BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

POLIPLOIDISASI TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DENGAN PERLAKUAN MUTAGEN COLCHICINE

1) Judul Program
POLIPLOIDISASI TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DENGAN PERLAKUAN MUTAGEN COLCHICINE

2) Latar Belakang Masalah
Upaya memanfaatkan sumber energi terbarukan merupakan bagian penting dalam program deversifikasi energi sebagai akibat semakin menipisnya cadangan energi dan semakin meningkatnya kebutuhan bahan bakar. Hal tersebut harus dilakukan karena kebutuhan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi terus mengalami peningkatan sehingga dalam beberapa tahun akan terjadi kelangkaan minyak bumi.
Biodiesel memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya penghematan ataupun sebagai subtitusi dari minyak diesel. Biodiesel yang merupakan minyak nabati yang diperoleh dari tumbuhan memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan sumber energi lainnya. Keunggulan dan kelebihan biodisel antara lain (1) Merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik (free sulphur, smoke number rendah) sesuai dengan isu-isu global, (2) Cetane number lebih tinggi (>60) sehingga efisiensi pembakaran lebih baik, (3) Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin, (4) Biodegradable (dapat terurai), (5) Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat diperbarui, (6) Meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi secara lokal (BPTP, 2006).
Pemanfaatan minyak Jarak (Jatropha curcas L.) sebagai bahan bio-diesel merupakan alternatif untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan bahan bakar. Minyak jarak pagar selain merupakan sumber minyak terbarukan (reneweble fuels) juga termasuk non edible oil sehingga tidak bersaing dengan kebutuhan konsumsi manusia seperti pada minyak kelapa sawit, minyak jagung dan minyak nabati lainnya. Secara agronomis tanaman jarak pagar sesuai dengan agroklimat di Indonesia bahkan pada kondisi kering dan pada lahan marginal. Akan tetapi masih ada permasalahan yang dihadapi, yaitu belum adanya varietas unggul yang dilepas secara komersial (Puslitbang Perkebunan, 2006).
Sebenarnya di Indonesia ditemukan banyak keragaman plasma nutfah jarak pagar, namun variasi tersebut diduga hanya disebabkan oleh perbedaan wilayah yang melahirkan ekotipe-ekotipe tertentu. Eksplorasi pendahuluan yang dilakukan oleh Puslitbang Perkebunan di Sumatera Barat, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan ditemukan variasi antara lain: (1) kulit batang: keperak-perakan, hijau kecoklatan, (2) warna daun: hijau muda, hijau tua, (3) pucuk dan tangkai daun: kemerahan, kehijauan, (4) bentuk buah: agak elips, bulat, (4) jumlah biji per kapsul: 1-4. Kontribusi perbedaan morfologi di atas terhadap produktivitas dan kandungan minyak tentu ada, hanya belum diketahui besarnya. Tingkat ploidi yang sama (2n=22) diduga tidak akan menghambat persilangan antar spesies dalam upaya perbaikan varietas jarak pagar (Hasnam, 2006).
Penelitian di bidang pemuliaan tanaman jarak pagar di Indonesia sampai saat ini masih dalam taraf awal dan masih mengandalkan metode pemuliaan konvensional yang banyak bergantung pada fenotipe tanaman yang mudah diamati secara kasat mata (Mardjono et al., 2006). Pengembangan tanaman jarak pagar melalui mutasi dengan memanfaatkan teknologi nuklir dengan irradiasi sinar gamma telah berhasil dilakukan (Dwimahyani, 2006), meskipun informasi pelepasan varietas unggul jarak pagar hasil mutasi tersebut belum diperoleh.
Alternatif metode mutasi lain yang bisa dilakukan adalah mutasi menggunakan senyawa kimia, misalnya colchicine. Efek yang ditimbulkan melalui mutasi dengan colchicine adalah terjadinya penggandaan kromosom atau poliploidisasi. Diharapkan melalui proses poliploidisasi tersebut dapat diperoleh peningkatan keragaman genetik sekaligus usaha untuk mendapatkan peningkatan potensi hasil minyak tanaman jarak pagar.

3) Perumusan Masalah
Penerapan mutasi secara kimia untuk mendorong terjadinya poliploidisasi pada tanaman jarak pagar lokal Indonesia belum ditemukan laporannya. Karena itu, penerapan mutasi kimia menggunakan senyawa colchicine untuk mengembangkan tanaman jarak pagar poliploid diharapkan dapat diperoleh keragaman genetik baru dari tanaman jarak pagar terutama yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis-jenis tanaman jarak pagar yang sudah ada.
Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1). Seberapa besar keberhasilan terjadinya poliploidisasi pada tanaman jarak pagar melalui perlakuan penetesan larutan colchicine pada konsentrasi yang berbeda?
2). Takaran larutan colchicine pada konsentrasi berapakah yang lebih efektif dalam mendorong terjadinya poliploid pada tanaman jarak pagar?

4) Tujuan Program
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengkaji keberhasilan terjadinya poliploidisasi pada tanaman jarak pagar melalui perlakuan penetesan larutan colchicine pada konsentrasi yang berbeda, (2) menentukan takaran konsentrasi colchicine yang lebih efektif dalam mendorong terjadinya poliploid pada tanaman jarak pagar.

5) Luaran Yang Diharapkan
Luaran hasil penelitian yang diharapkan adalah (1) diperolehnya jenis baru dari tanaman jarak pagar khususnya dengan ploidi yang berbeda dari sebelumnya; (2) diperolehnya informasi konsentrasi yang efektif bagi terbentuknya poliploid pada tanaman jarak pagar.

6) Kegunaan Program
Kegunaan dari penelitian ini adalah (1) dapat membantu meningkatkan keragaman genetik tanaman jarak pagar yang sangat bermanfaat untuk program pemuliaan tanaman; (2) dapat memberikan informasi teknik mutasi khususnya duplikasi kromosom atau perubahan ploidi pada tanaman jarak pagar.

7) Tinjauan Pustaka
Tanaman jarak (Jatropha curcas L.) termasuk famili Euphorbiacae. Genus Jatropha memiliki 175 spesies, dan dari jumlah tersebut lima spesies ada di Indonesia, yaitu Jatropha curcas L dan Jatropha gossypiifolia yang sudah digunakan sebagai tanaman obat. Jatropha integerrima Jacq, Jatropha multifida dan Jatropha podagrica Hook digunakan sebagai tanaman hias. Jatropha curcas L. menarik minat para ilmuwan karena sifat minyaknya yang dapat digunakan untuk substitusi minyak diesel atau solar (Puslitbang Perkebunan, 2006). Kandungan minyak pada biji jarak pagar berkisar antara 25–30%, 30-40%, 30-45%, 40-58% berat kering dan bahkan ada menyatakan yang mencapai 66,4% (Adebowale dan Adedire, 2006; Hariyadi, 2005; Lele, 2005; Pambudi, 2006, Puslitbang Perkebunan, 2006).
Indonesia memiliki keragaman plasma nutfah jarak pagar yang cukup tinggi, namun variasi tersebut mungkin hanya disebabkan oleh perbedaan wilayah yang melahirkan ekotipe-ekotipe tertentu. Eksplorasi pendahuluan yang dilakukan oleh Puslitbang Perkebunan di Sumatera Barat, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan ditemukan variasi antara lain: (1) kulit batang: keperak-perakan, hijau kecoklatan, (2) warna daun: hijau muda, hijau tua, (3) pucuk dan tangkai daun: kemerahan, kehijauan, (4) bentuk buah: agak elips, bulat, (4) jumlah biji per kapsul: 1-4. Kontribusi perbedaan morfologi di atas terhadap produktivitas dan kandungan minyak tentu ada, hanya belum diketahui besarnya. Tingkat ploidi yang sama (2n=22) diduga tidak akan menghambat persilangan antar spesies dalam upaya perbaikan varietas jarak pagar (Hasnam, 2006).
Penelitian di bidang pemuliaan tanaman jarak pagar di Indonesia sampai saat ini masih dalam taraf awal dan masih mengandalkan metode pemuliaan konvensional yang banyak bergantung pada fenotipe tanaman yang mudah diamati secara kasat mata. Penelitian di BALITTAS telah berhasil mengidentifikasi beberapa genotipa dari NTT, NTB, Jatim, Jateng dan Lampung, namun hasil panen yang diperoleh masih rendah yaitu berkisar antara 154,90-315,63 kg/ha karena tanaman belum berumur satu tahun (Mardjono et al., 2006). Kajian berikutnya diperoleh informasi 7 aksesi jarak pagar yang memiliki harapan produktivitas tinggi, yaitu HS-49 (1097.50 kg/ha), SP-16 (977.50 kg/ha), SP-38 (912.50 kg/ha), SP-8 (656.07 kg/ha), SM-33 (622.50 kg/ha), SP-34 (578.33 kg/ha), dan SM-35 (500 kg/ha) (Sudarmo et al., 2007). Sampai sekarang belum ada varietas unggul maupun klon jarak pagar yang dilepas ke petani (Anonymous, 2005; Sudarmo et al., 2007; Media Kita, 2006), sehingga sumber benih masih mengandalkan pengumpulan dari petani di berbagai daerah (Hariyadi, 2005). Pengembangan tanaman jarak pagar melalui mutasi dengan memanfaatkan teknologi nuklir telah berhasil dilakukan (Dwimahyani, 2006), meskipun informasi pelepasan varietas unggul jarak pagar hasil mutasi tersebut belum diperoleh.
Alternatif metode mutasi lain yang bisa dilakukan adalah mutasi menggunakan senyawa kimia, misalnya colchicine. Efek yang ditimbulkan melalui mutasi dengan colchicine adalah terjadinya penggandaan kromosom atau poliploidisasi.
Autotetraploid secara alami dihasilkan melalui kejadian duplikasi secara spontan dari genom 2x menjadi 4x. Secara artifisial autotetraploid diperoleh melalui perlakuan mutasi mengunakan colchicine. Tanaman autotetraploid dapat menguntungkan secara komersial karena pada tanaman tersebut terjadi peningkatan jumlah kromosom yang mengakibatkan pertambahan ukuran sel, ukuran bunga, buah, stomata dan bagian-bagian tanaman lainnya. Hal tersebut disebabkan terjadinya kenaikan produk dari aktifitas gen (protein atau RNA) yang proposional dengan kenaikan jumlah gen dalam sel (Anthony et al., 2000).
Organisme poliploid umumnya lebih besar dibandingkan dengan organisme diploid, tetapi tidak normalnya proses berpasangan dari kromosom homolog pada saat meiosis menyebabkan beberapa organisme poliploid menjadi steril (Anthony et al., 2000). Namun demikian, persilangan antara dua spesieas yang berbeda yang diikuti dengan penggandaan kromosom melalui perlakuan mutasi dengan colchicine menghasilkan hibrida poliploid yang fertil (Anthony et al., 2000).

Variasi pada tanaman poliploid juga meningkat akibat peristiwa nondisjunction (segregasi yang tidak normal dari kromosom pada saat meiosis atau mitosis). Variasi juga dapat ditimbulkan oleh ketidakseimbangan gen atau tidak sempurnanya kromosom (Anthony et al., 2000). Peningkatan tersebut juga terjadi karena autotetraploid mempunyai dua kali lipat salinan gen per lokus dibandingkan pada populasi diploid maupun allotetraploid (Brown dan Young, 2000).
Poliploidi buatan tersebut merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan hasil minyak esensial maupun metabolit sekunder berbagai jenis tanaman (Tsevtkov Raev, 2006). Pengembangan tanaman melalui poliploidisasi dapat meningkatkan laju pertumbuhan 30%-40% per musim diikuti dengan peningkatan hasil tanaman yang diperoleh (Biopact, 2007).
Autotetraploid buatan yang diperoleh melalui perlakuan mutasi dengan colchicine merupakan salah satu upaya meningkatkan produksi minyak esensiel tanaman vetiver (2n=20). Jenis tetraploid yang diperoleh memiliki vigor yang lebih baik, perakaran lebih panjang dan lebih tebal. Produksi panen yang dihasilkan dari tanaman tetraploid juga lebih unggul dibandingkan dengan jenis tetua diploidnya dan tanaman kontrol (pembanding). Secara ekonomis hasil tanaman tetraploid mempunyai potensi produksi minyak 62,5% lebih tinggi dibanding tetua diploidnya dan 39,2% lebih tinggi dibanding kontrol. Peningkatan hasil tersebut juga berkaitan dengan peningkatan senyawa metabolisme sekunder (Lavania, 1988). Induksi poliploid tanaman lavender menghasilkan minyak 3-5 kali lebih banyak dan diikuti dengan peningkatan kualitas minyak yang dihasilkan dibanding diploid (Urwin, Horsnell, dan Moon, 2005).
Peningkatan ploidi dapat diketahui dengan adanya peningkatan ukuran stomata daun tanaman yang telah diperlakukan. Poliploidi yang dihasilkan juga dapat dideteksi melalui tingkatan DNA dengan flow-cytometry. Hasil deteksi DNA tersebut sama dengan hitungan jumlah kromosom sel ujung akar (Mi-Seon Kim et al., 2003).
Metode lain yang juga sering digunakan untuk membedakan ciri-ciri suatu individu secara molekuler adalah studi isozim, restriction fragment length polymorphism (RFLP), random amplified polymorphism DNA (RAPD), dan simple sequence repeat (SSR). Penerapan suatu metode harus diketahui terlebih dahulu optimasinya. Kemampuan membedakan genotip individu di dalam species maupun beberapa genotip secara tepat sangat diperlukan dalam program pemuliaan tanaman. Karakter morfologi dan fenotip telah banyak dipergunakan, namun sifat kuantitatif umumnya dikendalikan banyak gen dan sangat dipengaruhi lingkungan sehingga perbedaan antar species berkerabat dekat seringkali sulit diamati. Kebanyakan karakter sulit dianalisis karena tidak memiliki sistem pengendalian genetik yang sederhana. Penggunaan penanda molekuler seperti alozim, RFLP dan RAPD dapat dimanfaatkan untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut. Pemakaian marka molekuler berdasarkan pola pita DNA telah banyak digunakan untuk menyusun kekerabatan beberapa individu dalam spesies maupun kekerabatan antar spesies. Penggunaan kekerabatan dapat dijadikan rujukan dalam pemuliaan persilangan untuk mendapatkan keragaman yang tinggi dari hasil persilangan. Penggunaan marka DNA dapat membantu pelaksanaan pemilihan tetua persilangan yang memiliki perbedaan tinggi secara genetik (Correa, 1999). Perkembangan teknik PCR dalam bidang biologi molekuler terjadi dengan cepat setelah ditemukan teknik pelipat gandaan bagian genom tanaman pada beberapa lokus yang berbeda menggunakan primer arbitrari, yang dikenal dengan Random Amplified Polymorphic DNA (Welsh dan McClelland 1990). Pola pita DNA yang dihasilkan pada teknik RAPD sangat konsisten bagi kebanyakan primer dan teknik ini telah digunakan pada berbagai tanaman seperti padi, jagung, kopi serta pada tanaman anggrek (Orozco-Castillo et al. 1994 ; Hoon-Lim et al. 1999).
Salah satu keuntungan analisis keragaman menggunakan teknik molekuler yang memanfaatkan teknologi PCR adalah kuantitas DNA yang diperlukan hanya sedikit. Selain itu, dalam teknik RAPD tingkat kemurnian DNA yang dibutuhkan tidak perlu terlalu tinggi, atau dengan kata lain teknik ini toleran terhadap tingkat kemurnian DNA yang beragam. Penerapanan metode RAPD telah berhasil digunakan untuk membedakan keragaman genetik secara molekuler tanaman anggrek Phalaenopsis yang telah dimutasikan dengan memberikan perlakuan berbagai konsentrasi colchicine (Zainudin, 2007). Penelitian awal terkait dengan analisis molekuler keragaman genetik tanaman jarak pagar telah diperoleh informasi tentang prosedur isolasi DNA menggunakan Sodium Dudocyl Sulfate yang menghasilkan DNA genom jarak pagar dengan kualitas cukup baik dan sesuai untuk proses amplifikasi melalui proses PCR (Zainudin dan Maftuchah 2006), serta rangkaian suhu optimal serta beberapa primer yang sesuai dalam proses amplifikasi DNA jarak pagar lokal Lamongan dan Karangtengah (Maftuchah dan Zainudin, 2006). Pemakaian beberapa primer RAPD yang berukuran 10 basa telah terbukti menghasilkan sidik jari DNA RAPD tanaman jarak pagar dengan tingkat polimorfisme tinggi dengan jumlah 4 sampai 12 pita DNA (Maftuchah, 2006).

8) Metode Pelaksanaan Program
Penelitian ini akan dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Kebun Koleksi Plasma Nutfah Tanaman Jarak pagar BALITTAS yang berlokasi di Karangploso dan Asembagus-Situbondo. Analisis molekuler dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler Pusbang Biotek UMM.
Waktu pelaksanaan penelitian direncanakan selama 5 (lima) bulan. Bahan tanam awal yang akan ditanam berupa benih jarak pagar yang diperoleh dari Kebun Koleksi Plasma Nutfah Tanaman Jarak pagar BALITTAS yang berlokasi di Karangploso dan Asembagus-Situbondo.
Metode penelitian yang akan diterapkan untuk penelitian di lahan adalah percobaan lapang menggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Perlakuan yang diujikan terdiri dari dua faktor:
Faktor I: Jenis Tanaman Jarak Pagar
J1 : Lokal Asembagus
J2 : Lokal Kediri
Faktor II: Penetesan Titik Tumbuh Kecambah dengan Beberapa Konsentrasi Colchicine
K0 : Tanpa penetesan larutan colchicine
K1 : Penetesan larutan colchicine 0,1%
K2 : Penetesan larutan colchicine 0,3%
K3 : Penetesan larutan colchicine 0,5%
Berdasarkan kedua faktor tersebut diperoleh 8 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang sebanyak 3 kali.
Kombinasi perlakuan yang diperoleh adalah:
J1K0 = Jarak pagar lokal Asembagus tanpa penetesan colchicine
J1K1 = Jarak pagar lokal Asembagus dengan penetesan larutan colchicine 0,1%
J1K2 = Jarak pagar lokal Asembagus dengan penetesan larutan colchicine 0,3%
J1K3 = Jarak pagar lokal Asembagus dengan penetesan larutan colchicine 0,5%
J2K0 = Jarak pagar lokal Kediri tanpa penetesan colchicine
J2K1 = Jarak pagar lokal Kediri dengan penetesan larutan colchicine 0,1%
J2K2 = Jarak pagar lokal Kediri dengan penetesan larutan colchicine 0,3%
J2K3 = Jarak pagar lokal Kediri dengan penetesan larutan colchicine 0,5%

Tahap penelitian yang akan dilakukan meliputi:
(1) Penyiapan Benih Hasil Penyerbukan Sendiri (Selfing)
Tahap kegiatan ini diawali dengan penentuan pohon jarak pagar yang dipilih untuk materi penelitian dilanjutkan dengan penutupan bunga menggunakan kantong kain kasa agar terjadi penyerbukan sendiri (selfing) dari masing-masing pohon terpilih. Pohon yang terpilih dipemelihara sampai saat panen buah yaitu kulit buahnya sudah berwarna kuning kecoklatan serta diperoleh benih untuk disemaikan pada tahap berikutnya.

(2) Produksi Bibit Generasi M1 Hasil Perlakuan Colchicine
Kegiatan tersebut diawali dengan penyemaian benih hasil panenan sebelumnya yang telah dikeringkan tidak langsung di bawah terik matahari. Penyemaian dilakukan pada polibag ukuran 2 kg yang berisi media campuran tanah dan pupuk kandang 1:1. Selama menunggu tumbuhnya benih tersebut dilakukan penyiapan larutan colchicine dengan cara menimbang serbuk/kristal colchicine masing-masing 0,1 g (100 mg); 0,3 g (300 mg); dan 0,5 g (500 mg) untuk masing-masing perlakuan konsentrasi 0,1%; 0,3% dan 0,5%; kemudian ditambah alkohol 90% sebanyak 10 tetes sampai larut dan ditambah aquades sampai volume 100 ml. Benih yang sudah berkecambah sebanyak sepuluh kecambah untuk tiap kombinasi perlakuan ditetesi larutan colchicine pada titik tumbuh kecambah yang tumbuh dan membuka kotiledonnya. Penetesan larutan colchicine dilakukan selama 8 kali pada pagi hari (05.30 wib) dan sore hari (17.00 wib) selama empat hari berturut-turut.
(3) Analisis dan Evaluasi Morfologi Bibit, Pertumbuhan Vegetatif bibit dan Anatomi Jaringan Daun Jarak Pagar Generasi M1
Kegiatan tersebut dilakukan setelah bibit tanaman jarak pagar hasil perlakuan penetesan larutan colchicine telah menumbuhkan minimal lima helai daun sejati.
Pengamatan morfologi meliputi: 1) kejadian pigmentasi (warna batang, warna daun, warna tulang daun), 2) bentuk daun, 3) persentase jumlah bibit yang tumbuh dibandingkan total benih ditanam, 4) tinggi bibit, diukur mulai permukaan tanah hingga titik tumbuh tertinggi, 5) diameter pangkal batang, diukur menggunakan jangka sorong.
Pengamatan anatomi jaringan daun bibit tanaman jarak pagar (generasi M1) tiap perlakuan dengan cara membuat preparat sayatan daun bagian bawah untuk mengamati ukuran stomata menggunakan mikroskop yang dilengkapi mikrometer. Stomata yang teramati dipotret untuk menunjukkan perbandingan kenampakan stomata dari tanaman kontrol dengan tanaman yang sudah diperlakukan dengan colchicine.

(4) Analisis Pola Sidik Jari DNA Berdasarkan Penciri RAPD Bibit Tanaman Generasi M1,
Analisis ini dilakukan terhadap daun muda bibit tanaman jarak pagar hasil perlakuan yang sudah tumbuh (generasi M1) yang mengindikasikan terjadinya poliploidi yaitu ukuran stomatanya lebih besar dari daun tanaman kontrol. Proses analisis molekuler tersebur terdiri dari:
a) Isolasi DNA Genom Bibit Tanaman Jarak Pagar Generasi M1
DNA genom tanaman jarak pagar diisolasi dari daun muda bibit tanaman jarak pagar generasi M1. Prosedur isolasi dan purifikasi DNA genom dari daun tanaman jarak pagar dilaksanakan berdasarkan metode Sambrook (1989) yang telah dimodifikasi dengan menggunakan buffer ekstraksi sodium dudocyl sulfate (Zainudin dan Maftuchah, 2006). DNA hasil isolasi yang telah dimurnikan, dihitung konsentrasinya dengan spektrofotometer. DNA dilarutkan dengan TE dan disimpan dalam suhu 40C. DNA genom tanaman jarak pagar hasil isolasi DNA selanjutnya dideteksi melalui proses elektroforesis pada 1% gel agarosa dengan voltase 100 V dengan waktu running selama 1 jam diteruskan dengan dilakukan pemotretan gell dengan polaroid. DNA genom tersebut telah siap dipergunakan sebagai cetakan (template) dalam reaksi Polimerase Chain Reaction.
b) Proses PCR DNA Genom Bibit Tanaman Jarak Pagar Generasi M1
DNA genom tanaman jarak pagar dipergunakan sebagai cetakan (template). Primer yang dipergunakan dalam reaksi PCR ini adalah sepuluh primer RAPD yang masing-masing berukuran sepuluh basa (Maftuchah dan Zainudin, 2006). Volume total reaksi PCR yang dipergunakan adalah sebanyak 25 l, terdiri dari campuran larutan yang terdiri dari DNA taq polimerase dan 10x buffer Taq Polimerase (100 mM Tris-Cl, pH 8.3; 500 mM KCl; 15 mM MgCl2; 0.01 % gelatin); dNTP’S mix (dGTP, dATP, dTTP dan dCTP) (Pharmacia); dH2O dan 30 ηg DNA cetakan. Kondisi untuk reaksi PCR dirancang sesuai dengan hasil penelitian pendahuluan yang telah dilakukan: pre denaturasi 94oC (2 menit), suhu Denaturasi 94oC (1 menit), Annealing 37oC (1 menit) dan perpajangan 72oC (2 menit) (Maftuchah dan Zainudin, 2006). Siklus reaksi PCR diulang sebanyak 40 kali.
c) Visualisasi Hasil PCR
Hasil amplifikasi DNA genom tanaman jarak pada proses PCR dideteksi dengan Elektroforesis Gel Poliakrilamid yang dilanjutkan dengan pewarnaan perak (silver staining). Pola pita inilah yang digunakan untuk deteksi polimorfisme alel DNA RAPD. Fragmen DNA produk PCR dideteksi dari pola pita yang berbeda hasil elektroforesis setelah diwarnai mengggunakan metode pewarnaan perak (silver staining) menurut petunjuk Guillemet and Lewis (Tegelström, 1986), yang telah dimodifikasi. Metode ini cukup efektif dalam mengurangi back ground dan meningkatkan sensitivitas.
d) Deteksi Alel-alel RAPD Tanaman Jarak Pagar Generasi M1
Analisis sidik jari DNA–RAPD dilaksanakan berdasarkan jumlah, frekuensi dan distribusi alel-alel DNA berdasarkan penanda RAPD. Fragmen dideteksi dari pola pita DNA yang berbeda hasil elektroforesis gel agarose dari produk PCR. Penentuan posisi pita DNA dilakukan secara manual (Leung et al., 1993). Beberapa hal yang dilakukan untuk memudahkan pengamatan: 1) Seluruh pita DNA dengan laju migrasi yang sama diasumsikan sebagai lokus yang homologus, 2) Masing-masing pita DNA ditandai (dapat menggunakan tinta berwarna), tiap tanda mewakili satu posisi pita DNA tertentu, yang dilakukan dengan menempelkan plastik transparan pada foto gel, 3) Bila jalur DNA yang dibandingkan terpisah satu sama lain, maka dapat digunakan bantuan alat (misal mistar) untuk membantu menentukan posisi pita DNA, 4) Data profil DNA merupakan data alel yang teramati dengan ketentuan ada dan tidaknya pita DNA berdasarkan ukuran produk PCR pada satu posisi yang sama dari beberapa individu yang dibandingkan.
Pita yang muncul pada gel diasumsikan sebagai alel RAPD. Keragaman alel RAPD ditentukan dari perbedaan migrasi alel pada gel dari masing-masing individu sampel. Berdasarkan ada atau tidaknya pita RAPD, profil pita diterjemahkan ke dalam data biner, untuk penyusunan matriks data biner yang diturunkan menjadi matriks kemiripan genetika (Nei dan Li, 1979). Analisis pengelompokan dan pembuatan dendogram dilakukan menggunakan metode Unweighted Pair-Group Method With Arithmetic (UPGMA) melalui program Numerical Taxonomy and Multivariate System (NTSYS) versi 1,8. Derajad ketelitian data UPGMA dianalisis dengan analisis bootstrap menggunakan program WinBoot. Berdasarkan informasi tersebut diharapkan dapat diperoleh pula informasi spesifik untuk tanaman jarak yang telah diberi perlakuan colchicine.

9) Jadwal Kegiatan Program

Bulan Ke…
No. KEGIATAN 1 2 3 4 5
1. Pemilihan, Penyiapan, pemeliharan pohon induk untuk proses selfing
2. Proses Penyerbukan Sendiri (Selfing)
3. Pemeliharaan buah dan penanganan benih
4. Penyemaian benih hasil selfing
5. Penyiapan dan perlakuan colchicine pada kecambah
6. Pemeliharaan bibit dan tanaman generasi M1
7. Analisis morfologi, pertumbuhan bibit dan anatomi jaringan daun jarak pagar generasi M1
8. Isolasi DNA genom, Reaksi PCR, Deteksi alel-alel RAPD tanaman jarak pagar generasi M1
9. Analisis data dan penulisan laporan

10) Nama dan Biodata Ketua serta Anggota Kelompok
1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Estherina Noventhi Subandi
b. NIM : 04710006
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/Agronomi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Alamat Rumah : Jln. WR Supratman Gang I No.43 RT 01 RW 01 Tulungagung 66212, Telp. O355-328005 / HP. 085233049828
g. Alamat Malang : Perum Landungsari Asri Blok C-79 Malang, Telp. 0341-462354
h. E-mail : Alvent@yahoo.com
i. Pengalaman Organisasi : 1. BEMFA Bidang Pendidikan dan Penalaran
2. HMI (Anggota)

2. Anggota Pelaksana I
a. Nama Lengkap : Denny Prasetyo
b. NIM : 05710004
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/Agronomi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Alamat Rumah : Jl. Abadi RT 01 RW 08 Kedungwaru-Ngelgok-Blitar 66181 JATIM
g. Alamat Malang : Jl. Tirto Utomo VI No. 27 Landungsari Malang-JATIM, HP. 085649721722
h. Pengalaman Organisasi : 1. BEMFA (Anggota Bidang Ke-Islaman)
2. FKI Al-Huda (Sekretaris Umum)

3. Anggota Pelaksana II
a. Nama Lengkap : Ari Kusuma Wardani
b. NIM : 06710038
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/Agronomi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Alamat Rumah : Desa Kerkep Kecamatan Gurah Kab. Kediri, Telp. 0354-546203
g. Alamat Malang : Jl. Tirto Utomo VI No. 9 Landungsari-Malang-JATIM, Telp. 0341-468682, HP. 085645283301
h. Pengalaman Organisasi : 1. HMJ Agronomi (anggota)
2. Tapak Suci (Kabid. Kesejahtera-an)

11) Nama dan Biodata Dosen Pendamping
1. Nama Lengkap : Ir. Agus Zainudin,MP.
2. NIP : 105.9109.0238
3. Golongan Pangkat dan : IIIc / Penata
4. Jabatan Fungsional : Lektor
5. Jabatan Struktural : -
6. Fakultas/Program Studi : Pertanian / Agronomi
7. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
8. Bidang Keahlian : Pemuliaan Mutasi Tanaman
9. Waktu untuk kegiatan : 8 jam/minggu

12) Biaya
No. Kebutuhan Penelitian Besar Biaya (Rp)
1. Bahan habis pakai
a. Benih tanaman jarak pagar 1 kg 50.000.00
b. Media tanam, pupuk, pestisida 150.000.00
c. Colchicine 250 mg, alkohol, aquades 750.000.00
d. Proses Isolasi DNA genom 1.000.000.00
e. Proses PCR RAPD 2.100.000.00
2. Peralatan penunjang PKM
a. Sewa sarana-prasarana laboratorium 650.000.00
b. Sewa sarana-prasarana kebun koleksi 250.000.00
3. Perjalanan (Malang-Asembagus 4 kali, Malang-Karangploso 4 kali) 700.000.00
4. Lain-lain (Dokumentasi, Analisis data, pelaporan) 350.000.00
JUMLAH 6.000.000.00

13) Daftar Pustaka
Anthony J.F., Griffiths, Jeffrey H. Miller, David T. Suzuki, Richard C. Lewontin, William M. Gelbart, 2000, An Introduction to Genetic Analysis, W.H.Freeman and Company, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ books/bv.fcgi?call=bv.View.ShowSection&rid=iga.section.3058
Biopact. 2007. Polyploid technology brings high yield energy crops. http://biopact.com/2007/03/polyploid-technology-brings-high-yield. html

BPPT. 2006. Biodisel. http://ec.bppt.go.id/biodiesel/index.htm

Brown, A.H.D., dan Young, A.G., 2000, Genetic Diversity In Tetraploid Populations Of The Endangered Daisy Rutidosis Leptorrhynchoides And Implications For Its Conservation, Journal Heredity, August Edition 2000, Vol. 85, No. 2, Pages 122-129, http://www.nature.com/hdy/journal/v85/ n2/full/ 6887420a.html

Correa, R. X.,Ricardo V. A., Fabio G. F. Cosme D. C., Maurilio A. M., dan Everaldo G. B., 1999. Genetic Distance in Soybean Based on RAPD Markers. (On line), http://www.scielo.br/scielo.php diakses 22 April 2004

Dwimahyani, I. 2006. Pemanfaatan Teknologi Nuklir Dalam Pengembangan Tanaman Jarak (Jatropha curcas L.) Sebagai Bahan Biodesesel / Budi Daya Tanaman Jarak (Jatropha curcas L.) Sebagai Tanaman Lorong di Lahan Bermasalah http://www.batan.go.id/mediakita/current/ mediakita.php

Hariyadi. 2005. Budidaya Tanaman jarak (Jatropha curcas L.) sebagai sumber bahan alternatif biofuel. Lokakarya prospektif sumberdaya lokal bioenergi. KNRT-Puspiptek Serpong. Jakarta 14-15 September 2007
Hasnam. 2006. Variasi Jatropha curcas L. Infotek Jarak Pagar. Volume 1, No. 2, Februari 2006. http://perkebunan.litbang.deptan.go.id /index. Php? Option=com_content&task=view&id=38&Itemid=7

Lavania. U.C. 1988. Enhanced productivity of the essential oil in the artificial autopolyploid of vetiver (Vetiveria zizanioides L. Nash). Euphytica Volume 38, Number 3 / July, 1988. http://www.springerlink.com/content/k11123l97567khj5/

Maftuchah dan Zainudin, A. 2006. Optimasi proses Polimerase Chain Reaction DNA genom tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). Jurnal Tropika.
Maftuchah. 2006. Analisis molekuler tiga aksesi jarak pagar (Jatropha curcas L) berdasarkan penanda Random Amplified Polymorphic DNA Program Penelitian Dasar Keilmuan. DPP-Universitas Muhammadiyah Malang
Mardjono, R., Sudarmo, H., dan Sudarmadji. 2006. Uji Daya Hasil Beberapa Genotipa Terpilih Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Prosiding Lokakarya II Status Teknologi Tanaman Jarak Pagar Jatropha curcas L. Bogor 29 Nopember 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Media Kita. 2006. Membuat minyak bio-diesel dari jarak pagar. http://www.batan.go.id/mediakita/current/mediakita.php
Mi-Seon Kim, Jae-Yeong, Kim, Jong-Seon Eun, 2003, Chromosome Doubling of a Cymbidium Hybrid with Colchicine Treatment in Meristem Culture, National Horticultural Research Institute, R. D. A., Suwon 440-310, Korea Dept. of Horticultural Science, Chonbuk National Univ., Chonju 560-756, Korea http://www.biolo.aichi-edu.ac.jp/NIOC2003poster/10KoreaCym.pdf

Orozco-Castillo C, Chalmers KJ, Waugh R, and Powell W. 1994. Detection of genetic diversity and selective gene introgression in coffee sing RAPD markers. Theor Appl Genet 87:934-940.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 2006. Infotek Jarak Pagar Volume 1, Nomor 2, Februari 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Sudarmo, H., Heliyanto, B., Suwarso, dan Sudarmadji. 2007. Aksesi potensial jarak pagar (Jatropha curcas L.). Prosiding Lokakarya II: Status Teknologi Tanaman Jarak Pagar di Bogor, 29 Nopember 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Tsevtkov-Raev, R., R. Jordanov, V. Zheljazkov. Induced Polyploidy In Lavender. 2006. International Society for Horticultural Science. ISHS Acta Horticulturae 426: International Symposium on Medicinal and Aromatic Plants. http://www.actahort.org/members/showpdf? booknrarnr=426_61
Urwin N, Horsnell, J and Moon T. 2005. Improvement of Lavender by Manipulation of Chromosome number. Lavender Bag, 23:5-1. http://www.rirdc.gov.au/comp04/eoi1.html
Welsh J and McCleland M. 1990. Fingerprinting genomes using PCR with arbitrary primers. Nucleic Acids Res. 18:7213-7218
Zainudin A. dan Maftuchah. 2006. Pengembangan metode isolasi DNA genom pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). GAMMA Jurnal Ilmu Eksakta Volume 2 Nomor 1: 20-32

14) Lampiran

1. Daftar Riwayat Hidup Ketua Pelaksana

Nama : Estherina Noventhi. Subandi
Alamat : Jln. Wr Supratman Gang I No. 43 RT/RW 1/1 Tulungagung 66212
Tempat Tanggal Lahir : Tulungagung 21 November 1985
Pendidikan:
1. SDN Kampung Dalem 02 Tulungagung Tahun 1992-1998
2. SLTPN 01 Tulungagung Tahun 1998-2001
3. SMUN Kedungwaru 01 Tahun 2001- 2004
Pengalaman Organisasi:
1. HMJ Agronomi ( Anggota)
2. BEMFA (Anggota Bidang Pendidikan Dan Penalaran)
3. HMI ( Anggota )

2. Daftar Riwayat Hidup Anggota Pelaksana I

Nama : Denny Prasetyo
Alamat : Jln. Jl. Abadi RT 01 RW 08 Kedungwaru-Nglegok-Blitar 66181 Jatim
Tempat Tanggal Lahir : Blitar 04 Agustus 1986
Pendidikan:
1. SDN Kemloko 01 Tahun 1993- 1999
2. SLTPN 01 Legok Tahun 1999- 2002
3. SMUN 01 Garum Tahun 2002- 2005
Pengalaman Organisasi:
1. BEMFA ( Anggota Bidang Ke-Islaman)
2. FKI Al-Huda ( Sekretaris Umum)

3. Daftar Riwayat Hidup Anggota Pelaksana I

Nama : Ari Kusuma Wardani
Alamat : Desa Kerkep Kecamatan Gurah Kab. Kediri, Telp. 0354-546203
Tempat Tanggal Lahir : Kediri, 06 Januari 1988
Pendidikan:
1. SDN Kerkep Tahun 1994- 2000
2. SLTPN 01 Gurah Tahun 2000- 2003
3. SMUN 01 Plosoklaten Tahun 2003- 2006
Pengalaman Organisasi:
1. HMJ Agronomi ( Anggota)
2. Tapak Suci ( Kabid. Kesejahteraan)

4. Daftar Riwayat Hidup Dosen Pendamping

Nama Lengkap : Agus Zainudin
Gelar Kesarjanaan : Ir. MP.
Jenis Kelamin : Laki-laki
NIP-UMM : 10591090238
Unit Kerja : Fakultas Pertanian – Univ. Muhammadiyah Malang.
Bidang Keahlian : Pemuliaan dan Genetika Tanaman
Pendidikan Akhir : Pasca Sarjana S-2 Program Studi Agronomi Program Pascasarjana UGM Yogyakarta tahun 2003
Alokasi Waktu : 8 jam / minggu
Lembaga : Universitas Muhammadiyah Malang
Jl. Raya Tlogomas 246 Malang – 65144
Telp. 0341-464318 / 464319 (Ext. 165)
Faximile. 0341-460782 / HP : 08123317247
e-mail: agusz@umm.ac.id / agszain@yahoo.com

A. Riwayat Pendidikan (dari sarjana muda / yang sederajat)
No Universitas/Institut dan Lokasi Gelar Tahun Selesai Bidang Studi
1. Fakultas Pertanian
Univ. Brawijaya , Malang Insinyur 1988 Budidaya Pertanian
2. Program Pascasarjana
Univ. Gadjah Mada,
Yogyakarta Magister
Pertanian 2003 Ilmu Tanaman

B. Pengalaman Kerja
No Institusi / Program Jabatan Periode Kerja
1. Dosen Luar biasa UMM Staff Pengajar 1989 – 1990

2. Dosen Tetap UMM Staff Pengajar 1991– sekarang
3. Lab. Komputer Pertanian Sekretaris 1992 – 1994
4. Pusat Pengembangan Bioteknologi (Pusbang Bioteknologi) UMM Staff Peneliti 1995 – sekarang
5. Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Sekretaris 1994 – 1997
6. Badan Pengembangan SDM UMM Sekretaris 2000 – 2003
7. Kebun Percobaan Faperta UMM Kepala Tahun 2003-2005
8 Lembaga Penelitian (Lemlit), Universitas Muhammadiyah Malang Manager Mutu 2005 – sekarang

C. Pengalaman Penelitian
No Judul Tahun Sumber Dana
1. Analisis molekuler tanaman mangga lokal dengan penciri Random Amplified Polymorphic DNA 2007 PDM DIKTI-Depdiknan
2. PCR-RAPD PLB Tanaman Anggrek Phalaenopsis sp. Hasil Perlakuan Penetesan Mutagen Kimia Colchicine 2006 DPP UMM
3. Produktifitas Tiga Varietas Hibrida Jagung Manis
( Zea Mays Sacharata Sturt. ) Pada Perlakuan Beberapa Dosis Pupuk Kascing 2005 DPP UMM
4. Respon Tiga Varietas Jagung Manis (Zea mays sacharata Sturt.) terhadap Pemberian Pupuk Organik 2004 DPP UMM
5. Kajian Potensi Hasil Buah Apel Batu Pada Sistem Pertanian Organik Dan An-Organik 2004 DPP UMM
6. Respon Beberapa Varietas Tanaman Paprika (Capsicum Annuum Var. Grossum L.) terhadap Pemberian Pupuk Organik pada Sistem Modifikasi Organic Greenhouse 2003 PDM DIKTI – Depdikbud
7. Induksi Mutagenik Beberapa Varietas Semangka dengan Perlakuan Kolkisin 2003 DPP UMM
8. Kajian Kuantitas dan Kualitas Hasil Beberapa Varietas Padi Sawah dengan Perlakuan Inokulasi Anabaena Azollae dan Pemberian Campuran Pupuk Kandang 2002 DPP UMM
9. Dekomposisi An-aerob Beberapa Limbah Organik dengan Inokulasi Campuran Mikroba Pengurai dan Uji Penerapan Komposnya pada Beberapa Varietas Tomat 2002 DPP UMM
10. Efektifitas Inokulasi Mikroba Tanah terhadap Dekomposisi Beberapa Limbah Organik serta Pengaruh Komposnya terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat 2001 PDM DIKTI-Depdikbud
11. Respon Beberapa Varietas Padi Sawah terhadap Pemberian Pupuk Organik dan Pupuk Hayati 2000 DPP UMM
12. Dekomposisi Kotoran Sapi dengan Inokulasi Campuran Mikroba Tanah dan Penggunaan Komposnya pada Tanaman Bawang 1999 DPP UMM
13. Pengaruh Inokulasi Berbagai Jenis Mikroba Tanah pada Dekomposisi Kotoran Sapi dan Pengujiaannya pada Tanaman Bawang Merah 1998 PDM DIKTI
14. Pengaruh Konsentrasi Nitrogen Terhadap Produksi Protein Mikroalga Anabaena azollae 1997 DPP UMM
15. Asosiasi Azolla-Anabaena sebagai Sumber Nitrogen Alami dan Pemanfaatannya sebagai Bahan Baku Protein 1997 PDM DIKTI
16. Pengaruh Pemberian Kompos Azolla sp. terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi IR64 1996 DPP UMM
17. Pengaruh Dosis Beberapa jenis Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Varietas Tanaman Semangka 1995 DPP UMM
18. Perlakuan Mutasi dengan Perlakuan Colchicine pada Beberapa Varietas Semangka 1994 DPP UMM

D. Daftar Karya Ilmiah / Publikasi Ilmiah
No Judul Publikasi, Tahun, Media / Jurnal
1. Zainudin, A. dan Maftuchah. 2006. Pengembangan metode isolasi DNA genom pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). GAMMA Jurnal Ilmu Eksakta 2(1) : 20-32
2. Zainudin, A. 2006. Optimasi Proses PCR-RAPD Pada PLB Tanaman Anggrek Oncidium sp. Hasil Perlakuan Penetesan Mutagen Kimia Colchicine. GAMMA Jurnal Ilmu Eksakta 1 (2) : 91-103
3. Maftuchah, A. Zainudin, J.B. Sulistiyanto and A.H. Kaswari. 1999. In Vitro Culture of Artemisia (Artemisia vulgaris L.) Through Callus Induction. Proceedings The International Biotechnology Conference. Jakarta.
4. Maftuchah, A. Winaya, A. Zainudin. 1999. Pengujian Berbagai Komposisi Media Selektif Terhadap Daya Tumbuh Sel Mikroalga Anabaena azollae. Prosiding Seminar Nasional PIT-PERMI, Padang
5. Maftuchah, A. Winaya, A. Zainudin. 1999. Kadar Nitrogen dan Kandungan Protein Mikroalga Anabaena azollae Pada Berbagai Konsentrasi Cobalt dalam Medium Bebas Nitrogen. Prosiding Seminar Nasional PIT-PERMI, Padang.
6. Maftuchah, A. Winaya, A. Zainudin. 1999. Pengaruh Tingkat Kemasaman Media Kultur Terhadap Biomassa dan Kandungan Protein Mikroalga Anabaena azollae. Prosiding Seminar Nasional PIT-PERMI, Padang
7. Zainudin, A. 1996. Pembentukan Semangka Poliploid dengan Perlakuan Mutasi Kimia Menggunakan Senyawa Kolkisin, Tropika II (2): 27-38

Malang, 29 September 2007

Ir. Agus Zainudin, MP.

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar

Pemanfaatan Ekstrak Pigmen Bunga Kana Merah (Canna coccinea Mill.) Sebagai Tablet Effervescent

A. JUDUL PROGRAM :
Pemanfaatan Ekstrak Pigmen Bunga Kana Merah (Canna coccinea Mill.) Sebagai Tablet Effervescent

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Di Indonesia tanaman kana (Canna coccinea Mill.) merupakan salah satu tanaman hias yang potensial. Tanaman ini memiliki warna bunga yang sangat beragam mulai dari merah tua, merah muda kuning, sampai dengan kombinasi dari warna-warna tersebut, karena keindahannya tersebut, maka tanaman kana mulai dipergunakan sebagai ornamen taman kota, dan sebagai tanaman hias dalam pot. Terlebih akhir-akhir ini di beberapa kota termasuk Kota Batu dilakukan penanaman bunga kana (“kananisasi”) di sepanjang jalan raya. Beragamnya warna bunga kana mengindikasikan bahwa bunga tersebut mengandung pigmen alami (antosianin, antosantin) yang dapat digunakan sebagai zat pewarna alami alternatif maupun sebagai antioksidan alami.
Pigmen bunga kana merah memiliki kandungan senyawa Flavonoid, tepatnya antosianin. Antosianin merupakan jenis dari flavonoid yang penting untuk diperhatikan sebab mempunyai beberapa respon positif bagi tubuh. Antosianin dan beberapa flavonoid lainnya banyak dikabarkan akhir-akhir ini bermanfaat didunia kesehatan seperti fungsinya sebagai antikarsinogen, antiinflamasi, antihepatoksik, antibakterial, antiviral, antialergenik, antitrombotik, dan sebagai perlindungan akibat kerusakan yang disebabkan oleh radiasi sinar UV dan sebagai antioksidan (Holton 1995; Macdougall 2002).
Antioksidan merupakan zat yang anti terhadap zat lain yang bekerja sebagai oksidan. Adanya antioksidan alami maupun sintetik dalam makanan dapat menghambat oksidasi lipida, mencegah kerusakan, perubahan dan degradasi komponen organik dalam bahan pangan sehingga dapat memperpanjang waktu simpan. Antioksidan alami dapat diperoleh dari ekstrak bagian tanaman rempah-rempah atau tanaman obat-obatan seperti akar, batang, daun, bunga, dan biji.
Biasanya kebanyakan orang mengenal tanaman ini sebagai tanaman hias belaka. Hanya sedikit orang yang mengetahui khasiat tanaman kana (Canna coccinea Mill.), walaupun demikian cara mereka memafaatkannya masih sangat tradisional dan jauh dari kesan yang praktis. Di zaman modern semacam ini banyak orang yang menuntut semuanya serba praktis dan instan termasuk masalah kesehatan pada diri mereka. Cara yang praktis dan instan tersebut sangat diminati masyarakat karena sebagian besar masyarakat memiliki mobilitas kehidupan yang sangat tinggi. Sehingga di sini peneliti mencoba untuk menginstankan bunga kana (Canna coccinea Mill.) menjadi salah satu produk effervescent agar lebih praktis dan mudah untuk dikonsumsi. Dengan bantuan tekhnologi yang semakin canggih diharapkan program ini dapat terealisasikan, serta dapat diharapkan pula effervescent Bunga kana instan ini lebih memudahkan masyarakat dalam mengkonsumsinya.
Berkembangnya obat-obat fitoterapi dan semakin berkembangnya perusahaan obat tradisional di Indonesia menunjukkan bahwa, penduduk Indonesia makin menyadari pentingnya gerakan back to nature dan mengetahui efek samping dari penggunaan bahan kimia baik dalam makanan maupun obat-obatan. Apalagi mengetahui bahwa kekayaan hayati negeri kita banyak yang memiliki khasiat dan fungsi sebagai sumber pangan dan menunjang vitalitas tubuh, serta dapat mencegah dan mengobati suatu penyakit, diantaranya adalah tanaman Kana Merah. Oleh karena manfaat bunga kana begitu besar bagi kesehatan untuk itulah peneliti membuat tablet Effervescent dari bunga kana merah.

C. PERUMUSAN MASALAH
Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam pembuatan tablet effervescent dari ekstrak pigmen bunga kana adalah sebagai berikut :
1. Jenis pelarut apakah yang efektif digunakan untuk mengekstrak pigmen bunga kana merah ?
2. Bagaimana pengaruh prosentase filler ( bahan pengisi) terhadap kualitas tepung pigmen yang dihasilkan ?
3. Bagaimana pengaruh prosentase penggunaan Na-bikarbonat terhadap kualitas tablet effervescent dari ekstrak bunga kana merah ?

D. TUJUAN PROGRAM
Tujuan Khusus yang ingin dicapai pada penelitian ini, antara lain :
1. Mengetahui cara metode yang tepat dalam melakukan ekstraksi pigmen bunga kana merah, khususnya jenis pelarut yang digunakan..
2. Mengetahui pengaruh prosentase filler (bahan pengisi) terhadap kualitas tepung pigmen bunga kana merah.
3. Mengetahui pengaruh prosentase penggunaan Na-bikarbonat terhadap kualitas tablet effervescent dari ekstrak bunga kana merah.
4. Menghasilkan produk tablet effervescent dari ekstrak pigmen bunga kana merah, agar
meningkat daya gunanya untuk masyarakat.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat diketahui metode ekstraksi yang tepat untuk memperoleh pigmen bunga kana merah secara maksimal, terutama jenis pelarut dan prosentase filler yang digunakan, untuk kemudian dapat dioptimalkan fungsinya sebagai bahan baku tablet efferevescent karena mengandung senyawa bioaktif yang dapat meningkatkan vitalitas atau menyehatkan masyarakat. Hasil penelitian akan dipublikasikan dalam bentuk artikel ilmiah.

F. KEGUNAAN PROGRAM
Adapun kegunaan yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah :
1. Aspek akademik : Menerapkan salah satu mata kuliah dari Jurusan Teknologi Hasil Pertanian bidang studi Analisa Pangan ( Hasil Pertanian) dan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian.
2. Aspek ekonomi : Dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dengan peningkatan budidaya tanaman (khususnya bunga Kana Merah) sebagai sumber bahan baku obat yang alami. Dan dapat menyediakan, menyerap lapangan kerja baru, dengan merintis terbentuknya usaha industrialisasi secara berkala dengan berbasis ekosistem atau kekayaan hayati lokal.
3. Upaya pengembangan tanaman kana (Canna coccinea Mill.) dengan pengolahan yang lebih bermafaat bagi masyarakat.

G. TINJAUAN PUSTAKA
G.1. Bunga Kana dan Potensinya
Tanaman kana (Canna coccinea Mill.) banyak dikenal dengan nama lili kana, kembang tasbih, panah india, ganyong hutan, puspa mjindra, ganyong wono, ganyong alas, dan ganyong leuweung. Organ utama tanaman kana terdiri dari akar (rimpang), batang semu, daun, bunga, buah, dan biji. Perakaran tanaman kana disebut rimpang (geragih), batangnya mengandung air (herbaceous) dan terbentuk dari pelepah-pelepah daun yang saling menutupi satu sama lain sehingga disebut “batang palsu”.
Daun tersusun dalam tangkai pendek dan tumbuh berselang-seling, berbentuk oval dengan ujung runcing. Permukaan daun bagian atas berwarna hijau, tembaga gelap atau keungu-unguan, sedangkan permukaan bagian bawah tertutup lapisan putih seperti bedak. Kuntum bunga berbentuk mirip corong, terdiri dari tiga sampai lima helai mahkota bunga yang berukuran kecil sampai besar tergantung jenisnya. Warna mahkota bervariasi, antara lain kuning cerah, kuning tua, merah muda, merah tua, jingga, kuning berbintik-bintik coklat atau kombinasi dari warna-warna tersebut (Rukmana, 1997).
Umbi bunga tasbih mengandung pati (tepung halus) serta banyak zat lain, yaitu enam substansi phenol, dua terpene, dan empat coumarin. Selain zat-zat tersebut, zat lain yang juga terdapat di dalamnya adalah glukosa, lemak, alkaloid, dan getah (Anonim, 2005).
Tanaman bunga kana, mudah tumbuh di sekitar halaman kita, jadi sebenarnya bisa dimanfaatkan. Terlebih akhir-akhir ini di beberapa kota termasuk Kota Batu dilakukan penanaman bunga kana (“kananisasi”) di sepanjang jalan raya. Padahal mahkota bunga yang beraneka warna berpotensi mengandung pigmen antosianin. Pada tahun 2002 hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak pigmen bunga kana merah tua terbukti mengandung antosianin berjenis pelargonidin glikosida, dengan kadar gula yang lebih banyak daripada bunga pacar air, yaitu sebesar 3,2%. Juga dapat menyumbangkan warna makanan-minuman (sari buah, susu fermentasi, jelly/agar-agar) meskipun hanya ditambahkan sebanyak 1-3%, tanpa menggunakan pewarna sintetis sama sekali. Karena sifatnya yang larut dalam air ini, maka pigmen antosianin dan antosantin relatif mudah dan berpeluang besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alamiah.
Yang lebih menggembirakan lagi adalah setelah diuji daya lindungnya terhadap komponen gizi yang mudah mengalami oksidasi, seperti vitamin C ) pada sari buah) dan lemak (pada susu fermentasi). Kandungan lemak pada susu fermentasi/yoghurt dapat dipertahankan 86,7%nya ( dengan kadar 0,117%, tanpa pigmen 0,087 %) setelah disimpan 6 hari pada suhu dingin maupun suhu kamar. Bahkan pigmen pekat yang telah disimpan selama 60 hari (suhu dingin/ cold storage) terbukti masih bagus menyumbangkan warna merah pada kue tradisional (apem, bolu kukus dan bikang).
Berdasarkan hasil uji organoleptik atau sensorik, penggunaan ekstrak bunga kana merah ini lebih sesuai digunakan untuk bahan pewarna alami produk minuman, misalnya sirup, sari buah dan yoghurt. Disamping rasanya yang sesuai, yaitu menyumbangkan warna dan rasa manis sedikit asam, juga penggunaan asam sitrat pada waktu ekstraksinya membantu menjadi bahan pengawet dan fungsi antioksidannya juga bersifat sinergis dengan pigmen antosianin ( Susanto, 1998; Rahardjo, 2004)
G.2. Pigmen Antosianin
G.2.1 Sifat Fisik Antosianin
Antosianin adalah kelompok pigmen yang berwarna merah sampai biru yang tersebar dalam tanaman. Pada dasarnya, antosianin terdapat dalam sel epidermal dari buah, akar, dan daun pada buah tua dan masak (Eskin, 1979 dalam Abbas 2003). Pada beberapa buah-buahan dan sayuran serta bunga memperlihatkan warna-warna yang menarik yang mereka miliki termasuk komponen warna yang bersifat larut dalam air dan terdapat dalam cairan sel tumbuhan (Fennema, 1976).
Menurut De Man (1997), pigmen antosianin terdapat dalam cairan sel tumbuhan, senyawa ini berbentuk glikosida dan menjadi penyebab warna merah, biru, dan violet yang banyak terdapat pada buah dan sayur. Antosianin berwarna kuat dan namanya diambil dari nama bunga. Sebagian besar, antosianin mengalami perubahan selama penyimpanan dan pengolahan. Beberapa studi mengatakan bahwa warna kuning, orange atau merah yang disebabkan oleh pigmen karotenoid ini terdapat dalam jumlah kecil (0,005-0,008% berat bahan segar) bersama-sama klorofil. Disamping itu, karotenoid terdapat pada jaringan yang tidak hijau sebagai kristal-kristal kecil dalam sitoplasma atau dalam membran yang membatasi kromoplas. Karotenoid yang terdapat pada bagian selain kloroplas dalam hal tertentu dapat terakumulasi sampai kurang lebih 0,1% berat bahan segar (Tranggono, 1990).
Berbeda dengan apa yang dikemukakan Macheix et.al (1990); Geissman (1969) bahwa antosianin ditampakkan oleh panjang gelombang dari absorbansi maksimal spektrum pada 500-550 nm dan pada spektrum ultraviolet 280 nm. Masing-masing jenis antosianin memiliki absorbansi maksimal seperti pada panjang gelombang jenis pelargonidin 520 nm (merah tua atau merah hati), sianidin 535 nm merah tua, dan delphidin 546 nm (biru lembayung muda). Intensitas warna dipengaruhi oleh kedaan pigmen dan yang paling berpengaruh adalah konsentrasi, pH dan suhu, sedangkan lainnya adalah cara penghancuran pigmen. Jenis antosianin ditentukan oleh harga Rf (retrogradation factor) pada fase gerak (mobil) yang nilainya dapat dilihat pada Tabel 1. berikut

Tabel 1. Harga Rf Antosianin dengan Beberapa Fase gerak/mobil
Jenis antosianin Rf (x100) dalam
BAA BuHCl 1% HCl
a. Monoglikosida
– Pelargonidin 3-glukosida
– Sianidin 3-glukosida
– Malvidin 3-glukosida
b. Diglikosida
– Pelargonidin 3,5 diglukosida
– Peonidin 3,5 diglukosida
– Delvidin 3,5 diglukosida
c. Triglikosida
– Sianidin3ramnosildiglukosida
d. Diglukosida terasilasi
– Pelargonidin 3 (p-umarilgluko-sida) 5-glukosida
44
38
38

31
31
15

25

40
38
25
15

14
10
3

8

46
14
7
6

23
8
8

36

61
Sumber : Harborne (1987).

G.2.2 Sifat Kimia Antosianin
Antosianin merupakan jenis dari flavonoid yang penting untuk diperhatikan sebab mempunyai beberapa respon positif bagi tubuh. Antosianin dan beberapa flavonoid lainnya banyak dikabarkan akhir-akhir ini bermanfaat didunia kesehatan seperti fungsinya sebagai antikarsinogen, antiinflamasi, antihepatoksik, antibakterial, antiviral, antialergenik, antitrombotik, dan sebagai perlindungan akibat kerusakan yang disebabkan oleh radiasi sinar UV dan sebagai antioksidan (Holton 1995; Macdougall 2002). Antosianin merupakan glukosida yang sebagian besar penyebab warna pada bunga merah dan biru, sedangkan antosianidin merupakan suatu tipe garam flavilium yang bukan merupakan gula dari glukosida. Warna tertentu yang diberikan oleh suatu antosianin, sebagian bergantung pada pH bunga. Warna biru bunga cornflower (bunga biru yang tumbuh di ladang gandum) dan warna merah bunga mawar disebabkan oleh antosianin yang sama, yakni sianin. Dalam sekuntum mawar merah, sianin berada dalam bentuk fenol. Dalam cornflower biru, sianin berada dalam bentuk anionnya dengan hilangnya sebuah proton dari salah satu gugus fenolnya. Dalam hal ini, sianin serupa dengan indikator asam basa (Fessenden,1982).
Frekuensi antosianin ketika bercampur, dikatakan oleh Fennema (1976), bahwa sebagain komponen campuran akan mengalami penambahan warna, misalnya kandungan anggur biru tidak hanya glikosida dari delfinidin tapi syringidin yang merupakan dimethyl eter dari delphinidin.
Menurut Winarno (2002), antosianin dan antoxantin tergolong pigmen yang tergolong senyawa flavonoid yang pada umumnya larut dalam air. Flavonoid mengandung dua cincin benzena yang dihubungkan oleh tiga atom karbon. Ketiga karbon tersebut dirapatkan oleh sebuah atom oksigen sehingga terbentuk cincin diantara dua cincin benzena. Struktur antosinin secara umum dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Struktur antosianin secara umum (Winarno, 2002)

Seluruh senyawa antosianin merupakan senyawa turunan dari kation flavilum. Banyak senyawa yang ditemukan, akan tetapi hanya enam yang memegang peranan penting dalam bahan pangan yaitu pelargonidin, sianidin, delfidin, pelargonidin, petunidin dan malvidin. Pigmen antosianin terdiri dari glikogen (antosianidin) yang teresterifikasi oleh satu atau lebih gula (Francis, 1985; Markakis, 1982).
Antosianidin pada umumnya ada enam. Antosianidin ini adalah aglikon antosianin yang terbentuk apabila antosianin dihidrolisis dengan asam. Antosianidin yang paling umum pada saat ini adalah sianidin yang berwarna merah lembayung. Warna jingga disebabkan oleh pelargonidin yang gugus hidroksilnya kurang satu dibanding sianidin, sedangkan warna merah senduduk, lembayung dan biru umumnya disebabkan oleh delfidin yang gugus hidroksilnya lebih satu dibandingkan dengan sianidin (Harborne, 1987).
Gross (1987), menyatakan bahwa lima puluh antosianin yang berbeda ditemukan dalam buah-buahan yang umum, aglikonnya diwakili oleh enam antosianidin umum seperti pelargonidin, sianidin, delfinidin, peonidin, pentunidin dan malvidin. Sianidin terdapat sebanyak 55%, peonidin dan delfinidin masing-masing sebanyak 12%, pelargonidin dan malvidin masing masing sebanyak 8% dan petunidin 6%. Strukturnya dapat dilihat pada Gambar 2.
Secara kimia, semua antosianin merupakan turunan suatu aromatik tunggal yaitu sianidin dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil atau dengan metilasi atau glikosilase (Harborne, 1987).

Pelargonidin Sianidin Delfinidin

Peonidin Petunidin Malvidin
Gambar 2. Struktur Kimia Pelargonidin, Sianidin, Depfidin, Peonidin, Petunidin dan Malvidin (Francis, 1985 and Markakis, 1982).
G. 3. Ekstraksi Pigmen
Proses ekstraksi adalah proses pengeluaran sesuatu dari campuran zat, dengan jalan ditambahkan bahan ekstraksi tepat pada waktunya. Hanya zat yang diekstrak yang dapat larut dalam bahan ekstraksi. Dalam proses ekstraksi terjadi peralihan dari fase yang satu ke fase yang lain, yang diperoleh dengan jalan penambahan penambahan bahan pelarut (solvent) (Wanto dan Romli, 1977).
Ekstraksi juga dapat diartikan sebagai proses pemisahan zat dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Berdasarkan bentuk campuran yang diekstrak, ekstraksi dibedakan menjadi dua macam, yaitu ekstraksi padat-cair: campuran yang diekstrak berbentuk padat, dan ekstraksi cair-cair: cairan yang diekstrak berbentuk cair. Ekatraksi berbentuk padat-cair paling sering digunakan untuk mengisolasi zat yang terkandung dalam bahan alami. Sifat-sifat seperti kepolaran, larutan bahan alami yang diisolasi berperan penting terhadap sempurnanya proses ekstraksi. Di samping pemilihan pelarut dan pengaturan suhu (Vogel, 1978).
Antosianin adalah senyawa polar yang lebih mudah diekstrak dalam suasana asam. Hasil penelitian Lestario, dkk (2005), menunjukkan bahwa ekstrak buah duwet dengan pelarut metanol-HCL 1% menghasilkan ekstrak dengan kadar antosianin tertinggi, diikuti oleh pelarut air, aseton-air (7:3), dan aseton.
Ekstraksi pigmen antosianin dari bahan nabati umumnya menggunakan pelarut HCl dalam metanol. Untuk kepentingan penelitian pangan, menurut Francis (1982), HCl dengan konsentarsi 1 % dalam larutan pengekstrak sudah mencukupi jika proses ekstraksi dilakukan selama 24 jam pada suhu 4oC. Penelitian Viguera et al. (1996), dalam mengekstrak bubur buah yang mengandung antosianin menggunakan pelarut metanol : asam asetat : air ( 25 : 1 : 24) selama 20 menit pada temperatur ruang.

G.4. Tablet Effervescent
Dasar formula minuman bubuk dan tablet efferfescent adalah reaksi antara senyawa asam (asidulan) dengan karbonat atau bikarbonat menghasilkan karbondioksida. Bila tablet dimasukkan ke dalam air, maka akan terjadi reaksi kimia secara spontan antara asam dan natrium membentuk garam natrium, CO2, serta air (Pulungan, Suprayogi dan Yudha., 2004)
Formula garam effervescent resmi yang ada unsur pembentuk effervescent terdiri dari 53% sodium bikarbonat, 28% asam tartrat dan 19% asam sitrat. Reaksi antara asam sitrat dengan sodium bikarbonat pada produk effervescent dapat dilihat pada berikut ini:
H3C6H5H2O + 3NaHCO3 Na3C6H5O7 + 4H2O + 3CO2
Asam sitrat Na bikarbonat Na sitrat air karbondioksida
Gambar 1. Reaksi antara asam sitrat dengan sodium bikarbonat (Ansel, 1989)
Tablet effervescent dapat dibuat dengan tanpa melibatkan cairan, dinamakan sebagai precompression atau prapengempaan. Proses ini terdiri dari pengeringan, pencampuran bahan-bahan tambahan, pengempaan serbuk atau granula sampai terbentuk tablet effervescent yang memiliki kemampuan menahan sifat-sifat effervescent. Kemudian segera dikemas dengan alumunium foil (Burlinso, 1968). Tablet effervescent yang ada di pasaran umumnya dikemas dalam kemasan tubedan alumunium foil dengan berat setiap tablet sekitar 5 gram
Keuntungan tablet effervescent adalah kemungkinan penyiapan larutan dalam waktu seketika. Selain itu tablet effervescent mempunyai kemampuan menghasilkan gas karbondioksida yang memberikan rasa seperti pada air soda. Adanya gas tersebut akan dapat menutupi beberapa rasa obat tertentu yang tidak diinginkan serta memperoleh proses pelarutan tanpa melibatkan proses pengadukan secara manual. Sedangkan kerugian tablet effervescent adalah kesukaran untuk menghasilkan produk yang stabil terhadap kelembaban udara. Bahkan selama reaksi berlangsung, air yang dibebaskan dari bikarbonat menyebabkan autokatalis dari reaksi (Lachman et al., 1986). Hal ini terutama dipengaruhi oleh unsur-unsur pembentuk effervescent yang terdiri dari sodium bikarbonat dan asam organik seperti asam sitrat sehinggga menghasilkan garam natrium, karbondioksida serta air (Ansel, 1989).
Tabel 2. Analisa Kimia dari Tablet effervescent Calcium-D-Redoxon (CDR)
Kekerasan Tablet 38 kg/cm2
Kadar Air 0.993 %
Viskositas 9.4
pH 6.8
Kecepatan Larut 0.028
Sumber : Data Hasil Analisa Kimia pada Laboratorium Kimia, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang (2007)

G.5. Pengeringan
Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas. Biasanya kandungan air dari bahan tersebut dikurangai sampai suatu batas tertentu agar mikroba tidak dapat tumbuh lagi didalamnya (Winarno, dkk, 1980).
Pengeringan merupakan salah satu cara pengawetan pangan yang paling tua. Cara ini merupakan suatu proses yang ditiru dari alam. Untuk pengeringan bahan pangan terdapat berbagai tipe pengering yang digunakan. Pada umumnyapemilihan tipe pengering ditentukan oleh jenis komoditi yang akan dikeringkan, bentuk air yang dikehendak, faktor ekonomi dan kondisi operasional.
Bahan pangan dapat dikeringkan didalam udara, dalam uap lewat panas, dalam panas, dalam gas inert, dan aplikasi panas langsung. Paa umumnya udara digunakan sebagai medium pengering, sebab jumlahnya cukup banyak. Mudah digunakan dan pemanasan yang berlebihan terhadap bahan pangan kedalam bahan pangan tidak ada suatu sistem pengambilan air yang diperlukan terhadap udara, seperti yang diperlukan dengan gas-gas lain. Pengeringan dapat dilakukan dengan berangsur-angsur, dan adanya kecenderungan menjadi gosong dan berubah warna selalu terkendali (Desrosier, 1988).
Faktor- faktor utama yang mempengaruhi kecepatan pengeringan dari suatu bahan pangan adalah; sifat fisik dan kimia dari produk (bentuk, ukuran, komposisi, kadar air), pengaturan geometris produk sehubungan dengan permukaan alat atau media perantara pemindahan panas (suhu, kelembaban dan kecepatan udara), karakteristik alat pengering (efensiasi pemindahan panas) (Buckle, et. All., 1987).

G.6. Bahan Penstabil
G.6.1 Sukrosa
Sukrosa mempunyai sifat sedikit higroskopis dan mudah larut dalam air. Semakin tinggi suhu, kelarutannya semakin besar. Menurut Tranggono (1990) satu gram sukrosa dapat larut dalam 0,5 ml air pada suhu kamar atau 0,2 ml dalam air mendidih, dalam 170 ml alkohol atau 100 ml metanol. Kristal sukrosa bersifat stabil diudara terbuka dan dalam keadaan yang langsung berhubungan dengan udara dapat menyerap uap air sebanyak 1% dari total berat dan akan dilepaskan kembali apabila dipanaskan pada suhu 90˚C (Sudarmadji, 1982).
Rumus struktur sukrosa dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 3. Rumus Struktur Sukrosa (Fennema, 1996).
Sukrosa merupakan salah satu jenis bahan penyalut tablet. Bahan ini dapat digunakan untuk melapisi tablet dengan tujuan untuk melindungi terhadap peruraian obat dengan oksigen atmosfer atau kelembaban, untuk membungkus rasa dan bau dari zat obat, atau untuk tujuan estetik (Ansel, 1989).

G.7. Bahan Pengisi
G.7.1 Maltodekstrin
Maltodekstrin (C6H12O5)nH2O memiliki berat molekul rata-rata kurang lebih 1800 untuk DE 10. Berat molekul ini jauh lebih kecil dari pati alami yang memiliki berat molekul sekitar 2 juta (Jacson dan Lee 1991). Menurut Hui (1992), maltodekstrin dapat digunakan pada makanan karena memiliki sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat yang dimiliki maltodekstrin antara lain maltodekstrin mengalami proses dispersi yang cepat, memiliki daya larut yang tinggi, mampu membentuk film, memiliki sifat higroskopis yang rendah, mampu membentuk body, sifat browning rendah, mampu menghambat kristalisasi dan memiliki daya ikat yang kuat.

G.8. Bahan Tambahan
G. 8. 1. Asam Sitrat
Asam sitrat adalah asidulan yang sering digunakan untuk makanan dan minuman karena dapat memberikan kombinasi sifat yang diinginkan selain karena tersedia dalam jumlah yang besar dengan harga yang murah. Asidulan dapat berfungsi sebagai pemberi rasa asam, penegas rasa dan mengontrol PH (Hui, 1992). Asidulan yang dapat berfungsi sebagai pemberi rasa asam, penegas rasa dan warna, pengawet serta dapat digunakan untuk menyelubungi after taste yang tidak disukai (Winarno, 2004).
Rumus struktur asam sitrat dapat dilihat pada gambar berikut:

COOH

CH2

HO C COOH

CH2

COOH
Gambar 4 . Struktur Bangun Asam Sitrat (Tjokroadikoesoemo, 1986).

Menurut Marthawindholz (1983), kristal monohidrat akan kehilangan air kristalnya dalam udara kering atau dipanaskan pada suhu 40 – 50˚C. Menurut Maga and Tu (1995) asam sitrat digunakan sebagai asidulan utama dalam minuman berkarbonasi juga minuman bubuk yang memberikan rasa jeruk yang tajam. Menurut Reynold (1989) asam sitrat yang digunakan dalam effervescent umumnya yang dalam bentuk monohidrat. Morhle (1989) menambahkan bahwa asam sitrat sering dipergunakan sebagai memberi asam dalam pembuatan serbuk atau tablet effervescent karena memiliki kelarutan yang tinggi dalam air dingin, mudah didapatkan dalam bentuk granula atau serbuk. Kelemahan asam sitrat adalah sifatnya yang sangat higroskopis sehingga memerlukan perhatian yang cukup dalam penyimpanannya.

G. 8. 2. Sodium Bikarbonat
Sodium bikarbonat (NaHCO3) merupakan serbuk kristal berwarna putih yang memiliki warna asin dan mampu menghasilkan karbondioksida. Sodium bikarbonat memiliki berat molekul 84,01g (tiap gramnya mengandung 11,9 mmol sodium), sodium bikarbonat anhidrat terkonvensi pada suhu 250˚C – 300˚C. Pada RH diatas 85% akan cepat menyerap air dari lingkungannya dan menyebabkan dekomposisi dengan hilangnya karbondioksida (Reynolds, 1989). Menurut Hui (1991), bahwa sodium bikarbonat juga dapat mengalami dekomposisi karena adanya panas yaitu pada suhu lebih tinggi dari 120˚C.
Berdasarkan Morhle (1989), senyawa karbonat yang banyak digunakan dalam formulasi effervescent adalah garam karbonat kering karena kemampuannya menghasilkan karbondioksida. Garam karbonat tersebut antara lain Na-bikarbonat (NaHCO3) dipilih sebagai senyawa penghasil karbondioksida dalam sistem effervescent karena harganya murah dan bersifat larut sempurna dalam air. Ansel (1989) menambahkan bahwa natrium bikarbonat bersifat non-higroskopis dan tersedia secara komersial mulai dari bentuk bubuk sampai bentuk granular dan mampu menghasilkan 52% karbondioksida.
Sodium bikarbonat sering juga disebut sebagai soda kue. Ada dua macam soda kue yaitu soda kue dengan aktifitas cepat (aktifitas tinggi) dan soda kue dengan aktifitas lambat (aktifitas ganda). Perbedaan keduanya adalah pada mudah tidaknya komponen asam atau pembentuk asam, larut pada air dingin (Winarno, 2004).

H. METODE PENELITIAN
H.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Agustus s/d Desember 2008, di Laboratorium Analisa Pangan dan Laboratorium Rekayasa Pangan Tekhnologi Hasil Pertanian jurusan Tekhnologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.

H.2. Alat dan Bahan Penelitian
H.2.1 Alat
Peralatan yang diperlukan dalam pembuatan tablet effervescent adalah kain saring, gelas ukur, sarung tangan karet, timbangan, blender kering, loyang, pengering vakum, ayakan 60 mesh, cetakan tablet (terdiri : landasan dari baja berlapis chrom stainless steel (ukuran panjang = 9 cm, lebar = 7 cm), cincin/ring dari logam stainless steel (ukuran diameter dalam = 2,7 cm, tingggi =2 cm), dan as penumpuk dari baja berlapis chrom stainless steel dengan (ukuran panjang = 10 cm, diameter luar = 2,6 cm) Sedangkan peralatan untuk analisa adalah gelas kimia, gelas ukur, erlenmeyer, beaker glass, pipet gongok, pH meter (pH315i/SET merek: wtw), color reader (CR-10 Konika Minolta) hardness tester (Kiya Seisakusho,Ltd Tokyo).

H.2.2 Bahan
Bahan utama yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah Bunga kana merah diperoleh dari petani bunga yang berada di Batu . Bahan-bahan tambahan lain yaitu Aguades, Isopropanol, Etanol, asam sitrat, sodium bikarbonat, sukrosa, dektrosa monohidrat. dan maltodekstrin.
H.3. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua tepung pigmen dan tablet effervescent yang dihasilkan dari kombinasi perlakuan yang dicobakan. Sampel dalam penelitian ini adalah tablet effervescent dan minuman yang dihasilkan.
H.4. Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahapan. Tahap penelitian awal meliputi tahapan ekstraksi dengan beragam jenis pelarut, guna mengetahui metode ekstraksi yang menghasilkan pigmen yang berkualitas. Kemudian penelitian berikutnya adalah memproses ekstrak pigmen terbaik menjadi tepung pigmen dan selanjutnya dibentuk menjadi tablet effervescent.
Pelaksanaan penelitian tahap pertama dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) sederhana, yaitu menggunakan faktor perlakuan adalah jenis pelarut.
Faktor I : jenis pelarut yang digunakan ekstraksi pigmen bunga kana merah
P 1 : Aquades dan asam sitrat ( 9 : 1)
P 2 : Isopropanol : aquades : asam sitrat ( 4 : 5 : 1)
P 3 : Etanol : aquades : asam sitrat ( 4 : 5 : 1)
Sehingga terdapat tiga (3) perlakuan yang akan diulang sebanyak tiga (3) kali
Pengamatan dilakukan terhadap kualitas pigmen yang dihasilkan meliputi, jenis pigmen, nilai pH, absorbansi pigmen ( filtrat, konsentrat) (Spektrofotometer UV) (Jenie, dkk, 1997), intensitas warna ( Lab)( Colour reader) (Fabre, et al, 1993), kadar dan rendemen pigmen. Kemudian setelah diketahui kualitas pigmen yang terbaik ( menggunakan analisis statistik), maka akan dilanjutkan pada tajhap penelitian kedua.
Penelitian tahap kedua disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok secara faktorial, dengan faktor yang masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali.

Perlakuan :
Faktor I. Prosentase filler yang digunakan pada saat penepungan pigmen
F1 = 20 %
F2 = 30 % (dekstrin)
Faktor II. Prosentase Na-bikarbonat yang digunakan pada pembentukan tablet effervescent.
N1 = 20 %
N2 = 25 %
N3 = 30 %
Sehingga diperoleh 6 kombinasi perlakuan, dan akan diulang sebanyak 3 kali.
Pengamatan terhadap kualitas tepung, meliputi pengukuran rendemen, nilai pH, nilai Lab ( intensitas warna) ( Colour reader) (Fabre, et al, 1993). Kemudian setelah menjadi tablet effervescent, dilakukan pengamatan terhadap nilai pH, tingkat kekerasan, kadar air, viskositas dan kecepatan larut ( setelah dimasukkan kedalam air) serta organolpetik ( tingkat kesukaan konsumen) terhadap kenampakan, aroma dan rasa .

H.5. Pengumpulan Data
Teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut :
a. Pengamatan data dilakukan terhadap kualitas pigmen bunga kana merah yang dihasilkan, meliputi nilai pH, absorbansi pigmen, intensitas warna (Lab), kadar, rendemen pigmen.
b. Pengamatan data dilakukan terhadap tepung pigmen, meliputi : nilai pH,
absorbansi pigmen, nilai Lab (intensitas warna)
c. Pengamatan terhadap tablet effervescent meliputi tingkat kekerasan . tekstur, daya larut, pH, intensitas warna (Lab), viskositas, organoleptik (tingkat kesukaan konsumen terhadap kenampakan, aroma dan rasa )

H.6. PENGUKURAN PENGAMATAN
H.6. 1. Penemuan Intensitas Warna (Fabre et al., 1993)
Warna sampel hasil ekstraksi ditentukan dengan alat ACS Datacolor Chroma Sensor 3, yang mngukur spectrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat warna seperti L, a dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan system tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-); axis b menunjukkan intensitas warna
kuning (+) atau biru (-).

H.6.2. Penentuan kadar air
Cara Pemanasan
a) Menimbang contoh sebanyak 2 g dalam botol timbang yang telah diketahui beratnya.
b) Kemudian mengeringkan dalam oven pada suhu 1000 C selama 5 jam. Kemudian mendinginkan dalam eksikator dan menimbang. Memanaskan lagi dalam oven selama 30 menit, mendinginkan dalam eksikator dan menimbang; mengulang perlakuan ini sampai tercapai berat konstan (selisih penimbangan berturut-turut kurang dari 0,2 mg).
c) Pengurangan berat merupakan banyaknya air dalam bahan (Sudarmadji, dkk, 1997).
Kadar Air = x 100%
H.6.3. Penentuan pH
Menentukan pH dilakukan dengan pH meter yang dilakukan dengan cara
a) Menghidupkan pH meter. Mengkalibrasi elektroda dengan larutan buffer pH 4 dan membersihkan dengan aquades. Kemudian mengkalibrasi lagi elektroda pada larutan buffer pH 7 dan bilas dengan aquades.
b) Siapkan larutan sampel yang akan diuji pada wadah. Mencelupkan alat pendeteksi (elektroda) kedalam larutan yang akan diuji kemudian membaca hasilnya (Apriyanto dkk, 1998).

H.6.4. Penentuan Absorbansi Pigmen
Menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang tertentu (400-600 nm). Cara kerjanya : siapkan larutan sampel dan larutan blangko dalam kuvet/tabung, kemudian kuvet-kuvet tersebut dimasukkan secara bersama supaya alat tera. Dengan menggunakan panjang gelombang tertentu akan diperoleh nilai absorbansi larutan sampel yang maksimal. Jika larutan standar juga disediakan, maka dengan membandingkan nilai absorbansinya dengan larutan sampel, maka akan dapat diketahui juga kadar antosianinnya dalam larutan sampel.

H.6.5. Penentuan Rendemen (Hanum, 2000)
Perhitungan rendemen berdasarkan berat/volume input dan output yang dihasilkan proses ekstraksi (ekstrak atau konsentrat), dengan rumusan :
Rendemen (%) = konsentrasi antosianin x fp x volume ekstrak x 100 %
Berat bunga pacar air
Dimana : fp = faktor pengenceran (Hanum, 2000)

H.6.6. Pembuatan Tablet Effervescent Ekstrak Pigmen Bunga K ana Merah
Ekstrak kering pigmen bunga kana yang telah diperoleh kemudian dibuat menjadi tablet effervescent dengan cara sebagai berikut:
1. Dicampurkan ekstrak kering bunga kana dengan asam sitrat. Dihomogenisasi dan penggerusan dengan mortal.
2. Dikeringkan pada suhu 60oC selama 1 jam
3. Dicampurkan sodium bikarbonat dan sukrosa dengan cara digerus menggunakan mortal sampai bahan tercampur merata. .
4. Dilakukan penggranulasian kering dengan cara campuran diatas dicetak sebesar tiga kali lipat dari tablet kemudian didiamkan selama 30 menit dan selanjutnya dihancurkan menjadi bentuk granula diatas ayakan 40 mesh dengan alu sehingga didapatkan granula inti 40 mesh
5. Pengepresan menjadi bentuk tablet dengan tebal ±0,5 cm, diameter ±2,5cm, dan bobot ±5 gram.
6. Dikemas tablet effervescent mangkudu dengan aluminium foil.
7. Dianalisa sifat fisik, kimia, dan organoleptik.
Diagram alir proses pembuatan ekstrak kering mengkudu serta proses pembuatan tablet effervescent dapat dilihat pada Gambar. 5 dan 6.

H.6.7. Analisa
Analisa yang dilakukan baik untuk tablet effervescent bunga kana merah (Canna coccinea Mill.) meliputi analisa fisik, kimia, dan organoleptik. Analisa fisik antara lain viskositas, kekerasan tablet, kecepatan larut, dan warna. Sedangkan analisa kimia yang dilakukan adalah kadar air, dan pH. Analisa organoleptik meliputi analisa kesukaan terhadap: kesukaan bentuk tablet, kenampakan minuman, aroma minuman, dan rasa minuman.
1) Analisa Fisik
Analisa fisik yang dilakukan pada tablet effervescent meliputi, warna, kecepatan larut, viskositas minuman dan kekerasan tablet.

a. Warna (Yuwono dan Susanto, 1998)
Warna tablet diukur dengan dengan alat ACS Datacolor Chroma Sensor 3 yang mengukur spektrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat seperti L, a, dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan sistem tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-), axis b menunjukkan intensitas warna kuning (+) atau biru (-). Peneraan warna dilakukan menggunakan kuvet yang pada masing-masing sisinya dirtutup dengan warna putih.

b. Kecepatan Larut (Yuwono dan Susanto, 1998)
Kecepatan larut tablet effervescent dilakuan dengan cara melarutkan tablet dalam 200 ml air. Waktu yang diperlukan tablet untuk larut sampai habis dicatat, kemudian kecepatan larut tablet dihitung dengan rumus berikut:

Kecepatan larut = berat tablet (g)
Waktu larut (detik)

c. Viskositas Metode Pipet Volum (Yuwono dan Susanto, 1998)
Viskositas minuman effervescent diukur menggunakan metode pipet volum, karena viskositas minuman effervescent sangat rendah. Caranya adalah dengan memasukkan larutan tablet ke dalam pipet gondok 25 ml, kemudian bagian atas pipet ditutup dengan jari. Larutan kemudian dialirkan dengan cara membuka penutup, kemudian waktu yang digunakan sampai larutan keluar dari pipet dicatat. Waktu ini kemudian digunakan untuk mengukur viskositas larutan dengan ketetapan:
Viskositas (cps) = 0,8901 x 10223,3 x (waktu larut (dt)/997,1)
4,37
d Kekerasan Tablet Effervescent Bunga Kana (Canna coccinea Mill.) (Yuwono dan Susanto, 1998)
a). Pengukuran kekerasan bahan dilakukan dengan Hardness Tester berdasarkan gaya per satuan luas (kg/cm2) yang dibutuhkan untuk memecahkan tablet. Semakin keras maka semakin besar gaya yang dibutuhkan.
b). Meletakkan sampel pada penumpu Hardness Tester, kemudian memutar perlahan untuk menaikkan landasan sampai menyentuh landasan bagian atas, tapi jarum tetap menunjuk di angka nol.
c). Memutar pegangan perlahan-lahan sampai sampel patah, bersamaan itu jarum penunjuk gaya kembali ke nol.
d). Angka terakhir jarum penunjuk adalah gaya yang dibutuhkan untuk mematahkan sampel.

2) Analisa kimia
Analisa Kimia pada tablet effervescent meliputi:
a. Penentuan pH Tablet dan larutan (Sudarmadji, 1982)
Mula-mula dilakukan standarisasi pH meter, yaitu dengan menyalakan dan membiarkan pH meter beberapa saat agar stabil. Elektroda dibersihkan dengan tissue kemudian dimasukkan dalam larutan buffer dan pengukuran pH dilakukan. Pengaturan standarisasi pH meter disesuaikan dengan pH larutan buffer.
Sampel dimasukkan dalam beaker glass. Elektroda dibilas dengan aquades dan dikeringkan dengan kertas tissue. Elektroda dicelupkan kedalam larutan sampel dan pengukuran pH dilakukan. Elektroda dibiarkan tercelup beberapa saat sampai diperoleh pembacaan angka yang stabil dan pencatatan pH sampel.

b. Penentuan Intensitas Warna Minuman (Yuwono dan Susanto, 1998)
Warna sampel hasil ekstraksi ditentukan dengan alat ACS Data Color Chroma Sensor 3 yang mengukur spektrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat seperti L, a, dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan sistem tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-), axis b menunjukkan intensitas warna kuning (+) atau biru (-). Peneraan warna dilakukan menggunakan kuvet yang pada masing-masing sisinya dirtutup dengan warna putih.

3) Kadar Air
Kadar air tablet diukur menggunakan metode oven kering. Caranya adalah sebagai berikut:
a. Menimbang 2 gram sampel dan dimasukkan ke dalam cawan, dan dinyatakan sebagai berat awal.
b. Mengoven sampel pada suhu 100 – 110ºC selama ± 5 jam.
c. Menimbang sampel yang sudah kering dan dinyatakan sebagai berat akhir.
d. Menghitung kadar air pada tablet dengan rumus sebagai berikut:
% kadar air = berat awal-berat akhir x 100%
Berat sampel

c. Uji Organoleptik (Soekarto, 1985)
Uji yang dilakukan terhadap tablet dan larutan tablet minuman effervescent bunga kana (Canna coccinea Mill.) dilakukan secara panel test menggunakan uji sensoris kerelaan. Daftar pertanyaan diajukan menurut cara Hedonic Scale Scoring. Hasilnya dinyatakan dalam angka, yaitu 7 (sangat menyukai), 6 (menyukai), 5 (agak menyukai), 3 (agak tidak menyukai), 2 (tidak menyukai), 1 (sangat tidak menyukai).

H.6.8. Penentuan Perlakuan Terbaik (De Garmo, Sullivan dan Canada, 1984)
Pemilihan perlakuan terbaik ditentukan dengan menggunakan metode indeks efektivitas dan perlakuan dengan perhitungan sebagai berikut:
1. Memberikan bobot nilai pada masing-masing parameter mutu dengan nilai relative dari 0 hingga 1. Bobot nilai yang diberikan tergantung dari kepentingan masing-masing parameter yang hasilnya diperoleh sebagai akibat perlakuan.
2. Menentukan bobot normal variable. Yaitu bobot variable dibagi bobot total.
3. Menghitung Nilai Efektifitas (NE) dengan rumus:
Nilai Efektifitas = Nilai perlakuan – nilai terjelek
Nilai terbaik – nilai terjelek
4. Menjumlahkan nilai hasil (NH) dari semua variable perlakuan terbaik dipilih dari perlakuan dengan nilai tertinggi.

Pencucian

Penghancuran

Air Penyaringan Ampas

Filtrat

Dekstrin : 20 %, 30 %

Pencampuran

Pengeringan
(60o selama 6-8 jam)

Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Gambar 5. Diagram Alir Pembuatan Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Homogenisasi

Pengeringan (60oC, ± selama 1-2 jam)

– Sodium bikarbonat
20 %, 25%, 30%
– Sukrosa

Penggranulasian Kering

Granula Inti 40 mesh

Pencetakan Tablet

Tablet effervescent Bunga Kana Merah

Gambar 6. Diagram Alir Pembuatan Tablet Effervescent Bunga Kana Merah

I. JADWAL KEGIATAN
I.1. Rencana Kegiatan
Rencana kegiatan keseluruhan memerlukan waktu kurang lebih 5 bulan. Dilaksanakan di Laboratorium Analisa Pangan dan Rekayasa Pangan Tekhnologi Hasil Pertanian Jurusan Tekhnologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, bersama anggota dan dosen pembimbing.

I.2. Jadwal Pelaksanaan

No Kegiatan Bulan Ke-1 Bulan Ke-2 Bulan Ke-3 Bulan Ke-4 Bulan Ke-5
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan √
2. Perizinan √
3. Survey lokasi √ √
4 Penyusunan proposal √ √
5. Penelitian pendahuluan √ √
6. Persiapan alat √ √
7. Pembelian bahan baku √ √
8. Proses pembuatan produk √ √ √ √ √
9. Analisa kimia dan fisik √ √ √ √ √ √
10. Pengolahan data √ √
11. Penyusunan laporan akhir √ √
12. Seminar √ √
13. Penggandaan proposal √ √

J. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK
1. Ketua pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Husni Thamrin
b. NIM : 05730010
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• TK Nurul Iman Bekasi lulus tahun 1991
• SD Negeri Narogong Indah Bekasi lulus tahun 1997.
• SMP Negeri 16 Bekasi lulus tahun 2000
• SMU Pangeran Jayakarta lulus tahun 2003
Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

2. Anggota
a. Nama Lengkap : Ika Ratna Austin
b. NIM : 05730001
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 10 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• TK Dharma Wanita lulus tahun 1992
• SD Negeri Pagerngumbuk 1 Wonoayu lulus tahun 1999.
• SMP Negeri 1 Krian lulus tahun 2002.
• SMU Negeri 3 Sidoarjo lulus tahun 2005.
• Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

3. Anggota
a. Nama Lengkap : Eka Rini Wibisono
b. NIM : 06730019
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 10 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• SD Muhammadiyah 08 Dau Malang lulus tahun 2000
• SLTP Negeri 8 Malang lulus tahun 2003
• SMA Negeri 3 Malang lulus tahun 2006
• Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

K. Biodata Dosen Pendamping
1. Nama : Ir. Elfi Anis Saati,MP
2. NIP-UMM : 131944789
3. Tempat/tanggal lahir : Pasuruan, Jawa Timur, 21 Juni 1966
4. Jenis kelamin : Perempuan
5. Pangkat/Golongan : Pembina / IV-a
6. Jurusan/Fakultas : Teknologi Hasil Pertanian
7. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
8. Alamat rumah : Perum.Muara Sarana Indah F 11, Jetis,Desa
Mulyoagung, Kec. Dau- Malang, Telp. (0341)
461472
9. Waktu Kegiatan PKM : 6 jam/minggu
10. Riwayat Pendidikan : 1. Strata 1 Jurusan Gizi Masyarakat
&Sumberdaya Keluarga (GMSK) IPB,
Bogor, lulus tahun 1989.
2. Strata 2 Program Studi THP Pasca Sarjana
Universitas Brawijaya, Malang,lulus tahun 2002.
11. Pengalaman Pekerjaan : – Dosen Jurusan THP Faperta UMM, tahun 1991
hingga sekarang.
– Sekretaris Jurusan THP Faperta UMM, tahun
2001 – 2002
– Ketua Jurusan THP Faperta UMM, tahun 2002
hingga sekarang (2007)
12. Pengalaman Penelitian dan Publikasi :

Publikasi :
1.Ekstraksi dan Identifikasi Pigmen Antosianin Bunga Pacar Air (Proseding).
Disampaikan pada Seminar Nasional PATPI. 30-31 Juli 2002.
2.Potensi Bunga Pacar air Sebagai Pawarna Alami pada Produk Minuman.
TROPIKA Vol. 10, No.2, Majalah Ilmiah Terakrediatsi Fakultas Pertanian,
Universitas Muhammadiyah Malang ( Juli 2002).
3. Karakterisasi Pigmen Antosianin dari Bunga Pacar Air (Impatien balsamina
Linn).TROPIKA. Vol. 12, No.1, Majalah Ilmiah Terakreditasi Fakultas
Pertanian,Universitas Muhammadiyah Malang ( Januari 2004).
4. Bunga Mawar sebagai Pewarna Alami. Surya dan Kompas, 13 Oktober 2004.
5. Penggalian Potensi Bunga Kana sebagai pewarna Alami alternatif (Kajian
Stabilitas dan Efektivitas Bentuk Pigmen serta Aplikasinya pada Produk
Pangan). Proseding.Disampaikan pada Seminar Nasional dan Konggres PATPI
17-18 Desember 2004 di Jakarta.
6. Pengaruh Tingkat Kesegaran Bunga Mawar Merah (Rosa damascena Mill)
terhadap Kualitas Zat Warna dan Daya Antioksidasinya pada Minuman.
Proseding. Disampaikan pada Seminar Nasional dan Konggres PATPI 17-18
Desember 2004 ( sebagai makalah POSTER) di Jakarta.
7. Pemanfaatan Kekayaan Hayati/Bunga lokal (mawar, kana dan pacar air)
sebagai Zat pewarna dan Antioksidan alami pada Makanan. Proseding.
Disampaikan pada Seminar Kimia Nasional 3 Pebruari 2005 di Universitas
Surabaya (Unesa).

Penelitian :
1. Pengaruh Pupuk Organik terhadap Kualitas Semangka dan Selera Konsumen (1998 )
2. Pengaruh Konsentrasi Garam dan Medianya terhadap Kualitas Telur Asin ( 1999 )
3. Pengaruh Beberapa Penelitian Pendahuluan terhadap Kualitas Susu
Kedelai (2000)
4. Pemanfaatan Lidah Buaya Sebagai Minuman : Kajian Pengaruh Suhu
dan Essence Jeruk terhadap Kualitas Sari Lidah Buaya (Aloe vera)
(2002)
5. Studi Pengetahuan dan Perilaku Keamanan Pangan Jajanan Murid
Sekolah di SD Muhammadiyah 08 Malang (2001)
6. Pemanfaatan Bunga Mawar (Rosa sp.) Sortiran Sebagai Pewarna Alami (2002)
7. Pemanfaatan Bunga Kana sebagai Zat Pewarna Alami Alternatif ( 2003)
8. Pemanfaatan Pigmen Bunga Mawar Rontok sebagai Pewarna Alami pada Makanan Jajanan (2004).
9. Uji Efektivitas Ekstrak Pigmen Bunga Mawar Sortiran sebagai Zat Pewarna Alami Alternatif pada Produk Minuman (2005). Dosen Muda-DIKTI.

13. Pengalaman Pengabdian :

1. Pelatihan Pembuatan Susu Kedelai di Desa Tumpak Rejo kecamatan Kalipare Kabupaten Malang (2001)
2. Pelatihan Pembuatan Keripik Talas dengan Aneka Rasa di Desa Kalipare Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang (2001)
3. Pelatihan Pembuatan Kecap Air Kelapa di Dusun Kedungmonggo Desa KarangPandan Kecamatan Pakisaji kabupaten Malang (2002).
4. Pelatihan Penanganan Pasca Panen Tanaman Obat dengan Topik Metode Pengawetan, pengeringan dan pengemasan, di Pondok Pesantren annuqayah (KSM/Kelompok Swadaya Masyarakat lengkong) Guluk-guluk Sumenep Madura (2002).
5. Pelatihan Pembuatan Lidah buaya intans dan STMJ pada mahasiswa peserta KKN Universitas Muhammadiyah Malang (2003).
6. Sosialisasi Pemanfaatan Kekayaan Hayati/Bunga lokal (mawar, kana dan
pacar air) sebagai Zat pewarna dan Antioksidan alami pada Makanan,
Kosmetik dan Kerajinan Lain, di SMA Negeri 3 Lumajang dan di SMA
Negeri Bangil Pasuruan, tahun 2005

L. RENCANA ANGGARAN BIAYA
Alokasi Jumlah Harga Jumlah
1. Honor Dosen Pendamping
2. Bahan dan alat habis pakai
* Bunga Kana Merah
* Aquades
*Asam Sitrat
* Sodium bikarbonat 20%, 25 %, 30%
* Maltodekstrin
* Sukrosa
* Kertas whatnan no 41/42
* Petroleum eter
* Isopropanol
* Etanol
Sub total
3. Alat habis pakai
* Timbangan Analitik
* Penyaring Vakum tipe VWR Scientific
Scientific
* Blender
* Rotary evaporator Vacum
* Spektrofotometer UV-vis merk shimadju
* Cetakan Tablet
* pH meter/CG 832 School Gerale
* trimulus Colorimeter/color Reade CR-10
* Oven
Sub total
4. Perjalanan dan konsumsi :
Pelaksana (3) orang
Pendamping (1 orang)
Sub total
5. Analisa Kimia
* Kadar air
* Kadar gula
Sub total
6. Lain-lain
Publikasi hasil penelitian
Dokumentasi
Laporan, fotocopy, penjilidan, pengiriman
Sewa lab dan pemeliharaan alat pemakaian
Pemakaian telpon, fax, internet
Tinta printer, kertas
Sub total

60 tangkai
20 lt
200 g
1 Kg
1 Kg
1 Kg
20 lbr
250 ml
500 ml
500 ml

1 buah
36 Jam @ 5.000

10 hari @ 10.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000

3 orang @50.000x 5 bln
5 bln @ 50.000

2 roll film + cuci cetak
10 expl
5 bln @ 40.000

B/W, warna 3 rim Rp. 1.000.000,-

Rp. 120.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 200.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,- +
Rp. 1.020.000,-

Rp. 70.000,-
Rp. 180.000,-

Rp. 100.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,- +
Rp. 1.430.000,-

Rp. 750.000,-
Rp. 250.000,- +
Rp. 1.000.000,-

Rp. 200.000,-
Rp. 300.000,- +
Rp. 500.000,-

Rp. 200.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 200.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 200.000,- +
Rp. 1.050.000,-
Total Rp. 6.000.000,-
Total Dana Yang diperlukan Untuk Penelitian ini sebesar Rp. 6.000.000,-

M. Daftar Pustaka

Anonim. 2005. Bunga Tasbih. http//ipteknet.com
Anonim, 2006. Gelembung Gas Effervescent. Kompas. 7 September 2006.

Ansel, H.1989. Pangantar Bentuk-Bentuk Sediaan Farmasi Edisi ke-4. UI
press. Jakarta.

Buckle, K. A. Edwards, G. H Fleet and M. Wotton. 1987. Ilmu Pangan.
Diterjemahkan oleh Purnomo, A. Adiono. UI-Press. Jakarta.

De Man, J. M. 1989. Principle of Food Chemistry (terjemahan Kosasih).
Van Norstand Reinhold. A Division of Wadswort., Inc., New York.

Eskin, N. A. M., 1979. Plant Pigments, Flavors and Tekstures. The
Chemistry and Biochemistry of Selected Compounds. Academic
Press. London.

Fennema, O. R. 1996. Food Chemistry. Marcel Dekker, inc. New York.

Fessenden and Fessenden. 1982. Kimia Organik edisi ketiga. Erlangga.Jakarta
Francis, F. J. 1982. Analysis of Anthosianin. Di dalam Markakis, P., (ed). Anthocyanin as Food Colour. Academic Press. New York.
___________. 1985. Analysis of Anthosianin. Di dalam Fennema, O.R. Principle of Food Science. Marcell Dekker Inc., New York.

Giese, J. 1996. Antioxidants: Tool Food Preventing Lipid Oxidation. Antioxidants are Critical in Preserving Lipid-Containing Food from Rancidity ang Extending Shelf life. J. Food Tech. 50 (11): 73-810.

Gross, J. 1987. Pigment in Fruits. Academic Press. London.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fetokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Penerbit Institut Teknologi Bandung. Bandung.
Hidayat, Nur; dan Dania, W.A.P., 2005. Minuman Berkarbonasi dari Buah Segar. Trubus Agrisarana, Surabaya.

Hui, Y. H. 1992. Encyclopedia of Food Scince and Technology Vol. I. Jhon Wiley and Sons, Inc. New York.

Jacson, L., and K. Lee. 1991. Microeacapsulation and Food Industry. Lebenson-Wiss-U-Technol. 24:289-297.

Marthawindholz, E. 1983. An Encyclopedia of Chemical, Drugs, and Biologicals The Merck Indeks. 10 th Ed. Merck and Co, Inc. New York

Markakis, P., 1982. Anthocyanins as Food Additive. Di dalam Markakis,P. (ed). Anthocyanins as Food Colors. Academic Press, New York.

Morhle, R. 1989. Effervescent Tablets. Dalam Nugroho, S. 1999. Penambaan Komponen Berprotein Pada Minuman Serbuk Effervescent. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.

Pohan, H.G dan Antara, N.T., 2001. Pengaruh Penambahan Madu dan Asam Sitrat Terhadap Karakteristik Minuman Fungsional Dari Sari Buah Mengkudu. Forum Komunikasi Industri Hasil Pengolahan (no 4):11-20.

Pulungan, M.Hindun., Suprayogi danBeni Yudha. 2004. Membuat Effervescent Tanaman Obat. Trubus Agrisarana. Surabaya.

Rukmana, R.H. 1997. Bunga Kana. Kanisius. Yogyakarta.
Sa’ati E.A. 2005. Optimalisasi Fungsi Ekstraksi Bunga Kana (Canna coccinea Mill) Sebagai Zat Pewarna Dan Antioksidan Alami Melalui Metode Isolasi Dan Karakteristik Pigmen. Program Penelitian Fundamental Lemlit UMM. Malang.

Tjokroadikoesoemo, P.S.,1986. HFS dan Industri Ubi Kayu Lainnya. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Tranggono. 1990. Kimia, Nutrisi dan Makanan. PAU Pangan dan Gizi. UGM-Press. Yogyakarta.

Vogel, A.I. 1978. Texbook of Practical Organic Chemistry. Revised by Furnies, B.S. fourth Edition. New York.

Wanto dan M. Romli. 1977. Alat-alat Industri Kimia I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Winarno, F.G. dan Fardiaz, S., 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Pt. Gramedia, Jakarta.
Winarno, F.G., 1993. Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
—————-., 2002. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Winarno, F. G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 5 Komentar

Pengaruh penggunaan tapiokal aloevera

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan (kerusakan Lesi kulit permukaan tubuh). Jenis lesi (luka) : klasifikasi (pembagian) lesi berdasarkan kedalaman dan etiologinya, yaitu :
1. Luka lecet : luka yang yang disebabkan karena adanya eksvoliatif jaringan superfisial kulit.
2. Luka bakar : luka bakar grade II A yaitu luka yang mengenai epidermis dan lapisan atas dari corium. Elemen-elemen epithelial yaitu dinding dari kelenjar keringat, lemak, folikel rambut masih banyak. Karenanya penyembuhan (epitelialisasi) akan mudah dalam 1 – 2 minggu, tanpa terbentuk sikatriks.
Di lihat dari kedalaman lukanya, kedua jenis luka di atas merupakan jenis luka superfisial yang bisa di terapi secara topikal.
Penggunaan topikal Aloe vera membantu kecepatan penyembuhan luka bakar derajat II A dan luka lecet, juga mengobati luka pada kulit, beberapa jenis dermatitits, psoriasis, alergi tumbuhan, bisul dan masalah dermatologis lainnya. Penyembuhan dimungkinkan karena Aloe vera mengandung senyawa antiinflamasi, termasuk glikoprotein, salisilat, dan senyawa lain yang merangsang pertumbuhan kulit dan jaringan konektif. (Hafiz, 2003)
Aloe vera merupakan jenis tumbuhan yang mempunyai penyebaran geografis luas. Hampir 350 persen dari jenis Aloe vera tersebar di seluruh penjuru dunia. Aloe vera banyak tumbuh di tempat yang beriklim panas seperti Indonesia. Cara menanamnya juga tidak terlalu sulit, dan untuk merawatnya juga tidak terlalu banyak syarat. Dalam perkembangannya, Aloe vera banyak dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, kosmetik, industri makanan dan minuman. Aloe vera mengandung sumber gizi dan antioksidan yang bagus dalam memperbaiki metabolisme tubuh.
Selain itu, kandungan vitamin C, E, dan zinc-nyz juga berguna bagi penyembuhan luka. Zat-zat ini juga memiliki efek antifungal dan antibakterial untuk mencegah infeksi pada luka. Sebagai nilai tambah, Aloe vera dapat melembapkan kulit, meredakan nyeri pada lesi, serta merangsang pertumbuhan sel-sel kulit.(Hafiz,2003)
Kandungan vitamin dan mineralnya yang tinggi menjadikan sebagai bahan favorit dalam industri kosmetik, terutama sebagai emolien, penyegar, dan pelembap kulit. Jika digunakan secara teratur, Aloe vera mempercepat luruhnya sel-sel kulit mati dan memperbaharui pertumbuhan sel-sel kulit yang baru. Berkat fungsi bakerisidanya, Aloe vera juga mujarab untuk kulit berjerawat, tidak hanya menyembuhkan tetapi juga meregenerasi kulit. (Hafiz,2003)
Melihat kenyataan bahwa Aloe vera mudah di budidayakan di Indonesia dan telah ada penelitian yang membuktikan bahwa Aloe vera dapat mempercepat penyembuhan luka bakar dan luka lecet, maka kami ingin melakukan penelitian lanjutan mengenai pengaruh penggunaan Aloe vera secara topikal pada luka bakar derajat II A dan luka lecet terhadap kecepatan penyembuhan luka. Untuk mengetahui frekuensi yang efektif untuk meningkatkan kecepatan penyembuhan luka.

1.2 Rumusan Masalah
Adakah pengaruh penggunaan topikal aloevera pada luka bakar grade II A dan luka lecet terhadap kecepatan penyembuhan luka?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Menilai efek penggunaan topikal Aloe vera pada penyembuhan luka bakar grade II A dan luka lecet.

1.3.2 Tujuan Khusus
• Mengetahui kecepatan pengaruh penyembuhan luka bakar grade IIA dan luka lecet pada pemberian topikal aloevera.
– 1-2 kali sehari
– 3-4 kali sehari
– > 4 kali sehari

1.4 Manfaat Penelitian
a. Memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya tenaga medis mengenai hubungan antara tingkat (frekuensi) penggunaan topikal Aloe vera pada luka bakar dan luka superfisial terhadap waktu penyembuhan luka dan ada-tidaknya bekas luka.
b. Sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat, khususnya tenaga medis dalam pemilihan atau pemberian terapi penyembuhan luka bakar dan luka superfisial.
c. Sebagai dasar penelitian lanjutan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Kulit
Kulit terdiri dari dua lapisan, yaitu epidermis dan dermis. Epidermis, yang merupakan lapisan terluar, dan aksesorisnya (rambut, kuku, kelenjar sebasea, dan kelenjar keringat) berasal dari lapisan ectoderm embrio. Dermis berasal dari mesoderm. (
Gambar 1. Anatomi kulit
a. Epidermis
Epidermis merupakan epitel pipih (squamose) berlapis, dengan beberapa lapisan yang terlihat jelas. Epidermis terdiri dari epithel squamouse complex cornifikasi. Yang terdapat 4 macam sel yaitu:
• Keratinosit
Sel utama yang merupakan hasil pembelahan sel pada lapisan epidermis yang paling dalam stratum basale (lapisan basal), tumbuh terus kearah permukaan kulit, dan sewaktu bergerak keatas keratinosit mengalami proses yang disebut diferensiasi terminal untuk membentuk sel-sel lapisan permukaan (stratum korneum).

• Melanosit: terdapat pada stratum basale, folikel rambut, jaringan ikat dermis.
Ciri-ciri : – Sel bulat banyak cabang yang disebut dendrite
– Inti bulat, kecil
– Sitoplasma ada melanosom → malanosit → ke sel-sel keratinosit → pigmentasi kulit
 Sel langhans
Lokasi : epitel berlapis pipih pada kulit (stratum spinosum), oesofagus, vagina
Sel : bulat banyak cabang, sitoplasma jernih
Fungsi : imunologi (Ag permukaan)
 Sel Merkel
Lokasi : stratum germinativum kulit tebal
Ciri khas : inti tidak teratur, banyak desmosom
Fungsi : reseptor mekanis.
Lapisan epidermis terdiri dari :
a. Stratum basale: lapisan dengan sel-sel bentuk kubis atau silinder, sering melakukan mitosis untuk pembaharuan epitel setiap 15-30 kali. Hubungan epitel dengan jaringan ikat di bawahnya disebut Hemidesmosom, dengan epitel lain disebut Desmosom.
b. Stratum spinosum: beberapa lapis sel polygonal dengan banyak tonjolan atau spina. Hubungan antar sel disebut desmosom. 1 dan 2 disebut stratum Malphigi.
c. Stratum Granulosum: terdiri dari beberapa lapis sel, dengan bentukan pipih, sejajar di permukaan. Sitoplasma ada butir-butir keratohyalin
d. Stratum Lusidum: dengan lapisan jernih/ homogeny, sel gepeng tidak ada inti atau mati. Struktur sel hilang sehingga menjadi homogeny.
e. Stratum corneum: sel-sel sudah mati, dengan bentukan pipih, menyatu membentuk lapisan tanduk. (Gembong, 1989)
f. Dermis
Dermis merupakan lapisan dibawah epidermis dengan tebal 0,5-3 mm.Ada 2 lapisan pada dermis yaitu stratum papillare dan stratum reticulare. Dermis juga terdapat chromatophori (pigmen dari melanosit) dan M. arector pili berfungsi agar rambut lebih tegak.
a. Stratum papillare: lebih superficial dengan tonjolan-tonjolan yang terdiri dari sabut-sabut kolagen dan elastic seta retikulare. Terdapat akhiran saraf yang disebut nervous papil dan pembuluh darah yang disebut vascular papil.
b. Stratum reticularis: lebih profunda terdiri dari serabut-serabut kolagen dan retikulare dan lebih banyak elastic pada permukaan untuk elastisitas kulit dan lipatan kulit (garis langer). Pada telapak tangan dan kaki membentuk sidik jari. (Gembong, 1989)
Pada kulit terdapat rambut yang berupa benang keratin yang hampir tumbuh di seluruh tubuh yang berasal dari invaginasi epidermis dimana warna dan ukurannya tergantung dari ras, usia, sex, dan lokasi. Struktur rambut antara lain :
– Medula terdiri dari 2-3 lapisan sel kuboid dengan pigmen.
– Kortex beberapa lapisan sel pipih, dengan keratin dan pigmen
– Kutikula lebih superficial ada kornifikasi, tidak ada inti dan sel jernih.
(Gembong, 1989)
Bagian-bagian dari rambut antara lain rambut bebas atau batang rambut, akar rambut atau folikel rambut. Yang didekatnya ada M.arector pili dan kelenjar lemak, juga terdapat bulbus dan papil. Struktur pada rambut dari dalam keluar yaitu medulla, kortex, kutikula, inner rooth sheat: lapisan Huxley dan lapisan Henle, outher rooth sheat, glassy membrane, dan connective tissue sheath. Pada kulit juga terdapat kelenjar-kelenjar yaitu:
1. Kelenjar sebacea/kelenjar lemak : bentuk compound acinar, kelenjar holokrin dan berfungsi meminyaki rambut

2. Kelenjar sudorifera/keringat: dengan bentuk simple coiled tubular dan kelenjar merokrin. Ada juga kelenjar keringat yang apokrin terdapat di axilla dan di papilla mammae (kelenjar montgomerry). (Gembong, 1989)

2.2 Lesi (Luka)
2.2.1 Pengertian atau Definisi Lesi
Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan (kerusakan kulit permukaan tubuh). Jenis luka dapat dibedakan berdasarkan beberapa kategori. Misalnya berdasarkan penyebabnya.
2.2.2 Macam-macam Lesi dan Karateristiknya Masing-Masing
– Secara umum luka dapat di bagi menjadi dua, yaitu luka terbuka dan luka tertutup.
Kebanyakan luka adalah yang terbuka, yaitu dari kulit yang rusak keluar darah dan cairan tubuh lainnya. Di sinilah kuman bisa masuk sehingga bisa menimbulkan infeksi. (Wikipedia, 2007)
Pada luka tertutup, darah keluar dari sistem sirkulasi tetapi tidak keluar dari tubuh sehingga disebut luka dalam. Sifat rudapaksa yang menyebabkan luka menentukan jenis dari luka dan tindakan untuk mengatasinya. Namun apapun jenis cederanya, kita harus selalu menjaga kebersihan secara cermat dan melindungi diri terhadap infeksi. (Wikipedia, 2007)
Sedangkan berdasarkan kategori ini, ada beberapa jenis luka, yaitu:
– ekskoriasi (luka lecet atau gores),
– vulnus scisum (luka sayat atau luka iris),
– vulnus laceratum (luka robek yaitu luka dengan tepi yang tidak beraturan),
– vulnus punctum (luka tusuk),
– vulnus morsum (luka karena gigitan binatang), dan
– combutio (luka bakar).
(Wikipedia, 2007)

2.2.2.1 Luka Bakar
Definisi
Luka bakar adalah suatu trauma yang dapat disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan-jaringan yang lebih dalan. Kulit atau jaringan tubuh yang terbakar akan menjadi jaringan nekrotik. (Settle, 1996)

Klasifikasi
1. Berdasarkan dalamnya luka bakar .
Tingkat I : hanya mengenai epidermis

Tingkat II : dibagi lagi
a. Superfisial; mengenai epidermis dan lapisan atas dari corium. Elemen-elemen epitelial yaitu dinding dari kelenjar keringat, lemak, folikel rambut masih banyak. Karenanya penyembuhan (epitelialisasi) akan mudah dalam 1 – 2 minggu, tanpa terbentuk sikatriks.
b. Dalam; sisa-sisa jaringan epitelial tinggal sedikit, penyembuhan lebih lama 3 – 4 minggu dan disertai pembentukan parut hipertropi

Tingkat III : mengenai seluruh tebalnya kulit, tidak ada lagi sisa elemen epithelial. Luka bakar yang lebih dalam dari kulit pun seperti subcutan, tulang disebut juga tingkat III.

2. Berdasarkan luasnya luka bakar
Wallace membagi tubuh atas bagian – bagian 9% atau kelipatan dari 9 yang terkenal dengan nama “Rule of Nine” atau ‘Rule of Wallace”.
Kepala dan Leher 9%
Lengan masing-masing 9% 18%
Badan depan 18%
Badan belakang 18% 36%
Tungkai masing-masing 18% 36%
Genetalia / perineum 1%
Jumlah 100%
3. Berat Ringannya Luka Bakar
Amerika College of Surgeon membaginya dalam :
1. Parah – critical
a. Tingkat II 30 % atau lebih
b. Tingkat III 10% atau lebih
c. Tingkat III pada tangan, kaki, muka
d. Dengan adanya komplikasi pernafasan, jantung, fracture, soft tissue yang luas.

2. Sedang – moderate
a. Tingkat II 15 – 30%
b. Tingkat III 5 – 10%

3. Ringan – minor
a. Tingkat II kurang 15%
b. Tingkat III kurang 5%
(Settle, 1996)
Gambar

Gambar 2. Luka bakar dangkal (superfisial) Pada daerah badan dan lengan kanan, luka bakar jenis ini biasanya memucat dengan penekanan

Gambar 3. Luka bakar superficial partial thickness. Memucat dengan penekanan, biasanya berkeringat.

Gambar.4. Luka bakar deep partial thickness. Permukaan putih, tidak memucat dengan penekanan

Gambar 5. Luka bakar full thickness. Tidak terasa sakit, gambaran putih atau keabu-abuan.
Prosedur Penanganan Luka Bakar
Prosedur Lengkap IRD :
1. Panggil dokter jaga yang bertugas di unit luka bakar.
2. Lakukan penanganan seperti menangani kasus gawat darurat pada umumnya, yaitu resusitasi sesuai urutan A, B, C.
3. Penderita dengan kriteria ringan diijinkan dirawat di poliklinik (MRS). Sedang yang lain tidak, terkait dengan ancaman shock yang mungkin timbul dan kerusakan yang hebat. Orang-orang tua lebih rentan (fragil) terhadap luka bakar, dewasa muda dengan 30% luka relatif mudah diatasi, sedang luka itu pada orang tua sudah amat parah. Hal ini diantaranya karena sudah terjadi perubahan-perubahan seperti arteriosclerosis, kerusakan jantung, ginjal, dan otak. Begitu juga anak-anak yang amat peka dengan kehilangan cairan.
4. Untuk penderita yang poliklinis (tidak perlu MRS) penderita dilakukan perawatan secara tertutup di IRD dengan :
a. Cuci luka dengan savlon. Kalau luka luas dan kotor dicuci dengan air kran/NaCl 0,9% dulu baru dibilas dengan savlon 1 : 30 (savlon : air steril)
b. Cream silver sulfadiazine atau tulle
c. Diberi antibiotic atas indikasi dan penderita bisa dipulangkan
5. Penderita yang perlu MRS setelah mengisi status IRD, sambil melakukan resusitasi penderita langsung dibawa ke Burn Unit
6. Dipasang IV line, karakter urine. Untuk kasus yang berat (luka bakar > 40%) dipasang CPV dan O2.
7. Cairan :
– Orang dewasa > 20% ) pada tingkat II & III harus diberikan cairan.
– Anak-anak > 15% )
Cairan yang dipilih : Ringer laktat berdasarkan rumus Baxter
– pada dewasa → 4 cc/kg BB/%/24 jam
– pada anak-anak → 2 cc/kg BB/% + kebutuhan cairan basal dengan perbandingan kristaloid : koloid = 17 : 3 (menurut Monerief)
½ nya diberikan 8 jam pertama
½ nya diberikan 16 jam berikutnya
Dalam hal ini semua yang paling penting ialah observasi produksi urine setiap jam.
Bila urine BHT > lidah buaya umur 4 tahun> alfa-tokoferol.Lidah buaya umur 3 tahun menunjukkan aktvitas penangkapan terhadap radikal bebas paling kuat (72,19 persen) dibandingkan BHT (70,52 persen) dan alfa-tokoferol (65,20 persen). (Saada et al., 2003).
Unsur-unsur yang ditemukan pada daun lidah buaya menunjukkan adanya hubungan yang saling sinergis dalam mempertahankan integritas status antioksidan dalam tubuh. Pengujian dengan menggunakan tikus irradiasi yang diberi filtrat jus daun lidah buaya sebanyak 0,25 ml/kg berat badan/hari, selama 5 hari sebelum irradiasi dan 10 hari setelah irradiasi, menunjukkan adanya perbaikan yang nyata terhadap aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD) dan katalase pada organ paru-paru, ginjal, dan jantung. (Saada et al., 2003).
SOD dan katalase merupakan enzim dan sekaligus antioksidan intraseluler yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit. . (Dep.Kes, 2007)
c. Penyembuh Penyakit Kulit
Gel lidah buaya memiliki aktivitas sebagai antibakteri, antijamur, meningkatkan aliran darah ke daerah yang terluka, dan menstimulasi fibroblast, yaitu sel-sel kulit yang bertanggung jawab untuk penyembuhan luka. Publikasi pada American Podiatric Medical Association menunjukkan bahwa pemberian gel aloe pada hewan percobaan, baik dengan cara diminum maupun dioleskan pada permukaan kulit, dapat mempercepat penyembuhan luka. (Dep.Kes, 2007)
Pemberian gel aloe secara oral (diminum) sebanyak 100 mg/kilogram berat badan selama dua bulan dapat mengurangi ukuran luka sebanyak 62 persen, dibandingkan 51 persen pada kelompok kontrolnya (tanpa pemberian gel). Pengolesan krim yang mengandung 25 persen gel aloe pada permukaan luka selama enam hari dapat mengurangi ukunan luka sebesar 51 persen dibandingkan 33 persen pada kelompok kontrolnya. . (Dep.Kes, 2007)
Publikasi pada Journal of Dermatolagic Surgery and Oncology juga menunjukkan bahwa aloe dapat mempercepat penyembuhan pasca operasi. Gel aloe juga dapat digunakan untuk campuran krim facial penyembuhanjerawat. Campuran krim facial dengan gel aloe dapat menyembuhkan jerawat, 72 jam lebih cepat dibandingkan kelompok tanpa aloe. (Dep.Kes, 2007)
Aloe juga dapat digunakan untuk mencegah kerusakan kulit akibat sinar X. Penelitian di Hoshi University Jepang menunjukkan, aloe mengandung senyawa antioksidan yang mampu menyingkirkan radikal bebas akibat radiasi, serta melindungi dua komponen penyembuh luka yang secara alami ada di dalam tubuh, yaitu superoksida dismutase (enzim antioksidan) dan glutation (asam amino yang menstimulasi sistem kekebalan). . (Dep.Kes, 2007)
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pemberian 0,5 persen ekstrak aloe ke dalam krim campuran minyak dan mineral dapat menyembuhkan penyakit psoriasis (sejenis penyakit kulit). (Dep.Kes, 2007)
d. Obat, Makanan, Minuman
Pemanfaatan lidah buaya semakin lama semakin berkembang. Mula-mula lidah buaya hanya dikenal sebagai obat luar, dengan berbagai kegunaan. Di antaranya sebagai penyubur rambut, penyembuh luka (luka bakar/tersiram air panas), obat bisul, jerawat/noda hitam, pelembab alami, antiperadangan, antipenuaan, serta tabir surya alami. (Dep.Kes, 2007)
Daun lidah buaya juga dapat diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman, berupa sejenis jeli, minuman segar sejenis jus, nata de aloe, dawet, dodol, selai, dan lain-lain. Makanan dan minuman hasil olahan lidah buaya sangat berpotensi sebagai makanan/minuman kesehatan. Hal tersebut disebabkan oleh kombinasi kandungan zat gizi dan nongizi yang memiliki khasiat untuk mendongkrak kesehatan. (Dep.Kes, 2007)
Kegunaan lidah buaya sebagai makanan/minuman antara lain berkhasiat untuk: cacingan, susah kencing, susah buang air besar (sembelit), batuk, radang tenggorokan, hepatoprotektor (pelindung hati), imunomodulator (pembangkit sistem kekebalan), diabetes melitus, penurun kolesterol, dan penyakit jantung koroner. (Dep.Kes, 2007)
Menurut beberapa penelitian, yang paling baik digunakan untuk pengobatan adalah jenis Aloevera barbadensis Miller. Lidah buaya jenis tersebut mengandung 75 zat yang dibutuhkan oleh tubuh. . (Dep.Kes, 2007)
Mengingat demikian besar manfaat lidah buaya bagi kesehatan, tidak ada salahnya kita memasukkan produk olahannya ke dalam pola makan sehari-hari. (Dep.Kes, 2007)

BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep

Narasi:
Aloe vera digunakan secara topikal pada luka bakar derajat IIA dan luka lecet. Karena Aloe vera dapat meningkatkan kelembapan kulit, sedangkan pada kaeadaan lembap kulit mengadakan epitelialisasi dengan cepat, dan enzim protease lebih mudah menyingkirkan jaringan nekrosis. Sehingga luka akan lebih cepat sembuh.

3.2 Hipotesis
Ada pengaruh penggunaan topikal Aloe vera pada luka bakar derajat II A dan luka lecet terhadap kecepatan penyembuhan luka.

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan design ”The Posttest Only Control Group Design”. Adapun skema desainnya sebagai berikut.

Keterangan :
Kelompok P1: diberikan aloevera secara topikal 1-2 kali sehari
Kelompok P2: diberikan aloever secara topikal 3-4 kali sehari
Kelompok P3: diberikan aloevera secara topikal > 4 kali sehari
Kelompok X : kontrol normal
O= Observasi

4.2 Populasi, Sampel dan Sampling
Populasi diambil dari tikus varian winstar, dengan penyamaan ciri subyek sebagai berikut :
1. Jenis kelamin jantan
2. Tikus dewasa dengan umur antara 10-11 minggu
3. Berat tikus antara 300-500 gram
Penentuan jumlah sampel setiap kelompok menggunakan rumus sebagai berikut :
(t-1)(r-1) ≥ 14
dengan t (treatment) sebanyak 4, maka didapatkan r (ulangan) ≥ 6.
Tikus-tikus tersebut dibagi dalam 8 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor tikus,yaitu :
• Kelompok X : kontrol normal (tikus dengan luka bakar derajat II A yang sudah di rekayasa, tanpa di beri Aloe vera)
Kelompok P1: tikus dengan luka bakar derajat II A (rekayasa) + di beri Aloe vera 1-2 kali sehari
Kelompok P2: tikus dengan luka bakar derajat II A (rekayasa) + di beri Aloe vera 3-4 kali sehari
Kelompok P3: tikus dengan luka bakar derajat II A (rekayasa) + di beri Aloe vera >4 kali sehari
• Kelompok X : kontrol normal (tikus dengan luka lecet yang sudah di rekayasa, tanpa di beri Aloe vera)
Kelompok P1: tikus dengan luka lecet (rekayasa) + di beri Aloe vera 1-2 kali sehari
Kelompok P2: tikus dengan luka lecet (rekayasa) + di beri Aloe vera 3-4 kali sehari
Kelompok P3: tikus dengan luka lecet (rekayasa) + di beri Aloe vera >4 kali sehari
Maka untuk 8 kelompok percobaan diperlukan 48 ekor Rattus novergicus.

4.3 Tempat dan Waktu Penelitian
4.3.1 Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Terpadu Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang.
4.3.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama Empat bulan

4.4 Variabel dan Definisi Operasional
4.4.1 Variabel Tergantung
Luka bakar tingkat IIA dan luka lecet
4.4.2 Variabel Bebas
Aloevera
4.4.3 Definisi Operasional
(luka) : Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan (kerusakan Lesi kulit permukaan tubuh).
a. Jenis lesi (luka) : klasifikasi (pembagian) lesi berdasarkan kedalaman dan etiologinya, yaitu :
3. Luka lecet : luka yang yang disebabkan karena adanya eksvoliatif jaringan superfisial kulit.
4. Luka bakar : luka bakar grade II A yaitu luka superfisial; mengenai epidermis dan lapisan atas dari corium. Elemen-elemen epithelial yaitu dinding dari kelenjar keringat, lemak, folikel rambut masih banyak. Karenanya penyembuhan (epitelialisasi) akan mudah dalam 1 – 2 minggu, tanpa terbentuk sikatriks.
Lidah buaya (Aloe vera) : merupakan tanaman family Liliaceae yang daging (gel-nya) digunakan secara topikal (perlakuan) pada proses penyembuhan luka. Pada penelitian ini lidah buaya yang digunakan adalah varian Barbadensis miller.
 Frekuensi penggunaan : frekuensi penggunaan lidah buaya terhadap luka bakar dan luka superfisial secara topikal, yaitu :
a. P1 = 1-2 x sehari
b. P2 = 3-4 x sehari
c. P3 = > 4 x sehari
 Kecepatan penyembuhan : lama hari luka tertutup epithel seluruhnya, yaitu :

4.5 Prosedur Penelitian (Tekhnik Pengumpulan Data)
Mengumpulkan tikus dan membatasi tikus yang akan diteliti yaitu tikus jantan dengan usia 10-11 minggu dan berat badan 300-500 gram. Kemudian tikus dibius dimasukkan ke dalam kotak yang berisi kapas yang telah dicelup ke dalam ether, lalu bulunya dicukur dengan ukuran 3×3 cm2. Setelah itu tikus diberi perlakuan dengan membuat luka pada kulit tikus berupa luka lecet dan luka bakar derajat II A.
Luka lecet dibuat dengan menggunakan amplas kertas dengan ketebalan 0,5 mm dan dilakukan dengan cara mengusapkan amplas yang permukaannya kasar pada kulit tikus yang sudah dicukur bulunya. Ukuran luka yaitu 1×1 cm 2.
Luka bakar derajat II A dilakukan dengan cara menempelkan paku usuk dengan diameter kepala 1 cm selama 2-3 detik. Dimana sebelumnya paku tersebut sudah direbus dengan suhu 100°C selama 5 menit. Paku direbus menggunakan bunsen Ukuran luka yaitu 1×1 cm 2.
.Setelah 1 jam, luka pada Rattus novergicus dioleskan getah Aloe vera yang telah sebelumnya diiris setebal 2 cm.Perlakuan diberikan dengan rincian sebagai berikut: Kelompok X : kontrol normal Kelompok. P1: diberikan Aloe vera secara topikal 1-2 kali sehari. Kelompok P2: diberikan Aloe vera secara topikal 3-4 kali sehari. Kelompok P3: diberikan Aloe vera secara topikal > 4 kali sehari.
Pemberian Aloe vera diulang secara kontinyu sampai luka sembuh (epitelialisasi sempurna) dan waktu penyembuhan pada masing-masing tikus dicatat.
4.6 Metode Analisa Data
Agar hipotesis dapat diuji , maka dilakukan analisa statistik dengan menggunakan independent t-test, One Way ANOVA.

4.7 Jadwal Kegiatan Program
Pada dasarnya penelitian ini efektif dilaksanakan dalam jangka waktu 4 bulan dengan rincian kegiatan sebagai berikut :
Jenis Kegiatan Bulan I Bulan II Bulan III Bulan IV
Minggu Minggu Minggu Minggu
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Persiapan
Pelaksanaan Kegiatan
Penyusunan Laporan
Presentasi Hasil Penelitian

DAFTAR PUSTAKA
Anto.2007.Luka Bakar.available from http/www. Asiamaya.com.URL.acces at google.com.
Arikunto, Suharsimi.2002.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.Jakarta : Rineka Cipta.Halaman108-109.
Sudjana.2002.Metoda Statistika.Bandung: Tarsito.(Hal.299-302)
Fenlon. 2007. Critical Care&Pain. London : British Journal of Anasthesi.(Hal.50-75)
Hafiz, Ida.2003. Aloe vera untuk Penampilan. Jakarta : Healthylife. Edisi 10/11. Halaman 36.
Rofieq, Ainur.2006. Penelitian Eksperimen. Malang : Jurnal Metodologi Penelitian
Rofieq, Ainur.2006. Konsep Dasar Statistika. Malang : Jurnal Metodologi Penelitian
Rofieq, Ainur.2006. Aplikasi Statistika dalam Penelitian Kesehatan. Malang : Jurnal Metodologi Penelitian
Sabiston, David C.1994. Buku Teks Ilmu Bedah. Jakarta : Binarupa Aksara. Halaman 76-99.
Settle. 1996. Principles and Practice Burn Management. New York : JAD.Halaman 98-109.
Sulisetiono.2006.Statistika.Malang: Universitas Negeri Malang. Halaman 12, 118.
Suwati, Irma. 2006. Proposal Penelitian. Malang: Jurnal Metodologi Penelitian
Suwati, Irma. 2006. Tehnik dan Prosedur Penelitian. Malang: Jurnal Metodologi Penelitian
Tjitrosoepomo, Gembong. 1989.Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.Halaman 7-75.
Unknown.2007.Panduan Mencari Jodoh.available from http://www.myjodoh.net. URL. acces at http://www.google.com.
Unknown.2007. Manfaat Lidah Buaya. available from http://www.DepKes. co.id. URL. acces at http://www.google.com.
BIODATA KETUA PELAKSANA PKM PENELITIAN

Nama Lengkap : RESTU PAMUJINING TYAS
Tempat Tanggal Lahir : Sumedang, 30 Oktober 1987
Suku Bangsa : Sunda
NIM : 05020029
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat Asal : Jl. Raya Ciherang RT 03 / RW 02, Sumedang.

PENDIDIKAN
1. 1993 – 1999 : SDN Sukaraja 1 Sumedang
2. 1999 – 2002 : SLTP Negeri 1 Sumedang
3. 2002 – 2005 : SMA Negeri 1 Sumedang
4. 2005 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

BIODATA ANGGOTA PELAKSANA PKM PENELITIAN

1. Nama Lengkap : WIFAQ THALIB
Tempat Tanggal Lahir : Pamekasan, 29 Juli 1987
Suku Bangsa : Madura
NIM : 05020017
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat Asal : Jl. Wijaya Kusuma Atas No.3 Malang

PENDIDIKAN
a. 1993 – 1999 : SDN 2 Barkot
b. 1999 – 2002 : SLTP Negeri 2 Pamekasan
c. 2002 – 2005 : SMA Negeri 1 Pamekasan
d. 2005 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

2. Nama Lengkap : HOTIMAH
Tempat Tanggal Lahir : Pontianak, 27 September 1988
Suku Bangsa : Madura
NIM : 05020043
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Bendungan Sutami Gg 2A No.51 Malang

PENDIDIKAN
a. 1993 – 1999 : SDN 1 Pontianak
b. 1999 – 2002 : SLTP Negeri 1 Putusibau
c. 2002 – 2005 : SMA Negeri 1 Putusibau
d. 2005 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

3. Nama Lengkap : SESANTI
Tempat Tanggal Lahir : Lamongan, 8 Nopember 1986
Suku Bangsa : Jawa
NIM : 05020037
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Bendungan Sutami Gg 1 Malang

PENDIDIKAN
a. 1993 – 1999 : SDN II Karanggeneng Lamongan
b. 1999 – 2002 : MTs Assalaam Solo
c. 2002 – 2005 : SMA Negeri I Lamongan
d. 2005 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

4. Nama Lengkap : CHURIN INFI AFIDATINA
Tempat Tanggal Lahir : Sidoarjo, 15 Maret 1989
Suku Bangsa : JAWA
NIM : 06020081
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat Asal : Jl. Bader 1 Bendomungal-Bangil, Pasuruan

PENDIDIKAN
e. 1994 – 2000 : MI Al-Fatah Kedung Pandan
f. 2000 – 2003 : SMP Negeri 2 Bangil
g. 2003 – 2006 : SMA Negeri 4 Pasuruan
h. 2006 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

BIODATA DOSEN PENDAMPING PKM PENELITIAN

Nama dan Gelar : Ruby Riana Asparini, dr., Sp.BP.
Tanggal Lahir/Jenis Kelamin : Jakarta, 16 September 1968 / Perempuan
Alamat Rumah : Perumahan Belimbing Indah Blok A6 No.11
Fakultas/Jurusan : Kedokteran
Perguruan Tinggi :Universitas Muhammadiyah Malang
Riwayat Pendidikan :
 Ijasah Sekolah Dasar : tahun 1981
 Ijasah SMP : tahun 1984
 Ijasah SMA : tahun 1987
 Ijasah Dokter : tahun 1993 Universitas Airlangga
 Microsurgery course : 2004

Riwayat Pelatihan :
1. Microtia Referat DJ Forum Ilmiah Sabtu JBPI
2. Van der Woude:case series Case report MSNJBPI
3. Tahapan penanganan CLP Text Book reading Forum Ilmiah Sabtu22-03-2003
4. Skin Coverage in Acute Trauma Hand Textbook reading Forum Ilmiah Sabtu19-04-2003
5. Facial FlapsTextbook reading Forum Ilmiah Sabtu07-06-2003
6. The Fate of Dorsal Metacarpal ArteryJournal Reading Forum Selasa08-07-2003
7. Electrical Burns Textbook reading Forum Ilmiah Sabtu09-08-2003
8. Burn Management-General ManagementTextbook Reading Forum Selasa09-09-2003
9. Heparin in the Treatment in Burn Jounal reading Forum Ilmiah Sabtu08-11-2003
10. Congenital Hand DeformityTextbook reading Forum Selasa24-11-2003
11. Burn Treated with and without Heparin Journal reading Forum Selasa02-12-2003
12. Craniofacial Dysostosis Syndrome Textbook reading Forum Selasa09-02-2004
13. Anatomy of the Eyelids& ptosis Textbook reading Forum Selasa30-03-2004
14. Paired Abdominal Flap: case series Case report ISD Forum Ilmiah Sabtu PIT PERAPI Medan20-05-2004 Hand Course Jakarta20-08-2004
15. Tendon Transfer Textbook reading Forum Selasa 10-08-2004
16. Deepithelized Fasciocutaneous FlapsJournal Reading Forum Selasa07-09-2004
17. Experience with the seven flap-plasty for the contracture release Journal Reading Forum Selasa09-11-2004
18. Treatment of a neck burn contracture with a super-thin occipito-cervico-dorsal flap Journal reading Forum Selasa12-04-2005
19. Blow Out fractureText book reading Forum Sabtu11-06-2005
20. Finger Tip Injury Text book reading Forum Sabtu15-10-2005
21. Tendon Injury Text book reading Forum Sabtu19-11-2005
22. Rhinoplasty Text book reading Forum Sabtu22-10-2005
23. Blepharoplasty Text book reading Forum Sabtu21-01-2006
24. Universal Dermal Mastopexy Journal reading Forum Selasa14-03-2006
25. Double eyelids blepharoplastyJournal readingForum Selasa04-04-2006
26. The “Anterior-Only” Approach to Neck Rejuvenation- An Alternative to Face Lift SurgeryJournal readingForum Selasa02-05-2006

Riwayat Pekerjaan :
 Klinik Pusura 1994
 Rumah Sakit Bayangkara 1994
 Rumah Sakit Gatoel 1995
 PTT Puskesmas Bugul Pasuruan 1996-1999
 Staf Bedah PPD UMM 2007-sekarang
Riwayat Penelitian :
1. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar Proposal DP, Prof Indri Safitri Forum Sabtu 17-09-2005
2. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar Presentasi PenelitianDP, Prof Indri Safitri MABI Makasar 06-07-2006
3. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar Presentasi PenelitianDP, Prof Indri Safitri Medical Research Unit 19-08-2006
4. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Dan Epitelialisasi Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar KARYA AKHIR DP, Prof Indri Safitri Forum Jumat 08-09-2006
5. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar Presentasi Penelitian DP, Prof Indri Safitri PIT PERAPI Bali 23-05-2006

Rencana Anggaran

Agar terlaksananya Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian yang kami laksanakan membutuhkan dana dari DIKTI, dengan rincian sebagai berikut :

Penyusunan Proposal
a. Rental Komputer Rp. 200.000
b. Foto Copy Rp. 100.000
c. Penjilidan Rp. 100.000
d. Penggandaan Proposal Rp. 100.000
e. Flash Disk Rp. 300.000

Alat dan Bahan
a. Tikus varian Winstar Rp. 1.000.000
b. Scalpel Rp. 200.000
c. Kandang Tikus Rp. 1.000.000
d. Penggaris Rp. 50.000
e. Bunsen Api Rp. 500.000
f. Makanan tikus Rp. 500.000
g. Lidah Buaya (Aloe vera) Rp. 100.000

Analisa Data
a. Biro Analisa Statistik Rp. 500.000

Akomodasi
a. Transportasi Rp. 200.000
b. Konsumsi Pelaksana 5 Orang Rp. 300.000
c. Dokumentasi Rp. 100.000

Penyusunan Laporan
a. Rental Komputer Rp. 250.000
b. Foto Copy Rp. 100.000
c. Penjilidan Rp. 100.000
d. Penggandaan Laporan Rp. 100.000

Total Biaya Pelaksanaan Rp. 5.700.000

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar

Pengaruh Ibu Hamil Penderita Anemia Terhadap Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Di Daerah rawan pangan di Kab Lumajang Jawa Timur.

A. Judul Program

Pengaruh Ibu Hamil Penderita Anemia Terhadap Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Di Daerah rawan pangan di Kab Lumajang Jawa Timur.

B. Latar Belakang Masalah

Melahirkan seorang bayi merupakan suatu anugerah bagi sebuah keluarga. Karena itu menunjukkan bahwa mereka dapat mendapatkan keturunan yang sangat diharapkan dalam sebuah keluarga dan yang mereka harapkan adalah melahirkan bayi yang sehat. Salah satu faktor melahirkan bayi yang sehat adalah dengan cara mengkonsumsi makanan yang bergizi yang dibutuhkan oleh tubuh pada ibu hamil untuk menjaga kehamilannya tersebut. Soetjiningsih (1995) mengatakan bahwa gizi ibu yang baik diperlukan agar pertumbuhan janin berjalan pesat dan tidak mengalami hambatan, dimulai dari sel telur yang dibuahi hingga menjadi janin didalam rahim. Karena tidak semua ibu hamil memperhatikan kebutuhan gizi yang diperlukan saat hamil karena kurangnya pengetahuan mereka tentang hal tersebut. Sehingga menyebabkan banyaknya angka kematian ibu hamil pada saat persalinan.
Dimulai dari konsepsi hingga melahirkan, ibu dan anak merupakan satu kesatuan yang erat dan tak terpisahkan. Kesehatan ibu, fisik maupun mental, sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungannya. Agar bayi yang sehat dapat dilahirkan dalam dengan selamat, satu-satunya jalan yang dapat ditempuh hanyalah melalui pemeliharaan kesehatan ibu. Pengalaman dari beberapa generasi menunjukkan bahwa kerawanan dan ketergantungan janin pada ibu mengarah pada adanya kebutuhan dan perawatan khusus selama kehamilan.
Sejalan dengan kemajuan zaman, hasil kehamilan yang diharapkan tidak hanya bayi yang sekedar hidup, tetapi juga bayi yang sehat. Hal ini merupakan bukti peninggalan tanggung jawab sosial dan moral masyarakat. Bahwa gizi yang baik sangat berperan dalam proses yang efisien. Yang dapat dibuktikan dari hasil pengamatan waktu musibah, dalam keadaan demikian tidak datangnya haid pada wanita usia subur tidak jarang dijumpai. Dampak lain yang juga dapat di catat adalah meningkatnya angka lahir mati, angka kematian lahir dini, serta menurunnya berat lahir rata-rata (Aebi, H & R. G. Whitehead, 1980).
Kematian yang terjadi pada tahun pertama setelah kelahiran hidup disebut kematian bayi. Kematian bayi dan anak sampai umur lima tahun relatif sangat tinggi. Hal ini erat hubunganya dengan kemampuan orang tua dalam memberikan pemeliharaan dan perawatan pada anak-anaknya. Karena faktor sosial ekonomi berkaitan dengan kemampuan tersebut, maka kematian bayi dan anak sering kali digunakan sebagai indikator taraf kesehatan dan taraf sosio ekonomi penduduk (United Nation, 1973). Pengetahuan mereka mengenai makanan yang bergizi hanya berpatokan pada karbohidrat, protein, mineral, dan vitamin saja. Sedangkan seperti zat besi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh pada saat persalinan jarang mereka perhatikan. Sehingga berdampak pada banyaknya kurang darah pada saat hamil dan berpengaruh pada bayi yang akan dilahirkannya.
Gejala awal anemia zat besi berupa badan lemah, lelah, kurang energi, kurang nafsu makan, daya konsentrasi turun, sakit kepala, mudah terserang penyakit, mata berkunang-kunang. Selain itu wajah, selaput lendir kelopak mata, bibir dan kuku penderita sangat pucat (Soetjiningsih, 1997). Kalau anemia sangat berat, dapat berakibat penderita sesak nafas bahkan lemah jantung.
Selain kurangnya pengetahuan tentang kebutuhan gizi kurang yang menyebabkan ibu hamil menderita anemia, juga disebabkan oleh status sosial ekonomi keluarga yang minim. Dimana seorang ibu hamil sangat membutuhkan suatu asupan gizi yang sangat banyak. Tetapi dengan keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan, maka ibu tersebut kurang mendapatkan gizi yang seharusnya sangat diperlukan untuk pertumbuhan janin, atau bisa juga mengakibatkan kematian pada ibu tersebut pada saat persalinan. Setyowati (2003) menyatakan bahwa berbagai gangguan akan dialami wanita hamil dan janinnya, jika Si ibu menderita anemia. Pengaruh kurang baik ini berlangsung selama kehamilan, saat persalinan atau selama memasuki masa nifas dan masa laktasi serta waktu selanjutnya.
Ibu hamil dengan penderita anemia kemungkinan akan melahirkan bayi dengan berat bayi lahir rendah (BBLR) atau bisa jadi salah satu penyebab kematian ibu hamil di karenakan adanya pendarahan pada saat persalinan. Ariawan (2001) menuturkan bahwa anemia gizi pada kehamilan adalah kondisi ketika kadar hemoglobin lebih rendah dari pada normal karena kekurangan satu atau lebih nutrisi esensial.
Perbaikan gizi dan kesehatan pada ibu-ibu penderita sudah banyak dilakukan di Negara maju. Hal ini dapat terlihat dalam bertambahnya tinggi badan (TB) dan berat badan (BB) ibu hamil. Dibandingkan dengan di Negara berkembang, yang mana perbaikan gizi dan kesehatan yang dilakukan masih minim sekali, keadaan tersebut dapat mempengaruhi berat lahir yang berbeda secara bermakna.

NO BBLR Negara Maju (%) Negara Berkembang (%)
1 prematur 3,3 6,7
2 KMK /dismatur 2,6 17,0
Sumber : Villar 1982, dikutip dari Gould JB 1986.

Dengan demikian diperlukan suatu tinjauan tentang banyaknya ibu hamil yang menderita anemia yang mana dapat berpengaruh terhadap banyaknya angka kelahiran berat bayi lahir rendah. Sehingga dapat mempermudah dalam pemberian perbaikan gizi dan kesehatan pada ibu hamil, khususnya bagi penderita anemia. Sehingga akan dapat mengurangi banyaknya angka kematian yang terjadi, baik pada ibu yang melahirkan atau pada bayi yang di lahirkan.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu :
1. Berapa rata-rata ibu hamil penderita anemia dan bayi berat badan lahir rendah di rumah sakit daerah Lumajang ?
2. Adakah pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah ?

D. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui rata-rata ibu hamil penderita anemia dan bayi berat badan lahir rendah di rumah sakit daerah Lumajanag
2. Mengetahui adanya pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah

E. Luaran yang di Harapkan

1. Ingin menghasilkan sebuah data tentang ibu hamil penderita anemia dan bayi berat badan lahir rendah di rumah sakit daerah Lumajang.
2. Ingin menghasilkan sebuah artikel tentang pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Dr. Haryoto Lumajang

F. Kegunaan Penelitian

Adapun manfaat yang di harapkan dalam penelitian ini adalah :
1. RS Daerah Lumajang
Sebagai bahan informasi terhadap pelayanan kesehatan, khususnya kepada ibu hamil yang menderita anemia, dalam hal pemberian tablet penambah zat besi.
2. Dinas Kesehatan
Sebagai bahan informasi dinas terkait untuk melakukan suatu penyuluhan kesehatan pada ibu-ibu hamil, sehingga tidak meningkatkan angka kematian pada ibu hamil dan bayi yang akan dilahirkannya.
3. Masyarakat umum
sebagai suatu sarana untuk menambah pengetahuan tentang kesehatan, sehingga dapat menambah asupan gizi yang dibutuhkan pada saat kehamilan.

G. TINJAUAN PUSTAKA

1. Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian terdahulu dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya, meskipun ada beberapa perbedaan pada obyek dan variabel yang diteliti.
Menurut WHO (1968), kejadian anemia hamil berkisar antara 20 persen sampai dengan 89 persen, dengan menetapkan Hb 11 gr % sebagai dasarnya. Sehingga angka anemia kehamilan di Indonesia menunjukkan nilai yang cukup tinggi.
Muhilai Djumadias A. N, (1979), juga mengemukakan bahwa sekitar 70 persen ibu hamil di Indonesia menderita anemia kekurangan gizi. Pada pengamatannya lebih lanjut menunjukkan bahwa kebanyakan anemia yang diderita masyarakat Indonesia adalah karena kekurangan zat besi yang dapat diatasi melalui pemberian zat besi secara teratur dan peningkatan gizi. Selain itu di daerah pedesaan banyak di jumpai ibu hamil yang malnutrisi atau kekurangan gizi, kehamilan dan persalinan dengan jarak yang berdekatan, dan ibu hamil dengan pendidikan dan tingkat sosial ekonomi yang rendah, serta banyaknya kehamilan dibawah usia 18 tahun atau kehamilan diatas usia 35 tahun ().
Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dalam penelitiannya Iskandar (1998), mengemukakan, bahwa persentase ibu hamil yang menderita anemia sudah mengalami penurunan, yaitu dari 73,7 persen pada tahun 1986 menjadi 51,3 persen pada tahun 1995. namun dengan adanya krisis, diramalkan tingkat anemia ibu hamil akan meningkat pada tahun 1999 sampai dengan tahun-tahun berikutnya apabila tidak dilakukan adanya peningkatan gizi. Disamping itu, dalam penelitiannya yang lain yang dilakukan di jawa barat menunjukkan bahwa persentase tersebut akan terus meningkat karena banyaknya sistem penanganan kegawat daruratan di rumah sakit malah sering memeperburuk situasi. Sistem penanganan kegawat daruratan yang dimaksud adalah dalam persediaan tablet zat besi serta kurang lancarnya komunikasi antara petugas dengan pasien.
.
2. Landasan Teori

a. Anemia pada Kehamilan

Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi dan asam folat dalam makanan ibu. Anemia pada kehamilan merupakan masalah nasional, karena dapat mencerminkan nilai kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, serta mempunyai pengaruh yang besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Anemia pada ibu hamil biasanya disebut dengan “potential denger to mother and child” yaitu suatu potensial yang membahayakan ibu dan anak. Pada umumnya anemia pada ibu hamil disebabkan oleh berkurangnya cadangan zat besi yang sangat pesat dikarenakan kebutuhan janin akan zat besi sangat besar, juga karena bertambahnya volume darah pada plasma darah sehingga menurunkan Hb pada sel darah merah (Anonymous, 1984).
Menurut Kartaji, Sri, Kusin, I.A (1981) mengemukakan bahwa makanan yang banyak mengandung zat besi adalah sayuran berdaun hijau, sedangkan ikan dan buah-buahan dapat meningkatkan penyerapan zat besi. Sedangkan untuk penambahan asam folat banyak terdapat pada makanan pokok dan umbi-umbian.
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari pada laki-laki karena terjadi menstruasi dengan pendarahan sebanyak 50 sampai 80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi sebesar 30 sampai dengan 40 mgr. Disamping itu kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan maka akan semakin banyak kehilangan zat besi dan menjadi semakin anemis. Sebagai gambaran berapa banyak zat besi pada setiap kehamilan, dibawah ini terdapat berbagai kebutuhan dari zat besi yang diperlukan.
Meningkatkan sel darah merah : 500 mgr
Terdapat dalam plasenta : 300 mgr
Terdapat dalam janin : 100 mgr
Jumlah : 900 mgr
Setelah persalinan dengan lahirnya dan perdarahan, ibu akan kehilangan zat besi sekitar 900 mgr. Saat laktasi ibu masih memerlukan kesehatan jasmani yang optimal sehingga dapat menyiapkan ASI untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dalam keadaan anemia, laktasi tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan baik. Sehingga banyak didapat adanya ibu yang meninggal atau bayi yang meninggal (INACG, 1979).
Terjadinya anemia gizi pada ibu hamil dapat berawal dari seorang ibu yang dilahirkan oleh ibu penderita anemia gizi, yang selama masa pertumbuhan hingga kehamilannya tidak mendapat sumber zat gizi yang cukup, maupun pelayanan kesehatan yang mungkin diperlukannya, sehingga dia selalu menderita anemia gizi. Alasan lain adalah adanya kehamilan yang berulang-ulang dan dalam selang waktu yang relatif singkat, sehingga cadangan zat besi ibu seakan –akan dikuras guna memenuhi kebutuhan janin atau akibat perdarahan pada waktu bersalin. Keadaan terakhir tersebut akan semakin parah apabila masih ditambah dengan adanya pantangan terhadap beberapa jenis makanan, terutama yang kaya akan zat besi selama kehamilan (WHO, 1968).

b. Pengaruh Anemia pada Kehamilan dan Janin

Pengaruh Anemia pada Kehamilan
a) Bahaya selama kehamilan
1. Dapat terjadi abortus
2. Persalinan prematuritas
3. Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim
4. Ketuban pecah dini (KPD)
5. Mudah terjadi infeksi dan sepsispuer peralis
6. Lemah dan anoreksia
7. Pendarahan
8. Pre eklamsi dan eklamsi

b) Bahaya saat persalinan
1. Gangguan his- kekuatan mengejang
2. Kala pertama dapat berlangsung lama, dan terjadi partus terlantar
3. Kala kedua berlangsung lama hingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan
4. Kala uri dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan postpartum karena atonea uteri
5. Kala empat dapat terjadi perdarahan postpartum sekunder dan atonia uteri

Pengaruh Anemia tehadap Janin
Sekalipun tampaknya janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya, tetapi dengan adanya anemia maka akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Akibat adanya anemia pada ibu, maka dapat terjadi gangguan pada janin dalam bentuk:
a) Abortus
b) Terjadi kematian intrauterine
c) Persalinan prematuritas tinggi
d) Berat badan lahir rendah
e) Kelahiran dengan anemia
f) Dapat terjadi cacat bawaan
g) Bayi mudah terserang infeksi sampai kematian perinatal
h) Intelegensi rendah (cacat otak)
i) Kematian neonatal
j) Asfiksia intra partum
(Manuaba, 1998)

c. Nutrisi Ibu Hamil dan Pertumbuhan Janin

Pertumbuhan janin didalam kandungan merupakan hasil interaksi antara potensi genetik dan lingkungan intrauterine. Pada semua mamalia, perubahan anatomi dan fisiologi yang terjadi pada tubuh ibu selama kehamilan bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang nyaman bagi pertumbuhan janin.
Pada umumnya, pada ibu – ibu yang hamil dengan kondisi kesehatan yang baik, dengan reproduksi yang normal, tidak sering menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra- hamil maupun pada saat hamil, akan menghasilkan bayi yang lebih besar dan lebih sehat dari pada ibu – ibu yang kondisinya tidak seperti yang disebutkan diatas. Kurang gizi yang kronis pada masa kanak – kanak dengan atau tanpa sakit yang berulang-ulang, akan menyebabkan bentuk tubuh yang “stunting atau kuntet” pada masa dewasa. Ibu-ibu yang kondisinya seperti ini lebih sering melahirkan bayi BBLR yang mempunyai vitalitas rendah dan kematian yang tinggi, lebih-lebih apabila ibu tersebut juga menderita anemia. Terdapat hubungan antara bentuk tubuh ibu, sistem reproduksi, dan sosial ekonomi terhadap pertumbuhan janin. Selain yang disebutkan diatas tersebut, berat badan lahir (BBL) bayi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang lain selama kehamilan. Misalnya sakit berat, komplikasi kehamilan, kurang gizi, keadaan setres pada ibu hamil, dapat mempengruhi pertumbuhan janin melalui efek buruk yang menimpa ibunya, atau juga pertumbuhan plasenta dan transport nutrisi ke janin (Soetjiningsih, 1995).
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor resiko BBLR. Yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi factor ibu, janin, dan plasenta. Diantara faktor-faktor tersebut, masalah anemia defisiensi besi (ADB) selama kehamilan merupakan salah satu faktor resiko adanya indikasi kelahiran premature, BBLR, dan peningkatan kematian prenatal (Najoan, N.W, 2002).
Tambahan makanan untuk ibu hamil dapat diberiakn dengan cara meningkatkan baik kualitas maupun kuantitas makanan ibu sehari-hari, bisa juga dengan memberikan tambahan formula khusus untuk ibu hamil atau menyusui. Adanya kenaikan volume darah akan meningkatkan kebutuhan zat besi (terbanyak) dan asam folat (lebih sedikit). Jumlah elemental Fe pada bayi baru lahir meningkatnya volume darah adalah 300 mg dan jumlah yang diperlukan ibu untuk mencegah anemia akibat meningkatnya volume darah adalah 500 mg. dengan perkataan lain kebutuhan Fe selama kehamilan kurang dari 1 gram, terutama dibutuhkan pada setengah akhir kehamilan. Pada diet yang adekuat kandungan Fe yang diperlukan sekitar 10 – 15 mg, dimana hanya sekitar 10 – 20 % yang diserap. Sehingga Fe pada diet hanya memenuhi sedikit kebutuhan Fe pada ibu hamil. Oleh karena itu di perlukan adanya penambahan suplemen Fe.
Untuk pertumbuhan janin yang memadai diperlukan zat-zta makanan yang adekuat, dimana peranan plasenta besar artinya dalam transfer makanan tersebut. Pertumbuhan janin yang paling pesat terjadi pada stadium akhir kehamilan, plasenta bukan sekedar organ untuk transport makanan yang sederhana, tetapi juga mampu menseleksi zat-zat makanan yang masuk dan proses lain atau resistensi sebelum mencapai janin. Suplai zat-zat makanan kejanin yang sedang tumbuh tergantung pada jumlah darah ibu yang mengalir ke plasenta dan zat-zat makanan yang diangkutnya. Efisiensi plasenta dalam mengkonsentrasikan, mensintesis dan transport zat-zat makanan menentukan suplai makanan ke janin. Karbohidrat merupakan sumber utama bagi janin dan ini diperoleh secara kontinu dari transfer glukosa darah ibu melalui plasenta.
Pentingnya gizi pada ibu hamil telah diketahui sejak lama, dimana gizi ibu hamil dapat mempengaruhi kesehatan ibu maupun bayinya. Diet ibu yang baik sebelum hamil maupun selama hamil akan memberikan dampak yang positif yaitu bayi yang lahir dengan berat badan cukup, sehat dan mortalitasnya rendah (Soetjiningsih, 1995).

d. Akibat Gizi Kurang pada Janin dan Bayi

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin, seperti infeksi selama dalam kandungan, kurang gizi ibu, penyakit ibu selama kehamilan, kebiasaan merokok, penggunaan obat-obatan serta kelainan pada saluran kencing. Di Negara-negara berkembang gizi kurang pada ibu dan infeksi dalam kandungan merupakan factor yang terpenting. Jika taraf konsumsi ibu selama kehamilan kurang dari 1800 kalori sehari, angka prevelensi lahir rendah akan lebih tinggi (WHO, 1979). Menurut badan kesehatan dunia (WHO) bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2500 g termasuk bayi dengan lahir rendah (Sterky & Mellander, 1978).
Prematuritas (belum cukup bulan) adalah kelahiran kandungan dibawah 37 minggu. adalah bayi dengan lahir rendah daripada yang seharusnya menurut usia kandungan. Belum ada statistik yang menggambarkan prevalensi berat badan bayi lahir rendah (BBLR) secara rasional di masing-masing negara. Berat bayi lahir juga di pengaruhi oleh tinggi badan ibu, dengan kata lain ibu-ibu yang pertumbuhan dan perkembangannya sewaktu kanak-kanak terhambat oleh gizi kurang, efisiensi fisiologinya lebih rendah daripada ibu-ibu dengan cukup gizi sewaktu kecil (Hytten & Leith, 1971).
Menurut Arief Mansjoer (1999), pada BBLR sering ditemui adanya refleks menghisap / menelan lemah, bahkan kadang-kadang tidak ada, bayi cepat lelah, saat menyusu sering tersedak atau malas menghisap, dan lain-lain. Sehingga angka kesakitan dan kematiannya tinggi.

e. Peran Pelayanan Kesehatan

Faktor penyebab dari tingginya kematian ibu, bayi, dan anak ini tidak lain disebabkan karena belum memadainya pelayanan kesehatan masyarakat dan keadaan gizi. Diluar faktor pencetus lainnya yang memperkuat masalah ini seperti kemiskinan dan tingkat pendidikan.
Dari segi potensial, salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif untuk pencegahan kematian dan kesakitan ibu adalah pelayanan prenatal, khususnya ditempat yang status kesehatan umum wanitanya buruk. Pelayanan kesehatan prenatal mempunyai beberapa fungsi utama yaitu :
a. promosi kesehatan selama kehamilan melalui sarana dan aktifitas pendidikan
b. melakukan skrinning, identifikasi wanita dengan kehamilan resiko tinggi dan merujuknya jika perlu
c. memantau kesehatan selama kehamilan dalam usaha mendeteksi dan mencegah masalah yang terjadi
Pendidikan kesehatan selama pelayanan prenatal dapat diberikan secara individu dan informal atau sistematis dalam kelompok. Materi pendidikan mencakup topik umum seperti gizi dan perawatan selama kehamilan. Kesempatan itu harus digunakan untuk memberikan informasi pada wanita mengenai tanda yang berbahaya dalam kehamilan. Termasuk langkah yang harus diambil pada keadaan tersebut.
Pemantauan pelayanan prenatal yang penting adalah pencegahan, deteksi dan pengobatan anemia yang berperan penting dalam kesakitan dan kematian ibu. Walaupun demikian, pemeriksaan hemoglobin untuk deteksi anemia seringkali sangat tidak memuaskan. Kemungkinan ini terjadi karena pemeriksaan tidak dilakukan di puskesmas tempat pelayanan prenatal, tetapi justru pada rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan, atau kalaupun dapat, kemungkinan rumah sakit gagal untuk mengirimkan hasilnya ke puskesmas. Masalah yang berhubungan dengan prosedur seperti ini perlu diketahui dan diatasi agar pelayanan kesehatan prenatal dapat memerangi anemia secara efisien (Royston, 1994).
Merupakan aib bangsa Indonesia karena banyaknya bayi, anak balita dan ibu melahirkan yang meninggal karena gizi buruk yang seharusnya dapat dicegah apabila posyandu, polindes, puskesmas dapat berfungsi optimal dengan pelayanan kesehatan dasar yang bermutu. Empat masalah gizi utama di Indonesia sebenarnya dapat ditangani dengan baik apabila puskesmas sebagai pusat pelayanan gizi dan kesehatan masyarakat dapat berjalan optimal dan didukung potensi sumber daya masyarakat.
Hasil analisis hubungan antara kemajuan pembangunan ekonomi dan status gizi anak balita selama 20 tahun terakhir ini menunjukkan bahwa walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup tinggi (5 – 7 %). Produksi pangannya cukup memadai bahkan mampu berswasembada. Tetapi anehnya prevelensi gizi kurang – gizi buruk masih tetap tinggi sekitar 30 % bahkan untuk anemia gizi besi untuk ibu hamil masih diatas 50 % dengan hasil bayi yang dilahirkan mencapai 2 % sampai 17 % (Depkes, 1993). Oleh karena itu distribusi tablet zat besi dan penyuluhan manfaat zat besi untuk ibu hamil terus ditingkatkan.
Tujuan pemberdayaan kader posyandu adalah meningkatkan kemampuan dan kinerja kader posyandu sehingga mampu mempertahankan dan meningkatkan status gizi serta kesehatan ibu dan anak. Revitalisasi posyandu diutamakan pada posyandu yang sudah tidak aktif atau rendah stratanya, dan posyandu yang berada di daerah yang sebagian besar penduduknya tergolong miskin. Adanya dukungan materi dan non materi dari tokoh masyarakat setempat baik pimpinan formal maupun informal dalam menunjang pelaksanaan kegiatan posyandu. Revitalisasi posyandu terdiri dari paket minimal dan paket pilihan. Sampai saat ini masih ada paket minimal yang berupa perbaikan gizi, misalnya pemantauan status gizi, PMT pemulihan untuk gizi buruk, MP – ASI, dan penyuluhan gizi. Paket minimal ini juga melayani kesehatan ibu dan anak (KIA), keluarga berencana (KB), imunisasi anak balita maupun ibu hamil, penanggulangan penyakit diare (oralit) (Anonymous, 2004).

f. Hipotesa

Berdasarkan tujuan penelitian dan kerangka pemikiran diatas, maka untuk tujuan penelitian pertama yang berkaitan dengan besarnya rata – rata ibu hamil penderita anemia dan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) tidak dibuat hipotesa penelitian, akan tetapi dijelaskan secara deskriptif. Sedangkan untuk tujuan penelitian kedua dibuat hipotesa penelitian ini sebagai berikut : Terdapat adanya pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum daerah Lumajang.

H. Metode Pelaksanaan Program

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang bertujuan untuk membuat pencatatan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi (Rofieq, 2001). Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan fakta-fakta atau fenomena-fenomena yang terjadi mengenai adanya pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum daerah Lumajang.

2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan kesembilan sampai dengan bulan kesebelas di tahun 2007 yang bertempat di Rumah Sakit Umum Daerah Lumajang.

3. Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruan dari obyek penelitian. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah keseluruhan ibu hamil yang melahirkan di Rumah Sakit Umum Daerah Lumajang selama periode bulan pertama sampai dengan bulan ke duabelas di tahun 2006.
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti dan diambil dengan cara atau tehnik tertentu yang dijadikan sebagai obyek yang sebenarnya dalam suatu penelitian (Rofieq, 2001). Adapun sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil penderita anemia yang melahirkan di Rumah Sakit Umum Daerah Lumajang selama periode bulan pertama sampai dengan bulan ke duabelas di tahun 2006.

4. Variabel Penelitian

penelitian ini dirancang sebagai suatu penelitian deskriptif untuk menguji hipotesa yang diajukan, maka dalam penelitian ini terdapat variabel bebas (independent) yaitu ibu hamil yang penderita anemia yang melahirkan di Rumah Sakit Umujm Dr. Haryoto Lumajang. Ibu hamil penderita anemia disini dapat berupa ibu hamil penderita anemia karena faktor dari keturunan atau bawaan dan faktor pada saat hamil kekurangan darah (kekurangan konsumsi zat besi).dan variabel terikat (dependent) yaitu berat badan bayi yang lahir di Rumah Sakit Daerah Lumajang. Berat badan bayi yang lahir disini adalah bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) menurut ketentuan dari WHO yaitu kurang dari 2500 gram yang terdapat beberapa faktor penyebab, diantaranya adalah ibu hamil penderita anemia yang melahirkan seorang bayi.

5. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer diperoleh melalui observasi yang dilakukan dengan wawancara kepada dokter atau staf rumah sakit yang berhubungan dengan permasalahan ini sebagai instrumennya. Sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui observasi pada dokumen-dokumen lembaga yang terkait dengan permasalahan ini pula. Dalam hal ini yaitu Rumah Sakit Umum daerah Lumajang.

6. Analisa Data

a. Tabel frekwensi. Analisa ini digunakan untuk mengetahui prosentase masing-masing alat penilaian banyaknya penderita selama periode bulan pertama sampai dengan bulan ke duabelas di RS Dr. Haryoto Lumajang. Alat penilaian banyaknya penderita meliputi ibu hamil penderita anemia (X) dan bayi berat badan lahir rendah (Y).
b. Dalam menganalisa metode yang digunakan adalah regresi linear sederhana. Yaitu terdapat adanya dua macam variabel. Karena dalam penelitian ini untuk mencari adanya pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah (BBLR).
1. Rancangan analisa data, yang dapat dilakukan dengan menggunakan uji statistika yaitu :
o Rata-rata (mean)

o Standart deviations

o Ukuran variabilitas

Keterangan :
merupakan notasi dari penjumlahan data
= rata-rata sampel
= rata-rata populasi
n = jumlah sampel yang diteliti
N = jumlah populasi yang diteliti
S = standart deviations
MD = ukuran variabilitas
2. Uji hipotesa, model yang dapat digunakan dalam menganalisis analisa regresi adalah :
Y = bo + b1x + E
Keterangan : Y : variabel terikat
bo : koefisien
b1x: variabel bebas
Dengan hipotesis yang digunakan adalah :
H0 : b1 0
H1 : b1 0
H0 yaitu tidak terdapat hubungan linier antara variabel bebas dan variabel terikat
H1 yaitu terdapat hubungan linier antara variabel bebas dan variabel terikat

Kemudian melakukan uji F. uji ini digunakan untuk melihat signifikan pengaruh variabel X terhadap Y secara bersama-sama dan melakukan uji t untuk mengetahui signifikan pengaruh masing-masing variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).
Taraf signifikan ini diklasifikasikan berdasarkan taraf kesalahan sebagai berikut :
a. SS = sangat signifikan pada taraf kesalahan ( P 0,05 )
Dalam mengoperasionalkan rumus-rumus diatas digunakan soft ware SPSS 10.01 For Windows.

I. Jadwal Kegiatan Penelitian

No
Jenis kegiatan Bulan Ke – 1 Bulan Ke – 2 Bulan Ke – 3
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Tahap persiapan
a. pembuatan ijin penelitian di RSU Lumajang
b. menyusun proposal penelititian
c. melekukan observasi di RSU Lumajang
v

v

v

v

v

v

2. Tahap pelaksanaan
a. melakukan wawancara
b. pengumpulan data

v
v

v

v
3. Tahap penulisan
a. penulisan hasil penelitian
b. pengumpulan hasil penulisan

v
v
v

v

J. Nama dan Biodata Ketua Serta Anggota Kelompok :
1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Welly Andri Puspyantoro
b. NIM : 06.330.054
c. Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam / minggu

2. Anggota Pelaksana 1
a. Nama Lengkap : Benni Bakhtiar
b. NIM : 06.330.091
c. Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam / minggu

3. Anggota Pelaksana 2
a. Nama Lengkap : Abdul Hafid
b. NIM : 06.330.055
c. Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam /minggu
4. Anggota Pelaksana 3
a. Nama Lengkap : Retno Suryani
b. NIM : 07330064
c. Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam /minggu

K. Nama dan Biodata Dosen Pendamping :

Nama Lengkap dan gelar : DR.H.Moch.Agus Krisno B,M.Kes.
Golongan Pangkat dan NIP : III/d, Penata Tk I, 104.8909.0118
Jabatan Fungsional : Lektor
Jabatan Struktural : -
Fakultas / Program Studi : FKIP/Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian : Biologi
Waktu Untuk Kegiatan PKM : 8 jam /minggu

L. Rencana Biaya

No Item Pengeluaran Jumlah
1. Biaya perjalanan
a. Transportasi PP 4 orang x @ 60.000.00
b. Temu wicara 3 kali
c. Akomodasi dan Konsumsi
Rp. 400.000,00

Rp. 300.000,00
Rp. 400.000,00
2. Peralatan penunjang
a. Sewa komputer 3 bulan
b. Dokumentasi
Rp. 300.000,00
RP. 300.000,00
3. Pengeluaran Biaya Lain-lain
a. Pembuatan Proposal
b. Laporan Penelitian
c. Transparansi
d. Foto Copy dan Penjilidan
e. Jurnal
f. Buku
g. Administrasi
Rp. 200.000,00
Rp. 200.000,00
Rp. 150.000,00
Rp. 200.000,00
Rp. 250.000,00
Rp. 150.000,00
Rp. 222.500,00
Total Biaya Rp. 3.072.500,00

M. Daftar Pustaka

Aebi, H. and R. G. Whitehead. (eds). 1980. Maternal Nutrition During Pregnancy and Lactation. Nestle foundation Publication Series No. 1, Hans Huber Publ : Bern

Anonymous. 1984. Obstetri Patologi Kehamilan. Elstar Offset : Bandung

Anonymous. 2004. Revitalisasi “ POSYANDU “ dalam Pembangunan Gizi dan Kesehatan Masyarakat. IPB : Bogor

Ariawan. 2001. 80 % Ibu Hamil Menderita Anemia. Suara Merdeka. Semarang

Depkes, RI. 1993. Pedoman Pemantauan Kesehatan Ibu dan Anak. Direktorat Bina Kesehatan Keluarga : Jakarta

Djumadias. A.N. Muhilai, Darwin Karyadi dan Lg, Tarwotjo. 1979. Kecukupan Kalori, Protein dan Zat Gizi yang dianjurkan untuk Indonesia. Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi. LIPI : Bogor

Gould JB. 1986. The Low Birth Weight In Fant, In Falkner F and Tanner JM : Human Growth : A Comprehensive Treatise, 1 st Ed, Plenum Press

Hytten, F. E. and I Leitch.1979. The Physiology Of Human Pregnancy. Edisi Kedua. Blackwell Scientific Publ : Oxford

Intern. Nurt. An. Consultative Group (INACG). 1979. Iron In Fancy and Chilhood. Nutrition Foundation, New York

Iskandar, B. Melwita, dkk. 1996. Mengungkap Misteri Kematian Ibu di Jawa Barat : Penelusuran Kembali Atas Saksi-saksi Hidup (Determinan Ibu dan Bayi di Jawa Barat). Jakarta : Pusat Penelitian Kesehatan, Lembaga Penelitian Universitas Indonesia

Kardjati, Sri, Kusin, J. A. “ East Java Pregnancy Study 1981 – 1985 “

Mansjoer, Arief, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FKUI : Jakarta

Manuaba, Prof. Dr. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. EGC. Jakarta

Najoan. N.W, Sugiarti. W. 2002. Hubungan Serum Feritin Ibu Hamil Trisemester Ke Tiga dengan Bayi Berat Lahir Rendah. FK Universitas Samratulangi : Manado

Rofieq, Ainur. 2001. Pengantar Metode Penelitian. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang

Royston, Erica. 1994. Pencegahan Kematian Ibu Hamil. Bina Rupa Aksara : Jakarta

Setyowati. 2003. “ Komplikasi Anemia Sering Tak Terduga “. Sriwijaya Post

Soetjiningsih, dr. 1995. Tumbuh Kembang Anak. EGC. Jakarta

_____________. 1997. ASI : Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. EGC. Jakarta

Sterky, G and L. Mellanders. 1978. Birth Weight Distribution and Indicator Of Socio Ekonomic Development. Report From a SAREC / WHO Workshop No. R 2, Uppsala

United Nation. 1973. Determinants and Consequens Of Population Of Economic and Social Affair. Population Trends, vol 1. Population Studies Series No. 50 St/ SOA/ Ser.A/ 50. New York

WHO. 1968. Nutritional Anemia. WHO Techn. Rep. Series No. 405. Ganeva

WHO Region Office For The Western Pasific. 1979. The Health Aspects Of Food and Nutrition. Edisi ketiga : Manila

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 7 Komentar

“Perancangan Prototype Meja Bangku Ergonomis untuk Murid Sekolah Dasar Kelas Satu dan Dua”

. JUDUL PROGRAM
“Perancangan Prototype Meja Bangku Ergonomis untuk Murid Sekolah Dasar Kelas Satu dan Dua”

B. LATAR BELAKANG MASALAH
Di Indonesia secara umum tidak dilakukan analisa fenomena dasar ergonomis untuk fasilitas belajar di Sekolah Dasar, menurut Kromer, murid sekolah akan mengalami suatu kondisi discomfort antaral lain: cepat lelah, mudah ngantuk , tekanan pada jaringan tulang belakang berkisar 500 sampai 700 N ( Kroemer, 1995) dari gejala diatas akan berkembang menderita cedera jaringan otot sehingga akan menghambat prestasi akademis di Sekolah. Dari survey awal pada murid Sekolah Dasar Kelas satu dan dua SD Tlogomas I Malang dan MI Miftahul Huda Batu, bahwa banyak murid kelas satu duduk di bangku untuk murid kelas empat keatas sehingga posisi duduk seperti dalam gambar 3 sampai 7.
Dari hasil survey tersebut, akan dilakukan perancangan dan pembuatan prototype bangku ergonomis, untuk murid kelas satu dan dua Sekolah Dasar. Data yang diperlukan adalah pengamatan dimensi antrophometri secara mendetail tentang murid kelas satu dan dua pada saat posisi posisi duduk, dan berdiri dan dengan pengamatan foto. Pada posisi ini dilakukan pengamatan tentang posisi kaki, leher, tulang belakang, dan lengan.
Hasil yang diharapkan dari penelitian perancangan prototype meja dan bangku ergonomis ini adalah bahwa murid sekolah dasar dapat duduk dengan posisi yang ergonomis sehingga memberikan rasa menurut comfort Kroemer (1995) antara lain; 1. Impresif antara lain warm, softness, luxurious, plush, spacious, supported, dan safe (duduk ada penopang pada tulang belakang, lengan leher dan kaki) 2. Energy tekanan pda jaringan tulang belakang dibawah 300N . 3. Relaksasi (relaxed, resful, at ease, calm) , artinya semua jaringan otot dan tulang adalah bekerja sesuai dengan kondisi alamiah, tidak ada pemaksaan.

C. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka masalah yang diteliti adalah adalah “Bagaimana Merancang dan membuat prototype meja dan bangku ergonomis untuk murid Sekolah Dasar kelas Satu dan Dua.

D. TUJUAN PROGRAM
Adapun dari tujuan penelitian ini, tujuan sebagai berikut :
1. Mendapatkan data antrophometry muid sekolah dasar kelas satu dan dua.
2. Merancang meja bangku ergonomis Sekolah Dasar kelas Satu dan Dua.
3. membuat prototype meja bangku ergonomis untuk Sekolah Dasar kelas Satu dan Dua.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran penelitian ini antara lain :
1. Hasil Pengembangan rancangan prototype bangku Sekolah Dasar yang ergonomis.
2. Pembuatan hasil rancangan prototype bangku Sekolah Dasar yang ergonomis.
3. Penerapan Rancangan prototype bangku Sekolah Dasar yang ergonomis, sehingga siswa kelas satu dan dua murid lebih nyaman dalam duduk untuk belajar , karena posisi jaringan otot: leher, tulang belakang, lengan, bahu, kaki dan murid sesuai dengan data antrophometrinya.

F. KEGUNAAN PROGRAM
Kegunaan Penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Aspek akademis : Menerapkan dan mengkombinasikan teori-teori beberapa mata kuliah Analosa Perancangan Kerja dan Ergonomi.
2. Aspek Siswa Sekolah dasar kelas satu dan Dua: membuat prototype produk meja bangku ergonomis untuk murid Sekolah Dasar kelas satu dan dua.
3. Menerapkan meja bangku ergonomis untuk murid Sekolah Dasar kelas satu dan dua.
G TINJAUAN PUSTAKA
Repetitive Strain Injury, RSI atau cedera karena ketegangan sistem jaringan otot secara berulang, yang diakibatkan sistem jaringan otot dan persendian gagal melakukan adaptasi dengan peralatan atau mesin. Contoh pada pada operator komputer adalah kondisi orang duduk dimana kondisi jaringan otot: punggung, lengan, leher dan jemari dipaksakan untuk menekan anak keyboard (lihat gambar 1) dan mengamati tulisan di monitor. Maksud pada jari dipaksakan pada proses mengetik pada keyboard sehinga jaringan otot lengan dan jari dipaksakan meregang (melebihi batas beban jaringan otot yang diperbolehkan) untuk mencapai posisi huruf tertentu kemudian menekannya.

Gambar 1 . Pemaksaan Jaringan Otot untuk Bekerja pada Lengan dan Jari (lihat garis panah) untuk Menekan Huruf pada Key Board Komputer

Gambar 2 Rancangan meja, bangku Ergonomis
Jika dilakukan pengamatan pada jari kita, posisi jari yang paling enak atau nyaman tanpa beban meregang adalah pada posisi jari enak menekuk kedalam, dan jika jari dipaksa meregang, yang akan menyebabkan ketegangan (peregangan/ strain) pada jaringan otot jari dan lengan. Kondisi ini sangat tidak disadari, dan jika berlangsung terus menerus akan menyebabkan cedera (injury), karena jaringan otot akan mengalami perobekan jika hal ini berlangsung lama akan menyebabkan peradangan, dan kegiatan ini terus berjalan (repetitive) maka akan menyebabkan kelumpuhan karena tidak berfungsinya saraf dan otot disebabkan jaringan parut mendominasinya. Kondisi pekerja di Indonesia khususnya siswa SD, kondisinya akan lebih parah karena tidak ada klinik khusus yang menangani kasus Repetitive Strain Injury, RSI. Kondisi siswa SD kelas satu sampai kelas tiga, pekerjaan mereka adalah duduk sangat lama. Pada saat duduk dengan kecenderungan posisi siswa adalah:
1. Pertama jaringan otot leher (leher dipaksakan menegakkan tulang lehernya, dengan menahan berat kepala yang ditekuk mendekati sudut 30o, untuk proses menulis dan membaca, sehingga sistem jaringan otot leher mengalami ketegangan, karena harus menahan berat kepala, lihat gambar 2.

Gambar 3. Posisi Kepala dan Leher Siswa SD Saat Proses Belajar

Gambar 3. Posisi Tulang Belakang Siswa SD Saat Proses Belajar Tanpa Bersandar Pada Pungung Kursi
Gambar 4 Posisi Lengan Atas dan Bawah Siswa SD Saat Proses Belajar

Gambar 5 Meja Bangku Konvensional SD Muhammadiyah 8 Dau Gambar 6 Meja Bangku Konvensional MI Miftahul Huda Batu

2. Kedua adalah jaringan otot punggung (jaringan otot tulang belakang dipaksakan duduk tanpa disanggah bantal punggung (back supporting chair), sehingga sistem jaringan otot tulang belakang mengalami peregangan berlebihan untuk menahan beban berat tubuh bagian atas, lihat gambar 3).
3. Ketiga adalah sistim jaringan otot bahu, lengan dan jari tangan yang dipaksa untuk melakukan kegiatan menulis dan membaca dimana jarak antara kursi dengan meja bisa terlalu tinggi (murid terpaksa menaikkan lengannya untuk kegiatan ini, lihat gambar 4, sehingga terjadi peregangan otot disekitar bahu lengan dan jari tangan).
4. Keempat adalah sistem jaringan otot kaki, dimana kondisi kaki murid bisa menggantung karena kursi terlalu tinggi, sehingga sistem jaringan otot kaki mengalami ketegangan akibat membawa beban kaki.

ERGONOMI
Definisi Ergonomi
Istilah ergonomi berasal dari kalimat latin ergon, yang berarti kerja dan nomos, artinya aturan/ hukum alam, sehingga ergonomi adalah aturan kerja, yaitu aturan kerja yang diterapkan pada proses kerja antara manusia dan alat kerja dimana alat kerja dapat membantu kenyamanan (kondisi alamiah dari posisi pekerja dalam melakukan pekerjaannya, misalnya duduk dengan konsisi enak tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah, tangan, punggung ada sandaran) dan produktivitas bagi pekerjanya. Perkembangan ergonomi terjadi sekitar pertengahan abad ke-20 mulai berkembang disiplin ilmu tentang perancangan peralatan dan fasilitas kerja yang berdasarkan kondisi fisiologi, yang dikenal dengan Ergonomi, negara di Eropa Barat dikenal dengan istilah Human Factor Engineering atau Human Engineering.) definisi ergonomi yang disebut sebagai “human factor” menurut Sritomo W (1995 : 56) :
1. Penekanan pada keberadaan manusia dan interaksinya dengan produk, perlengkapan, fasilitas, prosedur dan lingkungan kerjanya sehari-hari.
2. Tujuan “human factor” yaitu :
a.Meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja, termasuk didalamnya usaha memaksimalkan keselamatan kerja dan meningkatkan produktifitas kerja.
b.Untuk meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan termasuk pengembangan keselamatan kerja pengurangan kelelahan dan ketegangan kerja epningkatan kenyamanan dan kepuasan kerja serta pengembangan akulitas hidup.

Gambar Analogi“Mountain of Cumulative trauma partly obscured fog”

Gambar 5. Penelitian Tentang Kursi Ergonomis Dalam OPERATOR COMPUTER
Sumber: TU-Delft Dalam Peter Vink

Gambar meja dan bangku untuk siswa
Kiri adalah kondisi tidak Ergonomis tanpa sandaran kepala dan gambar kanan Kursi ergonomis dengan sandaran kepala, tulang belakang serta posisi kaki yang rileks.

Gambar Atribut kenyamanan dan tidak kenyamanan pada posisi duduk

Gambar tekanan pada tulang belakang
Aspek-Aspek Dalam Perancangan Fasilitas Ergonomi
Dalam melakukan perancangan suatu alat yang ergonomis melibatkan banyak aspek atau faktor yang harus diperhatikan karena fokus utama ergonomi adalah manusia sehingga dalam melakukan perancangan suatu peralatan harus didasarkan pada kemampuan dan keterbatasan terutama yang berkaitan dengan aspek pengamatan, kognitif, fisik ataupun psikologisnya.
Menurut Sritomo Wignjosuebroto (1995 : 58) penelitian ergonomi akan meliputi hal-hal yang berkaitan dengan :
1. Anatomi (struktur), fisiologi (bekerjanya) dan antropometri (ukuran) tubuh manusia.
2. Psikologi yang fisiologis mengenai berfungsinya otak dan sistem syaraf yang berperan dalam tingkah laku manusia.
3. Kondisi-kondisi kerja yang dapat menciderai baik dalam waktu yang pendek maupun panjang ataupun membuat celaka manusia dan sebaliknya ialah kondisi-kondisi kerja yang dapat membuat nyaman kerja manusia.

ANTROPOMETRI
Pengertian Antropometri
Pengukuran antropometri pada dasarnya adalah pengukuran jarak antara dua titik pada tubuh manusia seperti dalam dengan menggunakan suatu alat ukur yang dinamakan antropometer yang dirancang secara khusus untuk mengetahui ukuran-ukuran tubuh manusia atau juga bisa juga digunakan alat ukur standart.
Pengukuran dimensi tubuh atau kondisi fisik satu orang responden dengan lainnya adalah berbeda, hal ini karena faktor-faktor: suku/ ras, umur, jenis kelamin, serta posisi tubuh (posture). Menurut Sritomo Wignjosoebroto (1995 : 62 & 63) pengukuran dimensi tubuh itu sendiri dibedakan dengan dua cara yaitu :
1. Pengukuran dimensi struktur tubuh (static anthropometry) yaitu dimensi tubuh yang diukur dalam berbagai posisi standart dan tidak bergerak (tetap tegak sempurna)
2. Pengukuran dimensi fungsional tubuh (dynamic anthropometry) yaitu pengukuran yang dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat berfungsi melakukan gerakan-gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang harus diselesaikan.
Data antropometri ini nantinya akan merupakan pedoman untuk menentukan bentuk, ukuran, dan dimensi yang tepat berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan menggunakan/ mengoperasikan produk tersebut.
Rancangan Kursi Kerja Secara Umum
Didalam melakukan perancangan kursi kerja kita harus tetap memperhatikan ukuran antopometri sebagai dasar untuk melakukan desain dan memperhatikan kegiatan/ jenis pekerjaan menulis dan membaca, misalnya jarak meja dengan mata, leher, lengan, lutut pekerja, tulang belakang dan yang lainnya (seperti dalam gambar 6). Kriteria dalam melakukan desain terhadap kursi kerja diantaranya :
1) Tinggi kursi sebaiknya dirancang sesuai dengan ketinggian alas duduk dari

Gambar 6. Kursi Kerja Ergonomis untuk operator komputer

Hal ini penting karena ukuran kursi yang tidak tepat akan berakibat kurang baik terhadap pemakainya baik dari segi desain maupun kesehatan, yang akan dapat mengakibatkan sirkulasi darah terganggu dan kaki cepat lelah.
2) Dari segi kekuatan sebaiknya kursi kerja dirancang sedemikian rupa agar kuat dan serasi dengan menekankan kekuatan pada bagian-bagian yang mudah retak dan sebaiknya dilengkapi dengan sistem mur baut ataupun keling pasak.
3) Sandaran punggung (belakang) ini akan membantu dalam menjaga jaringan otot tulang belakang dan keseimbangan posisi duduk. Dalam pendesainan diharapkan sedapat mungkin sandaran punggung ini disesuaikan/ mendekati kontur tulang belakang. Sandaran punggung ini didasarkan pada ukuran lebar punggung dengan faktor kelonggaran tertentu.
4) Ketinggian sandaran punggung disesuaikan dengan ukuran tinggi siku duduk dengan persentile 95 %.
5) Lebar kursi ditentukan dengan maksud untuk memberikan penyangga pada pinggul sehingga perlu dibuat agak lebar untuk memberikan perasaan nyaman pada pemakainya. Lebar kursi ini diukur dari tepi pinggul ke tepi lainnya dengan menambah kelonggaran dari ketebalan pakaian.
6) Panjang alas duduk diharapkan tidak mengganggu/ menghambat aktifitas yang dilakukan oleh pengguna kursi.
7) Bahan yang digunakan dalam desain kursi ini diharapkan adalah bahan yang mudah dibentuk sesuai dengan desain yang telah dirancang disamping itu bahan juga harus yang mudah didapatkan, tetapi juga harus tetap diperhatikan faktor kekuatannya. Untuk tempat duduk dan sandaran punggung sedapat mungkin diberi material yang cukup lunak dengan harapan dapat mengurangi kelelahan / menghambat segera munculnya rasa lelah dan capek.
Akibat Yang Ditimbulkan Dari Desain Kursi Yang Tidak Ergonomis
Desain kursi yang tidak sesuai dengan dimensi tubuh pemakainya (tidak ergonomis) akan membawa pengaruh yang kurang baik bagi pemakainya itu sendiri yang pada akhirnya akan berpengaruh pada efektifitas dan efisiensi kerja mereka. Akibat dari desain kursi yang tidak ergonomis ini antara lain :
1. Alas kursi yang terlalu pendek akan menimbulkan tekanan pada pertengahan paha, seperti ditunjukkan pada gambar 7.
2. Begitu juga alas tempat duduk yang terlalu panjang juga tidak ergonomis karena berakibat adanya tekanan pada pertemuan betis dan paha atau lipatan lutut sehingga hal ini akan memberikan ketidaknyamanan pada pemakainya, seperti pada gambar 8.
3. Dan apabila alas tempat duduk terlalu rendah akan menimbulkan kelelahan pada tungkai sehingga cenderung mendorong badan ke belakang yang berakibat timbulnya tekanan pada pinggang, seperti ditunjukan gambar 19.
4. Alas tempat duduk yang terlalu tinggi juga tidak baik bagi pemakainnya karena hal ini mengakibatkan tekanan pada telapak kaki, seperti ditunjukkan gambar 10.

Gambar 7. Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Pendek
(Sumber : Julius Panero, 1980 : 64)

Gambar 8. Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Lebar
(Sumber : Julius Panero, 1980 : 64)

Gambar 9. Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Sempit
(Sumber : Julius Panero, 1980 : 64)

Gambar 10. Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Tinggi
(Sumber : Julius Panero, 1980 : 64)

Besarnya pencayahaan (Lux) akan berpengaruh terhadap produktifitas pekerja, dengan metode desain ekperimaen di peroleh penerangan 300 Watt, memiliki produktifitas tertinggi jika dibandingkan dengan diatas atau dibawah 300 Watt.( Heri Mujayin, Kholik 2005)
Produktivitas tertinggi pekerja adalah diperoleh warna dinding ruang kerja Kuning dengan penelrangan sebesar 9,675 Lux, kemudian warna hijau dan biru, Produktivitas terendah diperoleh oleh Luminansi warna dinding ruang kerja Hitam sebesar dengan penerangan sebesar 0,8 Lux. (Cukup Santosa, 2004)

H. METODOLOGI PENELITIAN
H.1 Diagram Alir Penelitian
Langkah-langkah untuk menyelesaikan penelitian adalah sebagai berikut:

Diagram Alir Penelitian
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
1. Studi Lapangan
Studi Lapangan dilakukan dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi dan mengetahui kondisi kursi yang akan diteliti, dan study pendahuluan di SD MI Miftahul Huda Batu dan SD Muhammadiyah 8 Dau

2. Studi Literatur
Studi literatur digunakan untuk mempelajari teori dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah diteliti.
3. Perumusan Masalah dan Tujuan Masalah
Setelah studi literatur langkah selanjutnya adalah identifikasi terhadap permasalahan yang ada.. Penentuan tujuan penelitian sangat penting karena dugunakan untuk menentukan kemana arah pengerjaan penelitian yang akan diselesaikan.
H.2 Pengumpulan Data
H. 2.1 Data Hasil penelitian tahap Pertama
dari data penelitian tahap paertama diperoleh :
1. Data Antrophometri murid kelas satu dan dua, adalah seperti dalam dibawah ini:
2. Gambar rancangan bangku hasil perhitungan antrophometri adalah

Tinggi bahu (B) : ….cm
Lebar pantat duduk (D) :…cm,
Panjang paha duduk (E) : ….cm
Tinggi lutut (F) : …cm

Panjang lengan bawah (G) :….cm
Panjang lengan atas (H) :.. cm
Tinggi badan : cm
]

Gambar Data Antrophometri Murid SD/ MI Kelas satu dan Dua

I.3 Pengolahan Data Dengan Perhitungan Percentil
Pemakaian nilai-nilai percentIl yang umum diaplikasikan dalam perhitungan data anthropometri (Sritomo; 2003) dapat dijelaskan dalam tabel seperti berikut ini:
Macam Percentil dan cara perhitungannya
Percentil Perhitungan
1 –st
2.5-th
5-th
10-th
50-th
90-th
95-th
97,5 th
99-th -2.325
-1.96
-1.645
-1.28

-1.28
-1.645
– 1.96
-2.325

I.3.1 Perancangan Meja dan Perancangan Bangku
Disini produk dirancang dan dibuat unmtuk mereka yang berukuran sekitar rata-rata, terlebi dahulu harus tetapkan anggota tubuh yang mana yang nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan tersebut kemudian menenkan dimensi tubuh yang penting dalam proses perancangan tersebut, selanjutnya tentukan populasi terbesar yang diantisipasasi, diakomodasikan dan menajdi target utama pemakai rancanagn prosuk tersebut.
I.4 Pembuatan Prototype Meja dan Bangku Ergonomis
dari penelitian tahap pertama. Hasilnya adalah beberapa gambar desain yang paling sesuai untuk meja dan bangku ergonomis murid sekolah dasar kelas satu dan dua. Kriteria sesuai adalah berdasarkan dimensi antrophometri dan kepraktisan hasil desain.
Dari desain gambar tersebut akan dipilih satu gambar desain yang akan dibuatkan prototype meja dan bangku ergonomis murid sekolah dasar kelas satu dan dua. Bahan dari meja dan bangku ini adalah dari pipa baja dan kayu.
I.5 Aplikasi Pembuatan Prototype Meja dan Bangku Ergonomis
Data anthropometri yang menyajikan data ukuran dari berbagai macam anggota tubuh manusia dalam percentiler tertentu akan sangat besar manfaatnya pada saat suatu rancangan produk ataupun fasilitas kerja akan dibuat. Agar rancangan suatu produk nantinya bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang akan mengoperasikannya, maka prinsip-prinsip apa yang harus diambil didalam aplikasi data anthropometri tersebut harus ditetapkan terlebih dahulu.
I.6 Pembahasan
Dari data diatas akan dilakukan pengolahan, sehingga dari hasil pengolahan data akan dihasilkan meja bangku ergonomis di sekolah dasar, dengan ditandainya bahwa maereka duduk di meja bangku bisa dengan lebih nyaman. Dengan beberapa pengamatan yang dilakukan antara lain:
1. posisi duduk, dengan memperhatikan letak dan posisi lengan atas dan bawah pada saat menulis dan membaca apakah masih terlihat ada gejala pemaksaan kerja pada jaringan otot .
2. Pengamatan posisi duduk, dengan memperhatikan letak dan posisi kaki pada saat menulis dan membaca apakah masih terlihat ada gejala pemaksaan kerja pada jaringan otot.
3. Pengamatan posisi duduk, dengan memperhatikan letak dan posisi tulang belakang pada saat menulis dan membaca apakah masih terlihat ada gejala pemaksaan kerja pada jaringan otot.
4. Pengamatan posisi duduk, dengan memperhatikan letak dan posisi leher pada saat menulis dan membaca apakah masih terlihat ada gejala pemaksaan kerja pada jaringan otot.
I.7 Kesimpulan dan Saran
Pada tahap ini didapatkan kesimpulan akhir, dimana kesimpulan digunakan untuk menjawab tujuan penelitian. Selain itu diberikan saran-saran permasalahan penelitian diatas.

J. JADWAL KEGIATAN PROGRAM
Kegiatan ini akan dilakasanakan MI Miftahul Huda Batu Malang yang akan direncanakan selesai dalam kurun waktu 3 bulan (Oktober – Desember 2007), dengan jadwal sebagai berikut :
Table 3. Kegiatan Penelitian
No Kegiatan Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Survei lokasi X
2 Pengumpulan Data dan Pendefinisian Model Sistem Alur Proses Produksi X X X
3 Pengolahan Data X X X X
4 Pembahasan X X
5 Laporan akhir X X

A. BIODATA PELAKSANA KEGIATAN
a. Ketua Peneliti
Nama Lengkap : Frasis Tiyasari
NIM : 05540054
Fakultas / Program Studi : Teknik / Teknik Industri
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu Kegiatan : 12 Jam / Minggu
b. Anggota 1 (satu)
Nama Lengkap : Ninik Masturoh
NIM : 05540078
Fakultas / Program Studi : Teknik / Teknik Industri
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu Kegiatan : 12 Jam / Minggu
c. Anggota 2 (dua)
Nama Lengkap : Zainul Falih
NIM : 04540052
Fakultas / Program Studi : Teknik / Teknik Industri
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu Kegiatan : 12 Jam / Minggu

K. BIODATA DOSEN PENDAMPING
Nama Lengkap : Ir. Lukman, MT
Golongan Pangkat / NIP : IV A / 108.9303.291 :
Jabatan Funsional : Lektor Kepala
Jabatan Struktural : Kepala Laboratorium Industri
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian : Ilmu Teknologi dan Rekayasa
Waktu Kegiatan : 8 Jam / Minggu

L. PERKIRAAN BIAYA PENELITIAN
No Uraian Jumlah
1 Bahan Habis pakai
a. Disket CD RW
b. Kertas HVS A4 3 rim
c. Injection ink
d. Sewa computer + printer
e. Foto Copy
f. Alat tulis
Rp 50.000
Rp 100.000
Rp 100.000
Rp 350. 000
Rp 100.000
Rp 100.000 Rp 800.000
2 Perjalanan
a. Biaya perjalanan untuk observasi lapangan ( Rp. 50.000 x 3 x 2 kali )
b. Biaya perjalanan untuk pengumpulan data (Rp. 50.000 x 3 x 6 kali )
c. Konsumsi dan Akomodasi
d. Biaya perjalanan supervisi
Rp 300.000

Rp 200.000

Rp 450.000
Rp 300.000 Rp 1.250.000
3 a. Bahan pustaka
b. Download Internet Rp 400.000
Rp 200.000 Rp 600.000
4 Dokumentasi Rp 250.000 Rp 250.000
5 Laporan Penelitian
a. Penggandaan
b. Penjilidan
c. Pengiriman
d. Operasional pembuatan laporan
e. Lain-lain
Rp 400.000
Rp 80.000
Rp 70.000
Rp 300.000
Rp 250.000

Rp 1.100.000
6 Pembuatan Prototype
a. Pembuatan Bangku
b. Pembuatan Meja
Rp 1.250.000
Rp 750.000 Rp.2.000.000

M. LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
Acerni Aleigh ,Charleston, 2004: Business Journal.
Amick Benjamin C , Office Ergonomics, University of Texas-Houston School of Public.
Bailey, Robert Ph.D, Human Performance Engineering using Human Factors/ Ergonomics to Achieve Computer System Usability, Prentice Hall, 1989.
Biman Das, Arijit KS. Industrial Work Station Design: A Systematic Ergonomic Approach, Journal Applied Ergonomics UK, Elservaer Science Ltd.
Bridger Rober S, Patrick S, Willams S. Marras, 1998, Spade design Lumbar motion risk low back injury and digging, Ohio State Univesity Columbus USA. IOS Press.
David L. Goestsch, 2002, Occupational Safety And Health for Technologies, Engineer and Manager, Prentice Hall fourth edition.
Eko Nurmianto, Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Guna Widya Jakarta.
, Intisari, Febuari 1995.
(IEA) International Ergonomic Association, 2003: Ergonomics for Children and Educational Environments, 2003 IEA Congress, Seoul Korea Education for Children in Ergonomics Technical Committee.
Gerth Alan, 2004,“Office ergonomics A Preventative Approach, Purdue University.
International Journal, 2004Industrial Ergonomics, ELSEVIER,
Julius Panero, Martin Zelnik. Human Demension And Interior Space. The Architecture Press Ltd. London.
Linton,SJ. Hellsing, A-L. Halme,T. dan Akerstedt,K. 1994,The Effects of Ergonomically Designed Scholl Furnioture on Pupils attitudes, symtoms and behaviour, Journal Aplied Ergonomic , Vo. 25, No.5 halaman 200-309.
Kholik Heri Mujayin, 2004, Pengaruh Pencahayaan Ruang Kerja Terhadap Hasil dan Fisiologi Kerja (Study Experimental pada proses perakitan mainan anak-anak).
Kroemer Karl, Henrike Kroemeer,Katrin Kroemer, Elbert, Ergonomic How to Design For ease And Efficiency, Prentice Hall International, 2 nd edition. MacLeod Dan, 1995, The Ergonomics Edge Improving Safety, Quality, and Productivity, Van Nostrand Reinhold.
Mendenhall William.1992, Statistic For Engineering And The Science. Singapore.
2002,Work–Related Musculoskeletal Disorder Injuries in Minnesota a Presentation to The Ergonomics Task Force, Minestosa Departement of Labor and Industry June.
Purwanto, Wahyu. 1991, Peraancangan Cangkul Ergonomis Untuk Meningkatkan Kapasiotas Kerja Aktual Petani dalam Mengolah Tanah Sawah di Daerah Istimewa Yogyakarta,Thesis, ITB.
Salammia LA,” 1998, Analisis Ergonomi Dalam Perancangan Fasilitas Kerja Unit Finisshing Untuk Pemintalan Tikar Palastik dari Bahan Limbah Di PT. Teja Jaya Utama “ Thesis ITS.
Sastrowinoto,Suyatno, 1985, Meningkatkan Produktivitas dengan Ergonomi, Jakarta PT.Pustaka Binaman Pressindo,.
Sanders Mark S, Mc. Cormiek E.J. Human Faktor in Engineering and Design. Sixth Edition. MC Graw Hill. Singapore. 1987.
Santoso Cukup, 2004, Pengaruh warna dinding ruang kerja, gender dan shift terhadap produktivitas (study kasus di laboratorium analisa dan perancangan kerja Teknik industri umm).
Sritomo Wignjosoebroto, 1995, Ergonomi Studi Gerak dan Waktu. Guna Widya Jakarta..
Sunarto Hadi, 2004, Perancangan Ayunan Ynag Ergonomis Untuk Memberikan Kenyamanan dan Keamanan Dalam Bermain di Taman Kanak-kanak, Tugas Akhir TI – UMM.
Thomas Robert E. 2004., Industrial and Systems Engineering, Auburn University Overview of Occupational Safety & Ergonomics.
Walpole Rodald Raymond H Myers,1995, Ilmu Peluang dan Statistika Untuk Insinyur dan Ilmuwan, edisi keempat, penerbit ITB.
William Inger,2002, Proceedings of the XVI Annual International Occpational Ergonomic and Savety Conference.
Vink Peter, 2002, Comfort-Ergonomie-Productonwerp, Faculty of Design, Contruction and Production , Delft University of Technology.

07/12/2009 Posted by | Contoh PKM | 14 Komentar

SCORING COUNTER UNTUK PERTANDINGAN TAE KWON DO

Judul Program
SCORING COUNTER UNTUK PERTANDINGAN TAEKWONDO

b. Latar Belakang
Perkembangan teknologi pada era global seperti saat ini dapat kita rasakan kemajuannya yang semakin pesat. Kemajuan dari teknologi ini akibat dari banyaknya kebutuhan manusia yang menuntut efektifitas penggunaannya. Dengan semakin banyaknya kebutuhan manusia ini akan membutuhkan pemikiran-pemikiran baru untuk dapat mewujudkan segala kebutuhan-kebutuhan tersebut yang mencakup segala bidang.
Taekwondo merupakan olahraga beladiri modern yang mampu berkembang pesat di dunia. Olahraga ini merupakan salah satu cabang olahraga resmi yang dipertandingkan di ajang Olimpiade. Di Indonesia perkembangan olahraga ini ditandai dengan banyaknya momen-momen kejuaraan yang diadakan dari tingkat daerah hingga nasional seperti Pekan Olahraga Nasional. Keikutsertaan dan kemampuan Indonesia dalam bersaing di ajang-ajang internasional juga merupakan salah satu tanda bahwa taekwondo di Indonesia berkembang dengan pesat.
Pertandingan taekwondo dipimpin oleh seorang wasit dan empat juri yang bertugas memberikan nilai kepada atlet yang mendapat poin. Posisi juri-juri ini berada di pojok-pojok arena dengan menggunakan kertas penilaian yang akan dikumpulkan kepada wasit setiap akhir ronde. Kertas penilaian ini diberikan wasit di meja juri untuk dihitung dan kemudian diberikan kepada scorring board untuk ditampilkan di papan nilai. Cara manual ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan score pertandingan tidak dapat dilihat secara langsung selama pertandingan berjalan sehingga banyak menimbulkan kecurangan-kecurangan ketika perhitungan dilakukan.
Perkembangan selanjutnya dibutuhkan alat yang dapat membantu wasit dalam memberi penilaian. Rancangan alat ini akan disesuaikan dengan sistem penilaian yang berlaku. Input nilai akan dibuat sesuai dengan kebutuhan penilaian. Input yang digunakan berupa joystick dengan memanfaatkan empat tombol atau switch. Empat switch tersebut dibagi 2 bagian untuk sudut merah dan biru juga untuk poin 1 dan 2. Joystick ini terhubung dengan rangkaian buffer kemudian PPI 8255 melalui pararel port. Nilai yang dapat ditampilkan akan ditentukan dengan jumlah switch yang ditekan, minimal 3 dari 4 wasit yang menekan tombol. Alat ini sudah banyak digunakan dalam pertandingan-pertandingan tingkat internasional maupun nasional. Di wilayah Jawa Timur yang notabene merupakan salah satu wilayah yang mampu menghasilkan atlet-atlet nasional telah sering mengadakan turnamen-turnamen baik di tingkat cabang maupun daerah. Namun dalam mengadakan kejuaraan belum pernah sekalipun diwilayah Jawa Timur ini yang sudah menggunakan alat scorring untuk membantu juri dalam memberikan penilaian. Dan juga tidak menutup kemungkinan sering terjadinya kecirangan-kecurangan yang dapat merugikan atlet. Harapan selanjutnya alat ini daat digunakan dalam setiap kejuaraan-kejuaraan di wilayah Jawa Timur pada umumnya dan wilayah cabang Malang pada khususnya.

c. Perumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana cara merancang dan membuat software scoring dengan pemrograman delphi ?
2. Bagaimana penginisialisasian PPI 8255 pada pemrograman Delphi?
3. Bagaimana interfacing menggunakan PPI 8255 yang menghubungkan hardware dan software?

d. Tujuan Program
Tujuan masalah pada program yang direncanakan mengacu pada permasalahan yang ada yaitu pembuatan alat scorring secara komputerisasi untuk juri yang digunakan dalam pertandingan cabang olahraga taekwondo sehingga mempermudah dan mempercepat perhitungan dengan nilai yang lebih valid.
e. Luaran yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dari program ini adalah dengan mematenkan alat yang telah dibuat sesuai dengan model desain dan dimanfaatkan untuk jasa penyewaan alat pada setiap ajang kejuaraan di wilayah Malang khususnya dan Jawa Timur umumnya

f. Kegunaan Program
Kegunaan dari teknologi ini dapat membantu penghitungan nilai dalam pertandingan TaeKwonDo secara cepat dan akurat di wilayah Malang khususnya dan daerah Jawa Timur umumnya.

g. Tinjauan Pustaka
g.1. Taekwondo
Taekwondo adalah olahraga beladiri modern yang berakar pada bela diri tradisional Korea. Taekwondo mempunyai banyak kelebihan, tidak hanya mengajarkan aspek fisik semata, seperti keahlian dalam bertarung, melainkan juga sangat menekankan disiplin mental. Dengan demikian Taekwondo akan membentuk sikap mental yang kuat dan etika yang baik bagi orang yang secara sungguh-sungguh mempelajarinya dengan benar. Taekwondo mengandung aspek filosofi yang mendalam sehingga dengan mempelajari Taekwondo, pikiran, jiwa, dan raga kita secara menyeluruh akan ditumbuhkan dan dikembangkan. (Yoyok S.,2000:1)
Pertandingan taekwondo pada masa sekarang dipimpin oleh seorang wasit dan dinilai oleh 4 orang juri yang duduk di setiap ujung arena dan berlangsung selama 3 ronde. Nilai yang diberikan dibagi dua macam yaitu ‘1’ dan ‘2’. Nilai ‘1’ diberikan ketika salah satu petarung menendang body protector lawannya, sedangkan nilai ‘2’ diberikan ketika tendangan mengenai kepala lawannya. Nilai akan muncul ketika minimal 3 dari 4 juri menekan switch nilainya. Nilai pelanggaran dibagi dua macam yaitu pelanggaran ringan yang bernilai ‘1’ dan pelanggaran berat yang bernilai ‘2’. Nilai untuk pelanggaran ditugaskan oleh scoring boarder atau operator. Nilai akhir merupakan penjumlahan seluruh nilai yang didapat dikurangi nilai pelanggaran. Untuk hasil nilai yang tertinggi maka akan menjadi pemenang. Apabila terjadi seri, maka akan diadakan ronde tambahan yang pemenangnya ditentukan dari yang mendapat nilai terlebih dahulu atau yang disebut ronde shudden death. Dalam ronde ini setiap petarung harus berusaha mendapat nilai terlebih dulu dari juri.
g.2. Pemrograman Delphi
Delphi merupakan bahasa pemrograman berbasis visual yang dibuat oleh perusahaan pengembang perangkat lunak yang sangat terkenal yaitu Borland. Delphi merupakan bahasa pemrograman yang cukup canggih dan mempunyai banyak fasilitas antara lain untuk pengolah angka, database, internet, grafik dan animasi serta aplikasi windows. Kemampuan Delphi secara umum adalah menyediakan fasilitas-fasilitas dengan komponen-komponen dalam bentuk object visual yang memungkinkan pemrogram membuat aplikasi sesuai dengan keinginannya dengan tampilan yang menarik dan kemampuan yang canggih. Bahasa yang digunakan dalam pemrograman delphi adalah bahasa pemrograman Pascal. Bentuk dari bahasa pemrograman ini tidak berupa komponen atau objek visual, melainkan kumpulan teks yang disusun dalam bentuk tertentu berdasarkan aturan atau kaidah tertentu dan mempunyai arti tertentu. Gabungan dari objek dan bahasa pemrograman ini disebut bahasa pemrograman berorientasi objek atau Object Oriented Programing. (Pranata, Antony, 2002:1)
a. IDE (Integrated Development Environment) Delphi
IDE adalah sebuah lingkungan dimana sebuah tools yang diperlukan untuk desain, menjalankan dan mengetes sebuah aplikasi disajikan dan terhubung dengan baik sehingga memudahkan pengembangan program. Pada Delphi IDE terdiri dari Menu Bars, Toolbars, Form Designer, Component Palette, Object Inspector, Code Editor dan Object Treeview. Integrasi ini memberikan kemudahan dalam mengembangkan aplikasi yang kompleks.

b. Organisasi File
Organisasi file adalah bagian Delphi yang mengolah file-file yang digunakan, baik file-file sistem pada Delphi maupun file-file aplikasi yang dibuat. File-file tersebut saling berhubungan di dalam Delphi saat membangun sebuah aplikasi.
c. Project
Project adalah suatu file yang memuat informasi tentang sekumpulan form, unit dan bebrapa hal yang lain dalam program aplikasi. File utama project disimpan dalam file berekstensi .dpr (delphi project). Pada saat dijalankan, file project inilah yang selalu dikompilasi menjadi file yang dapat dijalankan, yaitu file yang berekstensi .exe.
d. Unit
Unit adalah kumpulan kode program yang disebut dengan modul yang tersimpan dalam satu file unit (.pas). Setiap kali dibuat satu form maka secara otomatis dibuat juga satu unit. Unit yang berhubungan dengan form ini biasanya digunakan untuk mengatur dan mengendalikan segala sesuatu yang berhubungan dengan form dan berinteraksi dengan komponen lain.
e. Komponen-komponen File
Komponen-komponen file merupakan suatu komponen yang terdapat pada file-file yang ada pada Delphi. Beberapa komponen yang menjadi bagian dari suatu file Delphi adalah Program, Properties, Event dan Method. (Madcoms, 2003:8)
g.3. PPI (Programmable Peripheral Interface) 8255
PPI merupakan chip I/O yang memiliki 3 buah port masukan dan keluaran, masing-masing port tersebut diberi nama port A, port B, port C. Ketiga port tersebut dibagi menjadi dua grup yaitu grup A yang terdiri dari port A dan port C tinggi ( Port C Upper ) bit 4 sampai bit 7 dan grup B yang terdiri dari port C rendah ( port C lower )bit 0 sampai bit 3. Tiap-tiap grup tersebut diatur oleh rangkaian kontrol yang dirancang untuk pemakaian masing-masing aplikasi. (Supriadi, Muhammad, 2005:7)

g.4. Pararel Port
Kanal pararel port adalah kanal yang tersedia pada komputer dan yang banyak sekali dipakai. Port ini sabggup melakukan pentransferan data hampir 9-bit atau 12-bit pada satu saat yang sama, sehingga hanya membutuhkan rangkaian eksternal yang minim untuk mengimplementasikan ke berbagai aplikasi. Komposisi dari port terdiri atas 4 buah jalur kontrol, 5 buah jalur status dan 8 buah jalur data. Port ini umumnya banyak dijumpai pada bagian belakang komputer menggunakan konektor jenis DB-25 betina. (Supriadi, Muhammad, 2005:15)

h. Metode Pelaksanaan Program
Metode yang digunakan dalam pembuatan alat ini adalah sebagai berikut:
1. Kajian Literatur
Bentuk pencarian data yang dilakukan dengan mempelajari literatur yang berhubungan dengan obyek yang diteliti.
2. Interview / Konsultasi
Bentuk Pengambilan data yang dilakukan dengan cara konsultasi dan wawancara dengan pihak yang terkait terhadap obyek yang diteliti.
3. Perancangan tiap blok.
a. Blok Diagram

Gambar 1. Blok Diagram Alat Scorring untuk wasit dalam pertandingan Taekwondo

Keterangan :
1. Input 1 – 4 : Menggunakan Push Button masing-masing 4
tombol.
2. PPI 8255 : Sebagai interfacing dan kontrol input
3. DB-25 : conector ke PC (Personal Computer)
b. Variabel
Nilai yang diberikan dibagi dua tingkat, nilai ‘1’ diberikan ketika tendangan salah satu atlit mengenai body protector yang dikenakan lawan sedangkan nilai ‘2’ diberikan ketika tendangan salah satu atlit mengenai kepala lawan. Untuk pelanggaran dibagi menjadi dua tingkat, pelanggaran ringan bernilai ‘1’ untuk setiap dua kali pelanggaran. Pelanggaran berat bernilai ‘1’. Nilai akhir adalah jumlah dari nilai yang didapat dikurangi jumlah pelanggaran.
4. Perealisasian blok-blok yang telah disusun.
a. Cara kerja
Alat scorring ini menggunakan 4 blok input yang masing-masing terdiri dari 4 push button. Input dari push button membutuhkan 16 bit, sehingga dibutuhkan banyak port input yang dalam hal ini menggunakan PPI 8255 sebagai interfacing kemudian dihubungkan ke DB-25 pada komputer untuk diproses melalui pemrograman delphi. Blok Input 1 – 4 sebanyak 16 bit akan mengirimkan data secara bergantian dalam delay waktu tertentu ke PC melalui port pararel DB-25. prosedur rancangan program ini dapat dilihat pada flow chart dibawah ini.

Gambar 2. Flow Chart Program Scoring
b. Penggunaan
Alat ini akan bekerja selama pertandingan berlangsung yaitu 2 menit dalam 3 ronde. Dalam setiap ronde terdapat 4 juri yang yang bertugas memberikan nilai kepada atlit. Dalam setiap pemberian nilai setiap juri (minimal 3 juri) harus menekan push button dalam waktu hampir bersamaan atau dalam batas delay waktu yang telah ditentukan. Apabila diluar delay waktu maka nilai dianggap kosong.
5. Pengujian dan Analisa
a. Pengujian dilakukan dengan menggunakan 4 orang wasit selama 3 menit sesuai dengan lamanya pertandingan taekwondo dalam 1 ronde.
b. Menganalisa perfomance alat scoring tersebut dengan cara uji coba dan menyimpulkan hasilnya.

h. Jadwal Kegiatan Program
Tabel jadwal Kegiatan Program

j. Nama dan Biodata Ketua Serta Anggota Kelompok
1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Khaerudin.
b. NIM : 04530037
c. Fakultas/Program Studi : Teknik/Elektronika
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu

2. Anggota Pelaksana
a. Nama Lengkap : Dedy Herfanda F.Y.
b. NIM : 03530079
c. Fakultas/Program Studi : Teknik/Elektronika
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 8 jam/minggu
3. Anggota Pelaksana
a. Nama Lengkap : Diah Puspitaningrum
b. NIM : 06530052
c. Fakultas/Program Studi : Teknik/Elektronika
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 8 jam/minggu
4. Anggota Pelaksana
a. Nama Lengkap : Ibkhar Fitra Ramadhan
b. NIM : 02530068
c. Fakultas/Program Studi : Teknik/Elektronika
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 8 jam/minggu

k. Nama dan Biodata Dosen Pembimbing
1. Nama Lengkap dan Gelar : Ir. Nur Alif Mardiyah, M.T
2. Golongan Pangkat dan NIP : III B/ 108.9203.0257
3. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
4. Jabatan Struktural : Kepala Laboratorium Elektronika
5. Fakultas/Program Studi : Teknik/Elektronika
6. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
7. Bidang Keahlian : Elektronika
8. Waktu untuk kegiatan PKM : 3 jam/minggu

l. Biaya
1. Bahan:
• Sewa seperangkat komputer : Rp 1.500.000,00
• PPI 8255 5 buah @ 150.000,00 : Rp 750.000,00
• Joystick 4 buah @ 20.000,00 : Rp 80.000,00
• Perangkat rangkaian buffer
a. IC 74LS245 5 buah @ Rp10.000,00 : Rp 50.000,00
b. PCB board : Rp 40.000,00
c. Kabel jumper : Rp 10.000,00
d. Box : Rp 100.000,00
• Perangkat catu daya : Rp 150.000,00
• Sewa perangkat alat pengujian : Rp 500.000,00
2. Peralatan Penunjang PKM:
• Administrasi surat ijin survei : Rp 200.000,00
3. Pengujian
• Pengujian alat : Rp 200.000,00
• Pengujian simulasi pertandingan
a. Sewa ruang : Rp 100.000,00
b. Sewa peralatan : Rp 200.000,00
c. Honor 5 orang wasit @ Rp 150.000,00 : Rp 750.000,00
d. Honor 4 orang atlit @ Rp 100.000,00 : Rp 400.000,00
e. Honor 10 orang kru @ Rp 50.000,00 : Rp 500.000,00
f. Konsumsi 24 orang @ Rp 5.000,00 : Rp 120.000,00
4. Laporan :
• Pembuatan laporan : Rp 250.000.00
5. Perjalanan:
• Transportasi : Rp 100.000.00
Total Biaya Rp 6.000.000.00

m. Daftar Pustaka

1. Jamaludin Malik, Jaja. Tip dan Trik Unik Delphi. Yogyakarta: Andi; 2005.

2. Madcoms. Pemograman Borland Delphi 7 ( Jilid Kedua). Yogyakarta: Penerbit Andi; 2003.

3. Pranata, Antony. Pemograman Borland Delphi 6 (Edisi Keempat). Yogyakarta: Andi; 2002.

4. Supriadi, Muhammad. Pemrograman IC PPI 8255 Menggunakan Delphi. Yogyakarta: Andi; 2005.

h. Wahana Komputer. Pemograman Borland Delphi 7. Yogyakarta: Andi; 2003.

07/12/2009 Posted by | Contoh PKM | 6 Komentar

PENERAPAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) PADA SISWA KELAS III IPA SMA MUHAMMADIYAH 2 & 3 BATU MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN Nata De Apple DAN CUKA APEL (Upaya Memahamkan Pelajaran Biologi Bab Bioteknologi)

A. JUDUL : PENERAPAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) PADA SISWA KELAS III IPA SMU MUHAMMADIYAH 2 & 3 BATU MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN Nata de Apple DAN Cuka Apel (Upaya pemahaman daan penerapan pelajaran Bologi Bab Bioteknologi)

B. LATAR BELAKANG
Saat ini, pembelajaran biologi SMA kelas III IPA khususnya marteri bioteknologi di sekolah umumnya tidak mengacu pada penyiapan siswa untuk memiliki pengetahuan dasar dan keterampilan yng dibutuhkan. Kebanyakan guru masih menggunaan pendekatan expository, dimana guru cenderung memberikan onformasi yang berupa teorri, generalisasi, hokum atau dalil-dalil beserta bukti-bukti yang mendukung. Guru membantu siswa memahami pelajaran hanya dengan mreview informasi yang adsa pada buku teks. Begitu juga seperti yang terjadi pada SMA 2 & 3 Batu selama ini.
SMA Muhammadiyah 2 & 3 Batu merupakan salah satu sekklah menengah di kecamatan Bumiaji kota Batu, dan lokasinya dekat dengan perkebunan apel. Dari hasil pengamatan observasi penulis, di SMA Muhammadiyah 2 & 3 Batu mata pelajaran Bilogi hanya diajar oleh seorang guru , mulai dari kelas I sampai kelas III. Tentunya hal ini membuat jadual untuk guru tersebut sabgat padat (jam mengajarnya bertambah). Yang mana SMA Muhammadiyah 2 kelas III IPA terdiri dari 75 orang siswa yang terbagi menjadi 2 kelas. Sedangkan di SMA muhammadiyah 3 kels III IPA berjumlaag 69 siswa yang terbagi menjadi2 kelas juga.
Dari hasil wawancara dengan salah satu guru Bilogi di SMA 2 & 3 Batu, selama ini maeri bioteknolog hanya diberikan kepada siswa dengan memberikan knsep-konsep tentang Bioteknilogi. Siswa diberikan penjelasan serta diberikan tugas utuk mencari contoh penerapan bioteknologi tanpa melbatkan siswa secara langsung dalam proses penerapan bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari, yang nantinya dapat menjadi bekal bagi siswa setelah lulus dari SMA. Hal ini berimbas pada motivasi belajar siswa yang menurun teritama saat ujuan tengah semsster (UTS). Hal ini dikarenakan siswa merasa belum memahami maeri khususnya bioteknologi, yang hanya diberikan secara teoritis saja, tanpa ada pengalaman belajar penerapanya dalam dunia nyata.
Fasilitas yang diberikan kepoada siswa pada kedua SMA Muhammadiyah tersebut, terutama laboratorium Biologi untuk menunjaanga kegiatan praktikum biologi juga belum ersedia dalam satu ruangan tersendiri, akn tetapi masih bercampur dfengan kegiatan praktikum kimia, dan fisika. Sehingga dalam penyampaian matri biologi banyak yang hanya diberikan secara teorits saja tanpa adanya praktikum atau pengalamam belajar yang diberikan oleh guru, hal ini terjadi karena keterbatasan sarana dan prasarana untuk keegiatan praktikum di sekolahan tersebut.
Padahal dalam pembelajaran bologi itu sendiri yang diukur bukan hanya pemahaman konsep tetapi juga keterampilan saiuns yang harus dimiliki oleh siswa, sehingga siswa pun dituntut untuk mmenerapkan pembeljran dalam kehidupan sehari-hari. Unuk itu dalam pembelajaran biologi perlu diterapkannya pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) yang merupakan gabungan dari pendekatan konsep, keterampilan proses, CBSA, inkuiri, dan diskoveri, serta pendekatan lingkungan ((Susilo, 1999).
Pendekatan Sain Teknologi Masyarakat (STM) adalah pegajaran sains yang tidak hanya menekankan pada konsep-konsep sains saja, tetapi juga menekankan pada peranan sain dan teknologi didalam berbagai kehidupan masyarakat dean menumbuhkn rasa tanggungjawab sosial siswa terhadap dampak sains dan teknologi yang terjadi di masyarakat (Hadiat, 1993).
Masalah-masalah atau isu-isu yang terjadi dilingkungan sekolah terutama dalam bidang bioteknologi selami ini tidak pernah disentuh atu diperhatikan oleh guru ataupun siswa sendiri, karena dalam proses belajar dan mengajar biologi selama ini masih mengggunakan pendekatan penguasaan konsep, sehingga dalam menyampaikan pembelajaran guru terfokus pada buku teks yang telah tersedia. Padahal dalam pembeljaran bioteknologi penerapan sain dan teknologi masyarakatb (STM) pada siswa sangat penting sekali, misalnya seperti melalui penerapan pembuatan Nata De Apple dan cuka Apel, yang mana pengetahuan tentang penerapan bioteknologi kepada sswa ini dapat menjadi bekal bagi siswa untuk menghadapi kehidupan yang akan datang atau setelah lulus darri SMA. Salian itu juga dapat memicu kreatifitas siswa untuk menerapkan teknologi sebagai pemecahan masalah yang terdapat d daerah sekitar sekolah ataupun tempat tinggalnya, sebagaimana SMA Muhammadiyah 2 & 3 batu yang dapat memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat di kota Batu, yaitu buah apel sendiri.

C. RUMUSAN MASALAH
1. Siswa kelas III SMA Muhammadiyah Batu kesulitan dalam memahami materri Bioteknologi.
2. Bagaimanakah respon siswa kelas III IPA SMAaa Muhammadiyah 2 & 3 Batu terhadap penerapan sains teknologi masyarakat melalui pembuatan nata de Apple dan cuka apel dalam memahami dfan mengaplikasikan materi bioteknologi?
3. Bagaimanakah prestasi belajar SMA kelas III IPAa SMA Muhammadiyah 2 & 3 Batu khususnya materi Bioteknologi melalui pembuatan nata de apple dan nata cuka apel?
4. Penerapan Sains Teknologi Masyarakat yang diberikan hanya pelatihan pembuatan produk dalam bidang biuoteknologi pangan.

D. TUJUAN PROGRAM
1. Memahamkan siswa kelas III IPA SMA Muhammadiyah 2 & 3 Batu tentang penerapan bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari melalui pelatihan pembuatan Nata de Apple dan cuka Apel sesuai dengan potensi daerah yang terdapat disekitar sekolah.
2. Memicu kreatifitas siswa untuk menangani permasalahan yang terdapat disekitar sekolah, khususnya dalam penerapan bidang bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari malalui pelatihan pembuatan nata de Appple dan cuka Apel.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Dari hasil program PKMT, luaran yang diharapkan adalah:
1. Dihasilkannya desain pembelajaran materi bioteknologi melalui penerapan sains Teknologi Masyarakat dengan memberikan pelatihan pembuatan nata de Apple dan Cuka Apel.
2. Dihasilkannya teknologi tepat guna untuk menyelaesaikan permasalahan yang terdapat dalam kehidupsan sehari-hari sebagai penerapan pembelajaran Bioteknologi khususnya Bioteknologi bdang pangan (Nata de Apple dan Cuka apel).

F. KEGUNAAN PROGRAM
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi khalayak sasaran antara lain:
1. Dari segi IPTEK
a. Menambah wawasan bagi siswa tentang penerapan Bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bioteknonologi dalam bidang pangan melalui penerapan sains teknologi masyarakat dengan memberikan platihan pembuatan nata de apple dan cuka apel.
b. Menambah hasanah keilmuan tentang penerapan sains teknologi masyarakat kususnyan di bidang Bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari.
2. Dari segi Ekonomi: bias menambah pendapatan siswa ketika diaplikasikan di luar sekolah

G. TINJAUAN PUSTAKA
G. 1 Hakekat Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengjar merupakan proses inti dari pendidikan formal di sekolah, di dalamnya terjad nteraksi antara beberapa komponen pengajaran. Secara umum belajar dpat diartikan sebagai proses perubahan, akibat interaksi antara indidvidu dengan lingkungan. Hal ini mencakup pengetahuan, pemahaman, keterapmilan sikap dan sebagainya. Sedangkan pengertian mengajar adala segala uppaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bag siswa untuk terjadinya proses blajar mengajar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang tel;ah dirumuskan (Ali, 2002).
Belajar itu terjadi dalam keidupan sehari-hari, tidak hanya di sekolah saja, dan belajar itu dapat dilakukan setiap orang, mulai dari anaka-anak sampai dengan orang dewasa. Robert M. Gagne di dalam Ali (2002), mengemukakan untyuk dapat memilih cara belajar yang tepat, guru harus mengenal berbagai tipe belajar, antara lain:
1. Belajar konsep (Conscept learning)
Konsep merupakan symbol berpikir, hal in diperoleh dar hasil membuat saran terhadap fakta atau realita dan hubungan antara berbagai fakta.
2. Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Seseorang dapat menyelesaikan masalah yang sederhana melalui melaluin kebiasaan maupun instink seperti halnya binatang, akan tetapi dalam situasi yang sangat sulit, cara it tidak mungln lagi digunakan. Maka dapat ditempuh langkah-langkah cara belajar ilmiah dalam pemecahan masalah.

G. 2 Hakekat Pendidikan Biologi
Pendidikan biologi menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung. Karena itu, siswa perlu untuk mngembangkan sejumlah keterampilan proses supaya mampu untu menjelajahi danb memaami alam sektar. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati dengan seluruh indera, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara benar dengan selalu mempertimbangkan kaselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, menggolongkan, menafsirkan data dan mengkomunikasikan hasil temuan secara beragam, menggali dan memilih informasi secara faktualyang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari (Depdiknas, 2002).
Bekerja secara ilmiah tidak sekedar menumpulkan fakta, membangun teori , atau proses mental dan keterampilan manipulatif. Sains merupakan cara-cara untuk memahami gejala alam yang teruus berkembang. Sains merupakan produk keingnan manusia untuk berimajinasi dan berkreasi. Keadaan manusia dan makhluk lainya di alam sangant dipengaruhi oleh perilku manusi (Depdiknas, 2002).
Depdiknas (2002), dalam kurikulum berbnasis kompetensi (KBK) mengemukakan bahwa fungsi dan tujuan mata pelajaran biologi adalah:
 Fungsi dan tujuan
• Menanamlan keyakinan terhadap tuhan Yang Maha Esa
• Mengembangkan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah
• Mempersiapkan sswa menjadi warga negara yang melek sains dan teknologi.
 Tujuan Pembelajran biologi adala agar siswa:
• Mengenal berbagai macam gejala alam, konsep dan keterkaitannya satu sama lain.
• Mengembangkan keterapilan proses.
• Menerapkn konsep-konsep Biologi dalam kehidupan sehari-hari.
• Meyadari keteraturan alam untuk mengagungan kebesaran dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

G. 3 Pendekatan sains teknologi Masyarakat (STM)
Penggunaan pendekatan sains teknologi dan masyarakat (STM) di sekolah dapat mendorong siswa untuk dapat berpartisipasi langsung dan proaktf dalam upaya pemecahan isu-isu atau masalah yang diadapi serta menyadari implikasi social dan manfaat sains dalam kehidupan nyata sehari-hari, melalui pendekatan Sains teknologi masyarakat (STM), para guru sains di sekolah dapat mendorong terbentknya nilai-nilai dan kesadaran akan tanggung jawab pribadi dan social pada peserta didik sebagai warga negara da warga masyarakat.
Hal tersebut diatas akan tumbuh pada diri siswa apabila siswa mengerti gejala sains yang dipelajari di sekolah dengan peranannya di dalam keidupan nyata. Oleh karena itu alas an yang mendukung diterapkanya pendekatan Sains Teknologi dan masyarakat (STM) adalah terdapatnya suau teori belajar yang menitik beratkan pada pentingnya pengalaman siswa serta penbgetahuan yang telah dimlikinya (Depdiknas, 2002).
Penerapan pendekatan sains Teknologi dan masyarakat (STM) dalam pembeljaran biasanya digunakan dengan bantuan buku petunjuk atau yang disebut dengan perangkat unit sains teknologi. Perangkat tersebut dapat dibuat oleh guru itu sendiri atau meggunakan perangkat yng sudah ada yaitu, menerapkan teknlogi sederhana dalam membantu siswa utnuk memahami maeri pelajaran (Susanto, 1990).
G.4 Pembuatan Nata dan Cuka Apel Sebagai Upaya Penerapan STM
G.4.1 Tinjauan Nata
Nata berasal dari bahasa latin “Natae” yang berarti mengapung-apung. Alaban (1962) dalam Damayanti (2002) mendefinisikan nata sebagai suatu lapisan yang berbentuk padat pada permukaan medium yang mengandung gula. Produk nata tersebut dapat berasal dari bahan-bahan seperti air kelapa, sari nanas, sari jeruk, sari pisang, dan tomat.
Nata merupakan suatu bahan makanan hasil fermentasi oleh bakteri (Acetobacter xylinum) yang kaya akan selulosa, bersifat kenyal, transparan dan rasanya menyerupai kolang kaling. Nata merupakan selulosa bakteri yang terbentuk akibat aktifitas bakteri. Selulosa ini merupakna produk bakteri untuk membentuk slime (menyerupai kapsul) yang pada akhirnya bakteri tersebut terjebak dalam masa fibrilar selulosa tersebut (Budiyanto, 2000).
G.4.2 Pembuatan Nata
Teknik pembuatan nata secara umum dimulai dari penyiapan medium fermentasi sampai dengan pengolahan nata. Medium fermentasi dibuat dalam bentuk cair, sehingga jika bahan calon medium fermentasi berupa zat padat maka harus dihancurkan dan dibuat larutan. Medium fermentasi tersebut kemudian disaring untuk menghilangkan kotoran-kotoran kasarnya dan kemudian direbus pada suhu 80-100oC selama 10-15 menit sambil diaduk. Selama perebusan dilakukan penambahan gula pasir 10%, asam asetat glasial (98%) sampai dengan pH medium mencapai 4-5, amonium sulfat (NH2)2SO4 0,6%, kalium bihidrogenophospat (K2HPO4) 0,5%, magnesium sulfat (MgSO4) 0,02%, pepton atau yeast 0,25%. Setelah medium dingin dilakukan penyaringan yang kedua. Selanjutnya medium fermentasi tersebut diletakkan dalam tempat fermentasi. Kemudian diinokulasi dengan starter dengan konsentrasi 10-15% dan diperam selama 2-4 minggu. Setelah pemeraman selesai maka dilakukan pemanenan dan dicuci bersih dan dilakukan pemotongan sesuai dengan selera, netralisasi rasa asam pada nata dilakukan dengan merendam dalam air, kemudian dimasak dalam larutan gula (50%) (Masitoh, 2005).
G.4.3 Tinjauan Tentang Cuka Apel
Cuka atau (Vinegar) berasal dari istilah bahasa Perancis “Vinaigre” yang berarti “anggur asam” (Plezar dan Chan, 1988).
Cuka apel adalah produk fermentasi asam asetat dari sari buah apel. Produk ini merupakan suatu larutan cuka dalam air yang mengandung cita rasa, zat warna dan substansi yang terekstrak, asam buah, ester-ester, garam-garam organik dari buah, yang berbeda-beda sesuai dengan asalnya (Desrosier, 1988).
Menurut Ranken and Kill (1993), cuka apel adalah produk yang dihasilkan dari dua proses fermentasi berturut-turut, yaitu fermentasi alkohol yang merubah gula menjadi alkohol dan fermentasi asetat oleh mikroorganisme kelompok Acetobacter, merubah alkohol menjadi asam asetat.
Buah Biji-Bijian

Umbi-umbian enzim
(C6H10O5)n H2O asam x C6H12O6 + y C12H22O11
Pati glukosa maltosa
Mono-Disakarida
Fermentasi alkohol

C6H12O6 khamir
Glukosa/ 2C2H5OH + 2CO2
Fruktosa anaerobik etil alkhol karbondioksida
Etil Alkohol

Acetifikasi (oksidasi Etanol)

bakteri
C2H5OH + O2 CH3COOH + H2O
Etanol udara cuka air

Cuka Apel
Gambar 1. Skema Proses Cuka Apel
H. METODE PELAKSANAAN
Secara garis besar kegiatan ini meliputi tiga tahap yaitu 1) Tahap pengenalan dan pelatihan (training) pembuatan produk Nata dan cuka, 2) Tahap praktek (demonstrasi) pembuatan Nata dan cuka, 3) Tahap Evaluasi.
Berikut deskripsi dari tiga tahap pelaksanaan program ini:
H.1 Tahap persiapan
Tahap ini meliputi persiapan alat dan bahan. Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan:
Alat yang digunakan:
 Panci
 Kompor gas
 Nampan plastik
 Kertas Koran
 Gelas ukur
 Bunsen
Bahan yang digunakana:
 Buah apel
 Starter nata
 Starter Saccaromyces cereviseae
 Starter Acetobacter acetii
 Gula pasir
 Garam inggris
 Dan bahan pendukung pembuatan nata dan cuka

H.2 Tahap praktek atau demo pembuatan nata dan cuka
Tahap ini mengenalkan siswa/peserta bagaimana cara membuat nata dan cuka yang langsung dilaksanakan di sekolah (tempat yang ditentukan).
Adapun langkah pelaksanaan secara umum:
 cara pembuatan nata dengan bahan baku apel sub grade, meliputi: a) cara menyiapkan bahan baku cair, b) cara memasak dan mencampur bahan-bahan pembuat nata, c) cara inokulasi starter (pemberian bibit nata), d) penyimpanan dan perawatan pembuatan nata.
 Cara pembuatan cuka dengan cara bahan baku apel sub grade, meliputi: a) cara penyiapan bahan baku cair, b) cara inokulasi starter Saccaromyces cereviseae (fermentasi alkohol), c) cara inokulasi starter Acetobacter acetii (fermentasi asam cuka)

H.3 Tahap evaluasi
Tahap ini bertujuan untuk mengetahui hasil training/pelatihan nata dan cuka (panen hasil) dan mengetahui respon siswa mengenai manfaat pelatihan ini. Adapun langkah pelaksanaan secara umum:
 Panen hasil pembuatan nata dan cuka.
 Cara pengolahan nata dan cuka.
 Penyebaran angket, mengenai tanggapan siswa akan manfaat kegiatan ini untuk menjadi bahan evaluasi.
Table 1. Ringkasan Metode Pelaksanaan
Kegiatan Metode Alat dan bahan/media
Tahap persiapan:
 Perijinan
 Persiapan alat dan bahan
survey

-

Training pembuatan nata dan cuka:
 Penjelasan mengenai STM
 Aplikasi STM oleh siswa di dalam masyarakat
 Penjelasan mengenai nata dan cuka, manfaat dan cara membuatnya. Ceramah dan Tanya jawab Makalah, Slide Proyektor dan Poster
praktek pembuatan produk nata dan cuka dengan bahan baku apel praktek langsung (demonstrasi), Tanya jawab Alat dan bahan yang dibutuhkan pembutan nata dan cuka
Panen hasil dan Evaluasi:
 Cara mengolah produk nata dan cuka.
 Tanggapan siswa mengenai manfaat kegiatan ini Quisioner dan Tanya jawab Angket terstruktur

I. JADUAL KEGIATAN
No Kegiatan Bulan I Bulan II
I II III IV I II III IV
1 Tahap persiapan:
a. Sosialisasi program kegiatan
b. Penyiapan alat dan bahan
x
x

x
2 Tahap pelaksanaan:
a. Training/pelatihan:
 Pemberian materi
 Diskusi (Tanya jawab)
b. Praktek langsung
x
x
x
x
3 Tahab monitoring/Pendamping x x x x
4 Evaluasi kegiatan x x x x
5 Penyusunan laporan akhir x x x

J. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA
1. Ketua Pelaksana
a. Nama Lengkap : Moh. Iriyanto
b. NIM : 04330004
c. Fakultas/Program studi : KIP/Pendidikan Biologi
d. Preguruan Tinggi : UniversitasMuhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 jam/Minggu
2. Anggota Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Ulfa Yahya
b. NIM : 04330029
c. Fakultas/Program studi : KIP/Pendidikan Biologi
d. Preguruan Tinggi : UniversitasMuhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 jam/Minggu
3. Anggota Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Ahmad Zayyadi
b. NIM : 04330012
c. Fakultas/Program studi : KIP/Pendidikan Biologi
d. Preguruan Tinggi : UniversitasMuhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 jam/Minggu
4. Anggota Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Retno Arys k
b. NIM : 04330009
c. Fakultas/Program studi : KIP/Pendidikan Biologi
d. Preguruan Tinggi : UniversitasMuhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 jam/Minggu
5. Anggota Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Qurrotu Aini
b. NIM : 07330072
c. Fakultas/Program studi : KIP/Pendidikan Biologi
d. Preguruan Tinggi : UniversitasMuhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 jam/Minggu
K. NAMA DAN BIDATA DOSEN PENDAMPING
a. Nama lengkap dan gelar : Drs. Nur Widodo, M.Kes
b. Pangkat dan Golongan / NIP :Ketua Jurusan Biologi dan IV/131.953.393
c. Jabatan Struktural : Ketua Jurusan Biologi
d. Fakultas / Program studi : FKIP / Pendidikan Biologi
e. Perguruan Tinggi : Univrsitas Muhammadiyah Malang
f. Bidang Keahlian : Kesehatan
g. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 Jam / Minggu
L. BIAYA
1. Bahan Habis Pakai
No Bahan/alat Satuan Jumlah Harga(Rp) Total(Rp)
1 Starter Nata buah 30 Rp 25.000 Rp 750.000
2 Buah Apel kg 50 Rp 5.000 Rp 250.000
3 Starter cuka (A. asetii) buah 20 Rp 25.000 Rp 500.000
4 Saccaromyces sp. ampul 5 Rp 75.000 Rp 375.000
5 Gula kg 20 Rp 6.000 Rp 120.000
6 NPK kg 2 Rp 20.000 Rp 40.000
7 Garam Inggris kg 2 Rp 5.000 Rp 10.000
Jumlah Rp2.045.000
2. Peralatan Penunjang PKM
No Bahan/alat Satuan Jumlah Harga(Rp) Total(Rp)
1 Sewa aerator buah 5 Rp 15.000 Rp 75.000
2 Beli botol kaca buah 100 Rp 1.500 Rp 150.000
3 Sewa kompor gas buah 3 Rp100.000 Rp 300.000
4 Sewa panic buah 6 Rp 50.000 Rp 300.000
5 Selang meter 10 Rp 5.000 Rp 50.000
6 Gas elpiji buah 3 Rp 70.000 Rp 210.000
7 Sewa gelas ukur buah 10 Rp 2.000 Rp 20.000
Jumlah Rp1.105.000
3. Perjalanan

No Kegiatan Tujuan Jumlah Total
1 Analisis Situasi SMA. muhammadiyah 3 x 2 pp x Rp. 25.000 Rp. 150.000
2 Perjalanan Kegiatan Penelitian SMA. Muhammadiyah 3 x 10 pp x Rp. 25.000 Rp. 750.000
Jumlah Rp. 900.000

Lain-Lain

1. Perlengkapan
No Bahan Satuan Jumlah Harga Total
1 Kertas HVS Pak 5 Rp. 15.000 Rp. 50.000
2 Poster Buah 1 Rp. 120.000 Rp. 120.000
3 Buku tulis Buah 6 Rp. 5.000 Rp. 30.000
4 Tinta + print Buah 1 Rp. 200.000 Rp. 200.000
5 Flas Dish Buah 1 Rp. 100.000 Rp. 100.000
Jumlah Rp. 500.000

2. Dokumentasi
No alat jumlah Harga total
1 Sewa komputer 1 Rp. 200.000 Rp. 200.000
2 Sewa kamera 1 Rp. 100.000 Rp. 200.000
3 Sewa Handycame 1 Rp. 200.000 Rp. 200.000
4 Dokumentasi 2 rol Rp. 25.000 Rp. 50.000
5 Cuci cetak foto 2 rol @ 36 Rp. 1000 Rp. 100.000
6 Laporan 8 Rp. 25.000 Rp. 200.000
jumlah Rp. 950.000

3. Konsumsi

No Kebutuhan jumlah
1 Konsumsi pelaksana Rp 500.000,-
jumlah Rp 500.000,-

• Total biaya yang dibutuhkan dalam kegiatan ini Rp 6.000.000,- (Enam juta rupiah)

M. DAFTAR PUSTAKA

Ali Mohammad. 2002.Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Penerbit PT. Sinar Baru Algesindo office,Bandung .(hal. 124-125)

Budiyanto, A,K. 2000. Mikrobiologi Terapan. UMM Press.Malang. (hal. 202-203)

Damayanti R.P.2002. Pembuatan Nata Sari Buah Pepaya (Carica papaya L) Tinjauan Dari pHAwal Dan Konsentrasi Sukrosa.Skripsi.Jurusan Teknik Hasil Pertanian.Fakultas Teknologi Pertanian.Universitas Brawijaya. Malang. (hal. 23)

Depdiknas. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran biologi untuk SMTA. Departemen Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembanga Pusat Kurikulum, Jakarta. (hal. 24-26 )

Desrosier, N.W. 1988 Teknologi Pengawetan Pangan. Edisi Ketiga.Universitas Indonesia. Jakarta (hal. 123-125)

Hadiat. 1993. Pendidikan Sains, Teknologidan Masyarakatdi Indonesia, P3G IPA, Bandung (hal. 48-50)

Masitoh, S. 2005 Analisa Nata dari Berbagai Bahan Baku dengan Penambahan Gula Kelapa. Skipsi. Jurusan Biologi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Malang. (hal. 36)

Pelczar, M.J dan Chan, E.C.S. 1988. Dasar –Dasar Mikrobiologi. Jilid 2.Diterjemahkan oleh Ratna Sri Hadioetomo, dkk. Universitas Indonesia Press. Jakarta. (hal. 69-72)

Ranken, M.D and Kill,R.C. 1993. Food Industries Manual. Blackie Academic & Professional. London. (hal. 341-342)

Susilo Herawati. 1999. Dasar –Dasar Pendidikan MIPA, Penerbit Universitas Negeri Malang, Malang (hal. 31-33)

07/12/2009 Posted by | Contoh PKM | 2 Komentar

Pengaruh Filtrat Daun Cengkeh (Syzygium Aromaticum) Terhadap Kelulushidupan Ikan Gurami (Osphronemus Gourami) Yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas Hydrophilla.

A. JUDUL : Pengaruh Filtrat Daun Cengkeh (Syzygium Aromaticum)
Terhadap Kelulushidupan Ikan Gurami (Osphronemus
Gourami) Yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas Hydrophilla.

B . Latar belakang
Dalam kurun 5 tahun terakhir, konsumsi ikan nasional melonjak hingga lebih dari 1,2 juta ton. Tahun (2004-2005) persentase kenaikan nilai impor perikanan nasional menduduki angka 12,51% berada jauh di bawah nilai rata-rata ekspor perikanan yang hanya sebesar 1,6%. Saat ini, nilai konsumsi ikan nasional telah mencapai kisaran 26 kg/kapita/tahun, untuk penduduk global nilai konsumsi ikan sudah mencapai 19 kg/kapita/tahun dan presentase kenaikan konsumsi ikan mencapai angka (1,8% per tahun), maka tak dimungkiri 8 tahun ke depan akan terjadi peningkatan kebutuhan ikan dan produk perikanan sebesar 50 juta ton (http://www.walhi.or.id/kampanye/pela/070328_krisis_ikan_li/).
Gurami (Osphronemus gourami) adalah ikan air tawar yang paling banyak menghuni rawa-rawa, danau, atau daerah yang perairannya tenang. Sebagai ikan hasil budi daya, gurami banyak di pilih petani karena mampu berbiak secara alami dan mudah dalam perberian pakan. Dari aspek bisnis keuntungan yang biasa di dapat adalah harga jualnya cukup tinggi dan relatif stabil.
Di dalam memelihara gurami tidak bisa terlepas dari resiko serangan hama dan penyakit. Hama dan penyakit pada ikan umumnya terjadi setelah ikan mengalami gangguan non-parasiter. Gangguan non-parasiter, umumnya menjadi penyebab primer antara lain kerusakan fisik, kurang gizi, berkurangnya mutu air dan sanitasi lingkungan yang buruk (Jangkaru, Z. 2004).
Akan tetapi keberadaan hama seperti ikan liar, kura-kura, biawak, ular dan burung pada dasarnya tidak terlalu serius. Masalah paling di takuti petani gurami adalah serangan penyakit yang bisa berakibat fatal, yakni matinya gurami dalam jumlah besar. Penyakit yang paling banyak menyerang gurami adalah bakteri Aeromonas dan Pseudomonas, serta parasit Argulus, Ichthyophythyrius dan Saprolegnia (Tim Redaksi Agromedia Pustaka 2003).
Anmi, L. (2007) menyatakan bahwa Pada tahun 1980-1981, bakteri Aeromonas hydrophilla menyerang hampir semua komoditas perikanan di Indonesia, khususnya di Jawa Barat bahkan menjadi wabah mematikan pada ikan air tawar. Sehubungan dengan hal itu Taukhid. (2006) menambahkan bahwa tahun 2002 di Blitar dan Yogjakarta juga terjadi serangan sporadis pada ikan air tawar yang salah satunya di sebabkan oleh Aeromonas hydrophilla sehingga menyebabkan kerugian ekonomi ratusan juta rupiah.
Menurut Jangkaru, Z. (2004) bakteri Aeromonas hydrophilla, adalah Jenis bakteri yang bersifat patogen dan dapat menyebabkan sistemik serta mengakibatkan kematian secara masal. Bakteri ini berbentuk batang pendek berukuran 2-3 mikro dan bersifat gram negatif. Bakteri ini menginfeksi luka dan menyebabkan kematian 80-100% setelah satu minggu ikan gurami terinfeksi. Kematian ikan gurami yang sulit diatasi umumnya ketika larva berumur 2-3 minggu.
Bakteri Aeromonas hydrophilla ini seringkali mewabah di Asia Tenggara sampai sekarang. Penularannya sangat cepat melalui perantara air, kontak bagian tubuh ikan atau peralatan tercemar. Untuk saat ini penanggulangan hama dan penyakit pada gurami yang banyak di lakukan adalah melalui sanitasi air dan kolam, desinfeksi peralatan dan ikan serta vaksinasi. Sementara pengobatannya dapat di lakukan dengan menggunakan bahan kimia dan antibiotik melalui perendaman dalam pakan dan injeksi (Jangkaru, Z. 2004).
Dalam menggunakan antibiotik atau pengobatan secara kimiawi seperti Tetracyline, Malachite green, Oxytetra cyline,dll. Maka kepekaan bakteri terhadap obat yang dipilih harus diketahui, sebab kesalahan dalam pengobatan selain merusak lingkungan perairan juga membuat beberapa jenis penyakit menjadi kebal terhadap pengobatan serta ikan-ikan budidaya mudah mengalami kematian (Ghufran.M.2004).
Anonymous. (2006) dalam Astutik, S. (2007) dinyatakan bahwa Indonesia merupakan satu-satunya negara konsumen dan sekaligus produsen cengkeh terbesar didunia. Minyak cengkeh mengandung minyak atsiri dengan jumlah yang relatif besar dibandingkan dengan tanaman sumber minyak atsiri lainnya. tanaman cengkih mempunyai banyak kandungan kimia yang bersifat sebagai antimikroba diantaranya tannin, flavonid dan eugenol.

C. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dibuat rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Adakah pengaruh filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap kelulushidupan ikan gurami (Osphronemus gourami) yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophilla?
2. Konsentrasi filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) berapakah yang paling baik pengaruhnya untuk kelulushidupan ikan gurami (Osphronemus gourami) yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophilla?
D. Tujuan Program
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengaruh filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap
kelulushidupan ikan gurami (Osphronemus gourami) yang terinfeksi
bacteri Aeromonas hydrophilla.
2. Mengetahui konsentrasi filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) yang
terbaik untuk kelulushidupan ikan gurami (Osphronemus gourami) yang
terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophilla.
E. Tujuan Program
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat digunakan sebagai sumber informasi awal bahwa filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) dapat digunakan sebagai obat untuk membunuh bakteri Aeromonas hydrophilla yang menginfeksi ikan gurami (Osphronemus gourami).
2. Diketahuinya konsentrasi yang terbaik dalam penggunaan filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) sebagai obat untuk membunuh bakteri Aeromonas hydrophilla yang menginfeksi ikan gurami (Osphronemus gourami).
3. Dapat digunakan sarana informasi dalam menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan penelitian ini.
F. Luaran Yang Diharapkan
Dari hasil penelitian tentang pengaruh filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap kelulushidupan ikan gurami (Osphronemus gourami) yang terinfeksi bakteri (Aeromonas hydrophilla) dapat diperoleh saran sebagai berikut:
Bagi Dinas Perikanan dalam pengobatan ikan yang terserang bakteri Areomonas hydrophilla sebaiknya mengunakan filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) karena tidak banyak menimbulkan efek samping. Dan apabila telah teridentifikasi bahwa ikan terserang bakteri Aeromonas hydrophilla sebaiknya dilakukan sesegera mungkin untuk mengobatinya.

G. Kegunaan Program
1. Dapat digunakan sebagai sumber informasi awal bahwa filtrat daun cengkeh (Syzygium aromaticum) dapat digunakan sebagai obat untuk membunuh bakteri Aeromonas hydrophilla yang menginfeksi ikan gurami (Osphronemus gourami).
2. Upaya pengembangan budidaya ikan gurami menjadi lebih optimal, sehingga lebih bermafaat bagi peternak ikan.
H. Tinjauan Pustaka
H.1. Morfologi Ikan Gurami
Bentuk ikan gurami sangat khas. Tubuhnya pipih dan agak panjang. Bagian dahi gurami dewasa terdapat tonjolan mirip cula. Tonjolan itu tidak di temukan pada gurami anakan atau gurami muda. Pada gurami anakan terdapat ciri khas berupa garis-garis hitam yang melintang di tubuhnya. Rata-rata ikan gurami memiliki mulut yang kecil dengan bibir bagian bawah terlihat sedikit lebih panjang di bandingkan bibir atas.
Sisik gurami berukuran besar dan bagian tepinya tidak rata. Ketika muda, warna punggung gurami biru kehitaman, sementara itu bagian perutnya berwarna putih.Warna tersebut berubah ketika gurami semakin dewasa, bagian punggungnya berubah menjadi kecoklatan, dan bagian perutnya menjadi keperakan. Sirip perut gurami mengalami modifikasi bentuk menjadi sepasang benang yang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba.
Selain sirip perut terdapat juga sirip punggung dan sirip dubur yang panjangnya mencapai pangkal ekor. Panjang gurami dewasa dapat mencapai 65 cm dan berat 10 kg. Secara alami pertumbuhan paling pesat terjadi saat mencapai umur 3-5 tahun (Tim Redaksi Agromedia Pustaka. 2001).
Menurut Adnan, M. dkk (2002) perbedaan induk jantan dan induk betina ikan gurami (Osphronemus gouramy ) adalah seperti berikut :
Tabel 1: Perbedaan Induk Jantan Dan Induk Betina Ikan Gurami.
INDUK JANTAN INDUK BETINA
Dahi menonjol
Sirip halus
Dagu berwarna kuning
Jika di taruh ekornya melengkung ke atas
Jika kelaminnya di pencet perlahan, akan keluar cairan putih seperti susu Dahi datar
Sirip kurang halus
Dagu berwarna kuning kecoklatan
Jika di taruh, ekornya bergerak-gerak
Jika kelaminnya di pencet perlahan, tidak akan keluar cairan apapun.
Sumber: Adnan, M. dkk. (2002)
H.2. Habitat Ikan Gurami
Habitat asli gurami adalah rawa di dataran rendah. Salah satu faktor yang membedakan dataran rendah dengan dataran tinggi adalah suhu dan mutu airnya. Suhu di tadaran rendah lebih panas di bandingkan di dataran tinggi. Berkaitan dengan suhu, gurami akan tumbuh sangat baik dalam air dan suhu antara 25oC-28oC.Gurami sangat peka terhadap suhu rendah sehingga jika di pelihara dalam air dengan suhu kurang dari 15 oC ikan ini tidak akan berkembang baik.
Kepekaan gurami terhadap suhu rendah sebetulnya dapat di tanggulangi, misalnya dengan memperdalam badan air sehingga terjadi kestabilan suhu. Sementara itu gurami masih dapat hidup dan berkembang baik secara optimal di perairan dengan ketinggian 800 m di atas permukaan air laut (Jangkaru, Z. 2004).
Jika dilihat dari kualitas air yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan gurami maka air kolam harus mengandung cukup mineral dan unsur hara lain yang dibutuhkan. Dan bila dikaitkan dengan kadar oksigen terlarut sebernarnya tidak terlalu berpengaruh terhadap kehidupan gurami. Hal ini disebabkan gurami memiliki labirin yang berfungsi mengambil udara. Derajat keasaman (pH) air yang ideal untuk pertumbuhan gurami adalah 6,5-7,0 (Prihartono. 2004).
Berbagai badan air di dataran rendah, seperti rawa, situ, waduk, danau, lebak, kolong, kolam pekarangan, kolam tadah hujan, sungai mata, embung, dan lebung merupakan lahan pemeliharaan gurami yang potensial. Wadah pemeliharaan yang di gunakan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi lahan pemaliharaan. Sebagai contoh di perairan waduk, situ, dan kolong dapat di pergunakan wadah pemeliharaan yang berupa keramba jaring apung dan sangkar (Jangkaru, Z. 2004).
H.3. Reproduksi Ikan Gurami
Ikan Gurami merupakan salah satu ikan air tawar yang banyak dijumpai disungai, rawa, telaga, dan kolam berair tawar. Ikan ini pertumbuhannya tergolong sangat lambat, kematangan kelamin milai terjadi pada usia sekitar dua tahun. Masa pemijahan gurami tidak terikat waktu. Pemijahan dapat dilakukan kapan saja bila induk telah siap memijah. Namun, gurami memiliki masa produksi yang tinggi di musim kemarau (Prihartono. 2004).
Secara alami, ikan gurami memiliki masa bertelur selama tiga bulan sekali. Namun, dalam setahun, gurami hanya bertelur sebanyak tiga kali, tiga bulan sisanya (biasanya saat musim hujan) ikan gurami tidak bertelur. Berbeda dengan ikan air tawar lainnya yang umumnya berbiak pada permulaan musim penghujan, di alam bebas gurami akan berbiak sepanjang musim kemarau.
Saat air agak surut dan suhu air agak meningkat, mulailah kawanan gurami beramai-ramai memijah.induk jantan akan membangun sarang yang berbahan baku rumput-rumputan dan dahan-dahan kecil di pinggiran tempat hidupnya yang tersembunyi di antara rumput-rumputan dan tanaman air (Adnan, M. Dkk. 2002).
Ketika perkawinan terjadi, induk jantan akan membuat sarang yang bahan bakunya berupa rumput-rumputan atau dahan-dahan kecil di pinggiran kolam. Sarang tersebut di letakkan tersembunyi di sekitar tumbuhan air. Setelah terjadi pemijahan, induk betina akan menghasilkan telur rata-rata sebanyak 500-3.000 butir. Setelah satu bulan kemudian telur-telur tersebut menetas menjadi larva (Jangkaru, Z. 2004)
I. Bakteri Aeromonas hydrophilla
I.1. Morfologi Bakteri Aeromonas hydrophilla
Ghufran H. (2004) dinyatakan bahwa bakteri Aeromonas hydrophilla umumnya hidup di air tawar yang mengandung bahan organik tinggi. Ciri bakteri Aeromonas hydrophilla adalah bentuknya seperti batang, ukurannya1-4,4 x 0,4-1 mikro,bersifat gram negatif, fakultatif aerobik (dapat hidup tanpa oksigen), tidak berspora, bersifat motil (bergerak aktif) karena mempunyai flagel (Monotrichous flagella) yang keluar dari salah satu kutubnya, senang hidup lingkungan bersuhu 15 oC-30 oC dengan pH antara 5,5-9,0.
Dan menurut sumber lain bentuk bakteri ini seperti batang dengan cambuk yang terletak di ujung batang, dan cambuk ini digunakan untuk bergerak. Ukurannya 7–0,8 x 1–1,5 mikron (http://www.pustakatani.org/InfoTeknologi /tabi d/66/ctl/ArticleView/mid/389/articleId/205/HamadanPenyakitIkanLele.aspx).
I.2. Habitat dan Penyebaran Bakteri Aeromonas hydrophilla
Menurut Tim Agromedia Pustaka (2003) bakteri Aeromonas hidropilla mudah di jumpai pada musim kemarau dan penghujan, terutama dikolam-kolam yang tercemar bahan Organik. Dan menurut Bullock et al (1989) dalam Safi’i (2006) bakteri Aeromonas hydrophilla lebih banyak menyerang ikan di daerah tropis dan daerah sub tropis di bandingkan dengan daerah yang dingin.
Di daerah tropis dan sub tropis penyakit haemorhagic septicaemia pada umumnya muncul pada musim panas.atau kemarau di mana pada saat itu kandungan bahan organiknya sangat tinggi. Bakteri ini dapat di temukan selain pada luka yang terinfeksi juga dapat di temukan pula di hati dan ginjal gurami. Bakteri ini akan kehilangan sifat Patogenitasnya bila berada di dalam usus (Jangkaru, Z. 2004).
I.3. Metabolisme dan Perkembiakan Bakteri Aeromonas hydrophilla
Bacteri Aeromonas hydrophilla termasuk jenis bakteri fakultatif anaerobik, yaitu bakteri yang hidup dengan atau tanpa adanya oksigen. Bakteri fakultatif anaerob akan tumbuh tersebar di seluruh medium jika diinokulasikan dalam medium cair (Dwijosaputro, D. 1998). Bakteri ini akan tumbuh maksimal pada kisaran suhu 38 0C sampai 41 0C, sedangkan pertumbuhan minimalnya pada suhu 00C sampai 50C. Bakteri Aeromonas hydrophilla tumbuh dengan baik pada kisaran PH 5,5 sampai 9,0.
Menurut Afriyanto (1992) dinyatakan bahwa pembiakan bakteri Aeromonas hydrophilla secara aseksual yaitu berkembangbiak dengan memanjangkan sel diikuti dengan pembelahan inti yang di sebut pembelahan biner. Waktu pembelahan sel satu menjadi dua sel memerlukan waktu kurang lebih 10 menit.
Menginfeksi ikan gurami dan menyebabkan kematian pada ikan gurami dewasa. Hal ini di tandai dengan terdapat luka pada tubuh ikan di sertai pendaraan pada organ yang terinfeksi. Ghufran, M (2004) menyatakan bahwa bakeri Aeromonas hydrophilla biasanya menyerang ikan memalui permukaan tubuh yang luka.
Kataba (1885) dalam Safi’i (2006) dinyatakan bahwa bakteri Aeromonas hydrophilla umunya menyebabkan infeksi pada seluru tubuh ikan di sertai dengan pendarahan pada organ dalam tubuh ikan. Bakteri ini dapat menyebar secara cepat pada populasi yang padat penebaran tinggi yang bisa mengakibatkan kematian benih sampai 90 %. Anonymous (1994) dalam Rochani (2000) yang menyatakan bahwa kepadatan bakteri minimum untuk mengeinfeksi ikan gurami adalah 105 sel/ml, sedangkan menurut Austin (1996) dalam Irianto (2004) dikatakan bahwa pada kepadatan 109 sel/ml dapat menyebabkan kematian pada katak.
Penyakit yang di sebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophilla bersifat oportunis yaitu mampu berkembang menjadi lebih ganas pada keadaan kandungan oksigen yang rendah, suhu yang tinggi, akumulasi bahan organik dan sisa–sisa metabolisme ikan-ikan kepadatan tinggi sangat menunjang penyebaran bakteri. infeksi oleh bakeri Aeromonas hydrophilla biasanya terjadi memalui permukaan tubuh yang luka, saluran pencernaan makanan ataupun melalui lubang insang. Kemudian akan masuk ke dalam pembuluh darah dan menyebar pada organ dalam lainnya yang menyebabkan pendaraan dan disertai dengan keracunan karena darah keluar dari pembuluh darah (Ghufran, M. 2004).
Penularan bakteri Aeromonas hydrophilla dapat berlangsung memalui air, kontak badan dengan peralatan yang telah tercemar atau karena pemindahan ikan yang telah terserang Aeromonas hydrophilla dari satu ke tempat ke tempat yang lain. Dan menurut sumber yang lain Aeromonas hydrophilla biasanya merupakan penyerang kedua setelah ikan terinfeksi pasasit lain atau jika ikan menderita stres (Jangkaru, Z. 2004).
Menurut Daelami (2002) Ikan yang terserang bakteri Aeromonas hydrophilla secara morfologi maupun fisiologi menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut : (a) Warna tubuhnya berubah menjadi gelap; (b) Kulit kesat karena kehilangan banyak lendir diikuti oleh pendarahan; (c) Kemampuan ikan berenang sangat lemah, nafasnya megap-megap, sering timbul di permukaan; (d) Dan bila kebetulan menyerang organ dalam biasanya ginjal dan limfanya membengkak. Kadang terjadi pendarahan pada ginjal, limfa, juga pada hati.
Dan menurut Afriyanto (1992) selain tanda–tanda diatas juga terdapat tanda-tanda sebagai berikut : (a) Kulit kasar dan timbul pendarahan yang selanjutnya akan menjadi borok; (b) Kemampuan berenang menurun dan megap-megap di permukaan air karena insangnya rusak sehingga sulit untuk bernafas; (c) Seluru sirip rusak dan insang menjadi berwarna keputih-putihan; (d) Mata rusak dan agak menonjol.
J. Struktur Umum Cengkeh (Syzygium aromaticum)
J.1. Morfologi Cengkeh.
Pohon cengkeh merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan tinggi 10-20 m, mempunyai daun berbentuk lonjong yang berbunga pada pucuk-pucuknya. Tangkai buah pada awalnya berwarna hijau, dan berwarna merah jika bunga sudah mekar (http://id.wi kipedia.org/wiki/Cengkeh).
Cengkeh termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki batang pohon besar dan berkayu keras, tingginya dapat mencapai 20 -30 meter dan daunnya mempunyai ciri khas yang mudah dibedakan dengan daun tanaman lainya. Bentuk daun dari tanaman cengkeh adalah bulat panjang dengan ujung runcing, tebal, kuat, kenyal dan licin. Pada umunya daun yang masih muda berwarna kuning kehijau-hijauan bercampur dengan warna kemerah-merahan dan mengkilat sedangkan pada bagian bawah beerwarna hijau suram. Untuk daun yang tua berwarna hijau pekat. Daun tunggal, duduk daunya saling berhadap-hadapan. Pada simpul-simpul ketiak daun cabang pertama tumbuh tunas-tunas yang menjadi cabang kedua, begitu pula selanjutnya sehingga tumbuh ranting-ranting. Pada ranting-ranting tersebut tumbuh bunga (AAK, 1991).
Dan menurut sumber lain dinyatakan bahwa tumbuhan cengkeh: 1) Pada umumnya dipenuhi oleh ranting-ranting kecil yang mudah patah; 2) Mahkota atau juga lazim disebut tajuk pohon cengkeh berbentuk kerucut; 3) Daun cengkeh berwarna hijau berbentuk bulat telur memanjang dengan bagian ujung dan panggkalnya menyudut, rata-rata mempunyai ukuran lebar berkisar 2-3 cm dan panjang daun tanpa tangkai berkisar 7,5 -12,5 cm; 4) Bunga dan buah cengkeh akan muncul pada ujung ranting daun dengan tangkai pendek serta bertandan; 5) Pada saat masih muda bunga cengkeh berwarna keungu-unguan, kemudian berubah menjadi kuning kehijau-hijauan dan berubah lagi menjadi merah muda apabila sudah tua (http://sehat.suaramerdeka. Com/index.php?id=26).
J.2. Kandungan Daun Cengkeh
Anonymous (2006) dalam Astutik, S. (2007) dinyatakan bahwa tanaman cengkeh mempunyai banyak kandungan kimia yang bersifat sebagai antimikroba, baik pada bagian batang, bunga dan daun. Daun mengandung saponin, flavonoida dan tanin, di samping minyak atsiri yang bermanfaat sebagai bahan antimikroba, karena didalamnya terdapat bahan aktif yang dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan mikroba dan secara alami sudah terbukti. Daun cengkeh mengandung zat-zat minyak atsiri (eugenol, asetileugenol, kariofilen, furfurol, metil-amilketon, vanilin) kariofilin, gom, serat, dan zat lemak.
Anonymous (2006) dalam Susilowati (2007) dinyatakan bahwa Kandungan eugenol pada tumbuhan cengkeh terutama pada daunya mencapai 88.500 ppm – 90.000 ppm. Sementara Anonymous (2006) dalam Nindarti (2006) menambahkan bahwa daun memiliki kandungan yang sama dengan kuncup bunga cuma bedanya pada daun cengkeh kandungan eugenolnya cukup rendah.
Kuncup bunga cengkeh mengandung minyak atsiri 15-20 %, eugenol 85-95 %, sedikit eugenol asetat, B-kariofilena, B-kariofilena oksida, B-humulena, B-humulena epoksida, kuersetin, turunan-turunan kemferol, zat-zat tannin, asam-asam fenolik karboksilat (seperti asam galat, asam prokatekuat, dsb), sedikit sterol dan sterol glikosida, furfural, metil amil keton, dan vanillin (http://www.republika
co.id/suplemen /cetak_detail.asp?id=&id=120 811& kat _id=105&kat_id1= 150 &kat_id2=187).
Kandungan utama daun cengkeh adalah eugenol (dominan hingga 89 %), eugenil acetate, methyil n-hepthyl alcohol, benzyl alcohol, methyl salicilate, methyl n-amil carbinol, terpene caryo-phyllene.(www.mukhlason.com.atsiri.htm). Sementara itu Agusta (2000) menyatakan bahwa pada umumnya minyak cengkeh terdiri dari campuran persenyawaan kimia antara lain mengandung senyawa eugenol 75 – 90% dan eugenol asetat 10 -15%.
J.3. Manfaat Cengkeh
Secara tradisional masyarakat sudah mengenal cengkeh sebagi tanaman yang bisa digunalan untuk menyenbuhkan berbagai macam penyakit. Cengkeh telah banyak di gunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional anatara lain untuk sakit gigi, bau mulut, mual, nyari haid, batuk rejam, demam akibat malaria, lemah syahwat, menghitamkan alis, masuk angin dan beri-beri (Rosidah. 2000).
Cengkeh banyak di tanam di Indonesia, khususnya Kepulauan Maluku (Tidore, Ternate, Mutir), dan Jawa Timur. Minyak cengkeh memiliki khasiat sebagai peluruh gas-gas dalam perut/kentut, (karminatif) karena jika gas-gas seperti itu terkumpul dalam perut, maka perut terasa kembung.
Selain itu, minyak ini memiliki khasiat sebagai stomakik, yang memperbaiki fungsi lambung dalam mencerna makanan sehingga pencernaan akan menjadi lebih baik.
Di samping itu, cengkeh dapat digunakan sebagai bumbu, baik dalam bentuknya yang utuh atau sebagai bubuk. Terutama di Indonesia, cengkeh digunakan sebagai bahan rokok kretek. Cengkeh juga digunakan sebagai bahan dupa di Tiongkok dan Jepang. Minyak cengkeh digunakan untuk aromaterapi dan juga untuk mengobati sakit gigi (http://id.wikipedia.org/wiki/Cengkeh).
Sementara menurut sumber lain dinyatakan bahwa minyak daun cengkeh dapat digunakan sebagai obat gosok (param), obat sakit gigi, penghangat badan, anti nyamuk, obat luka dan antiseptik yang sangat manjur untuk berbagai jenis luka, seperti luka bakar, luka berdarah dan luka bernanah (baru maupun lama), untuk industri farmasi, industri makanan, fragrance, dan aromatherapi (http://ww w.mukhlason.com.atsiri.htm).
J.4. Aktivitas Anti Bakteri Cengkeh
Anonymous (2006) menyatakan bahwa tanaman cengkih mempunyai banyak kandungan kimia yang bersifat sebagai antimikroba baik pada bagian batang, bunga dan daunnya. Daun cengkeh mengandung saponin, flavonoida dan tanin di samping minyak atsiri. Dari kandungan daun cengkeh yang mempunyai kemampuan sebagai antibakteri adalah tanin dan flavonoid.
Menurut Pudjaatmaka dan Qodratillah (1999) tanin merupakan kelompok senyawa nabati yang bersifat asam, aromatik, dan memberikan rasa kesat. Tanin mengendapkan alkaloid, merkuri klorida dan logam berat. Robinson (1991) menambahkan bahwa tanin merupakan kandungan yang bersifat fenol mempunyai rasa sepat dan mempunyai kemampuan menyamak kulit serta berwarna coklat kekuning-kuningan.
Robinson (1995) menyatakan bahwa tanin mempunyai ciri-ciri yang sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua gugus hidroksil. Anonymous (2007) menambahkan bahwa Tannin adalah senyawa phenolic yang larut dalam air. Dengan berat molekul antara 500 – 3000 bisa mengendapkan protein dari larutan.
Flavonoid adalah group paling besar dari fenol yang terjadi secara alami, lebih dari 2000 persenyawaan kini telah diketahui ± 500 yang terbentuk di alam dalam keadaan bebas. Menurut Robinson (1995), golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan senyawa C6-C3-C6, artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzene tersubstitusi) disambungkan oleh rantai alifatik tiga karbon.
Kardinan (2005) menyatakan bahwa minyak cengkih mengandung beberapa komponen, tetapi kandungan yang paling penting adalah eugenol. Dalam sektor pertanian, eugenol dapat diberfungsi sebagai antiserangga, fungisida, bakterisida, sampai nematisida.
Ginting (1992) dalam Susilowati (2007) menyatakan bahwa eugenol adalah salah satu senyawa yang potensial karena mempunyai beberapa gugus fungsi yang dapat ditransformasikan menjadi senyawa lain dengan aktivitas fisiologi yang lebih baik. Eugenol termasuk senyawa alam yang menarik karena mengandung beberapa gugus fungsional yaitu alil, fenol dan eter.
Naim (2004) menyatakan bahwa komponen fenol meliputi chavikol, eugenol, karvakol, sineol, tanin, cavibetol, borneol dan flavonoida. Senyawa fenol cenderung mudah larut dalam air karena umumya berikatan dengan gula sebagai glikosida, dan biasanya terdapat dalam vakuola sel dan kelarutannya dalam air akan bertambah jika gugus hidroksil makin banyak. Golongan fenol dicirikan oleh adanya cincin aromatik dengan satu atau gugus hidroksil.
Volk &Wheller (1988) dalam Astutik, S. (2007) dinyatakan bahwa fenol dalam konsentrasi (0,1- 2%) mampu merusak membran sitoplasma yang menyebabkan bocornya metabolik penting dan disamping itu menginaktifkan sejumlah enzim bakteri, apabila di gunakan dalam konsentrasi tinggi fenol bekerja dengan merusak membran sitoplasma secara total dan mengendapkan protein. Fenol menyerang lapis batas sel total dan merusak semipermiabilitas membran sitoplasma yang terdiri dari lipida dan protein yang tersusun berlapis-lapis.
Menurut Waluyo (2005) fenol (asam karbol) pada konsentrasi yang rendah (2- 4%) daya bunuh di sebabkan karena fenol mempresipitasikan protein secara aktif sehingga sunsunan protein menjadi berubah tidak sesuai dengan kebutuhan sel, selain itu juga merusak membran sel dengan cara menurunkan tegangan permukaannya. Hal ini menyebabkan terjadinya osmosis dan sel akan mengalami lisis.
Anonymous (2003) dalam Astutik (2006) dinyatakan bahwa mekanisme sebenarnya dari penghambatan oleh seluruh senyawa fenol adalah dengan cara merusak membran plasma, menyebabkan enzim inaktif, dan denaturasi protein. Rusaknya dinding sel pada bakteri secara otomatis dapat mempengaruhi membran sitoplasma yang sebagian besar tersusun atas protein dan fosfolipid.
Jawetz (1982) dalam Sukowati (2006) dinyatakan bahwa senyawa fenol tumbuhan cepat sekali membentuk komplek dengan protein sehingga mengakibatkan kerja enzim menjadi terhambat protein pada membran sel akan mengalami koagulasi dan denaturasi, dalam keadaan demikian protein menjadi tidak berfungsi lagi mengakibatkan sifat permeabilitas membran sel sitoplasma tidak berfungsi, sehingga transport zat ke dalam dan keluar sel mengalami gangguan, bila hal itu terjadi maka akan menghambat pertumbuhan bahkan kematian sel.
Kabata (1985) dalam Saputri (2002) dinyatakan bahwa obat yang larut dalam air dapat diserap dengan baik oleh kulit, insang dan organ lain. Hal ini sangat efektif dalam pengobatan melalui perendaman karena bagian yang terinfeksi dapat menyerap dengan baik.
K. Metode Penelitian
K.1. Jenis Penelitian
Berdasarkan sifat masalahnya, penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian true eksperimen melaui pendekatan The Posttest Only Control Group Design yaitu diasumsikan bahwa setiap unit populasi adalah homogen yang berarti semua karakteristik antar unit populasi adalah sama, maka pengukuran awal tidak dilakukan oleh karena dianggap sama semua kelompok karena berasal dari satu populasi yang sama.
Menurut Rofieq. A. (2006). penelitian eksperimen sejati adalah penelitian yang menguji hubungan sebab (Cause) dan akibat (Effect) dalam sistem tertutup atau kondisi terkendali.
K.2. Waktu dan Tempat Penelitian
K.2.1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 21 hari terhitung mulai tanggal 6 Agustus sampai 27 Agustus tahun 2009.
K.2.2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakasanakan di Laboratorium Balai Induk Udang Galah. (BIUG). Jl.Raya. Jogosari No.1 Pandaan.
K.3. Populasi dan Sampel Penelitian
K.3.1. Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan atau himpunan obyek dengan ciri yang sama (Rofieq, A. 2006) Adapun populasi pada penelitian ini adalah benih ikan gurami (Osphronemus gourami) yang ada di Laboratorium Balai Induk Udang Galah. (BIUG). Jl.Raya. Jogosari No.1 Pandaan. yang berumur dua bulan dengan ukuran panjang 3 – 5 cm.
K.3.2. Sampel Penelitian
Sampel adalah himpunan bagian atau sebagian dari suatu populasi. Rofieq, A. (2006) Sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah 300 ekor benih ikan gurami (Osphronemus gourami.) yang ada di Laboratorium Balai Induk Udang Galah. (BIUG). Jl.Raya. Jogosari No.1 Pandaan. yang berumur dua bulan dengan ukuran panjang tubuh 3 – 5 cm.
K.4. Rancangan Percobaan
Rancangan Percobaan yang digunakan adalah berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dalam penelitian ini sekelompok subyek yang ambil dari populasi tertentu di kelompokkan secara random (acak) dengan 6 perlakuan 5 kali ulangan, Sehingga jumlah sampel yang di amati adalah sebanyak 30 buah.
Tabel 3.1: Denah penelitian sebagai berikut :
C4 A1 A4 B5 C1
F3 D2 A5 E4 B1
F1 E1 E2 B2 C2
B3 D3 A2 C3 F2
C5 D1 B4 A3 F4
F5 D5 E5 E3 D4
KETERANGAN :
A1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0 % ulangan 1
A2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0 % ulangan 2
A3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0 % ulangan 3
A4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0 % ulangan 4
A5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0 % ulangan 5
B1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0,5 % ulangan 1
B2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0,5 % ulangan 2
B3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0,5 % ulangan 3
B4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0,5 % ulangan 4
B5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 0,5 % ulangan 5
C1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 1,5 % ulangan 1
C2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 1,5 % ulangan 2
C3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 1,5 % ulangan 3
C4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 1,5 % ulangan 4
C5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 1,5 % ulangan 5
D1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 2,5 % ulangan 1
D2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 2,5 % ulangan 2
D3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 2,5 % ulangan 3
D4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 2,5 % ulangan 4
D5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 2,5 % ulangan 5
E1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 3,5 % ulangan 1
E2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 3,5 % ulangan 2
E3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 3,5 % ulangan 3
E4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 3,5 % ulangan 4
E5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 3,5 % ulangan 5
F1 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 4.5 % ulangan 1
F2 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 4.5 % ulangan 2
F3 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 4.5 % ulangan 3
F4 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 4.5 % ulangan 4
F5 : Konsentrasi filtrat daun cengkeh 4.5 % ulangan 5
K.5. Alat yang digunakan adalah
Akuarium (ukuran 30 x 20 cm sebanyak 30 buah), Akuarium (ukuran 60 x 30 cm sebanyak 1 buah ), Bak plastik (sebanyak 25 buah), Aerator dan perlengkapannya , Timbangan , Haemocytometer, Jaring, Blender, Saringan, Gelas ukur, Pipet, Erlenmeyer, Ph meter, DO meter, Tabung reaksi, Petridish (untuk perkembangbiakan bakteri), Autoclave
K.6. Bahan yang digunakan adalah
Benih ikan gurami (Osphronemus gourami) yang berumur dua bulan dengan ukuran panjang tubuh 3 – 5 cm yang didapat dari Laboratorium Balai Induk Udang Galah. (BIUG). Jl.Raya. Jogosari No.1 Pandaan.
Biakan murni Aeromonas hydrophila , Daun cengkeh (Syzygium aromaticum), Aquadest, Pakan ikan (pelet)
K.7. Tahap Pengamatan.
Pengamatan tingkat kelulushidupan benih ikan umur dua bulan yang diteliti di lakukan satu hari setelah perlakuan penginfeksian selama satu minggu. Benih ikan dinyatakan mati apabila mengendap di dasar dan tidak memberikan respon apabila di sentuh. Dan menurut Effendi (1993) menyatakan bahwa untuk menghitung tingkat kelulushidupan benih ikan mas dapat mengunakan rumus :
SR = Nt / No x 100%
Dimana :
SR : Persen kelulushidupan ikan
Nt : Jumlah ikan yang hidup pada akhir penelitian
No : Jumlah ikan yang hidup pada awal penelitian

K.9. Tahap analisis data
Analisis data yang digunakan, pertama di uji dahulu dengan uji normalitas untuk mengetahui data berdistribusi normal, kemudian di uji dengan uji homogenitas untuk mengetahui varian datanya, di analisis lanjut dengan mengunakan anava satu arah dengan asumsi jika Fhit > Ftab maka ada pengaruh dan selanjutnya di uji wilayah berganda Duncan’s, untuk mengetahui perlakuan yang terbaik.
L. JADUAL KEGIATAN
No Kegiatan Bulan Ke-1 Bulan Ke-2 Bulan Ke-3 Bulan Ke-4 BulanKe-5
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan √
2. Perizinan √
3. Survey lokasi √ √
4 Penyusunan proposal √ √
5. Penelitian pendahuluan √ √
6. Persiapan alat √ √
7. Pembelian bahan baku √ √
8. Proses pembuatan filtrat √ √ √ √ √
9. Pengamatan kelulushidupan ikan √ √ √ √ √ √
10. Pengolahan data √ √
11. Penyusunan laporan akhir √ √
12. Seminar √ √
13. Penggandaan proposal √ √

07/11/2009 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar

Penanganan Sampah Keluarga Berbasis Lembaga Lokal di Lingkungan RW. 02 Kelurahan Tlogomas

A. JUDUL PROGRAM
Penanganan Sampah Keluarga Berbasis Lembaga Lokal di Lingkungan RW. 02 Kelurahan Tlogomas

B. LATAR BELAKANG PROGRAM
Kota Malang sebagai kota pelajar dan kota yang cocok untuk lahan bisnis membuatnya semakin hari semakin padat penduduk. Selain penduduk asli Malang, para pendatang ikut andil memadatkan wilayah ini. Setidaknya, padatnya jalanan dan berkurangnya lahan hijau akibat dibangunnya rumah-rumah menggambarkan hal tersebut.
Semakin banyaknya manusia bukan berarti tidak menimbulkan suatu masalah. Manusia sebagai makhluk hidup dapat dipastikan mengkonsumsi produk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sisa buang produk yang dikonsumsi tersebut akhirnya menjadi sampah tidak terkecuali yang terjadi di RW. 02 Kelurahan Tlogomas.
RW. 02 Kelurahan Tlogomas terdiri dari 6 RT. Dalam setiap RT, rata-rata terdiri dari 100 kepala keluarga, jadi dalam RW. 02 terdapat 600 kepala keluarga. Jika dalam setiap keluarga menghasilkan 1 kg sampah setiap hari, maka TPS akan terisi 600 kg sampah tiap harinya. Belum lagi jika perhitungan dilakukan dalam hitungan minggu, bulan, atau bahkan tahun. Memang yang menangani masalah sampah ini adalah pemerintah, namun jika sampai pada suatu titik pemerintah tidak mampu menangani, maka masalah ini akan mengganggu masyarakat juga. TPA yang dibutuhkan semakin luas, wabah penyakit bermunculan, dan pencemaran udara akan terjadi jika tidak segera dicari pencegahannya.
Menumpuknya sampah di TPS RW. 02 Kelurahan Tlogomas ini hanya diatasi dengan menunggu pemerintah tanpa warga bisa membantu mengatasinya. Hal ini dikarenakan warga tidak memiliki pengetahuan mengenai manfaat ekonomis dari sampah yang telah didaur ulang dan tidak memiliki keterampilan mengenai cara pengolahan sampah menjadi pupuk kompos.
Sejauh ini yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah sampah adalah mengubah sampah organik di TPA menjadi pupuk kompos dengan menggunakan mesin pencacah sederhana yang harganya sekitar 18 juta rupiah. Pengangkutan sampah warga ke TPS dan TPA, pemilihan antara sampah organik dan anorganik, dan pencacahan untuk menjadi pupuk kompos akan memakan biaya yang tidak sedikit. Imbal balik dari hasil pengolahan yakni pupuk juga tidak disalurkan kembali kepada masyarakat yang sebenarnya ikut menyumbang bahan pokok pupuk tersebut.
Biaya pengangkutan dan pengolahan yang tinggi, tidak adanya nilai tambah yang diberikan kepada masyarakat, kurangnya pengetahuan masyarakat akan manfaat ekonomis yang didapat dari sampah, dan kurangnya keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah menjadi pupuk kompos itulah yang membuat penulis tertarik untuk mengadakan sosialisasi dan pelatihan mengenai penanganan sampah yang sederhana sehingga bisa dilakukan sendiri oleh masyarakat dan bisa membantu masyarakat dari sisi ekonomi dengan usaha pupuk kompos .Penanganan sampah ini juga mengajak urun tangan lembaga lokal yakni RW dan RT sehingga dapat merangkul warga dengan lebih mudah.
Metode pelaksanaan program ini adalah sosialisasi, pelatihan, pemantauan dan pendampingan. Sosialisasi yang akan dilakukan dapat membuka wacana baru bagi masyarakat mengenai manfaat dari sampah yang selama ini dianggap sebagai barang tidak berharga. Sedangkan pelatihan akan menambah keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah menjadi pupuk kompos. Keterampilan ini dapat memberikan banyak manfaat bagi warga. Hasil daur ulang sampah mereka sendiri yakni pupuk kompos dapat digunakan pada lahan hijau di rumah masing-masing dan terlebih lagi dapat dikembangkan menjadi sebuah usaha. Efek lainnya adalah sampah tidak menumpuk lagi di TPS menunggu untuk diangkut ke TPA sehingga lingkungan menjadi bersih.

C. RUMUSAN MASALAH
1. Menumpuknya sampah warga di TPS tanpa memberi nilai tambah bagi warga namun sebaliknya menyebabkan lingkungan menjadi kotor.
2. Kurangnya pengetahuan yang dimiliki masyarakat mengenai manfaat ekonomis yang didapat dari sampah sehingga sampah menjadi barang yang tidak berharga dan terbuang begitu saja memenuhi TPS setempat
3. Kurangnya keterampilan yang dimiliki masyarakat mengenai cara pengolahan sampah menjadi pupuk kompos sehingga tidak memperoleh produk hasil daur ulang bernilai ekonomis yang mampu menambah pendapatan masyarakat
D. TUJUAN PROGRAM
Kondisi baru yang diharapkan terwujud setelah adanya program ini adalah :
1. Sampah yang menggunung di TPS akan berkurang karena masyarakat mengerti akan nilai ekonomis yang ditawarkan dari sampah sehingga lingkungan menjadi bersih
2. Masyarakat memiliki wacana baru mengenai manfaat ekonomis dari sampah
3. Masyarakat memiliki tambahan keterampilan baru dalam mengolah sampah menjadi pupuk kompos yang memiliki nilai ekonomis sehingga mampu menambah pendapatan masyarakat

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN

a. PENGEMBANGAN PENGETAHUAN
Program Kreatifitas Pengabdian Masyarakat Mahasiswa (PKMM) ini diharapkan mampu membuka wacana baru bagi masyarakat akan pentingnya sampah. Sampah tidak dipandang sebagai suatu barang tidak berguna yang hanya bisa membawa masalah namun masyarakat mampu melihat adanya manfaat degan pengetahuan baru yang didapat dan mampu memetik manfaat tersebut dengan adanya keterampilan yang dimiliki.

b. PENGEMBANGAN PEMBANGUNAN
Setelah masyarakat mampu memetik manfaat dari sampah dalam bentuk pupuk kompos, maka diharapkan dapat dikembangkan menjadi suatu usaha pupuk kompos sehingga dapat meningkatkan income per kapita masyarakat. Selain itu, lingkungan menjadi bersih dan Pemerintah dapat terbantu dalam hal pengelolaan sampah.

c. PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN
Program Kreatifitas Pengabdian Masyarakat Mahasiswa (PKMM) ini diharapkan mampu menjadi sarana transfer ilmu pengetahuan sehingga ilmu yang dimiliki akan berguna karena dapat digunakan oleh banyak orang.
F. KEGUNAAN PROGRAM

a. ASPEK SOSIAL
Persoalan sampah akhirnya dapat diatasi bukan hanya dari peran pemerintah tapi juga peran aktif masyarakat. Semakin banyak pihak yang turut serta maka semakin cepat lingkungan menjadi bersih.
Jika persoalan sampah yang diatasi dengan mengubahnya menjadi pupuk kompos dengan cara yang sederhana berkembang dengan baik maka dapat menjadi usaha yang dapat menyerap tenaga kerja.

b. ASPEK EKONOMI
Bila pengolahan sampah menjadi pupuk kompos berhasil sehingga memiliki hasil yang melebihi kebutuhan masyarakat pengolah, maka masyarakat dapat menjualnya kepada konsumen dan seterusnya dapat dijadikan sebagai usaha. Hasil penjualan ini akan menjadi suatu tambahan penghasilan bagi masyarakat yang nantinya dapat meningkatkan income per kapita.

G. GAMBARAN MASYARAKAT SASARAN
Lingkungan RW. 02 Kelurahan Tlogomas memiliki jumlah penduduk yang padat. RW. 02 ini memiliki 6 RT dan setiap RT rata-rata terdiri dari 200 Kepala Keluarga. Masalah yang selama ini dihadapi oleh penduduk adalah menumpuknya sampah di TPS setempat karena belum dikelola dengan baik. Apalagi ketika ada keterlambatan pengangkutan sampah ke TPA oleh truk-truk sampah. Musim hujan juga menjadi suatu masalah karena membuat sampah-sampah berserakan terbawa air hujan ke jalan.
Penanganan sampah yang melibatkan lembaga lokal ini dapat membantu mengatasi hal tersebut. Masalah sampah akhirnya menjadi masalah bersama. Akan dilakukan sosialisasi dan pelatihan kepada perwakilan dari setiap RT yakni pengurus RT mengenai manfaat dan cara mengolah sampah menjadi pupuk kompos dengan menggunakan teknologi sederhana. Setelah itu, perwakilan tersebut yang mengkomunikasikan secara langsung kepada warga setempat dengan tetap dilakukan pemantauan dan pendampingan.
Setiap 2 RT memiliki satu tempat pengolahan dalam bentuk tong-tong. Tiap jenis sampah organik akan disekat dengan tanah dan menempatkan sisa makanan yang mudah busuk di lapisan paling atas. Tumpukan sampah organik yang sudah dilapisi dengan tanah disimpan selama 2 minggu. Setelah itu, hasilnya bisa dipanen. Murah, mudah, singkat, dan bermanfaat, itulah yang ditawarkan dari program ini.

H. METODE PELAKSANAAN PROGRAM
Observasi yang telah dilakukan di lingkunga RW. 02 Kelurahan Tlogomas mengungkapkan adanya masalah penumpukan sampah di TPS yang disebabkan sampah belum dikelola dengan baik karena kurangnya pengetahuan akan manfaat dan keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah. Berdasarkan hal tersebut akhirnya ditemuka sebuah dalam penangan sampah berbasis lembaga lokal yang akan dijalankan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a. SOSIALISASI
Sosialisasi Program akan dilakukan melalui pengurus RT setempat. Sosialisasi kepada masyarakat akan secara langsung dilakukan pengurus RT. Diharapkan dengan adanya sosialisasi ini, seluruh pengurus RT akan paham tentang penanganan sampah yang akan dilaksanakan sehingga mereka akan mengerti manfaat dari program ini dan akhirnya akan termotivasi untuk menjalankannya.

b. PELATIHAN
Pelatihan cara menjalankan model penanganan sampah keluarga berbasis lembaga lokal ini akan dilakukan kepada perwakilan tiap-tiap RT. Perwakilan ini yang akan mengadakan pelatihan secara langsung kepada warga setempat. Pelatihan ini dilaksanakan mulai dari cara mengisi tong dengan tanah dan jenis sampah yang bisa didaur ulang menjadi pupuk kompos, waktu penyimpanan, dan panen.
c. PEMANTAUAN DAN PENDAMPINGAN
Pemantauan dan pendampingan dilakukan selama pelaksanaan kegiatan ini berlangsung sampai masyarakat dapat melakukan secara mandiri. Pemantauan akan dilakukan oleh anggota kelompok bersama pengurus RW dan RT untuk mengamati pelaksanaan program.

I. JADWAL KEGIATAN
Jadwal Kegiatan Program

Kegiatan Bulan Ke-
1 2 3
– Penetapan lokasi penampungan/pengolahan x
– Sosialisasi program x
– Persiapan alat dan bahan x
– Pelatihan x x
– Pemantauan dan pendampingan x x x x x x x x x x x x
– Panen pupuk kompos x x x x
– Laporan akhir x
Tabel 1
J. NAMA BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA PENGABDIAN
1. Ketua Pelaksana Pengabdian
a. Nama : Dwi Riva Yuliansari
b. NIM : 04620241
c. Fakultas/Program Studi : Ekonomi / Akuntansi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk PKM : 10 jam / minggu
2. Anggota Pelaksana Pengabdian
a. Nama : Pristiawan Erik Abadi
b. NIM : 04620253
c. Fakultas/Program Studi : Ekonomi / Akuntansi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk PKM : 8 jam / minggu
a. Nama : Ade Rahmawati
b. NIM : 07610091
c. Fakultas/Program Studi : Ekonomi / Manajemen
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk PKM : 8 jam / minggu

K. NAMA DAN BIODATA DOSEN PENDAMPING
1. Nama : Dra. Sri Wahjuni Latifah, MM, Ak
2. Golongan Pangkat dan NIP : Lektor / III C dan 107.9209.0281
3. Jabatan Fungsional : Penata
4. Jabatan Struktural : Sekretaris Jurusan Program Studi Akuntansi
Universitas Muhammadiyah Malang
5. Fakultas / Program Studi : Ekonomi / Akuntansi
6. Bidang Keahlian : Sistem InformasiAkuntansi
7. Waktu untuk PKM : 7 jam / minggu

L. ANGGARAN BIAYA
Estimasi dana kegiatan
NO JENIS KEGIATAN ANGGARAN
1. Persiapan lokasi Rp 200.000,00
2. Penggandaan proposal, sosialisasi, dan publikasi Rp 175.000,00
3. Alat dan bahan :
Tong plastik (42 buah @ Rp 100.000,00)
Sekop (3 buah @ Rp 50.000,00)
Tanah (3 bulan = 30 karung @ Rp 5.000,00)
Rp 4.200.000,00
Rp 150.000,00
Rp 150.000,00
4. Transportasi (4 orang x 12 kali x @ Rp 10.000,00) Rp 480.000,00
5. Telepon (3 bulan) Rp 250.000,00
6. Administrasi dan manajemen Rp 195.000,00
7. Penyusunan laporan akhir Rp 200.000,00
Jumlah Rp 6.000.000,00
Tabel 2
M. LAMPIRAN

a. GAMBARAN MODEL PENANGANAN SAMPAH KELUARGA BERBASIS LEMBAGA LOKAL

Model Penanganan Sampah Keluarga Berbasis Lembaga Lokal

Bagan 1

Untuk membuat kompos, setiap 2 RT menyediakan 14 buah tong sehingga dalam setiap RW terdapat 42 tong. Simpan tanah secukupnya di dasar tong, lalu masukan sampah dari jenis daun atau sayuran mentah, tutup lagi dengan lapisan pasir atau tanah, masukan sampah sisa roti atau kue, lapisi lagi dengan tanah, masukan kotoran burung atau ayam, lapisi lagi dengan tanah, masukan sisa makanan mudah busuk seperti nasi dan sayuran dan lapisi kembali dengan tanah.
Setelah disimpan selama dua minggu, pupuk kompos rumah tangga ini siap dipanen. Setiap hari menggunakan tong yang berbeda-beda sehingga pengumpulan sampah dan panen dapat dilakukan tiap hari. Pupuk ini bisa digunakan untuk pot bunga atau tumbuhan di pekarangan sendiri dan jika lebih maka bisa dijual.

07/08/2009 Posted by | Contoh PKM | 19 Komentar

PROGRAM PENGEMBANGAN DIRI SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA ANAK JALANAN USIA REMAJA DI KOTA MALANG

A. Judul Program
Peningkatan Program Pengembangan Diri Sebagai Upaya Meningkatkan Kecerdasan Emosional Anak Jalanan Usia Remaja di Kota Malang

B. Latar Belakang
Dasawarsa terakhir ini isu kesejahteraan anak terus mendapat perhatian masyarakat dunia, tidak terkecuali pemerintah Indonesia. Mulai dari permasalahan peradilan anak, perburuhan anak, kekerasan pada anak, pelecehan seksual pada anak, hingga anak jalanan (anjal). Salah satu isu kesejahteraan anak yang terus berkembang adalah masalah anak jalanan.
Di Indonesia sendiri, sebagaimana laporan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia pada tahun (1994) memberitakan fenomena anak jalanan semakin meningkat dari segi kuantitas dan kualitas. Sedangkan situs resmi Departemen Sosial Republik Indonesia memberitakan jumlah anak jalanan yang terus meningkat dari tahun ke tahunnya, yaitu pada tahun 1999 jumlah mereka sekitar 39.861 orang, di tahun 2002 sebanyak 94.674, dan pada tahun 2004 jumlah anak jalanan telah mencapai angka 98.113 orang.
Hidup di jalanan tentu tidak ingin dialami siapa pun, namun itulah kenyataan yang harus dihadapi para anak jalanan melawan kerasnya hdup. Keberadaan anak jalanan didorong oleh kondisi-kondisi keluarga dan ekonomi, seperti : mencari pekerjaan, terlantar, ketidakmampuan orang tua menyediakan kebutuhan dasar, kondisi psikologis seperti ditolak orang tua, salah asuh, dan kekerasan di rumah, kesulitan berhubungan dengan keluarga atau tetangga, berpetualang, lari dari kewajiban keluarga Hal ini diperkuat oleh hasil survey yang dilakukan oleh UNICEF menunjukan bahwa selain kemiskinan, alasan lain yang diidentifikasi sebagai alasan bagi anak untuk meninggalkan rumahnya atau lebih suka hidup di jalanan (mencari kehidupan di jalan), adalah kekerasan dalam keluarga yang menyebabkan lingkungan keluarga tidak stabil. Perlakuan yang salah dan penelantaran terhadap anak perlakuan seksual yang menyimpang dari anggota keluarga, beban pekerjaan rumah tangga yang berat yang menyebabkan anak putus sekolah. Adanya jurang pemisah dan komunikasi antara orang tua dan anak merupakan awal terjadinya tindak kekerasan di lingkungan keluarga dan membuat anak memilih berada di jalanan.
Selain faktor kemiskinan yang banyak membuat anak-anak turun ke jalan adalah faktor psikologis yaitu tidak terpenuhi dan belum matangnya emosi anak dan membuat mereka turun ke jalan. Seperti telah disebutkan sebelumnya salah asuh dan permasalahan keluarga sering menjadi penyebab utama anak-anak memilih lari dari rumah. Semua itu terjadi karena anak tidak mendapat pendidikan terutama pendidikan emosional yang baik yang sangat berperan bagi kehidupan anak. Sebab, dengan pendidikan emosional yang baik akan mengajarkan kecerdasan emosional pada anak. Hasil dari kecerdasan emosional adalah agar seseorang lebih cakap dalam menangani ketegangan emosi. Dimana ketegangan emosilah yang sering memicu anak lari dari rumah dan memilih hidup sebagai anjal.
Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Kualitas-kualitas itu antara lain : empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah antarpribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan, sikap homat.
Permasalahan anak di jalanan juga sangat erat dengan emosional, mengingat betapa kompleks permasalahan yang harus di hadapi. Seperti dikatakan sebelumnya kecerdasan emosional sangat diperlukan dalam pemecahan masalah dan berhubungan dengan orang lain. Sehingga kecerdasan emosional anak jalanan lebih diperlukan dibanding kecerdasan intelektual, sebab mereka harus berhadapan dengan banyak orang. Sayangnya, kecerdasan emosional anak jalanan sering disepelekan dan kurang mendapat perhatian. Terdapat beberapa faktor yang membuat kecerdasan emosional anak jalanan perlu mendapat perhatian, yaitu : kondisi psikologis anak jalanan yang sering merasa marah terhadap hidup, ketiaksiapan anak untuk turun di jalan, hubungan antara anak jalanan dengan keuarga yang kurang baik, anak jalanan umumnya kurang mendapat pendidikan yang memdai bagaimana berhubungan dengan orang lain. Selain itu, trauma masa lalu sering membuat anak jalanan bersikap apatis terhadap orang lain.
Salah satu contohnya sebagaimana dikutip dari (Kompas, 23 Juli 2007) seorang anak jalanan bernama Wasjayakirana (17) hidup terkatung-katung di Jakarta sejak usia 7 tahun bersama keempat kakaknya karena dibawa ibunya merantau dari kampung halaman. Ketika usia 10 tahun, saat ibunya mampu menyewa menyewa rumah petak kecil di tengah perumahan kumuh di Setiabudi, Jaya justru memutuskan lari dari keluarganya. Perasaan marah dan tidak penerimaan terhadap hidup memicu Jaya meninggalkan ibu yang telah melahirkan dan keluarganya.
Selain itu, permasalahan yang harus dihadapi di jalanan juga termasuk beragam mulai dari pemerasan oleh anjal yang lebih dewasa dan preman, perebutan area/wilayah, penyimpangan perilaku (mencuri/mencopet) dan kekerasan (agresifitas) sesama anak jalaan. Sementara itu di kota Malang sendiri menurut data dari Pemkot Malang menunjukkan jumlah anak jalanan pada 2005 sebanyak 555 anak, dan 600 anak setahun kemudian dengan berbagai permasalahan yang dihadapi.
Kondisi ini yang menjadi motivasi bagi tim PKMM untuk melakukan program pengembangan diri sebagai upaya meningkatkan kecerdasan emosional pada anak jalanan di kota Malang. sehingga dengan kecerdasan emosional yang didapat anak mampu berkomunikasi dengan orang lain dengan lebih baik dan mampu mengatasi masalah secara mandiri.

C. TUJUAN PROGRAM
– Jangka Pendek : membantu anak jalanan usia remaja awal mengembangkan dirinya.
– Jangka panjang : meningkatkan kecerdasan emosional, sehingga anak jalanan dapat memecahkan masalah secara mandiri, dan dapat berkomunikasi dengan orang lain secara lebih baik.
D. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Dengan serangkaian program pengembangan diri yang diberikan, anak jalanan dapat meningkat kecerdasan emosionalnya dan hidup mandiri, normal, hidup secara wajar dengan meminimalisir hambatan personal, sosial, dan psikologis.
E. KEGUNAAN PROGRAM
Bagi Siswa :
– Meningkatkan kondisi emosional psikologis dan kondisi psikososial anak jalanan kedalam kondisi yang lebih sehat
– Meningkatkan kemampuan serta ketahanan anak jalanan dalam memecahkan masalah-masalah psikososial yang dihadapi dalam berhadapan dengan orang lain.
– Anak jalanan lebih dapat diterima masyarakat karena sikapnya yang telah berubah menjadi lebih baik.
– Anak jalanan mampu mengembangkan kepribadian dan potensi diri yang dimilikinya
Bagi Pemerintah
– Ikut memberikan sumbangsih moril demi perkembangan generasi penerus bangsa secara optimal.

F. GAMBARAN UMUM SASARAN
Sasaran kegiatan ini adalah para anak jalanan usia remaja awal kota Malang. Dimana sebagian besar dari mereka tidak memiliki pengetahuan berkomunikasi secara baik dan membaca emosi orang lain. Usia remaja awal adalah masa seorang anak mulai mencoba berhubungan dengan orang lain terutama tema sebaya. Mereka memerlukan bantuan untuk meningkatkan kecerdasan emosionalnya. Kurangnya perhatian antara orang tua dengan anak, dan minimnya pendidikan yang didapat seringkali membuat anak tidak mengetahui cara berhu bungan baik dengan lingkungan dan mengatasi problem pribadi secara mandiri, sehingga sering masalah yang dialami diselesaikan dengan cara yang keliru. Selain itu mereka juga dituntut untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan baru yang memprihatinkan. Dalam kegiatan ini tim PKMM bekerjasama dengan salah satu rumah singgah yang terdapat di tengah-tengah kota Malang yang bernama Rumah Singgah Flamboyan untuk menghubungakn tim PKMM dengan anak-anak jalanan remaja.

G. METODE PELAKSANAAN PROGRAM
Metode Pelaksanaan Program
1. Mentoring adalah kegiatan pendidikan dalam perspektif luas dengan pendekatan saling menasehati. Kata mentor dalam bahasa Inggris berarti penasihat. Mentoring juga merupakan gambaran dari kegiatan sekelompok kecil muslim yang secara rutin mengkaji tentang Islam. Jumlah peserta dalam kelompok kecil itu berkisar antara 3-12 orang. Mereka mengkaji Islam dengan kurikulum atau panduan mentoring tertentu. Kurikulum tersebut biasanya berasal dari organisasi yang menaungi mentoring tersebut. Namun dalam program ini, kelompok kami menyusun kurikulum program mentoring ini secara independen.
Metode penyampaian materi mentoring antara lain dengan :
a. Diskusi kelompok
Percakapan antara 3 orang atau lebih yang dipandu oleh satu orang untuk membicarakan suatu topik secara terarah. Dengan cara ini anak akan dibantu membiasakan anak berbicara, dan meningkatkan kepercayaan diri dan rasa diterima oleh lingkungan.
b. Brainstorming
Upaya pemecahan masalah, dimana anak jalanan dibantu membiasakan diri dengan mengusulkan dengan epat semua kemungkinan pemecahan yang terpikirkan dengan cepat, tanpa kritik dan evaluasi atas pendapat-pendapat tersebut dilakukan kemudian. Program ini akan membantu membangkitkan dan melatih anak merangsang partisipasi mencari kemungkinan pemecahan masalah, hal ini akan membantu anak mampu memecahkan masalah secara mandiri.
c. Tim pendengar
Pendamping memberikan uraian informasi untuk didengarkan oleh anak dimana anak hanya berperan sebagai pendengar pasif. Kemudian diberitahukan untuk menyampaikan kembali apa yang telah dia dengar. Akhirnya informasi yang terkumpul akan saling melengkapi informasi yang diterima. Hal ini berfungsi sebagai proses pembelajaran untuk memahami apa yang disampaikan orang lain sesuai dengan konteks yang sebenarnya (apa yang diinginkan orang pemberi informasi.
d. Suplemen motivasi
Pemberian kata-kata penyemangat dalam bentuk tulisan yang diberikan kepada anak jalanan semisal dalam bentuk kartu ucapan yang disimpan oleh mereka. Dengan ini anak akan mendapat motivasi lewat kartu yang disimpannnya dan dapat dilihat sewaktu-waktu dan ketika butuh motivasi. selain itu para anak jalanan juga akan mendapat diary yang digabungkan pada modul. lewat diary ini anak akan mencatat setiap kegiatan dan membantunya mengevaluasi diri setiap selesai melakukan kegiatan.

2. Psikogame
a. Psikodrama
Pemberian peran kepada peserta dalam kelompok. anak akan diberikan peran yang telah ditentukan oleh pendamping berdasarknan pengamatan pendamping terhadap emosi anak. hal ini berfungsi agar anak dapat merasakan emosi tertentu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. sehingga anak terlatih mengenal emosi diri sendiri dan orang lain. kemudian diberi topeng sesuai peran yang diperankan agar memperkuat karakter yang diperankan.

b. The Power of Picture
Permainan sederhana dilakukan dengan cara, anak jalanan diberikan permainan untuk memilih gambar yang paling diinginkan dari majalah yang telah disediakan oleh pendamping. Kemudian menempelkan gambar tersebut ke papan white board, kemudian gambar tersebut diberi label. Setelah itu anak secara induvidu diberi kesempatan untuk menceritakan alasan isi gambar. Tujuan dari kegiatan ini adalah anak dapat merefleksikan nilai-nilai yang dimilikinya dan membangun kepekaan yang kuat. Selain itu hal ini dapat menghubungkan konsep kelompok dan semangat bersatu dengan orang lain (bermasyarakat).

c. Though Pingpong
sebuah permainan beregu yang tiap regunya beranggota 3 orang. pemain A diapit oleh dua pemain B dan C. pemain B memegang kartu bertanda plus (+), dan pemain C memegang kartu bertanda minus (-). pemain A menyampaikan masalah yang sedang dihadapinya untuk ditanggapi oleh kedua pemain. pemain B selalu menanggapi permasalahan dan berusaha member pemecahan secara positif serta realistis, sedangkan pemain C menanggapi masalah dengan sudut pandang negatif dan pesimistis. pemain A mencatat setiap tanggapan baik positif dan negatif, kemudian hanya melingkari tanggapan positif yang dianggap akurat dan realistis. kemudian, pemain bertukar peran dan pemain yang berada di tengah memberikan masalah baru. permaina selesasi jika telah terkumpul 30 tanggapan positif yang realistis, tim tercepatlah yang menang. dengan permainan ini anak diajari bersikap optimis dan realistis agar tahan terhadap tekanan,

3. Self Help Group
Menciptakan sebuah kelompok dimana dalam kelompok tersebut setiap anggotanya dibentuk menjadi anggota yang memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan kasus-kasus dan tujuan tertentu pada dirinya sendiri agar nantinya dapat membantu orang lain. Dalam kelompok ini terdiri dari anggota yang memiliki kesamaan nasib sehingga kesamaan nasib tersebut akan semakin menambah dukungan emosional. Kelompok ini akan semakin menambah kedekatan dan hubungan emosional dan menjadi kelompok yang dapat membantu orang lain.

H. JADWAL PELAKSANAAN PROGRAM
No Uraian Bulan I Bulan II Bulan III
I II III IV I II III IV I II
1 Persiapan pelaksanaan program

2 Pendekatan personal
3 Though pingpong
4 The power of picture
5 Diskusi kelompok
6 Tim Pendengar
7 Brainstorming
8 Self help group
9 Psikodrama
10 Suplemen motivasi
11 Evaluasi & perpisahan

NAMA DAN BIODATA KELOMPOK
Ketua Kelompok
Nama : Abdul Hamid
TTL : 3 Maret 1988
NIM : 05810177
Fakultas : Psikologi
Alamat di Malang : Perum Muara Sarana Indah H-2 Jetis Dau Malang
Alamat Asli : Jl. Perikani depan masjid kota Baru
No. Telp/HP : 081559996813
Waktu untuk kegiatan : 16/Minggu
Anggota Kelompok
Nama : Nur Aminati Timur
TTL : Kediri, 20 Mei 1987
NIM : 05810167
Fakultas : Psikologi
Alamat di Malang :.Jl. Tirto Utomo gang 4 no: 36
Alamat Asli : Desa Sonorejo Kecamatan Grogol Kabupaten Kediri
Rt: 02 Rw: 02
No. Telp/HP : 081334166540
Waktu untuk PKM : 12 Jam/Minggu

Nama : Rika Ulina
TTL : Kediri, 30 Mei 1985
NIM : 04810209
Fakultas : Psikologi
Alamat di Malang : Jl. Raya Tlogomas No: 70 Rt: 04 Rw: 07
Alamat Asli : Desa Sonorejo Kecamatan Grogol Kabupaten Kediri
Rt: 02 Rw: 02
No. Telp/HP : 081333250043
Waktu untuk PKM : 12 Jam/Minggu

NAMA DAN BIODATA DOSEN PEMBIMBING
a. Nama : Dra. Iswinarti, M.Si
b. Tempat dan Tanggal Lahir : Magelang, 13 Mei 1964
c. Agama : Islam
d. Pangkat / Gol. / NIP : Penata / III c / 109 89 0126
e. Jabatan : Lektor
f. Bidang Keahlian : Psikologi Anak
g. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
h. Alamat Kantor : Jl. Raya Tlogomas 246 Malang
Phone (0341) 464318 ext. 118
Fax. (0341) 465017
i. Alamat Rumah : Landungsari Permai Blok F -3 Malang
j. Email / Phone : 08125969737
PENELITIAN:
1. Permainan Anak Prasekolah (Studi di Pedesaan, Perkotaan, dan Perumahan) tahun 2006
2. Permainan Tradisional Indonesia (Dalam Tinjauan Perkembangan Intelektual, Sosial, Emosi, dan Kepribadian) tahun 2005
3. Identifikasi Permainan Tradisional Indonesia tahun 2005
4. Kontribusi Pemuka Agama Terhadap Multikulturalisme di Jawa Timur, tahun 2005
5. Penyusunan Norma Tes Kreativitas Figural Bentuk Lingkaran untuk Anak Usia Sekolah Dasar tahun 2004
6. Penyesuaian Sosial Anak Gifted tahun 2003
7. Tingkat Stress dan Prestasi Belajar Anak yang Memperoleh Pengayaan tahun 2002
8. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mempengaruhi Mahasiswa Berprestasi Tinggi tahun 2001

PEMAKALAH:
1. Terapi Bermain Untuk Anak Korban Bencana Banjir Bandang di Jember, tahun 2006.
2. Virginitas Bagi Pejuang Cinta Sejati, tahun 2006.
3. Permainan Tradisional Indonesia (Dalam Tinjauan Perkembangan Intelektual, Sosial, Emosi, dan Kepribadian Anak), Simposium Nasional “Memahami Psikologi Indonesia”, tahun 2005.
4. Meningkatkan Multiple Intelligence pada Remaja, Seminar Nasional, tahun 2005
5. Terapi Bermain untuk Anak Taman Kanak-kanak tahun 2005
6. Terapi Bermain untuk Anak korban Tsunami Aceh, tahun 2005.
7. Managemen Konflik, tahun 2005
8. Pengelolaan Kelas, tahun 2005
9. Mengenal dan Mengidentifikasi Anak Berbakat 2005

PESERTA PELATIHAN/SEMINAR/LOKAKARYA
1. Peserta lokakarya Penelitian Hibah Bersaing, UMM (2006)
2. Peserta Konferensi Nasional Neurodevelopmental, Jakarta, tahun 2006.
3. Peserta Seminar Internasional Pendidikan Multikultur di Indonesia, Malang, tahun 2006.
4. Peserta Worshop Strategi Belajar Untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Jakarta, tahun 2006.
5. Peserta Worshop Pemahaman Membaca untuk anak Disleksia, Jakarta, tahun 2006
6. Peserta Lokakarya Penanganan Anak Korban Bencana, tahun 2005.
7. Peserta Simposium Nasional “Memahami Psikologi Indonesia”, Malang, tahun 2005.

I. Anggaran Biaya
No Jenis Pengeluaran Rincian Satuan Jumlah
01 Transportasi (PP)
Tim 3 orang @Rp. 80.000 Rp. 240.000
Pembimbing 1 orang @Rp. 50.000 Rp. 50.000
02 Komunikasi Tim
Pulsa HP 3 orang @Rp. 100.000 Rp. 300.000
03 Dokumentasi
Roll Film 2 buah @Rp. 25.000 Rp. 50.000
Cuci Cetak 2 buah @Rp. 35.000 Rp. 70.000
04 Kesekretarian
Pembuatan Laporan 5 buah @Rp. 50.000 Rp. 150.000
Penjilidan Laporan 5 buah @Rp. 3.000 Rp. 15.000
Penggandaan Form-form Administrasi Rp. 40.000
Amplop 1 paket @Rp. 10.000 Rp. 10.000
Map 3 buah @Rp. 15.000 Rp. 45.000
Binder 20 buah @Rp. 35.000 Rp. 700.000
Bolpoin 20 buah @Rp. 5.000 Rp. 100.000
Spidol magic marker 20 buah @Rp. 6.000 Rp. 120.000
Kertas putih 2 rim @Rp. 30.000 Rp. 60.000
Kertas warna 1 rim @Rp. 40.000 Rp. 40.000
Kertas manila 20 buah @Rp. 5.000 Rp. 100.000
Kertas binder 20 buah @Rp. 7.000 Rp. 120.000
Kertas kado 15 buah @Rp. 5.000 Rp. 75.000
Lem 20 buah @Rp. 4.000 Rp. 80.000
Tinta Printer 4 buah @Rp. 30.000 Rp. 120.000
Pembelian CD Blank 3 buah @Rp. 4.500 Rp. 9.000
Rental Computer + Internet Rp. 258.000
05 Perlengkapan Pendukung
Majalah 15 buah @Rp. 10.000 Rp. 150.000
Papan Whiteboard 3 buah @Rp. 60.000 Rp. 180.000
Penggandaan Modul 20 buah @Rp. 20.000 Rp. 400.000
Penjilidan Modul 20 buah @Rp. 5.000 Rp. 100.000
Penggandaan Suplemen Motivasi 60 buah @Rp. 1.000 Rp. 60.000
Sewa sound system 1 buah @Rp. 350.000 Rp. 350.000
Sewa LCD 1 buah @Rp. 500.000 Rp. 500.000
Baterai Maxtor 10 buah @Rp. 45.000 Rp. 450.000
Kenang-kenangan peserta (kaos) 15 buah @Rp. 50.000 Rp. 750.000
Total Rp 5.692.000

CURICULUM VITAE
Ketua Kelompok

Nama : Abdul Hamid
TTL :Jakarta 3, Maret 1988
NIM :05810177
Fakultas :Psikologi
Alamat di Malang :Perum Muara Sarana H-2 Jetis DAU Malang
Alamat Asli : Jl. Perikani Depan Masjid Kota Baru Ternate
No. Ttelp/HP :081559996813
Email :
Riwayat Pendidikan :
SDN 05 Pagi Jakarta
SLTP N 01 Ternate
SLTA N 01 Ternate
Riwayat Organisasi :
Dept. P3A HMI Koms Psikologi UMM 2006
Humas IPMA 2005
Reporter Bestari UMM 2006

Anggota
Nama : Nur Aminati Timur
TTL : Kediri, 20 Mei 1987
NIM : 05810167
Fakultas : Psikologi
Alamat di Malang : Jl. Tirto Utomo gg. 4 no.36
Alamat Asli :
No. Telp/HP :
Email :
Riwayat Pendidikan :
SDN II Sonorejo
SLTPN I Grogol
SMAN II Kediri
Fakultas Psikologi UMM
Riwayat Organisasi :
Anggota UKM-K Jama’ah A. R Fachruddin 2006-2007
Sekretaris Departemen Penalaran BEMFA Psikologi 2006-2007
Ketua Divisi Keputrian UKM-K Jama’ah A. R Fachruddin 2007-2008

Nama : Rika Ulina
TTL : Kediri, 30 Mei 1985
Fakultas : Psikologi
Alamat di Malang : Jl. Raya Tlogomas no: 70 Rt:04 Rw: 07
Alamat Asli : Desa Sonorejo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri Rt: 02 Rw: 02
No. Telp/HP : 081333250043
Riwayat Pendidikan : SDN II Sonorejo
SLTPN I Grogol
SMAN I Kediri
Riwayat Organisasi :
Anggota LISFA (LSO fakultas Psikologi) 2004-2005
Anggota UKM-K Jama’ah A. R Fachruddin 2004-2005
Ketua Divisi Keputrian LISFA (LSO fakultas Psikologi) 2005-2006
Sekretaris Divisi Kaderisasi UKM-K Jama’ah A. R Fachruddin 2006-2007
Ketua divisi Pengembangan SDM & Organisasi Psychology Club 2006-2007

K. GAMBARAN UMUM PELAKSANAAN KEGIATAN
Pelaksanaan kegiatan dalam program PKMM yang berjudul “Peningkatan Kecerdasan Emosional Pada Anak Jalanan Usia Remaja Awal di Kota Malang” ini dibagi dalam beberapa bulan pelaksanaan, dimana tiap bulan dibagi dalam beberapa minggu dan di setiap minggu ada beberapa kali pelaksanaan sesuai dengan jadwal. Namun, pelaksanaan ini disesuaikan dengan situasi atau kondisi yang ada di lapangan.
Secara umum pelaksanaan kegiatan dalam program PKMM ini meliputi: Pendekatan personal, Identifikasi masalah, perencanaan program, pelaksanaan program, dan evaluasi pelaksanaan program.
a. Pendekatan Personal
dilakukan dengan melakukan serangkai pertemuan, diskusi, dan pertukaran informasi dengan pihak anak jalanan agar menciptakan hubungan yang nyaman.
b. Identifikasi Masalah
dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi yang akurat mengenai kecerdasan emosi pada anak jalanan. dilakukan melalui assessment terhadap anak jalanan dengan memberi pre test dan post test.
c. Perencanaan Program
dimulai dari kegiatan analisis tingkat kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi yang diperlukan untuk peningkatan keerdasan emosi pada anak jalanan. adapun tahapannya meliputi :
– perumusan kegiatan yang akan dilakukan
– menyusun time-schedule pelaksanaan program
– menetapkan tenaga-tenaga yang akan menangani pelaksanaan program

d. Pelaksanaan Program Dan Evaluasi Program, setiap pelaksanaan program dilakukan monitoring untuk mengoreksi dan membenahi serta menindak lanjuti program yang dilaksanakan.

07/08/2009 Posted by | Contoh PKM | 2 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 936 pengikut lainnya.