BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

PENYEDIAAN AIR BERSIH DENGAN TEKNIK SELF PURIFICATION DI ALIRAN SEKITAR SUNGAI BRANTAS

PENYEDIAAN AIR BERSIH DENGAN TEKNIK SELF PURIFICATION DI ALIRAN SEKITAR SUNGAI BRANTAS

Sukma Maholla Y.P., Kartika Juliana., Beni Bakhtiar

Jurusan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM

Ringkasan

Sumber-sumber air semakin dicemari oleh limbah industri yang tidak diolah atau tercemar karena penggunaanya yang melebihi kapasitasnya untuk dapat diperbaharui. Berdasarkan data dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Timur, limbah cair industri dan limbah cair domestik yang dibuang di Kali Brantas mencapai 150 ton per hari dengan komposisi 55 persen berasal dari limbah domestik dan 45 persen limbah industri (Gresik Surya, 03/09/2009).

Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah (Anonim, 2009).

Limbah-limbah yang ada di Sungai Brantas ini akan membawa dampak bagi kehidupan masyarakat sekitar, diantaranya:1) Limbah Industri Pangan, sektor Industri/usaha kecil pangan yang mencemari lingkungan antara lain; tahu, tempe, tapioka dan pengolahan ikan (industri hasil laut). 2) Limbah Industri Kimia & Bahan Bangunan Industri kimia seperti alkohol dalam proses pembuatannya membutuhkan air sangat besar, mengakibatkan pula besarnya limbah cair yang dikeluarkan kelingkungan sekitarnya. 3) Limbah Industri Sandang Kulit & Aneka Sektor sandang dan kulit seperti pencucian batik, batik printing, penyamakan kuit dapat mengakibatkan pencemaran karena dalam proses pencucian memerlukan air sebagai mediumnya dalam jumlah yang besar. 4) Limbah Industri Logam & Ekektronika. (Kartini, 2009).

Pengurangan limbah di Sungai Brantas ini dapat dilakukan melalui teknik Self  Purification sebagai solusi alternatuf minimalisasi pencemaran air dan lingkungan, teknologi. Solusi itu berupa penemuan ekoteknis yang menggunakan rancangan berbasis ekologi dan sekaligus perpaduan antara sistem pengelolaan limbah cair yang menggunakan kolam dan memanfaatkan lahan secara hidroponik dengan menggunakan media batu krikil dan tanaman bunga air. solusi teknologi ini bermanfaat karena pembuatan dan perawatannya mudah serta biaya investasi dan operasionalnya jauh lebih rendah dibanding sistem konvensional yang menggunakan alat mesin dan filter yang canggih. Semakin berkembangnya akar-akar tanaman dikemudian hari maka kualitas effluent yang dihasilkan makin membaik dan memproduksi genetik enzime beranekaragam sesuai dengan perubahan zat-zat kandungan limbah cair yang bersifat berkelanjutan.

v


PENDAHULUAN

Air merupakan kebutuhan essensial bagi makhluk hidup. Tanpa air tidak akan ada kehidupan di bumi ini. Tanpa air dunia akan menjadi sebuah planet yang tidak bernyawa atau gersang. Sekitar 71% atau ¾ komposisi bumi terdiri dari air. Rumus kimia air adalah H2O (tersusun atas dua atom hidrogen dan satu atom oksigen). Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau.

Sumber-sumber air semakin dicemari oleh limbah industri yang tidak diolah atau tercemar karena penggunaanya yang melebihi kapasitasnya untuk dapat diperbaharui. Kalau kita tidak mengadakan perubahan radikal dalam cara kita memanfaatkan air, mungkin saja suatu ketika air tidak lagi dapat digunakan tanpa pengolahan khusus yang biayanya melewati jangkauan sumber daya ekonomi bagi kebanyakan negara. (Middleton, 2009).

Pencemaran adalah suatu penyimpangan dari keadaan normalnya. Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain kedalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Keadan normal air masih tergantung pada faktor penentu, yaitu kegunaan air itu sendiri dan asal sumber air (Wardhana, 1995).

Sementara itu berdasarkan data dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Timur, limbah cair industri dan limbah cair domestik yang dibuang di Kali Brantas mencapai 150 ton per hari dengan komposisi 55 persen berasal dari limbah domestik dan 45 persen limbah industri. Penanganan limbah industri sekarang sedang digalakkan oleh BLH Jatim dengan Perum Jasa Tirta 1 Malang melalui patroli sungai. (Gresik Surya, 03/09/2009).

Kondisi ini berakibat pada penurunan kemampuan bendungan untuk menampung air sebagai pasokan produksi tenaga listrik, irigasi pertanian, dan industri hilir. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan membawa dampak pada krisis energi dan pangan, khususnya pada daerah aliran sungai (DAS) Brantas.

Selain kuantitas, kualitas sungai Brantas Juga mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Tingginya pollutan terlarut dari hulu ke hilir yang masuk ke badan sungai Brantas menjadi penyebab utamanya. Pollutan ini berasal dari penggunaan pestisida, pupuk kimia untuk pertanian, limbah industri yang tidak terolah, limbah rumah tangga baik limbah padat maupun cair, limbah peternakan dan lainnya yang masuk begitu saja. Kejadian ini tidak hanya di sepanjang aliran sungai Brantas, namun juga melalui semua anak sungai yang ber hilir pada sungai Brantas. (Geng, 2009).

Di sisi lain, tipikal kota-kota besar di Indonesia khususnya pulau Jawa selalu mendekati sumber air terdekat, yang umumnya adalah sungai. Bisa dimaklumi, ini akan mempermudah untuk mendapatkan air sebagai pemenuhan kebutuhan hidup. Kota Surabaya misalnya, kebutuhan air bersih kota ini bergantung pada beberapa anak sungai Brantas. Melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), air tersebut dimurnikan melalui beberapa proses serta disalurkan  ke masyarakat melalui sistem pemipaan (Anonim, 2005).

Solusi yang Ditawarkan

Pengurangan limbah di Sungai Brantas ini dapat dilakukan melalui teknik Self  Purification sebagai solusi alternatuf minimalisasi pencemaran air dan lingkungan, teknologi. Solusi itu berupa penemuan ekoteknis yang menggunakan rancangan berbasis ekologi dan sekaligus perpaduan antara sistem pengelolaan limbah cair yang menggunakan kolam dan memanfaatkan lahan secara hidroponik dengan menggunakan media batu krikil dan tanaman bunga air.

Akar tanaman bunga air akan mengisi pori-pori kerikil dan membentuk sel biofilm sebagai biological moleculer filter (BMF) yang memproduksi genetik ratusan juta macam biological enzime berfungsi sebagai biodegrable zat beranekaragam yang terkandung dalam limbah cair. Bunga air dimanfaatkan sesuai karakteristik limbah cair yang ada, mengingat tanaman ini berakar luas dan dalam bisa hidup baik kondisi aerob maupun anaerob serta tumbuh lebat didalam pori-pori kerikil.

Disamping itu, solusi teknologi ini bermanfaat karena pembuatan dan perawatannya mudah serta biaya investasi dan operasionalnya jauh lebih rendah dibanding sistem konvensional yang menggunakan alat mesin dan filter yang canggih. Semakin berkembangnya akar-akar tanaman dikemudian hari maka kualitas effluent yang dihasilkan makin membaik dan memproduksi genetik enzime beranekaragam sesuai dengan perubahan zat-zat kandungan limbah cair yang bersifat berkelanjutan. Pengelolaan limbah cair yang ramah lingkungan serta menjadikan air Sungai Brantas dan lingkungan yang bersih, indah dan air proses dapat dimanfaatkan serta memenuhi hajat hidup masyarakat di hulu sampai hilir Brantas dan menambah deretan objek wisata ekologi dengan nuansa alami.

Dengan begitu kuantitas dan kualitas air menjadi perhatian kita bersama baik di hulu maupun di hilir untuk mencegah dan menangani secara terpadu seluruh stakeholder dengan cara menumbuhkembangkan konservasi hutan dan lahan di dataran Sungai Brastas serta penerapan tekologi tepat guna dalam pengelolaan limbah cair agar meminimalisasi beban pencemaran air Sungai Brantas.

Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini adalah memberikan solusi dari pengurangan bahaya limbah di Sungai Brantas. Yaitu dengan penerapan teknik Self Purification. Manfaat dalam penulisan ini adalah membentuk kesadaran masyarakat terhadap bahayanya limbah yang ada di Sungai Brantas, dalam kehidupan masyarakat sekitar sungai tersebut. Dengan menerapkan teknik Self Purification ini, kita juga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas air yang ada di Sungai Brantas tersebut

GAGASAN

Sungai Brantas

Sungai Brantas adalah sebuah sungai di Jawa Timur yang merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo. Luasnya ± 320 km. Sungai Brantas bermata air di Desa Sumber Brantas (Kota Batu), lalu mengalir ke Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto. Di Kabupaten Mojokerto sungai ini bercabang dua manjadi Kali Mas (ke arah Surabaya) dan Kali Porong (ke arah Porong, Kabupaten Sidoarjo).

Sungai Brantas memiliki fungsi yang sangat penting bagi Jawa Timur mengingat 60% produksi padi berasal dari areal persawahan di sepanjang aliran sungai ini. Akibat pendangkalan dan debit air yang terus menurun sungai ini tidak bisa dilayari lagi. Fungsinya kini beralih sebagai irigasi dan bahan baku air minum bagi sejumlah kota disepanjang alirannya. Adanya beberapa gunung berapi yang aktif di bagian hulu sungai, yaitu Gunung Kelud dan Gunung Semeru menyebabkan banyak material vulkanik yang mengalir ke sungai ini. Hal ini menyebabkan tingkat sedimentasi bendungan-bendungan yang ada di aliran sungai ini sangat tinggi (Anonim, 2009).

Curah hujan rata-rata 2.000 mm/tahun. Total Potensi air permukaan sebesar 373,64 m3/detik atau 11.738,2 juta m3 /tahun. Jumlah penduduk di WS Sungai Brantas tahun 2007 adalah sebesar 16.200.000 jiwa (43% Jawa Timur), dengan pertumbuhan rata-rata 0,99 % dan kepadatan 1.272 jiwa/km2. Pengembangan Wilayah Sungai Brantas dilaksanakan bedasarkan Rencana Induk yang telah 4 (empat) kali disusun (1961,1973,1985,1998) (Anonim,2008).

Gambar 1. Peta Wilayah Sungai Brantas

Air

Air merupakan unsur utama bagi hidup kita di planet ini. Kita mampu bertahan hidup tanpa makan dalam beberapa minggu, namun tanpa air kita akan mati dalam beberapa hari saja. Dalam bidang kehidupan ekonomi modern kita, air juga merupakan hal utama untuk budidaya pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik, dan transportasi. Air merupakan elemen yang paling melimpah di atas Bumi, yang meliputi 70% permukaannya dan berjumlah kira-kira 1,4 ribu juta kilometer kubik. Apabila dituang merata di seluruh permukaan bumi akan terbentuk lapisan dengan kedalaman rata-rata 3 kilometer. Namun hanya sebagian kecil saja dari jumlah ini yang benar-benar dimanfaatkan, yaitu kira-kira hanya 0,003%. Sebagian besar air, kira-kira 97%, ada dalam samudera atau laut, dan kadar garamnya terlalu tinggi untuk kebanyakan keperluan. Dari 3% sisanya yang ada, hampir semuanya, kira-kira 87 persennya,tersimpan dalam lapisan kutub atau sangat dalam di bawah tanah.

Limbah

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).

Macam-macam limbah antara lain, 1) limbah cair biasanya dikenal sebagai entitas pencemar air. Komponen pencemaran air pada umumnya terdiri dari bahan buangan padat, bahan buangan organik, dan bahan buangan anorganik. 2) Limbah padat, 3) Limbah gas dan partikel, 4) Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) merupakan sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat, konsentrasinya, dan jumlahnya secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan, merusak, dan dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.

Dampak Limbah

Limbah-limbah yang ada di Sungai Brantas ini akan membawa dampak bagi kehidupan masyarakat sekitar, diantaranya:

1) Limbah Industri Pangan, apabila efluen dibuang langsung ke suatu perairan akibatnya menganggu seluruh keseimbangan ekologik dan bahkan dapat menyebabkan kematian ikan dan biota perairan lainnya.

2) Limbah Industri Kimia & Bahan Bangunan Industri kimia seperti alkohol dalam proses pembuatannya membutuhkan air sangat besar, mengakibatkan pula besarnya limbah cair yang dikeluarkan kelingkungan sekitarnya.

3) Limbah Industri Sandang Kulit & Aneka Sektor sandang dan kulit seperti pencucian batik, batik printing, penyamakan kuit dapat mengakibatkan pencemaran karena dalam proses pencucian memerlukan air sebagai mediumnya dalam jumlah yang besar.

4) Limbah Industri Logam & Ekektronika (Kartini, 2009).

Perubahan warna perairan                               Cemaran padatan

Pencemaran air sumur akibat sanitasi yang jelek

Analisis Pencemaran

  1. Pengukuran pH

Derajat keasaman (pH) merupakan ukuran dalam kandungan ion H+ yang menunjukan suatu perairan asam atau basa. Air sungai dalam kondisi alami yang belum tercemar memiliki rentangan pH 6,5-8,5. Karena pencemaran, pH air dapat menjadi lebih rendah dari 6,5 atau lebih tinggi dari 8,5. Perubahan nilai pH mempunyai arti penting bagi kehidupan air. Nilai pH yang rendah (sangat asam) atau tinggi (sangat basa) tidak cocok untuk kehidupan kebanyakan organisme.

  1. Oksigen Terlarut

Kadar oksigen terlarut dalam air yang alami barkisar 5-7 ppm (part per million atau satu per sejuta; 1 ml oksigen yang larut dalam 1 liter air dikatakan memiliki kadar oksigen 1 ppm). Parameter oksigen terlarut memberikan indikasi tentang tingkat kesegaran air akibat adanya proses biodegradasi dan asimilasi pada bahan air. Pada umumnya model OT adalah dianalisis berdasarkan kinetika reaksi orde satu (Thoman dan Mueller, 1987). Namun pada saat ini diketahui, bahwa model kualitas air (terutama OT) yang lebih komplek diperlukan untuk menunjukkan interaksi parameter fisika/kimia dan biologi yang lebih akurat (Biswat dan Asit, 1981).

Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan normal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (tosik). Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme (Swingle, 1968). Idealnya kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70% (Huet, 1970). KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk kepentingan wisata bahari dan biota laut (Anonim, 2004).

  1. Pengukuran BOD

Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organism pada saat pemecahan bahan organik, pada kondisi aerobik. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik ini digunakan oleh organisme sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi (Pescod, 1973).

Parameter BOD, secara umum banyak dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran air buangan. Penentuan BOD sangat penting untuk menelusuri aliran pencemaran dari tingkat hulu ke muara. Sesungguhnya penentuan BOD merupakan suatu prosedur bioassay yang menyangkut pengukuran banyaknya oksigen yang digunakan oleh organisme selama organisme tersebut menguraikan bahan organik yang ada dalam suatu perairan, pada kondisi yang hampir sama dengan kondisi yang ada di alam (Sawyer & Mc Carty, 1978).

  1. COD (Chemical Oxygen Demand)

Kebutuhan oksigen kimia atau COD adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis yang ada dalam satu liter sampel air, dimana pengoksidasi K2,Cr 2, O7 digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent) (G. Alerts dan SS Santika, 1987).

  1. Suspended Solid (SS)

Zat padat tersuspensi (Total Suspended Solid) adalah semua zat padat (pasir, lumpur dan tanah liat) atau partikel-partikel yang tersuspensi dalam air dan dapat berupakomponen hidup (biotik) seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan paryikel-partikel anorganik. Zat padat tersuspensi merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang heterogen, dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal dan dapat menghalangi kemampuan produksi zat organik di suatu perairan (Permana et al., 1994).

  1. Pengukuran Ammonia, Nitrit dan Nitrat

Ammonia (NH3) merupakan senyawa nitrogen yang pada kadar tinggi bersifat racun terhadap organisme perairan. Pada pH rendah ammonia berubah menjadi NH4+ dan disebut ammonium. Ammonia sendiri berada dalam keadaan tereduksi (-3), sumber ammonia pada air permukaan adalah air seni , tinja dan juga hasil oksidasi senyawa organik mikrobiologis yang berasal dari air alam atu limbah indutri dan domestik. Kadar ammonia yang tinggi dapat menimbulkan pencemaran dan membahayakan kehidupan biota perairan.

Keberadaan nitrat dan nitrit dapat diindikasikan bahwa air tersebut telah tercemar oleh bakteri (kontaminasi kotoran hewan atau manusia). Nitrit lebih berbahaya dengan dua komponennya. Dalam jumlah yang banyak dapat mengganggu darah dalam mengangkut oksigen dan bersifat racun. Level maksimum nitrat yang direkomendasikan cukup bervariasi (Hakim, 2006).

Nitrit (NO2) merupakan bentuk peralihan antara ammonia dan nitrat (nitrifikasi) dan antara nitrat dengan gas nitrogen (denitrifikasi) oleh karena itu, nitrit bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen. Kandungan nitrit pada perairan alami mengandung nitrit sekitar 0.001 mg/L. kadar nitrit yang lebih dari 0.06 mg/L adalah bersifat toksik bagi organisme perairan (Anonim, 2006). Keberadaan nitrit menggambarkan berlangsungnya proses biologis perombakan bahan organik yang memiliki kadar oksigen terlarut yang rendah (Effendi, 2003).

Nitrit yang dijumpai pada air minum dapat berasal dari bahan inhibitor korosi yang dipakai di pabrik yang mendapatkan air dari sistem distribusi PDAM. Nitrit juga bersifat racun karena dapat bereaksi dengan hemoglobin dalam darah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen, disamping itu juga nitrit membentuk nitrosamin (RRN-NO) pada air buangan tertentu dan dapat menimbulkan kanker (Alaert dan Santika, 1984).

Sumber Data

Data dan fakta yang berhubungan dengan pembahasan tema ini didapatkan dengan tahapan-tahapan pengumpulan data dengan cara pembacaan kritis terhadap ragam literatur yang berhubungan dengan tema pembahasan.

Data yang digunakan adalah data dengan kriteria telah dipublikasikan kepada masyarakat melalui literatur yang diterbitkan, surat kabar, buletin, jurnal upun internet. Dengan demikian penulis mengelompokan atau menyeleksi data dan informasi berdasarkan kategori dan relevansi untuk selanjutnya dianalisis dan disimpulkan.

Analisis Data

Dalam penulisan ini teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptifkualitatif. Menurut Arikunto (1998), analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.

Untuk menganalisa data dan informasi yang didapat, digunakan analisis isi (content analysis). Analisis isi adalah suatu teknik yang sistematik untuk menganalisis makna pesan dan cara mengungkapkan pesan. Analisis isi selalu melibatkan kegiatan menghubungkan atau membandingkan penemuan berupa kriteria atau teori. Langkah yang dilakukan dalam menganalisis data pada penelitian ini menggunakan interaktive model dari Miles dan Huberman (Miles dan Huberman, 1994). Model ini terdiri dari 4 komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan atau reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan dan pengujian atau verifikasi kesimpulan.

Analisis

Berdasarkan pustaka yang telah dikumpulkan didapatkan data bahwa limbah  telah menjadi permasalahan pada lingkungan (Widianto, 2009). Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah (Anonim, 2009). Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) merupakan sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat, konsentrasinya, dan jumlahnya secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan, merusak, dan dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.

Dengan demikian perlu dilakukan pencegahan untuk mengurangi limbah pada sungai Brantas dengan melakukan Self Purification. Self  Purification sebagai solusi alternatif minimalisasi pencemaran air dan lingkungan, teknologi. Solusi itu berupa penemuan ekoteknis yang menggunakan rancangan berbasis ekologi dan sekaligus perpaduan antara sistem pengelolaan limbah cair yang menggunakan kolam dan memanfaatkan lahan secara hidroponik dengan menggunakan media batu krikil dan tanaman bunga air.

Sintesis

Penyediaan Air Bersih dengan Teknik Self Purification Di Aliran Sekitar Sungai Brantas

Solusi yang ditawarkan untuk penyediaan air bersih di aliran sungai Brantas, yaitu dengan menggunakan teknik Self Purification. Solusi ini merupakan penemuan ekoteknis yang menggunakan rancangan berbasis ekologi dan sekaligus perpaduan antara sistem pengelolaan limbah cair yang menggunakan kolam dan memanfaatkan lahan secara hidroponik dengan menggunakan media batu krikil dan tanaman bunga air.

Akar tanaman bunga air akan mengisi pori-pori kerikil dan membentuk sel biofilm sebagai biological moleculer filter (BMF) yang memproduksi genetik ratusan juta macam biological enzime yang berfungsi sebagai biodegrable zat beranekaragam yang terkandung dalam limbah cair. Bunga air dimanfaatkan sesuai karakteristik limbah cair yang ada, mengingat tanaman ini berakar luas dan dalam bisa hidup baik kondisi aerob maupun anaerob serta tumbuh lebat didalam pori-pori kerikil.

Disamping itu, solusi teknologi ini bermanfaat karena pembuatan dan perawatannya mudah serta biaya investasi dan operasionalnya jauh lebih rendah dibanding sistem konvensional yang menggunakan alat mesin dan filter yang canggih. Semakin berkembangnya akar akar tanaman dikemudian hari maka kualitas effluent yang dihasilkan makin membaik dan memproduksi genetik enzime beranekaragam sesuai dengan perubahan zat-zat kandungan limbah cair yang bersifat berkelanjutan. Pengelolaan limbah cair yang ramah lingkungan serta menjadikan air Sungai Brantas dan lingkungan yang bersih, indah dan air proses dapat dimanfaatkan serta memenuhi hajat hidup masyarakat di hulu sampai hilir Brantas dan menambah deretan objek wisata ekologi dengan nuansa alami.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).  Limbah-limbah yang ada di Sungai Brantas ini akan membawa dampak bagi kehidupan masyarakat sekitar, diantaranya:1) Limbah Industri Pangan, sektor Industri/usaha kecil pangan yang mencemari lingkungan antara lain; tahu, tempe, tapioka dan pengolahan ikan (industri hasil laut).

Pengurangan limbah di Sungai Brantas ini dapat dilakukan melalui teknik Self  Purification sebagai solusi alternatuf minimalisasi pencemaran air dan lingkungan, teknologi. Solusi itu berupa penemuan ekoteknis yang menggunakan rancangan berbasis ekologi dan sekaligus perpaduan antara sistem pengelolaan limbah cair yang menggunakan kolam dan memanfaatkan lahan secara hidroponik dengan menggunakan media batu krikil dan tanaman bunga air.  Akar tanaman bunga air akan mengisi pori-pori kerikil dan membentuk sel biofilm sebagai biological moleculer filter (BMF) yang memproduksi genetik ratusan juta macam biological enzime berfungsi sebagai biodegrable zat beranekaragam yang terkandung dalam limbah cair. Bunga air dimanfaatkan sesuai karakteristik limbah cair yang ada, mengingat tanaman ini berakar luas dan dalam bisa hidup baik kondisi aerob maupun anaerob serta tumbuh lebat didalam pori-pori kerikil.

Saran

Saran yang diberikan kepada semua pihak bahwasanya air bersih merupakan pokok utama dalam kehidupan. Sehingga kualitas dan kuantitasnya harus tetap terjaga dari bebagai pencemaran, trutama pencemaran air. Mengingat salah satu cara untuk mencegah pengurangan limbah adalah dengan menggunakan teknik Self Purification. Teknik ini sangat mudah dan murah, sehingga teknik ini dapat dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Alaerts G, & S.S. Santika. 1987. Metoda Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional.6-7.

Biswat, Asit K. 1981. Models for Water Quality Management. Mc Graw Hills, USA. pp 134.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengolahan Sumber Daya Dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisus.

Hakim, Roli Sofwah. 2006. Menentukan Kualitas Air. BULETIN CP. September 2006 Nomor 81/Tahun VII.

Permana, S.D; E. Triyati, A. Nontji. 1994. Pengamatan Klorofil dan Seston di Perairan Selat Malaka 1978-1980: Evaluasi Kondisi Perairan Selat Malaka. 1978-1980. P.63.

Pescod, M.D. 1973. Investigation of Rational Effluen and Stream Standards for Tropical Countries. A.I.T. Bangkok, 59 pp.

Sawyer, C.N and P.L., MC CARTY, 1978. Chemistry for Environmental Engineering. 3rd ed. Mc Graw Hill Kogakusha Ltd.: 405-486 pp.

Swingle, H.S. 1968. Standardization of Chemical Analysis for Water and Pond Muds. F.A.O. Fish, Rep. 44, 4 , 379-406 pp.

Thoman and Mueler. 1987. Principles of Surface Water Quality Modelling and Control. Harper & Row Publisher Inco, New York, USA. pp 226 and 462.

Wardhana, W. A., 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Andi Offset.

Keputusan Pemerintah PP No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Anonim. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. No. 51 Tahun 2004. Tentang: Baku Mutu Air Laut. 2004. 11 hal.

Anonim. 2009. Diakses dari http://lingkunganku.multiply.com/journal/item/3/Dampak_Limbah. Tanggal 20 Desember.

Anonim. 2009. Diakses dari http://dipterocarpa.blogspot.com/2005/05/dampak-limbah.html. Tanggal 20 Desember.

Geng. 2009. Diakses dari http://www.tunashijau.org/2009/brantas1306.htm. Tanggal 20 Desember.

Gresik Surya. 2009. Diakses dari http://www.surya.co.id/2009/08/03/limbah-sungai-brantas-mengkhawatirkan.html. Tanggal 20 Desember.

Kartini, Citra. 2009. Diakses dari http://www.telecenter-citrakartini.co.cc/2009/07/pencemaran-limbah-di-aliran-sungai.html. Tanggal 21 Desember.

Middleton, Richard. 2009. Diakses dari http://air/airbrs1.html. tanggal 20 Desember 2009.

Widianto,Eko. 2009. Diakses dari http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/06/27/brk,20090627-184072,id.html. Tanggal 21 Desember.

Lampiran 1

Daftar Riwayat Hidup Penulis dan Dosen Pembimbing

Ketua Kelompok

a. Nama Lengkap                    : Nur Laili Fauziah

b. Tempat, Tanggal Lahir        : Probolinggo, 30 Januari 1988

c. Agama                                 : Islam

d. Alamat                                : Jl. Raya Jabung sisir No. 149 Paiton, Malang

e. No. Telp/HP                        : 087859010146

f. Riwayat Pendidikan Formal

No Jenjang Nama Institusi Tahun Lulus
1 SD SDN 02 Jabung sisir 2000
2 SLTP SLTPN 01 Paiton 2003
3 SLTA SMA UNGGULAN HAF-SAWATI BPPT GENGGONG PAJARAKAN PROLLINGGO 2006
4 S1 Pendidikan Biologi UMM

Ketua Kelompok

Nur Laili Fauziah

06330063

Anggota Kelompok

a. Nama Lengkap                    : Huzaifah Hamid

b. Tempat, Tanggal Lahir        : Lokayong, 17 Agustus 1989

c. Agama                                 : Islam

d. Alamat                                : Perumahan Taman Embong Anyer II P/7

e. No. Telp/HP                        : 081334238462

f. Riwayat Pendidikan Formal

No Jenjang Nama Institusi

Tahun Lulus

1 SD SDN Jepara 1 No 90 Surabaya 2001
2 SMP SMP Muhammadiyah 11 Surabaya 2004
3 SMA SMAN 8 Surabaya 2007
4 S1 Pendidikan Biologi UMM

g. Pengalaman Penelitian

No Judul Tahun
1.

2

Timbal (Pb) Pada Koran  Pembungkus Makanan Gorengan Mengancam Kesehatan

“RAYABIZ”,  Biskuit Nikmat Kaya Protein

2007

2008

Anggota Kelompok

Huzaifah Hamid

07330075

a. Nama Lengkap                    : Miftakhul Jannah

b. Tempat, Tanggal Lahir        : Lumajang, 07 September 1989

c. Agama                                 : Islam

d. Alamat                                : JL Tlogomas Barat 48 Malang

e. No. Telp/HP                        : 085236926757

f. Riwayat Pendidikan Formal

No Jenjang Nama Institusi Tahun Lulus
1 SD SDN 03 Tempursari 2001
2 SLTP SLTP N 1 Tempursari 2004
3 SLTA SMA PGRI 1 Lumajang

2007

4 S1 Pendidikan Biologi UMM
  1. Pengalaman Penelitian
No Judul Tahun
1

2

Identifikasi Snack Aromanis yang Aman Bagi Anak di SDN Karang ploso – Malang (TIM-PKMI, DIKTI tahun 2007).

Kegiatan Ekspedisi Ilmiah Konservasi Penyu Laut di Pesisir Kabupaten Pacitan. Oleh Tim dari Tim Ekspedisi Biokonservasi (TEB) – LSO Mahasiswa Konservasi di FKIP UMM, 2007

2008

2008

2009

Anggota Kelompok

Miftakhul Jannah

07330042

Dosen Pembimbing

a. Nama Lengkap dan Gelar               : Drs.Nur Widodo, M.Kes

b. NIP                                                 : 131.953.393

c. Alamat Rumah                                : Jl.  Oro-oro Dowo  Kota Batu

d. Telp/HP                                           : 081334017328

Dosen Pendamping

Drs. Nur Widodo, M.Kes

NIP. 131.953.393

04/16/2010 Posted by | Contoh PKM | 4 Komentar

PEMANFAATAN DAUN JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) SEBAGAI LARVASIDA UNTUK PEMBERANTASAN NYAMUK Aedes aegepty

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhagic Fever (DHF) merupakan penyakit dengan angka kejadian yang cenderung meningkat di daerah tropis dan sub tropis. Demam Berdarah Dengue (DBD) ditemukan pertama kali di Indonesia pada tahun 1975 di Makasar dan pada tahun 1980 DHF telah dilaporkan telah tersebar secara meluas serta melanda di seluruh propinsi Indonesia. Dalam Temporaktif (2004) pada tahun 1998 jumlah penderita DBD mencapai 71.776 orang dengan kematian 2.441 jiwa (CFR = 3,4 persen). Sementara itu, jumlah korban penderita DBD 1999 sebanyak 21.134 orang, 2000 (33.443), 2001 (45.904), 2002 (40.377) dan 2003 (50.131).

Dalam Pikiran Rakyat (2007) dipaparkan tindakan pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue yang banyak dilakukan adalah program 3M yaitu menutup, menguras dan menimbun. Selain itu dilakukan pula tindakan seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menggunakan repellent, menabur larvasida, memasang obat nyamuk dan memeriksa jentik secara berkala serta melakukan pengasapan (fogging) .

Tetapi, metode yang paling efektif untuk mengendalikan nyamuk vektor demam berdarah dengan cara membunuh jentik-jentiknya (Nurhasanah, 2001). Cara alternatif yang aman yaitu dengan menggunakan bahan alami dari tumbuhan (pestisida nabati). Oleh karena terbuat dari bahan alami maka jenis pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang.

Lebih dari 2400 jenis tumbuhan yang termasuk ke dalam 255 famili dilaporkan mengandung bahan pestisida, salah satunya adalah jeruk nipis (Citrus aurantifolia. Jeruk nipis mengandung bahan beracun yang disebut limonoida (Kardinan,2001). Senyawa dengan golongan terpenoid yaitu limonoida yang berfungsi sebagai larvasida (Ferguson, 2002).

Kelebihan pestisida nabati dibandingkan dengan pestisida sintetik pada senyawa yang terkandung didalamnya. Dalam suatu ekstrak tumbuhan, selain beberapa senyawa aktif utama biasanya juga banyak terdapat senyawa lain yang kurang aktif, tetapi keberadaannya dapat meningkatkan aktivitas ekstrak secara keseluruhan (sinergi). Hal ini memungkinkan serangga tidak mudah menjadi resisten, karena kemampuan serangga membentuk system pertahanan terhadap beberapa senyawa yang berbeda secara bersamaan lebih kecil daripada senyawa insektisida tunggal.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut :

a.  Dapatkah ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti L.?

b.  Bagaimanakah mekanisme ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti L.?

c. Bagaimanakah cara penggunaan ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dalam meningkatkan mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti L.?

1.3  Uraian Singkat Gagasan Kreatif

Penyakit demam berdarah di Indonesia cenderung meningkat setiap tahunnya hal ini dikarenakan kurang efektifnya pengendalian untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti. Cara alternatif yang aman adalah menggunakan insektisida alami yang dapat membunuh jentik-jentiknya. Salah satunya dengan daun jeruk nipis yang memiliki kandungan Limonoida yang merupakan senyawa yang mempunyai efek larvasida paling potensial. Karena terbuat dari bahan alami larvasida ini mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang. Selain itu, daun jeruk nipis sering dijumpai dalam masyarakat sebagai bumbu dapur dan harganyapun relatif lebih ekonomis.

1.4 Tujuan

Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui kemampuan ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti L

b.   Untuk mengetahui mekanisme ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti L.

c.  Uintuk mengetahui cara penggunaan ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dalam meningkatkan mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti L.

1.5 Manfaat

a.  Secara teoritis karya tulis ini memberikan informasi ilmiah kepada para akademisi tentang pengaruh dan mekanisme ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap mortalitas Aedes aegypti L.

b. Secara aplikatif karya tulis ini memberikan sumbangan informasi cara alternatif kepada masyarakat pada umumnya dan Departemen Kesehatan pada khususnya bahwa ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dapat dimanfaatkan sebagai larvasida nabati yang ramah lingkungan untuk memberantas larva nyamuk Aedes aegypti L.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1   Tinjauan tentang nyamuk Aedes aegypty L.

Nyamuk Aedes aegypti L. berukuran lebih kecil daripada nyamuk Culex guinguef asciatus, dengan warna dasar hitam belang-belang pada bagian tubuh, kaki dan ada gambaran putih pada bagian dorsal toraksnya. Nyamuk tersebut dapat mengandung virus dengue bila menghisap darah seorang penderita DBD, virus ini kemudian masuk ke dalam intestinum dan masuk kedalam hemoecoelum bereplikasi dan akhirnya masuk ke kelenjar air liur, dari sini sudah siap untuk ditularkan lagi. Aedes aegypti L. merupakan vektor nyamuk yang paling efisien untuk arbovirus karena nyamuk ini sangat antrofilik dan hidup dekat manusia dan sering hidup di dalam rumah.

Sayap                                                                                                  Antena

Sersus                                                                                                  Kaki Depan

Kaki Belakang

Gambar 2.1  Morfologi nyamuk Aedes aegypti L

Gandahusada,2000

Larva atau jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti L. berbentuk seperti cacing, aktif bergerak dengan gerakan naik ke permukaan dan turun ke dasar secara berulang-ulang. Larva ini memakan mikroba, oleh karena itu larva Aedes aegypti L.disebut sebagai pemakan di dasar (ground feeder). Pada saat larva mengambil oksigen dari udara (istirahat), posisi tubuh tampak menggantung pada permukaan air. Stadium larva umumnya berlangsung 4-9 hari untuk kemudian menjadi pupa

Nyamuk mengalami metamorforsis sempurna yaitu melalui empat tahap stadium : Telur-larva-pupa-dewasa. Dalam daur hidup vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) dikenal dua alam/lingkungan kehidupan yaitu air (pra dewasa) dan di luar air (dewasa). Nyamuk Aedes aegypti menyukai tempat-tempat penampungan yang berair jernih dan terlindung dari sinar matahari langsung sebagai tempat peridukannya. Larva Aedes aegypti dapat hidup pada air dengan pH antara 5,88.6 (Hidayat,1997).

Suhu mempengaruhi waktu untuk perubahan telur menjadi larva. Larva melakukan pengelupasan kulit (moolting) setelah 2-4 hari mereka. Pengelupasan kulit terjadi pada setiap pergantian stadium. Larva mengalami 4 stadium. Pertumbuhan larva rata-rata berlangsung 10 hari atau lebih untuk kemudian menjadi pupa (Gandahusada,2000).

2.2    Tinjauan tentang Daun Jeruk

Komponen yang terdapat di dalam daun jeruk nipis setelah diambil minyak yang terkandung di dalamnya adalah acetaldehyde, α penen, sabinen, myrcene, octano, talhinen, limonoida, T trans-2 hex-1 ol, terpinen, trans ocimen, cymeno, terpinolene, cis-2 pent-1 ol. Senyawa organik yang terdapat di dalamnya antara lain vitamin, asam amino, protein, steroid, alkaloid, senyawa larut lemak, senyawa tak larut lemak. Senyawa yang khas adalah senyawa golongan terpenoid yaitu senyawa limonoida. Senyawa ini yang berfungsi sebagai larvasida (Ferguson,2002).

Tabel 2.1 Senyawa kimia dalam jeruk  nipis

No. Chemicals ppm
1. α Linolenic acid 190
2. α pinene 80
3. α terpinene 80
4. α terpineol 30
5. Ascorbic-acid 291
6. β pinene 90
7. β terpineol 70
8. Boneol 60
9. Calcium 90
10. Carbohydrates 59000
11. Citric acid 800
12. FAT 2000
13. Fiber 3000
14. δ Selinene 20
No. Chemicals ppm
15. limonene 4700
16. Linolic acid 360
17. Lysine 140
18. Malic acid 2000
19. Niacin 1
20. Octanoic acid 2
21. Oleic acid 160
22. Palmitic acid 10
23. Potassium 820
24. Protein 4000
25. Sodium 10
26. Stearic acid 10
27. Sugars 17400
28. Water 877000

Phytocemical and ethnobotanical data base (2005) dalam Andrianto (2006)

2.3   Senyawa Limonoida .

Senyawa limonoida terdapat dalam 2 bentuk yaitu limonoida aglicones (LA) dan limonoida glucosides (LG). Limonoida aglicones (LA) menyebabkan rasa pahit pada jeruk dan tidak larut dalam air. Sedangkan limonoida glucosoides tidak menyebabkan rasa pahit pada jeruk dan dapat larut dalam air. Limonoida aglicones selama proses maturasi (pemasakan) dari buah proses ini disebut natural debithoring process (Jiaxing,2001).

CH2

CH3

H2C

H

Gambar 2.2  Struktur kimia Limonoida

(Gunawan dan Mulyani,2004)

Limonoida aglycones dibagi lagi menjadi 4 golongan yaitu limonin, colamin, ichangensin dan 7a-acetate limonoida. Diantara empat golongan tersebut yang paling dominan dan menyebabkan rasa pahit pada jeruk dan mempunyai efek larvasida paling potensial adalah limonoida. Kandungan senyawa limonoida paling tinggi pada tanaman jeruk didapatkan pada bagian biji yaitu 927 μg/100 mg, pada bagian daun tanaman adalah 36,6 μg/100mg, pada bagian kulit 2,5 μg/100 mg, dan yang paling sedikit pada buah yaitu hanya 0,7 μg/100mg.

BAB III

METODE PENULISAN

3.1 Tipe Pendekatan

Dalam penulisan karya tulis ini, penulis menggunakan pendekatan sosial masyarakat mengenai cara alternatif untuk memberantas nyamuk Aedes aegepty yang mengakibatkan DBD (Demam Berdarah Dengue).

3.2    Analisis Data

Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998:25), analisa deskriptif kualitatif  adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.

Untuk menganalisa data yang berupa pesan, maka digunakan cara analisis isi (content analysis). Analisa ini menghubungkan penemuan berupa kriteria atau teori. Analisis yang dilakukan pada analisis isi karya tulis ini menggunakan interactive model (Miles dan Huberman, 1994). Model ini terdiri dari empat komponen yang saling  berkaitan, yaitu (1) Pengumpulan data, (2) Penyederhanaan atau reduksi data, (3) Penyajian data, dan (4) Penarikan data pengujian atau verifikasi kesimpulan.

1.      Pengumpulan Data

Data yang digunakan adalah data sekunder. Data kuantitatif dari peningkatan jumlah penderita DBD, cara-cara pemberantasan nyamuk Aedes aegypti yang ada dalam masyarakat, data mengenai kandungan daun jeruk nipis, serta data mengenai biologi, ekologi, daur hidup, dan parasitologi nyamuk Aedes aegypti dimana data diperoleh dari dokumentasi yang diambil dari berbagai sumber, berupa buku, jurnal penelitian, koran, majalah, maupun artikel di internet yang berkaitan dengan masalah yang akan dikaji

2.      Reduksi Data

Reduksi data dalam karya tulis ini dilakukan dalam bentuk pemilihan, pemusatan pada penyederhanaan data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis atau intisari literatur. Reduksi data dilakukan secara terus-menerus selama penulisan karya tulis ini berlangsung sampai karya tulis akhir lengkap tersusun. Reduksi data digunakan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.

3.      Penyajian Data

Sekumpulan informasi disusun sehingga memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan melihat penyajian-penyajian data, penulis dapat memahami apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

4.      Menarik Kesimpulan dan Verifikasi

Penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penulisan berlangsung. Verifikasi adalah tinjauan ulang pada data-data yang ada.

Reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi merupakan suatu jalinan yang saling terkait antara yang satu dengan yang lain. Keterkaitan ketiga komponen-komponen analisis data menurut Miles dan Huberman dapat di lihat pada gambar di bawah ini:

BAB IV

ANALISIS-SINTESIS

4.1 Analisis Pemberantasan Aedes aegepty sebagai Vektor Penyakit

Demam Berdarah

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh Virus Dengue famili Flaviviridae, dengan genusnya adalah flavivirus yang ditularkan ke tubuh manusia melalui nyamuk Aedes aegypti L yang terinfeksi. Demam berdarah adalah suatu penyakit menular yang ditandai demam mendadak, perdarahan baik di kulit maupun di bagian tubuh lainnya serta dapat menimbulkan shock (rejatan) dan kematian.

Penyebab penyakit demam berdarah ialah virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Ae.aegypti dan Ae.albopictus (Chahaya,2003). Virus demam berdarah hanya mengandung nukleoprotein yang dibungkus semacam amplop (envelope) disebut capsid selalu memerlukan kehidupan lain atau yang sering disebut inang untuk melanjutkan keberadaannya. Dalam hal ini nyamuk Aedes aegypti sebagai inang, karena hanya dalam tubuh nyamuk Aedes virus dapat bereplikasi.

Pencegahan wabah DHF dilakukan karena tidak adanya obat antiviral spesifik untuk virus dengue, dan belum adanya vaksin anti dengue yang efektif dan komersial, pemberantasan nyamuk vektornya masih menjadi tumpuan utama dalam pencegahan dan pengendalian. Pengendalian vektor dengan beberapa cara, antara lain adalah :

a. Kimia, dengan menggunakan insektisida pembasmi larva (larvasida)..

b. Biologi, misalnya penebar ikan pemakan jentik.

c. Fisik, dikenal dengan kegiatan 3 M (Menguras, Menutup, Mengubur).

Tetapi, metode yang paling efektif untuk mengendalikan nyamuk vektor demam berdarah dengan cara membunuh jentik-jentiknya (Nurhasanah, 2001). Cara alternatif yang aman yaitu dengan menggunakan bahan alami dari tumbuhan (pestisida nabati). Oleh karena terbuat dari bahan alami maka jenis pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang.

4.2 Ekstrak Daun Jeruk Nipis sebagai Larvasida Alami

Senyawa limonoid merupakan teranoriterpen yang terdapat dalam daun jeruk nipis (Robinson,1994) yang berpotensi sebagai antifeedant terhadap serangga, zat pengatur tumbuh dan zat toksik pada kutu beras, larvasida, anti mikroba, penolak serangga (repellent) dan penghambat reproduksi (Jiaxing,2001). Senyawa limonoida merupakan analog hormon juvenille pada serangga yang berfungsi sebagai pengatur pertumbuhan kutikula larva (Ruberto,2002).

Hal ini karena semakin pekat konsentrasi larutan maka semakin banyak zat yang terkandung dalam ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dalam larutan, yang berarti semakin banyak pula racun yang dikonsumsi larva nyamuk Aedes aegypti, sehingga mortalitas larva Aedes aegypti juga semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan Prijono (1994) dalam Nurhayati (2005) semakin pekat konsentrasi larutan berarti makin banyak kandungan bahan aktif yang dapat mengganggu proses metabolisme. Begitu pula pada kecepatan mortalitas larva Aedes aegypti L. dimana kepekatan konsentrasi larutan juga sangat mempengaruhi kecepatan mortalitas. Ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia(christm.) swingle.) pada konsentrasi 100 ppm adalah yang paling efektif karena dapat menyebabkan mortalitas tertinggi pada larva nyamuk Aedes aegypti L. (Utomo, 2008).

Cara kerja (metode of action) insektisida nabati dalam membunuh atau mengganggu pertumbuhan hama sasaran adalah: (1).mengganggu/mencegah perkembangan telur, larva dan pupa, (2).mengganggu/mencegah aktifitas pergantian kulit dari larva (3) mengganggu proses komunikasi seksual dan kawin pada serangga (4). Meracun larva dan serangga dewasa imago, (5). Mengganggu/mencegah makan serangga, (6) menghambat proses metamorfosis pada berbagai tahap, (7) menolak serangga larva dan dewasa, dan (8) menghambat pertumbuhan penyakit. (Anonymous dalam Saraswati (2004). Cara masuk insektisida ke dalam tubuh serangga dengan berbagai cara, diantaranya sebagai racun kontak, yang dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau dinding tubuh serangga, racun perut atau mulut, masuk melalui alat pencernaan serangga dan yang terakhir dengan fumigant, yang merupakan racun yang masuk melalui pernafasan serangga. Dan limonoid bersifat sebagai racun (Kardinan,2001),

Menurut Untung (1993), insektisida dapat masuk ke dalam tubuh serangga melalui berbagai cara antara lain: sebagai racun perut (stomach poison) yang masuk ke dalam tubuh serangga melalui alat pencernaan serangga, racun kontak (contact poisoining) yang masuk melalui kulit atau dinding tubuh, dan yang terakhir fumigant atau pernafasan yang masuk ke dalam tubuh serangga melalui sistem pernafasan. Banyak senyawa yang merusak sistem saraf dimana berperan menurunkan enzim asetilkolineterase. Enzim ini bertugas menghantarkan pesan atau impuls dari saraf otot melalui sinapse.

Sebagai racun perut limonoid dapat masuk ke dalam tubuh larva nyamuk Aedes aegypti L. masuk ke pencernaan melalui rendaman konsentrasi ekstrak yang termakan. Insektisida akan masuk ke organ pencernaan serangga dan diserap oleh dinding usus kemudian beredar bersama darah yang akan mengganggu metabolisme tubuh nyamuk sehingga akan kekurangan energi untuk aktivitas hidupnya yang akan mengakibatkan nyamuk itu kejang dan akhirnya mati.

Limonoid adalah salah satu jenis senyawa yang bersifat racun, Limonoid dinyatakan sebagai modifikasi tripenes, yang mempunyai 4,4,8 trimethyl-17 furanyl steroid. Susunan sub grup dan struktur ikatan itu mempengaruhi karakteristik sifat dasar yang dibentuk selama pertumbuhan pada produk tanaman yang menghasilkannya. Sifat dasar limonoid mencakup: kegunaannya sebagai insektisida, regulasi pertumbuhan insek, insek antifeedant, dan pengaruh medis terhadap binatang dan manusia seperti antibakteri, viral, dan antifungi (Anonymous,2007). Berpotensi sebagai antifeedant terhadap serangga, zat pengatur tumbuh dan zat toksik pada kutu beras, larvasida, anti mikroba, penolak serangga (repellent) dan penghambat reproduksi (Jiaxing,2001). Senyawa limonoida merupakan analog hormon juvenille pada serangga yang berfungsi sebagai pengatur pertumbuhan kutikula larva (Ruberto,2002).

Secara umum mekanisme kerja limonoid dapat dijelaskan dalam gambar berikut:                                   Aedes aegypti L

Upaya-upaya yang dilakukan

Pengobatan                                                          Pencegahan

- Program 3 M

Pemberian insektisida
Fogging   (pengasapan)

- Memelihara ikan pemakan jentik

- Memasang kasa

- Menggunakan repellent

Bahan alami                         Bahan buatan        Kerugian

- Nikotin (tembakau)      – Abate                   – Resistensi pada populasi nyamuk

- Rotenon (Umbi adung)                                – Hanya membasmi nyamuk pada daerah tertentu saja

- Limonoida (jeruk nipis)                               – Tidak bisa membunuh larva

Kandungan ekstrak daun jeruk nipis

Limonoida

masuk

Sebagai Racun perut            pori-pori permukaan tubuh larva nyamuk

Saluran pencernaan                                Analog hormon juvenille

Menembus dinding usus                                 juvenille hormon

Peredaran darah                                     pergantian kulit

Metabolisme tubuh larva

Kekurangan energi untuk

aktivitas hidupnya

Kejang (konvulasi)

Larva mati

Menurut Sastrodiharjo (1984) saraf pusat pada larva dari sepasang rantai saraf yang terdapat di sepanjang tubuh bagian ventral. Pada tiap segmen terjadi suatu penggumpalan saraf yang disebut ganglion. Pergantian kulit disebabkan karena sejumlah ekdison tertentu. Titer hormon juwana (H.J) menetukan jenis stadium yang akan dialami oleh suatu serangga. Kalau titer H.J tinggi pada waktu ekdison dikeluarkan, maka stadium yang akan ditempuh masih tetap larva. Pupa akan terjadi bila titer H.J rendah dan titer H.J sangat rendah terjadilah imago. Selain mempengaruhi proses pergantian kulit pada larva, limonoid yang menyebar ke jaringan saraf akan mempengaruhi fungsi-fungsi saraf yang lain dan menyebabkan larva kejang yang akan mengakibatkan terjadinya aktifitas mendadak pada saraf pusat. Selain itu juga limonoid dapat masuk ke dalam tubuh larva Aedes aegypti melalui kulit atau dinding tubuh dengan cara osmosis, karena kulit atau dinding tubuh larva bersifat permeable terhadap senyawa yang dilewati, kemudian limonoid akan masuk ke sel-sel epidermis yang selalu mengalami pembelahan dalam proses pergantian kulit, sehingga sel-sel epidermis mengalami kelumpuhan (paralyisis) dan akhirnya mati.

Pernyataan Taruminkeng dalam Saraswati (1999) yang menyatakan langkah pertama dalam respon fisik keracunan adalah respon fisik dan tingkah laku hewan uji. Pada dosis median, secara khas keracunan racun saraf menimbulkan empat tahap simpton, yaitu eksitasi, kejang (konvulsi), kelumpuhan (paralisis), dan kematian. Tahap kegelisahan (anxiety), pada tahap ini serangga menunjukkan perilaku ”membersihkan badan” yaitu tampak bahwa serangga membesihkan antena atau bagian tubuh lainnya dengan mulut. Larva yang keracunan insektisida menggulung badanya dan melakukan gerakan teleskopik yaitu gerakan turun naik dari permukaan air dengan cepat. Mortalitas dalam larva nyamuk Aedes aegypti mempunyai kriteria yaitu (1) gerak larva nyamuk Aedes aegypti tidak aktif (2) tubuh larva nyamuk Aedes aegypti kaku (3) tidak bergerak apabila di sentuh dengan spatula/lidi (4) tubuh larva nyamuk Aedes aegypti mengapung.

Penggunaan toksin yang berasal dari tanaman dapat digunakan untuk pemberantasan larva nyamuk Aedes aegypti, karena dalam suatu ekstrak tumbuhan selain beberapa senyawa aktif utama biasanya juga banyak terdapat senyawa lain yang kurang efektif, tapi keberadaannya dapat meningkatkan aktivitas ekstrak secara keseluruhan (sinergi), hal ini memungkinkan serangga tidak mudah menjadi resisten.

Larvasida dipergunakan dalam bentuk ekstrak yang diencerkan. Proses ekstraksi daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) itu sendiri dilakukan dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Prosesnya adalah Daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia.) seberat ± 300gr dicuci sampai bersih kemudian dikeringanginkan. Setelah kering daun diblender/ digiling dengan penggilingan tepung sehingga didapat serbuk kering. Selanjutnya serbuk bahan dimaserasi dengan etanol 96%, maserat diambil setiap 24 jam atau setiap hari dan maserasi dihentikan apabila larutan memberikan maserat yang agak jernih. Maserat yang sudah didapatkan selanjutnya diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator pada suhu 45oC sampai kental. Ekstrak yang sudah didapatkan kemudian dipekatkan dengan menggunakan water steam dan setelah selesai ”crude extract” disimpan di dalam lemari es dan siap digunakan. Cara penggunaannya dengan memasukan ekstrak daun jeruk nipis dengan konsentrasi 100 ppm (100 mg ekstrak daun jeruk nipis per 1 liter air) ke dalam tempat penampungan air bersih yang memungkinkan larva nyamuk Aedes aegypti berkembang.

BAB V

PENUTUP

5.1   Kesimpulan

Dari hasil analisis-sintesis di atas, dapat disipulkan sebagai berikut :

a. Ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) mampu meningkatkan mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti L karena kandungan Limonoida yang merupaka racun larvasida.

b.  Ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) sebagai racun perut limonoid masuk ke pencernaan tubuh Aedes Aegepty  dan diserap oleh dinding usus kemudian beredar bersama darah yang akan mengganggu metabolisme tubuh nyamuk sehingga akan kekurangan energi untuk aktivitas hidupnya yang akan mengakibatkan nyamuk itu kejang dan akhirnya mati.

c. Cara penggunaan larvasida ini dengan memasukan ekstrak daun jeruk nipis dengan konsentrasi 100 ppm ke dalam tempat penampungan air bersih yang memungkinkan larva nyamuk Aedes aegypti berkembang.

5.2   Saran

Beberapa saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut :

a. Karya tulis ini dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai repellent pada nyamuk dewasa.

b. Perlu diinformasikan kepada masyarakat pada umumnya, dan Dinas Kesehatan pada khususnya bahwa ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia(Christm.) Swingle.) dapat digunakan sebagai alternatif larvasida nabati untuk membunuh larva nyamuk Aedes aegypti L. pada konsentrasi 100 ppm.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous.2007. Basmi Lalat dengan Jeruk Manis.Pikiran Rakyat. Bandung. edisi cetak. Kamis, 16 Februari 2006. .

Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta

Chahaya, Indra.2003.Pemberantasan Vektor Demam Berdarah di Indonesia. Bagian Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Gandahusada.2000. Parasitologi Kedokteran. Balai Penerbitan FK UI.Jakarta.

Gunawan, Didik dan Sri Mulyani.2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid 1.Jakarta : Penebar Swadaya.

Jiaxing,Li.2001.Abrief Introduction to citrus Limonoid,TAMU College,TAMUK citrus Centre.

Kardinan,A.2001.Pestisida Nabati Ramuan dan Aplikasi.PT.Penebar Swadaya. Jakarta.

Miles, Matthew B dan Hubberman, A. Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta : Universitas Indonesia Press

Robinson,Trevor.1995.Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi.Kosasih Padmawinata .Bandung: ITB Bandung.

Sastrodiharjo.1984.Pengantar Entomologi Terapan.Penerbit ITB Bandung.

Untung.1993.Konsep Pengendalian Hama Terpadu.Andi ofset.Yogyakarta.

Andrianto, Arief .2006.Uji Efektifitas Sari Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Dalam Menurunkan Suhu Tubuh Tikus Putih (Rattus norvegicus) Yang Diinduksi Dengan Vaksin Polio. Skripsi.UMM: Malang.

Hidayat,Choirul; Ludfi Santoso dan Hadi Suwarsono.Hasil Penelitian Pengaruh pH Air Perindukan terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Aedes aegypti Pra Dewasa.Cermin Dunia Kedokteran.No.119,1997.

Nurhasanah,S.2001.Efek Mematikan Ekstrak Biji Sirsak (Annona muricata) Terhadap Larva Aedes aegypti.FK Universitas Sebelas Maret.

Nurhayati,Nunung.2005.Pengaruh Jenis Pelarut dan Konsentrasi Ekstrak Umbi Gadung (Dioscorea hispida Dennst) Terhadap Mortalitas Larva Aedes aegypti L. Skripsi.UMM: Malang. .

Saraswati.2004.Pengaruh Konsentrasi Filtrat Biji Bengkuang (Pachyrrhizus erosus L) Terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti L. Skripsi. UMM.Malang.

Anonymous.2004.http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2004/03/26/nrs,20040326-02,id.html diakses 3/3/09

Anonymous,2007. http://ms.wikipedia.org/wiki/aedes. diakses tanggal 11/08/2007

Anonymous.2007.http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2005/12/3/op2.HTM. diakses 9/12/07

Anonymous.2007.http://images.google.co.id.diakses tanggal 9/12/07

Ferguson.2002.Medicinal Use of Citrus Scienses departmenr.Cooperative extension services Institute of Food Agricultural Science, University of Florida, Gainesville (on line),http://edis.ifas.ufl.edu/body Chi 96. diakses tanggal 11/08/2007

Pikiran Rakyat.2007.Cegah Demam Berdarah dan Chikungunya” ,http://www. pikiran rakyat.com. diakses tanggal 11/08/2007.

Ruberto,G.2002. Citrus Limonoids and Their Semisynthetic derivatives as antifeedant.http://www.ncbi.nlm.nih. Department of Health&Human Services. Diakses tanggal 13/03/2007

Lampiran

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  1. Penulis 1
    1. Nama Lengkap                        :  Dwi Utariningsih
    2. Tempat, Tanggal Lahir            :  Malang, 25 Maret 1988
    3. Alamat                                     : Jl. Simpang Mega Mendung I/2 Malang
    4. No. telp/handphone                :  085649896567
    5. Riwayat Pendidikan               :

SDN Pisang Candi 2 Malang     Tahun 1994 – 2000

SLTPN 1 Malang                       Tahun 2000 – 2003

SMAN 5 Malang                       Tahun 2003 – 2006

PT. UMM                                   Tahun 2006 – Sekarang

f.    Pengalaman Organisasi           :

-  Sekbid Jurnalistik Himabio UMM

-  Redaksi Pelaksana Majalah SPORA Jurusan Biologi UMM

-  Fungsionaris FKIMB UMM

-  Fungsionaris UKM FDI UMM

g.   Karya Ilmiah yang Pernah Ditulis       :

- PKMI Dekok Rambut Jagung Efektif dalam Menurunkan Kadar Kolesterol pada Tikus Putih (Rattus norvegicus).

-  PKMI Daun Ubi Jalar (Ipomoea batatas) dan Daun Salam (Syzygium polianthum) Sebagai Obat Alternatif  Penderita Diabetes Mellitus

-   PKMI Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya) Meningkatkan Mortalitas Cacing Hati pada Sapi (Fasciola gigantica) Secara In Vitro

-   PKMI Bunga Sepatu (Hibiscus rosasinensis) Alternatif Obat Kontrasepsi Pria

-   PKMK “ROSELLA-C” Sirup Kelopak Bunga Rosella Bervitamin C

-   PKMK “Chiresh” Chips Ares Yahuud Rasanya

  1. Penulis 2
    1. Nama Lengkap                        :  Dian Purwanti
    2. Tempat, Tanggal Lahir            :  Pasuruan, 29 Mei 1988
      1. Alamat                                     : Dsn Krawan Ds Kedawung Wetan RT 04/RW IV Kecamatan Grati Pasuruan
    3. No. telp/handphone                :  085646639443
    4. Riwayat Pendidikan               :

SDN 3 Kedawung Wetan          Tahun 1994 – 2000

SMPN 1 GratiTunon                  Tahun 2000 – 2003

SMAN 4 Pasuruan                     Tahun 2003 – 2006

PT. UMM                                      Tahun 2006 – Sekarang

f.    Pengalaman Organisasi           :

-  Fungsionaris Majalah SPORA Jurusan Biologi UMM

-  Fungsionaris FKIMB UMM

-  Fungsionaris UKM FDI UMM

g.   Karya Ilmiah yang Pernah Ditulis       :

- PKMI Pengaruh Dosis Dekok Daun Beluntas (Plucea indica. L) terhadap       Jumlah Sel Spermatozoa Abnormal Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus)

- PKMM Aplikasi NLP (Neuro Linguistik Programing) Meningkatkan Responsibilitas Anak Usia Dini TK Al-Masyitoh Tegal Gondo Karangploso  Malang.

04/16/2010 Posted by | Contoh PKM | 15 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 936 pengikut lainnya.