BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

POLIPLOIDISASI TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DENGAN PERLAKUAN MUTAGEN COLCHICINE

1) Judul Program
POLIPLOIDISASI TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DENGAN PERLAKUAN MUTAGEN COLCHICINE

2) Latar Belakang Masalah
Upaya memanfaatkan sumber energi terbarukan merupakan bagian penting dalam program deversifikasi energi sebagai akibat semakin menipisnya cadangan energi dan semakin meningkatnya kebutuhan bahan bakar. Hal tersebut harus dilakukan karena kebutuhan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi terus mengalami peningkatan sehingga dalam beberapa tahun akan terjadi kelangkaan minyak bumi.
Biodiesel memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya penghematan ataupun sebagai subtitusi dari minyak diesel. Biodiesel yang merupakan minyak nabati yang diperoleh dari tumbuhan memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan sumber energi lainnya. Keunggulan dan kelebihan biodisel antara lain (1) Merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik (free sulphur, smoke number rendah) sesuai dengan isu-isu global, (2) Cetane number lebih tinggi (>60) sehingga efisiensi pembakaran lebih baik, (3) Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin, (4) Biodegradable (dapat terurai), (5) Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat diperbarui, (6) Meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi secara lokal (BPTP, 2006).
Pemanfaatan minyak Jarak (Jatropha curcas L.) sebagai bahan bio-diesel merupakan alternatif untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan bahan bakar. Minyak jarak pagar selain merupakan sumber minyak terbarukan (reneweble fuels) juga termasuk non edible oil sehingga tidak bersaing dengan kebutuhan konsumsi manusia seperti pada minyak kelapa sawit, minyak jagung dan minyak nabati lainnya. Secara agronomis tanaman jarak pagar sesuai dengan agroklimat di Indonesia bahkan pada kondisi kering dan pada lahan marginal. Akan tetapi masih ada permasalahan yang dihadapi, yaitu belum adanya varietas unggul yang dilepas secara komersial (Puslitbang Perkebunan, 2006).
Sebenarnya di Indonesia ditemukan banyak keragaman plasma nutfah jarak pagar, namun variasi tersebut diduga hanya disebabkan oleh perbedaan wilayah yang melahirkan ekotipe-ekotipe tertentu. Eksplorasi pendahuluan yang dilakukan oleh Puslitbang Perkebunan di Sumatera Barat, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan ditemukan variasi antara lain: (1) kulit batang: keperak-perakan, hijau kecoklatan, (2) warna daun: hijau muda, hijau tua, (3) pucuk dan tangkai daun: kemerahan, kehijauan, (4) bentuk buah: agak elips, bulat, (4) jumlah biji per kapsul: 1-4. Kontribusi perbedaan morfologi di atas terhadap produktivitas dan kandungan minyak tentu ada, hanya belum diketahui besarnya. Tingkat ploidi yang sama (2n=22) diduga tidak akan menghambat persilangan antar spesies dalam upaya perbaikan varietas jarak pagar (Hasnam, 2006).
Penelitian di bidang pemuliaan tanaman jarak pagar di Indonesia sampai saat ini masih dalam taraf awal dan masih mengandalkan metode pemuliaan konvensional yang banyak bergantung pada fenotipe tanaman yang mudah diamati secara kasat mata (Mardjono et al., 2006). Pengembangan tanaman jarak pagar melalui mutasi dengan memanfaatkan teknologi nuklir dengan irradiasi sinar gamma telah berhasil dilakukan (Dwimahyani, 2006), meskipun informasi pelepasan varietas unggul jarak pagar hasil mutasi tersebut belum diperoleh.
Alternatif metode mutasi lain yang bisa dilakukan adalah mutasi menggunakan senyawa kimia, misalnya colchicine. Efek yang ditimbulkan melalui mutasi dengan colchicine adalah terjadinya penggandaan kromosom atau poliploidisasi. Diharapkan melalui proses poliploidisasi tersebut dapat diperoleh peningkatan keragaman genetik sekaligus usaha untuk mendapatkan peningkatan potensi hasil minyak tanaman jarak pagar.

3) Perumusan Masalah
Penerapan mutasi secara kimia untuk mendorong terjadinya poliploidisasi pada tanaman jarak pagar lokal Indonesia belum ditemukan laporannya. Karena itu, penerapan mutasi kimia menggunakan senyawa colchicine untuk mengembangkan tanaman jarak pagar poliploid diharapkan dapat diperoleh keragaman genetik baru dari tanaman jarak pagar terutama yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis-jenis tanaman jarak pagar yang sudah ada.
Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1). Seberapa besar keberhasilan terjadinya poliploidisasi pada tanaman jarak pagar melalui perlakuan penetesan larutan colchicine pada konsentrasi yang berbeda?
2). Takaran larutan colchicine pada konsentrasi berapakah yang lebih efektif dalam mendorong terjadinya poliploid pada tanaman jarak pagar?

4) Tujuan Program
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengkaji keberhasilan terjadinya poliploidisasi pada tanaman jarak pagar melalui perlakuan penetesan larutan colchicine pada konsentrasi yang berbeda, (2) menentukan takaran konsentrasi colchicine yang lebih efektif dalam mendorong terjadinya poliploid pada tanaman jarak pagar.

5) Luaran Yang Diharapkan
Luaran hasil penelitian yang diharapkan adalah (1) diperolehnya jenis baru dari tanaman jarak pagar khususnya dengan ploidi yang berbeda dari sebelumnya; (2) diperolehnya informasi konsentrasi yang efektif bagi terbentuknya poliploid pada tanaman jarak pagar.

6) Kegunaan Program
Kegunaan dari penelitian ini adalah (1) dapat membantu meningkatkan keragaman genetik tanaman jarak pagar yang sangat bermanfaat untuk program pemuliaan tanaman; (2) dapat memberikan informasi teknik mutasi khususnya duplikasi kromosom atau perubahan ploidi pada tanaman jarak pagar.

7) Tinjauan Pustaka
Tanaman jarak (Jatropha curcas L.) termasuk famili Euphorbiacae. Genus Jatropha memiliki 175 spesies, dan dari jumlah tersebut lima spesies ada di Indonesia, yaitu Jatropha curcas L dan Jatropha gossypiifolia yang sudah digunakan sebagai tanaman obat. Jatropha integerrima Jacq, Jatropha multifida dan Jatropha podagrica Hook digunakan sebagai tanaman hias. Jatropha curcas L. menarik minat para ilmuwan karena sifat minyaknya yang dapat digunakan untuk substitusi minyak diesel atau solar (Puslitbang Perkebunan, 2006). Kandungan minyak pada biji jarak pagar berkisar antara 25–30%, 30-40%, 30-45%, 40-58% berat kering dan bahkan ada menyatakan yang mencapai 66,4% (Adebowale dan Adedire, 2006; Hariyadi, 2005; Lele, 2005; Pambudi, 2006, Puslitbang Perkebunan, 2006).
Indonesia memiliki keragaman plasma nutfah jarak pagar yang cukup tinggi, namun variasi tersebut mungkin hanya disebabkan oleh perbedaan wilayah yang melahirkan ekotipe-ekotipe tertentu. Eksplorasi pendahuluan yang dilakukan oleh Puslitbang Perkebunan di Sumatera Barat, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan ditemukan variasi antara lain: (1) kulit batang: keperak-perakan, hijau kecoklatan, (2) warna daun: hijau muda, hijau tua, (3) pucuk dan tangkai daun: kemerahan, kehijauan, (4) bentuk buah: agak elips, bulat, (4) jumlah biji per kapsul: 1-4. Kontribusi perbedaan morfologi di atas terhadap produktivitas dan kandungan minyak tentu ada, hanya belum diketahui besarnya. Tingkat ploidi yang sama (2n=22) diduga tidak akan menghambat persilangan antar spesies dalam upaya perbaikan varietas jarak pagar (Hasnam, 2006).
Penelitian di bidang pemuliaan tanaman jarak pagar di Indonesia sampai saat ini masih dalam taraf awal dan masih mengandalkan metode pemuliaan konvensional yang banyak bergantung pada fenotipe tanaman yang mudah diamati secara kasat mata. Penelitian di BALITTAS telah berhasil mengidentifikasi beberapa genotipa dari NTT, NTB, Jatim, Jateng dan Lampung, namun hasil panen yang diperoleh masih rendah yaitu berkisar antara 154,90-315,63 kg/ha karena tanaman belum berumur satu tahun (Mardjono et al., 2006). Kajian berikutnya diperoleh informasi 7 aksesi jarak pagar yang memiliki harapan produktivitas tinggi, yaitu HS-49 (1097.50 kg/ha), SP-16 (977.50 kg/ha), SP-38 (912.50 kg/ha), SP-8 (656.07 kg/ha), SM-33 (622.50 kg/ha), SP-34 (578.33 kg/ha), dan SM-35 (500 kg/ha) (Sudarmo et al., 2007). Sampai sekarang belum ada varietas unggul maupun klon jarak pagar yang dilepas ke petani (Anonymous, 2005; Sudarmo et al., 2007; Media Kita, 2006), sehingga sumber benih masih mengandalkan pengumpulan dari petani di berbagai daerah (Hariyadi, 2005). Pengembangan tanaman jarak pagar melalui mutasi dengan memanfaatkan teknologi nuklir telah berhasil dilakukan (Dwimahyani, 2006), meskipun informasi pelepasan varietas unggul jarak pagar hasil mutasi tersebut belum diperoleh.
Alternatif metode mutasi lain yang bisa dilakukan adalah mutasi menggunakan senyawa kimia, misalnya colchicine. Efek yang ditimbulkan melalui mutasi dengan colchicine adalah terjadinya penggandaan kromosom atau poliploidisasi.
Autotetraploid secara alami dihasilkan melalui kejadian duplikasi secara spontan dari genom 2x menjadi 4x. Secara artifisial autotetraploid diperoleh melalui perlakuan mutasi mengunakan colchicine. Tanaman autotetraploid dapat menguntungkan secara komersial karena pada tanaman tersebut terjadi peningkatan jumlah kromosom yang mengakibatkan pertambahan ukuran sel, ukuran bunga, buah, stomata dan bagian-bagian tanaman lainnya. Hal tersebut disebabkan terjadinya kenaikan produk dari aktifitas gen (protein atau RNA) yang proposional dengan kenaikan jumlah gen dalam sel (Anthony et al., 2000).
Organisme poliploid umumnya lebih besar dibandingkan dengan organisme diploid, tetapi tidak normalnya proses berpasangan dari kromosom homolog pada saat meiosis menyebabkan beberapa organisme poliploid menjadi steril (Anthony et al., 2000). Namun demikian, persilangan antara dua spesieas yang berbeda yang diikuti dengan penggandaan kromosom melalui perlakuan mutasi dengan colchicine menghasilkan hibrida poliploid yang fertil (Anthony et al., 2000).

Variasi pada tanaman poliploid juga meningkat akibat peristiwa nondisjunction (segregasi yang tidak normal dari kromosom pada saat meiosis atau mitosis). Variasi juga dapat ditimbulkan oleh ketidakseimbangan gen atau tidak sempurnanya kromosom (Anthony et al., 2000). Peningkatan tersebut juga terjadi karena autotetraploid mempunyai dua kali lipat salinan gen per lokus dibandingkan pada populasi diploid maupun allotetraploid (Brown dan Young, 2000).
Poliploidi buatan tersebut merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan hasil minyak esensial maupun metabolit sekunder berbagai jenis tanaman (Tsevtkov Raev, 2006). Pengembangan tanaman melalui poliploidisasi dapat meningkatkan laju pertumbuhan 30%-40% per musim diikuti dengan peningkatan hasil tanaman yang diperoleh (Biopact, 2007).
Autotetraploid buatan yang diperoleh melalui perlakuan mutasi dengan colchicine merupakan salah satu upaya meningkatkan produksi minyak esensiel tanaman vetiver (2n=20). Jenis tetraploid yang diperoleh memiliki vigor yang lebih baik, perakaran lebih panjang dan lebih tebal. Produksi panen yang dihasilkan dari tanaman tetraploid juga lebih unggul dibandingkan dengan jenis tetua diploidnya dan tanaman kontrol (pembanding). Secara ekonomis hasil tanaman tetraploid mempunyai potensi produksi minyak 62,5% lebih tinggi dibanding tetua diploidnya dan 39,2% lebih tinggi dibanding kontrol. Peningkatan hasil tersebut juga berkaitan dengan peningkatan senyawa metabolisme sekunder (Lavania, 1988). Induksi poliploid tanaman lavender menghasilkan minyak 3-5 kali lebih banyak dan diikuti dengan peningkatan kualitas minyak yang dihasilkan dibanding diploid (Urwin, Horsnell, dan Moon, 2005).
Peningkatan ploidi dapat diketahui dengan adanya peningkatan ukuran stomata daun tanaman yang telah diperlakukan. Poliploidi yang dihasilkan juga dapat dideteksi melalui tingkatan DNA dengan flow-cytometry. Hasil deteksi DNA tersebut sama dengan hitungan jumlah kromosom sel ujung akar (Mi-Seon Kim et al., 2003).
Metode lain yang juga sering digunakan untuk membedakan ciri-ciri suatu individu secara molekuler adalah studi isozim, restriction fragment length polymorphism (RFLP), random amplified polymorphism DNA (RAPD), dan simple sequence repeat (SSR). Penerapan suatu metode harus diketahui terlebih dahulu optimasinya. Kemampuan membedakan genotip individu di dalam species maupun beberapa genotip secara tepat sangat diperlukan dalam program pemuliaan tanaman. Karakter morfologi dan fenotip telah banyak dipergunakan, namun sifat kuantitatif umumnya dikendalikan banyak gen dan sangat dipengaruhi lingkungan sehingga perbedaan antar species berkerabat dekat seringkali sulit diamati. Kebanyakan karakter sulit dianalisis karena tidak memiliki sistem pengendalian genetik yang sederhana. Penggunaan penanda molekuler seperti alozim, RFLP dan RAPD dapat dimanfaatkan untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut. Pemakaian marka molekuler berdasarkan pola pita DNA telah banyak digunakan untuk menyusun kekerabatan beberapa individu dalam spesies maupun kekerabatan antar spesies. Penggunaan kekerabatan dapat dijadikan rujukan dalam pemuliaan persilangan untuk mendapatkan keragaman yang tinggi dari hasil persilangan. Penggunaan marka DNA dapat membantu pelaksanaan pemilihan tetua persilangan yang memiliki perbedaan tinggi secara genetik (Correa, 1999). Perkembangan teknik PCR dalam bidang biologi molekuler terjadi dengan cepat setelah ditemukan teknik pelipat gandaan bagian genom tanaman pada beberapa lokus yang berbeda menggunakan primer arbitrari, yang dikenal dengan Random Amplified Polymorphic DNA (Welsh dan McClelland 1990). Pola pita DNA yang dihasilkan pada teknik RAPD sangat konsisten bagi kebanyakan primer dan teknik ini telah digunakan pada berbagai tanaman seperti padi, jagung, kopi serta pada tanaman anggrek (Orozco-Castillo et al. 1994 ; Hoon-Lim et al. 1999).
Salah satu keuntungan analisis keragaman menggunakan teknik molekuler yang memanfaatkan teknologi PCR adalah kuantitas DNA yang diperlukan hanya sedikit. Selain itu, dalam teknik RAPD tingkat kemurnian DNA yang dibutuhkan tidak perlu terlalu tinggi, atau dengan kata lain teknik ini toleran terhadap tingkat kemurnian DNA yang beragam. Penerapanan metode RAPD telah berhasil digunakan untuk membedakan keragaman genetik secara molekuler tanaman anggrek Phalaenopsis yang telah dimutasikan dengan memberikan perlakuan berbagai konsentrasi colchicine (Zainudin, 2007). Penelitian awal terkait dengan analisis molekuler keragaman genetik tanaman jarak pagar telah diperoleh informasi tentang prosedur isolasi DNA menggunakan Sodium Dudocyl Sulfate yang menghasilkan DNA genom jarak pagar dengan kualitas cukup baik dan sesuai untuk proses amplifikasi melalui proses PCR (Zainudin dan Maftuchah 2006), serta rangkaian suhu optimal serta beberapa primer yang sesuai dalam proses amplifikasi DNA jarak pagar lokal Lamongan dan Karangtengah (Maftuchah dan Zainudin, 2006). Pemakaian beberapa primer RAPD yang berukuran 10 basa telah terbukti menghasilkan sidik jari DNA RAPD tanaman jarak pagar dengan tingkat polimorfisme tinggi dengan jumlah 4 sampai 12 pita DNA (Maftuchah, 2006).

8) Metode Pelaksanaan Program
Penelitian ini akan dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Kebun Koleksi Plasma Nutfah Tanaman Jarak pagar BALITTAS yang berlokasi di Karangploso dan Asembagus-Situbondo. Analisis molekuler dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler Pusbang Biotek UMM.
Waktu pelaksanaan penelitian direncanakan selama 5 (lima) bulan. Bahan tanam awal yang akan ditanam berupa benih jarak pagar yang diperoleh dari Kebun Koleksi Plasma Nutfah Tanaman Jarak pagar BALITTAS yang berlokasi di Karangploso dan Asembagus-Situbondo.
Metode penelitian yang akan diterapkan untuk penelitian di lahan adalah percobaan lapang menggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Perlakuan yang diujikan terdiri dari dua faktor:
Faktor I: Jenis Tanaman Jarak Pagar
J1 : Lokal Asembagus
J2 : Lokal Kediri
Faktor II: Penetesan Titik Tumbuh Kecambah dengan Beberapa Konsentrasi Colchicine
K0 : Tanpa penetesan larutan colchicine
K1 : Penetesan larutan colchicine 0,1%
K2 : Penetesan larutan colchicine 0,3%
K3 : Penetesan larutan colchicine 0,5%
Berdasarkan kedua faktor tersebut diperoleh 8 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang sebanyak 3 kali.
Kombinasi perlakuan yang diperoleh adalah:
J1K0 = Jarak pagar lokal Asembagus tanpa penetesan colchicine
J1K1 = Jarak pagar lokal Asembagus dengan penetesan larutan colchicine 0,1%
J1K2 = Jarak pagar lokal Asembagus dengan penetesan larutan colchicine 0,3%
J1K3 = Jarak pagar lokal Asembagus dengan penetesan larutan colchicine 0,5%
J2K0 = Jarak pagar lokal Kediri tanpa penetesan colchicine
J2K1 = Jarak pagar lokal Kediri dengan penetesan larutan colchicine 0,1%
J2K2 = Jarak pagar lokal Kediri dengan penetesan larutan colchicine 0,3%
J2K3 = Jarak pagar lokal Kediri dengan penetesan larutan colchicine 0,5%

Tahap penelitian yang akan dilakukan meliputi:
(1) Penyiapan Benih Hasil Penyerbukan Sendiri (Selfing)
Tahap kegiatan ini diawali dengan penentuan pohon jarak pagar yang dipilih untuk materi penelitian dilanjutkan dengan penutupan bunga menggunakan kantong kain kasa agar terjadi penyerbukan sendiri (selfing) dari masing-masing pohon terpilih. Pohon yang terpilih dipemelihara sampai saat panen buah yaitu kulit buahnya sudah berwarna kuning kecoklatan serta diperoleh benih untuk disemaikan pada tahap berikutnya.

(2) Produksi Bibit Generasi M1 Hasil Perlakuan Colchicine
Kegiatan tersebut diawali dengan penyemaian benih hasil panenan sebelumnya yang telah dikeringkan tidak langsung di bawah terik matahari. Penyemaian dilakukan pada polibag ukuran 2 kg yang berisi media campuran tanah dan pupuk kandang 1:1. Selama menunggu tumbuhnya benih tersebut dilakukan penyiapan larutan colchicine dengan cara menimbang serbuk/kristal colchicine masing-masing 0,1 g (100 mg); 0,3 g (300 mg); dan 0,5 g (500 mg) untuk masing-masing perlakuan konsentrasi 0,1%; 0,3% dan 0,5%; kemudian ditambah alkohol 90% sebanyak 10 tetes sampai larut dan ditambah aquades sampai volume 100 ml. Benih yang sudah berkecambah sebanyak sepuluh kecambah untuk tiap kombinasi perlakuan ditetesi larutan colchicine pada titik tumbuh kecambah yang tumbuh dan membuka kotiledonnya. Penetesan larutan colchicine dilakukan selama 8 kali pada pagi hari (05.30 wib) dan sore hari (17.00 wib) selama empat hari berturut-turut.
(3) Analisis dan Evaluasi Morfologi Bibit, Pertumbuhan Vegetatif bibit dan Anatomi Jaringan Daun Jarak Pagar Generasi M1
Kegiatan tersebut dilakukan setelah bibit tanaman jarak pagar hasil perlakuan penetesan larutan colchicine telah menumbuhkan minimal lima helai daun sejati.
Pengamatan morfologi meliputi: 1) kejadian pigmentasi (warna batang, warna daun, warna tulang daun), 2) bentuk daun, 3) persentase jumlah bibit yang tumbuh dibandingkan total benih ditanam, 4) tinggi bibit, diukur mulai permukaan tanah hingga titik tumbuh tertinggi, 5) diameter pangkal batang, diukur menggunakan jangka sorong.
Pengamatan anatomi jaringan daun bibit tanaman jarak pagar (generasi M1) tiap perlakuan dengan cara membuat preparat sayatan daun bagian bawah untuk mengamati ukuran stomata menggunakan mikroskop yang dilengkapi mikrometer. Stomata yang teramati dipotret untuk menunjukkan perbandingan kenampakan stomata dari tanaman kontrol dengan tanaman yang sudah diperlakukan dengan colchicine.

(4) Analisis Pola Sidik Jari DNA Berdasarkan Penciri RAPD Bibit Tanaman Generasi M1,
Analisis ini dilakukan terhadap daun muda bibit tanaman jarak pagar hasil perlakuan yang sudah tumbuh (generasi M1) yang mengindikasikan terjadinya poliploidi yaitu ukuran stomatanya lebih besar dari daun tanaman kontrol. Proses analisis molekuler tersebur terdiri dari:
a) Isolasi DNA Genom Bibit Tanaman Jarak Pagar Generasi M1
DNA genom tanaman jarak pagar diisolasi dari daun muda bibit tanaman jarak pagar generasi M1. Prosedur isolasi dan purifikasi DNA genom dari daun tanaman jarak pagar dilaksanakan berdasarkan metode Sambrook (1989) yang telah dimodifikasi dengan menggunakan buffer ekstraksi sodium dudocyl sulfate (Zainudin dan Maftuchah, 2006). DNA hasil isolasi yang telah dimurnikan, dihitung konsentrasinya dengan spektrofotometer. DNA dilarutkan dengan TE dan disimpan dalam suhu 40C. DNA genom tanaman jarak pagar hasil isolasi DNA selanjutnya dideteksi melalui proses elektroforesis pada 1% gel agarosa dengan voltase 100 V dengan waktu running selama 1 jam diteruskan dengan dilakukan pemotretan gell dengan polaroid. DNA genom tersebut telah siap dipergunakan sebagai cetakan (template) dalam reaksi Polimerase Chain Reaction.
b) Proses PCR DNA Genom Bibit Tanaman Jarak Pagar Generasi M1
DNA genom tanaman jarak pagar dipergunakan sebagai cetakan (template). Primer yang dipergunakan dalam reaksi PCR ini adalah sepuluh primer RAPD yang masing-masing berukuran sepuluh basa (Maftuchah dan Zainudin, 2006). Volume total reaksi PCR yang dipergunakan adalah sebanyak 25 l, terdiri dari campuran larutan yang terdiri dari DNA taq polimerase dan 10x buffer Taq Polimerase (100 mM Tris-Cl, pH 8.3; 500 mM KCl; 15 mM MgCl2; 0.01 % gelatin); dNTP’S mix (dGTP, dATP, dTTP dan dCTP) (Pharmacia); dH2O dan 30 ηg DNA cetakan. Kondisi untuk reaksi PCR dirancang sesuai dengan hasil penelitian pendahuluan yang telah dilakukan: pre denaturasi 94oC (2 menit), suhu Denaturasi 94oC (1 menit), Annealing 37oC (1 menit) dan perpajangan 72oC (2 menit) (Maftuchah dan Zainudin, 2006). Siklus reaksi PCR diulang sebanyak 40 kali.
c) Visualisasi Hasil PCR
Hasil amplifikasi DNA genom tanaman jarak pada proses PCR dideteksi dengan Elektroforesis Gel Poliakrilamid yang dilanjutkan dengan pewarnaan perak (silver staining). Pola pita inilah yang digunakan untuk deteksi polimorfisme alel DNA RAPD. Fragmen DNA produk PCR dideteksi dari pola pita yang berbeda hasil elektroforesis setelah diwarnai mengggunakan metode pewarnaan perak (silver staining) menurut petunjuk Guillemet and Lewis (Tegelström, 1986), yang telah dimodifikasi. Metode ini cukup efektif dalam mengurangi back ground dan meningkatkan sensitivitas.
d) Deteksi Alel-alel RAPD Tanaman Jarak Pagar Generasi M1
Analisis sidik jari DNA–RAPD dilaksanakan berdasarkan jumlah, frekuensi dan distribusi alel-alel DNA berdasarkan penanda RAPD. Fragmen dideteksi dari pola pita DNA yang berbeda hasil elektroforesis gel agarose dari produk PCR. Penentuan posisi pita DNA dilakukan secara manual (Leung et al., 1993). Beberapa hal yang dilakukan untuk memudahkan pengamatan: 1) Seluruh pita DNA dengan laju migrasi yang sama diasumsikan sebagai lokus yang homologus, 2) Masing-masing pita DNA ditandai (dapat menggunakan tinta berwarna), tiap tanda mewakili satu posisi pita DNA tertentu, yang dilakukan dengan menempelkan plastik transparan pada foto gel, 3) Bila jalur DNA yang dibandingkan terpisah satu sama lain, maka dapat digunakan bantuan alat (misal mistar) untuk membantu menentukan posisi pita DNA, 4) Data profil DNA merupakan data alel yang teramati dengan ketentuan ada dan tidaknya pita DNA berdasarkan ukuran produk PCR pada satu posisi yang sama dari beberapa individu yang dibandingkan.
Pita yang muncul pada gel diasumsikan sebagai alel RAPD. Keragaman alel RAPD ditentukan dari perbedaan migrasi alel pada gel dari masing-masing individu sampel. Berdasarkan ada atau tidaknya pita RAPD, profil pita diterjemahkan ke dalam data biner, untuk penyusunan matriks data biner yang diturunkan menjadi matriks kemiripan genetika (Nei dan Li, 1979). Analisis pengelompokan dan pembuatan dendogram dilakukan menggunakan metode Unweighted Pair-Group Method With Arithmetic (UPGMA) melalui program Numerical Taxonomy and Multivariate System (NTSYS) versi 1,8. Derajad ketelitian data UPGMA dianalisis dengan analisis bootstrap menggunakan program WinBoot. Berdasarkan informasi tersebut diharapkan dapat diperoleh pula informasi spesifik untuk tanaman jarak yang telah diberi perlakuan colchicine.

9) Jadwal Kegiatan Program

Bulan Ke…
No. KEGIATAN 1 2 3 4 5
1. Pemilihan, Penyiapan, pemeliharan pohon induk untuk proses selfing
2. Proses Penyerbukan Sendiri (Selfing)
3. Pemeliharaan buah dan penanganan benih
4. Penyemaian benih hasil selfing
5. Penyiapan dan perlakuan colchicine pada kecambah
6. Pemeliharaan bibit dan tanaman generasi M1
7. Analisis morfologi, pertumbuhan bibit dan anatomi jaringan daun jarak pagar generasi M1
8. Isolasi DNA genom, Reaksi PCR, Deteksi alel-alel RAPD tanaman jarak pagar generasi M1
9. Analisis data dan penulisan laporan

10) Nama dan Biodata Ketua serta Anggota Kelompok
1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Estherina Noventhi Subandi
b. NIM : 04710006
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/Agronomi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Alamat Rumah : Jln. WR Supratman Gang I No.43 RT 01 RW 01 Tulungagung 66212, Telp. O355-328005 / HP. 085233049828
g. Alamat Malang : Perum Landungsari Asri Blok C-79 Malang, Telp. 0341-462354
h. E-mail : Alvent@yahoo.com
i. Pengalaman Organisasi : 1. BEMFA Bidang Pendidikan dan Penalaran
2. HMI (Anggota)

2. Anggota Pelaksana I
a. Nama Lengkap : Denny Prasetyo
b. NIM : 05710004
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/Agronomi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Alamat Rumah : Jl. Abadi RT 01 RW 08 Kedungwaru-Ngelgok-Blitar 66181 JATIM
g. Alamat Malang : Jl. Tirto Utomo VI No. 27 Landungsari Malang-JATIM, HP. 085649721722
h. Pengalaman Organisasi : 1. BEMFA (Anggota Bidang Ke-Islaman)
2. FKI Al-Huda (Sekretaris Umum)

3. Anggota Pelaksana II
a. Nama Lengkap : Ari Kusuma Wardani
b. NIM : 06710038
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/Agronomi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Alamat Rumah : Desa Kerkep Kecamatan Gurah Kab. Kediri, Telp. 0354-546203
g. Alamat Malang : Jl. Tirto Utomo VI No. 9 Landungsari-Malang-JATIM, Telp. 0341-468682, HP. 085645283301
h. Pengalaman Organisasi : 1. HMJ Agronomi (anggota)
2. Tapak Suci (Kabid. Kesejahtera-an)

11) Nama dan Biodata Dosen Pendamping
1. Nama Lengkap : Ir. Agus Zainudin,MP.
2. NIP : 105.9109.0238
3. Golongan Pangkat dan : IIIc / Penata
4. Jabatan Fungsional : Lektor
5. Jabatan Struktural : -
6. Fakultas/Program Studi : Pertanian / Agronomi
7. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
8. Bidang Keahlian : Pemuliaan Mutasi Tanaman
9. Waktu untuk kegiatan : 8 jam/minggu

12) Biaya
No. Kebutuhan Penelitian Besar Biaya (Rp)
1. Bahan habis pakai
a. Benih tanaman jarak pagar 1 kg 50.000.00
b. Media tanam, pupuk, pestisida 150.000.00
c. Colchicine 250 mg, alkohol, aquades 750.000.00
d. Proses Isolasi DNA genom 1.000.000.00
e. Proses PCR RAPD 2.100.000.00
2. Peralatan penunjang PKM
a. Sewa sarana-prasarana laboratorium 650.000.00
b. Sewa sarana-prasarana kebun koleksi 250.000.00
3. Perjalanan (Malang-Asembagus 4 kali, Malang-Karangploso 4 kali) 700.000.00
4. Lain-lain (Dokumentasi, Analisis data, pelaporan) 350.000.00
JUMLAH 6.000.000.00

13) Daftar Pustaka
Anthony J.F., Griffiths, Jeffrey H. Miller, David T. Suzuki, Richard C. Lewontin, William M. Gelbart, 2000, An Introduction to Genetic Analysis, W.H.Freeman and Company, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ books/bv.fcgi?call=bv.View.ShowSection&rid=iga.section.3058
Biopact. 2007. Polyploid technology brings high yield energy crops. http://biopact.com/2007/03/polyploid-technology-brings-high-yield. html

BPPT. 2006. Biodisel. http://ec.bppt.go.id/biodiesel/index.htm

Brown, A.H.D., dan Young, A.G., 2000, Genetic Diversity In Tetraploid Populations Of The Endangered Daisy Rutidosis Leptorrhynchoides And Implications For Its Conservation, Journal Heredity, August Edition 2000, Vol. 85, No. 2, Pages 122-129, http://www.nature.com/hdy/journal/v85/ n2/full/ 6887420a.html

Correa, R. X.,Ricardo V. A., Fabio G. F. Cosme D. C., Maurilio A. M., dan Everaldo G. B., 1999. Genetic Distance in Soybean Based on RAPD Markers. (On line), http://www.scielo.br/scielo.php diakses 22 April 2004

Dwimahyani, I. 2006. Pemanfaatan Teknologi Nuklir Dalam Pengembangan Tanaman Jarak (Jatropha curcas L.) Sebagai Bahan Biodesesel / Budi Daya Tanaman Jarak (Jatropha curcas L.) Sebagai Tanaman Lorong di Lahan Bermasalah http://www.batan.go.id/mediakita/current/ mediakita.php

Hariyadi. 2005. Budidaya Tanaman jarak (Jatropha curcas L.) sebagai sumber bahan alternatif biofuel. Lokakarya prospektif sumberdaya lokal bioenergi. KNRT-Puspiptek Serpong. Jakarta 14-15 September 2007
Hasnam. 2006. Variasi Jatropha curcas L. Infotek Jarak Pagar. Volume 1, No. 2, Februari 2006. http://perkebunan.litbang.deptan.go.id /index. Php? Option=com_content&task=view&id=38&Itemid=7

Lavania. U.C. 1988. Enhanced productivity of the essential oil in the artificial autopolyploid of vetiver (Vetiveria zizanioides L. Nash). Euphytica Volume 38, Number 3 / July, 1988. http://www.springerlink.com/content/k11123l97567khj5/

Maftuchah dan Zainudin, A. 2006. Optimasi proses Polimerase Chain Reaction DNA genom tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). Jurnal Tropika.
Maftuchah. 2006. Analisis molekuler tiga aksesi jarak pagar (Jatropha curcas L) berdasarkan penanda Random Amplified Polymorphic DNA Program Penelitian Dasar Keilmuan. DPP-Universitas Muhammadiyah Malang
Mardjono, R., Sudarmo, H., dan Sudarmadji. 2006. Uji Daya Hasil Beberapa Genotipa Terpilih Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Prosiding Lokakarya II Status Teknologi Tanaman Jarak Pagar Jatropha curcas L. Bogor 29 Nopember 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Media Kita. 2006. Membuat minyak bio-diesel dari jarak pagar. http://www.batan.go.id/mediakita/current/mediakita.php
Mi-Seon Kim, Jae-Yeong, Kim, Jong-Seon Eun, 2003, Chromosome Doubling of a Cymbidium Hybrid with Colchicine Treatment in Meristem Culture, National Horticultural Research Institute, R. D. A., Suwon 440-310, Korea Dept. of Horticultural Science, Chonbuk National Univ., Chonju 560-756, Korea http://www.biolo.aichi-edu.ac.jp/NIOC2003poster/10KoreaCym.pdf

Orozco-Castillo C, Chalmers KJ, Waugh R, and Powell W. 1994. Detection of genetic diversity and selective gene introgression in coffee sing RAPD markers. Theor Appl Genet 87:934-940.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 2006. Infotek Jarak Pagar Volume 1, Nomor 2, Februari 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Sudarmo, H., Heliyanto, B., Suwarso, dan Sudarmadji. 2007. Aksesi potensial jarak pagar (Jatropha curcas L.). Prosiding Lokakarya II: Status Teknologi Tanaman Jarak Pagar di Bogor, 29 Nopember 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Tsevtkov-Raev, R., R. Jordanov, V. Zheljazkov. Induced Polyploidy In Lavender. 2006. International Society for Horticultural Science. ISHS Acta Horticulturae 426: International Symposium on Medicinal and Aromatic Plants. http://www.actahort.org/members/showpdf? booknrarnr=426_61
Urwin N, Horsnell, J and Moon T. 2005. Improvement of Lavender by Manipulation of Chromosome number. Lavender Bag, 23:5-1. http://www.rirdc.gov.au/comp04/eoi1.html
Welsh J and McCleland M. 1990. Fingerprinting genomes using PCR with arbitrary primers. Nucleic Acids Res. 18:7213-7218
Zainudin A. dan Maftuchah. 2006. Pengembangan metode isolasi DNA genom pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). GAMMA Jurnal Ilmu Eksakta Volume 2 Nomor 1: 20-32

14) Lampiran

1. Daftar Riwayat Hidup Ketua Pelaksana

Nama : Estherina Noventhi. Subandi
Alamat : Jln. Wr Supratman Gang I No. 43 RT/RW 1/1 Tulungagung 66212
Tempat Tanggal Lahir : Tulungagung 21 November 1985
Pendidikan:
1. SDN Kampung Dalem 02 Tulungagung Tahun 1992-1998
2. SLTPN 01 Tulungagung Tahun 1998-2001
3. SMUN Kedungwaru 01 Tahun 2001- 2004
Pengalaman Organisasi:
1. HMJ Agronomi ( Anggota)
2. BEMFA (Anggota Bidang Pendidikan Dan Penalaran)
3. HMI ( Anggota )

2. Daftar Riwayat Hidup Anggota Pelaksana I

Nama : Denny Prasetyo
Alamat : Jln. Jl. Abadi RT 01 RW 08 Kedungwaru-Nglegok-Blitar 66181 Jatim
Tempat Tanggal Lahir : Blitar 04 Agustus 1986
Pendidikan:
1. SDN Kemloko 01 Tahun 1993- 1999
2. SLTPN 01 Legok Tahun 1999- 2002
3. SMUN 01 Garum Tahun 2002- 2005
Pengalaman Organisasi:
1. BEMFA ( Anggota Bidang Ke-Islaman)
2. FKI Al-Huda ( Sekretaris Umum)

3. Daftar Riwayat Hidup Anggota Pelaksana I

Nama : Ari Kusuma Wardani
Alamat : Desa Kerkep Kecamatan Gurah Kab. Kediri, Telp. 0354-546203
Tempat Tanggal Lahir : Kediri, 06 Januari 1988
Pendidikan:
1. SDN Kerkep Tahun 1994- 2000
2. SLTPN 01 Gurah Tahun 2000- 2003
3. SMUN 01 Plosoklaten Tahun 2003- 2006
Pengalaman Organisasi:
1. HMJ Agronomi ( Anggota)
2. Tapak Suci ( Kabid. Kesejahteraan)

4. Daftar Riwayat Hidup Dosen Pendamping

Nama Lengkap : Agus Zainudin
Gelar Kesarjanaan : Ir. MP.
Jenis Kelamin : Laki-laki
NIP-UMM : 10591090238
Unit Kerja : Fakultas Pertanian – Univ. Muhammadiyah Malang.
Bidang Keahlian : Pemuliaan dan Genetika Tanaman
Pendidikan Akhir : Pasca Sarjana S-2 Program Studi Agronomi Program Pascasarjana UGM Yogyakarta tahun 2003
Alokasi Waktu : 8 jam / minggu
Lembaga : Universitas Muhammadiyah Malang
Jl. Raya Tlogomas 246 Malang – 65144
Telp. 0341-464318 / 464319 (Ext. 165)
Faximile. 0341-460782 / HP : 08123317247
e-mail: agusz@umm.ac.id / agszain@yahoo.com

A. Riwayat Pendidikan (dari sarjana muda / yang sederajat)
No Universitas/Institut dan Lokasi Gelar Tahun Selesai Bidang Studi
1. Fakultas Pertanian
Univ. Brawijaya , Malang Insinyur 1988 Budidaya Pertanian
2. Program Pascasarjana
Univ. Gadjah Mada,
Yogyakarta Magister
Pertanian 2003 Ilmu Tanaman

B. Pengalaman Kerja
No Institusi / Program Jabatan Periode Kerja
1. Dosen Luar biasa UMM Staff Pengajar 1989 – 1990

2. Dosen Tetap UMM Staff Pengajar 1991– sekarang
3. Lab. Komputer Pertanian Sekretaris 1992 – 1994
4. Pusat Pengembangan Bioteknologi (Pusbang Bioteknologi) UMM Staff Peneliti 1995 – sekarang
5. Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Sekretaris 1994 – 1997
6. Badan Pengembangan SDM UMM Sekretaris 2000 – 2003
7. Kebun Percobaan Faperta UMM Kepala Tahun 2003-2005
8 Lembaga Penelitian (Lemlit), Universitas Muhammadiyah Malang Manager Mutu 2005 – sekarang

C. Pengalaman Penelitian
No Judul Tahun Sumber Dana
1. Analisis molekuler tanaman mangga lokal dengan penciri Random Amplified Polymorphic DNA 2007 PDM DIKTI-Depdiknan
2. PCR-RAPD PLB Tanaman Anggrek Phalaenopsis sp. Hasil Perlakuan Penetesan Mutagen Kimia Colchicine 2006 DPP UMM
3. Produktifitas Tiga Varietas Hibrida Jagung Manis
( Zea Mays Sacharata Sturt. ) Pada Perlakuan Beberapa Dosis Pupuk Kascing 2005 DPP UMM
4. Respon Tiga Varietas Jagung Manis (Zea mays sacharata Sturt.) terhadap Pemberian Pupuk Organik 2004 DPP UMM
5. Kajian Potensi Hasil Buah Apel Batu Pada Sistem Pertanian Organik Dan An-Organik 2004 DPP UMM
6. Respon Beberapa Varietas Tanaman Paprika (Capsicum Annuum Var. Grossum L.) terhadap Pemberian Pupuk Organik pada Sistem Modifikasi Organic Greenhouse 2003 PDM DIKTI – Depdikbud
7. Induksi Mutagenik Beberapa Varietas Semangka dengan Perlakuan Kolkisin 2003 DPP UMM
8. Kajian Kuantitas dan Kualitas Hasil Beberapa Varietas Padi Sawah dengan Perlakuan Inokulasi Anabaena Azollae dan Pemberian Campuran Pupuk Kandang 2002 DPP UMM
9. Dekomposisi An-aerob Beberapa Limbah Organik dengan Inokulasi Campuran Mikroba Pengurai dan Uji Penerapan Komposnya pada Beberapa Varietas Tomat 2002 DPP UMM
10. Efektifitas Inokulasi Mikroba Tanah terhadap Dekomposisi Beberapa Limbah Organik serta Pengaruh Komposnya terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat 2001 PDM DIKTI-Depdikbud
11. Respon Beberapa Varietas Padi Sawah terhadap Pemberian Pupuk Organik dan Pupuk Hayati 2000 DPP UMM
12. Dekomposisi Kotoran Sapi dengan Inokulasi Campuran Mikroba Tanah dan Penggunaan Komposnya pada Tanaman Bawang 1999 DPP UMM
13. Pengaruh Inokulasi Berbagai Jenis Mikroba Tanah pada Dekomposisi Kotoran Sapi dan Pengujiaannya pada Tanaman Bawang Merah 1998 PDM DIKTI
14. Pengaruh Konsentrasi Nitrogen Terhadap Produksi Protein Mikroalga Anabaena azollae 1997 DPP UMM
15. Asosiasi Azolla-Anabaena sebagai Sumber Nitrogen Alami dan Pemanfaatannya sebagai Bahan Baku Protein 1997 PDM DIKTI
16. Pengaruh Pemberian Kompos Azolla sp. terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi IR64 1996 DPP UMM
17. Pengaruh Dosis Beberapa jenis Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Varietas Tanaman Semangka 1995 DPP UMM
18. Perlakuan Mutasi dengan Perlakuan Colchicine pada Beberapa Varietas Semangka 1994 DPP UMM

D. Daftar Karya Ilmiah / Publikasi Ilmiah
No Judul Publikasi, Tahun, Media / Jurnal
1. Zainudin, A. dan Maftuchah. 2006. Pengembangan metode isolasi DNA genom pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). GAMMA Jurnal Ilmu Eksakta 2(1) : 20-32
2. Zainudin, A. 2006. Optimasi Proses PCR-RAPD Pada PLB Tanaman Anggrek Oncidium sp. Hasil Perlakuan Penetesan Mutagen Kimia Colchicine. GAMMA Jurnal Ilmu Eksakta 1 (2) : 91-103
3. Maftuchah, A. Zainudin, J.B. Sulistiyanto and A.H. Kaswari. 1999. In Vitro Culture of Artemisia (Artemisia vulgaris L.) Through Callus Induction. Proceedings The International Biotechnology Conference. Jakarta.
4. Maftuchah, A. Winaya, A. Zainudin. 1999. Pengujian Berbagai Komposisi Media Selektif Terhadap Daya Tumbuh Sel Mikroalga Anabaena azollae. Prosiding Seminar Nasional PIT-PERMI, Padang
5. Maftuchah, A. Winaya, A. Zainudin. 1999. Kadar Nitrogen dan Kandungan Protein Mikroalga Anabaena azollae Pada Berbagai Konsentrasi Cobalt dalam Medium Bebas Nitrogen. Prosiding Seminar Nasional PIT-PERMI, Padang.
6. Maftuchah, A. Winaya, A. Zainudin. 1999. Pengaruh Tingkat Kemasaman Media Kultur Terhadap Biomassa dan Kandungan Protein Mikroalga Anabaena azollae. Prosiding Seminar Nasional PIT-PERMI, Padang
7. Zainudin, A. 1996. Pembentukan Semangka Poliploid dengan Perlakuan Mutasi Kimia Menggunakan Senyawa Kolkisin, Tropika II (2): 27-38

Malang, 29 September 2007

Ir. Agus Zainudin, MP.

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar

Pemanfaatan Ekstrak Pigmen Bunga Kana Merah (Canna coccinea Mill.) Sebagai Tablet Effervescent

A. JUDUL PROGRAM :
Pemanfaatan Ekstrak Pigmen Bunga Kana Merah (Canna coccinea Mill.) Sebagai Tablet Effervescent

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Di Indonesia tanaman kana (Canna coccinea Mill.) merupakan salah satu tanaman hias yang potensial. Tanaman ini memiliki warna bunga yang sangat beragam mulai dari merah tua, merah muda kuning, sampai dengan kombinasi dari warna-warna tersebut, karena keindahannya tersebut, maka tanaman kana mulai dipergunakan sebagai ornamen taman kota, dan sebagai tanaman hias dalam pot. Terlebih akhir-akhir ini di beberapa kota termasuk Kota Batu dilakukan penanaman bunga kana (“kananisasi”) di sepanjang jalan raya. Beragamnya warna bunga kana mengindikasikan bahwa bunga tersebut mengandung pigmen alami (antosianin, antosantin) yang dapat digunakan sebagai zat pewarna alami alternatif maupun sebagai antioksidan alami.
Pigmen bunga kana merah memiliki kandungan senyawa Flavonoid, tepatnya antosianin. Antosianin merupakan jenis dari flavonoid yang penting untuk diperhatikan sebab mempunyai beberapa respon positif bagi tubuh. Antosianin dan beberapa flavonoid lainnya banyak dikabarkan akhir-akhir ini bermanfaat didunia kesehatan seperti fungsinya sebagai antikarsinogen, antiinflamasi, antihepatoksik, antibakterial, antiviral, antialergenik, antitrombotik, dan sebagai perlindungan akibat kerusakan yang disebabkan oleh radiasi sinar UV dan sebagai antioksidan (Holton 1995; Macdougall 2002).
Antioksidan merupakan zat yang anti terhadap zat lain yang bekerja sebagai oksidan. Adanya antioksidan alami maupun sintetik dalam makanan dapat menghambat oksidasi lipida, mencegah kerusakan, perubahan dan degradasi komponen organik dalam bahan pangan sehingga dapat memperpanjang waktu simpan. Antioksidan alami dapat diperoleh dari ekstrak bagian tanaman rempah-rempah atau tanaman obat-obatan seperti akar, batang, daun, bunga, dan biji.
Biasanya kebanyakan orang mengenal tanaman ini sebagai tanaman hias belaka. Hanya sedikit orang yang mengetahui khasiat tanaman kana (Canna coccinea Mill.), walaupun demikian cara mereka memafaatkannya masih sangat tradisional dan jauh dari kesan yang praktis. Di zaman modern semacam ini banyak orang yang menuntut semuanya serba praktis dan instan termasuk masalah kesehatan pada diri mereka. Cara yang praktis dan instan tersebut sangat diminati masyarakat karena sebagian besar masyarakat memiliki mobilitas kehidupan yang sangat tinggi. Sehingga di sini peneliti mencoba untuk menginstankan bunga kana (Canna coccinea Mill.) menjadi salah satu produk effervescent agar lebih praktis dan mudah untuk dikonsumsi. Dengan bantuan tekhnologi yang semakin canggih diharapkan program ini dapat terealisasikan, serta dapat diharapkan pula effervescent Bunga kana instan ini lebih memudahkan masyarakat dalam mengkonsumsinya.
Berkembangnya obat-obat fitoterapi dan semakin berkembangnya perusahaan obat tradisional di Indonesia menunjukkan bahwa, penduduk Indonesia makin menyadari pentingnya gerakan back to nature dan mengetahui efek samping dari penggunaan bahan kimia baik dalam makanan maupun obat-obatan. Apalagi mengetahui bahwa kekayaan hayati negeri kita banyak yang memiliki khasiat dan fungsi sebagai sumber pangan dan menunjang vitalitas tubuh, serta dapat mencegah dan mengobati suatu penyakit, diantaranya adalah tanaman Kana Merah. Oleh karena manfaat bunga kana begitu besar bagi kesehatan untuk itulah peneliti membuat tablet Effervescent dari bunga kana merah.

C. PERUMUSAN MASALAH
Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam pembuatan tablet effervescent dari ekstrak pigmen bunga kana adalah sebagai berikut :
1. Jenis pelarut apakah yang efektif digunakan untuk mengekstrak pigmen bunga kana merah ?
2. Bagaimana pengaruh prosentase filler ( bahan pengisi) terhadap kualitas tepung pigmen yang dihasilkan ?
3. Bagaimana pengaruh prosentase penggunaan Na-bikarbonat terhadap kualitas tablet effervescent dari ekstrak bunga kana merah ?

D. TUJUAN PROGRAM
Tujuan Khusus yang ingin dicapai pada penelitian ini, antara lain :
1. Mengetahui cara metode yang tepat dalam melakukan ekstraksi pigmen bunga kana merah, khususnya jenis pelarut yang digunakan..
2. Mengetahui pengaruh prosentase filler (bahan pengisi) terhadap kualitas tepung pigmen bunga kana merah.
3. Mengetahui pengaruh prosentase penggunaan Na-bikarbonat terhadap kualitas tablet effervescent dari ekstrak bunga kana merah.
4. Menghasilkan produk tablet effervescent dari ekstrak pigmen bunga kana merah, agar
meningkat daya gunanya untuk masyarakat.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat diketahui metode ekstraksi yang tepat untuk memperoleh pigmen bunga kana merah secara maksimal, terutama jenis pelarut dan prosentase filler yang digunakan, untuk kemudian dapat dioptimalkan fungsinya sebagai bahan baku tablet efferevescent karena mengandung senyawa bioaktif yang dapat meningkatkan vitalitas atau menyehatkan masyarakat. Hasil penelitian akan dipublikasikan dalam bentuk artikel ilmiah.

F. KEGUNAAN PROGRAM
Adapun kegunaan yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah :
1. Aspek akademik : Menerapkan salah satu mata kuliah dari Jurusan Teknologi Hasil Pertanian bidang studi Analisa Pangan ( Hasil Pertanian) dan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian.
2. Aspek ekonomi : Dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dengan peningkatan budidaya tanaman (khususnya bunga Kana Merah) sebagai sumber bahan baku obat yang alami. Dan dapat menyediakan, menyerap lapangan kerja baru, dengan merintis terbentuknya usaha industrialisasi secara berkala dengan berbasis ekosistem atau kekayaan hayati lokal.
3. Upaya pengembangan tanaman kana (Canna coccinea Mill.) dengan pengolahan yang lebih bermafaat bagi masyarakat.

G. TINJAUAN PUSTAKA
G.1. Bunga Kana dan Potensinya
Tanaman kana (Canna coccinea Mill.) banyak dikenal dengan nama lili kana, kembang tasbih, panah india, ganyong hutan, puspa mjindra, ganyong wono, ganyong alas, dan ganyong leuweung. Organ utama tanaman kana terdiri dari akar (rimpang), batang semu, daun, bunga, buah, dan biji. Perakaran tanaman kana disebut rimpang (geragih), batangnya mengandung air (herbaceous) dan terbentuk dari pelepah-pelepah daun yang saling menutupi satu sama lain sehingga disebut “batang palsu”.
Daun tersusun dalam tangkai pendek dan tumbuh berselang-seling, berbentuk oval dengan ujung runcing. Permukaan daun bagian atas berwarna hijau, tembaga gelap atau keungu-unguan, sedangkan permukaan bagian bawah tertutup lapisan putih seperti bedak. Kuntum bunga berbentuk mirip corong, terdiri dari tiga sampai lima helai mahkota bunga yang berukuran kecil sampai besar tergantung jenisnya. Warna mahkota bervariasi, antara lain kuning cerah, kuning tua, merah muda, merah tua, jingga, kuning berbintik-bintik coklat atau kombinasi dari warna-warna tersebut (Rukmana, 1997).
Umbi bunga tasbih mengandung pati (tepung halus) serta banyak zat lain, yaitu enam substansi phenol, dua terpene, dan empat coumarin. Selain zat-zat tersebut, zat lain yang juga terdapat di dalamnya adalah glukosa, lemak, alkaloid, dan getah (Anonim, 2005).
Tanaman bunga kana, mudah tumbuh di sekitar halaman kita, jadi sebenarnya bisa dimanfaatkan. Terlebih akhir-akhir ini di beberapa kota termasuk Kota Batu dilakukan penanaman bunga kana (“kananisasi”) di sepanjang jalan raya. Padahal mahkota bunga yang beraneka warna berpotensi mengandung pigmen antosianin. Pada tahun 2002 hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak pigmen bunga kana merah tua terbukti mengandung antosianin berjenis pelargonidin glikosida, dengan kadar gula yang lebih banyak daripada bunga pacar air, yaitu sebesar 3,2%. Juga dapat menyumbangkan warna makanan-minuman (sari buah, susu fermentasi, jelly/agar-agar) meskipun hanya ditambahkan sebanyak 1-3%, tanpa menggunakan pewarna sintetis sama sekali. Karena sifatnya yang larut dalam air ini, maka pigmen antosianin dan antosantin relatif mudah dan berpeluang besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alamiah.
Yang lebih menggembirakan lagi adalah setelah diuji daya lindungnya terhadap komponen gizi yang mudah mengalami oksidasi, seperti vitamin C ) pada sari buah) dan lemak (pada susu fermentasi). Kandungan lemak pada susu fermentasi/yoghurt dapat dipertahankan 86,7%nya ( dengan kadar 0,117%, tanpa pigmen 0,087 %) setelah disimpan 6 hari pada suhu dingin maupun suhu kamar. Bahkan pigmen pekat yang telah disimpan selama 60 hari (suhu dingin/ cold storage) terbukti masih bagus menyumbangkan warna merah pada kue tradisional (apem, bolu kukus dan bikang).
Berdasarkan hasil uji organoleptik atau sensorik, penggunaan ekstrak bunga kana merah ini lebih sesuai digunakan untuk bahan pewarna alami produk minuman, misalnya sirup, sari buah dan yoghurt. Disamping rasanya yang sesuai, yaitu menyumbangkan warna dan rasa manis sedikit asam, juga penggunaan asam sitrat pada waktu ekstraksinya membantu menjadi bahan pengawet dan fungsi antioksidannya juga bersifat sinergis dengan pigmen antosianin ( Susanto, 1998; Rahardjo, 2004)
G.2. Pigmen Antosianin
G.2.1 Sifat Fisik Antosianin
Antosianin adalah kelompok pigmen yang berwarna merah sampai biru yang tersebar dalam tanaman. Pada dasarnya, antosianin terdapat dalam sel epidermal dari buah, akar, dan daun pada buah tua dan masak (Eskin, 1979 dalam Abbas 2003). Pada beberapa buah-buahan dan sayuran serta bunga memperlihatkan warna-warna yang menarik yang mereka miliki termasuk komponen warna yang bersifat larut dalam air dan terdapat dalam cairan sel tumbuhan (Fennema, 1976).
Menurut De Man (1997), pigmen antosianin terdapat dalam cairan sel tumbuhan, senyawa ini berbentuk glikosida dan menjadi penyebab warna merah, biru, dan violet yang banyak terdapat pada buah dan sayur. Antosianin berwarna kuat dan namanya diambil dari nama bunga. Sebagian besar, antosianin mengalami perubahan selama penyimpanan dan pengolahan. Beberapa studi mengatakan bahwa warna kuning, orange atau merah yang disebabkan oleh pigmen karotenoid ini terdapat dalam jumlah kecil (0,005-0,008% berat bahan segar) bersama-sama klorofil. Disamping itu, karotenoid terdapat pada jaringan yang tidak hijau sebagai kristal-kristal kecil dalam sitoplasma atau dalam membran yang membatasi kromoplas. Karotenoid yang terdapat pada bagian selain kloroplas dalam hal tertentu dapat terakumulasi sampai kurang lebih 0,1% berat bahan segar (Tranggono, 1990).
Berbeda dengan apa yang dikemukakan Macheix et.al (1990); Geissman (1969) bahwa antosianin ditampakkan oleh panjang gelombang dari absorbansi maksimal spektrum pada 500-550 nm dan pada spektrum ultraviolet 280 nm. Masing-masing jenis antosianin memiliki absorbansi maksimal seperti pada panjang gelombang jenis pelargonidin 520 nm (merah tua atau merah hati), sianidin 535 nm merah tua, dan delphidin 546 nm (biru lembayung muda). Intensitas warna dipengaruhi oleh kedaan pigmen dan yang paling berpengaruh adalah konsentrasi, pH dan suhu, sedangkan lainnya adalah cara penghancuran pigmen. Jenis antosianin ditentukan oleh harga Rf (retrogradation factor) pada fase gerak (mobil) yang nilainya dapat dilihat pada Tabel 1. berikut

Tabel 1. Harga Rf Antosianin dengan Beberapa Fase gerak/mobil
Jenis antosianin Rf (x100) dalam
BAA BuHCl 1% HCl
a. Monoglikosida
- Pelargonidin 3-glukosida
- Sianidin 3-glukosida
- Malvidin 3-glukosida
b. Diglikosida
- Pelargonidin 3,5 diglukosida
- Peonidin 3,5 diglukosida
- Delvidin 3,5 diglukosida
c. Triglikosida
- Sianidin3ramnosildiglukosida
d. Diglukosida terasilasi
- Pelargonidin 3 (p-umarilgluko-sida) 5-glukosida
44
38
38

31
31
15

25

40
38
25
15

14
10
3

8

46
14
7
6

23
8
8

36

61
Sumber : Harborne (1987).

G.2.2 Sifat Kimia Antosianin
Antosianin merupakan jenis dari flavonoid yang penting untuk diperhatikan sebab mempunyai beberapa respon positif bagi tubuh. Antosianin dan beberapa flavonoid lainnya banyak dikabarkan akhir-akhir ini bermanfaat didunia kesehatan seperti fungsinya sebagai antikarsinogen, antiinflamasi, antihepatoksik, antibakterial, antiviral, antialergenik, antitrombotik, dan sebagai perlindungan akibat kerusakan yang disebabkan oleh radiasi sinar UV dan sebagai antioksidan (Holton 1995; Macdougall 2002). Antosianin merupakan glukosida yang sebagian besar penyebab warna pada bunga merah dan biru, sedangkan antosianidin merupakan suatu tipe garam flavilium yang bukan merupakan gula dari glukosida. Warna tertentu yang diberikan oleh suatu antosianin, sebagian bergantung pada pH bunga. Warna biru bunga cornflower (bunga biru yang tumbuh di ladang gandum) dan warna merah bunga mawar disebabkan oleh antosianin yang sama, yakni sianin. Dalam sekuntum mawar merah, sianin berada dalam bentuk fenol. Dalam cornflower biru, sianin berada dalam bentuk anionnya dengan hilangnya sebuah proton dari salah satu gugus fenolnya. Dalam hal ini, sianin serupa dengan indikator asam basa (Fessenden,1982).
Frekuensi antosianin ketika bercampur, dikatakan oleh Fennema (1976), bahwa sebagain komponen campuran akan mengalami penambahan warna, misalnya kandungan anggur biru tidak hanya glikosida dari delfinidin tapi syringidin yang merupakan dimethyl eter dari delphinidin.
Menurut Winarno (2002), antosianin dan antoxantin tergolong pigmen yang tergolong senyawa flavonoid yang pada umumnya larut dalam air. Flavonoid mengandung dua cincin benzena yang dihubungkan oleh tiga atom karbon. Ketiga karbon tersebut dirapatkan oleh sebuah atom oksigen sehingga terbentuk cincin diantara dua cincin benzena. Struktur antosinin secara umum dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Struktur antosianin secara umum (Winarno, 2002)

Seluruh senyawa antosianin merupakan senyawa turunan dari kation flavilum. Banyak senyawa yang ditemukan, akan tetapi hanya enam yang memegang peranan penting dalam bahan pangan yaitu pelargonidin, sianidin, delfidin, pelargonidin, petunidin dan malvidin. Pigmen antosianin terdiri dari glikogen (antosianidin) yang teresterifikasi oleh satu atau lebih gula (Francis, 1985; Markakis, 1982).
Antosianidin pada umumnya ada enam. Antosianidin ini adalah aglikon antosianin yang terbentuk apabila antosianin dihidrolisis dengan asam. Antosianidin yang paling umum pada saat ini adalah sianidin yang berwarna merah lembayung. Warna jingga disebabkan oleh pelargonidin yang gugus hidroksilnya kurang satu dibanding sianidin, sedangkan warna merah senduduk, lembayung dan biru umumnya disebabkan oleh delfidin yang gugus hidroksilnya lebih satu dibandingkan dengan sianidin (Harborne, 1987).
Gross (1987), menyatakan bahwa lima puluh antosianin yang berbeda ditemukan dalam buah-buahan yang umum, aglikonnya diwakili oleh enam antosianidin umum seperti pelargonidin, sianidin, delfinidin, peonidin, pentunidin dan malvidin. Sianidin terdapat sebanyak 55%, peonidin dan delfinidin masing-masing sebanyak 12%, pelargonidin dan malvidin masing masing sebanyak 8% dan petunidin 6%. Strukturnya dapat dilihat pada Gambar 2.
Secara kimia, semua antosianin merupakan turunan suatu aromatik tunggal yaitu sianidin dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil atau dengan metilasi atau glikosilase (Harborne, 1987).

Pelargonidin Sianidin Delfinidin

Peonidin Petunidin Malvidin
Gambar 2. Struktur Kimia Pelargonidin, Sianidin, Depfidin, Peonidin, Petunidin dan Malvidin (Francis, 1985 and Markakis, 1982).
G. 3. Ekstraksi Pigmen
Proses ekstraksi adalah proses pengeluaran sesuatu dari campuran zat, dengan jalan ditambahkan bahan ekstraksi tepat pada waktunya. Hanya zat yang diekstrak yang dapat larut dalam bahan ekstraksi. Dalam proses ekstraksi terjadi peralihan dari fase yang satu ke fase yang lain, yang diperoleh dengan jalan penambahan penambahan bahan pelarut (solvent) (Wanto dan Romli, 1977).
Ekstraksi juga dapat diartikan sebagai proses pemisahan zat dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Berdasarkan bentuk campuran yang diekstrak, ekstraksi dibedakan menjadi dua macam, yaitu ekstraksi padat-cair: campuran yang diekstrak berbentuk padat, dan ekstraksi cair-cair: cairan yang diekstrak berbentuk cair. Ekatraksi berbentuk padat-cair paling sering digunakan untuk mengisolasi zat yang terkandung dalam bahan alami. Sifat-sifat seperti kepolaran, larutan bahan alami yang diisolasi berperan penting terhadap sempurnanya proses ekstraksi. Di samping pemilihan pelarut dan pengaturan suhu (Vogel, 1978).
Antosianin adalah senyawa polar yang lebih mudah diekstrak dalam suasana asam. Hasil penelitian Lestario, dkk (2005), menunjukkan bahwa ekstrak buah duwet dengan pelarut metanol-HCL 1% menghasilkan ekstrak dengan kadar antosianin tertinggi, diikuti oleh pelarut air, aseton-air (7:3), dan aseton.
Ekstraksi pigmen antosianin dari bahan nabati umumnya menggunakan pelarut HCl dalam metanol. Untuk kepentingan penelitian pangan, menurut Francis (1982), HCl dengan konsentarsi 1 % dalam larutan pengekstrak sudah mencukupi jika proses ekstraksi dilakukan selama 24 jam pada suhu 4oC. Penelitian Viguera et al. (1996), dalam mengekstrak bubur buah yang mengandung antosianin menggunakan pelarut metanol : asam asetat : air ( 25 : 1 : 24) selama 20 menit pada temperatur ruang.

G.4. Tablet Effervescent
Dasar formula minuman bubuk dan tablet efferfescent adalah reaksi antara senyawa asam (asidulan) dengan karbonat atau bikarbonat menghasilkan karbondioksida. Bila tablet dimasukkan ke dalam air, maka akan terjadi reaksi kimia secara spontan antara asam dan natrium membentuk garam natrium, CO2, serta air (Pulungan, Suprayogi dan Yudha., 2004)
Formula garam effervescent resmi yang ada unsur pembentuk effervescent terdiri dari 53% sodium bikarbonat, 28% asam tartrat dan 19% asam sitrat. Reaksi antara asam sitrat dengan sodium bikarbonat pada produk effervescent dapat dilihat pada berikut ini:
H3C6H5H2O + 3NaHCO3 Na3C6H5O7 + 4H2O + 3CO2
Asam sitrat Na bikarbonat Na sitrat air karbondioksida
Gambar 1. Reaksi antara asam sitrat dengan sodium bikarbonat (Ansel, 1989)
Tablet effervescent dapat dibuat dengan tanpa melibatkan cairan, dinamakan sebagai precompression atau prapengempaan. Proses ini terdiri dari pengeringan, pencampuran bahan-bahan tambahan, pengempaan serbuk atau granula sampai terbentuk tablet effervescent yang memiliki kemampuan menahan sifat-sifat effervescent. Kemudian segera dikemas dengan alumunium foil (Burlinso, 1968). Tablet effervescent yang ada di pasaran umumnya dikemas dalam kemasan tubedan alumunium foil dengan berat setiap tablet sekitar 5 gram
Keuntungan tablet effervescent adalah kemungkinan penyiapan larutan dalam waktu seketika. Selain itu tablet effervescent mempunyai kemampuan menghasilkan gas karbondioksida yang memberikan rasa seperti pada air soda. Adanya gas tersebut akan dapat menutupi beberapa rasa obat tertentu yang tidak diinginkan serta memperoleh proses pelarutan tanpa melibatkan proses pengadukan secara manual. Sedangkan kerugian tablet effervescent adalah kesukaran untuk menghasilkan produk yang stabil terhadap kelembaban udara. Bahkan selama reaksi berlangsung, air yang dibebaskan dari bikarbonat menyebabkan autokatalis dari reaksi (Lachman et al., 1986). Hal ini terutama dipengaruhi oleh unsur-unsur pembentuk effervescent yang terdiri dari sodium bikarbonat dan asam organik seperti asam sitrat sehinggga menghasilkan garam natrium, karbondioksida serta air (Ansel, 1989).
Tabel 2. Analisa Kimia dari Tablet effervescent Calcium-D-Redoxon (CDR)
Kekerasan Tablet 38 kg/cm2
Kadar Air 0.993 %
Viskositas 9.4
pH 6.8
Kecepatan Larut 0.028
Sumber : Data Hasil Analisa Kimia pada Laboratorium Kimia, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang (2007)

G.5. Pengeringan
Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas. Biasanya kandungan air dari bahan tersebut dikurangai sampai suatu batas tertentu agar mikroba tidak dapat tumbuh lagi didalamnya (Winarno, dkk, 1980).
Pengeringan merupakan salah satu cara pengawetan pangan yang paling tua. Cara ini merupakan suatu proses yang ditiru dari alam. Untuk pengeringan bahan pangan terdapat berbagai tipe pengering yang digunakan. Pada umumnyapemilihan tipe pengering ditentukan oleh jenis komoditi yang akan dikeringkan, bentuk air yang dikehendak, faktor ekonomi dan kondisi operasional.
Bahan pangan dapat dikeringkan didalam udara, dalam uap lewat panas, dalam panas, dalam gas inert, dan aplikasi panas langsung. Paa umumnya udara digunakan sebagai medium pengering, sebab jumlahnya cukup banyak. Mudah digunakan dan pemanasan yang berlebihan terhadap bahan pangan kedalam bahan pangan tidak ada suatu sistem pengambilan air yang diperlukan terhadap udara, seperti yang diperlukan dengan gas-gas lain. Pengeringan dapat dilakukan dengan berangsur-angsur, dan adanya kecenderungan menjadi gosong dan berubah warna selalu terkendali (Desrosier, 1988).
Faktor- faktor utama yang mempengaruhi kecepatan pengeringan dari suatu bahan pangan adalah; sifat fisik dan kimia dari produk (bentuk, ukuran, komposisi, kadar air), pengaturan geometris produk sehubungan dengan permukaan alat atau media perantara pemindahan panas (suhu, kelembaban dan kecepatan udara), karakteristik alat pengering (efensiasi pemindahan panas) (Buckle, et. All., 1987).

G.6. Bahan Penstabil
G.6.1 Sukrosa
Sukrosa mempunyai sifat sedikit higroskopis dan mudah larut dalam air. Semakin tinggi suhu, kelarutannya semakin besar. Menurut Tranggono (1990) satu gram sukrosa dapat larut dalam 0,5 ml air pada suhu kamar atau 0,2 ml dalam air mendidih, dalam 170 ml alkohol atau 100 ml metanol. Kristal sukrosa bersifat stabil diudara terbuka dan dalam keadaan yang langsung berhubungan dengan udara dapat menyerap uap air sebanyak 1% dari total berat dan akan dilepaskan kembali apabila dipanaskan pada suhu 90˚C (Sudarmadji, 1982).
Rumus struktur sukrosa dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 3. Rumus Struktur Sukrosa (Fennema, 1996).
Sukrosa merupakan salah satu jenis bahan penyalut tablet. Bahan ini dapat digunakan untuk melapisi tablet dengan tujuan untuk melindungi terhadap peruraian obat dengan oksigen atmosfer atau kelembaban, untuk membungkus rasa dan bau dari zat obat, atau untuk tujuan estetik (Ansel, 1989).

G.7. Bahan Pengisi
G.7.1 Maltodekstrin
Maltodekstrin (C6H12O5)nH2O memiliki berat molekul rata-rata kurang lebih 1800 untuk DE 10. Berat molekul ini jauh lebih kecil dari pati alami yang memiliki berat molekul sekitar 2 juta (Jacson dan Lee 1991). Menurut Hui (1992), maltodekstrin dapat digunakan pada makanan karena memiliki sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat yang dimiliki maltodekstrin antara lain maltodekstrin mengalami proses dispersi yang cepat, memiliki daya larut yang tinggi, mampu membentuk film, memiliki sifat higroskopis yang rendah, mampu membentuk body, sifat browning rendah, mampu menghambat kristalisasi dan memiliki daya ikat yang kuat.

G.8. Bahan Tambahan
G. 8. 1. Asam Sitrat
Asam sitrat adalah asidulan yang sering digunakan untuk makanan dan minuman karena dapat memberikan kombinasi sifat yang diinginkan selain karena tersedia dalam jumlah yang besar dengan harga yang murah. Asidulan dapat berfungsi sebagai pemberi rasa asam, penegas rasa dan mengontrol PH (Hui, 1992). Asidulan yang dapat berfungsi sebagai pemberi rasa asam, penegas rasa dan warna, pengawet serta dapat digunakan untuk menyelubungi after taste yang tidak disukai (Winarno, 2004).
Rumus struktur asam sitrat dapat dilihat pada gambar berikut:

COOH

CH2

HO C COOH

CH2

COOH
Gambar 4 . Struktur Bangun Asam Sitrat (Tjokroadikoesoemo, 1986).

Menurut Marthawindholz (1983), kristal monohidrat akan kehilangan air kristalnya dalam udara kering atau dipanaskan pada suhu 40 – 50˚C. Menurut Maga and Tu (1995) asam sitrat digunakan sebagai asidulan utama dalam minuman berkarbonasi juga minuman bubuk yang memberikan rasa jeruk yang tajam. Menurut Reynold (1989) asam sitrat yang digunakan dalam effervescent umumnya yang dalam bentuk monohidrat. Morhle (1989) menambahkan bahwa asam sitrat sering dipergunakan sebagai memberi asam dalam pembuatan serbuk atau tablet effervescent karena memiliki kelarutan yang tinggi dalam air dingin, mudah didapatkan dalam bentuk granula atau serbuk. Kelemahan asam sitrat adalah sifatnya yang sangat higroskopis sehingga memerlukan perhatian yang cukup dalam penyimpanannya.

G. 8. 2. Sodium Bikarbonat
Sodium bikarbonat (NaHCO3) merupakan serbuk kristal berwarna putih yang memiliki warna asin dan mampu menghasilkan karbondioksida. Sodium bikarbonat memiliki berat molekul 84,01g (tiap gramnya mengandung 11,9 mmol sodium), sodium bikarbonat anhidrat terkonvensi pada suhu 250˚C – 300˚C. Pada RH diatas 85% akan cepat menyerap air dari lingkungannya dan menyebabkan dekomposisi dengan hilangnya karbondioksida (Reynolds, 1989). Menurut Hui (1991), bahwa sodium bikarbonat juga dapat mengalami dekomposisi karena adanya panas yaitu pada suhu lebih tinggi dari 120˚C.
Berdasarkan Morhle (1989), senyawa karbonat yang banyak digunakan dalam formulasi effervescent adalah garam karbonat kering karena kemampuannya menghasilkan karbondioksida. Garam karbonat tersebut antara lain Na-bikarbonat (NaHCO3) dipilih sebagai senyawa penghasil karbondioksida dalam sistem effervescent karena harganya murah dan bersifat larut sempurna dalam air. Ansel (1989) menambahkan bahwa natrium bikarbonat bersifat non-higroskopis dan tersedia secara komersial mulai dari bentuk bubuk sampai bentuk granular dan mampu menghasilkan 52% karbondioksida.
Sodium bikarbonat sering juga disebut sebagai soda kue. Ada dua macam soda kue yaitu soda kue dengan aktifitas cepat (aktifitas tinggi) dan soda kue dengan aktifitas lambat (aktifitas ganda). Perbedaan keduanya adalah pada mudah tidaknya komponen asam atau pembentuk asam, larut pada air dingin (Winarno, 2004).

H. METODE PENELITIAN
H.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Agustus s/d Desember 2008, di Laboratorium Analisa Pangan dan Laboratorium Rekayasa Pangan Tekhnologi Hasil Pertanian jurusan Tekhnologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.

H.2. Alat dan Bahan Penelitian
H.2.1 Alat
Peralatan yang diperlukan dalam pembuatan tablet effervescent adalah kain saring, gelas ukur, sarung tangan karet, timbangan, blender kering, loyang, pengering vakum, ayakan 60 mesh, cetakan tablet (terdiri : landasan dari baja berlapis chrom stainless steel (ukuran panjang = 9 cm, lebar = 7 cm), cincin/ring dari logam stainless steel (ukuran diameter dalam = 2,7 cm, tingggi =2 cm), dan as penumpuk dari baja berlapis chrom stainless steel dengan (ukuran panjang = 10 cm, diameter luar = 2,6 cm) Sedangkan peralatan untuk analisa adalah gelas kimia, gelas ukur, erlenmeyer, beaker glass, pipet gongok, pH meter (pH315i/SET merek: wtw), color reader (CR-10 Konika Minolta) hardness tester (Kiya Seisakusho,Ltd Tokyo).

H.2.2 Bahan
Bahan utama yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah Bunga kana merah diperoleh dari petani bunga yang berada di Batu . Bahan-bahan tambahan lain yaitu Aguades, Isopropanol, Etanol, asam sitrat, sodium bikarbonat, sukrosa, dektrosa monohidrat. dan maltodekstrin.
H.3. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua tepung pigmen dan tablet effervescent yang dihasilkan dari kombinasi perlakuan yang dicobakan. Sampel dalam penelitian ini adalah tablet effervescent dan minuman yang dihasilkan.
H.4. Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahapan. Tahap penelitian awal meliputi tahapan ekstraksi dengan beragam jenis pelarut, guna mengetahui metode ekstraksi yang menghasilkan pigmen yang berkualitas. Kemudian penelitian berikutnya adalah memproses ekstrak pigmen terbaik menjadi tepung pigmen dan selanjutnya dibentuk menjadi tablet effervescent.
Pelaksanaan penelitian tahap pertama dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) sederhana, yaitu menggunakan faktor perlakuan adalah jenis pelarut.
Faktor I : jenis pelarut yang digunakan ekstraksi pigmen bunga kana merah
P 1 : Aquades dan asam sitrat ( 9 : 1)
P 2 : Isopropanol : aquades : asam sitrat ( 4 : 5 : 1)
P 3 : Etanol : aquades : asam sitrat ( 4 : 5 : 1)
Sehingga terdapat tiga (3) perlakuan yang akan diulang sebanyak tiga (3) kali
Pengamatan dilakukan terhadap kualitas pigmen yang dihasilkan meliputi, jenis pigmen, nilai pH, absorbansi pigmen ( filtrat, konsentrat) (Spektrofotometer UV) (Jenie, dkk, 1997), intensitas warna ( Lab)( Colour reader) (Fabre, et al, 1993), kadar dan rendemen pigmen. Kemudian setelah diketahui kualitas pigmen yang terbaik ( menggunakan analisis statistik), maka akan dilanjutkan pada tajhap penelitian kedua.
Penelitian tahap kedua disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok secara faktorial, dengan faktor yang masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali.

Perlakuan :
Faktor I. Prosentase filler yang digunakan pada saat penepungan pigmen
F1 = 20 %
F2 = 30 % (dekstrin)
Faktor II. Prosentase Na-bikarbonat yang digunakan pada pembentukan tablet effervescent.
N1 = 20 %
N2 = 25 %
N3 = 30 %
Sehingga diperoleh 6 kombinasi perlakuan, dan akan diulang sebanyak 3 kali.
Pengamatan terhadap kualitas tepung, meliputi pengukuran rendemen, nilai pH, nilai Lab ( intensitas warna) ( Colour reader) (Fabre, et al, 1993). Kemudian setelah menjadi tablet effervescent, dilakukan pengamatan terhadap nilai pH, tingkat kekerasan, kadar air, viskositas dan kecepatan larut ( setelah dimasukkan kedalam air) serta organolpetik ( tingkat kesukaan konsumen) terhadap kenampakan, aroma dan rasa .

H.5. Pengumpulan Data
Teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut :
a. Pengamatan data dilakukan terhadap kualitas pigmen bunga kana merah yang dihasilkan, meliputi nilai pH, absorbansi pigmen, intensitas warna (Lab), kadar, rendemen pigmen.
b. Pengamatan data dilakukan terhadap tepung pigmen, meliputi : nilai pH,
absorbansi pigmen, nilai Lab (intensitas warna)
c. Pengamatan terhadap tablet effervescent meliputi tingkat kekerasan . tekstur, daya larut, pH, intensitas warna (Lab), viskositas, organoleptik (tingkat kesukaan konsumen terhadap kenampakan, aroma dan rasa )

H.6. PENGUKURAN PENGAMATAN
H.6. 1. Penemuan Intensitas Warna (Fabre et al., 1993)
Warna sampel hasil ekstraksi ditentukan dengan alat ACS Datacolor Chroma Sensor 3, yang mngukur spectrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat warna seperti L, a dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan system tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-); axis b menunjukkan intensitas warna
kuning (+) atau biru (-).

H.6.2. Penentuan kadar air
Cara Pemanasan
a) Menimbang contoh sebanyak 2 g dalam botol timbang yang telah diketahui beratnya.
b) Kemudian mengeringkan dalam oven pada suhu 1000 C selama 5 jam. Kemudian mendinginkan dalam eksikator dan menimbang. Memanaskan lagi dalam oven selama 30 menit, mendinginkan dalam eksikator dan menimbang; mengulang perlakuan ini sampai tercapai berat konstan (selisih penimbangan berturut-turut kurang dari 0,2 mg).
c) Pengurangan berat merupakan banyaknya air dalam bahan (Sudarmadji, dkk, 1997).
Kadar Air = x 100%
H.6.3. Penentuan pH
Menentukan pH dilakukan dengan pH meter yang dilakukan dengan cara
a) Menghidupkan pH meter. Mengkalibrasi elektroda dengan larutan buffer pH 4 dan membersihkan dengan aquades. Kemudian mengkalibrasi lagi elektroda pada larutan buffer pH 7 dan bilas dengan aquades.
b) Siapkan larutan sampel yang akan diuji pada wadah. Mencelupkan alat pendeteksi (elektroda) kedalam larutan yang akan diuji kemudian membaca hasilnya (Apriyanto dkk, 1998).

H.6.4. Penentuan Absorbansi Pigmen
Menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang tertentu (400-600 nm). Cara kerjanya : siapkan larutan sampel dan larutan blangko dalam kuvet/tabung, kemudian kuvet-kuvet tersebut dimasukkan secara bersama supaya alat tera. Dengan menggunakan panjang gelombang tertentu akan diperoleh nilai absorbansi larutan sampel yang maksimal. Jika larutan standar juga disediakan, maka dengan membandingkan nilai absorbansinya dengan larutan sampel, maka akan dapat diketahui juga kadar antosianinnya dalam larutan sampel.

H.6.5. Penentuan Rendemen (Hanum, 2000)
Perhitungan rendemen berdasarkan berat/volume input dan output yang dihasilkan proses ekstraksi (ekstrak atau konsentrat), dengan rumusan :
Rendemen (%) = konsentrasi antosianin x fp x volume ekstrak x 100 %
Berat bunga pacar air
Dimana : fp = faktor pengenceran (Hanum, 2000)

H.6.6. Pembuatan Tablet Effervescent Ekstrak Pigmen Bunga K ana Merah
Ekstrak kering pigmen bunga kana yang telah diperoleh kemudian dibuat menjadi tablet effervescent dengan cara sebagai berikut:
1. Dicampurkan ekstrak kering bunga kana dengan asam sitrat. Dihomogenisasi dan penggerusan dengan mortal.
2. Dikeringkan pada suhu 60oC selama 1 jam
3. Dicampurkan sodium bikarbonat dan sukrosa dengan cara digerus menggunakan mortal sampai bahan tercampur merata. .
4. Dilakukan penggranulasian kering dengan cara campuran diatas dicetak sebesar tiga kali lipat dari tablet kemudian didiamkan selama 30 menit dan selanjutnya dihancurkan menjadi bentuk granula diatas ayakan 40 mesh dengan alu sehingga didapatkan granula inti 40 mesh
5. Pengepresan menjadi bentuk tablet dengan tebal ±0,5 cm, diameter ±2,5cm, dan bobot ±5 gram.
6. Dikemas tablet effervescent mangkudu dengan aluminium foil.
7. Dianalisa sifat fisik, kimia, dan organoleptik.
Diagram alir proses pembuatan ekstrak kering mengkudu serta proses pembuatan tablet effervescent dapat dilihat pada Gambar. 5 dan 6.

H.6.7. Analisa
Analisa yang dilakukan baik untuk tablet effervescent bunga kana merah (Canna coccinea Mill.) meliputi analisa fisik, kimia, dan organoleptik. Analisa fisik antara lain viskositas, kekerasan tablet, kecepatan larut, dan warna. Sedangkan analisa kimia yang dilakukan adalah kadar air, dan pH. Analisa organoleptik meliputi analisa kesukaan terhadap: kesukaan bentuk tablet, kenampakan minuman, aroma minuman, dan rasa minuman.
1) Analisa Fisik
Analisa fisik yang dilakukan pada tablet effervescent meliputi, warna, kecepatan larut, viskositas minuman dan kekerasan tablet.

a. Warna (Yuwono dan Susanto, 1998)
Warna tablet diukur dengan dengan alat ACS Datacolor Chroma Sensor 3 yang mengukur spektrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat seperti L, a, dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan sistem tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-), axis b menunjukkan intensitas warna kuning (+) atau biru (-). Peneraan warna dilakukan menggunakan kuvet yang pada masing-masing sisinya dirtutup dengan warna putih.

b. Kecepatan Larut (Yuwono dan Susanto, 1998)
Kecepatan larut tablet effervescent dilakuan dengan cara melarutkan tablet dalam 200 ml air. Waktu yang diperlukan tablet untuk larut sampai habis dicatat, kemudian kecepatan larut tablet dihitung dengan rumus berikut:

Kecepatan larut = berat tablet (g)
Waktu larut (detik)

c. Viskositas Metode Pipet Volum (Yuwono dan Susanto, 1998)
Viskositas minuman effervescent diukur menggunakan metode pipet volum, karena viskositas minuman effervescent sangat rendah. Caranya adalah dengan memasukkan larutan tablet ke dalam pipet gondok 25 ml, kemudian bagian atas pipet ditutup dengan jari. Larutan kemudian dialirkan dengan cara membuka penutup, kemudian waktu yang digunakan sampai larutan keluar dari pipet dicatat. Waktu ini kemudian digunakan untuk mengukur viskositas larutan dengan ketetapan:
Viskositas (cps) = 0,8901 x 10223,3 x (waktu larut (dt)/997,1)
4,37
d Kekerasan Tablet Effervescent Bunga Kana (Canna coccinea Mill.) (Yuwono dan Susanto, 1998)
a). Pengukuran kekerasan bahan dilakukan dengan Hardness Tester berdasarkan gaya per satuan luas (kg/cm2) yang dibutuhkan untuk memecahkan tablet. Semakin keras maka semakin besar gaya yang dibutuhkan.
b). Meletakkan sampel pada penumpu Hardness Tester, kemudian memutar perlahan untuk menaikkan landasan sampai menyentuh landasan bagian atas, tapi jarum tetap menunjuk di angka nol.
c). Memutar pegangan perlahan-lahan sampai sampel patah, bersamaan itu jarum penunjuk gaya kembali ke nol.
d). Angka terakhir jarum penunjuk adalah gaya yang dibutuhkan untuk mematahkan sampel.

2) Analisa kimia
Analisa Kimia pada tablet effervescent meliputi:
a. Penentuan pH Tablet dan larutan (Sudarmadji, 1982)
Mula-mula dilakukan standarisasi pH meter, yaitu dengan menyalakan dan membiarkan pH meter beberapa saat agar stabil. Elektroda dibersihkan dengan tissue kemudian dimasukkan dalam larutan buffer dan pengukuran pH dilakukan. Pengaturan standarisasi pH meter disesuaikan dengan pH larutan buffer.
Sampel dimasukkan dalam beaker glass. Elektroda dibilas dengan aquades dan dikeringkan dengan kertas tissue. Elektroda dicelupkan kedalam larutan sampel dan pengukuran pH dilakukan. Elektroda dibiarkan tercelup beberapa saat sampai diperoleh pembacaan angka yang stabil dan pencatatan pH sampel.

b. Penentuan Intensitas Warna Minuman (Yuwono dan Susanto, 1998)
Warna sampel hasil ekstraksi ditentukan dengan alat ACS Data Color Chroma Sensor 3 yang mengukur spektrum sinar dengan cara merefleksikan dan mengkonversinya ke set koordinat seperti L, a, dan b. Koordinat-koordinat ini menunjukkan sistem tiga dimensi yang mengandung semua warna. Nilai L mewakili lightness, yaitu 0 untuk hitam dan 100 untuk putih, axis a menunjukkan intensitas warna merah (+) atau hijau (-), axis b menunjukkan intensitas warna kuning (+) atau biru (-). Peneraan warna dilakukan menggunakan kuvet yang pada masing-masing sisinya dirtutup dengan warna putih.

3) Kadar Air
Kadar air tablet diukur menggunakan metode oven kering. Caranya adalah sebagai berikut:
a. Menimbang 2 gram sampel dan dimasukkan ke dalam cawan, dan dinyatakan sebagai berat awal.
b. Mengoven sampel pada suhu 100 – 110ºC selama ± 5 jam.
c. Menimbang sampel yang sudah kering dan dinyatakan sebagai berat akhir.
d. Menghitung kadar air pada tablet dengan rumus sebagai berikut:
% kadar air = berat awal-berat akhir x 100%
Berat sampel

c. Uji Organoleptik (Soekarto, 1985)
Uji yang dilakukan terhadap tablet dan larutan tablet minuman effervescent bunga kana (Canna coccinea Mill.) dilakukan secara panel test menggunakan uji sensoris kerelaan. Daftar pertanyaan diajukan menurut cara Hedonic Scale Scoring. Hasilnya dinyatakan dalam angka, yaitu 7 (sangat menyukai), 6 (menyukai), 5 (agak menyukai), 3 (agak tidak menyukai), 2 (tidak menyukai), 1 (sangat tidak menyukai).

H.6.8. Penentuan Perlakuan Terbaik (De Garmo, Sullivan dan Canada, 1984)
Pemilihan perlakuan terbaik ditentukan dengan menggunakan metode indeks efektivitas dan perlakuan dengan perhitungan sebagai berikut:
1. Memberikan bobot nilai pada masing-masing parameter mutu dengan nilai relative dari 0 hingga 1. Bobot nilai yang diberikan tergantung dari kepentingan masing-masing parameter yang hasilnya diperoleh sebagai akibat perlakuan.
2. Menentukan bobot normal variable. Yaitu bobot variable dibagi bobot total.
3. Menghitung Nilai Efektifitas (NE) dengan rumus:
Nilai Efektifitas = Nilai perlakuan – nilai terjelek
Nilai terbaik – nilai terjelek
4. Menjumlahkan nilai hasil (NH) dari semua variable perlakuan terbaik dipilih dari perlakuan dengan nilai tertinggi.

Pencucian

Penghancuran

Air Penyaringan Ampas

Filtrat

Dekstrin : 20 %, 30 %

Pencampuran

Pengeringan
(60o selama 6-8 jam)

Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Gambar 5. Diagram Alir Pembuatan Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Ekstrak Kering Bunga Kana Merah

Homogenisasi

Pengeringan (60oC, ± selama 1-2 jam)

– Sodium bikarbonat
20 %, 25%, 30%
– Sukrosa

Penggranulasian Kering

Granula Inti 40 mesh

Pencetakan Tablet

Tablet effervescent Bunga Kana Merah

Gambar 6. Diagram Alir Pembuatan Tablet Effervescent Bunga Kana Merah

I. JADWAL KEGIATAN
I.1. Rencana Kegiatan
Rencana kegiatan keseluruhan memerlukan waktu kurang lebih 5 bulan. Dilaksanakan di Laboratorium Analisa Pangan dan Rekayasa Pangan Tekhnologi Hasil Pertanian Jurusan Tekhnologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, bersama anggota dan dosen pembimbing.

I.2. Jadwal Pelaksanaan

No Kegiatan Bulan Ke-1 Bulan Ke-2 Bulan Ke-3 Bulan Ke-4 Bulan Ke-5
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan √
2. Perizinan √
3. Survey lokasi √ √
4 Penyusunan proposal √ √
5. Penelitian pendahuluan √ √
6. Persiapan alat √ √
7. Pembelian bahan baku √ √
8. Proses pembuatan produk √ √ √ √ √
9. Analisa kimia dan fisik √ √ √ √ √ √
10. Pengolahan data √ √
11. Penyusunan laporan akhir √ √
12. Seminar √ √
13. Penggandaan proposal √ √

J. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK
1. Ketua pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Husni Thamrin
b. NIM : 05730010
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 12 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• TK Nurul Iman Bekasi lulus tahun 1991
• SD Negeri Narogong Indah Bekasi lulus tahun 1997.
• SMP Negeri 16 Bekasi lulus tahun 2000
• SMU Pangeran Jayakarta lulus tahun 2003
Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

2. Anggota
a. Nama Lengkap : Ika Ratna Austin
b. NIM : 05730001
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 10 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• TK Dharma Wanita lulus tahun 1992
• SD Negeri Pagerngumbuk 1 Wonoayu lulus tahun 1999.
• SMP Negeri 1 Krian lulus tahun 2002.
• SMU Negeri 3 Sidoarjo lulus tahun 2005.
• Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

3. Anggota
a. Nama Lengkap : Eka Rini Wibisono
b. NIM : 06730019
c. Fakultas/Program Studi : Pertanian/THP
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu Kegiatan PKM : 10 jam/minggu
f. Riwayat Pendidikan :
• SD Muhammadiyah 08 Dau Malang lulus tahun 2000
• SLTP Negeri 8 Malang lulus tahun 2003
• SMA Negeri 3 Malang lulus tahun 2006
• Fakultas Pertanian Jurusan THP-UMM sampai sekarang

K. Biodata Dosen Pendamping
1. Nama : Ir. Elfi Anis Saati,MP
2. NIP-UMM : 131944789
3. Tempat/tanggal lahir : Pasuruan, Jawa Timur, 21 Juni 1966
4. Jenis kelamin : Perempuan
5. Pangkat/Golongan : Pembina / IV-a
6. Jurusan/Fakultas : Teknologi Hasil Pertanian
7. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
8. Alamat rumah : Perum.Muara Sarana Indah F 11, Jetis,Desa
Mulyoagung, Kec. Dau- Malang, Telp. (0341)
461472
9. Waktu Kegiatan PKM : 6 jam/minggu
10. Riwayat Pendidikan : 1. Strata 1 Jurusan Gizi Masyarakat
&Sumberdaya Keluarga (GMSK) IPB,
Bogor, lulus tahun 1989.
2. Strata 2 Program Studi THP Pasca Sarjana
Universitas Brawijaya, Malang,lulus tahun 2002.
11. Pengalaman Pekerjaan : – Dosen Jurusan THP Faperta UMM, tahun 1991
hingga sekarang.
– Sekretaris Jurusan THP Faperta UMM, tahun
2001 – 2002
- Ketua Jurusan THP Faperta UMM, tahun 2002
hingga sekarang (2007)
12. Pengalaman Penelitian dan Publikasi :

Publikasi :
1.Ekstraksi dan Identifikasi Pigmen Antosianin Bunga Pacar Air (Proseding).
Disampaikan pada Seminar Nasional PATPI. 30-31 Juli 2002.
2.Potensi Bunga Pacar air Sebagai Pawarna Alami pada Produk Minuman.
TROPIKA Vol. 10, No.2, Majalah Ilmiah Terakrediatsi Fakultas Pertanian,
Universitas Muhammadiyah Malang ( Juli 2002).
3. Karakterisasi Pigmen Antosianin dari Bunga Pacar Air (Impatien balsamina
Linn).TROPIKA. Vol. 12, No.1, Majalah Ilmiah Terakreditasi Fakultas
Pertanian,Universitas Muhammadiyah Malang ( Januari 2004).
4. Bunga Mawar sebagai Pewarna Alami. Surya dan Kompas, 13 Oktober 2004.
5. Penggalian Potensi Bunga Kana sebagai pewarna Alami alternatif (Kajian
Stabilitas dan Efektivitas Bentuk Pigmen serta Aplikasinya pada Produk
Pangan). Proseding.Disampaikan pada Seminar Nasional dan Konggres PATPI
17-18 Desember 2004 di Jakarta.
6. Pengaruh Tingkat Kesegaran Bunga Mawar Merah (Rosa damascena Mill)
terhadap Kualitas Zat Warna dan Daya Antioksidasinya pada Minuman.
Proseding. Disampaikan pada Seminar Nasional dan Konggres PATPI 17-18
Desember 2004 ( sebagai makalah POSTER) di Jakarta.
7. Pemanfaatan Kekayaan Hayati/Bunga lokal (mawar, kana dan pacar air)
sebagai Zat pewarna dan Antioksidan alami pada Makanan. Proseding.
Disampaikan pada Seminar Kimia Nasional 3 Pebruari 2005 di Universitas
Surabaya (Unesa).

Penelitian :
1. Pengaruh Pupuk Organik terhadap Kualitas Semangka dan Selera Konsumen (1998 )
2. Pengaruh Konsentrasi Garam dan Medianya terhadap Kualitas Telur Asin ( 1999 )
3. Pengaruh Beberapa Penelitian Pendahuluan terhadap Kualitas Susu
Kedelai (2000)
4. Pemanfaatan Lidah Buaya Sebagai Minuman : Kajian Pengaruh Suhu
dan Essence Jeruk terhadap Kualitas Sari Lidah Buaya (Aloe vera)
(2002)
5. Studi Pengetahuan dan Perilaku Keamanan Pangan Jajanan Murid
Sekolah di SD Muhammadiyah 08 Malang (2001)
6. Pemanfaatan Bunga Mawar (Rosa sp.) Sortiran Sebagai Pewarna Alami (2002)
7. Pemanfaatan Bunga Kana sebagai Zat Pewarna Alami Alternatif ( 2003)
8. Pemanfaatan Pigmen Bunga Mawar Rontok sebagai Pewarna Alami pada Makanan Jajanan (2004).
9. Uji Efektivitas Ekstrak Pigmen Bunga Mawar Sortiran sebagai Zat Pewarna Alami Alternatif pada Produk Minuman (2005). Dosen Muda-DIKTI.

13. Pengalaman Pengabdian :

1. Pelatihan Pembuatan Susu Kedelai di Desa Tumpak Rejo kecamatan Kalipare Kabupaten Malang (2001)
2. Pelatihan Pembuatan Keripik Talas dengan Aneka Rasa di Desa Kalipare Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang (2001)
3. Pelatihan Pembuatan Kecap Air Kelapa di Dusun Kedungmonggo Desa KarangPandan Kecamatan Pakisaji kabupaten Malang (2002).
4. Pelatihan Penanganan Pasca Panen Tanaman Obat dengan Topik Metode Pengawetan, pengeringan dan pengemasan, di Pondok Pesantren annuqayah (KSM/Kelompok Swadaya Masyarakat lengkong) Guluk-guluk Sumenep Madura (2002).
5. Pelatihan Pembuatan Lidah buaya intans dan STMJ pada mahasiswa peserta KKN Universitas Muhammadiyah Malang (2003).
6. Sosialisasi Pemanfaatan Kekayaan Hayati/Bunga lokal (mawar, kana dan
pacar air) sebagai Zat pewarna dan Antioksidan alami pada Makanan,
Kosmetik dan Kerajinan Lain, di SMA Negeri 3 Lumajang dan di SMA
Negeri Bangil Pasuruan, tahun 2005

L. RENCANA ANGGARAN BIAYA
Alokasi Jumlah Harga Jumlah
1. Honor Dosen Pendamping
2. Bahan dan alat habis pakai
* Bunga Kana Merah
* Aquades
*Asam Sitrat
* Sodium bikarbonat 20%, 25 %, 30%
* Maltodekstrin
* Sukrosa
* Kertas whatnan no 41/42
* Petroleum eter
* Isopropanol
* Etanol
Sub total
3. Alat habis pakai
* Timbangan Analitik
* Penyaring Vakum tipe VWR Scientific
Scientific
* Blender
* Rotary evaporator Vacum
* Spektrofotometer UV-vis merk shimadju
* Cetakan Tablet
* pH meter/CG 832 School Gerale
* trimulus Colorimeter/color Reade CR-10
* Oven
Sub total
4. Perjalanan dan konsumsi :
Pelaksana (3) orang
Pendamping (1 orang)
Sub total
5. Analisa Kimia
* Kadar air
* Kadar gula
Sub total
6. Lain-lain
Publikasi hasil penelitian
Dokumentasi
Laporan, fotocopy, penjilidan, pengiriman
Sewa lab dan pemeliharaan alat pemakaian
Pemakaian telpon, fax, internet
Tinta printer, kertas
Sub total

60 tangkai
20 lt
200 g
1 Kg
1 Kg
1 Kg
20 lbr
250 ml
500 ml
500 ml

1 buah
36 Jam @ 5.000

10 hari @ 10.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000
36 Jam @ 5.000

3 orang @50.000x 5 bln
5 bln @ 50.000

2 roll film + cuci cetak
10 expl
5 bln @ 40.000

B/W, warna 3 rim Rp. 1.000.000,-

Rp. 120.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 200.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,- +
Rp. 1.020.000,-

Rp. 70.000,-
Rp. 180.000,-

Rp. 100.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 180.000,- +
Rp. 1.430.000,-

Rp. 750.000,-
Rp. 250.000,- +
Rp. 1.000.000,-

Rp. 200.000,-
Rp. 300.000,- +
Rp. 500.000,-

Rp. 200.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 200.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 200.000,- +
Rp. 1.050.000,-
Total Rp. 6.000.000,-
Total Dana Yang diperlukan Untuk Penelitian ini sebesar Rp. 6.000.000,-

M. Daftar Pustaka

Anonim. 2005. Bunga Tasbih. http//ipteknet.com
Anonim, 2006. Gelembung Gas Effervescent. Kompas. 7 September 2006.

Ansel, H.1989. Pangantar Bentuk-Bentuk Sediaan Farmasi Edisi ke-4. UI
press. Jakarta.

Buckle, K. A. Edwards, G. H Fleet and M. Wotton. 1987. Ilmu Pangan.
Diterjemahkan oleh Purnomo, A. Adiono. UI-Press. Jakarta.

De Man, J. M. 1989. Principle of Food Chemistry (terjemahan Kosasih).
Van Norstand Reinhold. A Division of Wadswort., Inc., New York.

Eskin, N. A. M., 1979. Plant Pigments, Flavors and Tekstures. The
Chemistry and Biochemistry of Selected Compounds. Academic
Press. London.

Fennema, O. R. 1996. Food Chemistry. Marcel Dekker, inc. New York.

Fessenden and Fessenden. 1982. Kimia Organik edisi ketiga. Erlangga.Jakarta
Francis, F. J. 1982. Analysis of Anthosianin. Di dalam Markakis, P., (ed). Anthocyanin as Food Colour. Academic Press. New York.
___________. 1985. Analysis of Anthosianin. Di dalam Fennema, O.R. Principle of Food Science. Marcell Dekker Inc., New York.

Giese, J. 1996. Antioxidants: Tool Food Preventing Lipid Oxidation. Antioxidants are Critical in Preserving Lipid-Containing Food from Rancidity ang Extending Shelf life. J. Food Tech. 50 (11): 73-810.

Gross, J. 1987. Pigment in Fruits. Academic Press. London.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fetokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Penerbit Institut Teknologi Bandung. Bandung.
Hidayat, Nur; dan Dania, W.A.P., 2005. Minuman Berkarbonasi dari Buah Segar. Trubus Agrisarana, Surabaya.

Hui, Y. H. 1992. Encyclopedia of Food Scince and Technology Vol. I. Jhon Wiley and Sons, Inc. New York.

Jacson, L., and K. Lee. 1991. Microeacapsulation and Food Industry. Lebenson-Wiss-U-Technol. 24:289-297.

Marthawindholz, E. 1983. An Encyclopedia of Chemical, Drugs, and Biologicals The Merck Indeks. 10 th Ed. Merck and Co, Inc. New York

Markakis, P., 1982. Anthocyanins as Food Additive. Di dalam Markakis,P. (ed). Anthocyanins as Food Colors. Academic Press, New York.

Morhle, R. 1989. Effervescent Tablets. Dalam Nugroho, S. 1999. Penambaan Komponen Berprotein Pada Minuman Serbuk Effervescent. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.

Pohan, H.G dan Antara, N.T., 2001. Pengaruh Penambahan Madu dan Asam Sitrat Terhadap Karakteristik Minuman Fungsional Dari Sari Buah Mengkudu. Forum Komunikasi Industri Hasil Pengolahan (no 4):11-20.

Pulungan, M.Hindun., Suprayogi danBeni Yudha. 2004. Membuat Effervescent Tanaman Obat. Trubus Agrisarana. Surabaya.

Rukmana, R.H. 1997. Bunga Kana. Kanisius. Yogyakarta.
Sa’ati E.A. 2005. Optimalisasi Fungsi Ekstraksi Bunga Kana (Canna coccinea Mill) Sebagai Zat Pewarna Dan Antioksidan Alami Melalui Metode Isolasi Dan Karakteristik Pigmen. Program Penelitian Fundamental Lemlit UMM. Malang.

Tjokroadikoesoemo, P.S.,1986. HFS dan Industri Ubi Kayu Lainnya. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Tranggono. 1990. Kimia, Nutrisi dan Makanan. PAU Pangan dan Gizi. UGM-Press. Yogyakarta.

Vogel, A.I. 1978. Texbook of Practical Organic Chemistry. Revised by Furnies, B.S. fourth Edition. New York.

Wanto dan M. Romli. 1977. Alat-alat Industri Kimia I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Winarno, F.G. dan Fardiaz, S., 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Pt. Gramedia, Jakarta.
Winarno, F.G., 1993. Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
—————-., 2002. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Winarno, F. G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 5 Komentar

Pengaruh penggunaan tapiokal aloevera

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan (kerusakan Lesi kulit permukaan tubuh). Jenis lesi (luka) : klasifikasi (pembagian) lesi berdasarkan kedalaman dan etiologinya, yaitu :
1. Luka lecet : luka yang yang disebabkan karena adanya eksvoliatif jaringan superfisial kulit.
2. Luka bakar : luka bakar grade II A yaitu luka yang mengenai epidermis dan lapisan atas dari corium. Elemen-elemen epithelial yaitu dinding dari kelenjar keringat, lemak, folikel rambut masih banyak. Karenanya penyembuhan (epitelialisasi) akan mudah dalam 1 – 2 minggu, tanpa terbentuk sikatriks.
Di lihat dari kedalaman lukanya, kedua jenis luka di atas merupakan jenis luka superfisial yang bisa di terapi secara topikal.
Penggunaan topikal Aloe vera membantu kecepatan penyembuhan luka bakar derajat II A dan luka lecet, juga mengobati luka pada kulit, beberapa jenis dermatitits, psoriasis, alergi tumbuhan, bisul dan masalah dermatologis lainnya. Penyembuhan dimungkinkan karena Aloe vera mengandung senyawa antiinflamasi, termasuk glikoprotein, salisilat, dan senyawa lain yang merangsang pertumbuhan kulit dan jaringan konektif. (Hafiz, 2003)
Aloe vera merupakan jenis tumbuhan yang mempunyai penyebaran geografis luas. Hampir 350 persen dari jenis Aloe vera tersebar di seluruh penjuru dunia. Aloe vera banyak tumbuh di tempat yang beriklim panas seperti Indonesia. Cara menanamnya juga tidak terlalu sulit, dan untuk merawatnya juga tidak terlalu banyak syarat. Dalam perkembangannya, Aloe vera banyak dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, kosmetik, industri makanan dan minuman. Aloe vera mengandung sumber gizi dan antioksidan yang bagus dalam memperbaiki metabolisme tubuh.
Selain itu, kandungan vitamin C, E, dan zinc-nyz juga berguna bagi penyembuhan luka. Zat-zat ini juga memiliki efek antifungal dan antibakterial untuk mencegah infeksi pada luka. Sebagai nilai tambah, Aloe vera dapat melembapkan kulit, meredakan nyeri pada lesi, serta merangsang pertumbuhan sel-sel kulit.(Hafiz,2003)
Kandungan vitamin dan mineralnya yang tinggi menjadikan sebagai bahan favorit dalam industri kosmetik, terutama sebagai emolien, penyegar, dan pelembap kulit. Jika digunakan secara teratur, Aloe vera mempercepat luruhnya sel-sel kulit mati dan memperbaharui pertumbuhan sel-sel kulit yang baru. Berkat fungsi bakerisidanya, Aloe vera juga mujarab untuk kulit berjerawat, tidak hanya menyembuhkan tetapi juga meregenerasi kulit. (Hafiz,2003)
Melihat kenyataan bahwa Aloe vera mudah di budidayakan di Indonesia dan telah ada penelitian yang membuktikan bahwa Aloe vera dapat mempercepat penyembuhan luka bakar dan luka lecet, maka kami ingin melakukan penelitian lanjutan mengenai pengaruh penggunaan Aloe vera secara topikal pada luka bakar derajat II A dan luka lecet terhadap kecepatan penyembuhan luka. Untuk mengetahui frekuensi yang efektif untuk meningkatkan kecepatan penyembuhan luka.

1.2 Rumusan Masalah
Adakah pengaruh penggunaan topikal aloevera pada luka bakar grade II A dan luka lecet terhadap kecepatan penyembuhan luka?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Menilai efek penggunaan topikal Aloe vera pada penyembuhan luka bakar grade II A dan luka lecet.

1.3.2 Tujuan Khusus
• Mengetahui kecepatan pengaruh penyembuhan luka bakar grade IIA dan luka lecet pada pemberian topikal aloevera.
- 1-2 kali sehari
- 3-4 kali sehari
- > 4 kali sehari

1.4 Manfaat Penelitian
a. Memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya tenaga medis mengenai hubungan antara tingkat (frekuensi) penggunaan topikal Aloe vera pada luka bakar dan luka superfisial terhadap waktu penyembuhan luka dan ada-tidaknya bekas luka.
b. Sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat, khususnya tenaga medis dalam pemilihan atau pemberian terapi penyembuhan luka bakar dan luka superfisial.
c. Sebagai dasar penelitian lanjutan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Kulit
Kulit terdiri dari dua lapisan, yaitu epidermis dan dermis. Epidermis, yang merupakan lapisan terluar, dan aksesorisnya (rambut, kuku, kelenjar sebasea, dan kelenjar keringat) berasal dari lapisan ectoderm embrio. Dermis berasal dari mesoderm. (
Gambar 1. Anatomi kulit
a. Epidermis
Epidermis merupakan epitel pipih (squamose) berlapis, dengan beberapa lapisan yang terlihat jelas. Epidermis terdiri dari epithel squamouse complex cornifikasi. Yang terdapat 4 macam sel yaitu:
• Keratinosit
Sel utama yang merupakan hasil pembelahan sel pada lapisan epidermis yang paling dalam stratum basale (lapisan basal), tumbuh terus kearah permukaan kulit, dan sewaktu bergerak keatas keratinosit mengalami proses yang disebut diferensiasi terminal untuk membentuk sel-sel lapisan permukaan (stratum korneum).

• Melanosit: terdapat pada stratum basale, folikel rambut, jaringan ikat dermis.
Ciri-ciri : – Sel bulat banyak cabang yang disebut dendrite
- Inti bulat, kecil
- Sitoplasma ada melanosom → malanosit → ke sel-sel keratinosit → pigmentasi kulit
 Sel langhans
Lokasi : epitel berlapis pipih pada kulit (stratum spinosum), oesofagus, vagina
Sel : bulat banyak cabang, sitoplasma jernih
Fungsi : imunologi (Ag permukaan)
 Sel Merkel
Lokasi : stratum germinativum kulit tebal
Ciri khas : inti tidak teratur, banyak desmosom
Fungsi : reseptor mekanis.
Lapisan epidermis terdiri dari :
a. Stratum basale: lapisan dengan sel-sel bentuk kubis atau silinder, sering melakukan mitosis untuk pembaharuan epitel setiap 15-30 kali. Hubungan epitel dengan jaringan ikat di bawahnya disebut Hemidesmosom, dengan epitel lain disebut Desmosom.
b. Stratum spinosum: beberapa lapis sel polygonal dengan banyak tonjolan atau spina. Hubungan antar sel disebut desmosom. 1 dan 2 disebut stratum Malphigi.
c. Stratum Granulosum: terdiri dari beberapa lapis sel, dengan bentukan pipih, sejajar di permukaan. Sitoplasma ada butir-butir keratohyalin
d. Stratum Lusidum: dengan lapisan jernih/ homogeny, sel gepeng tidak ada inti atau mati. Struktur sel hilang sehingga menjadi homogeny.
e. Stratum corneum: sel-sel sudah mati, dengan bentukan pipih, menyatu membentuk lapisan tanduk. (Gembong, 1989)
f. Dermis
Dermis merupakan lapisan dibawah epidermis dengan tebal 0,5-3 mm.Ada 2 lapisan pada dermis yaitu stratum papillare dan stratum reticulare. Dermis juga terdapat chromatophori (pigmen dari melanosit) dan M. arector pili berfungsi agar rambut lebih tegak.
a. Stratum papillare: lebih superficial dengan tonjolan-tonjolan yang terdiri dari sabut-sabut kolagen dan elastic seta retikulare. Terdapat akhiran saraf yang disebut nervous papil dan pembuluh darah yang disebut vascular papil.
b. Stratum reticularis: lebih profunda terdiri dari serabut-serabut kolagen dan retikulare dan lebih banyak elastic pada permukaan untuk elastisitas kulit dan lipatan kulit (garis langer). Pada telapak tangan dan kaki membentuk sidik jari. (Gembong, 1989)
Pada kulit terdapat rambut yang berupa benang keratin yang hampir tumbuh di seluruh tubuh yang berasal dari invaginasi epidermis dimana warna dan ukurannya tergantung dari ras, usia, sex, dan lokasi. Struktur rambut antara lain :
- Medula terdiri dari 2-3 lapisan sel kuboid dengan pigmen.
- Kortex beberapa lapisan sel pipih, dengan keratin dan pigmen
- Kutikula lebih superficial ada kornifikasi, tidak ada inti dan sel jernih.
(Gembong, 1989)
Bagian-bagian dari rambut antara lain rambut bebas atau batang rambut, akar rambut atau folikel rambut. Yang didekatnya ada M.arector pili dan kelenjar lemak, juga terdapat bulbus dan papil. Struktur pada rambut dari dalam keluar yaitu medulla, kortex, kutikula, inner rooth sheat: lapisan Huxley dan lapisan Henle, outher rooth sheat, glassy membrane, dan connective tissue sheath. Pada kulit juga terdapat kelenjar-kelenjar yaitu:
1. Kelenjar sebacea/kelenjar lemak : bentuk compound acinar, kelenjar holokrin dan berfungsi meminyaki rambut

2. Kelenjar sudorifera/keringat: dengan bentuk simple coiled tubular dan kelenjar merokrin. Ada juga kelenjar keringat yang apokrin terdapat di axilla dan di papilla mammae (kelenjar montgomerry). (Gembong, 1989)

2.2 Lesi (Luka)
2.2.1 Pengertian atau Definisi Lesi
Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan (kerusakan kulit permukaan tubuh). Jenis luka dapat dibedakan berdasarkan beberapa kategori. Misalnya berdasarkan penyebabnya.
2.2.2 Macam-macam Lesi dan Karateristiknya Masing-Masing
- Secara umum luka dapat di bagi menjadi dua, yaitu luka terbuka dan luka tertutup.
Kebanyakan luka adalah yang terbuka, yaitu dari kulit yang rusak keluar darah dan cairan tubuh lainnya. Di sinilah kuman bisa masuk sehingga bisa menimbulkan infeksi. (Wikipedia, 2007)
Pada luka tertutup, darah keluar dari sistem sirkulasi tetapi tidak keluar dari tubuh sehingga disebut luka dalam. Sifat rudapaksa yang menyebabkan luka menentukan jenis dari luka dan tindakan untuk mengatasinya. Namun apapun jenis cederanya, kita harus selalu menjaga kebersihan secara cermat dan melindungi diri terhadap infeksi. (Wikipedia, 2007)
Sedangkan berdasarkan kategori ini, ada beberapa jenis luka, yaitu:
- ekskoriasi (luka lecet atau gores),
- vulnus scisum (luka sayat atau luka iris),
- vulnus laceratum (luka robek yaitu luka dengan tepi yang tidak beraturan),
- vulnus punctum (luka tusuk),
- vulnus morsum (luka karena gigitan binatang), dan
- combutio (luka bakar).
(Wikipedia, 2007)

2.2.2.1 Luka Bakar
Definisi
Luka bakar adalah suatu trauma yang dapat disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan-jaringan yang lebih dalan. Kulit atau jaringan tubuh yang terbakar akan menjadi jaringan nekrotik. (Settle, 1996)

Klasifikasi
1. Berdasarkan dalamnya luka bakar .
Tingkat I : hanya mengenai epidermis

Tingkat II : dibagi lagi
a. Superfisial; mengenai epidermis dan lapisan atas dari corium. Elemen-elemen epitelial yaitu dinding dari kelenjar keringat, lemak, folikel rambut masih banyak. Karenanya penyembuhan (epitelialisasi) akan mudah dalam 1 – 2 minggu, tanpa terbentuk sikatriks.
b. Dalam; sisa-sisa jaringan epitelial tinggal sedikit, penyembuhan lebih lama 3 – 4 minggu dan disertai pembentukan parut hipertropi

Tingkat III : mengenai seluruh tebalnya kulit, tidak ada lagi sisa elemen epithelial. Luka bakar yang lebih dalam dari kulit pun seperti subcutan, tulang disebut juga tingkat III.

2. Berdasarkan luasnya luka bakar
Wallace membagi tubuh atas bagian – bagian 9% atau kelipatan dari 9 yang terkenal dengan nama “Rule of Nine” atau ‘Rule of Wallace”.
Kepala dan Leher 9%
Lengan masing-masing 9% 18%
Badan depan 18%
Badan belakang 18% 36%
Tungkai masing-masing 18% 36%
Genetalia / perineum 1%
Jumlah 100%
3. Berat Ringannya Luka Bakar
Amerika College of Surgeon membaginya dalam :
1. Parah – critical
a. Tingkat II 30 % atau lebih
b. Tingkat III 10% atau lebih
c. Tingkat III pada tangan, kaki, muka
d. Dengan adanya komplikasi pernafasan, jantung, fracture, soft tissue yang luas.

2. Sedang – moderate
a. Tingkat II 15 – 30%
b. Tingkat III 5 – 10%

3. Ringan – minor
a. Tingkat II kurang 15%
b. Tingkat III kurang 5%
(Settle, 1996)
Gambar

Gambar 2. Luka bakar dangkal (superfisial) Pada daerah badan dan lengan kanan, luka bakar jenis ini biasanya memucat dengan penekanan

Gambar 3. Luka bakar superficial partial thickness. Memucat dengan penekanan, biasanya berkeringat.

Gambar.4. Luka bakar deep partial thickness. Permukaan putih, tidak memucat dengan penekanan

Gambar 5. Luka bakar full thickness. Tidak terasa sakit, gambaran putih atau keabu-abuan.
Prosedur Penanganan Luka Bakar
Prosedur Lengkap IRD :
1. Panggil dokter jaga yang bertugas di unit luka bakar.
2. Lakukan penanganan seperti menangani kasus gawat darurat pada umumnya, yaitu resusitasi sesuai urutan A, B, C.
3. Penderita dengan kriteria ringan diijinkan dirawat di poliklinik (MRS). Sedang yang lain tidak, terkait dengan ancaman shock yang mungkin timbul dan kerusakan yang hebat. Orang-orang tua lebih rentan (fragil) terhadap luka bakar, dewasa muda dengan 30% luka relatif mudah diatasi, sedang luka itu pada orang tua sudah amat parah. Hal ini diantaranya karena sudah terjadi perubahan-perubahan seperti arteriosclerosis, kerusakan jantung, ginjal, dan otak. Begitu juga anak-anak yang amat peka dengan kehilangan cairan.
4. Untuk penderita yang poliklinis (tidak perlu MRS) penderita dilakukan perawatan secara tertutup di IRD dengan :
a. Cuci luka dengan savlon. Kalau luka luas dan kotor dicuci dengan air kran/NaCl 0,9% dulu baru dibilas dengan savlon 1 : 30 (savlon : air steril)
b. Cream silver sulfadiazine atau tulle
c. Diberi antibiotic atas indikasi dan penderita bisa dipulangkan
5. Penderita yang perlu MRS setelah mengisi status IRD, sambil melakukan resusitasi penderita langsung dibawa ke Burn Unit
6. Dipasang IV line, karakter urine. Untuk kasus yang berat (luka bakar > 40%) dipasang CPV dan O2.
7. Cairan :
- Orang dewasa > 20% ) pada tingkat II & III harus diberikan cairan.
- Anak-anak > 15% )
Cairan yang dipilih : Ringer laktat berdasarkan rumus Baxter
- pada dewasa → 4 cc/kg BB/%/24 jam
- pada anak-anak → 2 cc/kg BB/% + kebutuhan cairan basal dengan perbandingan kristaloid : koloid = 17 : 3 (menurut Monerief)
½ nya diberikan 8 jam pertama
½ nya diberikan 16 jam berikutnya
Dalam hal ini semua yang paling penting ialah observasi produksi urine setiap jam.
Bila urine BHT > lidah buaya umur 4 tahun> alfa-tokoferol.Lidah buaya umur 3 tahun menunjukkan aktvitas penangkapan terhadap radikal bebas paling kuat (72,19 persen) dibandingkan BHT (70,52 persen) dan alfa-tokoferol (65,20 persen). (Saada et al., 2003).
Unsur-unsur yang ditemukan pada daun lidah buaya menunjukkan adanya hubungan yang saling sinergis dalam mempertahankan integritas status antioksidan dalam tubuh. Pengujian dengan menggunakan tikus irradiasi yang diberi filtrat jus daun lidah buaya sebanyak 0,25 ml/kg berat badan/hari, selama 5 hari sebelum irradiasi dan 10 hari setelah irradiasi, menunjukkan adanya perbaikan yang nyata terhadap aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD) dan katalase pada organ paru-paru, ginjal, dan jantung. (Saada et al., 2003).
SOD dan katalase merupakan enzim dan sekaligus antioksidan intraseluler yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit. . (Dep.Kes, 2007)
c. Penyembuh Penyakit Kulit
Gel lidah buaya memiliki aktivitas sebagai antibakteri, antijamur, meningkatkan aliran darah ke daerah yang terluka, dan menstimulasi fibroblast, yaitu sel-sel kulit yang bertanggung jawab untuk penyembuhan luka. Publikasi pada American Podiatric Medical Association menunjukkan bahwa pemberian gel aloe pada hewan percobaan, baik dengan cara diminum maupun dioleskan pada permukaan kulit, dapat mempercepat penyembuhan luka. (Dep.Kes, 2007)
Pemberian gel aloe secara oral (diminum) sebanyak 100 mg/kilogram berat badan selama dua bulan dapat mengurangi ukuran luka sebanyak 62 persen, dibandingkan 51 persen pada kelompok kontrolnya (tanpa pemberian gel). Pengolesan krim yang mengandung 25 persen gel aloe pada permukaan luka selama enam hari dapat mengurangi ukunan luka sebesar 51 persen dibandingkan 33 persen pada kelompok kontrolnya. . (Dep.Kes, 2007)
Publikasi pada Journal of Dermatolagic Surgery and Oncology juga menunjukkan bahwa aloe dapat mempercepat penyembuhan pasca operasi. Gel aloe juga dapat digunakan untuk campuran krim facial penyembuhanjerawat. Campuran krim facial dengan gel aloe dapat menyembuhkan jerawat, 72 jam lebih cepat dibandingkan kelompok tanpa aloe. (Dep.Kes, 2007)
Aloe juga dapat digunakan untuk mencegah kerusakan kulit akibat sinar X. Penelitian di Hoshi University Jepang menunjukkan, aloe mengandung senyawa antioksidan yang mampu menyingkirkan radikal bebas akibat radiasi, serta melindungi dua komponen penyembuh luka yang secara alami ada di dalam tubuh, yaitu superoksida dismutase (enzim antioksidan) dan glutation (asam amino yang menstimulasi sistem kekebalan). . (Dep.Kes, 2007)
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pemberian 0,5 persen ekstrak aloe ke dalam krim campuran minyak dan mineral dapat menyembuhkan penyakit psoriasis (sejenis penyakit kulit). (Dep.Kes, 2007)
d. Obat, Makanan, Minuman
Pemanfaatan lidah buaya semakin lama semakin berkembang. Mula-mula lidah buaya hanya dikenal sebagai obat luar, dengan berbagai kegunaan. Di antaranya sebagai penyubur rambut, penyembuh luka (luka bakar/tersiram air panas), obat bisul, jerawat/noda hitam, pelembab alami, antiperadangan, antipenuaan, serta tabir surya alami. (Dep.Kes, 2007)
Daun lidah buaya juga dapat diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman, berupa sejenis jeli, minuman segar sejenis jus, nata de aloe, dawet, dodol, selai, dan lain-lain. Makanan dan minuman hasil olahan lidah buaya sangat berpotensi sebagai makanan/minuman kesehatan. Hal tersebut disebabkan oleh kombinasi kandungan zat gizi dan nongizi yang memiliki khasiat untuk mendongkrak kesehatan. (Dep.Kes, 2007)
Kegunaan lidah buaya sebagai makanan/minuman antara lain berkhasiat untuk: cacingan, susah kencing, susah buang air besar (sembelit), batuk, radang tenggorokan, hepatoprotektor (pelindung hati), imunomodulator (pembangkit sistem kekebalan), diabetes melitus, penurun kolesterol, dan penyakit jantung koroner. (Dep.Kes, 2007)
Menurut beberapa penelitian, yang paling baik digunakan untuk pengobatan adalah jenis Aloevera barbadensis Miller. Lidah buaya jenis tersebut mengandung 75 zat yang dibutuhkan oleh tubuh. . (Dep.Kes, 2007)
Mengingat demikian besar manfaat lidah buaya bagi kesehatan, tidak ada salahnya kita memasukkan produk olahannya ke dalam pola makan sehari-hari. (Dep.Kes, 2007)

BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep

Narasi:
Aloe vera digunakan secara topikal pada luka bakar derajat IIA dan luka lecet. Karena Aloe vera dapat meningkatkan kelembapan kulit, sedangkan pada kaeadaan lembap kulit mengadakan epitelialisasi dengan cepat, dan enzim protease lebih mudah menyingkirkan jaringan nekrosis. Sehingga luka akan lebih cepat sembuh.

3.2 Hipotesis
Ada pengaruh penggunaan topikal Aloe vera pada luka bakar derajat II A dan luka lecet terhadap kecepatan penyembuhan luka.

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan design ”The Posttest Only Control Group Design”. Adapun skema desainnya sebagai berikut.

Keterangan :
Kelompok P1: diberikan aloevera secara topikal 1-2 kali sehari
Kelompok P2: diberikan aloever secara topikal 3-4 kali sehari
Kelompok P3: diberikan aloevera secara topikal > 4 kali sehari
Kelompok X : kontrol normal
O= Observasi

4.2 Populasi, Sampel dan Sampling
Populasi diambil dari tikus varian winstar, dengan penyamaan ciri subyek sebagai berikut :
1. Jenis kelamin jantan
2. Tikus dewasa dengan umur antara 10-11 minggu
3. Berat tikus antara 300-500 gram
Penentuan jumlah sampel setiap kelompok menggunakan rumus sebagai berikut :
(t-1)(r-1) ≥ 14
dengan t (treatment) sebanyak 4, maka didapatkan r (ulangan) ≥ 6.
Tikus-tikus tersebut dibagi dalam 8 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor tikus,yaitu :
• Kelompok X : kontrol normal (tikus dengan luka bakar derajat II A yang sudah di rekayasa, tanpa di beri Aloe vera)
Kelompok P1: tikus dengan luka bakar derajat II A (rekayasa) + di beri Aloe vera 1-2 kali sehari
Kelompok P2: tikus dengan luka bakar derajat II A (rekayasa) + di beri Aloe vera 3-4 kali sehari
Kelompok P3: tikus dengan luka bakar derajat II A (rekayasa) + di beri Aloe vera >4 kali sehari
• Kelompok X : kontrol normal (tikus dengan luka lecet yang sudah di rekayasa, tanpa di beri Aloe vera)
Kelompok P1: tikus dengan luka lecet (rekayasa) + di beri Aloe vera 1-2 kali sehari
Kelompok P2: tikus dengan luka lecet (rekayasa) + di beri Aloe vera 3-4 kali sehari
Kelompok P3: tikus dengan luka lecet (rekayasa) + di beri Aloe vera >4 kali sehari
Maka untuk 8 kelompok percobaan diperlukan 48 ekor Rattus novergicus.

4.3 Tempat dan Waktu Penelitian
4.3.1 Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Terpadu Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang.
4.3.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama Empat bulan

4.4 Variabel dan Definisi Operasional
4.4.1 Variabel Tergantung
Luka bakar tingkat IIA dan luka lecet
4.4.2 Variabel Bebas
Aloevera
4.4.3 Definisi Operasional
(luka) : Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan (kerusakan Lesi kulit permukaan tubuh).
a. Jenis lesi (luka) : klasifikasi (pembagian) lesi berdasarkan kedalaman dan etiologinya, yaitu :
3. Luka lecet : luka yang yang disebabkan karena adanya eksvoliatif jaringan superfisial kulit.
4. Luka bakar : luka bakar grade II A yaitu luka superfisial; mengenai epidermis dan lapisan atas dari corium. Elemen-elemen epithelial yaitu dinding dari kelenjar keringat, lemak, folikel rambut masih banyak. Karenanya penyembuhan (epitelialisasi) akan mudah dalam 1 – 2 minggu, tanpa terbentuk sikatriks.
Lidah buaya (Aloe vera) : merupakan tanaman family Liliaceae yang daging (gel-nya) digunakan secara topikal (perlakuan) pada proses penyembuhan luka. Pada penelitian ini lidah buaya yang digunakan adalah varian Barbadensis miller.
 Frekuensi penggunaan : frekuensi penggunaan lidah buaya terhadap luka bakar dan luka superfisial secara topikal, yaitu :
a. P1 = 1-2 x sehari
b. P2 = 3-4 x sehari
c. P3 = > 4 x sehari
 Kecepatan penyembuhan : lama hari luka tertutup epithel seluruhnya, yaitu :

4.5 Prosedur Penelitian (Tekhnik Pengumpulan Data)
Mengumpulkan tikus dan membatasi tikus yang akan diteliti yaitu tikus jantan dengan usia 10-11 minggu dan berat badan 300-500 gram. Kemudian tikus dibius dimasukkan ke dalam kotak yang berisi kapas yang telah dicelup ke dalam ether, lalu bulunya dicukur dengan ukuran 3×3 cm2. Setelah itu tikus diberi perlakuan dengan membuat luka pada kulit tikus berupa luka lecet dan luka bakar derajat II A.
Luka lecet dibuat dengan menggunakan amplas kertas dengan ketebalan 0,5 mm dan dilakukan dengan cara mengusapkan amplas yang permukaannya kasar pada kulit tikus yang sudah dicukur bulunya. Ukuran luka yaitu 1×1 cm 2.
Luka bakar derajat II A dilakukan dengan cara menempelkan paku usuk dengan diameter kepala 1 cm selama 2-3 detik. Dimana sebelumnya paku tersebut sudah direbus dengan suhu 100°C selama 5 menit. Paku direbus menggunakan bunsen Ukuran luka yaitu 1×1 cm 2.
.Setelah 1 jam, luka pada Rattus novergicus dioleskan getah Aloe vera yang telah sebelumnya diiris setebal 2 cm.Perlakuan diberikan dengan rincian sebagai berikut: Kelompok X : kontrol normal Kelompok. P1: diberikan Aloe vera secara topikal 1-2 kali sehari. Kelompok P2: diberikan Aloe vera secara topikal 3-4 kali sehari. Kelompok P3: diberikan Aloe vera secara topikal > 4 kali sehari.
Pemberian Aloe vera diulang secara kontinyu sampai luka sembuh (epitelialisasi sempurna) dan waktu penyembuhan pada masing-masing tikus dicatat.
4.6 Metode Analisa Data
Agar hipotesis dapat diuji , maka dilakukan analisa statistik dengan menggunakan independent t-test, One Way ANOVA.

4.7 Jadwal Kegiatan Program
Pada dasarnya penelitian ini efektif dilaksanakan dalam jangka waktu 4 bulan dengan rincian kegiatan sebagai berikut :
Jenis Kegiatan Bulan I Bulan II Bulan III Bulan IV
Minggu Minggu Minggu Minggu
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Persiapan
Pelaksanaan Kegiatan
Penyusunan Laporan
Presentasi Hasil Penelitian

DAFTAR PUSTAKA
Anto.2007.Luka Bakar.available from http/www. Asiamaya.com.URL.acces at google.com.
Arikunto, Suharsimi.2002.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.Jakarta : Rineka Cipta.Halaman108-109.
Sudjana.2002.Metoda Statistika.Bandung: Tarsito.(Hal.299-302)
Fenlon. 2007. Critical Care&Pain. London : British Journal of Anasthesi.(Hal.50-75)
Hafiz, Ida.2003. Aloe vera untuk Penampilan. Jakarta : Healthylife. Edisi 10/11. Halaman 36.
Rofieq, Ainur.2006. Penelitian Eksperimen. Malang : Jurnal Metodologi Penelitian
Rofieq, Ainur.2006. Konsep Dasar Statistika. Malang : Jurnal Metodologi Penelitian
Rofieq, Ainur.2006. Aplikasi Statistika dalam Penelitian Kesehatan. Malang : Jurnal Metodologi Penelitian
Sabiston, David C.1994. Buku Teks Ilmu Bedah. Jakarta : Binarupa Aksara. Halaman 76-99.
Settle. 1996. Principles and Practice Burn Management. New York : JAD.Halaman 98-109.
Sulisetiono.2006.Statistika.Malang: Universitas Negeri Malang. Halaman 12, 118.
Suwati, Irma. 2006. Proposal Penelitian. Malang: Jurnal Metodologi Penelitian
Suwati, Irma. 2006. Tehnik dan Prosedur Penelitian. Malang: Jurnal Metodologi Penelitian
Tjitrosoepomo, Gembong. 1989.Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.Halaman 7-75.
Unknown.2007.Panduan Mencari Jodoh.available from http://www.myjodoh.net. URL. acces at http://www.google.com.
Unknown.2007. Manfaat Lidah Buaya. available from http://www.DepKes. co.id. URL. acces at http://www.google.com.
BIODATA KETUA PELAKSANA PKM PENELITIAN

Nama Lengkap : RESTU PAMUJINING TYAS
Tempat Tanggal Lahir : Sumedang, 30 Oktober 1987
Suku Bangsa : Sunda
NIM : 05020029
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat Asal : Jl. Raya Ciherang RT 03 / RW 02, Sumedang.

PENDIDIKAN
1. 1993 – 1999 : SDN Sukaraja 1 Sumedang
2. 1999 – 2002 : SLTP Negeri 1 Sumedang
3. 2002 – 2005 : SMA Negeri 1 Sumedang
4. 2005 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

BIODATA ANGGOTA PELAKSANA PKM PENELITIAN

1. Nama Lengkap : WIFAQ THALIB
Tempat Tanggal Lahir : Pamekasan, 29 Juli 1987
Suku Bangsa : Madura
NIM : 05020017
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat Asal : Jl. Wijaya Kusuma Atas No.3 Malang

PENDIDIKAN
a. 1993 – 1999 : SDN 2 Barkot
b. 1999 – 2002 : SLTP Negeri 2 Pamekasan
c. 2002 – 2005 : SMA Negeri 1 Pamekasan
d. 2005 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

2. Nama Lengkap : HOTIMAH
Tempat Tanggal Lahir : Pontianak, 27 September 1988
Suku Bangsa : Madura
NIM : 05020043
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Bendungan Sutami Gg 2A No.51 Malang

PENDIDIKAN
a. 1993 – 1999 : SDN 1 Pontianak
b. 1999 – 2002 : SLTP Negeri 1 Putusibau
c. 2002 – 2005 : SMA Negeri 1 Putusibau
d. 2005 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

3. Nama Lengkap : SESANTI
Tempat Tanggal Lahir : Lamongan, 8 Nopember 1986
Suku Bangsa : Jawa
NIM : 05020037
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Bendungan Sutami Gg 1 Malang

PENDIDIKAN
a. 1993 – 1999 : SDN II Karanggeneng Lamongan
b. 1999 – 2002 : MTs Assalaam Solo
c. 2002 – 2005 : SMA Negeri I Lamongan
d. 2005 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

4. Nama Lengkap : CHURIN INFI AFIDATINA
Tempat Tanggal Lahir : Sidoarjo, 15 Maret 1989
Suku Bangsa : JAWA
NIM : 06020081
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat Asal : Jl. Bader 1 Bendomungal-Bangil, Pasuruan

PENDIDIKAN
e. 1994 – 2000 : MI Al-Fatah Kedung Pandan
f. 2000 – 2003 : SMP Negeri 2 Bangil
g. 2003 – 2006 : SMA Negeri 4 Pasuruan
h. 2006 – Sekarang : Universitas Muhammadiyah Malang

BIODATA DOSEN PENDAMPING PKM PENELITIAN

Nama dan Gelar : Ruby Riana Asparini, dr., Sp.BP.
Tanggal Lahir/Jenis Kelamin : Jakarta, 16 September 1968 / Perempuan
Alamat Rumah : Perumahan Belimbing Indah Blok A6 No.11
Fakultas/Jurusan : Kedokteran
Perguruan Tinggi :Universitas Muhammadiyah Malang
Riwayat Pendidikan :
 Ijasah Sekolah Dasar : tahun 1981
 Ijasah SMP : tahun 1984
 Ijasah SMA : tahun 1987
 Ijasah Dokter : tahun 1993 Universitas Airlangga
 Microsurgery course : 2004

Riwayat Pelatihan :
1. Microtia Referat DJ Forum Ilmiah Sabtu JBPI
2. Van der Woude:case series Case report MSNJBPI
3. Tahapan penanganan CLP Text Book reading Forum Ilmiah Sabtu22-03-2003
4. Skin Coverage in Acute Trauma Hand Textbook reading Forum Ilmiah Sabtu19-04-2003
5. Facial FlapsTextbook reading Forum Ilmiah Sabtu07-06-2003
6. The Fate of Dorsal Metacarpal ArteryJournal Reading Forum Selasa08-07-2003
7. Electrical Burns Textbook reading Forum Ilmiah Sabtu09-08-2003
8. Burn Management-General ManagementTextbook Reading Forum Selasa09-09-2003
9. Heparin in the Treatment in Burn Jounal reading Forum Ilmiah Sabtu08-11-2003
10. Congenital Hand DeformityTextbook reading Forum Selasa24-11-2003
11. Burn Treated with and without Heparin Journal reading Forum Selasa02-12-2003
12. Craniofacial Dysostosis Syndrome Textbook reading Forum Selasa09-02-2004
13. Anatomy of the Eyelids& ptosis Textbook reading Forum Selasa30-03-2004
14. Paired Abdominal Flap: case series Case report ISD Forum Ilmiah Sabtu PIT PERAPI Medan20-05-2004 Hand Course Jakarta20-08-2004
15. Tendon Transfer Textbook reading Forum Selasa 10-08-2004
16. Deepithelized Fasciocutaneous FlapsJournal Reading Forum Selasa07-09-2004
17. Experience with the seven flap-plasty for the contracture release Journal Reading Forum Selasa09-11-2004
18. Treatment of a neck burn contracture with a super-thin occipito-cervico-dorsal flap Journal reading Forum Selasa12-04-2005
19. Blow Out fractureText book reading Forum Sabtu11-06-2005
20. Finger Tip Injury Text book reading Forum Sabtu15-10-2005
21. Tendon Injury Text book reading Forum Sabtu19-11-2005
22. Rhinoplasty Text book reading Forum Sabtu22-10-2005
23. Blepharoplasty Text book reading Forum Sabtu21-01-2006
24. Universal Dermal Mastopexy Journal reading Forum Selasa14-03-2006
25. Double eyelids blepharoplastyJournal readingForum Selasa04-04-2006
26. The “Anterior-Only” Approach to Neck Rejuvenation- An Alternative to Face Lift SurgeryJournal readingForum Selasa02-05-2006

Riwayat Pekerjaan :
 Klinik Pusura 1994
 Rumah Sakit Bayangkara 1994
 Rumah Sakit Gatoel 1995
 PTT Puskesmas Bugul Pasuruan 1996-1999
 Staf Bedah PPD UMM 2007-sekarang
Riwayat Penelitian :
1. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar Proposal DP, Prof Indri Safitri Forum Sabtu 17-09-2005
2. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar Presentasi PenelitianDP, Prof Indri Safitri MABI Makasar 06-07-2006
3. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar Presentasi PenelitianDP, Prof Indri Safitri Medical Research Unit 19-08-2006
4. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Dan Epitelialisasi Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar KARYA AKHIR DP, Prof Indri Safitri Forum Jumat 08-09-2006
5. Pengaruh Heparin Terhadap Angiogenesis Pada Luka Bakar Derajat IIB Dan III Rattus Novergicus Wistar Presentasi Penelitian DP, Prof Indri Safitri PIT PERAPI Bali 23-05-2006

Rencana Anggaran

Agar terlaksananya Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian yang kami laksanakan membutuhkan dana dari DIKTI, dengan rincian sebagai berikut :

Penyusunan Proposal
a. Rental Komputer Rp. 200.000
b. Foto Copy Rp. 100.000
c. Penjilidan Rp. 100.000
d. Penggandaan Proposal Rp. 100.000
e. Flash Disk Rp. 300.000

Alat dan Bahan
a. Tikus varian Winstar Rp. 1.000.000
b. Scalpel Rp. 200.000
c. Kandang Tikus Rp. 1.000.000
d. Penggaris Rp. 50.000
e. Bunsen Api Rp. 500.000
f. Makanan tikus Rp. 500.000
g. Lidah Buaya (Aloe vera) Rp. 100.000

Analisa Data
a. Biro Analisa Statistik Rp. 500.000

Akomodasi
a. Transportasi Rp. 200.000
b. Konsumsi Pelaksana 5 Orang Rp. 300.000
c. Dokumentasi Rp. 100.000

Penyusunan Laporan
a. Rental Komputer Rp. 250.000
b. Foto Copy Rp. 100.000
c. Penjilidan Rp. 100.000
d. Penggandaan Laporan Rp. 100.000

Total Biaya Pelaksanaan Rp. 5.700.000

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 1 Komentar

Pengaruh Ibu Hamil Penderita Anemia Terhadap Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Di Daerah rawan pangan di Kab Lumajang Jawa Timur.

A. Judul Program

Pengaruh Ibu Hamil Penderita Anemia Terhadap Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Di Daerah rawan pangan di Kab Lumajang Jawa Timur.

B. Latar Belakang Masalah

Melahirkan seorang bayi merupakan suatu anugerah bagi sebuah keluarga. Karena itu menunjukkan bahwa mereka dapat mendapatkan keturunan yang sangat diharapkan dalam sebuah keluarga dan yang mereka harapkan adalah melahirkan bayi yang sehat. Salah satu faktor melahirkan bayi yang sehat adalah dengan cara mengkonsumsi makanan yang bergizi yang dibutuhkan oleh tubuh pada ibu hamil untuk menjaga kehamilannya tersebut. Soetjiningsih (1995) mengatakan bahwa gizi ibu yang baik diperlukan agar pertumbuhan janin berjalan pesat dan tidak mengalami hambatan, dimulai dari sel telur yang dibuahi hingga menjadi janin didalam rahim. Karena tidak semua ibu hamil memperhatikan kebutuhan gizi yang diperlukan saat hamil karena kurangnya pengetahuan mereka tentang hal tersebut. Sehingga menyebabkan banyaknya angka kematian ibu hamil pada saat persalinan.
Dimulai dari konsepsi hingga melahirkan, ibu dan anak merupakan satu kesatuan yang erat dan tak terpisahkan. Kesehatan ibu, fisik maupun mental, sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungannya. Agar bayi yang sehat dapat dilahirkan dalam dengan selamat, satu-satunya jalan yang dapat ditempuh hanyalah melalui pemeliharaan kesehatan ibu. Pengalaman dari beberapa generasi menunjukkan bahwa kerawanan dan ketergantungan janin pada ibu mengarah pada adanya kebutuhan dan perawatan khusus selama kehamilan.
Sejalan dengan kemajuan zaman, hasil kehamilan yang diharapkan tidak hanya bayi yang sekedar hidup, tetapi juga bayi yang sehat. Hal ini merupakan bukti peninggalan tanggung jawab sosial dan moral masyarakat. Bahwa gizi yang baik sangat berperan dalam proses yang efisien. Yang dapat dibuktikan dari hasil pengamatan waktu musibah, dalam keadaan demikian tidak datangnya haid pada wanita usia subur tidak jarang dijumpai. Dampak lain yang juga dapat di catat adalah meningkatnya angka lahir mati, angka kematian lahir dini, serta menurunnya berat lahir rata-rata (Aebi, H & R. G. Whitehead, 1980).
Kematian yang terjadi pada tahun pertama setelah kelahiran hidup disebut kematian bayi. Kematian bayi dan anak sampai umur lima tahun relatif sangat tinggi. Hal ini erat hubunganya dengan kemampuan orang tua dalam memberikan pemeliharaan dan perawatan pada anak-anaknya. Karena faktor sosial ekonomi berkaitan dengan kemampuan tersebut, maka kematian bayi dan anak sering kali digunakan sebagai indikator taraf kesehatan dan taraf sosio ekonomi penduduk (United Nation, 1973). Pengetahuan mereka mengenai makanan yang bergizi hanya berpatokan pada karbohidrat, protein, mineral, dan vitamin saja. Sedangkan seperti zat besi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh pada saat persalinan jarang mereka perhatikan. Sehingga berdampak pada banyaknya kurang darah pada saat hamil dan berpengaruh pada bayi yang akan dilahirkannya.
Gejala awal anemia zat besi berupa badan lemah, lelah, kurang energi, kurang nafsu makan, daya konsentrasi turun, sakit kepala, mudah terserang penyakit, mata berkunang-kunang. Selain itu wajah, selaput lendir kelopak mata, bibir dan kuku penderita sangat pucat (Soetjiningsih, 1997). Kalau anemia sangat berat, dapat berakibat penderita sesak nafas bahkan lemah jantung.
Selain kurangnya pengetahuan tentang kebutuhan gizi kurang yang menyebabkan ibu hamil menderita anemia, juga disebabkan oleh status sosial ekonomi keluarga yang minim. Dimana seorang ibu hamil sangat membutuhkan suatu asupan gizi yang sangat banyak. Tetapi dengan keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan, maka ibu tersebut kurang mendapatkan gizi yang seharusnya sangat diperlukan untuk pertumbuhan janin, atau bisa juga mengakibatkan kematian pada ibu tersebut pada saat persalinan. Setyowati (2003) menyatakan bahwa berbagai gangguan akan dialami wanita hamil dan janinnya, jika Si ibu menderita anemia. Pengaruh kurang baik ini berlangsung selama kehamilan, saat persalinan atau selama memasuki masa nifas dan masa laktasi serta waktu selanjutnya.
Ibu hamil dengan penderita anemia kemungkinan akan melahirkan bayi dengan berat bayi lahir rendah (BBLR) atau bisa jadi salah satu penyebab kematian ibu hamil di karenakan adanya pendarahan pada saat persalinan. Ariawan (2001) menuturkan bahwa anemia gizi pada kehamilan adalah kondisi ketika kadar hemoglobin lebih rendah dari pada normal karena kekurangan satu atau lebih nutrisi esensial.
Perbaikan gizi dan kesehatan pada ibu-ibu penderita sudah banyak dilakukan di Negara maju. Hal ini dapat terlihat dalam bertambahnya tinggi badan (TB) dan berat badan (BB) ibu hamil. Dibandingkan dengan di Negara berkembang, yang mana perbaikan gizi dan kesehatan yang dilakukan masih minim sekali, keadaan tersebut dapat mempengaruhi berat lahir yang berbeda secara bermakna.

NO BBLR Negara Maju (%) Negara Berkembang (%)
1 prematur 3,3 6,7
2 KMK /dismatur 2,6 17,0
Sumber : Villar 1982, dikutip dari Gould JB 1986.

Dengan demikian diperlukan suatu tinjauan tentang banyaknya ibu hamil yang menderita anemia yang mana dapat berpengaruh terhadap banyaknya angka kelahiran berat bayi lahir rendah. Sehingga dapat mempermudah dalam pemberian perbaikan gizi dan kesehatan pada ibu hamil, khususnya bagi penderita anemia. Sehingga akan dapat mengurangi banyaknya angka kematian yang terjadi, baik pada ibu yang melahirkan atau pada bayi yang di lahirkan.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu :
1. Berapa rata-rata ibu hamil penderita anemia dan bayi berat badan lahir rendah di rumah sakit daerah Lumajang ?
2. Adakah pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah ?

D. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui rata-rata ibu hamil penderita anemia dan bayi berat badan lahir rendah di rumah sakit daerah Lumajanag
2. Mengetahui adanya pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah

E. Luaran yang di Harapkan

1. Ingin menghasilkan sebuah data tentang ibu hamil penderita anemia dan bayi berat badan lahir rendah di rumah sakit daerah Lumajang.
2. Ingin menghasilkan sebuah artikel tentang pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Dr. Haryoto Lumajang

F. Kegunaan Penelitian

Adapun manfaat yang di harapkan dalam penelitian ini adalah :
1. RS Daerah Lumajang
Sebagai bahan informasi terhadap pelayanan kesehatan, khususnya kepada ibu hamil yang menderita anemia, dalam hal pemberian tablet penambah zat besi.
2. Dinas Kesehatan
Sebagai bahan informasi dinas terkait untuk melakukan suatu penyuluhan kesehatan pada ibu-ibu hamil, sehingga tidak meningkatkan angka kematian pada ibu hamil dan bayi yang akan dilahirkannya.
3. Masyarakat umum
sebagai suatu sarana untuk menambah pengetahuan tentang kesehatan, sehingga dapat menambah asupan gizi yang dibutuhkan pada saat kehamilan.

G. TINJAUAN PUSTAKA

1. Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian terdahulu dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya, meskipun ada beberapa perbedaan pada obyek dan variabel yang diteliti.
Menurut WHO (1968), kejadian anemia hamil berkisar antara 20 persen sampai dengan 89 persen, dengan menetapkan Hb 11 gr % sebagai dasarnya. Sehingga angka anemia kehamilan di Indonesia menunjukkan nilai yang cukup tinggi.
Muhilai Djumadias A. N, (1979), juga mengemukakan bahwa sekitar 70 persen ibu hamil di Indonesia menderita anemia kekurangan gizi. Pada pengamatannya lebih lanjut menunjukkan bahwa kebanyakan anemia yang diderita masyarakat Indonesia adalah karena kekurangan zat besi yang dapat diatasi melalui pemberian zat besi secara teratur dan peningkatan gizi. Selain itu di daerah pedesaan banyak di jumpai ibu hamil yang malnutrisi atau kekurangan gizi, kehamilan dan persalinan dengan jarak yang berdekatan, dan ibu hamil dengan pendidikan dan tingkat sosial ekonomi yang rendah, serta banyaknya kehamilan dibawah usia 18 tahun atau kehamilan diatas usia 35 tahun ().
Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dalam penelitiannya Iskandar (1998), mengemukakan, bahwa persentase ibu hamil yang menderita anemia sudah mengalami penurunan, yaitu dari 73,7 persen pada tahun 1986 menjadi 51,3 persen pada tahun 1995. namun dengan adanya krisis, diramalkan tingkat anemia ibu hamil akan meningkat pada tahun 1999 sampai dengan tahun-tahun berikutnya apabila tidak dilakukan adanya peningkatan gizi. Disamping itu, dalam penelitiannya yang lain yang dilakukan di jawa barat menunjukkan bahwa persentase tersebut akan terus meningkat karena banyaknya sistem penanganan kegawat daruratan di rumah sakit malah sering memeperburuk situasi. Sistem penanganan kegawat daruratan yang dimaksud adalah dalam persediaan tablet zat besi serta kurang lancarnya komunikasi antara petugas dengan pasien.
.
2. Landasan Teori

a. Anemia pada Kehamilan

Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi dan asam folat dalam makanan ibu. Anemia pada kehamilan merupakan masalah nasional, karena dapat mencerminkan nilai kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, serta mempunyai pengaruh yang besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Anemia pada ibu hamil biasanya disebut dengan “potential denger to mother and child” yaitu suatu potensial yang membahayakan ibu dan anak. Pada umumnya anemia pada ibu hamil disebabkan oleh berkurangnya cadangan zat besi yang sangat pesat dikarenakan kebutuhan janin akan zat besi sangat besar, juga karena bertambahnya volume darah pada plasma darah sehingga menurunkan Hb pada sel darah merah (Anonymous, 1984).
Menurut Kartaji, Sri, Kusin, I.A (1981) mengemukakan bahwa makanan yang banyak mengandung zat besi adalah sayuran berdaun hijau, sedangkan ikan dan buah-buahan dapat meningkatkan penyerapan zat besi. Sedangkan untuk penambahan asam folat banyak terdapat pada makanan pokok dan umbi-umbian.
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari pada laki-laki karena terjadi menstruasi dengan pendarahan sebanyak 50 sampai 80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi sebesar 30 sampai dengan 40 mgr. Disamping itu kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan maka akan semakin banyak kehilangan zat besi dan menjadi semakin anemis. Sebagai gambaran berapa banyak zat besi pada setiap kehamilan, dibawah ini terdapat berbagai kebutuhan dari zat besi yang diperlukan.
Meningkatkan sel darah merah : 500 mgr
Terdapat dalam plasenta : 300 mgr
Terdapat dalam janin : 100 mgr
Jumlah : 900 mgr
Setelah persalinan dengan lahirnya dan perdarahan, ibu akan kehilangan zat besi sekitar 900 mgr. Saat laktasi ibu masih memerlukan kesehatan jasmani yang optimal sehingga dapat menyiapkan ASI untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dalam keadaan anemia, laktasi tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan baik. Sehingga banyak didapat adanya ibu yang meninggal atau bayi yang meninggal (INACG, 1979).
Terjadinya anemia gizi pada ibu hamil dapat berawal dari seorang ibu yang dilahirkan oleh ibu penderita anemia gizi, yang selama masa pertumbuhan hingga kehamilannya tidak mendapat sumber zat gizi yang cukup, maupun pelayanan kesehatan yang mungkin diperlukannya, sehingga dia selalu menderita anemia gizi. Alasan lain adalah adanya kehamilan yang berulang-ulang dan dalam selang waktu yang relatif singkat, sehingga cadangan zat besi ibu seakan –akan dikuras guna memenuhi kebutuhan janin atau akibat perdarahan pada waktu bersalin. Keadaan terakhir tersebut akan semakin parah apabila masih ditambah dengan adanya pantangan terhadap beberapa jenis makanan, terutama yang kaya akan zat besi selama kehamilan (WHO, 1968).

b. Pengaruh Anemia pada Kehamilan dan Janin

Pengaruh Anemia pada Kehamilan
a) Bahaya selama kehamilan
1. Dapat terjadi abortus
2. Persalinan prematuritas
3. Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim
4. Ketuban pecah dini (KPD)
5. Mudah terjadi infeksi dan sepsispuer peralis
6. Lemah dan anoreksia
7. Pendarahan
8. Pre eklamsi dan eklamsi

b) Bahaya saat persalinan
1. Gangguan his- kekuatan mengejang
2. Kala pertama dapat berlangsung lama, dan terjadi partus terlantar
3. Kala kedua berlangsung lama hingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan
4. Kala uri dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan postpartum karena atonea uteri
5. Kala empat dapat terjadi perdarahan postpartum sekunder dan atonia uteri

Pengaruh Anemia tehadap Janin
Sekalipun tampaknya janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya, tetapi dengan adanya anemia maka akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Akibat adanya anemia pada ibu, maka dapat terjadi gangguan pada janin dalam bentuk:
a) Abortus
b) Terjadi kematian intrauterine
c) Persalinan prematuritas tinggi
d) Berat badan lahir rendah
e) Kelahiran dengan anemia
f) Dapat terjadi cacat bawaan
g) Bayi mudah terserang infeksi sampai kematian perinatal
h) Intelegensi rendah (cacat otak)
i) Kematian neonatal
j) Asfiksia intra partum
(Manuaba, 1998)

c. Nutrisi Ibu Hamil dan Pertumbuhan Janin

Pertumbuhan janin didalam kandungan merupakan hasil interaksi antara potensi genetik dan lingkungan intrauterine. Pada semua mamalia, perubahan anatomi dan fisiologi yang terjadi pada tubuh ibu selama kehamilan bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang nyaman bagi pertumbuhan janin.
Pada umumnya, pada ibu – ibu yang hamil dengan kondisi kesehatan yang baik, dengan reproduksi yang normal, tidak sering menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra- hamil maupun pada saat hamil, akan menghasilkan bayi yang lebih besar dan lebih sehat dari pada ibu – ibu yang kondisinya tidak seperti yang disebutkan diatas. Kurang gizi yang kronis pada masa kanak – kanak dengan atau tanpa sakit yang berulang-ulang, akan menyebabkan bentuk tubuh yang “stunting atau kuntet” pada masa dewasa. Ibu-ibu yang kondisinya seperti ini lebih sering melahirkan bayi BBLR yang mempunyai vitalitas rendah dan kematian yang tinggi, lebih-lebih apabila ibu tersebut juga menderita anemia. Terdapat hubungan antara bentuk tubuh ibu, sistem reproduksi, dan sosial ekonomi terhadap pertumbuhan janin. Selain yang disebutkan diatas tersebut, berat badan lahir (BBL) bayi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang lain selama kehamilan. Misalnya sakit berat, komplikasi kehamilan, kurang gizi, keadaan setres pada ibu hamil, dapat mempengruhi pertumbuhan janin melalui efek buruk yang menimpa ibunya, atau juga pertumbuhan plasenta dan transport nutrisi ke janin (Soetjiningsih, 1995).
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor resiko BBLR. Yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi factor ibu, janin, dan plasenta. Diantara faktor-faktor tersebut, masalah anemia defisiensi besi (ADB) selama kehamilan merupakan salah satu faktor resiko adanya indikasi kelahiran premature, BBLR, dan peningkatan kematian prenatal (Najoan, N.W, 2002).
Tambahan makanan untuk ibu hamil dapat diberiakn dengan cara meningkatkan baik kualitas maupun kuantitas makanan ibu sehari-hari, bisa juga dengan memberikan tambahan formula khusus untuk ibu hamil atau menyusui. Adanya kenaikan volume darah akan meningkatkan kebutuhan zat besi (terbanyak) dan asam folat (lebih sedikit). Jumlah elemental Fe pada bayi baru lahir meningkatnya volume darah adalah 300 mg dan jumlah yang diperlukan ibu untuk mencegah anemia akibat meningkatnya volume darah adalah 500 mg. dengan perkataan lain kebutuhan Fe selama kehamilan kurang dari 1 gram, terutama dibutuhkan pada setengah akhir kehamilan. Pada diet yang adekuat kandungan Fe yang diperlukan sekitar 10 – 15 mg, dimana hanya sekitar 10 – 20 % yang diserap. Sehingga Fe pada diet hanya memenuhi sedikit kebutuhan Fe pada ibu hamil. Oleh karena itu di perlukan adanya penambahan suplemen Fe.
Untuk pertumbuhan janin yang memadai diperlukan zat-zta makanan yang adekuat, dimana peranan plasenta besar artinya dalam transfer makanan tersebut. Pertumbuhan janin yang paling pesat terjadi pada stadium akhir kehamilan, plasenta bukan sekedar organ untuk transport makanan yang sederhana, tetapi juga mampu menseleksi zat-zat makanan yang masuk dan proses lain atau resistensi sebelum mencapai janin. Suplai zat-zat makanan kejanin yang sedang tumbuh tergantung pada jumlah darah ibu yang mengalir ke plasenta dan zat-zat makanan yang diangkutnya. Efisiensi plasenta dalam mengkonsentrasikan, mensintesis dan transport zat-zat makanan menentukan suplai makanan ke janin. Karbohidrat merupakan sumber utama bagi janin dan ini diperoleh secara kontinu dari transfer glukosa darah ibu melalui plasenta.
Pentingnya gizi pada ibu hamil telah diketahui sejak lama, dimana gizi ibu hamil dapat mempengaruhi kesehatan ibu maupun bayinya. Diet ibu yang baik sebelum hamil maupun selama hamil akan memberikan dampak yang positif yaitu bayi yang lahir dengan berat badan cukup, sehat dan mortalitasnya rendah (Soetjiningsih, 1995).

d. Akibat Gizi Kurang pada Janin dan Bayi

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin, seperti infeksi selama dalam kandungan, kurang gizi ibu, penyakit ibu selama kehamilan, kebiasaan merokok, penggunaan obat-obatan serta kelainan pada saluran kencing. Di Negara-negara berkembang gizi kurang pada ibu dan infeksi dalam kandungan merupakan factor yang terpenting. Jika taraf konsumsi ibu selama kehamilan kurang dari 1800 kalori sehari, angka prevelensi lahir rendah akan lebih tinggi (WHO, 1979). Menurut badan kesehatan dunia (WHO) bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2500 g termasuk bayi dengan lahir rendah (Sterky & Mellander, 1978).
Prematuritas (belum cukup bulan) adalah kelahiran kandungan dibawah 37 minggu. adalah bayi dengan lahir rendah daripada yang seharusnya menurut usia kandungan. Belum ada statistik yang menggambarkan prevalensi berat badan bayi lahir rendah (BBLR) secara rasional di masing-masing negara. Berat bayi lahir juga di pengaruhi oleh tinggi badan ibu, dengan kata lain ibu-ibu yang pertumbuhan dan perkembangannya sewaktu kanak-kanak terhambat oleh gizi kurang, efisiensi fisiologinya lebih rendah daripada ibu-ibu dengan cukup gizi sewaktu kecil (Hytten & Leith, 1971).
Menurut Arief Mansjoer (1999), pada BBLR sering ditemui adanya refleks menghisap / menelan lemah, bahkan kadang-kadang tidak ada, bayi cepat lelah, saat menyusu sering tersedak atau malas menghisap, dan lain-lain. Sehingga angka kesakitan dan kematiannya tinggi.

e. Peran Pelayanan Kesehatan

Faktor penyebab dari tingginya kematian ibu, bayi, dan anak ini tidak lain disebabkan karena belum memadainya pelayanan kesehatan masyarakat dan keadaan gizi. Diluar faktor pencetus lainnya yang memperkuat masalah ini seperti kemiskinan dan tingkat pendidikan.
Dari segi potensial, salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif untuk pencegahan kematian dan kesakitan ibu adalah pelayanan prenatal, khususnya ditempat yang status kesehatan umum wanitanya buruk. Pelayanan kesehatan prenatal mempunyai beberapa fungsi utama yaitu :
a. promosi kesehatan selama kehamilan melalui sarana dan aktifitas pendidikan
b. melakukan skrinning, identifikasi wanita dengan kehamilan resiko tinggi dan merujuknya jika perlu
c. memantau kesehatan selama kehamilan dalam usaha mendeteksi dan mencegah masalah yang terjadi
Pendidikan kesehatan selama pelayanan prenatal dapat diberikan secara individu dan informal atau sistematis dalam kelompok. Materi pendidikan mencakup topik umum seperti gizi dan perawatan selama kehamilan. Kesempatan itu harus digunakan untuk memberikan informasi pada wanita mengenai tanda yang berbahaya dalam kehamilan. Termasuk langkah yang harus diambil pada keadaan tersebut.
Pemantauan pelayanan prenatal yang penting adalah pencegahan, deteksi dan pengobatan anemia yang berperan penting dalam kesakitan dan kematian ibu. Walaupun demikian, pemeriksaan hemoglobin untuk deteksi anemia seringkali sangat tidak memuaskan. Kemungkinan ini terjadi karena pemeriksaan tidak dilakukan di puskesmas tempat pelayanan prenatal, tetapi justru pada rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan, atau kalaupun dapat, kemungkinan rumah sakit gagal untuk mengirimkan hasilnya ke puskesmas. Masalah yang berhubungan dengan prosedur seperti ini perlu diketahui dan diatasi agar pelayanan kesehatan prenatal dapat memerangi anemia secara efisien (Royston, 1994).
Merupakan aib bangsa Indonesia karena banyaknya bayi, anak balita dan ibu melahirkan yang meninggal karena gizi buruk yang seharusnya dapat dicegah apabila posyandu, polindes, puskesmas dapat berfungsi optimal dengan pelayanan kesehatan dasar yang bermutu. Empat masalah gizi utama di Indonesia sebenarnya dapat ditangani dengan baik apabila puskesmas sebagai pusat pelayanan gizi dan kesehatan masyarakat dapat berjalan optimal dan didukung potensi sumber daya masyarakat.
Hasil analisis hubungan antara kemajuan pembangunan ekonomi dan status gizi anak balita selama 20 tahun terakhir ini menunjukkan bahwa walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup tinggi (5 – 7 %). Produksi pangannya cukup memadai bahkan mampu berswasembada. Tetapi anehnya prevelensi gizi kurang – gizi buruk masih tetap tinggi sekitar 30 % bahkan untuk anemia gizi besi untuk ibu hamil masih diatas 50 % dengan hasil bayi yang dilahirkan mencapai 2 % sampai 17 % (Depkes, 1993). Oleh karena itu distribusi tablet zat besi dan penyuluhan manfaat zat besi untuk ibu hamil terus ditingkatkan.
Tujuan pemberdayaan kader posyandu adalah meningkatkan kemampuan dan kinerja kader posyandu sehingga mampu mempertahankan dan meningkatkan status gizi serta kesehatan ibu dan anak. Revitalisasi posyandu diutamakan pada posyandu yang sudah tidak aktif atau rendah stratanya, dan posyandu yang berada di daerah yang sebagian besar penduduknya tergolong miskin. Adanya dukungan materi dan non materi dari tokoh masyarakat setempat baik pimpinan formal maupun informal dalam menunjang pelaksanaan kegiatan posyandu. Revitalisasi posyandu terdiri dari paket minimal dan paket pilihan. Sampai saat ini masih ada paket minimal yang berupa perbaikan gizi, misalnya pemantauan status gizi, PMT pemulihan untuk gizi buruk, MP – ASI, dan penyuluhan gizi. Paket minimal ini juga melayani kesehatan ibu dan anak (KIA), keluarga berencana (KB), imunisasi anak balita maupun ibu hamil, penanggulangan penyakit diare (oralit) (Anonymous, 2004).

f. Hipotesa

Berdasarkan tujuan penelitian dan kerangka pemikiran diatas, maka untuk tujuan penelitian pertama yang berkaitan dengan besarnya rata – rata ibu hamil penderita anemia dan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) tidak dibuat hipotesa penelitian, akan tetapi dijelaskan secara deskriptif. Sedangkan untuk tujuan penelitian kedua dibuat hipotesa penelitian ini sebagai berikut : Terdapat adanya pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum daerah Lumajang.

H. Metode Pelaksanaan Program

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang bertujuan untuk membuat pencatatan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi (Rofieq, 2001). Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan fakta-fakta atau fenomena-fenomena yang terjadi mengenai adanya pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum daerah Lumajang.

2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan kesembilan sampai dengan bulan kesebelas di tahun 2007 yang bertempat di Rumah Sakit Umum Daerah Lumajang.

3. Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruan dari obyek penelitian. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah keseluruhan ibu hamil yang melahirkan di Rumah Sakit Umum Daerah Lumajang selama periode bulan pertama sampai dengan bulan ke duabelas di tahun 2006.
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti dan diambil dengan cara atau tehnik tertentu yang dijadikan sebagai obyek yang sebenarnya dalam suatu penelitian (Rofieq, 2001). Adapun sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil penderita anemia yang melahirkan di Rumah Sakit Umum Daerah Lumajang selama periode bulan pertama sampai dengan bulan ke duabelas di tahun 2006.

4. Variabel Penelitian

penelitian ini dirancang sebagai suatu penelitian deskriptif untuk menguji hipotesa yang diajukan, maka dalam penelitian ini terdapat variabel bebas (independent) yaitu ibu hamil yang penderita anemia yang melahirkan di Rumah Sakit Umujm Dr. Haryoto Lumajang. Ibu hamil penderita anemia disini dapat berupa ibu hamil penderita anemia karena faktor dari keturunan atau bawaan dan faktor pada saat hamil kekurangan darah (kekurangan konsumsi zat besi).dan variabel terikat (dependent) yaitu berat badan bayi yang lahir di Rumah Sakit Daerah Lumajang. Berat badan bayi yang lahir disini adalah bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) menurut ketentuan dari WHO yaitu kurang dari 2500 gram yang terdapat beberapa faktor penyebab, diantaranya adalah ibu hamil penderita anemia yang melahirkan seorang bayi.

5. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer diperoleh melalui observasi yang dilakukan dengan wawancara kepada dokter atau staf rumah sakit yang berhubungan dengan permasalahan ini sebagai instrumennya. Sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui observasi pada dokumen-dokumen lembaga yang terkait dengan permasalahan ini pula. Dalam hal ini yaitu Rumah Sakit Umum daerah Lumajang.

6. Analisa Data

a. Tabel frekwensi. Analisa ini digunakan untuk mengetahui prosentase masing-masing alat penilaian banyaknya penderita selama periode bulan pertama sampai dengan bulan ke duabelas di RS Dr. Haryoto Lumajang. Alat penilaian banyaknya penderita meliputi ibu hamil penderita anemia (X) dan bayi berat badan lahir rendah (Y).
b. Dalam menganalisa metode yang digunakan adalah regresi linear sederhana. Yaitu terdapat adanya dua macam variabel. Karena dalam penelitian ini untuk mencari adanya pengaruh ibu hamil penderita anemia terhadap bayi berat badan lahir rendah (BBLR).
1. Rancangan analisa data, yang dapat dilakukan dengan menggunakan uji statistika yaitu :
o Rata-rata (mean)

o Standart deviations

o Ukuran variabilitas

Keterangan :
merupakan notasi dari penjumlahan data
= rata-rata sampel
= rata-rata populasi
n = jumlah sampel yang diteliti
N = jumlah populasi yang diteliti
S = standart deviations
MD = ukuran variabilitas
2. Uji hipotesa, model yang dapat digunakan dalam menganalisis analisa regresi adalah :
Y = bo + b1x + E
Keterangan : Y : variabel terikat
bo : koefisien
b1x: variabel bebas
Dengan hipotesis yang digunakan adalah :
H0 : b1 0
H1 : b1 0
H0 yaitu tidak terdapat hubungan linier antara variabel bebas dan variabel terikat
H1 yaitu terdapat hubungan linier antara variabel bebas dan variabel terikat

Kemudian melakukan uji F. uji ini digunakan untuk melihat signifikan pengaruh variabel X terhadap Y secara bersama-sama dan melakukan uji t untuk mengetahui signifikan pengaruh masing-masing variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).
Taraf signifikan ini diklasifikasikan berdasarkan taraf kesalahan sebagai berikut :
a. SS = sangat signifikan pada taraf kesalahan ( P 0,05 )
Dalam mengoperasionalkan rumus-rumus diatas digunakan soft ware SPSS 10.01 For Windows.

I. Jadwal Kegiatan Penelitian

No
Jenis kegiatan Bulan Ke – 1 Bulan Ke – 2 Bulan Ke – 3
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Tahap persiapan
a. pembuatan ijin penelitian di RSU Lumajang
b. menyusun proposal penelititian
c. melekukan observasi di RSU Lumajang
v

v

v

v

v

v

2. Tahap pelaksanaan
a. melakukan wawancara
b. pengumpulan data

v
v

v

v
3. Tahap penulisan
a. penulisan hasil penelitian
b. pengumpulan hasil penulisan

v
v
v

v

J. Nama dan Biodata Ketua Serta Anggota Kelompok :
1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Welly Andri Puspyantoro
b. NIM : 06.330.054
c. Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam / minggu

2. Anggota Pelaksana 1
a. Nama Lengkap : Benni Bakhtiar
b. NIM : 06.330.091
c. Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam / minggu

3. Anggota Pelaksana 2
a. Nama Lengkap : Abdul Hafid
b. NIM : 06.330.055
c. Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam /minggu
4. Anggota Pelaksana 3
a. Nama Lengkap : Retno Suryani
b. NIM : 07330064
c. Fakultas / Program Studi : KIP / Pendidikan Biologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam /minggu

K. Nama dan Biodata Dosen Pendamping :

Nama Lengkap dan gelar : DR.H.Moch.Agus Krisno B,M.Kes.
Golongan Pangkat dan NIP : III/d, Penata Tk I, 104.8909.0118
Jabatan Fungsional : Lektor
Jabatan Struktural : -
Fakultas / Program Studi : FKIP/Pendidikan Biologi
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian : Biologi
Waktu Untuk Kegiatan PKM : 8 jam /minggu

L. Rencana Biaya

No Item Pengeluaran Jumlah
1. Biaya perjalanan
a. Transportasi PP 4 orang x @ 60.000.00
b. Temu wicara 3 kali
c. Akomodasi dan Konsumsi
Rp. 400.000,00

Rp. 300.000,00
Rp. 400.000,00
2. Peralatan penunjang
a. Sewa komputer 3 bulan
b. Dokumentasi
Rp. 300.000,00
RP. 300.000,00
3. Pengeluaran Biaya Lain-lain
a. Pembuatan Proposal
b. Laporan Penelitian
c. Transparansi
d. Foto Copy dan Penjilidan
e. Jurnal
f. Buku
g. Administrasi
Rp. 200.000,00
Rp. 200.000,00
Rp. 150.000,00
Rp. 200.000,00
Rp. 250.000,00
Rp. 150.000,00
Rp. 222.500,00
Total Biaya Rp. 3.072.500,00

M. Daftar Pustaka

Aebi, H. and R. G. Whitehead. (eds). 1980. Maternal Nutrition During Pregnancy and Lactation. Nestle foundation Publication Series No. 1, Hans Huber Publ : Bern

Anonymous. 1984. Obstetri Patologi Kehamilan. Elstar Offset : Bandung

Anonymous. 2004. Revitalisasi “ POSYANDU “ dalam Pembangunan Gizi dan Kesehatan Masyarakat. IPB : Bogor

Ariawan. 2001. 80 % Ibu Hamil Menderita Anemia. Suara Merdeka. Semarang

Depkes, RI. 1993. Pedoman Pemantauan Kesehatan Ibu dan Anak. Direktorat Bina Kesehatan Keluarga : Jakarta

Djumadias. A.N. Muhilai, Darwin Karyadi dan Lg, Tarwotjo. 1979. Kecukupan Kalori, Protein dan Zat Gizi yang dianjurkan untuk Indonesia. Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi. LIPI : Bogor

Gould JB. 1986. The Low Birth Weight In Fant, In Falkner F and Tanner JM : Human Growth : A Comprehensive Treatise, 1 st Ed, Plenum Press

Hytten, F. E. and I Leitch.1979. The Physiology Of Human Pregnancy. Edisi Kedua. Blackwell Scientific Publ : Oxford

Intern. Nurt. An. Consultative Group (INACG). 1979. Iron In Fancy and Chilhood. Nutrition Foundation, New York

Iskandar, B. Melwita, dkk. 1996. Mengungkap Misteri Kematian Ibu di Jawa Barat : Penelusuran Kembali Atas Saksi-saksi Hidup (Determinan Ibu dan Bayi di Jawa Barat). Jakarta : Pusat Penelitian Kesehatan, Lembaga Penelitian Universitas Indonesia

Kardjati, Sri, Kusin, J. A. “ East Java Pregnancy Study 1981 – 1985 “

Mansjoer, Arief, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FKUI : Jakarta

Manuaba, Prof. Dr. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. EGC. Jakarta

Najoan. N.W, Sugiarti. W. 2002. Hubungan Serum Feritin Ibu Hamil Trisemester Ke Tiga dengan Bayi Berat Lahir Rendah. FK Universitas Samratulangi : Manado

Rofieq, Ainur. 2001. Pengantar Metode Penelitian. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang

Royston, Erica. 1994. Pencegahan Kematian Ibu Hamil. Bina Rupa Aksara : Jakarta

Setyowati. 2003. “ Komplikasi Anemia Sering Tak Terduga “. Sriwijaya Post

Soetjiningsih, dr. 1995. Tumbuh Kembang Anak. EGC. Jakarta

_____________. 1997. ASI : Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. EGC. Jakarta

Sterky, G and L. Mellanders. 1978. Birth Weight Distribution and Indicator Of Socio Ekonomic Development. Report From a SAREC / WHO Workshop No. R 2, Uppsala

United Nation. 1973. Determinants and Consequens Of Population Of Economic and Social Affair. Population Trends, vol 1. Population Studies Series No. 50 St/ SOA/ Ser.A/ 50. New York

WHO. 1968. Nutritional Anemia. WHO Techn. Rep. Series No. 405. Ganeva

WHO Region Office For The Western Pasific. 1979. The Health Aspects Of Food and Nutrition. Edisi ketiga : Manila

07/23/2009 Posted by | Contoh PKM | 7 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 914 pengikut lainnya.