BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Penanganan Sampah Keluarga Berbasis Lembaga Lokal di Lingkungan RW. 02 Kelurahan Tlogomas

A. JUDUL PROGRAM
Penanganan Sampah Keluarga Berbasis Lembaga Lokal di Lingkungan RW. 02 Kelurahan Tlogomas

B. LATAR BELAKANG PROGRAM
Kota Malang sebagai kota pelajar dan kota yang cocok untuk lahan bisnis membuatnya semakin hari semakin padat penduduk. Selain penduduk asli Malang, para pendatang ikut andil memadatkan wilayah ini. Setidaknya, padatnya jalanan dan berkurangnya lahan hijau akibat dibangunnya rumah-rumah menggambarkan hal tersebut.
Semakin banyaknya manusia bukan berarti tidak menimbulkan suatu masalah. Manusia sebagai makhluk hidup dapat dipastikan mengkonsumsi produk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sisa buang produk yang dikonsumsi tersebut akhirnya menjadi sampah tidak terkecuali yang terjadi di RW. 02 Kelurahan Tlogomas.
RW. 02 Kelurahan Tlogomas terdiri dari 6 RT. Dalam setiap RT, rata-rata terdiri dari 100 kepala keluarga, jadi dalam RW. 02 terdapat 600 kepala keluarga. Jika dalam setiap keluarga menghasilkan 1 kg sampah setiap hari, maka TPS akan terisi 600 kg sampah tiap harinya. Belum lagi jika perhitungan dilakukan dalam hitungan minggu, bulan, atau bahkan tahun. Memang yang menangani masalah sampah ini adalah pemerintah, namun jika sampai pada suatu titik pemerintah tidak mampu menangani, maka masalah ini akan mengganggu masyarakat juga. TPA yang dibutuhkan semakin luas, wabah penyakit bermunculan, dan pencemaran udara akan terjadi jika tidak segera dicari pencegahannya.
Menumpuknya sampah di TPS RW. 02 Kelurahan Tlogomas ini hanya diatasi dengan menunggu pemerintah tanpa warga bisa membantu mengatasinya. Hal ini dikarenakan warga tidak memiliki pengetahuan mengenai manfaat ekonomis dari sampah yang telah didaur ulang dan tidak memiliki keterampilan mengenai cara pengolahan sampah menjadi pupuk kompos.
Sejauh ini yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah sampah adalah mengubah sampah organik di TPA menjadi pupuk kompos dengan menggunakan mesin pencacah sederhana yang harganya sekitar 18 juta rupiah. Pengangkutan sampah warga ke TPS dan TPA, pemilihan antara sampah organik dan anorganik, dan pencacahan untuk menjadi pupuk kompos akan memakan biaya yang tidak sedikit. Imbal balik dari hasil pengolahan yakni pupuk juga tidak disalurkan kembali kepada masyarakat yang sebenarnya ikut menyumbang bahan pokok pupuk tersebut.
Biaya pengangkutan dan pengolahan yang tinggi, tidak adanya nilai tambah yang diberikan kepada masyarakat, kurangnya pengetahuan masyarakat akan manfaat ekonomis yang didapat dari sampah, dan kurangnya keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah menjadi pupuk kompos itulah yang membuat penulis tertarik untuk mengadakan sosialisasi dan pelatihan mengenai penanganan sampah yang sederhana sehingga bisa dilakukan sendiri oleh masyarakat dan bisa membantu masyarakat dari sisi ekonomi dengan usaha pupuk kompos .Penanganan sampah ini juga mengajak urun tangan lembaga lokal yakni RW dan RT sehingga dapat merangkul warga dengan lebih mudah.
Metode pelaksanaan program ini adalah sosialisasi, pelatihan, pemantauan dan pendampingan. Sosialisasi yang akan dilakukan dapat membuka wacana baru bagi masyarakat mengenai manfaat dari sampah yang selama ini dianggap sebagai barang tidak berharga. Sedangkan pelatihan akan menambah keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah menjadi pupuk kompos. Keterampilan ini dapat memberikan banyak manfaat bagi warga. Hasil daur ulang sampah mereka sendiri yakni pupuk kompos dapat digunakan pada lahan hijau di rumah masing-masing dan terlebih lagi dapat dikembangkan menjadi sebuah usaha. Efek lainnya adalah sampah tidak menumpuk lagi di TPS menunggu untuk diangkut ke TPA sehingga lingkungan menjadi bersih.

C. RUMUSAN MASALAH
1. Menumpuknya sampah warga di TPS tanpa memberi nilai tambah bagi warga namun sebaliknya menyebabkan lingkungan menjadi kotor.
2. Kurangnya pengetahuan yang dimiliki masyarakat mengenai manfaat ekonomis yang didapat dari sampah sehingga sampah menjadi barang yang tidak berharga dan terbuang begitu saja memenuhi TPS setempat
3. Kurangnya keterampilan yang dimiliki masyarakat mengenai cara pengolahan sampah menjadi pupuk kompos sehingga tidak memperoleh produk hasil daur ulang bernilai ekonomis yang mampu menambah pendapatan masyarakat
D. TUJUAN PROGRAM
Kondisi baru yang diharapkan terwujud setelah adanya program ini adalah :
1. Sampah yang menggunung di TPS akan berkurang karena masyarakat mengerti akan nilai ekonomis yang ditawarkan dari sampah sehingga lingkungan menjadi bersih
2. Masyarakat memiliki wacana baru mengenai manfaat ekonomis dari sampah
3. Masyarakat memiliki tambahan keterampilan baru dalam mengolah sampah menjadi pupuk kompos yang memiliki nilai ekonomis sehingga mampu menambah pendapatan masyarakat

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN

a. PENGEMBANGAN PENGETAHUAN
Program Kreatifitas Pengabdian Masyarakat Mahasiswa (PKMM) ini diharapkan mampu membuka wacana baru bagi masyarakat akan pentingnya sampah. Sampah tidak dipandang sebagai suatu barang tidak berguna yang hanya bisa membawa masalah namun masyarakat mampu melihat adanya manfaat degan pengetahuan baru yang didapat dan mampu memetik manfaat tersebut dengan adanya keterampilan yang dimiliki.

b. PENGEMBANGAN PEMBANGUNAN
Setelah masyarakat mampu memetik manfaat dari sampah dalam bentuk pupuk kompos, maka diharapkan dapat dikembangkan menjadi suatu usaha pupuk kompos sehingga dapat meningkatkan income per kapita masyarakat. Selain itu, lingkungan menjadi bersih dan Pemerintah dapat terbantu dalam hal pengelolaan sampah.

c. PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN
Program Kreatifitas Pengabdian Masyarakat Mahasiswa (PKMM) ini diharapkan mampu menjadi sarana transfer ilmu pengetahuan sehingga ilmu yang dimiliki akan berguna karena dapat digunakan oleh banyak orang.
F. KEGUNAAN PROGRAM

a. ASPEK SOSIAL
Persoalan sampah akhirnya dapat diatasi bukan hanya dari peran pemerintah tapi juga peran aktif masyarakat. Semakin banyak pihak yang turut serta maka semakin cepat lingkungan menjadi bersih.
Jika persoalan sampah yang diatasi dengan mengubahnya menjadi pupuk kompos dengan cara yang sederhana berkembang dengan baik maka dapat menjadi usaha yang dapat menyerap tenaga kerja.

b. ASPEK EKONOMI
Bila pengolahan sampah menjadi pupuk kompos berhasil sehingga memiliki hasil yang melebihi kebutuhan masyarakat pengolah, maka masyarakat dapat menjualnya kepada konsumen dan seterusnya dapat dijadikan sebagai usaha. Hasil penjualan ini akan menjadi suatu tambahan penghasilan bagi masyarakat yang nantinya dapat meningkatkan income per kapita.

G. GAMBARAN MASYARAKAT SASARAN
Lingkungan RW. 02 Kelurahan Tlogomas memiliki jumlah penduduk yang padat. RW. 02 ini memiliki 6 RT dan setiap RT rata-rata terdiri dari 200 Kepala Keluarga. Masalah yang selama ini dihadapi oleh penduduk adalah menumpuknya sampah di TPS setempat karena belum dikelola dengan baik. Apalagi ketika ada keterlambatan pengangkutan sampah ke TPA oleh truk-truk sampah. Musim hujan juga menjadi suatu masalah karena membuat sampah-sampah berserakan terbawa air hujan ke jalan.
Penanganan sampah yang melibatkan lembaga lokal ini dapat membantu mengatasi hal tersebut. Masalah sampah akhirnya menjadi masalah bersama. Akan dilakukan sosialisasi dan pelatihan kepada perwakilan dari setiap RT yakni pengurus RT mengenai manfaat dan cara mengolah sampah menjadi pupuk kompos dengan menggunakan teknologi sederhana. Setelah itu, perwakilan tersebut yang mengkomunikasikan secara langsung kepada warga setempat dengan tetap dilakukan pemantauan dan pendampingan.
Setiap 2 RT memiliki satu tempat pengolahan dalam bentuk tong-tong. Tiap jenis sampah organik akan disekat dengan tanah dan menempatkan sisa makanan yang mudah busuk di lapisan paling atas. Tumpukan sampah organik yang sudah dilapisi dengan tanah disimpan selama 2 minggu. Setelah itu, hasilnya bisa dipanen. Murah, mudah, singkat, dan bermanfaat, itulah yang ditawarkan dari program ini.

H. METODE PELAKSANAAN PROGRAM
Observasi yang telah dilakukan di lingkunga RW. 02 Kelurahan Tlogomas mengungkapkan adanya masalah penumpukan sampah di TPS yang disebabkan sampah belum dikelola dengan baik karena kurangnya pengetahuan akan manfaat dan keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah. Berdasarkan hal tersebut akhirnya ditemuka sebuah dalam penangan sampah berbasis lembaga lokal yang akan dijalankan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a. SOSIALISASI
Sosialisasi Program akan dilakukan melalui pengurus RT setempat. Sosialisasi kepada masyarakat akan secara langsung dilakukan pengurus RT. Diharapkan dengan adanya sosialisasi ini, seluruh pengurus RT akan paham tentang penanganan sampah yang akan dilaksanakan sehingga mereka akan mengerti manfaat dari program ini dan akhirnya akan termotivasi untuk menjalankannya.

b. PELATIHAN
Pelatihan cara menjalankan model penanganan sampah keluarga berbasis lembaga lokal ini akan dilakukan kepada perwakilan tiap-tiap RT. Perwakilan ini yang akan mengadakan pelatihan secara langsung kepada warga setempat. Pelatihan ini dilaksanakan mulai dari cara mengisi tong dengan tanah dan jenis sampah yang bisa didaur ulang menjadi pupuk kompos, waktu penyimpanan, dan panen.
c. PEMANTAUAN DAN PENDAMPINGAN
Pemantauan dan pendampingan dilakukan selama pelaksanaan kegiatan ini berlangsung sampai masyarakat dapat melakukan secara mandiri. Pemantauan akan dilakukan oleh anggota kelompok bersama pengurus RW dan RT untuk mengamati pelaksanaan program.

I. JADWAL KEGIATAN
Jadwal Kegiatan Program

Kegiatan Bulan Ke-
1 2 3
- Penetapan lokasi penampungan/pengolahan x
- Sosialisasi program x
- Persiapan alat dan bahan x
- Pelatihan x x
- Pemantauan dan pendampingan x x x x x x x x x x x x
- Panen pupuk kompos x x x x
- Laporan akhir x
Tabel 1
J. NAMA BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA PENGABDIAN
1. Ketua Pelaksana Pengabdian
a. Nama : Dwi Riva Yuliansari
b. NIM : 04620241
c. Fakultas/Program Studi : Ekonomi / Akuntansi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk PKM : 10 jam / minggu
2. Anggota Pelaksana Pengabdian
a. Nama : Pristiawan Erik Abadi
b. NIM : 04620253
c. Fakultas/Program Studi : Ekonomi / Akuntansi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk PKM : 8 jam / minggu
a. Nama : Ade Rahmawati
b. NIM : 07610091
c. Fakultas/Program Studi : Ekonomi / Manajemen
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Waktu untuk PKM : 8 jam / minggu

K. NAMA DAN BIODATA DOSEN PENDAMPING
1. Nama : Dra. Sri Wahjuni Latifah, MM, Ak
2. Golongan Pangkat dan NIP : Lektor / III C dan 107.9209.0281
3. Jabatan Fungsional : Penata
4. Jabatan Struktural : Sekretaris Jurusan Program Studi Akuntansi
Universitas Muhammadiyah Malang
5. Fakultas / Program Studi : Ekonomi / Akuntansi
6. Bidang Keahlian : Sistem InformasiAkuntansi
7. Waktu untuk PKM : 7 jam / minggu

L. ANGGARAN BIAYA
Estimasi dana kegiatan
NO JENIS KEGIATAN ANGGARAN
1. Persiapan lokasi Rp 200.000,00
2. Penggandaan proposal, sosialisasi, dan publikasi Rp 175.000,00
3. Alat dan bahan :
Tong plastik (42 buah @ Rp 100.000,00)
Sekop (3 buah @ Rp 50.000,00)
Tanah (3 bulan = 30 karung @ Rp 5.000,00)
Rp 4.200.000,00
Rp 150.000,00
Rp 150.000,00
4. Transportasi (4 orang x 12 kali x @ Rp 10.000,00) Rp 480.000,00
5. Telepon (3 bulan) Rp 250.000,00
6. Administrasi dan manajemen Rp 195.000,00
7. Penyusunan laporan akhir Rp 200.000,00
Jumlah Rp 6.000.000,00
Tabel 2
M. LAMPIRAN

a. GAMBARAN MODEL PENANGANAN SAMPAH KELUARGA BERBASIS LEMBAGA LOKAL

Model Penanganan Sampah Keluarga Berbasis Lembaga Lokal

Bagan 1

Untuk membuat kompos, setiap 2 RT menyediakan 14 buah tong sehingga dalam setiap RW terdapat 42 tong. Simpan tanah secukupnya di dasar tong, lalu masukan sampah dari jenis daun atau sayuran mentah, tutup lagi dengan lapisan pasir atau tanah, masukan sampah sisa roti atau kue, lapisi lagi dengan tanah, masukan kotoran burung atau ayam, lapisi lagi dengan tanah, masukan sisa makanan mudah busuk seperti nasi dan sayuran dan lapisi kembali dengan tanah.
Setelah disimpan selama dua minggu, pupuk kompos rumah tangga ini siap dipanen. Setiap hari menggunakan tong yang berbeda-beda sehingga pengumpulan sampah dan panen dapat dilakukan tiap hari. Pupuk ini bisa digunakan untuk pot bunga atau tumbuhan di pekarangan sendiri dan jika lebih maka bisa dijual.

About these ads

07/08/2009 - Posted by | Contoh PKM

19 Komentar »

  1. kalo aku punya cara mengatasi soal sampah,di tingkat lingkungan baik Rt,Rw,Kelurahan atau tempat penampungan sampah lainya,dibuatkan tungku pemusnah sampah untuk sampah yg.tdk.dpt dimanfaatkan,saya sdh bikin 15 unit pd bbrp tempat,hsl.nya sesuai yg.diharapkan,alat praktis,sederhana tanpa bhn.bakar apapun,dan sampah jenis apapun musnah jadi abu,lha abunya untuk pupuk,ada minat hub.saya siap membantu(beaya sangat murah sekali)OK.

    Komentar oleh Salikun | 10/24/2010

  2. Penanganan sampah berbasis kelembagaan lokal di lingkungan RW 02 Kelurahan Tlogomas merupakan suatu kelembagaan yang sangat bermanfaat baik dipandang dari segi lingkungan maupun ekonomis. Kelembagaan lokal tersebut mampu menjadi semacam “proyek percotohan” bagi daerah lain dan diharapkan pemerintah lebih berperan aktif dalam pelaksanaan kegiatan tersebut baik dalam bentuk memfasilitasi sarana atau prasana serta regulasi yang mendukung perkembangan kelembagaan tersebut

    Komentar oleh Rosyid | 11/25/2011

  3. kalau menurut saya peran lembaga lokal yang ada kurang dioptimalkan oleh perangkat desa itu sendiri dan hal ini peran perangkat desa sangat berpengaruh dalam penanganan sampah tersebut melalui lembaga lokal yang ada misalnya saja bentuk lembaga lokal yang diorganisir oleh pemuda setempat yang putus sekolah ataupun pengangguran agar berpartisipasi membentuk iuran sampah yang biayanya relatif murah dan terjangkau oleh masyarakat sekitar misalnya satu KK Rp.3000/minggu saya rasa tidak terlalu berat oleh masyarakat disana

    Komentar oleh sukarta/NPM1013000095 /STIA LAN jakarta | 11/26/2011

  4. Selama ini sebagian besar masyarakat masih memandang sampah sebagai barang sisa yang tidak berguna, bukan sebagai sumberdaya yang perlu dimanfaatkan. Paradigma baru memandang sampah sebagai sumberdaya yang mempunyai nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan, seperti contoh diatas yang dilakukan dilingkungan rw 02 kelurahan Tlogomas misalnya untuk kompos. Pengelolaan sampah dengan paradigma baru tersebut dilakukan dengan kegiatan pengurangan dan penanganan sampah yang dilakukan oleh para masyarakat setempat guna menyelesaikan masalah yang selalu dihadapi selama ini seputar masalah sampah yang selalu menimbulkan permasalahannya.
    Dengan peran serta masyarakat yang dilakukan oleh masyarakat dilingkungan rw 02 kelurahan Tlogomas, volume sampah yang harus ditangani Pemerintah akan jauh berkurang. Lingkungan menjadi bersih, banjir akibat sungainya dipenuhi sampah tidak terjadi. Penyakit karena timbunan sampah jauh berkurang. Kompos hasil daur ulang dapat menyuburkan bumi, membuat lingkungan teduh dan asri sehingga aspek lain yang dirasakan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
    Mulailah kita sadar dan lakukan seperti apa yang dilakukan masyarakat Tlogomas tanpa harus menunggu action dari pemerintah dan mari sama-sama kita mengelola sampah menjadi berkah.

    Komentar oleh Rendawati | 11/26/2011

  5. Dalam rangka mendukung program jangka panjang pemerintah, setiap rumah tangga disarankan mengelola sendiri sampahnya melalui program 3 R (Reduce, reuse dan recycle). Berkaitan untuk mendukung program tersebut, aspek peran serta masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam pengelolaan persampahan dan merupakan tumpuan bagi suksesnya pengelolaan sampah.

    Menanggapi artikel yang ada, penanganan sampah menjadi pengkomposan sampah memiliki manfaat-manfaat dari segi :
    1. Segi Ekonomi, a) Pengkomposan dapat mengurangi jumlah sampah sehingga akan mengurangi biaya operasinal pemusnahan sampah; b) Tempat pengumpulan sampah akhir dapat digunakan dalam waktu yang lebih lama; c)Kompos dapat memperbaiki kondisi tanah dan dibutuhkan oleh tanaman. Hal ini berarti kompos memiliki nilai kompetetif dan ekonomis yang berarti kompos dapat dijual.
    2. Segi Sosial;a) Dapat mebuka lapangan kerja;b) Dapat dijadikan obyek pembelajaran lingkungan baik bagi masyarakat maupun dunia pendidikan.
    3. Segi Kesehatan;a) Pengurangan tumpukan sampah akan menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat;b) mengurangi berbagai macam sumber bibit penyakit yang ada pada sampah.

    Diharapkan Penanganan Sampah Keluarga Berbasis Lembaga Lokal di Lingkungan RW. 02 Kelurahan Tlogomas dapat dijadikan contoh oleh warga lainnya dan pentingnya dukungan pemerintah merupakan hal utama dalam penguatan kelembagaan yang sudah ada agar mampu mengatasi kendala yang ada, memperdalam pengetahuan dan keterampilan warga setempat

    Komentar oleh Andika Handayani | 11/27/2011

  6. Pengelolaan sampah tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah, diperlukan peran aktif masyarakat sekitar untuk dapat menciptakan lingkungan yang bersih dan asri. Penanganan sampah di Kelurahan Tlogomas merupakan salah satu contoh strategi Promosi dalam pengembangan kelembagaan lokal (RT dan RW) dimana masyarakat (lembaga lokal) dirangsang untuk ikut terlibat dalam penyelesaian masalah sampah ini. Perlu adanya keterlibatan pemerintah yang besar dalam hal ini Univ Muhammadiyah Malang yang memberikan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan yang intensif supaya program penanganan sampah ini dapat berjalan, sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat baik secara lingkungan maupun ekonomi.

    Komentar oleh Eko Wahyudi | 11/27/2011

  7. Selama ini penanganan sampah hampir di setiap daerah belum terkelola dengan baik termasuk di lingkungan RW 02 Kelurahan Tlogomas. Padahal sampah apabila dikelola dengan baik akan menghasilkan nilai ekonomis bagi masyarakat di lingkungan tersebut. Contoh sederhana yaitu pengelolaan sampah untuk menghasilkan pupuk kompos. Namun kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan sampah tersebut membuat sampah hanya menjadi sekedar sampah yang memperburuk lingkungan tempat masyarakat tersebut berdiam. Dengan melihat pada kondisi tersebut, maka adalah hal yang bagus jika kemudian lembaga lokal mulai menanamkan pengertian kepada masyarakat tentang manfaat ekonomis yang bisa didapat dari sampah apabila dapat dikelola dengan baik. Metode pelaksanaan program pengelolaan sampah seperti sosialisasi, pelatihan, pemantauan dan pendampingan. membuka wacana baru bagi masyarakat mengenai manfaat dari sampah yang selama ini dianggap sebagai barang tidak berharga.

    Komentar oleh Nefrientin Betavey Antoinetta | 11/27/2011

  8. Selama ini penanganan sampah hampir di setiap daerah belum terkelola dengan baik termasuk di lingkungan RW 02 Kelurahan Tlogomas. Padahal sampah apabila dikelola dengan baik akan menghasilkan nilai ekonomis bagi masyarakat di lingkungan tersebut.
    Contoh sederhana yaitu pengelolaan sampah untuk menghasilkan pupuk kompos. Namun kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan sampah tersebut membuat sampah hanya menjadi sekedar sampah yang memperburuk lingkungan tempat tinggal masyarakat tersebut.
    Dengan melihat pada kondisi tersebut, maka adalah hal yang bagus jika kemudian lembaga lokal mulai menanamkan pengertian kepada masyarakat tentang manfaat ekonomis yang bisa didapat dari sampah apabila dapat dikelola dengan baik. Metode pelaksanaan program pengelolaan sampah seperti sosialisasi, pelatihan, pemantauan dan pendampingan. Membuka wacana baru bagi masyarakat mengenai manfaat dari sampah yang selama ini dianggap sebagai barang tidak berharga.

    Komentar oleh Nefrientin Betavey A | 11/28/2011

  9. Menurut saya Penanganan sampah keluarga berbasis lembaga lokal di lingkungan Rw 02 kelurahan tlogo mas patut dikembangkan dan disebarkan kedaerah lain,dikarenakan manfaatnya yang sangat berguna bagi masyarakat dan lingkungan sekitar sedangkan bagi Pemerintah diharapkan melakukan pembinaan dan fasilitasi sehingga lembaga tersebut dapat berkembang lebih baik.

    Komentar oleh andi saputra | 11/28/2011

  10. Wujud nyata partisipasi, kepedulian sosisal dan peluang bisnis yang ramah lingkungan tergambar dalam penanganan sampah keluarga, Hal ini membuktikan bahwa kepedulian masyarakat terhadap lingkungan menjadi modal awal dalam merealisasikan penanganan sampah, dengan kata lain modal sosial yang tersedia dalam lingkungan masyarakat dan usaha keras disertai nilai-nilai luhur kemanusiaan memberikan dampak ekonomi yang positif dan kesehatan untuk masyarakat dan lingkungannya.

    Komentar oleh Ketty Rosa | 11/28/2011

  11. Kegiatan yang dilakukan oleh Program Kreatifitas Pengabdian Mahasiswa Masyarakat (PKMM) untuk menangani masalah sampah keluarga yang berbasis lembaga lokal sangat kreatif dan tentunya akan mendatangkan manfaat bagi lingkungan yang dikelola. selain lingkungan menjadi bersih karena sampah terkendali tentunya keuntungan ekonomi juga akan didapatkan oleh masyarakat yang mengelola sampah yang berasal dari pupuk yang dihasilkan. apabila kegiatan tersebut ditekuni bahkan bisa sebagai peluang usaha dan menambah penghasilan warga RW 02 Kelurahan Tlogomas. tetapi jangan lupa juga diberikan pelatihan administrasi dan manajemen sederhana guna kelangsungan kelembagaan lokal yang sudah terbentuk nantinya. kegiatan ini akan sangat berhasil membentuk kelembagaan lokal dengan memberdayakan masyarakat setempat, sudah ada contoh di desa Bojong Baru, Cibinong Jawa Barat, yang saya lihat langsung saat saya praktek lapangan di sana. sukses ya tuk PKMM

    Komentar oleh WINDI SARI ASTUTI | 11/28/2011

  12. Sampah pada dasarnya merupakan suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam yang tidak mempunyai nilai ekonomi, bahkan dapat mempunyai nilai yang negatif karena dalam penanganannya, baik untuk membuang atau membersihkannya memerlukan biaya yang cukup besar.
    Sampah dan pengelolaannya kini menjadi masalah yang kian mendesak di kota-kota di Indonesia, sebab apabila tidak dilakukan penanganan yang baik akan mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan lingkungan yang merugikan atau tidak diharapkan sehingga dapat mencemari lingkungan, baik terhadap tanah, air dan udara. Oleh karena itu untuk mengatasi masalah pencemaran tersebut diperlukan penanganan dan pengendalian terhadap sampah. Penanganan dan pengendalian akan menjadi semakin kompleks dan rumit dengan semakin kompleksnya jenis maupun kompisisi dari sampah sejalan dengan majunya kebudayaan. Oleh karena itu penanganan sampah di perkotaan relatif lebih dibanding sampah di desa-desa.
    Masalah yang sering muncul dalam penanganan sampah kota adalah masalah biaya operasional yang tinggi dan semakin sulitnya ruang yang pantas untuk pembuangan. Sebagai akibat biaya operasional yang tinggi, kebanyakan kotakota di Indonesia hanya mampu mengumpulkan dan membuang sekitar 60% dari seluruh produksi sampahnya. Dari 60% ini, sebagian besar ditangani dan dibuang dengan cara yang tidak saniter, boros dan mencemari.
    Untuk mendapatkan tingkat efektifitas dan efisiensi yang tinggi dalam penanganan sampah di kota, maka dalam pengelolaannya harus cukup layak diterapkan yang sekaligus disertai upaya pemanfaatannya sehingga diharapkan mempunyai keuntungan berupa nilai tambah. Untuk mencapai hal tersebut, maka perlu pemilihan cara dan teknologi yang tepat, perlu partisipasi aktif dari masyarakat dari mana sumber sampah berasal dan mungkin perlu dilakukan kerjasama antar lembaga pemerintah yang terkait. Disamping itu juga perlu aspek legal untuk dijadikan pedoman berupa peraturan-peraturan mengenai lingkungan demi menanggulangi pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh sampah.
    Penanganan sampah keluarga berbasis lembaga lokal di Lingkungan Rw.02 Kel.Tlogomas ini merupakan wujud nyata peran aktif masyarakat dalam pengimplementasian kebijakan pengelolaan sampah di Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa lembaga lokal yang terbentuk atas inisiatif masyarakat yang peduli lingkungan dalam rangka mewujudkan lingkungan yang bersih dengan menjadikan sampah sebagai sumber daya.

    Komentar oleh Ika Wulandari | 11/28/2011

  13. dengan program Penanganan Sampah Keluarga Berbasis Lembaga Lokal di Lingkungan RW. 02 Kelurahan Tlogomas tersebut sangan bermanfaat bagi warganya secara ekonomis dan dapat membah pengetahuan akan cara penanganan sampah yang baik bagi warga seperti metode yang digunakan pelaksanaan program ini adalah sosialisasi, pelatihan, pemantauan dan pendampingan. Sosialisasi yang akan dilakukan dapat membuka wacana baru bagi masyarakat mengenai manfaat dari sampah yang selama ini dianggap sebagai barang tidak berharga. Sedangkan pelatihan akan menambah keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah menjadi pupuk kompos. Keterampilan ini dapat memberikan banyak manfaat bagi warga. Hasil daur ulang sampah mereka sendiri yakni pupuk kompos dapat digunakan pada lahan hijau di rumah masing-masing dan terlebih lagi dapat dikembangkan menjadi sebuah usaha. Efek lainnya adalah sampah tidak menumpuk lagi di TPS menunggu untuk diangkut ke TPA sehingga lingkungan menjadi bersih.

    Komentar oleh m. arif tri prasetyo | 11/28/2011

  14. recycle sampah sangatlah diperlukan dan harus di upayakan dengan partisipatif warga. dalam pengembangan lembaga lokal di Lingkungan RW. 02 Kelurahan Tlogomas, dan perlu pelatihan kepada warga setempat agar lebih aktif, produktif, bernilai dan menjadi wadah dalam penanggulan sampah sehingga warga tidak perlu resah dengan masalah sampah yang semakin hari terus meningkat. jika recycle sampah ini produktif, maka terwujudnya nilai sosial, nilai kesehatan lingkungan dan tidak perlu khawatir tentang masalah kebanjiran.

    Komentar oleh Mahmud El Fauzi | 11/29/2011

  15. Usaha dalam penanganan sampah yang ada di lingkungan Rw 02 kelurahan Tlogomas dengan cara pembentukan lembaga lokal merupakan ide yang bagus. Kontribusi masyarakat dalam pembangunan yang dilaksanakan pemerintah perlu dikembangkan sehingga beban pemerintah dalam melaksanakan pembangunan tidak terlalu berat (over load). Dalam pembuatan lembaga lokal ini yg pertama harus diperhatikan adalah keinginan masyarakat untuk mengelola sampah yang ada di lingkungan. Jika keinginan itu ada pada masyarakat maka kesadaran yg ada pada masyarakat dapat menjadi modal utama dalam pendirian lembaga lokal. apabila belum ada maka kita perlaku melakukan sosialisasi dan pelatihan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat. Ketika lembaga lokal ini sudah berjalan kita perlu melakukan pendampingan dan pemantauan terhadap kegiatan yang dilakukan agar apa yg kita dan masyarakat dapat tercapai. Harapannya lembaga lokal ini dapat menjadi contoh untuk di daerah-daerah lain yang banyaknya sampahnya.

    Komentar oleh Mustaqir Aqdam NPM 1013072410 | 11/30/2011

  16. Sangat setuju. hal ini wujud kegiatan yang sangat positif.
    Keikutsertaan individu/keluarga dalam mengelola sampah adalah bukti dari tanggung jawab iman dan lingkungan. Selain membantu pemerintah dalam pengelolaan masalah sampah juga sebenarnya meningkatkan nilai guna dari sampah itu sendiri menjadi bernilai ekonomis. Hal ini jika dikelola lebih massal dan professional (dikembangkan lebih jauh dari segi produksi dan pemasaran) menjadi sebuah usaha yang prospeknya sangat bagus, ini dilihat dari segi ekonomi, modal sedikit tetapi nilai jual nya maksimal.
    Peningkatan professional manajemen dari segi lembaga lokalnya sehingga akan tercipta lapangan kerja baru yang bisa mengakomodasi banyaknya pengangguran di sekitar lokasi tersebut. Jadi program ini tidak hanya membantu dalam pengelolaan sampah tetapi juga membuka lapangan kerja baru. Salud!.. (STIA LAN – NPM 0813000206)

    Komentar oleh rita purbasari | 12/04/2011

  17. thanks atas comment nya… semoga saja ada penerusnya, karena kami sendiri sebagai pelaksana dilapangan sudah berbuat semaksimal mungkin termasuk mendapatkan tempat untuk mendistribusikan hasil olahan sampah tersebut.. namun sekarang kami terkendala waktu untuk melakukan pemantauan..

    Komentar oleh Pristiawan Erik Abadi | 05/13/2012

  18. memang bener sekarang banyak orang yang selalu buang sampah sembarangan

    Komentar oleh dini | 06/12/2012

  19. Penanganan sampah bagaimanapun jg tanpa campur tangan pemerintah akan sulit mewujudkan lingkungan bersih, pemerintah harus bs memberi solusi atau inovasi yang bs diaplikasikan ditingkat masyarakat, dinegara maju pengelolaan sampah murni dikelola negara dengan mengoptimalkan anggaran yg ada dengan pengawasan yang profesional.

    Komentar oleh om jiem | 08/28/2013


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 914 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: