BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

PENINGKATAN POTENSIAL KINERJA ORGANISASI KEPEMUDAAN BERORIENTASI ORGANISASI PELAYANAN KEMANUSIAAN PENYELENGGARA USAHA KESEJAHTERAAN SOSIAL DALAM PENDAMPINGAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN STABILITAS KETAHANAN PANGAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi merupakan faktor penting dalam usaha pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya guna meningkatkan daya saing bangsa. Namun, usaha ini terhambat sejalan dengan meluasnya krisis pangan yang berakibat pada munculnya kasus kurang gizi dan gizi buruk di berbagai daerah.

Masalah kurang gizi dan gizi buruk yang terjadi pada saat waktu dan daerah tertentu akan menimbulkan masalah pembangunan bangsa di masa yang akan datang, karena terjadinya generation loss (Budiyanto, 2002).

Pada tahun 2004, kasus gizi kurang dan gizi buruk sebanyak 5,1 juta, kemudian pada tahun 2005 turun menjadi 4,42 juta, tahun 2006 turun menjadi 4,2 juta ( 944.246 diantaranya kasus gizi buruk ) dan tahun 2007 turun lagi menjadi 4,1 juta ( 755.397 diantaranya kasus gizi buruk ). Menurut data Dinas Kesehatan di Surabaya selama tahun 2007, dari total 11.401 bayi yang diperiksa, terdapat 10.071 bayi yang mengalami kekurangan energi protein (Anonymous, 2008).

Masalah krisis pangan yang berakibat pada munculya kasus kurang gizi dan gizi buruk ini dipicu oleh keterbatasan kemampuan daya beli masyarakat terhadap bahan pangan seiring dengan melonjaknya harga  berbagai macam kebutuhan pokok. Faktor kemiskinan memang sering menimbulkan kasus gizi buruk sebab tekanan ekonomi membuat kuantitas dan kualitas ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga menjadi rendah (Una, 2008).

Untuk mengatasi masalah kurang gizi dan gizi buruk, perlu dilakukan penjagaan terhadap stabilitas ketahanan pangan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 tentang pangan dinyatakan bahwa Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutu, aman, merata, dan terjangkau.

Hal yang dilakukan pemerintah dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan diantaranya dengan melakukan SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi), mengaktifkan kembali peran Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dalam mengontrol berat badan balita, karena orang yang aktif  adalah ibu balita, bukan petugas Posyandu setempat. Selain itu, pemerintah juga melakukan operasi pasar, program Raskin serta impor dari luar negeri.

Namun, upaya yang dilakukan pemerintah masih kurang optimal. Hal ini dapat diketahui dengan adanya kasus-kasus kurang gizi dan gizi buruk di sebagian daerah. Dapat diketahui pula bahwa di sekitar penderita kasus kurang gizi dan gizi buruk terdapat masyarakat yang kecukupan gizi (Budiyanto, 2002).

Untuk mengatasi masalah kurang gizi dan gizi buruk juga diperlukan peran serta masyarakat sekitar yang merupakan wujud dari keshalehan sosial dalam kehidupan bermasyarakat untuk menjaga kestabilan ketahanan pangan. Hal ini sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR Muslim).

Peran serta masyarakat tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai cara. Salah satunya dengan meningkatkan kinerja organisasi kepemudaan sebagai lembaga non formal di masyarakat yang selama ini kurang termanfaatkan. Padahal tanpa disadari, organisasi kepemudaan yang terdapat di masyarakat adalah lembaga yang bersinggungan langsung dengan masyarakat sekitar dan memiliki peran yang sangat strategis bagi tercapainya harapan-harapan di masyarakat.

Oleh kerena itu, berdasarkan permasalan di atas, maka kami membuat Proposal Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM-GT) dengan judul ‘’ Peningkatan Potensial Kinerja Organisasi Kepemudaan Berorientasi Organisasi Pelayanan Kemanusiaan Penyelenggara Usaha Kesejahteraan Sosial Dalam Pendampingan dan Pemberdayaan Masyarakat Sebagai Upaya Peningkatan Stabilitas Ketahanan Pangan ‘’.

1.2. Tujuan

Tujuan dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah :

  • Untuk mengetahui strategi yang dapat diterapkan dalam organisasi kepemudaan dalam menjaga dan menciptakan stabilitas ketahanan pangan.
  • Untuk mengetahui peran serta masyarakat dalam menjaga dan menciptakan stabilitas ketahanan pangan terutama dalam pemberdayaan oganisasi kepemudaan di masyarakat.

1.3. Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat memberikan solusi bagi individu, masyarakat dan pemerintah dalam upaya menjaga stabilitas ketahanan pangan bangsa, serta meningkatkan kepekaan sosial di masyarakat dalam menanggapi kasus-kasus rawan pangan terutama pada peran serta organisasi kepemudaan di masyarakat.

BAB II

TELAAH PUSTAKA

2.1. Konsep Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan merupakan salah satu isu strategis dalam konteks pembangunan negara sebagai negara berkembang, karena memiliki fungsi ganda yaitu: (a) salah satu sasaran utama pembangunan, dan (b) salah satu instrumen utama pembangunan ekonomi (Simatupang, 1999).

Konsep ketahanan pangan mengacu pada pengertian adanya kemampuan mengakses pangan secara cukup untuk mempertahankan kehidupan yang aktif dan sehat. Ketahanan pangan merupakan konsep yang multidimensi meliputi mata rantai sistem pangan dan gizi, mulai dari produksi, distribusi, konsumsi, dan status gizi. Secara ringkas ketahanan pangan sebenarnya hanya menyangkut tiga hal penting, yaitu ketersediaan, akses, dan konsumsi pangan (Khomsan, 2008).

Definisi Formal ketahanan pangan :

  1. World Food Conference 1974, UN 1975: Ketahanan Pangan adalah “ketersediaan pangan dunia yang cukup dalam segala waktu … untuk menjaga keberlanjutan konsumsi pangan … dan menyeimbangkan fluktuasi produksi dan harga”.
  2. FAO 1992: Ketahanan Pangan adalah “situasi di mana semua orang dalam segala waktu memiliki kecukupan jumlah atas pangan yang aman (safe) dan bergizi demi kehidupan yang sehat dan aktif.
  3. World Bank 1996: Ketahanan Pangan adalah: “akses oleh semua orang pada segala waktu atas pangan yang cukup untuk kehidupan yang sehat dan aktif.
  4. Indonesia – UU No.7/1996: Ketahanan Pangan adalah :”Kondisi di mana terjadinya kecukupan penyediaan pangan bagi rumah tangga yang diukur dari ketercukupan pangan dalam hal jumlah dan kualitas dan juga adanya jaminan atas keamanan (safety), distribusi yang merata dan kemampuan membeli” (Lassa, 2005).

2.2. Keadaan Masyarakat Indonesia

Kondisi ketiadaan akses terhadap komoditas pangan yang menyebabkan rawan pangan. Naik turunnya jumlah masyarakat yang tergolong rawan pangan biasanya mengikuti naik turunnya jumlah orang miskin di Indonesia. Masih banyaknya penduduk miskin yang rentan terhadap rawan pangan (diolah dari data BPS) yaitu tahun 2006 jumlah penduduk miskin mencapai 39,3 juta (17,75 %) dan penduduk yang sangat rawan pangan sekitar 10,04 juta (4,52 %), sedangkan di tahun 2007 jumlah penduduk miskin 37,17 juta (16,58 %) dan penduduk yang sangat rawan pangan sekitar 5,71 juta (2,55 %) (Anonymous, 2008).

Kondisi pangan lokal maupun nasional sedang terkena dampak perubahan iklim dan pemanasan global (global warming). Setelah terjadinya perubahan iklim dan global warming, kemandirian pangan pun menjadi isu global. Bahkan, petani di berbagai belahan dunia kini sedang menuntut adanya kemandirian pangan. Berbeda dengan konsep ketahanan pangan (food security), kini konsep kemandirian pangan (food sovereignty) lebih relevan untuk dikedepankan. Soalnya, paradigma kemandirian pangan bisa mengatasi berbagai kelemahan kebijakan ketahanan pangan yang selama ini lebih bersandar pada pemenuhan pangan secara modern melalui penerapan agrobisnis, perdagangan bebas dan privatisasi sumber-sumber produktif (Martaja, 2008).

Beberapa contoh kasus yang terjadi di Indonesia antara lain :

  1. Menurut Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Departemen Pertanian Tjuk Eko Haribasuki, Sebanyak 2,5 dari total penduduk Indonesia dalam kondisi rawan pangan. Artinya, ada sekitar 5 juta rakyat negara agraris ini yang makan kurang dari dua kali sehari (Anonymous, 2008).
  2. Daeng Basse (35 tahun), warga Makassar, meninggal dunia bersama bayi yang dikandungnya dan satu orang anaknya yang lain, Bahir (7 tahun) Jumat (29/2/2008) setelah tiga hari kelaparan (Sudarmawan, 2008).
  3. Sebanyak 17.835 balita di Kabupaten Ciamis diketahui masih kekurangan gizi. Rinciannya, ditemukan sebanyak 435 balita berstatus gizi buruk dan 17.400 balita lainnya gizi kurang. Sementara itu, balita berstatus gizi lebih mencapai 7.000 orang (Anonymous, 2008).

Program beras untuk rakyat miskin (raskin) ataupun minyak goreng murah dinilai tidak efektif dan tidak merata untuk menjangkau rakyat miskin. Lebih tepat kiranya kalau pemerintah berupaya meningkatkan daya beli masyarakat sehingga dapat menjangkau harga-harga sembilan bahan pokok (sembako) yang kian melambung.

Penilaian tersebut tentu bukan berdasarkan survei atau riset dengan tingkat kesalahan sekian persen,tetapi sekadar pernyataan rakyat kecil yang mulai bingung dengan naiknya harga pangan dan komoditas lain. Pemerintah sudah menyadari bahwa kehidupan rakyat kini semakin sulit. Namun, sepertinya belum tampak adanya langkah konkret untuk menghentikan laju kenaikan harga-harga. Ada yang mengibaratkan keadaan saat ini mirip dengan situasi tahun 1960-an.

2.3. Konsep Organisasi Kepemudaan Di Masyarakat dan Bertetangga

Organisasi kepemudaan adalah lembaga non formal yang tumbuh dan eksis dalam masyarakat antara lain ikatan remaja masjid, kelompok pemuda (karang taruna) dan sebagainya (Warastuti, 2006).

Bertetangga adalah bagian kehidupan manusia yang hampir tidak bisa ditolak. Sebab manusia memang tidak semata-mata makhluk individu, tapi juga merupakan makhluk sosial. Faktanya, seseorang memang tidak bisa hidup sendirian. Mereka satu sama lain harus selalu bermitra dalam mencapai kebaikan bersama (Perdana, 2007).

Menurut Imam Syafi’i, yang dimaksud dengan tetangga adalah 40 rumah di samping kiri, kanan, depan, dan belakang. Mau tidak mau, setiap hari kita berjumpa dengan mereka. Baik hanya sekadar melempar senyum, lambaian tangan, salam, atau malah ngobrol diantara pagar rumah. Islam sangat memperhatikan masalah adab-adab bertetangga.

BAB III

METODE PENULISAN

3.1  Sumber Data

Data dan fakta yang berhubungan untuk pembahasan tema ini berasal dan tahapan-tahapan pengumpulan data dengan pembacaan secara kritis terhadap ragam literatur (Library research) yang berhubungan dengan tema pembahasan.

Data yang ditampilkan dalam karya tulis ini dapat berupa angka atau pesan. Untuk angka, data yang dipakai adalah data dengan kriteria telah dipublikasikan kepada masyarakat,  melalui literatur yang digunakan berupa buku, surat kabar, buletin, maupun internet. Dengan demikian penulis mengelompakkan atau menyeleksi data dan informasi tersebut  berdasarkan kategori atau relevansi dan kemudian selanjutnya ke tahapan analisis dan pengambilan kesimpulan.

3.2 Analisis Data

Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. Analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.

Untuk menganalisa data yang berupa pesan maka digunakan cara analisis isi (content analysis). Analisis ini  menghubungkan penemuan berupa kriteria atau teori. Analisis yang dilakukan pada analisis isi karya tulis ini menggunakan interactive model. Model ini terdiri dari empat komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan atau reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan data pengujian atau verifikasi kesimpulan.

3.3 Reduksi Data

Reduksi data dalam karya tulis ini dilakukan dalam bentuk pemilihan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan literatur atau intisari literatur. Reduksi data berlangsung secara terus menerus selama penulisan karya tulis ini dibuat hingga sampai karya tulis ini berakhir lengkap tersusun. Reduksi data dilakukan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengkoordinasi data dengan cara sedemikian sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan dapat diverifikasi.

3.4 Penyajian Data

Sekumpulan informasi disusun sehingga memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan melihat penyajian-penyajian data penulis dapat memahami apa yang seharusnya terjadi dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

BAB IV

ANALISIS DAN SINTESIS

4.1 Swasembada Pangan Tidak Sama Dengan Ketahanan Pangan

Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Pada masa pemerintahan Orde Baru sempat mengganti orientasi kebijakan pangan dari swasembada beras ke swasembada pangan secara umum pada Repelita III dan Repelita IV. Hasilnya sempat dirasakan pada tahun 1984 di mana Indonesia mencapai level swasembada pangan.

Selama empat tahun kepemimpinan Megawati (2000-2004), kebijakan-kebijakan swasembada pangan terus dilakukan. Statement Megawati yang terkenal adalah “Tidak ada pilihan lain kecuali Swasembada”. Fakta menunjukan bahwa produksi pangan Indonesia tahun 2004 mampu memberikan hasil yang menggembirakan (lihat Food Outlook FAO April 2004), tapi disayangkan bahwa Indonesia tidak mampu mencapai ketahanan pangan yang memadai. Peristiwa kelaparan dan malnutrisi di berbagai tempat di Indonesia adalah bukti bahwa Indonesia tidak mampu mencapai ketahanan pangan yang memadai tersebut.

Sebagai perbandingan kita ambil contoh negara tetangga kita Malaysia. Malaysia mendefinisikan ulang ketahahanan pangannya sebagai swasembada 60% pangan nasional. Sisanya, 40% didapatkan dari import pangan. Malaysia kini memiliki tingkat ketahanan pangan yang kokoh. Ini memberikan ilustrasi yang jelas bahwa ketahanan pangan dan swasembada adalah dua hal yang berbeda.

Selama ini pemerintah telah berupaya dalam menciptakan ketahanan pangan dengan berbagai program. Beberapa yang kita kenal selama ini seperti, operasi pasar (OP), beras untuk rakyat miskin (RASKIN), Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan program lainnya. Hingga saat ini tidak banyak perubahan yang tampak dari hasil pelaksanaan program-program tersebut.

4.2  Ketahanan Pangan adalah Tanggung Jawab Bersama

Mengingat persoalan ketahanan pangan di Indonesia memiliki implikasi yang sangat luas maka perlu segera mendapatkan perhatian yang lebih serius. Terciptanya sistem ketahanan yang ideal memerlukan keterlibatan berbagai institusi untuk menjamin keamanan pangan, mulai dari hulu hingga ke hilir (from farm to fork), mulai dari proses pemanenan, distribusi, pengolahan, hingga di meja konsumen. Terciptanya kondisi ketahanan pangan yang ideal adalah tanggung jawab bersama.

Yang menjadi keprihatinan, sampai saat ini kita masih belum memiliki program ketahanan pangan nasional yang tertata dengan baik. Masih banyak yang harus dilakukan untuk menjawab berbagai persoalan seperti: keterbatasan kemampuan daya beli masyarakat terhadap bahan pangan seiring dengan melonjaknya harga  berbagai macam kebutuhan pokok, minimnya pemahaman masalah gizi dan akses pangan.

Sebagaimana yang telah diperintahkan Allah “Bertolong-tolonganlah kamu dalam berbuat kebaikan dan takwa dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah sangat berat siksa-Nya.” (QS Al-Maidah [5]: 2)

Bertetangga adalah bagian kehidupan manusia yang hampir tidak bisa ditolak. Sebab manusia memang tidak semata-mata makhluk individu, tapi juga merupakan makhluk sosial. Faktanya, seseorang memang tidak bisa hidup sendirian. Mereka satu sama lain harus selalu bermitra dalam mencapai kebaikan bersama. Masyarakat dapat menjadi agen awal dalam mencegah munculnya kasus-kasus yang berkaitan dengan pangan. Untuk itu diperlukan adanya sikap harmonis dalam bertetangga sehingga muncul kesadaran dan perhatian sesama anggota masyarakat.

Dengan diikutsertakannya masyarakat diharapkan ketahanan pangan dapat terwujud serta kasus-kasus kekurangan gizi di daerah dapat ditekan.

4.3 Peningkatan Potensial Kinerja Organisasi Kepemudaan Dalam Upaya Mewujudkan Stabilitas Ketahanan Pangan

Melalui bimbingan dan pendampingan dari organisasi kepemudaan diharapkan sumberdaya manusia potensial dari kalangan fakir miskin dapat diwujudkan menjadi SDM yang aktual dan potensi ekonomi desa/ kelurahan dapat menjadi sumber pendapatan asli daerah. Program Pendampingan oleh organisasi kepemudaan dimaksudkan untuk menjembatani pemerataan tenaga sosial (volunteer) yang bertugas mendampingi pemberdayaan fakir miskin diseluruh desa/ kelurahan di Indonesia, dalam rangka ikut memecahkan masalah kemiskinan di tanah air. Sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai adalah mendampingi dan memberdayakan kelompok-kelompok usaha masyarakat fakir miskin dalam peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan, sekaligus dalam kerangka menggerakkan potensi desa dalam mengatasi masalah-masalah krisis ekonomi, khususnya pangan.

Tugas utama organisasi kepemudaan dalam pendampingan pemberdayaan fakir miskin adalah membantu digerakkannya roda-roda ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat fakir miskin, dengan basis utama memanfaatkan sumberdaya alam dan sosial yang tersedia dilingkungan mereka masing-masing.

Organisasi kepemudaan adalah organisasi sosial wadah pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggungjawab sosial dari, oleh, dan untuk masyarakat terutama generasi muda di desa/ kelurahan atau komunitas adat sederajat yang bergerak dibidang usaha kesejahteraan sosial. Sebagai social institution yang menjadi sumberdaya sosial paling potensial di masyarakatnya, organisasi kepemudaan diorientasikan untuk menjadi organisasi pelayanan kemanusiaan penyelenggara usaha kesejahteraan sosial yang memiliki pendekatan dan standar pada pendekatan pekerjaan sosial yang memadai, karena organisasi kepemudaan adalah juga volunteer.

Organisasi kepemudaan tidak melupakan tanggung jawabnya bahwa kelak mereka harus produktif secara ekonomi untuk mendukung kehidupannya. Kegiatan ekonomi produktif yang dilaksanakan oleh organisasi kepemudaan umumnya bertujuan untuk membuka peluang kerja bagi anggotanya sehingga kegiatan tersebut menjadi cikal bakal terbukanya kesempatan bekerja yang lebih luas.

Organisasi kepemudaan yang tumbuh dan eksis dalam masyarakat antara lain ikatan remaja masjid, kelompok pemuda (karang taruna) dan sebagainya adalah wadah yang selama ini belum tersentuh secara maksimal dalam pemerdayaan anggota dan kinerjanya yang tanpa disadari memiliki peran cukup penting dalam kemajuan suatu daerah.

Sumberdaya yang sangat potensial dalam akselerasi pembangunan dengan tingkat kesejahteraan yang meningkat adalah kelembagaan sosial yang berdaya, memiliki pengetahuan dan pemahaman, berpikir kritis, dan memiliki solusi bagi setiap permasalahan masyarakatnya. Bagaimanapun dan berapapun banyaknya kekayaan alam dan jumlah penduduk yang tersedia, jika kualitas manusia dan kelembagaan sosialnya kurang, maka menjadi sesuatu yang tidak bermanfaat. Sedangkan modal dan teknologi akan tergantung pada cara manusia membuat keterkaitan dan keserasiannya dengan faktor tenaga manusia itu sendiri.

Dengan pendampingan yang diberikan organisasi kepemudaan, diharapkan dapat memotivasi penduduk miskin di desa/ kelurahan untuk mau meningkatkan produksi dan pendapatannya menjadi lebih baik. Organisasi kepemudaan dituntut untuk melayani dan memotivasi masyarakat miskin di desa/ kelurahan untuk menjadi warga belajar agar dapat berkembang guna meningkatkan martabat dan mutu kehidupan mereka. Organisasi kepemudaan sebagai perintis dan penggerak pembangunan di desa/ kelurahan dapat membentuk dirinya sebagai pendamping.

Salahsatu bentuk usaha ekonomi produktif yang sering dijalankan adalah program KUBE (Kelompok Usaha Bersama). Program ini dijalankan secara berkelompok dengan beranggotakan 10 sampai 20 orang per kelompok. Beberapa jenis kegiatan yang dapat dilakukan organisasi kepemudaan diantaranya:

  1. Produksi : Kerajinan, Konveksi, Olahan Pangan, Alat Perabotan.
  2. Perdagangan : Hasil Bumi, produk olahan, barang-barang konsumen.
  3. Jasa : Perbengkelan, salon, pembayaran kolektif, sablon.
  4. Simpan Pinjam : Kelompok usaha, koperasi, arisan, iuran remaja.
  5. Peternakan : Peternakan unggas, ikan, hewan peliharaan.
  6. Pertanian : Tanaman pangan, palawija, tanaman hias, pembibitan.

BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

  1. Swasembada pangan tidak sama dengan ketahanan pangan. Konsep ketahanan pangan mengacu pada pengertian adanya kemampuan mengakses pangan secara cukup untuk mempertahankan kehidupan yang aktif dan sehat. Sedangkan swasembada pangan adalah kemampuan dari suatu negara dalam menjaga ketersediaan pangan untuk mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri.
  2. Mengingat persoalan ketahanan pangan di Indonesia memiliki implikasi yang sangat luas maka perlu segera mendapatkan perhatian yang lebih serius maka terciptanya kondisi ketahanan pangan yang ideal adalah tanggung jawab bersama.
  3. Program Pendampingan oleh organisasi kepemudaan dimaksudkan untuk menjembatani pemerataan tenaga sosial (volunteer) yang bertugas mendampingi pemberdayaan fakir miskin diseluruh desa/ kelurahan di Indonesia, dalam rangka ikut memecahkan masalah kemiskinan di tanah air.
  4. Dengan diikutsertakannya masyarakat terutama organisasi kepemudaan dalam peningkatan mutu kehidupan masyarakat, diharapkan ketahanan pangan dapat terwujud serta kasus-kasus kekurangan gizi di daerah dapat ditekan.

5.2. Saran

Sesuai fungsinya sebagai penyelenggara usaha kesejahteraan sosial, organisasi kepemudaan yang eksis di desa/ kelurahan berperan penting dalam pemberdayaan dan pengembangan masyarakatnya. Peran pentingnya terutama ditujukan dalam mengadvokasi kelompok masyarakat yang kurang beruntung seperti fakir miskin.

Karena itu pendampingan yang dilakukan organisasi kepemudaan bagi pemberdayaan fakir miskin menjadi lebih penting, karena organisasi kepemudaan adalah komponen masyarakat yang lebih mengetahui kondisi obyektif lingkungan masyarakatnya. Selain itu, organisasi kepemudaan adalah banteng awal dalam menghadapi kasus-kasus rawan pangan di masyarakat.

Pemberdayaan organisasi kepemudaan harus terus ditingkatkan dengan dukungan semua pihak, seperti pemerintah melalui kementrian usaha kecil dan menengah, kementrian pemuda dan olahraga, kementrian pemberdayaan perempuan, kementrian ekonomi, bahkan pengusaha yang juga memiliki peranan dalam peningkatan mutu msyarakat disekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto, MAK. 2002. Dasar-Dasar Ilmu Gizi. Malang. UMM Press.

Simatupang, P.  1999. Kebijaksanaan Produksi dan Penyediaan Pangan      dalam Rangka Pemantapan Sistem Ketahanan Pangan pada Masa            Pemulihan Perekonomian Nasional.  Bahan diskusi “Round Table”            Kebijakan Pangan dan Gizi di Masa Mendatang.  Kantor Menpangan dan Holtikultura, 23 Juni 1999,  Jakarta.

Ali Khomsan. 2008. Mimpi Gizi Murah. http://opinibebas.epajak.org/search/kesejahteraan+masyarakat/page/13/ (22 Maret 2008).

Anonymous. 2008. Penguatan Strategi Ketahanan Pangan Nasional. http://cidesonline.org/content/view/213/65/lang,id/ (22 Maret 2008).

Anonymous. 2008. Ketahanan Pangan dan Kemajuan Bangsa. http://www.prakarsarakyat.org/artikel/fokus/artikel_cetak. php?aid=22721 (22 Maret 2008).

Anonymous. 2008. Konsep Ketahanan Pangan Rumah Tangga. http://www.damandiri.or.id/file /wahidipbtinjauan.pdf. (22 Maret 2008).

Anonymous. 2008. Menjaga Keharmonisan Bertetangga. http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid (22 Maret 2008).

Ikhwan, Mohammed. 2008. Pangan Tergantung Kebijakan?. http://indoprogress.blogspot.com/2008/02/pangan-            tergantung-kebijakan.html (22 Maret 2008).

Khomsan, Ali. 2008. Impor Beras, Ketahanan Pangan, dan Kemiskinan Petani. http://www.unisosdem.org/ article_detail.php?aid (22 Maret 2008).

Lassa, Jonatan. Politik Ketahanan Pangan Indonesia 1950-2005. http://www.zef.de/ (22 Maret 2008).

Martaja. 2008. Urgensi Membangun Kemandirian Pangan. http://www.suarakarya-online.com/news.htm (22 Maret 2008).

Martinah. 2005. Meluasnya Fenomena Gizi Buruk. http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp? (22 Maret 2008).

Nasir, Muhammad. 2008. Islam dan Solidaritas Sosial http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2006/11/islam-dan-solidaritas sosial.html (22 Maret 2008).

Perdana, Arif. 2007. Keshalehan Individual dan Keshalehan Sosial. http://arifperdana.wordpress.com/2007/11/24/keshalehan-individual-dan keshalehan-sosial/ (22 Maret 2008).

Sudarmawan. 2008. 243 Warga Magetan Terserang Gizi Buruk. http://www.kompas.com/read.php? (22 Maret 2008).

Una. 2008. Inflasi Tinggi Masih Mengancam. http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id (22 Maret 2008).

Warastuti. 2006. Peran Lembaga Sosial dalam Pengentasan Kemiskinan. http://groups.yahoo.com/group/lingkungan/message/28206 (22 Maret 2008).

DAFTAR RIWAYAT HIDUP KETUA DAN ANGGOTA KELOMPOK

Ketua Kelompok

a. Nama Lengkap              : Mardianto Dawim

b. Tempat Tanggal Lahir   : Rawa Bening, 07 Juni 1988

c. Agama                           : Islam

d. Alamat                          : Jalan Wahidin Desa Perintis Rimbo Bujang,                       TEBO, Jambi.

e. No HP                           : 085267795700

f. Riwat Pendidikan Formal

NO JENJANG NAMA INSTITUSI TAHUN
1. SD/MI SDN 246 Rimbo Bujang 1994-2000
2. SMP/MTs SMPN 01 Rimbo Bujang 2000-2003
3. SMAN SMAN 02 TEBO 2003-2006
4. S1 Universitas Muhammadiyah Malang 2006-sekarang

g. Pengalaman Organisasi

NO ORGANISASI TAHUN
1. Reporter Majalah “DIDAKTIK” Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM. 2006-sekarang
2. Ketua Bidang Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah “IMM” Raushan Fikr UMM. 2008-sekarang
3. Staff Komisi B Advokasi Senat Mahasiswa Universitas (SEM_U) UMM. 2008-sekarang
4. Asisten Laboratorium Kimia UMM. 2008-sekarang

h. Karya-Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat

NO Judul Karya-Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat TAHUN
1. Peningkatan Keshalehan Sosial Dalam Mewujudkan Stabilitas Ketahanan Pangan (LKTM).

2007

2. Teknik Persidangan (Diklat IMM Raushan Fikr FKIP UMM) 2007
3. Mewujudkan Semangat dan Progresifitas Demokratisasi Mahasiswa Dengan Wawasan Legislasi Transformatif Serta Aktualisasi Advokasi (Diklat Legislatif Senat Mahasiswa Univrsitas Muhammadiyah Malang).

2008

4. Korelasi Antara Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Terhadap Pemilahan Sampah Kering dan Basah Di Desa Pendem Kecamatan Junrejo Kota Batu (PKMAI).

2008

Anggota Kelompok

1. a. Nama Lengkap                : Slamet Riyanto

b. Tempat Tanggal Lahir   : Lamongan, 24 Oktober 1987

c. Agama                           : Islam

d. Alamat                          : Jalan Pondok RT. 01 RW. 05 Paciran Lamongan

e. No HP                           : 085746000292

f. Riwat Pendidikan Formal

NO JENJANG NAMA INSTITUSI TAHUN
1. SD/MI MIM Pondok Modern Muhammadiyah 1994-2000
2. SMP/MTs MTs Muhammadiyah 01 2000-2003
3. SMAN SMAN 01 Paciran 2003-2006
4. S1 Universitas Muhammadiyah Malang 2006-sekarang

g. Pengalaman Organisasi

NO ORGANISASI TAHUN
1. Ikatan Remaja Muhammadiyah 2002-2003
2. Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris (Coordinator Reasoning Department) 2007-sekarang

h. Karya-Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat

NO Judul Karya-Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat TAHUN
1. Korelasi Antara Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Terhadap Pemilahan Sampah Kering dan Basah Di Desa Pendem Kecamatan Junrejo Kota Batu (PKMAI).

2008

BIODATA DOSEN PEMBIMBING

  1. Nama Lengkap                  : Dr. Nurul Mahmudati, Dra, M. Kes.
  2. 4. Fakultas/ Prodi                  : FKIP/ Pendidikan Biologi
  3. 5. Bidang Kealian                 : Fisiologi Manusia
  4. 6. Pendidikan Formal            :                                                           Tahun Lulus
2.      NIP                                   : 131.930.149
3.      Gol/Pangkat/Jabatan         : III-C/ Penata/ Lektor
  • SD                   : MIM Wonogiri                                  1976
  • SMP                : SMPN I Giritontro Wonogiri            1980
  • SMA                : SMAN I Wonogiri                            1983
  • S1                    : IKIP Yogyakarta                              1990
  • S2                    : UNAIR Surabaya                             1999
  • S3                    : UNAIR Surabaya                             2008
  1. 7. Penelitian
No Judul Penelitian Tahun
1.

2.

Studi Tentang Daya Laruk Kalsium dalam Kristal Kalsium Oksalat pada Nephrolid Kapsul

Perspektif Guru Bidang Studi Biologi Madrasah Aliyah di Jawa Timur

2001

2002

About these ads

01/25/2010 - Posted by | Contoh PKM

3 Komentar »

  1. salam kenal, tak kopas artikelnya ya,,,untuk bahan kuliah,,,

    Komentar oleh agus widiantara | 03/13/2011

  2. thanks…
    cara berorganisasi yang gampang dan mudah g mana yaa…?

    Komentar oleh Dadang purnoto | 11/21/2011

  3. ミズノ 野球 カタログ adidas chile62 http://www.hildrebaey.com/

    Komentar oleh adidas chile62 | 11/14/2013


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 915 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: