidak pernah dapat diatasi secara tuntas salah satunya adalah diare. Hasil survey tahun 2004 mencatat 4.800 orang terserang diare. Penyakit ini bersifat endemis dan biasanya berulang tiap tahunnya. Harian Kompas memberitakan bahwa korban diare juga terjadi di NTT dengan korban meninggal secara kumulatif mencapai 42 orang dan 2.017 orang lainnya dirawat di salah satu rumah sakit yang ada di NTT (Kompas, 2006).

Sampai saat ini penyakit diare (gastroenteritis), masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di Indonesia. Dari daftar urutan penyebab kunjungan Puskesmas/Balai pengobatan, diare hampir selalu menjadi penyebab utama kunjungan masyarakat. Di Indonesia dapat ditemukan sekitar 60 juta kejadian penderita diare setiap tahunnya. Sebesar 70 – 80 % dari penderita ini adalah anak di bawah lima tahun (±40 juta kejadian). Kelompok ini setiap tahunnya mengalami lebih dari satu kejadian diare. 1 – 2 % akan jatuh ke dalam dehidrasi dan bila tidak segera ditolong 50–60 % diantaranya meninggal. (Kompas, 2005).

Dalam Harian Kompas juga diberitakan bahwa diare di Flores Timur meluas, 19 warga meninggal. Kasus diare yang mewabah di Kab. Flores Timur NTT, semakin meluas hingga ke 10 kecamatan di wilayah paling timur Pulau Flores tersebut, yakni Kec. Adonara Timur, Klubagolit, Witihama, Solor Timur, Tanjung Bunga, Larantuka, Adonara Barat, Solor Barat, Wulanggitang dan IlE Mandiri. Kabag Kesejahteraan Biro Bina Sosial Setda NTT, Fransiska Palan Bolen SH mengatakan sesuai laporan yang diterima dari Pemkab Flores Timur 5 Feb2005, terjadi peningkatan jumlah kasus dari 1.472 kasus menjadi 1.659 kasus. Penyakit menular ini menyebabkan 19 warga meninggal dunia dan 39 warga menjalani perawatan secara intensif di RSUD Larantuka. (Kompas, 2006).

Diare merupakan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan gizi, bakteri, keracunan makanan dan peradangan usus. Penyakit ini dapat menular melalui tinja yang mengandung kuman penyebab diare dan mencemari lingkungan, misalnya tanah, sungai, dan air sumur. Pada umumnya daerah yang rentan terhadap diare ini adalah daerah yang tidak mencukupi akan kebutuhan air bersih, seperti daerah pesisir pantai dan daerah yang kaya akan air tetapi air tersebut tidak mencukupi standar air bersih atau telah tercemari. (Jawets, 2001).

Diare disebut pula sebaga gastroenteritis (Kompas, 2005). Diare atau gastroenteritis (GE) adalah suatu infeksi usus yang menyebabkan keadaan feses bayi encer dan atau berair, dengan frekuensi lebih dari 3 kali perhari, dan kadang disertai muntah. Muntah dapat berlangsung singkat, namun diare bisa berlanjut sampai sepuluh hari.Pada banyak kasus, pengobatan tidak diperlukan. Bayi usia sampai enam bulan dengan diare dapat terlihat sangat sakit, akibat terlalu banyak cairan yang dikeluarkannya. Empat jenis klinis diare antara lain:

a)      Diare akut bercampur air (termasuk kolera) yang berlangsung selama beberapa jam/hari: bahaya utamanya adalah dehidrasi, juga penurunan berat badan jika tidak diberikan makan/minum

b)      Diare akut bercampur darah (disentri): bahaya utama adalah kerusakan usus halus (intestinum), sepsis (infeksi bakteri dalam darah) dan malnutrisi (kurang gizi), dan komplikasi lain termasuk dehidrasi.

c)      Diare persisten (berlangsung selama 14 hari atau lebih lama): bahaya utama adalah malnutrisi (kurang gizi) dan infeksi serius di luar usus halus, dehidrasi juga bisa terjadi.

d)     Diare dengan malnutrisi berat (marasmus atau kwashiorkor): bahaya utama adalah infeksi sistemik (menyeluruh) berat, dehidrasi, gagal jantung, serta defisiensi (kekurangan) vitamin dan mineral. (Sabrini, 2004).

Setidaknya ada dua mekanisme dasar terjadinya diare, yaitu pengeluaran cairan di usus yang berlebihan akibat toksin. Lebih dikenal dengan sebutan diare sekresi. Pada diare jenis ini dinding usus permukaannya tidak rusak dan absorbsi karbohidrat/lemak yang jelek. Lebih dikenal dengan sebutan diare osmotik. Pada jenis ini dinding usus mengalami kerusakan. Infeksi peyakit ini dikelompokkan dalam 2 jenis, yaitu penyakit ringan, karena dapat sembuh dengan sendirinya dan penyakit berat karena dapat menimbulkan kematian.

Faktor lingkungan  berperan penting dalam perkembangbiakan bakteri dan virus penyebab diare(Salmonella typhi) tersebut (Budiyanto, 2000 : 130). Penyakit gastroenteritis merupakan sindroma/infeksi usus, yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi, masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 12-48 jam atau lebih. Gejalanya biasanya berupa mual-mual dan muntah yang mereda dalam beberapa jam, kemudian diikuti dengan nyeri abdomen dan demam. Adapun pada kasus yang berat dapat berupa diare yang bercampur darah. Penderita sering sembuh dengan sendirinya dalam jangka waktu 1-5 hari, tetapi kadang-kadang dapat menjadi berat dimana terjadi gangguan keseimbangan elektrolit dan dehidrasi. Untuk menangani penyakit tersebut biasanya masyarakat memamfaatkan tanaman tradisional sebagai salah satu alternatif pengobatan disamping obat-obatan modern yang sudah banyak di pasaran, agar terhindar dari resistensi dan efek samping yang tidak diinginkan. Tanaman yang digunakan masyarakat dalam pengobatan penyakit ini biasa dikenal dengan “batang brotowali” (Budiyanto, 2000 : 130).

Brotowali yang dikenal sebagai tanaman obat ini berasal dari Asia Tenggara. Wilayah penyebarannya di Asia Tenggara cukup luas, meliputi wilayah Cina, Semenanjung Melayu, Filipina, dan Indonesia. Brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) merupakan tanaman merambat dan tumbuh dengan baik di hutan terbuka atau semak belukar di daerah tropis. Di Indonesia, tanaman ini dikenal dengan berbagai nama daerah, seperti andawali Sunda), antawali (Bali dan Nusa Tenggara), dan bratawali, antawali, putrowali atau daun gedel (Jawa). Di daerah lain, brotowali dikenal dengan nama putrawali atau daun gedel. Dalam bahasa Inggris brotowali disebut bitter grape, dan dalam bahasa Cina dikienal dengan nama sen jinteng. Rendaman batang brotowali dapat digunakan sebagai penghambat pertumbuhan Salmonella typhi, hal ini disebabkan pada batangan brotowali mengandung senyawa berberin yang secara farmakologi dapat bermamfaat sebagai obat diare. Karena mempunyai sifat analgenik menyebabkan brotowali dapat menghilangkan rasa sakit dan sifat antipiretikum yang berkhasiat dalam menurunkan panas. Batang brotowali banyak digunakan untuk mengobati sakit perut (diare) dan demam.

Tanaman Brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) merupakan salah satu dari sekian banyak tanaman obat yang  di Indonesia. Gejala penyakit ini adalah sedikit demam atau timbul mual, sakit kepala, mualnya diare yang hebat dengan beberapa lekosit dalam tinja tetapi jarang terdapat darah. Biasanya akan terjadi demam yang ringan tetapi hal ini akan sembuh sendirinya dalam 2-3 hari. Terdapat lesi-lesi peradangan usus halus dan usus besar.

Brotowali mengandung senyawa kimia yang berkhasiat mengobati berbagai penyakit, yaitu sakit perut, diare, demam, dan sakit kuning. Senyawa kimia ini terdapat di seluruh bagian mulai dari akar, batang sampai daun, dalam senyawa kimia yang terkandung dalam batang brotowali tersebut tercatat ada berbagai efek farmakologi yang menjadi faktor penyebab berkhasiatnya batang brotowali (Kresnady, 2003 : 3).

Menurut peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala daya antimikroba ekstrak batang brotowali terhadap E. Coli lebih besar dibandingkan dengan Staphylococcus Aureus. Disamping itu, ekstrak brotowali ini bersifat fungistatik terhadap jamur kapang (Trichophyton ajelloi) pada konsentrasi di atas 0,8 g/ml (Kresnady, 2003 : 8).

Berdasarkan uraian di atas diduga bahwa rendaman batang brotowali memiliki efek farmakologi terhadap Salmonella typhi yang merupakan salah satu penyebab infeksi gastroenteritis (diare). Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu studi tentang ”Rendaman Batang Brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) Sebagai Penghambat Pertumbuhan Bakteri Diare (Gastroenteritis) sebagai alternatif untuk pengobatan terhadap infeksi oleh bakteri Salmonella typhi,  mengingat sifat bakteri tersebut yang sangat berbahanya bagi masyarakat.

Studi ini bertujuan untuk membuktikan efek rendaman batang brotolawi sebagai penghambat pertumbuhan bakteri diare (Gastroenteritis) serta konsentrasi rendaman batang brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) yang paling efektif sebagai penghambat Salmonella typhidan penyebab diare (Gastroenteritis) secara aplikasi studi ini memberikan informasi pada masyarakat umum dan Departement Kesehatan khususnya bahwa batang brotowali (Tinospora cripa, L. Miers) dapat dimanfaatkan sebagai antiseptik alternatif untuk mengatasi penyakit diare (gastroenteritis). Adapun manfaat dari studi ini, secara teoritis memberikan informasi ilmiah tentang rendaman batang brotowali sebagai penghambat pertumbuhan bakteri diare (gastroenteritis).

METODE PENELITIAN

Adapun tahap pelaksanaan studi rendaman batang brotowali sebagai penghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare, yaitu : pembuatan suspensi Salmonella typhi, inokulasi Salmonella typhi. Sedangkan analisis data yang digunakan dalam studi ini meliputi uji t, yang kemudian dilanjutkan dengan uji normalitas/uji homogenitas.

Studi ini dilakukan di Laboratotium Biologi Universitas Muhammadiyah Malang dengan menggunakan sampel bakteri Salmonella typhi yang diambil secara acak sederhana. Alat-alat yang digunakan dalam studi ini yaitu beaker glass, jarum inokulasi, inkubator (37°), blender, tabung reaksi ukuran 10 cc, kompor gas, cawan petri ukuran 9 cm, rak tabung reaksi, erlenmeyer ukuran 500 ml, timbangan tripel beam, gelas ukur ukuran 100 ml, aluminium foil ukuran 100 cm, bunsen, hot plate magnetik stirrer, autoklaf, jangka sorong, enkats, pinset, spet ukur ukuran 10 ml, spatter, mikropipet. Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bakteri Salmonella typhi 3-7 jarum ose, batang brotowali, medium Mueler Hilton (MH) agar 450 ml, aquades steril 700 ml, kertas cakram whattman no. 45 (diameter 60 mm), ampicillin 10 mg, BaCl2 1% 0,05 ml, H2SO4 1% 9,95 ml, lidi, kapas, kertas label, tissue, spiritus.

Jumlah perlakuan P=10 (macam rendaman batang brotowali), sehingga variabel bebas dalam studi ini adalah konsentrasi rendaman batang brotowali (Tinospora crispa, L., Miers.) yaitu : 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%. Sedangkan variabel terikat dalam studi ini meliputi diameter daya hambat Salmonella typhi.

Sterilisasi alat dilakukan dengan autoklaf dengan suhu 121° C dengan tekanan 15 atm selama 15 menit.

Pelaksanaan studi ” Rendaman Batang Brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) ini adalah sebagai berikut :

Menyiapkan tabung reaksi sebanyak 3 buah dan suspensi bakteri Salmonella typhi, enkast 1 buah, biakan Salmonella typhi dan garam fisiologi. Masukkan suspensi dan biakan Salmonella typhi ke dalam enkast, dilanjutkan dengan mensuspensikan koloni biakan Salmonella typhi dalam tabung reaksi yang berisi garam fisiologi, selanjutnya disimpan dalam inkubator pada suhu 37° C selama 24 jam. Kemudian membandingkan suspensi tersebut dan larutan Mac Farland standar yang telah dibuat, jika suspensi terlalu keruh maka suspensi ditambahkan dengan garam fisiologi steril, sehingga menyerupai dengan larutan Mac Farland, apabila larutan terlalu encer ditambahkan bakteri. Setelah itu memasukkan media padat MH, suspensi Salmonella typhi, lidi, kapas, busen, mikro pipet, paper disk dan rendaman batang brotowali ke dalam enkast. Selanjutnya menyalakan api bunsen, yang kemudian dilanjutkan dengan mencelupkan ujung kapas ke dalam suspensi Salmonella typhi, kemudian diperas pada samping tabung reaksi secara perlahan. Setelah itu membuka cawan petri, yang kemudian menggoreskan kapas tersebut di atas media Mueler Hilton agar secara steaking yaitu penggoresan dengan arah zigzag. Kemudian meletakkan paper disk di bagian tengan atas media MH yang telah digoreskan bakteri . selanjutnya menetesi paper disk dengan rendaman batang brotowali menggunakan mikro pipet sebanyak 0,5 miu liter pada setiap paper disk. Kemudian menutup kembali cawan Petri dan diputar-putar pada api bunsen, selanjutnya mengeluarkannya dari enkast, kemudian dilanjutkan dengan membungkus cawan petri dengan kertas wrap, dilanjutkan dengan membungkusnya dengan kertas coklat. Kemudian meletakkannya ke dalam inkubator selama 24 jam pada suhu 34° C. Setelah 24 jam semua cawan petri dikeluarkan dari inkubator dan dilakukan pengukuran diameter daya hambat rendaman batang brotowali dengan menggunakan jangka sorong. Pengukuran berawal dari tepi daerah daya hambat sampai ke tepi daya hambat yang terpanjang lainnya. Satuan pengukuran yang digunakan adalah mm.

HASIL PENELITIAN

Pengamatan tingkat konsentrasi rendaman batang brotowali (Tinospora crispa, L., Miers.) terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi pada penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi rendaman batang brtowali yang digunakan, maka akan mempengaruhi penurunan Salmonella typhi dengan lebih tinggi pula, dan konsentrasi rendaman batang brotowali yang paling efektif untuk mengurangi pertumbuhan Salmonella typhi yaitu 100%, sebagaimana data hasil pengamatan tingkat konsentasi rendaman brotowali di bawah ini.

Tabel 1. Diameter Daya Hambat Bakteri Salmonella typhi Akibat Pemberian Berbagai Konsentrasi Rendaman Batang Brotowali (Tinospora cripa, L. Miers.) (mm).

Konsentrasi Rendaman Batang Brotowali Ulangan

Total Rerata
1 2 3
10% 0,85 0,82 0,88 2,55 0,85
20% 0,91 0,895 0,93 2,735 0,911
30% 0,93 0,94 0,95 2,82 0,94
40% 1,12 1,13 1,145 3,395 1,131
50% 1,315 1,405 1,31 4,03 1,34
60% 1,5 1,52 1,59 4,61 1,53
70% 1,7 1,695 1,595 4,99 1,66
80% 1,7 1,74 1,74 5,18 1,72
90% 1,895 1,92 1,95 5,765 1,92
100% 2,205 2,015 2,015 6,235 2,07
Jumlah 42,31 1,40

PEMBAHASAN

Kemampuan rendaman brotowali dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi, dikarenakan dalam fraksi rendaman batang brotowali terdapat senyawa aktif yaitu berberin. Berberin merupakan golongan terbesar dari fenol, dimana dalam Jawetz (1992), menyatakan fenol dan persenyawaan dari fenol merupakan unsur antikuman yang kuat pada konsentrasi yang biasa digunakan  (larutan air 1-2%), fenol dan derivatnya dapat menimbulkan denaturasi protein.

Volk dan Wheller (1993) menyatakan, bahwa fenol merupakan senyawa yang bersifat bakteriostatik atau bakterisidal tergantung dari konsentrasinya. Konsentrasi yang tinggi  dapat merusak membran sitoplasma secara total dan mengendapkan protein sel. Dalam konsentrasi 0,1-2% dapat merusak membran sitoplasma yang menyebabkan bocornya metabolit penting dan menginaktifkan sejumlah sistem enzim bakteri. Membran sitoplasma merupakan 8-10% bobot kering sel. Struktur ini terdiri dari fosfolipid dan protein. Fosfolipid ini merupakan srtuktur dasar dari membran sitoplasma. Fosfolipid terdiri dari bagian yang bersifat hidrofobik dan hidrofilik yang saling berdekataan sehingga membentuk 2 lapis.

Adanya berberin yang terdapat pada batang brotowali menyebabkan penyusunan utama membran sel yaitu ion Ca2+ (kalsium) kehilangan kemampuannya untuk mengangkut bahan-bahan terlarut ke dalam sitoplasma atau organel-organel sel, tanpa kehadiran ion ini membran sel akan akan menjadi bocor. Dimana bahan-bahan yang sudah diangkut ke dalam sitoplasma atau organel akan merembes ke luar. Fungsi kalsium pada membran ini adalah berperan mengikat bagian hidrofilik fosfolipid satu sama lain dengan gugusan dari molekul protein pada permukaan membran. Senyawa berberin  ini dalam struktur kimianya mempunyai gugus alkohol yang secara aktif berperan dalam menghambat Salmonella typhi.

Menurut Lay (1992) apabila terjadi pembengkakan membran sitoplasma akan menyebabkan terjadi plasmolisis yang menyebabkan keluarnya cairan sitoplasma dan kebocoran nutrient dari dalam sel bakteri. Kebocoran nutrien ini diawali dengan keluarnya berbagai komponen penting yaitu protein, asam nukleat dan lain-lain. Selain itu kerusakan pada membran sitoplasma dapat mencegah masuknya bahan-bahan penting ke dalam sel karena membran sitoplasma juga mengendalikan pengangkutan aktif ke dalam sel.

Adanya perbedaan pengaruh yang ditunjukkan dengan perbedaan diameter daya hambat dikarenakan adanya perbedaan konsentrasi yang digunakan sehingga kandungan zat aktif antibakteri juga berbeda. Konsentrasi yang meningkat diikuti dengan kandungan zat aktif yang semakin besar, sehingga kemampuan bakterisidal atau bakteriostatiknya semakin meningkat Pada perlakuan konsentrasi 100% menghasilkan rata-rata diameter daya hambat terbesar. Hal ini dapat dikatakan bahwa perlakuan konsentrasi 100% merupakan perlakuan terbaik dibandingkan dengan perlakuan 90% ke bawah. Pada konsentrasi rendaman batang brotowali 100% memiliki kandungan zat aktif berberin yang lebih besar sehingga kemampuannya menghambat bakteri Salmonella typhi juga lebih tinggi.

Sensitivitas bakteri Salmonella typhi terhadap ampicillin dikarenakan ampiccilin adalah antibiotik berspekturm luas, yang mengeluarkan efek bakteriostatis. Antibiotika ini menghambat sintesis protein dengan terikat pada sub unit ribosom 30s, dengan demikian mencegah penempelan asam amino yang membawa tRNA. Terapi antimikrobial dari infeksi Salmonella typhi adalah dengan ampicillin, trimetropim sulfametosazole. Resistensib obat berkali-kali ditransfer secara genetik oleh plasmid di antara bakteri enterik dan merupakan sebuah masalah penting dalam infeksi Salmonella typhi (Volk dan Wheller, 1993).    Brotowali mengandung banyak senyawa kimia yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Kandungan kimia berkhasiat obat terdapat di seluruh bagian tanaman, dari akar, batang, sampai daun. Batang brotowali mengandung senyawa antimikroba berberin. Berdasarkan sejumlah literatur, secara umum di dalam tanaman brotowali terkandung berbagai senyawa kimia, antara lain alkaloid, dammar lunak, pati, glikosida, pikroretosid, harsa, zat pahit pikroretin, tinokrisposid, berberin, palmatin, kolumbin, dan kaokulin. Berdasarkan berbagai senyawa yang terkandung dalam brotowali, dapat diketahui ada beberapa efek farmakologis dari brotowali (Tinospora crispa, L. Meirs), sehingga dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Brotowali dapat memberikan efek farmakologis, yaitu analgesik, anti-inflamasi, antikoagulan, tinikum, antiperiodikum, dan diuretikum. Sifat analgenik menyebabkan brotowali dapat menghilangkan rasa sakit. Sifat antipirektikum menyebabkan brotowali berkhasiat dalam menurunkan panas. Batang brotowali banyak digunakan untuk mengobati sakit perut (diare) dan demam. Semua bagian brotowali dari akar, batang, daun, dan bunganya terasa sangat pahit jika dimakan. Rasa pahit itu disebabkan oleh adanya senyawa berberin yang banyak terdapat di dalam batang brotowali.

Kuriharismah (dalam Arishinta, 2002), mengasumsikan bahwa berberin mempunyai mekanisme kerja yang sama dengan senyawan lain yang fungsinya sebagai antimikroba. Senyawa berberin mempunyai kemampuan bereaksi dengan protein, yang mengakibatkan terputusnya ikatan protein dengan fosfolipi, sehingga berpengaruh pada fungsi selaput sel. Pada bakteri gram negatif, transport dari beberapa nutrisi dibantu oleh ikatan protein yang terdapat pada ruang periplasmik. Protein ini berfungsi memindah substrat yang diikat ke dalam membran transport protein yang sesuai. Adapun mekanisme kerja berberin adalah mampu berikatan dengan protein pengikat. Protein pengikat ini bukan enzim tetapi mempunyai sifat mengikat suatu zat tertentu, protein ini dikenal dengan sebutan protein porin. Protein inilah yang mengikat berberin dibawa masuk oleh molekul pembawaya yang terikat pada membran sitoplasma.

Menurut Jawetz (2001) antibiotik yang berfungsi sebagai antibakteri mempunyai fungsi merusak protein dan fosfolipid sel-sel membran. Padahal seharusnya 50% dari membran sitoplasma berada dalam keadaan cair tetapi karena protein membran telah rusak akibat reaksi dengan flavonoid menyebabkan protein telah terputus dengan fosfolipit. Keadaan membran sitoplasma yang tidak memenuhi syarat akan berpengaruh dalam petumbuhan sel. Selain itu daya kerja flavonoid menyebabkan ketidakaktifan enzim-enzim serta kerusakan asam amino dalam sel protein dalam membra sel. Padahal membran sitoplasma atau membran sel terdiri dari lipida dan enzim-enzim yang berfungsi untuk gerakan aktivitas transport zat-zat yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup bakteri. Karena membran sel berada dalam kondisi tidak normal dan sekaligus berakibat pada rusaknya membran akibat daya aktivitas berberin, maka akan berakibat pada pertumbuhan sel bakteri Salmonella typhi atau kematian, sehingga mengakibatkan bakteri Salmonella typhi tidak dapat melangsungkan hidupanya, dikarenakan pengaruh pemberian rendaman batang brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) tersebut.

KESIMPULAN

Rendaman batang brotowali yang digunakan masyarakat tradisional sebagai obat diare terbukti memiliki efek menghambat pertumbuhan Salmonella typhi. Peningkatan konsentrasi 80%-100%, rendaman batang brotowali cenderung menyebabkan penurunan jumlah koloni Salmonella typhi sebagai bakteri penyebab diare (Gastroenteritis). Konsentrasi rendaman batang brotowali yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi adalah pada konsentrasi 100%.

UCAPAN TERIMA KASIH

Studi ini telah selesai dilaksanakan dalam waktu yang telah ditetapkan berkat bantuan dari berbagai pihak, sehingga penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Ibu Dra. Roimil Latifah, M. Si. MM., selaku Kepala Laboratorium Biologi yang telah memberikan saran, pemantapan dan pertimbangan yang berguna bagi penyelesaian PKMI ini;
  2. Ibu Dra. Elly Purwanti, M.P., selaku Dosen Mata Kuliah Biologi Umum yang telah banyak memberikan ilmunya; dan
  3. Segenap teknisi Laboratorium Biologi, yang telah memberikan bantuan sehingga studi mata kuliah Biologi ini dapat terselesaikan.
  4. Husamah, Ketua Umum Forum Kajian Ilmiah Mahasiswa Biologi (FKIMB) yang telah meminjamkan berbagai literatur serta mereview tulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 1994. Penatalaksanaan Dan  Pencegahan Diare Akut. Jakarta: EGC.

Anonymous. 2003. Bakteriologi Medik. Malang: Bayu Media

Budiyanto, MAK. 2000. Mikrobiologi Terapan. Malang: UMM Press.

Jawetz., et al. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Rajawali Press.

Jawetz, et al. 2001. Mikrobiologi Kedokteran. Surabaya: Salemba Medical

Kompas. 2005. Konsultasi: Diare Berkepanjangan. www.kompas.com/kesehatan/news/0503/21/084059.htm. Diakses tanggal 1 Desember 2006

Kompas. 2006. Setiap Tahun 100.000 Anak Mati karena Diare di Indonesia.     www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0611/26/194504.htm. Diakses tanggal 1 Desember 2006

Kresnadi, Budi. 2003. Khasiat dan Manfaat Brotowali. Jakarta: Agromedia

Lay, BW., dan Hastowo., S. 1992. Mikrobiologi. Jakarta: Rajawali Press.

Majalah Poultry. 2004. Mengamati Cara Kerja Dan Mekanisme Resistensi Antibiotik.http//www.poultryindonesia.com/modules.php?name=News&file=print&sid=398. Diakses tanggal 3 Nopember 2006

Rofieq, A., dan Nur Widodo. 2002. Pengantar dan Metodelogi Penelitian FKIP UMM. Malang : UMM Press

Sarbini. 2004 . Diare .http// http://www.mer-c.org/mc/ina/ikes/ikes_0304_diare.htm Diakses tanggal 3 Nopember 2006

Volk dan Wheller. 1993. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Erlangga.

About these ads

05/05/2010 - Posted by | Contoh PKM

6 Komentar »

  1. hasil penelitian yang bermanfaat bagi semua orang

    Komentar oleh arfiyanti purnama sari | 05/31/2010

  2. mas saran nya mana???
    pengen nglanjutin plenelitian mas….

    Komentar oleh lukman | 11/14/2010

  3. bisa minta alamat emailnya mas?????
    kebetulan skripsi saya memakai batang brotowali juga,,,,,mungkin kita bisa diskusi?

    Komentar oleh mayang | 11/28/2010

  4. tolong kasih tau dong cara rendaman batang brtowolinya. makasih ya..

    Komentar oleh ummu rafa | 02/18/2011

  5. Can I get the same paper in English ?

    Komentar oleh Sunita Shirvalkar | 11/01/2011

  6. informasi yang bagus …

    Komentar oleh obat herbal alami | 01/21/2012


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 943 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: