BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

“Perancangan Prototype Meja Bangku Ergonomis untuk Murid Sekolah Dasar Kelas Satu dan Dua”

. JUDUL PROGRAM
“Perancangan Prototype Meja Bangku Ergonomis untuk Murid Sekolah Dasar Kelas Satu dan Dua”

B. LATAR BELAKANG MASALAH
Di Indonesia secara umum tidak dilakukan analisa fenomena dasar ergonomis untuk fasilitas belajar di Sekolah Dasar, menurut Kromer, murid sekolah akan mengalami suatu kondisi discomfort antaral lain: cepat lelah, mudah ngantuk , tekanan pada jaringan tulang belakang berkisar 500 sampai 700 N ( Kroemer, 1995) dari gejala diatas akan berkembang menderita cedera jaringan otot sehingga akan menghambat prestasi akademis di Sekolah. Dari survey awal pada murid Sekolah Dasar Kelas satu dan dua SD Tlogomas I Malang dan MI Miftahul Huda Batu, bahwa banyak murid kelas satu duduk di bangku untuk murid kelas empat keatas sehingga posisi duduk seperti dalam gambar 3 sampai 7.
Dari hasil survey tersebut, akan dilakukan perancangan dan pembuatan prototype bangku ergonomis, untuk murid kelas satu dan dua Sekolah Dasar. Data yang diperlukan adalah pengamatan dimensi antrophometri secara mendetail tentang murid kelas satu dan dua pada saat posisi posisi duduk, dan berdiri dan dengan pengamatan foto. Pada posisi ini dilakukan pengamatan tentang posisi kaki, leher, tulang belakang, dan lengan.
Hasil yang diharapkan dari penelitian perancangan prototype meja dan bangku ergonomis ini adalah bahwa murid sekolah dasar dapat duduk dengan posisi yang ergonomis sehingga memberikan rasa menurut comfort Kroemer (1995) antara lain; 1. Impresif antara lain warm, softness, luxurious, plush, spacious, supported, dan safe (duduk ada penopang pada tulang belakang, lengan leher dan kaki) 2. Energy tekanan pda jaringan tulang belakang dibawah 300N . 3. Relaksasi (relaxed, resful, at ease, calm) , artinya semua jaringan otot dan tulang adalah bekerja sesuai dengan kondisi alamiah, tidak ada pemaksaan.

C. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka masalah yang diteliti adalah adalah “Bagaimana Merancang dan membuat prototype meja dan bangku ergonomis untuk murid Sekolah Dasar kelas Satu dan Dua.

D. TUJUAN PROGRAM
Adapun dari tujuan penelitian ini, tujuan sebagai berikut :
1. Mendapatkan data antrophometry muid sekolah dasar kelas satu dan dua.
2. Merancang meja bangku ergonomis Sekolah Dasar kelas Satu dan Dua.
3. membuat prototype meja bangku ergonomis untuk Sekolah Dasar kelas Satu dan Dua.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran penelitian ini antara lain :
1. Hasil Pengembangan rancangan prototype bangku Sekolah Dasar yang ergonomis.
2. Pembuatan hasil rancangan prototype bangku Sekolah Dasar yang ergonomis.
3. Penerapan Rancangan prototype bangku Sekolah Dasar yang ergonomis, sehingga siswa kelas satu dan dua murid lebih nyaman dalam duduk untuk belajar , karena posisi jaringan otot: leher, tulang belakang, lengan, bahu, kaki dan murid sesuai dengan data antrophometrinya.

F. KEGUNAAN PROGRAM
Kegunaan Penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Aspek akademis : Menerapkan dan mengkombinasikan teori-teori beberapa mata kuliah Analosa Perancangan Kerja dan Ergonomi.
2. Aspek Siswa Sekolah dasar kelas satu dan Dua: membuat prototype produk meja bangku ergonomis untuk murid Sekolah Dasar kelas satu dan dua.
3. Menerapkan meja bangku ergonomis untuk murid Sekolah Dasar kelas satu dan dua.
G TINJAUAN PUSTAKA
Repetitive Strain Injury, RSI atau cedera karena ketegangan sistem jaringan otot secara berulang, yang diakibatkan sistem jaringan otot dan persendian gagal melakukan adaptasi dengan peralatan atau mesin. Contoh pada pada operator komputer adalah kondisi orang duduk dimana kondisi jaringan otot: punggung, lengan, leher dan jemari dipaksakan untuk menekan anak keyboard (lihat gambar 1) dan mengamati tulisan di monitor. Maksud pada jari dipaksakan pada proses mengetik pada keyboard sehinga jaringan otot lengan dan jari dipaksakan meregang (melebihi batas beban jaringan otot yang diperbolehkan) untuk mencapai posisi huruf tertentu kemudian menekannya.

Gambar 1 . Pemaksaan Jaringan Otot untuk Bekerja pada Lengan dan Jari (lihat garis panah) untuk Menekan Huruf pada Key Board Komputer

Gambar 2 Rancangan meja, bangku Ergonomis
Jika dilakukan pengamatan pada jari kita, posisi jari yang paling enak atau nyaman tanpa beban meregang adalah pada posisi jari enak menekuk kedalam, dan jika jari dipaksa meregang, yang akan menyebabkan ketegangan (peregangan/ strain) pada jaringan otot jari dan lengan. Kondisi ini sangat tidak disadari, dan jika berlangsung terus menerus akan menyebabkan cedera (injury), karena jaringan otot akan mengalami perobekan jika hal ini berlangsung lama akan menyebabkan peradangan, dan kegiatan ini terus berjalan (repetitive) maka akan menyebabkan kelumpuhan karena tidak berfungsinya saraf dan otot disebabkan jaringan parut mendominasinya. Kondisi pekerja di Indonesia khususnya siswa SD, kondisinya akan lebih parah karena tidak ada klinik khusus yang menangani kasus Repetitive Strain Injury, RSI. Kondisi siswa SD kelas satu sampai kelas tiga, pekerjaan mereka adalah duduk sangat lama. Pada saat duduk dengan kecenderungan posisi siswa adalah:
1. Pertama jaringan otot leher (leher dipaksakan menegakkan tulang lehernya, dengan menahan berat kepala yang ditekuk mendekati sudut 30o, untuk proses menulis dan membaca, sehingga sistem jaringan otot leher mengalami ketegangan, karena harus menahan berat kepala, lihat gambar 2.

Gambar 3. Posisi Kepala dan Leher Siswa SD Saat Proses Belajar

Gambar 3. Posisi Tulang Belakang Siswa SD Saat Proses Belajar Tanpa Bersandar Pada Pungung Kursi
Gambar 4 Posisi Lengan Atas dan Bawah Siswa SD Saat Proses Belajar

Gambar 5 Meja Bangku Konvensional SD Muhammadiyah 8 Dau Gambar 6 Meja Bangku Konvensional MI Miftahul Huda Batu

2. Kedua adalah jaringan otot punggung (jaringan otot tulang belakang dipaksakan duduk tanpa disanggah bantal punggung (back supporting chair), sehingga sistem jaringan otot tulang belakang mengalami peregangan berlebihan untuk menahan beban berat tubuh bagian atas, lihat gambar 3).
3. Ketiga adalah sistim jaringan otot bahu, lengan dan jari tangan yang dipaksa untuk melakukan kegiatan menulis dan membaca dimana jarak antara kursi dengan meja bisa terlalu tinggi (murid terpaksa menaikkan lengannya untuk kegiatan ini, lihat gambar 4, sehingga terjadi peregangan otot disekitar bahu lengan dan jari tangan).
4. Keempat adalah sistem jaringan otot kaki, dimana kondisi kaki murid bisa menggantung karena kursi terlalu tinggi, sehingga sistem jaringan otot kaki mengalami ketegangan akibat membawa beban kaki.

ERGONOMI
Definisi Ergonomi
Istilah ergonomi berasal dari kalimat latin ergon, yang berarti kerja dan nomos, artinya aturan/ hukum alam, sehingga ergonomi adalah aturan kerja, yaitu aturan kerja yang diterapkan pada proses kerja antara manusia dan alat kerja dimana alat kerja dapat membantu kenyamanan (kondisi alamiah dari posisi pekerja dalam melakukan pekerjaannya, misalnya duduk dengan konsisi enak tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah, tangan, punggung ada sandaran) dan produktivitas bagi pekerjanya. Perkembangan ergonomi terjadi sekitar pertengahan abad ke-20 mulai berkembang disiplin ilmu tentang perancangan peralatan dan fasilitas kerja yang berdasarkan kondisi fisiologi, yang dikenal dengan Ergonomi, negara di Eropa Barat dikenal dengan istilah Human Factor Engineering atau Human Engineering.) definisi ergonomi yang disebut sebagai “human factor” menurut Sritomo W (1995 : 56) :
1. Penekanan pada keberadaan manusia dan interaksinya dengan produk, perlengkapan, fasilitas, prosedur dan lingkungan kerjanya sehari-hari.
2. Tujuan “human factor” yaitu :
a.Meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja, termasuk didalamnya usaha memaksimalkan keselamatan kerja dan meningkatkan produktifitas kerja.
b.Untuk meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan termasuk pengembangan keselamatan kerja pengurangan kelelahan dan ketegangan kerja epningkatan kenyamanan dan kepuasan kerja serta pengembangan akulitas hidup.

Gambar Analogi“Mountain of Cumulative trauma partly obscured fog”

Gambar 5. Penelitian Tentang Kursi Ergonomis Dalam OPERATOR COMPUTER
Sumber: TU-Delft Dalam Peter Vink

Gambar meja dan bangku untuk siswa
Kiri adalah kondisi tidak Ergonomis tanpa sandaran kepala dan gambar kanan Kursi ergonomis dengan sandaran kepala, tulang belakang serta posisi kaki yang rileks.

Gambar Atribut kenyamanan dan tidak kenyamanan pada posisi duduk

Gambar tekanan pada tulang belakang
Aspek-Aspek Dalam Perancangan Fasilitas Ergonomi
Dalam melakukan perancangan suatu alat yang ergonomis melibatkan banyak aspek atau faktor yang harus diperhatikan karena fokus utama ergonomi adalah manusia sehingga dalam melakukan perancangan suatu peralatan harus didasarkan pada kemampuan dan keterbatasan terutama yang berkaitan dengan aspek pengamatan, kognitif, fisik ataupun psikologisnya.
Menurut Sritomo Wignjosuebroto (1995 : 58) penelitian ergonomi akan meliputi hal-hal yang berkaitan dengan :
1. Anatomi (struktur), fisiologi (bekerjanya) dan antropometri (ukuran) tubuh manusia.
2. Psikologi yang fisiologis mengenai berfungsinya otak dan sistem syaraf yang berperan dalam tingkah laku manusia.
3. Kondisi-kondisi kerja yang dapat menciderai baik dalam waktu yang pendek maupun panjang ataupun membuat celaka manusia dan sebaliknya ialah kondisi-kondisi kerja yang dapat membuat nyaman kerja manusia.

ANTROPOMETRI
Pengertian Antropometri
Pengukuran antropometri pada dasarnya adalah pengukuran jarak antara dua titik pada tubuh manusia seperti dalam dengan menggunakan suatu alat ukur yang dinamakan antropometer yang dirancang secara khusus untuk mengetahui ukuran-ukuran tubuh manusia atau juga bisa juga digunakan alat ukur standart.
Pengukuran dimensi tubuh atau kondisi fisik satu orang responden dengan lainnya adalah berbeda, hal ini karena faktor-faktor: suku/ ras, umur, jenis kelamin, serta posisi tubuh (posture). Menurut Sritomo Wignjosoebroto (1995 : 62 & 63) pengukuran dimensi tubuh itu sendiri dibedakan dengan dua cara yaitu :
1. Pengukuran dimensi struktur tubuh (static anthropometry) yaitu dimensi tubuh yang diukur dalam berbagai posisi standart dan tidak bergerak (tetap tegak sempurna)
2. Pengukuran dimensi fungsional tubuh (dynamic anthropometry) yaitu pengukuran yang dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat berfungsi melakukan gerakan-gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang harus diselesaikan.
Data antropometri ini nantinya akan merupakan pedoman untuk menentukan bentuk, ukuran, dan dimensi yang tepat berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan menggunakan/ mengoperasikan produk tersebut.
Rancangan Kursi Kerja Secara Umum
Didalam melakukan perancangan kursi kerja kita harus tetap memperhatikan ukuran antopometri sebagai dasar untuk melakukan desain dan memperhatikan kegiatan/ jenis pekerjaan menulis dan membaca, misalnya jarak meja dengan mata, leher, lengan, lutut pekerja, tulang belakang dan yang lainnya (seperti dalam gambar 6). Kriteria dalam melakukan desain terhadap kursi kerja diantaranya :
1) Tinggi kursi sebaiknya dirancang sesuai dengan ketinggian alas duduk dari

Gambar 6. Kursi Kerja Ergonomis untuk operator komputer

Hal ini penting karena ukuran kursi yang tidak tepat akan berakibat kurang baik terhadap pemakainya baik dari segi desain maupun kesehatan, yang akan dapat mengakibatkan sirkulasi darah terganggu dan kaki cepat lelah.
2) Dari segi kekuatan sebaiknya kursi kerja dirancang sedemikian rupa agar kuat dan serasi dengan menekankan kekuatan pada bagian-bagian yang mudah retak dan sebaiknya dilengkapi dengan sistem mur baut ataupun keling pasak.
3) Sandaran punggung (belakang) ini akan membantu dalam menjaga jaringan otot tulang belakang dan keseimbangan posisi duduk. Dalam pendesainan diharapkan sedapat mungkin sandaran punggung ini disesuaikan/ mendekati kontur tulang belakang. Sandaran punggung ini didasarkan pada ukuran lebar punggung dengan faktor kelonggaran tertentu.
4) Ketinggian sandaran punggung disesuaikan dengan ukuran tinggi siku duduk dengan persentile 95 %.
5) Lebar kursi ditentukan dengan maksud untuk memberikan penyangga pada pinggul sehingga perlu dibuat agak lebar untuk memberikan perasaan nyaman pada pemakainya. Lebar kursi ini diukur dari tepi pinggul ke tepi lainnya dengan menambah kelonggaran dari ketebalan pakaian.
6) Panjang alas duduk diharapkan tidak mengganggu/ menghambat aktifitas yang dilakukan oleh pengguna kursi.
7) Bahan yang digunakan dalam desain kursi ini diharapkan adalah bahan yang mudah dibentuk sesuai dengan desain yang telah dirancang disamping itu bahan juga harus yang mudah didapatkan, tetapi juga harus tetap diperhatikan faktor kekuatannya. Untuk tempat duduk dan sandaran punggung sedapat mungkin diberi material yang cukup lunak dengan harapan dapat mengurangi kelelahan / menghambat segera munculnya rasa lelah dan capek.
Akibat Yang Ditimbulkan Dari Desain Kursi Yang Tidak Ergonomis
Desain kursi yang tidak sesuai dengan dimensi tubuh pemakainya (tidak ergonomis) akan membawa pengaruh yang kurang baik bagi pemakainya itu sendiri yang pada akhirnya akan berpengaruh pada efektifitas dan efisiensi kerja mereka. Akibat dari desain kursi yang tidak ergonomis ini antara lain :
1. Alas kursi yang terlalu pendek akan menimbulkan tekanan pada pertengahan paha, seperti ditunjukkan pada gambar 7.
2. Begitu juga alas tempat duduk yang terlalu panjang juga tidak ergonomis karena berakibat adanya tekanan pada pertemuan betis dan paha atau lipatan lutut sehingga hal ini akan memberikan ketidaknyamanan pada pemakainya, seperti pada gambar 8.
3. Dan apabila alas tempat duduk terlalu rendah akan menimbulkan kelelahan pada tungkai sehingga cenderung mendorong badan ke belakang yang berakibat timbulnya tekanan pada pinggang, seperti ditunjukan gambar 19.
4. Alas tempat duduk yang terlalu tinggi juga tidak baik bagi pemakainnya karena hal ini mengakibatkan tekanan pada telapak kaki, seperti ditunjukkan gambar 10.

Gambar 7. Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Pendek
(Sumber : Julius Panero, 1980 : 64)

Gambar 8. Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Lebar
(Sumber : Julius Panero, 1980 : 64)

Gambar 9. Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Sempit
(Sumber : Julius Panero, 1980 : 64)

Gambar 10. Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Tinggi
(Sumber : Julius Panero, 1980 : 64)

Besarnya pencayahaan (Lux) akan berpengaruh terhadap produktifitas pekerja, dengan metode desain ekperimaen di peroleh penerangan 300 Watt, memiliki produktifitas tertinggi jika dibandingkan dengan diatas atau dibawah 300 Watt.( Heri Mujayin, Kholik 2005)
Produktivitas tertinggi pekerja adalah diperoleh warna dinding ruang kerja Kuning dengan penelrangan sebesar 9,675 Lux, kemudian warna hijau dan biru, Produktivitas terendah diperoleh oleh Luminansi warna dinding ruang kerja Hitam sebesar dengan penerangan sebesar 0,8 Lux. (Cukup Santosa, 2004)

H. METODOLOGI PENELITIAN
H.1 Diagram Alir Penelitian
Langkah-langkah untuk menyelesaikan penelitian adalah sebagai berikut:

Diagram Alir Penelitian
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
1. Studi Lapangan
Studi Lapangan dilakukan dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi dan mengetahui kondisi kursi yang akan diteliti, dan study pendahuluan di SD MI Miftahul Huda Batu dan SD Muhammadiyah 8 Dau

2. Studi Literatur
Studi literatur digunakan untuk mempelajari teori dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah diteliti.
3. Perumusan Masalah dan Tujuan Masalah
Setelah studi literatur langkah selanjutnya adalah identifikasi terhadap permasalahan yang ada.. Penentuan tujuan penelitian sangat penting karena dugunakan untuk menentukan kemana arah pengerjaan penelitian yang akan diselesaikan.
H.2 Pengumpulan Data
H. 2.1 Data Hasil penelitian tahap Pertama
dari data penelitian tahap paertama diperoleh :
1. Data Antrophometri murid kelas satu dan dua, adalah seperti dalam dibawah ini:
2. Gambar rancangan bangku hasil perhitungan antrophometri adalah

Tinggi bahu (B) : ….cm
Lebar pantat duduk (D) :…cm,
Panjang paha duduk (E) : ….cm
Tinggi lutut (F) : …cm

Panjang lengan bawah (G) :….cm
Panjang lengan atas (H) :.. cm
Tinggi badan : cm
]

Gambar Data Antrophometri Murid SD/ MI Kelas satu dan Dua

I.3 Pengolahan Data Dengan Perhitungan Percentil
Pemakaian nilai-nilai percentIl yang umum diaplikasikan dalam perhitungan data anthropometri (Sritomo; 2003) dapat dijelaskan dalam tabel seperti berikut ini:
Macam Percentil dan cara perhitungannya
Percentil Perhitungan
1 –st
2.5-th
5-th
10-th
50-th
90-th
95-th
97,5 th
99-th -2.325
-1.96
-1.645
-1.28

-1.28
-1.645
– 1.96
-2.325

I.3.1 Perancangan Meja dan Perancangan Bangku
Disini produk dirancang dan dibuat unmtuk mereka yang berukuran sekitar rata-rata, terlebi dahulu harus tetapkan anggota tubuh yang mana yang nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan tersebut kemudian menenkan dimensi tubuh yang penting dalam proses perancangan tersebut, selanjutnya tentukan populasi terbesar yang diantisipasasi, diakomodasikan dan menajdi target utama pemakai rancanagn prosuk tersebut.
I.4 Pembuatan Prototype Meja dan Bangku Ergonomis
dari penelitian tahap pertama. Hasilnya adalah beberapa gambar desain yang paling sesuai untuk meja dan bangku ergonomis murid sekolah dasar kelas satu dan dua. Kriteria sesuai adalah berdasarkan dimensi antrophometri dan kepraktisan hasil desain.
Dari desain gambar tersebut akan dipilih satu gambar desain yang akan dibuatkan prototype meja dan bangku ergonomis murid sekolah dasar kelas satu dan dua. Bahan dari meja dan bangku ini adalah dari pipa baja dan kayu.
I.5 Aplikasi Pembuatan Prototype Meja dan Bangku Ergonomis
Data anthropometri yang menyajikan data ukuran dari berbagai macam anggota tubuh manusia dalam percentiler tertentu akan sangat besar manfaatnya pada saat suatu rancangan produk ataupun fasilitas kerja akan dibuat. Agar rancangan suatu produk nantinya bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang akan mengoperasikannya, maka prinsip-prinsip apa yang harus diambil didalam aplikasi data anthropometri tersebut harus ditetapkan terlebih dahulu.
I.6 Pembahasan
Dari data diatas akan dilakukan pengolahan, sehingga dari hasil pengolahan data akan dihasilkan meja bangku ergonomis di sekolah dasar, dengan ditandainya bahwa maereka duduk di meja bangku bisa dengan lebih nyaman. Dengan beberapa pengamatan yang dilakukan antara lain:
1. posisi duduk, dengan memperhatikan letak dan posisi lengan atas dan bawah pada saat menulis dan membaca apakah masih terlihat ada gejala pemaksaan kerja pada jaringan otot .
2. Pengamatan posisi duduk, dengan memperhatikan letak dan posisi kaki pada saat menulis dan membaca apakah masih terlihat ada gejala pemaksaan kerja pada jaringan otot.
3. Pengamatan posisi duduk, dengan memperhatikan letak dan posisi tulang belakang pada saat menulis dan membaca apakah masih terlihat ada gejala pemaksaan kerja pada jaringan otot.
4. Pengamatan posisi duduk, dengan memperhatikan letak dan posisi leher pada saat menulis dan membaca apakah masih terlihat ada gejala pemaksaan kerja pada jaringan otot.
I.7 Kesimpulan dan Saran
Pada tahap ini didapatkan kesimpulan akhir, dimana kesimpulan digunakan untuk menjawab tujuan penelitian. Selain itu diberikan saran-saran permasalahan penelitian diatas.

J. JADWAL KEGIATAN PROGRAM
Kegiatan ini akan dilakasanakan MI Miftahul Huda Batu Malang yang akan direncanakan selesai dalam kurun waktu 3 bulan (Oktober – Desember 2007), dengan jadwal sebagai berikut :
Table 3. Kegiatan Penelitian
No Kegiatan Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Survei lokasi X
2 Pengumpulan Data dan Pendefinisian Model Sistem Alur Proses Produksi X X X
3 Pengolahan Data X X X X
4 Pembahasan X X
5 Laporan akhir X X

A. BIODATA PELAKSANA KEGIATAN
a. Ketua Peneliti
Nama Lengkap : Frasis Tiyasari
NIM : 05540054
Fakultas / Program Studi : Teknik / Teknik Industri
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu Kegiatan : 12 Jam / Minggu
b. Anggota 1 (satu)
Nama Lengkap : Ninik Masturoh
NIM : 05540078
Fakultas / Program Studi : Teknik / Teknik Industri
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu Kegiatan : 12 Jam / Minggu
c. Anggota 2 (dua)
Nama Lengkap : Zainul Falih
NIM : 04540052
Fakultas / Program Studi : Teknik / Teknik Industri
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Waktu Kegiatan : 12 Jam / Minggu

K. BIODATA DOSEN PENDAMPING
Nama Lengkap : Ir. Lukman, MT
Golongan Pangkat / NIP : IV A / 108.9303.291 :
Jabatan Funsional : Lektor Kepala
Jabatan Struktural : Kepala Laboratorium Industri
Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
Bidang Keahlian : Ilmu Teknologi dan Rekayasa
Waktu Kegiatan : 8 Jam / Minggu

L. PERKIRAAN BIAYA PENELITIAN
No Uraian Jumlah
1 Bahan Habis pakai
a. Disket CD RW
b. Kertas HVS A4 3 rim
c. Injection ink
d. Sewa computer + printer
e. Foto Copy
f. Alat tulis
Rp 50.000
Rp 100.000
Rp 100.000
Rp 350. 000
Rp 100.000
Rp 100.000 Rp 800.000
2 Perjalanan
a. Biaya perjalanan untuk observasi lapangan ( Rp. 50.000 x 3 x 2 kali )
b. Biaya perjalanan untuk pengumpulan data (Rp. 50.000 x 3 x 6 kali )
c. Konsumsi dan Akomodasi
d. Biaya perjalanan supervisi
Rp 300.000

Rp 200.000

Rp 450.000
Rp 300.000 Rp 1.250.000
3 a. Bahan pustaka
b. Download Internet Rp 400.000
Rp 200.000 Rp 600.000
4 Dokumentasi Rp 250.000 Rp 250.000
5 Laporan Penelitian
a. Penggandaan
b. Penjilidan
c. Pengiriman
d. Operasional pembuatan laporan
e. Lain-lain
Rp 400.000
Rp 80.000
Rp 70.000
Rp 300.000
Rp 250.000

Rp 1.100.000
6 Pembuatan Prototype
a. Pembuatan Bangku
b. Pembuatan Meja
Rp 1.250.000
Rp 750.000 Rp.2.000.000

M. LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
Acerni Aleigh ,Charleston, 2004: Business Journal.
Amick Benjamin C , Office Ergonomics, University of Texas-Houston School of Public.
Bailey, Robert Ph.D, Human Performance Engineering using Human Factors/ Ergonomics to Achieve Computer System Usability, Prentice Hall, 1989.
Biman Das, Arijit KS. Industrial Work Station Design: A Systematic Ergonomic Approach, Journal Applied Ergonomics UK, Elservaer Science Ltd.
Bridger Rober S, Patrick S, Willams S. Marras, 1998, Spade design Lumbar motion risk low back injury and digging, Ohio State Univesity Columbus USA. IOS Press.
David L. Goestsch, 2002, Occupational Safety And Health for Technologies, Engineer and Manager, Prentice Hall fourth edition.
Eko Nurmianto, Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Guna Widya Jakarta.
, Intisari, Febuari 1995.
(IEA) International Ergonomic Association, 2003: Ergonomics for Children and Educational Environments, 2003 IEA Congress, Seoul Korea Education for Children in Ergonomics Technical Committee.
Gerth Alan, 2004,“Office ergonomics A Preventative Approach, Purdue University.
International Journal, 2004Industrial Ergonomics, ELSEVIER,
Julius Panero, Martin Zelnik. Human Demension And Interior Space. The Architecture Press Ltd. London.
Linton,SJ. Hellsing, A-L. Halme,T. dan Akerstedt,K. 1994,The Effects of Ergonomically Designed Scholl Furnioture on Pupils attitudes, symtoms and behaviour, Journal Aplied Ergonomic , Vo. 25, No.5 halaman 200-309.
Kholik Heri Mujayin, 2004, Pengaruh Pencahayaan Ruang Kerja Terhadap Hasil dan Fisiologi Kerja (Study Experimental pada proses perakitan mainan anak-anak).
Kroemer Karl, Henrike Kroemeer,Katrin Kroemer, Elbert, Ergonomic How to Design For ease And Efficiency, Prentice Hall International, 2 nd edition. MacLeod Dan, 1995, The Ergonomics Edge Improving Safety, Quality, and Productivity, Van Nostrand Reinhold.
Mendenhall William.1992, Statistic For Engineering And The Science. Singapore.
2002,Work–Related Musculoskeletal Disorder Injuries in Minnesota a Presentation to The Ergonomics Task Force, Minestosa Departement of Labor and Industry June.
Purwanto, Wahyu. 1991, Peraancangan Cangkul Ergonomis Untuk Meningkatkan Kapasiotas Kerja Aktual Petani dalam Mengolah Tanah Sawah di Daerah Istimewa Yogyakarta,Thesis, ITB.
Salammia LA,” 1998, Analisis Ergonomi Dalam Perancangan Fasilitas Kerja Unit Finisshing Untuk Pemintalan Tikar Palastik dari Bahan Limbah Di PT. Teja Jaya Utama “ Thesis ITS.
Sastrowinoto,Suyatno, 1985, Meningkatkan Produktivitas dengan Ergonomi, Jakarta PT.Pustaka Binaman Pressindo,.
Sanders Mark S, Mc. Cormiek E.J. Human Faktor in Engineering and Design. Sixth Edition. MC Graw Hill. Singapore. 1987.
Santoso Cukup, 2004, Pengaruh warna dinding ruang kerja, gender dan shift terhadap produktivitas (study kasus di laboratorium analisa dan perancangan kerja Teknik industri umm).
Sritomo Wignjosoebroto, 1995, Ergonomi Studi Gerak dan Waktu. Guna Widya Jakarta..
Sunarto Hadi, 2004, Perancangan Ayunan Ynag Ergonomis Untuk Memberikan Kenyamanan dan Keamanan Dalam Bermain di Taman Kanak-kanak, Tugas Akhir TI – UMM.
Thomas Robert E. 2004., Industrial and Systems Engineering, Auburn University Overview of Occupational Safety & Ergonomics.
Walpole Rodald Raymond H Myers,1995, Ilmu Peluang dan Statistika Untuk Insinyur dan Ilmuwan, edisi keempat, penerbit ITB.
William Inger,2002, Proceedings of the XVI Annual International Occpational Ergonomic and Savety Conference.
Vink Peter, 2002, Comfort-Ergonomie-Productonwerp, Faculty of Design, Contruction and Production , Delft University of Technology.

07/12/2009 Posted by | Contoh PKM | 14 Komentar

SCORING COUNTER UNTUK PERTANDINGAN TAE KWON DO

Judul Program
SCORING COUNTER UNTUK PERTANDINGAN TAEKWONDO

b. Latar Belakang
Perkembangan teknologi pada era global seperti saat ini dapat kita rasakan kemajuannya yang semakin pesat. Kemajuan dari teknologi ini akibat dari banyaknya kebutuhan manusia yang menuntut efektifitas penggunaannya. Dengan semakin banyaknya kebutuhan manusia ini akan membutuhkan pemikiran-pemikiran baru untuk dapat mewujudkan segala kebutuhan-kebutuhan tersebut yang mencakup segala bidang.
Taekwondo merupakan olahraga beladiri modern yang mampu berkembang pesat di dunia. Olahraga ini merupakan salah satu cabang olahraga resmi yang dipertandingkan di ajang Olimpiade. Di Indonesia perkembangan olahraga ini ditandai dengan banyaknya momen-momen kejuaraan yang diadakan dari tingkat daerah hingga nasional seperti Pekan Olahraga Nasional. Keikutsertaan dan kemampuan Indonesia dalam bersaing di ajang-ajang internasional juga merupakan salah satu tanda bahwa taekwondo di Indonesia berkembang dengan pesat.
Pertandingan taekwondo dipimpin oleh seorang wasit dan empat juri yang bertugas memberikan nilai kepada atlet yang mendapat poin. Posisi juri-juri ini berada di pojok-pojok arena dengan menggunakan kertas penilaian yang akan dikumpulkan kepada wasit setiap akhir ronde. Kertas penilaian ini diberikan wasit di meja juri untuk dihitung dan kemudian diberikan kepada scorring board untuk ditampilkan di papan nilai. Cara manual ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan score pertandingan tidak dapat dilihat secara langsung selama pertandingan berjalan sehingga banyak menimbulkan kecurangan-kecurangan ketika perhitungan dilakukan.
Perkembangan selanjutnya dibutuhkan alat yang dapat membantu wasit dalam memberi penilaian. Rancangan alat ini akan disesuaikan dengan sistem penilaian yang berlaku. Input nilai akan dibuat sesuai dengan kebutuhan penilaian. Input yang digunakan berupa joystick dengan memanfaatkan empat tombol atau switch. Empat switch tersebut dibagi 2 bagian untuk sudut merah dan biru juga untuk poin 1 dan 2. Joystick ini terhubung dengan rangkaian buffer kemudian PPI 8255 melalui pararel port. Nilai yang dapat ditampilkan akan ditentukan dengan jumlah switch yang ditekan, minimal 3 dari 4 wasit yang menekan tombol. Alat ini sudah banyak digunakan dalam pertandingan-pertandingan tingkat internasional maupun nasional. Di wilayah Jawa Timur yang notabene merupakan salah satu wilayah yang mampu menghasilkan atlet-atlet nasional telah sering mengadakan turnamen-turnamen baik di tingkat cabang maupun daerah. Namun dalam mengadakan kejuaraan belum pernah sekalipun diwilayah Jawa Timur ini yang sudah menggunakan alat scorring untuk membantu juri dalam memberikan penilaian. Dan juga tidak menutup kemungkinan sering terjadinya kecirangan-kecurangan yang dapat merugikan atlet. Harapan selanjutnya alat ini daat digunakan dalam setiap kejuaraan-kejuaraan di wilayah Jawa Timur pada umumnya dan wilayah cabang Malang pada khususnya.

c. Perumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana cara merancang dan membuat software scoring dengan pemrograman delphi ?
2. Bagaimana penginisialisasian PPI 8255 pada pemrograman Delphi?
3. Bagaimana interfacing menggunakan PPI 8255 yang menghubungkan hardware dan software?

d. Tujuan Program
Tujuan masalah pada program yang direncanakan mengacu pada permasalahan yang ada yaitu pembuatan alat scorring secara komputerisasi untuk juri yang digunakan dalam pertandingan cabang olahraga taekwondo sehingga mempermudah dan mempercepat perhitungan dengan nilai yang lebih valid.
e. Luaran yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dari program ini adalah dengan mematenkan alat yang telah dibuat sesuai dengan model desain dan dimanfaatkan untuk jasa penyewaan alat pada setiap ajang kejuaraan di wilayah Malang khususnya dan Jawa Timur umumnya

f. Kegunaan Program
Kegunaan dari teknologi ini dapat membantu penghitungan nilai dalam pertandingan TaeKwonDo secara cepat dan akurat di wilayah Malang khususnya dan daerah Jawa Timur umumnya.

g. Tinjauan Pustaka
g.1. Taekwondo
Taekwondo adalah olahraga beladiri modern yang berakar pada bela diri tradisional Korea. Taekwondo mempunyai banyak kelebihan, tidak hanya mengajarkan aspek fisik semata, seperti keahlian dalam bertarung, melainkan juga sangat menekankan disiplin mental. Dengan demikian Taekwondo akan membentuk sikap mental yang kuat dan etika yang baik bagi orang yang secara sungguh-sungguh mempelajarinya dengan benar. Taekwondo mengandung aspek filosofi yang mendalam sehingga dengan mempelajari Taekwondo, pikiran, jiwa, dan raga kita secara menyeluruh akan ditumbuhkan dan dikembangkan. (Yoyok S.,2000:1)
Pertandingan taekwondo pada masa sekarang dipimpin oleh seorang wasit dan dinilai oleh 4 orang juri yang duduk di setiap ujung arena dan berlangsung selama 3 ronde. Nilai yang diberikan dibagi dua macam yaitu ‘1’ dan ‘2’. Nilai ‘1’ diberikan ketika salah satu petarung menendang body protector lawannya, sedangkan nilai ‘2’ diberikan ketika tendangan mengenai kepala lawannya. Nilai akan muncul ketika minimal 3 dari 4 juri menekan switch nilainya. Nilai pelanggaran dibagi dua macam yaitu pelanggaran ringan yang bernilai ‘1’ dan pelanggaran berat yang bernilai ‘2’. Nilai untuk pelanggaran ditugaskan oleh scoring boarder atau operator. Nilai akhir merupakan penjumlahan seluruh nilai yang didapat dikurangi nilai pelanggaran. Untuk hasil nilai yang tertinggi maka akan menjadi pemenang. Apabila terjadi seri, maka akan diadakan ronde tambahan yang pemenangnya ditentukan dari yang mendapat nilai terlebih dahulu atau yang disebut ronde shudden death. Dalam ronde ini setiap petarung harus berusaha mendapat nilai terlebih dulu dari juri.
g.2. Pemrograman Delphi
Delphi merupakan bahasa pemrograman berbasis visual yang dibuat oleh perusahaan pengembang perangkat lunak yang sangat terkenal yaitu Borland. Delphi merupakan bahasa pemrograman yang cukup canggih dan mempunyai banyak fasilitas antara lain untuk pengolah angka, database, internet, grafik dan animasi serta aplikasi windows. Kemampuan Delphi secara umum adalah menyediakan fasilitas-fasilitas dengan komponen-komponen dalam bentuk object visual yang memungkinkan pemrogram membuat aplikasi sesuai dengan keinginannya dengan tampilan yang menarik dan kemampuan yang canggih. Bahasa yang digunakan dalam pemrograman delphi adalah bahasa pemrograman Pascal. Bentuk dari bahasa pemrograman ini tidak berupa komponen atau objek visual, melainkan kumpulan teks yang disusun dalam bentuk tertentu berdasarkan aturan atau kaidah tertentu dan mempunyai arti tertentu. Gabungan dari objek dan bahasa pemrograman ini disebut bahasa pemrograman berorientasi objek atau Object Oriented Programing. (Pranata, Antony, 2002:1)
a. IDE (Integrated Development Environment) Delphi
IDE adalah sebuah lingkungan dimana sebuah tools yang diperlukan untuk desain, menjalankan dan mengetes sebuah aplikasi disajikan dan terhubung dengan baik sehingga memudahkan pengembangan program. Pada Delphi IDE terdiri dari Menu Bars, Toolbars, Form Designer, Component Palette, Object Inspector, Code Editor dan Object Treeview. Integrasi ini memberikan kemudahan dalam mengembangkan aplikasi yang kompleks.

b. Organisasi File
Organisasi file adalah bagian Delphi yang mengolah file-file yang digunakan, baik file-file sistem pada Delphi maupun file-file aplikasi yang dibuat. File-file tersebut saling berhubungan di dalam Delphi saat membangun sebuah aplikasi.
c. Project
Project adalah suatu file yang memuat informasi tentang sekumpulan form, unit dan bebrapa hal yang lain dalam program aplikasi. File utama project disimpan dalam file berekstensi .dpr (delphi project). Pada saat dijalankan, file project inilah yang selalu dikompilasi menjadi file yang dapat dijalankan, yaitu file yang berekstensi .exe.
d. Unit
Unit adalah kumpulan kode program yang disebut dengan modul yang tersimpan dalam satu file unit (.pas). Setiap kali dibuat satu form maka secara otomatis dibuat juga satu unit. Unit yang berhubungan dengan form ini biasanya digunakan untuk mengatur dan mengendalikan segala sesuatu yang berhubungan dengan form dan berinteraksi dengan komponen lain.
e. Komponen-komponen File
Komponen-komponen file merupakan suatu komponen yang terdapat pada file-file yang ada pada Delphi. Beberapa komponen yang menjadi bagian dari suatu file Delphi adalah Program, Properties, Event dan Method. (Madcoms, 2003:8)
g.3. PPI (Programmable Peripheral Interface) 8255
PPI merupakan chip I/O yang memiliki 3 buah port masukan dan keluaran, masing-masing port tersebut diberi nama port A, port B, port C. Ketiga port tersebut dibagi menjadi dua grup yaitu grup A yang terdiri dari port A dan port C tinggi ( Port C Upper ) bit 4 sampai bit 7 dan grup B yang terdiri dari port C rendah ( port C lower )bit 0 sampai bit 3. Tiap-tiap grup tersebut diatur oleh rangkaian kontrol yang dirancang untuk pemakaian masing-masing aplikasi. (Supriadi, Muhammad, 2005:7)

g.4. Pararel Port
Kanal pararel port adalah kanal yang tersedia pada komputer dan yang banyak sekali dipakai. Port ini sabggup melakukan pentransferan data hampir 9-bit atau 12-bit pada satu saat yang sama, sehingga hanya membutuhkan rangkaian eksternal yang minim untuk mengimplementasikan ke berbagai aplikasi. Komposisi dari port terdiri atas 4 buah jalur kontrol, 5 buah jalur status dan 8 buah jalur data. Port ini umumnya banyak dijumpai pada bagian belakang komputer menggunakan konektor jenis DB-25 betina. (Supriadi, Muhammad, 2005:15)

h. Metode Pelaksanaan Program
Metode yang digunakan dalam pembuatan alat ini adalah sebagai berikut:
1. Kajian Literatur
Bentuk pencarian data yang dilakukan dengan mempelajari literatur yang berhubungan dengan obyek yang diteliti.
2. Interview / Konsultasi
Bentuk Pengambilan data yang dilakukan dengan cara konsultasi dan wawancara dengan pihak yang terkait terhadap obyek yang diteliti.
3. Perancangan tiap blok.
a. Blok Diagram

Gambar 1. Blok Diagram Alat Scorring untuk wasit dalam pertandingan Taekwondo

Keterangan :
1. Input 1 – 4 : Menggunakan Push Button masing-masing 4
tombol.
2. PPI 8255 : Sebagai interfacing dan kontrol input
3. DB-25 : conector ke PC (Personal Computer)
b. Variabel
Nilai yang diberikan dibagi dua tingkat, nilai ‘1’ diberikan ketika tendangan salah satu atlit mengenai body protector yang dikenakan lawan sedangkan nilai ‘2’ diberikan ketika tendangan salah satu atlit mengenai kepala lawan. Untuk pelanggaran dibagi menjadi dua tingkat, pelanggaran ringan bernilai ‘1’ untuk setiap dua kali pelanggaran. Pelanggaran berat bernilai ‘1’. Nilai akhir adalah jumlah dari nilai yang didapat dikurangi jumlah pelanggaran.
4. Perealisasian blok-blok yang telah disusun.
a. Cara kerja
Alat scorring ini menggunakan 4 blok input yang masing-masing terdiri dari 4 push button. Input dari push button membutuhkan 16 bit, sehingga dibutuhkan banyak port input yang dalam hal ini menggunakan PPI 8255 sebagai interfacing kemudian dihubungkan ke DB-25 pada komputer untuk diproses melalui pemrograman delphi. Blok Input 1 – 4 sebanyak 16 bit akan mengirimkan data secara bergantian dalam delay waktu tertentu ke PC melalui port pararel DB-25. prosedur rancangan program ini dapat dilihat pada flow chart dibawah ini.

Gambar 2. Flow Chart Program Scoring
b. Penggunaan
Alat ini akan bekerja selama pertandingan berlangsung yaitu 2 menit dalam 3 ronde. Dalam setiap ronde terdapat 4 juri yang yang bertugas memberikan nilai kepada atlit. Dalam setiap pemberian nilai setiap juri (minimal 3 juri) harus menekan push button dalam waktu hampir bersamaan atau dalam batas delay waktu yang telah ditentukan. Apabila diluar delay waktu maka nilai dianggap kosong.
5. Pengujian dan Analisa
a. Pengujian dilakukan dengan menggunakan 4 orang wasit selama 3 menit sesuai dengan lamanya pertandingan taekwondo dalam 1 ronde.
b. Menganalisa perfomance alat scoring tersebut dengan cara uji coba dan menyimpulkan hasilnya.

h. Jadwal Kegiatan Program
Tabel jadwal Kegiatan Program

j. Nama dan Biodata Ketua Serta Anggota Kelompok
1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Khaerudin.
b. NIM : 04530037
c. Fakultas/Program Studi : Teknik/Elektronika
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 12 jam/minggu

2. Anggota Pelaksana
a. Nama Lengkap : Dedy Herfanda F.Y.
b. NIM : 03530079
c. Fakultas/Program Studi : Teknik/Elektronika
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 8 jam/minggu
3. Anggota Pelaksana
a. Nama Lengkap : Diah Puspitaningrum
b. NIM : 06530052
c. Fakultas/Program Studi : Teknik/Elektronika
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 8 jam/minggu
4. Anggota Pelaksana
a. Nama Lengkap : Ibkhar Fitra Ramadhan
b. NIM : 02530068
c. Fakultas/Program Studi : Teknik/Elektronika
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk kegiatan PKM : 8 jam/minggu

k. Nama dan Biodata Dosen Pembimbing
1. Nama Lengkap dan Gelar : Ir. Nur Alif Mardiyah, M.T
2. Golongan Pangkat dan NIP : III B/ 108.9203.0257
3. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
4. Jabatan Struktural : Kepala Laboratorium Elektronika
5. Fakultas/Program Studi : Teknik/Elektronika
6. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
7. Bidang Keahlian : Elektronika
8. Waktu untuk kegiatan PKM : 3 jam/minggu

l. Biaya
1. Bahan:
• Sewa seperangkat komputer : Rp 1.500.000,00
• PPI 8255 5 buah @ 150.000,00 : Rp 750.000,00
• Joystick 4 buah @ 20.000,00 : Rp 80.000,00
• Perangkat rangkaian buffer
a. IC 74LS245 5 buah @ Rp10.000,00 : Rp 50.000,00
b. PCB board : Rp 40.000,00
c. Kabel jumper : Rp 10.000,00
d. Box : Rp 100.000,00
• Perangkat catu daya : Rp 150.000,00
• Sewa perangkat alat pengujian : Rp 500.000,00
2. Peralatan Penunjang PKM:
• Administrasi surat ijin survei : Rp 200.000,00
3. Pengujian
• Pengujian alat : Rp 200.000,00
• Pengujian simulasi pertandingan
a. Sewa ruang : Rp 100.000,00
b. Sewa peralatan : Rp 200.000,00
c. Honor 5 orang wasit @ Rp 150.000,00 : Rp 750.000,00
d. Honor 4 orang atlit @ Rp 100.000,00 : Rp 400.000,00
e. Honor 10 orang kru @ Rp 50.000,00 : Rp 500.000,00
f. Konsumsi 24 orang @ Rp 5.000,00 : Rp 120.000,00
4. Laporan :
• Pembuatan laporan : Rp 250.000.00
5. Perjalanan:
• Transportasi : Rp 100.000.00
Total Biaya Rp 6.000.000.00

m. Daftar Pustaka

1. Jamaludin Malik, Jaja. Tip dan Trik Unik Delphi. Yogyakarta: Andi; 2005.

2. Madcoms. Pemograman Borland Delphi 7 ( Jilid Kedua). Yogyakarta: Penerbit Andi; 2003.

3. Pranata, Antony. Pemograman Borland Delphi 6 (Edisi Keempat). Yogyakarta: Andi; 2002.

4. Supriadi, Muhammad. Pemrograman IC PPI 8255 Menggunakan Delphi. Yogyakarta: Andi; 2005.

h. Wahana Komputer. Pemograman Borland Delphi 7. Yogyakarta: Andi; 2003.

07/12/2009 Posted by | Contoh PKM | 8 Komentar

PENERAPAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) PADA SISWA KELAS III IPA SMA MUHAMMADIYAH 2 & 3 BATU MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN Nata De Apple DAN CUKA APEL (Upaya Memahamkan Pelajaran Biologi Bab Bioteknologi)

A. JUDUL : PENERAPAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) PADA SISWA KELAS III IPA SMU MUHAMMADIYAH 2 & 3 BATU MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN Nata de Apple DAN Cuka Apel (Upaya pemahaman daan penerapan pelajaran Bologi Bab Bioteknologi)

B. LATAR BELAKANG
Saat ini, pembelajaran biologi SMA kelas III IPA khususnya marteri bioteknologi di sekolah umumnya tidak mengacu pada penyiapan siswa untuk memiliki pengetahuan dasar dan keterampilan yng dibutuhkan. Kebanyakan guru masih menggunaan pendekatan expository, dimana guru cenderung memberikan onformasi yang berupa teorri, generalisasi, hokum atau dalil-dalil beserta bukti-bukti yang mendukung. Guru membantu siswa memahami pelajaran hanya dengan mreview informasi yang adsa pada buku teks. Begitu juga seperti yang terjadi pada SMA 2 & 3 Batu selama ini.
SMA Muhammadiyah 2 & 3 Batu merupakan salah satu sekklah menengah di kecamatan Bumiaji kota Batu, dan lokasinya dekat dengan perkebunan apel. Dari hasil pengamatan observasi penulis, di SMA Muhammadiyah 2 & 3 Batu mata pelajaran Bilogi hanya diajar oleh seorang guru , mulai dari kelas I sampai kelas III. Tentunya hal ini membuat jadual untuk guru tersebut sabgat padat (jam mengajarnya bertambah). Yang mana SMA Muhammadiyah 2 kelas III IPA terdiri dari 75 orang siswa yang terbagi menjadi 2 kelas. Sedangkan di SMA muhammadiyah 3 kels III IPA berjumlaag 69 siswa yang terbagi menjadi2 kelas juga.
Dari hasil wawancara dengan salah satu guru Bilogi di SMA 2 & 3 Batu, selama ini maeri bioteknolog hanya diberikan kepada siswa dengan memberikan knsep-konsep tentang Bioteknilogi. Siswa diberikan penjelasan serta diberikan tugas utuk mencari contoh penerapan bioteknologi tanpa melbatkan siswa secara langsung dalam proses penerapan bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari, yang nantinya dapat menjadi bekal bagi siswa setelah lulus dari SMA. Hal ini berimbas pada motivasi belajar siswa yang menurun teritama saat ujuan tengah semsster (UTS). Hal ini dikarenakan siswa merasa belum memahami maeri khususnya bioteknologi, yang hanya diberikan secara teoritis saja, tanpa ada pengalaman belajar penerapanya dalam dunia nyata.
Fasilitas yang diberikan kepoada siswa pada kedua SMA Muhammadiyah tersebut, terutama laboratorium Biologi untuk menunjaanga kegiatan praktikum biologi juga belum ersedia dalam satu ruangan tersendiri, akn tetapi masih bercampur dfengan kegiatan praktikum kimia, dan fisika. Sehingga dalam penyampaian matri biologi banyak yang hanya diberikan secara teorits saja tanpa adanya praktikum atau pengalamam belajar yang diberikan oleh guru, hal ini terjadi karena keterbatasan sarana dan prasarana untuk keegiatan praktikum di sekolahan tersebut.
Padahal dalam pembelajaran bologi itu sendiri yang diukur bukan hanya pemahaman konsep tetapi juga keterampilan saiuns yang harus dimiliki oleh siswa, sehingga siswa pun dituntut untuk mmenerapkan pembeljran dalam kehidupan sehari-hari. Unuk itu dalam pembelajaran biologi perlu diterapkannya pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) yang merupakan gabungan dari pendekatan konsep, keterampilan proses, CBSA, inkuiri, dan diskoveri, serta pendekatan lingkungan ((Susilo, 1999).
Pendekatan Sain Teknologi Masyarakat (STM) adalah pegajaran sains yang tidak hanya menekankan pada konsep-konsep sains saja, tetapi juga menekankan pada peranan sain dan teknologi didalam berbagai kehidupan masyarakat dean menumbuhkn rasa tanggungjawab sosial siswa terhadap dampak sains dan teknologi yang terjadi di masyarakat (Hadiat, 1993).
Masalah-masalah atau isu-isu yang terjadi dilingkungan sekolah terutama dalam bidang bioteknologi selami ini tidak pernah disentuh atu diperhatikan oleh guru ataupun siswa sendiri, karena dalam proses belajar dan mengajar biologi selama ini masih mengggunakan pendekatan penguasaan konsep, sehingga dalam menyampaikan pembelajaran guru terfokus pada buku teks yang telah tersedia. Padahal dalam pembeljaran bioteknologi penerapan sain dan teknologi masyarakatb (STM) pada siswa sangat penting sekali, misalnya seperti melalui penerapan pembuatan Nata De Apple dan cuka Apel, yang mana pengetahuan tentang penerapan bioteknologi kepada sswa ini dapat menjadi bekal bagi siswa untuk menghadapi kehidupan yang akan datang atau setelah lulus darri SMA. Salian itu juga dapat memicu kreatifitas siswa untuk menerapkan teknologi sebagai pemecahan masalah yang terdapat d daerah sekitar sekolah ataupun tempat tinggalnya, sebagaimana SMA Muhammadiyah 2 & 3 batu yang dapat memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat di kota Batu, yaitu buah apel sendiri.

C. RUMUSAN MASALAH
1. Siswa kelas III SMA Muhammadiyah Batu kesulitan dalam memahami materri Bioteknologi.
2. Bagaimanakah respon siswa kelas III IPA SMAaa Muhammadiyah 2 & 3 Batu terhadap penerapan sains teknologi masyarakat melalui pembuatan nata de Apple dan cuka apel dalam memahami dfan mengaplikasikan materi bioteknologi?
3. Bagaimanakah prestasi belajar SMA kelas III IPAa SMA Muhammadiyah 2 & 3 Batu khususnya materi Bioteknologi melalui pembuatan nata de apple dan nata cuka apel?
4. Penerapan Sains Teknologi Masyarakat yang diberikan hanya pelatihan pembuatan produk dalam bidang biuoteknologi pangan.

D. TUJUAN PROGRAM
1. Memahamkan siswa kelas III IPA SMA Muhammadiyah 2 & 3 Batu tentang penerapan bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari melalui pelatihan pembuatan Nata de Apple dan cuka Apel sesuai dengan potensi daerah yang terdapat disekitar sekolah.
2. Memicu kreatifitas siswa untuk menangani permasalahan yang terdapat disekitar sekolah, khususnya dalam penerapan bidang bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari malalui pelatihan pembuatan nata de Appple dan cuka Apel.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Dari hasil program PKMT, luaran yang diharapkan adalah:
1. Dihasilkannya desain pembelajaran materi bioteknologi melalui penerapan sains Teknologi Masyarakat dengan memberikan pelatihan pembuatan nata de Apple dan Cuka Apel.
2. Dihasilkannya teknologi tepat guna untuk menyelaesaikan permasalahan yang terdapat dalam kehidupsan sehari-hari sebagai penerapan pembelajaran Bioteknologi khususnya Bioteknologi bdang pangan (Nata de Apple dan Cuka apel).

F. KEGUNAAN PROGRAM
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi khalayak sasaran antara lain:
1. Dari segi IPTEK
a. Menambah wawasan bagi siswa tentang penerapan Bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bioteknonologi dalam bidang pangan melalui penerapan sains teknologi masyarakat dengan memberikan platihan pembuatan nata de apple dan cuka apel.
b. Menambah hasanah keilmuan tentang penerapan sains teknologi masyarakat kususnyan di bidang Bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari.
2. Dari segi Ekonomi: bias menambah pendapatan siswa ketika diaplikasikan di luar sekolah

G. TINJAUAN PUSTAKA
G. 1 Hakekat Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengjar merupakan proses inti dari pendidikan formal di sekolah, di dalamnya terjad nteraksi antara beberapa komponen pengajaran. Secara umum belajar dpat diartikan sebagai proses perubahan, akibat interaksi antara indidvidu dengan lingkungan. Hal ini mencakup pengetahuan, pemahaman, keterapmilan sikap dan sebagainya. Sedangkan pengertian mengajar adala segala uppaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bag siswa untuk terjadinya proses blajar mengajar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang tel;ah dirumuskan (Ali, 2002).
Belajar itu terjadi dalam keidupan sehari-hari, tidak hanya di sekolah saja, dan belajar itu dapat dilakukan setiap orang, mulai dari anaka-anak sampai dengan orang dewasa. Robert M. Gagne di dalam Ali (2002), mengemukakan untyuk dapat memilih cara belajar yang tepat, guru harus mengenal berbagai tipe belajar, antara lain:
1. Belajar konsep (Conscept learning)
Konsep merupakan symbol berpikir, hal in diperoleh dar hasil membuat saran terhadap fakta atau realita dan hubungan antara berbagai fakta.
2. Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Seseorang dapat menyelesaikan masalah yang sederhana melalui melaluin kebiasaan maupun instink seperti halnya binatang, akan tetapi dalam situasi yang sangat sulit, cara it tidak mungln lagi digunakan. Maka dapat ditempuh langkah-langkah cara belajar ilmiah dalam pemecahan masalah.

G. 2 Hakekat Pendidikan Biologi
Pendidikan biologi menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung. Karena itu, siswa perlu untuk mngembangkan sejumlah keterampilan proses supaya mampu untu menjelajahi danb memaami alam sektar. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati dengan seluruh indera, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara benar dengan selalu mempertimbangkan kaselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, menggolongkan, menafsirkan data dan mengkomunikasikan hasil temuan secara beragam, menggali dan memilih informasi secara faktualyang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari (Depdiknas, 2002).
Bekerja secara ilmiah tidak sekedar menumpulkan fakta, membangun teori , atau proses mental dan keterampilan manipulatif. Sains merupakan cara-cara untuk memahami gejala alam yang teruus berkembang. Sains merupakan produk keingnan manusia untuk berimajinasi dan berkreasi. Keadaan manusia dan makhluk lainya di alam sangant dipengaruhi oleh perilku manusi (Depdiknas, 2002).
Depdiknas (2002), dalam kurikulum berbnasis kompetensi (KBK) mengemukakan bahwa fungsi dan tujuan mata pelajaran biologi adalah:
 Fungsi dan tujuan
• Menanamlan keyakinan terhadap tuhan Yang Maha Esa
• Mengembangkan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah
• Mempersiapkan sswa menjadi warga negara yang melek sains dan teknologi.
 Tujuan Pembelajran biologi adala agar siswa:
• Mengenal berbagai macam gejala alam, konsep dan keterkaitannya satu sama lain.
• Mengembangkan keterapilan proses.
• Menerapkn konsep-konsep Biologi dalam kehidupan sehari-hari.
• Meyadari keteraturan alam untuk mengagungan kebesaran dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

G. 3 Pendekatan sains teknologi Masyarakat (STM)
Penggunaan pendekatan sains teknologi dan masyarakat (STM) di sekolah dapat mendorong siswa untuk dapat berpartisipasi langsung dan proaktf dalam upaya pemecahan isu-isu atau masalah yang diadapi serta menyadari implikasi social dan manfaat sains dalam kehidupan nyata sehari-hari, melalui pendekatan Sains teknologi masyarakat (STM), para guru sains di sekolah dapat mendorong terbentknya nilai-nilai dan kesadaran akan tanggung jawab pribadi dan social pada peserta didik sebagai warga negara da warga masyarakat.
Hal tersebut diatas akan tumbuh pada diri siswa apabila siswa mengerti gejala sains yang dipelajari di sekolah dengan peranannya di dalam keidupan nyata. Oleh karena itu alas an yang mendukung diterapkanya pendekatan Sains Teknologi dan masyarakat (STM) adalah terdapatnya suau teori belajar yang menitik beratkan pada pentingnya pengalaman siswa serta penbgetahuan yang telah dimlikinya (Depdiknas, 2002).
Penerapan pendekatan sains Teknologi dan masyarakat (STM) dalam pembeljaran biasanya digunakan dengan bantuan buku petunjuk atau yang disebut dengan perangkat unit sains teknologi. Perangkat tersebut dapat dibuat oleh guru itu sendiri atau meggunakan perangkat yng sudah ada yaitu, menerapkan teknlogi sederhana dalam membantu siswa utnuk memahami maeri pelajaran (Susanto, 1990).
G.4 Pembuatan Nata dan Cuka Apel Sebagai Upaya Penerapan STM
G.4.1 Tinjauan Nata
Nata berasal dari bahasa latin “Natae” yang berarti mengapung-apung. Alaban (1962) dalam Damayanti (2002) mendefinisikan nata sebagai suatu lapisan yang berbentuk padat pada permukaan medium yang mengandung gula. Produk nata tersebut dapat berasal dari bahan-bahan seperti air kelapa, sari nanas, sari jeruk, sari pisang, dan tomat.
Nata merupakan suatu bahan makanan hasil fermentasi oleh bakteri (Acetobacter xylinum) yang kaya akan selulosa, bersifat kenyal, transparan dan rasanya menyerupai kolang kaling. Nata merupakan selulosa bakteri yang terbentuk akibat aktifitas bakteri. Selulosa ini merupakna produk bakteri untuk membentuk slime (menyerupai kapsul) yang pada akhirnya bakteri tersebut terjebak dalam masa fibrilar selulosa tersebut (Budiyanto, 2000).
G.4.2 Pembuatan Nata
Teknik pembuatan nata secara umum dimulai dari penyiapan medium fermentasi sampai dengan pengolahan nata. Medium fermentasi dibuat dalam bentuk cair, sehingga jika bahan calon medium fermentasi berupa zat padat maka harus dihancurkan dan dibuat larutan. Medium fermentasi tersebut kemudian disaring untuk menghilangkan kotoran-kotoran kasarnya dan kemudian direbus pada suhu 80-100oC selama 10-15 menit sambil diaduk. Selama perebusan dilakukan penambahan gula pasir 10%, asam asetat glasial (98%) sampai dengan pH medium mencapai 4-5, amonium sulfat (NH2)2SO4 0,6%, kalium bihidrogenophospat (K2HPO4) 0,5%, magnesium sulfat (MgSO4) 0,02%, pepton atau yeast 0,25%. Setelah medium dingin dilakukan penyaringan yang kedua. Selanjutnya medium fermentasi tersebut diletakkan dalam tempat fermentasi. Kemudian diinokulasi dengan starter dengan konsentrasi 10-15% dan diperam selama 2-4 minggu. Setelah pemeraman selesai maka dilakukan pemanenan dan dicuci bersih dan dilakukan pemotongan sesuai dengan selera, netralisasi rasa asam pada nata dilakukan dengan merendam dalam air, kemudian dimasak dalam larutan gula (50%) (Masitoh, 2005).
G.4.3 Tinjauan Tentang Cuka Apel
Cuka atau (Vinegar) berasal dari istilah bahasa Perancis “Vinaigre” yang berarti “anggur asam” (Plezar dan Chan, 1988).
Cuka apel adalah produk fermentasi asam asetat dari sari buah apel. Produk ini merupakan suatu larutan cuka dalam air yang mengandung cita rasa, zat warna dan substansi yang terekstrak, asam buah, ester-ester, garam-garam organik dari buah, yang berbeda-beda sesuai dengan asalnya (Desrosier, 1988).
Menurut Ranken and Kill (1993), cuka apel adalah produk yang dihasilkan dari dua proses fermentasi berturut-turut, yaitu fermentasi alkohol yang merubah gula menjadi alkohol dan fermentasi asetat oleh mikroorganisme kelompok Acetobacter, merubah alkohol menjadi asam asetat.
Buah Biji-Bijian

Umbi-umbian enzim
(C6H10O5)n H2O asam x C6H12O6 + y C12H22O11
Pati glukosa maltosa
Mono-Disakarida
Fermentasi alkohol

C6H12O6 khamir
Glukosa/ 2C2H5OH + 2CO2
Fruktosa anaerobik etil alkhol karbondioksida
Etil Alkohol

Acetifikasi (oksidasi Etanol)

bakteri
C2H5OH + O2 CH3COOH + H2O
Etanol udara cuka air

Cuka Apel
Gambar 1. Skema Proses Cuka Apel
H. METODE PELAKSANAAN
Secara garis besar kegiatan ini meliputi tiga tahap yaitu 1) Tahap pengenalan dan pelatihan (training) pembuatan produk Nata dan cuka, 2) Tahap praktek (demonstrasi) pembuatan Nata dan cuka, 3) Tahap Evaluasi.
Berikut deskripsi dari tiga tahap pelaksanaan program ini:
H.1 Tahap persiapan
Tahap ini meliputi persiapan alat dan bahan. Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan:
Alat yang digunakan:
 Panci
 Kompor gas
 Nampan plastik
 Kertas Koran
 Gelas ukur
 Bunsen
Bahan yang digunakana:
 Buah apel
 Starter nata
 Starter Saccaromyces cereviseae
 Starter Acetobacter acetii
 Gula pasir
 Garam inggris
 Dan bahan pendukung pembuatan nata dan cuka

H.2 Tahap praktek atau demo pembuatan nata dan cuka
Tahap ini mengenalkan siswa/peserta bagaimana cara membuat nata dan cuka yang langsung dilaksanakan di sekolah (tempat yang ditentukan).
Adapun langkah pelaksanaan secara umum:
 cara pembuatan nata dengan bahan baku apel sub grade, meliputi: a) cara menyiapkan bahan baku cair, b) cara memasak dan mencampur bahan-bahan pembuat nata, c) cara inokulasi starter (pemberian bibit nata), d) penyimpanan dan perawatan pembuatan nata.
 Cara pembuatan cuka dengan cara bahan baku apel sub grade, meliputi: a) cara penyiapan bahan baku cair, b) cara inokulasi starter Saccaromyces cereviseae (fermentasi alkohol), c) cara inokulasi starter Acetobacter acetii (fermentasi asam cuka)

H.3 Tahap evaluasi
Tahap ini bertujuan untuk mengetahui hasil training/pelatihan nata dan cuka (panen hasil) dan mengetahui respon siswa mengenai manfaat pelatihan ini. Adapun langkah pelaksanaan secara umum:
 Panen hasil pembuatan nata dan cuka.
 Cara pengolahan nata dan cuka.
 Penyebaran angket, mengenai tanggapan siswa akan manfaat kegiatan ini untuk menjadi bahan evaluasi.
Table 1. Ringkasan Metode Pelaksanaan
Kegiatan Metode Alat dan bahan/media
Tahap persiapan:
 Perijinan
 Persiapan alat dan bahan
survey

-

Training pembuatan nata dan cuka:
 Penjelasan mengenai STM
 Aplikasi STM oleh siswa di dalam masyarakat
 Penjelasan mengenai nata dan cuka, manfaat dan cara membuatnya. Ceramah dan Tanya jawab Makalah, Slide Proyektor dan Poster
praktek pembuatan produk nata dan cuka dengan bahan baku apel praktek langsung (demonstrasi), Tanya jawab Alat dan bahan yang dibutuhkan pembutan nata dan cuka
Panen hasil dan Evaluasi:
 Cara mengolah produk nata dan cuka.
 Tanggapan siswa mengenai manfaat kegiatan ini Quisioner dan Tanya jawab Angket terstruktur

I. JADUAL KEGIATAN
No Kegiatan Bulan I Bulan II
I II III IV I II III IV
1 Tahap persiapan:
a. Sosialisasi program kegiatan
b. Penyiapan alat dan bahan
x
x

x
2 Tahap pelaksanaan:
a. Training/pelatihan:
 Pemberian materi
 Diskusi (Tanya jawab)
b. Praktek langsung
x
x
x
x
3 Tahab monitoring/Pendamping x x x x
4 Evaluasi kegiatan x x x x
5 Penyusunan laporan akhir x x x

J. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA
1. Ketua Pelaksana
a. Nama Lengkap : Moh. Iriyanto
b. NIM : 04330004
c. Fakultas/Program studi : KIP/Pendidikan Biologi
d. Preguruan Tinggi : UniversitasMuhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 jam/Minggu
2. Anggota Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Ulfa Yahya
b. NIM : 04330029
c. Fakultas/Program studi : KIP/Pendidikan Biologi
d. Preguruan Tinggi : UniversitasMuhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 jam/Minggu
3. Anggota Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Ahmad Zayyadi
b. NIM : 04330012
c. Fakultas/Program studi : KIP/Pendidikan Biologi
d. Preguruan Tinggi : UniversitasMuhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 jam/Minggu
4. Anggota Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Retno Arys k
b. NIM : 04330009
c. Fakultas/Program studi : KIP/Pendidikan Biologi
d. Preguruan Tinggi : UniversitasMuhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 jam/Minggu
5. Anggota Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Qurrotu Aini
b. NIM : 07330072
c. Fakultas/Program studi : KIP/Pendidikan Biologi
d. Preguruan Tinggi : UniversitasMuhammadiyah Malang
e. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 jam/Minggu
K. NAMA DAN BIDATA DOSEN PENDAMPING
a. Nama lengkap dan gelar : Drs. Nur Widodo, M.Kes
b. Pangkat dan Golongan / NIP :Ketua Jurusan Biologi dan IV/131.953.393
c. Jabatan Struktural : Ketua Jurusan Biologi
d. Fakultas / Program studi : FKIP / Pendidikan Biologi
e. Perguruan Tinggi : Univrsitas Muhammadiyah Malang
f. Bidang Keahlian : Kesehatan
g. Waktu untuk Kegiatan PKM : 10 Jam / Minggu
L. BIAYA
1. Bahan Habis Pakai
No Bahan/alat Satuan Jumlah Harga(Rp) Total(Rp)
1 Starter Nata buah 30 Rp 25.000 Rp 750.000
2 Buah Apel kg 50 Rp 5.000 Rp 250.000
3 Starter cuka (A. asetii) buah 20 Rp 25.000 Rp 500.000
4 Saccaromyces sp. ampul 5 Rp 75.000 Rp 375.000
5 Gula kg 20 Rp 6.000 Rp 120.000
6 NPK kg 2 Rp 20.000 Rp 40.000
7 Garam Inggris kg 2 Rp 5.000 Rp 10.000
Jumlah Rp2.045.000
2. Peralatan Penunjang PKM
No Bahan/alat Satuan Jumlah Harga(Rp) Total(Rp)
1 Sewa aerator buah 5 Rp 15.000 Rp 75.000
2 Beli botol kaca buah 100 Rp 1.500 Rp 150.000
3 Sewa kompor gas buah 3 Rp100.000 Rp 300.000
4 Sewa panic buah 6 Rp 50.000 Rp 300.000
5 Selang meter 10 Rp 5.000 Rp 50.000
6 Gas elpiji buah 3 Rp 70.000 Rp 210.000
7 Sewa gelas ukur buah 10 Rp 2.000 Rp 20.000
Jumlah Rp1.105.000
3. Perjalanan

No Kegiatan Tujuan Jumlah Total
1 Analisis Situasi SMA. muhammadiyah 3 x 2 pp x Rp. 25.000 Rp. 150.000
2 Perjalanan Kegiatan Penelitian SMA. Muhammadiyah 3 x 10 pp x Rp. 25.000 Rp. 750.000
Jumlah Rp. 900.000

Lain-Lain

1. Perlengkapan
No Bahan Satuan Jumlah Harga Total
1 Kertas HVS Pak 5 Rp. 15.000 Rp. 50.000
2 Poster Buah 1 Rp. 120.000 Rp. 120.000
3 Buku tulis Buah 6 Rp. 5.000 Rp. 30.000
4 Tinta + print Buah 1 Rp. 200.000 Rp. 200.000
5 Flas Dish Buah 1 Rp. 100.000 Rp. 100.000
Jumlah Rp. 500.000

2. Dokumentasi
No alat jumlah Harga total
1 Sewa komputer 1 Rp. 200.000 Rp. 200.000
2 Sewa kamera 1 Rp. 100.000 Rp. 200.000
3 Sewa Handycame 1 Rp. 200.000 Rp. 200.000
4 Dokumentasi 2 rol Rp. 25.000 Rp. 50.000
5 Cuci cetak foto 2 rol @ 36 Rp. 1000 Rp. 100.000
6 Laporan 8 Rp. 25.000 Rp. 200.000
jumlah Rp. 950.000

3. Konsumsi

No Kebutuhan jumlah
1 Konsumsi pelaksana Rp 500.000,-
jumlah Rp 500.000,-

• Total biaya yang dibutuhkan dalam kegiatan ini Rp 6.000.000,- (Enam juta rupiah)

M. DAFTAR PUSTAKA

Ali Mohammad. 2002.Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Penerbit PT. Sinar Baru Algesindo office,Bandung .(hal. 124-125)

Budiyanto, A,K. 2000. Mikrobiologi Terapan. UMM Press.Malang. (hal. 202-203)

Damayanti R.P.2002. Pembuatan Nata Sari Buah Pepaya (Carica papaya L) Tinjauan Dari pHAwal Dan Konsentrasi Sukrosa.Skripsi.Jurusan Teknik Hasil Pertanian.Fakultas Teknologi Pertanian.Universitas Brawijaya. Malang. (hal. 23)

Depdiknas. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran biologi untuk SMTA. Departemen Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembanga Pusat Kurikulum, Jakarta. (hal. 24-26 )

Desrosier, N.W. 1988 Teknologi Pengawetan Pangan. Edisi Ketiga.Universitas Indonesia. Jakarta (hal. 123-125)

Hadiat. 1993. Pendidikan Sains, Teknologidan Masyarakatdi Indonesia, P3G IPA, Bandung (hal. 48-50)

Masitoh, S. 2005 Analisa Nata dari Berbagai Bahan Baku dengan Penambahan Gula Kelapa. Skipsi. Jurusan Biologi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Malang. (hal. 36)

Pelczar, M.J dan Chan, E.C.S. 1988. Dasar –Dasar Mikrobiologi. Jilid 2.Diterjemahkan oleh Ratna Sri Hadioetomo, dkk. Universitas Indonesia Press. Jakarta. (hal. 69-72)

Ranken, M.D and Kill,R.C. 1993. Food Industries Manual. Blackie Academic & Professional. London. (hal. 341-342)

Susilo Herawati. 1999. Dasar –Dasar Pendidikan MIPA, Penerbit Universitas Negeri Malang, Malang (hal. 31-33)

07/12/2009 Posted by | Contoh PKM | 2 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 944 pengikut lainnya.