BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

KETAHANAN PANGAN DAN TEKNOLOGI PRODUKTIVITAS MENUJU KEMANDIRIAN PERTANIAN INDONESIA

Oleh: Dr. Jaegopal Hutapea dan Ali Zum Mashar, SP.

Abstrak

Dengan penduduk 216 juta jiwa, Indonesia saat ini membutuhkan bahan pangan pokok sekurang-kurangnya 53 juta ton beras, 12,5 juta ton jagung dan 3,0 juta ton kedelai. Jika tidak diimbangi dengan laju pertumbuhan produksi pangan dalam negeri secara signifikan, dapat menyebabkan ketahanan pangan nasional rendah. Meskipun upaya peningkatan produksi pangan di dalam negeri saat ini terus dilakukan, namun laju peningkatannya masih belum mampu mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri karena produktivitas tanaman pangan serta peningkatan luas areal yang stagnan bahkan cenderung menurun.

Untuk meningkatkan produksi pangan nasional, dapat dilakukan peningkatan produktivitas dengan menerapkan teknologi produksi antara lain melalui penggunaan pupuk organik/hayati. Pupuk tersebut dapat mengembalikan kesuburan lahan melalui jasa mikroba yang menguntungkan. Sejalan dengan itu, juga perlu dilakukan perluasan lahan pertanian antara lain melalui pengembangan kawasan transmigrasi.

Pendahuluan

Pangan adalah kebutuhan yang paling mendasar dari suatu bangsa. Banyak contoh negara dengan sumber ekonomi cukup memadai tetapi mengalami kehancuran karena tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduknya. Sejarah juga menunjukkan bahwa strategi pangan banyak digunakan untuk menguasai pertahanan musuh. Dengan adanya ketergantungan pangan, suatu bangsa akan sulit lepas dari cengkraman penjajah/musuh. Dengan demikian upaya untuk mencapai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional bukan hanya dipandang dari sisi untung rugi ekonomi saja tetapi harus disadari sebagai bagian yang mendasar bagi ketahanan nasional yang harus dilindungi.

Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 216 juta jiwa dengan angka pertumbuhan 1.7 % per tahun. Angka tersebut mengindikasikan besarnya bahan pangan yang harus tersedia. Kebutuhan yang besar jika tidak diimbangi peningkatan produksi pangan justru menghadapi masalah bahaya latent yaitu laju peningkatan produksi di dalam negeri yang terus menurun. Sudah pasti jika tidak ada upaya untuk meningkatkan produksi pangan akan menimbulkan masalah antara kebutuhan dan ketersediaan dengan kesenjangan semakin melebar.

Keragaan laju peningkatan produksi tiga komoditi pangan nasional padi, jagung dan kedelai tersebut sebagaimana tampak dalam tabel 1.

Keragaan di atas menunjukkan bahwa laju pertumbuhan produksi pangan nasional rata-rata negatif dan cenderung menurun, sedangkan laju pertumbuhan penduduk selalu positif yang berarti kebutuhan terus meningkat. Keragaan total produksi dan kebutuhan nasional dari tahun ke tahun pada ketiga komoditas pangan utama di atas menunjukkan kesenjangan yang terus melebar; khusus pada kedelai sangat memprihatinkan. Kesenjangan yang terus meningkat ini jika terus di biarkan konsekwensinya adalah peningkatan jumlah impor bahan pangan yang semakin besar, dan kita semakin tergantung pada negara asing.

Impor beras yang meningkat pesat terjadi pada tahun 1996 dan puncaknya pada tahun 1998 yang mencapai 5,8 juta ton. Kondisi ini mewarnai krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 dimana produksi beras nasional turun yang antara lain karena kekeringan panjang.

Pada komoditi jagung meskipun pada tahun 1996 terjadi penurunan produksi, namun pada tahun 1998 justru terjadi surplus (ekspor) meskipun hanya kecil. Hal ini diduga karena banyak masyarakat yang memanfaatkan lahan tidur untuk komoditas jagung. Namun pada tahun-tahun berikutnya sampai saat ini produksi jagung cenderung turun dan impor semakin besar (lebih dari 2 juta ton/tahun).

Produksi kedelai nasional tampak mengalami kemunduran yang sangat memprihatinkan. Sejak tahun 2000, kondisi tersebut semakin parah, dimana impor kedelai semakin besar. Hal ini terjadi antara lain karena membanjirnya Impor akibat fasilitas GSM 102, kredit Impor dan “Triple C” dari negara importir yang dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh importir kedelai Indonesia, disisi lain produktivitas kedelai nasional yang rendah dan biaya produksi semakin tinggi di dalam negeri. Akibat kebijakan di atas harga kedelai impor semakin rendah sehingga petani kedelai semakin terpuruk dan enggan untuk menanam kedelai. Dampaknya pada harga kedelai petani tidak bisa bersaing dengan membanjirnya kedelai Impor dan petani kedelai tidak terlindungi.

Melihat kenyataan tersebut seakan kita tidak percaya sebagai negara agraris yang mengandalkan pertanian sebagai tumpuan kehidupan bagi sebagian besar penduduknya tetapi pengimpor pangan yang cukup besar. Hal ini akan menjadi hambatan dalam pembangunan dan menjadi tantangan yang lebih besar dalam mewujudkan kemandirian pangan bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu diperlukan langkah kerja yang serius untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

Permasalahan Produksi Dan Upaya Mengatasi Masalah Pangan Nasional

Rendahnya laju peningkatan produksi pangan dan terus menurunnya produksi di Indonesia antara lain disebabkan oleh: (1) Produktivitas tanaman pangan yang masih rendah dan terus menurun; (2) Peningkatan luas areal penanaman-panen yang stagnan bahkan terus menurun khususnya di lahan pertanian pangan produktif di pulau Jawa. Kombinasi kedua faktor di atas memastikan laju pertumbuhan produksi dari tahun ke tahun yang cenderung terus menurun. Untuk mengatasi dua permasalahan teknis yang mendasar tersebut perlu dilakukan upaya-upaya khusus dalam pembangunan pertanian pangan khususnya dalam kerangka program ketahanan pangan nasional.

Upaya Meningkatkan Produktivitas Tanaman Pangan

Rata-rata produktivitas tanaman pangan nasional masih rendah. Rata-rata produktivitas padi adalah 4,4 ton/ha (Purba S dan Las, 2002) jagung 3,2 ton/ha dan kedelai 1,19 ton/ha. Jika dibanding dengan negara produsen pangan lain di dunia khususnya beras, produktivitas padi di Indonesia ada pada peringkat ke 29. Australia memiliki produktivitas rata-rata 9,5 ton/ha, Jepang 6,65 ton/ha dan Cina 6,35 ton/ha ( FAO, 1993).

Faktor dominan penyebab rendahnya produktivitas tanaman pangan adalah (a) Penerapan teknologi budidaya di lapangan yang masih rendah; (b)Tingkat kesuburan lahan yang terus menurun (Adiningsih, S, dkk., 1994), (c) Eksplorasi potensi genetik tanaman yang masih belum optimal (Guedev S Kush, 2002).

Rendahnya penerapan teknologi budidaya tampak dari besarnya kesenjangan potensi produksi dari hasil penelitian dengan hasil di lapangan yang diperoleh oleh petani. Hal ini disebabkan karena pemahaman dan penguasaan penerapan paket teknologi baru yang kurang dapat dipahami oleh petani secara utuh sehingga penerapan teknologinya sepotong-sepotong (Mashar, 2000). Seperti penggunaan pupuk yang tidak tepat, bibit unggul dan cara pemeliharaan yang belum optimal diterapkan petani belum optimal karena lemahnya sosialisasi teknologi, sistem pembinaan serta lemahnya modal usaha petani itu sendiri. Selain itu juga karena cara budidaya petani yang menerapkan budidaya konvensional dan kurang inovatif seperti kecenderungan menggunakan input pupuk kimia yang terus menerus, tidak menggunakan pergiliran tanaman, kehilangan pasca panen yang masih tinggi 15 – 20 % dan memakai air irigasi yang tidak efisien. Akibatnya antara lain berdampak pada rendahnya produktivitas yang mengancam kelangsungan usaha tani dan daya saing di pasaran terus menurun. Rendahnya produktivitas dan daya saing komoditi tanaman pangan yang diusahakan menyebabkan turunnya minat petani untuk mengembangkan usaha budidaya pangannya, sehingga dalam skala luas mempengaruhi produksi nasional.

Untuk mengatasi permasalahan di atas pemerintah harus memberikan subsidi teknologi kepada petani dan melibatkan stakeholder dalam melakukan percepatan perubahan (Saragih, 2003). Subsidi teknologi yang dimaksud adalah adanya modal bagi petani untuk memperoleh atau dapat membeli teknologi produktivitas dan pengawalannya sehingga teknologi budidaya dapat dikuasai secara utuh dan efisien sampai tahap pasca panennya. Sebagai contoh petani dapat memperoleh dan penerapan teknologi produktivitas organik hayati (misal : Bio P 2000 Z), benih/pupuk bermutu dan mekanisasi pasca panen dan sekaligus pengawalan pendampingannya.

Tingkat kesuburan lahan pertanian produktif terus menurun; revolusi hijau dengan mengandalkan pupuk dan pestisida memiliki dampak negatif pada kesuburan tanah yang berkelanjutan dan terjadinya mutasi hama dan pathogen yang tidak diinginkan. Sebagai contoh lahan yang terus dipupuk dengan Urea (N) cenderung menampakkan respon kesuburan tanaman seketika, tetapi berdampak pada cepat habisnya bahan organik tanah karena memacu berkembangnya dekomposer dan bahan organik sebagai sumber makanan mikroba lain habis (< 1%). Pemakaian pupuk kimia, alkali dan pestisida yang terus menerus menyebabkan tumpukan residu yang melebihi daya dukung lingkungan yang jika tidak terurai akan menjadi “racun tanah” dan tanah menjadi “Sakit”. Akibatnya disamping hilangnya mikroba pengendali keseimbangan daya dukung kesuburan tanah, ketidak-seimbangan mineral dan munculnya mutan-mutan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang kontra produktif. Di lahan sawah/irigasi dengan berbagai upaya program revolusi hijau yang telah ada tidak lagi memberikan kontribusi pada peningkatan produktivitas karena telah mencapai titik jenuh (Levelling Off) dan produktivitas yang terjadi justru cenderung menurun.

Upaya yang harus dilakukan adalah melakukan Soil Management untuk mengembali-kan kesuburan tanah dengan memasukkan berbagai ragam mikroba pengendali yang mempercepat keseimbangan alami dan membangun bahan organik tanah, kemudian diikuti dengan pemupukan dengan jenis dan jumlah yang tepat dan berimbang serta teknik pengolahan tanah yang tepat. Telah diketahui bahwa mikro-organisme unggul berguna dapat diintroduksikan ke tanah dan dapat diberdayakan agar mereka berfungsi mengendalikan keseimbangan kesuburan tanah sebagaimana mestinya. Selain itu, sekumpulan mikro-organisme diketahui menghuni permukaan daun dan ranting. Sebagian dari mereka ada yang hidup mandiri, bahkan dapat menguntungkan tanaman (Mashar, 2000). Prinsip-prinsip hayati yang demikian telah diungkapkan dalam kaidah-kaidah penerapan pupuk hayati (misal : Bio P 2000 Z).

Eksplorasi potensi genetik tanaman yang masih belum optimal tampak pada kesenjangan hasil petani dan hasil produktivitas di luar negeri atau hasil dalam penelitian. Dalam hal ini teknologi pemuliaan telah mengalami kemajuan yang cukup berarti dalam menciptakan berbagai varietas unggul berpotensi produksi tinggi. Meskipun upaya breeding modern, teknologi transgenik dan hibrida dirancang agar tanaman yang dikehendaki memiliki kemampuan genetik produksi tinggi (Gurdev S Kush, 2002), tetapi jika dalam menerapkannya di lapangan asal-asalan, maka performa keunggulan genetiknya tidak nampak. Hasil penggunaan varietas unggul di lapangan seringkali masih jauh dari harapan. Penyebabnya adalah masih belum dipahaminya teknik budidaya sehingga hasil yang didapat belum menyamai potensinya, apalagi melebihi.

Untuk mendapatkan performa hasil maksimal dari tanaman unggul baru yang diharapkan memerlukan persyaratan-persyaratan khusus “Presisi” dalam budidayanya seperti kesuburan lahan, pemupukan, mengamankan dari OPT (Anonim, 2003) dan/atau perlakuan spesifik lainnya. Pada kenyataannya baik tanaman unggul seperti padi VUB, Hibrida dan PTB; dan kedelai serta Jagung hibrida akan mampu berproduksi tinggi jika pengawalan manajemen budidayanya dipenuhi dengan baik, tetapi jika tidak justru terjadi sebaliknya. Hasilnya lebih rendah dari varietas lokal. Hal ini berarti bakal calon penerapan varietas unggul berproduktivitas tinggi harus dilakukan pengawalan dan manajemen teknologi penyerta dengan baik dan diterapkan secara paripurna. Untuk hal tersebut petani harus diberikan dampingan dan memanejemen budidaya secara intensif.

Upaya Menambah Perluasan Lahan Pertanian Baru

Sulitnya melakukan peningkatan produksi pangan nasional antara lain karena pengembangan lahan pertanian pangan baru tidak seimbang dengan konversi lahan pertanian produktif yang berubah menjadi fungsi lain seperti permukiman. Lahan irigasi Indonesia sebesar 10.794.221 hektar telah menyumbangkan produksi padi sebesar 48.201.136 ton dan 50 %-nya lebih disumbang dari pulau Jawa (BPS, 2000). Akan tetapi mengingat padatnya penduduk di pulau Jawa keberadaan lahan tanaman pangan tersebut terus mengalami degradasi seiring meningkatnya kebutuhan pemukiman dan pilihan pada komoditi yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi seperti hortikultura. Jika tidak ada upaya khusus untuk meningkatkan produktivitas secara nyata dan/atau membuka areal baru pertanian pangan sudah pasti produksi pangan dalam negeri tidak akan mampu mencukupi kebutuhan pangan nasional.

Dari sisi perluasan areal lahan tanaman pangan ini upaya yang dapat ditempuh adalah: (1) Memanfaatkan lahan lebak dan pasang surut termasuk di kawasan pasang surut (Alihamsyah, dkk, 2002) (2) Mengoptimalkan lahan tidur dan lahan tidak produktif di pulau Jawa. Kedua pilihan di atas mutlak harus di barengi dengan menerapkan teknologi produktivitas mengingat sebagian besar lahan tersebut tidak subur untuk tanaman pangan.

Luas lahan pasang surut dan Lebak di Indonesia diperkirakan mencapai 20,19 juta hektar dan sekitar 9,5 juta hektar berpotensi untuk pertanian serta 4,2 juta hektar telah di reklamasi untuk pertanian (Ananto, E.,2002). Memanfaatkan lahan lebak dan Pasang Surut dipandang sebagai peluang terobosan untuk memacu produksi meskipun disadari bahwa produktivitas di lahan tersebut masih rendah. Produktivitas rata-rata tanaman pangan padi, Jagung dan Kedelai di lahan lebak/pasang surut dengan penerapan teknologi konvensional hasilnya masih rendah yaitu : secara berturut turut sekitar 3,5 ton/ha; 2,8 ton/ha dan 0,8 ton/ha. Kendala utama pengembang di lahan ini adalah keragaman sifat fisiko-kimia seperti pH yang rendah, kesuburan rendah, keracunan tanah dan kendala Bio fisik seperti pertumbuhan gulma yang pesat, OPT dan cekaman Air (Moeljopawiro, S., 2002)

Ditemukannya teknologi baru (misalnya Bio P 2000 Z) dengan memanfaatkan mikroba penyubur dan pengendali kesuburan alami tanah di lahan lebak dan pasang surut memberikan bukti bahwa produktivitas tanaman pangan tersebut mampu lebih tinggi dibanding produktivitas konvensional di lahan subur atau produktivitas rata-rata nasional yaitu: 5,5 – 8 ton/ha padi; 2,5 – 3,5 ton/ha kedelai dan 5 – 8 ton/ha jagung JPK). Ternyata dengan sistem demikian masalah tersumbatnya produksi komoditi pertanian dapat dipecahkan. Efek mikroba memiliki manfaat yang besar dalam mengendalikan lingkungan mikro tumbuh kembang tanaman yang secara sinergi memberikan manfaat: (1) diredamnya faktor penghambat tumbuh kembang tanaman yang dijumpai dalam tanah termasuk menetralkan kemasaman lahan, (2) adanya produksi senyawa bio-aktif seperti enzim, hormon, senyawa organik, dan energi kinetik yang memacu metabolisme tumbuh kembang akar dan bagian atas tanaman (3) pasok dan penyerapan hara oleh akar makin efesien, lancar, dan berimbang, (4) ketahanan internal terhadap hama dan penyakit meningkat. Budidaya dengan menerapkan teknologi ini secara baik di lahan jenis tersebut mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi sehingga usaha tani pangan di lahan tersebut akan dapat bersaing. Menjadikan lahan lebak dan pasang surut untuk usaha pertanian harus didukung dengan teknologi dan infrastruktur yang memadai sehingga luasan lahan ini dapat menjadi pendukung dan buffer untuk peningkatan produksi pangan dan swasembada.

Lahan kering di Indonesia sebesar 11 juta hektar yang sebagian besar berupa lahan tidur dan lahan marginal sehingga tidak produktif untuk tanaman pangan. Di Pulau Jawa yang padat penduduk, rata-rata pemilikan lahan usaha tani berkisar hanya 0,2 ha/KK petani. Namun, banyak pula lahan tidur yang terlantar. Ada 300.000 ha lahan kering terbengkelai di Pulau Jawa dari kawasan hutan yang menjadi tanah kosong terlantar. Masyarakat sekitar hutan dengan desakan ekonomi dan tuntutan lapangan kerja tidak ada pilihan lain untuk memanfaatkan lahan-lahan kritis dan lahan kering untuk usaha tani pangan seperti jagung, padi huma dan kedelai serta kacang tanah. Secara alamiah hal ini membantu penambahan luas lahan pertanian pangan, meskipun disadari bahwa produktivitas di lahan tersebut masih rendah, seperti jagung 2,5 – 3,5 ton/ha dan padi huma 1,5 ton/ha dan kedelai 0,6 – 1,1 ton/ha, tetapi pemanfaatannya berdampak positif bagi peningkatan produksi pangan.

Melihat kenyataan di atas maka solusi terbaik adalah: (1) pemerintah sebaiknya memberikan ijin legal atas hak pengelolaan lahan yang telah diusahahan petani yaitu semacam HGU untuk usaha produktif usaha tani tanaman pangan sehingga petani dapat memberikan kontribusi berupa pajak atas usaha dan pemanfaatan lahan tersebut, (2) memberikan bimbingan teknologi budidaya khususnya untuk menerapkan teknologi organik dan Bio/hayati guna meningkatkan kesuburan lahan dan menjamin usaha tani yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dan (3) Melibatkan stakeholder dan swasta yang memiliki komitmen menunjang dalam sistem Agribisnis tanaman pangan sehingga akan menjamin kepastian pasar, Sarana Input teknologi produktivitas dan nilai tambah dari usaha tani terpadunya. Pengelolaan lahan kering untuk pertanian dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi produktivitas organik agar memberikan kontribusi yang nyata bagi peningkatan produksi pangan dan kesejahteraan masyarakat. Sebagai contoh jika 150.000 ha lahan ini digunakan untuk budidaya Jagung jika dengan tambahan teknologi produktivitas organik dapat menghasilkan rata-rata 6,5 ton/ha yang dilakukan dengan 2 kali MT maka akan terjadi penambahan produksi sebesar: 1,95 juta ton jagung, berarti akan mensubstitusi lebih dari 60% impor Jagung. Multiple effek dari usaha tani tanaman pangan ini sangat berarti dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar dan bagi kepentingan nasional.

Mencapai Swasembada Pangan 2003 – 2010 Untuk Mewujudkan Kemandirian Dan Ketahanan Pangan Nasional

Membangun Ketahanan pangan berbasis Agribisnis pangan rakyat di Indonesia perlu mendapatkan perhatian serius. Pada tahun 1984 swasembada pangan pernah tercapai yang diukir sebagai prestasi gemilang saat itu, namun tahun-tahun selanjutnya semakin merosot sehingga upaya-upaya mempertahankan dan mencukupi kebutuhan pangan nasional semakin terancam. Proyek pembukaan lahan pertanian sejuta hektar lahan gambut di Kalimantan Tengah, implementasi BIMAS, INSUS, SUPRA INSUS; tampaknya tidak memberikan manfaat bahkan dalam dasawarsa terakhir kita terjebak dalam kesejangan pangan dan dengan produksi pangan nasional semakin terancam dan impor pangan dijadikan sebagai solusi instan. Seharusnyalah dibangun kembali kerangka pembangunan pertanian berkerakyatan dan berorientasi kemandirian dan kesejahteraan yang merata di dalam sistem agribisnis yang terpadu. Masalah penyediaan pangan untuk penduduk harus dipandang secara utuh, bukan sekedar dinilai secara untung rugi saja tetapi lebih jauh dicermati pada aspek politik, dan sosialnya karena di dalam pandangan nasional ketahanan pangan harus merupakan bagian dari ketahanan nasional.

Menempatkan pangan sebagai bagian menempatkan kepentingan rakyat, bangsa dan negara serta rasa nasionalisme untuk melindungi, mencintai dan memperbaiki produksi pangan lokal harus terus dikembang-majukan. Pertanian pangan termasuk di kawasan transmigrasi hendaknya jangan dipandang sebagai lahan untuk menyerap tenaga kerja atau petani dikondisikan untuk terus memberikan subsidi bagi pertumbuhan ekonomi sektor lain dengan tekanan nilai jual hasil yang harus rendah dan biaya sarana produksi terus melambung. Tetapi seharusnya petani pangan mendapatkan prioritas perlindungan oleh pemerintah melalui harga jual dan subsidi produksi karena petani membawa amanah bagi ketahanan pangan, petani pangan perlu mendapatkan kesejahteraan yang layak. Dalam hal ini adalah wajar jika pemerintah berpihak kepada petani dan pelaku produksi pertanian pangan karena merupakan golongan terbesar dari masyarakat Indonesia .

Kebijakan Impor pangan yang menonjol sebagai program instant untuk mengatasi kekurangan produksi justru membuat petani semakin terpuruk dan tidak berdaya atas sistem pembangunan ketahanan pangan yang tidak tegas. Akibat over suplai pangan dari impor seringkali memaksa harga jual hasil panen petani menjadi rendah tidak sebanding dengan biaya produksinya sehingga petani terus menanggung kerugian. Hal ini menjadikan bertani pangan tidak menarik lagi bagi petani dan memilih profesi lain di luar pertanian, sehingga ketahanan pangan nasional mejadi rapuh.

Melihat kondisi saat ini dan trend produksi pangan yang semakin tergantung impor dan bergesernya pola konsumsi masyarakat maka untuk mencapai kemandirian pangan ke depan harus dilakukan melalui upaya-upaya terpadu secara terkonsentrasi pada peningkatan produksi pangan nasional yang terencana mulai “presisi” di sektor hulu – proses (on farm) dan hilirnya. Yang perlu ditekankan adalah: peningkatan produktivitas dan penerapan teknologi bio/hayati organik, perluasan areal pertanian pangan dan optimalisasi pemberdayaan sumber daya pendukung lokalnya, kebijakan tataniaga pangan dan pembatasan impor pangan, pemberian kredit produksi dan subsidi bagi petani pangan, pemacuan kawasan sentra produksi dan ketersediaan silo untuk stock pangan sampai tingkat terkecil dalam mencapai swasembada pangan di setiap daerah. Untuk itu pemacuan peningkatan produksi pangan nasional harus ditunjang dengan kesiapan dana, penyediaan lahan, teknologi, masyarakat dan infrastrukturnya yang dijadikan sebagai kebijakan ketahanan pangan nasional.

Padi

Dalam kurun waktu satu dasa warsa ke depan Indonesia harus mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan bagi masyarakat-nya. Tabel 2 menggambarkan keragaan pemacuan produksi dan pengurangan impor padi yang dipandang rasional.

Dengan asumsi pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun 1,5 % dan impor beras sekitar 1,5 – 2 juta ton pada tahun 2003 dan produksi dalam negeri sekitar 52 juta ton, maka untuk mencapai swasembada pada tahun 2010 diperlukan trend peningkatan produksi sebesar 1,8 – 2,1 % pertahun. Peningkatan ini sangat rasional dan dapat dilakukan dengan melihat potensi produk-tivitas yang dapat ditingkatkan dan potensi ketersediaan lahan baru yang dapat dibuka seperti lahan pasang surut, lebak dan lahan kering untuk padi (Suprihatno, dkk, 1999; Irianto, Gatot, dkk., 2002).

Jagung

Pada tahun 2002 impor jagung mencapai 2,2 juta ton dan sejak tahun 2000 pertumbuhan produksinya menunjukkan trend yang cenderung negatif. Melihat potensi yang ada bahwa hal upaya memacu produksi jagung dalam 10 tahun kedepan masih dapat dilakukan, bahkan sekalipun untuk dapat mencapai surplus (ekspor). Dengan menciptakan tingkat pertumbuhan produksi 2 % sampai 6,5 %per tahun maka pada tahun 2010 Indonesia akan dapat mengekspor jagung. Hal ini sangat rasional untuk dapat diwujudkan dan dicapai mengingat masih banyak lahan tidur dan lahan kering potensial yang dapat dimanfaatkan secara optimal untuk dapat meningkatkan produksi jagung. Peluang penerapan teknologi produktivitas Bio hayati organic dan penerapan benih hibrida untuk meningkatkan produktivitas dari rata-rata 3,5 ton/ha menjadi lebih dari 6,5 ton/ha di lahan tersebut masih sangat rasional apalagi agribisnis jagung telah didukung dengan tersedia dan kesiapan stakeholder dari hulu sampai hilirnya.

Kedelai

Upaya mendongkrak produksi kedelai memang berat mengingat ada sekitar 70 % kebutuhan kedelai dipenuhi dari impor. Terus membanjirnya impor kedelai tahun 2000 memiliki dampak yang tragis bagi petani kedelai dan untuk dapat mencapai imbangan impor harus ada perlakuan khusus dengan mengembalikan kepercayaan petani kembali bertanam kedelai. Upaya perimbangan impor dan pertumbuhan produksi kedelai jika produksi dapat terus ditingkatkan secara linear dari 13 % di tahun 2003 terus tumbuh meningkat hingga 20 % pada tahun 2010. Selama dasawarsa ke depan (2003 – 2013), yang rasional dilakukan adalah menekan impor dengan substitusi dari produksi dalam negeri sampai tinggal 10 – 20 % impor. Hal ini relevan dengan kondisi saat ini dan dapat terjadi jika ada pengaturan tata niaga untuk kepastian harga yang layak saat petani panen raya dan menciptakan produktivitas kedelai yang tinggi sehingga menurunkan biaya produksinya per satuan hasil.

Menerapkan kebijakan tata niaga kedelai, pembatasan impor (tarif bea masuk) dan insentif/subsidi bagi petani produsen dipandang perlu pada komoditas ini karena merupakan komoditi hajat hidup orang banyak (Inkopti, 2001), jika memang keputusan kemandirian pangan sebagai keputusan politik untuk ketahanan pangan. Persoalan teknologi produktivitas kedelai dan lahan sebenarnya bukan lagi sebagai permasalahannya, hanya saja jika petani tidak diberikan subsidi teknologi, produktivitasnya tetap rendah (< 1,2 ton/ha) dan biaya produksi per satuan produk menjadi tinggi sehingga ke depannya tidak dapat bersaing dipasaran bebas. Upaya ini perlu dilakukan dengan dengan menerapkan kebijakan yang simultan untuk merangsang pertumbuhan tinggi baik dengan melibatkan stakeholder pelaku bisnis kedelai dari hulu hingga hilir, teknologi, petani, perbankan dan pemerintah.

Harus diciptakan kondisi yang kondusif untuk memberikan perlindungan pada petani. Menciptakan dan mewujudkan kemandirian pangan nasional agar lebih ditekankan pada peran petani serta stakeholder yang mengawal sistem produksi dari keterjaminan penyediaan teknologi, sarana produksi hingga industri hilirnya. Fasilitas kebijakan yang memberikan kemudahan petani pangan mendapatkan subsidi teknologi, mekanisasi dan fasilitasi penunjang budidaya (seperti infrastruktur untuk pertanian seperti irigasi dan jalan, dan kredit produksi), perlindungan pasar serta kebijakan impor terbatas diperlukan untuk kembali menggairahkan pertanian pangan. Dalam hal ini perlu adanya rencana dan pedoman yang jelas dan sistematis sebagai komitmen bagi stakeholder khususnya dari pemerintah melalui Departemen Pertanian dan departemen terkait dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional yang tangguh sebagai keputusan nasional yang didukung oleh pemerintah daerah sebagai pelaksana di lapangan.

Upaya menciptakan kemandirian pangan dengan mengembangkan produksi sumber pangan alternatif substitusi pangan impor dilakukan seiring dengan pemacuan tiga komoditi pangan utama di atas. Sumber pangan karbohidrat yang dapat dimanfaatkan untuk substitusi pangan impor seperti kentang, jagung putih dan umbi-umbian. Mengembangkan sumber pangan alternatif ini justru memiliki nilai ekonomis tinggi karena disamping produktivitas per hektarnya tinggi, pangan tersebut sebagai bahan baku industri. Dengan keragaman sumber bahan pangan yang dikonsumsi dan dapat diproduksi di dalam negeri diharapkan dapat menekan impor pangan secara nyata dan mengurangi ketergantungan pangan dari luar negeri sehingga ketahanan dan kemandirian pangan nasional semakin mantap.

Peran Teknologi Produktivitas Organik Dalam Menunjang Ketahanan Pangan Yang Berkelanjutan

Subsidi teknologi yang menjadi bagian penting dari upaya menciptakan ketahanan pangan yang tangguh, harus mengutamakan teknologi produktivitas yang ramah lingkungan. Teknologi tersebut harus telah terbukti memberikan kontribusi yang nyata bagi peningkatan produktivitas dan teruji bukan hanya untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan tetapi juga mampu menjaga kelestarian produksi dan ramah lingkungan. Disamping itu teknologi yang diterapkan harus bersifat sederhana, mudah dimengerti dan dilaksanakan petani sehingga dapat diterapkan di lapangan secara utuh dan memiliki kawalan/pendampingan di lapangan untuk menjamin keberhasilannya.

Sebagai contoh teknologi pupuk hayati Bio P 2000 Z yang diramu dari kumpulan mikro-organisme indegenus terseleksi bersifat unggul berguna yang dikondisikan agar dapat hidup harmonis bersama saling bersinergi dengan kultur mikro-organisme komersial serta dibekali nutrisi dan unsur hara mikro dan makro yang berguna bagi mikroba dan komoditas budidaya. Sekumpulan mikro-organisme unggul berguna dikemas dalam pupuk hayati Bio Perforasi terdiri dari dekomposer (Hetrotrop, Putrefaksi), pelarut mineral dan phospat, fiksasi nitrogen, Autotrop (fotosintesis) dan mikroba fermentasi serta mikroba penghubung (seperti Mycorrhiza) yang bekerja bersinergi dan nutrisi bahan organik sederhana, seperti senyawa protein/peptida, karbohidrat, lipida, Vitamin, senyawa sekunder, enzim dan hormon; serta unsur hara makro: N, P, K, S, Ca, dan lainnya berkombinasi dengan hara mikro: seperti Mg, Si, Fe, Mn, Zn, Mn, Mo, Cl, B, Cu, yang semua unsur yang disebut di atas diproses melalui cara fermentasi.

Bio Perforasi secara komprehenship membentuk dan mengkondisikan keseimbangan ekologis alamiah melalui sekumpulan jasa mikro-organisme unggul berguna yang dikondisikan, bersinergi dengan mikroba alami indogenus dan nutrisi; dan dengan menggunakan prinsip “mem-bioperforasi“ secara alami oleh zat inorganik, organik dan biotik pada mahluk hidup (seperti tanaman) sehingga memacu dan/atau mengendalikan pertumbuhan dan produksinya. Ternyata dengan sistem demikian masalah tersumbatnya produksi komoditi pertanian dapat dipecahkan (Mashar, 2000).

Melalui jasa mikro-organisme unggul yang sebelumnya telah dikondisikan terhadap lingkungan tumbuh kembang tanaman serta dibekali nutrisi dan unsur hara, faktor pembatas produksi dan kendala tumbuh asal tanah dan lingkungan dapat direndam sehingga tanaman dapat dipacu berproduksi tanpa menggangu hasil rekayasa konstelasi genetik yang telah dimiliki tanaman sebelumnya. Hal ini seiring dengan tujuan meningkatkan produktivitas hasil dari tanaman varietas unggul yang memiliki potensi genetik tinggi seperti padi Hibrida, PTB dan padi unggul lain yang akan dikembangkan untuk daerah-daerah kritis lebak rentan cekaman kesuburan tanah yang labil. Seperti daerah transmigrasi Penggunaan mikroba Bio P 2000 Z secara teratur dan sesuai anjuran ternyata mampu mendongkrak potensi produksi tanaman yang bersangkutan melebihi referensi Genetik yang dimilikinya dan cekaman anasir penghambat dalam tanah.

Keunggulan penerapan teknologi Bio Perforasi pada padi adalah meningkatnya produktivitas dan kualitas beras. Pada padi unggul nasional memacu bertambahnya anakan produktif rata-rata 19 – 35 anakan dan kuatnya perakaran (gambar A), tahan rebah dan serangan penggerek batang; malai lebih besar (berisi) sehingga dibanding tanpa Bio P2000Z pada volume gabah kering giling (GKG) yang sama rendemen meningkat 30% – 40%. Karena proses keseimbangan hara ini beras lebih jernih dan tidak mudah remuk/patah saat digiling.

Kesimpulan

1. Laju pertumbuhan produksi pangan nasional dalam dasa warsa terakhir rata-rata cenderung terus menurun sedangkan laju pertumbuhan jumlah penduduk terus meningkat yang berarti semakin meningkat ketergantungan pangan nasional pada impor merupakan bahaya laten bagi kemandirian dan ketahanan pangan nasional.

2. Produksi pangan yang terus menurun lebih disebabkan karena: produktivitas hasil budidaya petani rata-rata masih rendah dan perluasan areal lahan pertanian stagnan serta lahan yang ada cenderung menurun kualitasnya sehingga perlu upaya mengatasi permasalahan tersebut dengan terobosan yang konstruktif dalam produktivitas dan perluasan lahan.

3. Meningkatkan produktivitas dapat ditempuh melalui cara antara lain: menerapkan teknologi budidaya produktivitas tinggi dengan memberikan subsidi teknologi kepada petani seperti teknologi pupuk hayati Bio P 2000 Z; melakukan Soil Management di lahan pertanian dengan mengintroduksikan agen mikroba penyubur dan nutrisi (seperti pupuk berimbang) untuk mengembalikan keseimbangan alami yang membangun kesuburan tanah dan tanaman diatasnya; melakukan eksplorasi potensi genetik tanaman yang memiliki performa tanaman unggul hasil maksimal seperti varietas hibrida dan tipe baru dengan memberikan perlakuan presisi kawalan teknologi yang sesuai sehingga efisiensi hasil maksimal dapat tercapai .

4. Upaya memacu pertumbuhan produksi pangan dengan membuka areal Lahan pertanian baru yang dapat di gunakan untuk pertanian produktif adalah potensi lahan pasang surut dan lahan lebak, serta lahan kering yang sebagian besar belum tergarap secara optimal dengan disertai penerapan teknologi produktivitas.

5. Untuk mewujudkan swasembada dan kemandirian serta ketahanan pangan dalam satu dasawarsa ke depan (2010), diperlukan perangkat kebijakan yang mengarah pada perbaikan implementasi sistem agribisnis dan tataniaga (impor) bahan pangan. Disamping itu laju pertumbuhan produksi nasional harus dipacu pertahun secara bertahap, pada komoditas padi/beras dari tahun 2003 sebesar 1,8 % menjadi 2,1% pada tahun 2010, komoditas jagung dari 2 % tahun 2003 menjadi 6,5 % tahun 2010, dan kedelai 13 % tahun 2003 terus meningkat menjadi 20 % pada tahun 2010.

6. Penerapan teknologi organik seperti Bio P 2000 Z yang memanfaatkan sinergi jasa mikroba unggul mampu meningkatkan produktivitas tanaman lebih tinggi dari teknologi pupuk konvensional/kimia dan memiliki manfaat memperbaiki kesuburan lahan serta menjaga produktivitas tinggi lahan yang berkelanjutan.

Lampiran (tabel 1, 2, 3, 4)

Tabel.1

Pertumbuhan Per Tahun Peroduksi Beras, Jagung, Kedelai, 1992-1993

Komoditi 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003
Padi 7.99 0.12 3.18 6.75 2.73 -3.37 -0.28 3.31 2.03 -2.77 1.82 0.04
Jagung 28.36 -19.68 6.25 22.12 12.87 -5.76 15.95 -9.49 5.14 -3.41 1.92 1.42
Kedelai 20.17 -8.63 -8.37 7.41 -9.69 -10.56 -3.76 5.91 -26.41 -16.74 -21.06 13.36
Penduduk 1.4 1.42 1.45 1.52 1.55 1.57 1.59 1.61 1.63 1.66 1.69 1.72

Tabel. 2

Target Produksi dan Proyeksi Impor Padi Nasional Tahun 2000 – 2010

(000 ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
Kebutuhan 52,055 52,114 52,078 53,000 53,795 54,601 55,421 56,252 57,096 57,952 58,822
Produksi 49,429 49,144 50,078 51,000 51,941 52,900 53,877 54,890 56,023 57,191 58,387
Impor 2,626 2,970 2,000 2,000 1,854 1,701 1,544 1,362 1,073 761 435

Tabel. 3

Target Produksi dan Proyeksi Impor Jagung Nasional Tahun 2000 – 2010

(000 ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
Kebutuhan 10.500 11.000 11.500 11.663 11.832 12.016 12.196 12.339 12.564 12.753 12.945
Produksi 9.676 9.165 9.278 9.409 9.625 9.969 10.445 11.065 11.735 12.466 13.285
Impor 824 1.835 2.222 2.254 2.213 2.047 1.251 1.314 229 257 -340

Tabel. 4

Target Produksi dan Proyeksi Impor Kedelai Nasional Tahun 2000 – 2010

(000 ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
Kebutuhan 2.295 2.335 2.376 2.417 2.460 2.503 2.547 2.541 2.637 2.025 2.730
Produksi 1.017 923 837 915 1.010 1.126 1.271 1.453 1.653 1.685 2.380
Impor 1.277 1.412 1.558 1.902 1.450 1.376 1.276 1.138 951 697 350

Daftar Pustaka

Abdullah Buang. 2002. Pengenbangan Padi Tipe Baru. Makalah disampaikan Pada Seminar Temu Lapang BALITPA di KP. Pusakanegara, Subang 26 September 2002

Alihamsyah T., Muhrizal Sarwani dan Isdianto Ar-Riza. 2002. Komponen Utama Teknologi Optimalisasi lahan Pasang Surut Sebagai Sumber Pertumbuhan Produksi Padi Masa Depan. Makalah disampaikan Pada Seminar IPTEK padi Pekan Padi Nasional di Sukamandi 22 Maret 2002.

Ananto Eko. 2002. Pengembangan Pertanian Lahan rawa Pasang Surut Mendukung Peningkatan Produksi Pangan. Makalah disampaikan Pada Seminar IPTEK padi Pekan Padi Nasional di Sukamandi 22 Maret 2002.

Anonim. 2003. Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan dalam Kaitannya dengan Sistem Pertanian Organik. Makalah Pengembangan Teknologi Padi di Hotel Kaisar Maret 2003.

Anonim. 2001. Pemberdayaan Usaha Anggota koperasi Produsen tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Melalui Pemberian Insentif Pemerintah kepada INKOPTI. Inkopti.

Anonim. 2003. Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan dalam Kaitannya dengan Sistem Pertanian Organik. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.

BPS ( Biro Pusat Statistik). 2001. Stasistik Indonesia 2000. BPS Jakarta.

FAO. 1993. Rice In human Nutrition. Food and Nutrition Series. FAO, Rome .

Gurdev S. khush. 2002. Food Security By Design: Improving The Rice Plant in Partnership With NARS. Makalah disampaikan Pada Seminar IPTEK padi Pekan Padi Nasional di Sukamandi 22 Maret 2002.

Purba S. dan Las I. 2002, Regionalisasi Opsi Strategi Peningkatan Produksi Beras. Makalah disampaikan pada Seminar IPTEK padi Pekan Padi Nasional di Sukamandi 22 Maret 2002.

Mashar Ali Zum, 2000, Teknologi Hayati Bio P 2000 Z Sebagai Upaya untuk Memacu Produktivitas Pertanian Organik di Lahan Marginal. Makalah disampaikan Lokakarya dan pelatihan teknologi organik di Cibitung 22 Mei 2000.

Moeljopawiro Sugiono. 2002. Bioteknologi Untuk Peningkatan Produktivitas dan Kualitas Padi. Makalah disampaikan Pada Seminar IPTEK padi Pekan Padi Nasional di Sukamandi 22 Maret 2002.

Sri Adiningsih J., M. Soepartini, A. kusno, Mulyadi, dan Wiwik Hartati. 1994. Teknologi untuk Meningkatkan Produktivitas Lahan Sawah dan Lahan Kering. Prosiding Temu Konsultasi Sumberdaya Lahan Untuk Pembangunan Kawasan Timur Indonesia di Palu 17 – 20 Januari 1994.

05/31/2010 Posted by | Dasar-Dasar Ilmu Gizi | 13 Komentar

Pengaruh Tanaman Penutup Tanah Terhadap Kelimpahan Kutudaun Aphis craccivora Koch (Homoptera: Aphididae), Predator dan Hasil Panen pada Pertanaman Kacang Panjang Oleh: Deri Salanti/A44104062

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kacang panjang (Vigna sesquipedalis) adalah tanaman hortikultura yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia, baik sebagai sayuran maupun sebagai lalapan. Kacang panjang merupakan anggota Famili Fabaceae yang termasuk kedalam golongan sayuran. Kacang panjang dibudidayakan untuk dimanfaatkan polong mudanya atau kadang-kadang daunnya sebagai lalapan. Kacang panjang diperbanyak melalui benih (Sunaryono dan Ismunandar 1981).  Selain rasanya enak, sayuran ini juga mengandung zat gizi cukup banyak. Kandungan gizi, baik polong maupun daun tanaman ini cukup lengkap. Polong mudanya banyak mengandung protein, vitamin A, lemak, dan karbohidrat. Dengan demikian komoditas ini merupakan sumber protein nabati yang cukup potensial (Haryanto et al. 1999).

Kebutuhan sayur-sayuran akan semakin meningkat seiring dengan semakin pedulinya masyarakat akan makanan yang sehat dan berimbang. Kacang panjang sebagai salah satu jenis dari sayur-sayuran dapat menjadi pilihan yang mudah untuk sebagian masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari konsumsi kacang panjang pada tahun 2006 yang diperkirakan sebesar 2.66 kg/kapita/tahun, yang berarti diperlukan kacang panjang sebanyak 492.000 ton/tahun (BPS 2007). Akan tetapi, berdasarkan data BPS (2007) produktivitas kacang panjang baru mencapai sekiar 354.000 ton/tahun.

Tanaman ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagi usahatani karena selain mudah dibudidayakan, pangsa pasarnya juga cukup tinggi. Secara ekonomis, tanaman ini memiliki kekuatan pasar yang cukup besar. Pasar mampu menyerapnya mekipun  produksi kacang panjang berlimpah pada musim panen. Kacang panjang juga dipasarkan ke luar negeri, salah satunya adalah ke negeri Belanda yang membutuhkan lebih dari 3 ton tiap minggunya (Haryanto et al. 1999).

Salah satu kendala dalam meningkatkan produksi kacang panjang adalah adanya gangguan hama tanaman. Berbagai jenis hama di temukan pada tanaman ini, diantaranya yang paling penting adalah kutu daun Aphis crassivora Koch (Homoptera: Aphididae).

Arachis pintoi adalah tanaman golongan kacang-kacangan yang tumbuh merambat di atas permukaan tanah dan merupakan kerabat dekat dari kacang tanah (Arachis hypogea). A. .pintoi di Indonesia dikenal dengan sebutan kacang hias atau kacang pinto.  Ada pula yang menyebutnya golden peanuts karena tanaman ini mempunyai bunga yang berwarna kuning. Tanaman ini merupakan spesies eksotik yang berasal dari Brazil yang didatangkan ke Indonesia melalui Singapura untuk digunakan sebagai tanaman hias dan penutup tanah (BPTP 2004). Menurut Reksohadiprojo dalam Umroh (1995) tanaman ini diintroduksi dari Australia ke Indonesia khususnya Sulawesi Utara pada tahun 1986.

Tanaman A. pintoi dapat digunakan sebagai tanaman hias, penutup tanah, dan sebagai pakan ternak. Penggunaan tanaman ini semakin populer dan sudah banyak digunakan sebagai penutup tanah di beberapa perkebunan serta sudah banyak dimanfaatkan dalam lanskap pertanaman (BPTP 2004). Penanaman A. pintoi dapat menggundang kehadiran musuh alami (parsitoid dan predator). Trisawa et. al (2005) melaporkan bahwa penanaman A. pintoi pada ekosistem lada dapat meningkatkan jenis dan kelimpahan musuh alami.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh tanaman penutup tanah A. pintoi terhadap kelimpahan kutudaun, predator, dan terhadap hasil panen kacang panjang.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di Kampung Liud, Desa Hambaro, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat,  dan di Laboraturium Ekologi Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian berlangsung sejak Februari hingga Mei 2008.

Metode Penelitian

Penataan Petak Percobaan

Percobaan dilaksanakan pada 6 petak yang masing-masing berukuran 10 m x 10 m. Untuk mengurangi terjadinya perpindahan serangga di antara petakan, jarak antar petak diusahakan minimal 10 m. Keenam petak tadi ditata dalam 3 kelompok (ulangan) dengan 2 perlakuan, yaitu petakan dengan A. pintoi dan petakan tanpa A. pintoi.

Penanaman Tanaman Penutup Tanah

Penanaman A. pintoi dilakukan pada bulan Agustus 2007. Untuk maksud tersebut lahan terlebih dahulu diberi pupuk kandang sebanyak 15 ton/ha.  Selain diberi pupuk kandang lahan ini juga diberi pupuk Urea 300 kg/ha, SP36 280 kg/ha, KCL 260 kg/ha.   Penanaman A. pintoi dilakukan dengan cara stek buku tunggal. Buku A. pintoi diambil dari Kebun Percobaan Cikabayan -IPB.

Penanaman dan Pemeliharaan Kacang Panjang

Kacang panjang yang digunakan dalam percobaan ini adalah varietas 777 yang bermerek Panah Merah.  Varietas ini dipilih karena umum digunakan petani serta mudah diperoleh di hampir setiap toko pertanian yang ada di Darmaga. Pemupukan kacang panjang dilakukan tiga kali dengan dosis pupuk Urea 185 kg/ha , SP36 375 kg/ha dan KCL 225 kg/ha. Pemupukan pertama dengan 50% dari dosis dilakukan pada saat tanam, sedangkan pemupukan kedua dan ketiga dilakukan pada saat tanaman kacang panjang berumur 3 MST dan  6 MST, dengan masing-masing 25% dari total dosis pupuk. Pengajiran dilakukan pada saat tanaman kacang panjang berumur 2 MST.  Untuk maksud tersebut setiap tanaman diberi satu ajir bambu, selanjutnya setiap empat ajir diikat dengan tali menjadi satu sehingga membentuk piramida.

Penyiangan gulma juga dilakukan dua kali yaitu pada saat sebelum tanam, dan setelah tanaman kacang panjang berumur 6 MST. Penyiangan ini dilakukan pada setiap lahan baik yang ditanami A. pintoi maupun yang tidak ditanami A. pintoi.  Gulma yang banyak tumbuh adalah jenis teki-tekian dan rumput-rumputan, sedangkan gulma berdaun lebar tidak banyak tumbuh pada lahan ini.

Pengamatan Kutudaun dan Kumbang Kubah

Pada setiap petak percobaan dipilih secara sistematik 18 rumpun tanaman kacang panjang.  Peubah kelimpahan kutudaun didasarkan pada banyaknya koloni yang terdapat pada tanaman contoh. Kelimpahan kumbang kubah dilakukan dengan menghitung banyaknya kumbang yang dijumpai pada tanaman contoh.  Pengamatan dilakukan setiap minggu sejak tanaman berumur 6 MST hingga menjelang panen berakhir.

Pengamatan Artropoda Penghuni Permukaan Tanah

Kelimpahan serangga permukaan tanah diamati dengan cara memasang perangkap (pitfall). Perangkap dibuat dari gelas plastik bervolume 200 ml.  Kedalam gelas dimasukkan cairan formalin 4% sekitar 60 ml.  Gelas tersebut kemudian dibenamkan di tanah dengan permukaan diatur sedemikian rupa sehingga rata dengan permukaan tanah.  Untuk menghindarkan dari curahan air hujan, perangkap diberi atap dari seng.  Letak atap seng diatur sehingga tidak mengganggu aktivitas artropoda yang menuju perangkap.  Pemasangan perangkap dilakukan tiga kali yaitu awal tanam, pertengahan dan akhir tanam. Pada awal tanam perangkap dipasang  selama 24 jam, sedangkan pada pertengahan dan akhir musim tanam perangkap dipasang  72 jam.  Jumlah perangkap ? buah untuk setiap kali pemasangan. Artropoda yang tertangkap diidentifikasi hingga jenjang famili. Penempatan perangkap dalam petak pertanaman dilakukan secara sistematis, yaitu 5 perangkap per petak dengan posisi satu di tengah petak dan empat sisanya pada arah setiap sudut petak. Untuk keperluan analisis, data yang diperoleh pada tiga waktu pengamatan tersebut dijumlahkan dan dipilah berdasarkan famili.

Pengamatan Hasil Panen

Panen dilakukan setiap 4 hari sejak tanaman berumur 7 MST.  Pada setiap kali panen, bobot kacang panjang dari kedua perlakuan ditimbang dan dicatat.  Untuk keperluan analisis, bobot panen dijumlahkan dan dipilah berdasarkan perlakuan.

Analisis Data

Pengaruh perlakuan terhadap kelimpahan kutudaun, kumbang kubah, artropoda penghuni permukaan tanah, dan hasil panen diperiksa dengan melakukan analisis ragam dengan batuan SPSS 11.5.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perkembangan Populasi Kutudaun

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penanaman A. pintoi sebagai penutup tanah tidak berpengaruh  nyata terhadap kelimpahan populasi kutudaun , dari sejak tanaman berumur 6 MST hingga 12 MST (Tabel 1).  Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Smith (1976) yang mengungkapkan bahwa  permukaan tanah yang terbuka dapat menjadi stimulus bagi kutudaun Brevicoryne brassicae (L.) untuk melakukan kolonisasi pada petak sayuran kubis-kubisan.  Diperkirakan bahwa penanaman kacang panjang dengan sistem piramida menyebabkan penutupan permukaan tanah, sehingga pengaruh penanaman A. pintoi terhadap kelimpahan kutudaun tidak terlihat nyata.

Tabel 1. Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan terhadap kelimpahan

populasi kutu daun (transformasi V x + 0,5 )

MST Kuadrat TengahPengaruh db Kuadrat Tengah Galat F P
6 0,180 1, 4 0,045 4,000 0,116
7 1,109 1, 4 0,670 1,656 0,268
8 1,335 1, 4 2,735 0,488 0,523
9 1,197 1, 4 3,957 0,303 0,612
10 0,035 1, 4 4,767 0,007 0,936
11 0,522 1, 4 3,594 0,145 0,722
12 1,480 1, 4 2,997 0,494 0,521

Pada Gambar 1 tampak bahwa hama kutudaun muncul sejak tanaman berumur 6 MST, kemudian populasinya meningkat dan mencapai puncaknya pada 10 MST.  Setelah itu populasi kutudaun  menurun  kembali yang disebabkan  pucuk , daun muda, serta polong sebagai makanan kesukaan kutudaun semakin berkurang. Faktor lain yang diduga menyebabkan fluktuasi kelimpahan kutudaun di lahan percobaan adalah tingginya curah hujan pada saat penelitian dilakukan. Curah hujan pada bulan Februari hingga Mei 2008 mencapai 228.5 mm/bulan dengan sekitar 16 hari hujan setiap bulannya. Dilaporkan bahwa serangga berukuran kecil seperti kutudaun yang hidup di bagian pucuk tanaman sangat rentan terhadap terpaan air hujan (Stoyenoff 2001). Akibat terpaan air hujan ini diduga sebagian kutudaun yang jatuh tidak dapat kembali lagi ke pertanaman.

Gambar  1. Perkembangan populasi kutudaun pada petak perlakuan dan kontrol

Perkembangan Populasi Kumbang Kubah

Jenis serangga predator yang sering ditemukan selama penelitian berlangsung adalah kumbang kubah Menochilus sexmaculatus (F.)(Coleoptera: Coccinellidae). Selain itu ditemukan musuh alami lain di antaranya adalah serangga predator Syrphidae, Carabidae, Reduviidae, serta  beberapa jenis serangga dari golongan parasitoid.  Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penanaman tanaman penutup tanah A. pintoi berpengaruh tidak nyata ( P > 0,05) terhadap kelimpahan kumbang kubah M. sexmaculatus (Tabel 2).

Tabel 2. Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan terhadap kelimpahan

populasi kumbang Menochilus sexmaculatus (transformasi V x + 0,5 )

MST Kuadrat TengahPengaruh db Kuadrat Tengah Galat F P
6 0,392 1, 4 0,676 2,059 0,225
7 0,191 1, 4 0,620 0,308 0,609
8 1,870 1, 4 0,419 4,460 0,102
9 0,516 1, 4 0,191 1,046 0,364
10 0,009 1, 4 1,029 0,009 0,931
11 1,092 1, 4 1,052 1,038 0,366
12 4,200 1, 4 1,082 3,880 0,120

Kelimpahan populasi kumbang kubah M. sexmaculatus disajikan pada Gambar 2. Tampak bahwa kehadiran kumbang predator terjadi sejak tanaman berumur 6 MST, berbarengan dengan kehadiran kutu daun di pertanaman. Dilaporkan bila populasi mangsa rendah maka kumbang kubah dapat berpindah ke tempat lain untuk mencari mangsanya (Schellhorn &  Andow 1999). Hal ini dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2. Kumbang kubah lebih banyak ditemukan pada lahan yang lebih dahulu muncul kutudaun sebagai makanannya, kemudian predator ini lebih banyak ditemukan pada lahan yang tidak ditanami A. pintoi.  Hal ini karena mangsanya yaitu kutudaun berkembang membentuk koloni yang lebik banyak pada lahan yang tidak ditanami A. pintoi dibandingkan pada lahan yang ditanami A. pintoi. Kumbang kubah termasuk salah satu predator yang aktif mencari mangsa dan dapat berpindah dari satu tanaman ke tanaman lainnya (Dixon 2000).

Gambar  2. Perkembangan populasi kumbang predator pada petak perlakuan dan kontrol

Untuk memeriksa hubungan antara kelimpahan kutudaun dengan kelimpahan kumbang kubah, seluruh individu data dari petak dengan A. pintoi dan petak tanpa A. pintoi kemudian dipetakan seperti tampak pada Gambar 3. Hasil analisis menunjukkan terdapat korelasi (r = 0,385) yang nyata (P = 0,012) antara kelimpahan kutudaun dengan kelimpahan kumbang predator. Hal ini menunjukkan bahwa makin banyak populasi kutudaun makan banyak pula populasi kumbang kubah.  Salah satu ciri dari musuh alami yang baik adalah yang memperlihatkan sifat terpaut kerapatan terhadap inangnya atau mangsanya.

Gambar  3. Hubungan antara kelimpahan kutudaun dengan kumbang kubah

Artropoda Penghuni Tanah

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penanaman A. pintoi sebagai penutup tanah berpengaruh nyata terhadap kelimpahan Gryllidae (P = 0,039) tapi tidak nyata terhadap Formicidae (P = 0,064) dan Araneida (P = 0,205) (Tabel ).  Namun secara umum terdapat kecenderungan bahwa kelimpahan artropoda penghuni tanah (Formicidae, Arachnida, Gryllidae) lebih banyak pada petak yang ditanami penutup tanah A. pintoi (Gambar ).

Tabel 3. Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan terhadap kelimpahan populasi

artropoda penghuni permukaan tanah  (transformasi V x + 0,5 )

Kelompok Arthrophoda Kuadrat TengahPengaruh db Kuadrat Tengah Galat F P
Formicidae 140,167 1, 4 21,667 6,469 0,064
Araneida 204,167 1, 4 89,333 2,285 0,205
Gryllidae 16,667 1, 4 1,833 9,091 0,039

Tanaman penutup tanah seperti A. pintoi menyediakan habitat fisik yang sesuai bagi kehidupan artropoda penghuni permukaan tanah. Kelembaban permukaan tanah menjadi lebih tinggi akibat adanya tanaman penutup tanah. Begitu pula tanaman penutup tanah dapat melindungi artropoda penghuni permulkaan tanah dari terpaan terik matahari dan butiran air hujan.  Selain itu, tanaman penutup tanah dapat menyediakan sumberdaya hayati bagi artropoda penghuni permukaan tanah. Berbagai jenis serangga fitofag dapat memanfaatkan tanaman penutup tanah sebagai sumber makanannya, yang pada giliran berikutnya dapat mendukung artropoda yang bersifat sebagai predator seperti semut, laba-laba, dan sebagian jenis jangkrik.

Gambar  4. Kelimpahan artropoda penghuni permukaan tanah pada petak perlakuan dan petak kontrol

Hasil Panen

Total bobot kacang panjang dari delapan kali panen disajikan pada Gambar 5. Hasil analisis ragam menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata (F = 2,839; db = 1, 4; P = 0,167) antara kedua perlakuan. Pada petak ulangan-1 bobot hasil panen sangat rendah, sekitar setengahnya dari petak ulangan lain.  Data bobot hasil panen yang beragam inilah yang menyebabkan hasil pengujian statistika tidak nyata. Secara umum tampak bahwa bobot hasil panen dari petak yang di tanami A. pintoi cenderung lebih rendah daripada petak kontrol. Pada petak perlakuan  A .pintoi, umur kacang panjang tidak sama dengan umur kacang panjang pada petak kontrol, karena pada petak yang disebut pertama terjadi penyulaman akibat sebagian tanaman mengalami kematian. Perbedaan kondisi tanaman ini dapat berpengaruh terhadap hasil panen. Cenderung lebih tingginya hasil panen pada petak tanpa A. pintoi tidak ada kaitannya dengan serangan hama kutudaun, karena kelimpahan hama ini tidak berbeda di antara kedua petak perlakuan. Hasil panen yang cenderung lebih rendah pada petak A. pintoi diduga kuat karena adanya persaingan unsur hara antara tanaman kacang panjang  dengan  A. pintoi.

Tanpa  A. pintoi
Dengan A. pintoi

Gambar  5. Rataan bobot hasil panen kacang panjang pada petak perlakuan dan petak kontrol

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Penanaman A. pintoi sebagai tanaman penutup tanah di lahan kacang panjang tidak berpengaruh terhadap kelimpahan hama kutu daun A. craccivora dan predatornya kumbang M. sexmaculatus. Kelimpahan beberapa kelompok artropoda penghuni permukaan tanah cenderung lebih banyak pada lahan yang ditanami A. pintoi dibandingkan yang tidak. Terdapat kecenderungan bahwa hasil panen kacang panjang lebih rendah pada petakan yang ditanami A. pintoi daripada yang tanpa penutup tanah.  Penanaman A. pintoi sebagai penutup tanah belum cukup bukti mampu memberikan manfaat baik dari segi ekologi yang berupa penekanan hama, maupun dari segi ekonomi yang berupa peningkatan hasil panen.

Saran

Penelitian perlu diulang paling tidak untuk satu musim lagi.  Untuk mengurangi persaingan hara antara kacang panjang dan tanaman penutup tanah disarankan agar daerah sekitar perakaran kacang panjang dibersihkan dari A. pintoi.  Selain itu, dalam jangka panjang perlu dikaji pengaruh positif dari penanaman A. pintoi terhadap penyediaan hara dan konservasi tanah.

DAFTAR PUSTAKA

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2007. http://www.bps.go.id.%5B1 Oktober 2007]

[BPTP Lampung] Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung. 2004. Arachis pintoi sebagai tanaman penutup tanah pada perkebunan lada. BPTP Lampung. http://lampung .litbang.deptan.go.id/teknologi.html [27 april 2006].

Dixon  AFG. 2000. Insect Predator-Prey Dynamics: Ladybird beetles & Biological Control. Spain: Cambridge Univ Pr 257 p.

Haryonto, E, Suhartini T, Rahayu E. 1999. Budidaya Kacang Panjang. Jakarta : Penebar Swadaya.

Schellhorn NA, Andow DA.1999. Mortality of Cocinellid (Coleoptera: Coccinellidae) larvae and pupae when prey become Scarce. Environ Entomol 28 (6): 1092-1100

Smith JG. 1976. Influence of  crop background on aphids and other phytophagous insects in Brussels sprouts.  Ann. Appl Biol 83: 19-22.

Stoyenoff JL. 2001. Plant wahing as a pest management technique for control of aphids (Hmoptera: Aphididae). J Econ Entomol 94(6): 1492-1499.

Sunaryono, H. Dan Ismunandar. 1981. Kunci Bercocok Tanam Sayur-sayuran Penting di Indonesia. Sinar Baru. Bandung. 154 hal

Trisawa IM, IW Laba, dan WR Atmadja. 2005. Artropoda yang Berasosiasi pada Ekosistem Tanaman Lada. Jurnal Entomologi Indonesia 2(1):10-18.

Umroh SI. 1995. Kombinasi Perlakuan Waktu Tanam Arachis pintoi dan Pemupukan Fosfor terhadap pertumbuhan serta Produksi Jagung Hibrida CP-1 dibawah Pertanaman Kelapa [Tesis]. Program Pasca Sarjana, KPK Institute Pertanian Bogor- Universitas Samratulangi, Manado.

05/31/2010 Posted by | Ekologi Hewan | 3 Komentar

PESTISIDA

1.1 Pengertian Pestisida

Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest (“hama”) yang diberi akhiran -cide (“pembasmi”). Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu. Pestisida biasanya, tapi tak selalu, beracun. dalam bahasa sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai “racun”.

Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan.

Undang – Undang tentang Pestisida
Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan alam khususnya kekayaan alam hayati, dan supaya pestisida dapat digunakan efektif, maka peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973. Dalam peraturan tersebut antara lain ditentukan bahwa:

  1. Tiap pestisida harus didaftarkan kepada Menteri Pertanian melalui Komisi  Pestisida untuk dimintakan izin penggunaannya.
  2. Hanya pestisida yang penggunaannya terdaftar dan atau diizinkan oleh Menteri Pertanian boleh disimpan, diedarkan dan digunakan.
  3. Pestisida yang penggunaannya terdaftar dan atau diizinkan oleh Menteri Pertanian hanya boleh disimpan, diedarkan dan digunakan menurut ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam izin pestisida itu.
  4. Tiap pestisida harus diberi label dalam bahasa Indonesia yang berisi keterangan-keterangan yang dimaksud dalam surat Keputusan Menteri Pertanian No. 429/ Kpts/Mm/1/1973 dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam pendaftaran dan izin masing-masing pestisida.

Dalam peraturan pemerintah tersebut yang disebut sebagai pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk:

  • Memberantas atau mencegah hama atau penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman atau hasil pertanian.
  • Memberantas gulma.
  • Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan tanaman yang tidak diinginkan.
  • Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman, kecuali yang tergolong pupuk.
  • Memberantas atau mencegah hama luar pada ternak dan hewan piaraan.
  • Memberantas atau mencegah hama air.
  • Memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah tangga
  • Memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang dilindungi, dengan penggunaan pada tanaman, tanah dan air.

Sesuai dengan definisi tersebut di atas maka suatu bahan akan termasuk dalam pengertian pestisida apabila bahan tersebut dibuat, diedarkan atau disimpan untuk maksud penggunaan seperti tersebut di atas.

Sedangkan menurut The United States Federal Environmental Pesticide Control Act, pestisida adalah semua zat atau campuran zat yang khusus untuk memberantas atau mencegah gangguan serangga, binatang pengerat, nematoda, cendawan, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama kecuali virus, bakteria atau jasad renik yang terdapat pada manusia dan binatang lainnya. Atau semua zat atau campuran zat yang digunakan sebagai pengatur pertumbuhan tanaman atau pengering tanaman.

2.2 Jenis-Jenis Pestisida

A. Berdasarkan Fungsi/sasaran penggunaannya, pestisida dibagi menjadi 6 jenis yaitu :

  • Insektisida

adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas serangga seperti belalang, kepik, wereng, dan ulat. Insektisida juga digunakan untuk memberantas serangga di rumah, perkantoran atau gudang, seperti nyamuk, kutu busuk, rayap, dan semut. Contoh : basudin, basminon, tiodan, diklorovinil dimetil fosfat, diazinon,dll.

Jenis-jenis Insektisida Hidup :

Upaya pengendalian vektor untuk memutus siklus hidup nyamuk, sehingga mengurangi kontak antara manusia dengan vektor. Hanya, berbagai upaya tersebut perlu diikuti dengan cara-cara yang ramah lingkungan. Seperti telah dikemukakan salah satu cara yang lebih ramah lingkungan adalah memanfaatkan tanaman antinyamuk (insektisida hidup pengusir nyamuk). Tanaman hidup pengusir nyamuk adalah jenis tanaman yang dalam kondisi hidup mampu menghalau nyamuk. Artinya tanaman ini tidak perlu diolah terlebih dulu.

Kemampuan jenis tanaman ini sebagai pengusir nyamuk bisa dianggap istimewa. Penyebabnya adalah bau menyengat yang keluar dari tanaman ini. Bau menyengat inilah yang diduga tidak disukai serangga. Penggunaan tanaman ini cukup mudah, yaitu cukup diletakkan di dalam ruangan atau ditanam di pekarangan rumah.

Adapun bahan-bahan insektisida alami itu adalah sebagai berikut: Tembakau, Kenikir, Pandan, Kemangi, Cabe Rawit, Kunyit , Bawang Putih, Gadung , Sereh dan masih banyak lagi yang dapat di pakai sebagai bahan-bahan pembuat insektisida alami . Bila melihat bahan-bahan tersebut , semua ada di lingkungan kita, mudah di dapat dan murah, yang pasti juga aman karena tidak beracun.

  • Fungisida

adalah pestisida untuk memberantas/mencegah pertumbuhan jamur/ cendawan seperti bercak daun, karat daun, busuk daun, dan cacar daun. Contoh : tembaga oksiklorida, tembaga (I) oksida, carbendazim, organomerkuri, dan natrium dikromat.

  • Bakterisida

adalah pestisida untuk memberantas bakteri atau virus. Salah satu contoh bakterisida adalah tetramycin yang digunakan untuk membunuh virus CVPD yang meyerang tanaman jeruk. Umumnya bakteri yang telah menyerang suatu tanaman sukar diberantas. Pemberian obat biasanya segera diberikan kepada tanaman lainnya yang masih sehat sesuai dengan dosis tertentu.

  • Rodentisida

adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman berupa hewan pengerat seperti tikus. Lazimnya diberikan sebagai umpan yang sebelumnya dicampur dengan beras atau jagung. Hanya penggunaannya harus hati-hati, karena dapat mematikan juga hewan ternak yang memakannya. Contohnya : Warangan.

  • Nematisida

adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman berupa nematoda (cacing). Hama jenis ini biasanya menyerang bagian akar dan umbi tanaman. Nematisida biasanya digunakan pada perkebunan kopi atau lada. Nematisida bersifat dapat meracuni tanaman, jadi penggunaannya 3 minggu sebelum musim tanam. Selain memberantas nematoda, obat ini juga dapat memberantas serangga dan jamur. Dipasaran dikenal dengan nama DD, Vapam, dan Dazomet.

  • Herbisida

Adalah pestisida yang digunakan untuk membasmi tanaman pengganggu (gulma) seperti alang-alang, rerumputan, eceng gondok, dll. Contoh ammonium sulfonat dan pentaklorofenol.

Herbisida (dari bahasa Inggris herbicide) adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil (gulma). Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis atau dua jenis tanaman pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh di lahan tersebut. Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah, perolehan cahaya matahari, dan atau keluarnya substansi alelopatik, tumbuhan lain ini tidak diinginkan keberadaannya.

Dua tipe herbisida menurut aplikasinya

Terdapat dua tipe herbisida menurut aplikasinya: herbisida pratumbuh (preemergence herbicide) dan herbisida pascatumbuh (postemergence herbicide). Yang pertama disebarkan pada lahan setelah diolah namun sebelum benih ditebar (atau segera setelah benih ditebar). Biasanya herbisida jenis ini bersifat nonselektif, yang berarti membunuh semua tumbuhan yang ada. Yang kedua diberikan setelah benih memunculkan daun pertamanya. Herbisida jenis ini harus selektif, dalam arti tidak mengganggu tumbuhan pokoknya.

Cara kerja herbisida

Pada umumnya herbisida bekerja dengan mengganggu proses anabolisme senyawa penting seperti pati, asam lemak atau asam amino melalui kompetisi dengan senyawa yang “normal” dalam proses tersebut. Herbisida menjadi kompetitor karena memiliki struktur yang mirip dan menjadi kosubstrat yang dikenali oleh enzim yang menjadi sasarannya. Cara kerja lain adalah dengan mengganggu keseimbangan produksi bahan-bahan kimia yang diperlukan tumbuhan. Contoh:

  • glifosat (dari Monsanto) mengganggu sintesis asam amino aromatik karena berkompetisi dengan fosfoenol piruvat
  • fosfinositrin  mengganggu asimilasi nitrat dan amonium karena menjadi substrat dari enzim glutamin sintase.

Rekayasa genetika dan herbisida

Sejumlah produsen herbisida mendanai pembuatan tanaman transgenik yang tahan terhadap herbisida. Dengan demikian penggunaan herbisida dapat diperluas pada tanaman produksi tersebut. Usaha ini dapat menekan biaya produksi dalam pertanian berskala besar dengan mekanisasi. Contoh tanaman tahan herbisida yang telah dikembangkan adalah raps (kanola), jagung, kapas, padi, kentang, kedelai, dan bit gula.

B. Berdasarkan bahan aktifnya, pestisida dibagi menjadi 3 jenis yaitu:

  • Pestisida organik (Organic pesticide)

Pestisida yang bahan aktifnya adalah bahan organik yang berasal dari bagian tanaman atau binatang, misal : neem oil yang berasal dari pohon mimba (neem).

Fungsi dari Pestisida Organik :

Pestisida Organik memiliki beberapa fungsi, antara lain:

  1. Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang menyengat
  2. Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot.
  3. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa
  4. Menghambat reproduksi serangga betina
  5. Racun syaraf
  6. Mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga
  7. Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga
  8. Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri.

Bahan dan Cara Umum Pengolahan Pestisida Organik :

·         Bahan mentah berbentuk tepung (nimbi, kunyit, dll)

  • Ekstrak tanaman/resin dengan mengambil cairan metabolit sekunder dari bagian tanaman tertentu
  • Bagian tanaman dibakar untuk diambil abunya dan dipakai sebagai insektisida (serai, tembelekan/Lantana camara)
  • Pestisida elemen (Elemental pesticide)

pestisida yang bahan aktifnya berasal dari alam seperti: sulfur.

  • Pestisida kimia/sintetis (Syntetic pesticide)

pestisida yang berasal dari campuran bahan-bahan kimia.

C. Berdasarkan cara kerjanya, pestisida dibagi menjadi 2 jenis yaitu :

  • Pestisida sistemik (Systemic Pesticide)
    Adalah pestisida yang diserap dan dialirkan keseluruh bagian tanaman sehingga akan menjadi racun bagi hama yang memakannya. Kelebihannya tidak hilang karena disiram. Kelemahannya, ada bagian tanaman yang dimakan hama agar pestisida ini bekerja. Pestisida ini untuk mencegah tanaman dari serangan hama.
    Contoh : Neem oil.
  • Pestisida kontak langsung (Contact pesticide) :
    adalah pestisida yang reaksinya akan bekerja bila bersentuhan langsung dengan hama, baik ketika makan ataupun sedang berjalan. Jika hama sudah menyerang lebih baik menggunakan jenis pestisida ini.

D. Berdasarkan nama dan asal katanya, Pestisida dapat digolongkan menjadi bermacam-macam dengan berdasarkan fungsi dan asal katanya. Penggolongan tersebut disajikan sbb.:
* Akarisida, berasal dari kata akari yang dalam bahasa Yunani berarti tungau atau kutu. Akarisida sering juga disebut sebagai mitesida. Fungsinya untuk membunuh tungau atau kutu.
* Algisida, berasal dari kata alga yang dalam bahasa latinnya berarti ganggang laut. Berfungsi untuk melawan alge.
* Avisida, berasal dari kata avis yang dalam bahasa latinnya berarti burung. Berfungsi sebagai pembunuh atau zat penolak burung serta pengontrol populasi burung.
* Bakterisida, berasal dari kata latin bacterium atau kata Yunani bacron. Berfungsi untuk melawan bakteri.
* Fungisida, berasal dari kata latin fungus atau kata Yunani spongos yang berarti jamur. Berfungsi untuk membunuh jamur atau cendawan.
* Herbisida, berasal dari kata latin herba yang berarti tanaman setahun. Berfungsi membunuh gulma (tumbuhan pengganggu).
* Insektisida, berasal dari kata latin insectum yang berarti potongan, keratan atau segmen tubuh. Berfungsi untuk membunuh serangga.
* Larvisida, berasal dari kata Yunani lar. Berfungsi untuk membunuh ulat atau larva.
* Molluksisida, berasal dari kata Yunani molluscus yang berarti berselubung tipis lembek. Berfungsi untuk membunuh siput.
* Nematisida, berasal dari kata latin nematoda atau bahasa Yunani nema yang berarti benang. Berfungsi untuk membunuh nematoda (semacam cacing yang hidup di akar).
* Ovisida, berasal dari kata latin ovum yang berarti telur. Berfungsi untuk membunuh telur.
* Pedukulisida, berasal dari kata latin pedis berarti kutu, tuma. Berfungsi untuk membunuh kutu atau tuma.
* Piscisida, berasal dari kata Yunani piscis yang berarti ikan. Berfungsi untuk membunuh ikan.
* Rodentisida, berasal dari kata Yunani rodera yang berarti pengerat. Berfungsi untuk membunuh binatang pengerat, seperti tikus.
* Predisida, berasal dari kata Yunani praeda yang berarti pemangsa. Berfungsi untuk membunuh pemangsa (predator).
* Silvisida, berasal dari kata latin silva yang berarti hutan. Berfungsi untuk membunuh pohon.
* Termisida, berasal dari kata Yunani termes yang berarti serangga pelubang daun. Berfungsi untuk membunuh rayap.

Berikut ini beberapa bahan kimia yang termasuk pestisida, namun namanya tidak menggunakan akhiran sida:
* Atraktan, zat kimia yang baunya dapat menyebabkan serangga menjadi tertarik. Sehingga dapat digunakan sebagai penarik serangga dan menangkapnya dengan perangkap.
* Kemosterilan, zat yang berfungsi untuk mensterilkan serangga atau hewan bertulang belakang.
* Defoliant, zat yang dipergunakan untuk menggugurkan daun supaya memudahkan panen, digunakan pada tanaman kapas dan kedelai.
* Desiccant. zat yang digunakan untuk mengeringkan daun atau bagian tanaman lainnya.
* Disinfektan, zat yang digunakan untuk membasmi atau menginaktifkan mikroorganisme.
* Zat pengatur tumbuh. Zat yang dapat memperlambat, mempercepat dan menghentikan pertumbuhan tanaman.
* Repellent, zat yang berfungsi sebagai penolak atau penghalau serangga atau hama yang lainnya. Contohnya kamper untuk penolak kutu, minyak sereb untuk penolak nyamuk.
* Sterilan tanah, zat yang berfungsi untuk mensterilkan tanah dari jasad renik atau biji gulma.
* Pengawet kayu, biasanya digunakan pentaclilorophenol (PCP).
* Stiker, zat yang berguna sebagai perekat pestisida supaya tahan terhadap angin dan hujan.
* Surfaktan dan agen penyebar, zat untuk meratakan pestisida pada permukaan daun.
* Inhibitor, zat untuk menekan pertumbuhan batang dan tunas.
* Stimulan tanaman, zat yang berfungsi untuk menguatkan pertumbuhan dan memastikan terjadinya buah.

 

2.3 Formulasi Pestisida

Pestisida sebelum digunakan harus diformulasi terlebih dahulu. Pestisida dalam bentuk murni biasanya diproduksi oleh pabrik bahan dasar, kemudian dapat diformulasi sendiri atau dikirim ke formulator lain. Oleh formulator baru diberi nama. Berikut ini beberapa formulasi pestisida yang sering dijumpai:

1. Cairan emulsi (emulsifiable concentrates/emulsible concentrates)
Pestisida yang berformulasi cairan emulsi meliputi pestisida yang di belakang nama dagang diikuti oleb singkatan ES (emulsifiable solution), WSC (water soluble concentrate). B (emulsifiable) dan S (solution). Biasanya di muka singkatan tersebut tercantum angka yang menunjukkan besarnya persentase bahan aktif. Bila angka tersebut lebih dari 90 persen berarti pestisida tersebut tergolong murni. Komposisi pestisida cair biasanya terdiri dari tiga komponen, yaitu bahan aktif, pelarut serta bahan perata. Pestisida golongan ini disebut bentuk cairan emulsi karena berupa cairan pekat yang dapat dicampur dengan air dan akan membentuk emulsi.

2. Butiran (granulars)
Formulasi butiran biasanya hanya digunakan pada bidang pertanian sebagai insektisida sistemik. Dapat digunakan bersamaan waktu tanam untuk melindungi tanaman pada umur awal. Komposisi pestisida butiran biasanya terdiri atas bahan aktif, bahan pembawa yang terdiri atas talek dan kuarsa serta bahan perekat. Komposisi bahan aktif biasanya berkisar 2-25 persen, dengan ukuran butiran 20-80 mesh. Aplikasi pestisida butiran lebih mudah bila dibanding dengan formulasi lain. Pestisida formulasi butiran di belakang nama dagang biasanya tercantum singkatan G atau WDG (water dispersible granule).

3. Debu (dust)
Komposisi pestisida formulasi debu ini biasanya terdiri atas bahan aktif dan zat pembawa seperti talek. Dalam bidang pertanian pestisida formulasi debu ini kurang banyak digunakan, karena kurang efisien. Hanya berkisar 10-40 persen saja apabila pestisida formulasi debu ini diaplikasikan dapat mengenai sasaran (tanaman).

4. Tepung (powder)
Komposisi pestisida formulasi tepung pada umumnya terdiri atas bahan aktif dan bahan pembawa seperti tanah hat atau talek (biasanya 50-75 persen). Untuk mengenal pestisida formulasi tepung, biasanya di belakang nama dagang tercantum singkatan WP (wettable powder) atau WSP (water soluble powder).

5. Oli (oil)
Pestisida formulasi oli biasanya dapat dikenal dengan singkatan SCO (solluble concentrate in oil). Biasanya dicampur dengan larutan minyak seperti xilen, karosen atau aminoester. Dapat digunakan seperti penyemprotan ULV (ultra low volume) dengan menggunakan atomizer. Formulasi ini sering digunakan pada tanaman kapas.
6. Fumigansia (fumigant)
Pestisida ini berupa zat kimia yang dapat menghasilkan uap, gas, bau, asap yang berfungsi untuk membunuh hama. Biasanya digunakan di gudang penyimpanan.

2.4 Cara Penggunaan Pestisida
Cara penggunaan pestisida yang tepat merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan pengendalian hama. Walaupun jenis obatnya manjur, namun karena penggunaannya tidak benar, maka menyebabkan sia-sianya penyemprotan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida, di antaranya adalah keadaan angin, suhu udara, kelembapan dan curah hujan. Angin yang tenang dan stabil akan mengurangi pelayangan partikel pestisida di udara. Apabila suhu di bagian bawah lebih panas, pestisida akan naik bergerak ke atas. Demikian pula kelembapan yang tinggi akan mempermudah terjadinya hidrolisis partikel pestisida yang menyebabkan kurangnya daya racun. Sedang curah hujan dapat menyebabkan pencucian pestisida, selanjutnya daya kerja pestisida berkurang.

Hal-hal teknis yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida adalah ketepatan penentuan dosis. Dosis yang terlalu tinggi akan menyebabkan pemborosan pestisida, di samping merusak lingkungan. Dosis yang terlalu rendah menyebabkan hama sasaran tidak mati. Di samping berakibat mempercepat timbulnya resistensi.

1. Dosis pestisida
Dosis adalah jumlah pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk mengendalikan hama tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan dalam satu kali aplikasi atau lebih. Ada pula yang mengartikan dosis adalah jumlah pestisida yang telah dicampur atau diencerkan dengan air yang digunakan untuk menyemprot hama dengan satuan luas tertentu. Dosis bahan aktif adalah jumlah bahan aktif pestisida yang dibutuhkan untuk keperluan satuan luas atau satuan volume larutan. Besarnya suatu dosis pestisida biasanya tercantum dalam label pestisida.

2. Konsentrasi pestisida
Ada tiga macam konsentrasi yang perlu diperhatikan dalam hal penggunaan pestisida :

a. Konsentrasi bahan aktif, yaitu persentase bahan aktif suatu pestisida dalam larutan yang sudah dicampur dengan air.

b. Konsentrasi formulasi, yaitu banyaknya pestisida dalam cc atau gram setiap liter air.

  1. Konsentrasi larutan atau konsentrasi pestisida, yaitu persentase kandungan pestisida dalam suatu larutan jadi.

3. Alat semprot
Alat untuk aplikasi pestisida terdiri atas bermacam-macam seperti knapsack sprayer (high volume) biasanya dengan volume larutan konsentrasi sekitar 500 liter. Mist blower (low volume) biasanya dengan volume larutan konsentrasi sekitar 100 liter. Dan Atomizer (ultra low volume) biasanya kurang dari 5 liter.

4. Ukuran droplet
Ada bermacam-macam ukuran droplet:Veri coarse spray lebih 300 µm, Coarsespray 400-500 µm, Medium spray 250-400 µm, Fine spray 100-250 µm,Mist 50-100 µm, Aerosol 0,1-50 µm,Fog 5-15 µm.

5. Ukuran partikel
Ada bermacam-macam ukuran partikel:Macrogranules lebih 300 µm, Microgranules 100-300 µm, Coarse dusts 44-100 µm, Fine dusts kurang 44 µm, Smoke 0,001-0,1 µm.

6. Ukuran molekul hanya ada satu macam, yatu kurang 0,001 µm

2.5 Batas Residu Pestisida

Penggunaan pestisida dalam proses produksi pertanian dapat mengakibatkan terdapatnya residu pestisida pada hasil pertanian. Residu itu dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan masyarakat. Oleh karena itu untuk mencegah dan melindungi kesehatan masyarakat dari kemungkinan terjadinya bahaya pestisida, maka perlu ditetapkan batas maksimum residu (BMR) pestisida pada hasil pertanian atau biasa disebut BMR.

Untuk mengikuti perkembangan penggunaan atau aplikasi pestisida, pemerintah dalam hal ini Departemen Pertanian telah Membentuk Kelompok Kerja Batas Maksimum Residu Pestisida. Tugas Kelompok Kerja tersebut adalah:

1)  Melakukan evaluasi dan menyusun kembali ketetapan batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian;

2) Merumuskan standar dan metode kegiatan-kegiatan penelitian untuk   penentuan batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian;

3) Menyusun usulan tentang mekanisme dan prosedur penerapan batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian;

4) Melakukan inventarisasi, evaluasi dan rekomendasi mengenai jaringan nasional lembaga pengujian dan sertifikasi residu pestisida pada hasil pertanian.

Standar Codex tentang residu pestisida menyatakan bahwa Batas Maksimum Residu pestisida (BMR) adalah konsentrasi maksimum residu pestisida (dalam mg/kg), yang direkomendasikan oleh Codex Allimentarius Commission untuk diijinkan terdapat pada komoditi pertanian termasuk pakan ternak. Dalam penetapan BMR harus didukung dengan data yang berdasarkan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan/ Scientific evidence dan mengutamakan keamanan dan kesehatan pada manusia. BMR ditetapkan melalui Joint FAO/WHO Meeting on Pesticide Residues (JMPR) yang bersidang setiap dua tahunnya untuk menentukan level residu yang dapat ditoleransi toxisitasnya.

Menurut JMPR maka Batas Maksimum Residu pestisida diestimasikan berdasarkan asesmen (kemungkinan) resiko residu pestisida seperti : pertama, asesmen toksikologik terhadap pestisida dan residu pestisida dalam pangan yang berasal dari komoditas pertanian dengan tujuan menetapkan BMR yang dapat diterima secara toksikologik, baik toksisitas kronik (asupan per hari yang dapat diterima/ ADI dan akut ( dosis referensi/ RfD)

Kedua, asessmen paparan residu pestisida di lahan produksi komoditas pertanian melalui review data residu pestisida yang berasal dari data percobaan residu. Ketiga, pestisida tersupervisi (supervised pesticide residue trial) dengan cara aplikasi pestisida menurut panduan nasional cara berbudidaya yang baik dan benar/Good Agricultural Practices agar dapat merefleksikan praktek penggunaan pestisida secara nasional.
Data yang direview termasuk data percobaan residu pestisida tersupervisi dengan dosis aplikasi tertinggi yang direkomendasikan secara nasional. Di samping tingkat residu pestisida terestimasi dari berbagai bahan pangan penyusun pola diet pada tingkat internasional dibandingkan terhadap asupan per hari yang dapat diterima (ADI) atau dosis referensi (RfD). Sehingga BMR ditetapkan apabila perbandingan antara rekomendasi nasional dengan ADI/ RfD menunjukkan aman untuk dikonsumsi masyarakat.

2.6 Efek Penggunaan Pestisida

Penggunaan pestisida telah menimbulkan dampak negatif, baik itu bagi kesehatan manusia maupun bagi kelestarian lingkungan. Dampak negatif ini akan terus terjadi seandainya kita tidak hati-hati dalam memilih jenis dan cara penggunaannya. Adapun dampak negatif yang mungkin terjadi akibat penggunaan pestisida diantaranya :

  1. Tanaman yang diberi pestisida dapat menyerap pestisida yang kemudian terdistribusi ke dalam akar, batang, daun, dan buah. Pestisida yang sukar terurai akan berkumpul pada hewan pemakan tumbuhan tersebut termasuk manusia. Secara tidak langsung dan tidak sengaja, tubuh mahluk hidup itu telah tercemar pestisida. Bila seorang ibu menyusui memakan makanan dari tumbuhan yang telah tercemar pestisida maka bayi yang disusui menanggung resiko yang lebih besar untuk teracuni oleh pestisida tersebut daripada sang ibu. Zat beracun ini akan pindah ke tubuh bayi lewat air susu yang diberikan. Dan kemudian racun ini akan terkumpul dalam tubuh bayi (bioakumulasi).
  1. Pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran air dan masuk ke dalam sistem biota air (kehidupan air). Konsentrasi pestisida yang tinggi dalam air dapat membunuh organisme air diantaranya ikan dan udang. Sementara dalam kadar rendah dapat meracuni organisme kecil seperti plankton. Bila plankton ini termakan oleh ikan maka ia akan terakumulasi dalam tubuh ikan. Tentu saja akan sangat berbahaya bila ikan tersebut termakan oleh burung-burung atau manusia. Salah satu kasus yang pernah terjadi adalah turunnya populasi burung pelikan coklat dan burung kasa dari daerah Artika sampai daerah Antartika. Setelah diteliti ternyata burung-burung tersebut banyak yang tercemar oleh pestisida organiklor yang menjadi penyebab rusaknya dinding telur burung itu sehingga gagal ketika dierami. Bila dibiarkan terus tentu saja perkembangbiakan burung itu akan terhenti, dan akhirnya jenis burung itu akan punah.
  1. Ada kemungkinan munculnya hama spesies baru yang tahan terhadap takaran pestisida yang diterapkan. Hama ini baru musnah bila takaran pestisida diperbesar jumlahnya. Akibatnya, jelas akan mempercepat dan memperbesar tingkat pencemaran pestisida pada mahluk hidup dan lingkungan kehidupan, tidak terkecuali manusia yang menjadi pelaku utamanya.

 

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP, SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit????

Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan???
Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek?????

Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah?????

Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi Contact Person 081938633462

INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di zaifbio@gmail.com

TERIMA KASIH DAN SALAM SUKSES

05/31/2010 Posted by | Ekologi Tumbuhan | 22 Komentar

EVOLUSI, TEORI EVOLUSI, DAN TEORI DARWIN

EVOLUSI, TEORI EVOLUSI, DAN TEORI DARWIN1

Oleh: Drs. Abdul Gafur, M.Si.

Program Studi Biologi FMIPA Unlam

Sejak dipopulerkan oleh Darwin satu setengah abad yang lalu, konsep evolusi telah berkembang menjadi konsep yang kompleks. Sebagai salah satu pemikiran yang paling mengguncang dunia, gagasan tentang evolusi mendapat tantangan hebat, di samping penganut yang kuat. Namun bagaimanapun juga, pemahaman yang benar mengenai apa yang dimaksud dengan evolusi, dan beberapa istilah serta konsep yang terkait, perlu sekali dimiliki oleh siapa saja sebelum ia memutuskan untuk mengikuti atau menentangnya.

Evolusi sebagai Fakta

Secara umum istilah ‘evolusi’ bermakna :

  • A gradual process in which something changes into a different and usually more complex or better form2.
  • Perubahan (pertumbuhan, perkembangan) secara berangsur-angsur dan perlahan-lahan (sedikit demi sedikit)”3.

Dalam konteks biologi, evolusi dimaksudkan sebagai ‘evolusi makhluk hidup, evolusi biologis, atau evolusi organik’ untuk menyatakan bahwa yang mengalami perubahan itu adalah makhluk hidup. Jadi, pada intinya dalam kata ‘evolusi’ terkandung makna proses perubahan. Dengan demikian, evolusi adalah peristiwa atau kejadian.

Apakah kejadian atau peristiwa itu memang benar-benar terjadi? Untuk itu diperlukan bukti. Begitu pula dengan evolusi. Jika evolusi (proses perubahan) itu memang terjadi, apa buktinya? Dikemukakanlah bukti-bukti evolusi yang pada dasarnya ingin menunjukkan bahwa perubahan itu memang benar-benar terjadi.

Peristiwa evolusi tidak dapat diamati secara langsung. Apa yang dikatakan sebagai ‘bukti evolusi’ selama ini sebenarnya hanyalah bukti inferensian. Dalam hal ini, ada sejumlah gejala atau fakta dianggap dapat membuktikan adanya evolusi karena hanya dapat dijelaskan dengan memuaskan berdasarkan konsep evolusi. Sudah barang tentu pembuktian seperti itu bersifat tentatif. Suatu penjelasan untuk sementara dianggap benar selama belum ada penjelasan lain yang lebih mampu menjelaskan suatu gejala secara lebih memuaskan.

Evolusi sebagai Teori

Teori adalah “Systematically organized knowledge applicable in a relatively wide variety of circumstances, especially a system of assumptions, accepted principles, and rules of procedure devised to analyze, predict, or otherwise explain the nature or behavior of a specified set of phenomena4. Jika fenomenanya adalah gravitasi, teori yang dipergunakan untuk menjelaskannya disebut teori gravitasi. Begitu pula, teori untuk menjelaskan kejadian perubahan makhluk hidup (evolusi) dikenal sebagai ‘teori evolusi’.

Jadi, teori evolusi dimaksudkan sebagai penjelasan tentang bagaimana evolusi itu terjadi (mekanisme evolusi). Bisa terjadi ada beberapa penjelasan yang diberikan mengenai suatu fenomena. Mengenai evolusi, pada abad ke-19 Lamarck memberikan penjelasan bagaimana evolusi itu terjadi, yang dikenal sebagai teori evolusi Lamarck atau teori Lamarck. Penjelasan yang diberikan oleh Lamarck itu kemudian dianggap tidak benar karena ada penjelasan lain yang dipandang lebih memuaskan, terutama yang diberikan oleh Darwin dan dikenal sebagai teori evolusi Darwin atau teori Darwin.

Selain sebagai penjelasan tentang evolusi, teori evolusi bisa juga dimaksudkan sebagai teori yang menyatakan bahwa ada ada kekerabatan di antara organisme (Panchen, 1992) atau ada perubahan dan diversifikasi makhluk hidup. Dalam hal ini teori evolusi merupakan penjelasan terhadap berbagai fenomena yang kemudian ditunjuk sebagai bukti evolusi.

Darwin dan Evolusi

Ada dua macam sumbangsih Darwin yang berkaitan dengan evolusi. Yang pertama adalah ia menyajikan sejumlah besar fakta sebagai bukti evolusi. Yang kedua, ia memberikan penjelasan mengenai mekanisme evolusi, yang dikenal sebagai teori Darwin.

Mayr5 membedah paradigma evolusioner Darwin menjadi lima teori utama yang menjadi dasar dari pemikiran tentang evolusi:

  1. Evolusi itu sendiri. Teori ini menyatakan bahwa dunia tidaklah konstan atau baru saja tercipta dan tidak pula bersiklus (melingkar), melainkan terus berubah, dan bahwa organisme mengalami transformasi (perubahan) dalam perjalanan waktu.
  2. Asal usul yang sama (common descent). Teori ini menyatakan bahwa setiap kelompok organisme diturunkan (berasal) dari moyang yang sama, dan bahwa semua kelompok organisme akhirnya dirunut balik ke satu asal kehidupan di bumi.
  3. Perbanyakan spesies. Teori ini menjelaskan tentang asal mula keanekaragaman makhluk hidup yang amat besar, melalui perpecahan menjadi spesies-spesies anak ataupun ‘pertunasan’, yaitu terbentuknya populasi pendiri yang terisolasi geografis dan akhirnya berkembang menjadi spesies baru.
  4. Gradualisme. Menurut teori ini perubahan evolusioner terjadi melalui perubahan populasi secara bertahap, bukan dengan dihasilkannya individu baru secara mendadak yang merupakan tipe baru.
  5. Seleksi alami (Natural Selection). Menurut teori ini perubahan evolusioner tercapai melalui produksi berlimpah variasi di setiap generasi. Sedikit individu yang bertahan hidup, berkat karakter-karakter terwariskan yang lebih adaptif, menurunkan generasi selanjutnya.

Inti dari teori evolusi Darwin adalah bahwa evolusi terjadi melalui seleksi alami. Gagasannya itu lahir melalui penalaran induktif dan deduktif. Prosesnya diikhtisarkan sbb6.

    • Pengamatan 1: Kecenderungan populasi untuk bertambah besar, dengan peningkatan secara geometrik, karena potensi reproduksi organisme yang sangat tinggi.
    • Pengamatan 2: Kenyataannya, jumlah individu dalam populasi kurang lebih konstan.
    • Kesimpulan 1 : Adanya ‘struggle for existence’ alias ‘struggle for survival
    • Pengamatan 3 : Organisme bervariasi.
    • Kesimpulan 2 : Adanya ‘natural selection’ alias ‘survival of the fittest’.

Mengenai variasi, Darwin menekankan pentingnya variasi yang terwariskan dengan mengatakan “… any variation which is not inherited is unimportant for us7.”. Kemudian, mengenai seleksi alami Darwin sejak semula mengemukakan bahwa “… natural selection has been the main, but not the exclusive, means of modification.”8

Kelemahan paling serius dari penjelasan Darwin berpangkal dari ketidaktahuannya tentang hereditas (pewarisan sifat). Teori yang diajukannya mengenai pewarisan sifat ini terbukti sama sekali keliru.

Sintesis Modern

Umumnya biologiwan sekarang mengakui bahwa evolusi adalah fakta. Karena itu, istilah ‘teori’ dalam hal ini dipandang tidak cocok lagi, kecuali untuk menyebut berbagai model yang mencoba menjelaskan bagaimana evolusi itu berlangsung. Diskusi panjang lebar di kalangan biologiwan sekarang hanya mengenai mekanismenya.

Sejak abad ke-20 genetika dan biologi populasi menyisip ke dalam kajian evolusi. Teori Darwin tentang seleksi alami tidak lagi dipandang sebagai teori terbaik tentang mekanisme evolusi. Gagasan sekarang tentang evolusi biasanya disebut sebagai Modern Synthesis (Sintesis Modern) yang mencakup mekanisme selain seleksi alami. Evolusi menjadi didefinisikan sebagai perubahan komposisi genetik (frekuensi alel di dalam kumpulan gen) suatu populasi dari generasi ke generasi. Ketika biologiwan berkata ia telah mengamati evolusi, maksudnya ia telah mendeteksi adanya perubahan dalam frekuensi gen di dalam suatu populasi. Sering adanya perubahan frekuensi gen itu diinferensikan dari perubahan fenotipe yang dapat diwariskan (Moran, 1997b).

Futuyma (1986) menguraikan prinsip utama Sintesis Modern sebagai berikut.

  1. Populasi mengandung variasi genetik yang muncul melalui mutasi acak (artinya tidak terarah secara adaptif) dan rekombinasi.
  2. Populasi berevolusi dengan perubahan-perubahan dalam frekuensi gen akibat random genetic drift, gene flow, dan khususnya seleksi alami.
  3. Sebagian besar varian genetik mempunyai pengaruh fenotipe yang kecil sehingga perubahan fenotipe terjadi bertahap.
  4. Diversifikasi terjadi melalui spesiasi, yang normalnya melibatkan berkembangnya secara bertahap isolasi reproduksi di antara populasi-populasi.
  5. Proses-proses tersebut, yang terus berlangsung dengan cukup lama, membuahkan perubahan-perubahan yang cukup besar untuk membenarkan ditetapkannya taraf-taraf taksonomik yang lebih tinggi (genus, famili, dst.)

Ada dua macam evolusi: mikroevolusi dan makroevolusi. Perubahan di dalam populasi, yang hanya berupa perubahan frekuensi alel, disebut mikroevolusi. Perubahan yang lebih besar, misalnya yang menyebabkan terbentuknya spesies baru, disebut makroevolusi. Sebagian evolusionis berpendapat bahwa makroevolusi hanyalah kumpulan mikroevolusi. Sebagian lagi berpendapat bahwa mekanisme makroevolusi berbeda dari perubahan mikroevolusi. Punctuated equillibrium adalah salah satu teori yang diajukan untuk menjelaskan mekanisme makroevolusi berdasarkan pola yang terekam dalam catatan fosil.

Seleksi Alami

Seleksi alami dipandang sebagai proses yang mengubah frekuensi gen di dalam populasi. Colby (1997) mendefinisikan seleksi alami sebagai keberhasilan reproduksi yang berlainan di antara kelompok-kelompok varian genetik di dalam kumpulan gen (gene pool). Endler (1992) mendeskripsikan  seleksi alami sebagai proses yang terjadi jika populasi memiliki 3 kondisi:

  1. Variasi di antara individu-individu dalam hal suatu sifat tertentu (variasi fenotip)
  2. Hubungan yang konsisten antara sifat itu dengan kemampuan reproduksi dan kelangsungan hidup (variasi fitness)
  3. Hubungan yang konsisten, untuk sifat itu, antara tetua dan keturunannya; hubungan itu setidaknya secara parsial tidak tergantung pada efek lingkungan (pewarisan sifat)

Apabila ketiga kondisi itu terpenuhi, satu atau dua hal berikut akan terjadi:

  1. Distribusi frekuensi sifat itu akan berbeda di antara kelompok-kelompok umur atau tahap-tahap sejarah-hidup, dan perbedaan itu tidak sesuai dengan yang diramalkan berdasarkan ontogeni (pertumbuhan dan perkembangan).
  2. Apabila populasi tidak dalam keadaan setimbang, distribusi sifat itu di dalam semua keturunan dalam populasi akan berbeda dari distribusinya di dalam semua tetua, tidak sesuai dengan yang diramalkan berdasarkan kondisi (a) dan (c) saja.

Kondisi (a), (b), dan (c) mencakup semua aspek biologi, dan proses (hasil 1 dan 2) murni berasal dari peluang dan statistika.

Seleksi alami dapat dipecah menjadi banyak komponen. Beberapa di antaranya adalah kelangsungan hidup dan dayatarik seksual. Seleksi seksual adalah seleksi alami yang bekerja pada faktor-faktor yang berperan terhadap keberhasilan organisme untuk kawin.

Genetic Drift

Genetic drift adalah perubahan secara kebetulan dalam frekuensi alel suatu kumpulan gen. Meski bisa terjadi pada populasi besar maupun kecil, peristiwa ini terutama terjadi pada populasi yang kecil. Sebagai mekanisme evolusi, genetic drift dipandang setara dengan seleksi alami, malah bisa lebih penting. Mana sebenarnya yang lebih penting di antara keduanya masih diperdebatkan, tetapi setidaknya sebagian tergantung pada ukuran populasi. Di populasi kecil, drift bisa jauh lebih berperan.  Bottleneck effect dan founder effect adalah dua contoh dari proses stokastik tersebut. Sebagai proses acak, genetic drift tidak akan memberikan hasil yang sama pada populasi yang berlainan (Mader, 2001).

Mutasi

Mutasi merupakan bahan mentah evolusi. Peran pentingnya adalah untuk menghasilkan variasi. Mutasi pada dasarnya merupakan kekeliruan dalam penyalinan DNA. Macamnya berupa perubahan kode genetik, penyisipan atau hilangnya suatu gen, dan inversi atau duplikasi gen atau bagian gen. Kebanyakan mutasi dipandang netral dari sudut pandang fitness. Banyak mutasi yang tidak segera memperlihatkan efek pada fenotipe, sehingga tidak terdeteksi. Akan tetapi, kalau mutasi itu sampai menimbulkan efek pada fenotipe, biasanya efeknya merugikan. Hanya sedikit sekali mutasi yang menguntungkan. Nilai adaptif mutasi sepenuhnya tergantung pada kondisi lingkungan.

Sekali alel bermutasi, kombinasi alel-alel tertentu bisa lebih adaptif dari kombinasi yang lain pada kondisi lingkungan tertentu. Fenotipe yang paling cocok baru muncul apabila alel-alel yang tepat dikelompokkan oleh peristiwa rekombinasi.

Gene Flow/Migration

Migrasi gen adalah pergerakan alel di antara populasi-populasi melalui perkawinan individu antarpopulasi.  Individu baru yang masuk ke suatu populasi, lalu kawin di populasi itu, bisa membawa alel baru ke kumpulan gen populasi itu. Dengan demikian, variasi di dalam populasi itu meningkat.

Penutup

Evolusi, teori evolusi, dan teori Darwin adalah tiga hal yang berbeda meskipun berkaitan sangat erat. Evolusi dapat dipandang sebagai fakta dan sebagai teori. Sebagai fakta, evolusi adalah perubahan. Teori evolusi menjelaskan mekanisme perubahan itu. Teori Darwin hanyalah salah satu dari beberapa teori evolusi yang pernah diajukan, dan sekarang telah banyak mengalami penyempurnaan. Menentang teori Darwin belum tentu menentang teori evolusi karena bisa juga berarti mengajukan teori evolusi lain yang lebih baik dari teori evolusi Darwin. Menentang teori evolusi seyogyanya dilakukan dengan memberikan penjelasan (teori) lain yang lebih dapat diterima mengenai berbagai fakta yang selama ini diyakini sebagai bukti evolusi atau fakta yang selama ini dapat dijelaskan berdasarkan konsep evolusi.

Daftar Pustaka

    Appleman, P. (editor). 1970. Darwin. W.W. Norton & Company. New York.
    Colby, C. 1997. Introduction to Evolutionary Biology. Talk. Origins. Archive.
    Endler, J.A. 1992. Natural Selection: Current Usages. Dalam E.F. Keller dan E.A. Lloyd (editor). Keywords in Evolutionary Biology. Harvard University Press. Cambridge.
    Futuyma, D.J. 1986. Evolutionary Biology. Second edition. Sinauer Associates.
    Hanes, J. 1997. What is Darwinism?. Talk. Origins. Archive.
    Mader, S.S. 2001. Biology. Seventh edition. McGraw-Hill. Boston.
    Moran, L. 1997a. The Modern Synthesis of Genetics and Evolution. Talk. Origins. Archive.
    Moran, L. 1997b. What is Evolution?. Talk. Origins. Archive.
    Moran, L. 1997c. Random Genetic Drift. Talk. Origins. Archive.

Moran, L. 1997d. Evolution is a Fact and a Theory. Talk. Origins. Archive.

05/26/2010 Posted by | Evolusi Organik | 4 Komentar

Cestoda

PENDAHULUAN

CACING (Helminths) berasal dari kata “Helmins atau Helminthos (Greek) yang secara umum berarti organisme yang tubuhnya memanjang dan lunak. Didalam Soulsby (1982), cacing yang penting dipelajari untuk kedokteran hewan ada 2 pilum antara lain :

(1) PLATYHELMINTHES dan

(2). NEMAHELMINTHES.

Kestoda filumnya Platyhelminthes dan berbeda dengan Trematoda , karena tidak memiliki rongga badan maupun saluran pencernaan dan semua organ-organ tersimpan didalam jaringan parenkim. Tubuh umumnya panjang, pipih dorso-ventral (atas bawah) berbentuk pita dan tersusun oleh banyak segmen

Morfologi : berukuran panjang dari beberpa melimeter sampai beberapa meter. Secara umum tubuhnya dapat dibedakan menjadi 3 bagian terdiri dari :

(1) SKOLEK (kepala)

(2) KOLUM (leher)

(3) STROBILA (badan)

SKOLEK, umumnya memiliki 4 buah alat penghisap (“sucker” = acetabula”) yang pada beberapa jenis memiliki kait (dipersenjatai) tetapi ada juga yang hanya memiliki 2 buah alat penghisap yang disebut “Bothria” yang terletak dibagian pinggir berfungsi untuk perlekatan. Pada Skolek juga bisa ditemukan bagian yang menonjol disebut ROSTELUM yang pada beberapa jenis juga dilengkapi dengan kait (dipersenjatai), serta fungsinya juga untuk perlekatan. Bentuk Kait sangat bervariasi, tetapi secara umum terdiri dari sebuah tangkai, sebuah prisai dan sebuah mata kait.

KOLUM, ukurannya pendek dan tidak bersegmen, merupakan tempat terbentuknya segmen. Segmen yang baru terbentuk akan mendorong segmen yang terbentuk sebelumnya, sehingga akhirnya terbentuklah strobila.

STROBILA, tersusun oleh banyak SEGMEN dan setiap segmen disebut PROGLOTIDA. Dari awal pembentukan proglotid, semakin kebelakang setiap proglotid telah menjadi semakin matang (mengalami proses pematangan), sehingga pada akhirnya proglotid dapat dibedakan menjadi :

strobila

(a) Proglotid muda adalah proglotid yang baru terbentuk dan alat kelaminnya belum berkembang sempurna

(b) Proglotid dewasa adalah proglotid yang organ kelaminnya sudah berkembang sempurna

(c) Proglotid bunting adalah proglotid yang sudah penuh mengandung telur

Strobila tersusun oleh beberapa segmen yang bentuk dan ukurannya bervariasi pada setiap spesies. Setiap proglotida dilengkapi dengan satu atau dua pasang organ reproduksi (organ kelamin) jantan  dan betina (bersifat hermaprodit). Lubang kelamin (muara kelamin) jantan dan betina biasanya berdekatan dan terletak didalam satu legokan dangkal pada sisi lateral setiap segmen. Pembuahan terjadi inter proglotida, tetapi pembuahan secara antar proglotida tebih umum (terjadi karena pada setiap proglotida testes lebih dahulu berkembang sempurna dibandingkan ovarium sehingga proglotid yang lebih keanterior akan membuahi ovarium yang lebih di posterior.

Jika telur sudah dibuahi pada setiap proglotid, maka organ reproduksinya akan mengalami degenerasi dan tinggallah uterus yang penuh dengan telur . Pada kebanyakan cacing pita, telur tidak keluar, sehingga bertumpuk didalam proglotid dan disebut proglotid bunting. Proglotid bunting kemudian akan pecah atau keluar dari dalam tubuh hospes definitif bersama tinja atau proglotid keluar sendiri secara aktif.

TELUR, awal perkembangan embrional telur sepenuhnya terjadi didalam uterus, sehingga setelah keluar dari dalam uterus telur sudah mengandung embrio berbentuk bulat atau lonjong yang disebut ONKOSFIR (Embriofor) atau KORASIDIUM. Onkosfir atau korasidium didalamnya ditemukan larva yang memiliki 3 pasang kait yang dikenal dengan nama “hexacant embrio”. Telur paling luar dibungkus oleh kapsul, kemudian selaput vitelin, embriofor (egg shell = onchosphere coat.

KULIT, lapisan paling luar dari cacing pita adalah tersusun oleh tegumen (bukan kutikula) karena mempunyai kemampuan yang tinggi untuk menghisap. Cacing pita tidak memiliki saluran pencernaan maupun sistem peredaran darah. Makanan dihisap langsung melalui dinding tubuhnya.

SISTEMA, sitem syaraf teresusun dari beberapa ganglion pada skolek dengan komisura melintang diantaranya, tiga batang syaraf longitudinal pada sitiap sisi tubuh. Sintem sekresi terdiri dari sel api atau selenosit. Sistem reproduksi, bersifat hermaprodit memiliki organ kelamin jantan (testes) dan betina (ovarium) pada setiap proglotid. Testes dan ovarium memiliki saluran yang akhirnya bermuara pada lubang kelamin.

SIKLUS HIDUP, hospes definitif (HD) mengeluarkan proglotid bunting atau dalam bentuk rangkaian segmen secara tersendiri dan atau bersama tinja pada saat defikasi. Proglotid akan hancur (mengalami proses apolysis), sehingga telur berserakan. Telur apabila termakan oleh hospes intermedier (HI) yang sesuai, didalam saluran pencernaannya karena pengaruh sekresi (lambung, usus, hati dan pankreas) Onkosfer tercerna sehingga menyebabkan aktifnya hexacant embrio. Hexacant embrio dengan kaitnya akan menembus dinding usus dan akhirnya bersama aliran darah atau limfe beredar keseluruh tubuh menuju tempat predileksi. Pada tempat predileksi hexacant embrio akan  mengalami perkembangan lebih lanjut menjadi bentuk peralihan (“metacestoda”).

BENTUK PERALIHAN, cacing pita ada beberapa bentuk antara lain :

  1. SISTISERKUS (Kistiserkus = “Cysticercus”) atau cacing gelembung (kista), merupakan kantong besar berisi skolek tunggal yang invaginasi (membalik dari dalam ke arah luar), biasanya ditemukan  pada vertebrata.
  1. SISTISERKOID (Kistiserkoid = “Cysticercoid”), berbentuk kantong kecil yang rongganya hampir tidak ada dan skolek juga tunggal evaginasi (tidak membalik dari dalam ke arah luar), biasanya ditemukan pada invertebrate
  1. STROBILOSERKUS, terdiri dari skolek yang evaginasi dan dihubungkan dengan kantong oleh rangkaian proglotid yang belum dewasa, biasanya ditemukan pada vertebrata.
  1. MULTICEP (Senurus, Coenurus), merupakan kista besar dengan sejumlah skolek invaginasi yang berkembang pada dindingnya, biasanya ditemukan pada vertebrata.
  1. EKINOKOKUS (Kista Hidatida), merupakan kista besar yang berisi kista – kista yang lebih kecil atau kapsula anak, masing-masing memiliki sejumlah skolek invaginasi, biasanya ditemukan pada vertebrata.
  1. TETRATRIDIUM, berbentuk larva memanjang dengan tubuh padat, skolek invaginasi tertanam kedalamnya. Hanya larva stadium 2 dari Mesocestoides memiliki bentuk peralihan ini dan dapat memperbanyak diri secara aseksual.

Jika bentuk peralihan tertelan oleh hospes definitif, karena pengaruh sekresi lambung dan saluran cerna bentuk peralihan akan tercerna dan skoleknya akan bebas dan menempel pada dinding usus dan proses pembentukan segmen segera dimulai.

KLASIFIKASI, dalam menetapkan jenis kestoda oleh ahli sistimatika dan evolusi ada perbedaan, pada bahan ajar ini klasifikasi berdasarkan Soulsby, (1982).

Kestoda dapat dikalsifikasikan menjadi 2 kelas yaitu :

(1) Cotyloda dan

(2) Eucestoda.

Perbedaan Kelas

COTYLODA

Kelas

EUCESTODA

Skolek sendok globuler
Alat perlekatan 2 buah disebut Bothria dan tidak meiliki kait 4 buah disebut Acetabula dan beberapa diantaranya dilengkapi kait
Rostelum Tidak ada Umumnya ada
Telur Onchosfer, setelah keluar tubuh, memerlukan sekali lagi perkembangan shg terbentuk korasidium yang bersilia dan baru akan keluar dari dalam telur dan aktif mencari hospes intermedier Onkosfer, setelah keluar tubuh tidak perlu mengalami perkembangan lagi dan secara pasif harus termakan oleh hospes intermedier
Jumlah HI 2 1

Kelas

COTYLODA

MORFOLOGI, Skolek, berbentuk seperti sendok, memiliki 2 buah alat perlekatan yang berupa celah otot longitudinal disebut Bothria dan tidak memiliki kait, juga tidak memiliki rostelum (4,3). Kolum dan Proglotid sama dengan  pada pendahuluan. Telur : awal perkembangan telur sama sepenuhnya terjadi didalam uterus, hanya saja telur kelas Cotyloda setelah keluar dari dalam usus hospes definitif memerlukan perkembangan embrional sekali lagi sehingga didalam telur terbentuk Korasidium yang memiliki silia

Siklus hidup : memerlukan 2 HI, telur yang memiliki operkulum akan keluar bersama tinja, Korasidium akan keluar dari dalam telur melalui operkulum, karena memiliki silia akan berenang mencari HI.I. Korasidium akan menempel pada bagian lunak dari HI. I, kemudian melepaskan silianya dan menggunakan kaitnya menusuk bagian lunak dan menerobos masuk kedalam tubuh HI.I. Didalam tubuh HI. I, korasidium akan berkembang menjadi Proserkoid. Jika HI. I termakan oleh HI. II maka proserkoid akan berkembang lebih lanjut menjadi Pleroserkoid yang bersifat infektif.   H D akan terinfeksi jika menelan HI. II yang infektif

Catatan : Korasidium akan menempel pada bagian lunak (lembut) dari Hospes Intermedier I, melepaskan silia  dan baru menembus kutikula dan berkembang menjadi Proserkoid. Korasidium akan mati jika 24 setelah keluar dari telur tidak menemukan HI.I.  Berbeda dengan Eucestoda, dimana Onkosfer tidak bisa berenang dan harus dimakan oleh HI.I

Kelas Cotyloda memiliki 4 Ordo, antara lain :

(1) Diphyllidea

(2) Pseudophyllidea

(3) Spathebothriidea dan

(4) Caryophyllaeidea.

Dari ke-4 ordo diatas, hanya satu ordo yang penting untuk kedokteran hewan yaitu Ordo Diphyllidea. Ordo Diphyllidea hanya memiliki satu familia yaitu : Diphyllobothriidae dan memiliki 2 genus antara lain :

(1). Diphyllobothrium dan

(2). Spirometra

Genus

Diphyllobothrium

Spesies. DIPHYLLOBOTHRIUM LATUM

Hospes definitif : berpredileksi didalam usus halus anjing, kucing, carnivora lain dan manusia dan babi.

Morfologi, merupakan cacing pita besar dengan panjang bisa mencapai 15 – 20 meter, serta tersusun oleh 4.000 proglotid dan tumbuh rata-rata 2 cm per hari. Skolek : bentuknya seperti sendok, tidak memiliki rostelum, bothria berjumlah 2 buah yang juga tidak dilengkapi dengan kait. Proglotid : lebarnya lebih panjang dibandingkan panjangnya (panjangnya lebih pendek dibandingkan lebarnya). Organ reproduksinya (testes dan ovarium) tunggal dan lubang kelamin terletak dibagian tengah setiap segmen. Uterusnya melingkar berbentuk roset (seperti bunga mawar). Telur : berbentuk bulat telur, berwarna kekuningan dan mempunyai operkulum berukuran 70 X 45 mikron keluar melalui lubang kelamin. Anjing dan kucing mungkin tidak penting sebagai sumber infeksi, karena kebanyakan telur yang dikeluarkan infertil.

Siklus hidup : HI.I adalah copepoda genus Diaptomus dan HI. II adalah ikan air tawar. Bentuk Peralihan pada HI.I adalah Proserkoid dan pada HI. II Pleroserkoid  Perioda prepaten selama 5 – 6 minggu (1)

Identifikasi : hampir sama dengan Spirometra, bedanya Diphyllobothrium latum uterusnya melingkar berbentuk roset (3)

Catatan : strobila tumbuh rata-rata 2 cm setiap hari, jika cacing bisa hidup selama 10 tahun (umur yang bisa dicapai), maka bisa diprediksi panjang cacing bisa mencapai 7 km dan memproduksi 2 milyar telur (2,4,3).

Genus

Spirometra

Spesies : SPIROMETRA MANSONOIDES

Hospes definitif : berpredileksi didalam usus halus kucing, kadang-kadang anjing, babi dan mamalia lain (3)

Morfologi, merupakan cacing pita relatif kecil sampai berukuran sedang, sedikit berotot dengan bothria yang mempunyai celah lebar tetapi dangkal dan sebuah uterus berbentuk spiral sederhana dan tidak pernah berbentuk roset (3)

Siklus hidup, HI.I Copepoda genus Cyclops dan HI. II di ASIA adalah kelinci, kodok dan burung (1)

Identifikasi : hampir sama dengan Diphylobothrium latum, bedanya Spirometra mansonoides uterusnya melingkar berbentuk spiral (3)

Kelas

EUCESTODA

Skolek berbentuk globuler (menyerupai bola), secara normal memiliki 4 buah alat perlekatan (“sucker, acetabula”) yang terletak dibagian pinggir dan pada beberapa jenis memiliki kait (dipersenjatai). Beberapa jenis cacing, pada skolek juga dapat ditemukan bagian yang menonjol disebut Rostelum yang juga pada beberapa jenis memiliki kait (dipersenjatai) serta fungsinya juga sebagai alat perlekatan (4,3). Bentuk kait sangat bervariasi, tetapi secara umum terdiri dari : sebuah tangkai, sebuah prisai dan sebuah mata kait (6).

Kolum (“neck, leher) , Strobila, bentuk telur dan siklus hidup seperti pada pendahuluan kestoda.

Klasifikasi menurut Sousby, (1982) selengkapnya sebagai berikut : Filum : Platyhelminthes, memiliki 2 kelas penting yaitu (1) Cotyloda dan (2)  Eucestoda. Kelas Eucestoda memiliki 7 ordo antara lain :

(1) Anoplocephalidea

(2) Davaineidea

(3) Dilepididea

(4) Hymenolepididea

(5) Taeniidea

(6) Nesocestoididea dan

(7) Protocephalidea.

Ordo terpenting yang akan dibahas selanjutnya adalah :

(1) Ordo Anaplocephalidea, memiliki 3 Famili dan hanya Familia Anoplocephalidae dengan Genus Moniezia.

(2) Ordo Davaineidea hanya memiliki satu Familia : Danaineidae dengan dua genus 2.1 Davainea dan 2.2. Raillietina.

(3) Ordo Dilepididea memiliki 2 Fanili keduanya penting, 3.1. Dilepididae dengan genus : Amoebotaenia dan 3.2 Dipyllididae dengan Genus 3.2.1 Choanotaenia dan 3.2.2 Dipylidium.

(4) Ordo Hymenolepididea memiliki 2 Famili, keduanya penting: 4.1 Hymenolepididae dengan Genus Hymenolepis dan  4.2 Fimbriariidae dengan Genus Fimbriaria.

(5) Taeniidea hanya memiliki satu Famili Taeniidae dengan genus 5.1.1 Taenia dan 5.1.2 Echinococcus

Ordo ANOPLOCEPHALIDEA

nggota dari ordo Anoplocephalidae merupakan cacing pita besar, berpredileksi didalam usus halus Ruminansia. Skolek : tidak memiliki Rostelum, asetabulanya tidak memiliki kait. Proglotid : lebar segmen lebih panjang dibandingkan panjangnya, setiap proglotid memiliki 2 pasang organ reproduksi dengan 2 lubang kelamin pada setiap sisi lateral segmen (4,5). Telurnya berbentuk segitiga tidak beraturan (5). Bentuk peralihannya adalah Sistiserkoid (3). Dari Ordo Anoplocephalidea, hanya Famili Anoplocephalidae yang terpenting.

Famili ANOPLOCEPHALIDAE

Cacing dewasa berpredileksi didalam usus halus domba, kambing dan sapi (2,3). Memiliki kelenjar Interproglotida yang berbentuk roset (seperti bunga mawar) atau tersusun pendek. Hanya ada satu genus yang terpenting dipelajari untuk kedokteran hewan yaitu Moniezia (4)

Genus MONIEZIA

Spesies Moniezia yang terpenting : (1) M. expansa dan (2). M. benedini. Kunci identifiaksi adalah lebar segmen, letak dan bentuk kelenjar interproglotida

Spesies MONIEZIA EXPANSA

Hospes definitif : paling sering didalam usus domba, kambing dibandingkan sapi (2,3).

Morfologi : cacing bisa mencapai panjang 2 – 6 meter. Skolek : berukuran lebar 0,36 – 0,8 mikron dan yang paling jelas terlihat adalah asetabulanya tidak bersenjata.

Proglotid : dapat mencapai lebar 1,6 cm yang lebih panjang dibandingkan panjangnya, organ reproduksi ganda dan lubang kelamin terlihat opak dengan garis putih keluar pada tepi lateral. Ovarium dan kelenjar vitelin berbentuk melingkar setiap sisi dan testes menyebar diseluruh bagian. Pada setiap batas belakang segmen ditemukan sebaris kelenjar interproglotida berbentuk roset (seperti bunga mawar). Telurnya bentuknya bersudut atau bisa berbentuk segi tiga dengan diameter sekitar 56 – 67 mikron (2,4,3)

Siklus hidup : HI.  berbagai jenis tungau rumput (Oribatid), termasuk genus : Ceratozetes, Galumna, Oribartula, Peloribates, Pergalumna, Protoscheroribates, Scheloribates, Scutovertex dan Zygoribatula. Bentuk peralihannya adalah Sistisercoid (3) terbentuk setelah 1 – 4 minggu (5). Perioda prepaten 6 minggu dan lama hidup cacing selama 3 bulan.

Spesies MONIEZIA BENEDINI

Hospes definitif , berpredileksi di dalam usus halus sapi, domba dan ruminansia dan paling umum pada sapi dibandingkan dengan yang lainnya (3).

Morfologi : hampir sama dengan M. expansa, bedanya M. benedini ukuran proglotid  lebih lebar dengan ukuran 2,6 cm yang lebih panjang dibandingkan panjangnya, kelenjar interproglotida, berupa barisan pendek menutupi pertengahan proglotida dan tidak seperti M. expanza tersusun sebaris disebelah posterior setiap segmen. Telurnya berbentuk segi empat berukuran 75 mikron (4,5,3)

Siklus hidup : HI.  berbagai jenis tungau rumput (Oribatid), termasuk genus : Ceratozetes, Galumna, Oribartula, Peloribates, Pergalumna, Protoscheroribates, Scheloribates, Scutovertex dan Zygoribatula. Bentuk peralihannya adalah Sistisercoid (3) terbentuk setelah 4 minggu. Perioda prepaten 37 – 40 hari  (4)

Ordo DAVAINEIDEA

Merupakan cacaing pita sangat kecil sampai sedang, berpredielksi didalam usus halus unggas. Pada Skolek : ditemukan acetabula yang dipersenjatai dan Rostelumnya retraktil (bisa memanjang dan memendek) serta dipersenjatai kait berbentuk palu dengan jumlah banyak. Proglotid : organ kelamin biasanya tunggal (sepasang). Telur ditemukan didalam kapsula telur dan bentuk peralihannya adalah sistiserkoid (4,3). Ordo Davaineidea, hanya memiliki satu  Familia : Davaineidae

Familia DAVANEIDAE

Cacing dewasa berpredileksi di dalam usus halus mamalia dan burung, Telurnya berada didalam kapsula telur (4), hanya ada 2 Genus yang terpenting : (1) Davainea dan (2) Raillietina

Genus DAVAINEA

Spesies : DAVAINEA PROGLOTINA

Hospes definitive : merupakan cacing pita yang paling patogen, berpredileksi di dalam duodenum ayam, burung merpati dan berbagai burung lainnya (2,4,5,3).

Morfologi : cacing dewasa berukuran mikroskopis (panjangnya 0,5 – 3 mm) hanya memiliki 4 – 9 segmen. Skolek : memiliki Rostelum yang dipersenjatai dengan 4 – 19 kait yang panjang berukuran 7 – 8 mikron tersusun dalam 2 baris. Asetabulanya juga dipersenjatai dengan kait yang berukuran lebih kecil dan mudah lepas tersusun dalam 4 – 5 baris. Organ kelamin tunggal dan lubang genital letaknya teratur selang seling pada setiap segmen. Telurnya berbentuk bulat berdiameter 28 – 40 mikron terbungkus tunggal didalam kapsula telur dan hampir selalu memenuhi parenkim proglotida bunting (2,4,3).

Siklus Hidup : HI adalah siput genus (agrolimax, Arion, Cepoda dan Limax) dan bentuk peralihannya adalah sistiserkoid (4,5,3) terbentuk setelah 2 – 4 minggu, dan cacing akan melepaskan proglotid gravid 2 minggu setelah infeksi (masa prepaten selama 2 minggu) (2,4,3)

Genus

RAILLIETINA

Merupakan cacing pita yang paling umum menginfeksi usus halus ayam. Pada Skolek : ditemukan Rostelum yang dipersenjatai kait berbentuk palu yang tersusun dalam lingkaran ganda. Asetabulanya juga kadang-kadang dipersenjatai dengan kait kecil dan bergenerasi yang tersusun dalam beberapa lingkaran. Proglotid bunting. ditemukan kantong parenkimatosa, masing-masing dengan satu atau beberapa telur (3)

Spesies, ada 4 spesies yang penting antara lain :

(1) Raillietina cesticillus

(2) Raillietina echinobothrida

(3) Raillietina tetragona dan

(4) Raillietina giargiensis (4)

Spesies

RAILLIETINA CESTICELLUS

Hopes definitif : cacing pita yang paling umum menginfeksi usus halus bagian anterior ungas peliharaan (4). Morfologi : panjangnya 4 cm dan jarang sampai 15 cm. Skolek : besar, ditemukan rostelum lebar dipersenjatai 400 – 5000 kait kecil dalam dua baris. Asetabulanya bulat kecil tanpa dipersenjatai (2,3). Proglotid : setiap kapsula telur berisi satu telur dengan diameter 75 – 88 mikron

Siklus hidup : HI. Adalah kumbang tinja, kumbang tanah dan kumbang hitam genus (Amara, Anisotarus, Bradycellus, Calathus, Choeridium, Cratacanthus, Harpalus, Paecilus, Pterostichus, Selenophorus, Stenolaphus, Stenocellus dan Zabrus (4,3). Bentuk peralihannya adalah sistiserkoid terbentuk setelah 20 hari (4)

Spesies

RAILLIETINA ECHINOBOTHRIDA

Hospes definitif: berpredileksi di dalam usus halus ayam dan kalkun (4,3). Morfologi : panjangnya bisa mencapai ukuran lebih dari 25 cm. Pada Skolek ditemukan Rostelum yang dipersenjatai 200 kait berukuran panjang 10 – 13 mikron dalam dua baris. Asetabulanya berbentuk bulat telur dipersenjatai 8 – 10 baris kait yang agak besar dan memiliki garis bagan yang melingkar (2,3). Kolum tidak jelas setelah skolek. Proglotid : setiap kapsula telur berisi 6 – 12 telur. Sering menimbulkan nodula pada tempat melekatnya yaitu pada dinding usus (2).

Siklus hidup : HI adalah semut genus : Pheidole (vinelandica, pallidula) dan Tetramorium (caespitum, semilaeve). Bentuk peralihannya adalah sistisercoid dengan perioda prepaten selama 20 hari (4,3)

Spesies

RAILLIETINA TETRAGONA

Hospes definitif : berpredileksi didalam ½ bagian belakang usus halus ayam, ayam mutiara dan unggas lainnya (3). Morfologi : ukuran panjangnya bisa mencapai lebih dari 25 cm. Skolek : lebih kecil dibandingkan R. echinobothrida, ditemukan Rostelum yang dipersenjatai 100 kait dengan ukuran 6 – 8 mikron dalam satu atau dua baris. Asetabulanya berbentuk bulat telur juga dipersenjatai oleh kait yang mudah lepas dalam 8 – 10 baris yang ukurannya lebih kecil (2,3). Kolum tidak jelas setelah skolek (2). Proglotid : lubang genuital biasanya selalu unilateral (sepihak) dan setiap kapsula telur berisi 6 – 12 telur (4).

Siklus hidup : HI adalah semut dari genus Pheidola dan tetramorium (3). Perioda prepaten pada ayam selama 13 – 31 hari (4). Bentuk peralihannya adalah sistiserkoid

Spesies

RAILLIETINA GEARGIENSIS

Hospes difinitif : berpredileksi pada 1/3 pertengahan usus halus dari kalkun dan tidak menginfeksi ayam. Morfologi : cacing bisa berukuran panjang 38 cm. Pada Skolek ditemukan Rostelum yang dipersenjatai kait berjumlah 220 – 268 kait dengan panjang 17 – 23 mikron yang tersusun dalam 2 baris. Asetabulanya juga dipersenjatai kait dalam 8 – 10 baris dengan panjang 8 – 13 mikron. Proglotid : setiap kapsula telur berisi 8 – 10 telur yang berdiameter 27 – 48 mikron.

Siklus hidup : HI adalah semut Pheidola venelandica, bentuk peralihannya sistiserkoid

Catatan : cacing hanya bisa hidup selama 10 minggu, perioda prepatennya selama 3 minggu. Seekor kumbang bisa mengandung 1.000 sistiserkoid (2)

Ordo DILEPIDIDEA

Ordo Dilepididea memiliki Rostelum retraktil dan biasanya dipersenjatai oleh satu, dua atau banyak kait berbentuk roset dalam beberapa lingkaran. Asetabulanya juga dipersenjatai. Organ reproduksi satu atau dua, uterus berbentuk kantong dan telur keluar bersama kapsula telur atau bersama selaput uterusnya. Cacing dewasa berparasit pada unggas dan mamalia (2,4,3)

Ordo Dilepididea memiliki 2 Famili yang penting antara lain :

(1) Dilepididae dan

(2) Dipyllididae (4)

Famili DILEPIDIDAE

Famili Dilepididae dicirikan dengan uterus bunting berbentuk kantong tranversal (4), memiliki satu Genus : Amoebotaenia dengan Genus : A. sphenoides

Spesies AMOEBOTAENIA SPHENOIDES

Hospes definitif : berpredileksi didalam usus halus ayam atau unggas domestik (4,5,3).

Morfologi : merupakan cacing pita kecil dengan panjang jarang lebih dai 4 mm dan lebar 1 mm, tersusun oleh lebih dari 20 proglotid yang semakin kebelakang semakin melebar di pertengahan tubuh, sehingga cacing terlihat mengarah segi tiga (2,4,5). Pada Skolek ditemukan Rostelum yang dipersenjatai dengan 12 – 14 kait (2). Proglotid : organ kelaminnya tunggal, lubang kelamin biasanya bermuara selang seling tidak menentu pada tepi atas ujung anterior. Uterus berbentuk kantong dan berlobus (2,4). Telur berbentuk bulat dengan diameter lebih dari 42 mikron dengan kulit yang bergranulasi (2).

Siklus hidup : HI adalah cacing tanah genus Allolobophora, Eisenia, Pheretina dan Ocnerodrilus. Bentuk peralihan adalah sistiserkoid berkembang selama 2 minggu dan masa prepatennya sekitar 4 minggu (4,3)

Famili DYPILIDIIDAE

Famili Dypilidiidae dicirikan pada proglotid bunting uterus digantikan dengan kapsula telur yang berisi satu atau banyak telur . Familia ini memiliki 2 ganus antara lain :

(1) Choanotaenia dan

(2) Dipylidium

Genus CHOANOTAENIA

Spesies CHOANOTAENIA INFUNDIBULUM

Hospes definitif : berpredileksi pada ½ bagian anterior usus halus ayam dan kalkun (4, 5,3). Morfologi : tubuh cacing bisa mencapai panjang 23 cm dengan segmen yang nyata sekali perbedaannya, dimana bagian posteriornya lebih lebar dibandingkan dengan yang dianteriornya, sehingga menjadi bentuk yang menciri (karakteristik) dari cacing ini (4,3). Skolek : ditemukan rostelum yang dipersenjatai dengan 16 – 20 kait berbentuk selinder (4). Proglotid : organ kelaminnya tunggal pada setiap segmen, uterusnya berbentuk kantong. Telur berbentuk bulat telur dan memiliki filamen panjang yang jelas (4).

Siklus hidup : HI adalah lalat rumah (Musca domestica) dan berbagai kumbang dari genus (Aphadius, Calathus, Geotrupes dan Tribolium). Bentuk peralihan adalah sistiserkoid (5, 3) terbentuk setelah 3 – 8 minggu dan perioda prepaten selama 3 – 5 minggu (2)

Genus DIPYLIDIUM

Spesies : DIPYLIDIUM CANINUM (Linnaeus, 1758)

Hospes definitif : berpredileksi di dalam usus halus anjing dan kucing, serta kadang-kadang pada manusia (terutama anak-anak (2, 5, 3).

Morfologi : merupakan cacing pita umum  pada anjing dan panjang cacing bisa mencapai lebih dari 50 cm. Skolek : terdapat rostelum retraktil memiliki 3 – 4 baris kait berbentuk roset. Proglotid bunting memiliki tanda yang menciri (karakteristik) berbentuk seperti biji mentimun. Setiap proglotid terdapat dua pasang organ genital dan lubang kelamin dengan jelas terlihat pada setiap sisi lateral. Ovarium dengan glandula vetelina membentuk masa pada salah satu sisi menyerupai gerombolan buah anggur (4). Proglotid bunting akan terlepas keluar melalui anus, bergerak berputar-putar dengan bebas atau melekat pada rambut disekitar anus (3). Telur tersimpan di dalam kantong telur (kapsula) (2)

Identifikasi : panjang tubuh lebih pendek dibandingkan Taenia sp, dengan panjang maksimal 50 cm. Skolek terdapat rostelum yang retraktil yang memiliki kait kecil dalam 4 – 5 baris. Proglotid seperti biji beras (5), mentimun (3) memiliki 2 pasang organ genital dengan sinus genetalis ganda pada masing-masing tepi lateral (5)

Siklus Hidup ; Hospes intermedier adalah pinjal (ctenocephalides canis, Ctenocephalides felis dan fulex irritans) serta kutu Trichodectes canis, bentuk peralihannya adalah sistiserkoid yang ditemukan didalam rongga badan (4,5,3) terbentuk setelah 13 hari. Masa prepaten selama 2 – 3 minggu (2). Sistiserkoid pada pinjal menimbulkan kematian atau menjadi lemah dan lamban, sehingga dengan mudah dimakan oleh anjing (3)

Ordo

HYMENOLEPIDIDEA (Wardle & Radinovsky, 1974)

Cacing pita ordo Hymenolepididea berukuran kecil sampai sedang. Skolek : ditemukan 4 alat penghisap yang tidak bersenjata. Rostelumnya retraktil dipersenjatai kait yang tersusun melingkar. Proglotid : terdapat satu pasang organ genital dan luang genital terletak secara sepihak. Telur : setiap telur sulit dipisahkan didalam membran.

Siklus hidup : hospes intermediernya artropoda dan bentuk peralihannya adalah sistiserkoid. Cacing dewasa menginfeksi burung dan mamalia. Ordo Hymenolipididea memiliki 2 famili yang terpenting :

(1) Hymenolepididae dan

(2) Fimbriariidae (4)

Famili HYMENOLEPIDIDAE (Railliet & Henry, 1909)

Genus HYMENOLEPIS

Anggota dari genus ini sangat kecil, berpredileksi didalam usus halus burung, mamalia kecil dan amnesia (2). Skoleknya : terdapat rostelum yang memiliki kait dalam satu lingkaran, alat penghisapnya tidak memiliki kait. Proglotid : testes berjumlah 3 buah, susunannya bervariasi dan ovariumnya tunggal (3). Sampai saat ini spesies yang penting untuk kedokteran hewan adalah : Hymenolepis carioca dan (2)  Hymenolepis cantaniana

Spesies HYMENOLEPIS CARIOCA & CANTANIANA

Hospes definitif : berpredileksi didalam usus halus ayam, kalkun dan burung lainnya.

Morfologi : tubuhnya lebih lembut dan tembus cahaya merupakan tanda yang menciri (karakteristik) sehingga mudah dibedakan dengan Raillietina sp (2,3). Proglotid : telurnya berbeda setiap spesies, umumnya bulat atau bulat telur dengan diameter maksimal 80 mikron, berwarna kekuningan (2)

Siklus hidup : HI adalah kumbang tinja dan kumbang tepung (genus Aphodius, Cheoridium dan Inisotarsus) dan mungkin juga lalat kandang (3), Milipedes (Fontaria dan Junus), pinjal (Ctenocephalides) dan copepoda (Cyclop) (2), bentuk peralihannya adalah sistiserkoid (3)

Familia FIMBRIARIIDAE

Genus FIMBRIARIA (Frohlich, 1802)

Hanya spesies Fimbriaria fasciolaris (Fallas, 1781) yang terpenting. Predileksi :  berpredileksi didalam usus halus (duodenum) itik, angsa, ayam dan berbagai burung liar. Morfologi : panjangnya 2,5 – 4,2 cm. bagian anterior dari tubuh melipat memanjang disebut “pseudoskoleks’ yang berfungsi sebagai perlekatan (4). Siklus hidup : HI adalah Copepoda (Cyclop dan Diaptomus vulgaris) dan Amfipoda (Hyalella) (2,3)

Ordo TAENIIDEA (Wardle, McLeod & Radinovsky, 1974)

Ordo Taeniidea, cacing pita berukuran besar, tubuhnya tersusun oleh puluhan sampai ratusan segmen. Skolek : kadang-kadang tidak terdapat rostelum, kalau ada rostelumnya tidak retraktil, tetapi biasanya dipersenjatai oleh dua baris kait besar dan kecil (kecuali Taenia saginata tidak mempunyai kait), ditemukan 4 buah alat penghisap (5,1). Proglotid : panjangnya lebih panjang dibandingkan lebarnya, organ reproduksi tunggal (testes menyebar dan ovarium terletak di bagian belakang). Uterusnya terletak median, longitudinal dan lateral diantara percabangan ovarium. Lubang kelamin, tunggal dan terletak selang seling tidak beraturan. Telur dilapisi oleh ampelop atau kapsula (4,1)

Bentuk peralihannya adalah sistiserkus, strobilosercus, coenurus atau hydatida yang hanya ditemukan pada mamalia herbivora dan kadang-kadang pada mausia (4,5,3)

Familia TAENIIDAE (Ludwig, 1886)

Cacing dewasa familia Taeniidae hidup didalam usus halus manusia dan carnivore domestic. Hanya 2 genus yang terpenting dipelajari, dimana yang memiliki panjang sampai beberapa meter dengan ratusan segmen adalah genus Taenia, tetapi yang hanya berukuran panjang beberapa millimeter dan memiliki 3 – 4 segmen adalah genus Echinococcus (2,4)

Genus TAENIA (Linnaeus, 1758)

Setiap spesies dari Taenia secara morfologi sama, dasar identifiaksi adalah jumlah percabangan uterus lateral setiap segmen dewasa serta jumlah dan ukuran kait yang terdapat pada skolek (2)

Spesies TAENIA SAGINATA (Goeze, 1782)

Predileksi : merupakan cacing pita sapi – manusia (bentuk peralihan pada sapi sedangkan cacing dewasanya didalam usus halus manusia). Taenia saginata (sin ; Taeniarhynchus saginata) berukuran panjang bisa mencapai 5 – 10 meter, tetapi pernah dilaporkan lebih dari 15 meter. Skolek : satu satunya jenis Taenia yang tidak dipersenjatai. Proglotid : memiliki percabangan uterus lateral berjumlah 15 – 35 buah. Setiap proglotid bunting tertapat lebih dari 100 telur (2)

Siklus hidup : HI sapi, keledai, ilama, bentuk peralihannya adalah sistiserkus dan berpredileksi pada : jantung, otot rangka, lemak, hati, maseter, diafragma, lidah, seluruh otot (2,4)

Spesies TAENIA SOLIUM

Predileksi : merupakan cacing pita babi – manusia (maksudnya bentuk peralihannya pada otot daging babi, sedangkan cacing dewasanya pada usus halus manusia) (3). Dasar untuk membedakannya dengan Taenia saginata, dimana Taenia solium : skoleknya dipersenjatai oleh 2 baris kait dan proglotid terdapat percabangan uterus lateral berjumlah 7 – 12 buah (2)

Siklus hidup : HI adalah babi, bentuk peralihan adalah sistiserkus terkenal dengan sistiserkus sellulosa, berpredileksi didalam urat daging babi. Sistiserkus berukuran 20 X 10 atau lebih (3)

Spesies TAENIA PISIFORMIS (Bloch, 1990)

Sinonim : TAENIA SERRATA

Predileksi : merupakan cacing pita kelinci – anjing (bentuk peralihan pada kelinci dan cacing dewasanya pada usus halus anjing dan carnivora lainnya) (5,3)

Morfologi : panjang cacing bisa mencapai 2 meter. Skolek : dipersenjatai dengan 34  48 kait dalam 2 baris, kait yang lebih besar berukuran 225 – 294 mikron dan lebih kecil berukuran 132 – 177 mikron. Proglotida : yang bunting berukuran 8 – 10 x 4 – 5 mm, uterus memiliki 9 – 14 percabangan lateral pada setiap sisi. Telur berukuran 43 – 53 X 43 – 45 mikron (4) 36 X 32 mikron (3)

Siklus hidup : HI adalah kelinci dan rodensia liar. Bentuk peralihannya adalah sistisekus fisiformis berbentuk kacang polong dan bergerombol pada hati dan rongga peritoneum (2,5,3)

Spesies TAENIA HYDATIGENA

Predileksi : merupakan cacing pita (biri-biri, domba, sapi, babi) – anjing (bentuk peralihannya ditemukan pada urat daging (biri-biri, domba, sapi, babi) dan cacing dewasanya didalam usus halus anjing, srigala dan karnivora liar (4,5,3)

Morfologi : merupakan cacing pita besar dengan panjang 75 cm sampai lebih dari 5 meter (4,5,3). Skolek : dipersenjatai kait berjumlah 26 – 44 yang tersusun dalam 2 baris, yang besar berukuran 170 – 220 mikron dan yang kecil berukuran 110 – 160 mikron. Proglotid : yang bunting berukuran 10 – 14 X 4 – 7 mm, uterusnya mempunyai 5 – 10 cabang lateral. Telurnya berbentuk bulat panjang dan berukuran 38 – 39 X 34 – 35 mikron (3).

Siklus hidup : bentuk peralihannya adalah sistiserkus tennuicollis, ditemukan didalam hati atau rongga peritoneum (domba, kambing, sapi, babi, tupai) (3). Sistiserkus tenuicollis berukuran lebih dari 6 cm mengandung satu skolek invaginasi dengan leher panjang (4), terbentuk setelah 4 minggu setelah infeksi dengan diameter lebih dari 8 cm (5)

Spesies TAENIA OVIS

Predileksi : merupakan cacing pita (domba – kambing) – anjing (bentuk peralihan ditemukan pada otot domba dan kambing sedangkan cacing dewasanya didalam usus anjing dan carnivora liar) (4,5,3)

Morfologi : panjang tubuh bisa mencapai 1 meter (3), 2 meter (5). Skolek : dipersenjatai dengan 24 – 36 kait yang tersusun dalam 2 baris, kait yang lebih besar berukuran 156 – 188 mikron dan yang lebih kecil berukuran 96 – 128 mikron. Proglotid : percabangan uterus lateral berjumlah 20 – 25 cabang setiap sisi (3) 11 – 20 cabang (4). Telurnya : berukuran 34 X 24 – 28 mikron (3), 19 – 31 X 24 – 26 mikron (4)

Siklus hidup : bentuk peralihan adalah sistisekus ovis berukuran panjang 6 mm ditemukan pada (otot rangka, jantung, hati, diafragma dan maseter) domba dan kambing dan sangat mirip dengan sistiserkus sellulosa pada babi (4,3) mencapai bentuk infektif setelah 46 hari dan perioda prepatennya selama 60 hari (4)

Speseies TAENIA TAENIAFORMIS (Batsch, 1786)

Sinonim : Hydatigera taeniaformis,

Predileksi : didalam usus halus kucing dan carnivore liar (4)

Morfologi : cacing dewasa pajangnya lebih dari 60 cm. Skolek : besar dan yang paling menjolok memiliki 2 baris kait. Proglotid :  memiliki ciri yang karakteristik yaitu tidak memiliki leher dan berbentuk “bell” atau genta dibagian posterior. Uterusnya memiliki 5 – 9 percabangan lateral. Telur berukuran 31 – 36 mikron (4)

Siklus hidup : HI adalah rodensia, bentuk peralihannya adalah sistiserkus fasciolaris yang berpredileksi didalam hati dan terbentuk setelah 30 hari. Setiap hari terbentuk 42 skolek dan strobiloserkus dewasa setelah 60 hari. Perioda prepaten 36 – 42 hari (4)

Spesies TAENIA SERIALIS (Gervais, 1847)

Predileksi : didalam usus halus anjing

Morfologi : cacing dewasa panjangnya 72 cm. Skolek : terdapat 2 baris kait berjumlah 26 – 32 kait, kait yang lebih besar berukuran 135 – 175 mikron dan yang lebih kecil panjangnya 78 – 120 mikron. Proglotid : uterus memiliki 20 – 25 percabangan lateral. Telur : berbentuk bulat panjang (elip) berukuran 31 – 34 X 29 – 30 mikron (4)

Siklus hidup : HI adalah lagomorfis, bentuk peralihannya coenurus berpredielksi didalam (susunan syaraf pusat, jaringan ikat, rongga perut) dsb

Genus ECHINOCOCCUS

Dari genus Echinococcus hanya 2 spesies yang pentinga dipelajari yaitu :

(1) E. granulosus dan

(2). E. multilocularis (2,5,1)

Spesies ECHINOCOCCUS GRANULOSUS

Predileksi : didalam usus halus anjing, srigala, kucing dan carnivore lainnya (2,4,3,1).

Morfologi : ukuran cacing dewasa bisa mencapai panjang 2 – 6 mm, hanya tersusun oleh tiga atau empat segmen (jarang lebih dari enam). Skolek : dipersenjatai 30 – 60 kait yang tersusun dalam 2 baris, kait yang besar panjangnya 33 – 40 mikron sedangkan yang kecil panjangnya 22 – 34 mikron (3). Proglotida : nomor 2 dari belakang merupakan proglotida dewasa dan yang paling belekang adalah proglotida bunting dan biasanya merupakan pertengahan dari tubuh.Ovarium berbentuk ginjal, lubang genital selang-seling tidak teratur dan normalnya terbuka dibagian posterior pertengahan proglotida dewasa atau bunting. Testes berjumlah 45 – 65 buah menyebar ke seluruh bagian (4,3,1) uterus memiliki cabang lateral (4,3). Telur : keluar melalui lubang uterus (sehingga tidak ditemukan proglotid didalam tinja) berukuran 32 – 36 X 25 – 30 mikron (4)

Siklus hidup : HI adalah (kambing, sapi, babi, manusia, kangguru) (2,1). Bentuk peralihan adalah kista hydatida berpredileksi didalam (hati, paru-paru dan kadang-kadang pada organ lain termasuk tulang) (2,3). Kista terbentuk lambat dan setelah beberapa minggu berdiameter 5 – 10 cm dan mengandung 16 liter cairan (4)

Spesies ECHINOCOCCUS MULTILOCULARIS

Predileksi : didalam usus halus rodensia, rubah (paling sering), tetapi juga pernah ditemukan menginfeksi anjing dan carnivora lainnya (5,3).

Morfologi : sangat mirip dengan Echinococcus granulosus, panjangnya 1 – 4 mm (3). Proglotid matang mempunyai 17 – 26 testes yang kesemuanya terletak di sebelah posterior atau setinggi lobang kelamin yang letaknya sedikit keanterior dari pertengahan proglotid (3,1). Uterusnya seperti kantong tanpa cabang lateral (3)

Siklus hidup : bentuk peralihannya adalah kista hydatid ditemukan pada rodensia (terutama voles dan kancil) dan mamalia lain termasuk manusia, berbentuk alveoli-alveoli terdiri dari banyak kista kecil yang saling berhubungan dan berkembang biak dengan cara bertunas eksogen (3)

05/26/2010 Posted by | PARASITOLOGI | 1 Komentar

HAKIKAT BIOLOGI SEBAGAI ILMU

HAKIKAT BIOLOGI SEBAGAI ILMU

Di antara makhluk hidup, manusia memiliki derajat lebih tinggi. Ia memiliki sifat “ingin tahu“ yang berasal dari akal budinya. Kemampuan itu tidak dimiliki makhluk hidup lain (seperti hewan dan tumbuhan). Sifat keingintahuan manusia adalah ingin tahu lebih banyak akan segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya. Sifat ini mendorong manusia untuk melakukan penelitian. Dengan penelitian tersebut, manusia dapat menjawab ketidaktahuan serta mampu memecahkan permasalahan yang dihadapinya.

Seiring dengan perkembangan zaman, sifat keingintahuan manusia semakin berkembang. Hal itu dilakukan dengan cara mempelajari, mengadakan pengamatan dan penyelidikan untuk menambah pengetahuan dan keterampilannya tentang makhluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan serta alam sekitarnya. Ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang makhluk hidup disebut biologi atau ilmu hayat.

Mengapa kita perlu mempelajari ilmu biologi? Apa saja manfaat atau kegunaan kita mempelajari ilmu tersebut? Pelajarilah materi berikut ini dengan baik!

  1. ILMU BIOLOGI

Semua makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan, dan manusia adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Di antara ciptaan-Nya, manusia merupakan makhluk hidup yang paling sempurna karena diberi akal budi. Dengan akal budi, manusia senantiasa memiliki sifat ingin tahu sehingga terciptalah berbagai macam ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, manusia mampu mengubah kehidupan dari zaman prasejarah primitif yang dikenal dengan zaman batu sampai sekarang ini menjadi zaman modern.

Di era globalisasi seperti sekarang ini, ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat yang tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Contohnya, jika terjadi suatu peristiwa di suatu wilayah, misalnya peristiwa perang antara Irak – Amerika Serikat; terjadinya bencana gelombang pasang tsunami di Daerah Istimewa Aceh, maka hanya dalam hitungan menit, bahkan detik peristiwa tersebut dapat segera diketahui pihak di wilayah lain, walaupun dari jarak yang cukup jauh. Begitu juga dengan ilmu biologi yang telah mencapai perkembangan luar biasa karena telah mencapai pengetahuan substansi kehidupan sampai pada tingkat molekuler. Contoh manfaat ilmu biologi pada tingkat molekuler, yaitu peristiwa terjadinya bom Bali. Pada peristiwa itu pelaku peledakan ikut hancur bersama bomnya, maka satu-satunya cara untuk mengetahui identitas pelaku peledakan yaitu hanya dengan menggunakan tes DNA yang terdapat pada tingkat molekuler.

  1. Pengertian Ilmu

Jika manusia merasa lapar, upaya apakah yang akan dilakukan? Dorongan rasa lapar menyebabkan manusia berupaya mencari makanan, yaitu dengan mencoba-coba memakan tumbuhan atau hewan yang ada di sekitarnya. Usaha tersebut terkadang salah dan terkadang benar. Namun, akhirnya dari pengalaman tersebut manusia sudah mampu membedakan antara tumbuhan dan hewan  yang bisa dimakan maupun yang tidak bisa dimakan.

Sumber bahan makanan manusia antara lain berasal dari hewan, misalnya daging sapi, ayam, dan lain-lain. Semula manusia memakannya dengan olahan yang sederhana. Selanjutnya, sejalan dengan perkembangan pemikiran, manusia mulai mencari cara menjadikan makanannya lebih berkualitas, misalnya daging untuk bahan makanan diolah agar menjadi lebih baik kualitasnya, seperti agar lebih lunak, higienis, serta bebas dari kuman penyakit. Bagaimana syarat-syarat itu bisa terpenuhi? Akhirnya manusia menemukan gagasan, yaitu dengan cara menggoreng, merebus, membakar, atau dengan proses yang lain. Peristiwa tersebut merupakan contoh dari awal mula ditemukan ilmu, yaitu dengan cara berpikir sederhana dan dilakukan dengan cara mencoba-coba, sampai selanjutnya mendapatkan pengalaman yang menjadi dasar sebuah pengetahuan.

Seiring dengan perkembangan zaman, pola pikir manusia semakin berkembang pula. Manusia mulai memikirkan tentang alam sekitar berdasarkan rasa keingintahuannya, dengan mengadakan pengamatan dan penyelidikan sehingga ilmu pengetahuan semakin berkembang dengan pesat. Hal ini saling terkait dengan kehidupan masyarakat yang sejalan dengan perkembangan teknologi. Contohnya, penemuan varietas bibit unggul, kawin suntik pada sapi, kelapa hibrida, padi hasil mutasi buatan dari Batan, yaitu padi jenis Atomita yang berguna untuk meningkatkan produksi pangan bagi manusia. Akan tetapi, di sisi lain dengan adanya dengan kemajuan ilmu pengetahuan dapat menimbulkan dampak negatif, seperti timbulnya pencemaran lingkungan.

Anda tentu sudah mengetahui bahwa ilmu pengetahuan merupakan kumpulan konsep, prinsip, hukum, dan teori yang dibentuk melalui serangkaian kegiatan ilmiah. Bagaimana sifat atau ciri suatu ilmu pengetahuan? Suatu pengetahuan dapat disebut sebagai ilmu apabila memenuhi syarat atau ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Memiliki Objek Kajian

Suatu ilmu harus memiliki objek kajian, contoh ilmu matematika memiliki objek kajian berupa angka-angka, ilmu kimia memiliki objek kajian berupa zat-zat beserta sifatnya. Bagaimana dengan objek kajian biologi?

  1. Memiliki Metode

Pengembangan ilmu pengetahuan tidak dapat dilakukan secara asal-asalan, tetapi menggunakan cara atau metode tertentu. Metode yang digunakan itu bersifat baku dan dapat dilakukan oleh siapapun. Metode apakah yang digunakan untuk menemukan kebenaran secara ilmiah? Coba ingatlah kembali pelajaran tentang metode ilmiah yang Anda pelajari di SMP/MTs!

  1. Bersifat Sistematis

Dalam biologi, jika kita akan mempelajari tentang sel, maka materi yang akan kita pelajari perlu mendapat dukungan materi lain, misalnya tentang jaringan, organ, sistem organ, dan individu. Demikian pula sebaliknya, sehingga pengetahuan-pengetahuan itu tidak bertolak belakang. Ilmu pengetahuan bersifat sistematis adalah bahwa sebuah pengetahuan harus memiliki hubungan ketergantungan dan teratur, tidak boleh ada unsur-unsur yang saling bertolak belakang.

  1. Bersifat universal

Apakah yang dimaksud dengan universal? Coba Anda ingat kembali tentang materi reproduksi yang terjadi pada makhluk hidup! Reproduksi seksual selalu dimulai dengan adanya pertemuan antara sperma dan sel telur. Anda pikirkan, apakah hal itu berlaku untuk semua jenis makhluk hidup? Jika benar, berarti ilmu itu berlaku secara umum atau bersifat universal. Jadi, kebenaran yang disampaikan oleh ilmu harus berlaku secara umum.

  1. Bersifat Obyektif

Bagaimana jika ilmu bersifat tidak objektif? Dapatkah ilmu itu dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia? Sebuah ilmu harus menggambarkan keadaan secara apa adanya, yaitu mengandung data dan pernyataan yang sebenarnya (bersifat jujur), bebas dari prasangka, kepentingan, atau kesukaan pribadi.

Saat ini, ilmu biologi sudah mengalami perkembangan yang luar biasa. Telah disebutkan di awal materi bahwa pada saat terjadi peristiwa bom Bali, untuk mengungkap identitas pelaku peledakan bom tidak bisa dilakukan dengan menggunakan sidik jari karena tubuh pelaku peledakan bom juga ikut hancur. Untuk mengetahui identitas pelaku hanya dapat digunakan satu cara, yaitu dengan menggunakan tes DNA yang berasal dari serpihan tubuh pelaku peledakan yang kemudian dicocokkan dengan DNA orang tuanya.

  1. Bersifat Analitis

Ingatlah kembali pelajaran IPA saat Anda belajar di SMP/MTs! Jika ingin mempelajari struktur dan fungsi tumbuhan, maka Anda akan mempelajari bagian-bagian yang lebih rinci, yaitu akar, batang, daun, dan sebagainya. Itulah sebabnya kajian suatu ilmu dapat terbagi-bagi menjadi bagian yang lebih rinci guna memahami berbagai hubungan, sifat, serta peranan dari bagian-bagian tersebut.

  1. Bersifat verifikatif

Suatu ilmu mengarah pada tercapainya suatu kebenaran. Misalnya, teori tentang Generatio Spontanea, menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati yang sudah diyakini kebenarannya, tetapi akhirnya teori itu digugurkan dengan teori Biogenesis, menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup juga. Akhirnya teori ini diyakini kebenarannya sampai sekarang.

Coba Anda pikirkan, apakah suatu konsep yang diperoleh hanya dengan mengira-ngira atau menerka saja dan hasilnya berupa pendapat atau perkiraan dapat juga disebut sebagai ilmu?

  1. Objek Kajian Biologi

Sekarang Anda sudah memahami tentang ilmu pengetahuan beserta sifat-sifatnya. Biologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan. Ilmu biologi sering pula disebut ilmu hayat, yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang makhluk hidup. Ketika mempelajari biologi di SMP/MTs, tentu saja Anda sudah pernah melakukan pengamatan dan melaksanakan eksperimen. Semakin banyak objek yang Anda amati, semakin banyak pula yang dapat Anda eksperimenkan.

Objek kajian biologi meliputi manusia, hewan, tumbuhan, serta mikroorganisme yang dapat dilihat dengan mata telanjang maupun dengan menggunakan bantuan alat, misalnya mikroskop. Jika Anda mengamati dengan mata telanjang, kesan apa yang Anda peroleh dari suatu objek? Anda hanya dapat mengamati tentang warna, bentuk, wujud, serta ukuran objek. Apakah pengamatan tersebut sudah cukup untuk dalam suatu kegiatan ilmu pengetahuan? Tentu saja masih banyak yang harus kita ketahui tentang berbagai hal dari suatu objek,

seperti berat benda, rasa, bau, suhu, kasar halus, bunyi atau suara dan sifat lainnya, sehingga alat indra manusia memiliki keterbatasan untuk mengamatinya.

Jika Anda mengamati jasad renik atau melihat benda yang jaraknya sangat jauh, apakah Anda mampu mengamati dengan mata telanjang? Tentu saja tidak, Anda memerlukan alat bantu, seperti mikroskop atau teleskop

Seiring dengan berkembangnya bermacam-macam ilmu pengetahuan, biologi sebagai ilmu pengetahuan alam juga berkembang, sehingga objek kajian ilmu biologi semakin banyak. Para ilmuwan tidak sanggup lagi mempelajari secara mendalam seluruh kajian biologi sebagai satu objek studi yang akan dipelajari. Berdasarkan hal itu, maka ilmu biologi memiliki cabang ilmu spesifik dan objek kajian yang semakin khusus untuk memudahkan cara pembelajarannya, mengingat pada umumnya seseorang hanya mampu mendalami salah satu cabang ilmu. Ibarat pohon, ilmu biologi memiliki cabang-cabang seperti berikut.

Anatomi : Ilmu yang mempelajari tentang bagian-bagian struktur tubuh dalam makhluk hidup

Agronomi : Ilmu yang mempelajari tentang tanaman budidaya Andrologi : Ilmu yang mempelajari tentang macam hormon dan kelainan reproduksi pria Algologi : Ilmu yang mempelajari tentang alga/ganggang Botani : Ilmu yang mempelajari tentang tumbuhan Bakteriologi : Ilmu yang mempelajari tentang bakteri Biologi molekuler : Ilmu yang mempelajari tentang kajian biologi pada tingkat molekul Bioteknologi : Ilmu yang mempelajari tentang penggunaan penerapan proses biologi secara terpadu yang meliputi proses biokimia, mikrobiologi, rekayasa kimia untuk bahan pangan dan peningkatan kesejahteraan manusia Ekologi : Ilmu yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan Embriologi : Ilmu yang mempelajari tentang perkembangan embrio Entomologi : Ilmu yang mempelajari tentang serangga Evolusi : Ilmu yang mempelajari tentang perubahan struktur tubuh makhluk hidup secara perlahan-lahan dalam waktu yang lama Epidemiologi : Ilmu yang mempelajari tentang penularan penyakit Eugenetika : Ilmu yang mempelajari tentang hukum pewarisan sifat Endokrinologi : Ilmu yang mempelajari tentang hormon Enzimologi : Ilmu yang mempelajari tentang enzim Fisiologi : Ilmu yang mempelajari tentang faal (fungsi kerja) organ tubuh Fisioterapi : Ilmu yang mempelajari tentang pengobatan terhadap penderita yang mengalami kelumpuhan atau gangguan otot Farmakologi : Ilmu yang mempelajari tentang obat-obatan Genetika : Ilmu yang mempelajari tentang pewarisan sifat Histologi : Ilmu yang mempelajari tentang jaringan Higiene : Ilmu yang mempelajari tentang pemeliharaan kesehatan makhluk hidup Imunologi : Ilmu yang mempelajari tentang sistem kekebalan (imun) tubuh Ichtiologi : Ilmu yang mempelajari tentang ikan Karsinologi : Ilmu yang mempelajari tentang crustacea Klimatologi : Ilmu yang mempelajari tentang iklim Limnologi : Ilmu yang mempelajari tentang perairan mengalir Mikrobiologi : Ilmu yang mempelajari tentang mikroorganisme Malakologi : Ilmu yang mempelajari tentang moluska Morfologi : Ilmu yang mempelajari tentang bentuk atau ciri luar organisme Mikologi : Ilmu yang mempelajari tentang jamur Organologi : Ilmu yang mempelajari tentang organ Onthogeni : Ilmu yang mempelajari tentang perkembangan makhluk hidup dari zigot menjadi dewasa Ornitologi : Ilmu yang mempelajari tentang burung Phylogeni : Ilmu yang mempelajari tentang perkembangan makhluk

hidup Patologi : Ilmu yang mempelajari tentang penyakit dan pengaruh- nya bagi manusia Palaentologi : Ilmu yang mempelajari tentang fosil Parasitologi : Ilmu yang mempelajari tentang makhluk parasit Protozoologi : Ilmu yang mempelajari tentang Protozoa Sanitasi : Ilmu yang mempelajari tentang kesehatan lingkungan Sitologi : Ilmu yang mempelajari tentang sel Taksonomi : Ilmu yang mempelajari tentang penggolongan makhluk hidup Teratologi : Ilmu yang mempelajari tentang cacat janin dalam kandungan Virologi : Ilmu yang mempelajari tentang virus Zoologi : Ilmu yang mempelajari tentang hewan.

3. Metode Dalam Ilmu Biologi

Pernahkah Anda berpikir, mengapa para ilmuwan bisa menemukan teori atau hukum dalam ilmu pengetahuan? Sebenarnya, mereka bukan orang-orang yang super, tetapi mereka memiliki kelebihan dalam hal ketekunan, kerajinan, serta tidak mudah merasa putus asa. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan saja, tetapi harus didukung dengan kerja keras dan ketekunan sehingga dapat diperoleh suatu keberhasilan.

Para ilmuwan tersebut bekerja secara sistematis, tekun, teliti, dan disiplin. Metode apakah yang digunakan para ilmuwan tersebut? Coba ingat kembali langkah-langkah metode ilmiah yang telah Anda pelajari di SMP/MTs! Langkah-langkah metode ilmiah yang digunakan ilmuwan sehingga berhasil menemukan suatu ilmu adalah sebagai berikut.

a. Menemukan dan merumuskan masalah. b. Merumuskan hipotesis (menyusun dugaan sementara). c. Merancang eksperimen untuk merancang hipotesis. d. Melakukan percobaan. e. Mengadakan observasi atau pengumpulan data. f. Menarik kesimpulan. g. Menguji kesimpulan dengan eksperimen lain. h. Merumuskan hukum, konsep, atau prinsip.

Bagaimana cara mempelajari ilmu biologi? Apakah Anda harus belajar harus dengan pendekatan fakta, yaitu dengan cara menghafalkan nama, definisi, dan gambar? Apakah dengan cara hafalan, data-data tersebut mudah untuk diingat? Daya ingat setiap orang terbatas, sehingga hafalan tersebut mudah untuk dilupakan. Bagaimana jika belajar dengan pendekatan konsep? Pendekatan secara konsep merupakan pendekatan dua fakta atau lebih yang membentuk satu pengertian. Cara belajar seperti ini masih kurang baik, karena masih banyak fakta dan Anda masih lebih banyak bertindak pasif dan belum berupaya sendiri.

Kegiatan untuk mempelajari biologi sebaiknya dengan melakukan pendekatan proses karena Anda akan mendapatkan fakta atau konsep sendiri. Belajar seperti ini akan dapat bertahan dalam waktu yang lama dan dapat membentuk sikap serta keterampilan ilmiah, seperti yang dilakukan ilmuwan terdahulu. Contohnya, Mendel dalam menemukan ilmu pengetahuan. Apabila Anda belajar dengan melakukan keterampilan proses, yaitu meliputi kegiatan observasi, menggolongkan, menafsirkan, memperkirakan, mengajukan pertanyaan, dan mengidentifikasi variabel, maka Anda akan ‘menemukan’ ilmu itu sendiri. Berikut ini langkah-langkah belajar dengan pendekatan proses.

  1. Mengobservasi

Observasi merupakan hasil dari pengamatan melalui indra, maka Anda akan belajar dengan mencari gambaran atau informasi tentang objek penelitian. Hasil apa saja yang kita peroleh dari suatu pengamatan? Coba Anda sebutkan fungsi alat indra kita. Dengan mata, kita bisa melihat bentuk, warna, serta gerak suatu objek. Dengan alat pendengaran, kita bisa mendengar bunyi atau suara. Dengan lidah, kita bisa merasakan berbagai rasa, dengan perabaan bisa mengetahui permukaan objek, adapun dengan penciuman kita bisa merasakan macam-macam bau.

Dalam mempelajari biologi, kegiatan observasi ini bisa dibantu dengan alat bantu, antara lain mikroskop, kertas lakmus, lup, termometer, penggaris, dan sebagainya. Hasil observasi dapat berupa gambar, bagan, tabel, atau grafik.

  1. Menggolongkan

Untuk memudahkan cara mempelajari suatu objek, maka kita lakukan penggolongan suatu objek itu. Jika kita melakukan kegiatan untuk menggolongkan makhluk hidup, maka hasilnya dapat berupa bagan. Contoh: Jika Anda diminta membuat penggolongan tanaman kembang merak, kembang sepatu, rumput, palem maka contoh hasilnya bagan sebagai berikut.

  1. Menafsirkan

Menafsirkan artinya memberikan arti terhadap suatu kejadian berdasarkan kejadian lainnya. Ketika menafsirkan suatu data, hendaknya kita menggunakan acuan atau patokan.

Contoh: Suatu hari Anda menanam 10 tanaman cabai di halaman rumah. Tanaman cabai itu tumbuh dengan subur. Karena beberapa hari kurang perawatan, akhirnya 5 tanaman cabai mati. Contoh penafsirannya, ada penurunan jumlah populasi tanaman cabai sebesar 5 10

Biji berkeping satu Biji berkeping dua × 100% = 50%. Penurunan populasi ini mungkin disebabkan oleh pengaruh cuaca, kekurangan air, suhu, atau kelembapan udara.

  1. Memperkirakan

Kegiatan memperkirakan bukan berarti meramalkan, tetapi membuat perkiraan berdasarkan pada kejadian sebelumnya atau hukum-hukum yang berlaku. Contoh: Anda mengamati pertumbuhan tanaman cabai. Pada hari ke-5 tingginya 4 cm, pada hari ke-10 tingginya 6 cm, hari ke-15 tingginya 8 cm, dan pada hari ke-20 tingginya 10 cm. Jika dibuat menjadi sebuah grafik,

  1. Mengajukan Pertanyaan

Seringkah Anda memiliki naluri ‘ingin tahu’ untuk mengetahui suatu permasalahan? Untuk menemukan suatu permasalahan, Anda harus dapat mengembangkan pertanyaan-pertanyaan, misalnya apa, bagaimana, di mana, kapan, mengapa, dan siapa terhadap suatu objek. Contohnya, suatu saat Anda mengamati tanaman cabai di sekitar rumah. Tanaman cabai tersebut sepertinya terlihat akan mati karena banyak daun yang mulai layu dan menguning, serta banyak bunga yang berguguran. Selanjutnya, tentu akan timbul pertanyaan untuk mengetahui permasalahan tersebut. Bagaimana ciri tanaman cabai yang subur dan tanaman cabai yang tidak subur? Adakah ciri-ciri ketidaksuburan pada tanaman cabai yang Anda amati? Pada bagian mana tanaman itu terganggu? Mengapa tanaman cabai menjadi tidak subur?

Semua pertanyaan itu perlu dicari jawabannya. Di antara pertanyaan itu, ada yang bisa dijawab dan ada yang belum bisa dijawab. Pertanyaan yang belum terjawab merupakan permasalahan yang harus dicari jawabannya, misalnya dengan cara membaca laporan-laporan dari penemuan sebelumnya atau bisa juga dengan cara lain.

  1. Mengidentifikasi Variabel

Tentu Anda mengetahui bahwa pertumbuhan tanaman cabai membutuhkan tanah sebagai tempat tumbuhnya yang ditunjang dengan pupuk, air, pH, cahaya, suhu, serta udara. Faktor-faktor pendukung itulah yang dimaksud dengan variabel. Jadi, variabel merupakan faktor-faktor yang berpengaruh dan memiliki nilai (ukuran tertentu) serta dapat berubah atau diubah.

Ada tiga jenis variabel, yaitu variabel bebas, variabel kontrol, dan variabel terikat. Pada contoh tersebut, tanah sebagai variabel bebas karena akan diteliti pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman cabai. Variabel bebas adalah faktor yang dapat dibuat bervariasi. Adapun faktor seperti cahaya, suhu, pH, air, udara, dan pupuk merupakan variabel kontrol, yaitu faktor lain yang ikut berpengaruh dan dibuat sama serta terkendali, sedangkan pertumbuhan tanaman cabai sebagai variabel terikat, yaitu faktor yang muncul akibat variabel bebas.

  1. Cara Permecahan Masalah Dalam Biologi

Jika Anda sudah mempelajari biologi dengan cara melakukan pendekatan proses, maka langkah selanjutnya adalah melakukan eksperimen. Eksperimen merupakan kegiatan melalui tata cara tertentu yang biasa dilakukan oleh ilmuwan, dengan tujuan untuk memecahkan masalah atau menemukan jawaban terhadap suatu masalah. Samakah cara yang dilakukan para ilmuwan untuk memecahkan suatu masalah? Ada beberapa indikator/petunjuk untuk menyelesaikan suatu masalah dalam pembelajaran biologi. Apa saja indikator tersebut?

Beberapa indikator yang dipakai untuk memecahan masalah adalah sebagai berikut.

  1. Merumuskan Masalah

Dari hasil suatu pengamatan akan timbul suatu permasalahan. Selanjutnya masalah itu dirumuskan, kemudian akan diperoleh fakta yang berkaitan dengan masalah yang akan dihadapi.

Contoh: Anda ingin mencoba memberikan pupuk kompos terhadap tanaman cabai. Perubahan kondisi yang akan diteliti adalah pertumbuhan tanaman cabai, yaitu tentang perubahan tinggi tanaman serta besar daunnya dibandingkan dengan tanaman cabai yang tidak diberi pupuk. Selanjutnya, Anda dapat merumuskan suatu masalah, misalnya adakah pengaruh pupuk kompos terhadap pertumbuhan tanaman cabai? Dari permasalahan ini kemudian disusun hipotesis/dugaan sementara.

  1. Menguji Hipotesis

Setelah menyusun jawaban sementara, misalnya bahwa pupuk kompos berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman cabai, selanjutnya hipotesis itu diuji dengan melakukan eksperimen melalui tahap-tahap berikut.

  1. Perencanaan

Kegiatan perencanaan ini dilakukan sebelum melakukan eksperimen, yaitu dengan merencanakan dan mempersiapkan alat serta bahan terlebih dahulu. Semua peralatan yang dibutuhkan hendaknya didaftar, jangan sampai ada yang terlupakan atau tidak tersedia saat diperlukan. Misalnya untuk contoh di atas, maka alat dan bahan yang diperlukan adalah biji tanaman cabai, pot, tanah, pupuk kompos, air, penggaris/meteran, pensil, kertas, sekam, cetok, timbangan, dan sendok.

  1. Pelaksanan Eksperimen

Pada tahap ini kegiatan yang harus dilakukan adalah menyiapkan semua kondisi yang sama terhadap kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada pelaksanaan eksperimen hendaknya memperhatikan hal-hal berikut.

  1. Taraf Perlakuan

Kegiatan pada taraf perlakuan adalah menentukan dan mengontrol variabel. Pada kelompok eksperimen diberikan perlakuan, sedangkan pada kelompok kontrol tidak.

Misalnya, sesuatu yang akan dicobakan, yaitu pupuk disebut sebagai variabel bebas, kemudian diberikan taraf perlakuannya, yaitu dengan memberikan pupuk dengan dosis yang berbeda-beda. Antara dosis pertama dengan dosis berikutnya sebaiknya meningkat secara tetap. Misalnya, perlakuan pertama dosisnya 1, perlakuan kedua dosisnya 2, perlakuan ketiga dosisnya 3, dan seterusnya. Setiap tingkatan dosisnya naik 1 kali.

  1. Pengendalian Faktor Lain

Jika dalam suatu eksperimen akan dibuktikan pengaruh pupuk, maka pengaruh faktor lain harus dikendalikan, yaitu dengan cara memberikan faktor (variabel) pada semua kelompok perlakuan yang sama. Misalnya, pemberian air, besarnya pot, banyak tanah, jenis cabai, cahaya matahari, frekuensi pemupukan semuanya harus diperlakukan sama. Variabel ini dinamakan variabel tak bebas atau variabel terkendali.

  1. Pengulangan

Sebaiknya dalam melaksanakan perlakuan eksperimen tidak hanya terhadap satu individu atau satu kelompok saja sebab sangat riskan karena data yang diperoleh bisa mengalami kesalahan yang tidak disengaja. Selain itu, satu individu/satu kelompok saja tidak bisa mewakili seluruh populasi.

Misalnya, jumlah setiap perlakuan ada 3 individu, berarti dalam eksperimen tersebut ada 6 perlakuan akan diulang sebanyak 3 kali sehingga untuk semua perlakuan terdapat 18 individu. Jadi, besarnya sampel (jumlah individu/ kelompok yang diberi perlakuan) seluruhnya adalah 18 individu. Semakin banyak ulangannya, berarti sampel juga semakin besar, sehingga hasilnya semakin sahih/mendekati kebenaran. Seperti terlihat pada contoh pemberian pupuk pada tanaman cabai. Pada percobaan 3 tanaman cabai diberikan pupuk kompos dengan dosis yang berbeda-beda

  1. Pengukuran

Agar diperoleh data yang kuantitatif dan akurat, sebaiknya dilakukan pengukuran. Misalnya, untuk mengukur tinggi tanaman cabai, panjang batang, dan lebar daunnya dengan menggunakan meteran/mistar.

  1. Observasi Dalam Ekserimen

Maksud observasi dalam eksperimen adalah mengamati dengan teliti perubahan atau gejala yang terjadi ketika melakukan percobaan dengan maksud mengumpulkan data yang lebih banyak.

Contoh: Percobaan yang dilakukan pada contoh pengulangan tersebut di atas diketahui ternyata tanaman cabai mempunyai ketinggian yang berbedabeda walaupun diberikan pupuk yang sama

  1. Menjawab Masalah

Dari masalah yang akan dijawab, melalui kegiatan eksperimen dicari dan ditemukan  jawabannya berdasarkan analisis data yang diperoleh dalam eksperimen, kemudian didiskusikan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mencari rata-rata dari semua data yang diperoleh atau diubah ke dalam persen kemudian dibuat grafik. Hasil rata-rata itu kemudian ditafsirkan dan dijadikan pijakan untuk membuat kesimpulan.

  1. Menguji Jawaban

Tahap ini dilakukan untuk meyakinkan kebenaran suatu jawaban. Pengujian sekali lagi perlu dilakukan melalui percobaan seperti contoh di depan. Pengujian ini dilakukan dengan kondisi dan perlakuan yang sama seperti semula. Contoh dilakukan percobaan pemberian pupuk kompos terhadap pertumbuhan tinggi tanaman cabai dengan perlakuan pada sejumlah individu yang sama. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin banyak pemberian pupuk, semakin banyak memberikan hasil yang paling baik dari sampel yang dicobakan.

  1. Menarik Kesimpulan

Kesimpulan diperoleh berdasarkan hasil dari eksperimen. Kemungkinan kesimpulan pertama, hipotesis ditolak jika dugaan sementara tidak sesuai dengan hasil eksperimen. Apabila hipotesis diterima, berarti dugaan sementara sesuai dengan hasil eksperimen. Manakah hasil eksperimen yang baik, jika hipotesis ditolak atau diterima? Semua hasil eksperimen dikatakan baik jika dilakukan dengan prosedur secara ilmiah, contoh dari hasil percobaan terhadap pemberian pupuk diketahui pemberian pupuk berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman cabai.

05/05/2010 Posted by | Biologi Umum | 24 Komentar

RENDAMAN BATANG BROTOWALI (Tinospora crispa L. Miers.) SEBAGAI PENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI PENYEBAB DIARE (GASTROENTERITIS)

RENDAMAN BATANG BROTOWALI (Tinospora crispa L. Miers.)

SEBAGAI PENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI PENYEBAB DIARE (GASTROENTERITIS)

Muhammad Jakfar Sadiq, Siti Rahmatullaili, Ifan Prasetya Yuda

Jurusan Pendidikan Biologi-FKIP-Universitas Muhammadiyah Malang

ABSTRAK

Salah satu permasalah kesehatan di masyarakat yang tidak pernah dapat diatasi secara tuntas adalah diare. Masyarakat biasanya menggunakan obat tradisional untuk mengobati diare selain juga menggunakan obat sintetis. Namun sampai saat ini, belum ada yang menemukan secara pasti bahwa rendaman batang brotowali berkhasiat untuk menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare. Sehingga perlu dilakukan studi yang bertujuan untuk membuktikan efek farmakologi rendaman batang brotowali terhadap pertumbuhan Salmonella typhi, Perlakuan pada penelitian ini menggunakan konsentrasi rendaman batang brotowali 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%. Metode penelitian meliputi pembuatan medium Mueller Hilton dan pembuatan larutan MacFarland, sterilisasi cakram disk, pembuatan rendaman batang brotowali, uji efek farmakologi rendaman batang brotowali terhadap pertumbuhan Salmonella typhi. Analisis data yaitu uji normalitas dan uji homogenitas untuk mengetahui jenis populasi dari data yang didapat, apakah  berdistribusi normal atau homogen. Selanjutnya dilakukan uji t untuk mengetahui perlakuan terbaik konsentrasi rendaman batang brotowali dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi. Hasil studi menunjukkan bahwa rendaman batang brotowali menyebabkan penurunan jumlah koloni Salmonella typhia. Konsentrasi rendaman batang brotowali yang paling efektif untuk menghambat pertumbuhan Salmonella typhi tersebut adalah 100%. Dengan demikian rendaman batang brotowali dapat digunakan sebagai penghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare.

Kata Kunci : Salmonella typhi, batang brotowali, gastroenteritis, diare.

PENDAHULUAN

Salah satu permasalah kesehatan di masyarakat yang tidak pernah dapat diatasi secara tuntas salah satunya adalah diare. Hasil survey tahun 2004 mencatat 4.800 orang terserang diare. Penyakit ini bersifat endemis dan biasanya berulang tiap tahunnya. Harian Kompas memberitakan bahwa korban diare juga terjadi di NTT dengan korban meninggal secara kumulatif mencapai 42 orang dan 2.017 orang lainnya dirawat di salah satu rumah sakit yang ada di NTT (Kompas, 2006).

Sampai saat ini penyakit diare (gastroenteritis), masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di Indonesia. Dari daftar urutan penyebab kunjungan Puskesmas/Balai pengobatan, diare hampir selalu menjadi penyebab utama kunjungan masyarakat. Di Indonesia dapat ditemukan sekitar 60 juta kejadian penderita diare setiap tahunnya. Sebesar 70 – 80 % dari penderita ini adalah anak di bawah lima tahun (±40 juta kejadian). Kelompok ini setiap tahunnya mengalami lebih dari satu kejadian diare. 1 – 2 % akan jatuh ke dalam dehidrasi dan bila tidak segera ditolong 50–60 % diantaranya meninggal. (Kompas, 2005).

Dalam Harian Kompas juga diberitakan bahwa diare di Flores Timur meluas, 19 warga meninggal. Kasus diare yang mewabah di Kab. Flores Timur NTT, semakin meluas hingga ke 10 kecamatan di wilayah paling timur Pulau Flores tersebut, yakni Kec. Adonara Timur, Klubagolit, Witihama, Solor Timur, Tanjung Bunga, Larantuka, Adonara Barat, Solor Barat, Wulanggitang dan IlE Mandiri. Kabag Kesejahteraan Biro Bina Sosial Setda NTT, Fransiska Palan Bolen SH mengatakan sesuai laporan yang diterima dari Pemkab Flores Timur 5 Feb2005, terjadi peningkatan jumlah kasus dari 1.472 kasus menjadi 1.659 kasus. Penyakit menular ini menyebabkan 19 warga meninggal dunia dan 39 warga menjalani perawatan secara intensif di RSUD Larantuka. (Kompas, 2006).

Diare merupakan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan gizi, bakteri, keracunan makanan dan peradangan usus. Penyakit ini dapat menular melalui tinja yang mengandung kuman penyebab diare dan mencemari lingkungan, misalnya tanah, sungai, dan air sumur. Pada umumnya daerah yang rentan terhadap diare ini adalah daerah yang tidak mencukupi akan kebutuhan air bersih, seperti daerah pesisir pantai dan daerah yang kaya akan air tetapi air tersebut tidak mencukupi standar air bersih atau telah tercemari. (Jawets, 2001).

Diare disebut pula sebaga gastroenteritis (Kompas, 2005). Diare atau gastroenteritis (GE) adalah suatu infeksi usus yang menyebabkan keadaan feses bayi encer dan atau berair, dengan frekuensi lebih dari 3 kali perhari, dan kadang disertai muntah. Muntah dapat berlangsung singkat, namun diare bisa berlanjut sampai sepuluh hari.Pada banyak kasus, pengobatan tidak diperlukan. Bayi usia sampai enam bulan dengan diare dapat terlihat sangat sakit, akibat terlalu banyak cairan yang dikeluarkannya. Empat jenis klinis diare antara lain:

a)      Diare akut bercampur air (termasuk kolera) yang berlangsung selama beberapa jam/hari: bahaya utamanya adalah dehidrasi, juga penurunan berat badan jika tidak diberikan makan/minum

b)      Diare akut bercampur darah (disentri): bahaya utama adalah kerusakan usus halus (intestinum), sepsis (infeksi bakteri dalam darah) dan malnutrisi (kurang gizi), dan komplikasi lain termasuk dehidrasi.

c)      Diare persisten (berlangsung selama 14 hari atau lebih lama): bahaya utama adalah malnutrisi (kurang gizi) dan infeksi serius di luar usus halus, dehidrasi juga bisa terjadi.

d)     Diare dengan malnutrisi berat (marasmus atau kwashiorkor): bahaya utama adalah infeksi sistemik (menyeluruh) berat, dehidrasi, gagal jantung, serta defisiensi (kekurangan) vitamin dan mineral. (Sabrini, 2004).

Setidaknya ada dua mekanisme dasar terjadinya diare, yaitu pengeluaran cairan di usus yang berlebihan akibat toksin. Lebih dikenal dengan sebutan diare sekresi. Pada diare jenis ini dinding usus permukaannya tidak rusak dan absorbsi karbohidrat/lemak yang jelek. Lebih dikenal dengan sebutan diare osmotik. Pada jenis ini dinding usus mengalami kerusakan. Infeksi peyakit ini dikelompokkan dalam 2 jenis, yaitu penyakit ringan, karena dapat sembuh dengan sendirinya dan penyakit berat karena dapat menimbulkan kematian.

Faktor lingkungan  berperan penting dalam perkembangbiakan bakteri dan virus penyebab diare(Salmonella typhi) tersebut (Budiyanto, 2000 : 130). Penyakit gastroenteritis merupakan sindroma/infeksi usus, yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi, masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 12-48 jam atau lebih. Gejalanya biasanya berupa mual-mual dan muntah yang mereda dalam beberapa jam, kemudian diikuti dengan nyeri abdomen dan demam. Adapun pada kasus yang berat dapat berupa diare yang bercampur darah. Penderita sering sembuh dengan sendirinya dalam jangka waktu 1-5 hari, tetapi kadang-kadang dapat menjadi berat dimana terjadi gangguan keseimbangan elektrolit dan dehidrasi. Untuk menangani penyakit tersebut biasanya masyarakat memamfaatkan tanaman tradisional sebagai salah satu alternatif pengobatan disamping obat-obatan modern yang sudah banyak di pasaran, agar terhindar dari resistensi dan efek samping yang tidak diinginkan. Tanaman yang digunakan masyarakat dalam pengobatan penyakit ini biasa dikenal dengan “batang brotowali” (Budiyanto, 2000 : 130).

Brotowali yang dikenal sebagai tanaman obat ini berasal dari Asia Tenggara. Wilayah penyebarannya di Asia Tenggara cukup luas, meliputi wilayah Cina, Semenanjung Melayu, Filipina, dan Indonesia. Brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) merupakan tanaman merambat dan tumbuh dengan baik di hutan terbuka atau semak belukar di daerah tropis. Di Indonesia, tanaman ini dikenal dengan berbagai nama daerah, seperti andawali Sunda), antawali (Bali dan Nusa Tenggara), dan bratawali, antawali, putrowali atau daun gedel (Jawa). Di daerah lain, brotowali dikenal dengan nama putrawali atau daun gedel. Dalam bahasa Inggris brotowali disebut bitter grape, dan dalam bahasa Cina dikienal dengan nama sen jinteng. Rendaman batang brotowali dapat digunakan sebagai penghambat pertumbuhan Salmonella typhi, hal ini disebabkan pada batangan brotowali mengandung senyawa berberin yang secara farmakologi dapat bermamfaat sebagai obat diare. Karena mempunyai sifat analgenik menyebabkan brotowali dapat menghilangkan rasa sakit dan sifat antipiretikum yang berkhasiat dalam menurunkan panas. Batang brotowali banyak digunakan untuk mengobati sakit perut (diare) dan demam.

Tanaman Brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) merupakan salah satu dari sekian banyak tanaman obat yang  di Indonesia. Gejala penyakit ini adalah sedikit demam atau timbul mual, sakit kepala, mualnya diare yang hebat dengan beberapa lekosit dalam tinja tetapi jarang terdapat darah. Biasanya akan terjadi demam yang ringan tetapi hal ini akan sembuh sendirinya dalam 2-3 hari. Terdapat lesi-lesi peradangan usus halus dan usus besar.

Brotowali mengandung senyawa kimia yang berkhasiat mengobati berbagai penyakit, yaitu sakit perut, diare, demam, dan sakit kuning. Senyawa kimia ini terdapat di seluruh bagian mulai dari akar, batang sampai daun, dalam senyawa kimia yang terkandung dalam batang brotowali tersebut tercatat ada berbagai efek farmakologi yang menjadi faktor penyebab berkhasiatnya batang brotowali (Kresnady, 2003 : 3).

Menurut peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala daya antimikroba ekstrak batang brotowali terhadap E. Coli lebih besar dibandingkan dengan Staphylococcus Aureus. Disamping itu, ekstrak brotowali ini bersifat fungistatik terhadap jamur kapang (Trichophyton ajelloi) pada konsentrasi di atas 0,8 g/ml (Kresnady, 2003 : 8).

Berdasarkan uraian di atas diduga bahwa rendaman batang brotowali memiliki efek farmakologi terhadap Salmonella typhi yang merupakan salah satu penyebab infeksi gastroenteritis (diare). Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu studi tentang ”Rendaman Batang Brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) Sebagai Penghambat Pertumbuhan Bakteri Diare (Gastroenteritis) sebagai alternatif untuk pengobatan terhadap infeksi oleh bakteri Salmonella typhi,  mengingat sifat bakteri tersebut yang sangat berbahanya bagi masyarakat.

Studi ini bertujuan untuk membuktikan efek rendaman batang brotolawi sebagai penghambat pertumbuhan bakteri diare (Gastroenteritis) serta konsentrasi rendaman batang brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) yang paling efektif sebagai penghambat Salmonella typhidan penyebab diare (Gastroenteritis) secara aplikasi studi ini memberikan informasi pada masyarakat umum dan Departement Kesehatan khususnya bahwa batang brotowali (Tinospora cripa, L. Miers) dapat dimanfaatkan sebagai antiseptik alternatif untuk mengatasi penyakit diare (gastroenteritis). Adapun manfaat dari studi ini, secara teoritis memberikan informasi ilmiah tentang rendaman batang brotowali sebagai penghambat pertumbuhan bakteri diare (gastroenteritis).

METODE PENELITIAN

Adapun tahap pelaksanaan studi rendaman batang brotowali sebagai penghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare, yaitu : pembuatan suspensi Salmonella typhi, inokulasi Salmonella typhi. Sedangkan analisis data yang digunakan dalam studi ini meliputi uji t, yang kemudian dilanjutkan dengan uji normalitas/uji homogenitas.

Studi ini dilakukan di Laboratotium Biologi Universitas Muhammadiyah Malang dengan menggunakan sampel bakteri Salmonella typhi yang diambil secara acak sederhana. Alat-alat yang digunakan dalam studi ini yaitu beaker glass, jarum inokulasi, inkubator (37°), blender, tabung reaksi ukuran 10 cc, kompor gas, cawan petri ukuran 9 cm, rak tabung reaksi, erlenmeyer ukuran 500 ml, timbangan tripel beam, gelas ukur ukuran 100 ml, aluminium foil ukuran 100 cm, bunsen, hot plate magnetik stirrer, autoklaf, jangka sorong, enkats, pinset, spet ukur ukuran 10 ml, spatter, mikropipet. Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bakteri Salmonella typhi 3-7 jarum ose, batang brotowali, medium Mueler Hilton (MH) agar 450 ml, aquades steril 700 ml, kertas cakram whattman no. 45 (diameter 60 mm), ampicillin 10 mg, BaCl2 1% 0,05 ml, H2SO4 1% 9,95 ml, lidi, kapas, kertas label, tissue, spiritus.

Jumlah perlakuan P=10 (macam rendaman batang brotowali), sehingga variabel bebas dalam studi ini adalah konsentrasi rendaman batang brotowali (Tinospora crispa, L., Miers.) yaitu : 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%. Sedangkan variabel terikat dalam studi ini meliputi diameter daya hambat Salmonella typhi.

Sterilisasi alat dilakukan dengan autoklaf dengan suhu 121° C dengan tekanan 15 atm selama 15 menit.

Pelaksanaan studi ” Rendaman Batang Brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) ini adalah sebagai berikut :

Menyiapkan tabung reaksi sebanyak 3 buah dan suspensi bakteri Salmonella typhi, enkast 1 buah, biakan Salmonella typhi dan garam fisiologi. Masukkan suspensi dan biakan Salmonella typhi ke dalam enkast, dilanjutkan dengan mensuspensikan koloni biakan Salmonella typhi dalam tabung reaksi yang berisi garam fisiologi, selanjutnya disimpan dalam inkubator pada suhu 37° C selama 24 jam. Kemudian membandingkan suspensi tersebut dan larutan Mac Farland standar yang telah dibuat, jika suspensi terlalu keruh maka suspensi ditambahkan dengan garam fisiologi steril, sehingga menyerupai dengan larutan Mac Farland, apabila larutan terlalu encer ditambahkan bakteri. Setelah itu memasukkan media padat MH, suspensi Salmonella typhi, lidi, kapas, busen, mikro pipet, paper disk dan rendaman batang brotowali ke dalam enkast. Selanjutnya menyalakan api bunsen, yang kemudian dilanjutkan dengan mencelupkan ujung kapas ke dalam suspensi Salmonella typhi, kemudian diperas pada samping tabung reaksi secara perlahan. Setelah itu membuka cawan petri, yang kemudian menggoreskan kapas tersebut di atas media Mueler Hilton agar secara steaking yaitu penggoresan dengan arah zigzag. Kemudian meletakkan paper disk di bagian tengan atas media MH yang telah digoreskan bakteri . selanjutnya menetesi paper disk dengan rendaman batang brotowali menggunakan mikro pipet sebanyak 0,5 miu liter pada setiap paper disk. Kemudian menutup kembali cawan Petri dan diputar-putar pada api bunsen, selanjutnya mengeluarkannya dari enkast, kemudian dilanjutkan dengan membungkus cawan petri dengan kertas wrap, dilanjutkan dengan membungkusnya dengan kertas coklat. Kemudian meletakkannya ke dalam inkubator selama 24 jam pada suhu 34° C. Setelah 24 jam semua cawan petri dikeluarkan dari inkubator dan dilakukan pengukuran diameter daya hambat rendaman batang brotowali dengan menggunakan jangka sorong. Pengukuran berawal dari tepi daerah daya hambat sampai ke tepi daya hambat yang terpanjang lainnya. Satuan pengukuran yang digunakan adalah mm.

HASIL PENELITIAN

Pengamatan tingkat konsentrasi rendaman batang brotowali (Tinospora crispa, L., Miers.) terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi pada penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi rendaman batang brtowali yang digunakan, maka akan mempengaruhi penurunan Salmonella typhi dengan lebih tinggi pula, dan konsentrasi rendaman batang brotowali yang paling efektif untuk mengurangi pertumbuhan Salmonella typhi yaitu 100%, sebagaimana data hasil pengamatan tingkat konsentasi rendaman brotowali di bawah ini.

Tabel 1. Diameter Daya Hambat Bakteri Salmonella typhi Akibat Pemberian Berbagai Konsentrasi Rendaman Batang Brotowali (Tinospora cripa, L. Miers.) (mm).

Konsentrasi Rendaman Batang Brotowali Ulangan

Total Rerata
1 2 3
10% 0,85 0,82 0,88 2,55 0,85
20% 0,91 0,895 0,93 2,735 0,911
30% 0,93 0,94 0,95 2,82 0,94
40% 1,12 1,13 1,145 3,395 1,131
50% 1,315 1,405 1,31 4,03 1,34
60% 1,5 1,52 1,59 4,61 1,53
70% 1,7 1,695 1,595 4,99 1,66
80% 1,7 1,74 1,74 5,18 1,72
90% 1,895 1,92 1,95 5,765 1,92
100% 2,205 2,015 2,015 6,235 2,07
Jumlah 42,31 1,40

PEMBAHASAN

Kemampuan rendaman brotowali dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi, dikarenakan dalam fraksi rendaman batang brotowali terdapat senyawa aktif yaitu berberin. Berberin merupakan golongan terbesar dari fenol, dimana dalam Jawetz (1992), menyatakan fenol dan persenyawaan dari fenol merupakan unsur antikuman yang kuat pada konsentrasi yang biasa digunakan  (larutan air 1-2%), fenol dan derivatnya dapat menimbulkan denaturasi protein.

Volk dan Wheller (1993) menyatakan, bahwa fenol merupakan senyawa yang bersifat bakteriostatik atau bakterisidal tergantung dari konsentrasinya. Konsentrasi yang tinggi  dapat merusak membran sitoplasma secara total dan mengendapkan protein sel. Dalam konsentrasi 0,1-2% dapat merusak membran sitoplasma yang menyebabkan bocornya metabolit penting dan menginaktifkan sejumlah sistem enzim bakteri. Membran sitoplasma merupakan 8-10% bobot kering sel. Struktur ini terdiri dari fosfolipid dan protein. Fosfolipid ini merupakan srtuktur dasar dari membran sitoplasma. Fosfolipid terdiri dari bagian yang bersifat hidrofobik dan hidrofilik yang saling berdekataan sehingga membentuk 2 lapis.

Adanya berberin yang terdapat pada batang brotowali menyebabkan penyusunan utama membran sel yaitu ion Ca2+ (kalsium) kehilangan kemampuannya untuk mengangkut bahan-bahan terlarut ke dalam sitoplasma atau organel-organel sel, tanpa kehadiran ion ini membran sel akan akan menjadi bocor. Dimana bahan-bahan yang sudah diangkut ke dalam sitoplasma atau organel akan merembes ke luar. Fungsi kalsium pada membran ini adalah berperan mengikat bagian hidrofilik fosfolipid satu sama lain dengan gugusan dari molekul protein pada permukaan membran. Senyawa berberin  ini dalam struktur kimianya mempunyai gugus alkohol yang secara aktif berperan dalam menghambat Salmonella typhi.

Menurut Lay (1992) apabila terjadi pembengkakan membran sitoplasma akan menyebabkan terjadi plasmolisis yang menyebabkan keluarnya cairan sitoplasma dan kebocoran nutrient dari dalam sel bakteri. Kebocoran nutrien ini diawali dengan keluarnya berbagai komponen penting yaitu protein, asam nukleat dan lain-lain. Selain itu kerusakan pada membran sitoplasma dapat mencegah masuknya bahan-bahan penting ke dalam sel karena membran sitoplasma juga mengendalikan pengangkutan aktif ke dalam sel.

Adanya perbedaan pengaruh yang ditunjukkan dengan perbedaan diameter daya hambat dikarenakan adanya perbedaan konsentrasi yang digunakan sehingga kandungan zat aktif antibakteri juga berbeda. Konsentrasi yang meningkat diikuti dengan kandungan zat aktif yang semakin besar, sehingga kemampuan bakterisidal atau bakteriostatiknya semakin meningkat Pada perlakuan konsentrasi 100% menghasilkan rata-rata diameter daya hambat terbesar. Hal ini dapat dikatakan bahwa perlakuan konsentrasi 100% merupakan perlakuan terbaik dibandingkan dengan perlakuan 90% ke bawah. Pada konsentrasi rendaman batang brotowali 100% memiliki kandungan zat aktif berberin yang lebih besar sehingga kemampuannya menghambat bakteri Salmonella typhi juga lebih tinggi.

Sensitivitas bakteri Salmonella typhi terhadap ampicillin dikarenakan ampiccilin adalah antibiotik berspekturm luas, yang mengeluarkan efek bakteriostatis. Antibiotika ini menghambat sintesis protein dengan terikat pada sub unit ribosom 30s, dengan demikian mencegah penempelan asam amino yang membawa tRNA. Terapi antimikrobial dari infeksi Salmonella typhi adalah dengan ampicillin, trimetropim sulfametosazole. Resistensib obat berkali-kali ditransfer secara genetik oleh plasmid di antara bakteri enterik dan merupakan sebuah masalah penting dalam infeksi Salmonella typhi (Volk dan Wheller, 1993).    Brotowali mengandung banyak senyawa kimia yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Kandungan kimia berkhasiat obat terdapat di seluruh bagian tanaman, dari akar, batang, sampai daun. Batang brotowali mengandung senyawa antimikroba berberin. Berdasarkan sejumlah literatur, secara umum di dalam tanaman brotowali terkandung berbagai senyawa kimia, antara lain alkaloid, dammar lunak, pati, glikosida, pikroretosid, harsa, zat pahit pikroretin, tinokrisposid, berberin, palmatin, kolumbin, dan kaokulin. Berdasarkan berbagai senyawa yang terkandung dalam brotowali, dapat diketahui ada beberapa efek farmakologis dari brotowali (Tinospora crispa, L. Meirs), sehingga dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Brotowali dapat memberikan efek farmakologis, yaitu analgesik, anti-inflamasi, antikoagulan, tinikum, antiperiodikum, dan diuretikum. Sifat analgenik menyebabkan brotowali dapat menghilangkan rasa sakit. Sifat antipirektikum menyebabkan brotowali berkhasiat dalam menurunkan panas. Batang brotowali banyak digunakan untuk mengobati sakit perut (diare) dan demam. Semua bagian brotowali dari akar, batang, daun, dan bunganya terasa sangat pahit jika dimakan. Rasa pahit itu disebabkan oleh adanya senyawa berberin yang banyak terdapat di dalam batang brotowali.

Kuriharismah (dalam Arishinta, 2002), mengasumsikan bahwa berberin mempunyai mekanisme kerja yang sama dengan senyawan lain yang fungsinya sebagai antimikroba. Senyawa berberin mempunyai kemampuan bereaksi dengan protein, yang mengakibatkan terputusnya ikatan protein dengan fosfolipi, sehingga berpengaruh pada fungsi selaput sel. Pada bakteri gram negatif, transport dari beberapa nutrisi dibantu oleh ikatan protein yang terdapat pada ruang periplasmik. Protein ini berfungsi memindah substrat yang diikat ke dalam membran transport protein yang sesuai. Adapun mekanisme kerja berberin adalah mampu berikatan dengan protein pengikat. Protein pengikat ini bukan enzim tetapi mempunyai sifat mengikat suatu zat tertentu, protein ini dikenal dengan sebutan protein porin. Protein inilah yang mengikat berberin dibawa masuk oleh molekul pembawaya yang terikat pada membran sitoplasma.

Menurut Jawetz (2001) antibiotik yang berfungsi sebagai antibakteri mempunyai fungsi merusak protein dan fosfolipid sel-sel membran. Padahal seharusnya 50% dari membran sitoplasma berada dalam keadaan cair tetapi karena protein membran telah rusak akibat reaksi dengan flavonoid menyebabkan protein telah terputus dengan fosfolipit. Keadaan membran sitoplasma yang tidak memenuhi syarat akan berpengaruh dalam petumbuhan sel. Selain itu daya kerja flavonoid menyebabkan ketidakaktifan enzim-enzim serta kerusakan asam amino dalam sel protein dalam membra sel. Padahal membran sitoplasma atau membran sel terdiri dari lipida dan enzim-enzim yang berfungsi untuk gerakan aktivitas transport zat-zat yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup bakteri. Karena membran sel berada dalam kondisi tidak normal dan sekaligus berakibat pada rusaknya membran akibat daya aktivitas berberin, maka akan berakibat pada pertumbuhan sel bakteri Salmonella typhi atau kematian, sehingga mengakibatkan bakteri Salmonella typhi tidak dapat melangsungkan hidupanya, dikarenakan pengaruh pemberian rendaman batang brotowali (Tinospora crispa, L. Miers.) tersebut.

KESIMPULAN

Rendaman batang brotowali yang digunakan masyarakat tradisional sebagai obat diare terbukti memiliki efek menghambat pertumbuhan Salmonella typhi. Peningkatan konsentrasi 80%-100%, rendaman batang brotowali cenderung menyebabkan penurunan jumlah koloni Salmonella typhi sebagai bakteri penyebab diare (Gastroenteritis). Konsentrasi rendaman batang brotowali yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi adalah pada konsentrasi 100%.

UCAPAN TERIMA KASIH

Studi ini telah selesai dilaksanakan dalam waktu yang telah ditetapkan berkat bantuan dari berbagai pihak, sehingga penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Ibu Dra. Roimil Latifah, M. Si. MM., selaku Kepala Laboratorium Biologi yang telah memberikan saran, pemantapan dan pertimbangan yang berguna bagi penyelesaian PKMI ini;
  2. Ibu Dra. Elly Purwanti, M.P., selaku Dosen Mata Kuliah Biologi Umum yang telah banyak memberikan ilmunya; dan
  3. Segenap teknisi Laboratorium Biologi, yang telah memberikan bantuan sehingga studi mata kuliah Biologi ini dapat terselesaikan.
  4. Husamah, Ketua Umum Forum Kajian Ilmiah Mahasiswa Biologi (FKIMB) yang telah meminjamkan berbagai literatur serta mereview tulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 1994. Penatalaksanaan Dan  Pencegahan Diare Akut. Jakarta: EGC.

Anonymous. 2003. Bakteriologi Medik. Malang: Bayu Media

Budiyanto, MAK. 2000. Mikrobiologi Terapan. Malang: UMM Press.

Jawetz., et al. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Rajawali Press.

Jawetz, et al. 2001. Mikrobiologi Kedokteran. Surabaya: Salemba Medical

Kompas. 2005. Konsultasi: Diare Berkepanjangan. www.kompas.com/kesehatan/news/0503/21/084059.htm. Diakses tanggal 1 Desember 2006

Kompas. 2006. Setiap Tahun 100.000 Anak Mati karena Diare di Indonesia.     www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0611/26/194504.htm. Diakses tanggal 1 Desember 2006

Kresnadi, Budi. 2003. Khasiat dan Manfaat Brotowali. Jakarta: Agromedia

Lay, BW., dan Hastowo., S. 1992. Mikrobiologi. Jakarta: Rajawali Press.

Majalah Poultry. 2004. Mengamati Cara Kerja Dan Mekanisme Resistensi Antibiotik.http//www.poultryindonesia.com/modules.php?name=News&file=print&sid=398. Diakses tanggal 3 Nopember 2006

Rofieq, A., dan Nur Widodo. 2002. Pengantar dan Metodelogi Penelitian FKIP UMM. Malang : UMM Press

Sarbini. 2004 . Diare .http// http://www.mer-c.org/mc/ina/ikes/ikes_0304_diare.htm Diakses tanggal 3 Nopember 2006

Volk dan Wheller. 1993. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Erlangga.

05/05/2010 Posted by | Contoh PKM | 6 Komentar

“ TELUR AMARA POLKADOT” Telur Asin Macam Rasa Enak dan Bergizi”.

A. Judul Program

“ TELUR  AMARA POLKADOT”  Telur Asin Macam Rasa Enak dan  Bergizi”.

B. Latar Belakang

Di Indonesia sekitar 1,67 juta anak di bawah lima tahun (balita) berstatus penderita gizi buruk (malnutrisi). Berdasarkan data WHO yang mengelompokan prevelensi gizi kurang, Indonesia tahun 2004 tergolong negara dengan status kekurangan gizi yang tinggi karena 5.119.935 (28,47%) dari 17.983.244 balita di Indonesia termasuk kelompok gizi kurang dan gizi buruk. Gizi buruk ini salah satunnya diakibatkan karena kurangnya konsumsi protein hewani oleh masyarakat.

Tingkat konsumsi protein hewani di Indonesia sangat rendah, bahkan masih di bawah standar yang ditetapkan oleh Badan Pangan Dunia (FAO).  Berdasarkan ketetapan FAO,  standar  konsumsi protein hewani bangsa Indonesia minimal sebesar 6 gr/kapita/hari. Namun, saat ini masyarakat di Indonesia baru mengonsumsi protein hewani sebanyak 4,19 gr/kapita/hari. Sumber protein hewani yaitu susu, daging, ikan, telur dan keju mengandung asam amino esensial lengkap, lemak relatif tinggi dan mengandung laktosa.

Konsumsi telur penduduk Indonesia rendah, yakni 2,7 kg/kapita/tahun, sedangkan Malaysia mencapai 14,4 kg, Thailand 9,9 kg dan Fhilipina 6,2 kg. Bila satu kilogram telur rata-rata terdiri atas 17 butir, maka konsumsi telur penduduk Indonesia adalah 46 butir/kapita/tahun atau 1/8 butir telur per hari. Padahal penduduk Malaysia setiap tahunnya memakan 245 butir telur atau 2/3 butir telur per hari..

Rendahnya konsumsi protein menyebabkan terganggunya pertumbuhan, meningkatnya resiko terkena penyakit, mempengaruhi perkembangan mental, dan menurunkan produktivitas tenaga kerja. Kasus malnutrisi yang sangat parah pada usia balita dapat menyebabkan bangsa ini mengalami loss generation. Kekurangan protein mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan, ketidakseimbangan cairan tubuh dan penurunan daya tahan tubuh terhadap infeksi karena makanan kita tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh untuk energi dan protein.

Penyebab rendahnya konsumsi protein hewani dikarenakan rendahnya taraf perekonomian penduduk Indonesia. Kurangnya sosialisasi tentang pentingnya konsumsi protein hewani bagi tubuh. Selain itu, sumber-sumber protein hewani relative harganya mahal jika dibandingkan dengan protein nabati.

Menurut Budiyanto (2007) mahasiswa merupakan Agent of Community Enpowerment, harus terlibat dalam pemecahan masalah pembangunan daerah dan nasional untuk kesejahteraan masyarakat dan harus mendapatkan pengalaman empirik untuk mengelola pemecahan masalah pembangunan daerah dan nasional untuk kesejahteraan masyarakat. Mahasiswa juga merupakan aset bangsa sehingga dituntut untuk aspiratif, akomodatif, responsif, dan reaktif menjadi problem solver terhadap permasalahan pembangunan. Selain itu, mahasiswa sebagai Agent Of Change sepatutnya  memiliki semangat bekerja dan cita-cita tinggi untuk sukses dalam berbisnis seperti para pengusaha bahkan lebih. Di era globalisasi ini, mahasiswa lebih dituntut agar mampu mengembangkan potensinya sehingga memiliki daya saing tinggi dalam masyarakat sebagai bentuk pengabdian ketika berada di dunia masyarakat yang lebih kompleks daripada di kampus.

Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat dimanfaatkan sebagai lauk, bahan pencampur berbagai makanan, tepung telur, obat, dan lain sebagainya. Telur terdiri dari protein 13 %, lemak 12 %, serta vitamin, dan mineral. Nilai tertinggi telur terdapat pada bagian kuningnya. Kuning telur mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan serta mineral seperti : besi, fosfor, sedikit kalsium, dan vitamin B kompleks. Sebagian protein (50%) dan semua lemak terdapat pada kuning telur. Adapun putih telur yang jumlahnya sekitar 60 % dari seluruh bulatan telur mengandung 5 jenis protein dan sedikit karbohidrat. Kelemahan telur yaitu memiliki sifat mudah rusak, baik kerusakan alami, kimiawi maupun kerusakan akibat serangan mikroorganisme melalui pori-pori telur. Oleh sebab itu usaha pengawetan sangat penting untuk mempertahankan kualitas telur (Anonymous, 2000).

Jumlah dan komposisi asam amino telur  sangat lengkap dan berimbang, sehingga hampir seluruh bagiannya dapat digunakan untuk pertumbuhan maupun penggantian sel-sel yang rusak Hasil penelitian mendapatkan, sebutir telur mempunyai kegunaan protein (net protein utilization) 100% dibandingkan dengan daging ayam (80%) dan susu (75%). Hampir semua lemak dalam sebutir telur itik terdapat pada bagian kuningnya, mencapai 35%, sedangkanm di bagian putihnya tidak ada sama sekali. lemak pada telur terdiri dari trigliserida (lemak netral), fosfolipida (umumnya berupa lesitin), dan kolesterol.

Ketersediaan bahan baku di malang………………………..

“TELUR AMARA POLKADOT” adalah telur asin yang berasal dari telur itik, dimana diolah dengan berbagai macam  rasa seperti rasa Bawang, BBQ, cabai, balado, dan jagung bakar  manis. Sedangkan polkadot, karena kulit luar telur bermotif bintik-bintik hal ini dimaksudkan untuk menarik konsumen. Cara pengolahannya dimulai dari pemilihan telur yang bermutu, lalu telur dicuci dan dikeringkan, telur diamplas untuk mengecilkan pori-pori,  mengolah variasi rasa dengan cara di blender, membuat adonan pengasin yang terdiri dari  bubuk batu bata dan garam, mencampur variasi rasa dengan adonan,membungkus telur dengan adonan satu persatu hingga rata, menyimpan telur atau mendiamkan selama 15 hari, setelah 15 hari telur dicuci, direbus dengan daun jati atau kulit bawang putih  untuk memberi motif kulit cangkang telur bintik-bintik sampai masak, setelah itu dilakukan pengemasan dan pemberian label . “TELUR AMARA POLKADOT” mempunyai daya tahan lama, tekstur menarik, rasa menggoda,  dan bergizi tinggi.

Prospek usaha in adalah menciptakan makanan instan yang mengandung protein tinggi bagi konsumsi masyarakat dan mahasiswa UMM.

Berangkat dari wacana dan peluang tersebut maka disusunlah proposal PKMK ini. Pemilihan telur sebagai komoditas untuk dijadikan usaha karena permintaan pasar yang tinggi akan kebutuhan telur asin yang relatif harganya yang murah. Selain itu, telur asin mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi sehingga baik digunakan untuk mencukupi kebutuhan akan gizi masyarakat.

Produk ini dinamakan “ TELUR AMARA POLKADOT” yang merupakan padanan kata telur asin macam rasa yang berbentuk polkadot, usaha ini diharapkan mampu menumbuhkan jiwa wirausaha bagi mahasiswa. Selain itu juga, usaha ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

  1. C. Perumuan Masalah.

Dari latar belakang di atas dapat dikemukanan permasalahan yaitu:

  1. Bagaiman cara produksi telur asin macam rasa polkadot?
  2. Bagaimana bentuk usaha dari “ TELUR AMARA POLKADOT”?
  3. Bagaiman cara pemasaran dari usaha “ TELUR AMARA POLKADOT”?
  4. Bagaiman cara pengembangan “ TELUR AMARA POLKADOT” di masa yang akan datang?

D. Tujuan Program

Tujuan dari program ini adalah:

  1. Untuk memproduksi telur asin macam rasa polkadot yang kaya akan gizi.
  2. Untuk membuat bentuk usaha yang tepat bagi usaha “ TELUR AMARA POLKADOT”.
  3. Untuk memasarkan usaha “ TELUR AMARA POLKADOT” kepada masyarkat sebagi alternatif lauk.
  4. Untuk cara pengembangan “ TELUR AMARA POLKADOT” dimasa yang akan mendatang.
  1. E. Luaran yang Diharapkan.

Luaran yang diharpkan dari usaha “ TELUR AMARA POLKADOT” ini adalah:

  1. Dapat menghasilkan produk “ TELUR AMARA POLKADOT” dengan meningkatkan nilai organoleptik dan penambahan suplemen dan zat aditif dalam produk agar diterima masyarakat dengan sifat telur tahan lama.
  2. Dapat menghasilkan produk jasa, dimana sebagi pendamping dalam pembentukan usaha kepada masyarakat dalam pengembangan produk ini
  3. Produk dapat dipatenkan dalam hal cara atau metode pengolahan telur macam rasa polkadot yang unik.
  1. F. Kegunan Program

Usaha ini memeiliki berbagai macam keguanann diantranya:

  1. 1. Aspek Ekonomis

Dapat memberi lapangan pekerjaan yang baru bagi masyarakat,. Dalam produksi telur asin macam rasa dibutuhkan tenaga kerja yang banyak.

  1. 2. Aspek Akademis

Memberikan kesempatan kepada mahasiswa FKIP Biologi UMM mengaplikasikan kegiatan kuliah untuk diangkat ke dalam kegiatan kewirausahaan, menerapkan mata kuliah dari Jurusan Pendidikan Biologi bidang studi kewirausahaan, pengolahan pangan, dan ilmu gizi.

3. Aspek Ketenagakerjaan

Masyarakat di Malang suka mengkonsumsi telur asin sebagai lauk maupun cemilan, akan tetapi telur asin berbagai macam rasa jarang dijual. Alternatif untuk membuat telur asin yang aneka rasa, kami membuat telur asin dengan rasa Bawang, BBQ, cabai, balado, dan jagung bakar manis. Selain itu, untuk menarik konsumen telur asin macam rasa dibut dengan kulit luar telur yang unik yaitu bermotif bulat-bulat seperti polkadot. Keadaan masyarakat yang membutuhkan protein hewani yang bergizi tinggi dan murah, maka dengan adanya usaha “ TELUR AMARA POLKADOT”  cocok dikembangkan di sekitara kampus UMM dan kota malang.

Kondisi ini bisa dimanfaatkan deangan mengembangkan usaha melalui penambahan alat dan tenaga kerja bahkan membuka cabang usaha. Selain itu, usaha ini dapat menjadi  sarana bagi pengembangan jiwa kewirausahaan mahasiswa.

4. Aspek Gizi Masyarakat.

Memberikan alternatif lauk instan yang mengandung protein hewani tinggi bagi masyarakat dan mahasiswa UMM serta masyarakat Malang pada umumnya.

  1. G. Gambaran Umum Rencana Usaha

G.1 Gambaran Umum Kondisi Masyarakat.

Salah satu permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah merebaknya kasus gizi buruk (malnutrisi) dan busung lapar pada anak-anak usia bawah lima tahun (balita). Sekitar 1,67 juta anak bawah lima tahun (balita) (8% dari anak usia 0-4 tahun) berstatus sebagai penderita gizi buruk (malnutrisi). Kasus malnutrisi ini disebabkan kurangnya asupan kalori-protein yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan anak-anak. Dimana konsumsi protein hewani penduduk Indonesia masih sangat rendah yakni 4,5 gram/kapita/hari, sementara konsumsi protein hewani masyarakat dunia adalah 26 gram/kapita/hari (Rusfidra, 2008).

Tingkat konsumsi protein hewani di Indonesia sangat rendah, bahkan masih di bawah standar yang ditetapkan oleh Badan Pangan Dunia (FAO)  Berdasarkan ketetapan FAO, standar  konsumsi protein hewani bangsa Indonesia minimal sebesar 6 gr/kapita/hari. Namun, saat ini masyarakat di Indonesia baru mengonsumsi protein hewani sebanyak 4,19 gr/kapita/hari. Sumber protein hewani yaitu susu, daging, ikan, telur dan keju mengandung asam amino esensial lengkap, lemak relatif tinggi dan mengandung laktosa (Siswono, 2005) (http://www.gizi.net).

Rendahanya konsumsi protein pada anak akan memyebabkan terganggunya pertumbuhan, meningkatnya resiko terkena penyakit, mempengaruhi perkembangan mental, menurunkan performans anak di sekolah dan menurunkan produktivitas tenaga kerja setelah dewasa. Kasus malnutrisi yang sangat parah pada usia balita dapat menyebabkan bangsa ini mengalami loss generation. Akibat berikutnya adalah rendahnya daya saing SDM bangsa ini dalam percaturan global antar bangsa.

Penyebab rendahnya konsumsi protein hewani dikarenakan rendahnya taraf perekonomian penduduk Indonesia. Kurangnya sosialisasi tentang pentingnya konsumsi protein hewani bagi tubuh. Selain itu, sumber-sumber protein heawani relative harganya mahal jika dibandingkan dengan protein nabati. Oleh karena itu, dibutuhkan sumber protein hewani yang mudah, enak, bergizi dan murah.

G.2 Gambaran Umum Telur

Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat dimanfaatkan sebagai lauk, bahan pencampur berbagai makanan, tepung telur, obat, dan lain sebagainya. Telur terdiri dari protein 13 %, lemak 12 %, serta vitamin, dan mineral. Nilai tertinggi telur terdapat pada bagian kuningnya. Kuning telur mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan serta mineral seperti : besi, fosfor, sedikit kalsium, dan vitamin B kompleks. Sebagian protein (50%) dan semua lemak terdapat pada kuning telur. Adapun putih telur yang jumlahnya sekitar 60 % dari seluruh bulatan telur mengandung 5 jenis protein dan sedikit karbohidrat. telur. Macam-macam telur adalah telur ayam, telur bebek atau itik, telur puyuh dan lain-lain.

Telur itik mempunyai kandungan protein lebih banyak terdapat pada vagina kuning telur 17 %, sedangkan bagian putihnya terdiri dari ovalbumin (putih telur) dan ovavitelin (kuning telur). Sebutir telur mempunyai kegunaan protein (net protein utilization) 100% dibandingkan dengan daging ayam (80%) dan susu (75%). Berarti jumlah dan komposisi asam aminonya sangat lengkap dan berimbang, sehingga hampir seluruh bagiannya dapat digunakan untuk pertumbuhan maupun penggantian sel-sel yang rusak. Hampir semua lemak dalam sebutir telur itik terdapat pada bagian kuningnya, mencapai 35%, sedangkan di bagian putihnya tidak ada sama sekali. lemak pada telur terdiri dari trigliserida (lemak netral), fosfolipida (umumnya berupa lesitin), dan kolesterol. Kandungan nilai gizi telur itik secara umum lebih tinggi dibandingkan dengan telur ayam. Perbandingan nilai gizi telur itik dan telur ayam dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:

Tabel 1. Data Nilai Gizi Telur Itik dan Telur Ayam Per 100 Gram Telur

Jenis Telur Kalori (kkal) Lemak (g) Protein (g) Kalsium (mg) Besi (mg) Vit.A(SI)
Telur itik 163 14.3 13.1 56 2.8 1 230
Telur ayam 189 11.5 12.8 54 2.7 900
Sumber: Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan

Kelemahan telur yaitu memiliki sifat mudah rusak, baik kerusakan alami, kimiawi maupun kerusakan akibat serangan mikroorganisme melalui pori-pori telur. Oleh sebab itu usaha pengawetan sangat penting untuk mempertahankan kualitas. Pengawetan telur dapat dilakukan dengan cara pengasian. Kulit telur (cangkang) tersusun atas senyawa kalsium karbonat (CaCO3). Kulit ini berpori-pori, sehingga gas dan air dapat menembusnya. Sifat inilah menyebabkan telur dapat diasinkan. Telur itik yang mempunyai kandungan ptotein yang tinggi cocok untuk dilakukan pengasianan.

Kebiasaan masyarakat dan mahasiswa  mengkonsumsi telur asin sebagai lauk merupakan potensi penting untuk pemasaran Produk TELUR  AMARA POLKADOT”.  Selain itu, rata-rata telur asin yang dijual di Malang hanya memiliki rasa asin saja. Sehingga “ TELUR  AMARA POLKADOT” yaitu telur asin yang memiliki gizi protein tinggi, aneka rasa dan tekstur yag unik sangat cocok dikembangkan disekitar kampus UMM dan Malang.

Rencana usaha “ TELUR  AMARA POLKADOT” ynag mempunyi protein tinggi mempunyai peluang baik untuk dikembangkan lebih jauh. Analisis usaha  ini meliputi beberapa hal, yaitu :

1.  Produk “ TELUR  AMARA POLKADOT” merupakan telur asin aneka rasa yang bertekstur unik diperkirakan akan memperoleh sambutan yang baik dari masyarakat dan mahasiswa sekitar kampus. Produk ini dapat digunakan sebagai makanan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan protein hewani. Kedepannya produk ini akan lebih berkembang dan ditingkatkan teknologi yang lebih canggih dan modern, sanitasi, higienitas alat dan bahan, serta tambahan jumlah pekerja.

2. Promosi

Promosi Produk “ TELUR  AMARA POLKADOT” dilakukan melalui brosur, selebaran, media surat kabar , dan media elektronik agar produk lebih dikenal oleh masyarakat.

3. Harga

Harga yang ditawarkan Produk “ TELUR  AMARA POLKADOT” sangat terjangkau oleh masyarakat. Hal ini disebabkan bahan baku berupa telur itik mudah didapatkan dipasaran.

4. Tempat

Lokasi produk “ TELUR  AMARA POLKADOT” dipusatkan di kota Malang. Sedangkan untuk pemasarannya dilkukan dilingkungan sekitar kampus meliputi toko-toko, warung makan, kantin kampus, dan kopkar kampus. Kedepannya produk diharapkan akan semakin meluas dengan bertambahnya angka penjualan sehinnga membutuhkan tempat prodiksi yang luas dan jumlah tenaga kerja yang besar.

Tabel 2. Analisis Usaha TELUR  AMARA POLKADOT

A. Investasi
No Bahan-bahan Jumlah Satuan(kg) Total
1.

2.

Bahan-bahan:

a. Telur itik

b. Batu Bata

c. Garam

d. Bawang putih

e.  Rasa BBQ

f.  Cabai

g.  Balado

h. Jagung bakar manis

Labeling dan Packaging

500 butir

100 biji

7,5  kg

2  kg

1,5 kg

2  kg

1,5 kg

1,5 kg

50  bungkus

Rp.      900,00./butir

Rp.      500,00

Rp.   2.000,00

Rp.   7.000,00

Rp. 45.000,00

Rp. 20.000,00

Rp. 45.000,00

Rp. 45.000,00

Rp.   1.000,00

Rp.    450.000,00

Rp.      50.000,00

Rp.      15.000,00

Rp       14.000,00

Rp       67.500,00

Rp       40.000,00

Rp      67.500,00

Rp      67.500,00

Rp      50.000,00

Total Biaya Rp. 821.500,00
B. Biaya Promosi dan Pemasaran
1

2

Transportasi 2 orang x Rp. 50.000,00 (2 bulan)

Komunikasi 5 orang x Rp.  20.000,00 (2 bulan )

Rp. 100.000,00

Rp. 100.000,00

Total biaya Rp. 200.000,00
C. Penerimaan
a. AMARA POLKADOT “ per butir

  • Rasa bawang putih 50 butir
  • Rasa cabai 50 butir
  • Rasa BBQ  50 butir
  • Rasa balado 50 butir
  • Rasa jagung bakar manis 50 butir

b.AMARA POLKADOT “per kotak 5 butir.

  • Rasa bawang putih 8 kotak
  • Rasa cabai  8 kotak
  • Rasa BBQ  8 kotak
  • Rasa balado 8 kotak
  • Rasa jagung bakar manis 8 kotak
  • Rasa campuran (bawang putih, cabai, balodo, BBQ, jagung bakar manis) 10 kotak

@Rp 2.000,00

@Rp 2.000,00

@ Rp 2.500,00

@ Rp. 2.500,00

@ Rp. 2.500,00

@Rp. 11.000,00

@Rp. 11.000,00

@ Rp 14.000,00

@ Rp 14.000,00

@Rp. 14.000,00

@Rp. 13.000,00

Rp  100.000,00

Rp  100.000,00

Rp.  125.000,00

Rp.  125.000,00

Rp.  125.000,00

Rp.   88.000,00

Rp.   88.000,00

Rp. 112.000,00

Rp. 112.000,00

Rp. 112.000,00

Rp. 130.000,00

Jumlah Rp. 1.217.000,00
D. Keuntungan C – (A+B)

1.217.000– (821.500+200.000)

Rp.    195.500,00

R O I (Return Of Investment) =         Laba Usaha       x100%
Modal Produksi

=          Rp.195.500   x 100 %  =19,13%

Rp. 1.021.500

H. METODE PELAKSANAAN PROGRAM

Untuk melaksanakan kegiatan ini maka perlu metode yang tepat dan sistematis agar dicapai hasil yang maksimal. Adapun metode yang kami formulasikan adalah sebagai berikut:

  1. Pelatihan Produksi dilakukan untuk menghasilkan produk yang bermutu
  2. Uji Ketahanan Pangan: Setiap ”TELUR  AMARA POLKADOT” yang sudah jadi akan dilihat kelayakan konsumsi dan kesesuaian, serta kesepakatan hasil. Setelah disorting, akan di beri label khusus sebagai upaya profesionalisme. Di dalam label berisi: nama produk, manfaat, kandungan gizi, masa kadaluarsa, tempat produksi, dan tahun pembuatan.
  3. Pengemasan: Produk dikemas dengan rapat dan aman sehingga tidak terkontaminasi dengan udara luar, serta dimaksudkan agar produk dapat bertahan lama. Selain itu pengemasan akan dilakukan semenarik mungkin, agar konsumen lebih tertarik dengan produk.
  4. Pemasaran: Sasaran pasar adalah masyarakat, mahasiswa, dan pelajar sekolah terutama yang berada di Kota Malang. Namun, sasaran awal adalah mahasiswa dan masyarakat di sekitar kampus UMM.
  5. Promosi baik di media cetak maupun media elektronik bertujuan untuk memperkenalkan produk yang baru kepada masyarakat sehingga masyarakat tersebut mengetahui segala tentang produk yang ditawarkan.
  6. Evaluasi: Evaluasi akan segera dilakukan setelah pemasaran awal di dalam kampus. Langkah itu  akan dilakukan sebagai pedoman pemasaran yang strategis dan profesional di masyarakat.
  • CARA PENGOLAHAN PRODUK TELUR  AMARA POLKADOT

Bahan:

-        Telur itik                                  500    butir

-        Batu bata                                 100    biji

-        Garam                                         7,5 kg

-        Bawang putih                              3    kg

-        Rasa BBQ                                   1,5 kg

-        Cabai                                           2    kg

-        Keju                                            1,5 kg

-        Rasa balado                                 1,5 kg

-        Air                                           secukupnya

-        Minyak tanah                                5 liter

Alat:

-        Lampu neon                            1 buah

-        Lap kain                                  4 buah

-        Amplas                                    5 lembar

-        Ember plastik                          8 buah

-        Kuali                                       5 buah

-        Blender                                   1 buah

-        Kompor gas                             1 buah

-        Gas LPG                                 2 tabung

-        Panci                                       4 buah

-        Alat pengaduk                                    4 buah

-        Toples                                    10 buah

-        Stampel                                   5 buah

Cara pembuatan:

-        Menyeleksi telur dengan tes telur diatas lampu neon

-        Membersihkan telur itik dengan cara mencuci dan mengelap dengan air hangat lalu mengeringkan.

-        Mengamplas seluruh permukaan cangkang telur itik untuk mengecilkn pori-pori.

-        Mengolah variasi rasa, dengan diblender dan direbus.

-        Membuat adonan pengasinan yang terdiri dari bubuk batu bata, garam dengan perbandingan sama (1:1). Adonan dicampurkan dengan variasi rasa dan sedikit air,lalu adonan dibuat pasta.

-        Membungkus telur dengan adonan satu persatu hingga rata. Permukaan telur tebal kira-kira 1-2 mm

-        Menyimpan telur dalam kuali selama 15 hari.

-        Setelah 15 hari, telur dicuci dan dibersihkan.

-        Telur direbus dengan daun jati atau kulit bawang putih sampai matang.

-        Dilakukan pengemasan dan pemberian label.

Skema Pembuatan telur asin macam rasa polkadot:

Dicampurkan

I. JADWAL KEGIATAN PROGRAM

Tabel 3. Jadwal Kegiatan Program

Kegiatan Bulan Ke-
1 2 3 4 5
1. Persiapan
ü  Perijinan x
ü  Persiapan dan Penetapan lokasi usaha x
ü  Persiapan alat dan bahan usaha xx
ü  Promosi dan strategi pengadaan usaha xxx
ü  Evaluasi tahap pertama x
2. Pelaksanaan
ü  Penjaringan konsumen x xxxx
ü  Pelayanan dan pemasaran xxx xx
ü  Pengembangan usaha dan investasi xxx xx
ü  Evaluasi tahap kedua x
3. Kegiatan Bimbingan
ü  Pelaporan kegiatan usaha xxx
ü  Monitoring dengan evaluasi pelaksanaan usaha x
ü  Pengembangan usaha berdasarkan hasil monitoring xxx


L. RENCANA PEMBIAYAAN

Tabel 4. Estimasi Dana Kegiatan

No Jenis Kegiatan Anggaran
A. Pra Kegiatan
1 Perijinan Rp.     150.000,00
2 Persiapan lokasi Rp.     200.000,00
3 Persiapan Alat dan Bahan Rp.     150.000,00
4 Promosi/publikasi Rp.     500.000,00
5 Pengadaan proposal Rp.     200.000,00
B. Pelaksanaan
1 Bahan Habis Pakai:

Telur itik 500 butir x Rp 900/butir

Batu Bata 100 biji x Rp.  500,00/biji

Garam 7,5 kg x Rp 2000

Bawang putih 2 kg x Rp 7.000,00

Rasa BBQ 1,5 kg x Rp 45.000,00

Cabai 2 kg x Rp 20.000,00

Balado 1,5 kg x Rp 45.000,00

Jagung bakar manis 1,5 x Rp 45.000,00

Lampu neon    2 buah x Rp 50.000,00

Rak telur          2 buah x Rp.100.000,00

Lap kain          6 buah x Rp 10.000,00

Amplas            5 lembar x Rp  5.000,00

Ember plastik 12 buah x Rp 30.000,00

Kuali               6 buah x Rp 50.000,00

Blender           1 buah x Rp 400.000,00

Kompor gas     2 buah             x Rp 500.000,00

Gas LPG         2 tabung x Rp 75.000,00

Panci               5 buah x Rp 180.000,00

Alat pengaduk            4 buah x Rp 10.000,00

Toples  besar    10 buah x Rp 50.000,00

Stempel            5 buah x Rp 20.000,00

Uang listrik  selama produksi

Labelling + Pengemasan 50 bungkus x Rp. 1.000,00

Rp. 450.000,00

Rp.   50.000,00

Rp.   15.000,00

Rp.   14.000,00

Rp.   67.500,00

Rp.   40.000,00
Rp.   67.500,00

Rp.    67.500,00

Rp.  100.000,00

Rp. 200.000,00

Rp.    60.000,00

Rp.    25.000,00

Rp.  360.000,00

Rp.  300.000,00

Rp.  400.000,00

Rp. 1.000.000,00

Rp.  150.000,00

Rp.  900.000,00

Rp.    40.000,00

Rp.  500.000,00

Rp.    100.000,00

Rp.   100.0000,00

Rp.    50.000,00

2 Transportasi  (5 bulan) Rp.     450.000,00
3 Komunikasi  (5 bulan) Rp.     250.000,00
4 Dokumentasi Rp.     500.000,00
5 Promosi Rp.     250.000,00
6 Administrasi dan managemen Rp      300.000,00
C. Laporan
1 Penyusunan laporan Rp.     350.000,00
2 Penggandaan laporan Rp.     250.000,00
3 Laporan akhir Rp.      350.000,00
Jumlah Rp

M. Lampiran

– Analisis SWOT Usaha TELUR  AMARA POLKADOT

  1. a. Kelebihan (Strenght)

Konsumsi makanan yang mengandung protein hewani sangat dibutuhkan masyarakat untuk pertumbuhan, keseimbangan cairan tubuh, dan daya tahan tubuh terhadap infeksi. Telur banyak dikonsumsi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan proteinnya. Selain itu, telur mempunyai kandungan gizi yang tinggi sebanding dengan daging. Banyak para pengusaha memanfaatkan peluang pasar tersebut dengan membuat telur asin. Namun di Malang terutama di sekitar kampus UMM belum ada produksi telur yang memiliki aneka rasa. Sehingga produk TELUR  AMARA POLKADOT”  mempunyai peluang tinggi untuk digemari masyarakat dan mahasiswa karena produk ini menawarkan 5 rasa yaitu rasa bawang, BBQ, cabai, balado, dan jagung bakar manisyang mempunyai rasa enak, bergizi, dan juga mempunyai cangkang kulit telur yang unik yaitu bercorak. Telur asin aneka rasa ini cocok digunakan masyarakat dan mahasiswa sebagai cemilan maupun untuk lauk makanan.

  1. b. Kelemahan (Weakness).

Usaha telur asin aneka rasa ini membutuhkan waktu yang lama dalam pemprosesnya. Dalam  1 proses hanya bisa membuat 2 rasa. Rasa selanjutnya dilanjutkan hari berikutnya. Hal ini terjadi karena waktu proses yang lama dan seharusnya proses ini membutuhkan tenaga SDM yng cukup banyak.

  1. c. Kesempatan (Opportunity)

Dengan pertimbangan modal usaha yang dapat ditekan seminimal mungkin, maka usaha ini diharapkan akan menghasilkan keuntungan yang sangat tinggi dibandingkan dengan produk yang sejenis. Selain itu, konsumsi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan protein hewani yang tinggi maka produk memungkinkan untuk dikembangkan dan akan merekrut tenaga kerja yang banyak.

  1. d. Tantangan atau Ancaman (Thread)

Tantangan yang akan dihadapi oleh pengusul diantaranya adalah kesiapan konsumen dalam menerima produk ini karena dari hasil survei banyak pedagang menjual telur asin lebih murah, sehingga pengusul memiliki hambatan dalam hal pendistribusian.

05/05/2010 Posted by | Contoh PKM | 8 Komentar

”ROTI BONDAN PLUS” Roti Lezat dan Kaya Vitamin

  1. A. Judul Program

”ROTI BONDAN PLUS” Roti Lezat dan Kaya Vitamin

B. Latar Belakang

Jakarta, Kompas (2003) Hasil penelitian yang dilaksanakan Survei Pemantauan Status Gizi dan Kesehatan (Nutrition & Health Surveillance System) selama 1998-2002 menunjukkan, sekitar 10 juta anak balita yang berusia enam bulan hingga lima tahun-berarti setengah dari populasi anak balita-di Indonesia berisiko menderita kekurangan vitamin A. Menurut penelitian yang dilakukan Depkes bekerja sama dengan Helen KelIer International setiap tiga bulan sekali ini, makanan mereka sehari-hari di bawah angka kecukupan vitamin A yang ditetapkan untuk anak balita, yaitu 350-460 Retino Ekivalen per hari.

Angka diatas menunjukkan bahwa kekurangan vitamin A di Indonesia sangat tinggi dan akan meningkat dari tahun ketahun, bahkan menurut Siswono (2004) menyatakan bahwa cakupan kapsul vitamin A bagi anak balita tahun ini turun 64 persen dibandingkan tahun 2003. Sehingga, dapat dipastikan lebih dari 10 juta bayi dan balita di Indonesia akan kekurangan vitamin A. Penyebabnya kekurangan vitamin A yang ada pada masyarakat adalah kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengetahui pentingnya vitamin A untuk kesehatan tubuh. vitamin A merupakan zat nutrisi yang penting bagi anak, baik untuk daya tahan tubuh, kesehatan mata, ataupun kecerdasan anak. Gangguan pada mata itu, bisa diawali dengan buta senja. Oleh karena itu, pemberian vitamin A dua kali dalam setahun, yaitu Februari dan Agustus, penting dilakukan (Hj. Alma Luchiyati, 2009). Vitamin A berfungsi untuk sistem penglihatn dan juga untuk sistem kekebalan tubuh. Bila vitamin A kurang, maka fungsi kekebalan tubuh menjadi menurun, sehingga mudah terserang infeksi. Disamping itu lapisan sel yang menutupi trakea dan paru-paru mengalami keratinisasi, tidak mengeluarkan lender sehingga mudah dimasuki mikroorganisme penyebab infeksi saluran pernapasan. Bila terjadi pada permukaan usus halus dapat terjadi diare. Perubahan pada permukaan saluran kemih dan kelamin dapat menimbulkan infeksi pada ginjal dan kantong kemih. Pada anak-anak dapat menyebabkan komplikasi pada campak yang dapat mengakibatkan kematian (Sunita Almatsir, 2003). Wortel adalah salah satu contoh sayuran yang kaya akan vitamin A. Jenis tumbuhan ini memiliki nama latin Daucus carota L yaitu jenis buah yang berasal dari negeri yang beriklim sedang (sub-tropis) dari Asia Timur Dekat dan Asia Tengah. Kandungan Karoten dan vitamin A wortel sangat baik untuk kesehatan mata. Kandungan Beta karoten dalam wortel dapat mencegah dan mengatasi kanker, darah tinggi, menurunkan kadar kolesterol dan mengeluarkan angin dari dalam tubuh. Kandungan tinggi antioksidan karoten juga terbukti dapat memerangi efek polusi dan perokok pasif (NdyTeeN)

Hasil penelitian menyatakan bahwa secangkir wortel yang sudah dimasak mengandung 70 kalori, 4 gram serat, dan sekitar 18 mg beta carotene. Ini menyediakan lebih 100 persen gizi vitamin A-a yang direkomendsikan oleh RDA (Nilai Diet yang Dianjurkan) yang sangat penting bagi kesehatan rambut, kulit, mata, tulang, dan selaput lendir. Vitamin A juga sangat membantu di dalam mencegah infeksi (http://www.analisadaily.com/).

“ROTI BONDAN PLUS” adalah roti bolu yang menggunakan bahan dasar wortel yang dipadukan dengan pandan. Cara pengolahannya dimulai dari pencucian wortel dan diparut, lalu dicampurkan sari pandan alami, gula bubuk dan telur lalu dimixer sampai mengembang kemudian memasukkan tepung terigu, tepung maizena, susu bubuk dan mentega. Setelah tercampur memasukkan adonan dalam cetakan yang sudah diolesi dengan mentega cair, lalu dimasukkan kedalam oven hingga matang pada suhu 160 – 165 C. setelah matang didinginkan lalu dilakukan pengemasan. Roti “BONDAN PLUS” mempunyai tekstur lembut berbentuk bulat lonjong dan mempunyai rasa yang khas perpaduan wortel dan pandan.

Ketersediaan wortel di Malang sangat banyak dan mempunyai kwalitas yang sangat baik, sebagai contoh desa Ngabab merupakan salah satu daerah paling potensial dalam segi pertanian di Kabupaten Malang. Ditinjau dari segi ekonomis, daerah ini merupakan salah satu penghasil sayur terbesar di Kabupaten Malang. Sayur mayur hasil pertanian dari daerah ini antara lain adalah wortel, cabe, kacang panjang, kentang, kubis, sawi, tomat, dan lainnya. Selain sayur mayur, potensi pertanian yang lain dari daerah ini adalah berupa tanaman buah-buahan (jeruk dan apel), tanaman palawija (jagung), dan tanaman padi (padi sawah). Pertanian dari daerah ini begitu subur karena didukung oleh potensi irigasi yang dimiliki, yaitu memiliki satu sungai dengan 12 mata air dan juga lahan pertanian yang sangat luas (787 Ha). Oleh karena itu, kualitas hasil pertanian dari daerah ini begitu tinggi dan terjamin. Hasil pertanian dari daerah Desa Ngabab telah tersebar ke berbagai daerah, seperti Jakarta, Kalimantan, Surabaya, Tuban, Lamongan, Jombang, Mojokerto, Blitar, dan lain sebagainya.

Berdasarkan pada gambaran di atas maka disusunlah proposal PKMK ini. Pemilihan wortel sebagai bahan pokok dalam penelitian ini karena permintaan pasar yang tinggi akan kebutuhan wortel yang relative murah dan kaya vitamin. Selain itu wortel juga mempunyai kandungan vitamin A yang sangat tinggi yang diperlukan oleh masyarakat, baik dari kalangan menengah sampai kalangan atas.

Produk ini di namakan “ROTI BONDAN PLUS” yang berarti roti bolu yang berasal dari wortel beraroma pandan. Usaha ini diharapkan bisa menumbuhkan kemauan dalam bidang wirausaha bagi mahasiswa, dan juga dengan adanya produk ini masyarakat bisa memenuhi kebutuhan vitamin terutama vitamin A.

Prospek usaha ini adalah menciptakan makanan instan yang mengandung vitamin A yang tinggi bagi konsumsi kebutuhan vitamin A masyarakat dan mahasiswa UMM. Produk instan “ROTI BONDAN PLUS” ini mempunyai cita rasa yang lembut dan enak serta mempunyai daya tahan lama yaitu 7 hari sehingga cocok untuk konsumsi masyarakat dan mahasiswa. Dimana rasa ini akan disukai masyarakat dan mahasiswa sehingga masyarakat dan mahasiswa tidak bosan mengkonsumsi “ROTI BONDAN PLUS” dikarenakan produk ini berbeda dengan produk yang lain yakni terdapat campuran wortel sebagai bahan dasarnya dan akan menjadi makanan idola di Malang sebagai makanan khas Malang.

C. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah disebutkan maka dapat dikemukakan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana cara produksi ”ROTI BONDAN PLUS”?
  2. Bagaimana bentuk usaha dari ”ROTI BONDAN PLUS”?
  3. Bagaimana cara pemasaran usaha dari ”ROTI BONDAN PLUS”?
  4. Bagaimana cara pengembangan ”ROTI BONDAN PLUS” dimasa yang akan datang?

D. Tujuan Program

  1. Untuk mengolah ”ROTI BONDAN PLUS” yang kaya akan vitamin A.
  2. Untuk membuat bentuk usaha yang tepat bagi usaha ”ROTI BONDAN PLUS”.
  3. Untuk memasarkan usaha ”ROTI BONDAN PLUS” sebagai alternatif kue yang kaya akan vitamin A.
  4. Untuk cara pengembangan ”ROTI BONDAN PLUS” dimasa yang akan datang.

E. Luaran Yang Diharapkan

Luaran yang diharapkan dari adanya usaha ”ROTI BONDAN PLUS” ini adalah:

1.   Dapat menghasilkan produk ”ROTI BONDAN PLUS”  dengan warna alami, menarik serta meningkatkan nilai gizi, organoleptik, dan penambahan suplemen dan zat aditif terutama vitamin A yang ada dalam produk agar diterima masyarakat.

2. Diharapkan dapat membangkitkan jiwa kewirausahaan mahasiswa melalui metode penelitian ”ROTI BONDAN PLUS” ini sebagai unit usaha mahasiswa.

3. Dapat menghasilkan produk jasa, dimana sebagai pendamping dalam pembentukan usaha kepada masyarakat yang berminat mengembangkan produk ini.

F. Kegunaan Program

Kegunaan yang dimiliki oleh usaha ini adalah:

  1. a. Aspek ekonomis
    1. Dapat memberi lapangan kerja baru pada masyarakat.
    2. Memperkaya aneka macam kue yang ada dengan harga yang relatif murah.
  1. b. Aspek akademis

Memberi kesempatan kepada mahasiswa FKIP UMM mengaplikasikan kegiatan kuliah untuk diangkat ke dalam kegiatan kewirausahaan, menerapkan mata kuliah dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan Biologi bidang studi kewirausahaan.

  1. c. Aspek ketenagakerjaan

Kecenderungan masyarakat untuk ngemil di luar makan utama semakin nyata, karena kebutuhan energi yang tinggi baik jika diimbangi dengan ngemil dari pada hanya dengan makan makanan utama saja. Selain itu, kondisi masyarakat yang kurang mengkonsumsi vitamin A semakin banyak, karena pengetahuan tentang sumber makanan yang mengandung vitmain A sangat sedikit. Hal ini menyebabkan usaha ”ROTI BONDAN PLUS” cocok dikembangkan di sekitar kampus UMM, bahkan kota malang dan Jawa Timur secara umum.

Kondisi ini bisa dimanfaatkan dengan mengembangkan usaha melalui penambahan alat dan tenaga kerja bahkan membuka cabang perusahaan. Selain itu usaha ini dapat menjadi wadah atau sarana bagi pengembangan jiwa kewirausahaan kepada mahasiswa.

d. Aspek Gizi Masyarakat

dapat memberikan alternatif cemilan berupa roti yang mengandung vitamin A yang tinggi bagi masyarakat dan mahasiswa UMM serta masyarakat pada umumnya.

  1. G. Gambaran Umum Rencana Usaha

G.1 Gambaran Umum Kondisi Masyarakat

Salah satu masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi pada kesehatan tubuh. Hal ini mudah dilihat dari begitu banyaknya macam jenis penyakit yang diderita oleh masyarakat dan rendahnya status gizi yang jelas berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Oleh karena, status gizi memengaruhi kecerdasan, daya tahan tubuh terhadap penyakit, kematian bayi, kematian ibu, dan produktivitas kerja. Penyebab kekurangan gizi pada masyarakat ini adalah kurangnya makanan yang cukup mengandung hidrat arang, lemak, protein serta vitamin dan mineral yang sering menjadi pokok masalah adalah vitamin A.

Siti Halati, Manajer Operasi Lapangan Program Vitamin A HKI, menjelaskan bahwa angka kecukupan gizi anak usia hingga tiga tahun seharusnya sebesar 350 Retino Ekivalen (RE) per hari, atau setara tiga butir telur atau 250 gram bayam per hari. Namun, dalam survei yang dilakukan Nutrition & Health Surveillance System tahun 2001 menunjukkan, makanan yang sehari-hari dikonsumsi 50 persen anak berusia 1-2 tahun tidak mengandung vitamin A dalam jumlah memadai, yaitu 350 RE per harinya (kompas 30/07/03).

Vitamin A yang di dalam makanan sebagian besar terdapat dalam bentuk ester retinil, bersama karatenoid bercampur dengan lipida lain di dalam lambung. Di dalam sel-sel mukosa usus halus, ester retinil dihidrolisis oleh enzim-enzim pancreas esterase menjadi retinol yang lebih efisien diabsorbsi daripada ester retinil. Sebagian dari karatenoid, terutama beta karoten di dalam sitoplasma sel mukosa usus halus dipecah menjadi retinol. Retinol di dalam usus halus bereaksi dengan asam lemak dan membentuk ester dan dengan bantuan cairan empedu menyeberangi sel-sel vili dinding usus halus untuk kemudian diangkut oleh kilomikron melalui sistem limfe ke dalam aliran darah menuju hati. Hati berperan sebagai tempat menyimpan vitamin A dlm tubuh. Bila tubuh memerlukan, vitamin A dimobilisasi dari hati dalam bentuk retinol yang diangkut oleh Retinol Binding Protein ( RBP ) yang disintesis dalam hati. Pengambilan retinol oleh berbagai sel tubuh tergantung dari reseptor pada permukaan membran yang spesifik untuk RBP. Retinol kemudian diangkut melalui membran sel untuk kemudian diikat pada Cellular Retinol Binding Protein ( CRBP ) dan RBP kemudian dilepaskan. Di dalam sel mata retinol berfungsi sebagai retinal dan di dalam sel epitel sebagai asam retinoat.

Gejala pertama dari kekurangan vitamin A biasanya adalah rabun senja. Kemudian akan timbul pengendapan berbusa (bintik Bitot) dalam bagian putih mata (sklera) dan kornea bisa mengeras dan membentuk jaringan parut (xeroftalmia), yang bisa menyebabkan kebutaan yang menetap.

Namun, hal ini sulit diterapkan dalam masyarakat karena kurangnya pengetahuan masyarakat seberapa banyak vitamin A yang dibutuhkan serta apa saja sumbersumbernya. Oleh karena itu dibutuhkan sumber alternatif gizi yang mudah, murah, dan banyak terdapat di masyarakat.

G.2 Gambaran Umum Wortel

Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan sayur yang ditanam sepanjang tahun. Terutama di daerah pegunungan yang memiliki suhu udara dingin dan lembab, kurang lebih pada ketinggian 1200 ineter di atas permukaan laut. Tumbuhan wortel mernbutuhkan sinar matahari dan dapat turnbuh pada sernua musim. Wortel mempunyai batang daun basah yang berupa sekumpulan pelepah (tangkai daun) yang muncul dari pangkal buah bagian atas (umbi akar), mirip daun seledri. Wortel menyukai tanah yang gembur dan subur. Menurut para botanis, wortel (Daucus carota) dapat dibedakan atas beberapa jenis, di antaranya: WORTEL (Daucus carota, Linn.) – jenis imperator, yakni wortel yang memiliki umbi akar berukuran panjang dengan ujung meruncing dan rasanya kurang manis. – jenis chantenang, yakni wortel yang memiliki umbi akar berbentuk bulat panjang dan rasanya manis. – jenis mantes, yakni wortel hasil kornbinasi dari jenis wortel imperator dan chantenang. Umbi akar wortel berwarna khas oranye.

Nama lain dari wortel adalah Carrot (Inggris), Carotte (Perancis), Bortel (Belanda); Wortel (Indonesia), Bortol (Sunda), Wortel, Ortel (Madura); Wortel, Wortol, Wertol, Wertel, Bortol (Jawa). Kandungan yang ada pada wortel adalah vitamin A yang tinggi yaitu sebesar 12000 SI. Sementara komposisi kandungan unsur yang lain adalah kalori sebesar 42 kalori, protein 1,2 gram, lemak 0,3 gram, hidrat arang 9,3 gram, kalsium 39 miligram, fosfor 37 miligram, besi 0,8 miligram, vitamin B 1 0,06 miligram, dan vitamin C 6 miligram. Komposisi di atas diukur per 100 gram.

Tabel 1. Data Nilai Gizi pada Sayuran

ID nama bahan pangan kalori lemak karbohidrat kalsium fosfor vitamin A vitamin B1 vitamin C air
70 daun tales 71 2,1 12,3 32 47 10395 0,11 163 79,4
73 melinjo 66 0,7 13,3 163 75 1000 0,10 100 80,0
84 seledri 20 0,1 4,6 50 40 130 0,03 11 93,0
97 wortel 42 0,3 9,3 39 37 12000 0,06 6 88,2

Sumber: Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan

Melihat fakta- fakta di atas maka, disusunlah proposal untuk memanfaatkan wortel menjadi sebuah alternatif panganan bervitamin A tinggi yang berbentuk kue bolu. Analisis usaha BONDAN PLUS ini meliputi beberapa hal, yaitu :

1. Produk

Produk BONDAN PLUS (Bolu Pandan Plus) ini terbuat dari bahan dasar wortel yang merupakan suatu penemuan yaitu membuat produk untuk memenuhi kebutuhan pasar. Produk ini diperkirakan akan memperoleh sambutan bagus  di masyarakat sekitar kampus, bahkan kota Malang secara umum karena bahan yang unik dan belum pernah ada di pasaran. Selain itu juga produk ini nikmat, enak dan tentunya yang paling penting kaya akan gizi, terutama kandungan akan vitamin A yang dimilikinya. Produk ini mempunyai tekstur yang lembut berbentuk bulat lonjong.

2. Harga

Produk BONDAN PLUS dengan bahan baku wortel ini akan ditawarkan kepada masyarakat di sekitar kampus UMM dan masyarakat kota Malang secara umumnya selaku konsumen dengan harga yang mudah dijangkau oleh masyarakat dibandingkan dengan harga dari produk yang hampir sejenis. Hal ini disebabkan karena bahan-bahan yang diperlukan untuk produksi BONDAN PLUS ini berbahan alami yang dapat diperoleh dari alam dengan sangat mudah.

3. Tempat

Lokasi produksi pembuatan BONDAN PLUS dengan bahan baku Wortel ini akan dipasarkan di lingkungan sekitar kampus meliputi kantin kampus, Kopma dan Kopkar UMM, toko-toko di sekitar kampus, kedepannya produk diharapkan akan semakin meluas dengan bertambahnya angka penjualan sehingga membutuhkan tempat prodiksi yang luas dan jumlah tenaga kerja yang besar.

Strategi Pengembangan Usaha

Strategi pengembangan usaha dari bahan baku rayap BONDAN PLUS (bolu pandan plus) antara lain dapat ditempuh dengan cara :

1.   Produksi BONDAN PLUS diharapkan kedepannya memiliki berbagai macam rasa dan bentuk sehingga produk ini akan lebih menarik. Selain itu kandungan gizinya selain vitamin A lebih ditingkatkan agar kandungan gizi dari produk BONDAN PLUS ini lebih seimbang. Kedepannya juga produksi BONDAN PLUS akan ditingkatkan teknologi yang lebih canggih dan modern, sanitasi, higienitas alat dan bahan, serta tambahan jumlah pekerja.

2.   Produksi BONDAN PLUS ini kedepannya akan ditingkatkan maslah prevarensi konsumen, dimana produk ini akan diberi tambahan suplemen, zat aditif yang meliputi warna, rasa, dan tekstur untuk meningkatkan kesukaan konsumen.

3.   Lokasi produk BONDAN PLUS ini diharapkan akan semakin meluas seiring dengan angka penjualan yang semakin meningkat sehingga membutuhkan tempat produksi yang luas dan jumlah tenaga kerja yang besar.

4.   Pemasaran BONDAN PLUS diharapkan kedepannya bisa menembus pasaran di luar kota Malang khususnya di Jawa Timur dan Pulau JAWA dengan cara distribusi langsung dari pabrik, maupun melalui sistem MLM (Multi Level Marketing).

5.   Promosi yang dilakukan kedepannya akan menjangkau surat kabar seperti Radar Malang dan media elektronik lokal seperti BatuTV agar produk lebih dikenal oleh masyarakat.

Tabel 2. Analisis Usaha BONDAN PLUS

A. Investasi
No Bahan-bahan Jumlah Satuan(kg) Total
1.

2.

Bahan-bahan:

a)      Wortel

b)      Tepung

c)      Gula

d)     Maizena

e)      Susu bubuk

f)       Telur

g)      Pandan

Mentega

Labeling dan Packaging

20Kg

20Kg

15Kg

4Kg

4Kg

34 butir

12 lembar

15Kg

250 bungkus

Rp 5000,00

Rp 6000,00

Rp 4000,00

Rp 6000,00

Rp 35.000,00

Rp 1000,00/butir

Rp 100,00/lembar

Rp 9000,00

Rp 800,00

Rp 100.000,00

Rp 120.000,00

Rp   60.000,00

Rp   24.000,00

Rp 140.000,00

Rp   34.000,00

Rp     1.200,00

Rp 135.000,00

Rp 200.000,00

Total Biaya Rp. 814.200,00
B. Biaya Promosi dan Pemasaran
1

2

Transportasi 2 orang x Rp.100.000,00 (3 bulan)

Komunikasi 4 orang x Rp.  75.000,00 (3 bulan )

Rp. 200.000,00

Rp. 300.000,00

Total biaya Rp. 500.000,00
C. Penerimaan
a. “BONDAN PLUS” per butir (1000 butir)

b.“BONDAN PLUS” per kotak 5 kue

@ Rp 900,00

@ Rp 3000,00

Rp 900.000,00

Rp 750.000,00

Jumlah Rp. 1.650.000,00
D. Keuntungan C – (A+B)

1.650.000– (814.200+500.000)

Rp.    335.800,00

R O I (Return Of Investment) =         Laba Usaha       x100%
Modal Produksi

=          Rp 335.800 x 100 %  =25,55%

Rp. 1.314.200

  1. H. Metode Pelaksanaan Program

Untuk melaksanakan kegiatan ini maka perlu metode yang tepat dan sistematis agar dicapai hasil yang maksimal. Adapun metode yang kami formulasikan adalah sebagai berikut:

1.   Pelatihan Produksi dilakukan untuk menghasilkan produk yang bermutu.

2.   Uji Ketahanan Pangan: Setiap BONDAN PLUS (bolu wortel) yang sudah jadi akan dilihat kelayakan konsumsi dan kesesuaian, serta kesepakatan hasil. Setelah disorting, akan di beri label khusus sebagai upaya profesionalisme. Di dalam label berisi: nama produk, manfaat, kandungan gizi, masa kadaluarsa, tempat produksi, dan tahun pembuatan.

3.Pengemasan: Produk dikemas dengan rapat dan aman sehingga tidak terkontaminasi dengan udara luar, serta dimaksudkan agar produk dapat bertahan lama. Selain itu pengemasan akan dilakukan semenarik mungkin, agar konsumen lebih tertarik dengan produk.

4.   Pemasaran: Sasaran pasar adalah masyarakat, mahasiswa, dan pelajar sekolah terutama yang berada di Kota Malang. Namun, sasaran awal adalah mahasiswa dan masyarakat di sekitar kampus UMM.

5.   Promosi baik di media cetak seperti Radar Malang maupun media elektronik seperti BatuTV bertujuan untuk memperkenalkan produk yang baru kepada masyarakat sehingga masyarakat tersebut mengetahui segala tentang produk yang ditawarkan.

Pelatihan pembuatan BONDAN PLUS produksi 1
promosi
pemasaran
packing

Bagan 1. Diagram Alur Metode Pelaksanaan Kegiatan

  • Cara Pengolahan Produk Bondan Plus:

Bahan:

  • Wortel                         20Kg
  • Tepung                        20Kg
  • Maizena                       4Kg
  • susu bubuk                  4Kg
  • Telur                            34 Butir
  • Pandan                        12 lembar
  • Mentega                      15Kg

Alat:

  • Gas LPG                     1 tabung
  • Oven                           1 buah
  • Mixer                           1 buah
  • Baskom                       2 buah
  • Cetakan                       12 buah
  • Loyang                        3 buah
  • Ayakan                        2 buah
  • Kuas                            2 buah
  • Parutan                        2 buah

Cara pembuatan:

  • Wortel dicuci bersih lalu diparut.
  • Pandan dicuci bersih, ditumbuk, lalu dip eras.
  • Masukkan telur, gula, dan wortel di wadah 1 lalu dimixer sampai mengembang.
  • Cairkan mentega dan letakkan di wadah 2.
  • Setelah mengembang masukkan larutan pandan, mentega yang sudah dicairkan, tepung, maizena&susu bubuk, secara bersamaan.
  • Siapkan cetakan dan loyang yang sudah diolesi mentega.
  • Masukkan adonan pada cetakan yang sudah tersedia.
  • Masukkan oven pada suhu 160-165 C selama 1 jam.
  • Setelah matang angkat lalu dinginkan.
  • Setelah dingin lakukan pengemasan.

Skema Pembuatan kue bondan plus:

wortel
telur
gula
Di seleksi, dibersihkan, dikeringkn, diparut
dimixer

Sampai adonan mengembang

Di campur dengan                    tekanan mixer dikurangi ke nomor yang paling kecil

tepung
mentega
Sari pandan
Maizena
Susu bubuk
Dimasukkan cetakan yang sudah diolesi mentega
Pengemasan
Didinginkan


I. Jadwal Kegiatan Program

Tabel 2. Jadwal Kegiatan Program

Kegiatan Bulan Ke-
1 2 3
1. Persiapan
ü  Perijinan x
ü  Persiapan dan Penetapan lokasi usaha x
ü  Persiapan alat dan bahan usaha xx
ü  Promosi dan strategi pengadaan usaha xxx
ü  Evaluasi tahap pertama x
2. Pelaksanaan
ü  Penjaringan konsumen x xxx
ü  Pelayanan dan pemasaran xxxxx
ü  Pengembangan usaha dan investasi xx xx
ü  Evaluasi tahap kedua x
3. Kegiatan Bimbingan
ü  Pelaporan kegiatan usaha xxx
ü  Monitoring dengan evaluasi pelaksanaan usaha x
ü  Pengembangan usaha berdasarkan hasil monitoring xxx
ü  Laporan akhir x

J. Rencana Pembiayaan

Adapun rancangan biaya pada kegiatan PKMK adalah sebagai berikut

No Jenis Kegiatan Anggaran (Rp)
A.    Pra Kegiatan
1. Perijinan Rp. 200.000,00
2. Persiapan Lokasi Rp. 200.000,00
3. Persiapan Alat dan Bahan Rp. 150.000,00
4 Promosi / publikasi Rp. 500.000,00
5. Pengadaan proposal Rp. 250.000,00
B.    Pelaksanaan
1. Bahan habis pakai :

Wortel 20Kg x Rp 5000,00

Tepung 20Kg x Rp 6000,00

Maizena 4Kg x Rp 6000,00

Susu bubuk 4Kg x Rp 35.000,00

Telur 34 Butir x Rp 1000,00/butir

Pandan 12 lembar x Rp 100,00/lembar

Mentega 15Kg x Rp 9000,00

Gas LPG 4 tabung x Rp 75.000,00

Oven  2 buah x Rp 1.000.000,00

Mixer 2 buah x Rp 600.000,00

Baskom 8 buah x Rp. 20.000,00

Cetakan 40 buah x Rp10.000,00

Loyang 10 buah x Rp. 20.000,00

Ayakan 3 buah x Rp. 5100,00

Kuas 4 buah x Rp 5.000,00

Parutan 6 buah x Rp 8.750,00

Uang listrik  selama produksi

Labelling + Pengemasan 250 bungkus x Rp. 800,00

Rp   100.000,00

Rp   120.000,00

Rp     24.000,00

Rp   140.000,00

Rp     34.000,00

Rp       1.200,00

Rp   135.000,00

Rp    300.000,00

Rp 2.000.000,00

Rp 1.200.000,00

Rp    160.000,00

Rp    400.000,00

Rp    200.000,00

Rp      15.300,00

Rp      20.000,00

Rp      52.500,00

Rp.   200.000,00

Rp    200.000,00

2. Transportasi lokal Rp.  450.000,00
4. Telepon dan Faksimili Rp.  300.000,00
5. Dokumentasi Rp.  500.000,00
6. Promosi Rp.  650.000,00
7. Administrasi dan managemen Rp.  300.000,00
C.    Laporan
1. Penyusunan laporan Rp.  450.000,00
2. Penggandaan laporan Rp.  350.000,00
3 Laporan akhir Rp.  350.000,00
Jumlah                   Rp.  9.952.000,00

Lampiran 2

  • Analisis SWOT Usaha BONDAN PLUS
  1. Kelebihan (Strenght)

Berdasarkan data dari kemahasiswaan, jumlah mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang sangatlah banyak hingga mencapai ratusan ribu yang hampir 60%-nya suka ngemil terutama mahasiswi. Dalam aktifitas kita sehari-hari, kita tidak bisa luput dari kebutuhan logistik berupa makan. Makan dapat di bagi menjadi dua, yaitu: makan utama yang lebih di kenal dengan makan nasi dan ngemil (menyantap makanan di luar makan utama). Karena aktifitas yang kita lakukan begitu besar, maka dibutuhkan energi dan kalori yang besar pula untuk keseimbangan nutrisi tubuh kita. Menurut Apriadji (2001), ngemil merupakan pola makan yang sehat karena mampu menambah kadar gula darah yang ada dalam tubuh ketika kita dalam kondisi lapar.

Berdasarkan pengamatan sebagian besar mahasiswa/mahasiswi cenderung memilih cemilan berupa kue, gorengan, snack dan lain-lain yang semua jenis bahan produk tersebut begitu dekat dengan kita. Namun belum ada yang menawarkan suatu alternatif kue dari bahan yang unik tapi menyehatkan karena mengandung vitamin A, sehingga penulis menawarkan jenis kue yang unik, yaitu BONDAN PLUS (bolu pandan plus) yang terbuat dari wortel. Kelebihan dari kue ini, yaitu: manis dan lembut, terbuat dari bahan yang unik, alami, menarik, dan dijamin Halalan Thaiyyiban. Selain itu letak usaha yang strategis akan mampu menarik permintaan konsumen dalam usaha BONDAN PLUS tersebut.

  1. Kelemahan (Weakness)

Usaha ini sebenarnya membutuhkan modal yang besar karena untuk pembelian beberapa alat seperti oven, mixer , tenaga SDM yang terlatih. Bila di kalkulasikan mencapai 6 juta rupiah. Karena keterbatasan estimasi dana yang diajukan, maka pengusul menyiasati hal tersebut dengan bekerja sama dangan pihak-pihak terkait dalam hal pendistribusian produk dan pengusahaan alat beserta bahannya, dan pengusul telah membuat kesepakatan dengan pihak-pihak tersebut.

selama ini para mahasiswa lebih cenderung memilih cemilan yang kurang bergizi bahkan hanya mengandung banyak kalori saja, mereka jarang sekali berfikir akan kandungan apa saja yang terdapat pada cemilan tersebut. Karena itulah pengusul memberikan suatu alternatif untuk membuat cemilan berupa kue yang bergizi dengan munculnya BONDAN PLUS (Bolu Pandan Plus).

  1. Kesempatan (Opportunity)

Dengan pertimbangan modal usaha yang bisa ditekan seminimal mungkin, maka usaha ini dapat menghasilkan profit (keuntungan) yang relatif tinggi. Selain itu tanggapan konsumen yang diharapkan terbuka dan bisa menerima produk baru ini memungkinkan usaha ini bisa berkembang dengan baik. Peluang-peluang untuk merekrut tenaga kerja juga semakin terbuka.

  1. Tantangan atau Ancaman (Thread)

Dari hasil survei, banyak mahasiswa yang suka ngemil namun sedikit sekali yang memikirkan kandungan gizi pada snack tersebut, sehingga pengusul memiliki hambatan dalam hal pendistribusian. Selain itu karena alat dan bahan semakin hari semakin mengalami kenaikan, maka hambatan itu juga berkenaan dengan pendanaan.

05/05/2010 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

“SELBIPANG” Selai biji ketapang , Manfaat besar dari buah yang terbuang

A. Judul Program

“SELBIPANG” Selai biji ketapang , Manfaat besar dari buah yang terbuang

B. Latar Belakang

Di Indonesia saat ini Dari hasil wawancara pada pertengahan bulan Agustus 2007 terhadap salah satu pakar enterpreneurship (Deddy Fachruddin) ternyata kemampuan dan keinginan untuk menjadi seorang wirausahawan atau entrepreneur tidak selayaknya hanya dimonopoli oleh pihak-pihak swasta atau negeri yang sudah kaya pengalaman, mahasiswa sebagai Agent Of Change sepatutnya juga memiliki semangat bekerja dan cita-cita tinggi untuk sukses dalam berbisnis seperti para pengusaha bahkan lebih. Di era globalisasi ini, mahasiswa lebih dituntut agar mampu mengembangkan potensinya sehingga memiliki daya saing tinggi dalam masyarakat sebagai bentuk pengabdian ketika berada di dunia masyarakat yang lebih kompleks daripada di kampus.

Di masa sekarang, mahasiswa seharusnya tidak hanya memikirkan kuliah saja. Banyak aktivitas-aktivitas non akademik sebagai praktik dari perkuliahan yang telah diikuti mampu menghasilkan out put yang positif baik dari segi pemahaman teori maupun dari segi finansial yang menjanjikan. Kreatifitas mahasiswa yang unik dapat menciptakan suatu lapangan pekerjaan dengan penghasilan besar. Salah satu kreatifitas mahasiswa tersebut antara lain membuat sesuatu yang tidak bernilai jual tinggi menjadi produk yang bernilai jual, khususnya di bidang makanan (cemilan).

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merupakan salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Jawa Timur, dengan jumlah mahasiswa yang masih aktif kurang lebih 22.000 mahasiswa yang tersebar dalam 13 (tiga belas) fakultas, yaitu fakultas Ekonomi, Pertanian, Hukum, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Sosial Politik, Teknik, Peternakan, Kedokteran, Psikologi, S1 dan D3 Keperawatan, Farmasi dan Agama Islam. Setiap tahun UMM meluluskan sebanyak 3000 – 4000 mahasiswa dari tiga belas fakultas tersebut.

Berdasarkan data Biro Administrasi Akademik (BAA), para lulusan tersebut tidak semua segera terserap dalam lapangan pekerjaan. Hanya sekitar    35 % lulusan mendapat pekerjaan sesuai dengan profesinya dan kurang dari satu tahun. Sebagian besar harus menunggu selama 1-2 tahun atau lebih baru mendapat pekerjaan sesuai dengan profesinya.

Kesulitan mencari kerja sesuai dengan profesi itu, tentu akan semakin berat dihadapi oleh para lulusan dari fakultas-fakultas tertentu, seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang mencetak tenaga-tenaga kependidikan. Fakultas ini di UMM setiap tahun meluluskan ± 345 mahasiswa ternyata hanya 28,5% yang terserap sebagai tenaga guru di lembaga pendidikan. Penyebabnya selain menyempitnya lapangan pekerjaan sebagai guru juga adanya lulusan non kependidikan yang menyeberang menjadi guru padahal mereka tidak punya akta mengajar.

Sebenarnya lulusan fakultas keguruan secara profesional tidak harus menjadi guru di lembaga formal. Mereka dapat bekerja dibidang lain yang seirama dengan profesi guru yaitu sebagai tutor atau pengajar di lembaga non formal, misalnya; tutor di lembaga kursus, tutor private study, pemandu wisata dan lain-lain. Selain itu, mereka dapat berwirausaha pada berbagai bidang yang bertolak belakang dari profesi itu tetapi masih bersandar pada pengetahuan teoritis dan praktis yang diperoleh selama kuliah, misalnya membuat produk konsumtif berupa cemilan.

Ngemil merupakan kebiasaan dari seseorang untuk menyantap makanan di luar makan utama. Berdasarkan Beberapa penelitian memperkirakan bahwa konsumsi makanan berupa snack setiap hari merupakan pola makan yang ideal dan menyehatkan (Apriadji, 2001). Konsumsi makanan di pagi hari dan kebiasaan sering ngemil dalam jumlah yang cukup akan memberikan kita energi dan juga mempermudah konsentrasi serta kerja otak kita setelah menjalani aktifitas yang cukup menguras energi yang dimiliki. Selain itu ngemil juga dapat berfungsi untuk mempertahankan kestabilan kadar gula darah yang ada dalam tubuh kita (www.kaskus.us).

Kecenderungan masyarakat untuk konsumtif terhadap makanan, baik makanan berat maupun makanan ringan semakin meningkat seiring dengan berkembangnya dan beranekaragamnya jenis makanan yang tersedia, aktifitas-aktifitas yang semakin kompleks, dan juga karena manusia tidak dapat menghindari akan kebutuhan pangan itu sendiri sebagai syarat atau salah satu ciri dari makhluk hidup. Dalam keadaan luang maupun sempit, lapar atau tidak, pagi maupun malam, stres atau fit seseorang tidak bisa luput dari kata makanan dan cemilan.

Terminalia catappa merupakan nama latin dari tanaman Katapang. Family dari Terminalia catappa sendiri adalah Combretaceae. Katapang merupakan tanaman yang tumbuh liar dan biasa di tanam di tepi pantai.

Pohon Terminalia catappa berbentuk seperti pagoda karena berawal dari batang yang tunggal. Setelah batang yang tunggal tersebut mencapai ketinggian tertentu maka pohon ini akan membentuk cabang secara horizontal. Pohon ini memiliki jenis percabangan simpodial karena batang pokok sukar ditentukan karena dalam perkembangan selanjutnya terjadi perhentian pertumbuhan atau kalah besar atau kalah cepat pertumbuhannya dibandingkan dengan cabangnya.

Daun lengkap merupakan daun yang terdiri atas upih daun (vagina), tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina). Sedangkan Terminalia catappa disebut daun yang tidak lengkap karena daunnya hanya terdiri atas helaian daun (lamina) dan tangkai daun (petiolus).Terminalia catappa memiliki bentuk tangkai daun seperti bentuk tangkai daun tumbuhan pada umumnya, yaitu berbentuk silinder dengan sisi agak pipih dan menebal pada pangkalnya. Untuk helaian daunnya, daun Terminalia catappa dapat dideskripsikan Batang pada tumbuhan ada yang kelihatan ada pula yang tidak. Oleh sebab itu maka dibedakan menjadi tumbuhan yang tidak berbatang dan tumbuhan yang jelas berbatang. Untuk tumbuhan Terminalia catappa sendiri jelas sekali digolongkan ke dalam tumbuhan yang jelas berbatang karena batang Terminalia catappa merupakan batang berkayu (lignosus), yaitu batang yang keras dan kuat.

Terminalia catappa termasuk ke dalam tumbuhan dikotil sehingga sistem perakarannya adalah sistem akar tunggang (radix primaria), yaitu terdapat akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yag lebih kecil. Jika melihat dari percabangan dan bentuknya, maka akar Terminalia catappa termasuk ke dalam akar tunggang yang bercabang (ramosus), yaitu akar tunggang yang berbentuk kerucut panjang, tumbuh lurus ke bawah, bercabang-cabang banyak sehingga memberi kekuatan yang lebih lagi kepada batang dan juga daerah perakaran menjadi sangat luas selain itu daya serap terhadap air dan zat makanan menjadi lebih besar.

Pada bunga Terminalia catappa, bulir yang terdapat di bagian bawah dengan bunga berkelamin 2 atau bunga betina sedangkan di bagian atas dengan bunga tidak berkelamin atau bunga jantan. Tepi kelopak bertaju 5, berbentuk piring atau lonceng. Bunga betina, panjangnya mencapai 4 – 8 mm berwarna putih. Pada bunga yang berkelamin 2 dan bunga jantan, benang sarinya muncul keluar sedangkan benang sari pada bunga betina dan tidak berkelamin lebih pendek dan steril. Tangkai putiknya sangat pendek bahkan terkadang tidak ada.Bentuk dari buah pohon katapang ini seperti buah almond. Besar buahnya kira-kira 4 – 5,5 cm. Buah katapang berwarna hijau tetapi ketika tua warnanya menjadi merah kecoklatan. Kulit terluar dari bijinya licin dan ditutupi oleh serat yang mengelilingi biji tersebut. Kulit biji dibagi menjadi 2, yaitu lapisan kulit luar (testa) dan lapisan kulit dalam (tegmen). Lapisan kulit luar pada biji Terminalia catappa ini keras seperti kayu. Lapisan inilah yang merupakan pelindung utama bagi bagian biji yang ada di dalamnya. Merupakan bagian yang menghubungkan biji dengan tembuni jadi merupkana tangkainya biji. Jika biji masak, maka biji akan terlepasa dari tali pusar dan pada biji hanya nampak bekasnya.

Ketapang tumbuh alami pada pantai berpasir atau berbatu. Toleran terhadap tanah masin dan tahan terhadap percikan air laut; sangat tahan terhadap angin dan menyukai sinar matahari penuh atau naungan sedang. Mampu bertahan hanya pada daerah-daerah tropis atau daerah dekat tropis dengan iklim lembab,dimalang tumbuhan banyak tumbuh dan tidak berguna sehingga terbuang percuma,

Berangkat dari wacana dan peluang tersebut maka disusunlah proposal PKMK ini. Pemilihan ketapang sebagai komoditas untuk dijadikan usaha dalam bentuk selai  ini selain untuk memanfaatkan buah ketapang yang selama ini terbuang menjadi berguna juga karena kandungan nilai gizi yang ada pada ketapang cukup tinggi.

Usaha ini dinamakan ‘’ SELBIPANG’’, yang merupakan padanan dari kata selai yang berasal dari biji buah ketapang, usaha ini diharapkan mampu menumbuhkan jiwa wirausaha bagi mahasiswa. Selain itu juga, usaha ini juga diharapkan mampu memanfaatkan secara maksimal buah ketapang dan juga menciptakan lapangan kerja yang baru bagi masyarakat.

SELBIPANG adalah selai yang berbahan dasar dari biji buah ketapang, dimana cara pengolahan produk ini dimulai dari buahnya tersebut dipecah dan diambil bijinya untuk kemudian dibuat selai, biji yang sudah diambil dibleder menjadi halus untuk kemudian dicapur dengan gula dan tepung, kemudian dipanaskan selama 15 menit dengan suhu 1000 C setelah matang angkat lalu dinginkan, dan terakhir dilakukan pengemasan. SELBIPANG ini mempunyai rasa yang khas dan unik dari selai yang lain yang selama ini terjual dipasaran.

Keberadaan “SELBIPANG di masyarakat belum begitu dikenal bahkan asing karena cemilan ini merupakan sesuatu yang baru, original dan akan diperkenalkan menjadi daftar menu cemilan yang harus dibeli karena bahan dasarnya merupakan buah yang tidak asing lagi yaitu ares ketapang. Dari bahan dasar tersebut dapat menjadi salah satu pemikat bagi konsumen.

Harganya yang murah, merek yang unik, serta bahan yang sederhana dan alami bisa menjadi suatu daya tarik dari publik untuk mengkonsumsi cemilan  SELBIPANG ini. Rasa yang ditawarkan sesuai dengan selera konsumen manis. Kemasannya juga sederhana sehingga patut digunakan sebagai alternatif daftar cemilan yang akan dibeli.

Sehingga berharap usaha ini nantinya dapat berkeembang lebih besar lagi dan diharapkan juga SELBIPANG menjadi salah satu ikon kota malang yaitu dengan menjadi oleh-oleh atau jajanan khas kota malang

C. Perumusan Masalah

Dari latar belakang di atas dapat dikemukakan permasalahan yaitu:

  1. Bagaimana cara produksi SELBIPANG?
  2. Bagaimana bentuk usaha dari SELBIPANG?
  3. Bagaimana cara pemasaran dari usaha SELBIPANG?
  4. Bagaimana cara pengembangan ”SELBIPANG di masa yang akan datang?

D. Tujuan Program

Tujuan program ini adalah

  1. untuk memanfaatkan buah yang terbuang “KETAPANG
  2. Untuk membuat bentuk usaha yang tepat bagi usaha SELBIPANG.
  3. Untuk memasarkan usaha SELBIPANG kepada masyarakat sebagai alternatif snack yang kaya protein.
  4. Untuk cara pengembangan SELBIPANG dimasa yang akan datang.
  5. Untuk menerapkan usaha yang baru kepada masayarakat

E. Luaran yang Diharapkan

Luaran yang diharapkan dari adanya usaha SELBIPANG ini adalah:

  1. Dapat menghasilkan produk SELBIPANG dengan memanfaatkan buah ketapang yang selama ini terbuang menjadi kiwirauasahaan yang sangat bermafaat bagi masyarakat dan menciptakan lapangan kerja.
  2. Dapat menghasilkan produk khusus dari pemanfaatan biji ketapang lebih luas lagi
  3. Dapat menghasilkan produk jasa, dimana sebagai pendamping dalam pembentukan usaha kepada masyarakat yang berminat mengembangkan produk ini.
  4. Setelah kedua luaran di atas berhasil, maka usaha ini juga dapat mengurangi tingkat gizi buruk dan member lapangan pekerjaan yang baru kepada masyarakat.
  1. F. Kegunaan Program

Usaha ini memiliki berbagai macam kegunaan diantaranya:

1. Aspek Ekonomi

  1. Dapat memberi lapangan pekerjaan yang baru.
  2. Dapat memaanfaatkan barang yang tidak berguna ”buah ketapang ”

2. Aspek Akademis

Memberikan kesempatan kepada mahasiswa FKIP Biologi UMM mengaplikasikan kegiatan kuliah untuk diangkat ke dalam kegiatan kewirausahaan, menerapkan mata kuliah dari Jurusan Pendidikan Biologi bidang studi kewirausahaan, pengolahan pangan, dan ilmu gizi.

3. Aspek Ketenagakerjaan

Kecenderungan masyarakat untuk ngemil di luar makan utama semakin nyata, karena kebutuhan energi yang tinggi baik jika diimbangi dengan ngemil daripada hanya dengan makan makanan utama saja. Akan tetapi untuk ngemilpun kita harus bisa memilih mana cemilan yang bermanfaat dan mana yang merugikan bagi kesehatan. Alternatif cemilan yang unik, murah, alami, enak, gurih, dan halalan thayyiban menjadi salah satu penyebab cocoknya SELBIPANGdi kembangkan di sekitar kampus UMM.

Kondisi ini bisa dimanfaatkan dengan mengembangkan usaha melalui penambahan alat dan tenaga kerja bahkan membuka cabang perusahaan. Selain itu usaha ini dapat menjadi wadah atau sarana bagi pengembangan jiwa kewirausahaan kepada mahasiswa.

G. Gambaran Umum Rencana Usaha

G.1 Gambaran Umum Kondisi Masyarakat

Masyarakat kampus UMM diasumsikan sebagai masyarakat yang konsumtif  terhadap makanan baik itu makanan utama maupun makanan ringan (cemilan), karena dari sekian banyak aktifitas yang dilakukan dibutuhkan energi yang ekstra dan energi tersebut tidak cukup hanya dengan makan nasi saja sebagai makanan utama, tapi perlu asupan makanan ringan sebagai penambah kalori dan energi.

Menurut para peneliti bahwa konsumsi makanan dalam jumlah kecil namun dengan frekuensi yang sering bersifat cukup baik untuk aktivitas fisik dibandingkan dengan menghindari konsumsi sarapan harian atau makan dalam jumlah yang besar di siang hari (www.info-sehat.com). Dan menurut Apriadji (2001), konsumsi makanan berupa snack setiap hari merupakan pola makan yang ideal dan menyehatkan karena dapat mempertahankan kestabilan kadar gula darah dalam tubuh. Sinyal rasa lapar yang disampaikan otak sebenarnya hanya meminta kita untuk mengisi perut. Tidak ada perintah khusus mengenai jenis makanan apa yang sebaiknya dimakan. Karena itu, kita bisa makan cemilan apapun yang mengenyangkan. Namun, demi kesehatan juga kita harus pintar dalam memilih cemilan yang tidak merugikan bagi kesehatan kita.

Berdasarkan hasil observasi penulis, pada saat ini di pasaran banyak beredar jenis makanan ringan yang menawarkan beberapa rasa dengan berbagai variasi. Kebanyakan makanan ringan yang beredar adalah makanan yang mengandung zat pewarna dan penyedap rasa seperti vitsin. Hal ini bisa  berdampak fatal, karena bahan-bahan aditif tersebut dapat merusak kesehatan manusia. Akan tetapi, saat ini telah banyak muncul pula makanan yang memanfaatkan bahan-bahan alami misalnya dari bagian-bagian tumbuhan untuk dimanfaatkan sebagai makanan atau cemilan yang alami dan sehat.

G.2 Gambaran Umum Ketapang

Pohon ketapang berukuran moderat, mudah gugur, bentuk seperti pagoda, terutama bila pohon masih muda. Batang sering berbanir pada pangkal, pepagan coklat abu-abu tua, melekah; cabang tersusun dalam deretan bertingkat dan melintang. Daun berseling, bertangkai pendek, mengumpul pada ujung cabang, biasanya membundar telur sungsang, kadang-kadang agak menjorong, mengertas sampai menjangat tipis, mengkilap. Bunga berbulir tumbuh pada ketiak daun, sebagian besar adalah bunga jantan, bunga biseksual terdapat ke arah pangkal, sangat sedikit, warna putih-kehijauan dengan cakram berjanggut. Buah pelok membulat telur atau menjorong, agak pipih, hijau ke kuning dan merah saat matang. Buah batu dikelilingi lapisan daging berair setebal 3-6 mm. Jenis ini dapat dikenali langsung dari cabangnya yang kaku dan daun-daun besarnya yang tersusun dalam roset.

Ketapang berasal dari Asia Tenggara, dan umum di seluruh daerah, tetapi sepertinya jarang di Sumatra dan Borneo. Umumnya ditanam di Australia Utara, Polinesia, juga di Pakistan, India, Afrika Timur dan Barat, Madagaskar dan dataran rendah Amerika Selatan dan Tengah. Ketapang tumbuh alami pada pantai berpasir atau berbatu. Toleran terhadap tanah masin dan tahan terhadap percikan air laut; sangat tahan terhadap angin dan menyukai sinar matahari penuh atau naungan sedang. Mampu bertahan hanya pada daerah-daerah tropis atau daerah dekat tropis dengan iklim lembab. Pada habitat alaminya curah hujan tahunan berkisar 3000 mm. Tumbuh baik pada semua jenis tanah dengan drainase baik. Umumnya dibudidayakan pada ketinggian sampai 800 m. Seringkali buahnya ditanam di kebun pembibitan karena biji batunya sulit dipisahkan dari daging buahnya. Kecepatan perkecambahan sekitar 25%. Jarak tanam biji di persemaian 25 cm x 25 cm. Pemindahan ke lahan dilakukan pada musim hujan tahun depannya.

Ketapang merupakan tumbuhan multiguna. Pepagan dan daunnya, kadang-kadang juga akar dan buah mudanya dipakai secara lokal untuk penyamakan kulit dan memberi warna hitam, dipakai unttuk mencelup kapas dan rotan dan sebagai tinta. Kayunya berkualitas baik dan digunakan untuk konstruksi rumah dan kapal. Kayunya rentan terhadap rayap. Bijinya enak dimakan, dan mengandung minyak yang tidak berbau, mirip minyak almond. Minyaknya dipakai sebagai pengganti minyak almond yang sebenarnya to meredakan radang rongga perut, dan, dimasak dengan daun, dalam menyembuhkan lepra, kudis dan penyakit kulit yang lain. Daging buahnya dapat dimakan, tetapi berserat dan tidak enak walaupun harum. Pohonnya ditanam di jalan raya dan kebun sebagai naungan karena perawakannya yang cocok, seperti pagoda. Daunnya digunakan untuk rematik pada sendi. Tanin dari pepagan dan daunnya digunakan sebagai astringen pada disentri dan sariawan. Juga sebagai diuretik dan kardiotonik dan dipakai sebagai obat luar pada erupsi kulit.

Melihat fakta-fakta di atas maka, disusunlah proposal untuk memanfaatkan ketapang menjadi sebuah alternatif panganan berprotein tinggi dan kewirausahaan yang berbentuk jus dan selai. Analisis usaha  SELBIPANG ini meliputi beberapa hal, yaitu :

1. Produk

Produk SELBIPANG (selai biji ketapang) ini terbuat dari bahan dasar ketapang yang merupakan penemuan baru, yaitu membuat produk baru untuk memenuhi kebutuhan pasar. Produk ini diperkirakan akan memperoleh sambutan bagus di masyarakat sekitar kampus, bahkan kota Malang secara umum karena bahan yang unik dan belum pernah ada di pasaran. Selain itu juga produk ini nikmat, enak dan tentunya yang paling penting kaya akan gizi, terutama kandungan akan protein yang dimilikinya. Produk ini mempunyai tekstur yang hampir tidak berbeda dengan jus dan selai yang beredar dipasaran namun keunggulan produk ini adalah bahan dasarnya yang terbuat dari buah ketapang Selain itu, produk ini diperkaya dengan rasa yang unik dan berbeda dengan jus dan selai yang selama ini pernah dibuat.

  1. Harga

Produk SELBIPANG dengan bahan baku ketapang ini akan ditawarkan kepada masyarakat di sekitar kampus UMM dan masyarakat kota Malang secara umumnya selaku konsumen dengan harga yang mudah dijangkau oleh masyarakat dibandingkan dengan harga dari produk yang hampir sejenis. Hal ini disebabkan karena bahan-bahan yang diperlukan untuk produksi SELBIPANG ini berbahan alami yang dapat diperoleh dari alam dengan sangat mudah.

  1. Tempat

Lokasi produksi pembuatan SELBIPANG dengan bahan baku ketapang ini dipusatkan di kota Malang, yaitu berada di Jalan raya tlogomas diperum embong anyar RT 006 RW OO2 kecamatan dau dan area kampus UMM.

  1. Pemasaran

Produk ini akan dipasarkan di lingkungan sekitar kampus meliputi kantin kampus, Kopma dan Kopkar UMM, toko-toko di sekitar kampus, serta nantinya diharapkan menembus mal-mal di kota Malang.

  1. Promosi

Kegiatan promosi yang dapat dilakukan untuk mengenalkan produk SELBIPANG dengan bahan baku ketapang ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu :

    1. Promosi melalui brosur atau leaflet yang berisi tentang produk SELBIPANG dengan cara disebarkan di lingkungan sekitar kampus sehingga dikenal oleh masyarakat kampus tersebut.
  1. Promosi melalui media surat kabar yaitu mengenalkan produk dengan menerbitkannya dalam surat kabar kampus, bahkan juga surat kabal regional khususnya, sehingga dikenal oleh masyarakat luas.
  2. c. Promosi melalui media elektronik yaitu mengenalkan produk dengan menggunakan media elektronik melalui radio kampus UMM Fm, ataupun TV lokal yang ada di Malang dan Sekitarnya seperti Malang TV, Batu TV, ATV.melalui cara SMS. Materi yang akan disampaikan dalam iklan melalui media elektronik meliputi kandungan gizi terutama protein, rasa, kehalalan produk, dan keunikan dari produk ini yang menggunakan bahan dasar utama buah ketapang.

Strategi Pengembangan Usaha

Strategi pengembangan usaha SELBIPANG dari bahan baku buah ketapang antara lain dapat ditempuh dengan cara :

  1. Produksi SELBIPANG diharapkan kedepannya memiliki berbagai macam rasa dan bentuk sehingga produk ini akan lebih menarik. Selain itu kandungan gizinya selain protein lebih ditingkatkan agar kandungan gizi dari produk SELBIPANG ini lebih seimbang. Kedepannya juga produksi SELBIPANG akan ditingkatkan teknologi yang lebih canggih dan modern, sanitasi, higienitas alat dan bahan, serta tambahan jumlah pekerja.
  2. Produksi SELBIPANG ini kedepannya akan ditingkatkan maslah prevarensi konsumen, dimana produk ini akan diberi tambahan suplemen, zat aditif yang meliputi warna, rasa, dan tekstur untuk meningkatkan kesukaan konsumen.
  3. Lokasi produk SELBIPANG ini diharapkan akan semakin meluas seiring dengan angka penjualan yang semakin meningkat sehingga membutuhkan tempat produksi yang luas dan jumlah tenaga kerja yang besar.
  4. Pemasaran SELBIPANG diharapkan kedepannya bisa menembus pasaran di luar kota Malang khususnya di Jawa Timur dan Pulau jawa dengan cara distribusi langsung dari pabrik, maupun melalui sistem MLM (Multi Level Marketing).
  5. Promosi yang dilakukan kedepannya akan menjangkau surat kabar dan media elektronik yang bertaraf nasional agar produk lebih dikenal oleh masyarakat.

Tabel 2. Analisis Usaha  SELBIPANG

A. Investasi
No Bahan-bahan Jumlah Satuan(kg) Total
1. Bahan-bahan:

a. biji Ketapang

b. Gula

c. susu

d. minyak goreng

e. mentega

f garam

g pewarna

h daun pandan

i. tepung terigu

Labeling dan Packaging

5 kg

5 kg

5  kg

3 kg

5  kg

5 kg

5 botol

5 helai daun

10 kg

100 Bungkus

Rp.     15.000,00

Rp.     4.000,00

Rp.   15.000,00

Rp.     8.000, 00

Rp.   9.000,00

Rp.   1.500,00

Rp.   5.000,00

Rp.   100,00

Rp.     8.000,00

Rp.    5.000,00

Rp.   75.000,00

Rp.   20.000,00

Rp.   75.000,00

Rp.   27.000,00

Rp.  45.000,00

Rp.   7.500,00

Rp   25.000,00

Rp     5.00,00

Rp.   80.000,00

Rp.   500.000,00

Total Biaya Rp. 859.000,00
B. Biaya Promosi dan Pemasaran
1

2

Transportasi 3 orang x Rp.100.000,00 (2bulan)

Komunikasi 3 orang x Rp.  50.000,00 (2bulan )

Rp. 300.000,00

Rp. 150.000,00

Total biaya Rp.400.000,00
C. Penerimaan
a.  SELBIPANG: 100 bungkus/300 gr @Rp.15.000,00 Rp. 1.500.000,00
Jumlah Rp. 1.500.000,00
D. Keuntungan C – (A+B)

1500.000– (859.000+400.000)

Rp.  241.000

R O I (Return Of Investment) =         Laba Usaha       x100%
Modal Produksi

=          Rp.  241.000x 100 % = 19.14%

Rp. 1.259.000

H. Metode Pelaksanaan Program

Untuk melaksanakan kegiatan ini maka perlu metode yang tepat dan sistematis agar dicapai hasil yang maksimal. Adapun metode yang kami formulasikan adalah sebagai berikut:

1. Pelatihan Produksi dilakukan untuk menghasilkan produk yang bermutu.

2. Uji Ketahanan Pangan: Setiap SELBIPANG yang sudah jadi akan dilihat kelayakan konsumsi dan kesesuaian, serta kesepakatan hasil. Setelah disorting, akan di beri label khusus sebagai upaya profesionalisme. Di dalam label berisi: nama produk, manfaat, kandungan gizi, masa kadaluarsa, tempat produksi, dan tahun pembuatan.

3.Pengemasan: Produk dikemas dengan rapat dan aman sehingga tidak terkontaminasi dengan udara luar, serta dimaksudkan agar produk dapat bertahan lama. Selain itu pengemasan akan dilakukan semenarik mungkin, agar konsumen lebih tertarik dengan produk.

4. Pemasaran: Sasaran pasar adalah masyarakat, mahasiswa, dan pelajar sekolah terutama yang berada di Kota Malang. Namun, sasaran awal adalah mahasiswa dan masyarakat di sekitar kampus UMM.

5.Promosi baik di media cetak maupun media elektronik bertujuan untuk memperkenalkan produk yang baru kepada masyarakat sehingga masyarakat tersebut mengetahui segala tentang produk yang ditawarkan.

Pelatihan pembuatan “ SELBIPANG “ Produks I
Uji Ketahanan Pangan
promosi
Pemasaran
Packing

Bagan 1. Diagram Alur Metode Pelaksanaan  Kegiatan

  • CARA PENGOLAHAN PRODUK SELBIPANG:

Bahan:

-      Biji Kapang                 5 kg    

-      Tepung Terigu             20 kg              

-       Minyak goreng           5 kg

-       Gula                           10kg

-      mentega                      5kg

-      garam                          2kg

-      pewarna                      5botol

-      pandan                        5helai daun

Alat :

-   Gas LPG                   1 tabung

-   blender                      1 buah

-   kompor gas               1 buah

- Tempat penggorengan 1 buah

- penggorengan              1 buah

- baskom                        1 buah

-sendok pengaduk         3 buah

Cara kerja:

Teknik pembuatan  SELBIPANG  adalah sebagai berikut:

  • Campur biji ketapang dan susu cair, masak hingga mendidih dan biji lunak, angkat.
  • Blender biji rebus hingga lembut lalu masak hingga kental.
  • Tambahkan mentega, aduk rata. Masak hingga kalis, tambahkan gula pasir.
  • Aduk rata, masak hingga gula larut, dan selai kalis. Angkat, dinginkan.
  • Simpan dalam wadah dari kaca yang telah disterilkan.

I. Jadwal Kegiatan Program

Tabel 2. Jadwal Kegiatan Program

Kegiatan Bulan Ke-
1 2
1. Persiapan
ü  Perijinan X
ü  Persiapan dan Penetapan lokasi usaha X
ü  Persiapan alat dan bahan usaha Xx
ü  Promosi dan strategi pengadaan usaha Xxx
ü  Evaluasi tahap pertama X
2. Pelaksanaan
ü  Penjaringan konsumen Xxxxx
ü  Pelayanan dan pemasaran xxxxx
ü  Pengembangan usaha dan investasi xxxXx
ü  Evaluasi tahap kedua X
3. Kegiatan Bimbingan
ü  Pelaporan kegiatan usaha xxx
ü  Monitoring dengan evaluasi pelaksanaan usaha X
ü  Pengembangan usaha berdasarkan hasil monitoring Xxx

J. Rencana Pembiayaan

Tabel 3. Estimasi Dana Kegiatan

No Jenis Kegiatan Anggaran
A. Pra Kegiatan
1 Perijinan Rp.     500.000,00
2 Persiapan lokasi Rp.     700.000,00
3 Persiapan Alat dan Bahan Rp.     250.000,00
4 Promosi/publikasi Rp.     500.000,00
5 Pengadaan proposal Rp.     450.000,00
B. Pelaksanaan
1 Bahan Habis Pakai:

Biji ketapang 17 kg x Rp. 15.000,00

Tepung Terigu 30 kg x Rp. 6.000,00

Mentega  8 kg x Rp. 9.000,00

Susu bubuk 15 kg x Rp. 30.000,00

Gula halus 30 kg x Rp. 4.000,00

Garam 0.1 kg x Rp. 5.000,00

Gas LPG 2 tabung x Rp. 75.000,00

Blender  2 buah

penggorengan  5 buah x Rp. 75.000,00

Baskom  5 buah x Rp. 10.000,00

Sendok pengaduk 10 x Rp 25.000,00

Labelling + Pengemasan 100 bungkus x Rp. 5.000,00

Rp.      255.000,00

Rp.     180.000,00

Rp.     79.000,00

Rp.     450.000,00

Rp.      140.000,00

Rp.          1.500,00

Rp.       150.000,00

Rp.   2.000.000,00

Rp.       375.000,00

Rp.         50.000,00

Rp        250.000,00

Rp.       500.000,00

2 Transportasi (2 bulan) Rp.     300.000,00
3 Komunikasi (2 bulan) Rp.     150.000,00
4 Dokumentasi (2 bulan) Rp.     500.000,00
5 Promosi Rp.     500.000,00
6 Administrasi dan managemen Rp      500.000,00
C. Laporan
1 Penyusunan laporan Rp.     500.000,00
2 Penggandaan laporan Rp.     500.000,00
Jumlah Rp. 9.780.500,00

Lampiran 2

– Analisis SWOT Usaha SELBIPANG

a. Kelebihan (Strenght)

Dalam aktivitas sehari-hari masyarakat tidak luput dari aktivitas makan. Makan dapat di bagi menjadi dua, yaitu: makan utama yang lebih di kenal dengan makan nasi dan ngemil (menyantap makanan di luar makan utama). Karena aktifitas yang kita lakukan begitu besar, maka dibutuhkan energi dan kalori yang besar pula untuk keseimbangan nutrisi tubuh kita. Menurut Apriadji (2001), ngemil merupakan pola makan yang sehat karena mampu menambah kadar gula darah yang ada dalam tubuh ketika kita dalam kondisi lapar.

Umumnya makanan berupa snack, camilan khususnya biskuit masih sedikit yang mempunyai kandungan gizi yang tinggi terutama kandungan proteinnya, sehingga selama ini makanan terutama berupa camilan seperti biskuit yang dikonsumsi masyarakat masih rendah kandungan gizinya terutama proteinnya. Sehingga produk SELBIPANG mempunyai peluang tinggi untuk digemari oleh masyarakat karena produk ini menawarkan biskuit yang selain mempunyai rasa yang enak, gurih, Halalan Thayiban serta kaya dengan kandungan potein yang berasal dari ketapang. Selain itu, dengan market yang jelas yaitu masyarakat yang suka akan makanan ringan terutama daerah Malang yang berhawa dingin membuat prospek dari produk ini sangat bagus dan menjanjikan.

  1. a. Kelemahan (Weakness)

Dalam pembuatan produk ini membutuhkan biaya yang cukup besar. Hal ini dikarenakan untuk pembelian berbagai macam alat seperti blender, mixer, dan lian-lain. Selain itu juga tenaga SDM yang dibutuhkan cukup banyak dan harus terlatih terutama dalam hal produksi, packing, dan budidaya rayap.

Selain itu juga masih banyaknya anggapan dari masyarakat bahwa ketapang itu bauah yang tidak berguana dan merugikan bagi mereka, menyebabkan masyarakat sedikit apatis, dan juga adanya asumsi bahwa camilan seperi jus dan selai mempunyai kandungan gizi yang rendah. Oleh karena itu, pengusul ingin mengubah asumsi dari masyarakat tentang rayap dengan membuat  camilan yang berasal dari ketapang dengan mengusulkan produk SELBIPANG, yang terbuat dari buah ketapang, yang mempunyai kandungan gizi terutama protein yang tinggi dan rasa yang unik.

  1. Kesempatan (Opportunity)

Dengan pertimbangan modal usaha yang dapat ditekan seminimal mungkin terutama dalam hal pembudidayaan ketapang maka usaha ini diharapkan akan menghasilkan keuntungan yang sangat tinggi dibandingkan dengan produk yang sejenis. Selain itu, dengan kecendrungan masyarakat yang gemar akan makanan ringan yang bergizi tinggi maka produk ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan dan akan menyerap banyak tenaga kerja.

  1. Tantangan atau Ancaman (Thread)

Tantangan yang akan dihadapi oleh pengusul diantaranya adalah kesiapan konsumen dalam menerima produk ini karena produk ini masih baru dan mengunakan bahan dasar ketpang. Selan itu, dengan kenaikan bahan baku akhir-akhir ini maka, pendanaan untuk produk ini juga akan meningkat.

  • Daftar Riwayat Hidup Ketua dan Anggota

05/05/2010 Posted by | Contoh PKM | 8 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 742 pengikut lainnya.