BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Ciri-ciri dan Masalah Pendidikan di Indonesia

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).

Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.

Memasuki abad ke- 21 dunia pendidikan di Indonesia menjadi heboh. Kehebohan tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutu pendidikan nasional tetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan di Indonesia. Perasan ini disebabkan karena beberapa hal yang mendasar.

Salah satunya adalah memasuki abad ke- 21 gelombang globalisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajaun teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan negara lain.

Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan didalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan negara lain. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain.

Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP).

Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya. Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu:

  1. Rendahnya sarana fisik,
  2. Rendahnya kualitas guru,
  3. Rendahnya kesejahteraan guru,
  4. Rendahnya prestasi siswa,
  5. Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,
  6. Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,
  7. Mahalnya biaya pendidikan.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana ciri-ciri pendidikan di Indonesia?
  2. Bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia?
  3. Apa saja yang menjadi penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia?
  4. Bagaimana solusi yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan

  1. Mendeskripsikan ciri-ciri pendidikan di Indonesia.
  2. Mendeskripsikan kualitas pendidikan di Indonesia saat ini.
  3. Mendeskripsikan hal-hal yang menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.
  4. Mendeskripsikan solusi yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia.

1.4 Manfaat Penulisan

  1. Bagi Pemerintah

Bisa dijadikan sebagai sumbangsih dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

  1. Bagi Guru

Bisa dijadikan sebagai acuan dalam mengajar agar para peserta didiknya dapat berprestasi lebih baik dimasa yang akan datang.

  1. Bagi Mahasiswa

Bisa dijadikan sebagai bahan kajian belajar dalam rangka meningkatkan prestasi diri pada khususnya dan meningkatkan kualitas pendidikan pada umumnya.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Ciri-ciri Pendidikan di Indonesia

Cara melaksanakan pendidikan di Indonesia sudah tentu tidak terlepas dari tujuan pendidikan di Indonesia, sebab pendidikan Indonesia yang dimaksud di sini ialah pendidikan yang dilakukan di bumi Indonesia untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Pengembangan pikiran sebagian besar dilakukan di sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi melalui bidang studi-bidang studi yang mereka pelajari. Pikiran para siswa/mahasiswa diasah melalui pemecahan soal-soal, pemecahan berbagai masalah, menganalisis sesuatu serta menyimpulkannya.

2.2 Kualitas Pendidikan di Indonesia

Seperti yang telah kita ketahui, kualitas pendidikan di Indonesia semakin memburuk. Hal ini terbukti dari kualitas guru, sarana belajar, dan murid-muridnya. Guru-guru tentuya punya harapan terpendam yang tidak dapat mereka sampaikan kepada siswanya. Memang, guru-guru saat ini kurang kompeten. Banyak orang yang menjadi guru karena tidak diterima di jurusan lain atau kekurangan dana. Kecuali guru-guru lama yang sudah lama mendedikasikan dirinya menjadi guru. Selain berpengalaman mengajar murid, mereka memiliki pengalaman yang dalam mengenai pelajaran yang mereka ajarkan. Belum lagi masalah gaji guru. Jika fenomena ini dibiarkan berlanjut, tidak lama lagi pendidikan di Indonesia akan hancur mengingat banyak guru-guru berpengalaman yang pensiun.

“Pendidikan ini menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai rapat kabinet terbatas di Gedung Depdiknas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (12/3/2007).

Presiden memaparkan beberapa langkah yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, antara lain yaitu:

  1. Langkah pertama yang akan dilakukan pemerintah, yakni meningkatkan akses terhadap masyarakat untuk bisa menikmati pendidikan di Indonesia. Tolak ukurnya dari angka partisipasi.
  2. Langkah kedua, menghilangkan ketidakmerataan dalam akses pendidikan, seperti ketidakmerataan di desa dan kota, serta gender.
  3. Langkah ketiga, meningkatkan mutu pendidikan dengan meningkatkan kualifikasi guru dan dosen, serta meningkatkan nilai rata-rata kelulusan dalam ujian nasional.
  4. Langkah keempat, pemerintah akan menambah jumlah jenis pendidikan di bidang kompetensi atau profesi sekolah kejuruan. Untuk menyiapkan tenaga siap pakai yang dibutuhkan.
  5. Langkah kelima, pemerintah berencana membangun infrastruktur seperti menambah jumlah komputer dan perpustakaan di sekolah-sekolah.
  6. Langkah keenam, pemerintah juga meningkatkan anggaran pendidikan. Untuk tahun ini dianggarkan Rp 44 triliun.
  7. Langkah ketujuh, adalah penggunaan teknologi informasi dalam aplikasi pendidikan.Langkah terakhir, pembiayaan bagi masyarakat miskin untuk bisa menikmati fasilitas penddikan.

2.3 Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia

Di bawah ini akan diuraikan beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia secara umum, yaitu:

2.3.1 Efektifitas Pendidikan Di Indonesia

Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.

Selama ini, banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia. Tidak perduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanakan pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dianggap hebat oleh masyarakat. Anggapan seperti itu jugalah yang menyebabkan efektifitas pengajaran di Indonesia sangat rendah. Setiap orang mempunyai kelebihan dibidangnya masing-masing dan diharapkan dapat mengambil pendidikaan sesuai bakat dan minatnya bukan hanya untuk dianggap hebat oleh orang lain.

Dalam pendidikan di sekolah menegah misalnya, seseorang yang mempunyai kelebihan dibidang sosial dan dipaksa mengikuti program studi IPA akan menghasilkan efektifitas pengajaran yang lebih rendah jika dibandingkan peserta didik yang mengikuti program studi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Hal-hal sepeti itulah yang banyak terjadi di Indonesia. Dan sayangnya masalah gengsi tidak kalah pentingnya dalam menyebabkan rendahnya efektifitas pendidikan di Indonesia.

2.3.2 Efisiensi Pengajaran Di Indonesia

Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang telah disepakati.

Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.

Jika kita berbicara tentang biaya pendidikan, kita tidak hanya berbicara tenang biaya sekolah, training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih, namun kita juga berbicara tentang properti pendukung seperti buku, dan berbicara tentang biaya transportasi yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita pilih. Di sekolah dasar negeri, memang benar jika sudah diberlakukan pembebasan biaya pengajaran, nemun peserta didik tidak hanya itu saja, kebutuhan lainnya adalah buku teks pengajaran, alat tulis, seragam dan lain sebagainya yang ketika kami survey, hal itu diwajibkan oleh pendidik yang berssngkutan. Yang mengejutkanya lagi, ada pendidik yang mewajibkan les kepada peserta didiknya, yang tentu dengan bayaran untuk pendidik tersebut.

Selain masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, masalah lainnya adalah waktu pengajaran. Dengan survey lapangan, dapat kita lihat bahwa pendidikan tatap muka di Indonesia relative lebih lama jika dibandingkan negara lain. Dalam pendidikan formal di sekolah menengah misalnya, ada sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari dimulai dari pukul 07.00 dan diakhiri sampai pukul 16.00.. Hal tersebut jelas tidak efisien, karena ketika kami amati lagi, peserta didik yang mengikuti proses pendidikan formal yang menghabiskan banyak waktu tersebut, banyak peserta didik yang mengikuti lembaga pendidikan informal lain seperti les akademis, bahasa, dan sebagainya. Jelas juga terlihat, bahwa proses pendidikan yang lama tersebut tidak efektif juga, karena peserta didik akhirnya mengikuti pendidikan informal untuk melengkapi pendidikan formal yang dinilai kurang.

Yang kami lihat, kurangnya mutu pengajar disebabkan oleh pengajar yang mengajar tidak pada kompetensinya. Misalnya saja, pengajar A mempunyai dasar pendidikan di bidang bahasa, namun di mengajarkan keterampilan, yang sebenarnya bukan kompetensinya. Hal-tersebut benar-benar terjadi jika kita melihat kondisi pendidikan di lapangan yang sebanarnya. Hal lain adalah pendidik tidak dapat mengomunikasikan bahan pengajaran dengan baik, sehingga mudah dimengerti dan menbuat tertarik peserta didik.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, kita menggunakan sistem pendidikan kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah proses pengajaran menjadi proses pendidikan aktif, hingga kurikulum baru lainnya. Ketika mengganti kurikulum, kita juga mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar harus diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah cost biaya pendidikan. Sehingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti kurikulum yang dianggap kuaran efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efektif.

Konsep efisiensi akan tercipta jika keluaran yang diinginkan dapat dihasilkan secara optimal dengan hanya masukan yang relative tetap, atau jika masukan yang sekecil mungkin dapat menghasilkan keluaran yang optimal. Konsep efisiensi sendiri terdiri dari efisiensi teknologis dan efisiensi ekonomis. Efisiensi teknologis diterapkan dalam pencapaian kuantitas keluaran secara fisik sesuai dengan ukuran hasil yang sudah ditetapkan. Sementara efisiensi ekonomis tercipta jika ukuran nilai kepuasan atau harga sudah diterapkan terhadap keluaran.

2.3.3 Standardisasi Pendidikan Di Indonesia

Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Tentunya setelah melewati proses untuk menentukan standar yang akan diambil.

Seperti yang kita lihat sekarang ini, standar dan kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar dan kompetensi. Kualitas pendidikan diukur oleh standard an kompetensi di dalam berbagai versi, demikian pula sehingga dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP).

Selain itu, akan lebih baik jika kita mempertanyakan kembali apakah standar pendidikan di Indonesia sudah sesuai atau belum. Dalam kasus UAN yang hampir selalu menjadi kontrofesi misalnya. Kami menilai adanya sistem evaluasi seperti UAN sudah cukup baik, namun yang kami sayangkan adalah evaluasi pendidikan seperti itu yang menentukan lulus tidaknya peserta didik mengikuti pendidikan, hanya dilaksanakan sekali saja tanpa melihat proses yang dilalu peserta didik yang telah menenpuh proses pendidikan selama beberapa tahun. Selain hanya berlanhsug sekali, evaluasi seperti itu hanya mengevaluasi 3 bidang studi saja tanpa mengevaluasi bidang studi lain yang telah didikuti oleh peserta didik.

Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah hanya sebatas yang kami bahas di atas. Banyak hal yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan kita. Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan jika kita menggali lebih dalam akar permasalahannya. Dan semoga jika kita mengetehui akar permasalahannya, kita dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia sehingga jadi kebih baik lagi.

Selain beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di atas, berikut ini akan dipaparkan pula secara khusus beberapa masalah yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.

2.3.3.1 Rendahnya Kualitas Sarana Fisik

Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Kalau kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan persentase yang tidak sama.

2.3.3.2 Rendahnya Kualitas Guru

Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.

Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sbb: untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).

Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3).

Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.

2.3.3.3 Rendahnya Kesejahteraan Guru

Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya (Republika, 13 Juli, 2005).

Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas.

Tapi, kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen (Pikiran Rakyat 9 Januari 2006).

2.3.3.4 Rendahnya Prestasi Siswa

Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.

Dalam hal prestasi, 15 September 2004 lalu United Nations for Development Programme (UNDP) juga telah mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Di dalam laporan tahunan ini Indonesia hanya menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. Apabila dibanding dengan negara-negara tetangga saja, posisi Indonesia berada jauh di bawahnya.

Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.

2.3.3.5 Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan

Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.

2.3.3.6 Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan

Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.

2.3.3.7 Mahalnya Biaya Pendidikan

Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.

Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha.

Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang selalu berkedok, “sesuai keputusan Komite Sekolah”. Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.

2.4 Solusi dari Permasalahan-permasalahan Pendidikan di Indonesia

Untuk mengatasi masalah-masalah di atas, secara garis besar ada dua solusi yang dapat diberikan yaitu:

Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.

Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.

Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kualitas pendidikan di Indonesia memang masih sangat rendah bila di bandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-negara lain. Hal-hal yang menjadi penyebab utamanya yaitu efektifitas, efisiensi, dan standardisasi pendidikan yang masih kurang dioptimalkan. Masalah-masalah lainya yang menjadi penyebabnya yaitu:

  1. Rendahnya sarana fisik,
  2. Rendahnya kualitas guru,
  3. Rendahnya kesejahteraan guru,
  4. Rendahnya prestasi siswa,
  5. Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,
  6. Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,
  7. Mahalnya biaya pendidikan.

Adapun solusi yang dapat diberikan dari permasalahan di atas antara lain dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan, dan meningkatkan kualitas guru serta prestasi siswa.

3.2 Saran

Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan kesistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan negara-negara lain adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih dahulu.

Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous,2000.The World Economic Forum Swedia .Diakses dari   http://forum.detik.com.Tanggal 10 Desember 2009.

Anonymous,2000. Efektivitas-dan-efisiensi-anggaran.

http://tyaeducationjournals.blogspot.com. Tanggal 10 Desember 2009  Anonymous,2009. Efektifitas Pendidikan Di Indonesia. Diakses dari  http://www.detiknews.com. Tanggal 10 Desember 2009

Anonymous,2009. Sistem pendidikan .Diakses dari

http://www.sib-bangkok.org. Tanggal 10 Desember 2009.

Pidarta, Prof. Dr. Made. 2004. Manajemen Pendidikan Indonesia.

Jakarta: PT Rineka Cipta.

Anonymous,2009.Masalah-pendidikan-di-indonesia.Oleh     http://www.sayapbarat.wordpress.com/2007/08/29/Lhani di/pada Maret 8, 2009.

About these ads

01/14/2010 - Posted by | Profesi Kependidikan

39 Komentar »

  1. permasalahan pendidikan di indonesia dari kenyataan yang ada rendahnya tekad dan kemauan dari sebagian pelaksana pendidikan mau diapakan sebenarnya para anak didik ini,ketika pada saat sekarang proses sertifikasi mulai dan sedang dilaksanakan haruslah tetap diberikan dorongan dan diperbaiki mental dari setiap pelaksana pendidikan tanpa mengesampinkan keseahteraan karena tanpa pengawasan sudah menjadi sifat manusia untuk selalu berleha leha bila suatu yang dikerjakan itu dari awalnya bukan tujuan hidupnya thanks

    Komentar oleh parlin | 03/27/2010

  2. permasalahan pendidikan di Indonesia memang sangat komplek, mulai dari sarpras, kualitas pendidik, proses pembelajaran, biaya dan dan masih banyak lainnya. perhatian pemerintah terhadap kualitas pendidikan masih setengah hati, segala kebujakan yang diambil tidak pernah terlepas dari perpolitikan bukan secara tulus hati melaksanakan amanah konstitusi. mulai dari penetapan anggaran pendidikan 20% dari APBN, hal itu dilakukan oleh pemerintah ketika momen pemilihan umum presiden dan wakil presiden berlangsung, tidak terlampau jauh dengan itu kemudian pemerintah merancang UU BHP yang membebankan biaya pendidikan kepada pihak pengelola. Akankah anak bangsa ini akan selalu menjadi korban dari ketidakpedulian para pemimpin negara ini, akankah pendidikan hanya akan dinikmati oleh kaum menengah ke atas, akankah nasib guru masih dengan gaji 100.000,- per bulan, akankah,,,,,akankah,,,,,,akankah dan akankah,,,,,,,ya Allah berikanlah hidayah-Mu kepada kami,, Amin.

    Komentar oleh syarif_IKIP PGRI SMG | 04/12/2010

  3. Makaseeh eyaw? Cz ni ngebantu q bgt bwt tw sm0a ttg m0et0e pndidikan di ind0nesia. N jg b0at refernsie aq di tgz mt kuliahq. 0k… Pndi2kn d ind0nesia bs jauh lbh baek dr ni khan,? Ayo 7’kan!

    Komentar oleh Meong | 04/21/2010

  4. SMOGA MKIN MAJU NYA TAHUN.,,.,.SMGA DAN TUK PENDIDIKAN ITU TDK TAMBAH MALONJAK.,.,.,.,TOLONGLAH BAGI MENTERI PENDIDIKAN JDENGAR KAN KATA HATI.,,.,.ORANG2 YG TDK MAMPU,.,,.YG INGIN BESEKOLAH,.,.,.,.,.

    Komentar oleh KARIAAGARA | 05/15/2010

  5. permasalahan pendidikan di Indonesia sangat banyak. hal ini perlu diperhatikan oleh pemerintah dan semua pihak yang terkait untuk menemukan solusi terbaik untuk menyelesaikannya.

    Komentar oleh agus | 05/16/2010

  6. bguzzz

    Komentar oleh fund_kep | 06/04/2010

  7. Rendahnya mutu pendidikan negara kita sangat memprihatinkan. butuh perhatian khusus dari pemerintah dan juga kesadaran dr setiap insan akan kondisi ini. Ayo Indonesia!

    Komentar oleh Johanson | 06/20/2010

  8. bagus

    Komentar oleh ida bagus krisna | 08/06/2010

  9. kalo prestasi siswa banyak dengan banyak siswa indonesia yang memenangkan olimpiade di luar negeri. cuman indonesia kurang menghargai yang seperti itu

    Komentar oleh rahmat yusuf | 08/21/2010

  10. blognya bagus perlu dikembangkan masalah kurikulum pendidikan ga begitu di cantumkan, kalau perlu ada di web saya

    Komentar oleh mumuz | 08/25/2010

  11. Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia pasti karena berbagai macam faktor tidak hanya satu saja tapi kompleks. Oleh karena itu bagi pemerhati pendidikan dan yang berkecimpung di dalamnya perlu instrokpesi…mau di bawa kemana pendidikan Indonesia?? Setiap diri berpotensi untuk bisa mengatasi masalah dengan BELAJAR. Dengan fenomena pendidikan saat ini, apa yang mesti kita lakukan,,,mulai dari yang sederhana adalah dari diri sendiri. Belajar menjadi orang yang jujur dimanapun berada dan punya optimisme yang KUAT!!!
    HARAPAN ITU MASIH ADA untuk pendidikan di Indonesia!SMANGAT!!!

    Komentar oleh enggar | 10/14/2010

  12. perlu adanya dorongan oleh pemrintah untuk meningkatkan SDM di indonesia untuk menghadapi era global saat ini, terutama pemerataan pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan di daerah-daerah pelosok indonesia.

    Komentar oleh lukman syahril | 01/06/2011

  13. Sangat bermanfa’at

    Komentar oleh Nando | 04/29/2011

  14. Thx ya,, penjelasnnya,,,,ini bermanfaat bagi pengembangan pemahaman saya dalam bidang permasalahan pendidikan di negri ini.

    Komentar oleh Jro GDB | 06/03/2011

  15. saya sangt prihatin akn pnddkan di indo.terutama ksdran masy akan penddkn sbg modal msdpn.slain perhtn pmrinth sangtlh pntig mnydrkn msyktnya.nah……bgmn crny

    Komentar oleh lusi | 07/08/2011

  16. meskipun target pendidikan tercapai, bukan berarti masalah selesai contohnya para pejabat kita mereka adalah orang terdidik dan terhormat tetapi kenapa masih berbuat keji KKN dan produk turunanya,tanpa memandang belas kasihan kepada rakyat kecil yang hidupnya susah-merana karena tidak berpunya…jika hal ini terus menerus terjadi TUHAN AKAN MURKA dan menghukum negeri ini tanpa henti….PENDIDIKAN ADALAH MILIK SEMUA WNRI TANPA TERKECUALI terjangkau oleh semua golongan ,PENDIDIKAN yang terpenting membangun moral(AGAMA),kemudian pengetahuan …..///

    Komentar oleh rogosukmo | 07/23/2011

  17. pendidikan yang ada sekarang ini hanya mengedepankan materi teori shg dalam prakteknya kosong dan masih hrs d lihat dr nilai yg tertera bukan dilihat dari apa yang mereka bisa

    Komentar oleh fatur | 10/02/2011

  18. terima kasih atas penjelasannya…karena ini sudah membantu saya dalam pembuatan tugas!semoga pemerintah semakin memperhatikan pendidikan kita..tidak hanya berkomentar dari atas meja, tetapi juga memperhatikan kondisi riilnya di lapangan!

    Komentar oleh wanti | 10/12/2011

  19. 1. Ganti rezim ganti kurrikullum
    2. Pendidikan belum bisa menuntaskan supya bisa cerdas….
    3. Para pengajar cuma memikirkan anggaran bukan memikirkan bagaimana cara mencerdaskan murid…
    4.isi / teori yang ada dalam buku tidak sesuai dengan perkembangan zaman, kita lihat seberapa aktif siswa/ mahasiswa membaca buku di perpustakaan.

    Komentar oleh Ab Rustaman | 11/02/2011

  20. Thanks ,,,,,,,,,,,, tp pnjlsannya puannjanng buanngetttttttttt!

    Komentar oleh IrMarMuch | 11/10/2011

  21. Penjelasannya cukup menarik dan teoritis. Saya Sangat – sangat SEtuju, tetapi…Bagaimana aksi guru suka menekan murid agar ada penyuapan padahal gaji sudah dinaikkan pemerintah tiap tahun, Mari kita buka mata hati kita… berapa orang anak sekolah terutama Sd dan SMP terpaksa orang tua melakukan aksi damai dengan memberikan amplop ke guru (dengan alasan les dgn guru, atau sekedar uang bensin) agar anaknya merasa nyaman di sekolah,,, dan ini sudah membudaya.
    Kapan terjadinya budaya ini? Kebudayaan adalah sesuatu yang telah lama.
    ArtiNYA…Sehebat apapun Presiden kita.. sehebat apapun Menteri-menteri kita…sehebat apapun para pakar pendidikan kita.., sebanyak apapun sarana dan prasarana dicukupi untuk pendidikan kita, maka akan tetap Wajah Pendidikan kita seperti itu karena pengejawantahan pendidikan Karakter sudah mulai memudar di dunia pendidikan, padahal pendidikan karakter (Morality) harus seimbang dengan kognitif khususnya SD dan SMP.

    Komentar oleh M. Fatkhurohman | 11/13/2011

  22. Mari kita ambil, buka dan pelajari kembali buku Pendidikan Moral Pancasila kita yang telah lampau. Maka secara tidak langsung, kita sudah mengajari anak-anak kita, saudara kita, sepupu kita, cucu-cucu kita dan guru-guru dalam hal pengenalan karakter dan pendidikan karakter. Lambat laun, kita akan bisa mengejawantahkan kembali pendidikan karakter dan menyeimbangkan dengan pendidikan kognitif.
    Uang memang penting dalam kehidupan dunia, namun apakah para guru harus bicara uang terus, sementara banyak anak-anak murid orang tuanya…maaf..tukang sapu, buruh pabrik, tukang parkir, penjaga toko, pencari barang rongsokan. Janganlah kita hanya melihat ke atas, tapi ke bawah.
    Halaman pertama sebagai Mukadimah menjadi guru harusnya adalah memahami arti Pendidikan Moral Pancasila, maka wajah pendidikan di Indonesia akan menjadi lebih baik.

    Komentar oleh M. Fatkhurohman | 11/13/2011

  23. Menambahakn tentang infrastruktur pendidikan,

    tingkatkan infrastruktur pendidika didaerah tertinggal
    di daerah teringgal juga ingin maju , mungkin dari daerah tertinggal ada anak emaas yang bisa memajukan negeri kita tercinta, misalanya dengan olahraga saat ini ,, indonesia mempunyai banyak potensi dari sepak bola ,, dengan ini mari tngkat kan prestasi bangsa,,,

    INDONESIA BISAAAAAAA

    Komentar oleh FIBRIO | 11/14/2011

  24. bgtulah rndahx mtu pndidikn d Negeri kita…. nah untk menangani smw itu kita sbge pnerusx hrus brusaha untk mperbaiki mutu pndidikn d ngeri ini…. ay0o pmuda-pmudi negeri tnjukan kalau kami bisa memperbaiki smw ini…. cayoo…..

    Komentar oleh phu | 12/20/2011

  25. DALAM PENDIDIKAN TINGGI SEJAUH INI, SUDAH ADA BANYAK BIAYA BEASISWA,, ITU KAN SUDAH CUKUP MEMBANTU SALAH SATU MASALAH YANG ANDA PAPARKAN DIATAS, YAITU RENDAHNYA PEMERATAAN KESEMPATAN PENDIDIKAN,, MENURUT ANDA BAGAIMANA? n kalu itupun masih kurang, menurut anda bagaimana solusi yang tepat?

    Komentar oleh FITRI DEWI ANDANI | 01/13/2012

  26. subhanallh..great..terima kasih atas bg 2wawasannya..smg tambah sukses

    Komentar oleh srirahmalina | 03/19/2012

  27. bagus bos makalahnya semangat terus dalam membuat tulisan

    Komentar oleh sandi | 05/02/2012

  28. HUBUNGI KAMI di:
    LYSSA,ST,MM / 021.71136838/ 0813 1879 2677
    Wisma Metropolitan 2,World Trade Centre, Jl. Jendral Sudirman,Jakarta

    Komentar oleh lyssa, ST,MM | 07/01/2012

  29. CARA JITU CEPAT LULUS TES TPA Oto BAPPENAS, PSIKOTES, TOEFL UJIAN SARINGAN MASUK CPNS/BUMN, S2 (PASCA SARJANA) UI,UGM,UNPAD, ITB,STAN, UI INTERNATIONAL (PASTI BISA)
    SPESIALIS PELATIHAN TPA/PSIKOTES/ TOEFL UI,UGM,UNPAD, ITB,STAN,UI INTERNATIONAL
    Ijin no:3789/PLSM/ I-133/VII/ 1995

    CARA JITU, CEPAT LULUS TES TPA, PSIKOTES &TOEFL (PASTI BISA)!
    Kami adalah Spesialis pelatihan TPA (Test Potensi Akademik)/PSIKOTES dan TOEFL memberikan pelayanan jasa pelatihan TPA dan TOEFL. Adapun pelatihan TPA, PSIKOTES dan TOEFL merupakan persyaratan Mutlak bagi Bapak/Ibu guna untuk mengikuti:
    – Tes Kenaikan Jabatan / Pangkat untuk CPNS dan BUMN
    – Tes untuk melanjutkan Pendidikan ke jenjang S1,Pasca Sarjana S2 untuk UMUM.
    – MEMBANTU REKAN-REKAN MAHASISWA/UMUM AGAR LULUS PSIKOTES DAN WAWANCARA KE PERUSAHAAN OIL AND GAS, BANK- BANK,CPNS, SERTA PERUSAHAAN MULTI NASIONAL LAINNYA DI SELURUH INDONESIA(SUDAH TERBUKTI).
    Note:
    – Biaya Belajar di Bayar di Muka

    HUBUNGI KAMI di:
    LYSSA,ST,MM / 021.71136838/ 0813 1879 2677
    Wisma Metropolitan 2,World Trade Centre, Jl. Jendral Sudirman,Jakarta

    Komentar oleh lyssa, ST,MM | 07/01/2012

  30. Realita : out put pendidikan di negeri ini hanya melahirkan orang pintar dengan mentalitas koruptor ( sungguh sangat menjijikkan ). Ada sesuatu yang ngak beres dengan sistem pendidikan kita. Permulaan hikmat dan pengetahuan adalah sikap hormat dan takut akan Tuhan Yang Maha Esa, pencipta alam semesta, apakah nilai nilai ini telah TERKRISTALISASI dalam seluruh proses dan sistem pendidikan di negeri ini ? Jika tidak, maka institusi pendidikan akan terus memproduksi manusia cerdik cendikia yang tidak bermartabat dan bermoral, tapi manusia pintar yang suka menipu, pintar bersilat kata, dan akhirnya jadi koruptor.

    Komentar oleh brandly | 07/03/2012

  31. [...] klik disini Share this:TwitterFacebookLike this:SukaBe the first to like this. Tandai permalink. [...]

    Ping balik oleh azizah201 | 09/26/2012

  32. tampilan bagus

    Komentar oleh lapak qanita.com | 11/16/2012

  33. [...] Ciri-ciri dan Masalah Pendidikan di Indonesia « BIOLOGI ONLINE. [...]

    Ping balik oleh Ciri-ciri dan Masalah Pendidikan di Indonesia « BIOLOGI ONLINE « Lamawuloy | 11/26/2012

  34. biarpun pemerintah mengeluarkan uang sebanyak apapun tapi jika uang tersebut lenyap dimakan para korup…
    sampai lebaran tikus gak bakalan indo brkembang pendidikanya…DASAR PARA JAHANAM negara

    Komentar oleh sarywahyu | 03/08/2013

  35. ya tuuuuu benerrrrrr

    Komentar oleh rahayu cah spike | 07/26/2013

  36. mlzzz bgt dengerinn nya

    Komentar oleh @2winda_rahayu | 07/26/2013

  37. […]  http://zaifbio.wordpress.com/2010/01/14/ciri-ciri-dan-masalah-pendidikan-di-indonesia/ […]

    Ping balik oleh MAKALAH PROFESI PENDIDIKAN | Jombang Pustaka | 10/14/2013


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 936 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: