BIOLOGI ONLINE

blog pendidikan biologi

Penampungan Barang Bekas Sebagai Usaha Mandiri Mahasiswa Di Lingkungan Sekitar Kampus UMM

1. JUDUL PROGRAM
Penampungan Barang Bekas Sebagai Usaha Mandiri Mahasiswa Di Lingkungan Sekitar Kampus UMM

2. LATAR BELAKANG MASALAH
Seiring perkembangan zaman semakin banyak kebutuhan yang diperlukan manusia untuk bisa terus eksis. Kehidupan manusia yang terus berkembang akan selalu diikuti dengan pemenuhan segala kebutuhannya. Mulai dari tempat tinggal (rumah), sandang (pakaian), dan pangan (makanan). Ke tiga kebutuhan pokok tersebut akan selalu dipenuhi manusia dalam rangka agar terus bisa beraktivitas.
Selain ke tiga kebutuhan pokok yang harus dipenuhi tersebut, manusia juga mempunyai kebutuhan sekunder yang dapat terpenuhi jika kebutuhan primer telah terpenuhi. Kebutuhan sekunder tersebut sebenarnya tidak harus dipenuhi, tetapi manusia selalu berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan sekunder tersebut dengan segala cara. Manusia selalu marasa perlu untuk memenuhi segala kebutuhan sekunder tersebut. Bila sudah punya rumah, selanjutnya pasti merasa perlu interior beserta perabotannya. Jika semuanya telah terpenuhi, maka manusia berkeinginan untuk menambah perabotan yang lebih bagus lagi dan seterusnya.
Semakin majunya teknologi tentu saja hal itu diikuti dengan semakin banyaknya kebutuhan yang diperlukan manusia untuk menjalankan aktifitas sehari-harinya. Sudah barang tentu manusia akan membeli barang-barang (peralatan) yang diperlukan untuk kehidupan sehari-harinya seperti, peralatan memasak, membeli koran, pakaiannya, dan material logam yang digunakan untuk jaga-jaga. Dan tentu itu semuanya akan menjadi sebuah barang yang masa pakaiya ada batasnya atau istilahnya nanti barang itu akan menjadi sebuah barang bekas bila tak terpakai lagi.
Melihat fenomena yang ada, penulis/pengusul mencoba untuk membuat peluang usaha yang dikembang ditengah aktivitas kuliah. Usaha yang akan dijalankan tak menjadi masalah bagi mahasiswa untuk melakukannya sebagai kegiatan yang positif dan berguna sebagai bekal ke depannya untuk bisa bersaing dengan yang lainnya. Penulis mencoba mendirikan sebuah usaha sampingannya yaitu, dengan mendirikan sebuah penampungan barang bekas yang ditujukan bagi masyarakat sekitar kampus UMM, tak terkecuali mahasiswa UMM tentunya.
Melihat kecenderungan masyarakat sekitar kampus UMM yang memiliki perabotan rumah tangga dan peralatan pendukungnya, maka sudah pasti itu bisa dijadikan sebagai sebuah potensi yang perlu digali. Aktivitas masyarakat sekitar kampus UMM yang memiliki kehidupan dinamis akan menjadikannya untuk terus membeli barang-barang kebutuhannya yang selalu meningkat. Tentunya barang-barang yang telah dibeli itu mempunyai masa pakai yang nantinya akan menjadi sebuah barang bekas jika tidak dipakai lagi.
Selain itu, mahasiswa UMM yang tinggal di kontrakan atau kost pasti mempunyai perabotan yang dibutuhkan saat kehidupan sehari-harinya. Jika mereka sudah lulus, maka barang-barang tersebut pasti akan ditinggal di tempat kostnya dan akan menjadi barang tak terpakai dan dibiarkan seperti sebuah sampah. Barang-barang tersebut pasti sebenarnya masih mempunyai nilai pakai, hanya saja biasanya pemiliknya ogah untuk membawa barang-barang tersebut. Apalagi jika mahasiswa tersebut berasal dari luar jawa seperti Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, dan lainnya, pasti mereka malas untuk membawa banyak barang untuk perjalanan jarak jauh.
Tingkat kesejahteraan masyarakat sekitar kampus UMM yang relatif hidup sejahtera dan memiliki tingkat ekonomi yang cukup, membuat mereka selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan sekundernya secara terus menerus. Ditambah lagi, gaya hidup masyarakat kampus yang konsumtif menjadikannya sebuah peluang untuk ditindaklanjuti menjadi sebuah usaha untuk menampung barang-barang bekas.
Suatu permasalahan akan muncul bila setiap masyarakat memiliki barang-barang bekas yang sudah tak terpakai lagi, misalnya, barang-barang yang sudah tidak dipakai akan menjadi sampah bila dibiarkan menumpuk. Problem tersebut biasanya terjadi bila barang itu sudah tergantikan dengan yang baru dan masa pakainya yang sudah melewati batas. Penulis berusaha untuk mencari solusi dengan cara membuat suatu tempat penampungan barang bekas, sehingga masyarakat yang mempunyai masalah dengan tumpukan barang bekas dapat mengatasinya dengan menjual barang tersebut pada penulis.
Yang mendasari penulis untuk membuat sebuah usaha penampungan barang bekas dikarenakan melihat realita yang terjadi di lingkungan masyarakat sekitar kampus UMM. Mereka kadang-kadang kebingungan dengan barang bekasnya dan perabotan lain yang tak terpakai, namun itu masih bisa dimanfaatkan atau diolah ulang. Seandainya masyarakat tahu barangnya masih memiliki nilai jual dan masih bermanfaat, maka tak mungkin mereka membuangnya secara percuma dan hanya menjadi sampah saja.
Perabotan dan barang bekas yang tak terpakai pemiliknya oleh penulis dianggap sebagai sebuah peluang usaha untuk dilirik, karena memiliki potensi yang luar biasa besar bila dikembangkan secara serius dan mendalam. Daripada dibuang percuma dan mengotori lingkungan sekitarnya, seyogyanya masyarakat pasti akan lebih senang bila ada tempat usaha yang mau menampung barang bekas tersebut. Di samping mereka mendapatkan uang ganti rugi juga tak perlu lagi repot mencari tempat sampah.
Penulis lebih tertarik untuk mengembangkan usaha penampungan barang bekas ini dengan berbagai alasan dan pertimbangan yang direncanakan secara matang, di antaranya, (1) memberdayakan ekonomi masyarakat, (2) memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menjual barang bekasnya daripada dibuang disembarang tempat, (3) mengurangi pencemaran dan ikut menjaga kebersihan lingkungan, (4) membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat, (5) sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa untuk lebih mengenal dunia kewirausahaan, dan (6) dapat dijadikan sebagai gantungan hidup yang menggiurkan karena usaha secara matematika memiliki tingkat keuntungan yang relatif besar dan resikonya kecil.

3. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana bentuk usaha penampungan barang bekas yang akan dirancang?
2. Bagaimana teknik pelaksanaan usaha yang dijalankan?
3. Bagaimana perhitungan hasil usahanya penampungan barang bekas?
4. TUJUAN PROGRAM
1. Mengadakan usaha penampungan barang bekas yang pertama di lingkungan kampus UMM
2. Menciptakan sebuah media pembelajaran kewirausahaan baru bagi mahasiswa, sehingga menjadikan mahasiswa mandiri dalam hal finansial, serta mengurangi ketergantungan pada orang tua.
3. Membantu mahasiswa dan masyarakat di lingkungan sekitar kampus UMM dalam rangka memanfaatkan barang-barang bekas yang tak terpakai lagi, serta dapat di komersilkan.

5. LUARAN YANG DIHARAPAKAN
Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahan (PKMK) yang dibuat tim penulis ini diharapkan mendapatkan sebuah tempat (counter) khusus yang nantinya akan dijadikan sebagai basis penampungan barang bekas. Adanya sebuah tempat yang representatif dan strategis yang diperuntukan bagi kelangsungan usaha ini akan dapat menjadi tolok ukur kesuksesan usaha ini ke depannya. Apabila tempat yang tersedia sangat ‘mumpuni’, maka usaha yang dirintis ini akan dapat eksis dan berkembang pesat, serta banyak calon konsumen yang menjual barangnya ke tempat ini. Dari kegiatan ini, akan dilihat apakah usaha ini akan mampu bersaing dengan usaha lain yang memiliki konsep hampir sama. Namun, karena usaha yang ada ini merupakan yang pertama kali dan konsep yang diusung agak berbeda dengan penampungan barang bekas umumnya yang sudah ada, maka usaha ini pantas dan layak untuk diadakan dan dikembangkan. Karena usaha ini dapat memberikan keuntungan bagi ke dua belah pihak (pembeli dan konsumen),

6. KEGUNAAN PROGRAM
6.1. Aspek Ekonomi
Masyarakat sekitar kampus UMM dapat terbantu dengan adanya kehadiran usaha baru ini. Mereka dapat menjual barang-barang bekas miliknya yang sudah tak terpakai dengan menukarkannya pada usaha penampungan barang bekas ini. Tentu usaha yang kita dirikan ini akan memberikan harga yang layak dan bersaing sebagai kompensasi barang bekas yang dijual konsumen. Dengan begitu diharapkan orang tersebut di kemudian hari orang akan kembali menjual barangnya di usaha penampungan yang penulis jalankan.

6.2. Aspek Ketenagakerjaan
Banyaknya waktu luang yang terbuang sia-sia pada mahasiswa sungguh lah sebuah fenomena yang membuat miris. Menyadari kondisi tersebut, penulis merasa perlu untuk memberikan sumbangsih yang nyata bagi kebaikan mahasiswa agar dapat belajar di luar perkuliahannya. Dengan berdirinya usaha penampungan barang bekas, maka bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran mahasiswa yang ingin praktek langsung bagaimana rasanya dunia kerja itu sesungguhnya.
Bagi penulis sendiri pembuatan usaha tersebut bisa dijadikan sebagai sarana pemberdayaan pemuda pengangguran yang nantinya akan direkrut kerja sebagai tenaga kontrak yang diperbantukan. Kondisi itu akan dapat meningkat bila nantinya usaha ini direspon masyarakat dan berkembang sesuai harapan penulis.

7. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
Mahasiswa adalah orang yang cenderung konsumtif dan sering kali membeli sesuatu dan membelanjakan uangnya tuk beli barang yang diinginkannya. Mereka juga biasanya banyak mempunyai barang yang telah dimilikinya, tapi sudah tak terpakai kembali, contohnya kertas fotokopian yang sudah menumpuk.
Banyaknya kertas yang banyak dan tak terpakai tersebut membuat kertas tersebut banyak dibuang dan dibiarkan tergeletak sia-sia karena banyak mahasiswa yang tak tahu kalau tumpukan kertas tersebut kalau dijual memiliki nilai ekonomi tersendiri. Meskipun aspek ekonominya tak seberapa besar, namun bila itu terjadi pada hampir kebanyakan mahasiswa dan diakumulatifkan betapa besarnya potensi yang ada. Belum lagi, ditambah dengan keberadaan masyarakat umum yang tentu juga memiliki perabotan lain yang bisa dijual ke penampungan.
Banyaknya mahasiswa UMM dari luar kota yang saat kuliah di sini banyak sekali yang membeli perabotan untuk dipakai di kost atau kontrakannya. Tentu saja barang peralatan tersebut ada masa pakainya. Bila sudah lulus mereka tak akan membawanya pulang karena merepotkan dan kalau pun dibuang dan dibiarkan saja, itu sungguh disayangkan.
Jika sebelumnya mereka (mahasiswa) selalu membuang barang-barang bekasnya yang sudah tak diperlukan lagi ke tempat sampah atau membiarkannya tergeletak tak karuan. Dengan berdirinya usaha penampungan barang bekas ini, mereka tak perlu lagi membuang perabotannya secara percuma, melainkan bisa dijual ke tempat usaha barang bekas ini.
Dengan demikian, mahasiswa tak perlu lagi memusingkan barang bekasnya tersebut, Di samping itu, bila ada tempat penampungan barang bekas, maka mahasiswa tak perlu bingung, karena dengan membawanya ke penampungan mereka malahan mendapatkan materi. Tempat usaha penampungan sendiri rencananya bertempat di kontrakan penulis.
Input dari barang bekas ini adalah pendapatan yang diterima dari penjualan barang-barang yang tak terpakai lagi (bekas). Barang tersebut dipisahkan sesuai dengan jenisnya, seperti kertas, kardus, botol, dan material logam lainnya. Setelah dipisahkan, barang tersebut di timbang beratnya sesuai dengan spesifikasinya. Dari hasil penimbangan, maka itulah yang dijadikan sebagai patokan penulis untuk memberikan uang pada konsumen. Namun, sebelumnya penulis sudah membuat daftar harga dari tiap jenis barang yang dijual konsumen pada usaha yang penulis buat. Di bawah ini adalah daftar tabel harga beli yang ditetapkan penulis.
Asumsi keuntungan usaha yang di dapatkan
Nama barang Harga beli dari konsumen Harga jual ke pabrik Keuntungan
Besi Rp. 1500/kg Rp. 2000/kg Rp. 500/kg
Botol beling Rp. 200/biji Rp. 300/biji Rp. 100/biji
Botol plastik Rp. 1700/kg Rp. 2000/kg Rp. 300/kg
Kardus Rp. 1000/kg Rp. 1400/kg Rp. 400/kg
Kertas Rp. 900/kg Rp. 1200/kg Rp. 300/kg
Tabel 1

Misal, ada konsumen yang menjual perkakas yang terbuat dari besi yang sudah karatan. Sesuai dengan yang tercantum di daftar harga barang, besai tersebut perkilonya dihargai Rp 1.500. Apabila besi tadi ditimbang beratnya 10 kg, maka penulis tinggal memberikan harga sesuai dengan berat timbangan dikalikan dengan harga yang tertera, 10 x 1.500 = Rp 15.000. Uang itulah yang didapatkan konsumen tersebut dari hasil penjualannya pada penampungan yang penulis dirikan.
Tiap bulan sekali penulis akan didatangi pengusaha penampungan barang bekas skala besar untuk mengangkut barang yang ada di penampungan yang penulis dirikan. Sebelumnya penulis memang telah bekerjasama dan menjalin link dengan pengusaha skala besar tersebut untuk mengambil barang bekas yang penulis tampung. Karena hanya dengan cara tersebut, usaha yang penulis dirikan bisa terus eksis dan berkembang. Jika tak dilakukan, uang yang ada tak bisa berputar dan penulis akan kesulitan dalam pembiayaan.
Di samping itu, dari transaksi bulanan tersebut usaha yang penulis dirikan akan mendapatkan keuntungan yang besar dari penampungan besar tersebut. Seperti tercantum dalam daftar harga yang ada di atas, terdapat selisih harga yang cukup besar antara pembelian dari konsumen dengan penjualan pada penampungan besar tersebut. Dari kegiatan itulah, penulis dapat menggerakkan ekonomi usaha penampungan barang bekas mandiri ini.
Contoh sederhananya, dengan asumsi apabila usaha yang penulis dirikan selama sebulan membeli dari konsumen sebanyak 300 kg kertas, maka penulis mengeluarkan biaya untuk membayar konsumen tersebut sebanyak Rp 270.000. Dengan menjual lagi pada penampungan besar, kertas dari penulis dihargai sekilonya Rp 1.200, maka uang yang didapatkan penulis sebesar Rp 360.000. Keuntungan kasarnya yang penulis dapatkan adalah sebesar Rp 90.000.
Belum lagi bila mengikutkan hitungan besi (logam) yang dijual konsumen pada penampungan yang penulis buat. Umpama tiap bulannya usaha penampungan tersebut menerima sekitar 350 kg rongsokan besi, tentu uang yang harus dibayarkan pada konsumen sebesar Rp 525.000. Jumlah tersebut didapatkan dari hasil total berat barang yang diterima penampungan dengan dikalikan harga beli dari konsumen yang tarifnya Rp 1.500 per kilonya.
Sementara itu, jumlah berat rongsokan besi yang 350 kg tersebut oleh penulis dijual lagi penampungan yang lebih besar. Di penampungan yang berskala besar, besi tiap kilonya dihargai Rp 2.000. Jadi penulis akan mendapatkan jumlah uang sebanyak Rp 700.000 dari hasil penjualannya, sehingga laba kotor yang didapatkan penulis sebanyak Rp 175.000 per bulannya.
Sebuah keuntungan yang menurut penulis sangat besar dan menguntungkan sehingga layak untuk diseriusi. Belum lagi bila kita berbicara barang yang lainnya, dimana keuntungan yang didapatkan bisa lebih besar daripada ilustrasi di atas. Karena itu baru memasukkan dua item barang saja, padahal secara umum di penampungan tersebut ada lima barang bekas yang diterima dari konsumen.
Dengan menggunakan perhitungan skala terkecil dan minimum, diasumsikan tiga jenis barang lain yang belum dihitung tadi perbulannya menerima keuntungan kotor tiap itemnya sebanyak Rp 50.000. Itu di dapat dari hasil perhitungan penampungan yang membayar konsumen sebanyak Rp 250.000. Dan hasil penjualannya kembali mendapatkan uang sebesar Rp 350.000. Dari hasil tersebut didapatlah keuntungan sebanyak Rp 100.000 per bulannya dari ke tiga item tersebut.
Mengapa ke tiga item tersebut menggunakan asumsi keuntungan lebih sedikit disbanding dua item di atas? Sebab sudah jelas, ke dua barang yang diuraikan di atas tersebut paling banyak dijumpai dan kemungkinan besar masyarakat banyak yang menjualnya ke penampungan. Sementara ke tiga item barang yang menggunakan asumsi keuntungan kecil, disebabkan tiga item barang tersebut kemungkinan yang didapatkan penampungan dari masyarakat juga lebih kecil jumlahnya. Sehingga wajar bila perhitungan yang dibuat juga mengikuti asas hukum dagang permintaan dan penawaran.
Dari asumsi yang dibuat penulis tersebut, maka keuntungan yang didapatkan dari usaha penampungan barang bekas tersebut adalah berjumlah Rp 365.000 per bulannya. Itu memang masih keuntungan kotornya dan belum dipotong pengeluaran lainnya.
Dalam kesehariannya, usaha yang penulis dirikan ini mempekerjakan 1 orang tenaga kontrak yang per bulannya dibayar sebanyak Rp 200.000. Pembayaran yang dikeluarkan untuk menggaji pekerja tersebut sudah sesuai dan layak untuk diberikan. Karena pekerjaannya yang tak terlalu berat (cuma mengangkat dan menimbang barang), juga disebabkan dalam seharinya usaha ini cuma buka lima jam, antara pukul 08.00-13.00 WIB dan seminggunya cuma buka enam hari saja. Hari minggunya libur atau tutup. Sehingga di luar jam tersebut, pekerja kontrakan tersebut dapat nyambi bekerja di lain tempat.
Di atas jam 13.00 WIB, giliran dari tim penulis yang jaga dan sekaligus merangkap sebagai pekerja di penampungan tersebut. Dipilihnya jam satu siang dikarenakan jam segitu kuliah sudah selesai, serta penulis dapat mencurahkan sepenuhnya tenaganya untuk mengabdikan dirinya di penampungan ini. Penulis sendiri tiap harinya meluangkan waktunya sekitar dua jam tiga puluh menit (dua setengah jam) untuk mensukseskan program tersebut. Sehingga pukul 15.30 WIB, penampungan tersebut ditutup.
Dengan modal awalnya yang berjumlah Rp 1.100.000, dan pendapatan usaha yang didapat per bulannya mencapai Rp 1.4100.000, serta pengeluaran usahanya sebanyak Rp 1.045.000, maka keuntungan bruto yang didapatkan adalah Rp 365.000 per bulannya. Dengan dipotong pembayaran uang pegawai kontrak sejumlah Rp 200.000, keuntungannya tinggal Rp 165.000. Jumlah terakhir tersebut adalah keuntungan bersihnya, karena pengeluaran lain yang tak terduga sudah dimasukkan dianggaran lain yang sudah dibuat penulis.
Apabila per bulannya keuntungan netto yang diraup dari penampungan barang bekas ini sebanyak Rp 165.000, dan dengan modal awal yang disediakan khusus untuk membiayai usaha ini sebanyak Rp 1.100.000, maka modal akan kembali di bulan ke tujuh. Jadi Break Event Point (BEP) yang diperoleh penulis akan didapatkan pada bulan ke tujuh sejak usaha ini pertama kali dibuka. Tentu saja kondisi itu tercapai bila keadaannya sesuai dengan asumsi yang diilustrasikan penulis seperti contoh di atas, serta tak ada kondisi luar biasa yang dapat mengganggu jalannya usaha ini. Bila kondisinya normal saja, kemungkinan usaha ini akan berkembang dan balik modal sesuai dengan yang diuraikan oleh penulis.
Output dari pembuatan tempat penampungan barang bekas adalah penulis mendapatkan sebuah keuntungan bisnis dari adanya kegiatan tersebut, serta dapat melatih jiwa kewirausahaan pada tim penulis. Penulis juga memberikan keuntungan bagi masyarakat yang menjual barangnya yang tak terpakai ke penampungan, serta mereka juga mendapatkan uang dari penulis (sebagai pemilik penampungan) atas barang yang mereka jual.
Bila kondisi tersebut terjadi, diharapkan mahasiswa dapat meninggalkan tempat kos atau kontrakannya dengan bersih tanpa menyisakan barang yang tak terpakai. Selain itu, mereka bisa mendapatkan tambahan finansial berupa uang dan dapat balik ke daerahnya dengan perasaan tenang, serta kebersihan juga akan terjaga karena barang bekas sudah tak tergeletak disembarangan tempat.
Kegiatan penampungan barang bekas ini oleh penulis akan diinformasikan dan dipublikasikan dengan cara penyebaran pamflet dan leaflet kepada masyarakat dan mahasiswa di sekitar kampus UMM. Juga tak ketinggalan di setiap fakultas dan lembaga intra yang ada di universitas bisa dibidik dan dijadikan sebagai pemakai jasa usaha ini. Mereka bisa dijadikan sebagai konsumen yang potensial untuk ‘dipelihara’ keberadaannya karena potensinya yang besar untuk menjual barang bekasnya pada usaha yang penulis dirikan.

8. METODE PELAKSANAAN PROGRAM
a. Melakukan pendekatan secara personal, persuasif, dan terorganisir pada mahasiswa, masyarakat sekitar lingkungan kampus, dan pihak berwenang kampus yang dijadikan sebagai calon konsumen pengguna jasa yang kita tawarkan yaitu penampungan barang bekas.
b. Mempromosikan usaha penampungan barang bekas mandiri ini, sebagai sebuah solusi adanya tempat penampungan atas barang yang tak terpakai oleh calon konsumen. Serta memberikan kesempatan pada konsumen untuk melihat proses pelaksanaan usaha penampungan ini.
c. Usaha penampungan ini akan menjual lagi barang bekas yang di dapat dari konsumen tersebut pada penampungan skala besar.
Konsumen

Usaha Penampungan Mandiri

Penampungan Skala Besar

9. JADWAL PELAKSANAAN PROGRAM
Jadwal Kegiatan Program
Kegiatan Bulan ke
1 2 3 4
1. Persiapan
■ Perijinan √
■ Penentuan tempat usaha √
■ Persiapan alat-alat pendukung usaha √
■ Publikasi dan promosi √
2. Pelaksanaan
■ Penyaringan dan penetapan pemakai jasa √
■ Pemberian kupon tanda transaksi √ √ √ √
■ Peningkatan pelayanan √ √ √
■ Pengembangan tempat usaha √
■ Evaluasi hasil usaha √ √
3. Kegiatan Usaha
■ Pembukuan hasil usaha √ √ √
■ Evaluasi sistem usaha √ √
■ Pemberdayaan dan peningkatan usaha √ √
Tabel 2

10. BIODATA KETUA DAN ANGGOTA KELOMPOK
Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama : Erik Purnama Putra
b. NIM : 05810139
c. Fakultas : Psikologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Brigif Linud 18 Kemantren Jabung, Malang
f. Nomor Handphone : 085649773675
g. Waktu untuk PKM : 15 jam/minggu

Anggota Pelaksana Kegiatan
a. Nama : Dewi Pratiwi
b. NIM : 05810214
c. Fakultas : Psikologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Perum. Landungsari Asri No. A-15, Malang
f. Nomor Handphone : 081334314882
g. Waktu untuk PKM : 15 jam/minggu

a. Nama : Puteriani Aulia
b. NIM : 06810064
c. Fakultas : Psikologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
e. Alamat Rumah : Jl. Raya Tlogomas Gg. 15C No.12, Malang
f. Nomor Handphone : 085234943930
g. Waktu untuk PKM : 15 jam/minggu

11. NAMA DAN BIODATA DOSEN PENDAMPING
a. Nama : M. Shohib
b. NIP-UMM : 109 0303 0387
c. Golongan Pangkat : III A
d. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
e. Jabatan Struktural : Pembantu Dekan III Fakultas Psikologi UMM
f. Fakultas : Psikologi
g. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
g. Waktu untuk PKM : 15 jam/minggu

12. RENCANA PEMBIAYAAN
Estimasi dana kegiatan usaha
No Jenis Kegiatan Anggaran
A. Pra Kegiatan
1 Perijinan Rp. 100.000
2 Persiapan tempat usaha Rp. 100.000
3 Persiapan alat dan material penunjang usaha Rp. 200.000
4 Persiapan pembuatan media promosi Rp. 300.000
5 Pengenalan usaha pertama pada konsumen Rp. 200.000
B. Pelaksanaan
1 Modal usaha Rp 1.100.000
2 Pembelian timbangan dan peralatan pendukung usaha Rp. 1.100.000
3 Administrasi Rp. 300.000
4 Uang lelah penjaga (lembur) Rp. 600.000
4 Listrik Rp. 200.000
6 Biaya komunikasi (beli pulsa) Rp. 200.000
7 Akomodasi Rp. 100.000
C. Laporan
1 Penyusunan pertanggungjawaban laporan Rp. 250.000
2 Penggandaan laporan Rp. 200.000
Jumlah Rp 5.950.000
Tabel 3

13. LAMPIRAN
13.1 Analisis SWOT Usaha Penampungan Barang Bekas di Sekitar Kampus
13.1.1 Keunggulan (Strenghten)
Pembuatan usaha penampungan barang bekas ini sangatlah potensial untuk dikembangkan dan diseriusi. Melihat potensi besar yang belum tergali dan belum banyaknya usaha sejenis yang berdiri merupakan sebuah peluang untuk ditindaklanjuti apakah usaha ini akan mampu bertahan dan berkembang pesat. Kehidupan masyarakat sekitar kampus yang beragam dan memiliki ekonomi yang relatif mampu adalah salah satu faktor penunjang usaha ini bisa eksis.
Saat ini, masyarakat sekitar kampus hampir selalu mempunyai barang atau perabotan bekas yang memang tak terpakai lagi. Kebanyakan oleh mereka, barang tersebut dibuang begitu saja atau ditumpuk sampai banyak, kemudian biar diambil pemulung karena mereka malas untuk membuangnya langsung.
Penulis disini memahami realita tersebut dengan memberikan sebuah lontaran ide dan solusi kreatif untuk mengatasinya. Pembuatan usaha penampungan barang bekas adalah jawaban tepat dari permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat sekitar kampus UMM.
Pengembangan usaha ini sangatlah mudah dan tak memperlukan sebuah ketrampilan khusus untuk menjalankannya. Hampir semua mahasiswa dapat menggunakan jasa yang penulis tawarkan karena harga yang kita berikan mampu bersaing dan belum ada saingannya di sekitar kampus.
Begitu juga masyarakat yang tentu dapat menjual barang bekas dan peabotan sisanya yang tak terpakai ke tempat kita. Tawaran jasa yang diberikan di usaha penampungan barang bekas meliputi, (1) penjualan kertas, koran, kardus, dan semacamnya yang diterima dari masyarakat (2) menerima besi bekas atau logam dan sejenisnya, (3) membeli botol minuman bekas segala macam dari masyarakat dengan harga yang berbeda tergantung keunikannya.

13.1.2 Kelemahan (Weakness)
Usaha yang penulis usulkan ini membutuhkan tempat yang representatif untuk dijadikan basis usahanya. Bila penulis memaksakan menyewa counter untuk dijadikan sebagai tempat, maka biaya yang harus dikeluarkan besar dan hampir semua modal akan tersedot ke sumber ini.
Tenaga SDM untuk menjalankan usaha penampungan ini yang diharapkan dari mahasiswa sendiri sulit untuk diharapkan karena usaha ini sifatnya rendahan dan tak semua orang mau melakukannya, tak terkecuali mahasiswa. Tak dipungkiri, mahasiswa akan merasakan gengsi bila terlibat dalam usha ini.
Untuk menyiasatinya, penulis mencoba alternatif lain dengan mengontrak tenaga dari luar bila dari mahasiswanya sendiri merasa keberatan dan tak ada respon untuk ikut bergabung menjalankan usaha ini. Namun, itu semua akan terkendala pada biaya yang ada karena tenaga kontrak juga akan menghabiskan anggaran yang begitu banyak.

13.1.3 Kesempatan (Oppurtunity)
Dengan modal usaha yang ada, penulis tak bisa menargetkan untung yang melimpah dan balik modal seketika, tetapi melihat belum adanya persaingan usaha yang sejenis, maka keuntungan itu akan terus mengalir bila masyarakat memakai jasa usaha ini. Pasar yang sudah ada dan belum tergarapnya potensi secara maksimal menjadi sebuah kesempatan yang besar bagi penulis untuk mengembangkan usaha penampungan barang bekas ini.

13.1.4 Tantangan Dan Ancaman (Treaten)
Berkaitan dengan usaha penampungan barang bekas ini, penulis merasakan ada masalah pada networking dikarenakan masih baru dan belum semua masyarakat mengerti usaha yang dirintis ini. Akan tetapi, hambatan tersebut bisa diatasi dengan mengadakan media promosi berupa pamflet agar masyarakat tahu usaha penampungan barang bekas ini. Namun pembuatan pamflet juga memerlukan dana sehingga akan menjadi kendala lagi. Ditambah dengan promosi dari mulut ke mulut diharapkan dapat membantu mempromosikan usaha ini.

13.2 Gambaran Usaha Penampungan Barang Bekas Mandiri
Penampungan barang bekas ini memang sudah ada di tiap-tiap wilayah, tapi usaha yang dilakukan penulis lebih melihat pada masyarakat sekitar kampus yang memiliki tingkat konsumerisme tinggi dalam pembelian barang-barang. Daerah yang penulis pilih adalah daerah sekitar kampus UMM yang masyarakatnya mayoritas dihuni mahasiswa yang tinggalnya dengan sistem kontrak atau kost.
Melihat realita mahasiswa yang merupakan konsumen buku dan kertas-kertas seperti fotocopian, maka hal tersebut bisa menjadi peluang pasar bagi pendirian usaha penampungan barang bekas. Selain barang dari mahasiswa, masih ada juga barang bekas dari masyarakat penghuni asli daerah sini yang tentu saja memiliki perabotan yang tak kalah banyaknya dengan mahasiswa. Di samping itu, penulis juga menyorot keberadaan tiap fakultas dan lembaga intra yang ada di kampus UMM untuk dijaring dan dijadikan pemakai jasa penampungan barang bekas.
Usaha penampungannya sendiri adalah dengan membuat sebuah counter khusus yang dijadikan sebagai tempat penampungan barang bekas yang dijual konsumen pada pengusul program. Konsumen yang datang untuk menjual barangnya ditimbang dahulu berapa berat barangnya dan melihat spesifikasinya barang yang dijual tersebut. Antara konsumen dengan pengusul sendiri sama-sama tahu berat barang yang ditimbang agar menghindari kecurangan.
Setelah ditimbang berat barangnya, pengusul memberikan uang kompensasi pada konsumen tersebut dengan mengalikan berat barang tersebut dengan harga yang tertera pada list harga yang telah ditetapkan dan dibuat pengusul. Contoh, konsumen menjual barang berupa kertas koran sebanyak 10 kg (sudah ditimbang), kemudian pengusul melihat harga kertas tersebut yang perkilonya Rp 900. Dengan kondisi tersebut, pengusul akan membayar konsumen tersebut sebesar Rp 9.000. Begitu seterusnya usaha ini akan dijalankan sebagaimana mestinya.
Tentu dengan berdirinya usaha penampungan mandiri ini akan menguntungkan ke dua belah pihak. (1) konsumen akan untung dengan mendapatkan uang dari hasil penjualannya, (2) pengusul program juga mendapatkan hasil yang menggembirakan bila banyak konsumen yang menjual barangnya pada usaha ini, karena barang tersebut dijual lagi pada penampung besar. Dari penjualan tersebut pengusul mendapatkan keuntungan materi yang cukup besar bila barang yang dijual juga banyak, dan (3) barang bekas yang tak terpakai dan sedianya akan dibuang, ternyata memiliki nilai ekonomi tinggi.

About these ads

07/07/2009 - Posted by | Contoh PKM

3 Komentar »

  1. wah bagus banget tuh artikelnya,kan kalau di olah dengan benar masalah lingkungan dapat menghasilka,memang masalh lingkungan harus di jaga sekarang juga,kalau ga,pemanasan global akan semakin parah,jaga juga lingkungan hutan jangan sampai rusak,hutan sebagai paru paru dunia saat ini.sukses sob!!!

    Komentar oleh globalwarming | 07/19/2009

  2. sangat bagus. cuma usaha yang anda lakukan sudah banyak para pengais rejeki dari pengepul tanpa pendidikan formal tinggi. sangat diharapkan msykt dari formal yang tinggi itu bisa membuahkan trobosan2 lebih canggih tuk membantu formal yang dibawah. ada estafet kemandirian wirausaha juga keuntungan nya. mungkin penemuan mesin cuci botol beling bekas saya bisa diteruskan kesemua pengepul yang mau mendapatkan hasil lebih. kejalur suplai botol bersih siap pakai ke pabrikan sirup. kecap, caos, farmasi dll. bisa hub. 081225462345. RGT semarang.

    Komentar oleh jajo. supar | 07/24/2010

  3. saya sangat mendukung usaha ini. dan usaha ini sama dengn usaha yang sekarang saya sedang rintis dengan teman-teman yang ada di kampus

    Komentar oleh alim | 01/19/2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 927 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: